Kedustaan Muhammad Abdurahman Al Amiry : Fatwa Imam Besar Syi’ah Yang Mengancam Emilia Renita

 

 

 

sumber : Secondprince

Kedustaan Muhammad Abdurahman Al Amiry : Fatwa Imam Besar Syi’ah Yang Mengancam Emilia Renita

Dalam salah satu tulisan Al Amiry yang dapat para pembaca lihat disini,http://www.alamiry.net/2014/03/fatwa-imam-besar-syiah-yang-mengancam.html

Al Amiry telah berdusta atas mazhab Syi’ah dan dengan kedustaan tersebut ia merendahkan salah satu pengikut Syi’ah Emilia Renita. Yang dipermasalahkan oleh Al Amiry si pendusta ini [kalau sedang bicara tentang Syi’ah] adalah alasan yang dikatakan Emilia bahwa ia tidak melakukan mut’ah karena sudah memiliki suami. Al Amiry membawakan berbagai hujjah dusta untuk menyudutkan Emilia Renita.

Kami telah membuktikan kedustaan Al Amiry ketika ia mencatut twitter yang mengatasnamakan ulama Syi’ah Muhsin Alu Usfur. Cukuplah untuk dikatakan bahwa hanya orang dungu atau pura-pura dungu yang percaya begitu saja dan berhujjah dengan akun–akun palsu untuk menuduh mazhab lain dengan tuduhan yang berat.

.

.

.

Ketika Emilia Renita meminta fatwa asli dari kitab ulama Syi’ah maka Al Amiry menjawab dengan menunjukkan kitab salah seorang ulama Syi’ah yaitu Sayyid Khumainiy. Berikut nukilan yang dikutip Al Amiry

يستحب أن تكون المتمتع بها مؤمنة عفيفة ، و السؤال عن حالها قبل التزويج و أنها ذات بعل أو ذات عدة أم لا ، و أما بعده فمكروه ، و ليس السؤال و الفحص عن حالها شرطا فى الصحة

“Disunnahkan agar perempuan yang dimut’ah adalah seorang mu’minah yang menjaga iffah, dan disunnahkan juga untuk menanyakan statusnya sebelum nikah mut’ah apakah dia masih memiliki suami atukah tidak dan masih dalam masa iddah ataukah tidak. Adapun menanyakan statusnya setelah nikah mut’ah maka hukumnya makruh. Dan bertanya hal tersebut serta memeriksa statusnya bukanlah syarat sahnya nikah mut’ah” Tahrir Al Wasilah Hal. 906 Masalah ke 17

Kemudian setelah menukil pernyataan ulama Syi’ah Sayyid Khumainiy di atas, Al Amiry sok memberikan syarh [penjelasan] yang menurut kami hanya menunjukkan kerendahan akalnya dalam memahami lafaz kalimat. Al Amiry berkata

Menurut ajaran syiah, jika wanita tersebut memang benar telah memiliki suami, maka lelaki yang memut’ahnya tidak boleh menanyakan status wanita tadi. Cukuplah baginya untuk melanjutkan nikah mut’ah tanpa bertanya
Seandainya nikah mut’ah bersama seorang wanita yang sudah mempunyai suami adalah haram, maka seharusnya nikah mut’ah mereka batal. Akan tetapi Imam mereka tidak membatalkannya. Bahkan menganggapnya sah dengan memerintahkan lelaki tadi untuk tidak menanyakan status wanita tersebut.
Fatwa tersebut menyatakan bahwasanya bertanya tentang status wanita tersebut sebelum dilakukannya nikah mut’ah hanyalah sunnah dan bukanlah wajib. Sehingga dapat diambil hukum bahwasanya nikah mut’ah bersama wanita yang masih memiliki suami adalah sah karena hukum menanyakan statusnya sebelum menikah adalah sunnah dan bukanlah wajib.
Sebaliknya yang menanyakan status wanita tersebut setelah dilakukan akad nikah mut’ah adalah makruh dan dibenci walaupun secara nyata dia masih memiliki suami. Ini lebih menguatkan akan sah nya nikah mut’ah walaupun dilakukan oleh wanita yang masih memiliki suami.
Lebih jelas lagi, silahkan lihat fatwa terakhir, bertanya akan status seorang wanita yang sudah memiliki suami bukanlah syarat sah nikah mut’ah. Sehingga seorang syiah yang nikah mut’ah bersama seorang wanita yang telah bersuami tanpa bertanya terlebih dahulu hukumnya adalah sah, karena dia bukan dari syarat sah nikah mut’ah.

Kebetulan kami memiliki kitab Tahriir Al Wasiiilah Sayyid Al Khumainiy dalam bentuk scan pdf yang kami dapatkan dari situs Syi’ah. Nukilan yang disebutkan Al Amiry tersebut kami dapatkan dalam kitab Tahriir Al Wasiilah 2/265 masalah 17

Tahrir Wasilah

Tahrir Wasilah jilid 2 hal 265 Masalah 17

Apakah dalam perkataan Sayyid Khumainiy di atas ada pernyataan-pernyataan demikian?. Al Amiry ini menambah-nambah sendiri apa yang tidak dikatakan Sayyid Khumainiy. Al Khumainiy berkata

يستحب أن تكون المتمتع بها مؤمنة عفيفة

Dianjurkan melakukan mut’ah dengan wanita mu’min yang menjaga kesucian dirinya

Artinya jika hendak melakukan nikah mut’ah maka menikahlah dengan wanita mu’min yang baik-baik dan menjaga kesucian dirinya

و السؤال عن حالها قبل التزويج و أنها ذات بعل أو ذات عدة أم لا

Dan menanyakan keadaan dirinya sebelum menikah apakah ia memiliki suami atau masih dalam masa iddah atau tidak

Dari kalimat ini saja sebenarnya akan dapat diketahui seandainya nikah mut’ah itu sama-sama dibolehkan baik bagi wanita yang bersuami atau tidak, maka apa perlunya menanyakan hal tersebut. Seandainya nikah mut’ah itu sama-sama dibolehkan baik bagi wanita yang dalam masa iddah atau tidak, maka apa perlunya menanyakan hal tersebut.

و أما بعده فمكروه ، و ليس السؤال و الفحص عن حالها شرطا فى الصحة

Adapun bertanya setelahnya maka hal itu dibenci, dan bukanlah menanyakan dan memeriksa keadaan dirinya adalah syarat sahnya

Hakikat dari perkataan Sayyid Al Khumainiy di atas adalah jika ingin menikah mut’ah maka hendaknya mencari wanita mu’min yang baik yang menjaga kesucian dirinya kemudian sebelum menikah tanyakanlah keadaan dirinya apakah ia sudah bersuami atau tidak dan apakah ia sedang dalam masa iddah atau tidak. Karena kedua hal tersebut yaitu bersuami dan dalam masa iddah adalah penghalang bagi nikah baik itu nikah da’im atau nikah mut’ah.

Adapun jika menanyakan keadaan dirinya setelah menikah maka hal itu dibenci. Itu berarti tanyakanlah hal tersebut sebelum menikah. Tentu saja ini bisa dimaklumi karena sudah selayaknya jika seseorang ingin menikah dengan seorang wanita maka ia harus tahu keadaan wanita tersebut baik melalui persaksian dirinya atau melalui keterangan dari keluarganya.

Kalimat terakhir yaitu menanyakan status wanita tersebut dan memeriksa statusnya bukanlah syarat atas sahnya nikah mut’ah. Dalam mazhab syi’ah nikah mut’ah itu sah dengan adanya akad nikah mut’ah yang menyebutkan keterangan waktu dan maharnya. Menanyakan status dan memeriksa status wanita memang bukan syarat sahnya nikah mut’ah.

Jika sesuatu itu disebut sebagai syarat sah maka ia harus ada dan jika tidak ada maka hukumnya tidak sah. Jika seseorang tidak menanyakan dan tidak memeriksa status wanita tersebut karena sudah jelas bagi dirinya akan keadaan wanita tersebut [misalkan keluarganya telah mengabarkan kepadanya tanpa ia perlu bertanya atau memeriksa wanita itu] maka tetap saja pernikahan itu sah.

Dan pernyataan Sayyid Al Khumainiy tersebut bukan berarti membolehkan seseorang menikahi wanita yang telah bersuami dan bukan juga membolehkan untuk meneruskan pernikahan dengan istri yang ternyata baru diketahui bahwa ia memiliki suami. Silakan Al Amiry membaca kitab Tahriir Al Wasiilah maka ia akan menemukan pernyataan berikut

Tahrir Wasilah jilid 2 hal 232 Masalah 24

إذا ادعت امرأة أنها خلية فتزوجها رجل ثم ادعت بعد ذلك أنها كانت ذات بعل لم تسمع دعواها ، نعم لو أقامت البينة على ذلك فرق بينهما ، و يكفى فى ذلك بأن تشهد بأنها كانت ذات بعل فتزوجت حين كونها كذلك من الثانى من غير لزوم تعيين زوج معين

Jika seorang wanita mengaku bahwa ia tidak memiliki suami dan ia dinikahi oleh seorang laki-laki kemudian setelah itu, ia mengaku memiliki suami maka jangan didengar pengakuannya. Memang, kalau wanita tersebut membawa bukti atas pengakuannya itu, maka harus dipisahkan keduanya. Dan cukuplah dalam hal demikian itu orang yang bersaksi bahwa ia memiliki suami sebelumnya dan ia menikah lagi dengan suaminya sekarang dalam keadaan masih demikian tanpa harus menyebutkan dengan jelas siapa suami sebelumnya. [Tahrir Al Wasilah Sayyid Al Khumainiy 2/232 masalah 24]

Maka dari itu bisa saja suatu pernikahan baik nikah da’im atau nikah mut’ah [yang pada awalnya telah sah] kemudian menjadi batal atau harus dipisahkan keduanya karena terdapat pembatal nikah yang baru diketahui setelah pernikahan itu dinyatakan sah misalnya istri tersebut baru diketahui terbukti sudah punya suami sebelumnya.

Pada intinya adalah Al Amiry berdusta atas ulama Syi’ah Sayyid Al Khumainiy. Al Amiry mengesankan kepada para pembacanya bahwa Sayyid Al Khumainiy membolehkan menikahi wanita yang sudah bersuami padahal faktanya Sayyid Al Khumainiy tidak pernah membolehkan menikahi wanita yang sudah bersuami.

.

.

.

Kemudian Al Amiry membawakan riwayat Imam Ja’far dalam kitab Syi’ah yang menurut anggapannya dapat ia jadikan hujjah untuk menyerang Emilia. Al Amiry berkata

Bahkan Imam mereka Ja’far Ash Shodiq telah menegur seseorang karena dia memeriksa status wanita mut’ahnya yang telah memiliki suami. Disebutkan dalam kitab mereka:

قال: قلت اني تزوجت امرأة متعة فوقع في نفسي أن لها زوجا ففتشت عن ذلك فوجدت لها زوجا قال: ولم فتشت؟!

Seseorang berkata: Aku berkata: seseungguhnya aku menikahi seorang wanita secara mut’ah, maka terbesit dalam pikiranku bahwasanya dia memiliki seorang suami. Maka aku memeriksa hal tersebut dan aku mendapatkannya dia masih memiliki seorang suami. Maka Ja’far berkata: “Kenapa engkau malah memeriksa statusnya ?!” Tahdzib Al Ahkam 218/13 dan Wasa’il Asy Syiah 246/6

Lihat, apa yang dilakukan oleh Imam Mereka Ja’far Ash Shodiq yang melarang seseorang karena dia telah memeriksa dan menanyakan status wanita mut’ahnya yang telah memiliki suami. Jika Emilia mau bukti dengan minta screenshootnya, maka akan kami berikan kepadanya, baik dari kitab tahdzib Al Ahkam ataupun Wasa’il Asy Syiah. Jangan kira kami sembarang copas, karena kami punya kitab ini semua dan kami screenshoot langsung dari kitab mereka. Alasan apa lagi yang akan dilakukan oleh dedengkot syiah satu ini ??

Berikut riwayat beserta sanad lengkapnya dalam kitab Tahdzib Al Ahkam oleh ulama Syi’ah Syaikh Ath Thuusiy

روى محمد بن أحمد بن يحيى عن علي بن السندي عن عثمان بن عيسى عن إسحاق بن عمار عن فضل مولى محمد بن راشد عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قلت اني تزوجت امرأة متعة فوقع في نفسي أن لها زوجا ففتشت عن ذلك فوجدت لها زوجا قال: ولم فتشت؟

Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari ‘Aliy bin As Sindiy dari ‘Utsman bin Iisa dari Ishaaq bin ‘Ammaar dari Fadhl maula Muhammad bin Raasyid dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata aku menikahi seorang wanita secara mut’ah maka muncul dari diriku bahwa ia memiliki suami. Maka aku menyelidiki hal tersebut dan menemukan bahwa ia memiliki suami. Beliau berkata “mengapa engkau menyelidikinya?”. [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 7/253]

Riwayat di atas sesuai dengan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah kedudukannya dhaif karena

  1. ‘Aliy bin As Sindiy dia perawi yang tidak tsabit tautsiq terhadapnya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 398]
  2. Fadhl maula Muhammad bin Raasyid seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 458]

Justru terdapat riwayat shahih dalam kitab Al Kafiy Al Kulainiy yang mengisyaratkan tidak bolehnya menikahi mut’ah wanita yang bersuami.

عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسين بن سعيد عن فضالة عن ميسر قال قلت لأبي عبد الله (عليه السلام) ألقى المرأة بالفلاة التي ليس فيها أحد فأقول لها هل لك زوج؟ فتقول لا، فأتزوجها؟ قال نعم هي المصدقة على نفسها

Dari sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin ‘Iisa dari Husain bin Sa’iid dari Fadhalah dari Maysar yang berkata aku berkata kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “aku menemui seorang wanita di tengah padang luas dan tidak ada seorangpun bersamanya, maka kukatakan kepadanya “apakah engkau memiliki suami”. Maka ia berkata “tidak”, bolehkah aku menikahinya?. Beliau berkata “boleh, dia adalah saksi yang membenarkan keadaan dirinya” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/462]

Di sisi Al Kulainiy lafaz “sekelompok sahabat kami” dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa tidak bermakna majhul sebagaimana yang dinukil An Najasyiy

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني وداود بن كورة وأحمد بن إدريس وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idrisdan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

Maka dari itu sanad riwayat Al Kafiy di atas kedudukannya shahih berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyimseorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy disebutkan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam hadis dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  5. Maysar bin ‘Abdul Aziz termasuk sahabat Imam Baqir dan Imam Shaadiq, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 634]

Riwayat di atas mengisyaratkan bahwa menikahi wanita yang memiliki suami adalah tidak boleh, karena kalau memang dibolehkan maka tidak ada gunanya perawi tersebut bertanya kepada Imam Ja’far dan jawaban Imam Ja’far tersebut akan menjadi rancu. Toh kalau tidak ada bedanya sudah bersuami atau tidak yaitu sama-sama boleh dinikahi, maka tidak ada gunanya pernyataan Imam Ja’far bahwa “ia adalah saksi yang membenarkan keadaan dirinya”.

Jawaban Imam Ja’far ini justru menjelaskan bahwa pengakuan seorang wanita akan dirinya menjadi hujjah yang dapat diterima oleh karena itu pernyataan wanita tersebut bahwa ia tidak memiliki suami menjadikannya boleh untuk dinikahi. Artinya jika wanita tersebut memiliki suami maka tidak boleh dinikahi.

Dan dalil paling kuat di sisi mazhab Syi’ah mengenai haramnya menikahi wanita yang sudah bersuami baik secara nikah da’im atau nikah mut’ah adalah Al Qur’an An Nisaa’ ayat 24

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan [diharamkan juga kamu menikahi] wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, [yaitu] mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS An Nisaa’ ayat 24]

.

.

.

Penutup

Kami heran dengan orang-orang alim yang karena kebenciannya terhadap mazhab Syi’ah maka mereka merendahkan diri menjadi orang dungu dan pendusta. Apakah mereka pikir tidak ada orang yang akan mengungkap kedunguan dan kedustaan mereka?. Zaman sekarang ini dunia ilmu sudah semakin mudah untuk dicapai hanya tinggal kemauan dan usaha. Jadi kami sarankan untuk orang-orang seperti Al Amiry agar belajar dulu dengan baik mengenai mazhab Syi’ah sebelum anda sok tahu mencelanya.

Alangkah malangnya orang-orang awam yang disesatkan oleh orang-orang alim dengan kedunguan dan kedustaan. Biasanya orang-orang awam itu hanya ikut-ikutan sok tahu dan ikut-ikutan mencela. Jika ditunjukkan kebenaran kepada orang-orang awam tersebut kemudian diungkapkan kedustaan orang alim yang mereka ikuti maka mereka malah mendustakan kebenaran dan membela kedustaan. Maka kami sarankan kepada para pembaca jangan mau menjadi orang awam, belajarlah dan timbanglah semua pengetahuan yang didapat dengan timbangan kebenaran.

Syubhat Qunut Shubuh Secondprince 2 : Kejahilan Toyib Mutaqin

 

 

 

 

sumber : Secondprince

Syubhat Qunut Shubuh Kejahilan Toyib Mutaqin?

Berdiskusi dengan orang jahil tidak ada gunanya, bagi Toyib Mutaqin yang jahil hal itu memang tidak ada gunanya tetapi bagi para pembaca yang objektif maka itu akan berguna. Para pembaca dapat melihat letak kejahilan orang-orang seperti Toyib Mutaqin, ia merasa setelah dengan mengutip satu dua hadis kemudian pendapat satu dua ulama maka ia sok berasa di atas Sunnah.

Perhatikanlah wahai pembaca modal utama dalam memahami hadis dan perkataan ulama adalah akal yang baik. Orang yang berakal baik dapat berhujjah dengan benar dapat menimbang perkataan ulama dengan benar. Bukan seperti orang jahil yang sok berpegang pada ulama seolah hanya dirinya saja yang berpegang pada ulama. Para ulama sudah banyak berselisih mengenai qunut shubuh jadi alangkah lucunya orang jahil itu kalau mengira hanya dirinya yang berpegang pada ulama.

Toyib Mutaqin dengan kejahilannya kembali membantah tulisan kami, bantahan jahilnya tersebut dapat pembaca lihat di situsnya disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2014/12/syubhat-qunut-shubuh-secondprince-2.html.

Orang ini semakin banyak ia menulis maka semakin banyak ia menunjukkan kejahilannya. Aneh bin ajaib ia tidak sadar bahwa dirinyalah yang jahil bahkan menuduh kami yang dusta dan mengada-ada. Kami akan membahas bantahannya dan menunjukkan kejahilannya, bantahan darinya adalah yang kami quote

.

.

.

Jawab : Sebenarnya perkaranya mudah bagi yg akalnya sehat bukan bagi orang yg logikanya sakit macam orang syiah tu.

Lihat hadits diatas baik2 ! anas mengatakan KAMI yaitu sahabat nabi

روى محمد بن نصر عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يقنت بعد الركعة وأبو بكر وعمر حتى كان عثمان فقنت قبل الركعة ليدرك الناس قال العراقي وإسناده جيد

Telah meriwayatkan Muhammad ibn nashr dari anas bahwa rosul qunut sesudah ruku’,dan abu bakar,umar.hingga saat masa utsman maka beliau qunut sebelum rukuk supaya manusia mendapatinya.al ‘iroqy berkata sanadnya jayyid

Di atas adalah contoh orang jahil berhujjah dengan hadis. Silakan lihat ia berhujjah tanpa menyebutkan referensi hujjahnya. Hadis di atas telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al Marwadziy dalam kitab Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ بَعْدَ الرَّكْعَةِ ، وَأَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرُ ، حَتَّى كَانَ عُثْمَانُ قَنَتَ قَبْلَ الرَّكْعَةِ لِيُدْرِكَ النَّاسَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Humaid dari Anas yang berkataRasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut setelah ruku’, dan begitu pula Abu Bakar dan Umar, sampai Utsman melakukan qunut sebelum ruku’ agar orang-orang bisa mendapatinya [Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317]

Sebelumnya orang jahil ini pernah berkata ketika mengomentari hujjah saya berdasarkan hadis Humaid dari Anas mengenai qunut shubuh sebelum ruku’ dan sesudah ruku’

Jawab : itulah pemahaman sakit ente..tunjukkan dalam lafadz hadits diatas yg mana yg menunjukkan nazilah atau tanpa nazilah kecuali dari akal2an ente doang.

