Bangkai burung bergigi misterius ditemukan di Iran

Adakah burung yang memiliki baris gigi di mulutnya? Sepengetahuan kita tidak ada. Tetapi, seekor bangkai burung misterius yang bergigi dilaporkan telah ditemukan di kota Meshginsharhr di barat laut propinsi Ardebil, Iran.

Para penduduk lokal menemukan bangkai burung tersebut pada hari minggu tanggal 8 Mei 2011. Burung itu terlihat seperti baru mati beberapa hari sebelumnya karena sisa-sisa bulunya masih bisa terlihat dengan jelas. Demikian dilaporkan kantor berita IRNA.

Sebuah tim kecil dari organisasi perlindungan lingkungan Iran (EPO) segera dikirim ke wilayah itu untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.

Salah seorang penduduk dilaporkan telah menyembunyikan bangkai itu dan tim dari EPO sedang berusaha menemukannya. Walaupun belum menemukannya, tim itu berhasil mendapatkan foto bangkai tersebut dari penduduk lokal.

Tim itu juga mendapatkan laporan dari para penduduk lokal yang menyebutkan kalau burung itu tinggal di gua dekat desa mereka.

Bangkai misterius itu memiliki tengkorak seperti anjing dengan gigi taring yang besar. Namun tubuhnya terlihat seperti seekor burung yang tidak bisa terbang. Para peneliti mengatakan kalau bangkai itu tidak sesuai dengan spesies burung yang dikenal. Jadi, penelitian lebih lanjut akan segera dilakukan dan verifikasi dari ornitologist akan segera diminta.

Menarik.

Namun kasus ini memiliki unsur rekayasa. Yang paling mencolok adalah hilangnya bangkai misterius tersebut di awal penyelidikan sehingga tidak bisa diteliti lebih lanjut. Jika bangkai ini adalah rekayasa, maka bisa jadi pembuatnya menggabungkan badan seekor burung dengan kepala seekor anjing

Tengkorak seekor anjing

Namun, jika kita melihat cuplikan berita dari media Iran berikut ini, sepertinya bangkai yang hilang tersebut telah ditemukan kembali.

Ini screenshotnya:

Mungkin kali ini bangkai ini bis

Sepeninggal Nabi SAW, Ahlul Bait Dizalimi !!! Mereka Meninggalkan Dua Pusaka Nabi SAW !!!

oleh : Ustad Husain Ardilla

Makam Sayidina Husein dan masjid Karbala

.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifa2 Bani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira), 127-133 H / 744750 M

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
Menurut ajaran sunni :
– Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku….

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

– Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

– Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Pada hari Asyura tahun 61 hijriah, padang Karbala saat itu menyaksikan peristiwa heroik yang ditampilkan oleh cucu kesayangan Rasulullah Saw, Imam Husein as dan para sahabatnya yang setia. Pada saat yang sama, Imam Ali Zainal Abidin as, putra Imam Husein as, tergeletak sakit di kemah. Kondisi itu membuat Imam Ali Zainal Abidin as tidak dapat bangkit membantu ayahnya dan para pejuang Karbala. Akan tetapi jiwa Imam Ali Zainal Abidin as yang juga dikenal al-Sajjad atau orang yang banyak bersujud, tak dapat ditahan untuk membantu ayahnya, tapi raga sama sekali tak mengizinkan.

Kondisi sakit Imam Ali Zainal Abidin pada hari Asyura mengandung hikmah ilahi dan rahasia Tuhan. Setelah peristiwa Asyura, Imam al-Sajjad mengemban tanggung jawab kepemimpinan demi menjaga risalah kenabian Rasulullah Saw.

Sejarah mencatat, tatkala pertempuran di padang Karbala bergolak, Imam Sajjad as mendengar suara ayahnya, Imam Husein as yang berkata: “Siapakah yang menolongku?”, dalam keadaan lemah beliau pun berusaha bangkit hendak memenuhi panggilan ayahnya. Namun melihat hal itu, Ummi Kultsum, bibi beliau pun berusaha menahannya pergi lantaran masih lemahnya kondisi kesehatan Imam Sajjad as.

Dengan penuh harapan, beliau berkata, “Bibi, ijinkan aku pergi berjihad bersama putra Rasulullah Saw”. Akan tetapi, karena lemahnya kondisi jasmani beliau, Imam pun tak mampu mengantarkan dirinya ke garis pertempuran. Hingga akhirnya takdir pun menyelamatkan beliau dan cita-cita kebangkitan Imam Husein dapat terus diperjuangkan.

Imam al-Sajjad menerima tanggung jawab kepemimpinan atau imamah pada umur 23 tahun. Tanggung jawab itu diterima saat kondisi sangat pelik. Pada masa itu, Dinasti Bani Umayyah berkuasa. Masyarakat saat itu jauh dari ajaran murni agama Islam. Akan tetapi penguasa saat itu berpenampilan religius, tapi pada dasarnya bertujuan membabat habis nilai-nilai agama.

Dinasti Umayyah di masa itu juga berusaha mengesankan kebangkitan Imam Husein sebagai langkah ekstrim yang keluar dari ajaran agama. Bani Umayyah berupaya menghapuskan pesan Imam Husein di padang Karbala supaya tidak sampai ke masyarakat. Di tengah kondisi seperti itu, Imam Ali Zainal Abidin as berusaha menjelaskan tujuan-tujuan penting kebangkitan Imam Husein as sehingga konspirasi musuh yang berupaya memojokkan posisi Ahlul Bait as dihadapkan pada kegagalan total.

Imam Ali Zainal Abidin as bersama Sayidah Zainab as memegang peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan gerakan Imam Husein as kepada masyarakat. Salah satu lembaran penting dalam sejarah pasca Peristiwa Karbala adalah pidato tegas Imam al-Sajjad di masjid Bani Umayyah, Syam. Dengan pidatonya, Imam al-Sajjad mampu menyampaikan pesan revolusionernya dengan landasan argumentasi kuat dan logis.

Saat Imam as digelandang bersama para tawanan Karbala dan sampai di kota Kufah, beliau melontarkan orasi yang sangat memukau dan menyentuh, sampai-sampai seluruh warga kota Kufah seakan tersihir oleh orasi beliau. Setelah memaparkan tentang keutamaan Ahlul Bait Nabi dan Imam Husein as, beliau berbicara kepada warga Kufah, “Wahai umat manusia, demi Allah aku bersumpah dengan kalian, apakah kalian ingat, kalian sendiri yang telah menulis surat kepada ayahku, namun setelah itu kalian menipunya? Kalian menjalin janji dan berbaiat kepadanya, namun kalian juga yang memeranginya? Lantas dengan mata yang mana lagi kalian akan melihat saat Rasulullah Saw di hari Kiamat kelak berkata, “Kalian telah bunuh Ahlul Baitku dan mematahkan kehormatanku!”

Puncak orasi Imam Sajjad as saat beliau berpidato di hadapan khalifah zalim, Yazid bin Muawiyah di Syam. Seluruh kejahatan dan kebobrokan penguasa zalim itupun diungkap secara jelas oleh Imam as hingga Yazid kehilangan muka. Dalam salah satu bagian pidatonya, Imam Sajjad as menuturkan, “Wahai umat manusia, Allah Swt menganugerahkan keutamaan-keutamaan seperti keilmuan, kesabaran, kedermawanan, kelugasan dan keberanian kepada Ahlul Bait Rasulullah Saw. Allah juga menganugerahkan kecintaan kepada Ahlul Bait pada hati orang-orang mukmin.”

Beliau menambahkan, “Wahai umat manusia, barangsiapa yang tidak mengenal aku, maka aku akan mengenalkan diriku.” Dikatakannya, “Akulah putra Fatimah, akulah putra seorang yang syahid saat bibirnya kering kehausan”.

Imam pun terus menegaskan keutamaan diri dan keluarganya hingga masyarakat Syam pun menangis penuh penyesalan. Untuk memotong pidato Imam Sajjad, Yazid pun memerintahkan untuk melantunkan azan.

Pidato Imam al-Sajjad membuat kondisi kota Syam yang juga pusat pemerintahan dinasti Umayyah saat itu menjadi kalang kabut. Bahkan para petinggi Bani Umayyah memutuskan untuk segara membawa Imam Husein dan para tawanan keluarga Nabi lainnya ke Madinah.

Tak dapat dipungkiri, pidato Imam Sajjad berhasil membangkitkan nurani masyarakat kota Syam yang selama ini dikuasai Dinasti Bani Umayyah. Di pusat pemerintahan, para petinggi Bani Umayyah tidak mampu menghalau pidato-pidato Imam Ali Zainal Abidin as yang memancarkan semangat revolusi dan gerakan anti-arogansi. Pencerahan Imam Sajjad as secara perlahan, mampu membangkitkan semangat umat Islam untuk melawan kezaliman di berbagai penjuru. Karena itu, pasca tragedi Karbala muncul belbagai gerakan kebangkitan menentang ketidakadilan pemerinatahan Bani Umayyah.

Setiba di kota Madinah, Imam al-Sajjad terus melanjutkan pidato-pidato pencerahannya yang isinya menyingkap kezaliman penguasa Bani Umayyah. Sementara itu, para penguasa Bani Umayyah kian bersikap sewenang-wenang. Saat itu, perjuangan utama Imam Sajjad as mempunyai misi untuk meluruskan pandangan masyarakat dan meningkatkan kesadaran umat.

Peran dan jasa berharga Imam Sajjad as pasca tragedi Asyura adalah menyebarkan risalah doa dan munajat yang sangat luhur. Kini kumpulan doa-doa dan munajat beliau itu dihimpun dalam sebuah kitab bernama Sahifah Sajjadiyah. Kendati doa dan munajat Imam Husein merupakan naskah doa, namun di dalamnya mengandung muatan ajaran Islam yang sangat luhur mengenai filsafat hidup, penciptaan, keyakinan, moral dan politik.

Imam al-Sajjad as dalam salah satu doanya mengatakan, “Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menjaga sunnah Nabi-Mu, dan berjuang melawan bid’ah-bid’ah, serta melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.”

Al-Sajjad dalam sejarah hidupnya selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengungkap misteri di balik tragedi Karbala. Imam Ali Zainal Abidin as selalu meneteskan air mata dan menunjukkan duka yang mendalam saat menceritakan peristiwa pembantaian terhadap keluarga Nabi pada hari Asyura. Duka yang ditunjukkan Imam Sajjad as itulah yang akhirnya mampu membangkitkan semangat juang umat Islam dalam melawan kezaliman Bani Umayyah. Imam al-Sajjad as juga dikenal sebagai sosok pemaaf, pengasih dan populis.

Imam Ali Zainal Abidin as gugur syahid pada tahun 95 hijrah setelah penguasa Bani Umayyah, Walid bin Abdul Malik mengeluarkan perintah untuk meracuni al-Sajjad as

Imamah dan kepemimpinan merupakan prinsip dan pondasi penting agama Islam. Kedua masalah ini, di samping prinsip-prinsip lainnya, mewujudkan eksistensi Islam. Keuniversalan agama Islam membuatnya tidak bergantung pada lainnya. Kedua prinsip ini sebagai penjaga hukum, undang-undang dan nilai-nilai ilahi. Bahkan lebih dari itu, begitu pentingnya prinsip ini juga sebagai penjamin keberlangsungan hasil dari prinsip-prinsip yang lain. Keberadaan dan peran dari prinsip Imamah menjamin tauhid, keadilan ilahi, kenabian dan hari akhir menjadi lebih realistis; mulai dari sisi teoritis hingga praktis. Manusia dengan mudah dapat merasakan itu dan memanfaatkannya.

Dalam sistem politik Islam, prinsip Imamah dan kepemimpinan keberadaan dan perannya tidak diragukan lagi. Prinsip Imamah dan kepemimpinan adalah langkah awal untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam yang pada gilirannya menyiapkan kondisi dan fasilitas demi terlaksananya undang-undang politik, sosial, ekonomi, militer, moral, pendidikan, hukum dan peradilan di tengah-tengah masyarakat berdasarkan Islam.

Kewajiban, peran dan dampak penting dari prinsip Imamah dan kepemimpin dalam ajaran Islam menjadi tanggung jawab seorang Imam dan pemimpin. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 29) Pada saat yang bersamaan, setiap orang diwajibkan untuk mengetahui Imam di zamannya. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, penerbit Masyhur, hal 92) Ketaatan terhadap seorang Imam identik dengan ketaatan terhadap Allah Swt. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 208) Dan para Imam menjadi saksi atas perbuatan manusia.(Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 206)

Dalam peristiwa Asyura, terjadi pertemuan dan bincang-bincang antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as. Sebuah percakapan bersejarah. Pembicaraan itu bila diteliti menunjukkan posisi dan pentingnya Imamah dan kepemimpinan.

Imam Sajjad as dalam peristiwa Asyura menderita sakit. Penderitaan yang membuatnya tidak dapat ikut serta dalam peperangan itu. Sakit membuatnya tidak dapat berjihad di samping ayahnya. Ketidakmampuannya untuk ikut dalam membela kebenaran yang diusung oleh Imam Husein as membuatnya sangat bersedih.

Pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura, Imam Husein as untuk terakhir kalinya menyambangi anaknya, Imam Sajjad as. Pertemuan untuk terakhir kalinya. Ketika Imam Husein as mendekat anaknya, ia ditanya, “Ayah! Hari ini apa yang engkau lakukan dengan orang-orang munafik?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Setan telah mengalahkan mereka. Setan berhasil menyingkirkan rasa mengingat Allah dari hati mereka. Perang akhirnya merupakan pilihan yang tidak dapat dielakkan. Mereka bak orang kehausan sampai berhasil melihat bumi menyerap semua darah kami.”

Imam Sajjad kembali bertanya, “Pamanku Abbas di mana?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Pamanmu dibunuh. Jasadnya berada dekat sungai Furat. Tangannya terpotong.”

Mendengar penjelasan ayahnya, Imam Sajjad menangis tersedu-sedu. Ia kemudian bertanya, “Bagaimana kabar Ali, saudaraku dan rombongan yang lain?”

Imam Husein as menjawab, “Anakku! Ketahuilah bahwa di perkemahan kita tidak ada lagi orang yang tersisa, selain kita berdua. Semua orang yang engkau Tanya telah tewas berkalang tanah.”

Kembali Imam Sajjad as menangis tersedu-sedu. Ia kemudian memohon kepada Zainab agar mengambilkan tongkat dan pedangnya.

Imam Husein as ganti bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan dengan tongkat dan pedang?”

Imam Sajjad as menjawab, “Dengan tongkat aku dapat menyanggah tubuhku. Dan dengan pedang aku akan membela keturunan Nabi saw.”

Imam Husein as memanggil Ummu Kultsum dan berkata, “Jaga dia! Tidak boleh terjadi bumi kosong dari Alu Muhammad (keluarga Muhammad).” (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 539-540)

Sekejap, Imam Husein as dapat merasakan mengapa anaknya mengucapkan hal itu. Ucapan dan sikap yang lahir dari rasa tanggung jawab yang tinggi, sekalipun dalam kondisi sakit dan lemah. Sebuah keputusan yang lahir dari semangat melawan musuh. Namun, Imam Husein as melarang anaknya untuk ikut berperang. Argumentasinya adalah Imam Sajjad as harus tetap hidup. Ia harus hidup untuk masa yang akan datang. Masa yang menuntut tanggung jawab yang besar dari prinsip Imamah dan kepemimpinan.Imam Sajjad as harus tetap hidup agar prinsip ini tetap langgeng, tidak terputus. Kematian Imam Sajjad as berarti terputusnya prinsip Imamah dan sama dengan kosongnya bumi dari seorang Imam dan pemimpin.

Tiba saatnya Imam Husein as harus mengucapkan salam perpisahan kepada anaknya.

Pertama, beliau menasihati keluarganya bahwa setelah ia terbunuh, mereka semua bakal ditawan. Kedua, beliau membeberkan rencana dan tugas yang harus diemban oleh mereka. Dan yang bertanggung jawab penuh dalam tugas ini adalah imam Sajjad as. Mereka harus menyampaikan dan menyingkap semua keteraniayaan Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya.

Nasihat Imam Husein as kepada anaknya, “Kapan saja anggota keluarga berteriak akibat beratnya cobaan, maka engkau yang harus mendiamkan mereka!

Kapan saja mereka merasa ketakutan, maka engkau yang bertugas menenangkan mereka!

Pikiran mereka yang bercabang harus engkau satukan dengan ucapan yang dapat menenangkan!

Ini harus engkau lakukan karena orang yang menjadi tempat pengaduan mereka telah tiada selain engkau. Biarkan mereka dengan keadannya sehingga dapat merasakan kehadiranmu dan engkau dapat merasakan penderitaan mereka. Lakukan ini agar mereka menangisimu dan engkau menangisi mereka.”

Setelah itu, Imam Husein as memegang dan mengangkat tangan Imam Sajjad as. Dengan nada tinggi ia berkata kepada anak-anak dan wanita Ahlul Bait, “Dengarkan ucapanku!

Ketahuilah! Ini adalah anakku dan khalifahku untuk kalian. Ia adalah Imam yang wajib untuk ditaati”. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 541-542)

Percakapan antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as dan keluarganya pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura sangat jelas dan kuat menekankan posisi, peran dan nilai “Imamah dan kepemimpinan”. Pentingnya masalah ini dengan memperkenalkan Imam dan pemimpin setelahnya. Imam dan pemimpin bagi khilafah, wilayah dan pemerintahan atas masyarakat dan negara Islam.

Prinsip Imamah dan kepemimpinan hadir di tengah-tengah peristiwa Karbala. Hadir dan dapat dirasakan dalam semua tahapan-tahapan kejadian Karbala. Imamah dan kepemimpin mengawasi jalannya peristiwa bersejarah ini agar sahabat-sahabatnya tidak keluar dari garis itu. Dan yang terpenting pada detik-detik terakhir Asyura prinsip Imamah dan kepemimpinan ditetapkan, bahkan suksesi berjalan sempurna. Imamah dan kepemimpinan tidak berhenti, namun hadir dalam bentangan sejarah pada semua generasi dan di setiap zaman.

Pasca syahadahnya Imam Husein bin Ali as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala, keluarga yang beliau tinggal mengalami penderitaan yang tak terhingga dan mereka menjadi tawanan. Sungguh pemandangan yang sangat mengiriskan di mana mereka yang mengaku pecinta Nabi, kini dengan tega membantai cucu beliau dan tak puas dengan itu, mereka membelenggu keturunannya serta diseret sebagai tawanan. Ibnu Ziyad sebelum para tawanan tiba di istananya mengizinkan setiap orang untuk memasuki kediamannya tersebut.

Setelah warga penuh sesak memasuki istana Ibnu Ziyad, ia memerintahkan keluarga Imam Husein untuk dihadirkan di hadapan khalayak. Ubaidullah bin Ziyad mengambil tongkat kayu seraya memukul kepala mulia Imam Husain as dan menyatakan bahwa kejadian ini merupakan kemenangan baginya di medan laga, dan terbunuhnya Imam Husain merupakan kehendak-Nya. Saat itulah ia mendapatkan jawaban yang mematikan dan sangat pedas dari Zainab as dan Imam Ali bin Imam Husain as yang menyebabkan kehinaan Yazid dan para keturunan Yazid.

Saat itu, Ibnu Ziyad menoleh ke Imam Sajjad dan bertanya ?

Siapa namamu ?

Imam menjawab: Saya, Ali bin Husein as.

Ibnu Ziyad berkata: Bukannya Ali bin Husein telah dibunuh oleh Allah Swt.

Imam menjawab: Saya punya saudara tua bernama Ali dan ia dibunuh oleh rakyat.

Ibnu Ziyad membantah: Ia bukannya dibunuh rakyat, namun Allah yang membunuhnya.

Imam Sajjad: Memang benar setiap manusia akan mati jika Allah menghendaki dan tanpa izin Allah kematian tidak akan menjemput manusia.

Ibnu Ziyad tidak dapat menahan amarahnya atas jawaban Imam Sajjad  dan memerintahkan anak buahnya untuk memenggal Imam yang tengah sakit tersebut. Saat itulah Zainab, saudari Imam Husein bangkit menjadi tameng keponakannya.

Dengan tegas Imam Sajjad berkata kepada Ibnu Ziyad, Apakah hingga kini kamu belum memahami bahwa kematian adalah tujuan kami dan kesyahidan merupakan kebanggaan kami ?

Imam Sajjad seperti ayah dan kakek-kakeknya memiliki keutamaan, ketinggian ilmu dan kesempurnaan. Di depan warga Kufah, Imam Sajjad as berpidato. Beliau berkata,”Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, dia telah mengenalku. Dan barangsiapa tidak mengenalku, ketahuilah bahwa aku adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Akulah putra yang dirusak kehormatannya, dihilangkan kenikmatannya, dirampas hartanya, dan ditawan keluarganya. Akulah putra yang disembelih di sisi sungai Furat. Akulah putra orang yang telah dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah semua itu sebagai kebanggaanku. Wahai manusia, aku minta kalian bersumpah kepada Allah; apakah kalian tahu bahwa sesungguhnya kalian telah menulis dan memberikan janji serta baiat kepada ayahku, lalu kalian membunuhnya? Maka, celakalah kalian atas apa yang telah kalian berikan untuk diri kalian! Dengan pandangan macam apa kalian akan melihat Rasulullah saww jika berkata kepada kalian, ‘Kalian semua telah membunuh putraku, telah merusak kehormatanku! Kalian bukan umatku!'”

Pasca syahadahnya Imam Husein as,kondisi kehidupan umat Islam kian sulit. Di kondisi seperti inilah, Imam Sajjad as bangkit meneruskan perjuangan ayahnya menyelamatkan Islam dari kehancuran total. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa yang menyebabkan gugurnya Imam Husein bukan hanya Yazid dan kroninya, namun masih terdapat musibah yang lebih besar dan itu adalah kebodohan serta kelalaian umat Islam sendiri.

Sementara itu, Bani Umayyah setelah wafatnya Rasulullah Saw mengerahkan segenap usahanya untuk menghapus nama serta pengaruh nabi beserta keluarganya di tengah masyarakat Islam. Dampaknya adalah munculnya kembali era jahiliyah di tengah-tengah masyarakat. Ketika itulah, Imam Sajjad bangkit untuk menyelamatkan umat. Jalan yang ditempuh Imam berbeda dengan ayahnya, beliau memilih mengobarkan revolusi budaya dan hal ini dikemas Imam melalui doa-doa yang beliau panjatkan.

Tak diragukan lagi bahwa doa bukan sekedar ibadah, namun merupakan cahaya yang bangkit dari jiwa orang-orang yang berdoa. Doa juga merupakan kekuatan paling kokoh sebagai energi yang dihasilkan oleh seseorang. Menurut Alexis Carreel, “Pengaruh doa bagi jiwa dan fisik manusia tak kalah dengan mensekresi kelenjar badan. Kelenjar ini dapat diditeksi dengan bertambahnya daya berfikir, moral serta bertambahkan pemahaman seseorang. Dengan doa manusia menyingkap rasa egoisme, puas diri, bodoh dan ketakutan yang ada di dalam dirinya. Kemudian di dalam dirinya akan timbul akhlak terpuji dan kerendahan diri yang masuk akal. Dengan demikian jiwa seseorang akan berpetualang inayah dan kelembutan Allah Swt. Sebagai seorang dokter saya mengatakan bahwa kekuatan doa seperti daya grafitasi bumi dan doa juga yang dapat mengalahkan ketentuan alam.”

Imam Sajjad dengan doa-doanya memberikan pelajaran kepada manusia faktor-faktor yang mendukung hidup sehat, teratur dan indah. Dengan doanya Imam juga menyebarkan budaya membenahi diri sehingga keselamatan mental masyarakat terjamin. Di kumpulan doa-doa Imam Sajjad, Sahifah Sajjadiyah, beliau dalam doanya menggunakan ibarat seperti keselamatan, hikmah dan keamanan. Imam memiliki metode tersendiri dalam doanya. Pertama-tama beliau mengenalkan sosok manusia sempurna. Karena tanpa adanya pengenalan terhadap manusia sempurna kekurangan pada diri manusia tidak dapat diketahui. Hal inilah yang ingin diajarkan Imam Sajjad kepada umatnya dengan mengawali setiap doanya dengan shalawat kepada Rasulullah berserta keluarganya yang suci.

Selanjutnya Imam mengajak manusia untuk memperhatikan keistimewaan yang terpendam dalam diri mereka, khususnya perasaan untuk mengenal Tuhan. Perasaan ini sangat membantu manusia untuk memperbaiki perilakunya. Manusia seperti ini senantiasa mengingat Tuhannya sehingga ia terhindar dari perbuatan dosa. Imam Sajjad menyadari sepenuhnya bahwa jika manusia berlindung di bawah keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, maka ia akan terhindar dari keraguan serta hidupnya akan selalu tenang. Manusia seperti ini juga akan tegar menghadapi gelombang kehidupan yang menerpanya. Selalu mengingat Tuhan membuat jiwa manusia kebal dari setiap cobaan yang menerpanya. Gangguan mental seperti ketakutan dan kehinaan.

Sejumlah sifat-sifat tak terpuji seperti hasud, haus kekuasaan dan ingin menang sendiri termasuk hal-hak yang menekan jiwa manusia. Imam dalam doanya memberikan solusi kepada manusia seperti ini. Di antara salah satu sifat  manusia adalah senang kekayaan duniawi. Sifat ini disebabkan manusia menyaksikan kekayaan dapat mensejahterakan kehidupan manusia dan apa yang dia inginkan selalu tercapai dengan uang. Dalam memberi pelajaran kepada manusia terkait dunia, Imam pertama mencela dunia karena kejelakan yang merugikan manusia. Selanjutnya Imam meminta kepada Allah Swt menjadikan dunia sebagai tempat beribadah dan menghamba kepada-Nya.

Manusia biasanya ketika terpaku pada sebuah masalah akan melalaikan hal-hal lain. Hal ini akan membuat manusia kehilangan kesempatan serta mendorongnya untuk menyeleweng. Dalam doanya Imam banyak memberikan contoh bukti dari kelalaian seperti lalai diri sendiri, lalai menjalankan tugas, lalai terhadap Tuhan dan kematian.

Sejatinya Imam Sajjad mendidik manusia untuk dapat berinteraksi dengan diri sendiri, masyarakat, alam dan Tuhan. Ketika manusia dengan tepat dapat menjalin hubungan antara dirinya, alam dan Tuhan maka akan muncul dalam dirinya ketenangan dan dalam falsafah hidupnya ia akan selalu berserah diri kepada Allah Swt. Ketika itulah, ia benar-benar menemukan kehidupan sejati yang penuh makna dan kebahagiaan menjadi bagian dari dirinya.

Asyura merupakan peristiwa besar yang terjadi di abad 61 hijriah atau 680 M di padang Karbala, Irak. Tragedi itu menjadi epik paling mengharukan, sekaligus kejadian paling abadi dalam lembaran sejarah Islam. Hingga kini Asyura memiliki dimensi individu maupun sosial yang layak untuk dikaji dari berbagai sisi.

Peristiwa Asyura juga menjadi sumber inspirasi dari gerakan revolusi besar dalam sejarah Islam. Peran Asyura bagi kehidupan umat Islam tidak diragukan lagi banyak berutang budi kepada Imam Husein dan pengikutnya yang menumpahkan darah mereka demi membela prinsip yang mereka yakini.

Hingga kini peristiwa Asyura telah menjadi inspirasi atas lahirnya berbagai karya seni mulai dari buku, artikel, syair, film maupun karya seni lainnya. Meski demikian, peristiwa dan tokoh Asyura masih menjadi daya tarik yang memikat. Pesona yang menyebabkan umat Islam di berbagai penjuru dunia di bulan Muharram untuk mengingat tragedi yang menyajikan keberanian dan ketakwaan sejati telah memberikan warna lain bagi dunia.

Peringatan duka di bulan Muharram di kalangan umat Islam bukan hanya sebuah peringatan keagamaan semata yang masih memisahkan kehidupan individu dan sosial. Asyura mewujudkan spirit perjuangan dan kesyahidan, sekaligus memperkokoh persatuan dan solidaritas bangsa. Selain itu, Asyura juga menjadi cermin bagi kehidupan umat manusia melalui tokoh-tokoh dalam peristiwa besar itu dan refleksinya dalam kehidupan kekinian.

Lalu apa yang sangat vital dalam peristiwa Asyura dalam konteks kekinian hingga menyebabkan peristiwa masa lampau itu senantiasa hidup dan berpengaruh terhadap kehidupan dewasa ini. Apa faktor yang menyebabkan peristiwa itu abadi hingga kini ? Mengapa penguasa dan sebagian masyarakat gagal mengubur maupun menyelewengkan peristiwa Asyura ? Lalu metode apa yang dijadikan untuk menyampaikan pesan-pesan Karbala dari satu generasi ke generasi hingga saat ini ?

Untuk menganalisis peran penting media dalam menyampaikan pesan Karbala membutuhkan sedikit kajian tentang metode informasi masyarakat tradisional. tradisi lisan dan interaksi langsung merupakan salah satu karakteristik media massa lalu. Ketika itu, budaya tulisan belum berkembang pesat seperti saat ini.

Kehadiran rakyat di alun-alun, pasar-pasar dan warung kopi bukan hanya mengisi waktu istirahat dan liburan mereka saja, namun menjadi sebagai media informasi dan sekaligus pengingat antargenerasi. Media  informasi massa tersebut selama berabad-abad relatif bertahan sebagai media yang cukup efektif.

Seiring terjadinya penyebaran budaya Islam, hubungan media pun menemukan bentuk khususnya yang sangat berbeda dengan agama lain. Contohnya masjid, pusat pendidikan keagamaan seperti hauzah maupun pesantren. Selain itu peringatan acara keagamaan seperti shalat jemaah dan shalat Jumat di kalangan umat Islam juga memiliki urgensitas khusus, dan menjadi media penting bagi penyebaran budaya Islam.

Masjid merupakan salah satu capaian penting agama Islam. Realitas hijrahnya Rasulullah ke Madinah bermakna terbentuknya pusat pemerintahan Islam yang berporos pada Rasulullah, sekaligus terbentuknya pilar-pilar masyarakat Islam.

Rasulullah pada tahap pertama membangun Masjid Quba dan masjid Nabi yang mempersatukan umat Islam Mekah dan Madinah. Di tempat itulah didirikan shalat berjamaah dan shalat Jumat, serta ibadah lainnya.Tidak hanya itu, di tempat itu pula Rasullah menjelaskan berbagai permasalahan mengenai berbagai masalah yang menimpa masyarakat Islam.

Dengan demikian secara bertahap masjid menjadi pusat media dan interaksi umat Islam. Dalam sejarah, para penguasa seperti Imam shalat maupun khatib Jumat memberikan ceramah penting. Bahkan masjid juga berperan sebagai media penyadaran bagi rakyat terhadap berbagai masalah penting.

Mengenai peristiwa Asyura, masjid memegang peran penting sebagai media yang berfungsi menyebarkan nilai-nilai peristiwa Karbala. Kehadiran tokoh agama di mimbar mengungkapkan urgensi dan pesan-pesan peristiwa kebangkitan Imam Husein menjadikan masjid sebagai pusat penerangan dan informasi paling efektif. Ketika pemerintahan Bani Umayah melarang segala bentuk penulisan sejarah Asyura, namun tradisi lisan dalam bentuk ceramah di masjid menjadi media penyadaran bagi umat Islam atas tragedi besar yang menimpa Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Dr. Naser Bahonar mengungkapkan peran ulama di mimbar masjid dalam menyadarkan masyarakat atas peristiwa Karbala. Peneliti Iran ini menilai acara peringatan duka di masjid dan huseiniyah merupakan media yang efektif dalam menanamkan kesadaran masyarakat terhadap peristiwa Karbala.

Di berbagai belahan dunia setiap bangsa memiliki karakteristik budaya dan seni yang khas dan membedakannya dengan yang lain. Bangsa Iran yang dikenal sebagai bangsa yang mencintai seni memiliki media seni yang sangat beragam. Tradisi puisi dan narasi lisan serta teatrikal rakyat turut menyumbangkan peran besar dalam penyebaran pesan Karbala.

Jabir Anasiri, penulis dan peneliti Iran mengatakan bahwa seni teatrikal religius telah ada sebelum Islam. Dengan datangnya Islam, seni itu semakin berkembang dan menemukan bentuknya yang lebih kokoh dan hidup di tengah masyarakat hingga kini. Dari seni teatrikal religius inilah muncul seni religius “takziah”. Saat ini mengacu pada memperingati peristiwa Karbala, dengan menceritakan kisah kemartiran Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Naiknya pemerintahan Safavi memerintah Iran memberikan kontribusi besar bagi pengembangan seni Takziah dengan penggunaan alat musik dan lukisan besar yang menyertai teatrikal duka itu. Takziah kemudian mencapai puncaknya pada periode Dinasti Qajar, terutama di masa pemerintahan Nasser-edin Shah.

Takziah dan seni religius lainnya di Iran telah menjadi sebuah media lokal  yang berperan menyebarkan nilai-nilai Karbala hingga kini. Harmoni antara teater dan iringan dalam musik Takziah memudahkan peristiwa Karbala dan pesan-pesan pentingnya diterima di tengah masyarakat.

Sejatinya peran para ulama dan media tradisional seperti Takziah memainkan peran penting bagi penyebaran pesan-pesan dan kelestarian peristiwa Karbala. Inilah media yang menjadikan Karbala tetap hidup dalam diri dan kehidupan umat Islam, terutama syiah hingga kini.

Buku Pedoman

  1. Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
  2. Tarikh Khulafa’, As-Suyuthi.
  3. Tarikh Bani Umayyah, Al-Mamlakah Su’udiyyah.
  4. Tarikh Islamy, Ibn Khaldun.
  5. Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu’ub, Penerbit PT.Bulan Bintang.

.
Dalam kesempatan ini kami akan batasi kajian kali ini hanya pada kepalsuan keutamaan puasa Asyûrâ’.

Para Pendongen itu berkata:

  • Ketika Nabi saw. hijrah ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyûrâ’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, lalu beliau bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpuasa, maka mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.”  Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di banding kalian.” Lalu beliau memerintahkan umat Islam agar berpuasa untuk hari itu. Demikian dalam dua kitab Shahih; Bukhrai dan Muslim dan lainnya.[1]
  • Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya didongengkan dari Aisyah ra. dan selainnya bahwa: Kaum Quraisy berpuasa di hari Asyûrâ’ di masa Jahiliyah mereka. Dan rasulullah saw. juga berpuasa. Lalu setelah beliau berhijrah ke kota Madinah beliau pun berpuasa dan memerintah (umat Islam) agar berpuasa. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang mau silahkan berpuasa (Asyûrâ’) dan siapa yang mau juga boleh meninggalkannya.”[2]
  • Sebagian pendongeng juga menyebutkan –seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim- bahwa Nabi saw. baru melaksanakan puasa Asyûrâ’ itu di tahun sembilan Hijrah dan setelah menyaksikan orang-orang Yahudi melakukannya, beliau berjanji jika berumur panjang akan menyalahi kaum Yahudi dengan menambah puasa hari kesembilan juga. Tetapi beliau wafat sebelum bulan Muharram tahun depan.[3]

Ibnu Jakfari berkata: Di sini kami memastikan bahwa dongeng di atas adalah palsu dan hanya hasil khayalan kaum pendongen belaka!

Dan: A) Terlepas dari cacat parah pada sanad riwayat-riwayat di atas, di mana ia diriwayatkan dari jalur orang-oraang yang bermasalah dan baru tiba di kota suci Madinah beberapa tahun setelah Hijrah Nabi saw. seperti Abu Musa al Asy’ari, dan ada yang saat hijrah masih kanak-kanak seperti Ibnu Zubair dan di antara mereka ada yang baru menyatakan secara formal keislamannya di tahun-tahun akhir Hijrah Nabi saw. seperti Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan.

B) Terlepas dari adanya kontradiksi di antara riwayat-riwayat di atas, seperti, sebagian riwayatnya mengatakan bahwa:

  1. Nabi saw. berpuasa di hari Asyûrâ’ itu karena mengikuti Yahudi di mana sebelumnya beliau tidak mengetahuinya, dan setelah mengetahuinya dari orang-oraang Yahudi kota Madinah beliau berkeyakinan bahwa beliau dan umat Islam lah lebih berhak atas Musa as. dari kaum Yahudi itu!

2. Sementara riwayat lain mengatakan bahwa Nabi saw. –seperti juga kaum Musyrik lainnya sejak zaman Jahiliyah telah menjalankan tradisi puasa Asyûrâ’.

3.Sementara riwayat ketiga mengatakan bahwa Nabi saw. meninggalkan tradisi puasa Asyûrâ’ setelah diwajibkannya puasa bulan Ramadhan.

4. Adapun riwayat keempat mengatakan bahwa Nabi saw. baru mengetahui kebiasaan kaum Yahudi kota Madinah berpuasa hari Asyûrâ’ sebagai ungkapan syukur mereka atas keselamatan Nabi Musa as. dan kaumnya itu di tahun kesembilan Hijrah. Dan kemudian Nabi aw. Berjanji akan menyalahi kaum Yahudi itu dengan menambah puasa hari kesembilan bulan itu. Namun sayang beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.

5.Bahkan mereka meriwayatkan dari Mu’awiyah (yang baru memeluk Islam dari tahun fathu Makkah) bahwa Nabi saw. tidak pernah memerintahkan umat berpuasa di hari Asyûrâ’ akan tetapi beliau bersabda, “Barang siapa mau berpuasa silahkan dan yang tidak juga tidak apaa-apa.”

Dan masih banyak keanehan lain dalam riwayat-riwayat dongeng puasa hari Asyûrâ’. Dan Ibnu Qayyim telah memaparkannya dalam kitab Zâd al Ma’âd-nya.[4]

Terlepas dari semua masalah di atas coba perhatikan catatan di bawah ini:

Pertama: Riwayat pertama di atas mengtakan kepada kita bahwa Nabi mulia saw. tidak mengetahui sunnah saudara beliau; Nabi Musa as. dan beliau baru mengetahuinya dari orang-orang Yahudi dan setelahnya beliau bertaqlid kepada mereka! Hal demikian mungkin tidak merisaukan pikiran para ulama itu, sebab mereka meriwayatkan (dan kami beristighfar/ memohon ampunan Allah atas kepalsuan itu) bahwa Nabi saw. memang sangat menyukai untuk menyesuaikan diri dengan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal-hal yang belum diperintahkan dalam wahyu. Seperti diriwayatkan Bukhari dan lainnya.[5] Akan tetapi yang aneh dan lucu mereka pada waktu yang sama juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. itu selalu bersemangat untuk menyalahi kaum Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan, seperti yang mereka kisahkan dalam kasus adzan, di mana beliau menolak tawaran agar adzan dilakukan dengan meniup trompet atau menabuh lonceng seperti di gereja-gereja! Juga dalam masalah datang bulan dan menyemir rambut yang telah beruban… begitu juga Nabi saw. sering berpuasa di hari sabtu dan minggu dengan tujuan menyalahi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).. Semua yang mereka riwayatkan ini benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan dalam riwayat puasa Asyûrâ’.

Sebuah kontradiksi yang biasa kita temukan dalam riwayat-riwayat para ulama itu, seihingga kami tidak kaget lagi dengannya.!! Sampai-sampai karena kaum Yahudi mengeluhkan sikap Nabi saw. tersebut, mereka berkata, “Orang ini (Nabi maksud mereka) tidak bermaksud membiarkan urusan kita melainkan dia menyalahi kita dalam segala urusan kita.”[6] Ibnu al Hâj berkata, “Adalah Nabi saw. membenci menyesuai Ahlul Kitab dalam semua urusan mereka, sampai-sampai orang-orang Yahudi berkata, ‘Muhammad menginginkan untuk tidak membiarkan ursan kita melainkan ia menyalahi kita tentangnya.’ Dan telah datang dalam hadis: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia dari mereka.”[7]

Kedua: ada sebuah kenyataan yang sering diabaikan oleh para ulama (khususnya mereka yang tertipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang puasa Asyura) bahwa kata Asyûrâ’ untuk menunjuk pada hari kesepuluh bulan Muharram itu baru berlaku setelah kesyahidan Imam Husain as. cucu tercita Nabi Muhammad saw. dan keluarga serta pengikut setia beliau… jadi ia adalah nama/istilah Islami. Artinya istilah itu baru berlaku setelah datangnya Islam dan dilakukan oleh kaum Muslimin, sementara sebelum itu istilah itu tidak pernah ada dan berlaku. Ibnu al Atsîr berkata, “Ia adalah nama Islam.”[8] Ibnu Duraid berkata, “Sesunguhnya ia adalah nama Islami yang sebelumnya di masa jahiliyah tidak dikenal.”[9]

Ketiga: Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pu mereka tidak melakukannya dan tidak mpula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar! Keempat: Lebih dari semua itu adalah bahwa puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan sejak beliau masih tinggal di Makkah! Seperti dalam kisah diutusnya ‘Amr ibn Murrah al Juhani sebagaimana diriwayatkan banyak ulama di antaranya Ibnu Katsir, ath Thabarani, Abu Nu’aim, al Haitsami dan lainnya.[10]

Bahaya Pemalsuan Atas Nama Nabi saw.!

Dan kenyataan ini menjadikan kita membayangkan betapa besar bahaya yang sedang mengancam agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuan semacam itu….

