Inggris Latih Pasukan Arab Saudi Salafi di Bahrain Untuk Memerangi Syi’ah Bahrain

Kemunafikan Inggris- Dukung Pemberontak Libya, Latih Tentara Saudi untuk Melawan Demonstran

Posted by تان سليمان , , 6:31 PM

Hal itu diungkapkan hari ini (29/5) bahwa Inggris adalah melatih tentara nasional Arab Saudi -pasukan elit yang digunakan untuk menghancurkan- demonstran anti rezim di Bahrain awal tahun ini mengakibatkan pembunuhan terhadap demonstran tidak bersenjata dan penangkapan serta penyiksaan terhadap lawan politik.
Mengomentari hal ini Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir di Inggris mengatakan: “kemunafikan kebijakan luar negeri Inggris secara nyata bisa dilihat untuk semua orang. Dalam pidatonya di Mansion House awal bulan ini, Menteri Luar Negeri William Hague mengatakan ‘kita berdiri hari ini dengan orang-orang yang bangkit melawan rezim tirani. ”
“Namun, pada saat yang sama Inggris memberikan pelatihan militer untuk diktator korup yang membunuh, memukul dan menyiksa para demonstran yang menentang pemerintahan tirani mereka.”
.
“Berita ini datang sebagai kejutan kecil kepada kita mengingat bahwa pada awal pemberontakan ini, Perdana Menteri Inggris Cameron berada di wilayah tanpa malu-malu menjual senjata rezim ini. Hanya beberapa minggu sebelum Gaddafi menjadi musuh publik nomor satu ia sedang dipeluk oleh kantor luar negeri Inggris, dan hanya beberapa hari setelah membantai ratusan orang, William Hague menyebut Bashar al Assad sebagai sang reformis! ”
“Pesan kami kepada masyarakat Timur Tengah adalah: perubahan yang nyata hanya akan datang dengan menghapus rezim dan pengaruh kekuasaan kolonial Barat yang mendukung mereka.”
.
“Semakin banyak orang menyadari bahwa meskipun Mubarak atau Ben Ali telah pergi, mereka belum melihat perubahan yang nyata. Semakin banyak orang menyadari bahwa Inggris, Amerika dan Eropa yang putus asa untuk mempertahankan pengaruh mereka di wilayah tersebut. Semakin banyak orang bisa melihat bahwa keterlibatan Barat di Libya lebih karena kepentingan minyak Inggris dan mencegah krisis pengungsi di Eropa daripada tentang dukungan berprinsip apapun untuk pemberontakan tersebut. ”

“Revolusi ini tidak akan menghasilkan perubahan nyata sampai masyarakat tidak hanya menghapus tiran, tetapi membangun kembali negara Khilafah Islam yang akan menghilangkan pengaruh pemerintah Barat yang mendirikan dan mendukung tiran ini sejak penghancuran negara Khilafah

.

Dengan dalih membantu keamanan di Manama dan menumpas aksi protes damai rakyat. Rezim Arab Saudi secara terang-terangan mengirim tentaranya ke negera Bahrain, kini giliran Inggris mulai terbongkar kedoknya. Ternyata misi yang diemban tentara Saudi ini mendapat restu dari London. Bahkan untuk menjalankan misi tersebut, tentara Saudi mendapat pelatihan khusus dari militer Inggris. Taktik dan strategi menumpas aksi demo didapat tentara Saudi dari Inggris.

Hal ini diakui sendiri oleh wakil menteri pertahanan Inggris. Ia mengakui bahwa militer negaranya melatih sejumlah kesatuan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Kesatuan tersebut adalah pasukan garda nasional yang saat ini ditempatkan di Bahrain. Ditambahkannya, Dephan Inggris memiliki kerjasama militer luas dengan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup pelatihan pasukan garda nasional.

Terbongkarnya dukungan dan pelatihan militer Inggris terhadap Arab Saudi bersamaan dengan kritik luas di London terkait aksi militer Riyadh di Manama. Para petinggi London juga memprediksikan pemindahan tawanan Bahrain ke Arab Saudi. Namun demikian, petinggi London mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini.

Sementara itu, ulah Riyadh mengirim pasukannya ke Bahrain mendapat kecaman dan kritik luas dari berbagai negara dan publik dunia. Sejak dimulainya kebangkitan rakyat Bahrain menentang Dinasti al-Khalifa, ratusan rakyat tewas, cidera atau diculik pasukan Arab Saudi. Nasib mereka yang diculik hingga kini masih belum jelas.

Di sisi lain, sejumlah anggota majelis rendah Inggris melayangkan surat tuntutan penjatuhan embargo senjata kepada Arab Saudi dan Bahrain. Dalam suratnya, mereka mengecam kehadiran pasukan Saudi di Bahrain dan perusakan tempat-tempat ibadah di Manama.

Perdana Menteri Inggris David Cameron pekan lalu diberitakan melakukan pembicaraan dengan Shaikh Salman bin Hamad al-Khalifa, putra mahkota Bahrain di London. Koran Daily Telegraph terkait hal ini menulis, petinggi Inggris tidak pantas menggelar karpet merah bagi arsitek penyiksaan rakyat Bahrain.

Kate Allen, salah satu staf Badan Amnesti Internasional menandaskan, Cameron harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan meminta pemerintah Bahrain menghentikan aksi brutalnya membantai warga. Namun menurutnya, Cameron mengorbankan isu hak asasi manusia demi keuntungan perdagangan dan berbagai kontrak penjualan senjata.

Kini, pengakuan tersirat deputi menteri pertahanan Inggris terkait pelatihan militer Arab Saudi oleh London kian membuktikan wajah sejati Amerika Serikat dan negara Barat serta Arab yang tak segan-segan mendepak hak asasi manusia demi meraih keuntungan dan menjaga kepentingan.

entara Arab Saudi yang dikirim ke Bahrain untuk membantu menghadapi demonstrasi telah menerima pelatihan dari Inggris, sebuah surat kabar mengatakan Ahad, dengan mengutip dokumen pemerintah.

Garda Nasional Arab Saudi telah diberi pelatihan persenjataan dan penegakan ketertiban umum oleh misi militer Inggris, menurut dokumen yang didapat oleh The Observer, berdasar Undang-udang Kebebasan Informasi.

Pasukan Teluk pimpinan Saudi, yang mencakup polisi Uni Emirat Arab (UAE), masuk Bahrain pada pertengahan Maret untuk membantu menghadapi demonstran pro-demokrasi di negara Arab mayoritas Syiah yang diperintah oleh monarki Muslim Sunni itu.

Langkah itu telah membebaskan pasukan keamanan Bahrain untuk menghadapi gerakan protes. Sebanyak 20 tim pelatihan telah dikirim ke Arab Saudi tiap tahun, kata Observer, dengan Riyath yang membayar rekeningnya.

Personel Inggris secara tetap menjalankan kursus bagi pasukan elite garda nasional dalam latihan keahlian militer umum, ketrampilan lapangan dan persenjataan, dan juga penanganan insiden, penjinakan bom, pencarian, ketertiban umum dan pelatihan penembak jitu, kata dokumen tersebut.

Para pengkampanye hak asasi manusia menyatakan Inggris oleh karena itu telah membantu menindas pergolakan di Bahrain, di tengah kecaman bahwa London tidak mengambil sikap keras pada penguasa Bahrain seperti sikapnya pada pemimpin Libya Muamar Gaddafi.

Menteri Muda Pertahanan Nick Harvey mengatakan pada parlemen pekan lalu bahwa beberapa anggota pasukan Saudi yang telah dikerahkan di Bahrain mungkin telah menjalani beberapa pelatihan Inggris.

Kementerian Pertahanan menekankan bahwa keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan asing dimaksudkan untuk menimbulkan kebudayaan menghormati hak asasi manusia.

“Inggris memberi pelatihan dan pendidikan pertahanan kelas-dunia pada banyak negara, termasuk di Teluk, menciptakan hubungan kekal antara pasukan bersenjata kami dan meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja bersama ke arah keamanan dan stabilitas regional,” kata seorang juru bicara.

“Negara-negara Teluk merupakan mitra penting dalam perang melawan terorisme dan pengembangan senjata nuklir dan juga menjadi sumber pengaruh ekonomi dan politik yang sedang muncul.

Dalam sebuah upaya untuk menopang sekutu dekatnya, Arab Saudi mengirim ratusan pasukan masuk ke dalam Bahrain pada Senin (14/3) waktu setempat, dalam sebuah tawaran untuk membantu pemerintah mendamaikan protes anti-rejim.

Intervensi tersebut datang “setelah seruan berulang-ulang oleh pemerintah Bahrain untuk dialog, yang berlangsung tanpa terjawab” oleh pihak oposisi, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP)
.
Pasukan tersebut, yang masuk kerajaan Teluk strategis, adalah bagian dari Pasukan Pelindung Teluk milik negara-negara Teluk.
Di bawah peraturan Dewan Kerjasama Teluk, “pasukan Teluk manapun yang memasuki sebuah negara anggota menjadi berada di bawah komando pemerintah,” pejabat tersebut menambahkan.
Bahrain, sebuah negara dengan sebagian besar Syiah dikuasai oleh sebuah dinasti Muslim Sunni, telah melihat protes oposisi akbar, menuntut jangkauan luas reformasi demokrasi
.
Raja Bahrain telah menawarkan dialog dan sebuah perlemen baru yang lebih kuat, dan refomrasi lainnya namun pihak oposisi telah menolak untuk duduk dan berbicara sampai pemerintah mengundurkan diri
.
Pemerintah Bahrain belum mengkonfirmasi kehadiran pasukan Arab Saudi di kepulauan tersebut, yang adalah rumah bagi Armada Kapal Kelima AS.
Namun, menteri luar negeri kerajaan tersebut mengatakan pada akun Twitter miliknya bahwa pasukan keamanan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council – GCC) ada di Bahrain, tidak memberikan rincian lebih jauh
.
Nabeel Al-Hamer, seorang mantan menteri informasi dan penasihat pengadilan kerajaan, mengkonfirmasi berita tersebut, juga melalui berita Twitter miliknya
.
“Pasukan dari Dewan Kerjasama Teluk telah tiba di Bahrain untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan,” Al-Hamer mengatakan.
GCC terbentuk dari enam negara Teluk – Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar.
Aliansi tersebut bertujuan untuk mencapai integrasi ekonomi dan keamanan antara negara anggota GCC.
Bahrain digabungkan dengan Arab Saudi oleh sebuah jalan lintasan di seberang Teluk
.
Para analis dan diplomat menyakini bahwa Arab Saudi dibuat khawatir oleh perselisihan di Bahrain karena perselisihan tersebut akan membuat lebih berani orang-orang Syiah yang gelisah di dalam Provinsi bagian Timur, pusat dari industri minyak.
Kantor berita harian Gulf Daily News, sebuah harian yang dekat dengan perdana menteri berkuasa Bahrain, memberitakan pada Senin (14/3) bahwa pasukan dari GCC akan melindungi fasilitas-fasilitas strategis
.
Pasukan GCC akan membantu mempertahanakan ketertiban dan hukum, harian tersebut mengatakan di sebuah berita halaman depan, kantor berita Reuters mengatakan
.
“Misi mereka akan dibatasi untuk melindungi fasilitas penting, seperti minyak, listrik dan instalasi air, dan fasilitas perbankan dan keuangan.”
Pada Senin, para pemrotes tumpah ruah masuk ke dalam distrik pusat fasilitas penting, kompleks bisnis Financial Harbor – sebuah simbol kekayaan dan keistimewaan – sementara kepolisian nampaknya telah meninggalkan daerah tersebut, para saksi mengatakan.
Oposisi Bahrain mengecam intervensi Arab Saudi sebagai sebuah “pendudukan asing”
.
“Kami menganggap kedatangan tentara manapun, atau kendaraan militer apapun, masuk ke dalam kawasan Bahrain… sebuah pendudukan terselubung dari kerajaan Bahrain dan sebuah konspirasi terhadap rakyat Bahrain yang tidak bersenjata,” kata sebuah pernyataan oleh aliansi oposisi yang dikutip oleh kantor berita AFP.
.
Blok tersebut membandingkan tujuh kelompok oposisi, sebagian besar Syiah, mengatakan bahwa intervensi tersebut “melanggar konvensi internasional.”
Blok alinasi tersebut juga menyerukan sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dan memohon komunitas internasional untuk bertindak memastikan “perlindungan rakyat Bahrain dari bahaya intervensi militer asing.”
Intervensi Arab Saudi kemungkinan besar memicu sensitivitas di Teluk, di mana beberapa komunitas Syiah mengeluhkan diskriminasi dan marjinalisasi.
“Negara dengan populasi Syiah yang besar, terutama di Kuwait dan Arab Saudi, kemungkinan mengintensifkan demonstrasi anti-rejim lokal sendiri,” Ghanem Nuseibeh, rekanan pada konsultasi Cornerstone Global, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
“Perselisihan Bahrain dapat secara potensial mengubah kekerasan sektarian regional yang berlangsung melebihi perbatasan negara tertentu yang dikhawatirkan.”
.
Namun di Bahrain sendiri, para pemrotes nampaknya tidak terpengaruh oleh berita-berita intervensi Arab Saudi.
“Kami tidak akan pernah pergi. Ini adalah negara kami,” kata Abdullah, seorang pemrotes, ketika ditanya apakah pasukan Arab Saudi akan menghentikan mereka.

“Mengapa kami harus takut? Kami tidak takut di dalam negara kami sendiri.”

