Diantara berbagai peradaban yang eksis saat ini, memang hanya Islam yang pernah menaklukkan Barat. Dalam buku terkenalnya, “Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”, Huntington menyimpulkan

Ada sebuah tulisan menarik di Harian International Herald Tribune (20 Juli 2004) yang ditulis oleh Craig S. Smith. Judulnya: Europe fears threat from its converts to Islam. Artikel itu bercerita tentang dua pemuda Perancis, bernama David dan Jerome yang masuk Islam dan akhirnya ditahan karena tuduhan terlibat jaringan terorisme internasional.

Kasus dua bersaudara itu diangkat sebagai representasi, betapa perlunya masyarakat Eropa mencermati dan waspada terhadap kecenderungan meningkatnya konversi penduduk asli Eropa ke dalam Islam, setelah peristiwa 11 September 2001. Tahun 2003, dinas rahasia Perancis, memperkirakan, ada sekitar 30.000-50.000 orang Perancis yang masuk Islam. Islam kabarnya merupakan agama yang paling cepat berkembang di Eropa.

Sebagai sebuah artikel populer di media massa, sebenarnya terdapat aspek generalisasi yang berlebihan dalam menarik satu kesimpulan. Tetapi, dilihat dari sisi pembentukan opini publik di dunia Barat, tulisan semacam ini tampaknya dimaksudkan untuk membangun kewaspadaan terhadap Islam. Kampanye internasional anti-terorisme – yang kini lebih banyak ditujukan kepada kelompok-kelompok Islam – ternyata tidak berhasil menahan laju perkembangan Islam di Eropa.

Tulisan-tulisan seperti ini tampaknya dibuat untuk memperkuat kembali kesadaran Barat terhadap bahaya Islam, yang terus-menerus dibangun oleh media massa dan sebagian politisi Barat, sejak kekalahan komunisme. Era Perang Dingin berakhir, berganti dengan era Perang melawan Islam (tertentu).

Fakta perkembangan Islam di Eropa itu menunjukkan, kampanye anti-terorisme oleh Barat, terutama, AS, yang menjadikan al-Qaidah sebagai musuh utama dunia internasional, ternyata tidak terlalu berhasil.

Bahkan, di Arab Saudi, menurut laporan Newsweek edisi 28 Juni 2004, simpatisan Osama bin Laden ternyata cukup tinggi. Sebuah polling rahasia yang dilakukan oleh pemerintah Saudi menunjukkan, 49 persen responden mendukung gagasan Osama.

Fenomena itu bisa dipahami, mengingat dunia internasional semakin jelas menyaksikan bagaimana berbagai paradoks dan kebrutalan ditunjukkan oleh AS, khususnya dalam kasus Palestina dan Irak. Terbongkarnya kebrutalan tentara-tentara AS terhadap tawanan Irak di penjara Abu Gharib semakin membuka mata umat manusia terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa, kampanye anti-terorisme sebenarnya tidak lepas dari kepentingan politik dan ekonomi Barat untuk mempertahankan hegemoninya.

Sebuah buku berjudul Western State Terrorism (ed. Alexander George), mengkompilasi data-data dari sejumlah penulis, seperti Chomsky, Edward S. Herman, Richard Falk, dan sebagainya, yang menunjukkan bagaimana Barat, terutama AS dan Inggris, menggunakan isu terorisme sebagai alat politik luar negerinya (to employ terrorism as a tool of foreign policy). Prof. Edward S. Herman, guru besar di University of Pensylvania dan Gerry O’Sullivan menulis sebuah artikel berjudul “Terrorism” as Ideology and Cultural Industry.

Mereka menyebut “terorisme, sebagai “industri multinasional”, dimana terdapat hubungan erat antara pemerintah, sponsor swasta, institusi-institusi pemikir, cendekiawan, baik di dalam AS maupun utamanya antara AS, Israel, dan Inggris. Contoh bagaimana biasnya penggunaan istilah “teroris” adalah dalam kasus pembantaian sekitar 3.500 pengungsi Palestina (termasuk wanita dan anak-anak) di Shabra-Shatila pada 1982. Pembantaian itu jelas dilakukan oleh Tentara Kristen Phalangis dengan pemantauan penuh Israel. Namun, Israel sama sekali bebas dari cap sebagai negara teroris. Korban warga Palestina di Shabra-Shatila itu juga melampaui jumlah korban kelompok yang sudah ditetapkan sebagai teroris, ketika itu, seperti PLO, Baader-Meinhof gang dan Red Brigades.

Salah satu peran penting untuk mendukung operasi “industri terorisme” dimainkan oleh lembaga-lembaga studi “quasi pemerintah”, seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Georgetown, AS.

Institusi-institusi semacam ini beserta para pakar di dalamnya bekerja bersama agensi-agensi pemerintah untuk memberikan perspektif tertentu tentang terorisme kepada masyarakat. Mereka juga merupakan alat penting bagi propaganda pemerintah Barat. “They are also important vehicles for spesific pieces of government propaganda,” tulis Herman dan Sullivan.

Lembaga-lembaga ini mendapatkan alokasi dana yang sengat besar. Pada pertengahan 1980-an, CSIS, Hoover Institution, American Enterprise Institute (AEI), dan Heritage Foundation, masing-masing mendapatkan anggaran lebih dari 10 juta USD (sekitar Rp 90 milyar) per tahun. CSIS, yang aktif mengadakan diskusi di berbagai negara, memiliki kecenderungan kuat ke kelompok “sayap kanan”. Bahkan, pada awal 1970-an, CSIS memiliki peran penting dalam melakukan destabilisasi rezim Allende di Chili. Setelah menguraikan peran CSIS dalam kasus terorisme, kedua penulis ini menyimpulkan: “The CSIS is a truly “multinational” member of the terrorism industry.”

Adakah hubungan CSIS di AS dengan CSIS di Indonesia?

Lembaga lain yang menjadi bagian penting dari industri terorisme, tentu saja, adalah pers. Pers, atau media massa, bertugas membentuk imej tentang siapa yang harus dipersepsikan sebagai teroris dan siapa yang dipersepsikan sebagai pemberantas teroris. Siapa yang harus dicap sebagai penjahat dan siapa yang dicap sebagai orang baik. Lihatlah, meskipun kejahatan Ariel Sharon begitu nyata, tetapi nyaris tidak ada pers yang secara konsisten menyebut Ariel Sharon sebagai “ekstrimis”, “teroris”, “militan Yahudi”, dan sebagainya. Begitu juga dengan Presiden George Bush.

Sudah jelas berbagai kesalahannya dan tanggung jawabnya terhadap terbunuhnya puluhan ribu nyawa manusia tidak berdosa di Afghanistan, Irak, Palestina, dan sebagainya. Hubungannya dengan kelompok fundamentalis Kristen dan Yahudi pun sangat jelas.

Tetapi, adakah pers di Indonesia yang mau secara konsisten menjuluki Bush sebagai “ekstrimis” atau “militan” Barat?

Pada akhirnya, semua kepalsuan dan standar ganda itu sulit untuk ditutup-tutupi. Dunia pun semakin terbuka. Dan itulah memang konskuensi dari cara berpikir peradaban Barat. Marvin Perry memulai kata pengantar untuk bukunya “Western Civilization: a Brief History”“Western civilization is a grand but tragic drama.” Menurut Perry, peradaban Barat adalah peradaban yang besar, tetapi merupakan drama yang tragis. Meskipun sukses dalam pengembangan berbagai bidang kehidupan, tetapi kurang berhasil dalam menyelesaikan penyakit sosial dan konflik antar negara. Sains Barat, meskipun sukses dalam mengembangkan berbagai sarana kehidupan, tetapi sekaligus juga memproduksi senjata pemusnah massal.

Disamping mempromosikan perlindungan hak asasi manusia, Barat pun memproduksi rejim-rejim totaliter yang menindas kebebasan individu dan martabat manusia. Juga, meskipun Barat berkomitmen untuk mempromosikan konsep kesetaraan manusia, namun sekaligus Barat juga melakukan praktik rasisme yang brutal.

Dalam buku Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002), yang menghimpun gagasan pemikir-pemikir besar dalam sejarah manusia, seperti Sopocles (495-406 SM), Thucydides (460-400 SM), Plato (428-348 SM), Aristotle (384-322 SM), Confucius (551-479), Adam Smith (1723-1790), Immanuel Kant (1724-1804), Karl Marx (1818-1883), Nelson Mandela, Edward Said (1935-2003), dimuat tulisan Prof. Syed Naquib al-Attas, berjudul “The Dewesternization of Knowledge”. Tulisan ini membongkar sebab-musabab bahaya yang ditimbulkan peradaban Barat terhadap umat manusia.

Al-Attas memandang problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan Barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia. Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan.

Tetapi, belum pernah, mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh peradaban Barat saat ini. (Many challenges have arisen in the midst of man’s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today’s challenge posed by Western Civilization).

Kekacauan itu, menurut al-Attas, bersumber dari sistem keilmuan Barat itu sendiri, yang disebarkan ke seluruh dunia. Knowledge yang disebarkan Barat itu, menurut al-Attas, pada hakekatnya telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan yang benar; dan lebih menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; knowledge yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism); bahkan knowledge yang untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.

Menurut al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama, dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia.

Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). Dengan karakteristiknya semacam itu, maka menurut al-Attas, peradaban Barat juga merupakan tantangan terbesar bagi kaum Muslim. Dan secara konseptual, antara keduanya terdapat perbedaan yang fundamental sehingga akan menimbulkan konflik yang bersifat permanen. Ia juga mengingatkan, bahwa dalam melihat Islam, Barat tidak bersikap pasif, tetapi sangat aktif memerangi Islam dalam berbagai bidang. Dalam sebuah risalahnya kepada kaum Muslimin, al-Attas mengingatkan: ““Shahadan, maka sesungguhnya tiada hairan bagi kita jikalau agama Kristian Barat dan orang Barat yang menjelmakan Kebudayaan Barat itu, dalam serangbalasnya terhadap agama dan orang Islam, akan senantiasa menganggap Islam sebagai bandingnya, sebagai tandingnya, sebagai taranya dan seterunya yang tunggal dalam usaha mereka untuk mencapai kedaulatan duniawi.”

Diantara berbagai peradaban yang eksis saat ini, memang hanya Islam yang pernah menaklukkan Barat. Dalam buku terkenalnya, “Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”, Huntington menyimpulkan: “Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done that at least twice.” (Islam adalah satu-satunya peradaban yang telah menampatkan keberlangsungan peradaban Barat dalam keraguan, dan ini telah terjadi sekurangnya dua kali).

Dalam kilasan sejarahnya, Islam pernah menaklukkan Barat selama beratus-ratus tahun. Islam pernah menduduki Spanyol selama hampir 800 tahun (711-1492). Kekuatan Islam, yang ketika itu diwakili oleh Turki Uthmani, selama beratus-ratus tahun menjadi “momok” yang sangat menakutkan bagi Barat. Selama dua kali (1529 dan 1683) kota Vienna dikepung oleh Turki Uthmani, yang ketika itu menjadi “The Superpower of the World”.

Jatuhnya Konstantinopel, tahun 1453, oleh Turki Uthmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad al-Fatih, juga merupakan pukulan berat bagi Barat. Konstantine adalah nama Kaisar Romawi yang dianggap begitu besar jasanya bagi perkembangan agama Kristen. Dialah yang membangun imperium Romawi Timur. Dia juga yang dikenal memelopori penyelenggaraan Konsili Nicea, 325, yang kemudian merumuskan doktrin-doktrin pokok dalam Teologi Kristen. Setelah runtuhnya imperium Romawi Barat, maka Imperium Romawi Timur masih tetap bertahan sampai masuknya pasukan Islam di bawah pimpinan al-Fatih pada 1453.

Selama dua bulan, sejak 6 April sampai 29 Mei 1453, pasukan al-Fatih (yang ketika itu berumur 29 tahun), mengepung Konstantinopel yang dikenal memiliki pertahanan sangat kuat. Meskipun mengalami perpecahan dalam paham keagamaan dengan Kristen Ortodoks di Romawi Timur, Paus Nicholas V di Roma, mengirimkan tiga kapal perang untuk membantu melawan pasukan al-Fatih. Jadi, meskipun Kristen bersatu, mereka tetap kalah. Begitu juga yang terjadi dalam Perang Salib. Meskipun Barat sudah bersatu padu, tetap kalah melawan Islam.

Memori kolektif sejarah Barat memang menyimpan kenangan pahit dan kekhawatiran terhadap kebangkitan Islam. Apalagi, begitu banyak sarjana Barat yang mengakui bahwa peradaban Barat sedang mengalami kemunduran. Tahun 1917, filosof Jerman Oswald Spengler menulis dua jilid buku berjudul Der Untergang des Abenlandes (The Decline of the West). Buku populer “The Rise and Fall of the Great Powers”, ditutup Paul Kennedy dengan bab “The United States: the Problem of Number One in Relative Decline”.

Sebenarnya merupakan hal yang mudah dipahami, bahwa Barat akan selalu berusaha mempertahankan eksistensinya, dengan menekan bangkitnya peradaban lain, terutama Islam. Kekhawatiran terhadap Islam akan mudah sekali dibangkitkan. Masyarakat Barat, yang secara nominal beragama Kristen, tidak risau jika warga mereka menjadi ateis, Budha, Hindu, atau mengikuti berbagai aliran keagamaan dari Cina. Tetapi, mereka tampak begitu peduli dan risau jika warganya masuk Islam.

Yang justru sulit dipahami, adalah, bahwa ada saja kalangan sarjana Muslim yang justru habis-habisan menjiplak pandangan hidup Barat untuk memimpikan adanya kebangkitan Islam. Mereka berpikir, untuk maju, jangan tanggung-tanggung dalam menjiplak Barat. Ambil semuanya apapun yang dari Barat. Abdullah Cevdet, seorang tokoh Gerakan Turki Muda menyatakan: “Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya mau pun durinya sekaligus.”

(There is only one civilization, and that is European civilization. Therefore, we must borrow western civilizaton with both its rose and its thorn). Banyak yang bermimpi, bahwa dengan mengikuti sekularisme dan liberalisme Barat, Islam akan maju dan mujur. Padahal, yang terjadi bukan mujur, tetapi malah babak belur

Mengapa Ummat Islam Mazhab Sunni Mundur dan Ummat Selain Islam Maju ??

Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama lainnya.

 

Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.

 

Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi dan menguasai negara-negara Islam secara ekonomi dan politik. Mereka mampu membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet Saturnus.

 

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.

 

Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.

 

Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam begitu maju menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga Spanyol.

 

Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir, Yahudi, bahkan 2 kerajaan Super Power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Bahkan ibukota kedua negara tersebut, yaitu Constantinople (Istambul) dan Baghdad saat ini tetap berada di tangan Islam yaitu di negara Turki dan Irak.

 

Semangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid yang berjumlah hanya 3 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang mundur, justru pasukan Romawilah yang mundur ketakutan akibat strategi Khalid bin Walid.

 

Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan Israel.

 

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga begitu. Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai Bapak Kedokteran dunia. Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Itulah keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu.

 

Ilmuwan Islam Al Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Bahkan angka yang kita pakai sekarang pun merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”ARABIC NUMERAL” yang menggantikan Sistem Bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol). Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

 

Mengapa ini semua bisa terjadi?

 

Syekh Amir Syakib Arsalan menulis satu buku yang mengungkap hal ini dengan judul ”Mengapa Ummat Islam Mundur dan Ummat Selainnya Maju?”

 

Sebab pertama kenapa ummat Islam mundur adalah karena ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat.

 

Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul(hadits)”. Ditambah lagi Qur’an sendiri menyatakan dalam surat Al-Furqon ayat 30. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. Menyoroti masalah ini Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Barang siapa yang tidak membaca Qur’an maka dia telah menjauhi Qur’an, dan barang siapa yang membaca tapi tidak pernah merenungkan isinya maka dia telah menjauhi Qur’an, dan barang siapa yang membaca lalu merenungkan isinya tapi tidak pernah mengamalkan nya maka dia telah menjauhi qur’an pula”. Tapi hal iniditujukan kepada orang yang berbeda kemampuan pemahamannya terhadap Qur”an.

 

Dalam Islam begitu banyak ajaran yang jika dilaksanakan akan bermanfaat bagi ummat Islam sendiri.

 

Sebagai contoh, Nabi berkata bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim lelaki dan perempuan [Ibnu Majah). Artinya jika kita mempelajari ilmu yang bermanfaat kita akan mendapat pahala, sedang jika tidak belajar kita akan berdosa.

 

Namun kenyataannya banyak ummat Islam yang malas belajar. Bahkan ada yang beranggapan wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya juga tinggal di dapur.

 

Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.

 

Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin belajar. Tidak hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang tetap belajar meski tidak melalui pendidikan formal seperti Bill Gates yang meski tidak lulus kuliah tapi tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.

 

Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka bisa membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali, mobil, komputer, dan sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.

 

Nabi juga berkata: ”Kebersihan sebagian dari iman.” Namun ternyata ummat Islam banyak yang hidup jorok. Bahkan banyak pesantren yang merupakan tempat kaderisasi ulama yang begitu kotor tempat wudlu, kamar mandi, apalagi WC-nya. Saya sempat melihat air yang begitu kotor dan hijau dipakai untuk berwudlu di pesantren.

 

Sebaliknya, ummat Non Muslim hidup begitu bersih. Untuk kamar kecil saja, airnya begitu bersih dan jernih. Bahkan mereka bisa mencari nafkah dengan menjadikan kebersihan sebagai usaha/bisnis mereka. Sebagai contoh perusahaan Swedia, Electrolux, memproduksi berbagai produk kebersihan seperti Vacuum Cleaner, alat pel listrik, dan sebagainya. Unilever merupakan perusahaan Multinasional yang kaya dengan produk kebersihan seperti sabun mandi, shampo (pembersih rambut), dan juga sabun cuci. Mereka jadi bersih dan makmur dengan menjalankan kebersihan yang sebenarnya merupakan ajaran Islam.

 

Kedua adalah ummat Islam tidak bersatu, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu.

 

Allah sudah mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran : 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Akan terpecah belah umatku seperti terpecah-belahnya Yahudi dan Nasrani menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali kaum yang mengikuti ajaran-ajaranku dan sahabat-sahabatku”.

 

Pada zaman Nabi, ummat Islam juga berusaha untuk dipecah-belah dan diadu-domba baik oleh orang kafir Mekkah, mau pun kaum Yahudi misalnya dengan berusaha menimbulkan fanatisme suku antara kelompok Muhajirin dan Anshar. Tapi Nabi berhasil mendamaikan dan mempersatukan mereka. Seharusnya para ulama yang merupakan pewaris Nabi harus berusaha mempersatukan ummat Islam yang terpecah-belah baik dalam kelompok bangsa/negara mau pun aliran.

 

Bahkan ummat Islam juga disusupi oleh kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul untuk memecah-belah ummat Islam dari dalam. Kaum munafik ini bahkan membangun masjid guna memecah-belah ummat Islam.

 

”Di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At Taubah:107-108]

 

Ummat Islam bukan hanya tidak sholat di masjid itu (Masjid Dliror), bahkan membakarnya sehingga orang-orang munafik tidak bisa memecah-belah ummat Islam.

 

”Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk kepadanya.

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir seperti mereka. Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula

menjadi penolong” [An Nisaa’:88-89]

 

Surat Al Baqoroh ayat 1-20 menjelaskan Muslim yang lurus, orang yang kafir, dan orang yang munafik. Ini agar ummat Islam bisa bersatu dengan Muslim yang lurus dan terhindar dari pecah-belah / adu domba kaum kafir dan munafik.

 

Dengan persatuan, ummat Islam tidak terkalahkan. Tidak hanya kaum kafir Quraisy yang gagal mengalahkan ummat Islam, tapi juga kaum Yahudi, Persia, dan Romawi. Mereka akhirnya takluk di tangan pejuang Islam.

 

Negara-negara Barat maju karena mereka bersatu. Di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan kelompoknya yang disebut NATO, mereka bersatu menyerang ummat Islam di Afghanistan, Iraq, dan juga memberikan dukungan penuh pada Israel yang menjajah Palestina dan menguasai masjid Al Aqsha.

 

Presiden AS, George W Bush mengatakan: ”Either with us or against us!”. Berjuang bersama kami. Jika tidak berarti melawan kami!” Jika tidak turut berjuang bersama George W Bush, berarti jadi musuh Bush cs.

 

Ummat Islam dulu juga begitu. Ketika bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’ tidak ikut berperang, mereka dikucilkan sehingga merasa berdosa:

 

”dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [At Taubah:118]

 

Ummat Islam gagal membebaskan masjid Al Aqsha karena politik adu domba dan pecah belah yang dilancarkan oleh AS dan sekutunya.

 

Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang:

 

”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14]

 

Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan musuh.

 

Sebab Ketiga adalah ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati.

 

Nabi Muhammad SAW berkata: ”Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

 

Saat ini mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati. Kebanyakan ummat Islam boleh dikata alergi terhadap perang. Apalagi ada beberapa boneka kelompok Barat yang berusaha melenyapkan ajaran jihad dengan perang dan menggantinya dengan ajaran Damai dan Cinta meski pada saat ini ummat Islam diserang dan dibunuh di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Ajaran Jihad pun berusaha untuk dipersempit sehingga perang tidak termasuk di situ.

 

Allah mewajibkan ummat Islam untuk berperang membela diri dan orang-orang yang dizalimi:

 

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” [An Nisaa’:75]

”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu” [Al Baqoroh:190]

”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

 

Dalam Islam kita diperintahkan untuk selalu dalam keadaan siap untuk berperang, sehingga ketika musuh menyerang, kita tidak terbantai dan terjajah:

 

”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [Al Anfaal:60]

 

Negara-negara Barat paham mengenai hal ini. Mereka punya semboyan: ”Si Vis Pacem Para Bellum”. Agar bisa damai, kita harus menyiapkan perang. Artinya jika kita kuat dan siap perang, maka musuh tidak berani menyerang dan memerangi kita sehingga kita bisa hidup damai.

 

Negara-negara Barat maju karena banyak melakukan peperangan. Dari Eropa, mereka berperang menyerang penduduk-penduduk di benua Asia, Afrika, Australia, dan Amerika. Akibatnya saat ini Kanada, Amerika Serikat, Australia, serta negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Brazil boleh dikata mayoritas penduduknya dan pemimpinnya berasal dari Eropa.

 

Negara-negara Barat juga melakukan peperangan baik dalam perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Afghanistan, Perang Iraq, dan sebagainya. Puluhan juta tentara mereka mati karenanya. Tapi musuh yang mereka bunuh (di antaranya ummat Islam) lebih banyak lagi dan mereka berhasil menguasai sumber daya dan kekayaan negara lain sehingga bisa maju dan kaya.

 

Seharusnya ummat Islam harus berani berperang untuk membela diri. Para ulama dan pemuda Islam yang sadar juga harus semangat untuk berperang membela orang-orang yang dijajah:

 

”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” [Al Anfaal:65]

 

Saat ini kebanyakan ummat Islam takut untuk mati di dalam peperangan. Sebaliknya mati ketika tawuran sekolah, tawuran antar warga, perang Supporter bola, atau mati terinjak dalam konser jadi hal yang biasa ketimbang mati syahid di dalam peperangan.

 

Sebab Keempat mundurnya ummat Islam adalah hilangnya semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah.

 

Ada hadits dloif yang berusaha memperkecil makna Jihad sebagai hanya perang melawan hawa nafsu dan bukan berperang. Padahal jihad adalah perjuangan yang sungguh-sungguh sehingga bukan hanya harta saja yang dikorbankan, tapi juga nyawa.

 

Ayat di bawah menjelaskan orang yang berjihad dengan harta dan nyawa jauh lebih tinggi derajadnya ketimbang orang yang tidak ikut berperang:

 

”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” [An Nisaa’:95]

 

Ummat Islam ketika perang dulu tidak takut mati. Justru mereka berperang dengan sengit agar bisa mati syahid dan mendapatkan surga:

 

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [At Taubah:111]

 

Orang-orang kafir heran, ummat Islam bukannya berusaha menghindari mati, tapi justru berusaha mati di dalam peperangan. Sehingga mereka begitu fokus menyerang musuh dan sulit untuk dikalahkan.

 

Dalam Perang Mu’tah, 3.000 pasukan Muslim dengan sabar melawan 200.000 pasukan Romawi. Mereka tidak mundur ketakutan. Justru pasukan Romawi yang mundur ketakutan karena strategi Panglima Muslim, Khalid bin Walid. Ketika ada yang mengusulkan untuk minta bantuan pasukan kepada Nabi, Abdullah bin Rawahah (salah satu syuhada) berkata: ”Demi Allah apa yang tidak kalian sukai sebenarnya justru yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang karena jumlah, kekuatan, dan banyaknya personil. Kita perang karena Islam yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena di sana hanya ada 2 kebaikan: Menang atau Mati Syahid!” (Siroh Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury).

 

Zaid bin Harits, Ja’far bin Abu Thalib, Abdullah bin Rawahah mati syahid. Total hanya 12 pasukan Muslim yang mati syahid. Sementara jumlah tentara Romawi yang gugur lebih banyak lagi.

 

Ibnu ’Umar yang melihat jasad Ja’far mengatakan bahwa ada 70 luka karena tikaman dan sabetan di tubuh Ja’far. Semua di tubuh bagian depan.

 

Itulah kehebatan semangat Jihad yang dimiliki ummat Islam. Meski kalah jumlah dan menghadapi Superpower dunia saat itu, mereka tidak gentar dan menang.

 

Sesungguhnya Jihad adalah semangat yang membuat ummat Islam menjadi kuat dan sulit untuk dizalimi, dijajah, atau dikalahkan. Orang-orang kafir membenci ini dan berusaha menghapusnya dengan memasukkan berbagai ajaran/paham sehingga ummat Islam jauh dari jihad. Misalnya dengan tasawuf, ummat Islam diasyikkan dengan ”mujahadah” sehingga lebih asyik menyepi dan ”berzikir” ketimbang berjihad.

 

Padahal jihad adalah satu kewajiban:

”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..” [Al Hajj:78]

 

Jihad adalah pintu atau syarat untuk masuk surga:

 

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ’Imran:142]

”Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” [Al Furqon:52]

 

Hanya orang yang munafik/tidak beriman yang tidak mau berperang dan berjihad:

 

”Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” [At Taubah:44]

 

”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panasnya” jika mereka mengetahui.” [At Taubah:81]

 

Sebab Kelima kemunduran Ummat Islam adalah karena tidak mandiri di bidang ekonomi. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan.

 

Sumber daya dan kekayaan alam negara-negara Islam saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Minyak, gas, emas, tembaga, perak, boleh dikata dikelola oleh Multi National Company (MNC) dari negara-negara Barat yang perekonomiannya didominasi Yahudi bekerjasama dengan segelintir pemimpin Muslim yang korup.

 

Ummat Islam hanya mendapat persentase yang amat kecil. Akibatnya ummat Islam jadi miskin, sementara orang-orang kafir bertambah kaya. Ummat Islam sering kesulitan dana untuk membangun masjid, sekolah-sekolah Islam dan tidak mampu menyantuni fakir miskin dan anak Yatim. Banyak anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan mencari makan.

 

Nabi Muhammad bukan hanya mengadakan boikot terhadap produk asing. Tapi bahkan melarang orang-orang kafir masuk ke kota Mekkah. Padahal saat itu perekonomian masih dikuasai oleh orang-orang kafir. Ketika sebagian orang Islam ada yang khawatir nanti bisa susah/miskin, Allah menghibur mereka:

 

”Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah:28]

 

Justru dengan melarang orang-orang kafir masuk, ummat Islam malah mandiri di bidang ekonomi dan menjadi lebih makmur.

 

Sebagai contoh, jika minyak, gas, emas, tembaga, perak, dan sebagainya dikelola oleh ummat Islam sendiri, maka semua keuntungan masuk ke tangan ummat Islam. Bukan recehan kecil yang hanya nol sekian persen yang diberikan oleh orang-orang kafir tersebut.

 

Dengan begitu ummat Islam bisa makmur dan kuat. Kemiskinan bisa dikurangi.

 

Sebab Keenam kemunduran ummat Islam adalah ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama.

 

Sering ummat Islam mengerjakan hal-hal yang tidak penting dan tidak segera ketimbang hal yang sangat penting dan mendesak.

 

Padahal berbagai ajaran Islam seperti sholat, haji, wudlu, dan sebagainya merupakan pendidikan tentang mengerjakan sesuatu menurut urutan yang benar/tertib. Ummat Islam harus bisa menentukan mana pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu, dan mana yang bisa dikerjakan kemudian.

 

Ummat Islam juga sering gagal menentukan musuh mana dulu yang harus dilawan sekarang dan yang mana bisa dilakukan kemudian. Sering ummat Islam perang sesama mereka sementara lawan yang harus diserang seperti Israel yang menjajah Palestina atau AS yang menjajah Iraq dan Afghanistan justru aman dari mulut dan tangan ummat Islam.

 

Sebagai contoh kita menyaksikan perang Iraq melawan Iran yang menewaskan 2 juta ummat Islam, kemudian Iraq melawan Kuwait dan Saudi yang juga menewaskan banyak korban. Di saat yang sama negara-negara yang berperang dan mengorbankan nyawa jutaan rakyatnya ini tidak ada satu pun yang menyerang Israel untuk membebaskan Masjidil Aqsha.

 

Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah ribut apalagi perang dengan sesama. Bahkan ketika kelompok munafik Abdullah bin Ubay memecah-belah ummat Islam sehingga dari 1.000 pasukan Muslim, 300 membelot ke Abdullah bin Ubay, Nabi tidak memeranginya. Kata Nabi, jika aku membunuhnya, nanti orang akan berkata bahwa ummat Islam saling bunuh. Nabi juga menandatangani perjanjian damai dan kerjasama pertahanan dengan orang-orang Yahudi untuk menghadapi serangan kaum kafir Mekkah. Ketika kaum Yahudi berkhianat, baru Nabi memerangi mereka.

 

Jadi Nabi Muhammad SAW bertindak cerdas untuk menentukan lawan yang harus diserang dan mana yang diajak bekerjasama. Bukan memerangi seluruh dunia.

 

Sebab Ketujuh mundurnya ummat Islam adalah ummat Islam gagal menemukan hal yang bermanfaat.

 

Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)

 

”Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu” [Muslim]

 

Negara Barat maju karena banyak menemukan dan membuat hal yang berguna baik untuk orang lain mau pun diri mereka sendiri. Mereka membuat mobil dan kapal terbang sehingga orang bisa bepergian dengan cepat dan nyaman. Mereka membuat handphone dan telepon sehingga orang bisa berbicara dengan saudara dan temannya meski terpisah jauh sekali. Mereka membuat berbagai peralatan yang bermanfaat bagi kita semua seperti vacuum cleaner dan sebagainya.

 

Dengan menggemari hal yang bermanfaat, mereka memberikan manfaat bagi orang lain dan diri mereka sendiri.

 

Sebab kedelapan adalah ummat Islam tidak menguasai media massa. Akibatnya ketika Islam dicitrakan sebagai teroris dan hukum Islam dilecehkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa.

 

Memang ummat Islam punya media cetak dan radio meski pembacanya tidak sebanyak media yang dimiliki oleh kelompok non Muslim dan sekuler. Contohnya di Indonesia oplah majalah Islam hanya 100 ribu atau kurang dengan pembaca kurang dari 500 ribu orang. Kurang dari 0,3% dari total penduduk Indonesia.

 

Bahkan untuk TV Nasional yang dapat menjangkau 200 juta penduduk Indonesia, tidak ada TV yang dimiliki oleh ummat Islam. Semuanya dimiliki kelompok Non Muslim atau sekuler. Bahkan 2 di antara TV Nasional di Indonesia dikuasai oleh Konglomerat Media Yahudi: Rupert Murdoch.

 

Di dunia boleh dikata media massa dikuasai oleh Non Muslim. Media massa terkemuka seperti TV CNN, majalah Time, New York Time dikuasai oleh mereka. Begitu pula dengan Hollywood yang film-filmnya ditonton jutaan orang. Tak jarang di film tersebut selain dipropagandakan gaya hidup sex bebas juga ummat Islam digambarkan sebagai teroris.

 

Padahal media massa sangat penting untuk menyampaikan berita. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah Al Qur’an yang artinya ”Bacaan” atau informasi. Salah satu tugas utama Nabi adalah menyampaikan berita:

 

”Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” [Al Ahzab:47]

”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Baqarah:119]

”Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Fath:8]

 

Tentu saja untuk menyampaikan berita itu kepada masyarakat luas diperlukan berbagai media. Nabi melakukannya dengan berpidato ke masyarakat luas, dakwah dari mulut ke mulut, menyampaikan utusan, dan juga mengirim surat.

 

Tak jarang banyak berita yang memojokkan ummat Islam dan justru membela aliran-aliran sesat. Ini karena media massa dikuasai kelompok yang tidak senang dengan Islam. Oleh karena itu ummat Islam harus menguasai media massa agar ummat Islam bisa mendapatkan berita dari sumber yang benar. Bukan berita dari orang-orang fasik yang memojokkan Islam:

 

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]

Tentu saja kekurangan dana menyebabkan ummat Islam tidak dapat menguasai media massa. Tapi dengan media massa juga ummat Islam sebetulnya bisa menggalang dana.

 

Untuk itu Islamic Broadcasting Forum (www.islamicbroadcasting.wordpress.com) dengan keterbatasan dana yang dimiliki berusaha mengembangkan TV Komunitas yang biayanya berkisar Rp 50-500 juta per TV agar dakwah Islam bisa lebih luas. Tentunya ini tidak akan berhasil jika tidak dilakukan secara berjama’ah oleh seluruh ummat Islam.

 

 

Rujukan:

Mengapa kaum muslimin mundur/ Al-Amir Syakib Arsalan, Bulan Bintang Jakarta, cet.5,1985.

ul.socials li.shareaholic{background-image:url(http://media-islam.or.id/wp-content/plugins/sexybookmarks/spritegen/api/sprite.png) !important;}

Mengapa Saat barat Semakin Maju, MAzhab Suni Semakin mundur ?

Oleh Amin Farazala Al Malaya ( nick name : Ustad Syiah Ali / Ibnu Jakfari )
——————————————————————————–

Dalam konteks Indonesia  kekinian, peran ulama terlihat semakin melemah.

Mengapa ?

  1. Dasar dari peradaban modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, masa depan suatu bangsa  ditentukan oleh tingkat penguasaan bangsa itu terhadap iptek. Iptek merupakan dasar dan pondasi yang menjadi penyangga bangunan peradaban modern. Suatu bangsa tidak akan memiliki keunggulan dan kemampuan daya saing yang tinggi bila tidak mengambil dan mengembangkan iptek, ulama sunni belum terlihat berlomba lomba bersaing secara ketat dalam penguasaan dan pengembangan iptek
  2. Hal ini disebabkan karena ulama sunni belum siap menghadapi kemajuan teknologi… Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya.. Perkembangan masyarakat yang semakin berpendidikan sehingga wawasan mereka sudah jauh lebih berkembang, sementara wawasan ulama belum berkembang terutama dibidang iptek atau sains. Karena ulama tidak siap maka ditinggalkan umatnya, ini terlihat ketika ada acara acara syarah syarah kitab kuning di menasah atau balai pengajian, Cuma segelintir orang yang mau ikut, berbeda jauh dengan acara sinetron atau film di televisi yang penuh disesaki jamaah “warung kopi”
  3. Kualitas, kemampuan dan pengalaman masih kurang… Masyarakat bukan hanya butuh ilmu ritual  saja, tetapi juga perlu peningkatan ekonomi dan memiliki kesejahteraan yang memadai…
  4. Sekarang sudah ada ulama “cyber space” atau “ulama google”, masyarakat perlu apa saja tinggal tanya sama google, kesana referensi  facebooker dan pecandu internet, tidak lagi pergi ke ulama
  5. Ulama tidak mengembangkan wawasan nya sehingga ditinggalkan, masih banyak ulama dayah yang memaksumkan kitab kuning sebagai referensi  agama yang paling utama, padahal kitab kuning  hanyalah produk ijtihad yang bercampur pemikiran ulama tempo dulu yang tidak up to date, celakanya sebagian ulama melecehkan buku . “o  itu dasar dasar dalam beragama ? tidak disuruh belajar  agama pada buku, pedoman kita kitab”
  6. Ulama banyak yang terkesan arogan, merasa diri paling benar dan paling tau agama walaupun ilmu referensi yang mereka  punya tidak relefan dengan tantangan zaman, misalnya mazhab syi’ah dituduh sesat, ketika kalah debat maka muncullah sikap anarkhis dan mengerahkan massa menyerang  syi’ah
  7. ulama seperti  MUI  dan MPU dan lain lain  terkesan HANYA MENJADi  ALAT PENGUASA.. Mereka membela system kufur jahiliyah. Lalu mereka menganggap umat hanyalah budak yang harus siap menerima setiap keputusan yang mereka buat  ?? Padahal  penguasa menjadikan agama hanya sebagai alat  untuk mencapai  tujuan, mark up dan korupsi merajalela dimana mana…
  8. Para ulama islam masuk kedalam system jahiliah dengan alasan “ingin merubah dari dalam”, maksudnya mereka akan melakukan perubahan ketika masuk kedalam system kufur. Tetapi faktanya  bukannya mereka berhasil merobah system, tetapi justru si ulama berubah menjadi jahiliyah, mereka menyerukan kepada kader – pengikut dan umat agar berpegang teguh pada hukum non islam, akibatnya umat lebih percaya dan menghormati artis dan pesinetron daripada ulama. Krisis kepercayaan dipicu  krisis keteladanan !!!

Namun sayangnya, sering terjadi penyalahgunaan ijtihad dikalangan sunni.. Dengan alasan ijtihad, banyak orang melontarkan pandangan-pandangan sehingga  Minus Informasi Terpusat

Masalah paling urgen bagi Sunni saat ini adalah tidak adanya informasi terpusat. Kita tidak tahu kepemimpinan Sunni berada di tangan siapa. Setiap mujtahid, dengan mudah melontarkan pandangannya setiap saat yang terkadang berbeda dengan pendapat mujtahid lain dan tidak dapat diterima oleh masyarakat umum.

Sunni bukanlah sebuah ajaran yang setiap saat bisa ditambah sesuka hati. Sebuah organisasi kecil saja tidak mudah untuk bisa menambah aturan-aturannya apa lagi ini sebuah mazhab.

Dalam sunni, gambaran pandangan itu seperti apa ?, Siapa yang memiliki tugas untuk menjelaskan akidah Sunni ? Di mana ulama Sunni sepakat dalam sebuah masalah ? Ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu mendapat jawaban jelas dan pasti dari ulama Sunni.

Bila pusat-pusat pemikiran Sunni berbilang dan tidak ada definisi yang tuntas mengenai masalah ini, yang menjadi korban adalah para pengikut Sunni sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.. Bila seorang telah Sunni, ia harus mengikuti pandangan yang mana?  Siapa yang harus didengarnya ?

Bila mereka sepakat bahwa Sunni perlu diperkenalkan kepada orang lain, maka dibutuhkan sebuah kesepakatan puncak dalam masalah-masalah penting. Kesepakatan puncak ini dapat dicerap ketika, setidak-tidaknya, dalam prinsip-prinsip sederhana dan primer ada kesepakatan sampai pada batas-batas tertentu

Walau sunni  memiliki  majelis ulama yang mengeluarkan sebuah fatwa terpusat. Tetapi  bukan sebuah prinsip dan tidak ada pandangan lain lagi.

perlu mengkaji titik-titik kesamaan yang dimiliki.. Kesamaan yang ada ini dapat menjadi solusi meredam berkembangnya pandangan-pandangan yang berbeda yang menggoyahkan tatanan sosial masyarakat..

Ketika orang-orang yang memiliki kelayakan secara ilmiah atau sebuah badan ulama tertentu tidak mengeluarkan pandangan dalam menyikapi sebuah masalah, maka akan muncul pandangan-pandangan dari mereka yang tidak memiliki kelayakan untuk mengeluarkan pendapat. Hal ini sangat rentan dan akan  menimbulkan sebuah konflik.

Ketika seorang ulama sunni  tidak mengeluarkan pandangannya tentang sebuah masalah agar tidak muncul sebuah problem, solusinya akan diambil alih oleh orang-orang yang tidak layak untuk mengeluarkan fatwa. Tentu mereka tidak bisa disalahkan seratus persen, karena mereka sendiri perlu tahu apa yang harus dilakukan.

Ketika tidak ada penjelasan sedang mereka dituntut untuk melakukan sesuatu, perlu penjustifikasian untuk perbuatan mereka maka mereka akan menerima pendapat dari siapa saja.

Bila di Indonesia mereka telah menyamakan visi dan ada kesepakatan, mereka akan mampu menyampaikan pendapat sekaligus memperkenalkan Sunni dengan baik. Namun, selama tidak ada kesamaan persepsi, sulit dibayangkan mereka dapat berkiprah di Indonesia kelak

Mengapa Ummat Islam Mundur dan Ummat Selain Islam Maju?

Peradaban Sains dan Teknologi Islam pernah menduduki rangking pertama The Golden Age di dunia Sains sejak abad pertengahan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sang revolusi dunia besar kita (632 M), antara abad ke 12–17 dan berakhir pada abad ke 20.

Secara intelektual umat Islam mengalami apa yang disebut Dr. M. Amien Rais (Cakrawala Islam, 1991) sebagai westoxciation (peracunan Barat). Untuk kurun waktu yang cukup lama umat Islam secara sengaja dipisahkan dari ajaran Islam oleh penjajah. Dalam proses alienasi umat Islam dari ajaran agamanya, peracunan Barat semakin gencar berlangsung. Secara intelektual umat Islam menjadi sangat lemah, dan karenanya bukan saja tidak mampu mengkaunter sesat pikir Barat, bahkan juga tidak mampu melakukan dialog intelektual secara seimbang.

Saya membagi evolusi masa keemasan sains dan teknologi Islam dalam tiga tahap: Pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam. Kedua, dicirikan oleh banyaknya inovasi di bidang sains. Dan ketiga, ditandai oleh inovasi di bidang teknologi dan sains sekaligus.

Evolusi tersebut berjalan dengan mulus diakibatkan beberapa faktor, yaitu para cendikiawan muslim pada saat itu sungguh-sungguh mengimani dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an. Sekaligus mereka menganggap agama Islam adalah salah satu ilmu berbasis ajaran (transendental) dalam kehidupan, kemudian adanya motivasi (spirit) Agama. Faktor yang lain, kemapanan ekonomi dan dukungan serta perlindungan oleh sang penguasa saat itu.

Kini, malah berbalik, arah masa-masa keemasan tidak lagi diperoleh, namun hanya menjadi memori belaka dalam kancah pemikiran kaum intelektual muslim “romantisme sejarah” di seluruh dunia, lebih-lebih di Indonesia.

***

Kemunduran Islam

Mengembalikan masa keemasan Islam, terutama sains dan teknologi, tidak semudah membalikan tangan kita. Akan tetapi, jalan alternatifnya, kita harus mengetahui kelemahan menyangkut persoalan-persoalan internal dan eksternal kaum Islam sendiri. Tanpa melakukan itu, mustahil akan mengetahui dinamisasi kemunduran Islam yang sesungguhnya.

Saya sedikit dapat mendeskripsikan bahwa di antara salah satu penyebab kemunduran Islam adalah adanya dikotomi keilmuan. Di sini, secara tidak langsung, kaum muslim dituntut untuk memisahkan diri dari sains, mengingat keduanya dianggap mempunyai hubungan yang single enteteis

Dan selanjutnya, orang Islam berada dalam kejumudan (malas berfikir dan malas untuk merenungi kebingungan). Inilah kesalahan terbesar yang dimiliki kita selama ini, kita selalu merasa paling benar dan orang lain salah, padahal orang lain yang berbeda pemikiran belum tentu salah.

Lain dengan Prof. Sabra (Harvard), mengemukakan bahwa kemunduran Islam dikarenakan di masa-masa berikutnya, kegiatan Saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis persoalan Agama, seperti matematika dibawa pada persoalan Dzikir, Farai, Giometri untuk mengetahui waktu shalat.

Kaum Sunni terjerat di dalam ilmu TASAWUF yang bercampur kesalahan yang memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang bercampur kebatilan….

Sedangkan Imam Ja’far Sadiq adalah cendikiawan lebih dari 200 disiplin ilmu dari matematik hinggalah sains politik YANG MENGiNSPiRASi TERBENTUKNYA REPUBLiK iSLAM iRAN !!!

Hal ini berdampak pada sikap kaum Muslimin sunni terhadap sains kontemporer yang menjadi terkotak-kotak diwakili oleh dua golongan. Pertama, golongan anti sains, golongan ini bersifat apriori dan acuh tak acuh. Kedua, golongan pro sains, masing-masing kelompok ada yang menelan bulat-bulat tanpa curiga sedikit pun, sekaligus ada yang menerima dengan penuh kewaspadaan.

Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama lainnya. Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.

Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi dan menguasai negara-negara Islam secara ekonomi dan politik. Mereka mampu membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet Saturnus.

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.

Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.

Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam begitu maju menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga Spanyol.

Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir, Yahudi, bahkan 2 kerajaan Super Power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Bahkan ibukota kedua negara tersebut, yaitu Constantinople (Istambul) dan Baghdad saat ini tetap berada di tangan Islam yaitu di negara Turki dan Irak.

Semangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi selama 7 hari pertempuran tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid yang berjumlah hanya 3 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang mundur, justru pasukan Romawilah yang mundur ketakutan akibat strategi Khalid bin Walid.

Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan Israel.

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga begitu. Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai Bapak Kedokteran dunia. Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Itulah keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu.

Ilmuwan Islam Al Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Bahkan angka yang kita pakai sekarang pun merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”ARABIC NUMERAL” yang menggantikan Sistem Bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol). Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

Kaum Sunni terjerat di dalam ilmu TASAWUF yang bercampur kesalahan yang memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang bercampur kebatilan

Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.

Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin belajar. Tidak hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang tetap belajar meski tidak melalui pendidikan formal seperti Bill Gates yang meski tidak lulus kuliah tapi tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.

Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka bisa membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali, mobil, komputer, dan sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.

Mengapa ini semua bisa terjadi?

Salam dan solawat. Takziah diucapkan kepada semua pencinta dan pengikut Ahlulbait, kerana pada hari ini, ialah ulangtahun perginya Imam kita yang keenam, Imam Jaafar As Sadiq. Sempena kesyahidan beliau, adalah baik kiranya jika kita mengambil sedikit masa untuk mengingati personaliti besar ini. Tiada kata yang dapat memperincikan dengan sebenarnya tokoh ini. Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

Ahli agama, saintis, ahli falsafah, hakim, guru, dan pemimpin agama, ini adalah beberapa terma yang sedikit sekali mengambarkan personaliti sebenar Imam Jaafar As Sadiq. Beliau ialah salah seorang dari orang-orang yang paling dihormati dan dikagumi di kalangan para cendiakawan di dalam sejarah Islam, dan dikenali kerana kezuhudan beliau kepada Allah swt dan ilmu beliau yang tinggi.

Pada 17 Rabi Awala, 83H, Imam kelima, Muhammad Al Baqir(as), telah dikurniakan dengan kelahiran pewaris beliau dalam Imamah, Imam as Sadiq lebih menyerlah jika dibandingkan dengan saudara-saudara beliau dengan perlantikan beliau sebagai Imam ke 6 dari ketika beliau masih bayi, dan walaupun orang-orang kafir mengiktiraf beliau sebagai Imam pewaris ayahanda beliau. Muhammad Amin al Baghdadi, seorang yang berasal dari keluarga bangsawan, meriwayatkan beberapa kemuliaan beliau, “Hanya beliau dari saudara-saudara beliau adalah khalifah selepas bapanya, banyak ilmu diriwayatkan dari beliau. Kebaikan beliau tersangat banyak.”

Imam ke 5 mengisytiharkan Imam as Sadiq sebagai Imam selepasnya dan mengambil alih pemerintahan Ummah setelah kematiaan bapanya ditangan Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik pada 114H. Di dalam satu majlis, Imam al Baqir melihat Imam as Sadiq lalu berkata kepada pengikutnya, “Adakah kamu melihat orang itu? Beliau ialah orang yang mana Tuhan berfirman:”Dan Kami hendak berihsan dengan memberikan pertolongan kepada kaum yang tertindas di negeri itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.”(28:5)

Ilmu dan ajaran Imam As Sadiq tiada celaan dan membuatkan beliau dilawati oleh pencari ilmu dari serata dunia demi mengambil manfaat dari beliau. Imam ke lima dan keenam mengetahui bahawa di zaman mereka menjadi wakil Allah di muka bumi, akan terjadi banyaknya kemasukan buku-buku dari tamadun Yunani dan Mesir Kuno ke dunia Islam, dan kerisauan mula timbul apabila ramai Muslim mula menerima buku-buku itu sebagai kebenaran.

Gerakan intelektual di dalam dunia Islam pada abad ke dua Hijrah bukanlah kerana pengaruh barat seperti yang digambarkan oleh orientalis-orientalis barat dalm buku-buku mereka. Tetapi ia disebabkan oleh gerakan yang dipimpin oleh Imam Baqir dan Imam Sadiq.

Para Imam ini telah berusaha agar kaum Muslimin tidak terjerat di dalam ilmu yang salah yang akan memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang batil. Para pelajar Ahlulbait diajar ilmu sains, ilmu falak dan matematik sebagai tambahan kepada ilmu agama agar mereka boleh menyebarkannya kepada kaum Muslimin. Usaha keras Ahlulbait ini berjaya menunjukkan hasilnya apabila dunia Islam berjaya mencapai satu tahap pemikiran dan ilmu yang tinggi.

Jasa Imam sadiq dalam bidang intelektual adalah banyak dalam displin masing-masing. Beliau ialah orang yang pertama dalam sejarah yang mengasingkan sains dari falsafah, dengan hujah bahawa keduanya adalah dua bidang yang berbeza. Sebelum saat itu, ahli falsafah juga dianggap sebagai saintis. Pada umur 11 tahun, Imam telah berjaya menafikan Sistem Ptomelaic dan orang yang pertama memberi hujah bahawa bumi bukanlah pusat alam semesta, dan matahari tidak mengelilingi bumi, malah beliau menambah bumi berputar pada paksinya. Malangnya pencapaian ini diberi kepada Copernicus dan Galileo.

Imam Sadiq adalah cendikiawan lebih dari 200 disiplin ilmu dari matematik hinggalah sains politik, dan menubuhkan universiti pertama di dunia Islam. Saitis moden bersetuju dengan banyak teori Imam berkenaan asal usul alam semesta, fizik, tenaga haba dan hidrogen. Antara pelajar beliau ialah Jabir Ibn Hayyan(bapa ilmu kimia), Abu Hanifah dan Malik ibn Anas.

Pencapaian Imam Sadiq hanya boleh dikalahkan oleh sifat mulia beliau dalam kezuhudan, ibadah, kebajikan dan khidmat beliau terhadap Islam. Keturunan Nabi(sawa) ini mempunyai ciri-ciri yang sama dengan Nabi Ibrahim(as) dan jarang sekali beliau makan kecuali dengan para fakir dan miskin menjadi tetamu beliau. Para tetamu beliau dijamu dengan berbagai jenis makanan, sementara beliau hanya menjamah roti dan cuka. Majoriti hidup beliau yang dirahmati, beliau jalani di Madinah, dan di malam hari beliau akan membawa seguni roti, daging dan dirham, yang mana beliau akan mengagihkannya secara rahsia kepada mereka yang miskin. Para penerimanya tidak mengetahui bahawa Imamlah yang memberi, dan mereka hanya mengetahuinya apabila beliau meninggal dunia, apabila tiada lagi pemberian yang diterima.

Amal ibadah yang dilakukan oleh Imam akan menakjubkan kepada sesiapa sahaja yang melihatya. Telah diriwayatkan pada satu hari, Abu Hanifah melihat beliau bersolat dan kebingungan akibat darinya. Setelah Imam menyempurnakan solatnya, Abu Hanifah berkata: “Ya Aba Abdillah, sangat menyakitkan sekali solat kamu!” Imam Sadiq membalas. “Tidakkah kamu mengetahui dari semua ibadah, solat ialah penyebab paling utama kedekatan kepada Tuhan?”

Solat beliau dipanjangkan dan doa beliau tidak pernah ditolak oleh Allah swt. Seorang wanita datang kepada Imam dan berkata kepada beliau, “Semoga aku menjadi tebusan mu, wahai anakanda Rasulullah(sawa), aku menjadi penyakit kusta di bahagian atas tangan ku. Doakanlah kepada Allah swt agar menyembuhkan aku.” Imam lantas berdoa dan berkata, “Ya Allah, Kau menyembuhkan yang buta dan yang berpenyakit kusta serta memberikan nyawa kepada tulang yang mereput. Ampunilah dosa wanita ini dan sembuhkanlah beliau untuk melihat penerimaan doaku ini.” Penyakit wanita itu disembuhkan serta merta kerana kemuliaan Imam Sadiq di hadapan Allah swt.

PENDiDiKAN

Dibidang pendidikan, paradigma pendidikan dilakukan dengan cara  “baca, hapal, ingat” karena  mahasiswa, siswa dan santri  dianggap  sebagai tabungan, kepala mereka  diisi dengan tabungan hapalan yang ditagih waktu ujian… Ini sangat membebani karena merusak daya pikir kritis.. Bahkan kitab kuning, kurikulum IAIN, UIN, STAiN  menganggap syi’ah  sesat  semuanya tanpa  menerima argument  bantahan dari  lawan.. Pokoknya sesat, titik !!!

Hal ini menyebabkan loyalitas kader kader penerus perjuangan  mazhab sunni rendah sekali,  upaya meraih kesetiaan dari para pengikut  secara kuantitatif dan kualitatif  tidak memadai !!!

Santri  dan mahasiswa yang sudah lulus pendidikan  tidak mampu menjawab tantangan globalisasi sehingga gagal menjadi ikon pembangunan, padahal tantangan  pembangunan semakin hari semakin pesat, lemahnya pendidikan mengenai teknologi menyebabkan  kualitas  alumni pendidikan seperti  ulama tidak relevan dengan tantangan zaman !!

Pesantren dan IAIN menghasilkan ulama yang tidak relevan kualitasnya dengan tantangan zaman, sehingga umat  gagal bersaing menghadapi kompetisi globalisasi

Peran  aktif  ( usaha mempengaruhi ) mereka  ternyata gagal untuk menghasilkan umat yang mempunyai etos kerja kuat dan berorientasi pada karya atau produkstivitas dan kualitas prestasi

TANTANGAN  MODERN

Zaman ini merupakan era komunikasi dan informasi, era teknologi dalam proses industrialisasi, ulama sunni tidak mampu mengisi dan  memanfaatkan era ini sehingga umat  menjadi  korban  globalisasi

Negara Negara bermazhab  sunni meskipun memiliki kekayaan alam melimpah, namun  memiliki ketergantungan  dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya  dan peradaban kepada  Negara  Negara  BARAT…

Media yang mengikuti gaya gaya barat, melalui tontonan  menggoyahkan nilai nilai budaya Negara bermazhab sunni

Jika tahun 70 an para remaja seusai shalat maghrib  rajin mengaji kepada  ustad  ustad di  balai balai, maka kini  tayangan sinetron menjadi menu yang dinikmati  pasca maghrib…

Bintang film, artis, pemain bola menjadi  idola baru  menggeser  peran ulama, bahkan  tidak sedikit   artis  berhasil  menjadi  anggota  DPR  dan kepala  daerah,  sedangkan ustad  atau ulama sunni  hanya dipakai  pada  kegiatan  ritual  seperti  saat shalat  jum’at, shalat  tarawih, acara kematian, pengajian dan sejenisnya

Tanpa rasa malu sedikitpun, iklan iklan televisi senantiasa menampilkan perempuan setengah seksi, pamer paha, pamer dada dan pamer kemolekan tubuh…

Lingkungan membuat pengikut mazhab sunni menjadi  mudah sekali terpengaruh, setiap hari mereka berjalan ditengah padang rumput yang dipenuhi ranjau ranjau yang berbahaya yaitu ranjau ranjau  kehancuran  yang mempengaruhi pemikiran !!! Karena tidak memiliki prinsip, maka membuat mereka menjadi  ‘pengikut’  kenistaan

KONSEP  NEGARA  SUNNi

Nilai nilai  Islam sudah jarang terlihat dalam undang undang dan peraturan yang berlaku. Kalaupun ada, itu hanya berlaku pada bagian bagian yang sangat sempit dan sedikit jumlahnya seperti urusan haji, nikah thalaq ruju’, zakat dan sejenisnya

Ketika tatanan dan nilai Islam sudah dipinggirkan oleh Negara Sunni, maka umat islam sunni  lesu  dan menjadi objek penjajahan terselubung  dunia BARAT…

Tugas majelis ulama hanya menyampaikan, mengajak, member masukan dan saran.. Ketika  para pemimpin  tidak menanggapi, tidak mendengar masukan dan saran  maka itu hanya akan menjadi basa basi birokrasi, dimulut  mengucapkan islam tetapi yang dipakai hukum jahiliyah.. Kemunafikan yang nyata !!!

Ucapan dan fatwa ulama sunni tidak wajib di terapkan dan diterima oleh pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif , ini disebabkan dalam mazhab sunni tidak memiliki pemimpin  tertinggi  seperti  Rahbar  Syi’ah di Iran, dan ini disebabkan  juga karena dalam mazhab sunni konsep imamah serta system pemerintahan Negara  tidak jelas !!!

Seluruh bangunan hukum islam, tradisi dan ajaran ajaran islam bertumpu pada kekuasaan Negara untuk mengatur kehidupan individu menurut garis garis yang jelas, jadi Negara Islam Sunni harus memiliki konsep yang jelas…

Di Iran, ulama mendominasi hampir semua lapangan kehidupan termasuk dibidang iptek, bahkan Presiden Iran tak berdaya  didepan Rahbar. Biasanya ulama yang memiliki prinsip yang teguh dan kuat akan menjadi seorang pemimpin besar melalui  pengaruhnya yang kuat.

Di sejumlah Negara Sunni, para agamawan berkolusi dengan raja raja dan Presiden dan menjadikan agama sebagai  perisai untuk mencapai  keinginan penguasa.. Hukum jahiliyah dihalalkan  dalam  masyarakat  plural,  karena sarat dengan berbagai kepentingan  penguasa  dan  golongan

Ketidak sesuaian antara perkataan dan perbuatan  menghasilkan ketidak percayaan tidak memberi pengaruh dan tidak menghasilkan pengikut yang militan..

Padahal  Muhammad SAW  bukanlah  pemimpin agama semata, tetapi juga pemimpin duniawi  setelah  melaui proses  penaklukan  yang  melelahkan !! Takkala wafat pada tahun 632 M, Nabi SAW telah menjadi penguasa di Jazirah Arab bagian selatan…

kemunduruan islam sunni lebih disebabkan karena hilangnya budaya pengkajian ilmu pengetahuan akibat paham-paham fatalistik serta ketidakmampuan umat islam mengaktualisasi ajarannya pada konteks kekinian dan yang terakhir bahwa islam mundur karena tidak mampu bersatu, sepaham dan memiliki tujuan yang sama. perbedaan dalam islam dianggap sebagai rahmat padahal mudharat akhirnya sudah menjadi cirinya bahwa islam tidak bisa bersatu dan menjadi maju dan ini memang sudah merupakan takdirnya

faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang  menyatakan:

…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.

KONDISI UMAT ISLAM

Kondisi umat Islamsunni  saat ini bukan semata rusak akan tetapi mereka lupa akan Allah dan lupa akan dirinya sendiri. Realitas mengatakan bahwa secara materi umat ini jauh terbelakang dan cenderung menjadi beban umat yang lain. Yang kedua bahwa umat ini banyak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan diennya, seperti :

–          Kekuatan Akal

Tidak munculnya sifat kreatif, susah/malas untuk berfikir, atau bahkan mencipta. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan yang ditanamkan oleh musuh-musuh Islam dengan suguhan kurikulum untuk mencetak orang menjadi pegawai dan bukannya menjadi intelektual atau para pemikir.

–          Kekuatan Amal

Kekuatan amal yang ada pada dien yang dimiliki diabaikan, lebih banyak bicara daripada beramal. Ataupun jika melakukan suatu pekerjaan maka pekerjaan tersebut tidak mempunyai manfaat.

–          Kekuatan Ekonomi

Ketidakmampuan mengolah sumber daya alam yang melimpah dan ketergantungan yang besar terhadap orang lain menjadikan umat ini tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak produktif.

–          Potensi Tenaga

Kita adalah umat yang besar yang mempunyai jumlah SDM melimpah. Disayangkan SDM kita punya cara dan jalan masing-masing sehingga kita tercerai berai dan tidak punya andil yang cukup berarti.

–          Kekuatan Spiritual

Ternyata umat ini tidak mampu menunaikan kewajiaban agama dengan sepenuh hati dan ikhlas. Modal kekuatan spiritual berupa : Aqidah terbesar, Risalah terlengkap dan Kitab yang terjaga menjadi sia-sia. Hal ini terbukti dengan jumlah muslim sunni yang berjumlah milyaran  kalah oleh Yahudi yang hanya berjumlah tiga juta.

Kunci kepribadian umat Islam dan kebanggaan kekuatannya terletak pada keimanan pada Islam.

TANGGUNG JAWAB SIAPA?

 

            Permasalahan umat Islam diatas menurut kami  menjadi tanggung jawab :

  1. Penguasa/pemerintah

Hal ini bisa muncul disebabkan karena beberapa hal, antara lain :  kebiasaan orang untuk melempar tanggung jawab pada orang lain termasuk di dalamnya pemerintahnya, warga muslim banyak menderita karena ulah pemerintahnya dan pemerintah yang punya kekuasaan dan kekuatan tapi tidak sesuai syariat.

  1. Ulama

Ulama turut bertanggung jawab bila:

–  tidak menunaikan tugas dengan baik dalam berdakwah

–  membonceng kendaraan penguasa

–  menjadikan ilmu/agama sebagai budak politik

–  menjadikan dirinya sebagai mesin penetas fatwa sesuai pesanan sponsor.

  1. Masyarakat

Masyarakat yang terdiri dari tiap pribadi bertanggung jawab atas maju mundurnya agama dan tegaknya syariat Allah dan Rosul.

  1. Harakah

Hendaknya orang-orang yang tergabung dalam gerakan Islam mempunyai semboyan :  ruhbanul lail wa fursanun nahar.

(menjadikan malam sebagai tempat/waktu untuk mengabdi dan menjadikan siang tempat/waktu untuk berbuat/berjuang)

BERSAMA PERGERAKAN ISLAM

 

kami menyimpulkan arti pergerakan Islam sebagai:

–          Kegiatan kerja Islam yang merakyat, yang lahir dari diri pribadi umat, yang merupakan ungkapan jujur dan terjemahan luhur dari kepribadiannya dan duka citanya, dari akidahnya dan pikirannya, dari nilai-nilainya yang mantap, dari  cita-cita dan aspirasinya yang selalu berkembang dan dari perjuangan dan pengorbanannya yang tidak mengenal lelah dalam mengagalang persatuan di bawah panji akidah.

–          Misi dakwah kepada umat manusia untuk meluruskan yang bengkok, memperbaiki yang buruk, dan menyelamatkan dari kesesatan.

–          Gerakan manusia yng berijtihad untuk membela Islam dan merealisasikan  risalah dalam kehidupan.

SEBAB  KENAPA TUJUAN BELUM TERCAPAI

Adapun pergerakan Islam ini amatlah banyak. Tapi kenapa mereka hampir gagal/belum berhasil dalam mencapai tujuan.  Hal ini ada beberapa penyebab, antara lain :

  1. Kurangnya self koreksi

Hal ini muncul karena ada sebagian orang yang tidak mau dan tidak siap dikritik.

  1. Perpecahan dan perselisihan

Hal ini tidak akan  muncul jika cara mensikapi perbedaan tersebut dengan :  mengakui adanya beragam ijtihad, metode, maksud dan tujuan dengan saling berbaik sangka, menghormati, menghargai, tenggang rasa dan saling menolong.  Dengan kata lain hendaknya kita mencari persamaan dan bukan perbedaan untuk menjaga persatuan.

  1. Dominasi kecenderungan sentimen dari kecenderungnn akal

Ada saatnya pula pergerakan Islam membutuhkan sentimen keimanan dan mengobarkan semangat perasaan keislamannya.

Hal-hal yang menyimpang dari dominasi sentimen dari akal adalah  :

a.      Kurangnya studi dan program, bisa dengan memupuk bakat dari personel, membimbing dan meningkatkannya.

b.      Terburu nafsu

c.      Berlebih-lebihan

d.      Takut dengan pembaharuan

SOLUSI

 

Solusi yang dapat dilakukan :

1.      Membangun cita-cita dan bekerja sama

2.      Bersikap adil terhadap pergerakan Islam

3.      Menjadikan pergerakan sebagai lapangan kerja

4.      Pergerakan tetap hidup dan bergerak maju

5.      Tidak menjadikan pergerakan sebagai slogan, tapi bisa dirasakan keberadaannya ;

–          pergerakan Islam mampu memperbaiki pemahaman Islam dan arus pemikiran besar

–          pergerakan Islam mampu memulihkan kepada masyarakat rasa kebanggaan pada kepribadian Islam

–          pergerakan Islam mampu melahirkan generasi muslim yang komitmen dngan ajaran Islam

–          pergerakan Islam mampu mengkader generasi yang patuh dan disiplin

–          pergerakan Islam turut memberikan andil yang besar dalam kebangkitan Islam

6.      Banyak bekerja dan berkorban.

7.      Rekruitmen dengan melibatkan tokoh dan masyarakat.

8.      Pergerakan sebagai motor bekerja,  bersama masyarakat

9.      Ada kerja sama yang baik  di semua lapisan masyarakat.

PENUTUP

Kesimpulan dari pertanyaan  ”Dimana Kerusakan Itu?”  adalah bahwasanya kerusakan itu umum dan menyeluruh. Menjadi tanggung jawab bersama untuk memikulnya  meskipun berbeda porsinya.

Yang menguatkan dan senantiasa membesarkan hati kita hanyalah bahwa kita berada di fihak Al Haq (kebenaran ) dan dalam fitrah Islam serta kita bersama-sama (umat Islam) sebagai satu saudara dengan satu kepentingan  menuju tegaknya risalah Islam tentunya hanya dengan mengharap pertolongan dan ridho Allah SWT.

Sungguh sangatlah urgen setiap insan yg berakal waras utk berfikir –terutama orang-orang yg membawa risalah reformasi pd zaman kita ini dimanapun mereka berada- dg fikiran yg serius akan masa depan planet bumi yg menjadi tempat kita hidup di atasnya- bagaimana ia dikelilingi oleh bencana yg melanda ke seluruh dunia, baik karena kita bertanggung jawab langsung / tdk langsung atas berbagai kejadian tersebut. yg mampu mengancam kita & semua potensi serta kekayaan umat manusia, seperti mulai dari polusi lingkungan hingga terjadinya pemanasan global, dari ancaman nuklir hingga penjajahan modern yg keji dalam segala bentuk kekejian & eksploitasinya; yg ditargetlam pd masyarakat yg lemah & negara-negara yg terbelakang utk mengisap darah & mencuri sumber daya alam mereka & memonopoli keputusan yg dikeluarkan olehnya.

Jika hal tersebut ditambahkan dg kondisi nilai-nilai materi & syahwani, yg juga akan berakibat pd runtuhnya akhlak, melanggar kesucian, tirani (kezhaliman) atas hak yg sah & kelalaian yg penuh terhadap hari penghisaban. Dan bagi yg takut kepadanya merupakan sesuatu yg fitri sehingga membatasi diri dari melakukan kezhaliman terhadap manusia & meminalisir pelanggaran para pemegang kekuasaan.

Tidakkah ini sangat dibutuhkan oleh para pemimpin & yg memiliki akal yg waras, dari berbagai ras, warna kulit, agama, utk menyeru dg berbagai cara & sarana komunikasi modern guna menentukan satu sikap, & menyeru dg satu suara utk berdiri menghadang ketidakadilan, tirani & kerusakan & korupsi?!

Inillah kami menyeru mereka2

Wahai para pemimpin dunia . 2

Wahai para cendekiawan dunia . 2

Wahai para pemegang amanah hak-hak manusia… 2

Seluruh manusia . 2

Bersatulah & salinglah membantu satu sama lain & gabungkanlah potensi kalian dalam berbagai organisasi masyarakat sipil utk menyelamatkan manusia dari apa yg sedang dialami & apa yangmengancam mereka jika situasi tetap seperti apa adanya . 2

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ2

“Telah nampak kerusakan di darat & di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yg benar)”. 2 (Ar-Ruum:41)2

Jika kita memfokuskan pd pandangan yg menyeluruh akan inti dari sebab-sebab kondisi yg terjadi ini sangatlah banyak & beragam; kita temukan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta sangat baik sejak awal, & dipersiapkan utk manusia jauh sebelum diciptakannya Adam & Hawa, & menjadikan mereka semua sebagai anak dari seorang ayah & ibu, & diberikan hak kepada manusia dg karakter hidupnya sebagai khalifah dimuka bumi & bertanggung jawab utk memakmurkannya .

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“ Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) & menjadikan kamu pemakmurnya”. 2 (Huud:61)

Dan diantara kemurahan Allah & kebaikan-Nya kepada seluruh umat manusia adalah bahwa Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari, & memberikan makanan di dalamnya dalam empat hari utk siapa yg membutuhkannya; maksudnya adalah bahwa manusia bermitra dalam semua unsur kehidupan di dunia, karena itu apakan ada perawatan utk manusia dari Tuhan mereka yg maha Pengasih,. adakah yg lebih banyak dari ini?!

Dialah Allah SWT menitipkan kepada manusia bahkan utk seluruh benda memiliki elemen kehidupan & mata pencahariannya masing-masing .

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tdk ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yg memberi rezkinya, & Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu & tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yg nyata (Lauh Mahfuzh)”2. (Huud:6)

Misalnya adalah tersimpannya minyak sesuai dg kebutuhannya, & hal tersebut merupakan mukjizat Robbani yg sangat luar biasa, yg mampu menyimpan selama ratusan juta tahun lamanya di dalam tanah bahkan jika telah matang pikiran manusia & mengalami perkembangan yg signifikan & spektakuler dalam berbagai karyanya sehingga memiliki alat-alat utk menggali tanah tersebut, Allah tetap memberikan petunjuk sehingga mampu mengekploitasi harta karun utk dapat dimanfaatkan darinya, & harta karun lainnya banyak sekali, ia tetap ada & tersimpan hingga hari kiamat.

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

“Dan tdk ada sesuatupun melainkan pd sisi Kami-lah khazanahnya; & Kami tdk menurunkannya melainkan dg ukuran yg tertentu”. 2 (Al-Hijr:21)

Karena itu, Apa peran manusia setelah melihat & menyaksikan semua karunia ilahi ini, & setelah disampaikan semua seruan ini?

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Hai manusia, Apakah yg telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yg Maha Pemurah”. 2 (Al-Infithar:6)

Sungguh nikmat yg telah dianugrahkan ini telah berubah menjadi sarang pertikaian & perang, menebarkan kezhaliman, agresi & kejahatan, mencoba utk mengontrol sumber-sumber minyak, & menyalakan api perang sehingga merusak tanam-tanaman & ternak; melakukan monopoli yg menjijikkan terhadap harta & yg lainnya ini & membagi-bagikannya – ironis sekali – dg berbagai undang-undang & konvensi yg jahat, sebagaimana mereka mendistribusikan jajahan kepada kelompok-kelompok yg berpengaruh di suatu tempat kekuasaannya, maka pd konvesi ”Sykes-Picot”, & juga diikuti dg perjanjian-perjanjian lainnya seperti perjanjian, “Balfour” yg berpihak pd pendudukan Palestina, kita melihat Kongo oleh Prancis, & yg lain adalah Belgia, & yg ketiga Portugal, & kita juga mendengar tentang Somalia italia, Somalia Inggris , Somalia Prancis & Somalia Amerika.

Sementara itu, perang dingin & perang panas utk menguasai daerah & pendudukan demi memperluas lingkup pengaruh masih terus berlangsung; Jika kita tdk berusaha menghentikan ambisi ini, & menuntut pelarangan segala bentuk eksploitasi & kolonialisme maka boleh jadi keserakahan & kejahatan akan melahap seluruh potensi & sumber daya alam, karena itu hendaknya para manusia yg berakal & bijaksana berdiri tegak utk melawan para pelaku tindak kejahatan ini guna menyelamatkan kapal yg kita semua sedang mengendarainya di alam semesta ini; karena tujuan diciptakan kita adalah utk bekerja sama bukan utk berperang .

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan & menjadikan kamu berbangsa – bangsa & bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. 2 (Al-Hujurat:13)

Tugas kita adalah melakukan kebaikan & bukan melakukan kerusakan, & kita tdk boleh meninggalkan orang yg melakukan kerusakan; karena tindakan mereka membahayakan semua orang.

Dan dari sudut yg lain, kita temukan bahwa orang yg merenungkan pd ciptaan Allah akan menemukan secara gamblang pd setiap orang yg memiliki mata moderat & akal yg waras bahwa Allah menciptakan keseimbangan dalam berbagai siklus kehidupan; ada siklus utk oksigen & ada utk nitrogen, adanya karbon dioksida yg terjadi mengikuti pertukaran di dalamnya utk tanaman & hewan, & bersama dg manusia saling memberikan manfaat, sebagaimana mereka saling bertukar manfaat satu sama lain, begitu pula siklus yg seimbang pd air seperti laut & benua, penguapan & awan, hujan & sungai kemudian mengalir ke laut & ke benua lagi, & dari siklus mineral & garam dari tanah ke tanah.

مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ

“Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. 2 (Al-Hijr:19)

Lalu, apa peran manusia yg bodoh & tdk memahami hukum-hukum Allah di alam semesta ini, sehingga mereka memukul & merusak serta melakukan penghancuran akan siklus kehidupan & setelah itu duduk mengeluh dari apa yg telah diperbuat oleh tangannya sendiri?!

Begitulah yg terjadi pd pencemaran lingkungan sebagai klimaks dari apa yg dihasilkan dari output industri & mafia monopoli, mereka saling menyanjung satu sama lain di dunia ini demi kepentingan & keuntungan dg mengorbankan kesehatan manusia & hak asasi manusia; yg telah hancur & luluh lantah tanpa ampun.

Dan bentuk contoh lain adalah terjadinya pencemaran diberbagai elemen kehidupan; dari udara, air, tumbuhan & hewan serta manusia juga tdk ketinggalan; dg menggunakan pestisida, banyak diantara mereka yg menggunakan karsinogenik, serta pupuk yg tdk aman, & banyak lagi yg lainnya, kemudian setelah dilakukan penyebaran penyalahgunaan berdasarkan pemahaman keliru terhadap hukum alam terjadilah bencana kanker; sehingga membuat kejahatan manusia terhadap manusia itu sendiri, & Mesir merupakan salah satu puncak kejahatan di dunia yg terkena kanker.

Setelah itu semua manusia harus kembali ke pertanian organik & melakukan resistensi (antibiotik), setelah membayar harga yg sangat besar & berat pd percobaan pertama berupa kerugian manusia & uang, & harga yg jauh lebih tinggi adalah pd percobaan kedua, & manusia adalah korban dalam dua kasus ini.

Adapun bentuk contoh yg paling serius adalah pencemaran nuklir; pd konferensi Khusus di New York, Amerika Serikat (walaupun itu hanya digunakan senjata satu-satunya dalam sejarah), & kami berharap bahwa ini adalah awal utk merasionalisasi energi pd senjata yg sangt berbahaya dg sebagai senjata yg mamiliki dua sisi yg sangat tajam, sehingga mampu menjaga umat manusia dari bahaya yg menjalar, & jika Zionis yg sangat berbahaya melakukan tekanan & menghambat itu, sehingga mereka tdk hadir & tdk ada komitmen utk menghadiri, bahkan berusaha merubah subjek pd sisi keamanan bahan nuklir saja, & manusia tetap tunduk pd risiko yg dikuasai oleh tangan yg penuh dg lumuran kejahatan, kerusakan & pengrusakan, menebarkan kehencuran di muka bumi, padahal Allah tdk menyukai kerusakan & orang yg melakukan kerusakan.

Ada bahaya lain yg harus menjadi peringatan bagi siapa yg memiliki akal; karena pd fase-fase pertama, & manusia tdk menyadari akan kejahatan yg dilakukannya kecuali setelah berlalu waktu yg lama; yaitu manipulasi peta penggunaan genetik & rekayasa genetik ini sangat berbahaya & jauh dari manfaat; karena pengetahuan kita akan hal ini masih terbatas, & boleh jadi oleh pengetahuan kita yg sangat terbatas yg lebih dekat pd kebodohan & dapat berakibat pd musibah yg lebih besar lagi, karena itulah hendaknya orang-orang yg memiliki akal dalam spesialisasi ini bersatu utk menghentikan rencana yg sia-sia ini, & kita tunggu sampai sempurna pengetahuan kita lalu pergi sesuai ilmu pengetahuan yg telah kita dapatkan, sebagai bukti & cahaya dari Allah SWT.

Adapun terjadinya polusi moral yg dibuat oleh manusia dari sejak yg pertama & yg terakhir; adalah sebagai musibah yg telah terjadi & tak ada habisnya, karena hal tersebut merupakan inti dari tindak kerusakan & pengrusakan;

Sesungguhnya umat itu akan eksis karena Akhlaknya &# Jika sirna akhlaknya maka hancurlah umat tersebut.

Dan diantara kerancuan yg terjadi dalam pemikiran manusia saat mereka berada di belakang keinginan (syahwatnya) tanpa ada kendali dari nilai-nilai risalah samawiyah yg termaktub & tercatat di dalam kitab Taurat, Injil & Al-Qur’an & tanpa ada intervensi dari pikiran yg telah matang . karena Allah Maha Kuasa telah menciptakan manusia laki-laki & perempuan, & menyebarkan dari keduanya anak pinak baik laki-laki maupun wanita, bahkan Allah mencirptakan dari kedunya saling berpasangan sehingga kelak dapat melakukan reproduksi & kelangsungan hidup. Karena itu bagaimanakah manusia melakukan campur tangan dg kebodohannya & hanya memperturutkan hawa nafsu belaka sehingga dapat membuatnya menyimpang, lalu melakukan tindakan yg bertolak belakang dg fitrahnya seperti halnya yg dilakukan oleh kaum nabi Luth

مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yg belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”2 (Al-Araf:80)

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki utk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yg melampaui batas”. 2(Al-Araf:81)

Meskipun telah membawa hancurnya fitrah manusia & penyebaran penyakit seperti yg dialami oleh umat dimasa yg lalu, oleh karena kejahatan & pelanggaran yg mereka lakukan bahkan dapat menghentikan reproduksi manusia sebagaimana yg telah Allah ciptakan, namun mereka masih tetap tdk memiliki rasa malu, bahkan kita temukan ada diantara mereka yg menuntut hak mereka; pikiran apa ini? kebebasan apa ini?!

memiliki secercah dari cahaya Allah dg membawa risalah Islam yg komprehenship; mereka & semua Muslim di seluruh dunia, bahkan seluruh kaum reformis yg sadar akan bahaya meninggalkan potensi manusia yg dimanipulasi oleh kepentingan & hawa nafsu, & mereka yakin bahwa Allah akan membela & menolong para reformis (pelaku kebaikan); karena Allah mencintai orang-orang yg berbuat kebaikan & perbaikan & membenci kerusakan & pelaku kerusakan…

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Allah tdk menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dg sebagian yg lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. 2 (Al-Baqarah:251)

Namun Allah memiliki & menguasai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan dari manusia tdk bersyukur.

Marilah kita semua meyakini bahwa kegelapan dunia ini tdk cukup kuat utk memadamkan cahaya api, bahwa api yg sederhana ini akan mampu menghilangkan kegelapan yg gulita ini.

Begitu pula kita tdk melepaskan upaya yg tulus yg diiringi dg upaya yg jujur; karena sungai yg ada di dunia adalah sekumpulan dari tetesan-tetesan air hujan.

Terakhir kami sampaikan akan firman Allah.

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yg (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. 2 (At-Thalaq:3)

Umat Islam Sunni Mundur, Mengapa?

Tapi mengapa umat Islam mundur? Mengapa umat Islam, yang dikatakan Allah sebagai sebaik-baik umat (khairu al-ummah), berada dalam keadaan yang demikian menyedihkan? Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Limadza Ta’akhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghaiyruhum – Mengapa Umat Islam Mundur dan Selain Mereka Maju ?, melihat ada dua faktor penyebab kemunduran umat Islam, yakni faktor eksternal atau yang datang dari luar umat, dan faktor internal atau faktor yang datang dari dalam diri umat Islam
.
Pertama, yang dimaksud faktor eksternal penyebab kemunduran umat adalah gencarnya serangan dari luar umat. Musuh-musuh Islam, yakni orang yang tidak menyukai kebenaran Islam tegak di muka bumi, senantiasa mencabik-cabik persatuan umat, dijauhkannya umat Islam dari agamanya, dibuatnya umat Islam lebih terikat kepada suku atau bangsanya sendiri ketimbang terhadap Islam. Langkah ini ditempuh mereka dengan menyebarkan pemikiran (fikrah) sekularisme ke tengah umat Islam secara samar atau terang-terangan, dengan lidah mereka atau lidah tokoh umat Islam. Akibatnya, umat Islam mengalami keterasingan terhadap agamanya sendiri, dan kendati umat Islam dalam berbagai negara kini telah merdeka, lepas dari belenggu penjajahan, tapi pemikirannya tetaplah terjajah
.
Penjajahan (isti’mar) atau imperialisme, yakni penguasaan (pengendalian) di bidang politik, militer, kebudayaan, ekonomi menurut Syekh Taqiyyudin an Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiah, adalah metode (thariqah) yang ditempuh oleh negara Kapitalis Barat (Eropa dan Amerika Serikat) untuk menyebarkan ideologinya, yakni sekularisme tadi. Paham semacam inilah yang kini tengah dan hendak terus disebarkan ke seluruh dunia, termasuk ke negeri-negeri muslim. Tujuannya, bila orang telah mengikuti pahamnya tentu dengan mudah dikuasai dan pada akhirnya segala kepentingan negara penguasa dengan mudah pula dapat diujudkan. Inilah hakekat al-ghazwu al-fikriy (perang pemikiran) yang menyebarkan racun sesat pikir Barat (westoxciation) melengkapi al-ghazwu al-’askariy (perang militer)
.
Penjajahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kapitalisme. Dan ini, menurut Syekh Taqiyyudin bersifat tetap, kendati bentuk negara, hukum dan pemerintahan yang dihadapinya berbeda-beda. Yang berubah-ubah hanyalah cara atau uslub yang ditempuh serta obyek atau sasaran penjajahan. Setelah komunisme runtuh, Barat melihat Islamlah yang secara potensial akan menjadi rival yang baru. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar (lebih dari 1,2 milyar orang), potensi sumber daya alam terutama minyak yang tak tertandingi, serta posisi geografis yang strategis, dunia Islam sangat mungkin menjadi adikuasa baru menggantikan dunia Timur
.
Di masa sebelum dan seputar Perang Dunia I dan II, yang dilakukan Barat adalah penjajahan militer. Negeri-negeri Islam yang semula bersatu, terutama setelah runtuhnya Khilafah Utsmani, tercabik-cabik. Sebagiannya, lama sebelum itu malah telah diduduki negara-negara imperialis. Diantaranya, Aljazair oleh Perancis; Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir, dan negara-negara teluk oleh Inggris; dan sebagainya. Kini setelah negara tersebut merdeka, negara-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan cara yang baru. Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui pinjaman dana. Dengan dalih membantu negara berkembang, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang itu bukan mengentaskan kemiskinan negara tersebut, melainkan malah menambah miskin.
.
Di bidang kebudayaan, Barat juga melancarkan perang kebudayaan (al-ghazwu al-tsaqofiy). Globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tetapi pada sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat
.
Saban hari keluarga-keluarga Islam dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berpikir Barat. Tambahan lagi, berita-berita yang ditayangkan TV hampir seluruhnya bersumber dari kantor berita atau TV Barat yang tentu tidak lepas dari kepentingan-kepentingan Barat, mengingat berita tetaplah merupakan “realitas tangan kedua” (second-hand reality) yang terkadang manipulatif
.
Satu tentara Israel yang ditawan pejuang Palestina menjadi pusat perhatian dunia lantaran diberitakan besar-besaran; dan segera tampak, orang Palestina telah melakukan tindak kriminal. Sementara, pemboman Israel, pembantaian di tengah pemukiman penduduk dikecilkan beritanya, sehingga terlihat sebagai kejadian biasa. TV telah menjadi guru agen Pembaratan yang tangguh
.
Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal Superman, Power Rangers atau Bon Jovi ketimbang tokoh-tokoh Islam. Sadar atau tidak, mereka telah terbaratkan (westernized) dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar
.
Kedua, faktor internal. Inti dari faktor internal penyebab kemunduran umat, menurut Syaqib Arsalan, adalah kenyataan bahwa banyak umat Islam yang justru telah meninggalkan ajaran Islam. Kemunduran pemahaman umat terhadap agama Islam itu timbul terutama karena umat tidak lagi dibina keIslamannya secara praktis semenjak tidak adanya kehidupan Islam. Akibatnya, tidak sedikit diantara kaum muslimin yang, jangankan mengamalkan dan memperjuangkan, memahami ajaran Islam pun mungkin tidak. Ia muslim, tapi tak ada bedanya dengan orang non muslim karena kemuslimannya tidak nampak dalam cara hidupnya sehari-hari. Atau banyak pula umat yang melaksanakan ajaran Islam tapi cuma sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Melaksanakan ibadah dan meninggalkan masalah muamalah. Umat Islam memang banyak telah terpengaruh pemikiran sekularisme
.
Apa itu sekularisme?
Menurut Muhammad Qutb (Ancaman Sekularisme, 1986) sekularisme diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini (membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama Islam). Sekularisme pada intinya menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Artinya, agama hanyalah merupakan, dan dijadikan urusan individu dengan tuhannya. Sementara, dalam mengatur masyarakat tidaklah diambil dari hukum agama
.
Pemikiran sekularisme, masih menurut Muhammad Qutb, sesungguhnya berasal dari sejarah gelap Eropa Barat di abad pertengahan. Saat itu, kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dan politikus melihat kondisi ini sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang paling rasional pun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet, bukan bumi seperti yang didoktrinkan gereja selama ini, dihukum
.
Maka sampailah para ilmuwan dan politikus itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju, masyarakat harus meninggalkan agama; atau membiarkan agama tetap di wilayah agama (ritual), sementara wilayah duniawi (politik, pemerintahan, saintek, ekonomi) harus steril dari agama. Inilah cikal bakal sekularisme
.
Tapi satu hal yang harus diinsyafi, bahwa gugatan ini terjadi khas terhadap agama Nashrani, yang ketika itu memang sudah tidak lagi up to date. Tentu sebuah keanehan besar bila gugatan itu lantas dialamatkan pula pada Islam, agama sempurna lagi paripurna yang diridhai Allah sebagai agama seluruh manusia. Lebih aneh lagi bila kaum muslimin ikut-ikutan menjadi sekuler
.
Pemikiran semacam ini jelas bertentangan dengan Islam yang datang justru untuk mengatur kehidupan manusia dalam semua aspek, dan membawa kerahmatan tidak saja bagi umat Islam tapi bagi seluruh manusia. Islam jelas tidak mengenal pemisahan antara urusan ritual dengan urusan dunia. Shalat adalah ibadah yang merupakan bagian dari syariat dimana seluruh umat Islam harus terikat, sebagaimana keterikatan kaum muslimin pada syariat di bidang ekonomi, misalnya. Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah. Islam adalah sebuah totalitas ketundukan muslim pada kehendak Allah dalam semua sendi kehidupan (2:208)
.
Dan merupakan tindak kekufuran beriman kepada ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah:
“Apakah engkau beriman kepada Al Qur’an sebagian dan kufur kepada sebagiannya yang lain. Dan tidaklah ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, kecuali kehinaan kehidupan di dunia, dan di akhirat akan mendapatkan siksa yang pedih” (Al Baqarah 85)
Bila Islam tidak lagi dijadikan sebagai asas pengaturan struktur kehidupan (siyasiy), maka sebagai gantinya munculah asas-asas lain yang mengatur berbagai bidang kehidupan umat
.

Diantaranya adalah:
• Kapitalisme di bidang ekonomi
Hampir seluruh negara di dunia, terlebih setelah runtuhnya sosialisme-komunis Uni Sovyet, menganut paham kapitalisme sebagai sistem ekonominya. Dari segi praktis, kapitalisme memang telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan material luar biasa. Negara di dunia yang maju secara material umumnya adalah negara kapitalis. Tapi dalam soal pemerataan, kapitalisme ternyata gagal.