Bagaimana kebencian terhadap keluarga suci Nabi saw. dan para pecinta mereka (baca Syi’ah)  telah maracuni jiwa dan kemudian mendorong sebagian orang untuk berani memalsu hadis atas nama Nabi Muhammad saw. dengan harapan dapat mengubur perjuangan cucu tercinta Nabi saw.! Dan kemudian lantaran berbaik sangka kepada para pemalsu itu, sebagian ulama menerima dan meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka!

Kepalsuan dan pemalsuan atas nama Nabi saw. seperti itu menjadikan kita harus selalu waspada terhadap semua langkah yang dirancang oleh oknum musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. dalam memerangi mereka dan mengaburkan keagungan dan kemuliaan perjuangan mereka!

Hari Asyura’ Adalah Hari Raya Bani Umayyah dan Musuh-musuh Keluarga Suci Nabi as.

Para penguasa Bani Umayyah dan antek-antek mereka di sepanjang sejarah berusaha menjadikan hari ke sepuluh bulan Muharram (Asyûrâ’) sebagai hari raya, hari kebahagian, hari kegembiraan, hari kemenangan dan hari keselamatan! Semua itu mereka lakukan untuk menentang Ahlulbait as. yang menjadikannya sebagai hari duka atas kesyahidan Imam Husain as. dan keluarga serta pengikut setia beliau. Al Biruni melaporkan’ “Adapun Bani Umayyyah mereka telah mengenakan baju-baju baru, berhias diri, bercelak dan berlebaran. Mereka mengadakan parayaan-perayaan dan jamuan tamu. Mereka membagi-bagi permen dan makanan-makanan yang lezat. Dan demikian lah yang berkalu di kalangan masuarakat selama kekuasan mereka dan tetap berlaku meski kekuasaan mereka telah tumbang. Adapun kaum Syi’ah, mereka meratapi dan menangisi kesyahidan penghulu para syuhada’; al Husain…. .“[11] Al Miqrizi melaporkan, “Dan setelah tumbangnya kekuasaan ‘Alawiyyin di Mesir, para penguasa dari dinasti Ayyubiyah menjadikan Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan. Mereka berlapang-lapang kepada keluarga mereka. Mereka menyajikan beragam makanan lezat. Memakai alat-alat dapur yang baru. Mereka bercelak dan mendatangi pemandian-pemandian umum sesuai dengan kebiasaan penduduk kota Syam yang ditradisikan oleh Hajjaj di masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan dengan tujuan menyakitkan hati Syi’ah Ali ibn Abi Thalib (Karramallah wajhahu/ semoga Allah memliakan wajah beliau), di mana mereka menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari duka dan kesedihan atas kasyahidan Husain ibn Ali as. sebagi beliau gugur syahid di hari itu.” Kemudian ia melanjutkan: “Dan kami masih menyaksikan sisa-sisa tradisi bani Ayyûb yang menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan dan kelapangan.” Al Miqrizi juga menyebutkan doa Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah) yang berbunyi: “Dan ini adalah hari di mana bani Umayyah dan anak keturunan wanita pengunyah jantung meyakini keberkahannya karena mereka telah berhasil membunuh Husain.”[12]  

Dan untuk semua itu, musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. telah membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan pahala besar yang dijanjikan bahwa yang berpuasa, berbanyak-banyak dalam memberi uang belanja kepada keluarga, mengusap kepala anak yatim, membagi-bagi makanan dan menampakkan kehabagian dan kegembiraan di dalamnya.

Walaupun tidak sedikit pula usaha telah dicurahkan ulama Islam (sunni) dalam membongkar kepalsuaan hadis-hadis seperti itu. Namun yang paling menyedihkan dari pemalsuan atas nama Nabi saw. adalah fatwa-fatwa sesat lagi menyesatkan yang diproduksi sebagai terompet kemunafikan dan kesesatan bani Umayyah yang melarang menampakkan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain as. dan juga melarang membacakan kisah kesyahidannya!


[1] Mushannaf Abdurrazzâq,4/289 dan 290, Shahih Bukhari,1/244, Shahih Muslim,3/150, as Sirah al Halaibiyah,2/132-133, al Bidayah wa an Nihayah,1/274, 3/355. baca juga tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam surah al Baqarah. [2] Ibid. dan Muwaththa’; Imam Malik,1/279 dan Zâd al Ma’âd,1/164 dan 165. [3] Shahih Muslim,3/151. [4] Zâd al Ma’âd,1/164-165. [5] Shahih Bukhari, pada bab Farq asy Sya’ri Fi al Libâs, as Sirah al Halabiyah,2/132 dan Zâd al Ma’âd,1/165. [6] As Sirah al Halabiyah,2/115 dan Sunan Abu Daud,2/250. [7] Al Madkhal,2/48. [8] An Nihayah; Ibnu Atsîr,3/240. [9] Ibid. [10] Al Bidayah wa an Nihayah,2/252 dari riwqayat Abu Nu’aim, Majma’ az Zawâid,9/244 dari riwayat ath Thabarani dan Kanzu ‘Ummâl,7/64 dari riwayat ar Ruyâni dan Ibnu ‘Asâkir. [11] ‘Ajâib al Makhlûqât,1/114. [12]Al Khithath; al Miqrizi,1/490. baca juga al Hadhârah Fi al Qarni ar Râbi’ al Hijri,1/138.

saudaraku……..

jikalau mereka ikut Al-Quran dan Itrah Ahlulbait, diantara  imam fikih aswaja yang  4 dan  2 imam akidah adakah dari imam-imam ini yang merupakan imam Ahlu Bait ????.. Coba tunjukkan saya 1 sahaja hadith nabi yang menyuruh kita mengikut imam yang 4 itu ? Imam Ja’far As-Sidiq (Syiah) juga adalah Imam Salaf…

Rasulullah SAWW sendiri telah menetapkan 12 khalifah (semuanya dari quraisy) setelahnya, Rasulullah SAWW kenal 12Khalifah tersebut sehingga lah yang ke-12 yakni Al-Qaim Imam Mahdi…

Lantas mengapa mereka yang mengaku memegang teguh sunnah Nabi mengakhir kan atau mengunci mazhab yang enam  ini hingga masa tersebut?

Apakah pantas mereka mengaku sebagai pembela Sunah Nabi sementara pada saat yang sama mereka malah meninggalkan wasiat Nabi untuk mengikuti para Imam yang Suci ?

 Cobalah anda perhatikan , kepentingan politik telah merubah segalnya, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Kaum syi’ah yang memegang teguh wasiat Nabi dibilang pembangkang dan ahli bid’ah, sementara mereka yang tidak memegang teguh wasiat Nabi malah disebut pengikut sunnah Nabi.

 “sunnah “ yang mreka maksudkan tidak lain adalah bid’ah ketika  mengutuk Sayyidina Ali dan keluarga Nabi SAW di seluruh polosok negeri, Bid’ah tersebut berlangsung lebih dari 80 tahun.. Kalau mereka konsisten menjalankan sunnah Nabi SAW seharusnya mereka tidak akan membiarkan 80 tahun cacian-cacian terhadap keluarga Nabi SAW

Upaya menindasan dan menghinaan terhadap Sayyidina Ali dan pengikutnya terus dilakukan oleh penguasa-penguasa baru Bani Abbasiah yang mencapai puncaknya pada masa khalifah Ja’far Al Muthasim Al Muttawakkil yang berusaha membongkar habis kuburan cucu Nabi SAW, yaitu Sayyidina Husein di Karbala dan melarang para peziarah untuk mengunjunginya (Karna demi kian beratnya hinaan, cacian dan siksaan yang harus ditanggung oleh pengikut Sayyidina Ali dari para penguasa saat itu , sampai-sampai mereka lebih baik mengaku Yahudi dari pada mengaku Syi’ah.)

Dari sini jelaslah bahwa kutukan dan cacian terhadap Sayyidina Ali dipandang sebagai dukungan terhadap simbul Ahlu Sunnah . Dan Mereka Menuduh Syi’ah yang mendukung kepemimpinan Sayyidina Ali dan menekankan kecintaan kepada Ahlul Bait as dan keharusan mengikuti mereka sebagai Ahli Bid’ah

Bahkan tidak jarang mengkafirkan Syi’ah sebagaimana diperbuat jauh sebelumnya di zaman Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. Para Penulis itu menuduh bahwa Syi’ah itu adalah kelompok yang didirikan oleh Abdullah bin Saba, seorang yang konon beragama Yahudi dan jauh lebih berbahaya dari agama Yahudi itu sendiri.Dalam lain kesempatan mereka menuduh bahwa Syi’ah kelompok yang menyembah Sayyidina Ali dan para Imam Suci, munafik paling berbahaya dan memiliki Al Qur’an selain Al Qur’an yang ada sekarang. Akibatnya asumsi dan persepsi orang-orang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah sedikitpun, sehingga mereka menganggap Syi’ah bukan dari kelompok Islam.

Apaka mereka takut kalau mayoritas muslim akan beralih nantinya menjadi pengikut Syi’ah, jika kebenaran yang sesungguhnyan tersingkap. Tidaklah mengherankan kalau para ulama mereka mengharamkan pengikutnya untuk duduk bersama orang Syi’ah untuk mendiskusikan kebenaran, bahkan mereka pun mengharamkan pernikahan dengan orang Syi’ah.Jelaslah bahwa pihak mereka adalah pihak yang paling termakan menjalankan sunnah rekayasa yang dibuat Bani Umayyah dan bukan Sunnah Rasul SAW serta berusaha memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

Riwayat dari Thabarani dari Ibni Abbas dan dikutip oleh Suyuthi dalam kitabnya Ihya Ul Mait dan Al Nabhani dalam Arba’in bahwa Nabi SAW bersabda “Tidak akan tegeser kedua kaki seseorang pada hari kiamat sebrlum ia ditanya empat pertanyaan; tentang usianya untuk apa ia habiskan; tentang tubuhnya bagaimana ia menggunakannya; tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan serta tentang kecintaannya terhadap Ahlul Bait.”

Salah satu bukti dari kebenaran Syi’ah ialah mereka berargumentasi atas kebenaran mereka dengan menggunakan kitab-kitab dan riwayat-riwayat ulama Ahlus Sunnah. Karena di dalamnya banyak sekali hal-hal yang menjelaskan kebenaran mereka dengan jelas sekali, karena di dalam kitab-kitab ini terdapat hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya mengikuti ajaran Ahlul Bait as

Syi’ah mempunyai sumber-sumber rujukan tersendiri, yang jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dan semuanya diriwayatkan dari Ahlul Bait as dan dari Rasulullah saw. Namun demi-kian, mereka berargumentasi kepada Ahlus Sunnah dengan menggunakan riwayat-riwayat yang ada di dalam sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dikarenakan Ahlus Sunnah tidak percaya kepada apa yang ada pada sisi mereka, maka mau tidak mau mereka harus berhujjah dengan apa-apa yang diyakini oleh kalangan Ahlus Sunnah

Kaum  syi’ah yang memegang teguh wasiat Nabi dibilang pembangkang dan ahli bad’ah, sementara mereka yang tidak memegang teguh wasiat Nabi malah disebut pengikut sunnah Nabi. Dan saya yakin bahwa otak dari semua ini adalah orang Quraisy, karna mereka terkenal dengan pribadi-pribadi yang fanatik dan licik. Diantara para pembesar – pembesar ini adalah , Abu Sufyan, Mu’awiyyah bin Abu Sufyan, Marwan bin Hakam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abu Ubaidillah bin Jarrah.

Mereka bermusyawarah dan bermufakat untuk menyebarkan berita-berita palsu ditengah-tengah masyarakat, tanpa diketahui oleh orang lain rahasia yang sebenarnya. Diantara politik yang mereka lakukan adalah, menjadikan Nabi SAW tidak ma’sum dan tidak luput dari kesalahan seperti manusia biasa lainya, juga tuduhan-tuduhan dan caci maki mereka teradap Sayyidina Ali yang mereka hina dengan panggilan Abu Turab.

Demi kian pula rekayasa mereka yang menyebut diri mereka sebagai Ahlu Sunnah, supaya orang Islam menyangka bahwa merekalah yang memegang teguh Sunnah Nabi. Pada hakekatnya “sunnah “ yang mereka maksudkan tidak lain adalah bid’ah yang mereka ciptakan untuk mengutuk Sayyidina Ali dan keluarga Nabi SAW di seluruh polosok negri. “Bid’ah tersebut berlangsung lebih dari 80 tahun, hingga saat itu jika seorang khatif selesai dari khutbahnya dipastikan sebelum turun dari mimbabar akan berteriak “ saya meningalkan sunnah, saya meninggalkan sunnah!

Dengan mengecualikan beberapa ulama Sunni Kontemporer yang bersikap objektif dalam menilai Syi’ah, ulama Sunni yang didukung penguasa sejak dahulu hingga sekarang tetap menulis tentang Ahlul Bait dan Syi’ah dengan rasa permusuhan dan dengki(saudara pembaca yang budiman anda dapat melihat komentar-komentar miring dan mengherankan dari ulama-ulama besar Sunni dalam buku-buku mereka, seperti :


Bahkan tidak jarang mengkafirkan Syi’ah sebagaimana diperbuat jauh sebelumnya di zaman Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. Para Penulis itu menuduh bahwa Syi’ah itu adalah kelompok yang didirikan oleh Abdullah bin Saba, seorang yang konon beragama Yahudi dan jauh lebih berbahaya dari agama Yahudi itu sendiri.Dalam lain kesempatan mereka menuduh bahwa Syi’ah kelompok yang menyembah Sayyidina Ali dan para Imam Suci, munafik paling berbahaya dan memiliki Al Qur’an selain Al Qur’an yang ada sekarang. Akibatnya asumsi dan persepsi orang-orang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah sedikitpun, sehingga mereka menganggap Syi’ah bukan dari kelompok Islam.

Seharusnya mereka yang mengaku ahlu Sunnah Nabi SAW harus mau bercermin pada Sunnah dan hadist-hadist Nabi SAW yang mengajarkan etika pergaulan yang mulia. Apakah mereka belum pernah membaca hadits “orang Islam satu denga yang lainnya seperti banguna yang saling menguatkan , atau orang Islam satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh, kalau satu anggota tubuh sakit , maka semuanya merasakan kesakitan, atau mencaci seorang muslim adalah fasiq sementara membunuhnya adalah kafir”

Kalau mereka konsisten menjalankan sunnah Nabi SAW seharusnya mereka tidak akan membiarkan 80 tahun cacian-cacian terhadap keluarga Nabi SAW terus berlangsung dan tidak akan mengkafirkan orang yang telah bersyahadat, melaksanakan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji. Bukankah Allah sendiri menyatakan “Wahai ahli kitab marilah kita memegang kalimat yang sama di antara kita” (Qs.Ali Imran.3:64). Mengapa ulama-ulama mereka tidak mau berdiskusi dengan ulama-ulama Syi’a.h demi kebaikan bersama. Mengapa mereka tidak mau duduk bersama dalam konfrensi Islam untuk memperoleh jawaban yang sebenarnya!? Karna mereka tridak pernah mau secara terbuka melaksanakan debat ilmiahuntuk mencari kebenaran, sehingga mereka senantiasa mencaci maki dan mengkafirkan Syi’ah tanpa alasan yang jelas dan bukti kuat, seperti yang dituntut Al Qur’an “Katakanlah, datangkanlah olehmu bukti jika kamu orang-orang yang benar”(Qs.Al Baqarah , 2:111)

Jelaslah bahwa pihak mereka adalah pihak yang paling termakan menjalankan sunnah rekayasa yang dibuat Bani Umayyah dan bukan Sunnah Rasul SAW serta berusaha memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

Inilah yang pernah diakui oleh Mua’wiyah bin Abu Sufyan tatkala membunuh sahabat-sahabat terbaik.”Saya tidak akan membunuh kalian hanya karna kalian tidak sholat, puasa ataupun haji, tapi saya akan membunuh kalian kalau kalian tidak taat pada perintahku.”Maha benar Allah SWA ketika berfirman “Sesungguhnya para penguasa ketika masuk kesebuiah kota pasti mereka akan menghancurkannya dan menjadikan penduduk-pendudukny a menjadi hina, demi kian lah perbuatan mereka.”

Khalifah Al Mutawakkil juga dikenal sebagai satu-satunya pengusa yang pernah membunuh semua bayi yang namanya Ali, karna ia emembenci mendengar nama itu.

Pada  Rezim  Abbasiyah  Khalifah Al Mutawakkil juga dikenal sebagai satu-satunya pengusa yang pernah membunuh semua bayi yang namanya Ali, karna ia membenci mendengar nama itu. Dan Khalifah Al Mutawakkil inilah yang oleh para ahli hadist Sunni disebut- sebagai pembangkit Sunnah.

Diceritakan bahwa Ali bin Jahm adalah seorang penyair tenar pada saat itu , tatkala berjumpa dengan Mutawakkil , ia menyatakan ; “Hai Amirul Mu’minin keluargaku telah mendurhakai aku dan Amirul Mu’minin” “Kenapa?” tanya Al Mutawakkil “Karna mereka menamakan diriku Ali, padahal aku paling benci nama itu” Al Mutawakkil lantas terbahak-bahak dan memberikan sejumlah hadiah. Dan Khalifah Al Mutawakkil inilah yang oleh para ahli hadist Sunni disebut- sebagai pembangkit Sunnah. Untuk memperjelas riwayat di atas, Imam Al Khawarizmi menulis dalam bukunya : “Harun dan Ja’far” Al Mutawakkil adalah mengukut setan, setiap orang yang mencaci maki Sayyidina Ali pasti mendapat kiriman hadiah.(Kitab Al Khawarizmi hal ,135) Dalam buku lain Ibnu Hajar meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal : bahwa Nasir bin Ali bin Sahban berkata di hadapan Al Mutawakkil ; “Dulu Rasullullah SAW pernah mengangkat tangan Sayyidina Hasan dan Sasyyidina Husain sambil berkata”Siapa yang menyakitiku dan kedua anakku ini, maka ia bersamaku pada hari kiamat di surga”. Mendengar hadist ini Al Mutawakkil mencambuknya 100 kali .

Dan saat ia menemui ajalnya , Ja’far bin Abdul Wahid membisikan pada Al Mutawakkil ,”Ya Amiral Mu’minin, ia merupakan pengikut Ahlu Sunnah!(Ibnu Hajar, Tahzib Al Tahzib) Dari sini jelaslah bahwa kutukan dan cacian terhadap Sayyidina Ali dipandang sebagai dukungan terhadap simbul Ahlu Sunnah . Dan Mereka Menuduh Syi’ah yang mendukung kepemimpinan Sayyidina Ali sebagai Ahli Bid’ah karna mereka tidak mengikuti pendapat Sahabat dan Khulafa Al Rasyidin yang tidak mengakui kepemimpinan Sayyidina Ali.

Saya rasa bukti-bukti sejarah yang saya ungkap sudah lebih dari cukup dan anda para pembaca yang saya hormati, saya persilahkan untuk meneliti lebih jauh kebenaran yang saya ungkap tersebut”Sesungguhnya orng-orang yang bersusaha keras unrtuk menemukan kebenaran, niscaya kami tunjuki mereka jalan yang lurus, dan sesungguhnya Allah bersana orang-orang yang berbuat kebajikan”(Al Ankabuut: 69) Ali selalu bersama Al Qur’an dan Al Qur’an selalu bersamanya, keduanya tidak akan pernah berpisah sampai bertemu denganku kelak ditelaga surga (Al-Mustadrak Al Hakim, juz 3.hal.124

mayoritas muslim akan beralih nantinya menjadi pengikut Syi’ah, jika kebenaran yang sesungguhnyan tersingkap

syi’ah berkeyakinan bahawa Nabi s.a.w.w telah telah memerintahkan kita agar berpegang teguh kepada dua perkara yang teramat penting,iaitu Kitabullah yakni Al-Quran dan Itrahnya yaitu Ahlul Baytnya.

Penyataan di atas dapat dikaitkan dengan hadis Tsaqalain.Hadis Tsaqalain ini telah diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi s.a.w.w serta keluarganya.Setelah menyebutkan riwayat Abu Sa’id al Khudri dan Zaid bin Arqam sebagaimana diriwayatkan Muslim dalam shahihnya, as Sakhawi mengatakan,”Dalam bab ini terdapat riwayat dari:
1)Jabir
2)Hudzaifah bin Usad
3)Khuzaimah bin Tsabit
4)Zaid bin Tsabit
5)Sahl bin Sa’ad
6)Dhamrah al Aslami
7)Amir bin Laila al Ghiffari
8)Abdurrahman bin Auf
9)Abdullah bin Abbas
10)Abdullah bin Umar
11)Adiy bin Hatim
12)Uqbah bin Walid
13)Ali bin Abi Thalib a.s
14)Abu Dzar
15)Abu Rafi’
16)Abu syuraih al Khuza’i
17)Abu Qudamah al Anshari
18)Abu Hurairah
19)Abu al Haitsam ibn at Tayyahan
20)Beberapa orang dari Quraisy
21)Ummu Salamah r.a
22)Ummu Hani (putri Abu Thalib)

Kemudian beliau mulai menyebutkan satu per satu riwayat riwayat mereka,”Adapun hadis Jabir,ia telah diriwayatkan oleh Turmudzi dalam Jami’nya.

Salah satu riwayat yang masyur tentang hadis Tsaqalain ini ialah:

Hadis Riwayat Imam Ali a.s

Abu Thufail r.a meriwayatkan bahawa Ali a.s berdiri dan berpidato,beliau memuji Allah SWT kemudian berkata,”Aku meminta dengan nama Allah,siapa yang hadir pada peristiwa Ghadir hendaknya bangun.”Maka berdirilah tujuh belas sahabat,di antara mereka ialah:
Khuzaimah bin Tsabit,Sahl bin Sa’ad,’Adiy bin Hatim,Uqbah bin Amir,Abu Ayyub al Anshari,Abu Sa’id al Khudri,Abu Syuraih al Khuza’i,Abu Qudamah al Anshari,Abu Laila,Abu al Haitsam binTayyahan dan beberapa orang dari kalangan Quraisy.

Setelah berdiri,Ali a.s berkata kepada mereka,”Bawakan apa yang kalian dengar!”

Mereka berkata,”Kami bersaksi bahawa kami pulang bersama Rasulullah s.a.w.w dari Haji Wida’,sehingga ketika datang waktu zuhur,Baginda keluar dan memerintahkan agar beberapa pohon dibersihkan bawahnya lalu dipasang kain penutup di atasnya,kemudian diumumkan agar semua berkumpul,kami semua keluar,dan salat dibawahnya.Setelah itu Baginda berpidato,memuji dan menyanjung Allah SWT.Kemudian Baginda bersabda,”apa yang kalian ucapkan?”Kami menjawab,”Anda telah benar benar mentablighkan”

Baginda bersabda,”Ya Allah,saksikan.”(Baginda mengulangi 3 kali).Kemudian bersabda:

“Telah dekat masanya aku dipanggil dan aku pun memenuhi panggilan itu.Aku akan mempertanggungjawabkan dan kalian juga akan mempertanggungjawab kan…”

Kemudian,Baginda melanjutkan:

“Wahai sekalian manusia,aku benar benar akan tinggalkan di tengah tengah kalian Tsaqalain ; Kitabullah dan ‘Itrah-ku yaitu Ahlul Bayt-ku.Keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Telaga Haudh kelak.Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah mengabarkan hal yang demikian.”

Mereka terus menyampaikan hingga sampai pada sabda,”Barang siapa aku mawla-nya,maka Ali juga mawla-nya”Kemudian Ali a.s berkata,”Benar kalian,dan atas hal itu aku bersaksi.”

As Samhudi berkata,”Hadis ini diriwayatkan Ibnu ‘Uqdah dari jalur Muhammad ibn katsir dari Fithr dan Abu al Jarud;keduanya dari Abu ath Thufail.”Muhibbudin ath Thabari juga menyebutkan dalam Dzakhair al Uqba:67.

Arti Kata Tsaqalain

Kata Tsaqalain adalah bentuk mutsanna(yang menunjukkan arti dua) dari kata tsaqal. Para pakar bahasa Arab mengatakan bahawa kata tsaqal berarti bekal seorang musafir,segala sesuatu yang berharga dan terjaga.

Dalam kamus Taj al ‘Arus menyebutkan:ats tsaqal:bekal seorang musafir,bentuk jamaknya ialah atsqal,dan setiap sesuatu yang agung dan berharga yang terpelihara yang memiliki nilai yang tinggi.

Tsaqalain yang dimaksud-sebagaimana disebutkan dalam nas tersebut-adalah Al-Quran dan ‘Itrah.Keduanya disebutkan Tsaqalain kerana dua perkara ini adalah amat penting dan berharga sekali kerana ianya adalah pusaka Nabi s.a.w.w yang ditinggalkan kepada umatnya.Kedua duanya memiliki gudang ilmu agama,rahsia rahsia tuhan dan sumber informasi hukum syariat.

Rasulullah s.a.w.w telah berpesan berkali kali kepada umatnya agar mengambil ilmu dari dua perkara ini.Oleh yang demikian,kita haruslah berpegang teguh kepada 2 perkara ini yakni Kitabullah serta Ahlul Bayt Rasul s.a.w.w.Kita juga mestilah menjadikan ia sebagai garis panduan hidup kita serta menjadi cermin dalam langkah hidup kita,Insya Allah.Bihaqqi Muhammadin wa aali Muhammad.Allahumma sholli ‘ala muhammad,wa aali muhammad.wa ajjil farojahum

Peradaban hilang dan Islam Mundur karena kaum sunni tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab masa depan dan kitab Ilmu Pengetahuan !!

Karena pada dasarnya kesalahan mereka adalah pada tauhidnya sehingga syi’ah yang berpegang pada 12 imam ahlulbait dituding sesat !!!

Sementara orang Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk diterima Allah dan peluang masuk syurga lebih leluasa. Hal ini dikarenakan ajaran tauhid yang kita terima sangat jelas yaitu hanya mengesakan Allah. Seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Ikhlas: 1-4. Namun ini semua sangat tergantung pada diri kita masing-masing. Apakah kita bisa memanfaatkan karunia Allah tersebut. Misalnya dengan cara mengamalkan seluruh aktifitas kita sesuai dengan ajaran Islam. Atau kita membiarkan peluang itu berjalan apa adanya. Atau bahkan mungkin justru melepaskan peluang itu, yang sudah berada dalam genggaman kita. Karena sehebat apapun kitab dan Rasulnya, akan tidak ada artinya bila ajarannya tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari

.

Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk Islam secara kaffah. Oleh karena itu Islam itu tidak hanya berorientasi pada masalahukhrawi saja, padahal untuk mencapai kehidupan akhirat kita tidak perlu melupakan kehidupan dunia. Untuk mendapat dan memperoleh kualitas diri kita tidak perlu memisahkan diri dari kehidupan dunia. Jadi berislam secara kaffah tidak perlu memisahkan anatara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Kita menjalani kehidupan dunia ini sesuai dengan profesi masing-masing. Namun dalam menjalaninya harus diniatkan semata-mata karena Allah. Hidup kita harus selalu terhiasi dengan zikrullah, mau sombong kita ingat Allah, mau bohong juga ingat kepada Allah, dan lain sebagainya. Insya Allah jika kita selalu mengingat Allah, Allah juga akan selalu ingat kepada kita dan kita akan selalu mendapatkan perlindungan-Nya
.
.
Dari uraian singkat tadi semuanya menginginkan agar kita umat Islam bentuk Islamnya tidak hanya dalam bentuk pengakuan saja, jangan samapai terjadinya pengislaman orang Islam. Karena sungguh sangat kita sayangkan bila hal ini terjadi, karena Islam kita selama ini ternyata masih dalam bentuk teoritis, tidak praktis sehingga tidak salah kalau Sujana WS menabalkan istilah “Mengislamkan Orang Islam.”
.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Islam adalah agama rahmatan lilaalamiin, di dalamnya dikelola seluruh hajat kehidupan umat manusia, tanah, air, negara, pemerintahan lebih-lebih tentang struktur kehidupan umat manusia yang saling berkaitan satu sama lain.  Islam merupakan satu kekuatan untuk membangun peradaban yang beradab. Orang Islam sendiri mungkin tidak percaya apabila dikatakan bahwa hampir seluruh kemajuan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Saintek) yang dicapai oleh Barat sekarang merupakan hasil proses panjang dari peradaban Islam yang telah hilang ditelan manipulasi-manipulasi sejarah. Masyarakat Islam kalau dikatakan sebagai penghasil peradaban terbesar bukanlah omong kosong, tetapi terukir dalam sejarah Islam sebagai peninggalan yang amat berharga bagi umat manusia. Peradaban Islam merupakan peradaban yang mempunyai sosok risalah universal yang menjunjung tinggi nilai moral manusia
.
Sesungguhnya kalau kita membuka secara jujur bahwa Barat telah banyak berhutang budi kepada Islam. Karena Islamlah peletak dasar peradaban yang manusiawi. Menurut As-Siba’i bahwa peradaban Islam merupakan peradaban yang mengagumkan, karena Islam memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh peradaban lain. Yaitu antara lain: Pertama, Islam berpijak pada asas Wahdaniyah (ketunggalan). Asas Wahdaniyah akan berpengaruh pada terangkatnya martabat manusia, dalam membebaskan rakyat jelata dari kelaliman raja maupun pejabat pemerintah. Karena dengan asas ketunggalan, manusia hanya menganggap satu yang mutlak, yakni Allah. Kedua, Peradaban Islam Bersandar Kepada Fitrah Kemanusiaan. Kesatuan jenis manusia tanpa membedakan asal-usul keturunan dan warna kulit, yang menjadi ukuran hanya tingkat ketakwaan. Ketiga, Peradaban Islam dibangun atas dasar prinsip-prinsip moral yang bisa dipertanggung jawabkan. Keempat, Peradaban Islam berpegang pada ilmu dan pangkalnya yang paling lurus dan akidahnya yang paling jernih. Ia berbicara kepada akal dan hati secara bersama-sama serta membangkitkan perasaan dan pikiran dalam waktu yang sama pula. Kelima, Peradaban Islam mempunyai toleransi keagamaan yang sangat tinggi dan tidak pernah dikenal oleh peradaban lain yang juga berpijak pada agama
.
Dari lima karakteristik  peradaban Islam tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa peradaban Islam telah berhasil meletakkan pengaruh yang abadi yang ada dalam sejarah kemanusiaan di berbagai aspek pemikiran, moral dan material
.
Dengan melihat fenomena masyarakat Muslim saat ini di negara-negara sedang berkembang yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti halnya Indonesia ibarat sesosok robot yang sedang berpasung. Ia akan bergerak sesuai keinginan sang pengendali. Yang lebih celaka lagi ialah bahwa yang mengendalikan robot tersebut adalah bukan orang Islam (muslim), tetapi umat di luar Islam (non muslim)
.
Hal ini bisa kita lihat di era modernisasi dan perdagangan bebas sekarang ini. Bahwa umat Islam hanya dijadikan sebagai pasar perindustrian Barat. Islam hanya memiliki peran penting dari sikap kebiadaban Barat dan yang memainkan skenarionya adalah kaum Nasrani dan Yahudi. Sehingga Islam menjadi tumbal dalam segala permainan mereka, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik lebih-lebih agama. Tidak sedikit umat Islam yang terjebak pada tindakan dehumanisasi (tindakan yang tidak berperikemanusiaan), seperti pembunuhan, perampokan, kemaksiatan, kemelaratan, lahirnya mental pejabat yang korup, sistem pemerintahan yang otoriter atau dalam bahasa kasar penulis adalah sistem pemerintahan ala Fir’aun, pemerintahan yang sewenang-wenang
.
Kalau kita kemabali  melihat, bahwa sesungguhnya umat Islam mempunyai potensi besar dalam sumber daya insani dan sumber daya semangat jihad yang seharusnya mampu menguasai dunia. Namun, realitas umat Islam saat ini mempunyai ketergantungan yang relatif besar terhadap kekuatan-kekuatan lain, baik pada segi ekonomi, sosial, budaya, politik maupun Ideologi. Baik dalam skala mikro maupun dalam makro. Ideologi kapitalis dan sosialis membayang-bayangi umat Islam. Pertanyaan Besar Yang muncul adalah. Apakah faktor penyebab kebergantungan umat Islam terhadap kekuatan lain tersebut……….???
.
Dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Maka salah satu jawabannya adalah bahwa umat Islam sendiri tidak lagi menerapkan konsepsi Islam dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul tertuang segudang konsepsi hidup yang dapat mengatur segala tingkah laku kehidupan, akan tetapi umat Islam lagi-lagi tidak mampu menampilkanya dalam mewarnai kehidupan yang Islami. Syakib  Arsenal, (Seorang Fisikawan ke-Enam Sekaligus Aktivis Muslim Dunia) pernah mengatakan, bahwa umat Islam tidak akan pernah maju kalau hidupnya tidak disemangati semangat Al-Qur’an dan As-sunnah atau tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup (The way Of  life)
.
Masyarakat dewasa ini dalam bertingkah laku, berilmu pengetahuan, berpolitik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pendidikan dan dalam dimensi kehidupan lainnya, tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan. Yang mereka gunakan adalah kitab-kitab Pseudo (semu dan palsu) yang terdapat dalam buku-buku Iptek yang memuat pandangan-pandangan hidup kapitalis, sosialis, komunis, sekularis, materialis, zionis dan iblis. Buku seperti itu judulnya manusiawi sedangkan isinya materialis, yang jika kita simpulkan arahnya mengandung benih-benih ateisme. Padahal Allah SWT telah berfirman “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu mempunyai pengetahuan tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan ditanya” (Q.S Al-Isra’: 36). Inilah yang menjadi Petunjuk Iptek dalam segala kehidupan dewasa ini. Persepsi masyarakat terhadap Al-Qur’an hanya sebagai kitab sakral dan ritual, kitab simbol dan legitimasi dalam rangka membedakan pandangan secara kasat mata antara umat Islam dan umat non Islam. Sangat sedikit umat Islam menjadi Al-Qur’an sebagai kitab masa depan dan kitab Ilmu Pengetahuan
.
Fenomena-fenomena tersebut merupakan fenomena yang terjadi saat ini di kalangan masyarakat muslim. Ini penyakit umat Islam yang harus segera disembuhkan. Oleh karena itu perlu langkah-langkah yang dapat mengobati penyakit tersebut. Umat Islam perlu Istiqamah, keterbukaan dan jiwa besar dikalangan umat Islam. Oleh karena itu mulai detik ini suatu keharusan bagi umat Islam untuk berjihad atau berhijrah dari sistem non-Islam kepada sistem Islam dalam berbagai dimensi kehidupan dengan segala konsekwensinya. Dan meneriakan bahwa Syariat Islam harus ditegakkan di Indonesia dan Bima khususnya. Semoga kita diberi kekuatan Iman, Islam, Ilmu dan Amal Oleh Allah Swt dalam mewujudkan kehidupan yang adil dan makmur
.
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minuun: 12-14)
.
Ternyata Allah jauh-jauh hari semenjak 15 Abad yang lalu telah mengirim sinyal dalam Al-Qur’an bahwa manusia itu terbentuk menjadi dengan melalui tahapan-tahapan proses penciptaan. Mulai bersumber dari materi tanah, menjadi segumpal darah, segumpal daging, hingga menjadi bayi yang dilahirkan. Dalam buku “Ternyata Adam Dilahirkan” inilah Agus Mustafa menyajikannya dengan kajian yang sangat konprehensif dan spektakuler tentang asal-usul penciptaan manusia. Dalam bukunya, dimana Ia mengungkap tabir bahwa, sejarah penciptaan manusia ternyata terekam dalam DNA, yang dikenal dengan penyusunan genetika. Dari situlah misteri penciptaan “manusia pertama” mulai terbongkar
.
Semua agama besar di dunia sepakat bahwa kita adalah keturunan Adam dan Hawa, pasangan legendaries, dan nenek moyang pertama manusia. Adam merupakan asala-muasal populasi manusia di muka Bumi. Namu penjelasan yang ada begitu singkat dan ringkas. Sehingga munculnya berbagai tafsiran tentang asal-usul keberadaan manusia pertama itu (Adam). Mulai dari yang bersifat dongeng, legenda, dogma, tafsir bahasa, sampai penulusuran yang bersifat ilmiyah. Semua itu belumlah memberikan gambaran yang akurat tentang informasi tenntang penciptaan Adam. Tetapi dalam Al-Qur’an Allah sepertinya ingin memancing kita untuk memahami lebih jauh tentang proses munculnya manusia pertama, sebagai peradaban manusia di planet ini.
Informasi penciptaan manusia pertama dalam Al-Qur’an menjadi kontroversi sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya informasi yang eksplisit tentangnya. Dan membutuhkan kepiawaian dalam menginterpretasikannya secara utuh
.
Selama ini, cerita-cerita yang berkembang mengarahkan kita kepada suatu pengertian bahwa Adam dan Hawa diciptakan di Syurga. Syurga digambarkan terletah di suatu alam ghaib, di langit sana. Pendapat ini sebenarnya berimbas dari cerita-cerita tradisional bahwa “alam Tuhan” berada di langit. Seiring dengan “alam Dewi-dewi” dalam cerita pewayangan yang diadapsi dari luar Isla. Sebenarnya konsep seperti ini bukan konsep Islam. Melainkan konsep agama-agama Pagan yang justru diluruskan oleh datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, termasuk keturunannya, yaitu Muhammad Saw
.
Agama Islam, oleh Al-Qur’an , surga dipersepsikan dengan sangat realistic, sangat dekat, sekaligus luas meliputi alam semesta, sangat fisikal dengan gambaran keindahan khas bumi, sekaligus keindahan bathiniyah yang menyentuh alam jiwa kita yang paling dalam, sarat dengan kenikmatan duniawy, dan juga kenikmatan ukhrawy. Kesalahan dalam memahami syurga ini, pada gilirannya akan menyebabkan kita salah dalam memahami syurga di mana Adam dan Hawa pernah ditempatkan. Terjadi distorsi pemahaman yang sangat jauh, dari konsep syurga dalam Al-Qur’an. Jadi syurga yang ditempati Adam dan Hawa adalah sebuah taman yang ada di muka bumi
.
Dari penelusurannya, penulis buku berkesimpulan bahwa Adam bukan pertama yang hadir kepermukaan bumi ini. Ia adalah generasi kesekian setelah jutaan tahun munculnya spesies manusia manusia di planet biru. Sepanjang penelusurannya, dalam ayat Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan Adam sebagai manusi pertama. Demikian juga istrinya, bukan manusia yang kedua yang diciptakan setelah Adam. Justru banyak ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa Adam dan Hawa adalah salah satu dari sekian banyak umat manusia yang sudah ada pada waktu itu
.
Dari data-data yang ada, dapatlah kita ambil suatu kesimpulan sementara, ternyata Adam itu dilahirkan, karena memang ia bukan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah di muka bumi. Adam adalah al-insan, yanag merupakan spesies al-basyar yang sudah berperadaban tinggi. Manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ternyata bukan Adam. Ia tidak pernah disebut secara eksplisit oleh Al-Qur’an. Allah selalu menyebut manusia pertama itu secara kolektif sebagai al-basyar. Tidak ada penjelasan rinci tentang siapa dia dan bagaimana rupanya. Data-data ilmu pengetahuan pun masih sampai sekarang masih diselimuti kabut tebal yang penuh misteri
.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.. Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi…

 

rumah Saidatina Fatimah A.S.Beliau merupakan anak kepada Nabi Muhammad SAW dan isteri kepada Saidina Ali RA













 

SERANGAN KE RUMAH FATHIMAH..

Kekhalifahan Abu Bakar merupakan ijma ulama yang wajib diterima bagi setiap Muslim. Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa kita percaya ijma bersifat mengikat. oleh sebab itu Ahlu Sunnah wal Jam’ah menentukan WAJIB mengikuti ijma’ apapun konsekuensinya hingga penentangan Thd kekhalifahan hasil ijma’ HARUS diterima bahkan jika diperlukan bisa dipaksakan diterima .

Tidak semua sahabat sepakat bahwa keempat khalifah ini adalah pengganti Nabi Muhammad yang sah. Kaum Muslimin sepakat bahwa kekhalifahan Abu Bakar dipilih oleh sejumlah orang yang terbatas dan merupakan hal yang mengejutkan bagi sahabat lainnya. Oleh sejumlah orang terbatas artinya mayoritas sahabat Nabi Muhammad yang utama tidak mengetahui pemilihan ini. Ali, Ibnu Abbas, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d bin Abi Waqqash, Salman Farisi, Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Miqdad, Abdurrahman bin Auf adalah di antara sahabat-sahabat yang tidak diajak berunding bahkan diberitahu. Bahkan Umar sendiri mengakui, pemilihan Abu Bakar dilakukan tanpa perundingan dengan kaum Muslimin.( l )

 

Hadis Tsaqalain ditinggalkan “KPU Tsaqifah”

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Kita tidak dapat menutup mata pada kenyataan yang tidak dapat disangkal yang bahkan dicatat oleh ulama-ulama Sunni dan meskipun telah menjadi ijma. Setelah Nabi Muhammad wafat, orang-orang yang melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi Muhammad seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar Ghiffari, Miqdad, Salman Farisi, Ibnu Abbas, dan sahabat-sahabat lain seperti Abbas, Utbah bin Abi Lahab, Bara bin Azib, Ubay bin Ka’b, Sa’d bin Abi Waqqash, dan lain-lain berkumpul di rumah Fathimah.

