Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah. Siapakah 12 imam ??

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam terutama http://www.gensyiah.com/ adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini. Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi. Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?

Abu Hurairah “mantan Yahudi mufti Mu’awiyah” DiGUGAT Sayyid Qutub

FAKTA nya adalah Abu Hurairah pengarang hadis israilliyat, Abu Hurairah “mantan Yahudi mufti Mu’awiyah”

Syi’ah bukan menghujat, tetapi memaparkan fakta bahwa Abu Hurairah adalah mufti Mu’awiyah ketika Mu’awiyah menjadi raja monarkhi absolut

Abu hurairah : “Sulaiman mempunyai mukjizat tidur dengan wanita 100x semalam.”

Demi mendukung Hujjah ia ajukan hadits Dari Bukhari sanad Abu Hurairah begini hadithnya :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

NU dan syiah sama sama sepakat Al Karim Surah As Shaad ayat 30 : Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Pertama, Abu Hurairah mendapat gelar Mudhalist dari Aisyah dan di Ancam Umar tuk dicambuk karena terlalu seringnya berbohong. Barometer selanjutnya adalah Para Tabi’in yang sejatinya adalah mercu suar para pengikut Salaf mengakui tidak memakai hadits hadits periwayatan Abu Hurairah. (ref to ibn Quthaibah mushaf)

Kedua, Hadist harus diuji dengan Al Quran. Landasannya Aisyah berkata Rasulullah Saww adalah Al Quran berjalan [ Bukhari ]

Ketika disajikan Sebuah Hadits harus di perhatikan Sanad dan Matannya. Lalu gunakan barometer aqli dan Al Quran sebagai Jawaban finalnya.

Saya akan ajukan metode reverse logic bagi kaum ortodoks karena mereka kerap hanya bertumpu pada literature semata. Alasan lainnya, Metode sederhana ini cukup memberi gambaran secara gamblang bagaimana Ke ‘rusakan’ Hadits tersebut.

Al Quran Surah As Shaad ayat 30 :

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Ayat diatas jelas menggambarkan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah para pribadi Agung yang toat dan sebaik hamba

Perhatikan redaksi hadits :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. (berpaling /cuek/mengabaikan Malaykat ALLAH)

Dalam Hadits ini jelas sekali diperlihatkan bagaimana Nabi Sulaiman As sebagai pribadi pembangkang..

Kedua, redaksi ini berubah ubah, pertama abu hurairah menyatakan 100 wanita, lalu kemudian 70 wanita, lalu di tempat lain 80 wanita, dst.

Hal ini menandakan bahwa ia –Abu Hurairah – hanyalah mengarang Hadits dan ia tidak pernah mendengar langsung dari Lisan Suci Rasulullah Saww.

Ketiga, Hubungan Suami Istri adalah Hubungan yang dilandasi oleh manusiawi, artinya dalam aspek apapun hatta seorang nabi sekalipun tidaklah mungkin dapat berhubungan sebanyak 100x semalaman.

Apakah ini bentuk keraguan pada Nabi ALLAH?
Sederhana menjawabnya, Saya meragui kebohongan pembawa Hadis yang pandai berbohong. Sederhananya pembawa hadis tidak pintar berkreatifitas.
Dan tidak ada hubungannya dengan Nabi ALLAH.

Sebagai manusia yang zohirnya sama seperti manusia pada umumnya, tidaklah ada yang mampu berhubungan 100x semalam..!

Pembahasan :
Saya memaknai hadist ini adalah hadist Israiliyat (Hadist yang di inspirasi dari pemikiran Yahudi lampau) dengan tujuan menjatuhkan martabat Nabi ALLAH dan juga merendahkan Utusan ALLAH.

Dalam makna luas ia akan berakibat fatal, seperti tercerabutnya iman dari dada tanpa ia sadari.

Mengapa ada di kitab Shahih bukhari ?

Shahih menurut Bukhari bukan berarti shahih menurut Al Quran.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hadis ini masuk dikitab bukhari, tekanan penguasa misalnya.

Karena muktabar dikalangan pengkaji rijal bahwa syaikh bukhari sering pingsan karena mengkaji hadist.

Saya katakan, tidak pernah ada orang pingsan karena mengumpulkan hadis, karena ia adalah pekerjaan yang menyenangkan lagi menggembirakan. Pastilah ada factor lain yang mengakibatkan Bukhari pingsan. Stress karena tekanan mungkin, tenggat waktu dari penguasa kala itu. Dan lain sebagainya.

Sesungguhnya keberhati hatian dan sikap kritis amatlah sangat diperlukan dalam pengkajian agama, sesuai dengan Titah Suci Baginda Agung Rasulillah Saww :

“Terimalah apa yang sesuai dengan al Quran, dan tolaklah apa yang bertentangan dengannya”

Salam ya Sulaiman ibn Daud alaihissalam..
Salam sejahtera atasmu duhai Nabi Agung…

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

Sebaik baik Hamba tidak mungkin lupa berkata Insya ALLAH dan tidak mungkin berpaling dari Jibril Utusan ALLAH yang terpercaya.

Sayyid Qutub dalam Fii dhilal Al Quran Juz 23 hal 99 setelah mengkaji Hadits Hadist Israiliyah tersebut, Beliau berkata : “Semua hanyalah rekaan dan dugaan (bualan) Abu Hurairah semata”

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan

Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Apa alasan Syi’ah?

Sejak awal, Rasulullah saw selalu bersama Ali ke manapun pergi. Di goa Hira, saat beliau menerima wahyu, ia bersama Ali.

Rasul memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi. Ia mulai dari keluarganya, Bani Hasyim. Di saat itu ia bertanya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjadi pendampingku dan pengganti setelahku?” Ali mengangkat tangannya. Rasul menolaknya. Lalu bertanya lagi, namun Ali juga yang menjawab, selain ia tidak ada yang menjawab. Rasul tetap menolaknya. Hingga ketiga kalinya baru Rasul menerima Ali dan berkata

“Inilah pendampingku dan pengganti setelahku. Maka patuhlah padanya.”

(lihat: Tafsir Thabari, jil. 19, hal. 419; Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 319 – 321, cet. Darul Ma’arif Mesir; Tarikh Al Kamil – Ibnu Atsir Syafi’i, jil. 2, hal. 62 & 63, cet. Dar Al Hadzir – Beiriut; Kanzul Ummal, jil. 15, hal. 115, hadits 334, cet. ke-2 Haidarabad; Musnad Ahmad bin Hanbal, jil. 5, hal. 41 & 42)

Di akhir khutbah beliau pada hari Ghadir, dimana pada waktu itu beliau bersama rombongan haji lainnya sedang berjalan pulang. Saat di perempatan jalan turun wahyu yang memerintahkan beliau untuk menyampaikan satu masalah penting, yang jika tidak ia sampaikan berarti risalah kenabiannya percuma. “Wahai nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu. Jika engkau tidak menyampaikannya, maka artinya kamu tidak menunaikan risalahmu.”

Lalu masalah penting apakah itu? Rasul mengangkat tangan Ali seraya berkata kepada semua orang:

“Barang siapa menjadikan aku sebagai tuannya, maka jadikanlah Ali sebagai tuannya juga. Sungguh aku meninggalkan dua pusaka bagi kalian. Jika kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya.”

Nabi dengan jelas di awal dan akhir dakwah menunjuk Ali sebagai pemimpinnya. Namun apa sikap Muslimin? Jenazah nabi belum sempat dimandikan mereka semua ribut bercek cok di Saqifah untuk menunjuk khalifah.

Apakah nabi hanya menyinggung kekhilafahan Ali di awal dan akhir dakwahnya saja?

Tidak, sungguh sangat sering beliau menjelaskan “siapakah Ali”.

Ali di sisi nabi bagai Harun as di sisi Musa as

Di perang Tabuk Rasulullah saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

“Engkau di sisiku bagaikan Harun di sisi Musa.”

(lihat:)

Siapakah Harun? Harun adalah wakil Musa. Lalu siapakah Ali kalau bukan wakil nabi?

Pesan nabi di haji terakhirnya

Di haji terakhirnya, haji Wada’, beliau berdiri di hadapan jama’ah haji seraya mengumumkan:

“Wahai umat manusia, aku meninggalkan dua hal untuk kalian yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya: kitab Allah dan Ahlul Baitku.”

Riwayat ini disebutkan oleh Turmudzi dan Nasa’i dari Jabir. Begitu pula Al Muttaqi Al Hindi menukilnya dalam Kanzul Ummal. Detil referensi riwayat ini: Sahih Turmudzi, jil. 5, hal. 328, hadits ke-3874, cet. Darul Fikr-Beirut; Sahih Turmudzi, jil. 13, hal. 199, cet. Maktabah As Shawi-Mesir; Sahih Turmudzi, jil. 2, hal.308, cet. Bulaq-Mesir; Nadzm Durar As Simthain-Az Zarandi Al Hanafi, hal. 232, cet. Al Qadha-Najaf; Yanabi’ul Mawaddah-Al Qunduzi Al Hanafi, hal. 33, 45 dan 445, cet. Al Haidariyah; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 30, 41 dan 370, cet. Islambul; Kanzul Ummal, hal. 153, cet. ke-2; Tafsir Ibnul Katsir, jil. 4, hal. 113, cet. Darul Ihya’ Al Kutub Al Arabiah-Mesir; Masabih Al Sunnah-Al Baghawi, hal. 206, cet. Al Qahirah; Masabih Al Sunnah-Al Baghawi, jil. 2, hal. 279, cet. Muhammad Ali Sabih.

Dalam versi yang lain disebutkan:

“Sesunguhnya aku meninggalkan di antara kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan pernah tersesat setelahku: Yang pertama adalah kitab Allah, tali yang mengulur dari langit ke bumi, yang kedua adalah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya nanti bertemu denganku di surga…”

Turmudzi meriwayatkannya dari Zaid bin Arqam. Referensi lengkap: Sahih Turmudzi, jil. 5, hal. 329, hal. 3876, cet. Darul Fikr; Sahih Turmudzi, jil. 2, hal. 308, cet. Bulaq-Mesir; Sahih Turmudzi, jil. 13, hal. 200, cet. Al Shawi; Nazm Durar Al Simthain-Zarandi Al Hanafi, hal. 231; Ad Durr Al Mantsur-Suyuthi, jil. 6, hal. 7; Ad Durr Al Mantsur, jil. 6, hal. 7 dan 306; Dzakhair Al Uqba, hal. 16; As Shawaiq Al Muhriqah, hal. 147 dan 226, cet. Al Muhammadiyah; As Shawaiq Al Muhriqah, hal.89, cet. Al Maymanah-Mesir; Yanabi’ul Mawaddah-Al Qunduzi Al Hanfi, hal. 33, 40, 226 dan 355, cet. Al Haidariyah

Al Qur’an tidak menjelaskan detil agama


Mengapa hal-hal yang sangat penting, misalnya nama Ali bin Abi Thalib tidak disebutkan dalam Al Qur’an? Sehingga jelas sudah terbukti bahwa ia adalah khalifah setelah nabi?

Imam Ja’far Shadiq as menjawab: “Memangnya rakaat shalat dijelaskan dalam Al Qur’an?”

Al Qur’an tidak menerangkan detil syariat dan perkara agama-agama. Oleh karena itu Rasulullah saw berwasiat di akhir hayatnya kepada umat manusia agar berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Itrahnya (Ahlulbait as). Karena Ahlul Bait adalah penafsir Al Qur’an. Keduanya tidak dapat dipisahkan

.

1. Ayat Tabligh.

Allah swt berfirman:

یا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَیْکَ مِنْ رَبِّکَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا یَهْدِی الْقَوْمَ الْکافِرین

Artinya: “Wahai nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan oleh Allah swt. Karena jika kau tidak menyampaikannya maka sama seperti kamu tidak menyampaikan apapun sama sekali. Dan Allah menjagamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum kafir.” (Al Maidah: 67)

Banyak sekali ulama Ahlu Sunah yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun mengenai kekhilafahan Imam Ali as. Misalnya: Fakhrur Razi dalam Tafsir Al Kabir, jilid 3 halaman 626; Jalaluddin Al Suyuthi, Ad Durr Al Mantsur, jilid 2, halaman 298; Syaikh Muhammad Abduh (mufti terkenal Mesir) dalam Tafsir Al Manar, jilid 6, halaman 463; dsb.

2. Ayat Wilayah

Allah swt berfirman:

إِنَّما وَلِیُّکُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذینَ آمَنُوا الَّذینَ یُقیمُونَ الصَّلاةَ وَ یُؤْتُونَ الزَّکاةَ وَ هُمْ راکِعُون

Artinya: “Sesungguhnya wali kalian adalah Allah swt, rasul-Nya, dan orang yang beriman yang memberikan zakat dalam keadaan rukuk.” (Al Maidah: 55)

Rujuk: Ad Durr Al Mantsur, jilid 2, halaman 293; Al Kasyaf Zamakshari, jilid 1, halaman 649; Tafsir Al Kabir Fakhrur Razi, jilid 12 halaman 26; Tafsir Thabari, jilid 6, halam 186; dan masih banyak lagi.

3. Ayat Ulil Amr

Allah swt berfirman: ا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا أَطیعُوا اللَّهَ وَ أَطیعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِی الْأَمْرِ مِنْکُم‏ Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah swt, rasul, dan Ulil Amri dari kalian.” (An Nisa’ : 59)

Hakim Haskani Hanafi Neysaburi dalam Syawahidut Tanzil menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah Ali bin Abi Thalib. (Syawahidut Tanzil, jilid 1, halaman 1480151) Rujuk pula: Tafsir Al Burhan, jilid 1, dalam tafsir ayat di atas.

4. Ayat Shadiqin Allah swt berfirman: یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ کُونُوا مَعَ الصَّادِقینَ Artinya: “Wahai orang yang beriman, bertakwalah dan bersamalah dengan Shadiqin (orang yang jujur).” (At Taubah : 119)

Yang dimaksud dengan Shadiqin dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib

5. Ayat Qurba Allah swt berfirman: قُلْ لا أَسْئَلُکُمْ عَلَیْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِی الْقُرْبی Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali kecintaan terhadap orang-orang terdekatku” (As Syura : 23)

Yang dimaksud dengan orang-orang terdekat adalah Ahlul Bait as., yang termasuk salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib.

Din Syamsuddin Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah: “perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)”

Din Syamsudin: Muhammadiyah Dukung Protokol Antipenistaan Agama

25 September 2012

Dukungan terhadap penyampaian Protokol Anti Penistaan Agama juga mengalir dari kalangan Muhammadiyah. Protokol tersebut dinilai menjadi solusi menghindari penodaan sebuah negara atas nama agama.

“Saya mendukung adanya protokol PBB tentang penghinaan agama. Sudah pernah disuarakan sebelumnya bahwa jalan terbaik untuk menghindari dan mengatasi penghinaan terhadap suatu agama adalah adanya konsensus internasional atau protokol PBB,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Senin.

Terkait isinya, dia menginginkan ketegasan bahwa masyarakat dunia harus membangun multikulturalisme dengan menghargai perbedaan atas dasar agama, ras, dan budaya. Lalu, segala bentuk penghinaan agama juga harus dimasukkan dalam kategori pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

“Di sisi lain juga freedom of [removed]kebebasan berekspresi) harus disertai tanggung jawab. Sehingga jika terjadi pelanggaran terhadap dua poin sebelumnya bisa masuk subyek pengaduan ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat kemanusiaan,” Din menjelaskan.

Penilaian serupa dilontarkan pengurus PP Muhammadiyah lainnya, Dr Anwar Abbas. Penulis buku “Cita dan Citra Muhammadiyah” ini melihatnya sebagai kontribusi positif Indonesia bagi perdamaian dunia. “Rencana Presiden SBY ini sebuah ide yang bagus. Kalau ini berhasil, Indonesia telah memberikan kontribusi yang positif bagi terciptanya perdamaian dunia,” terang Anwar.

Keberhasilan itu dilihatnya karena ada upaya memadamkan salah satu sumber konflik dan kerusuhan yang selama ini telah menghiasi berbagai belahan dunia. Dengan adanya usul Indonesia yang akan disampaikan di forum Sidang Umum PBB, imbuh Anwar, berarti Indonesia telah mengajari dunia—terutama negara maju—tentang perlunya etika dan akhlak dalam kehidupan bersama.

“Pesannya, jangan korbankan hati dan perasaan orang lain dan atau orang banyak untuk kebebasan dan kepuasan orang seorang dan kelompok. Kebebasan harus menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Bumi ini milik kita bersama,” pungkasnya

tokoh sekaliber Din Syamsuddin yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terpengaruh dengan kebenaran syiah . Pada Konferensi Islam Sedunia, Senin (5/05/2008), yang berlangsung di Teheran beliau menegaskan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat pada penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Lebih jauh, Din Syamsuddin menyatakan: “Kedua kelompok (Sunnah & Syi’ah) harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. ([Sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1101.])

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, seorang tokoh yang konon ahli di bidang tafsir Al Qur’an dalam bukunya yang berjudul : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah ? Pada buku yang sama beliau banyak menukil ucapan salah seorang tokoh Syi’ah Imamiyah yang bernama: Abdul Husain Syarafuddin Al Musawi. ([silahkan buka buku : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?, hal: 58, 123 &124.])

pada buku yang sama, hal: 104, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab menukilkan ucapan Khomeini berikut:

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل.

Sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji serta tingkat yang tinggi serta kekhilafahan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaannya (kekhilafahan itu) semua atom (butir-butir) alam raya. Sesungguhnya merupakan bagian dari pemahaman aksioma mazhab kami adalah bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan (Allah ke sisi-Nya) tidak juga oleh nabi yang di utus (Allah).”

Syi’ah dan NU menggugat wahabisme

Perbincangan untuk mengkritisi ajaran  wahabi, memang sangat menarik untuk disimak. Apalagi di masa sekarang ini… masa dimana mereka lagi gencar-gencarnya menyebarkan paham sesat itu ke seantero dunia… terutama negara kita  INDONESIA…

Dengan NEGARA Saudi  sebagai pusat kekuatan jasmani dan rohaninya… mereka tidak ragu-ragu untuk mendakwahkan idiologinya dengan dinar dan dolar yang besar… Karena pada akhirnya nanti, mereka akan meraup keuntungan yang berlipat ganda… mereka akan tajir bin kaya raya, dengan kewajiban membayar kekayaan dari amerika… Tidak hanya itu, mereka juga akan mampu dengan bebas merenggut kehormatan setiap wanita super cantik yang diinginkannya, dengan iming-iming nikah di Puncak  yang mereka buat-buat dan palsukan…

Memang, sekarang kita belum banyak melihat perbedaan antara NU dan wahabi … Wahabi selalu berlindung di balik tabir  kedustaan… tabir yang mereka gunakan untuk menghalangi sinar matahari yang akan menampakkan wajah buruk mereka…

Tapi kita tak perlu khawatir… bi idznillah dengan berjalannya waktu, kita yakin tabir itu akan rapuh dan koyak… kita yakin, -dengan pertolongan Allah, usaha dan sumabangsih umat sunni- sinar matahari hidayah itu, akan dapat menembus tabir setan itu… dan kita akan tahu, siapa sebenarnya mereka…?!!

Tulisan ini ibarat lentera kecil, yang akan membantu anda menerangi dalam menjelajahi alam kelabu ajaran sesat ini, semoga bisa memberikan tambahan pencerahan dalam pikiran… sehingga kita bisa melihat dan mengerti… mana yang benar yang harus diikuti… dan mana yang batil, yang harus dijauhi…

Selanjutnya, kami persilahkan anda menyimak diskusi antara wahabi  dengan SYIAH…, semoga bermanfaat… amin

pengamat telah menyimpulkan bahwa pengaruh ajaran Syi’ah telah dirasakan di negri kita sejak jauh hari. Dan mereka berusaha menguatkan kesimpulan itu dengan beberapa indikasi berikut:
1. Perayaan Hoyak Tabuik.

Tradisi ini dapat anda temui di Pariaman Sumatra Barat. Perayaan Hoyak Tabuik atau juga dikenal dengan Perayaan Tabot konon pertama kali dilaksanakan oleh Syeikh Burhanuddin Ulakan yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685.

Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh.  Puncak dari upacara tradisional ini adalah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala.

Perayan serupa juga dapat anda temukan di Bengkulu, Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Hanya saja di sebagian daerah perayaan ini lebih dikenal dengan Tabot atau Tabut.
2. Tari Jari-jari Karbala.

Tarian ini adalah salah satu tarian khas daerah Bengkulu ini juga memiliki kultur dan makna yang sama dengan tradisi tabot.
3. Peringatan Syura atau Suro (Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo).

Bagi masyarakat jawa, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya, bulan Muharram atau yang sering disebut dengan bulan Suro adalah bulan yang penuh nahas. Karenannya penduduk setempat berpantangan mengadakan pernikahan atau membangun rumah atau bercocok tanam pada bulan ini. Dan untuk menebus kesialan yang diyakini, mereka mengadakan upacara grebeg suro. Semua itu sebagai bisa langsung dari peringatan tragedi pedih yang pernah terjadi di bulan itu, yaitu terbunuhnya Al Husain bin Alin bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.

