Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia UMI Makassar merujuk pada Deklarasi Amman atau The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim

Tanggal: 2012/11/07 – 01:30

 Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia UMI Makassar

Indonesia:
Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia UMI Makassar
Bahwa merujuk pada Deklarasi Amman atau The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Maka hendaknya umat Islam dengan mazhab-mazhab yang disebutkan di atas semakin memperkokoh ukhuwah Islamiah untuk menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.
 

Rekomendasi Seminar Internasional Persatuan Umat Islam Dunia UMI Makassar
 

Bahwa Rasulullah Muhammad saw diutus oleh Allah swt sebagai nabi dan rasul untuk seluruh umat manusia, menyampaikan ajaran Islam yangrahmatan lil alamin.

Setelah melakukan seminar internasional dengan tema “ISLAMIC WORLD UNITY(Persatuan Umat Islam Dunia)”,dengan ini seminar merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1.      Bahwa hendaknya umat Islam di berbagai belahan bumi dengan penuh kesadaran terus membangun dan menjaga persaudaraan sebagai sesama umat Islam dengan menampilkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang.

2.      Bahwa umat Islam yang menurut realitasnya terdiri atas penganut beberapa  mazhab hendaknya tidak menjadikan perbedaan mazhab sebagai kendala atau hambatan untuk menjalin ukhuwah islamiah dan kerjasama dalam berbagai kegiatan keduniaan dan keagamaan.

3.      Bahwa merujuk pada Deklarasi Amman atau  The Amman Message (9-11-2004) yang dideklarasikan bersama oleh 200 ulama dari lebih 50 negara, yang dikukuhkan kembali oleh pernyataan bersama lebih dari 500 ulama dan cendekiawan Islam dari seluruh dunia pada tahun 2006, yang menyatakan bahwa Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang Muslim. Maka hendaknya umat Islam dengan mazhab-mazhab yang disebutkan di atas semakin memperkokoh ukhuwah Islamiah untuk menunjukkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

4.      Bahwa umat Islam Indonesia  dari berbagai mazhab hendaknya dapat menjadi role model bagi umat Islam dunia, yang dapat saling menerima untuk hidup berdampingan dalam ikatan persaudaraan yang kuat.

5.      Ormas dan lembaga-lembaga keislaman serta para da’i, muballig dan cendekiawan muslim agar mengambil peran aktif untuk selalu mengupayakan kokohnya persaudaraan Islam, dan menghindari dakwah yang berakibat lemahnya ukhuwah Islamiyah.

6.      Pemerintah diharapkan ikut menciptakan iklim yang kondusip bagi terwujudnya persaudaraan diantara penganut berbagai mazhab dalam Islam dan persaudaraan diantara sesama pemeluk agama.

7.      Agar perbedaan (ikhtilaf) dikalangan umat Islam disikapi dengan mendahulukan etika dan akhlaqul karimah demi kemaslahatan umat. (IRIB Indonesia)

Tokoh Umat Islam:

1.      Prof.Dr.H.Nasaruddin Umar, MA

(Wakil Menteri Agama R.I)                                                   __________________

2.      Grand Ayatollah Syekh Muhammad Ali Taskhiri

(Presiden of High Council of Islamic School of Thought)__________________

3.      Syekh Maulawi Ishaq Madani

(Advisor to the Presiden of the Islamic Republic of Iran

For Ahlussunnah Wal-Jamaah)                                          __________________

4.      Dr.Mazaheri

(Deputy of open University of The Islamic Republic of Iran) _________________

5.      Prof.Dr.KH.Umar Shihab,MA

(Ketua MUI Pusat)                                                                __________________

6.      Prof.Dr.KH.Din Syamsuddin,MA

(Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah)             __________________

7.      Prof.Dr.KH. Hasyim Muzadi, MA

(Presiden  Ikatan Cendekiawan Muslim Dunia)                __________________

8.      Prof.Dr.H.M.Ghalib,MA

(Wakil Koordinator KopertaisWil.VIII)                                 ­__________________

9.      H.Muh.Mokhtar Noer Jaya

(Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI)                             __________________

10.Prof.Dr.Hj.Masrurah Mokhtar, MA

(Rektor UMI)                                                                          __________________

Makassar, 5 Nopember 2012

Steering Committee

Ketua,                                                                              Sekretaris,

Dr.Ir.H.Fuad Rumi, MS                                                Drs.KH.M.Zein Irwanto, S, MA

Organizing Committee

Ketua,                                                                              Sekretaris,

Dr.H.M.Arfah Shiddiq,MA                                           Dr.H.M.Ishaq Shamad,MA

 Hadirkan Ulama Iran, UMI Makassar Selenggarakan Seminar Internasional

Tanggal: 2012/11/05 – 19:58

 Hadirkan Ulama Iran, UMI Makassar Selenggarakan Seminar Internasional

Indonesia:
Hadirkan Ulama Iran, UMI Makassar Selenggarakan Seminar Internasional
Sudah tidak jaman lagi umat islam dan umat manusia saling mempersalahkan satu sama lain. Orang yang suka menyalahkan orang lain adalah orang yang belum pernah belajar, dan orang yang suka menghargai orang lain itu adalah orang yang sudah belajar. 

 

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi terkemuka di wilayah Timur Indonesia. Dalam memperlihatkan eksistensinya, UMI Makassar sangat aktif melaksanakan kegiatan keilmuan baik itu dalam skala Regional, Nasional bahkan internasional. Seperti baru-baru ini Senin, (5/11) melaksanakan Seminar Internasional dengan tema Persatuan Umat Islam Dunia di Auditorium Al-Jibra UMI Makassar.

Seminar Internasional yang dibuka langsung wakil Menteri Agama RI, Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA tersebut menghadirkan beberapa pembicara/Narasumber terkemuka dari dunia Islam diantaranya Prof. DR. H. Nasaruddin Umar, MA, Wakil Menteri Agama RI sebagai keynote speeker, Duta Besar Republik Islam Iran, Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri selaku president of high council of the world forum for proximity and Islamic school of thought, Syaikh Maulawi Ishaq Madani yang merupakan presiden Ahlussunnah Waljamaah Iran, DR. Mazahari Deputy and open university of Rep. Islam Iran.

Sedangkan Nara Sumber yang berasal dari Tokoh-Tokoh Agama tingkat Nasional diantaranya, Prof. DR. KH. Hasyim Muzadi, MA yang merupakan Ketua Dewan Pakar Cendekiawan Muslim sedunia yang juga merupakan mantan Ketua PB. Nahdlatul Ulama, kemudian Prof. DR. KH. Din Syamsuddin, MA. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. DR. KH. Umar Syihab, MA selaku Ketua MUI Pusat dan Prof DR. H. M. Ghalib, MA selaku Koordinator kopertais VIII.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama berterima kasih kepada Duta Besar Republik Islam Iran dan Ulama Besar Iran atas kesediaannya berbagi Ilmu kepada Umat Islam Sulsel, serta terkhusus kepada UMI Makassar atas inisiatif pelaksanaan seminar tersebut. Hal ini akan menambah khasanah keilmuan dan keislaman kita khususnya di Sulawesi selatan ini, tambahnya.

Persatuan umat Islam merupakan wacana yang sangat seksi untuk dibahas ditengah gejolak yang banyak menimpa umat islam di dunia khususnya di wilayah timur tengah. Beliau kemudian mereview bahwa konsep ke-umat-an dalam islam merupakan refleksi dari konsep cinta kasih antar sesama sebagaimana akar kata umat itu sendiri yang sesungguhnya berasal dari bahasa ibrani. Kemudian masuk dalam dialek arab yang artinya Ibu dan makna luasnya adalah Rasulullah berharap bahwa pola hubungan antar umat manusia itu bisa mengejawantahkan konsep cinta kasih yang diperlihatkan oleh sang ibu kepada anak-anaknya.

Menurut Rasulullah, Konsep Ummah (umat) merupakan komunitas yang paling komplit dan mulia dalam Islam, karena tidak lagi mengagungkan adanya diskriminasi dan pengkotak-kotakan dalam masyarakat. Sebagaimana konsep Al-Quran “Walaqad Karramnaa Banii Adam” yang bermakna bahwa Islam menegaskan bahwa yang harus dimuliakan itu adalah semua anak cucu adam, tanpa memandang, Suku, jenis kelamin, golongan strata social bahkan agama, semuanya harus dimuliakan sebagai manusia ciptaan Allah. Tambah Beliau.

Olehnya itu, Sudah tidak jaman lagi umat islam dan umat manusia saling mempersalahkan satu sama lain. Orang yang suka menyalahkan orang lain adalah orang yang belum pernah belajar, dan orang yang suka menghargai orang lain itu adalah orang yang sudah belajar. Tegas sang wakil menteri yang bedarah bugis ini.

Olehnya itu kita sebagai umat Islam khususnya di Indonesia ini harus banyak bersyukur, karena sampai detik ini kita masih mampu menjaga sikap dan prinsip Ke-Ummat-an. Dan diakhir arahan, Prof. Nasaruddin Umar berpesan dan menyampaikan tanda-tanda orang yang tidak bersyukur yakni orang yanag suka mencari sesuatu yang sudah dia punyai atau miliki serta orang-orang yang suka mencari-cari sesuatu yang memang tidak ada.

Setelah memberikan kata sambutannya, Wakil Menteri Agama RI kemudian secara resmi membuka seminar internasional tersebut ditandai dengan pemukulan gendang secara simbolis didampingi oleh Duta Besar Repuiblik Islam Iran, Ketua MUI Pusat, Prof. DR. KH. Umar Syihab, MA. Assisten Gubernur, H. Amal Natsir, Rektor UMI Makassar, Ketua YBW UMI Prof. DR. H. Mukhtar Noorjaya dilanjutkan dengan pertukaran Cinderamata dari Civitas Akademika UMI Makassar dan Dubes Republik Islam Iran.

Dalam sambutannya selaku Rektor UMI Makassar, Ibu Prof. DR. HJ. Masrurah Mukhtar mengucapkan terima kasih atas respon positif yang diberikan oleh Presiden Iran melalui Duta Besarnya terhadap pelaksanaan Kegiatan Seminar ini, beliau Berharap wacana Persatuan antar Umat Islam seduania bisa berawal dari Kampus UMI Makassar.

Sementara itu dalam laporannya selaku panitia Pelaksana Seminar ini, DR. H. Arfah Sidiq, MA. Menyampaikan bahwa gagasan pelaksanaan seminar ini merupakan refleksi terhadap munculnya berbagai gejolak di dunia Islam yang menjadikan sesama Umat Islam itu “terkesan” tercerai berai, padahal menurutnya jika kita mengikuti ajaran Islam yang sesungguhnya dari Rasulullah maka Umat Islam bisa menjadi satu dalam berbagai perbedaan fiksi tersebut. Tambahnya.

Tampak Hadir dalam Pembukaan seminar tersebut Asisten Gubernur H. Amal Natsir, Ketua MUI Sulsel AGH. Sanusi Baco, Lc. , Pimpinan Ponpes An-Nahdlah yang juga Ulama Sulsel KH. Haritsah, dan ketua YBW. UMI Prof. DR. H. Mukhtar Noorjaya, M.Si. Kabag. Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Sulsel, Drs. H. Rappe, M.Pd. dan keluarga besar civitas akademika UMI Makassar. Besarnya Minat Masyarakat dan Mahasiswa terhadap Seminar ini ditandai dengan Membludaknya peserta memenuhi Auditorium Al-Jibra UMI. Tampak pula beberapa aparat keamanan dari Kepolisian dan TNI di sekitar kampus UMI dan sekitar tempat Seminar.

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Zein Irwanto, Ketua Tanfiziyah Nahdlatul Ulama Sulsel yang juga merupakan salah satu dosen senior di UMI Makassar.

Sementara itu diluar tempat acara ratusan massa Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) dan  Wahdah Islamiyah beserta sejumlah Mahasiswa Islam anti Syiah melakukan aksi unjuk rasa memprotes dan menolak acara seminar  Internasional “Persatuan Dunia Islam” tersebut. Dikutip dari arrahmah.com Ketua FPI Makassar Agus Salim menyebutkan alasan penolakan tersebut, “Kami menentang acara persatuan sunni-syiah. Tidak mungkin, aqidah kami yang mendoakan Sahabat dengan Radhiallahu anhu disatukan dengan aqidah yang mencaci Sahabat dengan laknatullah.” Namun aksi protes tersebut dapat dengan segera diamankan pihak keamanan yang sedang berjaga-jaga diarea lokasi acara, sehingga para pengunjukrasa pulang dengan tangan hampa dan acara berlangsung dengan aman dan lancar.

Aisyah meriwayatkan hadis tentang peristiwa ketika dia belum dilahirkan, hadis itu bertentangan dengan ayat Al-Quran

Semua tudingan web http://syiahindonesia.com bahwa syi’ah imamiyah mengkafirkan para SAHABAT NABi  SAW adalah ngawur.. Justru mereka lah yang  kurang membaca kitab hadis

Rasulullah Cemas Akan Turunnya Wahyu

Shahih Bukhari Hadits No. 3

Dari ‘Aisyah, katanya: “Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW, ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Hingga pada suatu ketika datang kepada beliau Al Haq (kebenaran atau wahyu), sewaktu beliau masih di Gua Hira. Malaikat Jibril datang kepadanya dan memeluk beliau sambil berkata, “Bacalah!” Sampai beliau dapat “membaca”, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram.

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah, lalu beliau berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!” Lantas diselimuti oleh Khadijah hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi SAW kepada Khadijah (setelah dikabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), ”Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut, Demi Allah, Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah (bersama Nabi SAWW) pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Usianya sudah lanjut dan matanya buta. Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.” Maka bertanya Rasulullah, “Apakah mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah, “Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus sementara waktu.

Kajian:

Hadits ini jika diamati sekilas tidak mengandung keraguan. Tetapi marilah kita pahami baik-baik bahwa pada saat turunnya wahyu pertama kali tersebut,Nabi Muhammad Saww telah diangkat menjadi Rasul sehingga dapat kita ambil beberapa hal:

• Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini. Ia seakan-akan melihat dan mendengar sendiri. Ia melihat nabi pergi ke gua, pulang kepada Khadijah, mendengar percakapan khadijah dan Waraqah bin naufal. Kita boleh saja mengatakan bahwa Aisyah mendengarnya dari Rasulullah Saww; tetapi dalam ilmu Hadist, ia harus mengatakan : Aku mendengar Rasulullah Saww bersabda… dan seterusnya. Dengan begitu, kita harus menolak hadist ini sebagaimana kita menolak hadis yang mencerikan bahwa Abu hurairah berjumpa dengan Ruqayyah, istri Utsman, padahal Ruqayyah meninggal dunia ketika Abu Hurairah masih kafir dan tinggal di negeri Daws.

• Dalam peristiwa ini digambarkan kedatangan wahyu yang sangat berat. Malaikat jibril memuluk Nabi dengan keras, sampai kepayahan dan ketakutan. Nabi Saww dipaksa untuk membaca, padahal ia tidak bisa membaca. Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang “menggerikan” seperti ketika ia datang kepada Nabi Saww. Padahal ia adalah kekasih Rabbil Alamin; yang tanpa dia tidak akan diciptakan seluruh alam semesta. Dampaknya kepada Nabi Saw juga sangat menyedihkan. Ia pulang ke rumah dengan diliputi ketakutan, kebingungan, dan kesedihan.

Bukankah ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Quran yang disebutkan (QS.An-nisa:125) bahwa bila orang yang mendapat petunjuk, ia akan mengalami kelapangan dada, kelegaan hati, ketentraman jiwa. Jadi karena data rasulullah Saw, setelah menerima wahyu, sempit dan sesak, maka ia sedang dikehendaki untuk disesatkan, dan bukan diberi petunjuk.

• Rasulullah saw tidak paham dengan pengalaman ruhani yang ia alami, karena itu kemudian ia dibawa menemui Waraqah bin Naufal dan ternyata seorang nasrani yang lebih tahu tentang kenabiannya, ketimbang rasulullah sendiri. Waraqahlah yang meyakinkan Nabi bahwa ia itu utusan Allah, bahwa yang dating itu malaikat Jibril. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya adalah Rasulullah. Kita tidak paham bagaimanan nabi yang mulia tidak menyadari kenabiannya, sedangkan orang lain – seperti Adas dan Waraqah- mengetahuinya. Bukankah Bahira pernah mengingatkan Abu thalib bahwa Muhammad itu adalah nabi Akhir zaman?, bukankah menurut banyak hadist, sebelum diangkat manjadi Nabi, kepadanya pepohonan dan bebatuan mengucapkan salam?

• Dilukiskan pula bahwa Ibunda Khadijah menasihati Rasulullah bahwa Allah tidak akan membinasakan Rasulullah. Hal ini menunjukkan seolah-olah Rasulullah kurang ilmu akan perjalanan spiritualnya ini sehingga beliau minta nasihat kepada Ibunda Khadijah.

Rujukan dari beberapa ayat Al-Qur’an:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40).

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al An’aam: 125).

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak laggi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS.An-Nisa:125)

Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dada Rasulullah sangat lapang dalam menerima wahyu, apalagi beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ditimpa kecemasan dan ketakutan. Dan beliau juga sangat mengetahui pengalaman spiritualnya ini karena beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ada orang lain yang lebih mengetahui dari beliau.

Rasul SAW telah memerintahkan manusia lima hal, namun sunni hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan satu hal !! Siapa yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” ??

Bagaimana bisa syi’ah imamiyah sesat ???

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam “Hayat Muhammad”]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
[“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam “Milal Wan Nihal”, hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam “Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal”, jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

———————————————————————————————————————————————————————

Wawancara:

Syiah Difitnah, Ayatullah Jafaar Hadi Angkat Bicara

Tepatnya pada tanggal 10 Muharam, komunitas Syiah digerebek saat memperingati Hari Kesyahidan Imam Husein as di Gombak, Kuala Lumpur. Oleh JAIS (Jabatan Agama Islam Selangor) mereka dituding sesat dan membahayakan kedaulatan negara. Pasca penggerebekan, media-media setempat justru semakin memperkeruh suasana dengan memunculkan berbagai tudingan atas madzhab Ahlul Bait.

Syiah Difitnah di Malaysia, Ayatullah Jafaar Hadi Angkat Bicara

Menurut Kantor Berita ABNA, pasca penggerebekan pihak kepolisian Malaysia dan JAIS, umat Syiah Malaysia mendapat berbagai tudingan negatif. Berbagai tudingan tak berdasar itu mendorong kontributor IRIB di Qom mewawancarai Ayatullah Jaafar Hadi. Kebetulan, Ayatullah Jafaar Hadi (AJF) adalah salah seorang ulama yang seringkali berkunjung ke Malaysia, Singapura dan Indonesia

.
Kontributor IRIB mendapat kesempatan untuk mewawancarai Ayatullah Jaafar Hadi guna menanggapi isu-isu yang berkembang terakhir ini di nusantara. Berikuta petikan wawancara tersebut yang dinukil langsung dari situs IRIB berbahasa Indonesia.

IRIB: Pengikut madzhab Ahlul Bait yang juga diistilahkan dengan Syiah dituding melakukan revolusi dan menjatuhkan sistem kerajaan di Malaysia seperti yang dilakukan Imam Khomenei ra dalam meruntuhkan sistem kerajaan di Iran.

Syiah sama sekali tidak bertujuan menjatuhkan sistem kerajaan. Di Iran terdapat orang Syiah, bahkan lebih kurang 1000 tahun, negara ini berada di bawah sistem kerajaan seperti Raja Nasruddin Syah, Raja Qajariah dan lain-lain. Para Raja juga bekerjasama dengan ulama dan membimbing masyarakat di negara ini. Untuk itu, tidaklah logis jika para pengikut Ahlul Bait as dituding menjatuhkan sistem kerajaan.Raja di Malaysia adalah muslim dan figur yang berakal. Untuk itu, tidak terlintas sedikitpun di benak orang Syiah untuk menjatuhkan sistem kerajaan yang dikendalikan raja muslim dan berakal. Ini hanya ulah sejumlah pihak yang berusaha memprovokasi kondisi

.
Kami sangat menghormati undang-undang di Malaysia, bahkan turut membantu menjaga keamanan negara ini. Kami juga berpesan kepada warga Syiah supaya menghormati dan menjaga undang-undang negara Malaysia. Untuk itu, kami ketika hendak melakukan kunjungan ke negara ini, harus melewati beberapa prosedur dan mengikuti peraturan seperti mengambil visa. Kami tidak membawa sesuatu yang tidak benar ke sana, bahkan ketika ingin menikah, kami pasti akan merujuk kepada hakim syar’I yang ditetapkan oleh Malaysia. Kemudian manakah tudingan yang menegaskan para pengikut Ahlul Bait mau meruntuhkan sistem kerajaan Malaysia?!!!

Apalagi Malaysia adalah negara Islam. Untuk itu, kami turut menghormati golongan yang bukan Islam. Sebab, Islam menyebutkan , “Tepatilah janji dan jagalah kepada mereka yang telah melakukan muamalah dengan kamu”. Dalam istilah fikih disebutkan “Awfuu Bil Uquud” yang artinya, Tepatilah Perjanjian.

Kami sepakat dengan negara Malaysia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Kami sama sekali tidak mencampuri urusan dalam negeri. Tujuan pengikut Ahlul Bait di manapun berada adalah ingin menjadi rakyat yang baik dan mukmin yang dicintai dan dianjurkan keluarga suci Rasulullah Saw yang tentunya hal ini juga disukai oleh pemerintah Malaysia. Kemudian apa yang disengketakan? Semua tuduhan itu adalah klaim tak berdasar.

Dugaan yang tersebar menyebutkan bahwa Syiah mempunyai tujuan politik dan ingin menjatuhkan sistem kerajaan. Ini adalah pernyataan yang sama sekali tidak benar. Kami sendiri di Iran pernah mempunyai sistem kerajaan, tapi kemudian berubah menjadi sistem republik. Problema kami bukan terletak pada sistem kerajaan tapi pada raja-raja yang fasik dan lalim saat itu. Raja yang dijatuhkan di Iran adalah raja yang fasiq. Keluarga raja di Iran saat itu juga fasiq, bahkan sistemnya juga fasiq.

Kami tegaskan bahwa Syiah tidak menentang sistem kerajaan. Akan tetapi penentangan kami terletak pada kefasikannya. Karena itu, Imam Khomeini ra sendiri pernah berada di bawah sistem kerajaan bahkan dalam masa yang relatif lama. Imam juga turut menasehati raja yang berkuasa saat itu. Akan tetapi raja saat itu tetap melakukan kefasikan.

Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami sama sekali tidak menentang sistem kerajaan. Apalagi sepanjang 1000 tahun, Iran berada di bawah sistem kerajaan, bahkan banyak ulama yang hidup di bawah sistem ini, seperti Allamah Majlisi. Kitab Bihar karya Allamah Majlisi yang cukup terkenal juga ditulis di masa sistem kerajaan. Ini membuktikan bahwa Syiah tidak mempunyai masalah dengan sistem kerajaan.

IRIB: Syiah dituding menghalalkan darah orang selain Syiah, bahkan membenarkan membunuh para pengikut madzhab atau agama lain.

Ini adalah kebohongan semata. Lihat perpustakaan kami! Di sana banyak terdapat kitab-kitab bukan Syiah. Bahkan kami menikah dengan non-Syiah dan mengawinkan anak perempuan kami dengan pengikut non-Syiah. Kalangan Ahlus Sunnah juga melakukan hal yang sama. Kami melakukan jual-beli dengan mereka. Silahkan lihat dalam kitab Fikih Al Madzhahib Al-Arbaah yang juga kitab Ahlus Sunnah terkenal. Semuanya disebutkan dalam kitab itu. Untuk itu, tuduhan yang ada tidaklah berdasar dan palsu.

Buktikan bahwa kami menghalalkan darah selain Syiah. Di Iran, khususnya di wilayah utara, ada mazhab Hanbali, Hanafi dan Syafi’e. Di Irak juga demikian sama seperti di Iran. Semuanya adalah bersaudara dan bersahabat. Silahkan lihat dalam parlemen Irak. Semua mazhab ada di sana.

