video wahabi memalsukan kitab-kitab Syiah dan pelecehan wahabi kepada ahlulbait

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismihi Taala

Telah banyak sekali keburukan Wahabi yang telah terbongkar apabila mereka bertindak memalsukan kitab-kitab Syiah sebagai satu usaha mendiskreditkan Syiah. Antaranya kita Tahrir al Wasilah, karangan Imam Khomeini.

Namun adakah kitab Ahlul Sunnah terselamat dari cubaan jahat mereka? Saksikan.

Muhammad Ibn Abdul Wahab, pengasas Wahabi tetap meneruskan pegangan yang di pelopori gurunya, Ibnu Taimiyah dalam menunjukkan double standard terhadap Ahlulbait dan Bani Umaiyah.

Sunni dan Syiah bersepakat tentang betapa tingginya kemuliaan Imam Ali. Namun, atas sebab prejudis yang tinggi, Wahabi tidak dapat menerima banyak hadis-hadis kemuliaan ini, lalu bertindak melakukan jenayah ilmu dalam menanggapi keutamaan Ahlulbait(as)

Dalam keterdesakan melindungi kemuliaan(jika ada) pemimpin tercinta mereka, puak Nasibi telah sedaya upaya membuktikan bahawa Yazid tidak ada kena mengena dalam kejadian Karbala. Namun kesaksian ramai ulamak Sunni, mengatakan sebaliknya. Laknat Allah ke atas pembunuh Imam Hussain dan Syiahnya.

Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Hadis Ath Thayr

 sumber kutipan dari : http://secondprince.wordpress.com/2012/10/23/shahih-hadis-ath-thayr-membantah-syubhat-nashibi/

Secondprince.wordpress.com

Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Hadis Ath Thayr

Hadis Ath Thayr adalah hadis keutamaan Imam Aliy yang sangat besar dimana hadis tersebut menyatakan bahwa Imam Aliy adalah manusia yang paling dicintai Allah SWT diantara para sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bisa dimaklumi bahwa hadis Ath Thayr ini menimbulkan kedongkolan yang besar di hati para nashibi. Sehingga bermunculan “orang-orang jahil” yang menyebarkan syubhat mencari-cari celah untuk melemahkan hadis ini. Tulisan ini akan membuktikan keshahihan hadis Ath Thayr dengan membawakan jalan sanad yang jayyid, bisa dijadikan mutaba’ah dan syawahid sekaligus membantah syubhat para nashibi.

أخبرنا أبو غالب بن البنا أنا أبو الحسين بن الابنوسي أنا أبو الحسن الدار قطني نا محمد بن مخلد بن حفص نا حاتم بن الليث نا عبيد الله بن موسى عن عيسى بن عمر القارئ عن السدي نا أنس بن مالك قال أهدي إلى رسول الله ( صلى الله عليه و سلم ) أطيار فقسمها وترك طيرا فقال اللهم ائتني بأحب خلقك إليك يأكل معي من هذا الطير فجاء علي بن أبي طالب فدخل يأكل معه من ذلك الطير

Telah menceritakan kepada kami Abu Ghalib bin Al Banaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Al ‘Abnuusiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Daruquthniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Laits yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Muusa dari ‘Iisa bin ‘Umar Al Qaariy dari As Suudiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik yang berkata dihadiahkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] suatu hidangan maka Beliau membaginya dan menyisakan daging burung. Beliau bersabda “Ya Allah datangkanlah kepadaku makhlukmu yang paling engkau cintai agar dapat makan daging burung ini bersamaku”. Maka datanglah Ali bin Abi Thalib, ia masuk dan makan daging burung itu bersama Beliau. [Tarikh Ibnu Asakir 42/254]

.

.

.

Matan Mungkar Ala Nashibi

Sebelum membahas sanad hadis di atas, maka ada baiknya para pembaca melihat komentar para nashibi yang menunjukkan betapa lemahnya akal mereka. Mereka mengatakan bahwa hadis ini mungkar dengan alasan matannya menunjukkan bahwa Makhluk yang paling dicintai Allah SWT adalah Aliy bin Abi Thalib. Ini jelas dusta atas nama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena makhluk yang paling dicintai Allah SWT adalah Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dalam hadis tersebut juga tidak ada pernyataan makhluk yang paling dicintai oleh Allah setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Alasan “matan mungkar” ala nashibi jelas konyol dan mengada-ada. Hanya dilontarkan oleh mereka yang dengki dengan hadis tersebut. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berikut

اللهم ائتني بأحب خلقك إليك يأكل معي من هذا الطير

Ya Allah, datangkanlah kepadaku makhlukMu yang paling Engkau cintai untuk makan daging burung ini bersamaku

Perhatikan frase yang kami cetak tebal, frase itu jelas mengeluarkan Nabi dari lingkup yang dimaksud. Jadi maksud makhluk yang paling dicintai Allah SWT itu jelas orang yang hidup pada saat itu selain Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jika seseorang berkata “datangkanlah kepadaku” atau “makanlah bersamaku” maka hal itu dimaksudkan untuk orang lain selain dirinya. Ini kaidah bahasa yang sederhana tetapi tidak dimengerti oleh para nashibi. Puji syukur kepada Allah SWT yang menunjukkan betapa lemah dan dangkalnya akal para nashibi tersebut.

.

.

.

Syubhat Sanad Ala Nashibi

Hadis dengan sanad di atas diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan para perawinya tsiqat. Penjelasan tentang para perawinya dapat dilihat dalam tulisan disini. Nashibi yang sok berlagak ulama melemahkan riwayat di atas dengan menyebarkan syubhat sebagai berikut.

Ubaidillah bin Musa walaupun perawi tsiqat, ia adalah seorang syiah maka hadisnya disini tidak bisa diterima karena menguatkan aqidahnya. Jawabannya mudah sekali, Hadis Ath Thayr tidak bicara soal akidah syiah tetapi berbicara tentang keutamaan Imam Ali. Lain ceritanya jika nashibi beranggapan bahwa keutamaan Imam Ali hanya milik orang Syiah. Disini nashibi menunjukkan kemunafikan mereka. Jika setiap keutamaan Imam Ali dinyatakan sebagai Syiah maka hampir semua orang islam adalah Syiah.

Satu hal lagi tidak ada bukti bahwa Ubaidillah bin Musa adalah Syiah dalam arti penganut Syiah Rafidhah. Hal ini perlu ditelusuri karena tuduhan Syiah terhadap sebagian perawi bisa jadi adalah tasyayyu’ yang artinya lebih mengutamakan Imam Ali dibanding para sahabat lain. Dalam pengertian ini maka sangat wajar kalau Ubaidillah bin Musa bertasyayyu’ karena ia sendiri meriwayatkan hadis yang menunjukkan keutamaan Imam Ali diatas para sahabat yang lain. Meyakini hadis shahih yang ia dapatkan adalah hal yang benar. Jadi tidak ada alasan menolak hadis diatas dengan tuduhan Ubaidillah bin Musa bertasyayyu’. Argumen seperti itu hanya menunjukkan logika sirkuler yang menyesatkan.

Syubhat lain adalah mereka berusaha membuat keraguan tentang kredibilitas As Suddiy. Nashibi mengatakan bahwa terdapat perbincangan yang banyak tentang As Suddiy. Ibnu Ma’in melemahkannya. Abu Hatim berkata “tidak bisa dijadikan hujjah”. Laits mendustakannya. Abdurrahman bin Mahdiy menyatakan dhaif. Al Azdiy berkata “matruk”. Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata shaduq terkadang keliru dan dituduh bertasyayyu’. Adz Dzahabiy memasukkannya dalam Al Mughni Adh Dhu’afa.

Memang benar bahwa terdapat perbincangan terhadap Isma’il bin ‘Abdurrahman atau As Suddiy. Sebagian ulama menta’dilkannya dan sebagian menjarh-nya. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat. [Aqwaal Ahmad no 167]. Syu’bah, Sufyan, Za’idah dan Yahya Al Qaththan menyatakan tsiqat [Sunan Tirmidzi no 3721]. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Adiy berkata “hadisnya lurus, shaduq tidak ada masalah padanya”. Al Ijliy berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 572].

Terdapat perselisihan soal pendapat ‘Abdurrahman bin Mahdiy, memang ternukil riwayat yang menyatakan dhaif tetapi ternukil pula riwayat dari Ahmad bin Hanbal bahwa Ibnu Mahdiy pernah sangat marah kepada Ibnu Ma’in karena melemahkan Ibrahim bin Muhajir dan As Suddiy [Mausu’ah Aqwaal Ahmad no 167].

La’its menuduh As Suddiy dusta tetapi hal ini tidak bisa dijadikan pegangan karena La’its bin Abi Sulaim sendiri adalah seorang yang dhaif. Jarh Al Azdiy yang menyatakan matruk juga tidak bisa dijadikan pegangan karena Al Azdiy sendiri seorang yang dhaif.

Pernyataan Abu Hatim “tidak bisa dijadikan hujjah” tidak menjadikan As Suddiy seorang yang dhaif karena Abu Hatim dikenal tasyaddud dalam melemahkan perawi apalagi As Suddiy telah ditsiqatkan oleh banyak ulama lain. Adz Dzahabiy walaupun memasukkannya dalam Al Mughniy Adh Dhu’afa, ia sendiri berkata dalam Al Kasyf “hasanul hadits” [Al Kasyf no 391]. Perlu diketahui bahwa riwayat As Suddiy dari Anas telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya maka riwayat As Suddiy dari Anas adalah shahih berdasarkan syarat Muslim.

Ada syubhat lain yang dilontarkan oleh Nashibi perihal hadis Ath Thayr riwayat As Suddiy dari Anas. Mereka menyatakan bahwa ini bukan riwayat As Suddiy melainkan riwayat Ismail bin Salman Al Azraaq. Ubaidillah bin Musa keliru atau mengalami idhthirab dalam periwayatannya, mereka menjadikan riwayat Al Bazzar dengan sanad berikut sebagai hujjah

حدثنا أحمد بن عثمان بن حكيم، نا عبيد الله بن موسى نا إسماعيل بن سلمان الأزرق عن أنس بن مالك

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Utsman bin Hakiim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin Salman Al Azraaq dari Anas bin Malik –al hadits- [Bahr Az Zukhaar Musnad Al Bazzar 14/80]

Mari kita tunjukkan kemunafikan nashibi dalam berhujjah. Nashibi bisa dibilang tidak memiliki metode konsisten dalam ilmu hadis. Kebiasaan buruk mereka adalah menukil jarh perawi seenaknya untuk melemahkan hadis. Contohnya As Suddiy yang mereka nukil jarh-nya untuk melemahkan hadis Ath Thayr.

Lucunya mereka tidak sadar diri dalam berhujjah dengan hadis Al Bazzar di atas. Kalau kita menuruti cara nashibi yang seenaknya menukil jarh maka riwayat Al Bazzar pun bisa dilemah-lemahkan. Al Bazzar adalah Ahmad bin ‘Amru Al Hafizh Abu Bakar Al Bazzar ia juga diperbincangkan oleh Abu Ahmad Al Hakim dan Daruquthniy karena sering keliru dalam sanad dan matan hadis [Lisan Al Mizan juz 1 no 750] dan Adz Dzahabiy memasukkannya dalam Al Mughniy Adh Dhu’afa no 392

Kami pribadi tidak menolak riwayat Al Bazzaar di atas tetapi itu bukanlah hujjah bahwa Ubaidillah mengalami kekacauan dalam periwayatannya. Riwayat ini membuktikan bahwa Ubaidillah bin Musa memiliki lebih dari satu jalur periwayatan hadis Ath Thayr diantaranya adalah

  1. Ubaidillah bin Musa meriwayatkan dari Isa bin Umar Al Qaariy dari As Suddiy dari Anas [Tarikh Ibnu Asakir 42/254 & Sunan Tirmidzi no 3721]
  2. Ubaidillah bin Musa meriwayatkan dari Ismaiil bin Salman Al Azraaq dari Anas [Musnad Al Bazzaar 14/80 dan Tarikh Al Kabir Bukhari juz 1 no 1132]

Apalagi Ubaidillah bin Musa tidaklah menyendiri dalam meriwayatkan dari Isa bin Umar Al Qaariy dari As Suddiy dari Anas, ia memiliki mutaba’ah yaitu Mushr bin ‘Abdul Malik bin Sal’

حدثنا الحسن بن حماد حدثنا مسهر بن عبد الملك بن سلع ثقة حدثنا عيسى بن عمر عن إسماعيل السدي عن أنس بن مالك

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Mushr bin ‘Abdul Malik bin Sal’ tsiqat yang berkata telah menceritakan kepada kami Iisa bin Umar dari Isma’il As Suddiy dari Anas bin Malik-al hadits-[Musnad Abu Ya’la 7/105 no 4052]

Riwayat diatas sanadnya jayyid. Al Hasan bin Hammaad Al Warraaq adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/203]. Mushr bin ‘Abdul Malik terdapat perbincangan atasnya. Bukhari berkata “padanya ada sebagian hal yang perlu diteliti”. Abu Daud berkata “adapun Hasan bin Ali Al Khallaal aku melihat ia sangat memujinya sedangkan sahabat kami, aku melihat mereka tidak memujinya”. Nasa’i berkata “tidak kuat” Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Hasan bin Hammaad Al Warraaq menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 285].

Mushr bin ‘Abdul Malik telah dita’dilkan oleh Hasan bin Hammad Al Warraaq dan Hasan bin Aliy. Ibnu Hibban telah memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Hasan bin Hammad yang termasuk murid Mushr tentu lebih mengenal Mushr dibanding selainnya.

Adapun jarh terhadap Mushr adalah jarh mubham. Jarh Bukhari bukanlah termasuk jarh yang syadiid [pembahasan lafaz jarh Bukhari dapat dilihat disini] dan ia sendiri tidak memasukkan Mushr dalam kitabnya Adh Dhu’afa. Pernyataan Abu Daud soal “sahabat kami yang tidak memujinya” tidaklah menjadi hujjah untuk melemahkan karena tidak jelas siapa sahabat kami yang dimaksud Abu Dawud apakah tsiqat atau dhaif ataukah dapat dijadikan pegangan jarh-nya. Pernyataan Nasa’i “tidak kuat” bukan berarti dhaif tetapi itu berarti hadisnya tidak mencapai derajat shahih hanya mencapai taragf hasanul hadits. Pendapat yang rajih adalah Mushr bin ‘Abdul Malik seorang yang shaduq hasanul hadits.

Pendapat ini telah dinukil oleh sebagian ulama hadis. Al Iraqiy berkata tentang hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabraniy dimana didalam sanadnya ada Mushr bin ‘Abdul Malik “riwayat Ath Thabraniy dari hadis Ibnu Mas’ud dengan sanad yang hasan” [Mughniy An Haml Al Asfaar 1/25 no 78]. Ibnu Hajar juga berkata “sungguh telah dikeluarkan oleh Ath Thabraniy dengan sanad yang hasan dari hadis Ibnu Mas’ud” [Fath Al Bariy 11/477]. Al Mubarakfuriy juga menghasankan hadis Ath Thabraniy tersebut [Tuhfatul Ahwaziy 6/281]

.

.

Pernyataan sebagian ulama yang menolak hadis Ath Thayr dengan alasan tidak ada jalan sanad yang shahih dari Anas bukanlah hujjah jika ternyata terbukti ada riwayat shahih dari Anas. Seperti halnya Al Bazzaar yang mengatakan semua riwayat hadis ini dari Anas tidak kuat. Begitu pula dengan Al Khaliliy dan Al Bukhari. Riwayat As Suddiy dari Anas diatas memang tsabit dan ini menjadi hujjah untuk membatalkan pernyataan bahwa tidak ada perawi tsiqat yang meriwayatkan hadis Ath Thayr dari Anas. Perlu diketahui bahwa Ismail Al Azraaq bukan satu-satunya orang yang meriwayatkan hadis ini dari Anas jadi aneh sekali kalau hadis dari perawi lain dari Anas mesti dilemah-lemahkan dengan alasan hadis itu sebenarnya milik Ismail Al Azraaq.

Pernyataan Bukhari yang heran dan mengingkari riwayat As Suddiy dari Anas yang disebutkan Tirmidzi tidak menjadi hujjah karena bisa saja Bukhari menolak riwayat Tirmidzi karena ia tidak mengenal riwayat tersebut dari Ubaidillah bin Musa dan riwayat Tirmidzi itu bersumber dari Sufyan bin Waki’ dari Ubaidillah bin Musa dan Sufyan ini dhaif dalam pandangan Bukhari. Tetapi faktanya selain Sufyan bin Waki’ ternyata hadis Ath Thayr juga diriwayatkan oleh Hatim bin Laits seorang yang tsiqat tsabit dari Ubaidillah bin Musa dengan jalan As Suddiy dari Anas. Maka keheranan dan pengingkaran Bukhari itu hanya menunjukkan ketidaktahuannya.Yang tahu menjadi hujjah bagi yang tidak tahu, ini adalah kaidah dasar dalam ilmu.

Ada sebagian nashibi yang berkeras menyatakan bahwa riwayat As Suddiy di atas termasuk kemungkaran Ubaidillah bin Musa, ia salah dalam meriwayatkan sehingga perawi yang sebenarnya Ismail bin Salman Al Azraaq disebut dengan nama Ismail As Suddiy.

Pernyataan ini adalah pernyataan nashibi yang paling bodoh. Karena faktanya yang menyebutkan nama As Suddiy adalah Isa bin Umar Al Qaariy, dan yang meriwayatkan dari Isa bin Umar adalah Ubaidillah bin Musa dan Mushr bin Abdul Malik. Bagaimana mungkin dikatakan Ubaidillah bin Musa yang salah menyebutkan nama?.

Riwayat dengan penyebutan nama As Suddiy dari Anas jelas lebih kuat dari riwayat yang menyebutkan Ismail bin Salman Al Azraaq karena Ubaidillah bin Musa memiliki mutaba’ah dalam riwayat Isa bin Umar dari As Suddiy dari Anas sedangkan dalam riwayat Ismail Al Azraaq dari Anas, Ubaidillah bin Musa tafarrud dalam periwayatannya.

.

.

.

As Suddiy dalam periwayatannya dari Anas, tidaklah menyendiri. Ia memiliki mutaba’ah yaitu dari Utsman Ath Thawil dari Anas bin Malik. Dengan jalan sanad yang disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir

قال لي محمد بن يوسف حدثنا أحمد قال ثنا زهير قال ثنا عثمان الطويل عن أنس بن مالك

Telah berkata kepadaku Muhammad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman Ath Thawiil dari Anas bin Malik [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488].

Kedudukan hadis ini pun sudah kami bahas dalam tulisan ini. Disini kami hanya akan membantah syubhat nashibi terhadap sanad di atas. Nashibi melemahkan hadis ini dengan alasan Bukhari menyatakan “tidak diketahui bahwa Utsman mendengar dari Anas”.

Pernyataan ini tidaklah cukup untuk membuktikan sanad ini munqathi’ [terputus]. Nashibi tersebut memang tidak mengerti lafaz-lafaz dalam ilmu hadis. Lafaz Bukhari “tidaklah diketahui bahwa Utsman mendengar dari Anas” berbeda dengan lafaz “Utsman tidak mendengar dari Anas”. Lafaz pertama menunjukkan ketidaktahuan Bukhari karena ia tidak menemukan adanya riwayat Utsman mendengar langsung dari Anas. Dalam lafaz tersebut tidak ada Bukhari menafikan Utsman mendengar dari Anas. Ketidaktahuan Bukhari ini memang menjadi masalah bagi Bukhari karena ia sendiri menetapkan persyaratan shahihnya hadis harus ada bukti pertemuan antara dua orang perawi tidak cukup dengan lafaz ‘an anah. Dengan kata lain hadis mu’an an di sisi Bukhari tidak menjadi hujjah tetapi jumhur ulama hadis telah berhujjah dengan hadis mu’anan. Jadi pernyataan Bukhari itu tidak menjadi cacat bagi hadis tersebut.

Nashibi juga menyebutkan Syubhat lain bahwa Utsman Ath Thawil majhul. Pernyataan ini keliru. Utsman Ath Thawil telah disebutkan biografinya oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 6/173 no 950] dan Bukhari [Tarikh Al Kabir juz 6 no 2338]. Abu Hatim menyatakan “syaikh”. Lafaz “syaikh” di sisi ilmu hadis dan disisi Abu Hatim termasuk lafaz ta’dil yang ringan. Telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat diantaranya Syu’bah, ‘Anbasah dan Zuhair bin Mu’awiyah. Syu’bah dikenal sebagai perawi yang hanya meriwayatkan dari perawi yang tsiqat dalam pandangannya maka disini terdapat isyarat bahwa Syu’bah menta’dilkan Utsman Ath Thawil.

Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “melakukan kesalahan” [Ats Tsiqat juz 5 no 4352]. Lafaz yang dikatakan Ibnu Hibban menunjukkan bahwa perawi tersebut tidaklah majhul di sisi Ibnu Hibban, ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalam perawi tsiqat walaupun pernah melakukan kesalahan. Cukup banyak perawi yang dikatakan Ibnu Hibban dengan lafaz tersebut [dalam Ats Tsiqat] ia jadikan hujjah dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban. Perawi yang dinyatakan Ibnu Hibban dengan lafaz tersebut berarti ia seorang yang hadisnya tidak mencapai derajat shahih hanya mencapai derajat hasan.

Pendapat yang rajih dengan melihat keseluruhan keterangan diatas adalah Utsman Ath Thawil seorang yang shaduq hasanul hadits. Dan riwayatnya dari Anas bin Malik bisa diterima karena tidak ada keterangan ulama yang menyatakan bahwa ia tidak mendengar dari Anas bin Malik. ‘An anah perawi tsiqat dianggap muttasil sampai ada bukti yang menyatakan ia munqathi’ [terputus]

Nashibi juga melemahkan Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu Hasan Al Harraaniy dimana mereka mengutip Abu Hatim yang menyatakan ia dhaif. Pernyataan ini hanya gaya basi nashibi dalam berhujjah. Mereka sudah biasa mengutip jarh sesuka hati tanpa perlu meneliti kedudukan sebenarnya perawi tersebut.

Ahmad bin Yazid Abu Hasan Al Harraaniy termasuk perawi Bukhari dalam Shahih-nya. Nasa’i menyatakan ia orang Mesir yang tsiqat [Al Ikmal 1/41]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12038]. Abu Hatim dikenal sebagai ulama yang mutasyaddud dalam mencela perawi maka perkataannya harus ditimbang dengan perkataan ulama lain apalagi jarh-nya adalah jarh mubham. Disini ternukil bahwa Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat ditambah lagi Bukhari memasukkannya sebagai perawi dalam Shahih-nya. Maka pendapat yang rajih Ahmad bin Yazid Abu Hasan Al Harraaniy adalah seorang yang tsiqat minimal shaduq.

.

.

.

Hadis Ath Thayr juga diriwayatkan oleh Yahya bin Abi Katsir dari Anas bin Malik dengan sanad yang shahih hingga Yahya bin Abi Katsir. Berikut jalan sanadnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath Thabraniy

حدثنا أحمد قال حدثنا سلمة بن شبيب قال حدثنا عبد الرزاق قال أخبرنا الأوزاعي عن يحيى بن أبي كثير عن أنس بن مالك

Telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Auzaa’iy bin Yahya bin Abi Katsiir dari Anas bin Malik -al hadits- [Mu’jam Al Ausath Thabraniy 2/206 no 1744]

Para perawi hadis ini semuanya tsiqat. Ahmad adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdul Aziz bin Ja’d Abu Bakar Al Jauhariy. Daruquthni berkata “tidak ada masalah padanya”. Adz Dzahabiy berkata “syaikh tsiqat ‘alim” [Irsyad Al Qadhi no 192]. Salamah bin Syabiib termasuk perawi Muslim yang tsiqat [At Taqrib 1/377]. Abdurrazaaq bin Hammaam adalah hafizh tsiqat mengalami perubahan hafalan ketika usianya tua dan buta [At Taqrib 1/599]. Periwayatan Salamah bin Syabib dari ‘Abdurrazaaq diambil Muslim dalam kitab Shahih-nya. Al Auzaa’iy adalah perawi Bukhari Muslim yang faqih tsiqat [At Taqrib 1/584]. Yahya bin Abi Katsiir seorang perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit melakukan tadlis dan irsal [At Taqrib 2/313]. Mengenai tadlisnya, Ibnu Hajar memasukkannya dalam mudallis thabaqat kedua yang berarti riwayat ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab Shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 63].

Riwayat Yahya bin Abi Katsiir dari Anas bin Malik adalah mursal, ia pernah melihat Anas bin Malik tetapi tidak mendengar hadis darinya [Al Jarh Wat Ta’dil 9/141 no 599]. Jadi riwayat di atas lemah karena inqitha’ antara Yahya bin Abi Katsiir dan Anas bin Malik tetapi riwayat ini bisa dijadikan i’tibar. Apalagi Abu Hatim berkata tentang Yahya bin Abi Katsiir “Imam tidak meriwayatkan hadis kecuali dari perawi tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 9/142 no 599]. Maka disini terdapat qarinah yang menguatkan bahwa perawi antara Yahya bin Abi Katsiir dan Anas bin Malik adalah perawi tsiqat

.

.

Terdapat riwayat lain yang juga bisa dijadikan i’tibar yaitu dinukil oleh Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir dengan sanad Ishaaq bin Yusuf Al Azraaq dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Anas bin Malik [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488]. Riwayat Abdul Malik bin Abi Sulaiman ini juga disebutkan Ibnu Katsiir dengan menukil riwayat Ibnu Abi Hatim dari ‘Ammar bin Khalid Al Waasithiy dari Ishaaq Al Azraaq dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Anas [Al Bidayah 7/387-388].

Para perawinya tsiqat, Ishaaq bin Yusuf Al Azraaq adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat [At Taqrib 1/87], Abdul Malik bin Abi Sulaiman dinyatakan tsiqat oleh Ahmad dan Ibnu Ma’in. Ibnu ‘Ammar menyatakan tsiqat hujjah, Al Ijliy berkata “tsabit dalam hadis”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Tirmidzi berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 6 no 751] hanya saja riwayat Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Anas adalah mursal [Jami’ Al Tahsil fii Ahkam Al Maraasil no 470]

.

.

.

Anas bin Malik memiliki syahid yaitu dari Safinah maula Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana diriwayatkan oleh Ath Thabraniy dengan sanad berikut

حدثنا عبيد العجلي ثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري ثنا حسين بن محمد ثنا سليمان بن قرم عن فطر بن خليفة عن عبد الرحمن بن أبي نعم عن سفينة مولى النبي صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Ubaid Al Ijliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’id Al Jauhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Qarm dari Fithr bin Khalifah dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Safiinah maula Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] –alhadits- [Mu’jam Al Kabir 7/82 no 6437]

Kedudukan hadis ini juga telah dibahas dalam tulisan disini. Riwayat Safiinah ini para perawinya tsiqat kecuali Sulaiman bin Qarm, ia seorang yang diperbincangkan dan kedudukannya bisa dijadikan sebagai syawahid atau mutaba’ah atau hadisnya hasan dengan adanya penguat dari yang lain.