Demikian juga dengan Thalhah dan Zubair yang awalnya setia kepada Ali dan bergabung dengan yang lainnya di rumah Fathimah. Mereka berkumpul di rumah Fathimah sebagai tempat berlindung karena mereka menentang mayoritas orang-orang. Berdasarkan hadis Shahih Bukhari, Umar mengakui bahwa Ali dan pengikutnya menentang Abu Bakar.

Bukhari meriwayatkan bahwa Umar berkata,

“Tidak diragukan lagi setelah Rasul wafat, kami diberi tahu bahwa kaum Anshar tidak sepakat dengan kami dan berkumpul di balairung Bani Saidah. Ali dan Zubair dan orang – orang yang bersama mereka menentang kami.”(2)

Hadis lain meriwayatkan bahwa Umar berkata pada hari Saqifah,

“Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam dan orang-orang yang bersama mereka berpisah dari kami dan berkumpul di rumah Fathimah, putri Nabi Muhammad.”(3)

Selain itu, mereka meminta persetujuan baiat tersebut, tetapi Ali dan Zubair meninggalkannya. Zubair menghunuskan pedang dan berkata, “Aku tidak akan menyarungkan pedang ini sebelum sumpah setia diberikan kepada Ali.” Ketika kabar ini sampai kepada Abu Bakar dan Umar, Umar berkata, “Lempar ia dengan batu dan rampas pedangnya!” Diriwayatkan bahwa Umar bergegas (menuju ke depan pintu Fathimah) dan menggiring mereka dengan paksa sambil mengatakan bahwa mereka harus memberikan sumpah setia secara sukarela ataupun paksa.(4)

Pemilihan seperti apakah itu? Pemilihan menyiratkan suatu pilihan dan kebebasan, dan setiap kaum Muslimin berhak memilih wakilnya. Barang-siapa yang memilihnya tidak menentang Allah atau Rasulnya karena baik Allah atau Rasulnya tidak menunjuk orang dari pilihan umat. Pemilihan, secara fitrah, tidak memaksa setiap kaum Muslimin untuk memilih wakil khususnya. Apabila tidak, pemilihan tersebut berarti paksaan. Artinya pemilihan itu akan kehilangan fitrahnya dan menjadi tindakan pemaksaan. Ucapan Nabi yang terkenal menyatakan, “Tidak ada sumpah setia yang sah jika diperoleh dengan paksaan.”

Mari kita lihat apa yang dilakukan Umar pada saat itu.

Sejarahwan Sunni meriwayatkan bahwa ketika Umar sampai di depan pintu rumah Fathimah, ia berkata,

“Demi ,Allah, aku akan membakar (rumah ini) jika kalian tidak keluar dan berbaiat kepada (Abu Bakar)!”(5)

Selain itu, Umar bin Khattab datang ke rumah Ali. Talhah dan Zubair serta beberapa kaum Muhajirin lain juga berada di rumah itu.

Umar berteriak,

“Demi Allah, keluarlah kalian dan baiat Abu Bakar jika tidak akan kubakar rumah ini.” Zubair keluar dengan pedang terhunus, karena ia terjatuh (kakinya tersandung sesuatu), pedangnya lepas dari tangannya, merekapun menerkamnya dan membekuknya.(6)

Abu Bakar, berdasarkan sumber riwayat yang shahih, berkata bahwa ketika umat telah berbaiat padanya setelah Nabi Muhammad wafat, Ali dan Zubair sering pergi ke Fathimah Zahra, putri Nabi Muhammad, untuk bertanya.

Ketika berita ini diketahui Umar, ia pergi ke rumah Fathimah dan berkata,

“Wahai putri Rasulullah! Aku tidak mencintai seorang pun sebanyak cintaku pada ayahmu, dan tidak ada seorang pun setelahnya yang lebih aku cintai selain engkau. Tetapi, Demi Allah, sekiranya orang-orang ini berkumpul bersamamu, kecintaan ini tidak akan mencegahku untuk membakar rumahmu.”(7)

Diriwayatkan pula bahwa Umar berkata kepada Fathimah (yang berada di belakang pintu),

“Aku mengetahui bahwa Rasulullah tidak mencintai siapa pun lebih dari cintanya padamu. Tetapi kehendakku tidak akan menghentikanku melaksanakan keputusanku. Jika orang-orang ini berada di rumahmu, aku akan membakar pintu ini di hadapanmu.”(8)

Sebenarnya Syilbi Numani sendiri menyaksikan peristiwa di atas dengan kata-kata berikut:

“Dengan sifat Umar yang pemarah, perbuatan tersebut sangat tidak mungkin dilakukan.”9

Diriwayatkan pula bahwa Abu Bakar berkata menjelang kematiannya,

“Andai saja aku tidakpergi ke rumah Fathimah dan mengirim orang-orang untuk menyakitinya, meskipun hal itu akan menimbulkan peperangan jika rumah tersebut tetap digunakan sebagai tempat berlindung.”(10)

Sejarahwan menyebutkan nama-nama berikut adalah orang-¬orang yang menyerang rumah Fathimah untuk membakar orang-orang yang berlindung di dalamnya; Umar bin Khatab, Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Tsabit bin Shammas, Ziyad bin Labid, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Salim bin Waqqash, Salamah bin Aslam, Usaid bin Huzair, Zaid bin Tsabit.

Ulama Sunni yang ditakzimkan, Abu Muhammad bin Muslim bin Qutaibah Dainuri dalam kitab al-Imamah wa as-Siyasah meriwayatkan bahwa Umar meminta sebatang kayu dan berkata kepada orang orang yang berada di dalam rumah, “Aku bersumpah demi Allah yang menggenggam jiwaku, jika kalian tidak keluar, akan aku bakar rumah ini!” Seseorang memberitahu Umar bahwa Fathimah berada di dalam. Umar berteriak, “Sekalipun! Aku tidak peduli siapa pun yang berada di dalam rumah itu.”(11)

Baladzuri, seorang sejarahwan lain meriwayatkan bahwa Abu Bakar meminta Ali untuk memberi dukungan kepadanya tetapi Ali menolak. Kemudian Umar berjalan ke rumah Ali sambil membawa kayu bakar di tangannya. Ia bertemu Fathimah di muka pintu. Fathimah berkata, “Engkau berniat membakar pintu rumahku?” Umar menjawab, “Ya, karena hal ini akan menguatkan agama yang diberikan kepada kami dari ayahmu.”(12)

Dalam kitabnya, Jauhari berkata bahwa Umar dan beberapa kaum Muslimin pergi ke rumah Fathimah untuk membakar rumahnya dan orang-orang di dalamnya yang menentang. Ibnu Shahna menambahkan, “Membakar rumah serta penghuninya.”

Lebih jauh lagi diriwayatkan bahwa ketika Ali dan Abbas sedang duduk di dalam rumah Fathimah, Abu Bakar berkata kepada Umar, “Pergi dan bawalah mereka, jika mereka menentang, bunuh mereka!” Umar membawa sepotong kayu bakar untuk membakar rumah tersebut. Fathimah keluar dari pintu dan berkata, “Hai putra Khattab, apakah kamu datang untuk membakar rumah yang di dalamnya terdapat aku dan anak¬-anakku?” Umar menjawab, “Ya, demi Allah, hingga mereka keluar berbaiat kepada khalifah Rasul.”(13)

Semua orang keluar dari rumah kecuali Ali. Ia berkata, “Aku bersumpah akan tetap berada di rumahku sampai aku selesai mengumpulkan Quran.”

Umar tidak terima tetapi Fathimah membatahnya hingga ia berbalik. Umar menghasut Abu Bakar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Abu Bakar kemudian mengirim Qunfiz (budaknya) tetapi selalu menerima jawaban negatif setiap kali ia menemui Ali. Akhirnya, Umar pergi dengan sekelompok orang ke rumah Fathimah.

Ketika Fathimah mendengar suara mereka, ia berteriak keras,

“Duhai ayahku, Rasulullah! Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab dan Abu Bakar memperlakukan kami setelah engkau tiada! Lihatlah bagaimana cara mereka menemui kami!”

Ulama-ulama Sunni seperti Ahmad bin Abdul Aziz Jauhari dalam bukunya Saqifah, Abu Wahid Muhibuddin Muhammad Syahnah Hanafi dalam bukunya Syarh al-Nahj, dan lainnya telah meriwayatkan peristiwa yang sama.

Lihat juga sejarahwan terkemuka Sunni, Abdul Hasan, Ali bin Husain Mas’udi dalam bukunya Ishabat al-Wasiyyah, menjelaskan peristiwa tersebut secara terperinci dan meriwayatkan, “Mereka mengelilingi Ali dan membakar pintu rumahnya, melemparkannya serta mendorong penghulu seluruh perempuan (Fathimah) ke dinding yang menyebabkan terbunuhnya Muhsin (putra berusia 6 bulan yang tengah dikandungnya).

Shalahuddin Khalil Safadi, ulama Sunni lain, dalam kitabnya Wafi al-Wafiyyat, pada surat ‘A’ ketika mencatat pandangan/pendapat Ibrahim bin Sayar bin Hani Basri, yang terkenal dengan nama Nidzam mengutip bahwa ia berkata,

“Pada hari pembaiatan, Umar memukul perut Fathimah sehingga bayi dalam kandungannya meningggal.”

Menurut anda mengapa perempuan muda berusia 18 tahun harus terpaksa berjalan ditopang tongkat? Kekerasan serta tekanan yang sangat hebat menyebabkan Sayidah Fathimah Zahra senantiasa menangis, “Bencana itu telah menimpaku sehingga sekiranya bencana itu datang di siang hari, hari akan menjadi gelap.” Sejak itu Fathimah jatuh sakit hingga wafatnya akibat bencana dan sakit yang menimpanya, padahal usianya baru 18 tahun.

Seperti yang dikutip oleh Ibnu Qutaibah menjelang hari–hari terakhirnya, Fathimah selalu memalingkan wajahnya ke dinding, ketika Umar dan Abu Bakar datang membesuknya menjawab ucapan mereka yang mendoakan kesembuhannya, Fathimah mengingatkan Umar dan Abu Bakar tentang pernyataan Nabi Muhammad bahwa barang siapa yang membuat Fathimah murka, maka ia telah membuat murka Nabi.

Fathimah berkata,

“Allah dan malaikat menjadi saksiku bahwa engkau membuatku tidak ridha, dan kalian telah membuatku murka. Apabila aku ber¬temu ayahku, akan kuadukan semua perbuatan kalian berdua!”(14)

Karena alasan yang sama, Fathimah ingin agar kedua orang yang telah menyakitinya jangan sampai hadir di pemakamannya dan oleh karenanya ia dimakamkan malam hari. Bukhari, dalam kitabnya menegaskan bahwa Ali menuruti keinginan istrinya. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fathimah sangat marah kepada Abu Bakar sehingga ia menjauhinya, tidak berbicara dengannya sampai wafatnya. Fathimah hidup selama 6 bulan setelah Nabi Muhammad wafat. Ketika Fathimah wafat, suaminya Ali menguburkannya di malam hari tanpa memberitahukan Abu Bakar dan melakukan shalat jenazah sendiri.(l5 )

Usaha apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat menemukan makamnya. Makam Fathimah hanya diketahui oleh keluarga Ali. Hingga saat ini makam putri Nabi Muhammad yang tersembunyi merupakan tanda-tanda ketidaksukaannya kepada beberapa sahabat.

Pendapat Nabi Muhammad terhadap Orang-orang yang Menyakiti Fathimah

Nabi Muhammad sudah berulang kali mengatakan,

“Fathimah adalah bagian dari diriku. Barangsiapa membuatnya murka, ia telah membuatku murka!”(16)

PENUTUP…:

ORANG GILA MANA YANG BERANI MAIN2 DENGAN MURKANYA NABI SAWW  TAPI NGGA PUNYA MALU NGAKU CINTA NABI ?

Catatan Kaki :

1. Lihat Shahih Bukhari, versi Arab-Inggris, jilid 8, hadis 8.17.

2. Referensi hadis Sunni: Bukhari, Arab-Inggris, vol. 8, hadis 8.17.

3. Referensi hadis Sunni: Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 1, hal. 55; Sirah aai-Nabawiyyah oleh Ibnu Hisyam, jilid 4, ha1.309; Tarikh ath-Thabari, jilid 1, hal. 1822; Tarikh ath-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 9, hal. 192.

4. Referensi hadis Sunni: Tarikh ath-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 9, ha1.188-189.

5. Referensi hadis Sunni: Tarikh ath-Thabari (bahasa Arab), jilid 1, hal. 1118-1120; Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 325; al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr, jilid 3, hal. 975; Tarikh al-Khulafa oleh Ibnu Qutaibah, jilid 1, hal. 20; al-Imamah wa as-Siyasah oleh Qutaibah, jilid 1, ha1.19-20.

6. Referensi hadis: Tarikh ath-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 9, ha1.186¬187. Pada catatan kaki di halaman yang sama (ha1.187) penerjemahnya memberi komentar, “Meskipun waktunya tidak jelas, nampaknya Ali dan kelompoknya mengetahui tentang peristiwa di Saqifah setelah apa yang terjadi di sana. Para pendukungnya berkumpul di rumah Fathimah. Abu Bakar dan Umar sangat menyadari tuntutan Ali. Karena takut ancaman serius dari pendukung Ali, Umar mengajaknya ke masjid untuk memberi sumpah setia. Ali menolak, sehingga rumah tersebut dikelilingi oleh pasukan pimpinan Abu Bakar-Umar, yang mengancam akan membakar rumah sekiranya Ali dan pengikutnya tidak keluar dan memberi sumpah setia kepaLta Abu Bakar. Keadaan bertambah panas dan Fathimah marah. Lihat Ansab Asyraf oleh Baladzuri dalam kitabnya jilid 1, ha1.582-586; Tarikh Ya’qubi, jilid 1, ha1.116, al-Imamah wn as-Siyasah oleh Ibnu Qutaibah, jilid 1, hal. 19-20.

7. Referensi hadis Sunni: Tarikh ath-Thabari, pada peristiwa tahun 11 H; al-Imamah wa as-Siyasah oleh Ibnu Qutaibah, jilid 1, pengantar isi, dan ha1.19-20; Izalat al-Khalifah oleh Syah Wahuilah Muhaddis Dehlavi, jilid 2, hal. 362; Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdurrabbah Malik, jilid 2, bab Saqifah.

8. Referensi hadis Sunni: Kanz al-Ummal, jilid 3, hal. 140.

9. Referensi hadis Sunni: al-Faruq oleh Syibli Numani, hal. 44.

10. Referensi hadis Sunni: Tarikh al-Ya’qubi, jilid 2, ha1.115-116; Asab Asyraf oleh Baladzuri, jilid 1, hal. 582, 586.

11. Referensi hadis Sunni: al-Imamah wa as-Siyasah oleh Ibnu Qutaibah, jilid 1, hal. 3, 19-20.

12. Referensi hadis Sunni: al-Ansab Asyraf oleh Baladzuri, jilid 1, ha1.582, 586.

13. Referensi hadis Sunni: Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdurrabbah, bagian 3, ha1.63; al-Ghurar oleh Ibnu Khazaben, bersumber dari Zaid Ibnu Aslam.

14. Al-Imamah wa as-Siyasah oleh Ibnu Qutaibah, jilid 1, hal.4.

15. Referensi hadis Sunni: Shahih Bukhari, bab Perang Khaibar, Arab ¬Inggris jilid 5; Tarikh Thabari, jilid IX, ha1.196 (peristiwa tahun 11, versi bahasa Inggris); Tabaqat ibn Sa’d, jilid. VIII, ha1.29; Tarikh, Ya’qubi, jilid II, hal.117; Tanbih, Mas’udi, hal. 250 (kalimat ketiga terakhir disebutkan di catatan kaki kitab Thabari); Baihaqi, jilid 4, hal. 29; Musnad, Ibnu Hanbal, jilid 1, hal. 9; Tarikh, Ibnu Katsir, jilid 5, hal. 285-86; Syarh ibn al-Hadid, jilid 6, hal. 46. 546, hal. 381-383 juga pada jilid 4, hadis 325.

16. Referensi hadis Sunni: Shahih Bukhari, Arab-Inggris, jilid 5, hadis 61 dan 111; Shahih Muslim, bab Keutamaan Fathimah, jilid 4, ha1.1904-5.

www.belantaraindonesia.org

Gambar di atas ini adalah gambar reruntuhan tempat Sayyidah Fatimah, Putri Rasulullah SAW di lahirkan.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.. Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi…

Kenabian Nabi Muhammad sama dengan kenabian Nabi Musa.

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan seperti yang telah dicantumkan oleh mas Quito.

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS.

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? Hadits 10 sahabat tersebut masih perlu dikaji ulang

orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.
smoga knak adab yg perih bgi rang yg menyakiti/ n menganiaya kluarga NABI MUHAMMAD SAWW. amin……

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan ….

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS…

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Tidak ada yang aneh. Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

Fadak adalah nama desa di Hijaz yang didapat secara damai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahun 7 H, berjarak 2 atau 3 hari dari Madinah. Di sana ada mata air yang deras dan pohon kurma yang banyak. Foto-foto di atas adalah: gapura menuju Fadak, bukit kecil di antara bukit Fadak; sumur tua di Fadak; pohon-pohon kurma kering; pohon kurma yang kering.

Mereka bahkan mengatakan kalau Abu Bakar mencaplok tanah Fadak. Mereka menggambarkan bahwa Abu Bakar benci Fatimah dan Fatimah benci Abu Bakar sampai mati. Benarkan demikian? Benarkah Abu Bakar serendah itu/ Benarkah Fatimah penghulu wanita surga itu serendah itu? Bagaimana yang sebenarnya?

Jawaban yang benar:

Semoga Allah melindungi setiap pmikiran n apa yg seharusnya kita ketahui…
dalam buku yang berjudul FATIMAH..memang secara jelas dtuliskan bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran.

Abubakar dan Umar pada akhirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar (Hanya Allah yang tahu kebenarannya)…

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…pada beberapa buku dijelaskan alasan Abu Bakar n Umar btindak demikian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar2 bingung….sgala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk??

Sejarah, riwayat dan hadis Nabi SAW telah banyak dipalsukan dan diputar belitkan, sehingga ummat Muslim percaya yg tersurat itulah sebenarnya. Sedangkan kisahnya yg tersirat terpendam ditelan zaman, maka dinamakan ianya Fitnah Awal Zaman. Yg mengetahui sejarah sebenar yg tersirat itu, adalah dikalangan Ahlul Bait Nasab sejati warisan Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Maka antaranya Ahlul Bait Imam 12 Syiah, adalah Generasi Ke3, dari nasab Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Hussein, yg selalu diburuk2kan oleh mereka itu….

Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar&Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!

Pendahuluan:

Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!

Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat selaki Khalifah!

Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!

Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi sangking shahihnya hadis tentangnya sehingga Imam Bukhari dan Muslim –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!

Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demia melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentas Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”[1]

Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!

Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!

Abu Bakar Kâdzib!

Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!

Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق…..

“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) dating menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalahseorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!

Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris belaiu dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:

  1. Pembohong/Kâdziban.
  2. Pendosa/Atsiman.
  3. Penipu/Ghadiran.
  4. Pengkhianat/Khâinan.

Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’lilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar- maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!

Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh waswasil khanâs!

Ketika sampai redaksi ini:

…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏

… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat, Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu![2]

Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!

(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:

1)      Bab Fardhu al Khumus/Kewajiban Khumus,4/44.

2)      Kitab al Maghâzi/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.

3)      Kitab al Farâidh/warisan, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.

4)      Kitab al I’tishâm/berpegang teguh, Bab Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Para Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!

Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; Ibnu Hajar al Asqallani membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari![3] Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/al Haq! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!

Ibnu Jakfari Berkata:

Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!

Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!

Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?

Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!

Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, Syeikhân (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!

Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!

(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!

(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!

(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, tawarru’an/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.[4] Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!

Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas. Amîn Ya Rabbal Alamîn.


[1]Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkannya uacapan itu atas nama Nabi saw.! Tidak seorang pun dari shabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.!! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah bertdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.

[2] Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!

[3] Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.

[4] Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.

“Seseorang tidaklah dicela karena menuntut haknya,
tetapi seseorang menjadi tercela karena merampas

hak orang lain.”

FADAK DI DALAM KITAB KITAB SUNNI
Untuk membuktikan bahwa kasus Fadak tercatat di dalam kitab-kitab Sunni, saya akan mendasari kasus ini dari 3 kitab Sunni :

.
1. Mu’jam al-Buldan-nya Yaquut al-Hamawi Jil. 14, hlm. 238
2. Tarikh al-Khamis, Jil. 2, hlm. 88
3. Wafa al-Wafa-nya Nuruddin al-Samhuudi, Jil. 4, hlm. 1480

.
Pada ketiga kitab itu tertulis :
“Fadak adalah sebuah kota, yang jaraknya 2-3 hari perjalanan dari Madinah. Di sana banyak sumur-sumur air dan pohon-pohon kurma. Fadak juga merupakan tanah yang dikatakan Fathimah kepada Abu Bakar, “Ayahku (Rasulullah SAW) menghadiahkan kepadaku Fadak sebagai hadiah.” Abu Bakar lalu meminta mengajukan Fathimah saksi-saksi atas persoalan ini.”
Sebenarnya sangat aneh jika Abu Bakar meminta saksi kepada Fathimah, karena kita semua tahu bahwa Aisyah, putrinya sendiri mengatakan tentang Fathimah :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih jujur dari Fathimah, kecuali Rasulullah.” Lalu ada orang bertanya, “Apakah ada sesuatu (cerita) tentang dia?” Aisyah lalu berkata, “Ya. Rasulullah menyayanginya (Fathimah), karena dia tidak pernah berdusta.”

.

Dan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abdul Barr dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang ucapannya lebih benar dari Fathimah, kecuali seseorang yang menjadi orang tuanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustradak-nya Jil. 3, hlm. 160-161 dan ditetapkan sebagai hadits shahih menurut kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi

.
Apakah Anda juga meragukan Sayyidah Fathimah? Na’udzubillah min dzalik!
Jika Anda mengatakan tidak layak Fathimah meminta-minta haknya seperti itu. Layakkah? Tentu saja layak! Mengapa tidak!

.

Seseorang tidak menjadi terhina atau menjadi hina karena dia menuntut haknya, tetapi seseorang menjadi terhina ketika dia merampas hak orang lain

.
Pada peristiwa tersebut (penuntutan hak Fadak), Sayyidah Fathimah membacakan ayat Quran : “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran itulah yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf [12] ayat 83)

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH DARI TANAH FADAK
Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis :
“Umar (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

BERKAH YANG DATANG DARI KURMA-KURMA FADAK
Ibn Abi Al-Hadiid di dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya pada Jil. 4, hlm. 108
menulis : “Ada 11 macam pohon buah-buahan yang tumbuh di Fadak, yang Rasulullah Saw tanam lewat tangan beliau sendiri. Anak-anak Fathimah biasa menghadiahkan hasil kebun Fadak tersebut kepada orang-orang yang pergi hajji dan mereka (para hajji dan hajjah) memberikan kepada anak-anak Fathimah beberapa dinar dan dirham atas pelayanan mereka.”

PENDAPATAN DARI FADAK DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN MILITER
Kita bisa juga membaca di dalam kitab yang ditulis oleh seorang alim dari Ahlus Sunnah wal Jamaah: Insanul Ayun fi Siirah al-Halabiyah Jil. 3, hlm. 487-488, Bab Wafatnya Rasulullah Saw :
“Umar marah kepada Abu Bakar, lalu berkata, “Jika Anda mengembalikan Fadak kepada Fathimah, (maka hal itu akan menjatuhkan Anda) padahal (hasil keuntungan Fadak) itu bisa digunakan untuk angkatan perang dan pertahanan. Saat ini semua bangsa Arab sedang bangkit melawan Anda!” (maka) Dia (Abu Bakar) mengambil dokumen Fadak dari Fathimah dan merobek-robeknya menjadi potongan-potongan kecil.”

.
Kita telah melihat bahwa fakta sejarah ini telah menunjukkan secara jelas bahwa kepemilikkan sah tanah Fadak ada di tangan Sayyidah Fathimah, namun dengan alasan untuk pertahanan dan angkatan perang, tanah tersebut “terpaksa diambil alih”. Dengan demikian kita juga memperoleh data yang menunjukkan bahwa hasil yang sedeemikian besar yang diperoleh dari Fadak telah digunakan untuk kepentingan pertahanan kekuasaan. Bisa dipahami jika beberapa sejarawan yang menduga ada ketakutan tersembunyi dari beberapa sahabat Nabi jika tanah Fadak digunakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as dan sahabat-sahabat setianya untuk melawan mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyetujui kekhalifahan berada di tangan Imam Ali as.

PERBEDAAN GHANIMAH DENGAN FA’I
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Ghanimah dan Fa’i.
Di dalam Tafsir Kabir, Jil. 8, hlm. 125, dan Tafsir Maraghi, tentang tafsir Surah al-Hasyr : “Ghanimah adalah harta yang untuk memperolehnya kaum Muslim mesti berkerja keras (bertempur) untuk itu. Sementara Fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta (artinya tanpa harus bertempur).”

.
Adapun tanah Fadak adalah rampasan perang yang diperoleh dari Fa’i (kemenangan perang yang didapat tanpa pertempuran.)
Mari kita lihat ayat Quran yang berhubungan dengan ini :
“Dan apa saja harta rampasan (afaa-i)yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6)

.
Fakhruddin al-Razi di dalam Tafsir Kabir-nya mengatakan :
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fadak, yang mana Rasulullah Saw memeprolehnya dari penaklukan tanpa pertempuran.” (Tafsir al-Kabir, Jil. 10, hlm. 506)
– Tafsir Mazhari, hlm. 238
– Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Maraghi, Tafseer Surah Hashr.
– Tafsir Durr al-Mantsur, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Jawahir li al-Tanthawi, Tafsir Surah Hashr
.

.
Dari tafsir-tafsir Quran ini telah jelas bahwa Fadak diperoleh dari Fa’i, yang kemudian menjadi milik Rasulullah Saw dan selanjutnya diberikan beliau kepada putri tercintanya Sayyidah Fathimah as. sebagai hadiah. Namun setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar mengambilnya secara paksa dari Sayyidah Fathimah as. Inilah salah satu penyebab tertekannya batin Sayyidah Fathimah as dan menjadi beban deritanya sepeninggal ayahnya, Rasulullah Saw.
“Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Israa’ [17] ayat 82)

.

BAGAIMANA SEJARAH FADAK SAMPAI MENJADI MILIK EKSKLUSIF RASULULLAH SAW
Di dalam kitab-kitab Sunni berikut ini :
1. Abi al-Hassan Baladzuri, Fathul Buldan, hlm. 46.
2. Majmu’ al-Buldan, Jil. 14, hlm.139
3. Tarikh al-Thabari, Jil. 3, hlm. 1583
4. Ibn Atsir, Tarikh al-Kamil, Jil. 2, hlm. 108
5. Husayn Diyar Bakari, Tarikh al-Khamiis, Jil. 2, hlm. 58

.
Semua kitab di atas mencatat bahwa :
“Ketika Rasulullah Saw kembali dari Khaybar, beliau mengirim Muhisa bin Mas’ud untuk mendakwahkan Islam ke penduduk Khaybar. Pemimpin Yahudi Khaybar saat itu adalah Yusya bin Nun. Penduduk Fadak menolak menerima Islam, namun memberikan separuh dari tanah Fadak mereka. Rasulullah Saw mengambil separuh tanah itu dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di separuh lagi dari tanah itu. Sejak saat itu setengah tanah Fadak teresebut menjadi kekayaan milik Rasulullah Saw, yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak.” (Al-Quran Surah Ibrahim [14] ayat 42)

RASULULLAH SAW AKHIRNYA MENDAPATKAN KESELURUHAN TANAH FADAK
Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim dari Ahlus Sunnah di bawah ini :
1. al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim, Jil. 2, hlm.92
2. Sunan al-Nasaai, Jil. 7, hlm. 137
3. Wafa’ al-Wafa’, Jil. 4, hlm. 1280
4. Ibn Hisyam, Sirah al-Nabi, Jil. 3, hlm. 353
5. Tarikh Abul Fida, hlm. 140, Dzikr Ghazwah al-Khaybar

.
Kelima kitab di atas mencatat bahwa :
“Setelah kesepakatan damai (dengan kaum Yahudi Khaybar), separuh tanah Fadak yang telah diberikan orang-orang Yahudi, akhirnya seluruhnya menjadi milik Rasulullah Saw. Sec1/3 lembah Qari dan 2 kastil Khaybar menjadi eksklusif milik Rasulullah Saw dan tak seorang pun yang memperoleh bagian dari ini.”

Hanya orang-orang bebal seperti Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi sajalah yang menolak bahwa Fadak adalah milik eksklusif Rasul Saw. Dan memang pantas jika Sayyidah Fathimah as mengatakan : “Dan kami meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta!” (QS Ali Imran [3] ayat 61)

.
Ayat di atas (QS 3 : 61)
adalah ayat MUBAHALAH, yang mana Sayyidah Fathimah as adalah salah satu yang diajak oleh Rasulullah Saw untuk ikut saling mengutuk dengan orang-orang yang tidak beriman. Lalu mungkinkah Sayyidah Fathimah as yang pernah diajak oleh Rasulullah Saw bermubahalah melakukan dusta tentang tanah Fadak? Tentu saja tidak. Maka semoga laknat Allah Swt, Rasul-Nya dan seluruh Imam Ahlul Bait Nabi as bagi mereka yang mendustakanfakta-fakta sejarah yang juga telah dicatat oleh para alim Ahlus Sunnah!

UMAR BIN KHATHTHAB JUGA MENGANGGAP BAHWA FADAK ADALAH KEKAYAAN EKSKLUSIF MILIK RASULULLAH SAW
Syibli Numani di dalam bukunya al-Faruq menulis :
“…setelah penaklukkan Sirian dan Irak, Umar memanggil para sahabat; dia mengumumkan dengan dasar al-Quran bahwa penaklukan wilayah-wilayah bukanlah milik siapa pun, tetapi semuanya menjadi kekayaan negara, seperti yang telah diabahs tentang Fa’i. Bagaimanapun, dari ayat Quran sendiri muncul bahwa tanah Fadak adalah milik pribadi Rasulullah saw, dan Umar sendiri pun memahami bahwa ayat itu mengimplikasikan demikian. Apa yang Allah perbuat atas orang-orang ini (Bani Nadhir) dengan mengirim Rasul-Nya untuk penaklukkan yang kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6) Sambil membaca ayat ini, Umar menyatakan bahwa tanah itu memang diberikan untuk Nabi Saw. Hal ini juga tercantum di dalam Shahih Bukhari secara rinci pada Bab Khums al-Maghazi dan al-Mirats.” (Syibli Numani, Al-Faruq, Jil. 2, hlm. 289-290.)

APA YANG DIBELANJAKAN RASULULLAH SAW DARI FADAK?
Seorang penulis buku Qishash al-Anbiya’, Ahmad Jawdat Pasha menyatakan bahwa Abu Bakar menggunakan Fadak untuk kepentingan para tamu dari luar kota atau negeri, para pelancong, para duta besar. Benarkah? Lalu apakah Rasulullah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Bakar?

.
Mari kita buka kitab Shahih Muslim Bab al-Fa’i, Bab 19, hadis no. 4347 :
“Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.(Jika masih meragukan hadis2 yang saya kutip di sini silahkan Anda melihat sendiri pada situs resmi kerajaan Saudi Arabia di sini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1019)


.

Umar sendiri mengatakan bahwa harta yang diperoleh dari Bani Nadhir atau Fadak adalah diberikan khusus untuk Nabi Saw secara eksklusif dan digunakan oleh Rasulullah Saw untuk kebutuhan keluarganya dan membeli persenjataan. Jadi sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh Ahmad Jawdat Pasha! Dan jika Umar mengatakan bahwa Fadak adalah anugerah Allah Swt yang khusus sepenuhnya diberikan kepada Rasulullah Saw, lalu mengapa dia dan Abu Bakar berani lancang merampasnya dari Sayyidah Fathimah as?
.

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat (li dzil qurba), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59] ayat 7)


Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Karena protesnya tidak digubris, dalam keadaan berdarah karena keguguran, ia mengambil dan memakai mantel pemberian Nabi Muhammad dan mengutuk para penyerangnya. Namun Imam ‘ Ali AS dengan segala kemulian dan kebijaksanaannya mencegah hal tersebut, karena beliau tahu kutukan Fatimah AS akan disegerakan di dunia.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Bukankah Rasulullah Saw teramat sangat mencintai putrinya ini, sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat marah diriku!”

(Shahih Bukhari) 1]

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, aku menjadi susah karena sesuatu yang membuatnya susah dan aku berbahagia karena sesuatu yang membuatnya bahagia..” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim) 2]

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Barangsiapa yang menyakitinya berarti ia menyakitku.” (H.R Al-Hakim)

Hadits lainnya yang juga populer di mana Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dari diriku, aku merasa sakit sebab sesuatu yang menyakitinya. Dan aku akan marah karena sesutu yang membuatnya marah pula.” (H.R. Ahmad, Turmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabrani, dengan sanad-sanad yang shahih)

Apakah pernyataan-pernyataan Nabi saw ini sekadar ungkapan sentimen personal beliau? Tentu saja tidak, karena Allah SwT berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Al-Quran Surah Al-Najm [53]: 3)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada putri tercintanya, Fatimah : “Sesungguhnya Allah ridha karena keridhaanmu dan Allah murka karena kemarahanmu!” (H.R Al-Thabrani) 3]

Lalu mengapa putri tercinta Nabi Saw ini tidak dikuburkan di samping makam ayahnya, Rasulullah Saw, padahal Sayyidah Fatimah sendiri sangat mencintai ayahnya? Lalu mengapa Abu Bakar & Umar bisa dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw, padahl mereka wafat jauh setelah Sayyidah Fatimah wafat? Ada apa? Apa yang telah terjadi di masa itu?

(Coba Anda lihat hadits : Shahih al-Bukhari Jilid 5, hadits nomor: 546).

Catatan Kaki:

1] Shahih Bukhari, Jil. 5, hadits no. 61.

2] Thabrani juga meriwayatkan hadits yang serupa dengan lafadz yang sedikit berbeda.

3] Sanad hadits ini hasan.

Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW..Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

zaman dulu  perkembangan syi’ah dihambat  oleh ulama yang berlindung  dibalik  kekuatan militer  pemerintah sunni…

Tapi kini  zaman sudah global kawan !!!

Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Karena protesnya tidak digubris, dalam keadaan berdarah karena keguguran, ia mengambil dan memakai mantel pemberian Nabi Muhammad dan mengutuk para penyerangnya. Namun Imam ‘ Ali AS dengan segala kemulian dan kebijaksanaannya mencegah hal tersebut, karena beliau tahu kutukan Fatimah AS akan disegerakan di dunia.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

Semoga Allah mlindungi setiap pmikiran n apa yg seharusnya kita ketahui…
dalam buku yang berjudul FATIMAH..memang secara jelas dtuliskan bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar (Hanya Allah yang tahu kebenarannya)…

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…pada beberapa buku dijelaskan alasan Abu Bakar n Umar btindak demikian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar2 bingung….sgala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk??

Sejarah, riwayat dan hadis Nabi SAW telah banyak dipalsukan dan diputar belitkan, sehingga ummat Muslim percaya yg tersurat itulah sebenarnya. Sedangkan kisahnya yg tersirat terpendam ditelan zaman, maka dinamakan ianya Fitnah Awal Zaman. Yg mengetahui sejarah sebenar yg tersirat itu, adalah dikalangan Ahlul Bait Nasab sejati warisan Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Maka antaranya Ahlul Bait Imam 12 Syiah, adalah Generasi Ke3, dari nasab Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Hussein, yg selalu diburuk2kan oleh mereka itu….

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Bukankah Rasulullah Saw teramat sangat mencintai putrinya ini, sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat marah diriku!”

(Shahih Bukhari) 1]

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, aku menjadi susah karena sesuatu yang membuatnya susah dan aku berbahagia karena sesuatu yang membuatnya bahagia..” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim) 2]

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Barangsiapa yang menyakitinya berarti ia menyakitku.” (H.R Al-Hakim)

Hadits lainnya yang juga populer di mana Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dari diriku, aku merasa sakit sebab sesuatu yang menyakitinya. Dan aku akan marah karena sesutu yang membuatnya marah pula.” (H.R. Ahmad, Turmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabrani, dengan sanad-sanad yang shahih)

Apakah pernyataan-pernyataan Nabi saw ini sekadar ungkapan sentimen personal beliau? Tentu saja tidak, karena Allah SwT berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Al-Quran Surah Al-Najm [53]: 3)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada putri tercintanya, Fatimah : “Sesungguhnya Allah ridha karena keridhaanmu dan Allah murka karena kemarahanmu!” (H.R Al-Thabrani) 3]

Lalu mengapa putri tercinta Nabi Saw ini tidak dikuburkan di samping makam ayahnya, Rasulullah Saw, padahal Sayyidah Fatimah sendiri sangat mencintai ayahnya? Lalu mengapa Abu Bakar & Umar bisa dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw, padahl mereka wafat jauh setelah Sayyidah Fatimah wafat? Ada apa? Apa yang telah terjadi di masa itu?

(Coba Anda lihat hadits : Shahih al-Bukhari Jilid 5, hadits nomor: 546).

Catatan Kaki:

1] Shahih Bukhari, Jil. 5, hadits no. 61.

2] Thabrani juga meriwayatkan hadits yang serupa dengan lafadz yang sedikit berbeda.

3] Sanad hadits ini hasan.

Kita sering mendengar dari orang-orang syiah atau dari buku-buku syiah bahwa Abu Bakar menzalimi Fatimah karena menghalanginya dari warisan tanah Fadak (yang skarang disebut al-Haith).

fadak 1 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?Gapura menuju Fadak

fadak 2 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?bukit kecil di antara bukit Fadak

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? Hadits 10 sahabat tersebut masih perlu dikaji ulang

orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.
smoga knak adab yg perih bgi rang yg menyakiti/ n menganiaya kluarga NABI MUHAMMAD SAWW. amin……

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan ….

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS…

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Tidak ada yang aneh. Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

fadak 3 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?sumur tua di Fadak

fadak 4 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 5 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 6 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

Foto tanah Fadak sekarang. Fadak adalah nama desa di Hijaz yang didapat secara damai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahun 7 H, berjarak 2 atau 3 hari dari Madinah. Di sana ada mata air yang deras dan pohon kurma yang banyak. Foto-foto di atas adalah: gapura menuju Fadak, bukit kecil di antara bukit Fadak; sumur tua di Fadak; pohon-pohon kurma kering; pohon kurma yang kering.

Mereka bahkan mengatakan kalau Abu Bakar mencaplok tanah Fadak. Mereka menggambarkan bahwa Abu Bakar benci Fatimah dan Fatimah benci Abu Bakar sampai mati. Benarkan demikian? Benarkah Abu Bakar serendah itu/ Benarkah Fatimah penghulu wanita surga itu serendah itu? Bagaimana yang sebenarnya?

Jawaban yang benar:

Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar&Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!

Pendahuluan:

Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!

Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat selaki Khalifah!

Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!

Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi sangking shahihnya hadis tentangnya sehingga Imam Bukhari dan Muslim –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!

Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demia melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentas Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”[1]

Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!

Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!

Abu Bakar Kâdzib!

Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!

Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق …..

“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) dating menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalahseorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!

Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris belaiu dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:

  1. Pembohong/Kâdziban.
  2. Pendosa/Atsiman.
  3. Penipu/Ghadiran.
  4. Pengkhianat/Khâinan.

Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’lilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar- maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!

Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh waswasil khanâs!

Ketika sampai redaksi ini:

…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏

… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat, Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu![2]

Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!

(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:

1)      Bab Fardhu al Khumus/Kewajiban Khumus,4/44.

2)      Kitab al Maghâzi/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.

3)      Kitab al Farâidh/warisan, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.

4)      Kitab al I’tishâm/berpegang teguh, Bab Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Para Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!

Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; Ibnu Hajar al Asqallani membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari![3] Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/al Haq! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!

Ibnu Jakfari Berkata:

Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!

Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!

Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?

Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!

Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, Syeikhân (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!

Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!

(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!

(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!

(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, tawarru’an/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.[4] Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!

Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas. Amîn Ya Rabbal Alamîn.


[1]Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkannya uacapan itu atas nama Nabi saw.! Tidak seorang pun dari shabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.!! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah bertdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.

[2] Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!

[3] Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.

[4] Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.

“Seseorang tidaklah dicela karena menuntut haknya,
tetapi seseorang menjadi tercela karena merampas

hak orang lain.”

