Al Qur’an Surat At Taubah ayat 100 tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

Tinjauan Tafsir At Taubah ayat 100 : Sahabat Nabi Yang Berhijrah Bukan Karena Allah

Ada salah satu ayat Al Qur’an yang sering dicatut kaum nashibi untuk memuliakan para sahabat yaitu At Taubah ayat 100. Ayat tersebut memang membicarakan keutamaan sahabat muhajirin dan anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik. Tulisan ini hanya ingin menunjukkan kekeliruan sebagian nashibi yang mengira ayat ini tertuju untuk semua muhajirin dan anshar.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 100]

Muhajirin dalam ayat ini adalah mereka yang berhijrah dengan mengharap ridha Allah dan bukan karena hal lain. Anshar dalam ayat ini adalah mereka dari kalangan kaum Anshar yang dengan ridha menyambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagian kaum Anshar yang munafik. Sering kaum awam nashibi mengartikan bahwa muhajirin dan anshar dalam ayat ini adalah mutlak untuk semua mereka. Hal ini jelas tidak bisa diterima, para sahabat sendiri mengakui ada orang munafik diantara kaum Anshar maka apakah mereka juga termasuk dalam ayat ini. Sudah jelas tidak.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا اسود بن عامر قثنا إسرائيل عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي سعيد الخدري قال إنما كنا نعرف منافقي الأنصار ببغضهم عليا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Israil dari Al A’masy dari Abi Shalih dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata “Sesungguhnya kami mengenal orang-orang munafik dari kalangan Anshar melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadhail Shahabah no 979 dengan sanad shahih]

Begitu juga ternyata ada diantara kaum Muhajirin yang berhijrah bukan karena Allah SWT dan Rasul-Nya melainkan demi kepentingan dunia.

حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن شقيق قال قال عبد الله من هاجر يبتغي شيئا فهو له قال : هاجر رجل ليتزوج امرأة يقال لها أم قيس وكان يسمى مهاجر أم قيس

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy As Shaigh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Syaqiq yang berkata ‘Abdullah berkata “siapa yang berhijrah demi mendapatkan sesuatu maka itulah yang ada untuknya. Ia berkata “seorang laki-laki hijrah demi menikahi seorang wanita yaitu Ummu Qais maka kami menamakannya Muhajir Ummu Qais” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 9/103 no 8540]

Riwayat Thabrani sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Syaikh Thabrani Muhammad bin ‘Ali Ash Shaaigh adalah seorang imam yang tsiqat

  • Muhammad bin Ali Ash Shaaigh adalah muhaddis imam yang tsiqat sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi [As Siyar 13/428 no 212]
  • Sa’id bin Manshur adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad berkata “termasuk orang yang memiliki keutamaan dan shaduq”. Ibnu Khirasy dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang mutqin dan tsabit. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 4 no 148]
  • Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70].
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]. Riwayat ‘an anahnya dari para syaikh-nya seperti Ibrahim, Abu Wail dan Abu Shalih dianggap muttashil [bersambung] seperti yang dikatakan Adz Dzahabi [Mizan Al Itidal 2/224 no 3517].
  • Syaqiq bin Salamah Abu Wa’il Al Kufiy adalah Mukhadhramun yang tsiqat perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Waki’, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 619]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/421]

Ummu Qais termasuk dalam golongan muhajirin awal maka laki-laki yang menyusulnya hijrah dengan berniat menikahi Ummu Qais juga termasuk dalam muhajirin awal.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أُمَّ قَيْسٍ بِنْتَ مِحْصَنٍ الْأَسَدِيَّةَ أَسَدَ خُزَيْمَةَ وَكَانَتْ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa Ummu Qais binti Mihshan Al Asadiyyah singa khuzaimah ia termasuk muhajirin awal dan berbaiat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 7/127 no 5715]

Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, jika niatnya karena Allah SWT dan Rasul-Nya maka ia akan mendapatkan keutamaan tetapi jika niatnya demi menikahi wanita atau dunia maka baginya adalah apa yang ia niatkan sebagaimana sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahab yang berkata aku mendengar Yahya bin Sa’id yang mengatakan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqaash Al Laitsiy yang mengatakan aku mendengar Umar bin Khaththab radiallahu ‘anhu berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sekedar mendapatkan apa yang ia niatkan atasnya [Shahih Bukhari 8/140 no 6689]

Riwayat-riwayat shahih di atas menunjukkan betapa lemahnya akal nashibi dalam berhujjah. Mereka sering melakukan bias dalam berhujjah. Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasnya adalah generalisasi dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar” padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Orang-orang pertama dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar, (yakni yang memasuki Islam), dan mereka yang mengikutinya dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhainya, dan disediakan Allah buat mereka syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungAl-sungai, mereka kekal di dalamnya buat selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

.

ayat ini dijadikan oleh pengikut sekte wahabi yang awam bahwa sahabat Nabi dari kalangan muhajirin dan anshar sudah di stempel oleh Allah dan mendapatkan predikat (Allah ridho kpd mereka dan merekapun ridho kpd Allah). Disinilah salafiun menggeneralisasi makna ridho Allah terhadap kaum muhajirin dan Anshar.Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasanya adalah generalisasi  sunni dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar”

Padahal…

Orang Orang  terdahulu  bisa bermakna  beberapa orang tertentu yang berada diantara golongan Muhajirin dan Anshar !

padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kalau kita perhatikan dan pelajari dengan benar frman Allah dlm ayat 100 Surah Attaubah. Maka terlihat bahwa Allah tidak berhenti firmanNya pada mereka terdahulu. Tapi ada kelanjutan yakni dan diikuti orang2 dengan baik. Apakah selain Imam Ali as adakah orang lain yang mengikuti mereka mereka  terdahulu dengan baik? Apakah selain Imam Ali as ada petunjuk petunjuk  yang baik? Yang berguna dalam agama.

Jadi kalau disimpulkan tidak semuanya dari kalangan muhajirin dan anshar mendapatkan titel Ridho Allah hanya sebagiannya saja. Dengan demikian hanya mereka yg teguh keyakinanny, dan istiqamah dalam ketaatan kpd Allah dan Rasuln-Nya saja yg akan mendapat Ridha Allah SWT.

Tafsir Qs. At taubah 100: Assabiqul awwaluna min al muhajiriina wa al anshar : kata min pada ayat ini bermakna : “diantara / sebagian dari “ … BUKAN SEMUA MUHAJiRiN DAN ANSHAR dijamin !! Contoh penggunaan kata Min ini ada di ayat lain yaitu Qs. 2 ayat 8 ( Wa min an Naasi man yaquuluu aamannaa..” artinya sebagian diantara manusia ada yang berkata “

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat menjadi tiga golongan yang berbeda-beda:

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Qs-Fathir: 32).

Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

Orang-orang yang Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaum muhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

Ayat ini sebenarnya hanya berbicara tentang keutamaan kaum imigran (kaum Muhajirin) dari Mekah dan penduduk kota Madinah (kaum Anshar) yang memeluk Islam pada awal perkembangan Islam. Ini tidak termasuk ribuan sahabat yang memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atau setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Karena mereka semua bukan yang pertama-tama masuk Islam seperti yang digambarkan ayat tersebut di atas.
Ribuan kaum Muslimin yang tidak termasuk ayat itu ialah mereka yang masuk Islam sekitar 20 tahun setelah Islam disebarkan. Mereka masuk Islam sekitar tahun ke-8 Hijriah.

Ada Kemiripan dengan NU, Syiah Ajak Waspadai Al Bayyinat !!

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi washi atau pewaris kenabian. Mereka adalah penjaga syariat Islam dan Hujjah Allah di muka bumi. Bagi Syiah, Imamah adalah masalah yang ushul dan barang siapa yang mendustakan para Imam maka ia seorang pendosa. Seandainya ia telah mengetahui dalil-dalil yang kuat soal Imamah tetapi tetap saja mendustakannya maka ia adalah pembangkang dan seandainya belum sampai ilmu kepadanya tentang imamah maka keadaannya kembali kepada Allah SWT. Bagi Syiah, saudara mereka yang Sunni tetaplah seorang muslim sebagaimana yang telah dikatakan oleh para Imam Ahlul bait.

SELASA (18/09/2012), bertempat di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Syiah telah meluncurkan buku putihnya yang berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama yang Muktabar” dan mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Dalam acara yang digagas oleh organisasi Syiah, Ahlulbait Indonesia (ABI), Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan.Menurut Muhsin Labib, perkataan itu diambil dari ucapan Gus Dur

.
Seorang Imam jelas memiliki kelebihan dibanding manusia biasa. Bukankah mereka para Imam adalah pewaris ilmu Rasulullah SAW. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa umat islam harus berpedoman pada Kitab Allah dan Ahlul bait agar tidak tersesat. Bukankah mereka para Imam Ahlul bait adalah orang-orang yang dikatakan Rasul selalu bersama Al Quran dan tidak akan berpisah. Lantas samakah para Imam dengan orang biasa. Ooooh saya baru ingat kalau salafi nasibi tidak pernah mau mengakui hadis tsaqalain yang mewajibkan umat islam berpegang teguh pada Al Quran dan ahlul bait.Para Imam Ahlul Bait memiliki keutamaan yang tinggi, tetapi sayang sekali hal ini hanya diakui oleh Syiah saja sedangkan ahlussunnah tidak mengakui kelebihan para Imam Ahlul Bait

.

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Menurut Dr. Dinar Dewi Kania, salah satu peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS), esoteris merupakan aspek batin yang tidak ada hubungannya dengan ibadah atau ritual agama. Sedangkan eksoterik merupakan aspek lahir yang berhubungan dengan ritual atau agama.

“Dalam ajaran pluralisme, orang boleh berbeda dalam level eksoterik (ritual atau ibadah) tapi sebenarnya saat di level esoteris, ia sama-sama menuju satu Tuhan yang sama,” ujarnya

PDF

Terbunuhnya salah satu warga Syiah saat konflik Sampang pada 26 Agustus lalu, diduga penyebab utamanya berasal dari fatwa sesat Syiah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Dugaan ini datang dari Direktur Moderat Institute, Dr. Muhsin Labib.

“Fatwa sesat MUI Jawa Timur telah menjadi license to kill atau sayembara pahala membunuh. Oleh masyarakat awam fatwa tersebut dianggap legalisasi untuk membunuh,” ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber dalam peluncuran buku putih Syiah bertema“Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”bertempat di Gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu, Kav 34 Jakarta Selatan, Selasa (18/09/2012) kemarin.

Tak hanya Muhsin Labib, dalam acara yang diprakarsai oleh organisasi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal mendukung dugaan serupa,  bahwa fatwa dari MUI Jatim tentang kesesatan Syiah sebagai memicu kekerasan di Sampang.

Menurut Muhsin Labib, seharusnya sebelum MUI Jatim membuat sebuah fatwa, dijelaskan dulu mengenai fatwa tersebut dan harus ada keterbukaan kepada semua pihak.

Tidak hanya menduga, Muhsin juga menilai bahwa orang yang anti Syiah bisa menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia.

“Orang yang anti Syiah adalah orang yang esktrimis dan menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia,” tandas pria lulusan Qom, Iran ini.

PWNU dan Ulama Madura

Sebelum ini, dalam tulisan kolomnya berjudul “License to Kill” di Sindo WEEKLY, no. 27 tahun I, 6 September-12 September 2012, ia juga menuduh NU, Muhammadiyah dan ulama Madura yang tergabung dalam Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) sebagai biang kerusuhan.

“Padahal sumber masalahnya adalah fatwa pensesatan aliran Syiah yang diterbitkan oleh MUI Jatim, MUI Sampang, sikap PWNU Jatim, PW Muhammadiyah Jatim, dan beberapa ulama yang tergabung dalam BASRA,” tulisnya.

Ia juga menilai, fatwa MUI telah menjadikan orang menjadi beringas.

“Tidaklah mengherankan, bila hanya karena fatwa sesat terhadap Syiah, ratusan manusia bisa berubah menjadi beringas dan tega melakukan kekerasan. Tanpa dasar pemaknaan berlebih tentang wewenang MUI tersebut, mustahil perbuatan biadab itu,” demikian tulisnya lagi.

MUI Jawa Timur terpengaruh ajaran teroris wahabi !!