SETAN DARi NAJAD dilatih Inggris Untuk Memerangi Syi’ah Bahrain !!! Wow Manhaj Salafi Pro British

Kemunafikan Inggris- Dukung Pemberontak Libya, Latih Tentara Saudi untuk Melawan Demonstran

Posted by تان سليمان , , 6:31 PM

 

Hal itu diungkapkan hari ini (29/5) bahwa Inggris adalah melatih tentara nasional Arab Saudi -pasukan elit yang digunakan untuk menghancurkan- demonstran anti rezim di Bahrain awal tahun ini mengakibatkan pembunuhan terhadap demonstran tidak bersenjata dan penangkapan serta penyiksaan terhadap lawan politik.
Mengomentari hal ini Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir di Inggris mengatakan: “kemunafikan kebijakan luar negeri Inggris secara nyata bisa dilihat untuk semua orang. Dalam pidatonya di Mansion House awal bulan ini, Menteri Luar Negeri William Hague mengatakan ‘kita berdiri hari ini dengan orang-orang yang bangkit melawan rezim tirani. ”
“Namun, pada saat yang sama Inggris memberikan pelatihan militer untuk diktator korup yang membunuh, memukul dan menyiksa para demonstran yang menentang pemerintahan tirani mereka.”
.
“Berita ini datang sebagai kejutan kecil kepada kita mengingat bahwa pada awal pemberontakan ini, Perdana Menteri Inggris Cameron berada di wilayah tanpa malu-malu menjual senjata rezim ini. Hanya beberapa minggu sebelum Gaddafi menjadi musuh publik nomor satu ia sedang dipeluk oleh kantor luar negeri Inggris, dan hanya beberapa hari setelah membantai ratusan orang, William Hague menyebut Bashar al Assad sebagai sang reformis! ”
“Pesan kami kepada masyarakat Timur Tengah adalah: perubahan yang nyata hanya akan datang dengan menghapus rezim dan pengaruh kekuasaan kolonial Barat yang mendukung mereka.”
.
“Semakin banyak orang menyadari bahwa meskipun Mubarak atau Ben Ali telah pergi, mereka belum melihat perubahan yang nyata. Semakin banyak orang menyadari bahwa Inggris, Amerika dan Eropa yang putus asa untuk mempertahankan pengaruh mereka di wilayah tersebut. Semakin banyak orang bisa melihat bahwa keterlibatan Barat di Libya lebih karena kepentingan minyak Inggris dan mencegah krisis pengungsi di Eropa daripada tentang dukungan berprinsip apapun untuk pemberontakan tersebut. ”

“Revolusi ini tidak akan menghasilkan perubahan nyata sampai masyarakat tidak hanya menghapus tiran, tetapi membangun kembali negara Khilafah Islam yang akan menghilangkan pengaruh pemerintah Barat yang mendirikan dan mendukung tiran ini sejak penghancuran negara Khilafah

.

Dengan dalih membantu keamanan di Manama dan menumpas aksi protes damai rakyat. Rezim Arab Saudi secara terang-terangan mengirim tentaranya ke negera Bahrain, kini giliran Inggris mulai terbongkar kedoknya. Ternyata misi yang diemban tentara Saudi ini mendapat restu dari London. Bahkan untuk menjalankan misi tersebut, tentara Saudi mendapat pelatihan khusus dari militer Inggris. Taktik dan strategi menumpas aksi demo didapat tentara Saudi dari Inggris.

Hal ini diakui sendiri oleh wakil menteri pertahanan Inggris. Ia mengakui bahwa militer negaranya melatih sejumlah kesatuan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Kesatuan tersebut adalah pasukan garda nasional yang saat ini ditempatkan di Bahrain. Ditambahkannya, Dephan Inggris memiliki kerjasama militer luas dengan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup pelatihan pasukan garda nasional.

Terbongkarnya dukungan dan pelatihan militer Inggris terhadap Arab Saudi bersamaan dengan kritik luas di London terkait aksi militer Riyadh di Manama. Para petinggi London juga memprediksikan pemindahan tawanan Bahrain ke Arab Saudi. Namun demikian, petinggi London mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini.

Sementara itu, ulah Riyadh mengirim pasukannya ke Bahrain mendapat kecaman dan kritik luas dari berbagai negara dan publik dunia. Sejak dimulainya kebangkitan rakyat Bahrain menentang Dinasti al-Khalifa, ratusan rakyat tewas, cidera atau diculik pasukan Arab Saudi. Nasib mereka yang diculik hingga kini masih belum jelas.

Di sisi lain, sejumlah anggota majelis rendah Inggris melayangkan surat tuntutan penjatuhan embargo senjata kepada Arab Saudi dan Bahrain. Dalam suratnya, mereka mengecam kehadiran pasukan Saudi di Bahrain dan perusakan tempat-tempat ibadah di Manama.

Perdana Menteri Inggris David Cameron pekan lalu diberitakan melakukan pembicaraan dengan Shaikh Salman bin Hamad al-Khalifa, putra mahkota Bahrain di London. Koran Daily Telegraph terkait hal ini menulis, petinggi Inggris tidak pantas menggelar karpet merah bagi arsitek penyiksaan rakyat Bahrain.

Kate Allen, salah satu staf Badan Amnesti Internasional menandaskan, Cameron harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan meminta pemerintah Bahrain menghentikan aksi brutalnya membantai warga. Namun menurutnya, Cameron mengorbankan isu hak asasi manusia demi keuntungan perdagangan dan berbagai kontrak penjualan senjata.

Kini, pengakuan tersirat deputi menteri pertahanan Inggris terkait pelatihan militer Arab Saudi oleh London kian membuktikan wajah sejati Amerika Serikat dan negara Barat serta Arab yang tak segan-segan mendepak hak asasi manusia demi meraih keuntungan dan menjaga kepentingan.

entara Arab Saudi yang dikirim ke Bahrain untuk membantu menghadapi demonstrasi telah menerima pelatihan dari Inggris, sebuah surat kabar mengatakan Ahad, dengan mengutip dokumen pemerintah.

Garda Nasional Arab Saudi telah diberi pelatihan persenjataan dan penegakan ketertiban umum oleh misi militer Inggris, menurut dokumen yang didapat oleh The Observer, berdasar Undang-udang Kebebasan Informasi.

Pasukan Teluk pimpinan Saudi, yang mencakup polisi Uni Emirat Arab (UAE), masuk Bahrain pada pertengahan Maret untuk membantu menghadapi demonstran pro-demokrasi di negara Arab mayoritas Syiah yang diperintah oleh monarki Muslim Sunni itu.

Langkah itu telah membebaskan pasukan keamanan Bahrain untuk menghadapi gerakan protes. Sebanyak 20 tim pelatihan telah dikirim ke Arab Saudi tiap tahun, kata Observer, dengan Riyath yang membayar rekeningnya.

Personel Inggris secara tetap menjalankan kursus bagi pasukan elite garda nasional dalam latihan keahlian militer umum, ketrampilan lapangan dan persenjataan, dan juga penanganan insiden, penjinakan bom, pencarian, ketertiban umum dan pelatihan penembak jitu, kata dokumen tersebut.

Para pengkampanye hak asasi manusia menyatakan Inggris oleh karena itu telah membantu menindas pergolakan di Bahrain, di tengah kecaman bahwa London tidak mengambil sikap keras pada penguasa Bahrain seperti sikapnya pada pemimpin Libya Muamar Gaddafi.

Menteri Muda Pertahanan Nick Harvey mengatakan pada parlemen pekan lalu bahwa beberapa anggota pasukan Saudi yang telah dikerahkan di Bahrain mungkin telah menjalani beberapa pelatihan Inggris.

Kementerian Pertahanan menekankan bahwa keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan asing dimaksudkan untuk menimbulkan kebudayaan menghormati hak asasi manusia.

“Inggris memberi pelatihan dan pendidikan pertahanan kelas-dunia pada banyak negara, termasuk di Teluk, menciptakan hubungan kekal antara pasukan bersenjata kami dan meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja bersama ke arah keamanan dan stabilitas regional,” kata seorang juru bicara.

“Negara-negara Teluk merupakan mitra penting dalam perang melawan terorisme dan pengembangan senjata nuklir dan juga menjadi sumber pengaruh ekonomi dan politik yang sedang muncul.

Dalam sebuah upaya untuk menopang sekutu dekatnya, Arab Saudi mengirim ratusan pasukan masuk ke dalam Bahrain pada Senin (14/3) waktu setempat, dalam sebuah tawaran untuk membantu pemerintah mendamaikan protes anti-rejim.

Intervensi tersebut datang “setelah seruan berulang-ulang oleh pemerintah Bahrain untuk dialog, yang berlangsung tanpa terjawab” oleh pihak oposisi, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP)
.
Pasukan tersebut, yang masuk kerajaan Teluk strategis, adalah bagian dari Pasukan Pelindung Teluk milik negara-negara Teluk.
Di bawah peraturan Dewan Kerjasama Teluk, “pasukan Teluk manapun yang memasuki sebuah negara anggota menjadi berada di bawah komando pemerintah,” pejabat tersebut menambahkan.
Bahrain, sebuah negara dengan sebagian besar Syiah dikuasai oleh sebuah dinasti Muslim Sunni, telah melihat protes oposisi akbar, menuntut jangkauan luas reformasi demokrasi
.
Raja Bahrain telah menawarkan dialog dan sebuah perlemen baru yang lebih kuat, dan refomrasi lainnya namun pihak oposisi telah menolak untuk duduk dan berbicara sampai pemerintah mengundurkan diri
.
Pemerintah Bahrain belum mengkonfirmasi kehadiran pasukan Arab Saudi di kepulauan tersebut, yang adalah rumah bagi Armada Kapal Kelima AS.
Namun, menteri luar negeri kerajaan tersebut mengatakan pada akun Twitter miliknya bahwa pasukan keamanan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council – GCC) ada di Bahrain, tidak memberikan rincian lebih jauh
.
Nabeel Al-Hamer, seorang mantan menteri informasi dan penasihat pengadilan kerajaan, mengkonfirmasi berita tersebut, juga melalui berita Twitter miliknya
.
“Pasukan dari Dewan Kerjasama Teluk telah tiba di Bahrain untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan,” Al-Hamer mengatakan.
GCC terbentuk dari enam negara Teluk – Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar.
Aliansi tersebut bertujuan untuk mencapai integrasi ekonomi dan keamanan antara negara anggota GCC.
Bahrain digabungkan dengan Arab Saudi oleh sebuah jalan lintasan di seberang Teluk
.
Para analis dan diplomat menyakini bahwa Arab Saudi dibuat khawatir oleh perselisihan di Bahrain karena perselisihan tersebut akan membuat lebih berani orang-orang Syiah yang gelisah di dalam Provinsi bagian Timur, pusat dari industri minyak.
Kantor berita harian Gulf Daily News, sebuah harian yang dekat dengan perdana menteri berkuasa Bahrain, memberitakan pada Senin (14/3) bahwa pasukan dari GCC akan melindungi fasilitas-fasilitas strategis
.
Pasukan GCC akan membantu mempertahanakan ketertiban dan hukum, harian tersebut mengatakan di sebuah berita halaman depan, kantor berita Reuters mengatakan
.
“Misi mereka akan dibatasi untuk melindungi fasilitas penting, seperti minyak, listrik dan instalasi air, dan fasilitas perbankan dan keuangan.”
Pada Senin, para pemrotes tumpah ruah masuk ke dalam distrik pusat fasilitas penting, kompleks bisnis Financial Harbor – sebuah simbol kekayaan dan keistimewaan – sementara kepolisian nampaknya telah meninggalkan daerah tersebut, para saksi mengatakan.
Oposisi Bahrain mengecam intervensi Arab Saudi sebagai sebuah “pendudukan asing”
.
“Kami menganggap kedatangan tentara manapun, atau kendaraan militer apapun, masuk ke dalam kawasan Bahrain… sebuah pendudukan terselubung dari kerajaan Bahrain dan sebuah konspirasi terhadap rakyat Bahrain yang tidak bersenjata,” kata sebuah pernyataan oleh aliansi oposisi yang dikutip oleh kantor berita AFP.
.
Blok tersebut membandingkan tujuh kelompok oposisi, sebagian besar Syiah, mengatakan bahwa intervensi tersebut “melanggar konvensi internasional.”
Blok alinasi tersebut juga menyerukan sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dan memohon komunitas internasional untuk bertindak memastikan “perlindungan rakyat Bahrain dari bahaya intervensi militer asing.”
Intervensi Arab Saudi kemungkinan besar memicu sensitivitas di Teluk, di mana beberapa komunitas Syiah mengeluhkan diskriminasi dan marjinalisasi.
“Negara dengan populasi Syiah yang besar, terutama di Kuwait dan Arab Saudi, kemungkinan mengintensifkan demonstrasi anti-rejim lokal sendiri,” Ghanem Nuseibeh, rekanan pada konsultasi Cornerstone Global, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
“Perselisihan Bahrain dapat secara potensial mengubah kekerasan sektarian regional yang berlangsung melebihi perbatasan negara tertentu yang dikhawatirkan.”
.
Namun di Bahrain sendiri, para pemrotes nampaknya tidak terpengaruh oleh berita-berita intervensi Arab Saudi.
“Kami tidak akan pernah pergi. Ini adalah negara kami,” kata Abdullah, seorang pemrotes, ketika ditanya apakah pasukan Arab Saudi akan menghentikan mereka.

“Mengapa kami harus takut? Kami tidak takut di dalam negara kami sendiri.”

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

oleh : Ustad Husain Ardilla

Syi’ah merupakan mazhab YANG BERPEGANG KEPADA AHLU BAiT dan SEBAGiAN  SAHABAT !