FADAK DI DALAM KITAB KITAB SUNNI
Untuk membuktikan bahwa kasus Fadak tercatat di dalam kitab-kitab Sunni, saya akan mendasari kasus ini dari 3 kitab Sunni :
1. Mu’jam al-Buldan-nya Yaquut al-Hamawi Jil. 14, hlm. 238
2. Tarikh al-Khamis, Jil. 2, hlm. 88
3. Wafa al-Wafa-nya Nuruddin al-Samhuudi, Jil. 4, hlm. 1480
Pada ketiga kitab itu tertulis :
“Fadak adalah sebuah kota, yang jaraknya 2-3 hari perjalanan dari Madinah. Di sana banyak sumur-sumur air dan pohon-pohon kurma. Fadak juga merupakan tanah yang dikatakan Fathimah kepada Abu Bakar, “Ayahku (Rasulullah SAW) menghadiahkan kepadaku Fadak sebagai hadiah.” Abu Bakar lalu meminta mengajukan Fathimah saksi-saksi atas persoalan ini.”
Sebenarnya sangat aneh jika Abu Bakar meminta saksi kepada Fathimah, karena kita semua tahu bahwa Aisyah, putrinya sendiri mengatakan tentang Fathimah :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih jujur dari Fathimah, kecuali Rasulullah.” Lalu ada orang bertanya, “Apakah ada sesuatu (cerita) tentang dia?” Aisyah lalu berkata, “Ya. Rasulullah menyayanginya (Fathimah), karena dia tidak pernah berdusta.” Dan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abdul Barr dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang ucapannya lebih benar dari Fathimah, kecuali seseorang yang menjadi orang tuanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustradak-nya Jil. 3, hlm. 160-161 dan ditetapkan sebagai hadits shahih menurut kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi.
Apakah Anda juga meragukan Sayyidah Fathimah? Na’udzubillah min dzalik!
Jika Anda mengatakan tidak layak Fathimah meminta-minta haknya seperti itu. Layakkah? Tentu saja layak! Mengapa tidak! Seseorang tidak menjadi terhina atau menjadi hina karena dia menuntut haknya, tetapi seseorang menjadi terhina ketika dia merampas hak orang lain.
Pada peristiwa tersebut (penuntutan hak Fadak), Sayyidah Fathimah membacakan ayat Quran : “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran itulah yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf [12] ayat 83)

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH DARI TANAH FADAK
Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis :
“Umar (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

BERKAH YANG DATANG DARI KURMA-KURMA FADAK
Ibn Abi Al-Hadiid di dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya pada Jil. 4, hlm. 108
menulis : “Ada 11 macam pohon buah-buahan yang tumbuh di Fadak, yang Rasulullah Saw tanam lewat tangan beliau sendiri. Anak-anak Fathimah biasa menghadiahkan hasil kebun Fadak tersebut kepada orang-orang yang pergi hajji dan mereka (para hajji dan hajjah) memberikan kepada anak-anak Fathimah beberapa dinar dan dirham atas pelayanan mereka.”

PENDAPATAN DARI FADAK DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN MILITER
Kita bisa juga membaca di dalam kitab yang ditulis oleh seorang alim dari Ahlus Sunnah wal Jamaah: Insanul Ayun fi Siirah al-Halabiyah Jil. 3, hlm. 487-488, Bab Wafatnya Rasulullah Saw :
“Umar marah kepada Abu Bakar, lalu berkata, “Jika Anda mengembalikan Fadak kepada Fathimah, (maka hal itu akan menjatuhkan Anda) padahal (hasil keuntungan Fadak) itu bisa digunakan untuk angkatan perang dan pertahanan. Saat ini semua bangsa Arab sedang bangkit melawan Anda!” (maka) Dia (Abu Bakar) mengambil dokumen Fadak dari Fathimah dan merobek-robeknya menjadi potongan-potongan kecil.”
Kita telah melihat bahwa fakta sejarah ini telah menunjukkan secara jelas bahwa kepemilikkan sah tanah Fadak ada di tangan Sayyidah Fathimah, namun dengan alasan untuk pertahanan dan angkatan perang, tanah tersebut “terpaksa diambil alih”. Dengan demikian kita juga memperoleh data yang menunjukkan bahwa hasil yang sedeemikian besar yang diperoleh dari Fadak telah digunakan untuk kepentingan pertahanan kekuasaan. Bisa dipahami jika beberapa sejarawan yang menduga ada ketakutan tersembunyi dari beberapa sahabat Nabi jika tanah Fadak digunakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as dan sahabat-sahabat setianya untuk melawan mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyetujui kekhalifahan berada di tangan Imam Ali as.

PERBEDAAN GHANIMAH DENGAN FA’I
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Ghanimah dan Fa’i.
Di dalam Tafsir Kabir, Jil. 8, hlm. 125, dan Tafsir Maraghi, tentang tafsir Surah al-Hasyr : “Ghanimah adalah harta yang untuk memperolehnya kaum Muslim mesti berkerja keras (bertempur) untuk itu. Sementara Fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta (artinya tanpa harus bertempur).”
Adapun tanah Fadak adalah rampasan perang yang diperoleh dari Fa’i (kemenangan perang yang didapat tanpa pertempuran.)
Mari kita lihat ayat Quran yang berhubungan dengan ini :
“Dan apa saja harta rampasan (afaa-i)yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6)
Fakhruddin al-Razi di dalam Tafsir Kabir-nya mengatakan :
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fadak, yang mana Rasulullah Saw memeprolehnya dari penaklukan tanpa pertempuran.” (Tafsir al-Kabir, Jil. 10, hlm. 506)
– Tafsir Mazhari, hlm. 238
– Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Maraghi, Tafseer Surah Hashr.
– Tafsir Durr al-Mantsur, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Jawahir li al-Tanthawi, Tafsir Surah Hashr
.
Dari tafsir-tafsir Quran ini telah jelas bahwa Fadak diperoleh dari Fa’i, yang kemudian menjadi milik Rasulullah Saw dan selanjutnya diberikan beliau kepada putri tercintanya Sayyidah Fathimah as. sebagai hadiah. Namun setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar mengambilnya secara paksa dari Sayyidah Fathimah as. Inilah salah satu penyebab tertekannya batin Sayyidah Fathimah as dan menjadi beban deritanya sepeninggal ayahnya, Rasulullah Saw.
“Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Israa’ [17] ayat 82)

BAGAIMANA SEJARAH FADAK SAMPAI MENJADI MILIK EKSKLUSIF RASULULLAH SAW
Di dalam kitab-kitab Sunni berikut ini :
1. Abi al-Hassan Baladzuri, Fathul Buldan, hlm. 46.
2. Majmu’ al-Buldan, Jil. 14, hlm.139
3. Tarikh al-Thabari, Jil. 3, hlm. 1583
4. Ibn Atsir, Tarikh al-Kamil, Jil. 2, hlm. 108
5. Husayn Diyar Bakari, Tarikh al-Khamiis, Jil. 2, hlm. 58

Semua kitab di atas mencatat bahwa :
“Ketika Rasulullah Saw kembali dari Khaybar, beliau mengirim Muhisa bin Mas’ud untuk mendakwahkan Islam ke penduduk Khaybar. Pemimpin Yahudi Khaybar saat itu adalah Yusya bin Nun. Penduduk Fadak menolak menerima Islam, namun memberikan separuh dari tanah Fadak mereka. Rasulullah Saw mengambil separuh tanah itu dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di separuh lagi dari tanah itu. Sejak saat itu setengah tanah Fadak teresebut menjadi kekayaan milik Rasulullah Saw, yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak.” (Al-Quran Surah Ibrahim [14] ayat 42)

RASULULLAH SAW AKHIRNYA MENDAPATKAN KESELURUHAN TANAH FADAK
Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim dari Ahlus Sunnah di bawah ini :
1. al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim, Jil. 2, hlm.92
2. Sunan al-Nasaai, Jil. 7, hlm. 137
3. Wafa’ al-Wafa’, Jil. 4, hlm. 1280
4. Ibn Hisyam, Sirah al-Nabi, Jil. 3, hlm. 353
5. Tarikh Abul Fida, hlm. 140, Dzikr Ghazwah al-Khaybar

Kelima kitab di atas mencatat bahwa :
“Setelah kesepakatan damai (dengan kaum Yahudi Khaybar), separuh tanah Fadak yang telah diberikan orang-orang Yahudi, akhirnya seluruhnya menjadi milik Rasulullah Saw. Sec1/3 lembah Qari dan 2 kastil Khaybar menjadi eksklusif milik Rasulullah Saw dan tak seorang pun yang memperoleh bagian dari ini.”

Hanya orang-orang bebal seperti Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi sajalah yang menolak bahwa Fadak adalah milik eksklusif Rasul Saw. Dan memang pantas jika Sayyidah Fathimah as mengatakan : “Dan kami meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta!” (QS Ali Imran [3] ayat 61)
Ayat di atas (QS 3 : 61)
adalah ayat MUBAHALAH, yang mana Sayyidah Fathimah as adalah salah satu yang diajak oleh Rasulullah Saw untuk ikut saling mengutuk dengan orang-orang yang tidak beriman. Lalu mungkinkah Sayyidah Fathimah as yang pernah diajak oleh Rasulullah Saw bermubahalah melakukan dusta tentang tanah Fadak? Tentu saja tidak. Maka semoga laknat Allah Swt, Rasul-Nya dan seluruh Imam Ahlul Bait Nabi as bagi mereka yang mendustakan fakta-fakta sejarah yang juga telah dicatat oleh para alim Ahlus Sunnah!

UMAR BIN KHATHTHAB JUGA MENGANGGAP BAHWA FADAK ADALAH KEKAYAAN EKSKLUSIF MILIK RASULULLAH SAW
Syibli Numani di dalam bukunya al-Faruq menulis :
“…setelah penaklukkan Sirian dan Irak, Umar memanggil para sahabat; dia mengumumkan dengan dasar al-Quran bahwa penaklukan wilayah-wilayah bukanlah milik siapa pun, tetapi semuanya menjadi kekayaan negara, seperti yang telah diabahs tentang Fa’i. Bagaimanapun, dari ayat Quran sendiri muncul bahwa tanah Fadak adalah milik pribadi Rasulullah saw, dan Umar sendiri pun memahami bahwa ayat itu mengimplikasikan demikian. Apa yang Allah perbuat atas orang-orang ini (Bani Nadhir) dengan mengirim Rasul-Nya untuk penaklukkan yang kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6) Sambil membaca ayat ini, Umar menyatakan bahwa tanah itu memang diberikan untuk Nabi Saw. Hal ini juga tercantum di dalam Shahih Bukhari secara rinci pada Bab Khums al-Maghazi dan al-Mirats.” (Syibli Numani, Al-Faruq, Jil. 2, hlm. 289-290.)

APA YANG DIBELANJAKAN RASULULLAH SAW DARI FADAK?
Seorang penulis buku Qishash al-Anbiya’, Ahmad Jawdat Pasha menyatakan bahwa Abu Bakar menggunakan Fadak untuk kepentingan para tamu dari luar kota atau negeri, para pelancong, para duta besar. Benarkah? Lalu apakah Rasulullah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Bakar?
Mari kita buka kitab Shahih Muslim Bab al-Fa’i, Bab 19, hadis no. 4347 :
“Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.(Jika masih meragukan hadis2 yang saya kutip di sini silahkan Anda melihat sendiri pada situs resmi kerajaan Saudi Arabia di sini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1019)


.

Umar sendiri mengatakan bahwa harta yang diperoleh dari Bani Nadhir atau Fadak adalah diberikan khusus untuk Nabi Saw secara eksklusif dan digunakan oleh Rasulullah Saw untuk kebutuhan keluarganya dan membeli persenjataan. Jadi sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh Ahmad Jawdat Pasha! Dan jika Umar mengatakan bahwa Fadak adalah anugerah Allah Swt yang khusus sepenuhnya diberikan kepada Rasulullah Saw, lalu mengapa dia dan Abu Bakar berani lancang merampasnya dari Sayyidah Fathimah as?
.

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat (li dzil qurba), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59] ayat 7)

Abubakar Rampas Kebun fadak Fatimah agar Fatimah dan Imam Ali GAGAL JADi OPOSiSi !!

zaman berganti…

Kepalsuan  terbuka…

Akhirnya kebenaran yang hilang muncul kembali…

Kita sering mendengar dari orang-orang syiah atau dari buku-buku syiah bahwa Abu Bakar menzalimi Fatimah karena menghalanginya dari warisan tanah Fadak (yang skarang disebut al-Haith).

Kenabian Nabi Muhammad sama dengan kenabian Nabi Musa.

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan seperti yang telah dicantumkan oleh mas Quito.

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS.

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

fadak 1 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?Gapura menuju Fadak

fadak 2 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?bukit kecil di antara bukit Fadak

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? Hadits 10 sahabat tersebut masih perlu dikaji ulang

orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.
smoga knak adab yg perih bgi rang yg menyakiti/ n menganiaya kluarga NABI MUHAMMAD SAWW. amin……

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan ….

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS…

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Tidak ada yang aneh. Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

fadak 3 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?sumur tua di Fadak

fadak 4 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 5 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 6 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

Foto tanah Fadak sekarang. Fadak adalah nama desa di Hijaz yang didapat secara damai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahun 7 H, berjarak 2 atau 3 hari dari Madinah. Di sana ada mata air yang deras dan pohon kurma yang banyak. Foto-foto di atas adalah: gapura menuju Fadak, bukit kecil di antara bukit Fadak; sumur tua di Fadak; pohon-pohon kurma kering; pohon kurma yang kering.

Mereka bahkan mengatakan kalau Abu Bakar mencaplok tanah Fadak. Mereka menggambarkan bahwa Abu Bakar benci Fatimah dan Fatimah benci Abu Bakar sampai mati. Benarkan demikian? Benarkah Abu Bakar serendah itu/ Benarkah Fatimah penghulu wanita surga itu serendah itu? Bagaimana yang sebenarnya?

Jawaban yang benar:

Semoga Allah mlindungi setiap pmikiran n apa yg seharusnya kita ketahui…
dalam buku yang berjudul FATIMAH..memang secara jelas dtuliskan bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar (Hanya Allah yang tahu kebenarannya)…

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…pada beberapa buku dijelaskan alasan Abu Bakar n Umar btindak demikian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar2 bingung….sgala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk??

Sejarah, riwayat dan hadis Nabi SAW telah banyak dipalsukan dan diputar belitkan, sehingga ummat Muslim percaya yg tersurat itulah sebenarnya. Sedangkan kisahnya yg tersirat terpendam ditelan zaman, maka dinamakan ianya Fitnah Awal Zaman. Yg mengetahui sejarah sebenar yg tersirat itu, adalah dikalangan Ahlul Bait Nasab sejati warisan Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Maka antaranya Ahlul Bait Imam 12 Syiah, adalah Generasi Ke3, dari nasab Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Hussein, yg selalu diburuk2kan oleh mereka itu….

Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar&Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!

Pendahuluan:

Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!

Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat selaki Khalifah!

Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!

Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi sangking shahihnya hadis tentangnya sehingga Imam Bukhari dan Muslim –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!

Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demia melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentas Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”[1]

Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!

Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!

Abu Bakar Kâdzib!

Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!

Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق …..

“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) dating menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalahseorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!

Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris belaiu dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:

  1. Pembohong/Kâdziban.
  2. Pendosa/Atsiman.
  3. Penipu/Ghadiran.
  4. Pengkhianat/Khâinan.

Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’lilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar- maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!

Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh waswasil khanâs!

Ketika sampai redaksi ini:

…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏

… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat, Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu![2]

Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!

(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:

1)      Bab Fardhu al Khumus/Kewajiban Khumus,4/44.

2)      Kitab al Maghâzi/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.

3)      Kitab al Farâidh/warisan, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.

4)      Kitab al I’tishâm/berpegang teguh, Bab Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Para Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!

Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; Ibnu Hajar al Asqallani membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari![3] Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/al Haq! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!

Ibnu Jakfari Berkata:

Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!

Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!

Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?

Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!

Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, Syeikhân (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!

Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!

(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!

(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!

(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, tawarru’an/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.[4] Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!

Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas. Amîn Ya Rabbal Alamîn.


[1]Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkannya uacapan itu atas nama Nabi saw.! Tidak seorang pun dari shabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.!! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah bertdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.

[2] Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!

[3] Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.

[4] Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.

“Seseorang tidaklah dicela karena menuntut haknya,
tetapi seseorang menjadi tercela karena merampas

hak orang lain.”

FADAK DI DALAM KITAB KITAB SUNNI
Untuk membuktikan bahwa kasus Fadak tercatat di dalam kitab-kitab Sunni, saya akan mendasari kasus ini dari 3 kitab Sunni :
1. Mu’jam al-Buldan-nya Yaquut al-Hamawi Jil. 14, hlm. 238
2. Tarikh al-Khamis, Jil. 2, hlm. 88
3. Wafa al-Wafa-nya Nuruddin al-Samhuudi, Jil. 4, hlm. 1480
Pada ketiga kitab itu tertulis :
“Fadak adalah sebuah kota, yang jaraknya 2-3 hari perjalanan dari Madinah. Di sana banyak sumur-sumur air dan pohon-pohon kurma. Fadak juga merupakan tanah yang dikatakan Fathimah kepada Abu Bakar, “Ayahku (Rasulullah SAW) menghadiahkan kepadaku Fadak sebagai hadiah.” Abu Bakar lalu meminta mengajukan Fathimah saksi-saksi atas persoalan ini.”
Sebenarnya sangat aneh jika Abu Bakar meminta saksi kepada Fathimah, karena kita semua tahu bahwa Aisyah, putrinya sendiri mengatakan tentang Fathimah :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih jujur dari Fathimah, kecuali Rasulullah.” Lalu ada orang bertanya, “Apakah ada sesuatu (cerita) tentang dia?” Aisyah lalu berkata, “Ya. Rasulullah menyayanginya (Fathimah), karena dia tidak pernah berdusta.” Dan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abdul Barr dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang ucapannya lebih benar dari Fathimah, kecuali seseorang yang menjadi orang tuanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustradak-nya Jil. 3, hlm. 160-161 dan ditetapkan sebagai hadits shahih menurut kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi.
Apakah Anda juga meragukan Sayyidah Fathimah? Na’udzubillah min dzalik!
Jika Anda mengatakan tidak layak Fathimah meminta-minta haknya seperti itu. Layakkah? Tentu saja layak! Mengapa tidak! Seseorang tidak menjadi terhina atau menjadi hina karena dia menuntut haknya, tetapi seseorang menjadi terhina ketika dia merampas hak orang lain.
Pada peristiwa tersebut (penuntutan hak Fadak), Sayyidah Fathimah membacakan ayat Quran : “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran itulah yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf [12] ayat 83)

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH DARI TANAH FADAK
Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis :
“Umar (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

BERKAH YANG DATANG DARI KURMA-KURMA FADAK
Ibn Abi Al-Hadiid di dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya pada Jil. 4, hlm. 108
menulis : “Ada 11 macam pohon buah-buahan yang tumbuh di Fadak, yang Rasulullah Saw tanam lewat tangan beliau sendiri. Anak-anak Fathimah biasa menghadiahkan hasil kebun Fadak tersebut kepada orang-orang yang pergi hajji dan mereka (para hajji dan hajjah) memberikan kepada anak-anak Fathimah beberapa dinar dan dirham atas pelayanan mereka.”

PENDAPATAN DARI FADAK DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN MILITER
Kita bisa juga membaca di dalam kitab yang ditulis oleh seorang alim dari Ahlus Sunnah wal Jamaah: Insanul Ayun fi Siirah al-Halabiyah Jil. 3, hlm. 487-488, Bab Wafatnya Rasulullah Saw :
“Umar marah kepada Abu Bakar, lalu berkata, “Jika Anda mengembalikan Fadak kepada Fathimah, (maka hal itu akan menjatuhkan Anda) padahal (hasil keuntungan Fadak) itu bisa digunakan untuk angkatan perang dan pertahanan. Saat ini semua bangsa Arab sedang bangkit melawan Anda!” (maka) Dia (Abu Bakar) mengambil dokumen Fadak dari Fathimah dan merobek-robeknya menjadi potongan-potongan kecil.”
Kita telah melihat bahwa fakta sejarah ini telah menunjukkan secara jelas bahwa kepemilikkan sah tanah Fadak ada di tangan Sayyidah Fathimah, namun dengan alasan untuk pertahanan dan angkatan perang, tanah tersebut “terpaksa diambil alih”. Dengan demikian kita juga memperoleh data yang menunjukkan bahwa hasil yang sedeemikian besar yang diperoleh dari Fadak telah digunakan untuk kepentingan pertahanan kekuasaan. Bisa dipahami jika beberapa sejarawan yang menduga ada ketakutan tersembunyi dari beberapa sahabat Nabi jika tanah Fadak digunakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as dan sahabat-sahabat setianya untuk melawan mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyetujui kekhalifahan berada di tangan Imam Ali as.

PERBEDAAN GHANIMAH DENGAN FA’I
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Ghanimah dan Fa’i.
Di dalam Tafsir Kabir, Jil. 8, hlm. 125, dan Tafsir Maraghi, tentang tafsir Surah al-Hasyr : “Ghanimah adalah harta yang untuk memperolehnya kaum Muslim mesti berkerja keras (bertempur) untuk itu. Sementara Fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta (artinya tanpa harus bertempur).”
Adapun tanah Fadak adalah rampasan perang yang diperoleh dari Fa’i (kemenangan perang yang didapat tanpa pertempuran.)
Mari kita lihat ayat Quran yang berhubungan dengan ini :
“Dan apa saja harta rampasan (afaa-i)yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6)
Fakhruddin al-Razi di dalam Tafsir Kabir-nya mengatakan :
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fadak, yang mana Rasulullah Saw memeprolehnya dari penaklukan tanpa pertempuran.” (Tafsir al-Kabir, Jil. 10, hlm. 506)
– Tafsir Mazhari, hlm. 238
– Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Maraghi, Tafseer Surah Hashr.
– Tafsir Durr al-Mantsur, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Jawahir li al-Tanthawi, Tafsir Surah Hashr
.
Dari tafsir-tafsir Quran ini telah jelas bahwa Fadak diperoleh dari Fa’i, yang kemudian menjadi milik Rasulullah Saw dan selanjutnya diberikan beliau kepada putri tercintanya Sayyidah Fathimah as. sebagai hadiah. Namun setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar mengambilnya secara paksa dari Sayyidah Fathimah as. Inilah salah satu penyebab tertekannya batin Sayyidah Fathimah as dan menjadi beban deritanya sepeninggal ayahnya, Rasulullah Saw.
“Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Israa’ [17] ayat 82)

BAGAIMANA SEJARAH FADAK SAMPAI MENJADI MILIK EKSKLUSIF RASULULLAH SAW
Di dalam kitab-kitab Sunni berikut ini :
1. Abi al-Hassan Baladzuri, Fathul Buldan, hlm. 46.
2. Majmu’ al-Buldan, Jil. 14, hlm.139
3. Tarikh al-Thabari, Jil. 3, hlm. 1583
4. Ibn Atsir, Tarikh al-Kamil, Jil. 2, hlm. 108
5. Husayn Diyar Bakari, Tarikh al-Khamiis, Jil. 2, hlm. 58

Semua kitab di atas mencatat bahwa :
“Ketika Rasulullah Saw kembali dari Khaybar, beliau mengirim Muhisa bin Mas’ud untuk mendakwahkan Islam ke penduduk Khaybar. Pemimpin Yahudi Khaybar saat itu adalah Yusya bin Nun. Penduduk Fadak menolak menerima Islam, namun memberikan separuh dari tanah Fadak mereka. Rasulullah Saw mengambil separuh tanah itu dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di separuh lagi dari tanah itu. Sejak saat itu setengah tanah Fadak teresebut menjadi kekayaan milik Rasulullah Saw, yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak.” (Al-Quran Surah Ibrahim [14] ayat 42)

RASULULLAH SAW AKHIRNYA MENDAPATKAN KESELURUHAN TANAH FADAK
Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim dari Ahlus Sunnah di bawah ini :
1. al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim, Jil. 2, hlm.92
2. Sunan al-Nasaai, Jil. 7, hlm. 137
3. Wafa’ al-Wafa’, Jil. 4, hlm. 1280
4. Ibn Hisyam, Sirah al-Nabi, Jil. 3, hlm. 353
5. Tarikh Abul Fida, hlm. 140, Dzikr Ghazwah al-Khaybar

Kelima kitab di atas mencatat bahwa :
“Setelah kesepakatan damai (dengan kaum Yahudi Khaybar), separuh tanah Fadak yang telah diberikan orang-orang Yahudi, akhirnya seluruhnya menjadi milik Rasulullah Saw. Sec1/3 lembah Qari dan 2 kastil Khaybar menjadi eksklusif milik Rasulullah Saw dan tak seorang pun yang memperoleh bagian dari ini.”

Hanya orang-orang bebal seperti Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi sajalah yang menolak bahwa Fadak adalah milik eksklusif Rasul Saw. Dan memang pantas jika Sayyidah Fathimah as mengatakan : “Dan kami meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta!” (QS Ali Imran [3] ayat 61)
Ayat di atas (QS 3 : 61)
adalah ayat MUBAHALAH, yang mana Sayyidah Fathimah as adalah salah satu yang diajak oleh Rasulullah Saw untuk ikut saling mengutuk dengan orang-orang yang tidak beriman. Lalu mungkinkah Sayyidah Fathimah as yang pernah diajak oleh Rasulullah Saw bermubahalah melakukan dusta tentang tanah Fadak? Tentu saja tidak. Maka semoga laknat Allah Swt, Rasul-Nya dan seluruh Imam Ahlul Bait Nabi as bagi mereka yang mendustakan fakta-fakta sejarah yang juga telah dicatat oleh para alim Ahlus Sunnah!

UMAR BIN KHATHTHAB JUGA MENGANGGAP BAHWA FADAK ADALAH KEKAYAAN EKSKLUSIF MILIK RASULULLAH SAW
Syibli Numani di dalam bukunya al-Faruq menulis :
“…setelah penaklukkan Sirian dan Irak, Umar memanggil para sahabat; dia mengumumkan dengan dasar al-Quran bahwa penaklukan wilayah-wilayah bukanlah milik siapa pun, tetapi semuanya menjadi kekayaan negara, seperti yang telah diabahs tentang Fa’i. Bagaimanapun, dari ayat Quran sendiri muncul bahwa tanah Fadak adalah milik pribadi Rasulullah saw, dan Umar sendiri pun memahami bahwa ayat itu mengimplikasikan demikian. Apa yang Allah perbuat atas orang-orang ini (Bani Nadhir) dengan mengirim Rasul-Nya untuk penaklukkan yang kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6) Sambil membaca ayat ini, Umar menyatakan bahwa tanah itu memang diberikan untuk Nabi Saw. Hal ini juga tercantum di dalam Shahih Bukhari secara rinci pada Bab Khums al-Maghazi dan al-Mirats.” (Syibli Numani, Al-Faruq, Jil. 2, hlm. 289-290.)

APA YANG DIBELANJAKAN RASULULLAH SAW DARI FADAK?
Seorang penulis buku Qishash al-Anbiya’, Ahmad Jawdat Pasha menyatakan bahwa Abu Bakar menggunakan Fadak untuk kepentingan para tamu dari luar kota atau negeri, para pelancong, para duta besar. Benarkah? Lalu apakah Rasulullah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Bakar?
Mari kita buka kitab Shahih Muslim Bab al-Fa’i, Bab 19, hadis no. 4347 :
“Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.(Jika masih meragukan hadis2 yang saya kutip di sini silahkan Anda melihat sendiri pada situs resmi kerajaan Saudi Arabia di sini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1019)


.

Umar sendiri mengatakan bahwa harta yang diperoleh dari Bani Nadhir atau Fadak adalah diberikan khusus untuk Nabi Saw secara eksklusif dan digunakan oleh Rasulullah Saw untuk kebutuhan keluarganya dan membeli persenjataan. Jadi sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh Ahmad Jawdat Pasha! Dan jika Umar mengatakan bahwa Fadak adalah anugerah Allah Swt yang khusus sepenuhnya diberikan kepada Rasulullah Saw, lalu mengapa dia dan Abu Bakar berani lancang merampasnya dari Sayyidah Fathimah as?
.

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat (li dzil qurba), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59] ayat 7)


Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Karena protesnya tidak digubris, dalam keadaan berdarah karena keguguran, ia mengambil dan memakai mantel pemberian Nabi Muhammad dan mengutuk para penyerangnya. Namun Imam ‘ Ali AS dengan segala kemulian dan kebijaksanaannya mencegah hal tersebut, karena beliau tahu kutukan Fatimah AS akan disegerakan di dunia.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Bukankah Rasulullah Saw teramat sangat mencintai putrinya ini, sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat marah diriku!”

(Shahih Bukhari) 1]

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, aku menjadi susah karena sesuatu yang membuatnya susah dan aku berbahagia karena sesuatu yang membuatnya bahagia..” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim) 2]

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Barangsiapa yang menyakitinya berarti ia menyakitku.” (H.R Al-Hakim)

Hadits lainnya yang juga populer di mana Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dari diriku, aku merasa sakit sebab sesuatu yang menyakitinya. Dan aku akan marah karena sesutu yang membuatnya marah pula.” (H.R. Ahmad, Turmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabrani, dengan sanad-sanad yang shahih)

Apakah pernyataan-pernyataan Nabi saw ini sekadar ungkapan sentimen personal beliau? Tentu saja tidak, karena Allah SwT berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Al-Quran Surah Al-Najm [53]: 3)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada putri tercintanya, Fatimah : “Sesungguhnya Allah ridha karena keridhaanmu dan Allah murka karena kemarahanmu!” (H.R Al-Thabrani) 3]

Lalu mengapa putri tercinta Nabi Saw ini tidak dikuburkan di samping makam ayahnya, Rasulullah Saw, padahal Sayyidah Fatimah sendiri sangat mencintai ayahnya? Lalu mengapa Abu Bakar & Umar bisa dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw, padahl mereka wafat jauh setelah Sayyidah Fatimah wafat? Ada apa? Apa yang telah terjadi di masa itu?

(Coba Anda lihat hadits : Shahih al-Bukhari Jilid 5, hadits nomor: 546).

Catatan Kaki:

1] Shahih Bukhari, Jil. 5, hadits no. 61.

2] Thabrani juga meriwayatkan hadits yang serupa dengan lafadz yang sedikit berbeda.

3] Sanad hadits ini hasan.

Foto Foto Kebun Fadak Al Maksum fatimah Yang dirampas Abubakar

SiKAP   FATiMAH   KEPADA  ABUBAKAR

Bahkan Fatimah as berwasiat kepada Imam Ali as agar beliau as dimakamkan di malam hari dan tak membiarkan seorangpun datang kepada beliau as, Abubakar dan Umar tidak boleh diberitahu tentang kematian dan penguburan beliau as, serta Abubakar tidak diijinkan shalat atas jenazah beliau

Referensi  Ahlusunnah :

Shahih Bukhari, juz 3, Kitab “Al-Maghazi”, Bab “Perang Khaibar”. [Lihat Catatan Kaki no. 34]

Fatimah sendiri yang meminta Asma’ binti Umais ( isteri  Abubakar ) untuk membantu merawat diri beliau. Bahkan Fatimah meminta Asma’ untuk membuatkan keranda untuk mengusung jenazah beliau as kelak. Dan Asma’ adalah orang yang membantu Imam Ali as dalam memandikan jenazah Fatimah as, tetapi tidak termasuk yang mengantarkan jenazah beliau ke kubur.

Referensi  Ahlusunnah :

  1. Ibn Hajar Al-Asqolani, dalam “Al-Ishabah”, juz 8, riwayat no. 11583. [Lihat Catatan Kaki no.  33]
  2. Abu Nu’aim Al-Ashbihani, dalam “Hulyatul Auliya’”, jilid 2, hal. 43.

Saudaraku…..

Imam Ali as pernah mencoba untuk mengadakan perlawanan atas Abubakar. Beliau bersama Fatimah Az-Zahra as pernah mendatangi para sahabat yang telah membai’at Abubakar untuk menarik bai’at mereka atas Abubakar, namun mereka tidak mau melakukannya.  (Referensi  Ahlusunnah :

a. Habib Al-Hamid Al-Husaini, dalam “Imamul Muhtadin”, bab Saqifah.

b. Ibn Qutaibah, “Imamah Wa Siyasah”, jilid 1, hal. 12. )

Namun kenyataannya, yang mau mendukung beliau hanya empat orang, dalam riwayat lain hanya tiga orang. (Referensi  Ahlusunnah :

a. Tarikh Ya’qubi, jilid 2, hal. 105.

b. Ibn Abil Hadid, dalam “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 2, hal. 4.)

Terlihat bahwa pada kenyataannya mayoritas kaum muslimin tidak mau menerima imamah beliau as.

TENTANG PERANGAi ABUBAKAR YANG SEBENARNYA, DiRIWAYATKAN DARi AHLUSUNNAH :

1.  Hadis tentang  Rasul tidak mau bersaksi kepada Abubakar sebagaimana beliau bersaksi pada para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku       tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis.

Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”. [Lihat Catatan Kaki no.  38]

2.   Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar.

Allah berfirman dalam [Q.S. Al-Hujurat 2], tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi      suara Rasul saww, dan Allah mengancam menggugurkan amal orang yang melakukannya.     Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras di    hadapan Rasul saw.

Referensi  Ahlusunnah :

a.  Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”. [Lihat Catatan Kaki no.  39]

b.  KH. Saleh (dan kawan-kawan), dalam “Asbabun Nuzul”, Penerbit CV. Diponegoro, Bandung.

3. Abubakar dan Umar telah melarikan diri dari perang Uhud, Khaibar dan Hunain. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Lihat juga [Q.S. Ali Imran 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saw, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Referensi  Ahlusunnah :  Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.,,Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.

c.   Sirah Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”. [Lihat Catatan Kaki no.  13].

d. ibn Hajar, dalam “Al-Ishabah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.

e. Sirah Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

Setelah peristiwa fadak , Abubakar dan Umar berkunjung ke rumah Fatimah as, dikarenakan mereka merasa telah menyakiti beliau as. Kemudian Fatimah as berkata : ”Apakah kalian tidak mendengar Rasul saww bersabda ‘Keridhoan Fatimah adalah keridhoanku, Kemurkaan Fatimah adalah kemurkaanku. Barangsiapa mencintai Fatimah, puteriku, berarti mencintaiku dan barangsiapa membuat Fatimah murka berarti membuat aku murka’  ?”

Mereka berdua menjawab : “Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah”.

Fatimah as berkata : “Aku bersaksi kepada Allah dan para malaikat-Nya, sesungguhnya kalian berdua telah membuat aku marah dan kalian berdua membuat aku tidak ridho. Seandainya aku bertemu Nabi saww nanti, aku akan mengadu kepada beliau tentang kalian berdua”.

Kemudian Fatimah as berkata kepada Abubakar : “Demi Allah, sungguh aku akan mengadukan engkau kepada Allah di setiap sholatku”.

Ref. Ahlusunnah :

a Ibn Qutaibah, dalam “Al-Imamah Was Siyasah”, hal. 14.

b. Ibn Qutaibah, dalam “Khulafaur Rasyidin”, hal. 13-14.

Dan Fatimah as tidak berbicara dengan Abubakar sampai wafatnya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Fatimah as bersumpah untuk tidak berbicara selama-lamanya dengan Abubakar dan Umar. Dan Fatimah as dikuburkan secara diam-diam pada malam hari.

Ref. Ahlusunnah :

a. Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Perang Khaibar”.

b. Al-Hakim, dalam Mustadrak, jilid 3, saat menceritakan wafatnya Fatimah.

c. Ibnu Sa’ad, dalam “Thabaqat”, jilid 2, bab 2, hal. 84.

d4. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 7, hadits no 18769.

e. Thahawi, dalam “Musykil Al-Atsar”, jilid 1, hal. 48. dll

.

Kita sering mendengar dari orang-orang syiah atau dari buku-buku syiah bahwa Abu Bakar menzalimi Fatimah karena menghalanginya dari warisan tanah Fadak (yang skarang disebut al-Haith).

Kenabian Nabi Muhammad sama dengan kenabian Nabi Musa.

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan seperti yang telah dicantumkan oleh mas Quito.

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS.

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

fadak 1 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?Gapura menuju Fadak

fadak 2 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?bukit kecil di antara bukit Fadak

fadak 3 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?sumur tua di Fadak

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? Hadits 10 sahabat tersebut masih perlu dikaji ulang

orang yg menyakiti Ahlul Bait sangat gak pantes masuk surga.
smoga knak adab yg perih bgi rang yg menyakiti/ n menganiaya kluarga NABI MUHAMMAD SAWW. amin……

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan ….

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS…

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Tidak ada yang aneh. Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

fadak 4 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 5 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

fadak 6 300x225 Abu Bakar dan Fatimah Geger Soal Warisan?pohon-pohon kurma kering

Foto tanah Fadak sekarang. Fadak adalah nama desa di Hijaz yang didapat secara damai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahun 7 H, berjarak 2 atau 3 hari dari Madinah. Di sana ada mata air yang deras dan pohon kurma yang banyak. Foto-foto di atas adalah: gapura menuju Fadak, bukit kecil di antara bukit Fadak; sumur tua di Fadak; pohon-pohon kurma kering; pohon kurma yang kering.

Mereka bahkan mengatakan kalau Abu Bakar mencaplok tanah Fadak. Mereka menggambarkan bahwa Abu Bakar benci Fatimah dan Fatimah benci Abu Bakar sampai mati. Benarkan demikian? Benarkah Abu Bakar serendah itu/ Benarkah Fatimah penghulu wanita surga itu serendah itu? Bagaimana yang sebenarnya?

Jawaban yang benar:

Semoga Allah mlindungi setiap pmikiran n apa yg seharusnya kita ketahui…
dalam buku yang berjudul FATIMAH..memang secara jelas dtuliskan bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar (Hanya Allah yang tahu kebenarannya)…

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…pada beberapa buku dijelaskan alasan Abu Bakar n Umar btindak demikian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar2 bingung….sgala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk??

Sejarah, riwayat dan hadis Nabi SAW telah banyak dipalsukan dan diputar belitkan, sehingga ummat Muslim percaya yg tersurat itulah sebenarnya. Sedangkan kisahnya yg tersirat terpendam ditelan zaman, maka dinamakan ianya Fitnah Awal Zaman. Yg mengetahui sejarah sebenar yg tersirat itu, adalah dikalangan Ahlul Bait Nasab sejati warisan Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Maka antaranya Ahlul Bait Imam 12 Syiah, adalah Generasi Ke3, dari nasab Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Hussein, yg selalu diburuk2kan oleh mereka itu….

Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar&Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!

Pendahuluan:

Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!

Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat selaki Khalifah!

Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!

Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi sangking shahihnya hadis tentangnya sehingga Imam Bukhari dan Muslim –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!

Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demia melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentas Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”[1]

Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!

Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!

Abu Bakar Kâdzib!

Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!

Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق …..

“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) dating menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalahseorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!

Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris belaiu dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:

  1. Pembohong/Kâdziban.
  2. Pendosa/Atsiman.
  3. Penipu/Ghadiran.
  4. Pengkhianat/Khâinan.

Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’lilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar- maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!

Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh waswasil khanâs!

Ketika sampai redaksi ini:

…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏

… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat, Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu![2]

Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!

(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:

1)      Bab Fardhu al Khumus/Kewajiban Khumus,4/44.

2)      Kitab al Maghâzi/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.

3)      Kitab al Farâidh/warisan, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.

4)      Kitab al I’tishâm/berpegang teguh, Bab Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Para Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!

Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; Ibnu Hajar al Asqallani membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari![3] Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/al Haq! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!

Ibnu Jakfari Berkata:

Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!

Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!

Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?

Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!

Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, Syeikhân (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!

Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!

(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!

(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!

(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, tawarru’an/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.[4] Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!

Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas. Amîn Ya Rabbal Alamîn.


[1]Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkannya uacapan itu atas nama Nabi saw.! Tidak seorang pun dari shabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.!! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah bertdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.

[2] Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!

[3] Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.

[4] Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.

“Seseorang tidaklah dicela karena menuntut haknya,
tetapi seseorang menjadi tercela karena merampas

hak orang lain.”

FADAK DI DALAM KITAB KITAB SUNNI
Untuk membuktikan bahwa kasus Fadak tercatat di dalam kitab-kitab Sunni, saya akan mendasari kasus ini dari 3 kitab Sunni :
1. Mu’jam al-Buldan-nya Yaquut al-Hamawi Jil. 14, hlm. 238
2. Tarikh al-Khamis, Jil. 2, hlm. 88
3. Wafa al-Wafa-nya Nuruddin al-Samhuudi, Jil. 4, hlm. 1480
Pada ketiga kitab itu tertulis :
“Fadak adalah sebuah kota, yang jaraknya 2-3 hari perjalanan dari Madinah. Di sana banyak sumur-sumur air dan pohon-pohon kurma. Fadak juga merupakan tanah yang dikatakan Fathimah kepada Abu Bakar, “Ayahku (Rasulullah SAW) menghadiahkan kepadaku Fadak sebagai hadiah.” Abu Bakar lalu meminta mengajukan Fathimah saksi-saksi atas persoalan ini.”
Sebenarnya sangat aneh jika Abu Bakar meminta saksi kepada Fathimah, karena kita semua tahu bahwa Aisyah, putrinya sendiri mengatakan tentang Fathimah :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih jujur dari Fathimah, kecuali Rasulullah.” Lalu ada orang bertanya, “Apakah ada sesuatu (cerita) tentang dia?” Aisyah lalu berkata, “Ya. Rasulullah menyayanginya (Fathimah), karena dia tidak pernah berdusta.” Dan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abdul Barr dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang ucapannya lebih benar dari Fathimah, kecuali seseorang yang menjadi orang tuanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustradak-nya Jil. 3, hlm. 160-161 dan ditetapkan sebagai hadits shahih menurut kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi.
Apakah Anda juga meragukan Sayyidah Fathimah? Na’udzubillah min dzalik!
Jika Anda mengatakan tidak layak Fathimah meminta-minta haknya seperti itu. Layakkah? Tentu saja layak! Mengapa tidak! Seseorang tidak menjadi terhina atau menjadi hina karena dia menuntut haknya, tetapi seseorang menjadi terhina ketika dia merampas hak orang lain.
Pada peristiwa tersebut (penuntutan hak Fadak), Sayyidah Fathimah membacakan ayat Quran : “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran itulah yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf [12] ayat 83)

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH DARI TANAH FADAK
Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis :
“Umar (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

BERKAH YANG DATANG DARI KURMA-KURMA FADAK
Ibn Abi Al-Hadiid di dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya pada Jil. 4, hlm. 108
menulis : “Ada 11 macam pohon buah-buahan yang tumbuh di Fadak, yang Rasulullah Saw tanam lewat tangan beliau sendiri. Anak-anak Fathimah biasa menghadiahkan hasil kebun Fadak tersebut kepada orang-orang yang pergi hajji dan mereka (para hajji dan hajjah) memberikan kepada anak-anak Fathimah beberapa dinar dan dirham atas pelayanan mereka.”