E-mailCetakPDF

Terbunuhnya salah satu warga Syiah saat konflik Sampang pada 26 Agustus lalu, diduga penyebab utamanya berasal dari fatwa sesat Syiah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Dugaan ini datang dari Direktur Moderat Institute, Dr. Muhsin Labib.“Fatwa sesat MUI Jawa Timur telah menjadi license to kill atau sayembara pahala membunuh. Oleh masyarakat awam fatwa tersebut dianggap legalisasi untuk membunuh,” ungkapnya saat menjadi salah satu narasumber dalam peluncuran buku putih Syiah bertema“Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”bertempat di Gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu, Kav 34 Jakarta Selatan, Selasa (18/09/2012) kemarin.

Tak hanya Muhsin Labib, dalam acara yang diprakarsai oleh organisasi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Zainun Kamal mendukung dugaan serupa,  bahwa fatwa dari MUI Jatim tentang kesesatan Syiah sebagai memicu kekerasan di Sampang.

Menurut Muhsin Labib, seharusnya sebelum MUI Jatim membuat sebuah fatwa, dijelaskan dulu mengenai fatwa tersebut dan harus ada keterbukaan kepada semua pihak.

Tidak hanya menduga, Muhsin juga menilai bahwa orang yang anti Syiah bisa menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia.

“Orang yang anti Syiah adalah orang yang esktrimis dan menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia,” tandas pria lulusan Qom, Iran ini.

PWNU dan Ulama Madura

Sebelum ini, dalam tulisan kolomnya berjudul “License to Kill” di Sindo WEEKLY, no. 27 tahun I, 6 September-12 September 2012, ia juga menuduh NU, Muhammadiyah dan ulama Madura yang tergabung dalam Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) sebagai biang kerusuhan.

“Padahal sumber masalahnya adalah fatwa pensesatan aliran Syiah yang diterbitkan oleh MUI Jatim, MUI Sampang, sikap PWNU Jatim, PW Muhammadiyah Jatim, dan beberapa ulama yang tergabung dalam BASRA,” tulisnya.

Ia juga menilai, fatwa MUI telah menjadikan orang menjadi beringas.

“Tidaklah mengherankan, bila hanya karena fatwa sesat terhadap Syiah, ratusan manusia bisa berubah menjadi beringas dan tega melakukan kekerasan. Tanpa dasar pemaknaan berlebih tentang wewenang MUI tersebut, mustahil perbuatan biadab itu,” demikian tulisnya lagi.

Syiah meyakini adanya dua belas imam yang menjadi washi atau pewaris kenabian. Mereka adalah penjaga syariat Islam dan Hujjah Allah di muka bumi. Bagi Syiah, Imamah adalah masalah yang ushul dan barang siapa yang mendustakan para Imam maka ia seorang pendosa. Seandainya ia telah mengetahui dalil-dalil yang kuat soal Imamah tetapi tetap saja mendustakannya maka ia adalah pembangkang dan seandainya belum sampai ilmu kepadanya tentang imamah maka keadaannya kembali kepada Allah SWT. Bagi Syiah, saudara mereka yang Sunni tetaplah seorang muslim sebagaimana yang telah dikatakan oleh para Imam Ahlul bait.

SELASA (18/09/2012), bertempat di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Syiah telah meluncurkan buku putihnya yang berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama yang Muktabar” dan mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Dalam acara yang digagas oleh organisasi Syiah, Ahlulbait Indonesia (ABI), Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan.Menurut Muhsin Labib, perkataan itu diambil dari ucapan Gus Dur

.
Seorang Imam jelas memiliki kelebihan dibanding manusia biasa. Bukankah mereka para Imam adalah pewaris ilmu Rasulullah SAW. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa umat islam harus berpedoman pada Kitab Allah dan Ahlul bait agar tidak tersesat. Bukankah mereka para Imam Ahlul bait adalah orang-orang yang dikatakan Rasul selalu bersama Al Quran dan tidak akan berpisah. Lantas samakah para Imam dengan orang biasa. Ooooh saya baru ingat kalau salafi nasibi tidak pernah mau mengakui hadis tsaqalain yang mewajibkan umat islam berpegang teguh pada Al Quran dan ahlul bait.Para Imam Ahlul Bait memiliki keutamaan yang tinggi, tetapi sayang sekali hal ini hanya diakui oleh Syiah saja sedangkan ahlussunnah tidak mengakui kelebihan para Imam Ahlul Bait

.

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Menurut Dr. Dinar Dewi Kania, salah satu peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS), esoteris merupakan aspek batin yang tidak ada hubungannya dengan ibadah atau ritual agama. Sedangkan eksoterik merupakan aspek lahir yang berhubungan dengan ritual atau agama.

“Dalam ajaran pluralisme, orang boleh berbeda dalam level eksoterik (ritual atau ibadah) tapi sebenarnya saat di level esoteris, ia sama-sama menuju satu Tuhan yang sama,” ujarnya

yayasan Iran Khordad pimpinan Hassan Sane’i tawarkan uang 3,3 juta dollar AS (Rp 31 miliar) bagi siapa saja yang berhasil membunuh Salman Rushdie

Anda Ingin Berburu Rp 31 Milyar? Hadiah Pembunuhan Salman Rushdie dinaikkan!

Masih ingat Salman Rushdie?  Entah karena merasa sepaham dengan pembuat film “Innocence of Muslim” Sam Bacile yang kini menuai kutukan umat Islam seluruh dunia atau dirinya merasa film itu diilhami pemikirannya atau bahkan karena kebetulan, pada Selasa malam 18/09 dihadapan sekitar 400 penggemarnya Rushdie berani nongol di depan publik dan berbicara di New York Barnes & Noble store kota New York terkait peluncuran buku memoarnya yang diberi judul , “Joseph Anton.”

Apakah nama Joseph Anton itu nama lain Rushdie? Yang pasti buku terbaru Rushdie mengisahkan perjalanan hidupnya yang mengalami ketakutan pada tahun-tahun persembunyiannya setelah Pemimpin Tertinggi Iran waktu itu  Ayatullah Khomeini pada tahun 1987 mengeluarkan fatwa hukuman mati untuk dirinya akibat karya novelnya yang diberinya judul “The Satanic Verses” berisi pelecehan dan  penghinaan kepada Nabi Muhammad saw.

Tampaknya kutukan terhadap Rushdie yang kini berusia 65 tahun bukannya berkurang malah semakin menggunung terkait gelombang protes terhadap film “Innocence of Muslim” yang terjadi di belahan dunia Islam, bahkan sebuah yayasan Iran Khordad  pimpinan Hassan Sane’i,  meningkatkan hadiahnya dari 2,8 juta dollar AS (Rp 26,4 miliar) menjadi 3,3 juta dollar AS (Rp 31 miliar) bagi siapa saja yang berhasil membunuh penulis Inggris asal India tersebut.  surat kabar Iran melaporkan.

Menurut Sane’i, film yang menghina Kanjeng Nabi Muhammad saw seperti “Innocence of Muslims” mustahil ada jika Rushdie tak bertindak bodoh karena film tersebut dimungkinkan pengilhamannya dari karya Rushdie dan dia sudah bisa dibereskan.

“Ini waktu paling tepat untuk membunuhnya,” kata Sane’i kepada media Iran seperti dikutip AFP, Minggu (16/9).

Meskipun kementerian luar negeri Iran telah meyakinkan Inggris bahwa negara tersebut tak akan melakukan apa pun untuk menerapkan fatwa tersebut, namun pada Januari 2005, pemimpin tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan kembali bahwa Rushdie dianggap murtad yang pembunuhan terhadapnya “dapat dibenarkan.”

Luncurkan Buku Putih Mazhab Syiah DPP ABI Hadirkan Qurais Syihab

Bertempat di Graha Sucofindo Jalan Pasar Minggu Kav.34, Jakarta Selatan, Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia meluncurkan buku putih Mazhab Syiah dalam seminar sehari bertema “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” Selasa (18/9).

Dihadiri sekitar 500 peserta, acara peluncuran buku Mazhab Syiah dan seminar tersebut DPP ABI mengundang Bapak Quraish Syihab sebagai keynote speaker. Usai menyampaikan ceramahnya Quraish Syihab menerima pemberian cendera mata dari Ketua Umum DPP ABI Sayyid Hassan Alaydrus.

Quraish Syihab menuturkan yang harus difahami adalah pandangan mazhab berbeda dengan pandangan seseorang sebagai ulama apalagi kaum awam. Pandangan seorang Ulama belum merepresentasikan pandangan mazhab.

Sementara itu seminar yang bertema “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” yang dimoderatori oleh Ustadz Abdullah Beik menghadirkan Ketua Dewan Masjid Indonesia yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama NU Masdar Farid Mas’udi,  Ketua STFI Sadra dan Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia  Umar Shahab, Zainun Kamal Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Pendiri Moderate Institute dan Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia Muhsin Labib

Umar Shahab sebagai pembicara pertama menilai secara kultur syiah dan sunnah  tidak memiliki resistensi  karena sama-sama mencintai keluarga Nabi Muhammad saw, mengenal tawasul, ziarah kubur dan lain-lain, bahkan syiah Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia yang memiliki akar kebangsaan dan berkenegaraan tidak memiliki resistensi karena syiah Indonesia cinta kepada Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 dan ABI sebagai lembaga representative syiah Indonesia menjamin hal itu.

Muhsin Labib berpandangan kesamaan syiah dan sunnah sama-sama mengenal tasawuf dan harusnya tasawuf bisa saja difahami sebagai modus taqiyahnya syiah atau bahkan modus lain taqiyahnya sunnah. Esoterisme pada NU sebagai  ormas Islam terbesar di Indonesia bermula dari esoterisme syiah, sementara itu NUdilihat sisi eksoterismenya bermazhab Sunnah Syafi’iyah. Lebih lanjut Muhsin Labib menyampaikan syiah itu gradual, jadi siapapun yang pemikirannya sebagaimana dalam prinsip-prinsip syiah bisa disebut sebagai syiah, makanya syiah tidak mengenal seragam. Berkenaan dengan konsep wilayatul faqih yang sering disalah tafsirkan, Muhsin Labib menyampaikan bahwa hubungan konsep tersebut dengan syiah Indonesia adalah hubungan keagamaan. Jadi tidak bisa dinilai atau dicurigai sebagai gerakan transnasional. Muhsin Labib juga menghimbau kepada muslim syiah Indonesia selayaknya mengetahui hirarki kompetensi, dan ketika seseorang bertanya dengan bentuk pertanyaan “bagaimana hukumnya atas sesuatu”?, maka bisa dipastikan dia hanyalah ban putih, dan selayaknya bentuk pertanyaannya adalah “bagaimana hukumnya menurut marja’ fulan atas sesuatu?”, agar tak terjadi orang-orang yang tak memiliki kelayakan bertindak sebagai orang yang seolah-olah mampu menjelaskan perkera-perkara agama.

Menurut Masdar Mas’ud bahwa orang yang secara simplistic sebagai kafir seharusnya menjadi alat bukti bahwa kita sudah menjadi yang terbaik atau belum. Sebagaimana Muhsin Labib, Masdur Mas’ud juga menilai titik temu syiah dan sunnah diantaranya pada sisi esoterisme.

Pembicara lain, Guru Besar UIN Jakarta Prof Dr Zainun Kamal pun memberikan pandangannya. Saat dirinya berkunjung ke Sampang, hakim memvonis terdakwa dan menyatakan Syiah itu menyimpang,

“Tidak tahu tentang Islam, tapi sudah memvonis. Kemudian saya jelaskan apa itu Islam,” kata Zainun.

Ia juga menjelaskan kepada hakim kasus Tajul Muluk perbedaan Syiah di dalam Islam.

“Syiah adalah aliran tertua dalam Islam. Islam masuk secara terbuka, dan Islam masuk ke Indonesia secara damai,” katanya.

Zainun menduga fatwa-fatwa dari majelis ulama soal Syiah ajaran sesat inilah yang memicu kekerasan terhadap penganut Syiah.

Menurutnya, sebelum MUI membuat sebuah fatwa, dijelaskan dulu mengenai fatwa tersebut dan harus ada keterbukaan kepada semua pihak.

“Seharusnya sudah ada keterbukaan untuk berbicara mengenai agama. Sekarang adalah berbicara tentang hati. Kalau kita mikirin Islam agama yang terbaik, kita kenapa takut?” tanya Zainun.