Tidak ada dikotomi  antara syi’ah dengan sebagian sahabat

ingatlah kepada kisah Harits di dalam perang Jamal.

Haris kebingungan, karena dua pihak yang hendak berperang itu adalah sama-sama orang yang dicintai nabi.

Harits tampak bingung dan bersedih, ia berkata, “Wahai Amirul mukminin, saya jadi bingung, di satu sisi ada Anda, menantu Rasulullah,  Sahabat Rasulullah, sepupu Nabi saw, sedangkan di pihak lain ada Aisyah, Ummul Mukimin, Istri Nabi, Putri Abu Bakar, siapa yang benar dan siapa yang harus saya bela?”

Ali berkata, “Wahai Harits, cara berpikir mu itu terbalik! kebenaran tidaklah dapat dilihat dari siapa orangnya.”

bila wahabi mau menghimpun bersama 100 orang syiah saja, lalu saya tanya satu persatu, apakah ada di antara mereka yang menjadi syiah karena keturunan atau sejak mereka kecil? maka jawabannya tidak ada. karena ketika kami berhimpun, masing-masing seringkali menceritakan masa lalunya, di madzab mana dahulu mereka berada dan sebagai apa. semuanya berasal dari mazhab non syiah. ada para mantan dedengkot NII, ada dari Persis, Muhammadiyah, NU, LDII, dari kelompok tarekat-tarekat, dan ada juga yang berasal dari kelompok salafi. Demikian pula ketika saya berhimpun dengan sekelompok syiah lainnya, tidak dapat saya temukan satupun yang bukan mantan sunni. dari sini dapat dipertimbangkan bahwa mayoritas syiah di Indonesia adalah mantan sunni.

diantara seribu umat, ada satu umat dari keturunan habib. terkadang habib ini juga mantan sunni. tapi kebanyakan habib memang syiah sejak kecil. tapi jumala habib dengan jumlah umat itu 1 : 1000. jadi, boleh dikatakan umat syiah yang bukan mantan sunni, hanya 1 di antara 1000 orang syiah.

kaum wahabi kerap menyebarkan brosur yang memprovokasi masyarakat agar membenci dan menolak syiah di Indonesia

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

daan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “

Perbedaan Sunni dan Syiah hanya soal jalur hadis semata. Kaum Muslim Syiah (Mazhab Ahlulbait) meyakini hanya sunnah dan hadis Nabi yang berasal dari keluarga Nabi dan sahabat tepercaya yang layak dijadikan pedoman.

Mazhab Ahlulbait selektif dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Tidak semua sahabat Nabi dianggap saleh dan adil. Karena itu, riwayat-riwayatnya tidak sembarang diterima.

Meski memang tidak dipungkiri dalam sejumlah kitab hadis masih ada yang harus dikaji secara kritis. Saya meyakini bahwa sesudah wafat nabi, ada banyak hadits palsu yang disandarkan oleh nabi oleh perawi sunni

Berikut saya sampaikan bahan bagi kaum ahlul hadits baik dari Suni maupun Syii yang masih malu-malu untuk mendiskusikannya.

Setidaknya ada 2 versi hadits yang relevan dengan judul yang diangkat:

1. Pedomanilah Rasulullah dan Sahabat

dalil-dalil ahlusunnah yang kontra terhadap hadits tsaqalain itu secara makna, tidak lebih kuat dari dalil yang tsaqalain yang diyakini oleh kaum syiah. Oleh karena itu, jika standar keabsahan hadits itu mengikuti cara berpikir ahlu sunnah, maka seharusnya imamah itu diyakini oleh ahlusunnah berdasarkan hadits tsaqalain itu.

orang berkata, “jika Abu Bakar salah di mata Ali, mengapa Ali menjadi pengecut dengan tidak memerangi Abu Bakar?”

Abu Bakar itu muslim. dan menumpahkan darah sesama muslim itu haram hukumnya, kecuali karena membela diri, bukan agresi. Dengan naiknya Abu Bakar menjadi khalifah dan keengganannya untuk memberikan tanah fadak kepada fatimah, bukan alasan yang tepat untuk Ali memerangi Abu Bakar sehingga terjadi pertumpahan darah. tetapi, anda dan orang-orang yang sefaham dengan anda menganggap sikap itu sebagai bentuk kepengecutan.

Ali a.s memang memililki kekuatan yang besar, tapi untuk memerangi suatu kelompok atau suatu pihak, tidak cukup dengan memiliki kekuatan besar itu, tapi juga harus mendahulukan KEBERLANGSUNGAN AGAMA ISLAM. Kaum muslimin pada masa Abubkar menolak memerangi kaum murtadin jika Ali tidak mau membai’at Abubakar !

Ali a.s mengetahui siapa orang yang hendak membunuhnya, dan kapan orang itu akan membunuhnya  karena Nabi telah memberi tau kepada Ali jauh-jauh hari, kapan dan siapa orang yang akan membunuh ali.  itu adalah keyakinan kaum syiah. Orang non syiah berkata, “Kalau begitu, kenapa Ali tidak menangkap calon pembunuhnya sebelum pembunuh itu membunuh dirinya, kenapa Ali tidak membunuh Muawiyah ketika Nabi wafat ??”

untuk menangkap seorang pembunuh, tentu diperlukan hujjah. sedangkan seseorang tidak dapat dihukum atau diqisas hanya karena ia memiliki niat membunuh.

ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, muawiyahpun naik menjadi khalifah tandingan. dan keluarga rasulullah mendapat tekanan yang lebih besar dari masa khalifah utsman. Sehingga mimbar-mimbar jumat, tidak kurang dari 6.000 mimbar jumat di gunakan untuk mencaci maki Ali bin abi thalib atas perintah Muawiyah. Ali sudah dianggap kafir ole sebagai orang yang terkena provokasi. kebenaran tertutup dari mata umat, sehingga ada seorang arab yang mendengar bahwa syahidnya Ali adala ketika ia sedang melaksanakan shalat, si Arab ini terkejut dan berkata, “Shalat? apa dia shalat? aku mengira dia tidak perna shalat?”

selepas syahidnya Ali, Muawiyah mengundang para ulama dan ahli hadits, serta mengundang Hasan a.s untuk diperolok-olok dimajelisnya.

Husain putra Ali bin Abi Thalib di kepung di Karbala, yang mengepung itu adalah kaum muslimin. mereka mengepung Husain seperti mengepung orang kafir. sehingga imam Husain, mengangkat bayinya yang menangis kehausan, “WAhai kalian semua! seandainya kalian menganggap aku kafir, maka lihatlah bayi ini? berikanlah air kepadanya, karena ia tidak berdosa!”

tapi seruan Husain a.s dijawab dengan anak panah yang menembus leher Ali Ashgar, bayi tak berdosa itu. meminta seteguh air saja, bagi seorang bayi yang tak berdosa, dijawab dengan kebengisan, maka bagaimana menyodorkan al Quran yang tdak sesuai dengan keyakinan mereka?

persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Apa Sebab Perpecahan?

sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.” (QS. al-An’am: 159).

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang…”

Seorang muslim -apalagi penuntut ilmu dan da’i- semestinya memperhitungkan dampak dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.

Sebuah pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.

Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap ta’ashub kepada sosok tertentu selain Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh dia telah keliru!

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat

“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

2. Pedomanilah Kitabullah dan Ahlul bait

hadits tsaqalain yang berbunyi “Kitabullah wa Itrati”   memiliki hadits “tandingan”yakni pedomanilah Rasulullah dan para Sahabat. Lalu kepada hadits mana kita harus berpegang ?? dan mana yang palsu ??

Mungkin sebagian orang menjadi bingung dan menganggap ketiga hadits tersebut saling bertentangan, sehingga harus dipegang salah satunya, dan ditinggalkan yang lainnya. Untuk itu kemudian harus menguji satu persatu, mana hadits yang paling shahih. Tapi pekerjaan ini bukanlah pekerjaan mudah. Jika setiap orang ingin yakin sepenuhnya tentang mana yang paling shaheh, maka setiap orang harus melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para ahli atau para peneliti hadits. Tidak akan selesai kita melakuan penelitian dalam waktu satu atau dua bulan saja, untuk satu hadits ini saja. Bayangkan, itu baru satu hadits. Padahal kita dihadapkan pada banyak hadits, ratusan bahkan ribuan hadits yang dianggap memiliki pertentangan. Berapa banyak umur yang akan kita habiskan untuk meneliti keshahehan hadits-hadits ini satu persatunya? Itu karena orang awam, seolah-olah ingin mengambil alih pekerjaan yang seharusnya hanya dilakukan oleh para ahli.

Di tangan saya terdapat sebuah buku yang berjudul “Dua Pusaka Nabi” yang isinya mengupas tuntas kajian matan dan sanad hadits tsaqalain “Kitab dan Itrah”, berikut matan dan sanad hadits yang dianggap berlawanan dengannya. Tebal buku tersebut adalah 684 halaman. Bayangkan, karena ingin meyakinkan keautentikan satu hadits saja, penulisnya harus menguraikan fakta-fakta yang panjang lebar, hingga mencapai 684 halaman. Coba renungkan, berapa juta lembar yang dibutuhkan untuk menguraikan fakta-fakta keautentikan seribu hadits? Akankah kita menghabiskan umur untuk menelaah seluruh kitab itu?

Dorongan untuk menelaah seluruh kajian sanad dari suatu hadits tersebut, terutama karena ada pihak lain yang meragukan keshahehannya, sementara pihak lainnya menyatakan dhaif, palsu atau memaknainya dengan makna yang jauh berbeda bahkan bertentangan, sehingga kita menjadi bimbang dan ingin memastikan keshahehannya, atau karena kita ingin membuktikan kepada mereka yang tidak percaya keshahehannya bahwa hadits tersebut memang shaheh.


Adapun Kitabullah dan Sunnah ?

“sunnah” yang di bawa sama “itrah” itu yang paling benar memadukannya,

‘itrah’ yang mana? tentu itrah yg dimaksud oleh Nabi saw,

itrah itu pengertiannya bisa ahlil bait artinya dari nasab keturunan

Keharusan berpegang dan mengikuti Kitabullah dan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukanlah hanya berdasarkan hadits2, akan tetapi berdasarkan firman Allah langsung di dalam Al-Quran.

Diantaranya Allah berfirman :”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”(Q.S Al-Ahzab ayat 36)

Allah juga berfirman :”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(Q.S An-Nisa ayat 59)

inilah hadits nama-nama dua belas imam suci yang disebutkan oleh Rasulullah saw :

Dari Jabir Yazid al Ju`fy, ia berkata, “Jabir bin Abdillah Anshari berkata : ` Ketika Allah menurunkan menurunkan ayat :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu (Q.S 4: 59)”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Kami telah kenal Allah dan RasulNya.  Akan tetapi siapakah Ulil Amr yang ketaatan kepadanya dihubugkan dengan ketaatan (kepada) Anda?

Beliau menjawab ,” Hai Jabir! Mereka adalah para khalifah (penggantiku) dan pemimpin umat Islam setelahku. Yang pertama (1)Ali bin Abi Thalib, kemudian (2)Hasan dan (3)Husain, kemudian (4)Ali bin Husain, kemudian (5)Muhammad bin Ali, yang dalam Taurat dikenal dengan al Baqir dan kamu, hai Jabir, akan menemuinya. Jika kamu menjumpainya, sampaikan salamku atasnya! Kemudian (6)ash Shidiq Ja`far bin Muhammad, kemudian (7)Musa bin Ja`far, Kemudian (8)Ali bin Musa, kemudian (9)Muhammad bin Ali, kemudian (10)Ali bin Muhammad, kemudian (11)Hasan bin Ali, kemudian yang kauniyahnya sama denganku, ia adalah al Hujjah (bukti) Allah di bumi Nya, peninggalan Nya di kalangan (di antara) hamba-hamba Nya, ia adalah (12) Putra Hasan bin Ali, Allah akan menaklukan Timur dan Barat melalui tangannya, ia menghilang dari syiah dan orang-orang yang mencintainya, sehingga tidak akan meyakini imamahnya dengan teguh kecuali orang yang hatinya telah diuji oleh Allah (dan berhasil dengan) keimanan.

Jabir berkata, `Aku berkata : “Wahai Rasulullah, apakah pengikut-pengikut (syiah)-nya dapat mengambil manfaat darinya pada masa ghaibnya?

Beliau menjawab “ Demi Dzat yang membangkitkanku (mengutusku) dengan kenabian, mereka akan bersinar dengan sinar cahayanya dan mengambil manfaat dengan wilayahnya pada masa ghaibnya, sehingga manusia menarik manfaat dari matahari ketika ditutupi awan tebal.” [41]

Selain riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan di atas, masih banyak riwyat lain yang senada dan memuat kandungan serupa. Jumlah hadis tersebut mencapai ratusan, oleh sebab itu tidak mungkin kami sebut semuanya dalam buku ini, bagi yang berminat dapat merujuknya langsung ke buku yang secara khusus membahas masalah-masalah tersebut, seperti : Muntakab al Atsar, karya Luftullah as Shafi al Guybaygani, al Mahdi karya as Sayyid Shadruddin ash Shadr, dan al Imam al Mahdi karya Muhammad Ali Dukhayyil.

