Syi’ah menegaskan adanya hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara agama dan politik dalam arti pemerintahan.

Imam Ridha, Mutiara Ahlul Bait Nabi

Imām Alī bin Mūsā ar-Riđhā (Bahasa Arab: علي بن موسى الرضا) (Madinah, 11 Dzulkaidah 148 H – Masyhad, 17 Safar 203 H[2]) (diperkirakan 1 Januari 76526 Mei 818) adalah imam ke-8 dalam tradisi Syi’ah Dua Belas Imam. Dalam Bahasa Persia, dia sering dipanggil dengan nama Imam Reza dan dijuluki dengan panggilan Abu al-Hasan.[2] Dia hidup pada masa berkuasanya tiga orang Khalifah Bani Abbasiyah yaitu Harun ar-Rasyid, al-Amin dan al-Ma’mun[3] dan diangkat oleh al-Ma’mun menjadi putra mahkota kekhalifahan dimana hal ini menyebabkan pemberontakan dari keluarga Bani Abbasiyah lainnya terhadap al-Ma’mun.[2]

Julukan lainnya yang diberikan kepada Imam Ali ar-Ridha adalah ash-Shabir, ar-Radhi, al-Wafi, az-Zaki, dan al-Wali.[4] Selain itu julukan lainnya adalah:

  1. Imam Zamin’i Tsamin, Tsamin berarti delapan, Zamin berarti keselamatan dan keamanan.[5]
  2. Gharibul-Ghurabaa[5]
  3. Alim’i ali Muhammad[5]

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Makam Imam Ali Reza di Masyhad, Iran

.
Imam Ali ar-Ridha
A depiction by a Muslim artist.
penggambaran fiksi
Ali bin Musa bin Ja’far
Imam Kedelapan
Kunyah Abu al-Hasan
Lahir 11 Dzulkaidah 148 H
1 Januari 765 Masehi
Meninggal 17 Safar 203 H
26 Mei 818 Masehi
Tempat lahir Madinah
Dikuburkan Masyhad
Masa hidup Sebelum Imamah: 35 tahun
(148 – 183 H)
Imamah: 20 tahun
(183 – 203 AH)
– 17 tahun di Madinah
– 3 tahun di Khurasan
Gelar ar-Ridha (Persia: Reza)
Istri-istri Sayyidah Sabika (dikenal pula Khaizarun)[1]
Ummul Fadhl binti al-Ma’mun[1]
Ayah Musa al-Kadzim
Ibu Najmah
Keturunan Muhammad al-Jawad (pengganti)

.

Kelahiran

Pada tanggal 11 Dzulkaidah 148 H, seorang anak laki-laki lahir di rumah Imam Musa al-Kadzim (Imam ke-7) di Madinah, yang nantinya akan mengambil posisi keimaman, setelah ayahnya.[6] Namanya adalah Ali dengan julukan ar-Ridha. Dia lahir satu bulan setelah kakeknya, Imam Ja’far ash-Shadiq meninggal.

Ibu

lbunya bernama Taktam[7][2] ada pula yang menyebut bernama Najmah[8][3][9], yang dijuluki Ummu al-Banin, seorang yang shalehah, ahli ibadah, utama dalam akal dan agamanya dan setelah melahirkan Ali ar-Ridha, Musa al-Kadzim memberinya nama at-Thahirah.[7][2]

Saudara

Dia memiliki saudara yang bernama Zaid, yang melakukan revolusi dan membuat kerusuhan di Madinah. Zaid pernah tertangkap dan dibawa atas perintah al-Ma’mun ke Khurasan untuk diadili. Al-Ma’mun membebaskannya sebagai penghormatan terhadap Imam Ali ar-Ridha.[10]

Imam memiliki saudara lain yang bernama Abdullah, dimana ia hidup sampai masa Imam Muhammad al-Jawad.[4]

Imam memiliki seorang saudari yang bernama Fatimah Maksumah, ia meninggal di Qom, Iran ketika datang dari Madinah menuju Masyhad untuk mencari kakaknya, Imam Ali ar-Ridha. Kuburan Fatimah Maksumah, sampai saat ini masih terdapat di Qom, dan menjadi pusat ziarah di sana.[11]

Istri-istri

Imam menikah dengan Sayyidah Sabika yang juga dikenal dengan nama Khaizarun. Istri Imam ini adalah keturunan sahabat Muhammad, yang juga pembela setia Ali, Ammar bin Yasir. Khaizarun merupakan ibu dari Imam ke-9, Muhammad al-Jawad.[1]

Selain itu, Imam dinikahkan pula dengan putri dari khalifah saat itu, Ummul Fadhl binti al-Ma’mun, dimana menurut riwayat, Ummul Fadhl begitu mengetahui Imam telah memiliki istri lain yang telah memberikan keturunan, maka ia menjadi marah, dan setuju untuk memberi racun kepada Imam hingga menyebabkan wafatnya Imam.[1]Di akhir bulan Shafar tahun 203 hijriyah, Imam meneguk cawan Shahadah dari racun yang diberikan oleh Khalifah Ma’mun kepada beliau.

Keturunan

Putra-putra Imam bernama:[7]

  1. Hasan
  2. Muhammad al-Jawad, penerus keimaman
  3. Ja’far
  4. Ibrahim
  5. Husain

Putri Imam bernama Aisyah.[7]

Imam Ali Ar-Ridha as lahir pada 11 Dzulqaidah 148 H di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kadzim as dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Beliau memegang tampuk kepemimpinan umat pada usia 35 tahun pasca kesyahidan ayahnya, Imam Musa al-Kadzim as. Imam Ridha adalah Imam maksum yang kedelapan dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun kelahiran beliau. Tapi mayoritas para ulama seperti Syeikh Mufid, Kulaini, Kaf’ami, Syahid Tsani, Tabarsi, Syeikh Shaduq, Ibnu Zahrah, Mas’udi, Abul Fida, Ibn Atsir, Ibnu Hajar, Ibnu Jauzi, dan ulama besar lainnya berpendapat bahwa Imam Ridha dilahirkan pada tahun 148 H.

Kelahiran manusia mulia ini telah dikabarkan oleh Rasulullah Saw jauh hari. Dalam kitab Biharul Anwar jilid 99 hal 33, Rasulullah Saw bersabda, “Bagian dari tubuhku ada di Khorasan dan akan dimakamkan di sana. Barangsiapa yang menziarahinya, maka Allah akan mencabut gundah gulana dalam diri mereka, dan mengampuni dosa para peziarah makamnya.”

Gelar dan julukan beliau merupakan nama dan kata yang selalu harum sepanjang zaman. Julukan beliau “Abu al-Hasan” merupakan panggilan di kalangan orang-orang khusus, sedangkan gelar beliau di antaranya: Shabir (yang sabar), zaki (yang suci), wali (pemimpin/sahabat), fadhil (yang utama), wafi’ (yang menepati janji), shiddiq (yang benar), radhi (yang rela), sirajullah (pelita Allah), nurulhuda (lentera petunjuk), qurratu ‘ainil Mu’minin (penghibur orang-orang mukmin), kufu’l malik (padanan raja), kafi al-khalq (yang mencukupi kebutuhan orang), rabb as-sarir (pemilik rahasia) dan riab at-tadbir (pengatur yang baik).

Dari semua gelar tersebut, “Ridha” (yang rela) merupakan gelar yang paling terkenal. Beliau terkenal dengan panggilan “Ridha” karena mendapatkan keridhaan Allah Swt di langit dan menjadi sumber kebahagiaan para nabi dan para imam sesudahnya di bumi. Ada juga yang mengatakan bahwa panggilan itu didasari oleh kenyataan bahwa setiap orang yang bersama beliau, baik kawan maupun lawan akan bahagia. Bahkan disebutkan bahwa Makmun yang notabene berlawanan dengan beliau begitu senang dengan sikap Imam Ridha.

Kesucian hati, ketajaman pandangan, keluasan ilmu, keimanan yang kuat kepada Allah Swt, dan perhatiannya yang besar kepada nasib masyarakat merupakan sejumlah sifat mulia yang khas pada diri Imam Ridha as. Kurang lebih selama 20 tahun, beliau memikul tanggung jawab sebagai imam dan pemimpin kaum muslimin. Karena itu, salah satu julukan beliau adalah “Rauf” atau penyayang. Beliau as memiliki hubungan baik dengan siapapun, mulai dari kalangan orang-orang kaya dan fakir-miskin, cerdik-pandai dan masyarakat awam, para pecinta beliau maupun musuh-musuhnya.

Dikisahkan,  suatu hari Imam Ali Ar-Ridha as berbincang-bincang dengan masyarakat. Mereka bertanya tentang masalah-masalah hukum. Tiba-tiba seorang warga Khorasan masuk dan berkata, “Salam atasmu wahai putra Rasulullah! Aku adalah seorang pengagummu dan pecinta ayahmu serta para datukmu. Aku baru saja kembali dari haji dan aku kehilangan nafkah hidupku. Tak satu harta pun tersisa lagi padaku. Jika engkau sudi membantuku sampai di negeriku, sungguh nikmat besar Allah atasku, dan bila aku telah sampai, aku akan menginfakkan jumlah uang yang kau berikan kepadaku atas namamu, karena aku tidak berhak menerima infak.”

Dengan nada lembut, Imam al-Ridha as berkata kepadanya, “Duduklah, semoga Allah mengasihanimu!”. Kemudian Imam melanjutkan perbincangannya dengan masyarakat sampai mereka bubar. Setelah itu, Imam bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, beliau mengeluarkan tangannya dari balik pintu sambil berkata, “Mana orang Khorasan itu?”

Orang Khorasan itu mendekat dan Imam berkata, “Ini 200 Dinar. Pergunakanlah untuk perjalananmu dan janganlah engkau menafkahkan hartamu atas nama kami.” Orang itu mengambilnya dengan penuh rasa syukur, lalu meninggalkan Imam as.

Setelah itu Imam keluar dari kamar. Salah seorang sahabat bertanya, “Kenapa engkau menyembunyikan wajahmu dari balik pintu, wahai putra Rasulullah?”

Imam berkata, “Agar aku tidak melihat kehinaan pada raut wajah orang yang meminta. Tidakkah kau mendengar Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Berbuat baik secara sembunyi-sembunyi adalah sama seperti tujuh puluh kali ibadah haji, dan orang yang terang-terangan dalam berbuat jahat sungguh terhina, dan orang yang sembunyi dalam melakukannya akan diampuni.'”

Syeikh Shaduq menuturkan bahwa Imam Ridha terbiasa tidur hanya sebentar di malam hari. Beliau sibuk melaksanakan ibadah. Dalam sehari semalam beliau melakukan shalat seribu rakaat dan secara kontinu berpuasa, khususnya tiga hari setiap bulan yaitu hari Kamis awal bulan, dan Kamis akhir bulan serta hari Rabu tengah bulan). Beliau berkata: Berpuasa di tiga hari tersebut sebanding dengan berpuasa sepanjang masa.

Dalam kitab Muntahab al-Amal terdapat riwayat dari Aba Shalah. Ia menuturkan, “Saya tidak melihat orang yang lebih alim daripada Imam Ridha. Makmun sering kali mengundang dan mengumpulkan para ilmuan dan ulama serta ahli fikih untuk melakukan debat bersama beliau. Dan Imam Ridha selalu menang dalam dialog dan perdebatan tersebut. Dan mereka mengakui keutamaan Imam Ridha. Imam Ridha dikenal sangat pemurah dan rajin memberikan sedekah secara sembunyi-sembunyi. Seringkali beliau memberikan sedekah di waktu malam.”

Kini kita simak beberapa petuah suci Imam Ali al-Ridha as. Imam as berkata, “Akal seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki sepuluh karakter berikut: (1) Kebaikannya selalu diharapkan orang, (2) Orang lain merasa aman dari kejahatannya, (3) Menganggap banyak kebaikan orang yang sedikit, (4) Menganggap sedikit kebaikan yang telah diperbuatnya kepada orang lain, (5) Tidak pernah menyesal jika orang lain selalu meminta bantuan darinya, (6) Tidak merasa bosan mencari ilmu sepanjang umurnya, (7) Kefakiran di jalan Allah lebih disukainya dari pada kekayaan, (8) Hina di jalan Allah lebih disukainya dari pada mulia di dalam pelukan musuh-Nya, (9) Ketidaktenaran lebih disukainya dari pada ketenaran”.

Kemudian sahabat beliau bertanya: “Lalu, apakah yang kesepuluh?”,

Beliau menjawab, “Ia tidak melihat seseorang kecuali berkata (dalam hatinya): ‘Ia masih lebih baik dariku dan lebih bertakwa’.”

Lentera Sejarah Kehidupan Imam Ali Ridha as

Lebih dari seribu tahun yang lalu, Imam Ali Ridha as menginjakkan kaki sucinya di tanah Persia. Kedatangannya membawa berkah dan cahaya bagi rakyat di negeri ini. Di hari yang agung ini, marilah sejenak kita berziarah ke makam suci beliau as yang terletak di kota Mashad, timur laut Iran. Dengan penuh keikhlasan, marilah kita menghanturkan shalawat dan salam kepada manusia suci ini.

Salam sejahtera atasmu, wahai Imam Ridha as

Salam sejahtera atasmu wahai cucu baginda Rasul Saw

Dengan tulus, segenap orang mukmin di dunia ini menghanturkan shalawat kepadamu, duhai sumber pengetahuan dan hikmah.

Pada hari ini, makam suci Imam Ali Ridha as larut dalam cahaya dan pelita yang terang benderang. Setiap peziarah yang datang dari kejauhan ribuan kilometer mendapatkan ketentraman dan kedamaian di samping makam suci imam. Mereka menemukan identitasnya di bawah pancaran cahaya manusia suci ini. Ketika mereka beranjak meninggalkan makam suci Imam Ali Ridha as, kita dapat menyaksikan raut keridhaan dan keceriaan di wajah-wajah mereka.

Perlahan-lahan aku melangkahkan kaki masuk ke makam suci ini. Mendadak mataku tertuju pada seorang wanita berdiri tak jauh dariku. Ia sepertinya bukan muslimah dan bermaksud memasuki komplek makam suci Imam Ali Ridha as. Melihat pemandangan ini, aku heran dan dengan sopan, aku bertanya kepadanya, “Ada yang bisa kubantu?” Wanita itu tersenyum dan dengan penuh kesopanan, ia menjawab, “Aku bukan orang Islam, tapi seorang penganut agama Kristen. Aku datang untuk berterimakasih kepada Imam kalian, Imam Ridha as.”

Ketika melihat keherananku, wanita itu berkata, “Aku memiliki seorang anak laki-laki yang cacat dan aku telah berupaya maksimal untuk mengobatinya, namun obat dan perawatan medis tidak mengubah keadaannya. Anakku juga seorang siswa yang setiap hari pergi ke sekolah. Teman-temannya yang beragama Islam selalu bertanya kepada anakku, “Kenapa ibumu tidak membawamu ke Mashad dan makam suci Imam Ali Ridha as untuk mendapat kesembuhan?” Sesampai di rumah, anakku berkata kepadaku: “Ibu, engkau berkata telah membawaku ke semua dokter yang ahli untuk menyembuhkanku. Lantas siapakah Imam Ali Ridha as yang katanya menyembuhkan orang-orang sakit?” Dengan rasa kecewa dan acuh, aku menjawab, “Imam Ridha as adalah pemimpin dan imam bagi umat Islam. Tapi kita adalah penganut agama Kristen”. Namun anakku bersikeras dan terus menerus memintaku agar menuruti kemauannya.

Suatu malam, aku beranjak tidur dalam keadaan menangis. Tengah malam, aku terbangun mendengar suara jeritan anakku, tak henti-hentinya ia memanggilku dan berkata: “Ibu kemari dan lihatlah! Orang ini telah menyembuhkan kakiku, ia sendiri yang dapat ke rumah kita dan berkata kepadaku, “Katakan kepada ibumu bahwa siapa saja yang datang mengetuk pintu rumah kami, ia tidak akan pulang dengan tangan hampa.” Ketika cerita itu sampai di sini, air mata wanita tersebut menetes bercucuran tanpa terbendung lagi.

* * *

Imamah adalah poros hidayah dan kemuliaan. Imam adalah pribadi yang telah mendapat petunjuk dan mendapat tugas untuk memberi petunjuk dan menuntun umat manusia ke jalan kesempurnaan. Pada dasarnya, Imam adalah pengawal kemuliaan manusia dan pembela hak-hak mereka. Ahlul Bait as merupakan pembimbing manusia menuju makrifat dan kebahagiaan. Mereka juga petunjuk bagi orang-orang yang tersesat. Gerakan menuju kesempurnaan merupakan jejak peninggalan para imam dan pemimpin yang saleh bagi masyarakat. Oleh sebab itu, setiap masyarakat yang menjadikan ajaran para imam seperti Imam Ali Ridha as sebagai teladannya, tidak akan terjebak ke lembah kesesatan.

Salah seorang analis Koran The Washington Post dalam laporannya tentang Iran, menulis, “Pada minggu-minggu pertama kepemimpinan Presiden Barack Obama, saya sibuk mempelajari salah satu kendala besar Obama yaitu Iran. Saya bertualang mengelilingi setiap kota di Iran dan mencoba memahami apa saja yang menjadi istimewa dan penting bagi bangsa Iran. Sebagian besar pembicaraan mereka yang aku dengar berkisar tentang Imam Ridha as. Imam Ali Ridha as merupakan salah satu figur termulia dalam dunia Islam dan dikuburkan di Mashad. Selama berabad-abad lalu, umat Islam datang dari berbagai penjuru untuk menziarahi makam suci beliau. Akhirnya aku memahami bahwa kita di Barat memusatkan perhatian pada masalah pengayaan uranium untuk bahan bakar nuklir Iran sebagai simbol kedigdayaan negara itu. Padahal, makam Imam Ali Ridha as merupakan penerang masalah yang lebih besar. Terlepas dari isu nuklir, Iran punya kekuatan spiritual besar. Penerjemah yang menemani perjalanan saya berkata, “Setiap tahunnya, 12 juta peziarah mendatangi makam Imam Ridha as. Keberadaan Imam Ridha as membawa berkah yang sangat besar dan menjadi penyebab kemajuan bangsa Iran.” Akhirnya saya paham bahwa kekuatan hakiki Iran secara dominan terletak pada makam Imam Ali Ridha as. Beliau memiliki pengaruh pada pikiran dan hati manusia.”

* * *

Imam Ali Ridha as dilahirkan di kota Madinah pada tahun 148 H. Kesucian hati, ketajaman pandangan, keluasan ilmu, keimanan yang kuat kepada Allah Swt, dan perhatiannya yang besar kepada nasib masyarakat merupakan sejumlah sifat mulia yang khas pada diri Imam Ridha as. Kurang lebih selama 20 tahun, beliau memikul tanggung jawab sebagai imam dan pemimpin kaum Muslimin. Salah satu julukan beliau adalah “Rauf” atau penyayang. Beliau as memiliki hubungan baik dengan orang kaya dan fakir-miskin, cerdik-pandai dan masyarakat awam, serta para pecinta bahkan musuh-musuh beliau.

Salah seorang sahabat Imam as berkata, “Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, beliau as selalu bersikap ramah dan penuh kasih sayang terhadap anggota keluarga dan orang-orang sekitarnya. Setiap kali menyambut hidangan makan, beliau as selalu memanggil anak kecil, orang dewasa bahkan para pekerja.” Ketika para budak tidak memperoleh hak-hak minimalnya, Imam Ridha as memperlakukan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Mereka mendapat tempat dan dihormati di rumah sang Imam. Mereka banyak belajar etika dan nilai-nilai kemanusiaan dari Sang Imam. Selain memperlakukan mereka dengan kasih sayang, Imam as senantiasa menasehati bahwa jika kalian tidak memperlakukan manusia dengan seperti ini, maka kalian telah menzalimi mereka.

Salah seorang yang menyertai Imam Ridha as berkata, “Dalam perjalanan ke Khorasan, aku menyertai Imam Ridha as. Suatu ketika Imam meminta dihidangkan makanan. Beliau as mengumpulkan seluruh rombongan di dekat jamuan, termasuk para budak dan orang-orang lain. Aku berkata kepada beliau: “Wahai Imam, sebaiknya mereka makan di tempat lain.” Beliau berkata: “Tenanglah! Pencipta kita semua adalah satu, ayah kita adalah Nabi Adam as dan ibu kita semua adalah Hawa. Pahala dan siksa bergantung pada perbuatan masing-masing.”

Ibrahim bin Abbas ketika berbicara tentang etika dan sifat Imam Ali Ridha as, berkata, “Beliau tidak pernah menyakiti orang lain ketika berbicara. Tak pernah memutuskan pembicaraan orang dan selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk menuntaskan pembicaraannya. Imam as sangat sopan dan aku tidak pernah melihat beliau as menjulurkan kakinya atau bersandar saat bersama orang lain. Imam tidak pernah membentak para pembantunya, tak pernah pula tertawa dengan suara lepas dan lebih sering tersenyum.”

Saat ini, ribuan jiwa dari berbagai penjuru merindu ingin hadir di makam pribadi agung ini. Figur yang di masa hidupnya tidak sanggup menatap jeritan orang-orang yang membutuhkan. Salah seorang perawi mengatakan, “Ketika aku berada bersama Imam Ridha as dan orang-orang sibuk menanyakan berbagai masalah kepada beliau as, tiba-tiba seorang warga Khorasan datang menghadap beliau as. Setelah menyampaikan salam, orang ini menceritakan bahwa uang dan barang bawaannya hilang ketika pulang dari menunaikan ibadah haji. Imam as berkata, “Duduklah!” Perlahan-lahan, orang-orang mulai beranjak pergi dan aku bersama beberapa orang tetap bersama Imam as. Beliau as bertanya, “Dimana orang Khorasan tadi?” Orang Khorasan itu bangkit dan berkata, “Aku masih di sini.” Imam lalu mengeluarkan 200 dinar dari sakunya tanpa memandang wajah orang itu.”

Salah seorang yang hadir bersama Imam as bertanya, “Wahai putra Rasul Saw! Pemberian tadi sangat besar, tapi mengapa engkau as memalingkan wajahmu darinya?” Imam as menjawab, “Aku sama sekali tak ingin melihat derita di wajah orang tadi.” Banyak riwayat yang menyebutkan berbagai sisi mulia kepribadian Imam Ridha as. Tanpa ragu lagi bahwa pengenalan terhadap poin penting pendidikan ini dapat membuka jalan bagi umat manusia untuk keluar dari krisis moral yang tengah melilit kita saat ini.

Pakar telaah agama di Universitas Virginia AS, Profesor Abdul Aziz Sachedina, menyinggung peran spiritual Imam Ridha as di tengah warga Syiah. Sachedina, berkata, “Harus dikatakan bahwa komunitas Syiah dunia menganggap Imam Ali Ridha as sebagai imam penjamin, yaitu imam yang akan memberi keamanan saat dirundungi rasa takut. Saat ini, Imam Ridha as hadir di tengah-tengah keluarga pengikutnya baik saat mereka sedih atau gembira. Masyarakat menganggap Imam Ridha as sebagai pemimpin yang membimbing ke pantai keselamatan seperti Imam Husein as. Dengan kata lain, Imam Ridha as adalah sumber ketentraman dan rasa percaya diri bagi mereka yang memerlukan petunjuk dan bantuan Tuhan.”

Pada masa itu, kepribadian intelektual dan spiritual Imam Ridha as sangat berpengaruh di dunia Islam. Bahkan musuh-musuh Imam memuji kepribadian agung ini. Mas’udi mengatakan, “Pada tahun 200 H, Ma’mun mengumpulkan seluruh keluarga dekatnya dari Bani Abbas di Marv dan mengatakan kepada mereka, “Saya telah bertualang di tengah para pemuka umat Islam, namun saya tidak menemukan figur yang lebih utama, lebih bertakwa, dan lebih layak untuk menjadi pemimpin dari Imam Ali Ridha as.”

* * *

Ilmu dan wawasan Imam Ridha as mengalir laksana air mata yang jernih dan memuaskan orang-orang yang haus akan kebenaran. Meski memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas, Imam Ridha as selalu mengedepankan sikap hormat dalam berbagai diskusi ilmiah dan perdebatan dengan kelompok pemikiran dan aliran. Beliau menjawab pertanyaan dan sanggahan mereka satu demi satu dan sama sekali tidak pernah kalah dalam diskusi. Imam as memahamkan kebenaran kepada orang lain dengan logika dan argumentasi yang kuat. Beliau juga mempertontonkan keunggulan pemikiran dan pandangan tauhid. Kebenaran kembali tampak sepanjang perdebatan itu dan para ilmuan terpaksa tunduk di hadapan logika dan argumentasi beliau.

Kriteria penting Imam as adalah memerangi kezaliman dan ketidakadilan. Beliau as bangkit melawan kebijakan arogan dan tipu daya penguasa Bani Abbas, Ma’mun lewat berbagai cara. Ma’mun sangat mengkhawatirkan pengaruh Imam as di tengah masyarakat dan para pemikir di seluruh pelosok negara Islam. Oleh karena itu, khalifah meminta Imam Ridha as untuk hijrah ke Marv, pusat pemerintahan Ma’mun. Imam as terpaksa menerima desakan itu. Ma’mun berupaya mengurangi pengaruh pemikiran dan budaya Imam as di tengah masyarakat dan menciptakan jarak antara beliau dengan warga. Untuk itu, Ma’mun mengusulkan jabatan putra mahkota kepada Imam as dan memaksa beliau as untuk menerima tawaran ini.

