Hizbullah: Wahai Pemimpin Arab! Contohlah Imam Khamenei

 

Walid Sukkarieh, wakil dari Fraksi Hizbullah menyambut pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait ilegalnya dakwaan pengadilan kasus teror Rafik Hariri. Ia menyeru seluruh pemimpin Arab dan Islam untuk bersikap serupa dengan Rahbar.”Pernyataan Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei merupakan pesan dari bangsa Iran bahwa kondisi Lebanon bukan hanya berpengaruh bagi negara ini karena instabilitas di Beirut akan merembet pada seluruh kawasan,” ungkap Sukkarieh seperti dilaporkan Koran Asharq al-Awsat dan dikutip IRNA hari ini (Selasa 21/12)

Dalam wawancaranya dengan Asharq al-Awsat, Sukkarieh menilai pernyataan yang dirilis Rahbar ini adalah wajar dan ia meminta seluruh pemimpin Arab meneladani sikap pemimpin besar Iran. Menurutnya hal ini penting karena konspirasi Amerika Serikat (AS) dan Rezim Zionis Israel yang memanfaatkan pengadilan Rafik Hariri untuk mengobarkan fitnah dampaknya akan dirasakan seluruh kawasan. Wajar menurutnya jika hal ini terjadi tidak ada pihak yang rela.

Anggota fraksi Hizbullah di parlemen ini menambahkan, Rahbar memperingatkan para pengobar fitnah untuk menghentikan aksinya karena Iran tidak akan tinggal diam jika mereka berniat memporak-porandakan Lebanon.

Sukkarieh menegaskan, pengadilan yang menangani kasus teror Hariri sejak awal pembentukannya juga ilegal karena memiliki misi politik dan memperjuangkan kepentingan AS serta Israel. Washington dan Tel Aviv sejak semula membidik Iran dan kemudian berniat mengobarkan fitnah Sunah-Syiah di Lebanon serta seluruh kawasan demi mensukseskan ambisi busuknya.

Pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

13 Oktober 2010

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pesannya pada Konferensi Nasional Shalat ke-19 menyatakan, pembangunan masjid dan perhatian terhadap susunan maknawi dan lahiriyahnya merupakan tanggung jawab semua dan semua pihak memiliki tanggung yang sama sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Akses mudah ke masjid adalah tuntutan utama para mukmin, pemuda, dan remaja,” tambah Rahbar.

Berikut pesan lengkap Rahbar:

Lahirnya sebuah identitas bernama masjid untuk pertama kali di Quba dan kemudian di Madinah, merupakan di antara terobosan terindah dan paling berbobot pada tahap awal pembentukan masyarakat Islam. Rumah Allah menjadi rumah umat, kesendirian manusia dengan Tuhan dan kebersamaan dengan masyarakat, pusat zikir dan mi’raj maknawi di bidang ilmiah, jihad, dan manajemen duniawi, serta tempat ibadah dan pangkalan politik, merupakan pasangan yang saling terkait dalam gambaran masjid Islam dan sekaligus perbedaannya dengan tempat peribadatan agama-agama lain.

Dalam masjid, semangat dan keceriaan ibadah yang tulus bercampur dengan semangat hidup suci, bijak, dan sehat serta mendekatkan setiap individu dan masyarakat dengan parameter islami.

Masjid adalah manifestasi akumulasi antara dunia dan akhirat, serta individu dan masyarakat, dalam pemikiran dan perspektif agama Islam.

Dengan pandangan seperti ini, hati kita akan menjadi peduli terhadap masjid serta dipenuhi dengan rasa tanggung jawab. Dewasa ini, tidak sedikit di antara masjid-masjid kita yang mampu menampilkan gambaran indah dan penuh semangat.

Partisipasi generasi muda yang suci, serta para ruhaniwan dan guru yang berwawasan dan peduli, telah membangun struktur masjid menjadi pusat zikir, ibadah, pemikiran, dan makrifat, serta membangkitkan nilai-nilai mulia dalam hati kita semua. Akan tetap selama tanggung jawab ini tidak terlaksana dengan sempurna, maka kita tidak boleh lengah menghadapi ancaman kekurangan masjid atau lemah dan kekosongan aktivitas masjid-masjid yang dihadapi oleh masyarakat, para pemuda, keluarga dan generasi mendatang. Dan juga jangan sampai kita terjauhkan dari berkah besar yang diberikan oleh masjid kepada negara, pemerintah, dan rakyat.

Hal penting pertama adalah bangunan masjid dan kehadiran ruhaniwan yang layak di dalamnya. Saat ini dengan adanya puluhan ribu masjid di seluruh penjuru negara, masih terdapat ruang kosong untuk ribuan masjid di desa-desa, perkotaan, permukiman, dan di komplek apartemen yang masih kosong.

Akses mudah ke masjid adalah tuntutan para mukmin, pemuda, dan remaja kita. Kehadiran ruhaniwan yang mukmin, bijak, ahli, dan peduli di masjid ibarat seorang dokter dan perawat di rumah sakit. Kehadirannya adalah ruh dan sumber kehidupan masjid.

Para imam shalat jamaah harus menilai persiapan untuk menyembuhkan sisi maknawi sebagai tugas pasti adapun pusat-pusat yang mengurusi masjid dan hauzah ilmiah juga harus membantu mereka.

Masjid-masjid harus menjadi pengajar tafsir dan hadis serta mimbar maarif sosial dan politik, juga pusat penggemblengan dan pendidikan akhlak.

Bisikan cinta para pengelola, manajer, dan dewan direksi masjid harus menarik hati para pemuda. Partisipasi para pemuda dan semangat relawan harus menghidupkan lingkungan masjid dan penuh semangat serta dipenuhi dengan harapan. Antara masjid dan pusat-pusat pendidikan di setiap wilayah, harus dijalin kerjasama dan ikatan konstruktif yang telah ditentukan. Betapa baiknya jika para pelajar berprestasi di setiap wilayah, didorong oleh imam shalat jamaah di masjid dan di hadapan masyarakat.

Masjid harus memperkokoh hubungannya denga para pemuda yang baru menikah, dengan orang-orang yang meraih keberhasilan ilmiah, sosial, seni, dan olah raga, dengan orang-orang yang menjadikan upaya untuk membantu orang lain sebagai semangatnya, dengan orang-orang yang sedih dan kehilangan, bahkan dengan bayi yang baru lahir.

Di setiap tempat, masjid menjadi tempat yang aman dan sumber kebaikan dan berkah, dan khususnya masjid tidak boleh menjadi sarana yang mengganggu para tetangga. Penyiaran suara-suara mengganggu khususnya di malam hari di saat warga beristirahat, bukan hal yang terpuji dan termasuk dalam pelanggaran syariat. Satu-satunya suara yang keluar dari masjid dan menggema di angkasa adalah suara azan dan dengan suara merdu.

Pembangunan masjid-masjid serta elemen-elemen maknawi dan lahiriyahnya adalah tanggung jawab semua pihak sesuai dengan kemampuan dan tekad masing-masing. Masyarakat, kepala daerah, dan instansi pemerintah, masing-masing harus melaksanakan tugasnya. Ruhaniwan ahli, bertanggung jawab, dan mukmin mampu dan harus menjadi poros rangkaian upaya suci tersebut.

Saya memohon agar kalian semua disukseskan oleh Allah Swt dan untuk ruhaniwan pejuang dan pengkhidmat, yang terhormat Hujjatul Islam wal Muslimin Qaraati, saya memohonkan kebahagiaan dan kesuksesan dari Allah Swt

“”Kemajuan Ilmu Iran Tercepat Di Dunia”” menurut JURNAL Newscientist edisi Khamis (Feb18) memuat hasil kajian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada

 

JURNAL Newscientist edisi Khamis (Feb18) memuat hasil kajian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil kajiannya, menyebutkan bahawa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Perusahaan itu mengamati adanya “pergeseran geopolitis dalam bidang ilmu pengetahuan dan karya” yang dihasilkan negara-negara di dunia. Menurut Science-Metrix, banyaknya karya-karya ilmiah yang dimuat di Web of Science menunjukkan standart pertumbuhan karya ilmiah di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Turki, nyaris mendekati angka empat kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan di dunia.

“Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami anggarkan sebelumnya. Eropah mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan,” kata Eric Archambault yang menulis laporan Science-Metrix.

Beliau mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklier dan fizika partikel. “Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedoktoran dan pengembangan pertanian,” kata Archambault.

Beliau juga menambahkan, perkembangan teknologi di Iran pada tahun ini sangat cepat bahkan melampaui negara China yang diakui dunia cemerlang dalam bidang sains. Meski lebih dari 30 tahun dikepung Barat, Iran telah melakukan langkah besar di berbagai sektor, termasuk sektor ruang angkasa, nuklier, kedoktoran, penelitian tentang sel dan kloning.

Pada 2 Februari lalu, Iran berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisme hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian. Sebelumnya, di bulan Januari, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan haiwan ternak transgenik, seperti bebiri dan kambing.

Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berjaya kembangkan teknologi dan perangkat untuk mengklon haiwan ternak. Hasilnya dapat digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedoktoran dan memproduksi zat antibodi manusia bagi menangkal penyakit. Anak bebiri bernama Royana serta dua lembu bernama Bonyana & Tamina adalah haiwa-haiwan hasil kloning pertama di Iran.

Sementara itu, seorang Profesor bidang fizik di Universiti Tehran, Massoud Ali Mohammadi meninggal dunia akibat serangan bom yang dipasang di sebuah motoskal Selasa 12 Jan lalu. Presiden Iran mengatakan, musuh-musuh Iran tidak senang melihat kemajuan negara Iran. Menurut Mehr News. “Mereka tidak akan dapat menjauhkan ilmu pengetahuan dari bangsa Iran dengan cara membunuh golongan elit di Iran.” jelas Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Komen Blog Ibnu Hasyim: Malaysia yang aman damai tidak disekat seperti Iran bagaimana? Dah setengah abad lebih kita merdeka pun, masih tidak boleh lawan setengah dari Iran? Cuba siasat di mana salahnya. Barangkali terlampau maju ke arah hiburan yang melalai dan melalikan kot? Sampai rakyat pentingkan hiburan dari ilmu pengetahuan.

Ataupun Iran diserang secara kasar dan terang-terangan, pakarnya dibom atau dimusnahkan. Barangkali di Malaysia pun dibom pemikiran pemimpin-pemimpinnya sehingga mabuk dengan candu-candu maksiat hiburan yang melali dan melalai itu. Supaya pembangunan ilmu pengetahuan musnah.

Siapa pula pemusnahnya? Kalau di Iran Presidennya menyatakan, pelaku pembunuhan Massoud Ali Mohammadi pakar fizik Iran itu, menggunakan cara-cara “Zionis” dalam melakukan aksinya. “Orang dapat lihat tingkat dendam musuh dari cara dia (Mohammadi) dibunuh. Metode pengeboman adalah cara Zionis.” kata Ahmdinejad semasa memberikan pidato dalam kunjungannya ke daerah Khuzestan, beberapa minggu lalu.

Apakah pengeboman pemikiran-pemikiran pemimpin-pemikiran di Malaysia ikut model zionis juga,walaupun bukan cara kekerasan?

Kemajuan Iran Pasca Revolusi Islam, Ternyata Embargo Percepat Kemajuan Iran

Ahmadinejad: Kemajuan Iran, Kemajuan untuk Kawasan 

Kemajuan Iran Pasca Revolusi Islam (01)

Ahmadinejad: Industri, Pangkal Kemajuan Iran

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad menilai kemajuan di sektor industri sebagai sumber kekuatan bangsa Iran.Ahmadinejad dalam pidatonya pada seminar nasional para pimpinan departemen pertambangan dan perindustrian di Tehran hari ini (Kamis,21/10) mengatakan, kemajuan di sektor industri dan pertambangan Iran sangat membanggakan dan menjadi penopang kekuatan bangsa.

Menyinggung urgensi penguatan kepercayaan diri para industriawan, Ahmadinejad menuturkan, bangsa dan negara yang kuat di sektor ekonomi, industri dan budayanya akan tahan terhadap segala goncangan.

Seraya menyebut cita-cita bangsa Iran lebih tinggi dari sekedar menjaga wilayah Iran saja, Ahmadinejad menyatakan, “Cita-cita universal bangsa Iran membawa kecintaan, keadilan, keamanan dan kesucian bagi seluruh umat manusia.”

 

Revolusi Islam Iran tahun 1979 adalah kebangkitan rakyat yang bersumberkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Pasca kemenangan revolusi, pemerintah bersama rakyat Iran bergotong-royong membangun kembali negerinya di berbagai bidang. Islam sebagai agama yang sempurna dan komprehensif, selalu menekankan pentingnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan memajukan taraf hidup umat. Terkait hal ini, Islam mengajarkan dua prinsip utama, yaitu: pertama, sikap mandiri dan tidak bergantung pada non-muslim, dan kedua adalah percaya diri dan bertawakkal kepada yang Maha Kuasa untuk memajukan kehidupan umat muslim.

 

Kitab suci Al-Quran, dalam surat An-nisa ayat 141 menegaskan pentingnya kemerdekaan dan kemandirian umat Islam. Al-Quran menuturkan, “…Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin”. Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat muslim dari segi politik, ekonomi, budaya, militer, dsb, harus sedemikian kuat sehingga masyarakat non-muslim tidak mampu menguasainya. Ajaran luhur Islam ini merupakan daya penggerak bagi kaum muslim untuk memutus ketergantungan mereka terhadap pihak lain dan menentang penjajahan atas dirinya. Pesan kemandirian inilah yang selalu diperjuangkan Revolusi Islam. Sepanjang 29 tahun sejak kemenangan Revolusi Islam, Republik Islam Iran berhasil mencapai kemajuan besar di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, ekonomi, sosial, dan militer.

Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama. Pasalnya, pada era pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS. Sebaliknya, pasca kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan mengancam Republik Islam Iran dengan pelbagai cara, termasuk dengan menerapkan embargo ekonomi. Karena itu, Iran pun berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang yang dipaksakan oleh Rezim Ba’ats, Irak selama delapan tahun. Upaya tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara. Begitu pula di berbagai komoditas pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan program mekanisasi pertanian.

Salah satu dampak buruk yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi. Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun 2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran kurang dari 50 persen. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan. Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD. Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuatif.
Di sisi lain, untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008, produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58 juta ton.

Salah satu produksi industri Iran yang berhasil diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara. Pada tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350 juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca revolusi.

Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang ini mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Februari ini, menteri perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia. Selain itu, Teheran juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.

Salah satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Terlebih khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam. Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah. Selama dua tahun pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi 30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.

Masih di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga mengeluarkan program pembagian ‘saham keadilan’. Lewat program ini, saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada mereka.

Dalam surat Al-Anfal ayat 60 kepada kaum muslimin menyatakan: “Dan siapkanlah untuk menghadapai musuh, dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”. Di ayat lainnya, Al-Quran berpesan kepada kaum muslimin pentingnya memiliki kesiapan militer untuk menghadapi kemungkinan adanya ancaman musuh. Berdasarkan pesan-pesan Al-Quran inilah, pasca revolusi Islam, angkatan bersenjata Republik Islam Iran berusaha membangun kekuatannya untuk menghadapi ancaman musuh. Agresi militer Rezim Ba’ats melawan Iran di dekade 80-an, dan ancaman tanpa henti AS, merupakan pelajaran berharga bahwa Iran mesti memperkuat daya pertahanan militernya di hadapan segala bentuk agresi musuh.

Kendati Iran pasca revolusi, menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern. Angkatan bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur, para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini. Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.

Angkatan darat militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal. Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil menorehkan prestasi gemilang. Seperti pembuatan beragam jenis kapal perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan siap mengadapi ancaman perang elektronik.

Kemajuan mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.

Kemajuan Iran Pasca Revolusi Islam (02)
Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”. 

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Isu nuklir Iran adalah topik yang begitu akrab. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini, ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Mahmoud Ahmadinejad dalam lawatannya di Uni Emirat Arab. Berpidato di
hadapan warga Iran di UEA, Ahamdinejad menegaskan bahwa kemajuan Iran
adalah kemajuan seluruh bangsa-bangsa di kawasan. Menurutnya,
penentangan kekuatan adidaya atas kemajuan ilmu pengetahuan
bangsa-bangsa yang lain, lahir dari hasrat imperialis mereka.

kemajuan iran

Iran Pelopori Satelit Bersama Dunia Islam
28/11/2010

Iran Pelopori Satelit Bersama Dunia Islam

Menteri Telekomunikasi Iran Reza Taqipour mengatakan Turki, Pakistan dan sejumlah negara Arab menyatakan kesiapannya berkolaborasi dengan Iran dalam desain dan peluncuran satelit dunia Islam. Tehran pertama kali mengumumkan rencana peluncuran satelit bersama OKI dengan nama “Besharat” ke ruang angkasa dengan partisipasi negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada Februari 2009. “Selain Iran, sejumlah negara Arab, Turki, Pakistan dan Malaysia akan berpartisipasi dalam pembangunan dan peluncuran satelit Besharat,” kata Taqipour kepada kantor berita Mehr kemarin. Tehran mengatakan negara-negara Islam bisa menggunakan satelit ini untuk melakukan pemetaan secara akurat, sekaligus mengatasi bahaya dan penanggulangan bencana alam. Pada bulan Oktober, Parlemen Iran meratifikasi undang-undang yang memungkinkan pemerintah meningkatkan upaya untuk merancang dan meluncurkan satelit dan operator satelit. Pada Senin lalu, anggota parlemen Iran memberikan suara yang mendukung RUU Pasal 49 mengenai Rencana pembangunan Iran tahun 2011-2015, yang akan mengizinkan pemerintah mengatur infrastruktur yang dibutuhkan untuk proyek-proyek satelit. Iran telah bergabung dengan negara-negara yang memiliki keahlian meluncurkan satelit pada tahun 2009 lalu. Hal itu ditandai dengan peluncuran satelit buatan anak negeri, Setelit Omid yang diangkut ke ruang angkasa menggunakan roket Safir. Tehran juga berencana mengirim misi ruang angkasa berawak pertamanya ke luar angkasa pada 2019.

 

Ternyata Embargo Percepat Kemajuan Iran

February 14, 2010

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Rusia, Mahmoud-Reza Sajjadi mengatakan, embargo akan mempercepat kemajuan dan perkembangan Iran. Kantor berita IRNA melaporkan, Mahmoud-Reza Sajjadi kemarin (Sabtu,13/2) menyinggung ketidakefektifan embargo ekonomi terhadap Iran. Dikatakannya, “Pengambilan kebijakan semacam itu akan lebih memperkuat kami dan mempercepat kemajuan dan perkembangan Iran.”

Seraya menjelaskan bahwa Tehran dan Moskow punya kesamaan pandangan dan sikap dalam kebanyakan isu-isu regional dan internasional, Sajjadi menandaskan, kerjasama kedua negara adalah jaminan atas stabilitas dan ketenangan di kawasan dan berdampak pada peningkatan kerjasama multilateral.

Menyinggung pengayaan uranium ke tingkat 20 persen di Iran, Sajjadi menuturkan, “Jika Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyepakati pertukaran uranium di wilayah Iran, kami juga akan menyambutnya.”00:08:04 (

Sejarah Iran Menuju Peradaban Modern

Sejarah awal Iran meliputi negara Iran dan juga negara-negara tetangganya yang mempunyai persamaan dalam kebudayaan dan bahasa. Ketika itu, negara-negara ini diperintah oleh kekaisaran-kekaisaran seperti Media dan AkhemenidSassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Kemudian Persia bergabung menjadi sebagian khilafah Islam awal. Sejarah Iran khusus pula dimulai dengan dinasti Zand pada abad ke-16.

Kekaisaran Persia

 

Kekaisaran Achaemenid di puncak kejayaannya

Pemerintahan lama Iran dikenal sebagai Kekaisaran Persia hingga1935 di mana Shah Reza mengumumkan nama setempat Persia yaitu Iran. Nama Persia ini diambil dari kata Yunani: Persis. Orang Persia pun menamakan peradaban mereka Iran atau Iranshahr sejak zaman Sassania.

Nama Persia ini sebenarnya diambil dari kata Fars atau Pars (dalam Bahasa Persia). Menuruti bahasa Yunani, negara-negara Eropa menamakan Iran sebagai Persia. Ini karena tanah Iran dan negara-negara sekitarnya adalah panggung peradaban dan kekaisaran-kekaisaran lama Persia. Nama Iran mulai digunakan pada tahun 1935 saat Shah Reza Pahlavi, raja Iran meminta agar masyarakat internasional menggunakan istilah Iran. Istilah ini berarti Bumi Arya.

Kekaisaran Persia terdiri dari beberapa dinasti dimulai dengan Dinasti Akhemenid yang merupakan kekaisaran Persia awal. Pemerintahan ini didirikan oleh Cyrus Agung di mana ia berjaya menyatukan pemerintahan kecil dan suku-suku di tanah Iran. Sassaniaadalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Persia kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arab diikuti dengan Turki (Tentara Seljuk), Mongol, Inggris danRusia. Di balik penaklukan ini, etnis Persia berhasil mempertahankan kebudayaan, bahasa dan jati diri mereka.

Kedatangan Islam

Setelah kekalahan Sassania ke tangan pasukan Islam, Persia kemudian diperintah oleh khilafah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Semasa pemerintahan Abbasiyah, orang Persia memainkan peranan penting dalam menyumbang kegemilangan Islam.

Setelah pemerintahan Abbasiyah, Persia mulai mencapai kemerdekaan mereka dengan mendirikan sebuah pemerintahan dimulai denganThahiriyah dan disusul dengan SaffariyahZiyariyah dan Samaniyah. Pemerintahan-pemerintahan ini mulai menaklukkan kembali wilayah-wilayah Persia dari tangan Abbasiyah. Pada zaman Buwaihidah, Persia berhasil menaklukkan semua wilayah mereka dan juga kotaBaghdad dan memenjarakan khalifah Abbasiyah. Pemerintah Buwayhidah mulai memakai kembali gelar Shah yang merupakan warisan Sassania.[1]

Zaman Pertengahan

Dinasti-dinasti yang memerintah Persia selepas ini adalah keturunan bangsa Turki dari Asia Tengah. Pada mulanya, mereka ini hanyalah tentara budak pada zaman Abbasiyah. Namun begitu, mereka menguasai administrasi khilafah Abbasiyah menyusul kelemahan khalifahnya. Setelah kejatuhan Abbasiyah, pemerintahan-pemerintahan kecil mulai naik di seluruh Iran. Antara lain yang utama ialah Thahiriyah dariKhorasan (820872), Saffariyah di Sistan (867903), dan Samaniyah di Bukhara (8751005). Pada 962, seorang pegawai pasukan budak Samaniyah, Aluptigin, menaklukkan Ghazna dan mendirikan pemerintahan Ghaznawiyah.

Persia kemudian diserang dan ditaklukkan oleh pasukan Turki Utsmani yaitu tentara Seljuk Oghuz dari Amu Darya. Pimpinan mereka Tughril Beg kemudian dianugerahi sebuah jubah, hadiah dan juga gelar Raja di Timur. Ketika Iran di bawah pemerintahan Shah Malik (pengganti Tughril) (1072–1092), Iran menyaksikan penyuburan kembali kebudayaan dan kegemilangan sains mereka dan ini merupakan jasa raja muda Shah Malik yaitu Nizam al Mulk. Pada zaman ini juga, sebuah observatorium dibangun di mana Omar Khayyám, seorang ahli astrologi membuat eksperimen kalender baru. Selain itu, sekolah-sekolah agama turut dibangun di kota-kota utama. Abu Hamid Ghazali, seorang pakar teologi Islam, dan juga beberapa cendekiawan Islam di Baghdad turut dijemput meneruskan penyelidikan mereka di Iran.

Setelah kematian Shah Malik, Iran terpecah kembali pada pemerintahan-pemerintahan kecil. Pada masa inilah Genghis Khan dari Mongolia memasuki Persia dan memusnahkan kota-kotanya. Sebelum matinya, tentera Mongol telah menaklukkan Azarbaijan dan memusnahkan kota itu.

Penaklukan ini menyebabkan kehancuran yang besar bagi rakyat Iran. Sistem irigasi dimusnahkan menyebabkan beberapa permukiman terpaksa diubah. Mereka terpaksa mencari wahah sebagai sumber air. Sebagian besar penduduk Iran, terutama elaki dibunuh dan populasi Iran jatuh mendadak. Pemerintah Mongol hanya berbuat sedikit untuk memperbaiki Iran. Cucu Genghis, Hulagu Khan, menaklukkan Baghdad pada tahun 1258 dan membunuh khalifah terakhir Abbasiyah. Merajalelanya Hulagu Khan di TimTeng dijepit oleh tentara Mamluk(dari Mesir) di Palestina. Hulagu Khan kemudian kembali ke Iran dan menetap di Azerbaijan hingga kematiannya.

Pemerintah Mongol selepas ini, Ghazan Khan (12951304) dan juga wazirnya Rashid ad Din memulihkan kembali ekonomi Iran. Cukai untuk pekerja diturunkan, pertanian digalakkan, membangun kembali sisten irigasi dan memperbaiki keselamatan jalur perdagangan. Hasilnya, perdagangan meningkat dengan pantas dan barang dari India dan China dapat dibawa masuk ke Iran dengan senang. Ghazan kemudian diganti oleh kemenakannya Abu Said dan selepas meninggalnya Abu Said, Iran sekali lagi terpecah pada beberapa pemerintahan kecil seperti SalghuriyahMuzaffariyahInju, dan Jalayiridah.

Peninggalan tentara Mongolia di bawah pimpinan Timur Lenk, seorang Mongol bangsa Turki, kemudian masuk dan menaklukkan Persia. Ia menaklukkan Transoxiana dan menjadi sultan di sana. Tidak seperti Genghis Khan, serangan Timur Lenk tejadi pelan-pelan dan tidak membawa banyak kerusakan. Ini karena tentaranya tidak sebesar tentera Genghis Khan. Namun begitu, Isfahan dan Shiraz tetap mengalami kehancuran parah. Selepas kematiannya, kesultanan ini terpecah belah tetapi kelompok-kelompok Mongolia yaitu Uzbek dan BayundurTurkmen masih memerintah kawasan Iran hinggal bangkitnya kesultanan Safavid.

Zaman Modern

 

Persia pada tahun 1808.

Pada zaman Safavid (15021736), kebudayaan Persia mulai berkembang kembali terutama pada zaman Shah Abbas I. Sebagian sejarawan berpendapat bahawa negara Iran modern didirikan oleh Kesultanan Safavid. Banyak kebudayaan Iran pada hari ini berasal dari zaman pemerintahan Safavid termasuk pengenalan aliran Syiah di Iran.

Selepas era Safavid, Iran kemudian diperintah oleh Wangsa ZandQajar dan akhirnyaPahlavi. Pada kurun ke-17, negara-negara Eropa mulai menjelajahi Iran dan menapakkan pengaruh mereka di sana. Akibatnya Iran mulai kehilangan beberapa wilayahnya kepada negara-negara ini menyusul beberapa perjanjian perdamaian seperti perjanjian Turkmanchaidan perjanjian Gulistan.

Pada lewat abad ke-19, Iran memasuki sebuah era baru ketika terjadinya Revolusi Konstitusi Iran, yang merupakan sebuah revolusi yang memperkenalkan sistem monarki konstitusional. Tetapi Shah Iran atau raja Iran masih berjaya mempertahankan kekuasaan mereka. Sebuah parlemen yang dinamai Majles didirikan pada 7 Oktober 1906.

Penemuan minyak mentah di wilayah Khuzestan menarik minat Inggris dan Rusia untuk meluaskan pengaruh mereka di Iran. Kedua adidaya ini bersaing untuk memonopoli minyak Iran dan akhirnya memecah belah Iran. Disebabkan kelemahan pemerintahan Iran saat itu (pemerintahan Qajar,) menangani kuasa-kuasa ini, maka terjadilah pemberontakan oleh Reza Pahlavi yang mana ia berhasil menobatkan dirinya sendiri menjadi Shah Iran yang baru dan mendirikan Dinasti Pahlavi.

Perang Dunia

Ketika Perang Dunia I, Iran berada di bawah pengaruh Inggris dan Rusia walaupun kebijakan pemerintahannya netral. Pada 1919, Inggris mencoba menjadikan Iran sebagai negeri naungan mereka tetapi rencana macet saat Shah Reza menggulingkan Pemerintahan Qajar dan mendirikan Dinasti Pahlavi. Shah Reza Pahlavi memerintah Iran selama 16 tahun dan memulai proses pemodernan Iran serta mendirikan pemerintahan sekular baru.

Sejak penemuan minyak, Iran menjadi sumber cadangan minyak utama bagi negara-negara Sekutu. Ketika Perang Dunia II, tentara Sekutu meminta agar Shah Reza menghalau keluar teknisi Jerman tetapi permintaan ini ditolak. Maka, tentara Sekutu melancarkan serangan atas Iran dan menyingkirkan Shah Reza dan melantik puteranya Shah Mohammad Reza menjadi pengganti Shah Iran. Namun begitu, Shah Mohammad hanyalah boneka Inggris dalam administrasi Iran dan pemerintahannya bersifat otokratis dan dibenci rakyat Iran.

Revolusi Islam

Setelah berbulan lamanya protes dilancarkan terhadap pemerintahan tangan besi Shah Mohammad, pada 16 Januari 1979 ia terpaksa melarikan diri ke Mesir sekaligus mengakhiri dinasti Pahlavi. Selepas itu, Iran terlibat dalam kancah domestik yang menyaksikan persengketaan di antara pendukung revolusi Iran dan pendukung kerajaan sementara warisan Shah Mohammad yang dikepalai Dr. Shapour Bakhtiar. Pada saat kembalinya Ayatollah Khomeini, pencetus revolusi Iran, ia melantik Mehdi Bazargan sebagai perdana menteri baru Iran. Ini menyebabkan Iran terbagi dua, pemerintahan revolusi dan pemerintahan sementara. Namun begitu, pemerintahan sementara Iran kalah dalam persaingan merebut kuasa saat pihak militer Iran menyatakan netral. Setelah itu, jajak pendapat dibuat untuk mendirikan sebuah pemerintahan baru. Keputusannya, 98% rakyat Iran menyokong gagasan ini dan akhirnya terbentuklah Republik Islam Iran

Perang Iran-Irak

Pada 22 September 1980Irak memasuki Iran untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang dituntut Irak. Pada mulanya, tentera Irak berhasil mara ke wilayah-wilayah Iran tetapi mereka kemudiannya dijepit oleh tentara Iran dan akhirnya perang ini menjadi Perang Perlumpuhan di mana kedua belah pihak mencoba melumpuhkan lawannya dengan serangan berkelanjutan tanpa henti. Iran walau bagaimanapun berhasil menaklukkan kembali wilayah-wilayah mereka. Peperangan ini berkelanjutan hingga 20 Agustus 1988 saat tawanan perang terakhir berhasil dibawa pulang kemali pada tahun 2003.

Peperangan ini menyaksikan penggunaan senjata kimia oleh tentara Irak yang menyebabkan ramai tentara dan penduduk awam Iran terkorban. Jumlah korbannya diperkirakan setengah hingga satu juta dan menjadikan Iran korban senjata kimia kedua terbesar dalam sejarah manusia (setelah Jepang).

Rujukan

  1. ^ Patrick ClawsonEternal Iran. Palgrave Macmillan. 2005. ISBN 1-4039-6276-6 m/s: 19
Proskynesis.jpg
Sejarah IranKekaisaran Persia (Iran) 

Iran adalah salah satu negara tertua di dunia. Sejarahnya telah dimulai dari 5000 tahun yang lalu. Iran berada pada persilangan yang strategis di daerah Timur Tengah, Asia Barat Daya. Bukti keberadaan ma nusia di masa lampau pada periode Palaeolitikum Awad di pegunungan Iran telah diternukan di Lembah Kerman Shah. Dan seiring dengan berjalannya sejarah panjang ini, Iran telah mengalami berbagai invasi dan dijajah oleh negara asing. Beberapa referensi tentang keadaan sejarah Iran dengan demikian tidak bisa dihapuskan untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sesuai terhadap perkembangan yang terjadi selanjutnya.

Peradaban awal utama yang terjadi pada daerah yang sekarang menjadi negara Iran, adalah peradaban kaum Elarnit, yang telah bermukim di daerah Barat Daya Iran sejak tahun 3000 S.M. Pada tahun 1500 S.M. suku Arya mulai bermigrasi ke Iran dari Sungai Volga utara Laut Kaspia dan dari Asia Tengah. Akhirnya dua suku utama dari bangsa Arya, suku Persia dan suku Medes, bermukim di Iran. Satu kelompok bermukim di daerah Barat Laut dan mendirikan kerajaan Media. Kelompok yang lain hidup di Iran Selatan, daerah yang kemudian oleh orang Yunani disebut sebagai Persis-vang menja di asal kata nama Persia. Bagaimanapun juga, baik suku bangsa Medes maupun suku bangsa Persia menyebut tanah air mereka yang baru sebagai Iran, yang berarti “tanah bangsa Arya”.

Pada tahun 600 S.M. suku Medes telah menjadi penguasa Persia. Sekitar tahun 550 S.M. bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk dinasti mereka sendiri (Kerajaan Achaemenid). Pada tahun 539 S.M., masih dalara periode pemerintahan Cyrus; Babylonia, Palestina, Syria dan seluruh wilayah Asia Kecil hingga ke Mesir telah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Dan dalara masa pemerintahan Darius, jalur pelayaran mulai diper kenalkan, bersamaan dengan dimulainya sistem mata uang logam emas dan perak. Jalan kerajaan dari Sardis hingga Susa dan sistem pos difungsikan dengan tingkat efisiensi yang menakjubkan. Pada masa jayanya di tahun 500 S.M. daerah kekuasaan kerajaan ini membentang ke arah barat hingga ke wilayah yang sekarang disebut Libya, ke arah timur hingga yang sekarang disebut seba gai Pakistan, dari Teluk Oman di Selatan hingga Laut Aral di Utara. Lembah Indus juga merupakan bagian dari Kerajaan Achaemenid. Seni budaya Achaemenid memberikan pengaruh pada India, dan bahkan kemu­dian dinasti Maurya di India dan pemimpinnya Asoka sangat terimbas dengan pengaruh Achaemenid. Begi tupun juga yang terjadi di Asia Kecil dan di Armenia, pengaruh Iran sangat kuat bertahan jauh setelah keruntuhan dinasti Achaemenid. Ada beberapa kata yang diserap oleh bahasa Armenia dari kata-kata ba hasa Iran sehinggga selama beberapa lama para peneliti mengira bahwa bahasa Armenia merupakan bagian dari bahasa Iran dan bukannya merupakan unit yang ter pisah dari keluarga bahasa Indo-Eropa.

Pada kira-kira tahun 513 S.M. bangsa Persia meakukan invasi ke tempat yang sekarang merupakan Rusia Selatan dan Eropa Tenggara dan hampir mengu asai wilayah ini fuga. Darius sekali lagi mengirim bala Tentara Agung-nya ke Yunani di tahun 490 S.M., tetapi dikalahkan oleh pasukan bangsa Athena di Marathon. Sekali lagi putra Darius, Xerxes, menginvasi Yunani di tahun 480 S. M. Bangsa Persia mengalahkan tentara Spar ta setelah melalui pertempuran sengit di Thermopylae. Akan tetapi mereka mengalami kekalahan yang menye sakkan di Salamis dan didepak dari Eropa tahun 479 S. M. (2) (3)Setelah mengalami kekalahan di Yunani, Im perium Achaemenid kian melemah dan mengalami kemerosotan. Pada tahun 1331 S.M. Alexander dari Ma cedonia menaklukkan kerajaan tersebut, setelah menga Iahkan tentara Persia yang besar dalara pertempuran di Arbela. Kemenangan ini mengakhiri Imperium Achaemenid dan Persia pun menjadi bagian dari ke kaisaran Alexander.

Penaklukan keseluruhan kerajaan Achaemenid oleh Alexander dianggap sebagai sebuah tragedi besar oleh bangsa Iran, sebuah fakta vang direfléksikan dalara kisah epik nasional Shah Nameh, yang ditulis oleh Fir dausi, seorang penvair, kira-kira pada awal abad 11 M. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematian Alexander di tahun 323 S.M., salah seorang panglima bernama Seleucus mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Persfa dari tahun 155 S.M. Setelah itu, bangsa Parthian memenangkan kendali atas Persia. Pemerintahan mereka bertahan hingga tahun 224 M. Bangsa Parthian membangun kerajaan yang besar melewati Asia Kecil Timur dan Asia Barat Daya. Selama 200 tahun terakhir pemerintahan mereka, bangsa Parthian harus berperang dengan bangsa Romawi di Barat dan bangsa. Kushan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Afganistan.

Sekitar tahun 224 M seorang Persia bernama Ardhasir menggulingkan kekuasaan bangsa Parthian dan mengambil alih kerajaan. Setelah lebih dari 550 ta hun di bawah kekuasaan bangsa asing, orang Persia kembali memerintah Persia, dan dinasti Sassanid ini bertahan selama lebih dari 400 tahun. Dalam kurun wak tu itu, seni budaya Iran tumbuh subur, jalan-jalan, irigasi dan bangunan berkembang pesat, akan tapi perang antara bangsa Persia dan bangsa Romawi terus berlanjut mewarnai sebagian besar masa pemerintahan rezim Sassanid. Peradaban Sassanid mencapai kejayaannya di pertengahan abad ke 6 M. Persia memenangkan bebe rapa peperangan dengan Romawi, dan menguasai kern bali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Tentara Persia sebenarnya telah mengua sai hingga perbatasan Konstantinopel, yang pada saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Byzantium (Kerajaan Romawi Timur). Akan tetapi mereka di sana dikalahkan dan terpaksa mengundurkan diri dari sernua wilayah yang telah mereka taklukkan.

Kerajaan Sassanid jauh lebih tersentralisir dari para pendahulunya. Zoroastrianisme z menjadi agama negara. Akan tetapi selama masa rezim Shahpur 1, seorang pemimpin agama dan pergerakan baru muncul ketika Mavi menyatakan dirinya sebagai rasul Tuhan Yesus yang terakhir dan terbesar. Pada akhirnya dia dihukum mati. Agamanya kemudian disebut Mani cliaeisme.Di bawah dinasti Sassanid, eksploitasi dan penindasan yang ekstrim terhadap rakyat mencapai puncaknya. Perbudakan telah rnelampaui batas dan memasuki masa krisis. Migrasi besar-besaran kaum tani miskin telah merambah kota-kota sebagai akibattirani kebangsawanan feodal yang tak tertahankan. Namun, di kota-kota-pun mereka masih diperlakukan sebagai budak. Penindasan yang terakumulasi itu tiba-tiba mele dak dalara bentuk gerakan revolusioner di bawah pim pinan Mazdak.

Mazdak adalah seorang revolusioner besar jaman itu dan gerakannya, seperti halnya gerakan Kristen di masa awal yang berkembang di bawah kQndisi serupa, memiliki kandungan komunistik. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu, dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan gagasan revolusioner Mazdak mengakar kuat di kalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahun 494 M hingga 524 M. Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan, gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan tiga puluh ribu pengikutnya dibinasakan, akan tetapi pada dasamya Nosherwan telah dipaksa untuk melaksanakan reformasi sosial dan agraris. Gerakan revolusioner Maz dak adalah salah satu perjuangan kelas yang paling inspiratif dalam sejarah Iran. Tradisi ini telah mening galkan jejak mendalam pada perjalanan panjang gerakan revolusioner Iran.

Di pertengahan abad ke-7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang merubah nasib Iran. Tentara Arab menaklukkan negara tersebut dan kebanyakan rakyat Iran kemudian menganut agama Islam. Alasan bagi keberhasilan pesat agama baru itu tidak sulit untuk dicari. Di samping kesemua pencapaian yang demikian menakjubkan, Kerajaan Sassanid dicirikan dengan adanya penindasan yangektrim terhadap rakyat yang telah terinjak. Meskipun begitu, bagi dunia bangsa Iran lahirnya agarna Islam tidak berarti pembebasan, akan tetapi merupakan kekalahan dan penjajahan oleh orang asing. Hal itu merubah seluruh rangkaian sejarah Per sia. Dengan memperkenalkan Islam, bangsa Arab mengganti kepercayaan kuno Persia, Zoroastrianisme, dan sejak saat itu hingga hari ini, orang Persia menjadi Muslim. Namun, stempel Islam mereka dari awainya agak berbeda dengan yang dimiliki oleh Muslim yang lain. Mereka mengisinya dengan wanra-warna Iran yang spesifik ketika bangsa Persia itu menganut agama Is lam dalam bentuk Syi’ah yang heterodoks dan meng gunakannya sebagai senjata yang digunakan untuk melawan para penguasa Arab.

Selama beberapa abad bahasa penjajah, yakni Bahasa Arab, menggantikan bahasa Pahalavi (bahasa Persia tengah), bahasa vang dipakai oleh bangsa Persia selama masa pemerintahan Sassanid (periode Kerajaan Persia Kedua). Pemberlakuan bahasa asing itu telah menghambat perkembangan kreatif kesusastraan dan puisi Persia. Dan jelas di sini bahwa semangat nasional kembali mengemuka dengan sendirinya. Bidang kesu sastraan pertama pendobrak ketergantungan pada baha sa Arab setelah dua abad lamanya mendominasi kebudayaan adalah puisi. Tidak diragukan lagi, ini me rupakan hasil dari kekuatan tradisi lisan dalam penyam paian puisi. Betapapun juga, pengaruh bahasa Arab masih tetap kuat, dan ketika bahasa Persia muncul kern­bali sebagai bahasa tulis di abad ke-9, karya-karya sastra ditulis dalam naskah berbahasa Arab. Selama kurang lebih lima abad, mayoritas karya yang ditulis oleh orang Persia dalam bidang teologi, filsafat, kedokteran, astronomi, matematika dan bahkan sejarah ditulis da lam bahasa Arab. Namun demikian, semenjak per tengahan abad ke-8 Iran telah menjadi pusat kesenian, kesusastraan dan sains dunia.

Selama abad ke-9, kontrol Arab melemah dan Iran pecah menjadi sejumlah kecil kerajaan di bawah bermacam penguasa Iran. Akan tetapi segera musuh yang baru muncul menjelang. Pada pertengahan abad ke-11, Bangsa Turki Seljuk dari Turkistan telah mena klukkan sebagian besar wilayah Iran. Bangsa Seljuk dan suku-suku Turki lainnya memerintah hingga tahun 1220. Tahun dimana bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan mengepung seluruh wilayah, dan melu luhlantakkan segalanya. Mereka menghancurkan seluruh kota, menjagal beribu-ribu orang dan meng akhiri kekhalifahan Abbasid dengan cepat dan niengerikan. Epik bangsa Iran dibanjiri dengan darah dari bencana nasional ini; setiap halarnan dipenuhi dengan catatan tentang kota-kota yang menjadi puing dan penghancuran yang mengerikan oleh kejahatan bangsa barbar nomaden ini. Namun ini pun sekedar episode vang melintas dalara sejarah bangsa Iran. Setelah tahun 1335 kerajaan Mongol di Iran pada gilirannya terpecah belah dan sekali lagi sebuah kerajaan digan tikan dengan serangkaian dinasti-dinasti kecil. Antara tahun 1381 dan 1404 Iran diporak-porandakan oleh invasi berulangkali oleh penakluk lainnya dari daerah stepa, Taimur-yang di Barat dikenal sebagai Timurlane (“Titnur tlte Laine -Timur si Pineang “). Tetapi dengan sifat dan keorganisasian “berandalan” ini, kematian sang pemimpin utama biasanya merupakan sinyal akan adanya disintegrasi dan tercerai-beraikannya gerom bolan itu. Maka, kerajaan Taimur di Iran tidak lama bertahan.

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, suatu suku dari Turki memperoleh kendali atas bebera pa wilayah Iran. Pada tahun 1501, pemimpin suku tersebut, Ismail, ditahbiskan sebagai raja dan mendirikan Dinasti Safavid, dimana seorang representasi terbe sarnya adalah Shah Abbas yang memerintah dari tahun 1587 hingga 1629. Ditangkalnya invasi yang dilakukan oleh kerajaan Ottoman Turki dan suku Uzbek dari Turkistan. Tercatat Shah Abbas dan para penerusnya sangat berpengaruh dalara mendukung perkembangan arsitektur dan seni. Isfahan, yang menjadi Ibukota Safavid di tahun 1598, dikenal sebagai salah satu kota berperadaban yang paling maju. Pada masa itu orang Persia suka menyebut Isfahan sebagai Nif-e-Jaltan (“separuh dunia”). Pemberlakuan ajaran Syí ah sebagai agama resmi dari negara Safavid bertindak menjadi kekuatan pemersatu dalara tubuh kerajaan Safavid dan memungkinkan Safavid untuk menghubungkan rasa nasionalisme laten bangsa Iran yang luas tersebar. Di lain pihak, hal itu membawa Safavid ke kancah konflik terbuka dengan kerajaan Ottoman dan menggiringnya menuju dua abad pasang-surut peperangan antara ke dua negara adidaya ini.

Dinasti Safavid memerintah Iran hingga tahun 1722, ketika tentara Afghan menginvasi negara itu dan menguasai Isfahan. Pada tahun 1730, Nadirshah, seorang suku Turki, mendepak bangsa Afghan keluar dari Iran dan menjadi raja. Dia membuktikan dirinya sebagai penakluk yang mengagumkan. Pada tahun 1739 Nadir Shah mencaplok kota Delhi di India. Dia menjarah India dan kembali dengan membawa berlimpah-ruah harta rampasan. Tapi Nadir Shah terhunuh pada tahun 1747, yang setelahnya diikuti oleh periode chaos dimana berduyunan pemimpin-pemimpin Iran saling berebut kekuasaan.

Pada tahun 1750, Karim Khan, seorang suku Kurdi dari Zand memperoleh kekuasaan di Iran. Setelah kematian Karim Khan pada tahun 1779, pecah perang antara suku Zand dan Qajar (suku Turkoman dari daerah Laut Kaspia). Selama periode ini Iran kehilangan Afghanistan dan wilayah lain yang telah ditaklukkan oleh Nadir Shah. Bangsa Qajar mengalahkan kaurn Zand di tahun 1794 dan dinasti mereka memerintah Iran hingga tahun 1925. Akhirnva kerajaan Qajar, terbukti tidak mampu membangun ekonomi modern, dan per­lahan-lahan jatuh di bawah gerusan arus imperialisme Narat. Mereka mengucurkan sumberdava ekonomi Iran sebagai konsesi kepada kaum imperialis atas sejumiah uang ala kadarnva vang memenuhi kebutuhan finansial seketika dan kemewahan harian mereka.

Ketidakpuasan yang semakin meningkat ter hadap kemandulan serta korupsi dalara kerajaan, seiring dengan kekecewaan terhadap dominasi ekonomi bangsa asing dan tekanan politik imperialis, menemukan ekspresinva dalara bentuk gerakan massa. Revolusi Bab yang terjadi pada tahun 1844 dapat digilas oleh monarki, akan tetapi gerakan tersebut mewariskan sebuah tradisi revolusi yang mengambil bentuk dari berbagai sekte religius seperti gerakan Bahai. Sekali lagi gerakan massa meletuskan perlawanan terhadap kebijakan politik luar negeri Qajar yang meng hadiahkan konsesi kepada Perusahaan Tembakau Inggris. Kekesalan ini berubah menjadi gerakan yang menyebar luas dan kerusuhan merebak di berbagai tempat yang berbeda. Hasil gerakan radikal ini yang pa ling utama adalah tuntutan akan reformasi kons titusional, yang diimplementasikan pada tahun 1906.

Gerakan menuntut reformasi demokratis dipimpin oleh sebuah aliansi tak tetap dari kelas peda gang dan institusi religius yang mendapatkan dukungan mereka dari para bazaris, para penjaga toko dan unsur kelas yang iebih rendah lainnya di kota itu. Monarki dipaksa untuk merumuskan sebuah konstitusi dimana hak-hak borjuis-demokrat, seperti kebebasan berbicara, kemerdekaan berkumpul dan berserikat dianugerahkan dan pedagang serta para saudagar diberi hak-hak perwakilan dalara majelis (parlemen) secara terbatas.