[41] Ikmaluddin, I/365, Ilzam An Nashib, 55; Yanabi al Mawaddah, 465

Sumber : Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 319-320

Imam Khomeini

hadith ” Tsaqalain” yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadith ahli Sunnah

Diantara hadithnya:

.
Al-Imam Abul Hussain Muslim bin Hajaj An-Naisaburi ( wafat 262 H) meriwayatkan dalam Shahihnya dengan sanadnya
(2408) حدثني زهير بن حرب، وشجاع بن مخلد، جميعا عن ابن علية، قال زهير: حدثنا إسماعيل بن إبراهيم، حدثني أبو حيان، حدثني يزيد بن حيان، قال: انطلقت أنا وحصين بن سبرة، وعمر بن مسلم، إلى زيد بن أرقم، فلما جلسنا إليه قال له حصين: لقد لقيت يا زيد خيرا كثيرا، رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وسمعت حديثه، وغزوت معه، وصليت خلفه لقد لقيت، يا زيد خيرا كثيرا، حدثنا يا زيد ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: يا ابن أخي والله لقد كبرت سني، وقدم عهدي، ونسيت بعض الذي كنت أعي من رسول الله صلى الله عليه وسلم، فما حدثتكم فاقبلوا، وما لا، فلا تكلفونيه، ثم قال: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا، بماء يدعى خما بين مكة والمدينة فحمد الله وأثنى عليه، ووعظ وذكر، ثم قال: ” أما بعد، ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب، وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله، واستمسكوا به ” فحث على كتاب الله ورغب فيه، ثم قال: «وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي» فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته، ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده، قال: ومن هم؟ قال: هم آل علي وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم
.
Telah meriwayatkan kpd kami Zuhair bin Harb,dan Syuja`bin Makhlad kesemuanya daripada Ibnu `Aliyah,kata Zuhair: telah meriwayatkan kepada kami Ismai`l bin Ibrahim,telah meriwayatkan kepada kami Abuu Hayyan,meriwayatkan kepada kami Yazid bin Hayyan,katanya: Aku telah bertolak bersama-sama Hushoin bin Sabrah,dan `Umar bin Muslim menemui Zaid bin Arqam,apabila kami duduk bermajlis bersamanya Hushoin berkata kepadanya: ” Sesungguhnya engkau wahai Zaid telah mendapat kebaikan yang sangat banyak,engkau pernah melihat Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam,dan engkau telah mendengar haditnya,dan engkau telah ikut berperang bersamanya,dan engkau pernah solat di belakangnya dan sungguh enkau telah bertemunya, wahai Zaid kebaikan yang banyak, khabarkanlah kepada kami wahai Zaid apa yang telah engkau dengar daripada Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam,jawabnya: ” Wahai anak saudaraku,demi Allah umurku telah tua,aku dah lama hidup,dan aku telah lupa sebahagian hadith yang aku telah hafal daripada Rasulullah sallallahu`alahiwasallam ,maka apa yang aku khabarkan kepada kamu maka terimalah,jika tidak aku ingat maka jangan kamu memberat-beratkan aku,kemudian beliau berkata: ” Suatu hari Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam bangun beridiri berkhutbah kepada kami disisi anak sungai yang bernama Khum yang terletak di antara Makkah dan Madinah lalu beliau memuji Allah dan memberi nasihat serta peringatan kemudian beliau bersabda: ” Amma Ba`d, ketahuilah wahai manusia,maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia hampir-hampir utusan tuhanku( malaikat maut) mendatangiku dan aku dimatikan,dan aku meninggalkan kepada kamu tsaqalain( dua perkara yang berat): yang pertamanya ialah Kitab Allah,padanya terdapat petunjuk dan cahaya maka berpeganglah dengan Kitab Allah,dan berpegang teguhlah dengannya”,kemudian beliau menggalakkan agar melazimi kitab Allah dan memberi motivasi agar berpegang dengannya, kemudian beliau bersabda: “Ahli Baitku, Aku mengingatkan kamu dengan Allah agar menjaga hak-hak ahli baitku,aku mengingatkan kamu dengan Allah terhadap ahli baitku,aku mengingatkan kamu dengan Allah terhadap ahli baitku..” Kata Hushoin kepadanya: ” Dan siapakah ahli baitnya?,bukankah isteri-isterinya termasuk ahli baitnya?, jawab Zaid: ” isteri-isterinya adalah ahli baitnya,akan tetapi ahli baitnya adalah sesiapa yang diharamkan sadaqah(zakat) selepas kewafatannya” dia bertanya lagi: ” Siapa mereka?” Jawab Zaid: ” Mereka ialah aali( Keluarga) `Ali,keluarga `Aqil,keluarga Ja`afar dan keluarga `Abbas”. Dia bertanya lagi: ” Kesemua mereka itu diharamkan sadaqah(zakat)? ” Jawab Zaid: ” Y
.[ HR Muslim no:2408, Kitab Fadhail As-Sohabah Radiallahu`anhum, Bab Fadhail `Ali bin Abi Talib Radiallahu`anhu ]
.
Hadith berkenaan Tsaqalain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah Hadith yang paling shahih dalam bab ini,dan merupakan umdah(asas) pada masalah ini.Adapun hadith-hadith lain yang shahih diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan selainya seperti diriwayatkan beliau dengan sanadnya
3788 حدثنا علي بن المنذر الكوفي قال: حدثنا محمد بن فضيل قال: حدثنا الأعمش، عن عطية، عن أبي سعيد، والأعمش، عن حبيب بن أبي ثابت، عن زيد بن أرقم قالا: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الآخر: كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض. وعترتي أهل بيتي، ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما «هذا حديث حسن غريب»
.
Telah meriwayatkan kepada kami `Ali bin Munzir Al-Kufi katanya: Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Fudhail katanya: Telah meriwayatkan kepada kami `Al-`Amasy,daripada `Atiyah,daripada Abi Sa`id dan Al`Amasy daripada Habib bin Abi Thabit,daripada Zaid bin Arqam katanya: Rasulullah sallalahu`alaihiwasallam bersabda: ” Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh dengannya maka kamu tidak akan sesat selepasku, salah satunya sangat agung daripada yang lain: Kitab Allah tali yang dihulurkan daripada langit ke bumi,dan ahli `itrah ahli baitku,dan tidak akan berpisah antara keduanya sehinggalah disampaikan keduanya kepadaku al-haudh(telaga) maka lihatlah kamu semua bagaiman kamu menggantikan aku dalam menjaga hak-hak keduanya
.
[ HR Tirmidzi no:3786,3788, Bab Manaqib Ahli Baitin Nabi sallallahu`alaihiwasallam dan At-Tirmidzi menyebutkan hadith ini hasan gharib,dan Syeikh Al-Albani mensahihkannya

serban

Selain itu perlu difahami bahwa bagi kaum syiah, menggunakan redaksi bihi maupun bihima, tidaklah menyalahi makna bahwa maksudnya adalah “Quran dan ahli bait nabi”. Kenapa? Karena Quran dan Ahli Bait nabi dianggap sebagai satu. Sebagaimana Muhammad saw dan al-Quran dianggap sebagai suatu kesatuan. Oleh karena itu, baik Muhammad saw dan Ali disebut sebagai al-Quran Natiq, yakni al-Quran yang berbicara.

Kitabullah dan Ahlul  bait:

Muslim 4425.

Telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] dan [Syuja’ bin Makhlad] seluruhnya dari [Ibnu ‘Ulayyah], [Zuhair] berkata; Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim]; Telah menceritakan kepadaku [Abu Hayyan]; Telah menceritakan kepadaku [Yazid bin Hayyan] dia berkata; “Pada suatu hari saya pergi ke [Zaid bin Arqam] bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam. Hai Zaid, kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kamu pernah melihat Rasulullah. Kamu pernah mendengar sabda beliau. Kamu pernah bertempur menyertai beliau. Dan kamu pun pernah shalat jama’ah bersama beliau. Sungguh kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. OIeh karena itu hai Zaid. sampaikanlah kepada kami apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!

.
Zaid bin Arqam berkata; Hai kemenakanku, demi Allah sesungguhnya aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, apa yang bisa aku sampaikan, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan. maka janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam meneruskan perkataannya.

.
Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang di sebut Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata; Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya.

.
Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Kitabullah yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Kitabullah dan peganglah. Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Kitabullah. Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn; “Hai Zaid, sebenarnya siapakah ahlul bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah ahlul bait (keluarga) nya?” Zaid bin Arqam berkata; “Istri-istri beliau adalah ahlul baitnya. tapi ahlul bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau.” Husain bertanya; “Siapakah mereka itu?” Zaid bin Arqam menjawab; “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Husain bertanya; “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Zaid bin Arqam menjawab.”Ya.”
dst

.

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan]; Telah menceritakan kepada kami [Hassan] yaitu Ibnu Ibrahim dari [Sa’id] yaitu Ibnu Masruq dari [Yazid bin Hayyan] dari [Zaid bin Arqam] dia berkata; Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya; ‘Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana Hadits Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al-Qur’an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’ Juga di dalamnya disebutkan perkataan; Lalu kami bertanya; siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau? Dia menjawab; Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlu bait beliau adalah, keturunan beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.’

.

 Sunan Darimi no. 3182.

Telah menceritakan kepada kami [Ja’far bin ‘Aun] telah menceritakan kepada kami [Abu Hayyan] dari [Yazid bin Hayyan] dari [Zaid bin Arqam] ia berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri khutbah, beliau memuji Allah dan memuja-Nya kemudian bersabda: “Wahai manusia, aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba masanya utusan Rabbku datang padaku hingga aku pun harus memenuhi- Nya. Dan sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat. Pertama adalah Kitabullah yang mengandung di dalamnya petunjuk dan cahaya maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan ambillah ia.” Maka beliau mendorong dan menganjurkan untuk berpegang teguh kepadanya. Kemudian beliau bersabda: ‘Aku ingatkan kalian akan Allah pada Ahlu baitku.’ Beliau mengatakan tiga kali.”

.

Tirmidzi no. 3718 dan 3719

Telah menceritakan kepada kami [Nahsr bin Abdurrahman Al Kuffi] telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hasan, dia adalah seorang dari Anmath] dari [Ja’far bin Muhammad] dari [ayahnya] dari [Jabir bin Abdullah] dia berkata; saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hajinya ketika di ‘Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya -Al Qahwa`- dan saya mendengar beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu; kitabullah dan sanak saudara ahli baitku.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Abu Dzar, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan Hudzaifah bin Asid. ia berkata; “hadits ini derajatnya hasan gharib melalui jalur ini. Lalu ia melanjutkan; “Sa’id bin Sulaiman dan banyak dari kalangan ulama` yang telah meriwayatkan dari Zaid bin Hasan.”

.

Tirmidzi no. 3720.

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Al Mundzir Al Kufi] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudhail] telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] dari [‘Athiyah] dari [Abu Sa’id Al A’masy] dari [Habib bin Abu Tsabit] dari [Zaid bin Arqam radliallahu ‘anhuma] keduanya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya itu lebih agung dari yang lain, yaitu; kitabullah adalah tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan keturunanku dari ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib.”

Fathimah Az Zahra puteri Nabi SAW yang dizalimi kaum pemberontak pelaku kudeta

29 05 2011

Jalaluddin Rakhmat

KISAH perjuangan Fathimah adalah kisah penderitaan. Ia membuka matanya yang pertama ketika keluarga Nabi saw digoncang oleh berbagai musibat. Ia juga menutup matanya pada waktu keluarga Fathimah dihujani musibat, yang seperti terungkap dalam puisinya, “Sekiranya musibat itu menimpa siang, siang akan berubah menjadi malam gelita. Ke manakah ia mengadukan segala deritanya? Di manakah ia mendapatkan kedamaian di tengah prahara di zamannya? Di manakah ia melabuhkan hatinya yang hancur?”

Dari ayahnya ia belajar bahwa ia hanya menemukan ketentraman dalam ibadah, dalam zikir dan doa. Ketika tangan Fathimah melepuh karena memutar penggilingan gandum, ia datang menemui ayahnya. Rasulullah saw baru saja menerima banyak tawanan perang. Ia ingin meminta salah seorang di antaranya untuk membantunya bekerja di rumah. Ia tidak berhasil menemuinya. “Ketika Nabi saw datang,“ kata Ali yang mengisahkan kejadian itu kepada kita, “Aisyah menceritakan kepadanya tentang kedatangan Fathimah. Beliau mengunjungi kami ketika kami bersiap untuk tidur. Aku bangkit untuk menyambutnya tetapi beliau berkata: Tetaplah kalian di tempat kalian. Lalu beliau duduk di antara kami. Aku merasakan sejuknya kedua telapak kakinya pada dadaku. Beliau berkata: Perhatikan, akan aku ajarkan kepada kalian yang lebih baik dari apa yang kalian minta, jika kalian sudah berbaring untuk tidur. Ucapkan takbir 34 kali, tasbih 33 kali, dan tahmid 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu.”

Tasbih yang diajarkan Nabi saw itu kelak terkenal dengan sebutan Tasbih Al-Zahra. Tasbih ini bukan hanya dibaca sebelum tidur, tetapi juga diwiridkan setiap ba’da salat. Dari Al-Zahra, kita bukan hanya menerima tasbih ini, tetapi juga banyak tasbih lainnya. Dan di samping tasbih, kita juga mewarisi doa-doa ba’da salat lainnya, yang kita sebut sebagai ta’qib. Selain tasbih dan doa, dari Fathimah, kita juga belajar doa harian serta doa untuk berbagai situasi -seperti doa hajat, doa untuk keluar dari penjara, doa untuk menolak bencana, dan doa sehari-hari lainnya.