Dengan syarat-syarat tertentu, akhirnya Imam as menerima jabatan putra mahkota. Salah satu syarat yang diajukan Imam as adalah bahwa beliau as tidak akan intervensi dalam urusan pemerintahan dalam kondisi apa pun. Secara keseluruhan, syarat-syarat ini telah menggagalkan Ma’mun dalam mencapai ambisi politiknya.

Salah seorang penulis dari Barat menuturkan, “Apa yang dilakukan Islam dalam menolerir agama lain sangat mengagumkan. Tujuan Islam adalah mengenalkan seluruh generasi umat manusia dari berbagai ras, suku dan bangsa kepada jalan kebahagiaan. Islam berupaya mewujudkan masyarakat yang bermoral dan beragama di bawah bimbingan para pemukanya.” Saat ini, para pemikir yang obyektif meyakini bahwa dunia berhutang budi pada ajaran para pemuka agama Islam seperti Imam Ridha as yang telah menunjukkan jalan kebahagiaan dan kesempurnaan kepada manusia dengan ketinggian akhlak dan keagungan spiritualnya.

Imam Ridha as dan Kepemimpinan Yang Saleh

Gerakan revolusi Islam yang mencapai kemenangan dengan tergulingnya rezim korup, diktator dan thaghut tahun 1979 dilandasi oleh keimanan akan Islam dan semangat untuk mengikuti jejak kaki Rasulullah dan Ahlul Bait. Yang mendorong rakyat Iran bangkit melawan rezim Shah Pahlevi adalah kebijakan rezim despotik itu yang memerangi pemikiran Islam dan ajaran Ahlul Bait as. Hari ini kita memperingati Shahidnya Imam Ali ar-Ridha as, imam kedelapan dari silsilah 12 Imam Ahlul Bait. Beliau adalah imam yang beberapa abad lalu menjejakkan kakinya yang suci di negeri Iran. Beliau wafat di negeri ini dan dimakamkan di Khorasan, tepatnya di kota yang saat ini dikenal dengan nama Masyhad. Makam Imam Ridha setiap saat dipenuhi oleh peziarah yang dengan luapan cinta berziarah ke sana. Di makam inilah sinar maknawiyah dan makrifat memancar.

Imam Ali bin Musa ar-Ridha as lahir di kota Madinah pada tahun 148 hijriyah. Sepeninggal ayahnya, Imam Musa al-Kadzim, beliau memangku imamah atau kepemimpinan ilahi atas umat. Di kota Madinah, beliau mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama Islam dan mendidik banyak murid. Dengan argumentasi yang kuat beliau menyatakan penentangan terhadap kekuasaan bani Abbas, sebab kekuasaan ini bertolak belakang dengan ajaran ilahi. Akibatnya, Khalifah Ma’mun merasa terancam sehingga memaksa Imam Ridha as meninggalkan kota Madinah dan berhijrah ke ibukota pemerintahan Abbasiah di Khorasan. Namun untuk menghilangkan kecurigaan dan sensitivitas umat, Khalifah melakukannya dengan bermacam tipu muslihat.

Dengan memaksa Imam Ridha meninggalkan Madinah berarti Khalifah menjauhkan beliau dari tanah suci, tempat turunnya wahyu ilahi, dan kedua, dengan menawarkan posisi sebagai putra mahkota, Ma’mun ingin menjebak Imam dalam sebuah kondisi yang bisa dikesankan sebagai legalisasi kekuasaan bani Abbas. Imam sudah bisa membaca tipu muslihat dan permainan Khalifah dengan jeli. Beliaupun dengan sangat bijak melawan konspirasi Khalifah Ma’mun diantara dengan menyampaikan hadis Silsilah az-Dzahab yang terkenal di Neishabur.

Saat melintas kota Neisaabur beliau disambut dengan suka cita oleh lautan manusia yang ingin mendengar hadis dan wejangan dari Imam Ahlul Bait ini. Setelah mengucapkan hamdalah dan menyampaikan salawat serta salam kepada Nabi Muhammad Saw, Imam Ridha berkata, “Aku mendengar dari ayahku, dari ayahnya dari kakeknya dan terus bersambung hingga Rasulullah Saw dari Jibril bahwa Allah Swt berfirman: ‘Kalimat Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) adalah bentengKu yang kokoh. Barang siapa masuk ke bentengKu ia akan selamat dari siksaKu.” Setelah berkata demikian, beliau berlalu. Beberapa langkah kemudian beliau mengarahkan pandangan kepada lautan massa itu dan mengatakan, “Tentunya, dengan syarat-syaratnya, dan aku adalah salah satu syaratnya.”

Dengan penjelasan ini, Imam Ridha as menegaskan bahwa tauhid adalah asas dari semua akidah dan sendi kehidupan. Sementara keberadaan seorang imam dan pemimpin atas umat yang di zaman itu adalah beliau sendiri, adalah bagian dari syarat tauhid. Imam hendak menegaskan bahwa imamah adalah kedudukan yang mesti dilandasi oleh ajaran ilahi dan kosmologi tauhid.

Tak syak bahwa masyarakat memerlukan kepemimpinan sosial demi tegaknya kedamaian dan stabilitas. Keharusan berdirinya sebuah pemerintahan juga sudah secara tak langsung disinggung di dalam al-Quran dan teks-teks rujukan agama Islam. Selain itu, ide pembentukan pemerintahan juga teraplikasi dalam sirah kehidupan Nabi Saw dan Ahlul Bait as, termasuk Imam Ali Ridha as. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara agama dan politik dalam arti pemerintahan. Imam menjelaskan bahwa masyarakat harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil dan saleh. Pemimpin inilah yang bisa mencegah kezaliman dan pengkhianatan terhadap rakyat.

Imam Ridha as memandang masalah pemerintahan dan kepemimpinan secara lebih mendalam dan mengatakan, “Salah satu faktor yang mengharuskan keberadaan pemimpin adalah bahwa tidak ada satupun bangsa di dunia yang bisa lestari dan bisa bertahan hidup kecuali dengan adanya seorang yang menjaga menegakkan stabilitas dan hukum. Sebab, masyarakat manusia tak mungkin bisa lepas dari keberadaan pemerintahan untuk urusan spiritual dan materinya.”

Mengenai kedudukan pemimpin pemerintahan dalam Islam kepada Abdul Aziz bin Muslim beliau berkata, “Imamah dan kepemimpinan atas umat Islam termasuk salah satu masalah prinsipal dan penyempurna agama. Allah Swt tidak membawa Nabi Saw ke alam lain kecuali setelah menyempurnakan agamaNya, menurunkan al-Quran dan menjelaskan semua hukum halal dan haram serta hukum-hukum lainnya. Dunia belum pernah menyaksikan dan tidak pernah menyukai kitab tanpa mufassir, agama tanpa pengajar, dan agenda kerja tanpa pelaksana. Apalagi, jika agama itu adalah syariat yang menjamin kebahagiaan manusia di dua alam. Karena itu, Nabi Saw tidak wafat kecuali setelah mengajarkan kepada umatnya semua jalan yang bisa membawa mereka kepada kebenaran dalam beragama.”

.
Selanjutnya Imam Ridha as menyinggung tentang Imam Ali as yang ditunjuk oleh Nabi Saw untuk menjadi pemimpin atas umat.

Beliau menyebut kepemimpinan figur-figur saleh sebagai pilar tegaknya sebuah masyarakat. Menurut Imam, pemimpin yang saleh akan bekerja untuk kebaikan masyarakat, memperbaiki perekonomian, pertahanan dan politik serta memberi perhatian yang penuh kepada kepentingan masyarakat. Pemimpin yang demikian akan berjalan mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw dalam menerapkan hukum al-Quran untuk kebaikan masyarakat.

Dalam pesannya, Imam Ridha as menjelaskan pula bahwa imamah dan kepemimpinan dalam Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan unsur maknawiyah seiring dengan terpenuhinya kebutuhan materi. Beliau berkata, “Imam adalah pemimpin agama dan pemnegak sistem kemasyarakatan kaum muslimin. Kebaikan dunia bagi kaum mukmin dan kemuliaan mereka adalah tugas yang diemban oleh imam. Sesungguhnya Imam adalah pilar Islam dan cabangnya yang rindang. Dialah yang menjalankan hukum Allah yang adil, dan dia pula yang mengarahkan masyarakat kepada jalan kebenaran dan hakikat dengan nasehat dan burhan yang kokoh.”

Diriwayatkan bahwa suatu hari Khalifah Ma’mun Abbasi di hadapan Imam Ridha as berbicara tentang kemenangan yang diraih pasukannya di sejumlah medan pertempuran. Khalifah terkesan bangga dengan keberhasilan itu. Imam yang mendengar pembicaraan Khalifah berkata, “Apakah engkau bergembira karena berhasil menguasai sebuah desa?” Ma’mun balik bertanya, “Bukankah ini layak dibanggakan?” Imam Ridha as menjawab, “Takutlah engkau kepada Allah terkait dengan umat Muhammad dan kekuasaan yang ada di tanganmu. Engkau telah merusak urusan umat Islam dan telah menyerahkan urusan kepada orang-orang yang tidak menghukumi dengan hukum Allah. Kaum tertindas semakin menderita dan untuk kehidupan mereka tidak memiliki apa-apa. Tak ada tempat bagi mereka mengadu. Tahukah engkau bahwa pemimpin dalam Islam harus memainkan peran layaknya tiang kemah, dan siapa saja harus bisa menjumpainya dengan mudah.”

Dalam percakapan itu, Imam memberondong Khalifah dengan kritik deras seraya mengingatkan bahwa pemimpin Islam mesti menjauhi kemewahan dan segala acara aturan yang menjauhkannya dari rakyat. Pemimpin mesti bekerja untuk rakyat bukan mengunci diri dan berfoya-foya di istana-istana yang megah. Imam dalam riwayat lain menegaskan, “Hukum ilahi tidak akan tegak kecuali jika dijalankan oleh seorang yang kuat, mumpuni dan terpercaya yang menegakkan urusan ini dan mencegah pelecehan hak-hak masyarakat.”

Imam Ridha as menerangkan panjang lebar tentang kriteria pemimpin yang saleh dan cakap. Pemimpin harus menjalankan pemerintahan dengan baik, cerdas dan semangat mengabdi dengan demikian ia akan terhindari dari ambisi dan kediktatoran. Kepemimpinan seperti ini tidak akan terwujud kecuali pemimpin memandang kekuasaan sebagai amanat ilahi. Imam Ridha as menyatakan bahwa penguasa adalah orang yang memegang amanat dari rakyat, karena itu kekuasaan harus digunakan untuk mencegah kezaliman dan pelanggaran hak orang lain. Beliau berkata, “Setiap kali penguasa melakukan kezaliman maka kekuasaannya akan melemah.”

Imam Ridha melewatkan dua tahun terakhir masa hidupnya di kota Marv yang saat itu menjadi ibukota kekuasaan Bani Abbas. Beliau dipaksa oleh Khalifah Makmun untuk tinggal di kota ini dengan posisi sebagai putra mahkota. Namun demikian beliau telah mensyaratkan untuk tidak terlibat sama sekali dalam urusan pemerintahan. Ma’mun yang gagal mencapai maksudnya, akhirnya berpikir untuk mengakhiri permainan dengan membunuh Imam Ridha. Di akhir bulan Shafar tahun 203 hijriyah, Imam meneguk cawan Shahadah dari racun yang diberikan oleh Khalifah Ma’mun kepada beliau.

Referensi

Sumber

  1. ^ a b c d (Inggris)Biography of Imam Muhammad at-Taqi (AS)
  2. ^ a b c d e Riwayat Hidup Imam Ali Ar-Ridha a.s di abatasya.net
  3. ^ a b Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. di al-shia.com
  4. ^ a b Imam Kedelapan: Imam Ridha AS. Ayatullah Ibrahim Amini
  5. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama karbala
  6. ^ Sayid Mahdi Ayatullahi. Teladan Pejuang yang Sabar. Islamic Cultural Center, Jakarta, 22 November 2007
  7. ^ a b c d Imam Ali Ar-Ridha as di fatimah.org
  8. ^ Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt. Blog Kian Santang.
  9. ^ Imam Ali bin Musa Ar-Ridha as di al-hadj.com
  10. ^ (Inggris)An introduction to tenth infallible Hazrat Imam Ali Reza (AS)
  11. ^ Qom, Kota Sejuta Ulama. Persia Tours

Teroris Merajalela karena ta’lim salafi wahabi !! Koalisi N.U – Syi’ah diperlukan

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Abu Jibril yang jelas jelas pro teroris wahabi menyatakan bahwa Kita harus sudah mulai mensosialisasikan kembali kesesatan Syiah di Masyarakat

Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Jibril Abdurrahman

Abu Jibril menekankan agar para ulama, da’i, aktivis dakwah dan pemuda-pemuda Islam bersatu dan mewaspadai Syiah. Terlebih saat ini banyak orang tertipu oleh gemerlap Iran dan Hizbullah yang terus berpura-pura membela umat Islam.

“Padahal dibalik itu mereka (Syiah) memiliki agenda untuk menyesatkan umat dengan ajaran mereka,” jelas Abu Jibril lagi.

Dalam forum ini, Abu Jibril juga meminta agar FPS membuka Media Center (Pusat Informasi) mengenai kondisi Suriah. Di sisi lain ia juga berharap Media Center tersebut bisa menjadi pusat konsolidasi gerakan anti Syiah di Indonesia.

“Dari situ umat Islam bisa mendapatkan informasi mengenai fakta kesesatan Syiah,” tambahnya lagi.

Terorisme Tumbuh Subur di Tengah Ta’lim Salafi Wahabi

buku para teroris

Teroris Jaringan M. Thoriq

Said Aqil Siraj Tuduh Pesantren Salafi Ajarkan Benih-Benih Terorisme

Kesantunan dan kelembutan yang senantiasa melekat pada kyai NU nampaknya terdapat pada diri Kang Said. Ketua umum PBNU ini sering melontarkan kata-kata mulia dan bahkan menuai dukungan  dari internal NU sendiri terkait wahabi setan dari nejed

Terkait  terorisme, kyai lulusan universitas Ummul Quro Makkah  ini seolah menjadi garda terdepan dalam rujukan. Syukurnya apa yang dia paparkan berupa data dan fakta sangat dekat dengan kebenaran

Dilansir merdeka.com, Jumat (28/09) dalam rubrik khas wawancara dengan Said Aqil Siraj dengan tema “Ajaran Wahabi Mendorong Orang Menjadi Teroris” ketua umum PBNU itu menyebut ada kaitan antara ajaran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

Ditengah-tengah wawancara, Said mengatakan bahwa ajaran Wahabi bisa dan dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Kemudian dia memberikan contoh salah satu pesantren ditanah kelahirannya yang dituduh beraliran Wahabi. “Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan,” ujar Said.

Selain menyebutkan pesantren Assunnah Cirebon sebagai radikal dan menanamkan benih-benih terorisme, Said Aqil juga menyebut ada 12 yayasan dan lembaga yang menurut persangkaannya adalah beraliran wahabi dan menanamkan benih-benih teroris seperti Ash-Shofwah, An-Nida dan Al-Fitrah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendesak Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengeluarkan SK Gubernur pelarangan ajaran Syiah.”Kalau gubernur berkenan, MUI usulkan agar ajaran Syiah juga dilarang seperti Ahmadiyah di Jatim,” kata Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori kepada wartawan, Selasa (23/10)

Menurut Abdusshomad, Pergub 55/2012 masih mengatur larangan ajaran sesat secara umum. “Pergub itu mengatur secara umum, belum ada kalimat yang langsung menyebut Syiah,” jelasnya.

Kata Abdusshomad, ajaran Syiah mencaci maki sahabat Rasulullah. “Syiah itu kan ajarannya mencaci maki sahabat Rasulullah. Islam di Indonesia mengakui Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib,” tuturnya.

Pernyataan beliau ini ditunggangi kepentingan dana wahabi global yang ingin memasukkan paham teroris ke indonesia

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah

Teroris Merajalela karena ta’lim salafi wahabi !! Koalisi N.U – Syi’ah diperlukan

Rekrutmen teroris di kalangan masyarakat mulai dari kelas bawah hingga sarjana dan kamerawan semakin merajalela . Fungsi Kementerian Agama terutama dalam melakukan pembinaan masyarakat mendapat kritikan dan dipertanyakan.

“Seharusnya Kementerian Agama melakukan pembinaan. Memberi pembinaan, penyadaran soal agama yang benar. Hal ini diperlukan agar tidak ada orang yang menyebarkan ajaran teroris,” ujar sosiolog Musni Umar, Senin (25/4/2011).

Musni menjelaskan, Kemenag bisa menggandeng ormas-ormas keagamaan, Kementerian Pendidikan Nasional dan unsur-unsur masyarakat untuk pembinaan agama. Sebab tugas Kemenag tidak hanya mengurusi regulasi atau haji saja.

“Saat ini kan PNS dari Kemenag juga pulang kerja, pulang saja. Tidak ada keinginan untuk melakukan pembinaan pada masyarakat,” kata pengajar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Musni menerangkan dalam pembinaan, pemerintah tidak bisa hanya melimpahkan tanggung jawab ini kepada ormas. “Dananya ormas kan terbatas. Kalau Kemenag itu dibiayai pemerintah. PNSnya juga digaji,” imbuhnya.

Musni melihat rekrutmen teroris makin luas. Kalau dulu rata-rata hanya lulusan pesantren, kini meluas hingga kampus dan sarjana. Hal ini yang perlu dicegah

.
Terorisme wahabi  telah merobek dan melukai hati seluruh rakyat yang tengah membangun dan berjuang mewujudkan masyarakat yang aman, berkeadilan, dan sejahtera. Terorisme telah merobek rasa aman dan damai yang dibangun dengan susah payah

.
Gambaran psikologis pelaku berserta latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya membantu kita untuk mengarsir sketsa wajah pelaku. Studi-studi terkini yang menitikberatkan latar belakang pelaku teror di berbagai negara justru menunjukkan bahwa asal pelaku jaringan teroris dari ekonomi bawah dan pendidikan rendah lebih merupakan stereotipe daripada realitas

.

Stereotipe terhadap pelaku ini cenderung berulang dengan akibat penyempitan pandangan terhadap pelaku dan salah arah dalam kebijakan publik. Kehati-hatian hendaknya terjaga terutama saat dalam kasus teror bom kita kebetulan mendapati pelaku memeluk agama Islam dalam kartu tanda penduduknya. Sampai sejauh ini aparat keamanan mensinyalir keterlibatan pelaku dari luar negara Indonesia dalam aksi teror bom.

Informasi ini membantu kita untuk menyadari teror born barangkali memiliki target politik yang melampaui ruang lingkup nasional. Aksi teror mereka boleh jadi berkaitan dengan aksi-aksi teror serupa di wilayah geografi lain dengan agenda menggoncang panggung politik global.

mulai dengan mendengarkan tuturan penderitaan korban teror bom. la mempertanyakan pelabelan politik religius Islam dengan teroris dan Barat dengan kekafiran. Pendefinisian terorisme, teroris, dan korban teroris kemudian membutuhkan kehatian-kehatian agar terhindar dari perangkap pelabelan politik-religius yang dipasang penciptanya. Pendefinisian terorisme, dan pemilahan antara korban dan pelaku teroris berlangsung dengan membedah paham kebertuhanan subyek-subyek yang terlibat dalam wacana. Penderitaan korban dan goncangan ketakutan yang melampaui batas negara yang menjadi lokasi bom menyingkap politik teror pelaku

.

Di mata sosiolog, terorisme tumbuh subur ditengah kemiskinan yang kian merajalela. Peran pemerintah menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat perlu ditingkatkan.

“Akar persoalannya adalah kemiskinan menjadi sumber masalah yang terbesar. Kesenjangan yang makin mencolok perlu diperketat agar kaum kelas bawah tidak terpuruk. Kalangan bawah yang makin terpuruk mudah disisipi ideologi dan gampang diprovokasi,” ujar sosiolog Universitas Sriwijaya, Alfitri, kepada wartawan di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (16/4/2011).

Selain, itu menurut Alfitri, kekecewaan masyarakat kepada institusi penegak hukum juga makin nyata. Ia menduga bom bunuh diri yang dilakukan di Mapolresta Cirebon bermaksud menunjukkan kekecewaan mereka.

“Kekecewaan yang semula diarahkan ke institusi negara saat ini bergeser diarahkan ke institusi formal kepolisian juga penegak hukum yang  dianggap melakukan rekayasa dan keadilan,” ujarnya.

Karena itu, penting sekali peran pemerintah dalam pemberantasan terorisme secara persuasif. Dengan menjamin kesejahteraan rakyat dan menjamin keadilan bagi rakyat, pemerintah telah menutup simpul jaringan teroris berikutnya.

“Artinya adalah refleksi publik yang luar biasa dimana keadilan masyarakat sangat jauh. Tidak ada upaya lain selain melakukan tindakan radikal. Harus diperhatikan akar masyarakat orang mengambil cara radikal. Harus dibenahi posisi keadilan bagi masyarakat harus dikedepankan,” tuturnya.

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sepakat bekerjasama dalam program deradikalisasi. Hal itu diwujudkan dengan dengan penandatangan memorandum of understanding (MoU) di halaman masjid al Wali Jl Fatmawati, Ketileng, Semarang Timur.”Sekuat apapun pemerintah tetap butuh civil soceity. Kami (NU) siap bekerja sama dengan siapapun, TNI, POLRI ataupun ormas lainnya,” kata ketua umum PBNU Said Agil Sirodj usai penandatangan MoU, Minggu (14/10/2012).

Selain deradikalisasi, kerjasama juga meliputi Pendidikan, Lingkungan Hidup, Penanggulangan Bencana, Kedaulatan Pangan, Menjaga tegaknya NKRI. Bagi Said Agil, NU dan LDII memiliki kesepahaman terkait islam radikal. Menurutnya, gerakan radikal bukan budaya Indonesia.

Ia menyebut bahwa sejarah Islam Nusantara yang dibawa wali songo mengajarkan islam melalui jalan damai yaitu seni ataupun budaya. Islam radikal yang beredar di Indonesia menurutnya paham impor.

Ketua DPP LDII Abdullah Syam menuturkan pentingnya sinergitas antar organisasi masyarakat (ormas). Dengan adanya mou ini, pihaknya berjanji akan belajar banyak dari ormas NU yang memang sudah lebih dulu lahir.

“Nanti mungkin perlu forum untuk organisasi besar semisal NU, Muhammadiyah dan kami, untuk kerjasama ke depan,” ucapnya.

https://syiahali.wordpress.com  dibuat oleh Ustad Husain Ardilla demi membela N.U dan rakyat Malaysia dari serangan wahabi


salafi wahabi pecah dua :
a. Salafi dakwah,
ciri cirinya : menganggap NU sebagai ahlul bid’ah sehingga mereka berupaya menghancurkan N.U. Celakanya kini muncul alumni salafi yamani yang membanjiri Indonesia yang doyan membid’ah bid’ah kan N.U
.
b. Salafi jihadi
ciri ciri : gemar ngebom, teroris. Juga kelompok Ustadz Abu Bakar Ba’asir yg sangat mengesankan mengakomodasi tindak kekerasan ketika dulu  berkomentar bahwa (1) teror bom tsb dilakukan oleh Amerika/ musuh Islam dan (2) bila dilakukan oleh orang Indonesia itu adalah peringatan kepada pemerintah karena tidak mau menerapkan hukum Islam. Pernyataan terakhir Ba’asir inilah yg menurut saya perlu dicermati, apa maksudnya Ba’asir bicara seperti itu yach???

Bahasa Indonesia: M. Quraish Shihab dalam reka...Prof. M. Quraish Shihab; salah seorang penganjur persatuan

.

Amien Rais, the initiator of "Axis Force&...Amien Rais dan Gus Dur pro syi’ah

.

Habib Zein: Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Bela sekte Syi’ah sebagai aliran tak sesat, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dituding ulama wahabi sebagai makhluk yang lebih jelek dan lebih berbahaya daripada Syi’ah.

Hal itu diungkapkan Ketua bidang Organisasi Albayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf, menanggapi pernyataan Said Aqil bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.

“Bagi kami Albayyinat kalau ada seorang yang mengaku Sunni tapi dia justru membela Syi’ah, maka bagi kami dia lebih jelek dan lebih berbahaya dari pada Syi’ah,” tegas Habib yang juga A’wan   Syuriyah   Pimpinan Wilayah NU (PWNU)  Jatim itu.

Membantah Habib Zein yang melaknat Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Pemahaman dangkal terhadap agama seringkali berakibat pada pembenaran atas paham yang dimiliki dan menganggap yang lainnya salah atau bahkan sesat. Ya si habib tua termasuk orang yang botol (bodoh dan tolol)

saat ini banyak tokoh membela wahabi  demi mendapat gelontoran dana dari Saudi. Para tokoh itu mati-matian membela wahabi dari fatwa sesat, karena fatwa sesat ini bisa mengentikan dana upeti dari Saudi.

Bagi orang-orang yang sudah  dibeli oleh wahabi, ‘Fatwa wahabi sesat’ tersebut akan merugikan pribadinya yang biasa menerima upeti dari wahabi .  Apabila wahabi sampai dilarang di Indonesia, maka gelontoran dana dari Saudi akan berhenti. Itulah sebabnya mereka mati matian membela wahabi

Di Indonesia, wajar saja banyak kalangan atau kelompok yang menolak syiah dan menganggapnya sesat sebab, yang mereka baca, dengar dan ketahui sejak kecil hanyalah sunni dan cenderung lebih sempit lagi yakni; NU dan Muhammadiyah.