Pada tahun 1826 Rusia menginvasi Iran. Pengua sa Tsar Rusia mgin memperlebar daerah kekuasaannya dan memperoleh jalur penghubung ke Teluk Persia. Bangsa Rusia memberikan kekalahan yang hebat atas Iran pada tahun 1827, yang kemudian sesudah itu dua negara tersebut menandatangani traktat Turkomanchai. Perjanjian ini memberi penguasa Tsar Rusia wilayah bagian utara sungai Aras, vang sampai sekarang masih nienjadi perhatasan antara dua negeri itu. Di tahun 1856 Iran mencoba untuk mendapatkan kembali bekas teritorinva di barat laut Afghanistan, tetapi imperialis Inggris menvatakan perang terhadap Iran. Dan pada tahun 1857 Iran dipaksa untuk menandatangani traktat vang menverahkan semua klaim terhadap Afghanistan. Pengaruh imperialisme lnggris dan kekaisaran Rusia di Iran semakin meningkat sepanjang akhir pertengahan abad ke-19, dan pada permulaan tahun 1900, sebuah Korporasi Inggris, Perusahaan Minyak Anglo-Persian, mulai mengambil alih kendali atas ladang minyak di Iran barat daya.

Selama masa Perang Dunia 1, Iran menjadi ajang pertempuran meskipun negara tersebut bersikap netral. Ketsaran Rusia tertarik untuk mempertahankan cadangan minyak di Baku dan Laut Kaspia. Bangsa Ru sia terlibat dalam pertempuran sengit dengan bangsa Turki di Iran barat laut. Imperialis Inggris, di pihaknya, mempertahankan kepentingan mereka di ladang minyak Khuzistan. Pada tahun 1920 Sayid Ziauddin Taba Tabai, seorang politisi Iran, dan Reza Khan, seorang perwira kavaleri, menggulingkan dinasti Qajar. Di bulan Oktober 1925, Reza mentahbiskan diri sebagai Shah dan menjadi pendiri sebuah dinasti baru, Dinasti Pahlevi. Selama 20 tahun masa kekuasaannya, dia menindas suku bangsa Kurdi, Baluchis, Qashqis, serta gerakan pemberontakan lainnya dan mengakhiri pemerintahan Arab semi otonomi Syekh Khazal yang mendapatkan proteksi dari Imperialis Inggris di Khuzistan.

Pada saat Perang Dunia II dimulai tahun 1939, Iran sekali lagi menyatakan kenetralannya. Akan tetapi sekutu ingin menggunakan jalan kereta Trans-Iranian Railway untuk mengirimkan peralatan perang dari Inggris kepada Rusia di bawah Stalin. Bagaimanapun juga, Reza Shah pada titik tertentu di bawah tekanan Jerman-Hitler. Di akhir tahun 1930 lebih dari separuh perdagangan luar negeri Iran adalah dengan Jerman yang menyediakan mayoritas permesinan untuk pro gram industrialisasi Iran. Dia dengan demikian d eno lak untuk bekerja sama, dan maka pada tahun 1941 imperialis Inggris dan Rusia-Stalin menginvasi Iran. Mereka memaksa Shah Reza untuk mengundurkan diri, menempatkan putranya Muhammad Reza Pahlevi se bagai penggantinya. Shah yang baru mengijinkan mereka untuk menggunakan rel kereta api tersebut dan menempatkan pasukannya di Iran hingga usajnya perang.

Kehadiran pasukan perang imperialis Inggris di Iran selama masa pertempuran mendorong timbulnya gerakan massa. Di dalam majelis (parlemen) suatu kelompok nasionalis di bawah pimpinan Mossadeq me nuntut diakhirinya kontrol Inggris atas industri minyak. Pada tahun 1951 majelis menyepakati suara untuk mena sionalisasi industri minyak, tetapi Perdana Menteri menolak untuk mengimplementasikannya. Dia kemu dian dipecat dan digantikan oleh Mossadeq. Menyadari bahaya akan kebijakannya yang anti-imperialis, maka pada tanggal 16 Agustus 1953 CIA melancarkan kudeta terhadap Mossadeq. Pada tanggal 19 Agustus Shah kern bali berkuasa.

Sekali lagi pada tahun 1960-61 krisis politik dan ekonomi kembali mengemuka, ketika pemilihan majelis dimanipulasi besar-besaran. Kekacauan politik dan eko nomi menimbulkan sebuah pemogokan umum yang secara brutal ditindas dengan pertolongan agen polisi rahasia yang kejam, Savak. Shah memperkenalkan apa yang disebut dengan program “Revolusi Putih,” pro gram reformasi agraria yang dikombinasikan dengan langkah-langkah pendidikan dan kesehatan. Dari tahun 1963-73 secara politik dan ekonomi Iran relatif stabil. Pendapatan nasional dari minyak yang naik cukup mantap memperbaiki kinerja pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1973-74, harga minyak dunia naik empat kali lipat, dan pendapatan Iran dari minyak meningkat dari 5 milyar dolar ke 20 milyar dolar setahun.

Shah mencoba menggunakan dana ini untuk merubah Iran dalam semalam menjadi apa yang dia gambarkan sebagai negara adidaya kelima di dunia. Dengan ilusi ini dalam pikirannya, dia merayakan ulang tahun ke 2.500 pendirian pertama kerajaan Persia pertama oleh Cyrus pada tahun 550 S. M. di tahun 1971.

Akan tetapi, boonring dalara penghasilan minyak segera diikuti dengan inflasi yang pesat, migrasi masal ke daerah perkotaan, minimnya perumahan dengan infrastruktur yang tidak mencukupi serta jenjang pendapatan yang semakin melebar. Kondisi ini memicu kekecewaan yang mendalam di antara para buruh, kaum petani dan kelas menengah yang termuntahkan dalam sebuah ledakan gerakan masa revolusioner. Pemogokan umum yang dilakukan kaum pekerja melumpuhkan sistem. Akan tetapi karena kebijakan yang diambil oleh Partai Tudeh (Partai Komunis) dianggap salah, revolusi tersebut dibajak oleh para fundamentalis.

Pada puncak gerakan itu, Khomeini melakukan revolusi terhadap shah iran

Islam terbelah menjadi Sunni dan Syi’ah.

Komentar atas  buku “Sunni yang Sunni”
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd’ ala Abatil al-Muraja’at
karangan Mahmud az-Za’bi, (t.p), (t.t). © Mahmud az-Za’bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M

Tak ada satu agama pun yang berkembang di muka bumi ini yang dalam sejarahnya tak terbelah. Islam, walaupun suatu agama samawi tak luput dari takdir ini. Kristen terbelah menjadi Katolikisme dan Protestanisme, Hindu terbelah menjadi Waishnawa dan Syaiwa, Budhisme terbelah menjadi Mahayana dan Hinayana, dan Islam terbelah menjadi Sunni dan Syi’ah.

Kalau berbagai keterbelahan dianalisa, maka akan tampak bahwa bagaimanapun transendentalnya sumber suatu agama, pemahaman dan penghayatannya tak lepas dari keterbatasan fitrah manusia dalam menerimanya. Keterbelahan Sunni-Syi’ah adalah bukti gamblang tentang hal itu. Memang penganut satu belahan yang ekstrim akan mengaku bahwa kalangannyalah yang benar dan menganggap yang lain sebagai sesat dan musuh. Tetapi dalam sejarah, ekstrimitas ini bukanlah sesuatu yang mendominasi. Misalnya saja pada sejarah kontemporer, kalangan Syi’ah secara de facto masih diakui sebagai kaum Muslim, bukan kafir. Buktinya, sampai sekarang pun, orang-orang Syi’ah masih diijinkan untuk melakukan ibadah haji di tanah suci Makkah, walaupun radikalisme politik Syi’ah Iran telah menyebabkan penguasa konservatif Sunni di Saudi Arabia membatasi jumlah para penziarah Iran. Sementara itu usaha-usaha pendamaian antara Iran yang Syi’ah dan Iraq yang Sunni itu juga memberikan ungkapan yang konkrit akan pengakuan ini.

Walaupun demikian, kecurigaan kalangan Sunni terhadap Syi’ah dan sebaliknya tampaknya tak berkurang dan mungkin takkan pernah berkurang di masa depan. Soalnya dasar dari keterbelahan tersebut adalah emosionalisme. Kecintaan yang besar kalangan Syi’ah terhadap Ahlul-Bait mempunyai pasangan berupa kehormatan yang luar biasa di kalangan Sunni terhadap para shahabat Rasulullah. Perbedaan sentimentalitas ini telah menyebabkan perbedaan mendasar dalam penentuan sumber hukum sekunder Islam yaitu Hadits. Kaum Syi’ah menganggap ucapan atau khabar dari Ahlul Bait dan para imam mereka sebagai sumber kedua yang terjamin karena keyakinan mereka tentang ‘ishmah atau kemaksuman para imam. Sedangkan, kaum sunni tentunya tak bisa menerima ketentuan ini dan menentukan syarat kesinambungan (mutawatir) penyampaian dan integritas (tsiqat) setiap penyampai (perawi) hadits sebagai landasan kedua bagi penentuan hukum syari’ah. Sebagai konsekuensinya sumber ketiga bagi hukum Islam, ijma atau konsensus, berbeda pulalah pengertiannya.

Bagi kaum syi’ah, ijma’ tidak lain konsensus para imam mereka, sedangkan bagi kaum sunni, ijma’ berarti konsensus para sahabat. Ujung-berujung, tentu saja sumber hukum keempat yaitu ijtihad, juga punya pengertian lain. Bagi kaum syi’ah, ijtihad hanya bisa dilakukan ayatullah yang berkaliber marja’i taqlid. Sedangkan bagi kaum sunni, ijtihad bisa dilakukan oleh siapa saja yang memenuhi persyaratan mujtahid, bagaimana pun beratnya.

Tampaknya, kalau hanya, karena perbedaan visi religius, skisma Sunni-Syi’ah tidak akan meruncing menjadi suatu perpecahan. Malangnya, sejarah berkisah lebih lanjut. Skisma religius ini kemudian berimpitan dengan skisma politis. Siapa pengganti sayidina ‘Ali ra sebagai khalifah adalah pokok pangkalnya. Apakah Hasan ra, cucunda Rasulullah, atau Mu’awiyyah keluarga Sayidina ‘Utsman ra? Lalu siapakah seharusnya pengganti Mu’awiyyah. Yazid putera Mu’awiyyah atau Husein ra, cucunda kedua Rasulullah. Kematian Husein yang mengenaskan di tangan tentara Yazid di medan Perang Karbala adalah tragedi Ummat yang berdampak paling luas. Muncul aqidah syi’ah tentang taqiyyah, yang membolehkan penganutnya untuk menyembunyikan keyakinannya dalam keadaan darurat, dan diterapkannya sekali pun terhadap sesama Muslim. Demikian pula ‘aqidah raj’ah, yang dianggap menghina shahabat Sayidina Abu Bakar ra dan Sayidina ‘Umar. ra, mungkin merupakan reaksi emosional terhadap kewajiban mengutuk ‘Ali dalam khutbah-khutbah Jum’at selama pemerintahan Daulah ‘Ummayyah. Kaum syi’ah sebagai oposisi politik minoritas yang tertindas, wajar saja jika mengambil kedua ‘aqidah itu sebagai pengukuh moral perlawanan mereka. Tentu saja ini mendongkolkan kalangan Sunni yang serta merta menuduh mereka sebagai kaum Rafidhah alias sempalan. Di kalangan Sunni tersebar keyakinan bahwa aqidah syi’ah itu adalah buatan ‘Abdullah bin Saba, orang Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah ‘Utsman ra. Kaum Rafidhah pun disebut sebagai penyebar hadits palsu. Lalu terjadilah konfrontasi Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan. sementara di kalangan-Syi’ah sendiri terjadi keretakan-keretakan.

Salah satu firqah Syi’ah yaitu Kaum Isma’iliah akhirnya berhasil membangun suatu imperium di Afrika Utara yaitu, Daulah Fathimiyah, yang bersama-sama dengan Daulah ‘Umayyah yang Sunni di Eropa Selatan dan Daulah ‘Abbasiyyah juga Sunni di Timur Tengah merupakan tiga imperium Muslim yang membangun peradaban Islam kurun pertama sampai jatuhnya ketiga imperium tersebut di tangan serbuan tentara Mongol dari Timur dan tentara Salib dari Barat. Firqah Syi’ah yang lain, yaitu ‘Imamiyah berhasil membangun Daulah Shafawiyah, di Iran, sebagai salah satu dari tiga besar soko guru peradaban Islam kurun kedua, di samping Daulah ‘Utsmamiyah yang Sunni di Anatolia dan Dinasti Moghul yang Sunni di India. Ketiga imperium Islam itu kemudian berantakan dengan serbuan imperialisme modern Eropa dari Barat. Abad ke-20 mencatat pembebasan negeri-negeri kaum Muslimin -dari cengkeraman Barat yang mungkin merupakan fase politis dari awal kebangkitan peradaban Islam kurun ketiga di masa yang akan datang. Dalam kurun ini kaum syi’ah berhasil mengubah kerajaan tradisional Persia menjadi negara modern Iran melalui Revolusi Konstitusi di tahun 1906. Negara ini kemudian mengalami revolusi politik menjadi Republik Islam Iran di tahun 1979 di bawah pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini almarhum. Sikap radikal Ayatullah Khomeini terhadap Barat yang berlawanan dengan sikap moderat penguasa kerajaan Arab Saudi di satu pihak dan perangnya melawan serbuan Iraq dalam sengketa perbatasan menyebabkan hubungan koeksistensi Sunni-Syi’ah didalam dua kurun peradaban Islam yang terdahulu berubah kembali menjadi hubungan konfrontasi politis.

Situasi konfrontatif global ini menimbulkan perluasan konfrontasi politis kembali menjadi konfrontasi religius di berbagai negara yang didominasi kaum sunni. Negeri kita tercinta tak terkecuali. Terjemahan buku Dialog Sunnah-Syi’ah Karangan ‘Abdul Husayn al-Musawi dan buku-buku tulisan pengarang Syi’ah lain serta merta mendorong terbitnya buku-buku yang menyerang ajaran keagamaan Syi’ah. Maka luka lama ummat pun terkuak kembali. Emosionalisme religius di awal skisma ummat itu pun muncul berulang dalam bentuknya yang paling kasar. Tuduhan ajaran Syi’ah sebagai ajaran kafir dan kaum penganut Syi’ah sebagai pendusta adalah bentuk ekstrim daripada emosionalisme itu. Buku Sunni yang Sunni, yang anda baca ini tidak lepas dari emosionalisme semacam itu, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki nilai intelektualitas yang mencerahkan skisma religius tersebut. Rujukan pada sumber-sumber Sunni yang dikutip dalain Dialog Sunnah-Syi’ah yang lepas dari konteksnya diluruskan kembali dalam buku ini. Inilah yang penting bagi peletakan dasar-dasar ukhuwah yang lestari.

Para pembaca yang berpikir dewasa akan segera bisa melepaskan diri dari nada emosional buku ini untuk mencari obyektivitas mengenai skisma Sunni-Syi’ah yang berkepanjangan ini. Mudah-mudahan buku ini menyadarkan kita bahwa untuk dialog diperlukan adanya kesamaan dasar pemikiran dan kesamaan ini tampaknya sulit dicari di bidang aqidah Sunni dan Syi’ah. Kita memerlukan dasar lain untuk dialog. Mungkin dasar itu dapat kita cari dalam penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi bersama, baik oleh kaum syi’ah maupun kaum sunni. Masalah bersama itu adalah masalah bagaimana mengisi kemerdekaan negara-negara Muslim itu dengan ruh kebangkitan peradaban Islam ketiga. Peradaban ini diharapkan akan menyelesaikan problematika dunia yang dibawa oleh dominasi peradaban Barat modern seperti misalnya masalah kesenjangan ekonomi global, ketergangguan ekologi bumi, keliaran perkembangan teknologi, kesempitan wawasan sains modern dan kecenderungan materialistis budaya modern yang mengakibatkan keporak-porandaan psikis dan sosial yang kini menghantui kita semua.

Semoga dialog baru tersebut dapat mengubah hubungan konfrontatif revolusioner tadi menjadi hubungan kompetitif evolusioner di antara kedua paham dalam usaha mencari ridha-Nya, dengan berlomba-lomba menunjukkan keunggulan Islam sebagai agama samawi terakhir guna memecahkan krisis peradaban yang dihadapi oleh manusia modern dewasa ini dan di masa mendatang.

 

Strategi Dakwah Syi’ah Imamiyah Di Indonesia Luar Biasa !

Perkembangan syi’ah imamiyah yang maju pesat,  salah  satu penyebabnya nya dipicu oleh  web http://jakfari.wordpress.com.. Web ini merupakan pemicu booming nya web web syiah yang lain sehingga  kaum  muda  berduyun duyun  memahami  syi’ah
Segala sesuatu selalu berubah dalam sejarah,

 

Kecuali tuduhan terhadap Syi’ah

-Javad Mughniyah-

Syi’ah adalah sebuah kekuatan yang berdiri tegar dan tegas,

Melawan kekuatan kezaliman, dan karenanya..

Ia eksis, kokoh, dan semakin hidup!

-Taha Husein-

Mukaddimah

Tiba-tiba kekuatan Mazhab Syi’ah menggema ke segenap penjuru dunia dan sisi peradaban dunia modern. Politik, ekomoni, dan kebudayaan seakan mendapatkan nafas baru dari kekuatan baru yang bernama mazhab Syi’ah.

Ketika seluruh teori kemanusiaan berkiblat ke barat dan seluruh system kehidupan bangga berperasmanan di atas west red carpet, rongga-rongga nafas dilenakan aroma peradaban asing, dan pada saat seluruh bangsa berlomba-lomba menjual harga hidup mereka pada pasar-pasar perhelatan antara dua kekuatan menakutkan komunisme dan kapitalisme, Sebuah ledakan terjadi di timur asia, gelombang dahsyat peradaban baru mengalir sampai kepesisir membangkitkan kesadaran sebuah bangsa untuk bergerak; berkata tidak pada keangkuhan barat.

Rumusan-rumusan teori Plato di taman-taman fakultasnya –dan ini mungkin membuat kematiannya sedikit terhibur- di praktiskan dengan sangat indah oleh Imam Khumeini; Dalam praktek bernegara, seorang filosof menjelma menjadi politikus-negarawan sekaligus pemimpin spiritual terbesar bukan saja untuk satu Negara, tapi seluruh bangsa. Inqilab-e Ma, Infijar-e Nur Bud (Revolusi kita adalah pancar pijar cahaya). Demikian Imam Khumeini menamakan revolusi nilainya dalam bahasa yang jauh dari aroma keangkuhan kekuasaan.

Dari dataran Persepolis agung, sikhuet cahaya itu membumbung ke kesadaran kaum tertindas; Intifadhah ke dua berkobar di Palestina, bergerak ke Nahr al-Barid terus ke selatan, ke Jabal Amil dan Bint Jabal, pemuda-pemuda Libanon bangkit, Hizbullah menyatukan mereka dalam satu kalimat; Haihat Minna Zillah!

Di sisi lain –dan sayangnya malah datang dari mereka yang mengaku Muslim- tuduhan yang terkadang jauh dari kaidah-kaidah ilmiah-logis dan etis, ditimpahkan kepada Iran. Dan alasannya juga sangat sederhana; sebab Iran mendasarkan negaranya atas mazhab Syi’ah. Syi’ah adalah mazhab sesat, Iran bermazhab Syi’ah, maka Iran adalah sesat! Benarkah?

Dalam tulisan ini, kita akan mencoba menjelajah dan mencari kembali akar-akar Syi’ah dalam sejarah terutama negara-negara di bawah kekuasaan pemerintahan Syi’ah.

Sebab Berkembangnya Mazhab Syi’ah

Abu Zuhrah di akhir bukunya – al-Imam Shadiq – membahas satu bab dengan judul Perkembangan Mazhab Ja’fariyah (nama lain dari mazhab Syi’ah yang di nisbahkan kepada Ja’far as-Shadiq, Imam ke Enam mazhab ini) ia menulis; Mazhab ini berkembang pesat dengan sebab-sebab sebagai berikut:

1. Pintu-pintu Ijtihad masih dan selalu terbuka dalam mazhab Syi’ah, dan ini membuka pintu pelajaran dan analisa baru terhadap permasalahan-permasalahan social, ekonomi dan individu.

2. Banyak teori-teori yang terus lahir dan berkembang dalam mazhab ini dan menerima perbedaan pendapat selama berjalan di atas koridor teoritis yang benar dan tidak bercampur dengan hawa nafsu.

3. Mazhab Ja’fariyah telah berkembang dalam warna yang dinamis, dari dataran Cina hingga Eropa yang secara natural memiliki iklim adat, pemikiran, kebudayaan, social dan individual yang berbeda.[1]

Dan semua point tersebut telah menjadikan Mazhab ini seperti sungai yang mengalir di belahan bumi yang beragam dan alih-alih berubah, Syi’ah telah mejadi warna hidup dalam lukisan-lukisan sejarah dan bangsa-bangsa yang ia jamah.

Dr. Taha Husein menulis; Syi’ah adalah sebuah Mazhab yang senantiasa berseberangan dan menjadi lawan politik kotor dan penguasa yang zalim, dan karena garis tegas yang dibuatnya ini, menjadikan ia berkembang dan diminati. Ia –Syi’ah- menjadi ideology perlawanan dan para pengikutnya bergerak di atasnya.[2]

Syi’ah dan Sunnah dalam Peradaban Islam

Salah satu cara yang digunakan para ahli sejarah untuk melakukan pendataan jumlah pengikut sebuah komunitas bisa dilakukan dengan cara mendata Negara-negara dan penguasa sebuah bangsa melalui agama dan mazhab yang dijadikan dasar pemerintahan. mengetahui jumlah pengikut mazhab Syi’ah dan Sunnah bisa ditentukan dengan cara yang sama.

Pada masa kekuasaan dinasti Umawi dan awal mulainya dinasti Abbasiyah, jumlah Ahli Sunnah lebih signifikan dari Syi’ah. Sedang pada masa keemasan peradaban dunia Islam, terutama pada masa dinasti Bawahiyah, Fathimiyah dan Hamedaniyah, pengikut mazhab Syi’ah menjadi mayoritas dalam sejarah Islam. Sedang pada kekuasaan Saljukiyah, Ayyubiyah dan Utsmaniyah, jumlah Ahli Sunnah berkembang pesat sampai beberapa generasi, sedang Syi’ah lebih dari segi kuantitas.

Sayyid Muhsin Aminy menulis; “Syi’ah sampai sekarang masih berkembang dan diakui, menampakkan atau menyembunyikan identitas, pengikut mazhab Syi’ah bisa ditemukan atau tidak tergantung pada penguasa yang dihadapinya, mereka dikejar-kejar dan hidup dalam kekerasan penguasa ataupun hidup dalam ketenangan, hingga jumlah mereka sekarang ini sekitar 75 juta orang.[3]

Timbul sebuah pertanyaan, apa penyebab jumlah Syi’ah yang setelah mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam masa keemasan peradaban Islam dan pernah memiliki dinasti-dinasti besar dan menjadi penguasa dunia Islam cukup lama atas beberapa generasi, mengalami penurutan kuantitas yang sedemikian banyak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa kita dapatkan dalam kitab-kitab sejarah, al-Jauzy dalam jilid kedelapan bukunya, al-Muntazham, menulis bahwa hal tersebut terjadi karena fanatik buta pengikut Ahli Sunnah yang permusuhan mereka yang keras terhadap Syi’ah.

Yaqut dalam Mu’jam-nya menukil bahwa pada tahun 617 H, ia memasuki kota Rey (salah satu kota di Iran sekarang), ia mendapatkan sebagian besar kota tersebut hancur, setelah mencari tahu apa yang penyebab dari kerusakan kota. Dari pemuka penduduk ia mengetahui bahwa kota tersebut dihuni oleh tiga golongan; Syi’ah, Ahnafiyah, dan Ahlu Sunnah Syafi’iyah. Ahnafiyah dan Syafi’iyah bergabung menyerang dan menghancurkan Syi’ah, terjadikah penyerangan oleh Ahnafiyah yang bergabung Syafi’iyah atas Syi’ah. Pembantaian dan pembumi hangusan besar-besar terjadi atas Syi’ah, hingga yang selamat hanya mereka yang berhasil melarikan diri. Selanjutnya Ahnafiyah dan Syafi’iyah bersengketa, terjadilah peperangan di antara mereka. Kekalahan di pihak Ahnafiyah. Semua peperangan ini hanya terjadi dibagian kota yang dihuni oleh Syi’ah dan Ahnafiyah.[4]

Iran dan Syi’ah

Sebagian penulis menganggap bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan bangsa Persia dan Iran. Mazhab adalah merupakan ‘kreatifitas’ Persia. Anggapan ini terutama pertama kali dihembuskan oleh orientalis yang sayangnya kemudian secara turun temurun melaui metode non-ilmiyah, tuduhan ini lantas dinukil oleh para penulis muslim yang antipati terhadap Syi’ah dan lebih kotor lagi, musuh-musuh Iran secara politik.[5]

Beberapa teori mereka kemukakan untuk memperkuat pandangan tersebut, diantaranya;

1. Akidah terhadap kepemimpinan merupakan wasiat dan alih waris, terutama dalam akidah imamah Syi’ah tidak pernah ada dalam dunia Islam sebelumnya, terlebih di kalangan orang-orang Arab. Tapi kepemimpinan melalui jalan alih waris dan wasiat hanya terdapat dalam adat turun temurun para penguasa dan raja bangsa Persia.

2. Penghormatan yang khusus bangsa Iran terhadap para Imam Syi’ah yang lahir dari emosi nasinalistik, karena Imam Husein as. Menikahi salah seorang putri raja Persia yang bernama Syahr Banu putri Yazdgard III, dan para Imam setelah Imam Husein as. Seluruhnya lahir dari hasil pernikahan tersebut.

3. kebencian dan dendam bangsa Persia atas kekalahan mereka dalam peperangan dengan kaum Muslim terutama yang berbangsa Arab. Dan untuk sebagai cara mereka melakukan balas dendam terhadap Islam dan kaum Muslim terutama orang-orang Arab, mereka menciptakan akidah yang bernama Syi’ah yang berbeda dengan akidah Ahli Sunnah.

Inilah beberapa anggapan yang mereka hembuskan kepada Syi’ah. Pernyataan di atas bisa dijawab dengan mengemukakan beberapa jawaban sebagai berikut;

1. Akidah bahwa keimamahan melalui jalan alih waris banyak terdapat dalam hadits-hadits bahkan dalam kedua mazhab Sunni dan Syi’ah riwayat-riwayat yang menjelaskan hal tersebut berjumlah sangat banyak.

Jadi bisa dikatakan bahwa teori ini benar-benar terdapat dalam akidah Islam, dan tidak ada hubungannya dengan adat dan kepercayaan orang-orang Iran atau system kerajaan bangsa Persia.[6]

2. Wilayah geografis Syi’ah sepanjang sejarah Islam klasik adalah di tanah Arab terutama Hijaz (Sekarang Saudi Arabiyah), Irak, dan Yaman bukannya Iran. Pengikut terbanyak Imam Ali as. Sendiri sepanjang periode beliau adalah dari orang Arab. Sebagaimana dapat ditemukan, bahwa pasukan yang dibentuk dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawain merupakan gabungan beberapa kabilah Arab.

3. Mengikuti laporan sejarah, penduduk Persia ketika itu sebaliknya kebanyakan bermazhab Sunni baik secara kekuasaan, pemikiran dan akidah, adapun Syi’ah datang belakangan dari mazhab yang disebutkan terdahulu.

Ada banyak sebab yang menjadikan Syi’ah berkembang pesat di Iran. Diantaranya adalah hijrahnya para pengikut Syi’ah dari tanah-tanah Arab seperti Hijaz, Irak dan Yaman dikarenakan penyiksaan yang mereka dapatkan dari penguasa yang memusuhi Ahlul bait Nabi. Dari orang-orang Arab inilah, akidah Syi’ah didapatkan oleh orang-orang Iran sekaligus Syi’ah menjadi mazhab yang pada perkembangannya mayoritas dianut oleh banga Persia.

Yaqut Hamawi menulis[7]; kota ini (Kota yang pertama kali menjadi basis orang Arab mendawakan Syi’ah) dibangun pertama kali oleh Thalhah bin Ahwash Asy’ary pada masa kekuasaan Hajjaj bin Yusuf. Kota tersebut merupakan gabungan dari tujuh desa dan dulunya bernama Kamandan. Yaqut melanjutkan; hal tersebut dikarenakan, Abdul Rahman bin Muhammad bin Asy’ab bin Qais yang kalah dalam perlawanannya terhadap pemerintahan zalim Hajja penguasa Sistan (salah satu kota besar di Iran), putra-putra Sa’ad bin Malik Asy’ary yang bergabung dalam pasukannya, setelah kekalahan tersebut melarikan diri ke Iran melalui kota Qom, dan di tujuh desa yang bernama Kamandan berniat dan berkonsentrasi didaerah tersebut. Dan mereka yang menyebarkan mazhab Syi’ah Imamiyah di kota Qom kemudian berkembang dan meluas ke berbagai kota lain di Iran.[8]

Abu Zuhrah menulis; Bangsa Persia menerima Syi’ah sebagai mazhab mereka dari orang-orang Arab, yang diakibatkan penyiksaan dan kekerasan yang mereka dapatkan dari penguasa bani Umayah dan Abbasiyah, kemudian hijraj ke kota-kota di Iran seperti Fars, Khurasan (di kota ini terdapat makan Imam Ridha as. Imam kedelapan Syi’ah Imamiyah, sekarang terkenal dengan nama Mash’had) dan kota lainnya. Dan sebelum runtuhnya dinasti Umawi, Syi’ah telah berkembang pesat di tanah ini.[9]

4. Bukti sebagai jawaban tuduhan di atas diantaranya adalah bahwa selain bahwa yang menyebarkan Syi’ah ke tengah-tengah bangsa Persia adalah orang Arab, ulama-ulama besar dari mazhab Syi’ah Imamiyah adalah orang-orang Arab, seperti Alu A’yan, Ali Atiyah, Bani Darrah, Syaikh Mufid, sayyid Murtadha, Muhaqqiq Hilli, Allamah Hilli, Ibn Tawus, Ibn Idris, Fadhil Miqdad, Syahid Awal dan Tsany, serta yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini adalah orang-orang Arab. Di sisi lain, pemuka mazhab empat Sunni bukanlah orang Arab, demikian juga para pemuka ilmu kalam, ahli hadits dan faqih terkemuka mazhab Sunni adalah dari non Aran dan kebanyak dari orang-orang Persia.

5. Adalah tidak benar bahwa orang-orang Iran memberikan perhatian dan perhormatan lebih kepada lebih kepada keturunan Imam Husein dan mengikuti keimamahan mereka karena mereka lahir dari rahim putri Iran yang bernama Syarh Banu. Penghormatan mereka terhadap Nargis Khatun as. Ibunda Imam kedua belas Syi’ah Imamiyah adalah putri dari Roma bisa dikatakan tidak kalah bahkan lebih terhadap Syahr Banu as. Sendiri.

Apabila penghormatan bangsa Persia terhadap para Imam-imam Syi’ah karena fanatic nasionalistik Sasaniyah, maka penghormatan yang sama akan mereka lakukan terhadap keluarga dinasti bani Umawi, karena Walid bin Abdul Malik juga menikahi salah seorang putri Syah Afarid, dan dari pernikahan itulah lahir Yazid bin Walid. Jadi Yazid juga memiliki darah dinasti Sasaniyah, tapi kenapa penghargaan dan penghormatan yang sama tidak didapat dari orang-orang Iran?

6. Akidah Syi’ah Itsna Asyariyah mengenai Imama juga masalah yang lain, bersumber dari al-Qur’an dan Hadits Rasul, riwayat-riwayat dari para Imam as, serta dalil akal yang pasti.

Maka tuduhan bahwa mazhab ini muncul dilatari rasa dendam bangsa Persia dan untuk membalasnya Syi’ah kemudian mereka munculkan adalah sebuah tuduhan yang tidak beralasan dan tidak ilmiah.

Kesaksian sejarah cukup menjadi bukti bahwa keislaman bangsa Persia bukan karena rasa dendam dan paksaan, tapi karena keinginan dan kecintaan kepada Islam. Beberapa alasan bisa di kemukakan di antaranya; Pertama, kebenaran dari akidah Islam itu sendiri, kedua, Islam telah menyelamatkan mereka dari kezaliman raja diraja Sasania ketika itu. Dengan bahasa lain, prinsif keadilan, persamaan yang terdapat dalam Islam di sisi lain, dan ketidak adilan dan kezaliman raja-raja Sasaniah atas penduduknya, ini kemudian yang menyebakan orang-orang Iran tidak melakukan perlawanan terhadap pasukan Islam, bila tidak demikian, maka ceritanya pasti lain, sebab menaklukkan Iran tidak akan semudah yang telah terjadi.

Selain itu, kaum Muslim menguasai Iran, mereka diebaskan untuk menerima Islam atau membayar Jizyah bagi mereka yang beragama lain. Sebagaimana agama-agama langit yang lain, tidak akan punya prinsif memaksakan akidah dan ajarannya kepada orang-orang diluar pemeluknya, agama Islam tidak akan memaksakan ajarannya untuk dipeluk.

Edward Brown, menulis; melakukan penelitian terhadap perkembangan luas dan pengaruh dalam agama Islam atas Saratustra, sungguh lebih sulit ketimbang melakukan penelitian terhadap penguasaan kaum muslim terhadap kekuasaan dinasti Sasania. Banyak yang mengira bahwa pasukan perang Islam memberikan dua pilihan terhadap sebuah bangsa atau kekuasaan yang mereka kalahkan; al-Qur’an atau Pedang!

Tapi, sungguh tidaklah demikian, karena mereka yang beragama Kristen, Yahudi, dan Saratustra tetap dengan bebas memeluk dan menjalankan keyakinan mereka. Mereka hanya dibebankan untuk membayar zakat, dan ini sangat adil, karena orang-orang di luar Islam dibebaskan untuk tidak ikut dalam peperangan, bebas dari membayar zakat dan memberikan khusmus yang diwajikan atas umat Rasulullah Saw.[10]

Wahabi/Salafi tidak mampu mengembangkan pengaruhnya secara maksimal meskipun ditopang dengan biaya besar dan telah dikerahkan seluruh daya dan upaya untuk mengembangkan pengaruhnya di kalangan kaum muslimin. Kekakuan dalam beragama yang mereka terapkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Khawarij karena mereka membuat batasan yang kaku dan ekstrim dalam mendefinisikan kekufuran dan keimanan, dan ini tidak dapat diterima oleh banyak kalangan.

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Sejarah adalah guru manusia. Sejarah memberikan data kepada kita untuk dapat melakukan evaluasi. Umat yang berhasil adalah umat yang senantiasa mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukannya. Bila ada kekurangan akan diperbaiki dan bila berlebihan akan dikurangi sehingga terjadi keseimbangan. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw mewanti-wanti kita agar senantiasa mengevaluasi diri kita sebelum Allah melakukannya nanti. Karena ketika Allah yang menghitung amal perbuatan kita, tidak akan ada yang tertinggal karena perhitungannya akan sangat teliti.

Perkembangan Syiah di Indonesia juga dapat dianalisa dengan pendekatan sejarah. Sejarah telah mencatat sejumlah keberhasilan dan kegagalan umat Islam. Munculnya mazhab-mazhab dalam Islam dan kelompok-kelompok dalam sebuah mazhab merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sebagian dari mazhab atau kelompok itu kemudian hanya dapat dikenang dalam buku-buku sejarah. Mengetahui sebab-sebab kegagalan dan kemusnahan mereka dapat membantu perkembangan Syiah di Indonesia agar tetap eksis.

Sebagaimana sejarah mencatat sejumlah mazhab dan kelompok yang lenyap ditelan zaman, sejarah juga mencatat mazhab-mazhab dan kelompok-kelompok yang masih tetap eksis. Salah satunya adalah Syiah Imamiyah, Syiah yang meyakini 12 imam. Perkembangan Syiah berhutang budi pada Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra. Namun, dalam perkembangannya, ternyata dalam usaha penyebaran Syiah Imamiyah banyak kendala menghadang.

Tulisan ini mencoba melihat beberapa kendala yang menghalangi perkembangan dakwah Syiah di Indonesia dengan pendekatan pengalaman sejarah, sekaligus memberikan solusi alternatif. Tentunya, apa yang disoroti hanya mencakup beberapa hal yang dianggap penting oleh penulis.

1. Mudah dan Sederhana

Islam merupakan agama yang paling cepat tersebar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah karena dari sisi pemikiran, Islam dapat diterima dan dipahami oleh semuah orang. Islam dianggap tidak kompleks dan sulit dari sisi pemikiran. Untuk memahamkan agama Islam kepada orang lain, tidak diperlukan sebuah usaha luar biasa. Itu dikarenakan Islam dapat dipahami oleh semua dengan mudah.

Pada saat yang sama, disiplin sejarah agama dan sejarah peradaban meyakini bahwa dalam perubahan sejarah, hal terpenting dan tersulit dilakukan adalah mengubah mazhab dan atau agama. Artinya, sangat mungkin sebuah masyarakat dijajah oleh bangsa lain dan harus berkorban dalam banyak hal, namun agama dan adat istiadat masih dapat mereka pertahankan. Ini menunjukkan bahwa mengubah keyakinan bukan hal yang mudah.

Di sisi lain, bila Islam ternyata mampu mengubah keyakinan dan agama orang lain atau masyarakat lain dengan cepat, maka hal yang sama harus diterapkan dalam Syiah. Di sinilah muncul pertanyaan besar, apakah Syiah yang kita dakwahkan saat ini dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat?

Jika kesederhanaan Islam dan Syiah menjadi sulit dan kompleks dengan penambahan masalah-masalah lain maka Syiah akan kehilangan kepopulerannya. Jika untuk menjadi seorang Syiah harus melewati serangkaian masalah terlebih dahulu dan kita tidak mampu menyederhanakannya, maka di masa yang akan datang kita akan mengalami masalah besar dalam mengembangkan dakwah Syiah di Indonesia.

Sebagai sebuah perbandingan lain, Mu’tazilah dapat menjadi sebuah contoh betapa mereka tidak pernah mampu mempengaruhi masyarakat. Penyebabnya sangat sederhana sekali, karena akidah mereka dijelaskan dengan cara yang rumit dan kompleks. Banyak ketidakjelasan di sana, bahkan tidak semua kalangan ilmuwan mampu mencerna akidah mereka. Akibatnya Mu’tazilah hanya dapat ditemukan dalam wacana ilmiah dan tidak akan pernah mampu masuk dalam pemahaman masyarakat.

Syiah harus dikembangkan bak sebuah makanan lezat dan instan. Sebuah tata pikir yang mudah, tidak kompleks. Tidak banyak kembangannya sehingga menjadi sulit dan tidak dapat dipertahankan. Kita harus mampu menjelaskan Syiah secara komprehensif dalam sebuah penjelasan ringkas.

Tentunya, menjelaskan Syiah secara sederhana namun komprehensif tidaklah mudah. Begitu juga tidak semua orang mampu melakukannya. Hal ini membutuhkan kerja sama semua pihak untuk memikirkan masalah ini bersama-sama dan dituangkan dalam bentuk tulisan; baik itu berupa buku, brosur, silabus dan lain-lain. Oleh karena itu, kita membutuhkan media murah untuk melakukan tranformasi ide ini ke masyarakat.

2. Ketat dan Kaku dalam Beragama

Kelompok Khawarij memiliki pesona tersendiri dalam sejarah Islam. Namun, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa setelah peristiwa Nahrawan, Khawarij masih memiliki pandangan yang dapat dibanggakan dan diterima oleh masyarakat. Pada dasarnya, orang-orang Khawarij senantiasa mengidentikkan dirinya sebagai orang-orang zuhud, benci terhadap golongan kaya dan benci kezaliman. Dalam sisi pemikiran, mereka menunjukkan dirinya sebagai golongan yang berpegang teguh dengan al-Qur’an. Sikap ini tidak membuat mereka memiliki tempat khusus di dunia Islam. Saat ini, dapat dikatakan bahwa Khawarij tidak memiliki perkembangan bahkan dapat dikatakan telah terhapus dari kumpulan mazhab Islam.

Tentu perlu dicari tahu apa penyebabnya. Salah satu penyebab kemandekan bahkan kemusnahan mereka adalah keketatan dan kekakuan dalam beragama. Sebagai bahan perbandingan, coba kita lihat bagaimana di timur dunia Islam, Abu Hanifah dengan pandangan fiqihnya memberikan syarat yang mudah dalam beragama. Ia membolehkan orang melakukan salat dengan bahasa Persi dan menyatakan bahwa setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat berarti telah menjadi muslim. Cara pandang Abu Hanifah membuat banyak orang mengikutinya dan mazhab Hanafiyah cepat berkembang menjadi luas. Ini salah satu pengalaman sejarah.

Sementara Khawarij begitu kaku dalam memahami dan mengaplikasikan rasa keberagamaannya. Mereka menganggap orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan wajib untuk dibunuh. Siapa saja yang menjadi Khawarij, maka ia harus melepaskan urusan dunianya dan ikut dalam Dar al-Hijrah dan harus siap untuk melakukan perjuangan dari pagi hingga malam. Sikap kaku yang dimiliki oleh Khawarij membuat mereka tidak diterima kalangan lain.

Setiap bentuk kekakuan dalam beragama apapun bentuknya baik dalam masalah teori, fiqih, dan bentuk kontrol sosial dalam sebuah negara akan menghalangi perkembangan sebuah mazhab.

Dalam rentang sejarah, kita dapat mengatakan bahwa kelompok Murjiah telah menguasai dunia. Tapi yang dimaksud dengan kelompok Murjiah di sini bukan Murjiah yang dimuat dalam buku “Milal wan Nihal” yang memiliki akidah bahwa tidak ada masalah jika seseorang melakukan dosa, sekalipun dosa yang dilakukan adalah dosa besar. Tapi maksud Murjiah di sini adalah sebuah kenyataan di luar. Kita dapat melihat bahwa cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, ia sudah dianggap sebagai seorang muslim. Dan ketika ia melakukan dosa tidak berarti bahwa ia telah keluar dari Islam.

Bila Syiah punya cara pandang yang kaku dan menyempitkan ruang gerak pengikutnya maka Syiah tinggal menunggu waktu kebinasaannya seperti Khawarij atau paling tidak, Syiah hanya akan bertahan di sebuah kawasan tertentu.

Hal ini jugalah yang membuat Wahabi/Salafi tidak mampu mengembangkan pengaruhnya secara maksimal meskipun ditopang dengan biaya besar dan telah dikerahkan seluruh daya dan upaya untuk mengembangkan pengaruhnya di kalangan kaum muslimin. Kekakuan dalam beragama yang mereka terapkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Khawarij karena mereka membuat batasan yang kaku dan ekstrim dalam mendefinisikan kekufuran dan keimanan, dan ini tidak dapat diterima oleh banyak kalangan.

3. Cara Pandang Sektarian

Kiranya diperlukan sebuah kejelasan dalam menilai Syiah, apakah Syiah adalah sebuah kelompok ataukah sebuah mazhab yang berusaha menghidayahi manusia. Bila inti ajaran Syiah adalah sebuah cara pandang terhadap Islam, maka tidak semestinya kita membatasinya sebagai sebuah kelompok.

Meskipun pengikut Syiah tidak terbatas pada sebuah ras tertentu, namun pada kenyataannya, kondisi tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dari pengikut Syiah. Semakin kita berusaha mempersempit Syiah, berarti kita memaknai Syiah hanya sebagai sebuah kelompok.

Sejarah mencatat, setiap kelompok minoritas akan selalu mempertahankan ciri-cirinya dengan simbol-simbol tertentu. Hubungan dengan masyarakat sekitar akan mereka batasi dan mereka hanya berhubungan dengan sesama mereka. Mereka tidak akan mengawinkan anak wanitanya dengan orang lain, sebagaimana mereka tidak mencari anak wanita lain untuk anak lelakinya. Bila pengikut Syiah melakukan hal yang sama dalam kondisi sebagai minoritas maka tidak akan ada yang ingin mengenal dan mengetahui Syiah. Demikian pula sebaliknya.

Bila kita tidak mempunyai kepentingan untuk mengembangkan Syiah, maka sikap seperti kaum minoritas itu tidak akan mempunyai dampak dan kita bisa saja menambahkan sesuatu yang baru ke dalam mazhab ini. Saat ini banyak hal yang sebelumnya tidak ditemukan pada Syiah, sekarang telah ditambahkan, bahkan dijadikan sebagai sebuah kesepakatan. Bila seseorang tidak meyakini masalah itu, bahkan bila ia adalah Syiah, mereka akan mengeluarkannya dari mazhab Syiah. Orang seperti itu tidak dapat diterima dalam sebuah komunitas Syiah.

Permasalahannya adalah ketika kita ingin mengembangkan dan memperkenalkan Syiah kepada orang lain. Di sini cara pandang kita perlu diperbaiki. Syiah jangan dijadikan sebagai sebuah kelompok eksklusif. Selama kita menjadikan Syiah hanya sebagai sebuah kelompok, maka ia tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, bahkan setiap hari akan semakin mengecil. Syiah harus dikembalikan sebagai mazhab yang memiliki risalah untuk memberi petunjuk dan hidayah kepada umat manusia. Kita perlu mengeluarkannya dari sifat kelompok menjadi sebuah ajaran yang dapat diterima oleh semua orang.

4. Minus Informasi Terpusat

Ijtihad adalah salah satu dari keunggulan ajaran Syiah. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan ilmu-ilmu pengantar ijtihad, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Namun sayangnya, sering terjadi penyalahgunaan. Dengan alasan ijtihad, banyak orang melontarkan pandangan-pandangan yang malah tidak diterima oleh masyarakat umum.

Masalah paling urgen bagi Syiah saat ini adalah tidak adanya informasi terpusat. Kita tidak tahu kepemimpinan Syiah berada di tangan siapa. Setiap mujtahid, dengan mudah melontarkan pandangannya setiap saat yang terkadang berbeda dengan pendapat mujtahid lain dan tidak dapat diterima oleh masyarakat umum. Syiah bukanlah sebuah ajaran yang setiap saat bisa ditambah sesuka hati. Sebuah organisasi kecil saja tidak mudah untuk bisa menambah aturan-aturannya apa lagi ini sebuah mazhab.

Bisa saja kita berandai-andai dan mengatakan bahwa100 tahun kemudian, ulama besar Syiah akan berkumpul dan melakukan perubahan-perubahan. Dalam syiah, gambaran pandangan itu seperti apa?, Siapa yang memiliki tugas untuk menjelaskan akidah Syiah? Di mana ulama Syiah sepakat dalam sebuah masalah? Ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu mendapat jawaban jelas dan pasti dari ulama Syiah.

Bila pusat-pusat pemikiran Syiah berbilang dan tidak ada definisi yang tuntas mengenai masalah ini, yang menjadi korban adalah para pengikut Syiah sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bila seorang telah Syiah, ia harus mengikuti pandangan yang mana? Siapa yang harus didengarnya?

Penjelasan ini mungkin menimbulkan pertanyaan lain bahwa bila informasi tentang Syiah telah dipusatkan, itu berarti tidak ada kebebasan berpendapat, tertutupnya pusat-pusat penelitian dan tidak ada lagi tempat untuk berbeda. Ini dua masalah yang berbeda. Penelitian punya tempat tersendiri dan masyarakat perlu kebesaran hati untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang duduk di pusat-pusat penelitian untuk melakukan aktivitasnya. Tapi, masyarakat dari sisi keberagamaannya, baik itu Syiah atau tidak, perlu mengetahui apa kewajibannya, apa yang harus dilakukannya.

Bila kita sepakat bahwa Syiah perlu diperkenalkan kepada orang lain, maka dibutuhkan sebuah kesepakatan puncak dalam masalah-masalah penting. Kesepakatan puncak ini dapat dicerap ketika, setidak-tidaknya, dalam prinrip-prinsip sederhana dan primer ada kesepakatan sampai pada batas-batas tertentu.

