Al Azhar dan Rakyat Malaysia Menolak Wahabi

Fatwa Al Azhar mengenai Wahhabi dan sifatnya yang bersifat mujassimah dan dianggap kafir ada dalam sedutan blog Aqidatul Tanzih di sini:

Fatwa rasmi Al-Azhar terbaru berkaitan Wahhabi dan fahaman Ibnu Taimiyah difatwakan sebagai bukan Ahli Sunnah Wal Jamaah dan mereka bukan Salaf sebenar.

Ibnu Taimiyah dan Wahhabi adalah dianggap sebagai Mujassimah yang menyamakan Allah dengan makhluk dan menjisimkan Allah dengan membawa akidah sesat iaitu Allah duduk atas arash.

Akidah Islam sebenar adalah Allah ada tanpa tempat tidak memerlukan arah dan makhluk-makhluknya. Fatwa Universiti Al-Azhar juga menyatakan dengan jelas bahawa Wahhabi bukan Islam bahkan memerangi dan memusuhi Islam

– Fatwa rasmi Al-Azhar Mesir melalui Syeikhul Akbar terbaru Jamiah Al-Azhar.

Sebagai bukti, sila lihat video pengumuman berikut bagi yang memahami bahasa Arab:

Nah, mereka yang menunjukkan ciri-ciri Wahhabi. Antaranya seperti berikut:

  1. Mengatakan Allah duduk bersila di atas Arsy seperti dia duduk bersila
  2. Mengatakan Allah turun pada langit bumi
  3. Menyifatkan Allah dengan sifat yang tidak layak bahkan menghina Allah seperti sifat ‘samseng’
  4. Menghina nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai budak kampung
  5. Mengatakan sambutan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم meniru ajaran Kristian
  6. Menghina institusi pondok
  7. Mengkafirkan seteru politik (UMNO) dengan mengatakan mereka berakidah seperti komunis dan ayah pin yang kafir
  8. Mengatakan Kristian laknatullah boleh menggunakan nama Allah dalam Bible mereka
  9. dan banyak lagi….

Sejarah harus meingangatkan kita bagaimana Al Saud dengan sokongan Wahhabi bersekongkol dengan Freemason dan British untuk memecahbelahkan Islam di bawah Empayar Islam terakhir, Otmaniyah. Lihat filem Lawrence the Arabia untuk memahami bagaimana Freemason beroperasi. Wahhabi adalah rekaan dan senjata teologi yang diguna British dan Freemason untuk memecahbelahkan Islam.

Konspirasi Salafi Wahabi – Amerika dan Israel yang mengajarkan akidah Yahudi dan Nasrani di lingkungan N.U

Konspirasi Salafi Wahabi – Amerika dan Israel yang mengajarkan akidah Yahudi dan Nasrani di lingkungan N.U !! wahabi/salafi itu bodoh dan sesat

N.U kian terdesak dengan ulah liar salafi wahabi yang pro Yahudi dan Nasrani…

N.U dituduh sesat dan ahlul bid’ah oleh N.U..

Untuk menghancurkan N.U maka salafi wahabi berlindung dibalik gerakan anti syi’ah sehingga ada kaum N.U yang masuk wahabi..

NU Anggap Ajaran Wahabi Tidak Cocok di Indonesia

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah yang dianggap sesat. Selain itu buku ini juga dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim.

 
Wahabiyah Ujian Allah Ke atas Umat Islam
Wahabiyah Ujian Allah Ke atas Umat Islam
.
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah
.
Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :

عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء

.
Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)
.
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu.
.
Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.
.
Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitabal-Asma wa ash-Shifat hal. 267
.

Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :

”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW” (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)

.

Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374, Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”

.

Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut

.

Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :

عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد

….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”. Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”

(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)

Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.

Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan),burung elang, dan singa.

Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan.

.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran.

.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:

من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر

”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

.

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu.

.
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain?
.
Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?. La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika.

Wasiat Nabi Muhammad saw Yang Terabaikan

Wasiat Nabi Muhammad saw Yang Terabaikan

.
“Aku tinggalkan untuk kalian dua amanat, selama kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Salah satunya lebih agung dari yang lain. Yakni Kitab Allah (al-Qur’an), tali rahmat-Nya yang terbentang dari langit hingga bumi. Yang kedua adaah ‘itraty (kerabatku), yakni ahli baitku (keluargaku). Keduanya tidak akan berpisah di sisiku hingga masuk di haudh (telaga surga). Perhatikanlah bagaimana kalian akan bersikap dengan kedua amanat itu?” Demikian terjemahan redaksi hadits Nabi Muhammad saw dalam Sunan Turmidzi dari sekian banyak redaksi-redaksi hadits yang mempunyai makna hampir sama dan dapat dipastikan kesahihannya
.
Namun dalam kenyataannya wasiat tersebut hampir tidak pernah disinggung dan “dihilangkan” dalam pendidikan dan pengajaran umat Islam. Hadits wasiat tersebut biasa dikenal dengan sebutan hadits al-Tsaqalain, dua perkara berat yang diamanahkan Rasulullah sw kepada umatnya. Hadits di atas bagi mayoritas kaum muslim mungkin terdengar baru bahkan mungkin dianggap hadits lemah karena galibnya mereka didengarkan, diajarkan, dan didoktrin dengan riwayat yang lain, yaitu “Wahai manusia, sesungguhnya aku meninggalkan dua hal untuk kalian. Apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”..
.
Padahal jika anda mempelajari dan mengetahui ilmu hadits, anda akan temukan bahwa kedua hadits yang kontradiksi tersebut memiliki perbedaan kualitas yang menonjol. Hadits yang pertama memiliki kualitas yang dapat diandalkan sedangkan hadits terakhir dapat dipastikan memiliki kualitas jauh lebih rendah dan lemah dari hadits pertama. Tidak percaya? Coba cari penelitian, takhrij kedua hadis tsaqalaindi internet. Anda akan menjumpai banyak penelitan dan takhrij atas hadist tersebut yang dapat memahamkan kita semua meski anda bukan orang yang mumpuni masalah hadits. Anda dapat juga mengkrosceknya dengan puluhan kitab riwayat, rijal hadits yang tersebar gratis di dunia maya untuk menghilangkan rasa ketidakpercayan anda
.
.
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan dan kenapa wasiat Nabi Muhammad saw tersebut tidak menyebar luas sebagaimana riwayat lemah kedua yang sering kita dengar sewaktu sekolah, kuliah bahkan ketika khatib-khatib Jum’at mulai memerintahkan kita semua untuk bertakwa kepada Allah swt. Namun jika merunut sejarah peradaban Islam, ada masa-masa di mana ahli bait, keluarga Nabi Muhammad saw beserta para pengikutnya ditindas, dikejar-kejar bahkan dibunuh oleh pihak pemegang kekuasaan. Suatu masa dimana menyebut nama mereka merupakan sebuah tindakan kriminal yang dapat membunuh si pengucapnya. Yunus bin Ubaid berkata: “Aku bertanya kepada Hasan al-Basri: ‘Wahai Abu Sa’id, mengapa engkau katakan bahwa Rasululah saw bersabda demikian… demikian, sedangkan engkau sendiri tidak mengetahui asal-usulnya?’. Kemudian Hasan al-Basri menjawab: ‘Wahai kemenakanku, engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu yang orang lain belum pernah menanyakannya padaku, bukankah engkau mengerti bagaimana keadaan zaman yang kita hadapi sekarang ini, … ketahuilah … setiap engkau mendengar aku berkata “Rasulullah saw bersabda”, maka hadits itu adalah dari riwayat Ali bin Abi Thalib ra hanya saja sekarang ini kita berada dalam zaman di mana tidak boleh menyebut nama Ali bin Abi Thalib”. Di masa-masa itulah kemungkinan besar wasiat Nabi Muhammad saw mulai terpinggirkan dan tidak diajarkan pada umat Islam
.
Apakah wasiat Nabi Muhammad saw yang merupakan bentuk pengutamaan beliau atas keluarganya seperti halnya tindakan nepotisme sahabat Utsman yang didorong oleh rasa kemanusiaannya, yang akhirnya kebijakan tersebut membunuh dirinya sendiri?.
“Itulah (karunia) yang Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu upah untuk itu kecuali kasih sayang kepada keluarga”. dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan pula baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterimakasih.” (al-Syura: 23).

.
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33).
Ayat di atas dan banyak hadits-hadits lain menunjukkan bahwa perintah Nabi Muhammad saw kepada semua umat Islam agar mencintai, mengutamakan, mengikuti, bahkan memasukkan ahli bait Nabi Muhammad saw dalam bacaan shalawat merupakan bagian dari perintah Allah Maha Bijaksana yang disampaikan melalui nabi-Nya.

.

Untuk keperluan perintah tersebut, Allah dengan cara-Nya yang misterius menyiapkan semua yang diperlukan. Allah menciptakan pribadi-pribadi suci berkualitas dari keturunan langsung Nabi Muhammad saw untuk menjaga umat Islam sampai akhir zaman. Merekalah yang disebut ahli bait Muhammad saw (setidaknya yang menjadi kesepakatan seluruh umat Islam adalah Nabi Muhammad saw, Sayyidah Fatimah, Ali, dan kedua putranya Hasan dan Husain). Kedudukan tinggi mereka di sisi Allah dan Nabi-Nya diketahui dengan pasti tidak hanya oleh kalangan ulama biasa melalui banyaknya riwayat Nabi Muhammad tentang mereka. Kalangan ulama khash, sebagai pemegang rahasia Tuhan, pun mengetahui kedudukan mereka dengan jelas. Sebut saja Ibnu Arabi, ia memandang bahwa generasi Fatimah al-Zahra sebagai generasi suci secara dzati. “Sedekat-dekat manusia kepada Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, imam semesta dan pemegang rahasia para nabi seluruhnya”; “Akar dan pokok pohon Tuba berada di kediaman Ali bin Abi Thalib”, adalah beberapa pengakuan beliau akan keutamaan dan keunggulan Ahli bait Nabi Muhammad saw

.
Contoh lainnya adalah Jalal al-Din al-Rumi. Ia menjuluki Ali bin Abi Thalib dengan lebih dari 50 gelar dalam Matsnawinya. Ali sebagai kebanggaan setiap Nabi; sebagai kebanggaan setiap wali; singa Tuhan; cahaya di atas cahaya; yang tenggelam dalam cahaya Allah, dan lain sebagainya. Bahkan ketika mengomentari peristiwa pembunuhan Husain as, satu kejadian selain pembunuhan Yahya bin Zakariya as yang menyebabkan langit menangis darah, ia mengatakan: “Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad? Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang mukmin hakiki? Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw). Dalam pandangan mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh”.

.

Akhirnya, Tuhan memberikan dua pilihan pada kita semua. Mengecewakan Nabi Muhammad saw atau mencintai ahli baitnya di zaman manusia mendapat kebebasan berpikir, bersuara dan berkeyakinan seperti sekarang ini.

.

Fatwa Sunni-Syiah

.

Fatwa Syekh Universitas Al-Azhar, Muhammad Tanthawi

Syaikh Thanthawi

Tanya:
Apakah dibolehkan untuk menganggap sebuah mazhab Islam, yang tidak termasuk mazhab ahlusunah (suni), sebagai salah satu mazhab yang berafiliasi ke Islam murni? Atau, dengan kata lain, apakah diperbolehkan untuk menganggap seseorang sebagai seorang muslim di luar empat mazhab ahlusunah yang terkenal yang mengikuti salah satu mazhab Islam seperti Zahiri, Ja’fari, Zaidi, atau Ibadiah?

.
Jawab:
Islam murni telah disampaikan oleh Nabi Islam saw. kepada kita sebagaimana telah dinyatakan dalam ucapan-ucapan beliau dalam Kutub As-Sittah (enam kita koleksi hadis yang dianggap sahih oleh ahlusunah) yang mengutip hadis Jibril: Nabi saw. berkata, “Barang siapa yang beriman kepada tiada tuhan selain Allah Azza wa Jalla, Muhammad saw. sebagai utusan suci-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan melaksanakan ibadah haji ketika ia mampu, maka ia adalah seorang muslim.”

.
Demikian juga telah dinukil oleh Abdullah bin Umar ra. yang berkata bahwa Nabi saw. menyatakan bahwa Islam didirikan atas lima dasar: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad saw. adalah rasul-Nya, mendirikan salat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, berpuasa di bulan Ramadan.” Dengan demikian, setiap manusia (baik ia lelaki maupun perempuan) yang memberi kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul (utusan Allah), dan ia mengakui lima dasar tersebut serta melakukan kelima-limanya dan jika ada perbedaan pada cabang-cabang bukan di ushul, maka kita hanya bisa mengatakan bahwa para pengikut mazhab-mazhab Islam ini sebagai muslim.

.
Syariah suci Islam memerintahkan para pemeluknya untuk berfatwa berdasarkan apa yang tampak dari orang-orang tersebut karena hanya Allah Yang Mahakuasa yang mengetahui akal pikiran umat manusia.

.
Telah disebutkan dalam hadis mulia Nabi Muhammad saw., “Aku telah diperintahkan untuk mengadili manusia secara zahir tetapi hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui pikiran seseorang.”

.
Penting untung disebutkan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut yang ada di antara mazhab-mazhab Islam sekarang diajarkan di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Perbedaan-perbedaan ini diterangkan secara rinci karena kita tahu bahwa perbedaan-perbedaan tersebut adalah masalah yang absah adanya mengingat perbedaan-perbedaan tersebut terdapat pada topik-topik cabang, bukan pada ushul.

.
Tanya: Apakah pengertian takfir?
Jawab: Takfir artinya seseorang menyifati orang lain sifat kafir yang tidak diperbolehkan kecuali jika orang yang dikafirkan tersebut menolak kebolehan menyembah Allah dengan niat baik. Juga ia menolak keimanan pada malaikat, kitab-kitab suci, para nabi, dan hari kiamat.

.
Allah Swt. berfirman, Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 285)

.
Juga firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 150- 151)

.
Karena Allah Swt. memerintahkan: Tidak boleh ada pengafiran kepada orang-orang yang saleh juga para pengikut salah satu mazhab Islam, yang seluruh mazhab tersebut memiliki kesepakatan dalam kebolehan dalam niat baik atas ketaatan kepada Allah, keimanan pada para malaikat dan kitab-kitab suci, para nabi, dan hari akhirat juga kepada orang-orang yang beriman pada penerimaan pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang Allah telah perintahkan kepada kita meliputi salat, zakat, puasa, dan haji (bagi mereka yang mampu) juga pada penerimaan kebaikan-kebaikan etis seperti ketulusan, amanah, kesucian, dan amar makruf nahi mungkar.

.
Nabi saw. secara keras memperingatkan orang-orang yang mengafirkan kaum muslim berdasarkan pada apa yang telah dikutip oleh Ibnu Umar, Ibnu Masud, dan Abu Dzar dalam kitab-kitab sahih.

.

Fatwa Mufti Agung Suriah, Syekh Ahmad Kuftaro

Syaikh KaftarooTanya:
Apakah mazhab-mazhab seperti Zaidi, Ja’fari, dan Ibadiah adalah mazhab-mazhab Islam?

.
Jawab:
Membatasi fikih Islam hanya kepada Alquran suci dan sunah adalah kelalaian terhadap agama Islam dan ini telah menjadikan agama yang benar ini suatu agama yang berpandangan picik yang terbatas pada target kecil yang tidak mampu merespon berbagai keinginan manusia dan persoalan-persoalan kehidupan.

.
Sudut pandang mazhab-mazhab ini dalam cabang-cabang fikih berbeda. Meskipun demikian, mazhab-mazhab fikih ini berjalan di atas prinsip-prinsip Islam dan begitu juga di dalam prinsip-prinsip yang dapat diperdebatkan, perbedaan-perbedaan yang ada di antara para fukaha menyangkut cabang-cabang dari mazhab Islam adalah untuk memudahkan orang-orang dan menghilangkan berbagai kesulitan mereka.

.
Karena itu, dengan mempertimbangkan fakta-fakta ini, mengikuti (bertaklid) kepada salah satu mazhab-mazhab diizinkan sekalipun itu mengharuskan ia mengarah ke eklektisisme karena mazhab Maliki dan sekelompok mazhab Hanafi secara tepat mempunyai fatwanya. Dengan demikian, beramal yang didasarkan pada mazhab-mazhab Islam yang termudah atau bertaklid pada perintah-perintah termudah ketika itu mengharuskannya dan layak diizinkan, karena agama Tuhan adalah mudah, bukan agama yang sulit.

.
Misalnya, Allah SWT berfirman: “Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mâidah: 3)

.
Karena itu, mazhab Zaidi digolongkan sebagai salah satu mazhab Islam termulia terutama sekali ketika buku yang ditulis oleh Imam Yahya bin Murtadha berjudul Al-Bahr Azh-Zhakhar Al-Jamâ, suatu ensiklopedi fikih di dalamnya tidak ada perbedaan apa pun dengan fikih dari ahlusunah kecuali mereka mempunyai perbedaan-perbedaan parsial di dalam isu-isu seperti ketidaksahan mengusap kepala atau kaki dengan ujung jari-ujung jari yang basah ketika berwudhu juga pemboikotan atas pembantaian oleh non-muslim.

.
Syiah Imamiah adalah mazhab Islam yang paling dekat kepada mazhab Imam Syafii. Perbedaan fikihnya dengan fikih ahlusunah hanya terkait pada tujuh belas permasalahan.

.
Demikian juga mazhab Ibadiah adalah mazhab yang paling dekat kepada mazhab ahluljemaah (suni) menyangkut pendapat tersebut karena perintah-perintah fikih dari para pengikutnya diturunkan berdasarkan Alquran, sunah, ijmak, dan kias (qiyâs).

.
Karena alasan–alasan di atas, perbedaan-perbedaan yang ada di antara para fukaha seharusnya tidak boleh dianggap sebagai tidak lazim karena agama itu dinilai sebagai realitas yang satu dan unik. Lagi pula, sumber dan asal-muasal agama semata-mata Wahyu Ilahi.
Tidak pernah terdengar bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di antara mazhab-mazhab fikih telah memicu pertikaian atau konflik bersenjata di antara para pengikut mazhab. Semua itu karena perbedaan-perbedaan yang ada di antara mazhab-mazhab Islam berkenaan dengan fikih ilmiah dan ijtihad bersifat parsial, dan menurut Nabi Islam saw., “Karena keputusan ijtihadnya, fakih menerima pahalanya. Jika ijtihadnya sesuai, dua pahala untuknya. Jika tidak sesuai, tetap ada satu pahala untuknya.”

.
Dengan demikian, tidaklah tepat menisbatkan sesuatu apa pun kepada mazhab-mazhab Islam kecuali jika di dalam kerangka ini. Mazhab-mazhab yang disebutkan adalah mazhab-mazhab Islam dan fikih mereka terhormat juga didukung

.

Fatwa Syekh Universitas Al-Azhar, Mahmud Syaltut

fatwamahmud-syaltut
Kantor Pusat Universitas al-Azhar
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Teks Fatwa yang dikeluarkan Yang Mulia Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar tentang Kebolehan Mengikuti Mazhab Syiah Imamiah

.
Tanya:
Yang Mulia, sebagian orang percaya bahwa penting bagi seorang muslim untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara syiah imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga syiah Zaidiah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab syiah imamiah itsna asyariyah misalnya?

.
Jawab:
1. Islam tidak menuntut seorang muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: setiap muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut bisa berpindah ke mazhab lain, dan bukan sebuah tindakan kriminal baginya untuk melakukan demikian.

.
2. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai syiah imamiyah itsna asyariyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab suni lainnya.

.
Kaum muslim mestinya mengetahui hal ini, dan seyogianya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, karena agama Allah dan syariahnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun transaksi (muamalah).
Tertanda,

.
Mahmud Syaltut
Fatwa di atas dikeluarkan pada 6 Juli 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar dan selanjutnya dipublikasikan di berbagai penerbitan di Timur Tengah yang mencakup, tetapi tidak terbatas hanya pada:
1. Surat kabar Ash-Sha’ab (Mesir), terbitan 7 Juli 1959.
2. Surat kabar Al-Kifah (Lebanon), terbitan 8 Juli 1959.
Bagian di atas juga dapat ditemukan dalam buku Inquiries About Islam oleh Muhammad Jawad Chirri, Direktur Pusat Islam Amerika (Islamic Center of America), 1986, Detroit, Michigan.

.

Fatwa Mufti Agung Mesir, Nasr Farid Wasil

Tanya:
Bagaimanakah pendapat Anda mengenai orang yang bertaklid kepada Imam ahlulbait as.?

.
Jawab:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Sudah maklum bahwa setiap muslim yang beriman kepada Allah Swt., bersyahadat atas monoteisme (tauhid), mengakui misi Nabi Muhammad saw., tidak menyangkal perintah-perintah agama dan orang yang dengan sepenuhnya sadar akan rukun-rukun Islam dan salat dengan tata cara yang benar, maka niscaya juga tepat baginya sebagai imam salat jamaah bagi yang lain dan juga mengikuti imamah orang lain ketika melakukan salat sehari-hari meskipun ada perbedaan-perbedaan (paham) keagamaan di antara imam dan makmumnya. Prinsip ini pun berlaku bagi syiah ahlulbait as.

.
Kita bersama mereka (syiah ahlulbait) menyangkut Allah, Rasulullah saw., ahlulbait as, juga para sahabat Nabi Muhammad saw.

.
Tidak ada perbedaan di antara kita dan mereka menyangkut prinsip-prinsip dan dasar-dasar syariah Islam juga kewajiban-kewajiban desisif agama.
Ketika Allah Swt. memberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga bisa hadir di Republik Islam Iran di kota-kota seperti Tehran dan Qom. Ketika kami menjadi imam salat berjemaah mereka bermakmum kepada kami, begitu juga ketika mereka menjadi imam kami bermakmum kepada mereka.
Karena itu, kami memohon kepada Allah Swt. untuk melahirkan persatuan di antara umat Islam, menghapus setiap permusuhan, kesulitan, perbedaan di antara mereka dan mengangkat kesulitan-kesulian yang ada di antara mereka sekaitan dengan fikih dan kewajiban-kewajiban agama yang sekunder.

.

Fatwa Syekh Ali Jum’ah

Ada sebuah kelompok di luar sana yang bekerja keras untuk mempertegang hubungan antara syiah dan suni, untuk memecah persatuan muslim, yang dengan melakukan hal itu mereka dapat meraih tujuan mereka sendiri. Karena alasan ini, dengan dikeluarkannya fatwa saya, saya menyatakan kebolehan untuk beribadah menurut fikih syiah.

.
Kita harus akui bahwa syiah, di negara ini, cukup maju. Karena alasan ini, kita dapat bekerja sama dengan mereka karena selama ini syiah dan suni memiliki satu kiblat, tidak ada perbedaan di antara mereka. Sejak awal sejarah kita, syiah selalu menjadi bagian tak terpisahkan dalam umat Islam.
Para pengikut mazhab syiah sangat maju, tapi ada segelintir individu yang dengan tujuan menciptakan perbedaan, membuat kitab-kitab mereka (syiah) menjadi usang, dan demikian mengeluarkan beberapa topik yang dapat menimbulkan sikap emosi dan perpecahan.