Ini biasanya didapati di kampung-kampung yang memang pengetahuannya terbatas hanya mendengar ceramah ustadz yang juga pengetahuannya terbatas. Namun masyarakat seperti ini biasanya tidak begitu ekstrem tetapi mudah disulut atau diprovokasi atasnama keyakinan.

Nabi Muhammad SAW, telah wafat kurang-lebih 1500 tahun tahun yang lalu, itu artinya tiadak ada diantara kita yang hidup pada zaman beliau, melainkan kita hanya menerima alqur’an, hadits dan riwayat-riwayat tentang beliau. Hadits dan riwayat sunni tentu bersumber dari berbagai narasumber yang terjadi dari zaman ke zaman yang terbukti bisa dipalsukan. Lalu dengan alasan apa kita begitu mudah men-sesat-kan golongan lain dan dengan dasar apa kit mengklaim diri sebagai golongan yang benar?…

Sunni  Syi’ah   yang ada dalam islam, sepanjang mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul ALLAH untuk Islam maka, itu adalah islam dan seharusnya kita punya rasa malu utuk menyebutnya sebagai kafir atu sesat sebab, jangan-jangan kitalah yang sesat.

Perbedaan adalah rahmat, ciptaan Tuhan dan suatu keniscayaan. bahkan yang bukan Islampun wajib kita menghargai sebab kita sama-sama ciptaan Tuhan, soal agama dan tata cara menyembah adalah urusan masing-masing dan Tuhan yang akan menilai sebab, bukan kita pemilik Sorga atau Neraka melainkan Dia. Jadi jika mau berbuat sesuatu sebaiknya kita selalu mengingat Tuhan agar kita tidak malu sendiri, ingat Tuhan tidak perlu diperlu dibela karena kita terlalu sombong bila mau membelaNYA dan sebagai hamba kita hanya berkewajina untuk menyembah, itu saja.

Jadi, biarkan syi’ah hidup tenang tenang dan tentram di Indonesia sebab penganutnya juga adalah warga negara Indonesia dan Indonesia bukan milik orang-orang yang berpaham sunni saja.

Sang Pencinta Ahlul Baitfitnah wahabi

Din Syamsudin dan Said Aqil Siraj: Syiah tidak sesat

 .

Tak seperti Ahmadiyah yang semua ulama hampir menyepakati bahwa ajaran ini sesat dan bukan islam, Syiah justru banyak Ulama yang berpendapat bahwa Syiah tidak sesat. Berikut petikan pendapat beberapa tokoh Islam, diantaranya adalah ketua dua ormas Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) Serta Ketua MUI tentang Syiah dan alasan kenapa ajaran tersebut bukan aliran sesat. (data dari Voa-Islam)
  .
Umar Syihab (Ketua MUI)
.
Menurut Umar Syihab, ia  tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat

.
Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat

.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang

.
Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”
.
Said Aqil Siraj
.
Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang,Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja

.
Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said

.
Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya

.
Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon

.
Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

.
Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

.

Syafii Maarif

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.
Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.
.
Din Syamsudin

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

.
Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.
.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut

 .

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab

Syeikh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.

Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah.

Syeikh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H di Buhairah, Mesir. Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H menjadi mufti umum al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.

Syeikh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syiah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.
Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syiah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah al-Islam”.
2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syiah, yang berhubungan dengan pendekatan antarmazhab.
3. Memasukkan fikih Syiah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.
4. Yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu.

Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiah)?

Syeikh Syaltut menjawab,
1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.
2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syiah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat Islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib
Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syiah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahani-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar
Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jumat tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:
Tafsir Al-Quran Al-Karim
Nahju Al-Quran fi Bina Al-mujtama
Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah
Al-Fatawa
Al-Qital fi Al-Islam
Min Tawjihat Al-Islam
Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh
Fiqh Al-Quran

………………………………..
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam di Mesir merupakan sebuah gerakan budaya yang menunjukkan sejauhmana tingkat keberagaman, intelektual, akidah, sejarah dan fikih umat Islam. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Adalah sangat disayangkan bahwa siasat musuh dalam menciptakan perpecahan dan perselisihan antara Muslimin yang tujuannya adalah terwujudnya instabilitas politik dan kerusuhan tampak berjalan dengan lancar. Tipu muslihat ini terfokus pada usaha untuk mengungkit kembali permasalahan-permasalah sejarah yang sensitif, sehingga umat Islam yang seharusnya bekerja sama menghadapi masalah-masalah besar yang sedang menimpa mereka di masa ini, justru saling berkelahi seputar sejarah dan masa lalu.
 .
Permasalahan ini begitu dahsyatnya sampai-sampai satu sama lain dengan mudah membubuhkan stempel “kafir”, padahal perbedaan mereka hanya berkisar pada furu’uddin (cabang-cabang agama). Mereka beranggapan bahwa perbedaan dalam furu’ berkaitan dengan ikhtilaf dalam ushul (prinsip-prinsip agama). Akhirnya, mereka mengeluarkan fatwa kafirnya pengikut mazhab lain dan orang-orang yang tidak sepaham atau berbeda ijtihad dengan mereka. Sebagian dari mufti-mufti (para pemberi fatwa) ini berkeyakinan bahwa orang-orang kafir non-Muslim jauh lebih baik daripada orang-orang Islam yang berbeda pemikiran dengan mereka. Mereka bersikap seperti orang-orang Yahudi Madinah yang menilai kaum Muslimin dengan berkata kepada kaum musyrik: “Kalian lebih mendapatkan hidayah daripada umat Muhammad.”
 .
Semenjak gagalnya gerakan pendekatan ini kondisi Muslimin semakin memburuk. Mereka tidak saling dekat, bahkan hubungan antara satu mazhab dan mazhab yang lain bagaikan hubungan satu agama dan agama lainnya dimana di antara keduanya terletak jurang pemisah yang dalam. Hingga saat ini musuh-musuh Islam sedang melancarkan aksinya untuk menciptakan jurang-jurang pemisah antara umat Islam, bahkan antara penganut satu mazhab sekalipun.
 .
Umat Islam dewasa ini masih juga menyandang predikat obyek penderita/lemah, baik yang di barat maupun di timur, di selatan maupun di utara. Dengan mata telanjang kita dapat menyaksikan pemandangan pahit ini. Umat Islam yang dulunya adalah umat yang paling besar dan berwibawa daripada umat-umat lainnya, kini sedang mengalami kondisi yang tidak sepatutnya dialami.
 .
Mengapa keterpurukan ini begitu mengakar pada diri kita sehingga kita menjadi umat yang lemah, khususnya di hadapan negara-negara adidaya? Mengapa kita tidak saling memahami kondisi internal kita yang runtuh dan berpecah belah? Dan yang lebih utama dari itu semua adalah, mengapa kita tidak bangkit untuk mencari titik keterpurukan—yang membuat kita lemah dan dilemahkan—ini sehingga kita dapat mengatasinya? Memang benar yang melemahkan kita adalah negara-negara adidaya; namun siapa yang membuat diri kita lemah di hadapan mereka?
 .
Masalah berikutnya, apakah diri kita siap untuk mengakui kebenaran segala yang benar, sehingga dengan demikian kita dapat menujukkan keseriusan dalam berusaha keluar dari jeratan malapetaka ini?
 .
Pertanyaan yang lain adalah, rencana dan program apa saja yang harus kita jalankan untuk menyelesaikan masalah ini? Apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan gerakan pendekatan antar-mazhab ini?
 .
Kita harus bersikap transparan dan terus terang. Pertama-tama kita harus membangun kembali jembatan kepercayaan antara satu dan yang lain. Sepanjang sejarah jembatan itu telah dirobohkan berkali-kali oleh para tiran yang memegang tampuk kekuasaan. Para penguasa hanya memiliki hubungan yang baik dengan mazhab- yang mereka akui dan yang menguntungkan mereka. Seharusnya mereka membiarkan penganut mazhab lain berkeyakinan sesuai dengan pemikiran mereka. Tidak seharusnya mereka mengkafirkan, menyebut zindiq (munafik) dan memusuhi penganut mazhab lain. Budaya pengkafiran yang diciptakan penguasa ini mempengaruhi kebanyakan orang dan membuat mereka terbiasa dengannya, meskipun tanpa tahu-menahu asal usul dan sebabnya. Konsekuensi dari tradisi buruk ini adalah para penganut mazhab yang tak dianggap resmi memilih untuk lari dan hidup menyendiri serta jauh dari interaksi sosial yang sehat. Mereka melakukan praktek taqiyah (menutupi keyakinan yang sebenarnya) dan berada dalam ketakutan.
 .
Para penjajah datang ke tanah air kita pada abad ke-20, sedangkan kita masih dalam keadaan lalai dan belum menyadari seperti apakah hubungan ideal antar sesama Muslim, apapun mazhab mereka. Para penjajah kala itu dengan penuh kesadaran menjalankan siasatnya agar kita sama sekali melupakan isu persatuan ini, sehingga kita tidak dapat bangkit dengan kekuatan persatuan.
 .
Melihat realita di atas, dapat kita katakan bahwa saat ini kita sedang menghadapi dua masalah besar dan berbahaya yang sedang mengancam gerakan pendekatan antar mazhab. Masalah petama, masalah perpecahanan kita. Perpecahanan ini memang didasari oleh faktor politik, namun kita sendiri yang tertipu dan justru mengikuti siasat tersebut. Kemudian perpecahan ini telah disusun secara rapi sebelumnya dan diarahkan sedemikian rupa hingga benar-benar merasuk dalam tubuh kaum Muslimin. Masalah kedua, problema yang ditimbulkan oleh para penjajah dan negara-negara adidaya kepada kita. Problema ini hanya dapat diatasi dengan dijalankannya strategi pendekatan antar mazhab Islam, sehingga terciptalah keamanan internal dan solodnya barisan kaum Muslimin saat berhadapan dengan mereka.
 .
Untuk mewujudkan rencana ini, kita perlu memetakan pelbagai perkara dalam timbangan skala prioritas. Sebagian dari perkara tersebut berkaitan dengan akidah umat Islam, dan sebagian lainnya berkaitan dengan kondisi politik mereka. Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:
 .
Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.
 .
Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.
 .
Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.
 .
Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.
 .
Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.
 .
Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.
 .
Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.
 .
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:
 .
Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.
 .
Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.
 .
Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.
 .
Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.
 .
Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.
 .
Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

.

Risalah Cinta buat Mereka yang Berbeda Mazhab

 .

“Aku mencintaimu, wahai Malik,” kata Imam Ja’far Ash Shadiq setelah tamunya itu duduk di atas permadani seraya bersandar dengan nyaman di bantal yang menempel ke dinding. Sebenarnya, sang tamu, Imam Malik, adalah murid dari Imam Shadiq. Tapi, penghormatan yang sangat besar Imam Shadiq kepada muridnya itu membuatnya memperlakukan sang murid layaknya seorang tamu agung

.

Peristiwa sambutan itu sangat berkesan bagi Imam Malik. Apalagi selama kunjungan ilmiahnya ke Madinah dan Mekah itu, Imam Malik juga menyaksikan hal-hal yang luar biasa dari sang guru. Inilah penuturan Imam Malik
“Demi Allah, aku tidak pernah sekalipun menemuinya kecuali beliau sedang shalat, puasa, atau sedang membaca Al Quran. Suatu hari, aku berhaji bersamanya. Ketika tiba saatnya berihram dan mengucapkan talbiah, bergetarlah seluruh tubuhnya. Lidahnya kelu dan tak mampu mengucapkan kalimat apapun. Aku katakan kepadanya, ‘Ya Aba Abdillah, setelah berihram Anda harus mengatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk –kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah’. Mendengar kata-kataku, ia menjawab, ‘Wahai Malik, aku sungguh takut, ketika kukatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk’, Allah lalu menjawab seruanku dengan jawaban, ‘La labbayka wa la sa’dayka- tak ada sambutan dan tak ada kebahagiaan bagimu-”
.
Itulah sepenggal cerita dari Imam Malik sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al Khishal: 167 Kaum Muslimin dunia kemudian mengenal Imam Malik sebagai imam salah satu madzhab besar dunia, yaitu Madzhab Maliki. Sedangkan sang guru, Imam Shadiq, punya pengikut yang dikenal sebagai kelompok Syiah. Keduanya memiliki identitas masing-masing yang berbeda satu sama lain. Berabad-abad kemudian, ada di antara para pengikut kedua madzhab itu yang sedemikian fanatiknya terhadap perbedaan itu, untuk kemudian menjadikannya sebagai sumber perpecahan. Penghormatan Imam Shadiq terhadap Imam Malik, dan juga kekaguman Imam Malik kepada Imam Shadiq tidak pernah lagi diingat apalagi diceritakan.
.
Perpecahan dan pertengkaran (bahkan sering disertai dengan peng-kafiran) yang berasal dari perbedaan pandangan madzhab itu juga terjadi di antara madzhab-madzhab lainnya. Padahal, sebagaimana yang terjadi pada pengikut Syi’i dan Maliki, para pembesar mereka dulunya adalah orang-orang yang saling memuji, saling menghormati, bahkan saling menimba ilmu satu sama lain. Ekstremitas dan fanatisme yang tidak perlu memang seringkali ditunjukkan oleh kalangan awam, padahal para pemimpin mereka mencontohkan hal yang berbeda.
.
Salah satu hambatan terbesar dalam hal persatuan ummat Islam atau pendekatan antarmadzhab Sunni dan Syiah adalah sikap, keyakinan, dan penghormatan yang berbeda yang ditunjukkan masing-masing kelompok terkait dengan imam, ulama rujukan, dan orang-orang tertentu. Ada satu kesan umum yang berlaku di kalangan Sunni bahwa orang-orang Syiah tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap para Sahabat, padahal para Sahabat adalah orang-orang yang sangat dimuliakan oleh orang-orang Sunni. Bagaimana mungkin menyatukan dua kelompok, jika yang satu sangat memuliakan Sahabat, sementara yang lain mencercanya? Pada artikel sebelumnya, saya mengemukakan penuturan Dr Al Qarni yang secara tegas meminta agar orang-orang Syiah juga menunjukkan penghormatan kepada para sahabat, sebagaimana orang-orang Sunni sangat memuliakan keluarga Nabi.
.
Seruan Al Qarni memang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang Syiah. Bagaimanapun juga, fakta menunjukkan bahwa dalam sistem kepercayaan Ahlu Sunnah, Sahabat adalah simbol kesalehan dan generasi terbaik yang menjadi panutan. Tentu fakta ini difahami dengan baik oleh orang-orang Syiah. Karena itu, akal sehat kita pastilah tidak bisa menerima jika orang-orang Syiah masih sangat suka mempermasalahkan kredibilitas Sahabat dalam forum apapun.
.
Kebiasaan mempermasalahkan kredibilitas para sahabat itu juga bisa jadi malah kontradiktif dengan prinsip dan keyakinan yang ditunjukkan para imam dan ulama Syiah sepanjang sejarah. Imam Ali bin Abi Thalib, misalnya, sering mengenang masa-masa indah manakala beliau hidup bersama Rasulullah dan para sahabatnya yang setia.
.
“Dulu kami hidup di zaman Rasulullah, berjuang bersama-sama sampai-sampai harus membunuh orang-orang terdekat kami demi Islam. Namun hal itu tidaklah menambahkan kepada kami, kecuali kesabaran yang dapat mengurangi penderitaan,” demikian kata Imam Ali. Beliau kemukakan kenangan seperti itu sambil membandingkan generasi para Sahabat dengan generasi yang hidup sezaman dengan beliau. “Kalau kami saat itu berperilaku seperti kondisi kalian saat ini, Islam tidak akan mungkin berdiri tegak dan membuahkan hasil.”
.
Imam Ali Zainal Abidin juga berdoa secara khusus untuk para Sahabat dengan mengatakan, “Ya Allah untuk para Sahabat yang telah menjalin persahabatan baik dengan Nabi-Mu, …. -Imam lalu memanjatkan senarai doa.”
Di awal tulisan ini sudah dikemukakan penghormatan timbal balik antara Imam Shadiq dan Imam Malik. Penghormatan timbal balik yang sama juga ditunjukkan secara tulus antara para imam dan ulama Ahlul Bait dan para imam dan ulama dari kalangan madzhab Sunni lainnya.
.
Imam Abu Hanifah pernah mengungkapkan pernyataan yang terkenal, “Law la sanatani la halaka Nu’man (kalaulah tiada masa dua tahun itu, binasalah Nu’man).” Dua tahun yang dimaksud dalam perkataan itu merujuk kepada masa-masa ketika beliau menimba ilmu kepada Imam Shadiq. Sementara itu Nu’man adalah nama kecil Imam Abu Hanifah
.
Imam Syafi’i malah dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Ahlul Bait Nabi. Ketika pada saat itu ada upaya politis untuk mendiskreditkan para pecinta Ahlul Bait Nabi, dengan lantang Imam Syafi’i mengatakan bahwa dirinya siap dicap sebagai Rafidhi (sesat), jika kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi dianggap sebagai kesesatan.
.
Imam Syafi’i juga pernah menuliskan syair yang isinya kurang lebih seperti ini:
“Wahai keluarga Rasulullah, kecintaan kepada kalian adalah sebuah kewajiban yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran. Cukuplah itu bagi kalian sebagai kemuliaan, karena shalat yang dilakukan tanpa bershalawat kepada kalian dihukumi sebagai shalat yang tidak sah.”
.
Imam Ahmad bin Hanbal juga demikian. Diriwayatkan bahwa suatu hari ada perdebatan sengit dalam sebuah majelis. Yang diperdebatkan sebenarnya masalah klasik: Imam Ali dan khilafah. Orang-orang berdebat tentang kelayakan Imam Ali menjadi khalifah.  Imam Ahmad saat itu menutup perdebatan sambil dengan tegas menyatakan bahwa kalau yang diperhatikan adalah kapabilitas Imam Ali dari segala segi (kemuliaan, ilmu, jasa, kedekatan dengan Rasulullah, ketakwaan, keberanian, kepahlawanan, dll) segalanya menjadi sangat jelas. “Mengapa kalian memperdebatkan Ali dan khilafah? Sungguh Ali tidak menjadi lebih mulia dengan kursi khilafahnya. Kursi khilafahlah yang mendapatkan kemuliaan dengan duduknya Ali di atasnya.”
.
Hubungan baik dan kecintaan antarmazhab ini terus berlanjut sampai kepada para ulama dan para pengikut di generasi-generasi sesudahnya. Syeikh Al Mufid adalah seorang ulama Syiah terkenal. Salah satu keistimewaan beliau adalah kebiasaannya untuk selalu melakukan kontak dengan para ulama dari berbagai madzhab. Inilah yang menyebabkan kitab-kitab karya Syeikh Al Mufid penuh dengan berbagai pandangan para ulama dari madzhab-madzhab yang berbeda.
.
Begitu pula Syeikh Ath Thusi, ulama besar Syiah lainnya. Setelah menelaah dengan seksama pandangan para ulama dari berbagai madzhab, Ath Thusi menulis buku yang diberi judul Al Khilaf. Sedemikian mendalamnya pemaparan Ath Thusi tentang pemikiran yang ada pada madzhab lain, sampai-sampai As Subki, seorang ulama besar Syafi’i, menyebut Syeikh Ath Thusi sebagai pengikut Syafi’i. Tentu saja As Subki tahu persis bahwa Syeikh Ath Thusi itu adalah ulama Syiah. Namun menurutnya, Ath Thusi sangat menguasai pandangan Imam Syafi’i seakan-akan beliau adalah seorang ulama dari madzhab ini.
.
Contoh lain yang bisa dikemukakan adalah Muhammad Al Makki (lebih dikenal dengan gelar Asy Syahid Al Awwal), seorang ulama besar Syiah lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa beliau memang menimba ilmu kepada para ustadz Ahlussunah. Salah seorang murid beliau yang Zainuddin Al ‘Amili (dikenal dengan nama Asy Syahid Ats Tsani), juga berguru kepada 40 orang dari para ulama alumni Al Azhar, Mesir.
.
Ini adalah fakta sejarah. Jadi, jika ada orang Syiah yang sangat membenci saudara-saudaranya dari kalangan Ahlus Sunnah, otentisitas kesyiahannya layak untuk dipertanyakan. Cukuplah di sini ditegaskan sekali lagi bahwa para takoh dan ulama Syiah sejak dulu sampai sekarang selalu punya risalah cinta yang ditujukan kepada saudara-saudara mereka Ahlus Sunnah
.
Sampai sekarang? Mungkin ada yang meragukan pernyataan ini. Mungkin ada yang mengira bahwa risalah cinta tersebut hanya bagian dari sejarah dan kini sudah menjadi cerita-cerita lama. Mungkin ada yang mengira bahwa para ulama dan tokoh Syiah masa kini sudah tidak lagi punya minat dan pandangan terhadap upaya persatuan ummat, terutama yang menyangkut penghormatan terhadap para sahabat.
.
Pesimisme semacam ini agaknya keliru. Sebagian besar riwayat yang dikutipkan di atas merupakan transkrip dari pidato sambutan Sekjen The World Forum for Proximity of Islamic Schools, Ayatullah Ali Taskhiri, pada Konferensi Internasional Persatuan Antarmazhab, di Jakarta Desember 2009 lalu. Taskhiri dikenal sebagai salah seorang ulama Syiah kontemporer, dan nyatanya, ia sangat antusias menngutip riwayat-riwayat tentang penghormatan kepada para sahabat dan tokoh Sunni
.
Tentu saja riwayat-riwayat tersebut dikutip dalam konteks yang sangat jelas. Beliau ingin menyatakan bahwa romantisme persaudaraan dan persatuan itu masih sangat dirindui oleh kalangan internal Syiah sampai sekarang. Taskhiri menyatakan bahwa ada kesenjangan antara kondisi zaman sekarang dan kondisi masa di masa lalu. Simaklah penuturan Taskhiri berikut ini
.
“Inilah kondisi pada zaman dahulu yang berjalan secara alami dan Islam. Sangat disayang bahwa kondisi kita saat ini jauh berbeda. Sekelompok orang karena kepentingan musuh, kepentingan pribadi, kebijakan pemerintah tertentu, karena fanatisme, atau kadangkala karena kepicikan dan sedikitnya ilmu, lalu mengubah kondisi yang seharusnya cair dan alami ini menjadi sektarianisme buta, fanatisme, dan ekstrimisme. Sikap buruk ini lalu berkembang menjadi lebih buruk, yaitu ketika sebagian dari kaum Muslimin memandang yang lainnya sebagai kafir, lalu menganggap bahwa agama yang benar hanyalah monopoli dirinya dan kelompoknya.
.
“Sikap sektarianisme adalah sebuah kemunduran. Penyebabnya adalah fanatisme dan kebodohan. Ketika dibiarkan, lahirlah berbagai tindakan terorisme. Kita harusnya membersihkan diri dari segala tindakan terorisme. Islam sangat menentang tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap orang lain. Karena itu, dalam kesempatan ini, marilah kita serukan ajakan kepada seluruh kaum Muslimin agar mereka kembali kepada kondisi dahulu yang kini telah hilang dan lenyap dari genggaman kita
.
“Marilah kita dekatkan seluruh hati kita. Mari kita tebar kasih sayang di antara kita.  Persatuan dan kasih sayang antar sesama Muslim merupakan rahasia kemenangan di zaman awal Islam. Hal tersebut sampai sekarang tidak berubah. Persatuan dan kasih sayang di antara ummat Islam menjadi faktor penentu kemenangan dan keberhasilan Islam saat ini.”

Al-Qaeda Akui Dalangi Pemboman di Irak

Sebuah kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda di Irak mengaku bertanggung jawab atas serangkaian penembakan dan pemboman yang menewaskan puluhan orang selama liburan hari raya Idul Adha.

Sebuah pernyataan yang dimuat di situs militan menyebutkan, sebuah jaringan yang disebut dengan jaringan Negara Islam Irak memperingatkan pemerintah Baghdad bahwa Irak tidak akan memiliki perdamaian selama hari raya Idul Adha atau pada waktu lainnya. Demikian kantor berita Aswat al-Iraq melaporkan pada Selasa (30/10).

Al-Qaeda di Irak adalah kelompok bayangan yang diduga dipimpin oleh seorang militan Yordania bernama  Abu Musab al-Zarqawi. Ia dilaporkan tewas pada bulan Juni 2006.

Menurut pemerintah Amerika Serikat dan pejabat militer negara ini, kelompok tersebut kemudian dipimpin oleh Ayyub al-Masri yang tewas bersama dengan pemimpin lainnya bernama Abu Omar al-Baghdadi dalam operasi gabungan Irak-AS di Provinsi Salahuddin pada bulan April 2010.

Al-Qaeda di Irak diduga mendalangi berbagai serangan teroris paling mematikan di negara itu sejak invasi AS pada Maret 2003.

Baru-baru ini, berbagai pemboman dan penembakan meningkat di seluruh Irak yang diyakini sebagai upaya untuk melemahkan pemerintah Baghdad.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa bulan September adalah bulan paling berdarah di Irak dalam hampir dua tahun dengan korban tewas mencapai 365 orang.

Menurut data yang dilaporkan oleh departemen kesehatan, dalam negeri dan pertahanan, jumlah korban tewas pada bulan September terdiri dari 182 warga sipil, 88 polisi, dan 95 tentara.