.
Dan agaknya itulah yang sebenarnya terjadi. Di negeri ini ada seseorang yang hobinya mengoleksi jam tangan berharga 5 milyar rupiah tiap biji, disaat berpuluh-puluh juta rakyat harus mengais-ngais untuk mendapatkan 1000 rupiah sehari! Sementara, dunia usaha swasta makin dicengkeram oleh segelintir orang secara monopolis dan kolusif merambah ke segala arah, termasuk pada sektor publik yang semestinya hanya dikelola oleh negara
.
Yang lebih gawat lagi, sistem kapitalisme juga telah gagal “memanusiakan manusia”. Keresahan spiritual yang kini tengah menjangkiti Jepang, bisa sebagai bukti. Kemakmuran material memang diberikan, tapi kapitalisme telah menjadikan manusia budak harta, dan mereduksinya menjadi setengah manusia bahkan lebih rendah dari hewan. Kapitalisme menyeret manusia pada pola “asas manfaat” dalam memperoleh harta (asbab al-tamalluk), menggunakan (infaqu al-mal) dan mengembangkannya (tanmiyatu al-mal). Asas itu mengajarkan bahwa yang baik adalah yang memberikan manfaat (materi dan kenikmatan jasmani), tidak peduli apakah itu akan menurunkan derajat kemanusiaannya atau tidak (seperti tampak pada bisnis prostitusi, entertainment, judi dan sebagainya). Nilai-nilai Islam dengan tolok ukur halal dan haram, oleh karenanya menjadi barang asing dan terasa aneh. Umat yang telah terbiasa bergaul dengan sistem ekonomi ribawi, tentu merasa aneh ketika diserukan untuk menjauhi riba. Demikian pula dengan riswah dan komisi, sepertinya sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari derap perekonomian negara. Kapitalisme telah merusak umat: fisik dan non fisik. Kehidupan hedonistik, konsumtif dan meterialistik makin menggejala. Kapitalisme memunculkan berhala baru di era jahiliahisme modern: uang
.
• Westernisme dengan Inti Amoralisme di Bidang Budaya
Di bidang budaya, kehidupan hedonistik sebagai buah dari kehidupan yang materialistik makin menjadi ciri masyarakat. Dalam hal ini Barat seolah menjadi kiblat “kemajuan” – kearah mana masyarakat harus menengok. Musik, mode pakaian, makanan, film dan gaya hidup Barat – apalagi setelah adanya TV swasta – makin menggejala. Kaum muslimin yang tidak memiliki kepribadian kuat mudah sekali tercemar, dan memunculkan pribadi yang terpecah (split personality). Ia muslim, tapi tingkah lakunya seperti artis Barat yang sering ia lihat di layar kaca. Benar, ia memang pengikut Nabi Muhammad, hanya saja idolanya bukan lagi Nabi tapi Bon Jovi. Dan bukan Al Quran yang dihafal tapi bait-bait lagu yang diteriakkan Bon
.
Penampilannya juga serupa benar dengan idolanya itu. Rambutnya gondrong, jelananya jeans belel, dan tak lupa anting di telinganya. Yang wanita, pakaiannya juga selalu tampak modis. Malu hati rasanya bila tidak mengikuti arus mode, kendati untuk itu ia harus berpakaian setengah telanjang. Dan itu tentu saja termasuk bagaimana mengatur rambut agar selalu nampak “in”. Lantas bagaimana cara mereka bergaul? Tidak sulit. Film Melrose Place atau Beverly Hills 90210 yang hadir seminggu sekali lewat layar kaca telah lebih dari cukup mengajarinya. Atau iklan – yang telah menjadi nafas kapitalisme – telah pula menghembuskan budaya hedonistik dan mencitrakan gaya hidup baru. Iklan makanan coklat, atau minuman ringan seolah-olah menunjukkan begitulah kira-kira cara pergaulan remaja “modern”. Maka, jadilah ia seorang muslim dengan gaya hidup si Boy: rajin shalat, rajin juga maksiyat
.
• Nasionalisme di bidang politik
Nasionalisme diartikan oleh Hans Kohn (dalam Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Islam, 1986) sebagai “suatu keadaan pada individu di mana ia merasa bahwa pengabdian yang paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air”. Nasionalisme mengunggulkan paham kebangsaan sekaligus mensubordinasikan paham lain, termasuk aqidah Islam. Bagi seorang nasionalis, bangsa adalah segala-galanya, dan tidak ada yang lebih penting dari upaya meraih kejayaan bagi bangsanya. Kematian demi bangsa adalah setinggi-tinggi kemuliaan. Paham ini sebenarnya kosong tanpa substansi, kata Syekh Dr. Muhammad Ghazali dalam Mi’ah Su’al ‘ani al-Islam, – sebab apa arti “cinta pada tanah air”, “mengabdi pada bangsa dan negara” sementara apa yang disebut “tanah dan air serta bangsa dan negara” sesungguhnya tidaklah pernah ada. Ia hanya merupakan dzat rekaan yang bersifat abstrak dan tentu tidak pernah memberikan manfaat kepada yang “mencintainya” ataupun mudharat kepada yang “mengkhianatinya”. Tapi kendati begitu, paham ini kini telah merasuk demikian dalam pada tubuh umat dan telah menjadi biang perpecahan umat Islam seluruh dunia
.
Bagi seorang muslim jelas, pengabdian hanyalah kepada Allah semata (6:162). Tidak ada pengabdian selain kepada Allah, dan ujud pengabdian itu berupa ketaatan kepada segenap perintah dan laranganNya. Bila segenap aktifitas hidup didedikasikan semata untuk menjalani aturan Allah, itulah yang disebut ibadah. Inilah semulia-mulia kehidupan, dan ini pula yang disebut pengabdian. Islam memang mengakui adanya keragaman suku dan bangsa (49:13). Tapi Islam menentang keras sukuisme dan nasionalisme. Tentang ini Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud, “laysa minna man da’a ila ‘ashabiyah, wa laysa minna man qatala ‘ala ‘ashabiyah wa laysa minna man mata ‘ala ‘ashabiyah“
.
Nasionalisme menyebabkan kaum muslimin merasa lebih terikat kepada bangsanya masing-masing ketimbang pada Islam. Ia rela keyakinan agamanya dikorbankan demi keutuhan bangsanya. Ia juga merasa lebih bersaudara dengan sebangsanya ketimbang dengan yang seaqidah. Penderitaan muslim Bosnia akan dirasakan sebagai persoalan bangsa Bosnia; bukan persoalan kaum muslimin. Ia lebih peka terhadap persoalan yang akan “mengancam bangsanya” ketimbang mengancam umat Islam. Ia mudah saja bergaul dengan orang atau negara kafir hanya semata itu menguntungkan bangsanya, kendati itu menindas umat Islam. Juga teramat jelas, nasionalisme menghambat persatuan umat Islam sedunia. Dari sini bisa dimengerti mengapa umat Islam, termasuk yang berada di Timur Tengah, sulit sekali bersatu untuk misalnya, melawan Israel. Ketika nampak kepentingan nasionalnya terpenuhi, mereka merasa konflik dengan Israel sudah selesai. Mesir kini berdamai dengan Israel setelah gurun Sinai kembali ke pangkuannya. Begitu juga Yordania. Tidak peduli bahwa hingga saat ini tanah Palestina masih dikuasai Israel dan kaum muslimin di sana masih menderita akibat penindasan zionisme. Organisasi semacam OKI, Liga Arab atau semacamnya tak mampu berbuat banyak dalam menggalang persatuan umat, karena negara anggotanya lebih mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing. Nasionalisme juga berdampak sangat serius di bidang hukum. Bagi seorang nasionalis, hukum yang layak adalah hukum nasional bukan hukum agama apalagi dari satu agama. Dalam soal ini, semua agama harus disamadudukkan (sinkretisme)
.
• Sinkretisme di bidang agama
Paham nasionalisme tidak akan tegak tanpa disertai penyebaran paham sinkretisme yang intinya “menyamadudukkan semua agama”. Sinkretisme sebagai anak cabang pemikiran sekuler berdiri di atas tiga doktrin. Pertama, dikatakan bahwa kebenaran agama itu bersifat subyektif. Artinya, suatu agama pasti dinilai paling benar oleh pemeluknya masing-masing. Agama lain salah. Karena semua agama bersifat demikian, maka seseorang tidak mungkin dipaksa mengikuti aturan selain yang menjadi agamanya
.
Semua agama harus dipandang sama kedudukannya. Kedua, sebagai konsekuensi dari doktrin yang pertama, maka suatu agama tidak boleh mendominasi agama yang lain. Sebab, itu berarti harus memaksa seseorang untuk mengikuti aturan yang berasal dari bukan agamanya. Ketiga, maka oleh karenanya untuk mengatur kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai pemeluk agama, diperlukan aturan bersama yang dinilai mampu mengadaptasi semua agama yang berkembang di tengah masyarakat tersebut.
Pemikiran sinkretisme menyebabkan sebagian umat Islam “memandang rendah”, bahkan “tidak suka, menjauhi dan memusuhi” aturan agamanya sendiri. Ia merasa menjadi orang modern bila turut beranggapan bahwa aturan-aturan masyarakat yang “demokratis dan aspiratif” adalah yang lepas dari agama yang ada, termasuk Islam. Tidak lupa ia turut mengecam aturan Islam sebagai “ketinggalan jaman, kejam, tidak manusiawi serta tidak cocok untuk masyarakat plural”, hanya karena aturan Islam diturunkan empat belas abad lalu di negeri Arab yang secara sosiologis katanya berbeda dengan tanah airnya. Disebut toleransi – dan itu sebuah kemuliaan – bila orang mau mengerti aspirasi agama lain
.
Dengan bersikap demikian, sadar atau tidak, kendati muslim sesungguhnya ia telah menjadi lawan dari agama Islam. Ia telah terjerumus demikian jauh di jurang kesesatan. Ia lupa, seorang muslim harus meyakini hanya Islam saja yang benar dan diridhai Allah (3:19/5:3). Beragama selain Islam tidak akan diterima Allah dan di akhirat akan merugi (3:85). Terhadap agama lain sikap yang harus diambil adalah dakwah, yakni mengajak pengikutnya agar memeluk Islam, sebagaimana ajakan Rasulullah dalam suratnya kepada Heraclius: “Aslim, taslam“. Perlu diingatkan pula bahwa Islam adalah agama untuk semua manusia (34:28) yang bila ditegakkan akan membawa kebaikan bersama (21:107)
.
Fakta sejarah di masa lalu ketika Islam berkuasa di berbagai wilayah, misalnya di Irak, Mesir, Spanyol dimana komunitas non Muslim juga hidup sejahtera di dalamnya, menunjukkan hal itu. Islam pasti tidak akan ketinggalan jaman, karena ia diturunkan oleh dzat yang Maha Mengetahui dan telah ditetapkan sebagai agama terakhir. Menyatakan Islam “tidak cocok” untuk masyarakat yang hidup 14 abad kemudian, sama saja menuduh Allah tidak tahu akan perkembangan masyarakat di masa depan serta tidak tahu bagaimana mengaturnya
.
Akibat sinkretisme, sebagai komunitas mayoritas, umat Islam tidak merasa apa-apa menyaksikan bagaimana kehidupan tidak diatur dengan Islam. Ia bangga bebas dari penjajahan, tapi sedikit pun tidak merasa risi menggunakan hukum bekas penjajah Belanda. Ia tidak juga segera sadar akan kekeliruan pemikirannya kendati kenyataan menunjukkan, aturan bersama yang ada tidaklah mampu membawa masyarakat kepada kebaikan. Berbagai problematika (di bidang ekonomi muncul kesenjangan, harga melambung, monopoli dan sebagainya; di bidang sosial meningkatnya kriminalitas, kerusakan moral, berkembangnya budaya barat dan sebagainya) yang silih berganti muncul di tengah masyarakat, bahkan mungkin dia termasuk salah satu korbannya, tidak cukup mengingatkan bahwa Islam adalah solusinya. Sinkretisme telah membuatnya buta.
Kontradiktif
.
Semua asas pengaturan kehidupan di atas tidaklah muncul dari satu kesatuan pemikiran. Tapi sekedar berdasarkan manfaat, yang diduga mungkin atau bisa diperoleh di bidangnya masing-masing. Oleh karenanya, sekularisme pada tataran praktis banyak sekali menimbulkan kontradiksi di tengah masyarakat. Di bidang pendidikan, satu sisi diinginkan siswa yang berpribadi luhur, kuat agamanya, tapi tidak ada atau sedikit sekali langkah ke arah itu. Misalnya, apa yang bisa diharap dari pelajaran agama 4 sks sampai tingkat sarjana di perguruan tinggi?. Ketika para siswi ingin mewujudkan perintah agama (misalnya memakai jilbab atau duduk terpisah laki dan perempuan di kelas), ternyata dihambat dan malah dituduh ekstrem, fanatik serta tuduhan lainnya yang menyakitkan.
Di bidang budaya, satu sisi diinginkan masyarakat yang mulia, dengan remajanya yang berkepribadian teguh, tapi di sisi lain tontonan di TV, bioskop merajalela penuh dengan kemaksiyatan disertai ajakan seks dan pergaulan bebas dengan tari dan nyanyi yang tidak jelas apa maunya. Satu sisi polisi mengeluhkan akibat alkoholisme, dan kemudian membuat operasi menyapu minuman itu di warung-warung, tapi industri minuman keras jalan terus hanya karena alasan cukai dan tenaga kerja. Satu sisi menginginkan pemerataan, tapi sisi lain monopoli swasta makin mencengkeram termasuk pada sektor publik
.
AIDS diperangi, tapi kompleks WTS tetap dibiarkan laris. Katanya negara berdasarkan pada ketuhanan, tapi begitu banyak aturan negara yang menyimpang dari aturan Tuhan. Bila demikian lantas tuhan yang mana yang dimaksud oleh penduduk mayoritas negeri ini? Juga, mengapa mereka yang memperjuangkan tegaknya aturan tuhan, sesuai asas tadi, malah dituduh subversif? Qira’ah al-Qur’an dilombakan dalam MTQ, khatnya ditulis indah-indah, tapi ajarannya diabaikan
.
Lantas Bagaimana?
Ditinggalkannya aturan Islam dalam pengaturan kehidupan baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi maupun politik terbukti telah memundurkan umat dan menjadikan umat hidup dalam kehinaan di mana-mana. Sekarang umat Islam di seluruh dunia merasakan nasib yang malang dan menangisi kekalahan yang sangat mengerikan, yang belum pernah dialami oleh umat Islam di masa lalu. Umat telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam menguasai bukan dikuasai. Umat Islam sepertinya tidak punya daya kemampuan sama sekali
.
Secara faktual, potensi 1,2 milyar umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta?
.
Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk terus menerus menggerutu, atau hanya mencaci maki orang lain. Hukum alam tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah yang memimpin. Dan yang membuatnya unggul adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain
.
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada diri mereka sendiri“(Ar Ra’du:11)
.
Jadi jelaslah hanya ada satu cara untuk keluar dari kemelut ini: umat Islam harus bangkit! Tekad itu dan istilah kebangkitan memang mulai menyebar semenjak dicanangkannya abad 15 hijriah sebagai abad kebangkitan Islam. Tapi apa yang disebut bangkit atau kebangkitan, agaknya beragam orang memahaminya. Syekh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nidzam al-Islam, menyatakan bahwa kebangkitan hakiki adalah kenaikan taraf berfikir (al-irtifa’u al-fikry) umat yang dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya
.
Pemikiran yang membentuk pemahaman (mafahim) akan berpengaruh pada tingkah laku. Tingkah laku Islamy akan terujud bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam (Mafahim Dakwah LDK, 1988). Untuk itu diperlukan dakwah. Dan dakwah di tengah kemunduran umat seperti sekarang ini akibat tidak adanya kehidupan Islam, haruslah berupa “dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam” (da’wah li isti’nafi al-hayati al-Islamiyah).
Jika revolusi tahap pertama merupakan pembebasan umat dari belenggu penjajahan fisik, maka revolusi tahap kedua bertujuan membangun kesadaran Islam (al-wa’yu al-Islamy) di tengah peperangan pemikiran tadi. Yakni kembalinya identitas, khazanah dan pemikiran Islam ke dalam diri kaum muslimin, setelah terbukti imitasi terhadap ideologi Barat bukan saja gagal dari segi konsepsi, juga tidak memberikan hasil positif dari segi praktis lahir maupun batin bagi kehidupan umat Islam. Revolusi tahap kedua digerakkan menuju terwujudnya kehidupan Islam sejati
.
Dakwah melanjutkan kehidupan Islam bertujuan untuk ‘audatu al-muslimin ila al-’amal bi jami’i ahkami al-Islam. Atau, mengembalikan kaum muslimin kepada pengamalan seluruh hukum Islam di bidang ‘aqidah, ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, muamalah (politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya).
Dari segi individu, dakwah atau pembinaan kepada umat bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang berkepribadian Islam. Yakni seseorang yang berpikir dan bertindak secara Islamy. Ia tidak berpikiran kecuali sesuai dengan ajaran Islam, dan tidak bertindak kecuali sesuai dengan syariat Islam. Harus ditanamkan kepada umat pemahaman aqidah yang benar dan kuat beserta segenap konsekuensi dari orang yang telah beraqidah Islam, yakni taat pada syariat (4:65/33:36/59:7). Juga, ditanamkan pemahaman atas syariat Islam itu sendiri, agar dengannya ia mengerti apa tujuan hidup ini, bagaimana menjalaninya; serta bagaimana misalnya, ia harus menjalankan ibadah dengan baik, memilih pakaian yang benar, makanan yang halal, bergaul secara Islamy, dan bermuamalah secara syar’iy. Ia bertindak Islamy di masjid, demikian juga semestinya ketika ia berada di kantor, di pasar dan di jalan-jalan. Ia Islamy ketika shalat, begitu semestinya ketika berdagang, ketika bergaul dengan orang lain. Lebih jauh lagi, pembinaan itu diharapkan menyadarkan umat bahwa seharusnya masyarakat ini diatur dengan Islam
.
Dari segi komunitas, pembinaan kepada umat bertujuan agar dari muslim yang berkepribadian Islam terbentuk kekuatan dan dorongan untuk melakukan perubahan masyarakat ke arah Islam dan menegakkan masyarakat Islam. Hanya dalam masyarakat Islam saja seluruh hukum Islam dapat ditegakkan, saatmana kerahmatan yang tertuju bukan hanya bagi umat Islam tapi juga mereka yang beragama selain Islam, karena memang Islam membawa rahmat bagi sekalian alam (21:107), akan terasakan.
Tidak adanya, atau tidak sempurnanya pembinaan terhadap umat hanya akan menghasilkan kepribadian yang tidak utuh. Ia muslim tapi tidak shalat, bahkan dengan mudah menggadaikan kemuslimannya demi sebungkus supermi atau wanita yang dicintainya. Tidak sedikit kita jumpai orang Islam yang dengan ringannya meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat dan melalaikan puasa Ramadhan. Atau, kalau ibadahnya bagus tapi tidak atau kurang memperhatikan aturan Islam di bidang lain. Seolah Islam hanya mengatur masalah ibadah, dan keislamannya terbatas hanya pada masalah ibadah saja. Di luar itu, ia merasa bebas berbuat. Ia misalnya, rajin shalat tapi juga rajin makan riba. Ia bangga dengan titel hajinya, tapi bangga pula dengan pemikiran sekulernya; atau bangga dengan kecantikan rambut dan tubuhnya yang dibiarkan terlihat orang lain. Ketika di Mina ia melempar jumrah sebagai simbolisasi perlawanan terhadap setan, tapi sepulang dari Mina ia menjadi teman, bahkan budak setan. Ia menentang gerakan pemurtadan, tapi menentang pula gerakan yang akan menegakkan syariat Islam. Ia bangga dengan kemuslimannya tapi tidak gelisah sedikitpun tatkala demikian banyak aturan Islam yang ditinggalkan, atau kita tidak risih melihat kehidupan diatur dengan hukum yang tidak bersumber dari agama yang dipeluknya itu. Ia tahu bahwa sesama muslim bersaudara, tapi tak sedikitpun ia peduli atas pembantaian muslim Bosnia, Chechnya dan sebagainya. Bila demikian, lantas dimana makna ikrar “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah semata Tuhan semesta alam,”juga kekaffahan yang diminta Al-Quran?
.

Pembinaan kepada umat yang tidak sempurna juga akan menghambat terbentuknya kehidupan Islam. Karena umat itu sendiri yang akan menjadi batu penghalang upaya ke arah sana. Siapa lagi yang berani menghalangi proses Islamisasi apalagi di negeri dimana umat Islam mayoritas, bila bukan dari kalangan umat Islam sendiri (dengan berbagai argumen batil) atau kalangan non Islam dengan lidah dan tangan (tokoh) umat Islam. Isu “plularisme,primordialisme,fundamentalime,” dan sebagainya, selama ini ternyata dilontarkan oleh tokoh-tokoh Islam. Dan sasarannya tidak lain adalah kelompok Islam yang dinilainya “mengandung semangat Islamisasi”. Kepala Sekolah yang dulu menghambat jilbab di SMA, ternyata juga muslim
.
Sementara, tanpa Islam bisakah kita berharap munculnya tatanan kehidupan yang baik? Atau, bisakah kita berharap mendapat kebaikan dari agama Islam yang diyakini datang untuk membawa rahmat tanpa mewujudkan Islam dalam pengaturan kehidupan nyata? Bila tidak, mengapa kita masih suka berlama-lama hidup dalam kejahiliahan seperti sekarang ini? Satu sisi kita mengeluh: hidup makin susah dan makin tidak aman, harga apa-apa naik, kemaksiyatan merajalela, remaja makin brutal, birokrat makin tidak bisa diharap, di dunia luar kaum muslimin dibantai di mana-mana dan sebagainya; tapi di sisi lain mengapa kita mendiamkan begitu saja agama Islam teronggok bagai barang antik tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata? Itu sama saja dengan seseorang yang marah-marah ketika tubuhnya didera penyakit, tapi obat ditangan hanya dilihat-lihat saja. Mana bakal sembuh?

.
Dulu, Rasul seorang telah mengubah dunia. Kini umat Islam berjumlah 1 milyar lebih, apa yang bisa digoncang?. Tidak ada. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain umat Islam harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk menegakkan kembali bangunan Islam. Dan itu mungkin perlu waktu yang tidak sebentar. Sebab sesuatu yang sudah hancur dalam waktu yang cukup lama, secara sunatullah perlu waktu lama pula untuk membangunnya kembali
.
Pada era perang fisik, kita terjun dengan membawa senjata yang dilengkapi dengan berbutir-butir peluru dan mesiu. Tapi kini yang kita hadapi bukan perang fisik tapi perang pemikiran. Maka semestinya kita terjun sebagai pasukan Islam dengan menembakkan peluru pemikiran Islam, memerangi musuh yang membawa peluru pemikiran sesat. Mulut dan tangan adalah senjata kita, dengan kantong peluru berupa pemahaman Islam yang shahih di otak kita. Sebagaimana Rasulullah membangun peradaban Islam dengan mulutnya. Mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam. Dalam perang ini musuh Islam menggunakan segenap tenaga dan upaya (jaringan birokrasi, media massa dan sebagainya), maka diperlukan lebih banyak lagi pasukan Islam yang bergerak di tengah umat untuk menyadarkan umat dari tidurnya yang panjang

Selanjutnya mengenai “seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya”. Lalu apa penafsiran anda terhadap wasiat Sidi Ibnu Syihab (atau Sidi Nashiruddin) yang berbunyi: “Tiadakan wujudmu di hadapan gurumu, jangan sok tahu! Biarkan ia meruntuhkanmu untuk dibangun kembali jiwamu”!.

Lihat bagaimana Syeikh Abdul Qadir Isa dalam kitab “Haqa’iq an al-Tashawwuf” menyebutkan etika-etika murid terhadap guru tarekatnya yang antara lain :
– Mentaati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada guru,
– Tidak membantah, menyanggah atau mengkritisi guru,
– Meyakini kesempurnaan dan kapabilitasnya dalam mendidik jiwa,
– Memuliakan dan mengagungkannya dikala hadir maupun ghaib (tidak hadir),
– Mencintainya dengan cinta yang amat sangat,
– Tidak menoleh atau menengok ke guru lain selainnya,
– Senantiasa menghadiri majelisnya,
– Berupaya semaksimal mungkin untuk selalu melayaninya,
– Dan lain-lain.

Yang pertama kali memperkenalkan tasawuf adalah sebagian sahabat Abdul Wahid bin Zaid sedangkan Abdul Wahid merupakan sahabat Hasan Al-Basri, dia terkenal dengan sikapnya yang berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah dan sikap khawatir (khouf), satu hal yang tidak di dapati pada penduduk kota saat itu. Abu Syaikh Al-Ashbahani meriwayatkan dalam sanadnya dari Muhammad bin Sirin yang mendapat berita bahwa satu kaum mengutamakan untuk memakai pakaian dari wol (shuf), maka dia berkata: “Sesung-guhnya ada suatu kaum yang memilih pakaian wol dengan mengatakan bahwa mereka ingin menyamai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk nabi kita lebih kita cintai, beliau dahulu mengenakan pakaian dari katun atau lainnya, atau ucapan semacam itu”

Tentang keyakinan shufi mengenai kasyf itu di antaranya dije laskan oleh Ibnu ‘Arabi dalam kitab Futuhatnya dan Al-Jili dalam Insanul Kamil-nya. Sedangkan al-Ghazali sendiri telah mengakui bahwa ia tidak memperoleh keyakinan sesudah dihinggapi syak dan kesangsian kecuali dengan perantaraan kasyf. Yaitu setelah ia beri’tikaf beberapa tahun di menara Masjid Damaskus dan di Masjid Baitul Maqdis. (Lihat kitab Al-Ghazali, Al-Munqidzu minaddholaal, dan Al-lamus Syamikh hal. 370, dan Akhlaq, hal. 42, seperti dikutip HSA Al-Hamdani dalam Sanggahan terhadap tashawuf… hal 16).

Kasyf Syaithani dan Kasyf Haqiqi

Sorotan yang tajam terhadap batilnya kasyf ini juga ditulis oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar. Dr Yusuf Al-Qardhawi mengutipnya sebagai berikut:

Bahwa ilham atau kasyf semata-mata merupakan salah satu contoh dari pengetahuan jiwa yang berbicara, tidak tetap (baku) dan tidak teratur. Dan bukan merupakan pengetahuan yang berlandaskan kepada akal dan tidak pula bersandarkan kepada dalil syar’i, akan tetapi cuma merupakan pengetahuan yang kurang, yang terkadang salah terkadang benar, dan sebab-sebabnya yang alamiah pun mudah untuk diketahui. Sebagian ada yang bersifat bawaan (fithry), sebagian ada yang diperoleh dengan usaha (kasby) dan sebagian lagi hasil ciptaan (shina’i), seperti hipnotis yang dikenal di abad ini, dan apa yang mereka namakan dengan membaca fikiran, komunikasi fikiran, dan yang mereka serupakan dengan transfer berita lewat kawat listrik maupun transfer berita tanpa kawat listrik.

Pengetahuan seperti ini tentu bisa dikuasai oleh orang mu’min maupun orang kafir, orang yang baik maupun orang yang jahat, sebagaimana diakui oleh para shufi muslim bahwa pengetahuan semacam ini dikuasai pula oleh shufi beragama hindu. Para shufi muslim mengakui bahwa pengetahuan yang dikuasai oleh mereka bercampur aduk dengan pengelabuan syetan, dan sedikit sekali orang yang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kasyf syaithani (kasyf yang berasal dari syetan) dan kasyf haqiqi (sesungguhnya), dan tidaklah boleh dinamakan kasyf haqiqi kecuali jika bersesuaian dengan nash yang qoth’i (nash/ teks ayat atau hadits yang pasti).

Di antara berbagai bukti kesalahan dan kepalsuan serta khaya lan yang ada pada kasyf mereka, yang biasa mereka namakan dengan An-Nurany (yang berkilauan), dan apa yang mereka sebutkan di dalam kasyf mereka berupa pengetahuan mereka yang bermacam-macam, berdasarkan keberagaman pengetahuan mereka tentang seni, kekhura fatan dan syari’ah adalah terjadinya pertentangan para ahlinya dan saling salah menyalahkan satu sama lain dalam hal ini. Oleh karena itu, anda akan mengetahui sebagian dari mereka menyebutkan di dalam kasyfnya Jabal Qof (gunung qof) yang mengelilingi bumi!

Dan Al hayyah (ular) yang mengelilinginya! Sebagaimana dapat anda ketahui dalam biografi Asy Sya’rani oleh Syaikh Abu Madyan, yang isinya merupakan kekhurafatan-kekhurafatan yang tidak ada hake katnya.

Di antara mereka ada pula yang menyebutkan di dalam kasyfnya bintang-bintang dan tempat peredarannya dengan cara Yunani yang batil. Dan kebanyakan mereka menyebutkan di dalam ksyf mereka hadits-hadits yang maudhu’ (palsu), walaupun mereka dan orang-orang yang terfitnah dengan kasyf mereka ditentang oleh ulama

hadits. Mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya sebuah hadits terkadang dianggap shahih dalam kasyf kami, walaupun hadits tersebut tidak shahih menurut riwayat-riwayat kalian (ahli hadits), dan kasyf kamilah yang lebih benar, karena kasyf kami berasal dari ilmul yaqin sedangkan ilmu kalian berasal dari dugaan (dhon)!’

Kesimpulannya adalah, bahwa kasyf ini adalah urusannya sendiri dan urusan para ahlinya, jika sah bagi kita untuk membenarkannya tentu ketika tidak terjadi pertentangan dengan syari’at, aqidah-aqidahnya serta hukum-hukumnya. Maka tidak dibenarkan bagi orang yang beriman kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya membenarkan sebagian dari kasyf yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Quran

dan Sunnah. Dan tidak dibenarkan pula menetapkan kasyf dengan didasari perintah dari alam gaib selama tidak ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah. lagi pula kita tidak membutuhkan semua ini (kasyf seperti ini). (Tafsir Al-Manar oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha, Jilid 11/447, cetakan keempat, seperti dikutip Dr Yusuf Al-Qardhawi, Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf… hal. 86-87).

Penjelasan-penjelasan tersebut sangat gamblang bahwa kasyf shufi itu batil. Orang mu’min maupun kafir bisa memperolehnya, orang jahat maupun shalih dapat juga, sebagaimana hasil kasyf itu ada yang dari syaitan, dan ada yang mengandung kebenaran, tidak ada patokannya. Maka ketika ungkapan semacam ini saya ajukan

kepada guru besar tasawwuf dengan ungkapan bahwa Joyoboyo yang bukan Islam pun bisa mendapatkan kasyf itu; ternyata Pak Guru Besar Tasawwuf itu marah, dan tidak ada jawaban pasti, seperti sudah kami kemukakan di atas. Masihkah mereka mau mengklaim kebenaran kasyf dengan cara lain lagi selain marah-marah dan bicara ngaco (tidak teratur)?

Dan dari sinilah bisa kita fahami, kenapa orang-orang Syi’ah, sekluer, dan pengacau Islam kini justru ramai-ramai menjajakan tasawwuf. Ternyata, dalam hal kepercayaan/ aqidah maupun sikap mereka terhadap hadits adalah sama-sama, yaitu mengacaukan. Hingga ketatnya aqidah dalam Islam ini jelas-jelas mereka tabrak, sedang ketatnya pembatasan tentang keshahihan hadits pun terang-terang mereka tabrak pula. Bila aqidah, suatu fondasi tempat berdirinya Islam, telah mereka kacaukan, dan hadits sebagai landasan utama yang kedua setelah Al-Quran telah mereka halalkan untuk dipalsukan dengan cara mengklaim ke-kasyf-an untuk mensha hihkan kepalsuan, maka hancurlah Islam ini. Masih pula ditambahi dengan tabiat shufi yang tunduk patuh bahkan sering mendukung kepada penguasa dhalim –walaupun menghancurkan Islam– maka sempurnalah konspirasi dan konvigurasi mereka (shufi, syi’ah, sekluer, munafiqin, kafirin, musyrikin, pengacau agama, dukun, paranormal, ahli bid’ah, politikus licik anti Islam, dan penguasa dhalim) dalam menghancurkan Islam dengan wajah yang pura-pura teduh karena berkedok main batin
.

Maka waspadalah wahai saudara-saudaraku Ummat Islam, jangan sampai tertipu oleh permainan mereka yang sudah dibabat oleh para ulama pada awal abad keempat Hijriyah dengan dibunuh dan disalibnya dedengkot shufi bernama Al-Hallaj, namun kemudian digali dan dihidup-hidupkan lagi oleh para orientalis Barat antek penjajah anti Islam, kemudian dikem bangkan lagi oleh antek-antek orientalis di mana-mana sampai kini lewat aneka sarana. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada para pengamal Islam dan penyerunya yang setia dan istiqomah hingga mampu menghancurkan kebatilan mereka yang mengancam Islam itu.

Tidak jarang sebagian kita dihadapkan pada kebisingan suara dan bisikan di dalam hati, saat hati sedang bimbang dan bingung. Kadang-kadang suara dan bisikan itu muncul saat hati terluka, bingung menentukan sikap. Sering juga muncul dalam kesunyian dan kesendirian, saat merenungi nasib yang tak menentu, yang semakin hari terasa semakin dihimpit oleh keadaan dan tuntutan kebutuhan.
Tidak jarang juga terjadi suara itu membising saat menjelang tidur, terutama saat mata tak dapat dipejamkan karena ditinggal suami atau isteri, atau kehilangan pekerjaan, bingung menentukan pilihan. Atau karena pekerjaannya tergeser oleh orang lain akibat ketatnya persaingan yang tak manusiawi di zaman kapitalisme sedang berkuasa.
Bahkan sebagian kita juga sering dibingunan untuk menentukan pilihan karena prediksi tentang nasib dirinya, yang diisyaratkan oleh “Waliyulah” atau “Orang pintar” melalui penerawangan ghaib atau bisikan dan suara hatinya
.
Supaya kita tidak bingung menentukan sikap dan memiliki konsep serta rumus yang jelas, saya akan kutipkan beberapa uraian dan penjelasan seorang ulama besar, filosuf dan sufi besar di zaman, yaitu Allamah Muhammad Mahdi An-Naraqi dalam kitabnya “Jami’us Sa’adat, penghimpun kebahagiaan. Mari kita simak dengan cermat dan teliti, semoga bermanfaat bagi kita semua. Berikut ini penjelasan beliau:
.
Ketahuilah, suara atau bisikan yang muncul di dalam hati, adakalanya baik dan adakalanya buruk. Jika bisikan atau suara halus itu mengajak pada keburukan, maka suara itu tercela dan dinamakan “Was-was” (bisikan setan). Jika suara itu mengajak pada kebaikan, maka suara itu terpuji dan dinamakan “Ilham” (suara malaikat).
Hati dari sisi munculnya suara atau bisikan bagaikan:
1. Sararan anak panah yang dipancarkan dari berbagai arah.
2. Taman yang dialiri air dari berbagai saluran.
3. Rumah yang memiliki beberapa pintu dapat dimasuki bermacam-macam manusia.
4. Atau cermin yang padanya bercermin bermacam-macam bentuk dan wajah manusia
.
Semua contoh tersebut tergantung dan tidak terlepas dari apa yang datang dan mengalir padanya. Demikian juga hati, tidak terlepas dari suara atau bisikan dari mana datangnya. Suara lembut Ilahiyah (luthuf) selalu tersembunyi dan bersemayam di dalamnya, menghadapi bermacam-macam suara dan bisikan yang lain. Luthuf Ilahiyah itu tidak berhubungan dengan badan dan segala kelezatannya, tersucikan dari semua kotoran dan keburukan tabiat
.
Ketika datang suara bisikan baru, tentu itu ada penyebabnya. Jika penyebabnya setan, maka bisikan itu dinamakan “Was-was” (bisikan setan); jika penyebabnya malaikat, maka dinamakan “Ilham” (suara malaikat). Ketika hati siap menerima kehadiran was-was, maka kondisinya dinamakan “Ighwa’”(bujukan) dan “Khidzlân” (kehinaan). Ketika hati siap menerima kehadiran ilham, maka kondisinya dinamakan “Luthuf” dan “Taufiq”, suara Ilahi dan bimbingan. Kondisi inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya:
في القلب لمتان: لمة من الملك ايعاد بالخير وتصديق بالحق، ولمة من الشيطان ايعاد بالشر وتكذيب بالحق

.
“Dalam hati ada dua perkumpulan: Perkumpulan malaikat yang mengajak pada kebaikan dan membenarkan kebenaran, dan perkumpulan setan yang mengajak pada keburukan dan mendustakan kebenaran.”
.
Hanya melalui umat yang sadar saja bisa diharapkan kebangkitan umat yang hakiki berupa tegaknya kehidupan yang Islamy di bawah naungan Daulah ISyiah. Ingatlah janji Allah,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukarkan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)
.
Dalam ayat ini Allah berjanji kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh, berjuang mewujudkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, akan memberikan kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia di dunia dan meneguhkan agama Islam. Artinya, agama Islam akan tegak, syariat Islam akan terealisasi, yang semua ini akan menjamin keadaan masyarakat menjadi tenteram, damai dan sejahtera menggantikan situasi yang penuh penderitaan dan ketakutan seperti sekarang ini. Pada saat seperti itulah, predikat umat Islam sebagai khairu ummat akan terujud. Insya Allah. Wallahu ‘alam bi al-shawab

artikel  ini ditulis oleh Amin Farazala Al Malaya (nick name : Ustad Syi’ah Ali / Ibnu Jakfari )
——————————————————————————————————————–

Iran adalah sebuah negeri yang unik. Setelah revolusi Islam, tidak ada orang asing datang ke Iran untuk mencari hiburan. Nyaris tidak ada hiburan di sana. Kalau hiburan itu diartikan pesta minum-minuman keras, berjudi, bermalas-malasan di pantai, ataupun mencari seks. Mereka yang hari-­hari ini ke Iran datang untuk mencari alam yang indah (seperti kelompok “Kartini Petualang” yang akan mendaki gunung Damavand), spiritualitas (mengunjungi kota suci Syiah Qom), mencari celah bisnis (mumpung di Iran sejak diembargo tidak ada lagi perusahaan Amerika seperti Coca Cola, McDonald atau Microsoft) atau berinteraksi dengan para ilmuwan Iran.

Iran beruntung memiliki warisan kejayaan Islam masa Ialu, bahkan juga dari masa pra Islam. Nama-nama intelektual besar Islam “hadir” dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jalan, taman atau lapangan dinamai dengan tokoh-tokoh itu. Daftar ilmuwan Islam di era keemasan Islam yang pernah lahir, dibesarkan atau berkarya di wilayah Iran sekarang amatlah panjang. Yang paling terkenal saja (dan diabadikan sebagai nama jalan, taman, lapangan) ada lebih dari 200 ilmuwan. Berikut ini cuplikannya saja.

Di bidang matematika ada Abu Abdallah Muhammad bin Musa Al Khawarizmi lahir 780 M di Khwarezm, Provinsi Khurasan Raya yang dulu meliputi Iran dan Uzbekistan sekarang. Al-Khwarizmi sangat berjasa dalam penggunaan angka desimal dalam Matematika, serta penggunaan aljabar dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang membutuhkan perhitungan rumit dengan menggunakan persamaan matematika. Namanya abadi dalam istilah “Algoritma” sebagai langkah-langkah yang harus diikuti secara konsisten agar suatu persoalan dalam diselesaikan secara matematis dengan hasil yang tepat dan juga konsisten. Al Khwarizm yang kemudian bekerja di Baitul Hikmah di Baghdad, wafat pada 850 M.

Di bidang astronomi ada Abu Al Abbas Ahmad bin Muhammad bin Katsir Al Farghani alias Alfraganus pada abad 9 M. Dia terlibat dalam perhitungan diameter bumi melalui pengukuran meridian dalam sebuah tim bentukan Khalifah Al Ma’mun. Bukunya tentang “elemen-elemen astronomi dan gerakan benda langit” yang ditulis pada 833 M diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad-12 dan sangat populer di Eropa hingga era Johannes Muller von Konigsberg (1436-1476), astronom Jerman yang lebih terkenal dengan julukan Regiommontanus. Al ­Farghani kemudian bekerja di Mesir membangun sistem peringatan dini sungai Nil (Nilometer) pada 856 M dan wafat di Cairo.

Di bidang kimia ada Abu Musa Jabir ibn Hayyan (Leber) yang lahir tahun 721 M di Tus Kharasan, Iran dan wafat 815 M di Kufah, Iraq. Selain dikenal terutama sebagai pendiri kimia eksperimental (yang membersihkan unsur sihir dari ilmu kimia), dia juga seorang astronom, geologis, dokter dan insinyur. Dia menulis 193 buku dalam semua bidang ilmu yang dikuasainya itu.

Di bidang kedokteran ada Abu Ali Al Husayn ibn Abd Allah ibn Sina (Avicenna), yang lahir tahun 980 M di Afshana, masuk Provinsi Khorasan Raya. Ayahnya Abdullah dari Balkh, kini masuk Afghanistan; ibunya dari Bukhara, kini masuk Uzbekistan. Ibnu Sina menulis hampir 450 makalah tentang topik yang sangat lugs, termasuk 150 di bidang filsafat dan 40 terfokus pada kedokteran. Namun bukunya yang paling legendaris adalah “Qanun fit Thib” (Canon of Medicine) yang merupakan buku standard medis di Eropa hingga abad-18. Ibnu Sina wafat di Hamadan, Iran 1037 M.

Di bidang ilmu bumi ada Abu Al Rayhan Muhammad bin Ahmad Al Biruni (Alberonius) yang lahir 973 M di Kats, Khwarezm (sama seperti al-Khwarizm) dan wafat 1048 M di Ghazni, semua di Iran. Dia adalah seorang polymath yang menghasilkan banyak karya terutama di bidang ilmu bumi, tetapi juga di matematika, astronomi, anthropologi, psikologi dan kedokteran.

Pada masa rezim sekuler Syiah Iran, prestasi sains dan teknologi Iran sempat sangat terpuruk. Tetapi sejak revolusi Islam, trend-nya berbalik. Apalagi embargo yang diterapkan Amerika dan sekutunya pada Iran membuat Iran mau tak mau harus berdiri dengan kaki sendiri. Ini justru membuat prestasi Iran melonjak.

Menurut Science Metrix Report – sebuah lembaga di Inggris, pertumbuhan sains dan teknologi Iran, diukur dari jumlah publikasi ilmiah internasional dan paten teknologi, naik 1000 persen antara 1995-2004. Tahun 2008, Iran sudah menghasilkan 1.08 persen dari total output sains dunia. Iran memiliki 500 saintis per sejuta orang, yang bekerja dalam riset dan pengembangan (bandingkan dengan Indonesia yang kurang dari 50 saintis per sejuta orang). Iran adalah negara ke-9 di dunia yang berhasil membuat roket dan satelit serta meluncurkannya sendiri ke orbit. Negara sebelumnya adalah AS, Russia, Perancis, India, Israel, Cina, Jepang dan Konsorsium Eropa (ESA).

Kalau Iran sendirian dengan revolusi Islamnya saja bisa bangkit demikian, apalah lagi kalau khilafah yang bangkit dan mempersatukan potensi negeri-­negeri Muslim sedunia serta menjadi magnet bagi para saintis Muslim yang saat ini bertebaran di dunia Barat.

.

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Yang menarik dari perdebatan tersebut sebenarnya adalah adanya titik temu, dimana lahir sebuah keinginan yang sangat kuat tentang bagaimana Syariat Islam di Aceh mampu menjawab berbagai problema yang dihadapi umat Islam, khususnya masyarakat Aceh saat ini dan ke depan.

Penulis tidak mempunyai kapasitas untuk membahas persoalan Syariat Islam dan seluk-beluknya. Karena itu, tulisan ini hanya menekankan analisis pada kondisi kesejarahan dan realitas sosial umat Islam berhadapan dengan fenomena perubahan dunia yang sangat dahsyat pada abad ini, yakni modernitas, serta bagaimana umat Islam di Aceh harus menghadapinya. Kegagalan Islam menjawab tantangan yang dihadapi umatnya akan berdampak pada kegagalan umat berhadapan dengan berbagai problema yang ada seperti kemiskinan, korupsi, kerusakan lingkungan, menurunnya kualitas hidup, dan lain sebagainya. Jawaban terhadap kegagalan ini tidak lain adalah menguatnya sekularisme dan permissivme di masyarakat kita.

Islam, Modernitas dan Kita
Modernitas adalah sebuah fenomena yang pernah menggemparkan dunia yang disertai dengan berbagai kontroversi dan paradoksal yang dimulai di Barat beberapa abad yang lalu. Ia seakan memberikan harapan dan mimpi-mimpi indah bagi berjuta-juta manusia di berbagai belahan bumi untuk dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Namun, setelah berjalan cukup lama, modernisasi mengundang berbagai kritik karena ternyata tidak mampu memberikan suatu kerangka keduniawian (world view) yang lengkap yang mampu membingkai kesemestaan hidup manusia. Modernisasi tidak hanya mencerminkan suatu evolusi sejarah biasa, tetapi merupakan dekonstruksi terhadap sejarah sebelumnya. Karena itu, seluruh aspek filosofisnya, baik yang berhubungan dengan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya, menawarkan konsep kehidupan dan paradigma berbeda secara diametral dengan sebelumnya. Dengan demikian, terjadi perbedaan mendasar dalam memandang Tuhan (aspek teologis), alam sebagai wacana kosmologis hidup manusia, termasuk bagaimana memandang manusia itu sendiri.

Terhadap tiga realitas tersebut, perpektif pemikiran modern tidak lagi menempatkan dalam kerangka relasi mistis-ontologis, tetapi sudah mengarah pada pola hubungan positivistik dan fungsional. Satu hal penting terjadi dalam pemaknaan manusia terhadap realitas hidupnya, yakni tidak lagi bersandar pada postulasi-postulasi agama. Agama tidak lagi menjadi pijakan dalam menentukan orientasi sosial, tetapi lebih diarahkan menjadi persoalan pribadi manusia.

Pada zaman pertengahan (Era pramodern) kehidupan manusia (Eropa) terkungkung dalam struktur pemikiran mitologi Yunani. Tuhan, yang digambarkan dengan banyak dewa (polytheisme), merupakan zat yang membelenggu eksistensi manusia sehingga kehilangan kreatifitas dalam memanfaatkan potensi alam. Doktrin keagamaan demikian ditolak oleh pemikiran modern. Humanisme-antroposentrisme dalam pemikiran modern mengembangkan rasionalisme sebagai pembebasan manusia dari determinisme, dan menempatkan manusia sebagai kekuatan sejarah (historical force) dalam mengatasi realitas lainnya. Modernisme akhirnya mampu mendatangkan babak baru dalam sejarah manusia, yaitu renaisance yang ditandai dalam tiga hal penting. Pertama, kemerdekaan manusia. Kedua, degradasi fungsi agama. Dan ketiga, revolusi ilmu pengetahuan (Arifin, 1996).

Pada abad kedua puluh, terutama pasca Perang Dunia Kedua, gagasan modernisasi merupakan sebuah proses yang menyertai pertarungan ideologi antara Barat (kapitalis) dan Timur (sosialis/komunis). Modernisasi di abad kedua puluh yang ditandai oleh mekanisasi dan kemajuan ternologi yang menakjubkan, kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan kapitalisme. Modernisasi membutuhkan akumulasi modal, dan akumulasi modal diarahkan untuk mempercepat proses modernisasi.

