Apakah Ibnu ‘Abbas Meyakini Adanya Tahrif Al Qur’an?

 

Apakah Ibnu ‘Abbas Meyakini Adanya Tahrif Al Qur’an?

Tulisan ini agak bernada satir, tidak ada sedikitpun niat penulis untuk merendahkan sahabat Nabi yang Mulia Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anhu]. Kami hanya membawakan riwayat yang shahih dan silakan para pembaca menilai dan memahami sendiri riwayat tersebut.

.

.

Riwayat Pertama

Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anhu] menyatakan bahwa ada kesalahan dalam Al Qur’anul Kariim. Menyatakan kesalahan dalam Al Qur’an baik sedikit ataupun banyak sama halnya dengan meyakini adanya tahrif dalam Al Qur’an

حدثنا ابن بشار قال ثنا محمد بن جعفر قال ثنا شعبة  عن أبي بشر عن سعيد بن جُبير عن ابن عباس في هذه الآية( لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ) وقال إنما هي خطأ من الكاتب حتى تستأذنوا وتسلموا

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai ayat [Laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum hattaa tasta’nisuu wa tusallimuu ‘alaaa ahlihaa] dan ia berkata “sesungguhnya itu kesalahan dari penulisnya yang benar adalah [hattaa tasta’zinuu wa tusallimuu]. [Tafsir Ath Thabariy 19/145]

Terdapat perselisihan dalam sanad riwayat Syu’bah. Muhammad bin Ja’far [Ghundaar] dalam periwayatan dari Syu’bah di atas memiliki mutaba’ah dari Wahb bin Jarir sebagaimana yang disebutkan Ath Thabariy [Tafsir Ath Thabariy 19/146].

Muhammad bin Ja’far [Ghundaar] adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah” [At Tahdzib juz 9 no 129]. Wahb bin Jarir bin Hazm adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 273]

Keduanya diselisihi oleh Sufyan Ats Tsawriy dimana ia meriwayatkan dari Syu’bah dari Abu Bisyir [Ja’far bin Iyas] dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, sebagaimana disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak 2/430 no 3496, Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman 18/305 no 8534 dan Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar 2/441. Sufyan Ats Tsawriy memiliki mutaba’ah dari Abdurrahman bin Ziyaad Ar Rashaashiysebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar 2/441. Abdurrahman bin Ziyaad dikatakan Abu Hatim “shaduq”, Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah padanya” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/235]

Diriwayatkan pula oleh Ya’qub bin Ishaq Al Makhraamiy dari Abu Umar Al Hawdhiy dari Syu’bah dari Ayub As Sakhtiyaaniy dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman no 8535. Sanad riwayat ini tidak tsabit sampai ke Syu’bah karena Ya’qub bin Ishaq Al Makhramiy seorang yang majhul hal, biografinya disebutkan Adz Dzahabiy dalam Tarikh Al Islam tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Tarikh Al Islam 21/337].

Syu’bah dalam periwayatan dari Ja’far bin Iyaas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbasmemiliki mutaba’ah yaitu

  1. Husyaim bin Basyiir sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir-nya 19/145-146 dan Al Baihaqiy dalam Syua’ib Al Iman no 8533.
  2. Abu Awanah sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman no 8532.
  3. Mu’adz bin Sulaiman sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir-nya 19/146.

Oleh karena itu riwayat yang rajih adalah riwayat Syu’bah dari Ja’far bin Iyaas Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Ja’far bin Iyaas Abu Bisyr perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, An Nasa’i dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 129]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan termasuk orang yang paling tsabit dalam riwayat Sa’id bin Jubair, Syu’bah melemahkannya dalam riwayat Habib bin Salim dan Mujahid” [At Taqrib 1/160 no 932]. Sa’id bin Jubair tabiin kutubus sittah seorang yang tsiqat tsabit faqiih [At Taqrib 1/234]. Kesimpulannya riwayat di atas sanadnya shahih. Ibnu Hajar berkata

فأخرج سعيد بن منصور والطبري والبيهقي في الشعب بسند صحيح أن ابن عباس “كان يقرأ حتى تستأذنوا” ويقول أخطأ الكاتب

Telah dikeluarkan oleh Said bin Manshur, Ath Thabari dan Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Abbas membaca [hattaa tasta’zinuu] dan mengatakan kesalahan penulisnya. [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 11/8]

.

.

.

Riwayat Kedua

Ibnu Abbaas berkata mengenai Surat Ar Ra’d ayat 31 ‘Afalam Yay’asilladziina Aamanu

حدثنا أحمد بن يوسف قال حدثنا القاسم قال حدثنا يزيد عن جرير بن حازم عن الزبير بن الخريت أو يعلى بن حكيم عن عكرمة عن ابن عباس أنه كان يقرؤها “أفلم يتبين الذين آمنوا ” قال كتب الكاتب الأخرى وهو ناعس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qaasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid dari Jarir bin Hazm dari Az Zubair bin Khurait atau Ya’la bin Hukaim dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas bahwa ia membacanya ‘Afalam Yatabayyanilladziina Aamanuu, ia berkata penulisnya telah menulis itu dalam keadaan mengantuk [Tafsir Ath Thabariy 16/452]

Riwayat Ath Thabariy di atas sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqat, dengan perincian sebagai berikut

  1. Ahmad bin Yuusuf At Taghlibiy adalah syaikh [guru] Ath Thabariy yang tsiqat. Abdurrahman bin Yuusuf berkata “tsiqat ma’mun”. Abdullah bin Ahmad berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad Al Khatiib 5/218 no 2693]
  2. Al Qaasim bin Sallaam Abu Ubaid, Abu Dawud berkata “tsiqat ma’mun” [Su’alat Al Ajurriy no 1948]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 9/16 no 14938]. Ibnu Hajar berkata “Imam masyhur tsiqat, memiliki keutamaan, penulis kitab” [At Taqrib 2/19]
  3. Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612].
  4. Jarir bin Hazm termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata shaduq shalih. Ibnu Ady menyatakan kalau ia hadisnya lurus shalih kecuali riwayatnya dari Qatadah. Syu’bah berkata “aku belum pernah menemui orang yang lebih hafiz dari dua orang yaitu Jarir bin Hazm dan Hisyam Ad Dustuwa’i. Ahmad bin Shalih, Al Bazzar dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 111].
  5. Zubair bin Khurait, termasuk perawi Bukhariy dan Muslim. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, An Nasa’i, dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 582]
  6. Ya’la bin Hukaim Ats Tsaqafiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, An Nasa’i menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ya’qub bin Sufyan berkata “hadisnya lurus”. Ibnu Khirasy berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 675].
  7. Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas termasuk perawi Bukhariy. Al Ijli berkata “tsiqat”. Bukhari berkata “tidak seorangpun dari sahabat kami kecuali berhujjah dengan Ikrimah”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan dapat berhujjah dengannya [At Tahdzib juz 7 no 476]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit alim dalam tafsir” [At Taqrib 1/685].

Penyebutan lafaz dari Zubair bin Khurait atau Ya’la bin Hukaim dalam riwayat Ath Thabariy di atas tidaklah memudharatkan sedikitpun karena keduanya dikenal tsiqat. Riwayat ini sanadnya shahih. Ibnu Hajar berkata

وروى الطبري وعبد بن حميد بإسناد صحيح كلهم من رجال البخاري عن بن عباس أنه كان يقرؤها أفلم يتبين ويقول كتبها الكاتب وهو ناعس

Dan diriwayatkan Ath Thabariy dan Abdu bin Humaid dengan sanad shahih, semua perawinya perawi Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya ia membaca ‘Afalam Yatabayyani, dan mengatakan penulisnya menulis itu dalam keadaan mengantuk [Fath Al Bariy 8/373]

.

.

.