4. Tradisi membaca Barzanji dan Diba’i

Sebagian kalangan meyakini bahwa kebiasaan membaca barzanji atau diba’i adalah wujud nyata dari hubungan NU dengan ajaran Syi’ah.

Dan masih banyak lagi tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang diklaim oleh sebagian orang berafiliasi dengan simbul-simbul agama Syi’ah.

Senin, 05 November 2012 14:48
.

Dalam ceramahnya di ICC  pada Minggu 4 Nopember 2012, Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri, ulama terkemuka dunia yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majma’ Taqrib Bain al-Mazahib al-Islamiyyah (Lembaga Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) yang berpusat di Teheran Iran, memberikan pandangan-pandangannya sebagai berikut: Sesuai dengan firman Allah: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” (al-Nasr: ayat 1), maka seorang mukmin harus selalu berpikir  bahwa ia berada dalam haalat al-intishar, dalam posisi di atas, kuat dan unggul

.

Mukmin tidak boleh inferior, merasa rendah, kecil atau lemah meskipun mereka misalnya sedang terjepit, tetapi mereka harus selalu merasa kuat, percaya diri dan mampu menghadapi masalah. sebagaimana  ditegaskan Quran: “Dan janganlah kamu merasa rendah dan atau gentar karena sesungguhnya kamu itu  lebih unggul dari mereka jika kamu beriman. Maka sekiranya kamu ditimpa kesusahan sesungguhnya mereka juga ditimpa kesusahan yang sama “(Ali Imran: 140-141)

.
Ayatullah memberi contoh bahwa 40-50 tahun yang lalu orang-orang mukmin tidak dianggap dan dipandang dengan sebelah mata oleh dunia, karena mereka tidak memiliki apa-apa, bahkan majalah sekalipun hanya satu dua majalah, tetapi karena mereka percaya diri maka keadaan berbalik. Sekarang mereka kuat dan sangat diperhitungkan oleh dunia, bahkan Amerika misalnya mengakui bahwa masalah terbesar Amerika adalah Iran yang muslim
.
Ayatullah menambahkan bahwa selama puluhan tahun rakyat Israel tidak pernah merasakan situasi perang padahal negaranya beberapa kali terlibat perang dengan negara-negara Arab. Mereka merasa tenang-tenang saja selama ini. Tetapi begitu mereka berhadapan dengan Hizbullah, baru mereka merasakan apa arti perang itu sebenarnya sehingga merasa ketakutan luar biasa
.
Ayatullah menegaskan bahwa keadaan sekarang telah berubah. Islam telah menjelma menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan, baik ekonomi, politik maupun media. Walaupun Iran sekarang ini misalnya diboikot habis-habisan, dan sudah diboikot sejak 30 tahun lalu, tetapi Iran menjadi lebih kuat dan akan menjadi lebih kuat lagi karena tekanan yang mereka hadapi akan berubah menjadi energi yang dahsyat. Itu sebabnya Amerika dan konco-konconya tidak akan pernah berhasil menaklukkan orang-orang beriman meskipun mereka telah menggelontorkan ratusan milyar dolar untuk memperlemah kaum Muslimin. Lihat Irak, lihat juga Mesir. Sekeras apa pun yang mereka lakukan dan sebesar apapun yang telah mereka gelontorkan ujung-ujungnya tetap Islam yang menang juga.  Karena itu, sekeras apa pun usaha yang mereka lakukan untuk menguasai Suriah mereka tidak akan pernah berhasil karena Suriah adalah negara yang kuat. Justeru yang akan terjadi,  senjata  makan tuan seperti yang telah mereka rasakan sendiri ketika mereka mendukung al-Qaidah dan Taliban
.
Untuk itulah, Ayatullah mengingatkan bahwa seorang yang beriman pada Allah tidak boleh berpikir inferior karena sesungguhnya mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh umat lain, sebagaimana firman Allah: “Dan janganlah sekali-kali kamu merasa rendah untuk mengejar mereka. Jika kamu mengangankan sesuatu sesungguhnya mereka juga berangan-angan yang sama, tetapi kamu mengharapkan sesuatu dari Allah yang mereka tidak bisa harapkan (Al-Nisa’:104)
.
Dalam pada itu Ayatullah mengingatkan bahwa setiap mukmin harus berpikir universal, menjadikan kepentingan agama Islam dan kepentingan seluruh kaum Muslimin dimanapun mereka berada di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Mereka tidak boleh berpikir sektarian karena Islam mengajarkan bahwa sesama Muslim itu bersaudara dan bahwa mereka adalah ummat yang satu. Dan untuk mencapai keberhasilan perjuangan maka selain kerja keras yang tidak mengenal lelah,  Ayatullah menambahkan bahwa setiap mukmin harus bekerja secara jama’iy, bekerja sama dan terorganisir, total dalam pekerjaannya, tidak setengah-setengah atau sambil lalu dan senantiasa melakukan tahzib al-nafs, membenahi diri dengan menjaga kebersihan jiwa seperti yang digambarkan Allah pada Nabi Musa as; yaitu bahwa untuk menghadapi Firaun, penguasa empirium yang sangat kuat Nabi Musa yang kesendirian selain mohon kepada Allah agar diperkuat dengan Harun, Nabi Musa juga bersama-sama dengan Harun selalu  mengagungkan Allah dan mengingatnya yang membuat mereka memiliki kukuatan yang dahsyat yang  kemudian dapat mengalahkan Firaun (lihat Q.S. Taha: 33-34).
.
Semoga berguna.

Mu’awiyyah melaknat dan mencaci maki Ali, ahlulbait dan syi’ah !!! MUi, NU dan wahabi jangan menutup fakta ini

Kondisi-kondisi Sulit yang Dilalui Kaum Syi’ah yang mendorong kaum Syi’ah untuk melakukan taqiyah terhadap saudara mereka dan para penganut agama mereka hanyalah karena ketakutan terhadap kekuasaan yang tiran. Kalau dalam masa-masa lalu-dari masa dinasti Umayah, kemudian Abbasiyah dan Utsmaniyah-tidak ada tekanan terhadap kaum Syi’ah, serta negeri dan rumah mereka tidak dialiri darah mereka dan sejarah merupakan bukti paling baik untuk itu, maka adalah masuk akal kalau kaum Syi’ah melupakan kata taqiyah dan membuangnya dari catatan kehidupan mereka.

Akan tetapi, sayang sekali, kebanyakan saudara mereka tunduk kepada kekuasaan Dinasti Umayah dan Abbasiyah yang memandang mazhab Syi’ah sebagai bahaya yang mengancam kedudukan mereka. Maka masyarakat Ahlusunah membangkitkan permusuhan terhadap kaum Syi ‘ah dengan membunuh dan mengintimidasi mereka. Oleh karena itu, sebagai akibat kondisi-kondisi sulit itu, kaum Syi’ah, bahkan setiap orang yang memiliki sedikit saja akal, tidak memiliki cara lain kecuali berlindung pada taqiyah atau mengangkat tangan dari prinsip-prinsip suci yang menurut mereka lebih berharga daripada diri dan harta.

“Bukti-bukti tentang hal itu lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Namun, kami akan membentangkan sebagiannya secara ringkas. Di antaranya, surat Mu’awiyah yang menghalalkan darah kaum Syi’ah di mana saja mereka berada dan bagaimanapun keadaan mereka. Berikut ini teks tentang peristiwa tersebut yang disebutkan dalam sumber-sumber rujukan untuk mengetahui bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Penjelasan Mu’awiyyah kepada para Pegawainya

Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Sayf al-Mada ‘ini meriwayatkan hadis dalam kitabnya al-Ahdats. la berkata, “Mu.awiyah menulis selembar surat kepada para pegawainya: ‘Batalkanlah jaminan terhadap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab dan ahlulbait- nya.’ Maka para khatib di setiap desa dan di atas setiap mimbar melaknat ‘ Ali dan berlepas diri darinya. Mereka mencacinya beserta ahlulbaitnya. Orang-orang yang mendapat bencana paling besar ketika itu adalah masyarakat Kufah, karena banyak di antara mereka yang menjadi pengikut ‘Ali as. Ziyad bin Sumayah diangkat menjadi gubernur Kufah yang telah digabungkan dengan Basrah. la mengetahui betul para pengikut Syi’ah karena ia adalah penduduk daerah itu pada masa kekhalifahan ‘Ali as.

Maka ia membunuh mereka di bawah setiap batu dan lumpur, mengamcam mereka, memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, menyalib mereka di pohon kurma, dan mengusir mereka dari lrak. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka. Mu’awiyah mengirim surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah agar tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun pengikut ‘Ali dan ahlulbaitnya.”

Kemudian ia mengirim selembar surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah, “Perhatikanlah, barangsiapa yang terbukti bahwa ia mencintai ‘Ali dan ahlulbaitnya, maka hapuslah ia dari buku catatan (Baitul Mal), dan hentikanlah pemberian dan bagi- annya.” Hal itu ditegaskan dengan surat yang lain, “Siapa saja yang kalian duga setia kepada mereka, maka hukumlah dan hancurkan rumahnya.” Tidak ada bencana di lrak, terutama di Kufah. yang lebih besar daripada itu. Sehingga pengikut ‘Ali as didatangi oleh orang yang dipercayainya lalu menyampaikan rahasianya, tetapi ia sendiri takut kepada pelayan dan budak orang itu. la tidak menyampaikannya sebelum orang itu benar-benar bersumpah untuk merahasiakannya.

Ibn Abi al-Hadid menambahkan, “Hal itu terus berlangsung hingga al-Hasan bin ‘ Ali as Wafat. Maka bencana dan ujian semakin besar. Tidak tersisa seorang pun dari pihak ini kecuali terancam nyawanya atau diusir dari negerinya.

Kemudian bencana itu memuncak setelah al-Husain as wafat dan ‘Abd al-Malik bin Marwan menjadi khalifah. Maka semakin besar bencana yang ditimpakan kepada kaum Syi’ah. Ketika al- Hajjaj bin Yusuf berkuasa, para ulama mendekatinya dengan menampakkan kebencian kepada ‘ Ali dan kesetiaan kepada musuh- musuhnya serta kesetiaan kepada sebagian orang yang mengaku bahwa mereka pun adalah musuhnya. Para ulama itu membuat banyak riwayat tentang keutamaan mereka dan menyebarkan kebencian, cacian, dan celaan kepada ‘ Ali as. Sehingga ada seseorang yang berdiri di hadapan al-Hajjaj-dikatakan bahwa ia adalah kakeknya al-Ashma’i-, ‘Abd al-Malik bin Quraib bin Quraib. la berteriak, “Hai Amir, keluargaku sangat membenciku. Maka mereka menamaiku ‘ Ali. Aku ini seorang fakir. dan sangat berhajat pada hubungan dengan tuan.” Maka al-Hajjaj tertawa dan berkata, “Sungguh bagus caramu mencari perantara. Aku mengangkatmu untuk memimpin daerah anu.”

Akibatnya, kaum Syi’ah menyaksikan pembunuhan keji oleh para penguasa yang lalim. Maka ribuan di antara mereka terbunuh. Adapun sebagian dari mereka yang masih hidup diancam dengan berbagai bentuk ancaman dan teror. Yang pantas disebutkan, di antara hal-hal yang menakjubkan, kelompok ini dapat terus bertahan kendati menghadapi kelaliman yang besar dan pembunuhan yang keji. Bahkan yang sangat mengherankan, Anda mendapati kelompok ini terus bertambah kuat, dapat mendirikan pemerintahan, membangun peradaban, dan banyak dari mereka yang muncul sebagai ulama dan pakar

.

Ciri khas wahabi adalah menuduh syi’ah imamiyah senantiasa melakukan bohong dan dusta alias pelaku aliran sesat…
Syi’ah tidak pernah berdusta apalagi berbohong !!!
Konsep taqiyyah salah mereka pahami…

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat tersebut ada isyarat jelas yang menunjukkan kasus-kasus ketika seorang Mukrnin terpaksa menempuh jalan yang disyariatkan ini dalam perjalanan hidupnya di tengah kondisi yang sulit. Guna melindungi diri, kehormatan, dan hartanya. Atau, untuk melindungi diri, kehormatan, dan harta orang yang ada hubungan dengannya. Sebagaimana pernah ditempuh oleh kaum Mukmin dari keluarga Fir’aun untuk melindungi al-Kalim Musa as dari ancarnan pembunuhan. Hal itu juga pemah dilakukann ‘Ammar bin Yasir ketika ia ditawan dan diancam akan dibunuh. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah. Yang jelas, kita harus mengenalnya, baik pengertian, tujuan, dalil, dan definisi maupun batasannya. Sehingga kita dapat menghindari sikap lalai dan berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Taqiyah adalah isim dari kata ittaqa -yattaqi. Huruf ta’ pada kata itu menggantikan huruf waw. Asalnya adalah al-wiqayah. Dari situ, at-taqwa diartikan secara mutlak sebagai ketaatan kepada Allah. Sebab, orang yang taat menjadikannya sebagai perlindungan dari neraka dan siksaan. Maksud taqiyah itu adalah menjaga diri dari bahaya yang ditimpakan orang lain dengan menampakkan persetujuan kepadanya dalam ucapan atau perbuatan, yang bertentangan dengan kebenaran.

Pengertian Taqiyah

Jika kata at-taqiyyah itu diamhil dari kata al-wiqayah (perlindungan) dari kejahatan, pengertiannya dalam AI-Qur’an dan sunah adalah menampakkan (sikap) kekafiran dan menyembunyikan keimanan, atau memperlihatkan yang batil dan menyembunyikan yang benar. Apabila seperti itu pengertiannya, taqiyah berlawanan dengan kemunafikan seperti halnya keimanan berlawanan dengan kekafiran. Sebab, kemunafikan adalah lawannya. Kemunafikan adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, serta memperlihatkan yang benar dan menyembunyikan yang batil. Karena ada kontradiksi di antara arti kedua kata tersebut, maka taqiyah tidak dapat dipandang sebagai cabang dari kemunafikan.

Benar, barangsiapa yang menafsirkan kemunafikan itu sebagai mutlak pertentangan yang tampak terhadap yang tersembunyi, dan memandang taqiyah – yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah-sebagai salah satu cabanghya, ia telah menafsirkannya dengan pengertian yang lehih luas dari pengertian yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. la te1ah mendefinisikan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang menampakkan keimanan dan menyem- bunyikan kekafiran. Allah swt berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menge- tahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafzk itu benar-benar pendusta. ” (QS. al-Munafiqun [63]: 1)

Apabila demikian definisi munafik, lalu bagaimana hal itu dapat mericakup orang yang menempuh taqiyah dalam menghadapi orang-orang kafir dan ahli maksiat sehingga ia menyembunyikan keimanannya dan menampakkan sikap persetujuan untuk melindungi diri, harta, dan kehormatan ketika menghadapi ancaman.

Kebenarannya akan tampak jika kita mengetahui penggunaannya dalam syariat Islam. Kalau taqiyah itu merupakan bagian dari kemunafikan, tentu hal itu akan dicela dan mustahil Dzat Yang Maha bijaksana memerintahkannya. A1lah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) pe buatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. al-A’raf [7]: 28)

Tujuan Taqiyah

Tujuan taqiyah adalah untuk melindungi diri, kehorrnatan, dan harta. Hal itu dilakukan dalam kondisi-kondisi terpaksa ketika seorang Mukmin tidak dapat menyatakan sikapnya yang benar secara terang-terangan karena takut hal itu akan mendatangkan bahaya dan bencana dari kekuatan yang lalim, seperti kebiasaan- kebiasaan pemerintahan yang suka melalimi, mengintimidasi, mengusir, membunuh, menyita harta, dan merampas hak. Karenanya, orang yang memegang teguh akidah, yang melihat dirinya terancam, tentu ia akan menyembunyikan akidahnya. la menampakkan sikap persetujuan terhadap keinginan dan kebijakan penguasa. Sehingga ia selamat dari ancaman dan pembunuhan hingga Allah memutuskan perkara yang lain.

Taqiyah adalah senjata orang yang lemah dalam mengahadapi kekuatan yang lalim, senjata orang yang diuji dengan tindakan orang yang tidak menghargai hak hidup, kehormatan, dan hartanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena ia tidak sejalan dengannya dalam beberapa prinsip dan pendapatnya.

Taqiyah itu dipraktekkan oleh orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebebasan dalam berbicara, berbuat, berpendapat, dan berakidah. Orang yang menentangnya tidak akan selamat kecuali dengan sikap diam atau menampakkan persetujuan terhadap keinginan dan pemikiran penguasa. Atau, sebagian orang menggunakan taqiyah sebagai wahana yang harus ditempuh untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya yang tidak memiliki daya dan kekuatan. Maka mereka menampakkan sikap itu kepada penguasa yang lalim agar bisa berhubungan dengannya. Hal itu seperti yang dilakukan orang Mukmin dari keluarga Fir’aun yang dikisahkan Allah swt dalam Al-Qur’an.

Kebanyakan orang yang mencela orang-orang yang menempuh jalan taqiyah mengira bahwa tujuan taqiyah itu adalah untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia yang bertujuan membuat kerusakan dan kehancuran. Hal itu seperti yang dikenal di kalangan penganut kebatinan dan partai-partai komunis ilegal. Itu merupakan pandangan keliru yang mereka anut karena ketidaktahuan atau kesengajaan tanpa mendasarkan pendapat mereka ini pada suatu dalil atau hujah yang benar. Apa yang telah kami sebutkan berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Kalau kondisi memaksa dan hukum-hukum yang lalim tidak menyentuh kelompok yang lemah ini, tentu mereka tidak akan menempuh taqiyah. Tentu mereka tidak akan menanggung beban berat dengan menyembunyikan akidah mereka dan pasti mengajak orang-orang pada akidah itu secara terang-terangan dan tanpa keraguan. Namun, senjata selalu dihunus oleh semua pemerintahan yang lalim untuk ditebaskan kepada orang-orang yang memiliki akidah yang berbeda dengan akidah yang dianutnya. Praktek pertahanan seperti ini berbeda dari praktek-praktek yang dilakukan para anggota perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk menjatuhkan dan merebut kendali pemerintahan. Maka semua praktek mereka ditetapkan dan diatur untuk tujuan penghancuran. Mereka adalah orang-orang yang menganut slogan “tujuan menghalalkan segala cara”.

Semua yang jelek menurut akal dan terlarang menurut syariat dibolehkan oleh mereka untuk meraih tujuan-tujuan mereka yang destruktif. Ada pendapat yang memandang bahwa mereka sama saja dengan orang yang menempuh taqiyah sebagai senjata pertahanan agar selamat dari kejahatan pihak lain. Sehingga ia tidak dibunuh atau dibinasakan, harta dan rumah mereka tidak dirampas, hingga Allah memutuskan perkara yang lain. Namun, pendapat itu muncul dari perasaan yang berlawanan dari hal seperti itu. Kaum Muslim yang tinggal di Uni Soviet (dulu) telah mendapat bencana dan cobaan yang menurut akal tidak mungkin mereka dapat menanggungnya.

Kaum komunis selama kekuasaan mereka atas wilayah-wilayah Islam telah menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslim. Mereka merampas harta, tanah, tempat tinggal, masjid, dan sekolah kaum Muslim, serta membakar perpustakaan-perpustakaan. Mereka membunuh banyak kaum Muslim dengan cara yang sangat keji. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban mereka kecuali orang yang menempuh taqiyah dengan menampakkan sikap yang f1eksibel, menyembunyikan ritus-ritus agama, dan melaksanakan salat di dalam rumah hingga Allah menyelamatkan mereka dengan meruntuhkan kekuatan kafir tersebut.

Maka kaum Muslim muncul kembali di atas pentas. Mereka menguasai tanah dan wilayah mereka. Mereka mulai menampakkan kembali kemuliaan dan keagungan mereka sedikit demi sedikit. Hal itu merupakan salah satu dari buah-buah taqiyah yang disyariatkan dan diperkenankan Allah SWT kepada para hamba-Nya sebagai anugerah dan kemuliaan-Nya kepada orang-orang yang tertindas.

Apabila demikian makna dan pengertian taqiyah, dan seperti itu maksud dan tujuannya, maka itu adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang didambakan akal dan hati manusia sebelum segala sesuatu. Taqiyah mengajak manusia kepada fitrahnya. Untuk itu, taqiyah digunakan oleh orang yang diuji dengan tindakan penguasa dan pemerintahan yang tidak menghargai sesuatu apa pun selain ide, pemikiran, ambisi, dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menimpakan bencana kepada setiap orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka tidak membedakan antara Muslim-penganut Syi’ah ataupun Ahlusunah-dan selain Muslim. Dari sini, tampaklah fungsi dan faedah taqiyah.

Untuk mendukung prinsip kehidupan ini, kami mengkaji dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunah.