Sulaiman bin Qarm adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq dan perawi Muslim dalam Shahih-nya. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat [Aqwaal Ahmad 1066]. Ibnu Adiy berkata “ia memiliki hadis-hadis hasan” [Al Kamil Ibnu Adiy 8/182]. Ibnu Ma’in berkata “dhaif” [Tarikh Ad Duuri 2/234]. Abu Hatim menyatakan ia tidak kuat [Al Jarh Wat Ta’dil 4/597]. Nasa’i berkata “tidak kuat” [Ad Dhu’afa no 251]. Daruquthni menshahihkan hadisnya, itu berarti dalam pandangannya Sulaiman bin Qarm tsiqat [Sunan Daruquthniy 2/175 no 18]. Baihaqiy juga menshahihkan hadis Sulaiman bin Qarm, maka itu berarti dalam pandangannya Sulaiman seorang yang tsiqat [Sunan Baihaqiy 4/203 no 7705]. Al Bazzar berkata “tidak ada masalah padanya” [Musnad Al Bazzaar no 1516]. Adz Dzahabiy berkata “shalih al hadits” [Tarikh Al Islam 10/247].

Pendapat yang rajih tentang Sulaiman bin Qarm adalah ia seorang yang shaduq tetapi bermasalah dalam hafalan atau dhabitnya sehingga tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri tetapi hadisnya bisa dijadikan syawahid atau mutaba’ah. Inilah manhaj yang diambil Bukhari [secara ta’liq] dan Muslim terhadap Sulaiman bin Qarm sehingga mereka tetap mengambil hadisnya dalam kitab Shahih sebagai syawahid atau mutaba’ah.

Jadi jika ada nashibi yang mempermasalahkan kredibilitas Sulaiman bin Qarm maka memang benar ia diperselisihkan kedudukannya tetapi statusnya dalam hadis Ath Thayr ini adalah sebagai i’tibar yang menguatkan hadis-hadis Ath Thayr yang lain.

Sebagian nashibi menyebarkan syubhat lain mengenai hadis Safinah di atas yaitu kemungkinan keterputusan antara Fithr bin Khalifah dan Abdurrahman bin Abi Na’m. Abdurrahman wafat sebelum tahun 100 H dan Fithr tidak meriwayatkan dari para perawi sebelum tahun tersebut, bahkan Yahya bin Sa’id mengatakan ia tidak mendengar dari Atha’ dan Atha’ wafat tahun 114 H.

Pernyataan nashibi ini patut diberikan catatan, Ibnu Hajar dalam At Taqrib memang menyatakan Abdurrahman bin Abi Na’m wafat sebelum tahun 100 H [At Taqrib 1/593]. Tetapi Adz Dzahabi dalam As Siyaar berkata “wafat setelah tahun 100 H” [As Siyaar 5/63]

Perlu diketahui bahwa terminologi Ibnu Hajar soal tahun wafat dengan lafaz “wafat sebelum tahun 100 H” menunjukkan bahwa tidak diketahui tahun berapa pastinya ia wafat tetapi tidaklah berjauhan dari tahun 100 H. Ibnu Hajar dalam At Taqrib juga menyatakan bahwa Fithr bin Khalifah wafat setelah tahun 150 H [At Taqrib 2/16]. Ibnu Hajar memang tidak memastikan tahun berapa ia wafat tetapi lafaz Ibnu Hajar itu bermakna tidak jauh dari tahun 150 H. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Adz Dzahabiy dalam Al Kasyf bahwa Fithr wafat tahun 153 H [Al Kasyf no 4494].

Berdasarkan tahun wafat Fithr dan ‘Abdurrahman ini maka dapat disimpulkan kalau Fithr bin Khalifah menemui masa ‘Abdurrahman bin Abi Na’m. Terdapat riwayat shahih yang menyebutkan bahwa Fithr bin Khalifah pernah menemui Sa’id bin Jubair sebagaimana yang disebutkan Ibnu Sa’ad [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/276] dan Sa’id bin Jubair wafat sebelum tahun 100 H. Bahkan dalam At Tahdzib Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Fithr meriwayatkan dari ‘Amru bin Huraits dan ia wafat tahun 85 H. Hadis mu’an an perawi tsiqat yang semasa dianggap muttashil berdasarkan syarat Muslim dan inilah yang disepakati jumhur ulama hadis.

Fithr bin Khalifah tidak dikenal sebagai perawi yang melakukan tadlis dan irsal. Adapun pernyataan Yahya bin Sa’id bahwa ia tidak mendengar dari Atha’ adalah keliru karena terbukti dalam riwayat shahih [Ibnu Abi Syaibah] bahwa Fithr bin Khalifah mendengar dari Atha’ bin Abi Rabah [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 1/170 no 1951]. Fithr bin Khalifah juga dikenal mendengar dari salah seorang sahabat Nabi yaitu Abu Thufail [Musnad Ahmad 1/229 no 2029] dan Abu Thufail wafat tahun 110 H.

Cukuplah pernyataan Bukhari berikut sebagai hujjah yang membatalkan syubhat nashibi. Bukhari menyebutkan dalam biografi Fithr bin Khalifah

فطر بن خليفة مولى عمرو بن حريث الخياط الكوفي سمع أبا الطفيل وعمرو بن حريث المخزومي وعكرمة وعطاء روى عنه وكيع وأبو نعيم

Fithr bin Khalifah maula ‘Amru bin Huraits Al Khayyaath Al Kufiy mendengar dari Abu Thufail, ‘Amru bin Huraits Al Makhzuumiy, Ikrimah dan Atha’. Telah meriwayatkan darinya Waki’ dan Abu Nu’aim [Tarikh Al Kabir juz 7 no 625]

Bukhari menetapkan bahwa Fithr bin Khalifah mendengar dari ‘Amru bin Huraits Al Makhzuumiy dan ‘Amru bin Huraits wafat tahun 85 H maka sudah jelas Fithr bin Khalifah tidak ada masalah mendengar dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m.

Sebenarnya tidak ada alasan sedikitpun untuk menyatakan sanad tersebut terputus. Dengan kata lain jika nashibi ingin menyatakan sanad tersebut munqathi’ [terputus] maka ia harus membawakan bukti untuk itu bukannya berandai-andai dengan persangkaan yang tidak bernilai sebagai bukti.

.

.

.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat kita buat ringkasan hadis Ath Thayr yang sanadnya jayyid dan bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah

  1. Hadis As Suddiy dari Anas kedudukannya shahih dengan syarat Muslim [Muslim telah berhujjah dengan hadis As Suddy dari Anas]
  2. Hadis Utsman Ath Thawil dari Anas kedudukannya hasan karena Utsman seorang yang shaduq hasanul hadits
  3. Hadis Yahya bin Abi Katsir dari Anas kedudukannya shahih sampai Yahya dan lemah karena inqitha’ Yahya dari Anas. Bisa dijadikan i’tibar
  4. Hadis Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Anas kedudukannya lemah karena inqitha’ antara Abdul Malik dan Anas, bisa dijadikan i’tibar
  5. Hadis Safinah maula Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kedudukannya hasan dengan adanya penguat dari yang lain.

Kelima hadis di atas saling menguatkan maka tidak diragukan lagi bahwa hadis Ath Thayr kedudukannya Shahih. Tidak ada hujjah sedikitpun bagi nashibi pendengki untuk menyatakan hadis tersebut palsu. Silakan para pembaca perhatikan hadis-hadis yang kami bahas di atas tidak ada satupun perawi dalam sanad hadis tersebut yang kualitasnya sangat dhaif atau dikatakan pemalsu hadis. Jadi darimana datangnya tuduhan hadis Ath Thayr maudhu’, tidak lain hanya dari hawa nafsu dengki dan kebencian semata. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita dan menghancurkan kebusukan nashibi sehancur-hancurnya.

wahabi berusaha mempengaruhi warga nahdliyin, bahkan membajak masjid NU

Senin, 01 Oktober 2012 | 06:42:15 WIB

wahabi  berusaha mempengaruhi warga nahdliyin dengan membagikan brosur juga mengajak kiai masuk kelompok mereka. Bahkan para aktvis  wahabi masuk ke masjid masjid membagikan bulletin dan majalah serta buku. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran pembajakan oleh mereka. Kantong kantong NU berusaha diwahabikan, dalam hal ini HANYA SYi’AH lah yang melindungi NU. Syi’ah tidak mensyi’ahkan NU tetapi menolak wahabi menyusup ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, menurut Said, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

“Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau gitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh,” kata dia. Sebab itu, menurutnya ajaran Wahabi sangat berbahaya.

Bagaimana pandangan Said Aqil mengenai Wahabi, Terorisme dan Pemerintah Arab Saudi, kutipan wawancara yang dimuat Merdeka.com, Jumat (28/9/2012) ini menggambarkan secara jelas pandangan doktor alumni Iniversitas Ummul Quro’, Mekkah, tersebut.

Sejauh mana pengaruh asing membentuk radikalisme di Indonesia?

Kita awali dulu dari Timur Tengah. Dulu, begitu Anwar Sadat berkuasa di Mesir, tahanan kelompok Ikhwanul Muslimin dipenjara, semua dilepas. Mereka kebanyakan pintar, ahli. Setelah keluar dari tahanan, kebanyakan megajar di Arab Saudi. Di Arab mereka membentuk gerakan Sahwah Islamiyah atau kesadaran kebangkitan Islam. Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sudah prihatin, khawatir mereka menjadi senjata makan tuan.

Tapi, kebetulan pada 1980-an, Uni Soviet masuk ke Afghanistan. Pemerintah Arab menjaring, menampung anak-anak, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin, berjihad ke Afghanistan, termasuk Usamah Bin Ladin. Bin Ladin ini keluarga kaya, pemborong Masjidil Haram. Singkat cerita, setelah Soviet lari, kemudian bubar, Arab Saudi memanggil mereka kembali. Yang pulang banyak, yang tidak juga banyak.

Lalu Bin Ladin membentuk Al-Qoidah. Menurut mazhab Wahabi, membikin organisasi bid’ah. Maka Bin Ladin diancam kalau tidak pulang dicabut kewaranegaraannya. Sampai tiga kali dipanggil, tidak mau pulang, maka dicabutlah kewarganegaraanya. Nah, sekarang jadi sambung dengan cerita teroris di Indonesia. Di sini ada DITII, di sana ada Al-Qaiudah. Tapi saya heran, mereka ini berjuang atas nama Islam, tapi tidak pernah ada gerakan Al-Qaidah pergi ke Palestina.

Walau mengebom itu salah, saya heran, padahal mengatasnamakan demi Islam, tapi tidak pernah ada Al-Qaidah pergi ke Israil mengebom atau apalah. Yang dibom, malah Pakistan, Indonesia, dan Yaman. Kenapa tidak pergi ke Israil kalau memang benar-benar ingin berjihad. Walau saya sebenarnya juga tidak setuju kalau sekonyong-konyong mengebom Israel, itu biadab juga. Tapi artinya, kalau benar-benar ingin berjuang kenapa tidak ke Israel.

Lalu hubunganya dengan Indonesia?

Kemudian beberapa organisasi di Indonesia mulai tumbuh. Mohon maaf, ketika beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram.

Mereka mendirikan yayasan Wahabi. Tapi sebentar, jangan salah tulis, saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik.

Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras,

Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

Anda setuju Wahabi pembentuk radikalisme?

Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya.

Bisa dibilang ada persaingan antara Wahabi dan Sunni?

Ya jelas dong. Jadi mereka punya sistem, uang, dana, pelatih. Tapi sekali lagi jangan salah paham. Saya hormat kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz karena saya alumnus sana. Tapi saya menentang Wahabi.

Jadi sebatas perbedaan pendapat?

Ya, yang saya tentang Wahabi, bukan raja Arab Saudi. Karena duta besar Arab Saudi bilang saya ini mencaci Raja Arab. Itu salah.

Berapa pesantren beraliran Wahabi ini?

Setahu saya ada 12 pesantren, di antaranya Asshofwah, Assunnah, Al Fitrah, Annida. Pesantren seperti ini (Wahabi) lahirnya baru sekitar 1980-an.

BIODATA

Nama : Said Aqil Siroj
Tempat/Tanggal Lahir : Cirebon, 3 Juli 1953
Hobi : Membaca, ibadah, silaturrahmi
Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

Pendidikan:
S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

Pendidikan Non-Formal:
Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

Pengalaman Organisasi:
Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
Wakil Katib ‘Aam PBNU (1994-1998)
Katib ‘Aam PBNU (1998-1999)
Penasihat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
Penasihat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
Penasihat PMKRI (1999-sekarang)
Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
Ketua PBNU (2004-sekarang)
Ketua Majelis Wali Amanat UI, (2012-sekarang)

Kegiatan:
Tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
Penasihat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2010-2015.

Unta

Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazai Said, MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan Islam radikal. Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah.

Ia selain banyak menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras juga bertahun-tahun studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar Mesir, sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian ia melanjutkan ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif sebagai Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Kalau kelompok Salafy?

Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) yang sekarang menjadi Lembaga Ilmu Keislaman cabang dari Jamiatul Imam Riyadh. Ini dibiayai dari sana sangat besar. Sebenarnya orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red), Imdad dan sebagainya  alumni LPBA ini. Lah, mereka ketemu dengan Rofik Munawar yang dulu ketua PKS Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga teman Ulil di LPBA. Mereka dulu alumni situ. Hanya saja ada yang kemudian terbawa dan larut dalam salafy seperti Anis Mattta, tapi ada yang nggak, ya kayak Ulil itu. Kalau Anis  Matta terbawa Salafy tapi pola politiknya ikut Ikhwanul Muslimin.

Kelompok Salafy ini sangat puritan. Jadi tahlilan, dibaan, ziarah kubur, mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu syirik. Nah, disinilah, dalam bidang peribadatan itu, kelompok PKS ketemu dengan Salafy.

Sedang orang-orang seperti Ulil, Imdad dan anak-anak pesantren yang sekolah di LPBA melakukan pemberotakan. Mereka menganggap (paham Salafy) itu tak cocok dengan budaya saya (Ulil cs) yang NU. Akhirnya mereka melanjutkan ke ilmu-ilmu filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk belajar ke Magnez Suseno di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi dengan Nurcholis Madjid, ketika Nurcholis masih ada (hidup). Nah, dalam diri Ulil cs ini kemudian terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola radikal (Salafy), ketemu dengan ilmu-ilmu sosial, ketemu dengan Nurcholis Madjid, ketemu dengan Gus Dur dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari berbagai unsur itu sehingga jadilah orang seperti Ulil, Hamid Basyaib, Luthfi Syaukani, Muqsith dan sebagainya.

Apa ada kesamaan dalam soal simbol-simbol pakaian di antara mereka?

Ya, memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut Tahrir, Tarbiah (PKS) maupun Salafy. Misalnya pakai celana cingkrang, berjenggot dan sebagainya. Tapi semua kelompok ini sama menyerang NU.

Bisa dijelaskan soal NU dalam konteks negara nasional?

NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi jihad Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara agama. Karena saat itu kalimat menjalankan syariat Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang lagi akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad. Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara “sekuler” kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim Asy’ari itu pelopor pertama.

Apa kira-kira dasar pemikirannya?

Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran internasional seperti orang-orang yang menginginkan sistem kahalifah kontroversi. Perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya, seluruhnya selalu terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah

Jadi pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan. Ini asalnya kan diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab perempuan yang tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus Sulthon. Padahal hadits as-sultonu waliyu man laa waliya lah. Sulthon itu adalah wali bagi orang yang tak punya wali. Kalau Sulthon ini tidak diberi legitimasi sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh maka negara walau sekuler harus diakui sah menurut syariah. Nah, cara berpikir ini saya kira cerdas. Kalau nggak gimana. Sulthon itu siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan diri ke situ. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian disalahpahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi. Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.

Faktor lain?

Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo sedang mengadakan pemberontakan. Nah, pemberian gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah itu sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan pemberontakan itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada fiqh urusan perkawinan tadi itu, bukan  pada fiqh siyasahnya (politik). Selanjutnya perjuangan NU terus berkait dengan negara nasionalisme. Ini yang harus dipahami oleh kelompok-kelompok baru ini seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya itu

.Senin, 13/07/2009 13:43

Salah satu kitab kuning karya ulama besar Nusantara Syekh KH Ihsan bin Dahlan dari Jampes Kediri, Sirajut Thalibin, dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon demi kepentingan wahabi. Nama pengarangnya diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi.Penggantian nama pengarang ini kemungkinan karena kesalahan dari penerbit. Namun bisa jadi disengaja karena nama pengarang di dalam halaman pengantar kitab ini juga diganti. Tidak hanya itu, sambutan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang. Sementara keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis.Pembacakan telah terjadi sejak 2006 yang lalu dan baru diketahui setelah kitab ini tersebar di Indonesia. Informasi pembacakan ini diperoleh dari salah seorang alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (Formal) di Jakarta juga telah melakukan pengecekan ulang, dan ternyata memang terjadi pembajakan karya di bidang tasawuf yang sudah mendunia ini.

NU Online telah membandingkan kitab terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah dengan kitab asal yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga di Beirut Lebanon. Nama Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Kadiri atau di kalangan pesantren lebih dikenal dengan Kiai Ihsan Jampes diganti dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Dalam halaman pengantar, nama Syeih Ihsan Jampes di paragraf kedua juga diganti, dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1886. Sementara keseluruhan isi dalam pengantar itu, bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal.

Penerbit juga membuang taqridhah atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asy’ary Jombang dan Syekh KH Abdur Rahman bin Abdul Karim Kediri dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah Kediri.

Diduga pembajakan dengan mengganti nama pengarang ini hanya untuk kepentingan pasar. ”Nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan mungkin lebih dikenal terutama oleh masyarakat Arab,” kata Abdur Rosyid, pengurus Formal yang juga bekerja di salah saru penerbitan Islam di Jakarta.

Di berbagai pondok pesantren di Indonesia nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan pun tidak asing lagi. Syekhi Ahmad Zaini Dahlan terutama dikenal sebagai pengarang Kitab Syarah Jurumiyah, kitab dasar di bidang ilmu nahwu. Kitab Jurumiyah ini hampir pasti dipelajari oleh para santri yang memulai pendidikan di pesantren.

Kitab Sirajut Thalibin adalah syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Sirajut Thalibin ini sempat mendapatkan pujian luas dari ulama Timur Tengah dan kini menjadi referensi utama para mahasiswa di Mesir dan negara-negara Timur Tengah yang lain. Menurut Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum muslimin di Afrika dan Amerika.

Unta

Biadab !
.
Milik  orang dirampok dengan alasan dakwah !!!
.
Syi’ah  berdakwah  melalui  wacana – debat dan dialog ilmiah..
.
Tetapi wahabi berdakwah dengan cara anarkhis dan merampok..
.
.
Mereka membantah ???
.
Pesantren wahabi berdiri dimana mana dalam tempo cepat ?? duit darimana ??
.
Majalah, web web, VCD, buku buku wahabi  merajalela duit darimana ???
.
Ustad Ustad wahabi berfoya foya dengan uang saudi, jamaah disuruh jualan madu..
.
Dakwah kok demi  uang
.
…………………………………………………………………….
29/12/2010  jam 08:52

Warga NU Bali Gelar Pelatihan Antisipasi Wahabi dan Salafi Denpasar, NU Online

.
Sejak beberapa tahun belakangan, serangan kaum Salafi atau Wahabi terhadap warga Nahdliyyin di Provinsi Bali sangat gencar, baik melalui media cetak seperti penyebaran buku-buku, maupun melalui dakwah secara langsung seperti khotbah Jum’at, pengajian, seminar dan lain-lain.

Tidak sedikit, kaum Salafi yang berhasil menjadi khotib Jum’at di masjid-masjid dan musholla yang didirikan oleh kaum Nahdliyyin, berulah. Bahkan tidak jarang ulah kaum Salafi tersebut sangat berlebihan, seperti merubah tata cara ibadah yang telah berlangsung sejak lama, seperti melarang adzan dua kali dalam shalat Jum’at, melarang shalat qabliyah Jum’at, melarang tahlilan, maulid nabi dan lain sebagainya.

Hal tersebut akhirnya memotivasi Dewan Pengurus Wilayah Forum Silaturrahmi Masjid dan Musholla Indonesia (DPW Fahmi Tamami), Provinsi Bali, yang diketuai H Hadi Sutrisno, untuk mengadakan pelatihan aswaja di masjid-masjid dan musholla-musholla kaum nahdliyyin se wilayah Denpasar dan sekitarnya.

Pelatihan aswaja sebagai upaya untuk membentengi dan penguatan ideologi dan ajaran ahlussunnah wal jama’ah bagi warga nahdliyyin di provinsi Bali tersebut, dilaksanakan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, didatangkan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, dari Lembaga Bahtsul Masail NU Jember, untuk mengisi internalisasi dan penguatan aswaja bagi warga nahdliyyin dengan acara diskusi dan dialog terbuka di 12 masjid dan musholla di Bali.

Acara tahap pertama tersebut diadakan pada tanggal 21 Juli 2010 sampai 27 Juli 2010.

Tidak jarang, dalam acara seminar dan dialog tersebut, didatangkan pula tokoh-tokoh Salafi untuk melakukan dialog publik di hadapan warga nahdliyyin. Namun sayang sekali, sebagian besar tokoh Salafi tidak siap hadir dalam acara dialog tersebut.

Sebagian dialog dengan tokoh Salafi dalam acara tersebut telah didokumentasikan oleh Ustadz Idrus, pengurus LTN PWNU Jawa Timur tersebut, dalam buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi, terbitan Bina Aswaja Surabaya, Desember 2010.

Dalam acara dialog terbuka selama satu minggu tersebut, Ustadz Idrus menyajikan materinya dari buku-buku LBM NU Jember seperti buku Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik, buku Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?, dan buku Membedah Bid’ah dan Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits dan Ulama Salafi, terbitan Khalista 2010.

Pada tahap kedua, DPW Fahmi Tamami melalui Lembaga Dakwahnya, yang diketuai H Imam Asrori dan Ust Sholehan Nur, mengadakan pelatihan aswaja dengan fokus Latihan Berdebat Dengan Salafi, selama dua hari, yaitu 25 s/d 26 Desember 2010 kemarin, dan bertempat di Musholla Yayasan Marga Utama, Renon Denpasar.

Acara pelatihan tersebut, diikuti oleh 50 peserta dari kalangan Kiai dan Asatidz yang mewakili masjid dan mushalla di Profinsi Bali. Dalam acara pelatihan debat ini, Ustadz Idrus menyajikan materinya dengan buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi.

Sebagai hasil dari pelatihan tahap kedua, peserta yang hadir bersepakat membentuk forum kajian aswaja setiap bulan, dengan peserta yang mewakili seluruh masjid dan musholla di bawah DPW Fahmi Tamami Bali. Forum tersebut akan melakukan kajian aswaja secara rutin setiap bulan, dengan visi dan misi advokasi aswaja bagi kaum nahdliyyin yang diusik oleh kaum Salafi dan melindungi aset NU dari ancaman Salafi.

…………………………………………………………………………..

2007

Kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak aman. Sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga (Nahdlatul Ulama) NU dengan alasan bid’ah dan beraliran sesat.

“Saya mendapat laporan, masjid-masjid milik warga NU, terutama di daerah-daerah banyak yang diambilalih oleh kelompok yang mengklaim dirinya paling Islam. Alasannya, karena NU dianggap ahli bid’ah dan beraliran sesat,” demikian diungkapkan Ketua PBNU Masdar F Mas’udi kepada wartawan di Kantor Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Rabu (24/5/2007)

Pengambilahan yang dimaksud, kata Masdar, berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin (sebutan untuk warga NU). Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Tak tanggung-tanggung. Meski tak menyebut detil, Masdar mengatakan, jumlah masjid milik warga NU yang diambilalih mencapai ratusan. “Banyak, hampir semua. Saya kira ratusan,“ katanya.

Masdar menambahkan, memang tidak ada label NU pada masjid-masjid yang dimaksud. Namun, tidak sedikit masjid-masjid tersebut dibangun bersama-bersama oleh warga NU, dan itu adalah merupakan hak warga NU.

“Warga NU memang tidak pernah memberikan pelabelan terhadap masjid yang dibangun bersama. Hal itu merupakan kelongggaran warga NU terhadap warga yang lain. Tapi kelonggaran itu dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang mengklaim dirinya paling Islam,“ terang Masdar.

Meski tidak menjelaskan secara detil identitas kelompok di balik semuanya, namun Masdar mensinyalir hal itu dilakukan oleh kelompok garis keras. “Saya kira kelompok-kelompok fundamentalis itu,“ tandasnya.

Masdar menyerukan kepada warga nahdliyyin untuk mengambil kembali masjid-masjid tersebut. Karena masjid-masjid tersebut merupakan hak NU. “Warga NU harus mengambil haknya,“ katanya.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa NU tidak akan membalas aksi pengambilalihan tersebut dengan cara kekerasan. “Kita tidak akan menyerang, tidak akan menyerbu orang lain. Yang jelas kita akan ambil apa yang menjadi hak kita,“ tegasnya.
Genderang perang mulai ditabuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghadapi gerakan dari kelompok Islam garis keras yang muncul akhir-akhir ini. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini siap melayani ‘tantangan’ kelompok Islam radikal yang sudah sangat meresahkan warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) itu.

Pada Sabtu (25/2) lalu, Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) mengeluarkan maklumat yang berisi tentang peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini dijalankan oleh warga nahdliyin. Sebanyak 8 ketua Pengurus Wilayah LDNU se-Indonesia menandatangani maklumat yang merupakan respon atas tuduhan sesat terhadap ajaran dan amaliyah NU itu.

“…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (al-harakah al-islamiyyah) melalui praktek-praktek keagamaan yang dapat melunturkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU, maka dengan ini kami menyatakan: …Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU, melestarikan praktek-praktek dan tradisi keagamaan salafush shalih; sepert salat-salat sunnat, salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, maulid Nabi, haul, dan istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU,” demikian salah satu poin dalam maklumat tersebut.

Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada NU Online menyatakan, gerakan kelompok garis keras itu sudah melewati batas toleransi. Karena mereka tidak lagi sebatas mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyin, melainkan sudah berani menghasut dan menuduh NU adalah sesat.

“Masjid-masjid NU mulai diambilalih. Muncul banyak buku-buku yang menghujat ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU. Salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, maulid Nabi, istighotsah dan lain-lain dianggap ajaran sesat. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” terang Kiai Nuril di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (27/2).

Apalagi, lanjut Kiai Nuril, gerakan mereka sudah sangat luas dan hampir merata di seluruh daerah, tidak hanya daerah yang berbasis nahdliyin. Jika NU tak segera mengambil sikap tegas, maka bukan mustahil tradisi keagamaan yang dijalankan warga nahdliyin selama ini akan hilang.

Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, menurut Kiai Nuril, adalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir, kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia sebagai negara Islam.

Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Aswaja ala NU, dalam maklumat tersebut juga ditegaskan bahwa NU tetap pada komitmennya untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ditambahkan Kiai Nuril, sebagai tindak lanjut atas maklumat tersebut, setiap PW LDNU se-Indonesia akan menguatkan barisan dalam rangka menghadapi gerakan kelompok Islam garis keras tersebut. “Kita sudah tetapkan ada lima zona konsolidasi NU. Antara lain, zona Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan. Masing-masing zona ini akan menghimpun dan mengkonsolidasikan seluruh PW LDNU di provinsi yang berada di wilayahnya,” jelasnya.

Keberadaan zona-zona tersebut, kata Kiai Nuril, diharapkan dapat menata dengan rapih gerakan dakwah NU di daerah-daerah. Dengan demikian, masjid-masjid NU serta ajaran dan amaliyah NU dapat terjaga. “Walaupun berbeda prinsip, tapi kita ingin sama-sama saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Tidak ada lagi tuduhan bahwa NU adalah sesat dan sebagainya,” pungkasnya

itu terjadi di mana?, di kampung-kampung kami juga banyak mas masjid NU yang di rebut, terutama di daerah pinggiran dimana kebanyakan warganya lugu-lugu.. kalo wahabi merebut masjid orang yang dianggap syirik atau kafir itu biasa, malah dianggap “jihad”. beberapa peninggalan Islam zaman Nabi saw banyak yang di rusak di Saudi Arabia bahkan dijadikan tempat parkir. ironisnya barang-barang mewah peninggalan raja saudi macam kendaraan (mobil dll) malah disimpan di musium.. kalo anda pergi haji atau umroh, film-film dukumentasi seperti itu ditayangkan di pesawat milik maskapai Saudi “Saudia Airline”

tentang pengabilan mesjid2 nu saya tidak setuju itu rumah tuhan tapi yg lebih saya takuti klo ajaran2 garis keras itu bisa mengkafirkan orang dg ajaran2anya itu yg bahaya.klo blh saya usul hati2 lah wahai orang2 muslim. islam akan hancur oleh orang2 islam yg mngaku islam yg menggunakan qur’an dan hadis apalgi yg sudah memfitnah dan mau memecah belah negara,hrsnya kita sadar negara islam blm tentu bisa mensejahterakan negaranya,klo yg terjadi fitnah gmana?hrsnya kita bersyukur hidup di negara yg mayoritas 80% muslim,saya netral saya dari pesantren tebu-ireng.dan saya cuma bisa berusaha utk membantu menyadarkan orang2 agar lebih ati2 dg ajaran2 yg di masuki sifat2 dajjal.smoga allah swt menjaga qur’an dan hadis dari2 orang2 kafir dan memberi hidayah supaya orang2 kafir yg menggunakan al-quran segera sadar dan mengerti apa itu islam

   Hadapi Wahabi, Kyai NU Cirebon Rapatkan Barisan

Selasa, 27 Mei 2008 14:00 AM
.
Para kiai pesantren yang tergabung dalam Ulama NU se-Kab. Cirebon, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia agar mewaspadai gerakan keagamaan baru dari luar
Para kiai juga meminta umat Islam terutama warga nahdhiyin agar berhati-hati terhadap agenda gerakan transnasional, yang membawa misi aliran Wahabi dari Arab Saudi yang ingin menggeser tradisi keagamaan NU dengan budaya mereka sendiri. Sebab mereka yang anti tradisi NU itu melakukannya melalui berbagai cara, mislnya dengan mensyurukkan, memuratdkan dan mengkafirkan budaya keagamaan NU
.
Demikian beberapa butir hasil pertemuan Saresehan Kiai NU se Kab. Cirebon, Minggu (25/5) di Pondok Pesantren Khatulistiwa, Kempek, Kec. Gempol. Hadir dalam pertemuan itu antara lain KH. Syarif Utsman Yahya (Kempek Ciwaringin), KH. Syarif Hud Yahya (Babakan Ciwaringin), KH. Rahmatullah dan KH. Mughni (Tegal Gubug), KH. Mansur (Jagapura Gegesik), KH. Haris Jauhari (Susukan), KH. Ibrahim Rozi (Weru), KH. Zahid Hidayat (Plered), KH. Doim (Kapetakan), KH. Hamidin (Gunung Djati), KH. Mahfudz Bakri (Kasepuhan). Selanjutnya dari wilayah Timur, KH. Faizin Adnan dan KH. Zuhdi (Losari), KH. Hasanuddin Kriyani (Buntet), KH. Ridwan Sufyan (Pabedilan), serta para aktifis NU lainnya
.
Menurut pengasuh pesantren Khatulistiwa Kempek yang juga penggagas pertemuan saresehan, KH. Syarif Utsman Yahya, umat Islam harus menyatukan langkah dan gerak dalam menghadapi kenyataan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia
.
Pihaknya berharap, agar golongan trans-nasional yang membawa misi wahabi itu menghormati pluralitas atau kemajemukan di Indonesia. Keragaman keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Makanya, satu sama lain harus saling menghargai sebab sama-sama bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah seperti serta para sahabat Nabi
.
“Jadi jangan saling mengkafirkan, memurtadkan dan mengklaim syirik golongan lain. Kalau tak suka jangan mengecam dan menjelek-menjelekkan, jalani ibadah versi keyakinan masing-masing. Selanjutnya jangan suka mengklaim atas nama umat Islam. Padahal, umat Islam di Indonesia sangat beragam pahamnya. Kita harus menghargai kebudayaan bagaimana nusantara sebagai basis kebangsaan. Tradisi NU sudah puluhan tahun, moso mau digeser dengan budaya kaum wahabi yang baru beberapa tahun datang ke Indonesia”, tandasnya.

Awas! Kantong NU Disusupi Kelompok Wahabi Radikal

Agustus 11, 2009 oleh   

Jember, NU Online
Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan berlipat saat ini dibandingkan tahun 1984. Salah satunya adalah tantangan dari kelompok Islam Wahabi radikal yang menyusup ke kantong-kantong NU.

Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Ketua Pengurus Besar NU, KH Masdar Farid Mas’udi, dengan sejumlah petinggi NU cabang Jember, Kencong, dan Lumajang, di Pondok Pesantren Al Amin Ambulu, Senin (10/8).Masdar menganggap pertemuannya dengan sejumlah petinggi NU itu tidak ada yang istimewa. Diwawancarai beritajatim.com usai pertemuan, ia mengatakan, jika NU bertekad kembali ke khittah, maka sesungguhnya tekad itu harus berlipat ganda.

“Tahun 1984 tantangan NU hanya satu: tidak disukai penguasa. Kalau sekarang, tantangannya dari atas, samping kiri-kanan, dan dari bawah,” kata Masdar.

Dari atas, menurut Masdar, ada perebutan kekuasaan yang terus terjadi dari waktu ke waktu, yang menyeret NU untuk berpolitik praktis. Politik praktis sendiri, kata dia, “tend to corrupt (cenderung korup). Karena menjejaki politik praktis, NU kemasukan penyakit money politics. Kalau NU kemasukan penyakit money politics, lalu siapa yang diandalkan menjadi guru moral dan akhlak?.”

Dari samping, NU menghadapi tantangan dari kelompok fundamentalisme radikal. Kelompok ini menyusup ke kantong-kantong NU. “Banyak masjid NU dikuasai dan disusupi,” kata Masdar bernada prihatin.

Bagaimana mereka bisa masuk? Masdar mengatakan, kelompok radikal masuk melalui masjid. “Masjid itu kan kantong umat. NU mengambil jarak dan tak begitu care (peduli) dengan umat. NU harus sungguh-sungguh ngopeni (memelihara) umat,” katanya.

Sementara itu, NU justru menghadapi tantangan dari umatnya sendiri. Umat sudah tidak lagi memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap para kiai. “Terakhir mengarahkan NU untuk mendukung Si A, ternyata umat mendukung Si B. Pimpinan NU ditinggal sendirian sama umatnya,” kata Masdar.

Masdar berpendapat, perlu ada upaya sungguh-sungguh untuk mengembalikan NU ke jati diri sebagai organisasi yang melayani umat.

ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj

Senin, 01 Oktober 2012 | 06:42:15 WIB

wahabi  berusaha mempengaruhi warga nahdliyin dengan membagikan brosur juga mengajak kiai masuk kelompok mereka. Bahkan para aktvis  wahabi masuk ke masjid masjid membagikan bulletin dan majalah serta buku. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran pembajakan oleh mereka. Kantong kantong NU berusaha diwahabikan, dalam hal ini HANYA SYi’AH lah yang melindungi NU. Syi’ah tidak mensyi’ahkan NU tetapi menolak wahabi menyusup ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, menurut Said, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

“Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau gitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh,” kata dia. Sebab itu, menurutnya ajaran Wahabi sangat berbahaya.

Bagaimana pandangan Said Aqil mengenai Wahabi, Terorisme dan Pemerintah Arab Saudi, kutipan wawancara yang dimuat Merdeka.com, Jumat (28/9/2012) ini menggambarkan secara jelas pandangan doktor alumni Iniversitas Ummul Quro’, Mekkah, tersebut.

Sejauh mana pengaruh asing membentuk radikalisme di Indonesia?

Kita awali dulu dari Timur Tengah. Dulu, begitu Anwar Sadat berkuasa di Mesir, tahanan kelompok Ikhwanul Muslimin dipenjara, semua dilepas. Mereka kebanyakan pintar, ahli. Setelah keluar dari tahanan, kebanyakan megajar di Arab Saudi. Di Arab mereka membentuk gerakan Sahwah Islamiyah atau kesadaran kebangkitan Islam. Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sudah prihatin, khawatir mereka menjadi senjata makan tuan.

Tapi, kebetulan pada 1980-an, Uni Soviet masuk ke Afghanistan. Pemerintah Arab menjaring, menampung anak-anak, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin, berjihad ke Afghanistan, termasuk Usamah Bin Ladin. Bin Ladin ini keluarga kaya, pemborong Masjidil Haram. Singkat cerita, setelah Soviet lari, kemudian bubar, Arab Saudi memanggil mereka kembali. Yang pulang banyak, yang tidak juga banyak.

Lalu Bin Ladin membentuk Al-Qoidah. Menurut mazhab Wahabi, membikin organisasi bid’ah. Maka Bin Ladin diancam kalau tidak pulang dicabut kewaranegaraannya. Sampai tiga kali dipanggil, tidak mau pulang, maka dicabutlah kewarganegaraanya. Nah, sekarang jadi sambung dengan cerita teroris di Indonesia. Di sini ada DITII, di sana ada Al-Qaiudah. Tapi saya heran, mereka ini berjuang atas nama Islam, tapi tidak pernah ada gerakan Al-Qaidah pergi ke Palestina.

Walau mengebom itu salah, saya heran, padahal mengatasnamakan demi Islam, tapi tidak pernah ada Al-Qaidah pergi ke Israil mengebom atau apalah. Yang dibom, malah Pakistan, Indonesia, dan Yaman. Kenapa tidak pergi ke Israil kalau memang benar-benar ingin berjihad. Walau saya sebenarnya juga tidak setuju kalau sekonyong-konyong mengebom Israel, itu biadab juga. Tapi artinya, kalau benar-benar ingin berjuang kenapa tidak ke Israel.

Lalu hubunganya dengan Indonesia?

Kemudian beberapa organisasi di Indonesia mulai tumbuh. Mohon maaf, ketika beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram.

Mereka mendirikan yayasan Wahabi. Tapi sebentar, jangan salah tulis, saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik.

Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras,

Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

Anda setuju Wahabi pembentuk radikalisme?

Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya.

Bisa dibilang ada persaingan antara Wahabi dan Sunni?

Ya jelas dong. Jadi mereka punya sistem, uang, dana, pelatih. Tapi sekali lagi jangan salah paham. Saya hormat kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz karena saya alumnus sana. Tapi saya menentang Wahabi.

Jadi sebatas perbedaan pendapat?

Ya, yang saya tentang Wahabi, bukan raja Arab Saudi. Karena duta besar Arab Saudi bilang saya ini mencaci Raja Arab. Itu salah.

Berapa pesantren beraliran Wahabi ini?

Setahu saya ada 12 pesantren, di antaranya Asshofwah, Assunnah, Al Fitrah, Annida. Pesantren seperti ini (Wahabi) lahirnya baru sekitar 1980-an.

BIODATA

Nama : Said Aqil Siroj
Tempat/Tanggal Lahir : Cirebon, 3 Juli 1953
Hobi : Membaca, ibadah, silaturrahmi
Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

Pendidikan:
S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

Pendidikan Non-Formal:
Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

Pengalaman Organisasi:
Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
Wakil Katib ‘Aam PBNU (1994-1998)
Katib ‘Aam PBNU (1998-1999)
Penasihat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
Penasihat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
Penasihat PMKRI (1999-sekarang)
Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
Ketua PBNU (2004-sekarang)
Ketua Majelis Wali Amanat UI, (2012-sekarang)

Kegiatan:
Tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
Penasihat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2010-2015.

Unta

Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazai Said, MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan Islam radikal. Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah.

Ia selain banyak menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras juga bertahun-tahun studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar Mesir, sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian ia melanjutkan ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif sebagai Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Kalau kelompok Salafy?

Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) yang sekarang menjadi Lembaga Ilmu Keislaman cabang dari Jamiatul Imam Riyadh. Ini dibiayai dari sana sangat besar. Sebenarnya orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red), Imdad dan sebagainya  alumni LPBA ini. Lah, mereka ketemu dengan Rofik Munawar yang dulu ketua PKS Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga teman Ulil di LPBA. Mereka dulu alumni situ. Hanya saja ada yang kemudian terbawa dan larut dalam salafy seperti Anis Mattta, tapi ada yang nggak, ya kayak Ulil itu. Kalau Anis  Matta terbawa Salafy tapi pola politiknya ikut Ikhwanul Muslimin.

Kelompok Salafy ini sangat puritan. Jadi tahlilan, dibaan, ziarah kubur, mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu syirik. Nah, disinilah, dalam bidang peribadatan itu, kelompok PKS ketemu dengan Salafy.

Sedang orang-orang seperti Ulil, Imdad dan anak-anak pesantren yang sekolah di LPBA melakukan pemberotakan. Mereka menganggap (paham Salafy) itu tak cocok dengan budaya saya (Ulil cs) yang NU. Akhirnya mereka melanjutkan ke ilmu-ilmu filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk belajar ke Magnez Suseno di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi dengan Nurcholis Madjid, ketika Nurcholis masih ada (hidup). Nah, dalam diri Ulil cs ini kemudian terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola radikal (Salafy), ketemu dengan ilmu-ilmu sosial, ketemu dengan Nurcholis Madjid, ketemu dengan Gus Dur dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari berbagai unsur itu sehingga jadilah orang seperti Ulil, Hamid Basyaib, Luthfi Syaukani, Muqsith dan sebagainya.

Apa ada kesamaan dalam soal simbol-simbol pakaian di antara mereka?

Ya, memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut Tahrir, Tarbiah (PKS) maupun Salafy. Misalnya pakai celana cingkrang, berjenggot dan sebagainya. Tapi semua kelompok ini sama menyerang NU.

Bisa dijelaskan soal NU dalam konteks negara nasional?

NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi jihad Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara agama. Karena saat itu kalimat menjalankan syariat Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang lagi akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad. Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara “sekuler” kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim Asy’ari itu pelopor pertama.

Apa kira-kira dasar pemikirannya?

Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran internasional seperti orang-orang yang menginginkan sistem kahalifah kontroversi. Perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya, seluruhnya selalu terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah

Jadi pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan. Ini asalnya kan diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab perempuan yang tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus Sulthon. Padahal hadits as-sultonu waliyu man laa waliya lah. Sulthon itu adalah wali bagi orang yang tak punya wali. Kalau Sulthon ini tidak diberi legitimasi sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh maka negara walau sekuler harus diakui sah menurut syariah. Nah, cara berpikir ini saya kira cerdas. Kalau nggak gimana. Sulthon itu siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan diri ke situ. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian disalahpahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi. Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.

Faktor lain?

Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo sedang mengadakan pemberontakan. Nah, pemberian gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah itu sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan pemberontakan itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada fiqh urusan perkawinan tadi itu, bukan  pada fiqh siyasahnya (politik). Selanjutnya perjuangan NU terus berkait dengan negara nasionalisme. Ini yang harus dipahami oleh kelompok-kelompok baru ini seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya itu

.Senin, 13/07/2009 13:43

Salah satu kitab kuning karya ulama besar Nusantara Syekh KH Ihsan bin Dahlan dari Jampes Kediri, Sirajut Thalibin, dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon demi kepentingan wahabi. Nama pengarangnya diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi.Penggantian nama pengarang ini kemungkinan karena kesalahan dari penerbit. Namun bisa jadi disengaja karena nama pengarang di dalam halaman pengantar kitab ini juga diganti. Tidak hanya itu, sambutan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang. Sementara keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis.Pembacakan telah terjadi sejak 2006 yang lalu dan baru diketahui setelah kitab ini tersebar di Indonesia. Informasi pembacakan ini diperoleh dari salah seorang alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (Formal) di Jakarta juga telah melakukan pengecekan ulang, dan ternyata memang terjadi pembajakan karya di bidang tasawuf yang sudah mendunia ini.

NU Online telah membandingkan kitab terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah dengan kitab asal yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga di Beirut Lebanon. Nama Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Kadiri atau di kalangan pesantren lebih dikenal dengan Kiai Ihsan Jampes diganti dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Dalam halaman pengantar, nama Syeih Ihsan Jampes di paragraf kedua juga diganti, dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1886. Sementara keseluruhan isi dalam pengantar itu, bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal.

Penerbit juga membuang taqridhah atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asy’ary Jombang dan Syekh KH Abdur Rahman bin Abdul Karim Kediri dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah Kediri.

Diduga pembajakan dengan mengganti nama pengarang ini hanya untuk kepentingan pasar. ”Nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan mungkin lebih dikenal terutama oleh masyarakat Arab,” kata Abdur Rosyid, pengurus Formal yang juga bekerja di salah saru penerbitan Islam di Jakarta.

Di berbagai pondok pesantren di Indonesia nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan pun tidak asing lagi. Syekhi Ahmad Zaini Dahlan terutama dikenal sebagai pengarang Kitab Syarah Jurumiyah, kitab dasar di bidang ilmu nahwu. Kitab Jurumiyah ini hampir pasti dipelajari oleh para santri yang memulai pendidikan di pesantren.

Kitab Sirajut Thalibin adalah syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Sirajut Thalibin ini sempat mendapatkan pujian luas dari ulama Timur Tengah dan kini menjadi referensi utama para mahasiswa di Mesir dan negara-negara Timur Tengah yang lain. Menurut Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum muslimin di Afrika dan Amerika.

Unta

Biadab !
.
Milik  orang dirampok dengan alasan dakwah !!!
.
Syi’ah  berdakwah  melalui  wacana – debat dan dialog ilmiah..
.
Tetapi wahabi berdakwah dengan cara anarkhis dan merampok..
.
.
Mereka membantah ???
.
Pesantren wahabi berdiri dimana mana dalam tempo cepat ?? duit darimana ??
.
Majalah, web web, VCD, buku buku wahabi  merajalela duit darimana ???
.
Ustad Ustad wahabi berfoya foya dengan uang saudi, jamaah disuruh jualan madu..
.
Dakwah kok demi  uang
.
…………………………………………………………………….
29/12/2010  jam 08:52

Warga NU Bali Gelar Pelatihan Antisipasi Wahabi dan Salafi Denpasar, NU Online

.
Sejak beberapa tahun belakangan, serangan kaum Salafi atau Wahabi terhadap warga Nahdliyyin di Provinsi Bali sangat gencar, baik melalui media cetak seperti penyebaran buku-buku, maupun melalui dakwah secara langsung seperti khotbah Jum’at, pengajian, seminar dan lain-lain.

Tidak sedikit, kaum Salafi yang berhasil menjadi khotib Jum’at di masjid-masjid dan musholla yang didirikan oleh kaum Nahdliyyin, berulah. Bahkan tidak jarang ulah kaum Salafi tersebut sangat berlebihan, seperti merubah tata cara ibadah yang telah berlangsung sejak lama, seperti melarang adzan dua kali dalam shalat Jum’at, melarang shalat qabliyah Jum’at, melarang tahlilan, maulid nabi dan lain sebagainya.

Hal tersebut akhirnya memotivasi Dewan Pengurus Wilayah Forum Silaturrahmi Masjid dan Musholla Indonesia (DPW Fahmi Tamami), Provinsi Bali, yang diketuai H Hadi Sutrisno, untuk mengadakan pelatihan aswaja di masjid-masjid dan musholla-musholla kaum nahdliyyin se wilayah Denpasar dan sekitarnya.

Pelatihan aswaja sebagai upaya untuk membentengi dan penguatan ideologi dan ajaran ahlussunnah wal jama’ah bagi warga nahdliyyin di provinsi Bali tersebut, dilaksanakan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, didatangkan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, dari Lembaga Bahtsul Masail NU Jember, untuk mengisi internalisasi dan penguatan aswaja bagi warga nahdliyyin dengan acara diskusi dan dialog terbuka di 12 masjid dan musholla di Bali.

Acara tahap pertama tersebut diadakan pada tanggal 21 Juli 2010 sampai 27 Juli 2010.

Tidak jarang, dalam acara seminar dan dialog tersebut, didatangkan pula tokoh-tokoh Salafi untuk melakukan dialog publik di hadapan warga nahdliyyin. Namun sayang sekali, sebagian besar tokoh Salafi tidak siap hadir dalam acara dialog tersebut.

Sebagian dialog dengan tokoh Salafi dalam acara tersebut telah didokumentasikan oleh Ustadz Idrus, pengurus LTN PWNU Jawa Timur tersebut, dalam buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi, terbitan Bina Aswaja Surabaya, Desember 2010.

Dalam acara dialog terbuka selama satu minggu tersebut, Ustadz Idrus menyajikan materinya dari buku-buku LBM NU Jember seperti buku Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik, buku Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?, dan buku Membedah Bid’ah dan Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits dan Ulama Salafi, terbitan Khalista 2010.

Pada tahap kedua, DPW Fahmi Tamami melalui Lembaga Dakwahnya, yang diketuai H Imam Asrori dan Ust Sholehan Nur, mengadakan pelatihan aswaja dengan fokus Latihan Berdebat Dengan Salafi, selama dua hari, yaitu 25 s/d 26 Desember 2010 kemarin, dan bertempat di Musholla Yayasan Marga Utama, Renon Denpasar.

Acara pelatihan tersebut, diikuti oleh 50 peserta dari kalangan Kiai dan Asatidz yang mewakili masjid dan mushalla di Profinsi Bali. Dalam acara pelatihan debat ini, Ustadz Idrus menyajikan materinya dengan buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi.

Sebagai hasil dari pelatihan tahap kedua, peserta yang hadir bersepakat membentuk forum kajian aswaja setiap bulan, dengan peserta yang mewakili seluruh masjid dan musholla di bawah DPW Fahmi Tamami Bali. Forum tersebut akan melakukan kajian aswaja secara rutin setiap bulan, dengan visi dan misi advokasi aswaja bagi kaum nahdliyyin yang diusik oleh kaum Salafi dan melindungi aset NU dari ancaman Salafi.

…………………………………………………………………………..

2007

Kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak aman. Sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga (Nahdlatul Ulama) NU dengan alasan bid’ah dan beraliran sesat.

“Saya mendapat laporan, masjid-masjid milik warga NU, terutama di daerah-daerah banyak yang diambilalih oleh kelompok yang mengklaim dirinya paling Islam. Alasannya, karena NU dianggap ahli bid’ah dan beraliran sesat,” demikian diungkapkan Ketua PBNU Masdar F Mas’udi kepada wartawan di Kantor Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Rabu (24/5/2007)

Pengambilahan yang dimaksud, kata Masdar, berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin (sebutan untuk warga NU). Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Tak tanggung-tanggung. Meski tak menyebut detil, Masdar mengatakan, jumlah masjid milik warga NU yang diambilalih mencapai ratusan. “Banyak, hampir semua. Saya kira ratusan,“ katanya.

Masdar menambahkan, memang tidak ada label NU pada masjid-masjid yang dimaksud. Namun, tidak sedikit masjid-masjid tersebut dibangun bersama-bersama oleh warga NU, dan itu adalah merupakan hak warga NU.

“Warga NU memang tidak pernah memberikan pelabelan terhadap masjid yang dibangun bersama. Hal itu merupakan kelongggaran warga NU terhadap warga yang lain. Tapi kelonggaran itu dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang mengklaim dirinya paling Islam,“ terang Masdar.

Meski tidak menjelaskan secara detil identitas kelompok di balik semuanya, namun Masdar mensinyalir hal itu dilakukan oleh kelompok garis keras. “Saya kira kelompok-kelompok fundamentalis itu,“ tandasnya.

Masdar menyerukan kepada warga nahdliyyin untuk mengambil kembali masjid-masjid tersebut. Karena masjid-masjid tersebut merupakan hak NU. “Warga NU harus mengambil haknya,“ katanya.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa NU tidak akan membalas aksi pengambilalihan tersebut dengan cara kekerasan. “Kita tidak akan menyerang, tidak akan menyerbu orang lain. Yang jelas kita akan ambil apa yang menjadi hak kita,“ tegasnya.
Genderang perang mulai ditabuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghadapi gerakan dari kelompok Islam garis keras yang muncul akhir-akhir ini. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini siap melayani ‘tantangan’ kelompok Islam radikal yang sudah sangat meresahkan warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) itu.

Pada Sabtu (25/2) lalu, Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) mengeluarkan maklumat yang berisi tentang peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini dijalankan oleh warga nahdliyin. Sebanyak 8 ketua Pengurus Wilayah LDNU se-Indonesia menandatangani maklumat yang merupakan respon atas tuduhan sesat terhadap ajaran dan amaliyah NU itu.

“…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (al-harakah al-islamiyyah) melalui praktek-praktek keagamaan yang dapat melunturkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU, maka dengan ini kami menyatakan: …Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU, melestarikan praktek-praktek dan tradisi keagamaan salafush shalih; sepert salat-salat sunnat, salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, maulid Nabi, haul, dan istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU,” demikian salah satu poin dalam maklumat tersebut.

Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada NU Online menyatakan, gerakan kelompok garis keras itu sudah melewati batas toleransi. Karena mereka tidak lagi sebatas mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyin, melainkan sudah berani menghasut dan menuduh NU adalah sesat.

“Masjid-masjid NU mulai diambilalih. Muncul banyak buku-buku yang menghujat ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU. Salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, maulid Nabi, istighotsah dan lain-lain dianggap ajaran sesat. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” terang Kiai Nuril di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (27/2).

Apalagi, lanjut Kiai Nuril, gerakan mereka sudah sangat luas dan hampir merata di seluruh daerah, tidak hanya daerah yang berbasis nahdliyin. Jika NU tak segera mengambil sikap tegas, maka bukan mustahil tradisi keagamaan yang dijalankan warga nahdliyin selama ini akan hilang.

Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, menurut Kiai Nuril, adalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir, kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia sebagai negara Islam.

Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Aswaja ala NU, dalam maklumat tersebut juga ditegaskan bahwa NU tetap pada komitmennya untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ditambahkan Kiai Nuril, sebagai tindak lanjut atas maklumat tersebut, setiap PW LDNU se-Indonesia akan menguatkan barisan dalam rangka menghadapi gerakan kelompok Islam garis keras tersebut. “Kita sudah tetapkan ada lima zona konsolidasi NU. Antara lain, zona Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan. Masing-masing zona ini akan menghimpun dan mengkonsolidasikan seluruh PW LDNU di provinsi yang berada di wilayahnya,” jelasnya.

Keberadaan zona-zona tersebut, kata Kiai Nuril, diharapkan dapat menata dengan rapih gerakan dakwah NU di daerah-daerah. Dengan demikian, masjid-masjid NU serta ajaran dan amaliyah NU dapat terjaga. “Walaupun berbeda prinsip, tapi kita ingin sama-sama saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Tidak ada lagi tuduhan bahwa NU adalah sesat dan sebagainya,” pungkasnya

itu terjadi di mana?, di kampung-kampung kami juga banyak mas masjid NU yang di rebut, terutama di daerah pinggiran dimana kebanyakan warganya lugu-lugu.. kalo wahabi merebut masjid orang yang dianggap syirik atau kafir itu biasa, malah dianggap “jihad”. beberapa peninggalan Islam zaman Nabi saw banyak yang di rusak di Saudi Arabia bahkan dijadikan tempat parkir. ironisnya barang-barang mewah peninggalan raja saudi macam kendaraan (mobil dll) malah disimpan di musium.. kalo anda pergi haji atau umroh, film-film dukumentasi seperti itu ditayangkan di pesawat milik maskapai Saudi “Saudia Airline”

tentang pengabilan mesjid2 nu saya tidak setuju itu rumah tuhan tapi yg lebih saya takuti klo ajaran2 garis keras itu bisa mengkafirkan orang dg ajaran2anya itu yg bahaya.klo blh saya usul hati2 lah wahai orang2 muslim. islam akan hancur oleh orang2 islam yg mngaku islam yg menggunakan qur’an dan hadis apalgi yg sudah memfitnah dan mau memecah belah negara,hrsnya kita sadar negara islam blm tentu bisa mensejahterakan negaranya,klo yg terjadi fitnah gmana?hrsnya kita bersyukur hidup di negara yg mayoritas 80% muslim,saya netral saya dari pesantren tebu-ireng.dan saya cuma bisa berusaha utk membantu menyadarkan orang2 agar lebih ati2 dg ajaran2 yg di masuki sifat2 dajjal.smoga allah swt menjaga qur’an dan hadis dari2 orang2 kafir dan memberi hidayah supaya orang2 kafir yg menggunakan al-quran segera sadar dan mengerti apa itu islam

   Hadapi Wahabi, Kyai NU Cirebon Rapatkan Barisan

Selasa, 27 Mei 2008 14:00 AM
.
Para kiai pesantren yang tergabung dalam Ulama NU se-Kab. Cirebon, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia agar mewaspadai gerakan keagamaan baru dari luar
Para kiai juga meminta umat Islam terutama warga nahdhiyin agar berhati-hati terhadap agenda gerakan transnasional, yang membawa misi aliran Wahabi dari Arab Saudi yang ingin menggeser tradisi keagamaan NU dengan budaya mereka sendiri. Sebab mereka yang anti tradisi NU itu melakukannya melalui berbagai cara, mislnya dengan mensyurukkan, memuratdkan dan mengkafirkan budaya keagamaan NU
.
Demikian beberapa butir hasil pertemuan Saresehan Kiai NU se Kab. Cirebon, Minggu (25/5) di Pondok Pesantren Khatulistiwa, Kempek, Kec. Gempol. Hadir dalam pertemuan itu antara lain KH. Syarif Utsman Yahya (Kempek Ciwaringin), KH. Syarif Hud Yahya (Babakan Ciwaringin), KH. Rahmatullah dan KH. Mughni (Tegal Gubug), KH. Mansur (Jagapura Gegesik), KH. Haris Jauhari (Susukan), KH. Ibrahim Rozi (Weru), KH. Zahid Hidayat (Plered), KH. Doim (Kapetakan), KH. Hamidin (Gunung Djati), KH. Mahfudz Bakri (Kasepuhan). Selanjutnya dari wilayah Timur, KH. Faizin Adnan dan KH. Zuhdi (Losari), KH. Hasanuddin Kriyani (Buntet), KH. Ridwan Sufyan (Pabedilan), serta para aktifis NU lainnya
.
Menurut pengasuh pesantren Khatulistiwa Kempek yang juga penggagas pertemuan saresehan, KH. Syarif Utsman Yahya, umat Islam harus menyatukan langkah dan gerak dalam menghadapi kenyataan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia
.
Pihaknya berharap, agar golongan trans-nasional yang membawa misi wahabi itu menghormati pluralitas atau kemajemukan di Indonesia. Keragaman keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Makanya, satu sama lain harus saling menghargai sebab sama-sama bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah seperti serta para sahabat Nabi
.
“Jadi jangan saling mengkafirkan, memurtadkan dan mengklaim syirik golongan lain. Kalau tak suka jangan mengecam dan menjelek-menjelekkan, jalani ibadah versi keyakinan masing-masing. Selanjutnya jangan suka mengklaim atas nama umat Islam. Padahal, umat Islam di Indonesia sangat beragam pahamnya. Kita harus menghargai kebudayaan bagaimana nusantara sebagai basis kebangsaan. Tradisi NU sudah puluhan tahun, moso mau digeser dengan budaya kaum wahabi yang baru beberapa tahun datang ke Indonesia”, tandasnya.

Awas! Kantong NU Disusupi Kelompok Wahabi Radikal

Agustus 11, 2009 oleh   

Jember, NU Online
Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan berlipat saat ini dibandingkan tahun 1984. Salah satunya adalah tantangan dari kelompok Islam Wahabi radikal yang menyusup ke kantong-kantong NU.

Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Ketua Pengurus Besar NU, KH Masdar Farid Mas’udi, dengan sejumlah petinggi NU cabang Jember, Kencong, dan Lumajang, di Pondok Pesantren Al Amin Ambulu, Senin (10/8).Masdar menganggap pertemuannya dengan sejumlah petinggi NU itu tidak ada yang istimewa. Diwawancarai beritajatim.com usai pertemuan, ia mengatakan, jika NU bertekad kembali ke khittah, maka sesungguhnya tekad itu harus berlipat ganda.

“Tahun 1984 tantangan NU hanya satu: tidak disukai penguasa. Kalau sekarang, tantangannya dari atas, samping kiri-kanan, dan dari bawah,” kata Masdar.

Dari atas, menurut Masdar, ada perebutan kekuasaan yang terus terjadi dari waktu ke waktu, yang menyeret NU untuk berpolitik praktis. Politik praktis sendiri, kata dia, “tend to corrupt (cenderung korup). Karena menjejaki politik praktis, NU kemasukan penyakit money politics. Kalau NU kemasukan penyakit money politics, lalu siapa yang diandalkan menjadi guru moral dan akhlak?.”

Dari samping, NU menghadapi tantangan dari kelompok fundamentalisme radikal. Kelompok ini menyusup ke kantong-kantong NU. “Banyak masjid NU dikuasai dan disusupi,” kata Masdar bernada prihatin.

Bagaimana mereka bisa masuk? Masdar mengatakan, kelompok radikal masuk melalui masjid. “Masjid itu kan kantong umat. NU mengambil jarak dan tak begitu care (peduli) dengan umat. NU harus sungguh-sungguh ngopeni (memelihara) umat,” katanya.

Sementara itu, NU justru menghadapi tantangan dari umatnya sendiri. Umat sudah tidak lagi memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap para kiai. “Terakhir mengarahkan NU untuk mendukung Si A, ternyata umat mendukung Si B. Pimpinan NU ditinggal sendirian sama umatnya,” kata Masdar.

Masdar berpendapat, perlu ada upaya sungguh-sungguh untuk mengembalikan NU ke jati diri sebagai organisasi yang melayani umat.

Jama’ah Syi’ah Ternate diserang karena provokasi WAHABi SETAN DARi NEJED

Rumah milik pimpinan Syiah yang dirusak warga (Syamsudin Sidik/Sindo TV)

Rumah milik pimpinan Syiah yang dirusak warga

AKHIRNYA, KAMI PERSEMBAHKAN CATATAN KECIL INI BAGI SAUDARAKU KAUM MUSLIMIN DI NEGERI INDONESIA, PARA ULAMA MAUPUN SELURUH WARGA BAIK DARI KALANGAN NAHDLIYIN, MUHAMMADIYAH, DAN YANG LAINNYA YANG SEMUA ADALAH KAUM yang anti teror wahabi

Sangat luar biasa tipuan yang dihembuskan oleh para pendeta-pendeta wahabi, hingga jikalau seseorang terlena dan tidak waspada maka mereka sebenarnya telah menggali kubur bagi calon-calon korbannya

YANG KAMI PERTANYAKAN, sampai kapan KALIAN WAHAI wahabi AKAN berhenti melakukan provokasi kepada orang awam ?????

LALU ANCAMAN MANA LAGI YANG LEBIH BESAR DARI ANCAMAN PENGHINAAN, PENCELAAN, DAN PERENDAHAN KEPADA PARA nahdiyyin dan syi’ah dengan vonis ahlul bid’ah sesat ????

.
Wahabi  memang tidak segan-segan menjual rasa malunya demi untuk mempropagandakan ajaran kesesatanya. Kali ini mereka berlagak seperti pahlawan bagi kaum sunni tradisional yang notabene adalah masyarakat mayoritas di negeri ini. Dengankedok gerakan anti syi’ah mereka memprovokasi orang awam dilapangan agar berbuat anarkhis  !! 

Hingga kini, puluhan pengikut Syiah masih diamankan di Polres Ternate, Maluku Utara (Malut). Pengamanan ini dilakukan kepada puluhan pengikut Syiah untuk menghindari amukan massa.

Dari pantauan di lapangan, Kamis (1/11/2012), pihak kepolisian mengamankan Ustaz Ismat Ishak, salah satu pimpinan dan Imam Nawawi, bersama sekira 60 pengikut Syiah. Selain itu, rumah milik Nawawi Husni, salah satu pimpinan Syiah di RT 02, Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate yang diserang ratusan warga dipasang garis polisi.

Mediasi yang dilakukan pihak kepolisian tetap tak membuahkan hasil. Warga tetap bersikeras melarang para pengikut Syiah untuk melakukan kegiatan di kampung tersebut.

Warga melakukan tindakan anarkis karena mengaku kesal terhadap sikap pengikut Syiah yang telah melanggar kesepakatan bersama. Menurut warga, dalam kesekapatan tersebut, pengikut Syiah dilarang untuk melakukan aktivitas keagamaan di rumah tersebut.

Ratusan warga di Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate Tengah, Maluku Utara, Rabu (31/10), menyerang dan merusak rumah salah satu pimpinan Syiah Jafariah. Beberapa pengikut Syah juga ikut dipukul

.
Rumah salah satu pimpinan Syiah Jafariah, Nawawi Husni, rusak. Rumah ini sering dijadikan tempat ibadah. Warga juga memukul beberapa pengikut yang saat itu berada di dalam rumah. Aksi itu mengakibatkan  kaca jendela rumah hancur.

Penyerangan itu merupakan yang ke tiga kalinya terjadi. Warga mengaku kesal dengan kegiatan keagamaan yang dilakukan Husni bersama pengikutnya. Sebelumnya, antara warga dengan pengikut ajaran Syiah telah dibuat kesepakatan untuk tidak  berkumpul dan melakukan aktifitas keagamaan.

Setelah penyerangan jamaah Syiah oleh warga di Kelurahan Marikrubu, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Kepolisian mempertemukan perwakilan dua belah pihak. Dalam pertemuan tersebut belum ada kata sepakat, masing-masing mempertahankan pendapat.

Pertemuan antara perwakilan warga dan jamaah Syiah ini digelar di Mapolres Ternate. Itu guna mencari solusi penyelesaian pascapenyerangan dan pengerusakan rumah jamaah Syiah oleh pada Rabu, 31 Oktober malam.

Perwakilan warga yang diwakili Kepala Kelurahan Marikrubu, Syamsudin Asurah, meminta warga Syiah membuat pernyataan tidak akan lagi melakukan aktifitas di wilayah mereka, karena dapat memancing kemarahan warga.Namun, permintaan pernyataan dalam bentuk perjanjian yang ditandatangani itu ditolak oleh perwakilan Syiah.

“Kami adalah warga negara Indonesia yang sah, dan dilindungi UU untuk hidup di bumi Indonesia. Masalah keyakinan itu adalah hal privat yang tidak boleh adah tekanan dari siapapun,” tegas Jonhan, perwakilan jamaah Syiah dalam pertemuan itu, Kamis (1/11/2012).

Pertemuan itu berlangsung alot, karena tidak adanya pimpinan organisasi keagamaan seperti MUI, serta perwakilan pemerintah daerah yang hadir.

Warga Syiah berharap, pemerintah daerah segera turun tangan menyikapi masalah tersebut, sebab penyerangan kelompok mereka sudah beberapa kali terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga menyerang jamaah Syiah dan merusak pemukiman mereka. Bahkan, Imam Syiah, Nawawi Husen dan tiga rekannya sempat menjadi bula-bulanan. Aksi massa ini dipicu pertemuan yang dilakukan oleh kelompok Syiah yang dinilai melanggar kesepakatan.

Penganut ajaran Syiah kembali menjadi sasaran kemarahan warga di Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Rabu kemarin malam. Penyerangan itu membuat pemukiman dan rumah ibadah rusak.

Peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 22.00 waktu setempat. Tiba-tiba saja, warga  menyerang penganut ajaran itu dan merusak fasilitas ibadah yang mereka miliki serta perumahan.

Bahkan, Imam Syiah Kota Ternate Nawawi Husni dan tiga rekannya sempat menjadi bulan-bulan warga. Beruntung aparat TNI yang berada tak jauh dari lokasi, langsung mengevakuasi mereka, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Beberapa saat kemudian, puluhan aparat kepolisian juga diterjunkan ke lokasi kejadian. Mereka mengamankan para pengkut Syiah itu ke Polres Ternate.

Syamsuddin Asurah, perangkat desa setempat mengatakan, kemarahan warga dipicu adanya aktivitas ajaran tersebut di daerah mereka. Warga menilai kelompok Syiah itu melanggar janji yang sudah disepakati.

“Peristiwa bermula dari pertemuan  sejumlah penganut ajaran Syiah Kota Ternate ini di rumah Imam Syiah Nawawi. Warga mendapat informasi dan langsung melakukan penyerangan,” katanya.

Ratusan Warga Kelurahan Marikurubu, Ternate, Maluku Utara,menyerang rumah milik Nawawi Husni, salah satu pimpinan Syiah Jafariah, Rabu (31/10) malam.

Akibat peristiwa itu, rumah korban hancur dan dua penganut syiah yang berada di dalam rumah tersebut menjadi bulan-bulanan massa. Sementara itu, Nawawi tidak berada di tempat saat peristiwa terjadi.

Aksi anarkis massa tersebut terjadi karena mereka kesal terhadap sikap penganut syiah yang dianggap melanggar kesepakatan dengan warga. Sebelumnya warga syiah dilarang berkumpul dan melakukan kegiatan keagamaan di rumah tersebut. Tetapi kemudian mereka tetap melakukan kegiatan tersebut.

“Warga terpaksa melakukan penyeranagan karena orang-orang syiah telah melanggar kesepakatan dengan kami. Mereka seharusnya tidak boleh berkumpul di rumah itu dan melakukan ibadah. Kenyataanya mereka tetap melakukan,” kata Usman Nurdin salah seorang tokoh masyarakat setempat kepada mediaindonesia.com

Ratusan anggota Pengendali Massa dari Polres Ternate bersama puluhan anggota TNI dari Kodim 1501 Ternate bergerak cepat ke lokasi kejadian untuk mengendalikan situasi. Polisi langsung mengamankan Ustad Ismat Ishak, salah satu pimpinan syiah bersama enam anggotanya ke kantor polisi guna menghindari amukan massa.

Sejumlah penganut syiah yang juga tinggal di Kelurahan Marikurubu terpaksa melarikan diri. “Sementara kami tinggal di rumah keluarga dulu sambil menunggu situasi aman,” kata salah satu penganut syiah.

Abubakar dan Umar mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan Abubakar secara musyawarah dan ijma’?

Adalah fakta bahwa bai’at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai’at itu diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal ‘aqdi, sedang bingung dan sibuk dalam mengurus jenazah Nabi SAWW. Saat itu penduduk kota Madinah sedang berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk membai’at sang khalifah

.

Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara musyawarah dan ijma’?


GHADiR KUM DAN HAJi WADA’

Pada tanggal 18 H tahun 10 H peristiwa Ghadir Kum terjadi yang dihadiri setidaknya 100 ribu orang ketika prosesi perjalanan haji..Pada tanggal 12 rabiul awal tahun ke 11 H Rasulullah SAW wafat

SAAT JENAZAH NABi MASiH  HANGAT

Suku Aus membai’at Abubakar karena khawatir atas kepemimpinan suku Khazraj..

Suku Khazraj batal membai’at Sa’ad bin Ubadah lalu memilih Abubakar sebagai solusi..

Kesepakatan ini karena panggilan jahiliyah..Muncul lagi ‘Ashabiyah setelah Rasul wafat..

Umar bin Khattab berkata :  ”Demi Allah, saya tahu bahwa Ali adalah yang paling pantas dari semua orang untuk menjadi khalifah, tetapi karena tiga alasan maka kami singkirkan Ali, pertama ia terlalu muda, kedua ia terikat dengan keturunan Abdul Muthalib dan ketiga orang tidak ingin kenabian dan kekhalifahan berkumpul dalam satu keluarga” (Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj Al Balaghah, Dar Al Kutub Al ‘Arabiyah, 1959 halaman 134. Lihat juga Tarikh Al Yakubi halaman 103-106, Tarikh Abil Fidai halaman 156-166 dan Murujudz Dzahab halaman 307 dan 352)

Nama Nama  Yang  menolak  kepemimpinan  Abubakar  antara  lain :

DARi   PiHAK  KERABAT :

Imam Ali  AS dan keluarganya

 Sahabat  Nabi  SAW  SAW  yang  menolak  kepemimpinan  Abubakar  antara  lain :

DARi   PiHAK  KAUM MUHAJiRiN :

  1. Salman  Al Farisi
  2. Abu Dzar  Al Ghifari
  3. Miqdad  bin Aswad
  4. Ammar  bin Yasir
  5. Khalid  bin Sa’id bin Abil Ash
  6. Buraidah  Al Aslami

.

DARi   PiHAK  KAUM  ANSHAR :

  1. Abul Haitsam  bin Taihan
  2. Usman bin Hunaif
  3. Khuzaimah bin Tsabit Dzusy Syahadatain
  4. Ubay bin Ka’ab
  5. Abu  Ayub  Anshari

 

Orang orang yang mengikuti kebenaran dan mengikuti para Rasul dan mempelajari dengan seksama  pengajaran  ilahiah lebih sedikit daripada MEREKA YANG MENENTANG KEBENARAN

Allah berfirman :

“Tapi kebanyakan mereka tidak bersyukur” (Qs. An Naml  ayat  73)

“Dan hanya sedikit dari hamba Ku yang bersyukur” (Qs.Saba ayat  13)

“Sesungguhnya kebanyakan dari manusia dalam kefasikan” (Qs.Al Maidah ayat 49)

“Dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu” (Qs.Al Mu’minun ayat 70)

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya” (Qs. Yusuf  ayat  103)

Ini mengisyaratkan batilnya berpegang pada suara mayoritas guna menegaskan benarnya tujuan yang hendak dicapai dan betulnya sisi pandang dalam masalah masalah seperti ini.

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pengikut pengikut imam Ali AS membentuk kelompok minoritas yang disebut Mazhab Syi’ah Imamiyah

Baiat Ali as kepada para khalifah sebelumnya

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam.

Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu.

Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam.

Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa

Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1]

Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2]

Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya sedikit orang yang datang.[4]

Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam.

Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam. [IQuest]


[1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

[2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

[3]. Ibid.

[4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

[5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

[6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

[7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

Mayoritas sahabat Nabi SAW yang wafat ketika Muhammad SAW masih hidup insya Allah akan masuk surga menurut syi’ah
.
Perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi atas ghazwah (gazwah) dan sariyah (sariyyah)Ghazwah adalah perang yang dipimpin oleh Nabi SAW, sedangkan sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi SAW. Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat tentang jumlah ghazwah dan sariyah. Ada beberapa ghazwah dan sariyah dalam sejarah Islam, antara lain sebagai berikut :
Ghazwah Sariyah
al-Asyirah 2 H Abdullah bin Jahsy 2 H
Badar 2 H Abdullah bin Unais 3 H
Bahran 3 H Abdurrahman bin Auf 6 H
Bani Lihyan 6 H Abu Auja’ 7 H
Bani Mustaliq 6 H Abu Bakar 7 H
Bani Qainuqa 2 H Abu Salam 3 H
Banu Quraizah 5 H Abu Ubaidah bin Jarrah 6 H
Bani Sulaim 3 H Ali bin Abi Thalib 10 H
Buwat 2 H Bani Asad 4 H
Daumat al-Jandal 4 H Basyir bin Sa’ad al-Ansari 7 H
Fath al-Makkah 6 H Bi’ru Ma’unah 6 H
al-Gabah 6 H Ghalib bin Abdullah al-Laisi 7 H
Hamra’ al-Asad 3 H Hamzah bin Abdul Muthalib 1 H
Hunain 8 H Hasma 6 H
Khaibar 7 H Ijla’ Bani Nadir 4 H
Khandaq 5 H Ka’b bin Umair al-Gifari 8 H
al-Kidr 3 H Muhammad bin Maslamah 6 H
Mu’tah 8 H Qirdah 3 H
Safwan 2 H Raji’ 4 H
Sawiq 2 H Sa’d bin Abi Waqqas 1 H
Tabuk 9 H Ubaidah bin Haris 1 H
Ta’if 8 H Ukasyah 6 H
Uhud 3 H Umar Bin Khattab 7 H
Widan 2 H Zaid bin Haritsah 6 H
Zat ar-Riqa’ 3 H Zat ar-Riqa’ 4 H
Zi Amr 3 H
.
Perang Badar (17 Ramadan 2 H)

Perang Badar terjadi di Lembah Badar, 125 km selatan Madinah. Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslim Madinah dan musyrikin Quraisy Mekah. Peperangan ini disebabkan oleh tindakan pengusiran dan perampasan harta kaum muslim yang dilakukan oleh musyrikin Quraisy. Selanjutnya kaum Quraisy terus menerus berupaya menghancurkan kaum muslim agar perniagaan dan sesembahan mereka terjamin. Dalam peperangan ini kaum muslim memenangkan pertempuran dengan gemilang. Tiga tokoh Quraisy yang terlibat dalam Perang Badar adalah Utbah bin Rabi’ah, al-Walid dan Syaibah. Ketiganya tewas di tangan tokoh muslim seperti Ali bin Abi Thalib. Ubaidah bin Haris dan Hamzah bin Abdul Muthalib. adapun di pihak muslim Ubaidah bin Haris meninggal karena terluka

.

Perang Uhud (Syakban 3 H)

Perang Uhud terjadi di Bukit Uhud. Perang Uhud dilatarbelakangi kekalahan kaum Quraisy pada Perang Badar sehingga timbul keinginan untuk membalas dendam kepada kaum muslim. Pasukan Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid mendapat bantuan dari kabilah Saqib, Tihamah, dan Kinanah. Nabi Muhammad SAW segera mengadakan musyawarah untuk mencari strategi perang yang tepat dalam menghadapi musuh. Kaum Quraisy akan disongsong di luar Madinah. Akan tetapi, Abdullah bin Ubay membelot dan membawa 300 orang Yahudi kembali pulang. Dengan membawa 700 orang yang tersisa, Nabi SAW melanjutkan perjalanan sampai ke Bukit Uhud. Perang Uhud dimulai dengan perang tanding yang dimenangkan tentara Islam tetapi kemenangan tersebut digagalkan oleh godaan harta, yakni prajurit Islam sibut memungut harta rampasan. Pasukan Khalid bin Walid memanfaatkan keadaan ini dan menyerang balik tentara Islam. Tentara Islam menjadi terjepit dan porak-poranda, sedangkan Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Pasukan Quraisy kemudian mengakhiri pertempuran setelah mengira Nabi SAW terbunuh. Dalam perang ini, Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) meninggal terbunuh

.

Perang Khandaq (Syawal 5 H)

Lokasi Perang Khandaq adalah di sekitar kota Madinah bagian utara. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Ahzab (Perang Gabungan). Perang Khandaq melibatkan kabilah Arab dan Yahudi yang tidak senang kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka bekerjasama melawan Nabi SAW. Di samping itu, orang Yahudi juga mencari dukungan kabilah Gatafan yang terdiri dari Qais Ailan, Bani Fazara, Asyja’, Bani Sulaim, Bani Sa’ad dan Ka’ab bin Asad. Usaha pemimpin Yahudi, Huyay bin Akhtab, membuahkan hasil. Pasukannya berangkat ke Madinah untuk menyerang kaum muslim. Berita penyerangan itu didengar oleh Nabi Muhammad SAW. Kaum muslim segera menyiapkan strategi perang yang tepat untuk menghasapo pasukan musuh. Salman al-Farisi, sahabat Nabi SAW yang mempunyai banyak pengalaman tentang seluk beluk perang, mengusulkan untuk membangun sistem pertahanan parit (Khandaq). Ia menyarankan agar menggali parit di perbatasan kota Madinah, dengan demikian gerakan pasukman musuh akan terhambat oleh parit tersebut. Usaha ini ternyata berhasil menghambat pasukan musuh

.

Perang Khaibar (7 H)

Lokasi perang ini adalah di daerah Khaibar. Perang Khaibar merupakan perang untuk menaklukkan Yahudi. Masyarakat Yahudi Khaibar paling sering mengancam pihak Madinah melalui persekutuan Quraisy atau Gatafan. Pasukan muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad SAW menyerang benteng pertahanan Yahudi di Khaibar. Pasukan muslim mengepung dan memutuskan aliran air ke benteng Yahudi. Taktik itu ternyata berhasil dan akhirnya pasukan muslim memenangkan pertempuran serta menguasai daerah Khaibar. Pihak Yahudi meminta Nabi SAW untuk tidak mengusir mereka dari Khaibar. Sebagai imbalannya, mereka berjanji tidak lagi memusuhi Madinah dan menyerahkan hasil panen kepada kaum muslim

.

Perang Mu’tah (8 H)

Perang ini terjadi karena Haris al-Ghassani raja Hirah, menolak penyampaian wahyu dan ajakan masuk Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Penolakan ini disampaikan dengan cara membunuh utusan Nabi SAW. Nabi SAW kemudian mengirimkan pasukan perang di bawah pimpinan Zaid bin Harisah. Perang ini dinamakan Perang Mu’tah karena terjadi di desa Mu’tah, bagian utara Semenanjung Arabia. Pihak pasukan muslim mendapat kesulitan menghadapi pasukan al-Ghassani yang dibantu pasukan Kekaisaran Romawi. Beberapa sahabat gugur dalam pertempuran tersebut, antara lain Zaid bin Harisah sendiri. Akhirnya Khalid bin Walid mengambil alih komando dan menarik pasukan muslim kembali ke Madinah. Kemampuan Khalin bin Walid menarik pasukan muslimin dari kepungan musuh membuat kagum masyarakat wilayah tersebut. Banyak kabilah Nejd, Sulaim, Asyja’, Gatafan, Abs, Zubyan dan Fazara masuk Islam karena melihat keberhasilan dakwah Islam

.