Riwayat Ketiga

حَدَّثَنِى مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً يَقُولُ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَلاَ أَدْرِى مِنَ الْقُرْآنِ هُوَ أَمْ لاَ . قَالَ وَسَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ ذَلِكَ عَلَى الْمِنْبَرِ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Makhlad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij yang berkata aku mendengar ‘Atha’ mengatakan aku mendengar Ibnu ‘Abbas yang mengatakan aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “Sekiranya anak adam memiliki harta sebanyak satu bukit niscaya ia akan mengharapkan satu bukit lagi yang seperti itu dan tidaklah mata anak adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah dan Allah menerima taubat siapa saja yang ingin bertaubat”. Ibnu ‘Abbas berkata “aku tidak mengetahui apakah itu termasuk Al Qur’an atau tidak”. [Atha’] berkata dan aku mendengar Ibnu Zubair mengatakan itu di atas mimbar. [Shahih Bukhari no 6437]

Sisi pendalilan hadis ini adalah sebagai berikut. Ibnu Abbas berkata bahwa ia tidak mengetahui apakah ayat itu termasuk Al Qur’an atau tidak. Ayat tersebut jelas tidak ada dalam Al Qur’an yang ada sekarang, apa yang membuat Ibnu ‘Abbas ragu apakah ayat tersebut Al Qur’an atau bukan.

Apakah Ibnu Abbas tidak hafal Al Qur’an sehingga ia tidak tahu ayat tersebut ada dalam Al Qur’an atau tidak?. Rasanya tidak mungkin jika sahabat seperti Ibnu Abbas yang dijuluki Tarjuman Al Qur’an tidak hafal Al Qur’an. Jika dikatakan ayat tersebut telah dinasakh tilawah-nya lantas mengapa Ibnu Abbas ragu apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak. Jelas sekali ayat Al Qur’an yang telah dinasakh bukan lagi bagian dari Al Qur’an sekarang. Sejak wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Al Qur’an itu telah lengkap dan tidak akan mengalami perubahan maka apa yang ada dalam Al Qur’an itu adalah perkara yang jelas. Maka sangat aneh sekali ketika Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepada Atha’ mengenai hadis di atas, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak.

Kalau ada dalam Al Qur’an maka itu adalah Al Qur’an dan kalau tidak ada dalam Al Qur’an ya dengan mudah dikatakan itu tidak ada dalam Al Qur’an. Ungkapan Ibnu Abbas seolah-olah ia mengetahui Al Qur’an yang ada pada masa itu tetapi ia ragu apakah ayat tersebut termasuk dalam Al Qur’an atau tidak, bukankah ini seolah menunjukkan telah terjadi tahrif Al Qur’an di sisi Ibnu ‘Abbas.

Jika Ibnu Abbas meyakini Al Qur’an yang ada sekarang bebas dari tahrif maka apapun yang tidak ada di dalam Al Qur’an sekarang sudah jelas bukan Al Qur’an. Tidak perlu ada keraguan apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak. Hadis ini secara zhahir lafaz memang membingungkan, lain ceritanya kalau kita mencari-cari pembenaran maka seaneh apapun lafaz hadis bisa dibenar-benarkan atau dicari-cari pembelaannya.

.

.

Sikap yang paling baik menghadapi hadis-hadis seperti ini adalah bertawaqquf dengannya, berpaling darinya [meskipun shahih sanadnya] karena bertentangan dengan Al Qur’anul Karim yang jelas-jelas dijaga oleh Allah SWT. Tetapi riwayat ini memang menjadi sasaran empuk bagi para penuduh dan kita berlindung kepada Allah SWT dari segala tuduhan tersebut.

Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

 

Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

Di antara tuduhan busuk para pencela Syiah [yaitu para Nashibi di jagad maya] adalah Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada sekarang tebalnya tiga kali dari Al Qur’an sekarang dan disebut Mushaf Fathimah. Tuduhan ini hanya muncul dari kejahilan yang bercampur dengan kedengkian. Apa sebenarnya Mushaf Fathimah?. Berikut riwayat shahih di sisi Syi’ah mengenai Mushaf Fathimah

Diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang panjang dari Abu Bashiir dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis salaam] dimana Beliau berkata

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ

Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] itu?. Beliau berkata “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”. Aku berkata “demi Allah, ini adalah ilmu”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/239]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَجَّالِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام

Beberapa dari sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad dari Abdullah bin Hajjaal dari Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam].. [Al Kafiy Al Kulainiy 1/238]

Sebagian orang mengira bahwa sanad di atas dhaif karena terdapat lafaz “dari sahabat kami” yang seolah-olah perawi-perawi tersebut majhul. Anggapan ini tidak benar karena An Najasyiy dalam biografi Al Kulainiy menyebutkan

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني وداود بن كورة وأحمد بن إدريس وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, beberapa sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim seorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]

  1. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  2. Abdullah bin Hajjaal adalah Abdullah bin Muhammad Al Hajjaal seorang yang tsiqat tsiqat tsabit [Rijal An Najasyiy hal 226 no 595]
  3. Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy adalah Ahmad bin ‘Umar bin Abi Syu’bah Al Halabiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 98 no 245]
  4. Abu Bashiir adalah Yahya bin Qasim dikatakan juga Yahya bin Abi Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah. Hal ini telah dinyatakan oleh Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul bahwa sanadnya shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/54]

Matan hadis di atas menyebutkan bahwa Mushaf Fathimah ukurannya tiga kali dari Al Qur’an dan tidak ada di dalamnya ayat-ayat Al Qur’an. Hal ini ditegaskan dalam lafaz

وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ

Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu hurufpun dari Al Qur’an kalian

Lafaz “Qur’anikum” artinya “Al Qur’an kalian”, makna kum disana sesuai dengan yang diajak bicara oleh Imam Ja’far [Abu ‘Abdullah] saat itu adalah Abu Bashiir yang notabene adalah Syiah-nya sendiri. Maka maksudnya adalah tidak ada di dalam Mushaf Fathimah, Al Qur’an yang dipegang oleh Syi’ah. Adapun lafaz perkataan Abu ‘Abdullah “dan sesuangguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah” maka disini terdapat faedah bahwa Mushaf Fathimah dimiliki oleh para Imam Ahlul Bait tidak disebarkan kepada Syi’ah mereka.

Jadi apa kandungan sebenarnya Mushaf Fathimah?. Hal itu dijelaskan dalam riwayat Al Kafiy selanjutnya dari Abu Ubaidah dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

قَالَ فَمُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ فَسَكَتَ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْحَثُونَ عَمَّا تُرِيدُونَ وَ عَمَّا لَا تُرِيدُونَ إِنَّ فَاطِمَةَ مَكَثَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَمْسَةً وَ سَبْعِينَ يَوْماً وَ كَانَ دَخَلَهَا حُزْنٌ شَدِيدٌ عَلَى أَبِيهَا وَ كَانَ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) يَأْتِيهَا فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَ يُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَ يُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَ مَكَانِهِ وَ يُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ (عليه السلام) يَكْتُبُ ذَلِكَ فَهَذَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام

[salah seorang] berkata “maka apa itu Mushhaf Faathimah?”. Abu ‘Abdillah terdiam beberapa lama, lalu berkata “Sesungguhnya kalian benar-benar ingin mempelajari apa-apa yang kalian inginkan dan tidak kalian inginkan. Sesungguhnya Faathimah hidup selama 75 hari sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Ia sangat merasakan kesedihan atas kematian ayahnya. Maka pada waktu itu, Jibriil datang kepadanya dan mengucapkan ta’ziyyah atas kematian ayahnya, menghiburnya, serta mengabarkan kepadanya tentang keadaan ayahnya dan kedudukannya [di sisi Allah]. Jibril juga mengabarkan kepadanya tentang apa yang akan terjadi terhadap keturunannya setelah Faathimah meninggal. Dan selama itu ‘Aliy mencatatnya.Inilah Mushaf Faathimah [‘alaihas salaam] [Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنِ ابْنِ رِئَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) بَعْضُ أَصْحَابِنَا