Di negara-negara Dunia Ketiga, terutama negara-negara Islam, ideologi kapitalisme kemudian dapat dipaksakan masuk melalui konsep developmentalisme. Dan kondisi ini tambah menguat setelah runtuhnya komunisme di Uni Sovyet pada akhir tahun 1980-an. Dan seperti yang kita ketahui, developmentalisme atau pembangunanisme, merupakan wajah terselubung dari kapitalisme. Karena, developmentalisme sendiri kemudian menghasilkan berbagai persoalan di banyak negara berkembang, seperti korupsi, kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan. Dan ini terjadi karena sistem dunia yang tidak adil.

Dalam kondisi yang demikian, di dunia Islam termasuk di Aceh, Adie Usman Musa (2002) menyebutkan bahwa modernisme kemudian menghasilkan dua corak budaya masyarakat yang saling berlawanan, yakni: pertama, fundamentalisme; dan kedua, sekulerisme dan permissivme. Fundamentalisme merupakan sebuah paham yang mencoba menampilkan wajah radikal dalam beragama. Mereka mencoba melakukan perlawanan terhadap ideologi dominan (kapitalisme/modernisme) dengan cara melakukan penolakan, baik secara simbolik maupun dengan pemurnian ajaran agama (purifikasi). Bukan hanya dalam Islam, fundamentalisme juga terdapat dalam agama Kristen di Barat, dan beberapa gerakan spiritual seperti di Jepang. Nah, oleh Amerika dan sekutunya, kekuatan Islam radikal inilah yang kemudian diidentifikasi sebagai kelompok terorisme pasca tragedi 11 September tahun lalu dengan label Jamaah Islamiah. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar tentunya.

Sementara masyarakat sekuler dan permissif adalah sebuah masyarakat yang larut dalam proses modernisasi yang berpandangan bahwa hidup ini serba boleh. Tidak ada aturan apapun (terutama agama) yang boleh mengikat mereka. Paham yang bersumber dari filsafat Cartesian ini tumbuh subur dalam masyarakat Barat yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Jadi persoalan sosial seperti free sex, khalwat, zina, pornografi, dan sebagainya bukanlah suatu masalah. Nah, dalam kondisi yang seperti inilah kita—umat Islam di Aceh khususnya—berada.

Kemiskinan Sebagai Ketidakadilan Sosial
Setelah sekian lama terpuruk dalam keterbelakangan dan kemiskinan, serta sekian lama berada dalam konflik berkepanjangan, masyarakat Aceh menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, yakni bagaimana mampu bangkit menjadi umat yang bermartabat. Dalam konteks ini, modernitas sudah menawarkan berbagai kemudahan hidup di satu sisi, dan menciptakan ketidakadilan dan kemiskinan di sisi lain, terutama kemiskinan moral dan ruhani. Sementara Islam sebagai rahmatan lil’alamin menawarkan kekayaan ruhani, tetapi gagal menurunkan dimensi tauhid kedalam realitas keseharian hidup kita. Akhirnya, Syariat Islam yang diberlakukan di Aceh saat ini pun hanya mampu menyentuh wilayah pinggiran, dan gagal menangani ketidakadilan sosial dalam masyarakat Islam.

Sebenarnya, Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial yang berujung pada adanya ketidaksamaan sosial, kemiskinan, dan keterbelakangan. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah, sebagai hukum alam, sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial, ekonomi, atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya.

Kendatipun demikian, ini tidak dapat diartikan bahwa Al-Qur’an mentoleransi social-inequality. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. Sebaliknya, Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial, oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil‘ardh. Dengan demikian, Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Dalam banyak perspektif, Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin (Kuntowijoyo, 1991).

Menjawab Tantangan Umat
“Bisakah Syariat Islam menjawab berbagai problema yang dihadapi umat di Aceh saat ini?”, adalah pertanyaan yang paling relevan untuk diajukan. Bukan bermaksud menggugat atau menolak Syariat, melainkan mendorong bagaimana Syariat menjadi historis, yakni mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat Aceh dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan di masa yang akan datang. Persoalannya adalah tidak mudah manangani berbagai tantangan tersebut, terutama masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan sebagainya di Aceh saat ini.

Dalam konteks pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut, yakni pertama melalui formalisme Islam dengan sistem syariat yang mampu mengatur berbagai persoalan hidup masyarakat yang terwujud dalam bentuk Qanun-qanun. Artinya, berbagai peraturan yang diatur dalam qanun-qanun di Aceh harus mampu menyentuh berbagai persoalan sosial masyarakat, termasuk masalah korupsi, ketidakadilan, dan ketidaksamaan sosial. Ini tentu akan menjadi tantangan bagi semua pihak, terutama para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat Aceh bagaimana bisa mendorong perubahan tersebut dengan kekuatan syariat Islam.

Kedua, perlu ada sebuah proses transformasi sosial dalam masyarakat Islam di Aceh untuk membongkar kepura-puraan dalam beragama. Syafi’i Ma’arif (1997) berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. Pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan ummat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik, ekonomi, sosial, iptek, dan budaya. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret, kepada yang empirik, sebab di sana juga terdapat ayat-ayat Allah, yakni ayat-ayat kauniyah. Karenanya, suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Padahal, kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Kalau syariat Islam tidak mampu menangkap tantangan ini, maka modernitas yang sudah lama menyentuh Aceh akan melahirkan wajah-wajah masyarakat yang sekular dan permissive (serba boleh) di satu sisi, dan akan memperbesar polarisasi sosial, kemiskinan, dan keterbelakangan di sisi lain. Pada akhirnya, modernitas akan memaksa masyarakat Aceh untuk tidak lagi bersandar pada ajaran agamanya.

.

PENDiDiKAN

Dibidang pendidikan, paradigma pendidikan dilakukan dengan cara  “baca, hapal, ingat” karena  mahasiswa, siswa dan santri  dianggap  sebagai tabungan, kepala mereka  diisi dengan tabungan hapalan yang ditagih waktu ujian… Ini sangat membebani karena merusak daya pikir kritis.. Bahkan kitab kuning, kurikulum IAIN, UIN, STAiN  menganggap syi’ah  sesat  semuanya tanpa  menerima argument  bantahan dari  lawan.. Pokoknya sesat, titik !!!

Hal ini menyebabkan loyalitas kader kader penerus perjuangan  mazhab sunni rendah sekali,  upaya meraih kesetiaan dari para pengikut  secara kuantitatif dan kualitatif  tidak memadai !!!

Santri  dan mahasiswa yang sudah lulus pendidikan  tidak mampu menjawab tantangan globalisasi sehingga gagal menjadi ikon pembangunan, padahal tantangan  pembangunan semakin hari semakin pesat, lemahnya pendidikan mengenai teknologi menyebabkan  kualitas  alumni pendidikan seperti  ulama tidak relevan dengan tantangan zaman !!

Pesantren dan IAIN menghasilkan ulama yang tidak relevan kualitasnya dengan tantangan zaman, sehingga umat  gagal bersaing menghadapi kompetisi globalisasi

Peran  aktif  ( usaha mempengaruhi ) mereka  ternyata gagal untuk menghasilkan umat yang mempunyai etos kerja kuat dan berorientasi pada karya atau produkstivitas dan kualitas prestasi

TANTANGAN  MODERN

Zaman ini merupakan era komunikasi dan informasi, era teknologi dalam proses industrialisasi, ulama sunni tidak mampu mengisi dan  memanfaatkan era ini sehingga umat  menjadi  korban  globalisasi

Negara Negara bermazhab  sunni meskipun memiliki kekayaan alam melimpah, namun  memiliki ketergantungan  dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya  dan peradaban kepada  Negara  Negara  BARAT…

Media yang mengikuti gaya gaya barat, melalui tontonan  menggoyahkan nilai nilai budaya Negara bermazhab sunni

Jika tahun 70 an para remaja seusai shalat maghrib  rajin mengaji kepada  ustad  ustad di  balai balai, maka kini  tayangan sinetron menjadi menu yang dinikmati  pasca maghrib…

Bintang film, artis, pemain bola menjadi  idola baru  menggeser  peran ulama, bahkan  tidak sedikit   artis  berhasil  menjadi  anggota  DPR  dan kepala  daerah,  sedangkan ustad  atau ulama sunni  hanya dipakai  pada  kegiatan  ritual  seperti  saat shalat  jum’at, shalat  tarawih, acara kematian, pengajian dan sejenisnya

Tanpa rasa malu sedikitpun, iklan iklan televisi senantiasa menampilkan perempuan setengah seksi, pamer paha, pamer dada dan pamer kemolekan tubuh…

Lingkungan membuat pengikut mazhab sunni menjadi  mudah sekali terpengaruh, setiap hari mereka berjalan ditengah padang rumput yang dipenuhi ranjau ranjau yang berbahaya yaitu ranjau ranjau  kehancuran  yang mempengaruhi pemikiran !!! Karena tidak memiliki prinsip, maka membuat mereka menjadi  ‘pengikut’  kenistaan

.

Dalam konteks Indonesia  kekinian, peran ulama terlihat semakin melemah.

Mengapa ?

  1. Dasar dari peradaban modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, masa depan suatu bangsa  ditentukan oleh tingkat penguasaan bangsa itu terhadap iptek. Iptek merupakan dasar dan pondasi yang menjadi penyangga bangunan peradaban modern. Suatu bangsa tidak akan memiliki keunggulan dan kemampuan daya saing yang tinggi bila tidak mengambil dan mengembangkan iptek, ulama sunni belum terlihat berlomba lomba bersaing secara ketat dalam penguasaan dan pengembangan iptek
  2. Hal ini disebabkan karena ulama sunni belum siap menghadapi kemajuan teknologi… Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya.. Perkembangan masyarakat yang semakin berpendidikan sehingga wawasan mereka sudah jauh lebih berkembang, sementara wawasan ulama belum berkembang terutama dibidang iptek atau sains. Karena ulama tidak siap maka ditinggalkan umatnya, ini terlihat ketika ada acara acara syarah syarah kitab kuning di menasah atau balai pengajian, Cuma segelintir orang yang mau ikut, berbeda jauh dengan acara sinetron atau film di televisi yang penuh disesaki jamaah “warung kopi”
  3. Kualitas, kemampuan dan pengalaman masih kurang… Masyarakat bukan hanya butuh ilmu ritual  saja, tetapi juga perlu peningkatan ekonomi dan memiliki kesejahteraan yang memadai…
  4. Sekarang sudah ada ulama “cyber space” atau “ulama google”, masyarakat perlu apa saja tinggal tanya sama google, kesana referensi  facebooker dan pecandu internet, tidak lagi pergi ke ulama
  5. Ulama tidak mengembangkan wawasan nya sehingga ditinggalkan, masih banyak ulama dayah yang memaksumkan kitab kuning sebagai referensi  agama yang paling utama, padahal kitab kuning  hanyalah produk ijtihad yang bercampur pemikiran ulama tempo dulu yang tidak up to date, celakanya sebagian ulama melecehkan buku . “o  itu dasar dasar dalam beragama ? tidak disuruh belajar  agama pada buku, pedoman kita kitab”
  6. Ulama banyak yang terkesan arogan, merasa diri paling benar dan paling tau agama walaupun ilmu referensi yang mereka  punya tidak relefan dengan tantangan zaman, misalnya mazhab syi’ah dituduh sesat, ketika kalah debat maka muncullah sikap anarkhis dan mengerahkan massa menyerang  syi’ah
  7. ulama seperti  MUI  dan MPU dan lain lain  terkesan HANYA MENJADi  ALAT PENGUASA.. Mereka membela system kufur jahiliyah. Lalu mereka menganggap umat hanyalah budak yang harus siap menerima setiap keputusan yang mereka buat  ?? Padahal  penguasa menjadikan agama hanya sebagai alat  untuk mencapai  tujuan, mark up dan korupsi merajalela dimana mana…
  8. Para ulama islam masuk kedalam system jahiliah dengan alasan “ingin merubah dari dalam”, maksudnya mereka akan melakukan perubahan ketika masuk kedalam system kufur. Tetapi faktanya  bukannya mereka berhasil merobah system, tetapi justru si ulama berubah menjadi jahiliyah, mereka menyerukan kepada kader – pengikut dan umat agar berpegang teguh pada hukum non islam, akibatnya umat lebih percaya dan menghormati artis dan pesinetron daripada ulama. Krisis kepercayaan dipicu  krisis keteladanan !!!

Namun sayangnya, sering terjadi penyalahgunaan ijtihad dikalangan sunni.. Dengan alasan ijtihad, banyak orang melontarkan pandangan-pandangan sehingga  Minus Informasi Terpusat

Masalah paling urgen bagi Sunni saat ini adalah tidak adanya informasi terpusat. Kita tidak tahu kepemimpinan Sunni berada di tangan siapa. Setiap mujtahid, dengan mudah melontarkan pandangannya setiap saat yang terkadang berbeda dengan pendapat mujtahid lain dan tidak dapat diterima oleh masyarakat umum.

Sunni bukanlah sebuah ajaran yang setiap saat bisa ditambah sesuka hati. Sebuah organisasi kecil saja tidak mudah untuk bisa menambah aturan-aturannya apa lagi ini sebuah mazhab.

Dalam sunni, gambaran pandangan itu seperti apa ?, Siapa yang memiliki tugas untuk menjelaskan akidah Sunni ? Di mana ulama Sunni sepakat dalam sebuah masalah ? Ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu mendapat jawaban jelas dan pasti dari ulama Sunni.

Bila pusat-pusat pemikiran Sunni berbilang dan tidak ada definisi yang tuntas mengenai masalah ini, yang menjadi korban adalah para pengikut Sunni sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.. Bila seorang telah Sunni, ia harus mengikuti pandangan yang mana?  Siapa yang harus didengarnya ?

Bila mereka sepakat bahwa Sunni perlu diperkenalkan kepada orang lain, maka dibutuhkan sebuah kesepakatan puncak dalam masalah-masalah penting. Kesepakatan puncak ini dapat dicerap ketika, setidak-tidaknya, dalam prinsip-prinsip sederhana dan primer ada kesepakatan sampai pada batas-batas tertentu

Walau sunni  memiliki  majelis ulama yang mengeluarkan sebuah fatwa terpusat. Tetapi  bukan sebuah prinsip dan tidak ada pandangan lain lagi.

perlu mengkaji titik-titik kesamaan yang dimiliki.. Kesamaan yang ada ini dapat menjadi solusi meredam berkembangnya pandangan-pandangan yang berbeda yang menggoyahkan tatanan sosial masyarakat..

Ketika orang-orang yang memiliki kelayakan secara ilmiah atau sebuah badan ulama tertentu tidak mengeluarkan pandangan dalam menyikapi sebuah masalah, maka akan muncul pandangan-pandangan dari mereka yang tidak memiliki kelayakan untuk mengeluarkan pendapat. Hal ini sangat rentan dan akan  menimbulkan sebuah konflik.

Ketika seorang ulama sunni  tidak mengeluarkan pandangannya tentang sebuah masalah agar tidak muncul sebuah problem, solusinya akan diambil alih oleh orang-orang yang tidak layak untuk mengeluarkan fatwa. Tentu mereka tidak bisa disalahkan seratus persen, karena mereka sendiri perlu tahu apa yang harus dilakukan.

Ketika tidak ada penjelasan sedang mereka dituntut untuk melakukan sesuatu, perlu penjustifikasian untuk perbuatan mereka maka mereka akan menerima pendapat dari siapa saja.

Bila di Indonesia mereka telah menyamakan visi dan ada kesepakatan, mereka akan mampu menyampaikan pendapat sekaligus memperkenalkan Sunni dengan baik. Namun, selama tidak ada kesamaan persepsi, sulit dibayangkan mereka dapat berkiprah di Indonesia kelak

Mengapa Ummat Islam Mundur dan Ummat Selain Islam Maju?

Peradaban Sains dan Teknologi Islam pernah menduduki rangking pertama The Golden Age di dunia Sains sejak abad pertengahan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sang revolusi dunia besar kita (632 M), antara abad ke 12–17 dan berakhir pada abad ke 20.

Secara intelektual umat Islam mengalami apa yang disebut Dr. M. Amien Rais (Cakrawala Islam, 1991) sebagai westoxciation (peracunan Barat). Untuk kurun waktu yang cukup lama umat Islam secara sengaja dipisahkan dari ajaran Islam oleh penjajah. Dalam proses alienasi umat Islam dari ajaran agamanya, peracunan Barat semakin gencar berlangsung. Secara intelektual umat Islam menjadi sangat lemah, dan karenanya bukan saja tidak mampu mengkaunter sesat pikir Barat, bahkan juga tidak mampu melakukan dialog intelektual secara seimbang.

Saya membagi evolusi masa keemasan sains dan teknologi Islam dalam tiga tahap: Pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam. Kedua, dicirikan oleh banyaknya inovasi di bidang sains. Dan ketiga, ditandai oleh inovasi di bidang teknologi dan sains sekaligus.

Evolusi tersebut berjalan dengan mulus diakibatkan beberapa faktor, yaitu para cendikiawan muslim pada saat itu sungguh-sungguh mengimani dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an. Sekaligus mereka menganggap agama Islam adalah salah satu ilmu berbasis ajaran (transendental) dalam kehidupan, kemudian adanya motivasi (spirit) Agama. Faktor yang lain, kemapanan ekonomi dan dukungan serta perlindungan oleh sang penguasa saat itu.

Kini, malah berbalik, arah masa-masa keemasan tidak lagi diperoleh, namun hanya menjadi memori belaka dalam kancah pemikiran kaum intelektual muslim “romantisme sejarah” di seluruh dunia, lebih-lebih di Indonesia.

***

Kemunduran Islam

Mengembalikan masa keemasan Islam, terutama sains dan teknologi, tidak semudah membalikan tangan kita. Akan tetapi, jalan alternatifnya, kita harus mengetahui kelemahan menyangkut persoalan-persoalan internal dan eksternal kaum Islam sendiri. Tanpa melakukan itu, mustahil akan mengetahui dinamisasi kemunduran Islam yang sesungguhnya.

Saya sedikit dapat mendeskripsikan bahwa di antara salah satu penyebab kemunduran Islam adalah adanya dikotomi keilmuan. Di sini, secara tidak langsung, kaum muslim dituntut untuk memisahkan diri dari sains, mengingat keduanya dianggap mempunyai hubungan yang single enteteis

Dan selanjutnya, orang Islam berada dalam kejumudan (malas berfikir dan malas untuk merenungi kebingungan). Inilah kesalahan terbesar yang dimiliki kita selama ini, kita selalu merasa paling benar dan orang lain salah, padahal orang lain yang berbeda pemikiran belum tentu salah.

Lain dengan Prof. Sabra (Harvard), mengemukakan bahwa kemunduran Islam dikarenakan di masa-masa berikutnya, kegiatan Saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis persoalan Agama, seperti matematika dibawa pada persoalan Dzikir, Farai, Giometri untuk mengetahui waktu shalat.

Kaum Sunni terjerat di dalam ilmu TASAWUF yang bercampur kesalahan yang memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang bercampur kebatilan….

Sedangkan Imam Ja’far Sadiq adalah cendikiawan lebih dari 200 disiplin ilmu dari matematik hinggalah sains politik YANG MENGiNSPiRASi TERBENTUKNYA REPUBLiK iSLAM iRAN !!!

Hal ini berdampak pada sikap kaum Muslimin sunni terhadap sains kontemporer yang menjadi terkotak-kotak diwakili oleh dua golongan. Pertama, golongan anti sains, golongan ini bersifat apriori dan acuh tak acuh. Kedua, golongan pro sains, masing-masing kelompok ada yang menelan bulat-bulat tanpa curiga sedikit pun, sekaligus ada yang menerima dengan penuh kewaspadaan.

Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama lainnya. Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.

Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi dan menguasai negara-negara Islam secara ekonomi dan politik. Mereka mampu membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet Saturnus.

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.

Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.

Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam begitu maju menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga Spanyol.

Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir, Yahudi, bahkan 2 kerajaan Super Power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Bahkan ibukota kedua negara tersebut, yaitu Constantinople (Istambul) dan Baghdad saat ini tetap berada di tangan Islam yaitu di negara Turki dan Irak.

Semangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi selama 7 hari pertempuran tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid yang berjumlah hanya 3 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang mundur, justru pasukan Romawilah yang mundur ketakutan akibat strategi Khalid bin Walid.

Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan Israel.

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga begitu. Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai Bapak Kedokteran dunia. Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Itulah keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu.

Ilmuwan Islam Al Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Bahkan angka yang kita pakai sekarang pun merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”ARABIC NUMERAL” yang menggantikan Sistem Bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol). Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

Kaum Sunni terjerat di dalam ilmu TASAWUF yang bercampur kesalahan yang memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang bercampur kebatilan

Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.

Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin belajar. Tidak hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang tetap belajar meski tidak melalui pendidikan formal seperti Bill Gates yang meski tidak lulus kuliah tapi tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.

Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka bisa membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali, mobil, komputer, dan sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.

Mengapa ini semua bisa terjadi?

Salam dan solawat. Takziah diucapkan kepada semua pencinta dan pengikut Ahlulbait, kerana pada hari ini, ialah ulangtahun perginya Imam kita yang keenam, Imam Jaafar As Sadiq. Sempena kesyahidan beliau, adalah baik kiranya jika kita mengambil sedikit masa untuk mengingati personaliti besar ini. Tiada kata yang dapat memperincikan dengan sebenarnya tokoh ini. Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

Ahli agama, saintis, ahli falsafah, hakim, guru, dan pemimpin agama, ini adalah beberapa terma yang sedikit sekali mengambarkan personaliti sebenar Imam Jaafar As Sadiq. Beliau ialah salah seorang dari orang-orang yang paling dihormati dan dikagumi di kalangan para cendiakawan di dalam sejarah Islam, dan dikenali kerana kezuhudan beliau kepada Allah swt dan ilmu beliau yang tinggi.

Pada 17 Rabi Awala, 83H, Imam kelima, Muhammad Al Baqir(as), telah dikurniakan dengan kelahiran pewaris beliau dalam Imamah, Imam as Sadiq lebih menyerlah jika dibandingkan dengan saudara-saudara beliau dengan perlantikan beliau sebagai Imam ke 6 dari ketika beliau masih bayi, dan walaupun orang-orang kafir mengiktiraf beliau sebagai Imam pewaris ayahanda beliau. Muhammad Amin al Baghdadi, seorang yang berasal dari keluarga bangsawan, meriwayatkan beberapa kemuliaan beliau, “Hanya beliau dari saudara-saudara beliau adalah khalifah selepas bapanya, banyak ilmu diriwayatkan dari beliau. Kebaikan beliau tersangat banyak.”

Imam ke 5 mengisytiharkan Imam as Sadiq sebagai Imam selepasnya dan mengambil alih pemerintahan Ummah setelah kematiaan bapanya ditangan Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik pada 114H. Di dalam satu majlis, Imam al Baqir melihat Imam as Sadiq lalu berkata kepada pengikutnya, “Adakah kamu melihat orang itu? Beliau ialah orang yang mana Tuhan berfirman:”Dan Kami hendak berihsan dengan memberikan pertolongan kepada kaum yang tertindas di negeri itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.”(28:5)

Ilmu dan ajaran Imam As Sadiq tiada celaan dan membuatkan beliau dilawati oleh pencari ilmu dari serata dunia demi mengambil manfaat dari beliau. Imam ke lima dan keenam mengetahui bahawa di zaman mereka menjadi wakil Allah di muka bumi, akan terjadi banyaknya kemasukan buku-buku dari tamadun Yunani dan Mesir Kuno ke dunia Islam, dan kerisauan mula timbul apabila ramai Muslim mula menerima buku-buku itu sebagai kebenaran.

Gerakan intelektual di dalam dunia Islam pada abad ke dua Hijrah bukanlah kerana pengaruh barat seperti yang digambarkan oleh orientalis-orientalis barat dalm buku-buku mereka. Tetapi ia disebabkan oleh gerakan yang dipimpin oleh Imam Baqir dan Imam Sadiq.

Para Imam ini telah berusaha agar kaum Muslimin tidak terjerat di dalam ilmu yang salah yang akan memenjarakan akal mereka selama berabad-abad dengan informasi yang batil. Para pelajar Ahlulbait diajar ilmu sains, ilmu falak dan matematik sebagai tambahan kepada ilmu agama agar mereka boleh menyebarkannya kepada kaum Muslimin. Usaha keras Ahlulbait ini berjaya menunjukkan hasilnya apabila dunia Islam berjaya mencapai satu tahap pemikiran dan ilmu yang tinggi.

Jasa Imam sadiq dalam bidang intelektual adalah banyak dalam displin masing-masing. Beliau ialah orang yang pertama dalam sejarah yang mengasingkan sains dari falsafah, dengan hujah bahawa keduanya adalah dua bidang yang berbeza. Sebelum saat itu, ahli falsafah juga dianggap sebagai saintis. Pada umur 11 tahun, Imam telah berjaya menafikan Sistem Ptomelaic dan orang yang pertama memberi hujah bahawa bumi bukanlah pusat alam semesta, dan matahari tidak mengelilingi bumi, malah beliau menambah bumi berputar pada paksinya. Malangnya pencapaian ini diberi kepada Copernicus dan Galileo.

Imam Sadiq adalah cendikiawan lebih dari 200 disiplin ilmu dari matematik hinggalah sains politik, dan menubuhkan universiti pertama di dunia Islam. Saitis moden bersetuju dengan banyak teori Imam berkenaan asal usul alam semesta, fizik, tenaga haba dan hidrogen. Antara pelajar beliau ialah Jabir Ibn Hayyan(bapa ilmu kimia), Abu Hanifah dan Malik ibn Anas.

Pencapaian Imam Sadiq hanya boleh dikalahkan oleh sifat mulia beliau dalam kezuhudan, ibadah, kebajikan dan khidmat beliau terhadap Islam. Keturunan Nabi(sawa) ini mempunyai ciri-ciri yang sama dengan Nabi Ibrahim(as) dan jarang sekali beliau makan kecuali dengan para fakir dan miskin menjadi tetamu beliau. Para tetamu beliau dijamu dengan berbagai jenis makanan, sementara beliau hanya menjamah roti dan cuka. Majoriti hidup beliau yang dirahmati, beliau jalani di Madinah, dan di malam hari beliau akan membawa seguni roti, daging dan dirham, yang mana beliau akan mengagihkannya secara rahsia kepada mereka yang miskin. Para penerimanya tidak mengetahui bahawa Imamlah yang memberi, dan mereka hanya mengetahuinya apabila beliau meninggal dunia, apabila tiada lagi pemberian yang diterima.

Amal ibadah yang dilakukan oleh Imam akan menakjubkan kepada sesiapa sahaja yang melihatya. Telah diriwayatkan pada satu hari, Abu Hanifah melihat beliau bersolat dan kebingungan akibat darinya. Setelah Imam menyempurnakan solatnya, Abu Hanifah berkata: “Ya Aba Abdillah, sangat menyakitkan sekali solat kamu!” Imam Sadiq membalas. “Tidakkah kamu mengetahui dari semua ibadah, solat ialah penyebab paling utama kedekatan kepada Tuhan?”

Solat beliau dipanjangkan dan doa beliau tidak pernah ditolak oleh Allah swt. Seorang wanita datang kepada Imam dan berkata kepada beliau, “Semoga aku menjadi tebusan mu, wahai anakanda Rasulullah(sawa), aku menjadi penyakit kusta di bahagian atas tangan ku. Doakanlah kepada Allah swt agar menyembuhkan aku.” Imam lantas berdoa dan berkata, “Ya Allah, Kau menyembuhkan yang buta dan yang berpenyakit kusta serta memberikan nyawa kepada tulang yang mereput. Ampunilah dosa wanita ini dan sembuhkanlah beliau untuk melihat penerimaan doaku ini.” Penyakit wanita itu disembuhkan serta merta kerana kemuliaan Imam Sadiq di hadapan Allah swt.

PENDiDiKAN

Dibidang pendidikan, paradigma pendidikan dilakukan dengan cara  “baca, hapal, ingat” karena  mahasiswa, siswa dan santri  dianggap  sebagai tabungan, kepala mereka  diisi dengan tabungan hapalan yang ditagih waktu ujian… Ini sangat membebani karena merusak daya pikir kritis.. Bahkan kitab kuning, kurikulum IAIN, UIN, STAiN  menganggap syi’ah  sesat  semuanya tanpa  menerima argument  bantahan dari  lawan.. Pokoknya sesat, titik !!!

Hal ini menyebabkan loyalitas kader kader penerus perjuangan  mazhab sunni rendah sekali,  upaya meraih kesetiaan dari para pengikut  secara kuantitatif dan kualitatif  tidak memadai !!!

Santri  dan mahasiswa yang sudah lulus pendidikan  tidak mampu menjawab tantangan globalisasi sehingga gagal menjadi ikon pembangunan, padahal tantangan  pembangunan semakin hari semakin pesat, lemahnya pendidikan mengenai teknologi menyebabkan  kualitas  alumni pendidikan seperti  ulama tidak relevan dengan tantangan zaman !!

Pesantren dan IAIN menghasilkan ulama yang tidak relevan kualitasnya dengan tantangan zaman, sehingga umat  gagal bersaing menghadapi kompetisi globalisasi

Peran  aktif  ( usaha mempengaruhi ) mereka  ternyata gagal untuk menghasilkan umat yang mempunyai etos kerja kuat dan berorientasi pada karya atau produkstivitas dan kualitas prestasi

TANTANGAN  MODERN

Zaman ini merupakan era komunikasi dan informasi, era teknologi dalam proses industrialisasi, ulama sunni tidak mampu mengisi dan  memanfaatkan era ini sehingga umat  menjadi  korban  globalisasi

Negara Negara bermazhab  sunni meskipun memiliki kekayaan alam melimpah, namun  memiliki ketergantungan  dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, budaya  dan peradaban kepada  Negara  Negara  BARAT…

Media yang mengikuti gaya gaya barat, melalui tontonan  menggoyahkan nilai nilai budaya Negara bermazhab sunni

Jika tahun 70 an para remaja seusai shalat maghrib  rajin mengaji kepada  ustad  ustad di  balai balai, maka kini  tayangan sinetron menjadi menu yang dinikmati  pasca maghrib…

Bintang film, artis, pemain bola menjadi  idola baru  menggeser  peran ulama, bahkan  tidak sedikit   artis  berhasil  menjadi  anggota  DPR  dan kepala  daerah,  sedangkan ustad  atau ulama sunni  hanya dipakai  pada  kegiatan  ritual  seperti  saat shalat  jum’at, shalat  tarawih, acara kematian, pengajian dan sejenisnya

Tanpa rasa malu sedikitpun, iklan iklan televisi senantiasa menampilkan perempuan setengah seksi, pamer paha, pamer dada dan pamer kemolekan tubuh…

Lingkungan membuat pengikut mazhab sunni menjadi  mudah sekali terpengaruh, setiap hari mereka berjalan ditengah padang rumput yang dipenuhi ranjau ranjau yang berbahaya yaitu ranjau ranjau  kehancuran  yang mempengaruhi pemikiran !!! Karena tidak memiliki prinsip, maka membuat mereka menjadi  ‘pengikut’  kenistaan

KONSEP  NEGARA  SUNNi

Nilai nilai  Islam sudah jarang terlihat dalam undang undang dan peraturan yang berlaku. Kalaupun ada, itu hanya berlaku pada bagian bagian yang sangat sempit dan sedikit jumlahnya seperti urusan haji, nikah thalaq ruju’, zakat dan sejenisnya

Ketika tatanan dan nilai Islam sudah dipinggirkan oleh Negara Sunni, maka umat islam sunni  lesu  dan menjadi objek penjajahan terselubung  dunia BARAT…

Tugas majelis ulama hanya menyampaikan, mengajak, member masukan dan saran.. Ketika  para pemimpin  tidak menanggapi, tidak mendengar masukan dan saran  maka itu hanya akan menjadi basa basi birokrasi, dimulut  mengucapkan islam tetapi yang dipakai hukum jahiliyah.. Kemunafikan yang nyata !!!

Ucapan dan fatwa ulama sunni tidak wajib di terapkan dan diterima oleh pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif , ini disebabkan dalam mazhab sunni tidak memiliki pemimpin  tertinggi  seperti  Rahbar  Syi’ah di Iran, dan ini disebabkan  juga karena dalam mazhab sunni konsep imamah serta system pemerintahan Negara  tidak jelas !!!

Seluruh bangunan hukum islam, tradisi dan ajaran ajaran islam bertumpu pada kekuasaan Negara untuk mengatur kehidupan individu menurut garis garis yang jelas, jadi Negara Islam Sunni harus memiliki konsep yang jelas…

Di Iran, ulama mendominasi hampir semua lapangan kehidupan termasuk dibidang iptek, bahkan Presiden Iran tak berdaya  didepan Rahbar. Biasanya ulama yang memiliki prinsip yang teguh dan kuat akan menjadi seorang pemimpin besar melalui  pengaruhnya yang kuat.

Di sejumlah Negara Sunni, para agamawan berkolusi dengan raja raja dan Presiden dan menjadikan agama sebagai  perisai untuk mencapai  keinginan penguasa.. Hukum jahiliyah dihalalkan  dalam  masyarakat  plural,  karena sarat dengan berbagai kepentingan  penguasa  dan  golongan

Ketidak sesuaian antara perkataan dan perbuatan  menghasilkan ketidak percayaan tidak memberi pengaruh dan tidak menghasilkan pengikut yang militan..

Padahal  Muhammad SAW  bukanlah  pemimpin agama semata, tetapi juga pemimpin duniawi  setelah  melaui proses  penaklukan  yang  melelahkan !! Takkala wafat pada tahun 632 M, Nabi SAW telah menjadi penguasa di Jazirah Arab bagian selatan…

kemunduruan islam sunni lebih disebabkan karena hilangnya budaya pengkajian ilmu pengetahuan akibat paham-paham fatalistik serta ketidakmampuan umat islam mengaktualisasi ajarannya pada konteks kekinian dan yang terakhir bahwa islam mundur karena tidak mampu bersatu, sepaham dan memiliki tujuan yang sama. perbedaan dalam islam dianggap sebagai rahmat padahal mudharat akhirnya sudah menjadi cirinya bahwa islam tidak bisa bersatu dan menjadi maju dan ini memang sudah merupakan takdirnya

faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang  menyatakan:

…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.

KONDISI UMAT ISLAM

Kondisi umat Islamsunni  saat ini bukan semata rusak akan tetapi mereka lupa akan Allah dan lupa akan dirinya sendiri. Realitas mengatakan bahwa secara materi umat ini jauh terbelakang dan cenderung menjadi beban umat yang lain. Yang kedua bahwa umat ini banyak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan diennya, seperti :

–          Kekuatan Akal

Tidak munculnya sifat kreatif, susah/malas untuk berfikir, atau bahkan mencipta. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan yang ditanamkan oleh musuh-musuh Islam dengan suguhan kurikulum untuk mencetak orang menjadi pegawai dan bukannya menjadi intelektual atau para pemikir.

–          Kekuatan Amal

Kekuatan amal yang ada pada dien yang dimiliki diabaikan, lebih banyak bicara daripada beramal. Ataupun jika melakukan suatu pekerjaan maka pekerjaan tersebut tidak mempunyai manfaat.

–          Kekuatan Ekonomi

Ketidakmampuan mengolah sumber daya alam yang melimpah dan ketergantungan yang besar terhadap orang lain menjadikan umat ini tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak produktif.

–          Potensi Tenaga

Kita adalah umat yang besar yang mempunyai jumlah SDM melimpah. Disayangkan SDM kita punya cara dan jalan masing-masing sehingga kita tercerai berai dan tidak punya andil yang cukup berarti.

–          Kekuatan Spiritual

Ternyata umat ini tidak mampu menunaikan kewajiaban agama dengan sepenuh hati dan ikhlas. Modal kekuatan spiritual berupa : Aqidah terbesar, Risalah terlengkap dan Kitab yang terjaga menjadi sia-sia. Hal ini terbukti dengan jumlah muslim sunni yang berjumlah milyaran  kalah oleh Yahudi yang hanya berjumlah tiga juta.

Kunci kepribadian umat Islam dan kebanggaan kekuatannya terletak pada keimanan pada Islam.

TANGGUNG JAWAB SIAPA?

 

            Permasalahan umat Islam diatas menurut kami  menjadi tanggung jawab :

  1. Penguasa/pemerintah

Hal ini bisa muncul disebabkan karena beberapa hal, antara lain :  kebiasaan orang untuk melempar tanggung jawab pada orang lain termasuk di dalamnya pemerintahnya, warga muslim banyak menderita karena ulah pemerintahnya dan pemerintah yang punya kekuasaan dan kekuatan tapi tidak sesuai syariat.

  1. Ulama

Ulama turut bertanggung jawab bila:

–  tidak menunaikan tugas dengan baik dalam berdakwah

–  membonceng kendaraan penguasa

–  menjadikan ilmu/agama sebagai budak politik

–  menjadikan dirinya sebagai mesin penetas fatwa sesuai pesanan sponsor.

  1. Masyarakat

Masyarakat yang terdiri dari tiap pribadi bertanggung jawab atas maju mundurnya agama dan tegaknya syariat Allah dan Rosul.

  1. Harakah

Hendaknya orang-orang yang tergabung dalam gerakan Islam mempunyai semboyan :  ruhbanul lail wa fursanun nahar.

(menjadikan malam sebagai tempat/waktu untuk mengabdi dan menjadikan siang tempat/waktu untuk berbuat/berjuang)

BERSAMA PERGERAKAN ISLAM

 

kami menyimpulkan arti pergerakan Islam sebagai:

–          Kegiatan kerja Islam yang merakyat, yang lahir dari diri pribadi umat, yang merupakan ungkapan jujur dan terjemahan luhur dari kepribadiannya dan duka citanya, dari akidahnya dan pikirannya, dari nilai-nilainya yang mantap, dari  cita-cita dan aspirasinya yang selalu berkembang dan dari perjuangan dan pengorbanannya yang tidak mengenal lelah dalam mengagalang persatuan di bawah panji akidah.

–          Misi dakwah kepada umat manusia untuk meluruskan yang bengkok, memperbaiki yang buruk, dan menyelamatkan dari kesesatan.

–          Gerakan manusia yng berijtihad untuk membela Islam dan merealisasikan  risalah dalam kehidupan.

SEBAB  KENAPA TUJUAN BELUM TERCAPAI

Adapun pergerakan Islam ini amatlah banyak. Tapi kenapa mereka hampir gagal/belum berhasil dalam mencapai tujuan.  Hal ini ada beberapa penyebab, antara lain :

  1. Kurangnya self koreksi

Hal ini muncul karena ada sebagian orang yang tidak mau dan tidak siap dikritik.

  1. Perpecahan dan perselisihan

Hal ini tidak akan  muncul jika cara mensikapi perbedaan tersebut dengan :  mengakui adanya beragam ijtihad, metode, maksud dan tujuan dengan saling berbaik sangka, menghormati, menghargai, tenggang rasa dan saling menolong.  Dengan kata lain hendaknya kita mencari persamaan dan bukan perbedaan untuk menjaga persatuan.

  1. Dominasi kecenderungan sentimen dari kecenderungnn akal

Ada saatnya pula pergerakan Islam membutuhkan sentimen keimanan dan mengobarkan semangat perasaan keislamannya.

Hal-hal yang menyimpang dari dominasi sentimen dari akal adalah  :

a.      Kurangnya studi dan program, bisa dengan memupuk bakat dari personel, membimbing dan meningkatkannya.

b.      Terburu nafsu

c.      Berlebih-lebihan

d.      Takut dengan pembaharuan

SOLUSI

 

Solusi yang dapat dilakukan :

1.      Membangun cita-cita dan bekerja sama

2.      Bersikap adil terhadap pergerakan Islam

3.      Menjadikan pergerakan sebagai lapangan kerja

4.      Pergerakan tetap hidup dan bergerak maju

5.      Tidak menjadikan pergerakan sebagai slogan, tapi bisa dirasakan keberadaannya ;

–          pergerakan Islam mampu memperbaiki pemahaman Islam dan arus pemikiran besar

–          pergerakan Islam mampu memulihkan kepada masyarakat rasa kebanggaan pada kepribadian Islam

–          pergerakan Islam mampu melahirkan generasi muslim yang komitmen dngan ajaran Islam

–          pergerakan Islam mampu mengkader generasi yang patuh dan disiplin

–          pergerakan Islam turut memberikan andil yang besar dalam kebangkitan Islam

6.      Banyak bekerja dan berkorban.

7.      Rekruitmen dengan melibatkan tokoh dan masyarakat.

8.      Pergerakan sebagai motor bekerja,  bersama masyarakat

9.      Ada kerja sama yang baik  di semua lapisan masyarakat.

PENUTUP

Kesimpulan dari pertanyaan  ”Dimana Kerusakan Itu?”  adalah bahwasanya kerusakan itu umum dan menyeluruh. Menjadi tanggung jawab bersama untuk memikulnya  meskipun berbeda porsinya.

Yang menguatkan dan senantiasa membesarkan hati kita hanyalah bahwa kita berada di fihak Al Haq (kebenaran ) dan dalam fitrah Islam serta kita bersama-sama (umat Islam) sebagai satu saudara dengan satu kepentingan  menuju tegaknya risalah Islam tentunya hanya dengan mengharap pertolongan dan ridho Allah SWT.

Sungguh sangatlah urgen setiap insan yg berakal waras utk berfikir –terutama orang-orang yg membawa risalah reformasi pd zaman kita ini dimanapun mereka berada- dg fikiran yg serius akan masa depan planet bumi yg menjadi tempat kita hidup di atasnya- bagaimana ia dikelilingi oleh bencana yg melanda ke seluruh dunia, baik karena kita bertanggung jawab langsung / tdk langsung atas berbagai kejadian tersebut. yg mampu mengancam kita & semua potensi serta kekayaan umat manusia, seperti mulai dari polusi lingkungan hingga terjadinya pemanasan global, dari ancaman nuklir hingga penjajahan modern yg keji dalam segala bentuk kekejian & eksploitasinya; yg ditargetlam pd masyarakat yg lemah & negara-negara yg terbelakang utk mengisap darah & mencuri sumber daya alam mereka & memonopoli keputusan yg dikeluarkan olehnya.

Jika hal tersebut ditambahkan dg kondisi nilai-nilai materi & syahwani, yg juga akan berakibat pd runtuhnya akhlak, melanggar kesucian, tirani (kezhaliman) atas hak yg sah & kelalaian yg penuh terhadap hari penghisaban. Dan bagi yg takut kepadanya merupakan sesuatu yg fitri sehingga membatasi diri dari melakukan kezhaliman terhadap manusia & meminalisir pelanggaran para pemegang kekuasaan.

Tidakkah ini sangat dibutuhkan oleh para pemimpin & yg memiliki akal yg waras, dari berbagai ras, warna kulit, agama, utk menyeru dg berbagai cara & sarana komunikasi modern guna menentukan satu sikap, & menyeru dg satu suara utk berdiri menghadang ketidakadilan, tirani & kerusakan & korupsi?!

Inillah kami menyeru mereka2

Wahai para pemimpin dunia . 2

Wahai para cendekiawan dunia . 2

Wahai para pemegang amanah hak-hak manusia… 2

Seluruh manusia . 2

Bersatulah & salinglah membantu satu sama lain & gabungkanlah potensi kalian dalam berbagai organisasi masyarakat sipil utk menyelamatkan manusia dari apa yg sedang dialami & apa yangmengancam mereka jika situasi tetap seperti apa adanya . 2

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ2

“Telah nampak kerusakan di darat & di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yg benar)”. 2 (Ar-Ruum:41)2

Jika kita memfokuskan pd pandangan yg menyeluruh akan inti dari sebab-sebab kondisi yg terjadi ini sangatlah banyak & beragam; kita temukan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta sangat baik sejak awal, & dipersiapkan utk manusia jauh sebelum diciptakannya Adam & Hawa, & menjadikan mereka semua sebagai anak dari seorang ayah & ibu, & diberikan hak kepada manusia dg karakter hidupnya sebagai khalifah dimuka bumi & bertanggung jawab utk memakmurkannya .

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“ Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) & menjadikan kamu pemakmurnya”. 2 (Huud:61)

Dan diantara kemurahan Allah & kebaikan-Nya kepada seluruh umat manusia adalah bahwa Allah menciptakan bumi ini dalam dua hari, & memberikan makanan di dalamnya dalam empat hari utk siapa yg membutuhkannya; maksudnya adalah bahwa manusia bermitra dalam semua unsur kehidupan di dunia, karena itu apakan ada perawatan utk manusia dari Tuhan mereka yg maha Pengasih,. adakah yg lebih banyak dari ini?!

Dialah Allah SWT menitipkan kepada manusia bahkan utk seluruh benda memiliki elemen kehidupan & mata pencahariannya masing-masing .

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tdk ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yg memberi rezkinya, & Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu & tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yg nyata (Lauh Mahfuzh)”2. (Huud:6)

Misalnya adalah tersimpannya minyak sesuai dg kebutuhannya, & hal tersebut merupakan mukjizat Robbani yg sangat luar biasa, yg mampu menyimpan selama ratusan juta tahun lamanya di dalam tanah bahkan jika telah matang pikiran manusia & mengalami perkembangan yg signifikan & spektakuler dalam berbagai karyanya sehingga memiliki alat-alat utk menggali tanah tersebut, Allah tetap memberikan petunjuk sehingga mampu mengekploitasi harta karun utk dapat dimanfaatkan darinya, & harta karun lainnya banyak sekali, ia tetap ada & tersimpan hingga hari kiamat.