.
Beberapa organisasi politik, yang didukung dan dilindungi oleh Wahabi, berusaha mengumpulkan seluruh kekuatan mereka untuk menghambat hubungan antara mazhab syiah dan suni.

.

Fatwa Ayatullah Al-Uzhma Ali Khamenei

Tanya:
Mengingat berbagai alasan kuat untuk mengharuskan persatuan di antara umat muslim, apa pendapat Yang Mulia mengenai pengikut berbagai mazhab Islam—seperti mazhab yang empat ahlusunah, Zaidiah, Zahiri, Ibadhi, dan lainnya yang meyakini prinsip-prinsip agama yang jelas—dalam umat Islam? Apakah diperbolehkan menganggap kafir kepada mazhab yang disebutkan di atas atau tidak? Selain itu, apa saja batasan takfir [pengkafiran] di masa dan era kini?
Jawab:
Semua mazhab Islam adalah tergolong umat Islam dan memiliki akses atas seluruh keuntungan yang diberikan oleh Islam. Selain itu, perpecahan di antara kelompok umat muslim, tidak hanya bertentangan dengan ajaran Alquran yang mulia dan sunah Nabi saw., tapi juga mengakibatkan lemahnya umat muslim dan beralihnya urusan mereka pada musuh-musuh Islam. Oleh karena itu, pembagian semacam itu tidak diboleh untuk alasan apapun.

.

Fatwa Ayatullah Sayid Husain Fadhlullah

Islam, dengan semua kebutuhan teologi yang ditemukan dalam Alquran Alkarim, dapat disimpulkan dalam syahadatain [dua kalimat syahadat]. Setiap individu yang menerima syahadatain adalah muslim. Dia berhak atas semua hak yang dilekatkan pada semua muslim, dan dia diwajibkan untuk melaksanakan seluruh kewajiban [sebagai seorang] muslim. Selain itu, penolakan terhadap aspek-aspek penting agama tidak membuat seseorang menjadi keluar dari agama kecuali jika individu tersebut mengetahui konsekuensi dari penolakannya adalah menolak Nabi saw. Allah Swt.—yang karena topik yang jelas adalah kasus yang sering muncul.

.
Namun, perbedaan pendapat dalam masalah-masalah teori yang banyak ulama miliki—yang mungkin disebabkan perbedaan pendapat dalam hal keandalan periwayat, atau makna sebuah hadis, atau beberapa hal lain yang menyebabkan perselisihan yang menjadi basis perbedaan—tidak menyebabkan keluarnya seseorang dari agama.

.
Dalam pandangan ini, kami memiliki pendapat bahwa seluruh muslim dan pengikut mazhab tergolong dalam umat Islam. Karena itu, tidaklah diperbolehkan untuk menyatakan kafir pada mereka dengan alasan apapun. Selain itu, segala perbedaan di antara mereka yang diselesaikan dengan bijak melalui diskusi intelektual dan logis dan melalui bimbingan Alquran yang suci.

.
“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul…” (QS. 4: 59)

.

Fatwa Ayatullah Ali As-Sistani

Ayatullah Ali SistaniTanya:
Apakah orang yang melafalkan dua kalimat syahadat, melaksanakan salatnya dengan menghadap ke arah kiblat (Mekkah) dan ia adalah pengikut salah satu dari delapan mazhab Islam yang terdiri dari Hanafi, Syafii, Maliki, Hambali, Ja’fariah, Zaidiah, Ibadiah dan Zahiriah, dianggap sebagai seorang muslim? Apakah darah, kehormatan, dan hartanya mendapat perlindungan?

.
Jawab:
Siapa pun yang mengucapkan dua kalimat syahadat atas nama Allah Yang Mahakuasa, tidak melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengannya dan siapapun yang bukan musuh ahlulbait adalah seorang muslim.

Salafi Wahabi hancurkan N.U demi uang, cewek dan Amerika

wahabi menghalalkan segala cara maka warga Nu harus tahu bagaimana wahabi di arab saudi mengembangkan ideologinya yakni dengan segala cara termasuk membunuh dan menuduh kafir, musyrik kepada yang tidak sejalan dengannya. Untuk itu, NU harus siap menanggulangi dengan cara apapun walau dengan kekerasan sekalipun. Ingat, mereka tidak segan-segan bertindak keras dan kasar kepada orang islam, bahkan ulama sunni yang berseberangan dengan mereka terus dihujat dan kitab-kitabnya dirubah

Orang Badui Wahabi Menjerat gadis gadis N.U

Caranya ??

1. gadis gadis wahabi menyebar bulletin dan majalah salafi kepada gadis gadis N.U

2. Gadis gadis N.U lalu diajak gabung menjadi anggota pengajian salafi, ada yang manut/ikut karena wahabi berkedok salafussaleh

3. Setelah menjadi “ukhti wahabi” maka gadis gadis eks N.U ini dinikahi satu demi satu oleh akhi akhi wahabi yang masih lajang

4. Setelah dinikahi, maka misionaris wanita wahabi tadi mencari gadis gadis N.U lain untuk dijerat, jadi kesimpulannya ‘SELAiN MERAMPOK MASJiD N.U maka wahabi juga menjerat gadis gadis N.U”

Demikian parah nasib yang dialami N.U saat ini, bahkan pengajian pengajian salafi gemar menganggap warga N.U sebagai ahlul bid’ah terlaknat terkutuk

Gerakan anti syi’ah di Indonesia yang dilakukan salafi wahabi ternyata BERSAYAP, selain syi’ah dihancurkan maka wahabi juga berniat membumi hanguskan doktrin doktrin NU

Salafi Wahabi hancurkan N.U demi uang, cewek dan Amerika

a. Uang Saudi, uang Amerika dan Israel membuat wahabi ngiler

b. Salafi wahabi ikut memasok cewek cewek Indonesia ke Arab Saudi agar berpotensi untuk diperkosa, ingat kasus TKW

c. Salafi wahabi doyan ke PUNCAK BOGOR untuk melecehkan dan menikmati cewek cewek Indonesia

d. Salafi wahabi merupakan agen Amerika Serikat, ingat kasus Raja Fahd memasukkan tentara najis kafir ke jazirah Arab Saudi

.

Ketua NU : Wahabi Harus Diwaspadai

Minggu, 05 Pebruari 2012, 22:39 WIB
Ketua NU : Wahabi Harus Diwaspadai
Said Agil Siradj

kita bisa mengenali seperti apa kondisi aliran wahabi tersebut yang saat ini telah berkembang besar di Indonesia, baik dari segi proses kelahirannya maupun sikap mereka terhadap para ulama. Kita tahu gerakan-gerakan mereka hanya berbekal dalil sekenanya saja, mereka mengklaim telah memahami ajaran Rasulullah dengan semurni-murninya, padahal dalilnya adalah palsu dan tidak rasional. Mereka sebenarnya tidak memahami isi al-Qur’an dan hadits, apalagi hingga menafsirkannya.
.
Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama. Salafi Wahabi adalah kelompok yang mengusung misi modernisasi agama dan perintisnya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab di Nejd. Beliau adalah pengikut madzhab Imam Ahmad, akan tetapi dalam berakidah beliau mengikuti Ibnu Taimiyah

.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi dengan tujuan ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak sesuai.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya wahabi itu sedikit lebih keras,” kata dia dalam Bedah buku oleh Gerakan Pemuda Anshor di Riau, Ahad (5/2).

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan gerakan terlarang, namun pihaknya menghimbau agar ketidaksamaan pandangan tidak membuat umat bingung.

“Mereka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi ‘bidah’ yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus ditinggalkan,” kata dia.

Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan dan tidak ada yang mengada-ngada.

“NU bersikap tegas, kami justru menghargai agama lain yang jelas-jelas tidak mebawa nama Islam,” kata dia. Hal tersebut, kata Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.

Dengan semakin kuatnya gerakan anti Syiah yang dilakukan oleh sejumlah ulama yang mengusung salafi wahabi, maka saya tergerak lagi untuk menuliskan pandangan saya tentang Syiah Indonesia. Melalui kata Syiah Indonesia, maka saya ingin menegaskan bahwa Syiah di Indonesia sudah menjadi bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia dan keyakinan keberagamaannya juga sudah menjadi bagian dari keyakinan keberagamaan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana diketahui bahwa pasca kerusuhan di Sampang, maka ada usaha yang dilakukan oleh sekelompok ulama yang mengatasnamakan Islam sunni untuk menghakimi bahwa Syiah adalah ajaran yang menyimpang dan sesat sehingga haruslah dilakukan tindakan mengusir dan melarang ajaran Syiah tersebut dari wilayah yang dikuasai oleh orang yang menyatakan sebagai kaum Sunni.

Saya menjadi sedih melihat bahwa Indonesia yang besar ini selalu dikoyak oleh orang yang mengatasnamakan agama yang paling benar untuk melakukan kekerasan agama. Saya menjadi teringat dengan komentar Dr. Makhlani, Representative IDB Indonesia, mengomentari komentar saya di koran The Jakarta Post, bahwa Islam Indonesia yang besar ini selalu dikerdilkan orang yang merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Bayangkan bahwa kerusuhan di Sampang itu menjadi berita besar di dunia dan hal itu sangat merugikan positioning Indonesia dalam percaturan internasional.

Ketika saya ke Australia, maka ada cerita tentang bagaimana orang menjadi takut untuk datang ke Indonesia. Ada sebuah lembaga pendidikan yang menginginkan agar siswanya datang ke Indonesia dalam rangka mempelajari budaya Indonesia. Akan tetapi sejumlah orang tua keberatan, sebab selalu diberitakan bahwa Indonesia bukanlah negara dan tempat yang aman. Jadi, peristiwa pembakaran terhadap rumah dan tempat ibadah itu tentu menyumbang tentang ketakutan orang luar negeri tentang Indonesia. Mereka yang melakukan gerakan kekerasan tersebut tentu membawakan kenyataan semakin jeleknya citra Indonesia di dunia internasional.

Makanya, ketika saya membuka internet dan mata saya terperangkap dengan berita tentang MUI tidak menyesatkan Syiah. Saya merasa sangat gembira dengan berita ini. Yang bersuara seperti ini adalah Umar Syihab salah seorang ketua MUI. Beliau menyatakan bahwa selama ini belum ada fatwa MUI yang menyatakan bahwa Syiah adalah aliran sesat. Memang ada hasil rekomendasi yang menyatakan bahwa Syiah harus diwaspadai sebab kala itu, tahun 1984, Syiah memang mengusung ideologi politik pasca hancurnya kekuasaan tiranik di Iran.

Para tokoh Islam, seperti Dien Syamsudin, pimpinan Muhammadiyah, Said Aqil Siraj, pimpinan NU, Prof. Quraisy Syihab dan sejumlah ulama lain juga memandang bahwa janganlah melakukan tindakan main tuduh dengan menyatakan bahwa sekelompok penganut faham agama lain sebagai sesat, kafir dan sebagainya. Ada ketegasan pandangan mereka ini bahwa Syiah bukanlah aliran sesat. Syiah di Indonesia memang berasal dari Syiah Dua Belas Imam atau Syiah Istna Asy’ariyah, sehingga bukanlah Syiah yang menyimpang. Bahkan berdasarkan kenyataan empiris, banyak kesamaan ibadahnya dengan kelompok NU. Tentu juga ada yang berbeda. Jangankan antara Sunni dengan Syii, sedangkan antara NU dan Muhammadiyah yang sesama ahlu sunnah wal jamaah juga ada tatacara ibadah yang berbeda. Jadi, perbedaan adalah suatu keniscayaan.

Ada sebuah hipotesis yang barangkali bisa dijadikan sebagai tema pengkajian adalah semakin tingginya gerakan fundamentalisme agama, maka semakin banyak kekerasan agama yang bermotif atau bernuansa keagamaan. Pertanyaannya adalah apakah ada korelasi antara fundamentalisme agama dengan gerakan untuk melakukan justifikasi bahwa selain keyakinannya, maka semuanya adalah ajaran yang salah dan semuanya harus dikembalikan kepada keyakinan fundamentalismenya dan untuk kepentingan tersebut bisa saja menggunakan kekerasan.

Saya sungguh merasakan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang “NU” di Sampang ini memang bisa saja didesain oleh orang di luar NU yang secara sengaja memanfaatkan sentimen keagamaan sebagai basis untuk mencapai tujuannya, yaitu mengobrak-abrik Islam moderat yang selama ini dilabelkan kepada NU.

Sejauh ini kita telah gagal menghapus perbedaan pendapat di antara kelompok sunah dan Syiah, walaupun telah berlalu puluhan abad. Maka wajiblah kita mengakui bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang ada, namun jangan sekali-kali mengembangkannya sehingga menjadi pertentangan berdarah. Cukuplah luka-luka yang kita derita. Cukuplah perpecahan yang mengoyak-ngoyak kita. Sudah amat banyak bencana yang menghancurkan kita, umat Islam. Sementara itu, Zionisme internasional selalu bersiap-siap untuk menghancurkan kita dan mencerabut eksistensi kita dari akar-akarnya. Apa gunanya mengulang-ulang pidato-pidato yang mencaci maki, menyakiti hati, memprovokasi, memusuhi dan menyebut-nyebut kejelekan dan aib masing-masing kelompok? Manfaat apa yang diharapkan dari permusuhan yang menumpahkan darah si suni maupun si syii?

.
Menjadi kewajiban orang-orang berakal, dari kalangan sunah dan Syiah, untuk berupaya sungguh-sungguh mengubur segala macam fitnah (penyebab pertikaian) di antara mereka, menghindari segala bentuk provokasi atau kebiasaan melempar ancaman ataupun tuduhan pengkhianatan ke alamat kelompok yang lain.

Wahai orang-orang berakal di kalangan sunah dan Syiah!
Cabutlah semua sumbu pertikaian. Padamkanlah semua api pertikaian. Janganlah menambah lagi bencana umat ini di atas segala bencana yang sudah mereka alami.

Wahai orang-orang berakal di kalangan sunah dan Syiah!
Biarlah masing-masing memilih jalannya sendiri, biarlah masing-masing menentukan arah pandangannya sendiri, sampai kelak saat Allah memutuskan apa yang kita perselisihkan di antara kita.

……………………………………………………………………………………………………………………….

Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)

Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)

Sejak lama Al-Azhar yang berada di kota Kairo-Mesir telah menjadi pusat dan kiblat buat pendidikan masyarakat Ahlusunnah. Al-Azhar telah banyak mencetak para ulama dan tokoh Ahlussunah yang kemudian tersebar di segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Para alumni al-Azhar dapat bersaing dengan alumni-alumni Timur Tengah lainnya seperti Saudi Arabia, Sudan, Tunis, Maroko, Yordania, Qatar dan negara-negara lainnya. Inilah salah satu penyebab al-Azhar menjadi semakin mencuat citranya di berbagai negara muslim dunia, sehingga seorang pemimpin al-Azhar menjadi rujukan dan panutan bagi pemimpin perguruan tingi lain di Timur Tengah.

Di sini, kita akan menunjukkan beberapa fatwa dari para petinggi al-Azhar perihal bermazhab dengan mazhab Jakfari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariyah. Kita akan mulai dengan fatwa dari guru besar yang memulai fatwa pembolehan tersebut, Syeikh Allamah Mahmud Syaltut RA:

mahmud-syaltut.jpg
Kemudian kita lanjutkan fatwa Syeikh Allamah Salim al-Bashri:
salim-albashri.jpg
Lantas kita beranjak ke fatwa selanjutnya yang dikeluarkan oleh Syeikh Allamah Muhammad Fahham:
muhammad-fahham.jpg
Dan kemudian fatwa dari Syeikh Allamah Abdul Halim Mahmud:
abdulhalim-mahmud.jpg

Kesemua dari para petinggi al-Azhar tadi memberi respon positif terhadap mazhab Jakfari (Syiah Imamiah Istna ‘Asyariah) dan mengakuinya sebagai salah satu mazhab dalam Islam dimana seorang muslim bebas untuk menentukan bermazhab dengan mazhab tersebut, kelegalannya sebagaimana mazhab Ahlussunnah yang ada. Tentu, bagi sebagian kelompok kecil yang merasa benar sendiri (ego) dan fanatisme golongannya telah melingkupi dirinya, plus akibat dari kekotoran jiwa yang tidak menerima fatwa-fatwa petinggi dan pemuka al-Azhar tersebut. Mereka hanya akan menerima fatwa dari ulama-ulama golongan mereka saja.

Tiga Poin Penting Risalah Amman

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) –termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)– , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

[1]Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Jakfariy, Madzhab Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

[2]. Sungguh diantara madzhab yang banyak tersebut memang terdapat perbedaan (ikhtilaf), maka ulama-ulama dari delapan madzhab tersebut bersepakat dalam mabda’ yang pokok bagi Islam. Semuanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa yang Maha Esa, Al-Qur’an al-Karim adalah Kalamullah, Sayyidina Muhammad ‘alayhis shalatu wassalam adalah Nabi sekaligus Rasul bagi umat manusia seluruhnya, dan mereka bersepakat atas rukun Islam yang 5 : Syadatayn, Shalat, Zakat, puasa Ramadhan, Haji kepa Baitullah, dan juga bersepakat atas Rukun Imam yang 6 ; beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari kiamat, dan kepada Qadar yang baik dan buruk, dan ulama-ulama dari perngikut Madzhab tersebut berbeda pendapat dalam masalah Furu’ (cabang) dan bukan masalah Ushul (pokok), dan itu adalah Rahmat, dan terdahulu telah dikatakan ;

إنّ اختلاف العلماء في الرأي أمرٌ جيّد

“Sesungguhnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) para Ulama dalam masalah pemikiran hal yang baik”

[3]. Pengakuan terhadap madzhab-madzhab dalam Islam berarti berkomitmen dengan metodologi (manhaj) dalam hal fatwa ; maka siapapun tidak boleh mengeluarkan fatwa selain yang memenuhi kriteria tertentu dalam setiap madzhab, dan tidak boleh berfatwa selain yang berkaitan dengan manhaj (metodologi) madzhab, tidak boleh seorang pun mampu mengklaim ijtihad dan mengembangkan/membuat madzhab/pendapat baru atau mengelurkan fatwa yang tidak bisa diterima yang dapat mengeluarkan kaum Muslim dari kaidah syar’iyyah, prinsip, ketetapan dari madzhabnya.

Tiga Poin Risalah ‘Amman ini lalu diadopsi oleh kepemimpinan politik dunia Islam pada pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Mekkah pada Desember 2005. Dan setelah melewati satu tahun periode dari Juli 2005 hingga Juli 2006, piagam ini juga diadopsi oleh enam Dewan Ulama Islam Internasional. Secara keseluruhan, lebih dari 500 ulama Islam terkemuka telah mendukung Risalah ‘Amman dan tiga poin pentingnya.

Di antara penandatangan dan pengesah Risalah Amman ini adalah:

Afghanistan: Hamid Karzai (Presiden).

Amerika Serikat: Prof. Hossein Nasr, Syekh Hamza Yusuf (Institut Zaytuna), Ingrid Mattson (ISNA)

Arab Saudi: Raja Abdullah As-Saud, Dr. Abdul Aziz bin Utsman At-Touaijiri, Syekh Abdullah Sulaiman bin Mani’ (Dewan Ulama Senior).

Bahrain: Raja Hamad bin Isa Al-Khalifah, Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah (Wakil Menteri Urusan Islam)

Bosnia Herzegovina: Prof. Dr. Syekh Mustafa Ceric (Ketua Ulama dan Mufti Agung), Prof. Enes Karic (Profesor Fakultas Studi Islam)

Mesir: Muhammad Sayid Thantawi (Mantan Syekh Al-Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung), Ahmad Al-Tayyib (Syekh Al-Azhar)

India: Maulana Mahmood (Sekjen Jamiat Ulema-i-Hindi)

Indonesia: Maftuh Basyuni (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (NU).

Inggris: Dr. Hassan Shamsi Basha (Ahli Akademi Fikih Islam Internasional), Yusuf Islam, Sami Yusuf (Musisi).

Iran: Ayatullah Ali Khamenei (Wali Amr Muslimin), Ahmadinejad (Presiden), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Mazhab Dunia), Ayatullah Fadhil Lankarani.

Irak: Jalal Talabani (Presiden), Ayatullah Ali As-Sistani, Dr. Ahmad As-Samarai (Kepala Dewan Wakaf Sunni)

Kuwait: Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber As-Sabah.

Lebanon: Ayatullah Husain Fadhlullah, Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Sunni).

Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman)

Pakistan: Pervez Musharraf (Presiden), Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri (Dirjen Pusat Penelitian Islam), Muhammad Taqi Usmani.

Palestina: Syekh Dr. Ikramah Sabri (Mufti Agung dan Imam Al-Aqsha).

Qatar: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ali Ahmad As-Salus (Profesor Syariah Universitas Qatar).

Sudan: Omar Hassan Al-Bashir (Presiden).

Suriah: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung), Syekh Wahbah Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fikih), Salahuddin Ahmad Kuftaro.

Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Darul Mustafa), Habib Ali Al-Jufri.

Yordania: Raja Abdullah II, Pangeran Ghazi bin Muhammad (Dewan Pengawas Institut Aal Al-Bayt), Syekh Izzuddin Al-Khatib At-Tamimi (Hakim Agung), Syekh Salim Falahat (Ikhwanul Muslimin Yordania).

Din Syamsudin, Umar Syihab, Syafii Maarif dan Said Aqil Siraj: Syiah tidak sesat

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Abu Jibril yang jelas jelas pro teroris wahabi menyatakan bahwa Kita harus sudah mulai mensosialisasikan kembali kesesatan Syiah di Masyarakat

Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Jibril Abdurrahman

Abu Jibril menekankan agar para ulama, da’i, aktivis dakwah dan pemuda-pemuda Islam bersatu dan mewaspadai Syiah. Terlebih saat ini banyak orang tertipu oleh gemerlap Iran dan Hizbullah yang terus berpura-pura membela umat Islam.

“Padahal dibalik itu mereka (Syiah) memiliki agenda untuk menyesatkan umat dengan ajaran mereka,” jelas Abu Jibril lagi.

Dalam forum ini, Abu Jibril juga meminta agar FPS membuka Media Center (Pusat Informasi) mengenai kondisi Suriah. Di sisi lain ia juga berharap Media Center tersebut bisa menjadi pusat konsolidasi gerakan anti Syiah di Indonesia.

“Dari situ umat Islam bisa mendapatkan informasi mengenai fakta kesesatan Syiah,” tambahnya lagi.