Berkenaan dengandengan peluncuran Buku Putih Mazhab Syiah Perwakilan Ahlulbait Indonesia Safinuddin melalui rilisnya, sejak tragedi Sampang, 29 Desember 2011, rentetan pemberitaan mengenai Syiah telah menjadi suatu polemik bermuatan politik dan kekerasan wacana.

“Untuk itulah, diperlukan upaya mengembalikan diskursus ini pada ciri dasarnya, yakni perbincangan ilmiah untuk diserahkan kepada segenap pengguna berita dan informasi dalam menyikapinya secara wajar melalui akal sehatnya masing-masing,” ujar Safinuddin.

Telah Terbit Buku Putih Mazhab Syiah (menurut Ulama Syi’ah Mu’tabar)

Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut konfirmasi ke Kantor Ahlulbait Indonesia. Telp. 021- 750 1953 atau 081314546497 (sms center)

RABU, 19 SEPTEMBER 2012 17:06 ADMINISTRATOR
EmailCetakPDF

Masyarakat Muslim Syiah kerap menjadi sasaran kekerasan dari sejumlah kelompok akibat masalah perbedaan Mazhab ini. Menjawab tuduhan sejumlah pihak yang menyebut Syiah bukan mazhab Islam, organisasi Ahlul Bait Indonesia meluncurkan buku putih.Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

Menurut Hasan, sampai hari ini selalu muncul pejuang sektarian yang mengatasnamakan kelompok tertentu dan mengkafirkan kelompok lain. Hal tersebut sangat disayangkan.

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkn Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Al Quran (PSQ), Quraish Shihab mengatakan acara peluncuran buku putih ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun pemahaman dan kesatuan di antara umat muslim Indonesia. Sebab menurutnya, tidak akan ada persatuan tanpa saling memahami.

“Ada dua acara, pertama peluncuran buku putih dan membicarakan kesepahaman menuju persatuan. Dua acara ini menyatu , tidak ada persatuan tanpa adanya kesepahaman. Tidak ada kesepahaman kalau kita tidak memahami diri kita dan orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, semua ulama Islam sepakat untuk tidak mengkafirkan orang lain. Ada perkembangan pemikiran termasuk keagamaan yang mempengaruhi banyak faktor sehingga semua mazhab apapun pasti telah tejadi perubahan-perubahan sedikit atau banyak. “Ada perkembangan pemikiran. Kita harus membedakan pendapat ulama dengan pendapat orang awam,” imbuhnya.

“Salah satu masalah adalah anda mengambil pendapat-pendapat satu kelompok kemudian menyangka bahwa itu adalah suatu kelompok yang lain lalu atas atas dasarnya anda menyesatkan kelompok yang lain. Ini karena tidak faham. Saya lihat di sisi sunnahpun begitu. Semua sepakat bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mengutip pendapat Imam Ghazali Prof. Quraish menegaskan “Kalau seandainya anda mendengar kalimat yang diucapkan oleh seseorang dan sekelompok orang lainnya 99% diantaranya menunjukkan bahwa yang bersangkutan kafir, namun masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia.” jelas mantan Menteri Agama ini.

Dalam peluncuran buku itu, hadir pula sejumlah cendekiaan muslim seperti Prof Dr Masdar F Mas’udi (Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU), Prof Dr Zainun Kamal (Guru Besar UIN Jakarta), Prof Dr Irman Putra Sidin (Pakar Hukum Tata Negara), Umar Shahab (Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait), dan Muchsin Labib.

“Kami meyakini ada grand design bahwa Syiah harus dilarang di Indonesia. Segala upaya dilakukan.Pertama lewat buku dan tulisan yang sifatnya provokatif. Kedua, melalui pengajian dan seminar di kampus. Ketiga, mencari pijakan yang kuat dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, dan Kejaksaan.” Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia


KAMIS, 20 SEPTEMBER 2012 17:37 ADMINISTRATOR
EmailCetakPDF

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat.Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini  tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Syiah telah lama berada di Indonesia, jika kita tidak menerima itu berarti tidak menerima fakta sejarah. “Syiah di Indonesia ini berbaur, kita bisa saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Syuro IJABI, Jalaludin Rakhmat, juga menegaskan jika persepsi dan pandangan masyarakat soal syiah karena kesalahpamahan.

“Jadi ada beberapa kesalahpahaman soal Syiah, diantaranya Syiah disebutkan mencaci sahabat, Syiah melaknat sahabat, itu yang dituduhkan, jika ada wktu kita akan buktikan jika tuduhan itu keliru, sekarang ini memang ada upaya-upaya memecah belah Sunni-Syiah secara global, nasional dan internasional,” tegas Kang Jalal.

ada grand design “wahabi dan AS” bahwa Syiah harus dilarang di Indonesia. Segala upaya dilakukan

“Kami meyakini ada grand design bahwa Syiah harus dilarang di Indonesia. Segala upaya dilakukan.Pertama lewat buku dan tulisan yang sifatnya provokatif. Kedua, melalui pengajian dan seminar di kampus. Ketiga, mencari pijakan yang kuat dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, dan Kejaksaan.” Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia

Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut konfirmasi ke Kantor Ahlulbait Indonesia. Telp. 021- 750 1953 atau 081314546497 (sms center)

RABU, 19 SEPTEMBER 2012 17:06 ADMINISTRATOR
EmailCetakPDF

Masyarakat Muslim Syiah kerap menjadi sasaran kekerasan dari sejumlah kelompok akibat masalah perbedaan Mazhab ini. Menjawab tuduhan sejumlah pihak yang menyebut Syiah bukan mazhab Islam, organisasi Ahlul Bait Indonesia meluncurkan buku putih.Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

Menurut Hasan, sampai hari ini selalu muncul pejuang sektarian yang mengatasnamakan kelompok tertentu dan mengkafirkan kelompok lain. Hal tersebut sangat disayangkan.

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkn Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Al Quran (PSQ), Quraish Shihab mengatakan acara peluncuran buku putih ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun pemahaman dan kesatuan di antara umat muslim Indonesia. Sebab menurutnya, tidak akan ada persatuan tanpa saling memahami.

“Ada dua acara, pertama peluncuran buku putih dan membicarakan kesepahaman menuju persatuan. Dua acara ini menyatu , tidak ada persatuan tanpa adanya kesepahaman. Tidak ada kesepahaman kalau kita tidak memahami diri kita dan orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, semua ulama Islam sepakat untuk tidak mengkafirkan orang lain. Ada perkembangan pemikiran termasuk keagamaan yang mempengaruhi banyak faktor sehingga semua mazhab apapun pasti telah tejadi perubahan-perubahan sedikit atau banyak. “Ada perkembangan pemikiran. Kita harus membedakan pendapat ulama dengan pendapat orang awam,” imbuhnya.

“Salah satu masalah adalah anda mengambil pendapat-pendapat satu kelompok kemudian menyangka bahwa itu adalah suatu kelompok yang lain lalu atas atas dasarnya anda menyesatkan kelompok yang lain. Ini karena tidak faham. Saya lihat di sisi sunnahpun begitu. Semua sepakat bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mengutip pendapat Imam Ghazali Prof. Quraish menegaskan “Kalau seandainya anda mendengar kalimat yang diucapkan oleh seseorang dan sekelompok orang lainnya 99% diantaranya menunjukkan bahwa yang bersangkutan kafir, namun masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia.” jelas mantan Menteri Agama ini.

Dalam peluncuran buku itu, hadir pula sejumlah cendekiaan muslim seperti Prof Dr Masdar F Mas’udi (Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU), Prof Dr Zainun Kamal (Guru Besar UIN Jakarta), Prof Dr Irman Putra Sidin (Pakar Hukum Tata Negara), Umar Shahab (Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait), dan Muchsin Labib.

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2012 17:37 ADMINISTRATOR
EmailCetakPDF

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat.Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini  tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Syiah telah lama berada di Indonesia, jika kita tidak menerima itu berarti tidak menerima fakta sejarah. “Syiah di Indonesia ini berbaur, kita bisa saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Sementara, Ketua Dewan Syuro IJABI, Jalaludin Rakhmat, juga menegaskan jika persepsi dan pandangan masyarakat soal syiah karena kesalahpamahan.

“Jadi ada beberapa kesalahpahaman soal Syiah, diantaranya Syiah disebutkan mencaci sahabat, Syiah melaknat sahabat, itu yang dituduhkan, jika ada wktu kita akan buktikan jika tuduhan itu keliru, sekarang ini memang ada upaya-upaya memecah belah Sunni-Syiah secara global, nasional dan internasional,” tegas Kang Jalal.

NU Kembali Tegaskan Syiah Bukan Aliran Sesat

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2012 17:12 ADMINISTRATOR
EmailCetakPDF

Di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan Syiah bukanlah aliran sesat. Banyaknya masyarakat yang masih merujuk pada pendapat-pendapat lama mengenai Syiah dan membantah informasi yang bertentangan dengan pendapat mereka memicu konflik agama.

“Merujuklah pada pendapat-pendapat kelompok ulama yang benar-benar ulama,” kata Rois Syuriah Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU) Prof. Dr. Masdar F Mas’udi, dalam acara peluncuran dan kajian “Buku Putih Mizhab Syiah” diluncurkan, hari ini.

Masdar khawatir, keberagaman di Indonesia menjadi perbedaan pendapat yang muncul terkait aliran Syiah. Menurutnya, semua pihak harus kembali kepada kesepakatan dan harus mampu menjelaskan kepada masyarakat, terutama orang-orang awam yang kurang mengerti Islam dan komunitas Syiah.

“Di Indonesia, ini menjadi sebuah negeri yang seluruh keyakinan atau fahamnya ada di sini,” ujar  Masdar.

Masdar pun mengatakan, di dalam tradisi agama Islam nusantara, faktanya adalah tradisi keagamaan itu sebagian asal usulnya dari Syiah.

Menurut Masdar, Islam berkembang di nusantara dengan adanya banyak kalangan dan kelompok. Seluruh faham, pandangan, dan ideologi, semuanya dapat dengan mudah diakses di dalam Islam.

“Tapi kemudian muncullah sekelompok orang yang merasa agamanya yang paling benar, terjadliah konflik dan pertumpahan darah,” ujarnya.

Masdar menyarankan permasalahan kesalahpahaman ini ditinjau secara objektif. Ia juga berharap umat Islam bukan umat yang bodoh karena tidak sanggup belajar dari orang lain.

Dia menambahkan pluralisme tidak bisa dihindari di dalam kehidupan masyarakat untuk memahami agama. Masing-masing kelompok agama mempunyai pendukung masing-masing dan kekuasaan yang berbeda-beda, sehingga muncul terjadinya perang.

Dr. Muhsin Labib, MA, salah satu cendikiawan muslim mengatakan yang perlu diperjelas adalah ideologi Syiah yang dikaitkan dengan revolusi Islam di Iran, sehingga hal ini tidak menjadi sebuah benturan dan perbedaan. Di Indonesia, kita terlihat adanya upaya melunturkan komunitas Syiah. “Jangan  sampai orang-orang di luar Syiah menganggap kita eksklusif,” ujar Muhsin.

Imam Shadiq menegaskan peran Ahlul Bait Rasulullah dalam pemahaman dan penafsiran al-Quran, namun beliau syahid diracuni Khalifah Mansur

Mengenal Imam Ahlul Bait as:
 Imam Shadiq, Ufuk Kecemerlangan
Imam Shadiq menegaskan peran Ahlul Bait Rasulullah dalam pemahaman dan penafsiran al-Quran. Beliau juga menyerukan umat Islam untuk menyelami lautan penegetahuan yang terkandung dalam al-Quran. Imam menjelaskan makna dan tafsir yang jelas mengenai imamah dan mengajak manusia untuk mengenal imam zamannya.

 

 

 Imam Shadiq, Ufuk Kecemerlangan

Imam Jakfar Shadiq as dilahirkan pada hari Jumat, 17 Rabiul Awal 83 H di kota Madinah, dan beliau syahid pada 25 Syawal 148 H. Ayah Imam Shadiq adalah Imam Muhammad al-Baqir as. Lembaran sejarah kehidupan beliau merupakan periode yang dipenuhi berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Perebutan kekuasaan antara Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiah memicu beragam problematika sosial dan politik di tengah masyarakat.