Sebagai contoh, para marja Syiah kontemporer telah berbicara banyak dan luas tentang tidak adanya perubahan dalam al-Quran. Mereka bahkan telah memberikan peringatan bahwa dalam Syiah tidak diyakini adanya tahrif al-Quran. Namun, tetap saja ada satu dua ulama Syiah yang meyakini adanya tahrif al-Quran dalam Syiah. Ini bukan permasalahan baru, sejak dahulu hal yang seperti ini sudah ada. Saat ini, pengikut Syiah membutuhkan sebuah majelis ulama yang mengeluarkan sebuah fatwa terpusat. Sehingga ketika mereka telah mengkaji dan mengeluarkan fatwa, yang lain harus mengetahui bahwa pandangan yang dikeluarkan oleh majelis ulama Syiah ini adalah sebuah prinsip dan tidak ada pandangan lain lagi.

Sebagai contoh, sekitar tahun 1931-1933 sempat terjadi perdebatan serius tentang masalah Raj’ah di kota Qom. Perdebatan ini akhirnya mencapai puncak sehingga hampir timbul konflik. Akhirnya, masalah ini ditanyakan kepada Ayatullah Abdul Karim Hairi Yazdi, marja terbesar Syiah saat itu di Iran. Dengan mudah dan santai beliau menuliskan fatwanya: “Bila seseorang tidak meyakini akan Raj’ah, ia tidak keluar dari Syiah”. Perdebatan sengit itu langsung redam.

Pengikut Syiah di Indonesia sendiri, mempunyai potensi untuk mengumpulkan semua kecenderungan yang ada. Karena itu sudah menjadi salah satu kepribadian bangsa Indonesia. Syiah Indonesia perlu mengkaji titik-titik kesamaan yang dimiliki. Kesamaan yang ada ini dapat menjadi solusi meredam berkembangnya pandangan-pandangan yang berbeda yang menggoyahkan tatanan sosial masyarakat. Ketika orang-orang yang memiliki kelayakan secara ilmiah atau sebuah badan ulama tertentu tidak mengeluarkan pandangan dalam menyikapi sebuah masalah, maka akan muncul pandangan-pandangan dari mereka yang tidak memiliki kelayakan untuk mengeluarkan pendapat. Hal ini sangat rentan dan akan menimbulkan sebuah konflik.

Hal yang sama terjadi di pusat-pusat Syiah seperti Qom dan Najaf. Ketika seorang marja tidak mengeluarkan pandangannya tentang sebuah masalah agar tidak muncul sebuah problem, solusinya akan diambil alih oleh orang-orang yang tidak layak untuk mengeluarkan fatwa. Tentu mereka tidak bisa disalahkan seratus persen, karena mereka sendiri perlu tahu apa yang harus dilakukan. Ketika tidak ada penjelasan sedang mereka dituntut untuk melakukan sesuatu, perlu penjustifikasian untuk perbuatan mereka maka mereka akan menerima pendapat dari siapa saja.

Bila di Indonesia kita telah menyamakan visi dan ada kesepakatan, kita akan mampu menyampaikan pendapat kita sekaligus memperkenalkan Syiah dengan baik. Namun, selama tidak ada kesamaan persepsi, sulit dibayangkan kita dapat berkiprah di Indonesia kelak.

5. Minus Sikap Moderat

Sejarah mencatat banyak ulama Syiah yang memiliki hubungan baik dengan ulama Ahli Sunah. Syekh Mufid dan Syekh Thusi merupakan salah satu contohnya. Keduanya cukup getol melakukan kajian perbandingan fiqih Syiah dan Ahli Sunah. Buku al-Khilaf yang memuat ragam mazhab Islam dalam sebuah masalah fiqih merupakan salah satu karya berharga Syekh Thusi dalam masalah ini.

Murid-murid Syekh Thusi yang berhijrah ke daerah Rey di Iran—pusat mazhab Syafi’i dan Hanafi—telah berhasil disulap menjadi pusat pemikiran mazhab Syiah tanpa terjadi konflik. Orang-orang Syiah masuk ke sana dengan menunjukkan sikap moderat dan cinta damai. Sebuah sikap warisan dari hauzah Najaf. Bila kita membuka buku-buku Ahli Sunah yang menceritakan tentang tokoh-tokoh ulama, akan ditemukan nama Allamah Hilli yang disebut-sebut sebagai ulama Syiah yang memiliki kepribadian moderat. Beliau tidak mencaci maki sahabat.

Setelah kedatangan ulama Syiah, kondisi kota Rey berubah drastis. Kaum Sunah ikut menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh ulama Syiah. Sebaliknya, ulama Syiah ikut menghadiri acara-acara yang diadakan oleh Ahli Sunah. Terkadang terjadi dialog-dialog sehat di antara mereka. Semuanya berjalan tanpa masalah, sementara pengikut Syafi’i dan Hanafi sering terlibat konflik di antara mereka. Syiah dapat diterima oleh kedua belah pihak. Rahasianya adalah karena pandangan yang disampaikan bersifat seimbang dan moderat. Dengan sikap moderat, mereka berhasil menjaga dan mengembangkan Syiah.

Syiah masa kini di Indonesia perlu menunjukkan sikap moderat dan meninggalkan sikap ekstrim. Ini merupakan tuntutan zaman. Bila hal ini tidak dilakukan, Syiah tidak akan berkembang sebagaimana mestinya. Sikap moderat yang dimaksudkan di sini, bukan berarti segala sesuatunya kita sampaikan sesuai dengan maslahat secara ekstrim dan di setiap ruang dan waktu kita akan menyampaikan ajaran Syiah sesuai dengan cara pandang yang telah ada. Tidak demikian! Jelas ada ruang-ruang yang masih bisa ditolerir dan ada yang tidak bisa, seperti antara tauhid dan syirik yang tidak dapat dipertemukan. Perlu diingat bahwa Syiah memiliki akidah-akidah jelas dan bernilai yang harus dipertahankan. Kita perlu membedakan mana yang merupakan substansi Syiah dan mana yang bukan.

Hal lain yang perlu diingat, setiap masyarakat tidak dapat menerima segala macam cara. Ada sejumlah cara tertentu yang dapat mereka terima dengan baik. Jadi kita tidak dapat dengan serta merta menyampaikan Syiah dengan gaya menentang arus dan cara pandang masyarakat setempat.

6. Minus Penguasaan Kondisi Ruang dan Waktu

Selain mempergunakan cara moderat, Syiah masuk ke Iran melalui tasawwuf. Perlahan-lahan tasawwuf yang ada diperbaiki. Sebagian besar mereka yang semula adalah Syiah tasawwuf berubah menjadi Syiah fiqih. Tentunya yang tidak bisa dilupakan bahwa Iran sejak awal memang mempunyai potensi itu.

Berbeda dengan Syiah, dakwah Wahabi/Salafi di mana pun, khususnya di Afrika, yang paling awal diserang adalah kelompok tasawwuf. Pada prinsipnya, Wahabi/Salafi menolak tasawwuf dan tidak memberikan ruang sedikitpun untuknya.

Karena kondisi setiap masyarakat berbeda-beda maka sudah tentu, cara yang dipakai juga akan berbeda-beda. Namun perlu diperhatikan bahwa banyak kondisi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dan lewat kondisi itu kita bisa mendakwahkan Syiah. Apa yang dilakukan oleh Wali Songo merupakan contoh paling jelas dalam dakwah di Indonesia. Mereka mampu melihat kondisi yang ada di masyarakat dan sesuai dengan kondisi itu mereka memasukkan ajaran-ajaran Islam. Namun, apakah tugas mereka telah selesai? Tentu jawabannya adalah tidak. Apa yang mereka lakukan adalah langkah awal, kaum muslimin setelahnya memiliki kewajiban untuk melanjutkan cara mereka ini dan memperbaiki cara pandang masyarakat.

Salah satu keunggulan Syiah dibandingkan mazhab yang lain adalah sistem pemikirannya yang kaya. Di Syiah ada cara pandang fiqih, kezuhudan, kearifan, begitu juga kajian-kajian akhlak tingkat tinggi. Dapat dikatakan Syiah adalah sebuah mazhab rasional dan pada kondisi tertentu, hal ini dapat dimanfaatkan demi perkembangan Syiah.

Di Arab Saudi, jurusan teologi tidak diizinkan berdiri. Sementara pada waktu yang sama, Syiah dengan mudah dapat memanfaatkan teologi yang disukai oleh orang-orang Mesir dan sebagian besar kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan dakwahnya. Sedangkan Wahabi/Salafi memiliki kecenderungan yang sangat ketat dalam masalah hadis. Dalam Syiah, selain kajian-kajian hadisnya bersifat serius, ia juga dilengkapi dengan sistem berpikir seperti irfan, filsafat dan lain-lain

Hendaknya kekayaan khazanah pemikiran Syiah ini tidak dipersempit. Bila seseorang hanya mampu menguasai salah satu dari disiplin ilmu dari khazanah pemikiran Syiah, semestinya ia tidak mengambil keputusan-keputusan final, tapi biarkanlah ruang kosong yang ada dipenuhi oleh mereka yang memilki kelebihan dalam disiplin ilmu lain. Bila tidak, Syiah akan dianggap hanya memiliki sebuah satu cara pandang saja. Dan untuk merubah cara berpikir seperti ini, dibutuhkan energi yang cukup besar

[1] . Lihat, Javad Mughniyah, As-Syi’ah fi al-Mizan, Hal. 203-206

[2] . Dr. Taha Husein, Ali wa Banuh, Mukaddimah kitab

[3] . A’yan As-Syi’ah ditulis sekitar 300 tahun yang lalu, dan tentu saja jumlah yang disebutkan sekarang ini telah mengalami perkembangan yang pesat.

[4] . Lihat juga al-Kamil fi at-Tarikh, Inb Katsir, peristiwa tahun 301-6-8, 334, dan 444

[5] . Kant Kevin dan Edward B, merupakan orientalis yang menulis deskripsi teori kemunculan Syi’ah adalah dari orang-orang Iran. Sedangkan dari kalangan penulis muslim bermazhab Ahlu Sunnah adalah Ahmad Amin dari Mesir dalam bukunya Fajr al-Islam.

[6] . Selain itu, bisa kita bisa melihat dalam sejarah perkembangan kepemimpinan dalam Islam, Sejak masa Muawiyah menjadi penguasa, ia melantik putranya Yazid untuk menggantikannya sebagai raja tanpa memperhatikan suara dari kaum muslim lainnya. Abu A’la al-Maududi menyebut bahwa Mu’awiyahlah yang pertama kali dalam dunia Islam yang menggatikan system kehilafahan menjadi system dinasti. Lihat al-Khilafah wa al-Muluk

[7] . Mu’jam al-Buldan, 4/394

[8] . Lihat juga Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal 6/145, A’yan as-Syi’ah: 1/26

[9] . Muhammad Abu Zuhrah , Imam Ja’far As-Shadiq, hal: 454

[10] . Tarikh Adabiyat-e Iran, 1/297

ilmu hadis syi’ah imamiyah modern benar benar dahsyat dan mumpuni !

Abu Ja’far, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ra, yang dikenal dengan Tsiqatul Islam atau Rais Muhadisin dilahirkan dari keluarga berilmu di desa Kulain di daerah Rey (tepatnya 38 km arah barat daya kota Rey). Hanya terdapat perbedaan antara para ulama tentang tahun dan masa kelahiran beliau. Namun, bukti-bukti menguatkan bahwa kelahiran beliau tidak begitu jauh jaraknya dengan kelahiran Imam zaman a.s. yaitu sebelum atau sesudah tahun 255 H.

Untuk mengumpulkan hadis-hadisnya, beliau bepergian menuju kota-kota imperium Islam saat itu; seperti Bagdad, Damaskus, Ba’labak dan lain-lain. Beliau dikenal di kota kelahirannya sebagai Syeikh Syi’ah dan pemuka mazhab ini. Sehingga saat beliau pada tahun 327 H (setahun atau dua tahun sebelum wafatnya) memasuki kota Bagdad, beliau sudah merampungkan kitab Kafinya dan langsung mengajar hadis di sana. Dan mengingat beliau menghabiskan waktu 20 tahun untuk menyusun al-Kafi, dapat disimpulkan beliau melakukan penyusunan itu di kota Rey dan Qom.

Guru-guru beliau di antaranya; Ali bin Ibrahim al-Qummi, Muhammad bin Yahya al-Ath-Thar, Abu Ali al-Asy-‘ari, Husen bin Muhammad, Ahmad bin Idris, Ibnu Farrukh ash-Shaffari, Ibn ‘Uqdah dan lain-lain. Namun dari semuanya yang paling berpengaruh bagi beliau adalah Ali bin Ibrahim al-Qummi (penulis tafsir terkenal) dan Muhammad bin Yahya al-‘Asyari. Mereka adalah guru-guru dan syeikh yang luar biasa.

Sebagaimana beliau juga sudah mencetak kader-kader dan murid yang mumpuni, seperti Abul Qasim, Ja’far bin Qaulaweih, Harun bin Musa danAbu Ghalib, Ahmad bin Muhammad Zurari.

Selain kitab al-Kafi, beliau juga memiliki karya-karya lain seperti Ar-Raddu ala Qaramithah, Ta’bir Ru’ya, Rasailul Aimmah, kitab Rijal dan lain-lain.

Dilihat dari kitab-kitab beliau yang beragam serta jenis penyajian riwayat dalam al-Kafinya juga pemilihan tema dan bab-babnya dapat dipahami bahwa beliau selain ahli hadis juga mumpuni dan shahib nazar dalam bidang lain seperti kalam (teologi) dan fiqih.

Syekh Kulaini ra wafat pada tahun 328 / 329 H dan dimakamkan di kota Bagdad. Beberapa tahun setelah wafatnya dan rusaknya makam beliau yang berujung dengan tersingkapnya badan beliau yang masih segar dan kafan yang masih utuh akhirnya makam itu dibangunkan Qubah yang ada hingga saat ini.

Al-Kafi, merupakan kitab hadis jamik pertama dan terpenting dalam Syi’ah yang menurut ungkapan banyak ulama belum dan tidak ada kitab yang lebih bernilai darinya dalam Islam (selain al-Quran tentunya). Kitab al-Kafi terdiri dari dua jilid Ushul, lima jilid Furu’ dan satu Raudhah. Di dalamnya terdapat 30 Kitab, 326 bab dan total hadis yang tertulis 16199 hadis.

Nama kitab ini bukanlah berasal dari penyusun, mengingat dalam khutbah kitabnya tidak menyebutkannya. Walaupun sesekali beliau mengatakan;

وقلت إنك تحب ان يكون عندك كتاب كاف يجمع فيه من جميع فنون علم الدين ما يكتفي به المتعلم وبرجع اليه المسترشد

dan kamu mengatakan kalau ingin di sampingnmu ada kitab yang lengkap yang terkumpul di dalamnya segala jenis ilmu agama yang mencukupi seorang pelajar dan (dapat) dijadikan rujukan orang yang ingin berkembang. Namun maksud Kafi di atas bertujuan untuk mengumpulkan segala hal bukan untuk penamaan.

Sesuai penjelasan para ulama beliau merampungkan kitab ini dalam kurun waktu 20 tahun. Masa yang panjang ini memberikan gambaran akan kedetailan dalam pemilihan riwayat, peletakan bab dan penyusunannya pasal-pasalnya.

Dalam mukadimah kitabnya, beliau menjelaskan kalau kitab ini merupakan jawaban dari permintaan salah seorang saudara seagama beliau. Sayang beliau tidak menyebutkan siapa nama saudara seiman itu dalam bukunya. Namun, bisa ditebak kalau orang yang meminta itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Abdullah ash-Shafwani atau Muhammad bin Nukmani.

Dan kalau kita melihat kepada mukadimah kitab Kafi dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kitab ini beliau berharap dapat menyelamatkan riwayat-riwayat Syi’ah yang tercecer dan ingin disusun dalam sebuah kompilasi untuk menghindari perpecahan dalam agama.

Keistimewaan-keistimewaan Al-Kafi

1. Komplisitas, al-Kafi dibandingkan dengan kitab-kitab jamik hadis yang lain khususnya kitab-kitab jamik yang awal seperti Kitab Man La yahdhuruhul Faqih, Tahdzibul Ahkam dan al-Istibshar lebih komplit dan komprehensif. Karena kitab Al-Kafi tidak hanya berkaitan dengan furuuddin dan hukum-hukum, ia juga membahas dan memuat hadis-hadis tentang aqidah dan akhlak. Dua jilid awal dari Kafi telah membawakan riwayat-riwayat tentang dua bagian penting ajaran agama itu. Tanpa diragukan lagi, andai Syekh Shaduq dan Syekh Thusi juga membawakan hadis-hadisnya seputar Aqidah dan Ushul juga niscaya warisan riwayat Syi’ah akan semakin kaya dan beragam. Oleh karena itu, Marhum Faidh Kasyani saat memuji al-Kafi beliau menyebutkan kesadaran penyusunnya akan hal ini serta beliau mengkritik para penyusun kitab jamik hadis yang lain yang tidak membahas masalah Ushuludin.

2. Penyusunan yang sangat rapi dan detail. Perlu diperhatikan bahwa Marhum Kulaini ra adalah sosok pertama yang menyusun kitab hadis yang jamik dan beliau tidak memiliki contoh kitab yang bisa dijadikan rujukan. Akan tetapi jika kita melihat kepada isi kitab ini kita akan terkagum-kagum dengan penataan dan penyusunan bab-bab, pasal-pasal yang ada di dalamnya; bagaimana beliau memulai kitabnya dengan ushul lalu dilanjutkan dengan Furu’ dan digenapkan dengan Raudah.

Dalam ushul beliau memulai dengan kitab al-Aql dan al-Jahl, baru setelah itu beliau membawakan kitab Tauhid dan Hujjah. Ini menunjukkan ketajaman pikir dan analisa beliau, di mana dasar dari pengkajian masalah akidah dan Ushul adalah akal yang menjadi factor pembeda manusia dengan hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda mati.

Setelah hadis-hadis tentang ketuhanan beliau membahas tentang Nubuwah dan imamah dalam satu kitab tanpa dipisah yaitu kitab Al-Hujjah. Karena nabi dan para imam sama-sama dilantik oleh Allah untuk membimbing manusia. Dan begitulah kitab-kitab selanjutnya ditata dan disusun dengan baik dan sesuai.

Untuk mensyarahi kitab hadis yang agung dan monumental ini, banyak kitab telah ditulis, hanya yang paling utama dan terkenal adalah kitab Mir’atul ‘Uqul fi Syarhi Akhbari Ali Rasul karya Allamah Majlisi (Penulis kitab Bihar), Syarah Shadrul Mutaalihin dan Syarah Mulla Saleh Mazandarani.{Mss}

Semua mazhab dalam Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis dalam berbagai disiplin ajaran Islam – termasuk tafsir, fiqih (hukum), dan akhlak (etika), dan seterusnya. Dewasa ini , sulit menemukan seorang individu yang mengklaim bahwa Al-Quran sudah menjabarkan seluruh prinsip-umum ajaran Islam berikut rinciannya tanpa bantuan Sunnah dan Hadis. Lagi pula, banyak pernyataan yang gamblang dari Nabi, dan beberapa pernyataan Al-Quran sendiri yang menunjukkan pentingnya petunjuk dan amalan Nabi. Karena pentingnya Sunnah dan Hadis ini, sudah jelas, maka tak perlu bukti lagi.

Maksud tulisan ini ialah hendak mengkaji bagaimana kumpulan hadis yang ada mulai ditulis dan berapa lama diperlukan untuk menjadikannya sebagai suatu laporan ucapan (qawl), perilaku (fi’l), dan persetujuan (taqrir) Nabi dalam bentuk tertulisnya. Tak pelak lagi, masalah ini mempunyai pengaruh penting dalam menentukan otentitas kumpulan hadis secara umum.

Dalam kasus Al-Quran , kita tahu bahwa tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dengan penulisannya. Jadi, tidak ada keraguan akan keaslian Al-Quran, lantaran Nabi sudah menunjuk para pencatatnyasejak turunnya wahyu pertama dan mereka ditugasi untuk menghimpun dan menuliskannya. Tetapi praktek ini tidak diikuti dalam kasus hadis, yang mendapat perlakuan berbeda.

Pentingnya hadis dan peranannya dalam berbagai masalah politik dan sosial, menyebabkan berbagai kelompok memperlihatkan kepekaan tertentu terhadapnya. Kepekaan ini berakibat pada tertundanya penulisan hadis, meskipun ada perintah Nabi untuk melakukan penulisan dan penyebarluasan hadis. Sayangnya, penundaan ini menciptakan kerumitan kepada generasi berikutnya dalam hal penilaian hadis.

Sungguhpun begitu, perlu ditunjukkan di sini bahwa keadaan hadis Syi’ah berbeda dengan hadis Sunni. Perbedaan ini timbul karena orang Syi’ah terdahulu bersiteguh untuk menuliskan hadis dengan suatu penekanan pada keyakinannya atas kepemimpinan para Imam dan Ahl al-Bait yang kehadirannya berlanjut hingga pertengahan abad ke-3 H/9M. Dengan demikian, hadis Syi’ah tidak mengalami sejenis kelemahan yang berkaitan dengan penundaan penulisan hadis.3)

Disini kita akan meninjau secara singkat keterangan berkenaan dengan masalah ini. Tetapi bagian terbesar penelaahan ini akan membahas sejarah hadis tertulis dikalangan Ahl al-Sunnah. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa hadis ternyata tidak tertulis selama masa tertentu. Bahkan tak cuma itu saja, untuk beberapa masa hadis dilarang untuk disampaikan. Selama masa pealing kurang satu abad, hadis–hadis disampaikan lewat tradisi lisan. Meskipun sebagian hadis ditulis selama abad ke-2/8, namun bagian terbesarnya baru ditulis setelah masa yang cukup lama.

Pertama-tama kita akan menyebut pandangan para Imam Syi’ah yang menekankan pada penulisan hadis. Lalu kita akan membahas sejarah hadis tertulis dikalangan Ahl al-Sunnah. Penelaahan semacam ini dapat berfungsi sebagai petunjuk umum guna menilai asas-asas mazhab-mazhab Islam yang resmi dan teradisional dan mengungkapkan mazhab yang memiliki dukungan tradisi penulisan yang tak terputus. Yang terpenting dalam penelaahan semacam ini adalah penilaian yang terinci tentang isnad (garis periwayatan) dan matan (teks), yang merupakan suatu tugas yang membutuhkan usaha penelitian mendalam, dan meskipun sejumlah karya telah ditulis mengenai masalah tersebut, tetap masih terbuka kemungkinan bagi penelitian lebih lanjut.

Para Imam Syi’ah dan Penulisan serta Penyampaian Hadis

Dalam bagian ini, kami bermaksud membicarakan secara singkat pandangan Syi’ah mengenai hadis sejak permulaan. Nanti akan terlihat bahwa pandangan Syi’ah akan berbeda, atau bahkan bertentangan, dengan pandangan lainnya. Para Imam Syi’ah memerintahkan penulisan hadis pada saat tokoh ulama Sunni ternama, yaitu menjelang abad 3/9, enggan menuliskan hadis. Dan kalaupun mereka menuliskannya, maka hal itu hanya untuk membantu hapalan saja. Barulah setelah penulisan itu menjadi merata, mereka pun mulai melakukan usaha penulisan hadis dengan melanggar tradisi yang dirawikan oleh mereka sendiri yang melarang penulisan hadis.

‘Alba ibn Al-‘Ahmar meriwayatkan bahwa suatu ketika Ali ibn Abi Thalib dalam khutbahnya yang disampaikan dari mimbar menyatakan: “Siapa yang membeli pengetahuan dengan sedirham?” Al-Harits ibn Al-A’war membeli kertas seharga satu dirham lalu datang ke pada Ali dan menulis sejumlah besar pengetahuan di kertas tersebut. Tradisi ini menunjukan penekanan Imam tentang penulisan.

Al-Hasan ibn Ali diriwayatkan pernah menasehati putranya sebagai berikut:

Sekarang kamu putra ummat yang akan menjadi pemukanya di masa depan. Pelajarilah ilmu; dan siapapun di antara kamu yang tak sanggup menghapal ilmu (yaitu hadis), catalah dan peliharalah hadis itu di rumahmu.5)

Diriwayatkan bahwa Hujr ibn Adi, salah seorang di antara sahabat Nabi saw. dan Ali menuliskan hadis Ali dalam sebuah buku dan ia akan merujuk pada buku tersebut kapan pun ia butuhkan sebagi petunjuk dalam hubungannya dengan masalah tertentu. Contoh-contoh ini mengetengahkan betapa pentingnya penulisan hadis dalam pandangan Ali, para putra dan sahabatnya. Berikut ini dua contoh yang menunjukkan pentingnya apa yang dilakukan oleh Ali terhadap hadis dan pemeliharaannya.

‘Umar ibn ‘Ali meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Ali bagaimana ia mampu meriwayatkan lebih banyak hadis Nabi jika dibandingkan dengan para sahabat lainnya. Ali menjawab:”Ini karena setiap aku bertanya, Nabi saw. selalu menjawabnya. Dan jika aku diam, ia sendiri yang akan mulai berpidato.”

‘Ali ibn Hawshab meriwayatkan dari Makhul, seorang alim dari Syiria bahwa Nabi Suci saw. membaca ayat: “Dan agar diterimanya melalui telinga yang suka menerimanya.” (QS 69 : 12). Lalu beliau berkata kepada Ali:”Aku memohon kepada Allah agar telinga demikian itu merupakan telingamu.” Dan kemudian Ali berkata:”Aku tak akan pernah melupakan hadis atau apapun yang kudengar dari Nabi saw.”

‘Umar ibn Al-Harits berkata:

Suatu saat Ali menengadahkan wajahnya ke langit, lalu menundukkannya seraya berkata:’Allah dan Rasulnya telah mengatakan kebenaran. ‘Apakah itu?’ tanya sekelompok orang yang ingin mengetahuinya. Imam lalu berkata:’Aku adalah prajurit, dan perang mengandung tipuan. Tapi seandainya aku jatuh dari langit, lalu dicengkeram oleh burung, maka itu lebih aku senangi dari pada menisbahkan suatu kepalsuan atau kebohongan kepada Rasul Allah. Karena itu, laksanakan apapun yang kamu dengar dariku.

Berbagai pernyataan tentang penulisan hadis juga diriwayatkan dari para Imam yang lain.Al-Imam ash-Shadiq berkata :”Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, maka anak –anakmu akan mewarisi kitab –kitabmu.kelak,akan tibasuatu masa yang didalamnya terjadi kekaacuan dan orang-oraang tk lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku. Imam Al-shadiq juga telah menyatakan:peliharalah buku –bukumu,karena suatu saat kalian akan membutuhkannya.”juga beliau diriwayatkan telah berkata bahwa kekuatan jiwa dan ingatan bergantung pada tulisan. Abu Basir meriwayatkan bahwa Imam Al shadiq berkata kepadnya:”Sejumlah orang yang datang dari basrah bertanya kepadaku tentang beberapa hadits, lalu menuliskannya.kenapa anda tidak menuliskannya juga?kemudian menambahkan:kethuilah bahwa anda tidak akan menjaga hadis tanpa menuliskannya.”Sejumlah tradusi besar menunjukkan bahwa para Imam mempunyai buku buku dan tulisan tulisan yang mereka warisi dari para leluhurnya. Dalam tradisi lain, diriwayatkan bahwa Ali pernah membuat pernyataan “ikatlah ilmu”(lewat penulisan), yang diulangnya sampai dua kali. Telah diriwayatkandari jabir bahwaAbu Hanifah memanggil Imam Al-Shadiq dengan kutubi(kutu buku ),sehubungan dengan kepercayaannya kepada buku- buku,dan Imam bangga dengan julukan itu.

Diriwayyatkanjuga bahwa Imam Al-Muhammad ibn Ali Al-baqir mencatat suatu hadis Nabi yang dirawikan oleh jabir ibn Abdullah Al-Anshari. Meskipun pernyataan ini agaknya keliru,sebab jabir wafat ketika Imam berusaha lima tahun,tapi mungkin saja bahwa tradisi tersebut telah menulis melalui perantara.

Syi’ah dan Penulisan Hadis

Karena tradisi penulisan hadis sudah ada di kalangan Syi’ah sejak permulaan, maka mereka pelopor tradisi tertulis dalam hadis dan fikih. Dr. Syawqi Dayf menulis:

Perhatian Syi’ah terhadap penulisan fikih sangatlah kuat. Alasan dibaliknya adalah keyakinannya terhadap Imam mereka, bahwa mereka adalah pembimbing (hadi) dan yang diberi petunjuk oleh Tuhan (mahdi) dan seluruh fatwanya bersifat mengikat. Karena itu, mereka memberikan perhatian kepada fatwa dan keputusan Ali. Dengan alasan inilah, kompilasi pertama dilakukan di kalangan Syi’ah oleh Sulayman ibn Qays Al-Hilali, seorang yang hidup sezaman dengan Al-Hajjaj.

Allamah Sayyid Syarif Al-Din menulis:

“Imam Ali dan para pengikutnya menaruh perhatian terhadap masalah ini sejak awal. Hal pertama yang diperintahkan oleh Ali adalah menulis Al-Quran secara utuh yang dilakukannya setelah wafatnya Nabi, sesuai urutan kronologis turunnya wahyu. Dalam penulisan itu, dia pun menunjukkan ayat-ayat yang amm atau khashsh, mutlaq atau muqayyad, muhkam atau mutasyabih.Setelah proses kompilasi itu, dia mulai menghimpun sebuah buku untuk Fatimah. Setelah itu, dia menulis buku yang kemudian dikenal sebagai Shahifah. Ibn Sa’ad telah mengisahkan dalam sebuah musnad dari Ali di akhir karyanya yang terkenal Al-Jami. Pengarang Syi’ah yang lain ialah Abu Rafi, yang menghimpun sebuah karya yang disebut kitab Al-Sunan wa Al-Ahkam wa Al-Qatada.”

Almarhum Sayyid Hasan Al-Shadr menulis bahwa Abu Rafi, maula dari Nabi, adalah orang pertama dari kaum Syi’ah yang menyusun buku. Al-Najasi dalam Fihrist –nya, menyebutkan bahwa Abu Rafi adalah salah seorang generasi pertama diantara pengarang Syi’ah. Sebagai Syi’ah Ali, Abu Rafi ikut serta dalam peperangan Ali dan mengepalai Bait Al-Mal di Kufah. Karyanya, Al-Sunan, yang dimulai dengan bab tentang shalat, diikuti oleh bab tentang puasa, haji, zakat dan penilaian hukum yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ubayd Allah ibn Abi Rafi, dari bapaknya yang diriwayatkan dari ayahnya, Abu Rafi, dari Ali. Di kufah, buku ini diceritakan pada zaman Al-Najashi oleh Zaid ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Al-Mubarak

Ali ibn Abi Rafi, putranya Abu Rafi, seorang tabi’it dan Syi’ah yang terkenal, juga telah menyusun sebuah buku yang berisikan bab-bab tentang berbagai tema hukum, seperti wudhu’, shalat, dan sebagainya.

Sepert telahdisebutkan di atas , abu Hanifah memanggil Imam Ash-Shadiq dengan julukan ‘kutubi” (ucapan dari dia adalah “innahu kutubi“), dan ini merupakan suatu karakter yang membedankannya dari yanglkaihn. Ketika mendengar hal itu, dia tertawa dan berkata: “Yang benar adalah perkataannya bahwa aku adalah seorang suhufi: karena saya telah membaca menunjukkan bahwa Imam memiliki


1). Meskipun dapat kita lihat beberapa cendekiawan Muslim Mesir menyatakan bahwa pada masa ini, seharusnya, slogan kita sekali lagi adalah “Cukup bagi kita Kitab Allah”.2). Sebagai contoh, ayat berikut ini:Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri-tauladan yang baik bagimu…………………………….(QS 33:21)………………….apapun yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah; dan apapun yang dilarangnya,tinggalkanlah………………..(QS 59:7)Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan bagi perempuan yang Mukmin, jika Allah danRasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, bagi mereka akan ada pilihan (yang lain) tentang Urusan mereka…………………….(QS 33:36)

3)Lihat buku berjudul Ukdzubat Tahrif Al-Qur’an bayna Al-Syi’ah wa Al-Sunnah oleh Rasul Ja’fariyan

4)Al-Tabaqat Al- Kubra, vol. 6, hal. 168; Taqyid Al-‘Ilm, hal. 89,90; Kanz Al-‘Ummal,vol. 10, hal. 156; Rabi’Al-Abrar, vol. 3, hal. 294.

5)Bihar Al-Anwar,vol. 2, hal.152;Al-Taratib Al-Dariyyah,vol. 2, hal. 246; Sunan Al-Darimi, vol. 1, hal.130; ‘Illal Al-Hadith,vol. 2, hal. 438; Taqyid Al-‘Ilm, hal. 91; Jami’ Bayan Al-‘Ilm,vol. 1, hal. 99; Kanz Al-‘ummal, vol. 1, hal. 193; Rabi’Al-Abrar, vol. 3, hal. 326; Tarjumat Al-‘Imam al-Hasan dlmTarikh Dimasyq,

6)Al-Tabaqat Al-Kubra, vol. 6, hal. 220

7)Ansab Al-Ashraf, vol. 2, hal. 98; dan hadis no. 980 dari pembahasan biografi Imam Ali dalam Tarikh Dimasyq;Bihar Al-Anwarvol. 2. Hal. 230; Al-Fadha’il oleh Ibn Hanbal, hadis No. 222.

8)Ansab Al-Asyraf, vol. 1 , hal. 121; Tarikh Dimasyq, vol. 38, hal. 202; Hilyat Al-Awliya,vol.. 1, hal. 67; Syawahid Al-Tanzil,hadis No. 1009.

9)Ansab Al-Asyraf, vol. 2, hal. 145.

10)Bihar Al-Anwar,vol 2,hal.50,dari Kasyf Al-Mahajjah.

11)Bihar Al-Anwar,vol.2,hal 152.

12)Bihar Al-Anwar, vol. hal 153.

13)Untuk informasi tentang hadis dalam hubungannya dengan masalah ini, lihat makatib AL-Rasul,vol. 1,hal71dan 89 olehAli Ahmad Miyanji.

14)Taqyid Al-Ilm,hal.89.

15)Radwat Aljannat,vol.8hal.169.

16)Taqyid Al-Ilm. hal.104.

17)Tarikh Al-Adab Al-Arabi,”Al-Asr Al-Islami”,hal. 453, sementara pernyataan yang sama juga dibuat oleh Mustafa ‘Abd Al –Razaq; lihat Tahmid li-Tarikh al-Islamiyah, hal. 202, 203.

18)Al-Muraja’at, hal. 305,306, diterbitkan oleh Al-A’lami, Beirut.

19)Ta’sis Al-Syi’ah li-‘Ulum Al-Islam,hal. 280, diterbitkan oleh Al-A’lami, Beirut

20)Rijal Al-Najasi,hal. 3,4, diterbitkan di Qum.

—————————————————————————————————–

Sejarah Singkat Hadits Syi’ah

1. Atas usaha yang dilakukan oleh Ahlulbait as dan para sahabatnya, penulisan hadits dalam sejarah mazhab Syi’ah, pada masa pelarangan, tidak pernah mengalami kemandegan dan terus berlanjut dan pada masa kodifikasi dan penyusunan Jawami’ Hadits Syi’ah, ia lebih banyak menukil dan menyalin dari tulisan-tulisan yang ada dibanding bersandar kepada penukilan lewat lisan.

2. Pada periode paling awal dari sejarah hadits Syi’ah, telah muncul penulisan-penulisan hadits; seperti Kitab Salman, Kitab Abu Dzar dan lain-lain yang kesemuanya itu sudah tidak ada dihadapan kita dan tinggal sejarah saja yang memberikan informasi tentang keberadaan kitab-kitab yang sangat berharga tersebut. Dan sebagiannya lagi seperti Kitab Imam Ali as yang saat ini berada ditangan mulia Imam Zaman ajf., Nahjul Balaghah, dan Shahifah as Sajjadiyah yang saat ini ada bersama kita.

3. Kitab Imam Ali as merupakan kumpulan riwayat-riwayat yang dibacakan langsung oleh Rasulullah saw dan dicatat langsung pula oleh Imam Ali as. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, menghikayatkan bahwa ukuran kitab ini sekitar 70 zira’ dan di dalamnya berisi tentang hukum-hukum (ahkam) yang dibutuhkan umat sampai hari kiamat, dan hanya sahabat-sahabat spesial para Imam as saja yang pernah melihat langsung kitab tersebut. kitab tersebut merupakan sebuah peninggalan besar dalam bidang riwayat dan hadits yang saat ini berada di tangan Imam Zaman ajf.

4. Mushaf Fathimah adalah kumpulan riwayat dan hadits yang isinya berkaitan dengan masalah-masalah seperti: peristiwa-peristiwa serta fitnah-fitnah umat, khususnya fitnah yang terjadi atas keturunan Sayidah Fathimah as: sampai hari kiamat. Melihat fenomena terkait dengan munculnya berbagai keraguan (syubhat) atas adanya distorsi pada Al Qur’an dan juga munculnya Al Qur’an lain yang berada ditangan Syi’ah bernama Mushaf Fathimah:, maka demi adanya kejelasan para Imam Ma’shum as menegaskannya lewat ayat-ayat Al Qur’an.

5. Dengan bersandar pada riwayat-riwayat sejarah, paska Rasulullah saw wafat , Imam Ali as (atas perintah Nabi saw) mulai menyusun ayat-ayat dan surah-surah Al Qur’an berdasarkan urutan turunnya serta mencatat tafsir dan ta’wil setiap ayat, yang dengan usaha ini terbentuklah Mushaf Imam Ali as. Kitab ini dianggap sebagai salah satu sumber syi’ah paling tua dalam bidang riwayat dikarenakan ia mengandung riwayat-riwayat yang berisi tentang tafsir.

6. Nahjul Balaghah yang berarti metode berbicara secara ideal adalah nama dari kumpulan khutbah-khutbah, surat-surat dan kata-kata hikmah Imam Ali as yang dirampung serta dibukukan oleh almarhum Sayid Radhi (406 H). Sayid Radhi sendiri mengakui bahwa Nahjul Balaghah yang ada ditangan kita saat ini merupakan hasil seleksi dari sepertiga ucapan Imam Ali as. Nahjul Balaghah berisi sekitar 241 khutbah, 79 surat dan 480 hikmah. Dengan muatan yang luar biasa dan keindahan susunan Nahjul Balaghah, maka ia diklaim sebagai “kata-katanya lebih rendah dari Kalam Tuhan dan lebih tinggi dari kata-kata manusia”.

7. Shahifah as Sajjadiyah merupakan kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Doa itu diucapkan oleh Imam Sajjad as semasa hayatnya dan dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Meskipun sanad kitab ini terputus, namun ketinggian ucapan Imam dan muatannya yang menggambarkan pengetahuan irfan dan ma’arif (pengetahuan) Al Qur’an maka tidak diragukan lagi kalau ia berasal dari manusia suci (Imam Sajjad as). Shahifah as Sajjadiyah sekarang ini memiliki sekitar 54 buah doa.

8. Periode kedua perjalanan sejarah hadits Syi’ah adalah periode yang disebut dengan Periode ” Ushul arba’umiah (Prinsip-prinsip 400) “. maksud dari Ushul arba’umiah adalah sebuah kumpulan hadits dan riwayat dari sejak Imam Ali as sampai Imam Hasan al ‘Askari as, khususnya hadits dan riwayat yang ada pada masa Shadiqain (Imam Baqir as dan Imam Shadiq as).

9. Ushul (prinsip) pada umumnya kosong dari ijtihad dan pengungkapan pendapat pribadi seorang perawi dan hanya langsung menukil ucapan Imam Ma’shum as. dan hal inilah yang membedakan ia dengan kitab. Berdasarkan hal ini, Ushul (prinsip) merupakan tulisan-tulisan yang mana pada bagian-bagian yang terdapat riwayat-riwayat para Imam Ma’shum as, tidak ditemukan campur tangan atau intervensi serta juga riwayatnya tidak disusun dan diatur secara per-bab.

10. Para penyusun Kutub Arba’ah dalam mewujudkan kitab Jawami’ Awwaliyah , mereka menggunakan riwayat-riwayat yang ada pada Ushul arba’umiah. Ini menunjukkah akan penting dan ketinggian posisi tulisan-tulisan ini.

11. Kendatipun Ushul arba’umiah itu ada sampai pada masa Syaikh Thusi (460 H) dan juga sejumlah informasi tentangnya, namun yang sampai pada masa kita, masa Allamah Majlisi (1111 H), hanya sekitar 16 Ushul (prinsip). Kodifikasi Jawami’ Riwai (kumpulan riwayat) dan pembakaran atas perpustakaan syaikh Thusi merupakan faktor-faktor yang diprediksi sebagai penyebab hilangnya Ushul arba’umiah.

12. Masa kodifikasi (periode ketiga), terdapat empat kitab hadits, yaitu:

a. al Kafi karya Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini (329 H).

b. Man La Yahdhuruhu al Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babuyah (Syaikh Shaduq) (381 H).

c. Tahzib al Ahkam karya Syaikh al Thaifah Muhammad bin Hasan Thusi (460 H).

d. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar karya Syaikh Thusi.

Perlu diketahui bahwa Madinah al ‘Ilm yang merupakan salah satu karya lain Syaikh Shaduq, juga dikalisfikasikan sebagai kitab Jami’ hadits Syi’ah yang kelima, kendatipun saat ini tidak lagi bersama kita (hilang).

13. Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini lahir sekitar tahun 255 H di sebuah desa bernama Kulain yang terletak di kota Rei. Dengan keilmuan dan posisi spiritual yang ia miliki sehingga seluruh ulama syi’ah menyanjungnya. Tulisan-tulisan beliau serta kata-katanya disela-sela riwayat-riwayat yang ada pada kitab Al Kafi menunjukkan bahwa selain dalam bidang hadits, beliau juga adalah seorang yang handal dalam ilmu kalam (teologi), fiqih, tafsir, dan sejarah.

14. Al Kafi merupakan Jami’ Riwai (kumpulan Riwayat) Syi’ah paling awal dan sangat penting yang mencakup sekitar 16199 riwayat dan diklasifikasikan ke dalam tiga bagian: Ushul (prinsip-prinsip) dua jilid, Furu’ (cabang-cabang) enam jilid, dan Raudhah satu jilid. Al marhum Kulaini menyusun kitab Al Kafi selama
20 tahun yang dimotivasi oleh keinginan untuk meluruskan agama masyarakat dan mencegah dari adanya perpecahan. Nilai plus dan karakter khusus kitab Al Kafi adalah: 1) kolektivisme/ komprehensif , dan 2) sistematis.

15. Kendati ada sebagian kalangan, seperti Mulla Khalil Qazwini, meragukan penisbahan Raudhah kepada Al Kafi, namun umumnya para Muhaddits Syi’ah menafikan keraguan tersebut dengan alasan bahwa melihat adanya kesesuaian riwayat-riwayat Raudhah dengan sanad-sanad seluruh riwayat-riwayat Al Kafi dan bahwa pula adanya jarak masa antara Ibnu Idris dengan level kedelapan atau kesembilan para perawi dan bahwasanya Najasyi dan Syaikh Thusi yang sudah ada pra Ibnu Idris, mengakui serta menganggap bahwa Raudhah itu merupakan bagian dari Al Kafi.

16. Syaikh Shaduq Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babuyah al Qumi merupakan salah seorang ulama dan Muhaddits tersohor Syi’ah, dimana berkat doa Imam Zaman afj. Ia lahir kedunia ini di tengah-tengah sebuah keluarga yang berpendidikan. Selama kehidupan ilmiahnya, Syaikh Shaduq sangat dihormati oleh penguasa ketika itu, diantaranya Ali Buyah. Ia memiliki jumlah karya sebanyak 250 tulisan, diantaranya kitab Man Laa yahdhuruh al faqih. Syaikh Shaduq wafat pada tahun 381 H dan dimakamkan di kota Rei.

17. Man Laa yahdhuruh al faqih merupakan Jami’ Riwai ( Kumpulan Riwayat) kedua Syi’ah yang dari sisi kekunoan dan validitas berada pada posisi setelah Al Kafi, dan memiliki sekitar 5998 riwayat dimana disusun guna mempelajari fikih secara otodidak (tanpa pembimbing) dan juga ia disusun dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang sahabat dekat Syaikh Shaduq serta mencontoh kitab Man Laa yahdhuruh al Thabib karya Muhammad bin Zakaria Razi.
Diantara kekhususan kitab Man Laa yahdhuruh al faqih adalah terbatas hanya pada riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan fikih, tidak mencantumkan sanad-sanad riwayat kecuali perawi terakhir, dan sejumlah riwayat hanya menyebutkan nama Imam Ma’shum as dan ketentuannya di akhir kitab pada Masyaikh dan menyebutkan pandangan-pandangan fikih diantara riwayat-riwayat tersebut.

18. Abu Ja’far Muhammad bin Hasan Thusi, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaik al Thaifah, lahir pada tahun 385 H di Thus kota Khurasan dan setelah mengenyam dan menjalani pendidikan serta bimbingan dari beberapa guru besar seperti Syaikh Mufid, beliau pun mencapai maqam dan kedudukan yang tinggi dan setelah peristiwa serangan fanatis ahlusunnah ke rumah beliau di Mahallah Karakh kota Baghdad, beliau berangkat menuju kota Najaf dan disana beliau mendirikan Hauzah Ilmiyah Najaf. Peninggalan-peninggalan (buku-buku, penerjemah.) Syaikh Thusi dalam berbagai tema Islam yang dijadikan sebagai dasar-dasar serta pondasi ajaran Syi’ah merupakan bukti akan keluasan ilmu dan perhatian besar beliau.

19. Tahzib al Ahkam dan Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan dua pusaka kumpulan hadits dari Syaikh Thusi yang dianggap dan dikenal sebagai kitab riwayat yang berada pada urutan ketiga dan keempat kitab hadits Syi’ah dengan alasan bahwa riwayat kitab ini banyak menyandarkan ke Ushul arba’umiah dan juga muatannya yang cukup akurat. Secara istilah kedua kitab ini disebut sebagai Tahzibain.

20. Pada dasarnya Tahzib al Ahkam merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas kitab Al Muqna’ah Syaik Mufid dimana kitab ini mencakup sekitar 13988 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam ukuran 10 jilid. Syaikh Thusi menyusun kitab ini dalam rangka memberikan jawaban atas kelompok-kelompok penentang yang menganggap bahwa riwayat-riwayat Syi’ah itu banyak yang paradoks. ( Wasail al Syi’ah juga merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas buku fikih Syarai’ al Islam buah karya Muhaqqiq Hilli).
Refleksi lebih sempurna mengenai riwayat-riwayat terkait furu’ (cabang-cabang), refleksi riwayat-riwayat yang disepakati dan yang tidak disepakati, adanya penjelasan, tafsir dan ta’wil riwayat-riwayat merupakan ciri khas dari kitab Tahzib al Ahkam.

21. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan peninggalan kedua kitab hadits yang ditulis oleh Syaikh Thusi dan adalah salah satu kitab keempat dari kutub arba’ah (empat kitab hadits) yang disusun setelah kitab Tahzib al Ahkam dalam rangka menertibkan serta menyempurnakan riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan. Kitab ini mencakup sekitar 5511 hadits dan dicetak serta dipublikasikan dalam empat jilid. Syaikh Thusi secara umum riwayat-riwayat dalam kitab Tahzibain, itu tidak menyebutkan sanad-sanadnya atau perawinya kecuali perawi yang terakhir dan diakhir kitab ini terdapat sebuah pasal yang diberi tema Masyaikh yang disana disebutkan metode beliau terhadap para perawi tersebut.

22. Antara kelompok Akhbari dan kelompok Ushuli terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan kesahihan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah tersebut. kelompok Akhbari meyakini bahwa dengan memperhatikan isi Kutub al Arba’ah yang mana ia banyak menyandarkan dan mengambil riwayat dari kitab Ushul arba’umiah serta adanya pembelaan para penyusun kitab-kitab tresebut, seperti yang termaktub dalam mukadimah setiap kitab, atas kesahihan riwayat-riwayatnya sehingga kita tidak mungkin bisa meragukan kesahihan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut. Akan tetapi kelompok Ushuli, selain menafikan argumentasi yang dilontarkan oleh kelompok Akhbari, juga memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan kelompok tersebut dimana kaum Ushuli berkeyakinan bahwa dengan adanya sejumlah riwayat lemah dalam kitab-kitab ini maka klaim yang menyatakan akan kesahihan serta ketegasan seluruh riwayat tersebut pun terbantahkan dan ternafikan. Dengan alasan inilah maka merupakan sebuah kemestian untuk melakukan analisis terhadap sanad dan teks dari setiap riwayat-riwayat tersebut secara terpisah.