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Mahbuub dari Ibnu Ri’aab dari Abu Ubaidah yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] pernah ditanya oleh sebagian sahabat kami…[Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Riwayat Al Kaafiy di atas sanadnya shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  3. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. Aliy bin Ri’aab Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. Abu Ubaidah adalah Ziyad bin Iisa Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 170 no 449]

Muhammad Baqir Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul menyatakan hadis di atas shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/59]. Riwayat Al Kaafiy di atas menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah bukanlah Al Qur’an melainkan kabar yang dibawa Jibril kepada Sayyidah Fathimah dan dicatat oleh Imam Aliy [‘alaihis salaam], diantara kandungannya adalah kabar mengenai apa yang terjadi pada keturunan Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam]. Maka dustalah para pencela yang menyatakan bahwa Mushaf Fathimah adalah Al Qur’an versi Syi’ah yang tebalnya tiga kali Al Qur’an yang kita pegang sekarang

Studi Kritis Kedudukan Hadis Tawasul Malik Ad Daar

 

Studi Kritis Kedudukan Hadis Tawasul Malik Ad Daar

Sebelumnya di dalam blog ini sudah pernah dibahas panjang lebar mengenai hadis Malik Ad Daar. Tulisan kali ini bisa dibilang daur ulang dengan sedikit penambahan dan hujjah.

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ مَالِكِ الدَّارِ قَالَ وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ  قَالَ أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إلَى قَبْرِ النَّبِيِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ , وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مَسْقِيُّونَ وَقُلْ لَهُ عَلَيْك الْكَيْسُ عَلَيْك الْكَيْسُ فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ثُمَّ قَالَ يَا رَبِّ لاَ آلُو إلاَّ مَا عَجَزْت عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar, [Abu Shalih] berkata dan ia seorang bendahara Umar untuk persediaan makanan. [Malik Ad Daar] berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang pada masa Umar. Maka seorang laki-laki datang ke makam Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkata “wahai Rasulullah mintakanlah hujan untuk umatmu karena sungguh mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah SAW dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan sampai salam untuknya, beritahukan kepadanya mereka akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut datang kepada Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Maka Umar menangis dan berkata “Ya  Tuhanku aku tidak melalaikan kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/31 no 32600]

Atsar di atas diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikh-nya 2/80 no 1818, Al Khaliliy dalam Al Irsyaad 1/313 no 153, Al Baihaqiy dalam Dala’il An Nubuwah 7/47 no 2984, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 56/489 dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab 1/355 dengan kisah yang lengkap seperti riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas. Al Bukhari menyebutkan riwayat ini secara ringkas dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1295 yaitu hanya lafaz perkataan Umar yang terakhir. Semuanya meriwayatkan dengan jalan sanad yang berujung pada Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Malik Ad Daar.

.

.

Riwayat ini sanadnya shahih. Abu Mu’awiyah Muhammad bin Hazm Ad Dhariir yaitu perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijliy menyatakan tsiqat, Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat banyak meriwayatkan hadis. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan hafizh mutqin. Disebutkan bahwa ia termasuk salah seorang yang paling tsabit riwayatnya dari Al A’masy. Waki’ berkata “kami tidak pernah menemui orang yang paling alim tentang hadis A’masy selain Abu Mu’awiyah. Ibnu Ma’in berkata “Abu Mu’awiyah lebih tsabit dalam riwayat A’masy daripada Jarir”. Abu Hatim berkata “orang yang paling tsabit dalam riwayat A’masy adalah Sufyaan kemudian Abu Mu’awiyah” [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar juz 9 no 192]. Ibnu Hajar berkata tentangnya “tsiqat orang yang paling hafal dalam hadis A’masy dan terkadang keliru dalam riwayat selainnya” [At Taqrib 2/70]

Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]. Riwayat ‘an anahnya dari para syaikh-nya seperti Ibrahim, Abu Wail dan Abu Shalih dianggap muttashil [bersambung] seperti yang dikatakan Adz Dzahabi dalam biografi A’masy

وهو يدلس وربما دلس عن ضعيف ولا يدرى به فمتى قال ثنا فلا كلام ومتى قال عن تطرق إليه احتمال التدليس إلا في شيوخ له أكثر عنهم. كإبراهيم وأبي وائل وأبي صالح السمان فإن روايته عن هذا الصنف محمولة على الاتصال

Dan ia melakukan tadlis, dituduh melakukan tadlis dari perawi dhaif yang ia tidak mengetahui dengannya, maka perkataannya “menceritakan kepada kami” tidak ada pembicaraan atasnya dan perkataannya “dari” mengandung kemungkinan tadlis kecuali riwayat dari para Syaikh-nya yang mana ia memiliki banyak riwayat dari mereka seperti Ibrahiim, Abu Wa’il, dan Abu Shalih As Samaan maka riwayatnya disini dianggap bersambung [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 2/224 no 3157]

Abu Shalih As Samaan yaitu Dzakwan termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shalih al hadits dapat dijadikan hujjah”. Abu Zur’ah berkata “tsiqat hadisnya lurus”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”, As Sajiy berkata tsiqat shaduq, Al Harbiy berkata “termasuk orang tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat dan Al Ijliy berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 3 no 417]

Malik Ad Daar adalah Malik bin Iyadh sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas bahwa ia adalah bendahara persediaan makanan di masa Umar. Ibnu Sa’ad menyebutkan biografinya dan berkata

وروى مالك الدار عن أبي بكر الصديق وعمر رحمهما الله روى عنه أبو صالح السمان وكان معروفا

Dan Malik Ad Daar meriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar [rahmat Allah untuk keduanya] dan telah meriwayatkan darinya Abu Shalih As Samaan. Ia seorang yang ma’ruf [dikenal] [Thabaqat Ibnu Sa’ad 5/12]

مالك الدار مولى عمر بن الخطاب رضي الله عنه تابعي قديم متفق عليه اثنى عليه التابعون وليس بكثير الرواية روى عن ابي بكر الصديق وعمر

Malik Ad Daar mawla Umar bin Khaththaab radiallahu ‘anhu tabiin awal muttafaq ‘alaihi telah dipuji oleh para tabiin, ia tidak memiliki banyak riwayat. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar [Al Irsyaad Al Khaliliy 1/313 no 153]

حَدَّثَنَا الأثرم عن أبي عبيدة قَالَ قَالَ مالك الدار مولى عمر بن الخطاب ولاه عمر كيلة عيال عمر فلما قام عثمان ولى مالك الدار دار القسم فسمى مالك الدار

Telah menceritakan kepada kami Al Atsram dari Abu Ubaidah yang berkata Malik Ad Daar maula Umar bin Khaththaab, Umar mengangkatnya sebagai pengurus keluarga Umar ketika Utsman menjadi khalifah, ia mengangkat Malik Ad Daar sebagai darul qasim maka ia dinamakan Malik Ad Daar [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 2/80 no 1819]

Ibnu Hibban menyebutkan biografinya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 5/384 no 5312]. Ibnu Asakir menyebutkan biografinya dalam Tarikh-nya dimana ia berkata tentang Malik Ad Daar

سمع أبا بكر الصديق وعمر بن الخطاب وأبا عبيدة بن الجراح ومعاذ بن جبل وروى عنه أبو صالح السمان وعبد الرحمن بن سعيد بن يربوع وابناه عون بن مالك وعبد الله بن مالك

Mendengar dari Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal dan meriwayatkan darinya Abu Shalih As Saman, Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ dan kedua anaknya Aun bin Malik dan Abdullah bin Malik [Tarikh Ibnu Asakir 56/489 no 7180]

Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ adalah tabiin madinah tsiqat thabaqat ketiga [At Taqrib 1/572]. Nampak disini bahwa telah meriwayatkan dari Malik Ad Daar dua perawi tsiqat yaitu Abu Shalih As Samaan dan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’.