Di luar gejolak politik yang panas, ketika itu berbagai pemikiran merasuki masyarakat Islam. Umat Islampun menyambut berbagai gelombang pemikiran dan budaya asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Bersamaan dengan berkembangannya pengajaran berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti kedokteran, astronomi, fisika, matematika dan disiplin ilmu lainnya, umat Islampun menyerap berbagai ideologi pemikiran dari luar, termasuk yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam situasi dan kondisi demikian, Imam Shadiq tampil meluruskan keyakinan umat Islam yang telah menyimpang melalui berbagai kajian ilmiah seperti diskusi dan debat ilmiah. Beliau menunjukkan kelebihan Islam dibandingkan berbagai aliran pemikiran dengan argumentasi dan logika yang kokoh.

Ketidaklayakan para khalifah Bani Abbasiah dan rendahnya komitmen mereka terhadap Islam, serta ketidakpeduliannya terhadap kepentingan rakyat, menimbulkan kekacauan di kalangan masyarakat Islam. Saat itu, pemikiran ateisme tersebar luas di tengah masyarakat, sementara para mubaligh pun kebanyakan hanya menjadi juru bicara pemerintah. Khalifah Bani Abbasiah yang tidak berbeda dengan bani Umayah, hanya memanfaatkan agama untuk mencapai tujuannya. Dengan gerakan yang jelas dan terarah, Imam Shadiq as memurnikan keyakinan dan pemikiran Islam dari penyimpangan yang berkembang di masyarakat kala itu. Beliau menjawab berbagai keraguan masyarakat tentang agama dan menjelaskan pokok-pokok penting pengetahuan agama dan ilmu-ilmu al-Quran dengan metode ilmiah.

Imam Shadiq as mendidik murid-murid besar di antaranya Hisyam bin Hakam, Muhammad bin Muslim dan Jabir bin Hayan. Sejarah menyebutkan bahwa murid-murid Imam Shadiq as mencapai 4000 orang. Sebagian dari mereka memiliki berbagai karya ilmiah yang tiada tara di zamannya. Misalnya Hisyam bin Hakam menulis 31 buku. Jabir bin Hayan menulis lebih dari 200 buku dan pada abad pertengahan, karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa. Mufadhal juga merupakan salah satu murid terkemuka Imam Shadiq as yang menulis buku “Tauhid Mufadhal”.

Imam Shadiq memainkan peran penting dalam gerakan pemikiran dan budaya al-Quran. Beliau juga mengajarkan dengan baik kedudukan Ahlul Bait Rasulullah sebagai imam umat Islam. Imam mengajak manusia untuk merenungi ayat al-Quran. Terkait hal ini, Imam Shadiq berkata, “Quran merupakan cahaya petunjuk seperti pelita di malam hari. Maka orang-orang yang berpikir harus mengkajinya dengan teliti.”

Ketika al-Quran berada di tangannya, Imam Shadiq dalam sebuah munajat dan doa memohon kepada Allah swt, “Ya Allah aku bersaksi bahwa al-Quran adalah dari-Mu yang turun kepada Rasulullah. Al-Quran adalah kalam-Mu yang disampaikan Rasulullah. Ya Allah, jadikanlah memandang Quran sebagai ibadah, dan terimalah bacaanku dan tafakurku. Engkau Maha Rahman dan Rahim.” (Bihar al-Anwar jilid 82 hal, 207)

Imam Shadiq menegaskan peran Ahlul Bait Rasulullah dalam pemahaman dan penafsiran al-Quran. Beliau juga menyerukan umat Islam untuk menyelami lautan penegetahuan yang terkandung dalam al-Quran. Imam menjelaskan makna dan tafsir yang jelas mengenai imamah dan mengajak manusia untuk mengenal imam zamannya.

Khalifah Abbasiah melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan kedudukan Imam Shadiq di mata masyarakat. Dengan beragam cara liciknya mereka berusaha mendekati Imam Shadiq as. Suatu hari penguasa Abbasiah Mansur Dawaniqi dalan surat yang dilayangkan kepada Imam Shadiq menulis, “Mengapa tidak mengunjungi majlis kami seperti kebanyakan orang lain ?” Imam Shadiq menjawab, “Kami tidak mengkhawatirkan kehilangan dalam urusan duniawi sehingga kami harus takut kepadamu. Dalam urusan spiritual tidak ada yang bisa aku harapkan darimu.”

Mansur dalam surat balasannya menulis, “Kemarilah, nasihatilah kami !” Imam Shadiq yang mengetahui motif busuk Mansur memjawab, “Pencinta dunia yang takut kehilangan dunianya tidak akan menasehatimu, dan orang yang mengharapkan akhirat tidak akan mendatangi orang sepertimu.” (Ushul Kafi jilid 1)

Imam menggunakan lisan dan tulisan dalam perlawanan menghadapi penguasa lalim. Sejarah membuktikan, jika beliau memiliki pasukan yang kuat dan pemberani, tentu saja manusia mulia itu akan mengangkat senjata menghancurkan rezim lalim di zamannya.

Setiap kali ada kesempatan, Imam Shadiq as selalu melakukan perlawanan terhadap pemimpin zalim dengan senjata ilmu dan penanya. Imam berkata, “Barang siapa yang memuji pemimpin zalim dan tunduk di hadapannya agar mendapatkan keuntungan dari pemimpin tersebut, maka ia akan berada dalam kobaran api neraka bersama pemimpin zalim itu”. Di luar itu, Imam Shadiq melihat lemahnya pemikiran dan budaya umat Islam sebagai prioritas perjuangannya. Untuk itulah beliau memfokuskan dakwahnya untuk memperkuat keyakinan keagamaan umat Islam.

Abu Hanifah, pemimpin mazhab Hanafi mengungkapkan kalimat indah tentang keagungan Imam Shadiq as. Abu Hanifah sendiri merupakan cendekiawan yang terkenal di masa itu. Suatu hari Khalifah Mansur yang begitu dengki dengan keagungan Imam Shadiq as mengusulkan kepada Abu Hanifah untuk menggelar ajang debat dengan Imam Shadiq. Khalifah meminta Abu Hanifah merancang pertanyaan yang sulit sehingga dengan cara itu pamor Imam Shadiq as diharapkan akan turun ketika tak bisa menjawabnya.

Abu Hanifah mengatakan, “Aku telah siapkan 40 pertanyaan yang sulit kemudian aku menemui Mansur. Saat itu Imam Shadiq as juga berada dalam pertemuan tersebut. Ketika melihatnya aku begitu terpesona hingga aku tidak bisa menjelaskan perasaanku di waktu itu. 40 masalah aku tanyakan kepada Jakfar bin Muhammad. Beliau menjelaskan masalah tersebut tidak hanya dari pandangannya sendiri namun ia mengungkapkan pandangan berbagai mazhab. Di sebagian masalah ada yang sepakat dengan kami dan sebagian bertentangan. Terkadang beliau menjelaskan pula pandangan yang ketiga. Ia menjawab 40 soal yang aku tanyakan dengan baik dan terlihat sangat menguasainya hingga aku sendiri terpesona oleh jawabannya. Harus kuakui, tidak pernah kulihat orang yang lebih faqih dan lebih pandai selain Jakfar bin Muhammad. Selama dua tahun aku berguru padanya. Jika dua tahun ini tidak ada, tentu aku celaka”.

Khalifah Mansur pun merasakan posisinya makin terancam. Lalu, ia meracuni Imam Shadiq as hingga akhirnya beliau gugur syahid pada 25 Syawal 148 H.

Di akhir acara ini, kita mengambil berkah dari petuah mulia Imam Shadiq. Beliau berkata,”Muslim yang mengenal kami (Ahlul Bait) adalah orang yang ilmunya bertambah setiap hari, dan selalu melakukan introspeksi dirinya. Ketika melihat kebaikan, ia selalu meningkatnya. Namun ketika melihat dosa ia memohon ampunan supaya terjaga di hari kiamat.”

wahabi berusaha sekuat tenaga merebut posisi strategis di tengah tengah masyarakat maupun di jajaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Wahabi selama ini telah banyak menghancurkan  dan merobohkan temapat tempat bersejarah islam di Hijaz

Wahabi meratakan kuburan kuburan para auliya dan sahabat sahabat Nabi SAW

Pada zaman Rasul SAW pada waktu fathul Makkah yang dihancurkan adalah berhala berhala yang mengelilingi ka’bah

Wahabi telah melakukan bid’ah besar besaran dengan tidak menghormati para sahabat dan ahlulbait Nabi SAW

Syi’ah bela sikap NU terkait Saudi Bakal Hancurkan Makam Nabi dan Sahabat

Jakarta, NU Online

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40547-lang,id-c,internasional-t,Saudi+Bakal+Hancurkan+Makam+Nabi+dan+Sahabat-.phpx

Internasional
Saudi Bakal Hancurkan Makam Nabi dan Sahabat

Selasa, 30/10/2012 17:36

Pemerintah Saudi Arabia berencana menghancurkan situs penting Islam  meliputi masjid Nabawi di Kota Madinah dan beberapa situs penting lainnya.

Rezim Al Saud yang menguasai pemerintahan di Arab Saudi berencana menghancurkan tiga masjid tertua di dunia dalam ekspansi multi miliar pound, dalam sebuah laporan yang dikutip Fars News, Ahad (28/10/2012).

Masjid Nabawi di Madinah, di mana Rasullulah Muhammad dimakamkan, akan dihancurkan bulan depan usai musim haji tahun ini. Rencananya, pembangunan itu akan mengubah masjid Nabawi menjadi gedung terbesar di dunia, dengan kapasitas 1,6 juta orang.

Rencana Saudi untuk meruntuhkan situs sejarah Islam yang paling dihormati oleh muslimin di dunia itu tentu saja amat mengejutkan.

Menurut rencana, sebagian besar perluasan Masjid Nabawi akan diperlebar sisi Barat masjid, yang di sana berada makam pendiri Islam dan dua khalifah pertama Islam Abu Bakar dan Umar.

Menurut Kementerian Urusan Islam Saudi Arabia yang menerbitkan sebuah pamflet tahun 2007 silam dan disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh, bahwa penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh.

Dr Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Warisan Islam (Islamic Heritage Research Foundation) mengatakan sudah 10 kegiatan tahunan terkait perusakan situs Islam di Arab Saudi.

“Membisunya kaum Muslimin atas penghancuran Mekkah dan Madinah adalah bencana dan kemunafikan terbesar,” tegasnya.

“Film tentang pelecehan Nabi Muhammad jadi protes di seluruh dunia, tapi penghancuran tempat kelahiran Nabi, dimana Rasulullah Saw berdoa dan mendirikan Islam justru dibiarkan hancur tanpa kritik apa pun,” pungkasnya.

Wakil Ketua PBNU Himbau Untuk Waspadai Aliran Wahabi

Wakil Ketua PBNU Himbau Untuk Waspadai Aliran Wahabiselain masjid-masjid, sekolah-sekolah juga menjadi garapan gerakan Wahabi untuk menancapkan ajarannya.

Wakil PBNU Menghimbau akan Bahaya Wahabi yang Mengancam Keutuhan NKRI, Lebih lanjut dikatakan, Gerakan Wahabi selain membid’ahkan amaliyah warga nahdliyyin (NU), juga berusaha sekuat tenaga merebut posisi strategis di tengah tengah masyarakat maupun di jajaran eksekutif, legsislatif maupun yudikatif.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali meminta kepada segenap pengurus dan warga NU untuk mewaspadai gerakan Wahabi di lingkungan masing-masing.

Dirinya menengarai, saat ini gerakan Wahabi tidak masuk di tengah-tengah masyarakat saja, akan tetapi telah masuk ke jajaran pemerintah, sehingga pemerintah nampaknya tidak berdaya menghadapinya.

Hal tersebut dikatakan wakil ketua umum PBNU saat berdiskusi dengan jajaran Pengurus Cabang NU Kota dan Kabupaten Pekalongan, Ahad sore kemarin (25/3) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Lebih lanjut dikatakan, Gerakan Wahabi selain membid’ahkan amaliyah warga nahdliyyin, juga berusaha sekuat tenaga merebut posisi strategis di tengah tengah masyarakat maupun di jajaran eksekutif, legsislatif maupun yudikatif.

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada warga nahdliyyin melalui pengurus NU di semua tingkatan untuk merapatkan barisan dengan cara memberikan pencerahan secara rutin kepada warga nahdliyyin tentang amaliyah yang diajarkan oleh para ulama NU bukan merupakan perbuatan bid’ah.