23. Pada periode keempat dalam sejarah hadits Syi’ah (periode penyempurnaan dan Sistematisasi) terdapat sekelompok Muhadditsin yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits serta riwayat Syi’ah yang tidak ditemukan dalam Kutub al Arba’ah dan menyusunnya dalam bentuk sebuah kitab. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan cara penulisan diatas diantaranya adalah kitab Bihar al Anwar, Wasail al Syi’ah, Mustadrak al Wasail, dan Jami’ Ahadits al Syi’ah.

24. Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, atau lebih dikenal Allamah Majlisi atau Majlisi kedua (1111 H) lahir pada tahun 1037 di kota Isfahan dan setelah mengenyam pendidkan serta pengajaran dari beberapa guru, seperti Majlisi pertama (ayahnya), dan Mulla Shaleh Mazandarani, beliau mulai menekuni secara mendalam ilmu hadits dan disamping aktifitas-aktifitas kemasyarakatannya, ia berhasil mempersembahkan sekitar 160 buah karya, 86 tema dalam bahasa Persia dan sisanya ditulis dalam bahasa arab. Kitab Bihar al Anwar dan kitab syarah beliau atas kitab Al Kafi ( Mir’ah al ‘Uqul ) merupakan dua buah karya monumental beliau dalam bidang riwayat.

25. Bihar al Anwar al Jami’ah Lidurari Akhbar al Aimmah al Athhar (as), merupakan kitab hadits Syi’ah yang paling komprehensif dari pertama sampai abad sekarang. Kitab yang sekarang ini dicetak serta dipublikasikan dalam 110 jilid, di dalamnya terdapat ribuan riwayat dalam berbagai bidang pengetahuan seperti akidah, akhlak, tafsir, sejarah dan juga fikih. Allamah Majlisi telah dengan tekun dan dengan kerja keras berusaha mengumpulkan sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi kitab Bihar al Anwar dan dengan membentuk sebuah kelompok kerja ilmiah dan juga atas kerjasama dengan para muridnya, kitab Bihar al Anwar dapat diselesaikan dalam jangka waktu 40 tahun. Diantara motivasi Allamah Majlisi menyusun kitab ini adalah adanya kekhawatiran terhadap hilangnya peninggalan-peninggalan dalam bidang riwayat dan juga munculnya kecenderungan masyarakat terhadap ilmu-ilmu aqli (akal) dan berpaling serta kurang begitu menghiraukan lagi riwayat-riwayat dan hadits.

26. Komprehensif, menjelaskan maksud riwayat, perhatian terhadap perbedaan teks dan tulisan-tulisan, refleksi riwayat-riwayat ahlusunnah, perhatian terhadap adanya konflik dan selisih pada riwayat-riwayat dan lain sebagainya, merupakan cirri khas kitab Bihar al Anwar.

27. Muhammad bin Hasan, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Hurra ‘Amili lahir pada tahun 1033 H di Jabal ‘Amil Libanon dan setelah 40 tahun tinggal di kota kelahirannya dan menuntut ilmu, beliau bermaksud melakukan perjalanan untuk berziarah ke maqam Suci Imam Ridha as di kota Suci Masyhad dan tinggal di kota tersebut dan pada tahun 1104 H, beliau berpulang kepangkuan Ilahi dan dimakamkan disamping makam mulia Imam Ridha as. Selama hidupnya di kota Masyhad, Syaikh sibuk menyusun berbagai kitab diantaranya kitab Wasail al Syi’ah. Jumlah karya yang beliau tinggalkan sekitar 24 tulisan.

28. Tafshil Wasail al Syi’ah ilaa Tahshil Masail al Syari’ah yang nama pendeknya Wasail al Syi’ah merupakan sebuah kitab hadits yang riwayat-riwayatnya diambil dari Kutub Arba’ah dan didalamnya juga terdapat 70 kitab lain serta mengandung sekitar 3585 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam 20 jilid. Diantara kelebihan-kelebihan kitab Wasail al Syi’ah adalah pada bagian penutup kitab ini, penyusun berusaha membahas secara sistematis kajian-kajian penting terkait dengan hadits dan juga ilmu rijal dalam 12 pasal.

29. Mustadrak al Wasail wa Mustanbith al Masail buah karya Mirza Husain Nuri (wafat 1320 H) merupakan sebuah kitab yang mencakup sekitar 23514 riwayat dimana dalam penyusunannya menggunakan berbagai referensi riwayat-riwayat fikih dan disodorkan sebagai penyempurna kitab Wasail al Syi’ah. Diantara kelebihan kitab ini adalah pada bagian penutup kitab ini, mencoba menerangkan serta memaparkan secara khusus kajian-kajian penting seperti pembelaan atas sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi dalam kitab ini.

30. Ayatullah Burujurdi (wafat 1380 H) salah seorang marja’ agung Syi’ah (periode baru ini) bersama para muridnya, dengan melihat adanya kekurangan-kekurangan pada kitab Wasail al Syi’ah, mencoba serta berhasil menyusun sebuah kitab hadits yang cukup komprehensif dalam beberapa jilid yang diberi nama Jami’ Ahadits al Syi’ah. Kitab ini terus berlanjut kendati beliau pun sudah wafat. Diantara ciri khas kitab ini adalah menyebutkan ayat-ayat ahkam, menyebutkan secara sempurna seluruh riwayat tanpa ada pemotongan, penjelasan tentang solusi atas riwayat-riwayat yang bertentangan, menjelaskan tentang perbedaan tulisan atau teks/naskah, pemisahan dan penataan secara sistematis riwayat-riwayat tentang adab-adab dan akhlak, doa-doa serta zikir-zikir, mencantumkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan fatwa dan kemudian riwayat-riwayat yang bertentangan atau berselisih dari sisi madlul (isi)-nya, menentukan tempat kembalinya dhamir (kata ganti) pada tempat-tempat tertentu, dan juga menjelaskan makna dari kata-kata yang dianggap sulit atau pun rumit.

31. Kitab al Wafi karya Mulla Muhsin Faidh Kasyani (wafat 1091 H) merupakan kitab hadits paling awal dan paling sempurna dimana seluruh riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah terdapat di dalam kitab ini dengan konsentrasi bahwa ia mencoba menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan secara berulang kali dalam Kutub al Arba’ah. Kitab ini terdiri dari 14 pasal. Motivasi beliau dalam menyusun kitab ini adalah menurut anggapannya, setiap dari Kutub al Arba’ah itu kurang begitu komprehensif dan juga adanya penakwilan yang tidak sesuai atas Tahzibain. Kitab Al Wafi, selain menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan berulang kali dan menyodorkan model baru sebuah kumpulan riwayat, juga mencakup penjelasan-penjelasan yang sangat bermanfaat serta transparan dari pihak penyusun dalam rangka menghilangkan adanya keburaman serta kekaburan pada riwayat-riwayat tersebut.

32. Jamaluddin Hasan bin Zainuddin (putra Syahid Tsani) (wafat 1011 H) salah seorang ulama dan mujtahid tersohor Syi’ah pada abad kesepuluh yang memiliki sekitar 12 karya dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Kitab Ma’alim al Din beliau masih tetap diajarkan di Hauzah-hauzah ilmiah. Dalam usaha beliau yang sangat berharga dimana mencoba membagi serta mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah kedalam dua kelompok, yaitu kelompok hadits-hadits yang dianggap sahih dan kelompok hadits-hadits yang dianggap hasan dan dari usaha ini beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang diberi nama Muntaqi al Jiman fii al Ahaditsi al Shihah wa al Hisan. Pada permulaan kitab, dalam kaitannya dengan 12 hal yang bermanfaat, penyusun telah memaparkan kajian serta bahasan yang sangat penting lagi berfaedah. Namun perlu diketahui bahwa sangat disayangkan kitab ini terhenti sampai pada bab Haji saja dan tidak sempat diselesaikan.

33. Hadits Syi’ah pada dua dekade, yaitu: 1) abad 5 sampai abad 10. 2) abad 12 dan 13, mengalami kemunduran dan stagnasi. Menjamurnya kajian dalam bidang fikih dan ijtihad menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stagnasi perkembangan hadits pada dekade ini. Gerakan kebangkitan dan pemulihan yang dilakukan kelompok Akhbari dibawah pimpinan Muhammad Amin Astar Abadi (wafat 1280 H) dan pendekatan yang dilakukan terhadap riwayat-riwayat tersebut, dapat mehidupkan kembali serta memberikan ruang gerak kepada ilmu hadits dan dengan kepergian Allamah Majlisi (wafat 1111 H) dan munculnya Wahid Bahbahani (wafat 1280 H) budaya dan tradisi yang berkembang pada hadits Syi’ah kembali mengalami stagnasi (?!).

34. Dari sejak abad 14 sampai pada masa kita sekarang, merupakan periode cemerlang dalam ilmu-ilmu hadits. Pada dekade sekarang, yang terjadi adalah munculnya pendekatan terhadap hadits dengan cara yang relatif modern dan baru, dimana poin-poin aslinya itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. penelitian mendalam dan kritis atas sejarah hadits.

2. terbatasnya ruang kajian dan telaah hadits.

3. kritik dan perbaikan riwayat-riwayat.

4. gerakan penyusunan kamus-kamus riwayat.

5. menghidupkan kembali peninggalan-peninggalan ulama terdahulu.

6. pendekatan orientalis terhadap hadits.

7. pemanfaatan teknologi software computer dalam penelitian hadits.

I. Pendahuluan

Kerasulan Nabi Muhammad saw. merupakan  upaya Tuhan dalam melaksanakan misi agama Islam dan sekaligus menjelaskan firman-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dari pribadinya muncul berbagai mutiara yang amat berhaga bagi perkembangan Islam yakni sunah dan atau hadis. Keberadaan hadis berkembang luas di dunia Islam dan tidak hanya menyebar di daerah Hijaz saja melainkan ke berbagai wilayah kekuasaan Islam yang telah meluas. Dari sini, menimbulkan berbagai kecenderungan dan keragaman atas sunnah dan hadis. Ada yang menjadi suatu tradisi dan bahkan ada yang hilang di telan zaman.  Terlebih jika dikaitkan dengan masalah kepercayaan atas ideologi tertentu, seperti  Syi’ah.

Sebagai salah satu aliran dalam Islam yang jumlahnya  sepuluh persen dari jumlah keseluruhan umat Islam  di dunia,  Syi’ah memiliki pemikiran yang berbeda dengan aliran lainnya. Ia identik dengan konsep kepemimpinan (imamah) yang merupakan tonggak keimanan Syi’ah.  Mereka hanya percaya bahwa jabatan Ilahiyah yang berhak menggantikan Nabi baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan hanyalah dari kalangan ahl al-bait. Keyakinan tersebut mewarnai kekhasan Syi’ah di samping adanya konsep lain seperti ismah dan mahdi.

Kajian atas hadis-hadis di kalangan Sunni telah banyak dilakukan oleh para pemikir hadis. Sementara dalam khazanah yang sama di dalam tradisi Syi’ah juga dikenal berbagai kitab hadis yang disusun dengan berbagai epistemologinya. Paling tidak di kalangan Syi’ah terdapat empat kitab pokok pegangan dan salah satunya yang sedang dibahas yakni al-Kafi.

Makalah ini akan berupaya meyorot kitab hadis al-Kafi  dengan pembahasan tentang anatomi kitab secara utuh dan berbagai respon umat Islam atas kelahiran kitab tersebut. Namun sebelum membahas hal tersebut, kajian ini akan membahas berbagai latar dan setting historis penulis dan situasi kelahiran kitab al-Kafi . Upaya tersebut sangat diperlukan untuk memberikan analisis yang memadai dan lebih komprehensif

.
II. Sketsa Historis: Pengarang dan Kelahiran Kitab

Diskursus hadis dalam ilmu keislaman telah berkembang luas seiring dengan dirasa pentingnya pentadwinan (kodifikasi)  dan pelestarian hadis dari upaya pemalsuan.  Dalam sejarahnya, studi hadis memunculkan berbagai kegiatan ulama dalam pencarian epistemologi ilmu hadis dan beberapa kaidah kesahihan dalam menilai suatu hadis.  Diawali sejak kelahiran sampai abad ke-14 H., studi hadis mengalami berbagai  dinamika pasang surut.

Masa Rasulullah saw. merupakan masa pewahyuan dan pembentukan masyarakat Islam (as}r al-wahyi wa al-takwin).  Di dalamnya, hadis-hadis diwahyukan oleh Nabi Muhammad saw. yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad saw. dalam membina masyarakat Islam. Keberadaan hadis terus dijaga oleh sahabat, orang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. dengan cara menyedikitkan periwayatan dan pemateriannya. Oleh karena itu, masa tersebut dikenal dengan as}r al-tas|abut wa iqlal min al-riwayah.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya abad ke-3 sampai abad ke-5 H., hadis-hadis Nabi Muhammad saw. terbukukan dalam berbagai kitab hadis dengan berbagai metode penulisannya.  Oleh karena itu, ulama pada abad-abad tersebut disebut dengan ulama mutaqaddimin karena telah berusaha mencari hadis ke berbagai daerah dan membukukannya.

Sementara di kalangan Syi’ah didapatkan kenyataan lain, permasalahan penulisan hadis tidak menjadi suatu problem yang serius. Kitab hadis pertama adalah Kitab Ali ibn Abi Talib yang di dalamnya memuat hadis-hadis yang diimla’kan langsung dari Rasulullah saw. tentang halal haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubti al-Syi’i dalam kitab al-sunan, al-ahkam dan al-qad}aya.

Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab.  Salah satunya adalah al-Kafi fi ilm al-Din yang di kalangan Syi’ah merupakan kitab pegangan utama di kalangan mazhab Syi’ah. Setidaknya terdapat empat kitab pokok yang beredar dalam mazhab ahl al-bait. Keempat kitab hadis tersebut adalah al-Kafi , man la yahduruh al-faqi>h, tahzi>b al-ah}ka>m, dan al-istibs}ar fi ma ukhtulifa min Akhbar.

Al-Kafi dikarang oleh S|iqat al-Islam, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi.  Beliau dilahirkan di sebuah dusun Kulain  di Ray Iran dan oleh karenanya ia disebut dengan al-Kulaini atau al-Kulini.   Tidak banyak keterangan yang didapat dari berbagai buku sejarah mengenai kapan pengarang kitab al-Kafi  tersebut dilahirkan. Informasi yang ada hanya tentang tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran, yaitu pernah mendiami Bagdad dan Kufah.  Selain itu, tahun kewafatannya, yaitu tahun 328 H dan atau 329 H. (939/940 M.).  al-Kulaini dikembumikan di pintu masuk Kufah.

Ayah al-Kulaini, Ya’qub bin Ishaq adalah seorang tokoh Syi’ah terkemuka dan terhormat di Ray Iran.  Masyarakat sering menyebut ayahnya dengan nama al-Salsali.   Banyak ulama yang lahir di kota ini, seperti paman al-Kulaini  ; Abu al-Hasan Ali ibn  Muhammad, Ahmad ibn  Muhammad, Oleh karena itu, tak heran kalau al-Kulaini  kecil ditempa pendidikannya di kota tersebut. Darah biru  dan kemahirannya dalam bidang agama membawanya kepada kesuksesan.

Dalam berbagai kitab diungkap bahwa pada masa kecilnya al-Kulaini  semasa dengan imam Syi’ah kedua belas al-Hasan al-Askari (w. 260 M.).   Argumen tersebut dapat diperkuat juga oleh al-Taba’taba’i atas diriwayatkan hadis dari ulama yang sezaman dengan tiga imam seperti al-Rida, al-Jawad dan al-Hadi.

Al-Kulaini juga hidup semasa dengan empat wakil imam ke dua belas (sufara’ al-arba’ah) yaitu Imam Muhammad ibn Hasan. Asumsi tersebut berdasarkan atas masa hidup mereka yang diperkirakan berusia 70 tahun sekitar tahun 330 H. Sementara umur al-Kulaini wafatnya tidak sampai pada tahun tersebut.

Masa hidup penulis kitab, al-Kulaini adalah pada masa Dinasti Buwaihiyah (945-1055 M.). Pada masa tersebut merupakan masa  paling kondusif bagi elaborasi dan standarisasi ajaran Syi’ah dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Masa-masa sebelumnya merupakan masa-masa sulit bagi Syi’ah untuk mengembangkan eksistensinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertikaian antara kaum Sunni dengan Syi’ah. Bahkan, untuk melacak sosok al-Kulaini dalam perjalanan hidupnya pada paruh pertama sangat sulit untuk dilakukan. Kota Ray, tempat kelahiran dan tumbuh besar di masa awal al-Kulaini> kecil porak poranda akibat pertentangan tersebut. Oleh karena itu, banyak pengikut Syi’ah yang melakukan taqiyah (menyembunyikan identitas diri) agar selamat dari kejaran kaum Sunni.

Pribadi al-Kulaini merupakan pribadi yang unggul dan banyak dipuji oleh ulama. Bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini. Ia merupakan pribadi yang dapat dipercaya dari segi agama dan pembicaraannya. Al-Bagawi memasukkan nama al-Kulaini sebagai mujaddid yang datang diutus oleh Allah dalam setiap tahunnya ketika mengomentari hadis tersebut.  Sementara Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal di mana ia adalah seorang faqih seklaigus sebagai muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan.

Dalam pada itu, Ibn al-Asir mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan salah satu pemimpin Syi’ah dan ulama’nya. Sementara Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’qub al-Razi mengatakan bahwa al-Kulaini termasuk imam mazhab ahl al-bait, paling alim dalam mazhabnya, mempunyai keutamaan dan terkenal.   Masih dalam konteks tersebut, al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan fuqaha’ Syi’ah. Muhammad Baqir al-Majlisi dan Haan al-Dimstani mengungkap bahwa al-Kulaini ulama yang dapat dipercaya dan karenanya dijuluki dengan s|iqat al-Islam.

Pujian lain juga dikemukakan oleh al-Tusi yang mengatakan bahwa sosok al-Kulaini dalam kegiatan hadis dapat dipercaya (s|iqat) dan mengetahui banyak tentang hadis. Penilaian senada juga diungkapkan oleh al-Najasyi yang mengatakan bahwa al-Kulaini adalaah  pribadi yang paling siqat dalam hadis.

Sementara di kalangan Syi’ah, sosok al-Kulaini tidak diragukan lagi kapasitasnya, ia merupakan orang yang terhormat. Di antara kitabnya yang sampai pada kita saat ini adalah al-Kafi  yang dibuat selama 20 tahun.  Al-Kulaini melakukan perjalan pengembaraan (rihlah) ilmiah untuk mendapatkan hadis ke berbagai daerah. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi al-Kulaini> adalah irak, Damaskus, Ba’albak, dan Taflis.  Apa yang dicari al-Kulaini tidak hanya hadis saja, ia juga mencari berbagai sumber-sumber dan kodifikasi-kodifikasi hadis dari para ahli hadis sebelumnya.   Dari apa yang dilakukan, nampak bahwa hadis-hadis yang ada dalam al-Ka>fi>  merupakan sebuh usaha pengkodifikasian hadis secara besar-besaran.

Keberadaan al-Kafi  di antara kitab hadis lain al-kutub al-arbaah adalah sangat sentral. Ayatullah Ja’far Subhani melukiskannya dengan matahari dan yang lainnya sebagai bintang-bintang yang bertebaran menghiasi langit.   Bahkan, telah menjadi kesepakatan di antara ulama Syi’ah atas keutamaan kitb al-Kafi  dan berhujjah atasnya.

Sebagai sorang ahli hadis, al-Kulaini> mempunyai banyak guru dari kalangan ulama ahl al-bait  dan murid dalam kegiatan transmisi hadis. Di antara guru al-Kulaini adalah Ahmad ibn Abdullah ibn Ummiyyah, Ishaq ibn Ya’qub, al-Hasan ibn Khafif, Ahmad ibn Mihran, Muhammad ibn Yahya al-At}t}ar, dan Muhammad ibn ‘Aqil al-Kulaini.  Sedangkan murid-murid dari al-Kulain antara lain Abu al-Husain Ahmad ibn Ali ibn Said al-Kufi, Abu al-Qasim Ja’far ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Hasan ibn al-Jahm ibn Bakr, Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Asim al-Kulaini, dan Abu Muhammad Harun ibn Musa ibn Ahmad ibn Said ibn Said.

Karya-karya yang dihasilkan oleh al-Kulaini> adalah:

1.    Kitab Tafsir al-Ru’ya

2.    Kitab al-Rija>

3.    Kitab al-Rad ala al-Qaramitah

4.    Kitab al-Rasa’il : Rasa’il al-Aimmah alaih al-salam

5.    Al-Kafi

6.    Kitab ma Qila fi al-Aimmah alaih al-salam min al-Syi’r.

7.    Kitab al-Dawajin wa al-Rawajin

8.    Kitab al-Zayyu wa al-Tajammul

9.    Kitab al-Wasail

10.    Kitab al-Raudah

Tiga kitab terakhir dapat ditemukan dalam kitabnya al-Kafi oleh sebab itu, ulama banyak yang tidak menyebutnya sebagai kitab sendiri. Namun, Ibn Syahr Aasyub menyebutkannya secara terpisah dan karenanya tetap disebutkan sebagai karya-karya beliau sebagaimana dengan kitab lainnya.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dan kemanfaatan karya al-Kulaini. seperti Syaikh Mufid dalam Kitabnya Syarh Aqa’id al-Sadiq.  Hal senada juga diungkap oleh al-Kurki dalam ijazahnya al-Qadi Syafi al-Din ‘Isa bahwa belum pernah ditemukan seorang pun yang menulis seperti penyusun al-Kafi.   Sedangkan  al-Majlisi menganggap apa yang dilakukan oleh al-Kulaini> adalah upaya sungguh-sungguh dari penulis yang handal yang dapat menghasilkan karya terakurat dan komprehensif dari golongan yang selamat (najiyyah).

Dari beberapa pujian dan sanjungan atas al-Kulaini dan kitabnya di atas menunjukkan bahwa al-Kafi  merupakan hasil terbaik yang dihasilkan oleh generasi yang terbaik. Oleh karena itu, wajar jika dikemudian hari kitab tersebut dijadikan rujukan primer di kalangan Syi’ah

.
III. Al-Kafi : Isi, Sistematika dan Metode

Al-Kafi  merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (us}ul), cabang-cabang (furu’) dan sebagainya yang jumlahnya sekitar 16.000 hadis. kitab tersebut menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan.  Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyu>n.

Pengarangnya, al-Kulaini (w. 328 H./939 M.) adalah seorang ulama Syi’ah terkenal dan termasuk generasi ahli hadis ke empat.   Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun. Melihat banyaknya hadis yang dihimpun dan materi bahasannya, maka ada anggapan di kalangan Syi’ah bahwa segala persoalan keagamaan sudah dibahas di dalam kitab al-Ka>fi dan oleh karenanya ijtihad tidak diperlukan lagi. Hal tersebut sesuai dengan namanya, al-Ka>fi> identik dengan koleksi hadis-hadis tentang berbagai persoalan keagamaan.

Menurut al-Khunsari, secara keseluruhan hadis-hadis dalam al-Kafi  berjumlah 16.190 hadis. Sementara dalam hitungan al-Majlisi 16121, Agha Buzurg al-Tihrani sebanyak  15.181 dan Ali Akbar al-Gaffari: 15.176. Al-Kafi  terdiri atas delapan jilid, dua jilid pertama berisi tentang al-us}ul (pokok), lima jilid sesudahnya berbicara tentang al-furu’ (cabang-cabang) dan satu juz terakhir berbicara tentang al-rawdah. Distribusi masing-masing jilid, bab dan hadis yang berada dalam tiap jilidnya dapat dilihat dalam pembahasan berikutnya.

Secara keseluruhan distribusi hadis-hadis dalam tiap jilidnya adalah: jilid I memuat 1437 hadis, jilid II memuat 2346 hadis, jilid III memuat 2049 hadis, jilid IV memuat 2443 hadis, jilid V memuat 2200 hadis, jilid VI memuat 2727 hadis, jilid VII memuat 1704 hadis dan jilid VIII memuat 597 hadis. Dengan demikian jumlah keseluruhan hadis-hadis dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini sebanyak 15.503 hadis. terdapat selisih  618 hadis dan kemungkinan hadis tersebut tidak terhitung disebabkan matannya satu dan sanadnya berbilang.   Hitungan tersebut dilakukan oleh al-Majlisi, ulama yang banyak mengkaji al-Kafi karya al-Kulaini.

Pembagian tema-tema dapat dilihat dalam pembahasan di bawah ini.

Pertama, al-us}ul (8 bagian):

[1] kitab al-akl wa al-jahl (akal dan kebodohan) di dalamnya dibahas hadis-hadis tentag perbedaan teologis antara akal dan kebodohan.

[2] kitab fadl al-ilm (keutamaan ilmu), di dalamnya diuraikan tentang  metode pendekatan ilmu tradisional Islam, metode menilai kebenaran materi subyek hadis. di samping itu, dimuat pula hadis-hadis tentang gambaran hadis dari imam dan alasan-alasan menentang penggunaan opini pribadi (rasio) dan analogi.

[3] kitab al-Tawhid (kesatuan), di dalamnya dibahas berbagai persoalan tentang teologi ketuhanan.

[4] kitab al-hujjah (bukti-bukti), membahas tentang kebutuhan umat manusia akan hujjah. Hujjah ini diperoleh dari para nabi. Namun, seirig dengan wafatnya para nabi, maka keberadannya digantikan para imam mereka. Dengan demikian, hujjah di sini adalah imam.

[5] kitab al-Iman wa al-Kufr (keyakinan dan kekufuran), di dalamnya dibahas  hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan dan pengingkaran, pilar-pilar Islam dan perbedaan  yang significant antara iman dan Islam.

[6] kitab al-Du’a (doa), doa-doa yang dicantumkan dalam bagian ini hanyalah doa-doa yang berbeda dengan doa-doa yang ada dalam salat yang sifatnya pribadi. Doa semacam itu kebanyakan dianjurka oleh para imam  mereka.

[7] kitab al-fadl al-Qur’an (keutamaan al-Qur’an) di dalamnya dibahas tentang keuntungan-keuntungan yang didapat bagi para pembaca al-Qur’an dan beeberapa teknik membacanya.

[8] kitab al-Isra’ (persahabatan) di dalamnya ditegaskan tentang hubungan dengan Tuhan di dalamnya mencakup hubungan dengan sesama manusia.

Kedua, al-furu’ (cabang-cabang), yang berisikan tentang berbagai persoalan tentang hukum Islam yang dimulai dari cara bersuci sampai masalah penegakan keadilan melalui jalur peradilan. Berikut ini cuplikan bab-bab yang dibahas dalam bagian al-furu yang dimuat dalam lima juz.

[1] kitab al-t}aha>rah, yang berisi cara bersuci

[2] kitab al-haid (menstruasi)

[3] kitab al-janaiz, berkenaan dengan pemakaman dan ahal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan.

[4] kitab salat yang menguraikan tentang cara-cara salat  dan salat sunnah

[5] kitab zakat

[6] kitab siyam

[7] kitab al-hajj

[8] kitab al-jihad

[9] kitab al-Maisyah (cara-cara memperoleh penghidupan)

[10] kitab munakahat (pernikahan)

[11] kitab aqiqah

[12] kitab al-t}alaq (perceraian)

[13] kitab al-‘itq wa al-tadbir wa al-khatibah, jenis-jenis budak dan cara memer-dekakannya.

[14] kitab al-sayd (perburuan)

[15] kitab al-zabaih (penyembelihan)

[16] kitab al-at’imah (makanan)

[17] kitab al-asyribah (minuman)

[18] al-ziq wa al-tajammul wa al-muru’ah (pakaian, perhisaan dan kesopanan)

[19] kitab dawajin (hewan priaraan)

[20] kitab al-wasaya (wasiat), waris  khusus

[21] kitab al-mawaris, waris yang sifatnya biasa

[22] kitab al-hudud, keadaan dan cara  menghukum .

[23] kitab al-diyat, hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik.

[24 kitab al-syahadat, kesaksian dalam kasus-kasus hukum.

[25] kitab al-qada’ wa al-ahkam, berisikan hadis-hadis tentang peraturan tingkah laku para hakim  dan syarat-syaratnya.

[26] kitab al-aiman wa al-nuzur wa al-kaffarat, berkenaan dengan hadis-hadis tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal.

Ketiga, al-Rawdah: kumpulan minat keagamaan, beberapa surat dan khutbah imam. Sistemnya tidak seperti dua bagian sebelumnya. Bagian terakhir dari kitab al-Kafi  ini dimuat dalam satu jilid yakni jilid kedelapan.

Seacara terperinci jumlah hadis dan distribusinya  dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

JILID    BAGIAN/KITAB    BAB     HADIS

I    Usul/4: al-akl wa jahl s/d al-hujjah     71    1440

II    Usul/4: al-iman wa al-kufr  s/d al-usrah    258    2346

III    Furu’/5: taharah s/d zakat    313    2079

IV    Furu’/2: Syiyam s/d al-hajj    362    2190

V    Furu’/3: al-Jihad s/d al-Nikah    382    2200

VI    Furu’/9: al-Aqiqah s/d al-Dawajin    424    2665

VII    Furu’/7: al-Wasaya s/d al-Aiman     287    1708

VIII    Al-Raudah/1    1    597
Hadis-hadis tersebut di atas setelah diteliti oleh al-‘Allamah al-Hilli (w. 598 H.) dan al-Majlisi dengan menggunakan kaedah ‘Ulum al-H}adis|, maka hadis-hadis dalam al-Kafi  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.    5.072 hadis sahih},

2.    144 hadis hasan

3.    1.128 hadis muwassaq

4.    302 hadis qawi (kuat),

5.    9.485 hadis da’if.

Dari klasifikasi hadis di atas, nampak bahwa di kalangan mazhab Syi’ah terdapat perbedaan dengan di kalangan Sunni. Secara umum, hadis di mazhab Syi’ah terbagi atas empat macam yakni hadis s}ah}ih}, hadis hasan, hadis muwas|s|aq  dan hadis da’if.   Istilah hadis muwassaq digunakan atas periwayat yang rusak aqidahnya. Demikian juga atas istilah-istilah lain diselaraskan dengan keyakinan mereka, seperti dalam memaknai hadis s}ah}ih} yaitu hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang maksum.

Hadis-hadis yang da’if  (hadis yang tidak memeuhi kriteria dalam tiga klasifikasi sebelumnya) bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis yang s}ah}ih} manakala hadis tersebut populer dan  sesuai dengan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah  atau menurut pendapat ulama hadis tersebut dapat diamalkan.

Dari pembahasan singkat di atas, nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di lingkungan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradis Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalmnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja melainkan memasukkan hal-hal  lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. dan para imam mereka.

Hal yang penting diperhatikan bahwa hujjah keagamanan di kalangan Syi’ah tidak serta merta berakhir dengan kewafatan Nabi Muhammad saw. dan terus berjalan ke wakil beliau sampai imam kedua belas. Dari sinilah baru wahyu berhenti. Pada perkembangannya, semua masalah keagaaman kemudian dituangkan dalam kitab standar, termasuk di dalamnya adalah al-Ka>fi> .

Kekhasan lain yang dapat dijumpai dalam al-Kafi  adalah fenomena peringkasan sanad.   Sanad sebagai mata rantai jalur periwayat hadis dimulai dari sahabat sampai ulama hadis terkadang ditulis lengkap dan terkadang membuang sebagian sanad atau awalnya  dengan alasan atas beberapa konteks tertentu. Seperti ketika al-Kulaini telah menulis lengkap sanad pada hadis yang dikutip di atas hadis yang diringkas. Demikian juga, al-Kulaini kadang meringkas dengan sebutan dari sejumlah sahabat kita (ashabuna), dari fulan dan seterusnya. Adapun maksud tersebut tidak lain adalah sejumlah periwayat yang terkenal. Demikian juga dengan kata-kata ‘iddah (sejumlah) dan jama’ah (sekelompok) yang dapat menunjukkan upaya peringkasan sanad

Jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali ibn Ibrahim, Ali ibn Muhammad Abdullah Ahmad ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali ibn al-Husain al-Sa’dabadi.

Demikian juga jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat dari Sahl ibn Ziyad, maka yang dimaksud tidak lain adalah Muhammad ibn Hasan dan Muhammad ibn Aqil. Apabila al-Kulaini menyebut dari sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, maka maksudnya adalah Muhammad ibn Yahya, Ali ibn Musa al-Kamandani, Dawud ibn Kawrah, Ahmad ibn Idris, dan Ali ibn Ibrahim.   Mereka semua adalah periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh al-Kulaini dan oleh karenanya jika telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, biasanya tidak ditulis lagi dalam hadis beriutnya dengan alasan tidak memperpanjang tulisan.

Fenomena lain yang dapat dijumpai ialah keberadaan periwayat hadis  dalam al-Kafi bermacam-macam sampai para imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan nilai hadis yang dibawakan antara para pemuka hadis Syi’ah dengan selain Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

Demikian juga terhadap sumber hadis, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah saw., maka imam-imam di mazhab Syi’ah  dapat mengluarkan hadis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa surat-surat, khutbah  dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama  didudukkan setara dengan hadis. Hal tersebut nampak dari apa yang dilakukan al-Kulaini yang ditampilkan dalam juz terakhir yang disebut dengan al-rawdah.
IV. Respon Umat Islam terhadap al-Kafi

Kitab hadis al-Kafi  merupakan khazanah kitab hadis yang masih terpelihara sampai saat ini dan merupakan produk ulama abad ke-3 H.  pengarangnya merupakan ulama ahli hadis generasi keempat setelah generasi pertama al-Tusi dan  al-Najasyi, kedua Syekh al-Mufid dan Ibn al-Gadari’i, ketiga al-Saduq dan Ahmad ibn Muhammad.

Banyak ulama yang menilai positif adanya kitab al-Kafi  dan sekaligus memberikan syarah penjelas atas kitab tersebut. di antara karya-karya ulama adalah:

1.    Jami’ al-Ah}adis wa al-Aqwal karya Qasim ibn Muhammad ibn Jawad ibn al-Wandi (w. 1100 H.).

2.    Al-Dur al-Mandum min Kalam al-Ma’sum karya Ali ibn Muhammad al-Hasan ibn Zaid al-Din (w. 1104 H.) masih berupa tulisan tangan, dan naskah tersebut telah disempurnakan keslaahan-kesalahannya oleh Muhammad Miskah Perguruan Tinggi Teheran.

3.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh al-Ah}adis| al-Imamiyah karya Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini (w. 11040 H.) telah dicetak di Teheran Iran.

4.    Al-Syafi karya Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini (w. 1089 H.) masih dalam bentuk naskah dan disimpan di perpustakaanMuhammad Miskah.

5.    Syarh al-Mizan karya Rafi al-Din Muhammad al-Naini (w. 1082 H.).

6.    Syarh al-Maula Sadr karya al-Syairazi (w. 1050 H.).

7.    Syarh karya Muhammad Amin al-Istirabadi al-Ahbari (w. 1032 H.).

8.    Syarh Maula Muhammad Salih al-Mazandarani (w. 1080 H.).

9.    Kasy al-Kafi karya Muhammad ibn Muhammad

10.    Mir’at al-Uqul fi Syarh al-Ahbar Alu al-Rasul karya Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi (w. 1110 H.) diterbitkan di Teheran tahun 1321 H. terdiri atas empat jilid.

11.    Hady al-Uqul fi Syarh Ahadis al-Usul karya Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Abd al-Jabbar al-Qatifi, masih dalam bentuk naskah dan terimpan di madrasah ali….

12.    Al-Wafi karya al-Kasani (w. 11091 H.) dicetak tahun 1310 dan 1324 H. dalam tiga jilid.

Sedangkan kitab-kitab H}asyiyah  atas al-Kulaini adalah:

1.    H}asyiyah  al-Syaikh Ibrahim ibn al-Syaikh al-Qasim al-Kadimi

2.    H}a>syiyah  Abi al-Hasan al-Syarif al-Futuni al-Amili (w. 1132 H.).

3.    H}a>syiyah  al-Sayyid al-Miz Abi Talib ibn al-Mirza Bik al-Fundursaki.

4.    H}a>syiyah  al-Syaikh Ahmad ibn Ismail al-Jazairi (w. 1149 H.).

5.    H}asyiyah  al-Sayyid Badr al-Din Ahmad al-Ansari al-Amili.

6.    H}asyiyah Muhammad Amin ibn Muhammad Syarif al-Istarabadi al-Ahbari (w. 11036 H.).

7.    H}asyiyah  Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi.

8.    H}asyiyah  Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini

9.    H}asyiyah  Muhammad Husain ibn Yahya al-Nawri

10.    H}asyiyah  Haidar Ali ibn al-Mrza Muhammad ibn Hasan al-Syairazi.

11.    H}asyiyah  al-Maula al-Rafi’ al-Jailani.

12.    H}asyiyah  al-Sayyid Syibr ibn Muhammad ibn Sanwan al-Hawizi.

13.    H}asyiyah  al-Sayyid Nur al-Din Ali ibn Ali al-Hasan al-Mausawi al-Amili

14.    H}asyiyah  al-Syaikh Zain al-Din abi al-Hasan Ali ibn Hasan

15.    H}asyiyah  al-Syaikh Ali al-Sagir  ibn Zain al-Din ibn Muhammad ibn Husain ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

16.    H}asyiyah al-Syaikh Ali al-Kabir  ibn Muhammad al-Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

17.    H}asyiyah  al-Syaikh Qasim ibn Muhammad Jawad al-Kadimi (w. 1100 H.)

18.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani yang terkenal dengan al-Syaikh al-Sabt al-Amili (w. 1030 H.).

19.    H}asyiyah al-Mirza Rafi’ al-Din Muhamamd ibn Haidar al-Naini (w. 1080 H.).

20.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Qasim al-Kadimi.

21.    H}asyiyah  Nizam al-Din ibn Ahmad al-Distaki.

Di samping upaya  ulama di atas, ada juga ulama yang meringkas kitab hadis tersebut seperti yang dilakukan Muhammad Ja’far ibn Muhammad Safi al-Na’isi al-Farisi (masih dalam bentuk naskah danntersimpan di perpustakaan)    dan menerjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa Parsi seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali ibn al-Haj Muhammad Hasan al-Ardkani dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Auliya’, Syaikh Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini dalam kitabnya yang berjudul al-S}afi Syarh Usul al-Kafi yang telah dicetak tahun 1308 H./1891 M. dalam dua jilid, dan Syarh Furu’ al-Kafi masih dalam bentuk tulisan tangan dan naskahnya tersimpan di perpustakaan Muhammad al-Miskah.

Di samping itu, terdapat ulama yang hanya menysrah sebagian dari hadis-hadis dalam al-Kafi seperti yang dilakukan oleh Baha’ al-Din Muhammad ibn Baqir al-Hasani al-Mukhtari al-Na’ini al-Asfahani dalam kitabnya H}asyiyah al-Faljah fi Syarh} Hadis al-Farjah dan Sayyid Hasan al-Sadr (w. 1324 H.), dalam kitabnya Hidayah al-Najdain wa Tafsil al-Jundain Risalah fi Hadis al-Kafi fi Junud al-Aql wa Junud al-Jahl.

Karya lain yang dapat ditemuan dan disandarkan kepada al-Kafi  adalah kitab dalam bentuk penyuntingan atau penelitian. Adapun kitab-kitabnya adalah:

1.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh Ahadis al-Imamiyah oleh al-Danad.

2.    Rumuz al-Tafasir al-Waqi’ah fi al-Kafi wa al-Raudah oleh Maula Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini.

3.    Nizam al-Aqwal  fi Ma’rifat al-Rijal Rijal al-Kutub al-Arba’ah oleh  Nizam al-Din Muhammad ibn al-Husain al-Qarsyi al-Sawiji

4.    JaImam Syam Al-din  Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Us|man al-Z|ahabi, Mizan al-I’tidal. Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.),’ al-Ruwat oleh al-Ardabili

5.    Risalat al-Akhbar wa al-Ijtihad fi Sihhat Ahabar al-Kafi  oleh  Muhammad Baqir ibn Muhammad Akmal al-Bahbahani.

6.    Ma’rifat Ahwal al-Iddah allaz|ina yarwi anhum al-Kulaini oleh Muhammad Baqir al-Safti (w. 1260 H.) dicetak tahun 1314 H. di Teheran.

7.    Al-Fawa’id al-Ka>syifah an Silsilah wa Asma’ fi Ba’d Asa>nid al-Ka>fi> oleh Muhammad Husain al-Taba’taba’i al-Tibrizi.

8.    Tarjamah Ali ibn Muhammad al-Mabdu’ ba’d Asanid al-Kafi oleh Mirza abi al-Ma’ali ibn al-Haj Muhammad Ibrahim ibn al-Haj Muhammad al-Kakhi al-Khurasani al-Asfahani  (w. 1315 H.).

9.    Al-Bayan fi Badi’ fi anna Muhammad ibn Isma’Islam al-Mabdu’ dih fi Asanid al-Kafi  oleh Hasan al-Sadr wafat 11 Rabiul Awal 1354 H.

10.    Rijal al-Kafi  oleh al-Sayyid Husain al-Taba’taba’i al-Burujurdi.

Kitab al-Kafi  telah mengalami beberapa kali cetak. Usul al-Kafi di cetak lima kali yakni Syiraz tahun 1278 H., Tibriz tahun 1281 H, Teheran tahun 1311 H. dalam berbagai versi 627 halaman, dan 468 halaman. Kemudian dicetak ulang tahun 1374 H. Sedangkan   Furu’ al-Kafi  dicetak di Teheran tahin 1315 H. dalam dua jilid yang terdiri masing-masing 427 dan 375 halaman. Sedangkan dalam percetakan Dar al-Kutub al-Islamiyyah dalam lima jilid.  Adapun bagian terkhir dari al-Kafi , al-Raudah dicetak di Tehran tahun 1303 H. dalam 142 halaman.

Kajian-kajian kontemporer atas kitab al-Kafi  bermunculan. Seperti pembahasan secara umum atas kitab al-Kafi  dan disandingkan dengan tiga kitab hadis lainnya yang beredar di Syi’ah dan menjadi rujukan utama ulama akhbariyun  dikaji oleh IKA Howard.  Pembahasannya hanya sekilas dan hanya sebatas mendeskripsikan tema-tema pembahasan hadis-hadis di kalangan ahl bait terutama dalam keempat kitab pokok hadis pegangan mazhab Syi’ah berikut sejarah ringkasnya.

Dari segi ulum al-hadis, ada sebuah penelitian yang menyandarkan pada al-Kafi al-Kulaini yaitu: Hasyim Makruf al-Hasani yang berjudul Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi.   Objek kajiannya hadis-hadis dalam kitab al-Kafi dengan mendudukkan dan menilai kehujjahan hadis-hadis di dalam kitab tersebut. Tidak ada pembahasan secara spoesifik terhadap isi dari kitab  al-Kafi . Demikian juga dengan yang dilakukan oleh Ayatullah Ja’far Subhani. Dalam kitab rijal al-h}adis|-nya, ia menjelaskan tentang pertimbangan hadis-hadis mazhab Syi’ah dalam  al-Kutub al-Arba’ah, al-Kafi .  Pembahasan yang dilakukan hanya sebatas mengumpulkan berbagai pendapat ulama Syi’ah dan kadang-kadang-kadang dari ulama Sunni tentang sosok kitab al-Kafi  dan pengarangnya.

Sedangkan literatur yang berdasarkan tema tertentu atas kitab al-Kafi  dijumpai dalam buku kecil setebal 164 halaman yang berjudul Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi karya Husein al-Habsyi.  Namun, yang dilakukan oleh penulis kitab yang ringkas ini hanya sebatas menghadirkan teks-teks hadis tentang akal dan menerjemahkannya serta menelaah sedikit dalam menanggapi hadis per hadis.  Dengan demikian, nampak pembahasannya disesuaikan dengan kitab asalnya dengan tanpa perubahan sedikitpun.

Dari berbagai upaya di atas, nampak bahwa keberadaan kitab al-Kafi   dalam tradisi Syi’ah amat kuat dan kokoh. Al-Ka>fi>  merupakan kitab pokok dan menjadi rujukan utama atas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di antara masyarakat Syi’ah. bahkan pada golongan tertentu menganggap segala persoalan telah tercover di dalam kitab tersebut sebagaimnana yang digagas oleh kaum akhbariyun. Nampaknya, apa yang dilakukan kaum Syi’ah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sunni terhadap kitab hadis S}ah}ih} al-Bukhari

.
V. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kitab hadis al-Kafi  dikarang oleh seorang bermazhab Syi’ah. kitab tersebut dijadikan rujukan utama di kalangan Syi’ah di samping tiga kitab lainnya. Pengarangnya, al-Kulaini merupakan sosok yang ulet dan pengembara keilmuan dan telah menjelajahi berbagai wilayah guna mencari hadis. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam al-Kafi  terdapat 16.000 buah hadis yang disusun selama 20 tahun.

Prestasi tersebut mengungguli kitab S}ah}ih} al-Bukhari yang ditulis selama 16 tahun dan memuat sekitar 7000 hadis.  al-Kafi  merupakan kitab hadis membahas berbagai persoalan agama yang dimulai dari kitab al-as}l, al-furu’ dan al-rawdah. Keragaman materi nampak dalam karya tersebut karena tidak saja membahas masalah furu’ saja melainkan membahas masalah al-as}l dan al-rawdah yang didalamnya membahas masalah pokok-pokok agama dan minat keagamaan para imam. Kontribusi yang sangat berharga yang disumbangkan al-Kulaini adalah penghimpunan hadis dalam sebuah kitab dan prisnip biarkan hadis berbicara sendiri. Upaya tersebut berkonsekwensi jauh tentang kualitas hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi . tidak semua hadis di dalam kitab tersebut bernilai sahih, melainkan bervariasi dan bahkan ada yang da’if

.
DAFTAR PUSTAKA
Azami, M.M. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya Terj. Ali Mustafa Ya’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Eliade, Mircea (Ed.), The Encyclopedia of Relkegion, Vol 6. New York: Macmillan Publishing Company, 1897.

Esposito, John L. Ensiklopedi Islam Modern, juz V. Bandung: Mizan, 2001.

Al-Gita’, As}l al-Syi’ah wa Us}uluha Kairo: Maktabah al-Arabiyah, 1957.

al-Gifari, Abd al-Rasul Abd al-Hasan. al-Kafi wa al-Kulaini.  Qum: Mu’assasah al-Nasyr al-Islami, 1416.

Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam Ringkas terj. Gufran A. Mas’adi. Jakarta:  Rajawali Press, 1999.

Al-Habsyi, Husein. Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi.  Bangil: Yayasan Pesantren Islam, 1994.

Al-Hasybi, Ali Umar. Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini. Bangil: YAPI, t.th.

Al-Hadiy, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Abd al-Qadir ibn Abd. T}uruq takhrij al-h}adis Rasulullah saw.  Mesir: Dar al-I’tisam, t.th.

Hasani, Hasan Ma’ruf. Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi, Jurnal al-Hikmah, No. 6, Juli-Oktober 1992,

Hasyim,  al-Husain Abd al-Majid. Us}ul al-H}adis| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih Mesir: Dar al-Syuruq, 1986.

Howard, IKA “al-Kutub al-Arbaah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab Ahl al-Bait”, dalam Jurnal Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol II, No, 4, 2001

Ibn Khaldun, Muqddimah. Cet. IV; Beirut: Dar al-Kurub al-Ilmiyyah, 1978.

Ismail, M. Syuhudi. Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press, 1995

‘Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-H}adis|. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Al-Kulaini, Usul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Gifari, juz I Teheran: Da>r al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Shahab, Husein. Pergeseran antara Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat: Perspektif Fiqih dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 6 Juli-Oktober 1992.

Shaukat, Jamila. “Classification of Hadith Literature”, Islamic Studies, Vol 24, No. 3, Juli-September 1985.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah Perkembangan Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Siddiqi, Muhammad Zubayr. “Hadith A Subject of Keen Interest” dalam Muhammad Zubayr Shiddiqi, et.al, Hadith and Sunnah Ideals and Realities. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1996.

Subhani, Ja’far Us}ul al-Hadis| wa Ahkamuh fi ‘Ilm al-Dirayah. Qum: Maktabah al-Tauhid, 1414

———-Kulliyat fi Ilm al-Rijal . Beirut: Dar al-Mizan, 1990.