PENDAPATAN DARI FADAK DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN MILITER
Kita bisa juga membaca di dalam kitab yang ditulis oleh seorang alim dari Ahlus Sunnah wal Jamaah: Insanul Ayun fi Siirah al-Halabiyah Jil. 3, hlm. 487-488, Bab Wafatnya Rasulullah Saw :
“Umar marah kepada Abu Bakar, lalu berkata, “Jika Anda mengembalikan Fadak kepada Fathimah, (maka hal itu akan menjatuhkan Anda) padahal (hasil keuntungan Fadak) itu bisa digunakan untuk angkatan perang dan pertahanan. Saat ini semua bangsa Arab sedang bangkit melawan Anda!” (maka) Dia (Abu Bakar) mengambil dokumen Fadak dari Fathimah dan merobek-robeknya menjadi potongan-potongan kecil.”
Kita telah melihat bahwa fakta sejarah ini telah menunjukkan secara jelas bahwa kepemilikkan sah tanah Fadak ada di tangan Sayyidah Fathimah, namun dengan alasan untuk pertahanan dan angkatan perang, tanah tersebut “terpaksa diambil alih”. Dengan demikian kita juga memperoleh data yang menunjukkan bahwa hasil yang sedeemikian besar yang diperoleh dari Fadak telah digunakan untuk kepentingan pertahanan kekuasaan. Bisa dipahami jika beberapa sejarawan yang menduga ada ketakutan tersembunyi dari beberapa sahabat Nabi jika tanah Fadak digunakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as dan sahabat-sahabat setianya untuk melawan mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyetujui kekhalifahan berada di tangan Imam Ali as.

PERBEDAAN GHANIMAH DENGAN FA’I
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Ghanimah dan Fa’i.
Di dalam Tafsir Kabir, Jil. 8, hlm. 125, dan Tafsir Maraghi, tentang tafsir Surah al-Hasyr : “Ghanimah adalah harta yang untuk memperolehnya kaum Muslim mesti berkerja keras (bertempur) untuk itu. Sementara Fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta (artinya tanpa harus bertempur).”
Adapun tanah Fadak adalah rampasan perang yang diperoleh dari Fa’i (kemenangan perang yang didapat tanpa pertempuran.)
Mari kita lihat ayat Quran yang berhubungan dengan ini :
“Dan apa saja harta rampasan (afaa-i)yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6)
Fakhruddin al-Razi di dalam Tafsir Kabir-nya mengatakan :
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fadak, yang mana Rasulullah Saw memeprolehnya dari penaklukan tanpa pertempuran.” (Tafsir al-Kabir, Jil. 10, hlm. 506)
– Tafsir Mazhari, hlm. 238
– Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Maraghi, Tafseer Surah Hashr.
– Tafsir Durr al-Mantsur, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Jawahir li al-Tanthawi, Tafsir Surah Hashr
.
Dari tafsir-tafsir Quran ini telah jelas bahwa Fadak diperoleh dari Fa’i, yang kemudian menjadi milik Rasulullah Saw dan selanjutnya diberikan beliau kepada putri tercintanya Sayyidah Fathimah as. sebagai hadiah. Namun setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar mengambilnya secara paksa dari Sayyidah Fathimah as. Inilah salah satu penyebab tertekannya batin Sayyidah Fathimah as dan menjadi beban deritanya sepeninggal ayahnya, Rasulullah Saw.
“Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Israa’ [17] ayat 82)

BAGAIMANA SEJARAH FADAK SAMPAI MENJADI MILIK EKSKLUSIF RASULULLAH SAW
Di dalam kitab-kitab Sunni berikut ini :
1. Abi al-Hassan Baladzuri, Fathul Buldan, hlm. 46.
2. Majmu’ al-Buldan, Jil. 14, hlm.139
3. Tarikh al-Thabari, Jil. 3, hlm. 1583
4. Ibn Atsir, Tarikh al-Kamil, Jil. 2, hlm. 108
5. Husayn Diyar Bakari, Tarikh al-Khamiis, Jil. 2, hlm. 58

Semua kitab di atas mencatat bahwa :
“Ketika Rasulullah Saw kembali dari Khaybar, beliau mengirim Muhisa bin Mas’ud untuk mendakwahkan Islam ke penduduk Khaybar. Pemimpin Yahudi Khaybar saat itu adalah Yusya bin Nun. Penduduk Fadak menolak menerima Islam, namun memberikan separuh dari tanah Fadak mereka. Rasulullah Saw mengambil separuh tanah itu dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di separuh lagi dari tanah itu. Sejak saat itu setengah tanah Fadak teresebut menjadi kekayaan milik Rasulullah Saw, yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak.” (Al-Quran Surah Ibrahim [14] ayat 42)

RASULULLAH SAW AKHIRNYA MENDAPATKAN KESELURUHAN TANAH FADAK
Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim dari Ahlus Sunnah di bawah ini :
1. al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim, Jil. 2, hlm.92
2. Sunan al-Nasaai, Jil. 7, hlm. 137
3. Wafa’ al-Wafa’, Jil. 4, hlm. 1280
4. Ibn Hisyam, Sirah al-Nabi, Jil. 3, hlm. 353
5. Tarikh Abul Fida, hlm. 140, Dzikr Ghazwah al-Khaybar

Kelima kitab di atas mencatat bahwa :
“Setelah kesepakatan damai (dengan kaum Yahudi Khaybar), separuh tanah Fadak yang telah diberikan orang-orang Yahudi, akhirnya seluruhnya menjadi milik Rasulullah Saw. Sec1/3 lembah Qari dan 2 kastil Khaybar menjadi eksklusif milik Rasulullah Saw dan tak seorang pun yang memperoleh bagian dari ini.”

Hanya orang-orang bebal seperti Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi sajalah yang menolak bahwa Fadak adalah milik eksklusif Rasul Saw. Dan memang pantas jika Sayyidah Fathimah as mengatakan : “Dan kami meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta!” (QS Ali Imran [3] ayat 61)
Ayat di atas (QS 3 : 61)
adalah ayat MUBAHALAH, yang mana Sayyidah Fathimah as adalah salah satu yang diajak oleh Rasulullah Saw untuk ikut saling mengutuk dengan orang-orang yang tidak beriman. Lalu mungkinkah Sayyidah Fathimah as yang pernah diajak oleh Rasulullah Saw bermubahalah melakukan dusta tentang tanah Fadak? Tentu saja tidak. Maka semoga laknat Allah Swt, Rasul-Nya dan seluruh Imam Ahlul Bait Nabi as bagi mereka yang mendustakan fakta-fakta sejarah yang juga telah dicatat oleh para alim Ahlus Sunnah!

UMAR BIN KHATHTHAB JUGA MENGANGGAP BAHWA FADAK ADALAH KEKAYAAN EKSKLUSIF MILIK RASULULLAH SAW
Syibli Numani di dalam bukunya al-Faruq menulis :
“…setelah penaklukkan Sirian dan Irak, Umar memanggil para sahabat; dia mengumumkan dengan dasar al-Quran bahwa penaklukan wilayah-wilayah bukanlah milik siapa pun, tetapi semuanya menjadi kekayaan negara, seperti yang telah diabahs tentang Fa’i. Bagaimanapun, dari ayat Quran sendiri muncul bahwa tanah Fadak adalah milik pribadi Rasulullah saw, dan Umar sendiri pun memahami bahwa ayat itu mengimplikasikan demikian. Apa yang Allah perbuat atas orang-orang ini (Bani Nadhir) dengan mengirim Rasul-Nya untuk penaklukkan yang kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6) Sambil membaca ayat ini, Umar menyatakan bahwa tanah itu memang diberikan untuk Nabi Saw. Hal ini juga tercantum di dalam Shahih Bukhari secara rinci pada Bab Khums al-Maghazi dan al-Mirats.” (Syibli Numani, Al-Faruq, Jil. 2, hlm. 289-290.)

APA YANG DIBELANJAKAN RASULULLAH SAW DARI FADAK?
Seorang penulis buku Qishash al-Anbiya’, Ahmad Jawdat Pasha menyatakan bahwa Abu Bakar menggunakan Fadak untuk kepentingan para tamu dari luar kota atau negeri, para pelancong, para duta besar. Benarkah? Lalu apakah Rasulullah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Bakar?
Mari kita buka kitab Shahih Muslim Bab al-Fa’i, Bab 19, hadis no. 4347 :
“Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.(Jika masih meragukan hadis2 yang saya kutip di sini silahkan Anda melihat sendiri pada situs resmi kerajaan Saudi Arabia di sini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1019)


.

Umar sendiri mengatakan bahwa harta yang diperoleh dari Bani Nadhir atau Fadak adalah diberikan khusus untuk Nabi Saw secara eksklusif dan digunakan oleh Rasulullah Saw untuk kebutuhan keluarganya dan membeli persenjataan. Jadi sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh Ahmad Jawdat Pasha! Dan jika Umar mengatakan bahwa Fadak adalah anugerah Allah Swt yang khusus sepenuhnya diberikan kepada Rasulullah Saw, lalu mengapa dia dan Abu Bakar berani lancang merampasnya dari Sayyidah Fathimah as?
.

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat (li dzil qurba), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59] ayat 7)


Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Karena protesnya tidak digubris, dalam keadaan berdarah karena keguguran, ia mengambil dan memakai mantel pemberian Nabi Muhammad dan mengutuk para penyerangnya. Namun Imam ‘ Ali AS dengan segala kemulian dan kebijaksanaannya mencegah hal tersebut, karena beliau tahu kutukan Fatimah AS akan disegerakan di dunia.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Bukankah Rasulullah Saw teramat sangat mencintai putrinya ini, sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat marah diriku!”

(Shahih Bukhari) 1]

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, aku menjadi susah karena sesuatu yang membuatnya susah dan aku berbahagia karena sesuatu yang membuatnya bahagia..” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim) 2]

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Barangsiapa yang menyakitinya berarti ia menyakitku.” (H.R Al-Hakim)

Hadits lainnya yang juga populer di mana Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dari diriku, aku merasa sakit sebab sesuatu yang menyakitinya. Dan aku akan marah karena sesutu yang membuatnya marah pula.” (H.R. Ahmad, Turmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabrani, dengan sanad-sanad yang shahih)

Apakah pernyataan-pernyataan Nabi saw ini sekadar ungkapan sentimen personal beliau? Tentu saja tidak, karena Allah SwT berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Al-Quran Surah Al-Najm [53]: 3)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada putri tercintanya, Fatimah : “Sesungguhnya Allah ridha karena keridhaanmu dan Allah murka karena kemarahanmu!” (H.R Al-Thabrani) 3]

Lalu mengapa putri tercinta Nabi Saw ini tidak dikuburkan di samping makam ayahnya, Rasulullah Saw, padahal Sayyidah Fatimah sendiri sangat mencintai ayahnya? Lalu mengapa Abu Bakar & Umar bisa dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw, padahl mereka wafat jauh setelah Sayyidah Fatimah wafat? Ada apa? Apa yang telah terjadi di masa itu?

(Coba Anda lihat hadits : Shahih al-Bukhari Jilid 5, hadits nomor: 546).

Catatan Kaki:

1] Shahih Bukhari, Jil. 5, hadits no. 61.

2] Thabrani juga meriwayatkan hadits yang serupa dengan lafadz yang sedikit berbeda.

3] Sanad hadits ini hasan

.

SUNAN ABU DAWUD, Kitab AL Kharaj,

Bab tentang pembagian 1/5 yang diamil oleh Rasulullah untuk Ahlul Bait no 2978

Ali ibn Abu Tholib berkata: “Saya, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Haritsah mendatangi Rasulullah.

Kami berkata: “Sebaiknya anda segera membuat surat wasiat untuk pembagian harta rampasan perang (Fa’i) sesuai petunjuk yang tertulis di dalam AlQuran; supaya tidak ada perselisihan antara kami (Ahlul Bait) dengan orang2 lain setelah kepergianmu!”

Rasulullah berkata: “Saya akan memerintahkan Abu Baakr untuk membuatkan saya, surat wasiat segera!”

PERTANYAAN

Kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan perintah Rasulullah; sehingga Abu Baakr segara membuatkan Rasulullah surat wasiat?

Dan Saya yakin Tidak akan mungkin Alloh swt membiarkan Nabi Muhammad saw, KekasihNya, meninggal… sementara masih ada amanat Nya yang belum disampaikan Oleh RasulNya yang Terakhir…

ALQURAN Qs.2:180
Diwajibkan atas kamu, jika datang tanda tanda maut, jika dia meninggalkan harta untuk menulis surat wasiat….

ALQURAN Qs.2:240
dan mereka yang akan meninggal dunia di antara kamu, dan meninggalkan istri. Maka tulislah surat wasiat…..

Tidak mungkin Rasulullah melanggar ayat ayat ALLAH yang tertulis di dalam AlQuran sesuai pendapat antum.

Jauh jauh hari sebelum datang tanda tanda Maut, Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan surat wasiat, karena desakan Ali ibn Abu Tholib, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Haritsah.

Rasulullah telah melaksanakan perintah ALLAH terhadap kewajiban menulis surat wasiat; tetapi Abu Bakar sengaja mengabaikan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakar tidak membuatkan Rasulullah surat wasiat agar distempel atau ditandai oleh Nabi SAW

KESIMPULAN

Kaum Sunni fanatik buta membela semua kesalahan yang telah dilakukan oleh para sahabat. Kaum Syiah rajin membela Rasulullah dan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka); karena kecintaan Kaum Syiah kepada Rasululah dan Ahlul Bait.

Perselisihan yang terjadi diatas pastilah :
“Yang satu benar, yang lain salah, mustahil kedua duanya benar”
Dalam hal ini Muhammad SAW lah yang berada dalam kebenaran karena beliau mempedomani AL QURAN

Anda Pilih Abubakar CS atau Fatimah Az Zahra ?????

1. Apakah mungkin fatimah yang memiliki derajat tinggi tidak mengetahui hadis yang diucapkan Abubkar : “kami tidak mewariskan harta (fa’i), harta yang kami tinggalkan adalah sedekah”

2. Mengapa Fatimah as tetap menuntut TANAH FADAK setelah mendengar hadis Abubakar ???

3. Mengapa Fatimah marah kepada Abubakar dan tidak mau berbicara dengan nya sampai beliau wafat ???

4. Mengapa Fatimah ingin dimakam kan secara sembunyi sembunyi ???

Jawaban dari semua ini adalah karena Abubakar telah menentang Nabi SAW !!!!!!!

Sudut Pandang dan Hujjah

Muqaddimah

Hadis Tentang Fadak

Analisis Riwayat Fadak

Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak

Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?

Pembahasan

Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS

* Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
* Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW

Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.

* Bertentangan Dengan Hadis Lain
* Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
* Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
* Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta

Kesimpulan Analisis

…………………..Mari Kita Mulai……………………

Muqaddimah

Selepas kematian Junjungan yang mulia Rasulullah SAW terjadi suatu perselisihan antara Ahlul Bait yang dalam hal ini Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan sahabat Nabi yaitu Abu Bakar ra. Perselisihan ini berkaitan dengan tanah Fadak. Fadak adalah tanah harta milik Rasulullah SAW. Sayyidah Fatimah Az Zahra AS menuntut bagiannya dari tanah Fadak karena itu adalah haknya sebagai Ahli Waris Rasulullah SAW. Abu Bakar ra dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan membawakan hadis “Kami para Nabi tidaklah mewarisi dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”. Berdasarkan hadis ini Abu Bakar ra menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS karena harta milik Nabi Muhammad SAW tidak menjadi milik Ahli Waris Beliau SAW tetapi menjadi sedekah bagi kaum muslimin.

Tulisan ini akan membahas lebih lanjut masalah ini. Sebelumnya akan dijelaskan bahwa masalah ini memang sensitif dan tidak jarang menimbulkan rasa tidak senang di kalangan tertentu. Masalah ini sudah menjadi isu yang seringkali dipermasalahkan oleh dua kelompok besar Islam yaitu Sunni dan Syiah. Sunni dalam hal ini cenderung tidak menganggap penting masalah ini. Kebanyakan dari Sunni berpendapat bahwa perselisihan itu adalah ijtihad dari masing-masing pihak sedangkan Syiah cenderung membela Ahlul Bait atau Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dan dalam hal ini mereka tidak segan-segan menyalahkan Abu Bakar ra. Pendapat Syiah ini ditolak oleh Sunni karena Abu Bakar ra dalam hal ini hanya berpegang pada hadis Rasulullah SAW.

Perselisihan antara Islam Sunni dan Syiah memang sudah sangat lama dan masing-masing pihak memiliki dasar dan dalil sendiri. Sayangnya perselisihan ini justru menimbulkan persepsi yang aneh di kalangan tertentu.

* Ada sebagian orang yang memiliki persepi yang buruk tentang Syiah tidak segan-segan menolak riwayat Fadak dan menuduh itu Cuma cerita buatan Syiah.
* Sebagian lagi suka menuduh siapa saja yang mengungkit kisah Fadak ini maka dia adalah Syiah.
* Siapa saja yang berpendapat kalau Abu Bakar ra salah dalam hal ini maka dia adalah Syiah.

Persepsi aneh tersebut muncul karena pengaruh propaganda pihak-pihak tertentu yang suka menyudutkan dan mengkafirkan Syiah. Sehingga nama Syiah selalu menimbulkan persepsi yang buruk dan mempengaruhi jalan pikiran orang-orang tertentu. Orang-orang seperti ini yang menjadikan prasangka sebagai keyakinan dan yah bisa ditebak kalau mereka ini sukar sekali memahami pembicaraan dan dalil orang lain. Karena semua hujjah dan dalil orang lain dinilai dengan prasangka yang belum tentu benar.

Singkatnya semua persepsi aneh ini tidak terlepas dari kerangka kemahzaban. Seolah-olah pendapat yang benar dalam masalah ini adalah apa yang bertentangan dengan pendapat Syiah. Seolah-olah siapa saja yang berpendapat seperti yang Syiah katakan maka dia jelas salah. Yang seperti ini tidak lain hanya fanatisme belaka. Kebenaran tidak diukur dari golongan tetapi sebaliknya golongan itulah yang mesti diukur dengan kebenaran.

Dalam pembahasan masalah Fadak ini penulis akan berlepas diri dari semua fanatisme mahzab dan berusaha menganalisisnya secara objektif. Walaupun pada akhirnya tetap ada saja yang suka menuduh macam-macam :D

Hadis Tentang Fadak
Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Berikut adalah hadis tentang Fadak yang dimaksud yang penulis ambil dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya.

Di kitab yang sama Mukhtasar Shahih Bukhari hal 609, disebutkan

Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau624 di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”. Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.

Di catatan kaki no 624 disebutkan bahwa sedekah Beliau SAW di Madinah yang dimaksud adalah Kurma Bani Nadhir yang jaraknya dekat dengan Madinah.

Analisis Riwayat Fadak
Riwayat pertama dan kedua dengan jelas menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah meminta bagian warisnya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW salah satunya adalah tanah Fadak. Hal ini menunjukkan Sayyidah Fatimah AS tidak tahu bahwa harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar). Sebenarnya tidak hanya Sayyidah Fatimah yang meminta bagian waris dari Harta Nabi SAW, Paman Nabi Abbas RA dan Istri-istri Nabi SAW selain Aisyah juga meminta bagian waris mereka. Jadi kebanyakan keluarga Nabi SAW yang adalah Ahli waris Nabi tidak mengetahui kalau harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar).

Abu Bakar RA dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadis bahwa Para Nabi tidak mewarisi, apa yang ditinggalkan menjadi sedekah. Setelah mendengar pernyataan Abu Bakar, Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan atau tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat yaitu selama 6 bulan. Semua penjelasan ini sudah cukup untuk menyatakan memang terjadi perselisihan paham antara Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS.

Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak
Banyak hal yang akan mempengaruhi orang dalam mempersepsi riwayat ini.

1. Ada yang beranggapan kalau masalah ini adalah perbedaan penafsiran atau ijtihad masing-masing dan dalam hal ini keduanya benar
2. Ada yang beranggapan bahwa masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan karena menganggap permasalahan ini tidak penting dan hanya membuka aib keluarga Nabi SAW.
3. Ada yang beranggapan dalam masalah ini yang benar adalah Abu Bakar RA
4. Ada yang beranggapan bahwa yang benar dalam masalah ini adalah Sayyidah Fatimah AS.

Riwayat di atas memang menunjukkan perbedaan pandangan Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS. Sayangnya pernyataan keduanya benar adalah tidak tepat. Alasannya sangat jelas keduanya memiliki pandangan yang benar-benar bertolak belakang. Artinya jika yang satu benar maka yang lain salah begitu juga sebaliknya. Mari kita lihat
Sayyidah Fatimah AS tidak menganggap bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW adalah sedekah. Beliau berpandangan bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW menjadi milik ahli waris Beliau SAW oleh karena itu Beliau meminta bagian warisan tanah Fadak.
Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadis bahwa para Nabi tidak mewarisi apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.
Sayyidah Fatimah AS setelah mendengar perkataan Abu Bakar menjadi marah dan tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Artinya Sayyidah Fatimah tidak sependapat dengan Abu Bakar oleh karena itu Beliau marah.
Jadi tidak bisa dinyatakan bahwa keduanya benar. Yang benar dalam masalah ini terletak pada salah satunya.

Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?

Jawabannya ini hanya sekedar persepsi. Dari awal orang yang berpikiran kalau masalah ini adalah aib pasti memiliki prakonsepsi bahwa memang terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Sayyidah Fatimah AS. Masalahnya kalau memang tidak ada apa-apa atau hanya sekedar beda penafsiran jelas tidak perlu dianggap aib. Kemungkinan besar dari awal orang yang berpikiran seperti ini menyatakan bahwa Abu Bakar RA benar dalam hal ini. Sehingga dia beranggapan ketidaktahuan Sayyidah Fatimah dengan hadis Abu Bakar dan sikap marah serta mendiamkan oleh Sayyidah Fatimah sebagai aib yang tidak perlu diungkit-ungkit. Menurutnya tidak mungkin Sayyidah Fatimah pemarah dan pendendam. Orang seperti ini jelas tidak memahami dengan baik. Maaf ya :)

Sebenarnya hadis diatas tidak menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah seorang pemarah, yang benar bahwa Sayyidah Fatimah marah kepada Abu Bakar. :( Marah dan pemarah adalah dua hal yang berbeda karena Pemarah menunjukkan sikap atau pribadi yang mudah marah sedangkan Marah adalah suatu keadaan tertentu bukan sikap atau kepibadian. Mengkaitkan kata pendendam pada riwayat ini juga tidak relevan. Sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA yang dilakukan Sayyidah Fatimah berkaitan dengan pandangan Beliau bahwa Beliau jelas dalam posisi yang benar sehingga sikap tersebut justru menunjukkan keteguhan Sayyidah Fatimah pada apa yang Beliau anggap benar. Sayyidah Fatimah tidaklah sama dengan manusia lain, yang bisa sembarangan marah dan hanya meluapkan emosi semata. Kemarahan Beliau selalu terkait dengan kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda

“Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari jilid 5 Bab Fadhail Fathimah no 61).

Jelas sekali kalau kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah kemarahan Rasulullah SAW. Apa yang membuat Sayyidah Fatimah marah maka hal itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Oleh karena itu berkenaan dengan perselisihan pandangan Sayyidah Fatimah dan Abu Bakar RA saya beranggapan bahwa kebenaran terletak pada salah satunya dan tidak keduanya. Dalam hal ini saya beranggapan bahwa kebenaran ada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Berikut pembahasannya

Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS
Analisis pertama dimulai dari kedudukan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS, Dalam tulisan saya sebelumnya saya telah membahas masalah Siapa Sebenarnya Sayyidah Fatimah Az Zahra AS?. Kesimpulan tulisan itu bahwa Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang senantiasa bersama kebenaran.

Sebelumnya akan ditanggapi terlebih dahulu pernyataan sebagian orang “Kenapa dalam masalah Fadak yang dibahas hanya Sayyidah Fatimah AS saja, bukankah ada juga yang lain yang menuntut waris?”. Sebenarnya pernyataan Ada yang lain justru memperkuat kebenaran Sayyidah Fatimah AS, apa sebenarnya masalah orang yang berkata seperti ini?. Padahal kalau saja mereka tahu kedudukan Sayyidah Fatimah AS yang sebenarnya maka mereka tidak perlu bertanya yang aneh seperti ini. Sayyidah Fatimah berbeda dengan yang lain karena Beliau AS adalah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT dan salah satu Tsaqalain yang menjadi pegangan umat Islam. Sayyidah Fatimah AS berbeda dengan yang lain karena kemarahan Beliau AS adalah kemarahan Rasulullah SAW dan menjadi hujjah akan benar atau tidaknya sesuatu.

Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
Mari kita lihat kembali hadis Tsaqalain. Hadis itu disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum Beliau SAW wafat, Beliau SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya untuk berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait agar tidak sesat. Sabda Rasulullah SAW ini adalah bukti jelas bahwa sahabat diperintahkan untuk berpedoman kepada Ahlul Bait dan bukan sebaliknya. Ahlul Bait yang dimaksud juga sudah saya jelaskan dalam tulisan saya Al Quran dan Ahlul Bait selalu dalam kebenaran. Sudah jelas sekali kalau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati bahwa Sayyidah Fatimah tidak mengetahui kalau Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah. Hal ini menimbulkan kemusykilan karena Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang menjadi pedoman bagi sahabat, Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan kebenaran sehingga tidak mungkin tidak mengetahui perkara seperti ini.

* Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima kalau Beliau pada awalnya menuntut sesuatu yang bukan haknya.
* Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima bahwa Beliau pada awalnya adalah keliru.

Mungkinkah Ahlul Bait yang menjadi tempat pedoman para sahabat agar tidak sesat bisa tidak mengetahui hadis ini?, Mungkinkah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan selalu bersama kebenaran bisa keliru?, Mungkinkah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT menuntut sesuatu yang bukan haknya?. Jawabannya jelas tidak.
Kemudian mari kita lihat lagi, ternyata setelah mendengar pernyataan Abu Bakar RA yang membawakan hadis Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah, Sayyidah Fatimah menjadi marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan. Mungkinkah Sayyidah Fatimah AS atau Ahlul Bait akan menjadi marah mendengar hadis Rasulullah SAW? Jawabannya juga tidak, seandainya hadis itu memang benar maka Sayyidah Fatimah dengan kedudukan Beliau AS yang mulia pasti akan menerima hadis Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Pribadi yang merupakan salah satu dari Tsaqalain dan selalu bersama Al Quran akan menolak hadis Rasulullah SAW.

Lihat kembali hadis Rasulullah SAW yang menyatakan apa saja yang membuat Sayyidah Fatimah AS marah maka itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Dalam hadis fadak, Sayyidah Fatimah marah setelah mendengar hadis Rasulullah SAW yang disampaikan Abu Bakar. Hal ini berarti jika Rasulullah SAW ada disitu saat itu maka Rasulullah SAW pun akan marah juga berdasarkan hadis di atas. Jadi mungkinkah Rasulullah SAW marah dengan apa yang Beliau katakan sendiri?, atau justru sebenarnya hadis yang disampaikan Abu Bakar RA itu tidak benar. Lihat banyak sekali kemusykilan yang ditimbulkan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.

Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW
Sayyidah Fatimah AS adalah Putri tercinta Rasulullah SAW yang dalam hal ini jelas merupakan Ahli waris Beliau SAW. Oleh karena itu tentu sebagai Ahli waris, Beliau lebih layak untuk mengetahui apapun perihal hak warisnya termasuk hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati Ahli waris Nabi SAW ternyata tidak mengetahui hadis ini. Padahal Ahli waris Nabi SAW tentu lebih layak mengetahui hadis ini karena masalah ini adalah urusannya. Mari kita lihat kemungkinannya

1. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS pura-pura tidak tahu dengan hadis ini. Kemungkinan ini jelas tidak benar, mempercayai kemungkinan ini berarti Sayyidah Fatimah AS telah mengabaikan perintah Rasulullah SAW. Hal ini jelas tidak mungkin bagi Ahlul Bait yang disucikan dan selalu bersama Al Quran.
2. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS lupa dengan hadis ini. Pernyataan ini juga tidak tepat, kalau memang lupa kenapa pula menjadi marah setelah diingatkan dengan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Kemarahan Sayyidah Fatimah AS menunjukkan ketidaksukaan dan penolakan Beliau terhadap hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.
3. Rasulullah SAW tidak memberitahu Sayyidah Fatimah AS tentang hadis ini. Mungkinkah yang seperti ini terjadi, Bagaimana mungkin Rasulullah SAW tidak memberitahu kepada Ahli waris Beliau SAW?. Sedangkan Beliau SAW justru memberitahu hadis ini kepada Abu Bakar RA yang justru bukanlah Ahli Waris Beliau SAW. Apakah Rasulullah SAW lupa? Atau Apakah Rasulullah SAW sengaja tidak memberitahu hal ini yang ternyata menimbulkan perselisihan?. Jawabannya tidak karena kesucian Rasulullah SAW jelas tidak memungkinkan hal ini terjadi. Kemungkinan ini ternyata juga sama tidak benarnya dengan yang lain.

Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.
Hadis yang disampaikan oleh Abu Bakar RA bahwa Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah ternyata bertentangan dengan hadis lain dan Al Quranul Karim.

Bertentangan Dengan Hadis Lain

Dari Ali bin Husain bahwa ketika mereka mendatangi Madinah dari sisi Yazid bin Muawiyah di masa pembunuhan Husain bin Ali RA, Al Miswar bin Makhramah menjumpainya, lalu ia berkata kepadanya ” Adakah sesuatu hajat kepadaku yang dapat kau perintahkan kepadaku”. Aku berkata kepadanya “tidak”. Dia berkata kepadanya “Maka apakah engkau memberikan kepadaku pedang Rasulullah SAW karena aku khawatir terhadap kaum akan mengalahkanmu sementara pedang itu berada di tangan mereka. Demi Allah sungguh bila engkau memberikannya kepadaku maka tidaklah pedang itu lepas kepada mereka selama-lamanya sehingga nyawaku direnggut (Mukhtasar Shahih Bukhari Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hadis no 1351 hal 619 cetakan pertama Pustaka Azzam 2007, penerjemah M Faisal & Thahirin Suparta).

Hadis di atas menyatakan bahwa Ali bin Husain RA (Keturunan Ahlul bait) memiliki pedang Rasulullah SAW. Bukankah pedang Rasulullah SAW adalah harta milik Beliau SAW. Tentu berdasarkan hadis Abu Bakar RA maka harta Rasulullah SAW menjadi sedekah dan milik kaum Muslimin. Jadi mengapa pedang Rasulullah SAW ada pada Ahlul Bait Beliau SAW. Bukankah itu berarti Pedang tersebut diwariskan kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Nah sudah mulai pusing belum :mrgreen:

Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
Abu Bakar dan Umar bin Khattab memiliki sedikit pandangan yang berbeda soal hadis yang dibawa Abu Bakar tersebut. Lihat riwayat Fadak yang kedua, mula-mula Abu Bakar menolak semua permintaan sayyidah Fatimah

Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau(kurma bani Nadhir) di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”.

Sedangkan pada masa pemerintahan Umar sedekah Nabi SAW di Madinah justru diserahkan kepada Ali dan Abbas. Setidaknya ada beberapa hal yang ditangkap dari hal ini. Kemungkinan Ali dan Abbas kembali meminta seperti apa yang diminta Sayyidah Fatimah pada masa pemerintahan Umar, ini berarti mereka tetap menolak pernyataan hadis yang dibawa Abu Bakar. Kemudian Umar bin Khattab RA menolak memberikan tanah Khaibar dan Fadak tetapi memberikan sedekah Nabi SAW(kurma bani Nadhir) di Madinah, lihat lanjutan hadisnya

Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.

Sebenarnya baik tanah Khaibar, Fadak dan sedekah Nabi SAW di madinah adalah sama-sama sedekah kalau menurut apa yang dikatakan Abu Bakar RA dan Umar RA tetapi anehnya Umar RA justru memberikan sedekah Nabi SAW di Madinah kepada Ahlul Bait yaitu Ali dan Abbas. Padahal berdasarkan hadis Shahih sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait. Jadi jika hadis yang dinyatakan Abu Bakar itu benar maka pendapat Umar yang menyerahkan sedekah Nabi SAW di Madinah adalah keliru karena bertentangan dengan hadis shahih bahwa sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait.

Mari kita lihat dari sisi yang lain, Ali RA dan Abbas RA ternyata tetap menerima sedekah Nabi SAW di Madinah(kurma bani Nadhir) itu bisa berarti

* Mereka keliru karena menerima sedekah
* Mereka menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.

Imam Ali dalam hal ini adalah Ahlul Bait yang disucikan Allah SWT dan telah jelas sabda Rasulullah SAW bahwa Beliau Imam Ali selalu bersama Al Quran dan Al Quran bersama Imam Ali berdasarkan hadis

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ali bersama Al Quran dan Al Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga Haudh”.(Hadis riwayat Al Hafidz Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 hal 124. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain yang berkata “ini hadis yang shahih tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dalam Talkhis Mustadrak Adz Dzahabi juga mengakui keshahihan hadis ini).

Dan juga hadis berikut menunjukkan Imam Ali selalu bersama Allah dan RasulNya

bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.” (Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak).

Jadi adalah tidak mungkin Imam Ali keliru dalam hal ini sehingga yang benar adalah pernyataan bahwa Ali RA dan Abbas RA menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.
Jika benar seperti ini maka Ali RA dan Abbas RA telah mewarisi harta Rasulullah SAW dan hal ini jelas bertentangan dengan hadis Abu Bakar RA.

Bagaimana sedikit rumitkah? :)

Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
Al Quranul Karim telah menjelaskan banyak hukum tentang waris, salah satunya

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam Kitab (Allah).(QS :Al Ahzab ayat 6).

Al Quran jelas-jelas menyatakan bahwa Yang mempunyai hubungan darah itu berhak untuk saling waris- mewarisi berdasarkan ketentuan Allah SWT. Dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS berhak mewarisi Rasulullah SAW yang adalah ayah Beliau . Sebagian orang membela hadis Abu Bakar RA dengan mengatakan Ayat Al Quran di atas telah ditakhsis oleh hadis tersebut. Jadi ayat ini tidak berlaku untuk para Nabi. Sayangnya pendapat ini juga keliru karena Al Quran juga menjelaskan bahwa para Nabi juga mewarisi.

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.(QS: An Naml ayat 16).

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhan-Nya dengan suara yang lembut. Ia berkata”Ya Tuhan-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepadaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhan-ku. Dan sesungguhnya aku khawtir tentang mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhan-ku seorang yang diridhai.(QS:Maryam ayat 2-6).

Al Quran pun dengan jelas menyatakan bahwa para Nabi juga mewariskan. Sebagian orang tetap berkeras dengan mengatakan bahwa yang dimaksud mewariskan di atas adalah mewariskan kenabian, hikmah atau ilmu bukan masalah harta. Pendapat ini pun keliru karena Kenabian tidaklah diwariskan tapi diangkat atau dipilih langsung oleh Allah SWT begitu juga hikmah dan ilmu para Nabi adalah langsung pemberian Allah SWT. Cukuplah bagi mereka Al Quran sendiri yang mengatakan

Berkata Isa “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab(Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi“.(QS :Maryam 30).

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(QS :Al Baqarah 130)

Allah berfirman “hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.(QS :Al A’raf 144).

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariyya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab(katanya) “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya yang membenarkan Kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh“.(QS Ali Imran 39)

Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS :Al Hajj 75).

Hikmah dan Ilmu para Nabi adalah pemberian langsung dari Allah SWT, dalilnya adalah sebagai berikut

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya Hikmah selagi ia masih kanak-kanak(QS Maryam 12)

Dan Kepada Luth Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.(QS Al Anbiya’ 74)

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami-lah yang melakukannya.(QS Al Anbiya’ 79)

Dan Sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”.(QS An Naml 301).

Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta
Dalam Al Kitab Taurat dijelaskan ternyata Nabi itu juga mewariskan, Nabi Ibrahim misalnya mewariskan harta untuk keturunannya.

Kemudian datanglah Firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan “Janganlah takut Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar”. Abram menjawab “Ya Tuhan Allah, apakah yang Engkau akan berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku adalah Elizer orang Damsyik itu“. Lagi kata Abram “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”. Tetapi datnglah firman Tuhan kepadanya, demikian “Orang ini tidakakan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”. Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya”. Maka firman-Nya kepadanya “demikianlah nanti banyaknya keturunanmu”. Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15, 1-6 Perjanjian Allah dengan Abram ; Janji tentang keturunannya).

Kesimpulan Analisis
Semua pembahasan diatas menunjukkan bahwa dalam masalah Fadak kebenaran berada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Walaupun begitu tidak ada niat sedikitpun bagi saya untuk mengatakan bahwa Abu Bakar RA adalah pembuat hadis palsu. Dalam masalah ini saya mengambil pandangan bahwa Abu Bakar RA telah keliru dalam memahami hadis tersebut. Mungkin saja beliau memang mendengar sendiri hadis tersebut tetapi berbeda pemahamannya dengan pemahaman Ahlul Bait oleh karena itu Sayyidah Fatimah Ahlul Bait Nabi menolak hadis Abu Bakar dengan menunjukkan sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA. Wallahu ‘alam

Sayidah Fathimah Zahra tidak berkenan oleh penolakan Abu Bakar memberikan warisannya.

Mendengar hal ini Fathimah murka dan tidak berbicara hingga wafatnya kepada Abu Bakar. Fathimah hidup hanya enam bulan setelah ayahnya wafat. la. meminta Abu Bakar untuk memberikan bagian warisan yang Rasulullah tinggalkan untuknya di Khaibar dan di Madinah. Kesimpulannya akan kami sandarkan pada hadis berikut.

Fathimah marah (Bukhari menggunakan kata ‘murka’) hingga ia wafat dan memperlihatkan penderitaan dan kesengsaraannya setelah Nabi Muhammad wafat. Hal ini mengingatkan kami akan ucapannya yang suci, “Sekiranya ayahku masih hidup saat ini, dan melihat diriku menderita, siang hari akan berubah menjadi gelap.”

Berdasarkan riwayat di atas ia meminta warisannya berulangkali. Saudara Khalid menyatakan bahwa Sayidah Fathimah tidak pernah menuduh Abu Bakar berbuat salah.

Sebelum memberi tanggapan, kami akan menyebutkan hadis Bukhari lainnya.

Shahih Bukhari hadis 5.546 :

Fathimah hidup 6 bulan setelah Nabi Muhammad wafat. Ketika wafat, suaminya Ali memakamkannya di malam hari tanpa memberitahu Abu Bakar. la melakukan shalat jenazah sendiri….

Sejarahwan Thabari juga menulis Abi Shalih Dirari Abdurrazzaq bin Hummam dari Mamar dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata,

“Fathimah dan Abbas menemui Abu Bakar menuntut (bagian) warisan Rasulullah. Mereka menuntut atas hak tanah Fadak dan Khaibar. Abu Bakar berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah berkata, ‘Kami (para rasul) tidak mewariskan apapun. Semua yang kami tinggalkan adalah amal (sedekah), keluarga Nabi Muhammad akan mendapatkan darinya. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan jalan yang telah dicontohkan Nabi, tetapi aku akan terus melakukannya!’ Fathimah berang dan tidak berbicara kepadanya hingga ia wafat. Ali memakamkannya di malam hari tanpa sepengetahuan Abu Bakar.”

Berkaitan dengan hal ini, Ummu Ja’far, putri Muhammad bin Ja’far, meriwayatkan permintaan Fathimah kepada Asma binti Umais menjelang kematiannya,

“Bila aku mati, aku ingin engkau dan Ali yang memandikanku. Jangan izinkan seorang pun masuk ke dalam rumahku!”

Ketika ia wafat, Aisyah datang. Asma berkata padanya, “Jangan masuk!” Aisyah mengadukan hal itu kepada Abu Bakar, “Khathamiyyah ini (seorang perempuan dari suku Khatam, Asma) mengahalangi aku untuk menengok putri Rasulullah.” Kemudian Abu Bakar datang. Ia berdiri di pintu dan berkata, “Hai Asma, apa yang menyebabkanmu tidak mengizinkan istri Rasulullah melihat putri Rasulullah?” Asma menjawab, “la sendiri memerintahkanku untuk tidak mengijinkan seorang pun masuk ke rumahnya.” Abu Bakar berkata, “Lakukan apa yang telah ia perintahkan!”

Muhammad bin Umar Waqidi berkata,

“Telah terbukti bahwa Ali melakukan shalat jenazah sendiri dan menguburkannya di malam hari, ditemani Abbas dan Fadhl bin Abbas, dan tidak memberitahu siapapun. Itulah alasan mengapa makam Fathimah tersebut tidak diketahui hingga kini.”