Dan yang lebih penting, menurut As’ad, adalah memberikan pengertian secara komprehensif kepada warga NU tentang bahaya gerakan Wahabi baik bagi Nahdlatul Ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, dalam sesi dialog salah satu peserta meminta kepada PBNU untuk kembali mempertegas gerakan NU sebagaimana yang tercantum dalam Mukadimah Qonun Asasi yang dibuat oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama, dengan cara ini NU akan bisa selamat dan warga nahdliyyin yang ada di bawah tidak ragu lagi untuk berbuat dan bertindak.

“Selama ini, PBNU belum melakukan aksi apapun, kecuali hanya wacana belaka, sementara di bawah gerarakan wahabi semakin mengkhawatirkan,” ujar Muhibbin.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan Drs. H. Ahmad Marzuki. Dikatakan, warga nahdliyyin di Pekalongan dan sekitarnya mulai resah atas sikap dan gerakan Wahabi, akan tetapi sampai saat ini belum ada petunjuk apapun dari PBNU, bagaimana NU di cabang harus bersikap dalam menghadapi gerakan ini.

Kaum Wahaby menghancurkan kuburan-kuburan para Au`lia para sahabat, bahkan tempat-tempat bersejarah Islam seperti tempat Sayyidatina Khodijah sekarang ini dijadikan toilet Masjidil Haram, rumah kelahiran nabi akan pula dihancurkan, tetapi takut dengan dunia Islam, untuk mengelabuhi menjadikannya maktabah/perpustakaan, tetapi mengapa ditutup terus dan dijaga ketat oleh askar Sa`udy.

.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kemudian para sahabat, tabi`in dan seterusnya berabad-abad bangunan-bangunan itu dipelihara dengan baik, dan aman tidak dihancurkannya. Pada zaman Rosul pada waktu fatkhu Makkah yang dihancurkan adalah berhala berhala yang menglilingi Ka`bah. Mereka telah melakukan bid`ah besar-besaran dan berbahaya meskipun katanya mereka anti bid`ah.

 

Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas?

 

Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam.

Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya.

Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.

Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

mecca-bucks

Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

parking-area

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.

12

Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

ke

Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.

kabah

Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab. (sa/skpc/erm)

Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas

“Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, ” begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi – yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyukannya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah shalat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. “Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca, “ ujar Ahmad serius.

Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( http://www.abrajalbait.com ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.

Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat shalat yang luas.

Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyukannya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah shalat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

“Ini adalah akhir dari Makkah, ” kata Irfan Ahmad dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.

“Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, “ tukas Irfan.

Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.

Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.

Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.

“Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, “ kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.

“Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini, “ sambungnya.

Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.

Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.

“Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh lebih, lebih buruk lagi, ” kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)

 

MEGA PROYEK MECCA BUCKS

Sebuah Konspirasi Menghilangkan Jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!! 

Masjidil Haram 2020

Gambar:http://oxana.blogdetik.com

Sumber: http://swaramuslim.com/foto/more.php?id=6240_0_10_0_M

PERUBAHAN TEMPAT SA’IE ISU BESAR PERLU DIJELASKAN

Oleh: Abu Syafiq 006 012 2850578

sai1

Sebelum ini saya pernah menulis berkaitan perubahan yang berlaku pada tempat sa’ie (Mas’a) yang merupakan syiar Allah dalam beribadatan haji dan umrah. Pada tahun lepas kerajaan Saudi telah bertindak merobohkan tempat sa’ie yang lama (yang sah dinamakan Mas’a) kemudian dibina tempat sa’ie yang baru dan diperluaskan lagi lebarnya satu kali ganda sehingga terkeluar dari landasan ukuran lebar yang ditentukan oleh syarak (dinamakan Tausi’ah)tanpa meneliti kajian yang tepat hanya berdasarkan syubhah yang tertolak.

Pada masa yang sama kita dapati ramai dikalangan pelajar dan pengajar kurang mahir dalam pengkajian pada perubahan yang berlaku di tempat sa’ie lantas mereka tidak mengkaji secara telus hanya menyerah kepada jawapan atau fatwa yang dikeluarkan oleh mana-mana individu atau jabatan dan dukacita didapati beberapa jawapan yang mereka terima itu hakikatnya tidak berdasarkan kaedah feqhiyyah yang tepat bahkan lebih hampir kepada ianya bercanggah dengan Al-Quran, Al-Hadith, Ijma’ dan Qawa’id Fiqhiyyah itu sendiri. Alasan mereka yang mengharuskan perluasan tempat sa’ie dilihat hanya berkisarkan slogan “Memudahkan Jangan Menyusahkan”.

Amat memalukan mereka yang diperakui keilmuannya tidak mengikut disiplin ilmu dalam menuturkan satu hukum sehingga mengharuskan perluasan tempat sa’ie walaupun ianya adalah tawqify (ditetapkan syarak tidak boleh ijtihad).

Apapun berlaku seorang muslim harus merenung, memikirkan dan wajib bertindak dalam memelihari agama yang suci murni ini. Hadith Nabi yang masyhur: “ Sesiapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah ia dengan kuasanya jika tidak dengan lidahnya jika tidak mampu jua maka dengan hatinya ” dan perubahan pada pelebaran tempat sa’ie adalah satu jenayah yang tidak harus dibisukan. Bukan tidak menghormati pemerintah disana tetapi syarak lebih aula lagi utama untuk ditegakkan.

Saya kesal setelah beberapa rombongan haji pulang ke tanah air baru-baru ini ketika sempat saya bertanyakan kepada mereka berkaitan tempat sa’ie. Kebanyakan mereka mengatakan “kami melakukan sa’ie antara Sofa dan Marwah ditempat dan kawasan baru yang dibina dan diperluaskan itu”. Saya sangat sedih kerana perkara ini berkaitan peribadatan mereka sendiri lantas saya perjelaskan kepada mereka isu sebenar dan tindakan susulan bagi menjaga ibadah haji mereka. Bayangkan berapa juta manusia yang pergi haji dan umrah baru-baru ini? Sudah pasti ramai yang tidak tahu terus melakukan sa’ie ditempat yang baru itu. Allah!

Sudah pasti soalan yang timbul. Adakah haji dan umrah mereka tidak sah? Apakah tindakan sewajarnya? Jawapan ringkas yang saya boleh berikan adalah mereka yang melakukan ibadah haji atau umrah ketikama mana mereka melakukan sa’ie itu diluar kawasan sa’ie yang sahih maka hukum bersa’ie mereka itu tidak sah. Inilah yang telah dinaskan oleh Imam Asy-Syafi’e dan para ulama. Sekarang ini yang telah berlaku tempat sa’ie tersebut telah diperlebarkan sehingga terkeluar dari ukuran syarak dan ramai yang melakukan sa’ie dikawasan yang tidak sah itu setelah pemerintah disana memperlebarkan tempat sa’ie (mas’a) sehingga melebihi ukuran lebar syarak. Ada pula yang mendakwa kononnya lebar tempat sa’ie itu tidak pernah ditentukan oleh sesiapa pun lantas dinukilkan beberapa kenyataan para ulama tanpa tadqiq dan tahqiq.

Sedangkan hakikatnya lebar ukuran Sofa dan Marwah itu telah ditentukan oleh ramai ulama berdasarkan sejarah dan sabda Rasulullah sollallahu ‘alaihiwasallam antara mereka Imam An-Nahrawaniy (w 990H) dalam kitab Al-I’lam Bi ‘Alam Baitillihil Haram dan ulama Islam pengaji sejarah yang terkenal Al-Azroqy dalam Akbar Makkah dan lain-lain ulama.
Perlu diingatkan ukuran tempat sa’ie bukanlah perkara ijtihadiy tetapi ianya tauqifiy iaitu tidak boleh seseorang walaupun seorang ulama mujtahid mengubah tempat’ sa’ie tersebut atau diperluaskan sehingga keluasan yang amat besar sepertimana sekarang ini yang berlaku.

Untuk kali ini saya tinggalkan pembaca dengan keputusan Fatwa Saudi sendiri menolak perluasan tempat sa’ie itu sendiri :

KEPUTUSAN RASMI MAJLIS FATWA SAUDI ARABIA BERKAITAN PERLEBARAN TEMPAT SA’IE YANG BARU ITU ADALAH IANYA HARAM

DIPERLEBARKAN DAN MEMADAI DENGAN DIBINA BERTINGKAT TINGAT DAN JANGAN DIPERLUASKAN UKURAN LEBARNYA KERANA BERCANGGAH DENGAN SYARAK.

KEPUTUSAN BIL (227) BERTARIKH 22/ 2 1427H.

srt

srt1

………

* Walaupu ia fatwa dari negara yang terkenal disana akan kewujudan beberapa orang berfikrah kewahabiyatan mereka. Tetapi pada keputusan tersebut terdapat kebenaran yang telahpun lama jelas dikalangan para tokoh-tokoh ulama Islam yang telah lama mengkaji antaranya Tuan Guru Dr. Syeikh Toha Ad-Dasuqy yang merupakan juga Prof dan Dekan Qism Aqidah Wal Falsafah Kuliyyah Usuluddin Kaherah Universiti Al-Azhar Mesir dan ramai lagi. Fatwa tersebut hanya sekadar susulan sokongan pada kajian yang telah dibuat dan bukan mempersetujui aqidah Wahhabi. Maha suci Allah dari sifat makhluk dan sifat duduk.

Nantikan penjelasan isu penting ini lagi pada penulisan mendatang….

Penghancuran Situs-situs Sejarah Oleh Kaum Wahhabi Saudi

saudi-miras

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah pembangunan Bayt al-Maqdis di Yerusalem dan penghancuran Yatsrib (Madinah). Sebuah hadits dari Mu’âdz ibn Jabal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata (bahwa di antara tanda-tanda akhir zaman adalah), “Pembangunan kembali Bayt al-Maqdis, penghancuran Yatsrib dan penghancuran Yatsrib, munculnya pembantaian dan pertempuran dahsyat atau pertikaian berdarah, penaklukan Konstantinopel dan kemunculan Dajjal.

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menepuk paha Mu’âdz sambil berkata, “Sungguh, itu merupakan kebenaran, seperti halnya kenyataan bahwa kamu sedang duduk saat ini.”

yatsribKita mungkin akan berpikir bahwa untuk membangun Yerusalem (Al-Quds) berarti membangun gedung-gedung tinggi beserta tampilan peradabannya yang bisa kita saksikan saat ini, dan bahwa di Madinah tidak akan ada “peradaban” semacam itu.

Namun, di Madinah telah dibangun gedung-gedung tinggi, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel, terowongan-terowongan menuju masjid, dan perluasan masjid. Semua ini tampaknya bertolak belakang dengan hadits yang menyebutkan bahwa Madinah akan hancur.

Ketika kita cermati hadits itu lebih dalam, kita melihat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyebutkan bahwa seluruh kota Yerusalem akan dibangun, tetapi Bayt al-Maqdis akan diperbaiki. Al-Quds mencakup seluruh Yerusalem, dan Bayt al-Maqdis adalah kawasan suci tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke langit dalam rangka Isra’ dan Mi’raj.

Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mencakup seluruh bangunan di Yerusalem, seperti yang disebutkan dalam hadits, “pemugaran kembali Bayt al-Maqdis,” yang secara khusus menyebutkan bayt (rumah) untuk menekankan bangunan yang akan dipelihara dan dipugar, termasuk bangunan di sekelilingnya, seperti monumen dan benda-benda sejarah.

Kawasan tersebut telah dijaga selama berabad-abad, dan dipelihara dalam bentuknya yang asli.  Melalui pengetahuannya yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melukiskan peristiwa itu 1400 tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan terdahulu, situasi Madinah saat ini, dengan bangunan-bangunannya modern, tampak bertolak belakang dengan hadits yang menyebutkan bahwa Madinah akan mengalami penghancuran.

al-aqshaNamun, dengan pencermatan yang lebih saksama, kita mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus menyebutkan bahwa Yatsrib, bukan Madinah, akan dirusak.

Pernyataan Nabi yang sangat akurat itu mengungkapkan makna yang bisa dipahami dalam konteks modern. Yatsrib adalah kota Nabi tempat munculnya cahaya pengetahuan yang menyinari dunia. Ia merupakan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang pertama, dan sumber banyak prestasi para sahabat.

Kharâb Yatsrib berarti bahwa peradaban kota tua Madinah (yang dulu dikenal dengan nama Yatsrib) akan rusak. Dampaknya adalah bahwa segala peninggalan klasik dan tradisional dalam Islam akan dihancurkan pada masa-masa sebelum datangnya Kiamat.

PENGRUSAKKAN BANGUNAN MONUMENTAL ISLAM OLEH KAUM WAHHABI

Pengrusakkan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebarkan versi Islam dengan pemahaman yang dangkal, yang mendiskreditkan dan meremehkan tradisi-tradisi klasik. Kini, kita menyaksikan kemunculan sekelompok orang yang menentang setiap aspek Islam tradisional, Islam arus utama, yang telah dipelihara oleh umat Islam selama lebih dari 1400 tahun. Kelompok tersebut ingin mengubah seluruh pemahaman keagamaan dengan menawarkan Islam “modernis” mereka.

jabal-uhudOrang-orang tersebut merupakan kelompok minoritas di tubuh umat Islam.  Gagasan-gagasan mereka yang penuh penyimpangan telah disanggah dan ditolak dari berbagai sisi oleh para ulama Islam, seperti yang telah banyak ditulis orang. Tidak ada yang namanya Islam itu dimodernkan, diperbaiki, ataupun dibenahi.  Islam adalah agama yang sempurna, sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga Hari Kiamat.

Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan atasmu nikmatku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah 5:3)

Islam adalah pesan terakhir dan pastilah mampu mengakomodasi semua kehidupan manusia hingga akhir masa.  Islam dapat merangkul semua jenis kebudayaan tanpa sedikit pun menambah atau mengurangi makna Islam itu sendiri.  Oleh karena itu, tidak ada reformasi, renovasi, penambahan, atau pengurangan dalam Islam.

Sementara Islam sendiri tidak mengenal reformasi, orang-orang Islam sendiri-lah yang perlu mereformasi diri sehingga mereka dapat memahami dan melaksanakan Islam dengan benar.  Dalam kesempurnaannya, Islam mirip dengan bulan purnama: bulatnya tidak kurang dan tidak lebih.

Kharâb (Penghancuran) Yatsrib disebutkan 2 kali dalam hadits di atas. Kali pertama adalah penghancuran peradaban pengetahuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu pengrusakan agama dalam bentuk penyimpangan terhadap pesan-pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mereka (kaum Wahhabi) yang mengklaim diri sebagai “pembaharu Islam” berusaha menyuguhkan hal-hal baru untuk menggantikan dan menghapus hal-hal klasik dan tradisional dalam Islam.

Aliran Wahhabi inilah yang pertama kali mengajukan pemahaman yang sepenuhnya baru tentang Islam, dengan kedok “pemurnian” Islam.

Ideologi Wahhabisme ini telah merusak Islam tradisional atas nama “pemurnian” Islam, seakan-akan semua orang Islam sebelum munculnya Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb telah tersesat.

khandaq1Alih-alih membawa pemurnian, ia justru telah menghancurkan ilmu-ilmu dan praktik keislaman yang telah berakar selama berabad-abad. Semua hal yang telah diwariskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan generasi Islam sepeninggal beliau tiba-tiba dicap sebagai bentuk penyembahan berhala (syirik) yang harus dimusnahkan.

Orang-orang Islam yang melaksanakan ibadah haji dijejali dengan bahan-bahan bacaan dan propaganda mereka, sehingga para jemaah itu menganggap bahwa keyakinan dan praktik tradisional mereka bertentangan dengan Islam.  Sekte Wahhabi meragukan tradisi keilmuan yang telah berusia 1400 tahun, dan melontarkan tuduhan kufur, syirik, bidah, dan haram terhadap berbagai praktik dan pemahaman tradisional.

Kerusakan pertama yang menimpa Yatsrib adalah ketika Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb menghancurkan ilmu-ilmu “keislaman” dengan cara meracuni pemahaman orang-orang Islam terhadap agama mereka.

Ungkapan Kharâb Yatsrib yang kedua merujuk pada penghancuran fisik terhadap bangunan dan monumen yang berasal dari masa Nabi di Yatsrib, kota Madinah klasik. Di Madinah memang telah terjadi perluasan Masjidil Haram, tetapi kenyataan tersebut tidak bertolak belakang dengan ungkapan “Kharâb Yatsrib” karena hadits tersebut merujuk pada kota tua Madinah yang dikenal dengan Yatsrib, dan semua yang mewakilinya.

Segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan Nabi telah dipelihara oleh orang-orang Islam selama bertahun-tahun, apakah masjid tua, benda-benda sejarah, atau makam rasul, para sahabat, istri, dan anak-anaknya.

Meskipun orang-orang Islam selama berabad-abad sepakat bahwa situs-situs tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah dan tradisi Islam, semuanya dihancurkan oleh aliran Wahhabi dengan menggunakan dalih bahwa “semua itu bukan lagi Islam”.

Pemahaman mereka yang dangkal terhadap Islam mengakibatkan penghancuran sejumlah benda peninggalan sejarah dan monumen. Kharâb berarti “penghancuran,” tetapi kata ini juga bermakna peruntuhan.”

Memang, kantong-kantong tradisi klasik masih ada, dan hendak dibangun kembali oleh umat Islam, tetapi mereka tidak diperkenankan membangunnya kembali, sehingga yang tersisa hanyalah reruntuhan dan puing-puing bangunan.

Tidak ada lagi orang yang mengetahui lokasi kuburan para sahabat. Di Gunung Uhud dekat Madinah, kita bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang awalnya merupakan makam yang dilengkapi dengan kubah dan hiasan-hiasan indah. Dengan makam yang terlihat jelas, bangunan suci itu mengenang para sahabat yang gugur bersama Hamzah di Gunung Uhud.

Kini, hanya ada reruntuhan dinding yang diabaikan oleh para pengunjung.  Demikian pula halnya, sudah tidak ada lagi bekas-bekas yang menunjukkan makam para syuhada Badar. Juga, tidak ada lagi tanda kuburan istri Nabi, Khadîjah al-Kubrâ di Jannat al-Mu’ala, Mekah.

Di Jannat al-Baqî’ (permakaman yang bersebelahan dengan makam dan Masjid Nabi di Madinah), makam ‘Utsmân, ‘Â’isyah dan sejumlah sahabat telah dipelihara oleh penguasa ‘Utsmani hingga awal abad ke-20, namun jejak-jejaknya kini telah dihilangkan. Hal itu merupakan pengrusakan fisik terhadap peradaban Islam yang ada sejak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal di Yatsrib.

makam-nabi2Dengan perlahan-lahan dan diam-diam, para pengikut sekte Wahhabi telah melenyapkan semua hal yang terkait dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Islam tradisional, sehingga saat ini nyaris tak tersisa. Di samping Ka’bah di Mekah al-Mukarramah terdapat Maqâm Ibrâhîm, yang memuat jejak kaki Nabi Ibrâhîm ketika beliau membangun Ka’bah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan ingatlah ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian Maqâm Ibrâhîm sebagai tempat shalat.” (QS al-Baqarah 2:125)

Meskipun demikian, otoritas keagamaan Wahhabi atau salafi di Mekah pernah mencoba melenyapkan Maqâm Ibrâhim. Itu terjadi pada masa almarhum Syekh Mutawallî al-Sya’râwî dari Mesir yang memberi tahu Raja Faisal tentang rencana mereka, sehingga raja memerintahkan mereka agar membiarkan Maqâm Ibrâhîm di tempatnya semula.

Raja berdiri menentang mereka dalam persoalan serius itu, tetapi banyak kejadian serupa di mana beliau hampir mustahil menahan gelombang pengrusakan terhadap benda-benda peninggalan dan tradisi Islam. Hingga 1960-an, makam ayah Nabi di Madinah ditandai dengan tulisan di dinding sebuah rumah dekat Masjid Nabawi, tetapi tanda itu kini sudah lenyap.

m-nabawi1Di Masjid Nabawi, semua dinding dan tiang masjid awalnya dihiasi dengan puisi-puisi pujian terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Para pengikut aliran Wahhabi kemudian menghilangkan hiasan-hiasan itu, baik dengan mengganti dinding marmer itu, atau menghapusnya hingga tidak terlihat lagi hiasan puisi yang tersisa.

Satu-satunya hal yang tidak dapat mereka lenyapkan adalah tulisan di depan mimbar pada mihrab (tempat salat imam) yang berisi pujian kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamdan 200 nama beliau. Pada tahun 1936, orang-orang Wahhabi bahkan berusaha memisahkan Masjid Nabawi dari makam Nabi, tetapi negara-negara Muslim bersatu menentang rencana tersebut dan berhasil menggagalkannya, sebuah keberhasilan yang sangat jarang terjadi.

Di depan gerbang menuju makam Nabi (al-muwâjihâh al-syarîfah), pada awalnya terdapat tulisan: Yâ Allâh! Yâ Muhammad!

Pengikut aliran Wahhabi kemudian menghapus huruf yâ’ dalam ungkapan Yâ Muhammad, sehingga hanya tersisa huruf alif, Â Muhammad, atau Muhammad saja.

Belakangan, mereka melangkah lebih jauh lagi dengan menempatkan kembali huruf yâ’ pada kata Yâ Muhammad, dan juga menambahkan titik di bawah huruf hâ’ sehingga menjadi huruf jim (ﺝ), dan menambahkan dua titik (di bawah huruf mîm) sehingga menjadi huruf yâ’. Dengan begitu, mereka telah mengubah nama Muhammad menjadi Majîd, salah satu asma Allah. Kini, tulisan tersebut menjadi: Yâ Allâh! Yâ Majîd! Persis seperti ketika melenyapkan makam para sahabat dan keluarga Nabi, mereka kini juga telah menghapus nama Nabi dari makamnya sendiri. Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah telah memuliakan Nabi saw. dengan menempatkan nama beliau bersanding dengan nama-Nya dalam kalimat syahadat, Lâ ilâha illâ Allâh, Muhammad Rasûl Allâh.

Khârab Yatsrib yang disebutkan 2 kali dalam hadits di atas telah terpenuhi.

Pertama, dari segi ideologi oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb dan para pengikutnya. Dan kedua, dengan kerusakan fisik yang terus berlangsung terhadap sisa-sisa Islam tradisional. Pembangunan kembali Bayt al-Maqdis, yang hanya sekali disebut, juga sedang berlangsung.

Ungkapan ‘Umrân Bayt al-Maqdis berarti pembangunan kembali peninggalan-peninggalan klasik di Yerusalem, sementara ungkapan Kharâb Yatsrib berarti penghancuran terhadap cara-cara dan peninggalan klasik di kota Yatsrib

kilroywink

Kesaksian Penerjemah :

Saya hanya ingin menambahkan sedikit saja tentang kehancuran Kota Madinah, yang baru-baru saya saksikan secara langsung ketika mengunjungi kota Madinah Al-Munawwaroh 17-20 Juli 2005.

Itung-itung cerita ini sebagai oleh-oleh dari Madinah ya…Dari segi kemajuan tekhnologi tata ruang bangunan dan interior sebuah kota, saya menilai Madinah sangat cantik dan modern serta memiliki kemajuan yang sangat pesat sekali, terutama bangunan-bangunan diseputar Masjid Nabawi dan tempat-tempat sekitar radius 5-10 kilometer dari Masjid Nabawi.

Namun dari sudut pandang sejarah, kota ini seakan-akan tidak memiliki lagi latar belakang sejarah kegemilangan Islam di masa lalu. Secara pribadi saya amat sangat menyayangkan situs-situs sejarah banyak yang dihilangkan oleh pemerintah KSA yang berfaham Wahhabi, seakan-akan kota ini ingin dirubah seperti newyork atau ala singapura. Perubahan ini terjadi dimulai sejak era tahun 1990-an, dimana kebetulan tahun 1993 saya juga pernah mengunjungi kota ini selama 9 hari.

Perubahan yang terjadi dari hasil pengamatan saya adalah :

1. Pemakaman syuhada baqi, kalau al-baqi2dulu tahun 1993 kita masih bisa ziarah dan memandang ke makam baqi dengan hanya berdiri seperti halnya bila kita berdiri diluar tempat pemakaman umum di Indonesia.

Tapi perubahan yang sekarang adalah, pemakaman baqi tidak bisa dilihat atau diziarahi hanya dengan berdiri karena pemakaman itu sekarang sudah dikurung dengan tembok berlapis marmer setinggi kira-kira 6-10 meter tingginya, sehingga kalau kita mau berziarah dan melihat makam syuhada baqi harus menaiki anak tangga dulu sekitar 5 meter.

Disamping itu kalau dulu kita bebas berziarah kapan saja waktunya sesuai dengan keinginan kita, tapi sekarang tidak sembarang waktu bisa kita lakukan, kecuali antara pkl 07.00 sampai pkl.8.30 pagi waktu setempat. walaupun kita terlambat 5 menit saja, jangan berharap anda bisa menaiki anak tangga karena diujung anak tangga sudah di tutup pintu besi setinggi 3 meter-an, dan bilamana sudah pkl.08.30 anda masih saja berada di atas sana, askar2 kerajaan akan segera menarik-narik badan anda untuk segera keluar dari sana. Jadi memang sekarang sangat dibatasi ruang maupun waktu dalam menziarahi maqam baqi ini.

Dan yang mengenaskan saya adalah, dibawah tembok setinggi 6-10 meter itu sekarang sudah dibuat kios-kios kecil sebagai tempat usaha para pedagang menjajakan barang dagangannya.

Entahlah… mungkin 15-20 tahun kedepan Maqam baqi mungkin sudah tidak ada lagi dan areal pemakamannya sudah dijadikan gedung pasar yang modern. Menurut penilaian saya, penutupan areal pemakaman dengan tembok setinggi 6-10 meter saat ini hanya sebagai awal saja, dengan maksud supaya orang tidak lagi secara bebas berziarah kesana, sehingga lama-kelamaan orang akan lupa untuk berziarah ke maqam Baqi ini. Akhirnya setelah orang melupakan areal ini, generasi berikut tak ada lagi yang mengetahui dimana areal pemakaman baqi, selanjutnya mungkin akan dijadikan gedung pertokoan, siapa tahu…?

qiblatain2. Masjid Qiblatain, (masjid 2 kiblat), dulu tahun 1993 masjid ini memiliki 2 mimbar, satu menghadap Makkah, satu lagi menghadap Baytul Maqdis.Pada mimbar baytul maqdis tertulis dengan berbagai bahasa termasuk dalam bahasa indonesia, yang menceritakan bahwa mimbar ini sebelumnya digunakan sebagai mimbar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika shalat menghadap baqtul maqdis, namun setelah turun ayat (al-Isra..?) yang memerintahkan untuk merubah qiblat dari menghadap masjidil aqsha ke masjidil harom, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpindah ke mimbar yang sekarang menghadap Masjidil harom (mimbar ke 2).Tapi sekarang ; mimbar yang menghadap Masjidil Aqso sudah dihilangkan sehingga tidak ada tanda lagi bahwa masjid ini memiliki 2 kiblat, sehingga sudah hilang nilai sejarahnya. “Masjid qiblatain” hanyalah tinggal sebuah nama saja, mimbarnya tinggal 1, sepantasnya namapun berubah menjadi Masjid Qiblat, karena mimbarnya hanya satu.

3. Parit (Khandaq) – yang pernah digunakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghalau musuh dalam peperangan Khandaq atau Ahzab- pada tahun 1993 masih ada berupa gundukan tanah yang digali seperti lobang saluran air yang panjang, tapi kini Khandaq hanya tinggal nama, lokasinya sudah diuruk rata.

4. “Tanah basah” tempat dimana Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh pada perang Uhud, sekarang sudah ditutup dengan aspal yang tebal dan dijadikan lokasi parkir kendaraan. Tapi anehnya, walupun sudah dilapisi dengan aspal, aspalnya tetap basah hingga sekarang walaupun sudah 14 abad terpanggang sinar matahari. Konon tanah ini tetap menangis selama-lamanya karena ditumpahi darah. Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib ra, adalah seorang yang sangat gagah berani di medan Uhud, dan mati syahid dibunuh oleh budak Hindun, isteri Abu Sufyan, dan ibu dari Muawiyyah.

peta-nabawi-seputar5. Kota Madinah sebetulnya memiliki sebuah sumur abadi seperti halnya sumur zam-zam di Makkah, perbedaannya kalau sumur zam-zam itu asalnya adalah peninggalan Nabi Ibrahim AS, ketika Siti Hajar istrinya mencarikan air untuk memberi minum putranya Nabi Ismail AS.

Tapi kalau di Madinah adalah peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang masih tetap mengeluarkan air hingga sekarang. Namanya adalah sumur “Tuflah”, lokasinya dipinggiran kota Madinah. Tuflah asal katanya berarti air ludah, konon kata kuncen penjaga sumur ini, sumur ini dibuat semasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan menuju kota Madinah, namun ketika itu kehabisan persediaan air.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mu’jizatnya meludahi dengan air ludahnya sendiri suatu tempat di padang pasir yang gersang itu, dan saat itu juga tanah itu mengeluarkan air dan hingga sekarang dijadikan sebuah sumur yang airnya sangat jernih sejernih zam-zam, dan tetap mengalirkan air hingga sekarang. Saya mencoba minum dan berwudhu dari air sumur ini, memang terasa sangat nikmat bagaikan meminum air zam-zam.

Tapi sangat disayangkan, sumur ini sudah jelas sebagai peninggalan sejarah dimasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak dilestarikan sama-sekali bahkan dibiarkan saja oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia yang beraliran Wahhabi sehingga nampak kusam dan tidak terurus sama-sekali. Mungkinkah kaum Wahhabi tidak terlalu suka pada peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Kata kuncen penjaga, kebanyakan orang-orang yang mengunjungi sumur ini adalah orang-orang Ahlus-Sunnah yang mencintai Ahlul-Bayt, termasuk Anda, Anda dari Indonesia?, katanya…Tapi maaf, disini anda tidak boleh berlama-lama melancong, karena setiap 2 jam sekali ada patroli dari Askar kerajaan dan mata-matanya (spionase) yang mengawasi orang-orang yang berkunjung kesini. Saya khwatir anda ditangkap oleh tentara Wahhabi. Maka bila anda sudah minum dan berwudhu silakan anda segera pergi dari sini.

Di Balik Rencana Arab Saudi Merobohkan Masjid Nabawi

Di Balik Rencana Arab Saudi Merobohkan Masjid Nabawi

Diprotes Meski Diganti Masjid Termegah di Dunia
.
Setelah membikin megah Kota Makkah, kini Pemerintah Arab Saudi berniat membongkar Masjid Nabawi peninggalan Nabi Muhammad SAW di Madinah.  Saudi berencana membangun masjid yang jauh lebih besar bernilai 6 miliar dolar AS untuk mengganti  masjid suci dari abad ke-7 Masehi  itu.
.
SAAT ini banyak umat Islam khawatir  dengan rencana Arab Saudi itu. Betapa  tidak, perluasan area masjid guna menampung lebih banyak lagi jamaah disebut-sebut dengan cara menghancurkan bangunan masjid lama peninggalan Rasulullah SAW.
.
Kabar yang beredar  usai musim haji November  tahun ini, Masjid Nabawi bakal dirobohkan oleh Pemerintah Kerajaan al Saud.  Selanjutnya dibangun masjid super megah yang bakal mampu menampung  peziarah 1,6 juta umat Islam. Masjid ini juga  menjadi yang terbesar di muka bumi.
.
Sejauh ini belum ada konfirmasi soal  apakah proyek ini berencana meratakan masjid lama beserta semua situs suci dan bersejarah itu atau tidak. Tiga masjid  tua di dekat Masjid Nabawi juga belum jelas nasibnya, apakah dilestarikan atau diratakan. Di sebelah makam Nabi Muhammad, juga ada makam dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
.
Yang jelas Kerajaan Saudi bersikeras bahwa ekspansi besar-besaran masjid di Makkah dan Madinah sangat penting untuk menampung jumlah jamaah haji dan umrah yang semakin meningkat. Makkah dan Madinah dikunjungi 12 juta jamaah haji dan umrah setiap tahun. Jumlah jamaah diperkirakan bakal meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.
.
Rencana penghancuran tiga masjid tertua  dalam sejarah Islam–yang berada di sebelah barat tembok Masjid Nabawi, yaitu masjid yang didedikasikan untuk Abu Bakar dan Umar, dan Masjid Ghamama, yang merupakan masjid  pertama kali digunakan untuk salat hari raya– itu mendapat tentangan keras dari kelompok penjaga sejarah peradaban Islam.
.
Adalah Dr Irfan al-Alawi dari Islamic Heritage Research Foundation, sangat menyesalkan rencana tersebut jika harus menghancurkan tiga peninggalan penting itu. “Tidak ada yang meragukan Masjid Madinah perlu perluasan, tapi apa yang dilakukan pihak otoritas Saudi sungguh mengkhawatirkan,” katanya, seperti dikutip The Independent.
.
Umat Islam semakin khawatir  setelah Pemerintah Saudi mengumumkan tidak berencana mengabadikan atau memelihara masjid  yang dilindungi dan dirawat oleh kekaisaran Ottonom itu. Tidak juga ada penggalian dari komisi arkeologi sebelum rencana penghancuran tersebut, sesuatu yang menjadi perhatian penting di antara para akademisi.
.
“Terdapat banyak cara melakukan perluasan tanpa merusak peninggalan bersejarah Islam. Mereka tampaknya menginginkan menghancurkan itu semuanya,” kata Alawi yang telah menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun menyoroti penghancuran situs-situs Islam di era awal ini.
.
Menurut Irfan al-Alawi, sejauh ini belum ada tindakan umat Islam untuk menghalangi aksi pemerintah Saudi yang ingin menghancurkan situs bersejarah ini demi membangun masjid terbesar dengan kapasitas 1,6 juta orang. Untuk itu Saudi hendak memperlebar dan menciptakan 20 ruangan di masjid baru tersebut. “Itu tidak masuk akal. Satu-satunya hal yang mereka inginkan adalah memindahkan fokus dari tempat Nabi dimakamkan,” lanjut Alawi.
.
Rencana membuldozer bangunan bersejarah ini akan mengambil bagian sayap barat dari masjid. Dalam sayap itu, terdapat makam dua Khalifah sekaligus sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar dan Umar.
.
Penghancuran situs bersejarah ini bukanlah tindakan pertama pemerintah Arab Saudi di bawah Pemerintahan Raja Arab Saudi Abdullah. Pada tahun 2007 lalu, Kementerian Urusan Islam Arab Saudi merilis pamflet rencana penghancuran serupa di mana pamflet tersebut disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh. Pamflet itu berisi bahwa penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh. Sheikh Ibn al-Uthaymeen, satu dari ulama Wahabi juga meminta hal yang sama.
.
Gulf Institute mengatakan Riyad telah membuldozer 95% dari bangunan berusia 1.000 tahun di kota suci Makkah dan Madinah selama 20 tahun terakhir dengan tujuan membangun pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit dan hotel mewah.
.
Baik Kedutaan Saudi di London atau Kementerian Luar Negeri Saudi saat dimintai   komentar oleh  The Independent  menyatakan ekspansi perlu dilakukan di dua kota suci itu. Terdapat pula tuntutan untuk membangun hotel murah bagi peziarah miskin karena mereka selama ini ditempatkan beberapa mil dari pusat kota.
.
Semua itu dilakukan demi kenyamanan para peziarah dari berbagai belahan dunia. Dengan semakin murahnya perjalanan udara dan tumbuhnya populasi kelas menengah di negara-negara muslim yang sekarang sedang berkembang, Makkah dan Madinah sedang berjuang untuk bisa melayani 12 juta peziarah yang datang setiap tahunnya.
.
Kerajaan Saudi merasa hanya mereka sendiri yang memiliki otoritas atas apa yang terjadi pada peninggalan awal sejarah Islam. Meskipun mereka telah mengeluarkan miliaran dolar untuk memperluas Makkah dan Madinah, tapi dua kota suci ini juga memberi keuntungan pada negara yang sangat tergantung pada hasil minyak bumi itu.  *
.
PBNU Bisa Gerakkan Komite Hijaz  II
.
Para ulama di Indonesia terkejut dengan ramainya pemberitaan rencana Pemerintah Kerajaan Arab Saudi membongkar makam Nabi Muhammad SAW. Peninggalan sejarah Islam bukan hanya milik Arab Saudi tapi seluruh umat muslim.
.
FORUM Munas NU dan Konferensi Besar Alim Ulama di Ponpes Kempek Cirebon Jawa Barat beberapa waktu sempat menyoal masalah ini. Namun PBNU perlu melihat rencana yang sesungguhnya dari pemerintah Saudi sebelum bersikap.
.
“Kita harus mengejar kebenaran pemberitaan itu terlebih dulu. Kalau PBNU langsung mengambil sikap, nanti dulu dong,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Kamis (1/11) siang.
.
Kiai Malik mengaku baru mendengar kabar itu sehingga mesti dikaji lebih mendalam sebab pemberitaan soal rencana menggusur makam Nabi itu isu yang sangat sensitif di kalangan umat Islam. Keberadaan makam Rasulullah di Masjid Nabawi, Kota Madinah, melibatkan kepentingan umat Islam sedunia sebab makam Rasulullah merupakan salah satu simbol pemersatu Islam di seluruh dunia. Ini pula yang melahirkan gerakan Komite Hijaz di awal 1900-an yang dimotori para kiai-kiai NU dalam membela antara lain keberadaan makam Rasulullah dan kebebasan bermazhab di Arab Saudi.
.
Sedang seputar isu pemekaran Masjid Nabawi, PBNU tentu sepakat. Karena, pemekaran itu menyangkut kebutuhan menampung jamaah haji yang terus membeludak. “Tuntutan kebutuhan itu harus segera diatasi dengan pemekaran,” katanya.
.
Namun pemekaran bukan bermakna pembongkaran terhadap makam Rasulullah. Bagi Kiai Malik, kedua hal tersebut harus dipisahkan. Kalau pemberitaan itu terbukti kebenarannya di kemudian hari, maka PBNU akan melakukan gerakan Komite Hijaz Jilid II. Kiai Malik Madani pun mengingatkan bahwa pemilik makam Rasulullah adalah umat Islam sedunia, bukan pemerintah Arab Saudi.
.
Ketua PBNU H Iqbal Sulam menyebut senada. Sebagai sebuah bangunan, makam Nabi Muhammad SAW merupakan situs berharga yang wajib dipertahankan. Tak ada dalih yang membenarkan aksi perusakan bangunan suci itu meski atas nama renovasi.
.
“Sebagaimana Kakbah makam Nabi merupakan bagian dari warisan penting sejarah umat Islam yang mesti dihormati. Situs ini harus dipertahankan,” tegasnya di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (1/10).
Seperti dikabarkan beberapa media, Pemerintahan Arab Saudi tengah merencanakan renovasi Masjid Nabawi di Madinah. Proyek dalam rangka perluasan area masjid ini disinyalir akan mengusik sejumlah situs sejarah, termasuk makam Nabi.
.
Iqbal Sulam, yang juga dikenal sebagai pakar arsitektur, menjelaskan, penghancuran bangunan tak gampang dilakukan. Sebelum eksekusi, seseorang harus memperhatikan perundang-undangan tentang cagar budaya. Apalagi, hal itu menyangkut seluruh umat Islam.
.
“Kalau hanya memperbaiki, memperindah, tidak ada masalah. Karena bangunan makam sebetulnya berubah-ubah,” tambahnya.
.
Makam Rasulullah sendiri telah mengalami perombakan beberapa kali, seperti dilakukan oleh Siti Aisyah, Khalifah Umar bin Khathab, dan Umar bin Abdul Azis. Meski  dilakukan perubahan dari segi bangunan fisik, makam tetap dibiarkan utuh tanpa dirusak apalagi diratakan. Menurut Iqbal, selain sebagai tempat ibadah, makam Nabi juga berdampak bagi kehidupan ekonomi yang luar biasa. “Situs (Nabi) itu kan bentuk penghormatan terhadap Nabi. Di samping menjadi tempat yang menarik minat orang untuk datang,” ujarnya.
.
Pihaknya optimis Pemerintah Arab Saudi tidak akan gegabah menghancurkan makam Nabi. Seperti juga Kakbah, dia berharap proses renovasi hanya terfokus pada sekeliling bangunan situs saja.
.
Paranoid Keimanan
.
KH Masdar F. Mas’udi, Rais Syuriah PBNU, juga menyebut bila rencana Pemerintah Arab Saudi itu dilaksanakan pasti menimbulkan gejolak di dunia Islam. Dia mengatakan  hal itu hanya menunjukkan adanya paranoid keimanan saja dari seseorang.
.
“Alasan bahwa ada ketakutan umat Islam menjadi musyrik karena menyembah makam Nabi, itu sama sekali tidak berdasar. Orang umat juga tahu bahwa itu tidak boleh,” kata Masdar.
.
Dia menegaskan bahwa sebagai sebuah petilasan, makam Nabi bersama makam dua sahabat Nabi adalah sebuah situs sejarah.
.
“Penghancuran petilasan itu menunjukkan sebuah tindakan yang tidak berbudaya,” tegasnya sembari menyebutkan bahwa upaya untuk membongkar makam Nabi Muhammad mulai muncul sejak kaum Wahabi berkuasa di Arab Saudi. “Itu terjadi sejak tahun 1920-an,” katanya.
.
Lebih jauh disebutkan, dalam  Musyawarah Nasional  dan Konferensi Besar Alim Ulama di Pesantren Kempek, Cirebon, beberapa waktu lalu, soal itu juga sempat dibahas. Para ulama berpandangan sama bahwa pembongkaran makam Nabi Muhammad tidak boleh dilaksanakan.
.
Sedang menyoal tindakan yang akan dilakukan umat Islam, Masdar mengatakan, pasti akan ada reaksi. Namun, tentu tidak bisa diputuskan oleh satu orang saja melainkan harus melalui pembicaraan dengan banyak pihak.
.
Seperti diberitakan, para pecinta warisan sejarah Islam dan sebagian warga lokal Saudi Arabia terkejut dengan banyaknya warisan sejarah di Makkah dan Madinah yang telah dibuldoser, di antaranya untuk membuat pusat perbelanjaan yang megah, hotel mewah dan gedung pencakar langit. Berdasarkan estimasi Gulf Institute, 95 persen bangunan berumur 1.000 tahun telah dihancurkan dalam 20 tahun terakhir.
.
Di Masjidil Haram Makkah, tempat paling suci bagi umat Islam di mana seluruh umat Islam diperlakukan sederajat, sekarang dibayangi oleh Jabal Omar, sebuah kompleks pengembangan apartemen pencakar langit, hotel dan sebuah menara jam yang sangat besar.
.
Untuk membangunnya, pemerintah Saudi menghancurkan benteng Ajyad yang ada sejak era Ottonom dan bukit yang ada di sekitarnya. Bangunan bersejarah lain yang hilang meliputi tempat kelahiran Rasulullah, yang sekarang menjadi perpustakaan, dan rumah Khadijah, istri pertama Nabi, yang sekarang menjadi toilet public. Sebagaimana dilaporkan oleh The Independent, pembangunan serupa dilakukan di Madinah meski sedikit lebih terkendali dibandingkan di Makkah, tapi toh sejumlah situs awal Islam telah hilang. Dari tujuh masjid yang dibangun untuk memperingati perang Khandaq atau perang parit, satu peristiwa yang cukup menentukan dalam sejarah perkembangan Islam, saat ini hanya tersisa dua. Sepuluh tahun lalu, sebuah masjid cucu Rasulullah dihancurkan dengan dinamit. Gambar penghancuran masjid yang diambil secara rahasia menunjukkan para polisi agama merayakan keruntuhan tempat bersejarah tersebut.
.
Pengabaian sejarah awal Islam ini merupakan adopsi dari Wahabisme yang menginterpretasikan ajaran Islam secara kaku. Di sebagian besar negara Muslim, banyak tempat suci dibangun dan kunjungan ke makam merupakan hal biasa, tapi bagi kelompok Wahabi, praktik seperti ini dianggap sesat. Polisi agama di Saudi melarang peziarah berdoa atau mengunjungi tempat-tempat yang terkait dengan kehidupan Rasulullah dan berusaha menghancurkan situs-situs sejarah tersebut.
.
Dr Irfan al-Alawi dari Islamic Heritage Research Foundation mengkhawatirkan pembangunan kembali Masjid Nabawi merupakan upaya lebih luas untuk mengubah fokus dari tempat Nabi Muhammad dimakamkan. Tempat pemakaman Rasulullah ditutupi dengan kubah hijau yang terkenal dan menjadi pusat dari masjid Nabawi saat ini, tapi dengan rencana pengembangan baru, lokasi tersebut akan menjadi sisi timur dari bangunan yang akan diperluas delapan kali lipat dengan sebuah mimbar baru bagi imam. Juga terdapat rencana membongkar Raudhah yang bisa diartikan sebagai taman surga, sebuah lokasi sempit di tengah-tengah masjid, yang oleh Nabi sendiri dikatakan memiliki keistimewaan untuk berdoa.
.

“Mereka beralasan untuk membuat ruangan yang lebih besar dan menciptakan 20 ruangan yang akan menampung 1,6 juta jamaah,” kata Alawi. “Hal ini adalah nonsense, apa yang sebenarnya mereka inginkan adalah mengganti fokus dari tempat di mana Rasulullah dikuburkan,” katanya. *

..
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori, mengatakan,  Masjid Nabawi merupakan peninggalan Rasulullah Muhammad SAW.  Karena itu pula merupakan milik umat muslim di  seluruh dunia. “Tentu bila Saudi akan merobohkannya akan mendapat kecaman besar,” katanya.
Alih-alih membongkar, merenovasi saja sebenarnya akan mendapat protes dari umat Islam. Situs bersejarah yang ada di Masjid Nabawi itu dikhawatirkan akan berubah dari bentuk asalnya. Mempertahankannya mungkin sebagai keniscayaan yang harus dipegang teguh oleh pemerintah setempat.
.
Dia menilai rencana tersebut harus dipikirkan ulang. Pemerintah Arab Saudi diingatkan agar meminta pendapat ulama se-dunia. Karena, Masjid Nabawi menjadi kebanggaan umat Islam. Dan melaksanakan salat di Masjid Nabawi pahalanya melebihi dari masjid lainnya.
.
Adanya keistimewaan yang diberikan Allah yang melekat pada Masjid Nabawi menjadi salah satu pertimbangan yang tak kalah penting. Rekam jejak Nabawi tidak boleh diringkus begitu saja hanya untuk bisa menampung peziarah sebanyak 1,6 juta umat.
.
“Memang tidak ada yang meragukan kemampuan Arab Saudi membangun kembali Nabawi dengan nilai 6 miliar dolar AS, tetapi bukan nominal dan bangungn masjid baru yang diharapkan umat muslim. Bagi pemeluk Islam sudah barang tentu menginginkan masjid bersejarah itu tetap utuh sepanjang masa,” katanya.
.
Itu artinya, kata dia, perawatan dan pelestarian lebih penting dari segala-galanya. Buktinya, dalam setiap musim haji, umat Islam rela kendati harus berada di luar masjid saat berziarah ke makan Nabi Muhammad, Khalifah Abu Bakar dan Umar.
.
“Pengembangan masjid, tanpa harus mengubah bentuk boleh-boleh saja, tetapi digusur itu membuat orang-orang Islam marah,” katanya saat dihubungi, kemarin.  Dia mencontohkan pembangunan Masjid Ampel yang berada di kompleks Makam Sunan Ampel. Pengembangan masjid itu tidak mendapat kecaman lantaran hanya menambah luas tanpa harus mengubah arsitektur yang lama.
.
Pembongkaran Masjid Nabawi sama halnya dengan rancana peniadaan Makam Nabi Ibrahim di pinggir Kakbah. Rencana itu menuai protes yang begitu besar. “Saya pikir, efeknya sama dengan rencana pada Makam Ibrahim,” tambahnya.
.
Menuru Kiai Abdusshomad, pemerintah tidak perlu melakukan rencana pembongkaran masjid itu. Apalagi harus meratakan Makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar. Ziarah kubur dalam Islam tidak dipersoalkan. Bahkan ziarah religi itu menjadi bagian dari acara yang dilakukan jamaah haji dalam setiap tahunnya. Karena itu, Kiai Abdusshomad berharap kepada pengurus Nahdlatul Ulama (NU) agar ikut merespon terhadap wacana pembongkaran masjid ini. “Masjid Nabawi dan makam Rasul dan serta sahabat harus dipertahankan, paling tidak perwakilan nahdliyin  harus ada yang berunding dengan pemerintah Saudi agar rencana itu diurungkan,” tandasnya. *