أخبرنا أبو البركات بن المبارك أنا أبو طاهر الباقلاني أنا يوسف بن رباح أنا أبو بكر المهندس نا أبو بشر الدولابي نا معاوية بن صالح قال سمعت يحيى بن معين يقول في تسمية تابعي أهل المدينة ومحدثيهم مالك الدار مولى عمر بن الخطاب

Telah mengabarkan kepada kami Abul Barakaat bin Mubaarak yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Al Baaqilaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuuf bin Rabbaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Muhandis yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr Ad Duulabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shaalih yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’iin berkata tentang penamaan tabiin ahlul madinah dan muhaddis mereka yaitu Malik Ad Daar maula Umar bin Khaththaab [Tarikh Dimasyiq Ibnu Asakir 56/491].

Berdasarkan penjelasan di atas maka Malik Ad Daar adalah tabiin awal dan muhaddis di kalangan tabiin madinah dimana para tabiin telah memberikan pujian terhadapnya. Ia merupakan seorang yang ma’ruf, telah dipercaya oleh khalifah Umar dan Utsman sehingga ia dinamakan Malik Ad Daar [seandainya kedua khalifah meragukan kejujurannya maka tidak mungkin mereka mempercayakan amanat kepada Malik Ad Daar]. Telah meriwayatkan darinya dua perawi tsiqat yaitu Abu Shalih As Samaan dan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’. Ibnu Hibban telah memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Semua ini secara bersama-sama menunjukkan bahwa Malik Ad Daar adalah seorang tabiin yang tsiqat atau minimal shaduq.

Sebagian orang mengira bahwa tautsiq Al Khaliliy terhadap Malik Ad Daar bukanlah tautsiq yang mu’tamad dengan alasan Al Khaliliy adalah ulama muta’akhirin dan perkataan Al Khaliliy tidak didahului oleh ulama mutaqaddimin. Alasan ini tidak bisa dijadikan hujjah karena tautsiq baik itu dari kalangan mutaqaddimin ataupun muta’akhirin tetaplah bisa diterima. Pernyataan orang tersebut bahwa tidak ada ulama mutaqaddimin sebelum Al Khaliliy yang memuji Malik Ad Daar juga tidak bernilai hujjah karena ia sendiri berhujjah pula dengan pernyataan Al Khaliliy mengenai penukilan bahwa sebagian orang mengatakan Abu Shalih mengirsalkan hadis Malik Ad Daar. Faktanya penukilan Al Khaliliy ini pun tidak didahului oleh ulama mutaqaddimin.

.

.

.

Ada satu syubhat menarik yang dipertahankan oleh kaum pengingkar mengenai hadis Abu Shalih As Samaan dari Malik Ad Daar yaitu inqitha’ [keterputusan] antara Abu Shalih dan Malik Ad Daar. Seperti yang pernah kami jelaskan sebelumnya bahwa tidak ada satupun ulama mu’tabar yang menetapkan adanya inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar. Jumhur ulama menetapkan periwayatan Abu Shalih dari Malik Ad Daar tanpa menegaskan penyimakan ataupun menyatakan inqitha’. Oleh karena Abu Shalih As Samaan bukan mudallis maka riwayatnya dengan lafaz ‘an anah bisa diterima.

Satu-satunya hujjah para pengingkar untuk mendukung syubhat inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar adalah perkataan Al Khaliliy setelah menyebutkan hadis Malik Ad Daar, ia berkata.

يقال إن أبا صالح سمع مالك الدار هذا الحديث والباقون ارسلوه

Dikatakan bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik Ad Daar dan yang lain mengatakan ia telah mengirsalkannya [Al Irsyaad Al Khaliliy 1/313 no 153]

Tidak benar kalau hujjah ini dijadikan dasar untuk menyatakan inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar. Karena apa yang dinukil dari Al Khaliliy adalah pendapat sebagian orang bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik dan yang lainnya berpendapat Abu Shalih mengirsalkan hadis tersebut. Untuk merajihkan dua pendapat yang berbeda tentu dengan menilai sejauh mana kedudukan para ulama yang mengatakan demikian tetapi karena Al Khaliliy tidak menyebutkan siapakah para ulama yang menyatakan demikian dan tidak ternukil pendapat tersebut dari kalangan mutaqaddimin maka dapat digunakan kaidah al mutsabit muqadam al nafiy [yang menetapkan lebih didahulukan dari menafikan] artinya nukilan Al Khaliliy bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik Ad Daar adalah lebih rajih dibanding nukilan yang mengirsalkannya.

Dan seandainyapun perajihan ini ditolak maka disini tidak ada ruang pula bagi pengingkar untuk berhujjah dengan sebagian nukilan Al Khaliliy dan menafikan nukilan yang lain. Bagaimana bisa mereka menegakkan irsal kemudian menafikan pernyataan yang lain bahwa Abu Shalih mendengar dari Malik Ad Daar. Maka hal ini dikembalikan dengan kaidah ‘an anah yang dikenal dalam ilmu hadis yaitu ‘an anah perawi tsiqat semasa yang bukan mudallis dianggap muttashil sampai ada bukti yang menyatakan irsal atau inqitha’.

Malik Ad Daar tidak diketahui tahun lahir dan tahun wafatnya sedangkan Abu Shalih As Samaan disebutkan oleh Adz Dzahabiy bahwa ia lahir pada masa kekhalifahan Umar [As Siyaar Adz Dzahabiy 5/37]. Dengan ini dapat dinyatakan bahwa Abu Shalih semasa dengan Malik Ad Daar dan keduanya dikenal sebagai penduduk Madinah.

Para pengingkar membuat syubhat mengais segala macam kemungkinan untuk melemahkan hadis yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka berkata bisa saja Malik Ad Daar wafat pada awal pemerintahan Utsman dan Abu Shalih lahir pada akhir masa khalifah Umar maka usia Abu Shalih tidak memungkinkan dalam menerima riwayat dari Malik Ad Daar. Sebenarnya andai-andai seperti inilah yang harusnya dibuktikan dalam melemahkan suatu hadis karena kalau setiap orang bebas berandai-andai maka hadis apapun bisa saja dilemah-lemahkan.

.

.

Ternukil pendapat ulama yang mengatakan bahwa Dzakwan Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbar yaitu sebagaimana yang dikatakan Ibnu Jauziy, ia berkata

ذكوان أبو صالح السمان‏ سمع من كعب الأحبار

Dzakwaan Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbaar [Al Muntazam Fii Tarikh Ibnu Jauziy 7/69]

كعب الأحبار بن ماتع ويكنى أبا إسحاق وهو من حمير من آل ذي رعين وكان على دين يهود فأسلم وقدم المدينة ثم خرج إلى الشام فسكن حمص حتى توفي بها سنة اثنتين وثلاثين في خلافة عثمان بن عفان

Ka’ab Al Ahbar bin Maata’ kuniyah Abu Ishaaq, ia berasal dari Himyaar dari keluarga Dzii Ra’iin dia awalnya bergama Yahudi kemudian memeluk islam datang ke Madinah kemudian keluar menuju Syam menetap di Himsh dan wafat di sana pada tahun 32 H pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan. [Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/445]

Berdasarkan sirah Ka’ab Al Ahbar maka Abu Shalih As Samaan memungkinkan untuk mendengar dari Ka’ab ketika ia datang ke Madinah pada masa pemerintahan Umar.

حدثنا ابن بشار قال ثنا عبد الرحمن قال ثنا سفيان عن الأعمش عن أبي وائل قال جاء رجل إلى عبد الله ، فقال  من أين جئت ؟ قال من الشأم قال من لقيت؟ قال لقيت كعبا فقال ما حدثك كعب ؟ قال حدثني أن السماوات تدور على منكب ملك

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari A’masy dari Abi Wa’il yang berkata datang seorang laki-laki kepada ‘Abdullah, maka ia berkata “dari mana engkau?” ia menjawab “dari syam”. Abdullah berkata “siapa yang engkau temui?”. Ia menjawab “aku menemui Ka’ab” maka Abdullah berkata “apa yang diceritakan Ka’ab kepadamu?”. Ia menjawab “Ka’ab menceritakan kepadaku bahwa langit berputar di atas pundak malaikat” [Tafsir Ath Thabariy 20/482]

Riwayat ini sanadnya shahih, Abu Wa’il adalah Syaaqiq bin Salamah adalah penduduk Kufah yang paling alim dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud.