Terorisme Tumbuh Subur di Tengah Ta’lim Salafi Wahabi

buku para teroris

Teroris Jaringan M. Thoriq

Said Aqil Siraj Tuduh Pesantren Salafi Ajarkan Benih-Benih Terorisme

Kesantunan dan kelembutan yang senantiasa melekat pada kyai NU nampaknya terdapat pada diri Kang Said. Ketua umum PBNU ini sering melontarkan kata-kata mulia dan bahkan menuai dukungan  dari internal NU sendiri terkait wahabi setan dari nejed

Terkait  terorisme, kyai lulusan universitas Ummul Quro Makkah  ini seolah menjadi garda terdepan dalam rujukan. Syukurnya apa yang dia paparkan berupa data dan fakta sangat dekat dengan kebenaran

Dilansir merdeka.com, Jumat (28/09) dalam rubrik khas wawancara dengan Said Aqil Siraj dengan tema “Ajaran Wahabi Mendorong Orang Menjadi Teroris” ketua umum PBNU itu menyebut ada kaitan antara ajaran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

Ditengah-tengah wawancara, Said mengatakan bahwa ajaran Wahabi bisa dan dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Kemudian dia memberikan contoh salah satu pesantren ditanah kelahirannya yang dituduh beraliran Wahabi. “Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan,” ujar Said.

Selain menyebutkan pesantren Assunnah Cirebon sebagai radikal dan menanamkan benih-benih terorisme, Said Aqil juga menyebut ada 12 yayasan dan lembaga yang menurut persangkaannya adalah beraliran wahabi dan menanamkan benih-benih teroris seperti Ash-Shofwah, An-Nida dan Al-Fitrah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendesak Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengeluarkan SK Gubernur pelarangan ajaran Syiah.”Kalau gubernur berkenan, MUI usulkan agar ajaran Syiah juga dilarang seperti Ahmadiyah di Jatim,” kata Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori kepada wartawan, Selasa (23/10)

Menurut Abdusshomad, Pergub 55/2012 masih mengatur larangan ajaran sesat secara umum. “Pergub itu mengatur secara umum, belum ada kalimat yang langsung menyebut Syiah,” jelasnya.

Kata Abdusshomad, ajaran Syiah mencaci maki sahabat Rasulullah. “Syiah itu kan ajarannya mencaci maki sahabat Rasulullah. Islam di Indonesia mengakui Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib,” tuturnya.

Pernyataan beliau ini ditunggangi kepentingan dana wahabi global yang ingin memasukkan paham teroris ke indonesia

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Nahdlatul Ulama (NU) 100% Menolak Aliran Salafy Wahabi Teroris

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah

Teroris Merajalela karena ta’lim salafi wahabi !! Koalisi N.U – Syi’ah diperlukan

Rekrutmen teroris di kalangan masyarakat mulai dari kelas bawah hingga sarjana dan kamerawan semakin merajalela . Fungsi Kementerian Agama terutama dalam melakukan pembinaan masyarakat mendapat kritikan dan dipertanyakan.

“Seharusnya Kementerian Agama melakukan pembinaan. Memberi pembinaan, penyadaran soal agama yang benar. Hal ini diperlukan agar tidak ada orang yang menyebarkan ajaran teroris,” ujar sosiolog Musni Umar, Senin (25/4/2011).

Musni menjelaskan, Kemenag bisa menggandeng ormas-ormas keagamaan, Kementerian Pendidikan Nasional dan unsur-unsur masyarakat untuk pembinaan agama. Sebab tugas Kemenag tidak hanya mengurusi regulasi atau haji saja.

“Saat ini kan PNS dari Kemenag juga pulang kerja, pulang saja. Tidak ada keinginan untuk melakukan pembinaan pada masyarakat,” kata pengajar UIN Syarif Hidayatullah ini.

Musni menerangkan dalam pembinaan, pemerintah tidak bisa hanya melimpahkan tanggung jawab ini kepada ormas. “Dananya ormas kan terbatas. Kalau Kemenag itu dibiayai pemerintah. PNSnya juga digaji,” imbuhnya.

Musni melihat rekrutmen teroris makin luas. Kalau dulu rata-rata hanya lulusan pesantren, kini meluas hingga kampus dan sarjana. Hal ini yang perlu dicegah

.
Terorisme wahabi  telah merobek dan melukai hati seluruh rakyat yang tengah membangun dan berjuang mewujudkan masyarakat yang aman, berkeadilan, dan sejahtera. Terorisme telah merobek rasa aman dan damai yang dibangun dengan susah payah

.
Gambaran psikologis pelaku berserta latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya membantu kita untuk mengarsir sketsa wajah pelaku. Studi-studi terkini yang menitikberatkan latar belakang pelaku teror di berbagai negara justru menunjukkan bahwa asal pelaku jaringan teroris dari ekonomi bawah dan pendidikan rendah lebih merupakan stereotipe daripada realitas

.

Stereotipe terhadap pelaku ini cenderung berulang dengan akibat penyempitan pandangan terhadap pelaku dan salah arah dalam kebijakan publik. Kehati-hatian hendaknya terjaga terutama saat dalam kasus teror bom kita kebetulan mendapati pelaku memeluk agama Islam dalam kartu tanda penduduknya. Sampai sejauh ini aparat keamanan mensinyalir keterlibatan pelaku dari luar negara Indonesia dalam aksi teror bom.

Informasi ini membantu kita untuk menyadari teror born barangkali memiliki target politik yang melampaui ruang lingkup nasional. Aksi teror mereka boleh jadi berkaitan dengan aksi-aksi teror serupa di wilayah geografi lain dengan agenda menggoncang panggung politik global.

mulai dengan mendengarkan tuturan penderitaan korban teror bom. la mempertanyakan pelabelan politik religius Islam dengan teroris dan Barat dengan kekafiran. Pendefinisian terorisme, teroris, dan korban teroris kemudian membutuhkan kehatian-kehatian agar terhindar dari perangkap pelabelan politik-religius yang dipasang penciptanya. Pendefinisian terorisme, dan pemilahan antara korban dan pelaku teroris berlangsung dengan membedah paham kebertuhanan subyek-subyek yang terlibat dalam wacana. Penderitaan korban dan goncangan ketakutan yang melampaui batas negara yang menjadi lokasi bom menyingkap politik teror pelaku

.

Di mata sosiolog, terorisme tumbuh subur ditengah kemiskinan yang kian merajalela. Peran pemerintah menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat perlu ditingkatkan.

“Akar persoalannya adalah kemiskinan menjadi sumber masalah yang terbesar. Kesenjangan yang makin mencolok perlu diperketat agar kaum kelas bawah tidak terpuruk. Kalangan bawah yang makin terpuruk mudah disisipi ideologi dan gampang diprovokasi,” ujar sosiolog Universitas Sriwijaya, Alfitri, kepada wartawan di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (16/4/2011).

Selain, itu menurut Alfitri, kekecewaan masyarakat kepada institusi penegak hukum juga makin nyata. Ia menduga bom bunuh diri yang dilakukan di Mapolresta Cirebon bermaksud menunjukkan kekecewaan mereka.

“Kekecewaan yang semula diarahkan ke institusi negara saat ini bergeser diarahkan ke institusi formal kepolisian juga penegak hukum yang  dianggap melakukan rekayasa dan keadilan,” ujarnya.

Karena itu, penting sekali peran pemerintah dalam pemberantasan terorisme secara persuasif. Dengan menjamin kesejahteraan rakyat dan menjamin keadilan bagi rakyat, pemerintah telah menutup simpul jaringan teroris berikutnya.

“Artinya adalah refleksi publik yang luar biasa dimana keadilan masyarakat sangat jauh. Tidak ada upaya lain selain melakukan tindakan radikal. Harus diperhatikan akar masyarakat orang mengambil cara radikal. Harus dibenahi posisi keadilan bagi masyarakat harus dikedepankan,” tuturnya.

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sepakat bekerjasama dalam program deradikalisasi. Hal itu diwujudkan dengan dengan penandatangan memorandum of understanding (MoU) di halaman masjid al Wali Jl Fatmawati, Ketileng, Semarang Timur.”Sekuat apapun pemerintah tetap butuh civil soceity. Kami (NU) siap bekerja sama dengan siapapun, TNI, POLRI ataupun ormas lainnya,” kata ketua umum PBNU Said Agil Sirodj usai penandatangan MoU, Minggu (14/10/2012).

Selain deradikalisasi, kerjasama juga meliputi Pendidikan, Lingkungan Hidup, Penanggulangan Bencana, Kedaulatan Pangan, Menjaga tegaknya NKRI. Bagi Said Agil, NU dan LDII memiliki kesepahaman terkait islam radikal. Menurutnya, gerakan radikal bukan budaya Indonesia.

Ia menyebut bahwa sejarah Islam Nusantara yang dibawa wali songo mengajarkan islam melalui jalan damai yaitu seni ataupun budaya. Islam radikal yang beredar di Indonesia menurutnya paham impor.

Ketua DPP LDII Abdullah Syam menuturkan pentingnya sinergitas antar organisasi masyarakat (ormas). Dengan adanya mou ini, pihaknya berjanji akan belajar banyak dari ormas NU yang memang sudah lebih dulu lahir.

“Nanti mungkin perlu forum untuk organisasi besar semisal NU, Muhammadiyah dan kami, untuk kerjasama ke depan,” ucapnya.

https://syiahali.wordpress.com  dibuat oleh Ustad Husain Ardilla demi membela N.U dan rakyat Malaysia dari serangan wahabi


salafi wahabi pecah dua :
a. Salafi dakwah,
ciri cirinya : menganggap NU sebagai ahlul bid’ah sehingga mereka berupaya menghancurkan N.U. Celakanya kini muncul alumni salafi yamani yang membanjiri Indonesia yang doyan membid’ah bid’ah kan N.U
.
b. Salafi jihadi
ciri ciri : gemar ngebom, teroris. Juga kelompok Ustadz Abu Bakar Ba’asir yg sangat mengesankan mengakomodasi tindak kekerasan ketika dulu  berkomentar bahwa (1) teror bom tsb dilakukan oleh Amerika/ musuh Islam dan (2) bila dilakukan oleh orang Indonesia itu adalah peringatan kepada pemerintah karena tidak mau menerapkan hukum Islam. Pernyataan terakhir Ba’asir inilah yg menurut saya perlu dicermati, apa maksudnya Ba’asir bicara seperti itu yach???

Bahasa Indonesia: M. Quraish Shihab dalam reka...Prof. M. Quraish Shihab; salah seorang penganjur persatuan

.

Amien Rais, the initiator of "Axis Force&...Amien Rais dan Gus Dur pro syi’ah

.

Habib Zein: Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Bela sekte Syi’ah sebagai aliran tak sesat, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dituding ulama wahabi sebagai makhluk yang lebih jelek dan lebih berbahaya daripada Syi’ah.

Hal itu diungkapkan Ketua bidang Organisasi Albayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf, menanggapi pernyataan Said Aqil bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.

“Bagi kami Albayyinat kalau ada seorang yang mengaku Sunni tapi dia justru membela Syi’ah, maka bagi kami dia lebih jelek dan lebih berbahaya dari pada Syi’ah,” tegas Habib yang juga A’wan   Syuriyah   Pimpinan Wilayah NU (PWNU)  Jatim itu.

Membantah Habib Zein yang melaknat Said Aqil Lebih Jelek dan Lebih Berbahaya daripada Syi’ah

Pemahaman dangkal terhadap agama seringkali berakibat pada pembenaran atas paham yang dimiliki dan menganggap yang lainnya salah atau bahkan sesat. Ya si habib tua termasuk orang yang botol (bodoh dan tolol)

saat ini banyak tokoh membela wahabi  demi mendapat gelontoran dana dari Saudi. Para tokoh itu mati-matian membela wahabi dari fatwa sesat, karena fatwa sesat ini bisa mengentikan dana upeti dari Saudi.

Bagi orang-orang yang sudah  dibeli oleh wahabi, ‘Fatwa wahabi sesat’ tersebut akan merugikan pribadinya yang biasa menerima upeti dari wahabi .  Apabila wahabi sampai dilarang di Indonesia, maka gelontoran dana dari Saudi akan berhenti. Itulah sebabnya mereka mati matian membela wahabi

Di Indonesia, wajar saja banyak kalangan atau kelompok yang menolak syiah dan menganggapnya sesat sebab, yang mereka baca, dengar dan ketahui sejak kecil hanyalah sunni dan cenderung lebih sempit lagi yakni; NU dan Muhammadiyah.

Ini biasanya didapati di kampung-kampung yang memang pengetahuannya terbatas hanya mendengar ceramah ustadz yang juga pengetahuannya terbatas. Namun masyarakat seperti ini biasanya tidak begitu ekstrem tetapi mudah disulut atau diprovokasi atasnama keyakinan.

Nabi Muhammad SAW, telah wafat kurang-lebih 1500 tahun tahun yang lalu, itu artinya tiadak ada diantara kita yang hidup pada zaman beliau, melainkan kita hanya menerima alqur’an, hadits dan riwayat-riwayat tentang beliau. Hadits dan riwayat sunni tentu bersumber dari berbagai narasumber yang terjadi dari zaman ke zaman yang terbukti bisa dipalsukan. Lalu dengan alasan apa kita begitu mudah men-sesat-kan golongan lain dan dengan dasar apa kit mengklaim diri sebagai golongan yang benar?…

Sunni  Syi’ah   yang ada dalam islam, sepanjang mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul ALLAH untuk Islam maka, itu adalah islam dan seharusnya kita punya rasa malu utuk menyebutnya sebagai kafir atu sesat sebab, jangan-jangan kitalah yang sesat.

Perbedaan adalah rahmat, ciptaan Tuhan dan suatu keniscayaan. bahkan yang bukan Islampun wajib kita menghargai sebab kita sama-sama ciptaan Tuhan, soal agama dan tata cara menyembah adalah urusan masing-masing dan Tuhan yang akan menilai sebab, bukan kita pemilik Sorga atau Neraka melainkan Dia. Jadi jika mau berbuat sesuatu sebaiknya kita selalu mengingat Tuhan agar kita tidak malu sendiri, ingat Tuhan tidak perlu diperlu dibela karena kita terlalu sombong bila mau membelaNYA dan sebagai hamba kita hanya berkewajina untuk menyembah, itu saja.

Jadi, biarkan syi’ah hidup tenang tenang dan tentram di Indonesia sebab penganutnya juga adalah warga negara Indonesia dan Indonesia bukan milik orang-orang yang berpaham sunni saja.

Sang Pencinta Ahlul Baitfitnah wahabi

Din Syamsudin dan Said Aqil Siraj: Syiah tidak sesat

 .

Tak seperti Ahmadiyah yang semua ulama hampir menyepakati bahwa ajaran ini sesat dan bukan islam, Syiah justru banyak Ulama yang berpendapat bahwa Syiah tidak sesat. Berikut petikan pendapat beberapa tokoh Islam, diantaranya adalah ketua dua ormas Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) Serta Ketua MUI tentang Syiah dan alasan kenapa ajaran tersebut bukan aliran sesat. (data dari Voa-Islam)
  .
Umar Syihab (Ketua MUI)
.
Menurut Umar Syihab, ia  tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat

.
Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat

.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang

.
Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”
.
Said Aqil Siraj
.
Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang,Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja

.
Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said

.
Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya

.
Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon

.
Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

.
Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

.

Syafii Maarif

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.
Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.
.
Din Syamsudin

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

.
Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.
.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut

 .

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab

Syeikh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.

Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah.

Syeikh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H di Buhairah, Mesir. Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H menjadi mufti umum al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.

Syeikh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syiah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.
Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syiah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah al-Islam”.
2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syiah, yang berhubungan dengan pendekatan antarmazhab.
3. Memasukkan fikih Syiah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.
4. Yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu.

Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiah)?

Syeikh Syaltut menjawab,
1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.
2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syiah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat Islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib
Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syiah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahani-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar
Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jumat tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:
Tafsir Al-Quran Al-Karim
Nahju Al-Quran fi Bina Al-mujtama
Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah
Al-Fatawa
Al-Qital fi Al-Islam
Min Tawjihat Al-Islam
Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh
Fiqh Al-Quran

………………………………..
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam di Mesir merupakan sebuah gerakan budaya yang menunjukkan sejauhmana tingkat keberagaman, intelektual, akidah, sejarah dan fikih umat Islam. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Gerakan Pendekatan Mazhab Islam sangat efektif dalam mendekatkan pemikiran-pemikiran setiap mazhab dan menciptakan unsur kebersamaan di dalamnya. Tak diragukan lagi bahwa gerakan tersebut juga dapat menyingkirkan sikap saling mengkafirkan pada diri setiap Muslim terhadap sesama saudaranya. Tentu saja usaha tersebut menemui berbagai rintangan sosial-politik dan tipu daya musuh-musuh Islam.
 .
Adalah sangat disayangkan bahwa siasat musuh dalam menciptakan perpecahan dan perselisihan antara Muslimin yang tujuannya adalah terwujudnya instabilitas politik dan kerusuhan tampak berjalan dengan lancar. Tipu muslihat ini terfokus pada usaha untuk mengungkit kembali permasalahan-permasalah sejarah yang sensitif, sehingga umat Islam yang seharusnya bekerja sama menghadapi masalah-masalah besar yang sedang menimpa mereka di masa ini, justru saling berkelahi seputar sejarah dan masa lalu.
 .
Permasalahan ini begitu dahsyatnya sampai-sampai satu sama lain dengan mudah membubuhkan stempel “kafir”, padahal perbedaan mereka hanya berkisar pada furu’uddin (cabang-cabang agama). Mereka beranggapan bahwa perbedaan dalam furu’ berkaitan dengan ikhtilaf dalam ushul (prinsip-prinsip agama). Akhirnya, mereka mengeluarkan fatwa kafirnya pengikut mazhab lain dan orang-orang yang tidak sepaham atau berbeda ijtihad dengan mereka. Sebagian dari mufti-mufti (para pemberi fatwa) ini berkeyakinan bahwa orang-orang kafir non-Muslim jauh lebih baik daripada orang-orang Islam yang berbeda pemikiran dengan mereka. Mereka bersikap seperti orang-orang Yahudi Madinah yang menilai kaum Muslimin dengan berkata kepada kaum musyrik: “Kalian lebih mendapatkan hidayah daripada umat Muhammad.”
 .
Semenjak gagalnya gerakan pendekatan ini kondisi Muslimin semakin memburuk. Mereka tidak saling dekat, bahkan hubungan antara satu mazhab dan mazhab yang lain bagaikan hubungan satu agama dan agama lainnya dimana di antara keduanya terletak jurang pemisah yang dalam. Hingga saat ini musuh-musuh Islam sedang melancarkan aksinya untuk menciptakan jurang-jurang pemisah antara umat Islam, bahkan antara penganut satu mazhab sekalipun.
 .
Umat Islam dewasa ini masih juga menyandang predikat obyek penderita/lemah, baik yang di barat maupun di timur, di selatan maupun di utara. Dengan mata telanjang kita dapat menyaksikan pemandangan pahit ini. Umat Islam yang dulunya adalah umat yang paling besar dan berwibawa daripada umat-umat lainnya, kini sedang mengalami kondisi yang tidak sepatutnya dialami.
 .
Mengapa keterpurukan ini begitu mengakar pada diri kita sehingga kita menjadi umat yang lemah, khususnya di hadapan negara-negara adidaya? Mengapa kita tidak saling memahami kondisi internal kita yang runtuh dan berpecah belah? Dan yang lebih utama dari itu semua adalah, mengapa kita tidak bangkit untuk mencari titik keterpurukan—yang membuat kita lemah dan dilemahkan—ini sehingga kita dapat mengatasinya? Memang benar yang melemahkan kita adalah negara-negara adidaya; namun siapa yang membuat diri kita lemah di hadapan mereka?
 .
Masalah berikutnya, apakah diri kita siap untuk mengakui kebenaran segala yang benar, sehingga dengan demikian kita dapat menujukkan keseriusan dalam berusaha keluar dari jeratan malapetaka ini?
 .
Pertanyaan yang lain adalah, rencana dan program apa saja yang harus kita jalankan untuk menyelesaikan masalah ini? Apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan gerakan pendekatan antar-mazhab ini?
 .
Kita harus bersikap transparan dan terus terang. Pertama-tama kita harus membangun kembali jembatan kepercayaan antara satu dan yang lain. Sepanjang sejarah jembatan itu telah dirobohkan berkali-kali oleh para tiran yang memegang tampuk kekuasaan. Para penguasa hanya memiliki hubungan yang baik dengan mazhab- yang mereka akui dan yang menguntungkan mereka. Seharusnya mereka membiarkan penganut mazhab lain berkeyakinan sesuai dengan pemikiran mereka. Tidak seharusnya mereka mengkafirkan, menyebut zindiq (munafik) dan memusuhi penganut mazhab lain. Budaya pengkafiran yang diciptakan penguasa ini mempengaruhi kebanyakan orang dan membuat mereka terbiasa dengannya, meskipun tanpa tahu-menahu asal usul dan sebabnya. Konsekuensi dari tradisi buruk ini adalah para penganut mazhab yang tak dianggap resmi memilih untuk lari dan hidup menyendiri serta jauh dari interaksi sosial yang sehat. Mereka melakukan praktek taqiyah (menutupi keyakinan yang sebenarnya) dan berada dalam ketakutan.
 .
Para penjajah datang ke tanah air kita pada abad ke-20, sedangkan kita masih dalam keadaan lalai dan belum menyadari seperti apakah hubungan ideal antar sesama Muslim, apapun mazhab mereka. Para penjajah kala itu dengan penuh kesadaran menjalankan siasatnya agar kita sama sekali melupakan isu persatuan ini, sehingga kita tidak dapat bangkit dengan kekuatan persatuan.
 .
Melihat realita di atas, dapat kita katakan bahwa saat ini kita sedang menghadapi dua masalah besar dan berbahaya yang sedang mengancam gerakan pendekatan antar mazhab. Masalah petama, masalah perpecahanan kita. Perpecahanan ini memang didasari oleh faktor politik, namun kita sendiri yang tertipu dan justru mengikuti siasat tersebut. Kemudian perpecahan ini telah disusun secara rapi sebelumnya dan diarahkan sedemikian rupa hingga benar-benar merasuk dalam tubuh kaum Muslimin. Masalah kedua, problema yang ditimbulkan oleh para penjajah dan negara-negara adidaya kepada kita. Problema ini hanya dapat diatasi dengan dijalankannya strategi pendekatan antar mazhab Islam, sehingga terciptalah keamanan internal dan solodnya barisan kaum Muslimin saat berhadapan dengan mereka.
 .
Untuk mewujudkan rencana ini, kita perlu memetakan pelbagai perkara dalam timbangan skala prioritas. Sebagian dari perkara tersebut berkaitan dengan akidah umat Islam, dan sebagian lainnya berkaitan dengan kondisi politik mereka. Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:
 .
Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.
 .
Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.
 .
Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.
 .
Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.
 .
Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.
 .
Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.
 .
Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.
 .
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:
 .
Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.
 .
Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.
 .
Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.
 .
Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.
 .
Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.
 .
Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

.

Risalah Cinta buat Mereka yang Berbeda Mazhab

 .

“Aku mencintaimu, wahai Malik,” kata Imam Ja’far Ash Shadiq setelah tamunya itu duduk di atas permadani seraya bersandar dengan nyaman di bantal yang menempel ke dinding. Sebenarnya, sang tamu, Imam Malik, adalah murid dari Imam Shadiq. Tapi, penghormatan yang sangat besar Imam Shadiq kepada muridnya itu membuatnya memperlakukan sang murid layaknya seorang tamu agung

.