Penaklukan Kota Mekah/Fath al-Makkah (8 H)

Fath al-Makkah terjadi di sekitar kota Mekah. Latar belakang peristiwa ini adalah adanya anggapan kaum Quraisy bahwa kekuatan kaum muslim telah hancur akibat kalah perang di Mu’tah. Kaum Quraisy beranggapan Perjanjian Hudaibiyah (6 H) tidak penting lagi, maka mereka mengingkarinya dan menyerang Bani Khuza’ah yang berada dibawa perlindungan kaum muslim. Nabi Muhammad SAW segera memerintahkan pasukan muslimin untuk menghukum kaum Quraisy. Pasukan muslimin tidak mendapat perlawanan yang berarti, kecuali dari kaum Quraisy yang dipimpin Ikrimah dan Safwan. Berhala di kota Mekah dihancurkan dan akhirnya banyak kaum Quraisy masuk Islam

.

Perang Hunain ( 8 Safar 8 H)

Perang Hunain berlangsung antara kaum muslim melawan kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hawazin, Bani Saqif, Bani Nasr dan Bani Jusyam. Perang ini terjadi di Lembah Hunain, sekitar 70 km dari Mekah. Perang Hunain merupakan balas dendam kaum Quraisy karena peristiwa Fath al-Makkah. Pada awalnya pasukan musuh berhasil mengacaubalaukan pasukan Islam sehingga banyak pasukan Islam yang gugur. Nabi SAW kemudian menyemangati pasukannya dan memimpin langsung peperangan. Pasukan muslim akhirnya dapat memenangkan pertempuran tersebut

.

Perang Ta’if (8 H)

Pasukan muslim mengejar sisa pasukan Quraisy, yang melarikan diri dari Hunain, sampai di kota Ta’if. Pasukan Quraisy bersembunyi dalam benteng kota yang kokoh sehingga pasukan muslimin tidak dapat menembus benteng. Nabi Muhammad SAW mengubah taktik perangnya dengan memblokade seluruh wilayah Ta’if. Pasukan muslimin kemudian membakar ladang anggur yang merupakan sumber daya alam utama penduduk Ta’if. Penduduk Ta’if pada akhirnya menyerah dan menyatakan bergabung dengan pasukan Islam

.

Perang Tabuk (9 H)

Lokasi perang ini adalah kota Tabuk, perbatasan antara Semenanjung Arabia dan Syam (Suriah). Adanya peristiwa penaklukan kota Mekah membuat seluruh Semenanjung Arabia berada di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Melihat kenyataan itu, Heraklius, penguasa Romawi Timur, menyusun pasukan besar untuk menyerang kaum muslim. Pasukan muslimin kemudian menyiapkan diri dengan menghimpun kekuatan yang besar karena pada masa itu banyak pahlawan Islam yang menyediakan diri untuk berperang bersama Nabi SAW. Pasukan Romawi mundur menarik diri setelah melihat besarnya jumlah pasukan Islam. Nabi SAW tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di Tabuk. Di sini Nabi SAW membuat perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah perbatasan tersebut dapat dirangkul dalam barisan Islam

.

Perang Widan (12 Rabiulawal 2 H)

Perang ini terjadi di Widan, sebuah desa antara Mekah dan Madinah. Rasulullah SAW memimpin pasukan muslimin menghadang kafilah Quraisy. Pertempuran fisik tidak terjadi karena kafilah Quraisy lewat di daerah tersebut. Rasulullah SAW selanjutnya mengadakan perjanjian kerjasama dengan Bani Damrah yang tinggal di rute perdagangan kafilah Quraisy di Widan. Kesepakatan tersebut berisi kesanggupan Bani Damrah untuk membantu kaum muslim apabila dibutuhkan

.

Sariyah Hamzah bin Abdul Muthalib (Ramadhan 1 H)

Perang ini merupakan sariyah pertama yang terjadi dalam sejarah Islam. Sariyah ini berlangsung di dataran rendah al-Bahr, tidak jauh dari kota Madinah. Perang ini melibatkan 30 orang muslimin dan 300 orang Quraisy. Pasukan muslimin dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib, sedangkan pasukan Quraisy dipimpin Abu Jahal bin Hisyam. Perang ini tidak menimbulkan korban karena segera dilerai Majdi bin Amr

.

Sariyah Ubaidah bin Haris (Syawal 1 H)

Sariyah ini berlangsung di al-Abwa’, desa antara Mekah dan Madinah. Kaum muslim berjumlah 80 orang, sedangkan kaum Quraisy berjumlah sekiyat 200 orang. Kaum muslim (semuanya Muhajirin) dipimpin Ubaidah bin Haris, sedangkan kaum Quraisy dipimpin Abu Sa’ad bin Abi Waqqas sempat melepaskan anak panahnya. Peristiwa tersebut menandai lepasnya anak panah pertama dalam sejarah perang Islam

.

Sariyah Abdullah bin Jahsy (Rajab 2 H)

Perang ini dipimpin Abdullah bin Jahsy, sedangkan kaum Quraisy dipimpin Amr bin Hazrami. Perang ini terjadi di Nakhlah, antara Ta’if dan Mekah. Kaum muslim berhasil membunuh Amr bin Hazrami dan menahan dua orang Quraisy sebagai tawanan perang. Kaum muslim juga memperoleh harta rampasan perang dan membawanya ke hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW menyatakan bahwa beliau tidak pernah menyuruh mereka berperang karena pada bulan Rajab diharamkan untuk membunuh atau melakukan peperangan. Peristiwa tersebut kemudian digunakan oleh kaum Quraist untuk memfitnah dengan mengatakan kaum muslim melanggar bulan suci. Pada saat itu turun firman Allah SWT surah al-Baqarah (2) ayat 217 yang menjelaskan tentang ketentuan berperang pada bulan Haram (bulan Rajab)

.

Sariyah Qirdah (Jumadilakhir 3 H)

Sariyah Qirdah berlangsung di sumur Qirdah, suatu tempat di Nejd (Arab Saudi). Kaum muslim berjumlah 100 orang penunggang kuda, dipimpin oleh Zaid bin Harisah. Sariyah Qirdah bertujuan untuk menghadang kafilah Quraisy dari Mekah. Perang ini berhasil dimenangkan kaum muslim dengan menyita harta kaum Quraisy. Harta tersebut kemudian dijadikan ganimah (harta rampasan perang), yang merupakan ganimah pertama dalam sejarah perang Islam. Sebagian orang musyrik yang tidak melarikan diri selanjutnya dibawa ke Madinah dan akhirnya menyatakan diri masuk Islam

.

Sariyah Bani Asad (4 H)

Sariyah ini berlangsung di Gunung Bani Asad, di sebelah timur Madinah. Nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslim untuk menghadang Bani Asad yang berencana untuk menyerang Madinah. Nabi SAW menganjurkan agar pasukan muslim berjalan pada malam hari dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang. Pasukan muslim yang dipimpin Abu Salam al-Makhzum dan terdiri dari 150 orang berhasil menyergap musuh. Mereka juga mendapatkan ganimah (harta rampasan perang) dari pihak Bani Asad

.

Sariyah Raji (Safar 4 H)

Sariyah ini berlangsung di Raji’, yakni suatu daerah yang terletak di antara Mekah dan ‘Asfan dan melibatkan pasukan muslimin melawan pasukan Bani Huzail. Perang ini dilatarbelakangi oleh rencana pemimpin Bani Huzail, Khalid bin Sufyan bin Nubaih al-Huzali,untuk menyerang Madinah. Nabi Muhammad SAW memerintahkan Abdullah bin Unais meneliti kebenaran rencana tersebut. Abdullah kemudian membunuh Khalid dan melaporkan kejadian itu kepada Nabi Muhammad SAW. Bani Lihyan, cabang Bani Huzail merencanakan balas dendam atas terbunuhnya Khalid. Mereka meminta agar Nabi Muhammad SAW mengirimkan beberapa sahabat untuk memberi pelajaran agama Islam kepada mereka.Nabi Muhammad SAW mengabulkan permintaan itu dan mengirimkan enam orang sahabat beserta rombongan utusan Bani Lihyan. Keenam sahabat disergap oleh pasukan Bani Huzail di Raji’. Para sahabat itu sempat mengadakan perlawanan, namun tiga orang terbunuh dan tiga lainnya ditawan oleh musuh. Tiga orang sahabat yang ditawan selanjutnya dibawah ke kaum musyrikin Mekah dan akhirnya dibunuh

.

Sariyah Biru Ma’unah (Safar 4 H)

Sariyah Bi’ru Ma’unah berlangsung di wilayah timur Madinah antara kaum muslim dan Bani Amir. Nabi Muhammad SAW mengutus Amir bin Malik (Abu Barra’), seorang pemimpin dari Bani Amir yang sebelumnya menolak untuk memeluk agama Islam, beserta al-Munzir bin Amar dari Bani Sa’idah untuk memimpin 40 orang tentara yang terdiri dari para penghafal Al-Qur’an. Rombingan tersebut berjalan sampai di Bi’ru Ma’unah, yakni suatu daerah antara Bani Amir dan Bani Salim. Mereka mengirimkan surat kepada Amir bin Tufail, pemimpin Bani Amir, melalui seorang anggota pasukan yang bernama Haram bin Malhan. Amir bin Tufail membunuh Haram bin Malhan, sehingga memicu peperangan antara kedua belah pihak. Kaum muslim mengalami kekalahan dalam sariyah ini karena semua pasukan gugur, kecualil Ka’b bin Zaid al-Ansari. Rabi’ah, anak Abu Barra’, membunuh Amir bin Tufail dengan sebilah tombak sebagai balas dendam atas kematian ayahnya

.

Sariyah Ijla’ Bani Nadir

Sariyah Ijla’ Bani Nazir merupakan sariyah yang dilakukan sahabat Nabi SAW untuk mengusir Bani Nadir dari tempat tinggal mereka.Latar belakang tindakan ini adalah niat Bani Nadir untuk membunuh utusan Nabi Muhammad SAW. Utusan Nabi SAW tersebut ingin menyelesaikan maslaah pembunuhan yang dilakukan Amr bin Umayyah, kabilah Bani Amir dan sekutu Bani Nadir, terhadap dua orang muslimin. Tindakan pengusiran ini semula tidak mendapat tanggapan dari Huyay bin Akhtab, epmimpin Bani Nadir, tetapi karena diancam akan diserang oleh kaum muslim akhirnya mereka mau pindah daerahnya. Nabi SAW memberi jaminan keselamatan atas harta benda dan anak-anak mereka sampai keluar dari Madinah. Sebagian dari Bani Nadir menetap di Khaibar dan di Syam (Suriah)

.

Sariyah Zi al-Qissah

Sariyah berlangsung di Zi al-Qissah, sekitar 24 mil dari Madinah, antara kaum muslim dan Bani Sa’labah. Bani Sa’labah berencana menyerang peternakan kaum muslim di Haifa’, suatu tempat yang jauh dari Madinah. Setelah mengetahui rencana tersebutm pasukan muslimin segera menyerang Bani Sa’labah dengan mengirim 10 orang yang dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah. Pasukan pertama itu gagal menjalankan tugas karena mereka dibunuh ketika beristirahat di pinggiran desa. Muhammad bin Maslamah melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Nabi SAW mengirimkan pasukan kedua di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah. Bani Sa’labah melarikan diri ketika Abu Ubaidah sampai di tempat itu

.

Sariyah Ka’b bin Umair al-Gifari (8 H)

Latar belakang sariyah ini adalah penolakan kaum musyrikin di Zat Atlah, suatu tempat di Syam (Suriah),terhadap ajakan beberapa utusan Nabi Muhammad SAW untuk memeluk agama Islam. Nabi SAW mengirimkan 15 tentara untuk menyerang mereka. Pertempuran tersebut berlangsung sengit, dan akhirnya semua pasukan muslim menjadi syuhada, kecuali Ka’b bin Umair al-Gifari (pemimpin perang) yang dapat menyelamatkan diri

.

Referensi
  • Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
  • Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
  • Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
  • Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
  • Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
  • Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
  • alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
  • Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
  • Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-’Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
  • M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
  • Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
  • Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Seorang pembaca bertanya : “berapa Jumlah Sahabat Nabi SAW yang SALEH yang mati syahid dalam Perang dan wafat secara alamiah Sepanjang Kehidupan Nabi SAW sebelum meletusnya kudeta di Saqifah Bani Sa’idah ????”

Jawaban :

Soal jumlah yang SALEH kami tidak tau pasti…

Jumlah Muslimin di Madinah pada saat Rasul SAW datang (ketika Hijrah) paling banter ratusan orang saja, buktinya Pada Perang BADAR jumlah prajurit  muslimin sekitar 313 orang. Ini membuktikan ayat yang memuji Muhajirin dan Anshar hanyalah mencakup segelintir umat Muhammad. Beberapa bulan setelah Rasul hijrah ke Madinah, sahabat Nabi bernama Kultsum bin Hadam, As’ad bin Zurarah dan Abu ‘Amamah As’ad bin Zurarah wafat secara alamiah. Semoga kubur para sahabat ini dilapangkan oleh Allah SWT.

PERANG BADAR

Pada Perang BADAR jumlah prajurit  muslimin sekitar 313 orang, yang mana 14 orang prajurit muslimin  gugur pasca perang..

PERANG UHUD

Pada Perang UHUD jumlah pasukan muslimin hanya 700 orang, yang mana 70 orang diantaranya gugur. Dalam perang ini hanya sekitar 8 orang yang tidak melarikan diri karena bertekad mati membela Rasul dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Allah SWT mengabadikan orang orang yang lari dari perang ini

Firman Allah SWT : “Ingatlah ketika kamu (lari) naik keatas (bukit), tanpa menoleh kepada siapapun dan Rasul memanggil kamu dari belakang” (Qs.Ali Imran ayat 153)

Saat itu pula turun ayat yang mengingatkan mereka yang kabur karena mendengar Rasul terbunuh : “Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya telah berlalu Rasul rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu berbalik menjadi murtad ? Tetapi barangsiapa berbalik murtad, sedikitpun ia tidak merugikan Allah” (Qs. )

Abubakar, Umar dan Usman bukanlah sosok penempur sehingga lari dari Perang. Usman bin Affan melarikan diri sampai tiga hari baru pulang karena ketakutan. Umar lari dengan mendaki bukit uhud. Abubakar sempat lari juga..

PERANG KHANDAQ

Pada PERANG KHANDAQ melawan Yahudi pada bulan Syawal 5 H atau Januari 627 M jumlah pasukan muslimin meningkat menjadi sekitar 3000 orang.

BAi’AT  DiBAWAH  POHON

Pada bulan Zulhijjah tahun  6 H atau bulan april tahun 628 M terjadi proses Bai’at dibawah pohon atau bai’at yang diridhai ( menjadi asbabun nuzul Qs.ayat 18) maka tercatat pengikut Nabi SAW yang membai’at  tidak lebih dari 1500 orang saja..

PERANG KHAiBAR

Pada perang melawan Yahudi di Khaibar bulan Muharram 7 H atau juni 628 M ada 19 orang prajurit muslimin yang terbunuh. Abu Hurairah masuk Islam pada perang ini. Nabi SAW mendapat kebun Fadak pada moment ini

FATHUL  MEKKAH

Madinah pada tanggal 10 ramadhan 8 H (1 januari 630 M). Hari kesepuluh bulan puasa musim dingin, serombongan kafilah yang terdiri dari 4.700 orang, spesifikasi : 700 muhajirin dengan 300 kuda ditambah 4000 anshar dengan 500 kuda serta ribuan unta tunggangan dan unta beban yang membawa perkemahan, bekal serta kantong kantong kulit berisi air minum bertolak dari Madinah kearah selatan. Beliau telah menyurati kabilah kabilah Muslim yang berada di alur perjalanan agar nantinya bergabung nanti, sehingga kemudian jumlah total pasukan menjadi 10 ribu orang

Fathul Makkah pada 18 ramadhan 8 H (8 januari 630M) : Orang orang yang masuk Islam (thulaqa) melalui grasi (pengampunan) setelah penaklukan Mekkah merupakan mayoritas muslim yang ditinggal wafat Rasulullah SAW. Mereka memeluk Islam setelah penaklukan Mekkah sedangkan mereka tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk lebih lama bergaul dengan Rasulullah SAW alias hanya mendapat kesempatan yang sangat singkat. Mereka menganggap Rasulullah SAW tidak lebih dari seorang pemimpin, misalnya : Abu Sufyan dan Mu’awiyah

PERANG HUNAiN

Pada tanggal 6 Syawal 8 H atau 30 Januari 630 M Pasukan Nabi SAW bertambah jumlahnya sekitar 2000 an dari 10 ribu prajurit terdahulu, penambahan ini berasal dari orang orang yang baru masuk Islam selama 15 hari beliau berdakwah  di Mekkah, ini menandakan masih ada kaum musyrik setelah fathul Mekkah. Perang Hunain menghadapi klan Huwazin. Yang mana Klan Huwazin merupakan klan Arab terkuat setelah klan Quraisy. Ketika menuruni LEMBAH mereka dijebak oleh 2000 PASUKAN KHUSUS MUSUH yang ahli menombak dan memanah. Kepanikan terjadi sehingga hanya 7 orang tetap bersikukuh melindungi Nabi SAW, sehingga turunlah ayat :

“Allah telah menolong kamu dalam banyak medan pertempuran, dan pada perang Hunain, ketika kamu bangga dengan jumlahmu, tapi itu tiada berguna bagimu suatu apapun, meskipun luas bumi menjadi sempit bagimu, kemudian kamu pun berbalik mundur” (Qs. At Taubah ayat 25)

Abubakar, Umar dan Usman juga lari..Lari meninggalkan Rasul yang sedang dikerubuti musuh bukanlah mekanisme pertahanan diri, melainkan aib.. Umar hanya punya kebiasaan menggertak, bukan membunuh musuh..

Namun Rasulullah SAW berteriak memanggil manggil mereka yang berlarian mendaki bukit sebagaimana dulu kejadian  “lari mendaki bukit uhud (Qs.Ali imran 153)”. Betapa bodohnya melarikan diri meninggalkan Nabi ditengah tengah musuh. Untunglah suara Abbas mampu bergema keseluruh lembah, sehingga kaum muslimin kembali menuju medan laga…

Yang gugur dalam perang ini banyak antara lain : Putera Ummu Aiman, Yazid bin Sam’ah, Suraqah bin Harits dan Abu Amir Asy’ari. Pada perang Hunain, banyak klan Hawazin masuk Islam

PERANG THA’iF

Pada bulan Syawal tahun 8 H (Februari 630 M) terjadi Perang Tha’if menghadapi klan tsaqif yang berlindung dibalik benteng kokoh. Disinilah Mughirah bin Syu’bah dan semua penduduk diluar benteng yang terkepung masuk Islam. Pasukan Muslim terbunuh 12 orang yakni 4 orang anshar, 7 orang Quraisy dan seorang dari klan Laits. Beberapa hari kemudian tokoh klan Tsaqif yang telah masuk Islam bernama ‘Urwah bin Mas’ud dibunuh MUSUH..

Pada bulan rajab 9 H (oktober 630 M) jumlah pasukan Nabi SAW menuju Perang TABUK berjumlah 30 ribu prajurit yakni 10 ribu kavaleri dan 20 ribu  infantri…

Fatimah Az-Zahrâ’ yang murka hingga wafat kepada Abubakar dan Umar membuktikan peristiwa Ali baiat Abubakar tujuannya agar islam tidak punah

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll.. Fatimah Az-Zahrâ’ yang murka hingga wafat kepada Abubakar dan Umar membuktikan peristiwa Ali baiat Abubakar tujuannya agar islam tidak punah

SEJARAH TIMBULNYA PERSOALAN-PERSOALAN TEOLOGI DALAM ISLAM SERTA GOLONGAN-GOLONGAN ISLAM PASCA NABI MUHAMMAD WAFAT.

Selama di mekkah nabi Muhammad SAW hanya mempunyai fungsi kepala agama, dan tak mempunyai fungsi kepala pemerintahan, karena kekuasaan politik yang ada disana belum dapat dijatuhkan pada waktu itu.Di Madinah sebaliknya, nabi Muhammad SAW, disamping menjadi kepala agama juga menjadi kepala pemerintahan.

Ketika beliau wafat tahun 632 M daerah kekuasaan Madinah bukan hanya terbatas pada kota itu saja, tetapi boleh dikatakan meliputi seluruh semenanjung Arabia.

Persoalan-persoalan yang terjadi dalam lapangan politik sebagai digambarkan di atas inilah yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi.

Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam. Pertama aliranKhawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah.

Dalam pada itu timbul pula dalam islam dua aliran dalam teologi yang terkenal dengan nama Al-Qadariyah dan Al-Jabariyah . selain itu ada dua aliran teologi yang terkenal yaitu aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam islam ialah aliran Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy-’Ariyah dan Maturidiyah. Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Asy-’Ariyah dan Maturidiyah, dan keduanya disebut Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Setelah kaum muslimin menyalati jenazah Nabi saw., Imam Ali as. menggali kuburan untuknya. Setelah itu, ia menguburkan jenazah sau-daranya itu.Kekuatan Ali telah melemah. Ia berdiri di pinggiran kubur sembari menutupi kuburan itu dengan tanah dengan disertai linangan air mata. Ia mengeluh: “Sesungguhnya sabar itu indah, kecuali terhadapmu. Sesung-guhnya berkeluh-kesah itu buruk, kecuali atas dirimu. Sesungguhnya musibah atasmu sangat besar. Dan sesungguhnya sebelum dan sesudah-mu terdapat peristiwa besar.”[1]

 

Pada hari bersejarah itu, bendera keadilan telah terlipat di alam kesedihan, tonggak-tonggak kebenaran telah roboh, dan cahaya yang telah menyinari alam telah lenyap. Beliaulah yang telah berhasil meng-ubah perjalanan hidup umat manusia dari kezaliman yang gelap gulita kepada kehidupan sejahtera yang penuh dengan peradAbân dan keadilan. Dalam kehidupan ini, suara para tiran musnah dan jeritan orang-orang jelata mendapat perhatian. Seluruh karunia Allah terhampar luas untuk hamba-hamba-Nya dan tak seorang pun memiliki kesempatan untuk menimbun harta untuk kepentingannya sendiri.

Muktamar Tsaqîfah

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peris-tiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka sekaligus membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka.

Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ‘idah pada hari Nabi saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekha-lifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Nabi saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Nabi saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi saw. sedang mengigau sehing-ga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.

Ala kulli hal, kaum Anshar telah berperan sebagai tulang punggung bagi kekuatan bersenjata pasukan Nabi saw. dan mereka pernah mene-barkan kesedihan dan duka di rumah-rumah kaum Quraisy yang kala itu hendak melakukan perlawanan terhadap Rasulullah saw. Ketika itu orang-orang Quraisy betul-betul merasa dengki terhadap kaum Anshar. Oleh karena itu, kaum Anshar segera mengadakan muktamar, karena khawatir terhadap kaum Muhajirin.

Hubâb bin Munzdir berkata: “Kami betul-betul merasa khawatir bila kalian diperintah oleh orang-orang yang anak-anak, nenek moyang, dan saudara-saudara mereka telah kita bunuh.”[2]

Kekhawatiran Hubbâb itu ternyata menjadi kenyataan. Setelah usia pemerintahan para khalifah usai, dinasti Bani kaum Umayyah berkuasa. Mereka berusaha merendahkan dan menghinakan para khalifah itu. Mu‘âwiyah telah berbuat zalim dan kejam. Ketika Yazîd bin Mu‘âwiyah memerintah, dia juga bertindak sewenang-wenang dan menghancurkan kehormatan mereka dengan berbagai macam siksa dan kejahatan. Yazîd menghalalkan harta, darah, dan kehormatan mereka pada tragedi Harrah. Sejarah tidak pernah menyaksikan kekejian dan kekezaman semacam itu.

Ala kulli hal, pada muktamar Tsaqîfah tersebut, kaum Anshar men-calonkan Sa‘d sebagai khalifah, kecuali Khudhair bin Usaid, pemimpin suku Aus. Ia enggan berbaiat kepada Sa‘d karena kedengkian yang telah tertanam antara sukunya dan suku Sa‘d, Khazraj. Sudah sejak lama memang hubungan antara kedua suku ini tegang.

‘Uwaim bin Sâ‘idah bangkit bersama Ma‘n bin ‘Adî, sekutu Anshar, untuk menjumpai Abu Bakar dan Umar. Mereka ingin memberitahukan kepada dua sahabat ini peristiwa yang sedang berlangsung di Tsaqîfah. Abu Bakar dan Umar terkejut. Mereka segera pergi menuju ke Tsaqîfah secara tiba-tiba. Musnahlah seluruh cita-cita yang telah dirajut oleh kaum Anshar. Wajah Sa‘d berubah. Setelah terjadi pertikaian yang tajam antara Abu Bakar dan kaum Anshar, kelompok Abu Bakar segera bangkit untuk membaiatnya. Umar yang bertindak sebagai pahlawan dalam baiat itu telah memainkan peranannya yang aktif di ajang perebutan kekuasaan itu. Dia menggiring masyarakat untuk membaiat sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar keluar dari Tsaqîfah diikuti oleh para pendukungnya menuju ke masjid Nabi saw. dengan diiringi oleh teriakan suara takbir dan tahlil. Dalam baiat ini, pendapat keluarga Nabi saw. tidak dihiraukan. Begitu pula pendapat para pemuka sahabatnya, seperti Ammâr bin Yâsir, Abu Dzar, Miqdâd, dan sahabat-sahabat yang lain.

Sikap Imam Ali as. Terhadap Pembaiatan Abu Bakar

Para sejarawan dan perawi hadis sepakat bahwa Imam Ali as. menolak dan tidak menerima pembaiatan atas Abu Bakar. Ia lebih berhak untuk menjadi khalifah. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan Nabi saw. Kedudukan Ali as. di sisi Nabi saw. seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Islam telah tegak karena perjuangan dan keberaniannya. Dia mengalami berbagai macam bencana dalam menegakkan Islam. Nabi saw. menjadikan Ali as. sebagai saudaranya. Ia pernah bersabda kepada kaum muslimin: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah juga pemimpinnya.”