وقال عمرو بن مرة قلت لابي عبيدة من أعلم أهل الكوفة بحديث عبدالله ؟ قال أبو وائل

Amru bin Murrah berkata aku berkata pada Abu Ubaidah “siapakah penduduk kufah yang paling alim dalam menceritakan hadis Abdullah?”. Ia berkata ‘Abu Wa’il” [Tahdzib Al Kamal 12/552 no 2767]

Faidah yang didapatkan dari riwayat Ath Thabariy di atas adalah Abu Wa’il menyaksikan bahwa ketika Abdullah bin Mas’ud berada di Kufah ada seseorang datang kepadanya dan ia baru saja menemui Ka’ab Al Ahbar di Syam. Artinya pada saat Abdullah bin Mas’ud masih di Kufah, Ka’ab Al Ahbar sudah berada di Syam.

Dalam sirah Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia datang ke Kufah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab dan kembali ke Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan lebih kurang tahun 28 atau 29 H. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Ka’ab Al Ahbar sudah berada di Syam sebelum tahun 28 atau 29 H. Dan sebelum pergi ke Syam, Ka’ab Al Ahbar menetap di Madinah yaitu pada masa pemerintahan Umar dan pada awal masa pemerintahan Utsman.

Pada saat  di Madinah inilah Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masa awal pemerintahan Utsman, Abu Shalih As Samaan minimal sudah masuk dalam usia tamyiz yang memungkinkan menerima dan mendengar hadis. Maka seandainya pun Malik Ad Daar wafat pada awal pemerintahan Utsman, Abu Shalih tetap berkemungkinan mendengar dari Malik Ad Daar.

.

.

Qarinah lain yang menunjukkan bahwa Abu Shalih As Samaan berada satu masa dengan Malik Ad Daar adalah bahwa ia Abu Shalih berada dalam satu thabaqat yang sama dengan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ Al Makhzuumiy yang meriwayatkan dari Malik Ad Daar. Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ adalah seorang yang tsiqat, Ibnu Hajar mengatakan dalam biografinya

قال بن سعد توفي سنة تسع ومائة وهو بن ثمانين سنة وكان ثقة في الحديث

Ibnu Sa’ad berkata wafat pada tahun 109 H dan ia umurnya lebih kurang delapan puluh tahunan, ia seorang yang tsiqat dalam hadis [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 379]

Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ seorang yang tsiqat dan tidak pernah disifatkan ulama dengan tadlis atau irsal maka riwayat ‘an anahnya dari Malik Ad Daar dianggap muttashil [bersambung]. Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal telah menyebutkan bahwa diantara para syaikh-nya [gurunya] adalah Malik Ad Daar. [Tahdzib Al Kamal 17/147 no 3835].

Dari sini didapatkan faidah bahwa Malik Ad Daar masih hidup sampai akhir pemerintahan Utsman karena pada saat itulah usia Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ minimal sudah mencapai usia tamyiz dan memungkinkan menerima hadis dari Malik Ad Daar.

.

.

Hadis Malik Ad Daar ini telah dishahihkan oleh sebagian Ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Katsiir. Ibnu Katsiir berkata “hadis ini sanadnya shahih” [Al Bidayah Wa Nihayah 7/106] dan di tempat lain ia berkata “hadis ini sanadnya jayyid kuat” [Jami’ Al Masanid Wa Sunan 1/223]. Ibnu Hajar berkata

وروى بن أبي شيبة بإسناد صحيح من رواية أبي صالح السمان عن مالك الداري وكان خازن عمر

Dan telah diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih dari riwayat Abu Shalih As Samaan dari Malik Ad Daar bendahara Umar [Fath Al Bariy 2/495]

Sebagian orang yang lemah akalnya dan bergaya sok ulama [padahal jahil] berbasa basi bahwa pernyataan Ibnu Hajar shahih itu maksudnya shahih hanya sampai Abu Shalih saja sehingga masih tersisa kelemahan lain baik inqitha’ antara Abu Shalih dan Malik Ad Daar dan majhulnya Malik Ad Daar.

Ucapan mereka itu tidak lain sia-sia belaka karena mereka tidak memahami perkataan Ibnu Hajar sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar. Jika Ibnu Hajar memaksudkan bahwa hadis tersebut sanadnya shahih hanya sebatas Abu Shalih maka ia akan menggunakan lafaz “diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih sampai Abu Shalih” bukan dengan lafaz di atas yaitu sanad shahih dari riwayat Abu Shalih

Dalam penulisan riwayat di kitab-kitab beliau, Ibnu Hajar sering mengutip riwayat dengan cara yang demikian yaitu menyebutkan kedudukan sanad riwayat kemudian memotong atau meringkas sebagian sanadnya. Misalnya Ibnu Hajar pernah mengutip riwayat dalam biografi salah seorang sahabat yaitu Tsa’labah bin Al Hakaam, Ibnu Hajar berkata

وله في بن ماجة حديث بإسناد صحيح من رواية سماك بن حرب سمعت ثعلبة بن الحكم قال كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم فانتهب الناس غنما فنهى عنها

Dan ia [Tsa’labah bin Hakaam] memiliki riwayat dalam Ibnu Majah hadis dengan sanad shahih dari riwayatnya Simaak bin Harb yang berkata aku mendengar Tsa’labah bin Al Hakaam yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian orang-orang merampas seekor kambing maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarangnya [Al Ishabah Ibnu Hajar 1/517 no 932]

Apakah perkataan Ibnu Hajar di atas bermakna bahwa riwayat Ibnu Majah tersebut hanya shahih sampai Simaak bin Harb saja?. Jawabannya tidak, Ibnu Hajar menyatakan hadis Ibnu Majah tersebut shahih kemudian menyebutkan sebagian sanadnya yaitu dari Simmak dari Tsa’labah. Ibnu Hajar sendiri telah menta’dilkan Simmak bin Harb dalam At Taqrib dan ia mengakui kalau Tsa’labah termasuk shahabat, kemudian Simaak menegaskan pula disini penyimakannya dari Tsa’labah. Jadi disisi Ibnu Hajar hadis tersebut shahih tanpa ada keraguan dan ia jadikan hujjah bukti persahabatan Tsa’labah bin Hakaam.

Selain Ibnu Hajar para ulama lain juga sering menggunakan lafaz seperti yang digunakan Ibnu Hajar misalnya Al Iraaqiy

وروى الطبرانى بإسناد صحيح من رواية عبد الرزاق عن معمر عن ابن طاوس عن أبيه عن ابن عباس قال أول من أسلم على

Dan diriwayatkan Thabraniy dengan sanad yang shahih dari riwayat ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas yang berkata “yang pertama memeluk islam adalah Aliy” [Taqyiidh Wal Idhaah Al Iraaqiy 1/310]

Apakah Al Iraaqiy disini memaksudkan bahwa sanad tersebut shahih sampai Abdurrazaaq saja?. Tentu saja tidak, Al Iraaqiy justru menyatakan bahwa sanad tersebut shahih dari awal sanad Thabraniy sampai Ibnu Abbas kemudian ia membawakan sanad Thabraniy tersebut beserta matannya.

.