Subki, Ah}mad Muh}ammad. Nazariyat al-Imamat lada al-Syi’ah Isna Asyariyah Tahlil al-Falsafi li al-Qaidah Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th.

Al-Syahrastani, al-Milal  wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
1. Atas usaha yang dilakukan oleh Ahlulbait as dan para sahabatnya, penulisan hadits dalam sejarah mazhab Syi’ah, pada masa pelarangan, tidak pernah mengalami kemandegan dan terus berlanjut dan pada masa kodifikasi dan penyusunan Jawami’ Hadits Syi’ah, ia lebih banyak menukil dan menyalin dari tulisan-tulisan yang ada dibanding bersandar kepada penukilan lewat lisan.

2. Pada periode paling awal dari sejarah hadits Syi’ah, telah muncul penulisan-penulisan hadits; seperti Kitab Salman, Kitab Abu Dzar dan lain-lain yang kesemuanya itu sudah tidak ada dihadapan kita dan tinggal sejarah saja yang memberikan informasi tentang keberadaan kitab-kitab yang sangat berharga tersebut. Dan sebagiannya lagi seperti Kitab Imam Ali as yang saat ini berada ditangan mulia Imam Zaman ajf., Nahjul Balaghah, dan Shahifah as Sajjadiyah yang saat ini ada bersama kita.

3. Kitab Imam Ali as merupakan kumpulan riwayat-riwayat yang dibacakan langsung oleh Rasulullah saw dan dicatat langsung pula oleh Imam Ali as. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, menghikayatkan bahwa ukuran kitab ini sekitar 70 zira’ dan di dalamnya berisi tentang hukum-hukum (ahkam) yang dibutuhkan umat sampai hari kiamat, dan hanya sahabat-sahabat spesial para Imam as saja yang pernah melihat langsung kitab tersebut. kitab tersebut merupakan sebuah peninggalan besar dalam bidang riwayat dan hadits yang saat ini berada di tangan Imam Zaman ajf.

4. Mushaf Fathimah adalah kumpulan riwayat dan hadits yang isinya berkaitan dengan masalah-masalah seperti: peristiwa-peristiwa serta fitnah-fitnah umat, khususnya fitnah yang terjadi atas keturunan Sayidah Fathimah as: sampai hari kiamat. Melihat fenomena terkait dengan munculnya berbagai keraguan (syubhat) atas adanya distorsi pada Al Qur’an dan juga munculnya Al Qur’an lain yang berada ditangan Syi’ah bernama Mushaf Fathimah:, maka demi adanya kejelasan para Imam Ma’shum as menegaskannya lewat ayat-ayat Al Qur’an.

5. Dengan bersandar pada riwayat-riwayat sejarah, paska Rasulullah saw wafat , Imam Ali as (atas perintah Nabi saw) mulai menyusun ayat-ayat dan surah-surah Al Qur’an berdasarkan urutan turunnya serta mencatat tafsir dan ta’wil setiap ayat, yang dengan usaha ini terbentuklah Mushaf Imam Ali as. Kitab ini dianggap sebagai salah satu sumber syi’ah paling tua dalam bidang riwayat dikarenakan ia mengandung riwayat-riwayat yang berisi tentang tafsir.

6. Nahjul Balaghah yang berarti metode berbicara secara ideal adalah nama dari kumpulan khutbah-khutbah, surat-surat dan kata-kata hikmah Imam Ali as yang dirampung serta dibukukan oleh almarhum Sayid Radhi (406 H). Sayid Radhi sendiri mengakui bahwa Nahjul Balaghah yang ada ditangan kita saat ini merupakan hasil seleksi dari sepertiga ucapan Imam Ali as. Nahjul Balaghah berisi sekitar 241 khutbah, 79 surat dan 480 hikmah. Dengan muatan yang luar biasa dan keindahan susunan Nahjul Balaghah, maka ia diklaim sebagai “kata-katanya lebih rendah dari Kalam Tuhan dan lebih tinggi dari kata-kata manusia”.

7. Shahifah as Sajjadiyah merupakan kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Doa itu diucapkan oleh Imam Sajjad as semasa hayatnya dan dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Meskipun sanad kitab ini terputus, namun ketinggian ucapan Imam dan muatannya yang menggambarkan pengetahuan irfan dan ma’arif (pengetahuan) Al Qur’an maka tidak diragukan lagi kalau ia berasal dari manusia suci (Imam Sajjad as). Shahifah as Sajjadiyah sekarang ini memiliki sekitar 54 buah doa.

8. Periode kedua perjalanan sejarah hadits Syi’ah adalah periode yang disebut dengan Periode ” Ushul arba’umiah (Prinsip-prinsip 400) “. maksud dari Ushul arba’umiah adalah sebuah kumpulan hadits dan riwayat dari sejak Imam Ali as sampai Imam Hasan al ‘Askari as, khususnya hadits dan riwayat yang ada pada masa Shadiqain (Imam Baqir as dan Imam Shadiq as).

9. Ushul (prinsip) pada umumnya kosong dari ijtihad dan pengungkapan pendapat pribadi seorang perawi dan hanya langsung menukil ucapan Imam Ma’shum as. dan hal inilah yang membedakan ia dengan kitab. Berdasarkan hal ini, Ushul (prinsip) merupakan tulisan-tulisan yang mana pada bagian-bagian yang terdapat riwayat-riwayat para Imam Ma’shum as, tidak ditemukan campur tangan atau intervensi serta juga riwayatnya tidak disusun dan diatur secara per-bab.

10. Para penyusun Kutub Arba’ah dalam mewujudkan kitab Jawami’ Awwaliyah , mereka menggunakan riwayat-riwayat yang ada pada Ushul arba’umiah. Ini menunjukkah akan penting dan ketinggian posisi tulisan-tulisan ini.

11. Kendatipun Ushul arba’umiah itu ada sampai pada masa Syaikh Thusi (460 H) dan juga sejumlah informasi tentangnya, namun yang sampai pada masa kita, masa Allamah Majlisi (1111 H), hanya sekitar 16 Ushul (prinsip). Kodifikasi Jawami’ Riwai (kumpulan riwayat) dan pembakaran atas perpustakaan syaikh Thusi merupakan faktor-faktor yang diprediksi sebagai penyebab hilangnya Ushul arba’umiah.

12. Masa kodifikasi (periode ketiga), terdapat empat kitab hadits, yaitu:

a. al Kafi karya Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini (329 H).

b. Man La Yahdhuruhu al Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babuyah (Syaikh Shaduq) (381 H).

c. Tahzib al Ahkam karya Syaikh al Thaifah Muhammad bin Hasan Thusi (460 H).

d. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar karya Syaikh Thusi.

Perlu diketahui bahwa Madinah al ‘Ilm yang merupakan salah satu karya lain Syaikh Shaduq, juga dikalisfikasikan sebagai kitab Jami’ hadits Syi’ah yang kelima, kendatipun saat ini tidak lagi bersama kita (hilang).

13. Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini lahir sekitar tahun 255 H di sebuah desa bernama Kulain yang terletak di kota Rei. Dengan keilmuan dan posisi spiritual yang ia miliki sehingga seluruh ulama syi’ah menyanjungnya. Tulisan-tulisan beliau serta kata-katanya disela-sela riwayat-riwayat yang ada pada kitab Al Kafi menunjukkan bahwa selain dalam bidang hadits, beliau juga adalah seorang yang handal dalam ilmu kalam (teologi), fiqih, tafsir, dan sejarah.

14. Al Kafi merupakan Jami’ Riwai (kumpulan Riwayat) Syi’ah paling awal dan sangat penting yang mencakup sekitar 16199 riwayat dan diklasifikasikan ke dalam tiga bagian: Ushul (prinsip-prinsip) dua jilid, Furu’ (cabang-cabang) enam jilid, dan Raudhah satu jilid. Al marhum Kulaini menyusun kitab Al Kafi selama
20 tahun yang dimotivasi oleh keinginan untuk meluruskan agama masyarakat dan mencegah dari adanya perpecahan. Nilai plus dan karakter khusus kitab Al Kafi adalah: 1) kolektivisme/ komprehensif , dan 2) sistematis.

15. Kendati ada sebagian kalangan, seperti Mulla Khalil Qazwini, meragukan penisbahan Raudhah kepada Al Kafi, namun umumnya para Muhaddits Syi’ah menafikan keraguan tersebut dengan alasan bahwa melihat adanya kesesuaian riwayat-riwayat Raudhah dengan sanad-sanad seluruh riwayat-riwayat Al Kafi dan bahwa pula adanya jarak masa antara Ibnu Idris dengan level kedelapan atau kesembilan para perawi dan bahwasanya Najasyi dan Syaikh Thusi yang sudah ada pra Ibnu Idris, mengakui serta menganggap bahwa Raudhah itu merupakan bagian dari Al Kafi.

16. Syaikh Shaduq Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babuyah al Qumi merupakan salah seorang ulama dan Muhaddits tersohor Syi’ah, dimana berkat doa Imam Zaman afj. Ia lahir kedunia ini di tengah-tengah sebuah keluarga yang berpendidikan. Selama kehidupan ilmiahnya, Syaikh Shaduq sangat dihormati oleh penguasa ketika itu, diantaranya Ali Buyah. Ia memiliki jumlah karya sebanyak 250 tulisan, diantaranya kitab Man Laa yahdhuruh al faqih. Syaikh Shaduq wafat pada tahun 381 H dan dimakamkan di kota Rei.

17. Man Laa yahdhuruh al faqih merupakan Jami’ Riwai ( Kumpulan Riwayat) kedua Syi’ah yang dari sisi kekunoan dan validitas berada pada posisi setelah Al Kafi, dan memiliki sekitar 5998 riwayat dimana disusun guna mempelajari fikih secara otodidak (tanpa pembimbing) dan juga ia disusun dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang sahabat dekat Syaikh Shaduq serta mencontoh kitab Man Laa yahdhuruh al Thabib karya Muhammad bin Zakaria Razi.
Diantara kekhususan kitab Man Laa yahdhuruh al faqih adalah terbatas hanya pada riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan fikih, tidak mencantumkan sanad-sanad riwayat kecuali perawi terakhir, dan sejumlah riwayat hanya menyebutkan nama Imam Ma’shum as dan ketentuannya di akhir kitab pada Masyaikh dan menyebutkan pandangan-pandangan fikih diantara riwayat-riwayat tersebut.

18. Abu Ja’far Muhammad bin Hasan Thusi, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaik al Thaifah, lahir pada tahun 385 H di Thus kota Khurasan dan setelah mengenyam dan menjalani pendidikan serta bimbingan dari beberapa guru besar seperti Syaikh Mufid, beliau pun mencapai maqam dan kedudukan yang tinggi dan setelah peristiwa serangan fanatis ahlusunnah ke rumah beliau di Mahallah Karakh kota Baghdad, beliau berangkat menuju kota Najaf dan disana beliau mendirikan Hauzah Ilmiyah Najaf. Peninggalan-peninggalan (buku-buku, penerjemah.) Syaikh Thusi dalam berbagai tema Islam yang dijadikan sebagai dasar-dasar serta pondasi ajaran Syi’ah merupakan bukti akan keluasan ilmu dan perhatian besar beliau.

19. Tahzib al Ahkam dan Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan dua pusaka kumpulan hadits dari Syaikh Thusi yang dianggap dan dikenal sebagai kitab riwayat yang berada pada urutan ketiga dan keempat kitab hadits Syi’ah dengan alasan bahwa riwayat kitab ini banyak menyandarkan ke Ushul arba’umiah dan juga muatannya yang cukup akurat. Secara istilah kedua kitab ini disebut sebagai Tahzibain.

20. Pada dasarnya Tahzib al Ahkam merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas kitab Al Muqna’ah Syaik Mufid dimana kitab ini mencakup sekitar 13988 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam ukuran 10 jilid. Syaikh Thusi menyusun kitab ini dalam rangka memberikan jawaban atas kelompok-kelompok penentang yang menganggap bahwa riwayat-riwayat Syi’ah itu banyak yang paradoks. ( Wasail al Syi’ah juga merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas buku fikih Syarai’ al Islam buah karya Muhaqqiq Hilli).
Refleksi lebih sempurna mengenai riwayat-riwayat terkait furu’ (cabang-cabang), refleksi riwayat-riwayat yang disepakati dan yang tidak disepakati, adanya penjelasan, tafsir dan ta’wil riwayat-riwayat merupakan ciri khas dari kitab Tahzib al Ahkam.

21. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan peninggalan kedua kitab hadits yang ditulis oleh Syaikh Thusi dan adalah salah satu kitab keempat dari kutub arba’ah (empat kitab hadits) yang disusun setelah kitab Tahzib al Ahkam dalam rangka menertibkan serta menyempurnakan riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan. Kitab ini mencakup sekitar 5511 hadits dan dicetak serta dipublikasikan dalam empat jilid. Syaikh Thusi secara umum riwayat-riwayat dalam kitab Tahzibain, itu tidak menyebutkan sanad-sanadnya atau perawinya kecuali perawi yang terakhir dan diakhir kitab ini terdapat sebuah pasal yang diberi tema Masyaikh yang disana disebutkan metode beliau terhadap para perawi tersebut.

22. Antara kelompok Akhbari dan kelompok Ushuli terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan kesahihan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah tersebut. kelompok Akhbari meyakini bahwa dengan memperhatikan isi Kutub al Arba’ah yang mana ia banyak menyandarkan dan mengambil riwayat dari kitab Ushul arba’umiah serta adanya pembelaan para penyusun kitab-kitab tresebut, seperti yang termaktub dalam mukadimah setiap kitab, atas kesahihan riwayat-riwayatnya sehingga kita tidak mungkin bisa meragukan kesahihan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut. Akan tetapi kelompok Ushuli, selain menafikan argumentasi yang dilontarkan oleh kelompok Akhbari, juga memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan kelompok tersebut dimana kaum Ushuli berkeyakinan bahwa dengan adanya sejumlah riwayat lemah dalam kitab-kitab ini maka klaim yang menyatakan akan kesahihan serta ketegasan seluruh riwayat tersebut pun terbantahkan dan ternafikan. Dengan alasan inilah maka merupakan sebuah kemestian untuk melakukan analisis terhadap sanad dan teks dari setiap riwayat-riwayat tersebut secara terpisah.

23. Pada periode keempat dalam sejarah hadits Syi’ah (periode penyempurnaan dan Sistematisasi) terdapat sekelompok Muhadditsin yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits serta riwayat Syi’ah yang tidak ditemukan dalam Kutub al Arba’ah dan menyusunnya dalam bentuk sebuah kitab. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan cara penulisan diatas diantaranya adalah kitab Bihar al Anwar, Wasail al Syi’ah, Mustadrak al Wasail, dan Jami’ Ahadits al Syi’ah.

24. Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, atau lebih dikenal Allamah Majlisi atau Majlisi kedua (1111 H) lahir pada tahun 1037 di kota Isfahan dan setelah mengenyam pendidkan serta pengajaran dari beberapa guru, seperti Majlisi pertama (ayahnya), dan Mulla Shaleh Mazandarani, beliau mulai menekuni secara mendalam ilmu hadits dan disamping aktifitas-aktifitas kemasyarakatannya, ia berhasil mempersembahkan sekitar 160 buah karya, 86 tema dalam bahasa Persia dan sisanya ditulis dalam bahasa arab. Kitab Bihar al Anwar dan kitab syarah beliau atas kitab Al Kafi ( Mir’ah al ‘Uqul ) merupakan dua buah karya monumental beliau dalam bidang riwayat.

25. Bihar al Anwar al Jami’ah Lidurari Akhbar al Aimmah al Athhar (as), merupakan kitab hadits Syi’ah yang paling komprehensif dari pertama sampai abad sekarang. Kitab yang sekarang ini dicetak serta dipublikasikan dalam 110 jilid, di dalamnya terdapat ribuan riwayat dalam berbagai bidang pengetahuan seperti akidah, akhlak, tafsir, sejarah dan juga fikih. Allamah Majlisi telah dengan tekun dan dengan kerja keras berusaha mengumpulkan sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi kitab Bihar al Anwar dan dengan membentuk sebuah kelompok kerja ilmiah dan juga atas kerjasama dengan para muridnya, kitab Bihar al Anwar dapat diselesaikan dalam jangka waktu 40 tahun. Diantara motivasi Allamah Majlisi menyusun kitab ini adalah adanya kekhawatiran terhadap hilangnya peninggalan-peninggalan dalam bidang riwayat dan juga munculnya kecenderungan masyarakat terhadap ilmu-ilmu aqli (akal) dan berpaling serta kurang begitu menghiraukan lagi riwayat-riwayat dan hadits.

26. Komprehensif, menjelaskan maksud riwayat, perhatian terhadap perbedaan teks dan tulisan-tulisan, refleksi riwayat-riwayat ahlusunnah, perhatian terhadap adanya konflik dan selisih pada riwayat-riwayat dan lain sebagainya, merupakan cirri khas kitab Bihar al Anwar.

27. Muhammad bin Hasan, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Hurra ‘Amili lahir pada tahun 1033 H di Jabal ‘Amil Libanon dan setelah 40 tahun tinggal di kota kelahirannya dan menuntut ilmu, beliau bermaksud melakukan perjalanan untuk berziarah ke maqam Suci Imam Ridha as di kota Suci Masyhad dan tinggal di kota tersebut dan pada tahun 1104 H, beliau berpulang kepangkuan Ilahi dan dimakamkan disamping makam mulia Imam Ridha as. Selama hidupnya di kota Masyhad, Syaikh sibuk menyusun berbagai kitab diantaranya kitab Wasail al Syi’ah. Jumlah karya yang beliau tinggalkan sekitar 24 tulisan.

28. Tafshil Wasail al Syi’ah ilaa Tahshil Masail al Syari’ah yang nama pendeknya Wasail al Syi’ah merupakan sebuah kitab hadits yang riwayat-riwayatnya diambil dari Kutub Arba’ah dan didalamnya juga terdapat 70 kitab lain serta mengandung sekitar 3585 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam 20 jilid. Diantara kelebihan-kelebihan kitab Wasail al Syi’ah adalah pada bagian penutup kitab ini, penyusun berusaha membahas secara sistematis kajian-kajian penting terkait dengan hadits dan juga ilmu rijal dalam 12 pasal.

29. Mustadrak al Wasail wa Mustanbith al Masail buah karya Mirza Husain Nuri (wafat 1320 H) merupakan sebuah kitab yang mencakup sekitar 23514 riwayat dimana dalam penyusunannya menggunakan berbagai referensi riwayat-riwayat fikih dan disodorkan sebagai penyempurna kitab Wasail al Syi’ah. Diantara kelebihan kitab ini adalah pada bagian penutup kitab ini, mencoba menerangkan serta memaparkan secara khusus kajian-kajian penting seperti pembelaan atas sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi dalam kitab ini.

30. Ayatullah Burujurdi (wafat 1380 H) salah seorang marja’ agung Syi’ah (periode baru ini) bersama para muridnya, dengan melihat adanya kekurangan-kekurangan pada kitab Wasail al Syi’ah, mencoba serta berhasil menyusun sebuah kitab hadits yang cukup komprehensif dalam beberapa jilid yang diberi nama Jami’ Ahadits al Syi’ah. Kitab ini terus berlanjut kendati beliau pun sudah wafat. Diantara ciri khas kitab ini adalah menyebutkan ayat-ayat ahkam, menyebutkan secara sempurna seluruh riwayat tanpa ada pemotongan, penjelasan tentang solusi atas riwayat-riwayat yang bertentangan, menjelaskan tentang perbedaan tulisan atau teks/naskah, pemisahan dan penataan secara sistematis riwayat-riwayat tentang adab-adab dan akhlak, doa-doa serta zikir-zikir, mencantumkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan fatwa dan kemudian riwayat-riwayat yang bertentangan atau berselisih dari sisi madlul (isi)-nya, menentukan tempat kembalinya dhamir (kata ganti) pada tempat-tempat tertentu, dan juga menjelaskan makna dari kata-kata yang dianggap sulit atau pun rumit.

31. Kitab al Wafi karya Mulla Muhsin Faidh Kasyani (wafat 1091 H) merupakan kitab hadits paling awal dan paling sempurna dimana seluruh riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah terdapat di dalam kitab ini dengan konsentrasi bahwa ia mencoba menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan secara berulang kali dalam Kutub al Arba’ah. Kitab ini terdiri dari 14 pasal. Motivasi beliau dalam menyusun kitab ini adalah menurut anggapannya, setiap dari Kutub al Arba’ah itu kurang begitu komprehensif dan juga adanya penakwilan yang tidak sesuai atas Tahzibain. Kitab Al Wafi, selain menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan berulang kali dan menyodorkan model baru sebuah kumpulan riwayat, juga mencakup penjelasan-penjelasan yang sangat bermanfaat serta transparan dari pihak penyusun dalam rangka menghilangkan adanya keburaman serta kekaburan pada riwayat-riwayat tersebut.

32. Jamaluddin Hasan bin Zainuddin (putra Syahid Tsani) (wafat 1011 H) salah seorang ulama dan mujtahid tersohor Syi’ah pada abad kesepuluh yang memiliki sekitar 12 karya dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Kitab Ma’alim al Din beliau masih tetap diajarkan di Hauzah-hauzah ilmiah. Dalam usaha beliau yang sangat berharga dimana mencoba membagi serta mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah kedalam dua kelompok, yaitu kelompok hadits-hadits yang dianggap sahih dan kelompok hadits-hadits yang dianggap hasan dan dari usaha ini beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang diberi nama Muntaqi al Jiman fii al Ahaditsi al Shihah wa al Hisan. Pada permulaan kitab, dalam kaitannya dengan 12 hal yang bermanfaat, penyusun telah memaparkan kajian serta bahasan yang sangat penting lagi berfaedah. Namun perlu diketahui bahwa sangat disayangkan kitab ini terhenti sampai pada bab Haji saja dan tidak sempat diselesaikan.

33. Hadits Syi’ah pada dua dekade, yaitu: 1) abad 5 sampai abad 10. 2) abad 12 dan 13, mengalami kemunduran dan stagnasi. Menjamurnya kajian dalam bidang fikih dan ijtihad menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stagnasi perkembangan hadits pada dekade ini. Gerakan kebangkitan dan pemulihan yang dilakukan kelompok Akhbari dibawah pimpinan Muhammad Amin Astar Abadi (wafat 1280 H) dan pendekatan yang dilakukan terhadap riwayat-riwayat tersebut, dapat mehidupkan kembali serta memberikan ruang gerak kepada ilmu hadits dan dengan kepergian Allamah Majlisi (wafat 1111 H) dan munculnya Wahid Bahbahani (wafat 1280 H) budaya dan tradisi yang berkembang pada hadits Syi’ah kembali mengalami stagnasi (?!).

34. Dari sejak abad 14 sampai pada masa kita sekarang, merupakan periode cemerlang dalam ilmu-ilmu hadits. Pada dekade sekarang, yang terjadi adalah munculnya pendekatan terhadap hadits dengan cara yang relatif modern dan baru, dimana poin-poin aslinya itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. penelitian mendalam dan kritis atas sejarah hadits.

2. terbatasnya ruang kajian dan telaah hadits.

3. kritik dan perbaikan riwayat-riwayat.

4. gerakan penyusunan kamus-kamus riwayat.

5. menghidupkan kembali peninggalan-peninggalan ulama terdahulu.

6. pendekatan orientalis terhadap hadits.

7. pemanfaatan teknologi software computer dalam penelitian hadits.

Ijtihad pada Masa Para Imam Maksum dan konsep taklid kepada imam maksum

Dalam agama Islam, ijtihad merupakan salah satu tema penting dan memiliki latar belakang historis. Ibnu Sina dalam kitab Syifa menegaskan bahwa “Pelbagai kebutuhan yang diperlukan oleh umat manusia tidak terbatas. Asas Islam (baca: ushuluddin) bersifat tetap dan tidak berubah. Dan tidak hanya tidak berubah namun ia merupakan realitas-realitas yang harus menjadi dasar dan asas bagi kehidupan umat manusia. Namun yang bertalian dengan cabang (furu’uddin), tidak demikian. Hal-hal yang berkenaan dengan masalah cabang agama tidak berujung. Menurut Ibnu Sina, atas alasan inilah ijtihad merupakan sebuah perkara yang mesti dan harus ada di setiap zaman. Ijtihad, menyitir Iqbal, adalah kekuatan penggerak Islam. Dengan ijtihad roda kendaraan Islam akan senantiasa bergulir. Persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat manusia dapat ditelusuri jawabannya dari produk-produk ijtihad yang dihasilkan oleh para juris.

Dengan bermodalkan al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Akal, para mujtahid senantiasa berupaya untuk memecahkan pelbagai persoalan yang dihadapi umat manusia pada setiap masanya. Pada masa Rasulullah Saw, orang-orang memiliki jalur dan akses kepada Rasulullah dan menyelesaikan persoalan mereka. Demikian juga pada masa para Imam Maksum As. Pada masa hidup para Imam Maksum, sebagian orang yang memiliki potensi dan kapasitas intelektual yang memadai, menimba pengetahuan dan kaidah-kaidah umum sedemikian sehingga misalnya Imam Shadiq As bersabda, ‘alaina ilqâu al-ushûl wa ‘alaikum al-tafri’ (Tugas kami mengajarkan kaidah-kaidah pokok dan bagi kalian mencabangkannya).

Berangkat dari sabda Imam Shadiq As, para sahabat dan murid-murid imam meramifikasi pelbagai kaidah umum yang mereka gali dari madrasah Imam Shadiq As untuk menjawab persoalan-persolan umat di masanya. Demikian seterusnya, hingga masa kiwari sekarang ini. Ratusan kaidah rasional ushul dan fikih telah lahir dan mengalami ramifikasi bertitik tolak dari sabda Imam Shadiq As ini. Bukan tempatnya di sini untuk membicarakan kaidah apa saja yang telah lahir tersebut. Stressing tulisan ini pada latar sejarah ijtihad secara selintasan yang membentang semenjak masa Rasulullah hingga masa para Imam Maksum As. Adapun persoalan ijtihad pasca Imam Maksum As, khususnya pada masa ghaibat kubra hingga terbentuknya secara institusional marja taklid, insya Allah, menyusul segera.

Ijtihad pada Masa Nabi Saw

Dalam perspektif Syiah, ijtihad mulai berkembang pada masa para Imam Maksum As di kalangan para sahabat mereka. Semangat dan praktik ijtihad tersebut telah memunculkan banyak perubahan dan kemajuan dalam Syiah. Syiah menerima ijtihad yang bermakna inferensi (istinbath) hukum-hukum syariat dari nash-nash, lahiriyah al-Qur’an dan Sunnah. Jenis ijtihad semacam ini telah menyebar semenjak masa Imam Maksum As di kalangan para sahabat para imam. Bahkan pada masa Rasulullah Saw sendiri ijtiihad telah dipraktikan oleh sebagian sahabat Rasulullah Saw. Misalnya Rasulullah Saw mengutus sebagian sahabat seperti Mush’ab bin Umair dan Muadz bin Jabal untuk pergi ke daerah-daerah sekitar melakukan dakwah dan mengajarkan hukum-hukum agama. Rasulullah Saw bersabda, “Hindarilah mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang dapat mengundang laknat para malaikat (ke atas kalian).”[1]

Juga terdapat sebuah hadis yang popular diriwayatkan di kalangan Ahlusunah yang diriwayatkan dari Muadz bin Jabal. Hadis ini terkadang dijadikan sandaran justifikasi penetapan hukum dengan menggunakan pendapat sendiri (ijtihad bi al-ra’y). Hadis ini diriwayatkan dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal dan Sunan al Darimi. Redaksi hadis tersebut adalah sebagai berikut, “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda, ” Bagaimana Anda nanti memberikan keputusan? ”

“Aku memberi keputusan dengan kitabullah.”

“Bagaimana kalau tidak ada dalam kitabullah?”

“Maka dengan sunnah Rasulullah Saw”

“Bagaimana kalau tidak ada dalam sunnah Rasulullah Saw?”

“Aku berusaha dengan pendapatku dan aku tidak akan menyerah.”

Lalu Rasulullah Saw menepuk dadanya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah.”

Sejarawan dan ahli hadis Syiah, menukil dari Ibnu Hazm, memandang hadis di atas sebagai hadis majhul. Di sini kita tidak akan membahasnya secara jeluk. Stressingnya pada sejarah ijtihad yang dilakukan sebagian sahabat pada masa Rasulullah Saw.

Ijtihad pada Masa Para Imam Maksum

Sekarang tiba gilirannya latar sejarah ijtihad pada masa para Imam Maksum As. Saya tidak habis pikir atas dasar apa, penulis Dari Literatur Syiah ke Marjaiyyah, menulis bahwa ijtihad telah usai pasca masa Imam Shadiq As. Sementara kaidah universal yang diajarkan olehnya tetap dilanjutkan oleh murid-muridnya dan dikawal oleh para imam pasca Imam Shadiq As.

Sebagaimana yang dibeberkan di atas mengindikasikan bahwa memberikan fatwa dari mufti dan juris (fakih) dan konsekuensinya taklid dan mengikuti fatwa tersebut dari sisi masyarakat juga telah mengemuka pada masa Rasulullah Saw. Merujuk kepada fakih pasca wafatnya Rasulullah Saw terus berlanjut sebagaimana sebelumnya hingga mencapai zaman keemasannya dan bersemi pada masa Imam Baqir As dan Imam Shadiq As.

Tidak terbilang juris yang digembleng dan dididik pada madrasah dua imam besar ini.[2] Mereka menyebar di kota-kota dengan maksud menghidupkan dan mengjarkan hukum-hukum agama. Banyak masyarakat yang dahaga akan pengetahuan-pengetahuan dan hukum-hukum Ilahi yang bermukim di tempat yang jauh dari para Imam Maksum mendatangi murid-murid dua imam besar itu dan bertanya tentang masalah-masalah yang dihadapi kepada mereka. Dengan perantara murid-murid ini masyarakat melepaskan dahaganya dari samudera ilmu para Imam Maksum As yang tidak terbatas. Inilah yang disebut seabgai taklid dan dilakukan oleh masyarakat ketika itu. Berikut ini beberapa contoh dari praktik taklid dan ijtihad yang dilakukan masyarakat pada masa para Imam Maksum As:

1. Imam Baqir As bersabda kepada Aban bin Taghlab: “Duduklah di masjid Madinah dan berikanlah fatwa untuk masyarakat. Karena aku suka orang-orang sepertimu di kalangan Syiahku.”[3]

2. Muadz bin Muslim, salah seorang sahabat Imam Shadiq As, tanpa mendapatkan izin dari imam memberikan fatwa di masjid Jami’. Tatkala berita ini sampai kepada Imam Shadiq As, beliau memotivasi dan menyokongnya.”[4]

3. Syu’aib ‘Aqrqauqi berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq As: “Terkadang kami ingin bertanya dan memecahkan masalah agama yang kami hadapi (dan kami tidak memiliki akses kepada Anda karena kejauhan atau [Anda] berada dalam kondisi taqiyyah..) Katakanlah kepada siapa kami harus merujuk dan menerima ucapannya? Imam Shadiq As menjawab, “’Alaikum bil Asadi ya’ni Aba Bashir” (Engkau dapat merujuk kepada Abu Bashir).[5]

4. Hasan bin Ali Yaqtin berkata, “Aku berkata kepada Imam Ridha As, “Saya tidak dapat bertanya kepada Anda (secara langsung) ketika berhadapan dengan setiap persoalan agama yang saya hadapi. Apakah Yunus bin Abdurrahman itu orang tsiqah (dapat dipercaya) dan jujur dan saya dapat menerima jawaban terhadap masalah-masalah agama yang saya hadapi? Imam Ridha As bersabda, “Iya.”[6]

5. Imam Mahdi Ajf dalam tauqi’-nya (surat yang ditandatangi) yang terkenal itu menulis kepada Ishaq bin Ya’qub, sebagai sebuah kaidah umum, seperti ini: “Dalam pelbagai peristiwa yang terjadi maka merujuklah kepada para perawi hadis kami (para juris) mereka adalah hujjahku bagi kalian dan aku adalah hujjah Tuhan bagi mereka.”[7]

Ijtihad dan Taklid

Berdasarkan tauqi’ Imam Mahdi ini dan beberapa riwayat lainnya menguatkan masalah merujuk kepada juris (fakih) pada masa ghaibat kubra dan memunculkan dua terma “ijtihad” dan “taklid.” Ihwal dua terma teknis ini secara ringkas dapat disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ijtihad adalah usaha yang sungguh-sunguh yang dilakukan para juris untuk menginferensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumbernya. Adapun taklid secara teknis, meminjam definisi Imam Khomeini dalam Tahrir Wasilah, bab taklid, bermakna beramal mengikut fatwa mujtahid (marja).” Sebagaimana sejarah ijtihad bermula itu sejarah taklid juga sama nasibnya. Artinya ketika ada ijtihad maka konsekuensi logisnya ada orang yang membutuhkan produk ijtihad tersebut yang dalam bahasa teknis fikihnya disebut sebagai taklid. Mungkin pada lain kesempatan kita akan menguliti dua makna teknis ini berikut sejarah marjaiyyah dan institusi marjaiyyah dalam Syiah.

Para juris dan mujtahid jâmi’ al-syarâit (memiliki pelbagai persyaratan) memikul tanggung jawab untuk menjawab dan mengeluarkan fatwa bagi setiap persoalan kekinian yang dihadapi masyarakat dan mengisi kekosongan serta memberikan solusi atas persoalan tiadanya akses langsung masyarakat kepada para Imam Maksum As. Persoalan ini hingga kini terus berlanjut dan demikian seterusnya. Sebagaimana Syaikh Thusi berkata, “Aku mendapatkan Syiah Imamiyah semenjak masa Imam Ali As hingga kini (abad kelima Hijriah) senantiasa mendatangi para juris mereka dan bertanya tentang hukum-hukum dan ibadah kepada mereka. Para fukaha tersebut memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dan dengan fatwa para fukaha menunjukkan jalan kepada mereka.”[8]

Demikianlah, ijtihad memiliki bentangan sejarah yang panjang semenjak dulu pada masa Imam Maksum As hingga kini di pelbagai Hauzah Ilmiah Syiah. Sebelum itu, masyarakat bertanya langsung kepada para Imam Maksum As terkait dengan pelbagai persoalan yang mereka hadapi. Para Imam Maksum As dalam menjelaskan hukum-hukum syariat kepada masyarakat menjelankan fungsinya sebagai imam. Demikian juga menjelaskan kaidah-kaidah umum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat dan mengajarkan ihwal bagaimana melakukan istinbath hukum-hukum khusus dari kaidah umum kepada mereka.[9]

Taklid kepada Para Maksum

Mungkin terlontar pertanyaan bahwa mujtahid sebelum mencapai derajat mujtahid mereka bertaklid kepada siapa? Jawabnya adalah bahwa para mujtahid sebelum menggondol derajat ijtihad mereka bertaklid kepada para Imam Maksum As. Pada masa-masa setelah itu, orang-orang yang telah belajar dan memiliki potensi itu memberikan jawaban kepada masyarakat atas masalah-masalah syariat dengan memanfaatkan ucapan-ucapan dan riwayat-riwayat para Imam Maksum As.

Demikianlah model permulaan ijtihad yang kemudian mengalami perkembangan dan kemajuan. Dan pada sebuah tingkatan pada masa ghaibat, ulama dengan memanfaatkan riwayat yang melimpah dan menerapkan kaidah-kaidah yang mereka pelajari dari para Imam Maksum dalam berhadapan dengan hukum-hukum syariat. Karena seluruh masalah yang dibutuhkan telah terrefleksi dalam riwayat-riwayat para maksum. Pada tingkatan selanjutnya, seiring dengan kemajuan ilmu dan luasnya kebutuhan-kebutuhan yang belum dijelaskan dalam riwayat dan para mujtahid memberdayakan masalah-masalh tersebut dari hal-hal umum dan bersifat mutlak dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat. Secara perlahan perkembangan ijtihad hari-demi-hari semakin pelik. Dewasa ini ruang lingkup ijtihad sangat luas dan menjuntai sedemikian sehingga menuntut kecapakan dan ilmu yang lebih luas para juris untuk memberikan jawaban atas setiap persoalan kekinian yang dihadapi masyarakat. []

[1]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, bab 4 dan 7.

[2]. Sejarawan menulis Imam Shadiq memiliki empat ribu murid yang datang dari pelbagai penjuru negeri untuk menimba ilmu dari Imam Shadiq As. Silahkan lihat, Haidar Asad, al-Imâm al-Shâdiq wa Madzâhib al-Arba’ah, jil. 1, hal. 69.

[3]. Wasâil al-Syiah, jil. 17, bab 11.

«اجلس ف? مسجد المد?نة و افت الناس فان? احب ان ار? ف? ش?عت? مثلک»

[4]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, hal. 148.

[5]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, hal. 142.

«ربما احتجنا ان نسأل عن الش? فمن نسأل»

[6]. Ibid.

«لا اکاد اصل ال?ک اسألک عن کل ما احتاج ال?ه من معالم د?ن?. اف?ونس بن عبد الرحمان ثقة آخذ منه ما احتاج ال?ه من معالم د?ن? فقال نعم»

[7]. Ibid.

«… و اما الحوادث الواقعة فارجعوا ف?ها ال? رواة حد?ثنا فانهم حجت? عل?کم و انا حجة الله عل?هم»

[8]. Syaikh Thusi, al-Iddat fi Ushûl al-Fiqh, hal. 731. Pursesy-ha wa Pasukha-ye Danesyjuyan, hal-hal. 42,43, 44.

[9]. Misalnya lihat, Syaikh Thusi, al-Istibshâr, jil. 1, hal. 77-78

Sejarah Singkat Hadits Syi’ah Imamiyah dan Mengintip Keagungan Al-Kafi

 

Abu Ja’far, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ra, yang dikenal dengan Tsiqatul Islam atau Rais Muhadisin dilahirkan dari keluarga berilmu di desa Kulain di daerah Rey (tepatnya 38 km arah barat daya kota Rey). Hanya terdapat perbedaan antara para ulama tentang tahun dan masa kelahiran beliau. Namun, bukti-bukti menguatkan bahwa kelahiran beliau tidak begitu jauh jaraknya dengan kelahiran Imam zaman a.s. yaitu sebelum atau sesudah tahun 255 H.

Untuk mengumpulkan hadis-hadisnya, beliau bepergian menuju kota-kota imperium Islam saat itu; seperti Bagdad, Damaskus, Ba’labak dan lain-lain. Beliau dikenal di kota kelahirannya sebagai Syeikh Syi’ah dan pemuka mazhab ini. Sehingga saat beliau pada tahun 327 H (setahun atau dua tahun sebelum wafatnya) memasuki kota Bagdad, beliau sudah merampungkan kitab Kafinya dan langsung mengajar hadis di sana. Dan mengingat beliau menghabiskan waktu 20 tahun untuk menyusun al-Kafi, dapat disimpulkan beliau melakukan penyusunan itu di kota Rey dan Qom.

Guru-guru beliau di antaranya; Ali bin Ibrahim al-Qummi, Muhammad bin Yahya al-Ath-Thar, Abu Ali al-Asy-‘ari, Husen bin Muhammad, Ahmad bin Idris, Ibnu Farrukh ash-Shaffari, Ibn ‘Uqdah dan lain-lain. Namun dari semuanya yang paling berpengaruh bagi beliau adalah Ali bin Ibrahim al-Qummi (penulis tafsir terkenal) dan Muhammad bin Yahya al-‘Asyari. Mereka adalah guru-guru dan syeikh yang luar biasa.

Sebagaimana beliau juga sudah mencetak kader-kader dan murid yang mumpuni, seperti Abul Qasim, Ja’far bin Qaulaweih, Harun bin Musa danAbu Ghalib, Ahmad bin Muhammad Zurari.

Selain kitab al-Kafi, beliau juga memiliki karya-karya lain seperti Ar-Raddu ala Qaramithah, Ta’bir Ru’ya, Rasailul Aimmah, kitab Rijal dan lain-lain.

Dilihat dari kitab-kitab beliau yang beragam serta jenis penyajian riwayat dalam al-Kafinya juga pemilihan tema dan bab-babnya dapat dipahami bahwa beliau selain ahli hadis juga mumpuni dan shahib nazar dalam bidang lain seperti kalam (teologi) dan fiqih.

Syekh Kulaini ra wafat pada tahun 328 / 329 H dan dimakamkan di kota Bagdad. Beberapa tahun setelah wafatnya dan rusaknya makam beliau yang berujung dengan tersingkapnya badan beliau yang masih segar dan kafan yang masih utuh akhirnya makam itu dibangunkan Qubah yang ada hingga saat ini.

Al-Kafi, merupakan kitab hadis jamik pertama dan terpenting dalam Syi’ah yang menurut ungkapan banyak ulama belum dan tidak ada kitab yang lebih bernilai darinya dalam Islam (selain al-Quran tentunya). Kitab al-Kafi terdiri dari dua jilid Ushul, lima jilid Furu’ dan satu Raudhah. Di dalamnya terdapat 30 Kitab, 326 bab dan total hadis yang tertulis 16199 hadis.

Nama kitab ini bukanlah berasal dari penyusun, mengingat dalam khutbah kitabnya tidak menyebutkannya. Walaupun sesekali beliau mengatakan;

وقلت إنك تحب ان يكون عندك كتاب كاف يجمع فيه من جميع فنون علم الدين ما يكتفي به المتعلم وبرجع اليه المسترشد

dan kamu mengatakan kalau ingin di sampingnmu ada kitab yang lengkap yang terkumpul di dalamnya segala jenis ilmu agama yang mencukupi seorang pelajar dan (dapat) dijadikan rujukan orang yang ingin berkembang. Namun maksud Kafi di atas bertujuan untuk mengumpulkan segala hal bukan untuk penamaan.

Sesuai penjelasan para ulama beliau merampungkan kitab ini dalam kurun waktu 20 tahun. Masa yang panjang ini memberikan gambaran akan kedetailan dalam pemilihan riwayat, peletakan bab dan penyusunannya pasal-pasalnya.

Dalam mukadimah kitabnya, beliau menjelaskan kalau kitab ini merupakan jawaban dari permintaan salah seorang saudara seagama beliau. Sayang beliau tidak menyebutkan siapa nama saudara seiman itu dalam bukunya. Namun, bisa ditebak kalau orang yang meminta itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Abdullah ash-Shafwani atau Muhammad bin Nukmani.

Dan kalau kita melihat kepada mukadimah kitab Kafi dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kitab ini beliau berharap dapat menyelamatkan riwayat-riwayat Syi’ah yang tercecer dan ingin disusun dalam sebuah kompilasi untuk menghindari perpecahan dalam agama.

Keistimewaan-keistimewaan Al-Kafi

1. Komplisitas, al-Kafi dibandingkan dengan kitab-kitab jamik hadis yang lain khususnya kitab-kitab jamik yang awal seperti Kitab Man La yahdhuruhul Faqih, Tahdzibul Ahkam dan al-Istibshar lebih komplit dan komprehensif. Karena kitab Al-Kafi tidak hanya berkaitan dengan furuuddin dan hukum-hukum, ia juga membahas dan memuat hadis-hadis tentang aqidah dan akhlak. Dua jilid awal dari Kafi telah membawakan riwayat-riwayat tentang dua bagian penting ajaran agama itu. Tanpa diragukan lagi, andai Syekh Shaduq dan Syekh Thusi juga membawakan hadis-hadisnya seputar Aqidah dan Ushul juga niscaya warisan riwayat Syi’ah akan semakin kaya dan beragam. Oleh karena itu, Marhum Faidh Kasyani saat memuji al-Kafi beliau menyebutkan kesadaran penyusunnya akan hal ini serta beliau mengkritik para penyusun kitab jamik hadis yang lain yang tidak membahas masalah Ushuludin.

2. Penyusunan yang sangat rapi dan detail. Perlu diperhatikan bahwa Marhum Kulaini ra adalah sosok pertama yang menyusun kitab hadis yang jamik dan beliau tidak memiliki contoh kitab yang bisa dijadikan rujukan. Akan tetapi jika kita melihat kepada isi kitab ini kita akan terkagum-kagum dengan penataan dan penyusunan bab-bab, pasal-pasal yang ada di dalamnya; bagaimana beliau memulai kitabnya dengan ushul lalu dilanjutkan dengan Furu’ dan digenapkan dengan Raudah.

Dalam ushul beliau memulai dengan kitab al-Aql dan al-Jahl, baru setelah itu beliau membawakan kitab Tauhid dan Hujjah. Ini menunjukkan ketajaman pikir dan analisa beliau, di mana dasar dari pengkajian masalah akidah dan Ushul adalah akal yang menjadi factor pembeda manusia dengan hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda mati.

Setelah hadis-hadis tentang ketuhanan beliau membahas tentang Nubuwah dan imamah dalam satu kitab tanpa dipisah yaitu kitab Al-Hujjah. Karena nabi dan para imam sama-sama dilantik oleh Allah untuk membimbing manusia. Dan begitulah kitab-kitab selanjutnya ditata dan disusun dengan baik dan sesuai.

Untuk mensyarahi kitab hadis yang agung dan monumental ini, banyak kitab telah ditulis, hanya yang paling utama dan terkenal adalah kitab Mir’atul ‘Uqul fi Syarhi Akhbari Ali Rasul karya Allamah Majlisi (Penulis kitab Bihar), Syarah Shadrul Mutaalihin dan Syarah Mulla Saleh Mazandarani.{Mss}

Semua mazhab dalam Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis dalam berbagai disiplin ajaran Islam – termasuk tafsir, fiqih (hukum), dan akhlak (etika), dan seterusnya. Dewasa ini , sulit menemukan seorang individu yang mengklaim bahwa Al-Quran sudah menjabarkan seluruh prinsip-umum ajaran Islam berikut rinciannya tanpa bantuan Sunnah dan Hadis. Lagi pula, banyak pernyataan yang gamblang dari Nabi, dan beberapa pernyataan Al-Quran sendiri yang menunjukkan pentingnya petunjuk dan amalan Nabi. Karena pentingnya Sunnah dan Hadis ini, sudah jelas, maka tak perlu bukti lagi.

Maksud tulisan ini ialah hendak mengkaji bagaimana kumpulan hadis yang ada mulai ditulis dan berapa lama diperlukan untuk menjadikannya sebagai suatu laporan ucapan (qawl), perilaku (fi’l), dan persetujuan (taqrir) Nabi dalam bentuk tertulisnya. Tak pelak lagi, masalah ini mempunyai pengaruh penting dalam menentukan otentitas kumpulan hadis secara umum.

Dalam kasus Al-Quran , kita tahu bahwa tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dengan penulisannya. Jadi, tidak ada keraguan akan keaslian Al-Quran, lantaran Nabi sudah menunjuk para pencatatnyasejak turunnya wahyu pertama dan mereka ditugasi untuk menghimpun dan menuliskannya. Tetapi praktek ini tidak diikuti dalam kasus hadis, yang mendapat perlakuan berbeda.

Pentingnya hadis dan peranannya dalam berbagai masalah politik dan sosial, menyebabkan berbagai kelompok memperlihatkan kepekaan tertentu terhadapnya. Kepekaan ini berakibat pada tertundanya penulisan hadis, meskipun ada perintah Nabi untuk melakukan penulisan dan penyebarluasan hadis. Sayangnya, penundaan ini menciptakan kerumitan kepada generasi berikutnya dalam hal penilaian hadis.

Sungguhpun begitu, perlu ditunjukkan di sini bahwa keadaan hadis Syi’ah berbeda dengan hadis Sunni. Perbedaan ini timbul karena orang Syi’ah terdahulu bersiteguh untuk menuliskan hadis dengan suatu penekanan pada keyakinannya atas kepemimpinan para Imam dan Ahl al-Bait yang kehadirannya berlanjut hingga pertengahan abad ke-3 H/9M. Dengan demikian, hadis Syi’ah tidak mengalami sejenis kelemahan yang berkaitan dengan penundaan penulisan hadis.3)

Disini kita akan meninjau secara singkat keterangan berkenaan dengan masalah ini. Tetapi bagian terbesar penelaahan ini akan membahas sejarah hadis tertulis dikalangan Ahl al-Sunnah. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa hadis ternyata tidak tertulis selama masa tertentu. Bahkan tak cuma itu saja, untuk beberapa masa hadis dilarang untuk disampaikan. Selama masa pealing kurang satu abad, hadis–hadis disampaikan lewat tradisi lisan. Meskipun sebagian hadis ditulis selama abad ke-2/8, namun bagian terbesarnya baru ditulis setelah masa yang cukup lama.