Sahabat Nabi SAW dalam Al Quran semuanya adil ??

Para munafik juga dikenali sebagai sebahagian dari para sahabat, tetapi tidak dikenali umum.Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144.

dalam kehidupan harian kita, kita hanya boleh menganggap seseorang itu sebagai sahabat apabila dia bersama kita dalam susah dan senang, setia, sentiasa menjaga hubungannya dengan kita, rahsia kita. Tetapi adakah definasi itu masih boleh dipakai jika tiba-tiba pada suatu hari, sahabat kita berubah, mengaibkan kita, tikam belakang, mengkhianati kita, membocorkan rahsia kita dan meninggalkan kita keseorangan bila kita memerlukan mereka?

Bagaimana kami boleh mempercayai semua para sahabat itu adil, soleh dan hidup seperti saudara, sebelum dan selepas kewafatan Nabi, sedangkan sejarah membuktikan perkara yang bertentangan dengan menceritakan begitu banyak perbalahan antara para sahabat Nabi juga isteri-isteri Nabi serta antara para sahabat dan Ahlul Bait Nabi saaw.

Ayat-ayat Quran yang menunjukkan redha Allah kepada para sahabat hanya berlangsung selama mana mereka dalam kebenaran dan tidak mencanggahi kebenaran. Jika mereka mencanggahi kebenaran, masakan mereka diredhai Allah.

Mohon mereka yang masih berpegang teguh kepada keadilan para sahabat keseluruhan mereka, secara total, tolong menjawab soalan ini:

  • Adakah para sahabat yang membantah perintah Rasul(s) di redhai Allah?
  • Adakah para sahabat  yang mencaci antara satu sama lain diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang menfitnah antara satu sama lain diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang membunuh sesama mereka diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang mengkhianati bai’ah diredhai Allah?

Secara ringkasnya Syiah mengkategorikan para sahabat kepada 3 kumpulan dan kategori mengikut kelakuan dan sikap mereka yang dinilai berdasarkan undang-undang Islam dari Al Quran dan Al Hadis. Syiah juga menilai para sahabat berdasarkan fakta sejarah berkaitan kelakuan sahabat  sebelum Islam, semasa Rasulullah masih hidup dan selepas baginda wafat.

Kategori pertama

Allah sendiri tidak menjanjikan keampunan kepada semua para sahabat, kecuali mereka yang beriman dan melakukan kebaikan

Kategori pertama para sahabat ialah para sahabat yang mempercayai Allah, Rasulnya dan telah memberi apa yang termampu untuk Islam. Kumpulam ini mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Islam. Mereka sentiasa menyokong Nabi, bersamanya susah dan senang, mempercayai baginda, tidak pernah meragui baginda, sentiasa melaksanakan arahan nabi, tidak pernah mengengkari arahan nabi dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti baginda contohnya mengatakan Nabi bercakap karut, berhalusinasi dan sebagainya.

Kumpulan ini lah yang disebutkan di dalam Quran (48:29) ;Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.

Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada percanggahan antara kedua-dua pihak. Tidak kira Sunni dan Syiah,bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini, oleh itu, sahabat kategori ini tidak akan dibincangkan di dalam siri artikel ini.

Perhatikan frasa yang telah di bold di atas, “di antara mereka itu”. Jelas sekali penggunaan frasa ini menunjukkan bahawa bukan semua para sahabat nabi tergolong dalam kategori ini seperti yang di war-warkan oleh saudara Ahlul Sunnah. Inilah yang kami cuba untuk nyatakan selama ini, bahawa di antara semua para sahbt nabi, hanya sebahagian sahaja yang mencapai standard yang telah di tetapkan di dalam ayat ini. Antaranya besikap keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang antara mereka. Jadi para sahabat yng tidak bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama kaum muslimin tidak jatuh dalam kategori ini. Sekaligus membatalkan kenyataan sesetengah saudara Ahlul Sunnah bahawa ayat ini diturunkan untuk semua sahabat tanpa kecuali.

Contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini ialah- Ammar Ibn Yassir, Miqdad, Malik Al Asytar, Abu Dzar Al Ghiffari dan Salman Al Farisi.

Cinta kami ialah untuk Ali ibn Abi Thalib dan cinta kami juga untuk Ahlul Bait Nabi(as). Penghormatan kami ialah untuk para sahabat dan isteri baginda yang kekal setia kepada Islam, Nabi dan Ahlul Bait baginda sebelum dan selepas kewafatan baginda. Saya bertanya kepada kamu semua, siapa yang kamu pilih, semua para sahabat atau para sahabat yang bertaqwa kepada Allah dan melakukan kebaikan

Iaitu orang-orang yang menjunjung perintah Allah dan RasulNya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh), sesudah mereka mendapat luka (tercedera di medan perang Uhud).Untuk orang-orang yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang bertaqwa, ada balasan yang amat besar. (Quran [3:172]

Ingatlah, ganjaran Allah bukan untuk semua orang.Rahmat Allah ke atas Nabi Muhammad (sawa) dan Ahlul Bait baginda yang di rahmati. Redha Allah ke atas mereka yang menyokong perjuangn Islam serta membantu Rasulullah dan Ahlul Bait Baginda dengan ikhlas seumur hidup mereka. Dan laknat Allah telah mencukupi bagi mereka yang bertindak bertentangan dengan Islam, arahan Nabi serta menyakiti Ahlul Bait baginda, kerana Allah swt tidak akan bersama penipu.

Kategori kedua

Kategori kedua ialah para sahabat yang memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah samada kerana pilihan sendiri atau kerana ketakutan, dan mereka sentiasa menghargai dan berterima kasih kepada Rasulullah atas keislaman mereka. Bagaimanapun, mereka menyakiti Rasulullah di beberapa peristiwa, dan tidak selalunya mengikuti perintah baginda, malah kerap mencabar perintah baginda, sehingga Allah swt, melalui Quran, harus masuk campur dengan memberi amaran dan mengancam mereka. Allah membuka pekung mereka dalam banyak ayat-ayat Quran, Rasulullah juga banyak menegur mereka dalam banyak hadis. Syiah hanya menyebut kumpulan sahabat ini dengan menyebut perbuatan mereka tanpa sebarang kekaguman.

Para sahabat kategori kedua di terangkan oleh Al Quran dalam banyak ayat, walau bagaimanapun saya akan menulis artikel yang berasingan bagi tajuk ini agar tidak terlampau memanjangkan artikel. Berikut ialah beberapa potong ayat dari kitab suci Al Quran yang menyebut tentang mereka.

Dalam Baiatul Ridhwan, umat Islam membuat perjanjian untuk tidak melarikan diri dari medan pertempuran. Perang Hunayn berlaku selepas “bay’at di bawah pokok” (Baiatul Ridwan). Jadi, apa pandangan anda mengenai orang-orang yang melanggar perjanjian setia mereka iaitu orang yang lari semasa Perang Hunayn?

Jika tiga Abu Bakar, Umar dan Uthman adalah orang yang berani, lalu tunjukkan kami buku anda iaitu Tafsir Qaweri nama ketiga – tiga orang yang tidak lari dalam pertempuran Hunayn.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu bila dikatkan padamu: Berperanglah kamu di jalan Allah, lalu kamu berlambat-lambat duduk di tanah? Adakah kamu lebih suka kepada kehidupan dunia lebih dari akhirat? Maka tidak adalah kesukaan hidup di dunia, di perbandingkan dengan akhirat melainkan sikit sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, niscaya Allah akan menyiksamu dengan azab yang pedih dan dia akan menukarkan kamu dengan orang lain” (9:38-39)

Ayat di atas menceritakan mengenai ada sesetengah sahabat yang berasa malas untuk berjihad sehingga Allah swt mengancam mereka dengan azab seksa di akhirat. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa mereka di tegur.

Jika semua para sahabat nabi maksum dan tidak dapat melakukan kesilapan, jadi untuk siapakah ayat Quran yang mengutuk kekikiran mereka untuk berjihad ditujukan?

Kamu Hai orang-orang yang diseru, supaya kamu menafkahkan(hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang bakhil. Barangsiapa yang bakhil, maka bahaya kebakhilan itu hanya atas dirinya (Quran [47:38]

“Jika kamu berpaling, maka Allah akan menukar kamu dengan kaum yang lain dri mu.” (47:38)

Bolehkah anda terangkan siapakah yang dimaksudkan dengan kamu di dalam ayat di atas? Allah juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”(49:2)

  1. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, ada sahabat ragu kepada kenabian
  2. Perang Hunain, ada sahabat menuduh Nabi tidak adil dalam pengagihan rampasan perang.
  3. Ketidak puasan hati dalam isu perlantikan Usamah Ibnu Zaid sebagai komander tentera sejurus sebelum kewafatan baginda.
  4. Peristiwa Hari Khamis di mana para sahabat menghalang Rasulullah menulis wasiat terakhir baginda dan menuduh baginda meracau.(Na uzubillah)

Dan banyak lagi laporan-laporan dari buku-buku hadis tentang kelakuan para sahabat. Lihat bagaimana hadis haudh ketika Nabi saaw menceritakan apa yang bakal terjadi kepada para sahabatnya,  yang mana berubah dan mengubah selepas wafatnya Rahmatal Lil Alamin. Malangnya mereka tidak akan mendapat keselamatan di Akhirat.

Pergaduhan kecil antara Umar dan Abu Bakr yang meninggikan suara lebih dari Rasulullah (sawa) dan hampir menghapuskan segala amalan mereka.

Di dalam buku-buku sahih Sunni, telah menyebutkan tentang perselisihan antara Abu Bakr dan Umar, yang hampir membawa kepada kemusnahan ke atas diri mereka sendiri dan merosakkan amal mereka, tetapi mereka di maafkan atas perbuatan mereka.

(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu tinggikan suara kamu dari suara nabi!) Allah swt mengajar orang-orang beriman agar tidak meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi saaw. Telah dinyatakan bahawa ayat ini diturunkan tentang Abu Bakr dan Umar. Al-Bukhari melaporkan bahawa Ibn Abi Mulaykah meriwayatkan, “2 orang yang benar, Abu Bakr dan Umar, hampir memperoleh kebinasaan kerana meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi, sebelum baginda menerima wakil delegasi Bani Tamim. Salah seorang dari mereka( Abu Bakr dan Umar) mencadangkan Al-Aqra bin Habis, seorang ahli Bani Mujashi, manakala seorang lagi mencadangkan orang lain. Nafi’(salah seorang perawi) berkata: “Aku lupa namanya.”  Abu Bakr berkata kepada Umar, “Kamu hanya mahu menyanggah pendapat ku.” Sementara Umar berkata, “Aku tidak berniat untuk menyanggah kamu”. Suara mereka menjadi kuat, dan oleh kerana itu, Allah swt menurunkan ayat di atas.`Abdullah bin Az-Zubayr said” Abdullah bin Az Zubair berkata, “Selepas kejadian itu, suara Umar menjadi begitu rendah sehingga Rasulullah terpaksa meminta Umar mengulangi apa yang beliau katakan untuk memahaminya.(Tafseer Ibn Kathir, Tafseer of Surah 49, Ayat 2)

Khalid Ibn Walid(sahabat) membunuh Malik Ibn Nuwara(juga seorang sahabat) dan merogol isteri beliau, Layla(juga seorang sahabat)

Sekali lagi kita kembali semula tentang keperibadian Khalid Ibn Al Walid. Malik Ibnu Nuwairah telah dilantik sebagai pengutip zakat oleh Rasulullah saw. Sunni dan Syiah berbeza pendapat samada Malik menjadi murtad selepas kewafatan baginda atau tidak. Semasa pemerintahan Abu Bakr, Khalid ibn Walid telah dihantar untuk berurusan dengan Malik. Mari kita perhatikan dari pendapat Sunni:

Setelah ditahan, Malik bertanya kepada Khalid tentang kesalahan yang dilakukan oleh beliau(malik). Khalid membalas dengan berkata: ‘Tuan kamu berkata itu dan ini.’ Khalid mengetahui ini adalah satu percubaan Malik untuk melepaskan diri. Setelah mempunyai bukti yang kukuh yang Malik mengagihkan duit zakat setelah mendengar kewafatan Muhammad, dan pakatan beliau dengan Sajjah, Khalid mendakwa Malik telah kufur dan mengarahkan pembunuhan beliau.(al-Balazuri, kitab no 1, m/s 107

Malik mempunyai seorang isteri, Layla bint al Minhal. Beliau ialah sahabat wanita Rasulullah saw, dan dikatakan seorang wanita tercantik di seluruh Tanah Arab. Syiah mendakwa Khalid merogol Layla pada malam Khalid membunuh Malik. Sunni pula mendakwa, Layla dikahwini Khalid pada malam yang sama Malik dibunuh.

Pada malam yang sama, Khalid menikahi Layla, bekas isteri Malik, yang dikatakan sebagai perempuan Arab tercantik. (Tabari: Vol. 2, M/s 5

Katakan saya menerima pandangan Sunni, iaitu Malik menikahi Layla pada malam yang sama Malik dibunuh, dan ia bukan satu kes rogol, maka saya mempunyai 2 isu. Saya bukanlah Ulama, tetapi di dalam Quran ada menyebutkan:

Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu, sedang mereka meninggalkan isteri-isteri hendaklah isteri-isteri itu menahan diri mereka (beridah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya itu maka tidak ada salahnya bagi kamu mengenai apa yang dilakukan mereka pada dirinya menurut cara yang baik (yang diluluskan oleh Syarak). Dan (ingatlah), Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.Quran [2:234]

Oleh kerana Abu Dzar dibuang negeri dan kehormatannya di jatuhkan, oleh kerana Abdullah ibn Mas’ud dipukul tanpa belas, oleh kerana patahnya rusuk Ammar ibn Yassir, dan oleh kerana rancangan untuk membunuh Muhammad Ibn Abu Bakr, Bani Ghiffar, Bani Hudhayl, Bani Makhzum dan Bani Taym semuanya menyimpan dendam dan kemarahan(terhadap pentadbiran Usman)Muslim dari bandar-bdanar lain juga penuh dengan aduan terhadap pegawai-pegawai Usman yang terlampau mabuk dengan kekayaan dan kemewahan, yang melakukan sesuka hati mereka dan memusnahkan sesiapa yang mereka mahu.
(Al-Baladhuri, Ansab, V, 98, 101)

Nabi berkata kepada puak Ansar: “Kamu akan mendapati selepasku sifat kepentingan diri yang tinggi. Oleh itu bersabarlah sehingga kamu bertemu Allah dan Rasulnya di Kautsar.” Anas menambah, “Tetapi kami tidak bersabar.”

Lihat sahaja apa yang dihadapi kaum Ansar selepas wafat nabi dan kaum muhajirun menyingkirkan mereka.

Diriwayatkan dari Al Musayyab: Aku bertemu al Bara Ibnu ‘Azib dan berkata padanya: “Semoga kamu hidup dalam kemakmuran. Kamu menikmati persabatan dengan nabi, dan memberi Nabi perjanjian taat setia di bawah pokok.” Selepas itu Al Bara berkata: “Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan selepas baginda.” Fikirkan!!!

Kategori ketiga

Kategori ketiga ialah para munafik yang tidak pernah mempercayai Allah dan Rasulnya, juga golongan yang menjadi murtad selepas nabi. Walaupun begitu kumpulan ini berjaya memasuki dan berada bersama kelompok kaum muslimin, dan melakukan kerosakan dari dalam

Yazid berkata: “Bani Hashim bermain dengan kerajaan, tetapi tiada wahyu yang di turunkan, malah tiada langsung risalah yang benar.”- Tarikh Al Tabari dan Tadhkirat al Khawas

Abu Sufyan pernah berkata apabila Usman mengambil alih jabatan khalifah:

“Wahai anak-anak Umaiyah! Oleh kerana kerajaan ini telah jatuh ke tangan kita, maka bermainlah dengannya seperti kanak-kanak bermain bola, dan berilah ia di antara satu sama lain di dalam puak kita. Kita tidak dapat memastikan wujudnya syurga atau neraka, tetapi kerajaan ini ialah realiti.- Al Isti’ab, Ibn Abd Al Barr dan Sharh Ibn Abil Hadid.

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal didalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar”. [An-Nisa’ 93]

Muawiyah berkata:“Aku tidak memerangi kamu agar kamu bersolat, berpuasa atau membayar zakat, tetapi untuk menjadi raja kamu dan menguasai kamu.”- Tadhkirat al Khawas

Ini adalah sebahagian dari contoh yang saya berikan tentang bagaimana ketiga-tiga orang ini meragui beberapa doktrin paling penting dalam Islam. Seperti yang saya sebutkan sebelum ini, saya akan membincangkan dengan lebih detail berkenaan individu-individu ini dalam artikel saya yang lain.

Di dalam Quran, Allah swt banyak memberi amaran dan menceritakan tentang golongan ketiga ini malah memperuntukkan satu surah khas untuk mereka, iaitu surah Al Munafiqun. Berikut adalah contoh ayat mengenai kumpulan ini.

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, Allah mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Allah, mereka berlemah lembut kepada orang-orang beriman dank eras terhadap orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah, tidak taku orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui. (5:54)

Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan para sahabat akan murtad dari agama Islam. Panggilan “Hai orang-orang beriman!”,jelas sekali merujuk kepada kaum muslimin, yaitu para sahabat di zaman Nabi. Jelas sekali gelaran sahabat, sama sekali tidak menjamin seseorang itu dari:

  • Imuniti dari dosa
  • Tahap keimanan yang sama sehingga mati.
  • Akan sentiasa berada dalam Islam sehingga mati.
  • Imuniti dari kemahuan kepada duniawi dan tuntutan hawa nafsu.

Kami Syiah, apa yang kami mahu ungkapkan kepada saudara Sunni hanyalah bahawa, para sahabat juga manusia biasa, terdedah kepada:

  • Dosa
  • Kesilapan
  • Godaan syaitan
  • Godaan nafsu.

hujah-hujah kepercayaan Syiah yang disokong oleh sumber dari Sunni yang telah wujud selama berabad-abad NAMUN DiSEMBUNYiKAN !


Ahlulbait(as) Khalifah Umat Islam

Apa yang saya telah nyatakan di atas bukanlah satu tafsiran baru, saya hanya meringkaskan hujah-hujah kepercayaan Syiah yang disokong oleh sumber dari Sunni yang telah wujud selama berabad-abad. Dan saya amat terkejut memperhatikan ulasan para ulamak mengenai konsep Ahlul Bait:

“Syiah mengambil kesempatan daripada hubungan akrab riwayat Ali dengan Muhammad dan konsep turun temurun bangsa Arab mengenai ahlul-Bayt (ahli keluarga) — ahli keluarga dari mana ketua dipilih —- dan sudah tentu menyokong pencalonan di kalangan keluarga Ali ‘… “1

Tidak sepatutnya seseorang dari latar belakang Syiah mengatakan bahawa Syiah mengambil kesempatan “konsep turun temurun Arab mengenail ahlul-Bayt”! Jika begitu, konsep Ahlul Bait menjadi satu konsep era pra-Islam / jahiliyah yang telah digunakan oleh Syiah untuk mengemukakan tuntutan mereka mengenai Imamah ‘Ali dan keturunannya!

Perkara ini memang menyedihkan bahawa seorang ulama, dari latar belakang Syiah, tidak boleh membincangkan konsep Ahlul Bayt dari perspektif al-Quran manakala seorang ilmuan yang bukan Islam, Wilfred Madelung, telah dapat berbincang dengan panjang lebar kepentingan yang diberikan kepada keturunan para nabi sebelum Islam dan penjelasan dengan ayat al-Quran yang khusus untuk ahlul-Bayt.(2) Walaupun kita tidak bersetuju dengan definisi yang meyeluruhnya berkenaan Ahlul Bayt, kita amat bersetuju dengan kesimpulannya bahawa, ” Al-Quran menyarankan penyelesaian beberapa perkara melalui perundingan, tetapi tidak pada pewarisan kenabian. Itu, menurut al-Quran, diselesaikan melalui pilihan Allah, dan Tuhan akan memilih pengganti mereka sama ada mereka itu menjadi nabi mahu pun tidak, dari kaum kerabat mereka sendiri. “(3)

Seolah-olah ulama Syiah tersohor ini meminjam pandangan Marshall Hodgson dan Fazlur Rahman iaitu keturunan Fatimah — digelar Ahlull-Bayt, “ahli keluarga ‘(di mana ketua2 akan dipilih) ….” (4)

Ketika mengulas mengenai tuntutan yang dibuat oleh Syiah dari Kufa (penterjemah-pusat pemerintahan Islam pada masa itu) bahawa khalifah akan dipilih dari keluarga “Ali, Fazlur Rahman menulis:” motif yang mendorong pada tuntutan hak ini oleh penduduk Arab Kufah tidak begitu jelas, kecuali …. hakikat bahawa Nabi memang berasal dari  Bani Hashim telah dieksploitasi. “(5) Fazlur Rahman membayangkan bahawa konsep Ahlul Bait (iaitu, ‘Ali dan Nabi adalah dari Bani Hashim) telah” dieksploitasi “oleh Syiah Kufah untuk mempromosikan tuntutan mereka untuk keimaman keturunan Ali.

Tetapi siapa yang mengambil kesempatan daripada tradisi pra-Islam dalam pertikaian pada khalifah? ‘Ali telah dinafikan khalifah yang sah oleh Quraisy atas alasan tradisi melantik orang yang lebih tua dan tidak pada yang lebih muda. ‘Ali, dalam perbandingan kepada Abu Bakr, masih muda dalam usia dan oleh itu, berdasarkan tradisi Arab lama, tidak sesuai untuk kepimpinan.(6) Jadi kaum Quraisy sebenarnya yang berpegang pada adat lama untuk merebut kedudukan khalifah dari ‘Ali bin Abi Talib.

Siapa yang “dieksploitasi” dan “mengambil kesempatan” hubungan mereka kepada Nabi? Ia adalah kumpulan Quraish di Saqifah yang mengeksploitasi hakikat bahawa Nabi adalah dari puak mereka, dan oleh itu, mereka lebih berhak kepada kedudukan khalifah daripada lawan mereka dari Ansar (penduduk Madinah) 0,7

Apabila Imam ‘Ali telah dimaklumkan mengenai perdebatan antara Quraish dan Ansar di Saqifah, dia bertanya, “Apa yang Quraish dakwakan?”

Orang berkata, “Mereka berhujah bahawa mereka tergolong dalam susur jalur Nabi.”

‘Ali mengulas dengan berkata, “Mereka berdalih dengan pokok (susr jalur) itu tetapi mereka memusnahkan buahnya.” (8) Pokok ini merujuk kepada “puak Quraish” dan buah-buahan merujuk kepada “keluarga Nabi”.

____________

1. Abdulaziz Sachedina, Messianism Islam, p.6.

2. Lihat Madelung, Pewarisan Muhammad, p.6-17.

3. Ibid, p.17.

4. Marshall GS Hodgson, Teroka Islam, jld.1 (Chicago: Universiti Chicago Press, 1974) p.260.

5. Fazlur Rahman, Islam, p.171.

6. Lihat contoh, Ibn Qutayba ad-Daynwari, al-Imamah wa ‘s-Siyasah, p.18; MA Shaban, Sejarah Islam AD 600-750, p.16. Sachedina sendiri berkata berikut mengenai wilayah: “Perkara baru tentang ini bahawa dalam budaya Arab, orang-orang Arab tidak biasa untuk melihat seorang anak muda memegang kepimpian Ini adalah mustahil bagi seorang lelaki muda berusia tiga puluh tahun menjadi pemimpin kerana orang-orang Arab percaya bahawa orang tua sahaja berhak untuk memimpin … ” Dari ucapan 6 Muharram (1419) 1998 di Toronto.

7. Terdapat dua kumpulan bertanding di Saqifah: Quraisy yang berhijrah dari Mekah (dikenali sebagai Muhajirin) dan penduduk Madinah (dikenali sebagai Ansar). Untuk hujah-hujah yang digunakan oleh orang-orang Muhajirin di Saqifah sila rujuk tajuk Bahasa Inggeris seperti berikut:

SSA Rizvi,Imamate, pp.113-126; Murtaza al-Askari,Abdullah bin Saba and other myths (Tehran: WOFIS,1984) pp.69-95; Muhammad R. al-Muzaffar,Saqifa (Qum:Ansariyan,1998).

8. Sayyid Razi, Nahju ‘l-Balagha, khutbah 67. Untuk sumber Sunni, lihat at-Tabari, Ta’rikh, jld.6, p.263 dan Ibn ‘Abdi’ l-Barr, al-Isti’la ‘ab bawah biografi’ Auf bin Athathah.

Ahlulbait(as) Khalifah Umat Islam

Ahlul Bayt

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithami dilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum ini tentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakanTawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar. Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Siapa Sebenarnya Khulafa’ Ar Rasyidin


12 Imam Syiah

Salam dan Solawat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani.

Sejak kita di bangku sekolah lagi, di dalam pendidikan sejarah Islam, nama Khalifah Ar Rasyidin adalah sesuatu yang kerap kita dengar, dan kita telah dididik untuk menyanjung dan mencontohi mereka dalam segala hal. Kita kerap mendengar guru-guru kita memberikan hadis ini kepada kita.