Atas dasar ini, Ali as. menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat untuk menyeret Ali as. dan memak-sanya berbaiat. Umar bin Khaththab bersama sekelompok pengikutnya mengepung rumah Ali as. Dia menakut-nakuti, mengancam, dan meng-gertak Ali as. dengan menggenggam api untuk membakar rumah wahyu itu. Buah hati Nabi saw. dan penghulu para wanita semesta alam keluar dan bertanya dengan suara lantang: “Hai anak Khaththab, apa yang kamu bawa itu?” Umar menjawab dengan keras: “Yang aku bawa ini lebih hebat daripada yang telah dibawa oleh ayahmu.”[3]

Sangat disayangkan dan menggoncang kalbu setiap orang muslim! Mereka telah berani bertindak keras seperti itu terhadap Fatimah Az-Zahrâ’ as., buah hati Nabi saw. Padahal Allah ridha karena keridhaan Az-Zahrâ’ dan murka karena kemurkaannya. Melihat kelancangan ini, tidak ada yang layak kita ucapkan selain innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Akhirnya, mereka memaksa Imam Ali as. keluar dari rumahnya dengan paksa. Dengan pedang terhunus para pendukung Khalifah Abu Bakar menyeret Imam Ali as. untuk menghadap. Mereka berkata dengan lantang: “Baiatlah Abu Bakar! Baiatlah Abu Bakar!”

Imam Ali as. membela diri dengan hujah yang kokoh tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekerasan dan kekuatan mereka. Ia berkata: “Aku lebih berhak atas perkara ini daripada kalian. Aku tidak akan membaiat kalian, sebaliknya kalianlah yang semestinya membaiatku. Kalian telah merampas hak ini dari kaum Anshar dengan alasan bahwa kalian memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi saw. Tetapi kalian juga telah merampas kekhalifahan itu dari kami Ahlul Bait secara paksa. Bukankah kalian telah mendakwa di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak atas kekhilafahan ini daripada mereka dengan dalih Nabi Muhammad saw. berasal dari kalangan kalian, sehingga mereka rela memberikan dan menyerahkan kepemimpinan itu kepadamu? Kini aku juga ingin berdalih kepadamu seperti kamu berdalih kepada kaum Anshar. Sesungguhnya aku adalah orang yang lebih utama dan lebih dekat dengan Nabi saw., baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Camkanlah ucapanku ini, jika kamu beriman! Jika tidak, maka kamu telah berbuat zalim sedang kamu menyadarinya.”

Betapa indah hujah dan dalil tersebut. Kaum Muhajirin dapat mengalahkan kaum Anshar lantaran hujah itu, karena mereka merasa memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi saw. Argumentasi Imam Ali as. lebih kuat, lantaran suku Quraisy yang terdiri dari banyak kabilah dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw. itu bukan sepupu-sepupu atau pamannya. Sementara hubungan kekerabatan antara Nabi saw. dengan Imam Ali as. terjalin dalam bentuk yang paling sempurna. Ali as. adalah sepupu Nabi saw., ayah dua orang cucunya, dan suami untuk putri semata wayangnya.

Walau demikian, Umar tetap memaksa Imam Ali as. dan berkata: “Berbaiatlah!”

“Jika aku tidak melakukannya?”, tanya Imam Ali pendek.

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika engkau tidak mem-baiat, aku akan penggal lehermu”, jawab Umar sengit.

Imam Ali as. diam sejenak. Ia memandang ke arah kaum yang telah disesatkan oleh hawa nafsu dan dibutakan oleh cinta kekuasaan itu. Imam Ali as. melihat tidak ada orang yang akan menolong dan membe-lanya dari kejahatan mereka. Akhirnya ia menjawab dengan nada sedih: “Jika demikian, kamu telah membunuh hamba Allah dan saudara Rasu-lullah.”

Umar segera menimpali dengan berang: “Membunuh hamba Allah, ya. Tetapi saudara Rasulullah, tidak.”

Umar telah lupa dengan sabda Nabi saw. bahwa Imam Ali as. adalah saudaranya, pintu kota ilmunya, dan kedudukannya di sisinya adalah sama dengan kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Ali as. adalah pejuang pertama Islam. Semua realita dan keutamaan itu telah dilupakan dan diingkari oleh Umar.

Kemudian Umar menoleh ke arah Abu Bakar seraya menyuruhnya untuk mengingkari hal itu. Kepada Abu Bakar, Umar berkata: “Mengapa engkau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk memaksanya?”

Abu Bakar takut fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya dia menentukan sikap: “Aku tidak akan memaksanya, selama Fatimah berada di sisinya.”

Akhirnya mereka membebaskan Imam Ali as. Ia berlari menuju ke makam saudaranya, Nabi saw., untuk mengadukan cobaan dan aral yang sedang menimpanya. Ia menangis tersedu-sedu seraya berkata: “Wahai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah meremehkanku dan hampir saja mereka membunuhku.”[4]

Mereka telah meremehkan Imam Ali as. dan mengingkari wasiat-wasiat Nabi saw. berkenaan dengan dirinya. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan hati yang hancur luluh dan sedih. Benar, telah terjadi apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. akan terjadi pada umat Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Mereka kembali kepada kekufuran. Allah swt. berfirman:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun ….”(QS. Âli ‘Imrân [3]:144)

Sungguh mereka telah kembali kepada kekufuran, kekufuran yang dapat menghancurkan iman dan harapan-harapan mereka. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Kita tutup lembaran peristiwa-peristiwa yang mengenaskan dan segala kebijakan pemerintah Abu Bakar yang tiran terhadap keluarga Nabi saw. ini, seperti merampas tanah Fadak, menghapus khumus, dan kebijakan-kebijakan yang lain. Seluruh peristiwa ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin as.

Fatimah Az-Zahrâ’ Menuju ke Alam Baka

Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan Imam Ali as. adalah kepergian buah hati Rasulullah saw., Fatimah Az-Zahrâ’ as. Ia jatuh sakit, sementara hatinya yang lembut tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit telah menyerangnya. Dan kematian begitu cepat menghampirinya, sementara usianya masih begitu muda. Oh, betapa beratnya duka yang menimpa buah hati dan putri semata wayang Nabisaw. itu. Ia telah mengalami berbagai kekejaman dan kezaliman dalam masa yang sangat singkat setelah ayahandanya wafat. Mereka telah mengingkari kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah, merampas hak warisannya dan menyerang rumahnya.

Fatimah Az-Zahrâ’ telah menyampaikan wasiat terakhir yang maha penting kepada putra pamannya. Dalam wasiat itu ditegaskan agar orang-orang yang telah ikut serta merampas haknya tidak boleh menghadiri pemakaman, jenazahnya dikuburkan pada malam hari yang gelap gulita, dan kuburannya disembunyikan agar menjadi bukti betapa ia murka kepada mereka.

Imam Ali as. melaksanakan wasiat istrinya yang setia itu di pusara-nya yang terakhir. Ia berdiri di pinggir makamnya sambil menyiramnya dengan tetesan-tetesan air mata. Ia menyampaikan ucapan takziah, bela sungkawa dan pengaduan kepada Nabi saw. setelah menyampaikan salam kepada beliau:

Salam sejahtera untukmu dariku, ya Rasulullah, dan dari putrimu yang telah tiba di haribaanmu dan yang begitu cepatnya menyusulmu. Ya Rasulullah, betapa sedikitnya kesabaranku dengan kemangkatanmu dan betapa beratnya hati ini. Hanya saja, dalam perpisahan denganmu dan besarnya musibahmu ada tempat untuk berduka. Aku telah membaring-kanmu di liang kuburmu. Dan jiwamu telah pergi meninggalkanku ketika kepalamu berada di antara leher dan dadaku. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn. Titipan telah dikembalikan dan gadai pun telah diambil kembali. Tetapi kesedihanku tetap abadi. Malam-malamkupun menjadi panjang, hingga Allah memilihkan untukku tempatmu yang kini engkau singgahi. Putrimu akan bercerita kepadamu tentang persekong-kolan umatmu untuk berbuat kejahatan. Tanyakanlah dan mintalah berita mengenai keadan mereka! Padahal perjanjian itu masih hangat dan namamu masih disebut-sebut. Salam sejahtera atasmu berdua, salam selamat tinggal, tanpa lalai dan jenuh! Jika aku berpaling, itu bukan karena bosan. Jika aku diam, itu bukan karena aku berburuk sangka terhadap apa yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar.[5]

Ungkapan-ungkapan Imam Ali as. di atas menunjukkan betapa ia menga-lami kesedihan yang mendalam atas kepergian titipan Rasulullah saw. itu. Ungkapan-ungkapan itu juga menunjukkan betapa dalamnya sakit hati dan duka yang dialaminya akibat perlakuan umat Islam. Imam Ali as. juga minta kepada Nabi saw. agar memaksa putrinya bercerita dan memberi-kan keterangan tentang seluruh kejahatan dan kezaliman yang telah dilakukan oleh umatnya itu.

Seusai menguburkan jenazah buah hati Nabi saw., Imam Ali as. kembali ke rumah dengan rasa duka dan kesedihan yang datang silih berganti. Para sahabat telah mengasingkannya. Imam Ali as. berpaling sebagaimana mereka juga berpaling darinya. Ia bertekad untuk menjauhi seluruh urusan politik dan tidak terlibat di dalamnya.


1.Nahjul Balaghah, khotbah ke-409.

2.Hayâh Al-Imam Husain as., Jil. 1/ 235.

3.Ansâb Al-Asyrâf, karya Al-Balâdzurî. Para sejarahwan sepakat tentang adanya ancaman Umar terhadap Ali as. untuk membakar rumahnya itu. Silakan merujuk Târîkh Ath-Thabarî, Jil. 3/202, Târikh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/156, Târîkh Al-Ya‘qûbî, Jil. 2/105, Murûj Adz-Dzahab, Jil. 1/414, Al-Imâmah wa As-Siyâsah, Jil. 1/12, Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, Jil. 1/ 34, Al-Amwâl, karya Abu ‘Ubaidah, hal. 131, A‘lâm An-Nisâ’, Jil. 3/205, danAl-Imam Ali, karya Abul Fattâh Maqshûd, Jil. 1/213.

4.Al-Imâmah wa As-Siyâsah, hal. 28-31.

5.Nahjul Balâghah, Jil. 2/ 182.

SEBAB-SEBAB IKUT MAZHAB AHLU BAIT

Banyak sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Ahlu Bait (Syi’ah). Dan tidak mungkin bagiku menyebutnya secara rinci di sini kecuali sebagiannya saja.

1. Nas Khilafah

Aku telah berjanji pada diriku ketika memasuki pembahasan ini untuk tidak berpegang pada sebarang dalil melainkan ia benar-benar dianggap shahih oleh kedua mazhab, dan mengabaikan setiap dalil yang hanya diriwayatkan oleh satu mazhab saja. Lalu aku mulai menelaah masalah perselisihan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, apakah khilafah (kekhalifahan) pada dasarnya adalah hak Ali bila dilihat dari sisi nas seperti yang diklaim oleh mazhab Syi’ah, atau ia ditentukan oleh syura seperti yang dikatakan oleh mazhab Sunnah

.

Seandainya mereka yang menelaah masalah ini benar-benar tulus untuk mencari sebuah kebenaran, mereka akan dapati bahwa nas yang mengatakan Ali sebagai khalifah adalah nas yang tak terbantahkan, seperti sabda Nabi SAWW: “Siapa yang menganggap aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali sebagai maulanya”. Hadis ini beliau ucapkan sekembalinya beliau dari hajinya yang terakhir yang dikenal dengan hujjatul-wada’. Usai pengangkatan, berduyun-duyun orang datang mengucapkan tahniah atau selamat kepada Ali, termasuk Abu Bakar dan Umar sendiri. Mereka berkata: “Selamat untukmu wahai Putera Abu Thalib. Kini kau adalah maulaku dan maula setiap orang mukmin, laki-laki dan perempuan”

.

Hadis ini telah disepakati keabsahannya oleh Sunnah dan Syi’ah. Referensi yang kusebutkan dalam telaahku ini adalah referensi yang berasal dari Ahlu Sunnah saja. Itupun bukan semua. Karena yang semestinya adalah jauh lebih banyak dari apa yang kusebutkan. Agar dapat memperoleh dalil-dalil yang lebih rinci aku mengajak para pembaca untuk menelaah kitab Al-Ghadir karya al-Allamah al-Amini

.

Adapun ijma’ yang dinyatakan SUNNi  sebagai dasar dipilihnya Abu Bakar di Saqifah Bani Sa’idah, lalu kemudian ia dibaiat di masjid adalah pernyataan yang tidak kokoh. Bagaimana hal itu bisa dikatakan sebagai ijma’ sementara sejumlah pemuka sahabat seperti Ali, Abbas dan anggota Bani Hasyim yang lain tidak ikut serta membaiatnya Di Saqifah. Begitu juga Usamah bin Zaid, Zubair, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir, Huzaifah bin Yaman, Khuzaimah bin Thabit, Abu Buraidah al-Aslami, Barro’ bin Azib, Ubai bin Ka’ab, Sahal bin Hunaif, Sa’ad bin Ubadah, Qais bin Sa’ad, Abu Ayyub al-Anshori, Jabir bin Abdullah, Khalid bin Sa’ad dan lain sebagainya

.

Dimana ijma’ yang dikatakan itu wahai hamba-hamba Allah? Seandainya hanya Ali yang tidak membaiat, itu sudah cukup bukti tercelanya ijma’ seumpama itu. Hal ini karena beliau adalah satu-satunya calon khalifah yang ditunjuk oleh Rasul SAWW, seandainya kita tolak pengertian secara eksplisit nas-nas tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

.

Adalah fakta bahwa bai’at pada Abu Bakar terjadi tanpa syuro atau musyawarah. Bai’at itu diambil ketika orang-orang sekitarnya, terutama ahlul halli wal ‘aqdi, sedang bingung dan sibuk dalam mengurus jenazah Nabi SAWW. Saat itu penduduk kota Madinah sedang berkabung atas wafatnya Nabi mereka. Kemudian tiba-tiba dipaksa untuk membai’at sang khalifah

.

Hal ini dapat kita rasakan dari cara mereka mengancam untuk membakar rumah Fatimah apabila penghuni yang berada di dalamnya enggan memberikan baiat. Nah, bagaimana dapat kita katakan bahwa pemilihan sang khalifah tersebut terjadi secara musyawarah dan ijma’?

.

Umar sendiri pernah berkata bahwa bai’at yang diambil waktu itu adalah tergesa-gesa, dan Allah telah memelihara kaum muslimin dari kejahatannya. Beliau juga berkata bahwa siapa saja yang mengulangi cara bai’at seperti itu, ia mesti dibunuh, atau-paling tidak-bai’atnya tidak sah dan tidak diakui

.

Imam Ali pernah berkata tentang haknya ini, yang antara lain: “Demi Allah, Ibnu Abi Qahafah (Abu Bakar) telah memakainya (hak khilafahku) sedangkan beliau tahu bahwa kedudukanku dengan khilafah ini bagaikan kedudukan kincir dengan roda”(Nahjul Balaghah)

.

Sa’ad bin Ubadah pemuka kaum Anshar yang menyerang Abu Bakar dan Umar di hari Saqifah danberusaha mati-matian untuk mencegah mereka dari jabatan khilafah, namun tak mampu karena sakit dan tak dapat berdiri, pernah berkata setelah kaum Anshar membaia’t Abu Bakar: “Demi Allah, sekali-kali Aku tidak akan membai’at kalian sampailah kulemparkan anak-anak panahku dan kulumurkan tombakku serta kupukulkan pedangku dan kuperangi kalian bersama-sama keluarga dan kaumku. Demi Allah, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membai’at kalian niscaya aku tetap tidak akan memberikartnya, sampai aku berjumpa dengan Tuhanku.” Sa’ad bin Ubadah tidak shalat sama-sama mereka dan tidak ikut serta kumpul bersama mereka bahkan tidak mau haji bersama-sama mereka. Seandainya ada sekelompok orang yang mau memerangi mereka niscaya ia akan membantunya. Dan seandainya ada orang yang membaiatnya untuk memerangi mereka niscaya ia akan perangi. Begitulah sikap Sa’ad terhadap Abu Bakar sampai beliau wafat di Syam pada periode pemerintahan Umar

.

Apabila bai’at tersebut dilakukan secara tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang disinyalir oleh Umar sendiri, arsitektur rencana ini dan tahu akibat yang akan diderita oleh kaum muslimin karenanya; dan apabila khilafah ini merupakan “pakaian” Abu Bakar saja, (seperti yang diibaratkan oleh Imam Ali karena dia bukan empunya yang sah); dan apabila bai’at ini diambil secara zalim seperti yang dikatakan oleh Sa’ad bin Ubadah, pemuka Anshar yang memisahkan diri dari jamaah karenanya; dan apabila bai’at ini tidak sah secara syareat meng-ingat sahabat-sahabat yang besar seperti Abbas paman Nabi tidak memberinya, lalu apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abu Bakar? Jawabnya: tidak ada alasan yang diberikan oleh kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah

.

Dengan demikian maka benarlah alasan dan hujjah Syi’ah dalam hal ini, karena nas tentang kekhalifahan Ali nyata ada dalam Ahlu Sunnah sendiri. Namun mereka telah menakwilkannya karena ingin memelihara “kemuliaan” sahabat. Tetapi bagi orang yang insaf dan adil, dia tidak akan memperoleh sebarang alasan kecuali harus menerima kenyataan nas ini; terutama apabila ia ketahui rangkaian peristiwa yang menyelubungi sejarah ini

.

2. Perselisihan antara Fatimah dan Abu Bakar

Masalah ini juga telah disepakati kebenarannya oleh dua mazhab, Sunnah dan Syi’ah. Orang yang insaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus mengatakan bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang keliru dalam perselisihannya dengan Fatimah, dan ia tidak bisa menolak fakta bahwa Abu Bakar pernah menzalimi Penghulu Alam semesta ini. Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilaf ah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini

.

Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah Zahra’, (semoga Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali. Mereka menjawab: “Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai’at kami pada orang ini (Abu Bakar). Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului Abu Bakar niscaya kami tidak akan berpaling darinya.”

.

Ali berkata:
“Apakah aku harus tinggalkan Nabi di rumahnya dan tidak kuurus jenazahnya, lalu keluar berdebat tentang kepemimpinan ini?” Fatimah menyahut, “Abul Hasan telah melakukan apa yang sepatutnya beliau lakukan, sementara mereka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya.”

.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya

.

Untuk pembuktian ini saya sendiri telah berangkat ke Madinah untuk memastikan kebenaran fakta sejarah ini. Di sana kudapati bahwa pusaranya memang masih tidak diketahui oleh siapa pun. Sebagian berkata ada di Kamar Nabi, dan sebagian lain berkata ada di rumahnya yang berhadapan dengan Kamar Nabi. Ada juga yang berpendapat bahwa pusaranya terletak di Baqi’, di tengah-tengah pusara keluarga Nabi yang lain. Tapi tiada satupun pendapat yang berani memastikan dimana letaknya

.

Alhasil, aku berkesimpulan bahwa Fatimah Zahra’ sebenarnya ingin melaporkan kepada generasi muslimin berikutnya tentang tragedi yang disaksikannya pada zamannya, agar mereka bertanya-tanya kenapa Fatimah sampai memohon pada suaminya agar dikebumikan di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun. Hal ini juga memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada sebuah kebenaran lewat telaah-telaahnya yang intensif dalam bidang sejarah

.
Aku juga mendapati bahwa penziarah yang ingin berziarah ke kuburan Utsman bin Affan terpaksa harus menempuh jalan yang cukup jauh agar bisa sampai ke sudut akhir dari wilayah tanah pekuburan Jannatul Baqi’. Di sana dia juga akan dapati bahwa kuburan Utsman berada persis di bawah sebuah dinding, sementara kebanyakan sahabat lain dikubur-kan di tempat yang berhampiran dengan pintu masuk Baqi’. Hatta Malik bin Anas, imam mazhab Maliki, seorang tabi’it-tabi’in (generasi keempat setelah Nabi) juga dikuburkan dekat dengan istri-istri Nabi

.

Hal ini bagiku bertambah jelas apa yang dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Utsman dikuburkan di Hasy Kaukab, sebidang tanah milik seorang Yahudi. Pada mulanya kaum muslimin melarang jasad Utsman dikebumikan di Baqi’. Ketika Mua’wiyah menjabat sebagai khalifah dia beli tanah milik si Yahudi, kemudian memasukkannya sebagai bagian dari wilayah Baqi’, agar kuburan Utsman juga termasuk di dalamnya. Mereka yang ziarah ke Baqi’ pasti akan dapat melihat hakekat ini dengan jelas sekali

.

Aku semakin heran ketika kuketahui bahwa Fatimah Zahra’ as adalah orang pertama yang menyusul kepergian ayahnya. Antara wafat Rasul dengan wafat Fatimah hanya dipisahkan selang waktu enam bulan saja. Demikian pendapat sebagian ahli sejarah. Tapi-anehnya-beliau tidak dikubur-kan di sisi ayahnya!!

.
Apabila Fatimah Zahra’ berwasiat agar dikebumikan secara rahasia, dan beliau tidak dikuburkan dekat dengan pusara ayahnya seperti yang disebutkan di atas, lalu apa pula gerangan yang terjadi dengan jenazah putranya Hasan yang tidak dikuburkan dekat dengan pusara datuknya Muhammad SAWW.?

.

Ummul-mukminin Aisyah melarang jasad Hasan dikebumikan di sana. Ketika Husain datang untuk mengebumikan saudaranya Hasan di sisi pusara datuknya, Aisyah datang dengan menunggangi baghalnya sambil berteriak, “jangan kuburkan di rumahku orang yang tidak kusukai.” Bani Umaiah dan Bani Hasyim nyaris perang. Tetapi Imam Husain kemu-dian berkata bahwa dia hanya membawa jenazah saudaranya untuk “tabarruk” pada pusara datuknya, kemudian dikuburkan di Baqi’. Imam Hasan pernah berpesan agar jangan tertumpah setetes pun darah karenanya

.

Dalam kontek ini Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah:

Kau tunggangi onta

Kau tunggangi baghal

Kalau kau terus hidup

kau akan tunggangi ga]ah

Sahammu kesembilan dari seperdelapan

tapi telah kau ambil semuanya

Ini adalah contoh dari rangkaian fakta yang sungguh mengherankan. Bagaimana Aisyah mewarisi semua rumah Nabi sementara istri-istri beliau berjumlah sembilan, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas di atas

.

Apabila Nabi tidak meninggalkan harta waris seperti yang disaksikan oleh Abu Bakar-karenanya dia melarangnya dari Fatimah, lalu bagaimana Aisyah dapat mewarisi pusaka Nabi? Apakah ada dalam AlQuran suatu ayat yang memberikan hak waris pada istri tapi melarangnya dari anak perempuan? Ataukah politik yang telah merobah segala sesuatu sehingga anak perempuan diharamkan dari menerima segala sesuatu dan si istri diberi segala sesuatu?

.
Saya akan membawakan suatu kisah yang diceritakan oleh sebagian ahli sejarah. Cerita ini ada kaitannya dengan hak pusaka ini

.

Ibnu Abil-Hadid al-Mu’tazili dalambukunya Syarhu Nahjil Balaghah pernah berkata: “Suatu hari Aisyah dan Hafshah datang kepada Utsman pada periode pemerintahannya. Mereka minta agar pusaka Nabi tersebut diberikan kepada mereka. Sambil membetulkan cara duduknya, Utsman berkata kepada Aisyah:”
Engkau bersama orang yang duduk ini pernah datang membawa seorang badui yang masih hadas menyaksikan Nabi SAWW bersabda: “Kami para Nabi tidak meninggalkan harta pusaka.” Jika memang benar bahwa Nabi tidak meninggalkan sebarang warisan, lalu apa yang kalian minta ini? Dan jika memang Nabi meninggalkan warisan pusaka, kenapa kalian larang haknya Fatimah? Lalu Aisyah keluar dari rumah Utsman sambil marah-marah dan berkata: “Bunuh si na’tsal. Sungguh, dia telah kufur.”

.

3 Ali Lebih Utama untuk Diikuti

Di antara sebab yang mendorongku untuk ikut mazhab Syi’ah dan meninggalkan tradisi para leluhur adalah pertim-bangan akal dan naqal antara Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar

.

Seperti yang kusebutkan pada halaman-halaman yang lalu bahwa aku sepenuhnya berpegang pada ijma’ yang disepakati oleh Ahlu Sunnah dan Syi’ah. Aku juga telah menelaah berbagai kitab dari dua mazhab ini. Di sana tidak kutemui sebuah ijma’ atau kesepakatan pendapat yang sempurna melainkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Sunnah dan Syi’ah telah sepakat tentang keimamahannya sebagaimana yang dicatatkan dalam nas-nas berbagai kitab rujukan dua mazhab itu. Semen-tara tentang keimamahan (kepemimpinan) Abu Bakar hanya dikatakan oleh sekelompok tertentu kaum muslimin saja. Di atas telah kami sebutkan ucapan Umar tentang pembai’atan terhadap Abu Bakar

.

Demikian juga tentang keutamaan dan keistimewaan Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Syi’ah di kitab-kitab mereka. Semua bersandar pada sanad dan otentisitas yang tak dapat digugat hatta oleh kitab-kitab Sunnah. Sebagaimana ia juga diriwayatkan melalui berbagai jalur yang tak dapat diragukan. Banyak sahabat telah meriwayatkan hadis berkenaan dengan keutamaan Ali ini, sehingga Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Tidak satupun dari sahabat Nabi yang memiliki keutamaan sebagaimana Ali bin Abi Thalib.”

.

Al-Qadhi Ismail dan an-Nasai serta Abu Ali an-Naisaburi berkata: “Tidak satupun hadis-hadis keutamaan sahabat yang diriwayatkan dengan isnad-isnad yang hasan sebagaimana hadis tentang keutamaan Ali”

.

Meskipun Bani Umaiyah telah memaksa setiap orang yang berada di Barat dan di Timur untuk mencaci, mengutuk, serta tidak menyebutnyebut tentang keutamaan Ali, bahkan mela-rang siapa pun untuk menggunakan namanya, bagaimanapun keutamaan-keutamaannya tetap memancar dan menguak ke permukaan. Imam Syafei berkata berkenaan dengan ini:

“Aku sungguh takjub akan seseorang yang karena dengki, musuh-musuhnya telah menyembunyikan keutamaannya; dan karena takut, para pecintanya tidak berani menyebut-nyebut namanya. Namun tetap saja keutamaannya tersebar dan memenuhi lembaran-lembaran buku. “

.

Berkenaan dengan Abu Bakar juga telah kutelaah dengan kritis dan teliti dari berbagai kitab dua mazhab ini. Namun kitab-kitab Sunnah yang menyebut tentang keutamaannya juga tidak dapat menyaingi keutamaan-keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Itupun diriwayatkan oleh putrinya Aisyah yang kita kenal bagaimana sikapnya terhadap Imam Ali, dimana beliau berusaha keras untuk menonjolkan ayahnya walau dengan menciptakan hadis-hadis sekalipun; atau diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, seorang yang terbilang jauh dengan Imam Ali. Abdullah bin Umar pernah menolak memberikan bai’at pada Imam Ali setelah semua kaum muslimin sepakat untuk mengangkatnya sebagai Imam. Dia pernah berkata bah-wa orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar dan kemudian Utsman, lalu tiada seorang punyang lebih utama dari yang lainnya, semua adalah sama.”

.