Pertama-tama kita akan menyebut pandangan para Imam Syi’ah yang menekankan pada penulisan hadis. Lalu kita akan membahas sejarah hadis tertulis dikalangan Ahl al-Sunnah. Penelaahan semacam ini dapat berfungsi sebagai petunjuk umum guna menilai asas-asas mazhab-mazhab Islam yang resmi dan teradisional dan mengungkapkan mazhab yang memiliki dukungan tradisi penulisan yang tak terputus. Yang terpenting dalam penelaahan semacam ini adalah penilaian yang terinci tentang isnad (garis periwayatan) dan matan (teks), yang merupakan suatu tugas yang membutuhkan usaha penelitian mendalam, dan meskipun sejumlah karya telah ditulis mengenai masalah tersebut, tetap masih terbuka kemungkinan bagi penelitian lebih lanjut.

Para Imam Syi’ah dan Penulisan serta Penyampaian Hadis

Dalam bagian ini, kami bermaksud membicarakan secara singkat pandangan Syi’ah mengenai hadis sejak permulaan. Nanti akan terlihat bahwa pandangan Syi’ah akan berbeda, atau bahkan bertentangan, dengan pandangan lainnya. Para Imam Syi’ah memerintahkan penulisan hadis pada saat tokoh ulama Sunni ternama, yaitu menjelang abad 3/9, enggan menuliskan hadis. Dan kalaupun mereka menuliskannya, maka hal itu hanya untuk membantu hapalan saja. Barulah setelah penulisan itu menjadi merata, mereka pun mulai melakukan usaha penulisan hadis dengan melanggar tradisi yang dirawikan oleh mereka sendiri yang melarang penulisan hadis.

‘Alba ibn Al-‘Ahmar meriwayatkan bahwa suatu ketika Ali ibn Abi Thalib dalam khutbahnya yang disampaikan dari mimbar menyatakan: “Siapa yang membeli pengetahuan dengan sedirham?” Al-Harits ibn Al-A’war membeli kertas seharga satu dirham lalu datang ke pada Ali dan menulis sejumlah besar pengetahuan di kertas tersebut. Tradisi ini menunjukan penekanan Imam tentang penulisan.

Al-Hasan ibn Ali diriwayatkan pernah menasehati putranya sebagai berikut:

Sekarang kamu putra ummat yang akan menjadi pemukanya di masa depan. Pelajarilah ilmu; dan siapapun di antara kamu yang tak sanggup menghapal ilmu (yaitu hadis), catalah dan peliharalah hadis itu di rumahmu.5)

Diriwayatkan bahwa Hujr ibn Adi, salah seorang di antara sahabat Nabi saw. dan Ali menuliskan hadis Ali dalam sebuah buku dan ia akan merujuk pada buku tersebut kapan pun ia butuhkan sebagi petunjuk dalam hubungannya dengan masalah tertentu. Contoh-contoh ini mengetengahkan betapa pentingnya penulisan hadis dalam pandangan Ali, para putra dan sahabatnya. Berikut ini dua contoh yang menunjukkan pentingnya apa yang dilakukan oleh Ali terhadap hadis dan pemeliharaannya.

‘Umar ibn ‘Ali meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Ali bagaimana ia mampu meriwayatkan lebih banyak hadis Nabi jika dibandingkan dengan para sahabat lainnya. Ali menjawab:”Ini karena setiap aku bertanya, Nabi saw. selalu menjawabnya. Dan jika aku diam, ia sendiri yang akan mulai berpidato.”

‘Ali ibn Hawshab meriwayatkan dari Makhul, seorang alim dari Syiria bahwa Nabi Suci saw. membaca ayat: “Dan agar diterimanya melalui telinga yang suka menerimanya.” (QS 69 : 12). Lalu beliau berkata kepada Ali:”Aku memohon kepada Allah agar telinga demikian itu merupakan telingamu.” Dan kemudian Ali berkata:”Aku tak akan pernah melupakan hadis atau apapun yang kudengar dari Nabi saw.”

‘Umar ibn Al-Harits berkata:

Suatu saat Ali menengadahkan wajahnya ke langit, lalu menundukkannya seraya berkata:’Allah dan Rasulnya telah mengatakan kebenaran. ‘Apakah itu?’ tanya sekelompok orang yang ingin mengetahuinya. Imam lalu berkata:’Aku adalah prajurit, dan perang mengandung tipuan. Tapi seandainya aku jatuh dari langit, lalu dicengkeram oleh burung, maka itu lebih aku senangi dari pada menisbahkan suatu kepalsuan atau kebohongan kepada Rasul Allah. Karena itu, laksanakan apapun yang kamu dengar dariku.

Berbagai pernyataan tentang penulisan hadis juga diriwayatkan dari para Imam yang lain.Al-Imam ash-Shadiq berkata :”Tulis dan sebarkan ilmumu di antara saudaramu. Jika kamu mati, maka anak –anakmu akan mewarisi kitab –kitabmu.kelak,akan tibasuatu masa yang didalamnya terjadi kekaacuan dan orang-oraang tk lagi memiliki sahabat yang melindungi dan tak ada penolong kecuali buku-buku. Imam Al-shadiq juga telah menyatakan:peliharalah buku –bukumu,karena suatu saat kalian akan membutuhkannya.”juga beliau diriwayatkan telah berkata bahwa kekuatan jiwa dan ingatan bergantung pada tulisan. Abu Basir meriwayatkan bahwa Imam Al shadiq berkata kepadnya:”Sejumlah orang yang datang dari basrah bertanya kepadaku tentang beberapa hadits, lalu menuliskannya.kenapa anda tidak menuliskannya juga?kemudian menambahkan:kethuilah bahwa anda tidak akan menjaga hadis tanpa menuliskannya.”Sejumlah tradusi besar menunjukkan bahwa para Imam mempunyai buku buku dan tulisan tulisan yang mereka warisi dari para leluhurnya. Dalam tradisi lain, diriwayatkan bahwa Ali pernah membuat pernyataan “ikatlah ilmu”(lewat penulisan), yang diulangnya sampai dua kali. Telah diriwayatkandari jabir bahwaAbu Hanifah memanggil Imam Al-Shadiq dengan kutubi(kutu buku ),sehubungan dengan kepercayaannya kepada buku- buku,dan Imam bangga dengan julukan itu.

Diriwayyatkanjuga bahwa Imam Al-Muhammad ibn Ali Al-baqir mencatat suatu hadis Nabi yang dirawikan oleh jabir ibn Abdullah Al-Anshari. Meskipun pernyataan ini agaknya keliru,sebab jabir wafat ketika Imam berusaha lima tahun,tapi mungkin saja bahwa tradisi tersebut telah menulis melalui perantara.

Syi’ah dan Penulisan Hadis

Karena tradisi penulisan hadis sudah ada di kalangan Syi’ah sejak permulaan, maka mereka pelopor tradisi tertulis dalam hadis dan fikih. Dr. Syawqi Dayf menulis:

Perhatian Syi’ah terhadap penulisan fikih sangatlah kuat. Alasan dibaliknya adalah keyakinannya terhadap Imam mereka, bahwa mereka adalah pembimbing (hadi) dan yang diberi petunjuk oleh Tuhan (mahdi) dan seluruh fatwanya bersifat mengikat. Karena itu, mereka memberikan perhatian kepada fatwa dan keputusan Ali. Dengan alasan inilah, kompilasi pertama dilakukan di kalangan Syi’ah oleh Sulayman ibn Qays Al-Hilali, seorang yang hidup sezaman dengan Al-Hajjaj.

Allamah Sayyid Syarif Al-Din menulis:

“Imam Ali dan para pengikutnya menaruh perhatian terhadap masalah ini sejak awal. Hal pertama yang diperintahkan oleh Ali adalah menulis Al-Quran secara utuh yang dilakukannya setelah wafatnya Nabi, sesuai urutan kronologis turunnya wahyu. Dalam penulisan itu, dia pun menunjukkan ayat-ayat yang amm atau khashsh, mutlaq atau muqayyad, muhkam atau mutasyabih.Setelah proses kompilasi itu, dia mulai menghimpun sebuah buku untuk Fatimah. Setelah itu, dia menulis buku yang kemudian dikenal sebagai Shahifah. Ibn Sa’ad telah mengisahkan dalam sebuah musnad dari Ali di akhir karyanya yang terkenal Al-Jami. Pengarang Syi’ah yang lain ialah Abu Rafi, yang menghimpun sebuah karya yang disebut kitab Al-Sunan wa Al-Ahkam wa Al-Qatada.”

Almarhum Sayyid Hasan Al-Shadr menulis bahwa Abu Rafi, maula dari Nabi, adalah orang pertama dari kaum Syi’ah yang menyusun buku. Al-Najasi dalam Fihrist –nya, menyebutkan bahwa Abu Rafi adalah salah seorang generasi pertama diantara pengarang Syi’ah. Sebagai Syi’ah Ali, Abu Rafi ikut serta dalam peperangan Ali dan mengepalai Bait Al-Mal di Kufah. Karyanya, Al-Sunan, yang dimulai dengan bab tentang shalat, diikuti oleh bab tentang puasa, haji, zakat dan penilaian hukum yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ubayd Allah ibn Abi Rafi, dari bapaknya yang diriwayatkan dari ayahnya, Abu Rafi, dari Ali. Di kufah, buku ini diceritakan pada zaman Al-Najashi oleh Zaid ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Al-Mubarak

Ali ibn Abi Rafi, putranya Abu Rafi, seorang tabi’it dan Syi’ah yang terkenal, juga telah menyusun sebuah buku yang berisikan bab-bab tentang berbagai tema hukum, seperti wudhu’, shalat, dan sebagainya.

Sepert telahdisebutkan di atas , abu Hanifah memanggil Imam Ash-Shadiq dengan julukan ‘kutubi” (ucapan dari dia adalah “innahu kutubi“), dan ini merupakan suatu karakter yang membedankannya dari yanglkaihn. Ketika mendengar hal itu, dia tertawa dan berkata: “Yang benar adalah perkataannya bahwa aku adalah seorang suhufi: karena saya telah membaca menunjukkan bahwa Imam memiliki


1). Meskipun dapat kita lihat beberapa cendekiawan Muslim Mesir menyatakan bahwa pada masa ini, seharusnya, slogan kita sekali lagi adalah “Cukup bagi kita Kitab Allah”. 

2). Sebagai contoh, ayat berikut ini:Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri-tauladan yang baik bagimu…………………………….(QS 33:21)………………….apapun yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah; dan apapun yang dilarangnya,tinggalkanlah………………..(QS 59:7)Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan bagi perempuan yang Mukmin, jika Allah danRasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, bagi mereka akan ada pilihan (yang lain) tentang Urusan mereka…………………….(QS 33:36)

3)Lihat buku berjudul Ukdzubat Tahrif Al-Qur’an bayna Al-Syi’ah wa Al-Sunnah oleh Rasul Ja’fariyan

4)Al-Tabaqat Al- Kubra, vol. 6, hal. 168; Taqyid Al-‘Ilm, hal. 89,90; Kanz Al-‘Ummal,vol. 10, hal. 156; Rabi’Al-Abrar, vol. 3, hal. 294.

5)Bihar Al-Anwar,vol. 2, hal.152;Al-Taratib Al-Dariyyah,vol. 2, hal. 246; Sunan Al-Darimi, vol. 1, hal.130; ‘Illal Al-Hadith,vol. 2, hal. 438; Taqyid Al-‘Ilm, hal. 91; Jami’ Bayan Al-‘Ilm,vol. 1, hal. 99; Kanz Al-‘ummal, vol. 1, hal. 193; Rabi’Al-Abrar, vol. 3, hal. 326; Tarjumat Al-‘Imam al-Hasan dlmTarikh Dimasyq,

6)Al-Tabaqat Al-Kubra, vol. 6, hal. 220

7)Ansab Al-Ashraf, vol. 2, hal. 98; dan hadis no. 980 dari pembahasan biografi Imam Ali dalam Tarikh Dimasyq;Bihar Al-Anwarvol. 2. Hal. 230; Al-Fadha’il oleh Ibn Hanbal, hadis No. 222.

8)Ansab Al-Asyraf, vol. 1 , hal. 121; Tarikh Dimasyq, vol. 38, hal. 202; Hilyat Al-Awliya,vol.. 1, hal. 67; Syawahid Al-Tanzil,hadis No. 1009.

9)Ansab Al-Asyraf, vol. 2, hal. 145.

10)Bihar Al-Anwar,vol 2,hal.50,dari Kasyf Al-Mahajjah.

11)Bihar Al-Anwar,vol.2,hal 152.

12)Bihar Al-Anwar, vol. hal 153.

13)Untuk informasi tentang hadis dalam hubungannya dengan masalah ini, lihat makatib AL-Rasul,vol. 1,hal71dan 89 olehAli Ahmad Miyanji.

14)Taqyid Al-Ilm,hal.89.

15)Radwat Aljannat,vol.8hal.169.

16)Taqyid Al-Ilm. hal.104.

17)Tarikh Al-Adab Al-Arabi,”Al-Asr Al-Islami”,hal. 453, sementara pernyataan yang sama juga dibuat oleh Mustafa ‘Abd Al –Razaq; lihat Tahmid li-Tarikh al-Islamiyah, hal. 202, 203.

18)Al-Muraja’at, hal. 305,306, diterbitkan oleh Al-A’lami, Beirut.

19)Ta’sis Al-Syi’ah li-‘Ulum Al-Islam,hal. 280, diterbitkan oleh Al-A’lami, Beirut

20)Rijal Al-Najasi,hal. 3,4, diterbitkan di Qum.

—————————————————————————————————–

 

Sejarah Singkat Hadits Syi’ah

1. Atas usaha yang dilakukan oleh Ahlulbait as dan para sahabatnya, penulisan hadits dalam sejarah mazhab Syi’ah, pada masa pelarangan, tidak pernah mengalami kemandegan dan terus berlanjut dan pada masa kodifikasi dan penyusunan Jawami’ Hadits Syi’ah, ia lebih banyak menukil dan menyalin dari tulisan-tulisan yang ada dibanding bersandar kepada penukilan lewat lisan.

2. Pada periode paling awal dari sejarah hadits Syi’ah, telah muncul penulisan-penulisan hadits; seperti Kitab Salman, Kitab Abu Dzar dan lain-lain yang kesemuanya itu sudah tidak ada dihadapan kita dan tinggal sejarah saja yang memberikan informasi tentang keberadaan kitab-kitab yang sangat berharga tersebut. Dan sebagiannya lagi seperti Kitab Imam Ali as yang saat ini berada ditangan mulia Imam Zaman ajf., Nahjul Balaghah, dan Shahifah as Sajjadiyah yang saat ini ada bersama kita.

3. Kitab Imam Ali as merupakan kumpulan riwayat-riwayat yang dibacakan langsung oleh Rasulullah saw dan dicatat langsung pula oleh Imam Ali as. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, menghikayatkan bahwa ukuran kitab ini sekitar 70 zira’ dan di dalamnya berisi tentang hukum-hukum (ahkam) yang dibutuhkan umat sampai hari kiamat, dan hanya sahabat-sahabat spesial para Imam as saja yang pernah melihat langsung kitab tersebut. kitab tersebut merupakan sebuah peninggalan besar dalam bidang riwayat dan hadits yang saat ini berada di tangan Imam Zaman ajf.

4. Mushaf Fathimah adalah kumpulan riwayat dan hadits yang isinya berkaitan dengan masalah-masalah seperti: peristiwa-peristiwa serta fitnah-fitnah umat, khususnya fitnah yang terjadi atas keturunan Sayidah Fathimah as: sampai hari kiamat. Melihat fenomena terkait dengan munculnya berbagai keraguan (syubhat) atas adanya distorsi pada Al Qur’an dan juga munculnya Al Qur’an lain yang berada ditangan Syi’ah bernama Mushaf Fathimah:, maka demi adanya kejelasan para Imam Ma’shum as menegaskannya lewat ayat-ayat Al Qur’an.

5. Dengan bersandar pada riwayat-riwayat sejarah, paska Rasulullah saw wafat , Imam Ali as (atas perintah Nabi saw) mulai menyusun ayat-ayat dan surah-surah Al Qur’an berdasarkan urutan turunnya serta mencatat tafsir dan ta’wil setiap ayat, yang dengan usaha ini terbentuklah Mushaf Imam Ali as. Kitab ini dianggap sebagai salah satu sumber syi’ah paling tua dalam bidang riwayat dikarenakan ia mengandung riwayat-riwayat yang berisi tentang tafsir.

6. Nahjul Balaghah yang berarti metode berbicara secara ideal adalah nama dari kumpulan khutbah-khutbah, surat-surat dan kata-kata hikmah Imam Ali as yang dirampung serta dibukukan oleh almarhum Sayid Radhi (406 H). Sayid Radhi sendiri mengakui bahwa Nahjul Balaghah yang ada ditangan kita saat ini merupakan hasil seleksi dari sepertiga ucapan Imam Ali as. Nahjul Balaghah berisi sekitar 241 khutbah, 79 surat dan 480 hikmah. Dengan muatan yang luar biasa dan keindahan susunan Nahjul Balaghah, maka ia diklaim sebagai “kata-katanya lebih rendah dari Kalam Tuhan dan lebih tinggi dari kata-kata manusia”.

7. Shahifah as Sajjadiyah merupakan kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Doa itu diucapkan oleh Imam Sajjad as semasa hayatnya dan dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Meskipun sanad kitab ini terputus, namun ketinggian ucapan Imam dan muatannya yang menggambarkan pengetahuan irfan dan ma’arif (pengetahuan) Al Qur’an maka tidak diragukan lagi kalau ia berasal dari manusia suci (Imam Sajjad as). Shahifah as Sajjadiyah sekarang ini memiliki sekitar 54 buah doa.

8. Periode kedua perjalanan sejarah hadits Syi’ah adalah periode yang disebut dengan Periode ” Ushul arba’umiah (Prinsip-prinsip 400) “. maksud dari Ushul arba’umiah adalah sebuah kumpulan hadits dan riwayat dari sejak Imam Ali as sampai Imam Hasan al ‘Askari as, khususnya hadits dan riwayat yang ada pada masa Shadiqain (Imam Baqir as dan Imam Shadiq as).

9. Ushul (prinsip) pada umumnya kosong dari ijtihad dan pengungkapan pendapat pribadi seorang perawi dan hanya langsung menukil ucapan Imam Ma’shum as. dan hal inilah yang membedakan ia dengan kitab. Berdasarkan hal ini, Ushul (prinsip) merupakan tulisan-tulisan yang mana pada bagian-bagian yang terdapat riwayat-riwayat para Imam Ma’shum as, tidak ditemukan campur tangan atau intervensi serta juga riwayatnya tidak disusun dan diatur secara per-bab.

10. Para penyusun Kutub Arba’ah dalam mewujudkan kitab Jawami’ Awwaliyah , mereka menggunakan riwayat-riwayat yang ada pada Ushul arba’umiah. Ini menunjukkah akan penting dan ketinggian posisi tulisan-tulisan ini.

11. Kendatipun Ushul arba’umiah itu ada sampai pada masa Syaikh Thusi (460 H) dan juga sejumlah informasi tentangnya, namun yang sampai pada masa kita, masa Allamah Majlisi (1111 H), hanya sekitar 16 Ushul (prinsip). Kodifikasi Jawami’ Riwai (kumpulan riwayat) dan pembakaran atas perpustakaan syaikh Thusi merupakan faktor-faktor yang diprediksi sebagai penyebab hilangnya Ushul arba’umiah.

12. Masa kodifikasi (periode ketiga), terdapat empat kitab hadits, yaitu:

a. al Kafi karya Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini (329 H).

b. Man La Yahdhuruhu al Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babuyah (Syaikh Shaduq) (381 H).

c. Tahzib al Ahkam karya Syaikh al Thaifah Muhammad bin Hasan Thusi (460 H).

d. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar karya Syaikh Thusi.

Perlu diketahui bahwa Madinah al ‘Ilm yang merupakan salah satu karya lain Syaikh Shaduq, juga dikalisfikasikan sebagai kitab Jami’ hadits Syi’ah yang kelima, kendatipun saat ini tidak lagi bersama kita (hilang).

13. Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini lahir sekitar tahun 255 H di sebuah desa bernama Kulain yang terletak di kota Rei. Dengan keilmuan dan posisi spiritual yang ia miliki sehingga seluruh ulama syi’ah menyanjungnya. Tulisan-tulisan beliau serta kata-katanya disela-sela riwayat-riwayat yang ada pada kitab Al Kafi menunjukkan bahwa selain dalam bidang hadits, beliau juga adalah seorang yang handal dalam ilmu kalam (teologi), fiqih, tafsir, dan sejarah.

14. Al Kafi merupakan Jami’ Riwai (kumpulan Riwayat) Syi’ah paling awal dan sangat penting yang mencakup sekitar 16199 riwayat dan diklasifikasikan ke dalam tiga bagian: Ushul (prinsip-prinsip) dua jilid, Furu’ (cabang-cabang) enam jilid, dan Raudhah satu jilid. Al marhum Kulaini menyusun kitab Al Kafi selama
20 tahun yang dimotivasi oleh keinginan untuk meluruskan agama masyarakat dan mencegah dari adanya perpecahan. Nilai plus dan karakter khusus kitab Al Kafi adalah: 1) kolektivisme/ komprehensif , dan 2) sistematis.

15. Kendati ada sebagian kalangan, seperti Mulla Khalil Qazwini, meragukan penisbahan Raudhah kepada Al Kafi, namun umumnya para Muhaddits Syi’ah menafikan keraguan tersebut dengan alasan bahwa melihat adanya kesesuaian riwayat-riwayat Raudhah dengan sanad-sanad seluruh riwayat-riwayat Al Kafi dan bahwa pula adanya jarak masa antara Ibnu Idris dengan level kedelapan atau kesembilan para perawi dan bahwasanya Najasyi dan Syaikh Thusi yang sudah ada pra Ibnu Idris, mengakui serta menganggap bahwa Raudhah itu merupakan bagian dari Al Kafi.

16. Syaikh Shaduq Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babuyah al Qumi merupakan salah seorang ulama dan Muhaddits tersohor Syi’ah, dimana berkat doa Imam Zaman afj. Ia lahir kedunia ini di tengah-tengah sebuah keluarga yang berpendidikan. Selama kehidupan ilmiahnya, Syaikh Shaduq sangat dihormati oleh penguasa ketika itu, diantaranya Ali Buyah. Ia memiliki jumlah karya sebanyak 250 tulisan, diantaranya kitab Man Laa yahdhuruh al faqih. Syaikh Shaduq wafat pada tahun 381 H dan dimakamkan di kota Rei.

17. Man Laa yahdhuruh al faqih merupakan Jami’ Riwai ( Kumpulan Riwayat) kedua Syi’ah yang dari sisi kekunoan dan validitas berada pada posisi setelah Al Kafi, dan memiliki sekitar 5998 riwayat dimana disusun guna mempelajari fikih secara otodidak (tanpa pembimbing) dan juga ia disusun dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang sahabat dekat Syaikh Shaduq serta mencontoh kitab Man Laa yahdhuruh al Thabib karya Muhammad bin Zakaria Razi.
Diantara kekhususan kitab Man Laa yahdhuruh al faqih adalah terbatas hanya pada riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan fikih, tidak mencantumkan sanad-sanad riwayat kecuali perawi terakhir, dan sejumlah riwayat hanya menyebutkan nama Imam Ma’shum as dan ketentuannya di akhir kitab pada Masyaikh dan menyebutkan pandangan-pandangan fikih diantara riwayat-riwayat tersebut.

18. Abu Ja’far Muhammad bin Hasan Thusi, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaik al Thaifah, lahir pada tahun 385 H di Thus kota Khurasan dan setelah mengenyam dan menjalani pendidikan serta bimbingan dari beberapa guru besar seperti Syaikh Mufid, beliau pun mencapai maqam dan kedudukan yang tinggi dan setelah peristiwa serangan fanatis ahlusunnah ke rumah beliau di Mahallah Karakh kota Baghdad, beliau berangkat menuju kota Najaf dan disana beliau mendirikan Hauzah Ilmiyah Najaf. Peninggalan-peninggalan (buku-buku, penerjemah.) Syaikh Thusi dalam berbagai tema Islam yang dijadikan sebagai dasar-dasar serta pondasi ajaran Syi’ah merupakan bukti akan keluasan ilmu dan perhatian besar beliau.

19. Tahzib al Ahkam dan Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan dua pusaka kumpulan hadits dari Syaikh Thusi yang dianggap dan dikenal sebagai kitab riwayat yang berada pada urutan ketiga dan keempat kitab hadits Syi’ah dengan alasan bahwa riwayat kitab ini banyak menyandarkan ke Ushul arba’umiah dan juga muatannya yang cukup akurat. Secara istilah kedua kitab ini disebut sebagai Tahzibain.

20. Pada dasarnya Tahzib al Ahkam merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas kitab Al Muqna’ah Syaik Mufid dimana kitab ini mencakup sekitar 13988 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam ukuran 10 jilid. Syaikh Thusi menyusun kitab ini dalam rangka memberikan jawaban atas kelompok-kelompok penentang yang menganggap bahwa riwayat-riwayat Syi’ah itu banyak yang paradoks. ( Wasail al Syi’ah juga merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas buku fikih Syarai’ al Islam buah karya Muhaqqiq Hilli).
Refleksi lebih sempurna mengenai riwayat-riwayat terkait furu’ (cabang-cabang), refleksi riwayat-riwayat yang disepakati dan yang tidak disepakati, adanya penjelasan, tafsir dan ta’wil riwayat-riwayat merupakan ciri khas dari kitab Tahzib al Ahkam.

21. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan peninggalan kedua kitab hadits yang ditulis oleh Syaikh Thusi dan adalah salah satu kitab keempat dari kutub arba’ah (empat kitab hadits) yang disusun setelah kitab Tahzib al Ahkam dalam rangka menertibkan serta menyempurnakan riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan. Kitab ini mencakup sekitar 5511 hadits dan dicetak serta dipublikasikan dalam empat jilid. Syaikh Thusi secara umum riwayat-riwayat dalam kitab Tahzibain, itu tidak menyebutkan sanad-sanadnya atau perawinya kecuali perawi yang terakhir dan diakhir kitab ini terdapat sebuah pasal yang diberi tema Masyaikh yang disana disebutkan metode beliau terhadap para perawi tersebut.

22. Antara kelompok Akhbari dan kelompok Ushuli terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan kesahihan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah tersebut. kelompok Akhbari meyakini bahwa dengan memperhatikan isi Kutub al Arba’ah yang mana ia banyak menyandarkan dan mengambil riwayat dari kitab Ushul arba’umiah serta adanya pembelaan para penyusun kitab-kitab tresebut, seperti yang termaktub dalam mukadimah setiap kitab, atas kesahihan riwayat-riwayatnya sehingga kita tidak mungkin bisa meragukan kesahihan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut. Akan tetapi kelompok Ushuli, selain menafikan argumentasi yang dilontarkan oleh kelompok Akhbari, juga memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan kelompok tersebut dimana kaum Ushuli berkeyakinan bahwa dengan adanya sejumlah riwayat lemah dalam kitab-kitab ini maka klaim yang menyatakan akan kesahihan serta ketegasan seluruh riwayat tersebut pun terbantahkan dan ternafikan. Dengan alasan inilah maka merupakan sebuah kemestian untuk melakukan analisis terhadap sanad dan teks dari setiap riwayat-riwayat tersebut secara terpisah.

23. Pada periode keempat dalam sejarah hadits Syi’ah (periode penyempurnaan dan Sistematisasi) terdapat sekelompok Muhadditsin yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits serta riwayat Syi’ah yang tidak ditemukan dalam Kutub al Arba’ah dan menyusunnya dalam bentuk sebuah kitab. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan cara penulisan diatas diantaranya adalah kitab Bihar al Anwar, Wasail al Syi’ah, Mustadrak al Wasail, dan Jami’ Ahadits al Syi’ah.

24. Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, atau lebih dikenal Allamah Majlisi atau Majlisi kedua (1111 H) lahir pada tahun 1037 di kota Isfahan dan setelah mengenyam pendidkan serta pengajaran dari beberapa guru, seperti Majlisi pertama (ayahnya), dan Mulla Shaleh Mazandarani, beliau mulai menekuni secara mendalam ilmu hadits dan disamping aktifitas-aktifitas kemasyarakatannya, ia berhasil mempersembahkan sekitar 160 buah karya, 86 tema dalam bahasa Persia dan sisanya ditulis dalam bahasa arab. Kitab Bihar al Anwar dan kitab syarah beliau atas kitab Al Kafi ( Mir’ah al ‘Uqul ) merupakan dua buah karya monumental beliau dalam bidang riwayat.

25. Bihar al Anwar al Jami’ah Lidurari Akhbar al Aimmah al Athhar (as), merupakan kitab hadits Syi’ah yang paling komprehensif dari pertama sampai abad sekarang. Kitab yang sekarang ini dicetak serta dipublikasikan dalam 110 jilid, di dalamnya terdapat ribuan riwayat dalam berbagai bidang pengetahuan seperti akidah, akhlak, tafsir, sejarah dan juga fikih. Allamah Majlisi telah dengan tekun dan dengan kerja keras berusaha mengumpulkan sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi kitab Bihar al Anwar dan dengan membentuk sebuah kelompok kerja ilmiah dan juga atas kerjasama dengan para muridnya, kitab Bihar al Anwar dapat diselesaikan dalam jangka waktu 40 tahun. Diantara motivasi Allamah Majlisi menyusun kitab ini adalah adanya kekhawatiran terhadap hilangnya peninggalan-peninggalan dalam bidang riwayat dan juga munculnya kecenderungan masyarakat terhadap ilmu-ilmu aqli (akal) dan berpaling serta kurang begitu menghiraukan lagi riwayat-riwayat dan hadits.

26. Komprehensif, menjelaskan maksud riwayat, perhatian terhadap perbedaan teks dan tulisan-tulisan, refleksi riwayat-riwayat ahlusunnah, perhatian terhadap adanya konflik dan selisih pada riwayat-riwayat dan lain sebagainya, merupakan cirri khas kitab Bihar al Anwar.

27. Muhammad bin Hasan, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Hurra ‘Amili lahir pada tahun 1033 H di Jabal ‘Amil Libanon dan setelah 40 tahun tinggal di kota kelahirannya dan menuntut ilmu, beliau bermaksud melakukan perjalanan untuk berziarah ke maqam Suci Imam Ridha as di kota Suci Masyhad dan tinggal di kota tersebut dan pada tahun 1104 H, beliau berpulang kepangkuan Ilahi dan dimakamkan disamping makam mulia Imam Ridha as. Selama hidupnya di kota Masyhad, Syaikh sibuk menyusun berbagai kitab diantaranya kitab Wasail al Syi’ah. Jumlah karya yang beliau tinggalkan sekitar 24 tulisan.

28. Tafshil Wasail al Syi’ah ilaa Tahshil Masail al Syari’ah yang nama pendeknya Wasail al Syi’ah merupakan sebuah kitab hadits yang riwayat-riwayatnya diambil dari Kutub Arba’ah dan didalamnya juga terdapat 70 kitab lain serta mengandung sekitar 3585 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam 20 jilid. Diantara kelebihan-kelebihan kitab Wasail al Syi’ah adalah pada bagian penutup kitab ini, penyusun berusaha membahas secara sistematis kajian-kajian penting terkait dengan hadits dan juga ilmu rijal dalam 12 pasal.

29. Mustadrak al Wasail wa Mustanbith al Masail buah karya Mirza Husain Nuri (wafat 1320 H) merupakan sebuah kitab yang mencakup sekitar 23514 riwayat dimana dalam penyusunannya menggunakan berbagai referensi riwayat-riwayat fikih dan disodorkan sebagai penyempurna kitab Wasail al Syi’ah. Diantara kelebihan kitab ini adalah pada bagian penutup kitab ini, mencoba menerangkan serta memaparkan secara khusus kajian-kajian penting seperti pembelaan atas sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi dalam kitab ini.

30. Ayatullah Burujurdi (wafat 1380 H) salah seorang marja’ agung Syi’ah (periode baru ini) bersama para muridnya, dengan melihat adanya kekurangan-kekurangan pada kitab Wasail al Syi’ah, mencoba serta berhasil menyusun sebuah kitab hadits yang cukup komprehensif dalam beberapa jilid yang diberi nama Jami’ Ahadits al Syi’ah. Kitab ini terus berlanjut kendati beliau pun sudah wafat. Diantara ciri khas kitab ini adalah menyebutkan ayat-ayat ahkam, menyebutkan secara sempurna seluruh riwayat tanpa ada pemotongan, penjelasan tentang solusi atas riwayat-riwayat yang bertentangan, menjelaskan tentang perbedaan tulisan atau teks/naskah, pemisahan dan penataan secara sistematis riwayat-riwayat tentang adab-adab dan akhlak, doa-doa serta zikir-zikir, mencantumkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan fatwa dan kemudian riwayat-riwayat yang bertentangan atau berselisih dari sisi madlul (isi)-nya, menentukan tempat kembalinya dhamir (kata ganti) pada tempat-tempat tertentu, dan juga menjelaskan makna dari kata-kata yang dianggap sulit atau pun rumit.

31. Kitab al Wafi karya Mulla Muhsin Faidh Kasyani (wafat 1091 H) merupakan kitab hadits paling awal dan paling sempurna dimana seluruh riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah terdapat di dalam kitab ini dengan konsentrasi bahwa ia mencoba menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan secara berulang kali dalam Kutub al Arba’ah. Kitab ini terdiri dari 14 pasal. Motivasi beliau dalam menyusun kitab ini adalah menurut anggapannya, setiap dari Kutub al Arba’ah itu kurang begitu komprehensif dan juga adanya penakwilan yang tidak sesuai atas Tahzibain. Kitab Al Wafi, selain menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan berulang kali dan menyodorkan model baru sebuah kumpulan riwayat, juga mencakup penjelasan-penjelasan yang sangat bermanfaat serta transparan dari pihak penyusun dalam rangka menghilangkan adanya keburaman serta kekaburan pada riwayat-riwayat tersebut.

32. Jamaluddin Hasan bin Zainuddin (putra Syahid Tsani) (wafat 1011 H) salah seorang ulama dan mujtahid tersohor Syi’ah pada abad kesepuluh yang memiliki sekitar 12 karya dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Kitab Ma’alim al Din beliau masih tetap diajarkan di Hauzah-hauzah ilmiah. Dalam usaha beliau yang sangat berharga dimana mencoba membagi serta mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah kedalam dua kelompok, yaitu kelompok hadits-hadits yang dianggap sahih dan kelompok hadits-hadits yang dianggap hasan dan dari usaha ini beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang diberi nama Muntaqi al Jiman fii al Ahaditsi al Shihah wa al Hisan. Pada permulaan kitab, dalam kaitannya dengan 12 hal yang bermanfaat, penyusun telah memaparkan kajian serta bahasan yang sangat penting lagi berfaedah. Namun perlu diketahui bahwa sangat disayangkan kitab ini terhenti sampai pada bab Haji saja dan tidak sempat diselesaikan.

33. Hadits Syi’ah pada dua dekade, yaitu: 1) abad 5 sampai abad 10. 2) abad 12 dan 13, mengalami kemunduran dan stagnasi. Menjamurnya kajian dalam bidang fikih dan ijtihad menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stagnasi perkembangan hadits pada dekade ini. Gerakan kebangkitan dan pemulihan yang dilakukan kelompok Akhbari dibawah pimpinan Muhammad Amin Astar Abadi (wafat 1280 H) dan pendekatan yang dilakukan terhadap riwayat-riwayat tersebut, dapat mehidupkan kembali serta memberikan ruang gerak kepada ilmu hadits dan dengan kepergian Allamah Majlisi (wafat 1111 H) dan munculnya Wahid Bahbahani (wafat 1280 H) budaya dan tradisi yang berkembang pada hadits Syi’ah kembali mengalami stagnasi (?!).

34. Dari sejak abad 14 sampai pada masa kita sekarang, merupakan periode cemerlang dalam ilmu-ilmu hadits. Pada dekade sekarang, yang terjadi adalah munculnya pendekatan terhadap hadits dengan cara yang relatif modern dan baru, dimana poin-poin aslinya itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. penelitian mendalam dan kritis atas sejarah hadits.

2. terbatasnya ruang kajian dan telaah hadits.

3. kritik dan perbaikan riwayat-riwayat.

4. gerakan penyusunan kamus-kamus riwayat.

5. menghidupkan kembali peninggalan-peninggalan ulama terdahulu.

6. pendekatan orientalis terhadap hadits.

7. pemanfaatan teknologi software computer dalam penelitian hadits.

I. Pendahuluan

Kerasulan Nabi Muhammad saw. merupakan  upaya Tuhan dalam melaksanakan misi agama Islam dan sekaligus menjelaskan firman-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dari pribadinya muncul berbagai mutiara yang amat berhaga bagi perkembangan Islam yakni sunah dan atau hadis. Keberadaan hadis berkembang luas di dunia Islam dan tidak hanya menyebar di daerah Hijaz saja melainkan ke berbagai wilayah kekuasaan Islam yang telah meluas. Dari sini, menimbulkan berbagai kecenderungan dan keragaman atas sunnah dan hadis. Ada yang menjadi suatu tradisi dan bahkan ada yang hilang di telan zaman.  Terlebih jika dikaitkan dengan masalah kepercayaan atas ideologi tertentu, seperti  Syi’ah.

Sebagai salah satu aliran dalam Islam yang jumlahnya  sepuluh persen dari jumlah keseluruhan umat Islam  di dunia,  Syi’ah memiliki pemikiran yang berbeda dengan aliran lainnya. Ia identik dengan konsep kepemimpinan (imamah) yang merupakan tonggak keimanan Syi’ah.  Mereka hanya percaya bahwa jabatan Ilahiyah yang berhak menggantikan Nabi baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan hanyalah dari kalangan ahl al-bait. Keyakinan tersebut mewarnai kekhasan Syi’ah di samping adanya konsep lain seperti ismah dan mahdi.

Kajian atas hadis-hadis di kalangan Sunni telah banyak dilakukan oleh para pemikir hadis. Sementara dalam khazanah yang sama di dalam tradisi Syi’ah juga dikenal berbagai kitab hadis yang disusun dengan berbagai epistemologinya. Paling tidak di kalangan Syi’ah terdapat empat kitab pokok pegangan dan salah satunya yang sedang dibahas yakni al-Kafi.

Makalah ini akan berupaya meyorot kitab hadis al-Kafi  dengan pembahasan tentang anatomi kitab secara utuh dan berbagai respon umat Islam atas kelahiran kitab tersebut. Namun sebelum membahas hal tersebut, kajian ini akan membahas berbagai latar dan setting historis penulis dan situasi kelahiran kitab al-Kafi . Upaya tersebut sangat diperlukan untuk memberikan analisis yang memadai dan lebih komprehensif

.
II. Sketsa Historis: Pengarang dan Kelahiran Kitab

Diskursus hadis dalam ilmu keislaman telah berkembang luas seiring dengan dirasa pentingnya pentadwinan (kodifikasi)  dan pelestarian hadis dari upaya pemalsuan.  Dalam sejarahnya, studi hadis memunculkan berbagai kegiatan ulama dalam pencarian epistemologi ilmu hadis dan beberapa kaidah kesahihan dalam menilai suatu hadis.  Diawali sejak kelahiran sampai abad ke-14 H., studi hadis mengalami berbagai  dinamika pasang surut.

Masa Rasulullah saw. merupakan masa pewahyuan dan pembentukan masyarakat Islam (as}r al-wahyi wa al-takwin).  Di dalamnya, hadis-hadis diwahyukan oleh Nabi Muhammad saw. yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad saw. dalam membina masyarakat Islam. Keberadaan hadis terus dijaga oleh sahabat, orang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. dengan cara menyedikitkan periwayatan dan pemateriannya. Oleh karena itu, masa tersebut dikenal dengan as}r al-tas|abut wa iqlal min al-riwayah.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya abad ke-3 sampai abad ke-5 H., hadis-hadis Nabi Muhammad saw. terbukukan dalam berbagai kitab hadis dengan berbagai metode penulisannya.  Oleh karena itu, ulama pada abad-abad tersebut disebut dengan ulama mutaqaddimin karena telah berusaha mencari hadis ke berbagai daerah dan membukukannya.

Sementara di kalangan Syi’ah didapatkan kenyataan lain, permasalahan penulisan hadis tidak menjadi suatu problem yang serius. Kitab hadis pertama adalah Kitab Ali ibn Abi Talib yang di dalamnya memuat hadis-hadis yang diimla’kan langsung dari Rasulullah saw. tentang halal haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubti al-Syi’i dalam kitab al-sunan, al-ahkam dan al-qad}aya.

Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab.  Salah satunya adalah al-Kafi fi ilm al-Din yang di kalangan Syi’ah merupakan kitab pegangan utama di kalangan mazhab Syi’ah. Setidaknya terdapat empat kitab pokok yang beredar dalam mazhab ahl al-bait. Keempat kitab hadis tersebut adalah al-Kafi , man la yahduruh al-faqi>h, tahzi>b al-ah}ka>m, dan al-istibs}ar fi ma ukhtulifa min Akhbar.

Al-Kafi dikarang oleh S|iqat al-Islam, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi.  Beliau dilahirkan di sebuah dusun Kulain  di Ray Iran dan oleh karenanya ia disebut dengan al-Kulaini atau al-Kulini.   Tidak banyak keterangan yang didapat dari berbagai buku sejarah mengenai kapan pengarang kitab al-Kafi  tersebut dilahirkan. Informasi yang ada hanya tentang tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran, yaitu pernah mendiami Bagdad dan Kufah.  Selain itu, tahun kewafatannya, yaitu tahun 328 H dan atau 329 H. (939/940 M.).  al-Kulaini dikembumikan di pintu masuk Kufah.

Ayah al-Kulaini, Ya’qub bin Ishaq adalah seorang tokoh Syi’ah terkemuka dan terhormat di Ray Iran.  Masyarakat sering menyebut ayahnya dengan nama al-Salsali.   Banyak ulama yang lahir di kota ini, seperti paman al-Kulaini  ; Abu al-Hasan Ali ibn  Muhammad, Ahmad ibn  Muhammad, Oleh karena itu, tak heran kalau al-Kulaini  kecil ditempa pendidikannya di kota tersebut. Darah biru  dan kemahirannya dalam bidang agama membawanya kepada kesuksesan.

Dalam berbagai kitab diungkap bahwa pada masa kecilnya al-Kulaini  semasa dengan imam Syi’ah kedua belas al-Hasan al-Askari (w. 260 M.).   Argumen tersebut dapat diperkuat juga oleh al-Taba’taba’i atas diriwayatkan hadis dari ulama yang sezaman dengan tiga imam seperti al-Rida, al-Jawad dan al-Hadi.

Al-Kulaini juga hidup semasa dengan empat wakil imam ke dua belas (sufara’ al-arba’ah) yaitu Imam Muhammad ibn Hasan. Asumsi tersebut berdasarkan atas masa hidup mereka yang diperkirakan berusia 70 tahun sekitar tahun 330 H. Sementara umur al-Kulaini wafatnya tidak sampai pada tahun tersebut.

Masa hidup penulis kitab, al-Kulaini adalah pada masa Dinasti Buwaihiyah (945-1055 M.). Pada masa tersebut merupakan masa  paling kondusif bagi elaborasi dan standarisasi ajaran Syi’ah dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Masa-masa sebelumnya merupakan masa-masa sulit bagi Syi’ah untuk mengembangkan eksistensinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertikaian antara kaum Sunni dengan Syi’ah. Bahkan, untuk melacak sosok al-Kulaini dalam perjalanan hidupnya pada paruh pertama sangat sulit untuk dilakukan. Kota Ray, tempat kelahiran dan tumbuh besar di masa awal al-Kulaini> kecil porak poranda akibat pertentangan tersebut. Oleh karena itu, banyak pengikut Syi’ah yang melakukan taqiyah (menyembunyikan identitas diri) agar selamat dari kejaran kaum Sunni.

Pribadi al-Kulaini merupakan pribadi yang unggul dan banyak dipuji oleh ulama. Bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini. Ia merupakan pribadi yang dapat dipercaya dari segi agama dan pembicaraannya. Al-Bagawi memasukkan nama al-Kulaini sebagai mujaddid yang datang diutus oleh Allah dalam setiap tahunnya ketika mengomentari hadis tersebut.  Sementara Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal di mana ia adalah seorang faqih seklaigus sebagai muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan.

Dalam pada itu, Ibn al-Asir mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan salah satu pemimpin Syi’ah dan ulama’nya. Sementara Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’qub al-Razi mengatakan bahwa al-Kulaini termasuk imam mazhab ahl al-bait, paling alim dalam mazhabnya, mempunyai keutamaan dan terkenal.   Masih dalam konteks tersebut, al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan fuqaha’ Syi’ah. Muhammad Baqir al-Majlisi dan Haan al-Dimstani mengungkap bahwa al-Kulaini ulama yang dapat dipercaya dan karenanya dijuluki dengan s|iqat al-Islam.

Pujian lain juga dikemukakan oleh al-Tusi yang mengatakan bahwa sosok al-Kulaini dalam kegiatan hadis dapat dipercaya (s|iqat) dan mengetahui banyak tentang hadis. Penilaian senada juga diungkapkan oleh al-Najasyi yang mengatakan bahwa al-Kulaini adalaah  pribadi yang paling siqat dalam hadis.

Sementara di kalangan Syi’ah, sosok al-Kulaini tidak diragukan lagi kapasitasnya, ia merupakan orang yang terhormat. Di antara kitabnya yang sampai pada kita saat ini adalah al-Kafi  yang dibuat selama 20 tahun.  Al-Kulaini melakukan perjalan pengembaraan (rihlah) ilmiah untuk mendapatkan hadis ke berbagai daerah. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi al-Kulaini> adalah irak, Damaskus, Ba’albak, dan Taflis.  Apa yang dicari al-Kulaini tidak hanya hadis saja, ia juga mencari berbagai sumber-sumber dan kodifikasi-kodifikasi hadis dari para ahli hadis sebelumnya.   Dari apa yang dilakukan, nampak bahwa hadis-hadis yang ada dalam al-Ka>fi>  merupakan sebuh usaha pengkodifikasian hadis secara besar-besaran.

Keberadaan al-Kafi  di antara kitab hadis lain al-kutub al-arbaah adalah sangat sentral. Ayatullah Ja’far Subhani melukiskannya dengan matahari dan yang lainnya sebagai bintang-bintang yang bertebaran menghiasi langit.   Bahkan, telah menjadi kesepakatan di antara ulama Syi’ah atas keutamaan kitb al-Kafi  dan berhujjah atasnya.

Sebagai sorang ahli hadis, al-Kulaini> mempunyai banyak guru dari kalangan ulama ahl al-bait  dan murid dalam kegiatan transmisi hadis. Di antara guru al-Kulaini adalah Ahmad ibn Abdullah ibn Ummiyyah, Ishaq ibn Ya’qub, al-Hasan ibn Khafif, Ahmad ibn Mihran, Muhammad ibn Yahya al-At}t}ar, dan Muhammad ibn ‘Aqil al-Kulaini.  Sedangkan murid-murid dari al-Kulain antara lain Abu al-Husain Ahmad ibn Ali ibn Said al-Kufi, Abu al-Qasim Ja’far ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Hasan ibn al-Jahm ibn Bakr, Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Asim al-Kulaini, dan Abu Muhammad Harun ibn Musa ibn Ahmad ibn Said ibn Said.