Kesimpulan : Hadis Tawasul Malik Ad Daar kedudukannya shahih sedangkan syubhat para nashibi terhadap hadis ini hanya kebathilan yang muncul karena bertentangan dengan hawa nafsu mereka

Hadis ‘Amru bin Al Haarits Tidak Menguatkan Hadis Abu Bakar Bahwa Nabi Tidak Mewariskan

 

Hadis ‘Amru bin Al Haarits Tidak Menguatkan Hadis Abu Bakar Bahwa Nabi Tidak Mewariskan

Tulisan ini cuma daur ulang tulisan lama, sekedar iseng baca artikel disana sini dan melihat ternyata masih banyak sekumpulan “orang awam” sok bergaya ulama dengan dalil khas pecundang. Intinya mereka berhujjah dengan hadis ‘Amru bin Al Haarits sebagai syahiid [pendukung] bagi hadis Abu Bakar bahwa para Nabi tidak mewariskan dan apa yang ditinggalkan adalah sedekah. Berikut hadis ‘Amru bin Al Haarits yang dimaksud

حدثني مُحَمد بن فضيل قَال : حَدَّثَنَا إسحاق الأزرق قَال : حَدَّثَنَا سُفيان عن أبي إسحاق عن عَمْرو بن الحارث بن المصطلق قَال : لم يترك رسول الله صلى الله عليه وسلم إلاَّ سلاحًا ، وأرضًا جعلها صدقة ، وبغلة بيضاء

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq Al Azraq yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari ‘Amru bin Al Haarits bin Musthaliq yang berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak meninggalkan sesuatu kecuali senjata, tanah yang telah Beliau jadikan sedekah dan bighal putih [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawiy 2/620 dengan sanad shahih]

Seperti yang pernah kami tulis, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya no 2739, 2873, 2912, 3098, 4461. Lafaz yang dijadikan hujjah adalah“Ja’alaha shadaqah” dalam hadis ‘Amru bin Al Haarits ini menguatkan apa yang dikatakan Abu Bakar bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewariskan dan semua peninggalan Nabi adalah sedekah.

Telah kami tunjukkan bahwa hujjah ini keliru dan sangat sangat tidak nyambung. Hadis ‘Amru bin Al Haarits di atas menyebutkan bahwa peninggalan Nabi [sebatas pengetahuan ‘Amru bin Al Haarits] adalah senjata, tanah dan bighal putih. Seandainya ‘Amru bin Al Haarits ingin menguatkan hadis Abu Bakar atau sedang menyatakan hal yang sama dengan hadis Abu Bakar yang berkata

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kami tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”

Maka seharusnya ‘Amru bin Al Haarits mensifatkan sedekah pada ketiga hal dimana ia bersaksi bahwa ketiganya adalah peninggalan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi zhahir hadis ‘Amru bin Al Haarits justru mensifatkan sedekah ituhanya kepada tanah, bukan kepada bighal dan senjata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Sekali lagi kami ulangi, seandainya ‘Amru bin Al Haarits bermaksud menguatkan hadis Abu Bakar maka ia akan mengatakan bahwa semua itu [senjata, tanah dan bighal] adalah sedekah. Zhahir hadis tidak menyatakan demikian, ‘Amru bin Al Haarits mensifatkan sedekah itu hanya pada tanah bukan pada senjata dan bighal. Lantas apa maknanya sedekah dalam hadis ‘Amru bin Al Haarits tersebut?. Maknanya adalah tanah tersebut ketika masa hidupnya Beliau jadikan hasilnya sebagai sedekah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Salah seorang salafy nashibi yang memang agak kurang waras [kalau berdialog dengan orang yang ia tuduh syiah] mengatakan sejak kapan barang yang disedekahkan pada saat hidup masih dikatakan peninggalan Beliau ketika wafat. Seandainya komentar ini muncul dari orang awam atau pengikut salafy yang awam [yang kebanyakan memang agak jahil] kami masih bisa maklum tetapi komentar ini muncul dari orang yang melihat tulisannya sudah biasa membaca berbagai kitab hadis dan fiqih para ulama. Kami bingung apakah yang bersangkutan pura-pura bodoh dan ikut-ikutan menjadi orang awam. Mari anggap saja bahwa salafy nashibi ini memang tidak tahu maka kita sarankan agar ia membaca apa itu yang namanya Wakaf.

Secara ringkas, wakaf adalah menahan sesuatu dan mengambil hasil atau manfaatnya. Salah satu dalil untuk wakaf ini adalah hadis Ibnu Umar berikut [kami kutip secara ringkas]

عن ابن عمر قال أصاب عمر أرضا بخيبر فأتى النبي صلى الله عليه و سلم يستأمره فيها فقال يا رسول الله إني أصبيت أرضا بخيبر لم أصب مالا قط هو أنفس عندي منه فما تأمرني به ؟ قال إن شئت حبست أصلها وتصدقت بها

Dari Ibnu Umar yang berkata “Umar mendapatkan bagian tanah di Khaibar maka ia datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] meminta saran tentangnya. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku mendapatkan tanah di khaibar, yang aku tidak pernah mendapatkan harta yang paling berharga selainnya, maka apa yang Engkau perintahkan dengannya?. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “Jika engkau menghendaki, maka tahanlah tanahnya dan bersedekah dengannya”[Shahih Muslim 3/1255 no 1632]

Lafaz sedekah yang dimaksud dalam hadis Ibnu Umar di atas adalah wakaf, tanah tersebut diwakafkan dan disedekahkan hasil tanahnya. Kembali ke hadis ‘Amru bin Al Haarits di atas maka maksud sedekah disana adalah tanah tersebut telah diwakafkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selagi Beliau masih hidup. Hal ini selaras dengan pemahaman para ulama terhadap hadis ‘Amru bin Al Haarits tersebut. Al Baihaqiy telah meriwayatkan hadis Amru bin Al Haarits tersebut dan memasukkannya dalam Kitab Wakaf [Sunan Baihaqiy 6/265 no 11894 & 11895]. Ibnu Hajar berkata tentang hadis ‘Amru bin Al Haarits

لأنه تصدق بمنفعة الأرض فصار حكمها حكم الوقف

Beliau [Rasulullah] menyedekahkan hasil atau manfaat dari tanahnya, maka itu hukumnya menjadi hukum wakaf [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 5/360]

Apa yang dikatakan Ibnu Hajar juga dinukil oleh Mulla Aliy Qaariy dan ia menjelaskan bahwa maknanya tanah itu dijadikan sedekah jariyah oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada saat Beliau masih hidup.

قال العسقلاني أي تصدق بمنفعة الأرض فصار حكمها حكم الوقف والمعنى أنه جعلها في حياته صدقة جارية

Al Asqallaniy berkata Beliau menyedekahkan manfaat tanahnya maka itu hukumnya menjadi hukum wakaf dan maknanya adalah bahwa Beliau telah menjadikan tanah itu pada masa hidupnya sebagai shadaqah jariyah [Mirqat Al Mafaatih Syarh Al Misykaat Mulla Aliy Qaariy 17/269]

Singkat cerita keliru sekali menjadikan hadis ‘Amru bin Al Haarits sebagai penguat hadis Abu Bakar Nabi tidak mewariskan karena sebenarnya hadis ‘Amru tersebut menceritakan tanah yang diwakafkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] semasa hidupnya. Tidaklah hadis tersebut bermakna setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat maka tanah itu baru menjadi sedekah sebagai konsekuensi dari hadis Abu Bakar bahwa semua peninggalan Nabi adalah sedekah. Intinya hadis ‘Amru bin Al Haarits tidak nyambung dengan hadis Abu Bakar

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan [Bantahan Untuk Nashibi]

 

Hadis Palsu Dalam Shahih Muslim : Keutamaan Abu Sufyan [Bantahan Untuk Nashibi]

حدثني عباس بن عبدالعظيم العنبري وأحمد بن جعفر المعقري قالا حدثنا النضر ( وهو ابن محمد اليمامي ) حدثنا عكرمة حدثنا أبو زميل حدثني ابن عباس قال كان المسلمون لا ينظرون إلى أبي سفيان ولا يقاعدونه فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن قال نعم قال عندي أحسن العرب وأجمله أم حبيبة بنت أبي سفيان أزوجكها قال نعم قال ومعاوية تجعله كاتبا بين يديك قال نعم قال وتؤمرني حتى أقاتل الكفار كما كنت أقاتل المسلمين قال نعم قال أبو زميل ولولا أنه طلب ذلك من النبي صلى الله عليه و سلم ما أعطاه ذلك لأنه لم يكن يسئل شيئا إلا قال نعم

Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul ‘Azim Al ‘Anbari dan Ahmad bin Ja’far Al Ma’qiri yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami An Nadhr [dia Ibnu Muhammad Al Yamami] yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zumail yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata “kaum muslimin tidak memandang Abu Sufyan dan tidak pula mereka duduk menyertainya. Kemudian Abu Sufyan berkata kepada Nabi SAW “Wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Saya mempunyai seorang putri yang paling baik dan paling cantik di kalangan orang Arab yaitu Ummu Habibah putri Abu Sufyan, aku ingin menikahkannya dengan anda”. Beliau menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan agar anda mengangkat Muawiyah sebagai juru tulis anda”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Sufyan berkata “Dan anda mengangkat saya sebagai pemimpin untuk memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu saya memerangi orang-orang islam”. Beliau SAW menjawab “Ya”. Abu Zumail berkata “Seandainya Abu Sufyan tidak menuntut hal tersebut kepada Nabi SAW tentu beliau tidak akan memberinya karena jika Beliau SAW dimintai sesuatu, Beliau SAW tidak akan menjawab selain “ya”. [Shahih Muslim 4/1945 no 2501 ]

Hadis shahih Muslim tersebut pernah dinyatakan oleh palsu oleh Ibnu Hazm yaitu dengan perkataan berikut [sebagaimana dikutip Abdul Ghaniy Al Maqdisiy]

قَالَ أَبُو مُحَمَّدُ بْنُ حَزْمٍ: هَذَا حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ لا شَكَّ فِي وَضْعِهِ , وَالآفَةُ فِيهِ مِنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ , وَلا يَخْتَلِفُ اثْنَانِ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ بِالأَخْبَارِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتَزَوَّجْ أُمَّ حَبِيبَةَ إِلا قَبْلَ الْفَتْحِ بِدَهْرٍ وَهِيَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ وَقِيلَ: هَذَا لا يَكُونُ خَطَأَ إِمْلَاءٍ، وَلا يَكُونُ إِلا قَصْدًا، فَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الْبَلاءِ

Abu Muhammad bin Hazm berkata Hadits ini maudhu’ [palsu] dan tidak diragukan kepalsuannya. Dan penyebabnya adalah dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar. Para ulama tidak berselisih pendapat tentang kabar bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]tidaklah menikahi Ummu Habiibah kecuali sebelum peristiwa Fathu Makkah, yaitu pada saat ia berada di negeri Habasyah. Dan dikatakan hal ini tidaklah terjadi karena kekeliruan penyalinan dan tidak pula terjadi kecuali karena kesengajaan. Kita berlindung kepada Allah dari balaa’  [Al Mishbaah Fii ‘Uyuun Ash Shihaah 1/49, Abdul Ghaniy Al Maqdisiy]

Sebelumnya silakan lihat tulisan kami sebelumnya tentang perkara ini, kemudian silakan lanjutkan lihat bantahan dari salah seorang nashibi disini. Ada beberapa hal yang patut diberikan catatan atas bantahannya. Menurut kami tidak jelas bagian mana dari tulisan kami yang sedang ia bantah

.

Jika yang ia bantah hanya sekedar perkataan “palsu” yang kami gunakan dan ia tuduh kami tidak tahu definisi hadis palsu dalam ilmu hadis maka kami katakan tidak perlu sok tahu wahai nashibi, silakan anda buka-buka lagi kitab hadis dan kitab Ilal, niscaya anda akan mentertawakan diri anda sendiri.

Nashibi yang dimaksud mengutip definisi hadis palsu dalam ilmu hadis, diantaranya ia mengatakan Adz-Dzahabiy rahimahullah menjelaskan persyaratan hadits maudluu’, bahwa matannya menyelisihi kaedah-kaedah (yang telah ma’ruf), dan perawinya adalah pendusta (kadzdzaab)” [Syarh Al-Muuqidhah, hal. 60].

Kemudian orang sok tahu ini beranggapan bahwa ketika kami menyatakan Ikrimah bin ‘Ammar tsiqat tetapi tetap menyatakan hadis itu palsu maka itu berarti kami tidak mengerti definisi hadis maudhu’. Kami katakan, secara umum definisi hadis palsu memang seperti yang ia kutip tetapi dikenal juga hadis palsu dimana ternyata para perawinya memang tsiqat, seperti yang dikatakan Ibnu Jauzi

وقد يكون الاسناد كله ثقات ويكون الحديث موضوعا أو مقلوبا أو قد جرى فيه تدليس وهذا أصعب الاحوال ولا يعرف ذلك إلا النقاد.

Dan sungguh terdapat dalam sanad [suatu hadis] semua perawinya tsiqat dan ternyata hadis tersebut maudhu’ atau maqlub [terbalik] atau terdapat di dalamnya tadlis dan ini adalah kasus yang berat, tidaklah mengetahuinya kecuali ahli naqd [Al Maudhu’at 1/65]

Dan silakan ia perhatikan bahwa Adz Dzahabiy sendiri pernah menyatakan hal yang serupa dalam komentarnya terhadap salah satu hadis

هذا وإن كان رواته ثقات فهو منكر ليس ببعيد من الوضع

Hadis ini walaupun para perawinya tsiqat tetapi ia mungkar tidak jauh dari maudhu’ [Talkhis Al Mustadrak 3/128]

Telah masyhur juga di kalangan mutaqaddimin seperti Abu Hatim bahwa ia tidak mensyaratkan dalam penghukumannya terhadap hadis sebagai maudhu’ bahwa mutlak dalam sanadnya harus ada pendusta atau pemalsu hadis

وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ بِشْرُ بْنُ الْمُنْذِرِ الرَّمْلِيُّ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ الطَّائِفِيُّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلا الْجَنَّةَ ” . قِيلَ : وَمَا بِرُّهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِطْعَامُ الطَّعَامِ ، وَطِيبُ الْكَلامِ ” . فَسَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ : هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ ، شِبْهُ الْمَوْضُوعِ ، وَبِشْرُ بْنُ الْمُنْذِرِ كَانَ صَدُوقًا

Dan aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadis riwayat Bisyr bin Mundzir Ar Ramliy dari Muhammad bin Muslim Ath Thaa’ifiy dari ‘Amru bin Diinar dari Jaabir bin ‘Abdullah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus [dosa] diantara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga”. Dikatakan “apa tanda mabrurnya wahai Rasulullah?”.Beliau berkata “memberi makan dan berbicara yang baik”. Maka aku mendengar ayahku [Abu Hatim] mengatakan “ini hadis mungkar seperti maudhu’ dan Bisyr bin Mundzir seorang yang shaduq” [Al Ilal Ibnu Abi Hatim no 892]

Muhammad bin Muslim dan ‘Amru bin Diinar keduanya dikenal sebagai perawi Muslim.

وَسَمِعْتُ أَبِي وَذَكَرَ حَدِيثًا : رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ ، عَنْ أَبِي خَالِدٍ الأَحْمَرِ ، عَن حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي افْتِتَاحِ الصَّلاةِ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ” ، وَأَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِلَى حَذْوِ أُذَنَيْهِ ” . فَقَالَ أَبِي : هَذَا حَدِيثٌ كذبٌ لا أَصْلَ لَهُ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ لا بَأْسَ بِهِ ، كَتَبْتُ عَنْهُ

Dan aku mendengar ayahku, menyebutkan hadis riwayat Muhammad bin Ash Shalt dari Abu Khalid Al Ahmar dari Humaid dari Anas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang pembuka shalat “subhaanaka allahumma wabihamdika” dan bahwasanya ia mengangkat tangannya sampai sejajar telinganya. Maka Ayahku [Abu Hatim] berkata ini hadis dusta tidak ada asalnya dan Muhammad bin Ash Shalt tidak ada masalah padanya aku telah menulis darinya [Al Ilal Ibnu Abi Hatim no 374]

Muhammad bin Ash Shalt juga dikatakan Abu Hatim tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 7/289 no 1567]. Sulaiman bin Hayaan Abu Khalid Al Ahmar dikatakan Abu Hatim tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 4/107 no 477]. Humaid Ath Thawiil dikatakan Abu Hatim tsiqat tidak ada masalah padanya [Al Jarh Wat Ta’dil 3/219 no 961]

.