Yakni Abdullah bin Umar ingin mengatakan bahwa Imam Ali adalah manusia awam biasa yang tidak memiliki sebarang keutamaan. Aneh memang. Bagaimana Abdullah bin Umar dapat menyembunyikan dirinya dari fakta-fakta yang telah dinyatakan oleh para pemuka ummat bahwa tiada suatu hadispun berkenaan dengan sahabat yang diriwayatkan secara isnad yang hasan sebagaimana hadis tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib? Apakah Abdullah bin Umar tidak pernah mendengar satu keutamaan pun tentang diri Ali bin Abi Thalib? Demi Allah beliau pernah mendengarnya. Tetapi politik, ya politik, yang telah memutar belitkan segala kebenaran dan menciptakan berbagai keanehan.

.

Mereka yang meriwayatkan tentang keutamaan Abu Bakar antara lain adalah ‘Amr bin ‘Ash, Abu Hurairah, Urwah dan Akramah. Sejarah menyingkapkan bahwa mereka adalah lawan-lawan Ali dan pernah memeranginya. Baik dengan senjata atau menciptakan berbagai keutamaan untuk musuh-musuh dan lawan-lawannya. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: ” Ali banyak mempunyai musuh. Mereka berupaya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa mencelanya, namun mereka tidak menemukannya. Kemudian mereka cari seseorang yang pernah memeranginya lalu diciptakanlah keutamaan-keutamaannya.”

.

Tapi Allah berfirman: ” Sebenarnya mereka merencanakan tipu-daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhhh mereka itu barang sebentar” (86:15,16 17)

.

Sungguh merupakan mukjizat Allah bahwa keutamaan-keutamaan Ali dapat terungkap atau mencuat keluar setelah enam abad serangkaian pemerintahan yang zalim menganiaya dirinya dan kaum kerabatnya. Dinasti Bani Abbas tidak kurang dari Bani Umaiyah dalam membenci, mendengki dan memperdaya kaum kerabat Nabi SAWW. sehingga Abu Faras al-Hamdani berkata :

Apa yang dilakukan oleh putra-putra Banu Harb terhadap

mereka

Walau sunguh dahsyat

Tapi tidaklah sedahsyat kezaliman yang kalian lakukan

Berapa banyak pelanggaran terhadap agama yang kalian

lakukan

Dan berapa banyak darah keluarga Rasulullah yang kalian

tumpahkan

Kalian mengaku sebagai pengikutnya

Sementara tangan kalian penuh berlumuran darah anak-anaknya yang suci

Setelah dalil-dalil itu semua dan setelah semua kekaburan menjadi terang maka biarlah Allah yang menjadi Hujjah Yang Unggul, dan manusia tidak lagi mempunyai alasan dihadapan-Nya

.

Walaupun Abu Bakar adalah khalifah pertama dan mempunyai kekuasaan seperti yang kita ketahui; walaupun pemerintahan Umawiyah menyogokkan segala bonus dan upah kepada setiap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman; walaupun riwayat-riwayat keutamaan Abu Bakar diciptakan begitu banyak dan memenuhi lembaran-lembaran buku; walaupun itu semua dilakukan namun ia tetap tak dapat menyamai hatta sepersepuluh dari keutamaan Ali

.

Bahkan jika Anda teliti “hadis-hadis” tentang keutamaan Abu Bakar, Anda akan dapati bahwa ia tidak sejalan dengan apa yang dicatat oleh sejarah tentang berbagai tindakannya. Bukan saja ia bertentangan dengan apa yang dikatakan dalam “hadis” itu bahkan juga bertentangan dengan akal dan syara’. Dan ini telah kami jelaskan ketika membicarakan hadis yang bermaksud: “Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan imannya ummatku maka iman Abu Bakar akan lebih berat”. Seandainya Rasulullah SAWW tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian hebatnya maka beliau tidak akan meletakkannya di bawah pimpinan komandan pasukan seperti Usamah bin Zeid; dan beliau juga tidak akan enggan untuk memberikan kesaksian padanya sebagaimana yang pernah beliau berikan kepada para syuhada’ di Uhud. Nabi pernah berkata kepadanya: “Sungguh aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku kelak”, sampai Abu Bakar menangis

.

Nabi juga tidak akan mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengambil surah Baraah yang telah diberikannya kepada Abu Bakar dan melarangnya membaca-kannya

.

Beliau juga tidak akan berkata pada hari pemberian panji dalam peperangan Khaibar: “Akan kuberikan panjiku ini esok kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia senantiasa akan maju dan tidak pernah akan berundur sedikitpun. Sungguh Allah telah menguji hatinya dengan iman. “Kemudian Nabi memberikannya pada Ali dan tidak memberikannya kepada Abu Bakar.”

.
Seandainya Allah tahu bahwa iman Abu Bakar sedemikian tingginya hingga melebihi iman seluruh ummat Muhammad SAWW maka Allah tidak akan pernah mengancamnya untuk menggugurkan amal-amalnya ketika beliau mengangkat suaranya lebih dari suara Nabi

.

Seandainya Ali dan sahabat-sahabatnya tahu bahwa Abu Bakar memiliki keimanan yang demikian tinggi maka mereka tidak punya alasan untuk menolak memberikan bai’at kepadanya. Seandainya Fatimah Zahra’, penghulu seluruh wanita, mengetahui ketinggian derajat imannya Abu Bakar maka dia tidak akan pernah marah kepadanya dan tidak akan enggan berbicara dengannya atau menjawab salamnya dan berdo’a untuk kecelakaannya pada akhir setiap sholatnya,  atau tidak mengizinkannya (seperti yang diwasiatkannya) hadir dalam pemakaman jenazahnya. Seandainya Abu Bakar sendiri tahu tentang ketinggian imannya maka beliau tidak akan mendobrak rumah Fatimah Zahro’ walau mereka telah menutupnya sebagai tanda protes. Abu Bakar juga tidak akan membakar al-Fujaah al-Salami dan akan menyerahkan kepada Umar atau Abu Ubaidah perkara khalifah pada hari Saqifah itu

.

Seorang yang mempunyai derajat iman sedemikian tinggi dan lebih berat dari iman seluruh ummat yang ada tentu tidak akan pernah menyesal di akhir-akhir hayatnya atas sikapnya terhadap Fatimah, tindakannya yang membakar al-Fujaah al-Salami serta kekhalifahan yang dipegangnya. Sebagaimana dia juga tidak akan pernah berangan-angan untuk tidak menjadi manusia, dan ingin sekadar menjadi sehelai rambut atau kotoran hewan. Apakah iman orang seperti ini setaraf dengan iman seluruh ummat Islam bahkan lebih berat?

.

Jika kita teliti hadis yang bermaksud: “Seandainya aku harus mengambil seorang sahabat (khalil) maka akan kuambil Abu Bakar sebagai khalilku”, hadis ini serupa dengan hadis sebelumnya. Di mana Abu Bakar pada hari persaudaraan-terbatas (Muakhoh-sughro) di Mekah sebelum Hijrah; dan pada hari persaudaraan-besar (Muakhoh-kubro) di Madinah setelah Hijrah. Dalam dua peristiwa ini, Nabi hanya menjadikan Ali sebagai saudaranya, sampai beliau berkata: “Engkau adalah saudaraku di Dunia dan di Akherat. “

.

Nabi tidak menoleh kepada Abu Bakar dan enggan mengikat tali persaudaraan dengannya, baik untuk dunia ataupun akherat

.

Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan permasalahan ini dengan lebih panjang. Saya cukupkan dengan dua contoh di atas yang saya kutip dari sejumlah referensi Ahlu Sunnah sendiri. Adapun mazhab Syi’ah memang mereka telah menolak kesahehan hadis ini. Mereka mengatakan-dengan alasan yang sangat kuat-bahwa ia diciptakan tidak lama setelah wafatnya Abu Bakar

.

Jika kita tinggalkan sifat-sifat utama Ali dan meneliti kemungkinan dosa yang pernah dilakukannya, maka kita tidak akan menemukan satu dosa pun yang pernah dilakukan Ali bin Abi Thalib yang tercatat dalam buku dua mazhab ini. Namun dalam masa yang sama kita akan temukan dari orang-orang lain yang melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang tidak sedikit. Hal ini bisa kita temukan dalam berbagai buku Ahli Sunnah, seperti buku-buku hadis, buku sirah dan dan sejarah

.
Ini berarti bahwa ijma’ dua mazhab ini berimplikasi bahwa hanya Ali sajalah yang tidak terbukti melakukan sebarang dosa, sebagaimana sejarah juga menegaskan bahwa bai’at yang pernah diberikan secara benar hanya bai’at yang diberikan kepada Ali semata-mata. Ali enggan menerima jabatan khali-fah, namun dipaksa oleh Muhajirin dan Anshar. Beliau juga tidak memaksa orang yang enggan memberikan bai’at padanya. Sementara bai’at Abu Bakar dilakukan sangat tergesa-gesa dimana Allah telah pelihara kaum muslimin dari keburukannya, seperti yang diistilahkan oleh Umar. Kekuasaan Umar diperoleh berdasarkan penobatan yang diberikan oleh Abu Bakar kepadanya, sementara pengangkatan Utsman sebagai khalifah terjadi secara menggelikan

.

Lihatlah, Umar menominasi enam orang sebagai calon khalifah dan mewajibkan mereka memilih satu di antaranya. Beliau berkata, apabila empat orang sepakat dan dua orang yang lain menentang, bunuh yang dua. Apabila enam orang ini berpecah tiga tiga dan membentuk dua kelompok, maka pilihlah pendapat kelompok yang di dalamnya ada Abdurrahman bin A’uf. Apabila waktu telah berakhir sementara mereka belum sepakat menemukan sang “khalifah” maka bunuh saja mereka semua. Ceritanya panjang dan aneh sekali

.

Alhasil, Abdurrahman bin A’uf mula-mula memilih Ali dengan syarat beliau memerintah berdasarkan pada Kitab Allah, Sunnah Nabi dan Sunnah Syaikhain, yakni Sunnah Abu Bakar dan Umar. Ali menolak syarat ini dan Utsman meneri-manya. Maka jadilah Utsman sebagai khalifah. Ali keluar dari majlis itu, dan beliau sejak awal sudah tahu hasil yang akan keluar. Hal ini pernah diucapkannya dalam khutbahnya yang terkenal dengan nama Khutbah as-Syiqsyiqiyah

.
Setelah Ali, Muawiyah yang ‘memegang’ jabatan khalifah. Di tangannya sistem khilafah telah diganti dengan sistem monarki dan dinasti kekaisaran yang berpindah-tangan dari generasi ke generasi Banu Umaiyah. Kemudian berpindah pula ke tangan Bani Abbasiah

.

Khalifah berikutnya hanya dipilih dengan ketentuan sang khalifah atau dengan kekuatan pedang atau penggulingan. Sistem bai’at yang paling benar yang pernah terjadi dalam sejarah Islam, sejak zaman para khulafa’ hingga ke zaman Kamal Ataturk yang telah menghapus sistem kekhalifahan, hanya bai’ah yang pernah diberikan kepada Amir al-Mukminin

.

Ali bin Abi Thalib saja. ‘

Jika Ali tidak membaiat Abubakar maka tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan kaum murtad

Sang Pencinta Ahlul Baitfitnah wahabi

baca juga : Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.”

………………………………………………..

GHADiR KUM DAN HAJi WADA’

Pada tanggal 18 H tahun 10 H peristiwa Ghadir Kum terjadi yang dihadiri setidaknya 100 ribu orang ketika prosesi perjalanan haji..Pada tanggal 12 rabiul awal tahun ke 11 H Rasulullah SAW wafat

SAAT JENAZAH NABi MASiH  HANGAT

Suku Aus membai’at Abubakar karena khawatir atas kepemimpinan suku Khazraj..

Suku Khazraj batal membai’at Sa’ad bin Ubadah lalu memilih Abubakar sebagai solusi..

Kesepakatan ini karena panggilan jahiliyah..Muncul lagi ‘Ashabiyah setelah Rasul wafat..

Umar bin Khattab berkata :  ”Demi Allah, saya tahu bahwa Ali adalah yang paling pantas dari semua orang untuk menjadi khalifah, tetapi karena tiga alasan maka kami singkirkan Ali, pertama ia terlalu muda, kedua ia terikat dengan keturunan Abdul Muthalib dan ketiga orang tidak ingin kenabian dan kekhalifahan berkumpul dalam satu keluarga” (Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj Al Balaghah, Dar Al Kutub Al ‘Arabiyah, 1959 halaman 134. Lihat juga Tarikh Al Yakubi halaman 103-106, Tarikh Abil Fidai halaman 156-166 dan Murujudz Dzahab halaman 307 dan 352)

Nama Nama  Yang  menolak  kepemimpinan  Abubakar  antara  lain :

DARi   PiHAK  KERABAT :

Imam Ali  AS dan keluarganya

 Sahabat  Nabi  SAW  SAW  yang  menolak  kepemimpinan  Abubakar  antara  lain :

DARi   PiHAK  KAUM MUHAJiRiN :

  1. Salman  Al Farisi
  2. Abu Dzar  Al Ghifari
  3. Miqdad  bin Aswad
  4. Ammar  bin Yasir
  5. Khalid  bin Sa’id bin Abil Ash
  6. Buraidah  Al Aslami

.

DARi   PiHAK  KAUM  ANSHAR :

  1. Abul Haitsam  bin Taihan
  2. Usman bin Hunaif
  3. Khuzaimah bin Tsabit Dzusy Syahadatain
  4. Ubay bin Ka’ab
  5. Abu  Ayub  Anshari

 

Orang orang yang mengikuti kebenaran dan mengikuti para Rasul dan mempelajari dengan seksama  pengajaran  ilahiah lebih sedikit daripada MEREKA YANG MENENTANG KEBENARAN

Allah berfirman :

“Tapi kebanyakan mereka tidak bersyukur” (Qs. An Naml  ayat  73)

“Dan hanya sedikit dari hamba Ku yang bersyukur” (Qs.Saba ayat  13)

“Sesungguhnya kebanyakan dari manusia dalam kefasikan” (Qs.Al Maidah ayat 49)

“Dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu” (Qs.Al Mu’minun ayat 70)

“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya” (Qs. Yusuf  ayat  103)

Ini mengisyaratkan batilnya berpegang pada suara mayoritas guna menegaskan benarnya tujuan yang hendak dicapai dan betulnya sisi pandang dalam masalah masalah seperti ini.

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pengikut pengikut imam Ali AS membentuk kelompok minoritas yang disebut Mazhab Syi’ah Imamiyah

Baiat Ali as kepada para khalifah sebelumnya

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam.

Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu.

Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam.

Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa

Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1]

Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2]

Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya sedikit orang yang datang.[4]

Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

Penjagaan Nabi SAW dan Imam Ali AS atas keberlanjutan AGAMA iSLAM adalah lebih penting daripada beliau menjaga para sahabat nya. Lagipula proyek pengkaderan telah menghasilkan tokoh tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad dll

Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam.

Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam. [IQuest]


[1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

[2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

[3]. Ibid.

[4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

[5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

[6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

[7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

Mengapa Ali Tidak Memprotes Pembaiatan Atas Abubakar ?

baca juga : mengapa ali tidak memprotes pembaiatan atas abubakar ?

baca juga : Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Menurut berbagai penelaahan sejarah, keturunan Hasan bin Ali banyak yang selamat dengan melarikan diri ke arah Barat hingga mencapai Maroko. Sampai sekarang, keluarga kerajaan Marokomengklaim keturunan dari Hasan melalui cucu beliau Idris bin Abdullah, karena itu keluarga mereka dinamakan dinasti Idrissiyyah.[6] Selain itu pula, ulama-ulama besar seperti Syekh Abu Hasan Syadzili Maroko (pendiri Tarekat Syadziliyah) yang nasabnya sampai kepada Hasan melalui cucunya Isa bin Muhammad.

Mesir dan Iraq adalah negeri yang ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Hasan dan HusainAbdul Qadir Jaelani seorang ulama yang dianggap sebagai Sufi terbesar dengan julukan ‘Mawar kota Baghdad’ adalah keturunan Hasan melalui cucunya Abdullah bin Hasan al-Muthanna.

Persia hingga ke arah Timur seperti India sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia) didominasi para ulama dari keturunan Husain bin Ali. Bedanya, ulama Ahlul Bait di tanah Parsi banyak dari keturunan Musa al-Kadzim bin Ja’far ash-Shadiq seperti Ayatullah Ruhollah Khomeini karena itu ia juga bergelar Al-Musawi karena keturunan dari Imam Musa al-Kadzim, sedangkan di Hadramaut(Yaman), Gujarat dan Malabar (India) hingga Indonesia ulama Ahlul Baitnya banyak dari keturunan Ali Uraidhi bin Jafar ash-Shadiq terutama melalui jalur Syekh Muhammad Shahib Mirbath dan Imam Muhammad Faqih Muqaddam ulama dan sufi terbesar Hadramaut di zamannya (abad 12-13M).

Walaupun sebagian besar keturunan Ahlul Bait yang ada di Nusantara termasuk Indonesia adalah dari Keturunan Husain bin Ali namun terdapat juga yang merupakan Keturunan dari Hasan bin Ali, bahkan Keturunan Hasan bin Ali yang ada di Nusantara ini sempat memegang pemerintahan secara turun temurun di beberapa Kesultanan di Nusantara ini, yaitu Kesultanan Brunei,Kesultanan Sambas dan Kesultanan Sulu sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / Prasasti dan beberapa Makam dan juga Manuskrip yang tersebar di Brunei, Sambas (Kalimantan Barat) dan Sulu (Selatan Filipina), yaitu melalui jalur Sultan Syarif Ali (Sultan Brunei ke-3) yang merupakan keturunan dari Syarif Abu Nu’may Al Awwal. Sementara dari keturunan Husain bin Alimemegang kesultan di Jawa bagian barat, yang berasal dari Syarif Hidayatulah, yaitu Kesultanan Cirebon (yang kemudian pecah menjadi tiga kerajaan, Kesultanan Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) dan Kesultanan Banten. Sebagai kerurunan Syarif Hidayatulah keturunan merekapun berhak menyandang gelar Syarif/Syarifah, namun dari keturunan Syarif Hidayatullah gelar tersebut akhirnya dilokalisasi menjadi Pangeran, Tubagus/Ratu (Banten) dan Raden (Sukabumi, Bogor).

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat. Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH

Golongan Suni sama sekali tidak mengakui kedudukan Ali Bin Abi Thalib sebagai Wasiy Nabi SAW, bahkan menurut mereka Wasiy Nabi SAW adalah seseorang yang dipilih/diangkat atas kesepakatan umat, dan yang pertama adalah Abu Bakar yang dipilih/diangkat di Balai Pertemuan Bani Saidah di Saqifah.

Khalifah artinya pengganti Nabi yang harus muncul segera setelah wafatnya Nabi tanpa jeda apapun. Nabi menyatakan bahwa 12 khalifah tersebut mencakup sampai hari kebangkitan ! Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang  pemimpin / Imam. Menurut syi’ah mereka berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra Binti Muhammad SAW.

Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama syi’ah terpaksa menyembunyikan keimanan mereka.

Bahwasanya Golongan Suni tidak mengakui pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Nabi SAW tidaklah menjadikan pengangkatan itu menjadi tidak ada. Karena bukti hadist dan sejarah tetap menunjukkan Nabi Muhammad SAW telah mengangkat anggota keluarga-nya sebagai Penerus/Pengganti/Wasiy bagi umatnya.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[ Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.]

Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Peristiwa Imam Ali membai’at Abubakar secara terpaksa, dan Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah secara terpaksa tidaklah menjadikan pengangkatan 12 imam ahlulbait  menjadi Penerus/Pengganti (wasiy) Beliau SAW untuk memimpin umat menjadi tidak ada karena Imam Ali dan Imam Hasan tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya.

Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini. Dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan

Ada  dua  pilihan  bagi  Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !! Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”

kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengalah demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistensi Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

‘Ali membaiat Abu Bakar adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagian kabilah Arab namun ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya

Hadis riwayat Bukhari no. 4240-4241  dibawah ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] :

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr.

Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka.

‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam’].

 Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’.

Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”.

Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].

hadis Buraidah menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.

Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “. Meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini,

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

kaum tradisional Arab segan mempercayakan ali yang  muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar..

Imam Ali merasa dirinya yang paling berhak tetapi orang-orang malah membaiat Abu Bakar. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Selama masa 6 bulan itu ternyata pemerintahan Abu Bakar mengalami berbagai masalah seperti adanya “kaum yang murtad” dan adanya Nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab beserta pengikutnya. Berbagai masalah ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat. Merekapun juga melihat tindakan memisahkan diri yang dilakukan Imam Ali dan hal ini bisa saja dimanfaatkan oleh mereka untuk menyebarkan fitnah perpecahan.

Oleh karena itulah setelah 6 bulan Imam Ali memutuskan memberikan baiat untuk menutup celah yang akan dimanfaatkan oleh kaum munafik dan baiat ini adalah demi keutuhan umat islam. Inilah yang dimaksud Imam Ali bahwa ia mengalami penderitaan dan kesulitan sepeninggal Nabi SAW [hal ini telah diberitakan oleh Nabi SAW kepada Imam Ali]. Di satu sisi Beliaulah yang paling berhak tetapi beliau tetap memberikan baiat demi keutuhan umat islam.

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran [bersusah payah] sepeninggalKu”. Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu” [Mustadrak Ash Shahihain 3/151 no 4677 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]

Pernyataan Imam Ali kalau Beliau adalah yang paling berhak sepeninggal Nabi SAW jelas berdasarkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi SAW sendiri, diantaranya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188 dengan sanad yang shahih]

Sepeninggal Abu Bakar, Umar ditunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya dan orang-orangpun membaiat Umar. Disini Imam Ali melihat betapa orang-orang menerima keputusan Abu Bakar dan membaiat Umar padahal Imam Ali merasa bahwa Beliau adalah yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan oleh Beliau sebagai penderitaan dan kesulitan tetapi beliau tetap bersabar dan ikut memberikan baiat pula kepada Umar agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Sepeninggal Umar, beliau memerintahkan pemilihan khalifah melalui Majelis syura yang ia bentuk. Terdapat berbagai riwayat seputar masalah ini yang terkadang “agak kontroversi” tetapi singkat cerita majelis tersebut mengangkat Utsman sebagai khalifah. Sekali lagi Imam Ali melihat orang-orang memilih Utsman padahal Imam Ali merasa yang paling berhak. Hal inilah yang dinyatakan Imam Ali sebagai penderitaan dan kesulitan yang beliau alami. Tidak ada satupun dikalangan umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan seperti itu. Beliau yang berhak tetapi beliau tetap bersabar dan menerima. Tentu saja akhlak seperti ini hanya dimiliki orang-orang khusus.

Walaupun Imam  Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait. Pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan Islam.

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah.

Imam Ali bahwa berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Yang benar adalah bahwa kapan saja ada kesempatan, Imam Ali selalu membicarakan haknya sebagai Khalifah Rasulullah Saw.Sunni mencatat peristiwa 25 tahun setelah hari Ghadir Kum

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”Nahj al-Balaghah, ucapan # 166.]

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bahwa orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis di Masjid dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum  untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.[ Peristiwa Kufa ini telah diriwayatkan oleh empat sahabat Nabi Saw dan empat belas thabi’in, dan telah tercatat pada kebanyakan buku-buku sunan dan sejarah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, vol. 1 (Tehran: Muassasat al-Muwahidi, 1976) hal-hal. 166-186.]

Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[ Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.]

Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum

Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas.

Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir.

Definisi ‘khalifah’
English to English
noun
1. the civil and religious leader of a Muslim state considered to be a representative of Allah on earth Terjemahkan

Indonesian to Indonesian

wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw. setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;

Definisi Khilafah/Khalifah

Pengertian Bahasa Khilafah

Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa, berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith, I/251).

Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan, khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari, makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah, karena dia menggantikan penguasa sebelumnya, lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari, I/199).

Imam Al-Qalqasyandi mengatakan, menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma), yaitu kekuasaan umum atas seluruh umat, pelaksanaan urusan-urusan umat, dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi, Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah, I/8-9).

Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226).Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian, walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam), bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik, yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Sulaiman Ath-Thamawi, As-Sulthat Ats-Tsalats, hal. 245; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/823).

Hanya saja, para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazh-har ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi, 1980:227).

Dalam artikel yang lepas, saya telah pun memberikan sedikit mukadimah tentang konsep Imamah dari pandangan Syiah. Saya telah menerangkan bahawa Imamah ialah satu jabatan lantikan Allah swt, untuk memimpin umat Muhammad(sawa) setelah ketiadaan baginda(sawa), untuk menggantikan seluruh tugas baginda dalam segala hal kecuali kenabian.

Saya juga telah menerangkan tentang tugas seorang Imam, yang mana bukan sahaja bersifat politikal, malah juga merangkumi spritual, juga sebagai sumber ilmu bagi semua bidang yang luar dari ilmu agama. Mengikut kami, Syiah kepada Ahlulbait Nabi, semua tugasan ini, di tanggung  oleh Ahlulbait Rasulullah, sebagai Pemimpin Ummah, yang telah dilantik oleh Allah swt sendiri, melalui pengisytiharan Rasulullah(sawa) di banyak tempat dan peristiwa dalam hidup baginda.

Sekarang ini saya akan bawakan perbahasan tentang Ahlulbait, yang mana menjadi sumber dan pegangan akidah bagi kami Syiah, yang mana dari mereka kami mengambil ilmu, dari mereka kami mencontohi sifat mulia dan dari mereka kami mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pesan Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Hadis ini, yang dinamakan sebagai Hadis Tsaqalain, iaitu dua perkara berharga, berat atau penting. Hadis ini diriwayatkan dalam pelbagai versi, tetapi masih mengekalkan matan yang sama, iaitu pesan Rasulullah agar kita berpegang kepada Quran dan Ahlulbait(as), yang mana keduanya digandingkan bersama. Hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawattir dan sahih, dan diriwayatkan dari berbagai sumber Sunni.

  1. Muslim: Sahih Hadis no. 6175-6177
  2. Tarmizi: Sahih Hadis 3786 dan 3788
  3. An Nisai: Khasais Amirul Mukminin Ali No.79
  4. Ahmad: Musnad: 5/181&182 dan 3/26 dan 5/189
  5. Ibnu Abi ‘Asim: As Sunnah no 754
  6. Nuruddin al Haitsami: Majma al Zawaid  Juz 5 hal 166
  7. Ibnu Hajar al Haitsami: Al Sawaiq Al Muhriqah hal 223. 229-230
  8. Al Khateeb al Tabrizi: Misykatul Masabih
  9. Al Hakim: Al mustadrak
  10. At Thabrani: Al Mu’jamul kabir
  11. Al Muttaqi al Hindi: Kanz al Ummal
  12. As Suyuthi: Ihya ul Mayyit bi Fadhail Ahlulbait, Jamius Saghir, Ad Durr al mansur
  13. Ibnu Kasir: Tafsir
  14. Ibnu Saad: Thabaqat Al Kubra
  15. Ibnu Atsir: Jami’ul Usul & Ususdul Ghabah
  16. Ibnu Asakir: Tarikh
  17. An Nabhani:Al Fathul Kabir
  18. Al Khawarizmi: Al Manaqib
  19. Ibnu Hbban: Sahih
  20. Sulaiman Al Bakhi al Hanafi: Al Baihaqi:As Sunan Yanabi Al Mawaddah
  21. Mir Sayyid Ali Hamadani: Mawaddatul Qurba
  22. Hafiz Abu Nuaim Al Isfahani: HIlayatul Awliya

Senarai di atas bukanlah senarai keseluruhan para ulama yang meriwayatkannya, masih banyak lagi yang belum disebutkan. Perlu juga untuk saya sebut bahawa, saya sengaja tidak meletakkan rujukan muka surat kerana buku-buku ini akan berbeza mengikut cetakannya dan pencetaknya.