Peristiwa sambutan itu sangat berkesan bagi Imam Malik. Apalagi selama kunjungan ilmiahnya ke Madinah dan Mekah itu, Imam Malik juga menyaksikan hal-hal yang luar biasa dari sang guru. Inilah penuturan Imam Malik
“Demi Allah, aku tidak pernah sekalipun menemuinya kecuali beliau sedang shalat, puasa, atau sedang membaca Al Quran. Suatu hari, aku berhaji bersamanya. Ketika tiba saatnya berihram dan mengucapkan talbiah, bergetarlah seluruh tubuhnya. Lidahnya kelu dan tak mampu mengucapkan kalimat apapun. Aku katakan kepadanya, ‘Ya Aba Abdillah, setelah berihram Anda harus mengatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk –kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah’. Mendengar kata-kataku, ia menjawab, ‘Wahai Malik, aku sungguh takut, ketika kukatakan ‘Labbayka Allahumma labbayk’, Allah lalu menjawab seruanku dengan jawaban, ‘La labbayka wa la sa’dayka- tak ada sambutan dan tak ada kebahagiaan bagimu-”
.
Itulah sepenggal cerita dari Imam Malik sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al Khishal: 167 Kaum Muslimin dunia kemudian mengenal Imam Malik sebagai imam salah satu madzhab besar dunia, yaitu Madzhab Maliki. Sedangkan sang guru, Imam Shadiq, punya pengikut yang dikenal sebagai kelompok Syiah. Keduanya memiliki identitas masing-masing yang berbeda satu sama lain. Berabad-abad kemudian, ada di antara para pengikut kedua madzhab itu yang sedemikian fanatiknya terhadap perbedaan itu, untuk kemudian menjadikannya sebagai sumber perpecahan. Penghormatan Imam Shadiq terhadap Imam Malik, dan juga kekaguman Imam Malik kepada Imam Shadiq tidak pernah lagi diingat apalagi diceritakan.
.
Perpecahan dan pertengkaran (bahkan sering disertai dengan peng-kafiran) yang berasal dari perbedaan pandangan madzhab itu juga terjadi di antara madzhab-madzhab lainnya. Padahal, sebagaimana yang terjadi pada pengikut Syi’i dan Maliki, para pembesar mereka dulunya adalah orang-orang yang saling memuji, saling menghormati, bahkan saling menimba ilmu satu sama lain. Ekstremitas dan fanatisme yang tidak perlu memang seringkali ditunjukkan oleh kalangan awam, padahal para pemimpin mereka mencontohkan hal yang berbeda.
.
Salah satu hambatan terbesar dalam hal persatuan ummat Islam atau pendekatan antarmadzhab Sunni dan Syiah adalah sikap, keyakinan, dan penghormatan yang berbeda yang ditunjukkan masing-masing kelompok terkait dengan imam, ulama rujukan, dan orang-orang tertentu. Ada satu kesan umum yang berlaku di kalangan Sunni bahwa orang-orang Syiah tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap para Sahabat, padahal para Sahabat adalah orang-orang yang sangat dimuliakan oleh orang-orang Sunni. Bagaimana mungkin menyatukan dua kelompok, jika yang satu sangat memuliakan Sahabat, sementara yang lain mencercanya? Pada artikel sebelumnya, saya mengemukakan penuturan Dr Al Qarni yang secara tegas meminta agar orang-orang Syiah juga menunjukkan penghormatan kepada para sahabat, sebagaimana orang-orang Sunni sangat memuliakan keluarga Nabi.
.
Seruan Al Qarni memang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang Syiah. Bagaimanapun juga, fakta menunjukkan bahwa dalam sistem kepercayaan Ahlu Sunnah, Sahabat adalah simbol kesalehan dan generasi terbaik yang menjadi panutan. Tentu fakta ini difahami dengan baik oleh orang-orang Syiah. Karena itu, akal sehat kita pastilah tidak bisa menerima jika orang-orang Syiah masih sangat suka mempermasalahkan kredibilitas Sahabat dalam forum apapun.
.
Kebiasaan mempermasalahkan kredibilitas para sahabat itu juga bisa jadi malah kontradiktif dengan prinsip dan keyakinan yang ditunjukkan para imam dan ulama Syiah sepanjang sejarah. Imam Ali bin Abi Thalib, misalnya, sering mengenang masa-masa indah manakala beliau hidup bersama Rasulullah dan para sahabatnya yang setia.
.
“Dulu kami hidup di zaman Rasulullah, berjuang bersama-sama sampai-sampai harus membunuh orang-orang terdekat kami demi Islam. Namun hal itu tidaklah menambahkan kepada kami, kecuali kesabaran yang dapat mengurangi penderitaan,” demikian kata Imam Ali. Beliau kemukakan kenangan seperti itu sambil membandingkan generasi para Sahabat dengan generasi yang hidup sezaman dengan beliau. “Kalau kami saat itu berperilaku seperti kondisi kalian saat ini, Islam tidak akan mungkin berdiri tegak dan membuahkan hasil.”
.
Imam Ali Zainal Abidin juga berdoa secara khusus untuk para Sahabat dengan mengatakan, “Ya Allah untuk para Sahabat yang telah menjalin persahabatan baik dengan Nabi-Mu, …. -Imam lalu memanjatkan senarai doa.”
Di awal tulisan ini sudah dikemukakan penghormatan timbal balik antara Imam Shadiq dan Imam Malik. Penghormatan timbal balik yang sama juga ditunjukkan secara tulus antara para imam dan ulama Ahlul Bait dan para imam dan ulama dari kalangan madzhab Sunni lainnya.
.
Imam Abu Hanifah pernah mengungkapkan pernyataan yang terkenal, “Law la sanatani la halaka Nu’man (kalaulah tiada masa dua tahun itu, binasalah Nu’man).” Dua tahun yang dimaksud dalam perkataan itu merujuk kepada masa-masa ketika beliau menimba ilmu kepada Imam Shadiq. Sementara itu Nu’man adalah nama kecil Imam Abu Hanifah
.
Imam Syafi’i malah dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Ahlul Bait Nabi. Ketika pada saat itu ada upaya politis untuk mendiskreditkan para pecinta Ahlul Bait Nabi, dengan lantang Imam Syafi’i mengatakan bahwa dirinya siap dicap sebagai Rafidhi (sesat), jika kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi dianggap sebagai kesesatan.
.
Imam Syafi’i juga pernah menuliskan syair yang isinya kurang lebih seperti ini:
“Wahai keluarga Rasulullah, kecintaan kepada kalian adalah sebuah kewajiban yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran. Cukuplah itu bagi kalian sebagai kemuliaan, karena shalat yang dilakukan tanpa bershalawat kepada kalian dihukumi sebagai shalat yang tidak sah.”
.
Imam Ahmad bin Hanbal juga demikian. Diriwayatkan bahwa suatu hari ada perdebatan sengit dalam sebuah majelis. Yang diperdebatkan sebenarnya masalah klasik: Imam Ali dan khilafah. Orang-orang berdebat tentang kelayakan Imam Ali menjadi khalifah.  Imam Ahmad saat itu menutup perdebatan sambil dengan tegas menyatakan bahwa kalau yang diperhatikan adalah kapabilitas Imam Ali dari segala segi (kemuliaan, ilmu, jasa, kedekatan dengan Rasulullah, ketakwaan, keberanian, kepahlawanan, dll) segalanya menjadi sangat jelas. “Mengapa kalian memperdebatkan Ali dan khilafah? Sungguh Ali tidak menjadi lebih mulia dengan kursi khilafahnya. Kursi khilafahlah yang mendapatkan kemuliaan dengan duduknya Ali di atasnya.”
.
Hubungan baik dan kecintaan antarmazhab ini terus berlanjut sampai kepada para ulama dan para pengikut di generasi-generasi sesudahnya. Syeikh Al Mufid adalah seorang ulama Syiah terkenal. Salah satu keistimewaan beliau adalah kebiasaannya untuk selalu melakukan kontak dengan para ulama dari berbagai madzhab. Inilah yang menyebabkan kitab-kitab karya Syeikh Al Mufid penuh dengan berbagai pandangan para ulama dari madzhab-madzhab yang berbeda.
.
Begitu pula Syeikh Ath Thusi, ulama besar Syiah lainnya. Setelah menelaah dengan seksama pandangan para ulama dari berbagai madzhab, Ath Thusi menulis buku yang diberi judul Al Khilaf. Sedemikian mendalamnya pemaparan Ath Thusi tentang pemikiran yang ada pada madzhab lain, sampai-sampai As Subki, seorang ulama besar Syafi’i, menyebut Syeikh Ath Thusi sebagai pengikut Syafi’i. Tentu saja As Subki tahu persis bahwa Syeikh Ath Thusi itu adalah ulama Syiah. Namun menurutnya, Ath Thusi sangat menguasai pandangan Imam Syafi’i seakan-akan beliau adalah seorang ulama dari madzhab ini.
.
Contoh lain yang bisa dikemukakan adalah Muhammad Al Makki (lebih dikenal dengan gelar Asy Syahid Al Awwal), seorang ulama besar Syiah lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa beliau memang menimba ilmu kepada para ustadz Ahlussunah. Salah seorang murid beliau yang Zainuddin Al ‘Amili (dikenal dengan nama Asy Syahid Ats Tsani), juga berguru kepada 40 orang dari para ulama alumni Al Azhar, Mesir.
.
Ini adalah fakta sejarah. Jadi, jika ada orang Syiah yang sangat membenci saudara-saudaranya dari kalangan Ahlus Sunnah, otentisitas kesyiahannya layak untuk dipertanyakan. Cukuplah di sini ditegaskan sekali lagi bahwa para takoh dan ulama Syiah sejak dulu sampai sekarang selalu punya risalah cinta yang ditujukan kepada saudara-saudara mereka Ahlus Sunnah
.
Sampai sekarang? Mungkin ada yang meragukan pernyataan ini. Mungkin ada yang mengira bahwa risalah cinta tersebut hanya bagian dari sejarah dan kini sudah menjadi cerita-cerita lama. Mungkin ada yang mengira bahwa para ulama dan tokoh Syiah masa kini sudah tidak lagi punya minat dan pandangan terhadap upaya persatuan ummat, terutama yang menyangkut penghormatan terhadap para sahabat.
.
Pesimisme semacam ini agaknya keliru. Sebagian besar riwayat yang dikutipkan di atas merupakan transkrip dari pidato sambutan Sekjen The World Forum for Proximity of Islamic Schools, Ayatullah Ali Taskhiri, pada Konferensi Internasional Persatuan Antarmazhab, di Jakarta Desember 2009 lalu. Taskhiri dikenal sebagai salah seorang ulama Syiah kontemporer, dan nyatanya, ia sangat antusias menngutip riwayat-riwayat tentang penghormatan kepada para sahabat dan tokoh Sunni
.
Tentu saja riwayat-riwayat tersebut dikutip dalam konteks yang sangat jelas. Beliau ingin menyatakan bahwa romantisme persaudaraan dan persatuan itu masih sangat dirindui oleh kalangan internal Syiah sampai sekarang. Taskhiri menyatakan bahwa ada kesenjangan antara kondisi zaman sekarang dan kondisi masa di masa lalu. Simaklah penuturan Taskhiri berikut ini
.
“Inilah kondisi pada zaman dahulu yang berjalan secara alami dan Islam. Sangat disayang bahwa kondisi kita saat ini jauh berbeda. Sekelompok orang karena kepentingan musuh, kepentingan pribadi, kebijakan pemerintah tertentu, karena fanatisme, atau kadangkala karena kepicikan dan sedikitnya ilmu, lalu mengubah kondisi yang seharusnya cair dan alami ini menjadi sektarianisme buta, fanatisme, dan ekstrimisme. Sikap buruk ini lalu berkembang menjadi lebih buruk, yaitu ketika sebagian dari kaum Muslimin memandang yang lainnya sebagai kafir, lalu menganggap bahwa agama yang benar hanyalah monopoli dirinya dan kelompoknya.
.
“Sikap sektarianisme adalah sebuah kemunduran. Penyebabnya adalah fanatisme dan kebodohan. Ketika dibiarkan, lahirlah berbagai tindakan terorisme. Kita harusnya membersihkan diri dari segala tindakan terorisme. Islam sangat menentang tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap orang lain. Karena itu, dalam kesempatan ini, marilah kita serukan ajakan kepada seluruh kaum Muslimin agar mereka kembali kepada kondisi dahulu yang kini telah hilang dan lenyap dari genggaman kita
.
“Marilah kita dekatkan seluruh hati kita. Mari kita tebar kasih sayang di antara kita.  Persatuan dan kasih sayang antar sesama Muslim merupakan rahasia kemenangan di zaman awal Islam. Hal tersebut sampai sekarang tidak berubah. Persatuan dan kasih sayang di antara ummat Islam menjadi faktor penentu kemenangan dan keberhasilan Islam saat ini.”

Al-Qaeda Akui Dalangi Pemboman di Irak

Sebuah kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda di Irak mengaku bertanggung jawab atas serangkaian penembakan dan pemboman yang menewaskan puluhan orang selama liburan hari raya Idul Adha.

Sebuah pernyataan yang dimuat di situs militan menyebutkan, sebuah jaringan yang disebut dengan jaringan Negara Islam Irak memperingatkan pemerintah Baghdad bahwa Irak tidak akan memiliki perdamaian selama hari raya Idul Adha atau pada waktu lainnya. Demikian kantor berita Aswat al-Iraq melaporkan pada Selasa (30/10).

Al-Qaeda di Irak adalah kelompok bayangan yang diduga dipimpin oleh seorang militan Yordania bernama  Abu Musab al-Zarqawi. Ia dilaporkan tewas pada bulan Juni 2006.

Menurut pemerintah Amerika Serikat dan pejabat militer negara ini, kelompok tersebut kemudian dipimpin oleh Ayyub al-Masri yang tewas bersama dengan pemimpin lainnya bernama Abu Omar al-Baghdadi dalam operasi gabungan Irak-AS di Provinsi Salahuddin pada bulan April 2010.

Al-Qaeda di Irak diduga mendalangi berbagai serangan teroris paling mematikan di negara itu sejak invasi AS pada Maret 2003.

Baru-baru ini, berbagai pemboman dan penembakan meningkat di seluruh Irak yang diyakini sebagai upaya untuk melemahkan pemerintah Baghdad.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa bulan September adalah bulan paling berdarah di Irak dalam hampir dua tahun dengan korban tewas mencapai 365 orang.

Menurut data yang dilaporkan oleh departemen kesehatan, dalam negeri dan pertahanan, jumlah korban tewas pada bulan September terdiri dari 182 warga sipil, 88 polisi, dan 95 tentara.

Kisah Abdullah bin Saba’ Selain Riwayat Saif bin Umar

Kisah Abdullah bin Saba’ Selain Riwayat Saif bin Umar

Siapa yang tidak mengenal Abdullah bin Saba’?. Sosoknya sering dijadikan bahan celaan oleh nashibi untuk mengkafirkan Syiah. Menurut khayalan para nashibi, Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syiah, seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan menyebarkan keyakinan yang menyimpang dari Islam. Diantara keyakinan yang menyimpang tersebut adalah

  1. Penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]
  2. Mencela sahabat Nabi yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dan Utsman bin ‘Affan [radiallahu’anhu]
  3. Upaya pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan [radiallahu ‘anhu]
  4. Sikap ghuluw terhadap Ali [radiallahu ‘anhu] dan Ahlul Bait
  5. Mencetuskan aqidah bada’ dan tidak meninggalnya Ali [radiallahu ‘anhu]

Nashibi tersebut melanjutkan fitnahnya dengan menyatakan bahwa Syiah mengambil aqidah-aqidah mereka dari Abdullah bin Saba’ dan sampai sekarang masih meyakini aqidah-aqidah tersebut dan membelanya.

Jika diteliti dengan baik maka sebenarnya nashibi tersebut tidak memiliki landasan kokoh atau dasar yang shahih dalam tuduhan mereka tentang Abdullah bin Saba’. Peran Abdullah bin Saba’ yang luar biasa sebagaimana disebutkan nashibi di atas tidaklah ternukil dalam riwayat yang shahih. Nashibi mengais-ngais riwayat dhaif dalam kitab Sirah yaitu riwayat Saif bin Umar At Tamimiy seorang yang dikatakan matruk, zindiq, pendusta bahkan pemalsu hadis. Dari orang seperti inilah nashibi mengambil aqidah mereka tentang Abdullah bin Saba’. Maka tidak berlebihan kalau nashibi yang ngaku-ngaku salafy tersebut kita katakan sebagai pengikut Saif bin Umar.

Syiah sebagai pihak yang difitnah membawakan pembelaan. Para ulama Syiah telah banyak membuat kajian tentang Abdullah bin Saba’. Secara garis besar pembelaan mereka terbagi menjadi dua golongan

  1. Golongan yang menafikan keberadaan Abdullah bin Saba’, dengan kata lain mereka menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif yang dimunculkan oleh Saif bin Umar
  2. Golongan yang menerima keberadaan Abdullah bin Saba’ tetapi mereka membantah kalau ia adalah pendiri Syiah, bahkan menurut mereka Abdullah bin Saba’ adalah seorang ekstrim ghulat yang dilaknat oleh para Imam Ahlul Bait.

Bukan nashibi namanya kalau diam saja terhadap Syiah. Nashibi tersebut membantah dengan menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ bukan tokoh fiktif dan tidak hanya muncul dalam riwayat Saif bin Umar tetapi juga ada dalam riwayat-riwayat lain yang mereka katakan shahih. Riwayat-riwayat itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

.

.

.
Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Sunniy

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ ، قَالَ : أنا شُعْبَةُ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، قَالَ : قَالَ عَلِيٌّ : مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ ، يَعْنِي : عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahb yang berkata Ali berkata apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini? Yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4358]

‘Amru bin Marzuuq terdapat perbincangan atasnya. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Hatim dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. As Sajiy berkata shaduq. Ali bin Madini meninggalkan hadisnya. Abu Walid membicarakannya. Yahya bin Sa’id tidak meridhai ‘Amru bin Marzuuq. Ibnu ‘Ammar Al Maushulliy berkata “tidak ada apa-apanya”. Al Ijliy berkata “Amru bin Marzuuq dhaif, meriwayatkan hadis dari Syu’bah yang tidak ada apa-apanya”. Daruquthni berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “buruk hafalannya”. Ibnu Hibban berkata “melakukan kesalahan” [At Tahdzib juz 8 no 160]

‘Amru bin Marzuuq tafarrud dalam penyebutan lafaz “yakni Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar”. Muhammad bin Ja’far Ghundar seorang yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah tidak menyebutkan lafaz tersebut.

أخبرنا أبو القاسم يحي بن بطريق بن بشرى وأبو محمد عبد الكريم ابن حمزة قالا : أنا أبو الحسين بن مكي ، أنا أبو القاسم المؤمل بن أحمد بن محمد الشيباني ، نا يحيى بن محمد بن صاعد، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة ، عن سلمة ، عن زيد بن وهب عن علي قال : مالي وما لهذا الحميت الأسود ؟ قال: ونا يحي بن محمد ، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة عن سلمة قال: سمعت أبا الزعراء يحدث عن علي عليه السلام قال: مالي وما لهذا الحميت الأسود

Telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Yahya bin Bitriiq bim Bisyraa dan Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Makkiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim Mu’ammal bin Ahmad bin Muhammad Asy Syaibaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Zaid bin Wahb dari Aliy yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek hitam ini?”. [Mu’ammal] berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah yang berkata aku mendengar Abu Az Za’raa menceritakan hadis dari Ali [‘alaihis salaam] yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini?” [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]

Riwayat Ibnu Asakir ini sanadnya shahih. Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia syaikh tsiqat musnad dimasyiq [As Siyar 19/600]. Abu Husain bin Makkiy adalah Muhammad bin Makkiy Al Azdiy Al Mishriy muhaddis musnad yang tsiqat [As Siyaar 18/253]. Mu’ammal bin Ahmad Asy Syaibaniy dinyatakan tsiqat oleh Al Khatib [Tarikh Baghdad 13/183]. Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi seorang imam hafizh musnad iraaq dinyatakan tsiqat oleh Al Khaliliy [As Siyaar 14/501]. Bundaar adalah Muhammad bin Basyaar perawi kutubus sittah yang tsiqat [At Taqrib 2/58]

Muhammad bin Ja’far Ghundaar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah” [At Tahdzib juz 9 no 129].

Lafaz Abdullah bin Saba’ dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah mengandung illat [cacat] yaitu tafarrud ‘Amru bin Marzuuq. Ghundaar perawi yang lebih tsabit darinya tidak menyebutkan lafaz ini. ‘Amru bin Marzuuq adalah perawi yang shaduq tetapi bukanlah hujjah jika ia tafarrud sebagaimana telah ternukil jarh terhadapnya dan lafaz “yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar” adalah tambahan lafaz dari ‘Amru bin Marzuuq.

.

.

.

Riwayat selanjutnya yang dijadikan hujjah oleh para nashibi adalah riwayat yang menyebutkan bahwa orang hitam jelek itu adalah Ibnu Saudaa’

حدثنا محمد بن عباد ، قال : حدثنا سفيان ، عن عمار الدهني ، قال : سمعت أبا الطفيل يقول : رأيت المسيب بن نجية أتى به ملببه ؛ يعني : ابن السوداء ، وعلي على المنبر ، فقال علي : ما شأنه ؟ فقال : يكذب على الله وعلى رسوله صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari ‘Ammaar Ad Duhniy yang berkata aku mendengar Abu Thufail mengatakan “aku melihat Musayyab bin Najbah datang menyeretnya yakni Ibnu Saudaa’ sedangkan Ali berada di atas mimbar. Maka Ali berkata “ada apa dengannya?”. Ia berkata “ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya” [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4360]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ ، نا سُفْيَانُ ، قَالَ : نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ عَبَّاسٍ الْهَمْدَانِيُّ ، عَنْ سَلَمَةَ ، عَنْ حُجَيَّةَ الْكِنْدِيِّ ، رَأَيْتُ عَلِيًّا عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَهُوَ يَقُولُ : مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ هَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ ، يَعْنِي : ابْنَ السَّوْدَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Jabbar bin ‘Abbas Al Hamdaniy dari Salamah dari Hujayyah Al Kindiy yang berkata “aku melihat Ali di atas mimbar dan ia berkata “siapa yang dapat membebaskan aku dari orang jelek hitam ini ia berdusta atas nama Allah, yakni Ibnu Saudaa’ [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4359]

Kedua riwayat ini bersumber dari Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ia seorang yang shaduq hasanul hadis, sering salah dalam hadis. Ibnu Ma’in dan Shalih Al Jazarah berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahrir At Taqrib no 5993]. Diantara kesalahannya dalam hadis telah dinukil oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib yaitu hadis-hadisnya dari Sufyan yang diingkari bahkan ada hadisnya yang dinyatakan batil dan dusta oleh Ali bin Madini [At Tahdzib juz 9 no 394]. Riwayat di atas termasuk riwayatnya dari Sufyan.