Dalil A1-Qur’an dan Sunah

Taqiyah disyariatkan dengan nas A1-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang akan kami coba menjelaskannya dalam halaman- halaman berikut:

Ayat pertama

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan ( dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar: ” (QS. an-Nahl [16]: 106)

Anda perhatikan, bahwa A1lah SWT membolehkan sikap menampakkan kekafiran karena terpaksa dan menuruti orang-orang kafir karena takut kepada mereka. Namun, dengan syarat hati tetap tenang dalam keimanan. Hal itu dijelaskan oleh sejumlah mufasir baik klasik maupun kontemporer. Kami akan berusaha mengetengahkan pendapat-pendapat sebagian dari mereka untuk menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Bagi siapa yang ingin mengetahuinya lebih jauh, silakan merujuk pada beberapa kitab tafsir.

I. Ath- Thabrasi berkata, “Ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi kafir. Mereka adalah ‘Ammar, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayah. Kedua orang tua ‘Ammar dibunuh karena mereka tidak menampakkan sikap kekafiran. Sedangkan ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Karenanya, mereka me- lepaskannya. Kemudian ‘Ammar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, dan berita itu tersebar di tengah kaum Muslim. Maka orang-orang mengatakan bahwa ‘Ammar telah menjadi kafir. Tetapi Rasulullah saw menjawab, “Sama sekali tidak, ‘Ammar telah dipenuhi keimanan dari ubun-ubunnya hingga telapak kakinya. Keimanan itu telah bercampur dengan daging dan darahnya.”

Berkenaan dengan itu, turun ayat di atas dan. ‘Ammar pun menangis. Maka Rasulullah saw mengusap kedua matanya sambil bersabda, “Kalau mereka mengulangi tindakan serupa kepadamu, maka ulangilah apa yang engkau ucapkan itu.”

2. Az-Zamakhsyari berkata, “Diriwayatkan bahwa beberapa orang penduduk Makkah disiksa. Karenanya, mereka keluar dari Islam setelah mereka menganutnya. Di antara mereka ada yang dipaksa lalu kata-kata kekafiran mengalir pada lisannya, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Di antara mereka adalah ‘Ammar bin yasir dan kedua orang tuanya, yaitu yasir dan Sumayyah, serta Shuhaib, Bilal, dan Khabab.

Adapun ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki dengan lisannya secara terpaksa

3. AI-Hafizh bin Majah berkata: AI-Ita’ artinya al-i’tha’. Yaitu, mereka menampakkan persetujuan pada keinginan orang- orang musyrik itu sebagai sikap taqiyah. Taqiyah dalam hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah SWT, “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. “(QS. an-Nahl [16]: 106)

4. Al-Qurthubi berkata: Al-Hasan berkata, “Taqiyah itu dibolehkan bagi manusia hingga hari kiamat.” Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa agar menjadi kafir sehingga ia takut dirinya akan dibunuh, ia tidak berdosa untuk menampakkan kekafiran tetapi hatinya tetap tenang dalam keimanan, ia tidak bercerai dari istrinya dan tidak dihukumi sebagai orang kafir. Ini adalah pendapat Malik. para ulama Kufah dan asy-Syafi’i.

5. Al-Khazin berkata: Taqiyah tidak dilakukan kecuali ketika ada ketakutan akan dibunuh dan dengan niat yang baik. Allah swt berfirman. “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.. (QS. an-Nahl [16]: 106). la tidak berdosa. karena tempat bagi keimanan ialah di dalam hati.

6. Al-Khathib asy-Syarbini berkata, kecuali orang-orang dipaksa kafir, yakni untuk mengucapkannya …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Tidak apa-apa ia melakukannya. karcna tempat keimanan adalah di dalam hati.

7. Isma’il Haqqi berkata: …kecuali orang yang dipaksa … la dipaksa untuk mengucapkan kata-kata itu karena takut akan ditimpakan sesuatu pada diri atau salah satu anggota tubuhnya. Sebab, kekafiran itu adalah keyakinan. Sedangkan pemaksaan untuk mengucapkan kata-kata itu bukan keyakinan. Jadi, makna ayat itu adalah “Akan tetapi, orang yang dipaksa terhadap kekafiran dengan lisannya”. …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …Akidahnya tidak berubah. Itu merupakan dalil bahwa keimanan yang benar dan diakui di sisi Allah adalah pembenaran (tashdiq) dengan hati.

Ayat kedua:

Allah swt berfirman, Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, Dan hanya kepada Allah kamu kembali. ” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28)

Pendapat para mufasirtentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidakmemerlukan penjelasan lagi.

I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ” Abu al-‘A1iyah berkata, “Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. la berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. la mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya. “… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …,maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan.

2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apabila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan.

3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …, berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

a. Taqiyah hanya dilakukan apabila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dan ia takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.

” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam keadaan- keadaan hati.

b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya. Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”

4. An-Nasafi berkata, “… kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ” Artinya, kecuali kamu takut terhadap kebijakan mereka sebagai sesuatu yang mendatangkan ketakutan. Yakni, agar orang kafir itu tidak memiliki kekuasaan atas dirimu. Sehingga engkau takut ia menimpakan bahaya kepada diri dan hartamu. Maka ketika itu, kamu boleh menampakkan kesetiaan dan menyembunyikan permusuhan.

5. Al-Alusi berkata: Dalam ayat itu terdapat dalil disyariatkannya taqiyah. Mereka mendefinisikannya sebagai memelihara diri, kehormatan, atau harta dari kejahatan musuh. Musuh itu ada dua bagian sebagai berikut:

a. Permusuhan yang didasarkan pada perbedaan agama, seperti orang kafir dan Muslim.

b. Pennusuhan yang didasarkan pada tujuan-tujuan keduniaan, seperti harta dan kekuasaan.

6. Jamaluddin al-Qasimi berkata: Terhadap ayat ini: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka … para imam (mazhab) menyimpulkan bahwa taqiyah disyariatkan ketika ada ketakutan. Ijmak tentang bolehnya melakukan taqiyah ketika takut telah dinukil oleh Imam al-Murtadha al-Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq.

7. Tentang ayat: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka , al-Maraghi menafsirkan, “Yakni, kaum Mukmin meninggalkan kesetiaan kepada orang-orang kafir merupakan suatu keharusan dalam setiap keadaan kecuali ketika takut mereka akan menimpakan suatu bahaya. Maka ketika itu, kamu boleh melakukan taqiyah rnenurut kadar ketakutan terhadap bahaya itu. Sebab, kaidah syariat rnengatakan, ‘Meninggalkan kerusakan lebih didahulukan daripada rnendatangkan kebaikan.”

Jika kesetiaan kepada mereka dibolehkan karena takut akan datang bahaya dari mereka. Maka lebih utama, jika hal itu untuk mendatangkan manfaat bagi kaum Muslim. Jadi, tidak ada salah- nya negara Muslim bersekutu dengan negara bukan Muslim untuk mendatangkan manfaat, baik dengan menolak bahaya atau mendatangkan manfaat. Kesetiaan itu bukan-dalam sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kaum Muslim. Kesetiaan seperti itu tidak khusus dilakukan dalam keadaan lemah, melainkan juga boleh dilakukan dalam setiap saat.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari ayat ini, bahwa boleh melakukan taqiyah. Yaitu, seseorang mengatakan atau melakukan apa yang bertentangan dengan kebenaran karena menghindari bahaya dari musuh yang akan ditimpakan kepada diri, kehormatan, atau hartanya.

Barangsiapa yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena terpaksa untuk memelihara diri dari kematian, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan, ia tidak menjadi kafir. Melainkan ia dimaafkan, sebagaimana yang dilakukan ‘Ammar bin yasir ketika ia dipaksa oleh orang-orang Quraisy agar menjadi kafir. Maka ia melakukannya dengan terpaksa, sementara hatinya tetap dipenuhi keimanan. Berkenaan dengan itu, turunlah ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).

Kalimat-ka1imat dan ungkapan-ungkapan yang begitu jelas ini, tidak memberi peluang lagi untuk orang mengatakan kecuali menetapkan disyariatkannya taqiyah dalam pengertian yang telah Anda ketahui. Bahkan, seseorang tidak akan menemukan seorang mufasir atau ahli fiqih pun yang mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah merasa ragu dalam nenetapkan bolehnya taqiyah. Sebagaimana Anda, wahai pembaca yang mulia, tidak menemukan seseorang yang sadar tidak melakukan taqiyah dalam kondisi- kondisi sulit selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Hal itu akan saya jelaskan dalam penjelasan tentang batasan-batasan taqiyah.

Adapun orang yang menentang bolehnya taqiyah atau yang berlebih-lebihan dalam melakukannya, semata-mata menafsirkannya dengan taqiyah yang telah populer di kalangan anggota organisasi-organisasi bawah tanah dan aliran-aliran destruktif, seperti aliran kebatinan dan sebagainya. Padahal, seluruh kaum Muslim berlepas diri dari taqiyah yang bersifat destruktif seperti ini.

Ayat ketiga

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, apakah kamu akan membunuhseorang laki-laki karena dia mengatakan, “Tuhanku adalah Allah. Padahal, dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung ( dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar; niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta ,” (QS. al-Mu’min [40]: 28)

Sedangkan akibat dari perbuatannya itu adalah, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikeu,ng oleh azab yang amat buruk. ” ( QS. al-Mu’min [ 40] : 45 )

Tiada lain, selain karena dengan taqiyah orang itu, Nabi A1lah itu dapat selamat dari kematian. Allah swt berfirrnan, “la berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Sebab itu, keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu. “, (QS. al-Qashash [28J: 20)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bolehnya taqiyah untuk menyelamatkan orang Mukmin dari kejahatan musuh yang kafir.

Taqiyah Muslim terhadap Muslim yang Lain dalam Kondisi Tertentu

Walaupun ayat-ayat di atas turun berkenaan dengan taqiyah orang Muslim terhadap orang kafir, namun pengertian ayat itu tidak dikhususkan dengan sebab turunnya. Sebab, bukanlah tujuan disyariatkannya taqiyah ketika mendapat ujian dengan tindakan orang-orang kafir kecuali untuk memelihara diri dari kejahatan. Jika seorang Muslim diuji dengan tindakan saudaranya sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam beberapa furu’, dan pihak yang kuat tidak segan-segan menindas pihak yang lemah, seperti membunuh atau merampas hartanya, dalam kondisi-kondisi sempit itu akal sehat memutuskan untuk memelihara diri dengan menyembunyikan akidah dan menempuh taqiyah. Kalaupun dalam hal itu ada dosa, maka dosa itu adalah bagi orang yang kepadanya ditujukan taqiyah, bukan kepada orang yang melakukannya. Kalau kebebasan menjamin semua kelompok Islam, dan setiap kelompok menghargai pendapat kelompok lain karena mengetahui bahwa pendapat itu merupakan ijtihadnya, tentu tidak seorang pun dari kaum Muslim yang terpaksa untuk menempuh taqiyah. Pada gilirannya, keharmonisan akan menggantikan perselisihan.

Sebagian besar ulama memahami seperti itu dan menjelaskannya. Berikut ini penjelasan dari sebagian mereka:

I. Imam ar-Razi dalam menafsirkan firman Allah swt; …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …” mengatakan: Makna lahiriah ayat itu menunjukkan bahwa taqiyah hanya dibolehkan dilakukan terhadap orang-orang kafir yang merupakan mayoritas. Namun, Imam asy-Syafi’i ra berkata: “Jika keadaan di tengah sesama kaum Muslim sama dengan keadaan antara kaum Muslim dan kaum kafir, taqiyah itu dibolehkan untuk melindungi diri.” la mengatakan, “Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri.” Tetapi, apakah taqiyah juga dibolehkan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu dibolehkan berdasarkan sabda Rasulu1lah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim seperti kemuliaan darahnya.” Selain itu, beliau juga pernah bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, ia mati syahid.”

2. Jamaluddin al-Qasimi menukil hadis dari Imam Murtadha al- Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq. Teksnya sebagai berikut: “Bekal kebenaran yang samar dan tersembunyi ada dua hal. Pertama, ketakutan para arif-dengan jumlah mereka yang sedikit-kepada para ulama yang jahat dan penguasa yang lalim dengan bolehnya menempuh taqiyah dalam hal itu adalah disyariatkan dalam Al-Qur’an dan ijmak kaum Muslim. Hal itu selama ketakutan tersebut masih menjadi perintang untuk menampakkan kebenaran dan orang yang benar masih dipandang musuh oleh kebanyakan orang. Telah diriwayatkan hadis sahih dari Abu Hurairah ra bahwa-pada masa awal Islam-ia berkata, “Saya menjaga dua bejana dari Rasulullah saw. Yang pertama, saya sebarkan kepada orang-orang, sedangkan yang kedua,jika saya menyebarkannya, tentu tenggorokan ini akan terputus.”

3. Dalam menafsirkan ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemumaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, ” al-Maraghi berkata, “Termasuk ke da1am taqiyah adalah menampakkan kekafiran, kelaliman, dan kefasikan, serta melembutkan perkataan, tersenyum, dan menyumbangkan harta kepada mereka. Niscaya ha1 itu dapat menahan tindakan keras mereka dan memelihara kehormatan dari tindakan mereka. Ha1 itu tidak termasuk da1am kesetiaan ( muwtilat) yang dilarang.

Bahkan hal itu disyariatkan. Ath- Thabrani telah meriwayatkan sabda Rasulullah saw: “Sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehormatan seorang Mukmin adalah sedekah.”

Kaum Syi’ah melakukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam kondisi-kondisi tertentu untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang dilakukan kaum Ahlusunah. Selain itu, karena sebab- sebab yang jelas, seorang Syi’ah melakukan taqiyah kepada saudaranya yang Muslim. Hal itu bukan karena sikap melampaui batas pada orang Syi’ah, melainkan saudaranya yang memaksa ia melakukan hal itu. Sebab, ia menyadari bahwa pengusiran dan pembunuhan pasti ditimpakan kepadanya apabila ia menampakkan keyakinannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan akidah Islam.

Memang, hingga saat ini, orang Syi ‘ah menghindari untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki arah atau bahwa Dia tidak terlihat pada hari kiamat, serta dalam perujukan (marja’iyah) keilmuan dan politik adalah kepada ahlulbait sepeninggal Nabi saw atau bahwa hukum mut’ah tidak dihapus. Apabila orang Syi’ah menampakkan kebenaran-kebenaran ini- yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah-dirinya akan terancarn bencana danbahaya. Telah dikemukakan kepada Anda pendapat ar-Razi, Jamaluddin al-Qasimi, dan al-Maraghi yang begitu jelas tentang bolehnya melakukan taqiyah jenis ini. Maka mengkhususkan taqiyah dengan taqiyah terhadap orang kafir semata merupa- kan kejumudan terhadap makna lahiriah ayat, menutup pintu pemahamannya, penolakan terhadap substansinya yang telah disyariatkan untuk taqiyah, dan meniadakan hukum akal yang menetapkan untuk menjaga yang paling penting apabila tampak yang penting.

Sejarah kita mengemukakan tentang sejumlah pemuka kaum Muslim yang menempuh taqiyah dalam kondisi-kondisi sulit atau ketika kehidupan dan segala yang mereka miliki terancam kebinasaan. Contoh yang paling baik untuk itu adalah yang dikemukakan ath-Thabari dalam kitab tarikhnya (7/195-206) tentang usaha al-Ma’mun untuk memaksa para hakim dan ahli hadis di zamannya untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Se– hingga untuk itu mereka diancam akan dibunuh semuanya tanpa belas kasihan. Ketika para ahli hadis itu melihat pedang terhunus, mereka memenuhi keinginan al-Ma’mun dan menyembunyikan akidah mereka.

Ketika mereka dicela karena berpendapat sesuai dengan keinginan al-Ma’mun, mereka membenarkan tindakan mereka dengan menganalogikannya pada perbuatan ‘Ammar bin yasir ketika dipaksa untuk menjadi musyrik sementara hatinya tenang dalam keimanan. Kisah ini sangat terkenal dan sangat jelas tentang bolehnya menempuh taqiyah yang mendorong sebagian orang menimpakan celaan kepada kaum Syi’ah. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang mengada-adakannya dari pemikiran mereka sendiri tanpa dilandasi kaidah dan prinsip-prinsip Islam.

Kalau saudara yang Sunni memandang taqiyah sebagai sesuatu yang haram, maka hilangkanlah tekanan terhadap sudaranya yang Syi’ah dan tidak mempersempit kebebasan yang diperkenankan Islam kepada para pemeluknya. Hendaklah diberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan akidah dan amalannya. Sebagaimana diberikan kebebasan kepada banyak orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, serta menumpahkan darah dan merampas tempat tinggal, apalagi kepada kelompok yang memeluk agama yang sama dan sepakat dengannya dalam banyak ajaran akidahnya. Kalau Mu’awiyyah dan para pembantunya serta Dinasti Abbasiyyah semuanya dianggap sebagai telah berijtihad dalam menyiksa dan menumpahkan darah orang-orang yang menentang mereka, maka apa yang menghalanginya untuk memberikan kebebasan kepada kaum Syi’ah dengan menganggap mereka telah berijtihad (dalam melakukan taqiyah-penj.).

Apabila mereka mengatakan-dan itu sesuatu yang aneh- bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Imam ‘Ali as tidak merusak rasa keadilan orang-orang yang memberontak tersebut. Yang di antara pemukanya adalah Thalhah, az-Zubair, dan Ummul Mukininin ‘Aisyah. Dan bahwa tersebamya fitnah di Shiffin-yang berakhir dengan terbunuhnya banyak sahabat dan tabi’in serta tertumpahnya darah ribuan orang lrak dan Syam tidak mengurangi sedikit pun kewaraan orang-orang yang saling berperang itu. Bahkan setelah itu mereka dipandang sebagai mujtahid dan dimaafkan. Mereka memperoleh pahala orang yang berijtihad walaupun keliru dalam ijtihadnya. Maka mengapa mereka tidak bergaul dengan kaum Syi’ah berdasarkan prinsip ini dan berpendapat bahwa mereka itu dimaafkan dan memperoleh pahala?

Memang, taqiyah di kalangan kaum Syi’ah kadang-kadang meningkat intensitasnya dan kadang-kadang berkurang bergantung pada kuat dan lemahnya intimidasi (yang ditujukan kepada mereka). Terdapat perbedaan besar antara zaman al-Ma’mun yang membolehkan orang-orang memuji ahlulbait dan memuliakan kaum ‘Alawi, dan zaman al Mutawakkil yang memotong lidah orang- orang yang menyebut keutamaan mereka.

Inilah Ibn as-Sikkit, salah seorang sastrawan pada zaman al- Mutawakkil. Al-Mutawakkil telah memilihnya menjadi guru bagi kedua putranya. Pada suatu hari, al-Mutawakkil bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau cintai, kedua putraku atau al-Hasan dan al-Husain? ‘Ibn as-Sikkit menjawab, “Demi Allah, Qanbar, pelayan ‘Ali as lebih baik daripadamu dan kedua putramu”. Maka al-Mutawakkil berkata (kepada para pengawalnya) , “Potonglah lidahnya dari tengkuknya”. Kemudian mereka melakukannya hingga sastrawan wafat. Peristiwa itu terjadi pada malam Senin tanggal 5 Rajab 244 H. Ada juga yang mengatakan, tahun 243 H. Ketika itu umurya 28 tahun. Ketika ibn as-Sikkit wafat, al-Mutawakkil mengirimkan uang sepuluh ribu dirham kepada putra Ibn as-Sikkit, Yusuf. la mengatakan. “Ini adalah diyat (denda) atas kematian ayahmu”

Ibn ar-Rumi. seorang penyair ‘Abqari, dalam qashidahnya yang berisi ratapan (ratsa), atas kematian Yahya bin ‘Umar bin al-Husain bin Zaid bin ‘Ali. mengatakan:

Apakah di setiap waktu ada korban suci dari keluarga Nabi Muhammad yang gugur berlumuran darah

Wahai Bani Muhammad, berapa banyak sudah manusia memangsa jasadmu

Sabarlah, tak lama lagi akan datang penolong untuk musibahmu Apakah setelah Husain menjadi syahid pelita-pelita di langit

masih akan bercahaya terang dan memberi petunjuk?

Jika demikian keadaan keturunan Nabi saw, maka bagaimana halnya dengan para pengikut mereka dan orang-orang menapaki jejak-jejak mereka?

Allamah asy-Syahristani berkata, “Taqiyah adalah syiar setiap orang yang lemah dan terampas kebebasannya. Syi’ah lebih terkenal akan taqiyahnya daripada yang lain. Sebab, Syi’ah terus-menerus diuji dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan yang ditimpakan kepada umat yang lain. Kebebasannya dirampas pada seluruh masa Daulah Umayah, sepanjang masa Dinasti Abbasiyah, dan selama beberapa masa Daulah Utsmaniyah. Oleh karena itu, mereka menyiarkan taqiyah lebih gencar daripada yang dilakukan kaum yang lain. Ketika Syi ‘ah berbeda dari kelompok-kelompok yang bertentangan dengannya dalam bagian penting akidah, ushuluddin, dan banyak hukum-hukum fiqih, perbedaan itu secara alami memunculkan pengawasan (dari pihak musuh-penj.). Pengalaman membenarkan ha1 itu. Oleh karena itu, pengikut para imam ahlulbait selama waktu yang lama terpaksa me- nyembunyikan tradisi, akidah, fatwa, kitab, atau yang lainnya yang berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini mereka melindungi diri dan memelihara kecintaan dan persaudaraan dengan saudara-saudara sesama kaum Muslim, agar tonggak ketaatan tidak patah dan agar orang-orang kafir tidak merasakan adanya perbedaan apa pun dalam masyarakat Islam sehingga mereka memperlebar jurang perbedaan itu di tengah umat Muhammad.