Pada lidah Al-Thahîrah, Sang Perempuan Suci, doa bukan hanya permohonan kepada Allah. Seperti Nabi Ya’qub yang berkata, “Sesungguhnya aku adukan derita dan kepedihanku kepada Allah” (QS. Yusuf: 86), Fathimah juga menjadikan doa sebagai pengaduan, jeritan hati, dan ungkapan kerinduan. Simaklah, misalnya, doa hari Selasa:

Ya Allah, jadikanlah kelalaian manusia dari kami sebagai peringatan, dan jadikanlah ingatan mereka pada kami sebagai syukur, dan jadikan ucapan baik yang kami ucapkan dengan lidah kami sebagaimana yang ada di dalam hati kami

.
Ya Allah, sungguh pengampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami, dan sungguh rahmat-Mu lebih kami harapkan dari amal-amal kami.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat pada Muhammad dan keluarganya, serta anugerahkanlah kami petunjuk untuk melakukan amal baik dan amal salih.

Di samping itu, seperti para ma’shumin lainnya, Sayyidah Fathimah menjadikan doa sebagai media untuk mengajarkan ajaran Islam kepada para pendengarnya. Dalam doa dan zikirnya ia menjelaskan kebesaran Allah dan keesaaan-Nya, kasih sayang Allah dan ampunannya dengan bahasa yang jernih, sederhana, indah, tetapi mendalam. Perhatikanlah doa-doa ta’qib salat dalam buku ini, terutama doa yang harus dibaca di pagi hari (setelah salat Subuh). Setiap kalimat doanya dapat menjadi satu bab pelajaran Aqidah, “…bagi orang yang punya hati, memusatkan pendengaran dan ia menjadi saksi.” (QS. Qaf: 37)
Menurut Sayyid Husain Fadhlullah, Fathimah juga mengajarkan prinsip kehidupan yang harus dipegang teguh oleh kaum mukminin. Imam Hasan menceritakan ibadat ibunya, “Aku pernah melihat ibuku Fathimah as berdiri di mihrabnya sepanjang malam Jumat. Tidak henti-hentinya ia rukuk dan sujud sampai terbit fajar. Aku mendengar ia mendoakan kaum mukminin dan mukminat sambil menyebut nama-nama mereka. Ia memperbanyak doa bagi mereka tetapi tidak berdoa untuk dirinya. Aku bertanya kepadanya: Ibu, mengapa Ibu tidak berdoa untuk ibu sendiri sebagaimana Ibu berdoa untuk orang lain? Ia menjawab: Anakku, tetangga dulu baru rumah kita sendiri!”
.

Al-jâr tsumma al-dâr adalah falsafah hidup Fathimah. Ia menjadikan hidupnya sebagai masa untuk berkhidmat bagi manusia. Kecintaannya kepada Al-Khaliq diungkapkannya dengan kecintaannya kepada makhluk-Nya. Tetangga dulu baru rumah sendiri. Di dalam doa ketika kita berkutat dalam keinginan-keinginan egoistis kita, Sayyidah Fathimah melantunkan doa-doa mulia untuk orang lain. Apa yang diungkapkannya dalam doa dipraktekkan juga dalam kehidupannya sehari-hari. Bagi Fathimah, falsafah al-jâr tsumma al-dâr bukan hanya sekedar wacana yang diomongkan kemudian dilupakan, bukan hanya sebatas pakaian yang dapat dikenakan dan ditanggalkan. Falsafah itu sekaligus jalan kehidupan yang ditempuhnya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, diceritakan kisah berikut ini; Seorang A’rabi -Arab Badui- dari Bani Sulaym keluar untuk mencari air di padang pasir. Tiba-tiba ia menemukan dhab -sejenis biawak- merayap di hadapannya. Ia berjalan di belakangnya sampai berhasil menangkapnya. Ia menyimpannya di dalam kantongnya. Ia melanjutkan perjalanannya mendatangi Nabi saw. Tidak jauh dari Nabi, ia berteriak, “Ya Muhammad, ya Muhammad!”
Ketika orang A’rabi itu menyerunya ‘Ya Muhammad, ya Muhammad’, Nabi pun menjawabnya dengan seruan, “Ya Muhammad, ya Muhammad.” Sang A’rabi lalu berkata, “Engkau tukang sihir pendusta! Di bawah kolong langit ini, di atas permukaan bumi, tidak ada lidah yang lebih pembohong daripada lidahmu. Engkaulah yang mengaku bahwa Tuhan telah membangkitkan kamu di bumi ini sebagai utusan kepada orang hitam maupun orang putih. Demi Latta dan ‘Uzza, sekiranya aku tidak takut kaumku menyebut aku sebagai orang yang terburu-buru, aku akan bunuh kamu dengan pedang ini dengan satu tebasan saja!”
.

Umar meloncat untuk mencengkeramnya. Tetapi Nabi berkata, “Duduk hai Umar! Hampir saja seorang penyantun itu dapat menjadi nabi karena kesantunannya.” Kemudian Nabi melihat kepada orang A’rabi itu seraya berkata, “Hai saudaraku Bani Sulaym, inikah yang dilakukan orang Arab? Mereka menyerang kami di tengah-tengah majelis kami dan mencaci maki dengan kata-kata kasar? Hai A’rabi, demi yang mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, sesungguhnya dua pukulan di dunia esok hari akan menyala di neraka. Hai A’rabi, demi Yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, sesungguhnya penghuni langit yang ketujuh menamaiku Ahmad Yang Benar. Hai A’rabi, Islamlah kamu supaya kamu selamat dari api neraka. Sehingga apa yang kami miliki juga menjadi milikmu, apa yang menimpa kami juga menimpamu, dan jadilah kamu saudara kami di dalam Islam.”
Orang A’rabi itu semakin marah dan berkata, “Demi Latta dan ‘Uzza, aku tidak akan beriman kepadamu hai Muhammad, kecuali kalau biawak ini beriman.” Ia lalu melemparkan biawak dari kantongnya. Ketika jatuh ke bumi, biawak itu segera melarikan diri. Nabi saw menyerunya, “Hai biawak, kembalilah kepadaku!” Biawak itu kembali sambil memandang Nabi saw

.
Nabi bersabda, “Hai biawak, siapakah aku?” Tiba tiba biawak itu berbicara dengan lidah yang fasih, “Engkau Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Muthalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf.” Nabi bertanya lagi, “Siapa yang kamu sembah?” Biawak itu menjawab, “Aku menyembah Allah yang menaburkan biji-bijian dan menggelarkan ciptaan, yang mengambil Ibrahim sebagai sahabat-Nya dan memilih engkau, hai Muhammad, sebagai kekasih-Nya.”
Ketika orang A’rabi itu menyaksikannya, ia berkata, “Ajaib benar! Seekor biawak yang aku buru di padang pasir dan aku simpan di dalam kantungku, yang tidak berfikir dan berakal, tiba-tiba berbicara kepada Muhammad saw dengan pembicaraan seperti ini dan bersaksi dengan kesaksian seperti ini. Ulurkan tanganmu dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya.” Masuklah orang A’rabi itu ke dalam Islam dan baguslah Islamnya

.
Kemudian Nabi melihat ke arah sahabat-sahabatnya seraya berkata, “Ajarkan kepada orang A’rabi ini beberapa surat Al-Quran.” Setelah orang A’rabi itu diajari beberapa surat dari Al-Quran, Nabi berkata lagi kepadanya, “Apakah kamu punya harta kekayaan?” Ia berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi. Ada empat ribu orang Bani Sulaym. Tidak seorang pun di antara mereka yang lebih miskin dan lebih sedikit hartanya dariku.”
Nabi menengok kepada sahabat-sahabatnya dan bertanya, “Siapa yang mau memberikan orang A’rabi ini seekor unta, aku jaminkan bagi dia di sisi Allah, seekor unta dari surga.” Lalu Sa’ad bin Ubadah meloncat dan berkata, “Biarlah ibu dan ayahku menjadi tebusanku, unta merah ini menjadi milik orang A’rabi.”
.

Nabi menengok lagi sahabat-sahabatnya dan berkata, “Siapa yang mau memberikan mahkota kepada orang A’rabi ini, aku jaminkan baginya di sisi Allah, mahkota ketakwaan.” Lalu Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata, “Apakah mahkota ketakwaan itu?” Nabi kemudian menyebutkan sifat-sifatnya. Ali pun melingkarkan serbannya kepada kepala orang A’rabi itu

.
Setelah itu Nabi bersabda, “Barangsiapa yang memberi bekal kepada orang A’rabi ini, aku jaminkan baginya di sisi Allah, bekal ketakwaan.” Salman Al-Farisi berdiri dan bertanya, “Apa bekal takwa itu?” Rasulullah bersabda, “Hai Salman, pada hari terakhir engkau meninggalkan dunia ini, Tuhan membimbing kamu untuk mengucapkan kalimat syahadat. Jika kamu sanggup mengucapkannya, kamu akan berjumpa denganku dan aku berjumpa denganmu. Jika tidak, kamu takkan berjumpa denganku dan aku pun takkan berjumpa denganmu selama-lamanya.”
Lalu berangkatlah Salman mendatangi sembilan rumah istri Nabi saw. Ia tidak mendapatkan apa pun dari mereka. Ketika ia kembali lagi, ia melewati kamar Fathimah lalu mengetuk pintunya. Dari dalam terdengar suara, “Siapa di balik pintu?” Ia menjawab, “Aku Salman Al-Farisi.” Ia bertanya, “Ya Salman, kau mau apa?” Kemudian Salman mengisahkan orang A’rabi dengan biawaknya di depan Nabi saw.
Fathimah berkata, “Hai Salman, Demi Yang mengutus Muhammad saw dengan kebenaran sebagai Nabi, sudah tiga hari ini kami tidak makan. Hasan dan Husain sudah menggigil karena kelaparan yang sangat dan tidur seperti anak burung yang kehilangan bulunya. Tapi aku tidak akan menolak kebaikan kalau kebaikan itu datang di pintuku. Hai Salman, bawalah perisai ini dan sampaikan kepada Syam’un orang Yahudi. Katakan kepadanya: Fathimah putri Muhammad minta dipinjami satu sha’ kurma dan sha’ gandum. Aku akan mengembalikan kepadanya, insya Allah.”
.

Ketika Syam’un mengambil perisai itu, dibolak-balikannya benda itu dalam tangannya sementara matanya berlinang air mata. Kemudian ia berkata, “Hai Salman, inilah yang disebut zuhud dalam dunia. Inilah yang disampaikan kepada kami oleh Musa bin Imran di dalam Taurat. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan Utusan-Nya.” Masuk Islamlah Yahudi itu dengan keislaman yang baik. Ia memberikan kepada Salman satu sha’ kurma dan satu sha’ gandum

.
Salman mendatangi Fathimah yang segera menggiling gandum itu dengan tangannya dan membuat roti. Ia berkata kepadanya, “Ambillah roti ini dan bawa kepada Nabi saw.” Salman berkata kepadanya, “Ya Fathimah, ambillah sebagian kecil untuk melepaskan lapar Hasan dan Husain.” Fathimah berkata, “Ya Salman, roti ini sudah kami persembahkan untuk Allah dan kami tidak akan mengambil sedikit pun.” Salman membawa roti itu ke hadapan Nabi dan menjelaskan apa yang dilakukan Fathimah

.
Nabi sendiri waktu itu belum makan selama tiga hari. Nabi lalu berangkat menuju bilik Fathimah. Ia mengetuk pintu. Ketika Fathimah membuka pintu, Nabi saw melihat mukanya yang menguning dan matanya yang sayu. Nabi berkata, “Anakku, mengapa kulihat wajahmu menguning dan matamu sayu?” Fathimah berkata, “Ya Abah, sudah tiga hari ini kami tidak memakan makanan apa pun. Hasan dan Husain sudah menggigil karena kelaparan dan tidur seperti anak burung yang menggelepar karena kehilangan bulunya.”
.

Nabi mengambil salah seorang dari cucunya dan menempatkannya pada pahanya sebelah kanan dan yang lain pada paha sebelah kiri serta mendudukkan Fathimah di hadapannya. Nabi memeluknya dan masuklah Ali. Ia memeluk Nabi dari belakang. Kemudian Nabi saw mengangkat matanya ke arah langit seraya berkata, “Tuhanku, junjunganku, pelindungku, inilah ahli baitku. Ya Allah, hilangkan dari mereka segala noda dan sucikan mereka sesuci-sucinya.”
Kemudian Fathimah masuk ke tempat ibadatnya. Ia merapatkan kedua kakinya dan salat dua rakaat. Setelah itu ia mengangkat tangan ke langit seraya berdoa, “Tuhanku, junjunganku, inilah Muhammad nabi-Mu, inilah Ali putra paman nabi-Mu dan inilah Hasan dan Husain, kedua cucu nabi-Mu. Tuhanku, turunkan kepadaku hidangan dari langit sebagaimana telah engkau turunkan kepada Bani Israil. Mereka makan makanan itu tapi kemudian kafir. Ya Allah, turunkanlah makanan itu kepada kami dan sungguh kami ini orang-orang mukmin.”
.

Berkata Ibnu Abbas, “Demi Allah, belum habis doa itu, tiba-tiba aku melihat nampan yang di belakang menyebarkan wewangian yang lebih harum dari kesturi.” Kemudian Fathimah membawanya ke hadapan Nabi saw, Ali, Hasan, dan Husain. Dan Ali bertanya kepadanya, “Hai Fathimah, dari mana engkau dapatkan ini semua?” Lalu Nabi saw berkata, “Makanlah ya Abal Hasan dan jangan banyak bertanya. Segala puji bagi Allah yang tidak mematikan aku sebelum ia menganugerahkan padaku seorang anak yang seperti Maryam binti Imran. ”Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini? Maryam menjawab: Makanan itu dari sisi Allah swt. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakinya tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran; 37)
.