Jika kedua riwayat tersebut selamat dari kesalahan Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy maka kedudukannya hasan. Tetapi riwayat ini bukanlah hujjah bagi nashibi. Siapakah Ibnu Saudaa’ yang dimaksud dalam riwayat tersebut?. Apakah ia adalah Abdullah bin Sabaa’?. Kalau memang begitu mana dalil shahihnya bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah Ibnu Saudaa’. Orang yang pertama kali menyatakan Abdullah bin Sabaa’ disebut juga Ibnu Saudaa’ adalah Saif bin Umar At Tamimiy dan ia seperti yang telah dikenal seorang yang dhaif zindiq, matruk, kadzab dan pemalsu hadis. Ada sebagian ulama yang mengutip Abdullah bin Sabaa’ sebagai Ibnu Saudaa’ tetapi pendapat ini tidak ada dasar riwayat shahih kecuali  mengikuti apa yang dikatakan oleh Saif bin Umar.

Lafaz Ibnu Saudaa’ pada dasarnya bermakna anak budak hitam, dan ini bisa merujuk pada siapa saja yang memang anak dari budak hitam. Kalau para nashibi atau orang yang sok ngaku ulama nyalafus shalih ingin menyatakan bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah Abdullah bin Sabaa’ maka silakan bawakan dalil shahihnya. Silakan berhujjah dengan kritis jangan meloncat sana meloncat sini dalam mengambil kesimpulan. Apalagi dengan atsar seadanya di atas ingin menarik kesimpulan Ibnu Sabaa’ sebagai pendiri Syiah. Sungguh jauh sekali

Matan kedua riwayat Muhammad bin ‘Abbad tersebut juga tidak menjadi hujjah bagi nashibi. Perhatikan apa yang disifatkan kepada Ibnu Saudaa’ dalam riwayat tersebut yaitu ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada sedikitpun disini qarinah yang menunjukkan kaitan antara Ibnu Saudaa’ dengan Syiah atau aqidah yang ada di sisi Syiah.

.

.

.

أخبرنا أبو البركات الأنماطي أنا أبو طاهر أحمد بن الحسن وأبو الفضل أحمد بن الحسن قالا أنا عبد الملك بن محمد بن عبد الله أنا أبو علي بن الصواف نا محمد بن عثمان بن أبي شيبة نا محمد بن العلاء نا أبو بكر بن عياش عن مجالد عن الشعبي قال أول من كذب عبد الله بن سبأ

Telah mengabarkan kepada kami Abul Barakaat Al Anmaathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Ahmad bin Hasan dan Abu Fadhl Ahmad bin Hasan keduanya berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy bin Shawwaaf yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alla’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Mujalid dari Asy Sya’biy yang berkata “orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ‘Abdullah bin Sabaa’ [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]

Atsar ini sanadnya dhaif. Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah adalah perawi yang diperbincangkan kedudukannya. Shalih Al Jazarah berkata “tsiqat”. Abdaan berkata “tidak ada masalah padanya”. Abdullah bin ‘Ahmad berkata “kadzab” Ibnu Khirasy berkata “pemalsu hadis” [As Siyaar 14/21]. Tuduhan dusta dan pemalsu hadis sebagaimana dikatakan Abdullah bin Ahmad dan Ibnu Khirasy ternyata bersumber dari Ibnu Uqdah seorang yang tidak bisa dijadikan sandaran perkataannya.

Tetapi sebagian ulama lain telah memperbincangkan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah. Daruquthni berkata “dhaif” [Su’alat Al Hakim no 172]. Al Khaliliy berkata “mereka para ulama mendhaifkannya” [Al Irsyad 2/576]. Baihaqi berkata “tidak kuat” [Sunan Baihaqi 6/174 no 11757]. Adz Dzahabiy sendiri walaupun memujinya dengan sebutan imam hafizh musnad sebagaimana dinyatakan dalam As Siyaar, di kitabnya yang lain Adz Dzahabiy berkata “dhaif” [Tarikh Al Islam 1/25].

Abu Bakar bin ‘Ayyasy juga termasuk perawi yang diperbincangkan. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”, Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat, Utsman Ad Darimi berkata “termasuk orang yang jujur tetapi laisa bidzaka dalam hadis”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366]. Ia dikatakan mengalami ikhtilath di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Muhammad bin Al ‘Alla’ meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah mengalami ikhtilath. Maka hal ini menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan derajat riwayat tersebut.

Riwayat tersebut juga lemah karena Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniy ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ibnu Ma’in berkata “tidak bisa dijadikan hujjah”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Daruquthni berkata “dhaif”. Yahya bin Sa’id mendhaifkannya [Mizan Al I’tidal juz 3 no 7070]. Al Ijliy menyatakan ia hasanul hadis [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1685]. Ibnu Hajar berkata “tidak kuat” [At Taqrib 2/159]. Mujallid tidak memiliki penguat dalam riwayat di atas maka kedudukan riwayat tersebut dhaif.

Matan riwayat Asy Sya’biy tersebut juga mungkar karena bagaimana mungkin dikatakan Ibnu Sabaa’ adalah orang pertama yang berbuat kedustaan padahal sebelumnya sudah ada para pendusta yang mengaku sebagai Nabi seperti Musailamah dan pengikutnya. Mustahil dikatakan Asy Sya’biy tidak mengetahui perkara Musailamah.

.

.

.

حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ الْهَمْدَانِيُّ ، نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الأَسَدِيُّ ، نا هَارُونُ بْنُ صَالِحٍ الْهَمْدَانِيُّ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِي الْجُلاسِ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ : ” وَيْلَكَ ، مَا أَفْضَى إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا كَتَمَهُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ : إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ ثَلاثِينَ كَذَّابًا وَإِنَّكَ لأَحَدُهُمْ؟

Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Allaa’ Al Hamdaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Al Asadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Haarun bin Shaalih Al Hamdaaniy dari Al Haarits bin ‘Abdurrahman dari Abul Julaas yang berkata aku mendengar Aliy [radiallahu ‘anhu] berkata kepada ‘Abdullah bin Saba’ “celaka engkau, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatu yang Beliau sembunyikan dari manusia dan sungguh aku telah mendengar Beliau berkata “sesungguhnya sebelum kiamat akan ada tiga puluh pendusta” dan engkau adalah salah satu dari mereka [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1325]

Abu Ya’la juga membawakan hadis ini dalam Musnad-nya 1/350 no 449 dengan jalan Abu Kuraib di atas. Abu Kuraib memiliki mutaba’ah yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah sebagaimana yang disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 982 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/350 no 450. Nashibi menyatakan bahwa atsar ini tsabit (kokoh) dan mengutip Al Haitsamiy yang berkata “diriwayatkan Abu Ya’la dan para perawinya tsiqat” [Majma’ Az Zawaid 7/333 no 12486]

Pernyataan nashibi keliru dan menunjukkan kejahilan yang nyata. Atsar ini kedudukannya dhaif jiddan.

  1. Muhammad bin Hasan Al Asadiy ia seorang yang diperbincangkan. Ibnu Hajar berkata “shaduq ada kelemahan padanya” dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ia telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Sufyan, Al Uqailiy, Ibnu Hibban, Abu Ahmad Al Hakim dan As Sajiy. Abu Hatim berkata “syaikh”. Abu Dawud berkata “shalih ditulis hadisnya”. Al Ijliy, Ibnu Adiy dan Daruquthni berkata “tidak ada masalah padanya”. Ditsiqatkan Al Bazzar dan dinukil dari Abu Walid bahwa Ibnu Numair mentsiqatkannya. [Tahrir At Taqrib no 5816]
  2. Haarun bin Shalih Al Hamdaaniy adalah perawi majhul, yang meriwayatkan darinya hanya Muhammad bin Hasan Al Asadiy [Tahrir At Taqrib no 7233]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 16198]. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang menguatkan.
  3. Harits bin ‘Abdurrahman disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan dari Abu Julaas dan meriwayatkan darinya Harun bin Shalih [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 7232]. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang menguatkan maka kedudukannya majhul.
  4. Abu Julaas adalah perawi yang majhul sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dan disepakati dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 8029]

.

.

.

Ibnu Hajar dalam kitab Lisan Al Mizan mengutip salah satu riwayat dari Abu Ishaq Al Fazari, Ibnu Hajar berkata

وقال أبو إسحاق الفزاري عن شعبة عن سلمة بن كهيل عن أبي الزعراء عن زيد بن وهب أن سويد بن غفلة دخل على علي في غمارته فقال إني مررت بنفر يذكرون أبا بكر وعمر يرون أنك تضمر لهما مثل ذلك منهم عبد الله بن سبأ وكان عبد الله أول من أظهر ذلك فقال علي ما لي ولهذا الخبيث الأسود ثم قال معاذ الله أن أضمر لهما إلا الحسن الجميل ثم أرسل إلى عبد الله بن سبأ فسيره إلى المدائن وقال لا يساكنني في بلدة أبدا ثم نهض إلى المنبر حتى اجتمع الناس فذكر القصة في ثنائه عليهما بطوله وفي آخره إلا ولا يبلغني عن أحد يفضلني عليهما إلا جلدته حد المفتري

Abu Ishaaq Al Fazaariy berkata dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abi Az Za’raa dari Zaid bin Wahb bahwa Suwaid bin Ghaffalah masuk menemui ’Ali [radiallahu ‘anhu] di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar. Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua [Abu Bakar dan ’Umar], dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta. [Lisan Al Mizan juz 3 no 1225]

Nashibi berkata tentang riwayat ini bahwa kedudukannya tsabit. Pernyataan ini keliru, bahkan bisa dikatakan riwayat ini khata’ [salah]. Asal mula riwayat ini adalah apa yang disebutkan Abu Ishaaq Al Fazari dalam kitabnya As Siyar dan Al Khatib dalam Al Kifaayah

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ غَالِبٍ الْخُوَارَزْمِيُّ قَالَ : ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَمْدَانَ النَّيْسَابُورِيُّ بِخُوَارَزْمَ ، قَالَ : أَمْلَى عَلَيْنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ ، قَالَ : ثنا أَبُو صَالِحٍ الْفَرَّاءُ مَحْبُوبُ بْنُ مُوسَى ، قَالَ : أنا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ ، قَالَ : ثنا شُعْبَةُ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ أَبِي الزَّعْرَاءِ ، أَوْ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، أَنَّ سُوَيْدَ بْنَ غَفَلَةَ الْجُعْفِيَّ ، دَخَلَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فِي إِمَارَتِهِ ، فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي مَرَرْتُ بِنَفَرٍ يَذْكُرُونَ أَبَا بَكْرٍ ، وَعُمَرَ بِغَيْرِ الَّذِي هُمَا لَهُ أَهْلٌ مِنَ الإِسْلامِ ، لأَنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّكَ تُضْمِرُ لَهُمَا عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ ، وَإِنَّهُمْ لَمْ يَجْتَرِئُوا عَلَى ذَلِكَ إِلا وَهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ ذَلِكَ مُوَافِقٌ لَكَ ، وَذَكَرَ حَدِيثَ خُطْبَةِ عَلِيٍّ وَكَلامِهِ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ، وَقَوْلِهِ فِي آخِرِهِ ” أَلا : وَلَنْ يَبْلُغَنِي عَنْ أَحَدٍ يُفَضِّلُنِي عَلَيْهِمَا إِلا جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ghaalib Al Khawarizmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ahmad bin Hamdaan An Naisaburiy di Khawarizm yang berkata imla’ kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahiim Al Buusyanjiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Farra Mahbuub bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaaq Al Fazariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb bahwa Suwaid bin Ghafallah Al Ju’fiy menemui Ali bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu] pada masa kepemimpinannya dan berkata “wahai amirul mukminin aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar sesuatu dalam islam yang tidak ada pada diri mereka. Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua dan bahwa mereka tidaklah menyatakan hal itu kecuali mereka berpandangan bahwa hal itu diakui olehmu kemudian disebutkan hadis khutbah Ali yang berbicara tentang Abu Bakar dan Umar akhirnya berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta [Al Kifaayah Al Khatib 3/333 no 1185]

Riwayat dengan matan yang sama di atas juga disebutkan Abu Ishaaq Al Fazari dalam kitabnya As Siyar hal 327 no 647. Kalau kita membandingkan riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy ini dengan apa yang dinukil oleh Ibnu Hajar maka terdapat kesalahan penukilan yang dilakukan Ibnu Hajar.

  1. Kesalahan pada sanad yaitu Ibnu Hajar menuliskan dari Abu Ishaq dari Syu’bah dari Salamah dari Abu Az Za’raa’ dari Zaid bin Wahb dari Suwaid. Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya adalah dari Syu’bah dari Salamah dari Abu Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb dari Suwaid.
  2. Kesalahan pada matan yaitu Ibnu Hajar menuliskan lafaz bahwa diantara mereka ada Ibnu Sabaa’ dan dialah yang pertama kali menampakkan hal itu sehingga Ali [radiallahu ‘anhu] mengusirnya ke Mada’in. Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya tidak ada keterangan tentang Abdullah bin Saba’.

Maka riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy tidak bisa dijadikan hujjah untuk membuktikan khayalan nashibi tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Ada baiknya mereka mengais-ngais riwayat lain karena sepertinya mereka sudah kehabisan hujjah riwayat.

Riwayat Abu Ishaq Al Fazaariy di atas mengandung lafaz syaak [ragu] yaitu Salamah bin Kuhail berkata dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb. Zaid bin Wahb adalah seorang yang tsiqat dan Abu Az Za’raa’ Abdullah bin Haani’ Al Kuufiy adalah perawi yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Al Ijli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Tetapi Al Bukhari berkata “tidak memiliki mutaba’ah dalam hadisnya”. Al Uqailiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Dan tidak meriwayatkan darinya kecuali Salamah bin Kuhail [Tahrir At Taqrib no 3677]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Diwan Adh Dhu’afa no 2337.

Jika kedua orang ini adalah perawi yang tsiqat maka lafaz syaak seperti itu tidaklah menjatuhkan kedudukan hadisnya tetapi jika salah satu dari kedua perawi itu dhaif maka ini menjadi illat [cacat] bagi riwayat tersebut. Apakah riwayat tersebut berasal dari perawi yang tsiqat ataukah dari perawi yang dhaif?. Bisa saja riwayat tersebut sebenarnya berasal dari perawi yang dhaif.

.

.

.

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah riwayat-riwayat tentang Abdullah bin Sabaa’ yang diriwayatkan melalui jalur selain Saif bin Umar ternyata sanadnya juga tidak shahih. Jikapun ada yang hasan riwayatnya maka penunjukkannya tidak jelas sebab yang tertera dalam riwayat tersebut adalah Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Ibnu Saudaa’ berarti anak budak hitam. Jadi riwayat tersebut hanya menunjukkan bahwa di masa Imam Ali terdapat anak budak hitam yang berdusta atas nama Allah SWT dan Rasul-Nya

Sebagian orang melebih-lebihkan dan mengada-ada tanpa dalil shahih bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Kemudian mereka dengan nafsu kejinya menambah-nambahkan lagi bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah pendiri Syiah menyebarkan keyakinan Imamah Ali bin Abi Thalib, menyebarkan akidah raja’ dan bada’, mencela Abu Bakar dan Umar. Padahal mereka tidak mampu membawakan satu dalil shahihpun yang menguatkan hujjah mereka.

Analogi yang pas untuk dongeng ‘Abdullah bin Sabaa’ seperti kisah berikut ada seorang yang dikenal pendusta di sebuah dusun dalam suatu negri. Kemudian negri tersebut terjatuh dalam kekacauan karena ulah pemimpinnya yang korup. Seiring dengan waktu terdapat orang-orang yang punya kepentingan melindungi aib sang pemimpin sehingga menyebarkan syubhat dengan mencatut nama si pendusta dari dusun kecil sebagai penyebab kekacauan negri tersebut. Kemudian para ahli sejarah yang kritis menelaah dan membuktikan bahwa sebenarnya si pendusta ini adalah tokoh fiktif yang dijadikan tameng untuk melindungi aib sang pemimpin. Para ahli lain yang dibayar oleh pihak yang berkepentingan berhasil membuktikan bahwa pendusta yang dimaksud memang ada dan tinggal di dusun tersebut jadi ia tidaklah fiktif maka kaum bayaran itu berbangga hati berhasil membuktikan bahwa ahli sejarah tersebut keliru.

Padahal orang yang punya akal pikiran dan waras pemahamannya akan berkata membuktikan adanya si pendusta bukan berarti membuktikan bahwa si pendusta itu yang mengacaukan negri tersebut. Itu adalah dua hal berbeda yang masing-masing memerlukan pembuktian. Nah begitulah, membuktikan adanya ‘Abdullah bin Sabaa’ bukan menjadi bukti bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah pendiri Syiah. Itu adalah dua hal berbeda yang masing-masing  membutuhkan pembuktian. Apakah para nashibi itu mengerti? Jawabannya tidak, mereka adalah orang-orang yang lemah akalnya hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan dan suka mencela untuk mengacaukan persatuan umat.

.

.

.

Nashibi yang kehabisan akal akhirnya kembali mengandalkan Saif bin Umar At Tamimiy. Hanya saja mereka sedikit melakukan akrobat dengan mengatakan Saif memang dhaif dalam hadis tetapi menjadi pegangan dalam sejarah. Dan riwayat tentang Ibnu Sabaa’ termasuk sejarah bukan hadis. Diantaranya mereka mengutip perkataan Ibnu Hajar tentang Saif “dhaif dalam hadis dan pegangan dalam tarikh” [At Taqrib 1/408].

Pembelaan ini tidak bernilai bahkan bisa dibilang inkonsisten. Kalau memang para ulama menjadikan Saif bin Umar sebagai pegangan dalam tarikh maka mengapa banyak para ulama yang melemahkan riwayat Saif bin Umar tentang tarikh ketika Saif menceritakan aib para sahabat Nabi misalnya Utsman bin ‘Affan. Jika untuk menuduh Syiah, Saif bin Umar dijadikan pegangan tetapi jika Saif menyatakan aib sahabat ia dicela habis-habisan. Bukankah ini gaya berhujjah model hipokrit aka munafik.

Saif bin Umar adalah seorang yang dhaif matruk bahkan dikatakan pemalsu hadis. Hal ini menunjukkan bahwa ia seorang pendusta yang tidak segan-segan untuk memalsukan hadis atas nama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kalau untuk hadis saja ia berani berdusta maka apalagi tarikh yang kedudukannya lebih rendah dari hadis.

Ibnu Hajar sendiri yang dijadikan hujjah oleh nashibi ternyata di tempat lain menolak riwayat Saif bin Umar. Ia berkata “kemudian dikeluarkan dari jalan Saif bin Umar dalam kitab Al Futhuh kisah panjang yang tidak shahih sanadnya” bahkan Ibnu Hajar mengatakan kabar-kabar tentang Abdullah bin Saba’ dalam kitab tarikh tidak satupun bernilai riwayat [Lisan Al Mizan juz 3 no 1225].

Maka sangat terlihat betapa rendah akal para nashibi dalam berhujjah. Mereka tidak bisa menggunakan akal mereka dengan benar. Hawa nafsu telah menuntun mereka dalam kontradiksi yang nyata. Demi melancarkan tuduhan terhadap Syiah mereka rela menghalalkan apa saja bahkan rela merendahkan akal mereka sendiri.

.

.

Bukankah para ulama Sunniy telah banyak mengutip biografi ‘Abdullah bin Saba’ dan menyatakan bahwa ia pendiri Syiah?. Memang tetapi perlu diingat bahwa para ulama ketika menuliskan biografi terkadang mencampuradukkan riwayat yang shahih dan dhaif atau bahkan ada yang hanya bersandar pada riwayat dhaif. Jadi apa yang mereka tulis bukanlah hujjah shahih jika ternyata hanya bersandar pada riwayat dhaif atau tidak didukung oleh riwayat yang shahih.

Akibatnya jika kita meneliti dengan baik banyak perkataan para ulama yang bertentangan satu sama lain tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Misalnya ada yang mengatakan bahwa ia dibakar Imam Ali tetapi ada yang menyatakan ia diusir Imam Ali ke Mada’in. Ada yang mengatakan bahwa ia disebut juga Ibn Saudaa’ tetapi ada yang menyatakan ia bukan Ibnu Saudaa’ atau menyatakan ia sebenarnya adalah Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy pemimpin khawarij. Jadi tidak ada gunanya kalau berhujjah dengan model “katanya” buktikan hujjah dengan riwayat shahih, itulah kaidah ilmiah.

.

.

.
Tinjauan Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Syiah

Nashibi dalam menegakkan hujjah tuduhan dan celaan mereka bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah, mereka juga mengutip berbagai riwayat Syiah dan nukilan Ulama syiah yang mengakui keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’. Secara pribadi kami tidak memiliki kompetensi untuk meneliti kitab-kitab Syiah jadi pembahasan bagian ini merujuk pada tulisan-tulisan sebagian pengikut Syiah.

Berulang kali kami katakan bahwa kami bukan penganut Syiah dan tulisan ini hanya ingin menunjukkan pada orang awam bahwa syubhat salafy nashibi yang mencela Syiah adalah tidak berdasar dan dusta. Kami pribadi mengakui Syiah sebagai salah satu mazhab dalam Islam. Berbagai perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak membuat salah satu layak untuk mengkafirkan yang lainnya. Kami mengajak kepada para pembaca untuk bersikap adil tanpa dipengaruhi mazhab manapun, kami tidak pula mengajak para pembaca agar menjadi penganut Syiah atau penganut Sunni. Apapun mazhab Islam yang dianut, hendaknya kita menjaga persatuan, saling menghormati dan menjaga kerukunan sesama muslim.

Telah kami bahas sepintas sebelumnya bahwa di sisi Syiah terkait dengan ‘Abdullah bin Sabaa’ terbagi menjadi dua pendapat

  1. Pendapat yang menganggap ‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai tokoh fiktif. Pendapat ini dipopulerkan oleh ulama syiah kontemporer dan diikuti oleh sebagian yang lain.
  2. Pendapat yang mengakui keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan menyatakan bahwa ia seorang yang ghuluw ekstrim bahkan jatuh dalam kekafiran. Hal ini diakui oleh ulama syiah terdahulu dalam kitab-kitab mereka.

Walaupun begitu kedua pendapat ini sepakat menolak tuduhan nashibi ‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai pendiri Syiah. Ada yang menolak dengan memfiktifkan tokoh tersebut dan ada yang menolak dengan membawakan riwayat shahih bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ seorang yang dilaknat oleh Imam Ahlul Bait karena mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]

عن أبان بن عثمان قال سمعت أبا عبد الله يقول لعن الله عبد الله بن سبإ إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين و كان و الله أمير المؤمنين عبدا لله طائعا الويل لمن كذب علينا و إن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم

Dari ‘Aban bin Utsman yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdillah mengatakan Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia mendakwakan Rububiyyah [ketuhanan] kepada Amiirul Mukminiin [Imam Ali], sedangkan Amiirul Mukminiin demi Allah hanyalah seorang hamba yang mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu [Rijal Al Kasysyiy hal 107 no 172]

Riwayat-riwayat semisal inilah yang dikutip oleh para nashibi dan disisi kelimuan Syiah riwayat Al Kasysyiy di atas shahih. Tetapi shahih-nya riwayat di atas tidak menjadi bukti akan kebenaran tuduhan nashibi bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Riwayat yang shahih di sisi Syiah menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah seorang kafir yang dilaknat yang mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]. Tentu saja di sisi Syiah tidak ada sedikitpun ajaran yang menuhankan Imam Ali. Syiah berlepas diri dari ‘Abdullah bin Saba’ dan tidak jarang ulama syiah mensifatkan ‘Abdullah bin Sabaa’ dengan kekafiran dan ghuluw ekstrim.