Untuk tujuan-tujuan suci ini, Syi’ah menggunakan taqiyah dan memelihara persetujuannya secara lahiriah dengan kelompok-kelompok lain. Dalam hal itu mereka mengikuti perilaku para imam dari keluarga Muhammad dan hukum-hukum mereka yang teguh tentang wajibnya taqiyah, karena “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku”. Sebab, agama Allah berja1an di atas sunnah taqiyah bagi orang-orang yang terampas kebebasannya. Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari orang-orang terpercaya dari ahlulbait as dalam atsar yang sahih: “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku” Barangsiapa yang tidak bertaqiyah, tidak ada agama baginya.”

Taqiyah, merupakan syiar ahlulbait as untuk menolak bahaya dari mereka dan para pengikut mereka, dan melindungi darah mereka. Selain itu, taqiyah dilakukan untuk memperbaiki keadaan kaum Muslim, berpartisipasi dengan mereka, dan menyatukan kembali mereka. Hal itu senantiasa menjadi tanda yang dikenal Syi’ah Imamiyah yang berbeda dari kelompok-kelompok dan umat-umat lainnya. Jika setiap orang merasakan adanya bahaya atas diri atau hartanya disebabkan tersebar keyakinannya atau ia menampakkannya, ia harus menyembunyikannya dan melakukan taqiyah pada tempat-tempat yang berbahaya itu. Ini sesuatu yang dituntut fitrah dan akal.

Seperti telah diketahui, Syi’ah Imamiyah dan para imam mereka menghadapi berbagai bentuk ujian dan perampasan kebebasan dalam semua generasi yang tidak dialami oleh kelompok atau umat mana pun. Pada sebagian besar generasi, mereka terpaksa melakukan taqiyah dalam pergaulan mereka dengan orang-orang yang menentang mereka, tidak menampakkan keyakinan, serta menyembunyikan akidah dan arna1an mereka yang berbeda dengan orang lain. Sebab, jika tidak demikian, niscaya bahaya menimpa mereka di dunia ini.

Untuk a1asan ini, mereka dikena1 dan dibedakan dari kelompok lain dengan taqiyah.

Taqiyah memiliki beberapa ketentuan dalam hal wajib dan tidak wajibnya berdasarkan tingkat ketakutan akan bahaya. Perinciannya disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Batasan Taqiyah

Anda telah mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah serta dalilnya. Kini akan dijelaskan batasan-batasannya.

Syi’ah dikenal dengan taqiyah. Mereka melakukan taqiyah dalam ucapan dan perbuatan. Maka hal itu menjadi sumber kebingungan dalam benak orang-orang bodoh. Mereka mengatakan bahwa karena taqiyah termasuk prinsip-prinsip ajaran Syi’ah, maka tidak boleh bersandar pada semua yang mereka ucapkan, mereka tulis, dan mereka sebarkan. Sebab, sangat mungkin tulisan- tulisan itu merupakan pengakuan belaka, sedangkan kenyataannya adalah sesuatu yang lain. Inilah yang berulang-ulang kami dengar dari mereka.

Akan tetapi, kami mengajak pembaca yang mulia melihat bahwa taqiyah hanya dilakukan dalam batasan masalah-masalah pribadi dan bersifat parsial ketika merasakan ketakutan atas diri. Jika alasan-alasan menunjukkan bahwa dalam menampakkan akidah atau mempraktekkan amalan menurut mazhab ahlulbait kemungkinan akan mendatangkan bahaya kepada seorang Mukmin, inilah salah satu kasusnya. Akal dan syariat menetapkan keharus- an melakukan taqiyah sehingga hal itu akan melindungi dirinya dari bahaya. Adapun hal-hal yang bersifat universal yang berada di luar lingkup ketakutan, maka tidakdilakukan taqiyah. Tulisan-tulisan yang tersebar tentang Syi’ah termasuk dalam bentuk terakhir ini. Sebab, dalam hal itu tidak ada ketakutan untuk menulis sesuatu yang berteniangan dengan yang diyakini. Padahal, tidak ada keharusan (melakukan taqiyah) sama sekali dalam hal ini se- hingga ia diam dan tidak menulis apa pun.

Apa yang mereka dakwakan bahwa tulisan-tulisan itu merupakan pengakuan belaka yang tidak berdasar adalah bersumber dari sedikitnya pengetahuan mereka terhadap hakikat taqiyah menurut Syi’ah. Alhasil, Syi’ah hanya melakukan taqiyah pada suatu masa ketika tidak memeliki pemerintahan yang melindungi mereka dan tidak ada kekuatan untuk menolak bahaya dari mereka. Adapun pada masa kini, tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan me- lakukan taqiyah dalam kasus-kasus khusus.

Syi ‘ah, seperti yang telah kami sebutkan, tidak berlindung pada taqiyah kecuali setelah terpaksa untuk melakukan hal itu. ltulah yang benar. Saya tidak yakin ada seorang pun yang melihat permasalahan-permasalahan tersebut dengan akalnya, bukan dengan emosinya, akan menentang hal itu. Kecuali, di antara hal- hal yang bisa diterima dalam sejarah kesyiahan, ada pembatasan taqiyah dalam fatwa-fatwa; Taqiyah tidak diterjemahkan ke dalam praktek kecuali sedikit sekali. Bahkan secara praktis, mereka lebih banyak berkorban daripada orang lain. Hendaknya setiap peneliti melihat sikap-sikap para pengikut Syi’ah terhadap Mu’awiyah dan penguasa Dinasti Umayah lainnya, serta para penguasa Dinasti Abbasiyah. Mereka itu seperti Hujur bin’ Adi, Maitsam at- Tammar, Rasyid al-Hijri, Kumail bin Ziyad, dan ratusan orang lainnya, juga seperti sikap-sikap kaum ‘ Alawi sepanjang sejarah dan revolusi mereka yang berkesinambungan.

Taqiyah yang Haram

Berdasarkan hukumnya, taqiyah dibagi menjadi lima bagian. Sebagaimana wajib untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan harta, taqiyah juga haram dilakukan apabila akan menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti hancumya agama, tersembunyinya kebenaran bagi generasi-generasi selanjutnya, penguasaan musuh terhadap urusan, kehormatan, dan tempat-tempat per- ibadatan kaum Muslim. Oleh karena itu, Anda melihat bahwa kebanyakan pemuka Syi’ah menolak melakukan taqiyah dalam beberapa masa. Mereka mempersembahkan jiwa dan raga mereka sebagai korban untuk kepentingan agama. Maka taqiyah itu me- miliki tempat-tempat tertentu. Selain itu, taqiyah yang diharamkan juga memiliki tempat-tempat tertentu.

Pada dasamya, taqiyah adalah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya untuk ditampakkan hingga hilang bahaya tersebut. la merupakan jalan paling utama untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kaum Syi’ah itu pengecut, hilang kekuatan, penakut, ragu untuk melangkah, dan penuh kehinaan. Sama sekali tidak. Taqiyah itu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana ia wajib dalam suatu masa, ia pun haram pada masa yang lain. Dalam hal dibolehkan dan dilarang, taqiyah tidak didasarkan pada kekuatan dan kelemahan, melainkan didasarkan pada kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Imam Khomeini as pemah berkomentar tentang hal ini. Kami nukilkan teksnya hingga pembaca mengetahui bahwa taqiyah memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan kadang-kadang dilarang dilakukan untuk kepentingan yang lebih agung. Imam Khomeini a.s. berkata, “Taqiyah diharamkan dalam beberapa larangan dan kewajiban-kewajiban yang dalam pandangan Pembuat syariat menempati kedudukan yang tinggi, seperti penghancuran Ka’bah dan kuburan-kuburan suci, penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an, penafsiran yang dilakukan suatu mazhab yang sesuai dengan ateisme dan larang-larangan utama lainnya. Hal itu tidak dapat dijadikan dalil dan bukan suatu bentuk keterpaksaan untuk melakukan taqiyah.

Hal itu ditunjukkan da1am Mu’tabarah Mus’addah bin Shidqah. Di situ dikatakan, “Setiap sesuatu yang dilakukan seorang Mukmin di tengah mereka, padahal seharusnya ia melakukan taqiyah, selama tidak menimbulkan kerusakan dalam agama, maka itu boleh.”

Dari pengertian ini, jika orang yang melakukan taqiyah itu termasuk orang-orang yang memiliki kedudukan dan kepentingan di mata manusia, padahal melakukan beberapa perbuatan yang haram atau meninggalkan kewajiban dipandang sebagai melemah- kan mazhab atau merusak kemuliaannya, seperti dipaksa me- minum khamar dan berzina, maka bolehnya taqiyah dalam hal ini berdasarkan ketentuan dalil ar-raf dan dalil-dalil taqiyah adalah sulit, bahkan dilarang. Yang paling utama dari itu semua adalah tidak membolehkan taqiyah. Kalau salah satu prinsip Islam atau mazhab, atau salah satu kewajiban agama terancam hilang, rusak, dan berubah, seperti kalau orang-orang yang menyimpang hendak mengubah hukum-hukum waris, talak, salat, haji, dan prinsip-prinsip hukum lainnya, apalagi dari prinsip-prinsip agama atau mazhab, maka taqiyah dalam kasus seperti itu tidak diper- bolehkan. Kepentingan disyariatkannya taqiyah adalah agar mazhab tetap utuh, prinsip-prinsip tetap terpelihara, dan kesatuan kaum Muslim untuk menegakkan agama dan prinsip-prinsipnya. Apabila agama dan prinsip-prinsipnya terancam kerusakan, maka tidak boleh bertaqiyah. Hal itu tampak dengan jelas dari penjelasan di atas.

Demikianlah, telah kami jelaskan seluruh aspek taqiyah yang hakiki dan sebenamya. Dari uraian itu, kami simpulkan sebagao berikut:

1. Taqiyah merupakan prinsip Al-Qur’an yang didukung oleh sunah Nabi saw. Taqiyah telah dilakukan pada masa risalah oleh orang menghadapi ujian di kalangan sahabat untuk me- melihara dirinya. Rasulullah saw tidak menentangnya, bahkan menegaskannya dengan nas Al-Qur’an, seperti yang menimpa ‘Ammar bin yasir yang diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengulanginya jika orang-orang musyrik itu memaksanya lagi agar menjadi kafir.

2. Taqiyah dalam pengertian pembentukan kelompok-kelompok rahasia untuk tujuan-tujuan destruktif ditolak oleh kaum Muslim pada umumnya, dan khususnya Syi’ah. Hal itu tidak ada hubungannya dengan taqiyah yang dianut kaum Syi .ah.

3. Para mufasir, dalam kitab-kitab tafsir mereka, ketika menafsikan ayat-ayat yang berkenaan dengan taqiyah, sepakat dengan apa yang dianut Syi’ah tentang bolehnya taqiyah.

4. Taqiyah tidak khusus dilakukan terhadap orang kafir, melainkan juga secara umum dilakukan terhadap orang Muslim yang menyimpang yang ingin berbuat jahat dan keji kepada saudaranya.

5. Berdasarkan pembagian hukum-hukumnya, taqiyah terbagi ke dalam lima bagian. Di antaranya, taqiyah itu wajib dalam kasus tertentu dan haram dalam kasus yang lain.

6. Lingkup taqiyah tidak melewati masalah~masalah individual, yaitu apabila dirasakan ada ketakutan. Namun, jika ketakutan dan tekanan itu hilang, tidak ada alasan untuk melakukan taqiyah.

Penutup

Kami asumsikan bahwa taqiyah merupakan tindak kejahatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan hartanya. Akan tetapi, pada hakikatnya, hal itu kembali pada kondisi yang mengharuskan seorang Syi’ah yang Muslim melakukan taqiyah dan mendorongnya menampakkan sesuatu dalam ucapan dan perbuatan yang tidak diyakininya. Maka bagi orang yang mencela taqiyah terhadap sesama Muslim yang tertindas hendaklah memberikan kebebasan kepada orang itu dalam kehidupan dan membiarkannya di dalam keadaannya. Setidaknya yang dapat dibenarkan akal adalah menanyakan kepadanya tentang dalil akidahnya dan sumber pengamalannya. Jika didasarkan pada hujah yang jelas, ikutilah. Namun, jika sebaliknya, maafkanlah ia dalam mengikuti ijtihad dan jihad ilmiahnya.

Kami mengajak kaum Muslim untuk memperhatikan motif-motif yang mendorong kaum Syi’ah melakukan taqiyah. Hendaklah mereka, sedapat mungkin, memberikan keleluasaan kepada saudara mereka seagama. Karena setiap ahli fiqih Muslim memiliki pendapat dan pandangan serta kesungguhan dan kemampuan- nya sendiri.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh A1lah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Kami memohon kepada Allah swt agar memelihara darah dan kehormatan kaum Muslim dari gangguan orang-orang yang menyimpang; menyatukan barisan mereka; menyatukan hati mereka; menyatukan kembali mereka; dan menjadikan mereka satu barisan dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya atas semua itu Dia Mahakuasa dan Mahapantas mengabulkan doa.

akidah wahabi bertentangan dengan NU ! Akidah NU lebih dekat dengan syi’ah

Musuh Islam Sebenarnya dan Bagaimana Mengenalinya
wahabi  golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita. Berdebat dengan mereka adalah tindakan yang terburuk.Segala hal ditempuh bagi kaum Wahhâbi/Salafy, khusunya bagi para sukarelawan dan Misionaris mereka dalam menegakkan akidah andalan mazhab menyimpang mereka! Demi meyakinkan kaum awam, dalil harus ditegakkan… Tidak ada Qur’an dan Sunnah shahihan, ucapan para pendata Yahudi dan/atau pendapat kaum Musyrik pun jadi! Demikian kira-kira semangat da’wah yang mereka usung!

Itulah yang benar-benar terjadi! Mazhab Wahhabi/Salafy “ngotot” menyebarkan dan meyakinkan kaum Muslimin bahwa Allah itu berbentuk… bersemayam, duduk di atas Arsy-Nya yang dipikul oleh delapan kambing hutan atau dipikul empat malaikat yang rupa dan bentuk mereka beragam, ada yang menyerupai seekor singa dan yang lainnya menyerupai bentuk binatang lain… dan lain sebagainya dari akidah ketuhanan yang menggambarkan Allah itu berbentuk dan menyandang sifat-sifat makhluk-Nya..

Termasuk di antara akidah nyeleneh lagi menyimpang kaum Wahhâbi/Salafy adalah keyakinan bahwa Allah itu bersemayam/duduk di atas Arsy-Nya…. Mereka memperkosa berbagai ayat Al Qur’an dan menelan mentah-mentah riwayat palsu beracun dan menjadikan ucapan belum pasti kebenaranya dari orang-orang yang mereka vonis kafir-musyrik yang telah menyimpang akidahnya dan keluar dari agama! Menjadikan semua itu sebagai pondasi keyakinan dan akidah sesat mereka!

Tapi, sekali lagi, anehnya “kaum Musyrik” yang biasanya mereka kecam itu kini disanjung bak seorang nabi pujaan dan ucapan mereka bagaikan wahyu langit yang terjaga!

Perhatikan, dalam masalah keyakinan Allah SWT itu beristiwâ’/duduk/bersemayam di atas Arsy-Nya dengan segala pernak-pernik masalahnya, kaum Wahhâbi (dengan tanpa malu) mencatut nama Imam Malik ibn Anas (imam besar Ahlusunnah)! Perhatikan bagaimana mereka mengandalkan ucapan Imam Malik di bawah ini:

.

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

lihat “Kaum Wahhâbiyah Mujassimah Memalsu Atas Nama Salaf! 

Akan tetapi seperti kita ketahui bersama, bahwa kaum Wahhâbi/Salafy itu tidak segan-segan menghukum musyrik siapapun yang meyakini dibolehkannya bertawassul kepada para Nabi as., khususnya kepada Nabi Muhammad saw… sementara itu Imam Malik adalah di antara tokoh tergetol yang menegaskan disyari’atkannya bertawassul kepada Nabi Muhammad saw… bahkan lebih dari itu, beliau (rh) meyakini bahwa Nabi Adam as. Itu bertawassul kepada keagungan maqam baginda Rasulullah saw.

Jadi dengan demikian, Imam Malik itu adalah kafir-musyrik dalam pandangan kaum Wahhâbi!

Jika demikian lalu mengapa, kini di saat butuh kepada keterangan ulama Ahlusunnah (tentunya dengan tujuan mengelabui kaum awam) mereka membanggakan dan mengandalkan keterangan Imam Malik?!

Bukankah sikap seprti ini sebuah kecurangan dan penipuan?

Perhatikan keterangan Imam Malik tentang bertawassul di bawah ini:

Para ulama Islam meriwayatkan bahwa: Khalifah Manshûr al-Abbasi bertanya kepada Imam Malik (yang selalu dibanggakan keterangannya oleh kaum Salafiyah Wahhâbiyah dalam menetapkan akidah, khususnya tentang Tajsîm), “Wahai Abu Abdillah, apakah sebaiknya aku menghadap kiblat dan berdoa atau menghadap Rasulullah? Maka Imam Malik menjawab:

.

لِمَ تَصْرِفُ وجْهَكَ عنهُ و هو وسيلَتُكَ ووسيلَةُ أبيكَ آدَمَ إلى يومِ القيامَةِ؟! بل اسْتَقْبِلْهُ و اسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعَكَ اللهُ، قال الله تعالى: و لو أنَّهُم إِذْ ظلَموا أنفُسَهُم

“Mengapa engkau memalingkan wajahmu darinya, sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah Adam ayahmu hingga hari kiamat?! Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafa’at darinya maka Allah akan memberimu syafa’at. “Sekiranya mereka ketika berbuat zalim terhadap diri mereka…. “ (Wafâ’ al Wafâ’, 2/1376)

lihat: Kitab Kasyfu asy-Syubhat Doktrin Wahhabi Paling Ganas

Inilah hakikat kaum Wahhâbi! Jika mereka perlu, Imam Malik disanjung! Jika tidak perlu, Imam malik ditendang bahkan dikafirkan… sepetti juga ketika mereka memvonis sesat bahkan mengafirkan Imam Abu Hanifah!

Persengkongkolan Keluarga Saud dengan Zionis

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keislaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWTinidalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (seranganpemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.

Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalamkaryanya yang sangat berani berjudul “Dinasti Bush Dinasti Saud” (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.

“Pangeran Bandar yang dikenal sebagai `Saudi Gatsby’ dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari ArabSaudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim.Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, “tulis Unger.

Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. “Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekalipun.

Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terkadang juga agak membingungkan. Siapa pun takkan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat -jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat- Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dun ia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya -termasuk Makkah dan Madinah- kepada tentara Zionis Amerika.

Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul `Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”.

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.

Bahkan di film itu digambarkan bahwa klan Saud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namun hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film `Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasaIndonesia.Antaralain:

1- Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantanDekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecatdan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkanJazera,2005)

2- Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan,2006)

3- Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)

4- History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam.

“Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala”

(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, dan Ahmad)

Data Buku

Penulis: Syaikh Idahram

Penerbit: Pustaka Pesantren (Grup LKIS)

Tahun Terbit: 2011

Harga Netto: 50.000

Ketika akan memulai menulis review buku ini saya sedikit ragu. Ada sedikit ragu untuk bersiap menghadapi serangan atau bahkan hujatan dari kelompok Salafi yang kebakaran jenggot melihat kelompok mereka dikritik sedemikian rupa. Saya kira sudah jadi identitas bagi kelompok Salafi untuk ringan lisan mengkafirkan, membid’ahkan dan menyesatkan orang/kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.

Buku ini saya temui di pameran buku di Jogja Expo Center beberapa hari lalu. Ditulis oleh seorang penulis Syaikh Idahram (yang saya sayangkan, biografi singkat penulis tidak dijelaskan sedikitpun di buku ini. Sepertinya ini nama pena). Selain penulis tersebut, buku ini juga di-endorser oleh beberapa tokoh kompeten yaitu: KH. Arifin Ilham (Pimpinan Majelis Dzikir Adz Zikra), KH. DR. Ma’ruf Amien (Ketua MUI) dan Prof. Said Agil Siraj (Ketua Umum PBNU).

KH. Ma’ruf Amien misalnya menyatakan bahwa “Buku ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan dan adil dalam menyikapi permasalahan.”

Ringkasan, Sangat Ringkas

Adapun buku ini terbagi ke dalam 6 bab pembahasan. Bab pertama, bercerita tentang seluk beluk Salafi. Saya mencatat bahwa berdirinya kelompok (atau sekte menurut penulis buku) tidak lepas pula dari kepentingan ekonomi-politik duet Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab untuk melepaskan diri dari Kekhalifahan Turki Utsmani dan mendirikan negara/pemerintahan baru. Terbukti hari ini, dinasti Raja Saudi didukung pewaris madzhab Salafi Wahabi bergandengan tangan duduk satu meja dengan pihak barat dalam banyak hal.

Bab kedua, bercerita tentang sejarah kejahatan Salafi. Susah untuk dipercaya, dan mungkin memang harus dikonfirmasi terlebih lebih lanjut. Tapi, data dan fakta yang disampaikan penulis cukuplah kuat untuk membuktikan tuduhan kejahatan ini. Beberapa peristiwa terkini, seperti pembantaian jamaah haji dari Yaman (tahun 1921) sejumlah hampir 1000 orang. Juga jamaah haji dari Iran (tahun 1986), sedikitnya 329 orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Anda tahu kenapa jamaah Iran dibantai? Jawabannya karena mereka berdemo melaknat negeri-negeri barat. Bagaimana pendapat anda? Kalau anda tidak merasa aneh dan miris, justru saya akan mempertanyakan ke-Islaman anda…

Bab ketiga, bercerita tentang hadits-hadits Rasul tentang Salafi. Ada beberapa hadits yang diangkat, akan tetapi Hadits Bukhari, Muslim, dan Hakim sepertinya cukup mewakili: “Akan terjadi di tengah umatku perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum yang membuatmu kagum, dan mereka juga kagum terhadap diri mereka sendiri. Namun orang-orang yang membunuh mereka lebih utama di sisi Allah daripada mereka. Mereka baik perkataannya, namun buruk perbuatannya. Mereka mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidak mewakili Allah sama sekali. Jika kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah.”

Saya kira kalau kelompok umat Islam lain konsisten bertindak secara tekstual (seperti yang dipraktekkan Salafi), bisa jadi kelompok Salafi sudah dibunuh sejak dulu –tidak akan ada yang rugi saya kira. Akan tetapi, saya kira sebagian umat Islam lebih cerdas dan arif dalam melihat perbedaan sehingga tidak gegabah dan bodoh dalam bertindak.

Bab keempat, bercerita tentang fatwa-fatwa yang menyimpang dari Salafi Wahabi. Seperti biasa yang kita tahu, bahwa fatwa-fatwa mereka seringkali otoriter dan bila tidak dilaksanakan lalu kuasa bahasa bermain (sesat, kafir, bid’ah, boikot sampai halal darahnya). Saya heran hari seperti ini sempat-sempatnya memfatwakan haramnya belajar bahasa selain bahasa arab, gila bukan? Menurut Salafi belajar bahasa selain arab adalah bentuk tasyabbuh kuffar (menyerupai orang-orang kafir). Entah dimana akal sehat ditaruh pada fatwa ini. Padahal bahasa adalah ilmu alat yang amat penting, tanpa bahasa ilmu tidak akan pernah menyebar luas, dakwah pun hanya akan terjepit di lokal tertentu.

Selain fatwa aneh haram belajar bahasa lain, ada juga fatwa-fatwa janggal lain seperti: haram membawa jenazah dengan mobil, ucapan hari raya adalah bid’ah dan sesat, dsb.

Bab kelima, bercerita tentang kerancuan konsep dan manhaj Salafi.  Inti dari bab ini kurang lebih senada dengan buku Prof. Said Ramadhan Al Buthi Assalafiyyah Marhalatun Zamaniyyatun mubârakatun lâ Madzhabun Islâmiyyun yang menyatakan bahwa Salafi pada dasarnya hanyalah sebuah fase sejarah bukan madzhab. Ada dua argumen yang harusnya dijadikan catatan: Pertama, bahwa kaum Salaf pun ketika itu tidak selalu seragam dalam menghadapi permasalahan. Adalah suatu kejanggalan ketika sekarang harus diseragamkan, atau jangan-jangan keseragaman ini bukan muncul dari kaum Salaf tapi justru dari pemaksaan ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab??

Kedua,  kelompok Salafi begitu gencar mengkampanyekan anti taqlid dan madzhabiyah (Syafii, Hanbali, Hanafi dan Malik). Sayangnya, mereka tidak konsisten! Justru mereka sendiri sangat taqlid terhadap ulama mereka seperti Syekh bin Baz, Syekh bin Utsaimin, Syekh bin Fauzan, dll. Lucu bukan?? Lucu sekali…

Epilog

Hari ini perbedaan yang sifatnya furuiyah seharusnya tidak dihadapi dengan semangat bid’ah-membid’ahkan atau bahkan kafir-mengkafirkan. Itu terlalu jauh dan kasar terhadap sesama umat Islam. Kalau konsisten dengan Salaf, seharusnya akhlak Rasul mereka junjung tinggi, bukan justru akhlak Khawarij yang gemar menuduh kafir, bid’ah dan sesat.

Pada akhirnya, hari ini sudah jelas siapa musuh Islam. Sudah jelas siapa yang harus kita lawan bersama-sama. Jangan sampai kelompok anti Islam, dari Zionis maupun barat terus menertawai umat Islam yang lebih senang ribut di internal alih-alih mensolidkan diri.

Inilah yang mendasari kaum Yahudi, Nasrani dan lainnya rela menggelontorkan dana yang begitu besar kepada berbagai yayasan, atau ormas mazhab  sekte salafi wahabi

Demikianlah perilaku para pengikut agama salafi wahabi yang membawa masuk pasukan Amerika ketanah para Nabi, membuat pangkalan militer dan menyerang Irak

Foto-foto Tragedi kemanusian di bawah ini bukanlah kejahatan Zionis di Gaza atau Lebanon bukan pula kejahatan Amerika di Afghanistan atau di Iraq, akan tetapi di Sa’da – Yaman yang dilakukan oleh Rezim Saudi Arabia dan Yaman dukungan barat, mereka membantai saudara seagama dan sebangsa (Arab). Perang di Yaman yang dimotori Saudi dan Barat telah berlangsung beberapa tahun, akan tetapi tertutup bagi wartawan Internasional, namun kejahatan yang disimpan lama-kelamaan terkuak juga. Setelah Pemerintahan Yaman gagal mengatasi konflik di Sa’da sekarang Saudi Arabia terjun langsung dengan dukungan Barat

Andai Rezim Saudi Arabia dan Arab Lainnya menggunakan kekuatan udaran dan militernya untuk menyerang zionis Israel yang menduduki wilayah arab Palestina berpuluh-puluh tahun !


FOTO KEJAHATAN PERANG DI SA’DA YAMAN

.

Raja Saudi Abdullah di Tampar Sepatu -Demo Menentang Kejahatan Perang Rezim Saudi Di Sa’da Yaman-


الحرب السادسة على صعدة 2009- صور + فيديو (جرائم الحرب)-متجدد

الطفلة هدى عبد الرحمن القاسمي التي لم يتجاوز عمرها سبع سنوات والتي لقيت حفتها في اليوم الأول للقصف الصاروخي على (مدينة ضحيان) وهي تلهو بجوار منزلها، حيث كان القصف مفاجئ لسكان المدينة التي يسكنها أكثر من ثلاثين ألف نسمة.

.


أطفال جرحى آخرين :

.

.

من ايميل المكتب الإعلامي للسيد عبدالملك الحوثي :
بعض الصور ومقطع فيديو مضغوط، لضحايا القصف الجوي الذي استهدف (مديرية حيدان) صباح اليوم 12-8-2009 ليثبت لكم ما يعانية أبناء (محافظة صعدة) من ظلم وقتل وتدمير، وهذه الصور التقطت بعد القصف القصف مباشرة
.

.

.

.

بسم الله الرحمن الرحيماليمن ـ صعدة
18/8/2009م

في جريمة بشعة تكشف مدى بشاعة هذا النظام الذي يقول كذباً وزوراً أنه يحمي النازحين ولا يستهدف الأبرياء، ففي جريمة تقشر لها الأجسام، قامت طائرات الميج قبل ظهر هذا اليوم باستهداف النازحين شمال (مدينة ضحيان).

وهذه الجريمة الشنيعة تثبت فعلاً أن النظام يرتكب حرب إبادة جماعية، بحق أبناء (محافظة صعدة)، والإحصائيات الأولية التي وصلتنا الآن عن الجريمة هي التالي:

أمة الله حسن الصوفي ( أم )

صافية حسن قمشع ( أم )

الطفل / إبراهيم محمد صلاح حمادي 6 سنوات

الطفلة / تقوى محمد صلاح حمادي 8 سنوات

الطفلة / إنتصار محمد صلاح حمادي سنتين

خيرية صلاح أحمد حمادي ( أم )

الطفلة / إنتصار الصوفي ثلاث سنوات

فتحية الصوفي رضيعة أسبوعين

وهذه الجريمة البشعة تضع المجتمع المدني والأحزاب السياسية والمنظمات الحقوقية ( التي تدعي حماية الأبرياء والنازحين) في مأزق حرج ويضعون مصداقيتهم على المحك، ليقفوا في وجه هذا النظام المستبد، الذي يرتكب جرائم وحشية في ظل صمت عالمي ومنظماتي رهيب.

ونحن نعتبر أنه كلما ازداد هذا النظام في ارتكابه الجرائم بحق النساء والأطفال، كلما أعاننا الله على مواجهة عدوانه وظلمه.

والله هو المستعان وحسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

المكتب الإعلامي للسيد / عبد الملك بدر الدين الحوثي
27/شعبان /1430هـ
————-
براعم بريئة ما ذنب هؤلاء الأبرياء…؟

من آثار قصف الطائرات التي استهدفت المخيم شمال (مدينة ضحيان)…!

.

.

ARTIKEL TERKAIT TENTANG PERANG DI SA’DA YAMAN

  1. Kronologi Perang Saudara Yaman
  2. Kapan Perang Yaman Dimulai?
  3. Mengapa Al-Hauthi Bangkit?

Setelah anda mengetahui ulah mereka ini, masihkah ada rasa simpatik kepada mereka? Atau masihkah ada harapan bahwa para pengikut agama Salafi akan membela agama Islam di kancah internasional, apalagi sampai berhadapan dengan Amerika dan Zionis?

Menurut hemat anda, mungkinkah orang yang benar-benar beriman tega menodai kesucian kota Makkah dengan pengeboman, demonstrasi, dan menghina kuburan ahlulbait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

…………….

April 12, 2010

Ketaqwa’an Raja Arab Saudi Yang Wahhabi nan Salafy

.

George Bush, Presiden Cina Hu Jintao, dan Raja Salafy Wahhabi Lagi Asyik Ber-Toast-ria.

.

Ustad Syi’ah Ali berkata :

Beginilah “Khadimul Haramain”, Raja Abdullah ibn Abdil Aziz memperagakan pengalaman yang tepat dan kâffah dalam “berpegang teguh” dengan syari’at Islam yang melarang meniru dan bertasyabbuh dengan kaum Yahdi, Nashrani dan orang-orang kafir!!

Wahai saudaraku pemegang hak paten Mazhab Salaf Shaleh (PS2) apakah Anda berprasangka baik/husnudzdzan bahwa yang sedang ditenggak raja kebanggaan ulama mazhab Wahabi-Salafy bersama penjahat perang yang tangannya berlumuran darah-darah suci umat Islam itu adalah air Zamzam?! Bukan wisky?!

Baiklah, mari kita berhusnudzdzan bahwa itu adalah menimun yang halal, terus bagaimana dengan budaya “Toast” yang diperagakan Raja Salafy-Wahabi itu, bukankah itu  budaya orang kafir?, yang tidak dikenal dalam syariat Nabi Muhammad Saw? bukankah seorang ulama besar dan mantan mufti dinasti al-Saud Bin Baz kebanggaan wahhabi-salafy pernah mengharamkan bertepuk tangan dengan alasan bertasyabuh dengan orang-oramg kafir, lalu mana fatwa Dewan Fatwa Kerajaan Wahhabi-Salafy Saudi Arabia (Hai’ah al Kibar al Ulama) tentang hukum ber-”Toast” yang jelas-jelas bertasyabuh dengan orang-0rang kafir itu?!

Apakah Nabi Muhammad saw.pernah mencontohkan prilaku “miring” tradisi “Toast” atau “Ting Tung” alias minum bareng seperti itu apalagi dengan penjahat perang?

Di manakah ulama Wahabi-Salafy Arab itu sehingga membiarkan rajanya melakukan adegan bermesraan dengan penjahat perang, dan ber-toast-ria?! Apakah semua ulama Wahhâbi itu buta? Atau pura-pura buta? Atau mereka adalah sekawanan para penjilat yang berkedok agamis? Atau memang mereka juga alat Imprialisme Barat/Amerika dan kaki tangan Zionis?

Mengapakah kaum Salafi-wahhabi di tanah air juga menjadi tuli dan buta dari menyaksikan kenyataan ini?!

Wahai saudaraku kaum Muslimin, tanah suci kaum Muslimin harus dibebaskan dari cengkeraman kaum yang tidak memelihara kesucian Haramain!

Kota suci Mekkah dan Madinah bukan milik kaum Wahhabi Salafy bukan pula milik keluarga kerajaan Arab Saudi! Berdasarkan ayat Al Qur’an, Allah SWT menjadikannya untuk umat manusia yang mukmin guna menegakkan penghambaan kepada Allah!

***********************

.

Galery Foto Keluarga Kerajaan Saudi Al Wahhabi Al Salafy

.

Raja Abdullah bin Abdul Aziz  dengan Paus Bennedict

.

Raja Abdullah bin Abdul Aziz dengan Tokoh Yahudi

.

Cipika-cipiki Raja Abdullah dengan Sang Tuan George Bush

.

Raja Abdullah memberikan medali penghargaan untuk sang boss Mr. Bush

.

Raja Abdullah bin Abdul Aziz,…Thank you Bos !

.

Lagi medali penghargaan untuk sang Tuan Baru Mr. Obama, dari Raja Abdullah bin Abdul Aziz -Amir wahabiyyun Salafiyyun-

.

Tuan Bush dan Abdullah bin Abdul Aziz bergandengan tangan

.

Bergandengan Tangan Raja Abdullah dengan sang Tuan Mr. Bush Senior dan Staf  Dick Cheney dan Jenderal Perang Teluk Colin Powell

.

Raja Abdullah dan Obama dan di Belakang Lukisan Mendiang Raja-Raja Saudi Yang Telah Al Marhum, Bagaimana dengan Fatwa ulama Wahhabi-Salafy yang mengharamkan lukisan dan foto?

Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), dan Tuan Mereka Mr.George Bush

\

Iran:
Ayatullah Shafi Gulpaigani Protes Penghinaan atas Qur’an dan Masjid di Bahrain
Ayatullah Shafi Gulpaigani dengan penentangan beliau atas pembakaran dan perusakan masjid di Bahrain berikut diamnya umat islam Dunia Internasional atas tindakan keji yang telah dilakukan itu menuntut para ulama Islam untuk mengirimkan para peneliti mereka untuk melihat langsung kejadian mengenaskan tersebut di Negara Bahrain.

Menurut kantor berita ABNA, Hadrat Ayatullah Shafi Gulpaigani pada pesan keras yang ditujukan atas pembakaran Qur’an Karim dan perusakan masjid-masjid di Bahrain memprotes dan menuntut kepada seluruh ulama dunia untuk mengirimkan peneliti mereka sebagai pembuktian ke Bahrain. Pada sebagian dari pesannya beliau juga mencela diamnya berbagai Negara  besar, PBB, organisasi-organisasi internasional dan persatuan Negara-negara Islam, beliau menekankan,” Jika umat Islam dengan dibakarnya al-Qur’an oleh seorang pastur Kristen melakukan aksi protes dan rasa berbelasungkawa sekarang ini tentara Ali Khalifah dan Ali Su’ud yang mengakungaku sebagai pengkhidmat Haramain sedang membakar alqur’an-alqur’an di masjid-masjid umat Islam di depan mata umat Islam. Selain itu masjid-masjid pun diruntuhkan, satu sisi Amerika dan para pendukungnya menilai bahwa tindakan ini sebagai tindakan dibawah payung hukum. Organisasi PBB dan pusat perlindungan hak-hak Kemanusiaan dan OKI dengan diamnya mereka telah menunjukkan persetujuannya atas peristiwa tersebut.”

Isi pesan lengkap dari Ayatullah Shafi Gulpaigani sebagai berikut:

Dengan  menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyanyang.

Rasulullah bersabda,

«اذا التبست عليكم الفتن كقطع الليل المظلم فعليكم بالقرآن»

” Jika datang fitnah kepada kalian seperti gelapnya malam maka bersandarlah kalian pada Al-Qur’an”

Ulama Islam, pencinta perdamaian, pembela hukum dan pembela agama Islam yang mulia, dan penjaga al-Qur’an Majid; Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kembalilah kepada Qur’an dan kita menangis dan bertindak dengan kuasa Allah swt dan Kekuatan-Nya, Negara-negara besar Islam sekarang ini menjadi saksi pergerakan besar kebangkitan Qur’ani Islami untuk melepaskan diri dari penjajahan dan merindukan kemerdekaan. Orang-orang yang ingin pergi dari cengkraman penguasa-penguasa pongah dunia. Suara takbir sudah sampai ditelinga umat islam seluruh dunia. Demonstrasi dan perkumpulan aksi yang dilihat oleh Negara timur dan barat, dan sesungguhnya suara tauhid” Qulu lailaha illallah tuflihu, katakanlah wahai kalian bahwa tiada tuhan kecuali Allah maka kalian akan mendapatkan pertolongan” dapat didengar oleh seluruh penduduk berbagai belahan dunia. Apakah ini tidak cukup untuk menjadi media pemersatu?

Satu sisi Negara-negara syaithani para pembenci keadilan pada zaman ini telah bersama-sama bergandengan. Para penjaganya seperti Amerika dan Negara-negara Eropa didalam penduduk muslim berdiri tegar menghadang pergerakan suci penuntut keadilan tadi.

Mereka menyadari dan memahami arti pergerakan ini sehingga berupaya keras untuk memandulkannya, dengan berlandaskan pada kehinaan dan keangkuhan mereka terus melakukan penekanan, namun dengan pertolongan Allah swt usaha mereka tidak membuahkan hasil dihadapan pergerakan Islami tersebut, mereka nantinya akan dihukumi.

Muslimin Bahrain, kawasan ini yang merupakan kawasan muslim akan menjadi sebuah titik pancar munculnya permulaan matahari Islami, dan dalam pergerakan ini dan juga pergerakan di Dunia Arab yang berupaya menentang kekuasaan arogansi Amerika bersama-sama dalam satu tujuan dan suara menginginkan pemerintahan berkedaulatan rakyat dan berdasarkan keadilan. Mereka menyampaikan aspirasi dengan aksi demonstrasi damai dan jauh dari tindakan fisik merusak. Sosok seperti Ali Khalifah yang cukup berkuasa pada mereka demi menghormati hak-hak masyarakat diundang untuk bisa mendengarkan harapan dan tuntutan masyarakat, sehingga Ali Khalifah mau mengabulkan harapan dan tuntutan islami yang diinginkan masyarakat.

Tetapi arogansi Amerika demi kepentingannya sendiri tidak mau membuang peluang emas, dengan pertemuan rutin menteri pertahanannya dengan Arab Saudi dan Bahrain membawa pemerintahan Ali Su’ud ke Bahrain sehingga bisa mengirimkan angkatan bersenjatanya.

Sampai sekarang tentara yang dikirim sudah berada di Bahrain selama kurang lebih satu bulan, pasukan yang dimanfaatkan untuk mempertahankan pemerintahan Bahrain yang dhalim, dan para tentara Arab Saudi dengan tanpa rasa kasih sayang sedikitpun melakukan pemutusan keturunan dan pembantaian laki-laki dan wanita baik masih belia atau sudah tua, bahkan mereka juga melakukan penganiayaan dan penyiksaan pada para pasien rumah sakit.

Serangan  ke sekolah-sekolah perempuan dan sekolah-sekolah laki-laki terus mereka lakukan, mereka terus melakukan berbagai kriminalitas, anggota yang bergabung disini ini memiliki sisi yang banyak dan bertindak dengan sangat mengerikan.

Apa yang kami tujukan kepada para Ulama berbagai Negara dan berbagai Organisasi yang ada dan juga masyarakat muslim dan masyarakat Qur’ani yang berada di Negara Islam maupun non Islam seperti Mesir Turki, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Afganistan, dan berbagai kawasan Negara yang lain.

Kami nasehatkan  untuk memberikan perhatian kepada penghilangan kemuliaan Qur’an dan Masjid yang dilakukan oleh tentara Arab Saudi dan tentara Ali Khalifah. Mereka telah berani membakar Qur’an dan hampir 30 Masjid besar mereka rusak ratakan dengan tanah.

Ini menjadikan setiap umat Islam tenggelam dalam kesedihan, jika umat Islam  merasa geram terhadap pemabakaran Qur’an oleh seorang pastur Kristen dengan menggelar berbagai aksi protes sekarang ini di Bahrain pasukan Ali Su’ud yang mengaku sebagai pengkhidmat Dua Haram Suci dan Ali Khalifah Qur’an di Kota muslim dihadapan mata umat Islam dibakar, dan masjid-masjid mereka hancurkan, kedatangan Amerika di Bahrain pun dinilai sebagai hal yang telah melalui jalur hukum, sedang Organisasi bangsa-bangsa dan berbagai organisasi hak asasi manusia  hanya diam seribu bahasa menyetujui hal itu. Mengapa masyarakat Islam di Dunia dan petinggi-petinggi masyarakat agamis dan budaya seperti orang(sok) mulia hanya diam semata? Bahkan untuk pembakaran Qur’an dan perusakan Masjid pun mereka tidak tergerak untuk menentang?