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

“Dan tdk ada sesuatupun melainkan pd sisi Kami-lah khazanahnya; & Kami tdk menurunkannya melainkan dg ukuran yg tertentu”. 2 (Al-Hijr:21)

Karena itu, Apa peran manusia setelah melihat & menyaksikan semua karunia ilahi ini, & setelah disampaikan semua seruan ini?

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Hai manusia, Apakah yg telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yg Maha Pemurah”. 2 (Al-Infithar:6)

Sungguh nikmat yg telah dianugrahkan ini telah berubah menjadi sarang pertikaian & perang, menebarkan kezhaliman, agresi & kejahatan, mencoba utk mengontrol sumber-sumber minyak, & menyalakan api perang sehingga merusak tanam-tanaman & ternak; melakukan monopoli yg menjijikkan terhadap harta & yg lainnya ini & membagi-bagikannya – ironis sekali – dg berbagai undang-undang & konvensi yg jahat, sebagaimana mereka mendistribusikan jajahan kepada kelompok-kelompok yg berpengaruh di suatu tempat kekuasaannya, maka pd konvesi ”Sykes-Picot”, & juga diikuti dg perjanjian-perjanjian lainnya seperti perjanjian, “Balfour” yg berpihak pd pendudukan Palestina, kita melihat Kongo oleh Prancis, & yg lain adalah Belgia, & yg ketiga Portugal, & kita juga mendengar tentang Somalia italia, Somalia Inggris , Somalia Prancis & Somalia Amerika.

Sementara itu, perang dingin & perang panas utk menguasai daerah & pendudukan demi memperluas lingkup pengaruh masih terus berlangsung; Jika kita tdk berusaha menghentikan ambisi ini, & menuntut pelarangan segala bentuk eksploitasi & kolonialisme maka boleh jadi keserakahan & kejahatan akan melahap seluruh potensi & sumber daya alam, karena itu hendaknya para manusia yg berakal & bijaksana berdiri tegak utk melawan para pelaku tindak kejahatan ini guna menyelamatkan kapal yg kita semua sedang mengendarainya di alam semesta ini; karena tujuan diciptakan kita adalah utk bekerja sama bukan utk berperang .

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan & menjadikan kamu berbangsa – bangsa & bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. 2 (Al-Hujurat:13)

Tugas kita adalah melakukan kebaikan & bukan melakukan kerusakan, & kita tdk boleh meninggalkan orang yg melakukan kerusakan; karena tindakan mereka membahayakan semua orang.

Dan dari sudut yg lain, kita temukan bahwa orang yg merenungkan pd ciptaan Allah akan menemukan secara gamblang pd setiap orang yg memiliki mata moderat & akal yg waras bahwa Allah menciptakan keseimbangan dalam berbagai siklus kehidupan; ada siklus utk oksigen & ada utk nitrogen, adanya karbon dioksida yg terjadi mengikuti pertukaran di dalamnya utk tanaman & hewan, & bersama dg manusia saling memberikan manfaat, sebagaimana mereka saling bertukar manfaat satu sama lain, begitu pula siklus yg seimbang pd air seperti laut & benua, penguapan & awan, hujan & sungai kemudian mengalir ke laut & ke benua lagi, & dari siklus mineral & garam dari tanah ke tanah.

مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ

“Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. 2 (Al-Hijr:19)

Lalu, apa peran manusia yg bodoh & tdk memahami hukum-hukum Allah di alam semesta ini, sehingga mereka memukul & merusak serta melakukan penghancuran akan siklus kehidupan & setelah itu duduk mengeluh dari apa yg telah diperbuat oleh tangannya sendiri?!

Begitulah yg terjadi pd pencemaran lingkungan sebagai klimaks dari apa yg dihasilkan dari output industri & mafia monopoli, mereka saling menyanjung satu sama lain di dunia ini demi kepentingan & keuntungan dg mengorbankan kesehatan manusia & hak asasi manusia; yg telah hancur & luluh lantah tanpa ampun.

Dan bentuk contoh lain adalah terjadinya pencemaran diberbagai elemen kehidupan; dari udara, air, tumbuhan & hewan serta manusia juga tdk ketinggalan; dg menggunakan pestisida, banyak diantara mereka yg menggunakan karsinogenik, serta pupuk yg tdk aman, & banyak lagi yg lainnya, kemudian setelah dilakukan penyebaran penyalahgunaan berdasarkan pemahaman keliru terhadap hukum alam terjadilah bencana kanker; sehingga membuat kejahatan manusia terhadap manusia itu sendiri, & Mesir merupakan salah satu puncak kejahatan di dunia yg terkena kanker.

Setelah itu semua manusia harus kembali ke pertanian organik & melakukan resistensi (antibiotik), setelah membayar harga yg sangat besar & berat pd percobaan pertama berupa kerugian manusia & uang, & harga yg jauh lebih tinggi adalah pd percobaan kedua, & manusia adalah korban dalam dua kasus ini.

Adapun bentuk contoh yg paling serius adalah pencemaran nuklir; pd konferensi Khusus di New York, Amerika Serikat (walaupun itu hanya digunakan senjata satu-satunya dalam sejarah), & kami berharap bahwa ini adalah awal utk merasionalisasi energi pd senjata yg sangt berbahaya dg sebagai senjata yg mamiliki dua sisi yg sangat tajam, sehingga mampu menjaga umat manusia dari bahaya yg menjalar, & jika Zionis yg sangat berbahaya melakukan tekanan & menghambat itu, sehingga mereka tdk hadir & tdk ada komitmen utk menghadiri, bahkan berusaha merubah subjek pd sisi keamanan bahan nuklir saja, & manusia tetap tunduk pd risiko yg dikuasai oleh tangan yg penuh dg lumuran kejahatan, kerusakan & pengrusakan, menebarkan kehencuran di muka bumi, padahal Allah tdk menyukai kerusakan & orang yg melakukan kerusakan.

Ada bahaya lain yg harus menjadi peringatan bagi siapa yg memiliki akal; karena pd fase-fase pertama, & manusia tdk menyadari akan kejahatan yg dilakukannya kecuali setelah berlalu waktu yg lama; yaitu manipulasi peta penggunaan genetik & rekayasa genetik ini sangat berbahaya & jauh dari manfaat; karena pengetahuan kita akan hal ini masih terbatas, & boleh jadi oleh pengetahuan kita yg sangat terbatas yg lebih dekat pd kebodohan & dapat berakibat pd musibah yg lebih besar lagi, karena itulah hendaknya orang-orang yg memiliki akal dalam spesialisasi ini bersatu utk menghentikan rencana yg sia-sia ini, & kita tunggu sampai sempurna pengetahuan kita lalu pergi sesuai ilmu pengetahuan yg telah kita dapatkan, sebagai bukti & cahaya dari Allah SWT.

Adapun terjadinya polusi moral yg dibuat oleh manusia dari sejak yg pertama & yg terakhir; adalah sebagai musibah yg telah terjadi & tak ada habisnya, karena hal tersebut merupakan inti dari tindak kerusakan & pengrusakan;

Sesungguhnya umat itu akan eksis karena Akhlaknya &# Jika sirna akhlaknya maka hancurlah umat tersebut.

Dan diantara kerancuan yg terjadi dalam pemikiran manusia saat mereka berada di belakang keinginan (syahwatnya) tanpa ada kendali dari nilai-nilai risalah samawiyah yg termaktub & tercatat di dalam kitab Taurat, Injil & Al-Qur’an & tanpa ada intervensi dari pikiran yg telah matang . karena Allah Maha Kuasa telah menciptakan manusia laki-laki & perempuan, & menyebarkan dari keduanya anak pinak baik laki-laki maupun wanita, bahkan Allah mencirptakan dari kedunya saling berpasangan sehingga kelak dapat melakukan reproduksi & kelangsungan hidup. Karena itu bagaimanakah manusia melakukan campur tangan dg kebodohannya & hanya memperturutkan hawa nafsu belaka sehingga dapat membuatnya menyimpang, lalu melakukan tindakan yg bertolak belakang dg fitrahnya seperti halnya yg dilakukan oleh kaum nabi Luth

مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yg belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”2 (Al-Araf:80)

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki utk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yg melampaui batas”. 2(Al-Araf:81)

Meskipun telah membawa hancurnya fitrah manusia & penyebaran penyakit seperti yg dialami oleh umat dimasa yg lalu, oleh karena kejahatan & pelanggaran yg mereka lakukan bahkan dapat menghentikan reproduksi manusia sebagaimana yg telah Allah ciptakan, namun mereka masih tetap tdk memiliki rasa malu, bahkan kita temukan ada diantara mereka yg menuntut hak mereka; pikiran apa ini? kebebasan apa ini?!

memiliki secercah dari cahaya Allah dg membawa risalah Islam yg komprehenship; mereka & semua Muslim di seluruh dunia, bahkan seluruh kaum reformis yg sadar akan bahaya meninggalkan potensi manusia yg dimanipulasi oleh kepentingan & hawa nafsu, & mereka yakin bahwa Allah akan membela & menolong para reformis (pelaku kebaikan); karena Allah mencintai orang-orang yg berbuat kebaikan & perbaikan & membenci kerusakan & pelaku kerusakan…

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Allah tdk menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dg sebagian yg lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. 2 (Al-Baqarah:251)

Namun Allah memiliki & menguasai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan dari manusia tdk bersyukur.

Marilah kita semua meyakini bahwa kegelapan dunia ini tdk cukup kuat utk memadamkan cahaya api, bahwa api yg sederhana ini akan mampu menghilangkan kegelapan yg gulita ini.

Begitu pula kita tdk melepaskan upaya yg tulus yg diiringi dg upaya yg jujur; karena sungai yg ada di dunia adalah sekumpulan dari tetesan-tetesan air hujan.

Terakhir kami sampaikan akan firman Allah.

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yg (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. 2 (At-Thalaq:3)

Umat Islam Sunni Mundur, Mengapa?

Tapi mengapa umat Islam mundur? Mengapa umat Islam, yang dikatakan Allah sebagai sebaik-baik umat (khairu al-ummah), berada dalam keadaan yang demikian menyedihkan? Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Limadza Ta’akhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghaiyruhum – Mengapa Umat Islam Mundur dan Selain Mereka Maju ?, melihat ada dua faktor penyebab kemunduran umat Islam, yakni faktor eksternal atau yang datang dari luar umat, dan faktor internal atau faktor yang datang dari dalam diri umat Islam
.
Pertama, yang dimaksud faktor eksternal penyebab kemunduran umat adalah gencarnya serangan dari luar umat. Musuh-musuh Islam, yakni orang yang tidak menyukai kebenaran Islam tegak di muka bumi, senantiasa mencabik-cabik persatuan umat, dijauhkannya umat Islam dari agamanya, dibuatnya umat Islam lebih terikat kepada suku atau bangsanya sendiri ketimbang terhadap Islam. Langkah ini ditempuh mereka dengan menyebarkan pemikiran (fikrah) sekularisme ke tengah umat Islam secara samar atau terang-terangan, dengan lidah mereka atau lidah tokoh umat Islam. Akibatnya, umat Islam mengalami keterasingan terhadap agamanya sendiri, dan kendati umat Islam dalam berbagai negara kini telah merdeka, lepas dari belenggu penjajahan, tapi pemikirannya tetaplah terjajah
.
Penjajahan (isti’mar) atau imperialisme, yakni penguasaan (pengendalian) di bidang politik, militer, kebudayaan, ekonomi menurut Syekh Taqiyyudin an Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiah, adalah metode (thariqah) yang ditempuh oleh negara Kapitalis Barat (Eropa dan Amerika Serikat) untuk menyebarkan ideologinya, yakni sekularisme tadi. Paham semacam inilah yang kini tengah dan hendak terus disebarkan ke seluruh dunia, termasuk ke negeri-negeri muslim. Tujuannya, bila orang telah mengikuti pahamnya tentu dengan mudah dikuasai dan pada akhirnya segala kepentingan negara penguasa dengan mudah pula dapat diujudkan. Inilah hakekat al-ghazwu al-fikriy (perang pemikiran) yang menyebarkan racun sesat pikir Barat (westoxciation) melengkapi al-ghazwu al-’askariy (perang militer)
.
Penjajahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kapitalisme. Dan ini, menurut Syekh Taqiyyudin bersifat tetap, kendati bentuk negara, hukum dan pemerintahan yang dihadapinya berbeda-beda. Yang berubah-ubah hanyalah cara atau uslub yang ditempuh serta obyek atau sasaran penjajahan. Setelah komunisme runtuh, Barat melihat Islamlah yang secara potensial akan menjadi rival yang baru. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar (lebih dari 1,2 milyar orang), potensi sumber daya alam terutama minyak yang tak tertandingi, serta posisi geografis yang strategis, dunia Islam sangat mungkin menjadi adikuasa baru menggantikan dunia Timur
.
Di masa sebelum dan seputar Perang Dunia I dan II, yang dilakukan Barat adalah penjajahan militer. Negeri-negeri Islam yang semula bersatu, terutama setelah runtuhnya Khilafah Utsmani, tercabik-cabik. Sebagiannya, lama sebelum itu malah telah diduduki negara-negara imperialis. Diantaranya, Aljazair oleh Perancis; Irak, India, Palestina, Yordania, Mesir, dan negara-negara teluk oleh Inggris; dan sebagainya. Kini setelah negara tersebut merdeka, negara-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan cara yang baru. Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui pinjaman dana. Dengan dalih membantu negara berkembang, mereka meminjamkan uang dalam jumlah besar. Belakangan terbukti hutang itu bukan mengentaskan kemiskinan negara tersebut, melainkan malah menambah miskin.
.
Di bidang kebudayaan, Barat juga melancarkan perang kebudayaan (al-ghazwu al-tsaqofiy). Globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi bak pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, karena dengan demikian peristiwa-peristiwa dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita ketahui, tetapi pada sisi lain terjadi pula gelombang arus budaya Barat ke negeri-negeri Islam. Munculnya TV swasta di negeri ini mempercepat berkembangnya budaya Barat
.
Saban hari keluarga-keluarga Islam dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berpikir Barat. Tambahan lagi, berita-berita yang ditayangkan TV hampir seluruhnya bersumber dari kantor berita atau TV Barat yang tentu tidak lepas dari kepentingan-kepentingan Barat, mengingat berita tetaplah merupakan “realitas tangan kedua” (second-hand reality) yang terkadang manipulatif
.
Satu tentara Israel yang ditawan pejuang Palestina menjadi pusat perhatian dunia lantaran diberitakan besar-besaran; dan segera tampak, orang Palestina telah melakukan tindak kriminal. Sementara, pemboman Israel, pembantaian di tengah pemukiman penduduk dikecilkan beritanya, sehingga terlihat sebagai kejadian biasa. TV telah menjadi guru agen Pembaratan yang tangguh
.
Tak heran bila kemudian anak-anak muslim lebih mengenal Superman, Power Rangers atau Bon Jovi ketimbang tokoh-tokoh Islam. Sadar atau tidak, mereka telah terbaratkan (westernized) dan kehilangan identitas kepribadian Islamnya. Itu semua sedikit banyak berpengaruh kepada cara berfikir, pemihakan, keprihatinan dan perilaku kaum muslimin. Apa yang dari Barat dinilai baik dan modern, serta apa yang dilakukan juga mesti benar
.
Kedua, faktor internal. Inti dari faktor internal penyebab kemunduran umat, menurut Syaqib Arsalan, adalah kenyataan bahwa banyak umat Islam yang justru telah meninggalkan ajaran Islam. Kemunduran pemahaman umat terhadap agama Islam itu timbul terutama karena umat tidak lagi dibina keIslamannya secara praktis semenjak tidak adanya kehidupan Islam. Akibatnya, tidak sedikit diantara kaum muslimin yang, jangankan mengamalkan dan memperjuangkan, memahami ajaran Islam pun mungkin tidak. Ia muslim, tapi tak ada bedanya dengan orang non muslim karena kemuslimannya tidak nampak dalam cara hidupnya sehari-hari. Atau banyak pula umat yang melaksanakan ajaran Islam tapi cuma sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Melaksanakan ibadah dan meninggalkan masalah muamalah. Umat Islam memang banyak telah terpengaruh pemikiran sekularisme
.
Apa itu sekularisme?
Menurut Muhammad Qutb (Ancaman Sekularisme, 1986) sekularisme diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini (membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama Islam). Sekularisme pada intinya menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Artinya, agama hanyalah merupakan, dan dijadikan urusan individu dengan tuhannya. Sementara, dalam mengatur masyarakat tidaklah diambil dari hukum agama
.
Pemikiran sekularisme, masih menurut Muhammad Qutb, sesungguhnya berasal dari sejarah gelap Eropa Barat di abad pertengahan. Saat itu, kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dan politikus melihat kondisi ini sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang paling rasional pun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet, bukan bumi seperti yang didoktrinkan gereja selama ini, dihukum
.
Maka sampailah para ilmuwan dan politikus itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju, masyarakat harus meninggalkan agama; atau membiarkan agama tetap di wilayah agama (ritual), sementara wilayah duniawi (politik, pemerintahan, saintek, ekonomi) harus steril dari agama. Inilah cikal bakal sekularisme
.
Tapi satu hal yang harus diinsyafi, bahwa gugatan ini terjadi khas terhadap agama Nashrani, yang ketika itu memang sudah tidak lagi up to date. Tentu sebuah keanehan besar bila gugatan itu lantas dialamatkan pula pada Islam, agama sempurna lagi paripurna yang diridhai Allah sebagai agama seluruh manusia. Lebih aneh lagi bila kaum muslimin ikut-ikutan menjadi sekuler
.
Pemikiran semacam ini jelas bertentangan dengan Islam yang datang justru untuk mengatur kehidupan manusia dalam semua aspek, dan membawa kerahmatan tidak saja bagi umat Islam tapi bagi seluruh manusia. Islam jelas tidak mengenal pemisahan antara urusan ritual dengan urusan dunia. Shalat adalah ibadah yang merupakan bagian dari syariat dimana seluruh umat Islam harus terikat, sebagaimana keterikatan kaum muslimin pada syariat di bidang ekonomi, misalnya. Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah. Islam adalah sebuah totalitas ketundukan muslim pada kehendak Allah dalam semua sendi kehidupan (2:208)
.
Dan merupakan tindak kekufuran beriman kepada ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah:
“Apakah engkau beriman kepada Al Qur’an sebagian dan kufur kepada sebagiannya yang lain. Dan tidaklah ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, kecuali kehinaan kehidupan di dunia, dan di akhirat akan mendapatkan siksa yang pedih” (Al Baqarah 85)
Bila Islam tidak lagi dijadikan sebagai asas pengaturan struktur kehidupan (siyasiy), maka sebagai gantinya munculah asas-asas lain yang mengatur berbagai bidang kehidupan umat
.

Diantaranya adalah:
• Kapitalisme di bidang ekonomi
Hampir seluruh negara di dunia, terlebih setelah runtuhnya sosialisme-komunis Uni Sovyet, menganut paham kapitalisme sebagai sistem ekonominya. Dari segi praktis, kapitalisme memang telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan material luar biasa. Negara di dunia yang maju secara material umumnya adalah negara kapitalis. Tapi dalam soal pemerataan, kapitalisme ternyata gagal.

.
Dan agaknya itulah yang sebenarnya terjadi. Di negeri ini ada seseorang yang hobinya mengoleksi jam tangan berharga 5 milyar rupiah tiap biji, disaat berpuluh-puluh juta rakyat harus mengais-ngais untuk mendapatkan 1000 rupiah sehari! Sementara, dunia usaha swasta makin dicengkeram oleh segelintir orang secara monopolis dan kolusif merambah ke segala arah, termasuk pada sektor publik yang semestinya hanya dikelola oleh negara
.
Yang lebih gawat lagi, sistem kapitalisme juga telah gagal “memanusiakan manusia”. Keresahan spiritual yang kini tengah menjangkiti Jepang, bisa sebagai bukti. Kemakmuran material memang diberikan, tapi kapitalisme telah menjadikan manusia budak harta, dan mereduksinya menjadi setengah manusia bahkan lebih rendah dari hewan. Kapitalisme menyeret manusia pada pola “asas manfaat” dalam memperoleh harta (asbab al-tamalluk), menggunakan (infaqu al-mal) dan mengembangkannya (tanmiyatu al-mal). Asas itu mengajarkan bahwa yang baik adalah yang memberikan manfaat (materi dan kenikmatan jasmani), tidak peduli apakah itu akan menurunkan derajat kemanusiaannya atau tidak (seperti tampak pada bisnis prostitusi, entertainment, judi dan sebagainya). Nilai-nilai Islam dengan tolok ukur halal dan haram, oleh karenanya menjadi barang asing dan terasa aneh. Umat yang telah terbiasa bergaul dengan sistem ekonomi ribawi, tentu merasa aneh ketika diserukan untuk menjauhi riba. Demikian pula dengan riswah dan komisi, sepertinya sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari derap perekonomian negara. Kapitalisme telah merusak umat: fisik dan non fisik. Kehidupan hedonistik, konsumtif dan meterialistik makin menggejala. Kapitalisme memunculkan berhala baru di era jahiliahisme modern: uang
.
• Westernisme dengan Inti Amoralisme di Bidang Budaya
Di bidang budaya, kehidupan hedonistik sebagai buah dari kehidupan yang materialistik makin menjadi ciri masyarakat. Dalam hal ini Barat seolah menjadi kiblat “kemajuan” – kearah mana masyarakat harus menengok. Musik, mode pakaian, makanan, film dan gaya hidup Barat – apalagi setelah adanya TV swasta – makin menggejala. Kaum muslimin yang tidak memiliki kepribadian kuat mudah sekali tercemar, dan memunculkan pribadi yang terpecah (split personality). Ia muslim, tapi tingkah lakunya seperti artis Barat yang sering ia lihat di layar kaca. Benar, ia memang pengikut Nabi Muhammad, hanya saja idolanya bukan lagi Nabi tapi Bon Jovi. Dan bukan Al Quran yang dihafal tapi bait-bait lagu yang diteriakkan Bon
.
Penampilannya juga serupa benar dengan idolanya itu. Rambutnya gondrong, jelananya jeans belel, dan tak lupa anting di telinganya. Yang wanita, pakaiannya juga selalu tampak modis. Malu hati rasanya bila tidak mengikuti arus mode, kendati untuk itu ia harus berpakaian setengah telanjang. Dan itu tentu saja termasuk bagaimana mengatur rambut agar selalu nampak “in”. Lantas bagaimana cara mereka bergaul? Tidak sulit. Film Melrose Place atau Beverly Hills 90210 yang hadir seminggu sekali lewat layar kaca telah lebih dari cukup mengajarinya. Atau iklan – yang telah menjadi nafas kapitalisme – telah pula menghembuskan budaya hedonistik dan mencitrakan gaya hidup baru. Iklan makanan coklat, atau minuman ringan seolah-olah menunjukkan begitulah kira-kira cara pergaulan remaja “modern”. Maka, jadilah ia seorang muslim dengan gaya hidup si Boy: rajin shalat, rajin juga maksiyat
.
• Nasionalisme di bidang politik
Nasionalisme diartikan oleh Hans Kohn (dalam Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Islam, 1986) sebagai “suatu keadaan pada individu di mana ia merasa bahwa pengabdian yang paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air”. Nasionalisme mengunggulkan paham kebangsaan sekaligus mensubordinasikan paham lain, termasuk aqidah Islam. Bagi seorang nasionalis, bangsa adalah segala-galanya, dan tidak ada yang lebih penting dari upaya meraih kejayaan bagi bangsanya. Kematian demi bangsa adalah setinggi-tinggi kemuliaan. Paham ini sebenarnya kosong tanpa substansi, kata Syekh Dr. Muhammad Ghazali dalam Mi’ah Su’al ‘ani al-Islam, – sebab apa arti “cinta pada tanah air”, “mengabdi pada bangsa dan negara” sementara apa yang disebut “tanah dan air serta bangsa dan negara” sesungguhnya tidaklah pernah ada. Ia hanya merupakan dzat rekaan yang bersifat abstrak dan tentu tidak pernah memberikan manfaat kepada yang “mencintainya” ataupun mudharat kepada yang “mengkhianatinya”. Tapi kendati begitu, paham ini kini telah merasuk demikian dalam pada tubuh umat dan telah menjadi biang perpecahan umat Islam seluruh dunia
.
Bagi seorang muslim jelas, pengabdian hanyalah kepada Allah semata (6:162). Tidak ada pengabdian selain kepada Allah, dan ujud pengabdian itu berupa ketaatan kepada segenap perintah dan laranganNya. Bila segenap aktifitas hidup didedikasikan semata untuk menjalani aturan Allah, itulah yang disebut ibadah. Inilah semulia-mulia kehidupan, dan ini pula yang disebut pengabdian. Islam memang mengakui adanya keragaman suku dan bangsa (49:13). Tapi Islam menentang keras sukuisme dan nasionalisme. Tentang ini Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud, “laysa minna man da’a ila ‘ashabiyah, wa laysa minna man qatala ‘ala ‘ashabiyah wa laysa minna man mata ‘ala ‘ashabiyah“
.
Nasionalisme menyebabkan kaum muslimin merasa lebih terikat kepada bangsanya masing-masing ketimbang pada Islam. Ia rela keyakinan agamanya dikorbankan demi keutuhan bangsanya. Ia juga merasa lebih bersaudara dengan sebangsanya ketimbang dengan yang seaqidah. Penderitaan muslim Bosnia akan dirasakan sebagai persoalan bangsa Bosnia; bukan persoalan kaum muslimin. Ia lebih peka terhadap persoalan yang akan “mengancam bangsanya” ketimbang mengancam umat Islam. Ia mudah saja bergaul dengan orang atau negara kafir hanya semata itu menguntungkan bangsanya, kendati itu menindas umat Islam. Juga teramat jelas, nasionalisme menghambat persatuan umat Islam sedunia. Dari sini bisa dimengerti mengapa umat Islam, termasuk yang berada di Timur Tengah, sulit sekali bersatu untuk misalnya, melawan Israel. Ketika nampak kepentingan nasionalnya terpenuhi, mereka merasa konflik dengan Israel sudah selesai. Mesir kini berdamai dengan Israel setelah gurun Sinai kembali ke pangkuannya. Begitu juga Yordania. Tidak peduli bahwa hingga saat ini tanah Palestina masih dikuasai Israel dan kaum muslimin di sana masih menderita akibat penindasan zionisme. Organisasi semacam OKI, Liga Arab atau semacamnya tak mampu berbuat banyak dalam menggalang persatuan umat, karena negara anggotanya lebih mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing. Nasionalisme juga berdampak sangat serius di bidang hukum. Bagi seorang nasionalis, hukum yang layak adalah hukum nasional bukan hukum agama apalagi dari satu agama. Dalam soal ini, semua agama harus disamadudukkan (sinkretisme)
.
• Sinkretisme di bidang agama
Paham nasionalisme tidak akan tegak tanpa disertai penyebaran paham sinkretisme yang intinya “menyamadudukkan semua agama”. Sinkretisme sebagai anak cabang pemikiran sekuler berdiri di atas tiga doktrin. Pertama, dikatakan bahwa kebenaran agama itu bersifat subyektif. Artinya, suatu agama pasti dinilai paling benar oleh pemeluknya masing-masing. Agama lain salah. Karena semua agama bersifat demikian, maka seseorang tidak mungkin dipaksa mengikuti aturan selain yang menjadi agamanya
.
Semua agama harus dipandang sama kedudukannya. Kedua, sebagai konsekuensi dari doktrin yang pertama, maka suatu agama tidak boleh mendominasi agama yang lain. Sebab, itu berarti harus memaksa seseorang untuk mengikuti aturan yang berasal dari bukan agamanya. Ketiga, maka oleh karenanya untuk mengatur kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai pemeluk agama, diperlukan aturan bersama yang dinilai mampu mengadaptasi semua agama yang berkembang di tengah masyarakat tersebut.
Pemikiran sinkretisme menyebabkan sebagian umat Islam “memandang rendah”, bahkan “tidak suka, menjauhi dan memusuhi” aturan agamanya sendiri. Ia merasa menjadi orang modern bila turut beranggapan bahwa aturan-aturan masyarakat yang “demokratis dan aspiratif” adalah yang lepas dari agama yang ada, termasuk Islam. Tidak lupa ia turut mengecam aturan Islam sebagai “ketinggalan jaman, kejam, tidak manusiawi serta tidak cocok untuk masyarakat plural”, hanya karena aturan Islam diturunkan empat belas abad lalu di negeri Arab yang secara sosiologis katanya berbeda dengan tanah airnya. Disebut toleransi – dan itu sebuah kemuliaan – bila orang mau mengerti aspirasi agama lain
.
Dengan bersikap demikian, sadar atau tidak, kendati muslim sesungguhnya ia telah menjadi lawan dari agama Islam. Ia telah terjerumus demikian jauh di jurang kesesatan. Ia lupa, seorang muslim harus meyakini hanya Islam saja yang benar dan diridhai Allah (3:19/5:3). Beragama selain Islam tidak akan diterima Allah dan di akhirat akan merugi (3:85). Terhadap agama lain sikap yang harus diambil adalah dakwah, yakni mengajak pengikutnya agar memeluk Islam, sebagaimana ajakan Rasulullah dalam suratnya kepada Heraclius: “Aslim, taslam“. Perlu diingatkan pula bahwa Islam adalah agama untuk semua manusia (34:28) yang bila ditegakkan akan membawa kebaikan bersama (21:107)
.
Fakta sejarah di masa lalu ketika Islam berkuasa di berbagai wilayah, misalnya di Irak, Mesir, Spanyol dimana komunitas non Muslim juga hidup sejahtera di dalamnya, menunjukkan hal itu. Islam pasti tidak akan ketinggalan jaman, karena ia diturunkan oleh dzat yang Maha Mengetahui dan telah ditetapkan sebagai agama terakhir. Menyatakan Islam “tidak cocok” untuk masyarakat yang hidup 14 abad kemudian, sama saja menuduh Allah tidak tahu akan perkembangan masyarakat di masa depan serta tidak tahu bagaimana mengaturnya
.
Akibat sinkretisme, sebagai komunitas mayoritas, umat Islam tidak merasa apa-apa menyaksikan bagaimana kehidupan tidak diatur dengan Islam. Ia bangga bebas dari penjajahan, tapi sedikit pun tidak merasa risi menggunakan hukum bekas penjajah Belanda. Ia tidak juga segera sadar akan kekeliruan pemikirannya kendati kenyataan menunjukkan, aturan bersama yang ada tidaklah mampu membawa masyarakat kepada kebaikan. Berbagai problematika (di bidang ekonomi muncul kesenjangan, harga melambung, monopoli dan sebagainya; di bidang sosial meningkatnya kriminalitas, kerusakan moral, berkembangnya budaya barat dan sebagainya) yang silih berganti muncul di tengah masyarakat, bahkan mungkin dia termasuk salah satu korbannya, tidak cukup mengingatkan bahwa Islam adalah solusinya. Sinkretisme telah membuatnya buta.
Kontradiktif
.
Semua asas pengaturan kehidupan di atas tidaklah muncul dari satu kesatuan pemikiran. Tapi sekedar berdasarkan manfaat, yang diduga mungkin atau bisa diperoleh di bidangnya masing-masing. Oleh karenanya, sekularisme pada tataran praktis banyak sekali menimbulkan kontradiksi di tengah masyarakat. Di bidang pendidikan, satu sisi diinginkan siswa yang berpribadi luhur, kuat agamanya, tapi tidak ada atau sedikit sekali langkah ke arah itu. Misalnya, apa yang bisa diharap dari pelajaran agama 4 sks sampai tingkat sarjana di perguruan tinggi?. Ketika para siswi ingin mewujudkan perintah agama (misalnya memakai jilbab atau duduk terpisah laki dan perempuan di kelas), ternyata dihambat dan malah dituduh ekstrem, fanatik serta tuduhan lainnya yang menyakitkan.
Di bidang budaya, satu sisi diinginkan masyarakat yang mulia, dengan remajanya yang berkepribadian teguh, tapi di sisi lain tontonan di TV, bioskop merajalela penuh dengan kemaksiyatan disertai ajakan seks dan pergaulan bebas dengan tari dan nyanyi yang tidak jelas apa maunya. Satu sisi polisi mengeluhkan akibat alkoholisme, dan kemudian membuat operasi menyapu minuman itu di warung-warung, tapi industri minuman keras jalan terus hanya karena alasan cukai dan tenaga kerja. Satu sisi menginginkan pemerataan, tapi sisi lain monopoli swasta makin mencengkeram termasuk pada sektor publik
.
AIDS diperangi, tapi kompleks WTS tetap dibiarkan laris. Katanya negara berdasarkan pada ketuhanan, tapi begitu banyak aturan negara yang menyimpang dari aturan Tuhan. Bila demikian lantas tuhan yang mana yang dimaksud oleh penduduk mayoritas negeri ini? Juga, mengapa mereka yang memperjuangkan tegaknya aturan tuhan, sesuai asas tadi, malah dituduh subversif? Qira’ah al-Qur’an dilombakan dalam MTQ, khatnya ditulis indah-indah, tapi ajarannya diabaikan
.
Lantas Bagaimana?
Ditinggalkannya aturan Islam dalam pengaturan kehidupan baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi maupun politik terbukti telah memundurkan umat dan menjadikan umat hidup dalam kehinaan di mana-mana. Sekarang umat Islam di seluruh dunia merasakan nasib yang malang dan menangisi kekalahan yang sangat mengerikan, yang belum pernah dialami oleh umat Islam di masa lalu. Umat telah kehilangan kemuliaannya. Seharusnya umat Islam bisa tampil mangatur kehidupan manusia di dunia secara keseluruhan bukan yang diatur; tampil memimpin bukan yang dipimpin. Seharusnya umat Islam menguasai bukan dikuasai. Umat Islam sepertinya tidak punya daya kemampuan sama sekali
.
Secara faktual, potensi 1,2 milyar umat Islam demikian besar. Tetapi kenyataannya umat sebanyak itu berserak seperti buih, lemah tak bertenaga. Sumber daya alam yang ada juga tidak bermanfaat banyak demi kemajuan Islam. Umat tetap terbelakang, tercabik-cabik dan menjadi bulan-bulanan negara-negara besar seperti yang sekarang ini tengah terjadi. Apa yang bisa diperbuat untuk saudara kita di Palestina, Chechnya dan Bosnia? Demikian sulitnyakah mengusir Israel yang berpenduduk hanya sekitar 7 juta dari bumi Palestina? Bagaimana mungkin, umat yang jumlahnya semilyar lebih keok melawan negeri yang berpenduduk lebih sedikit dari kota Jakarta?
.
Tapi kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk terus menerus menggerutu, atau hanya mencaci maki orang lain. Hukum alam tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah yang memimpin. Dan yang membuatnya unggul adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain
.
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada diri mereka sendiri“(Ar Ra’du:11)
.
Jadi jelaslah hanya ada satu cara untuk keluar dari kemelut ini: umat Islam harus bangkit! Tekad itu dan istilah kebangkitan memang mulai menyebar semenjak dicanangkannya abad 15 hijriah sebagai abad kebangkitan Islam. Tapi apa yang disebut bangkit atau kebangkitan, agaknya beragam orang memahaminya. Syekh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nidzam al-Islam, menyatakan bahwa kebangkitan hakiki adalah kenaikan taraf berfikir (al-irtifa’u al-fikry) umat yang dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya
.
Pemikiran yang membentuk pemahaman (mafahim) akan berpengaruh pada tingkah laku. Tingkah laku Islamy akan terujud bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam (Mafahim Dakwah LDK, 1988). Untuk itu diperlukan dakwah. Dan dakwah di tengah kemunduran umat seperti sekarang ini akibat tidak adanya kehidupan Islam, haruslah berupa “dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam” (da’wah li isti’nafi al-hayati al-Islamiyah).
Jika revolusi tahap pertama merupakan pembebasan umat dari belenggu penjajahan fisik, maka revolusi tahap kedua bertujuan membangun kesadaran Islam (al-wa’yu al-Islamy) di tengah peperangan pemikiran tadi. Yakni kembalinya identitas, khazanah dan pemikiran Islam ke dalam diri kaum muslimin, setelah terbukti imitasi terhadap ideologi Barat bukan saja gagal dari segi konsepsi, juga tidak memberikan hasil positif dari segi praktis lahir maupun batin bagi kehidupan umat Islam. Revolusi tahap kedua digerakkan menuju terwujudnya kehidupan Islam sejati
.
Dakwah melanjutkan kehidupan Islam bertujuan untuk ‘audatu al-muslimin ila al-’amal bi jami’i ahkami al-Islam. Atau, mengembalikan kaum muslimin kepada pengamalan seluruh hukum Islam di bidang ‘aqidah, ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, muamalah (politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya).
Dari segi individu, dakwah atau pembinaan kepada umat bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang berkepribadian Islam. Yakni seseorang yang berpikir dan bertindak secara Islamy. Ia tidak berpikiran kecuali sesuai dengan ajaran Islam, dan tidak bertindak kecuali sesuai dengan syariat Islam. Harus ditanamkan kepada umat pemahaman aqidah yang benar dan kuat beserta segenap konsekuensi dari orang yang telah beraqidah Islam, yakni taat pada syariat (4:65/33:36/59:7). Juga, ditanamkan pemahaman atas syariat Islam itu sendiri, agar dengannya ia mengerti apa tujuan hidup ini, bagaimana menjalaninya; serta bagaimana misalnya, ia harus menjalankan ibadah dengan baik, memilih pakaian yang benar, makanan yang halal, bergaul secara Islamy, dan bermuamalah secara syar’iy. Ia bertindak Islamy di masjid, demikian juga semestinya ketika ia berada di kantor, di pasar dan di jalan-jalan. Ia Islamy ketika shalat, begitu semestinya ketika berdagang, ketika bergaul dengan orang lain. Lebih jauh lagi, pembinaan itu diharapkan menyadarkan umat bahwa seharusnya masyarakat ini diatur dengan Islam
.
Dari segi komunitas, pembinaan kepada umat bertujuan agar dari muslim yang berkepribadian Islam terbentuk kekuatan dan dorongan untuk melakukan perubahan masyarakat ke arah Islam dan menegakkan masyarakat Islam. Hanya dalam masyarakat Islam saja seluruh hukum Islam dapat ditegakkan, saatmana kerahmatan yang tertuju bukan hanya bagi umat Islam tapi juga mereka yang beragama selain Islam, karena memang Islam membawa rahmat bagi sekalian alam (21:107), akan terasakan.
Tidak adanya, atau tidak sempurnanya pembinaan terhadap umat hanya akan menghasilkan kepribadian yang tidak utuh. Ia muslim tapi tidak shalat, bahkan dengan mudah menggadaikan kemuslimannya demi sebungkus supermi atau wanita yang dicintainya. Tidak sedikit kita jumpai orang Islam yang dengan ringannya meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat dan melalaikan puasa Ramadhan. Atau, kalau ibadahnya bagus tapi tidak atau kurang memperhatikan aturan Islam di bidang lain. Seolah Islam hanya mengatur masalah ibadah, dan keislamannya terbatas hanya pada masalah ibadah saja. Di luar itu, ia merasa bebas berbuat. Ia misalnya, rajin shalat tapi juga rajin makan riba. Ia bangga dengan titel hajinya, tapi bangga pula dengan pemikiran sekulernya; atau bangga dengan kecantikan rambut dan tubuhnya yang dibiarkan terlihat orang lain. Ketika di Mina ia melempar jumrah sebagai simbolisasi perlawanan terhadap setan, tapi sepulang dari Mina ia menjadi teman, bahkan budak setan. Ia menentang gerakan pemurtadan, tapi menentang pula gerakan yang akan menegakkan syariat Islam. Ia bangga dengan kemuslimannya tapi tidak gelisah sedikitpun tatkala demikian banyak aturan Islam yang ditinggalkan, atau kita tidak risih melihat kehidupan diatur dengan hukum yang tidak bersumber dari agama yang dipeluknya itu. Ia tahu bahwa sesama muslim bersaudara, tapi tak sedikitpun ia peduli atas pembantaian muslim Bosnia, Chechnya dan sebagainya. Bila demikian, lantas dimana makna ikrar “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah semata Tuhan semesta alam,”juga kekaffahan yang diminta Al-Quran?
.

Pembinaan kepada umat yang tidak sempurna juga akan menghambat terbentuknya kehidupan Islam. Karena umat itu sendiri yang akan menjadi batu penghalang upaya ke arah sana. Siapa lagi yang berani menghalangi proses Islamisasi apalagi di negeri dimana umat Islam mayoritas, bila bukan dari kalangan umat Islam sendiri (dengan berbagai argumen batil) atau kalangan non Islam dengan lidah dan tangan (tokoh) umat Islam. Isu “plularisme,primordialisme,fundamentalime,” dan sebagainya, selama ini ternyata dilontarkan oleh tokoh-tokoh Islam. Dan sasarannya tidak lain adalah kelompok Islam yang dinilainya “mengandung semangat Islamisasi”. Kepala Sekolah yang dulu menghambat jilbab di SMA, ternyata juga muslim
.
Sementara, tanpa Islam bisakah kita berharap munculnya tatanan kehidupan yang baik? Atau, bisakah kita berharap mendapat kebaikan dari agama Islam yang diyakini datang untuk membawa rahmat tanpa mewujudkan Islam dalam pengaturan kehidupan nyata? Bila tidak, mengapa kita masih suka berlama-lama hidup dalam kejahiliahan seperti sekarang ini? Satu sisi kita mengeluh: hidup makin susah dan makin tidak aman, harga apa-apa naik, kemaksiyatan merajalela, remaja makin brutal, birokrat makin tidak bisa diharap, di dunia luar kaum muslimin dibantai di mana-mana dan sebagainya; tapi di sisi lain mengapa kita mendiamkan begitu saja agama Islam teronggok bagai barang antik tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata? Itu sama saja dengan seseorang yang marah-marah ketika tubuhnya didera penyakit, tapi obat ditangan hanya dilihat-lihat saja. Mana bakal sembuh?

.
Dulu, Rasul seorang telah mengubah dunia. Kini umat Islam berjumlah 1 milyar lebih, apa yang bisa digoncang?. Tidak ada. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain umat Islam harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk menegakkan kembali bangunan Islam. Dan itu mungkin perlu waktu yang tidak sebentar. Sebab sesuatu yang sudah hancur dalam waktu yang cukup lama, secara sunatullah perlu waktu lama pula untuk membangunnya kembali
.
Pada era perang fisik, kita terjun dengan membawa senjata yang dilengkapi dengan berbutir-butir peluru dan mesiu. Tapi kini yang kita hadapi bukan perang fisik tapi perang pemikiran. Maka semestinya kita terjun sebagai pasukan Islam dengan menembakkan peluru pemikiran Islam, memerangi musuh yang membawa peluru pemikiran sesat. Mulut dan tangan adalah senjata kita, dengan kantong peluru berupa pemahaman Islam yang shahih di otak kita. Sebagaimana Rasulullah membangun peradaban Islam dengan mulutnya. Mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam. Dalam perang ini musuh Islam menggunakan segenap tenaga dan upaya (jaringan birokrasi, media massa dan sebagainya), maka diperlukan lebih banyak lagi pasukan Islam yang bergerak di tengah umat untuk menyadarkan umat dari tidurnya yang panjang

Selanjutnya mengenai “seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya”. Lalu apa penafsiran anda terhadap wasiat Sidi Ibnu Syihab (atau Sidi Nashiruddin) yang berbunyi: “Tiadakan wujudmu di hadapan gurumu, jangan sok tahu! Biarkan ia meruntuhkanmu untuk dibangun kembali jiwamu”!.

Lihat bagaimana Syeikh Abdul Qadir Isa dalam kitab “Haqa’iq an al-Tashawwuf” menyebutkan etika-etika murid terhadap guru tarekatnya yang antara lain :
– Mentaati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada guru,
– Tidak membantah, menyanggah atau mengkritisi guru,
– Meyakini kesempurnaan dan kapabilitasnya dalam mendidik jiwa,
– Memuliakan dan mengagungkannya dikala hadir maupun ghaib (tidak hadir),
– Mencintainya dengan cinta yang amat sangat,
– Tidak menoleh atau menengok ke guru lain selainnya,
– Senantiasa menghadiri majelisnya,
– Berupaya semaksimal mungkin untuk selalu melayaninya,
– Dan lain-lain.

Yang pertama kali memperkenalkan tasawuf adalah sebagian sahabat Abdul Wahid bin Zaid sedangkan Abdul Wahid merupakan sahabat Hasan Al-Basri, dia terkenal dengan sikapnya yang berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah dan sikap khawatir (khouf), satu hal yang tidak di dapati pada penduduk kota saat itu. Abu Syaikh Al-Ashbahani meriwayatkan dalam sanadnya dari Muhammad bin Sirin yang mendapat berita bahwa satu kaum mengutamakan untuk memakai pakaian dari wol (shuf), maka dia berkata: “Sesung-guhnya ada suatu kaum yang memilih pakaian wol dengan mengatakan bahwa mereka ingin menyamai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk nabi kita lebih kita cintai, beliau dahulu mengenakan pakaian dari katun atau lainnya, atau ucapan semacam itu”

Tentang keyakinan shufi mengenai kasyf itu di antaranya dije laskan oleh Ibnu ‘Arabi dalam kitab Futuhatnya dan Al-Jili dalam Insanul Kamil-nya. Sedangkan al-Ghazali sendiri telah mengakui bahwa ia tidak memperoleh keyakinan sesudah dihinggapi syak dan kesangsian kecuali dengan perantaraan kasyf. Yaitu setelah ia beri’tikaf beberapa tahun di menara Masjid Damaskus dan di Masjid Baitul Maqdis. (Lihat kitab Al-Ghazali, Al-Munqidzu minaddholaal, dan Al-lamus Syamikh hal. 370, dan Akhlaq, hal. 42, seperti dikutip HSA Al-Hamdani dalam Sanggahan terhadap tashawuf… hal 16).