IRIB: Kehadiran Syiah di Malaysia dianggap mengancam keselamatan negara.

Pengikut Ahlul Bait AS di Malaysia adalah diantara warga setia kepada undang-undang, bahkan ketika negara memerlukannya untuk membela negara, dapat dipastikan bahwa pemuda-pemuda Syiah akan berada di front terdepan mempertahankan kedaulatan Malaysia. Mereka pasti akan berkhidmat demi negara.

Keberadaan kami dapat dianggap berbahaya jika kami menentang negara ini dan kerajaan di negara ini. Kami bukanlah komunis yang menentang sistem di negara ini atau mau meruntuhkan sistem kerajaan di Malaysia.

Apa yang dapat dilakukan pemuda-pemuda Syiah di Malaysia?!! Apalagi jumlahnya sedikit. Kami tidak akan mampu melakukan perlawanan sekarang, dan bahkan dalam 50 tahun mendatang. Kami tidak akan melakukan perlawanan sama sekali. Sistem di Malaysia adalah sistem yang kuat. Di negara ini ada raja, tentara, perdana menteri, parlemen, menteri dan instansi-instansi lainnya. Apalagi Iran mempunyai hubungan baik dengan Malaysia. Seperti di masa kepemimpinan Dr. Mahadhir Muhammad, Malaysia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan para pembesar Republik Islam Iran.

IRIB: Syiah dituding tidak mewajibkan ibadah haji

Ini adalah kekeliruan lain dalam menilai ajaran Syiah. Silahkan baca kitab-kitab fikih kami seperti manasik haji karya Imam Khomeini ra dan marji-marji besar Syiah lainnya. Setiap tahun, 200 ribu warga Iran menunaikan ibadah haji dan 1 juta warga Iran juga menunaikan ibadah umrah. Berdasarkan data, banyak dari kalangan mahasiswa yang menunaikan ibadah haji dan umrah.

Ini adalah tuduhan yang aneh. Kami juga mempunyai hubungan dengan Arab Saudi. Kedutaan Arab Saudi juga ada di Iran, dan kedutaan Iran juga ada di Arab Saudi. Terus terang, saya malah tidak pernah mendengar tudingan yang menyebutkan bahwa Syiah tidak menunaikan haji. Saya sendiri sudah menunaikan ibadah haji sebanyak 19 kali.

apa kata Al Quran ddan Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya ? Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil)

.

Salah satunya berjudul al-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah (Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara  al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1.    “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2.    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

3. Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalam al-Fathir : 32 , Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka  ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka  ada yang pertengahan dan diantara mereka  ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu  :

1.    Ada sahabat yang “menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2.    Ada yang pertengahan (tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3. Ada yang yang mendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya :

1.    Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2.    Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Akuakan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau  tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3.    Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh  kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka  telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? ,

Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as ,  Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as :

Saudaraku (Ali) adalah : kemegahan Arab. Engkau adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta paling mencintai Allah dan aku (Rasul). [1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu. Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini. Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari, Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

.
‘Kutukan’  terhadap Ali  dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

……………………

1.  Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil). Salah satunya berjudul al-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah (Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara  al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1.    “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2.    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

3. Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalam al-Fathir : 32 , Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka  ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka  ada yang pertengahan dan diantara mereka  ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu  :

1.    Ada sahabat yang “menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2.    Ada yang pertengahan (tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3. Ada yang yang mendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya :

1.    Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2.    Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Akuakan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau  tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3.    Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh  kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka  telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? ,

Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as ,  Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as :

Saudaraku (Ali) adalah : kemegahan Arab. Engkau adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta paling mencintai Allah dan aku (Rasul). [1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu. Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini. Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari, Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

.

‘Kutukan’  terhadap Ali dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

……………………

1.  Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

antek-antek Mu’awiyah dan Bani Umayyah yang dengan tanpa rasa malu menulis kitab yang menghimpun hadis-hadis palsu dalam kitab ahlusunnah

Adapun di berbagai situs2 salafi Seperti biasanya kaum Salafi selalu membela Muawiyah dengan berbagai cara, mereka bahkan tak segan-segan untuk menyembunyikan kebenaran

.

Atsar kaim berikut ini ditolak kaum Salafi : Telah menceritakan kepada kami Zahir bin Thahir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Husain Al Baihaqi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al Hakim yang berkata aku mendengar Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf yang berkata aku mendengar ayahku berkata aku mendengar Ishaq bin Ibrahim Al Hanzali yang berkata “Tidak ada satu hadispun yang  sahih dari Nabi SAW tentang keutamaan Muawiyah bin Abu Sufyan” [Al Maudhu’at Ibnu Jauzi 2/263]

Kaum Salafi  menolak atsar ini dengan menyebutkan berita bohong yang asal ngomong kalau Ya’qub bin Yusuf adalah seorang yang majhul sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Perkataan ini tidaklah benar, atsar ini shahih karena Ya’qub bin Yusuf ayah Al Asham adalah seorang yang shaduq hasanul hadis dan ia sahabat Ishaq bin Rahawaih. Tidak ada satupun ulama hadis yang menjarh-nya dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah diantaranya Muhammad bin Makhlad Ad Duuriy, Abdurrahman bin Abi Hatim, Muhammad bin Qasim Al Atakiiy dan Anaknya Abul Abbas Al ‘Asham Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf.

  • Zahir bin Thahir disebutkan oleh Adz Dzahabi bahwa ia seorang Syaikh Alim Al Muhaddis Al Mufid Al Mu’ammar [As Siyar 20/9] telah meriwayatkan darinya sekumpulan para hafizh. Ibnu Najjar menyatakan kalau ia seorang yang shaduq [Lisan Al Mizan juz 2 no 1892]
  • Ahmad bin Husain Al Baihaqi atau yang lebih dikenal dengan Imam Baihaqi penulis kitab Sunan yang masyhur. Adz Dzahabi menyebutnya Al Hafizh Allamah Tsabit Al Faqih Syaikh Al Islam [As Siyar 18/163]
  • Abu Abdullah Al Hakim adalah Al Hafizh penulis kitab Mustadrak yang terkenal. Al Khalili menyatakan ia tsiqat [Al Irsyad 2/492]. Al Khatib juga menyatakan ia seorang Hafizh dan tsiqat [Tarikh Baghdad 3/93 no 1096]
  • Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf yang dikenal dengan Al ‘Asham. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Muhaddis. Al Hakim menukil dari Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Abu Nu’aim bin Adiy dan Ibnu Abi Hatim bahwa Al ‘Asham seorang yang tsiqat [As Siyar 15/452-458 no 258]
  • Ya’qub bin Yusuf bin Ma’qil bin Sinan adalah Ayah Al ‘Asham keterangan tentangnya disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam biografi Al ‘Asham. Adz Dzahabi menyebutkan kalau ia adalah sahabat Ishaq bin Rahawaih dan Ali bin Hujr dimana Al Hakim telah memujinya dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat yaitu Muhammad bin Makhlad Ad Duury, Abdurrahman bin Abi Hatim, Muhammad bin Qasim Al Atakiiy dan anaknya Abul Abbas Al ‘Asham [As Siyar 15/453]. Muhammad bin Makhlad seorang Imam yang tsiqat ma’mun [Su’alat Hamzah 1/29 no 38]. Abdurrahman bin Abi Hatim adalah Al Imam Al Hafizh Syaikh Al Islam [Tazkirah Al Huffaz 3/34 no 812]. Muhammad bin Qasim Al Atakiiy seorang Al Imam Al Muhaddis Al Manhsur yang dikatakan shaduq [As Siyar 15/529 no 305] dan Al ‘Asham telah disebutkan kalau ia seorang Imam Muhaddis yang tsiqat. Tidak ada satupun ulama yang mencacatkan Ya’qub bin Yusuf bahkan telah meriwayatkan darinya para Imam Hafizh yang tsiqat maka kedudukan dirinya adalah shaduq hasanul hadis. Apalagi disebutkan kalau ia adalah sahabat Ishaq bin Rahawaih maka penyimakannya dari Ishaq adalah shahih.
  • Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali atau yang dikenal Ishaq bin Rahawaih adalah seorang Al Imam Al Hafizh Al Kabir dimana Nasa’i menyatakan tsiqat ma’mun dan Abu Zur’ah berkata “aku tidak pernah melihat seorang yang lebih hafizh dari Ishaq” [Tadzkirah Al Huffaz 2/17-18 no 440]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh mujtahid yang tsiqat [At Taqrib 1/78 no 332]

Kesimpulan dari pembahasan singkat ini adalah Ishaq bin Rahawaih memang mengakui kalau tidak ada satupun hadis shahih dari Nabi SAW tentang keutamaan Muawiyah dan memang demikianlah keadaannya. Hadis yang sering dijadikan hujjah keutamaan Muawiyah oleh salafiyun adalah hadis yang dhaif, tidak tsabit sanadnya dan matannya mungkar tetapi salafy tetap bersikeras untuk membela keutamaan pemimpin sang pemberi petunjuk bagi mereka yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan.Mereka pun demi membela sang tokoh dewa mereka muawiyah, bahkan tak segan2 menyembunyikan kebenaran dengan menyembunyikan  atau tidak memperlihatkan hadist2 tentang kejahatan muawiyah.

Tidak hanya itu saja, setelah menyebutkan beberapa contoh hadis palsu buatan kaum munafikun yang memuji Mu’awiyah, Ibnu al- Jawzi mengakhirinya dengan menyebutkan pernyataan Ishaq ibn Rahawaih sebagai bukti penguat bahwa tidak satupu hadis fadhâil Mu’awiyah yang shahih. Ibnu al- Jawzi yang ulama besar dikalangan mereka saja mengakui pernyataan Ishaq ibn Rahawaih

Dengan sanad bersambung kepada Ya’qub ibn Yusuf, ia berkata, “Aku mendengar Ishaq ibn Ibrahim al-Handhali (Ibnu Râhawaih) berkata:

 “Tidak shahih sesuatu apapun dari Nabi saw. tentang keutamaan Mu’awiyah.”

Kemudian ia mendukungnya dengan penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal yang membongkar latar belakang pemalsuan atas nama Nabi saw. untuk memuji Mu’awiyah.

Bukan itu saja, Abdullah putra Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya, “Apa pendapatmu tentang Ali dan Mu’awiyah? Lalu ia menundukkan kepalanya sejenak kemudian berkata:

“Apa yang harus aku katakan tentang keduanya? Sesunggguhnya Ali adalah seorang yang banyak musuhnya, maka musuh-musuhnya mencari-cari kesalahanya, namun mereka tidak menemukannya, lalu mereka menuju kepada seorang yang telah memeranginya untuk mereka puji sebagai makar jahat mereka terhadap Ali.” (Baca al-Mawdhû’at; Ibnu al Jawzi,1/335).Inilah yang ditutup-tutupi kaum Salafi untuk mengagungkan Muawiyah sedemikian rupa.

Inilah khitam miski, penutup yang indah yang disebutkan Ibnu al-Jawzi ketika menutup rangkaian pembuktian kepalsuan hadis-hadis keutamaan Mu’awiyah.

Dan pada pernyataan Imam Ahmad di atas terlihat jelas bagi kita motivasi pemalsuan hadis keutamaan Mu’awiyah atas nama Nabi saw. atau pujian lain dari para sahabat atau lainnya. Ia hanya murni kepalsuan yang dimotivasi oleh kedengkian…. Dan kedengkian itu sekarang diwarisi oleh para pendengki dan musuh-musuh Imam Ali as, dengan memuji Mu’awiyah dan membela kesesatannya.

Tidak hanya itu, Dalam syarah Bukharinya, al-‘Aini menegaskan, /keutamaan Mu’awiyah’, maka saya akan menjawabnya, ‘Ya, benar, akan tetapi tidak satupun yang shahih dari sisi sanadnya.“Jika Anda berkata, ‘Telah datang banyak hadis tentang Demikian nashsha, ditegaskan oleh Ibnu Râhawai dan an-Nasa’i serta ulama lainnya. Karenanya Bukhari dalam Shahihnya berkata, ‘Bab yang menyebut Mu’awiyah’ beliau tidak mengatakan bab tentang keutamaan atau keistimewaan.!

Ibnu Hajar al-Asqallâni pun  mempertegas masalah ini ketika ia menjelaskan alasan penamaan bab dengan Bab Dzikru Mu’awiyah (sebutan Mu’awiyah) oleh Bukahri…. ia menyebutkan mengapa Imam Bukhari tidak menyebut nama bab itu dengan bab keutamaan Mu’awiyah? Sebab keutamaan tidak dapat disimpulkan dari hadis dalam bab tersebut….

Ibnu Hajar juga menyebutkan antek-antek Mu’awiyah dan Bani Umayyah yang dengan tanpa rasa malu menulis buku yang menghimpun hadis-hadis palsu keutamaan Mu’awiyah. Para antek tersebut adalah Ibnu Abu ‘Âshim, Abu Umar, Gulam Tsa’lab dan Abu Bakar an-Naqqâsy.

Kemudian , Ibnu Hajar mengutip penegasan Ishaq ibn Râhawai seperti yang dikutip Ibnu al-Jawzi dan juga penegasan Imam Ahmad. Dan setelahnya Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pernyataan Imam Ahmad itu menunjuk kepada hadis-hadis palsu yan diproduksi para pemalsu. Setelahnya Ibnu Hajar mempertegas dengan mengatakan:

“Dan telah datang banyak hadis tentang keutamaan Mua’wiyah akan tetapi tidak satupun yang shahih dasi sisi sanad. Dan dengan ini Ibnu Râhawai dan an-Nasa’i serta lainnya menegaskan.” (Baca Fath al-Bâri,14/254-255)

Di sini Anda saksikan bahwa Ibnu Hajar –Khatimatul Huffâdz, penutup para pakar hadis, korektor ulung sunnah- telah memastikan bahwa demikianlah pendapat Ishaq ibn Râhawai, an-Nasa’i dan beberapa ulama lain. Ia tidak sedikit pun mengesankan adanya keraguan pada kebenaran penukilan ucapan dan pandangan itu!

Dalam kitab al-La’âli al-Mashnû’ah, Jalaluddin as-Suyuthi menukil penegasan Ishaq ibn Râhawai dengaan tanpa sedikit pun mengisyaratkan adanya cacat pada jalur penukilannya. Bahkan penegasan itu ia sebutkan sebagai bukti kebenaran kesimpulan yang ia yakini. (baca al-La’âli al-Mashnû’ah,1/424. Maktabah at-Tijâriyah-Mesir)

Dalam kitab al-Fawâid al-Majmû’ah, Asy-Syaukâni juga menukil pernyataan Ishaq ibn Râhawaih ketika menutup serangkaian pembuktian kepalsuan hadis-hadis keutamaan Mu’awiyah, dan beliau tidak sedikitpun mempermasalahkan para perawi dalam sanad penukilan tersebut. (Baca al-Fawâid al-Majmû’ah:407. Dar al-Kotob al-Ilmiyah-Beirut)

Dalam at-Tuhfah al-Ahwadzi yang ditulis untuk mensyarahkan kitab Sunan at-Turmudzi, penulisnya; al-Mubârakfûri menegaskan,

Kemudian beliau menyebutkan pernyataan Ishaq ibn Râhawai dan Imam Ahmad sebagai dikutip Ibnu al-Jawzi, tanpa sediktipun meragukan keshahihan penukilan tersebut!

Bahkan lebih dari itu, dua hadis yang dibawakan at-Turmudi tentang keutamaan Mu’awiyah ia tegakan sebagai tidak shahih.

Hadis pertama:

Dari Nabi saw. beliau bersabda:

“Ya Allah jadikan Mu’awiyah seorang pemberi petunjuk dan diberi ia petunjuk dan berilah petunjuk orang lain dengannya.”

Tentang hadis ini ia menegaskan, “Al-Hâfidz berkata, ‘Sanadnya tidak shahih.’”

Hadis kedua:

“Ya Allah berilah petunjuk orang dengan Mu’awiyah.”

Hadis ini ia pastikan bahwa pada mata rantai periwayatannya terdapat seorang yang bernama Amr ibn Wâqid ad-Dimasyqi, ia matrûk/harus dibuang hadisnya. (Baca at-Tuhfah al-Ahwadzi,10/ 339-340. al-Maktabab as-Salafiyah- Madinah munawwarah).

Al Mubarakfûri -pensyarah kitab Sunan at Turmudzi- menegaskan, “Ketahuilah bahwasannya telah datang banyak riwayat hadis tentang keutamaan Mu’awiyah, akan tetapi tidak ada darinya yang sahih sanadnya”. Demikian ditegaskan Ishaq ibn Rahawaih dan an Nasda’i serta para ulama selain keduanya.

Lihatlah, seluruh hadist  kitab diatas bukanlah kitab kami kaum syiah, tapi kitab ahlusunnah sendiri.Bila mereka mengingkarinya, sama saja dengan mengingkari pemahaman ahlusunnah sendiri.Bila mereka saja mengingkari sebagian isi kitab mereka sendiri, lalu mengapa kami dipaksa untuk meyakini isi kitab mereka ?  Tidak ada alasan lain bagi mereka selain semangat menyanjung Mu’awiyah seperti yang pernah dilakuakkn para pendahulu mereka yang dikecam Imam Ahmad ibn Hambal. Apa yang mereka lakukan hari ini sama dengan apa yang dilakukan para pendahulu mereka. Hati mereka serupa!

Mereka mengatakan bahwa hadist2 ttg keburukan muawiyah adalah kebohongan dibuat-buat syiah, saya yakin  saudara pembaca cukup jeli dan cerdas untuk menilai siapakah yang justeru menyembyunyikan kebenaran, kami atau pihak Salafi?

Adapun hadist-hadist yang bertentangan dengan doktrin Kaum pemuja Muawiyah yang kami paparkan kemarin hanya beberapa saja yang dibantah kaum Salafi.Tapi lihatlah, mereka membantah satu dua hadist saqja, tapi mereka membuat trik seolah-olah telah membantah semuanya.

Seperti inilah memang cara-cara kaum Salfi dalam berargumen.Ibarat ada sepuluh orang diantaranya Jajang, Jaka, Rahmat, Indra dan lain-lain mengatakan bahwa Jakarta banjir.Orang Salafi menyebut bahwa berita tentang banjir di Jakarta bohong karena Jajang dan Rahmat tidak bisa dipercaya.Tapi bagi pembaca yang jeli dapat melihat bahwa inilah trik mereka.

Mereka pura-pura lupa bahwa periwayat yang menyebutkan Jakarta banjir ada banyak, Indra, Jaka, dan lain-lain, yang mereka bantah  hanya dua saja.Seperti itulah dari dulu memang trik-trik kaum Salafi. Mereka bantah dua hadist yang kami jadikan argumen sambil mengatakan bahwa syiah pembohoing, hadst2 rujukan mereka lemah, padahal dari sekian belas atau sekian puluh hadist yang mereka lemahkan hanya satu atau dua saja, sekali lagi itulah trik-trik cerdik mereka.

  1. 1.        Rasulullah SAW pernah bersabda Jika kalian melihat Muawiyah berkhutbah di MimbarKu maka bunuhlah ia.  

Hadis ini antara lain terdapat dalam kitab Mizan Al ’Itidal Adz Dzahabi biografi no 4149, Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 5 no 183, Al Kamil Ibnu Ady juz 2 hal 209, Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 biografi no 797(Abbad bin Ya’qub) dan Fawaid Al Majmu’ah Asy Syaukani hadis no 163. Asy Syaukani berkata tentang hadis ini

Hadis riwayat Ibnu Ady dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dan hadis tersebut maudhu’(palsu). Di dalam sanadnya ada Abbad bin Ya’qub dan dia seorang Rafidhah pendusta.

Abbad bin Ya’qub memang dinyatakan sebagai syiah  tetapi rasanya terlalu berlebihan jika mengatakan ia pendusta karena sebenarnya beliau adalah seorang yang jujur.

Ibnu Hajar berkata dalam Hady As Sari Muqaddimah Fath Al Bari hal 412

Abbad bin Ya’qub Ar Rawajini Al Kufi Abu Sa’id seorang Rafidhah yang masyhur tetapi beliau seorang yang Shaduq(jujur), Ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim dan Al Hakim berkata Ibnu Khuzaimah berkata tentang Abbad bin Yaqub “ Ia tsiqat atau terpercaya riwayatnya tetapi pendapatnya diragukan”. Ibnu Hibban berkata ”Ia Rafidhah yang menyebarkan pahamnya” dan berkata Shalih bin Muhammad “Ia memaki Usman RA”.APAKAH KALIAN JUGA MENYATAKAN BAHWA IBNU  HAJAR ULAMA KALIAN SENDIRI SEBAGAI SYIAH ?

Dalam At Taqrib juz 1 hal 469, Ibnu Hajar juga menegaskan bahwa Abbad bin Yaqub adalah seorang yang Shaduq. Beliau perawi hadis dalam Shahih Bukhari, Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah. Ad Daruquthni juga menyatakan Abbad sebagai Shaduq, sebagaimana yang dikutip Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 5 biografi no 183

Daruquthni berkata “Ia seorang Syiah yang Shaduq”

Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal juz 14 hal 175-178 biografi no 3104, Tahdzib At Tahdzib juz 5 biografi no 183 dan Mizan Al I’tidal juz 2 biografi no 4149 tidak ada yang menyatakan kalau Abbad bin Ya’qub sebagai seorang pendusta. Oleh karena itu pernyataan Asy Syaukani di atas bisa dibilang kecenderungan yang berlebihan.

Kembali ke hadis di atas, hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Sa’id RA, Ibnu Mas’ud RA, Jabir bin Abdullah RA, Sahl bin Hunaif RA semuanya dengan sanad yang marfu’, dan juga diriwayatkan oleh Hasan Basri secara mursal. Semua sanad hadis ini tidak satupun lepas dari pembicaraan Ulama hadis.

Hanya saja para Ulama tersebut sebelum membahas sanad-sanad hadis tersebut mereka telah memiliki prakonsepsi bahwa hadis tersebut batil dan tidak layak disandarkan kepada Nabi SAW. Hal ini tentu saja dengan alasan bahwa Hadis tersebut telah merendahkan sahabat Nabi SAW. Dan sudah bisa diperkirakan bahwa kebanyakan mereka yang menolak hadis ini berdalih dengan ”hadis ini diriwayatkan oleh Rafidhah yang pendusta”.

Padahal mungkin tidak sepenuhnya begitu, karena di antara sanad-sanadnya ada juga yang tidak diriwayatkan oleh Perawi yang dikatakan Rafidhah. Dalam Ansab Al Ashraf Al Baladzuri juz 5 hal 128, hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi shahih hanya saja hadis tersebut mursal. Dalam salah satu riwayat Abu Sa’id, hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi shahih hanya saja salah satu perawinya adalah Ali bin Za’id. Beliau dinyatakan dhaif oleh sebagian orang karena buruk hafalannya tetapi beliau disebut sebagai adil dan jujur  oleh Imam Tirmidzi, Yaqub bin Syaibah dan Syaikh Ahmad Syakir.

Dalam Tahdzib At Tahdzib juz 7 biografi no 545, Imam Tirmidzi telah menyatakan Ali bin Zaid Shaduq, Yaqub bin Syaibah menyatakan Ia tsiqat dan hadisnya baik. Beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, perawi Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Dawud dan Sunan Nasa’i.

Imam Tirmidzi telah menghasankan hadis Ali bin Za’id, salah satunya beliau berkata mengenai hadis yang di dalam sanadnya terdapat Ali bin Za’id

 (Hadis no 109 dalam Sunan Tirmidzi Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan beliau Syaikh Ahmad Syakir menyatakan hadis tersebut shahih).

Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid juz 3 hal 678 hadis no 5881 yang didalam sanadnya ada Ali bin Za’id telah menyatakan

Riwayat Ahmad, Abu Ya’la dan Al Bazzar, di dalam sanadnya ada Ali bin Za’id, beliau dibicarakan, juga dinyatakan tsiqah.