Mengapa mereka tidak mengirim utusan untuk menganalisa dan meneliti secara langsung kerugian dan penghinaan ini di Negara Bahrain sehingga bisa melihat dengan jelas dan dekat kebejatan yang sudah dilakukan? Mengapa dalam menjalankan amalan Qurani mereka pilih-pilih?.

Semua organisasi, Masjid, Yayasan sebagai kewajiban agama harus segera mengambil tindakan. Mereka harus mengirimkan bantuan untuk mencegah penghinaan yang dilakukan pasukan Ali Su’ud dan Ali Khalifah pada Qur’an dan Masjid umat Islam ke Negara Bahrain.

Masjid-masjid Syiah yang Dihancurkan Tentara Saudi di Bahrain

Menyedihkan, untuk menghentikan revolusi rakyat dan membungkam suara-suara penuntut keadilan, tentara bayaran Saudi memusnahkan beberapa masjid di Bahrain.
Menurut Kantor Berita ABNA, berikut daftar nama-nama masjid yang telah dimusnahkan di Bahrain oleh tentara Saudi dan pasukan keamanan Bahrain sendiri:1. Masjid Imam Sadiq di Salmabad.
2. Masjid Rasul A’zam di kota Karzakan.
3. Masjid al-Barbaqi di wilayah A’ali pada 17 April.4. Masjid Al-Watiyya yang dikenali sebagai Qaddam al-Mahdi di perkampungan Mahuz.
5. Masjid Imam Jawad di Hamad.
6. Masjid Imam Hasan Al-Askari di Manama pada 15 April.
7. Masjid Fadak Az-Zahra di Hamad pada 14 April.

Satu harapan kita semoga dipercepat pengiriman bantuan dari berbagai Negara muslim dan pusat keilmuan ke Negara Bahrain, setidaknya menunjukkan aksi penolakan dan pengecaman atas penghinaan besar ini.

(*)

syi’ah mengkritik sunni cuma sebatas wacana ilmiah debat intelektual, jadi syi’ah tidak anarkhis brutal menyerang orang  seperti  kelakukan  para  teroris

Pengamat politik membandingkan kejahatan yang dilakukan oleh Arab Saudi dengan brutalitas Israel, menyusul invasi militer Riyadh ke Bahrain dalam rangka membantu memadamkan protes anti-pemerintah.

Pada tanggal 14 Maret, Arab Saudi mengirim seribu pasukannya ke Bahrain untuk menindak para pengunjuk rasa Bahrain yang menuntut pengakhiran dinasti al-Khalifa.

Hal ini mendorong pengamat politik untuk meninjau kembali kejahatan rezim Saudi sepanjang sejarah dan mengemukakan pertanyaan, apakah bedanya rezim Saudi dan Israel?”

Rezim Zionis menginvasi Palestina dan mengganti namanya menjadi Israel, dan dinasti Saudi menyerang Hijaz dan menjadikan nama keluarga sebagai nama negara Arab Saudi.

Israel menyerang Lebanon dan Gaza dengan dalih mewujudkan keamanan sementara Saudi melancarkan serangan terhadap warga sipil Bahrain guna mencegah gelombang protes anti-pemerintah itu menyebar menyebar ke Arab Saudi

Israel melanggar berbagai ketentuan internasional dan penggunaan senjata non-konvensional terhadap warga Gaza dan Lebanon. Adapun Arab Saudi menggunakan peluru tajam dan gas saraf dalam menyerang warga Bahrain yang sedang menggelar protes damai.

Israel menyerang area permukiman, rumah sakit dan sekolah-sekolah, sementara Arab Saudi menyerang ambulans dan rumah sakit di Bahrain.

Israel mengandalkan penculikan, pemboman dan berbagai operasi teror ke negara lain demi mempertahankan hegemoninya. Adapun Saudi telah menyiapkan AlQaeda guna melanggengkan dominasinya dan mengirim kelompok teroris ke Irak guna melancarkan teror di pendudukan tersebut.

Dengan perbandingan tersebut, masih belum jelas pula siapa yang yang lebih kriminal dan kejam antara Israel dan Arab Saudi. Namun satu fakta yang pasti bahwa keduanya mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat

.
AKHIR-AKHIR INI, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh. Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf. Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh

E-mail Cetak PDF

//

“Wajah ekstremis Islam, yang membenarkan kekerasan dan menggerakkan kebencian, merefleksikan kepentingan orang kaya dan penguasa. Wajah itu dimiliki oleh ideologi yang dikenal sebagai Wahhabisme, sebuah “kultus mati” yang merupakan ajaran resmi penguasa Kerajaan Saudi.” (Stephen Sulaiman Schwartz, Dua Wajah Islam; Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global).

Peristiwa pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta bulan Juli lalu mencuatkan fenomena menarik. Aksi teror kali ini tidak hanya dikaitkan dengan yang disebut jaringan atau kelompok teroris, seperti Jamaah Islamiyah dan lain sebagainya. Tapi dikembangkan lebih luas lagi hingga menyentuh akar ideologis dari terorisme. Disinilah isu Wahabi muncul.

Fenomena ini tentu saja menarik, karena tampak sekali ada upaya pembentukan opini masyarakat bahwa Wahabi adalah ideologi sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada jaringan teroris, karena merupakan paham ekstrem yang mengajarkan doktrin-doktrin terorisme sehingga setiap pengikutnya, sadar ataupun tidak, berpotensi menjadi teroris. Karena itu wajar jika ada pihak yang meminta agar pemerintah lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia.

Ada apa dengan Wahabi? Apa itu Wahabi? Apa saja ajaran-ajaran Wahabi? Benarkah Wahabi mengajarkan doktrin terorisme? Mengapa stigma terorisme begitu cepat dilekatkan kepada Wahabi? Bagaimana Wahabi masuk ke Indonesia? Siapakah representasi Wahabi di Indonesia? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dimunculkan terkait isu Wahabi dan terorisme ini.

Pada hakekatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pamuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia. Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi.

Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud -yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain diluar wilayah Saudi

.

Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hambaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy”. Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hambali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hambali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesan celaan”. Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakekatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hambali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah”.

Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hambali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hambali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hambali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka”.

Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.

Pasca perang Teluk Kedua 1991, Menteri Pertahanan Amerika, Colin Powel, menegaskan, AS akan menutup 150 pangkalan militernya yang telah bertahan selama 45 tahun di Eropa, dan memindahkannya ke pangkalan-pangkalan militer rahasia dan baru di Kuwait, Qatar, Saudi, Oman, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Selanjutnya, menurut seorang pejabat Amerika yang dikutip kantor berita AP, saat ini ada sekitar 5.000 serdadu Amerika yang diposkan di Arab Saudi dan kebanyakan mereka ditempatkan dekat Riyadh. Kerjasama militer Amerika dan Arab Saudi sudah menjadi kebutuhan kedua belah pihak dan akan berlanjut terus terutama dalam masalah pelatihan dan impor peranti keras. Saat ini, di Pangkalan Udara Prince Sultan, Saudi Arabia terdapat sekitar 100 pesawat tempur.

Majalah Washington Post edisi jum’at 28/9/2001 memuat pernyataan penguasa Amerika, bahwa pemerintah Saudi telah memutuskan untuk mengijinkan (setelah mendapat restu dari para ulama kaki tangan penguasa) tentara Amerika yang bertebaran di dalam negaranya –termasuk angkatan udara- untuk bekerja sama dalam memerangi umat Islam di Afghanistan, dan majalah itu menunjukkan bahwasanya kementrian pertahanan Amerika telah kosong lantaran sikap ini dengan pertimbangan memindahkan markas komandonya ke negara teluk yang lain.

Sebagaimana menteri luar negeri kerajaan Saudi Al-Faishol menyatakan pada hari Rabu 26/9/2001, bahwa negaranya akan melaksanakan kewajibannya dan bahwasanya ‘perang melawan teroris’ ini harus tidak terbatas pada penangkapan pelaku-pelaku peledakan, akan tetapi mencakup juga jaringan-jaringan bawah tanah yang membantu para teroris.

Sebenarnya, hubungan kerja sama antara Amerika dan Arab Saudi sudah terjadi bahkan sebelum Operasi Badai Gurun dalam Perang Teluk 1991 (yang membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak) dan terus berlangsung setelah perang dengan Irak.

Mantan presiden Amerika, Richard M. Nixon dalam memoarnya menulis: “Untuk pertama kalinya, eksistensi militer AS secara besar-besaran di kawasan ini terjadi pada pertengahan 1367 H/1948 M, melalui Doktrin Truman, yang memberi mandat pembentukan divisi pasukan khusus keenam, yang semula mengendalikan armada AL Amerika Keenam.

Arab Saudi kembali membuka wilayahnya untuk pasukan kuffar Salib pada tahun 1990, ketika lebih dari 500 ribu serdadu Amerika datang ke jazirah Arab tersebut. Jumlah ini menambah puluhan ribu serdadu Inggris, dan Prancis, yang sudah lebih dulu datang sebagai reaksi terhadap invasi Irak ke Kuwait.

Setelah Kuwait dibebaskan dalam Operasi Badai Gurun, Amerika tetap mempertahankan beberapa ribu serdadu angkatan udaranya dan belasan pesawat tempur untuk membuat zona larangan terbang di atas Irak.

Sejak itu, pemerintahan kafir Washington mulai membangun pusat komando udara di tempat itu, dan menghabiskan dana senilai US$ 45 juta demi menjadikannya sebagai pusat komando operasi udara canggih, yang mengkoordinasi serangan udara ke Irak dan Afganistan pada akhir 2001.

Beberapa pengkhianatan yang dilakukan rezim Saudi menurut Syaikh Usamah Al  wahabi  adalah:

1. Mengizinkan penempatan tentara Amerika di Saudi.

Dikatakan Syaikh Usamah wahabi, “Tanah ini sekarang dipenuhi tentara Amerika dan sekutu-sekutu mereka. Rezim yang berkuasa tidak mampu lagi memerintah tanpa dukungan dan bantuan mereka. Rezim ini telah mengkhianati umat Islam dan mendukung orang kafir, membantu mereka menghadapi umat Islam.”

Dengan membuka jazirah Arab bagi orang-orang kafir, maka rezim ini telah bertindak menentang sabda Nabi Muhammad saw., ”Usirlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab.” (HR Bukhari). Juga sabda beliau saw., “Jika aku hidup lebih lama lagi, Insya Allah aku akan mengusir orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab.” (Al-Jami’ush-Shagir, hadits sahih).

Dengan mengizinkan bercokolnya tentara Amerika di Tanah Suci, menurut Syaikh Usamah, maka sama saja, Raja Arab Saudi telah mengalungkan Salib di dadanya sendiri. “Tanah dan negeri ini sekarang terbuka bagi orang-orang kafir dari Utara sampai Selatan dan dari Timur sampai ke Barat.”

Syaikh Usamah juga membantah peryataan pemerintah Saudi bahwa keberadaan tentara Amerika di sana adalah bersifat sementara untuk melindungi kedua tempat suci umat Islam. Sudah sekian tahun tentara Amerika tetap bercokol di Saudi. Apalagi pemerintah Saudi juga menolak menggantikan tentara Amerika dengan tentara Islam.

Padahal, setelah terjadinya peristiwa peledakan di Al Khobar, 1995, Menteri Pertahanan Amerika William Pery menyatakan, “Kehadiran tentara Amerika adalah untuk menjaga kepentingan Amerika.”

2. Penahanan terhadap sejumlah ulama dan intelektual seperti Syaikh Salman Audah dan Syaikh Safar al-Hawalli yang menentang keras kehadiran pasukan Amerika di Saudi Arabia.

Hawali menulis sebuah buku yang memaparkan sejumlah bukti bahwa kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab adalah sebuah rencana pendahuluan untuk melakukan pendudukan militer.

Bahkan, ia juga mengungkap pengkhianatan Raja Abdul Aziz dalam menyerahkan Al-Aqsha kepada kaum kafir. Pada tahun 1936, para Mujahidin Palestina memulai perjuangan jihad terhadap Inggris. Karena kewalahan, Inggris meminta Raja Abdul Aziz agar melobi para Mujahidin Palestina untuk menghentikan jihad mereka.

Melalui dua anaknya, Abdul Aziz memberikan jaminan kepada para Mujahidin bahwa Inggris akan memenuhi tuntutan mereka untuk meninggalkan wilayah Palestna. “Demikianlah, Raja Abdul Aziz menyerahkan kiblat pertama umat Islam, Masjidil Aqsha, kepada musuh,” kata Syaikh Usamah mengutip pendapat al-Hawalli.

Bisa dibayangkan, dengan pernyataan Syaikh Usamah yang demikian, tentu akan merahlah telinga Raja Fahd, yang menyebut dirinya sebagai “Pelayan Dua Tempat Suci” (Khadimul Haramain).

Namun, Syaikh Usamah memandang pengkhianatan rezim ini berdampak sangat buruk terhadap nasib umat Islam. Merekalah yang – demi mempertahankan kekuasaannya – rela melindungi kepentingan-kepentingan penjajah kafir. “Rezim ini harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang telah terjadi selama ini, yaitu berkuasanya Amerika di kedua Tanah Suci,” tegas Syaikh Usamah.

Syaikh Usamah wahabi  tidak merasa telah berkhianat kepada sang Raja. “Saya tidak pernah berkhianat kepada Raja. Tetapi Raja sendiri yang berkhianat kepada Ka’bah, kiblat kami. Raja telah menyerahkan Tanah Suci ini dikotori oleh najis orang-orang kafir.”

Bayangkan, Rezim Saudi telah membagi-bagi kekayaannya yang merupakan hasil minyak untuk membiayai perang Afghan mencapai $ 20 billion. Bahkan semua pembiayaan tentara Amerika di Jazirah dibebankan kepada negara-negara Arab. Seperti diketahui bersama, lebih dari 60% cadangan minyak dunia berada di Arab Saudi dan Jazirah Arab. Namun sayang sekali kekayaan yang begitu besar ini dinikmati oleh musuh-musuh Allah.

Dalam satu hari, Arab Saudi mampu mengeluarkan minyak sejumlah 6-8 juta Barel. Padahal harga minyak terus melambung tinggi. Sayangnya, pendapatan negara ini tak bisa dinikmati oleh umat Islam sepenuhnya, karena beban kerajaan sangat besar, yakni untuk menggaji tentara Amerika yang konon satu bulannya bisa mencapai $ 10.000.

Ini baru untuk membiayai tentara saja. Belum lagi ketika markas militer mereka di Dhahran dan Al Khabar dibom. Seluruh biaya pembangunan ulang ditanggung oleh pihak kerajaan. Tak heran bila sudah sejak beberapa tahun yang lalu (1997), kerajaan Saudi sampai berhutang sebanyak 340 miliar riyal Saudi kepada Uni Emirat Arab. Ironis!

Ke mana dana minyak ini dimanfaatkan militer Amerika Serikat? Lebih ironis lagi, yakni untuk mengembargo Irak. Akibatnya: 1,5 juta umat Islam Irak meninggal karena kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Ini belum terhitung 400.000 nyawa umat Islam Irak yang meninggal karena gempuran Amerika dan sekutunya dalam perang Teluk serta ditambah dengan perang yang terjadi saat ini.

Lalu untuk membantu Israel mengokohkan eksistensinya di Palestina. Setiap sumbangan Amerika ke Israel akan diwujudkan Israel dalam bentuk peluru untuk membunuh umat Islam Palestina yang berjihad membebaskan kiblat pertama umat Islam tersebut.

Selain itu untuk membunuh umat Islam di Afghanistan dan menghancurkan pabrik obat umat Islam di Sudan. Membantu tentara Salib Filipina membantai umat Islam Moro. Membiayai seluruh gerakan kristenisasi di seluruh penjuru dunia.

Jadi betapa jelas peranan rezim Saudi dalam membantu perang Salib global yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya. Dan kehadiran Al Qa’idah dengan serangan-serangannya yang intensif di Jazirah Arabia semata-mata hanyalah untuk membebaskan dan membersihkan dua kota suci, Mekkah dan Madinah dari najis-najis kafir Amerika dan yang lainnya. Allahu Akbar.

Iran: Amerika Serikat Dalangi Campur Tangan Saudi Di Yaman

TEHERAN, — Setidaknya dua tentara Arab Saudi tewas dalam pertempuran terbaru, dan konflik itu telah lebih jauh meningkatkan ketegangan di kawasan itu, dengan peringatan Iran kepada Arab Saudi untuk tidak ikut campur dalam urusan internal Yaman.

Ali Larijani, ketua parlemen Iran, kemarin menuduh Washington mendalangi pemboman Arab Saudi dari pemberontak Syi’ah di Yaman, situs parlemen dilaporkan.

“Peristiwa yang menyedihkan di negara Islam Yaman yang telah meningkat selama dua minggu dan campur tangan Arab Saudi di Yaman melalui pemboman oleh pesawat tempur berulang-ulang sungguh mengherankan,” seperti yang dikutip ketika Larijani mengatakan kepada deputi.

Dia menuduh Amerika Serikat berada di balik pengeboman, mengatakan: “Laporan menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat bekerja sama dalam langkah yang menindas.”

Komentar Larijani datang kurang dari seminggu setelah Sanaa mengkritik “campur tangan” Iran dalam urusan mereka setelah Teheran mengecam intervensi regional dalam perang Yaman dengan para pemberontak dalam sebuah kiasan terselubung yang mengacu ke Arab Saudi.

Parlemen Iran juga menyerukan Organisasi Konferensi Islam untuk ikut campur tangan dalam menghentikan pembunuhan Muslim Yaman.

Pasukan Yaman dan Arab Saudi membombardir posisi pemberontak Syi’ah di sepanjang perbatasan antara kedua negara, menurut saksi dan pejabat militer.

Jet tempur Arab Saudi melanjutkan serangan mereka pada hari Sabtu (14/11/2009) malam dan membombardir tempat persembunyian pemberontak” di daerah perbatasan, kata saksi.

“Keadaan pada hari Ahad pagi relatif tenang tapi operasi udara terhadap daerah perbatasan terus berlangsung.”

Kehadiran militer Arab Saudi di wilayah Jizan telah meningkat selama dua hari, menurut koresponden AFP, yang mengatakan bantuan tersebut terlihat pada rute ke Khubah, dekat dengan posisi pemberontak.

Para pemberontak menyatakan mereka telah meluncurkan serangan kemarin di sebuah pangkalan militer Arab Saudi di Jizan untuk membalas kematian warga sipil yang tewas dalam serangan udara dan artileri.

“Setelah lebih dari delapan hari dari awal serangan artileri dan serangan udara Arab Sauditerhadap penduduk sipil di wilayah Yaman, hari ini … kita menyerang Harra, pangkalan militer Al Ain dengan roket Katyusha dan kebakaran terlihat di kamp itu,” para pemberontak mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Rezim Saudi harus meninjau ulang posisi agresif mereka terhadap orang-orang Yaman yang menolak ketidakadilan.”

Pasukan Arab Saudi telah melakukan penembakan dan pengeboman pada posisi pemberontak di 2.000 m daerah pegunungan di Jabal Dukhan, yang terbentang pada kedua sisi perbatasan, sejak November 2009, setelah pemberontak membunuh seorang penjaga perbatasan dan menduduki dua desa kecil di wilayah Saudi hari sebelumnya.

Riyadh telah mengatakan serangan udara dan pemboman akan berlanjut sampai pemberontak mundur puluhan kilometer dari perbatasan Saudi – Yaman.

Sementara itu, pasukan Yaman pada Sabtu malam mengebom posisi pemberontak di benteng mereka di provinsi Saada dan di Harf Sufyan di provinsi Amran, keduanya di utara Sanaa, seorang pejabat militer Yaman berkata.

“Bentrokan kuat meletus di Harf Sufyan antara tentara dan pemberontak, yang didukung oleh suku-suku,” kata pejabat, dengan menambahkan bahwa lima anggota suku tewas dan tujuh lainnya luka-luka.

Bentrokan itu terjadi setelah bala bantuan dari Sanaa tiba di Harf Sufyan untuk “membantu tentara menguasai daerah itu,” kata pejabat.

Korban yang dilaporkan berjatuhan dari kedua belah pihak dalam pertempuran di Saada. —

Iran Sebut AS dan Israel Dukung Arab Saudi Serang Al-Houthi

Anggota komisi keamanan nasional dankebijakan luar negeri di parlemen Iran, Hossein Ebrahimi menuding Rezim Zionis Israel dan AS bersekongkol dengan Arab Saudi menyerang warga Yaman. Hossein Ebrahimi  dalam wawancaranya dengan televisi Al-Alam mengkritik sikap Barat khususnya AS dan Inggris yang mendukung serangan Arab Saudi ke Yaman Utara. Ditambahkannya, negara-negara Arab yang bungkam melihat penderitaan warga Yaman adalah pengekor imperialis dan arogan dunia. Ia menegaskan kondisi di Yaman sangat bertentangan dengan konvensi internasional.