Makanlah Nabi bersama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Setelah itu Nabi keluar. Sang A’rabi yang telah mendapatkan bekal, duduk di atas kendaraannya dan menemui Bani Sulaym yang ketika itu berjumlah empat ribu orang. Ketika ia berada di tengah-tengah mereka, ia berteriak dengan suara keras, “Ucapkan oleh kalian Lâilâha ilallâh, Muhammadar Rasûlullâh.”
Begitu mereka mendengar suara itu, mereka segera mengambil pedang dan menghunusnya sambil berkata, “Kamu sudah murtad dan memasuki agama Muhammad, tukang sihir pendusta!” Ia berkata kepada mereka, “Ia bukan tukang sihir dan bukan pendusta! Hai Bani Sulaym, sesungguhnya Tuhan Muhammad adalah sebaik-baiknya Tuhan dan Muhammad adalah sebaik-baiknya Nabi. Aku datang kepadanya dalam keadaan lapar dan ia memberikan makanan kepadaku. Aku datang dalam keadaan telanjang, ia memberiku pakaian. Aku datang sambil berjalan kaki, dan ia berikan kepadaku kendaraan.”
Kemudian ia menceritakan kisah biawak di hadapan Nabi saw, dan berkata, “Hai Bani Sulaym, Islamlah kamu supaya kalian selamat dari api neraka.” Hari itu juga empat ribu orang Bani Sulaym masuk Islam. Mereka adalah sahabat di sekitar Nabi yang membawa bendera hijau.

Seperti ajakan tokoh Bani Sulaym, kumpulan doa-doa Fathimah as disampaikan dengan diiringi seruan untuk mengikuti Fathimah bukan saja dalam mengamalkan doanya, tetapi juga dalam mempraktekkan ajarannya dalam kehidupan kita.

Dengan melantunkan doa-doa Fathimah as, kita ingin menyerap sedikit saja cahaya yang memancar dari mihrabnya. Dengan memanjatkan rintihan-rintihan sucinya, kita berharap agar Tuhan menggabungkan kita bersama sang penghulu perempuan seluruh alam, Sayyidah Fathimah ‘alaihas salam.

Apa yang Dihapus (OLEH SETAN DARi NAJAD) di Masjid Nabawi ???

Sejak awal blog ini ingin tetap konsisten dengan prinsip persatuan umat Islam dan sebisa mungkin tetap ingin menjaganya. Dalam beberapa diskusi dan pertemuan, ada keinginan untuk tidak terlalu menyinggung Wahabi atau yang sekarang ini mencatut nama salafi. Katanya, mereka sebenarnya masih punya peluang untuk dibantu. Setidaknya dibantu untuk kembali menggunakan akal dan tidak buta dengan istilah dan penampilan lahiriah.

Gambar-gambar di bawah ini menunjukkan bahwa kelompok yang kelihatannya sangat taat ini sebenarnya ingin mencerabut Nabi Muhammad saw. dari hati umat muslim. Dimulai dari klaim bahwa orang tua nabi berada di neraka, keluarga nabi adalah manusia biasa, larangan ziarah kepada nabi, dan tuduhan lain yang merendahkan nabi saw. Liciknya mereka menggunakan dalih dengan mengaku sebagai muwahid sejati dan menjual murah kata-kata “musyrik”, “bidah“, “sesat” dan sebagainya.

Apa yang Dihapus di Masjidnabawi?

Ketika kekhalifahan Utsmaniah (Ottoman) Turki membangun kembali Masjid Nabawi, mereka menuliskan di pagar emas Raudah Syarif “Ya Allah Ya Muhammad” bersamaan.

Tapi menurut syariahnya Wahabi, penyebutan “Ya Muhammad” adalah syirik meskipun seluruh umat muslim tahu Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Nya. Sehingga mereka menambahkan “titik” di bawah huruf “ha” sehingga menjadi huruf “jim” dan menghapus huruf “mim” untuk kemudian menambahkan “dua titik” sehingga terlihat seperti huruf “ya”. Kemudian kata Muhammad dihapus menjadi Majîd.

“Ya Muhammad” menjadi “Ya Majid”

sumber kutipan : http://ejajufri.wordpress.com/2011/05/29/apa-yang-dihapus-di-masjid-nabi-dan-ditulis-di-kakbah-oleh-wahabi/

Mazhab Bani Umayyah berusaha mengaku sebagai Islam Sahabat atau Ahlusunnah wal Jamaah sedangkan mereka termasuk tulaqa (artinya-orang-orang yang dibebaskan oleh Nabi saww)

Sesungguhnya Islam yang berusaha diterapkan oleh keturunan umayyah dan berusaha untuk mengatur umat Islam  dengan Islamnya itu. Mempunyai pengaruh  dan idiologi yang sangat berbahaya bagi umat Islam.Karena kita dapati bahwa sekte atau kelompok ini dan Islam yang terdapat dalam ajaran-ajarannya serta strategi-strateginya secara umum berusaha mengarah kepada sekelompok cendikiawan muslim untuk memberikan dasar-dasar serta berpendapat  dengan Islam yang telah diusahakan oleh bani umayyah.

Lebih berbahaya lagi adalah,  Mazhab Bani Umayyah berusaha mengaku sebagai Islam Sahabat atau Ahlusunnah wal Jamaah. Ini adalah beberapa bahaya yang sangat mendasar. Sementara Islam dan ajaran-ajaran yang terdapat dalam madrasah sahabat memiliki banyak perbedaan yang sangat asasi, baik dari sisi Islamnya, langkah-langkahnya, idiologinya dengan Islam  yang diterapkan oleh Bani Umayyah. Objek inilah yang harus kita pisahkan antara Mazhab Ahlusunnah Wal Jamaah dengan Mazhab Bani Umayyah.

Karena itu, kejadian in ibukan saja kejadian sejarah. Tentang bagaimana masuk Islamnya Bani Umayyah pada futuh Makkah, sedangkan mereka termasuk tulaqa (artinya-orang-orang yang dibebaskan oleh Nabi saww), bagaimana mereka dapat berkuasa sementara mereka tidak memiliki keahlian agama dan pengetahuan begitupun muawiyah dan keluarganya?. dan bagaimana merekadapat mengaku sebagai Amirul Mukminin kepada kaum muslimin ?, dan mengaku sebagaiKhalifah Rasulullah saww dan Muslimin ?.

Sesungguhnya Islamnya tersebut adalah Islam versi Umawi yaitu Muawiyah bin Abi Sofyan sangat bertolakbelakang dengan Islam Muhammadi atau Nabawi atau hakiki yang mana Rasul sawwingin mendidik umat dengan Islam yang hakiki.

Oleh karena itu, Ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memperoleh kekuasaan politik dan menjadi seorang khalifah serta menjadi Amirul Mukminin yang kemudian dikenal dengan nama Islam Bani Umayyah, ia segera melakukan beberapa hal setelah itu.

Pertama :

Muawiyah bin Abi Sofyan menetapkan untuk menyebut Ali dan keutamaan-keutamaannya dan mengganti semua riwayat dari Rasul saww dan juga apa-apa yang telah diriwayatkan dari para sahabat tentang Ali dan keutamaan-keutamaannya dengan cara mengurangi keutamaan-keutamaan Ali.

Pertanyaannya adalah :

Benarkah  Muawiyah bin Abi Sofyan menyuruh demikian ?

Jawabnya terdapat :

Di dalam kitab Shahih Muslim, kitab keutamaan Sahabat,bab keutamaan Ali bin Abi Thalib Jilid 2 halaman 448 hadis ke 2404, cetakan DarFikr  tahun 1414 / 1993 (karangan Muslim bin Hajjaj An-naisaburi, lahir th 820 wafat th 875 M /  204-261 H):

Dari Amar bin Sa’ad bin Abi Waqqos dari ayahnya iaberkata : ” Muawiyah telah memerintahkan Sa’ad, apa yang mencegah engkau dari mencaci Abu Turab ?. Sa’ad menjawab: ” aku ingat Tiga hal  yang Rasul saww pernah bersabda, dan aku tidak akan pernah mencacinya, karena seandainya salah satu dari tiga itu aku miliki, lebih aku sukai daripada unta merah. :

  1. Ali berkata kepada Rasul Saww : ” Ya Rasulullah engkau tinggalkan akubersama para wanita dan anak-anak kecil ? kemudian Rasulullah menjawab :”tidakkah engkau rido menjadi bagian dariku sebagaimana  kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidakada Nabi setelahku.[Untuk lebih jelasnya, tentang apa yangdimaksud oleh Rasul saww dengan kedudukan tersebut maka silahkan buka Qs.20:30-32 “(yaitu) Harun, saudaraku teguhkanlah dengan dia kekuatanku danjadikankanlah dia sekutu dalam urusanku”hadis initerdapat pula dalam Bukhori Jilid 2 halaman 300.]
  2. Dan aku mendengar beliau bersabda pada perang Khaibar: “Pasti akan aku berikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasulnya dan Allah serta Rosulnya mencintai dia.” [(buka Qs. 3:31). dalam ayat tsb menjelaskan bahwa amirul mukminin adalah sebagai tolok ukur yang paling utama bagi orang yang mengikuti Rasulullah saww. Dan hadis ini pun terdapat dalam kitab Bukhori Jilid 3 halaman 51. Rasul saww bersabda : “panggilkan untukku Ali, maka datanglah Ali menemui beliau dalam keadaan sakit mata, lalu Nabi memberi ludah pada matanya kemudian menyerahkan panji kepadanya,maka Allah memberikan kemenangan ditangannya.]
  3. Dan pada saat turun ayat ini “katakanlah mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian” kemudian Rasul saww memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu beliau berdoa” Ya Allah merekalah keluargaku. [Hadis ini menggugurkan pendapatyang mengatakan bahwa Istri-istri Nabi termasuk Ahlu Bait yang disucikan sesuci-sucinya sebagaimana yang terdapat dalam Qs. 33 : 33.]

Sementara Ibn Taymiyah adalah orang yang selalu meragukan semua riwayat yang didalamnya meriwayatkan keutamaan Ali dan Ahlul Bait.

Ketika kita sampai kepada nas-nas diatas kita mendapatkan kejelasan bahwa Muawiyah bin Abi Sofyan memang benar  telah memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqos untuk mencaci Ali. Hal itu, diperjelas oleh Ibn Taimiyah dalam kitabnya Minhajussunnah An-nabawiyah Jilid 5 halaman 23, terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004 (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M / 661-728 H) Ibn Taimiyah berkata : “ Adapun hadis Sa’ad ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memerintahkanpadanya untuk mencaci maki Ali lalu ia menolak”

Dari perkataannya tersebut menunjukan bahwa Ibn Taymiyah memahami benar maksud dari hadis Sohih Muslim diatas?

Muawiyah adalah seorang sahabat, yang meminta sahabat lain untuk mencaci Ali. Bukankah hal ini termasuk mengurangi keutamaan sahabat ?

Dalam kitab Shawaiq al Muqriqahterbitan Maktabah Al Qohirah, cetakan ke 2 tahun 1385 H / 1965 M.Pada halaman 211, (karangan Ibn Hajar Al Haitami, lahir 1504 wafat 1567 M /909-974 H) :

” Telah berkata Imam pada zamannya Abu Zur’ah Arrozi paling mulianyadiantara guru-guru Muslim, ia berkata : “jika kamu melihat seseorang mengurangi salah seorang sahabat Rasul saww. Ketahuilah sesungguhnya dia zindiq.

Dalam kitab yang sama dia berkata :” Abu Zur’ah Arrozi adalah orang yang duduk bersama Imam Ahmad bin Hanbal.

Bagaimana dengan Muawiyah bin Abi Sofyan yang menyuruh Sa’ad bin Abi Waqos untuk mencaci Ali. Bukankah Ali termasuk sahabat Rasulullah juga ?

Ibn Taimiyah berkeyakinan bahwa nas-nas yang menyatakan “Islam senantiasa Mulia hingga12 kholifah, semuanya dari Quraisy”, Ibn Taimiyah berkeyakinan bahwa dari 12 khalifah tersebut yang ke 7 dan ke 8 nya adalah dari Bani Umayah, bahkan dia meragukan apakah Ali termasuk dari mereka atau tidak ?.

Kedua

Di dalam kitab Minhajus-Sunah An-Nabawiyah Jilid 8 halaman 238 terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004, (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M / 661-728 H)  :

Maka para khalifah itu adalah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali kemudian diangkatlah seseorang yang disepakati manusia. ia mendapatkan kemuliaan, dan kekuasaan ia adalah Muawiyah dan anaknya Yazid kemudian Abdul Malik bin Marwan dan ke empat anaknya diantara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz. Yang ke 8 dari 12 khalifah itu adalah mereka yang telah mendapatkan kabar gembira dari Nabi Ismail as. Dan sebagian daripara pembesar itu dari Bani Umayah.

Dengan kata lain Ibn Taymiyah tidak memasukkan Al-Hasan dan Al-Husain termasuk dari 12 Khalifah dan tidak termasuk para pembesar yang mendapatkan kabar gembira dari Nabi Ismail as. Secara tidak langsung Ibn Taimiyah lebih mengutamakan Yazid daripada Al-Hasan dan Al-Husain.

Sekarang nampak jelas bagi kita, bahwa mazhab Ibn Taymiyah sangat condong kepada Bani Umayah.

Ibn Taymiyah berkata : “Sebagian dari faktor-faktor semua itu adalah bahwa sesungguhnya mereka berada pada awal Islam dan era kejayaan. Kemudian Ibn Taimiyah berkata: ” yang sangat besar adalah manusia menaruh dendam kepada Bani Umayah dikarenakan dua hal, salah satunya adalah ” perbincangan mereka menjelek-jelekankan Ali” – (artinya caci maki mereka kepada Ali).