Kasyf Syaithani dan Kasyf Haqiqi

Sorotan yang tajam terhadap batilnya kasyf ini juga ditulis oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar. Dr Yusuf Al-Qardhawi mengutipnya sebagai berikut:

Bahwa ilham atau kasyf semata-mata merupakan salah satu contoh dari pengetahuan jiwa yang berbicara, tidak tetap (baku) dan tidak teratur. Dan bukan merupakan pengetahuan yang berlandaskan kepada akal dan tidak pula bersandarkan kepada dalil syar’i, akan tetapi cuma merupakan pengetahuan yang kurang, yang terkadang salah terkadang benar, dan sebab-sebabnya yang alamiah pun mudah untuk diketahui. Sebagian ada yang bersifat bawaan (fithry), sebagian ada yang diperoleh dengan usaha (kasby) dan sebagian lagi hasil ciptaan (shina’i), seperti hipnotis yang dikenal di abad ini, dan apa yang mereka namakan dengan membaca fikiran, komunikasi fikiran, dan yang mereka serupakan dengan transfer berita lewat kawat listrik maupun transfer berita tanpa kawat listrik.

Pengetahuan seperti ini tentu bisa dikuasai oleh orang mu’min maupun orang kafir, orang yang baik maupun orang yang jahat, sebagaimana diakui oleh para shufi muslim bahwa pengetahuan semacam ini dikuasai pula oleh shufi beragama hindu. Para shufi muslim mengakui bahwa pengetahuan yang dikuasai oleh mereka bercampur aduk dengan pengelabuan syetan, dan sedikit sekali orang yang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kasyf syaithani (kasyf yang berasal dari syetan) dan kasyf haqiqi (sesungguhnya), dan tidaklah boleh dinamakan kasyf haqiqi kecuali jika bersesuaian dengan nash yang qoth’i (nash/ teks ayat atau hadits yang pasti).

Di antara berbagai bukti kesalahan dan kepalsuan serta khaya lan yang ada pada kasyf mereka, yang biasa mereka namakan dengan An-Nurany (yang berkilauan), dan apa yang mereka sebutkan di dalam kasyf mereka berupa pengetahuan mereka yang bermacam-macam, berdasarkan keberagaman pengetahuan mereka tentang seni, kekhura fatan dan syari’ah adalah terjadinya pertentangan para ahlinya dan saling salah menyalahkan satu sama lain dalam hal ini. Oleh karena itu, anda akan mengetahui sebagian dari mereka menyebutkan di dalam kasyfnya Jabal Qof (gunung qof) yang mengelilingi bumi!

Dan Al hayyah (ular) yang mengelilinginya! Sebagaimana dapat anda ketahui dalam biografi Asy Sya’rani oleh Syaikh Abu Madyan, yang isinya merupakan kekhurafatan-kekhurafatan yang tidak ada hake katnya.

Di antara mereka ada pula yang menyebutkan di dalam kasyfnya bintang-bintang dan tempat peredarannya dengan cara Yunani yang batil. Dan kebanyakan mereka menyebutkan di dalam ksyf mereka hadits-hadits yang maudhu’ (palsu), walaupun mereka dan orang-orang yang terfitnah dengan kasyf mereka ditentang oleh ulama

hadits. Mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya sebuah hadits terkadang dianggap shahih dalam kasyf kami, walaupun hadits tersebut tidak shahih menurut riwayat-riwayat kalian (ahli hadits), dan kasyf kamilah yang lebih benar, karena kasyf kami berasal dari ilmul yaqin sedangkan ilmu kalian berasal dari dugaan (dhon)!’

Kesimpulannya adalah, bahwa kasyf ini adalah urusannya sendiri dan urusan para ahlinya, jika sah bagi kita untuk membenarkannya tentu ketika tidak terjadi pertentangan dengan syari’at, aqidah-aqidahnya serta hukum-hukumnya. Maka tidak dibenarkan bagi orang yang beriman kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya membenarkan sebagian dari kasyf yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Quran

dan Sunnah. Dan tidak dibenarkan pula menetapkan kasyf dengan didasari perintah dari alam gaib selama tidak ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah. lagi pula kita tidak membutuhkan semua ini (kasyf seperti ini). (Tafsir Al-Manar oleh Al Allamah Muhammad Rasyid Ridha, Jilid 11/447, cetakan keempat, seperti dikutip Dr Yusuf Al-Qardhawi, Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf… hal. 86-87).

Penjelasan-penjelasan tersebut sangat gamblang bahwa kasyf shufi itu batil. Orang mu’min maupun kafir bisa memperolehnya, orang jahat maupun shalih dapat juga, sebagaimana hasil kasyf itu ada yang dari syaitan, dan ada yang mengandung kebenaran, tidak ada patokannya. Maka ketika ungkapan semacam ini saya ajukan

kepada guru besar tasawwuf dengan ungkapan bahwa Joyoboyo yang bukan Islam pun bisa mendapatkan kasyf itu; ternyata Pak Guru Besar Tasawwuf itu marah, dan tidak ada jawaban pasti, seperti sudah kami kemukakan di atas. Masihkah mereka mau mengklaim kebenaran kasyf dengan cara lain lagi selain marah-marah dan bicara ngaco (tidak teratur)?

Dan dari sinilah bisa kita fahami, kenapa orang-orang Syi’ah, sekluer, dan pengacau Islam kini justru ramai-ramai menjajakan tasawwuf. Ternyata, dalam hal kepercayaan/ aqidah maupun sikap mereka terhadap hadits adalah sama-sama, yaitu mengacaukan. Hingga ketatnya aqidah dalam Islam ini jelas-jelas mereka tabrak, sedang ketatnya pembatasan tentang keshahihan hadits pun terang-terang mereka tabrak pula. Bila aqidah, suatu fondasi tempat berdirinya Islam, telah mereka kacaukan, dan hadits sebagai landasan utama yang kedua setelah Al-Quran telah mereka halalkan untuk dipalsukan dengan cara mengklaim ke-kasyf-an untuk mensha hihkan kepalsuan, maka hancurlah Islam ini. Masih pula ditambahi dengan tabiat shufi yang tunduk patuh bahkan sering mendukung kepada penguasa dhalim –walaupun menghancurkan Islam– maka sempurnalah konspirasi dan konvigurasi mereka (shufi, syi’ah, sekluer, munafiqin, kafirin, musyrikin, pengacau agama, dukun, paranormal, ahli bid’ah, politikus licik anti Islam, dan penguasa dhalim) dalam menghancurkan Islam dengan wajah yang pura-pura teduh karena berkedok main batin
.

Maka waspadalah wahai saudara-saudaraku Ummat Islam, jangan sampai tertipu oleh permainan mereka yang sudah dibabat oleh para ulama pada awal abad keempat Hijriyah dengan dibunuh dan disalibnya dedengkot shufi bernama Al-Hallaj, namun kemudian digali dan dihidup-hidupkan lagi oleh para orientalis Barat antek penjajah anti Islam, kemudian dikem bangkan lagi oleh antek-antek orientalis di mana-mana sampai kini lewat aneka sarana. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada para pengamal Islam dan penyerunya yang setia dan istiqomah hingga mampu menghancurkan kebatilan mereka yang mengancam Islam itu.

Tidak jarang sebagian kita dihadapkan pada kebisingan suara dan bisikan di dalam hati, saat hati sedang bimbang dan bingung. Kadang-kadang suara dan bisikan itu muncul saat hati terluka, bingung menentukan sikap. Sering juga muncul dalam kesunyian dan kesendirian, saat merenungi nasib yang tak menentu, yang semakin hari terasa semakin dihimpit oleh keadaan dan tuntutan kebutuhan.
Tidak jarang juga terjadi suara itu membising saat menjelang tidur, terutama saat mata tak dapat dipejamkan karena ditinggal suami atau isteri, atau kehilangan pekerjaan, bingung menentukan pilihan. Atau karena pekerjaannya tergeser oleh orang lain akibat ketatnya persaingan yang tak manusiawi di zaman kapitalisme sedang berkuasa.
Bahkan sebagian kita juga sering dibingunan untuk menentukan pilihan karena prediksi tentang nasib dirinya, yang diisyaratkan oleh “Waliyulah” atau “Orang pintar” melalui penerawangan ghaib atau bisikan dan suara hatinya
.
Supaya kita tidak bingung menentukan sikap dan memiliki konsep serta rumus yang jelas, saya akan kutipkan beberapa uraian dan penjelasan seorang ulama besar, filosuf dan sufi besar di zaman, yaitu Allamah Muhammad Mahdi An-Naraqi dalam kitabnya “Jami’us Sa’adat, penghimpun kebahagiaan. Mari kita simak dengan cermat dan teliti, semoga bermanfaat bagi kita semua. Berikut ini penjelasan beliau:
.
Ketahuilah, suara atau bisikan yang muncul di dalam hati, adakalanya baik dan adakalanya buruk. Jika bisikan atau suara halus itu mengajak pada keburukan, maka suara itu tercela dan dinamakan “Was-was” (bisikan setan). Jika suara itu mengajak pada kebaikan, maka suara itu terpuji dan dinamakan “Ilham” (suara malaikat).
Hati dari sisi munculnya suara atau bisikan bagaikan:
1. Sararan anak panah yang dipancarkan dari berbagai arah.
2. Taman yang dialiri air dari berbagai saluran.
3. Rumah yang memiliki beberapa pintu dapat dimasuki bermacam-macam manusia.
4. Atau cermin yang padanya bercermin bermacam-macam bentuk dan wajah manusia
.
Semua contoh tersebut tergantung dan tidak terlepas dari apa yang datang dan mengalir padanya. Demikian juga hati, tidak terlepas dari suara atau bisikan dari mana datangnya. Suara lembut Ilahiyah (luthuf) selalu tersembunyi dan bersemayam di dalamnya, menghadapi bermacam-macam suara dan bisikan yang lain. Luthuf Ilahiyah itu tidak berhubungan dengan badan dan segala kelezatannya, tersucikan dari semua kotoran dan keburukan tabiat
.
Ketika datang suara bisikan baru, tentu itu ada penyebabnya. Jika penyebabnya setan, maka bisikan itu dinamakan “Was-was” (bisikan setan); jika penyebabnya malaikat, maka dinamakan “Ilham” (suara malaikat). Ketika hati siap menerima kehadiran was-was, maka kondisinya dinamakan “Ighwa’”(bujukan) dan “Khidzlân” (kehinaan). Ketika hati siap menerima kehadiran ilham, maka kondisinya dinamakan “Luthuf” dan “Taufiq”, suara Ilahi dan bimbingan. Kondisi inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya:
في القلب لمتان: لمة من الملك ايعاد بالخير وتصديق بالحق، ولمة من الشيطان ايعاد بالشر وتكذيب بالحق

.
“Dalam hati ada dua perkumpulan: Perkumpulan malaikat yang mengajak pada kebaikan dan membenarkan kebenaran, dan perkumpulan setan yang mengajak pada keburukan dan mendustakan kebenaran.”
.
Hanya melalui umat yang sadar saja bisa diharapkan kebangkitan umat yang hakiki berupa tegaknya kehidupan yang Islamy di bawah naungan Daulah ISyiah. Ingatlah janji Allah,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukarkan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)
.
Dalam ayat ini Allah berjanji kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh, berjuang mewujudkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, akan memberikan kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia di dunia dan meneguhkan agama Islam. Artinya, agama Islam akan tegak, syariat Islam akan terealisasi, yang semua ini akan menjamin keadaan masyarakat menjadi tenteram, damai dan sejahtera menggantikan situasi yang penuh penderitaan dan ketakutan seperti sekarang ini. Pada saat seperti itulah, predikat umat Islam sebagai khairu ummat akan terujud. Insya Allah. Wallahu ‘alam bi al-shawab

artikel  ini ditulis oleh Amin Farazala Al Malaya (nick name : Ustad Syi’ah Ali / Ibnu Jakfari )
——————————————————————————————————————–

Iran adalah sebuah negeri yang unik. Setelah revolusi Islam, tidak ada orang asing datang ke Iran untuk mencari hiburan. Nyaris tidak ada hiburan di sana. Kalau hiburan itu diartikan pesta minum-minuman keras, berjudi, bermalas-malasan di pantai, ataupun mencari seks. Mereka yang hari-­hari ini ke Iran datang untuk mencari alam yang indah (seperti kelompok “Kartini Petualang” yang akan mendaki gunung Damavand), spiritualitas (mengunjungi kota suci Syiah Qom), mencari celah bisnis (mumpung di Iran sejak diembargo tidak ada lagi perusahaan Amerika seperti Coca Cola, McDonald atau Microsoft) atau berinteraksi dengan para ilmuwan Iran.

Iran beruntung memiliki warisan kejayaan Islam masa Ialu, bahkan juga dari masa pra Islam. Nama-nama intelektual besar Islam “hadir” dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jalan, taman atau lapangan dinamai dengan tokoh-tokoh itu. Daftar ilmuwan Islam di era keemasan Islam yang pernah lahir, dibesarkan atau berkarya di wilayah Iran sekarang amatlah panjang. Yang paling terkenal saja (dan diabadikan sebagai nama jalan, taman, lapangan) ada lebih dari 200 ilmuwan. Berikut ini cuplikannya saja.

Di bidang matematika ada Abu Abdallah Muhammad bin Musa Al Khawarizmi lahir 780 M di Khwarezm, Provinsi Khurasan Raya yang dulu meliputi Iran dan Uzbekistan sekarang. Al-Khwarizmi sangat berjasa dalam penggunaan angka desimal dalam Matematika, serta penggunaan aljabar dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang membutuhkan perhitungan rumit dengan menggunakan persamaan matematika. Namanya abadi dalam istilah “Algoritma” sebagai langkah-langkah yang harus diikuti secara konsisten agar suatu persoalan dalam diselesaikan secara matematis dengan hasil yang tepat dan juga konsisten. Al Khwarizm yang kemudian bekerja di Baitul Hikmah di Baghdad, wafat pada 850 M.

Di bidang astronomi ada Abu Al Abbas Ahmad bin Muhammad bin Katsir Al Farghani alias Alfraganus pada abad 9 M. Dia terlibat dalam perhitungan diameter bumi melalui pengukuran meridian dalam sebuah tim bentukan Khalifah Al Ma’mun. Bukunya tentang “elemen-elemen astronomi dan gerakan benda langit” yang ditulis pada 833 M diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad-12 dan sangat populer di Eropa hingga era Johannes Muller von Konigsberg (1436-1476), astronom Jerman yang lebih terkenal dengan julukan Regiommontanus. Al ­Farghani kemudian bekerja di Mesir membangun sistem peringatan dini sungai Nil (Nilometer) pada 856 M dan wafat di Cairo.

Di bidang kimia ada Abu Musa Jabir ibn Hayyan (Leber) yang lahir tahun 721 M di Tus Kharasan, Iran dan wafat 815 M di Kufah, Iraq. Selain dikenal terutama sebagai pendiri kimia eksperimental (yang membersihkan unsur sihir dari ilmu kimia), dia juga seorang astronom, geologis, dokter dan insinyur. Dia menulis 193 buku dalam semua bidang ilmu yang dikuasainya itu.

Di bidang kedokteran ada Abu Ali Al Husayn ibn Abd Allah ibn Sina (Avicenna), yang lahir tahun 980 M di Afshana, masuk Provinsi Khorasan Raya. Ayahnya Abdullah dari Balkh, kini masuk Afghanistan; ibunya dari Bukhara, kini masuk Uzbekistan. Ibnu Sina menulis hampir 450 makalah tentang topik yang sangat lugs, termasuk 150 di bidang filsafat dan 40 terfokus pada kedokteran. Namun bukunya yang paling legendaris adalah “Qanun fit Thib” (Canon of Medicine) yang merupakan buku standard medis di Eropa hingga abad-18. Ibnu Sina wafat di Hamadan, Iran 1037 M.

Di bidang ilmu bumi ada Abu Al Rayhan Muhammad bin Ahmad Al Biruni (Alberonius) yang lahir 973 M di Kats, Khwarezm (sama seperti al-Khwarizm) dan wafat 1048 M di Ghazni, semua di Iran. Dia adalah seorang polymath yang menghasilkan banyak karya terutama di bidang ilmu bumi, tetapi juga di matematika, astronomi, anthropologi, psikologi dan kedokteran.

Pada masa rezim sekuler Syiah Iran, prestasi sains dan teknologi Iran sempat sangat terpuruk. Tetapi sejak revolusi Islam, trend-nya berbalik. Apalagi embargo yang diterapkan Amerika dan sekutunya pada Iran membuat Iran mau tak mau harus berdiri dengan kaki sendiri. Ini justru membuat prestasi Iran melonjak.

Menurut Science Metrix Report – sebuah lembaga di Inggris, pertumbuhan sains dan teknologi Iran, diukur dari jumlah publikasi ilmiah internasional dan paten teknologi, naik 1000 persen antara 1995-2004. Tahun 2008, Iran sudah menghasilkan 1.08 persen dari total output sains dunia. Iran memiliki 500 saintis per sejuta orang, yang bekerja dalam riset dan pengembangan (bandingkan dengan Indonesia yang kurang dari 50 saintis per sejuta orang). Iran adalah negara ke-9 di dunia yang berhasil membuat roket dan satelit serta meluncurkannya sendiri ke orbit. Negara sebelumnya adalah AS, Russia, Perancis, India, Israel, Cina, Jepang dan Konsorsium Eropa (ESA).

Kalau Iran sendirian dengan revolusi Islamnya saja bisa bangkit demikian, apalah lagi kalau khilafah yang bangkit dan mempersatukan potensi negeri-­negeri Muslim sedunia serta menjadi magnet bagi para saintis Muslim yang saat ini bertebaran di dunia Barat.

.

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Yang menarik dari perdebatan tersebut sebenarnya adalah adanya titik temu, dimana lahir sebuah keinginan yang sangat kuat tentang bagaimana Syariat Islam di Aceh mampu menjawab berbagai problema yang dihadapi umat Islam, khususnya masyarakat Aceh saat ini dan ke depan.

Penulis tidak mempunyai kapasitas untuk membahas persoalan Syariat Islam dan seluk-beluknya. Karena itu, tulisan ini hanya menekankan analisis pada kondisi kesejarahan dan realitas sosial umat Islam berhadapan dengan fenomena perubahan dunia yang sangat dahsyat pada abad ini, yakni modernitas, serta bagaimana umat Islam di Aceh harus menghadapinya. Kegagalan Islam menjawab tantangan yang dihadapi umatnya akan berdampak pada kegagalan umat berhadapan dengan berbagai problema yang ada seperti kemiskinan, korupsi, kerusakan lingkungan, menurunnya kualitas hidup, dan lain sebagainya. Jawaban terhadap kegagalan ini tidak lain adalah menguatnya sekularisme dan permissivme di masyarakat kita.

Islam, Modernitas dan Kita
Modernitas adalah sebuah fenomena yang pernah menggemparkan dunia yang disertai dengan berbagai kontroversi dan paradoksal yang dimulai di Barat beberapa abad yang lalu. Ia seakan memberikan harapan dan mimpi-mimpi indah bagi berjuta-juta manusia di berbagai belahan bumi untuk dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Namun, setelah berjalan cukup lama, modernisasi mengundang berbagai kritik karena ternyata tidak mampu memberikan suatu kerangka keduniawian (world view) yang lengkap yang mampu membingkai kesemestaan hidup manusia. Modernisasi tidak hanya mencerminkan suatu evolusi sejarah biasa, tetapi merupakan dekonstruksi terhadap sejarah sebelumnya. Karena itu, seluruh aspek filosofisnya, baik yang berhubungan dengan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya, menawarkan konsep kehidupan dan paradigma berbeda secara diametral dengan sebelumnya. Dengan demikian, terjadi perbedaan mendasar dalam memandang Tuhan (aspek teologis), alam sebagai wacana kosmologis hidup manusia, termasuk bagaimana memandang manusia itu sendiri.

Terhadap tiga realitas tersebut, perpektif pemikiran modern tidak lagi menempatkan dalam kerangka relasi mistis-ontologis, tetapi sudah mengarah pada pola hubungan positivistik dan fungsional. Satu hal penting terjadi dalam pemaknaan manusia terhadap realitas hidupnya, yakni tidak lagi bersandar pada postulasi-postulasi agama. Agama tidak lagi menjadi pijakan dalam menentukan orientasi sosial, tetapi lebih diarahkan menjadi persoalan pribadi manusia.

Pada zaman pertengahan (Era pramodern) kehidupan manusia (Eropa) terkungkung dalam struktur pemikiran mitologi Yunani. Tuhan, yang digambarkan dengan banyak dewa (polytheisme), merupakan zat yang membelenggu eksistensi manusia sehingga kehilangan kreatifitas dalam memanfaatkan potensi alam. Doktrin keagamaan demikian ditolak oleh pemikiran modern. Humanisme-antroposentrisme dalam pemikiran modern mengembangkan rasionalisme sebagai pembebasan manusia dari determinisme, dan menempatkan manusia sebagai kekuatan sejarah (historical force) dalam mengatasi realitas lainnya. Modernisme akhirnya mampu mendatangkan babak baru dalam sejarah manusia, yaitu renaisance yang ditandai dalam tiga hal penting. Pertama, kemerdekaan manusia. Kedua, degradasi fungsi agama. Dan ketiga, revolusi ilmu pengetahuan (Arifin, 1996).

Pada abad kedua puluh, terutama pasca Perang Dunia Kedua, gagasan modernisasi merupakan sebuah proses yang menyertai pertarungan ideologi antara Barat (kapitalis) dan Timur (sosialis/komunis). Modernisasi di abad kedua puluh yang ditandai oleh mekanisasi dan kemajuan ternologi yang menakjubkan, kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan kapitalisme. Modernisasi membutuhkan akumulasi modal, dan akumulasi modal diarahkan untuk mempercepat proses modernisasi.

Di negara-negara Dunia Ketiga, terutama negara-negara Islam, ideologi kapitalisme kemudian dapat dipaksakan masuk melalui konsep developmentalisme. Dan kondisi ini tambah menguat setelah runtuhnya komunisme di Uni Sovyet pada akhir tahun 1980-an. Dan seperti yang kita ketahui, developmentalisme atau pembangunanisme, merupakan wajah terselubung dari kapitalisme. Karena, developmentalisme sendiri kemudian menghasilkan berbagai persoalan di banyak negara berkembang, seperti korupsi, kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan. Dan ini terjadi karena sistem dunia yang tidak adil.

Dalam kondisi yang demikian, di dunia Islam termasuk di Aceh, Adie Usman Musa (2002) menyebutkan bahwa modernisme kemudian menghasilkan dua corak budaya masyarakat yang saling berlawanan, yakni: pertama, fundamentalisme; dan kedua, sekulerisme dan permissivme. Fundamentalisme merupakan sebuah paham yang mencoba menampilkan wajah radikal dalam beragama. Mereka mencoba melakukan perlawanan terhadap ideologi dominan (kapitalisme/modernisme) dengan cara melakukan penolakan, baik secara simbolik maupun dengan pemurnian ajaran agama (purifikasi). Bukan hanya dalam Islam, fundamentalisme juga terdapat dalam agama Kristen di Barat, dan beberapa gerakan spiritual seperti di Jepang. Nah, oleh Amerika dan sekutunya, kekuatan Islam radikal inilah yang kemudian diidentifikasi sebagai kelompok terorisme pasca tragedi 11 September tahun lalu dengan label Jamaah Islamiah. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar tentunya.

Sementara masyarakat sekuler dan permissif adalah sebuah masyarakat yang larut dalam proses modernisasi yang berpandangan bahwa hidup ini serba boleh. Tidak ada aturan apapun (terutama agama) yang boleh mengikat mereka. Paham yang bersumber dari filsafat Cartesian ini tumbuh subur dalam masyarakat Barat yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Jadi persoalan sosial seperti free sex, khalwat, zina, pornografi, dan sebagainya bukanlah suatu masalah. Nah, dalam kondisi yang seperti inilah kita—umat Islam di Aceh khususnya—berada.

Kemiskinan Sebagai Ketidakadilan Sosial
Setelah sekian lama terpuruk dalam keterbelakangan dan kemiskinan, serta sekian lama berada dalam konflik berkepanjangan, masyarakat Aceh menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, yakni bagaimana mampu bangkit menjadi umat yang bermartabat. Dalam konteks ini, modernitas sudah menawarkan berbagai kemudahan hidup di satu sisi, dan menciptakan ketidakadilan dan kemiskinan di sisi lain, terutama kemiskinan moral dan ruhani. Sementara Islam sebagai rahmatan lil’alamin menawarkan kekayaan ruhani, tetapi gagal menurunkan dimensi tauhid kedalam realitas keseharian hidup kita. Akhirnya, Syariat Islam yang diberlakukan di Aceh saat ini pun hanya mampu menyentuh wilayah pinggiran, dan gagal menangani ketidakadilan sosial dalam masyarakat Islam.

Sebenarnya, Islam mengakui adanya deferensiasi dan bahkan polarisasi sosial yang berujung pada adanya ketidaksamaan sosial, kemiskinan, dan keterbelakangan. Al-Qur’an melihat fenomena ketidaksamaan sosial ini sebagai sunnatullah, sebagai hukum alam, sebagai realitas empiris yang ditakdirkan kepada dunia manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang memaklumkan dilebihkannya derajat sosial, ekonomi, atau kapasitas-kapasitas lainnya dari sebagian orang atas sebagian yang lainnya.

Kendatipun demikian, ini tidak dapat diartikan bahwa Al-Qur’an mentoleransi social-inequality. Mengakui jelas tidak sama dengan mentoleransi. Sebaliknya, Islam justru memiliki cita-cita sosial untuk secara terus-menerus menegakkan egalitarianisme. Realitas sosial empiris yang dipenuhi oleh fenomena diferensiasi dan polarisasi sosial, oleh Al-Qur’an dipandang sebagai ajang riel duniawi tempat setiap muslim akan memperjuangkan cita-cita keadilan sosialnya. Keterlibatannya dalam perjuangan inilah yang akan menentukan kualitasnya sebagai khalifatullah fil‘ardh. Dengan demikian, Islam menghendaki adanya distribusi kekayaan dan kekuasaan secara adil bagi segenap lapisan sosial masyarakat. Dalam banyak perspektif, Islam juga mengedepankan peran untuk mengutamakan dan membela gologan masyarakat yang tertindas dan lemah seperti kaum dhu’afa dan mustadh’afin (Kuntowijoyo, 1991).

Menjawab Tantangan Umat
“Bisakah Syariat Islam menjawab berbagai problema yang dihadapi umat di Aceh saat ini?”, adalah pertanyaan yang paling relevan untuk diajukan. Bukan bermaksud menggugat atau menolak Syariat, melainkan mendorong bagaimana Syariat menjadi historis, yakni mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat Aceh dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan di masa yang akan datang. Persoalannya adalah tidak mudah manangani berbagai tantangan tersebut, terutama masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan sebagainya di Aceh saat ini.

Dalam konteks pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut, yakni pertama melalui formalisme Islam dengan sistem syariat yang mampu mengatur berbagai persoalan hidup masyarakat yang terwujud dalam bentuk Qanun-qanun. Artinya, berbagai peraturan yang diatur dalam qanun-qanun di Aceh harus mampu menyentuh berbagai persoalan sosial masyarakat, termasuk masalah korupsi, ketidakadilan, dan ketidaksamaan sosial. Ini tentu akan menjadi tantangan bagi semua pihak, terutama para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat Aceh bagaimana bisa mendorong perubahan tersebut dengan kekuatan syariat Islam.

Kedua, perlu ada sebuah proses transformasi sosial dalam masyarakat Islam di Aceh untuk membongkar kepura-puraan dalam beragama. Syafi’i Ma’arif (1997) berpendapat bahwa transformasi ini harus dilakukan dengan membongkar teologi klasik yang sudah tidak relevan lagi dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat karena terlalu intelektual spekulatif. Pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan ummat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik, ekonomi, sosial, iptek, dan budaya. Orang yang tidak berdaya tapi ingin memberdayakan masyarakat tidak pernah akan berhasil. Tingkatnya hanya tingkat angan-angan. Umat yang terlalu banyak berangan-angan tapi tidak berdaya adalah beban Islam dan beban sejarah.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an menyuruh kita bercermin kepada yang kongkret, kepada yang empirik, sebab di sana juga terdapat ayat-ayat Allah, yakni ayat-ayat kauniyah. Karenanya, suatu sistem teologi yang terlalu sibuk mengurus yang serba ghaib dan lupa terhadap yang kongkret tidak akan pernah menang dalam kompetisi duniawi. Padahal, kejayaan di dunia dibutuhkan untuk menggapai kejayaan di akhirat. Kalau syariat Islam tidak mampu menangkap tantangan ini, maka modernitas yang sudah lama menyentuh Aceh akan melahirkan wajah-wajah masyarakat yang sekular dan permissive (serba boleh) di satu sisi, dan akan memperbesar polarisasi sosial, kemiskinan, dan keterbelakangan di sisi lain. Pada akhirnya, modernitas akan memaksa masyarakat Aceh untuk tidak lagi bersandar pada ajaran agamanya.

Sistem pendidikan mazhab sunni seperti PESANTREN mundur karena mengalami kejumudan intelektual berupa keterbelakangan sainsdan teknologi akibat gagal mengeksplorasi kekuatan intelektual dan ilmu pengetahuan rasional

.

Islam sunni tengah menuju masa depan yang tak punya arah karena TERBELAKANG dibidang ekonomi – pendidikan – sosial dan sains padahal peradaban modern berlandaskan pada iptek dan rasionalitas

.

Pertanyaan ini muncul dalam benak saya semenjak masih remaja. Pada saat itu sebuah jawaban yang singkat saya dapatkan bahwa terbelakangnya masyarakat muslim merupakan akibat dari dijauhkannya mereka dari sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits. Karena al-Qur’an sudah membahas segala hal yang ada dalam kehidupan dan tidak ditinggalkan satu hal pun juga. Hadis juga memberikan keterangan lebih lengkap tentang permasalahan yang ada. Kalau al-Qur’an dan Hadis sudah cukup menjawab kenapa juga sampai saat ini kemajuan masyarakat muslim belum terjadi? Bukankah dari semenjak dulu al-Qur’an dan Hadis sudah dijalankan? Al-Qur’an dan Hadis katanya belum dijalankan, ia hanya menjadi bacaan dan wacana saja, benarkah masyarakat muslim seperti itu? seperti apa seharusnya al-Qur’an dan Hadis dijalankan? Semakin saya mencari tau apa yang ada dalam a-Qur’an dan Hadis semakin saya belum menemukan jawabannya.

Perkembangan politik di dunia Islam merupakan hal yang juga menarik untuk menjawab pertanyaan ini. Pada saat saya bersekolah di tingkat menengah atas, perkembangan politik di dunia Islam juga menarik hati saya dan berkata bahwa penyebab masyarakat muslim terbelakang karena mereka tidak menjalankan al-Qur’an dan Hadis sebagai syariat. Saat itu saya bersimpati dengan gerakan Taliban dan selalu memanjatkan do’a-do’a untuk kemenangan para mujahidin menegakan hukum Allah di muka bumi. Saya merasa bahagia saat Erbakan terpilih jadi perdana menteri. Saya merasa sangat marah dengan dibantainya kaum muslim di Bosnia-Herzegovina dan mengutuk Serbia yang nota bene beragama Kristen. Keinginan untuk menjadi martir yang syahid membela Islam menggelegak di dalam dada. Sebagai langkah awal saya harus tahu lebih dalam apa itu al-Qur’an dan Hadis dan menjadikannya Way of Live dalam keseharian. Karena itulah memasuki Perguruan Tinggi Islam merupakan pilihan saya meneruskan studi.

Saat memasuki memasuki Perguruan Tinggi Islam saya justru melupakan pertanyaan ini. Saya tenggelam dalam melautan luasnya pandangan dan pemahaman tentang Islam bahkan a-Qur’an dan Hadis itu sendiri. Masyarakat muslim yang saya pahami bukan sekedar masyarakat yang jauh dari pelupuk mata. Masyarakat muslim yang saya pahami belakangan ini merupakan masyarakat muslim yang saya menjadi bagian dari mereka. Mereka adalah saudara-saudara saya di kampung, tetangga saya di komplek, teman di tempat kerja, perempuan-perempuan yang saya dampingi, relasi saya berdiskusi baik di forum real maupun media maya di seluruh Indonesia yang semuanya berkaitan dengan identitas saya sebagai seorang muslim Indonesia.

Masyarakat muslim Indonesia yang mayoritas jumlahnya di negri ini ternyata mengidap permasalahan akut. Permasalahan akut yang mengakibatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diukur dari harapan hidup (hidup yang sehat dan panjang umur), melek huruf, pendidikan dan standar hidup begitu rendah. Indonesia hanya mampu berada pada indeks IPM 0,734 berada pada peringkat 111 dari 182 negara di Dunia. Bahkan untuk Negara ASEAN, Indonesia di nomor urut 6 dari 10 negara ASEAN. Penduduk miskin Indonesia tahun 2010 menurut BPS ini mencapai 17,8 % sedangkan menurut Bank Dunia mencapai 49 %. Sekali lagi penduduk yang miskin, angka harapan hidup dan pendidikan yang rendah, dan standar hidup yang juga bawah mayoritas merupakan masyarakat muslim Indonesia.

Dari semua peradaban diatas planet ini, sains dan teknologi sangat lemah di negara negara islam sunni alias mengalami keterbelakangan intelektual. Selain itu adalah ketidak jelasan konsep agama dan negara didalam mazhab sunni.  Ini merupakan ancaman paling serius bagi masa depan Islam. Bukankah Islam juga mencakup negara ???

Stagnasi ilmu pengetahuan dan intelektual dalam mazhab sunni disebabkan oleh anggapan sbb :

1. Anggapan Dunia tetap dan tidak berubah, jadi tidak perlu ada ide berubah

Ciri ciri paham ini ditandai dengan :

– finalitas kitab kuning

– menganggap diri berpengetahuan agama tinggi

– finalitas ajaran ulama abad pertengahan

Paham ini menghalangi ide perkembangan padahal kita berada dalam kondisi modernitas dan globalisasi

2. Anggapana bahwa kemampuan mazhab mereka mencukupi diri sendiri.

Mereka menganggap sunni tidak membutuhkan sisitem filsafat mazhab syi’ah imamiyah apalagi filsafat BARAT

Ketika seorang sunni memikirkan ilmu pengetahuan maka ilmu tersebut adalah untuk hidup, sementara ketika seorang BARAT berpikir tentang ilmu pengetahuan maka pengetahuan tersebut adalah untuk kekuasaan.

Maka jangan heran jika banyak ilmuan muncul di Indonesia, tetapi Islam sunni tetap terbelakang !!!!

Akibat paham ini, maka sunni mengalami pencapaian pasif dibidang ilmu pengetahuan sehingga tidak mampu memecahkan semua problem modern yang dihadapi umat islam…

Umat Islam Terbelakang akibat Ajaran yang Salah

21  oktober 2007

Umat Islam mudah ditindas dan ditaklukkan dalam perang. Hal ini karena pengajaran agama yang salah telah membuat mereka terbelakang. Penderitaan yang dialami umat Islam di seluruh dunia adalah akibat kesalahan sendiri, dan terorisme bukanlah cara untuk menyelamatkan Islam.Menurut Mahathir, hal itu bukan karena Allah telah meninggalkan kaum Muslim, tapi karena mereka tak berusaha mengejar kemajuan dunia dalam bidang pengetahuan dan kemampuan untuk memproduksi senjata
.
“Umat Islam juga tak berusaha memiliki angkatan bersenjata yang disiplin dan terlatih untuk pertahanannya,” ujar Mahathir. Banyak kaum Muslim yang menganggap para pelaku peledakan bunuh diri Palestina sebagai martir (pahlawan yang mati syahid).
“Tapi tak ada penghargaan diberikan kepada orang-orang yang mempelajari ilmu pengetahuan, matematika, teknologi, dan lain sebagainya, yang sangat penting bagi pembangunan kemampuan pertahanan negara-negara Islam,” papar Mahathir
.
Mahathir, yang mengkritik serangan pimpinan Amerika Serikat ke Irak tapi mendukung AS dalam perang melawan terorisme, baru-baru ini menuduh Barat memanfaatkan serangan 11 September 2001 di New York dan Washington untuk membenarkan cara-cara kekerasan yang sudah ketinggalan zaman.Mahathir juga mengatakan, serangan bom bunuh diri bukanlah cara untuk membangun kembali kejayaan Islam. “Keselamatan tak akan tercapai dengan cara membunuh orang-orang yang tak berdosa. Lebih baik kita menyusun rencana dan melaksanakannya, untuk menjadi yang terbaik di segala bidang.” Ajaran yang salah Di hadapan sekitar 800 ulama Islam peserta konferensi, yang datang dari 35 negara, Mahathir menyatakan, sebagian pemimpin agama telah membuat umat Islam sekarang bingung, terpecah-belah, serta tak mampu mengikuti perubahan-perubahan dunia.”Satu-satunya yang boleh dipelajari hanyalah bidang-bidang yang berkaitan dengan agama Islam
.
“Sekarang kita, umat Islam yang berjumlah 1 miliar jiwa, masih jauh dari posisi sebagai sebuah kekuatan dunia. Umat Islam bahkan dengan mudah ditindas oleh kaum non-Muslim, dengan mudah dikalahkan dalam perang, dan terpaksa menerima kekuasaan dan hegemoni asing.”
.
“Satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik dari takdir menyedihkan kaum Muslim adalah bahwa mereka tidak mempraktikkan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Juga, bahwa agama Islam yang mereka peluk telah ditafsirkan secara salah,” papar Mahathir
.

Sistem yang dirindukan adalah sistem politik Islam yang mengkamodir ulama dalam pemerintahan seperti Iran !

Singkatnya, pilihlah ulama sebagai pemimpin atau pemimpin yang menyatakan komitmen menjadikan ulama sebagai rujukan kebijakannya.

ULAMA SYi”AH :

  1. Presiden Iran tidak mesti harus bertitel ulama, akan tetapi harus berkomitmen menjadikan ulama sebagai rujukan dalam setiap kebijakan, Presiden harus menyatakan komitemen menjadikan ulama sebagai rujukan kebijakannya
  2. Sistem politik iran mengakomodir ulama dalam pemerintahan
  3. Salah satu tujuan politik syi’ah adalah untuk menjamin terlaksana nya ajaran islam secara kaffah sebagai estafet tugas Rasulullah SAW agar cahaya Islam tidak sampai padam oleh zaman
  4. Ulama syi’ah mengambil kebijakan dan keputusan, sementara Presiden bertugas menjalankan . Presiden boleh berinovasi dengan berbagai ide, namun harus sesuai dengan islam dan direstui ulama. Artinya ULAMA tetap pada posisi nomor SATU. Keharusan pro ulama dilakukan PEMERiNTAH !

ULAMA SUNNi :

Sebagian besar ulama sunni berlindung dibalik kekuasaan pemerintah sehingga akomodatif terhadap praktek politik yang tidak sehat non islam…

para ulama hanya berkutat dengan mengajar di dayah, menjadi imam shalat di gampong-gampong, mengurus jenazah, memimpin takziah, ceramah dan berbagai aktifitas lainnya yang menjauh dari pemerintah.

Bila tujuan politikulama sunni hanya dipahami sebatas menguasai jabatan pemerintahan dengan kondisi politik hari ini, maka kemungkinan besar akan membenarkan ungkapan politik tidak baik untuk ulama. Sebab, sistem politik yang sedang berlangsung selama ini terlihat tidak sehat. Sehingga, bukan tidak mungkin kalau para pemenang dalam sistem politik ini akan melahirkan koruptor dan pencuri baru. Dan, bukan mustahil juga bila teungku yang masuk dalam sistem politik ini akan terbawa arus.

Seperti diungkapkan ulama sunni Aceh, Prof Dr H Muhibuddin Waly, ulama saat ini di mata pemerintah hanya sebatas untuk dihormati, dicium tangannya hingga disuruh baca doa di setiap acara. Padahal, ulama justru pengambil kebijakan dan keputusan, sementara umara bertugas menjalankan. Pemerintah boleh berinovasi dengan berbagai ide, namun harus sesuai dengan Islam dan direstui ulama. Artinya, ulama tetap pada posisi nomor satu.

Kritik serupa juga pernah disampaikan ulama sunni Aceh lain, Tgk H Nuruzzahri (Waled Nu). Menurut Waled, pemerintah saat ini hanya membutuhkan ulama saat terjepit masalah.

Kualitas ulama sunni tidak relevan dengan tantangan zaman, makanya mereka ditinggalkan kaum sekuler !!! Jika mutu kurang maka anda ditinggal..

Para ulama pun tidak seharusnya terus menerus berdiam diri terhadap praktik politik yang menghalalkan segala cara demi tujuan tertentu. Para ulama harus membuktikan bahwa islam mencakup negara !

Mengapa Tak Ada Satupun Negara Islam ( kecuali Iran ) Yang Tergolong Negara Maju?. Pertanyaan yang cukup sensitif, terutama bagi kaum Muslimin. Tapi, percayalah bukan cuma saya yang memikirkan hal itu, dan memang inilah kenyataannya. Mari kita lihat peta di bawah ini yang menunjukkan pembagian daerah-daerah negara miskin, berkembang, dan maju (Berdasarkan IMF pada tahun 2008).

negara maju dunia

Biru Muda: Negara maju
Orange: Negara Berkembang
Merah Kecoklatan: Negara Miskin

Organisasi seperti Bank Dunia, IMF, dan CIA, biasanya setuju bahwa sekelompok negara maju termasuk:

Anggota Uni Eropa:
Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luxemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Britania Raya.

Negara non-UE:
Andorra, Islandia, Liechtenstein, Monako, Norwegia, San Marino, Swiss, Vatikan.

Negara bukan Eropa:
Australia, Kanada, Korea Selatan, Hong Kong, Israel, Jepang, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat.
Dari peta diatas, tidak ditemukan satupun negara Islam ataupun negara bermayoritas penduduk Muslim bukan?, justru yang banyak adalah negara Islam yang miskin terutama di daratan Afrika. Perlu diketahui, beberapa negara telah mencapai GDP tinggi melalui eksploitasi sumber daya alam (seperti Nauru melalui pengambilan fosfor dan Brunei Darussalam melalui pengambilan minyak bumi) tanpa mengembangkan industri yang beragam, dan ekonomi berdasarkan-jasa tidak dianggap memiliki status ‘maju’. Kebanyakan negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, adalah negara kaya tetapi bukan negara maju, kerena Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata.

Hingga saat ini Iran disebut-sebut sebagai negara Islam yang paling maju terutama dalam bidang Sains diantara negara-negara Islam lainnya. Tapi negara inipun masih belum juga diakui sebagai salah satu negara maju (secara keseluruhan), diantara negara-negara lain di dunia. Sedangkan Israel, yang masih dalam kontroversi (karena wilayahnya yang merupakan hasil rampasan dari wilayah Palestina), sudah mendapat pengakuan dan predikat sebagai salah-satu negara maju di dunia.

Sekarang, apakah menjadi negara maju itu harus?. Sebagian besar dari kita pasti menjawab “Ya”. Tapi, coba kita lihat sekali lagi, apakah Islam itu cocok untuk kehidupan masyarakat negara maju seperti Jepang ataupun Amerika Serikat?—Yang notabene adalah negara super power yang saat ini memengang kendali Dunia. Saya rasa “Tidak Terlalu”. Ya, kenapa saya berpendapat demikian?.

Lihatlah kehidupan warga negara Amerika Serikat yang begitu bebas, termasuk untuk perilaku seks bebas (yang menimbulkan HIV-AIDS). Dan saat ini, ada 14 negara bagian di AS yang melegalkan marijuana, yaitu: Alaska, California, Colorado, Hawaii, Maine, Maryland, Michigan, Montana, Nevada, New Mexico, Oregon, Rhode Island, Vermont dan Washington.

negara maju di barat

Atau kehidupan warga negara Jepang yang dikenal sebagai pekerja keras, memiliki penanganan medis yang sangat baik, dan standar hidup yang tinggi, yang membuat mereka memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Tapi, ketahuilah kebanyakan dari mereka hidup penuh tekanan, hal ini dapat dilihat dari predikat Jepang yang merupakan salah-satu negara dengan tingkat kasus bunuh diri paling tinggi di dunia.

jepang negara bunuh diri tertinggi

Di bawah ini, adalah peta yang menunjukkan pembagian negara-negara berdasarkan jumlah kasus bunuh dirinya:

kasus bunuh diri negara maju

Rata-rata kasus bunuh diri:
Merah: di atas 13
Kuning: 6.5-13
Biru Tua: kurang dari 6.5
Abu-abu: Tidak ada

Apa gunanya angka harapan hidup yang tinggi, kalau banyak yang bunuh diri karena tekanan hidup yang berlebih?.

Seperti yang kita ketahui, bagi kita umat Islam, bunuh diri ataupun mencoba bunuh diri merupakan salah satu dosa yang paling besar di hadapan Allah Swt. Dan lihatlah negara-negara mayoritas penduduk Islam, di daerah Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika, hampir tidak tercatat adanya kasus bunuh diri disana.