Syaikh Ahmad Syakir telah dengan jelas menyatakan bahwa Ali bin Za’id sebagai perawi yang tsiqah. Hal ini dapat dilihat dalam Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir catatan kaki hadis no 783.

Tulisan ini hanya menunjukkan kecenderungan dalam menilai kedudukan suatu hadis. Saya pribadi masih bertawaqquf(berdiam diri) mengenai kedudukan hadis ini, sejauh ini saya cuma menyinggung

  • Hadis Mursal Shahih riwayat Hasan Basri
  • Hadis Riwayat Abbad bin Yaqub
  • Hadis Riwayat Ali bin Zaid

Sebagai informasi hadis ini telah ditolak oleh Ibnu Ady dalam Al Kamil, Al Uqaili dalam kitabnya Ad Dhua’fa Al Kabir, Asy Syaukani dalam Fawaid Al Majmu’ah, Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadis Ad Dhaifah Al Maudhu’ah dan lain-lain. Bisa dibilang kebanyakan ulama hadis menilai hadis ini batil dan palsu. Walaupun begitu ternyata ada juga ulama hadis yang menyatakan hadis tersebut Shahih yaitu Sayyid Muhammad bin Aqil Al Alawi dalam kitabnya Al Atab Al Jamil Ala Ahlul Jarh Wat Ta’dil hal 63(sejujurnya saya penasaran dengan syaikh satu ini). Beliau menyebutkan hadis ini dalam pembahasannya terhadap perawi Abbad bin Ya’qub dan Ali bin Zaid, beliau berkata

Hadis “Jika kamu melihat Muawiyah di atas mimbarKu maka bunuhlah ia” seperti telah dinyatakan sebelumnya bahwa hadis ini Shahih, tsabit(kuat) dan tidak ada keraguan padanya.

.Salafy sangat bersemangat dalam membela orang-orang yang menyakiti dan memusuhi Ahlul Bait bahkan dengan dalih-dalih yang naïf terkesan ilmiah bagi orang awam tetapi jika diteliti baik-baik jelas sangat dipaksakan. Dalih pertama yang menggelikan adalah ia mengutip ayat Al Qur’an berikut

 “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [QS. At-Taubah : 117].

Kami tidak mengerti dari mana datang pikiran yang menyatakan ayat ini sebagai keutamaan bagi Muawiyah, mengingat Muawiyah bukanlah orang yang ikut berhijrah atau orang dari golongan Muhajirin dan bukan pula orang dari golongan Anshar yang merupakan penduduk Madinah.

Inilah kebohongan besqar yang mereka buat.Mereka kecoh oraqng2 awam dengan membuat trik hebat bahwaq seolah2 Muawiyah adalah sahabat Nabi yang tergolong ke dalam Anshar dan Muhajirin. Muawiyah bukanlah orang yang ikut berhijrah atau orang dari golongan Muhajirin dan bukan pula orang dari golongan Anshar.Bahkan kapan Muawiyah menjadi sahabat Nabi ?Yang ada dalaah Muawiyah adalah musuh Nabi yang terus menerus memerangi Nabi, setelah terkepung dalam peristiwa  futtuh Mekah barulah Muawiyah datang untuk meminta ampunan dari Rasulullah.Yang ada malah pasukan Imam Ali yang memerangi Muawiyah dalam Siffin dan Jamal merupakan 70 orang pasukan Badar, dan banyak terdapat sahabat Muhajirin dan Anshar.

  1. Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Ayahku berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”… [Musnad Ahmad 5/347 no 22991 Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”]

Itulah Sang calon ahli Surga YANG MEMBERI PETUNJUK pada kaum Salafi, MEMBERI PETUNJUK DENGAN MENYUGUHKAN KHAMR . Inilah pahlawan mereka kaum Salafi..

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad yang menceritakan kepada kami Fulaih dari Sa’d bin ‘Abdurrahman bin Wail Al Anshari dari ‘Abdullah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Allah melaknat khamar, dan melaknat yang meminumnya, yang menuangkannya, yang membuatnya dan yang meminta dibuatkan, yang menjualnya, yang mengangkutnya dan yang meminta diangkut dan yang memakan keuntungannya [Musnad Ahmad 2/97 no 5716, Syaikh Syu’aib berkata “shahih dengan jalan-jalannya”]

Inilah Muawiyah pahlawan kalian yang mendapat petunjuk.

Mengapa sedikit sekali orang-orang sunni mengambil hadis dari para Imam Ahlul Bait ? justru oarng seperti Az Zuhri banyak dikutip

LAYAR SEARCH ENGiNE GOOGLE :
#
Penjelasan Tentang Ali Shalat Sambil Mabok – Hakekat
1 Nov 2010 … Berisi penjelasan tentang imam Ali Shalat sambil Mabok. Anda akan tahu mengapa Ali melakukan itu. Yang jelas, Ali tidak berbuat salah ketika …
hakekat.com/content/view/83/1/ – Tembolok
#
LAYAR SEARCH ENGiNE GOOGLE :
#
Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?
28 Okt 2010 … Ali bin Abu Thalib, imam Syiah yang ditunjuk oleh Nabi SAW untuk menggantikannya, ternyata shalat sambil mabok. Dia shalat setelah menenggak …
syiahindonesia.com/…/360-imam-maksum-shalat-sambil-mabok – Tembolok
fitnah wahabi

Kenapa Situs hakekat.com Menghina Sahabat Nabi

Lama tidak berkunjung ke situs hakekat.com, saya mendapat kejutan dari salah satu artikelnya yang berjudul “Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?” Dari judulnya, saya bisa pahami bahwa tujuannya adalah menjatuhkan derajat imam ahlulbait yang menurut mazhab Syiah adalah maksum. Menurut Syiah, para nabi sebagai pengemban risalah Allah Swt. dan para imam ahlulbait sebagai penjaganya haruslah terhindar dari kesalahan.

Hal ini berbeda dengan pendapat ahlusunah yang menganggap nabi dan imam ahlulbait tidak terlepas dari melakukan kesalahan. Pendapat ini terkesan menjadi paradoks ketika seringkali situs hakekat.com membela mati-matian sahabat nabi yang seluruhnya adil dan nyaris tanpa cacat. Dikatakan bahwa mereka yang mencela sahabat bisa menjadi kafir. Tapi justru, situs hakekat.com terang-terangan mencela sahabat nabi.

Artikel dalam situs tersebut menyebutkan sebuah riwayat ketika Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat ahlusunah, imam pertama Syiah) salat dalam keadaan mabuk dan ngawur dalam membaca Alquran (kata-kata “ngawur” berasal dari situs hakekat.com). Anehnya, hakekat.com menuliskan bahwa sumber riwayat tersebut berasal dari kitab ulama ahlusunah.

Salah satu riwayat yang dikutip berasal dari tafsir Ad-Dur Al-Mantsûr karya Jalaluddin As-Suyuthi [klik]:

عن علي بن أبي طالب قال‏:‏ صنع لنا عبد الرحمن بن عوف طعاما، فدعانا وسقانا من الخمر، فأخذت الخمر منا وحضرت الصلاة، فقدموني فقرأت‏:‏ قل يا أيها الكافرون لا أعبد ما تعبدون، ونحن نعبد ما تعبدون

Ali bin Abi Thalib berkata, “Abdurrahman bin Auf menghidangkan makanan untuk kami, kemudian memanggil kami dan menuangkan khamar, lalu aku mengambil khamar dan tibalah waktu salat. Aku membaca: Qul yâ ayyuhal kâfirûn, laa a’budu mâ ta’budûn, wa nahnu na’budu mâ ta’budun…“

Kisah di atas kemudian menjadi latar belakang turunnya surah an-Nisa ayat 43 yang melarang mendekati salat dalam keadaan mabuk. Sebenarnya, penyebab satu ayat turun bisa berasal dari banyak hadis. Tapi hanya dari satu riwayat itu, hakekat.com berusaha menunjukkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidaklah maksum tetapi malah salat dalam keadaan mabuk. Jadi, demi menjatuhkan mazhab Syiah, hakekat.com rela menjatuhkan sahabat Nabi saw. sekelas Ali bin Abi Thalib!

Situs hakekat.com menulis:

Secara tidak langsung, admin hakekat.com ingin mengatakan, “Kalau Syiah mengutip dari kitab suni untuk mendukung pendapatnya, lihat dong dalam kitab suni juga ada yang menjatuhkan pendapat kalian. Kenapa kalian tidak memandang riwayat kami…?” Padahal, ketika ada pengikut Syiah mengutip riwayat dari kitab ahlusunah, artinya itu adalah sebuah hujah bagi mazhab ahlusunah. Tapi kalau hakekat.com mengutip dari kitab ahlusunah mengenai sahabat yang minum khamar kemudian salat dalam keadaan mabuk, untuk menjatuhkan mazhab Syiah, itu artinya bumerang.

Betapapun riwayat tersebut yang berasal dari kitab ahlusunah yang tidak bisa digunakan dalam menilai Imam Ali as. bagi Syiah jika dibandingkan banyaknya hadis lain yang menjelaskan keutamaannya, bagaimana pendapat ikhwan ahlusunah melihat sahabat sekelas Ali bin Abi Thalib mabuk? Bukankah, baik suni maupun Syiah, meyakini Ali bin Abi Thalib bagian dari ahlulbait?

Kenapa hakekat.com tidak menggunakan riwayat lain dari Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, ath-Thabari, yang menyebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf-lah yang sebenarnya mabuk saat salat dan ngawur membaca surah al-Kafirun?

Kalau mencela sahabat nabi bisa dikatakan kafir, bagaimana dengan admin hakekat.com yang menghina sahabat nabi saw. salat dalam keadaan mabuk dan ngawur dalam membaca Quran? Apa yang hendak dicapai situs hakekat.com dan sejenisnya bagi pengikut mazhab Syiah dan ahlusunah?

Mengapa sedikit sekali orang-orang sunni itu mengambil hadis dari para Imam Ahlul Bait?. Mengapa nama Az Zuhri lebih banyak ditulis dalam kitab hadis Sunni dibanding nama Imam Sajjad?. Ada berapa banyak hadis imam Musa Kazhim dalam kitab hadis sunni? Apakah orang-orang Sunni mencatat ilmu-ilmu dari imam Ja’far? Mengapa nama imam Baqir, Imam Ali Ridha dan imam Ali Al Hadi jarang tercatat dalam kitab hadis Sunni?.

Ada sebuah artikel lanjutan dari situs hakekat.com yang berupaya menjelaskan duduk-perkara Sayidina Ali yang mabuk saat salat. Salah satu bagian artikel itu berupaya menjelaskan mengenai ayat pengharaman khamar yang turun secara bertahap. Surah an-Nisa ayat 43 di atas termasuk tahap ketiga setelah ditahap kedua dalam surah al-Baqarah ayat 219 disebutkan:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

Artinya, sahabat sudah bertanya dan tahu bahwa mengkonsumsi khamar itu dosa besar. Tapi menurut hakekat.com, meskipun para sahabat sudah bertanya tentang khamar dan Allah Swt. melalui nabi-Nya sudah menetapkan bahwa minum khamar dosa besar, masih ada sahabat sekelas Imam Ali yang mabuk saat salat! Logika hakekat.com adalah “sahabat (termasuk Imam Ali) mungkin tahu bahwa mengkonsumsi khamar dosa besar tapi tidak tahu hukum mengkonsumsi khamar saat salat”.

Inikah Ali bin Abi Thalib yang Ummulmukminin Aisyah katakan, “Ali adalah orang yang paling paham sunah nabi,” dan yang Abdullah bin Abbas katakan, “Perbandingan ilmuku dan ilmu para sahabat yang lain dengan ilmu Ali bin Abi Thalib bagaikan perbandingan setetes air dengan tujuh samudera lepas”? Inikah Ali bin Abi Thalib yang Khalifah Umar pernah berkata, “Kalau bukan karena Ali celakalah Umar”?

Tapi apa yang hakekat.com tulis .Khalifah Umar berdoa dan turun wahyu?! Inikah bentuk kebencian kepada Imam Ali yang merupakan anggota ahlulbait? Wallahualam.

Anda yakin bahwa anda mengikuti ajaran yg anda ikuti pasti dari Rosulullah ? bukannya anda juga belajar dari ustad dan juga para ulama anda? Sedang para imam 4 mazhab anda juga saling menghujat, pecahnya umat Islam dikarenakan sahabat juga

kenapa kita nggak boleh menyalahkan sahabat, sahabat juga manusia seperti kita ada yang baik dan ada yang buruk ada yang masuk Islam karena terpaksa karena penaklukan kota Makkah

masalah Aisyah, Allah memerintahkan istri isteri Nabi untuk tidak keluar dari Rumah Nabi setelah Nabi wafat tapi kenyataannya Asiyah   malah keluar dan memimpin perang melawan Ali as ,apakah kita nggak boleh menilainya

lalu masalah berdoa dikuburan orng soleh apakah syirik? lalu sujud kepada orang tua juga syirik? aqidah anda mudah mengatakan syirik tanpa mau mengerti alasannya, karena orang mati itu hanya jasadnya saja,tapi rohnya masih ada, apakah kita tidak boleh meminta barokahnya , sedangkan Nabi Sulaiman as meminta bantuan jin Ifrit dalam memindahkan singgasana ratu Bilqis, syirikah yg dilakukan Nabi Sulaiman as karena minta bantuan jin ? .

Saya sarankan kepada anda kalau ingin Islam bersatu coba tinggalkan fanatik mazhab , jangan menghujat mazhab lain terutama Syiah, karena argumen anda akan mudah terpatahkan dan akan membuat anda malu, karena kitab rujukan syiah 80%nya adalah kitabnya orang orang sunni,dan saya tahu anda bukan aswaja tapi anda salafiyah wahabiyah  yang mengagungkan Bani Muawiyah sehingga melarang menyalahkan sahabat, hadis hadis palsu telah dibuat oleh muawiyah untuk menjatuhkan keagungan IMAM ALI AS berserta turunannya.

masya ALLAH……janganlah kita saling menghujat sesama muslim, kalau memang tokoh sentral dari berbagai element mau berhalaqah da ber musyawaroh, saya kira tidak seperti ini..terlebih bagi akhwan dari hakekat.com. anda harus lebih berhati-hati dalam “berkomentar”, jagalah “lisan” anda.

Ternyata sejarah menyimpan bukti-bukti bahwa mazhab syiah -yang ada hari ini- adalah mahzab yang berpedoman pada Nabi dan Ahlul bait. Apa saja bukti-bukti itu? Silahkan baca selengkapnya.

Ulama syiah selalu mengatakan bahwa mazhab mereka adalah warisan dari keluarga Nabi. Memang hanya Syiah yang dengan sungguh-sungguh berpedoman pada ahlul bait Nabi sedangkan salafi wahabi adalah nashibi model baru yang secara lahir berkoar-koar mencintai ahlul bait tetapi kenyataannya malah meninggalkan ahlul bait dan bersikap sinis pada ahlul bait.

Tidak suka dengan kenyataan pahit -kalau Syiah adalah mahzab ahlul bait- ulama salafi wahabi membuat klaim kalau syiah adalah sesat dan kafir. Kita banyak mendengar klaim ini dimana-mana, khususnya ditujukan bagi muslim yang awam. Awam di sini bukan sekedar awam dalam artian tidak berpendidikan atau tidak terpelajar, tetapi awam dalam pemahaman Islam, termasuk kalangan awam yang saya maksud adalah kalangan intelektual yang berpendidikan tinggi hingga menyelesaikan jenjang pasca sarjana, barangkali juga diberi gelar profesor.

Orang awam ini begitu mudahnya terjebak propaganda busuk dari orang-orang berkedok ulama yang tidak henti-hentinya menyebarkan kebencian kepada para pecinta ahlul bait. Mereka tidak puas hanya dengan meninggalkan ahlul bait dan bersikap sinis pada ahlul bait, mereka bahkan merendahkan dan mengkafirkan orang-orang yang mencintai ahlul bait. Mereka tidak rela kalau nama ahlul bait membumbung tinggi dan lebih mulia dari tokoh pujaan mereka putra bani Umayyah.

Banyak orang awam terpesona oleh cerita-cerita yang mengkafirkan mahzab ahlul bait. Cerita yang disebarkan oleh mereka yang berkedok ulama dan berkedok berpegang pada sunnah. Mereka terpengaruh oleh kebohongan salafi wahabi -yang pada hakekatnya adalah Nasibi- yang menebarkan cerita-cerita yang katanya mengutip kitab syiah sendiri.

Orang-orang awam tentu akan mudah terpengaruh dengan cerita wahabi seperti situs hakekat.com tanpa bisa melacak asal-usul cerita itu, tanpa bisa memilah apakah cerita wahabi itu benar adanya atau hanya kebohongan busuk yang berasal dari nafsu kebencian kepada mahzab ahlul bait. Di satu sisi kita kasihan melihat orang-orang awam yang tertipu tetapi di sisi lain kita bisa memaklumi bahwa orang awam tidak dapat melacak asal-usul periwayatan sebuah cerita.

Karena untuk melacak kebenaran sebuah cerita bukan hal yang mudah bagi orang awam. Begitu juga menyebarkan kebohongan busuk dan memolesnya agar tampak bagus bukan hal yang mudah bagi orang awam karena kemampuan itu hanya timbul dari benih-benih Nasibi yang tersemai oleh pupuk buatan bani Umayyah.

Jika kita melihat sejarah dengan teliti maka kita akan menemukan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kebenaran mazhab Syiah. Hingga akhirnya kita bertanya-tanya tentang kebenaran klaim salafi wahabi. Dan yang lebih mengherankan lagi salafi wahabi tetap tidak bergeming dan berikeras memegang teguh klaimnya yang telah dibantah oleh sejarah. Yang disebut klaim bisa jadi hanya kesimpulan dari beberapa fakta yang bisa saja keliru, namun mestinya jika klaim itu bertabrakan dengan satu bukti nyata dan sejarah yang benar-benar terjadi, mestinya mereka yang mencari kebenaran akan meninjau kembali pemikiran sebelumnya yang keliru.

Tapi begitulah mental Nasibi, mereka memang hanya ingin menyebar kebohongan dan kebencian kepada mahzab ahlul bait.

Berbeda dengan salafi Nasibi yang bermental “pokoknya”, Ulama syiah bersikap terbuka terhadap kritik-kritik salafi nasibi. Mereka Ulama syiah bahkan tidak menutupi riwayat-riwayat yang memberatkan mereka karena bagi mereka modal utama mencapai kebenaran adalah kejujuran. Tetapi sikap baik ulama syiah ini dipelintir oleh salafi nasibi seperti situs hakekat .com, ia mengatakan kalau ulama syiah menutupi peristiwa yang bertentangan dengan mahzab syiah. Padahal jelas-jelas contoh yang ia sebutkan justru membuktikan kejujuran para Ulama syiah. Situs pendusta hakekat.com mengutip

Temanku – Ayatullah Sayyid Shadruddin Al Jaza’iri- menceritakan pada suatu hari dia berada di rumah Ayatullah Sayyid Muhsin Al Amin Al Amili di Syam, kebetulan Tsiqatul Muhadditsin Abbas Al Qummi juga ada di sana. Lalu terjadilah dialog antara Abbas Al Qummi dan Muhsin Al Amin. Abbas Al Qummi bertanya pada Muhsin Al Amin mengapa anda menyebutkan baiat imam Ali Zainal Abidin kepada Yazid bin Muawiyah, -semoga dia dan ayahnya dikutuk dan masuk neraka- dalam kitab “A’yanu As Syi’ah”? Muhsin Al Amin menjawab : kitab A’yanu As Syi’ah adalah kitab sejarah, karena telah terbukti dalam sejarah bahwa ketika Muslim bin Uqbah menyerang kota Madinah, membunuh dan merampok serta memperbolehkan kehormatan selama tiga hari atas perintah Yazid, melakukan kejahatan yang tidak mampu ditulis oleh pena, imam As Sajjad telah berbaiat pada yazid karena kepentingan mendesak, dan karena taqiyah untuk menjaga diri dan bani hasyim. Baiat ini adalah seperti baiat Ali pada Abubakar setelah enam bulan dari wafatnya Nabi , setelah syahidnya Fatimah.

Abbas Al Qummi mengatakan: tidak boleh menyebutkan kejadian ini meskipun benar terjadi, karena dapat melemahkan akidah orang banyak, dan kita harus selalu menyebutkan kejadian yang tidak betentangan dengan akidah orang banyak.

Muhsin Al Amin mengatakan: saya tidak tahu mana kejadian sejarah yang ada manfaat di dalamnya dan mana yang tidak ada manfaatnya, hendaknya anda mengingatkan saya pada kejadian yang tidak ada manfaatnya, saya tidak akan menuliskannya.

Coba lihat baik-baik saudara, Muhsin Al Amin seorang Ulama syiah dengan jujur memasukkan riwayat baiat Imam Sajjad kepada Yazid dalam kitabnya A’yanu As Syi’ah –terlepas dari benar tidaknya riwayat tersebut- ini menjadi bukti nyata kalau ulama syiah tidak menutup-nutupi peristiwa apapun. Riwayat ini tentu akan melemahkan akidah orang banyak yang tidak paham ilmu agama dengan baik, orang-orang yang dengan begitu saja percaya dengan setiap riwayat yang mereka baca.

Oleh karena itulah Abbas Al Qummi khawatir dan ia menyarankan agar tidak memasukkan riwayat yang melemahkan akidah orang banyak. Lagipula selepas dialog ini ternyata riwayat itu masih dapat dilihat dan tidak ditutup-tutupi oleh Muhsin Al Amin bahkan oleh ulama syiah Sayyid Muhammad Husein Al Husaini dalam Ma’rifatul Imam sehingga dengan mudahnya si pendusta hakekat.com itu bisa dapat membaca riwayat tersebut. Semua ini membuktikan kejujuran ulama syiah bahwa mereka tetap menuliskan riwayat-riwayat walaupun memberatkan mereka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Justru hakekat.com itulah yang memelintir kejujuran ulama syiah dengan kedustaannya kalau Ulama syiah menutup-nutupi peristiwa yang bertentangan dengan mahzab mereka.

Berkenaan dengan isi riwayat tersebut yaitu Imam Sajjad memberikan baiat kepada Yazid karena Taqiyah adalah riwayat lemah yang tidak benar karena para sejarawan justru menyatakan yang sebaliknya yaitu Mas’udi dalam Muruj Adz Dzahab 3/70, Mubarrad dalam Kamil 1/260 dan Dinawari dalam Tarikhnya hal 266 menyebutkan

ketika tentara Yazid pimpinan Muslim bin Uqbah akhirnya menaklukan orang Madinah dalam pertempuran di Harrah kemudian menjarah kota itu, Zainal Abidin dan keluarganya tidak dianiaya. Begitu pula ketika seluruh warga Madinah dengan hinanya diharuskan membaiat dan menyatakan diri sebagai budak-budak khalifah Yazid, Zainal Abdin dikecualikan.

Para sejarawan telah membuktikan justru Imam Sajjad adalah imam yang disegani tidak hanya oleh para pengikutnya tetapi juga oleh lawannya seperti Yazid dan pengikutnya sehingga mereka merasa segan untuk memaksa Imam yang mulia ini untuk membaiat Yazid dan inilah yang benar. Oleh karena itulah Ulama syiah tidak pernah menutup-nutupi riwayat apapun termasuk riwayat baiat Imam Sajjad kepada Yazid karena mereka yakin kalau riwayat tersebut tidaklah benar ataupun jika mereka membenarkan riwayat itu maka mereka yakin bahwa mereka juga tidak luput dari kesalahan dan akan ada ulama lain yang membantah riwayat tersebut dan menunjukkan kebenarannya.

Sikap seperti ini tidak lain berakar pada keyakinan bahwa Kebenaran selalu akan datang dan kebohongan-kebohongan akan selalu terungkap. Cih tapi dengan penuh dusta situs hakekat.com malah merendahkan sikap baik dan ilmiah ulama-ulama syiah.