Ibn Taymiyah tidak berkata pelaknatan atau cacian mereka kepada Ali, akan tetapi menyepelekan masalah tersebut, dengan begitu dia dapat mengelabui dan menipu umat Islam terhadap sesuatu yang telah dilakukan Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait as.

Anehnya, Apabila menjelek-jelekan khalifah pertama, kedua dan ke tiga merupakan musykilah yang besar, namun apabila menjelek-jelekan Ali tidak termasuk musykilah yang besar.!

Kemudian Ibn Taymiyah berkata :

“yang dimaksud disini adalah sesungguhnya hadis yang didalamnya menyebutkan 12 khalifah, baik Ali ditetapkan termasuk darinya atau tidak adalah sama saja. (pen.Ibn taimiyah berusaha meragukan kembali, dengan alasan umat tidak sepakat terhadap Ali)

Kita kembali kepada nas yang disebutkan oleh Ibn Taymiyah yang berkata:

” yang sangat besar adalah manusia menaruh dendam kepada Bani Umayah karena dua hal salah satu dari keduanya adalah perbincangan mereka tentang Ali dan yang kedua mengakhirkan waktu Sholat.

Ibn Taymiyah berkata :

“Oleh karena itu, Umar bin Maroh Al Jumali telah meriwayatkan setelahkematiannya, dikatakan kepadanya. Apa yang telah Allah lakukan dengan semua itu? Ia (Umar bin Maroh Al Jumali) berkata : Allah telah mengampuniku karena aku selalu menjaga sholat-sholatku pada waktunya, dan karena kecintaanku kepada Ali bin Abi Thalib.  Ini adalah orang yang menjaga dua sunnah. Oleh karena itu, seseorang harus berpegang teguh dengan sunnah ketika telah bermunculan bid’ah” ( pen. Dari perkataannya Ibn Taymiyah mengakui bahwa cinta kepada Ali termasuk dari sunnah Nabawiyah. sekarang jelas bahwa Ibn Taimiyah kebanyakan lupa.)

Qs. 42 :23 (asy-Syura;23)

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada Al Qurba.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannyaitu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Swt telah mewajibkan kepada kita untuk mencintai Al Qurba sebagai upah atas dakwah Rasul saww, Siapakah Al Qurba yang wajib kita cintai itu ? mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Untuk lebih jelasnya silahkan rujuk beberapa kitab berikut :

  1. Tafsir Al Qurtubi Jilid 8 hal.16, terbitan Dar Fikr tahun 1424 H/ 2003M
  2. Tafsir fakhrurozi Jilid 14 hal.167, terbitan Dar Fikr tahun 2002/1423
  3. Mustadrak Al hakim Jilid 3 hal.51, terbitan Dar fikr tahun 2002/1422
  4. Fusulul Muhimmah hal. 27 karangan Ibn Shobag, terbitan Dar Adwa, cetakan ke dua
  5. Tafsir Baidowi Jilid 4 hal. 53, terbitan Dar Fikr
  6. Yanabiul Mawaddah karangan Al Qunduzy Al Hanafi, terbitan Muassasah Al Ilmiyah Beirut. dll

Qs 3:61(Ali Imran ;61) :

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”

Demikianlah riwayat-riwayat mereka mengenai kecintaan kepada para khalifah Bani Umayyah, sementara cinta kepada Ali terdapat dalam Al Qur’an. dan mereka wahabi selalu berkata :”kami pun mencintai Ali dan Ahlul Baitnya.”..!

jawabannya adalah : Jelas, mereka harus mencintai Ali dan Ahlul Bait, karena jika tidak maka mereka keluar dari Islam.

Dan Harus diketahui bahwa kecintaan kita kepada Ahlul Bait bukanlah suatu keberuntungan bagi Ahlul Bait akan tetapi manfaat kecintaan tersebut kembali kepada diri kita sendiri.Karena mencintai mereka adalah kewajiban dari Allah swt.

Ketiga

Di dalam kitab Minhajus-Sunnah An-Nabawiyah, Jilid 5 halaman 244, terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004, (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M/ 661-728 H):

” Dan juga, sungguh kondisi politik lebih tertata / tertib pada masa Muawiyah sebagaimana belum tertata pada masa Ali, maka wajib menjadikan para pejabat Muawiyah lebih baik daripada para pejabat Ali”. (pen. Kalau ukurannya seperti itu kenapa Allah swt tidak mensucikan Muawiyah bin Abi Sofyan saja ???)

Para pejabat Muawiyah bin Abi Sofyan antara lain : Amr bin Ash, Mughiroh bin Syu’bah, Basar bin Arthat,Marwan, Hakam dan orang-orang yang telah dilaknat Rasul saww. Jadi, Ibn Taimiyah mengangap tingkatan dan kedudukan mereka ini lebih utama dari pada Salman, Abu Dzar,dan Amar. Demikianlah keyakinan Ibn Taimiyah mengenai sahabat.!

Siapakah para pejabat Muawiyah bin Abi Sofyan itu ?

Ibn Taymiyah berkata : “Para pejabat Muawiyah adalah Syiah Usman.”

Siapakah Syiah Usman itu?

Ibn Taymiyah berkata : “mereka itu adalah Nashibi yaitu orang-orang yang membenci Ali”.

Kalau begitu dimana kewajiban cinta kepada Ahlul Bait ??

Ibn Taimiyah berkata : “Syiah Usman  dan Nashibi keberadaannya lebih utama daripada Syiah Ali diatas semua standard.

Jadi Ibn Taymiyah meyakini bahwa orang-orang yang membenci Ali, keberadaannya  lebih utama daripada Syiah Ali dan orang-orang yang mencintai Ali.

Kemudian Ibn Taymiyah berkata :

” Para sahabat Ali itu tidak memiliki ilmu, agama, keberanian dan kedermawanan. Dan keadaan mereka tidak baik didunia maupun diakhirat.”

Artinya para pejabat Usman dan Syiahnya yang kemudian mereka menjadi Syiah Muawiyah. Menurut Ibn Taymiyah Mereka itu berilmu, beragama, berani, dan dermawan lebih utama daripada sahabat Ali as.

Demikianlah idiologi Ibn Taimiyah yang memperkuat existensi mazhab Bani Umayyah hingga sekarang.

Jadi, jawaban bagi orang yang mengatakan bahwa ini hanya kejadian sejarah saja, adalah salah besar, karena sekarang hadir dalam kehidupan kita dalam bentuk pemikiran, aqidah, agama, keimanan, serta politik, dll.

Ternyata Wanita Yang Hendak Diperkosa Oleh Director IMF Adalah Seorang Muslimah Berjilbab

Saudara dari wanita yang bekerja sebagai cleaning service-di mana Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss-Kahn berusaha melakukan pelecehan seksual terhadapnya-membantah kalau saudara perempuannya sengaja disiapkan sebagai perangkap bagi pejabat elite.

Blake Diallo dalam wawancara dengan surat kabar Prancis “Obarzian” edisi hari Rabu mengatakan bahwa “Saudara perempuannya itu bukan orang pintar… Sehingga saudara perempuan saya tidak mungkin mampu membuat cerita seperti itu. Ia adalah seorang Muslimah yang taat dan mengenakan jilbab.”

Diallo menegaskan bahwa saudara perempuannya itu tidak memiliki pemikiran tentang politik sedikitpun. Ia berkata: “Bahkan ia tidak tahu siapa walikota New York. Ia adalah seorang wanita yang menjaga kehormatan dan taat, serta bekerja keras untuk mendidik putrinya. Dan ketika ia kembali ke rumah, ia selalu menonton serial televisi Afrika.”

Diallo mengatakan bahwa saudara perempuannya yang bernama Nafissatou itu sekarang berada di lokasi yang rahasia di bawah perlindungan polisi. Ia mengatakan bahwa saudara perempuannya itu “banyak menangis dan menderita akibat dari dampak trauma”.

Nafissatou yang berasal dari Guinea menuduh Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) berusaha memperkosa dirinya di sebuah hotel di New York, di mana ia bekerja sebagai  cleaning service.

Menurut informasi  yang dimiliki surat kabar “Obarzian” bahwa Nafissatou sedang mendidik putrinya, berusia sembilan tahun. Sementara saudara laki-lakinya, Blake Diallo mengelola restoran masakan Afrika di lingkungan New York, di mana ia datang ke Amerika setelah tinggal 16 tahun di Prancis.

Polisi New York telah menangkap Strauss-Kahn yang sedang di atas kursi pesawat, yang akan pergi dari New York ke Paris awal pekan ini, setelah pengaduan Nafissatou, yang menuduh Strauss-Kahn berusaha melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya

Televisi di Indonesia Membuat Mazhab Sunni dan Ulama Sunni Gagal Membentuk Peradaban

Seperti kita ketahui bahwa kita (OranG dewasa & Anak-anak) senang sekali menonton TV. Kita tidak segan-segan untuk duduk di depan kotak ajaib tersebut selama berjam-jam. Sampai saat ini kita tahu bahwa sebagian besar tayangan Televisi berisi tentang kekerasan, perebutan harta, unsur-unsur yang meyentuh sisi pornografi dan pornoaksi, tayangan mistis, budaya hedonis, dll.

Media menjadi ubiquitous, ada dimana-mana, dan kehadirannya sulit untuk dihindari atau ditolak. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tekstur dan rutinitas kehidupan sehari-hari kita. Televisi khususnya, menyediakan sumber daya simbolik yang memberi kita referensi-referensi untuk bersikap dan bertingkah laku. Tak heran jika media massa dianggap telah menggeser fungsi institusi sosial tradisional seperti keluarga, gereja, sekolah atau pun pesantren.

Hasil Riset dari 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi indonesia membuktikan ditemukan dampak negatif dari Televisi yang belakangan ini sangat intens peranya dalam kehidupan masyarakat indonesia, tidak terlepas diri saya sendiri. hasil riset tersebut menunjukan bahwa sinetron televisi yang merupakan sumber penghasilan terbesar bagi industri televisi dengan mengutamakan rating daripada isi dari cerita yang ada.

para peneliti tersebut memberi tahu sebagai berikut 57% adegan sinetron atau film remaja/dewasa adalah adegan seks, 2% adalah adegan telanjang, 10% kata cabul, kata-kata kasar, umpatan yang seharusnya tidak diperbolehkan, karena merusak mental anak bangsa, 18% adalah ciuman, 12% perkosaan, dan 1 % seks menyimpang. sementara adegan yang sesuai moralitas (menolong teman, menghotmati orang tua) tidak lebih dari 14%

Adegan petualangan, kekerasan, intrik, isu, Gosip dijejalkan hampir setiap harinya tak ubah sebagai candu yang dibuaikan untuk kita semua. Dampak langsung dari tayangan televisi adalah pengimplementasi gaya hidup yang tertuang dalam adegan TV/Film berupa seks bebas yang beredar di kalangan remaja, Obral Aurat Tubuh, Pornografi/Porno aksi. premanisme, Tawuran Adu Domba dan hal-hal tersbu dikemas dengan apk dan ditungkan dalam bentuk senetron & Film yang ada.

pada saat yang sama merujuk dari larisnya Film Ayat-ayat cinta di bioskop, memang hal ini satu sisi adalah kebangaan terhadap baiknya perfilman nasional, tapi karena banyak yang merujuk dari film tersebut, banyak film yang menyugguhkan jalan cerita yang sama, dan hal ini ada dampak negatifnya berupa Pelegalan Poligami. yang sebenernya islam membolehkan tetapi dengan syarat yang sangat ketat.

Dalam film juga hampir sebagian besar film indonesia menampilkan kemewahan,dan mimpi-mimpi yang sangat tinggi dan tidak terjangkau oleh sebagaian besar warga indonesia, yang ajaibnya yang menonton TV di indonesia adalah golongan menengah kebawah dimana kehidupan mereka tidak seperti yang diceritakan dalam Tv,Film atau Sinetron. Dampak dari budaya kemewahan ini dapat kita lihat dari Korupsi yang meraja lela, banyaknya kaum pelajar/mahasiswa yang menjual diri mereka untuk menggapai kewahan seperti yang dimimpikan dalam Tv/Sinetron/ Film tersebut.

Berbagai acara yang menayangkan tentang pergaulan bebas remaja di kota besar yang sarat akan dunia gemerlap (dugem). Seperti tayangan remaja dalam mengonsumsi obat-obatan terlarang, cara berpakaian yang terlalu minim alias kurang bahan / sexy, goyang-goyangan yang sensual para penyanyi dangdut, kisah percintaan remaja hingga menimbulkan seks bebas, ucapan-ucapan kasar dengan memaki-maki atau menghina dan sebagainya. Inilah yang seringkali menjadi contoh tidak baik yang sering mempengaruhi remaja-remaja yang berada di kota maupun di daerah untuk mengikuti perilaku tersebut.

Media diyakini telah menggeser tugas guru, agamawan maupun orang tua sebagai educator, menyediakan role-model bagi anak-anak dan remaja, dan menjadi sumber acuan untuk mendefinisikan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam hal ini, media telah menjadi semacam contemporary civil religion (Robert N. Bellah 1967) atau agama sipil kontemporer, yang melibatkan bentuk-bentuk pemujaan baru lewat ritual-ritual menonton dan mengkonsumsi media. Persoalannya, bukan rahasia lagi bahwa realitas yang dibawa oleh media adalah realitas yang berselimut kepentingan kapitalis industrial yang tidak lain berujung pada akumulasi profit semata.