Dengan berpikir secara rasional sungguh sangat tidak mungkin jika ‘Abdullah bin Sabaa’ dikatakan pendiri Syiah karena di dalam kitab Syiah sendiri ia dikenal sebagai seorang ghuluw ekstrim bahkan kafir. Dan tidak ada satupun riwayat shahih dalam kitab Syiah bahwa ada salah satu ajaran Syiah yang bermula atau diambil dari ‘Abdullah bin Sabaa’. Para pengikut Syiah mengambil ajaran mereka dari para Imam Ahlul Bait dan Imam Ahlul Bait sendiri ternyata melaknat ‘Abdullah bin Sabaa’. Anehnya para nashibi tidak mampu berpikir secara rasional, mereka mengutip sesuka hati melompat-lompat dalam menarik kesimpulan, menegakkan waham di atas waham.

Seperti halnya para ulama sunni, ulama syiah juga mengalami kesimpangsiuran dalam kabar yang terkait Abdullah bin Sabaa’.

  1. At Thuusiy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’ kufur dan ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 80]
  2. Al Hilliy berkata Abdullah bin Sabaa’ ghuluw terlaknat, ia menganggap Aliy Tuhan dan dirinya adalah Nabi [Rijal Al Hilliy hal 237]
  3. Al Mamqaniy berkata “Abdullah bin Sabaa’ dikembalikan padanya kekafiran dan ghuluw yang nyata” ia juga berkata “Abdullah bin Sabaa’ ghuluw terlaknat, Imam Ali membakarnya dengan api, ia mengatakan Ali adalah Tuhan dan ia sendiri adalah Nabi [Tanqiihul Maqaal Fii Ilm Rijaal 2/183-184]. Kami menukil ini dari situs nashibi dan sebagian pengikut syiah berkata bahwa ini bukan perkataan Al Mamqaniy tetapi perkataan Ath Thuusiy dan Al Hilliy sebelumnya.
  4. Sayyid Ni’matullah Al Jaza’iriy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’ mengatakan Ali adalah Tuhan sehingga Imam Ali mengasingkannya di Mada’in [Anwaar An Nu’maniyah 2/234]
  5. An Naubakhtiy berkata bahwa dihikayatkan oleh sekelompok ahli ilmu bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah yahudi yang masuk islam dan menunjukkan loyalitas pada Imam Ali, dan ia yang pertama kali menyatakan Imamah Ali [radiallahu ‘anhu] [Firaq Asy Syiiah hal 32-44]
  6. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy menyatakan bahwa kelompok Saba’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah bin Sabaa’ ia adalah Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy Al Hamdaniy. Dia adalah orang yang pertama kali menampakkan celaan pada Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya serta berlepas diri dari mereka [Al Maqaalaat Wal Firaq hal 20]. Dikenal dalam sejarah bahwa Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy adalah pemimpin kaum khawarij dan ia disebutkan terbunuh di Nahrawan

Nampak kabar yang simpang siur jika kita memperhatikan perkataan para ulama syiah tersebut. Ada yang mengatakan ia dibakar dengan api, ada yang mengatakan ia diasingkan ke Mada’in. Ada yang mengatakan ia yahudi yang masuk islam, ada yang mengatakan ia Abdullah bin Wahb pimpinan kaum khawarij. Simpang siur ini terjadi karena ulama syiah kebanyakan hanya menukil dan mencampuradukkan antara riwayat yang shahih dengan riwayat dhaif. [sama seperti ulama Sunniy]

Satu-satunya keterangan yang disampaikan dari riwayat Syiah yang shahih perihal Abdullah bin Sabaa’ adalah bahwa ia ghuluw terlaknat meyakini ketuhanan Imam Ali. Tidak benar jika dikatakan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ yang pertama kali menyatakan imamah Ali [radiallahu ‘anhu] karena tidak ternukil dalam riwayat yang shahih di sisi Syiah.

Perkataan atau nukilan dari Naubakhtiy bahwa sekelompok ahli ilmu menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama menyatakan Imamah Ali [radiallahu ‘anhu] adalah tidak berdasar dan tidak ada riwayat shahih di sisi Syiah yang mengatakannya bahkan tidak dikenal siapa saja ahli ilmu yang menyatakan demikian. Justru banyak ahli ilmu [di sisi Syiah] yang menyatakan ‘Abdullah bin Sabaa’ ghuluw kafir terlaknat.

.

.

.

Apa yang dapat disimpulkan dari pembahasan sejauh ini tentang ‘Abdullah bin Sabaa’?. Kita akan merincikan hal ini dalam kedua bagian yaitu keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan Peran ‘Abdullah bin Sabaa’

Keberadaan Abdullah bin Sabaa’

  1. Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy yang menyatakan keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’. Riwayat yang dijadikan hujjah nashibi telah dikemukakan illat [cacatnya]. Ada riwayat yang hasan [jika selamat dari illat] bahwa ada seorang yang dicela Imam Ali karena berdusta atas nama Allah SWT yaitu Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa ia adalah ‘Abdullah bin Sabaa’
  2. Ada riwayat shahih di sisi Syiah yang menyatakan keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ bahwa ia ghuluw jatuh dalam kekafiran dan menyebarkan paham ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]

Peran Abdullah bin Sabaa’

  1. Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy dan di sisi Syiah yang menyatakan bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah orang yang pertama kali mengenalkan konsep Imamah Ali [radiallahu ‘anhu], celaan terhadap sahabat Abu Bakar dan Umar, konsep rajaa’ dan bada’, dan perannya dalam pembunuhan khalifah Utsman.
  2. Ternukil riwayat-riwayat dhaif baik di sisi Sunni dan di sisi Syiah yang menyatakan peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya riwayat Saif bin Umar bahwa Abdullah bin Sabaa’ mengenalkan konsep Imamah Ali dan perannya dalam pembunuhan khalifah Utsman. Begitu juga ternukil tanpa sanad riwayat syiah seperti yang dinukil An Naubakhtiy dan nukilan ulama yang diklaim menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama mengenalkan konsep Imamah Aliy dan mencela Abu Bakar dan Umar. Nukilan ini tidak valid alias tidak terbukti siapa ahli ilmu di sisi Syiah yang menyatakannya dan riwayat tanpa sanad jelas dhaif kedudukannya.
  3. Sebagian ulama Sunni dan ada juga ulama Syiah yang menukil dalam kitab mereka peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya anggapan bahwa ia yahudi, mencela Abu Bakar dan Umar, terlibat pembunuhan Utsman, pertama kali mengenalkan Imamah Ali dan sebagainya. Nukilan mereka tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak berlandaskan pada riwayat shahih atau mencampuradukkan antara yang shahih dan dhaif. Dalam perkara ini yang menjadi hujjah adalah bukti riwayat shahih bukan nukilan ulama yang terkadang berasal dari riwayat dhaif.

Penelitian yang baik dan ilmiah tentang Abdullah bin Sabaa’ akan menghasilkan kesimpulan bahwa Nashibi telah berdusta atas tuduhan Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Salam Damai

PANDANGAN TOKOH-TOKOH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TENTANG REVOLUSI ISLAM DI IRAN

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel yang dibuat oleh Adian Husaini, berisikan resume tentang buku bantahan yang membantah buku “Sunnah Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?yang ditulis oleh Dr. Quraish Shihab. Buku bantahan yang berjudul cukup panjang, “Mungkinkah Sunnah Syi’ah dalam Ukhuwah? Jawaban atas buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah Syi’ah bergandengan tangan! Mungkinkah)” itu disusun oleh Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri, Pondok Pesantren Sidogiri yang dipimpin oleh Ahmad Qusyairi Ismail.
 .
Entah apa yang membuat aku ingin mencoba menanggapi tulisan seorang ulama ternama di Indonesia, yang terkenal kecakapannya sekelas Adian Husaini. Mohon kiranya tanggapanku ini tidak dimaknai sebagai bentuk kelancangan sikap seorang anak kecil yang masih bau kencur kepada seorang ustadz sepintar Adian Husaini. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Ahmad Qusyairi Ismail, yang katanya masih muda, ketika mengkritisi buku dari seorang ulama yang sudah sepuh dan telah menghasilkan satu buku tafsir Al-Qur’an.
 .
Pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri tersebut, ada sambutan dari KH. A. Nawawi Abdul Djalil seorang pengasuh Pesantren Sidogiri. Beliau berkata, ”Mungkin saja, Syi’ah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlulsunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syi’ah.”
 .
Membaca komentar dari ustadz A. Nawawi Abdul Djalil diatas, aku tergoda untuk mengutipkan beberapa perkataan ulama dan tokoh pejuang Islam mengenai Syi’ah, Revolusi Iran, dan Imam Khomeini.
 .
Pandangan Beberapa Ulama Ahlulsunnah
Beberapa tahun silam Iran, negara yang saat itu tengah diperintah oleh seorang raja dzalim, melalui kegigihan dan ketabahan Imam Khomeini beserta para pengikutnya, berhasil melakukan sebuah revolusi Islam yang ditandai dengan digulingkannya raja dzalim yang berkuasa pada saat itu. Sehubungan dengan keberhasilan Revolusi Islam di Iran, ada beberapa pandangan negatif terhadapnya. Pandangan negatif itu muncul hanya karena yang melakukan revolusi ini adalah orang-orang Syi’ah yang, menurut sebagian umat Islam, dihakimi sebagai aliran sesat.
 .
Dari ucapan A. Nawawi Abdul Djalil diatas menunjukkan bahwa sebenarnya ditengah-tengah umat Islam masih ada saja stigma negatif atas syi’ah yang berkembang. Usaha untuk mendiskreditkan Syi’ah nampak sekali tidak pernah berhenti sampai sekarang. Mulai dari dari memanipulasi kutipan-kutipan dari ucapan para ulama Syi’ah ternama, sampai menuduhkan sesuatu hal padahal hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh umat Syi’ah. Sering kali juga perilaku salah satu umat Islam Syi’ah yang menyimpang, dijadikan busur panah fitnah yang diarahkan dan siap dilepaskan kepada Syi’ah guna membunuh karakter Syi’ah.
 .
Berangkat dari fenomena tersebut, izinkan aku untuk mengutipkan pandangan para pejuang Islam di luar Syi’ah yang sekiranya dapat dijadikan sebagai indikator (petunjuk) apakah kaum Syi’ah (Imamiyah), yang merupakan mayoritas besar masyarakat Iran, dipandang sebagai sesama saudara Muslimin oleh kaum Muslimin yang bukan Syi’ah.
 .
Dalam bukunya Al-Harakat al-islamiyyah wa al-Tahdits, Rasyid Al-Ghannusyi memandang adanya suatu pendekatan Islam yang baru, yakni sebagai yang telah dijelaskan dan diberi bentuk yang kukuh oleh Imam Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan Imam Khomeini wakil-wakil yang paling penting dari cara pendekatan Islam pada gerakan jaman ini. Beliau juga berkeyakinan bahwa keberhasilan Revolusi Islam di Iran itu akan merupakan permulaan suatu peradaban Islam yang baru
.
Di bawah subjudul Apakah yang kita maksudkan dengan Gerakan Islam?, Al-Ghannusyi mengatakan: ”Yang kami maksudkan ialah pendekatan yang bersumber dari pengertian Negara Islam yang komprehensif (bersifat mampu menerima dengan baik), sesuai dengan tiga cara pendekatan (yang benar) oleh Ikhwanul Muslimin, Jama’at Islami di Pakistan, serta gerakan Imam Khomeini di Iran.” Beliau menuturkan lebih lanjut, ”Suatu operasi, yang mungkin akan merupakan suatu dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah gerakan kemerdekaan di seluruh kawasan ini, telah dimulai di Iran, yang akan membebaskan Islam dari kekuasaan pemerintah yang memperalat Islam untuk mencegah gelombang revolusi ke kawasan itu.”
 .
Maulana Abul A’la Al-Maududi, seorang ulama terkemuka yang juga pendiri dan pemimpin Jama’at Islami di Pakistan, mengeluarkan sebuah fatwa tentang Revolusi di Iran: ”Revolusi Khomaini adalah Revolusi Islam. Pesertanya dari kalangan umat Islam dan pemuda-pemuda yang terdidik dalam gerakan-gerakan Islam. Seluruh kaum Muslimin pada umumnya, dan gerakan-gerakan Islam pada khususnya, harus mendukung revolusi itu dan bekerja sama dengannya dalam segala-galanya.” (Majalah Al-Da’wah, Kairo, 29 Agustus 1979)
 .
Rektor Universitas Al-Azhar dalam wawancaranya dengan koran al-Syarq al-Ausath yang diterbitkan di London dan Jeddah, 3 Februari 1979, mengatakan: ”Imam Khomeini adalah saudara kita dalam Islam. Kaum Muslimin, walaupun berbeda mazhab, adalah sesama saudara dalam Islam, dan Imam Khomeini berdiri di bawah panji yang sama dengan saya: Islam.”
 .
Dari beberapa pendapat ulama-ulama tersebut, semuanya mengatakan bahwa Revolusi yang dipimpin oleh Imam Khomeini di Iran bukanlah Revolusi Iran, tetapi Revolusi Islam. Itu berarti Syi’ah itu muslim, dia bersaudara dengan Ahlulsunnah.
 .
Petunjuk Jalan Lurus
Di dalam shalat yang sehari-hari kita lakukan, sebagai hamba Tuhan mengakui ketidakberdayaan di hadapan-Nya untuk mengetahuai secara pasti jalan manakah yang merupakan jalan lurus (kebenaran) dan jalan sesat (kebatilan). Pengakuan diri itu kita ucapkan ketika membaca surat Al-Fatihah ayat 6-7, ”Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Maka menurut hematku, kalau masih ada orang Islam yang merasa dirinya paling benar, dirinya paling berhak atas surga Tuhan, maka sebenarnya dia belum sepenuhnya menghayati makna shalat yang lima kali dalam sehari ia lakukan.
Di dalam Surat An-Nahl ayat 125, Tuhan lebih menegaskan lagi, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
 .
Dengan segala kerendahan hati, aku ingin mengatakan kepada seluruh umat Islam, kita ini adalah makluk yang nisbi. Pengetahuan kita terkadang itu pengetahuan yang nisbi pula. Sudah sepantasnya kita yang nisbi ini merendahkan hati untuk tidak menganggap diri kita paling benar dan paling shaleh diantara yang lain. Bukankah Iblis dilaknat Tuhan ketika Iblis merasa dirinya paling baik dibandingkan manusia. Satu perkataan iblis yang terkenal, ”Ana khairum min hum. Aku lebih baik dari dia.” Perkataan itulah yang mengantarkan iblis pada laknat Tuhan.
 .
Terakhir untuk menutup tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an Tuhan telah memerintahkan umat Islam yang telah terpecah belah, seperti yang disabdakan Rasulullah, untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Persatuan Islam, dalam hal ini Ahlulsunnah dan Syi’ah, adalah suatu keniscayaan karena tidak mungkin Allah memerintahkan kita melakukan sesuatu sedangkan kita tidak mampu melakukannya. Tuhan memerintahkan sesuatu sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
 .
Ambillah Hamas dan Hizbullah sebagai contoh. Keduanya menampilkan suatu keharmonisan dan kerjasama dalam melawan Zionis Israel. Ahlulsunnah yang diwakili oleh Hamas dan Syi’ah yang diwakili oleh Hizbullah berjuang melawan agresi militer Zionis Israel yang biadab.
 .
Disaat Zionis Israel menghembuskan propaganda devide et impera, sekelompok umat Islam yang merasa dirinya paling benar dan paling shaleh juga ikut-ikutan menghembuskan nafas permusuhan dikalangan umat Islam. Mengapa sebagian dari kita malah senang melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya menguntungkan pihak yang memusuhi Islam?
.
Sehubungan dengan keberhasilan Revolusi Islam di Iran, pandangan para pejuang Islam di luar Syi’ah dapat pula dijadikan indicator (petunjuk) apakah kaum Syi’ah (Imamiyah) yang merupakan mayoritas besar Iran dipandang sebagai sesame saudara Muslimin oleh kaum Muslimin yang bukan Syi’ah.
.
Isam Al-Attar, seorang pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin yang berdomisili di Jerman, menyatakan dukungannya kepada Revolusi Islam di Iran. Bahkan sekarang ia sedang menulis buku dan menamakannya Revolusi Islam.
.
Hasan Al-Turabi, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Sudan, menyokong revolusi besar di Iran dan menamakannya Revolusi Islam.
Al-Ma’rifah, majalah gerakan Islam di Tunisia, menyerukan kepada kaum Muslimin untuk membantu gerakan Islam di Iran itu.  
.
Rasyid AL-Ghannusyi, pemuka gerakan Islam di Tunisia, bahkan menyatakan Khomeini sebagai Imam seluruh kaum Muslimin. Karena pernyataannya itu maka Al-Ma’rifah diberangus.
.
Rasyid Al-Ghannusyi, dalam bukunya Al-Harakat al-islamiyyah wa al-Tahdits memandang adanya suatu pendekatan Islam yang baru, yakni sebagai yang telah dijelaskan dan diberi bentuk yang kukuh oleh Imam Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan Imam Khomeini wakil-wakil yang paling penting dari cara pendekatan Islam pada gerakan jaman ini. (hal.16). Ia juga meramalkan bahwa keberhasilan Revolusi Islam di Iran itu akan merupakan permulaan suatu peradaban Islam yang baru. (hal.17). Di bawah subjudul Apakah yang kita maksudkan dengan Gerakan Islam?
.
Al-Ghannusyi mengatakan: ”Yang kami maksudkan ialah pendekatan yang bersumber dari pengertian Negara Islam yang komprehensif (bersifat mampu menerima dengan baik), sesuai dengan tiga cara pendekatan (yang benar) oleh Ikhwanul Muslimin, Jama’at Islami di Pakistan, serta gerakan Imam Khomeini di Iran.” (hal.17). Ia pun mengatakan, ”Suatu operasi, yang mungkin akan merupakan suatu dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah gerakan kemerdekaan di seluruh kawasan ini, telah dimulai di Iran, yang akan membebaskan Islam dari kekuasaan pemerintah yang memperalat Islam untuk mencegah gelombang revolusi ke kawasan itu.”
.
Muhammad Abdurrahman Khalifah, Pemimpin Ikhwanul Muslimin di Yordania, menyerukan dukungannya kepada revolusi itu. Lebih lanjut ia sendiri berkunjung ke Iran untuk menyatakan dukungannya.
Di Mesir, majalah-majalah Al-Da’wah, Al-I’tisham, dan Al-Mukhtar berdiri di pihak revolusi di Iran itu dan menekankan watak Islamnya.
.
Jabir Riziq, adalah seorang wartawan Ikhwanul Muslimin terkemuka, menulis dalam al-i’tisham bahwa ”bangsa Iran ini adalah satu-satunya bangsa Muslimin yang mampu berevolusi menentang imperialisme (penjajah) dan salibis-zionis…Para tiran sedang goncang karena khawatir bahwa rakyat mereka sendiri akan berontak, menentang, dan menjungkirkan mereka sebagai yang dilakukan kaum Muslimin di Iran terhadap syah, sang agen…”
.
Dalam penerbitan bulan Shafar 1410 H ( Juni 1981), pada akhir suatu artikel yang ditulis sehubungan dengan peringatan hari ulang tahun kedua Revolusi Islam di Iran, Riziq melanjutkan: ”….Revolusi Iran berhasil setelah gugurnya ribuan Syuhada’, itulah revolusi terbesar dalam sejarah modern, terbesar dalam kegiatan-kegiatannya, hasil-hasilnya yang positif dan efek-efeknya yang membalikkan perhitungan-perhitungan dan mengubah kriteria-kriteria.” (hal.39).
.
Sehubungan dengan watak Islam dan kepemimpinan revolusi itu, organisasi internasional Ikhwanul Muslimin itu menyerukan: ”Kaum Muslimin Iran telah membebaskan diri dari penjajah Amerika Zionis melalui suatu perjuangan heroik yang menakjubkan dan satu Revolusi Islam yang membadai, yang unik di dalam sejarah umat manusia, di bawah pimpinan seorang Imam Muslim yang, tak syak lagi, merupakan kehormatan bagi Islam dan kaum Muslimin…”
.
Maulana Abul A’la Al-Maududi, pendiri dan pemimpin Jama’at Islami di Pakistan, mengeluarkan sebuah fatwa tentang Revolusi di Iran: ”Revolusi Khomaini adalah Revolusi Islam. Pesertanya dari kalangan umat Islam dan pemuda-pemuda yang terdidik dalam gerakan-gerakan Islam. Seluruh kaum Muslimin pada umumnya, dan gerakan-gerakan Islam pada khususnya, harus mendukung revolusi itu dan bekerja sama dengannya dalam segala-galanya.” (Majalah Al-Da’wah, Kairo, 29 Agustus 1979)
.
Rektor Universitas Al-Azhar dalam wawancaranya dengan koran al-Syarq al-Ausath yang diterbitkan di London dan Jeddah, 3 Februari 1979, mengatakan: ”Imam Khomeini adalah saudara kita dalam Islam. Kaum Muslimin, walaupun berbeda mazhab, adalah sesama saudara dalam Islam, dan Imam Khomeini berdiri di bawah panji yang sama dengan saya: Islam.”
.
Fat-hi Yakan, dalam bukunya abjadiyat al-Tathawwur al-Haraki lil Amal al Islam (ABC Pengetahuan Praktis Amal Islam), mengungkapkan persengkongkolan kolonialis dan super power dengan menegaskan: ”Ada suatu contoh yang segar tentang apa yang telah kami katakan itu, yakni pengalaman Revolusi di Iran belakangan ini. Itulah suatu contoh yang menunjukkan betapa seluruh kekuatan kufur di muka bumi telah maju serentak memerangi secara sungguh-sungguh untuk menggagalkan revolusi ini, karena revolusi itu islami dan karena ia tidak Timur dan tidak Barat.” (hal.48).
.
Al-Da’wah, dalam penerbitan bulan Mei 1984, mengatakan: Di dunia sekarang ini, terdapat suatu kesadaran Islam yang sedang meluas. Salah satu isyaratnya ialah Revolusi Islam di Iran yang walaupun menghadapi berbagai halangan, mampu menghancurkan imperium paling tua dan yang merupakan satu di antara rezim anti-Islam yang paling keji.” (hal.20).
.
Masih banyak lagi pemuka Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai negeri, seperti Dr. Kalim Shiddiqui (Direktur Muslim Institut, London dan pendiri Koran Internasional Islam, Crescen Internasional, Kanada), Hamid Algar (Seorang pemikir dan penulis Muslim terkemuka berkebangsaan Inggris), Kaukab Siddiqui (Pimpinan Jama’at Muslimin yang berpusat di Amerika Serikat, pecahan dari partai Jama’at Islamnya Maulana Maududi, Mohammad Habibullah Mahmud (Seorang jurnalis terkemuka dari Malaysia) dan banyak lagi, yang berpendapat sama. Memuatnya satu persatu, tentunya, di luar jangkauan risalah kecil ini.
.
Sebagai penutup, hendak kami ketengahkan ”kesaksian” seorang Kristen, tokoh Marxis berkebangsaan Arab dari Mesir yang dengan nada sumbang dan sarkastik (mengejek) menentang Khomeini dan Revolusi di Iran itu. Ghali Syukri, yang Kristen dan Marxis itu, menulis dalam Dirasat ’Arabiyah (Studi Kearaban), sebagai dikutip oleh Al-Bayadir al-Siyasi (No.2, 1 Februari 1982, halaman 3): ”Para pemikir yang dikenal sebagai berlatar belakang Marxis, hanya dalam sekejap telah berubah menjadi Muslimin yang gigih. Yang lain-lainnya, yang menurut sertifikat kelahirannya adalah orang-orang kristen, dalam sesaat telah menjadi ekstrimis-ekstrimis Muslim. Para pemikir yang menurut pendidikannya tergolong kepada Barat, tanpa cadangan sedikitpun telah berubah menjadi orang-orang Timur yang fanatik. Di bawah panji Khomeini, orang-orang Arab yang terpelajar kembali kepada lingkungan tradisi seperti domba tersesat yang kembali kepada kawannya setelah lama terasing dan terpisah.”
.