Jika kami harus menerima bahwa Fathimah tidak menuduh bahwa Abu Bakar melakukan kesalahan, lalu mengapa ia marah kepada Abu Bakar dan tidak mengizinkannya untuk menghadiri pemakamannya sebagaimana yang dinyatakan dalam wasiatnya. Anehnya, Bukhari dengan jelas menyebutkan bahwa Fathimah memerintahkan Ali untuk tidak memberitahu Abu Bakar.

Jika Fathimah penghulu seluruh perempuan, dan ia adalah satu-satunya perempuan di seluruh dunia Islam yang telah disucikan oleh Allah SWT, maka kemarahannya pastilah benar. Hal ini karena Abu Bakar berkata, “Semoga Allah menyelamatkanku/mengampuniku dari kemurkaan-Nya dan kemurkaan Fathimah!” (kata-kata yang sama juga digunakan oleh Bukhari). Kemudian Abu Bakar menangis keras ketika Fathimah berseru, “Aku akan mengutukmu di setiap shalatku!” Ia mendekati Fathimah dan berkata, “Lepaskan aku dari baiat ini dan kewajiban-kewajibanku!”

Satu hal yang perlu dikemukakan mengenai hal ini adalah bahwa Rasulullah pernah berkata ketika ia masih hidup bahwa sumber mata air ini (Fadak) diberikan kepada Fathimah.

Tanah Fadak diberikan kepada Nabi Muhammad karena tanah ini diperoleh dari perjanjian. Penghuni-penghuninya, menurut perjanjian, tetap tinggal di dalamnya tetapi menyerahkan ½ tanah mereka dan hasilnya.

Sejarahwan dan ahli Geografi Ahmad bin Yahya Baladzuri menuliskan bahwa Fadak adalah harta milik Nabi Muhammad karena kaum Muslimin tidak menggunakan kuda -kuda/unta-unta mereka di tanah tersebut.

Umar bin Khattab sendiri mengakui bahwa tanah Fadak adalah harta Nabi yang tidak dibagi-bagi ketika ia menyatakan,

“Harta milik Bani Nadhir adalah salah satu harta yang telah Allah anugrahkan kepada Nabi Muhammad, tidak ada kuda/ unta yang ditunggangi kecuali milik Rasulullah.”34

Apakah Nabi Menghadiahkan Tanah Itu kepada Fathimah?

Nabi Muhammad, atas perintah Allah Yang Maha Besar, meng¬hadiahkan tanah ini kepada Sayidah Fathimah, sebagaimana yang ditafsirkan Ulama Sunni terkemuka, Jalaluddin Suyuthi. Berikut ini latar belakang sejarah tanah Fadak dan tafsiran ayat 26 Surah al-Isra.

Ali diutus ke Fadak, sebuah pemukiman Yahudi yang tidak jauh dari Khaibar untuk melakukan penyerangan. Tetapi sebelum ada pertempuran, para penghuninya lebih memilih untuk menyerah, dengan memberi ½ kekayaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril datang membawa perintah Allah, dan turunlah ayat 26, Surah al- Isra, Dan berikanlah hak untuk keluarga(mu)!

Nabi Muhammad SAW bertanya tentang keluarganya. Jibril menyebutkan nama Sayidah Fathimah dan memerintahkan Nabi untuk memberikan tanah tersebut kepadanya sebagai penghasilan dari Fadak yang dimiliki sepenuhnya oleh Nabi karena diserahkan tanpa menggunakan kekerasan. Berdasarkan ayat tersebut, Nabi Muhammad memberikan tanah Fadak tersebut kepada Fathimah sebagai sumber penghasilan keluarga dan anak-anaknya.

Berdasarkan ayat Quran di atas, banyak ahli tafsir Sunni menuliskan bahwa ketika ayat ini diturunkan, Nabi Muhammad bertanya kepada Malaikat Jibril, “Siapakah keluargaku dan apakah hak mereka?” Malaikat Jibril menjawab. “Berilah Fadak kepada Fathimah karena itu adalah haknya dan apapun yang menjadi hak Allah dan Rasulnya atas Fadak, hak tersebut juga adalah haknya, maka berikanlah Fadak itu kepadanya.”

Tidaklah keraguan bagi kita bahwa tanah Fadak memang milik Sayidah Fathimah. Para ahli sejarah juga menuliskan bahwa dipastikan Abu Bakar telah merampas tanah Fadak dari Fathimah.

Mengenai pertanyaan anda yang anda ajikan bahwa kisah tersebut tidak terdapat pada kitab – kitab hadis, kami anjurkan anda merujuk pada kitab – kitab yang dinyatakan shahih dan dapat dipercaya oleh ulama – ulama Sunni berkenaan peristiwa yang anda sebutkan.

Fathimah memprotes Abu Bakar ketika Fadak dirampas darinya dan berkata “Engkau telah mengambil alih Fadak meskipun Rasulullah telah memberikannya padaku ketika ia masih hidup.”

Mendengar hal in Abu Bakar meminta Fathimah untuk menghadirkan saksi. Lalu, Ali dan Ummu Aiman bersaksi untuknya. (Ummu Aiman adalah seorang budak yang dibebaskan dan ibu susuan Nabi Muhammad. Ia adalah ibu Usamah bin Ziyad bin Harist Nabi Muhammad berkata, “Ummu Aiman adalah ibuku dan ibu setelah ibuku.” Nabi juga membuktikan bahwa ia adalah salah satu dari orang- orang yang masuk surga).

Akan tetapi, saksi yang diajikan Fathimah tidak dapat diterima Abu Bakar, dan tuntutan Fathimah ditolak karena berdasarkan pada pernyataan yang salah. Mengenai hal ini Baladzuri menulis, “Fathimah berkata kepada Abu Bakar, ‘Rasulullah telah memberi tanah Fadak secara adil kepadaku. Maka itu berilah bagianku!’ Kemudian Abu Bakar meminta saksi lain selain Ummu Aiman. la berkata, ‘Hai, putri Rasul! Engkau mengetahui bahwa saksi tidak dapat diterima kecuali oleh dua orang laki – laki dan dua orang perempuan.”

Selain Ali dan Ummu Aiman, Imam Hasan dan Imam Husain pun memberi kesaksian, tetapi ditolak karena kesaksian seorang anak dan masih kecil tidak dapat diterima karena membela orang tua mereka. Kemudian Rabah, budak Nabi Muhammad juga diajukan sebagai saksi untuk mendukung tuntutan Fathimah tetapi kesaksiannya pun ditolak. ”

Jika tanah tersebut merupakan pemberian, pastilah telah diberikan kepada Fathimah ketika ia masih hidup. Tetapi ini bukanlah hal yang kita semua ketahui. Jika kita menyebutkan hal ini adalah kehendaknya, maka hal ini bertentangan dengan ayat Quran tentang hukum waris.

Berbicara tentang hadis bahwa Abu Bakar memiliki alasan untuk mendukung keputusannya yang banyak disebut di kitab-kitab, berikut ini catatannya. Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair yang meriwayatkan dari Aisyah bahwa ia memberitahunya bahwa Fathimah, putri Nabi Muhammad, mengutus seseorang kepada Abu Bakar untuk meminta hak warisan yang ditinggalkan Nabi Muhammad kepadanya dari Allah SWT yang berada di Madinah, dari tanah Fadak dan 1/5 bagian dari hasil Khaibar.

Abu Bakar berkata bahwa, “Rasulullah berkata, ‘Kami para Rasul tidak mewariskan apapun, semua yang kami tinggalkan adalah sedekah

.’ Keluarga Nabi Muhammad hidup dari harta ini, tetapi, demi Allah, aku tidak akan mengubah sedekah Rasulullah sebagaimana halnya sewaktu Nabi Muhammad masih hidup. Aku akan melakukan apa saja yang biasa dilakukan Nabi Muhammad.”

Oleh karenanya, Abu Bakar menolak memberikan sesuatupun dari harta tersebut sehingga membuat marah Fathimah. la menjauhi dan tidak berbicara kepada Abu Bakar hingga akhir hayatnya. Ia hidup 6 bulan setelah Nabi Muhammad wafat. Ketika Fathimah wafat, Ali bin Abi Thalib tidak memberitahu Abu Bakar tentang kematiannya dan melaksanakan shalat jenazah sendiri.

Sekarang mari kita telaah pernyataan Rasulullah sebagaimana yang diungkap oleh Abu Bakar, “Kami (para Rasul) tidak mewariskan apapun. Semua yang kami tinggalkan adalah sedekah.”

Kata pewaris artinya seorang yang mendapat warisan atau secara sah mewarisi harta. Pernyataan pertama bertentangan dengan kenyataan karena berdasarkan sejarah, diakui bahwa Nabi Muhammad menerima warisan dari ayahnya. Riwayatnya adalah Ibnu Abdul Muthalib meninggalkan lima unta berwarna abu – abu dan sekelompok biri – biri kepada Ummu Aiman, yang kemudian diberikan kepada Nabi Muhammad.”

Apabila bagian pertama hadis tersebut terbukti salah, bagainiana bisa pernyataan kedua ‘Semua yang kami tinggalkan menjadi sedekah’ menjadi benar? Pernyataan ini juga dengan jelas bertentangan dengan ayat-ayat yang dinyatakan dalam Quran, Dan Sulaiman menerima pusaka dari Daud (QS an-Naml :16)

Nabi Sulaiman dan Daud adalah Rasul-rasul yang kaya raya, karena mereka adalah para raja di zamannya. Allah SWT juga berfirman;

(Zakaria berdoa kepada Allah), “Karuniailah aku seorang anak dari hadiratmu, yang akan mewarisi aku dan keluarga Yakub, dan jadikanlah ia! Ya,Tuhanku, seorang yang sangat Engkau ridhai. “

(QS Maryam : 5-6).

Ayat-ayat ini adalah contoh bahwa para Nabi meninggalkan warisan, dan nampaknya ayat-ayat tersebut bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar. Hadis riwayat Abu Bakar ini, entah palsu atau tidak, pasti tidak bertentangan dengan Quran. Sebuah peristiwa mungkin akan sangat membantu bila disebutkan di mana Ali mengutip ayat-ayat Quran seperti yang disebutkan di atas. Peristiwa tersebut adalah sebagai berikut.

Diriwayatkan oleh Ja’far bahwa Fathimah menemui Abu Bakar untuk menuntut warisannya. Ibnu Abbas juga menuntut warisannya dan Ali bin Abi Thalib pergi bersamanya. Abu Bakar berkata bahwa Rasululloh berkata beliau tidak mewariskan harta kami, semua yang kami tinggalkan adalah sedekah dan penghidupan yang ia berikan kepada mereka sekarang menjadi tanggung jawabnya.

Ali berkata, “Nabi Sulaiman adalah pewaris Nabi Daud. Nabi Zakaria berdoa kepada Allah, Anugrahilah aku seorang anak, yang akan mewarisiku dan keluarga Yakub.” Abu Bakar berkata, “Persoalan warisan Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang aku nyatakan . Demi Allah! Engkau tahu sebagaimana halnya aku.” Ali berkata, “Mari kita lihat apa yang dinyatakan kitab Allah!”

Riwayat tersebut membuktikan bahwa keturunan Nabi Muhammad tidak mengakui hadis ini, yang kemudian dikemukakan oleh Abu Bakar sebagai jawaban atas tuntutan Fathimah. Mereka menyangkalnya dengan menyebutkan ayat-ayat Quran yang menyatakan bahwa Allah SWT menjadikan para Rasul pewaris satu sama lain.

“Ada banyak contoh ketika Abu Bakar tidak meminta menghadirkan saksi ketika orang-orang meminta dipenuhinya janji Rasul. Seperti biasa kami akan bersandarkan pada sumber hadis shahih bagi saudara- saudara Sunni.

Shahih Bukhari hadis 3.548 (hat. 525); diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Ali bahwa Jabir bin Abdillah berkata,

“Ketika Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menerima harta dari Ala Hadrami.” Abu Bakar berkata, “Barang siapa memiliki hutang uang atas nama Nabi Muhammad atau dijanjikan sesuatu olehnya ia harus datang kepadaku (agar kami membayarnya dengan benar).” (Jabir menambahkan), ‘Aku berkata (kepada Abu Bakar), “Rasulullah menjanjikanku uang sebanyak ini, sebanyak ini dan sebanyak in (sambil merentangkan tangannya tiga kali). Kemudian Abu Bakar menghitung uang dan menyerallkan 500 keping emas, lalu 500 keping emas dan 500 keping emas.”

Pada keterangan hadis ini, Ibnu Hajar Asqalani dan Ahmad Aini Hanafi menulis,

Hadis ini mengarah pada kesimpulan bahwa bukti satu orang sahabat yang adil dapat diterima sebagai bukti yang kuat meskipun untuk kepentingan kepentingan sendiri, karena Abu Bakar tidak meminta Jabir untuk menghadirkan saksi sebagai bukti permintaannya.”

Jika permintaan Jabir dipenuhi dengan didasarkan pada kesan yang baik, dianggap benar, dan tanpa perlu menghadirkan saksi atau menunjukkan bukti, lalu apa yang menyebabkan tidak diperkenankannya tuntutan Fathimah berdasarkan kesan yang sama-sama baik? Jika kesan yang baik muncul pada kasus Jabir sedemikian hingga bila ia berkata bohong ia akan merugi, lalu mengapa tidak yakin kalau Fathimah tidak berkata ustman terhadap perkataan Nabi Muhammad demi sebidang kecil tanah?

Pertama-tama, keterusterangan dan kejujurannya sudah mrm¬buktikan kebenaran tuntutannya. Di samping itu, ada kesaksian Ali dan Ummu Aiman selain bukti lainnya. Telah dinyatakan bahwa tuntuian itu tidak dapat diterima karena lemahnya kedua saksi dan karena Nabi Muhammad menetapkan aturan kesaksian pada Surah al-Baqarah ayat 282; `….maka majikan dua orang saksi di antara laki-laki dan jika tidak ada dua orang lelaki, maka (majikanlah) seorang lelaki dan dua orang perempuan…’

Jika aturan ini universal dan umum berarti aturan ini harus diterapkan pada setiap kesempatan, tetapi pada beberapa peristiwa, aturan ini tidak di terapkan. Contohnya ketika seorang Arab berselisih dengan Nabi Muhammad mengenai seekor unta. Khuzaimah bin Tsabit Anshari memberi saksi untuk Nabi Muhammad. Saksi ini dinyatakan sama dengan dua orang saksi.

Karena kejujuran dan kebenaran kesaksiannya Nabi Muhammad memberinya gelar Dhusy Syahadatayn (seorang yang kesaksiannya setara dua orang saksi).

Dengan demikian, keuniversalan ayat mengenai saksi tidak Hi¬pengaruhi oleh tindakan juga tidak dianggap bertentangan dengan perubahan saksi. Jadi, jika menurut Nabi Muhammad kesaksian untuknya sama dengan dua saksi, lalu mengapa kesaksian Ali dan Ummu Aiman tidak dianggap kuat bagi Fathimah ditilik dari keagungan moral serta kebenarannya? Di samping itu, ada sebuah hadis yang disebut oleh lebih dari dua brlas orang sahabat bahwa Nabi Muhammad biasa memutuskan masalah-masalah dengan kekuatan satu saksi dan meminta sumpahnya.

Telah di jelaskan oleh beberapa sahabnt Nabi Muhammad dan beberapa ulama fikih bahwa keputusan ini secara khusus berkaiiun Hengan hak, kepemilikan dan perjanjian, dan keputusan ini diterapkan uleh tigo orang khalifah; Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.”46

Dua hal yang harus kami sampaikan kepada anda adalah;

1) Mengapa Abu Bakar tidak meminta saksi saat ia memberikan keping uang emas yang sesuai dengan janji Nabi Muhammad SAW. Mengapa ia menerima pernyataan mereka bahwa Nabi telah menjanjikan sesuatu?,

2) Berbeda dengan Fathimah, ketika putri Nabi Muhammad yang ia sebut sebagai penghulu perempuan semesta alam, menuntut Fadak. Mengapa Abu Bakar meminta Fathimah menghadirkan saksi di hadapan khalifah tetapi beberapa dalih atau saksi-saksi itu mereka ditolak?

Apakah Abu Bakar Membuatkan Fatimah Murka?

 

Menjawab fitnah Wahabi dalam artikel “Apakah Abu Bakar Membuat Fatimah Murka?”
Jawapan kepada nasibi di laman web Hakekat.com
http://hakekat.com/component/option,com_docman/task,doc_download/gid,20/
.img1 { max-width:400px; width: expression(this.width > 400 ? 400: true); background:#f0f0f3 } .img2 { max-width:600px; width: expression(this.width > 600 ? 600: true); background:#f0f0f3 }

Polemik dalam garis besar sejarah Islam, adalah suatu catatan kelam yang telah memilih umat menjadi dua kelompok besar.

 

Kelompok pertama, adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini, dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran cetek al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, selain dari sajian ratusan jika tidak ribuan, hadis-hadis palsu keutamaan para sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun mantik yang sihat.

 

Manakala kelompok kedua adalah mereka yang menggolongkan para sahabat berdasarkan ciri-ciri mereka:

a. Sahabat yang jujur dan bertakwa

b. Sahabat yang munafik

c. Sahabat yang menyakiti Nabi saaw dan selalu membangkang

Dalam tulisan ini, perbahasan yang dibawakan adalah mengenai polemik yang berlaku sesudah wafatnya Nabi Muhammad saaw, di antara puteri Baginda saaw yang tercinta, Penghulu Wanita Semesta Alam, Sayyidah Fatimah az-Zahra (as) dengan Abu Bakar bin Abi Quhafah mengenai persoalan perwarisan Tanah Fadak dan kemarahan Sayyidah Fatimah az Zahra (as).

 

Para pembela sahabat kebingungan menghadapi kemelut ini, kerana ia membabitkan dua pihak, yang menurut mereka berstatus besar dalam pandangan Islam.

Di satu pihak, berdirinya Sayyidah Fatimah az-Zahra (as), yang bangkit menuntut haknya ke atas tanah Fadak. Kedudukan tinggi dan mulia Sayyidah Fatimah az-Zahra (as) telah disabdakan oleh Baginda Rasul (saw), antaranya:

1. Nabi saaw bersabda: “Yang paling aku cintai dari Ahlul Baitku adalah Fatimah”

(Al-Jami’ al-Sagheer, jilid 1, #203, hlm. 37; Al-Sawaiq Al-Muhariqa, hlm. 191; Yanabi’ Al-Mawadda, jilid. 2, bab. 59, hlm. 479; Kanzul Ummal, jilid. 13, hlm. 93).

2. Nabi saaw bersabda: “Empat wanita pemuka alam adalah ‘Asiah, Maryam, Khadijah dan Fatimah”

(Al-Jami’ Al-Sagheer, jilid 1, #4112, hlm 469; Al-Isaba fi Tamayyuz Al-Sahaba, jilid 4, hlm 378; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 60; Dakha’ir Al-Uqba, hlm 44).

3. Nabi saaw bersabda: ” Fatimah adalah Penghulu wanita syurga”

(Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 94; Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Fadha’il, Bab kelebihan Fatimah; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 61).

4. Nabi saaw bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, yang membuatnya marah, membuatku marah”

(Sahih Muslim, jilid 5, hlm 54; Khasa’is Al-Imam Ali oleh Nisa’i, hlm 121-122; Masabih Al-Sunnah, jilid 4, hlm 185; Al-Isabah, jilid 4, hlm 378; Siar Alam Al-Nubala’, jilid 2, hlm 119; Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 97; perkataan sama diguna dalam Al-Tirmidhi, jilid 3, bab kelebihan Fatimah, hlm 241; Haliyat Al-Awliya’, jilid 2, hlm 40; Muntakhab Kanzul Ummal, catatan pinggir Al-Musnad, jilid 5, hlm 96; Maarifat Ma Yajib Li Aal Al-Bait Al-Nabawi Min Al-Haqq Alaa Men Adahum, hlm 58; Dhakha’ir Al-Uqba, hlm 38; Tadhkirat Al-Khawass, hlm 279; Yanabi^ Al-Mawadda, jilid 2, bab 59, hlm 478).

Dan di satu pihak lagi, berdirinya Abu Bakar, tokoh yang mereka pandang kanan sesudah Rasulullah saaw.

Polemik bermula, saat Abu Bakar dilantik menjawat jabatan Khalifah, selepas pertelingkahan di Saqifah Bani Sa’idah, antaranya, Umar dan Abu Ubaidah di satu pihak dan kaum Ansar, di pihak yang lain.

Sayyidatina Fatimah az-Zahra (as), telah menuntut haknya ke atas tanah Fadak, yang menurut beliau adalah hadiah pemberian dari bapanya Rasulullah (saw), hal yang mana dinafikan oleh Abu Bakar.

Benarkah Fadak adalah pemberian Rsulullah (saw) kepada puteri Baginda (saw)? Mari kita perhatikan riwayat berikut:

Telah diriwayatkan dengan sanad yang Hasan bahwa Rasulullah saaw di masa hidup Beliau telah memberikan Fadak kepada Sayyidatina Fathimah as. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad Abu Ya’la 2/334 hadis no. 1075 dan 2/534 hadis no. 1409

قرأت على الحسين بن يزيد الطحان حدثناسعيد بن خثيم عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال : لما نزلت هذهالآية { وآت ذا القربى حقه } [ الاسراء : 26 ] دعا النبي صلى الله عليه وسلم فاطمة وأعطاها فدك

Qara’tu ‘ala Husain bin Yazid Ath Thahan yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Khutsaim dari Fudhail bin Marzuq dari Athiyyah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “ketika turun ayat dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya [Al Isra ayat 26]. Rasulullah saaw memanggil Fathimah dan memberikan Fadak kepadanya”

Lalu, saat Abu Bakar menjawat jabatan Khalifah, dia telah merampas Fadak dari Sayyidatina Fatimah az Zahra as dan memiliknegarakan Fadak.

 

Hadis tentang Fadak

Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Namun, di sini, kita lihat hadis tersebut dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345

 

Dari Aisyah, Ummul Mukminah (ra), ia berkata “Sesungguhnya Fatimah (as) binti Rasulullah (saw) meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah (saw) supaya membahagikan kepadanya harta warisan bahagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah (saw) dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain: kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain: Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah (saw), saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah (saw) bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.

 

Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali (ra) yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian ia menshalatinya.

Hadis ini dan yang serupa dengannya, benar benar membuat para pencinta Abu Bakar tidak senang duduk, jika mereka menerima perilaku Abu Bakar ini ke atas Sayyidatina Fatimah az-Zahra (as), berarti mereka juga harus membenarkan kesan dari perbuatan Abu Bakar itu dengan hadis Nabi saaw berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Saaw berkata: “Fatimah bagian diriku, barang siapa memarahinya berarti memarahiku.” (HR Bukhori, Fadhoilu Shahabat, Fathul Bari 7/78 H. 3714)

 

Kelemahan riwayat Ali bin Abi Talib melamar Puteri Abu Jahal

Namun, Iblis senantiasa mempunyai tentera tenteranya dari kalangan jin dan manusia, yang bekerja tanpa kenal lelah dan tidak malu pada Tuhan serta tidak takut pada Hari Pembalasan. Mereka harus mencari kambing hitam untuk dikorbankan untuk menyelamatkan Abu Bakar. Hasil dari kesungguhan mereka itu, terhasillah hadis palsu berikut yang diangkat sebagai sabda Nabi saaw dan disucikan:

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadis al-Miswar bin Makhromah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul (saw) berkatalah Fatimah: “Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal,” maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: “Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki.” Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)

“Hadis” ini membuatkan para pencinta Abu Bakar tenang, kerana mereka akhirnya mendapatkan kambing hitam terbesar, iaitu suami kepada puteri Nabi saaw sendiri Imam Ali (as). Dengan “hadis” ini, mereka berkata…”Jika ada yang membuat puteri Nabi (saw) marah, maka Ali adalah orang pertama yang membuatnya marah”

Dengan cara ini, mereka bermaksud membungkam mulut sesiapapun yang cuba mendiskredit Abu Bakar dalam persoalan Fadak yang membuatkan Sayyidatina Fatimah az Zahra as marah. Namun benarlah firman Allah berikut:

وَمَكَرُوا وَ مَكَرَ اللهُ وَ اللهُ خَيْرُ الْماكِرينَ

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS Aali Imran:54.)

Hadis ini hakikatnya bermasalah dari banyak sisi, jika kita benar-benar teliti, inilah hadis yang dikutip daripada perawi yang sering bershalawat ke atas Muawiyah. Kemarahan Fathimah adalah kemarahan Rasulullah, didapati bahawa ianya tidak ada kaitan langsung dengan kisah dongeng tersebut.

فاطمة بضعة من فمن أغضبها أغضبني

صحيح البخاري: ج‏4 ص‏210 (ص‏710، ح‏3714)، كتاب فضائل الصحابة، باب 12، باب مناقب قرابة رسول الله و ج 7 ص 219 (ص‏717 ح‏3767)، كتاب فضائل الصحابة، باب 29، باب مناقب فاطمة

“Fathimah adalah sebahagian daripadaku, barangsiapa membuatkannya marah, maka dia membuatkan aku marah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan tidak disebut tentang Ali melamar puteri Abu Jahal. Muslim juga meriwayatkan hadis ini:

إنما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما آذاها

صحيح مسلم: ج‏7 ص‏141 ح‏6202، كتاب فضائل الصحابة، باب 15 باب فضائل فاطمة بنت النبي

“Hanyalah Fathimah sebahagian daripada diriku, Aku merasa disakiti atas apa yang dia disakiti”. Namun tetap sahaja tidak disebut kisah dongeng tersebut. Hakim Nisyaburi juga menulis hadis ini:

إن الله يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك

المستدرك: 3 / 153

“Sesungguhnya Allah turut murka dengan kemurkaanmu, dan meridhai dengan keridhaanmu” tetap saja tidak ada menyebut kisah dongeng tersebut.

Seluruh pengriwayatan Ahlusunnah tentang hadis Ali melamar puteri Abu Jahal yang meragukan itu telah diriwayatkan oleh Miswar bin Mukhramah. Zahabi dalam Sirul A’lam al-Nubala berkata: “Beliau adalah pendukung kuat Muawiyah” Urwah bin Zubair berkata:

وكان يثني ويصلي على معاوية، قال عروة: فلم أسمع المسور ذكر معاوية إلاّ صلّى عليه.

“Tidak sekali-kali aku mendengar Miswar menyebut Muawiyah melainkan dengan iringan shalawat ke atasnya (Muawiyah)” Sirul A’lam al-Nubala jilid 3 halaman 392.

Bershalawat ke atas Nabi menyebabkan kegembiraan Ahlul Bait namun sekarang apakah yang akan terjadi jikalau bershalawat ke atas Muawiyah? Bahkan dalam kitab Ahlusunnah menerangkan kriteria ini adalah tanda-tanda seorang Nashibi. Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis:

والنصب، بغض علي وتقديم غيره عليه .

Nashibi adalah Baghdh (membenci) ‘Ali dan mengutamakan selainnya (Muawiyah) ke atasnya. -Muqaddimah Fath al-Bari, halaman 460

Saat semua upaya untuk menyandingkan musuh-musuh Ahlul Bait (as) sejajar dengan kedudukan dan keutamaan mereka telah menemukan jalan buntu, maka, para penyembah Bani Umayyah berusaha keras menciptakan hadis-hadis palsu yang bisa mendiskreditkan kemuliaan Ahlul Bayt (as).

Untuk itu, watak-watak yang tidak malu pada Tuhan dan tidak takut pada hari pembalasan amat diperlukan. Dengan menawarkan ganjaran duniawi dan nama yang harum di kalangan manusia, maka beraturlah sekelompok syaitan dalam tubuh-tubuh manusia, di halaman istana Bani Umayyah bagi mempersembahkan bakti mereka dan menjual imannya.

Antara tokoh andalan dalam kelompok ini, yang benar-benar berani adalah Miswar bin Makhramah, yang tidak punya sekelumit iman menciptakan hadis “Niat pernikahan Imam Ali (as) dengan puteri Abu Jahal”, bagi mendapatkan syafaat daripada tuannya Bani Umayyah.

Hadis tentang niat pernikahan Imam Ali as dengan puteri Abu Jahal itu, diangkat menjadi kisah suci dan disahihkan oleh ulama-ulama hadis Sunni, yang berlumba-lumba meriwayatkannya di lembaran-lembaran kitab hadis mereka.

Kita lihat sekilas lalu riwayat tersebut:

Disebutkan bahwa Imam Ali (as). berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan isteri kedua disamping sayyidah Fatimah (as). kemudian berita tersebut terdengar oleh Fatimah (as). dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali (as). kepada Nabi; ayah Fatimah (as), seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal. Mendengan berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyikitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya”

Riwayat ini bisa anda temukan didalam Sahih Bukhari pada beberapa bab, antaranya:

1. Kitab al Khums ( dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162).

2. Kitab an Nikah (dengan Syarah Ibnu Hajar 9\268-270)

3. Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi) (dengan Syarah Ibnu Hajar 7\67)

4. Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-isteri (dengan Syarah Ibnu Hajar 8/152)

Bukhari telah memilih jalur Miswar saat meriwayatkan kisah ini, maka, marilah kita imbas, siapakah Miswar bin Makhramah, yang menjadi perawi hadis ini.

 

1. Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh? (Sahih Bukhari dengan Syarah Ibnu Hajar 6/161-162)

ولد بمكّة بعد الهجرة بسنتين فقدم به المدينة في عقب ذي الحجة سنة ثمان ومات سنة أربع وستين

تهذيب التهذيب: ج‏10 ص‏137 . وانظر: المزي، تهذيب الكمال: ج‏27 ص‏581 . الذهبي، سير أعلام النبلاء: ج‏3 ص 394

2. Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun. (Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya)

وكان مولده بعد الهجرة بسنتين، وقدم المدينة في ذي الحجة بعد الفتح سنة ثمان، وهو غلام أيفع ابن ست سنين

ابن حجر، الإصابة: ج‏6ص 94

Ustaz Taufiq Abu ‘Ilm pembantu kanan Keadilan Mesir mempunyai kitab berjudul Fathimah Azzahra yang diterjemah oleh Dr Sadiqi. Inilah kitab yang cukup cantik, paling tepat, sungguh berilmiah dan penulisnya berdalil tentang Fathimah Zahra. Hingga kini susah ditemui buku sebagus ini. Dalam halaman 146 beliau berkata pinangan Ali terhadap puteri Abu Jahal berlaku dalam tahun kedua Hijrah.

 

Menurut pengkisahan yang ada pada Ustaz Abu Ilm, Miswar ini baru masuk ke Madinah setelah empat tahun peristiwa lamaran tersebut. Namun entah dari mana pula Ibnu Hajar Asqalani mendapat tahu bahawa peristiwa lamaran ini berlaku dalam tahun ke delapan Hijrah. Mungkin Ibnu Hajar boleh mengetahui peristiwa ghaib, atau melalui malaikat atau juga melalui perantara jin yang mengirim wahyu kepadanya. Beliau berkata Imam Ali melamar puteri Abu Jahal setelah tahun kedelapan Hijrah iaitu Miswar masih berusia enam tahun. Ketika itu Miswar sendiri berkata:

وانا محتلم…

“Saya telah bermimpi” -Tahzib al-Tahzib jilid 10 halaman 138.

Iaitu saya telah baligh. Ini juga bermaksud seseorang itu telah membesar dan mendapat mimpi; atau pun ia sudah siap untuk berkahwin. Apakah anak seusia enam tahun boleh berkata ‘Ana Muhtalam’?

Ibnu Hajar menyedari hal ini dan berkata: Muhtalam ini bukanlah bermaksud seseorang itu telah sampai ke usia baligh, akan tetapi dari sudut bahasa menyatakan ia telah berakal. Namun di dalam dunia apakah ada ribuan anak kecil sepintar ini?

Perkataan Muhtalam ini jauh bezanya dengan berakal dari sudut bahasa seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Apakah Miswar di usia begitu dapat duduk di tepian minbar dan menukilkan hadis? Marilah kita lihat dalam sahih Muslim meriwayatkan bahawa Miswar bin Mukhramah hanya memakai cawat dan hadir mengangkut batu untuk membina masjid, ikatan cawat tersebut terbuka dan mendedahkan bagian tubuhnya itu. Rasulullah bersabda:

ارجع إلى ثوبك فخذه ولا تمشوا عراة

صحيح مسلم، باب الاعتناء بحفظ العورة، ج 1 ص 268

Pulanglah memakai pakaianmu, dan janganlah berjalan bertelanjangan. – Sahih Muslim Bab I’tina bi hifz ‘aurat, jilid 1 hal 268.

Pertanyaan kita kepada Ibnu Hajar, apakah ini dikatakan pintar? Di usia enam tahun itu, ke manakah akalnya ketika ia bertelanjangan, berjalan di depan orang ramai dan Rasulullah, sehingga ditegur dan disuruh pulang memakai pakaian?

Hadis Miswar ternyata masih diragui di sudut lain kerana dia seorang sahaja yang meriwayatkan nabi datang ke masjid dan duduk di atas minbar sedangkan ramai lagi di kalangan ansar dan muhajirin tidak meriwayatkan hadis ini. Hendaklah kita katakan bahawa Miswar sahaja yang berada di dalam masjid ketika itu.

Kembali kepada persoalan Fadak. Apabila pencinta-pencinta Abu Bakar tidak dapat mematikan kisah marahnya Sayyidatina Fatimah az Zahra as terhadap Abu Bakar, mereka lalu membuat hadis tandingan, bahawa sebelum Sayyidatina Fatimah az Zahra as wafat, Abu Bakar telah memohon maaf darinya dan beliau as telah memaafkan Abu Bakar.

Benarkah kisah ini. Mari kita periksa riwayat tersebut:

 

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bait.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)

Di sini Wahabi juga turut mengakui Fathimah marah terhadap Abu Bakar pada awalnya. Namun mereka mengatakan kedua Abu Bakar dan Umar mendapat keridhaan Fathimah di akhir hayat hidupnya seperti yang dinukilkan oleh Baihaqi.

Hakikatnya ketiadaan ridhanya Sayyidah Fathimah adalah asli dan berasas serta tidak dapat ditolak. Kemarahan Fathimah ini mencetuskan pertanyaan apakah sah kekhalifahan mereka berdua? Mengapa Sayyidah Fathimah penghulu wanita syurga ini tidak meridhai dan marah kepada mereka? Sedangkan menurut riwayat yang sahih sanadnya dalam kitab paling sahih Ahlusunnah mengatakan keridhaan Fathimah adalah keridhaan Rasulullah, kemarahan beliau adalah kemurkaan Allah.

Kerana itu pendukung Muawiyah telah gigih bekerja dan mengarang cerita untuk membuktikan bahawasanya kedua syaikh ini telah menemui beliau di akhir riwayat hidupnya memohon keridhaan dan Fathimah juga telah meridhai mereka!

 

Pertamanya: Sanad riwayat tersebut adalah Mursal; Sya’bi adalah daripada kalangan tabi’in dan dia sendiri tidak menyaksikan peristiwa yang berlaku. Riwayat ini sendiri mempunyai masalah.

 

Kedua: Jikalaulah kita anggap hadis daripada tabi’in ini dapat diterima sekalipun namun Riwayat daripada Sya’bi juga tidak dapat dipegang kerana Sya’bi adalah memusuhi Amirulmukminin dan seorang Nashibi. Kerana itu Bilazari dan Abu Hamid Ghazali menulis tentang Sya’bi seperti berikut:

عن مجالد عن الشعبي قال: قدمنا على الحجاج البصرة، وقدم عليه قراء من المدينة من أبناء المهاجرين والأنصار، فيهم أبو سلمة بن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه… وجعل الحجاج يذاكرهم ويسألهم إذ ذكر علي بن أبي طالب فنال منه ونلنا مقاربة له وفرقاً منه ومن شره….

البلاذري، أحمد بن يحيى بن جابر (متوفاي279هـ) أنساب الأشراف، ج 4، ص 315؛

الغزالي، محمد بن محمد أبو حامد (متوفاي505هـ)، إحياء علوم الدين، ج 2، ص 346، ناشر: دار االمعرفة – بيروت.

Daripada Mujalid, daripada Sya’bi berkata: Kami telah memasuki kumpulan haji Bashrah. Ada sekumpulan Qari Madinah dari kalangan anak-anak Muhajirin dan Anshar yang disertai oleh Abu Salamah bin ‘Abdul Rahman bin ‘Auf… Kumpulan haji sibuk berbual-bual tentang Ali bin Abi Talib dan mencercanya, kamipun turut mencerca Ali…

Ansab al-Asyraf, jilid 4 halaman 315, Ihya ‘Ulumuddin, jilid 2 halaman 346

Apakah kita dapat berhujjah dengan riwayat seorang Nashibi? Seterusnya mari kita lihat kesilapan yang semakin parah dilakukan oleh Hakekat.com yang cuba-cuba menukilkan hadis dari kitab Syiah untuk menafikan hak Fathimah yang menuntut tanah Fadak. Demi membela Syeikh mereka, mereka membawa bawa hadis-hadis Syiah, namun usaha mereka terkesan sia sia.

“Dari Ali dari ayahnya, dari Jamil dari kerabatnya dan Muhammad bin Muslim dari Abi Jafar berkata: “Wanita-wanita itu tidak dapat mewarisi sedikitpun dari tempat tingal di muka bumi ini.” (Al Kaafi juz 7 hal 128)

Pertanyaan untuk kaum Syi’ah:

– Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan

terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?

– Kenapa Abu Bakar dituntut untuk melakukan hal yang

diharamkan ?

– Kenapa Fatimah tidak mengikuti perintah-perintah Rasul

setelah tuntutannya terhadap warisan ?”

Golongan Nashibi menzahirkan diri mereka sebagai pendusta. Seakan-akan tidak ada orang yang akan meneliti kitab Syiah untuk melihat dakwaan mereka. Hadis tersebut telah kami temui dalam kitab al-Kafi jilid 7 halaman 175:

 

علي بن إبراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس، عن محمد بن حمران، عن زرارة عن محمد بن مسلم، عن أبي جعفر عليه السلام قال: النساء لا يرثن من الارض ولا من العقار شيئا

Mengapa golongan Nashibi tidak mengeluarkan hadis di halaman seterusnya? Perawi yang sama Muhammad bin Muslim meriwayatkan:

أن المرأة لا ترث من تركة زوجها من تربة دار أو أرض

“Sesungguhnya perempuan tidak mewarisi apa yang ditinggalkan suaminya daripada tanah rumah atau tanah”. al-Kafi jilid 7 halaman 176

Maka telah terang kebenaran bagaikan pancaran matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, perempuan yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah isteri, bukannya seorang puteri tidak mewarisi harta seorang ayah.

Wahai Nashibi, apakah anda membaca keseluruhan kitab Syiah lalu hanya mengambil sebahagian hujjah semata-mata untuk memangkas kebenaran? Tidakkah kedatangan hak akan menyirnakan kebathilan? Anda memutar belit kenyataan namun hakikatnya pembaca sekarang akan menghukum anda sebagai pendusta.

Nashibi sekali lagi mengambil hadis Syiah:

 

“Ternyata riwayat di atas ada dalam kitab Syi’ah, diriwayatkan Al Kulaini dalam kitab-kitab Al Kaafi dari Albukthtari dari Abi Abdillah Jafar Asshadiq Ra sesungguhnya ia berkata: “Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar melainkan mewariskan beberapa hadist, barang siapa telah mengambil sebagiannya berarti telah mengambil bagian yang sempurna.” Warisan yang benar adalah warisan ilmu dan kenabian dan kesempurnaan kepribadian bukan mewariskan harta benda dan keuangan.”

Hadis ini ditemui dalam kitab al-Kafi bab sifat ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama dan inilah matan Arabnya:

 

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن محمد بن خالد، عن أبي البختري، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: إن العلماء ورثة الانبياء وذاك أن الانبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وانما اورثوا أحاديث من أحاديثهم، فمن أخذ بشئ منها فقد أخذ حظا وافرا، فانظروا علمكم هذا عمن تأخذونه؟ فإن فينا أهل البيت في كل خلف عدولا ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين

Pengriwayatan ini tidak sedikitpun menceritakan tentang warisan seorang bapa kepada anak, akan tetapi warisan ilmu kenabian kepada ulama. Kerana itulah al-Kulaini meletakkan hadis ini dalam bab ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama. Riwayat ini menumpukan perhatian kepada urusan kenabian bukanlah mengumpulkan harta dunia seperti tamakkan dirham atau dinar. Jelas sekali ia juga tidaklah bermaksud nabi Muhammad tidak meninggalkan warisan harta untuk puterinya namun para ulama mewarisi ilmu nabi, bukan keduniaan.

Tidak ada keridhaan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar menurut kitab yang paling sahih di kalangan Ahlusunnah

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar lebih terang dari sinaran matahari dan tidak seorangpun boleh mengingkarinya. Dalam kitab paling sahih di kalangan Ahlusunnah tercatat kata-kata Fathimah yang marah terhadap Abu Bakar.

Dalam kitab Abwab al-Khumus:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فلم تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حتى تُوُفِّيَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 3،‌ ص 1126، ح2926، باب فَرْضِ الْخُمُسِ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Maka telah marah Fathimah puteri Rasulullah (saw) dan meninggalkan Abu Bakar, marahnya berlanjutan sehingga baginda wafat.