Karya-karya yang dihasilkan oleh al-Kulaini> adalah:

1.    Kitab Tafsir al-Ru’ya

2.    Kitab al-Rija>

3.    Kitab al-Rad ala al-Qaramitah

4.    Kitab al-Rasa’il : Rasa’il al-Aimmah alaih al-salam

5.    Al-Kafi

6.    Kitab ma Qila fi al-Aimmah alaih al-salam min al-Syi’r.

7.    Kitab al-Dawajin wa al-Rawajin

8.    Kitab al-Zayyu wa al-Tajammul

9.    Kitab al-Wasail

10.    Kitab al-Raudah

Tiga kitab terakhir dapat ditemukan dalam kitabnya al-Kafi oleh sebab itu, ulama banyak yang tidak menyebutnya sebagai kitab sendiri. Namun, Ibn Syahr Aasyub menyebutkannya secara terpisah dan karenanya tetap disebutkan sebagai karya-karya beliau sebagaimana dengan kitab lainnya.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dan kemanfaatan karya al-Kulaini. seperti Syaikh Mufid dalam Kitabnya Syarh Aqa’id al-Sadiq.  Hal senada juga diungkap oleh al-Kurki dalam ijazahnya al-Qadi Syafi al-Din ‘Isa bahwa belum pernah ditemukan seorang pun yang menulis seperti penyusun al-Kafi.   Sedangkan  al-Majlisi menganggap apa yang dilakukan oleh al-Kulaini> adalah upaya sungguh-sungguh dari penulis yang handal yang dapat menghasilkan karya terakurat dan komprehensif dari golongan yang selamat (najiyyah).

Dari beberapa pujian dan sanjungan atas al-Kulaini dan kitabnya di atas menunjukkan bahwa al-Kafi  merupakan hasil terbaik yang dihasilkan oleh generasi yang terbaik. Oleh karena itu, wajar jika dikemudian hari kitab tersebut dijadikan rujukan primer di kalangan Syi’ah

.
III. Al-Kafi : Isi, Sistematika dan Metode

Al-Kafi  merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (us}ul), cabang-cabang (furu’) dan sebagainya yang jumlahnya sekitar 16.000 hadis. kitab tersebut menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan.  Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyu>n.

Pengarangnya, al-Kulaini (w. 328 H./939 M.) adalah seorang ulama Syi’ah terkenal dan termasuk generasi ahli hadis ke empat.   Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun. Melihat banyaknya hadis yang dihimpun dan materi bahasannya, maka ada anggapan di kalangan Syi’ah bahwa segala persoalan keagamaan sudah dibahas di dalam kitab al-Ka>fi dan oleh karenanya ijtihad tidak diperlukan lagi. Hal tersebut sesuai dengan namanya, al-Ka>fi> identik dengan koleksi hadis-hadis tentang berbagai persoalan keagamaan.

Menurut al-Khunsari, secara keseluruhan hadis-hadis dalam al-Kafi  berjumlah 16.190 hadis. Sementara dalam hitungan al-Majlisi 16121, Agha Buzurg al-Tihrani sebanyak  15.181 dan Ali Akbar al-Gaffari: 15.176. Al-Kafi  terdiri atas delapan jilid, dua jilid pertama berisi tentang al-us}ul (pokok), lima jilid sesudahnya berbicara tentang al-furu’ (cabang-cabang) dan satu juz terakhir berbicara tentang al-rawdah. Distribusi masing-masing jilid, bab dan hadis yang berada dalam tiap jilidnya dapat dilihat dalam pembahasan berikutnya.

Secara keseluruhan distribusi hadis-hadis dalam tiap jilidnya adalah: jilid I memuat 1437 hadis, jilid II memuat 2346 hadis, jilid III memuat 2049 hadis, jilid IV memuat 2443 hadis, jilid V memuat 2200 hadis, jilid VI memuat 2727 hadis, jilid VII memuat 1704 hadis dan jilid VIII memuat 597 hadis. Dengan demikian jumlah keseluruhan hadis-hadis dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini sebanyak 15.503 hadis. terdapat selisih  618 hadis dan kemungkinan hadis tersebut tidak terhitung disebabkan matannya satu dan sanadnya berbilang.   Hitungan tersebut dilakukan oleh al-Majlisi, ulama yang banyak mengkaji al-Kafi karya al-Kulaini.

Pembagian tema-tema dapat dilihat dalam pembahasan di bawah ini.

Pertama, al-us}ul (8 bagian):

[1] kitab al-akl wa al-jahl (akal dan kebodohan) di dalamnya dibahas hadis-hadis tentag perbedaan teologis antara akal dan kebodohan.

[2] kitab fadl al-ilm (keutamaan ilmu), di dalamnya diuraikan tentang  metode pendekatan ilmu tradisional Islam, metode menilai kebenaran materi subyek hadis. di samping itu, dimuat pula hadis-hadis tentang gambaran hadis dari imam dan alasan-alasan menentang penggunaan opini pribadi (rasio) dan analogi.

[3] kitab al-Tawhid (kesatuan), di dalamnya dibahas berbagai persoalan tentang teologi ketuhanan.

[4] kitab al-hujjah (bukti-bukti), membahas tentang kebutuhan umat manusia akan hujjah. Hujjah ini diperoleh dari para nabi. Namun, seirig dengan wafatnya para nabi, maka keberadannya digantikan para imam mereka. Dengan demikian, hujjah di sini adalah imam.

[5] kitab al-Iman wa al-Kufr (keyakinan dan kekufuran), di dalamnya dibahas  hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan dan pengingkaran, pilar-pilar Islam dan perbedaan  yang significant antara iman dan Islam.

[6] kitab al-Du’a (doa), doa-doa yang dicantumkan dalam bagian ini hanyalah doa-doa yang berbeda dengan doa-doa yang ada dalam salat yang sifatnya pribadi. Doa semacam itu kebanyakan dianjurka oleh para imam  mereka.

[7] kitab al-fadl al-Qur’an (keutamaan al-Qur’an) di dalamnya dibahas tentang keuntungan-keuntungan yang didapat bagi para pembaca al-Qur’an dan beeberapa teknik membacanya.

[8] kitab al-Isra’ (persahabatan) di dalamnya ditegaskan tentang hubungan dengan Tuhan di dalamnya mencakup hubungan dengan sesama manusia.

Kedua, al-furu’ (cabang-cabang), yang berisikan tentang berbagai persoalan tentang hukum Islam yang dimulai dari cara bersuci sampai masalah penegakan keadilan melalui jalur peradilan. Berikut ini cuplikan bab-bab yang dibahas dalam bagian al-furu yang dimuat dalam lima juz.

[1] kitab al-t}aha>rah, yang berisi cara bersuci

[2] kitab al-haid (menstruasi)

[3] kitab al-janaiz, berkenaan dengan pemakaman dan ahal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan.

[4] kitab salat yang menguraikan tentang cara-cara salat  dan salat sunnah

[5] kitab zakat

[6] kitab siyam

[7] kitab al-hajj

[8] kitab al-jihad

[9] kitab al-Maisyah (cara-cara memperoleh penghidupan)

[10] kitab munakahat (pernikahan)

[11] kitab aqiqah

[12] kitab al-t}alaq (perceraian)

[13] kitab al-‘itq wa al-tadbir wa al-khatibah, jenis-jenis budak dan cara memer-dekakannya.

[14] kitab al-sayd (perburuan)

[15] kitab al-zabaih (penyembelihan)

[16] kitab al-at’imah (makanan)

[17] kitab al-asyribah (minuman)

[18] al-ziq wa al-tajammul wa al-muru’ah (pakaian, perhisaan dan kesopanan)

[19] kitab dawajin (hewan priaraan)

[20] kitab al-wasaya (wasiat), waris  khusus

[21] kitab al-mawaris, waris yang sifatnya biasa

[22] kitab al-hudud, keadaan dan cara  menghukum .

[23] kitab al-diyat, hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik.

[24 kitab al-syahadat, kesaksian dalam kasus-kasus hukum.

[25] kitab al-qada’ wa al-ahkam, berisikan hadis-hadis tentang peraturan tingkah laku para hakim  dan syarat-syaratnya.

[26] kitab al-aiman wa al-nuzur wa al-kaffarat, berkenaan dengan hadis-hadis tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal.

Ketiga, al-Rawdah: kumpulan minat keagamaan, beberapa surat dan khutbah imam. Sistemnya tidak seperti dua bagian sebelumnya. Bagian terakhir dari kitab al-Kafi  ini dimuat dalam satu jilid yakni jilid kedelapan.

Seacara terperinci jumlah hadis dan distribusinya  dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

JILID    BAGIAN/KITAB    BAB     HADIS

I    Usul/4: al-akl wa jahl s/d al-hujjah     71    1440

II    Usul/4: al-iman wa al-kufr  s/d al-usrah    258    2346

III    Furu’/5: taharah s/d zakat    313    2079

IV    Furu’/2: Syiyam s/d al-hajj    362    2190

V    Furu’/3: al-Jihad s/d al-Nikah    382    2200

VI    Furu’/9: al-Aqiqah s/d al-Dawajin    424    2665

VII    Furu’/7: al-Wasaya s/d al-Aiman     287    1708

VIII    Al-Raudah/1    1    597
Hadis-hadis tersebut di atas setelah diteliti oleh al-‘Allamah al-Hilli (w. 598 H.) dan al-Majlisi dengan menggunakan kaedah ‘Ulum al-H}adis|, maka hadis-hadis dalam al-Kafi  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.    5.072 hadis sahih},

2.    144 hadis hasan

3.    1.128 hadis muwassaq

4.    302 hadis qawi (kuat),

5.    9.485 hadis da’if.

Dari klasifikasi hadis di atas, nampak bahwa di kalangan mazhab Syi’ah terdapat perbedaan dengan di kalangan Sunni. Secara umum, hadis di mazhab Syi’ah terbagi atas empat macam yakni hadis s}ah}ih}, hadis hasan, hadis muwas|s|aq  dan hadis da’if.   Istilah hadis muwassaq digunakan atas periwayat yang rusak aqidahnya. Demikian juga atas istilah-istilah lain diselaraskan dengan keyakinan mereka, seperti dalam memaknai hadis s}ah}ih} yaitu hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang maksum.

Hadis-hadis yang da’if  (hadis yang tidak memeuhi kriteria dalam tiga klasifikasi sebelumnya) bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis yang s}ah}ih} manakala hadis tersebut populer dan  sesuai dengan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah  atau menurut pendapat ulama hadis tersebut dapat diamalkan.

Dari pembahasan singkat di atas, nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di lingkungan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradis Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalmnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja melainkan memasukkan hal-hal  lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. dan para imam mereka.

Hal yang penting diperhatikan bahwa hujjah keagamanan di kalangan Syi’ah tidak serta merta berakhir dengan kewafatan Nabi Muhammad saw. dan terus berjalan ke wakil beliau sampai imam kedua belas. Dari sinilah baru wahyu berhenti. Pada perkembangannya, semua masalah keagaaman kemudian dituangkan dalam kitab standar, termasuk di dalamnya adalah al-Ka>fi> .

Kekhasan lain yang dapat dijumpai dalam al-Kafi  adalah fenomena peringkasan sanad.   Sanad sebagai mata rantai jalur periwayat hadis dimulai dari sahabat sampai ulama hadis terkadang ditulis lengkap dan terkadang membuang sebagian sanad atau awalnya  dengan alasan atas beberapa konteks tertentu. Seperti ketika al-Kulaini telah menulis lengkap sanad pada hadis yang dikutip di atas hadis yang diringkas. Demikian juga, al-Kulaini kadang meringkas dengan sebutan dari sejumlah sahabat kita (ashabuna), dari fulan dan seterusnya. Adapun maksud tersebut tidak lain adalah sejumlah periwayat yang terkenal. Demikian juga dengan kata-kata ‘iddah (sejumlah) dan jama’ah (sekelompok) yang dapat menunjukkan upaya peringkasan sanad

Jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali ibn Ibrahim, Ali ibn Muhammad Abdullah Ahmad ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali ibn al-Husain al-Sa’dabadi.

Demikian juga jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat dari Sahl ibn Ziyad, maka yang dimaksud tidak lain adalah Muhammad ibn Hasan dan Muhammad ibn Aqil. Apabila al-Kulaini menyebut dari sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, maka maksudnya adalah Muhammad ibn Yahya, Ali ibn Musa al-Kamandani, Dawud ibn Kawrah, Ahmad ibn Idris, dan Ali ibn Ibrahim.   Mereka semua adalah periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh al-Kulaini dan oleh karenanya jika telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, biasanya tidak ditulis lagi dalam hadis beriutnya dengan alasan tidak memperpanjang tulisan.

Fenomena lain yang dapat dijumpai ialah keberadaan periwayat hadis  dalam al-Kafi bermacam-macam sampai para imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan nilai hadis yang dibawakan antara para pemuka hadis Syi’ah dengan selain Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

Demikian juga terhadap sumber hadis, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah saw., maka imam-imam di mazhab Syi’ah  dapat mengluarkan hadis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa surat-surat, khutbah  dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama  didudukkan setara dengan hadis. Hal tersebut nampak dari apa yang dilakukan al-Kulaini yang ditampilkan dalam juz terakhir yang disebut dengan al-rawdah.
IV. Respon Umat Islam terhadap al-Kafi

Kitab hadis al-Kafi  merupakan khazanah kitab hadis yang masih terpelihara sampai saat ini dan merupakan produk ulama abad ke-3 H.  pengarangnya merupakan ulama ahli hadis generasi keempat setelah generasi pertama al-Tusi dan  al-Najasyi, kedua Syekh al-Mufid dan Ibn al-Gadari’i, ketiga al-Saduq dan Ahmad ibn Muhammad.

Banyak ulama yang menilai positif adanya kitab al-Kafi  dan sekaligus memberikan syarah penjelas atas kitab tersebut. di antara karya-karya ulama adalah:

1.    Jami’ al-Ah}adis wa al-Aqwal karya Qasim ibn Muhammad ibn Jawad ibn al-Wandi (w. 1100 H.).

2.    Al-Dur al-Mandum min Kalam al-Ma’sum karya Ali ibn Muhammad al-Hasan ibn Zaid al-Din (w. 1104 H.) masih berupa tulisan tangan, dan naskah tersebut telah disempurnakan keslaahan-kesalahannya oleh Muhammad Miskah Perguruan Tinggi Teheran.

3.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh al-Ah}adis| al-Imamiyah karya Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini (w. 11040 H.) telah dicetak di Teheran Iran.

4.    Al-Syafi karya Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini (w. 1089 H.) masih dalam bentuk naskah dan disimpan di perpustakaanMuhammad Miskah.

5.    Syarh al-Mizan karya Rafi al-Din Muhammad al-Naini (w. 1082 H.).

6.    Syarh al-Maula Sadr karya al-Syairazi (w. 1050 H.).

7.    Syarh karya Muhammad Amin al-Istirabadi al-Ahbari (w. 1032 H.).

8.    Syarh Maula Muhammad Salih al-Mazandarani (w. 1080 H.).

9.    Kasy al-Kafi karya Muhammad ibn Muhammad

10.    Mir’at al-Uqul fi Syarh al-Ahbar Alu al-Rasul karya Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi (w. 1110 H.) diterbitkan di Teheran tahun 1321 H. terdiri atas empat jilid.

11.    Hady al-Uqul fi Syarh Ahadis al-Usul karya Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Abd al-Jabbar al-Qatifi, masih dalam bentuk naskah dan terimpan di madrasah ali….

12.    Al-Wafi karya al-Kasani (w. 11091 H.) dicetak tahun 1310 dan 1324 H. dalam tiga jilid.

Sedangkan kitab-kitab H}asyiyah  atas al-Kulaini adalah:

1.    H}asyiyah  al-Syaikh Ibrahim ibn al-Syaikh al-Qasim al-Kadimi

2.    H}a>syiyah  Abi al-Hasan al-Syarif al-Futuni al-Amili (w. 1132 H.).

3.    H}a>syiyah  al-Sayyid al-Miz Abi Talib ibn al-Mirza Bik al-Fundursaki.

4.    H}a>syiyah  al-Syaikh Ahmad ibn Ismail al-Jazairi (w. 1149 H.).

5.    H}asyiyah  al-Sayyid Badr al-Din Ahmad al-Ansari al-Amili.

6.    H}asyiyah Muhammad Amin ibn Muhammad Syarif al-Istarabadi al-Ahbari (w. 11036 H.).

7.    H}asyiyah  Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi.

8.    H}asyiyah  Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini

9.    H}asyiyah  Muhammad Husain ibn Yahya al-Nawri

10.    H}asyiyah  Haidar Ali ibn al-Mrza Muhammad ibn Hasan al-Syairazi.

11.    H}asyiyah  al-Maula al-Rafi’ al-Jailani.

12.    H}asyiyah  al-Sayyid Syibr ibn Muhammad ibn Sanwan al-Hawizi.

13.    H}asyiyah  al-Sayyid Nur al-Din Ali ibn Ali al-Hasan al-Mausawi al-Amili

14.    H}asyiyah  al-Syaikh Zain al-Din abi al-Hasan Ali ibn Hasan

15.    H}asyiyah  al-Syaikh Ali al-Sagir  ibn Zain al-Din ibn Muhammad ibn Husain ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

16.    H}asyiyah al-Syaikh Ali al-Kabir  ibn Muhammad al-Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

17.    H}asyiyah  al-Syaikh Qasim ibn Muhammad Jawad al-Kadimi (w. 1100 H.)

18.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani yang terkenal dengan al-Syaikh al-Sabt al-Amili (w. 1030 H.).

19.    H}asyiyah al-Mirza Rafi’ al-Din Muhamamd ibn Haidar al-Naini (w. 1080 H.).

20.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Qasim al-Kadimi.

21.    H}asyiyah  Nizam al-Din ibn Ahmad al-Distaki.

Di samping upaya  ulama di atas, ada juga ulama yang meringkas kitab hadis tersebut seperti yang dilakukan Muhammad Ja’far ibn Muhammad Safi al-Na’isi al-Farisi (masih dalam bentuk naskah danntersimpan di perpustakaan)    dan menerjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa Parsi seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali ibn al-Haj Muhammad Hasan al-Ardkani dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Auliya’, Syaikh Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini dalam kitabnya yang berjudul al-S}afi Syarh Usul al-Kafi yang telah dicetak tahun 1308 H./1891 M. dalam dua jilid, dan Syarh Furu’ al-Kafi masih dalam bentuk tulisan tangan dan naskahnya tersimpan di perpustakaan Muhammad al-Miskah.

Di samping itu, terdapat ulama yang hanya menysrah sebagian dari hadis-hadis dalam al-Kafi seperti yang dilakukan oleh Baha’ al-Din Muhammad ibn Baqir al-Hasani al-Mukhtari al-Na’ini al-Asfahani dalam kitabnya H}asyiyah al-Faljah fi Syarh} Hadis al-Farjah dan Sayyid Hasan al-Sadr (w. 1324 H.), dalam kitabnya Hidayah al-Najdain wa Tafsil al-Jundain Risalah fi Hadis al-Kafi fi Junud al-Aql wa Junud al-Jahl.

Karya lain yang dapat ditemuan dan disandarkan kepada al-Kafi  adalah kitab dalam bentuk penyuntingan atau penelitian. Adapun kitab-kitabnya adalah:

1.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh Ahadis al-Imamiyah oleh al-Danad.

2.    Rumuz al-Tafasir al-Waqi’ah fi al-Kafi wa al-Raudah oleh Maula Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini.

3.    Nizam al-Aqwal  fi Ma’rifat al-Rijal Rijal al-Kutub al-Arba’ah oleh  Nizam al-Din Muhammad ibn al-Husain al-Qarsyi al-Sawiji

4.    JaImam Syam Al-din  Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Us|man al-Z|ahabi, Mizan al-I’tidal. Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.),’ al-Ruwat oleh al-Ardabili

5.    Risalat al-Akhbar wa al-Ijtihad fi Sihhat Ahabar al-Kafi  oleh  Muhammad Baqir ibn Muhammad Akmal al-Bahbahani.

6.    Ma’rifat Ahwal al-Iddah allaz|ina yarwi anhum al-Kulaini oleh Muhammad Baqir al-Safti (w. 1260 H.) dicetak tahun 1314 H. di Teheran.

7.    Al-Fawa’id al-Ka>syifah an Silsilah wa Asma’ fi Ba’d Asa>nid al-Ka>fi> oleh Muhammad Husain al-Taba’taba’i al-Tibrizi.

8.    Tarjamah Ali ibn Muhammad al-Mabdu’ ba’d Asanid al-Kafi oleh Mirza abi al-Ma’ali ibn al-Haj Muhammad Ibrahim ibn al-Haj Muhammad al-Kakhi al-Khurasani al-Asfahani  (w. 1315 H.).

9.    Al-Bayan fi Badi’ fi anna Muhammad ibn Isma’Islam al-Mabdu’ dih fi Asanid al-Kafi  oleh Hasan al-Sadr wafat 11 Rabiul Awal 1354 H.

10.    Rijal al-Kafi  oleh al-Sayyid Husain al-Taba’taba’i al-Burujurdi.

Kitab al-Kafi  telah mengalami beberapa kali cetak. Usul al-Kafi di cetak lima kali yakni Syiraz tahun 1278 H., Tibriz tahun 1281 H, Teheran tahun 1311 H. dalam berbagai versi 627 halaman, dan 468 halaman. Kemudian dicetak ulang tahun 1374 H. Sedangkan   Furu’ al-Kafi  dicetak di Teheran tahin 1315 H. dalam dua jilid yang terdiri masing-masing 427 dan 375 halaman. Sedangkan dalam percetakan Dar al-Kutub al-Islamiyyah dalam lima jilid.  Adapun bagian terkhir dari al-Kafi , al-Raudah dicetak di Tehran tahun 1303 H. dalam 142 halaman.

Kajian-kajian kontemporer atas kitab al-Kafi  bermunculan. Seperti pembahasan secara umum atas kitab al-Kafi  dan disandingkan dengan tiga kitab hadis lainnya yang beredar di Syi’ah dan menjadi rujukan utama ulama akhbariyun  dikaji oleh IKA Howard.  Pembahasannya hanya sekilas dan hanya sebatas mendeskripsikan tema-tema pembahasan hadis-hadis di kalangan ahl bait terutama dalam keempat kitab pokok hadis pegangan mazhab Syi’ah berikut sejarah ringkasnya.

Dari segi ulum al-hadis, ada sebuah penelitian yang menyandarkan pada al-Kafi al-Kulaini yaitu: Hasyim Makruf al-Hasani yang berjudul Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi.   Objek kajiannya hadis-hadis dalam kitab al-Kafi dengan mendudukkan dan menilai kehujjahan hadis-hadis di dalam kitab tersebut. Tidak ada pembahasan secara spoesifik terhadap isi dari kitab  al-Kafi . Demikian juga dengan yang dilakukan oleh Ayatullah Ja’far Subhani. Dalam kitab rijal al-h}adis|-nya, ia menjelaskan tentang pertimbangan hadis-hadis mazhab Syi’ah dalam  al-Kutub al-Arba’ah, al-Kafi .  Pembahasan yang dilakukan hanya sebatas mengumpulkan berbagai pendapat ulama Syi’ah dan kadang-kadang-kadang dari ulama Sunni tentang sosok kitab al-Kafi  dan pengarangnya.

Sedangkan literatur yang berdasarkan tema tertentu atas kitab al-Kafi  dijumpai dalam buku kecil setebal 164 halaman yang berjudul Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi karya Husein al-Habsyi.  Namun, yang dilakukan oleh penulis kitab yang ringkas ini hanya sebatas menghadirkan teks-teks hadis tentang akal dan menerjemahkannya serta menelaah sedikit dalam menanggapi hadis per hadis.  Dengan demikian, nampak pembahasannya disesuaikan dengan kitab asalnya dengan tanpa perubahan sedikitpun.

Dari berbagai upaya di atas, nampak bahwa keberadaan kitab al-Kafi   dalam tradisi Syi’ah amat kuat dan kokoh. Al-Ka>fi>  merupakan kitab pokok dan menjadi rujukan utama atas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di antara masyarakat Syi’ah. bahkan pada golongan tertentu menganggap segala persoalan telah tercover di dalam kitab tersebut sebagaimnana yang digagas oleh kaum akhbariyun. Nampaknya, apa yang dilakukan kaum Syi’ah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sunni terhadap kitab hadis S}ah}ih} al-Bukhari

.
V. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kitab hadis al-Kafi  dikarang oleh seorang bermazhab Syi’ah. kitab tersebut dijadikan rujukan utama di kalangan Syi’ah di samping tiga kitab lainnya. Pengarangnya, al-Kulaini merupakan sosok yang ulet dan pengembara keilmuan dan telah menjelajahi berbagai wilayah guna mencari hadis. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam al-Kafi  terdapat 16.000 buah hadis yang disusun selama 20 tahun.

Prestasi tersebut mengungguli kitab S}ah}ih} al-Bukhari yang ditulis selama 16 tahun dan memuat sekitar 7000 hadis.  al-Kafi  merupakan kitab hadis membahas berbagai persoalan agama yang dimulai dari kitab al-as}l, al-furu’ dan al-rawdah. Keragaman materi nampak dalam karya tersebut karena tidak saja membahas masalah furu’ saja melainkan membahas masalah al-as}l dan al-rawdah yang didalamnya membahas masalah pokok-pokok agama dan minat keagamaan para imam. Kontribusi yang sangat berharga yang disumbangkan al-Kulaini adalah penghimpunan hadis dalam sebuah kitab dan prisnip biarkan hadis berbicara sendiri. Upaya tersebut berkonsekwensi jauh tentang kualitas hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi . tidak semua hadis di dalam kitab tersebut bernilai sahih, melainkan bervariasi dan bahkan ada yang da’if

.
DAFTAR PUSTAKA
Azami, M.M. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya Terj. Ali Mustafa Ya’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Eliade, Mircea (Ed.), The Encyclopedia of Relkegion, Vol 6. New York: Macmillan Publishing Company, 1897.

Esposito, John L. Ensiklopedi Islam Modern, juz V. Bandung: Mizan, 2001.

Al-Gita’, As}l al-Syi’ah wa Us}uluha Kairo: Maktabah al-Arabiyah, 1957.

al-Gifari, Abd al-Rasul Abd al-Hasan. al-Kafi wa al-Kulaini.  Qum: Mu’assasah al-Nasyr al-Islami, 1416.

Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam Ringkas terj. Gufran A. Mas’adi. Jakarta:  Rajawali Press, 1999.

Al-Habsyi, Husein. Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi.  Bangil: Yayasan Pesantren Islam, 1994.

Al-Hasybi, Ali Umar. Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini. Bangil: YAPI, t.th.

Al-Hadiy, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Abd al-Qadir ibn Abd. T}uruq takhrij al-h}adis Rasulullah saw.  Mesir: Dar al-I’tisam, t.th.

Hasani, Hasan Ma’ruf. Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi, Jurnal al-Hikmah, No. 6, Juli-Oktober 1992,

Hasyim,  al-Husain Abd al-Majid. Us}ul al-H}adis| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih Mesir: Dar al-Syuruq, 1986.

Howard, IKA “al-Kutub al-Arbaah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab Ahl al-Bait”, dalam Jurnal Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol II, No, 4, 2001

Ibn Khaldun, Muqddimah. Cet. IV; Beirut: Dar al-Kurub al-Ilmiyyah, 1978.

Ismail, M. Syuhudi. Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press, 1995

‘Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-H}adis|. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Al-Kulaini, Usul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Gifari, juz I Teheran: Da>r al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Shahab, Husein. Pergeseran antara Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat: Perspektif Fiqih dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 6 Juli-Oktober 1992.

Shaukat, Jamila. “Classification of Hadith Literature”, Islamic Studies, Vol 24, No. 3, Juli-September 1985.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah Perkembangan Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Siddiqi, Muhammad Zubayr. “Hadith A Subject of Keen Interest” dalam Muhammad Zubayr Shiddiqi, et.al, Hadith and Sunnah Ideals and Realities. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1996.

Subhani, Ja’far Us}ul al-Hadis| wa Ahkamuh fi ‘Ilm al-Dirayah. Qum: Maktabah al-Tauhid, 1414

———-Kulliyat fi Ilm al-Rijal . Beirut: Dar al-Mizan, 1990.

Subki, Ah}mad Muh}ammad. Nazariyat al-Imamat lada al-Syi’ah Isna Asyariyah Tahlil al-Falsafi li al-Qaidah Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th.

Al-Syahrastani, al-Milal  wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
1. Atas usaha yang dilakukan oleh Ahlulbait as dan para sahabatnya, penulisan hadits dalam sejarah mazhab Syi’ah, pada masa pelarangan, tidak pernah mengalami kemandegan dan terus berlanjut dan pada masa kodifikasi dan penyusunan Jawami’ Hadits Syi’ah, ia lebih banyak menukil dan menyalin dari tulisan-tulisan yang ada dibanding bersandar kepada penukilan lewat lisan.

2. Pada periode paling awal dari sejarah hadits Syi’ah, telah muncul penulisan-penulisan hadits; seperti Kitab Salman, Kitab Abu Dzar dan lain-lain yang kesemuanya itu sudah tidak ada dihadapan kita dan tinggal sejarah saja yang memberikan informasi tentang keberadaan kitab-kitab yang sangat berharga tersebut. Dan sebagiannya lagi seperti Kitab Imam Ali as yang saat ini berada ditangan mulia Imam Zaman ajf., Nahjul Balaghah, dan Shahifah as Sajjadiyah yang saat ini ada bersama kita.

3. Kitab Imam Ali as merupakan kumpulan riwayat-riwayat yang dibacakan langsung oleh Rasulullah saw dan dicatat langsung pula oleh Imam Ali as. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, menghikayatkan bahwa ukuran kitab ini sekitar 70 zira’ dan di dalamnya berisi tentang hukum-hukum (ahkam) yang dibutuhkan umat sampai hari kiamat, dan hanya sahabat-sahabat spesial para Imam as saja yang pernah melihat langsung kitab tersebut. kitab tersebut merupakan sebuah peninggalan besar dalam bidang riwayat dan hadits yang saat ini berada di tangan Imam Zaman ajf.

4. Mushaf Fathimah adalah kumpulan riwayat dan hadits yang isinya berkaitan dengan masalah-masalah seperti: peristiwa-peristiwa serta fitnah-fitnah umat, khususnya fitnah yang terjadi atas keturunan Sayidah Fathimah as: sampai hari kiamat. Melihat fenomena terkait dengan munculnya berbagai keraguan (syubhat) atas adanya distorsi pada Al Qur’an dan juga munculnya Al Qur’an lain yang berada ditangan Syi’ah bernama Mushaf Fathimah:, maka demi adanya kejelasan para Imam Ma’shum as menegaskannya lewat ayat-ayat Al Qur’an.

5. Dengan bersandar pada riwayat-riwayat sejarah, paska Rasulullah saw wafat , Imam Ali as (atas perintah Nabi saw) mulai menyusun ayat-ayat dan surah-surah Al Qur’an berdasarkan urutan turunnya serta mencatat tafsir dan ta’wil setiap ayat, yang dengan usaha ini terbentuklah Mushaf Imam Ali as. Kitab ini dianggap sebagai salah satu sumber syi’ah paling tua dalam bidang riwayat dikarenakan ia mengandung riwayat-riwayat yang berisi tentang tafsir.

6. Nahjul Balaghah yang berarti metode berbicara secara ideal adalah nama dari kumpulan khutbah-khutbah, surat-surat dan kata-kata hikmah Imam Ali as yang dirampung serta dibukukan oleh almarhum Sayid Radhi (406 H). Sayid Radhi sendiri mengakui bahwa Nahjul Balaghah yang ada ditangan kita saat ini merupakan hasil seleksi dari sepertiga ucapan Imam Ali as. Nahjul Balaghah berisi sekitar 241 khutbah, 79 surat dan 480 hikmah. Dengan muatan yang luar biasa dan keindahan susunan Nahjul Balaghah, maka ia diklaim sebagai “kata-katanya lebih rendah dari Kalam Tuhan dan lebih tinggi dari kata-kata manusia”.

7. Shahifah as Sajjadiyah merupakan kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Doa itu diucapkan oleh Imam Sajjad as semasa hayatnya dan dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Meskipun sanad kitab ini terputus, namun ketinggian ucapan Imam dan muatannya yang menggambarkan pengetahuan irfan dan ma’arif (pengetahuan) Al Qur’an maka tidak diragukan lagi kalau ia berasal dari manusia suci (Imam Sajjad as). Shahifah as Sajjadiyah sekarang ini memiliki sekitar 54 buah doa.

8. Periode kedua perjalanan sejarah hadits Syi’ah adalah periode yang disebut dengan Periode ” Ushul arba’umiah (Prinsip-prinsip 400) “. maksud dari Ushul arba’umiah adalah sebuah kumpulan hadits dan riwayat dari sejak Imam Ali as sampai Imam Hasan al ‘Askari as, khususnya hadits dan riwayat yang ada pada masa Shadiqain (Imam Baqir as dan Imam Shadiq as).

9. Ushul (prinsip) pada umumnya kosong dari ijtihad dan pengungkapan pendapat pribadi seorang perawi dan hanya langsung menukil ucapan Imam Ma’shum as. dan hal inilah yang membedakan ia dengan kitab. Berdasarkan hal ini, Ushul (prinsip) merupakan tulisan-tulisan yang mana pada bagian-bagian yang terdapat riwayat-riwayat para Imam Ma’shum as, tidak ditemukan campur tangan atau intervensi serta juga riwayatnya tidak disusun dan diatur secara per-bab.

10. Para penyusun Kutub Arba’ah dalam mewujudkan kitab Jawami’ Awwaliyah , mereka menggunakan riwayat-riwayat yang ada pada Ushul arba’umiah. Ini menunjukkah akan penting dan ketinggian posisi tulisan-tulisan ini.

11. Kendatipun Ushul arba’umiah itu ada sampai pada masa Syaikh Thusi (460 H) dan juga sejumlah informasi tentangnya, namun yang sampai pada masa kita, masa Allamah Majlisi (1111 H), hanya sekitar 16 Ushul (prinsip). Kodifikasi Jawami’ Riwai (kumpulan riwayat) dan pembakaran atas perpustakaan syaikh Thusi merupakan faktor-faktor yang diprediksi sebagai penyebab hilangnya Ushul arba’umiah.

12. Masa kodifikasi (periode ketiga), terdapat empat kitab hadits, yaitu:

a. al Kafi karya Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini (329 H).

b. Man La Yahdhuruhu al Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babuyah (Syaikh Shaduq) (381 H).

c. Tahzib al Ahkam karya Syaikh al Thaifah Muhammad bin Hasan Thusi (460 H).

d. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar karya Syaikh Thusi.

Perlu diketahui bahwa Madinah al ‘Ilm yang merupakan salah satu karya lain Syaikh Shaduq, juga dikalisfikasikan sebagai kitab Jami’ hadits Syi’ah yang kelima, kendatipun saat ini tidak lagi bersama kita (hilang).

13. Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Kulaini lahir sekitar tahun 255 H di sebuah desa bernama Kulain yang terletak di kota Rei. Dengan keilmuan dan posisi spiritual yang ia miliki sehingga seluruh ulama syi’ah menyanjungnya. Tulisan-tulisan beliau serta kata-katanya disela-sela riwayat-riwayat yang ada pada kitab Al Kafi menunjukkan bahwa selain dalam bidang hadits, beliau juga adalah seorang yang handal dalam ilmu kalam (teologi), fiqih, tafsir, dan sejarah.

14. Al Kafi merupakan Jami’ Riwai (kumpulan Riwayat) Syi’ah paling awal dan sangat penting yang mencakup sekitar 16199 riwayat dan diklasifikasikan ke dalam tiga bagian: Ushul (prinsip-prinsip) dua jilid, Furu’ (cabang-cabang) enam jilid, dan Raudhah satu jilid. Al marhum Kulaini menyusun kitab Al Kafi selama
20 tahun yang dimotivasi oleh keinginan untuk meluruskan agama masyarakat dan mencegah dari adanya perpecahan. Nilai plus dan karakter khusus kitab Al Kafi adalah: 1) kolektivisme/ komprehensif , dan 2) sistematis.

15. Kendati ada sebagian kalangan, seperti Mulla Khalil Qazwini, meragukan penisbahan Raudhah kepada Al Kafi, namun umumnya para Muhaddits Syi’ah menafikan keraguan tersebut dengan alasan bahwa melihat adanya kesesuaian riwayat-riwayat Raudhah dengan sanad-sanad seluruh riwayat-riwayat Al Kafi dan bahwa pula adanya jarak masa antara Ibnu Idris dengan level kedelapan atau kesembilan para perawi dan bahwasanya Najasyi dan Syaikh Thusi yang sudah ada pra Ibnu Idris, mengakui serta menganggap bahwa Raudhah itu merupakan bagian dari Al Kafi.

16. Syaikh Shaduq Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babuyah al Qumi merupakan salah seorang ulama dan Muhaddits tersohor Syi’ah, dimana berkat doa Imam Zaman afj. Ia lahir kedunia ini di tengah-tengah sebuah keluarga yang berpendidikan. Selama kehidupan ilmiahnya, Syaikh Shaduq sangat dihormati oleh penguasa ketika itu, diantaranya Ali Buyah. Ia memiliki jumlah karya sebanyak 250 tulisan, diantaranya kitab Man Laa yahdhuruh al faqih. Syaikh Shaduq wafat pada tahun 381 H dan dimakamkan di kota Rei.

17. Man Laa yahdhuruh al faqih merupakan Jami’ Riwai ( Kumpulan Riwayat) kedua Syi’ah yang dari sisi kekunoan dan validitas berada pada posisi setelah Al Kafi, dan memiliki sekitar 5998 riwayat dimana disusun guna mempelajari fikih secara otodidak (tanpa pembimbing) dan juga ia disusun dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang sahabat dekat Syaikh Shaduq serta mencontoh kitab Man Laa yahdhuruh al Thabib karya Muhammad bin Zakaria Razi.
Diantara kekhususan kitab Man Laa yahdhuruh al faqih adalah terbatas hanya pada riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan fikih, tidak mencantumkan sanad-sanad riwayat kecuali perawi terakhir, dan sejumlah riwayat hanya menyebutkan nama Imam Ma’shum as dan ketentuannya di akhir kitab pada Masyaikh dan menyebutkan pandangan-pandangan fikih diantara riwayat-riwayat tersebut.

18. Abu Ja’far Muhammad bin Hasan Thusi, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaik al Thaifah, lahir pada tahun 385 H di Thus kota Khurasan dan setelah mengenyam dan menjalani pendidikan serta bimbingan dari beberapa guru besar seperti Syaikh Mufid, beliau pun mencapai maqam dan kedudukan yang tinggi dan setelah peristiwa serangan fanatis ahlusunnah ke rumah beliau di Mahallah Karakh kota Baghdad, beliau berangkat menuju kota Najaf dan disana beliau mendirikan Hauzah Ilmiyah Najaf. Peninggalan-peninggalan (buku-buku, penerjemah.) Syaikh Thusi dalam berbagai tema Islam yang dijadikan sebagai dasar-dasar serta pondasi ajaran Syi’ah merupakan bukti akan keluasan ilmu dan perhatian besar beliau.

19. Tahzib al Ahkam dan Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan dua pusaka kumpulan hadits dari Syaikh Thusi yang dianggap dan dikenal sebagai kitab riwayat yang berada pada urutan ketiga dan keempat kitab hadits Syi’ah dengan alasan bahwa riwayat kitab ini banyak menyandarkan ke Ushul arba’umiah dan juga muatannya yang cukup akurat. Secara istilah kedua kitab ini disebut sebagai Tahzibain.

20. Pada dasarnya Tahzib al Ahkam merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas kitab Al Muqna’ah Syaik Mufid dimana kitab ini mencakup sekitar 13988 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam ukuran 10 jilid. Syaikh Thusi menyusun kitab ini dalam rangka memberikan jawaban atas kelompok-kelompok penentang yang menganggap bahwa riwayat-riwayat Syi’ah itu banyak yang paradoks. ( Wasail al Syi’ah juga merupakan penjelasan berdasarkan literatur riwayat atas buku fikih Syarai’ al Islam buah karya Muhaqqiq Hilli).
Refleksi lebih sempurna mengenai riwayat-riwayat terkait furu’ (cabang-cabang), refleksi riwayat-riwayat yang disepakati dan yang tidak disepakati, adanya penjelasan, tafsir dan ta’wil riwayat-riwayat merupakan ciri khas dari kitab Tahzib al Ahkam.

21. Al Istibshar Fi’ma’khtalaf min al Akhbar merupakan peninggalan kedua kitab hadits yang ditulis oleh Syaikh Thusi dan adalah salah satu kitab keempat dari kutub arba’ah (empat kitab hadits) yang disusun setelah kitab Tahzib al Ahkam dalam rangka menertibkan serta menyempurnakan riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan. Kitab ini mencakup sekitar 5511 hadits dan dicetak serta dipublikasikan dalam empat jilid. Syaikh Thusi secara umum riwayat-riwayat dalam kitab Tahzibain, itu tidak menyebutkan sanad-sanadnya atau perawinya kecuali perawi yang terakhir dan diakhir kitab ini terdapat sebuah pasal yang diberi tema Masyaikh yang disana disebutkan metode beliau terhadap para perawi tersebut.

22. Antara kelompok Akhbari dan kelompok Ushuli terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan kesahihan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah tersebut. kelompok Akhbari meyakini bahwa dengan memperhatikan isi Kutub al Arba’ah yang mana ia banyak menyandarkan dan mengambil riwayat dari kitab Ushul arba’umiah serta adanya pembelaan para penyusun kitab-kitab tresebut, seperti yang termaktub dalam mukadimah setiap kitab, atas kesahihan riwayat-riwayatnya sehingga kita tidak mungkin bisa meragukan kesahihan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut. Akan tetapi kelompok Ushuli, selain menafikan argumentasi yang dilontarkan oleh kelompok Akhbari, juga memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan kelompok tersebut dimana kaum Ushuli berkeyakinan bahwa dengan adanya sejumlah riwayat lemah dalam kitab-kitab ini maka klaim yang menyatakan akan kesahihan serta ketegasan seluruh riwayat tersebut pun terbantahkan dan ternafikan. Dengan alasan inilah maka merupakan sebuah kemestian untuk melakukan analisis terhadap sanad dan teks dari setiap riwayat-riwayat tersebut secara terpisah.

23. Pada periode keempat dalam sejarah hadits Syi’ah (periode penyempurnaan dan Sistematisasi) terdapat sekelompok Muhadditsin yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits serta riwayat Syi’ah yang tidak ditemukan dalam Kutub al Arba’ah dan menyusunnya dalam bentuk sebuah kitab. Kitab-kitab yang disusun berdasarkan cara penulisan diatas diantaranya adalah kitab Bihar al Anwar, Wasail al Syi’ah, Mustadrak al Wasail, dan Jami’ Ahadits al Syi’ah.

24. Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, atau lebih dikenal Allamah Majlisi atau Majlisi kedua (1111 H) lahir pada tahun 1037 di kota Isfahan dan setelah mengenyam pendidkan serta pengajaran dari beberapa guru, seperti Majlisi pertama (ayahnya), dan Mulla Shaleh Mazandarani, beliau mulai menekuni secara mendalam ilmu hadits dan disamping aktifitas-aktifitas kemasyarakatannya, ia berhasil mempersembahkan sekitar 160 buah karya, 86 tema dalam bahasa Persia dan sisanya ditulis dalam bahasa arab. Kitab Bihar al Anwar dan kitab syarah beliau atas kitab Al Kafi ( Mir’ah al ‘Uqul ) merupakan dua buah karya monumental beliau dalam bidang riwayat.

25. Bihar al Anwar al Jami’ah Lidurari Akhbar al Aimmah al Athhar (as), merupakan kitab hadits Syi’ah yang paling komprehensif dari pertama sampai abad sekarang. Kitab yang sekarang ini dicetak serta dipublikasikan dalam 110 jilid, di dalamnya terdapat ribuan riwayat dalam berbagai bidang pengetahuan seperti akidah, akhlak, tafsir, sejarah dan juga fikih. Allamah Majlisi telah dengan tekun dan dengan kerja keras berusaha mengumpulkan sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi kitab Bihar al Anwar dan dengan membentuk sebuah kelompok kerja ilmiah dan juga atas kerjasama dengan para muridnya, kitab Bihar al Anwar dapat diselesaikan dalam jangka waktu 40 tahun. Diantara motivasi Allamah Majlisi menyusun kitab ini adalah adanya kekhawatiran terhadap hilangnya peninggalan-peninggalan dalam bidang riwayat dan juga munculnya kecenderungan masyarakat terhadap ilmu-ilmu aqli (akal) dan berpaling serta kurang begitu menghiraukan lagi riwayat-riwayat dan hadits.

26. Komprehensif, menjelaskan maksud riwayat, perhatian terhadap perbedaan teks dan tulisan-tulisan, refleksi riwayat-riwayat ahlusunnah, perhatian terhadap adanya konflik dan selisih pada riwayat-riwayat dan lain sebagainya, merupakan cirri khas kitab Bihar al Anwar.

27. Muhammad bin Hasan, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Hurra ‘Amili lahir pada tahun 1033 H di Jabal ‘Amil Libanon dan setelah 40 tahun tinggal di kota kelahirannya dan menuntut ilmu, beliau bermaksud melakukan perjalanan untuk berziarah ke maqam Suci Imam Ridha as di kota Suci Masyhad dan tinggal di kota tersebut dan pada tahun 1104 H, beliau berpulang kepangkuan Ilahi dan dimakamkan disamping makam mulia Imam Ridha as. Selama hidupnya di kota Masyhad, Syaikh sibuk menyusun berbagai kitab diantaranya kitab Wasail al Syi’ah. Jumlah karya yang beliau tinggalkan sekitar 24 tulisan.

28. Tafshil Wasail al Syi’ah ilaa Tahshil Masail al Syari’ah yang nama pendeknya Wasail al Syi’ah merupakan sebuah kitab hadits yang riwayat-riwayatnya diambil dari Kutub Arba’ah dan didalamnya juga terdapat 70 kitab lain serta mengandung sekitar 3585 riwayat dan dicetak serta dipublikasikan dalam 20 jilid. Diantara kelebihan-kelebihan kitab Wasail al Syi’ah adalah pada bagian penutup kitab ini, penyusun berusaha membahas secara sistematis kajian-kajian penting terkait dengan hadits dan juga ilmu rijal dalam 12 pasal.

29. Mustadrak al Wasail wa Mustanbith al Masail buah karya Mirza Husain Nuri (wafat 1320 H) merupakan sebuah kitab yang mencakup sekitar 23514 riwayat dimana dalam penyusunannya menggunakan berbagai referensi riwayat-riwayat fikih dan disodorkan sebagai penyempurna kitab Wasail al Syi’ah. Diantara kelebihan kitab ini adalah pada bagian penutup kitab ini, mencoba menerangkan serta memaparkan secara khusus kajian-kajian penting seperti pembelaan atas sumber-sumber yang dijadikan bahan referensi dalam kitab ini.

30. Ayatullah Burujurdi (wafat 1380 H) salah seorang marja’ agung Syi’ah (periode baru ini) bersama para muridnya, dengan melihat adanya kekurangan-kekurangan pada kitab Wasail al Syi’ah, mencoba serta berhasil menyusun sebuah kitab hadits yang cukup komprehensif dalam beberapa jilid yang diberi nama Jami’ Ahadits al Syi’ah. Kitab ini terus berlanjut kendati beliau pun sudah wafat. Diantara ciri khas kitab ini adalah menyebutkan ayat-ayat ahkam, menyebutkan secara sempurna seluruh riwayat tanpa ada pemotongan, penjelasan tentang solusi atas riwayat-riwayat yang bertentangan, menjelaskan tentang perbedaan tulisan atau teks/naskah, pemisahan dan penataan secara sistematis riwayat-riwayat tentang adab-adab dan akhlak, doa-doa serta zikir-zikir, mencantumkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan fatwa dan kemudian riwayat-riwayat yang bertentangan atau berselisih dari sisi madlul (isi)-nya, menentukan tempat kembalinya dhamir (kata ganti) pada tempat-tempat tertentu, dan juga menjelaskan makna dari kata-kata yang dianggap sulit atau pun rumit.

31. Kitab al Wafi karya Mulla Muhsin Faidh Kasyani (wafat 1091 H) merupakan kitab hadits paling awal dan paling sempurna dimana seluruh riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah terdapat di dalam kitab ini dengan konsentrasi bahwa ia mencoba menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan secara berulang kali dalam Kutub al Arba’ah. Kitab ini terdiri dari 14 pasal. Motivasi beliau dalam menyusun kitab ini adalah menurut anggapannya, setiap dari Kutub al Arba’ah itu kurang begitu komprehensif dan juga adanya penakwilan yang tidak sesuai atas Tahzibain. Kitab Al Wafi, selain menghapus riwayat-riwayat yang disebutkan berulang kali dan menyodorkan model baru sebuah kumpulan riwayat, juga mencakup penjelasan-penjelasan yang sangat bermanfaat serta transparan dari pihak penyusun dalam rangka menghilangkan adanya keburaman serta kekaburan pada riwayat-riwayat tersebut.