Coba lihat cara anda sendiri berhujjah wahai jahil, apakah dalam riwayat Muhammad bin Nashr yang anda kutip itu ada lafaz qunut shubuh dengan nazilah?. Jangan sok bertanya soal lafaz kalau anda sendiri tidak paham.

Riwayat Muhammad bin Nashr Al Marwadziy di atas dimasukkannya dalam kitab Witir, maka terdapat kemungkinan kalau yang dimaksud itu adalah qunut witir. Tentu saja kami tidak akan memastikan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut witir dan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut shubuh. Memang kemungkinan yang lebih rajih adalah qunut shubuh berdasarkan riwayat Humaid dari Anas yang disebutkan Ibnu Majah dimana terdapat lafaz “qunut shubuh”.

Orang ini taklid pada pernyataan Al Iraqiy bahwa sanadnya jayyid. Hal ini perlu diperjelas, sanad riwayat Muhammad bin Nashr di atas para perawinya tsiqat hanya saja ‘Abdul Aziiz bin Muhammad Ad Darawardiy yang meriwayatkan dari Humaid termasuk perawi yang diperbincangkan hafalannya.

وقال أبو زرعة سيء الحفظ ربما حدث من حفظه الشيء فيخطيء

Abu Zur’ah berkata “buruk hafalannya, ia menceritakan sesuatu dari hafalannya maka ia keliru” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

وقال الساجي كان من أهل الصدق والأمانة إلا أنه كثير الوهم

As Sajiy berkata “ia termasuk orang yang jujur dan amanah hanya saja ia banyak melakukan kesalahan” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

قال أحمد بن حنبل: إذا حدث من حفظه يهم، ليس هو بشيء، واذا حدث من كتابه فنعم

Ahmad bin Hanbal berkata “jika menceritakan hadis dari hafalannya maka terkadang keliru, tidak ada apa-apanya dan jika menceritakan hadis dari kitabnya maka ia benar” [Mizan Al I’tidal juz 4 no 5130]

Kedudukan perawi seperti ini adalah riwayatnya hasan jika tidak ada penyelisihan tetapi jika ia menyelisihi perawi tsiqat maka riwayatnya tertolak. Jika qunut yang dimaksud dalam riwayat ini adalah qunut shubuh maka riwayat Abdul ‘Aziiz Ad Darawardiy ini telah menyelisihi riwayat tsiqat yang membuktikan bahwa Umar bin Khaththab juga melakukan qunut sebelum ruku’

حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع بن الجراح قال حدثنا سفيان عن مخارق عن طارق بن شهاب أنه صلى خلف عمر بن الخطاب الفجر فلما فرغ من القراءة كبر ثم قنت ثم كبر ثم ركع

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ bin Jarrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Mukhaariq dari Thaariq bin Syihaab bahwasanya ia shalat shubuh di belakang Umar bin Khaththab maka ketika Umar selesai membaca surat ia bertakbir kemudian membaca Qunut, kemudian takbir kemudian ruku’ [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/107 no 7033]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Umar bin Khaththab dan membuktikan kalau Umar juga melakukan qunut sebelum ruku’.

  1. Sufyaan Ats Tsawriy adalah seorang tsiqat faqih ahli ibadah imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/371].
  2. Mukhariq bin Khaliifah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/165].
  3. Thariq bin Syihaab Al Ahmasiy ia seorang yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi tidak mendengar hadis darinya [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/447].

Kesimpulannya adalah riwayat yang dijadikan hujjah orang jahil tersebut tidak bernilai sama sekali. Ia sok berhujjah tetapi tidak mengerti kaidah ilmiah. Ajaibnya di atas kejahilannya ia malah menuduh orang lain dusta dan mengada-ada.

.

.

.

Kemudian orang itu mengutip riwayat Al Baihaqiy mengenai doa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ العباس بن الوليد أخبرني أبي ثنا الأوزاعي حدثني عبدة بن أبي لبابة عن سعيد بن عبد الرحمن بن أبزي عن أبيه قال صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه صلاة الصبح فسمعته يقول بعد القراءة قبل الركوع اللهم إياك نعبد ولك نصلى ونسجد وإليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكافرين ملحق اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك الخير ولا نكفرك ونؤمن بك ونخضع لك ونخلع من يكفرك

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub yang berkata telah memberitakan kepada kami Abbaas bin Waalid yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Awza’iy yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdah bin Abi Lubaabah dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abzaa dari Ayahnya yang berkata aku shalat di belakang Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] shalat shubuh maka aku mendengarnya setelah membaca ayat sebelum ruku’ “Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu kami shalat dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera, kami mengharapkan rahmat-Mu dan kami takut akan siksaan-Mu, sesungguhnya siksaan-Mu akan menimpa orang-orang kafir. Ya Allah sesungguhnya kami meminta pertolongan kepada-Mu dan memohon ampun kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan kebaikan, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami tunduk kepada-Mu dan kami meninggalkan orang-orang yang ingkar kepada-Mu [Sunan Al Baihaqiy 2/211 no 2963]

Orang itu berhujjah dengan riwayat di atas bahwa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] yang dilakukan sebelum ruku’ adalah qunut nazilah. Dan dengan dustanya ia berkata

Dan semua ulama’ sepakat ini adalah doa dalam qunut nazilah

Kesimpulan : qunut nazilah sebelum ruku’ yg shohih adalah sunnah dari sahabat walaupun yg setelah ruku’ lebih sering dilakukan,dan nazilah sebelum ruku’ tidak pernah dilakukan nabi.

Dari mana ia bisa menyatakan semua ulama sepakat bahwa doa tersebut adalah qunut nazilah?. Zhahir riwayat menyatakan bahwa itu adalah doa qunut shubuh dan tidak ada dalam lafaz doa tersebut Umar mendoakan keburukan atau laknat bagi suatu kaum tertentu sebagaimana yang dilakukan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam qunut nazilah terhadap bani Sulaim Ri’l dan Dzakwan. Tidak ada pula bukti riwayat yang menyebutkan bahwa Umar mengucapkan doa qunut yang sama pada semua shalat wajib lain [selain shalat shubuh]. Jadi apa buktinya kalau itu adalah qunut nazilah.

Dan merekalah yg didustakan oleh anas yaitu orang2 yg menuduh rosul qunut sebelum ruku’ dalam sholat shubuh/fajr.

Imam bukhori meriwayatkan :

كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

Dia telah berdusta,sesungguhnya rosul qunut setelah rukuk sebulan saja.

Perkataan orang jahil ini adalah dusta. Orang yang didustakan oleh Anas bukanorang yang menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’ dalam shalat shubuh. Inilah hadis Bukhariy yang dimaksud

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْقُنُوتُ قُلْتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَهُ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقَالَ كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

[‘Aashim] berkata aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang Qunut, maka ia berkata “sungguh Qunut itu memang ada”. Aku bertanya “sebelum ruku’ atau sesudah ruku’?”. Ia berkata sebelum ruku’. Aku berkata “sesungguhnya fulan mengabarkan kepadaku darimu bahwa engkau mengatakan setelah ruku’. Maka ia berkata “dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanyalah melakukan Qunut setelah ruku’ selama satu bulan… [Shahih Bukhariy 2/26 no 1002]

Perhatikan lafaz yang kami cetak tebal. Justru yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang yang meriwayatkan darinya bahwa Qunut shubuh itu setelah ruku’. Menurut Anas bin Malik qunut shubuh itu dilakukan sebelum ruku’ kecuali jika qunut tersebut adalah qunut nazilah maka dilakukan setelah ruku’.

حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري ، قال : حدثنا أبو معاوية الضرير ، عن عاصم الأحول ، قال : سألنا أنسا عن القنوت، قبل الركوع أو بعد الركوع ، فقال : لا ، بل قبل الركوع ، قلت : فإن أناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت بعد الركوع ، قال : « كذبوا ، إنما قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو على أناس قتلوا أناسا من أصحابه يقال لهم » القراء

Telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’iid Al Jauhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Adh Dhariir dari ‘Aashim Al Ahwal yang berkata kami bertanya kepada Anas tentang qunut sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Beliau berkata “tidak, bahkan sebelum ruku’. Aku berkata “orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Beliau berkata “mereka dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya qunut [yaitu setelah ruku’] ketika mendoakan atas orang-orang yang membunuh para sahabatnya dari kalangan qurra’ [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabariy no 529]

Silakan perhatikan lafaz yang dicetak tebal. Yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya melakukan qunut nazilah setelah ruku’ maka mengapa dikatakan dusta orang-orang yang beranggapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kerancuan ini dapat dipahami bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga melakukan qunut sebelum ruku’ dan itu bukan qunut nazilah.

Seandainya qunut yang ditanyakan ‘Aashim kepada Anas adalah qunut nazilah maka hakikat peristiwa itu akan menjadi seperti ini. Anas bin Malik menjawab qunut nazilah itu sebelum ruku’. ‘Aashim kembali berkata bahwa Anas pernah mengatakan kalauqunut nazilah itu setelah ruku’. Anas menjawab itu dusta, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’ selama satu bulan yaitu qunut nazilah. Lihatlah wahai pembaca, siapapun yang punya akal akan mengatakan peristiwa ini rancu sekali. Bagaimana mungkin Anas mengatakan dusta dan di saat yang sama justru ia mengatakan hal yang ia dustakan.

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ السَّامِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ السَّلُولِيِّ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah As Saamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy dari Buraid bin Abi Maryam As Saluuliy yang berkata aku shalat bersama Anas bin Malik shalat shubuh maka ia membaca qunut sebelum ruku’ [Tahdzib Al Atsar Ath Thabariy no 624]

Anas bin Malik jauh lebih paham hadis yang ia riwayatkan, maka dari itu ia tetap melakukan qunut shubuh sebelum ruku’. Qunut ini adalah qunut tanpa nazilah karena jika memang qunut nazilah maka Anas akan melakukannya setelah ruku’ sebagaimana hadis yang ia riwayatkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut nazilah setelah ruku’ selama satu bulan.

Orang ini memang dari kemarin-kemarin sudah gagal paham tapi ajaibnya ia berasa dirinya yang paling paham soal hadis Anas bin Malik.

Jawab : itulah akibat logika sakit muhtalith,mencampur adukkan nash,hadits bukhori diatas tidak menyinggung sedikitpun tentang qunut sebelum ruku’.

Kalau ente mengaitkan dg hadits ibnu majah maka salah besar karena disana tidak ada kata2 sedikitpun bahwa rosul qunut sebelum ruku’.bukan syiah kalau tidak berdusta.

Orang jahil memang mana mengerti logika, uups tidak perlu bicara soal logika, bahkan si jahil ini sudah tidak bisa berfikir karena mungkin dalam anggapannya sudah tertanam virus “aku berfikir maka aku kafir” seperti dalam gambar yang ia pasang dalam tulisannya tersebut.

Hadis Bukhariy adalah bukti bahwa qunut shubuh setelah ruku’ hanyalah qunut nazilah. Jadi kalau Anas bin Malik melakukan qunut sebelum ruku’ [sebagaimana riwayat Ibnu Majah] maka sudah jelas itu qunut tanpa nazilah. Ngapain Anas bin Malik menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia riwayatkan.

Hadis riwayat Ibnu Majah memang menyebutkan perkataan Anas bin Malik dengan lafaz kami melakukan qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’. Lafaz ini bisa mengandung makna hanya perbuatan sahabat yang tidak bersifat marfu’ atau bisa pula bersifat marfu’ [disandarkan kepada Nabi]. Hal itu tergantung dengan qarinah yang ada. Berikut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim riwayat yang sama

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ حَفْصٍ ، ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، قَالَ : قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : ” نَعَمْ ، قَنَتَ شَهْرًا ” ، فَقُلْتُ : قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ ؟ قَالَ قَبْلَ وَبَعْدَ حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ ، ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، ثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كُلَّ ذَلِكَ قَدْ فَعَلَ ، قَبْلَ وَبَعْدَ ” ، يَعْنِي أَنَّهُ قَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muzhaffar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy dari Syu’bah dari Humaid yang berkata aku berkata kepada Anas bin Malik “apakah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut?”. Beliau berkata “benar, Beliau qunut satu bulan”. Maka aku berkata “sebelum ruku’ atau setelahnya”. Beliau berkata “sebelum dan sesudah”. Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Humaid dari Anas yang berkata“semuanya telah dilakukan, sebelum dan setelah [ruku’], yaitu bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melakukan qunut”.[Hilyatul Auliyaa’ Abu Nu’aim 9/33]

Sanad riwayat pertama lemah karena Sufyaan bin Wakii’ tetapi dikuatkan oleh riwayat kedua dengan sanad yang jayyid, berikut keterangan para perawinya

  1. Abu Muhammad bin Hayyaan dikenal sebagai Abu Syaikh ia seorang imam hafizh, Ibnu Mardawaih menyatakan ia tsiqat ma’mun. Al Khatib berkata Abu Syaikh hafizh tsabit mutqin [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 16/276-278 no 196]
  2. Muhammad bin Sahl Abu Ja’far Al Ashbahaniy dia adalah salah satu guru Abu Syaikh dan Abu Syaikh telah memujinya. Disebutkan dalam Irsyaad Al Qaashiy bahwa ia seorang yang shaduq [Irsyaad Al Qaashiy Wad Daaniy Ila Tarajim Syuyukh Thabraniy no 909]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Umar bin Yaziid Al Ashbahaniy salah seorang guru Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Abu Hatim berkata tentangnya “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/263 no 1245]
  4. ‘Abdurrahman bin Mahdiy seorang yang tsiqat tsabit hafizh, arif dalam ilmu rijal dan hadis [Taqrib At Tahdzib 1/592]
  5. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin, Ats Tsawriy mengatakan ia amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdziib 1/418]
  6. Humaid bin Abi Humaid seorang yang tsiqat dan melakukan tadlis [Taqrib At Tahdziib 1/244]

Jika sanad tersebut dilemahkan karena Humaid seorang mudallis maka dijawab bahwa ‘An ‘anah Humaid dari Anas tidak memudharatkan sanad tersebut karena walaupun Humaid dikatakan melakukan tadlis, telah cukup dikenal bahwa tadlis Humaid dari Anas bin Malik adalah diterima karena melalui perantara Tsaabit seorang yang tsiqat.

Justru riwayat ibnu majah yg lain,nomer selanjutnya yaitu 1184 menyibak kedustaanmu

سألت أنس بن مالك عن القنوت فقال قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم بعد الركوع

Saya bertanya anas tentang qunut maka beliau menjawab rosul qunut setelah ruku

Wahai jahil bagian mana dalam hadis di atas yang menunjukkan kedustaan kami. Justru kami telah menjelaskan bahwa qunut dalam hadis tersebut adalah qunut nazilah yang menurut Anas bin Malik dilakukan setelah ruku’. Sok menuduh orang dusta padahal tidak paham arti dusta.

Dan juga riwayat ibnu majah yg lain,nomer sebelumnya yaitu 1182 menyingkap kelicikanmu

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يوتر فيقنت قبل الركوع

Sesungguhnya rosul sholat witir maka beliau qunut sebelum ruku

Bagian mana dari hadis di atas yang menunjukkan kelicikan kami, justru ketika anda membawakan hadis di atas hanya menunjukkan kesekian kalinya kejahilan anda yang luar biasa. Jelas-jelas hadis tersebut berbicara tentang qunut witir bukan qunut shubuh. Jaka sembung bawa golok ya gak nyambung plok.

.

.

.

Telah meriwayatkan ibnul mundzir dari humaid dari sahabat anas sendiri dg lafadz : sungguh sebagian sahabat nabi mereka qunut dalam sholat shubuh sebelum ruku’ dan sebagian yg lain setelah ruku’.adapun nabi maka tidak diketahui darinya qunut di sholat wajib kecuali qunut nazilah.dan tidaklah nabi qunut nazilah kecuali setelah ruku’

Jadi gak ada nabi qunut sebelum rukuk dalam sholat wajib.

Kalau cuma menukil perkataan ulama maaf kami juga bisa. Apa menurut anda tidak ada ulama yang menyatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah qunut sebelum ruku’?. Silakan baca ini

ثبت أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قنت في صلاة الفجر ، و ثبت أنه قنت قبل الركوع و بعد الركوع ، و ثبت أنه قنت لأمر نزل بالمسلمين من خوف عدوّ و حدوث حادث .

Telah tsabit bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut dalam shalat shubuh dan telah tsabit bahwa Beliau qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’ dan telah tsabit bahwa Beliau qunut nazilah dalam hal yang menimpa kaum muslimin dari ketakutan atas serangan musuh dan musibah yang baru terjadi [‘Aaridhat Al Ahwadziy Syarh Shahih Tirmidziy, Ibnu Arabiy Al Malikiy 2/192]

Soal imam malik,tunjukkan nukilannya bahwa beliau menyatakan qunut tanpa nazilah dalam sholat wajib.ditunggu,kalau memang ente sanggup.

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

الحديث مضلة إلا للعلماء

Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang (yang membacanya) kecuali bagi para ulama

حدثنا يونس قال أنا بن وهب قال : سمعت مالكا يقول الذي أخذته في خاصة نفسي القنوت في الفجر قبل الركوع

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata aku mendengar Malik mengatakan perkara yang aku ambil khususnya bagi diriku qunut dalam shalat shubuh adalah sebelum ruku’[Syarh Ma’aniy Al Atsaar Ath Thahawiy 2/245 no 1464]

Dan Ath Thahawiy menambahkan bahwa diantara hujjah bagi kelompok yang menyatakan qunut shubuh sebelum ruku’ adalah hadis riwayat ‘Aashim dari Anas bin Malik.

Disebutkan juga Imam Malik pernah berkata bahwa barang siapa yang lupa membaca qunut dalam shalat shubuh maka tidak perlu sujud sahwi [Al Mudawwanat Al Kubra 1/192]

Siapapun yang berakal akan paham bahwa qunut yang dimaksud oleh Imam Malik tersebut bukan qunut nazilah karena tidak ada istilah lupa bagi qunut nazilah. Qunut nazilah itu terikat pada situasi tertentu di waktu tertentu sedangkan sifat lupa itu tertuju pada hal yang sudah menjadi kebiasaan untuk dilakukan. Qunut yang biasa dilakukan pada shalat shubuh bukan qunut nazilah.

Jawab : inilah akibat mengangkangi para ulama’.justru ulama itu berpendapat setelah tahu dalil bukan kayak ente dalil ditafsiri pake akal rusak ente sendiri.

Coba anda pikirkan dengan baik mengapa para ulama bisa berselisih satu sama lain dalam perkara tertentu. Tidak lain karena mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman yang berbeda terhadap suatu dalil. Ada yang lebih tahu dan paham kemudian ada yang tidak tahu dan kurang paham atau salah paham terhadap suatu dalil. Hal ini perkara yang sering ditemukan oleh orang yang sering membaca kitab Fiqih. Maka dari itu kami selalu menekankan untuk menimbang setiap perkataan ulama dengan dalil.

Kalau menuruti logika anda yang jahil maka ulama mazhab Syafi’iy dan ulama mazhab Malikiy dimana mereka menetapkan adanya qunut shubuh [bukan qunut nazilah] jelas lebih tahu dan lebih paham dalil dari anda. Maka tidak perlu anda sok membantah dengan dalil dan akal anda yang sudah lama rusak. Yah begitulah logika anda dapat menyerang diri anda sendiri.

Jawab : allohu akbar,sungguh lancang membenturkan perkataan ibnu rojab dg hadits.

Seperti dikatakan ibnu qoyyim : itu hanyalah dari fahmun saqim(pemahaman yg sakit)

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah (seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i) :

الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

خذوا العلم من أفواه العلماء

Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama.

Siapa ulama sebelummu yg berani berkata semacam itu ???

Apa masalahnya wahai jahil?. Apa anda pikir Ibnu Rajab itu orang yang ma’shum?. Setiap perkataan ulama mesti ditimbang dengan dalil bukannya setiap dalil hadis harus ditundukkan dengan perkataan ulama. Wajar saja kalau saya katakan perkataan Ibnu Rajab bertentangan dengan hadis shahih. Pembahasannya pun sudah kami sebutkan. Maaf miskin sekali bantahan anda wahai jahil. Adapun pencacatan terhadap hadis sebagai syadz harus dilihat apakah sesuai dengan kaidah ilmu hadis atau tidak. Pembahasannyapun sudah kami sebutkan, anehnya anda bukannya membahas hujjah malah sibuk bertaklid dan mengoceh tidak karuan. Kalau mau berhujjah fokus pada dalil bukan pada waham anda sendiri.