Dalam kitab al-Maghazi, bab Ghurwah Khabir, Hadis 3998:

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ على أبي بَكْرٍ في ذلك فَهَجَرَتْهُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى تُوُفِّيَتْ

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Fathimah marah pada Abu Bakar dan beliau tidak berbicara lagi dengannya sehingga wafat – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis ke 3998

Dalam kitab al-Faraidh hadis 6346:

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى مَاتَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 6، ص 2474، ح6346، كتاب الفرائض، بَاب قَوْلِ النبي (ص) لا نُورَثُ ما تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Maka Fathimah meninggalkannya (Abu Bakar) dan tidak lagi berbicara dengannya sehingga meninggal dunia – Sahih Bukhari, jilid 6 halaman 2474, hadis ke 6346

Dalam riwayat ibnu Quthaibah, Fathimah tidak mengizinkan mereka masuk sewaktu Abu Bakar dan Umar datang untuk berziarah. Mereka terpaksa memohon Imam Ali (as) menjadi perantara namun gagal. Bahkan Fathimah memberikan maklum balas seperti berikut:

نشدتكما الله ألم تسمعا رسول الله يقول «رضا فاطمة من رضاي وسخط فاطمة من سخطي فمن أحب فاطمة ابنتي فقد أحبني ومن أ رضى فاطمة فقد أرضاني ومن أسخط فاطمة فقد أسخطني

Kami bersumpah demi Allah atas anda berdua, apakah kalian tidak dengar apa yang Rasulullah katakan: Ridha Fathimah adalah ridhanya aku, marahnya Fathimah adalah marahnya aku, maka barangsiapa yang menyebabkan keridhaan anakku Fathimah maka ia pun membuatkan aku ridha, barangsiapa yang menyebabkan kemarahan Fathimah maka ia membuatkan aku marah

نعم سمعناه من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Kedua mereka menjawab: Iya kami telah dengari ia daripada Rasulullah (saw).

Setelah itu Fathimah berkata:

فإني أشهد الله وملائكته أنكما أسخطتماني وما أرضيتماني ولئن لقيت النبي لأشكونكما إليه.

Maka sesungguhnya saya bersaksi demi Allah dan malaikatnya, sesungguhnya kalian berdua menyebabkan saya marah dan membuatkan saya tidak ridha, saya akan mengadu tentang kalian berdua ketika pertemuan saya dengan nabi.

Tidak cukup dengan ini Fathimah menambah lagi:

والله لأدعون الله عليك في كل صلاة أصليها.

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، الإمامة والسياسة، ج 1،‌ ص 17، باب كيف كانت بيعة علي رضي الله عنه، تحقيق: خليل المنصور، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت – 1418هـ – 1997م.

Demi Allah, akan saya mengutuk anda setiap kali selesai shalat. – Al-Imamah wa siyasah, jilid 1 halaman 17

Dengan kenyataan ini bagaimanakah dapat kita percaya bahawa Sayyidah Fathimah meredhai mereka berdua? Apakah riwayat Bukhari yang diutamakan atau riwayat Baihaqi? apakah ia juga diriwayatkan oleh seorang musuh Ali bin Abi Talib yang menyaksikan sendiri peristiwa itu?

Jikalau Fathimah az-Zahra meridhai mereka berdua, mengapa beliau meninggalkan wasiat agar ia dikebumikan di waktu malam serta jangan di kasi khabar kepada orang yang menzaliminya untuk mengiringi dan menshalati jenazahnya?

Muhammad bin Ismail al-Bukhari menulis:

وَعَاشَتْ بَعْدَ النبي صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ فلما تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلًا ولم يُؤْذِنْ بها أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عليها

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Fathimah hidup setelah wafatnya nabi (saw) selama enam bulan. Maka ketika ia wafat, suaminya Ali bin Abi Talib mengkebumikannya di waktu malam dan tidak diizinkan Abu Bakar menshalatinya. – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis 3998, pencetak Dar Ibn Kathir – Beirut

Ibu Qutaibah al-Dainuri menulis dalam Takwil Mukhtalif al-Hadis:

Fathimah (ra) telah meminta harta pusaka ayahnya daripada Abu Bakar. Apabila ia tidak memberikan pusaka kepadanya, Fathimah bersumpah tidak akan berbicara lagi dengannya buat selama-lamanya, dan mewasiatkan agar ia dikebumikan di waktu malam supaya tidak dihadiri Abu Bakar. Maka beliau dikebumikan di waktu malam.

وقد طالبت فاطمة رضي الله عنها أبا بكر رضي الله عنه بميراث أبيها رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما لم يعطها إياه حلفت لا تكلمه أبدا وأوصت أن تدفن ليلا لئلا يحضرها فدفنت ليلا

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، تأويل مختلف الحديث، ج 1،‌ ص 300، تحقيق: محمد زهري النجار، ناشر: دار الجيل، بيروت، 1393، 1972.

Takwil Mukhtalaf al-Hadis, jilid 1 halaman 300

Abdul Razak Shan’ani menulis:

عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم دفنت بالليل قال فر بها علي من أبي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء

Daripada Hasan bin Muhammad berkata: bahawa Fathimah binti Nabi (saw) telah dikebumikan di waktu malam supaya Abu Bakar tidak menshalatinya. Di antara mereka berdua ada sesuatu.

Dia menambah:

عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك.

الصنعاني، أبو بكر عبد الرزاق بن همام (متوفاي211هـ)، المصنف، ج 3،‌ ص 521، ح 6554 و ح 6555، تحقيق حبيب الرحمن الأعظمي، ناشر: المكتب الإسلامي – بيروت، الطبعة: الثانية، 1403هـ.

Daripada Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti ini dengan mengatakan beliau (Fathimah) mewasiatkan seperti itu (dimakamkan di waktu malam). – Al-Mushannaf al-Maktabah al-Islamiyah – Beirut, jilid 3 halaman 521, hadis 6554 dan 6555, cetakan kedua 1403 H

 

Namun ada juga orang berkata: Abu Bakar setelah itu menyesal dan bertaubat, dalam menjawab perkara ini hendaklah kita katakan: Taubat itu ada waktu yang bermanfaat dan berharga, diiringi dengan penyesalan mendalam dalam keinginan insani. Jikalau sudah berlalu ia hendaklah membayar ganti rugi sebagai tanda sesal seorang yang bertaubat dan hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Pertanyaan kami ialah apakah Abu Bakar mengembalikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fathimah sehingga taubatnya menjadi taubat Nasuha yang diterima tuhan?

 

Kesimpulan

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan Umar ini berlarutan sehingga akhir hayatnya dan beliau tidak sekali-kali meridhai mereka. Permasalahan ini dalam kitab paling sahih Ahlusunnah setelah al-Quran telah cuba dipintas oleh riwayat Baihaqi yang mengatakan mereka berdua telah mendapat keridhaan Fathimah. Namun pengriwayatan ini tidak dapat dipegang kerana wujudnya seorang Nashibi dalam silsilah sanadnya.

Suburnya Kesesatan Lewat Jalur Resmi Pendidikan Islam di Indonesia

 

Benarkah Ajaran Syiah itu Sesat?

syiahUntuk menjelaskan masalah ini kiranya beberapa poin di bawah ini perlu mendapat perhatian:  1. Apabila yang Anda maksud dengan “Syiah” adalah kesalahan yang dilakukan oleh sebagian para pemeluk Syiah, penyandaran pelbagai kesalahan ini terhadap mazhab Syiah bukan merupakan sebuah tindakan yang fair. Karena sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah syair:
Islam pada dasarnya tidak memiliki cela

.
Setiap cela sesungguhnya berasal dari penganutnya

.
2. Apa yang menjadi kriteria dan bahan perbandingan Anda? Dengan apa Anda membandingkan Syiah sehingga Anda memahaminya bahwa ia telah mengalami kesesatan?
Dalam masalah ini, dudukkan Al-Qur’an dan Sunnah – qathi’ al-shudur – kemduian bandingkan mazhab-mazhab Islam dengan keduanya? Sehingga Anda dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa setiap mazhab yang sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah mazhab yang benar dan selainnya mazhab yang batil

.
Apabila Anda sandingkan dan bandingkan Syiah dengan al-Qur’an, tolong Anda sebutkan sisi akidah, hukum-hukum fikih, atau aturan-aturan moral Syiah yang tidak sejalan dengan al-Qur’an? Mengapa Anda pandang bahwa mazhab Syiah merupakan mazhab yang salah dan keliru yang sebenarnya semata-mata mengikuti jalan, akidah dan hukum-hukum Ahlulbait dengan lisan, hati dan perbuatannya?

Pemuda Aceh enggan pelajari “Ahlul Sunnah wal jamaah”.

 

 

Nahdatul Ulama (NU) Lhokseumawe, Provinsi Aceh, menilai pemuda di daerah itu tidak tertarik lagi mempelajari agama Islam, sehingga majelis taklim yang diadakan di masjid dan meunasah selalu sepi.

“Sebenarnya, jumlah majelis taklim sangat banyak, namun jumlah kaum remaja dan pemuda yang memanfaatkannya sebagai sarana pembelajaran ilmu agama Islam sangat kurang,” kata Ketua NU Lhokseumawe, Tgk H Misran Fuadi, hari ini.

Ia mengatakan, jumlah majelis taklim hampir semua menasah atau mesjid mengadakannya, sedangkan jumlah pengunjung sedikit serta mayoritas diisi oleh kaum tua.

Ia menyatakan, kenyataan sekarang, banyak kuliah umum agama secara gratis tersebut hanya diisi oleh kaum tua, sedangkan pemuda dan remaja, terlena dengan buaian pengaruh global, sehingga tidak jarang terjadi tindakan asusila dan lainnya akibat dari dangkalnya pengetahuan agama.

Bukan itu saja, jumlah warga yang menghadiri majelis taklim juga sangat terbatas, serta terkesan hanya jamaah langganan saja yang menghadiri majelis taklim. “Dalam satu jamaah majelis taklim hanya sekitar 50 orang saja yang hadir. Sementara yang lainnya lebih memilih kesibukan lain,” terang Misran.

Padahal, lanjutnya, umumnya pelaksanaan kegiatan majelis taklim, biasanya dilakukan pada waktu-waktu tidak sibuk, seperti habis shalat Maghrib atau waktu yang dianggap tidak sedang jam kerja. Namun, masih saja warga enggan untuk menghadiri majelis taklim yang dilakukan secara gratis oleh pengurus meunasah atau masjid.

Suburnya aliran sesat di luaran (di masyarakat umum) bisa diketahui orang. Namun suburnya penyemaian dan propaganda kesesatan lewat jalur resmi dalam pendidikan tinggi Islam se-Indonesia, banyak yang tidak bisa diketahui umum. Padahal justru lebih sangat berbahaya pula.

Itu artinya, ada jalur-jalur yang ditempuh:

  1. Aliran sesat di luaran (di masyarakat umum, bukan di tempat-tempat pendidikan resmi) dipelihara secara malu-malu, dan tempo-tempo pura-pura digebug sebagai alat pelayanan terhadap ummat Islam, nantinya dibiarkan lagi dan bahkan dirangkul.
  2. Kesesatan yang di dalam jalur structural diimpor dari orang kafir ataupun murtad (dengan cara menyekolahkan para dosen IAIN dll untuk belajar “Islam” ke negeri-negeri kafir di Barat) kemudian dipelihara dan disebarkan secara sistematis lewat perguruan tinggi Islam se-Indonesia dengan kurikulum seragam dari Departemen Agama RI. Kemudian ketika diprotes umat (karena tadinya sebelum tahun 1980-an kurikulumnya berpijak pada Ahlus Sunnah alias tunduk kepada dalil ayat Al-Qur’an dan hadits, tapi kemudian diubah menjadi Mu’tazilah dengan meninggikan atau mendahulukan akal dibanding naql/wahyu oleh Harun Nasution pemimpin IAIN Jakarta alumni Mc Gill Canada atas pengaruh Mukti Ali Menteri Agama) maka sudah ada jawabannya yang praktis, . Setelah berubah dan bahkan sampai jadi liberal dan bahkan pluralism agama alias menyamakan semua agama (yang bahasa Islamnya kurang lebih adalah kemusyrikan baru), lantas ada suara-suara mengkritik, agar dikembalikan ke yang semula yakni Ahlus Sunnah, maka mereka beralasan bahwa kini sulit karena sudah otonomi masing-masing perguruan tinggi Islam.
  3. Permainan itu hanyalah untuk menutupi belaka, dalam rangka memain-mainkan agama Islam diarahkan kepada liberal alias bebas, yakni merelatifkan kebenaran Islam dianggap relative sama dengan agama-agama lain. Semua itu dicekokkan kepada para mahasiswa, yang pada hakekatnya adalah pemusyrikan baru alias pemurtadan. Namanya masih perguruan tinggi berlabel Islam, namun isinya justru merusak Islam, dari tunduk kepada wahyu menjadi tunduk kepada hawa nafsu mereka. Benar-benar pendidikan yang berlabel Islam namun hakekatnya pendidikan untuk menjadikan hawa nafsu (mereka sebut akal) sebagai tuhannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu atas kejahatan mereka yang dalam bayang-bayang kekafiran tingkat dunia ini.
  4. Apakah benar-benar otonomi? Belum tentu. Buktinya, sejak ditulis buku berjudul Ada Pemurtadan di IAIN (se-Indonesia) oleh Hartono Ahmad Jaiz tahun 2005, kemudian Ummat Islam secara serempak tampaknya tidak berminat memasukkan anak-anaknya ke Fakultas Ushuluddin di manapun di perguruan tinggi Islam: IAIN, UIN, STAIN, STAIS dan semacamnya. Lalu tampaknya para pengelola perguruan tinggi itu cari akal dengan aneka cara. Belakangan, sampai ada yang dengan cara mengganti nama Ushuluddin itu dengan nama Da’wah, namun muatannya adalah Ushuluddin yang telah dinilai bahaya oleh masyarakat itu, dan mahasiswanya diberi bea siswa dari Kementerian Agama. Sehingga Ushuluddin yang sudah tidak diminati oleh masyarakat itu cukup diubah namanya, dan bahkan diberi kucuran dana dari Kementerian Agama, maka mahasiswanya pun banyak jumlahnya. Apakah itu bukan merupakan pengelabuhan terhadap Ummat Islam oleh lembaga pusat yang menguasai IAIN, UIN, STAIN, dan STAIS? Dan apakah pengumpulan dosen-dosen IAIN dll se-Indonesia sejumlah 165-an orang pertahun yang konon didanai oleh The Asia Foundation atau lembaga kafir semacamnya lewat Kementerian Agama selama ini bukan merupakan bukti bahwa IAIN, UIN, STAIN dan semacamnya sejatinya adalah punya missi pengkafiran sebagaimana yang dilakukan kaum liberal di luaran? Bahkan kaum liberal di luaran konon tidak dikucuri dana lagi oleh The Asia Foundation yang berpusat di Amerika, namun konon yang lewat Kementerian Agama untuk menatar para dosen perguruan tinggi Islam justru masih ada. Jadi sama-sama mengadakan pengkafiran, orang-orang liberal yang di luaran, yang dibenci Ummat Islam karena ketahuan menyesatkan, konon kini seret atau tidak lancar dananya dari lembaga kafir. Namun yang lewat dalam yakni jalur resmi untuk pendidikan tinggi Islam di antaranya untuk menatar para dosen IAIN dll se-Indonesia konon masih didanai. Buktinya masih ada penataran-penataran. Apakah itu karena dianggap efektif dalam menyesatkan Ummat Islam atau karena tidak mudah ketahuan oleh Ummat, wallahu a’lam. Itu urusan pertimbangan orang kafir dalam hal menimbang mana yang lebih efektif dalam mengkafirkan Ummat Islam.
  5. Pengkafiran atau pemurtadan yang diupayakan lembaga kafir internasional lewat pusat Kementerian Agama dipersilakan berlangsung, masih pula pendidikan tinggi Islam itu di daerah tampaknya diintervensi pula oleh penguasa daerah. Misalnya, ada keluhan, di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Sumatera wilayah selatan (dengan 4.000-an mahasiswa) ada orang yang tidak berkapasitas, namun diangkat untuk memegang jabatan di STAIN; lalu dia menerapkan kewajiban-kewajiban kepada mahasiswa berupa hal-hal yang tak layak secara Islam. Misalnya mewajibkan hafal Barzanji, Tahlilan, dan semacamnya untuk ujian komprehensif sebagai syarat (harus lulus) untuk ujian skripsi. Padahal Kitab Barzanji itu sendiri mengandung banyak kesesatan.

Itulah kenyataan penyebab utama suburnya aliran sesat di Indonesia. Jadi mereka itu bukan hanya ada yang jago di bidang permalingan yang disebut korupsi (ini harus dibuktikan, dan satu dua atau lebih memang ada yang tertangkap), namun jago pula dalam menlikung Islam, masih mengaku Islam namun merusaknya, sambil pura-pura menghadapi aliran sesat.

Tarik ulur dalam memelihara dan menjajakan kesesatan ini tampaknya sudah menjadi “pekerjaan” bagi para penyesat yang duduk di sana. Tinggal setelah mereka dicabut nyawanya oleh Malaikat Maut, baru tahu betapa pedihnya siksa akibat kejahatan mereka secara sistematis dan ramai-ramai merusak Islam lewat jalur Islam itu.

Peringatan keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini perlu direnungkan, untuk kembali ke jalan yang benar.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ(42)مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ(43)وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ(44)وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ(45)وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ(46)فَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ(47)يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ(48)وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ(49)سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ(50) لِيَجْزِيَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(51)

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.

mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?,

dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?”

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.

Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan.

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.

Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya. (QS Ibrahim/ 14: 42-51).

Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya yang berjudul Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat,Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008, dengan ditambahi kejadian yang baru.


Masjid Istiqlal Dijadikan Lahan Parkir Perayaan Tahun Baru

Berita banjir di mana-mana sedang menjadi perhatian umat Islam, karena kaum Muslimin di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan dan lainnya sedang terkena musibah banjir, tanah longsor, dan musibah lainnya. Keprihatinan itu malah ditingkahi dengan adanya berita hura-hura, rencana pengadaan apa yang disebut perayaan malam tahun baru, yang tampaknya sangat dibesar-besarkan, dan dipusatkan di Monas Jakarta.

Ini ironis dan memilukan. Negeri sedang prihatin, kena musibah banjir dan sebagainya, bahkan akibat kebijakan macam-macam, rakyat mau beli minyak tanah saja sulit bukan main; namun Gubernur DKI Jakarta dan jajarannya akan mengadakan acara hura-hura dan bernuansa maksiat serta perusakan aqidah umat sekaligus. Karena perayaan itu jelas bukan dari agama umat mayoritas di Indonesia ini. Itu cukup memukul benak umat Islam khususnya.

Lebih memukul lagi, ketika panitia dari Pemda Jakarta Pusat akan menjadikan Masjid Istiqlal sebagai lahan parkir untuk acara hura-hura bahkan penyemarakan aqidah kekafiran itu alias bukan dari akidah Islam itu. Syiar kekafiran sekarang sudah ditusukkan langsung ke jantung umat Islam, yaitu masjidnya, itupun masjid yang terbesar dan centralnya.

Kalau ini terjadi, maka akan ditiru oleh pemda-pemda lainnya di seluruh Indonesia, dan bahkan setiap tahun akan terjadi secara diprogram dengan lebih menusuk umat Islam lagi. Betapa menyakitkannya.

Beritanya sebagai berikut.

Apa yang disebut perayaan malam tahun baru 2008 di Jakarta akan dipusatkan di Monas. Yang dulunya di Ancol dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah) digeser ke kawasan Monas. 10.000 tembakan kembang api yang didatangkan dari Australia, Spanyol, dan China akan dilakukan langsung oleh Gubernur Fauzi Bowo. Acara itu ditambah dengan mendatangkan pemusik-pemusik dari group Ungu, Utopia, dan Radja Band. Panitia yang dikordinir Walikota Jakarta Pusat, Muhayat, memperkirakan sejuta warga akan tumplek di Monas.

“Karena itu kami selaku kordinator (diketuai Wali Kota Jakarta Pusat, Muhayat) akan semaksimal mungkin menyukseskan acara itu, “ujar Bambang, sekretaris Kodya Jakpus. (Warta Kota, 28 des 2007, hal 4).

Untuk keperluan itu dikerahkan 2.025 polisi, 10 anjing pelacak, 6 mobil pemadam kebakaran, dan 6 mobil ambulans. Menurut Bambang, seluruh biaya ditanggung sponsor dari Indosiar dan Gudang Garam. Pihak panitia akan menyediakan dua lahan parkir yaitu di Stasiun Kerta Api Gambir dan Masjid Istiqlal.

Demikian berita yang menyakitkan umat islam dan sekaligus ironis. Masyarakat sedang dalam keadaan di mana-mana terkena bencana, namun akan diadakan acara hura-hura sekialigus perusakan aqidah dan penyemarakan kemaksiatan secara massal, serta pemubadziran harta sebagai ekspresi pengakuan diri sebagai rekanan syetan.

Apa yang perlu dilakukan oleh umat Islam, semoga peringatan berupa tulisan ini ada gunanya.

Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as) dan Surga diharamkan bagi orang yang menzalimi dan memerangi Ahlul bait (sa)

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya

.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba, halaman 20:
Ali bin Abi Thalib (as) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

إنّ الله حرم الجنة على من ظلم أهل بيتي أو قاتلهم أو أغار عليهم أو سبهم

“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku, atau memerangi mereka, atau menyerang mereka, atau mencerca mereka.”

Dalam Nurul Abshar, Asy-Syablanji, halaman 100:
Rasulullah saw bersabda:

حرمت الجنة على من ظلم أهل بيتي وآذاني في عترتي … الحديث

“Diharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku dan menyakitiku karena menyakiti ‘itrah(keturunan)ku….”

Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, jilid 7 halaman 273. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik.
2. Tafsir Ad-Durrul Mantsur Jalaluddin As-Suyuthi, tentang tafsir surat Al-Kautsar.

100 Pertanyaan Syi’ah Yang Mampu Meruntuhkan Sunni !!

100 Pertanyaan Syi’ah Yang Mampu Meruntuhkan Sunni !!

1. Semua perkara dikenali melalui namanya. Allah SWT pertama kali mengajarkan nama-nama benda kepada Bapa Manusia, iaitu Nabi  Adam (as). Mazhab ASWJ juga mempunyai nama iaitui Sunni, Ahlus Sunnah  atau Ahlul Sunnah wal Jamaah. Oleh itu, kemukakan ayat Al-Quran yang menyebut salah satu nama tersebut.

(It is an established fact that all things are recognised by their name, even Allah (swt) first taught names to the father of Mankind Adam (as). Your sect also has names such as Sunni, Ahl’ ul Sunnah or Ahl’ul Sunnah wa al Jamaah. Direct us towards any such verse of the Qur’an wherein any of these names have been indicated.)

2. Jika nama – nama ini tiada dalam Al-Quran, adakah ada dalam hadis Rasulullah SAW? Kemukakan hadis  ’marfuu’ ‘mutawatir’ atau ‘sahih’ yang dinyatakan dari kitab ASWJ dengan sumber lengkap (tajuk buku, versi, muka surat, edisi) di mana nama Sunni, Ahlul Sunnah dan Ahlul Sunnah wal Jamaah telah disebutkan oleh Rasulullah (saww) sebagai mazhab Islam.

(If these titles cannot be located in the Qur’an could you produce this title from any hadith of the holy prophet (s)? Produce any such ‘mutawatir’ ‘marfuu’ or ‘saheeh’ narration from your books with a complete source (meaning the name of the book, version number, page number, edition etc) wherein the names Sunni, Ahl’ul Sunnah and Ahlul Sunnah wa al Jamaah have been mentioned by the holy prophet (saww) as a sect of Islam.)

3. Jika nama ASWJ tiada dalam hadis, maka sekurang-kurangnya nyatakan tarikh, bulan dan tahun hijrah, bilakah nama-nama ini mula digunakan oleh anda?

(If these are not to be found in the hadeeth, then at least come up with an exact date, month and year of hijrah from the history of Islam when these names were adopted as your identity.)

4. Dengan nama apakah mazhab anda dikenali sebelum anda menggunakan nama-nama ini?

(What were you famously known as before adopting these names?)

5. Mengapa anda meninggalkan 12 khalifah yang  terdahulu disebut Nabi  SAW ?

6. Menurut mazhab anda, setiap perkara baru dalam Islam adalah bid’ah. Oleh itu,  memperkenalkannya juga merupakan bid’ah. Siapakah orang yang mula – mula sekali memperkenalkan bid’ah ini dalam sejarah umat Islam?

(According to your sect, an introduction of any new thing to Islam constitutes bid’a, therefore to effectuate such an introduction is also a bid’a, so who was the person responsible for introducing this bid’a?)

7. Bolehkah anda nyatakan makna Sunni, Ahlus Sunnah dan Ahlul Sunnah wal Jamaah (lengkap dengan bukti)?

(Could you provide decisive evidence with regards to the meanings of Sunni, Ahl Sunnah and Ahl’ul Sunnah wal Jamaah?)

8. Mana yang paling lama ; syi’ah atau sunni ?

9. Yang mana dari Ali atau Abubakar  yang anda anggap sebagai terbaik?

10. Mengapa 12 imam ahlul bait semuanya dizalimi ?

11. Perkataan ‘Syiah’ ada tercatat dalam Al-Quran dan hadis dan hazrat Ibrahim (as) juga telah bernama ‘Syiah’. Adakah anda setuju dengan kenyataan ini?

(The title ‘Shia’ is present in the Qur’an and the hadeeth and Hardhat Ibraheem (as) has also been named a Shia. Do you accept this?)

12. Jika anda setuju, maka apa tafsir anda bagi perkataan ‘Millat Ibrahim’ dalam  mazhab anda? Dan jika anda tidak menerimanya, sila beri alasan mengapa perkataan ‘Syiah’ telah digunakan dengan merujuk kepada Nabi Ibrahim (as)?

(If you do accept this, then what you do mean by ‘Millat e Ibraheem’ in your sect? And if you don’t accept this then please give us a reason as to why the word Shi’a has been used with reference to Prophet Ibraheem (as)?)

13. Adakah penentang  nama  ’Syiah’ bukan merupakan penentang terhadap Quran dan perkataan Rasulullah SAW  kerana berdasarkan hadis nabi, nama  ‘Syiah’ telah dikaitkan dengan Ali (as), Fatima (as) dan Ahlul Bayt (as)?

(Does opposition to the title ‘Shia’ not constitute opposition to the Qur’an and the sayings of the holy prophet (s) when this title has been related to Ali (as), Fatima (as) and the Ahlul Bayt (as)?

14. Jika ya, apakah hukum menentang  Allah (SWT) dan Rasul-Nya? Jika tidak, maka kemukakan hadis dengan bukti untuk menyokong pendirian anda?

(If it is then what is the punishment for opposing Allah (swt) and His Messenger? If it is not, then present an explicit narration with evidence to support your position?)

15. Pendirian Islam dan penerusannya oleh setiap generasi adalah wajib. Oleh kerana itu, pada zaman para Sahabat dan Tabiin apa nama yang digunakan?

(The religion of Islam is established and its continual existence through every generation is a necessity. Hence, during the period of the Sahaba and the Tabe’een what titles were used?)

16.Kenapa anda memakai mazhab empat lalu Asy’ari Maturidy dan Ghazaly ?? Mana dalilnya ???

17. Jika nama ‘Syiah’ yang digunakan sebagaimana telah disahkan oleh Shah Abdul Aziz Muhaddas Dahlavi dalam Taufa Ithna Ashriyya, maka semua para sahabat, Tabiin  dan Taba Tabiin adalah Syiah. Tidakkah kebencian anda terhadap nama syiah itu memperkecilkan sahabat?

(If it is Shi’a that was in use as has been confirmed by Shah Abdul Aziz Muhaddas Dahlavi in Taufa Ithna Ashriyya, then all the Sahabah, Tabe’een and Taba Tabe’een were Shia’a. Does your hatred to a title used by these great personalities not discredit their name?)

18. Dengan 17 di atas, mengapa anda mengatakan bahawa Syiah yang membunuh Imam Husain (as)?

(With questions 17 in mind, why do you say that the Shi’s martyred Imam Husayn (as)?

19. Apa definisi ‘Syiah’ dalam mazhab anda? Sebutkan dengan sumber rujukan.

(What is the definition of Shi’a in your sect? Mention it with a lexical reference.)

20. Berikan definisi ‘nasibi’ dan ‘rafidhi’ secara terperinci dengan rujukan.

(Define Nasibi and Rafidhi in detail with lexical reference.)

21. Adakah anda percaya dengan ‘Tauhid’  Allah (SWT)? Jika anda percaya, maka adakah  zat (essence) Allah (SWT) Wajibul Wujud atau Mumkinul Wujud?

Wajibul Wujud: Kepercayaan pada: Allah selalu wujud, akan selalu wujud, tidak memiliki batas-batas atau had-had

Mumkinul Wujud: Kepercayaan pada: Mungkin Allah tidak selalu wujud, mungkin Dia tidak kekal, dan Dia mempunyai batas-batas (na’uzubillah).

(Do you believe in the ‘Tawheed’ of Allah (swt)? If you do, then is the essence of Allah (swt) Wajibul Wujood or Mumkinul Wujood?

Wajibul Wujood: Belief in: Allah has always been, will always be, has no boundaries or limitations

Mumkinul Wujood: Belief in: May be Allah has not always been (in existance), may be He might not be forever, and he has boundaries.)

22. Jika Allah (SWT) adalah Wajibul Wujud lalu,  apa pendapat anda dalam hal Hulul seperti Maulana Room telah menulis dalam kaitannya dengan Bayazeed Bistami:

Baa Mureedaan Aan Fakeere Muhtasham,

Baayazeed Aamad ke yek Yazdaal Manam

Beri kami butiran  terperinci tentang itu.

Hulul: Ertinya, sebuah keyakinan bahawa Allah dapat turun dalam setiap tubuh makhluk hidup, dan berkomunikasi secara Rohani dengan makhluk.

(If Allah (swt) is Wajibul Wujood then what is your belief with regards to Hulool like Maulana Room has written in relation to Bayazeed Bistami:

Baa Mureedaan Aan Fakeere Muhtasham,

Baayazeed aamad ke yek Yazdaal Manam

Give us a detailed account of it.

Hulool:

Meaning, a belief that God can descend in any living being’s body, and so communicate spiritually with the being.

(Nota penterjemah:  hanya sesuai ditanyakan kepada orang yang percaya hulul)

23. Adakah anda menganggap Allah sebagai A’lam (berpengetahuan) atau A’lim (pemilik pengetahuan tak terbatas)? Jika A’lam, maka buku terbesar kamu selepas Al-Quran, “al Sahih Bukhari” hadis nombor 371 Volume 6:

“Sabda Rasulullah SAW: “ Manusia akan dicampakkan ke dalam neraka dan berkata: “adakah ada lagi yang akan datang?(50:30) hingga Allah letakkan kakinya ke dalamnya dan mereka berkata ‘cukup! Cukup! “

Soalan saya, ketika Allah mencipta neraka, adakah pada awalnya Allah swt tidak mengetahui saiz yang diperlukan sehingga Dia terpaksa membesarkannya semula di masa hadapan, dengan memasukkan kakinya?

(Do you regard Allah as Aalam (knowledgeable) or Aleem (possessor of infinite knowledge)? If Aalam, then your greatest book after the Qur’an, “Sahih al Bukhari” Volume 6 hadith number 371:

“The Prophet (saws) said, “The people will be thrown into the (Hell) Fire and it will say: ‘Are there any more (to come)? (50:30) till Allah puts his foot over it and it will say ‘Qat! Qat!” (Enough! Enough!)”

I ask, while creating Hell, did Allah under estimate its size to such an extent that he deemed it necessary to place his leg in to expand it at a later date?)

24. Adakah Allah bukan pemilik kekuatan ‘Kun Fayakun (semuanya)? Jika ya, mengapa Dia tidak mengehadkan neraka (bilangan penghuni) dengan perintah yang ringkas (tak perlulah tanya penghuni neraka dan letak kaki-Nya?)

(Is Allah not the possessor of the power of ‘Kun Fayakun (everything)? If He is, then why can’t he just limit hell with a simple command?)

25. Di antara keyakinan anda adalah kenyataan bahawa baik dan jahat berasal dari Allah [swt], bererti bahawa Allah [swt] adalah sumber kejahatan juga (astaghfirullah)? Buktikan kepercayaan ini secara intelektual.

(Among your beliefs is the fact that good and evil comes from Allah[swt], mean that Allah[swt] is the source of evil as well (astaghfirullah)? Prove this belief intellectually.)

26. Anda mempunyai enam Kalimah, yang disebut ‘Radde kufur’ di mana anda lakukan tabarra. Seperti pada:

Fatabarra’tu Minal Kufri wash Shirki wal Kidhb.

(Aku memisahkan diriku dari syirik dan kufur)

Adakah anda menganggap melakukan ‘tabarra’ sebagai dibenarkan?

(nota penterjemah: hanya sesuai ditanyakan kepada yang percayakan Radde Kufr)

27. Jika anda menganggap halal, maka mengapa anda mengutuk Syiah? Dan jika anda mengatakan perkara itu dilarang (tak boleh buat) mengapa perlu ada kalimah keenam anda di mana anda melepaskan diri dari kafir? Bukankah lebih baik untuk menerima bahawa

tabarra

adalah cara memisahkan diri dari kafir?

28. ‘Laa absaar tudrukuhul’ adalah kata-kata Al-Quran, terjemahkannya dan jelaskan makna ‘Lan Taraani’.

(‘Laa tudrukuhul absaar’ are Qur’anic words, translate them and clarify the meaning of ‘Lan Taraani’.)

29. Ketika Rasulullah SAW Mi’raj, adakah baginda telah diberikan keistimewaan untuk melihat Allah (SWT)? Jika ya, kemukakan kami satu hadis dengan sumber lengkap dan rujukan di mana Rasulullah SAW menggambarkan wajah Allah (SWT).

(When the holy prophet went on Mi’raj, was he blessed with the sight of Allah (swt)? If he was, provide us with a hadeeth with a complete source and reference wherein the holy prophet describes the appearance of Allah (swt).

30. Jika Allah berada di balik tabir dan Rasulullah SAW hanya mendengar suara-Nya maka mengapa Rasulullah SAW tidak dibenarkan melihat wajah Allah (SWT) yang indah?

(If Allah was behind the veil and the holy prophet had just heard His voice then why was the holy prophet deprived of seeing the beautiful appearance of Allah (swt)?)

31. Apa dasar kepercayaan anda mengenai melihat Allah, Al-Quran atau Hadis? Jika Al-Quran, berikan kami ayat mengenainya dan jelaskan sama ada terdapat  percanggahan dengan ayat yang lain kerana kata-kata Allah adalah bebas dari percanggahan. Jika hadis, maka kemukakan hadis tersebut dalam kaitannya dengan Al-Quran.

(What is the basis of your doctrine of God’s visibility, the Qur’an or Hadeeth? If it is the Qur’an, then provide us with the verse and justify the contradiction as God’s words are devoid of any contradiction. If it is hadeeth, then present it in relation to the Qur’an.)

32. Walupun anda tidak menganggap sahabat sebagai maksum dan menerima bahawa mereka juga melakukan dosa, anda menganggap adalah salah untuk mengkritik mereka kerana menghormati mereka. Anda mensucikan mereka dengan cara tidak menyebut kejahatan mereka, yang membuktikan fakta bahawa, untuk menghormati keperibadian yang terhormat dan bermartabat, dia perlu dijauhkan dari dosa dan diperlakukan sebagai orang yang bebas daripada kesalahan. Konsep ini secara istilahnya adalah kemaksuman. Lalu mengapa anda membantah Rasulullah SAW yang suci sebagai maksum? Jika anda menganggapnya sebagai dosa untuk memanggil para sahabatnya sebagai orang berdosa, mengapa anda menolak kemaksuman Rasulullah SAW?

(Despite the fact that you do not regard the companions as infallible and accept the notion of them committing sins, you consider it wrong to criticise them due to the respect you afford them. You regard their holiness to be in keeping evil off them, which proves the fact that, for the honour of a respectable and dignified personality it is necessary that he is kept away from sins and treated as immune from defects. This concept is infallibility in all but name. Then what objection do you have in considering the holy prophet as infallible when you consider it a sin to call his companions as sinners and reject the infallibility of the holy prophet himself?)

33. Pada mazhab ASWJ, bukan Allah yang memilih orang untuk jawatan Imamah atau Khilafah tetapi ia berdasarkan pilihan manusia. Oleh itu, Imamah tidak merupakan sebahagian daripada doktrin Islam anda. Oleh kerana Khilafah tidak mempunyai kaitan dengan agama, sebaliknya anda menganggapnya (kekhalifahan) sebagai sesuatu di luar agama, jadi, mengapa anda terus-menerus berdebat dengan Syiah dalam hal ini? Bukankah ini percanggahan? Bukankah pada anda, imamah ini isu politik sahaja?

(To you it is not God that nominates people for the post of Imamah or Khilafah but it is based on the choice of human beings that is why the doctrine of Imamah does not form part of your Islamic doctrine. When Khilafah does not have a religious place to you at all, but you regard it as something outside of the Deen then why do you constantly engage in debates with the Shi’a on this? Is this not a contradiction? Why do you not confine political issues to politics only?)

34. Jika Khilafah atau Imamah adalah masalah agama maka seperti juga Al-Quran, Sunnatullah juga tidak berubah. Oleh itu, dari Adam (as) sampai Nabi Isa (as), namakan mana-mana nabi yang salah satu sahabatnya telah dipilih sebagai wasi yang menafikan hak keluarga nabi tersebut tentang hak yang sama.

(If Khilafah or Imamah is a matter of religion then as per the Qur’an, the Sunnah of God does not change. Therefore, beginning with Adam (as) through to the prophet Isa (as), name any prophet after whom one of his companions had been chosen as his vicegerent without gap, depriving the members of that prophet’s household of the same right.)

35. Jika tidak ada nabi sebelum Rasulullah SAW mempunyai wasi (waris) yang bukan dari ahli keluarga dekatnya lalu mengapa Sunnah Allah (SWT) berubah berhubung dengan Rasulullah SAW? Berikan ayat al Quran dan sebuah hadis yang menerangkannya untuk membuktikan perubahan tersebut.

(If none of the prophets preceding the holy prophet had a vicegerent who wasn’t from his near of kin then why was the Sunnah of Allah (swt) changed in relation to Rasulullah (s)? Refer us to the verse and a hadith of commentary to prove such a change.)

36. Slogan “Naara takbir Allahu Akbar, Naara Risaalat Ya RasuluLlah dan Naara Hayderi Ya Ali” telah dipraktikkan selama berkurun-kurun tetapi baru-baru ini anda telah memperkenalkan slogan baru “Naara Khilafat Haq Chaar Yaar” yang bererti bahawa hanya empat orang berhak atas jawatan Khalifah (Abu Bakar, Umar, Uthman, Ali). Mulla Ali Qari dalam Syarah Fiqh Akbar, muka surat 176, menganggap Yazid Bin Muawiyah sebagai Khalifah keenam selepas Rasulullah SAW. Bagaimana dengan Khalifah – khalifah yang lain? Adakah Rasulullah SAW  tidak menyatakan bahawa akan ada dua belas Khalifah? Sebutkan nama 12 khalifah itu.

(The slogans “Naara Takbeer Allahu Akbar, Naara Risaalat Ya Rasoolullah and Naara Hayderi Ya Ali” have been in practice for centuries but just recently you have introduced a new one “Naara Khilafat Haq Chaar Yaar” which signifies that only those four personalities have the right over the post of Khilafat. Mulla Ali Qari in Sharh Fiqh Akbar, Page 176, considers Yazeed Bin Muawiyah as the sixth Khalifah of the holy prophet. What about the rest of khalifahs of Khilafah? Did the holy prophet not state that there will be twelve khalifahs? Mention their names.)

37. Semua pencinta Ahlul Bait memperakukan bahawa Tuhan  mereka adalah Allah, Rasul mereka adalah Muhammad SAW, Maula mereka adalah Ali (as) tetapi tiada seorangpun dari mereka berani menyatakan ‘Empat Orang Benar’ (Khulafa’ Rashidun?) tidak boleh dikritik. Jadi beritahu kami, apakah ini slogan untuk lelaki sahaja atau untuk lelaki dan perempuan?

Nota: Slogan asal dalam Bahasa Urdu, menggunakan karya “Yaar”, yang juga boleh digunakan sebagai “rakan yang sangat dekat”. Oleh itu, di India & Pakistan, perempuan ragu – ragu untuk menggunakan slogan ini.

(Our mothers and sisters will proclaim their God is Allah, their apostle the holy Prophet and their Maula, Ali (as) but none of them would dare proclaim ‘Our Four Rightful Men’ out of modesty considering it as an abuse. Then tell us, is this slogan for men only or for both men and women?

Note: The original slogan in Urdu, uses the work “Yaar”, which can also be used as “very close friends”. In India & Pakistan, therefore women hesitate to use this slogan.)