Kehadiran para agamawan karenanya tak lebih dari sekedar gincu saja, agar kesan dakwah tetap terasa. Jika agamawan hanya ikut-ikutan terjebak dalam selebritisasi dan komersialisasi agama di layar kaca, tugas untuk mencerahkan masyarakat pun akhirnya jadi terabaikan.

sungguh ironis media hanya menampilkan sisi hiburan saja dan media kurang menerapkan fungsi edukkasi, peningkat Nasionalisme, peningkat kehidupan beragama yang baik, hal ini tidak terlepas dari peran produser-produser film/Acara televisi dapat kita lihat adalah orang asing, sebut saja keluarga PUnjaabi yang terkenal dengan raja sinetron. karena latar belakang meraka dari india, maka Film kita tidak mengakar budaya hanya mengikuti budaya luar yang tidak sesuai budaya amerika dengan holiwoodsnya, budaya India Bollywoodsnya.

Budaya media, dalam hal ini, bekerja secara hegemonik dan ideologis untuk mendukung kepentingan para pemilik media. Prinsip yang penting laku dan mendatangkan untung, menjadikan tayangan media tak lebih dari bujuk rayu kosong yang dikemas dengan citra-citra yang penuh warna. Media makin asyik mengejar kepentingan ekonominya dan cenderung mengesampingkan tanggung jawab sosialnya untuk mendidik dan mencerahkan syarakat. Menjamurnya bisnis media di Indonesia, termasuk televisi, pasca jatuhnya rejim Orde Baru, ternyata tidak berkorelasi positif dengan beragamnya tayangan yang bisa dipilih dan dinikmati oleh masyarakat.

Situasi ini sebetulnya bisa berubah jika negara mampu melakukan intervensi dan menjalankan fungsi moderasinya pada pasar media. Sayangnya, berkelindannya kepentingan- kepentingan ekonomi dan politik dalam industri media serta fenomena tawar menawar politik membuat pemerintah tidak mampu menerapkan regulasi yang tegas dan cenderung ambigu untuk menertibkan carut marutnya realitas pertelevisian kita, baik dari sisi industri maupun isi media. Produk perundang-undangan yang sudah ada seperti UU Penyiaran/2002 maupun kehadiran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seolah tak kuasa dan tak punya gigi untuk menghadapi rejim televisi. Ambiguitas pemerintah untuk mengintervensi dan menertibkan pasar media pada akhirnya berdampak pada menjamurnya tayangan-tayangan televisi yang disinyalir oleh banyak pihak sebagai pemicu rusaknya moral masyarakat.

Image Media massa, terutama televisi hendaknya dapat dikenal sebagai pembangun moral bangsa, bukan sebaliknya malah dikenal sebagai perusak moral bangsa. Sampai saat ini masih banyak yang memprihatinkan berbagai tayangan televisi. Media massa kita ini masih dinilai masyarakat banyak menyajikan tayangan yang dapat dikatagorikan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa, mengarah pada pembodohan dan perusakan moral bangsa
.
Demikian dikatakan Prof Dr M Din Syamsuddin MA, ketika selaku Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) berbicara dalam Forum Diskusi Untuk Siaran  TV  yang diselenggarakan oleh Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis  Ulama Indonesia bekerjasama dengan Departemen Komunikasi dan Informatika di Hotel Aston Atrium Senin Jakarta, Rabu lalu.

Acara yang secara resmi dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Informatikan Prof Dr Ir Mochammad Nuh ini menampilkan pembicara antara lain HM Said Budairy (MUI), Fetty Fajriaty Miftah MA (Komisi Penyiaran Indonesia), Titie Said (Lembaga Sensor Film), Dr Sunarto (Universitas Indonesia), Dr Ishadi SK (Trans TV), Hj Marissa Haque SH MHum (artis), dan Harsiwi Achmad (RCTI).

Menurut Din Syamsuddin, media massa, selain memiliki fungsi pewartaan dan hiburan, ada juga yang sangat lebih penting, yaitu pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari pengamatan banyak pihak, termasuk MUI, fungsi pendidikan belum maksimal ditonjolkan oleh media massa nasional, termasuk televisi.

Kondisi tersebut, lanjut Din, boleh jadi karena kita kini berada dalam era liberalisasi, era kebebasan bagi pers nasional. “Pers kita kini demikian bebas. Satu sisi memang ada positifnya tetapi sebaliknya juga negative, membawa kemudharatan. Hal ini jika kita tidak siasati akan dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa,” ucap Din, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Menurut Ishadi, kondisi era reformasi saat ini sebenarnya membuat posisi masyarakat cukup kuat untuk menjadi pengawas dalam peningkatan mutu siaran televisi. Hanya dia mengingatkan, sesuai dengan perubahan masyarakat yang terus berkembang, tentu saja membuat ukuran-ukuran untuk melakukan penilaian juga dapat saja berubah atau berkembang. “Hal yang jelas, kita berterimakasih diberi masukan, kritik dari lembaga semacam MUI, KPI dan lainnya,” kata Ishadi, mantan Dirjen RTF (Radio, Televisi dan Film) itu.

Senada dengan itu, Harsiwi Achmad menyebutkan, pihaknya selalu melakukan upaya penyensoran sendiri terhadap berbagai tayangan yang dapat dikatagorikan merusak moral atau tidak mendidik, seperti pornografi, sadisme dan mistik. “RCTI selalu peduli dengan apa yang dikeluhkan masyarakat. Kita berupaya menghindari dari tayangan atau program yang mengundang sensitivitas masyarakat,” kata Harsiwi, dalam sesi yang dipandu oleh Drs H Usman Yatim MPd.

Marissa Haque menyatakan pula, berbagai tayangan televisi memang tidak dapat dihindari dari perhitungan bisnis yang mengikuti hukum pasar. Apalagi jika ditelusuri dari kepemilikan modal media televisi kita yang memang sangat dipengaruhi oleh globalisasi. “Hal yang dapat kita harapkan hanyalah dari pengelola media televisi, mengingatkan mereka bahwa penonton televisi adalah umat Islam yang pada bulan Ramadhan nanti menunaikan ibadah, tidak diganggu oleh siaran yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam,” ucap Marissa, calon doktor dari IPB ini.

Rating Kualitas

Sementara itu dalam sesi diskusi, Ketua Infokom MUI HM Said Budairy mengingatkan agar penentuan rating untuk mengukur diterima tidaknya suatu program televisi, tidak hanya secara kuantitatif tapi juga kualitif yang melibatkan banyak tokoh, praktisi, dan anggota masyarakat lainnya. “Masyarakat perlu menonton televisi untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, juga guna memfasilitasi hubungan sosial dan sebagainya. Tayangan televisi juga harus banyak mengandung nilai humanisme (kemanusiaan) sehingga bisa menjadi iktibar dan motivasi bagi penonton,” kata Said Budairy, wartawan senior ini.

Sedangkan Titie Said, dari LSF mengatakan, pihaknya sudah cukup banyak melakukan sensor terhadap berbagai program siaran tapi memang sayangnya sampai saat seolah belum sebagaimana yang diharapkan. Titie melihat, belum ada sanksi yang tegas terhadap pelanggar program film maupun televisi. “LSF bukan lembaga yang dapat melakukan sanksi, meski sangat banyak melakukan penyensoran,” ujar Titie dalam acara yang dipandu oleh Asrori S Karni SAg dari Majalah Gatra ini.

Pembicara lain, Fetty Fajriaty Miftah MA, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, menyatakan, pihaknya terus melakukan berbagai teguran terhadap berbagai tayangan televisi yang dinilai melanggar kode etik penyiaran. Hanya diakui memang masih banyak sajian televisi yang masih perlu dikritisi, serta mendapat masukan dari berbagai pihak. “Kami terus melakukan pemantauan, melakukan himbauan, teguran terhadap berbagai tayangan televisi yang dinilai tidak mendidik, merusak moral,” ucap Fetty.

Dr Sunarto, dosen Pascasarjana Universitas Indonesia mengemukakan pula, sesuatu bersifat fiksi yang ditayangkan oleh televisi, dapat dianggap sesungguhnya oleh masyarakat, apalagi di kalangan anak-anak dan remaja. Apalagi kalau hal itu disiarkan secara terus menerus, seperti apa yang digambarkan dalam adegan di sinetron. “Jadi ini ada proses naturalisasi, sesuatu yang fiksi dianggap jadi realitas,” kata Sunarto, yang mendambakan sajian sinetron TVRI masa lalu, seperti Losmen dan Rumah Masa Depan yang cukup memiliki nilai-nilai edukatif.

Ayatullah Ali Khamanei: Tidak Ada Kekuatan Dunia yang Bisa Menghentikan Kemajuan Iran

Ayatullah Ali Khamanei:
Tidak Ada Kekuatan Dunia yang Bisa Menghentikan Kemajuan Iran
Di hari peringatan kelahiran putri tercinta Nabi saww, Penghulu Wanita Surga, Siti Fatimah Az-Zahra as, dan hari lahir Imam Khomeini ra digelar cara pembacaan syair yang dihadiri oleh Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei.

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam acara memperingati hari kelahiran Sayyidah Fatimah az Zahra as tersebut, Ayatullah Ali Khamanei, Pemimpin Besar Republik Islam Iran menyampaikan ucapan selamat atas peringatan milad penuh berkah ini seraya menyebut Siti Fatimah Zahra sebagai wujud malakut, Ilahi dan sosok pribadi tanpa padanan di alam wujud setelah Nabi Muhammad Saw dan Amirul Mukminin Ali (as).

Beliau mengatakan, menyebut berulang-ulang nama pribadi yang agung ini dan nama Baqiyyatul al-A’dzam (as) dalam sejarah revolusi Islam adalah fenomena Ilahi dan realita yang lahir dari lubuk hati, afeksi dan keimanan.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut kesamaan hari kelahiran Imam Khomeini (ra) dengan kelahiran putri Nabi Saw ini sebagai realitas yang sangat indah. “Imam Khomeini (ra) benar-benar figur teladan dan khazanah terpendam dari hakikat wujud yang benderang itu yang dibarengi dengan keimanan, keikhlasan, penghambaan, kesetiaan dan resistensi di jalan Allah,” kata beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung jalan yang penuh rintangan dan gangguan ini sepanjang 32 tahun pasca kemenangan revolusi Islam, seraya menandaskan, melanjutkan jalan yang lurus ini dan tetap setia di khittah ini serta menjaga slogan-slogan dan cita-cita revolusi terwujud berkat bimbingan Imam Khomeini yang jelas, dan ini merupakan salah satu keistimewaan penting yang ada pada revolusi Islam Iran.

Beliau menambahkan, berjalan penuh optimisme dan melangkah dengan mantap di jalan ini tidak menyisakan peluang bagi kekuatan apapun di dunia untuk merintangi jalan revolusi ini.
Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa resistensi, kesolidan, kesinambungan, dan komitmen dengan nilai-nilai dan prinsip revolusi Islam telah menumbuhkan tunas-tunas harapan di hati bangsa-bangsa Muslim dan para pemantau di dunia. “Keistimewaan revolusi insani yang agung ini adalah bahwa berkat kemurahan Allah fenomena yang bak musim semi ini tak akan pernah rontok,” imbuh beliau.

Beliau mengingatkan, jika bangsa Iran mundur dari prinsipnya karena ancaman dan gertakan arogansi dunia maka bunga-bunga harapan di hati bangsa-bangsa dunia ini akan berguguran.
Di awal pertemuan, para penyair membacakan syair-syair mereka tentang keutamaan Fatimah Az-Zahra (as).

 

 

Sahabat Nabi Tidak Dicaci, Ukhuwah Mungkin Terjadi (Sunni – Syi’ah)

Gagasan ukhuwah Sunni-Syi’ah yang digagas selama ini masih produkitf.

Syi’ah mengajak Sunni untuk bergandengan tangan dengan tidak mencaci para sahabat yang dimulyakan oleh umat Islam.

Jelas penistaan ini tidak menodai kesucian akidah Islam.

Produktif sebab, konsep ukhuwah dengan keyakinan seperti itu, justru tidak  merugikan Sunni. Karena dengan cara itu, Syi’ah akan merebut penganut Sunni untuk disyi’ahkan.

Makanya, gagasan untuk membentuk forum ukhuwah Sunni-Syi’ah di Masjid Akbar Jakarta pada 20 Mei kemarin tidak dipersoalkan sejumlah ormas dan para ulama’.

Menurut salah satu ketua MUI Pusat, KH. Umar Shihab, antara Sunni dan Syi’ah banyak persamaan dari aspek akidah. Oleh sebab itu beliau secara pribadi  setuju diadakannya deklarasi ukhuwah tersebut. Hal-hal seperti itu diharapkan diakomodasi oleh MUI.  MUI sendiri menyatakan bahwa Syi’ah madzhab sah dalam Islam.

Sesungguhnya persoalannya bukannya Sunni yang menolak untuk berukhuwah. Akan tetapi, penistaan yang dilakukan oleh Salafi wahabi terhadap  12  imam syi’ahjelas-jelas menodai konsep persatuan yang sesungguhnya. Salafi wahabi mengadu domba sunni dengan syi’ah

Kritikan Syi’ah terhadap sahabat Nabi SAW, bukan rahasia lagi saat ini. Selain buku-buku, rujukan utama mereka dan penganut Syi’ah sendiri sudah tidak segan lagi memujii sahabat pro ahlul bait.  Syi’ah tidak  memakai topeng taqiyyah. Saat ini buku-buku Syi’ah telah banyak beredar di tangan umat Islam.