Bukankah anda sendiri menolak para ulama yang menyatakan shahih hadis Abu Ja’far Ar Raziy yang menyebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut terus menerus sampai Beliau wafat. Apa pernah kami menyatakan anda sok lebih pintar dari ulama?. Kami tidak ada keberatan soal itu bahkan kami setuju kalau ulama tersebut keliru karena memang sesuai dengan kaidah ilmu hadis, hadis tersebut lemah.

Kalau memang anda menginginkan ulama sebelum kami yang menyatakan hal yang sama dengan apa yang kami katakan maka silakan lihat, kami akan mengutip ulama yang memahami hadis-hadis Anas [tentang qunut shubuh] sama seperti yang kami pahami. Ibnu Hajar pernah berkata dalam Fath Al Bariy

ومجموع ما جاء عن أنس من ذلك؛ أنّ القنوت للحاجة بعد الركوع لا خلاف عنه في ذلك، وأمّا لغير الحاجة فالصحيح عنه أنه قبل الركوع. وقد اختلف عمل الصحابة في ذلك، والظاهر أنه من الاختلاف المباح

Dan kumpulan hadis-hadis dari Anas tentang demikian [qunut shubuh] adalah qunut karena keperluan dilakukan setelah ruku’ tidak ada perselisihan mengenai hal itu. Adapun qunut bukan karena keperluan tertentu maka yang shahih adalah dilakukan sebelum ruku’. Dan sungguh telah berselisih amalan para sahabat tentang hal ini, yang zhahir bahwasanya ini termasuk perselisihan yang dibolehkan [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 2/491]

Perkataan qunut karena suatu keperluan yang dimaksud Ibnu Hajar tidak lain adalah qunut nazilah sedangkan qunut bukan karena keperluan adalah qunut tanpa nazilah. Kami tidak asal taklid pada perkataan Ibnu Hajar tetapi kami berpegang pada dalil dan hasilnya memang bersesuaian dengan apa yang dikatakan Ibnu Hajar.

Jawab : inilah letak ketidak ilmiahan syiah suka menafsirkan dg tafsiran logikanya yg berpijak pada pertentangan dalil,kemudian seolah2 menjamak dalil seakan pahlawan kesorean.sungguh picik.

Kesalahan fatal ente menisbatkan sesuatu kepada seseorang sedangkan dalam lafadznya tidak ada penisbatan.ini lah sumber kebingungan ente,sehingga semua harus ente puter2 supaya menurut keinginan ente.

Tidak usah bawa-bawa Syi’ah wahai jahil. Syi’ah tidak ada urusannya disini. Apa anda pikir dengan tuduhan anda tersebut maka anda merasa bahwa diri anda benar dan orang yang anda tuduh Syi’ah sudah pasti dusta dan mengada-ada. Picik sekali anda, kalau anda memang mampu silakan bantah hujjah dengan hujjah bukannya membantah dengan ocehan tidak karuan dan tuduhan dusta. Atau jangan-jangan akal anda sudah begitu rusak sehingga tidak mampu lagi berpikir untuk memahami hujjah kami. Ooh kalau begitu kami ucapkan selamat tinggal dan kasihan betapa malangnya diri anda.

Jawab : gak ada sahabat menyelisihi sunnah kecuali hanyalah bualan syiah doang.justru ini menunjukkan kecermatan sahabat anas dan ibnu rojab bahwa fatwa haruslah dg menimbang sikon dan objek fatwa.tidak menafsirkan serampangan kayak ente

Ini komentar anda yang paling jahil menunjukkan anda tidak memahami dengan baik hanya asal bicara sok membela sahabat padahal hakikatnya mencela sahabat. Kami sebelumnya menekankan bahwa Anas bin Malik telah meriwayatkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa qunut nazilah itu dilakukan setelah ruku’. Kalau begitu mengapa dalam sebagian hadis, Anas bin Malik menyatakan bahwa qunut shubuh itu sebelum ruku’ [bahkan ia sendiri melakukannya]. Jawaban anda dengan taklid pada Ibnu Rajab bahwa itu hanyalah fatwa Anas saja kemudian ia tambahkan bahwa itu kecermatan Anas dengan fatwanya yang sesuai sikon dan objek fatwa.

Ini jawaban omong kosong, apa anda lupa dengan kaidah bahwa tidak ada ijtihad untuk perkara yang sudah ada nash-nya apalagi dalam masalah ibadah. Nash untuk qunut nazilah itu jelas dilakukan setelah ruku’ bahkan Anas bin Malik meriwayatkannya. Jadi mustahil Anas bin Malik akan memfatwakan hal lain yaitu sebelum ruku’. Apalagi sok bilang cermat dengan menimbang situasi dan kondisi. Lha memangnya aturan ibadah itu bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, kaidah dari mana itu.

Hakikatnya anda mengatakan Anas memfatwakan qunut nazilah sebelum ruku’ padahal ia tahu sunah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut nazilah dilakukan setelah ruku’. Lha ini kan sama saja dengan sengaja menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau dengan sengaja berbuat bid’ah padahal sudah tahu perkara sunnahnya. Justru anda yang sedang mencela sahabat Anas bin Malik dengan akal rusak anda.

Maka dari itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah qunut yang dikatakan Anas bin Malik sebelum ruku’ adalah qunut shubuh tanpa nazilah. Adapun qunut dengan nazilah maka itu dilakukan setelah ruku’

.

.

.

Jawab: kesimpulan ente menunjukkan kedunguan ente terlalu akut,apalagi menyalahkan imam al bazzar, ente seperti dalam syair : kambing congek pengen menanduk gunung,alih2 gunung hancur,justru tanduknya yg patah.

Imam al bazzar dan para ulama lain menyatakan syadz itu adalah riwayat yg ada dalam kitabnya al bazzar,adapun yg dalam shohih muslim maka tidak ada pertentangan karena yg dimaksud qunut disitu bukan qunutnya rosul.

Begitulah kalau orang tidak tahu kejahilannya. Jika kejahilan disertai dengan keangkuhan maka semua orang akan ia anggap dungu kecuali dirinya. Hadis riwayat Al Bazzar dan riwayat Muslim itu sanadnya sama mulai dari Abu Kuraib sampai Anas. Maka dari itu pada dasarnya itu adalah satu hadis yang sama bedanya adalah hadis Al Bazzar lebih ringkas dari hadis Muslim.

Dalam hadis Muslim tidak disebutkan secara jelas kalau perkataan Anas bin Malik bahwa qunut itu sebelum ruku’ berasal dari pendapat pribadi Anas ataukah ia bersandar pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi qarinah-nya dapat dilihat dari lafaz setelahnya

فقال قبل الركوع قال قلت فإن ناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قنت بعد الركوع

Maka [Anas bin Malik] berkata “sebelum ruku”. Aku berkata bahwa orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’.

Perkataan ‘Aashim selanjutnya mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan Anas bin Malik qunut itu sebelum ruku’ adalah disandarkan pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka dari itu hasil ringkasan riwayat Al Bazzar perkataan itu marfu’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’.

Si Jahil ini sok membela Al Bazzar padahal hakikatnya ia sendiri menyalahkan Al Bazzar [kami yakin ia tidak menyadarinya]. Yaitu ia pada hakikatnya menganggap Al Bazzar salah dalam meriwayatkan hadis. Ia mengatakan bahwa yang ada dalam Shahih Muslim qunut sebelum ruku’ itu bukan qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Anehnya Al Bazzar meriwayatkan qunut sebelum ruku’ itu qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal guru Al Bazzar dan Imam Muslim itu sama yaitu Abu Kuraib. Nah itu berarti Al Bazzaar yang keliru dalam meriwayatkan hadis.

Kami menyalahkan pendapat Al Bazzaar yang mengkritik hadis tersebut sedangkan si jahil itu justru menyalahkan periwayatan hadis Al Bazzaar. Jadi dalam pandangan si jahil itu adalah Al Bazzaar salah meriwayatkan kemudian Al Bazzaar sendiri mengkritik riwayat yang salah tersebut.

Sedangkan dalam pandangan kami adalah Abu Kuraib guru Al Bazzaar menyampaikan hadis lengkapnya kepada Imam Muslim tetapi menyampaikan hadis versi ringkasnya kepada Al Bazzaar. Al Bazzaar yang tidak mengetahui versi lengkap hadis tersebut salah paham, ia mengira hadis ‘Aashim dari Anas bertentangan dengan para perawi lain yang menetapkan qunut nazilah itu setelah ruku’ padahal dalam hadis versi lengkapnya [dalam riwayat Imam Muslim] hadis ‘Aashim dari Anas juga menyatakan bahwa qunut nazilah itu setelah ruku’ hanya saja terdapat tambahan [ziyadah] bahwa qunut tanpa nazilah itu sebelum ruku’. Kesimpulannya adalah hadis ‘Aashim tidak bertentangan dengan hadis-hadis perawi lain. Jadi sudah jelas orang yang taklid kepada Al Bazzaar setelah ia melihat riwayat Muslim hanya menunjukkan kejahilan pemahamannya terhadap hadis.

.

.

.

Jawab : justru keplinplanan ente berujung pada tuduhan kepada rosul apa yg tidak beliau lakukan,rosul saja difitnah apalagi ulama seperti ibnu rojab dg gampangnya menvonis ini keliru,itu salah hanya karena bertaqlid logika dangkal penuh hawa nafsu semata.

Tidak usah sok berbicara dengan bahasa yang ketinggian. Maaf perkataan seperti itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang penuh dengan kejahilan seperti anda. Kami yakin kalau anda sendiri akan dengan gampangnya menyalahkan para ulama yang menyatakan sunnah qunut shubuh tanpa nazilah. Dan dalam pandangan pengikut fanatik ulama-ulama tersebut, anda adalah orang yang mendustakan sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], orang yang gampang menyalahkan ulama, orang yang bertaklid dengan logika dangkal penuh hawa nafsu.

Maaf ya, orang-orang dengan kualitas seperti anda ini pasti ada saja dalam kelompok mazhab tertentu. Sok menuduh mazhab lain tanpa dasar ilmu, ujung-ujungnya cuma taklid pada ulama versi anda sendiri. Apa anda lupa bahwa orang-orang yang bertentangan dengan anda itu juga taklid pada ulama mereka?. Kami sangat berbeda dengan orang seperti anda, kami tidak taklid pada ulama tertentu, kami melihat dalil dan menimbang dalil dengan kaidah ilmiah kemudian mengambil pendapat yang paling rajih sesuai dalil tersebut.

Jawab : penjelasan ente tidak lebih dari pembenaran yg dipaksakan,gak ada nilai ilmiahnya justru mencederai keilmiahan itu sendiri.

Apalagi ucapan ini, tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang paham apa itu ilmiah, ketika menukil perkataan ulama atau riwayat ia akan menyebutkan referensi lengkapnya. Anehnya banyak sekali nukilan anda yang tanpa mencantumkan referensi lengkapnya. Itukah yang dinamakan ilmiah. Kalau menulis ilmiah saja anda tidak mampu apalagi membahas dan menganalisis secara ilmiah, jauh sekali. Akhir kata, kami kasihan sekali dengan orang-orang jahil yang sok membela agama tetapi tidak ada isinya.

dalam Al Kafi al-Kulaini terdapat banyak hadis yang dhaif

Najasyi, seorang ulama ahli rijal Syiah mengatakan, “Di masanya ia adalah Syaikh dan pembesar Syiah di kota Rei, dan dikenal sebagai ulama yang paling diandalkan dalam bidang hadis dengan kuatnya hafalannya dan paling teliti dalam mencatat. Karyanya yang paling utama adalah al-Kāfi yang disusunnya dalam jangka waktu 20 tahun.”

tidak ada masalah terhadap mazhab Syiah sebetulnya. Selama kita bisa memahami kurikulum Syiah dari orang-orang yang memang terbaik dari kalangan Syiah. Sebab di Syiah sendiri ada takfirinya, sebagaimana di Sunni juga ada takfirinya.

Perlakukan beberapa gelintir orang tidak bisa mewakili semuanya, bahkan pendapat ulama itu sendiri tidak serta mewakili semuanya. Bedanya di Iran atau di mazhab Syiah itu lembaga ulama lebih terstruktur sehingga dikenal ada istilah ulama marja dan sebagainya, beda dengan di Sunni yang lebih banyak corak pada pola berpikirnya.

Sunni dan Syiah hakekatnya sama-sama umat Nabi Muhammad Saw, namun karena factor historis dan percaturan politik, akhirnya terdapat sejumlah perbedaan. Namun perbedaan itu bukan dalam masalah teologi dan ibadah. Sebab rujukan kedua mazhab ini tetap sama, yaitu al-Qur’an dan as Sunnah. Percaturan politik di era-era awal Islam memang sempat terjadi kemelut, sehingga kemudian terbentuk firkah yang menamakan diri mereka Syiah Ali yang kemudian sekarang cukup disebut dengan Syiah saja.

Banyaknya kaum muslimin yang belum mengenal dan mengerti mazhab Syiah, terutama tentang pemikiran ulama-ulamanya itu disebabkan karena kurangnya interaksi mereka dengan buku-buku dan pemikiran-pemikiran Syiah. Karenanya alangkah baiknya, saran saya, lembaga-lembaga keagamaan Syiah mengirimkan buku-buku mereka ke organisasi-organisasi Sunni dan menyatakan, ini lho karya-karya kami, bahkan kalau perlu membuat perpustakaan-perpustakaan yang berisi kitab-kitab Syiah yang mudah diakses masyarakat Sunni. Sehingga antara kedua mazhab ini bisa saling berinteraksi, tukar wawasan dan saling bersinergi, sehingga kemungkinan bersitegang itu bisa diminimalisir.

Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi (Bahasa Arabابوجعفر محمّد بن یعقوب بن اسحاق الکلینی الرازی) lebih dikenal dengan al-Kulaini al-Razi (w. 328 H) adalah penulis kitab hadis paling masyhur al-Kāfi dan termasuk sebagai ahli hadis paling kesohor di kalangan Syiah. Menurut pendapat sebagian ahli sejarah, ia hidup di antara kepemimpinan Imam Kesebelas Syiah Imam Hasan Askari As dan Imam Zaman Imam Mahdi Afs. Ia adalah salah seorang ahli hadis yang bertemu dengan para perawi hadis yang mendengar langsung tanpa perantara hadis dari Imam Hasan Askari As atau Imam Hadi As.

Al-Kulaini tumbuh di tengah-tengah keluarga yang sangat besar kecintaannya kepada ilmu dan Ahlulbait. Ayahnya, Ya’qub bin Ishaq menaruh perhatian besar terhadap pendidikan al-Kulaini termasuk mengajarkan langsung etika Islam kepadanya. Al-Kulaini mendapatkan bimbingan pendidikan agama dari sejumlah ulama besar diantaranya, Muhammad bin Yahya Asy’ari, Abdullah Ja’far al-Himyari, Ali bin Husain ibn Babawaih al-Qumi dan Muhammad bin Yahya ‘Aththar.

Kitab terpenting dari sejumlahnya karyanya adalah Al-Kāfi yang kemudian menjadi sumber rujukan paling muktabar di kalangan Syiah dan menjadi salah satu kitab termasyhur dari Kutub Arba’ah Syiah. Al-Kulaini dalam penukilan hadisnya memiliki ketelitian dan kehatian-hatian dalam menyeleksi ketsiqahan para perawi dan sebisa mungkin menuliskan sanad periwayatannya. Ibn Qulawaih, Muhammad bin Ali Jiluyeh al-Qumi, Ahmad bin Muhammad Zurari adalah di antara muridnya yang terkenal.

Waktu dan Tempat Kelahiran

Meskipun tidak ada data yang valid mengenai waktu dan tempat kelahiran al-Kulaini, namun ahli sejarah menyepakati al-Kulaini lahir disebuah perkampungan bernama Kulain di kawasan Rei. Sementara mengenai waktu kelahirannya sebagian berpendapat ia lahir tidak lama sebelum atau setelah kelahiran Imam Mahdi Afs yaitu sekitar tahun 255 H dimasa terjadinya kegaiban sughra. Namun Syaikh Bahrul ‘Ulum berpendapat kemungkinan al-Kulaini lahir di masa-masa akhir kehidupan Imam Hasan Askari As. [1]

Ayatullah Khui meyakini, al-Kulaini lahir setelah kesyahidan Imam Askari As dan hidup dimasa Imam Mahdi Afs. [2]

Nama dan Lakab-lakabnya

Kitab-kitab Rijal dan setiap kitab Syarah dari karya-karyanya menyertakan catatan mengenai riwayat hidup al-Kulaini. Mereka menyebut al-Kulaini dengan sebutan bermacam-macam diantaranya Abu Ja’far, Muhammad bin Ya’qub, Ibnu Ishaq, Tsiqah al-Islam, al-Razi, Silsilah ataupun Baghdadi. [3] Ia adalah ulama Islam yang pertama mendapat gelar Tsiqah al-Islam dan menjadi gelar yang khusus diperuntukkan untuknya karena ketakwaannya, ilmu dan perannya yang besar dalam menyelesaikan banyak persoalan keagamaan termasuk fatwa-fatwa dan pendapatnya yang sampai sekarang sering dijadikan rujukan. [4]Ia juga mendapat lakab Silsilah karena ketika bermukim di Baghdad, ia tinggal di Darb al-Silsilah. [5]

Keluarga al-Kulaini

Banyak dari anggota keluarga al-Kulaini yang termasuk sebagai ulama besar. Ayahnya Ya’qub bin Ishaq adalah ulama kharismatik di masanya dan hidup di masa kegaiban sughra. [6]Abu al-Hasan Ali bin Muhammad yang lebih dikenal dengan ‘Alan Razi adalah ipar a-Kulaini. Muhammad bin Aqil Kulaini, Ahmad bin Muhammad dan Muhammad bin Ahmad adalah ulama besar lainnya dari anggota keluarga besar al-Kulaini. [7]

Masa Pendidikan dan Hijrah ke Qom

Al-Kulaini memulai pendidikannya di kota Rei, yang saat itu menjadi pusat pengkajian beberapa aliran Islam, diantaranya Ismaili, Hanifah, Syafi’i dan Syiah Imamiyah. Dengan adanya interaksi dan dialektika keilmuan dengan sejumlah mazhab yang berbeda menjadikan al-Kulaini kaya dengan ilmu dan khazanah keislaman. Iapun menekadkan diri untuk fokus pada aktivitas menulis dan mempelajari hadis. Di bawah bimbingan gurunya, Abu al-Hasan Muhammad bin Asadi al-Kufi, al-Kulaini mendalami ilmu hadis di kota Rei. [8] Untuk melengkapi pembedaharaan hadisnya, al-Kulaini mengunjungi dan bertemu langsung dengan ahli hadis yang mendapat hadis langsung dari lisan Imam Askari As dan Imam Hadi As. Sehingga sanad dari hadis yang ditulisnya tidak melalui rantai periwayatan yang panjang.

Kepribadian dan Keilmuan

Sebagaimana yang tertulis dari sejumlah kitab terjemahan maupun tarikh, baik yang mendukung maupun berseberangan pendapat dengannya menyebutkan al-Kulaini adalah seorang alim yang memiliki banyak fadhilah dan posisinya yang disegani dalam bidang hadis.[9]

Al-Kulaini dalam Ucapan Ulama-ulama Besar Syiah

Syaikh Thusi dalam kitab Rijal yang ditulisnya menulis, “Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini al-Makanni menurut Abu Ja’far A’war, seorang ulama besar dan alim, menyebutkan bahwa ia adalah seorang alim yang memiliki kredibilitas dibidangnya sebagaimana dibuktikan dengan kitab al-Kāfi yang ditulisnya [10] Ia juga oleh ulama-ulama yang lain diakui sebagai seorang yang tsiqah dan alim.” [11]

Najasyi, seorang ulama ahli rijal Syiah mengatakan, “Di masanya ia adalah Syaikh dan pembesar Syiah di kota Rei, dan dikenal sebagai ulama yang paling diandalkan dalam bidang hadis dengan kuatnya hafalannya dan paling teliti dalam mencatat. Karyanya yang paling utama adalah al-Kāfi yang disusunnya dalam jangka waktu 20 tahun.” [12]

Ulama Syiah lainnya seperti Ibnu Syahr Asyub, [13] Allamah Hilli, Ibnu Dawud Hilli, Tafrasyi, Ardibili, dan Sayyid Abu al-Qasim Khui, menegaskan dan memberikan akan kesaksian akan kebenaran apa yang telah dinyatakan Syaikh Thusi dan Najasyi mengenai al-Kulaini.

Kedudukan Al-Kafi

Sejak permulaan abad ke-3 H muncul kecenderungan melakukan pembagian bab-bab hadis dan menyusun kitab-kitab ensiklopedia hadis (jami’ ahadis), sehingga banyak kitab yang ditulis dalam kaitan ini. Sayangnya, sementara penyebaran dan pengajaran hadis berlangsung begitu semarak di berbagai hauzah, namun tidak ada sebuah kitab rujukan yang dapat menjawab berbagai kebutuhan dan tuntutan keilmuan. Berangkat dari kebutuhan pusat-pusat keilmuan dan beberapa masalah yang lain inilah, para ulama Syi’ah sejak awal abad ke-4 H mengambil langkah untuk menyusun kitab-kitab hadis yang lebih lengkap.[14]

Al-Kafi adalah kitab Syi’ah yang ditulis pada abad ke-4 H.[15] Hadis-hadis al-Kafi mencapai 16.199 hadis.[16] Al-Kulaini tidak seperti al-Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis.[17] Di al-Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi al-Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan al-Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedudukan setiap hadisnya.[18] Sejak akhir abad ke-7 H muncul kecenderungan baru di kalangan ulama Syi’ah dalam pemilahan hadis pada beberapa jenis hadis, seperti hadis shahih[19], hasan[20], muwatstsaq[21], dhaif[22] dan qawiy (kuat)[23].[24] Di antara ulama Syi’ah tersebut adalah Allamah Al–Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis al-Kafi[25] menjadi beberapa jenis seperti yang telah disebutkan di atas.

Dari hadis-hadis al-Kafi, Sayyid Ali Al-Milani menyatakan bahwa terdapat 5.072 hadis shahih, 144 hadis hasan, 1.128 hadis muwatstsaq, 302 hadis qawiy dan 9.480 hadis dhaif.[26] Berbeda dengan Syahid Tsani, dengan melakukan penelitian atas sanad hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi ini, beliau menyampaikan bahwa di dalam al-Kafi terdapat 5.073 hadis shahih, 114 hadis hasan, 1.118 hadis muwatstsaq, 302 hadis qawiy dan 9.485 hadis dhaif.[27]

Namun, dari kedua ulama Syi’ah di atas hadis-hadis yang dikelompokkan ke dalam beberapa jenis tersebut, ketika seluruhnya ditotal jumlahnya tidak sama persis mencapai 16.199 hadis. Dari Sayyid Al-Milani sendiri untuk mencapai 16.199 hadis masih kurang 73 hadis, sedangkan dari Syahid Tsani masih kurang 107 hadis.

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanya Gen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

.

Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

.

Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

kesimpulan :

Setidaknya ulama Syi’ah bersikap jujur dan sportif dengan mengakui bahwa dalam AlKafi terdapat hadis hadis yang dhaif. Bandingkan dengan ulama Sunni yang mengklaim hadis2 yang dihimpun Bukhori dan Muslim sebagai sahih.

Yang pertama masih terbuka untuk koreksi dan yang kedua sudah menganggap final, sekalipun masih memuat hadis2 yang dhaif.

Catatan Kaki

  1. Al-Qawāid al-Rijāli, jld. 3, hlm. 336.
  2. Mu’jam Rijāl al-Hadits, jld. 19, hlm. 57.
  3. Al-Kulaini wa al-Kāfi, hlm. 124 dan 125.
  4. Raihanah al-Adab, jld. 5, hlm. 79.
  5. Tāj al-‘Arus, jld. 18, hlm. 482.
  6. Safinah al-Bahār, jld. 2, hlm. 495.
  7. Raudah al-Jannāt, jld. 6, hlm. 108.
  8.  Al-Kulaini wa al-Kāfi, hlm. 179.
  9. Al-Qawāid al-Rijāli, jld. 3, hlm. 325.
  10. Rijāl Thusi, hlm. 329.
  11. Al-Fihrist, hlm. 210.
  12. Rijāl Najāsyi, hlm. 377.
  13. http://www.abna.ir/indonesian/652822/print.html

    [14] Dr. Majid Ma’arif, Sejarah Hadis, cetakan pertama. (Jakarta: Nur Al-Huda, 2012), 453.

    [16]http;//syiahali.wordpress.com (24 November 2012)

    [18]http://Hidayatullah.com (5 November 2012)

    [19]Hadis sahih menurut mereka (Syi’ah) adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum. Lihat: http://wahyunishifaturrahmah.wordpress.com (24 November 2012); Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi’ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

    [20]Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya. Lihat: http://wahyunishifaturrahmah.wordpress.com (24 November 2012); Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

    [21]Muwatstsaq adalah hadis yang diriwayatkan perawi bukan Syiah tetapi dipercayai oleh Syiah. Lihat: http://Hidayatullah.com (5 November 2012); Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih. Lihat: http://wahyunishifaturrahmah.wordpress.com (24 November 2012)

    [22]Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria (sahih, hasan, dan muwassaq). Lihat: http://wahyunishifaturrahmah.wordpress.com (24 November 2012); Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

    [23]Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Lihat: http://wahyunishifaturrahmah.wordpress.com (24 November 2012); Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 37

    [24]Dr. Majid Ma’arif, Sejarah Hadis, cetakan pertama. (Jakarta: Nur Al-Huda, 2012), 467.

    [26]http://Hidayatullah.com (5 November 2012)

    [27]Dr. Majid Ma’arif, Sejarah Hadis, cetakan pertama. (Jakarta: Nur Al-Huda, 2012), 467.

Daftar Pustaka

  • Bahr al-‘Ulum, Sayyid Muhammad Mahdi, al-Qawāid al-Rijāliyah, Riset Muhammad Shadiq Bahr al-‘Ulum, Tehran, Maktabah al-Shadiq, 1363 S.
  • Khui, Abu al-Qasim, Mu’jam Rijāl al-Hadits, tanpa tempat, tanpa penerbit, 1413 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Fihrist, Riset Jawad Qaimi, tanpa tahun, Penerbit al-Fuqahah, 1417 H.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijāl al-Najāsyi, Qum, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1416 H.
  • Ghaffar, Abdullah al-Rasul, al-Kulaini wa al-Kāfi, Qum, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1416 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Siyar A’lām al-Nubalā, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1413 H.
  • Zubaidi, Muhib al-Din, Tāj al-‘Arus min Jawāhir al-Qāmus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan, Rijāl al-Thusi, Riset Jawad Qaimi, Qum, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1415 H.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad Ali, Ma’alim al-‘Ulama, Qum, tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf, Khulāshah al-Aqwāl fi Ma’rifah al-Rijāl, Riset Jawad Qaimi, tanpa tahun, penerbit al-Fuqāhah, 1417 H.
  • Ibnu Dawud Hilli, Hasan bin Ali, Rijāl ibn Dawud, Najaf, al-Mathba’ah al-Haidariyah, 1392 H.
  • Tafarsyi, Muhammad bin Husain, Naqd al-Rijāl, Qum, Ali al-Bait, 1418 H.
  • Ardibili, Muhammad Ali, Jami’ al-Rawāh, tanpa tempat, Maktabah al-Muhammadi, tanpa tahun.
  • Sayyid Ibn Thawus, Ali bin Musa, Kasyf al-Mahjah li Tsamarah al-Mahjah, Najaf, al-Mathba’ah al-Haidariyah, 1370 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karm, al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, Dar Sadr, 1386 H.
  • Atsqalani, Ibnu Hajar, Lisan al-Mizān, Beirut, Muassasah al-A’lami, 1390 H.
  • Ibnu Makula, Ikmāl al-Kamāl, tanpa tempat, Dar Ahya al-Turats al-‘Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tārikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Madrasm Muhammad Ali, Raihanah al-Adab fi Tarājim al-Ma’rufin bi al-Kaniyah wa al-Laqab, Tehran, Khayyam, 1369 S.
  • Khawansari, Muhammad Baqir, Raudāh al-Jannāt fi Ahwāl al-‘Ulama wa al-Sādāt, Qum, Ismailiyan, tanpa tahun.
  • Qumi, Syaikh Abbas, Safinah al-Bihār, Qum, Uswah, tanpa tahun.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Pro Syi’ah

 

 

Lukman penuh kemauan dan  mendorong perubahan.

Lukman kembali memberikan angin segar saat mengurus masalah kepulangan para pengungsi Syiah pasca-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama di Sampang, Madura. Sejak Agustus 2012, ada sekitar 200 warga Syiah asal Sampang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan mengungsi ke rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur. Dia tak ragu menemui sejumlah pihak untuk melakukan pendekatan agar warga Syiah Sampang bisa kembali ke kampung mereka dan hidup damai dengan masyarakat lain.

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu berpendapat persoalan yang menimpa warga Syiah tak hanya menyangkut soal agama, namun ada pula persoalan politik, sehingga dia melakukan pendekatan tak hanya pada pemerintah daerah, namun juga kalangan agamawan dan pihak-pihak yang melakukan pendampingan kepada warga Syiah.

Lukman mengatakan warga Syiah mempunyai hak sebagai warga negara yang sama di mata hukum. Jadi, setelah pulang, mereka boleh menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan hidup damai dengan warga lain. “Prinsipnya, setiap warga negara punya hak yang sama untuk tinggal di kampungnya dan beribadah. Meskipun beda keyakinan, tapi semua dijamin konstitusi negara kita,” kata pria yang pernah menjadi penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai manajer proyek di Helen Keller International.

Menteri Agama Anggap Sunni-Syi’ah perbedaannya bukan pada tataran yang sangat prinsipil

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

salah satu fungsi Kementerian Agama Republik Indonesia di antaranya adalah membina kerukunan umat beragama dan menanamkan keselarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.

Merujuk peran pentingnya itulah Menag, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin M. Si, Kamis (11/9) menerima delegasi Ormas Islam Ahlulbait Indonesia di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat.

Delegasi Ormas Islam ABI yang hadir diwakili jajaran Dewan Syura, Ustad Hussein Shahab, Ketua Umum Ustad Hassan Daliel, Sekjen Ahmad Hidayat beserta beberapa orang pengurus ABI lainnya, diterima Menag di lantai dua gedung Kementerian Agama.

Pertemuan yang dimaksudkan sebagai audiensi antara Ormas Islam ABI dengan Menteri Agama yang belum lama ini dilantik, berlangsung hangat dan membahas sejumlah persoalan keberagamaan yang ada.

Menag Lukman Hakim berharap agar umat Islam Indonesia dapat berjiwa besar dan mampu meneguhkan ukhuwah Islamiyah. Untuk itu kata Menag, diperlukan kebesaran hati semua pihak untuk saling memberi dan saling menerima.

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

“Jadi menurut saya, jika pun ada sedikit perbedaan, perbedaannya itu bukan pada tataran yang sangat prinsipil,” terang Lukman.

Langkah Menteri Agama Lukman Hakim untuk meneguhkan kerukunan umat Islam di Indonesia patut kita dukung. Apalagi bila kita melihat pertikaian di sejumlah negara berpenduduk Muslim terutama di kawasan Timur Tengah, membuka mata kita betapa pertikaian itu hanya akan membawa kesengsaraan dan kehancuran bagi kita semua.

Tentu, kita tidak mengharapkan konflik berkepanjangan sebagaimana telah berlangsung lama di Timur Tengah juga terjadi di Indonesia.

Judul Buku : Syiah Menurut Syiah
Penulis : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga : Rp. 75.000,-
Cetakan : Cetakan 1, Agustus 2014

.

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

Catatan : Risalah Amman (The Amman Massage)

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) –termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)– , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Syi’ah Ja’fariy/Imamiyah/Itsna Asyariyah, Madzhab Syi’ah Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih.

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

Indonesia berpaham Nasionalis Islam, bukan Ahlusunnah (Sunni) !!

 

Indonesia berpaham Nasionalis Islam, bukan Ahlusunnah (Sunni) !!
 .
Memang  aliran Sunni pernah eksis menjadi landasan beberapa kerajaan / dinasti, akan tetapi pada zaman modern ; rakyat Indonesia lebih memilih nasionalisme ( Islam Nasionalis )
Prof Dr Muslim Ibrahim, MA

Ketua MPU: Di Aceh Tidak Ada Tempat Bagi Syiah

 .
Prof Dr Tengku Muslim Ibrahim, Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, menegaskan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam adalah bumi ahlus sunnah wal jamaah.
.
“Sesuai dengan Perda akidah umat, maka akidah yang bisa berjalan di Aceh adalah akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Syiah tidak ada tempat di Aceh,” kata Tengku Muslim saat berorasi pada deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Masjid Al-Fajr Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/4/2014).
.
Fatwa ulama Aceh juga menyebutkan, Syiah merupakan aliran di luar Islam.
.
“Jadi secara organisasi Syiah dilarang di Aceh,” tegas Tengku Muslim.Tengku Muslim berharap daerah-daerah lain juga mewaspadai bahayanya gerakan Syiah.
“Aliansi Anti Syiah ini diharapkan dapat berkembang ke pelosok-pelosok,” kata Tengku Muslim.
 .
Jawaban  Admin :
Konflik sunni syiah bukan hanya persoalan keyakinan akan tetapi lebih dominan unsur politik dan kepentingan penguasa saat itu..Ulama sunni yang menyebut diri sebagai Ahlul Sunnah dan di dukung oleh penguasa zaman
.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI) Aceh adalah Tgk Ghazali Muhammad Syam, bukan Muslim Ibrahim
 .
kaum liberal mendukung syiah, kaum liberal  melanggengkan syiah di Indonesia.Jika anda sering masuk FaceBook.com dan sering berdiskusi maka anda akan menjumpai  golongan besar dalam arus pemikiran Islam modern, yaitu pemikiran Liberal
 .
Indonesia berpaham Nasionalis Islam, bukan Ahlusunnah (Sunni) !!

Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh dalam pemikiran Bung Karno seperti pemikiran dari Jalaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Ali Pasha, Mustafa Kemal, Amir Ali, Halide Edib Hanonoum, dan tokoh-tokoh islam lainnya. Tokoh-tokoh tersebut sdikit banyak telah mempengaruhi pemikiran beliau
.

Islam nasionalis itu seperti apa menurut Bung Karno?

  • Menghidupkan Api Islam Bukan Abu Islam. Apa maksudnya? Kita jangan hanya berdebat tentang halal dan haram saja namun bagaimana menyikapi problem dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
  • Pemikiran Nasional dan Berkemajuan. Kita jangan asal meniru pemikiran dari Negara seperti Arab Saudi tentang hukum-hukum begitu saja namun harus di kontekstualisasikan dengan kondisi kebangsaan.
  • Ketuhanan Berkeadaban. Ketuhanan atau agama bukan dijadikan untuk hal-hal keburukan. Seperti yang dilakukan oleh beberapa golongan agama yang suka bersikap ekstrim. Ajaran agama harus dipraktikkan sesuai dengan ajarannya demi kemaslahatan bangsa.
  • Toleransi. Toleransi yang dimaksud beliau adalah merujuk pada perdamaian. Bung Karno selalu mengucapkan ‘assalamu’alaikum’ pada setiap forum yang beliau ikuti. Karena artinya adalah untuk kedamaian. Dari sana beliau selalu berpesan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini.
  • Visi Kebangsaan. Ajaran-ajaran beliau harus dikontekstualisasikan dengan kehidupan di Indonesia. Pemikirannya itu digunakan untuk membangun visi kebangsaan yang menyatukan semua bangsa Indonesia.
  • Berorientasi Kerakyatan. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas kebangsaan. Pemikiran dan ajaran yang beliau ajarkan itu digunakan untuk bagaimana mencegah korupsi, konflik, dan hal-hal lain yang merusak kebangsaan dan rasa nasionalisme keindonesiaan.

Kenapa syi’ah dituduh sesat ? tahu penyebabnya ??  karena sebagian besar umat Islam negeri ini saat belajar dari SD hingga kuliah hanya pelajaran fikih, tauhid dan aqidah minim, kedua sebagian besar umat islam negeri ini beragama krn keturunan jd hanya ikut ikutan tanpa tahu dasar dan dalil, bukan krn pilihan, dan juga malas belajar

.

kemudian yg jelek sebagian umat Islam negeri ini suka taklid/ta’ashub buta tanpa mau mencari kebenaran dari sumber aslinya. Akibat agama, ajaran hanya ikut ikut an akhirnya mudah dijerumuskan.

.

maka saran saya, jadilah manusia yang terbuka dengan logika positif terlebih dahulu jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat bila hanya mengetahui kulitnya saja, tapi kenalilah setiap sesuatu sampai pada akarnya… baru kalian-kalian simpulkan, apakah hal yang kalian bicarakan itu baik atau buruk

syiah akan terus berkembang seiring dengan semakin berkembangnya tingkat rasio serta intelektualitas masyarakat, karena syiahlah sepengetahuan saya yg masih melestarikan khasanah intelektual islam, sementara mazhab lain justru menenggelamkannya menjadi doktrin yang tabu untuk di diskusikan.semakin banyak hujatan serta umpatan kepada kaum syiah, semakin besar pula rasa ingin tahu masyarakat akan syiah, rasa ingin tahu inilah yang menjadi modal awal untuk kemudian memilih syiah sebagai paradigma alternatif

Pemuda Aceh enggan pelajari “Ahlul Sunnah wal jamaah” ??

Nahdatul Ulama (NU) Lhokseumawe, Provinsi Aceh (tanggal 20 juli 2011) menilai pemuda di daerah itu tidak tertarik lagi mempelajari agama Islam, sehingga majelis taklim yang diadakan di masjid dan meunasah selalu sepi.

“Sebenarnya, jumlah majelis taklim sangat banyak, namun jumlah kaum remaja dan pemuda yang memanfaatkannya sebagai sarana pembelajaran ilmu agama Islam sangat kurang,” kata Ketua NU Lhokseumawe, Tgk H Misran Fuadi, 20 juli 2011.

Ia mengatakan, jumlah majelis taklim hampir semua menasah atau mesjid mengadakannya, sedangkan jumlah pengunjung sedikit serta mayoritas diisi oleh kaum tua.

Ia menyatakan, kenyataan sekarang, banyak kuliah umum agama secara gratis tersebut hanya diisi oleh kaum tua, sedangkan pemuda dan remaja, terlena dengan buaian pengaruh global, sehingga tidak jarang terjadi tindakan asusila dan lainnya akibat dari dangkalnya pengetahuan agama.

Bukan itu saja, jumlah warga yang menghadiri majelis taklim juga sangat terbatas, serta terkesan hanya jamaah langganan saja yang menghadiri majelis taklim. “Dalam satu jamaah majelis taklim hanya sekitar 50 orang saja yang hadir. Sementara yang lainnya lebih memilih kesibukan lain,” terang Misran.

Padahal, lanjutnya, umumnya pelaksanaan kegiatan majelis taklim, biasanya dilakukan pada waktu-waktu tidak sibuk, seperti habis shalat Maghrib atau waktu yang dianggap tidak sedang jam kerja. Namun, masih saja warga enggan untuk menghadiri majelis taklim yang dilakukan secara gratis oleh pengurus meunasah atau masjid.

pelepasan syahwat (secara tidak sah) begitu mengkhawatirkan Di Aceh, banyak anak-anak muda yang bergaul kelewat batas dengan pasangannya

Gawat, fenomena seks bebas ternyata digandrungi sejumlah besar kaum remaja di Aceh. Hal ini terkait dengan banyaknya tangkapan, dari petugas Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh, dalam menangani kasus mesum.

Akhir-akhir ini, pelepasan syahwat (secara tidak sah) begitu mengkhawatirkan. Di Aceh, sudah ada gejala anak-anak muda yang bergaul kelewat batas dengan pasangannya. Berita-berita yang berkait dengan syahwat dalam suratkabar, sepertinya datang silih berganti. Tentu dengan segala bentuk kejadian, penyelesaian, dan tanggapan masyarakat di sekelilingnya.

Terakhir ada dua kasus anak SMA di Aceh yang berzina di kompleks sekolah. Ini bukan merupakan kasus mutakhir, tapi kasus yang penting mendapat perhatian karena dilakoni oleh mereka yang masih remaja. Sedangkan kasus pada umumnya, umumnya dilakukan oleh mereka yang sudah menginjak dewasa.

Di samping itu, temuan film porno yang beredar dari handphone ke handphone, juga menjadi satu masalah tersendiri. Film juga dengan mudah diproduksi dengan fasilitas lengkap dari handphone murah sekalipun. Film –tepatnya rekaman—yang dibuat melalui fitur kamera-video handphone, sangat mudah untuk merekam berbagai hal. Lagipula handphone yang menyediakan fitur tersebut bukan lagi barang mewah. Kini handphone yang menyediakan berbagai fitur berharga ”sachet”. Sudah demikian murahnya.

Namun masalah sebenarnya bukanlah pada mudah atau tidaknya membuat rekaman sesuatu. Tapi temuan ini sebenarnya bisa menjadi semacam aba-aba, bahwa penyaluran syahwat dengan naluri kebinatangan sudah sangat dekat dengan kehidupan kita.

Barangkali sesuatu yang terjadi selaras dengan fenomena sekitar kita. Di tempat-tempat umum semisal pantai atau lokasi pariwisata, orang-orang berpacaran semakin miskin etika. Di jalan-jalan, anak-anak berpakaian SMP sudah mulai terang-terangan (maaf) pegang-pegang kemaluan pasangannya. Tidak ada lagi yang patut digelisahkan (karena mungkin orang tuanya sendiri juga tidak menggelisahkan), ketika melihat perempuan berbaju SMP duduk di belakang kendaraan sambil memeluk erat pasangannya, dan tangannya benar-benar di atas kemaluan pasangannya.

Belum lagi di sebagian tempat penjualan pinggir jalan yang sengaja membuat suasana remang-remang. Ketika melewati kawasan seperti itu, kita bisa menyaksikan bagaimana anak muda kita duduk manis berdua-duaan, dan tidak peduli pada suasana sekelilingnya. Ada pertanyaan, apakah suasana itu benar di Aceh atau bukan? Hal tersebut dilakukan oleh anak Aceh atau bukan?

Sungguh, fenomena itu menampakkan gejala pelipatgandaan mundurnya moralitas generasi muda kita (tentu dengan tidak melupakan moralitas dalam bentuk yang lainnya). Dan ironisnya, ternyata fenomena tersebut tak hanya terjadi di kota. Fenomena tersebut sudah jamak kita temukan hingga ke kampung-kampung sekalipun.

Segala fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa suatu saat, bila kita mendengar kabar-kabar yang tak lazim –bahkan melawan nilai agama dan budaya, kita menjadi terbiasa dengan sendirinya. Bukan hanya di tempat orang lain, barangkali di sekitar kita sekalipun, kita akan terbiasa.

Kemudian lihatlah pula bagaimana koran-koran di Aceh tak pernah sepi membawa kabar perzinahan yang terus terjadi. Bila kita tilik berita koran akhir-akhir ini, hampir tiada hari yang tiada kabar mengenai perilaku zina yang terjadi di berbagai tempat.

Barangkali fenomena tersebut menjadi semacam tanda bahwa gelora syahwat di nanggroe kita sedang beranjak naik –dan entah kapan grafiknya akan turun—yang oleh penguasanya sedang mengatakan sedang melaksanakan syariat Islam.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (1995), syahwat diartikan dengan nafsu atau keinginan untuk bersetubuh. Dalam konteks hukum, makna tersebut memiliki konsep yang sangat umum. Proses pelepasan syahwat, di satu pihak memiliki tata krama –sehingga membedakan manusia dengan binatang, di pihak lain tidak seluruh pelepasan syahwat secara tidak sah memiliki implikasi terhadap hukum.

Di samping pelaku yang muda, juga ada beberapa kasus lain yang terjadi. Seorang remaja yang karena keseringan menonton ”film biru”, lantas ketagihan melakukan sodomi terhadap tiga anak tetangganya. Gambaran ini sekaligus memperlihatkan bahwa ”film biru” juga bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di Aceh.

Polisi, WH dan masyarakat juga pernah menangkap 80-an judul CD porno yang diselip dalam tempat CD Islami yang dijual di tengah kota. Kasus lainnya di suatu tempat, masyarakat menangkap seorang perempuan yang sedang berzina dengan dua laki-laki sekaligus. Dari berita juga kita mengetahui bahwa ditemukan tiga video ”adegan dewasa” yang ditemukan dari handphone ”anak-anak kecil” Aceh. Yakinilah, fenomena remaja sekarang ini tidak terlepas dari berbagai hal yang mengelilinginya.

Sekali lagi, fenomena ini adalah aba-aba agar keluarga di Aceh berbenah diri. Membiarkan fenomena tersebut sangat merusak moralitas generasi muda di masa mendatang. Membiarkan penyaluran nafsu bagai pola kebinatangan itu, pada akhirnya akan membawa malapetaka bagi keluarga di Aceh.

Berbagai peristiwa di atas, kini juga sudah dibarengi dengan pola penyelesaian kasusnya yang beragam. Orang-orang yang berzina, ketika ditemukan orang banyak, akan diperlakukan dengan berbagai cara. Bila hal ini tidak diarahkan, suatu saat, anarki massa juga akan menjadi fenomena yang menakutkan.

Dari proses penyelesaian kasus zina, selama ini didominasi oleh perilaku ”main hakim sendiri”. Kecenderungan tersebut juga tidak terjadi dengan sendirinya. Ketika penzina dicambuk, perilaku main hakim sendiri berkurang—bahkan di tempat tertentu tak terjadi. Namun ketika pengawasan syariat tidak berlangsung—terutama karena alasan ketiadaan anggaran—membuat masyarakat bergerak sendiri. Konon lagi ternyata ada oknum dari institusi yang mengawasi syariat, juga ditemukan berzina dan tidak dicambuk.

Hal inilah barangkali yang menyebabkan orang-orang yang berzina diperlakukan sedemikian rupa. Di tangan pemuda kampung, orang-orang berzina dimandikan dengan air comberan. Menurut saya keliru bila dikatakan itu sebagai model penyelesaian secara adat –kecuali penzina dimandikan dengan air bersih atau disuruh membersihkan tempat ibadah. Tapi ada proses yang sedang mandeg, sedang tidak jalan, hingga pola-pola seperti di atas dilakukan.

Tapi sekali lagi, bahwa jalan ini dipilih karena lewat mekanisme hukum yang dibentuk sudah tidak jalan sebagaimana yang diharapkan. Seharusnya proses eksekusi hanya berhak dilakukan oleh negara, sebagaimana halnya proses cambuk. Namun cambuk ini menghadapi dua hal krusial:

Pertama, mengeksekusi cambuk juga butuh anggaran, sehingga karena ketiadaan anggaran membuat seseorang tidak bisa dicambuk. Kondisi ini tentu dipertanyakan oleh mereka yang sudah dicambuk. Mengapa dulu ada anggaran sedangkan sekarang tidak ada anggaran? Kedua, ada kekosongan hukum dalam ”menjaga” terhukum cambuk. Aturan yang sudah ada tidak bisa menjangkau, bila seorang yang akan dieksekusi tiba-tiba mangkir dan tidak datang ke arena eksekusi. Ketiga, hal ini menimbulkan kesan bahwa cambuk yang sudah berlangsung adalah untuk orang-orang kecil, sedangkan untuk orang-orang besar yang berzina, belum ada yang dicambuk di depan umum.

Di samping pola penyelesaian di atas, pola lainnya adalah terdapatnya perbedaan dalam penyelesaian di tingkat elite. Ada yang diselesaikan secara kekeluargaan. Di sini keluarga dari penzina laki-laki dan perempuan duduk bersama dan membahas apa yang harus dilakukan. Bila kedua pihak bersepakat jalan penyelesaiannya adalah menikahkan, maka itulah yang dianggap sebagai pola penyelesaian secara kekeluargaan.

Cara lainnya adalah membayar denda sejumlah tertentu yang dianggap sebagai uang untuk membersihkan kampung yang telah dikotori dengan perilaku zina.

Model penyelesaian secara adat juga beragam. Ada yang hampir sama dengan konsep penyelesaian secara kekeluargaan, namun ada juga yang diusir dari kampung karena dianggap telah mengotori kampung dengan perilakunya.

Semua kondisi tersebut, sudah seyogianya membuat semua kita bergerak untuk membawa masyarakat kita ke arah yang lebih beradab dan bermartabat

Hampir setiap hari, di Aceh, dari berbagai daerah kita mendapat laporan tentang hal-hal yang terkait perbuatan berbau mesum yang ditemukan masyarakat atau aparat berwenang. Dalam catatan Dinas Syariat Banda Aceh, pelanggar qanun atau aturan tentang khalwat, sepanjang lima bulan terakhir ada 491 pasangan. Pihak DSI menyebutkan, kasus berdua-duaan beda kelamin dengan bukan muhrim itu, sebagian besar dilakukan kaum muda

.
Ternyata, sebagian kaum muda Aceh tidak mempan lagi atas ancaman hukum syariat Islam yang berlaku di Aceh. Bahkan, bila kasus tersebut ditangani masyarakat di lingkungan mereka pun, tak membuat para pelanggar hukum syariat Islam itu malu dan benar-benar menjadikan pasangan lain jera. Sepertinya, kasus-kasus yang terungkap selama ini, tidak menjadi pula peringatan berarti kepada pasangan muda lainnya, agar menghindari perbuatan yang dapat mempermalukan diri dan keluarga mereka tersebut. Sejauh pengamatan kita, sebagian kaum muda Aceh, malah telah dengan terang-terangan menunjukkan keberaniannya, untuk menafikan aturan yang hanya berlaku di bumi serambi Mekkah ini.

Dalam keseharian di Banda Aceh, kita menyaksikan para perempuan muda berjilbab yang dibonceng pasangannya dengan berpelukan ketat di atas sepeda motor. Atau bila kita bertandang ke pantai, seperti Ulheelheu, banyak pula terlihat pasangan di sana yang berdua-duaan dengan mesra. Lalu hal serupa juga tampak jelas di berbagai café yang bertaburan di ibu kota provinsi ini. Kita melihat pemandangan yang seharusnya tidak ada di negeri yang diberikan kekhususan untuk menerapkan syariat Islam ini.

Barangkali, pihak DSI perlu lebih kreatif berkampanye untuk menyosialisasikan dan menegakkan aturan tentang khalwat. Agar para pemuda dan rakyat Aceh umumnya, tak menangkap dan memahami aturan tersebut secara kaku dan kering. Mereka bukan lagi takut ditangkap karena tak pakai jilbab atau berkhalwat. Tapi, mereka dengan sadar melakukan hal baik tersebut, karena seharusnya memang seperti itulah yang mampu membuat mereka lebih nyaman dan aman berada dalam masyarakat. Terlepas dari soal halal atau haram, akan masuk surga atau neraka, kena cambuk atau tidak. Tapi, mereka bersedia dengan rela memakai jilbab, dengan senang hati berusaha menjaga diri untuk tidak berkhalwat, sebelum menjadi pasangan suami isteri.

Bila pendekatan hukum saja yang yang dilekatkan dalam kampanye sosialisasi hukum syariat, kita hanya akan cenderung menemukan kepura-puraan. Para anak perempuan Aceh dapat saja dengan terpaksa memakai jilbab, lalu perilaku yang lain yang menyimpang, yang tidak sesuai dengan kehendak ajaran Islam yang dipraktikkan. Pendekatan formal terhadap simbol-simbol hukum Islam, kita yakin, tidak akan mampu menjadikan Aceh benar-benar dapat menjadi kawasan yang dapat menegakkan hukum syariat dengan benar.

Di daerah lain, seperti kota-kota besar di Jawa, banyak sekali perempuan, anak remaja dan mereka yang beragama Islam, telah bersedia secara sukarela memakai jilbab dan melaksanakan sebagian ketentuan dari syariat Islam, sebagaimana dipahami mereka. Tak ada hukum seperti di Aceh, yang memaksa mereka. Tak ada tetangga, yang senantiasa mengintip, dengan siapa seorang remaja putri biasanya pulang ke rumah. Mereka, bahkan tidak pula dengan demonstratif ketika berada di depan khalayak, berpegangan tangan atau memeluk bahu lawan jenisnya. Mereka juga tidak terganggu bila ada rekannya yang sepaham atau tidak memakai jilbab berbuat sesuatu yang tak ingin dia lakukan. Misalnya, seperti pacaran atau berkhalwat. Mereka berupaya menjaga diri dan mendiskusikan hal itu di lingkungan komunitasnya.

Tapi, hingga kini, di Aceh, kita menangkap kesan berbeda. Para remaja seolah-olah tengah melakukan kesengajaan untuk membangkang. Seolah mereka tidak peduli hukuman yang akan dijatuhkan terhadap mereka bila bersunyi-sunyi dengan pasangan bukan muhrim. Agaknya, penegakan hukum syariat Islam di Aceh bagaikan hukum bola karet. Kian ditekan, malah tambah meloncat lebih tinggi.[]

.
Firasat Gus Dur jelang Tsunami Aceh

GUS DUR 

 

“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.

Tentu bukan tanpa alasan steatment di atas dilontarkan, karena NU dan Syiah secara budaya memiliki banyak kesamaan

Desember 2004 pagi yang cerah di Aceh tiba-tiba saja menjadi bencana mengerikan ketika gelombang besar dari laut atau tsunami meluluhlantakkan segala hal yang ada dibibir pantai. Ratusan ribu nyawa melayang dan nasib ratusan ribu rakyat lainnya mengenaskan akibat kehilangan harta benda dan keluarga yang menopang hidup.

Ditempat lain beberapa minggu sebelumnya, tepatnya di Masjid Agung Demak, H Sulaiman, asisten Gus Dur diperintahkan melalui telepon untuk membuka-buka Al Qur’an dan membaca ayat tepat di halaman yang dibuka tersebut.

Halaman yang terbuka waktu itu adalah surat Nuh, yang menceritakan tentang banjir besar yang melanda dan menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar terhadap Allah.

Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna atas surat dalam Al Qur’an yang dibacanya tersebut. “Akan ada bencana besar yang menimpa Indonesia,” kata Gus Dur, tetapi tidak menyebutkan secara detail dimana dan kapan, serta bentuk bencananya seperti apa. Sulaiman pun terdiam mendengan penjelasan tersebut dan tidak banyak berkomentar.

Benar saja, tak berselang lama, tsunami yang diakibatkan oleh gempa berkekuatan 8.9 skala richter, yang berkolasi di Samudera Indonesia, 32 km di dekat Meulaboh Aceh menghebohkan dunia dan menimbulkan korban lebih dari 200 ribu jiwa.

Kesedihan pun melanda bangsa Indonesia, dan secara bersama-sama semuanya bahu-membahu memberikan bantuan yang diperlukan sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk mengurangi penderitaan para korban serta melakukan upaya pemulihan.

Setelah kejadian tersebut, Sulaiman kembali mendiskusikan masalah bacaan surat Nuh dan bencana tsunami Aceh dengan Gus Dur.

“Ini merupakan peringatan Allah bagi orang Aceh dan bangsa Indonesia,” katanya.

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

Fatwa al-Azhar Mesir terhadap Mazhab Syiah dapat dirujuk kembali dalam kebanyakan media cetak pada 6 Julai 1959.

Pejabat Pusat Universiti Al-Azhar:
DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG
Teks Fatwa Al-Azhar diterbitkan daripada kewibawaannya
Shaikh al-Akbar Mahmud Shaltut,
Dekan al-Azhar Universiti, dalam sahnya mengikuti mazhab Syiah Imamiah

Pertanyaan:
Sesungguhnya setengah golongan manusia percaya, bahawa wajib beribadat dan bermuamalat dengan jalan yang sah dan berpegang dengan salah satu daripada mazhab-mazhab yang terkenal dan bukan daripadanya mazhab Syiah Imamiah atau mazhab Syiah Zaidiah. Apakah pendapat tuan bersetuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiah al-Istna Ashariyah misalannya?

Jawabnya:

1) Sesungguhnya Islam tidak mewajibkan seseorang Muslim mengikuti mana-mana mazhab pun adanya. Akan tetapi kami mengatakan setiap Muslim punyai hak untuk mengikuti satu daripada mazhab yang benar yang fatwanya telah dibukukan dan barangsiapa yang mengikuti mazhab-mazhab itu boleh juga berpindah ke mazhab lain tanpa rasa berdosa sedikit pun.

2) Sesunguhnya mazhab Jafari yang dikenali juga sebagai Syiah Imamiah al-Istna Asyariyyah dibenarkan mengikuti hukum-hukum syaraknya sebagaimana mengikuti mazhab Ahlul Sunnah.

Maka patutlah bagi seseorang Muslim mengetahuinya dan menahan diri dari sifat taksub tanpa hak terhadap satu mazhab. Sesungguhnya agama Allah dan syariatnya tidak membatas kepada satu mazhab mana pun. Para Mujtahid diterima oleh Allah dan dibenarkan kepada bukan Mujtahid mengikuti mereka dengan yang mereka ajar dalam Ibadah dan Muamalat.

Sign,
Mahmud Shaltut.

Demikian fatwa diumumkan pada 6 Julai 1959 dari pejabat Universiti al-Azhar kemudiannya disiarkan dalam media cetak antaranya:

1. Surat khabar al-Sha’ab Mesir, 7 Julai 1959.
2. Surat Khabar Lubnan, 8 Julai 1959.

Rasulullah bersabda: Seandainya agama itu berada pada gugusan bintang yang bernama Tsuraya niscaya salah seorang dari Persia atau dari putra-putra Persia akan pergi ke sana untuk mendapatkannya. (Shahih Muslim No.4618 Kitab Keutamaan Sahabat )

  • Diriwayatkan daripada Abu Hurairah yang berkata, “Kami sedang duduk bersama para sahabat Rasulullah saw ketika Surah Jumuah turun kepada baginda lalu baginda membacakan ayat ” … Dan juga (telah mengutuskan Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain dari mereka, yang masih belum datang …”Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw sebanyak dua atau tiga kali tetapi baginda tidak menjawab. Bersama kami adalah Salman al-Farisi. Rasulullah saw berpaling kepadanya dan meletakkan tangan baginda ke atas paha Salman seraya bersabda, “Sekiranya iman berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya lelaki dari bangsa ini yang akan mencapainya.” (Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il as-Sahabah hadis 6178 dan Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Jilid 5, halaman 108).
  • Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 38, berfirman, “Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertakwa dan berderma) Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.”Ketika turun ayat ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah yang akan menggantikan kami? Baginda menepuk bahu Salman al-Farisi dan bersabda, “Dia dan kaumnya! Dan jika agama berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya yang akan mengambilnya adalah lelaki dari bangsa Farsi.(Tafsir Ibnu Kathir, Jilid 4, halaman 182)

saudaraku….

Syi’AH iMAMiYAH ADALAH AHLUSSUNNAH YANG SESUNGGUHNYA

Kewajiban berpegang teguh dengan al-Quran dan Ahlul Bait

Dalam Sunan Sittah (Kitab Hadis Enam) banyak kali menyebut bahawa nabi meninggalkan dua perkara yang beharga iaitu al-Quran dan Ahlul Bait umpamanya Sunan at-Tirmidzi hadis no. 3874, jilid 5, halaman 722, cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993.

Hadis seumpama ini boleh ditemui dalam Sahih Muslim hal. 1873 – 1874 juz 4 no. 2408, sunt: Muhd Fuad Abd Baqi, t.t, cet. Dar al-Fikr Bayrouth, Imam Ahmad di dalam musnadnya hal. 366 juz 4, al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra hal. 148 juz 2 serta al-Darimiy di dalam Sunannya m/s 431-432 juz 2.

Allah (s) berfirman dalam surah Syura, ayat 23: {Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta ganjaran atas seruan dakwahku melainkan kecintaan ke atas kerabat}

Amin Farazala Al Malaya adalah seorang Syiah yang rajin mengkaji dan menyimpan rujukan beliau dalam bentuk salinan fotokopi. Hasil kerja beliau ini sangat berguna untuk menjelaskan siapakah Syiah yang sebenar dengan rujukan-rujukan daripada kitab-kitab Ahlussunnah sendiri.

Menarik di sini selepas meneliti isi kandungannya, saya mulai faham mengapa puak Wahabi tidak berani berdepan dengan Syiah untuk berdialog atau berdebat. Dari sudut yang lain tidak keterlaluan saya mengatakan kalau Wahabi berdebat dengan Syiah jadinya: menang belum pasti, kalah dah tentu. Alhamdulillah, ada saudara kita daripada puak Wahabi mulai insaf setelah membaca ‘Sekilas Pandang’ ini kerana sedar, selama ini dia ditipu tanpa penjamin
.
12 orang Imam adalah manusia suci berketurunan Rasulullah yang mewarisi seluruh khazanah ilmu dan penjaga umat selepas wafatnya Rasulullah (s). Dalam kitab Sahih Muslim yang diterbit oleh Klang Book Centre cetakan 1997, bab pemerintahan (Kitabul Imarah), hadis ke 1787 menyebut pemerintahan 12 orang khalifah daripada bangsa Quraysh, jelas sekali 12 khalifah ini bukan dari kalangan Bani Umayah dan Abasiyah kerana bani-bani ini mempunyai lebih dari 12 orang pemerintah.
.
Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama terpaksa menyembunyikan keimanan mereka. Nama-nama Imam 12 hari ini masih boleh ditemui dalam Kitab jawi karangan Syeikh Zainal Abidin al-Fatani berjudul Kasyful Ghaibiyah, halaman 53:
Transliterasi:
“…daripada keluarga nabi Sallahualaihi Wa Sallam, daripada walad Fatimah Radiallahuanha, bermula neneknya itu Hasan bin Ali bin Abi Talib, bermula bapanya Imam Hasan al-Askari ibni Imam Ali al-Taqi bin al-Imam Muhammad al-Taqi, al-imam Ali al-Ridha, anak al-Imam Musa al-Kazim anak al-Imam Jaafar al-Sodiq, anak al-Imam Muhammad al-Baqir, anak al-Imam Zainal Abidin bin Ali, anak al-Imam al-Husein, anak al-Imam Ali bin Abi Talib Radiallahuanhu ….”
Ternyata Syeikh Zainal Abidin al-Fatani dalam menyatakan jurai keturunan Imam Mahdi, beliau langsung mengaitkan nama Imam Hasan bin Ali (a) padahal beliau boleh terus mendaftar sisilah Imam Mahdi melalui al-Imam Husein bin Ali (a) tanpa menyebut Imam Hasan (a). Maksud pengarang ini tidak ingin memisahkan Imam Hassan dengan Imam Mahdi. Dengan ini juga lengkaplah nama-nama 12 Imam dalam menyatakan silsilah Imam Mahdi.

Lima kitab nabi Musa (Pentateuch) dalam Bible tidak mahu ketinggalan meramalkan 12 orang khalifah itu daripada keturunan nabi Ismail (a). Berikut adalah petikan dari Perjanjian Lama Kitab Keluaran, Fasal 17, ayat ke-20:

.
saudaraku…
Kebangkitan Islam di Iran

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

MIUMI: Syiah di Aceh Bermain Halus

BUKU Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas XI kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga terindikasi ikut menyebarkan pemahaman Syiah.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Da’wah Kabupaten Aceh Barat Daya Ustad. Iin Supardi,SS.M.E.I

ISI BUKU AGAMA SMK POTENSI AJARAN SYIAH Dewan Da’wah dan HMI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Buku Pelajaran Berbau Syiah

.

buku tersebut menjadi referensi mengajar dan pembelajaran untuk kalangan siswa di sekolah, Ini kelihatan sangat jelas sekali materi tersebut mengandung pemahaman prinsipil syiah.

Di halaman lima pada buku tersebut, tertulis makna kosakata “ulil amri” dalam Surat An Nisa ayat 59: yang oleh penulis, yang terdiri dari Hj. Iim Halimah; H. Abd. Rahman; H.A. Sholeh Dimyathi; dan H. Ridhwan itu menjelaskan makna “ulil amri” sebagai berikut:

Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Ada yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. Dari keturunan Ali dan Fatimah), ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘penyeru-penyeru’ pada kebaikan dan ada pula yang berpendapat ‘pemuka-pemuka agama yang diikuti kata-katanya’.

Jika dianalisa dari tulisan Buku tersebut ini menunjukkan bahwa mereka telah memperkenalkan paham prinsipil syiah, walaupun tidak secara tegas.

BUKU AGAMA SMK ERLANGGA Dewan Da’wah dan HMI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Buku Pelajaran Berbau Syiah

.

.

PERKEMBANGAN ajaran Syiah yang membahagiakan  banyak kaum modernis hingga kini terus mendapatkan perhatian. Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA. menyatakan bahwa kaum Syiah di Aceh masih bertaqiyah.

“Di Aceh, orang-orang Syiah belum berani menampakkan ajarannya secara terang-terangan. Mereka masih bertaqiyah. Aktivitas mereka di ruang publik  hanya sebatas mengadakan seminar dan diskusi publik, lalu diekspose lewat media massa,” paparnya Jum’at (17/1).

Secara kronologis, kemunculan Syiah di Aceh terhitung baru. Yusran menjelaskan pergerakan mereka mulai tampak di tahun 2000 dan berkembang lebih lanjut paska tsunami Aceh tahun 2006.

“Dulu, era tahun 80an sampai 90an tidak ada seminar atau diskusi yang membela kepentingan Syiah. Namun pada tahun 2000 sudah mulai tampak walaupun sedikit. Paska tsunami tahun 2006, LSM dan forum-forum orang Syiah sudah mulai ramai, tapi mereka tidak menamakannya atas nama Syiah,”

Yusran memaparkan kelompok Syiah yang bermain halus. Baru-baru ini muncul kelompok yang fokus mengkaji filsafat dan diketuai oleh seorang alumni Qom. Dan sebuah jaringan masyarakat sipil yang juga diketuai alumni Qom.

Yusran merupakan kaki tangan gerakan wahabi internasional yang berlindung di balik nama AHLUSUNNAH  WAL  JAMAAH… Sungguh licik

asyura

KOMENTAR :

Khalifah Bani Umayah dan penerusnya telah melakukan berbagai cara untuk memberangus peristiwa agung ini dari memori umat Islam. Salah satu yang mereka lakukan adalah menjadikan hari Asyura sebagai kemenangannya yang dirayakan secara meriah dan suka cita.

ketika kebohongannya terungkap, mereka melakukan berbagai cara untuk menjustifikasi kezaliman Yazid yang dilawan dengan kesyahidan Imam Husein. Hingga kini, para pendukung Yazid berupaya menyimpangkan tujuan kebangkitan Imam Husein, dan menimbulkan masalah bagi para peziarah beliau, dan orang-orang yang mengenang perjuangannya.

Setelah tumbangnya Dinasti Umayah, Dinasti Bani Abbasiyah selama tujuh ratus tahun berupaya menyelewengkan peristiwa Asyura. Dan kini cara-cara tersebut dilanjutkan oleh para penerus mereka.Tapi, semakin keras orang-orang zalim merusak dan menyelewengkan kebenaran peristiwa Asyura, peristiwa besar ini terus hidup dan tetap abadi hingga kini, dan pengaruhnya semakin besar dari sebelumnya.

Oleh karena itu, muncul pertanyaan besar apa rahasia keabadian gerakan Asyura? Mengapa peristiwa yang terjadi lebih dari seribu tahun itu tetap abadi di tengah gencarnya upaya merusak dan menyelewengkan peristiwa besar tersebut?

Tidak diragukan lagi faktor keabadian gerakan Asyura adalah pertolongan Allah swt. Dalam al-Quran surat as-Saff ayat 8, Allah swt berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.

Gerakan Asyura yang dikibarkan Imam Husein di padang Karbala demi menjaga dan menyebarkan ajaran agama Allah yang dimaksud di ayat tersebut. Oleh karena itu, Allah swt berfirman bahwa cahaya itu tidak akan padam, tapi justru dengan berlalunya waktu semakin benderang. Oleh karena itulah, Nabi Muhammad Saw bersabda,”Sesungguhnya kesyahidan Imam Husein menjadi api yang berkobar di hati orang-orang mukmin yang tidak akan pernah padam”.

Faktor lain dari keabadian gerakan agung Asyura adalah perkataan dan sirah Nabi Muhammad Saw mengenai Imam Husein dan Karbala. Sepanjang sejarah, umat Islam sangat menghormati Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan fatwa ulama Sunni dan Syiah, mengikuti sunnah Rasulullah Saw wajib hukumnya, dan dilarang untuk menentangnya. Sebab dalam al-Quran surat An-Nisa ayat 80, Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. Di bagian lain, surat an-Najm ayat 3 dan 4, Allah swt berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkan Rasulullah, (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang disampaikan kepadanya.”

Perintah ilahi ini bukan hanya ditujukan kepada umat Nabi Muhammad Saw saja, tapi juga bagi Rasulullah sendiri yang mengingatkan umat tentang Ahlul Baitnya.Terkait hal ini, Salman Farsi, salah seorang sahabat Rasulullah Saw bertutur, “Aku melihat Husein berada di pangkuan Rasulullah, lalu beliau bersabda ke arah cucunya itu, ‘Engkau adalah pemimpin, engkau anak dan ayah pemimpin, engkau Imam, putra Imam dan ayah para pemimpin. Engkau hujah, putra hujah dan ayah Imam kesembilan, yang kesembilannya adalah Imam Mahdi’,”. Selain menjelaskan mengenai keutamaan Imam Husein, Rasulullah Saw mengungkapkan tentang kesyahidan Imam Husein di hadapan sejumlah sahabatnya di Madinah.

Ibnu Atsir, ahli hadis Sunni menulis, “Asyats bin Sahim meriwayatkan dari ayahnya yang mendengar langsung Rasulullah Saw bersabda, “Putraku Husein akan syahid di sebuah tempat di Irak. Barang siapa yang sezaman dengan Husein, maka ia harus menolongnya.”Aisyah, Istri Rasulullah Saw menceritakan suatu hari melihat Imam Husein yang masih bayi dibawa menghadap Nabi Muhammad Saw. Beliau menciumnya, seraya berkata,”Siapapun yang menziarahi makamnya akan mendapatkan pahala seperti haji”.

Faktor lain keabadian Asyura adalah konsistensi Ahlul Bait dalam mendirikan majelis duka Syuhada Karbala. Ahlul Bait Rasulullah Saw sangat mementingkan acara mengenang perjuangan Asyura. Mereka menjelaskan tujuan perjuangan Imam Husein, upaya mencegah terjadinya penyimpangan Asyura, mengungkap kejahatan Bani Umayah, keutamaan memperingati Asyura dan rahasia keabadian Asyura.

Perjuangan yang disuarakan Sayidah Zainab dari Karbala hingga masuknya para tawanan Asyura menuju Kufah dan Syam, serta Khutbah pencerahan yang beliau sampaikan dengan gagah berani di tengah masyarakat memainkan peran penting dalam memjelaskan kebenaran peristiwa Asyura. Tangisan panjang Imam Sajjad meratapi peristiwa Asyura membangkitkan kesadaran penduduk Madinah. Imam Baqir dan Imam Shadiq mewasiatkan selama 10 tahun untuk mendirikan Majelis duka ketika menjalankan ibadah haji di Mina, dan menjelaskan peristiwa Karbala. Imam Ridha juga mendirikan majelis duka mengenang perjuangan Asyura.

Berbagai faktor tersebut menyebabkan spirit Asyura tetap abadi hingga kini. Salah satu rahasia keabadian Asyura lainnya adalah metode dan tujuan perjuangan Imam Husein. Beliau dengan tegas memperkenalkan jalan perjuangannya secara terang benderang. Imam Husein berkata, “Aku bangkit melawan [penguasa lalim] demi memperbaiki umat kakekku, dan menegakkan Amr Maruf dan Nahi Munkar, sebab Allah swt dalam al-Quran berfirman,”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(Ali-Imran:104).

Salah satu bentuk dasar Amr Maruf dan Nahi Munkar adalah menasehati orang yang berbuat lalim supaya melakukan kebaikan dan menghentikkan kemunkarannya.Ketika penguasa lalim menimbulkan ancaman bagi prinsip-prinsip Islam harus ada orang yang menegakkan kebaikan dan melawan kezaliman demi tegaknya nilai-nilai Islam. Yazid yang zalim, menjadi Khalifah yang diwarisi dari ayahnya Muawiyah, dan Imam Husein bangkit melawan dan tidak berbaiat kepadanya. Dalam menjalankan tugasnya, Imam Husein memberikan pencerahan kepada masyarakat. Beliau berkata, “Wahai manusia ! Rasulullah Saw bersabda, jika di antara kalian menyaksikan penguasa lalim yang menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah, tidak menepati janjinya, dan menentang sunah Rasulullah dan berperilaku zalim dan dosa di tengah masyarakat… dan kemudian tidak mengubah perbuatannya dengan perkataan dan perbuatan, maka Allah swt menempatkan mereka termasuk orang-orang yang zalim.”

Untuk menyadarkan masyarakat, Imam Husein berkata,”Sadarlah! Ketika suatu kaum telah mentaati setan dan meninggalkan ketaatan terhadap Allah swt, melakukan kerusakan secara terang-terangan dan menghentikan hukum Allah, menjadikan Baitul Mal sebagai kas pribadi dan menghalalkan yang telah diharamkan oleh Allah, maka aku datang untuk mengubah keadaan ini !”

Imam Husein di bagian lain mengungkapkan masalah kehormatan dan maknanya yang tinggi dalam diri seorang mukmin. Beliau berkata, “Sadarlah, mereka yang memberiku dua pilihan, pedang dan kehinaan! Kami memilih syahid, bukan kehinaan. Sebab Allah swt dan Rasul-Nya menghendaki demikian.”Jika dikaji lebih dalam, perkataan ini disampaikan ketika Imam Husein sudah tahu usianya tidak akan lama, dan beliau akan mencapai kesyahidan.Tapi pernyataan ini disampaikan sebagai pelajaran penting bagi umat Islam tentang betapa berharganya kehormatan manusia, meski harus ditebus dengan nyawa sekalipun. Seruan Imam Husein ini sepanjang sejarah menjadi inspirasi tidak hanya untuk umat Islam, tapi juga bagi pejuang penegak keadilan di seluruh penjuru dunia.

Revolusi Imam Husein meskipun tidak mencapai kemenangan secara militer, dan dari luar tampak kalah dibantai oleh pasukan Yazid, tapi perjuangan beliau telah mengubah masyarakat Muslim. Sejatinya, gerakan Asyura adalah garis utama yang melanjutkan kehidupan Islam. Kebangkitan Imam Husein menjadi gerakan sosial yang menunjukkan bahwa reformasi masyarakat Islam berada dalam tanggungjawab setiap Muslim. Dan setiap orang harus mengerahkan seluruh potensinya untuk menyelamatkan ajaran Islam ketika diselewengkan oleh penguasa lalim seperti Bani Umayah. Inilah rahasia penting keabadian Asyur

riwayat dalam kitab kitab syi’ah bisa dijadikan hujjah jika ditemukan sanad lengkapnya dan dibuktikan dengan kaidah ilmu mazhab Syi’ah bahwa sanad tersebut shahih.

salafi wahabi menjelaskan mengenai mazhab syiah, bagaikan pendeta kristen menjelaskan tentang islam, atau bagaikan aswaja menjelaskan mengenai wahabi, ya tidak akurat wong yang menerangkan bukan yang punya mazhab , apalagi yang menjelaskan itu lawan sebrang dari mazhab yang dijelaskan, bagaikan seorang komunis menjelaskan mengenai kapitalisme.

Sesuai benar dengan pernyataan mantan ulama Salafy yang sudah bertobat dan menjadi sunni sejati, beliau berkata:

Demikian juga Salafy membolehkan berbohong atas namamu lebih dari kelompok lain. Saya sudah uji mereka (dengan pergaulan dengan mereka), karena itu saya tidak mempercayai mereka dalam ucapan apapun yang mereka katakan tentang orang lain kecuali jika saya mengetahui sendiri kebenaran apa yang mereka ucapkan.

Selengkapnya baca disini:

Syekh Hasan bin Farhan al Maliky: Bukti Kebohongan “Syaikhul Islam” Ibnu Taimiyyah | Abu Salafy –

https://abusalafy.wordpress.com/2014/11/30/syekh-hasan-bin-farhan-al-maliky-bukti-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taimiyyah/

 

 

 

 

 

 

Kedustaan Muhammad Abdurrahman Al Amiry Terhadap Syi’ah Dalam Dialog Dengan Emilia Renita

Sungguh menggelikan ketika seseorang menuduh suatu mazhab sebagai ajaran yang penuh kedustaan dan kedunguan ternyata terbukti dirinyalah yang sebenarnya dusta dan dungu. Mungkin saja sebelumnya ia tidak berniat menjadi dusta dan dungu hanya saja kebenciannya terhadap mazhab tersebut telah membutakan akal dan hatinya sehingga dirinya tampak sebagai pendusta

Inilah yang terjadi pada Muhammad Abdurrahman Al Amiry dalam tulisannya yang memuat dialog dirinya dengan pengikut Syi’ah yaitu Emilia Renita. Dialog tersebut membicarakan tentang nikah mut’ah, dimana para pembaca dapat melihatnya disini http://www.alamiry.net/2014/03/dialog-tuntas-bersama-emila-renita-az.html

.

.

.

Kedustaan Pertama

Al Amiry menanyakan kepada Emilia pernahkah ia melakukan mut’ah atau sudah berapa kali ia melakukan mut’ah. Pertanyaan ini dijawab oleh Emilia bahwa dalam mazhab Syi’ah hukum nikah mut’ah itu halal tetapi tidak semua yang halal itu wajib atau harus dilakukan.

Kemudian Al Amiry menjawab bahwa dalam Syi’ah nikah mut’ah itu bukan sekedar halal tetapi wajib karena ada riwayat Syi’ah yang mengancam orang yang tidak melakukan nikah mut’ah. Berikut riwayat yang dimaksud sebagaimana dikutip oleh Al Amiry

مَنْ خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَمَتَّعْ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَجْدَعُ

Barang siapa yang keluar dari dunia (wafat) dan dia tidak nikah mut’ah maka dia datang pada hari kiamat sedangkan kemaluannya terpotong” Tafsir manhaj ash shadiqin 2/489

Kami tidak memiliki kitab Tafsir Manhaj Ash Shadiqiin Al Kasyaaniy [dan kami ragu kalau si Amiry memiliki kitab tersebut] tetapi riwayat di atas dapat dilihat dari scan kitab tersebut yang dinukil oleh salah satu situs pembenci Syi’ah disini http://jaser-leonheart.blogspot.com/2012/05/sekilas-tentang-keutamaan-kawin-kontrak.html

Tafsir Manhaj Ash Shadiqin Kasyaaniy

Tafsir Manhaj Ash Shadiqin Kasyaaniy2

Nampak bahwa riwayat tersebut dinukil oleh Al Kasyaaniy dalam kitabnya tanpa menyebutkan sanad. Artinya riwayat tersebut tidak bisa dijadikan hujjah sampai ditemukan sanad lengkapnya dan dibuktikan dengan kaidah ilmu mazhab Syi’ah bahwa sanad tersebut shahih.

Salah seorang ulama Syi’ah yaitu Syaikh Aliy Alu Muhsin dalam kitabnya Lillah Wa Lil Haqiiqah 1/193 pernah berkomentar mengenai salah satu riwayat lain dalam kitab Tafsir Manhaj Ash Shadiqqin

Lillah Wa Lil Haqiiqah hal 193

Nukilan di atas menyebutkan bahwa hadis yang disebutkan Al Kasyaaniy tidak disebutkan dalam kitab hadis Syi’ah yang ma’ruf [dikenal] dan Al Kasyaniy menukilnya tanpa menyebutkan sanadnya dari Risalah tentang Mut’ah oleh Syaikh Aliy Al Karkiy.

Jika situasinya dibalik misalkan Emilia berhujjah dengan riwayat tanpa sanad dalam salah satu kitab tafsir ahlus sunnah maka saya yakin Al Amiry akan membantah dengan sok bahwa riwayat tersebut tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak ada sanadnya. Maka tidak diragukan bahwa pernyataan Al Amiry kalau Syi’ah mewajibkan penganutnya melakukan mut’ah dan mengancam yang tidak melakukannya adalah kedustaan atas nama Syi’ah.

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن علي بن يقطين قال: سألت أبا الحسن موسى (عليه السلام) عن المتعة فقال: وما أنت وذاك فقد أغناك الله عنها، قلت: إنما أردت أن أعلمها، فقال: هي في كتاب علي (عليه السلام)، فقلت: نزيدها وتزداد؟ فقال: وهل يطيبه إلا ذاك

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayah-nya dari Ibnu Abi ‘Umair dari ‘Aliy bin Yaqthiin yang berkata aku bertanya kepada Abul Hasan Muusa [‘alaihis salaam] tentang mut’ah. Maka Beliau berkata “ada apa kamu terhadapnya [mut’ah], sungguh Allah telah mencukupkanmu darinya [hingga tidak memerlukannya]”. Aku berkata “sesungguhnya aku hanya ingin mengetahui tentangnya”. Beliau berkata “itu [mut’ah] ada dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam]. Maka aku berkata “apakah kami dapat menambahnya [mahar] dan wanita dapat menambah [waktunya]”. Beliau berkata “bukankah ditetapkannya [aqad mut’ah] kecuali dengan hal-hal tersebut” [Al Kafiy Al Kulainiy 5/452]

Riwayat di atas dapat para pembaca lihat di link berikut. Riwayat tersebut sanadnya shahih di sisi mazhab Syi’ah, para perawinya tsiqat sebagaimana berikut

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. ‘Aliy bin Yaqthiin seorang yang tsiqat jalil memiliki kedudukan yang agung di sisi Abu Hasan Muusa [‘alaihis salaam] [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 154 no 388]

Matan riwayat justru mengsiyaratkan tidak ada kewajiban dalam melakukan mut’ah dan tidak ada ancaman bagi yang tidak melakukannya. Hujjahnya terletak pada lafaz “ada apa kamu terhadapnya [mut’ah], sungguh Allah telah mencukupkanmu darinya” artinya si penanya tidak perlu melakukannya karena Allah telah mencukupkan dirinya [sehingga ia tidak memerlukan mut’ah]. Maksud mencukupkannya disini adalah telah memiliki istri. Kalau memang mut’ah itu wajib bagi setiap penganut Syi’ah dan mendapat ancaman bagi yang tidak melakukannya maka bagaimana mungkin Imam Syi’ah tersebut mengatakan lafaz yang demikian.

Berdasarkan riwayat di atas maka dalam mazhab Syi’ah hukum nikah mut’ah itu halal atau mubah dan tidak ada masalah bagi mereka yang tidak melakukannya karena memang tidak memerlukannya. Tidak ada dalil shahih di sisi Syi’ah mengenai kewajiban mut’ah dan ancaman bagi yang tidak melakukannya.

Memang Al Amiry bukan orang pertama yang berdusta atas nama Syi’ah dengan riwayat Al Kasyaniy dalam Tafsir Manhaj Ash Shaadiqin tersebut, sebelumnya sudah ada ustad salafiy [yang sudah cukup dikenal] yang melakukannya yaitu Firanda Andirja dalam salah satu tulisannya disini. Mungkin dengan melihat link tersebut, Al Amiriy akan merasa terhibur bahwa orang yang lebih baik darinya ternyata melakukan kedustaan yang sama.

Orang boleh saja bertitel ustad, alim ulama, berpendidikan S3 dalam ilmu agama tetapi yang namanya hawa nafsu dapat menutupi akal pikiran sehingga melahirkan kedunguan dan kedustaan. Biasanya orang-orang model begini sering dibutakan oleh bisikan syubhat bahwa mereka adalah pembela sunnah penghancur bid’ah jadi tidak perlu bersusah payah kalau ingin membantah Syi’ah, Syi’ah sudah pasti sesat maka tidak perlu tulisan ilmiah dan objektif untuk membantah kelompok sesat. Jadi jangan heran kalau para pembaca melihat dalam tulisannya yang membahas hadis mazhabnya akan nampak begitu ilmiah dan objektif tetapi ketika ia menulis tentang mazhab yang ia sesatkan maka akan nampak begitu dungu dan dusta.

.

.

.

Kedustaan Kedua

Dalam dialog antara Al Amiriy dan Emilia, Emilia mengatakan bahwa ia tidak melakukan mut’ah [bahkan haram baginya] karena secara syar’i nikah mut’ah tidak bisa dilakukan oleh istri yang sudah bersuami. Al Amiry kemudian menjawab dengan ucapan berikut

Maka tanggapan kami: “Justru, ulama anda sepakat akan kebolehan nikah mut’ah bagi seorang wanita yang sudah nikah alias sudah punya suami”. Disebutkan dalam kitab syiah:

يجوز للمتزوجة ان تتمتع من غير أذن زوجها ، وفي حال كان بأذن زوجها فأن نسبة الأجر أقل ،شرط وجوب النية انه خالصاً لوجه الله

“Diperbolehkan bagi seorang istri untuk bermut’ah (kawin kontrak dengan lelaki lain) tanpa izin dari suaminya, dan jika mut’ah dengan izin suaminya maka pahala yang akan didapatkan akan lebih sedikit, dengan syarat wajibnya niat bahwasanya ikhlas untuk wajah Allah” Fatawa 12/432

Ucapan Al Amiry di atas adalah kedustaan atas mazhab Syi’ah. Tidak ada kesepakatan ulama Syi’ah sebagaimana yang diklaim oleh Al Amiry. Begitu pula referensi yang ia nukil adalah dusta. Kita tanya pada Al Amiry, kitab Al Fatawa siapa yang dinukilnya di atas?. Ulama Syi’ah mana yang menyatakan demikian?. Silakan kalau ia mampu tunjukkan scan kitab tersebut atau link yang memuat kitab Syi’ah tersebut.

Saya yakin Al Amiry tidak akan mampu menjawabnya karena ucapan dusta tersebut sebenarnya sudah lama populer di media sosial dan sumbernya dari twitter atau facebook majhul yang mengatasnamakan ulama Syi’ah. Ia sendiri menukilnya dari akun twitter yang mengatasnamakan ulama Syi’ah Muhsin Alu ‘Usfur sebagaimana dapat para pembaca lihat dalam tulisan Al Amiry disini

http://www.alamiry.net/2013/07/syiah-adalah-agama-seks-agama-mutah.html

twitter muhsin al usfur

Dan sudah pernah saya sampaikan bantahan mengenai kepalsuan twitter tersebut atas nama ulama Syi’ah dalam tulisan disini. Petunjuk lain akan kepalsuannya adalah jika para pembaca mengklik link tersebut yang dahulu mengatasnamakan ulama Syi’ah Muhsin Alu ‘Usfur maka sekarang sudah berganti menjadi Kazim Musawiy.

twitter kazim musawi

Dan di tempat yang lain para pembaca akan melihat seseorang mengaku Ayatullah Khumainiy yang juga menukil ucapan dusta tersebut. Mungkin kalau Al Amiriy melihatnya ia akan menyangka kalau akun facebook tersebut memang milik ulama Syi’ah Ayatullah Khumainiy.

fb khumaini

Alangkah dungunya jika seorang alim menuduh mazhab Syi’ah begini begitu hanya berdasarkan akun akun media sosial yang tidak bisa dipastikan kebenarannya, dimana siapapun bisa seenaknya berdusta atas nama orang lain atau memakai nama orang lain.

.

.

.

Kedustaan Ketiga

Ketika Al Amiry membantah Emilia dengan menyebutkan riwayat yang melaknat orang yang tidak nikah mut’ah, Al Amiry menukilnya dari kitab Jawahir Al Kalam

Maka kami tanggapi: “Thoyyib, akan kami buktikan riwayat yang melaknat orang yang tidak melakukan nikah mut’ah” Disebutkan dalam salah satu kitab syiah:

أن الملائكة لا تزال تستغفر للمتمتع وتلعن من يجنب المتعة إلى يوم القيامة

“Bahwasanya malaikat akan selalu meminta ampun untuk orang yang melakukan nikah mutah dan melaknat orang yang menjauhi nikah mutah sampai hari kiamat” Jawahir Al kalam 30/151

Riwayat yang sebenarnya dalam Jawahir Al Kalam lafaznya tidaklah seperti yang ia sebutkan, melainkan sebagai berikut [dapat dilihat disini]

ما من رجل تمتع ثم اغتسل إلا خلق الله من كل قطرة تقطر منه سبعين ملكا يستغفرون له إلى يوم القيامة، ويلعنون مجتنبها إلى أن تقوم الساعة

Setiap orang yang melakukan nikah mut’ah, kemudian ia mandi junub maka Allah akan menciptakan dari setiap tetesan air mandinya sebanyak tujuh puluh malaikat yang akan memohonkan ampunan baginya sampai hari kiamat. Dan para malaikat itu akan melaknat orang yang menjauhinya [mut’ah] sampai hari kiamat [Jawahir Al Kalam 30/151, Syaikh Al Jawaahiriy]

Jadi sisi kedustaannya adalah lafaz riwayat yang ia nukil tidak sama dengan apa yang tertulis dalam kitab Jawahir Al Kalam. Kedustaan ini masih tergolong ringan dan masih bisa untuk diberikan uzur misalnya Al Amiry menukil riwayat dengan maknanya walaupun lafaznya tidak sama persis [biasanya kalau orang menukil bil ma’na (dengan makna) maka ia tidak akan repot menuliskan lafaz dalam bahasa arab] atau Al Amiry tidak membaca langsung kitab Jawahir Al Kalam dan ia menukil dari kitab lain yang tidak ia sebutkan tetapi seolah disini ia mengesankan bahwa ia mengambilnya langsung dari kitab Jawahir Al Kalam.

Sesuai dengan kaidah ilmu mazhab Syi’ah, riwayat tersebut dhaif. Sanad lengkapnya dapat dilihat dalam kitab Wasa’il Syi’ah sebagaimana berikut [dapat dilihat disini]

وعن ابن عيسى، عن محمد بن علي الهمداني، عن رجل سماه عن أبي عبد الله (عليه السلام) قال: ما من رجل تمتع ثم اغتسل إلا خلق الله من كل قطرة تقطر منه سبعين ملكا يستغفرون له إلى يوم القيامة ويلعنون متجنبها إلى أن تقوم الساعة

Dan dari Ibnu Iisa dari Muhammad bin ‘Aliy Al Hamdaaniy dari seorang laki-laki yang ia sebutkan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata Barang siapa yang melakukan nikah mut’ah, kemudian ia mandi junub maka Allah akan menciptakan dari setiap tetesan air mandinya sebanyak tujuh puluh malaikat yang akan memohonkan ampunan baginya sampai hari kiamat. Dan para malaikat itu akan melaknat orang yang menjauhinya [mut’ah] sampai hari kiamat [Wasa’il Syi’ah 21/16, Al Hurr Al Aamiliy]

Sanad di atas dhaif karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya yaitu pada lafaz sanad “seorang laki-laki yang ia sebutkan”. Adapun riwayat lainnya yang dinukil Al Amiry dari Tafsir Manhaj Ash Shaadiqin

أن المتعة من ديني ودين آبائي فالذي يعمل بها يعمل بديننا والذي ينكرها ينكر ديننا بل إنه يدين بغير ديننا. وولد المتعة أفضل من ولد الزوجة الدائمة ومنكر المتعة كافر مرتد

“Nikah mutah adalah bagian dari agamku dan dagama bapak-bapakku dan orang yang melakukan nikah mutah maka dia mengamalkan agama kami, dan yang mengingkari nikah mutah dia telah mengingkari agama kami, dan anak mutah lebih utama dari anak yang nikah daim dan yang mengingkari mutah kafir murtad” Minhaj Ash Shodiqin hal. 356.”

Maka riwayat di atas sama seperti riwayat sebelumnya yang dinukil Al Kasyaaniy tanpa sanad dalam kitabnya sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

.

Penutup

Secara pribadi saya menilai dialog antara Al Amiry dan Emilia tersebut tidak banyak bermanfaat bagi orang-orang yang berniat mencari kebenaran. Keduanya baik Al Amiry dan Emilia nampak kurang memahami dengan baik hujjah-hujjah yang mereka diskusikan. Apalagi telah kami buktikan di atas bahwa Al Amiry telah berdusta atas mazhab Syi’ah. Saya tidak berniat secara khusus membela saudari Emilia, saya sudah lama membaca dialog tersebut hanya saja baru sekarang saya menuliskan kedustaan Al ‘Amiry karena saya lihat semakin banyak orang-orang awam [baca : situs- situs] yang disesatkan oleh tulisan dialog Al ‘Amiry tersebut.

Sunni-Syiah hanyalah perkembangan pasca Rasulullah Saw

Dien Syamsudin :

Ana La Syi’i, La Sunni, Bal Islami

 

(Transkrip lengkap, sambutan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Dien Syamsudin dalam peluncuran buku Kapita Selekta Mozaik Islam, karya Prof. Dr. Umar Shihab di Hotel Pan Pasific pada Jumat 17 Oktober 2014)

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillahi haqqa hamdih, wa syukrulillahi haqqa syukrih, wa la hawla wala quwwata illa billahil aliyil adhim, al Mukaromun yang saya muliakan para ulama, zu’ama, sesepuh dan pinisepuh serta semua tamu undangan.

Al Mukarromun ashabul fadhilah al-sufara’ min al-duwal al Islamiyah al syafiqah, Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat, hadirin dan hadirat khususnya “sang pengantin,” penulis buku, Prof. Dr. Umar Shihab yang berbahagia.

Atas nama pribadi dan atas nama dewan pimpinan  Majelis Ulama Indonesia saya ingin mengungkapkan rasa syukur dan rasa bahagia atas peluncuran buku Kapita Selekta dan Mozaik Islam karya prof Dr. Umar Shihab, seorang dari Ketua Majelis Ulama Indonesia yang kebetulan termasuk yang tertua yang telah mencapai usai 75 tahun, terpaut hampir 20 tahun dari saya, seorang yang kalau boleh saya katakan sebagai mozaik dalam dirinya, karena selain sebagai seorang ulama dan juga Muslim, guru besar, tapi juga seorang pendidik dan banyak juga pengalaman dalam bidang politik.

Judul buku ini, Kapita Selekta yang tadi dibicarakan terpengaruh oleh Pak Natsir yang juga menuliskan Kapita Selekta tapi juga karena, meskipun saya belum membaca secara tuntas, buku ini mengangkat isu-isu, persoalan-persoalan dalam rentangan disiplin ilmu keislaman yang luas dari akidah, fikih, hukum, kalau tidak salah juga tasawuf dan juga diskusi kontemporer termasuk isu-isu politik, maka dia menjadi bunga rampai yang sangat kaya dan ketika dinyatakan sebagai mozaik Islam, ini mengandung pesan bahwa Islam bisa dikatakan sebagai sebuah entitas keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang satu sama lain terjalin dalam tali temali yang erat sekali dan menjadikan Islam sebagai Die Wende dan sekaligus sebagai mozaik yang indah.

Ini menegaskan bahwa ada persoalan kemajemukan, ta’addudat, termasuk di dalamnya persoalan ikhtilaf dan juga keragaman yang sesungguhnya merupakan sunnatullah karena begitu banyak ayat suci menegaskan bahwa Allah menciptakan semua yang ada di bumi, langit, alam semesta ini dalam keragaman, ikhtilafu alwanikum wa alsinatikum, syu’uban wa qabaila, dan seterusnya yang di akhir ayat itu, Allah mengatakan semuanya adalah tanda-tanda lil ‘alimin bagi orang-orang yang berilmu yang mengetahui, yang menggunakan akal pikiran.

  1. ikhtilafu ummati rahmah dan banyak disebut tadi, perbedaan di antara umatku itu adalah rahmat, ini dalam arti secara esensial perbedaan itu sebagai rahmat tetapi juga ada pesan, ada imperatif dalam ungkapan itu bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita perlu kita sikapi dengan rahmah dan penuh kasih sayang di antara kita.

Inilah yang menjadi pesan Islam yang kemajemukan umat dalam pemikiran, dalam mazhab, dalam orientasi politik dan di Indonesia juga dalam instrumen perjuangan di organisasi-organisasi kemasyarakatan, sesungguhnya adalah sunnatullah itu sendiri. Maka oleh karena itu pesan Islam yang ingin disampaikan oleh Prof. Dr. Umar Shihab adalah pesan Islam agar dialog di antara kita perlu kita tingkatkan dan agar kita tidak mudah terjebak kepada yang beliau sampaikan tadi itu, takfir dan tadhlil, yaitu pengkafiran dan penyesatan yang memang akhir-akhir ini menjadi salah satu fenomena di dunia Islam, di kalangan dunia Islam, takfir yaitu ada gerakan takfiri dan gerakan tadhlil, yang walaupun di dalam Islam dibandingkan dengan agama-agama lain relatif memiliki kriteria keyakinan kepercayaan keagamaan yang sangat ketat sekali, best marking of Islamic faith, yang mungkin bagi agama-agama lain yang terlalu longgar dalam hal keyakinan sehingga memungkinkan dan memang secara empiris terdapat sekte-sekte yang berbeda satu sama lain, tapi Islam sangat ketat sekali menyangkut al-aqidah al-Islamiyah, namun sangat tergantung pada kita apakah kita membawanya pada kriteria maksimal ataukah menurunkannya pada kriteria minimal. Kalau saya pribadi ingin kriteria minimal lah yang kita pakai, yaitu syahadatain, maka semua yang bertumpu pada syahadatain, keyakinan terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad sebagai rasul terakhir, semuanya berada di dalam wilayah keislaman.

Maka tidak salah dalam hadis man qala la ilaha ilallah dakhalal jannah, didahului la ilaha ilallah saja ini, kalau kita berangkat dari kriteria yang minimal ini, maka perbedaan-perbedaan yang ada itu sesungguhnya berada pada wilayah cabang-cabang, furu’iyyah bukan pada ushul, dasar agama, dan ketika ada percabangan-percabangan, kemajemukan dan keragaman dalam banyak hal lain yang menurut sejarah yang bisa kita baca itu semuanya adalah perkembangan pasca Rasulullah Saw, Sunni-Syiah, mazhab-mazhab, adalah dinamika perkembangan pasca Rasulullan Saw.

Sehingga itu adalah produk sejarah, produk budaya yang memang mengacu kepada dasar-dasar agama dan bahkan tidak sedikit dalam perkembangan perbedaan itu sendiri ada faktor politik yang kemudian ditarik ke teologi seolah-olah perbedaan teologis, padahal pada pangkalnya adalah perbedaan politik, kalau ini kita sikapi secara jernih, tenang dan sedikit santai maka kita mungkin bisa berlapang dada, dan inilah pesan Rasulullah Saw yang sangat senang saya kutip, yaitu hadis yang berbunyi ahabbuddin lillah atau ilallah al-hanafiyyatu as-samhah, bahwa agama yang paling dicintai di sisi Allah, pada Allah adalah keberagaman yang bertumpu pada kehanifan, al-hanafiyyah dan memang agama-agama samawi termasuk Islam, sangat mengacu kepada pengikut Ibrahimi, Ibrahim as yang menyatakan dirinya dan dinyatakan sebagai hanifan musliman.

Sebagai muslim yang hanif yang menampilkan al-hanafiyyah dan ini pulalah sedikit kita lakukan konteks analisis terhadap doa-doa dalam shalat betapa shalat yang merupakan tiang agama itu diawali dengan komitmen Ibrahimi, hanifan musliman menukilkan pernyataan Ibrahim as tapi di ujung shalat dalam tahiyat kita ulang kembali kama barakta ‘ala Ibrahim, Ibrahim kita munculkan kembali seolah-olah komitmen Ibrahimi ini meliputi shalat yang merupakan tiang agama itu, dan itulah kehanifan, al-hanafiyyah, kalau pesan Rasul tadi itu al-hanafiyyatu as-samhah, yang berlapang dada, yang bertoleransi, yang terbuka untuk tidak mengklaim absolute truth dalam pemikiran kita yang absoluteal-haq itu dari Allah, tapi apa yang kita pahami, apa yang kita pikirkan adalah wilayah dengan kenisbian manusia.

Nah, dengan demikian maka umat Islam akan tergerak untuk melakukan komunikasi, dialog, silaturahim,silatulfikri,  hubungan kasih sayang dalam hal pemikiran dan ini akan menjadi modal bagi persatuan umat Islam.

Terakhir khususnya di Indonesia, saya kira agenda mendesak untuk kita dorong bersama-sama adanya as-samhah sesama umat Islam untuk kita hadapi fenomena takfiri, pengkafiran, tadhlil, penyesatan, yang kurang berdasarkan al-hanafiyyatu as-samhah tadi itu, yang hanya akan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Terus terang, saya ingin secara terus terang, terbuka, persoalan besar dunia Islam sekarang, persoalan Sunni-Syiah, bagi yang belajar Islam semua perkembangan pasca Rasulullah Saw hanyalah perbedaan tafsir terhadap hadis yang mungkin juga terhadap Al-Quran, muncullah perbedaan ini maka saya lebih senang mengutip ulama-ulama, mufti-mufti sebagian di Timur Tengah sana, yang mengatakan walaupun banyak yang tidak setuju bahwa ana la Syi’i la Sunni bal Islami, tidak Sunni-tidak Syiah tapi Islam.

Bahkan ada ulama mufti dari Suriah kalau tidak salah, dengan kata-kata ana syi’iyyun fi mahabbati aali Rasulillah, wa ana sunniyyun fi mahabbati ashhabi Rasulillah, mungkin di situ titik temu. Nah, upaya kecenderungan kita untuk bicara titik temu inilah, adalah sebuah perjuangan besar, sebuah jihad yang perlu kita lakukan, maka Majelis Ulama Indonesia diharapkan dapat menjadi tenda besar bagi seluruh kekuatan umat Islam termasuk yang mungkin, yang kita anggap jauh dari Islam tapi mereka sendiri mengaku Islam dan oleh karena itu perlu ada sebuah tenda besar yang semua pihak merasa nyaman untuk bernaung di bawah tenda itu. Ini tidak mudah, ini tantangan kita bersama tapi dengan bangkitnya kekuatan umat Islam tengahan yang moderat, yang toleran, yang penuh dengan al-hanafiyyatu as-samhah ini, ada keyakinan itu akan menjadi kenyataan dan kita akan terhindarkan dari silang sengketa, perselisihan, bahkan permusuhan, apalagi jika terjadi al-fitnatul kubra pada era modern ini, na’udzu billahi min dzalik.

Oleh karena itulah buku Prof. Dr. Umar Shihab ini, walaupun saya sudah baca sepintas saja antara lain memesankan itu, maka oleh karena itulah mari kita ciptakan mozaik Islam yang indah, keragaman sebagai sebuah keindahan.

Selamat terhadap Prof. Dr. Umar Shihab atas bukunya yang kesekian kalinya ini, dan selamat atas usia 75 tahun, semoga dapat terus berkiprah, bagi umat, bagi bangsa dan negara, dan tetap aktif menjadi salah satu tulang punggung Majelis Ulama Indonesia untuk menjadi tenda besar bagi Umat Islam dan bagi Indonesia.

Wa billahit taufiq wal hidayah wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kyai NU Luruskan Kejanggalan Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia

Kyai NU Luruskan Kejanggalan Buku MUI dan DDII

IMG_0049Beredarnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” dari MUI dan buku “Kesesatan Syiah di Indonesia” terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) membuat kyai NU tak tinggal diam. Salah satunya adalah KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani, ulama muda sekaligus penulis buku dari Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU. Dia mencoba meluruskan isi buku yang ditulis oknum MUI dan DDII tersebut dengan menulis sebuah buku berjudul “Kyai NU Meluruskan Fatwa-fatwa Merah MUI & DDII.”

KH. Alawi menilai, buku oknum MUI dan DDII berisi pengkafiran terhadap Syiah itu tidak menggunakan referensi lengkap. Akibatnya orang-orang yang awam terhadap agama sangat terancam ikut-ikutan mengkafirkan tanpa pengetahuan jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. “Ini sangat potensial menjadi sumber perpecahan di antara umat Islam,” ungkapnya kepada ABI Press.

KH. Alawi sangat menyayangkan, orang-orang MUI yang menulis buku itu dan menyandang gelar begitu banyak; Professor, Doktor, Lc, MH, ternyata tidak paham soal ilmu fikih secara mendalam.

“Silakan cek dalam kitab-kitab fikih apapun, ketika seorang ‘tersangka’ dinyatakan oleh pengadilan bersalah, Islam memberikan kepadanya hak jawab,” ujarnya. Tapi menurut KH. Alawi, oknum-oknum MUI dan DDII itu belum pernah memberikan hak jawab dan tak pernah mengundang Ulama Syiah untuk duduk bersama dalam membahas beberapa permasalahan agama yang mereka hujat dan mereka persoalkan.

Sebab itulah KH. Alawi merasa terpanggil untuk meluruskan isi buku yang dianggapnya tidak lurus itu demi meredam dampak negatif perpecahan di tengah umat.

Buku MUI dan DDII Picu Konflik dan Pembodohan

Buku MUI dan DDII Picu Konflik dan Pembodohan

Tak henti menyerang Syiah melalui penyebaran buku hasil tulisan oknum MUI, kini Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) menambah daftar gerakan anti Syiah melalui bukunya yang berjudul “Kesesatan Syiah di Indonesia.”

Tidak hanya memicu konflik, menurut tokoh NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani, buku-buku itu juga dapat menjadi sumber pembodohan bagi umat.

Berbagai cara dilakukan oleh kelompok anti Syiah ini untuk memberangus Syiah di Indonesia. Terakhir, tersiar kabar akan diadakannya Deklarasi Nasional Anti Syiah di Bandung Jawa Barat. Entah apa yang membuat mereka begitu benci terhadap Syiah, sehingga Syiah harus diberangus.

Apakah Syiah boleh berkembang di Indonesia?“Jelas boleh! Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun juga boleh,” ungkap KH. Alawi.

Pernyataan KH. Alawi bukan tanpa alasan, mengingat Syiah merupakan salah satu mazhab Islam yang diakui di seluruh dunia.

Ketidaktahuan orang banyak tentang sejarah Syiah lah yang sebenarnya menjadi masalah. Akibatnya menurut KH. Alawi mereka yang minim pengetahuan itu dapat dengan mudah diadu domba oleh kelompok-kelompok yang membenci Syiah.

“Misalnya begini, kalau ada 100 orang Sunni sebelum shalat minum arak, apa yang akan anda katakan? Sunni sesat atau oknum Sunni sesat? Pasti oknum Sunni yang sesat. Nah, ketika ada saudara kita Syiah yang berbuat salah, yang jadi masalah adalah jika kita menghukumi semua Syiah juga salah. Nah, orang-orang yang tidak tahu kaidah inilah yang biasanya akan terseret menjadi korban fitnah dan pada akhirnya secara serampangan menganggap semua Syiah salah,” terang KH. Alawi memberi contoh.

Nah, buku keluaran MUI dan DDII ini pun menurut KH. Alawi juga memicu kaum Muslim masuk dalam kubangan fitnah yang sangat berbahaya. Apalagi bila ditelisik dan dipelajari lebih jauh, kedua buku itu tak lebih hanya berisi penghakiman sepihak sekelompok orang yang dialamatkan ke kelompok lain, tanpa menerapkan prinsip keadilan dalam Islam, yaitu terkait perlunya pemberian hak jawab terhadap pihak yang dituduh, dalam hal ini pihak Syiah.

Kyai NU: Konflik Sunni-Syiah Kerjaan Musuh Islam

DSC_0013Untuk mempererat jalinan ukhuwah, KH. Alawi Nurul Alam Albantani, tokoh NU datang bersilaturahmi ke Yayasan Syiah, Husainiyah Azzahra, Gerlong Girang, Bandung pada hari Selasa (20/5).

Dalam kunjungan singkatnya, Kyai kharismatik ini bermaksud mengikuti pembacaan Tawassul yang diadakan rutin setiap malam Rabu di tempat itu, namun akibat terjebak macet, beliau akhirnya datang terlambat. Sekitar 50-an jamaah Syiah ikut hadir menyambut kedatangannya. Tepat pukul 19.00 acara dibuka pembina Husainiyah, Ustad Husain Alkaff.

Selesai Tawassul, seperti lazimnya di setiap majelis taklim, Kyai Alawi memberikan tausiyah.

Dalam sambutannya, penulis buku Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII ini mengatakan bahwa konflik sektarian dalam tubuh umat sengaja disulut musuh-musuh dari luar Islam.

“Sampai kapanpun kaum Nasoro dan Yahudi tidak akan senang dengan kemajuan Islam. Makanya mereka masukkan antek-anteknya agar sesama Muslim selalu bertengkar. Dan yang paling mudah dijadikan pemicu adalah isu sektarian antara Sunni dengan Syiah.”

“Kalo ada Sunni yang ikut-ikutan, berarti tidak mengerti Sunni. Kalo ada Syiah yang ikutan, berarti gak mengerti Syiah,” tambahnya.

“Coba kalo Sunni dan Syiah mampu bersatu, kemudian kita pikirkan langkah-langkah untuk menghadapi takfiri, yakinlah mereka bakal takut setakut-takutnya. Bohong kalo ada yang bilang takfiri di Indonesia itu berani. Sudah 125 masjid kami ambil kembali dari tangan mereka, gak ada perlawanan,” kisahnya.

“Perbedaan tata cara ibadah adalah soal furu’ (cabang) dalam Islam. Bapak-bapak, Ibu-ibu pernah gak lihat cabang pohon yang sama persis? Tidak kan? Nah, kaum takfiri itu tidak mengerti soal ini. Kenapa? Karena otak mereka dangkal. Kedangkalan ini yang menyebabkan mereka berperilaku radikal, dan perilaku radikal inilah yang berbahaya bagi bangsa Indonesia,” lanjut Kyai Alawi.

Dia juga meragukan pengikut Syiah mencaci sahabat lantaran mengikuti titah Imamnya. “Saya gak percaya kalo orang-orang seperti Imam Ja’far Sadiq, Imam Muhammad Al Baqir, Kakeknya Imam Husain, memerintahkan penghinaan. Apalagi menjatuhkan kemuliaanya dengan mengeluarkan fatwa untuk menghina,” tegasnya.

Tanpa pakaian kebesaran khas Kyai pada umumnya, Kyai Alawi bertutur dengan gaya khas Sunda. Tausiyah diwarnai plesetan itu pun sesekali disambut gelak tawa jamaah.

“Makanya Ibu-ibu, mau gak liat anak setan? Liat tuh takfiri. Mereka mah gabakal marah, da bener-bener ngarasa,” selorohnya, yang disambut tawa jamaah.

KH. Alawi Albantani adalah anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia telah menulis sekitar 55 judul buku, di antaranya  Allah pun Bershalawat Mengapa Kita Tidak (40 Keajaiban Shalawat),  Ustad Salafi Wahabi (Persis) Bertanya Al Bantani Menjawab, dan  Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII.

“Acara-acara solidaritas seperti ini harus lebih sering diadakan, agar masyarakat tahu, Sunni-Syiah teh balad geuningan (ternyata Sunni-Syiah temenan),” anjur Kyai Alawi di akhir tausiyahnya.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

Syi’ah Di fatwa sesat oleh Produk Sejarah.. Sejarah Khilafah Sunni tak lepas dari cerita kelam dan kejam ..!!

Sejarah Khilafah Sunni tak lepas dari cerita kelam dan kejam ..!!

Islam Sunni Sebagai Bagian dari Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian.

Ada ungkapan Ulama Klasik bahwa Islam itu cocok untuk segala tempat dan zaman (Al-Islâmu shâlihun li kulli makân wa zamân).. Ternyata Syi’ah yang dulu dituduh sesat, kini berbalik banyak orang mengesahkan nya !

keterpautan antara bahasa, pemikiran dan sejarah, sekaligus dalam hubungannya dengan nilai-nilai etis yang hendak diraih, maka akan dimungkinkan pengembangan pemikiran Islam.

hubungan antara pemikiran (keislaman), budaya dan sejarah, yang melatarbelakanginya (sejarah penetapan hukum-hukum agama, sejarah terbentuknya pranata sosial  Islam, bahkan sejarah sosial-politik dan perkembangan kontemporer pemikiran Islam dan sebagainya). Pemikiran tidak terlepas dari historisitasnya

Perlu ditegaskan, ternyata ada bagian dari islam Sunni yang merupakan produk sejarah, teologi Sunni adalah bagian dari wajah islam produk sejarah. Konsep Khulafa al-Rasyidin adalah produk sejarah, karena istilah ini muncul belakangan. Sejumlah  bangunan islam klasik , tengah dan modern YANG  MENUDUH  SYIAH  SESAT  adalah produk sejarah.

Andaikata khalifah Al-Mansur tidak meminta Imam Malik menulis Al-Mawatta’, kitab hadis semacam ini mungkin tidak ada, karena itu al-muwatta, sebagai kumpulan hadist juga merupakan produk sejarah.

Jadi ada faktor kekuasaan yang melingkupi  perjalanan aliran Sunni

Kita mengetahui dalam sejarah adanya upaya untuk pemalsuan hadis. Imam Bukhari, Imam Muslim atau Imam Malik mengumpulkan dan melakukan mencatat hadis dengan upaya hati-hati. Imam Muslim, dalam pengantarnya mengatakan bahwa tadinya hadis yang dikumpulkan ada 300.000 (tiga ratus ribu) buah, tetapi setelah selesai menjadi 6.000 buah hadis.

Pertanyaannya, dari mana Hadis sebanyak itu dan sudah meresap kemana saja sisanya itu, sehingga tinggal 6.000 ?

Ketika Raja Dinasti  Abbasiyah berkuasa yaitu Al Ma’mun (198 – 218 H / 813 – 833 M)lalu Al Mu’tashim (218 – 228 H / 833 – 842 M) lalu Al Watsiq ( 228 – 233 H / 842 – 847 M) paham kerajaan Abbasiyah adalah Mu’tazilah ! Terjadilah  pertarungan antara Mu’tazilah  melawan  Ahlulhadis :

Tatkala Raja al-Mutawakil (847-864 M) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal. Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni.

Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya. Salah seorang tokohnya, Syafi’i menyusun ‘Ushul al-Fiqh. Dalam bidang Hadis muncul tokoh Bukhari dan Muslim. Dalam bidang Tafsir, muncul al-Tabbari. Pada masa inilah kaum Sunni menegaskan sikapnya terhadap posisi terhadap 4 khalifah dengan mengatakan bahwa yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Uthman dan ‘Ali

untuk memperoleh pengakuan dari penguasa, pemikiran politik  ulama Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa, mereka  berhasil mempengaruhi Khalifah Al Mutawakil (847-861 M), sekaligus merubah haluan aliran resmi pemerintahan menjadi sunni

Ini menjadi contoh betapa label selamat dan sesat dengan mudah dialihkan, tergantung ‘selera’ rezim yang berkuasa. Apa yang dikenal dengan ‘tragedi mihnah’ ini menjadi contoh tak terbantahkan bahwa antara keselamatan dan kesesatan yang semata dipagari dengan apa yang disebut kekuasaan. Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (Aswaja) selama ini difahami sebagai sebagai suatu sekte keagamaan terbesar dalam Islam…Pada masa Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Wasiq, kelompok yang dianggap sesat adalah ahlul hadis dengan ikon intelektualnya Ahmad ibn Hanbal. Sebaliknya pada masa Al Mutawakkil, kelompok yang dianggap sesat adalah ahlu ar-ra’yi atau lebih populer disebut mu’tazilah.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati” (Al-Baqarah: 159)

Menurut kita As-Sirah Nabawiyyah, Syilbi bag I hal.13-17 dikabarkan bahwa:

Zuhri Sejarahwan pertama yang menulis sejarah Islam pada masa pemerintahan Bani Umayah yakni Raja Abdul Malik 65 H..Zuhri adalah bekas budak Zubair yang sangat dekat dengan keluarga bangsawan Abdul Malik

Zuhri ditugaskan dengan biaya Abdul Malik untuk menyusun Sejarah Islam dan menyusun Hadis  hadis  seluruh sejarah Kitab kitab suni ditulis setelahnya oleh orang  orang  yang berpengaruh dalam karya ini…

Dan Bukhari  banyak  hadis dalam shahihnya berasal dari hasi kumpulan Zuhri..Jadi tidak heran hadis hadis   sekarang ini banyak REKAYASA.. Cerita seperti cerita Bukhari, bahwa Nabi Musa MENAMPAR Malikul Maut sampai matanya pecah kemudian mengadu pada Allah.

Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.

Bagaimana “rekaman” sejarah soal ini? Ini daftar tahun berkuasanya khilafah yang sempat saya catat:

1. Ummayyah (661-750)

2. Abbasiyah (750-1258)

3. Umayyah II (780-1031)

4. Buyids (945-1055)

5. Fatimiyah (909-1171)

6. Saljuk (1055-1194)

7. Ayyubid (1169-1260)

8. Mamluks (1250-1517)

9. Ottoman (1280-1922)

10. Safavid (1501-1722)

11. Mughal (1526-1857)

Pendekatan Sejarah dalam Kajian Islam

Salah satu sudut pandang yang dapat dikembangkankan bagi pengkajian Islam itu adalah pendekatan sejarah.Berdasarkan sudut pandang tersebut, Islam dapat dipahami dalam berbagai dimensinya.Betapa banyak persoalan umat Islam hingga dalam perkembangannya sekarang, bisa dipelajari dengan berkaca kepada peristiwa-peristiwa masa lampau, sehingga segala kearifan masa lalu itu memungkinkan untuk dijadikan alternatif rujukan di dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini. Di sinilah arti pentingnya sejarah bagi umat Islam pada khususnya, apakah sejarah sebagai pengetahuan ataukah ia dijadikan pendekatan didalam mempelajari agama.

Ketika Bani Abbasiyah merebut khilafah, darah tertumpah di mana-mana. Ini “rekaman” kejadiannya:Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya.

Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian menghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamanannya.” Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqh terkenal di Khurasn bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani. Namun ketika ia, setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu, menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Cerita di atas bukan karangan orientalis tapi bisa dibaca di Ibn Atsir, jilid 4, h. 333-340, al-Bidayah, jilid 10, h. 345; Ibn Khaldun, jilid 3, h. 132-133; al-Bidayah, jilid 10, h. 68; al-Thabari, jilid 6, h. 107-109. Buku-buku ini yang menjadi rujukan Abul A’la al-Maududi ketika menceritakan ulang kisah di atas dalam al-Khilafah wa al-Mulk.

Semua aspek kehidupan tidak lepas dari faktor sejarah, sejarah merupakan bukti yang nyata untuk melangkah lebih maju, karena dengan sejarah, manusia bisa belajar kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan mengetahui data-data yang bisa di pertanggung jawabkan. Dalam metologi islam, diperlukan sejarah untuk mengetahui kebenaran yang valid yang tidak dicampuri oleh orang-orang terdahulu, untuk itu sangatlah urgan dalam penelitian sejarah.

Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empatbelas abad lebih menyimpan banyak banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya

Sayyidina Al Husain ibn ‘Ali RA. adalah cucu sang Nabi yang amat dikasihi. Abu Hurairah meriwayatkan: “Aku pernah melihat Rasulullah saw. sedang menggendong Husain, seraya berkata, ‘Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah dia.’
 .
Ya’lâ bin Murrah meriwayatkan: “Kami pergi bersama Rasulullah untuk menghadiri undangan makan. Di suatu gang, kami melihat Husain sedang bermain-main. Ia mendekatinya seraya membentangkan kedua tangannya. Husain berlari kesana kemari hingga membuatnya tertawa, sampainya berhasil menangkapnya. Kemudian Rasulullah meletakkan satu tangannya di bawah dagu Husain dan tangan yang lain di atas kepalanya. Rasulullah mencium-ciumnya. Ia bersabda, ‘Husain dariku dan aku darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husain. Husain adalah salah satu cucuku.”
 .
Yazîd bin Abi Ziyâd meriwayatkan: “Rasulullah saw. keluar dari rumah ‘Aisyah dan melewati rumah Fathimah. Ketika itu Rasulullah saw. mendengar tangisan Husain. Rasulullah merasa gusar. Lalu berkata kepada Fathimah, ‘Tidakkah kau tahu bahwa tangisannya itu menyayat hatiku?”
Rasulullah mencintai al-Husain, sang cucu yang penuh kelembutan, meskipun fajar ‘Asyura di tahun 61 H menjadi akhir dari perjalanan hidup al-Husain, terbantai oleh penguasa-penguasa zhalim yang juga mengaku umat sang nabi.
 .
Peristiwa Karbala adalah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati siapa pun yang masih memiliki hati, bukan milik segelintir orang apalagi kelompok-kelompok tertentu. Karbala adalah medan syahid ahlu baitil musthofa.
 .
Sayyidina Al-Husain adalah keturunan langsung sang nabi, putra dari Khalifah ke-4 Amirul Mu’minin Ali ibn Abi Thalib. Beliau tidak segera menerima paksaan untuk membai’at Yazid ibn Mu’awiyah; sang raja baru pada era Dinasti Umayyah.
 .
Sayyidina Al-Husein memegang amanat agung, tapi kelembutannya tak membuatnya gila kekuasaan. Hari ini tanggal 9 Muharram beliau sudah berada di Karbala menerima pengkhianatan dalam sejarah Islam. Dan esok, tanggal 10 Muharram, padang Karbala menjadi saksi kesyahidan sang imam yang dibunuh oleh pasukan yang dipimpin Ubaidillah bin Ziyad atas perintah Yazid ibn Mu’awiyah.
Karbala banjir darah. Kekasih sang Nabi dari darah dagingnya sendiri berkalang tanah, kepalanya disembelih dan dicucuk di atas tombak, al-Husain berpulang bersama tiga putranya dan puluhan sahabat.

Ahlussunnah belakangan berhadapan dengan Syi’ah.. Label Aswaja kini  menjadi identitas yang diperebutkan (contested identity).. Buku yang ditulis Muhammad At-Tijani As-Samawi, doktor filsafat Universitas Sorbone, yang berjudul Asy-Syi’ah Hum Ahlu as-Sunnah [1993] menjadi contoh dari perebutan ini. Buku itu hendak menegaskan bahwa Syi’ah adalah Ahlussunnah, bahkan dinilai lebih Ahlussunnah ketimbang kelompok yang selama ini mendakwa dirinya Ahlussunnah

.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533,