38. Diriwayatkan secara tradisi bahawa pedang dibawa untuk Ali (as) dari Syurga, malaikat turun ke bumi untuk membantu Hazrat Fatima (as)  memasak batu gerinda (chakki) dalam masakan, Ridhwan telah muncul dalam bentuk penjahit pakaian dan membawa pakaian kepada Imam Hassan (as) dan Imam Husain (as), boleh anda  rujuk kepada mana – mana hadis di mana bahkan satu sarung kaki dilaporkan telah diturunkan oleh malaikat kepada Abu Bakar, Umar, Usman dan seseorang seperti mereka.

(It is reported in the traditions that a sword was brought for Ali (as) from heaven, angels came down to earth to assist Hadhrath Fatima (as) in revolving the grinding stones (chakki) in cookery, Ridhwan had appeared in the form of a tailor and brought clothes for Imam Hassan (as) and Imam Hussain (as), could you please refer to any hadeeth wherein even one sock is reported to have been revealed for Abu Bakr, Umar, Uthman and their like.)

39. Apakah pandangan anda tentang iman Hazarat Fatima (as)?

(What is your position regarding the faith of Hadhrath Fatima (sa)?)

40. Jika Fatimah as adalah seorang Mukminah,  maka bolehkah  mematuhinya? Kerana setiap sahabat adalah Adil, bukankah mengikuti salah seorang daripada mereka merupakan jalan keselamatan?

(If she was a Mu’menah then is it permissible to obey her or not? When every companion is Adil ( Just ), is following one of them a way of salvation?)

41. Jika tidak (tidak boleh patuh), beritahu kami mengapa Rasulullah SAW  bersabda, “Fatimah bahagian dari diriku, dan siapa yang membuatnya  marah, membuat saya marah.” (Sahih al Bukhari Volume 5 hadis 61).

(If not then tell us why did the holy prophet say, “Fatima is a part of me, and he who makes her angry, makes me angry.”)

42. Jika dibolehkan untuk mematuhi Fatimah, maka diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahawa Hazrat Sayyedah Fatimah as tidak menyenangi dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Malahan Fatimah as telah mengarahkan dalam wasiatnya bahawa mereka tidak boleh mengambil bahagian dalam majlis pemakamannya.

(If it is permissible to obey her then it is reported in Saheeh Bukhari that Hadhrath Sayyedah Fatima was displeased with the two shaykhs. She had even instructed (in her will) that they should not participate in her funeral procession.)

43. Jika murka Hazrat Fatimah terhadap dua syaikh(Abu Bakar dan Umar) adalah tidak bercanggah dengan Islam, maka mengapa  anda mencintai dua Syaikh (Abu Bakar dan Umar)? Allah [swt] menganggap murka-Nya dan Fatimah adalah sama, dan Sayyedah Fatima meninggal dalam keadaan marah kepada dua Shaikh (Abu Bakar dan Umar).

(If Hadhrath Fatima’s displeasure towards the two shaykhs was not against Islam then why is it important upon the general mass to love them? Allah[swt] deemed His anger and Fatima’s to be the same, and Syeda Fatima left the earth angry with the 2 Shaykhs.)

44. Anda berpendapat bahawa tidak ada beza antara Ali (as) dan tiga sahabat (Abu Bakar, Umar dan Uthman). Katakanlah saya menerima pendapat itu, tetapi saya ingin beritahu anda bahawa saya sangat menghormati Sayyedah Fatimah (as) yang merupakan sebahagian daripada Rasulullah SAW. Dia (Fatimah as) mempunyai keutamaan iaitu setiap kali dia muncul di hadapan Rasulullah SAW, baginda selalu  berdiri sebagai tanda kehormatan menyambut Sayyedah Fatimah as. Oleh kerana itu, adakah mengikuti keperibadian hormat (Fatimah as) boleh menjadi penyebab keselamatan atau tidak? Jelaskan dengan mengambilkira hadis – hadis dalam Sahih Bukhari dan Muslim mengenai hal ini.

(You are of the opinion that there had been no opposition between Hadhrath Ali (as) and the three companions. Suppose I accept that, but let me tell you, I have a very deep respect and honour for the pure lady Fatima (as) who was part of the flesh of the holy prophet (saww) and she has this esteem to her credit that whenever she appeared in the presence of the holy prophet (saww) he used to stand up as a welcoming gesture of honour to her. Therefore, will following such a respectful personality be a cause of salvation or not? Decide by keeping Bukhari and Muslim before your sight.)

45. Apabila Rasulullah SAW wafat, adakah Rasulullah SAW meninggalkan Al-Quran kepada umatnya atau tidak?

(While departing from this world, did the holy prophet (saww) leave the Qur’an with the ummah or not?)

46. Jika ya, maka mengapa perlunya pengumpulan Al-Quran? Dan mengapa umat kekal dalam keadaan tiada Al-Quran sehingga zaman pemerintahan Uthman?

(If he did then why did the need for the collection of the Qur’an arise? And why were the Ummah kept without the Qur’an till the period of Uthman?)

47. Jika Rasulullah SAW tidak meninggalkan Al-Quran kepada umat sebelum kewafatannya,  maka tugas Risallah tidak tercapai kerana tujuan kedatangannya adalah untuk menyampaikan mesej dari Allah untuk umat. Jadi, bagaimana dikatakan bahawa  agama telah lengkap?

(If the holy prophet (saww) did not leave the Qur’an with the Ummah prior to his departure then the task of Risallah was not accomplished because the purpose of his arrival was to convey the message of Allah to the ummah. How then is the religion complete?)

48. Terdapat banyak riwayat dari Imam Muslim yang menyusun ayat-ayat al Quran yang membuktikan bahawa Rasulullah SAW sendiri mengarahkan al-Quran ditulis dan dipelihara. Tetapi agak mengejutkan kami, setelah Rasulullah SAW wafat hingga ke zaman Uthman, adakah orang tiada Al-Quran? Bolehkah anda jelaskan mengapa ada jurang masa dari wafatnya Rasulullah hingga ke zaman Ustman terjadi?

(You make a long list of Muslims who compiled the revelations which proves the fact that the holy prophet (saww) had himself been causing the Qur’an being written and preserved it. But to our surprise, after the holy prophet (saww) up until the period of Uthman, people could not get the Qur’an. Could you explain why this gap occurred?)

49. Anda bangga dengan penghafaz Al-Quran dan bahkan mendakwa bahawa terdapat ramai sahabat Rasulullah SAW yang hafaz al Quran. Lalu, beritahu kami, antara Ali (as), Abu Bakar, Umar dan Uthman, siapa paling arif mengenai Al-Quran? Berikan jawapan anda dengan sumber yang lengkap dan dengan rujukan kepada kitab – kitab anda.

(You are proud of the memorizers of the Qur’an and even claim the fact that there had been many such people among the companions of the holy prophet. Then, tell us, from among Ali (as), Abu Bakr, Umar and Uthman who knew the Qur’an by heart? Give your answers with complete sources and refer to your books.)

50. Jika tidak ada seorangpun dari tiga sahabat tersebut telah menghafaz Al-Quran, maka mengapa mencemuh Shiah walaupun banyak penghafaz al Quran adalah Syiah?

(If none of the three companions had been Haafidh of the Qur’an then why scoff the Shias despite the presence of many Haafidh among them?)

51. Dalam kitab yang masyhur dari mazhab ASWJ, ‘Itteqaan’ oleh Suyuti, vol. 1 halaman 59, diriwayatkan bahawa Ali (as) pernah mengatakan kepada Abu Bakar bahawa:

“… penambahan telah dibuat terhadap Al-Quran dan hati saya memberitahu saya bahawa selain dari salam, saya tidak akan memakai jubah sehingga saya(‘Ali)  telah selesai mengumpulkan Al-Quran, dan Abu Bakar berkata, anda mengatakan hal yang benar.”

Hadis ini diriwayatkan oleh  Akramah ini yang merupakan tokoh Sunni yang dipercayai. Setiap Sunni menerima laporan ini sebagai benar. Apakah ini bukan bukti yang cukup bahawa selepas wafatnya Rasulullah SAW, mazhab anda telah memakwilkan  firman Allah (SWT) yang melakukannya adalah Imam Muslim sendiri. Jadi, apa lagi bukti yang  boleh anda berikan untuk mengatakan bahawa Al-Quran bebas daripada Tahreef (penambahan)?

(In a reliable book of your sect, ‘Itteqaan’ by Suyuti, vol. 1 page 59, it is narrated that Ali (as) had once told Abu Bakr that an addition was being made to the Qur’an and that my heart tells me that apart from the salaam, I am not going to wear my robe up until I have collected the Qur’an, to which Abu Bakr said, you saw the right thing. This report has been received from Akramah who is a reliable leader of the Sunnis and every Sunni accepts this report as correct. Is this not a sufficient proof that after the departure of the holy prophet (saww), according to your sect efforts were made to interpolate the word of Allah (swt) and obviously the doers of that were Muslims themselves? What evidence can you then produce in support of the Qur’an being free from Tahreef (addition)?)

52. Diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahawa Rasulullah SAW pernah terlupa ayat Al-Quran.  Jika pembawa al Quran, Rasulullah SAW sendiri lupa,  maka  kebenaran ayat al Quran boleh diragui, yang boleh menyebabkan Al-Quran tidak dipercayai. Tidakkah riwayat seperti itu menimbulkan keraguan tentang kedudukan Al-Quran dan Rasulullah  SAW? Jika Rasulullah SAW boleh salah dalam kaitannya dengan Al-Quran, maka baginda SAW juga boleh jadi lupa (na’uzubillah) pada sunnah juga? Dalam perkara ini (keaslian Al-Quran dan Sunnah), bagaimana mazhab anda boleh dikatakan mazhab yang benar?

(Lihat juga: Sunan Abu-Dawud, laman 350)

(It is narrated in saheeh Bukhari that the holy prophet used to forget the Qur’an? If the bearer of the book, the prophet himself forgets it then the word’s correctness becomes doubtful, which makes the Qur’an unreliable. Does such a narration not create doubts on the status of the Qur’an and Rasul’Allah? If Rasul’Allah (s) can err in relation to the Qur’an then does this not also mean he can forget on the Sunnah as well? When the authenticity of the Qur’an and Sunnah comes into question, how can your sect be the true one?)

53. Dalam banyak kitab – kitab hadis anda, ada berbagai laporan bahawa Al-Quran telah diubah (Tahrif). Sebagai contoh disebutkan dalam kitab al Itteqaan bahawa:

Surah al-Ahzab mempunyai dua ratus ayat sebelum dan sekarang hanya 73 ayat.

Bagaimana dengan bakinya (400-73=127 ayat)? Jika ayat – ayat tersebut telah dibatalkan, mana ayat-ayat yang telah turun untuk membatalkan ayat – ayat tersebut? Demikian pula dalam Itteqaan vol. 2, halaman 25 Abdullah Ibnu Umar menyatakan bahawa:

“tidak seorangpun dari anda pernah harus mendakwa telah menerima Al-Quran secara keseluruhan, yang ada hanya yang tertinggal sahaja (rather what remains).

Adanya laporan tersebut menunjukkan bahawa menurut mazhab anda Al-Quran telah diubah. Bolehkah anda jelaskan?

(In your innumerable books of hadeeth, there are various reports that the Qur’an has Tahreef in it. For instance it’s mentioned in al Itteqaan that Surah Ahzaab had two hundred verses before and now it has 73 verses. What happened to the rest? If they were abrogated then refer us to those verses that came down to abrogate them? Similarly in Itteqaan, vol. 2, page 25 Abdullah Ibn Umar states that none of you should ever claim to have received the whole Qur’an, rather what remains. The presence of such reports shows that according to your sect the Qur’an has been changed. Can you elaborate?)

54. Bolehkah Rasulullah SAW melarang apa yang telah dibenarkan oleh Allah? Bolehkah anda jawab berdasarkan ayat Al-Quran?

(Can the apostle forbid what has been allowed by Allah? Can you reply by relying on a Qur’anic verse?)

55. Apakah ada orang dalam kalangan umat yang diberi kuasa untuk melarang apa yang telah dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya?

(Is anyone from among the ummah authorised to forbid what has been allowed by Allah and His messenger?)

56. Allamah Shibli Nu’mani dalam

al Farooq,

muka surat  217 dari Shahih Muslim meriwayatkan bahawa Umar pernah mengatakan bahawa dua Mut’ah dibenarkan selama masa Rasulullah SAW  tapi aku melarang mereka sekarang dan ia adalah Mut’ah Haji dan Mut ‘a-Nisaa (perempuan). Bolehkah Umar melarang apa yang Rasul dan Allah (SWT) benarkan? Jelaskan hal ini.

(Allamah Shibli Nu’mani in al Farooq page 217 narrates from Saheeh Muslim that Umar had said that two Mut’a were allowed during the time of the holy prophet but I disallow them from now and these are the Mut’a of Hajj and the Mut’a of Nisaa. On what religious authority did Umar forbid what the apostle and Allah (swt) allowed? Clarify this point.)

57. Al-Quran mengatakan bahawa :

“orang beriman ‘Qaala Mumin min aale Firaun yaktumu imana-hu’ (orang beriman dalam kalangan pengikut Firaun (Aal Firaun)) telah menyembunyikan iman mereka kerana takut. Itu bukan bererti mereka tidak beriman. Jadi, mengapa anda mengatakan Taqiyyah Syiah adalah sesuatu yang tidak berakhlak (abhorrent)?

terjemahan penuh ayat 28: Ghafir:

Dan (pada saat itu) berkatalah pula seorang lelaki yang beriman dari orang-orang Firaun yang menyembunyikan imannya: “Patutkah kamu membunuh seorang lelaki kerana ia menegaskan: `Tuhanku ialah Allah? ‘ – sedang ia telah datang kepada kamu membawa keterangan-keterangan dari Tuhan kamu? Kalau ia seorang yang berdusta maka dia lah yang akan menanggung dosa dustanya itu, dan kalau ia seorang yang benar nescaya kamu akan ditimpa oleh sebahagian dari (azab) yang dijanjikannya kepada kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang yang melampaui batas, lagi pendusta.

(The Qur’an says that ‘Qaala Mumin min aale firaun yukassim imaanahu’ a believer from the Aal of Firaun had concealed his belief and hence its shown that the concealment of belief out of fear is not disbelief or abhorrent on the part of a believer. Why then is the Taqiyyah of a Shia abhorrent to you?)

58. Shahih Bukhari, vol. 4, halaman 123 edisi Mesir dari Hassan Basri bahawa ‘Al taqiyyah baaqiyata ila qiyaamat yawmil, (taqiyyah dibenarkan hingga ke hari kiamat). Jadi, adalah jelas bahawa taqiyyah terbukti halal baik dari Al-Quran mahupun Hadis. Oleh itu,  mengapa ASWJ mengkritik taqiyyah yang diamalkan oleh mazhab Syiah?

(Saheeh Bukhari, vol. 4, page 123 Egyptian edition reports from Hassan Basri that ‘Al taqiyyah baaqiyata ila yawmil qiyaamat, (Taqiyya is permissible until the Day of Judgement). When taqiyya is proved to be permissible from both the Qur’an and the Hadeeth, why then your sect attacks the Shi’a practice of taqiyyah?

59. Fatawa vol Khan Qaadhi. 4, halaman 821 menyatakan, bahawa jika seseorang berkahwin dengan mahram (ibu, saudara perempuan, anak perempuan, ibu saudara dll) dan mempunyai hubungan seksual dengan mereka dan bahkan mengakui bahawa dia tahu semasa melakukan upacara perkahwinan itu haram baginya untuk berkahwin. Namun, menurut Imam Abu Hanifah, dia (orang yang mengahwini itu) tidak tertakluk kepada semua jenis hukuman Islam. Bolehkah kita mengikuti sebuah Mazhab yang mengeluarkan fatwa begini? Beri kami jawapan yang rasional?

(Fataawa Qaadhi Khan vol. 4, page 821 states, that if a person marries a mahram (mother, sister, daughter, aunt etc.) and has sexual intercourse with them and even admits the fact that he knew while performing the marital rites that it was Haraam for him to do that even then according to Imam Abu Hanifa, he is not subject to any type of Islamic penalty. Can we really adhere to a Sect that issues such a fatwa? Give us a rational reply?)

60. Al-Quran menyatakan bahawa

“Laa Yamassuhu

illal

Mutahharun  ’ Tidak ada yang boleh menyentuhnya (ayat al Quran) kecuali orang yang suci, tetapi dalam Aalamgeer Fatmaada jilid 5, halaman 134 dan dalam Fatwa Siraajiya

, halaman 75 dinyatakan bahawa Surah al-Fatihah boleh ditulis dengan air kencing (astaghfirullah). Bolehkah anda jelaskan dakwaan ini?

(The Qur’an states that ‘Laa yamassuhu illal Mutahharun’ No one can touch it save the pure but in Fatmaada Aalamgeer vol. 5 page 134 and in Fatwa Siraajiya page 75, it is stated that Surah Fateha can be written with urine (astaghfirullah). Could you justify this claim?)

(nota penterjemah: soalan ini mungkin hanya sesuai ditanyakan di Pakistan dan pada masa itu (tahun 90-an)

61. Setiap Surah Al-Quran bermula dengan Bismillah tetapi Surah Taubah tidak bermula dengan Bismillah, mengapa?

(Every chapter of the Qur’an begins with Bismillah but Surah tawbah doesn’t begin with it, why?)

62. Oleh kerana awal setiap Surah Al-Quran adalah dengan Bismillah, mengapa maka kamu tidak memulakan Surah dalam solat anda dengan Bismillah?

(When the start of every Surah of the Qur’an has been made with Bismillah, why then do you not start the Surahs in your salaat with Bismillah?)

63. Buktikan kata – kata pujian (eulogy)  ’Thanaa’ dalam  Al-Quran.

(Prove ‘Thanaa’ Eulogy from the Qur’an.)

(nota penterjemah: soalan ini agak teknikal dan sesuai ditanyakan kepada ulama ASWJ, bukan orang awam ASWJ)

64. Buktikan kalimah “Assalaatu (khairun) Minan nawm” (sembahyang lebih baik dari tidur)  yang disebut dalam azan subuh disebut dalam Al-Quran? Jika tiada, nyatakan sekurang-kurangnya hadis sahih.

(Point out Assalaatu minan nawm to us from the Qur’an if not then at least from an authentic hadeeth.)

65. Buktikan bahawa kata-kata ini (“Assalaatu (khairun) Minan nawm”)  telah digunakan sebagai sebahagian daripada azan subuh pada masa pemerintahan Abu Bakar.

(Prove that these words had been used as part of the Adhan during Abu Bakr’s period.)

66. Buktikan kepada kami bahawa Solat Tarawikh telah dilakukan secara berjamaah pada zaman Rasulullah SAW dan zaman Abu Bakar.

(Prove to us that the prayers of taraweeh had been said in congregation during the time of the holy Prophet[saww] and during the period of Abu Bakr.)

67. Anda hanya memiliki sembilan riwayat yang mengatakan solat adalah dengan bersedekap (letak tangan atas dada/perut masa berdiri). Pada prinsip-prinsip periwayatan hadis, buktikan sanad nya sahih keseluruhannya

.(You only have nine reports at your disposal as far as praying the salaat by folding your arms is concerned. On the principles of the transmitters of hadeeth, prove their chains as ‘Saheeh’ correct. And prove all the transmitters as reliable.)

68. Semasa zaman Abu Bakar, berikan riwayat untuk membuktikan bahawa Abu Bakar solat dengan bersedekap. Jika anda boleh (buktikan), kenapa umat Islam yang bermazhab Maliki meluruskan tangan mereka dalam solat mereka?

(From the period of Abu Bakr, present any example or a report to prove that Abu Bakr said his prayers by folding his arms. If you can, why do the Malikis keep their arms straight while saying their prayers?)

69. Al-Quran memerintahkan kita untuk berpuasa sampai malam “

alsiyamar atmou ilaa alaa Thamar Al-lail”

(dan malam ketika kegelapan masuk). Mengapa anda berbuka puasa lebih awal? Mengapa Umar dan Uthman berbuka puasa selepas solat Maghrib?

Nuqaa ‘Umar, muka surat 110, hadis 351, oleh Waliullah Shah Dhelavi

(The Qur’an instructs us to fast till night “thamar atmou alsiyamar ilaa Al-lail”, and night enters when darkness casts in. Why do you open your fasts early? Why were Umar and Uthman opening their fasts after Maghrib prayers?

Nuqaa’ Umar, Page 110, Hadeeth 351, by Shah Waliallah Dhelavi)


70. Anda mendakwa bahawa Al-Quran Syiah mengandungi empat puluh bahagian, buktikan sumbernya daripada empat buku utama Syiah (Kutub Al-’Arba’a).

(You claim that the Shia’a Qur’an contains forty parts, prove its source from the four Shia key books (Kutub Al-’Arba’a).)

71. Jika Mut’ah adalah Haram, mengapa Asma Binti Abu Bakar melakukannya? Sepertimana yang dinyatakan dalam lihat Tafsir Mazhari Qadhi Thanaa Allah, halaman 577.

(If Mut’a is Haraam, why did Asma Bin Abu Bakr do it? For evidence, refer to Tafseer Mazhari Qadhi Thanaa Allah , page 577.)

72. Dalam Mishkat Shareef, dilaporkan bahawa ketika Abu Bakar dan Umar meminang  putri Rasulullah SAW (Fatimah as),  Fatima as menyatakan kepada Rasulullah SAW untuk menjawab dia terlalu muda untuk berkahwin, apakah ini sebuah riwayat yang benar?

(In Mishkat Shareef, it is reported that when Abu Bakr and Umar asked the holy Prophet[saww] for his daughter, Lady Fatima[sa]‘s hand the Prophet[saww] replied she is too young to marry, is this a correct report?)

73. Jika salah, maka buktikannya dengan bukti lengkap secara intelektual dan tekstual.

(If it is wrong then prove it with full evidence both intellectual and textual.)

74. Jika benar Fatimah as menolak pinangan Abu Bakar dan Umar, maka fikir secara rasional, masuk akalkah Umi Kalthum (anak Ali as) berkahwin dengan Umar? Kalau ibunya (Fatimah) terlalu muda untuk berkahwin, bagaimana anaknya (Umi Kalthum) boleh berkahwin?

(If this is correct then think rationally over the fact that, Umme Kulthum[sa] whose mother was too young to marry these people, marries these same personalities, does this make sense?)


75. Sahkah solat anda tanpa darud (selawat kepada isteri nabi dan sahabat)? Jika sah beri bukti lengkap. Jika tak sah, kenapa selawat hanya diberi pada Muhammad SAW dan keturunannya dan bukan pada sahabat dan isteri Rasulullah? Jika solat sah  tanpa selawat  kepada para isteri dan sahabat, mengapa Ahlul Sunnah menambah nama-nama kumpulan ini untuk darud dalam majlis keagamaan mereka?

(nota penterjemah: kata-kata itu adalah “wa’ala alihi wa sohbihi ajmain”)

(Can your prayers be complete without darood? If yes then come up with full evidence and if not then how come the blessings are just sent upon Muhammad[saww] and his progeny and not upon his companions and wives? When the prayers can be complete without sending blessings to the wives and the companions, why does Ahl’ul Sunnah add the names of these groups to Darood in their religious gatherings?)

76. Berikan hadis sahih dengan sumber lengkap di mana diriwayatkan bahawa darud ke atas semua sahabat dan isteri-isteri Rasulullah SAW adalah wajib. Jika wajib, kenapa solat sah tanpanya (darud)?

(Cite a saheeh and authoritative text hadeeth of the apostle with a complete source wherein it is reported that it is obligatory to send darood upon all the companions and wives of the holy prophet (saww). And also tell us if it is obligatory then how can the prayers be in order without them?)

77. Anda percaya bahawa Khilafah boleh dilantik oleh pilihan masyarakat (umat)  atau secara ijma’ (konsensus). Apakah Rasulullah pernah mengatakan hal ini?

(You believe that the Khilafat can either be established by public votes or the way of ijma (consensus). Could you verify this with evidence from the sayings of the apostle himself?)

78. Adakah Rasulullah SAW meninggalkan dunia ini tanpa memberikan bimbingan mengenai  Khilafat? Jika ya, mengapa dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) berkata ’ ilaaimatu minal Quraish’ (Para Imam berasal dari Quraisy) di saqeefa bani sa’da? Apakah mereka khusus berbohong untuk kepimpinan? Mengapa mereka menentang Sunnah Rasulullah SAW, mengapa Abu Bakar  Umar sebagai khalifah selepasnya (secara wasiat)?

(Did the holy prophet (saww) depart from this world without giving guidance on Khilafat? If yes, why then did the two shaykhs say ‘ilaaimatu minal quraysh’ (The Imams are from Quraysh) in saqeefa bani sa’da? Did they specifically lie for leadership? Also why oppose the holy prophet’s Sunnah, why did Abu Bakr candidate Umar?)

79. Dalam Majmaul Bihar, Muhammad Tahir Gujrati menulis bahawa Abu Bakar mengaku bahawa ‘Saya bukan Khalifah tapi Khalifah’. Jika kenyataan ini benar,  mengapa anda tidak menyangkal kekhalifahannya?

(In majmaul Bihar, Muhammad Tahir Gujrati writes that Abu Bakr confessed that ‘I am not a Khalifah but a Khalifah’ if you regard him truthful then why do you not deny his caliphate?)


80. Dalam Sawaiq Al-Muhriqah, Allamah Ibnu Hajar Makki menulis bahawa ada tiga Siddiq (jujur), Habib seorang Najaar, Hazqeel dan Ali (as), dan bahawa Ali (as) lebih baik dari keduanya. Mengapa Abu Bakar tidak disebut di sini?

Lihat juga: Tafsir e Kabir, Vol. 7, Laman 317.

(In Sawaiq Al-Muhriqah of Allamah Ibn Hajar Makki writes that there are three siddeeq ( truthful ), Habib an Najaar, Hazqeel and Ali (as), and that Ali (as) was better than the two. Why has Abu Bakr not been mentioned here?

See also: Tafseer e Kabir, Vol. 7, Page 317)

81. Adakah Umar pewaris pengetahuan Rasulullah SAW? Jika ya, maka mengapa sebagaimana dimaksud oleh Jalaludeen Suyuti ‘Umar sering mencari perlindungan dengan Allah dari setiap soalan yang sukar semasa ketiadaan ‘Ali.  Dan kenapa dia mengaku bahawa ‘lau la aliyyan lahalakal Umar’ maksudnya, “Jika Ali (as) tiada, Umar telah celaka” (Tadkhiratul Khawwas, oleh Sibt Ibne Jauzi, halaman 127).

(Was Umar the heir of the holy Prophet[saww]‘s knowledge? If yes then why as is stipulated by Jalaludeen Suyuti ‘Umar used to seek refuge with Allah from every difficult question or case when there is no Abul Hassan (History of the Khalifahs who took the right way (English translation by Abdassamad Clarke page 178)? And why did he confess that ‘lau la Aliyyan lahalakal Umar’? If Ali (as) wasn’t there, Umar would have perished (Tadkhiratul Khawwas, by Sibt Ibne Jauzi, page 127). Note: The comments in Dhikr-e-Hussain by Maulana Kauthar Niyazi are also worthy of note.)

82. Apakah dua syaikh Ahlul Sunnah (Abu Bakar dan Umar) hadir dalam majlis pemakaman Rasulullah SAW, jika anda mendakwa mereka lakukan, maka mengapa dalam kedua-dua Syarah Mawaqif dan Al Faruq Shibli Nu’mani mengesahkan ketidakhadiran mereka? Jika mereka tidak menyertainya, sahabat jenis apa mereka (Abu Bakar dan Umar) ini?

Farooq, oleh Shibli Naumani, Page 40

(Did the two shaykhs of Ahl’ul Sunnah participate in the burial rituals of the holy Prophet[saww], if you claim they did, then why do we read that both Sharh mawaqif and Al Farooq Shibli Nu’mani confirm their absence? If they did not participate then what type of friends are these?)

83. Dalam Musnad Ahmad Hanbal dan sebagainya, disebutkan bahawa Aisyah telah menggelar Uthman sebagai Na’thal, yang harus dibunuh dan Murtakib Kufur. Jika anda menganggap Aisyah sebagai orang yang benar, maka anda mesti menerima gelarannya kepada Uthman. Dan jika dia (Aisyah) tidak mengatakan kebenaran,  mengapa anda mengakui kebenarannya (Aisyah)?

(In Musnad Ahmed Hanbal and so on, it is mentioned that Ayesha had named Uthman as Nathal, who should be killed and Murtakib Kufr. If you regard Ayesha as the truthful then you will have to accept what she called Uthman. And if she did not tell the truth then why do you call her the truthful?)

84. Rasulullah SAW  telah siapkan askar untuk memerangi Musailimah ibn kazzab dipimpin oleh Usamah. Abu Bakar dan Umar juga diperintahkan untuk berada di bawah pimpinan Usamah. Mengapa Abu Bakar dan Umar tidak pergi berperang? Apa keizinan yang mereka miliki yang membolehkan  mereka mengabaikan perintah Rasulullah SAW? Jika mereka mempunyai keizinan khas, mengapa Rasulullah SAW melaknat orang-orang yang diarahkan pergi berperang tetapi tidak pergi?

Lihat juga: wa Al-Nihal Milal [terjemahan Bahasa Inggeris]halaman 18

(The soldiers that the holy prophet (saww) had prepared against Musailimah ibn kazzab were commanded by Usama and Abu Bakr and Umar were also instructed to be under him. Why did Abu Bakr and Umar not go? What legal dispensation did they have that entitled them to ignore the holy Prophet[saww]‘s commands? If they have such dispensation, why did the holy Prophet[saww] curse those who were appointed for participation but did not go?

See also: Milal wa Al-Nihal [English translation] page 18

85. Dalam Muwatta dari Imam malik, diterjemahkan oleh Allamah Waheed al Zamaan, muka surat 147, hadis 603, Rasulullah SAW menceritakan bahawa seorang sahabat telah mendekatinya, memukul dada dan merobek rambutnya. Jika pemukulan dada di hadapan Rasulullah SAW dibenarkan maka mengapa anda menentang perlakuan itu (pukul dada sendiri)?

(In Muwatta of Imam malik, translated by Allamah Waheed al Zamaan, Page 147, hadeeth 603, Rasulullah (s) narrates that a companion had approached him, beating his chest and ripping his hair. If chest beating in the presence of Rasulullah (s) is allowed then why do you object to it?)

86. Syeikh Abdul Haq Muhaddath Dehlavi dalam bukunya Midaaraj Nabaweeya, vol. 2, halaman 544 menulis bahawa muazzin Rasul, Hazrat Habashi Bilal (ra) datang ke Masjid Rasulullah SAW memukul dada dan mengeluh. Jadi, apakah pendirian anda tentang pemukulan dada?

(Sheikh Abdul Haq Muhaddath Dehlavi in his book Midaaraj Nabaweeya, vol. 2, page 544 writes that the Mu’adhdhin of the apostle, Hadhrath Bilal Habashi (r.a) came to the Mosque of the Prophet[saww] beating his chest and complaining. What is your verdict regarding chest beating?)

87. Dalam Musnad Imam Hanbal, edisi Mesir, Vol. 6, muka surat 274,  ada tertulis bahawa selepas kewafatan Rasulullah SAW, Aisyah memukul dadanya bersama-sama dengan perempuan lain, apa pendapat anda tentang tindakan Ummul Mukminin?

(In the Musnad of Imam Hanbal, Egyptian edition, Vol. 6, Page 274 it is written that upon the demise of the holy Prophet[saww], Ayesha beat her chest along with the other women, what is your opinion regarding this act of Ummul Mu’mineen?)

88. Hazrat Ali Hajweeri Al Mash-huur Daata Ganj Bakhsh Lahore dalam bukunya

Kashful Mahjoob, bab 2, halaman 118, bahagian 8 meriwayatkan dari Umar, bahawa Rasulullah SAW  bermain sebagai unta untuk Imam Hussein yang masih muda (as) , yang bererti ia membuat dirinya replika unta. Jadi, adakah Sunnah (tradisi) untuk membuat replika kuda Imam Husain atau sebuah bid’ah (Inovasi)?

(Hadhrath Ali Hajweeri Al Mash-huur Daata Ganj Bakhsh Lahori in his book Kashful Mahjoob, chapter 2, page 118, section 8 reports it from Umar, that the holy Prophet[saww] played as a camel for the then young Imam Hussain[as], meaning he made himself a replica of a camel. Following the Sunnah of the holy Prophet[saww] is it Sunnah (tradition) to make a replica of Imam Hussain[as]‘s horse or is it a bid’at (Innovation)?)

89. Dalam

Kanzul A’mal, Hayder aabad edisi, vol. 5, dalam Musnad Ali  karramallahu wajhu, halaman 147, hadis 2403 ada tertulis bahawa, Rasulullah SAW sering sapu (wipe) kaki ketika berwudhuk, mengapa anda tidak menganggap sapuan (wiping) sebagai dibenarkan? Jika kaki akan masuk neraka kalau kita tak basahkannya semasa wudhuk, maka bagaimana sapuan air ke  atas sarung kaki (stoking) adalah dibenarkan dalam mazhab anda?

(Kanzul A’mal, Hayder Aabad edition, vol. 5, in the Musnad of Ali karramallahu wajhu, page 147, hadeeth 2403 it is written that, the holy Prophet[saww] used to wipe his feet during wudhoo, why do you not regard wiping as permissible? If the feet will go to hell by being kept dry during wudhoo then how is the wiping over the socks correct?)

90. Dalam Baiatul Ridhwan, umat Islam membuat perjanjian untuk tidak melarikan diri dari medan pertempuran. Perang Hunayn berlaku selepas “bay’at di bawah pokok” (Baiatul Ridwan). Jadi, apa pandangan anda mengenai orang-orang yang melanggar perjanjian setia mereka iaitu orang yang lari semasa Perang Hunayn?

(In the Bai’at of Ridhwan, the Muslims took a covenant of not fleeing from the battle field. But the battle of Hunayn took place after the “bay’at of under the tree”. Of those people who went against their covenants, what is your verdict with regards to them?)

91. Sejarawan, Habib as Sayr menulis tentang pertempuran Hunayn bahawa:

Ertinya ketika ditanya di mana Abu Bakar dan Umar?, Pencerita itu menjawab mereka juga melarikan diri ke beberapa sudut.

Renungkanlah atas riwayat ini, Adalah sangat jelas bahawa dalam tafsir anda, Tafsir Qaweri, Tafsir Hussayni, Rawdhatus Safaa, Taareekhul Khamseen, Rawdhatul Ahbab, Ma’aarijun Nubuwwah, dll disebutkan bahawa tiga orang lelaki telah melarikan diri dari perang Hunayn. Mengapa mereka melanggar perjanjian Baiatul Ridhwan? Jawab selepas membaca semua buku ini.

(The historian, Habib as Sayr writes regarding the battle of Hunayn that:

Meaning when it was enquired where Abu Bakr and Umar were?, the narrator replied they had also fled to some corner. Contemplate over this narration, let it be very clear that in your Tafseer Qaweri, Tafseer Hussayni, Rawdhatus Safaa, Taareekhul Khamseen, Rawdhatul Ahbab, Ma’aarijun Nubuwwah, etc it is mentioned that the three gentlemen had fled from the battle of Hunayn. Why did they break the covenant of the Bay’at of Ridhwan? Reply after reading all these books.)

92. Jika tiga Abu Bakar, Umar dan Uthman adalah orang yang berani, lalu tunjukkan kami buku anda iaitu Tafsir Qaweri nama ketiga – tiga orang yang tidak lari dalam pertempuran Hunayn. Dan buktikan kepada kami dari semua buku anda, berapa ramai orang kafir telah dibunuh oleh ketiga-tiga orang ini dalam Perang Badar, Uhud, Khaibar, Khandak dan Hunayn. Berapa ramai orang kafir yang telah mereka cederakan? Dan berapa banyak kecederaan yang dialami  mereka sendiri dalam mempertahankan tubuh mereka? Dan sebutkan sekurang – kurangnya lima nama (dengan sumber lengkap) orang-orang yang mereka bunuh.

(If these three men had been brave then show us from your book Tafseer Qaweri the names of these three men from among those who did not flee in the battle of Hunayn. And prove it to us from all of your books, how many non-believers had been killed by these three men in the battles of Badr, Uhud, Khaybar, Khandaq and Hunayn. How many non-believers did they inflict with harm? And how much harm did themselves sustain in their bodies? And just mention five names with complete sources from among those whom these people killed.)

93. Jika Umar berani, nyatakan nama-nama orang yang beliau bunuh dalam Perang Uhud dan Hunayn dari sumber-sumber sejarah yang membandingkan Ali [as] dan Umar.

(If Umar has been brave then write the names of people who got killed at his hands in the battles of Uhud and Hunayn from historical sources compare Ali[sa] and Umar so that their doings in those two battles become known.)

94. Dalam Tafsir Dur Manthur, Suyuti, vol. 54, dan Izalatul Khifa Shah Waliyyullaah Muhaddath Dahlavi, halaman 199, ada tertulis bahawa Rasulullah SAW memberitahu Abu Bakar ‘kemusyrikanmu bergerak dalam diri kamu seperti pergerakan semut’. Berdasarkan hadis ini, bagaimana Au Bakar dianggap sebagai seorang yang benar (Siddiq)? Dan jika dia (Abu Bakar) tidak syirik, mengapa dia tidak membantah kata Rasulullah SAW? (bahawa kata Rasulullah SAW ada syirik dalam diri Abu Bakar) seperti seorang kafir mendustakan Rasulullah SAW.

(In the Tafseer of Dur Manthur Suyuti, vol. 54, and Izalatul Khifa of Shah Waliyyullaah Muhaddath Dahlavi, page 199 etc. it is written that the holy Prophet[saww] told Abu Bakr‘The polytheism is moving in you like the moving of an ant’. Take notice of this hadeeth and tell us how then was he a siddeeq? And if he did not have shirk within himself then dare to belie like a disbeliever the truthfulness of the holy Prophet[saww].)

95. Dalam kitab anda Fatawa Qaadhi Khan, vol 1, halaman 64, tertulis bahawa jika seseorang yang sedang solat mencium seorang wanita tanpa nafsu maka solatnya sah. Kenapa nak bercium semasa solat? Perlukah bercium dalam solat?

(In your Fataawa Qaadhi Khan, vol. 1, page 64, it is written that if a person who is in a state of prayers kisses a woman without lust then his prayer is valid. Is the time for it too short except in prayers? Where is the need for such a thing in prayers?)

96. Imam Ghazali dalam Sirrul Aalamin, Maqaalidul Ba’aa,halaman 9, menulis bahawa

“…keinginan untuk kuasa muncul di kalangan para Sahabat dan mereka pertama kali berubah menjadi pembangkang. Mereka melemparkan mesej suci Rasulullah SAW ‘ke punggung mereka, mereka menuntut beberapa bayaran sebagai ganjaran untuk amalan mereka, mereka melakukan urusan yang sangat buruk.

Boleh anda huraikan perkara ini?

(Imam Ghazzali in sirrul Aalameen, Maqaalidul Ba’aa page 9, writes the desire for power had prevailed among the Sahaba and they first turned into opposition. They threw the holy Prophet[saww]‘s message onto their backs, they demanded some payment in return for the foundation and they did a very bad trade. Could you please elaborate on this?)

97. Anda menentang kehalalan Mut’ah dan menyamakannya dengan perzinaan. Tapi dalam kitab anda

Syarah Wiqaaya, halaman 298, disebutkan bahawa Imam Abu Hanifah, menyatakan bahawa perzinaan yang dibayar (pelacuran?) adalah halal (expenditure of an adulteress is halaal) dan tidak ada hukuman bagi seseorang (not any jurisprudential limit) yang membayar seorang wanita untuk zinah. Apakah mut’ah lebih buruk dari ini?

(You oppose the halaal Mut’a and do not hesitate terming it as adultery. But in your book Sharh Wiqaaya, page 298, it is mentioned that to your Imam Abu Hanifa, stated the expenditure of an adulteress is halaal and there is not any jurisprudential limit on one who rewards a woman for zinah. Is Mut’ah worse than this?)

98. Dengan memanggil  Marwan  balik dari Madinah, Uthman bin Affan menentang Rasulullah SAW. Adakah anda mencela atau menyokong tindakan Uthman itu?

(By calling Marwan back from Medinah, Uthman bin Affan opposed the holy Prophet[saww]. Do you reproach this or support it?)

99. Terdapat fakta dalam buku Sunni bahawa Muawiyah telah bersengketa dengan Khalifah Rashid (khalifah mendapat petunjuk) dan mengarahkan Imam Hassan [as] supaya diracun (rujuk Mahram Naama, Khwaja Hassan Nidhami). Jadi, mengapa Muawiyah yang mengutuk ali [as] di mimbar dianggap sebagai adil? Beri kami penjelasan intelektual dan tekstual.

(It is an established fact in the books of Sunnis that Muawiyah had disputed with the Khalifah Rashid (the rightly guided caliph) and ordered the poisoning of Imam Hassan[sa] (check Mahram Naama, khwaja Hassan Nidhami) and why are the companions who made Ali[as] be abused on the pulpits considered as fair players? Give us intellectual and textual reasoning.)

100. Bagaimana dan atas arahan siapa insiden Harra (serangan Madinah) terjadi? Apa yang berlaku ke atas Madinah dan penduduk Madinah pada masa itu? Sila berikan penjelasan terperinci tentang itu.

(How and with whose instructions did the incident of Harra transpire? What happened to Medina and Ahl Medinah during the same? Please give a detailed account of it.)

Wassalam.