Obat Mujarab Fikih Persatuan

.

Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang Sayyid Musa Sadr di jaringan televisi satelit Al-Manar. Dia ulama besar, pioner pasukan perlawanan Hizbullah Lebanon pada era 70-an, di tahun-tahun awal invasi Zionis Israel. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

.

Ada sesuatu di film dokumenter itu: sebuah gambar yang melekat di benak hingga kini. Sebuah memori sejarah yang bisa jadi oase pelajaran bagi kita yang hidup sekarang. Bahkan di Indonesia. 
Di film berdurasi panjang itu, ada foto yang memperlihatkan momen-momen dia tengah berbicara di hadapan jamaah sebuah geraja berarsitektur agung. Dengan sorban hitam keulamaanya, dengan wajahnya yang teduh lalu gereja itu, sebuah gereja di Sidon sepertinya, berdiri di sebuah mimbar dengan latar tembok-tembok tinggi dan ornamen kaca gereja yang memukau
.
Dua keagungan seperti berkumpul di foto itu. Seperti perasan yang terbaik dari Islam dan Kristen
.
Musa Sadr memang menara suar kala itu — sebelum akhirnya hilang misterius. Dia, hingga kini dianggap pahlawan oleh hampir semua kalangan dan agama di Lebanon, diyakini kemungkinan besar diculik saat berkunjung ke Libya. Nasibnya tak jelas sejak itu. Ada yang bilang dia telah mati, meski tak sedikit yang meyakininya masih hidup dan tertawan
.
Tapi sebelum kepergiannya, dia telah mewariskan sesuatu yang berharga: fikih persatuan. Secara singkat, dia memfatwakan bahwa di saat persatuan umat beragama dan bangsa dan negara jadi taruhan, urusan fikih harus dimundurkan. Sepenting apapun
.
Tak pada tempatnya saya berpanjang-panjang soal tersebut. Tapi satu yang jelas, fikih persatuan itu menghasilkan buah yang segar; sesuatu yang mungkin menjelaskan aliansi super-kuat antara kalangan Kristen dengan pasukan perlawanan Hizbullah dalam kancah politik modern Lebanon dan front bersenjata menghadapi agresor Israel hingga detik ini
.
Nah, saya cerita semua itu dengan benak yang masih terendam berita-berita mencemaskan dalam dua bulan terakhir. Di berbagai penjuru dunia orang dengan mudah melihat adanya kekuatan yg seperti hendak membenturkan Islam dan Kristen, Islam dan Islam. Kita lihat ada upaya pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat, ada penghargaan untuk kartunis penghina Nabi di Eropa, dan masih banyak rangkaian peristiwa lain.
Termasuk di Indonesia.
Di Bekasi beberapa waktu yang lalu misalnya, televisi seperti ingin kita percaya kalau telah terjadi perselisihan hebat antara Islam dan Kristen di sana
.
Antara warga Muslim dan warga Kristen dalam soal pendirian rumah peribadatan. Lalu di Cirebon, Bogor, Jakarta dan Nusa Tenggara kita dengar berita yang kurang lebihnya sama: perselisihan besar antara pengikut Ahmadiyah dan mereka yang menolak keberadaan kelompok itu. Darah telah tumpah. Kecemasan timbul-tenggelam.
Tulisan ini tak bermaksud menyajikan jawaban untuk persoalan pelik itu. Meski jelas, kita semua menanti kehadiran pemimpin agama yang visioner. Kita menanti banyak ulama seperti Musa Sadr yang mengajarkan persatuan jauh lebih penting ketimbang apapun. Kita perlu suara ulama yang bisa mengerem dan menghentikan pucuk-pucuk ekstrim yang kadang menyembul dan menciptakan keriuhan besar – untuk tidak mengatakan memprovokasi benturan antar penganut agama.
Kita sudah punya banyak persoalan dan ekstrimisme, baik dalam cara pikir maupun pola tindak, adalah hal terakhir yang ingin kita saksikan
.
Dan kabar yang terdengar dari Iran dalam sepekan terakhir sepertinya bisa jadi contoh. Ceritanya ini berawal dari sebuah surat Istiftai (permohonan fatwa) dari kalangan ulama Syiah di Arab Saudi ke Ayatullah Sayyed Ali Khameini, wali faqih sekaligus pemimpin Republik Islam Iran. Secara khusus di surat itu, mereka meminta jawaban tegas atas sejumlah hal yang menurut mereka “sangat mencemaskan”, “sumber bagi kekacauan internal” kalangan Muslim
.
Telah terdengar oleh mereka bahwa Yasir al-Habib, seorang yang menyebut dirinya ulama dan berdomisili di London, sering melontarkan hujatan dan penghinaan berupa “kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mu’minin Aisyah”.
Langkah itu, kata mereka dalam surat, telah menghadirkan “sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam”. Sebagian orang, karena minimnya pengatahuan dan pandangan, nampaknya membeli ucapan Yasir itu, kata mereka. Sebagian lagi, meski lebih kecil, mengeksploitasinya “secara sistematis” di sejumlah televisi satelit dan internet demi “mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antarmuslimin.”
.
Dari Tehran, Sayyed Ali Khamenei memberikan yang mereka minta. Sebuah fatwa, putusan yang mengikat dan membawa implikasi hukum. Bunyinya singkat: “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”
Fatwa itu merupakan yang mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian kecaman kalangan ulama Syiah atas Yasir al-Habib dan para provokator sebangsanya
.
Fatwa Pemimpin Tertinggi Iran ini jelas berbeda dengan fatwa-fatwa yang biasa keluar dari majlis-majlis ulama di dunia Sunni. Pasalnya, fatwa ini membawa solusi kaki tangan pelaksanaan yang didukung segenap aparatur Republik Islam Iran
.

Dari Kairo, Syaikh Al-Azhar segera menyambut fatwa historis Ayatullah Ali Khamenei ini

.

Iran, Mesir dan Pemikiran Taqrib

Taqrib bermakna ajakan untuk mendekatkan pandangan antar mazhab Islam. Pemikiran ini memiliki sejarah khusus di negara-negara Islam, terutama Mesir. Taqrib juga berarti kerjasama antara ulama untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang ada pada mazhab-mazhab Islam terutama mazhab Syiah dan Ahli Sunnah.

 .
Para ulama Taqrib berkeyakinan bahwa untuk mewujudkan tujuan Taqrib, Ahli Sunnah dan Syiah tidak harus meninggalkan ajarannya; akan tetapi, poros Taqrib antar mazhab Islam adalah hidup bersama dengan jiwa bersaudara tanpa ada rasa bermusuhan satu sama lain. Alhasil, tujuan Taqrib adalah mengurangi kekerasan dan permusuhan antara pengikut mazhab-mazhab Islam.
 .

Sejak lama Universitas al-Azhar Mesir sangat mendukung ajakan pada Taqrib hingga pada masa pemerintahan Anwar Sadat. Hasan Ibrahim Hasan dalam kitab “Tarikh al-Daulah al-Fatimiah” menulis:
 .
“Nama al-Azhar berdasarkan nama putri Rasulullah saw, Fatimah Zahra as. karena “Fatimiun” -yang pada tahun 909 M di Mesir sampai pada tanjuk kekuasaan- mengaku sebagai keturunan beliau. Fatimiun mendirikan al-Azhar pada tahun 972 M untuk perluasan mazhab Syiah. Para pemimpin silsilah ini meyakini masa dakwah Syiah dengan memperkenalkan ilmunya sudah sampai dan ajaran-ajaran mazhab ini harus diperluas dengan pendidikan. Fatimiun tidak merasa cukup dengan mendirikan al-Azhar saja, akhirnya pada tahun 1005 M membentuk lembaga pusat kebudayaan “Dar al-Hikmah” yang juga bertujuan untuk dakwah Syiah.”
 .
Dapat dikatakan, berbeda dengan gerakan moderat Fatimiun pada awal pemerintahannya dalam memperluas mazhab Syiah, pada tahun-tahun berikutnya hal ini menjadi ekstrim dan berlebihan. Sebagai contoh, dinsti Fatimiah melarang masyarakat untuk membaca kitab-kitab mazhab lain dan berusaha untuk menghilangkan Ahli Sunnah. Mungkin siasat ini yang menjadi salah satu sebab penggerak Ayyubiun untuk menda’wahkan Ahli Sunnah dan diterimanya silsilah ini (Ayyubiun) oleh pengikut mazhab ini.
 .
Ayyubiun yang memegang kekuasaan setelah tergulingnya dinasti Fatimiun pada tahun 1175 M merubah Mesir menjadi pusat kebudayaan yang kuat untuk memperluas mazhab Ahli Sunnah. Pendiri pemerintahan ini, Salahuddin Ayyubi yang bermazhab Syafi’i, melarang pengajaran fiqih Syiah di Al-Azhar. Siasat ini menyebabkan penurunan intelektual di al-Azhar dan kondisi ini berlangsung salama kurang lebih 80 tahun. Akan tetapi, pada masa pemerintahan “Mamlukian” dan “Utsmanian” di Mesir, meskipun pemerintahan berasaskan Ahli Sunnah, tetapi kondisi orang-orang Syiah lebih baik dari masa pemerintahan Ayyubian. Shalat Jumat di al-Azhar kembali dijalankan dan disamping pelajaran fiqih Syafi’i, beberapa ulama juga ditetapkan untuk mengajar fiqih mazhab lain termasuk mazhab Syiah.
 .
Pada tahun 1789 penyerangan Perancis terhadap Mesir menyebabkan ulama al-Azhar mengangkat bendera perlawanan terhadap Perancis dengan dukungan dari masyarakat dan mewujudkan persatuan muslimin dengan melupakan perbedaan-perbedaan mazhab. Kerjasama ulama al-Azhar dan orang-orang Syiah serta anggota Taqrib yang lain menyebabkan kekalahan Perancis. Pada masa ini hukuman mati ulama Islam oleh kekuatan Perancis menguatkan lingkaran persatuan antarMuslim dalam menghadapi musuh luar.
 .
Muhammad Ali terpilih sebagai wali Mesir pada tahun 1805. Dia, seorang yang mencintai kekuasaan, menganggap wujud ulama-ulama al-Azhar terutama persatuan di antara mereka dan masyarakat Islam sebagai penghalang untuk mengokohkan kekuasaannya. Untuk menghilangkan penghalang-penghalang ini, dengan menggunakan senjata perselisihan ia menimbulkan perpecahan, memerintah dengan sewenang-wenang dan memisahkan antara agama dan politik untuk melemahkan al-Azhar dan ulama Islam.
 .
Politik ini –yang berakhir dengan tidak mampunya al-Azhar untuk mengelola keuangannya- menyebabkan gradasi bertahap universitas tersebut dan memaksanya untuk menggantungkan masalah keuangan pada pihak lain, terutama pemerintah Inggris. Pada tahun 1915 penasehat keuangan pemerintah Mesir –seorang Inggris- menyarankan kepada pemimpin al-Azhar untuk menerima bantuan dari pemerintah Inggris untuk memperbaiki keuangan ulama-ulama al-Azhar (1). Pada masa ini, siasat pemerintah Mesir dan pendatang dari Inggris adalah pemisahan antara agama dan politik serta menghalangi persatuan mazhab yang berbeda-beda dalam satu lingkup Islam. Dengan ini, ulama mazhab-mazhab di al-Azhar tidak dapat menjalankan misi Islami mereka dikarenakan tidak adanya persatuan, fanatisme dan memperhatikan keuntungan pribadi.
 .
Pada tahun 70-an peningkatan hubungan antar ulama dan pusat-pusat lembaga agama yang berbeda-beda, terutama Syiah dan Ahli Sunnah, mendorong terbentuknya “Dar al-Taqrib” di Mesir. Beberapa marja’ faqih Syiah dunia, seperti Ayatullah Uzdma Burujerdi ra. memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan pusat lembaga ini. Beliau memiliki keyakinan kuat akan perlunya pemecahan masalah di antara mazhab-mazhab Islam dan perwujudan hal ini akan meninggikan martabat Islam.
 .
Ayatullah Uzdma Boroujerdi mengetahui dengan kebijaksanaan bahwa jika kesepakatan di antara orang-orang muslim akan dibentuk, harus bersumber dari lembaga keilmuan. Dari sisi lain, beliau juga mengetahui tingkatan keilmuan al-Azhar. Jadi, beliau menggunakan fasilitas dan kesempatan ini secara efisien untuk mengadakan hubungan dengan ulama-ulama Mesir. Untuk memulai hubungan ini beliau mengirim Allamah Syeikh Muhammad Tagi Qumi ke Mesir sebagai perwakilannya. Tugas beliau adalah berusaha untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan Taqrib di Mesir dan mendorong ulama Islam untuk mementingkan terwujudnya persatuan umat Islam.
 .
Allamah Syeikh Muhammad Taqi Qumi menyampaikan pesan lisan Ayatullah kepada Syeikh Majid Salim yang menjabat sebagai presiden al-Azhar pada waktu itu. Pesan jawaban Syeikh Salim kepada Ayatullah Burujerdi membuka pintu kerjasama dan surat menyurat dalam hal Taqrib antara hauzah Qom dan al-Azhar. Tidak lama kemudian Syeikh Hasan Baquri, dosen dan seorang alim universitas al-Azhar, dan menteri wakaf Mesir, pergi ke Iran untuk bertemu dengan Ayatullah Boroujerdi. Sebagai balasan, kitab “Mukhtasar al-Manafi’ Allamah Hilli dan kitab tafsir “Majma’ al-Bayan” َAllamah Tabarsi dicetak dan dipelajari di Mesir.
 .
Berdasarkan itu universitas al-Azhar untuk pertama kalinya dalam sejarah pendiriannya, mengadakan majlis Asyura’ (acara peringatan syahadah imam Husein as.) yang sangat besar. Syeikh Syaltut mengemban kepemimpinan universitas al-Azhar setelah meninggalnya Syeikh Majid Salim. Beliau, seorang yang menginginkan persatuan umat Islam dan memiliki pengetahuan yang dalam tentang masalah Taqrib, menjalin hubungan erat dengan Ayatullah Boroujerdi ra dan dalam salah satu suratnya, beliau memanggilnya dengan sebutan “saudara yang agung”.
 .
Pendirian Darul Taqrib Baina Mazahib Al Islami di Mesir berperan penting dalam penyelarasan antara mazhab-mazhab Islam dan pada akhirnya menjadi satu langkah yang penting dan menentukan. Langkah penting ini adalah pengajaran fiqih mazhab-mazhab Islam, Ahli Sunnah maupun Syiah, di universitas al-Azhar. Hal ini ditulis di bab ke tiga undang-undang Dar al-Taqrib seperti berikut:
 .
“Pengajaran fiqih mazhab-mazhab Islam di universitas-universitas Islam dan di pusat-pusat pendidikan lainnya, akan dilaksanakan sebaik mungkin.”
 .
Saran program pengajaran mazhab Ja’fari di al-Azhar meskipun tidak terlaksana akan tetapi berhubungan dengan satu kejadian penting yang lain yaitu fatwa syeikh Syaltut yang berisikan pembolehan menganut fiqih Syiah. Dengan ini, marja’ terbesar Ahli Sunnah Mesir mengatakan bahwa para pengikut mazhab Syiah Itsna Asyariah memiliki hak yang sama sebagai seorang muslim seperti pengikut mazhab-mazhab lain; meskipun selalu ada propaganda-propaganda buruk yang merugikan. Kepada seluruh umat Muslim Ahli Sunnah Wa Jamma’ah juga diperbolehkan untuk mengikuti fatwa-fatwa ulama Syiah.
 .
Ulama-ulama Mesir setelah masa Syeikh Syaltut juga memiliki hubungan erat dengan hauzah-hauzah ilmiah Syiah; ia pun terus melanjutkan kegiatan-kegiatan Taqrib. Hal ini menciptakan hubungan erat antara masyarakat Iran dan Mesir. Dapat dikatakan meskipun fiqih yang dikenalkan di Mesir bukanlah fiqih Syiah, tetapi hati nurani masyarakat Mesir memiliki kecondongan terhadap Syiah. Karena itu, pengikut mazhab Wahabi dengan niat menjauhkan masyarakat Mesir dari garis-garis fiqih dan pemikiran logis mazhab Syiah, melawan tasyayu’ dan berusaha untuk menyimpangkan kecenderungan persatuan ulama dan masyarakat Mesir.
 .
Saat ini ada banyak dalil yang menunjukkan kecenderungan masyarakat Mesir untuk saling memahami dengan saudara-saudara Syiah dan hal ini disebabkan kecintaan mereka pada Ahlul Bait as. Sebagai contoh, masyarakat Mesir suka berziarah ke makam-makam mulia ma’sumin dan membolehkan menciumnya. Nama yang paling banyak dipakai di Mesir setelah nama nabi Muhammad Saw adalah nama Ali (untuk laki-laki) dan Fatimah (untuk perempuan). Dalam banyak syair kanak-kanak Mesir yang paling terkenal, Sayyidah Fatimah as disebut sebagai ibu dan Ali as sebagai ayah. Khususnya pada penyelenggaraan hari-hari Ied dan adat-adat bulan suci Ramadhan, masyarakat Mesir mengikuti adat-adat khusus Fatimiah yang berasal dari budaya Syiah.
 .
Penerbitan kitab “Al-Muraja’at” yang merupakan surat menyurat dari diskusi antara ulama besar Islam, Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi, salah satu dari pembawa bendera Taqrib di Jabal Amil, Lebanon, dan Syeikh Salim, Syeikh al-Azhar, mempunyai peran penting dalam menyelesaikan kesalahpahaman Ahli Sunnah terhadap Syiah. Syeikh Salim dalam pertemuan terakhirnya mengakui bahwa tidak ada perbedaan (yang mendasar-pent.) di antara Ahli Sunnah dan Syiah dan pertentangan yang ada diantara Syiah dan Ahli Sunnah lebih sedikit dari pertentangan antara imam-imam empat mazhab.
 .
Sebenarnya kehidupan kebudayaan Mesir memimiliki kecondongan kuat untuk mewujudkan misi Taqrib. Alasannya adalah sebagai berikut:
1. Adanya makam orang-orang yang dinisbatkan ke Ahllul Bait, seperti Malik Asytar di Mesir, yang menyebabkan masyarakat negara ini menunjukkan kecintaannya pada Ahlul Bait lebih dari masyarakat Negara-negara lain.
2. Masyarakat Mesir secara terbuka memiliki kecenderungan untuk bersatu dan saling memahami antarsaudara Muslim yang lain, termasuk Syiah; dan kecenderungan ini bertambah setelah kemenangan revolusi Islam.
3. Peran al-Azhar yang merupakan basis besar dalam sisi moral dan spiritual, yang pada awalnya didirikan untuk memperluas mazhab Syiah dan pendekatan antarmazhab, tidak dapat dipandang sebelah mata.
4. Dari sisi sejarah, pendirian pemerintahan Fatimiun oleh orang-orang Syiah di Mesir dan permusuhan bersejarah antara masyarakat Mesir dengan Wahabi selalu menjadi penghalang usaha musuh-musuh Islam untuk menebar perpecahan. Tidak mengherankan jika dengan alasan di atas sebagian penetapan undang-undang Mesir dilakukan berasaskan paham mazhab Syiah. Sebagai contoh, dua pasal dari hukum perdata Mesir diambil dari mazhab Syiah. Pada masa Abdul Nasir, al-Azhar menerbitkan sebuah ensiklopdi fiqih yang bernama “Fiqh-e Islam Dar Mazaheb-e Hasytgone” (fiqih Islam dalam 8 mazhab) yaitu 4 mazhab Ahli Sunnah, mazhab Syiah 12 Imam, Zaidi, Ibadhi dan Dhohiri.
 .
Suatu perkumpulan bernama Ahlul Bait dibentuk di Mesir dalam dekade ini dan terdaftar dalam daftar kementrian perkara sosial dengan nomor 1852. Kelompok ini memiliki beberapa karya yang sudah diterbitkan. Namun Ahlul Bait dihentikan oleh Anwar sadat setelah kemenangan revolusi Islam Iran. Kelompok ini juga memiliki peran penting dalam misi Taqrib. Di Mesir para sadah (keturunan nabi) dikenal sebagai “Asyraf” dan kelompok ini bertugas untuk menjaga nasab keturunan Ahlul Bait yang sudah meninggal.
 .
Ada kelompok yang bernama “Ja’afirah” yang nasab mereka sampi pada imam Ja’far as. di daerah Said, terutama di provinsi Qina dan Iswan. Mereka juga menganut faham Taqrib dan hidup bersama secara akur dengan Ahli Sunnah. Jumlah pengikut Ja’afirah di Mesir mencapai 2 juta orang.
 .
“Buhrah” adalah kelompok Syiah Ismailiah Afrika yang hijrah ke Mesir pada masa pemerintahan Anwar Sadat. Mereka menggunakan kemampuannya untuk meyakinkan menteri Wakaf Mesir agar memperbaiki masjid-masjid Syiah Fatimi –dengan kemampuan mereka– seperti masjid al-Anwar yang pada akhirnya menjadi tempat tinggal mereka. Buhrah juga memperbaiki dan membangun ulang masjid al-Husain as dan masjid Zainab as.
 .
Mazhab Sufi di Mesir yang merupakan pengikut imam Ali as juga selalu memiliki kerjasama ilmiah yang baik dengan ulama-ulama Ahli Sunnah. Mereka juga selalu berusaha keras menghadang Wahabi untuk menyebarkan perpecahan antar umat.
 .
Wujud Buhrah, Sufi, Ja’afirah dan kelompok-kelompok pengikut Ahlu Bait lain dari satu sisi, dan dari sisi lain pemikiran cerah sebagian ulama Ahli Sunnah Mesir seperti Syeikh Syaltut dan Kawakibi menyebabkan berkembangnya pemikiran Taqrib di Mesir secara pesat, meskipun usaha-usaha Wahabi yang dimulai pada masa Abdul Nasir sampai sekarang guna menjatuhkan misi ini selalu ada.
 .
Setelah kemenangan revolusi Islam di Iran dan berkibarnya bendera persatuan dari imam Khomeini ra, masyarakat Mesir menyambut persatuan ini dengan semangat dan kegembiraan yang mendalam. Akan tetapi, alat-alat propaganda Barat dan media internasional Wahabi berusaha menghapus wajah tasyayyu’ di kalangan Ahli Sunnah dengan menerbitkan buku-buku “miring”. Dengan ini, kitab-kitab yang menghina dan memojokkan Syiah dan kitab-kitab yang menyerang pemikran Ahli Sunnah dikeluarkan dari gudangnya dan disebarkan kembali. Penerbitan al-Shohwah digunakan kembali untuk menghadang pemikiran Syiah di Mesir. Penerbit ini menerbitkan lebih dari 100 buku terkait dari tahun 1983 sampai 1986. Seluruh biaya penerbitan buku-buku ini dipasok oleh Wahabi.
 .
Meskipun penyerangan ini mengecam mazhab Syiah, tap dari sisi lain menguntungkan dakwah Taqrib, karena masyarakat Mesir menjadi ingin mencari tahu perbedaan Syiah dan Ahlu Sunnah. Munculnya intelek-intelek masa itu membuat isu Taqrib semakin diangkat. Sebagai contoh, marhum Allamah Syeikh Muhammad Ghazali, seorang ulama yang diterima diseluruh kalangan masyarakat Mesir, selalu membantah perselisihan diantara umat Islam dan mendukung pemikiran Taqrib. Beliau berkata:
 .
“Kekhawatiran akan perbedaan dalam fiqih tidak perlu dikhawatirkan. Karena perbedaan Fiqih tidak dapat dipungkiri. Pelarangan taqlid pada mazhab tertentu tidak lebih dari sekedar fanatisme yang tidak berharga”. (Koran al-Zahram, 17/12/1370)
 .
Para pemimpin Ikhwanul Muslimin juga sangat mementingkan masalah pendekatan dan menganggap urgen persatuan umat Islam dalam menghadapi musuh yang bersatu pada zaman ini.
 .
Program Taqrib di Mesir terus berlangsung. Para ulama dan intelek Mesir yang dalam gerakan baru mereka berusaha menghidupkan Islam murni, mengetahui pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh bersama. Sejarah dan kebudayaan masyarakat juga membuktikan hal ini. Jadi, dapat dikatakan jika Taqrib di Mesir dibimbing pada jalan yang benar, pada masa yang akan datang dapat menjadi sandaran kuat untuk persatuan politik dan persaudaraan dunia Islam. Jelas, perubahan positif apapun dalam hubungan antara Iran dan Mesir akan memperkuat posisi para pendukung Taqrib di kedua negara.
 .
Sumber
1.Khaterat-e Zendegani-e Hadzrat-e Ayatullah Al-Udzma Aghay-e Boroujerdi, Muhammad husein Tabataba’i.
2.Majalah Taqrib j 1,2 dan 3, bagian konferensi persatuan Islam.
Catatan kaki:
1)Akan tetapi tidak ada catatan mengenai penerimaan hal ini oleh Al-Azhar.