Yah memang begitulah anak cucu Umayyah, kita sudah lihat betapa khalifah kebanggan salafi nasibi, putra Muawiyah yang diagungkan salafi nasibi adalah orang yang haus kekuasaan. Dengan penuh dosa ia menyerang Madinah dan memaksa penduduk Madinah membaiatnya. Pemimpin macam apa yang bergelimang dosa seperti itu dan kita lihat ulama-ulama Madinah yang notabene penduduk Madinah dengan takutnya membaiat pemimpin semacam itu. Nah memang begitulah mentalitas bani Umayyah dan ulama-ulama pengikutnya yang diturunkan kepada salafi nasibi termasuk hakekat.com.

Berbeda dengan Ulama syiah, salafi nasibi jelas bermental sangar dan tertutup, mereka tidak bisa menerima kritik apapun bahkan dari ulama sunni sendiri, jadi sudah pasti mereka berteriak marah-marah jika ada ulama syiah yang mengkritik mereka. Diantaranya mereka mencela Sayyid Ali Al Milani yang meragukan peristiwa Abu Bakar menjadi Imam shalat. Sayyid Ali Al Milani bahkan telah memberikan bukti-bukti dari kitab yang diakui salafi nasibi sendiri, tetapi karena mental yang sangar dan tidak mau menerima kritik, mereka malah mencela Sayyid Ali dan mengatakan kalau metode yang ia gunakan adalah metode penelitian hadis ala syiah.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitu pula pemilik situs dusta hakekat.com mengecam penelitian Sayyid Ali Al Milani denga mengatakan

ulama syiah juga menebarkan keraguan seputar peristiwa-peristiwa yang tidak sejalan dengan kepentingan syiah dan “melemahkan akidah orang”, seperti Ali Al Milani yang mencoba meragukan peristiwa Abubakar diperintahkan oleh Nabi untuk menjadi imam shalat. Dia mencoba menguji peristiwa itu melalui metode penelitian hadits ala syiah. Namun itu tidak banyak berguna karena peristiwa itu tercantum di Shahih Bukhari, yang dianggap shahih oleh kaum muslimin. Jika peristiwa itu diragukan, maka sudah semestinya peristiwa lainnya yang tercantum dalam Shahih Bukhari juga ikut diragukan, seperti peristiwa Saqifah, dan peristiwa Nabi yang menyerahkan bendera perang pada Ali pada perang Khaibar. Juga hadits tentang kedudukan Nabi Muhammad dan Ali yang dinyatakan bagai Nabi Musa dan Nabi Harun.

Ternyata selain dusta, situs ini memang dungu dalam berhujjah. Alangkah mudahnya ia menyalahkan Sayyid Ali Al Milani dengan dalih riwayat itu ada dalam shahih bukhari, pemilik situs hakekat.com sepertinya tidak pernah membaca tulisan Sayyid Ali. Sudah jelas Sayyid Ali mengetahui kalau riwayat itu ada dalam Shahih Bukhari dan ia mengajukan bukti-bukti kontradiksi riwayat tersebut dengan riwayat-riwayat lain. Dengan seenaknya situs hakekat.com melakukan qiyas kalau riwayat tersebut diragukan maka sudah semestinya peristiwa lain dalam shahih bukhari diragukan.

Bagi hakekat.com, semua yang ada dalam shahih bukhari sudah pasti benar dan meragukan salah satunya berarti meragukan semua isi kitab tersebut. Si dungu ini sepertinya tidak tahu kalau ulama kebanggaannya albani bahkan telah menolak hadis shahih bukhari yaitu hadis yang menerangkan kalau Nabi menikahi Maimunah saat ihram. Dan jauh sebelum albani sudah ada banyak ulama sunni yang menolak hadis shahih bukhari ini diantaranya menantu abu hurairah si said al musayyab. Apa yang akan si dungu hakekat.com katakan setelah mengetahui fakta ini?.

Cih gampang, saya katakan maka sudah semestinya peristiwa-peristiwa lain dalam shahih bukhari juga ikut diragukan termasuk abu bakar menjadi imam Shalat. Jadi hujjah hakekat.com malah menjadi bumerang yang menghancurkan kitab hadis kebanggannya shahih bukhari.

Begitulah orang awam banyak yang tidak mengetahui kebohongan dan kedunguan situs hakekat.com. Mereka hanya terbuai dengan cerita hakekat.com yang belum pernah mereka dengar dan dengan cerita-cerita itulah mereka langsung membenarkan situs tersebut. Padahal kesimpulan-kesimpulan hakekat.com sangat pincang dan rapuh secara logika ditambah lagi banyak data-data yang dipelintir dan tidak diikutkan. Jadi cara pikir yang salah ditambah data-data yang dipelintir dan tidak diikutkan membuat kesimpulan situs tersebut menjadi benar-benar palsu.

Sejarah Keluarga Nabi
Pada makalah singkat ini kami akan membuktikan pada pembaca seputar sejarah keluarga Nabi yang disepakati oleh para sejarawan baik sunni maupun syiah, yang akan membuktikan bahwa mahzab Syiah adalah mahzab yang berpedoman pada Ahlul bait dan orang-orang sunni justru meninggalkan Ahlul bait.

Seluruh sejarawan baik dari pihak syiah maupun sunni mengatakan bahwa ahlulbait Nabi tinggal bermukim di kota madinah. Situs hakekat.com mengatakan kalau ahlul bait Nabi tinggal di tengah-tengah penganut ahlussunnahwaljamaah -sunni-, kami tidak akan membuang energi sia-sia untuk membantah hal ini. Anggap saja hal itu benar, maka ada fakta aneh yang bahkan tidak terpikirkan oleh hakekat.com.

Mengapa sedikit sekali orang-orang Madinah yang katanya sunni itu mengambil hadis dari para Imam Ahlul Bait?. Mengapa nama Az Zuhri lebih banyak ditulis dalam kitab hadis Sunni dibanding nama Imam Sajjad?. Ada berapa banyak hadis imam Musa Kazhim dalam kitab hadis sunni? Apakah orang-orang Sunni mencatat ilmu-ilmu dari imam Ja’far? Mengapa nama imam Baqir, Imam Ali Ridha dan imam Ali Al Hadi jarang tercatat dalam kitab hadis Sunni?.

Fakta mengejutkan justru mereka yang tinggal jauh dari Imam rela mengorbankan waktunya menempuh perjalanan jauh ke Madinah hanya untuk mengambil hadis dari sang imam sedangkan mereka yang tinggal di dekat imam malah meninggalkan Imam dan mencari orang lain. Atau mungkin mereka sunni memang menghadiri majelis sang imam tetapi sepertinya mereka tidak bersungguh-sungguh untuk mencatat dan melestarikan ilmu sang Imam sehingga jarang sekali nama-nama sang Imam tercatat dalam kitab hadis Mu’tabar di sisi Sunni.

Berbeda dengan Sunni, Syiah selalu mencatat hadis-hadis sang Imam dan siapapun tidak bisa menyangkal kalau nama sang Imam penuh dalam kitab-kitab hadis syiah yang mu’tabar. Ini adalah bukti kuat kalau Syiah bersungguh-sungguh mengikuti Ahlul Bait serta mencatat dan melestarikan ilmu para imam ahlul bait.

Salafi nasibi tidak mampu menyangkal fakta mengejutkan ini, oleh karena itu untuk membohongi orang awam, mereka melemparkan tuduhan kalau syiah berdusta atas nama ahlul bait tanpa menunjukkan bukti apapun. Begitulah mental busuk anak cucu umayyah, Cih sudah tidak punya bukannya merendah malah iri dengki dan dengan angkuh memfitnah syiah.

Kita masuk ke bagian paling lucu dari tulisan hakekat.com yaitu bukti-bukti yang ia katakan logis dan masuk akal yang yang menunjukkan adanya pemalsuan sejarah bahwa para imam bermazhab syiah
Ia mengatakan dengan angkuhnya

Ali berada di bawah ketaatan para khulafa Rasyidin yang menjabat khalifah sebelumnya, jika memang mazhab Ali berbeda dengan para khalifah sebelumnya –seperti diklaim oleh syiah- sudah pasti Ali akan keluar dari Madinah yang penduduknya tidak mau berbaiat kepadanya, dan pergi ke negeri Islam lainnya, apalagi negeri yang belum lama masuk dalam Islam seperti Irak dan Persia, yang mana penduduk negeri itu baru masuk Islam dan haus akan kebenaran, jika memang Ali benar-benar dihalangi untuk menduduki jabatan yang menjadi haknya pasti mereka akan menolongnya, tetapi yang terjadi adalah Ali tidak keluar dari Madinah, baru keluar dari madinah setelah dibaiat menjadi khalifah.

Apakah suatu konsekuensi logis, jika dua orang tinggal bersama dalam satu kota maka keduanya memiliki mahzab yang sama?. Lucu bukan, yah memang begitulah tingkat kecerdasan hakekat.com, ia mengukur orang lain dengan kecerdasan yang ia miliki seolah-olah tingkat kecerdasannya adalah rata-rata orang pada umumnya. Huh padahal sedikitpun orang ini tidak mengerti apa itu logis dan tidak logis. Mengenai sikap Imam Ali maka kami katakan sikap Beliau adalah sikap yang paling baik dan orang-orang yang dangkal pikirannya seperti hakekat.com tidak bakal mampu memahami kemuliaan Sang imam.

Imamah dalam Syiah adalah jabatan ilahi yang tidak akan berpindah pada siapapun kecuali kepada orang yang telah ditunjuk oleh Allah SWT. Mereka para perampas hanya mampu merampas khilafah yang merupakan bagian dari Imamah tetapi pada hakekatnya para imam tetaplah seorang imam. Disinilah arti penting tindakan para Imam yang lebih mengutamakan perdamaian dan keutuhan islam dibanding merebut khilafah dengan pertumpahan darah. Sehingga kita dapat memahami mengapa Imam Ali tidak menghimpun pasukan untuk mengambil kembali khilafah.

Orang-orang yang dangkal pikirannya memang tidak akan pernah memahami apa itu Imamah, bagi mereka khilafah dan Imamah itu sama saja. Dalam Syiah, Imamah menunjukkan kepemimpinan yang meliputi kepemimpinan dalam syariat, kepemimpinan dalam akhlak, kepemimpinan dalam ilmu dan khilafah. Sedangkan dalam sunni kita lihat mereka mengkhususkan Imamah hanya pada khilafah saja, sehingga tidak mengherankan kalau kita melihat ada di antara khalifah mereka yang bergelimang penuh dosa.

Imam Ali yang merupakan sahabat yang berjasa besar dalam menegakkan islam pada masa Rasulullah terkenal dengan kegigihannya secara aktif dalam setiap perperangan, beliau tidak pernah lari dari perperangan dan dengan penuh pengorbanan selalu melindungi Rasulullah SAW. Alangkah anehnya sosok yang berjiwa besar ini ketika mendadak tidak ada ceritanya pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar, Beliau mengasingkan diri dan bersikap pasif terhadap pemerintahan Abu Bakar dan Umar.

Beliau tidak ikut serta dalam setiap kebijakan kedua khalifah tersebut. Salah satu bukti sikap pasif beliau adalah beliau tidak ikut serta dalam perperangan Abu Bakar melawan orang-orang murtad. Beliau tidak ikut serta dalam perperangan menaklukan bangsa Rum pada masa Umar. Walaupun begitu tidak jarang beliau memberikan saran-sarannya ketika para khalifah meminta saran beliau tentu saja semata-mata demi kemaslahatan umat dan menegakkan hukum Allah SWT.

Apakah sikap pasif Imam Ali itu menjadi bukti kalau Imam Ali mengakui kekhalifahan Abu bakar dan Umar?. Siapapun yang berpikir jernih pasti mengetahui kalau sikap pasif Imam Ali pasti memiliki latar belakang penyebabnya?. Sunni tidak akan mampu menjawab pertanyaan itu tetapi Syiah dengan mudah menjawab kalau sikap pasif tersebut karena Imam Ali lebih berhak dalam masalah khilafah dibanding Abu Bakar dan Umar.

Di satu sisi Imam Ali tahu kalau haknya dirampas dan disisi lain ia lebih mengutamakan kemaslahatan umat Islam, sikap seperti ini menunjukkan kebijaksanaan Imam yang luar biasa dan saya yakin orang yang dangkal pikirannya seperti hakekat.com tidak akan pernah bisa memahami kebijaksanaan seperti ini bahkan hingga tujuh turunan.

Ia juga mengatakan

Begitu juga peristiwa perdamaian antara Hasan dan Muawiyah, sudah semestinya Hasan tidak menyerahkan jabatan imamah pada Muawiyah, jika memang imamah adalah jabatan yang sama seperti kenabian –seperti diyakini syiah, lihat Ashlu Syi’ah wa Ushuluha juga Aqaidul Imamiyah-, sudah semestinya Hasan berjuang sampai tetes darah terakhir, apalagi ribuan tentara siap untuk mendukungnya menumpas Muawiyah, bukannya menumpas Muawiyah, Hasan malah menyerahkan jabatan yang menjadi amanat ilahi –sebagaimana kenabian- kepada musuh yang telah memerangi ayahnya.

Sekali lagi kita melihat kalau hakekat.com ini dengan pikiran dangkalnya telah gagal memahami tindakan Imam Hasan. Lagi-lagi orang ini tidak paham apa itu Imamah sehingga dengan mudahnya ia berkata Imam Hasan menyerahkan Imamah pada Muawiyah. Perlu anda ketahui wahai orang yang dangkal pikirannya, Imamah adalah suatu ketetapan ilahiah yang tidak bisa diserahkan. Imamah layaknya kenabian adalah suatu ketetapan Allah SWT, Nabi tetaplah Nabi meskipun semua orang mendustakannya dan begitu pula imam tetaplah imam meskipun semua orang menolak untuk mengakuinya.

Inilah Imamah yang tidak bisa anda pahami dan dengan gaya sok pintar anda merasa tahu soal Syiah. Cih alangkah banyaknya orang dungu menjadi besar kepala.

Imam Hasan menyerahkan khilafah pada Muawiyah demi kemaslahatan Umat untuk mencegah pertumpahan darah yang sia-sia. Hakekat.com memang tidak bisa melihat permasalahan dengan benar. Siapa khalifah yang sah pada saat itu? Bukankah Imam Hasan, lantas apa urusannya si Muawiyah ini mau memerangi Imam Hasan? Bukankah kewajiban Muawiyah adalah membaiat imam Hasan?. Tidakkah anda melihat itu wahai hakekat.com. Atau anda mau mengatakan kalau khilafah Imam Hasan tidak sah dan Muawiyah lebih layak sebagai khalifah. Cih memang pantas kalau salafi nasibi itu adalah pemuja bani Umayyah.

Anehnya dengan mudah hakekat.com berkata bahwa imam Hasan punya ribuan tentara yang siap mendukungnya. Begitulah memang, orang ini si pendusta hakekat.com adalah orang yang banyak bicara tetapi tidak ada isinya. Tidakkah ia mengetahui kalau banyak sekali data mengenai tentara Imam Hasan.

Tidakkah ia tahu kalau banyak tentara Imam Hasan yang membelot dari Beliau?. Tidakkah ia tahu kalau tentara Imam Hasan menjadi terpecah belah karena propaganda mata-mata Muawiyah? Tidakkah ia tahu kalau ada tentara Imam Hasan yang ogah-ogahan dan bermalas-malasan dalam memenuhi seruan Imam Hasan?. Tidakkah ia tahu ada berapa banyak tentara Imam Hasan yang benar-benar adalah Syiah atau pengikut Imam Hasan?. Jika tidak tahu maka tidak perlu banyak bicara wahai orang yang dangkal pikirannya, saya akan membahas bagian ini pada makalah tersendiri.

Hakekat.comm yang pendusta itu berkata

Para imam setelah imam Ali tidak pernah memberontak pada khalifah yang adil, kecuali imam husein yang syahid di Karbala, meskipun demikian beliau memberontak karena kezhaliman Yazid, bukan karena husein yang menginginkan untuk menjadi imam, meskipun dia adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah saat itu.

Saya katakan kepada anda wahai pemilik situs hakekat.com. Apakah anda memahami apa yang anda bicarakan?. Jika anda mengatakan Imam Husain seorang pemberontak maka saya katakan apa yang telah dilakukan Imam Husain? Adakah ia menghimpun pasukan layaknya seorang pemberontak? Adakah Imam Husain menyeru orang-orang untuk memberontak?.

Pemberontak seperti apa yang anda sematkan pada Imam Husain, wahai hakekat.com. Kemudian apakah yang anda maksud dengan perkataan “husein yang menginginkan untuk menjadi imam”?. Berulang kali anda menunjukkan kedangkalan pikiran yang memprihatinkan. Imam Husain adalah seorang Imam sebelum orang-orang Kufah memintanya untuk datang ke Kufah. Karena Imam Husain sadar bahwa dirinya seorang Imam maka Beliau memenuhi permintaan penduduk kufah yang mengaku kalau mereka tidak memiliki Imam. Cih betapa banyaknya yang tidak anda pahami wahai hakekat.com dan celakanya pikiran anda yang dangkal itu memang menjadikan anda mustahil untuk memahami semuanya.

Betapa naifnya semua bukti yang anda ajukan wahai pemilik situs hakekat.com dan alangkah angkuhnya anda ketika mengatakan kalau bukti yang anda ajukan itu logis dan masuk akal. Sungguh anda ini lebih patut untuk dikasihani daripada dibenci.

ekstrimis wahabi Lancarkan Fitnah dan kian merajalela, Upaya Penggagalan Seminar Syiah Merupakan Grand Skenario Wahabi Menguasai Indonesia

Selasa, 06 November 2012 14:06 Redaksi
Upaya Penggagalan Seminar Syiah Merupakan Grand Skenario Wahabi Menguasai Indonesia, taktik wahabi :
1. Berlindung dibalik gerakan anti syi’ah agar umat menerima wahabi di Indonesia. Bahkan wahabi yang terindikasi pro teroris pun beramai ramai menolak syi’ah, baju mantap tapi hati busuk
2. Melakukan infiltrasi ketubuh NU, misal melalui Yayasan Al Bayyinat
3. Wahabinisasi dikantong kantong NU, bahkan nasjid NU dirampok
4. Semakin wahabi membesar, maka tahlilan-mauludan dll amalan NU akan dilarang dengan dalih bid’ah sesat
5. wahabi ingin agar umat menganggap mereka adalah ahlusunnah sejati
6. Wahabi Dakwah menerima kucuran dana saudi, Amerika dan Israel
7. Wahabi jihadi merancang gerakan terorisme di seluruh Indonesia bekerjasama dengan Al Qaeda
8. Wahabi ketika kian merajalela maka mereka melakukan kawin kontrak besar besaran, misal di PUNCAK BOGOR. Malah wahabi menggiatkan pengiriman TKW keluar negeri agar bisa diperkosa oleh setan setan nejed. Astaga, mereka menista wanita indonesia
 Al-Qaeda berhasrat membunuh ulama Syiah di Arab Saudi

Al-Qaeda berhasrat membunuh ulama Syiah di Arab Saudi

Beberapa laporan berita mendedahkan percubaan membunuh Syeikh Shaffar untuk mencetuskan pertumpahan darah antara Syiah dan Sunni
 

Mahkamah Arab Saudi telah menjatuhkan hukuman penjara selama 3 hingga 25 tahun terhadap 15 warga Saudi dan seorang warga Yaman atas kesalahan menyerang kepentingan prasarana minyak dan pembunuhan.

.
Akhbar Al-Rashid turut mengesahkan salah seorang yang ingin dibunuh supaya tercetusnya perbalahan antara Syiah dan Sunni ialah Syeikh Shaffar.
Laporan berita tersebut menegaskan arahan pembunuhan Shaffar bertujuan membangkitkan kemarahan pengikut mazhab Syiah sehingga terjadinya pembalasan dendam terhadap anggota polis. Berasaskan laporan berita ini, arahan tersebut dikeluarkan oleh ketua al-Qaeda yang bernama Abu Walid di Syria.
.
Beberapa media turut melaporkan sekumpulan pengganas telah mengepung pejabat seorang ulama semalam.

Ratusan Massa Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin (MM) ,dan  Wahdah Islamiyah beserta sejumlah Mahasiswa Islam mendatangi kampus Universitas Muslim Indonesia Makassar untuk menolak acara seminar  Internasional “Persatuan Dunia Islam”yang diadakan oleh UMI Makassar bersama Kedutaan besar Iran untuk Indonesia

.

Kata Ustadz Agus, FPI Makassar tidak mau kota Makassar dijadikan markas penyebaran Syiah di Sulawesi Selatan. Bahkan penyebaran syiah di Indonesia Timur

.

“Kita akan terus berusaha agar keberadaan syiah tidak menyebar di Makassar,” ujarnya.


wahabi setan nejed
Tolak seminar syiah

Sementara itu, Ketua MM Makassar, Ustadz Abdul Rauf menceritakan kehadiran massa Ormas Islam dikampus UMI awalnya berlangsung aman dan damai. Massa juga  sempat menaruh spanduk penolakan yang berbunyi “Menolak Hadirnya Syiah di Makassar” dan berorasi di depan kampus tersebut. Bahkan, pihak keamanan yang awalnya menghalangi  mengizinkan 5 orang perwakilan ormas Islam untuk masuk ke dalam aula seminar tersebut

.

Namun, ketika perwakilan ormas Islam tersebut hendak masuk aula untuk berdialog, Pembantu Rektor III (PUREK 3) UMI Makassar datang marah-marah dan berteriak,”siapa yang mengizinkan kalian masuk”

.

“Ustadz dari DPW FPI langsung  menjawab, Allah yang izinkan kami masuk,” tutur Ustadz Ra’uf menirukan

.

Sikap PUREK 3 yang tidak bersahabat dan emosional tersebut memancing keributan dengan massa ormas Islam, sehingga massa ormas Islam dikepung oleh aparat brimob dan TNI

.

“Ada sejumlah mahasiswa Syiah ikut bergabung dengan aparat Brimob dan TNI mengepung kita,” ungkap Ustadz Ra’uf

.

Sementara itu, Ustadz Agus Salim juga mengungkapkan bahwa ia sempat menghardik Purek 3 tersebut untuk tidak bersikap arogan

.

“Jangan mengandalkan jabatan kamu, jadi arogan ke kita.” lontarnya menirukan ucapan kepada Purek 3 UMI Makassar

.

Terakhir, Ustadz Agus Salim, menghimbau untuk mewaspadai upaya kaum Syiah yang hendak menyebarkan ajarannya dengan menggunakan berbagai macam cara termasuk menggunakan kampus

.

“Kita harus hati-hati, mereka memang licik menggunakan otonomi kampus, untuk berlindung dan menyebarkan ajarannya,” tandasnya

.

Seperti diketahui, Universitas Muslim Indonesia Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Republik Iran untuk Indonesia menyelenggarakan Seminar Internasional Persatuan Dunia Islam dengan tema “Islam Rahmatan lil Alamin”, pada senin (5/11) di Makassar, Sulawesi Selatan

.

Dalam acara tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor UMI, Prof.DR.Hj.Masruroh Mokhtar, MA,NB. , Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, KH Hasyim Muzadi, tokoh syiah Internasional, Ayatullah M. Ali Tashkiri, Maulawi Ishaq Madani Ulama Sunni penasehat Presiden Iran untuk urusan Ahlussunah wal Jama’ah, dan Deputi Universitas terbuka Iran, Dr.Mazaher

.

Aksi demonstarasi yang dilakukan wahabi setan nejed, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Wahdah islamiyah Makassar dalam rangka menggagalkan seminar syiah Internasional merupakan upaya mencegah keburukan. Hal ini diungkapkan pemerhati masalah Syiah, Ustadz Haidar Bawazir kepada arrahmah.com, Selasa (6/11) Jakarta, ketika menyoroti Seminar Internasional Persatuan Dunia Islam yang digelar kampus UMI Makassar bersama Kedubes Iran untuk Indonesia

.

Sebagaimana diberitakan, FPI, MMI, dan Wahdah Islamiyah pada Senin (5/11), mendatangi kampus UMI Makassar yang menggelar Seminar Internasional Persatuan Dunia Islam. Menurut ketiga ormas tersebut, seminar itu hendak menyebarkan ajaran Syiah melalui isu persatuan Sunni-Syiah. Acara tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor UMI, Prof. DR. Hj. Masruroh Mokhtar, MA,NB. , Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, KH Hasyim Muzadi, tokoh syiah Internasional, Ayatullah M. Ali Tashkiri, Maulawi Ishaq Madani Ulama Sunni penasehat Presiden Iran untuk urusan Ahlussunah wal Jama’ah, dan Deputi Universitas terbuka Iran, Dr.Mazaher.
 Tauladan Imam Ali dan Perpaduan Umat Islam berlangsung di Jakarta

Seminar Antarabangsa;2012/11/04 – 22:22
Tauladan Imam Ali dan Perpaduan Umat Islam berlangsung di Jakarta
Seminar al-Ghadir berjaya dilangsungkan di Jakarta dengan kehadiran lebih dari 3000 pengunjung. 
.
Bersamaan dengan ulangtahun peristiwa Ghadir Khum, konsul kebudayaan kedutaan Iran di Jakarta dan Yayasan IJABI menganjurkan seminar “Teladan Imam Ali dan Perpaduan Umat Islam” dengan dihadiri lebih dari 3000 pengunjung.
.
Seminar ini menampilkan cendiakawan muslim terkemuka di peringkat antarabangsa seperti Ayatullah Ali Taskhiri selaku presiden Lembaga Pendekatan Antara Mazhab, Maulawi Ishaq Madani sebagai Penasihat Hal Ehwal Ahlusunnah bagi presiden Iran, Dr. H. Imam Addaruqutni dari pertubuhan Muhammadiyah, Dr. Mazaheri; profesor Universiti Terbuka Iran dan Ketua Dewan Syura IJABI Dr.Jalaluddin Rakhmat. Masyarakat tempatan yang hadir dihidangkan wacana mengenai perpaduan umat menurut pandangan Imam Ali.
.
Menteri  Koordinator Bidang Politik dan Hukum (Menko Polhukam) dalam ucapannya berkata, “Indonesia sebuah negara berbilang kaum dan agama, undang-undang negara ini sangat menitik beratkan penghormatan dan penerimaan kepelbagaian ini. Selain itu kepelbagaian ini menjadi peluang untuk pembangunan dan kemajuan negara.”
.
Beliau menambah, “Kewajipan menjaga kebebasan dan hak golongan minoriti merupakan kemestian demokrasi di Indonesia dan tanggungjawab negara juga ialah menyeru seluruh kaum dan penganut agama hidup secara harmoni dan bersaudara”.
.
Menteri Indonesia ini dalam ucapannya yang lain turut menganggap bahawa mempertahankan perpaduan umat Islam adalah sebuah keperluan utama. Beliau meminta para ulama dan muballigh mengikuti sunnah nabi dan sirah Imam Ali bin Abi Talib dalam skop memimpin masyarakat ke arah perpaduan.
Duta Iran turut memberikan ucaptama perasmian dengan berkata, “Sebagaimana kekuatan yang dapat membina ideologi telah menemui kekalahan seperti Komunisme, seperti itu juga negara-negara Amerika dan Barat yang telah mendapatkan kuasa dengan berbekalkan ideologi Liberal Demokrasi akan musnah akibat tidak mendapat restu iradah Ilahi.”
Mahmoud Farazande menambah, “Dalam zaman ini, hanya republik Islam dan revolusi Islam yang mampu mencapai kekuasaan dengan nama Allah dan memanfaatkan prinsip serta nilai-nilai Islam.”
.
Dalam ucapannya, beliau menceritakan penekanan Imam Khomeini tentang perpaduan Syiah dan Ahlusunnah sedangkan pihak musuh Islam pula berusaha mencipta perpecahan di kalangan mazhab-mazhab ini.
.
Farazande menganggap bahawa intisari peristiwa al-Ghadir (yang merupakan hari lengkapnya nikmat agama) sebagai muktabar di setiap zaman dan setiap insan. Duta Iran ini turut menyatakan harapan semoga umat Islam sentiasa berwaspada terhadap situasi terkini dan mengambil sikap yang benar dalam menghadapi dunia yang penuh dengan konspirasi musuh hari ini.
Ayatullah Taskhiri dalam ucapannya pula menegaskan bahawa hari al-Ghadir merupakan hari perpaduan umat Islam. Taskhiri mengingatkan bahawa Nabi (s.a.w) telah dididik di rumah Abu Talib, sementara Ali bin Abi Talib pula dididik oleh baginda sendiri.
.
“Ali adalah anak murid Nabi, bersamaan maktab al-Quran, beliau merupakan sebahagian daripada kebahagiaan umat Islam dan perpaduan kaum muslimin,” ujar beliau.
Maulawi Ishaq Madani juga turut menceritakan perpecahan sebagai masalah utama yang di hadapi dunia Islam. Kata beliau, “Walaupun hari ini umat Islam mempunyai komuniti, sarana material dan pertumbuhan ilmu hingga ke tahap yang paling tinggi, namun setiap zaman mereka sentiasa berpecah belah sehingga menyediakan peluang untuk musuh Islam mengambil kesempatan.”
Beliau turut menceritakan persamaan antara Sunni – Syiah, kedudukan Ahlul Bait dan Ali di sisi Ahlusunnah dengan berkata, “Di zaman kesyahidan Ali bin Abi Talib, semua orang mengakui keutamaan beliau. Hari ini juga golongan sayid mendapat kedudukan yang tinggi di kalangan umat Islam Ahlusunnah.”
Seminar kemudian diteruskan dengan ucapan terperinci tentang pesanan al-Ghadir dan  sirah Ali bin Abi Talib daripada Menteri Agama Indonesia Dr Muhammad Zain, Dr.Jalaluddin Rakhmat dan Dr. Mazaheri.

 Forum Dialog dan Kerjasama antara Tamadun berjaya dilangsungkan di Jakarta

Dengan kehadiran Ayatullah Taskhiri;Tanggal: 2012/11/04 – 11:43
Forum Dialog dan Kerjasama antara Tamadun berjaya dilangsungkan di Jakarta

Pengiktirafan Syiah sebagai sebuah mazhab di kalangan ulama Sunni merupakan kerjasama yang telah lama wujud

.

Forum Dialog dan Kerjasama antara Tamadun Islam yang dianjurkan oleh persatuan Muhammadiah dan konsul kedutaan Iran telah berlangsung dengan jayanya di Jakarta, Indonesia. Panel yang menjayakan forum ini ialah Ayatullah Taskhiri selaku presiden Lembaga Pendekatan Antara Mazhab dan Dr. Shamsuddin sebagai pengerusi Muhammadiah, pertubuhan Islam kedua terbesar di Indonesia.
.
Dalam forum ini, kedua-dua panel telah menyampaikan fakta-fakta penting mengenai perpaduan umat dan pandangan Islam tentang dialog antara mazhab. Para hadirin terdiri daripada anggota pertubuhan Muhammadiah, diplomat asing yang tinggal di Jakarta, duta Iran dan ahli jawatankuasa Lembaga Pendekatan Antara Mazhab dari Iran.
.
Dalam forum ini, Dr. Shamsudin berkata, “Sekalipun ada yang menyedari tentang perselisihan dalam Islam, namun prinsip dan hakikat Islam adalah satu. Apa yang diperlukan sebelum melaksanakan dialog antara mazhab ialah menukarkan pandangan demi mendekatkan jurang selain mencari titik pertemuan dalam pandangan.”
.
Shamsuddin menambah, “Syiah dan Sunni berasal dari punca yang sama dan satu. Mempertemukan latar belakang yang sama untuk mendekatkan pandangan dan kesepakatan kedua-dua mazhab ini merupakan paksi dan asas dialog antara Syiah dan Sunni.”
.
Menurut beliau lagi, golongan Wahabi yang baru tumbuh di Indonesia enggan menerima kelogikan dialog. Mereka turut menumpukan perhatian bagaimanakah cara untuk memecahbelahkan umat sambil mengkafirkan mazhab lain serta menolak usulan pertubuhan-pertubuhan Islam. Beliau turut menganggap gerakan Wahabi ini sebagai sebuah ancaman terhadap negara Indonesia.
.
Dr Shamsuddin turut menyatakan harapan agar kehadiran Ayatullah Taskhiri dan panel Lembaga Pendekatan Antara Mazhab di Indonesia mampu menyediakan peluang keemasan untuk kesefahaman dan kesatuan hati di kalangan mazhab-mazhab dalam negara ini.
.
Ayatullah Taskhiri turut memberikan penjelasan prinsip dan format dialog antara mazhab menurut pandangan al-Quran.
.
Beliau menyatakan, “Kebudayaan, pendidikan dan tabligh merupakan 3 latar asas untuk mengukuhkan dan mewujudkan kerjasama dalam dunia Islam.”
.
Taskhiri mengingatkan bahawa Islam adalah agama fitrah dan berteraskan logik akal, sedangkan mantik al-Quran pula merupakan mantik dialog. Selain itu al-Quran mengingatkan umat Islam agar berdialog dengan orang bukan Islam dalam perkara yang dikongsi bersama.
.
“Dalam mantiq al-Quran, kedua-dua pihak menumpukan fokus dialog berasaskan ilmu dan perkara yang dikongsi bersama selain menghindarkan diri dari terkeluar dari dialog atau tidak membawa pandangan-pandangan sendiri untuk lawan mereka demi untuk mencapai kata sepakat.”
.
Dalam bahagian ucapannya yang lain, beliau menegaskan, “Syiah dan Sunni mempunyai 90 peratus perkara yang dikongsi bersama. Dalam mantik al-Quran perselisihan dalam perkara yang partikular masih memberikan peluang untuk dialog demi kerjasama kedua-dua belah pihak.”
Selain itu, beliau juga mengingatkan bahawa al-Quran menggalakkan dialog antara kaum muslimin dengan golongan bukan Islam. Dari itu juga tidak mungkin seseorang yang beriman dengan Allah dan RasulNya boleh dikafirkan oleh golongan yang lain.
Mengenai pengiktirafan Syiah sebagai mazhab yang sah menurut ulama-ulama Sunni, beliau menganggap kerjasama, toleransi berfikir dan berbudaya telah terjadi di kalangan Syiah dan Sunni.
.
Di akhir forum, Ayatullah Taskhiri telah menjawab beberapa pertanyaan daripada hadirin.

 Penganiyaan terhadap Syiah sudah dirancang oleh konspirasi global

Penganiyaan terhadap Syiah sudah dirancang oleh konspirasi global

Seminar ilmu “Haruskah Syiah ditolak?” berjaya memberikan penerangan kepada mahasiswa walaupun diganggu oleh ekstremis wahabi

.

Sejarawan Nahdhatul Ulama (NU) dan pensyarah Universiti Brawijaya Malang, Dr. Agus Sunyoto berkata, semua bentuk perbalahan mazhab di kalangan umat Islam sudah dirancang oleh kospirasi global demi menjaga kepentingan Amerika dan Israel. Mengenai beberapa kes penganiayaan terhadap pengikut mazhab Syiah, beliau optimis menafikan Syiah sebagai aliran sesat.
.
Beliau berkata demikian pada 22 Oktober dalam seminar “Haruskah Syi’ah Ditolak?” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakulti Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya dan PMII Komisariat Ushuludin Surabaya.
“Bagaimana orang Sunni boleh mencap Syiah sebagai aliran sesat? Sedangkan Imam Maliki, Imam Hanbali, Imam Hanafi dan Imam Syafii menimba ilmu dari Imam Ja’far Shodiq baik secara langsung atau tidak langsung. Imam Ja’far Shodiq adalah salah satu Imam Syiah”. Tambahnya, “Kalau Syiah sesat bagaimana dengan ajaran keempat mazhab tersebut ?. Drama-drama seperti itu hanyalah keluaran secara berulang daripada peristiwa-peristiwa sejarah dengan waktu dan tempat yang berbeza semata-mata”.
.
Prof. Dr. Syamsul Arifin selaku tokoh Muhammadiyah dan Mudir Universiti Muhammadiyah Malang turut menguatkan kenyataan Agus Sunyoto dengan menyatakan bahawa secara sosiologi “Penganiayaan di Sampang” itu bertentangan dengan budaya persaudaraan ‘tretan dibi’ dalam masyarakat Madura, atau seperti “pela gandong-nya” masyarakat Ambon.
.
Namun seminar ini berakhir dengan kekecohan apabila Ketua Bidang Organisasi al-Bayyinat iaitu Ahmad Bin Zein Alkaff yang terkenal dengan sikap anti Syiah dan sejak awal berada di barisan hadapan berteriak dengan nada yang tinggi “Adakah kecintaan hadirin kepada Rasulullah, kepada Istri-istri Rasulullah?” Ahmad kemudian menyambungnya dengan selawat serta menyatakan bahawa golongan yang menghina isteri-isteri Nabi sebagai golongan sesat. Namun selawat Ahmad disambut dengan laungan “Ya Husein.. Ya Husein” daripada hadirin yang berada di belakangnya.
.
Ahmad kemudiannya meminta seminar itu dibubarkan, namun pemerhati budaya Emha Ainun Nadjib menolak keras dengan mencabar agar Ahmad mengirim surat kepada pihak pemerintah supaya mengharamkan Syiah.
.
Dekan Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel merasa terkejut dengan kekocohan dalam seminar ilmu ini dengan mengatakan, “Saya terkejut ketika ini dipermasalahkan. Padahal bagi Ushuludin, ini hanyalah ceramah biasa. Kita sering diskusi ini. Hanya kita ingin pendapat objektif daripada yang ada keyakinan.”
.
Seminar ini akhirnya dibubarkan juga atas permintaan badan perisikan indonesia. Pengerusi menutup seminar dengan meminta Emha Ainun Nadjib memimpin bacaan doa dan berselawat bersama.

Dialog “Perlukah Syi’ah Ditolak” Di IAIN Sunan Ampel Membludak

22 Oktober 2012

Acara dialog “Perlukah Syiah Ditolak?” sedianya diadakan di Aula IAIN Sunan Ampel Surabaya, namun karena mendapat banyak tantangan akhirnya acara di pindah ke Aula Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dalam kesempatan itu, Emha Ainun Najib yang menjadi salah satu pembicara sempat menantang para penentang Syiah untuk menyebutkan ayat yang memerangi sesama manusia, namun setelah menunggu 15 menit tidak ada yang menjawab Emha lalu berkata, “Terbukti, Allah tidak pernah memerintahkan memerangi yang lain apapun alasannya.”

Sementara itu, Agus Suyoto (Sejarawan NU) mengatakan, fitnah terhadap syiah adalah cara yang diulang-ulang oleh musuh-musuh Islam mulai zaman sahabat hingga sekarang ini.

Acara dialog ini walau mendapat tantangan dari kelompok takfir lintas mazhab Alhamdulillah berjalan cukup sukses. Berdasarkan pertimbangan keamanan, DR. Umar Shahab, diminta oleh Polda Jatim utk tdk tampil sbg narasumber dlm Seminar “Haruskah Syiah Ditolak”. Meski demikian, seminar tetap berlangsung dengan antusiasme luar biasa. Pengunjung membludak lebih kurang 2500 orang.

Yang menarik di akhir acara dialog yang diselenggarkan di Aula Fakultas Ushuludin Sunan Ampel itu seorang tokoh al-Bayyinat memegang mic dengan emosi yang tinggi seakan kalap dan berbicara tentang sesuatu yang basi dan di ulang-ulnag tentang fitnah dan adu domba antar mazhab. Audiens yang sebagian besar adalah kalangan Mahasiswa dan kelompok terpelajar lainnya tertawa terpingkal-pingkal menahan geli karena yang berbicara mempertontonkan kebodohan dan kepicikannya dengan suara gemetar karena emosi. Audiens pun tak ada yang menghiraukan pembicara itu dan dilanjutkan dengan Sholawatan yang dilantunkan oleh Cak Nun dan di ikuti oleh para hadirin. Yaa..Allah Engkau jadikan para musuh Rasul dan Ahlulbait adalah orang-orang yang tidak kenal sopan santun dan tata krama, seperti tokoh al-Bayyinat dan kelompok takfir lainnya. Mulut mereka berbisa dan selalu mengeluarkan api fitnah di tengah umat dengan tetap konsisten melestarikan isyu-isyu mazhab agar umat selalu bermusuhan dan menyenangkan musuh-musuh Islam.
__________________________________________________________________________________________________________
SIARAN PERS
Aliansi Kebhinnekaan dan Anti Kekerasan Malang

Emha Mendinginkan Akhir Dialog Publik
di Fakultas Ushuludin, IAIN Sunan Ampel, Surabaya

Sebagai salah satu elemen yang mengawal kebhinnekaan bangsa dalam kerangka NKRI dan turut mendukung penuh acara Dialog Publik di Fakultas Ushuludin yang bertemakan “Haruskah Syi’ah Ditolak?” yang diadakan Senat Mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya dan PMII Komisariat Ushuludin Surabaya pada tanggal 22 Oktober 2012. Kami merasa perlu menginformasikan jalannya dialog ini secara kronologis dan apa adanya.

Acara ini sedianya akan menampilkan empat pembicara Emha Ainun Nadjib (budayawan), Drs. K.Ng. Agus Sunyoto, M.Pd (Sejarawan NU/Dosen Universitas Brawijaya Malang), Prof. DR. Syamsul Arifin (Tokoh Muhammadiyah/Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang), dan DR. Umar Shahab, MA (Ketua Dewan Syuro DPP ABI).

Pada sesi pertama Cak Nun sebagai pemakalah menekankan untuk membuka cakrawala pemikiran dalam mengukur segala hal. Hal ini diwanti-wantikan agar kita tidak salah dalam meletakkan apakah sebuah perbedaan itu memang sebuah perbedaan yang prinsip atau sekedar khilafiah.

Mengingat kenyataan sekarang, maraknya penganiayaan, tindakan anarkis, bahkan pembunuhan dikarenakan kurang tepat dalam menakar sebuah perbedaan. Perbedaan khilafiah ditakar sebagai perbedaan akidah. Bahkan produknya difatwakan.

Sungguh hal semacam itu sangat mengingkari semangat penghargaan terhadap kehidupan manusia seperti yang dimaksudkan dalam al-Qur’an. “Melenyapkan satu jiwa tanpa alasan yang haq sama halnya membunuh seluruh manusia” cetusnya.

Selanjutnya Agus Sunyoto menggarisbawahi bahwa semua bentuk kekerasan yang ada memang telah di-setting oleh konstelasi konspirasi global. Kepentingan dominasi Amerika dan Israel pasti hadir dalam setiap skenario tersebut.

Menanggapi beberapa kasus yang menimpa Syiah. Beliau secara implicit menolak tuduhan Syiah sesat. Agus Sunyoto mengatakan, “bagaimana orang Sunni bisa mencap Syiah sebagai aliran sesat? Sedangkan Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Syafii menimba ilmu dari Imam Ja’far Shodiq baik secara langsung atau tidak langsung. Imam Ja’far Shodiq adalah salah satu Imam Syiah.” Tambahnya, “Kalau Syiah sesat bagaimana dengan ajaran keempat mazhab tersebut?’

Drama-drama seperti itu hanyalah reproduksi dari peristiwa-peristiwa sejarah dengan waktu dan lain tempat semata.

Syamsul Arifin menguatkan pernyataan Agus Sunyoto dengan menyatakan bahwa secara sosiologis “pembantaian di Sampang” itu bertentangan dengan budaya persaudaraan taraten tibi’ dalam masyarakat Madura, atau semacam “pela gandong-nya” masyarakat Ambon.

Sedangkan pembicara dari DPP-ABI memang sejak awal telah diminta Rektor agar tidak tampil sesuai permintaan dari Kemenag. Dengan begitu setelah selesai tiga sesi dari ke tiga nara sumber ini, langsung masuk sesi tanya-jawab.

Sesi ini berlangsung cukup meriah. Cak Nun membalikkan tuntutan dari salah seorang mahasiswa agar pembicaraan ini menelurkan pernyataan Syiah ditolak atau diterima. Bukan kapasitas forum semacam ini untuk menelurkan fatwa menolak atau menerima Syiah. Hal semacam ini adalah tanggung jawab “ulil amri minkum”.
Bahkan Cak Nun meminta mahasiswa agar tegas, jangan setengah-setengah. “Bila ingin menolak, ya buatlah surat ke pemerintah agar men-sesat-kan Syiah juga menuntut lembaga bahtsul masail NU atau dewan tarjih Muhammadiyah sekalian untuk itu. Bila perlu dilakukan demo. ATAU SEBALIKNYA.”

Bahkan Cak Nun ngujo (member tawaran istidraj) agar NU, Muhammadiyah, atau al-Bayyinat sekalian memfatwakan agar membunuh Syiah dimana pun berada kalau berani. (Mungkin yang dimaksudkan kalau yakin dengan itu).

Sesi tanya jawab yang meriah ini mendapat saran dari seorang peserta bahwa harusnya panitia juga mengundang pembicara yang anti Syiah (karena ternyata ketiga pembicara ini cukup toleran). Saran ini akan dipertimbangkan bila ada forum lain, janji panitia.

Mereaksi saran itu seorang hadirin dari al-Bayyinat yaitu Ahmad Bin Zein Alkaff angkat bicara dengan menanyakan adakah kecintaan hadirin kepada Rasulullah? Dan menyambungnya dengan sholawat serta menyatakan bahwa golongan yang mencaci istri-istri Nabi sebagai golongan sesat.

Pernyataan ini disahuti salah seorang hadirin di balkon lantai dua tempat perluasan para hadirin yang tak tertampung di aula dengan ucapan “Labaika Ya Husein!”. Maka riuh lah hadirin. Dan Bin Zein pun berteriak minta dipanggilkan Polisi dari Polda yang telah ada di luar aula untuk mengawalnya ke luar aula tempat Dialog Publik terselenggara.

Riuhnya ruang dialog yang memang telah menyelesaikan semua sesi pembicara ini pun diambil alih Cak Nun dengan minta pernyataan dari hadirin, bahwa hadirin menjamin keriuhan ini aman. Hadirin pun menjawabnya “Ya aman…!”. Panitia, intel Polda Jatim dan aparat BIN pun memapah Bin Zein ke luar dan Cak Nun menutup acara ini dengan Sholawat Badar.

“Emha: Syiah dan Sunnah Ibarat Pecel Dan Rawon“

Surabaya

Budayawan Emha Ainun Nadjib menilai penolakan terhadap aliran Syiah di Indonesia semata karena masyarakat belum memahami perbedaan di antara keduanya. Emha kemudian mengambil contoh sederhana.

“Perbedaan Syiah dan Sunni itu sama juga dengan perbedaan antara pecel dan rawon,” kata Emha ketika menjadi pembicara dialog publik “Haruskah Syiah Ditolak?” yang digelar Senat Mahasiswa dan Rayon PMII Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, Senin, 22 Oktober 2012.

Dengan pengandaian sederhana itu, Emha balik bertanya, apakah pecinta pecel harus mensesatkan pecinta rawon atau sebaliknya? Menurut dia, perbedaan ini sama halnya ketika Nabi selalu menggunakan pakaian yang tidak menutup mata kaki, kemudian mereka yang tidak menutup mata kaki harus dikafirkan.

Pada prinsipnya, kata Emha, masyarakat semestinya memahami terlebih dahulu perbedaan antara yang khilafiah dan iktilafiah. Khilafiah adalah perbedaan mendasar, misalnya, paham melarang salat, sedangkan iktilafiah merupakan perbedaan di tingkat yang lebih kecil, seperti Nahdlatul Ulama mengharuskan wirid seusai salat dibaca bersamaan antara imam dan makmum, sedangkanMuhammadiyah mengharuskan wirid dibaca sendiri-sendiri.

“Kalau perbedaanya di tingkat iktilafiah harusnya tidak usah diperpanjang,” kata Emha. Kalau pun perbedaan antara Syiah dan Sunni ada di tingkat iktilafiah, Emha menilai wajar jika terjadi gejolak. “Tapi harus dibatasi. Jangan lama-lama dan harus segera berdialog,” ujarnya. Menurut Emha, munculnya Syiah di muka bumi disebabkan adanya pertentangan siapa pengganti Nabi Muhammad untuk menjadi khalifah.

Pengarang buku Atlas Wali Songo yang juga Wakil Ketua Lembaga Kajian Sosial dan Budaya NU, Agus Sunyoto, mengatakan masyarakat Indonesia pada dasarnya sangat toleran. “Buktinya ada empat menteri agama di masa Majapahit,” ujar Agus.

Sunni, kata Agus, juga memiliki akar historis yang tidak bisa dipisahkan dengan Syiah. Dia mencontohkan Imam Malik dan Abu Hanifah, yang merupakan imam orang Sunni, berguru kepada Jakfar Shodiq yang merupakan imam orang Syiah. “Ada rangkaian keilmuan yang turun-temurun,” kata dia.

Seminar Ukhuwah Syiah dan Sunni di Jakarta

15 Februari 2012

Bersamaan dengan peringatan Pekan Persatuan Islam dan juga kelahiran Nabi Muhammad Saw, digelar seminar persatuan Islam dengan tema “Memperkokoh Silaturahmi dengan Cinta Nabi Saw” di Jakarta.Mehr News melaporkan, hadir pula dalam seminar tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Dr. Perwira, Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Daud Poliraja, Wakil PBNU, Duta Besar Republik Islam Iran Mahmoud Farazandeh, Wakil Wali Faqih dan Imam Jumat Bandar Abbas Sheikh Naim Abadi, Rektor Universitas Taqrib Mazhab Islam Ayatullah Dr. Biazar Shirazi, dan juga 3.000 peserta dari Syiah dan Sunni.

Duta Besar Republik Islam untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, dalam pidato sambutannya menyatakan, “Rasulullah merupakan pilar utama persatuan umat Islam.” Menyinggung upaya kaum imperialis dalam para pakar orientalis dalam mengungkap rahasia kekuatan umat Islam, Farazandeh mengatakan, “Musuh-musuh Islam lebih mengetahui dengan baik kekuatan persatuan umat Islam dibandingkan dengan umat Islam sendiri.”

“Di masa sekarang, khususnya dengan lahirnya revolusi besar Islam di Iran dan juga gelombang kebangkitan Islam serta berbagai transformasi yang terjadi di dunia Islam, mereka kini lebih mengkhawatirkan terwujudnya persatuan Islam. Oleh karena itu mereka senantiasa berusaha untuk merongrong faktor-faktor kemuliaan dan kekuatan umat Islam yang berlandaskan pada persatuan.”

Farazandeh juga menyinggung keragaman budaya dan mazhab di Indonesia seraya mengatakan, “Solidaritas dan toleransi antara Syiah dan Sunni itu memiliki akar dalam budaya masyarakat Indonesia sedang fitnah-fitnah mazhab di negara ini tidak berkaitan dengan masyarakat dan budaya Indonesia, karena fitnah itu dikendalikan dari luar.”

Di lain pihak, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, DR. Perwira menilai Maulud nabi sebagai kesempatan bagi solidaritas dan persatuan umat Islam. Ia juga menyinggung politik pemerintah Indonesia dalam mendukung kebebasan hak para pengikut agama dan mazhab seraya mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menyikapi keragaman mazhab dan etnis adalah silaturahmi dan persaudaraan. Dan ini telah disebutkan dalam Pancasila bahwa semua mazhab setara dalam menikmati kebebasan, dan tidak ada satu mazhab pun yang dapat mengklaim diri paling benar.

Dr. Perwira bahkan menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi para pengikut agama dan mazhab berdasarkan hukum-hukum Islam, sirah nabi, dan juga undang-undang Indonesia.

Wali Faqih dan Imam Jumat Bandar Abbas Sheikh Naim Abadi, menjelaskan kondisi warga Sunni di Iran dan mengatakan, “30 persen dari populasi Sunni di Iran tinggal di Propinsi Hormuzgan dan mereka memiliki masjid dan madrasah agama serta mereka juga hidup aman dan rukun dengan saudara-saudara Syiah.”

Ayatullah Naib Abadi mengatakan, “Sama seperti ketika para imam mazhab-mazhab Islam seperti Imam Ja’far Shadiq as, Imam Hanbali, Imam Hanafi, Imam Shafii, dan Imam Maliki, dapat hidup berdampingan tanpa ada perseteruan, saat ini pun para pengikut mereka juga seharusnya dapat hidup berdampingan dan rukun dan menghindari segala bentuk friksi.”

Lebih lanjut ia menyatakan, “Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, memperingatkan umat Islam Indonesia untuk mewaspadai fitnah mazhab yang digulirkan musuh.”

Pembicara berikutnya yaitu Rektor Universitas Taqrib Mazhab Islam Ayatullah Dr. Biazar Shirazi menegaskan, “Rasulullah adalah teladan terbaik, beliau menyeru umat Islam yang terbentuk dari berbagai kabilah dan etnis yang memiliki sejarah friksi, perbedaan, dan pertempuran yang panjang, untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan ketakwaan kepada-Nya.”

Dr. Biazar Shirazi menambahkan, “Rasulullah mampu memanfaatkan kekuatan persatuan umat Islam untuk membentuk sebuah peradaban terbesar di dunia di jazirah Arab.

Delegasi dari PBNU, Prof Maidir Harun dalam hal ini, menentang keras pandangan pihak-pihak yang melarang peringatan maulud nabi dan mengatakan bahwa pengungkapan kecintaan kepada Rasulullah adalah perintah Allah Swt dan merupakan budaya Islam serta merupakan poros persatuan dan solidaritas umat Islam.

Menyinggung sejumlah transformasi anti-Syiah dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia, Doktor Harun mengatakan, “Mengingat berbagai sisi kolektif yang ada dalam Syiah dan Sunni juga peran Syiah dalam budaya dan peradaban Islam termasuk di Indonesia, maka pembahasan untuk menolak Syiah atau mengeluarkannya dari Islam, adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena hal itu bermula dari tidak adanya informasi dan berkaitan dengan kepentingan politik sejumlah kelompok ekstrim saja.

Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Daud Poliraja, mengatakan, “Kita semua sebelum mengklaim diri sebagai Sunni dan Syiah, kita semua adalah Muslim dan kita terikat kewajiban prinsip-prinsip akhlak yang menjadi dasar dan tujuan pengutusan Rasulullah Saw.”

Seraya menyayangkan sikap negatif sejumlah ulama Indonesia terhadap Syiah, Poliraja mengatakan, “Saat ini Syiah di Lebanon dan Iran berada di lini terdepan melawan rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat, dan jika Iran diserang, saya pribadi akan mengerahkan pemuda Muslim untuk membantu Iran dan bersama-sama dengan saudara Syiah di Iran berperang melawan musuh.”

Menyinggung pelaksanaan peringatan maulud nabi di Indonesia membuktikan bahwa umat Islam Indonesia tidak menggubris pemikiran ekstrim wahabi yang menganggap peringatan maulud nabi sebagai bid’ah.

Ketua Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rahmat, menyinggung pembentukan Dewan Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia dan mengatakan, dewan ini bergerak berdasarkan undang-undang, kepentingan dan politik yang bergulir di negara ini dan tujuannya adalah untuk menyebarkan perdamaian, persahabatan, dan ukhuwah antarumat Islam. (IRIB Indonesia/MZ)

http://indonesian.irib.ir/islamologi2/-/asset_publisher/Q43w/content/laporan-dari-seminar-ukhuwah-syiah-dan-sunni-di-jakarta

UNDANGAN Seminar Internasional Maulid Nabi Saw: Memperkokoh Silaturrahmi pencinta Nabi Saw dengan narasumber: Polhukam, DR. Mahmoud Farazandeh (Dubes Republik Islam Iran) Ayatullah Dr. Biazar Syirazi (Rektor Universitas Taqribul Mazahib al-Islamiyah RII, Maulawi Naim Abadi (Imam Jumat ASMAJA Bandar Abbas, Dr. Ansari (Dosen Musthafa University Iran, Prof. KH Din Syamsuddin, Prof KH Said Aqir Siraj, Prof Dr. Jalaluddin Rakhmat M.Sc di SMESCO Tower Jl Gatot Subroto Kav 94 Jakarta, Sabtu 11 Februari 2012 jam 09.00 s/d 15.00 WIB. Donasi via Bank Mandiri No Rekening Bank Mandiri 166 0000 481960 a/n PP IJABI Jakarta.

UNDANGAN

Fakultas Ushuluddin Iain Sunan Ampel Surabaya mengadakan Seminar Internasional

Tgl : 09 Februari 2012.

Tema : “Menggagas Persatuan Ummat Dalam Keragaman Pilihan Tradisi, Agama, dan Politik.”

Pembicara :

Sesi I: DR.Marzuku Alie (Ketua DPR RI), Ayatullah Biazar Syirazi( Rektor Taqribul Madzahibil Islamiyah Iran), Prof.DR.Ahmad Zahro (Rektor Unipdu), Maulawi Naim Abadi ( Imam Besar Ahlussunnah Iran),.

Sesi II : K.H.DR.Sholahuddin Wahid (Rektor Ikaha, Pengasuh PP Tebu Ireng), Prof.DR.Syafiq Mughni (Ketua PP Muhammadiyah), DR.Ansori (Univ.Iran), Ismail Yusanto (Jubir HTI).

Wajib diketahui oleh setiap kaum Muslimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.ada ungkapan yang menarik…… “jika kebencian penguasa Saudi terhadap Israel sebesar kebencian mereka kepada Iran Niscaya Israel suda musnah dari muka bumi”.Pendiri sekte WahabiSiapa Wahabi

Sukes demi sukses penaklukan oleh Kaum Wahabi yang bengis akhirnya juga berhasil menaklukkan Madinah, lalu berlanjut terus, mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Lalu mereka terus bergerak menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Dengan penuh angkara murka mereka merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki marah besar. Maka dikirimlah bala tentaranya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali untuk menghentikan sepak terjang kekejamannya.

Akhirnya pada 1813  Madinah dan Mekkah berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin. Gerakan Wahabi surut beberapa waktu. Akan tetapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelumpuhan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Semenjak itulah hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi sudah merambah secara merata di dunia Islam. Bisa dikatakan di mana ada Ummat Islam di wilayah mana pun, maka di situ Wahabi masuk dan tumbuh menempel dalam tubuh Ummat Islam.

Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Dan sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan saling klaim kebenaran, sebab kelompok ekstrem itu selalu mengkalim satu-satunya kebenran dan pemahaman Islam Aswaja yang sudah mapan memberi perlawanan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” Lihatlah, betapa mereka itu mirip Masonic bukan?

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian, permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sepaham dengan mereka dengan tuduhan kafir, musyrik dan ahli bid’ah! Itulah tuduhan yang selalu disebar-luaskan pada setiap kesempatan, melalui radio, majallah, bulletin Jum’at dan bahkan TV – TV milik mereka. Mereka ogah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam kesumat dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Agar mazhab mereka bisa tetap eksis maka mereka yang sebenarnya cuma ngaku-ngaku pengikut sunnah (padahal pendusta sunnah) itu pasti rela berbohong demi menegakkan pengakuan palsu itu dengan demikian mereka bisa memalingkan wajah orang2 awam dari mengikuti sunnah yang asli yang ada pada Ahlulbait.

Karena kedengkian dan hasud, maka tulisan propaganda murahan itu mau tak mau harus mereka buat demi menjaga kepalsuan mereka ketika mereka kalap saat berhadapan dengan Syiah Ahlulbait serta memang mereka akan berupaya sekuatnya agar mampu menjauhkan orang dari ajaran Muhammad.saw yang sebenarnya. Ditambah dengan nafsu mendapat banyak materi dari agama (karena itulah tujuan mereka belajar agama) dan untuk mempertahankan eksistensi mazhab mereka yang mulai tampak kepalsuannya dan tersungkur siap terkubur menjadi puing-puing sejarah.

Saya juga punya terjemahan buku Mengapa saya keluar dari Syiah, Gen Syiah, Syiah sesat, dll terbitan lokal.Namun saya juga selalu mencari lawan dari judul2 tsb yg kira2 setara: untuk buku Mengapa saya keluar dari Syiah saya punya Mengapa saya memilih Ahlul Bait as, untuk Gen Syiah saya ada Inilah Akidah Syiah, dst.Demikian pula untuk sumber2 blog online selalu saya berusaha mencari lawan yg sepadan.

Dari situ saya bisa mempelajari hal2 yg seimbang, benarkah ulama Syiah demikian? benarkah akidahnya demikian? benarkah amalan2nya demikian?
Ternyata yg terjadi berlawanan dgn kenyataan. Setiap argumen Salafi / Wahabi yg mengaku sebagai Aswaja berkomentar tentang kesesatan Syiah ternyata tidak terbukti. Kenapa Syiah melakukan hal2 yg bertentangan dgn prinsip2 Sunni ternyata mempunyai alasan & dalil2 yg kuat, bahkan kebanyakan bisa mematahkan argumen mereka dgn baik sekali

Yang saya kagumi adalah tiap argumen Syiah untuk menjelaskan ajaran2 Mazhab mereka sangat rasional, relevan, & mempunyai nash2 pendukung yg kuat dari hadist2 pegangan Sunni sendiri. Sementara yg saya lihat dari komentar2 Salafi yg menyesatkan Syiah tidaklah akurat, bahkan yg sering muncul adalah sikap asal menyalahkan tanpa mau melihat kenyataan yg ada. Yang lebih parah lagi banyak sekali dusta2 yg dialamatkan kepada Syiah dgn kata2 yg tidak pantas untuk keluar dari seorang yg mengaku ulama.

Tidak saja berdusta tentang homoseksual, tapi juga tentang ulama2 Syiah yg katanya membincangkan cara menggauli gadis dibawah umur, tentang kebolehan umat Syiah untuk mempersilahkan tamunya menikmati istrinya sebagai penghormatan, adanya pedagang yg menawarkan nikah mut’ah keliling di Iran dgn waktu singkat atau bisa disebut sebagai mucikari legal, dll yg sangat2 kotor dustanya bahkan tidak masuk akal sama sekali dibandingkan dgn kenyataan yg saya baca di literatur2 Syiah yg menjunjung tinggi adab.

Sebaliknya buku2 Syiah sangat bermoral, penuh logika yg masuk akal menjelaskan perbedaan2 yg ada. Sepanjang yg saya ketahui tidak pernah ada buku2 Syiah yg mendustakan golongan Sunni dgn kata2 yg kotor selain dari penjelasan yg memuaskan akal saya. Yang aneh adalah kok masih ada sebagian muslim yg mempercayai argumen2 & dusta ulama2 Salafi yg keterlaluan ini.

Pernah kejadian ketika saya membicarakan tentang Syiah kepada teman yg mengaku Salafi yg mengamalkan ajaran Salafus Salih terlihat tabiat yg aneh. Tiba2 karakternya berubah seperti orang yg marah, napas tersengal2, wajah merah & ngomongnya sangat emosional sampai saya jadi heran. Padahal saya cuma mau menunjukkan bahwa Syiah juga Mazhab yg sejajar dgn 4 Mahsab Sunni lainnya. Tapi kata2 yg saya bawakan sepertinya tidak berharga di telinganya, bahkan teman itu berkata kita tidak boleh membaca buku2 Syiah & haram untuk duduk di majlisnya, yg lebih parah bahkan bilang Syiah lebih berbahaya dari orang kafir non muslim. Mangkanya saya sekarang gak heran kalo Wahabi Saudi Arabia mesra sekali sama Amerika tapi keras sekali sama Syiah Iran, la wong pemahaman penganutnya aja kayak gitu apalagi ulamanya.

Demikian sedikit pengalaman saya mengenai dusta ulama2 Salafi terhadap Syiah yg saya baca dari buku2 anti Syiah yg saya punyai. Yang saya tangkap adalah dusta pun diperbolehkan ulama mereka asal bisa memalingkan umat muslim dari mengenal Mahsab ini lebih dekat. Jadi dgn cerita2 mengerikan & menjijikkan berharap bisa mencegah umat untuk mengetahui Syiah secara benar. Padahal saya jadi mengenal Syiah lebih jauh gara2 buku2 yg absurd ini yg menyebabkan saya tertantang untuk mencari sumber yg benar2 berasal dari orang Syiah bukan dari ulama yg mengaku mengenal Syiah tapi bertujuan untuk memfitnah mereka.

Para salafyian/wahabiyan asal ngomong.Walaupun buku yang menjadi HUJAH mereka itu menjerumuskan mereka, mereka tidak tahu, karena tidak tahu aoa yang mereka baca, apa yang mereka tulis ditambah lagi tidak bisa membedakan anak kecil dan orang dewasa. Apa lagi membedakan antara .

Secara psikologi saya bisa memaklumi apa yang dilakukan oleh orang orang wahabi,.ketika melihat kenyataan banyaknya orang berpindah mazhab,.bukan hanya kaum awamnya tapi juga ulamanya,..sementara hujah mereka tidak bisa mematahkan hujah lawan,..maka fitnah lah salah satu cara yang dipakai untuk menjatuhkan lawan,..hal seperti ini biasa dilakukan di dunia politik,.seperti apa yang dilakukan pemerintah Amerika dan Zionis Israel,..mereka membuat berita berita buruk tentang musuh musuhnya,.seperti Hizbullah, Iran,,Palestina,…..Pertanyaannya sekarang kok bisa sama?…karena mereka hakikatnya sama,..memecah belah umat Islam…masih ingat kan fatwa Bin Jibrin, yang mengatakan bahwa perjuangan Hizbullah melawan zionis tidak perlu dibantu atau ulama mereka yang mengatakan bahwa Hamas yg sedang berjuang melawan kedzaliman Israel sebagai kaum hizbi yang juga tidak perlu dibantu,…

Kebencian wahabiyyun kepada Syiah sdh tak terkira. Tiap membaca buku2 mrk yg mendiskretkan Syiah saya hanya bisa menggeleng2kan kepala. Bukan saja di buku2 sejarah dan biografi, bahkan di kitab2 fiqh, tak lupa mrk mencoba menghancurkan Syiah. Bagaimana tidak sarat dgn kebencian, jika bukan argumen dan fakta yg disodorkan, namun hanya tuduhan dan fitnah. Bagi mrk berbohong atau berkata jujur sdh tdk penting demi tujuan menghancurkan Syiah tercapai.

Dan yg parahnya kita tdk bisa berdialog mempertanyakan mengapa mrk tega berbuat demikian. Karena buka dialog yg kita dapati tapi sumpah serapah, kata2 tdk jelas, muka merah, jari menunjuk2, mulut “hampir” berbusa, teman secara tiba2 180 derajat menjadi musuh. Shg kita saat itu berpikir apakah kita ini zionist yang telah mencela Allah swt dan nabi-Nya shg memperoleh perlakuan sedemikian rupa?

Mari kita berdialog wahai wahabiyyun jika memang apa yg anda sampaikan adalah sebuah kebenaran. Hilangkan fitnah dan tuduhan, singkirkan kejumudan, kikis kesombongan dan kebodohan. Cobalah bagaimana menjadi seorang manusia yang beradab.

Kebencian Wahab/salafy terhadap Siyah Sama dengan Zionis dan Amerika tidak ada bedanya dan caranya untuk menghancurkanpun sama. Atas dasar ini saya mengambil kesimpulan mereka adalah antek2 Zponis

Banyak bukti2 yang menunjukan.Atau untuk menghancurkan umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka, mereka berkerja sama dengan Zionis.

salafi oh salafi,,bisa ngak pake Hujjah yg lebih baik,supaya kita diskusix enak ! jangan pake amarah dan kebohongan,,
kLo berhadapan ma salafy mau teman,saudara dan anak pokokx kaLo syiah pasti sesat,,aLasanx mana Mas??maen kafirkan mahdzab laen aja,,

Karena mereka menganggap syiah itu pendusta, maka bukti apapun yang syiah bawa, pasti ditolak. Repot kan.Gaya menang sendiri ini ternyata, tidak berubah-ubah dari dulu sampai sekarang.

Ada beberapa hal lagi yang menjadi ciri2 orang yang tinggal dibumi yang ceper (salafy) ini :
1. Jika berdiskusi, mula-mula ucapannya manis. Jika terdesak, maka wakat aslinya keluar. Muka dan mata tiba-tiba memerah, urat leher membesar, jari telunjuk menunjuk ke muka lawan diskusi. Jika masih terdesak lagi, salah satu gaya favorit mereka adalah mencekik leher lawan bicara.Kalo sampai tahap ini, lebih baik anda diam saja atau tinggalkan orang salafy kampret seperti ini. Percuma bicara sama kampret, bisa2 anda ikut2an jadi kampret.

2. Ada juga sih, salafy yang santun. Tapi awalnya doang. Pada saat diskusi mulai terdesak, biasanya keluar kata-kata sakti : “Pokoknya syiah sesat dan pendusta”. Tapi masih mending lah, daripada dicekik. hehehehe ..

3. Selain keluar kata-kata sakti, dan suka mencekik, salafy/wahabi biasanya suka gebrak2 meja. Jadi pastikan kalo diskusi tidak dirumah anda atau menggunakan properti anda. Nanti meja anda rusak.

4. Dan yang pasti, orang2 salafy selain suka ngebom, pastinya suka “di-bom”. Lihat si Noordin M Top orang salafy/wahabi, pemilik dubur corong. Ini yang paling gawat.

Islam Yg Mulia hancur Citranya dimata dunia oleh Salafi Nashibi yang bertopeng Kebenaran Islam…para anggotanya/mukalidnya kebanyakan adalah para pelarian yg salah langkah dalam bertobat…kasihan akhirnya justru semakin tersesat. Sadarlah wahai kawan Salafi…anda ternyata sudah tertipu oleh untaian Jenggot kambing dan sexy-nya celana cingkrang para Ustadz Salafy Wahabi.

” Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[453]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.5:105)

[453] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Oleh karenanya, di sini kita sama2 membuktikan siapa yg SESAT itu yah…ayo kawan janganlah mundur dalam berdialog mencari kebenaran

Tuduhan Dusta Terhadap Ulama Syiah Oleh Husain Al Musawi dalam Kitab Lillahi Tsumma Lil Tarikh

Tulisan ini sekali lagi ingin menunjukkan kedustaan besar yang dilakukan oleh orang yang disebut Husain Al Musawi penulis kitab Lillahi Tsumma Lil Tarikh atau yang dalam edisi Indonesia-nya terbit dengan judul “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah” terbitan Pustaka Al Kautsar. Kitab ini menjadi rujukan kaum salafiyun dalam mencela syiah yang justru membuktikan betapa tercelanya mereka yang menyebut dirinya sebagai salafiyun itu. Dalam kitab ini terdapat banyak kedustaan yang cukup untuk membuat kitab ini tidak layak dijadikan hujjah dan kami ingatkan tidak perlu menjadi seorang syiah untuk mengetahui kedustaan yang ada dalam kitab ini. Zaman sekarang informasi sudah mudah didapat, jika ada keinginan maka mudah untuk mengumpulkan informasi tentang suatu mahzab baik syiah ataupun sunni.

Tuduhan dusta yang kami maksud adalah perkataan Husain Al Musawi bahwa Sayyid Syarafudin Al Musawi salah seorang ulama syiah membolehkan homoseks. Disini Husain Al Musawi mengaku menyaksikan Sayyid Syarafudin Al Musawi berfatwa demikian. Husain Al Musawi berkata dalam kitab Lillahi Tsumma Lil Tarikh hal 69-71

كنا أحد الأيام في الحوزة فوردت الأخبار بأن سماحة السيد عبدالحسين شرف الدين الموسوي قد وصل بغداد، وسيصل إلى الحوزة ليلتقي سماحة الإمام آل كاشف الغطاء. وكان السيد شرف الدين قد سطع نجمه عند عوام الشيعة وخواصهم، خاصة بعد أن صدر بعض مؤلفاته كالمراجعات، والنص والاجتهاد

Suatu hari di Hauzah sampai kabar kepada saya bahwa yang mulia Sayyid Abdul Husain Syarafudin Al Musawi datang ke Baghdad dan akan datang ke hauzah untuk bertemu yang mulia Imam Kasyif Al Ghita. Sayyid Syarafudin adalah orang yang sangat dihormati di kalangan syiah baik orang awam maupun orang-orang khusus, terutama setelah terbitnya kitab tulisannya Al Muraja’at dan kitab Nash Wal Ijtihad.

Catatan kami: Perhatikan dengan baik disini Husain Al Musawi mengaku bahwa saat itu ia sudah berada di Hauzah artinya ketika Sayyid Syarafudin Al Musawi belum sampai ke Najaf, Husain Al Musawi sudah berada di sana dan mendengar kabar Sayyid Syarafudin akan datang ke Hauzah.

ولما وصل النجف زار الحوزة فكان الاحتفاء به عظيماً من قبل الكادر الحوزي علماء وطلاباً وفي جلسة له في مكتب السيد آل كاشف الغطاء ضمت عدداً من السادة وبعض طلاب الحوزة، وكنت أحد الحاضرين، وفي أثناء هذه الجلسة دخل شاب في عنفوان شبابه فسلم فرد الحاضرون السلام، فقال للسيد آل كاشف الغطاء:سيد عندي سؤال، فقال له السيد: وجه سؤالك إلى السيد شرف الدين

Ketika dia [Sayyid Syarafudin] sampai di Najaf, ia mengunjungi hauzah. Orang-orang di hauzah baik para ulama maupun para pelajarnya memberikan penyambutan yang meriah kepadanya. Dan dalam suatu majelis di kantor Sayyid Kasyif Al Ghita yang dihadiri oleh banyak tokoh dan sebagian pelajar dan saya adalah salah seorang yang ikut hadir di sana. Ketika majelis itu dimulai maka masuklah seorang pemuda yang sangat belia mengucapkan salam dan mereka yang hadir menjawab salamnya. Kemudian ia berkata kepada Sayyid Kasyif Al Ghita “Sayyid saya mempunyai pertanyaan”. Sayyid berkata kepadanya “sampaikan pertanyaanmu kepada Sayyid Syarafudin”

Catatan kami: Disini Husain Al Musawi mengaku ketika Sayyid Syarafudin datang ke Najaf dan mengunjungi hauzah, ia ikut menyaksikan langsung bahkan ia berada di majelis khusus dimana datang seorang pemuda yang ingin menanyakan suatu masalah.

قال السائل: سيد أنا أدرس في لندن للحصول على الدكتوراه، وأنا ما زلت أعزب غير متزوج، وأريد امرأة تعينني هناك -لم يفصح عن قصده أول الأمر- فقال له السيد شرف الدين:تزوج ثم خذ زوجتك معك.فقال الرجل: صعب علي أن تسكن امرأة من بلادي معي هناك.فعرف السيد شرف الدين قصده فقال له: تريد أن تتزوج امرأة بريطانية إذن؟

Penanya berkata “Sayyid, saya belajar di London untuk meraih gelar doctor, sementara saya masih bujangan dan belum menikah, saya menginginkan ada seorang wanita yang dapat menemani saya disana. [pada awalnya penanya itu tidak mengungkapkan maksudnya dengan jelas]. Sayyid Syarafudin berkata “Menikahlah, kemudian bawalah istrimu bersamamu”. Pemuda itu berkata “sulit bagi saya untuk tinggal disana bersama istri dari negri saya berasal”. Sayyid Syarafudin mengerti maksudnya dan ia berkata “maksudnya, kamu ingin menikahi wanita inggris [britanian]?”.

قال الرجل: نعم، فقال له شرف الدين: هذا لا يجوز، فالزواج باليهودية أو النصرانية حرام

فقال الرجل: كيف أصنع إذن؟

فقال له السيد شرف الدين: ابحث عن مسلمة مقيمة هناك عربية أو هندية أو أي جنسية أخرى بشرط أن تكون مسلمة

Laki-laki itu berkata “benar”. Syarafudin berkata “ini tidak boleh, menikah dengan yahudi atau nashrani adalah haram”. Laki-laki itu berkata “bagaimana yang harus saya lakukan?”. Sayyid Syarafudin berkata “carilah muslimah yang bermukim disana baik dari bangsa Arab atau india atau yang lainnya dengan syarat ia seorang muslimah.

فقال الرجل: بحثت كثيراً فلم أجد مسلمات مقيمات هناك تصلح إحداهن زوجة لي، وحتى أردت أن أتمتع فلم أجد، وليس أمامي خيار إما الزنا وإما الزواج وكلاهما متعذر علي.أما الزنا فإني مبتعد عنه لأنه حرام، وأما الزواج فمتعذر علي كما ترى وأنا أبقى هناك سنة كاملة أو أكثر ثم أعود إجازة لمدة شهر، وهذا كما تعلم سفر طويل فماذا أفعل؟

Laki-laki itu berkata “Saya sudah lama mencarinya tetapi tidak menemukan muslimah yang bermukim disana yang baik untuk menikahi saya, bahkan untuk dinikahi dengan mut’ah pun saya tidak menemukannya. Dihadapanku tidak ada pilihan selain zina atau menikah dan semuanya tidak bisa saya lakukan. Adapun zina, saya tidak mau melakukannya karena itu haram sedangkan menikah adalah sesuatu yang sulit sebagaimana anda lihat. Saya tinggal disana selama satu tahun penuh atau lebih kemudian saya kembali untuk berlibur selama satu bulan. Dan ini sebagaimana anda ketahui adalah perjalanan yang panjang, apa yang harus saya lakukan?.

سكت السيد شرف الدين قليلاً ثم قال: إن وضعك هذا محرج فعلاً .. على أية حال أذكر أني قرأت رواية للإمام جعفر الصادق، إذ جاءه رجل يسافر كثيراً ويتعذر عليه اصطحاب امرأته أو التمتع في البلد الذي يسافر إليه بحيث أنه يعاني مثلما تعاني أنت، فقال له أبو عبد الله:(إذا طال بك السفر فعليك بنكح الذكر) هذا جواب سؤالك

Sayyid Syarafudin terdiam kemudian ia berkata “sesungguhnya kamu dalam keadaan darurat”, tetapi saya ingat, saya membaca suatu riwayat Imam Ja’far Ash Shiddiq yaitu jika datang seorang laki-laki sering bepergian sedangkan ia tidak ditemani oleh istrinya dan tidak pula bisa melakukan mut’ah di suatu negri dimana ia melakukan perjalanan kesana, sehingga ia merasakan kesulitan seperti kamu ini maka Abu Abdullah berkata “Jika perjalananmu berlangsung lama maka menikahlah dengan laki-laki”. Inilah jawaban atas pertanyaanmu.

Kisah Husain Al Musawi ini dan dialog yang ia sampaikan adalah dusta besar. Aneh sekali jika ada seorang ulama islam membolehkan seorang laki-laki untuk menikah dengan laki-laki. Untuk membuktikan kedustaan kisah ini cukup dengan kesaksian Husain Al Musawi sendiri dalam kitab tersebut. Perlu diketahui Sayyid Syarafudin Al Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H sebagaimana yang disebutkan oleh ulama syiah Ali Al Muhsin [Lillah Wa Lilhaqiqah 1/10]. Sedangkan telah disebutkan sebelumnya tahun lahir Husain Al Musawi berdasarkan kesaksiannya sendiri

وفي ختام مبحث الخمس لا يفوتني أن أذكر قول صديقي المفضال الشاعر البارع المجيد أحمد الصافي النجفي رحمه الله، والذي تعرفت عليه بعد حصولي على درجة الاجتهاد فصرنا صديقين حميمين رغم فارق السن بيني وبينه، إذ كان يكبرني بنحو ثلاثين سنة أو أكثر عندما قال لي: ولدي حسين لا تدنس نفسك بالخمس فإنه سحت، وناقشني في موضوع الخمس حتى أقنعني بحرمته

Dan diakhir pembahasan tentang khumus ini, saya tidak akan melewatkan perkataan seorang teman yang utama, penyair besar dan terkenal, Ahmad Ash Shaafiiy An Najafiiy rahimahullah, dan saya mengenal beliau setelah saya mencapai derajat ijtihad [mujtahid]. Kami menjalin pertemanan yang sangat baik walaupun terdapat perbedaan umur yang jauh, dimana dia lebih tua dari saya tiga puluh tahun atau lebih. Dia berkata kepada saya “Anakku Husain, janganlah kamu kotori dirimu dengan khumus karena ia adalah haram”. Dia berdiskusi dengan saya tentang khumus sampai saya merasa yakin akan keharamannya. [Lillahi Tsumma Lil-Tarikh hal 95-96]

Disebutkan bahwa Ahmad bin Ali Ash Shaafiiy An Najafiiy lahir tahun 1314 H dan wafat pada tahun 1397 H [Mu’jam Rijal Al Fikr Wal Adab Fil Najaf 2/793 Syaikh Muhammad Hadi Al Amini]. Dengan berdasarkan data ini maka dapat diperkirakan kalau si penulis “Husain Al Musawi” yang lebih muda tiga puluh tahun atau lebih dari Ahmad Ash Shaafiiy lahir pada tahun 1314+30=1344 H atau lebih.

Husain Al Musawi lahir tahun 1344 H atau di atas tahun 1344 H dan Sayyid Syarafudin datang ke Najaf tahun 1355 H maka usia Husain Al Musawi saat itu adalah 11 tahun atau kurang dari 11 tahun artinya ia masih anak-anak. Dan ingatlah kembali, Husain Al Musawi berdasarkan pengakuannya sendiri ia sudah berada di hauzah menuntut ilmu disana ketika ada kabar akan datangnya Sayyid Syarafudin ke Najaf. Sekarang lihatlah pengakuan lain Husain Al Musawi dalam kitab dustanya tersebut

ولدت في كربلاء، ونشأت في بيئة شيعية في ظل والدي المتدين درست في مدارس المدينة حتى صرت شاباً يافعاً، فبعث بي والدي إلى الحوزة العلمية النجفية أم الحوزات في العالم لأنـهل من علم فحول العلماء ومشاهيرهم في هذا العصر أمثال سماحة الإمام السيد محمّد آل الحسين كاشف الغطاء

Saya lahir di karbala dan saya tumbuh di lingkungan orang-orang syiah dalam asuhan ayahku yang taat beragama. Saya belajar di sekolah-sekolah yang ada di kota sampai saya menjadi seorang pemuda. Kemudian ayahku mengirimkanku ke hauzah kota ilmu di Najaf dimana para ulama terkenal zaman ini menimba ilmu disana seperti yang mulia Imam Sayyid Muhammad Al Husain Kasyif Al Ghita [Lillahi Tsumma Lil Tarikh hal 8-9]

Berdasarkan pengakuan Husain Al Musawi ia telah menjadi seorang pemuda dewasa ketika Ayahnya mengirimnya ke Najaf untuk menuntut ilmu. Anehnya peristiwa kedatangan Sayyid Syarafudin ke Najaf terjadi ketika usia Husain Al Musawi masih kurang dari sebelas tahun artinya ia masih anak-anak dan masih berada di karbala. Lantas mengapa ia mengaku-ngaku berada di Najaf dan mengaku ikut hadir menyaksikan dialog dusta tersebut. Telitilah dengan baik maka para pembaca, anda akan menemukan banyak kedustaan yang dilakukan oleh orang yang disebut Husain Al Musawi. Kesaksiannya dan tuduhannya terhadap ulama syiah hanyalah dusta dan salafiyun yang terus bertaklid buta pada kedustaan ini memang kualitasnya tidak jauh berbeda dari Husain Al Musawi.

Hal lain yang memperkuat kedustaan Husain Al Musawi adalah ia mengaku hidup di lingkungan syiah, mengenal orang-orang syiah tetapi anehnya dalam tradisi syiah, sebutan Sayyid pada ulama mereka diperuntukkan bagi mereka yang merupakan keturunan Ahlul Bait seperti halnya Sayyid Syarafudin Al Musawi. Muhammad Husain Kasyif Al Ghita bukan keturunan Ahlul Bait sehingga ia tidak disebut dengan sebutan Sayyid di sisi pengikut Syiah, mereka menyebutnya dengan sebutan Syaikh atau Al Imam Kasyif Al Ghita. Tetapi anehnya berulang kali Husain Al Musawi menyebut Kasyf Al Ghita dengan sebutan Sayyid, ia mengaku sebagai ulama syiah yang menjadi murid langsung Kasyf Al Ghita tetapi tidak mengenal sebutan gurunya yang orang awam syiahpun mengetahuinya

.

Wahabi /Manhaj salaf palsu menipu umat atas nama al-Hafizd Ibnu Rajab al-Hanbali

by Shofiyyah An-Nuuriyyah

Inilah salah satu bukti kecurangan dan penipuan wahabi yang sangat licik..

Wahabi /Manhaj salaf palsu menipu umat atas nama al-Hafizd Ibnu Rajab al-Hanbali

Ketika wahabi / manhaj salaf palsu berhujjah menolak riwayat takwilan imam Ahmad bin Hanbal pada salah satu ayat shifat, mereka membawakan ucapan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari syarh Sahih Bukhari halaman 367-368,

yang seolah-olah Ibnu Rajab mengatakan riwayat takwil imam Ahmad itu musykil dan sanadnya tidak tsabit / kuat.

Siapa kuat hadis berpegangan pada al-Qur’an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur’an dan Itrahnya (keturunannya)?

Tuhan telah berfirman bahwa barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, hukumannya adalah laknat Tuhan dan balasan Neraka selamanya. Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena “Mujtahid Teroris”? … Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!


Syariat Islam yang mulia telah datang salah satunya untuk menjaga nyawa manusia. Nyawa seorang muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh ta’ala. Namun manusia yang zolim ini telah banyak menyalahi syariat yang mulia dari Robb tabaaraka wa ta’ala. Nyawa manusia sekarang seakan sangat murah sekali. Berita tentang pembunuhan bukanlah hal asing lagi yang menghiasi berita di negara kita. Hutang ratusan ribu saja harus ditebus
dengan hilangnya nyawa, wal ‘iyadzubillah.

Di sisi lain muncul orang-orang yang mengatasnamakan Islam, membunuh orang-orang yang notabene beragama Islam baik dengan pengeboman maupun tindakan brutal lainnya. Padahal dengan tegas Alloh subhanahu wa ta’ala telah melarang perbuatan tersebut bahkan mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat tegas, kekal dalam Jahanam, mendapatkan murka dan laknat Alloh…

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS An Nisa: 93)

.
Makna Lafal Ayat
“Dan barang siapa” (وَمَن) dalam Bahasa Arab, kata tersebut merupakan kata syarat. Dalam ilmu Ushul Fiqh kata syarat tersebut memiliki makna umum. Sehingga seluruh orang yang melakukan perbuatan sebagaimana yang disebutkan pada ayat tersebut akan mendapatkan balasan yang disebutkan pada ayat tersebut

.
“Membunuh seorang mukmin” yaitu yang membunuh orang yang beriman pada Alloh dan Rosul-Nya. Oleh karena itu, orang yang membunuh orang kafir atau orang munafik tidak termasuk dalam ayat ini. Akan tetapi membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau yang tunduk kepada pemerintah muslim atau yang meminta perlindungan keamanan kepada pemerintah muslim, adalah suatu perbuatan dosa. Namun pembunuhnya, tidak diancam dengan ancaman sebagaimana yang disebutkan pada ayat ini. Adapun orang-orang munafik, maka syariat Islam menjaga darah mereka selama mereka tidak menampakkan prilaku kemunafikannya

.
“Dengan sengaja”. Berdasarkan kalimat ini, maka anak kecil ataupun orang gila tidak termasuk dalam ayat ini. Demikian juga orang yang membunuh tanpa kesengajaan. Karena ketiga jenis orang ini, melakukan perbuatan tanpa disertai niat yang teranggap

.
Alloh ta’ala telah memberikan ancaman yang sangat besar dan tegas pada ayat ini bagi orang –siapa pun dia- yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Alloh menyebutkan empat buah balasan bagi orang ini adalah sebagai berikut:

.
Pertama, “Jahanam”. Alloh ta’ala akan memasukkan orang ini ke dalam neraka jahanam.

.
Kedua, Tidak cukup dengan sekedar memasukkan ke dalam jahanam, namun Alloh menjadikan orang tersebut tinggal di dalamnya dalam waktu yang sangat lama “ia kekal di dalamnya”.

.
Ketiga, “Alloh murka kepadanya”. Kalimat ini juga menunjukkan bahwa Alloh memiliki sifat Al Ghodhob (murka).

.
Keempat, “dan (Alloh) melaknatinya”. Yaitu Alloh menjauhkan orang ini dari rahmat-Nya.Demikianlah 4 buah balasan yang Alloh berikan pada orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Jika seandainya disebutkan satu buah balasan saja, maka hal ini akan menjadi penghalang bagi seorang mukmin yang takut akan Robb-Nya untuk tidak melakukan dosa ini. Maka bagaimana jika disebutkan empat buah balasan sekaligus!!??

.
Apakah Seorang Pembunuh Kekal di Neraka?
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja bisa kekal di neraka padahal dosa pembunuhan tidak menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam sehingga dia akan kekal di neraka? Para ulama telah menjelaskan ayat ini dengan beberapa pendapat untuk mengompromikan hal ini. Hal ini dapat dilihat dalam kitab-kitab yang telah mereka tulis. Oleh karena itu kita tetap membutuhkan penjelasan para ulama baik melalui perkataannya maupun tulisan-tulisan mereka tentang makna ayat yang terkadang kita anggap bertentangan padahal tidak demikian. Setidaknya ada beberapa  pendapat para ulama sunni tentang maksud “kekal di neraka” pada ayat ini.

.
Pendapat pertama menyebutkan bahwa ancaman kekal di neraka pada ayat ini adalah jika seorang kafir membunuh seorang mukmin. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Karena orang yang kafir, tidak beriman pada Alloh dan Rosul-Nya akan dibalas dengan neraka jahanam dan kekal di dalamnya selamanya, sama saja, apakah dia membunuh seorang mukmin atau tidak. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ اللهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا لاَيَجِدُونَ وَلِيًّا وَلاَنَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong” (QS Al Ahzab: 64-65)

.
Pendapat kedua menyebutkan bahwa ancaman kekal di neraka pada ayat ini ditujukan untuk orang yang menghalalkan untuk membunuh seorang mukmin. Sehingga orang yang mengatakan bahwa membunuh orang mukmin adalah halal maka orang ini telah kafir dan ia kekal di neraka. Pendapat ini juga adalah pendapat yang lemah. Imam Ahmad telah membantah pendapat ini dengan menyatakan bahwa orang yang menghalalkan untuk membunuh orang mukmin adalah kafir walaupun dia tidak melakukan pembunuhan tersebut. Padahal sebagaimana kita pahami, bahwa ayat ini mengancam orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja.

.
Pendapat ketiga menyebutkan bahwa pada kalimat ini terdapat kalimat lain yang merupakan kelanjutannya (dalam bahasa arab disebut, taqdir syarat). Sehingga ayat tersebut bermakna, “maka balasannya adalah neraka jahanam, kekal di dalamnya, jika Alloh membalasnya”. Namun pendapat ini perlu ditinjau kembali. Apa faedah penyebutan, “Maka balasannya adalah jahanam” kalau maksudnya terkait dengan jika Alloh membalasnya? Kemudian jika Alloh ta’ala membalasnya apakah balasannya adalah kekal di neraka? Jika orang itu menjawab Ya, maka masalahnya akan kembali muncul (bahasa Jawa: mbulet) yaitu bagaimana mungkin dosa yang bukan kekufuran dapat menyebabkan kekal di neraka?

.
Walhasil ketiga pendapat ini adalah pendapat yang masih perlu ditinjau kembali. Karena ketiganya, tidak lepas dari pertentangan satu sama lain.

.
Pendapat yang keempat menyebutkan bahwa ayat ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menyebabkan seseorang kekal di neraka. Namun jika didapati adanya penghalang lain, maka sebab tersebut tidak dapat memunculkan akibat. Misalnya, status sebagai seorang anak dapat menyebabkan seseorang mendapatkan warisan dari orang tuanya. Namun jika si anak tersebut adalah orang yang kafir, maka statusnya sebagai orang kafir, akan membatalkan hak warisnya. Maka, perbuatan membunuh seseorang merupakan penyebab kekalnya seseorang di neraka namun statusnya sebagai seorang mukmin maka ia tidak kekal di neraka. Akan tetapi ada sedikit permasalahan yang muncul di benak kita, yaitu apa manfaat Alloh menyebutkan ancaman yang sangat keras ini?

.
Tidak, tentunya Alloh ta’ala tidak akan berfirman tanpa ada faedah di dalamnya. Tidak ada satu pun perkataan Alloh dalam Al Quran maupun apa yang Rosululloh sampaikan dalam sunnahnya hanya sekedar main-main tanpa hikmah di dalamnya. Faedah penyebutan hukuman kekal di neraka adalah bahwa orang yang melakukan pembunuhan terhadap seorang mukmin dengan sengaja telah melakukan sebuah hal yang menyebabkan dia kekal di neraka. Padahal, hal yang menghalangi orang tersebut untuk bebas dari kekalnya jahanam (yaitu keimanan), bisa jadi ada dan bisa pula tidak ada. Maka orang ini berada dalam ancaman bahaya yang sangat besar. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin akan senantiasa berada pada kelapangan dalam agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram” (HR Bukhori 6862, Ahmad 2/94, Baihaqi dalam sunannya 8/21 dan lain-lain). Maka jika seseorang menumpahkan darah yang haram, ia berada pada kondisi yang sangat kritis dalam agamanya bahkan dapat menyebabkan ia kufur, wal’iyadzubillah.

.
Kesimpulan dari pendapat ini, bahwa melakukan pembunuhan dapat menyebabkan seseorang mati dalam keadaan kafir dan hal ini bisa menyebabkan dia kekal di neraka. Namun jika orang ini memiliki keimanan, maka hal ini akan menyebabkannya terbebas dari ancaman kekal di neraka. Namun bukan berarti dia tidak akan diazab dalam neraka, orang tersebut hanya bebas dari hukuman kekal di neraka, walaupun boleh jadi dia akan diazab dalam panasnya api neraka dalam waktu yang sangat lama

Alloh ta’ala telah memberikan ancaman yang sangat besar dan tegas pada ayat ini bagi orang -siapa pun dia- yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Alloh menyebutkan empat buah balasan bagi orang ini adalah sebagai berikut:

  1. “Jahanam” : Alloh ta’ala akan memasukkan orang ini ke dalam neraka jahanam.
  2. Tidak cukup dengan sekedar memasukkan ke dalam jahanam, namun Alloh menjadikan orang tersebut tinggal di dalamnya dalam waktu yang sangat lama “Ia kekal di dalamnya.”
  3. “Alloh murka kepadanya” : Kalimat ini juga menunjukkan bahwa Alloh memiliki sifat Al Ghodhob (murka).
  4. “dan (Alloh) melaknatinya.” : Yaitu Alloh menjauhkan orang ini dari rahmat-Nya.

Demikianlah 4 buah balasan yang Alloh berikan pada orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Jika seandainya disebutkan satu buah balasan saja, maka hal ini akan menjadi penghalang bagi seorang mukmin yang takut akan Robb-Nya untuk tidak melakukan dosa ini. Maka bagaimana jika disebutkan empat buah balasan sekaligus!!?? Wallohul musta’an.

Apakah Seorang Pembunuh Kekal di Neraka ?