Selain itu, negara-negara maju juga sudah melegalkan perjudian maupun minuman beralkohol di negaranya. Di negara maju yang super sibuk, tentu memiliki jam kerja yang begitu padat hingga larut malam, dan mereka hampir tidak memiliki waktu istirahat (mungkin termasuk untuk Shalat). Bahkan saat ini, di Italia (dan mungkin dinegara-negara maju lainnya), muncul sebuah kebijakan “aneh” yaitu, melarang para pekerja Muslim untuk berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan keseahatan (Larangan tersebut dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia. Mereka mengharuskan pekerja di ladang, termasuk Muslim, untuk tetap makan dan minum selama Ramadhan). Dan bagi mereka yang melanggar, dipecat adalah konsekuensinya.

Alkohol merupakan salah satu penyebab utama tindakan kriminal (Bahkan sudah dijelaskan dalam sebuah kisah Islami, bahwa alkohol bisa membuat seseorang nekad untuk memperkosa dan lalu membunuh). Karena legalitas dari alkohol di negara-negara maju. maka inilah hasilnya:


Secara perhitungan “kasar”, negara-negara maju seperti, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Jepang berada di enam teratas, sebagai negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia (Meskipun tidak semua tindak kriminalitas dinegara-negera maju tersebut merupakan kejahatan yang disebabkan oleh minuman beralkohol). Dan anda tidak akan menemukan negara Islam sampai urutan ke 32 (Turki). Dan hanya beberapa negara Islam yang masuk dalam 82 negara dalam daftar tersebut.

Jadi, apakah kehidupan penduduk di negara maju saat ini, bisa berjalan sesuai syariat Islam?. Mungkin dulu ya, tapi sekarang tidak. Coba bandingkan kehidupan kita dengan orang-orang di barat sana. Mengapa dinegara kita yang masih banyak terdapat orang-orang muslim yang taat beribadah, justru tertinggal dari meraka (orang barat) yang hidup penuh kebebasan dan sangat jauh dari syariat Islam, tapi mereka berhasil mendirikan negara-negara yang maju.

Tapi, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, kejayaan Islam akan bangkit kembali dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Namun, “Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

Mungkin saja kita sedang dalam masa kembalinya Islam, siapa tahu? Wallah hu Alam, kiamat semakin dekat bukan?, dan saat itu, sudah tidak ada lagi orang-orang yang beriman alias kaum Muslimin. Berdasarkan hadits-hadits shohih, Nabi Muhammad Saw. Sebelum kiamat terjadi, tanda-tanda besar akan bermunculan, ketika kiamat sudah dekat sekali (seribu tahun mungkin dianggap dekat, mengingat sejarah bumi yang begitu panjang). Maka Allah Swt, akan mendatangkan sebuah angin sejuk yang menyebabkan setiap orang beriman menemui ajalnya saat tersentuh angin tersebut. Sebab Allah Swt, tidak akan mengizinkan kiamat terjadi ketika masih ada kaum beriman di muka bumi walau hanya seorangpun.

Saya samasekali tidak bermaksud, membuat anda berfikir bahwa “Islam merupakan penghalang suatu negara untuk maju di jaman yang modern ini”. Tapi, yang ingin saya tekankan adalah “Apa yang baik di mata manusia belum tentu baik di hadapan Allah Swt.”, dan “Tak mengapa miskin di dunia, asalkan tak miskin di Akhirat”. Bukankah seseorang yang “ndeso”, miskin, berkulit hitam, dan berbibir tebal sekalipun, akan lebih baik di hadapan Allah Swt, ketika ia memiliki keimanan yang teguh kepada-Nya. Daripada seseorang (ilmuwan sekalipun) yang mendapat puja dan puji karena kecerdasannya, kaya raya, modern, atau berpenamplian sangat menarik, tetapi ia tidak percaya akan adanya Tuhan, yaitu Allah Swt. Dan bukan berarti saya menganggap miskin itu lebih baik dan menjadi kaya dan maju itu adalah buruk. Karena miskin dan kaya itu relatif (tergantung dari sudut pandang apa kita melihatnya).

Agnes Monica sang Nasrani dipuja puja para remaja muslim karena mengajarkan “cinta” melalui lagu lagu dan sinetron…

Akibat kelakuan para artis maka anak anak Jamal Mirdad yang ikut agama ibunya dianggap sah sah saja…

perkawinan antar agama oleh para artis kini seolah hal hal biasa saja..

Atas nama cinta para artis maka agama menjadi rusak…

Ulama sunni diam karena kualitas mereka dan pengaruh mereka tidak relevan dengan tantangan zaman…

Siti Nurhaliza dengan bebas bisa memamerkan aurat disebuah negara yang mengklaim dirinya Islam…

Para ulama Malaysia terdiam dan menikmatinya…

Ujung ujungnya malah syi’ah yang dikejar kejar dan dituduh sesat…

Wow ! Artis dianggap lebih suci daripada mazhab ahlulbait !

…………..

fatwa ulama Indonesia – Malaysia tak ubahnya seperti khotbah-khotbah semata, yakni didengar ketika khotbah berlangsung namun tidak dilakukan ketika khotbah itu selesai.

Apa faktor yang menyebabkan fatwa ulama itu tidak efektif? Faktornya adalah, pertama, Indonesia bukan negara para ulama, mullah atau negara yang berdasarkan hukum Islam. Bila negara yang mengacu ulama sebagai sumber hukum maka ucapan-ucapan para ulama itu menjadi hukum positif sehingga implementasinya di bawah dilaksanakan oleh aparat dengan ketat. Misalnya di Iran, ulama atau mullah sebagai salah satu sumber hukum maka fatwa-fatwa yang dikeluarkan akan dijalankan oleh aparat penegak hukum, dan yang terbukti melanggar akan dikenakan sanksi.

Di Indonesia secara keseluruhan menerapkan hukum didasari atas kesepakatan antara pemerintah dengan DPR, sehingga dimensi hukum yang ada tidak hanya dilandasi oleh faktor yang hanya mengedepankan moral (agama) semata namun juga aspek lainnya. Hukum inilah yang dijadikan pegangan dan rujukan. Bila ada permasalah hukum, yang dijadikan dasar penyelesaian harus mengacu pada tata urutan hukum yang ada, bukan mengacu pada fatwa. Sehingga sehebat apa pun fatwa, ia tidak bisa dijadikan acuan hukum.

Kedua, sebab Indonesia negara yang hukumnya tidak mengacu pada ulama, maka fatwa yang dikeluarkan itu sering saling negasi dengan hukum formal. Ketika salah satu organisasi keagamaan mengeluarkan fatwa haram merokok, fatwa itu sepertinya tidak membuat perokok berhenti merokok. Faktornya, secara hukum formal, misalnya peraturan daerah (perda) menyatakan tidak akan memberi sangsi perokok bila ketahuan merokok, hanya mengatur tempat merokok saja. Selain itu, pemerintah sendiri tidak melarang peredaran rokok dan iklan rokok. Jadi di sini ada hubungan yang saling menegasi antara fatwa dengan hukum formal. Kemudian perokok merasa bahwa fatwa tidak akan menjerat dirinya bila dirinya melanggar fatwa. Perokok merasa hukum formallah yang bisa menindak dirinya.

Ketiga, fatwa yang dikeluarkan oleh ulama biasanya melihat dari satu sisi semata, yakni sisi negatifnya saja. Akibat dari melihat dari sisi negatifnya saja maka sisi positif yang ada menjadi hilang. Misalnya saja ketika Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa facebook adalah haram. Alasan yang digunakan para ulama yang adalah Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulama besar. Tentu apa yang dinyatakan yang hanya melihat dari sisi negatif penggunaan facebook, sementara sisi positifnya tidak dilihat.

Akibat dari penilaian secara sepihak, maka diantara ulama sendiri terjadi ketidaksepakatan dalam soal fatwa. Ketua MUI, H Amidhan, dalam masalah ini pernah mengatakan, ulama-ulama dari Jawa Timur tersebut tidak termasuk dalam wadah MUI pusat dan dalam masalah facebook, H Amidhan menyatakan, haramnya konten dalam facebook berbeda dengan haramnya babi. Sementara Ketua MUI Kalimantan Selatan Prof H Asywadie Syukur Lc berhati-hati dalam menyatakan keberadaan facebook itu boleh atau tidak.

Keempat, fatwa dari ulama tidak menimbulkan efek jera atau tidak efektif karena ada kecurigaan bahwa fatwa yang ada merupakan sebuah pesanan dengan imbalan dana kepada ulama. Tentu MUI tidak akan mengeluarkan fatwa tentang soal hemat energi bila tidak didekati oleh KESDM. Tentu KESDM tidak datang dengan tangan hampa, pastinya ada hal-hal yang dijanjikan buat MUI ketika keputusan yang mendukung program KESDM difatwakan.

Demikian pula soal fatwa haram merokok, lembaga yang mengeluarkan fatwa itu disebut-sebut menerima dana dari organisasi internasional yang bergerak di bidang anti rokok. Di sini menunjukkan bahwa ulama tidak tulus dan ikhlas ketika mengeluarkan fatwa

.
“Maka apakah mereka tidak melakukan “Nazhor” (memperhatikan) unta, bagamana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gemunung, bagaimana mereka ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan?
Q.S. Al-Ghaasyiyah: 17-20

Bagaimana perasaan Anda, jika mengetahui sedikit informasi tentang alam semesta dari seorang ilmuwan? Misalnya, ia mengatakan bahwa alam semesta asalnya hanya sebuah materi yang berada pada volum titik nol (ketiadaan), kemudian terjadi dentuman besar (big bang) sehingga langit dan bumi terpisah seperti yang kita saksikan sekarang. Galaksi yang kita huni ini sebetulnya hanyalah bagian kecil—jika tidak mengatakannya seperti debu—dari miliaran bintang gemintang dan planet-planet lainnya di tatar jagat raya. Langit yang senantiasa memayungi kita tanpa tiang ini pun sebetulnya terus mengembang menjauhi bumi dengan kecepatan tinggi.

Ilmuwan itu juga mengatakan, bahwa matahari sebagai pusat garis edar Bumi pun mempunyai garis edaranya, di mana ia berputar di jalurnya mengelilingi pusat edar. Di luar angkasa juga ada sebuah lubang hitam (black hole: bintang mati), dimana daya hisap gravitasinya sangat besar, sampai-sampai mampu menghisap dirinya sendiri dan benda yang bergerak didekatnya sebesar dan secepat apapun. Dan Ia juga mengatakan, Ratusan, ribuan, bahkan jutaan miliar benda planet yang ada di luar angkasa berjalan pada garisnya masing-masing, tidak berkeliaran dengan bebas, sehingga antar bintang dan planet tidak saling betabrakan.

Selain tentang luar angkasa, bagaimana jika Anda mengetahui sedikit Informasi tentang Bumi dari ilmuwan pula. Bahwa, daratan yang ada di Bumi, di mana gunung-gemunung ditancapkan di atasnya, itu senantiasa bergerak—melaju bukan bergetar—kendati sangat lambat. Juga, laut yang terdiri dari jutaan miliar liter air. Itu tidak semua airnya bercampur. Seperti gelas yang berisi air manis dan air tawar. Kedua airnya tidak menyatu, dari satu sisi kita merasakan airnya tawar, dari
sisi lain airnya manis, padahal kedua air itu menempati gelas yang sama. Seperti analogi itu, air laut pun benar-benar ada yang terpisah. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa kendati air di laut dalam satu wadah, namun airnya itu berkelompok-kelompok (tidak campur).

Juga, di dalam dedaunan dari tetumbuhan, itu ada unsur apinya. Yakni setiap zat hijau daun (klorifil) itu menyimpan energi panas yang dipancarkan matahari melalui proses fotosintesis. Dan, awan-gemawan yang hilir mudik di langit itu mengangkut jutaan bahkan miliar liter air, yang suatu saat akan ditumpahkannya kebumi menjadi hujan. Dan, Tahukah Anda ? alam semesta yang secara indrawi sangat besar ini. sesungguhnya semua itu hanya partikel-partikel yang sangat kecil terdiri dari atom atau molekul.

Sekali lagi, bagaimana perasaan Anda mengetahui informasi—tepatnya pengetahuan—itu dari seorang ilmuwan terkemuka zaman sekarang? Percaya atau tidak? Subjektivitas saya, kalau ilmuwan terkemuka yang mengatakannya, akan banyak orang yang percaya.

Lalu, bagaimana kalau Anda mengetahui pengetahuan itu dari seorang manusia yang bukan ilmuwan, tidak pernah sekolah, bahkan ia juga tidak pandai membaca dan menulis (ummy) pada abad ketujuh. Dia menceritkan kejadian-kejadian itu berdasarkan pengetehuan yang diperolehnya dari kitab suci al-Quran pada abad ke-7, dimana pengetahuan manusia pada ilmu alam sangat terbatas, bahkan belum sampai pada hal-hal yang disebutkan tadi.

Sekarang yang jadi pertanyaan bukan pada seorang ummy itu. Meleinkan apa yang disampaikan al-Quran itu. Percayakah Anda apa yang disampaikan al-Quran itu ucapan manusia? Merasa takjubkah Anda sebuah Kitab telah “bercerita” tentang ilmu pengetahuan modern yang ditemukan baru-baru ini dengan berbagai perabot canggih, tapi Kitab itu sudah menyinggungnya pada abad ke-7?

Anda berhak menjawabnya, sesuka Anda.
***
Mengimani seluruh ayat-Nya

Saat al-Quran diturunkan, manusia tidak mengerti sama sekali tentang ilmu alam—kalau pun ada—hanya samara-samar dan masih sangat terbatas. Maksudnya, ilmu tentang alam semesta yang dimiliki manusia saat itu, pengetahuannya belum sampai menemukan apa-apa yang telah di ungkapkan al-Quran. Dan, barulah sekitar abad lima belas ke sini, para ilmuwan mencapai puncaknya dalam pengetahuan tersebut. Sehingga, ayat-ayat “kauniyah” (ayat yang menceritakan tentang alam semesta), beberapa kebenarannya mulai terbukti melalui penemuan-penemuan mereka.

al-Quran adalah Kitabnya umat Islam. Seharusnya yang pertama kali bisa mengungkap “rahasia alam semesta” dalam pandangan “sains modern” itu orang Islam. Sejatinya, jika Muslim memang mengerti dan “membaca” al-Quran, walaupun ia tidak bisa mengungkap alam semesata, minimal ia tahu tentang kejadian itu secara garis besar. Sebagaiamana al-Quran menginformasikannya.

Di sini, sepertinya kita sebagai muslim harus berpikir sejenak. Betulkah kita sudah “membaca” seluruh ayat al-Quran? Yakinkah bahwa al-Quran itu sebagai “pedoman” sekaligus sebagai “induknya pengetahuan”? al-Quran memang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kehidupan. Namun, kita jangan hanya membidik ayat-ayat tentang ubudiyah saja, apalagi ayat itu untuk menyerang sesama saudara Muslim. Salah besar jika al-Quran hanya pedoman ritual ibadah saja. Sebab, selain ayat tentang ibadah, akidah dan tauhid, al-Quran juga menyajikan ayat-ayat ‘kauniyah’. Yaitu, ayat-ayat yang menjelaskan atau menceritakan tentang alam semesta, sifat, sikap, dan gejalanya.

Sebagai “pembaca” kitab suci Islam, tidaklah baik mengimani sebagian ayat dan mengacuhkan bahkan tidak menganggap penting ayat yang lainnya. Sebab Allah SWT menceritakan tentang “kauniyah” di dalam al-Quran, tentu saja agar hal itu diyakini kebenarannya dan dipikirkan kejadiannya. Al-Quran beberapa kali mengatakan “ulul al-bab, ulul al-abshar, …tafakkarun, … ta’qilun, … tadabbarun, … dll”, semua kata itu mempunyai konotasi yang sama, yakni Penggunaan akal”. Yang esensinya, betapa hamba Allah harus memahami betul-betul ayat-ayat Allah. Karena, pada ungkapan itu Allah cenderung menyinggung “pikiran” dari pada “hati”. Artinya, tentu saja agar kita bisa memahami kehidupan (alam semesta), bukan sekadar melihat dan merasakan keindahannya.

Dalam beberapa tempat Al Qur’an memberikan Isyarat Ilmiah yang kebenarannya telah dibuktikan oleh sains modern Abad 20. Sehingga bisa dikatakan bahwa ia adalah dalil terbesar akan kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah swt. Inilah yang disebut dengan Mukjizat Sains/Ilmiah dalam Al Qur’an.

Untuk memahami kebenaran ayat sains tentu tidak cukup hanya dengan membaca Al Qur’an dan tafsirnya. Karena ungkapan Alqur’an bersifat global atau tidak merincinya secara detail dan ilmiah. Untuk memahaminya kita perlu merujuk kepada sumber-sumber ilmiah lain yang lebih rinci menjelaskan ayat-ayat tersebut.

Kebenaran mutlak tentang sains yang disebutkan Al Qur’an tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran mutlak hasil penemuan Ilmiah modern. Sedangkan ayat Al qur’an yang masih diperselisihkan maksudnya (dzonniyyud dalalah) tidak bisa dijadikan dalil bagi penemuan ilmiyahh yang masih diragukan.

Ayat-ayat sains merupakan pembenaran dari Firman Allah saw : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar”. (QS. Fushshilat : 53). Ia adalah ajakan untuk beriman, berpengetahuan dan beramal. Sekaligus sebagai sarana paling ampuh untuk berdakwah di kalangan para scientist khususnya di dunia barat.

Demikianlah sekilas panduan dalam memahami ayat-ayat sains. Adapun untuk memahami kandungan ayat demi ayatnya, kita perlu merujuk pada sumber-sumber lain seperti buku-buku astronomi, kedokteran, biologi dan sebagainya.

Catatan :

Isyarat-isyarat sains dalam Al Qur’an sebenarnya jauh lebih banyak dari yang telah dirinci dalam “Indeks ayat sains dan teknologi dalam Al Qur’an”. Namun hanya ayat-ayat yang memiliki kaitan erat dan kandungan sainsnya lebih banyak yang disebutkan disini. Sementara ayat yang kaitannya terlalu jauh tidak dimasukkan ke dalam daftar.

Kita, di dunia ini, tidak pernah bisa melihat Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah memang ada dan tidak ada sekutu bagi-Nya? Dan bagaimana kita bisa mengenal-Nya?

Memang, Allah telah menetapkan bahwa kita tidak akan bisa melihat-Nya di dunia ini, namun Allah telah menampakkan kepada kita ayat-ayat-Nya. Kemudian, Allah telah menganugerahkan kepada kita akal pikiran dan hati agar kita bisa memahami ayat-ayat-Nya.

Allah telah menyediakan untuk kita dua jenis ayat. Yang pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Yang kedua, ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah

Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21:

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta (ath-thabi’ah, nature).

Dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah).

Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.

Karena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.

Kewajiban Kita terhadap Ayat-ayat Allah

Setelah kita mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah apa yang harus kita lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban kita terhadap ayat-ayat tersebut? Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah), dan inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5)

Lalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: tadabbur dan tafakkur.

Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya. Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan hati yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tujuan Membaca Ayat-ayat Allah

Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)

Dan yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)

Selanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).

Dengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang ia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan

Kelemahan faham Asy’ari ; dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Pendidikan dan pengaruh Mu’tazilah tidak bisa dilepaskan dari al-Asy’ari yang dibuktikan dengan dialektiaka yang tetap ia gunakan meskipun sudah keluar dari Mu’tazilah. Hanya saja ia menggunakan pendekatan dialektis dan logis untuk mendukung pendapatnya dalam mengukuhkan madzhab Asy’ariyah. Ia menggunakan filsafat bukan sebagai kebenaran itu filsafat itu sendiri, tetapi ia memakainya sebagai alat untuk mengungkap dan memperjelas argumennya
.
Tanpa kehilangan pandangan tentang segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang paham Asy’ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy’ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dan kelemahan itu diantaranya:
.
• Asy’ari cenderung bersikap pasrah kepada nasib (fatalisme). tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya
• Dengan melakukan kasb seperti telah di ketahui pada faham asy”ri, hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
• Konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya.

Dari uraian-uraian diatas kita bisa mengetahui berbagai polemic-polemik permasalahan yang muncul pada tubuh Asy’ariah dalam doktrin aqidah islamiah. Di satu sisi karena pangaruh Al Ghozali dengan paparan argumenya yang logis, Asy’ariah bisa berkembang dengan begitu pesat, di sisi lain Asy’ariah seakan mambodohi masyarakat dengan konsep kasb nya yang sulit untuk dimengerti dan malah cenderung membingungkan banyak orang. Malah di sebutkan dalam kitab Jawharat al-Tawhid,

Wa ‘indana li al-‘abd-i kasb-un kullifa
Wa lam yakun mu’atstsir-an fa ‘l-ta’rifa

Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh
Jadi, intinya manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.

dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy‘ari juga punya argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-”ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pad dinasti ani Saljuq dan seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah,baik yang ada di Baghdad maupun di kotaNaisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jugadidukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi”i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa aqidah Asy-”ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-”ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga menjadi tokohnya antara lain:

* Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
* Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
* Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
* Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
* Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Cak Nur juga menyoroti sisi kelemahan paham ini untuk dijadikan bahan refleksi. Kelemahan paham Asy’ariyah menurut Cak Nur terletak pada Qudrah dan Iradah Tuhan dan manusia. Al-Asy’ari sebetulnya hendak menengahi dua kubu ekstrim yang berkembang ketika itu. Kedua kubu tersebut adalah paham Jabariyah yang cenderung fatalistik dan menganggap manusia ibarat robot, sudah didesain dan dikendalikan. Namun paham ini ditolak oleh Qadariyah, mengatakan manusia mempunyai kebebasan bertindak dan menentukan pilihan (free will). Al-Asy’ari memberikan format baru dengan konsep kasb. Tetapi konsep tersebut dipandang sulit dipahami oleh Cak Nur dan cenderung fatalistik. Manusia dibebani kasb (usaha) tetapi usahanya tidak berpengaruh apa-apa. Manusia dalam konteks ini bukan tidak berdaya sebagaimana menurut paham Jabariyah, tetapi tidak bebas yang bisa menentukan kegiatannya sendiri seperti kata kaum Qadariyah.

Cak Nur lebih sepakat dengan syair yang dikemukakan oleh Ibnu Taymiah, tokoh reformis Islam yang pada substansinya mengatakan bahwa semua tindakan manusia tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya. Hanya saja manusia tetap mempunyai kemerdekaan bertindak (free will) karena Allah telah menciptakan kehendak (iradah) yang dengannya manusia mampu memilih jalan hidup.

Sangat tampak kritisisme Cak Nur dalam hal ini. Ia ingin membetulkan kebekuan dan absurditas pemahaman teologi karena pemikiran-pemikiran tidak akan lepas dari kelemahan-kelemahan. Ia hendak memperbaiki kelemahan itu sehingga konsep yang dimaksud lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Barangkali apa yang dimaksudkan al-Asy’ari bagi kaum intelektual tidak akan terlalu problematic sekalipun dalam syairnya secara tersurat ditulis kasb tidak akan berpengaruh. Dan tentu saja hal itu tidak dimaksudkan untuk itu karena dengan tegas pula dikatakan manusia tidak bebas dan tidak pula terpaksa. Dalam hemat penulis apa yang dimaksudkan Ibnu Taymiah juga dimaksudkan oleh al-Asy’ari. Kelihatannya al-Asy’ari menemui kesulitan untuk menjelaskan maksud itu. Namun, tawaran Cak Nur juga baik karena yang dilihat adalah aspek kemaslahatan supaya konsep free will lebih mudah dipahami.

Sebetulnya antara al-Asy’ari dan Ibnu Taymiah juga sepakah ketidak-setujuan keduanya terhadap pendekatan Qadariyah atau pun Jabariyah. Keduanya hendak menengahi antara kedua kubu sehingga konsepnya lebih bisa diterima. Sebab, sikap moderat adalah kecenderungan mayoritas. Tetapi bukan masalah kecenderungan—dalam hemat penulis—tetapi pijakan kedua tokoh itu konsistensi pada kebenaran.

Secara eksplisit tulisan Cak Nur menjelaskan, di samping keunggulan di bidang metodologi, kelebihan paham Asy’ariyah juga karena kepiawaian pendirinya memanfaatkan logika dan filsafat untuk menjelaskan konsep Asy’ariyah. Melalui kekuatan argumentasinya ia mampu memukau ilmuan modern dan teolog Kristen.

Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional,
yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang
menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang
leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu’tazilah
dan Salafiyah, tetapi “benang merah” sebagai jalan tengah
yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu’tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali
lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]

Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy’ari lebih baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy’ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, nama asli Imam Asy’ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy’ari. [3] Panggilan akrabnya Abu
al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.

Abu al-Hasan al-Asy’ari pada mulanya belajar membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya,
yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir
dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya’kub, Abdur Rahman
Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi’i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba’i, serta
ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. [9]

Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Untuk hal
ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab
meninggalkan atau keluar dari Mu’tazilah. Sebab klasik yang
biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena
terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu’tazilah, yaitu masalah “keadilan Tuhan.” Mu’tazilah
berpendapat, “semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu,
kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti
menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa ‘l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:

Al-Asy’ari (A) – Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam
bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.

Aldubba’i (J) – yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

A – Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?

J – Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan
jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang
taqwa itu.

J – Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan
engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah – Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

A – Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, “Ya Tuhanku
Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

Al-Jubba’i menjawab, “Engkau gila, (dalam riwayat lain
dikatakan, bahwa Al-Jubba’i hanya terdiam dan tidak
menjawab). [11]

Dalam percakapan di atas, al-Jubba’i, jagoan Mu’tazilah itu,
tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh
al-Asy’ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy’ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu’tazilah.

Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai
dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan
tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab,
tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan
orang-orang yang taqwa.

Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi
perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa’ad wa al-Wa’id. Dia sudah menepati janji.
Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan
masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]

Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak
menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan
Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia
dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak
rasional.

Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah karena pernah bermimpi melihat
Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]

Diriwayatkan bahwa al-Asy’ari sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu’tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:

“Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur’an adalah makhluk; Allah
swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya
sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya
lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu’tazilah.” [16]

Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas
dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan faham
Mu’tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan
ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal,
sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi
kesamaan yang sangat mirip.

Al-Asy’ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada Mu’tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas
menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali,
sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran
al-Asy’ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa
tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy’ari memakai
ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang
Mu’tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat,
penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali
menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan
bid’ah dan kufur. Al-Asy’ari melakukan sanggahan terhadap
Mu’tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran
Mu’tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan
aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan
al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam,
kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam
sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf
dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).

Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa
al-Asy’ari adalah para tokoh Mu’tazilah, karena itu
sanggahannya tertuju langsung pada Mu’tazilah. Sementara
para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu’tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap
aliran al-Asy’ari harus dengan tegas pula melakukan
sanggahan terhadap filsuf.

Pemikiran al-Asy’ari yang asli baru dapat diketahui setelah
ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu’tazilah dan
pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad
bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia
hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.
[18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan
mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid’ah. Setiap dogma harus dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan
keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran al-Asy’ari, kita dapat melihat pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
Buku ini terdiri -dari tiga bagian:

a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.

2.Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu’tazilah.

3.Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’,
berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
persoalan ilmu Kalam.

Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang
terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma’. Yang
pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam
arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu’tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma’), peranan akal lebih tinggi
dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu
kalam. [19]

Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy’ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar
dari Mu’tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam
rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,
sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap
Mu’tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang
dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan
teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh
itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya
terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah
mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu’tazilah lebih nyata.
Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis
langsung setelah al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah.

Lain halnya dengan kitabnya al-Luma’, yang ditulis setelah
kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas.
Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy’ari
dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya
sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’,
argumentasi rasional al-Asy’ari menonjol kembali dalam
memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi
metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum
Mu’tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak
paham teologi al-Asy’ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap
al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi
kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam
kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang
dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke
dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan
berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya
lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah barang tentu al-Asy’ari
berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan
sendiri merupakan pengetahuan (‘Ilm). Yang benar, Tuhan itu
mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya,
bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan
sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan
melihat. [20]

Disini terlihat, al-Asy’ari menetapkan sifat kepada Tuhan
seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup
berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah,
sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam.
Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu
hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan
makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang
tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi
“Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku,” lalu ia langsung
mengatakan, wajib dipotong tangannya.” [21]

Lain halnya dengan al-Asy’ari, baginya arti sifat tidak jauh
berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. Bagi
al-Asy’ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan Zat,
dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy’ari yang
seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari
paradoks. [22]

Bagi Mu’tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak
mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang
mengetahui (‘Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan
(‘Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya
sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk
memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan
yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah)
bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya,
menafsirkan kelemahan Allah. [23]

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy’ari yang
lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu,
al-Asy’ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak
dapat dilihat, kata al-Asy’ari, hanyalah yang tak punya
wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan
oleh karena itu dapat dilihat. [24]

Argumen al-Qur’an yang dimajukannya antara lain,
“Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada
Allah” (QS. al-Qiyamah: 22-23).

Menurut al-Asy’ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa
berarti memikirkan seperti pendapat Mu’tazilah, karena
akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti
menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang
menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada
penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat
kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti
berarti melihat dengan mata kepala. [25]

Sungguhpun al-Asy’ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin
nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala,
namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi
menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan
itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan,
tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan
kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan
bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Namun demikian, untuk dapat menerima, bahwa Tuhan dapat
dilihat nanti di akhirat, maka al-Asy’ari memerlukan pula
untuk menafsirkan atau menta’wilkan ayat yang berikut ini:

Artinya: “Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia
dapat mengangkat penglihatannya.” (al-An’am: 103) Ayat
tersebut di atas diartikan oleh al-Asy’ari, bahwa yang
dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini, dan
bukan di akhirat. Dan juga diartikan tidak dapat melihat
Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27]

Apa yang telah kita ungkapkan di atas, adalah merupakan
sebagian dari pemikiran al-Asy’ari tentang tauhid. Sekarang
kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Sengaja
dirangkaikan keadilan dengan tauhid, karena pembahasan
tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata,
sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq
dengan makhluknya.

Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Allah adalah
Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak bahwa kita
mewajibkan sesuatu kepada Allah. Dan juga menolak faham
al-Shalah wa al-Ashlah Mu’tazilah, artinya, Tuhan wajib
mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan
manusia. Allah, kata al-Asy’ari, bebas memperbuat apa yang
kehendaki-Nya. [28]

Al-Asy’ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan
kehendak mutlak Tuhan. Keadilan diartikannya “menempatkan
sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu seseorang
mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta
mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29]
Tidak dapat dikatakan salah, kata al-Asy’ari, kalau Tuhan
memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga, termasuk
orang-orang kafir, dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan
bersifat dzalim, jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam
neraka. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut
pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan
karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum,
maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum.
[31]

Oleh karena itu, Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak,
dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap
makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari
kiamat, menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim, atau
memasukkan orang kafir ke dalam sorga, maka Tuhan tidaklah
berbuat salah dan dzalim. Tuhan masih tetap bersifat adil.
[32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan
hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan.

Paham keadilan al-Asy’ari ini mirip dengan paham sebagian
umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Sang
raja yang absolut diktator itu, memiliki hal penuh untuk
membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan,
bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum,
dalam arti, dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada
undang-undang dan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu
adalah bikinannya sendiri.

Dari asumsi itu, kemudian al-Asy’ari menganalogikan bahwa
Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat
sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Maka tidak seorangpun
yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai
kemaslahatan umat manusia, baik di dunia ini, maupun di
akhirat. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia,
baik di dunia atau di akhirat, maka tidak seorangpun yang
akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Persis seperti
seorang raja yang absolut diktator, kalau ia menganiaya
seluruh rakyatnya, maka tak seorangpun yang sanggup
menentangnya. Karena manusia, bagi al-Asy’ari, selalu
digambarkan sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya
dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan
absolut mutlak. [34] Karena manusia dipandang lemah, maka
paham al-Asy’ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham
Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will).
Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak
dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan
dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai
istilah al-kasb (acquisition, perolehan). Al-Kasb dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia
dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Tentang
faham kasb ini, al-Asy’ari memberi penjelasan yang sulit
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia
dalam perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap
bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi,
dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif
dalam perbuatannya. [35] Kasb, kata al-Asy’ari, adalah
sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan
perantaraan daya yang diciptakan. [36]

Melihat kepada pengertian, “sesuatu yang timbul dari yang
berbuat” mengandung atas perbuatannya. Tetapi keterangan
bahwa “kasb itu adalah ciptaan Tuhan” menghilangkan arti
keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif
dalam perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang dimajukan oleh al-Asy’ari tentang diciptakannya
kasb oleh Tuhan adalah ayat:

“Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu.” (QS.
al-Shaffat 37:96)

Jadi dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia
adalah diciptakan Tuhan. [37] Dan tidak ada pembuat (agent)
bagi kasb kecuali Allah. [38] Dengan perkataan lain, yang
mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy’ari,
sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan,
dapat dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan
daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy’ari
menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin
dikehendaki. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari
kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki
sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya
niscaya ia tiada. [39] Firman Tuhan:

“Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS.
al-Insan 76:30).

Ayat ini diartikan oleh al-Asy’ari bahwa manusia tak bisa
menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia
supaya menghendaki sesuatu itu. [40] Ini mengandung arti
bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan,
dan kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak
lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam
perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan
Tuhan dan perbuatah manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki
dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).
Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.
Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua
orang yang mengangkat batu b esar ; yang seorang mampu
mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak
mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu
besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat
tadi, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu
tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.
Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya
Tuhan, tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat
sebagai pembuat. [43]

Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham
al-Asy’ari, untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya,
daya Tuhan dan daya manusia. Tetapi daya yang berpengaruh
dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah
daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau
tidak disokong oleh daya Tuhan.

Karena manusia dalam teori kasb al-Asy’ari tidak mempunyai
pengaruh efektif dalam perbuatannya, maka banyak para ahli
menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat, bahkan
Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilai,
sebagai jabariyah murni. [44] Harun Nasution juga
berpendapat demikian. Alasannya karena menurut al-Asy’ari
kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya
Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan
bukan perbuatan manusia. [46]

Ibn Taimiyyah menilai al-Asy’ari telah gagal dengan konsep
kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan
Jabbariyah. Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, Kasb-nya
al-Asy’ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham
Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya
kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti yang
sudah kita uraikan di atas, al-Asy’ari menegaskan bahwa kasb
manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan
perbuatan manusia itu. Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah
menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy’ari itu tidak
masuk akal. [46]

PENGARUH KALAM AL-ASY’ARI

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa dalam faham teologi
al-Asy’ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang
lemah, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat
berhadapan dengan kekuasaan yang absolut, apalagi berhadapan
dengan kekuasaan mutlak Allah.

Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan
kultural masyarakat pada masanya, yaitu keadaan masyarakat
Islam pada abad ke-9 M. [47] dimana raja-raja selalu
berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk
menghukum siapa saja yang diinginkannya, sang raja tidak
perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sebab
undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri.

Karena teologi al-Asy’ari didirikan atas kerangka landasan
yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang
lemah, maka disinilah letak kekuatan teologi itu, yaitu ia
dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang
bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kunci keberhasilan teologi al-Asy’ari ialah karena sejak
awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya – umat
Islam, yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan
ajaran-ajaran Mu’tazilah.

Sejarah menunjukkan, bahwa aliran al-Asy’ari telah berhasil
menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur
tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini
membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu
itu. Kemudian setelah wafatnya al-Asy’ari pada tahun 935M.
Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya, antara lain,
al-Baqillani, al-Juwaini dan al-Ghazali. Akhirnya, aliran
itu mengalami kemajuan besar sekali, sehingga mayoritas umat
Islam menganutnya sampai detik ini.

Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi
al-Asy’ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya
terhadap Dinasti yang berkuasa, sebagai konsekuensi logis
dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Dengan
demikian, ia sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran
dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian, paham
al-Asy’ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh
negatif. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran
rasionalisme di dunia Islam. Hilangnya pemikiran
rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat
Islam selama berabad-abad.

Karena akal manusia, menurut al-Asy’ari, mempunyai daya yang
lemah, akibatnya, menjadikan penganutnya kurang mempunyai
ruang gerak, karena terikat tidak saja pada dogma-dogma,
tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni,
yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain
dari arti letterlek, tetapi mereka artikan secara letterlek.
Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat
mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, ia dapat
merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat
kemajuan dan pembangunan. Bahkan, lebih tegas lagi, Sayeed
Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam
sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme
al-Asy’ari. [49]

Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi, termasuk perbuatan
manusia, adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna
pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan
lebih dari itu, menjadikan manusia-manusia yang tidak mau
bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Peristiwa
terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham
Fatalisme. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak
Tuhan semata, sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab
atasnya.

Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti
rezeki, jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan, menjadikan
manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan
merubah struktur masyarakat. Dan ia selalu mempersalahkan
takdir atas kemiskinan, kebodohan dan kematian massal yang
terjadi.

Untuk menutup tulisan ini, suatu kesimpulan dapat diambil
bahwa faham teologi al-Asy’ari mempunyai basis yang kuat
pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara
hidup dan berpikir, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi
teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.

CATATAN

1.Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II, Mesir,
tahun 1976, h. 46

2.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail
Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa
al-Asy’ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-lbanah ‘an
Ushul al-Dinyanah, Ed, Dr. Fauqiyah Husein Mahmud, Mesir,
1977, h. 9 (Selanjutnya disebut, Fauqiyah, al-lbanah). Lihat
juga Abu al-Hasan al-Asy’ari, maqalat al-Islamiyyin wa
Ikhtilaf al-Mushallin, ed., M. Mahyudin Abdul Hamid, Mesir,
1969, h. 3

3.Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat
Rasul-Allah saw. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali
Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan
Muawiyah, lihat Hamudah Guramah, Abu al-Hasan al-Asy’ari,
Mesir, 1973 h. 60

4.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 10

5.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun
lahirnya: 270 H./885 M. Ibn Atsir, dalam al-Lubab I. h. 52
270 H./881 M. Al-Makrizi, dalam al-Khutbath III, h. 303
(dikutip dari Fanqiyah, Ibid., h. 13 Penulis lebih cenderung
menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari
Mu’tazilah adalah pada tahun 300 H. Sedangkan usianya waktu
itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. (lihat M. Ali
Abu Rayyan, Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam,
Iskandariyah, 1980, h. 310

6.Hamuddh, Al-Asy’ari, hal. 60

7.Fauqiyah, Al-Ibanah, hal. 29

8.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982 h.
36

9.Louis Gardet & J. Anawati, Falsafat al-Fikrial-Dini Bain
al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.) Bairut, 1976, h 93

10.Zuhdi Jar Allah, Al-Mu’tazilah. Bairut, 1974, h. 102

11.Lihat Rayyan, Tarikh, h. 312 Gardet & Anawati, Falsafah,
h. 94. Madkour, Fi al-Falsafah, h. 116, Subhi Fi Ilm
al-Kalam II, h. 73, Dan Hamudah, al-Asy’ari, h.65

12.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982, h.
159.

13.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan
perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu’tazilah, dapat
dilihat pada, Mahmud Kasim, Dirasat Fi al-Falsafah
al-Islamiyyah, Mesir, 1973 h. 164-165

14.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 31

15.Ibid., h. 34

16.Ibid., dan lihat juga Subhi, Fi Ilm al-Kalam II,
Iskandiyah, h. 41

17.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah’an Ushul al-Dinayah,
Mesir,1397 H. H.8

18.Faiqiyah, Al-Ibanah, h. 35

19.Hasan Mahmud al-Asy’ari, dalam, Dirasat Arabiyah wa
Islamiyah I, Dar el Ulum, Kairo, 1985, h. 38

20.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kitab al-Luma’ Fi al-Rad’ala ahl
al-Zaigh wa al-Bida’, Kairo, 1965, h. 30

21.Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal I, Ed. Abd. Aziz
M.M. Wakil, Kairo, 1968, h. 104

22.Madkour, Fi al-Fasafah II, h. 50

23.Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, h. 51

24.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 17. Lihat juga, Al-Syahrastani,
Al-Mihal I, h. 100

25.Al-Asy’ari, Ibid, h. 13

26.Al-Syahrastani, Al-Milal I, h. 100. Lihat juga Madkour,

27.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 16

28.Al-Sahrastani, Al-Milal I, h. 102, 113

29.Ibid., h. 101

30.Ibid

31.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 71

32.Ibid., lihat juga Mahmud Kasim, Dirasat, h. 167

33.Mahmud Kasim, h. 168

34.Ibid.

35.Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,
Kairo, tt., h.205

36.Al-Asy’ari, al-Luma’, h. 76

37.Ibid., h. 70

38.Ibid., h. 72

39.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 51

40.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 57

41.Ibid, h. 41

42.Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyin, Bairut,
1971, h. 562

43.Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul al Din, Bairut,
1981, h. 133-134

44.Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib, h. 205

45.Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 h.
112

46.Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah II, h. 16-17

47.Mahmud Kasim, Dirasat, h. 34

48.Sayeed Ameer Alim, The Spirit Of Islam, Delhi, tt., h.
472 473.

Azar adalah paman nabi ibrahim dan Sanggahan Orang Tua Nabi Kafir

Dalil  ‘sableng”   yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits  riwayat  Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’rabi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

Kemudian turun ayat yang berbunyi :

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jawaban :

Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab,  yaitu :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatrah (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

saya menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

  • Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama’  mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

  • Hadits Nabi SAW :

قال رسول الله  (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

  • Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

disebutkan berbagai penafsiran tentang “azar” diantaranya ia adalah nama paman nabi ibrahim, bapak asuh nabi ibrahim, bapak nabi ibrahim, nama berhala dsb. Tapitidak menyimpulkan makna yang paling tepat untuk “Azar”. Telah dikenal bahwar menyebutkan banyak penafsiran mengenai al-quran baik shahih maupun dhaif, tapi  tidak menyimpulkan tafsir yang paling tepat.

Pengalaman Ulama Suni Indonesia “Belajar” di Komunitas Syiah Iran

Prof Dr M. Ali Aziz (kiri) di depan Masjid Shah dengan desain tanpa atap yang setelah Revolusi Iran kini diganti namanya menjadi Masjid Khumeini. (Foto : M. Ali Aziz for Jawa Pos)Prof Dr M. Ali Aziz (kiri) di depan Masjid Shah dengan desain tanpa atap yang setelah Revolusi Iran kini diganti namanya menjadi Masjid Khumeini. (Foto : M. Ali Aziz for Jawa Pos)

Untuk yang ketiga, Prof Dr Moh. Ali Aziz MA, guru besar Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, diundang ke Iran untuk menjadi imam Tarawih dan narasumber kajian Islam selama Ramadan. Berikut catatan perjalanannya dari negeri berpaham Syiah itu yang ditulis dari Teheran.

= = = = = = = = = = = = =

“SALOM, salom,”  teriak anak berusia sekitar sepuluh tahun sambil berjalan tergesa-gesa. Kaki kecilnya beringsut di tengah jamaah yang baru selesai salat Duhur di Masjid Hadharat Qaim, kira-kira 50 meter dari Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia Teheran, tempat saya tinggal. Inilah hari pertama Ramadan (11/8) sekaligus salat Duhur berjamaah pertama pada kunjungan ketiga saya di Teheran.

Masyarakat Iran lebih terbiasa dengan ucapan salom daripada  assalamualaikum  seperti di Indonesia. Bocah berhidung mancung dengan celana panjang dan kaus bergaris itu terlambat datang. Seharusnya dia bertugas sebagai “remote” salat  Duhur. Karena terlambat, dia baru melaksanakan tugasnya untuk salat Asar yang selalu dikerjakan satu waktu dengan Duhur (Demikian juga, salat Isya di sana dikerjakan secara berjamaah pada waktu magrib).

Bocah itu langsung memegang mikrofon. Dia berdiri tiga meter sebelah kanan imam. “Allahu Akbar,” komando sang bocah kepada jamaah di belakangnya, segera setelah imam yang mengenakan pakaian kebesaran jubah cokelat tua dan serban putih memulai salat. Demikian seterusnya untuk komando rukuk, sujud, iktidal, dan sebagainya.

Pada rakaat kedua salat jamaah itu, saya keliru memahami komando. Sebelum rukuk, terdengar komando takbir. Saya langsung rukuk sebagaimana biasa saya lakukan. Ternyata itu komando doa kunut. Baru takbir berikutnya, komando rukuk.

Dalam perjalanan pulang dengan udara panas yang sampai membuat hidung keluar darah, saya berkata dalam hati, “Hebat benar, seorang bocah bisa memberi komando sang syekh.” Yang menarik, meski memberikan komando, dia tidak ikut salat. Bocah “remote” itu baru salat “sendirian” setelah salat jamaah usai.

Tidak selalu “remote” salat jamaah adalah anak-anak. Di Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam di Aqdasiyeh Street Teheran, komando salat diucapkan orang dewasa yang duduk persis di depan imam salat. Dengan celana dan baju lengan panjang yang disingsingkan sedikit dan tanpa tutup kepala, dia memberikan komando dengan suara mantap.

Masyarakat Iran tidak biasa menggunakan tutup kepala saat salat di masjid. Hanya imam yang menggunakan tutup kepala dengan serban hitam atau putih. Serban hitam sebagai tanda bahwa dia sayyid (keturunan nabi) dan warna lainnya bukan sayyid.