“Aku wasiatkan kepada kamu agar bertaqwa kepada Allah dengar serta taat, meskipun kamu dipimpin oleh seorang hamba. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang masih hidup sesudah pemergianku, ia akan melihat banyak perselisihan yang akan berlaku. Maka ketika itu pastikan kamu berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Gigitlah ia dengan gerahammu, dan berhatilah dengan perkara-perkara baru dalam agama, kerana setiap bidaah itu ialah kesesatan.”

Hadis di atas adalah antara sandaran utama AhlulSunnah, dan antara sebab mereka mengagungkan para khalifah ini. Walaubagaimanapun, hadis ini dhaif, dan akan saya bincangkan nanti tentang kedhaifannya. Anyway, saya berpendapat, matan hadis ini boleh di pakai, hanya jika kita menakwilkannya terhadap para Imam dari Ahlulbait(as), seperti yang saya telah bahaskan dalam artikel yang lepas. Sunnah para Aimmah(as) tidak pernah bercanggah dengan Sunnah Nabi(sawa), juga tidak pernah bercanggah sesama mereka. Ini ialah satu fakta dan mengapa saya memilih untuk menggigit sunnah mereka dengan gigi geraham saya.

Ada beberapa masalah tentang hadis di atas, jika katakan kita mahu mengguna pakai hadis ini:

  1. Rasulullah(sawa) tidak pernah menyebutkan siapa “Khalifah Ar Rasyidin” ini secara jelas(kecuali untuk Imam Ali(as) dan Ahlulbait baginda) di dalam hadisnya, jadi mengapa kalian AhlulSunnah menamakan Abu Bakr, Umar dan Usman sebagai khalifah ar rasyidin?
  2. Jika pun benar mereka ialah para khalifah yang disebutkan oleh Rasul Akram(sawa), apakah hujah kalian untuk hanya menetapkan mereka kepada 4 orang sahaja?

Inilah antara kemusykilan saya, kerana kita suka-suka hati sahaja menetapkan siapa khulafa ar rasyidin, sedangkan perlantikan ini seharusnya daripada Allah swt melalui mulut Rasul yang suci, bukan oleh kita manusia biasa penuh dosa. Saudara Sunni jelas telah tersilap, kerana sepatutnya hadis ini perlu digandingkan dengan hadis-hadis dalam artikel Imamah bahagian 2 yang lepas, dan juga, dengan hadis ini-:

1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,

“Akan wujud 12 orang amir”.

Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya.    Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:

“Semuanya dari Quraish.”

2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:

‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”

Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:

Semuanya daripada Quraish”

3.  Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:

“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”

4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:

“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”

5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:

“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”

6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:

“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”

7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:

Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah pemergiannya?

Ibnu Mas’ud menjawab:

“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”

Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasululla(sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-

  1. Islam akan tetap mulia.
  2. Agama ini akan tetap teguh.
  3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.

Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.

Dengan adanya hadis-hadis ini, bagaimanakah saudara-saudara Sunni sekalian boleh menghadkan Khalifah sesudah Nabi hanya 4 orang, dan apakah dalil-dalil atau nas yang mengatakan khalifah-khalifah ini ialah Abu Bakr, Umar, atau Usman(Ali sudah tentu ada, hehe)? Setakat ini dan selama sejarah ini, yang diketahui mengenali dan mengikut 12 orang khalifah secara tepat hanyalah Syiah Imamiah. Mereka menjadikan mereka sebagai sumber kepimpinan mereka.

Lihat sahaja betapa Rasulullah(sawa) begitu menekankan tentang 12 orang khalifah ini, yang dari semua hadis ini, kita dapat rumuskan mereka sebagai penjaga agama dan urusan umat sepeninggalan baginda. Kalau kita match kan hadis-hadis ini dengan hadis wilayah Ahlulbait(as), tidakkah kita mendapati mereka(Ahlulbaiy) ialah gandingan yang sesuai untuk 12 orang ini? Dan sememangnya, hanya 12 orang sahaja yang dengan sebenar-benarnya layak memimpin umat Islam.

Siapakah Mereka?

Sewaktu saya masih dalam tempoh kajian, saya begitu teruja dan ingin tahu tentang 12 orang amir ini. Saya sentiasa membayangkan mereka sebagai pelindung Islam dan pengikutnya. Malangnya saya tidak mengenali mereka yang lain, selain dari empat yang telah diketahui umum. Saya tertanya-tanya, siapakah 8 orang yang selebihnya? Ulama-ulama Sunni, menemui jalan buntu dalam percubaan mereka untuk menakwil dan memahami hadis ini. Apa kata mereka?

Qadi Abu Bakr Ibn Al Arabi

Setelah mengira bilangan Amir selepas Rasulullah sebagai 12 kita mendapati mereka terdiri daripada : Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, Ali, Hasan, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah ibn Yazid, Marwan, ‘Abd al-Malik ibn Marwan, Yazid bin ‘Abd al-Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Selepas dari mereka ini ada 27 orang lagi khalifah dari Bani Abbasiyyah.

Kalau kita hanya mengambil 12 orang khalifah dari mereka itu kita akan sampai kepada Sulayman.  Kalau kita mengambil maksud hadith ini secara literal, kita hanya boleh mengambil 5 orang daripada mereka dan ditambah dengan 4 orang Khulafa’ ar-Rasyidun dan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz…

Saya tidak boleh memahami maksud Hadith ini.

[Qadi Abu Bakr Ibn al-‘Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]

Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:

Bilangan Khalifah adalah lebih dari itu. Untuk menghadkan bilangan mereka kepada dua belas adalah tidak tepat. Rasulullah (s.a.w.s.) tidak pernah mengatakan bahawa hanya ada dua belas orang dan tidak lebih dari itu. Oleh itu bilangan mungkin ada lebih.

[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalal al-Din al-Suyuti:

Hanya ada duabelas orang khalifah sehingga hari kebangkitan. Dan mereka akan tetap bertindak mengikut haq (kebenaran) walaupun mereka tidak berturutan.

Daripada 12 itu, empat adalah khulafa ar-Rasyidun, kemudian Hasan, kemudian Mu’awiyah, kemudian Ibn Zubayr, dan diakhiri dengan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz. Bilangan mereka baru lapan. Tinggal lagi empat. Mungkin Mahdi, si-Abbasiyyah boleh dimasukkan kerana beliau dikalangan Bani Abbasiyyah adalah seperti  ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz dikalangan Bani Umayyah. Tahir ‘Abbasi akan juga dimasukkan kedalam bilangan ini kerana beliau merupakan seorang sultan yang adil. Dua lagi akan datang pada masa hadapan. Salah seorang daripada mereka adalah Mahdi, kerana beliau adalah dari Ahlul Bayt (a.s.).

[Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Page 12;Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa’iq al-Muhriqa Page 19

Ibn Hajar al-‘Asqalani:

Tidak ada seorangpun yang mempunyai ilmu yang cukup untuk memahami hadith dari sahih Bukhari ini.Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahawa imam-imam ini akan hadir pada satu ketika/masa yang sama.

[Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

Ibn al-Jawzi:

Khalifah pertama dari Bani Umayyah adalah Yazid ibn Mu’awiyah dan yang terakhir adalah, Marwan Al-Himar. Bilangan mereka adalah tiga belas. ‘Uthman, Mu’awiyah dan ibn Zubayr tidak dimasukkan didalam bilangan ini kerana mereka adalah dikalangan para sahabat Rasulullah(s).

Kalau kita mengecualikan Marwan bin al-Hakam kerana kontorversi samada beliau dikira sebagai sahabat ataupun tidak kerana walaupun beliau berkuasa  Abdullah ibn Zubayr mendapat sokongan daripada rakyat. Baharulah kita akan mendapat angka dua belas. … Setelah kekhilafahan Bani Umayyah, suatu kekacauan yang hebat berlaku. Sehingga Bani Abbasiyyah berjaya untuk menstabilkan pemerintahan mereka. Oleh itu suasana asal telah bertukar seluruhnya.

[Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al Baihaqi:

Bilangan ini (duabelas) akan dijumpai hingga ke zaman Walid ibn ‘Abd al-Malik. Selepas daripada ini timbul kekacauan dan gangguan. Kemudian datang pula Bani Abbasiyyah. Riwayat ini telah meningkatkan bilangan Imam. Sekiranya kita ketepikan sebahagian daripada perilaku mereka yang datang selepas kekacauan tersebut, bilangan mereka akan meningkat.”

[Ibn Kathir, Ta’rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Page 11]

Ibnu Katsir:

Barangsiapa yang mengikut dan bersetuju dengan  pandangan Bayhaqi bahawa Jama’ah bermaksud khalifah-khalifah yang datang turut menurut sehingga pada masa Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik si-pengganas adalah mereka yang dikritik dan dihina oleh kami dengan berhujah kepada beberapa hadith.

Dan sekiranya kita menerima Kekhalifahan Ibn Zubayr sebelum ‘Abd al-Malik bilangannya akan menjadi enam belas. Padahal bilangannya sepatutnya duabelas sebelum dari ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Dengan kaedah ini Yazid ibn Mu’awiyah akan dimasukkan dan tidak  ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Walaubagaimanapun, adalah telah diterima oleh junhur ulema bahawa ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz adalah seorang khalifah yang benar dan adil.

[Ibn Kathir, Ta’rikh, 6:249-250]

Lihat sahaja kekeliruan mereka. Ini mungkin disebabkan oleh kejahilan mereka kerana hanya memberi tumpuan terhadap orang yang memegang kuasa bukan yang di lantik Rasulullah(sawa). Ini juga disebabkan oleh prejudis terhadap Syiah sehingga mereka terlepas pandang terhadap hadis keutamaan Ahlulbait(as).

Demi membuka kebuntuan ini, biarlah saya meriwayatkan hadis ini sebagai permulaan:-

Al-Dhahabi yang merupakan seorang ulamak yang terkenal, berkata di dalam Tadhkirat al-Huffaz, Jilid. 4, ms. 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani berkata didalam al-Durar al-Kaminah, Jilid. 1, ms. 67 bahawa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i merupakan seorang ulamak hadith yang terkenal. Beliau (Al-Juwayni) melaporkan dari Abdullah ibn Abbas (r) yang melaporkan dari Rasulullah (s) yang bersabda,

Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

Al-Juwayni juga meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas (r) yang meriwayatkan daripada Rasulullah (s):

“Sesungguhnya Khalifahku dan pewarisku dan Hujjah Allah keatas makhlukNya selepas dari ku adalah 12. Yang pertama daripada mereka adalah saudaraku dan yang terakhir daripada mereka adalah anakku (cucu).“  Baginda ditanya: “Ya Rasulullah, Siapakah saudaramu?”  Beliau menjawab, “Ali ibn Abi Talib” Kemudian mereka bertanya lagi, “Dan siapakah anakmu?”  Rasulullah (s) menjawab, “Al Mahdi, beliau yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan seperti mana pada ketika itu ia dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekejaman. Dengan Dia yang telah mengangkatku sebagai pemberi khabar buruk dan khabar baik, biarpun hanya sehari tinggal untuk kehidupan dunia ini, Allah Maha Kuasa akan memanjangkan hari itu sehingga beliau menghantar anakku Mahdi, kemudian Beliau akan menyuruh Ruhullah ‘Isa ibn Maryam (a) untuk turun dan solat dibelakang beliau (Mahdi). Dan dunia akan disinari oleh cahaya kehebatannya. Dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahawa Rasulullah(s) juga memberitahu: “Aku, Ali, Hasan, Husayn dan sembilan orang daripada zuriat Husayn adalah mereka yang disucikan dan yang tidak melakukan kesalahan.

[Al-Juwayni, Fara’id al-Simtayn, Mu’assassat al-Mahmudi li-Taba’ah, Beirut 1978, p. 160.]

Pendapat inilah yang selari dengan pendapat kami, Syiah Ahlulbait(as). Jelas sekali di sini, Khalifah ar Rasyidin bukanlah ditujukan kepada Abu Bakr, Umar atau Usman. Gelaran ini juga tidak muncul di zaman pemerintahan mereka. Ia hanya diberikan oleh ulama-ulama dari golongan Tabiin dan seterusnya, yang memandang zaman itu sebagai zaman kegemilangan Islam.

Untuk lebih detail, inilah mereka.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:

Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;

Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa).

Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain.

Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamannya.

Setakat ini, bolehlah saya simpulkan bahawa nama para Imam/Khalifah/Amir ini ialah:

  1. Imam Ali Ibnu Abi Thalib Al Murtadha
  2. Imam Hassan ibn Ali al Mujtaba
  3. Imam Hussain ibn Ali asy-Syahid
  4. Imam Ali ibn Hussain Zain al Abidin
  5. Imam Muhammad ibn Ali al Baqir
  6. Imam Ja’afar ibn Muhammad as Sadiq
  7. Imam Musa ibn Ja’afar al Kazim
  8. Imam Ali ibn Musa ar Redha
  9. Imam Muhammad ibn Ali al Jawad
  10. Imam Ali Ibn Muhammad al Hadi
  11. Imam Hassan ibn Ali al Askari
  12. Imam Muhammad ibn Hassan al Mahdi

Demi Allah, para Imam-imam inilah tempat kami, orang-orang Syiah, meletakkan kesetiaan kami, rujukkan ilmu agama kami, dan sebagai hakim kami. Mereka ialah lantikan Allah swt, menerusi lidah suci Imam ar Rahmah, Rasulullah(sawa). Ada sesetengah pihak menuduh kami, sesuka hati meletakkan siapa Imam-imam ini, seolah-olah kami memilih Imam kami. Kalian silap, Allah swt lah yang menetapkan mereka, bukan kami, kami hanya “Sami’na wa atho’na.“(Kami dengar dan kami taat)

Apa yang boleh saya simpulkan di sini ialah:-

  • Khalifa ar Rasyidin bukan sekadar 4 orang, tetapi 12 orang.
  • Mereka semuanya ialah Ahlulbait(as), bukan Abu Bakr, Umar dan Usman.
  • Rasulullah sendiri telah menyebut mereka, dan bukan ciptaan kami.
  • Di bawah Imamah mereka, Islam itu aman, terurus dan terlindung, begitu jugalah dengan umatnya yang mengikuti mereka.

Kalau nak diikutkan, perbahasan ini masih boleh dipanjangkan, tetapi saya merasakan cukup setakat ini. Tidak mengapa jika ada yang tidak bersetuju dengan apa yang saya utarakan di sini, tetapi hormatilah pendapat kami, kerana kami mengeluarkan pendapat berdasarkan dalil dan nas, bukan sekadar suka-suka.

Wilayah Imam Ali(as) dari Hadis


man kunto mola fahaza ali moula

Salam alaikum. Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

InsyaAllah, dalam bahagian ini, akan saya bahaskan tentang dalil-dalil wilayah Imam Ali(as) bersumberkan hadis dari pihak Ahlul Sunnah wal jamaah.

Hadis Ghadir Khum

1. An Nasai meriwayatkan dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam berkata: Ketika Nabi pulang dari Haji wada’ dan singgah di Ghadir Khum, baginda menyuruh para sahabatnya bernaung di bawah pohon-pohon. Setelah itu baginda berkhutbah:

“Sudah hampir masanya aku dipanggil Allah dan aku mesti pulang menghadapnya. Sesungguhnya aku tinggalkan buat kamu 2 perkara yang amat berharga(Tsaqalain) yang satu lebih berat dari yang lainnya, iaitu Kitab Allah dan keluarga ku iaitu Ahlulbaitku. Oleh itu perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya, kerana sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh.”

Kemudian baginda bersabda lagi:

“Sesungguhnya Allah ialah maulaku, dan aku ialah maula setiap mukmin.”

Lalu baginda mengangkat tangan Ali lalu bersabda:

Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Abu Thufail bertanya kepada Zaid: Apakah kamu benar mendengarnya dari Rasulullah(sawa)? Zaid menjawab: Sesungguhnya tidak ada seorang pun di bawah pohon-pohon itu yang tidak melihat dengan kedua matanya dan mendengar dengan kedua telinga mereka.

Sumber: Khasaish Imam Ali, An Nasai, bil 79

2. Ibnu Majah meriwayatkan dari Al Bara’ bin Azib berkata: Kami pergi Haji bersama Rasulullah(sawa) dan kami singgah di persimpangan jalan. Setelah baginda bersolat bersama, lantas baginda mengangkat tangan Ali dan bersabda:

Bukankah aku ini lebih utama dari diri orang-orang mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar Ya Rasulullah(sawa)! Rasulullah bersabda: Maka ini Ali adalah pemimpin bagi mereka yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya. Ya Allah pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.”

Sumber: Sunan Ibnu Majah, Hadis 116

3. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Zaid bin Arqam berkata: Kami singgah di suatu lembah yang bernama Khum. Baginda memerintahkan supaya mendirikan solat dan kami melaksanakannya di bawah sinaran terik matahari. Setelah itu baginda berkhutbah sementara Samurah memayungi baginda dengan sehelai baju yang digantung di atas dahan dari sinaran matahari. Lalu baginda bersabda:

“Bukankah kalian tahu/bersaksi bahawa aku ini lebih utama dari setiap diri orang mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar! Baginda bersabda lagi: Dari itu siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali ialah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Sumber: Musnad Ahmad 4/327 dan Majma uz Zawaid 9/107

4. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan lagi dari al Bara’ bin Azib, menerusi 2 rantaian sanad berkata; Kami bersama Rasulullah lalu singgah di Ghadir Khum. Kemudian seorang sahabat membersihkan kawasan agar Nabi boleh menunaikan solat Zohor di bawah antara 2 pokok. Setelah itu baginda mengangkat tangan Ali dan bersabda:

“Bukankah kamu mengetahui bahawa aku ini lebih utama dari setiap diri mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar! Baginda bertanya lagi: Soalan yang sama, lalu di jawab juga sama. Lalu baginda mengambil tangan Ali  dan bersabda: Dari itu siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Setelah itu Umar datang menemui Ali dan berkata: “Tahniah wahai putera Abu Thalib. Anda telah menjadi pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”

Sumber: Musnad Ahmad 4/281, Kanzul Ummal, 15/117 dan Fadhail al Khamsah 1/350

5. Ath Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Zaid bin Arqam dan Huzaifah bin Usaid al Ghifarri berkata: Rasulullah telah berkhutbah di Ghadir Khum di bawah pohon-pohon dengan sabdanya:

“Wahai sekalian manusia! Aku hampir di panggil Allah dan aku akan menyahutnya. Sesungguhnya aku dan kalian akan ditanya, maka apakah yang akan kalian jawab?

Mereka berkata: Kami bersaksi bahawa kamu telah berjuang dan kamu telah memberi nasihat, semoga Allah membalas mu dengan kebaikan.

Rasul meneruskan sabdanya: “Tidak kalian bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan bahawa Muhammad ini ialah hamba dan Rasulnya, bahawa syurga itu benar, neraka itu benar, kematian itu benar, hari kebangkitan sesudah mati itu benar, kiamat itu pasti terjadi tanpa ragu-ragu, dan bahawa Allah akan membangkitkan orang-orang di dalam kubur?

Semua menjawab: Benar! Kami bersaksi dengan semua itu. Lalu baginda berdoa: Ya Allah, saksikanlah.

Kemudian baginda menyambung lagi:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah pemimpin ku, dan aku ialah pemimpin kaum mukmin dan lebih utama dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya maka ini Ali juga ialah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Seterusnya baginda bersabda lagi:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan kalian akan dibawakan kepada ku di al Haudh, al Haudh luasnya terbentang dari Basrah ke Sanaa, padanya bilangan bintang-bintang indah dan perak. Sesungguhnya aku akan bertanya kepada kalian tentang 2 perkara berharga(Tsaqalain) ketika kalian dibawakan kepada ku di al Haudh, bagaimana kalian melayani keduanya sepeninggalanku.

Perkara yang paling berharga ialah Kitab Allah yang hujungnya ada di tangan Allah, dan hujungnya lagi ada di tangan-tangan kalian. Maka berpeganglah kepadanya maka kalian tidak akan sesat dan menyeleweng. Dan keluargaku iaitu ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah telah memberitahu kepada ku bahawa keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya kembali kepadaku di al Haudh.

Sumber: Al Sawaiqul Muhriqah: Hal 25

Ada beberapa lagi hadis yang berkaitan, tetapi saya tidak bercadang untuk memuatkan semuanya dalam artikel ini. Walaubagaimanapun, hadis al Ghadir yang telah saya tunjukkan disini telah mencapai status Sahih lagi mutawattir yang tidak dapat di sangkal lagi kedudukannya. Malah semuanya yang saya tunjukkan di sini adalah bersumber dari kitab-kitab Sunni, yang mana untuk kesahihannya, kalian boleh semak sendiri dengan merujuk kepada kitab-kitab yang berkaitan. Jadi bagaimana pula ada sesetengah orang jahil yang boleh membuat tuduhan bahawa peristiwa Ghadir Khum ini ialah satu rekaan orang-orang Syiah? Maha Suci Allah yang akan sentiasa membuatkan kebenaran itu Nampak walaupun orang-orang zalim sentiasa cuba menutupinya.

Sungguh menyedihkan apabila ramai umat Islam(Sunni) sendiri tidak mengetahui akan peristiwa ini, kerana usaha terus menerus orang-orang zalim ini untuk tidak membincangkan peristiwa ini. Sudah tentu ini kerana mereka tahu bahawa hujah mereka adalah sangat lemah jika ingin dibandingkan dengan hujah kami Syiah kepada Ahlulbait(as).

Antara usaha sia-sia mereka untuk mendhaifkan hadis ini sebagai hadis perlantikan Imam Ali(as) ialah dengan percubaan mereka untuk menakwilkan perkataan “maula” atau perkataan “wali”. Sudah tentu saya akan membahaskannya di artikel lain, kerana saya hanya ingin memuatkan segala dalil berkaitan Imamh Imam Ali di sini. Itu sahaja pun dah cukup panjang.

Hadis Manzilah

Hadis ini adalah salah satu lagu hadis yang menunjukkan dalil Imamah Ali(as). Manzilah bermaksud kedudukan di dalam bahasa melayu. Sabda Rasulullah(sawa):

“Kedudukan Ali di sisiku umpama kedudukan Harun di sisi Musa(as) melainkan tiada lagi Nabi sesudahku.”

Hadis Sahih ini diriwayatkan oleh ramai para ulama silam Sunni, antaranya:

  1. Sahih Bukhari
  2. Sahih Muslim
  3. Sahih Tarmizi
  4. Sunan Ibnu Majah
  5. Khasais Ali: Nasai
  6. Sunan Ibnu Hibban
  7. Mustadrak al Hakim
  8. Musnad Abu Ya’la
  9. Tarikh al Khulafa’
  10. Hilayatul Awliya’
  11. Sunan al Bazzar
  12. Musnad Humaidi
  13. Tarikh Thabari
  14. Mu’jam as Saghir
  15. Tazkiratul Huffaz
  16. Musnad Ahmad
  17. Kanz al Ummal

Dengan kata lain, Nabi Muhammad(sawa) mengatakan bahawa, kedudukan Imam Ali di sisi baginda, ialah sebagai mana kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa. Maka segala yang dimiliki Harun juga dimiliki oleh Imam Ali(as). Seperti yang diceritakan kepada kita dari Al Quran tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Harun, adalah diketahui bahawa Nabi Harun memiliki kuasa dan dilantik sebagai wazir dan pembantu Nabi Musa, begitulah juga halnya dengan Imam Ali(as), kecuali kenabian.

Dalam artikel lepas, ketika membincangkan ayat al Wilayah, saya ada bawakan hadis berikut:

Abu Ishaq At Thalabi menerusi tafsirnya al Kabir dan al Huskani al Hanafi dalam Syawahidul Tanzil. Keduanya telah menyebut dari sanad yang sama iaitu Abu Dzar al Ghifari berkata:

Aku telah mendengar Rasulullah(sawa) bersabda dengan kedua telinga ku ini. Jika tidak benar, maka biarlah keduanya menjadi tuli. Dan aku juga melihatnya dengan kedua mataku. Jika tidak benar maka biarlah keduanya menjadi buta. Sesungguhnya Rasulullah(sawa) bersabda: “Ali ialah pemimpin orang-orang yang baik dan pembunuh orang-orang yang kafir. Sesiapa yang membantunya pasti akan dibantu, dan sesiapa yang mensia-siakannya pasti akan terabai.”

Sesungguhnya pada suatu hari aku pergi bersolat bersama baginda(sawa). Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta-minta di dalam masjid dan tiada seorang pun yang memberikannya sesuatu. Sementara Ali sedang rukuk ketika itu menghulurkan tangannya yang  tersarung cincin di jari manisnya kepada si pengemis itu lalu ia datang dan mengambil cincin tersebut dari jari beliau. Setelah itu baginda Rasul(sawa) yang bermaksud:

Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa bermohon kepada Mu: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusan ku dan lepaskanlah kekeluan lidahku agar mereka faham perkataan ku. Jadikanlah untuk ku seorang pembantu dari keluargaku iaitu Harun saudaraku. Dengannya teguhkanlah kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Mu dan banyak berzikir kepada Mu. Sesungguhnya Engkau maha Melihat keadaan kami.” Lalu engkau wahyukan kepadanya, ” Sesungguhnya telah diperkenankan permintaan mu itu wahai Musa.”(Dirakam di dalam Quran surah Thaha:29)

Setelah itu baginda bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku ini hambaMu dan Nabi Mu. Lapangkanlah dadaku, dan permudahkanlah urusan ku, dan jadikanlah untuk ku pembantu dari keluarga ku iaitu Ali saudaraku. Teguhkanlah aku dengannya.”