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja bisa kekal di neraka padahal dosa pembunuhan tidak menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam sehingga dia akan kekal di neraka? Para ulama telah menjelaskan ayat ini dengan beberapa pendapat untuk mengompromikan hal ini. Hal ini dapat dilihat dalam kitab-kitab yang telah mereka tulis. Oleh karena itu kita tetap membutuhkan penjelasan para ulama baik melalui perkataannya maupun tulisan-tulisan mereka tentang makna ayat yang terkadang kita anggap bertentangan padahal tidak demikian. Setidaknya ada enam pendapat para ulama tentang maksud “kekal di neraka” pada ayat ini.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa ancaman kekal di neraka pada ayat ini adalah jika seorang kafir membunuh seorang mukmin. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Karena orang yang kafir, tidak beriman pada Alloh dan Rosul-Nya akan dibalas dengan neraka jahanam dan kekal di dalamnya selamanya, sama saja, apakah dia membunuh seorang mukmin atau tidak. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا لاَيَجِدُونَ وَلِيًّا وَلاَنَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong.” (QS. Al Ahzab: 64, 65)

Pendapat kedua menyebutkan bahwa ancaman kekal di neraka pada ayat ini ditujukan untuk orang yang menghalalkan untuk membunuh seorang mukmin. Sehingga orang yang mengatakan bahwa membunuh orang mukmin adalah halal maka orang ini telah kafir dan ia kekal di neraka. Pendapat ini juga adalah pendapat yang lemah. Imam Ahmad telah membantah pendapat ini dengan menyatakan bahwa orang yang menghalalkan untuk membunuh orang mukmin adalah kafir walaupun dia tidak melakukan pembunuhan tersebut. Padahal sebagaimana kita pahami, bahwa ayat ini mengancam orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja.

Pendapat ketiga menyebutkan bahwa pada kalimat ini terdapat kalimat lain yang merupakan kelanjutannya (dalam bahasa arab disebut, taqdir syarat). Sehingga ayat tersebut bermakna, “maka balasannya adalah neraka jahanam, kekal di dalamnya, jika Alloh membalasnya.” Namun pendapat ini perlu ditinjau kembali. Apa faedah penyebutan, “maka balasannya adalah jahanam” kalau maksudnya terkait dengan jika Alloh membalasnya? Kemudian jika Alloh ta’ala membalasnya apakah balasannya adalah kekal di neraka? Jika orang itu menjawab “Ya,” maka masalahnya akan kembali muncul (bahasa Jawa: mbulet) yaitu bagaimana mungkin dosa yang bukan kekufuran dapat menyebabkan kekal di neraka?

Walhasil, ketiga pendapat ini adalah pendapat yang masih perlu ditinjau kembali. Karena ketiganya, tidak lepas dari pertentangan satu sama lain.

Pendapat yang keempat menyebutkan bahwa ayat ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menyebabkan seseorang kekal di neraka. Namun jika didapati adanya penghalang lain, maka sebab tersebut tidak dapat memunculkan akibat. Misalnya, status sebagai seorang anak dapat menyebabkan seseorang mendapatkan warisan dari orang tuanya. Namun jika si anak tersebut adalah orang yang kafir, maka statusnya sebagai orang kafir, akan membatalkan hak warisnya. Maka, perbuatan membunuh seseorang merupakan penyebab kekalnya seseorang di neraka namun statusnya sebagai seorang mukmin maka ia tidak kekal di neraka. Akan tetapi ada sedikit permasalahan yang muncul di benak kita, yaitu apa manfaat Alloh menyebutkan ancaman yang sangat keras ini?

Tidak, tentunya Alloh ta’ala tidak akan berfirman tanpa ada faedah di dalamnya. Tidak ada satu pun perkataan Alloh dalam Al Quran maupun apa yang Rosululloh sampaikan dalam sunnahnya hanya sekedar main-main tanpa hikmah di dalamnya. Faedah penyebutan hukuman kekal di neraka adalah bahwa orang yang melakukan pembunuhan terhadap seorang mukmin dengan sengaja telah melakukan sebuah hal yang menyebabkan dia kekal di neraka. Padahal, hal yang menghalangi orang tersebut untuk bebas dari kekalnya jahanam (yaitu keimanan), bisa jadi ada dan bisa pula tidak ada. Maka orang ini berada dalam ancaman bahaya yang sangat besar. Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin akan senantiasa berada pada kelapangan dalam agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.” (HR. Bukhori 6862, Ahmad 2/94, Baihaqi dalam Sunan-nya 8/21 dan lain-lain). Maka jika seseorang menumpahkan darah yang haram, ia berada pada kondisi yang sangat kritis dalam agamanya bahkan dapat menyebabkan ia kufur, wal’iyadzubillah.

Kesimpulan dari pendapat ini, bahwa melakukan pembunuhan dapat menyebabkan seseorang mati dalam keadaan kafir dan hal ini bisa menyebabkan dia kekal di neraka. Namun jika orang ini memiliki keimanan, maka hal ini akan menyebabkannya terbebas dari ancaman kekal di neraka. Namun bukan berarti dia tidak akan diazab dalam neraka, orang tersebut hanya bebas dari hukuman kekal di neraka, walaupun boleh jadi dia akan diazab dalam panasnya api neraka dalam waktu yang sangat lama.

Pendapat kelima menyebutkan bahwa “kekal di dalamnya” pada ayat ini memiliki makna bahwa orang ini akan tinggal di jahanam alam waktu yang sangat lama bukan dalam waktu yang kekal. Hal ini sebagaimana jika disebutkan, “Fulan dihukum di penjara selamanya”, padahal penjara tidaklah kekal.

Pendapat ini adalah pendapat yang mudah dan tidak terlalu sulit untuk merenunginya. Pada ayat ini, Alloh tidak menyebutkan keabadian. Alloh tidak menyebutkan (خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً), “kekal di neraka selama-lamanya.” Akan tetapi, Alloh hanya menyebutkan (خَالِدِينَ فِيهَا ), “kekal di neraka” sehingga ayat ini memiliki makna bahwa orang tersebut tinggal di neraka jahanam dalam waktu yang sangat lama.

Pendapat keenam, menyebutkan bahwa ayat ini merupakan ancaman Alloh pada orang-orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Namun ancaman ini bisa jadi dilaksanakan dan boleh jadi tidak dilaksanakan. Hal ini sebagaimana jika ada seorang bapak yang berkata kepada anaknya, “Jika kamu keluar rumah, aku akan memukulmu dengan sapu.” Kemudian anaknya keluar rumah, namun bapaknya hanya memukulnya dengan tangannya. Maka hukuman yang diberikan pada anaknya lebih ringan dari pada ancaman yang diberikan. Demikianlah, Alloh ta’ala mengancam orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka jika Alloh mengampuni dan memaafkan orang ini, hal ini adalah sebuah kemurahan dari Alloh. Namun pada pendapat keenam ini juga terdapat keganjilan, jika ancaman yang dijanjikan terjadi maka si pembunuh akan kekal di neraka. Padahal hal tersebut tidaklah benar berdasarkan dalil-dalil yang ada.

Walhasil, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang kelima yang menyebutkan bahwa makna “kekal di neraka” adalah tinggal dalam waktu yang sangat lama. Atau pendapat yang keempat yang menyebutkan bahwa membunuh seorang mukmin dengan sengaja merupakan penyebab seseorang kekal di neraka, namun jika si pembunuh memiliki keimanan, maka hal tersebut akan menjadi penghalang sehingga dia tidak kekal di neraka.

Upaya pendekatan antara Syiah dan Suni sudah sering kali diadakan. Namun masih saja sebagian golongan Sunni yang masih menganggap Syiah sebagai umat yang lain. Sebenarnya upaya pendekatan tidak perlu dilakukan jika semua golongan mau belajar dan memahami sejarah Islam dari ribuan riwayat sahih yang beredar. Jika saja sebagian Sunni tersebut mau mempelajari dan memahami sejarah tersebut, mereka pasti paham dan mengenal baik akan keberadaan golongan Syiah sejak Nabi saw masih hidup, bukan setelah beliau wafat. Coba anda cari di Jagad Internet yang luas ini tentang jawaban persoalan di bawah ini:

Abu Bakar dipandang sebagai sahabat terdekat Nabi saw oleh mayoritas Sunni, Lalu mengapa pada waktu “hari persaudaraan” saat pertama kali datang di Madinah, Nabi saw lebih memilih Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya dengan mengatakan “Kamu adalah saudaraku di dunia ini dan di akhirat nanti”. Atas dasar apa golongan Sunni menganggap Abu Bakr sahabat terdekat Nabi saw.

Semua kaum muslim sepakat bahwa ajaran Islam mencakup dan menormai dalam segala aspek kehidupan, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang amat besar. Kaum Sunni mengatakan masalah Imamah tidak dijelaskan oleh Qur’an dan sunnah, jadi sahabat berijtihad dalam masalah imamah. Jika benar Nabi saw wafat tanpa memberikan petunjuk apapun tentang Imamah pada umatnya, lalu mengapa Abu Bakr menyebutkan hadits “al-aimmah min al-Quraish” Para imam berasal dari kaum Quraish di Saqifah Bani Saidah.

Apa Abu Bakr memalsukan riwayat Nabi saw? dan mengapa Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya, dengan menyalahi sunnah Nabi saw yang tidak menjelaskan apapun tentang imamah.

Dalam hadis-hadis sahih (Bukhari, Muslim, dll) Nabi saw menyatakan bahwa ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” atau “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Sa’ah (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy”. Bandingkan susunan 12 imam yang disusun golongan sunni dan Syiah?

Kuat mana derajat kesahihan antara riwayat yang menyebutkan wasiat Nabi saw (biasa disebut hadits al-Thaqalain) untuk berpegangan pada al-Qur’an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur’an dan Itrahnya (keturunannya)?

Tuhan telah mengutus 124.000 utusan ke dunia ini, apa ada bukti bahwa semua peninggalan mereka akan menjadi sedekah bagi para pengikutnya?

Jika Sunni menganggap demikian mengapa para Umm al-Mukminin tidak memberikan seluruh kepunyaan Rasulullah ke Pemerintahan Islam? Setelah wafatnya Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah bertengkar dengan Abu Bakr mengenai Fadak, yang seharusnya menjadi miliknya dari warisan Nabi saw, Fatimah marah dan tidak akan berbicara dengan Abu Bakr sampai akhir hayatnya karena Abu Bakr tidak memberikan Fadak kepadanya. Kenapa Abu Bakr tidak memberikan tanah Fadak tersebut sedangkan Umar bin Abd Aziz saat menjabat sebagai khalifah mengembalikan kembali tanah Fadak ke keturunan Sayyidah Fatimah as?

Jika anda melihat denah pemakaman Baqi’, anda akan mengetahui bahwa kuburan Uthman bin Affan terpencil dari makam sahabat lainnya. Bagaimana proses pemakaman khalifah ketiga Uthman bin Affan di luar Baqi’ (dulu)? Siapa saja sahabat besar yang bermusuhan dengan Uthman? dan siapa pemicu sebenarnya yang akhirnya membunuh Khalifah Uthman bin Affan? Aisyah bahkan menyebut Uthman sebagai Natsal, seseorang kafir yang harus dibunuh. Jika Sunni mengganggap Aisyah seorang yang benar berarti menerima julukan yang diberikan pada Uthman, dan jika Aisyah berkata dusta mengapa Sunni menganggap dia benar?

Apa sebenarnya arti dari kata “Mu’awiyah”, dan siapa sebenarnya ayah dari Muawiyah dan cerita sebelum kelahirannya, dan menurut al-Nasai, hanya ada satu hadis sahih yang menceritakan keutamaan Muawiyah, hadis apakah itu? Baca juga kisah menyedihkan wafatnya al-Nasa’i karena hadith tersebut.

Biasanya Golongan Sunni menuduh bahwa Syiahlah yang membantai Imam Husayn as beserta para pengikutnya, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mayoritas Sunni yang jumlahnya lebih banyak dari Syiah tidak menolong Imam Husain as? Dimana posisi Sunni ketika terjadi pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husayn as?

Ingat, kebenaran itu harus dicari dan dipertahankan, bukan sesuatu yang dijejalkan langsung ke akal kita

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah. Siapakah 12 imam ??

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Satu persoalan utama yang sering terlepas pandang oleh umat Islam terutama http://www.gensyiah.com/ adalah sejak dari masa dini Islam lagi adalah kasus penting, perlunya keberadaan ‘Penunjuk Jalan’ atau Imam yang mana telah disabdakan oleh Rasul Junjungan saaw:

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadis ini:

من مات وليس عليه إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang mati tanpa memiliki Imam, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.

al-Albani di dalam komentarnya tentang hadis ini, menulis:

إسناده حسن ورجاله ثقات

Isnadnya hasan dan semua perawinya Tsiqah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 hlm 49:

من مات بغير إمام مات ميتة جاهلية

Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati Jahiliyyah.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam sahihnya, kitab al Imarah:

“Barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

Maka, hadis ini adalah hadis yang sahih dan dipersetujui oleh semua kelompok Islam.

Walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang maksudnya, kesahihan dan terkenalnya hadis ini diperakui sedemikian rupa hingga para pemimpin yang zalim pun gagal dalam menafikannya, makanya mereka mencari ulah dalam memutarbelitkan maknanya.

Allamah Amini berkata setelah mengutip hadis ini dari sumber-sumber Sunni yang sahih: Adalah sebuah kenyataan abadi bahawa sumber-sumber Sunni yang sahih telah membuktikannya dan umat tidak memiliki pilihan kecuali tunduk patuh kepadanya, dan keislaman seseorang itu tidak menjadi sempurna kecuali dia menerima konsep dan kandungan hadis ini. Konsepnya menjelaskan tentang kesudahan yang dahsyat bagi mereka yang matinya tanpa Imam, dan orang seperti itu adalah jauh dari keselamatan dan rahmat. Kematian zaman Jahiliyyah adalah sebuah kematian yang mengerikan, iaitu kematian atheisme dan tanpa iman.

Bagi menjelaskan hadis ini, maksud kata Jahiliyyah haruslah terlebih dahulu difahami.

Dari sudut pandang Al Quran dan hadis, zaman kenabian Rasul saaw adalah zaman ilmu, manakala zaman sebelum misi kenabian adalah zaman Jahiliyyah, iaitu, sebelum misi kerasulan Baginda saaw, umat tidak mengetahui cara dan jalan untuk mengenali realiti-realiti kewujudan disebabkan oleh penyimpangan pada agama-agama yang diwahyukan dan apa yang jelas pada masyarakat saat itu atas nama agama adalah tidak lebih dari tahyul dan ilusi. Bahkan agama-agama yang sudah diselewengkan dan penuh dengan kepercayaan-kepercayaan ilusi ini, telah dijadikan alat oleh segelintir pihak yang kaya dan berkuasa saat itu untuk menguasai dan menekan masyarakat awam, sebuah realiti yang dirakam kemas dalam sejarah.

Misi suci Rasul saaw adalah permulaan bagi era ilmu pengetahuan. Misi dasar dan utama Rasul saaw adalah memerangi kepercayaan tahyul dan penyimpangan dan menjelaskan pada masyarakat tentang kebenaran.

MENGENALI IMAM YANG MANA?

Dengan sedikit pertimbangan terhadap kandungan hadis yang kita bicarakan ini dan atas apa yang kita bicarakan di atas, langsung tidak membuka ruang keraguan buat kita untuk mencari jawaban pada persoalan yang dikemukakan: Imamah Imam yang manakah yang menjamin keberlangsungan Islam yang murni, yang jika diabaikan oleh umat, bisa menjerumuskan mereka pada status Jahiliyyah?

Mungkinkah yang dimaksudkan oleh hadis suci ini adalah mentaati siapapun yang berkuasa untuk mengurus umat yang kita diwajibkan taat dan patuh, jika mana kita ingkar, akan mengakibatkan kita mati Jahiliyyah, tanpa peduli samada pemimpin itu bejat dan menyeleweng, atau sebagaimana yang disebut oleh Al Quran:

“Imam-imam yang mengajak orang ke neraka”. (QS. al-Qashash: 41)

Menjadi bukti bahawa semua pemimpin yang menyeleweng sepanjang sejarah Islam telah menggunakan hadis ini guna melegalisasikan kepemimpinan dan mengukuhkan penguasaan mereka ke atas umat. Bahkan ulama-ulama yang biasa mendatangi istana para Raja dan para pendakwah di istana-istana menterjemahkan hadis Nabi saaw ini lalu mengalungkannya ke leher para pemerintah yang menyeleweng ini. Adalah jelas, perbuatan mereka itu bukanlah disebabkan oleh salahfaham mereka tentang maksud sebenar akan hadis ini, sebaliknya ia adalah mainan kata semata-mata.

Adalah sukar untuk kita percaya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Syarah Nahjul Balaghah oleh Ibn Abi al Hadid, bahawa Abdullah ibn Umar enggan membaiah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as disebabkan oleh kesalahfahaman dan tidak memiliki pengetahuan mendalam, namun berpegang teguh pada hadis “Barangsiapa mati tanpa Imam…” yang dia riwayatkan sendiri lalu, tanpa membuang waktu telah pergi bertemu dengan Hajjaj bin Yusuf pada malam hari untuk memberikan bai’ahnya kepada Abdul Malik bin Marwan, sang Khalifah…kerana dia tidak mahu melalui malamnya tanpa adanya Imam!

Namun, apakah orang yang zalim dan kejam seperti para pemimpin dari Bani Umayyah dan Bani Abbassiyah layak untuk digelar Imam?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.QS. al-Baqarah (2) : 124

Dalam ayat yang kami bawakan ini, jelas, Imam tidak bisa disandang oleh mereka yang zalim, itu janji Allah.

Imamah adalah satu janji Allah, dikurniakanNya hanya kepada orang yang adil, zuhud dan suci maksum. Andai para Imam tidak memiliki ciri ciri kemaksuman ini, pastilah mereka terdedah pada kesalahan dan akan menjerumuskan umat pada kesalahan juga. Ini bertentangan dengan firman Allah yang berikut:

a) Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. QS. Hud (11) : 113

b) Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.QS. al-Insan (76) : 24

Dalam kedua dua ayat di atas, Allah telah memerintahkan kita agar jangan cenderung pada orang yang zalim dan jangan mengikuti orang yang berdosa. Maka, tanggapan kelompok jumhur bahawa para Khalifah wajib ditaati tanpa bantahan adalah bertentangan dengan perintah Allah dalam ayat ayat di atas.

Andaikata Imam bisa melakukan kesalahan, umat sendiri akan turut melakukan kesalahan kerana mengikuti Imam yang salah. Hal seperti ini tidak bisa diterima memandangkan kepatuhan dalam dosa adalah suatu dosa, dilarang dan bertentangan dengan syariah. Tambahan pula, Imam akan dipatuhi dan diingkari pada masa yang sama dan ini adalah mustahil.

Kepercayaan kelompok Jumhur bahawa umatlah yang memilih pemimpin atau Imam juga adalah bertentangan dengan firman Allah berikut:

a) Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).QS. al-Qashash (28) : 68

b) Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.QS. al-Anbiya (21) : 73

c) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.QS. as-Sajdah (32) : 24

Ayat ayat di atas dengan jelas membuktikan bahawa para pemimpin atau Imam adalah dipilih oleh Allah sendiri, dan ini berlawanan dengan kepercayaan jumhur.

Lalu siapakah para Imam yang Allah pilih ini yang jika kita tidak mengenalnya, maka mati kita adalah matinya jahiliyah?

Mari kita telusuri hadis suci Nabi saaw untuk mendapatkan gambaran jelas tentang hal ini.

الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ .
“ Para imam itu dari suku Quraisy.”

Hadits di atas (Al-a`immatu min Quraisy) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dalam Al-Musnad (11859) dari Anas bin Malik dan Abu Barzah Al-Aslami (18941); An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubra (5942); Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dari Anas (54/8) dan Ali bin Abi Thalib (54/17); Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dari Ali (19903); Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7061) dari Ali; Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Anas (724) dan dalam Ash-Shaghir dari Ali (426); Al-Baihaqi dalam Ma’rifatu As-Sunan wa Al-Atsar dari Anas (1595); Ath-Thayalisi dalam Al-Musnad (957) dari Abu Barzah dan Anas (2325); Al-Khallal dalam As-Sunnah (34) dari Salman Al-Farisi dan Ali (64); Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (929) dari Anas dan Abu Barzah (934); Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (746, 750) dari Abu Barzah; Abu Ya’la Al-Maushili dalam Al-Mu’jam (155); Ibnul A’rabi dalam Al-Mu’jam (2259) dari Ali; Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (4635) dari Anas; dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil (biografi Ibrahim bin Athiyah Al-Wasithi) dari Anas.

Tentang sanadnya, Imam Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabarani dalam Al-Awsath, dan Al-Bazzar ( Dalam riwayat Al-Bazzar dengan lafal, “Al-Mulku fi Quraisy.”)

Para perawi Ahmad adalah orang-orang tsiqah (terpercaya)” (Majma’ Az- Zawa`id (8978).

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dan Al-Hakim dari hadits Anas dengan sanad shahih” (Takhrij Ahadits Al-Ihya` (3711).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Diriwayatkan An-Nasa`i dari Anas, Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a`, dan Al-Bazzar serta Al-Baihaqi dengan beberapa jalur periwayatan dari Anas. Saya katakan, sungguh saya telah mengumpulkan jalur-jalur riwayat hadits ini dalam satu juz tersendiri dimana ia diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat. … Dan sanadnya hasan” (At-Talkhish Al-Habir (1987).

Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth berkata, “Hadits shahih dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits lain yang menguatkannya” (Musnad Ash-Shahabah fi Al-Kutub At-Tis’ah (527).

Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih, diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya yaitu: Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Barzah Al-Aslami” (Irwa` Al-Ghalil (520). Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (4523 dan 4524) dan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2188 dan 2259).

Secara ringkas, demikian para ulama lain yang menshahihkan hadits ini; Imam Al-Munawi ( Faidh Al-Qadir (3108).

Syaikh Muhammad Ja’far Al-Kattani ( Nuzhum Al-Mutanatsir min Al-Hadits Al-Mutawatir (175).

Al-Ajluni (Kasyfu Al-Khafa` (850), Al-Burhanfuri (Kanzu Al-‘Ummal (1649, 14792, 23800) dan lain lain

Maka dari hadis ini kita tahu bahawa para Imam itu adalah dari Quraisy. Namun, berapa ramaikah mereka ini? Hadis berikut menjelaskannya

Jabir bin Samurah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda: “Islam akan senantiasa kuat di bawah 12 Khalifah”. Baginda kemudian mengucapkan kata kata yang tidak aku fahami, lalu aku bertanya bapaku apakah yang dikatakan oleh Rasulullah saaw. Beliau menjawab: “Semuanya dari Quraisy” (Muslim. Sahih, jilid VI, hlm 3, Bukhari, Sahih, jilid VIII, hlm 105, 128)

Apakah semua yang berstatus Quraisy layak menyandang gelaran Imam atau Khalifaf ini? Hadis berikut pula merincikan siapakah para Imam atau Khalifah yang berjumlah 12 orang itu

Nabi saaw bersabda: “Setelahku akan ada 12 Khalifah, semuanya dari Bani Hasyim” (Qunduzi Hanafi, Yanabi’ al Mawaddah, jilid III, hlm 104)

Mungkin ada di kalangan yang berpenyakit dalam hati akan menyanggah hadis ini dan mengatakan ianya tidak sahih. Jika demikian, kami persilakan anda teruskan membaca hadis berikutnya pula

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Maka, jika kita menyusun kembali semua premis premis yang dibawakan di atas, kita bisa menyimpulkan seperti berikut:

1. Sepeninggalan Rasul saaw, ada pengganti beliau yang dipanggil Imam/ khalifah

2. Imam/Khalifah ini berjumlah 12 orang

3. Kesemua mereka adalah dari Quraisy

4. Kesemua mereka adalah dari Bani Hasyim

5. Kesemua mereka adalah Ahlul Bayt Nabi as

Maka dengan ini, siapapun selain dari Ahlul Bayt as yang mendakwa diri mereka sebagai Khalifah atau Imam umat, dakwaan mereka tertolak. Hujjah yang kami bawakan di atas tidak membuka ruang walau sekecil apapun untuk memberikan jabatan Khalifah/ Imamah pada selain Ahlul Bayt as

Sekarang, persoalannya adalah, sudahkah anda mengenal Imam Zaman anda?