Saya memang sering terlihat asing bagi jamaah lainnya. Bukan hanya karena baju dan kulit saya, tapi juga karena cara beribadah saya yang non-Syiah. Sejak wudu saja, saya sudah dipandang aneh. Bagi penganut Syiah, membasuh tangan untuk berwudu tidak boleh dengan membasahinya di bawah pancuran keran, tapi dengan cakupan tangan. Sisa air dari tangan itu lalu diusapkan sedikit di kepala dan sedikit di kaki. Jadi, tanpa mengusap telinga dan tanpa membasuh kaki. Dalam buku Amozes Namaz (petunjuk salat) yang saya beli di Bazar Bozorge (Pasar Besar), ternyata memang demikian aturan wudu.

Ketika masuk masjid, saya juga asing. Mereka mengambil turbah  (tanah bulat atau persegi empat dari tanah “suci” Karbala, tempat cucu nabi sekaligus anak Ali bin Abi Thalib meninggal) yang tersedia di rak pintu masjid untuk alas sujud, sedangkan saya ngeloyor begitu saja. Apalagi sewaktu berdiri salat, hanya saya yang bersedekap. Jamaah lain membiarkan tangan lurus ke bawah.

Kekakuan di tengah jamaah itu segera cair setelah Karami, warga Iran yang lebih dari 15 tahun menjadi staf lokal KBRI, yang mendampingi saya, menjelaskan kepada jamaah bahwa saya sedang belajar tentang Syiah dan masyarakat Iran. Paham Syiah memang amat kental bagi masyarakat Iran. Berkali-kali saya bertemu orang dan ditanya dengan pertanyaan yang sama: Dari negara mana, penganut Syiah atau tidak, dan ketika saya menjawab Suni, mereka bertanya pengikut mazhab apa?

Pada Ramadan hari ketiga, saya salat Duhur didampingi Choiruddin, pelajar Indonesia yang sudah tiga tahun belajar di Iran, di Haram Muthahar Imam Khumeini (masjid dan makam Imam Khumeini). “Jika ditanya orang, Pak Ustad sebaiknya menjawab saya pengikut Suni bermazhab Imam Syafii,”  pesan Choiruddin.

Benar kata Choiruddin. Beberapa menit kemudian, dua orang berpakaian rapi dan berjas menghampiri saya. Mereka mengajukan pertanyaan yang sama. Dengan bahasa Arab yang lumayan fasih, dua orang itu berbicara sangat sopan dan toleran terhadap kami yang Suni. Bahkan, keduanya “orang kampus sekaligus penghafal Alquran” menyebut beberapa kebaikan Imam Syafii.

Sekalipun ulama Suni, Imam Syafii sangat dicintai penganut Syiah. Banyak penduduk Iran yang bernama Syafii. “Jika bukan orang kampus, Pak Ustad pasti diceramahi panjang lebar, yang intinya ajakan untuk meninggalkan paham nenek moyang yang tidak benar dan mengikuti Syiah,”  kata Choiruddin setelah mengucapkan Khoda hafez (Tuhan menjagamu) sebagai ucapan perpisahan kepada keduanya.

Hampir semua masjid di Iran yang saya kunjungi dihias dengan kaligrafi yang sangat indah. Jangankan masjid, tembok-tembok rumah dan kantor pun berhias kaligrafi. Pada mihrab Masjid Jamik Imam Shodiq Alaihissalam, misalnya, terdapat kaligrafi  surat An-Nur ayat 35,  “Allah adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi…”. Mengapa ayat itu yang dipilih? Bagi mereka, ayat itu ada kaitannya dengan kedudukan para imam Syiah. Cahaya Allah hanya bisa terpancar di langit dan bumi melalui para imam.

Terdapat juga doa dalam kaca dan berlampu yang menggambarkan penantian akan datangnya Imam Mahdi yang sedang dirindukan sebagai pemberi solusi semua masalah kehidupan. Sebutan untuk imam yang dinantikan itu bermacam-macam.  Ada kalanya dipanggil Wali Ashr, Imam Zaman, Shahibuz Zaman, atau Mahdi al Muntadhar.

Setiap usai salawat nabi dengan lagu yang khas, baik sewaktu mendengar azan maupun selesai salat, mereka selalu menambah dengan doa wa”ajjil farajahum (wahai Allah percepatkan selesainya semua masalah umat dengan kehadiran Mahdi al-Muntadhar). Ada juga doa yang terpampang di tembok, Ya shahibaz Zaman adrikni  (Wahai Imam yang ditunggu, beri saya jalan keluar).

Ada juga kaligrafi yang dipasang di hampir semua toko yang terkenal dengan sebutan kaligrafi  Waiy Yakad. Sebutan itu terkait dengan bunyi awal ayat yang ada dalam kaligrafi tersebut, yaitu Surat Al-Qalam ayat 51, yang artinya  “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka tatkala mereka mendengar Alquran”.

Pada Ramadan dua tahun yang lalu, saya sudah membeli kaligrafi itu karena indah dan sangat populer. Melihat artinya, saya menduga ayat tersebut untuk penangkal kejahatan. Namun, baru pada kunjungan kali ini saya menemukan jawabannya bahwa itu adalah kaligrafi “pelaris dagangan”.

“Masyarakat Iran yang terkenal cerdas ternyata juga menyukai jimat,” kata saya kepada Buyuk, warga Iran yang bertugas sebagai sopir di KBRI. Mendengar kelakar saya itu, dia hanya tersenyum.

Dadan Maula, ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran, punya pandangan menarik tentang fenomena tersebut. “Bahkan,  “jimat” yang banyak beredar di masyarakat Indonesia ada kaitannya dengan budaya dan keyakinan orang Iran, Pak,” katanya setelah sama-sama mengikuti upacara memperingati kemerdekaan ke-65 RI di Teheran.

Dia menunjukkan beberapa bukti, antara lain, gambar pedang pada jimat di Jawa. Gambar itu diduga kuat adalah gambar pedang Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang juga sangat populer di Iran.  Kaligrafi berbentuk kepala singa yang banyak kita jumpai di Indonesia juga sangat mungkin dari Iran. Sebab, gambar tersebut juga ada di bendera Iran pada zaman pemerintahan Shah Pahlevi. Orang Iran menyebut gambar itu dengan shir va khurshid (harimau dan matahari).

Saat berada di pasar dekat masjid, saya ditawari Buyuk yang sudah lansia itu untuk membeli tasbih zahra untuk oleh-oleh. “Tasbih apa lagi,” pikir saya. Saya menduga tasbih (alat penghitung zikir) itu terbuat dari bunga karena zahra dalam bahasa Arab berarti bunga. Setelah masuk toko, ternyata itu tasbih biasa seperti yang banyak dijumpai di Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang Iran menyebut itu dengan tasbih zahra. Ternyata, karena orang Iran menggunakan tasbih selain untuk berzikir subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar, juga untuk memanggil-manggil imam atau orang suci pujaan mereka. Ya Zahra  (gelar untuk Fatimah, putri Rasulullah, istri Ali bin Abi Thalib) atau Ya Husein (cucu nabi, putri Fatimah) atau Ya Abal Fadhal (imam atau pejuang yang terpotong-potong tubuhnya karena membela Imam Husein di Karbala).

Sebelum keluar dari toko, pemilik toko mengangkat  tangan saya sambil mengatakan dengan bahasa Persia,  Andunezi khaeli khube. Ba Iran Israel ra ruswa kunim (Indonesia sangat baik, bersama Iran, kita tumpas Israel?. “Bale. Mamnun,” jawab saya, yang berarti, ya dan terima kasih.

Saya tidak tahu dia paham atau tidak terhadap jawaban saya. Tapi, yang jelas, dia kemudian mengangkat kedua ibu jari tangannya (Jika hanya mengangkat satu ibu jari, itu berarti penghinaan di Iran). Tapi, karena sudah menjadi kebiasaan, saya sering keliru memuji orang dengan satu ibu jari.

Masuk ke Musala Pesaing MasjidilharamMasuk ke Musala Pesaing Masjidilharam

Iran mulai diminati pelajar Indonesia yang ingin studi Islam. Alumninya kelak bisa menjadi perekat bagi pemahaman yang lebih baik antara penganut Suni dan Syiah. Berikut lanjutan catatan MOH. ALI AZIZ, guru besar IAIN Sunan Ampel.

SAAT ini jumlah jumlah pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran sekitar 175 orang. Dari jumlah itu, sebagian besar atau 150 orang memilih belajar ilmu agama di Hauzah Ilmiyah di Kota Qom.

Hauzah Ilmiyah adalah perguruan tinggi di bawah payung Jamiatul Musthafa Al Alamiyah. Selain di Qom, lembaga tersebut mempunyai beberapa perguruan tinggi di Kota Mashad, Isfahan, dan Gorgan (khusus untuk penganut Sunni). Semula lembaga tersebut bernama Markaz Jahani Ulume Islami. Pergantian nama ini seiring dengan perubahan menjadi universitas, seperti perubahan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia.

Yang menarik, para istri (pelajar/mahasiswa) juga wajib ikut kuliah plus menjadi santri di perguruan tinggi yang sistem pengajarannya bernuansa pondok pesantren itu. Karena mahasiswa sekaligus juga santri, belajarnya seharian penuh.

Salah seorang anggota IPI yang kerap mendampingi saya selama di Iran adalah Choiruddin, pelajar asal Lombok Timur. Dia sedang menyelesaikan S2 di Universitas Mazahabe Islami di bawah Kementerian Sains dan Ristek Iran yang berdiri sebelas tahun lalu.

Choiruddin adalah salah seorang di antara tiga mahasiswa yang dikirim PB NU untuk kuliah di negeri Mullah itu. Tiga mahasiswa itu sebelumnya kuliah di Qom. Karena tidak kuat dengan tekanan ideologis (karena berlatar belakang Suni), akhirnya mereka pindah ke universitas di Teheran melalui perjuangan yang berliku-liku. Di ibu kota Iran mereka agak leluasa untuk menampakkan jati diri sebagai mahasiswa non-Syiah.

Ada dua jenis beasiswa di Iran, yaitu dari pemerintah melalui Kementerian Sains-Ristek dan Jamiatul Musthofa Al Alamiyah, lembaga swasta untuk pusat studi Syiah di Kota Qom. Pelajar menerima beasiswa dari pemerintah Iran antara 400 ribu-1 juta riyal Iran per bulan (nilai tukar satu riyal hampir sama dengan rupiah). “Alhamdulillah cukup, Pak,” kata Dadan, mahasiswa Universitas Internasional Imam Khumaeni di Qazvin, sekitar 150 kilometer dari Teheran.

Menurut Dadan, beasiswa itu cukup karena biaya asrama ditanggung. Demikian pula makan di kampus disubsidi sehingga hanya membayar dua ribu riyal. Padahal, di luar harus 50 ribu sekali makan. Tidak hanya itu, naik bus hanya membayar 200 riyal (Rp 200) dengan tiket jauh dekat.

“Untuk kami yang di Qom hanya (dapat bea siswa, Red) 500 ribu riyal,|” kata Abdurrahman, alumnus UIN Alauddin Makasar yang sudah dua tahun di Qom. “Anak saya ini mendapat jatah satu beasiswa,” katanya sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun.

Di antara ratusan pelajar Indonesia, ada seorang yang telah menyelesaikan S3 bidang filsafat dan seorang lagi dalam proses penyelesaian S3. Yang lebih hebat, ada pelajar Indonesia yang sudah 28 tahun belajar di Qom. Dia sudah berada di jenjang darajatul mujtahid sehingga beberapa tahap lagi menjadi ayatullah. Bisa jadi, dialah orang Indonesia pertama yang bergelar ayatullah.

Seorang ayatullah sudah diberi otoritas menjadi mujtahid (pengambil keputusan hukum Islam). Ia bisa juga memasuki jenjang yang paling atas, ayatullah udhma yang bisa menjadi rujukan taqlid. Seorang ayatullah dituntut menguasai satu disiplin ilmu, sedangkan ayatullah udhma multidisiplin.

Yang menarik, untuk setiap jenjang itu, seseorang harus menghafal sejumlah kitab standar Syiah dan menyusun karya ilmiah. Di Iran, para akhund (ulama) itulah yang mengendalikan negara, mulai level lokal hingga nasional. Sektor swasta maupun negeri. Dengan demikian, tidak ada satu pun lembaga di negeri itu yang lepas dari kontrol agama.

Ironisnya, saat ini gejala degadrasi kepercayaan kepada tokoh agama amat sering saya dengar dari beberapa mahasiswa dan sopir taksi di Teheran. Keluhan itu dipicu oleh, antara lain, naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, buku, bahkan bensin setelah pencabutan subsidi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi para akhund apakah para agamawan bisa membawa Iran lebih sejahtera.

Sebagai negara republik Islam yang menempatkan para agamawan di tempat yang strategis, Iran memiliki perhatian besar pada agama. Salah satu even menarik selama Ramadan ini adalah Pameran Alquran Internasional yang dilaksanakan di Musala Imam Khumeini.

Pameran internasional itu dilaksanakan oleh pemerintah setiap Ramadan. Meski diadakan di “musala”, menurut saya, itulah musala yang terbesar di dunia.

Saya tidak tahu persis luasnya, tapi saya perkirakan ratusan hektare. Saya mengitari dengan sedan sampai berganti tiga nama jalan di jantung Kota Teheran itu, namun belum juga tuntas. Jangan tanya berapa lama membangunnya! Sebab, saat ini merupakan tahun ke-20 sejak mulai dibangun (setelah memindahkan ratusan rumah penduduk), tapi pembangunannya belum mencapai 40 persen.

Itulah musala yang sering disebut orang dibangun untuk “menandingi” Masjidilharam di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah. Di dekat musala ada beberapa hutan buatan dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Di sepanjang tepi jalan raya ada saluran air dari gunung berdiameter 50 cm untuk penyiraman dua kali sehari di tanah gersang itu.

Pameran buka pukul 17.00-24.00. Ini jam buka pameran yang wajar bagi masyarakat Iran karena tidak ada tarawih dan tidak ada tadarus bagi mereka selama Ramadan.

“Subhanallah,” ucap saya berkali-kali melihat kemegahan musala dan menyaksikan secara langsung macam-macam kitab Alquran. Desain dan kaligrafi yang ditampilkan belum pernah saya jumpai di museum Belanda maupun di Indonesia.

Tidak hanya itu, para wanita anggun berpakaian serbahitam menunggu beberapa pengunjung di lobi untuk berdiskusi tentang Alquran. Ada ruang untuk diskusi, bahkan debat terbuka, tentang tafsir, fikih, atau tauhid yang dipandu oleh akhund.

“Banyak di antara mereka yang berpredikat hujjatul Islam yang setara dengan profesor,” kata Choiruddin kepada saya sambil menunjuk debat terbuka yang disiarkan langsung melalui televisi.

Ada satu stan yang semua penjaganya wanita muda dengan laptop di tangannya. Mereka bukan menjual produk yang terkait dengan Alquran, tapi memamerkan klasifikasi dan kajian mendalam Alquran terkait dengan disiplin ilmu biologi, fisika, astronomi, kedokteran, dan sebagainya.

Persis di pintu keluar, saya mendapat suguhan pameran yang tidak kalah menarik, yaitu patung para nabi, mulai Nabi Adam, Nuh, Ibrahim yang sedang berjihad melawan kaum pembangkang. Tetapi, tidak ada patung Nabi Muhammad.

Di tempat itu pula Pameran Buku Internasional diadakan setiap tahun dengan suasana yang jauh lebih meriah. Setelah mengelilingi tempat tersebut, baru saya paham mengapa namanya musala (bukan masjid). Mungkin agar bisa lebih leluasa untuk mengadakan even-even akbar setiap saat.

Yang membuat saya takjub, semua Alquran yang dipamerkan oleh negeri dengan 97 persen penganut Syiah itu sama persis dengan milik kaum Suni.

Setelah keluar dari tempat pameran, saya bermimpi suatu saat tidak boleh lagi ada bentrokan antara Suni dan Syiah. Sebaliknya, masing-masing bisa bersama-sama membangun peradaban dunia dengan nuansa rahmatan lilalamin.

Umar Bin Khattab : ““Wahai Rasulullah, sungguh aku benar-benar takut kepada suku Quraisy atas keselamatan diriku. Di kota Mekkah tidak ada seoarang pun dari suku bani Adiy yang dapat membelaku”

Para pemuja kepahlawanan dan keberanian Sayyidina Umar ibn al Khaththab banyak kisah yang mencengankan…. Di antaranya yang sangat dibanggakan adalah kebaranian Sayidina Umar ketika ia hendak berhijrah meninggalkan kota Mekkah ke kota Madinah…. Semua sahabat Nabi saw. berhijrah derngan sembunyi-sembunyi, tidak terkecuali Nabi sendiri, sementara Sayyidina Umar dengan begitu beraninya mengumumkan niatannya untuk berhirjah seraya menantang para pendekar Quraisy, siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim hendaknya ia menghalanginya untuk berhijrah. Dan benar, tidak seorang pun berani menghalangi Sayyidina Umar!! Sebab tidak seorang pun dari pendekar Quraisy yang ingin mati di tangan Umar “Sang Pendekar Andalan Nabi saw.”!

Akhirnya, Umar pun hijrah tanpa ada seorang pun yang berani menghalanginya!

Sebuah keberanian yang luar biasa…. Yang sepertinya Nabi saw. sendiri tidak berani melakukannya, terbukti beliau pergi hijrah dengan sembunyi-sembunyi! Bukankah begitu sobatku?!

Tetapi rupanya keberanian Sayyidina Umar yang digambarkan pena para pemujinya itu tidak bertahan…. Umar yang dahulu ketika hendak berhijrah menantang para pendenkar Quraisy… Umar si pemilik jiwa baja nun tak pernah gentar… Umar sang pemberani dalam lukisan para pemujanya kini dalam peristiwa Hudaibiyah berubah menjadi bukan Umar yang dahulu… entah mengapa? Mungkin sekarang Sayyidina kini sudah mulai tua.. kekkearan kepalan tangannya mulai melemah…. Ketegasan sikapnya kini berubah menjadi kelemah lembutan … Atau mungkin karena para pelukis itu sudah lelah melukiskan untuk kita kisah-kisah keberanian dan kepahlawanan Sayyidina Umar… Atau mungkin Anda tau sebabnya?

Dalam peristiwa niatan Nabi saw. untuk mendatangi kota suci Mekkah dengan maksud damai yaitu untuk umrah namun kaum kafir Quraisy menghalangi beliau dan melarangnya untuk masuk ke kota suci Mekkah…. Sesampainya di dekt kota Mekkah dan Nabi mengetahui bahwa pembesar kafir Quraisy bersikeras menghalangi beliau dan kaum Muslminin masuk kota suci Mekkah, Nabi saw. memanggil Sayyidina Umar kita (sang pemberai andalan Nabi saw.) untuk mendatangi pembesar kaum Quraisy dan menyampaikan pasar damai beliau bahwa kedatangan beliau hanyaa untuk menjalan manasik umrah dan setelahnya beliau akan kembali pulang ke kota madina bersama para sahabatnya….

Tentunya kita mengetahui bahwa dalam etika yang berlaku bahkan di kalangan kauk kafir Quraisy bahwa seorang delegasi/utusan/rasul itu pasti memiliki hak untuk diperlakukan baik… untuk tugas itu, Nabi saw. menunjuk Sayyidina Umar, sebab ia adalah pendekar andalan yang sudah teruji 9demikian hendak digambarkan para pekulis kepahlawanan Sayyidina Umar)…. Siapa lagi yang cocok untuk “tugas seberat” itu selain pelimik hati baja… sang pendekar tak tertandingi…

Pasti Anda penasan mendengar jawaban Sayyidina Umar ketika Nabi saw. memanggilnya dan menugaskannya menemui para pembesar kafir Quraisy? Pasti Anda sudah tidak sabar lagi untuk mendengar ketegasan Sayyidina Umar seperti yang biasa kita dengar dari ppara penceramah atau kit abaca dalaam bukusejarah?

Mari kita simak bersama jawaban Sayyidina Umar…. Pendekar kebanggaan kita.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab Sirah-nya:

Kemudian Nabi saw. memanggil Umar ibn al Khaththab untuk menutusnya sebagai delegasi kepada pembesar Quraisy tentang tujuan kedatangan beliau, maka Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku benar-benar takut kepada suku Quraisy atas keselamatn diriku. Di kota Mekkah tidak ada seoarang pun dari suku bani Adiy yang dapat membelaku. Mereka telah mengenal permusuhanku dan kekerasan sikapku terhadap mereka. Tetapi aku tunjukkan kepada Anda orang yang cocok untuk tugas ini, ia lebih terhormat di sisi mereka ketimbang aku. Dia adalah Utsman ibn Affan.

(Sirah Ibnu Hisyam;685. Cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut, thn. 2001)

Mungkin Anda sedikit kecewa dengan sikap Sayyidina Umar Anda yang selama ini selalu membanggakan kita semua dengan dongen-dongen keberanian… dengan ketegasan sikap yang sering di antaranya beliau tampakkan dengan meninju Abu Hurairah karena terlau berbanyak-banyak dalam mengobral hadis Nabi saw….

Tetapi saya berharap Anda mau memberikan udzur untuknya… Mungkin saat itu sang pendekar kita sudah menua.. tak semuda di saat ia berhijrah meninggalkan kota aslinya Mekkah kekuatannya mulai memudar…

Bagaimana Nasib Pembunuh Sayidina Husain?

Bagaimana Nasib Pembunuh Sayidina Husain?

Peringatan Asyura memang telah berlalu, namun hikmah dari peristiwa tersebut akan selalu kekal sepanjang zaman. Di antara hikmah tersebut dapat kita baca dari sabda Sayidina Husain yang terbukti kebenarannya. Perhatikan baik-baik ucapan Sayidina Husain berikut, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”

Kita mulai kisah pembunuh Sayidina Husain dari awal. Sebelum ditugaskan di Karbala, Umar bin Saad[panglima perang pasukan Yazid, putra Saad bin Abi Waqash] sudah mendapat perintah untuk pergi ke sebuah daerah di Persia, dan menjadi gubernur di sana. Namun, Ibnu Ziad memberikan tawaran lain, yakni membunuh Sayidina Husain. Tawar menawar antara Umar dan Ibnu Ziad pun terjadi.

 

Umar bin Saad bimbang. Anaknya menceritakan bahwa Umar berkata, “Apakah aku akan pergi ke Karbala dan membunuh Husain? Jika aku melakukan itu, maka aku akan mendapatkan kekuasaan dan harta, serta dunia akan bergegas kepadaku. Akan tetapi di akhirat aku akan mendapat neraka Jahannam dan siksa Allah. Adapun jika aku tidak pergi ke Karbala, maka bagiku akhirat, kemuliaan surga, keridhaan Allah, namun aku tidak mendapatkan dunia.”

Hubb ad-dunyâ (kecintaan kepada dunia) seolah merasukinya, dan ia berkata, “Di sana ada akhirat. Jika begitu, sekarang kita pergi ke Karbala dan membunuh Husain, lalu kita kembali ke Ray dan memegang kekuasaan di sana, dan setelah itu baru kita bertaubat.”

Di tengah pertempuran Karbala, Sayidina Husain berulang kali mengingatkan Umar atas apa yang akan dilakukannya. Sayidina Husain berharap agar manusia ini masih dapat memperoleh hidayah dari Allah. Sayidina Husain menawarkan segala yang Umar inginkan. Ketika Umar mengatakan, “Aku ingin memerintah di Ray.” Imam Husain berkata, “Aku harap engkau tidak memakan gandum dari daerah Ray, karena mereka akan memenggal kepalamu di tempat tidurmu.”

Singkatnya, Umar menolak tawaran Imam. Pembantaian di Karbala berakhir. Umar telah membunuh Sayidina Husain, sang cucu Nabi, dan menjalankan perintah Ibnu Ziad dan Yazid. Mari kita mengingat kembali ucapan suci Imam Husain, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”

Umar bin Saad melapor dan berkata kepada Ibnu Ziyad, “Aku telah siap untuk berangkat ke Ray.” Ibnu Ziyad berkata, “Aku mendengar bahwa engkau melakukan pertemuan khusus dengan Imam Husain. Apa pentingnya engkau melakukan pertemuan dengan musuh?!” Umar menjawab, “Itu tidak penting. Aku telah menjalankan perintahmu untuk membunuh Husain dan telah aku kirim ke Syam. Sekarang, setelah semua ini, apa yang engkau inginkan?”

Ibnu Ziad berkata, “Seharusnya engkau tidak melakukan pertemuan dengan Husain. Berikan kepadaku surat perjanjian mengenai kekuasaan Ray.” Ibnu Ziyad mengambilnya dan merobek-robek serta membuangnya. Umar berkata, “Wahai Ibnu Ziyad, engkau telah menghancurkanku.” Setelah kejadian ini, Umar selalu membacakan ayat: “Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj : 11).

Umar mulai menjadi gila. Istri dan anak-anaknya jengkel. Mereka berkata, “Engkau menyebabkan kesengsaraan kami. Karena perbuatan kejimu, kami tidak bisa pergi ke luar rumah.” Setiap Umar melewati jalan-jalan kota, anak-anak melemparinya dengan batu dan mendapat hinaan dari orang-orang di sana.

Kemudian datang periode Mukhtar, khalifah Umayyah lainnya. Istri Umar bin Saad adalah saudari Mukhtar. Karena itu, istri Umar mendapat surat jaminan keselamatan bagi suaminya. Mukhtar tahu bahwa Umar telah melakukan kejahatan besar di Karbala. Karenanya surat jaminan itu berbunyi: “Umar ibn Saad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan (Umar bin Sa’ad dalam keadaan aman selama tidak menciptakan suatu perkara).”

Mukhtar bangkit dengan dalih menuntut darah Karbala dan demi mengobati hati pengikut Imam Ali. Dalam sebuah majelis, Mukhtar memerintahkan anak buahnya untuk menyembelih dua putera Umar bin Sa’d. Umar berkata, “Sungguh, pemandangan ini sangat menyakitkan aku.” Mukhtar berkata, “Ketika engkau memenggal kepada Ali Akbar di hadapan Imam Husain, apakah tindakan itu tidak menyakitkan?”

Mukhtar balik ke rumah dan memanggil dua pengawalnya. Mukhtar berkata, “Pergi dan bawa Umar ke hadapanku. Kalian harus berhati-hati. Jika Umar berkata akan mengambil baju, sungguh dia akan menipumu karena dia sangat licik. Maka bunuhlah di sana.”

Kedua pengawal Mukhtar mendatangai Umar yang sedang tidur dan berkata, “Mukhtar menginginkan engkau wahai Umar!” Umar berkata, “Mukhtar telah memberikanku surat jaminan keamanan.” Umar menunjukkan surat itu. Pengawal mendapatkan kalimat ’Umar ibn Sa’ad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan dan berkata, “Kalimat ini mempunyai dua makna. Makna pertama selama tidak melakukan perkara maka aman. Sedangkan makna kedua selama tidak buang air maka aman.” Kalimat mâ lam yuhdits hadatsan berasal dari kata hadats (buang air).

Umar berkata, “Mukhtar tidak menginginkan makna yang kedua.” Pengawal itu berkata, “Kami memahaminya demikian.” Lalu Umar berkata, “Ambilkan bajuku.” Pada saat Umar berkata seperti itulah kedua pengawal itu memenggal leher Umar bin Saad. Anak Umar yang melihat kejadian itu juga ikut dibunuh.

Imam Husain sudah berusaha menasehati Umar dan ucapan Imam terbukti dengan benar. “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.” Wallahualam.


Nasib para pembunuh pembantaian Karbala yang lain

Syimr bin Ziljausyan bernama asli Syurahbil bin Qurath Adz-Dzahabi Al-Kilabi, salah satu pelaku paling keji di Karbala. Suatu ketika setelah salat ia berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku termasuk orang yang mulia, karena itu ampunilah aku.” Seseorang berkata kepadanya, “Bagaimana Allah akan mengampunimu, padahal engkau ikut membunuh cucu tercinta Rasulullah!”

Syimr menjawab, “Apa yang dapat kami lakukan? Ketika para pemimpin memerintahkan kami, tak ada lagi yang dapat kami lakukan selain mematuhinya. Bila kami menentang, nasib kami lebih buruk dari keledai-keledai itu.”

Sama seperti nasib Umar bin Saad, Mukhtar melakukan pembalasan terhadap para pembunuh di Karbala. Syimr pun dikejar sampai ke daerah Kiltaniah, Khuzistan. Di sana ia bertemu dengan pasukan Mukhtar. Syimr yang belum sempat berpakaian, segera menyerang. Abu Amrah berhasil membunuh Syimr; jasadnya dibuang dan menjadi santapan anjing liar.

Harmalah bin Kahil Al-Asadi yang membunuh Ali Akbar bin Husain. Ia juga dibunuh oleh pasukan Mukhtar. Mukhtar mengatakan kepadanya, “Celakalah engkau! Tidak cukupkah apa yang kau lakukan hingga tega membunuh seorang bayi dan menyembelihnya? Tidakkah kau tahu dia adalah cucu Rasulullah?!” Beberapa riwayat menyebutkan ia menjadi sasaran tembak panah pasukan Mukhtar.

Riwayat lain mengatakan bahwa Mukhtar berkata, “Syukur kepada Allah yang memberi aku kesempatan menuntut balas darimu!” Mukhtar memerintahkan untuk memotong kedua tangan dan kakinya, kemudian pedang panas ditempelkan ke leher Harmalah hingga putus.

Sekelumit Tragedy Karbala

Setelah berusaha melakukan perlawanan sekian lama di depan pesta pembantaian itu, Imam Husain as mencoba menjauh dari pasukan lawan untuk mengatur nafas. Namun, tiba-tiba sebuah batu melayang dari arah musuh dan mengena kepala beliau. Darah pun mengucur deras lagi. Belum selesai beliau mengusap darahnya yang suci itu, dada beliau diterjang sebuah anak panah bermata tiga. Tertembus panah beracun itu, beliau berucap: “Bismillahi wa billahi wa ala millati rasulillah”.

Beliau menatap langit dan berdesah lagi: “Ilahi, sesungguhnya Engkau mengetahui mereka telah membunuh seseorang di muka bumi yang tak lain adalah putera Nabi”.[ 9 ]

Di saat beliau semakin kehabisan tenaga itu, beliau mencabut anak panah itu dari dadanya. Darah kembali menggenang. Sebagian beliau hamburkan ke atas dan sebagian yang lain beliau usapkan ke wajahnya sambil berucap: “Beginilah aku jadinya hingga aku bertemu dengan datukku Rasulullah sawaw dalam keadaan berlumuran darah, lalu aku adukan kepada beliau: ‘

fulan, fulan telah membunuhku’.”[ 10 ]

Puas menatap pemandangan seperti ini, bala tentara musuh sejenak menghentikan kebrutalannya. Mereka terkekeh-kekeh menyaksikan Imam Husain as berdoa: “Ya Rabbi, aku bersabar atas ketetapanMu, tiada Tuhan selainMu, wahai Penolong orang-orang yang memohon pertolongan. Tiada Tuhan Pemelihara kami selainMu, tiada Tuhan Yang Patut disembah kecuali Engkau. Aku bersabar atas ketentuan (hukum)Mu, wahai Pelindung orang-orang yang tak memiliki perlindungan, wahai Zat Yang Maha Kekal dan Tak Berpenghabisan, wahai Yang Menghidupkan orang yang sudah mati, wahai Zat Yang Menghakimi setiap jiwa sesuai perbuatannya, hakimilah antara aku dan mereka, sesungguhnya Engkau adalah yang terbaik diantara para hakim”.[ 11 ]

Setelah itu sempat terjadi keheningan beberapa saat. Untuk sementara waktu masih belum ada seorang pun yang berani tampil sebagai pembunuh utama cucu Rasulullah sawaw itu di depan Allah SWT kelak.

Diriwayatkan bahawa saat itu pula tiba-tiba Imam Husain as didatangi bayangan wajah datuk dan ayahnya. Wajah-wajah suci itu bertutur kepada beliau: “Cepatlah kemari, sesungguhnya kami sangat merindukanmu di surga”.[ 12 ]

Keheningan itu ternyata tak berlangsung lama. Umar bin Saad kembali buas dan memerintahkan anak buahnya untuk segera menghabisi riwayat Imam Husain as. Maka tampillah Shabats sebagai orang pertama yang berani mendaratkan mata pedangnya ke kepala Imam Husain as. Namun, saat mata Imam as menatap tajam wajah Shabats, tubuh pria kurang ajar ini tiba-tiba bergemetaran lalu menggigil keras sehingga pedang yang di tangannya terhempas ke tanah.

Dengan wajah pucat pria itu berkata kepada Umar bin Sa’ad: “Hai Putera Saad, kamu tidak mau membunuh sendiri Husain agar nanti akulah yang akan dibalas. Tidak. Aku tidak mau bertanggungjawab atas darah Husain”.

Syabats segera ditegur oleh seseorang bernama Sannan bin Anas. “Kenapa kamu tidak jadi membunuhnya?!” Tanya Samnan ketus.

Syabats menjawab: “Dia menatap wajahku, Sannan! Kedua matanya menyerupai mata Rasulullah sawaw. Sungguh, aku segan membunuh seseorang yang mirip dengan Rasulullah sawaw”.

Sannan dengan bongkaknya berkata: “Berikan kepadaku pedangmu itu, karena akulah yang lebih patut untuk membunuhnya”. Begitu pedang itu pindah ke tangannya, Sannan segera menenggerkannya di atas kepala beliau.

Imam yang sudah tak berdaya itu kembali menatap wajah orang yang berniat menghabisinya itu. Seperti yang dialami, Syabats, tubuh Sannan yang kotor itu tiba-tiba juga menggigil ketakutan setelah ditatap Imam dengan tajam.

Sannan mengambil langkah mundur sambil berucap: “Aku berlindung kepada Tuhannya Husain dari pertemuan denganNya dalam keadaan berlumuran darah Husain”.

Kini tibalah giliran Syimir bin Dziljausan. Pria yang menutupi wajah dan hanya menyisakan celah untuk matanya ini menghampiri Sannan sambil mengumpat. “Semoga ibumu meratapi kematianmu, kenapa urung membunuhnya!?” Maki Syimir.

Sannan menjawab: “Tatapan matanya mengingatkanku pada keberanian ayahnya. Aku takut. Aku tak berani membunuhnya”.

Sambil menyeringai Syimir berseru: “Berikan pedang itu kepadaku. Demi Allah, tak ada seorangpun yang lebih layak dariku untuk membunuh Husain. Akulah yang akan menghabisinya, walaupun dia mirip AlMustafa
ataupun AlMurtadha”.

Syimir berpaling ke arah pasukannya lalu membentak: “Hai, tunggu apa lagi?! Cepat bunuh dia!!”

Tanpa basa-basi lagi, satu anak panah melesat ke arah Imam Husain as dari Hissin bin Numair. Sejurus kemudian yang lain ikut ramai-ramai menghajar Imam Husain as sehingga tak ada anggota tubuh suci cucu Rasulullah sawaw itu yang luput dari hantaman benda tajam, dan benda tumpul. Batu-batu pun bahkan ikut meremukkan tubuh beliau.

Syimir bersumbar lagi: “Ha, ha, ha, tak ada orang yang lebih patut dariku untuk membunuh Husain”.

Dia bergerak mendekati Imam Husain as yang terbaring di tanah lalu menduduki dada Imam Husain as yang masih bergerak turun turun naik. Imam as mencoba membuka kedua kelopak matanya dan menatap wajah Syimir yang menyeringai di depan wajah beliau, namun tatapan beliau kali ini tak meluluhkan hati Syimir yang sudah sangat membatu.

Bukannya ketakutan, dari mulut Syimir yang tertutup kain itu malah keluar kata-kata: “Aku bukanlah seperti mereka yang mengurungkan niat untuk membunuhmu itu. Demi Allah, akulah yang akan menceraikan kepalamu dari jasadmu, walaupun aku tahu kamu adalah orang yang paling mulia karena datuk, ayah, dan ibumu itu.”

“Hai siapa kamu sehingga berani menduduki tubuh yang sering diciumi oleh Rasulullah sawaw ini?”

“Aku Syimir bin Dzil Jausyan!”

“Apakah kamu tahu siapa aku?”

“Aku tahu persis, Ayahmu adalah Ali AlMurtadha, ibumu Fatimah Azzahra, datukmu Muhammad alMustafa,
dan nenekmu Khadijah AlKubra.”

“Alangkah celakanya kamu. Kamu tahu siapa aku, tetapi mengapa akan membunuhku dengan cara seperti ini?”

“Supaya aku bisa mendapat imbalan besar dari Yazid bin Muawiyah”.

“Kamu lebih menyukai imbalan dari Yazid daripada syafaat datukku?”

“Yah, aku lebih menyukai imbalan dari Yazid.”

“Karena tidak ada pilihan lain bagimu kecuali membunuhku, maka berilah aku seteguk air.”

“Oh tidak! Itu tidak mungkin, kamu tidak mungkin bisa meneguknya sebelum kamu meneguk kematian.”

Syimir kemudian menyingkap dan melepas kain penutup muka yang hanya menyisakan celah untuk kedua matanya yang juling itu. Maka, nampaklah seluruh wajah Syimir yang buruk, kasar, belang, dan ditumbuhi bulu-bulu keras itu. Mulutnya ditutup oleh penutup seperti penutup mulut anjing supaya tak menggigit.

Melihat wajah Syimir, Imam Husain as segera berucap: “Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah.”

“Apa yang dikatakan datukmu itu?!” Tanya Syimir angkuh.

“Datukku pernah berkata kepada ayahku, ‘Ali: Sesungguhnya puteramu ini akan dibunuh oleh
seseorang yang berkulit belang, bermata juling, bertutup mulut seperti anjing, dan berambut
keras seperti bulu babi.'”

“Datukmu telah menyamakanku dengan anjing?! Demi Allah, aku akan memisahkan kepalamu dari lehermu”.

Syimir mencabut pedang dari sarungnya dan tanpa membuang waktu lagi, lelaki bengis itu mengayunkan pedangnya sekuat-kuat hatinya ke leher cucu Rasulullah sawaw dan putera Fatimah Azzahra itu. Sekali tebas, kepala manusia mulia itu terlepas dari badannya. Terpisahnya kepala manusia suci itu disusul dengan suara takbir tiga kali dari liang mulut bala tentara Umar bin Saad yang busuk itu.

Kepala yang dulu sering diciumi oleh Rasulullah SAWAW itu ditancapkan ke hujung tombak.

Di antara mereka terdengar teriakan keras: “Bergembiralah hai Amir! Inilah Syimir yang
telah membunuh Husain!”

Langitpun kelabu. Bumi meratap pilu.

 

iran luncurkan Satelit Baru !!! Wowwww…







Iran Luncurkan Satelit Baru- Iran akan meluncurkan satelit pengintai bernama Fajr dalam beberapa bulan ke depan. Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi dalam satu laporan yang disiarkan kantor berita resmi IRNA, Sabtu (25/12).

Vahidi mengatakan republik Islam juga akan menempatkan di angkasa pada saat yang sama sebuah satelit lainnya, Rasad 1 (Observasi), yang peluncurannya semula akan dilakukan Agustus 2010. “Iran sedang membangun satelit-satelit yang berbeda pada akhir tahun (Iran) (Maret 2011), satelit-sateit Fajr dan Rasad akan diluncurkan ke angkasa,” kata menteri itu yang dikutip IRNA.

Kantor berita itu melaporkan Fajr yang berarti Fajar adalah satu satelit pengintai yang beroperasi dengan menggunakan tenaga surya. “Satelit-satelit ini berbeda dari model-model sebelumnya. Mereka memiliki sistem bahan bakar yang lebih baik dan dapat berada di angkasa dalam waktu yang lebih lama,” kata Vahidi.

Ia mengatakan ia mengharapkan Rasad 1 akan diserahkan kepada kementerian komunikasi dan peluncuran akan dilakukan pada ulang tahun ke-32 revolusi Islam tahun 1979 yang jatuh pada 11 Februari 2011. Pada Februari 2009, Iran meluncurkan satelit pertama buatan dalam negeri, Omid yang berarti Harapan.

Gusdur : ““Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab.””

Nabi tersihir? (1998), Ali Umar Al-Habsyi

Tajuk: Nabi Tersihir?
Penyusun: Ali Umar Al-Habsyi
Penerbit: Yayasan As-Sajjad, Indonesia (1998)
Harga: Rp 7800 (Toko Buku Karisma, Batam)

Setelah membaca satu hal berikut yang dianggap taboo untuk dibincangkan, saya mula mencari-cari buku untuk membaca dengan lebih lanjut. Hal tersebut menyentuh isu samada benarkah Nabi Muhammad s.a.w yang kita semua cintai boleh terjebak dalam perangkap sihir? Sihir tersebut menurut hadis, adalah sangat kuat sehinggakan Nabi Muhammad diilusikan melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Bahkan Nabi Muhammad juga mengira telah menggauli isteri-isterinya, padahal tidak.

Buku kecil ini bolehlah juga dipanggil sebagai risalah kerana tiada ISBN dikeluarkan untuk buku tersebut.

Walaupun rata-rata kita ini bolehlah dikatakan sebagai orang awam (layperson) dalam bidang hadis, itu tidak membuatkan kita menerima sahaja hadis-hadis yang disampaikan. Saya kira adalah wajib untuk kita untuk terus-terusan berguru dan membaca kitab-kitab yang dapat kita fahami, untuk memahami hadis-hadis yang kita ketemukan sepanjang perjalanan hidup kita.

Anda semua pasti terkejut, apabila membaca buku ini yang telah memberikan hujah-hujah kenapa hadis daripada Sahih Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan hadis Nabi disihir itu wajar ditolak. Penyusun telah mengemukakan bukti bahawa “Bukhari dan Muslim sendiri telah diragukan kejujurannya dalam periwayatan hadis. Ia dituduh sebagai seorang Mudallis, sebagaimana disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Al-Mizannya, pada biografi Abdullah bin Shaleh bin Muhammad, dan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Ta’rif Ahlit Taqdis hal 7 dari Ibnu Mandah (Nabi Tersihir?, m/s 65).”

.
Buku ini dengan jelas menolak hadis-hadis yang menganggap Nabi Muhammad s.a.w. tersihir kerana anggapan tersebut, menurut penyusun, bersandarkan pada riwayat-riwayat yang palsu. Dengan gugurnya riwayat tersebut, menurut penyusun, maka runtuhlah asas anggapan itu. Penyusun telah menyarankan para pembaca untuk meneliti ayat Al-Quran (Surah Al-Furqan, Ayat 5-9), kerana di sana akan didapati bahawa apabila kita menyetujui hadis Nabi disihir, maka kita telah membenarkan tuduhan orang-orang kafir

.

Keluarga Saudi selama ini mengklaim diri mereka sebagai “Pelayan Haramain”, tetapi kenyataan yang benar adalah mereka budak zionis. Sejak awal Saudi Wahabia berkomplot mendukung dan rela zionis menduduki Palestina

.

Sumpah setia mereka kepada zionis dinyatakan dalam sebuah dokumen yang ditandatangani sendiri oleh Ibnu Saud

.

Dalam dokumen tersebut juga tersirat adanya kesepakatan sebelumnya bahwa Saudi Wahabia akan dijamin tetap berkuasa asal Palestina diberikan kepada kaum Zionis. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Ibnu Saud: “I…..also believe that Britain does not leave its view even tip”, yang maksudnya kurang lebih “Saya juga meyakini bahwa Inggris tidak akan bergeser dari pandangannya walau seujung jari pun”.

dokumen-raja-saudi

Saudi Arabia and Zionists, Brothers until victory or death

Book on workshops Daily: Saudi Arabia and the Zionist Brothers until victory or death

Its published manuscripts of the book had been prepared and researcher of Israeli anti-racist Zionist Professor Israel Shahak, the manuscript written in Hebrew, the colleague Yitzhak Sarai translated into Arabic and disseminating the disposal (because he did not complete) on a daily workshops

.
In the book shows the late thinker, the critical role played by Britain in creating racial entity in Saudi Arabia and his brother Talmud in Palestine

.
The document was signed by Ibn Saud of the French pledge to give Palestine to the Jews (“I’m the Sultan Abdul Aziz Bin Abdul Rahman Al Saud al-Faisal acknowledged and admitted to Sir Percy Cox delegate of Great Britain, I have no objection to give Palestine to the Jews or other poor also believe that Britain does not leave its view even tip”)

.

Ibn Saud had served head of the Zionist state and dreaming for this moment in the future.
Picture of Ibn Saud gathering and King Faisal of Iraq and leaders of the Zionist Organization on board Lauren in 1949.

saudizionis

A Zionist Engineer built the first palaces in Saudi Arabia and Ibn Saud did not even send blankets and food to displaced Palestinians.

istana-saudi

Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan tegas menyatakan, kaum Wahabi menjadi keras dan merasa benar sendiri, tak lain karena pengaruh kerja samanya dengan Dinasti Saudi

.
“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab.”

.
Demikian disampaikan Mantan Ketua PBNU itu pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Rabu, (31/10/2007) malam

.

Buku ini berjudul asli The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September, 2007.
kalo mo liat linknya silakan berkinjung kesini http://forum.nu.or.id/viewtopic.php?f=5&t=28&start=0

.

Telahpun terjadi dan terbukti apa yang pernah di sabdakan oleh Rasulullah SAW,Dari arah sini inilah datangnya fitnah, sambil mengisyaratkan ke arah timur(NAJD)

.

Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai membersihkan mereka. Ketika putus dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.