Ebrahimi mengatakan, mengingat para korban tewas dan cidera serta pengungsi Al-Houthi adalah muslimin tidak seharusnya Raja Arab Saudi yang mengklaim dirinya sebagai Khadimul Haramain Al-Syarifain (pelayan dua masjid suci, masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah) menyerang negara Islam lainnya. Menurutnya, Arab Saudi seharusnya membantu umat Islam. Dalam kesempatan tersebut, Ebrahimi menegaskan bahwa dukungan parlemen Iran terhadap warga tertindas adalah kewajiban Islam dan kemanusiaan mereka.

Ebrahimi mengatakan, lebih dari 250 anggota parlemen Iran membubuhkan tanda tangan dalam statemen yang mengutuk tindakan Arab Saudi terhadap warga Yaman. Pemerintah Yaman sejak 11 Agustus dengan bantuan Arab Saudi menggelar operasi untuk menghancurkan milisi Al-Houthi di Provinsi Saada, Yaman Utara. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, ratusan orang tewas termasuk puluhan warga sipil dan 150.000 lainnya mengungsi akibat perang di wilayah Yaman Utara.

Ahmadinejad: Rakyat Bolivia Sama dengan Bangsa Iran

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Bolivia, Evo Morales masing-masing menyatakan bahwa bangsa mereka berada dalam satu front dunia untuk mengupayakan kemajuan dan keadilan. Kantor Berita IRNA  melaporkan, Ahmadinejad mengatakan, Iran dan Bolivia mempunyai hubungan kuat dan kokoh yang berlandaskan persahabatan. Ditambahkanya, “Meski ditekan kekuatan imperialisme dan musuh-musuh kedua negara ini, namun kerjasama Iran dan Bolivia terus memberikan hasil.”

Ahmadinejad dalam acara penandatanganan nota kesepakatan dan kerjasama antara Bolivia dan Iran, mengatakan, “Bangsa Bolivia sama seperti bangsa Iran yang merupakan bangsa besar dan menghendaki keadilan. Meski kedua negara ini jauh dari sisi geografi, namun pandangan dan harapan kedua negara ini sangat dekat.” Ahmadinejad juga merasa puas akan peresmian proyek bersama di Bolivia. Dikatakannya, kerjasama kedua negara di bidang pembangunan pabrik dan pusat-pusat kesehatan telah sampai pada tahap final.

Dalam kesempatan tersebut, Morales menyampaikan rasa senangnya atas kedatangan Ahmadinejad di La Paz mengatakan, “Hubungan dan kerjasama Iran dan Bolivia di berbagai bidang kian kokoh dan tangguh.” Seraya mengapresiasi bangsa Iran dalam memerangi imprealisme, Morales menuturkan, “Selama imprealisme bercokol, perluasan dan pembangunan tidak akan terjadi, bahkan independensi dan kedaulatan akan kehilangan makna.”

Setelah berkunjung ke Bolivia, Ahmadinejad,  tiba di Caracas, ibukota Venezuela, yang disambut secara resmi oleh Presiden Hugo Chavez.

Militer Inggris Langgar HAM di Irak

Ali al-Mayali, Juru Bicara Fraksi Sadr di Parlemen Irak menuding militer agresor Inggris melanggar hak asasi manusia di Irak. Ali al-Mayali  kepada wartawan televisi al-Alam mengatakan, “Sejak pendudukan Irak tujuh tahun lalu, militer agresor Inggris dan Amerika Serikat melakukan penyiksaan terhadap rakyat Irak dengan berbagai cara dan melanggar hak asasi mereka.” Ditegaskannya, bangsa Inggris dan AS serta masyarakat dunia menentang berbagai bentuk penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia dan mereka menuntut hukuman bagi para pelanggar HAM di Irak.”

Menyinggung pembantaian 35 warga sipil Irak oleh tentara Inggris, al-Mayali menekankan, militer Inggris di Basrah secara terang-terangan melanggar hak asasi manusia dengan membunuh anak-anak dan menghancurkan rumah mereka.

Juru Bicara Fraksi Sadr ini menegaskan, militer Inggris dan AS adalah pasukan agresor dan bangsa Irak menyadari haknya untuk membela diri dan melawan mereka dengan berbagai cara. Ali al-Mayali mendesak pemerintah Irak membentuk komisi pencari fakta atas pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan agresor Inggris dan AS serta menyerahkannya ke mahkamah internasional. Jubir fraksi Sadr ini juga mendesak pemerintah Irak mengerahkan seluruh daya untuk menjamin hak warganya.

Hamas Tolak Pengalihan Kuasa dari Parlemen ke Dewan Pusat PLO

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menentang segala bentuk usulan pengalihan kekuasaan dari parlemen ke Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan menilai tindakan ini bermakna kudeta terhadap legitimasi parlemen dan bertentangan dengan undang-undang dasar.

Sebagaimana dilaporkan pusat penerangan Palestina dari Jalur Gaza, Salah Mohammad Al Bardawil, Juru Bicara delegasi Hamas di Parlemen Palestina,  mengkritik mental para pemimpin Fatah dan PLO yang memberikan keistimewaan kepada rezim Zionis dan Amerika Serikat, seraya menuding mereka menghalangi proses tercapainya kesepakatan nasional untuk menjauhkan Hamas dari arena politik Palestina.

Beberapa waktu lalu, Ketua Dewan Nasional Palestina, Salim al-Za’nun mengklaim bahwa friksi antara Hamas dan Fatah telah relatif mereda dan mengusulkan pertemuan di Dewan Nasional Palestina pada 15 Desember mendatang guna membahas pengalihan kekuasaan dari Parlemen Palestina ke Dewan Pusat PLO.


DOA PAGI DAN SORE HARI

IMAM HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

Dengan nama Allah, dengan Allah, dari Allah,

Kepada Allah, di jalan Allah dan atas agama Rasulullah

Aku berserah diri pada Allah

Tiada kekuasaan dan kekuatan kecuali dengan

Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung

Ya Allah

Sesungguhnya aku menyerahkan diriku pada-Mu

Aku hadapkan wajahku ke hadapan-Mu

Aku serahkan urusanku pada-Mu

Kepada-Mu aku memohon ampun

dari seluruh kejahatan  di dunia dan akhirat

Ya Allah

Sesungguhnya Engkaulah yang mencukupiku dari setiap orang

Tiada seorang pun yang mencukupi aku dari-Mu

Maka cukupilah aku dari semua orang

yang aku khawatirkan dan yang aku takuti

berikan keluasan dan jalan keluar dari semua urusanku

Sesungguhnya Engkau mengetahui,

sedangkan aku tidak mengetahui

Engkau yang berkuasa sedangkan aku tidak kuasa

Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu

Dengan kasih-Mu

…………………..Sejak salafi masuk Indonesia – Malaysia maka radikalisme merajalela…

Salafi  pecah menjadi  dua aliran :

1. Salafi dakwah

ciri – ciri :

a. Mendukung Arab Saudi menyediakan pangkalan militer kepada Amerika Serikat ketika menyerang Irak pada PERANG TELUK I, fatwa pro Amerika ditanda tangani Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz yang membuat Usamah bin Ladin murka !!

b. Mendukung Irak ( Saddam Hussein ) menyerang Iran pada saat perang Irak – iran 1980 -1988, saat itu Amerika  Serikat + Sebagian negara negara Arab mendorong dorong pembunuhan massal terhadap 1 juta rakyat Iran

c. Loyal kepada kerajaan Saudi yang monarkhi absolut dan pro Amerika – Israel, sikap pro Amerika ditandai dengan fatwa fatwa ulam seperti Syaikh Albani yang meminta rakyat Palestina hijrah keluar dari Palestina

d. Gemar membid’ah – bid’ah kan orang

e. Berdakwah demi mendapat uang dari Arab Saudi, dalam tempo cepat ratusan pesantren / ma’had, majalah, bulletin, VCD dll  berkembang di Indonesia

f. Menghujat dan memfitnah syi’ah imamiyah melalui buku buku, majalah, VCD, web web internet dengan target agar mereka diakui oleh Nahdlatul Ulama (N.U) sebagai pembela ahlusunnah wal jama’ah yang harus diterima sebagai saudara N.U.. Taktik mereka berhasil, buktinya ALBAYYiNAT  dan SALAFi  bersatu menghadang  syi’ah.

g. Berupaya merebut basis basis NU  perkotaan, bahkan berupaya mengambil alih pengaruh masjid masjid NU  perkotaan

h. Anti Iran, segala hal yang berbau  syi’ah dan Iran berupaya mereka hanguskan, ini tidak lepas dari politik Arab Saudi dan Amerika Israel yang anti Iran. Aliran dana dari CIA dan Arab Saudi sangat deras untuk memuluskan proyek ini !

i. Gemar mengutak atik bahkan memalsukan kitab kitab ulama salaf demi memuluskan ajaran wahabi (pemalsuan)

j. Merekayasa berbagai aksi anarkhisme terhadap jama’ah syi’ah di Indonesia, taktik ini cukup berhasil

.

2. Salafi  jihadi

tokoh tokoh : Abubakar ba’asyir, Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Osama bin Laden

ciri ciri :

a. Gampang mengkafir kafir kan orang lain

b. Gemar  mengesahkan aksi radikalisme seperti pemboman dan anarkhisme, bahkan diantara mereka adalah pelaku langsung  anarkhisme dan pengeboman, bahkan tidak segan segan melakukan aksi bom bunuh diri yang terkadang membuat orang islam sendiri terbunuh dan ekonomi umat islam hancur

c. Ingin mendirikan negara Islam, tetapi tidak jelas bagaimana format negara Islam yang mereka inginkan, apakah monarkhi saudi atau khilafah gaya Hizbut Tahrir ?? tidak jelas

d. Berdakwah dengan cara radikal, tidak simpatik

wahabisaudaraku….

Mei 7, 2010

Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah.

Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara santai. Berikut foto-foto yang menunjukan betapa “mesranya” hubungan antara tentara AS dan Arab Saudi.

Seorang komandan tentara Saudi menyambut kedatangan para tentara AS.

Para pembesar militer AS tengah menyusun rencana, sementara tentara-tentara Saudi Arabia merubunginya.

“Nih lihat, iPhone terbaru. Di sini  udah ada belum?” Mungkin begitu kata si tentara AS pamer gadget terbarunya.

Dua komandan berbeda negara, berbeda ideologi saling menjabat tangan dalam acara sarasehan.

“Ha ha ha…. situ bisa aja. Bercandanya jangan kelewatan dong!”

Seorang perwira AS tengah memberikan briefing pada tentara Saudi.

Dan kini, tentara AS pun bebas jalan-jalan atau sekadar olah raga di kota-kota Saudi. Dipandu tentara Saudi lagi.

=============================================================

 http://qitori.wordpress.com/Wawancara Dengan Habib Ali Hasan Bahar :

Gerakan Wahabi di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasai, baik teritori maupun ekonomi.

Di Indonesia tak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideologi juga tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi gerakan Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Saudi).

“Mereka bekerjasama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini,” ujar Habib Ali Hasan Bahar, mantan Ketua Habaib DKI Jakarta, kepada Moh Anshari dari Indonesia Monitor, Kamis (20/8).

Berikut ini petikan wawancara dengan alumunus Universitas Kerajaan Yordania yang kini aktif di Islamic Centre Kwitang dan UIN Jakarta itu.

Bagaimana awal kemunculan aliran Wahabi?

Wahabi itu diidentifikasi sebagai satu kelompok yang mengaku sebagai pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Kemunculannya di Jazirah Arab dimaksudkan untuk membersihkan akidah dari perilaku-perilaku syirik. Pencetusnya adalah Muhammad bin Abdul Wahab.

Bagaimana perkembangan Wahabi di Jazirah Arab?

Wahabi menguasai Mekah dan Madinah dengan berbagai cara, termasuk kekerasan melalui peperangan. Banyak ulama yang menjadi korban. Di Indonesia, sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyelamatkan Mekah dan Madinah dari penguasaan Wahabi yang ekstrem itu. Sampai-sampai NU mengutus Komite Hijaz ke Mekah untuk memrotes gerakan Wahabi yang hendak menghilangkan makam Nabi Muhammad SAW yang dianggap oleh Wahabi sebagai tempat syirik.

Jadi, sejak awal kemunculannya, gerakan Wahabi sudah radikal dan ekstrem?

Kalau dibaca dari buku-buku sejarah Arab modern, memang para pengikut Wahabi memakai cara-cara yang disebut dengan istilah ‘Badui-Wahabi’, yakni cara-cara barbar, kekerasan, dan agresif. Seperti di Indonesia juga ada penghancuran kuburan dan diratakan dengan tanah. Karena menurut keyakinan mereka, itu sesat, bid’ah, dan syrik.

Kabarnya Wahabi dilahirkan oleh imprealis Inggris untuk memecah-belah kekuatan Islam?

Ya. Indikasinya memang kuat dugaan demikian itu. Seperti dimuat dalam Islam Online berbahasa Arab, edisi hari ini, Kamis (20 / 8), ada laporan sebuah pemyataan dari seorang da’i terkenal di Aljazair yang mengatakan bahwa gerakan Wahabi atau menurut penyebutan mereka Salafi-Wahabi merupakan buatan intelijen asing yang dibuat untuk menghancurkan madzab-madzab yang lain. Mereka menganggap orang yang berbeda dengan mereka sebagai kafir.

Mengapa mereka bisa begitu ekstrem dan radikal?

Mungkin karena Wahabi dilahirkan di tempat yang keras, maka kata-kata dan doktrin-doktrin yang digunakan juga keras. Banyak pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh ulama-ulama mereka itu sangat keras, model pemikiran yang keras, mudah menuduh bid’ah, bahkan mudah mengafirkan, tidak toleran, kaku, dan literalis. Tidak menutup kemungkinan itu dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk asing, untuk memojokkan Islam.

Bila awal kemunculan Wahabi diwarnai aksi-aksi perebutan dan penguasaan di Semenanjung Saudi Arabia, berarti lahirnya Wahabi bermotif politis-kekuasaan?

Kalau dibilang sejak awal kemunculan Wahabi bermotif politis-kekuasaan, bisa saja. Namun, kita husnu-zhon (berbaik sangka) saja bahwa lahirnya aliran ini bermotif keagamaan. Hanya saja ada kepentingan-kepentingan yang memanfaatkan gerakan tersebut, termasuk kepentingan asing. Saya rasa, bukan hanya di Arab Saudi, di mana pun juga sama, baik pihak asing maupun dalam negeri pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan.

Kabarnya, di balik kemunculan Wahabi juga ada motif adanya motif untuk menguasai minyak?

Dugaan itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak benar seratus persen. Artinya, dugaan itu memang ada benarnya. Bahwa kemudian kemunculan Wahabi itu membuat umat Islam terpecah itu dapat kita rasakan. Saya masih teringat satu buku yang ditulis oleh Sholeh Al-Wardani asal Mesir berjudul ‘Fatwa-fatwa bin Baz’. Buku itu mengritisi fatwa-fatwa Grand Mufti (Juru Fatwa Agung) Saudi Arabia Abdul Aziz bin Baz yang mengeluarkan fatwa untuk berjihad ke Afghanistan.

Apanya yang aneh dari fatwa itu ?

Kenapa fatwa itu memerintahkan berjihad ke Afghanistan, kenapa tidak ke Palestina? Itu menjadi tanda tanya besar. Nah, di buku itu dianalisa dan diduga bahwa di balik fatwa itu ada dikte dan intervensi atau arahan dari kepentingan tertentu (asing).

Menurut Anda, ada kepentingan apa di balik fatwa itu?

Kader-kader Wahabi yang berjihad ke Afghanistan itu sebenarnya hasil rekayasa intelijen Eropa Barat untuk menghabisi pengaruh komunisme Eropa Timur di Afghanistan. Afghanistan menjadi lahan pertempuran dua ideologi; ideologi Barat dan ideologi Timur. Sepertiya betul kesimpulan Sholeh Al-Wardani yang mengatakan bahwa sepertinya ada tangan-tangan tertentu yang menunjuk dan mengarahkan fatwa jihad Wahabi itu.

Bagaimana pola aliran Wahabi yang berkembang di Indonesia?

Indonesia adalah negara yang wilayahnya subur. Ditanami apa saja tumbuh. Gerakan apa pun yang masuk ke Indonesia bisa cepat tumbuh, apalagi gerakan tersebut masuk dengan pola yang baik dan rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir dari Timur Tengah (Saudi Arabia) dan mengalir sangat pesat, sehingga itu cukup memudahkan kerja keras mereka. Mereka bekerja sama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini.

Muhammadiyah sering di identikkan dengan Wahabi. Apakah berdirinya Muhammadiyah juga bagian dari proyek Wahabi di Indonesia?

Kita tidak bisa mengatakan seratus persen seperti itu. Tapi yang bisa kita buktikan memang kiblat dari mayoritas pengikut Muhammadiyah itu adalah mazhab Ahmad bin Hambal, sebagaimana Wahabi. Dan madzab ini pusatnya di Arab Saudi. Tapi saya melihat tokoh Muhammadiyah seperti Ahmad Dahlan itu masih belum sampai bercorak Wahabi melainkan lebih tepat ke pengikut Hambali. Sebab, Ahmad Dahlan sangat toleran, berbeda dengan ciri-ciri Wahabi (yang tidak toleran kepada mazhab Islam lainnya).

Bagaimana dengan HTI, JI, NII, Ikhwanul Muslimin, dan PKS yang disebut-sebut berideologi Wahabi?

Wahabi berbeda dengan Ikhwanul Muslimin. Bahkan keduanya berpolemik dalam banyak permasalahan. Demikian juga dengan Hizbut Tahrir. Bahkan, HTI dan Ikhwanul Muslimin dikafirkan oleh pengikut Wahabi.

Apakah masuknya gerakan Wahabi ke Indonesia membawa misi untuk penguasaan politik dan ekonomi, sama halnya di Afghanistan dan Arab Saudi?

Menurut Mohammed Arkoun (pemikir Islam kontemporer Maroko), dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menjadi negara Islam terbesar dan terkuat dunia. Nah, tidak menutup kemungkinan, dikirimnya virus-virus paham ekstrem itu ke Indonesia bertujuan untuk menghancurkan negara ini hingga tinggal nama saja. Virus itu memang sengaja disebar dan disuntikkan untuk melumpuhkan kebesaran bangsa ini.

GENSYIAH VS SYIAHALI ! setan nejed dihadang dakwah ahlulbait


GENSYIAH VS SYIAHALI

Ada situs milik orang wahabi nashibi  (yang menolak 12 khalifah ahlulbait) dan menamakan dirinya “Gensyiah”. Situs ini mengaku sebagai “pembela sunnah”. Situs ggensyiah  aktif sekali menulis makalah dan “membantah makalah”, seolah-olah hebat, khususnya bagi orang awam, namun kalau dicermati ternyata asal membantah atau yang penting menulis dengan judul “Membantah atau menjawab”.

syi’ah ikut Uqala’ (orang-orang pandai) bukan juhala’  (orang-orang bodoh), sufaha` dan muthatharrif (ekstrim) seperti wahabi setan nejed

Cinta Dan Kebencian pada ahlulbait Tidak Bersatu

kami syi’ah bukan kaum takfir ala wahabi

GENSYIAH VS SYIAHALI ! setan nejed dihadang dakwah ahlulbait

ingatlah wahai wahabi …

1. Allah swt berfirman “ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi  seseorang  dua buah hati dalam rongganya” (al-Ahzab33:4)

Amir al-Mukminin Ali bin Abi Talib as berkata: Tidak akan berhimpun cinta kami (hubbu-na) dan cinta musuh kami(hubbu ‘aduwwi-na) di dalam rongga seseorang. Sesungguhnya Allah  sekali-kali  tidak menjadikan bagi  seseorang  dua buah hati dalam rongganya”

Justeru itu  cinta dan kebencian tidak akan bertemu. Adapun pencinta kami (muhibbu-na), maka cintanya bersih  sepertilah emas yang dibersihkan dengan api, tanpa sebarang kekotoran padanya. Lantaran itu sesiapa yang ingin mengetahui cinta kami, maka hendaklah dia memeriksa hatinya. Jika cintanya kepada kami dikongsi bersama oleh cintanya kepada musuh kami, maka dia bukanlah dari kami, dan kami bukanlah daripadanya. Allah adalah musuh mereka, Jibrail , Mika’il dan Allah adalah musuh bagi mereka yang ingkar”
( Bihar al-Anwar, 27, hlm. 51, hadis no.1)

Definisi Nasibi

2. Daripada Abi Abdillah as (Imam Ja’far al-Sadiq) berkata: Nasibi bukanlah orang yang menentang kami Ahlu l- Bait, kerana anda tidak dapati seorang lelaki yang berkata:Aku membenci Muhammad dan keluarga Muhammad (ali Muhammad), tetapi nasibi  adalah orang yang menentang kalian di dalam keadaan dia mengetahui sesungguhnya kalian mewalikan  kami (tatawallu-na) dan sesungguhnya kalian adalah daripada Syi‘ah kami”
(Bihar al-Anwar 27, hlm.232-233, hadis no.42)
 
  Melaknati Nasibi  mendapat pahala

3. Imam Ja‘far al-Sadiq as di dalam satu riwayat seorang lelaki berkata kepadanya: Wahai anak lelaki Rasulullah! Sesungguhnya badanku lemah untuk membantu  kalian. Aku tidak memiliki sesuatu selain dari membersihkan diriku dari musuh-musuh kalian dan melaknati mereka, maka bagaimana keadaanku?

Imam Ja‘far al-Sadiq as berkata: Bapaku telah meriwayatkan kepadaku (haddathani) daripada bapanya daripada datuknya daripada Rasulullah saw bahawa beliau bersabda: Siapa yang tidak mampu membantu kami Ahlu l-Bait, tetapi dia melaknati musuh-musuh kami, maka Allah menyampaikan suaranya  kepada seluruh para Malaikat dari bintang  ke ‘Arasy.

Setiap kali lelaki ini melaknati musuh-musuh kami dengan satu laknat,  mereka akan menolongnya, dan melaknati orang yang dilaknati lelaki itu serta memujinya pula. Mereka berkata: Wahai Tuhanku! Berkatilah ke atas hamba Enkau ini yang telah melakukan sesuatu kadar kemampuannya. Sekiranya dia mampu, nescaya dia akan melakukan lebih daripada itu. Sesungguhnya suara daripada pihak Allah Swt menjawab: Sesungguhnya aku telah menyahuti doa kalian dan aku telah mendengar seruan kalian. Aku telah memberkati rohnya di kalangan arwah. Dan aku menjadikannya di sisiku di kalangan mereka yang terpilih.”
(Bihar al-Anwar,27, hlm.222-223, hadis no.11)

     Ibadah Nasibi

4. Imam Ja‘far al-Sadiq as berkata: Barangsiapa yang menentang kalian, sekalipun dia kuat beribadat, maka dia tidak dapat terlepas daripada ayat “ Muka-muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan (‘aamilatun nasibah), memasuki api neraka yang amat panas” (al-Ghasyiah (88 ): 2-4) (Bihar al-Anwar,  8, hlm. 356)

Syiah Indonesia menolak semua yang bertentangan dengan al-Quran dan akal sehat, sebagaimana disebutkan di Hal 22 :

Yang dimaksud dengan al-Quran  adalah mushhaf (“usmani”) yang ada di tangan kita ini:

MAJALAH “AL-UMM WADAH BARU AHLULBAIT DAN SAHABAT” hanyalah tipuan wahabi untuk mewahabikan NU !!

Buku Fatwa MUI Jatim tentang syi’ah di boncengi wahabi

mui-jatim

Edisi perdana Nopember 2012

 

Oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Agus Hasan Bashori bin Qomari Abdul-Ghani Al Wahabi

Profil majalah baru kita ini adalah sebagai berikut:

Nama Majalah : Majalah al-Umm
Motto : Sentuhan ilmu selembut kasih ibu
Segmentasi : Majalah Pendidikan Keluarga
Penerbit : YBM, Yayasan Bina Masyarakat
Pimpinan Umum & Pimpinan Redaksi : Ust. Abu Hamzah  Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag
Sekretaris Redaksi : Muhammad Syahri Abu Rafi’
Staff Redaksi : Ustadz M. Yusuf Harun, MA ; M. Syueb al-Faiz, Lc, M.Si; Ziyad at-Tamimi, S.ThI, M.H.I; Abdul Aziz, S.KM; Mujib Anshar, SH, M.Pdi.; Ghonda Yumitro, MA(HI), MA (PI); Ariffuddin, S.Ag. Harno SP.
Editor : M. Mujib Anshor, SH, M.Pdi.
Administrasi : Pegawai Baru
Marketing / Sirkulasi / Pemasaran : Buyung Abraham
Designer : Agus Mulyadi
Rubrik Majalah –   Surat Pembaca-   Manhaj Salaf (Ust. Abu Hamzah)-   Cermin Salaf (Ust. Abu Hamzah)-   Ahlul Bait & Sahabat (Ust. Abu Hamzah)-   Dunia Islam (Ghonda Yumitro)-   Konsultasi Agama dan Keluarga (Ust. Abu Salma)-   Konsultasi Kesehatan (dr. Aries Budianto SpB, dr. Lia, dr. Bekti, dr. Rahmat, dr. Relig Maret Suhanda, dr. Wahyu J.-   Aqidah (Ust. M. Yusuf Harun, MA)-   Kisah (Ust. Ziyad)-   Khutbah (Ust. Mujib)

–   Fiqih/Syariah (ust. Abu Rafi’)

–   Adab / Akhlaq (Ust. Aziz)

–   Lughoh (Ust. Abu Rofi’)

–   Pendidikan (Ustadzah Ummu Salma Sabila)

–  Ruqyah (Ust. Arifuddin)

–  ‘Alamul Aulad (Dunia anak)

–  Iklan

Jumlah Halaman : 72 halaman (sementara)

jawaban pihak syi’ah :

Para Wahhâbi Yang Nawashib!

MAJALAH  “AL-UMM WADAH BARU AHLULBAIT DAN SAHABAT” hanyalah tipuan wahabi untuk mewahabikan NU !!

Ketika hilang akal sehat maka wahabi bergerak cepat untuk mewahabikan NU. Target wahabi adalah memusuhi dakwah ahlulbait..

Sejak dahulu, kaum nashibi (pembenci Sayyidina Ali dan keluarga Nabi saw.) menteror para pecinta Nabi saw. dan keluarga beliau ra. dengan segala cara keji ! Islam Umawy yang dipaksakan oleh para tiran Bani Umayyah, mulai Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Gembong Penganjur Kepada Api Neraka, seperti disabdakan Nabi dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari) ingin memaksa kita agar menanggalkan baju kecintaan kepada Ahlulbait ra. dengan berbagai cara dan rayuan -serta tidak jarang juga dengan intimidasi- mereka hendak mempengaruhi kita agar tidak lagi mencinta dan menghormati keluarga Nabi

Jadi dalam fitnahannya itu, para musuh Allah dan Rasul-Nya menuduh siapapun yang mencintai Sayyidina Ali yang (disebut Imam Syafi’i dengan gelar Washi) dan Ahlul Bait ra. adalah Rafidhi! Dan kecintaan kepada Sayyidina Ali yang Ahlul Bait ra. sebagai kerafidhian!

Dalam kesempatan lain Imam Syafi’i ra. mengeluhkan kejahatan fitnahan dan tuduhan yang disebarkan dalam rangka menebar teror keji itu.

.

إنْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد *** فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ

Jika mencintai keluarga Muhammad itu kerafidhian, ** maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi

menyebarnya virus Salafisme Wahhâbisme yang dalam sisi identik dengan kesinisan sikap dan kebencian kepada imamah Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra., dan di sisi lain identik dengan pengagungan musuh-musuh Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. maka marak kembali tuduhan kepada siapapun yang mencintai dan membela  Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. sebagai Syi’ah Rafidhah!

Mereka, dalam menjalan aksi teror, melakukan berbagai caara di antaranya, menuduh setiap orang yang mencintai Nabi dan keluarga beliau; Ahlul Bait ra. dengan tuduhan keji yaitu Syi’ah Rafidhah! Semua itu mereka lakukan agar umat Islam mengosongkan jiwa-jiwa suci mereka dari kecintaan kepada keluarga Nabi ra.

Siapa saja yang berani berterang-terangan mencintai Sayyidina Ali dan Ahlul Bait pasti akan mereka kecam sebagai Syi’ah Rafidhah!

ingatlah wahai wahabi …

1. Allah swt berfirman “ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi  seseorang  dua buah hati dalam rongganya” (al-Ahzab33:4)

Amir al-Mukminin Ali bin Abi Talib as berkata: Tidak akan berhimpun cinta kami (hubbu-na) dan cinta musuh kami(hubbu ‘aduwwi-na) di dalam rongga seseorang. Sesungguhnya Allah  sekali-kali  tidak menjadikan bagi  seseorang  dua buah hati dalam rongganya”

Justeru itu  cinta dan kebencian tidak akan bertemu. Adapun pencinta kami (muhibbu-na), maka cintanya bersih  sepertilah emas yang dibersihkan dengan api, tanpa sebarang kekotoran padanya. Lantaran itu sesiapa yang ingin mengetahui cinta kami, maka hendaklah dia memeriksa hatinya. Jika cintanya kepada kami dikongsi bersama oleh cintanya kepada musuh kami, maka dia bukanlah dari kami, dan kami bukanlah daripadanya. Allah adalah musuh mereka, Jibrail , Mika’il dan Allah adalah musuh bagi mereka yang ingkar”
( Bihar al-Anwar, 27, hlm. 51, hadis no.1)

Definisi Nasibi

2. Daripada Abi Abdillah as (Imam Ja’far al-Sadiq) berkata: Nasibi bukanlah orang yang menentang kami Ahlu l- Bait, kerana anda tidak dapati seorang lelaki yang berkata:Aku membenci Muhammad dan keluarga Muhammad (ali Muhammad), tetapi nasibi  adalah orang yang menentang kalian di dalam keadaan dia mengetahui sesungguhnya kalian mewalikan  kami (tatawallu-na) dan sesungguhnya kalian adalah daripada Syi‘ah kami”
(Bihar al-Anwar 27, hlm.232-233, hadis no.42)
 
  Melaknati Nasibi  mendapat pahala

3. Imam Ja‘far al-Sadiq as di dalam satu riwayat seorang lelaki berkata kepadanya: Wahai anak lelaki Rasulullah! Sesungguhnya badanku lemah untuk membantu  kalian. Aku tidak memiliki sesuatu selain dari membersihkan diriku dari musuh-musuh kalian dan melaknati mereka, maka bagaimana keadaanku?

Imam Ja‘far al-Sadiq as berkata: Bapaku telah meriwayatkan kepadaku (haddathani) daripada bapanya daripada datuknya daripada Rasulullah saw bahawa beliau bersabda: Siapa yang tidak mampu membantu kami Ahlu l-Bait, tetapi dia melaknati musuh-musuh kami, maka Allah menyampaikan suaranya  kepada seluruh para Malaikat dari bintang  ke ‘Arasy.

Setiap kali lelaki ini melaknati musuh-musuh kami dengan satu laknat,  mereka akan menolongnya, dan melaknati orang yang dilaknati lelaki itu serta memujinya pula. Mereka berkata: Wahai Tuhanku! Berkatilah ke atas hamba Enkau ini yang telah melakukan sesuatu kadar kemampuannya. Sekiranya dia mampu, nescaya dia akan melakukan lebih daripada itu. Sesungguhnya suara daripada pihak Allah Swt menjawab: Sesungguhnya aku telah menyahuti doa kalian dan aku telah mendengar seruan kalian. Aku telah memberkati rohnya di kalangan arwah. Dan aku menjadikannya di sisiku di kalangan mereka yang terpilih.”
(Bihar al-Anwar,27, hlm.222-223, hadis no.11)

     Ibadah Nasibi

4. Imam Ja‘far al-Sadiq as berkata: Barangsiapa yang menentang kalian, sekalipun dia kuat beribadat, maka dia tidak dapat terlepas daripada ayat “ Muka-muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan (‘aamilatun nasibah), memasuki api neraka yang amat panas” (al-Ghasyiah (88 ): 2-4) (Bihar al-Anwar,  8, hlm. 356)

pusat Islam syi’ah dibangun di Peru, 60 Indian Peru Memeluk Islam Syiah

60 Indian Peru Memeluk Islam Syiah

Selasa, 2012 November 06 00:46

 

Suhail Asad, mubaligh terkemuka Argentina, kembali memaparkan perjalanan tablighnya di Amerika Latin.

 

Fars News (5/11) melaporkan, Asad yang hingga kini telah membentuk lebih dari 20 pusat Islam di negara-negara Amerika Latin, menceritakan kisah 60 orang etnis Indian yang memeluk Islam dan memilih Syiah sebagai mazhab mereka.

 

Kisahnya kembali dua tahun lalu, ketika dia dikontak oleh Edward Quiroga dari Peru yang menyatakan ingin mempelajari lebih banyak tentang Islam. Sebab minatnya terhadap Islam adalah telaah tentang Revolusi Islam Iran dan perspektif Imam Khomeini.

 

“Dalam salah satu kunjungan saya ke Venezuela, saya bertemu Edward Quiroga dan memberikan sejumlah buku kepadanya. Quiroga mengundang saya ke Peru untuk menyampaikan pidato di hadapan kawan-kawan saya. Tidak beberapa lama, bersamaan dengan pelaksanaan sebuah kongres kelompok sosialis, saya berkunjung ke Peru dan berpidato di depan anggota partai Indian. Mereka sangat tertarik dan meminta saya untuk tetap tinggal lebih lama di Peru,” jelasnya.

 

“Dua pekan saya tinggal di Peru dan setiap malam saya menyampaikan pelajaran di rumah Quiroga. Dengan demikian, di hari terakhir, dia mengucapkan dua kalimat syahadat.”

 

“Saya mengundang Quiroga ke Iran untuk mengikuti sebuah program singkat mengenal Islam. Setelah kembali ke Peru, alhamdulillah 60 kawan dan orang-orang terdekatnya memeluk Islam.”

 

Di akhir penjelasannya, Asad mengatakan, “Dalam kunjungan berikut saya ke Peru, saya mendirikan sebuah pusat Islam dan alhamdulillah di negara tersebut telah terbentuk sebuah markas untuk para pecinta Ahlul Bait as.”

Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar tidak atas dasar pandangan mazhab tertentu, jadi jangan takut merebaknya ajaran Syiah di kalangan dosen dan mahasiswa UMI jika kerjasama dengan Kedutaan Iran dilakukan

baca juga  : UMI Makassar Selenggarakan Seminar Internasional hadirkan wakil Menteri Agama, Duta Besar Republik Islam Iran dan ulama sunni iran

 UMI, Benteng Ukhuwah Islamiyah

Beberapa hari terakhir ini, Universitas Muslim Indonesia, yang  lebih dikenal dengan singkatan UMI, menjadi perbincangan menarik. Kali ini, terkait Kunjungan Kepala Divisi Kebudayaan Kedutaan Besar Iran, M. Ali Rabbani, Selasa lalu (18/9) ke Kampus UMI di Makassar.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal terjalinnya kerja sama antara UMI dan Divisi Kebudayaan Kedutaan Iran, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan (baca FAJAR, 22 September 2012). Kedua lembaga akan bekerjasama dalam program pertukaran mahasiswa, termasuk mengutus dosen-dosen dari Iran untuk mengajar di UMI. Juga diberitakan, Iran bakal membuka Iranian Corner di UMI (Tribun Timur, 22 September 2012).

Kunjungan tamu seperti itu lazimnya bukanlah hal yang ‘istimewa’, terlebih lagi bagi sebuah perguruan tinggi yang sudah kerap menjalin kerjasama dengan berbagai institusi atau negara lain. Peristiwa itu menjadi menarik dan memantik diskusi (bahkan polemik di media cetak), karena tamu yang berkunjung berasal dari Iran, negeri para Mullah, yang menjadi representasi mazhab Syi’ah.

Rencana UMI menjalin kerjasama dengan pihak Kedutaan Besar Iran dalam berbagai bidang, kontan mengundang beragam reaksi. Ada yang pro

Reaksi positif tentu saja muncul dari tokoh-tokoh UMI. Seperti diberitakan FAJAR, 22 September 2012, Rektor UMI, Prof Dr Hj, Masrurah Mokhtar, menyambut baik kerjasama tersebut, bahkan menyebutkan bahwa insya Allah dalam waktu dekat ini akan digelar Seminar Internasional dengan tema Dialog Antar Mazhab, yang dilaksanakan UMI bekerjasama dengan Kedutaan Iran.

Sementara itu, Ketua Yayasan Wakaf UMI, HM Mokhtar Noer Jaya mengungkapkan rasa kagumnya melihat sistem pendidikan di Iran, terutama di bidang eksakta. Menurutnya, Iran akan mengundang tim dari UMI untuk berkunjung ke Iran dan mempelajari sistem pertanian di sana, terutama belajar di universitas-universitas yang ada di Iran.

Sebaliknya, reaksi kontra muncul di salah satu media cetak di Makassar. Seorang muballigh, H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc (Ketua LPPI Perwakilan Indonesia Timur) menulis artikel opini berjudul “UMI Benteng Ahlussunnah Wal Jama’ah” di Harian FAJAR Jumat, 28 September 2012.

Dalam tulisannya Ustadz Muh. Said Abd. Shamad mengutip ceramah dari Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Nur Jaya, yang belakangan disebutkan membantah pemberitaan tersebut. menyebutkan bahwa UMI adalah benteng Ahlusunnah wal jamaah (Sunni). Namun demikian, sampai saat ini, belum ada bantahan resmi dari Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Nur Jaya atas pemberitaan FAJAR dan Tribun Timur. Jika pemberitaan kedua media cetak tersebut memang tidak benar dan bahkan merugikan citra UMI sebagai perguruan tinggi Islam, tentu saja Yayasan Wakaf UMI yang diketuai H. Mokhtar Nur Jaya atau Rektor UMI akan memberikan bantahan resmi melalui  kedua media tersebut.

Yang agak mengherankan dari tulisan Ustadz Said adalah kekhawatirannya atas merebaknya ajaran Syiah di kalangan dosen dan mahasiswa UMI, jika kerjasama Kedutaan Iran dan UMI dilanjutkan. Kekhawatiran yang tidak proporsional seperti itu tidak hanya menunjukkan ketidakfahaman atas konteks kerjasama antara dua lembaga, tetapi juga ‘merendahkan’ pemahaman keIslaman dan kemampuan nalar intelektual civitas academica UMI dalam menyikapi perbedaan pemahaman dalam Islam. Seolah-olah, dengan adanya kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dengan Iran, maka dosen dan mahasiswa UMI akan serta merta dengan mudahnya terpengaruh ajaran Syiah.

Menanggapi ‘klaim’ Ustadz Said tentang UMI, Dr. Ir. Fuad Rumi, MS (Dosen dan salah seorang tokoh UMI) menulis artikel berjudul “UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam” (FAJAR, Senin 1 Oktober 2012).

Ustadz Fuad Rumi menegaskan kembali peran historis UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang didirikan tidak atas dasar pandangan mazhab tertentu dalam Islam, tapi atas dasar Islam. Yang menjadi concern UMI adalah pendidikan dan dakwah, dalam rangka mengambil peran bagi pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Ustadz Fuad menjelaskan bahwa “pendidikan yang diselenggarakan di UMI adalah pendidikan dengan dasar dan paradigma Islam. Demikian halnya dakwah yang dilakukan UMI adalah dakwah Islam. Hal ini penting untuk kembali diungkap agar masyarakat dapat mengetahui dengan benar keberadaan UMI di tengah-tengah masyarakat.”

 

Ustadz Fuad juga membantah klaim Ustadz Said tentang UMI sebagai benteng Ahlusunnah wal jamaah. “Kata benteng mengajak kita pada konotasi adanya serangan atau perang yang membutuhkan kita membuat benteng pertahanan dengan asumsi adanya serangan dari luar. Menurut piagam berdirinya, UMI tidak didirikan dengan beranjak dari persepsi seperti itu. UMI tidak didirikan sebagai benteng, tetapi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, yang bertujuan memajukan pendidikan masyarakat berlandaskan pada ajaran Islam. UMI didirikan untuk mengemban misi Islam yang rahmatan lil alamin dan kaffatan linnas. Jadi paradigma UMI bukan paradigma benteng, apalagi sebagai benteng mazhab. Sekali lagi, kalau pun harus digunakan kata benteng bagi UMI, maka UMI adalah benteng Islam, bukan benteng mazhab”, demikian penjelasan Ustadz Fuad dalam artikel opininya.

Meski semua yang mengabdi di UMI berasal (atau berafiliasi) dengan ormas Islam yang berbeda, namun semuanya bersatu padu dalam bingkai ukhuwah menjalankan misi UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Ustadz Fuad menambahkan, “UMI lebih mengutamakan persatuan (ittihad) tanpa harus dikendalai oleh perbedaan paham dan mazhab. UMI memandang perbedaan dalam mazhab-mazhab Islam adalah sebuah keragaman yang justru menunjukkan kualitas dan keindahan Islam.”

Ustadz Fuad mengakhiri tulisannya dengan menyampaikan “kabar gembira”, khususnya bagi umat yang mencintai “persatuan Islam”. Salah satu hasil kesepakatan UMI dan Atase Kebudayaan Iran adalah UMI akan mengadakan seminar internasional yang akan membicarakan tema besar tentang persaudaraan Islam. Dalam seminar tersebut akan diundang pembicara dari dua mazhab dalam Islam yakni sunni dan syiah, dari Arab Saudi, Iran dan Indonesia. Dari Indonesia pembicara yang diharapkan adalah representasi dari dua Ormas Islam besar yakni NU dan Muhammadiyah serta juga dari MUI Pusat.

Melalui seminar internasional dengan tema tersebut, semoga UMI semakin dapat menegaskanpositioning-nya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah terkemuka, yang menjadi perekat ukhuwah bagi umat dan dunia Islam. Semoga!