Hadis Tsaqalain ini diriwayatkan dengan begitu banyak sekali, dengan sanad yang berbeza, membuktikan ramai para sahabat meriwayatkannya. Diantaranya ialah:

  1. Ali Ibn Abi Thalib
  2. Zaid ibn Arqam
  3. Zaid Ibn Tsabit
  4. Abu Said al Khudri
  5. Abu Hurairah
  6. Abdullah Ibn Hanthab
  7. Jabir ibn Abdullah al Ansari
  8. Huzaifah ibn Usaid al Ghifari
  9. Abu Dzar al Ghifari
  10. Anas ibn Malik
  11. Al Bara’ ibn Azib
  12. Huzaifah ibn Yaman
  13. Abu Haitsam ibn at Tihan
  14. Abu Rafi’
  15. Ibnu Abbas
  16. Salman al Farisi
  17. Sa’ad ibn Abi Waqas
  18. Amru ibn al ‘As
  19. Ummu Salamah

Berikut ialah beberapa versi hadis Tsaqalain.

Dari Zaid Ibn Arqam, “Beberapa hari selepas haji terakhir baginda, Rasulullah berhenti untuk memberi khutbah kepada kami di pinggir tempat yang dipanggil Ghadir khum yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan mengingati Allah, seraya berkata,”Wahai umat ku, bersaksilah! Ku rasakan waktu ku untuku dipanggil telah hampir tiba, dan sungguh,akan ku sahut panggilan itu. Bersaksilah,aku akan meninggalkan pada kamu semua dua benda berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang ada padanya cahaya dan pedoman,yang kedua adalah Ahlul baytku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku. Dengan nama Allah,aku mengingatkan kamu ttg Ahlul Bayt ku.(3 kali).

Dari Zaid ibn Tsabit, “Sesungguhnya aku meninggalkan buat kamu 2 pemimpin sesudah pemergianku, iaitu Kitab Allah dan keluargaku iaitu Ahlulbait. Keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh

Dari Jabir al Ansari, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, nescaya kamu tidak akan sesat selamanya, kitab Allah dan Ahlulbaitku.”

Dari Said al Khudri,  dengan pertambahan, “Lihatlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”

Dari Abdullah ibn Hanthab, dengan ayat Rasulullah(sawa), “Aku akan menyoal kamu tentang dua perkara ini: Al Quran dan itrat ku.”

Inilah serba sedikit yang dapat saya nukilkan versi-versi hadis Tsaqalain. Hadis-hadis ini diisytiharkan sahih oleh ulama-ulama Sunni sendiri, jadi tidak ada keraguan lagi berkaitan kesahihannya. Seorang ulama silam yang memang terkenal sebagai anti Syiah nya, Ibnu Hajar al Haithamidilaporkan menyebut:

“Ketahuilah, bahawa hadis berpegang kepada Ahlulbait telah disampaikan dengan banyak cara. Penyampai hadis ini berjumlah lebih dari 20 orang sahabat Nabi(sawa).”

Beliau juga menambah:

“Terdapat sedikit perbezaan dalam cara hadis ini diriwayatkan. Sebahagian ulama menyatakan bahawa ia telah disampaikan sewaktu Nabi menjalankan haji Wada’ di Arafah. Sebahagian lagi mengatakan ketika di Madinah manakala yang lain dilafazkan di Thaif.” Al Sawaiq al Muhriqah

Ibnu Hajar mengulas, tidak ada perbezaan ketara dalam mengulas hadis ini, kerana dilafazkan di dalam keadaan berbeza. Besar kemungkinan Rasulullah(sawa) telah menyampaikannya secara berulang-ulang agar dapat menampakkan betapa pentingnya kedua-dua gandingan ini kepada para sahabat dan ummah baginda setelah ketiadaan baginda.

Apabila saya mencantumkan semua versi-versi ini, berikut ialah kesimpulan yang dapat saya nukilkan.

  1. Rasulullah(sawa) menggandingkan Al Quran(petunjuk) dengan Ahlulbait baginda, sebagai pengulas kepada petunjuk itu. Kedua-dua ini tidak akan terpisah sehinggalah di akhirat nanti, bermakna gandingan ini akan sentiasa wujud, sebagai pasangan.
  2. Mengikut Ahlulbait tidak akan sesat selamanya, menunjukkan bahawa merekalah penunjuk jalan kebenaran. Merekalah sumber ilmu yang sejati, penerus Sunnah baginda, dan penjaga kepada agama Islam dari segala penambahan dan pengurangan.
  3. Rasulullah(sawa) memberi penekanan Al Quran dan Ahlulbait sebagai gandingan, bukan salah satu dari mereka kerana baginda menggunakan perkataan “dan”. Lihat sahaja bagaimana bodohnya puak nasibi apabila dalam keadaan terdesak mengatakan tafsiran untuk hadis ini ialah  ”taatlah al Quran dan jagalah Ahlulbait ku”

Inilah pegangan Syiah Imamiah. Inilah akidah kami. Kami mempercayai bahawa Rasulullah(sawa) telah meninggalkan Ahlulbait(as) sebagai gandingan kepada Al Quran, agar keduanya menjadi rujukan kepada umatnya sepeninggalan baginda(sawa). Saya telah membincangkan dalam artikel sebelum initentang siapa Ahlulbait, tetapi apakah tanggungjawab kita kepada mereka? Seorang sahabat saya dari Ahlulsunnah mengatakan bahawa:

“Kami seperti Syiah juga menghormati Ahlulbait(as), kami menyayangi mereka dan taat kepada mereka.”

Benar, kami mempercayai bahawa saudara dari Sunni juga menghormati Ahlulbait, tetapi cukupkah sekadar itu? Cukupkah semata-mata bagi kita menghormati Al Quran? Sudah pasti jawapannya tidak mencukupi. Al Quran adalah untuk dibaca, difahami dan dipatuhi segala perintahnya. Dan begitu jugalah tanggungjawab kami kepada Ahlulbait. Konsep ini di namakan Tawalla dan Tabbarra, yang telah saya bincangkan.

Kami mempercayai bahawa Ahlulbait, jika diikuti seratus peratus, maka tidak akan wujud mazhab-mazhab sebagaimana hari ini. Tidak timbul perselisihan yang terlampau ketara. Rujuklah mereka.

Kini timbul satu persoalan baru apabila kita bawakan hadis ini kepada saudara Sunni.

“Yang kami selalu dengan ialah hadis Aku tinggalkan kalian Al Quran dan Sunnah ku.

Ya, ini adalah balasan yang selalu saya dengari dari mereka. Untuk tajuk hadis Al Quran dan Sunnah ku ini, akan saya bincang di satu artikel yang khas untuknya kerana saya tidak mahu memanjangkan artikel ini dengan topik luaran, bagaimanapun saya akan ceritakan secara simple di sini.

  1. Hadis itu dhaif dari sanad dan matannya.
  2. Hadis itu juga tidak diriwayatkan di dalam Sihah Sittah Ahlulsunnah wal Jamaah.
  3. Jika pun boleh mahu dipakai, hadis ini hanya boleh digunakan untuk Sunnah asli yang diambil dari para Imam Ahlulbait(as).

Petunjuk dari Quran tentang kepimpinan Ahlulbait(as)

“Jikalau Allah swt memang memerintahkan agar kita mentaati Ahlulbait, mengapa tak letak sahaja dalam Al Quran terang-terang, kan senang? Kan tak jadi perselisihan?

Ayat seperti ini selalu didengari dari orang-orang yang sudah mula memahami sedikit sebanyak tentang tanggungjawab kita terhadap Tsaqalain. Mereka berasa hairan dan takjub, tentang sebab Allah swt tidak meletakkan perkara yang begitu penting ini di dalam kitab agung, rujukan utama seorang Muslim. Saya katakan kepada mereka:

Cara solat pun Allah swt tidak ceritakan secara detail dalam Quran, cuma beberapa hint tentang pergerakannya sahaja, seperti rukuk dan sujud.

Jika semuanya disuapkan kepada kita, maka tidak terjadilah dunia ini sebagai tempat ujian kepada kita. Allah swt mahu kita mengkaji kebenaran, mahu kita berusaha dan struggle dalam mencari jalannya. Barulah Allah swt berikan jawapannya. Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang berjihad dalam mencari kebenaran itu, pasti Allah akan tunjukkan kepada jalan kami, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebenaran. Al Quran(29:69)

Di dalam artikel saya, Mencapai kebenaran, saya telah menyebutkan beberapa ciri yang perlu ada pada seseorang sebagai persediaan dalam mengkaji dan memahami kebenaran serta menerimanya. Bagi orang-orang seperti ini, sudah tentu tiada masalah bagi mereka untuk memahami dan menerima Tsaqalain.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas, tetapi Allah swt ada memberi petanda di banyak tempat di dalam Quran dalam mengikuti Ahlulbait(as), serta kewajibannya.

Lihatlah sahaja bagaimana Allah swt telah meninggikan kedudukan mereka dengan menyucikan mereka dengan sesuci-suci pembersihan(33:33), dan memerintahkan kepada kita untuk menyayangi mereka, mencintai mereka sebagai upah kenabian(42:23), dan kemuliaan siapakah yang ditinggikan di dalam ayat Mubahalah?(3:61)

1. Allah swt Berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai” Al Quran (3:103)

Tafsir Al Kabir, Al Thalabi dengan sanad Aban Bin Taghlab dari Imam Jaafar as Sadiq: “kamilah tali Allah yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut.”

  • Al Sawaiq al Muhriqah: Ibnu Hajar al Haithami hal 223
  • Yanabi Al Mawaddah: Al Qunduzi al hanafi hal 139, 328, 356
  • Syawahidul Tanzil: Al Huskaninal Hanafi Hadis bil 177-180

Imam Syafi’i dilaporkan di dalam Rashfatul Sadi, tulisan Imam Abu Bakar Ibn Shihabuddin, sebagai berkata:

“Apabila aku melihat manusia hanyut di dalam lautan kesesatan dan kejahilan akibat dari mazhab mereka, aku menaiki, dengan nama Allah, Bahtera Keselamatan, iaitu, Keluarga Yang Terpilih, Penutup segala Nabi. dan aku memegang keras Tali Allah, iaitu ketaatan kepada mereka, kerana Tuhan telah memerintahkan untuk berpegang kepada Tali itu.”

Lihatlah bagaimana Allah swt mengibaratkan Ahlulbait sebagai Tali Allah, serta memerintahkan agar memegang tali itu sekuat hati. Inilah yang dilakukan oleh kami Syiah kepada Tali Allah.
2. Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu berada bersama-sama orang-orang yang benar.Al Quran(9:119)

Ayyuhal ikhwan, siapakah orang-orang yang benar ini, yang  kita harus bersama mereka? Pastilah satu golongan suci yang Allah swt angkat melebihi dari yang lain.

Ibnu Syahri dan Tsa’labi dalam Tafsirnya, meriwayatkan dari Jabir dan Abu Jaafar dari Kalbi dan Abu Soleh dari Ibnu Abbas, As Su’udi dan Ja’far bin Muhammad Al Baqir(as) dan beliau meriwayatkan dari Malik bin Anas yang berasal dari ibnu Umar berkata: Allah swt memerintahkan para sahabat dan semua golongan beriman agar takut kepada Allah. Kemudian beliau berkata “…dan hendaklah kamu bersama orang2 yang benar” bermaksud Muhammad dan Ahlulbait baginda.

  • Syawahidul tanzil:al Hakim al Huskani al Hanafi. Hadis bil. 350-356
  • Kifayatuth Thalib: Al Kanji as Syafii Hal 236. Cetakan Al Haidhariyah
  • Tarikh Dimasyq: Ibnu asakir. Bahagian Terjemahan Ali Ibnu Abi Thalib 2/241. Hadis Bilangan 923
  • Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi al Hanafi. Hal 16
  • Al Manaqib:Al Khawarizmi al Hanafi hal 198
  • Yanabi al Mawaddah: Al Qanduzi al Hanafi hal 136 dan 140
  • Ad Dur al mantsur: As Suyuti as Syafi’i 3/390

3. Allah swt turut menyebutkan:

Dan bahawa sesungguhnya inilah jalanKu yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan lain, kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa. Al Quran(6:153)

Imam al Baqir dan Imam al Sadiq selalu menyebutkan bahawa: Jalan yang lurus ini ialah bersama Imam, dan janganlah mengikuti jalan yang lain(imam-imam lain) kerana mereka akan mengalihkan kamu dari jalan Allah. Jika bukan jalan Ahlulbait, imam mana lagi yang boleh kita katakan sebagai jalan yang lurus? Imam Syafi’i, Hanbali? Mereka saling bercanggah antara satu sama lain dan tiada dalil dari Quran atau hadis yang mengwajibkan kita untuk mengikuti mereka, sedangkan Ahlulbait ialah sebahagian peninggalan Nabi(sawa).

4. Di tempat lain, Allah swt mengarahkan kita:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.” Al Quran(4:59)

Ulil Amri yang dimaksudkan ialah Ali dan para Imam dari Ahlulbait.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

5. Allah swt berfirman:

“Oleh itu bertanyalah kamu kepada Ahlil Zikir jika kamu tidak mengetahui”.Al Quran(16:43) dan (21:7)

Ahlul Zikir yang dimaksudkan ialah asas Ahlulbait iaitu, Imam Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Dari Jabir, meriwayatkan setelah turun ayat ini Imam Ali berkata:” Kamilah yang diimaksudkan sebagai Ahlil Zikir”

  • Yanabi al Mawaddah : hal 51 dan 140
  • Syawahidul Tanzil:1/334 hadis 459-466
  • Tafsir Qurtubi: 11/272
  • Tafsir Tabari: 14/109
  • Tafsir Ibnu Katsir2/570

6. Setiap hari, dalam solat, kita membaca:

Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat ke atas mereka

Imam Tsalabi di dalam Tafsir Al Kabir menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini juga merujuk kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

7. Akhir sekali, suka saya ingin memberikan hint-hint terakhir dari Allah swt dalam Quran yang berbunyi:

Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka akan (ditempatkan di syurga) bersama-sama orang-orang yang telah dikurniakan nikmat oleh Allah kepada mereka, iaitu Nabi-nabi, dan orang-orang Siddiqiin, dan orang-orang yang Syahid, serta orang-orang yang soleh.Al Quran(4:69)

Imam dari Ahlulbait, tanpa keraguan dan sebarang bantahan, ialah ketua bagi para Sadiqin, Syuhada dan Solihin. Cukuplah kiranya setakat ini saya sertakan hujah dari Al Quran, yang memberi petunjuk kepada kepimpinan Ahlulbait(as) dan tugas kita adalah untuk mentaati mereka to the letters, tanpa sebarang bantahan dan keraguan sebagaimana haknya, kita mentaati Rasulullah(sawa). Jikalau kamu tidak bersetuju dengan hujah-hujah yang saya bawakkan ini, maka bersaksilah kami tidak memaksa kamu menerima kepercayaan kami, tetapi hormatilah tafsiran ini, dan bukalah hati kamu agar bolehnya kita bersatu tanpa perlu mengorbankan kepercayaan masing-masing. Jikalau kami salah, maka cukuplah kiranya Allah swt menjadi hakim kami, kerana Dia yang maha adil telah meninggalkan kita Al Quran, maka segata tafsiran dalam Quran yang logik dan tidak batil boleh diterima, seperti yang dilakukan oleh para ulama mujtahid Sunni, seperti Maliki dll. Mereka semua menafsirkan sesuatu dengan cara yang berbeza, dan semuanya kalian boleh terima, maka terimalaha tafsiran kami ini.

Kata-kata Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait

Bagaimanapun wahai Ikhwan sekalian, hujah saya masih belum mati setakat ini, ingin sekali, InsyaAllah, saya bawakan apa pula yang dikatakan oleh Rasulullah(sawa) tentang Ahlulbait baginda. Banyak sekali, tetapi cukup la sikit-sikit, nanti tepu pulak akal yang membaca.

1. Lihat sahaja betapa pentingnya penekanan kepada Ahlulbait apabila Rasulullah(sawa) bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait disisi kamu laksana bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan binasa.”

  • As Sawariq Al Muhriqah hal 282
  • Al Mustadrak 3/151
  • Yanabi Al Mawaddah : Hal 30 &370
  • Al Mu’jam as Saghir: 1/139
  • Majma ul zawaid 9/168

Wahai saudaraku sekalian, lihat sahaja apa yang Rasul kita gambarkan tentang Ahlulbait baginda, seperti bahtera Nuh. Tentu sahaja kita selalu mendengar kisah Nabi Nuh(as), di mana Allah swt mendatangkan kepada kaumnya banjir besar, yang mana sayu-satunya jalan keselamatan hanyalah bahtera Nabi Nuh(as). Sesiapa sahaja yang menaikinya, selamat dari azab Allah, dan bagi siapa yang enggan, setinggi mana pun gunung yang di daki, tidak berupaya menyelamatkan mereka dari banjir itu.

Suka juga untuk saya kaitkan, di mana Nabi Nuh dan pengikutnya di cela dan diejek oleh kaumnya, kerana idea beliau tentang bahtera ini. Secara kebetulan(atau memang seperti yang Allah mahu tunjukkan) kami Syiah, yang memilih menaiki bahtera ini juga dicela dan diejek serta dimusuhi dengan pelbagai cara. Maka ini, semakin menambahkan keyakinan kami tentang jalan yang kami pilih ini.

2. Ibnu Hajar al Haithami mensahihkan: Sesungguhnya aku tinggalkan kalian 2 perkara yang kalian tidak akan sesat buat selamanya selagi kalian mengikut keduanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Ahlulbaitku. Dari itu, jangan kalian mendahului keduanya kerana kalian akan binasa, dan jangan kalian memperkecilkan keduanya kerana kalian akan binasa. Dan jangan kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui dari kalian.”

  • As Sawaiq Al Muhriqah hal 230
  • Majma uz Zawaid 9/163
  • Yanabi Al Mawaddah  Hal 41 dan 355
  • Ad Durr al Mantsur 2/60
  • Kanz al Ummal Bil Hadis 958

Perhatikan betul-betul hadis di atas. Itulah selayaknya Ahlulbait yang menjadi gandingan Al Quran, di mana Rasulullah melarang kita mendahului atau ditinggalkan oleh mereka, ini bermakna agar tetap utuh bersama mereka, dalam apa jua keadaan. Apabila Rasulullah(sawa) berkata jangan perkecilkan mereka, itu tandanya Rasulullah mahukan segala keutamaan diberikan kepada keduanya. Yang paling best, ialah ayat terakhir baginda, bahawa jangan mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui. Ini ialah tanda ketinggian ilmu mereka, yang menyebabkan bukti Imamah mereka ke atas kita, sumber ilmu yang benar dan tiada yang lain. Celakalah mereka yang belajar dari orang yang bukan ahlinya.

3. At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar dan Abu Said Al Khudri, Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbait ku itu disisi kalian umpama “pintu pengampunan” bani Israel. Sesiapa yang masuk ke dalamnya akan di ampunkan.”

  • Ihya ul Mayyit: Bil 26&27
  • Majma uz Zawaid: 9/168
  • Ibnu Hajar menjelaskan : Allah swt menetapkan bahawa memasuki pintu tersebut ialah pintu Ariha atau Baitulmaqdis dengan rasa hina dan memohon keampunan menjadi sebab kepada pengampunan. Dia telah menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai sebab kepada pengampunan.

4. Al Hakim menerusi Al Mustadrak telah meriwayatkan hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda: Bintang-bintang adalah penyelamat bagi makhluk bumi dari kesesatan. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat untuk umatku dari perselisihan. Apabila kaum-kaum telah berselisih, maka mereka berpecah menjadi pengikut iblis.

  • Ihya Ul Mayyit: As Suyuthi no 21
  • Sawaiq Al muhriqah: hal 138

Penggunaan bintang sebagai medium penunjuk arah samada bagi para pelayar ataupun para musafir memang tidak dapat diragukan lagi. Sekali lagi di sini, Rasulullah(sawa) dengan indahnya menyamakan Ahlulbait baginda dengan bintang-bintang, sebagai panduan kepada umat baginda, dari ancaman kesesatan. Amat malang sekali, jika umat beliau dari dahulu lagi berpandukan kepada “bintang-bintang” ini. maka tidak akan wujud masalah kesatuan seperti sekarang, yang mana ramai dari kita menjadi pengikut iblis.

5. At Tabrani menukilkan riwayat dari Hassan bin Ali, Rasul bersabda: Kekalkanlah kecintaan terhadap kami Ahlulbait. Kerana sesiapa yang menghadap Allah dengan mencintai kami akan masuk syurga melalui syafaat kami. Demi Dia yang jiwa ku di genggamannya, bahawa sesungguhnya tidak bermanfaat satu amalan seorang hamba melainkan dengan mengenali hak kami.

  • Ihya ul Mayyit: as Suyuthi no 18
  • As sawaiq al Muhriqah hal 198
  • Yanabi Al Mawaddah: hal 293.323.326 dan 364
  • Majma uz Zawaid: 9/172

Dalam artikel Tawalla dan Tabbara, saya ada ceritakan tentang hak Ahlulbait(as) ke atas kita. Betapa beratnya hak ini, sehinggakan Rasulullah mengatakan amalan seorang hamba hanya diterima jika hak Ahlulbait dikenali. Apakah hak Ahlulbait, secara ringkasnya, dan mengikut pamahanam saya yang jahil ini, hak Ahlulbait ialah:

  • Hak untuk memimpin kita
  • Hak untuk ditaati oleh kita
  • Hak untuk dicintai oleh kita(tawalla)
  • Hak untuk membenci musuh mereka oleh kita(Tabbarra)
  • dan banyak lagi, hehe

Saya juga ingin menerangkan, adakah cukup kita dikatakan mencintai Ahlulbait(as) hanya dengan sekadar menyatakan, meluahkan dan memberitahu di mulut bahawa kita mencintai mereka? Tidak..oh tidak!!

Apabila saya katakan saya mencintai ibu saya maka

  • saya akan ikut cakap beliau
  • tidak menderhaka
  • menunaikan hak kita kepada mereka
  • tidak menyakiti beliau dengan kata-kata kasar
  • tidak bersahabat dengan orang yang memusuhi atau menyakiti beliau
  • mencintai atau menyukai orang yang beliau sukai

Begitu jugalah dengan rasa cinta kita kepada Ahlulbait. Pengucapan rasa cinta bukan sekadar dimulut, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan dan perlakuan. Malangnya inilah yang dilakukan oleh pelakon-pelakon handalan dari puak nasibi yang menentang Ahlulbait. Bolehkah..layakkah kita dikatakan mencintai Ahlulbait jika dalam masa yang sama kita:

  • Tidak mengenali mereka?(Duh!! Bodoh betul bercinta dengan stranger)
  • Redha akan musuh-musuh yang menyakiti dan membunuh mereka( Radhiallahu anhu kepada Muawiyah? oh no..Yazid..lebih lagi la)
  • Tidak mencintai orang-orang yang  mereka cintai.(kenal tak kalian siapa Miqdad(ra)? Salman(ra)? Abu Dzar(ra)?)
  • Menconteng arang ke muka mereka.(Mengaku sebagai Syiah, tetapi bertenggek sana sini dengan perempuan, berkelakuan tidak senonoh, sehingga orang mengata kepada ajaran Para Imam(as).
  • Tidak mengikut ajaran mereka.(Kamu solat ikut cara siapa, hukum-hukum fiqh berdasarkan ajaran siapa? Diorang kata jangan makan sotong, makan jugak)

Fikirkan sendiri.

6. Sesiapa yang berhasrat mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang dijanjikan tuhanku iaitu syurga abadi, maka hendaklah ia mengambil Ali dan zuriatnya sebagai pemimpinnya, Sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu hidayah dan tidak juga memasukkan kalian ke dalam pintu kesesatan.

  • Sahih Bukhari 5/65
  • Sahih Muslim 2/51
  • Kanz al Ummal: Hadis no 2578

Tidak perlu komen dengan dalil yang begitu jelas ini.

7. Letakkanlah Ahlulbait ku disisi kalian seperti kedudukan kepala pada jasad dan kedudukan 2 biji mata pada kepala. Kepala tidak bermanfaat menunjuk jalan jika tanpa 2 biji mata.

  • Majma ul Zawaid 9/172

Segala puji bagi Allah swt yang meletakkan hujah kami di buku pihak lawan. Syukur kepada Allah, inilah yang kami pegang. Lihatlah wahai ikhwan, nas dan dalil untuk berpegang teguh kepada Ahlulbait cukup banyak sekali. Tetapi adakah kalian cukup berani untuk menerimanya, dan menolak amalan nenek moyang kamu?

Cukuplah setakat ini bagi orang-orang yang berfikir. Salam alaikum dan solawat

Kapan Imam Ali Membaiat Abu Bakar? : Membantah Para Nashibi

baca juga : mengapa ali tidak memprotes pembaiatan atas abubakar ?

baca juga : Ali mem-bai’at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah secara TERPAKSA demi mencegah perpecahan dalam ummat

Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali

Menurut riwayat dari Al-Ya’qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada’),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama “GHADIR KHUM.” Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain beliau berkata : “Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya”

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai’at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah, Ali mem-bai’at Abu Bakar setelahFatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Sahabat Nabi  SAW ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Imam Ali AS berbai’at kepada Abubakar setelah USMAN bin AFFAN menyatakan : “tidak seorangpun mau bergabung dalam lasykar muslim untuk memerangi kaum MURTAD kalau anda tidak berbai’at kepada ABUBAKAR”..

Jadi Imam Ali menjaga keutuhan Islam dari kepunahan !!!

pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka, sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lain Musailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi

This Picture Is Taken From: http://wargamesfactory.lefora.com/composition/attachment/59f8087b70dd6f22636d8247b9eb19b3/256618/Vichy_camel_troops_in_Syria_03-1.jpg
Kemurtadan saat itu terjadi di mana-mana dan menimbulkan kekacauan. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan ‘Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla’ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam

This Picture Is Taken From: http://mojette.deviantart.com/art/muslim-soldier-A-59597641

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain

Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang murtad, yaitu:

A. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh oleh Fairuz Ad-Dailami.

B. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw. membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.

C. Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang baik.

This Picture Is Taken From: http://wargamesfactory.lefora.com/composition/attachment/59f8087b70dd6f22636d8247b9eb19b3/256618/Vichy_camel_troops_in_Syria_03-1.jpg

banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr

Salam dan Solawat.

Ada dua pilihan bagi Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE