Pramoedya Ananta Toer and Ferizal : Why you should know them

Pramoedya Ananta Toer :

1

One of Indonesia’s greatest authors, who long fought for freedom of speech, spent most of his adult life in jail.

Salah satu penulis terbesar di Indonesia, yang lama berjuang untuk kebebasan berbicara, menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di penjara.

Pramoedya Ananta Toer is widely regarded as one of Indonesia ‘s best writers.

Pramoedya Ananta Toer secara luas dianggap sebagai salah satu penulis terbaik Indonesia

At a young age, he joined the anti-colonial struggle against Japan during World War II and later enlisted in an army to fight Dutch colonialists .

Pada usia muda, ia bergabung dengan perjuangan anti-kolonial melawan Jepang selama Perang Dunia II dan kemudian terdaftar di tentara untuk melawan penjajah Belanda.

He was captured and jailed by the Dutch in 1947. His foray into writing began in prison, at age 24. The Fugitive, his first novel, came out during his two years of incarceration.

Dia ditangkap dan dipenjara oleh Belanda pada tahun 1947. terjun Nya ke dalam tulisan dimulai di penjara, pada usia 24. The Fugitive, novel pertamanya, keluar selama dua tahun penahanan.

6

Pramoedya or “Pram” – a hero of Indonesia’s anti-colonial movement and a champion of human rights and freedom of speech – was born on February 6, 1925, in the poor Javanese town of Blora.

Pramoedya atau “Pram” – pahlawan gerakan anti-kolonial Indonesia dan juara hak asasi manusia dan kebebasan berbicara – lahir pada 6 Februari 1925, di kota Jawa miskin Blora.

He died in the capital, Jakarta, on April 30, 2006 at age 81.

Dia meninggal di ibukota, Jakarta, pada tanggal 30 April 2006 di usia 81.

7

Pramoedya “dedicated his whole life to this country through his work”, his daughter Tatiana Ananta told The Associated Press at his funeral.

Pramoedya “mengabdikan seluruh hidupnya untuk negeri ini melalui karyanya”, putrinya Tatiana Ananta mengatakan kepada The Associated Press pada saat pemakamannya.

Pramoedya Ananta Toer : “Each injustice has to be fought against, even if it’s only in one’s heart – and I did fight.” ( Setiap ketidakadilan, kita harus berperang melawan nya, bahkan jika itu hanya dalam hati seseorang – dan aku melawan).

Pramoedya’s father was a schoolteacher and nationalist who inspired him to join Indonesia’s struggle against colonialism. His mother came from a pious Muslim family.

Ayah Pramoedya adalah seorang guru sekolah dan nasionalis yang terinspirasi dia untuk bergabung perjuangan Indonesia melawan kolonialisme. Ibunya berasal dari keluarga Muslim yang saleh.

8

Despite only having a primary school education, he went on to write more than 30 books, both fiction and non-fiction.

Meskipun hanya memiliki pendidikan sekolah dasar, ia melanjutkan untuk menulis lebih dari 30 buku, baik fiksi dan nonfiksi.

The novelist is best known for the Buru quartet, which traces the birth of nationalism in Indonesia. A Javanese boy named Minke, who rejected the country’s hierarchical society, is the protagonist in the series.

novelis terkenal karena TETRALOGI PULAU BURU, yang menelusuri kelahiran nasionalisme di Indonesia. Seorang anak laki-laki Jawa bernama Minke, yang menolak masyarakat hierarkis negara, adalah protagonis dalam seri.

9

“In fact the books were smuggled out of Indonesia by Pram’s friend, a German priest, to avoid being taken  or destroyed, and have now been translated into more than 20 languages worldwide,”

“Bahkan buku-buku itu diselundupkan keluar dari Indonesia oleh teman Pram, seorang imam Jerman, untuk menghindari diambil atau hancur, dan kini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa di seluruh dunia,

2

He learned typing and stenography which enabled him to get a clerk’s job for the Japanese imperial news agency, Domei, based in Jakarta. It was at that time that he came into contact with nationalists and anti-colonial activists.

Dia belajar mengetik dan stenografi yang memungkinkan dia untuk mendapatkan pekerjaan panitera untuk agen kantor berita Jepang, , Domei, yang berbasis di Jakarta. Itu pada waktu itu bahwa ia datang ke dalam kontak dengan nasionalis dan aktivis anti-kolonial.

After he was released from jail in 1949, Pramoedya began writing books prolifically  and emerged as a respected novelist. Disappointed by post-revolutionary Indonesia , he started gravitating towards leftist politics. He joined Lekra, a body of artists and writers that was loosely affiliated with Indonesia’s communist party, PKI.

Setelah dia dibebaskan dari penjara pada tahun 1949, Pramoedya mulai menulis buku subur dan muncul sebagai novelis dihormati. Kecewa dengan Indonesia pasca-revolusioner, ia mulai gravitasi terhadap politik sayap kiri. Dia bergabung dengan Lekra, tubuh seniman dan penulis yang longgar berafiliasi dengan partai komunis di Indonesia, PKI.

He was jailed in 1960 for highlighting the discrimination and oppression of the Chinese minority in the country.

Ia dipenjara pada tahun 1960 untuk menyoroti diskriminasi dan penindasan minoritas Tionghoa di negeri ini.

3

When  General Suharto came to power in a coup in 1967, he ordered the mass arrest of hundreds of thousands of opponents, often without trial. Pramoedya was arrested in 1965 during the military coup that led to Suharto’s rise. Pramoedya was later sent to the remote island of Buru in 1969 because of suspected links to communists.

Ketika Jendral Soeharto memegang kekuasaan dalam kudeta pada 1967, ia memerintahkan penangkapan massal ratusan ribu lawan, seringkali tanpa pengadilan. Pramoedya ditangkap pada tahun 1965 selama kudeta militer yang menyebabkan kenaikan Soeharto. Pramoedya kemudian dikirim ke pulau terpencil Buru pada tahun 1969 karena dicurigai terkait dengan komunis.

Initially, he was not provided with pens or paper, so he narrated his stories to fellow prisoners. The books were published after Pramoedya ‘s release in 1978. His essays and letters written during the period were published as a memoir, The Mute’s Soliloquy.

Awalnya, ia tidak diberikan dengan pena atau kertas, sehingga ia meriwayatkan cerita sesama tahanan. Buku-buku yang diterbitkan setelah rilis Pramoedya  pada tahun 1978. Esai dan surat nya yang ditulis selama periode  itu diterbitkan sebagai memoar, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

“A haunting record of a great writer’s attempt to keep his imagination and his humanity alive,” wrote The New York Times Book Review about the memoir.

Sebuah catatan menghantui dari upaya seorang penulis besar untuk menjaga imajinasi dan kemanusiaannya hidup,” tulis The New York Times Book Review tentang memoar.

4

Pramoedya  was nominated for the Nobel Prize for literature several times and was bestowed with the PEN Freedom to Write Award in 1988. At age 74, Pramoedya received the  Fukuoka Prize for outstanding contributions by Asians in 2000.

Pramoedya dinominasikan untuk Hadiah Nobel untuk sastra beberapa kali dan dianugerahkan dengan Freedom PEN Menulis Award pada tahun 1988. Pada usia 74, Pramoedya menerima Hadiah Fukuoka untuk kontribusi luar biasa oleh orang-orang Asia pada tahun 2000.

SONY DSC
SONY DSC

“Pram was also unique in his literary attachment to women. His work contains many complex portraits of different kinds of women in a manner unmatched by his literary contemporaries, who made men their major fictional figures, with women marginalised as stereotypical mothers, sweethearts, and prostitutes,” said professor Benedict Anderson, author of Imagined Communities, who worked in Indonesia.

“Pram juga unik dalam lampiran sastra untuk perempuan. Karyanya mengandung banyak potret yang kompleks dari berbagai jenis perempuan dengan cara yang tak tertandingi oleh sezaman sastra, yang membuat orang tokoh utama mereka fiksi, dengan perempuan terpinggirkan sebagai ibu stereotip, kekasih, dan pelacur, “kata profesor Benedict Anderson, penulis Komunitas Imagined, yang bekerja di Indonesia.

a

Ferizal  :

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia

Genre active romance, Ferizal romantic poet Indonesia

Literature Novel Dentist build the image of Indonesia

hebat

Ferizal

Born : Bireuen, Indonesia, 1980

e

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia

Genre active romance, Ferizal romantic poet Indonesia

a

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia, Pierre Fauchard father of modern dentistry

7

Source :

a. http://www.aljazeera.com/indepth/features/2017/02/pramoedya-ananta-toer-170206053453639.html

b.  http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

c.  http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

d. http://www.kemenpar.go.id/asp/detil.asp?c=6&id=2026

e. https://indonesiskalitteratur.wordpress.com/

f. Search engine google (pictures)

g. https://www.facebook.com/groups/IndonesianLiterature/