32. Jamaluddin Hasan bin Zainuddin (putra Syahid Tsani) (wafat 1011 H) salah seorang ulama dan mujtahid tersohor Syi’ah pada abad kesepuluh yang memiliki sekitar 12 karya dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Kitab Ma’alim al Din beliau masih tetap diajarkan di Hauzah-hauzah ilmiah. Dalam usaha beliau yang sangat berharga dimana mencoba membagi serta mengklasifikasikan riwayat-riwayat yang ada pada Kutub al Arba’ah kedalam dua kelompok, yaitu kelompok hadits-hadits yang dianggap sahih dan kelompok hadits-hadits yang dianggap hasan dan dari usaha ini beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang diberi nama Muntaqi al Jiman fii al Ahaditsi al Shihah wa al Hisan. Pada permulaan kitab, dalam kaitannya dengan 12 hal yang bermanfaat, penyusun telah memaparkan kajian serta bahasan yang sangat penting lagi berfaedah. Namun perlu diketahui bahwa sangat disayangkan kitab ini terhenti sampai pada bab Haji saja dan tidak sempat diselesaikan.

33. Hadits Syi’ah pada dua dekade, yaitu: 1) abad 5 sampai abad 10. 2) abad 12 dan 13, mengalami kemunduran dan stagnasi. Menjamurnya kajian dalam bidang fikih dan ijtihad menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stagnasi perkembangan hadits pada dekade ini. Gerakan kebangkitan dan pemulihan yang dilakukan kelompok Akhbari dibawah pimpinan Muhammad Amin Astar Abadi (wafat 1280 H) dan pendekatan yang dilakukan terhadap riwayat-riwayat tersebut, dapat mehidupkan kembali serta memberikan ruang gerak kepada ilmu hadits dan dengan kepergian Allamah Majlisi (wafat 1111 H) dan munculnya Wahid Bahbahani (wafat 1280 H) budaya dan tradisi yang berkembang pada hadits Syi’ah kembali mengalami stagnasi (?!).

34. Dari sejak abad 14 sampai pada masa kita sekarang, merupakan periode cemerlang dalam ilmu-ilmu hadits. Pada dekade sekarang, yang terjadi adalah munculnya pendekatan terhadap hadits dengan cara yang relatif modern dan baru, dimana poin-poin aslinya itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. penelitian mendalam dan kritis atas sejarah hadits.

2. terbatasnya ruang kajian dan telaah hadits.

3. kritik dan perbaikan riwayat-riwayat.

4. gerakan penyusunan kamus-kamus riwayat.

5. menghidupkan kembali peninggalan-peninggalan ulama terdahulu.

6. pendekatan orientalis terhadap hadits.

7. pemanfaatan teknologi software computer dalam penelitian hadits.

Disertasi untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 6 Februari 2009 yang berjudul “Hadis-Hadis tentang Ilmu dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Khulaini”

Muhammad Alfatih Suryadilaga, M. Ag., (35 tahun) mengatakan, hakekat ilmu itu adanya perpaduan agama dan akal. Saat Tradisi Syi’ah berlangsung, kedua potensi ini dikembangkan bersama-sama secara baik, sehingga Islam bisa mencapai masa keemasannya. Realitas eksternal dan mistik internal pada masa tradisi syi’ah dipadukan secara serasi hingga melahirkan berbagai pakar dan hasil hasil teknologi yang bisa digunakan masyarakat dunia

.

Ketika umat Islam berupaya menjadikan realitas ke abstrak yang ditandai dengan munculnya tasawuf, kemajuan peradaban Islam yang baru mulai beranjak kala itu menjadi surut. Umat Islam yang diwakili dunia timur semakin tertinggal jauh di kancah internasional dari sisi keilmuan. Bangsa-bangsa barat yang mengadopsi rintisan keilmuan para pengikut mahdzab syi’ah semakin berkibar

.

Sehingga perlu disadari bahwa nilai-nilai Islam hendaknya mengedepankan akal sebagai upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendukung posisinya sebagai khalifah. Perlu pula dipahami bahwa dangkal/dalamnya keimanan tidak hanya bisa dicapai lewat jalan tasawuf. Tetapi juga lewat penguasaan ilmu pengetahuan. Karena keimanan yang diyakini atas dasar keilmuan akan dapat lestari. Pengakuan keimanan yang tidak didasarkan penguasaan keilmuan akan mudah goyah dan terjerumus kearah kekhufuran. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga ini, saat mempresentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 6 Februari 2009.

Disertasi yang berjudul “Hadis-Hadis tentang Ilmu dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Khulaini” dipertahankan di hadapan Promotor Prof. Dr. H. Machasin, MA., Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA., dan tim penguji antara lain: Dr. Suryadi, M. Ag., Prof. Dr. Koento Wibisono, Dr. Zaenal Abidin Bangir, MA., dan Dr. Phil Sahiron, MA. Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA. Lebih lanjut putra kelahiran Lamongan ini memaparkan, untuk menggugah umat Islam agar gigih mencari dan menguasai ilmu, ia melakukan analisis terhadap hadis-hadis tentang ilmu dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini yang berjumlah 16.000 hadis. Menurut Alfatih kumpulan hadis dalam kitab al-Kafi berasal dari para imam dan nabi. Keyakinan ini didasarkan biografi al-Kulaini hasil penelusuran promovendus. Diketatui al-Kulaini adalah ulama syi’ah kelahiran Rayy, Iran yang diakui kebesarannya oleh mahdzab  syi’ah

.

Ia termasuk generasi ahli hadis  dan berhasil menyusun kitab hadis al-Kafi dalam kurun waktu 20 tahun. Kitab ini menjadi pegangan mahdzab syi’ah. Untuk menghasilkan pemahaman baru tentang ilmu dari kitab al-Kafi, promovendus melakukan analisis dengan teori hermeneutika gadamer melalui pendekatan sejarah, filsafat, ilmu epistimologi, dan sintesis

.

Dari hasil-hasil penelusurannya terhadap hadis-hadis dalam kitab al-Kafi Bapak 2 (dua) putera dari Dwi Rina Khusniwati, S.S. ini, berhasil mengungkap pemahaman bahwa kesempurnaan agama seseorang adalah dari ilmu dan pengamalannya. Sehingga mencari ilmu diwajibkan atas semua manusia yang beragama. Pentingnya manusia mencari ilmu dengan akalnya, ditegaskan pula dalam hadis al-Kafi, bahwa ketika Allah menciptakan akal, Dia berfirman: “Tidak ada makhluk yang paling dicintai melebihi akal”

.

Menurut Alfatih, dengan akal yang dimiliki manusia, Allah membuktikan kesempurnaan manusia dibandingkan makhluk lain. Melalui akal manusia, Allah juga bisa menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala. Maka melalui akalnya, manusia diwajibkan untuk terus mencari ilmu dan mengamalkannya sehingga manusia memperoleh kebahagiaan dan pahala. Tapi dibalik itu, kata Alfatih, bila akal tidak dipergunakan dengan baik ia akan memperoleh kesesatan. Pentingnya manusia terus mencari dan menguasai ilmu ditegaskan pula dalam hadis-hadis yang mengupas tentang esensi akal. Ditandaskan, akal adalah ciptaan Tuhan yang pertama yang merupakan esensi manusia sebagai mikrocosmos (replika khalifah Tuhan di alam ciptaanNya). Ketika penugasan Adam di bumi, Allah juga meminta Adam untuk memilih satu diantara akal, iman, dan moral melalui Jibril. Kala itu Adam memilih akal. Iman dan moral diminta kembali ke surga. Tetapi moral dan iman bersikukuh untuk turut serta menyertai Adam. Sehingga bisa dipastikan, manusia sebagai keturunan Adam bisa memperjuangkan bersatunya ketiganya (akal,iman, dan moral) untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sementara itu dijelaskan pula dalam kitab al-Kafi, bahwa sumber-sumber ilmu selain akal adalah wahyu (al-Quran), kenabian dan keimanan (ilmu diperoleh dari para nabi melalui alim ulama yang merupakan pewaris para nabi

.

ilmu juga harus mengakui tiga prinsip utama penegasan: 1. Tuhan (Tauhid), 2. Kiamat, 3. Hakikat nabi sebagai utusan Tuhan). Sumber ilmu yang lain adalah alam semesta. Ditegaskan pula sifat ilmu dalam 2 kategori: 1. Ilmu dari Allah yang diperoleh melalui perantaraNya bersifat langsung dan absolut., 2. Ilmu yang diperoleh melalui penelaahan alam semesta bersifat relatif, karena alam mempunyai permulaan dan masa akhir. Dari paparan hasil disertasinya, Muhammad Alfatih Suryadilaga menegaskan, behwa wujud ketaatan manusia kepada Sang Pencipta, tidak hanya bisa dilakukan melalui ibadah ritual, ibadah sosial, dan menjauhi larangan Allah, namun juga melalui perjuangan mencari dan menguasai ilmu pengetahuan

.

Oleh tim penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dan dirinya merupakan doktor ke-209 yang telah berhasil diluluskan PPs UIN Sunan Kalijaga.

I. Pendahuluan

Kerasulan Nabi Muhammad saw. merupakan  upaya Tuhan dalam melaksanakan misi agama Islam dan sekaligus menjelaskan firman-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dari pribadinya muncul berbagai mutiara yang amat berhaga bagi perkembangan Islam yakni sunah dan atau hadis. Keberadaan hadis berkembang luas di dunia Islam dan tidak hanya menyebar di daerah Hijaz saja melainkan ke berbagai wilayah kekuasaan Islam yang telah meluas. Dari sini, menimbulkan berbagai kecenderungan dan keragaman atas sunnah dan hadis. Ada yang menjadi suatu tradisi dan bahkan ada yang hilang di telan zaman.  Terlebih jika dikaitkan dengan masalah kepercayaan atas ideologi tertentu, seperti  Syi’ah.

Sebagai salah satu aliran dalam Islam yang jumlahnya  sepuluh persen dari jumlah keseluruhan umat Islam  di dunia,  Syi’ah memiliki pemikiran yang berbeda dengan aliran lainnya. Ia identik dengan konsep kepemimpinan (imamah) yang merupakan tonggak keimanan Syi’ah.  Mereka hanya percaya bahwa jabatan Ilahiyah yang berhak menggantikan Nabi baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan hanyalah dari kalangan ahl al-bait. Keyakinan tersebut mewarnai kekhasan Syi’ah di samping adanya konsep lain seperti ismah dan mahdi.

Kajian atas hadis-hadis di kalangan Sunni telah banyak dilakukan oleh para pemikir hadis. Sementara dalam khazanah yang sama di dalam tradisi Syi’ah juga dikenal berbagai kitab hadis yang disusun dengan berbagai epistemologinya. Paling tidak di kalangan Syi’ah terdapat empat kitab pokok pegangan dan salah satunya yang sedang dibahas yakni al-Kafi.

Makalah ini akan berupaya meyorot kitab hadis al-Kafi  dengan pembahasan tentang anatomi kitab secara utuh dan berbagai respon umat Islam atas kelahiran kitab tersebut. Namun sebelum membahas hal tersebut, kajian ini akan membahas berbagai latar dan setting historis penulis dan situasi kelahiran kitab al-Kafi . Upaya tersebut sangat diperlukan untuk memberikan analisis yang memadai dan lebih komprehensif.
II. Sketsa Historis: Pengarang dan Kelahiran Kitab

Diskursus hadis dalam ilmu keislaman telah berkembang luas seiring dengan dirasa pentingnya pentadwinan (kodifikasi)  dan pelestarian hadis dari upaya pemalsuan.  Dalam sejarahnya, studi hadis memunculkan berbagai kegiatan ulama dalam pencarian epistemologi ilmu hadis dan beberapa kaidah kesahihan dalam menilai suatu hadis.  Diawali sejak kelahiran sampai abad ke-14 H., studi hadis mengalami berbagai  dinamika pasang surut.

Masa Rasulullah saw. merupakan masa pewahyuan dan pembentukan masyarakat Islam (as}r al-wahyi wa al-takwin).  Di dalamnya, hadis-hadis diwahyukan oleh Nabi Muhammad saw. yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad saw. dalam membina masyarakat Islam. Keberadaan hadis terus dijaga oleh sahabat, orang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. dengan cara menyedikitkan periwayatan dan pemateriannya. Oleh karena itu, masa tersebut dikenal dengan as}r al-tas|abut wa iqlal min al-riwayah.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya abad ke-3 sampai abad ke-5 H., hadis-hadis Nabi Muhammad saw. terbukukan dalam berbagai kitab hadis dengan berbagai metode penulisannya.  Oleh karena itu, ulama pada abad-abad tersebut disebut dengan ulama mutaqaddimin karena telah berusaha mencari hadis ke berbagai daerah dan membukukannya.

Sementara di kalangan Syi’ah didapatkan kenyataan lain, permasalahan penulisan hadis tidak menjadi suatu problem yang serius. Kitab hadis pertama adalah Kitab Ali ibn Abi Talib yang di dalamnya memuat hadis-hadis yang diimla’kan langsung dari Rasulullah saw. tentang halal haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubti al-Syi’i dalam kitab al-sunan, al-ahkam dan al-qad}aya.

Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab.  Salah satunya adalah al-Kafi fi ilm al-Din yang di kalangan Syi’ah merupakan kitab pegangan utama di kalangan mazhab Syi’ah. Setidaknya terdapat empat kitab pokok yang beredar dalam mazhab ahl al-bait. Keempat kitab hadis tersebut adalah al-Kafi , man la yahduruh al-faqi>h, tahzi>b al-ah}ka>m, dan al-istibs}ar fi ma ukhtulifa min Akhbar.

Al-Kafi dikarang oleh S|iqat al-Islam, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi.  Beliau dilahirkan di sebuah dusun Kulain  di Ray Iran dan oleh karenanya ia disebut dengan al-Kulaini atau al-Kulini.   Tidak banyak keterangan yang didapat dari berbagai buku sejarah mengenai kapan pengarang kitab al-Kafi  tersebut dilahirkan. Informasi yang ada hanya tentang tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran, yaitu pernah mendiami Bagdad dan Kufah.  Selain itu, tahun kewafatannya, yaitu tahun 328 H dan atau 329 H. (939/940 M.).  al-Kulaini dikembumikan di pintu masuk Kufah.

Ayah al-Kulaini, Ya’qub bin Ishaq adalah seorang tokoh Syi’ah terkemuka dan terhormat di Ray Iran.  Masyarakat sering menyebut ayahnya dengan nama al-Salsali.   Banyak ulama yang lahir di kota ini, seperti paman al-Kulaini  ; Abu al-Hasan Ali ibn  Muhammad, Ahmad ibn  Muhammad, Oleh karena itu, tak heran kalau al-Kulaini  kecil ditempa pendidikannya di kota tersebut. Darah biru  dan kemahirannya dalam bidang agama membawanya kepada kesuksesan.

Dalam berbagai kitab diungkap bahwa pada masa kecilnya al-Kulaini  semasa dengan imam Syi’ah kedua belas al-Hasan al-Askari (w. 260 M.).   Argumen tersebut dapat diperkuat juga oleh al-Taba’taba’i atas diriwayatkan hadis dari ulama yang sezaman dengan tiga imam seperti al-Rida, al-Jawad dan al-Hadi.

Al-Kulaini juga hidup semasa dengan empat wakil imam ke dua belas (sufara’ al-arba’ah) yaitu Imam Muhammad ibn Hasan. Asumsi tersebut berdasarkan atas masa hidup mereka yang diperkirakan berusia 70 tahun sekitar tahun 330 H. Sementara umur al-Kulaini wafatnya tidak sampai pada tahun tersebut.

Masa hidup penulis kitab, al-Kulaini adalah pada masa Dinasti Buwaihiyah (945-1055 M.). Pada masa tersebut merupakan masa  paling kondusif bagi elaborasi dan standarisasi ajaran Syi’ah dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Masa-masa sebelumnya merupakan masa-masa sulit bagi Syi’ah untuk mengembangkan eksistensinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertikaian antara kaum Sunni dengan Syi’ah. Bahkan, untuk melacak sosok al-Kulaini dalam perjalanan hidupnya pada paruh pertama sangat sulit untuk dilakukan. Kota Ray, tempat kelahiran dan tumbuh besar di masa awal al-Kulaini> kecil porak poranda akibat pertentangan tersebut. Oleh karena itu, banyak pengikut Syi’ah yang melakukan taqiyah (menyembunyikan identitas diri) agar selamat dari kejaran kaum Sunni.

Pribadi al-Kulaini merupakan pribadi yang unggul dan banyak dipuji oleh ulama. Bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini. Ia merupakan pribadi yang dapat dipercaya dari segi agama dan pembicaraannya. Al-Bagawi memasukkan nama al-Kulaini sebagai mujaddid yang datang diutus oleh Allah dalam setiap tahunnya ketika mengomentari hadis tersebut.  Sementara Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal di mana ia adalah seorang faqih seklaigus sebagai muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan.

Dalam pada itu, Ibn al-Asir mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan salah satu pemimpin Syi’ah dan ulama’nya. Sementara Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’qub al-Razi mengatakan bahwa al-Kulaini termasuk imam mazhab ahl al-bait, paling alim dalam mazhabnya, mempunyai keutamaan dan terkenal.   Masih dalam konteks tersebut, al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan fuqaha’ Syi’ah. Muhammad Baqir al-Majlisi dan Haan al-Dimstani mengungkap bahwa al-Kulaini ulama yang dapat dipercaya dan karenanya dijuluki dengan s|iqat al-Islam.

Pujian lain juga dikemukakan oleh al-Tusi yang mengatakan bahwa sosok al-Kulaini dalam kegiatan hadis dapat dipercaya (s|iqat) dan mengetahui banyak tentang hadis. Penilaian senada juga diungkapkan oleh al-Najasyi yang mengatakan bahwa al-Kulaini adalaah  pribadi yang paling siqat dalam hadis.

Sementara di kalangan Syi’ah, sosok al-Kulaini tidak diragukan lagi kapasitasnya, ia merupakan orang yang terhormat. Di antara kitabnya yang sampai pada kita saat ini adalah al-Kafi  yang dibuat selama 20 tahun.  Al-Kulaini melakukan perjalan pengembaraan (rihlah) ilmiah untuk mendapatkan hadis ke berbagai daerah. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi al-Kulaini> adalah irak, Damaskus, Ba’albak, dan Taflis.  Apa yang dicari al-Kulaini tidak hanya hadis saja, ia juga mencari berbagai sumber-sumber dan kodifikasi-kodifikasi hadis dari para ahli hadis sebelumnya.   Dari apa yang dilakukan, nampak bahwa hadis-hadis yang ada dalam al-Ka>fi>  merupakan sebuh usaha pengkodifikasian hadis secara besar-besaran.

Keberadaan al-Kafi  di antara kitab hadis lain al-kutub al-arbaah adalah sangat sentral. Ayatullah Ja’far Subhani melukiskannya dengan matahari dan yang lainnya sebagai bintang-bintang yang bertebaran menghiasi langit.   Bahkan, telah menjadi kesepakatan di antara ulama Syi’ah atas keutamaan kitb al-Kafi  dan berhujjah atasnya.

Sebagai sorang ahli hadis, al-Kulaini> mempunyai banyak guru dari kalangan ulama ahl al-bait  dan murid dalam kegiatan transmisi hadis. Di antara guru al-Kulaini adalah Ahmad ibn Abdullah ibn Ummiyyah, Ishaq ibn Ya’qub, al-Hasan ibn Khafif, Ahmad ibn Mihran, Muhammad ibn Yahya al-At}t}ar, dan Muhammad ibn ‘Aqil al-Kulaini.  Sedangkan murid-murid dari al-Kulain antara lain Abu al-Husain Ahmad ibn Ali ibn Said al-Kufi, Abu al-Qasim Ja’far ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Hasan ibn al-Jahm ibn Bakr, Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Asim al-Kulaini, dan Abu Muhammad Harun ibn Musa ibn Ahmad ibn Said ibn Said.

Karya-karya yang dihasilkan oleh al-Kulaini> adalah:

1.    Kitab Tafsir al-Ru’ya

2.    Kitab al-Rija>

3.    Kitab al-Rad ala al-Qaramitah

4.    Kitab al-Rasa’il : Rasa’il al-Aimmah alaih al-salam

5.    Al-Kafi

6.    Kitab ma Qila fi al-Aimmah alaih al-salam min al-Syi’r.

7.    Kitab al-Dawajin wa al-Rawajin

8.    Kitab al-Zayyu wa al-Tajammul

9.    Kitab al-Wasail

10.    Kitab al-Raudah

Tiga kitab terakhir dapat ditemukan dalam kitabnya al-Kafi oleh sebab itu, ulama banyak yang tidak menyebutnya sebagai kitab sendiri. Namun, Ibn Syahr Aasyub menyebutkannya secara terpisah dan karenanya tetap disebutkan sebagai karya-karya beliau sebagaimana dengan kitab lainnya.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dan kemanfaatan karya al-Kulaini. seperti Syaikh Mufid dalam Kitabnya Syarh Aqa’id al-Sadiq.  Hal senada juga diungkap oleh al-Kurki dalam ijazahnya al-Qadi Syafi al-Din ‘Isa bahwa belum pernah ditemukan seorang pun yang menulis seperti penyusun al-Kafi.   Sedangkan  al-Majlisi menganggap apa yang dilakukan oleh al-Kulaini> adalah upaya sungguh-sungguh dari penulis yang handal yang dapat menghasilkan karya terakurat dan komprehensif dari golongan yang selamat (najiyyah).

Dari beberapa pujian dan sanjungan atas al-Kulaini dan kitabnya di atas menunjukkan bahwa al-Kafi  merupakan hasil terbaik yang dihasilkan oleh generasi yang terbaik. Oleh karena itu, wajar jika dikemudian hari kitab tersebut dijadikan rujukan primer di kalangan Syi’ah.
III. Al-Kafi : Isi, Sistematika dan Metode

Al-Kafi  merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (us}ul), cabang-cabang (furu’) dan sebagainya yang jumlahnya sekitar 16.000 hadis. kitab tersebut menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan.  Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyu>n.

Pengarangnya, al-Kulaini (w. 328 H./939 M.) adalah seorang ulama Syi’ah terkenal dan termasuk generasi ahli hadis ke empat.   Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun. Melihat banyaknya hadis yang dihimpun dan materi bahasannya, maka ada anggapan di kalangan Syi’ah bahwa segala persoalan keagamaan sudah dibahas di dalam kitab al-Ka>fi dan oleh karenanya ijtihad tidak diperlukan lagi. Hal tersebut sesuai dengan namanya, al-Ka>fi> identik dengan koleksi hadis-hadis tentang berbagai persoalan keagamaan.

Menurut al-Khunsari, secara keseluruhan hadis-hadis dalam al-Kafi  berjumlah 16.190 hadis. Sementara dalam hitungan al-Majlisi 16121, Agha Buzurg al-Tihrani sebanyak  15.181 dan Ali Akbar al-Gaffari: 15.176. Al-Kafi  terdiri atas delapan jilid, dua jilid pertama berisi tentang al-us}ul (pokok), lima jilid sesudahnya berbicara tentang al-furu’ (cabang-cabang) dan satu juz terakhir berbicara tentang al-rawdah. Distribusi masing-masing jilid, bab dan hadis yang berada dalam tiap jilidnya dapat dilihat dalam pembahasan berikutnya.

Secara keseluruhan distribusi hadis-hadis dalam tiap jilidnya adalah: jilid I memuat 1437 hadis, jilid II memuat 2346 hadis, jilid III memuat 2049 hadis, jilid IV memuat 2443 hadis, jilid V memuat 2200 hadis, jilid VI memuat 2727 hadis, jilid VII memuat 1704 hadis dan jilid VIII memuat 597 hadis. Dengan demikian jumlah keseluruhan hadis-hadis dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini sebanyak 15.503 hadis. terdapat selisih  618 hadis dan kemungkinan hadis tersebut tidak terhitung disebabkan matannya satu dan sanadnya berbilang.   Hitungan tersebut dilakukan oleh al-Majlisi, ulama yang banyak mengkaji al-Kafi karya al-Kulaini.

Pembagian tema-tema dapat dilihat dalam pembahasan di bawah ini.

Pertama, al-us}ul (8 bagian):

[1] kitab al-akl wa al-jahl (akal dan kebodohan) di dalamnya dibahas hadis-hadis tentag perbedaan teologis antara akal dan kebodohan.

[2] kitab fadl al-ilm (keutamaan ilmu), di dalamnya diuraikan tentang  metode pendekatan ilmu tradisional Islam, metode menilai kebenaran materi subyek hadis. di samping itu, dimuat pula hadis-hadis tentang gambaran hadis dari imam dan alasan-alasan menentang penggunaan opini pribadi (rasio) dan analogi.

[3] kitab al-Tawhid (kesatuan), di dalamnya dibahas berbagai persoalan tentang teologi ketuhanan.

[4] kitab al-hujjah (bukti-bukti), membahas tentang kebutuhan umat manusia akan hujjah. Hujjah ini diperoleh dari para nabi. Namun, seirig dengan wafatnya para nabi, maka keberadannya digantikan para imam mereka. Dengan demikian, hujjah di sini adalah imam.

[5] kitab al-Iman wa al-Kufr (keyakinan dan kekufuran), di dalamnya dibahas  hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan dan pengingkaran, pilar-pilar Islam dan perbedaan  yang significant antara iman dan Islam.

[6] kitab al-Du’a (doa), doa-doa yang dicantumkan dalam bagian ini hanyalah doa-doa yang berbeda dengan doa-doa yang ada dalam salat yang sifatnya pribadi. Doa semacam itu kebanyakan dianjurka oleh para imam  mereka.

[7] kitab al-fadl al-Qur’an (keutamaan al-Qur’an) di dalamnya dibahas tentang keuntungan-keuntungan yang didapat bagi para pembaca al-Qur’an dan beeberapa teknik membacanya.

[8] kitab al-Isra’ (persahabatan) di dalamnya ditegaskan tentang hubungan dengan Tuhan di dalamnya mencakup hubungan dengan sesama manusia.

Kedua, al-furu’ (cabang-cabang), yang berisikan tentang berbagai persoalan tentang hukum Islam yang dimulai dari cara bersuci sampai masalah penegakan keadilan melalui jalur peradilan. Berikut ini cuplikan bab-bab yang dibahas dalam bagian al-furu yang dimuat dalam lima juz.

[1] kitab al-t}aha>rah, yang berisi cara bersuci

[2] kitab al-haid (menstruasi)

[3] kitab al-janaiz, berkenaan dengan pemakaman dan ahal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan.

[4] kitab salat yang menguraikan tentang cara-cara salat  dan salat sunnah

[5] kitab zakat

[6] kitab siyam

[7] kitab al-hajj

[8] kitab al-jihad

[9] kitab al-Maisyah (cara-cara memperoleh penghidupan)

[10] kitab munakahat (pernikahan)

[11] kitab aqiqah

[12] kitab al-t}alaq (perceraian)

[13] kitab al-‘itq wa al-tadbir wa al-khatibah, jenis-jenis budak dan cara memer-dekakannya.

[14] kitab al-sayd (perburuan)

[15] kitab al-zabaih (penyembelihan)

[16] kitab al-at’imah (makanan)

[17] kitab al-asyribah (minuman)

[18] al-ziq wa al-tajammul wa al-muru’ah (pakaian, perhisaan dan kesopanan)

[19] kitab dawajin (hewan priaraan)

[20] kitab al-wasaya (wasiat), waris  khusus

[21] kitab al-mawaris, waris yang sifatnya biasa

[22] kitab al-hudud, keadaan dan cara  menghukum .

[23] kitab al-diyat, hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik.

[24 kitab al-syahadat, kesaksian dalam kasus-kasus hukum.

[25] kitab al-qada’ wa al-ahkam, berisikan hadis-hadis tentang peraturan tingkah laku para hakim  dan syarat-syaratnya.

[26] kitab al-aiman wa al-nuzur wa al-kaffarat, berkenaan dengan hadis-hadis tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal.

Ketiga, al-Rawdah: kumpulan minat keagamaan, beberapa surat dan khutbah imam. Sistemnya tidak seperti dua bagian sebelumnya. Bagian terakhir dari kitab al-Kafi  ini dimuat dalam satu jilid yakni jilid kedelapan.

Seacara terperinci jumlah hadis dan distribusinya  dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

JILID    BAGIAN/KITAB    BAB     HADIS

I    Usul/4: al-akl wa jahl s/d al-hujjah     71    1440

II    Usul/4: al-iman wa al-kufr  s/d al-usrah    258    2346

III    Furu’/5: taharah s/d zakat    313    2079

IV    Furu’/2: Syiyam s/d al-hajj    362    2190

V    Furu’/3: al-Jihad s/d al-Nikah    382    2200

VI    Furu’/9: al-Aqiqah s/d al-Dawajin    424    2665

VII    Furu’/7: al-Wasaya s/d al-Aiman     287    1708

VIII    Al-Raudah/1    1    597
Hadis-hadis tersebut di atas setelah diteliti oleh al-‘Allamah al-Hilli (w. 598 H.) dan al-Majlisi dengan menggunakan kaedah ‘Ulum al-H}adis|, maka hadis-hadis dalam al-Kafi  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.    5.072 hadis sahih},

2.    144 hadis hasan

3.    1.128 hadis muwassaq

4.    302 hadis qawi (kuat),

5.    9.485 hadis da’if.

Dari klasifikasi hadis di atas, nampak bahwa di kalangan mazhab Syi’ah terdapat perbedaan dengan di kalangan Sunni. Secara umum, hadis di mazhab Syi’ah terbagi atas empat macam yakni hadis s}ah}ih}, hadis hasan, hadis muwas|s|aq  dan hadis da’if.   Istilah hadis muwassaq digunakan atas periwayat yang rusak aqidahnya. Demikian juga atas istilah-istilah lain diselaraskan dengan keyakinan mereka, seperti dalam memaknai hadis s}ah}ih} yaitu hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang maksum.

Hadis-hadis yang da’if  (hadis yang tidak memeuhi kriteria dalam tiga klasifikasi sebelumnya) bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis yang s}ah}ih} manakala hadis tersebut populer dan  sesuai dengan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah  atau menurut pendapat ulama hadis tersebut dapat diamalkan.

Dari pembahasan singkat di atas, nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di lingkungan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradis Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalmnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja melainkan memasukkan hal-hal  lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. dan para imam mereka.

Hal yang penting diperhatikan bahwa hujjah keagamanan di kalangan Syi’ah tidak serta merta berakhir dengan kewafatan Nabi Muhammad saw. dan terus berjalan ke wakil beliau sampai imam kedua belas. Dari sinilah baru wahyu berhenti. Pada perkembangannya, semua masalah keagaaman kemudian dituangkan dalam kitab standar, termasuk di dalamnya adalah al-Ka>fi> .

Kekhasan lain yang dapat dijumpai dalam al-Kafi  adalah fenomena peringkasan sanad.   Sanad sebagai mata rantai jalur periwayat hadis dimulai dari sahabat sampai ulama hadis terkadang ditulis lengkap dan terkadang membuang sebagian sanad atau awalnya  dengan alasan atas beberapa konteks tertentu. Seperti ketika al-Kulaini telah menulis lengkap sanad pada hadis yang dikutip di atas hadis yang diringkas. Demikian juga, al-Kulaini kadang meringkas dengan sebutan dari sejumlah sahabat kita (ashabuna), dari fulan dan seterusnya. Adapun maksud tersebut tidak lain adalah sejumlah periwayat yang terkenal. Demikian juga dengan kata-kata ‘iddah (sejumlah) dan jama’ah (sekelompok) yang dapat menunjukkan upaya peringkasan sanad

Jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali ibn Ibrahim, Ali ibn Muhammad Abdullah Ahmad ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali ibn al-Husain al-Sa’dabadi.

Demikian juga jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat dari Sahl ibn Ziyad, maka yang dimaksud tidak lain adalah Muhammad ibn Hasan dan Muhammad ibn Aqil. Apabila al-Kulaini menyebut dari sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, maka maksudnya adalah Muhammad ibn Yahya, Ali ibn Musa al-Kamandani, Dawud ibn Kawrah, Ahmad ibn Idris, dan Ali ibn Ibrahim.   Mereka semua adalah periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh al-Kulaini dan oleh karenanya jika telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, biasanya tidak ditulis lagi dalam hadis beriutnya dengan alasan tidak memperpanjang tulisan.

Fenomena lain yang dapat dijumpai ialah keberadaan periwayat hadis  dalam al-Kafi bermacam-macam sampai para imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan nilai hadis yang dibawakan antara para pemuka hadis Syi’ah dengan selain Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

Demikian juga terhadap sumber hadis, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah saw., maka imam-imam di mazhab Syi’ah  dapat mengluarkan hadis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa surat-surat, khutbah  dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama  didudukkan setara dengan hadis. Hal tersebut nampak dari apa yang dilakukan al-Kulaini yang ditampilkan dalam juz terakhir yang disebut dengan al-rawdah.
IV. Respon Umat Islam terhadap al-Kafi

Kitab hadis al-Kafi  merupakan khazanah kitab hadis yang masih terpelihara sampai saat ini dan merupakan produk ulama abad ke-3 H.  pengarangnya merupakan ulama ahli hadis generasi keempat setelah generasi pertama al-Tusi dan  al-Najasyi, kedua Syekh al-Mufid dan Ibn al-Gadari’i, ketiga al-Saduq dan Ahmad ibn Muhammad.

Banyak ulama yang menilai positif adanya kitab al-Kafi  dan sekaligus memberikan syarah penjelas atas kitab tersebut. di antara karya-karya ulama adalah:

1.    Jami’ al-Ah}adis wa al-Aqwal karya Qasim ibn Muhammad ibn Jawad ibn al-Wandi (w. 1100 H.).

2.    Al-Dur al-Mandum min Kalam al-Ma’sum karya Ali ibn Muhammad al-Hasan ibn Zaid al-Din (w. 1104 H.) masih berupa tulisan tangan, dan naskah tersebut telah disempurnakan keslaahan-kesalahannya oleh Muhammad Miskah Perguruan Tinggi Teheran.

3.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh al-Ah}adis| al-Imamiyah karya Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini (w. 11040 H.) telah dicetak di Teheran Iran.

4.    Al-Syafi karya Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini (w. 1089 H.) masih dalam bentuk naskah dan disimpan di perpustakaanMuhammad Miskah.

5.    Syarh al-Mizan karya Rafi al-Din Muhammad al-Naini (w. 1082 H.).

6.    Syarh al-Maula Sadr karya al-Syairazi (w. 1050 H.).

7.    Syarh karya Muhammad Amin al-Istirabadi al-Ahbari (w. 1032 H.).

8.    Syarh Maula Muhammad Salih al-Mazandarani (w. 1080 H.).

9.    Kasy al-Kafi karya Muhammad ibn Muhammad

10.    Mir’at al-Uqul fi Syarh al-Ahbar Alu al-Rasul karya Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi (w. 1110 H.) diterbitkan di Teheran tahun 1321 H. terdiri atas empat jilid.

11.    Hady al-Uqul fi Syarh Ahadis al-Usul karya Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Abd al-Jabbar al-Qatifi, masih dalam bentuk naskah dan terimpan di madrasah ali….

12.    Al-Wafi karya al-Kasani (w. 11091 H.) dicetak tahun 1310 dan 1324 H. dalam tiga jilid.

Sedangkan kitab-kitab H}asyiyah  atas al-Kulaini adalah:

1.    H}asyiyah  al-Syaikh Ibrahim ibn al-Syaikh al-Qasim al-Kadimi

2.    H}a>syiyah  Abi al-Hasan al-Syarif al-Futuni al-Amili (w. 1132 H.).

3.    H}a>syiyah  al-Sayyid al-Miz Abi Talib ibn al-Mirza Bik al-Fundursaki.

4.    H}a>syiyah  al-Syaikh Ahmad ibn Ismail al-Jazairi (w. 1149 H.).

5.    H}asyiyah  al-Sayyid Badr al-Din Ahmad al-Ansari al-Amili.

6.    H}asyiyah Muhammad Amin ibn Muhammad Syarif al-Istarabadi al-Ahbari (w. 11036 H.).

7.    H}asyiyah  Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi.

8.    H}asyiyah  Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini

9.    H}asyiyah  Muhammad Husain ibn Yahya al-Nawri

10.    H}asyiyah  Haidar Ali ibn al-Mrza Muhammad ibn Hasan al-Syairazi.

11.    H}asyiyah  al-Maula al-Rafi’ al-Jailani.

12.    H}asyiyah  al-Sayyid Syibr ibn Muhammad ibn Sanwan al-Hawizi.

13.    H}asyiyah  al-Sayyid Nur al-Din Ali ibn Ali al-Hasan al-Mausawi al-Amili

14.    H}asyiyah  al-Syaikh Zain al-Din abi al-Hasan Ali ibn Hasan

15.    H}asyiyah  al-Syaikh Ali al-Sagir  ibn Zain al-Din ibn Muhammad ibn Husain ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

16.    H}asyiyah al-Syaikh Ali al-Kabir  ibn Muhammad al-Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

17.    H}asyiyah  al-Syaikh Qasim ibn Muhammad Jawad al-Kadimi (w. 1100 H.)

18.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani yang terkenal dengan al-Syaikh al-Sabt al-Amili (w. 1030 H.).

19.    H}asyiyah al-Mirza Rafi’ al-Din Muhamamd ibn Haidar al-Naini (w. 1080 H.).

20.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Qasim al-Kadimi.

21.    H}asyiyah  Nizam al-Din ibn Ahmad al-Distaki.

Di samping upaya  ulama di atas, ada juga ulama yang meringkas kitab hadis tersebut seperti yang dilakukan Muhammad Ja’far ibn Muhammad Safi al-Na’isi al-Farisi (masih dalam bentuk naskah danntersimpan di perpustakaan)    dan menerjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa Parsi seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali ibn al-Haj Muhammad Hasan al-Ardkani dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Auliya’, Syaikh Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini dalam kitabnya yang berjudul al-S}afi Syarh Usul al-Kafi yang telah dicetak tahun 1308 H./1891 M. dalam dua jilid, dan Syarh Furu’ al-Kafi masih dalam bentuk tulisan tangan dan naskahnya tersimpan di perpustakaan Muhammad al-Miskah.

Di samping itu, terdapat ulama yang hanya menysrah sebagian dari hadis-hadis dalam al-Kafi seperti yang dilakukan oleh Baha’ al-Din Muhammad ibn Baqir al-Hasani al-Mukhtari al-Na’ini al-Asfahani dalam kitabnya H}asyiyah al-Faljah fi Syarh} Hadis al-Farjah dan Sayyid Hasan al-Sadr (w. 1324 H.), dalam kitabnya Hidayah al-Najdain wa Tafsil al-Jundain Risalah fi Hadis al-Kafi fi Junud al-Aql wa Junud al-Jahl.

Karya lain yang dapat ditemuan dan disandarkan kepada al-Kafi  adalah kitab dalam bentuk penyuntingan atau penelitian. Adapun kitab-kitabnya adalah:

1.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh Ahadis al-Imamiyah oleh al-Danad.

2.    Rumuz al-Tafasir al-Waqi’ah fi al-Kafi wa al-Raudah oleh Maula Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini.

3.    Nizam al-Aqwal  fi Ma’rifat al-Rijal Rijal al-Kutub al-Arba’ah oleh  Nizam al-Din Muhammad ibn al-Husain al-Qarsyi al-Sawiji

4.    JaImam Syam Al-din  Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Us|man al-Z|ahabi, Mizan al-I’tidal. Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.),’ al-Ruwat oleh al-Ardabili

5.    Risalat al-Akhbar wa al-Ijtihad fi Sihhat Ahabar al-Kafi  oleh  Muhammad Baqir ibn Muhammad Akmal al-Bahbahani.

6.    Ma’rifat Ahwal al-Iddah allaz|ina yarwi anhum al-Kulaini oleh Muhammad Baqir al-Safti (w. 1260 H.) dicetak tahun 1314 H. di Teheran.

7.    Al-Fawa’id al-Ka>syifah an Silsilah wa Asma’ fi Ba’d Asa>nid al-Ka>fi> oleh Muhammad Husain al-Taba’taba’i al-Tibrizi.

8.    Tarjamah Ali ibn Muhammad al-Mabdu’ ba’d Asanid al-Kafi oleh Mirza abi al-Ma’ali ibn al-Haj Muhammad Ibrahim ibn al-Haj Muhammad al-Kakhi al-Khurasani al-Asfahani  (w. 1315 H.).

9.    Al-Bayan fi Badi’ fi anna Muhammad ibn Isma’Islam al-Mabdu’ dih fi Asanid al-Kafi  oleh Hasan al-Sadr wafat 11 Rabiul Awal 1354 H.

10.    Rijal al-Kafi  oleh al-Sayyid Husain al-Taba’taba’i al-Burujurdi.

Kitab al-Kafi  telah mengalami beberapa kali cetak. Usul al-Kafi di cetak lima kali yakni Syiraz tahun 1278 H., Tibriz tahun 1281 H, Teheran tahun 1311 H. dalam berbagai versi 627 halaman, dan 468 halaman. Kemudian dicetak ulang tahun 1374 H. Sedangkan   Furu’ al-Kafi  dicetak di Teheran tahin 1315 H. dalam dua jilid yang terdiri masing-masing 427 dan 375 halaman. Sedangkan dalam percetakan Dar al-Kutub al-Islamiyyah dalam lima jilid.  Adapun bagian terkhir dari al-Kafi , al-Raudah dicetak di Tehran tahun 1303 H. dalam 142 halaman.

Kajian-kajian kontemporer atas kitab al-Kafi  bermunculan. Seperti pembahasan secara umum atas kitab al-Kafi  dan disandingkan dengan tiga kitab hadis lainnya yang beredar di Syi’ah dan menjadi rujukan utama ulama akhbariyun  dikaji oleh IKA Howard.  Pembahasannya hanya sekilas dan hanya sebatas mendeskripsikan tema-tema pembahasan hadis-hadis di kalangan ahl bait terutama dalam keempat kitab pokok hadis pegangan mazhab Syi’ah berikut sejarah ringkasnya.

Dari segi ulum al-hadis, ada sebuah penelitian yang menyandarkan pada al-Kafi al-Kulaini yaitu: Hasyim Makruf al-Hasani yang berjudul Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi.   Objek kajiannya hadis-hadis dalam kitab al-Kafi dengan mendudukkan dan menilai kehujjahan hadis-hadis di dalam kitab tersebut. Tidak ada pembahasan secara spoesifik terhadap isi dari kitab  al-Kafi . Demikian juga dengan yang dilakukan oleh Ayatullah Ja’far Subhani. Dalam kitab rijal al-h}adis|-nya, ia menjelaskan tentang pertimbangan hadis-hadis mazhab Syi’ah dalam  al-Kutub al-Arba’ah, al-Kafi .  Pembahasan yang dilakukan hanya sebatas mengumpulkan berbagai pendapat ulama Syi’ah dan kadang-kadang-kadang dari ulama Sunni tentang sosok kitab al-Kafi  dan pengarangnya.

Sedangkan literatur yang berdasarkan tema tertentu atas kitab al-Kafi  dijumpai dalam buku kecil setebal 164 halaman yang berjudul Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi karya Husein al-Habsyi.  Namun, yang dilakukan oleh penulis kitab yang ringkas ini hanya sebatas menghadirkan teks-teks hadis tentang akal dan menerjemahkannya serta menelaah sedikit dalam menanggapi hadis per hadis.  Dengan demikian, nampak pembahasannya disesuaikan dengan kitab asalnya dengan tanpa perubahan sedikitpun.

Dari berbagai upaya di atas, nampak bahwa keberadaan kitab al-Kafi   dalam tradisi Syi’ah amat kuat dan kokoh. Al-Ka>fi>  merupakan kitab pokok dan menjadi rujukan utama atas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di antara masyarakat Syi’ah. bahkan pada golongan tertentu menganggap segala persoalan telah tercover di dalam kitab tersebut sebagaimnana yang digagas oleh kaum akhbariyun. Nampaknya, apa yang dilakukan kaum Syi’ah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sunni terhadap kitab hadis S}ah}ih} al-Bukhari

.
V. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kitab hadis al-Kafi  dikarang oleh seorang bermazhab Syi’ah. kitab tersebut dijadikan rujukan utama di kalangan Syi’ah di samping tiga kitab lainnya. Pengarangnya, al-Kulaini merupakan sosok yang ulet dan pengembara keilmuan dan telah menjelajahi berbagai wilayah guna mencari hadis. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam al-Kafi  terdapat 16.000 buah hadis yang disusun selama 20 tahun.

Prestasi tersebut mengungguli kitab S}ah}ih} al-Bukhari yang ditulis selama 16 tahun dan memuat sekitar 7000 hadis.  al-Kafi  merupakan kitab hadis membahas berbagai persoalan agama yang dimulai dari kitab al-as}l, al-furu’ dan al-rawdah. Keragaman materi nampak dalam karya tersebut karena tidak saja membahas masalah furu’ saja melainkan membahas masalah al-as}l dan al-rawdah yang didalamnya membahas masalah pokok-pokok agama dan minat keagamaan para imam. Kontribusi yang sangat berharga yang disumbangkan al-Kulaini adalah penghimpunan hadis dalam sebuah kitab dan prisnip biarkan hadis berbicara sendiri. Upaya tersebut berkonsekwensi jauh tentang kualitas hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi . tidak semua hadis di dalam kitab tersebut bernilai sahih, melainkan bervariasi dan bahkan ada yang da’if

.
DAFTAR PUSTAKA
Azami, M.M. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya Terj. Ali Mustafa Ya’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Eliade, Mircea (Ed.), The Encyclopedia of Relkegion, Vol 6. New York: Macmillan Publishing Company, 1897.

Esposito, John L. Ensiklopedi Islam Modern, juz V. Bandung: Mizan, 2001.

Al-Gita’, As}l al-Syi’ah wa Us}uluha Kairo: Maktabah al-Arabiyah, 1957.

al-Gifari, Abd al-Rasul Abd al-Hasan. al-Kafi wa al-Kulaini.  Qum: Mu’assasah al-Nasyr al-Islami, 1416.

Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam Ringkas terj. Gufran A. Mas’adi. Jakarta:  Rajawali Press, 1999.

Al-Habsyi, Husein. Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi.  Bangil: Yayasan Pesantren Islam, 1994.

Al-Hasybi, Ali Umar. Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini. Bangil: YAPI, t.th.

Al-Hadiy, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Abd al-Qadir ibn Abd. T}uruq takhrij al-h}adis Rasulullah saw.  Mesir: Dar al-I’tisam, t.th.

Hasani, Hasan Ma’ruf. Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi, Jurnal al-Hikmah, No. 6, Juli-Oktober 1992,

Hasyim,  al-Husain Abd al-Majid. Us}ul al-H}adis| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih Mesir: Dar al-Syuruq, 1986.

Howard, IKA “al-Kutub al-Arbaah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab Ahl al-Bait”, dalam Jurnal Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol II, No, 4, 2001

Ibn Khaldun, Muqddimah. Cet. IV; Beirut: Dar al-Kurub al-Ilmiyyah, 1978.

Ismail, M. Syuhudi. Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press, 1995

‘Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-H}adis|. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Al-Kulaini, Usul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Gifari, juz I Teheran: Da>r al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Shahab, Husein. Pergeseran antara Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat: Perspektif Fiqih dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 6 Juli-Oktober 1992.

Shaukat, Jamila. “Classification of Hadith Literature”, Islamic Studies, Vol 24, No. 3, Juli-September 1985.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah Perkembangan Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Siddiqi, Muhammad Zubayr. “Hadith A Subject of Keen Interest” dalam Muhammad Zubayr Shiddiqi, et.al, Hadith and Sunnah Ideals and Realities. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1996.

Subhani, Ja’far Us}ul al-Hadis| wa Ahkamuh fi ‘Ilm al-Dirayah. Qum: Maktabah al-Tauhid, 1414

———-Kulliyat fi Ilm al-Rijal . Beirut: Dar al-Mizan, 1990.

Subki, Ah}mad Muh}ammad. Nazariyat al-Imamat lada al-Syi’ah Isna Asyariyah Tahlil al-Falsafi li al-Qaidah Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th.

Al-Syahrastani, al-Milal  wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.