Abu Dzar berkata: “Demi Allah, belumpun sempat baginda menghabiskan doanya, tiba-tiba Jibril turun membawa ayat…(Wilayah).

Di ceritakan di dalam Quran, Nabi Musa memohon kepada Allah akan dikurniakan pembantu dalam segala urusan beliau, dan memohon agar Harun ialah orangnya. Sebagaimana Nabi Musa, Rasulullah juga memohon agar dikurniakan perkara yang sama, dengan Imam Ali(as) menjadi pembantu baginda, sama seperti kes Nabi Musa(as). Dan permohonan mereka dikabulkan. Firman Allah:

“Sesungguhnya telah kami berikan kitab taurat kepada Musa dan kami adakan Harun sebagai wazirnya.” Al Quran (25:35)

Sebagaimana Nabi Harun menjadi pengganti Nabi Musa sepeninggalan beliau ke Bukit Thursina, maka seperti itu jugalah kedudukan Ali sebagai pengganti baginda dalam segala hal kepimpinan umat kecuali kenabian. Semasa ketiadaannya, Nabi Musa tidak meninggalkan umatnya terkapai-kapai tanpa petunjuk dan pemimpin, maka kita dapat melihat perkara yang serupa iaitu Rasulullah juga melantik Imam Ali sebagai khalifah agar umatnya tidak tersesat arah.

“Dan berkata Musa kepada saudaranya Harun: engkau menggantikan tempatku menjaga kaumku…” Al Quran(7:142)

Kalau kita perhatikan ayat di atas, perkataan “ukhlufi”(menggantikan) digunakan, dan perkataan ini mempunyai kata dasar yang sama dengan “khalifah”(pengganti). Menarik. Jika kita mahu melihat gambaran sebenar, gantikan sahaja ayat-ayat Al Quran yang mengandungi nama Musa dan Harun kepada Muhammad dan Ali. Dengan itu kita mengetahui bahawa dengan jelas, Imam Ali ialah khalifah sepeninggalan baginda.

Perlu juga diungkapkan di sini, bahawa hadis al Manzilah diucapkan secara berulang oleh Rasulullah(sawa) lebih dari satu kali. Ini kerana terdapat beberapa golongan Nasibi yang mengeluarkan hujah bahawa hadis ini hanya terpakai dalam konteks keberangkatan baginda(sawa) ke Perang Tabuk, maka ia bersifat sementara. InsyaAllah saya akan kemukakan nanti.

Hadis Kelayakan Menyampaikan Mesej Islam

Rasulullah telah bersabda:

“Ali adalah sebahagian dari diriku, dan aku ialah sebahagian dari dirinya. Tidak sepatutnya menyampaikan dari ku(mesej dakwah) melainkan aku atau Ali.”

Sila rujuk:

  • Sahih Tarmizi
  • Khasais Ali:Nasai
  • Sunan Ibnu Majah
  • Tuhfatul Asyraf
  • Sawaiqul Muhriqah
  • Sunan Ad Darimi

Menerusi hadis ini jelas membuktikan bahawa tiada yang selayaknya menyampaikan mesej dakwah Islam melainkan dari Rasulullah(sawa) sendiri atau Imam Ali(as). Ini juga menunjukkan kedudukan Imam Ali sebagai penerus mesej dakwah setelah ketiadaan baginda. Hadis ini juga sealiran dengan Ayat al Mubahalah, yang menunjukkan bahawa Rasulullah dan Imam Ali dianggap satu.

Hadis-hadis lain:

1. Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya Ali ialah sebahagian dari ku, dan aku sebahagian darinya. Dan dia ialah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalan ku.”

  • Khasais Ali: Nasai
  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Hibban
  • Mustadrak Al Hakim
  • Musnad Imam Ahmad
  • Kanz Al Ummal
  • Yanabi al Mawaddah

2. Muttaqi al Hindi mengeluarkan riwayat dari dari Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir serta mensahihkannya dari Ibnu Abbas dari Rasulullah(sawa) bersabda kepada Imam Ali(as): “Kamu adalah pemimpin seluruh mukmin sepeninggalanku.”

  • Kanz al Ummal
  • Musnad Imam Ahmad
  • Tarikh Dimasyq

3. Diriwayatkan dari Buraidah dari Rasulullah sawa bersabda: “Jangan sesekali kamu berkomplot menentang Ali kerana sesungguhnya dia adalah sebahagian dari diriku dan aku sebahagian dari dirinya. Dia adalah pemimpin kamu setelah pemergianku.” Baginda mengulangnya sebanyak 3 kali.

  • Majma uz Zawaid
  • Tarikh Dimasyq
  • Syarh Nahjul Balaghah

4. Dikeluarkan oleh Abu Nuaim al Hafiz di dalam Hilayatul Auliya’ dari Anas bin Malik. Rasulullah(sawa) bersabda: “Wahai Anas, orang pertama yang akan melalui pintu ini(pintu rumah Rasulullah) adalah penghulu orang-orang bertaqwa, ketua Muslimin dan pemimpin agama dan penutup para wasi dan ketua orang-orang yang akan dihiasi di syurga kelak.”

Anas berkata: “Tiba-tiba Ali datang, lantas baginda bangun dengan gembira menuju kepada beliau lalu memeluknya dan bersabda:

“Kamu akan melaksanakan tanggungjawab menyambung risalahku, dan mendengarkan kepada mereka suaraku, juga menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan selepasku.”

  • Hilayatul Awliya
  • al Manaqib
  • Tarikh Dimasyq

Alhamdulillah, akhirnya, selesai juga saya menulis sedikit sebanyak dalil perlantikan Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib sebagai khalifah sepeninggalan Nabi(sawa). Bagi para pemikir sekalian, tentu kini anda sepatutnya boleh mencantumkan sedikit sebanyak ”puzzle”, dari cebisan-cebisan kecil kini menjadi gambar yang sempurna.

Seperti biasa, setiap hujah yang saya kemukakan di sini pasti ada bangkangan dari pihak penentang. InsyaAllah saya akan bahaskan satu per satu tentang isu-isu berkaitan, di waktu lain. Biarlah saya tutup siri Imamah ini dengan beberapa kesimpulan dari bahagian pertama sehinggalah bahagian keenam ini.

  1. Imam ialah satu kedudukan lantikan Allah swt sebagai pemimpin untuk sesuatu umat.
  2. Seorang Nabi dan Rasul juga boleh diangkat menjadi seorang Imam, tetapi seorang Imam tidak semestinya dari kalangan Nabi dan Rasul.
  3. Imam memikul segala tugas yang dipikul Rasulullah(sawa) kecuali kenabian, kerana kenabian itu berakhir dengan Nabi Muhammad(sawa)
  4. Tugas Imam meliputi segala hal antaranya ialah politik,sosial,ekonomi,keilmuan, dan agama, sudah tentunya.
  5. Imam selepas Nabi adalah dari Ahlulbait(as).
  6. Imam selepas Nabi berjumlah 12 orang, bermula dari Imam Ali hingga ke Imam Mahdi.
  7. Pernyataan Ali(as) sebagai khalifah telah dinyatakan berkali-kali oleh Rasul dari awal perjuangan dakwah baginda hinggalah ke akhir hayat baginda, jadi ia bukankah satu “berita panas.”

Semoga Allah swt memberi rahmat kepada kita semua untuk bernaung di bawah wilayah Ahlulbait(as), yang menjamin keselamat bagi pengikutnya. salam alaikum.

NU Kembali Tegaskan Syiah Bukan Aliran Sesat


Umar Shahab
Ketua Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia (ABI)
“Kita Tidak Punya Motif Mensyiahkan”

Bagaimana tanggapan Anda terhadap pembakaran rumah dan pengusiran komunitas Syiah di Sampang?
Kita menyayangkan peristiwa itu. Karena, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kelompok Syiah. Tempat itu diisukan menjadi tempat mencaci maki Sahabat, mengajarkan aqidah yang berbeda. Itu berita-berita yang tidak benar.Yang diajarkan oleh Ustadz Tajul itu adalah hal-hal yang umum dikenal di Syiah. Bukan hal-hal yang menyimpang dari Syiah. Kita berharap kehidupan di sana, khususnya kehidupan beragama di sana kembali normal.

Ustadz Tajul Muluk aktif di ABI atau di IJABI?
Dia sebelumnya aktif di Ikatan Jamaah Ahul Bait Indonesia (IJABI). Sekarang dekat dengan ABI walau tidak sebagai anggota resmi. Tapi kami wajib peduli kepada pesantren dan masyarakat Syiah yang terusir pada kejadian itu.

Apa saja yang telah dilakukan ABI untuk masyarakat Syiah di Sampang?
ABI melakukan advokasi secara hukum. Pembelaan terhadap mereka dan menunjuk seorang kuasa hukum. Semua langkah hukum yang bisa dilakukan, kita lakukan. Kita sudah ke Komisi III DPR-RI, ke Komnas HAM, dan polisi.Kita harus pisahkan antara dua hal. Pembakaran dan pengusiran adalah tindak kriminal. Kita laporkan kasusnya. Sedangkan sisi kultural, Sunni-Syiah bukan hal yang harus dipertentangkan.

Masyarakat setempat mengatakan Ustadz Tajul sering mencela para Sahabat Nabi SAW dan tokoh-tokoh setempat. Apakah itu konsekuensi dari ajaran Syiah?
Saya tanya langsung ke Ustadz Tajul, apa dia mengajarkan ajaran seperti itu? Jawabnya, sama sekali tidak. Saya pikir dia tidak bohong.Kita tidak pernah mengajarkan caci maki terhadap Sahabat Nabi, apalagi terhadap istri-istri Nabi. Memang orang Syiah mempunyai pandangan yang kritis terhadap Sahabat-sahabat Nabi dibanding orang Sunni.Misalnya, Syiah menolak ‘adalatus shahabah secara umum. Itu kan artinya semua Sahabat adil, dapat dipercaya. Syiah menolak konsep itu. Syiah meyakini sebagian Sahabat adil sebagian Sahabat bermasalah.Menurut Syiah, orang seperti Muawiyyah tidak bisa dipandang sebagai adil. Karena dia memusuhi Ali, melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Orang seperti dia tidak bisa diterima dalam Syiah.

Bukankah ajaran-ajaran yang mencaci-maki Sahabat, meyakini al-Qur`an telah dirubah, itu terdapat dalam kitab-kitab utama ajaran Syiah?
Di Syiah ada satu kesepakatan, semua kitab Hadits baik kitab Hadits Syiah dan Sunni, tidak ada yang dijamin kesahihannya seratus persen. Usul Kaafi adalah kitab paling mu’tabar, terkenal di Syiah. Tapi kitab itu juga tidak lepas dari Hadits-hadits yang dianggap maudhu’ (palsu), dha’if (lemah), dan ditolak oleh Syiah.Ada Hadits-hadits yang mengatakan adanya ayat-ayat al-Qur`an yang berbeda dari al-Qur`an yang ada sekarang ini. Di al-Kaafi, ada Hadits yang mengatakan jumlah al-Qur`an yang sebenarnya tiga kali lipat dari yang beredar di kalangan kaum Muslimin. Nah, Hadits ini maudhu’, ditolak.Lainnya, Hadits-hadits yang ghuluw, atau berlebih-lebihan terhadap para Imam. Termasuk Hadits-hadits yang mencaci maki para Sahabat. Itu Hadits-hadits yang ditolak.

Seperti yang mengatakan para Imam itu ma’shum?
Tidak. Kalau ma’shum itu tidak ghuluw. Ma’shum itu pada tempatnya. Itu memang aqidah Syiah.

Jadi, Hadits seperti apa?
Hadits yang menempatkan para Imam di atas posisinya sebagai manusia. Misalnya, ada riwayat dalam Syiah yang mengatakan para Imam di atas para malaikat dan rasul as. Hadits-hadits seperti itu ditolak oleh para ulama Syiah.

Syiah yang di Indonesia ini termasuk Syiah aliran apa?
Syiah yang ada di Indonesia, Syiah Imamiyah Istnaas’ariyah. Syiah Imamiyah memang aliran yang paling besar dan berkembang di dunia.

Mayoritas Muslim di negeri ini adalah Sunni, apakah Syiah ingin merubah itu?
Kita tidak ada motif mensyiahkan. Saya tidak pernah mengajak sopir dan pembantu saya ikut Syiah. Orangtua saya juga bukan Syiah.

hasyim asy’ari sangat menyesatkan syiah yah, tapi kok gusdur yang nota bene adalah ada hubungan silsilah kok bisanya membela syiah dan tidak menyatakannya sesat malah harus di bela, jadi ikut yang mana? mereka semua adalah ulama yang tidak diragukan pengetahuannya
.
.
Adapun masalah sahabat, yang perlu dipertanyakan adalah apakah meyakini semua sahabat Nabi saw itu udul adalah bagian dari iman atau tidak. Jika iya, dan mereka yang mencela, mengkritik dan melaknat sahabat adalah kafir. Maka bagaimana dengan para sahabat itu sendiri yang saling mencela melaknat bahkan membunuh sahabat lainnya. Apa mereka kafir?
.
Jika anda mempelajari sejarah Islam maka akan anda temukan banyak riwayat valid  seperti itu di hampir semua kitab-kitab sejarah umat Islam, baik Sunni maupun Syiah. Jika menunjukkan dan mengungkapkan kejelekan dan keburukan sahabat merupakan dosa besar, maka hampir semua pengarang kitab hadits dan sejarah termasuk orang yang berdosa besar. Maka tak heran jika ada ulama besar hadits yang menganjurkan untuk menutupi hal-hal tersebut untuk menjaga doktrin sahabat itu wajib adil.
.
Al-Dzahabi berkata, “Omongan sesama teman jika terbukti dilontarkan dengan dorongan hawa nafsu  atau fanatisme maka ia tidak perlu dihiraukan. Ia harus ditutup dan tidak diriwayatkan, sebagaimana telah ditetapkan bahwa harus menutup-nutupi persengketaan yang terjadi antara para sahabat ra. Dan kita senantiasa melewati hal itu dalam kitab-kitab induk dan juz-juz akan tetapi kebanyakan darinya adalah terputus sanadnya dan dha’if dan sebagian lainnya palsu. Dan ia yang ada di tangan kita dan di tangan para ulama kita. Semua itu harus dilipat dan disembunyikan bahkan harus dimusnahkan. Dan harus diramaikan kecintaan kepada para sahabat dan mendo’akan agar mereka diridhai (Allah), dan merahasiakan hal itu (bukti-bukti persengketaan mereka itu) dari kaum awam dan individu ulama adalah sebuah kawajiban. Dan mungkin diizinkan bagi sebagian orang ulama yang obyektif  dan jauh dari hawa nafsu untuk mempelajarinya secara rahasia dengan syarat ia memintakan ampunan bagi mereka (para sahabat) seperti diajarkan Allah
.
Dengan dasar konsep semua sahabat udul itu pula semua peristiwa hitam dan kelam perseteruan sahabat ditafsirkan dan dijelaskan. Terkadang kejelekan yang dilakukan oleh para sahabat ditutupi secara halus. Jika ada riwayat yang menyebutkan nama sahabat yang berbuat buruk, maka diganti dengan fulan, si a, dll. Jika ada perbuatan atau perkataan buruk sahabat maka ditulis kadza, sesuatu, dll.
 .
Fitnah buruk lain yang disematkan pada Syiah adalah Syiah mengkafirkan semua sahabat, kecuali 3 orang. Jika Syiah mengkafirkan semua sahabat, lantas siapa yang membantu Ali dalam perang melawan Aisyah, Thalhah, Zubair, madzhab Khawarij, dan Muawiyah. Mau dikemanakan para sahabat nabi yang mati demi membela Islam dan keluarga Nabi saw? Bagi Syiah sahabat Nabi saw ada yang baik dan ada juga yang buruk. Mereka yang buruk tidak perlu diikuti. Syiah tidak sekedar menuduh jelek seorang sahabat tapi mempunyai bukti valid atas keburukan sahabat tersebut
.
E-mail Cetak PDF

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Menurut Dr. Dinar Dewi Kania, salah satu peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS), esoteris merupakan aspek batin yang tidak ada hubungannya dengan ibadah atau ritual agama. Sedangkan eksoterik merupakan aspek lahir yang berhubungan dengan ritual atau agama.

“Dalam ajaran pluralisme, orang boleh berbeda dalam level eksoterik (ritual atau ibadah) tapi sebenarnya saat di level esoteris, ia sama-sama menuju satu Tuhan yang sama,” ujarnya kepada hidayatllah.com, Rabu (19/09/2012).

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menjelaskan Syiah adalah salah satu sekte Islam yang telah berdiri sejak 14 abad lalu dan tersebar di mana pun di dunia ini dan berpusat di Iran.

Perbedaan mahzab, menurut Said, adalah dinamika dalam kehidupan beragama.”Hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk saling menyerang dan konflik. Syiah bukan aliran sesat, hanya berbeda dengan kami,” kata Said.

Kamis, 20 September 2012 17:12 administrator

Di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan Syiah bukanlah aliran sesat. Banyaknya masyarakat yang masih merujuk pada pendapat-pendapat lama mengenai Syiah dan membantah informasi yang bertentangan dengan pendapat mereka memicu konflik agama.

“Merujuklah pada pendapat-pendapat kelompok ulama yang benar-benar ulama,” kata Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU) Prof. Dr. Masdar F Mas’udi, dalam acara peluncuran dan kajian “Buku Putih Mizhab Syiah” diluncurkan, hari ini.

Masdar khawatir, keberagaman di Indonesia menjadi perbedaan pendapat yang muncul terkait aliran Syiah. Menurutnya, semua pihak harus kembali kepada kesepakatan dan harus mampu menjelaskan kepada masyarakat, terutama orang-orang awam yang kurang mengerti Islam dan komunitas Syiah.

“Di Indonesia, ini menjadi sebuah negeri yang seluruh keyakinan atau fahamnya ada di sini,” ujar  Masdar.

Masdar pun mengatakan, di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.

Menurut Masdar, Islam berkembang di nusantara dengan adanya banyak kalangan dan kelompok. Seluruh faham, pandangan, dan ideologi, semuanya dapat dengan mudah diakses di dalam Islam.

“Tapi kemudian muncullah sekelompok orang yang merasa agamanya yang paling benar, terjadliah konflik dan pertumpahan darah,” ujarnya.

Masdar menyarankan permasalahan kesalahpahaman ini ditinjau secara objektif. Ia juga berharap umat Islam bukan umat yang bodoh karena tidak sanggup belajar dari orang lain.

Dia menambahkan pluralisme tidak bisa dihindari di dalam kehidupan masyarakat untuk memahami agama. Masing-masing kelompok agama mempunyai pendukung masing-masing dan kekuasaan yang berbeda-beda, sehingga muncul terjadinya perang.

Dr. Muhsin Labib, MA, salah satu cendikiawan muslim mengatakan yang perlu diperjelas adalah ideologi Syiah yang dikaitkan dengan revolusi Islam di Iran, sehingga hal ini tidak menjadi sebuah benturan dan perbedaan. Di Indonesia, kita terlihat adanya upaya melunturkan komunitas Syiah. “Jangan  sampai orang-orang di luar Syiah menganggap kita eksklusif,” ujar Muhsin

.

Kamis, 20 September 2012 17:37 administrator
Email Cetak PDF

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat. Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini  tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Syiah telah lama berada di Indonesia, jika kita tidak menerima itu berarti tidak menerima fakta sejarah. “Syiah di Indonesia ini berbaur, kita bisa saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Syuro IJABI, Jalaludin Rakhmat, juga menegaskan jika persepsi dan pandangan masyarakat soal syiah karena kesalahpamahan.

“Jadi ada beberapa kesalahpahaman soal Syiah, diantaranya Syiah disebutkan mencaci sahabat, Syiah melaknat sahabat, itu yang dituduhkan, jika ada wktu kita akan buktikan jika tuduhan itu keliru, sekarang ini memang ada upaya-upaya memecah belah Sunni-Syiah secara global, nasional dan internasional,” tegas Kang Jalal

.

Rabu, 19 September 2012 17:06 administrator
Email Cetak PDF

Masyarakat Muslim Syiah kerap menjadi sasaran kekerasan dari sejumlah kelompok akibat masalah perbedaan Mazhab ini. Menjawab tuduhan sejumlah pihak yang menyebut Syiah bukan mazhab Islam, organisasi Ahlul Bait Indonesia meluncurkan buku putih.Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

Menurut Hasan, sampai hari ini selalu muncul pejuang sektarian yang mengatasnamakan kelompok tertentu dan mengkafirkan kelompok lain. Hal tersebut sangat disayangkan.

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkn Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Al Quran (PSQ), Quraish Shihab mengatakan acara peluncuran buku putih ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun pemahaman dan kesatuan di antara umat muslim Indonesia. Sebab menurutnya, tidak akan ada persatuan tanpa saling memahami.

“Ada dua acara, pertama peluncuran buku putih dan membicarakan kesepahaman menuju persatuan. Dua acara ini menyatu , tidak ada persatuan tanpa adanya kesepahaman. Tidak ada kesepahaman kalau kita tidak memahami diri kita dan orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, semua ulama Islam sepakat untuk tidak mengkafirkan orang lain. Ada perkembangan pemikiran termasuk keagamaan yang mempengaruhi banyak faktor sehingga semua mazhab apapun pasti telah tejadi perubahan-perubahan sedikit atau banyak. “Ada perkembangan pemikiran. Kita harus membedakan pendapat ulama dengan pendapat orang awam,” imbuhnya.

“Salah satu masalah adalah anda mengambil pendapat-pendapat satu kelompok kemudian menyangka bahwa itu adalah suatu kelompok yang lain lalu atas atas dasarnya anda menyesatkan kelompok yang lain. Ini karena tidak faham. Saya lihat di sisi sunnahpun begitu. Semua sepakat bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mengutip pendapat Imam Ghazali Prof. Quraish menegaskan “Kalau seandainya anda mendengar kalimat yang diucapkan oleh seseorang dan sekelompok orang lainnya 99% diantaranya menunjukkan bahwa yang bersangkutan kafir, namun masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia.” jelas mantan Menteri Agama ini.

Dalam peluncuran buku itu, hadir pula sejumlah cendekiaan muslim seperti Prof Dr Masdar F Mas’udi (Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU), Prof Dr Zainun Kamal (Guru Besar UIN Jakarta), Prof Dr Irman Putra Sidin (Pakar Hukum Tata Negara), Umar Shahab (Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait), dan Muchsin Labib.

Tidak semua syi’ah mencaci dan melaknati sahabat. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Kamis, 20 September 2012 17:37 administrator
Email Cetak PDF

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat. Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini  tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Syiah telah lama berada di Indonesia, jika kita tidak menerima itu berarti tidak menerima fakta sejarah. “Syiah di Indonesia ini berbaur, kita bisa saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Syuro IJABI, Jalaludin Rakhmat, juga menegaskan jika persepsi dan pandangan masyarakat soal syiah karena kesalahpamahan.

“Jadi ada beberapa kesalahpahaman soal Syiah, diantaranya Syiah disebutkan mencaci sahabat, Syiah melaknat sahabat, itu yang dituduhkan, jika ada wktu kita akan buktikan jika tuduhan itu keliru, sekarang ini memang ada upaya-upaya memecah belah Sunni-Syiah secara global, nasional dan internasional,” tegas Kang Jalal

.

Rabu, 19 September 2012 17:06 administrator
Email Cetak PDF

Masyarakat Muslim Syiah kerap menjadi sasaran kekerasan dari sejumlah kelompok akibat masalah perbedaan Mazhab ini. Menjawab tuduhan sejumlah pihak yang menyebut Syiah bukan mazhab Islam, organisasi Ahlul Bait Indonesia meluncurkan buku putih.Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

Menurut Hasan, sampai hari ini selalu muncul pejuang sektarian yang mengatasnamakan kelompok tertentu dan mengkafirkan kelompok lain. Hal tersebut sangat disayangkan.

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkn Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Al Quran (PSQ), Quraish Shihab mengatakan acara peluncuran buku putih ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun pemahaman dan kesatuan di antara umat muslim Indonesia. Sebab menurutnya, tidak akan ada persatuan tanpa saling memahami.

“Ada dua acara, pertama peluncuran buku putih dan membicarakan kesepahaman menuju persatuan. Dua acara ini menyatu , tidak ada persatuan tanpa adanya kesepahaman. Tidak ada kesepahaman kalau kita tidak memahami diri kita dan orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, semua ulama Islam sepakat untuk tidak mengkafirkan orang lain. Ada perkembangan pemikiran termasuk keagamaan yang mempengaruhi banyak faktor sehingga semua mazhab apapun pasti telah tejadi perubahan-perubahan sedikit atau banyak. “Ada perkembangan pemikiran. Kita harus membedakan pendapat ulama dengan pendapat orang awam,” imbuhnya.

“Salah satu masalah adalah anda mengambil pendapat-pendapat satu kelompok kemudian menyangka bahwa itu adalah suatu kelompok yang lain lalu atas atas dasarnya anda menyesatkan kelompok yang lain. Ini karena tidak faham. Saya lihat di sisi sunnahpun begitu. Semua sepakat bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mengutip pendapat Imam Ghazali Prof. Quraish menegaskan “Kalau seandainya anda mendengar kalimat yang diucapkan oleh seseorang dan sekelompok orang lainnya 99% diantaranya menunjukkan bahwa yang bersangkutan kafir, namun masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia.” jelas mantan Menteri Agama ini.

Dalam peluncuran buku itu, hadir pula sejumlah cendekiaan muslim seperti Prof Dr Masdar F Mas’udi (Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU), Prof Dr Zainun Kamal (Guru Besar UIN Jakarta), Prof Dr Irman Putra Sidin (Pakar Hukum Tata Negara), Umar Shahab (Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait), dan Muchsin Labib

.

Kamis, 20 September 2012 17:12 administrator
Email Cetak PDF

Di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan Syiah bukanlah aliran sesat. Banyaknya masyarakat yang masih merujuk pada pendapat-pendapat lama mengenai Syiah dan membantah informasi yang bertentangan dengan pendapat mereka memicu konflik agama.

“Merujuklah pada pendapat-pendapat kelompok ulama yang benar-benar ulama,” kata Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU) Prof. Dr. Masdar F Mas’udi, dalam acara peluncuran dan kajian “Buku Putih Mizhab Syiah” diluncurkan, hari ini.

Masdar khawatir, keberagaman di Indonesia menjadi perbedaan pendapat yang muncul terkait aliran Syiah. Menurutnya, semua pihak harus kembali kepada kesepakatan dan harus mampu menjelaskan kepada masyarakat, terutama orang-orang awam yang kurang mengerti Islam dan komunitas Syiah.

“Di Indonesia, ini menjadi sebuah negeri yang seluruh keyakinan atau fahamnya ada di sini,” ujar  Masdar.

Masdar pun mengatakan, di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.

Menurut Masdar, Islam berkembang di nusantara dengan adanya banyak kalangan dan kelompok. Seluruh faham, pandangan, dan ideologi, semuanya dapat dengan mudah diakses di dalam Islam.

“Tapi kemudian muncullah sekelompok orang yang merasa agamanya yang paling benar, terjadliah konflik dan pertumpahan darah,” ujarnya.

Masdar menyarankan permasalahan kesalahpahaman ini ditinjau secara objektif. Ia juga berharap umat Islam bukan umat yang bodoh karena tidak sanggup belajar dari orang lain.

Dia menambahkan pluralisme tidak bisa dihindari di dalam kehidupan masyarakat untuk memahami agama. Masing-masing kelompok agama mempunyai pendukung masing-masing dan kekuasaan yang berbeda-beda, sehingga muncul terjadinya perang.

Dr. Muhsin Labib, MA, salah satu cendikiawan muslim mengatakan yang perlu diperjelas adalah ideologi Syiah yang dikaitkan dengan revolusi Islam di Iran, sehingga hal ini tidak menjadi sebuah benturan dan perbedaan. Di Indonesia, kita terlihat adanya upaya melunturkan komunitas Syiah. “Jangan  sampai orang-orang di luar Syiah menganggap kita eksklusif,” ujar Muhsin

.

Kamis, 20 September 2012 17:37 administrator
Email Cetak PDF

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat. Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini  tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Syiah telah lama berada di Indonesia, jika kita tidak menerima itu berarti tidak menerima fakta sejarah. “Syiah di Indonesia ini berbaur, kita bisa saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Syuro IJABI, Jalaludin Rakhmat, juga menegaskan jika persepsi dan pandangan masyarakat soal syiah karena kesalahpamahan.

“Jadi ada beberapa kesalahpahaman soal Syiah, diantaranya Syiah disebutkan mencaci sahabat, Syiah melaknat sahabat, itu yang dituduhkan, jika ada wktu kita akan buktikan jika tuduhan itu keliru, sekarang ini memang ada upaya-upaya memecah belah Sunni-Syiah secara global, nasional dan internasional,” tegas Kang Jalal.

Nasihat Para Imam Ahlilbait as Untuk Syiah Mereka

Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

wanita wanita syi’ah (Ahlul Bait Indonesia/ABI) berdemo tolak film Innocent of Muslim sekaligus pamer kekuatan syi’ah !

Jum’at, 21 September 2012 – 16:00 wib

Syi’ah indonesia terus melakukan aksi pamer kekuatan…

Massa dari Ahlul Bait Indonesia berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslim yang menghina Nabi Muhammad SAW. Kedutaan Besar Amerika Serikat kemarin mengumumkan kantor kedutaan dan seluruh konsulatnya di Indonesia ditutup karena adanya potensi demonstrasi signifikan yang kemungkinan akan diselenggarakan di lokasi gedung Kedutaan dan Konsulat Amerika.

Kecam Kartun Nabi, Massa Ahlul Bait Indonesia Bergerak ke Kedubes Perancis

Jumat, 21 September 2012 – 15:51 · Topik: demo-film-anti-islam
Demo Ahlul Bait Indonesia di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta (Foto : Dhanny Krisnadhy/seruu.com )

Demo Ahlul Bait Indonesia di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta (Foto : Dhanny Krisnadhy/seruu.com )

Demonstrasi anti film pelecehan Nabi yang digelar di Kedubes AS di Jakarta yang digelar Jumat (21/9/2012)  sudah berakhir. Sejak pukul 15.00 WIB demonstran telah meninggalkan area unjuk rasa menuju kompleks Kedubes Prancis.
Sebelum ke Kedubes Prancis, massa yang diantaranya dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Laskar Merah Putih ini akan bergerak ke jantung gerakan massa Jakarta di Bundaran HI, Jakarta Pusat. “Kami berunjukrasi untuk memprotes karikatur Nabi yang digambarkan telanjang,” kata Ikhsan, koordinator demonstrasi ABI.

Ikhsan mengungkapkan sekitar 300-an massa ABI turut dalam demonstrasi kedua anti film “Innocence of Muslims” yang membuat kehebohohan di mana-mana tersebut.

ABI juga menuntut pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan pernyataan resmi mengutuk segala tindakan penistaan terhadap figur dan simbol suci Islam

Demonstran, mengutip Ikhsan, juga menuntut pemerintahan negara-negara Barat membuat undang-undang yang melarang penistaan simbol-simbol suci Islam itu.


  • Massa dari Ahlul Bait Indonesia berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW.

  • Massa dari Ahlul Bait Indonesia berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW.

  • Massa dari Ahlul Bait Indonesia berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW.

  • Unjuk rasa memprotes film Innocent of Muslims kembali terjadi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW.

  • Seorang demonstran dari Ahlul Bait Indonesia berteriak saat unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW.

  • Massa dari Ahlul Bait Indonesia berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (21/9/2012). Polisi masih terus berjaga dikarenakan maraknya demo tolak film Innocent of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW

    Puluhan orang yang mengatasnamakan dari kelompok Ahlul Bait Indonesia (ABI) mendatangi kantor Kedubes AS di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2012).

    Aksi mereka terkait dengan peredaran film Innocent of Moslems yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW. Selain itu ABI juga memprotes penerbitan kartun yang mengejek dan mengolok-olok Nabi Muhammad SAW di koran terbitan Perancis, “Charlie Hebdo”.

    Dalam aksinya mereka membawa spanduk bertuliskan “Labbaika Ya Rasulullah..!!”, serta poster-poster bertuliskan “Don’t Insult My Prophet”, “Hancur Amerika”, “Prophet Muhammad, Trully We Love You”.

    Kepolisian nampak berjaga-jaga mengamankan jalannya demo. Nampak puluhan petugas kepolisian dengan menggunakan atribut lengkap berbaris berjejer membatasi pendemo dengan jalan yang berada tepat di depan Kantor Kedubes AS.

    Rencananya aksi demo dari kelompok ABI akan dilanjutkan dengan menyambangi kantor kedutaan besar Perancis.

    Seperti diketahui, peredaran film Innocent of Moslems mendapat reaksi keras dari umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebelumnya pada hari senin lalu aksi demo di depan Kedubes AS berakhir ricuh

    Massa Ahlul Bait Indonesia Gelar Aksi di Kedubes AS

    Jumat, 21 September 2012 14:58 WIB
    Share this
    Massa Ahlul Bait Indonesia Gelar Aksi di Kedubes ASPuluhan orang yang mengatasnamakan dari kelompok Ahlul Bait Indonesia (ABI) mendatangi kantor Kedubes AS di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2012).

    Aksi mereka terkait dengan peredaran film Innocent of Moslems yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW. Selain itu ABI juga memprotes penerbitan kartun yang mengejek dan mengolok-olok Nabi Muhammad SAW di koran terbitan Perancis, “Charlie Hebdo”.

    Dalam aksinya mereka membawa spanduk bertuliskan “Labbaika Ya Rasulullah..!!”, serta poster-poster bertuliskan “Don’t Insult My Prophet”, “Hancur Amerika”, “Prophet Muhammad, Trully We Love You”.

    Kepolisian nampak berjaga-jaga mengamankan jalannya demo. Nampak puluhan petugas kepolisian dengan menggunakan atribut lengkap berbaris berjejer membatasi pendemo dengan jalan yang berada tepat di depan Kantor Kedubes AS.

    Rencananya aksi demo dari kelompok ABI akan dilanjutkan dengan menyambangi kantor kedutaan besar Perancis.

    Seperti diketahui, peredaran film Innocent of Moslems mendapat reaksi keras dari umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebelumnya pada hari senin lalu aksi demo di depan Kedubes AS berakhir ricuh.

    .

    Ahlul Bait Indonesia
    Demo Ahlul Bait Indonesia, Pemerintah Harus Mengutuk Penghinaan Terhadap Islam
    Friday 21 Sep 2012 22:08:34
    H.Isam
    .

    JAKARTA,

    Solidaritas aksi massa Ahlul Bait indonesia, Mengecam peredaran film innocencet of Muslims yang telah menistakan Agama Islam dan melukai hati Umat Islam. massa berdatangan di Jalan Merdeka Selatan, didepan kedubes Amerika Selepas Sholat Jumat (21/9). Massa yang sebagian besar merupakan ibu – ibu, memegang spanduk dan menggunakan kaca mata hitam sambil bersholawat ke atas Nabi Muhammad SAW.

    Para ibu – ibu ini histeris sambil memegang poster yang bertuliskan ‘Hancurkan Amerika, labaik Yaa Rasulullah, Dont Insult My Prophet’. Aksi damai ini, mendapat pengawalan cukup ketat dari aparat kepolisian, begitu juga dengan para ibu – ibu pendemo yang meringsek menuju tengah trotoar Jalan Merdeka Selatan. Dengan sigap, Kapolsek Metro Gambir, AKBP Tatan Dirsana langsung menghadang dengan simpati para pendemo tersebut.

    Para wanita pendemo ini, meneriakkan yel – yel yang dipandu oleh sekertaris Jendral Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat, ‘Amerika hancurkan, Israel hancurkan, mereka juga mengecam Koran perancis, Chalie Hebdo, yang menerbitkan gambar kartun dan kembali mengejek serta mengolok – olok Nabi Muhammad SAW’.

    Dalam Tuntutannya, mereka meminta pemerintah Indonesia untuk berani mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengutuk tindakan yang telah menghina simbol suci umat islam. Mereka juga menuntut negara – negara barat, untuk membuat Undang – Undang yang melarang penistaan terhadap figur dan simbol suci umat islam, seperti yang telah dilakukan oleh dewan HAM PBB.

    Dan menghimbau kepada umat beragama dan umat manusia pecinta keadilan, untuk dapat bersatu dalam ukuwah menghadapi fitnah yang ingin memecah belah umat islam dan membuat kebencian antara umat manusia. Aksi Demo ini berlangsung damai, dan tidak sampai memacetkan lalu lintas hingga para pendemo meningalkan kedubes Amerika Serikat.

Wahabi Datang, Badai Menyerang Indonesia ! Radikalisme anti N.U dan Teroris ajaran wahabi

Wahabi kian dahsyat hancurkan NU dengan kedok gerakan anti syi’ah

Mereka menyatakan diri anti syi’ah agar dianggap sebagai ahlusunnah, padahal targetnya juga menghancurkan N.U

Lihatlah pengajian pengajian wahabi yang melaknat NU sebagai ahlul bid’ah

Wahabi Datang, Badai Menyerang Indonesia !

Radikalisme anti N.U dan Teroris ajaran wahabi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak awal saya percaya bahwa wahabi  akan celaka; sungguh-sungguh akan celaka. Mengapa ada asumsi seperti itu? Apakah ada dendam, dengki, atau benci ke wahabi ? Apakah hal itu berdasarkan kalkulasi politik, hitung-hitungan mekanisme pencitraan publik, atau analisis media? Apakah berdasarkan wangsit, mimpi, ilham, dan sejenisnya?

Bukan, bukan sama sekali. Dasarnya adalah hukum keadilan itu sendiri. Dalam Surat Ar Rahmaan, Allah Ta’ala mengatakan: “Wa wadha-al mizan, allaa tath-ghau fil mizan, wa aqimul wazna bil qisthi,  wa laa tuqshirul mizan” (Dia -Allah- telah meletakkan mizan keadilan, maka janganlah melampaui mizan itu, dan tunaikanlah timbangan secara adil, jangan mengurangi dalam timbangan). Ayat-ayat ini sangat menekankan, betapa dalam kehidupan ini Allah sudah meletakkan mizan keadilan, maka setiap insan dilarang melampaui mizan tersebut. Kalau melampauinya, berarti ia telah berbuat kezhaliman. Dalam hadits, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabba: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatin fil akhirah” (takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Akhirat nanti).

Said Aqil Siradj telah banyak berbuat keadilan, khususnya ketika dia baru datang dari Arab Saudi, setelah menyelesaikan studi doktornya. Baru juga sampai di Indonesia, Said sudah berkata: “Inni tubtu min Wahabi” (aku bertaubat dari Wahabi). Dalam masa 14 mendapat beasiswa di Ummul Qura Makkah, Said Aqil begitu segut (gembul) dalam makan-minum, menikmati uang saku, mendapat penginapan, fasilitas, transportasi, dan segalanya yang dibutuhkan. Bahkan 4 orang anak-anak Said, lahir di Makkah namun beliau mendadak “bertaubat” dari Wahabi KARENA MENGETAHUi BAHWA  WAHABi ADALAH SEKTE PENDUKUNG DAJJAL

Bukan hanya soal taubat dari Wahabi, Said Aqil juga mulai memahami Syiah (Iran) dalam rangka “memerangi teroris”. Said tak segan-segan mulai membela simbol dan ajaran Syiah. Dia bahkan menjadi sponsor utama terbitnya “Trilogi Idahram” yang isinya amat-sangat membongkar kebejatan dakwah Wahabi  . Permusuhan Said tidak tanggung-tanggung, dia mengklaim bahwa Wahabi adalah musuh negara, karena kebanyakan “teroris” berpaham Wahabi. Itu menurut klaim dia. Hingga di majalah Tempo, secara terang-terangan Said mengaku diri sebagai penganut Syiah.

Disini kita lihat betapakeadilan yang sudah dilakukan oleh KH.Said ini. Obsesi Said, dia berharap agar kaum teroris diperangi di Indonesia, seperti Densus88 memberantas para terduga teroris selama ini.

Nah, alasan-alasan itulah yang membuat wahabi kini  jatuh dalam bencana dan kecelakaan perih. Tidak ada tempat lari baginya, meski harus ke ujung dunia sekalipun. Mengapa? Sebab dalam diri dan kehidupan wahabi sudah tertanam paham dajjal. Kebaikan-kebaikan yang pernah diterima wahabi dari N.U akan menjadi “kanker” yang akhirnya menyerang dirinya sendiri, dari segala arah, dengan tiada satu pun mampu mencegah. Wahabi  mampu datang ke indonesia karena  lewat jasa baik manusia lain (N.U)

Selain itu, kecelakaan besar yang diterima wahabi  adalah gelombang Tsunami yang menimpa kaum wahabi  di Indonesia saat ini. Sepanjang sejarah Nusantara, belum pernah wahabi  mendapat perlawanan sangat besar, dari segala penjuru, dan sangat telak; kecuali saat ini. Ajaran-ajaran sesat wahabi benar-benar dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kelicikan, konspirasi, kebejatan, kezhaliman, kebohongan, serta kehinaan mereka; walhamdulillah, berhasil disampaikan kepada Ummat Islam, seterang-terangnya. Hingga semua ini menyadarkan kaum Muslimin, sehingga ada upaya  N.U untuk segera mengeluarkan fatwa sesat bagi wahabi

Semua itu adalah akibat dari perbuatan-perbuatan provokasi wahabi yang sangat nafsu dalam menyerang dakwah ahlulbait,  tanpa ampun. Kalau dai-dai N.U semula selalu menampilkan diri dengan pembawaan lembut, penuh perhitungan, dan bersikap “cinta damai”; maka wahabi  muncul dengan sikap arogan, bledag-bledug, memfitnah, menyerang, dan seterusnya.

Bersama sekumpulan anak-anak muda wahabi  yang sudah kenyang “memperkosa TKW dan ngesek di Puncak Bogor”  wahabi melakukan gerakan politik tersendiri. Sepertinya wahabi  ingin menjadi imam islam untuk kawasan Asia Tenggara. Itu kan “jabatan menggiurkan”… Ya kan SETAN NEJED ? Namun karena wahabi terlalu nafsu, sehingga melakukan serangan-serangan tidak kira-kira. Akibatnya, kini wahabi  menjadi sakit; dia terhimpit dimana-mana; dicurigai dimana-mana; bahkan mengalami penolakan-penolakan dari ulama-ulama senior NU

wahabi…wahabi… engkau lupa, bahwa setiap hujatanmu kepada ahlulbait; semua itu akan kembali menjadi LAKNAT bagi dirimu sendiri. Mengapa wahai wahabi ? Sebab terlalu banyak jasa-jasa baik orang yang kamu musuhi, kini semua jasa itu bersarang dalam tubuhmu, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap laknatmu wahai wahabi, akan kembali ke dirimu sendiri.

Harapan yang bisa disampaikan, ialah agar Ummat benar-benar sadar, bahwa: Setiap kezhaliman itu akan berbalas kecelakaan bagi para pelakunya. Innallaha laa yuhibbuz zhalimin (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zhalim).

Tokoh Syi’ah yang juga pimpinan dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Hasan Dalil Alaydrus menyebut nama-nama tokoh Islam dari kalangan Sunni yang tidak mengkafirkan Syiah, dan tidak pernah ada masalah dengan Syiah. , Sebut saja seperti KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PBNU), KH. Sholahuddin Wahid (tokoh NU), Prof. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhamadiyah), Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI), Jos Rizal (MER-C). (lihat voaislam.com, Kamis, 30 Aug 2012)

wahabi…wahabi…semakin lama engkau semakin sakit…

Al faqir ila Rahmatillah

(Ustad Husain Ardilla).

Yang berupaya menghancurkan N.U dan syi’ah di indonesia adalah para pembantu dajjal  maka AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI FITNAH wahabi si pembantu DAJJAL YANG TERKUTUK

..

Logo Dajjal si mata satu horus di Saudi Arabia

Badge lengan askar — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
rompi askar — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
internal affair dengan segtiga hitam
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
kesatuan alat pemantau kecepatan
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
badge lengan seragam
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
mobil patroli
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
mobil patroli 2
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
Polisi Militer
 — at Nejed, east of Medina el Munawwaroh.
ibn Saud & Mc Arthur
 — at Jiddah.
National Guard
Penerbit Pustaka Imam Syafii – penerbit buku buku sesat  wahabi berkedok imam syafii
 
relawan dengan rompi biru
mobil patroli internal affair
Swastika lambang dajal tampak jelas di mobil kepolisian saudi arabia
>
Fermasory/dajjal jadi lambang angkatan bersenjata saudi arabia
Lambang fermasory/dajjal dirompi kepolisian kerajaan saudi arabia
Lambang fermasory/dajjal di mobil patroli saudi arabia
Para petinggi kerajaan saudi arabia sedang asyik bersama aneka lambang dajjal/fermasory
Fermasory/dajjal lambang angkatan bersenjata saudi arabia
Fermasory/dajjal lambang kepolisian saudi arabia
Perayaan ulang tahun saudi arabia
Ibnu abd wahab bersama agen-agen spionase barat
Konspirasi Ibnu Abd Wahab Bersama Agen Inggris
Seorang wanita seporter tim sepakbola saudi tampak ditangannya memegang rokok
Para Seporter Keseblasan Sepak bola Arab Saudi
Tampak Ditengah-tengah Para Amir Saudi Tumpeng Arab
Konspirasi Ibnu Saud Bin Abd Wahab Dengan Hemper
Kontes Ratu Kecantikan Cilik Saudi Di Saudi Arabia
Tumpeng Arab
Spion Badui, Ibn Saud (muda), Prince Husein, Ibn Abdul Wahhab, Sir Percy Cox

519fp7d5rwl_ss500_

QURAN AND HADITH SPEAK AGAINST THE HYPOCRITES AND  DEVILS OF NAJD SAUDI ARABIA

logo-dajjal.jpg

“simbol asli freemasonry (All-Seeing Eye)“

Wahabi – Simbol-simbol Dajjal yang berkaitan dengan Zionis Yahudi seperti mata satu bermunculan di mana-mana dari mulai uang dolar AS hingga digunakan sebagai simbol penerbitan buku-buku wahabi, dan kepolisian kerajaan Arab Saudi yang notabene adalah negara ‘Islam’. Berikut ini adalah beberapa simbol MATA SATU yang digunakan oleh WAHABI SALAFI.

pen-salaf.jpg

“Logo Penerbitan buku Wahabi yang menggunakan simbol MATA SATU“

logo1.jpg

“Tanda Pangkat Polisi kerajaan Saudi yang berlogo MATA SATU“

logo2.jpg

“Rompi Polisi Kerajaan Saudi yang berlogo MATA SATU“

logo3.jpg

“Mobil Patroli Kerajaan Saudi Yang berlogo MATA SATU“
.
Tanggal: 2011/12/13 print
Indonesia:
PBNU: Ada Aliran Wahabi, Usir Saja!
Ketua PBNU, KH. Said Agil Siradj mengajak keluarga besar NU
untuk mewaspadai aliran Wahabi yang mengajarkan kekerasan dengan menggunakan Islam. 

 Menurut Kantor Berita ABNA, sebagaimana dinukil dari konspirasi.com, Ketua PBNU, KH. Said Agil Siradj mengajak keluarga besar NU untuk mewaspadai aliran Wahabi yang mengajarkan kekerasan dengan menggunakan Islam. Pasalnya, di Indonesia ada 12 Yayasan yang beraliran Wahabi dengan didanai dari Arab Saudi.

“Waspadai aliran Wahabi, sudah ada 12 yayasan yang siap mengajarkan aliran islam keras dan tidak cocok dengan Islam Indonesia,” kata Said Agil Siradj pada wartawan di Ponpes Miftahul Ulum Desa Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto, Jum’at (22/07/2011).

Dia menambahkan, untuk Jawa Timur sudah terlacak yayasan yang beraliran wahabi, seperti di Jember Yayasan Al-Faruq dan Surabaya yayasan Al-Fitro. Kedunya mengajarkan aliran wahabi yang ada di Saudi Arabia dan tidak sesuai dengan ajaran Islam untuk Indonesia yang disebarkan oleh Sunan, leluhur dan ulama penyebar Islam di Nusantara. “Jadi Aliran Wahabi tidak cocok dengan umat islam di Indonesia,” ungkapnya.

Sebanyak 12 Yayasan yang didanai dari Arab Saudi dan Negara Timur Tengah lainnya ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan Sulawesi. Belasan yayasan ini melegalkan aksi kekerasn dengan menggunakan cara Islam Arab, bukan Islam Indonesia yang suka dengan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama. “Kalau ada aliran Wahabi di Lumajang, usir saja,” ujar Said Agil.

PBNU berharap semua PKB sebagai partainya NU harus berani melawan aliran Wahabi, tambah Said Agil, partai Golkar, PPP, Hanura, Gerindra, Demokrat tidak setuju dengan adanya aliran islam keras yang ideologinya dari tanah arab. “Di acara musda PKB ini, saya harap rekonsiliasi akbar dijadikan semangat menolak kekerasan dan radikalisme pada masyarakay Indonesia,” pungkasnya.

PBNU: Ada Aliran Wahabi, Usir Saja!

Said Aqil Terjangkit Virus Sesat

Kesalahan Cara Berpikir Said Aqil

Kesalahan Said Aqil ini bukan kesalahan parsial atas produk pemikiran saja, yakni seperti kesalahan Ulama bila ada salahnya, melainkan kesalahan Said Aqil adalah kesalahan cara berpikirnya (virus otak). Dia banyak membaca karangan orang-orang Syi’ah atau orang-orang modern yang cara berpikirnya dengan pikiran ala barat dan melecehkan Islam seperti Thoha Husain orang buta yang menjadi Pendikbud di Mesir, Qosim Amin dan lain-lain, serta orang-orang Orientalis yang memang mengibarkan perang pikiran, perang sejarah, dan lain sebagainya.

Pedoman Said Aqil adalah bila orang Islam memuji orang Islam perlu diuji kebenarannya, tetapi bila mencaci sesama orang Islam (seperti mencaci dirinya sendiri) ini diterima. Kaca mata hitam yang dia pakai, sehingga sejarah kelihatan hitam semua.

Said Aqil cerdas, tapi karena banyak membaca karangannya orang-orang yang seperti di atas, maka terjangkitlah dia oleh virus Orientalis, Liberalis dan Salibis. Sebagaimana iblis itu cerdas tapi berhubung kecerdasannya terkena virus, maka sebagaimana nasib Said Aqil yang terjangkit virus sesat lagi mensesatkan.

demikianlah kutipan dari web http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2011/12/15/17041/sosok-said-aqil-menurut-buku-membuka-kedok-tokohtokoh-liberal-dalam-tubuh-nu-1/

================

Jawaban kami :

Bismillahirrohmaanirrohiim,..
“Barang siapa di antara kalian mengetahui suatu perkara munkar, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu hendaklah ia merubahnya dengan lisannya, jika ia tidak mampu, hendaklah ia mengingkari dengan hatinya dan yang disebut terakhir paling sedikit buah (hasil)nya dan merupakan batas minimal yangdiwajibkan bagi seseorang ketika ia tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lidahnya (HR. Muslim)
.
Assalamu’alaikum wr wb,..
Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,? sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
.
Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).? (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
.

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya.
.
Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi. Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya.
.
Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.
(kebiasaan wahabi)
.
Allah berfirman : ‘Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)
.
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan syi’ah ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, ‘Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan? Lelaki itu bertanya lagi ?Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa.
.
Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim Banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
.
Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga. Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnyadengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin.
.
Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata :Tongkatku ini masih lebih baik dari Muha…mmad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali.
.
Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah.
.
Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad. Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas.
.
Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan gendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut.
.
Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi.
.
Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang, penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan. Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan.
.
Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.
.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.
.
Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur (silakan Cari bukti di GOOGLE). Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal. Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah.
.
Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah. Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir, katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan SeniorKerajaan pada tahun 1994.
.
Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala. Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.
Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar.
.
Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya.
.
Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik). Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an
.
Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi).Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya.
.
Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga ker…ajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud. Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi.
.
Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,? sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan) Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).? (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
.
Nabi SAW pernah berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,? Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan. Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya.
.
 sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANI HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin??
.
AI-Hadits.BANI HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba daa halaakul khobiits (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji)
.
Wassalamu’alaikum wr wb
Nasehat penulis :

‘Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”

Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad

Pesan Majma Berkenaan Pengkhianatan Wahabi:
Wahabi Datang Tidak Membawa Sesuatu Selain Kebencian Mazhab
Kami juga menyampaikan pesan kami buat pemerintah dan alim ulama Indonesia: Dunia Timur adalah tempat bermukimnya pengikut-pengikut agama-agama dan berbagai mazhab. Sebuah kebanggaan sejak dulu bahwa masuknya Islam ke kawasan Asia Timur adalah melalui jalur perdamaian, persahabatan dan kekeluargaan bukan melalui kekerasan dan pemaksaan. Namun sangat disayangkan beberapa tahun terakhir Wahabi dan Salafyun datang tidak membawa hadiah bagi kawasan tersebut kecuali kekerasan dan kebencian mazhab.
 

berkenaan dengan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang ditimbulkan oleh berbagai aksi kelompok teroris di berbagai tempat dibelahan dunia seperti di Indonesia dan Libiya, Majma Jahani Ahlul Bait as mengeluarkan beberapa pernyataan penting.

Diantara pernyataan penting tersebut, “Setiap darah baru yang tertumpah dari nadi umat Islam oleh kekejaman dan permusuhan musuh-musuh Islam yang membuat umat ini dalam kesempitan dan kesusahan, justru fitnah dari kelompok Wahabi dan Salafi semakin deras disertai berbagai aksi dan tindakan pengrusakan yang mereka dalangi, yang menyebabkan Islam dan umat Islam menjadi lemah.”

Berikut teks lengkap pernyataan Majma Jahani Ahlul Bait as menyikapi kekejian dan fitnah dari kelompok Wahabi dan Salafi:

Bismillahirrahmanirrahim

“Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.”

(Qs. Al-Baqarah: 191)

Berlanjutnya permusuhan kelompok-kelompok sesat khususnya Wahabi terhadap Islam dalam beberapa bulan terakhir telah mendatangkan beberapa peristiwa duka dan menyedihkan, semakin bertambahnya korban jiwa di Pakistan, kembali terjadinya penyerangan terhadap warga Syiah di Indonesia dan pengrusakan dan upaya pemusnahan terhadap situs-situs bersejarah Islam dan beberapa tempat suci di Libya.

Mengenai berbagai peristiwa tersebut, dalam waktu yang hampir bersamaan kita membaca berita-berita hangat, “Sebuah bus yang ditumpangi peziarah Syiah Pakistan dicegat dan semua penumpangnya dibunuh”, “Terbunuhnya warga Syiah Indonesia dan rumah mereka dibakar”, “Pengrusakan masjid-masjid dan pemakaman ulama di Bahrain”, “Pengrusakan makam suci putra Imam Husain as di Damsyik”, “Pengrusakan makam cucu imam Hasan as di Libya” dan “Terbunuhnya belasan warga Syiah di Libya”. Kesemua peristiwa menyedihkan tersebut bukan dilakukan atau didalangi oleh orang-orang kafir, kaum musyrikin atau Yahudi maupun Kristiani, melainkan oleh mereka yang terang-terangan mengklaim diri juga sebagai muslim.

Dengan memperhatikan semua kejadian tersebut, Majma Jahani Ahlul Bait as sebagai sebuah organisasi internasional yang beranggotakan para pemikir, cendekiawan dan agamawan dari berbagai Negara ini merasa perlu untuk mengeluarkan pernyataan sikap yang mengandung beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Hal terpenting yang mesti kaum muslimin sedunia menaruh perhatian padanya adalah Setiap darah baru yang tertumpah dari nadi umat Islam oleh kekejaman dan permusuhan musuh-musuh Islam yang membuat umat ini dalam kesempitan dan kesusahan, justru fitnah dari kelompok Wahabi dan Salafi semakin deras disertai berbagai aksi dan tindakan pengrusakan yang mereka dalangi, yang menyebabkan Islam dan umat Islam menjadi lemah.”Apakah tidak mengherankan, setelah kemenangan Mujahidin Afghanistan atas rezim yang zalim, kemudian secara tiba-tiba muncul Taliban yang justru semakin membuat masyarakat semakin tertindas dan berada dalam kehidupan yang pahit?. Apakah hal ini tidak bertentangan, pasca jatuhnya Saddam Husain dan berakhirnya pemerintahan yang lalai, tiba-tiba terjadi peledakan bom dimana-mana di kawasan padat warga Syiah yang pengakunya mengaku diri sebagai Wahabi atau Salafy yang dengan itu menimbulkan ketidakamanan? Mengapa penghinaan dan kekurangajaran mereka terhadap tempat-tempat yang diagungkan kaum muslimin baru berani mereka lakukan setelah jatuhnya rezim Mubarak di Mesir dan Qhadafi di Libya yang menyulut pertikaian antar mazhab? Apakah iya tidak ada keterkaitan antara tekanan tanpa henti musuh-musuh Islam (orang-orang Kafir) terhadap Negara-negara muslim dengan kegigihan Wahabi dalam berdakwah dan dukungan materialnya setelah kemenangan revolusi rakyat di Libya dan Palestina untuk mencetuskan pertikaian mazhab? Maka jawaban yang paling memungkinkan adalah adanya kerjasama dan kesepakatan antara kutub Kafir dengan Wahabi.
  2. Harus diketahui bahwa pengkhianatan kaum Wahabi dalam menghancurkan Islam bukan hanya melalui kekerasan fisik, aksi penyerangan, pembunuhan, peledakan bom dan bukan kerusakan fisik seperti itu yang sesungguhnya menjadi tujuan mereka, melainkan rusak dan runtuhnya budaya dan peradaban ummat Islam.

Kita bisa melihat akibat dari kekejian mereka terhadap situs-situs bersejarah Islam seperti pengrusakan pemakamam Ahlul Bait, Sahabat dan para syuhada Islam di Baqi Madinah al Munawarah, pengrusakan Haram Imam Husain as di Karbala, pengrusakan secara bertahap sisa-sisa peninggalan bersejarah peradaban Islam di seluruh kawasan Hijaz, peledakan Haram Imamin Askariyan di Samara, pengrusakan makam yang dimuliakan masyarakat Mesir, upaya untuk menghancurkan makam kepala imam Husain as di Kairo, penyerangan ke Haram Hadhrat Zainab Kubra as di Damsyik, pengrusakan makam Muhsin bin al Husain di Halb dan yang terbaru adalah pengrusakan dan penghancuran makam Abdul Salam al Asmar al Hasani di Libya, kesemuanya ini menunjukkan upaya mereka dalam merusak kebudayaan dan peradaban Islam.

Mereka melakukan pengrusakan sementara orang-orang yang memiliki akal diseluruh dunia rela mengeluarkan biaya yang banyak untuk menjaga tempat-tempat bersejarah mereka, baik itu tempat agamis maupun non agamis, sebab kebudayaan dan peradaban masa silam adalah diantara kebanggaan suatu bangsa.

  1. Permasalahan penting lainnya, adalah adanya buruk sangka atau kesalahpamahan dari orang-orang Wahabi atau Salafyun mengenai pergerakan dan kebangkitan rakyat di beberapa negeri muslim yang telah menyumbangkan darah syuhada bagi suburnya kebangkitan Islam. Semua pihak mengetahui bahwa pengikut Ibnu Taimiyah dan Abdullah bin Abdul Wahab bukan hanya tidak memberikan sumbangsih apapun bagi pergerakan dan kebangkitan Islam dalam meruntuhkan rezim thagut bahkan mereka dengan kaidah-kaidah yang mereka punyai seperti “kebenaran bersama penguasa”, “melawan penguasa adalah kefasikan”, mereka juga menyatakan adalah kewajiban untuk taat kepada penguasa meskipun itu seperti Husni Mubarak, Qhadafi, Ali Khalifah, Ali Saud maupun rezim thagut-thagut yang lain. Mereka (kaum Wahabi) bahkan melecehkan para pemuda yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi keruntuhan rezim, mereka menyebut aksi-aksi protes dan demonstrasi menentang kezaliman penguasa adalah tasyabbuh kepada kaum kuffar dan haram hukumnya.
  2. Karenanya berkenaan dengan semua pengkhianatan kaum Wahabi atas umat Islam tersebut kami mengajukan sebuah pertanyaan, mengapa kita semua berdiam belaka? Mengapa kita membiarkan Al Qaedah dan Thaliban yang mendapat dukungan Negara-negara Barat bebas  merajalela di Negara-negara muslim untuk melakukan kerusakan dan menebar kekerasan.
  3. Kami juga bertanya kepada ulama-ulama Islam seluruh dunia, sampai kapan kalian berdiam  diri melihat kerusakan yang semakin merajalela yang ditimbulkan kelompok Wahabi? Apakah tumpahnya darah orang-orang yang tak berdosa oleh aksi-aksi teroris yang didukung oleh fatwa-fatwa ulama Wahabi serta sokongan material dari raja-raja Arab adalah dosa dan maksiat kecil saja? Apakah pengrusakan dan pemusnahan situs-situs bersejarah Islam tersebut hanyalah musibah yang tidak ada artinya? Apakah pembakaran kitab-kitab klasik dan peninggalan kaum terdahulu hanyalah kerusakan kecil saja? Apakah –nauzubillah- suatu waktu Salafyun di Indonesia, Pakistan dan Irak melakukan pembunuhan massal dan darah mereka yang tertumpah sampai membasahi Haramain kalian masih tetap berdiam juga? Dan jika pada akhirnya ulama mereka mengeluarkan fatwa penghancuran makam Nabi Muhammad saw apakah merekapun akan sukses melakukannya?.
  4. Kami juga menyampaikan pesan kami buat pemerintah dan alim ulama Indonesia: Dunia Timur adalah tempat bermukimnya pengikut-pengikut agama-agama dan berbagai mazhab. Sebuah kebanggaan sejak dulu bahwa masuknya Islam ke kawasan Asia Timur adalah melalui jalur perdamaian, persahabatan dan kekeluargaan bukan melalui kekerasan dan pemaksaan. Namun sangat disayangkan beberapa tahun terakhir Wahabi dan Salafyun datang tidak membawa hadiah bagi kawasan tersebut kecuali kekerasan dan kebencian mazhab.
  5. Pemerintah Indonesia harus mengetahui bahwa peristiwa Sampang adalah bukti bagi penyimpangan kaum Wahabi yang jika dibiarkan maka sama halnya membuka ruang bagi mereka menjadikan Indonesia layaknya Pakistan yang tidak ada hari tanpa terror dan peledakan bom. Sampai saat ini kami menanti pemerintah Indonesia agar secepatnya memberikan hukuman tegas kepada para pelaku pembunuhan warga Syiah di Sampang, membebaskan tokoh Syiah yang tidak bersalah dari penjara dan sesegera mungkin warga Syiah Sampang untuk kembali kepada kampung halamannya dengan jaminan keamanan dan keselamatan bagi mereka. Warga Syiah adalah warga minoritas di Indonesia sebagaimana warga minoritas lainnya yang tetap memiliki hak-hak kewarganegaraan  untuk menjalankan peribadatan dan menyelenggarakan upacara-upacara mazhab mereka.

Terakhir, Majma Jahani Ahlul Bait as menyatakan kecaman keras atas terjadinya peristiwa pembunuhan kaum muslimin di Pakistan, Indonesia, Irak dan Libya begitupun aksi pengrusakan tempat-tempat suci di Suriah dan bagian utara Afrika dan berharap perhatian penuh dari seluruh kaum muslimin dan masyarakat agama sedunia.

Mengeluarkan kecaman ataupun pernyataan sikap tidaklah cukup. Harus ada kinerja signifikan secepatnya untuk mengakhiri semua pengkhianatan dan aksi-aksi yang mencoreng nama baik Islam dan umat Islam.

Majma Jahani Ahlul Bait as

11 Syawal 1433 H

Kembali Kepada Al Quran dan Ahlul Bait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia

.
Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213)

.
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan

.
Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.
Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa

.
Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka

.
Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan

.
Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).
Petunjuk Umat
Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38)

.
Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas

.
Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52).
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64).
Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri

.
Penyimpangan
Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT

.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini

.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

Menghubungkan NU Dengan wahabi Seperti Othak-Athik Gathuk

N.U dan syi’ah tidak memiliki akar konflik karena memiliki kemiripan. Justru Menghubungkan NU Dengan wahabi  Seperti Othak-Athik Gathuk. Upaya wahabi yang mati matian menghancurkan Syi’ah di Indonesia karena wahabi ingin dianggap sebagai aswaja oleh masyarakat awam ! NU dihajar wahabi dengan menumpang gerakan anti syiah

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Menurut Dr. Dinar Dewi Kania, salah satu peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS), esoteris merupakan aspek batin yang tidak ada hubungannya dengan ibadah atau ritual agama. Sedangkan eksoterik merupakan aspek lahir yang berhubungan dengan ritual atau agama.

“Dalam ajaran pluralisme, orang boleh berbeda dalam level eksoterik (ritual atau ibadah) tapi sebenarnya saat di level esoteris, ia sama-sama menuju satu Tuhan yang sama,” ujarnya

 

Konflik antara Salafi dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman Salafi, atau yang biasa mereka sebut sebagai “Wahabi”.

Paham Anti-Wahabi menyebabkan warga NU sangat anti dengan ajaran-ajaran seperti haramnya bid’ah, haramnya tawassul, haramnya isbal, dll. Bahkan menyentuh pada ranah furu’iyyah, seperti jenggot, jumlah azan Jum’at, jumlah rekaat shalat tarawih, qunut, dll. Hal ini terlihat sekali di akar rumput NU, yaitu jika mendapati hal yang berbeda, maka dianggap sudah beda aliran, disebut terpengaruh Wahabi

Di sini saya juga mengkritik Salafi, karena mereka juga mengklaim dirinya Ahlussunnah wal Jamaah, sementara kelompok lainnya tidak dianggap Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan dengan ringan menyebut kelompok lainnya dengan ahlul bid’ah, Mu’tazilah, Khawarij, ashabiyyah, dll. Kalau kita bandingkan fanatiknya warga NU dengan warga Salafi, terdapat perbedaan yaitu Salafi fanatik dengan “ilmu,” yakni mereka merasa berilmu tentang kelompok-kelompok lainnya, meski sembrono dalam melakukan penilaian.


Gerakan wahabi yang menyusup ke N.U tidak saja berupa yayasan al bayyinat dan MIUMI melainkan melalui buku buku berlabel N.U !! Licik
.
Afrokhi Abdul Ghoni dengan buku batilnya yg berjudul Buku Putih Kyai NU telah menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam . Dengan beraninya ia mengatasnamakan sebagai kyai NU padahal ia mengusung konsep-konsep sesat wahhabi yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah Wal- Jama`ah. Seharusnya ia tidak mengatasnamakan NU , karena konsep yang di bawanya berbeda dengan konsep Ahlussunnah Wal Jama`ah yang selama ini diikuti warga NU
.
Jika penyimpangan ini dibiarkan, maka akan menjadi sebuah bom waktu yang sangat berbahaya bahkan bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Dakwahnya pun tidak mengajak orang untuk dekat kepada Allah SWT, tapi justru mengajak untuk mencaci maki sesama umat Islam.
Dalam setiap pidatonya , ia dengan gegabahnya menvonis syirik , kafir , bid’ah dan sesat kepada umat Islam selain golongannya . Afrokhi pun juga mengusung aqidah sesat tajsim aqidah khas wahhabi yang dapat menjerumuskan orang ke lembah kekufuran . Sehingga tak jarang, ceramahnya Afrokhi ini membuat resah bahkan dapat menyebabkan perpecahan umat , yang tidak menutup kemungkinan bisa memicu konflik horizontal .
.
sejak Afrokhi menjadi wahhabi ia seringkali melukai perasaan hati warga. Afrokki tidak jarang mencaci maki amaliah warga setempat sehingga lama-kelamaan warga menjauh darinya . PonPes Darus Salam Sumbersari Kencong Kepung Kediri tempat dia belajar  diasuh oleh KH . A . Zainuri Faqih.. Pesantren ini dihuni sekitar 1000 santri , jaraknya kurang lebih 6 km dari rumah Afrokhi . Di pesantren inilah Afrokhi pernah belajar agama bahkan sampai tamat
.
Menurut data – data santri yang ada di pesantren ini, Afrokhi tidak tergolong santri yang pintar , bahkan pelajaran- pelajaran pesantren yang mestinya harus dihafalkan, Afrokhi tidak pernah berhasil menghafalkan. Dalam penelusuran Team Sarkub ada temuan yang menarik , berdasarkan keterangan dari tokoh-tokoh agama yang berada di sekitar Pare – Kandangan, bahwa beberapa bulan belakangan ini ada sejumlah petugas dari Kepolisian yang berpakaian preman yang terus berusaha mencari informasi tentang Afrokhi dari tokoh- tokoh agama setempat .
.
Dikarenakan pengajian -pengajian Afrokhi di mana – mana mulai menimbulkan keresahan masyarakat , untungnya masyarakat masih menahan diri. Demikian , laporan Team Sarkub, semoga Allah melindungi kita semua dari segala fitnah , bala ’ , petaka di dunia dan akhirat. ikut wahabi  bagaikan  ikut orang yang  setingkat dibawah teroris ! Amin Allahumma Amin .

N.U Dukung Gerakan “Indonesia Damai Tanpa Wahabi”

Konflik antara Salafi dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman Salafi, atau yang biasa mereka sebut sebagai “Wahabi”.

Paham Anti-Wahabi menyebabkan warga NU sangat anti dengan ajaran-ajaran seperti haramnya bid’ah, haramnya tawassul, haramnya isbal, dll. Bahkan menyentuh pada ranah furu’iyyah, seperti jenggot, jumlah azan Jum’at, jumlah rekaat shalat tarawih, qunut, dll. Hal ini terlihat sekali di akar rumput NU, yaitu jika mendapati hal yang berbeda, maka dianggap sudah beda aliran, disebut terpengaruh Wahabi

Di sini saya juga mengkritik Salafi, karena mereka juga mengklaim dirinya Ahlussunnah wal Jamaah, sementara kelompok lainnya tidak dianggap Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan dengan ringan menyebut kelompok lainnya dengan ahlul bid’ah, Mu’tazilah, Khawarij, ashabiyyah, dll. Kalau kita bandingkan fanatiknya warga NU dengan warga Salafi, terdapat perbedaan yaitu Salafi fanatik dengan “ilmu,” yakni mereka merasa berilmu tentang kelompok-kelompok lainnya, meski sembrono dalam melakukan penilaian.


Gerakan wahabi yang menyusup ke N.U tidak saja berupa yayasan al bayyinat dan MIUMI melainkan melalui buku buku berlabel N.U !! Licik
.
Afrokhi Abdul Ghoni dengan buku batilnya yg berjudul Buku Putih Kyai NU telah menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam . Dengan beraninya ia mengatasnamakan sebagai kyai NU padahal ia mengusung konsep-konsep sesat wahhabi yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah Wal- Jama`ah. Seharusnya ia tidak mengatasnamakan NU , karena konsep yang di bawanya berbeda dengan konsep Ahlussunnah Wal Jama`ah yang selama ini diikuti warga NU
.
Jika penyimpangan ini dibiarkan, maka akan menjadi sebuah bom waktu yang sangat berbahaya bahkan bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Dakwahnya pun tidak mengajak orang untuk dekat kepada Allah SWT, tapi justru mengajak untuk mencaci maki sesama umat Islam.
Dalam setiap pidatonya , ia dengan gegabahnya menvonis syirik , kafir , bid’ah dan sesat kepada umat Islam selain golongannya . Afrokhi pun juga mengusung aqidah sesat tajsim aqidah khas wahhabi yang dapat menjerumuskan orang ke lembah kekufuran . Sehingga tak jarang, ceramahnya Afrokhi ini membuat resah bahkan dapat menyebabkan perpecahan umat , yang tidak menutup kemungkinan bisa memicu konflik horizontal .
.
sejak Afrokhi menjadi wahhabi ia seringkali melukai perasaan hati warga. Afrokki tidak jarang mencaci maki amaliah warga setempat sehingga lama-kelamaan warga menjauh darinya . PonPes Darus Salam Sumbersari Kencong Kepung Kediri tempat dia belajar  diasuh oleh KH . A . Zainuri Faqih.. Pesantren ini dihuni sekitar 1000 santri , jaraknya kurang lebih 6 km dari rumah Afrokhi . Di pesantren inilah Afrokhi pernah belajar agama bahkan sampai tamat
.
Menurut data – data santri yang ada di pesantren ini, Afrokhi tidak tergolong santri yang pintar , bahkan pelajaran- pelajaran pesantren yang mestinya harus dihafalkan, Afrokhi tidak pernah berhasil menghafalkan. Dalam penelusuran Team Sarkub ada temuan yang menarik , berdasarkan keterangan dari tokoh-tokoh agama yang berada di sekitar Pare – Kandangan, bahwa beberapa bulan belakangan ini ada sejumlah petugas dari Kepolisian yang berpakaian preman yang terus berusaha mencari informasi tentang Afrokhi dari tokoh- tokoh agama setempat .
.
Dikarenakan pengajian -pengajian Afrokhi di mana – mana mulai menimbulkan keresahan masyarakat , untungnya masyarakat masih menahan diri. Demikian , laporan Team Sarkub, semoga Allah melindungi kita semua dari segala fitnah , bala ’ , petaka di dunia dan akhirat. ikut wahabi  bagaikan  ikut orang yang  setingkat dibawah teroris ! Amin Allahumma Amin .

Wahabi Jihadi di balik “Pembantaian Ulama NU di jawa timur 1998

(Fitnah dukun Santet) & Kerusuhan Poso 1999 & BOM Bali 2002

Aktivis NU, GP-ANSOR, Demo Anti Wahabi di Nganjuk Jawa Timur IndonesiaNinJa itu pembantai kyai itu adalah para teroris wahabi jihadi (antek alqaida)???????

Teroris wahabi mengebom warga kristen di ambon-poso sehingga warga kristen membantai minoritas islam ambon????

wahabi jihadi dibalik bom bali (Tahun 2002), untuk mengadu domba hindu Vs minoritas islam di bali???

N.U Dukung Gerakan “Indonesia Damai Tanpa Wahabi”. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme

Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi

Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang

Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar

Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi

Waspadai Buku Sejarah yang Beredar

Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental

Salafi Jihadi

Salafi

Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi

Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)

Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU

Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid

Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi

Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab

Tunas Radikalisme dari Najd

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

E-mail Cetak PDF

Terbunuhnya salah satu warga Syiah saat konflik Sampang pada 26 Agustus lalu, diduga penyebab utamanya berasal dari fatwa sesat Syiah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Dugaan ini datang dari Direktur Moderat Institute, Dr. Muhsin Labib.“Fatwa sesat MUI Jawa Timur telah menjadi license to kill atau sayembara pahala membunuh. Oleh masyarakat awam fatwa tersebut dianggap legalisasi untuk membunuh,” ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber dalam peluncuran buku putih Syiah bertema“Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” bertempat di Gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu, Kav 34 Jakarta Selatan, Selasa (18/09/2012) kemarin.

Tak hanya Muhsin Labib, dalam acara yang diprakarsai oleh organisasi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal mendukung dugaan serupa,  bahwa fatwa dari MUI Jatim tentang kesesatan Syiah sebagai memicu kekerasan di Sampang.

Menurut Muhsin Labib, seharusnya sebelum MUI Jatim membuat sebuah fatwa, dijelaskan dulu mengenai fatwa tersebut dan harus ada keterbukaan kepada semua pihak.

Tidak hanya menduga, Muhsin juga menilai bahwa orang yang anti Syiah bisa menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia.

“Orang yang anti Syiah adalah orang yang esktrimis dan menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia,” tandas pria lulusan Qom, Iran ini.