Yasser al Habib bukan ulama syi’ah

Yasser Al-Habib (bahasa Arab: ياسر الحبيب) dilahirkan pada tahun 1977 yang berasal dari Kuwait. Dia adalah lulusan Ilmu Politik Universitas Kuwait. Pandangannya dalam beberapa isu mengenai agama Islam tergolong ekstrem, termasuk mengenai sejarah wafatnya Fatimah putri Nabi Muhammad. Beliau kerap kali melayangkan kecaman kepada Abu BakarUmar serta Aisyah. Hujatan yang dilakukannya dalam sebuah ceramah tertutup ternyata tersebar dan membuatnya dipenjarakan oleh pemerintah Kuwait pada tahun 2003.

Belum setahun, ia dibebaskan, namun beberapa hari kemudian ditangkap lagi. Sebelum dijatuhi hukum inabsensia selama 25 tahun, ia meninggalkan Kuwait. Oleh karena tidak mendapat izin dari pemerintah Kuwait untuk pergi ke Irak dan Iran, beliau mendapat suaka dari pemerintah Inggris.

Sejak berada di Kuwait, ia sudah memimpin organisasi Khaddam Al-Mahdi. Di Inggris, organisasi yang beliau pimpin semakin berkembang; memiliki punya koran sendiri yang bernama Shia Newspaper, hauzah bernama Al-Imamain Al-Askariyin, majelis sendiri bernama Husainiah Sayid asy-Syuhada, yayasan dan juga website sendiri.

Hubungannya dengan Mesir dan Iran juga kurang harmonis. Beliau kerap kali mengecam ulama rujukan sekelas Ayatullah Ali Khamenei bahkan tidak menganggapnya sebagai mujtahid dan marja’

Sayyid Ammar Menanggapi Yasser al Habib

Seruan Persatuan Muslimin: Sayyid Nasrallah

August 19, 2012

Mahmoud Al-Zahar Temui Saeed Jalili di Tehran

Jumat, 2012 September 07 02:49

Mahmoud al-Zahar, anggota Biro Politik Hamas Kamis sore (6/9) bertemu dan berdialog dengan Saeed Jalili, sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Republik Islam Iran.

Jalili di pertemuan ini seraya menekankan urgensitas Palestina dan muqawama Islam mengatakan, “Pandangan kami terhadap masalah muqawama melampaui prinsip-prinsip yang ada dan sangat strategis. Pandangan kami ini memiliki akar di ideologi Islam. Pandangan ini membuat Iran selama 34 tahun tidak pernah mundur dari sikapnya mendukung Palestina.”

Seraya mengisyaratkan proses kesempurnaan transformasi Kebangkitan Islam di Dunia Islam sebagai kesempatan besar bagi umat muslim, Jalili menekankan, isu Palestina dan muqawama anti Israel merupakan prinsip kolektif Kebangkitan Islam.

Jalili juga menekankan pentingnya menampung seluruh kapasitas beragam dari negara-negara Islam, khususnya kapasitas baru yang muncul akibat Kebangkitan Islam. “Musuh melalui berbagai cara berusaha menciptakan perpecahan di tubuh umat Islam serta berupaya mencegah bersatunya seluruh kapasitas muslim,” tandas Jalili.

Ia menjelaskan, dengan kegagalan musuh dalam mencegah proses kemajuan politik Islam, pihak asing berencana mencegah tersebarnya teladan kemajuan dan perlawanan Iran ke negara lain.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Iran menilai penyebaran Islamphobia oleh sejumlah kekuatan dunia disebabkan maraknya manusia yang menerima Islam di dunia.

Sementara itu, Mahmoud al-Zahar di pertemuan ini menekankan urgensitas muqawama Islam. “Muqawama merupakan bagian dari ideologi kami dan tidak akan pernah berubah,” tegas al-Zahar.

Seraya mengisyaratkan kedaulatan tanah Palestina, al-Zahar mengatakan, seluruh Palestina adalah milik kami dan kami tidak akan mundur walau sejengkal tanah sekali pun.

20 Syawal, Harun Ar-Rasyid Perintah Tangkap Imam Kazhim as

Harun Ar-Rasyid Perintah Tangkap Imam Kazhim as

Harun ar-Rasyid, Khalifah Abbasi yang zalim senantiasa merasa khawatir dengan keberadaan Imam Musa al-Kazhim. Popularitas Imam Kazhim dan pengaruhnya membuat Harun takut hal itu dapat menggerogoti kekuasaannya. Oleh karenanya, Harun ar-Rasyid mengirim utusannya ke Madinah untuk memata-matai gerak-gerik Imam Kazhim as.

Khalifah Harun ar-Rasyid patut mengkhawatirkan pengaruh maknawi Imam Musa al-Kazhim. Karena Ali bin Yaqthin, Perdana Menteri Bani Abbasiah waktu itu merupakan sahabat Imam Musa Kazhim as dan melakukan perintah beliau.

Berita tentang Imam Kazhim as yang disampaikan oleh orang-orang dekatnya membuat kebencian Harun ar-Rasyid semakin memuncak. Pada tahun 179 Hq, Khalifah Harun ar-Rasyid menunaikan ibadah haji dan di sana ia baru memahami betapa masyarakat Muslim begitu menghormati dan mencintai Imam Musa Kazhim as. Menyaksikan kenyataan itu, Harun ar-Rasyid begitu khawatir akan kekuasaannya.

Ketika pergi ke kota Madinah dan menziarahi kuburan Rasulullah Saw, Harun ar-Rasyid memutuskan untuk menangkap dan memenjarakan Imam Kazhim as. Ketika tiba hari penangkapan beliau pada 20 Syawal 179 Hq, Harun ar-Rasyid memerintah agar proses penangkapan Imam Kazhim as dilakukan dengan tidak teratur dan diserahkan dari satu kelompok ke kelompok yang lain agar masyarakat tidak tahu kemana Imam Kazhim di bawa dan oleh siapa yang membawanya. Dengan demikian, perlahan-lahan masyarakat tidak kaget dengan ketiadaan Imam Kazhim di tengah-tengah mereka dan terbiasa dengan kondisi yang ada. Proses ini menunjukkan betapa khawatirnya Bani Abbasiah akan pengaruh Imam Kazhim as

Harun ar-Rasyid berhasil mengasingkan Imam Kazhim as dari Madinah dengan sangat berhati-hati dan selama bertahun-tahun beliau dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya. Anehnya, Harun ar-Rasyid yang memahami tingginya kepribadian Imam Kazhim as, pasca syahadah beliau memaksa masyarakat Muslim waktu itu agar menerima bahwa Imam Kazhim as meninggal secara alami, bukan karena diracuni.

Tidak Membayar Kewajiban, Kalian Akan Mengeluarkannya Dua Kali Lipat untuk Maksiat

روی عن الصادق قال: «مَنْ مَنَعَ حَقّاً لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ اَنْفَقَ فِی بَاطِلٍ مِثْلَیْهِ» (وسائل الشیعه، ج 9 ص 43 روایت 11480 –کافی ج 3 ص506)

Diriwayatkan, Imam Ja’far as-Sadiq as berkata, “Orang yang tidak melaksanakan hak-hak Allah maka dia akan membayarnya dua kali lipat di jalan kebatilan.”

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, “Misalnya dalam urusan finansial, dalam bab infaq wajib maupun mustahab, jika seseorang tidak mengeluarkan seribu rupiah dalam melakukan apa yang seharusnya menjadi hak Allah, maka dia harus mengetahui bahwa dia akan mengeluarkan uang dua kali lipat di jalan kebatilan. Karena dia telah menolak untuk melaksanakan tugasnya di jalan kebenaran.”

“Ada banyak riwayat seperti ini. Imam Musa Kadzim as mengatakan,

«إِیَّاکَ اَنْ تَمْنَعَ فِی طَاعَةِ اللَّهِ، فَتُنْفِقَ مِثْلَیْهِ فِی مَعْصِیَةِ اللَّهِ»(بحارالانوار ج75،ص320)

Berhati-hatilah kalian dengan apa yang harus kalian keluarkan di jalan Allah, dan kalian tidak melakukannya! Mengapa? Karena kalian akan mengeluarkan dua kali lipatnya di jalan kebatilan, dalam maksiat. Ini harus diperhatikan. Dalam sistem qadha ilahi, telah ditetapkan demikian. Jangan lalu kalian anggap bahwa ketika kalian tidak mengeluarkan uang tersebut maka kalian telah menyimpan atau menabungnya. Tidak! Allah akan menyiapkan lubang-lubang untuk kalian. Dan lubang-lubang jebakan itu adalah maksiat.”

Atlit Iran Menolak Berjabat Tangan dengan Kate Middleton

 

Karamzadeh dan Kate Middleton

 

Merhdad Karamzadeh, wakil Iran di cabang atletik hari Ahad (2/9) berhasil meraih perak setelah melempar cakram sejauh 44,62 meter di Paralympic London 2012.

 

Saat acara pemberian medali, Karamzadeh menolak berjabat tangan dengan Kate Middleton, istri Pangeran William dan kemudian menjadi perbicangan media-media Inggris dan dunia.

 

Surat kabar Inggris Daily Mail menulis, atlit Iran menolak berjabat tangan dengan Duchess of Cambridge, sebutan untuk Kate Middleton saat pemberian medali perak.

 

Daily Mail melanjutkan bahwa Kate Middleton menjabat tangan atlit Inggris peraih medali emas dan atlit Cina peraih medali perunggu dengan hangat. Ditambahkannya, tapi ketika giliran Karamzadeh, peraih medali perak, atlit Iran berusia 40 tahun itu menolak menjabat tangan Kate Middleton dan hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Karamzadeh dan Kate Middleton

 

 

Menurut Daily Mail, alasan Karam tidak mau berjabat tangan terkait budaya masyarakat Iran yang melarang pria dan wanita bersentuhan jika bukan muhrimnya.

 

Surat kabar Inggris ini menambahkan bahwa Kate Middleton sejak awal juga sudah memahami masalah ini dan ketika mengalungkan medali perak, ia tidak menjulurkan tangannya.

 

Koran-koran Inggris lainnya seperti Guardian, Daily Telegraph dan Express mencetak gambar acara pemberian medali dan memberitakan penolakan Karamzadeh berjabat tangan dengan Kate Middleston.

Dalam sejarah Islam, terdapat perdebatan mengenai mana yang lebih baik: orang kaya yang bersyukur dan membantu kepentingan orang banyak atau orang miskin yang sabar dengan kemiskinannya. Terkait dengan ma­salah ini, Allah Swt. berfirman:

Carilah dalam karunia Allah yang dianugerahkan kepadamu kebahagiaan di akhirat, dan jangan lupa ba­gianmu di dunia ini. Dan berbuat baiklah kamu se­ba­gaimana Allah berbuat baik kepadamu. (QS Al-Qashash [28]:77)

Kisah Imam ‘Ali dan sahabatnya, ‘Ala’ ibn Ziyad di bawah ini kiranya bisa menjadi penafsiran yang amat pas untuk ayat tersebut di atas:

Suatu kali, sang Amir Al-Mukminin mengunjungi ‘Ala’ yang sedang sakit. Sesampainya di kediaman ‘Ala’, Imam ‘Ali mendapati rumah sang sahabat besar dan mewah. Setelah bersalam dan menanyakan kesehatan­nya, Imam ‘Ali berkata, “Wahai ‘Ala’, buat apa rumah besar dan mewah ini?”  Tapi, belum sempat ‘Ala’—yang saya bayangkan merah-padam juga mukanya—me­nya­hut, sang Imam pun meneruskan: “… tapi, jika kamu ingin punya rumah besar di dunia, sekaligus rumah besar di akhirat, gunakanlah rumahmu ini untuk tem­pat­mu melakukan amal-amal saleh.”

Syahdan terbetik pula kisah di bawah ini.

Ada dua orang sufi besar, Ibrahim ibn Adham dan muridnya Syaqiq Al-Balkhi. Diriwayatkan bahwa Ibrahim ibn Adham pada awalnya adalah seorang pangeran dari Balkh, Asia Tengah. Setelah mendapatkan pen­cerah­an, dia memilih cara hidup sufi. Sedangkan Syaqiq Al-Balkhi, konon dulunya adalah seorang pengu­saha. Dalam kesufiannya dia masih diganggu oleh ke­ge­­lisah­­an mengenai rezekinya setelah tak lagi menjadi peng­­usaha. Suatu saat keduanya bepergian bersama. Di te­ngah perjalanan mereka melihat seekor burung meng­gelepar-gelepar di tanah karena sayapnya patah. Tapi tiba-tiba membesut dari udara seekor burung lain de­ngan membawa makanan di paruhnya. Maka bu­rung itu pun mendekati sesamanya yang patah sayap­nya itu, lalu melolohkan makanan yang dibawanya ke mulut burung yang malang itu. Melihat kejadian ini Syaqiq Al-Balkhi bergumam: “Astaghfirullâh, kalau bu­rung saja dijamin rezekinya oleh Allah, apalagi saya.” Inilah suatu bentuk sikap tawakal kepada Allah Swt. Tapi, di luar dugaan Syaqiq, Ibrahim ibn Adham malah menegur­nya. “Aneh kamu ini, wahai Syaqiq. Kenapa kamu hanya melihat burung yang patah sayapnya, meng­gelepar-gelepar di tanah dan tidak berdaya. Kenapa kamu tak belajar dari burung yang sehat itu, yang ber­kat kese­hatannya ia mampu mencari nafkah tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, melainkan juga untuk sesamanya yang membutuhkan?”

Dengan begitu, kira-kira sang guru ingin mengata­kan, lebih baik kamu bekerja mencari karunia Allah di muka bumi ini, dan—dengan kelebihan yang kamu punyai—membantu para dhu‘afâ’ danmustadh‘afîn (fakir miskin dan orang-orang tertindas).

Sikap seperti ini kiranya terasa makin relevan jika diingat bahwa pada masa sekarang kaum Muslim ba­nyak tertinggal dari kaum-kaum lainnya dalam hal ke­se­jahteraan. Memujikan sikap sabar untuk menang­gung kemiskinan dalam situasi seperti ini kiranya kurang tepat. Sebaliknya, mendorong kaum Muslim untuk me­ngejar karunia Allah, dan kemudian mensyukurinya dengan menggunakannya untuk keperluan pengem­bang­an kemakmuran bersama, kiranya lebih tepat.

Kisah sufi di bawah ini mengajarkan kepada kita betapa cinta kepada Allah tak bisa dilepaskan dari cinta kepada sesama manusia:

Dalam salah satu tidurnya Abu bin Azhim ber­temu dengan malaikat. Sang Malaikat membawa sebuah daftar di tangannya. Muncullah rasa ingin tahu bin Azhim. “Daftar apa yang kau bawa, wahai pe­suruh Tuhan yang mulia?” tanyanya. “Inilah daftar nama orang-orang yang mencintai Allah,” jawab sang Malaikat. “Boleh aku melihatnya?” Maka sang malaikat pun mem­beri kesempatan kepada bin Azhim untuk mengintip dokumen alam gaib itu. Dengan harap-harap cemas di­­carinya namanya sendiri di dalam daftar itu. Tak ada! Tentu saja bin Azhim sedih. Tapi, kemudian bin Azhim meminta kepada sang Malaikat. “Tolong catat namaku sebagai pencinta manusia.” Dan mimpinya berakhir di sini malam itu. Malam selanjutnya, bin Azhim, yang memang adalah pencinta yang peduli kepada manusia-manusia di sekitarnya, bermimpi bertemu Malaikat yang sama. Makhluk pesuruh Tuhan itu masih membawa daf­tar nama para pencinta Tuhan. Bin Azhim lagi-lagi ingin sekali mengintip daftar itu. Dan ketika kesempatan itu diberikan lagi kepadanya oleh sang Malaikat, dia da­pati—kali ini—namanya ada di sana.

Adalah seorang sufi juga, namanya Abdul Quddus dari Ganggoh, yang menyindir sikap sementara sufi sesamanya, ketika dia berseru “Demi Allah! Tak akan aku kembali lagi ke dunia jika kualami Mi‘raj seperti yang dialami Muhammad (Saaw.)!” Sang Nabi telah meng­alami pengalaman puncak bermuka-muka de­ngan Allah—pengalaman “menyatu” dengan Allah yang me­­rupakan ideal semua sufi—dalam peristiwa gaib itu. Al-Quran menyebut jaraknya bahkan kurang dari sebu­sur panah dari haribaan Tuhan. Tapi, Muhammad— Sang Sufi Teragung—“memilih” untuk kembali ke du­nia dan mengejawantahkan “persatuannya” dengan Allah itu dalam bentuk kekuatan-revolusioner untuk me­reformasi kaumnya, dan membebaskan umat ma­nusia dari perampasan hak-hak mereka. Dia melaku­kan semua pekerjaan profan yang bisa dilakukan: me­ngelola administrasi pemerintahan, mengembangkan ekonomi dan pemerataannya, mendorong mereka untuk belajar, bahkan berperang jika agresi berada di depan mata.

Para sufi jugalah yang mengisahkan keinginan para pengikut Musa untuk bertemu Allah. Tiga hari mereka menunggu di sebuah gua, sambil sang Nabi berdoa me­minta kedatangan-Nya di tengah-tengah mereka. Setelah tiga hari, Dia tak datang-datang juga. Ketika Musa bertanya, Tuhan pun berfirman: “Di ketiga-tiga hari itu sesungguhnya Aku telah datang kepadamu. Ke­tika seorang yang lapar datang, sesungguhnya itu Aku. Budak yang menghampirimu di goa itu adalah Aku juga. Akulah pula orang sakit yang meminta tolong kepadamu.” Dalam hadis qudsi yang juga banyak di­kutip para sufi juga, Tuhan berargumentasi dengan salah seorang penyembahnya yang protes karena tak ia da­pati surga sebagai imbalannya: “Kau tak memberiku ma­kan ketika Aku lapar, kau tak merawatku ketika Aku sakit ….” Lewat para sufi itu pula kita dengar Tuhan berujar: “Carilah Aku di tengah-tengah orang yang terampas hak-haknya.”

Seorang sufi lain, Hâtim Al-Asham diriwayatkan pernah pula mengucap: “Barang siapa mengakui tiga hal tanpa tiga hal maka ia adalah pendusta. Barang siapa mengaku mencintai Allah tanpa bersikap hati-hati (wara‘ ) terhadap apa-apa yang diharamkan-Nya, maka ia berdusta. Barang siapa mengaku mencintai surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia berdusta. Dan barang siapa mengaku mencintai Nabi Saaw. tan­pa mencintai kaum papa (fakir), maka ia ber­dusta.”

Seorang murid Abu Said Abil-Khair pernah berkata, “Guru, di tempat lain ada orang yang bisa terbang.” Abul Khair menjawab, “Tidak aneh. Lalat juga bisa ter­bang.” “Guru, di sana ada orang yang bisa berjalan di atas air,” muridnya berkata lagi. Abil-Khair ber­kata, “Itu juga tak aneh. Katak pun bisa berjalan di atas air.” Muridnya berujar lagi, “Guru, di negeri itu ada orang yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus.” Abil Khair menjawab, “Yang paling pintar seperti itu ada­lah setan. Ia bisa berada di hati jutaan manusia dalam waktu bersamaan.” Murid-muridnya bingung dan ber­tanya, “Kalau begitu, Guru, bagaimana cara yang pa­ling cepat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.?” Tampak, bahwa murid-murid sufi ini beranggapan bahwa orang yang dekat kepada Allah Swt. itu ada­­lah orang yang memiliki berbagai keajaiban dan kekuatan supra­natural. Maka, Abu Said Abil-Khair menjawab, “Banyak jalan untuk mendekati Tuhan, (bahkan) sebanyak bilangan napas para pencari Tuhan. Tetapi, jalan yang paling de­kat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu. Berkhidmatlah engkau kepada mereka.”