.

Mengapa kami menguatkan kepalsuannya karena hadis Muslim tersebut jelas-jelas bertentangan dengan fakta sejarah. Artinya itu adalah dusta yang diada-adakan terhadap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Walaupun kami sendiri tidak bisa menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kepalsuannya itu tetap tidak menafikan bahwa kabar itu dusta.

Dan kami tidak pula menafikan bahwa sebagian ulama menyatakan bahwa hadis tersebut adalah kekeliruan dari perawinya. Bagi kami, Kabar itu jelas dusta dan menyatakan bahwa itu adalah kesalahan perawinya tidaklah menafikan bahwa kabar tersebut adalah dusta terhadap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada masalah untuk dikatakan bahwa itu dusta dan dusta tersebut berasal dari kesalahan perawinya artinya ia tidak sengaja berdusta. Apakah ada dalam tulisan kami sebelumnya bahwa kami menuduh diantara para perawinya sebagai pemalsu hadis?. Tidak ada, bahkan dalam pembelaan terhadap Ikrimah kami katakan bahwa jika benar keliru maka perawi-perawi Muslim tersebut selain Ikrimah bisa saja tertuduh keliru karena setsiqat apapun seorang perawi, sebagai seorang manusia ia bisa saja keliru.

Dan seandainya pun dikatakan bahwa hadis tersebut dipalsukan oleh salah seorang perawinya. Maka apakah ini kemungkinan yang mustahil?. Tentu saja tidak, apakah seorang yang dikatakan tsiqat tidak bisa dikatakan pendusta dan memalsukan hadis. Lihat saja Asy Syaukaniy ketika ia berkomentar mengenai salah satu hadis

رواه ابن عدي عن ابن مسعود مرفوعاً وهو موضوع ، وفي إسناده عباد بن يعقوب ، وهو رافضي ، آخر كذاب

Diriwayatkan Ibnu Adiy dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dan itu maudhu’ [palsu] di dalam sanadnya ada ‘Abbad bin Ya’quub dan ia rafidhah pendusta [Fawa’id Al Majmu’ah Asy Syaukaniy no 163]

Dalam At Tahdzib disebutkan bahwa Abbad bin Ya’qub dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim dan Ibnu Khuzaimah, serta dinyatakan shaduq oleh Daruquthniy [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 5 no 183]. Rasanya tidak mungkin dikatakan ulama hadis seperti Asy Syaukaniy tidak mengetahui pendapat ulama mutaqaddimin tentang ‘Abbad bin Ya’qub.

Perlu diingatkan bahwa kami hanya menunjukkan bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut tidaklah mustahil dan memang kami sendiri tidak menetapkannya karena tidak adanya qarinah yang menguatkan. Dikatakan keliru, maka siapa yang keliru dan jika dipalsukan maka siapa yang memalsukan?.

Jika yang ia bantah terkait dengan status hadis Muslim tersebut bahwa hadis tersebut tetap shahih hanya saja matannya ada yang keliru dan bukan berarti keseluruhan hadisnya ditolak. Maka kami katakan bahwa yang bersangkutan memang tidak mengerti matan hadis tersebut yang merupakan satu kesatuan.

Abu Sufyan menyebutkan tiga permintaan, hal ini dapat dilihat dari lafaz

فقال للنبي صلى الله عليه و سلم يا نبي الله ثلاث أعطنيهن

[Abu Sufyan] berkata kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wassalam] “wahai Nabi Allah penuhilah tiga permintaanku”

Kemudian diketahui dari salah satu permintaan tersebut bahwa hal itu dusta yaitu Abu Sufyan ingin menikahkan anaknya Ummu Habiibah dengan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jika permintaan ini dikatakan dusta dan merupakan kesalahan dari perawinya maka matan “penuhilah tiga permintaanku”pada dasarnya salah juga. Dengan kata lain ketika Abu Sufyan meminta tiga permintaan tersebut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] belum menikahi Ummu Habiibah padahal peristiwa ini terjadi setelah Fathul Makkah. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menikahi Ummu Habibah [radiallahu ‘anha] sebelum Fathul Makkah. Kalau peristiwa Abu Sufyan meminta tiga permintaan itu saja dikatakan dusta atau tidak benar maka apa gunanya sebagian orang berhujjah dengan dua permintaan yang lain untuk menguatkan keutamaan Abu Sufyan.

Maka dari itu sebagian ulama berusaha menakwilkan maksud permintaan Abu Sufyan soal Ummu Habiibah. Ada yang menakwilkan bahwa maksud Abu Sufyan agar memperbaharui akad pernikahannya, ada yang menakwilkan maksud Abu Sufyan agar Nabi tidak menceraikan Ummu Habiibah, ada yang menakwilkan maksud Abu Sufyan menunjukkan keridhaannya Nabi telah menikahi Ummu Habiibah. Semua takwil ini jauh sekali dari lafaz hadisnya dan tidak perlu diperhatikan karena sekedar omong-kosong yang siapapun bisa berandai-andai. Anda pun bisa menambahkan takwil bathil lainnya seperti Nabi telah menceraikan Ummu Habiibah kemudian Abu Sufyan ingin menikahkan lagi. Takwil seperti itu tidak ada gunanya

Apalagi takwil yang menyatakan bahwa nama tersebut salah sebenarnya bukan Ummu Habiibah binti Abu Sufyan tetapi ‘Azzah binti Abu Sufyan. Takwil ini jelas hanya menunjukkan kebodohan, karena jika memang seperti itu dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “Ya” menunjukkan kedustaan yang nyata atas nama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mengapa? Karena hal itu termasuk perkara yang diharamkan sebagaimana diakui oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri.

حدثنا يحيى بن بكير حدثنا الليث عن عقيل عن ابن شهاب أخبرني عروة أن زينب بنت أبي سلمة أخبرته أن أم حبيبة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت قلت يا رسول الله انكح أختي بنت أبي سفيان قال وتحبين ذلك قلت نعم لست لك بمخلية وأحب من شاركني في الخير أختي فقال إن ذلك لا يحل لي فقلت يا رسول الله فوالله إنا نتحدث أنك تريد أن تنكح درة بنت أبي سلمة فقال بنت أم سلمة فقلت نعم قال فوالله لو لم تكن ربيبتي في حجري ما حلت لي إنها بنت أخي من الرضاعة أرضعتني وأبا سلمة ثويبة فلا تعرضن علي بناتكن ولا أخواتكن

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Aqiil dari Ibnu Syihaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bahwa Zainab binti Abi Salamah mengabarkan kepadanya bahwa Ummu Habiibah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata“wahai Rasulullah, nikahilah saudariku putri Abu Sufyan. Beliau berkata “apakah kamu menyukai hal itu?”. [Ummu Habiibah] berkata “benar, aku tidak hanya ingin menjadi istrimu dan aku ingin saudara perempuanku bergabung denganku dalam memperoleh kebaikan”. Nabi [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Saudara perempuanmu itu tidak halal bagiku” Ummu Habiibah berkata “Kami mendengar khabar bahwa engkau ingin menikahi anak perempuan Abu Salamah?”. Beliau besabda “Anak perempuan Abu Salamah?”. Ummu Habiibah menjawab “Ya”. Beliau bersabda “Seandainya ia bukan anak tiriku yang ada dalam asuhanku, dia tetap tidak halal aku nikahi, karena ia adalah anak perempuan saudara laki-lakiku dari hubungan penyusuan, yaitu aku dan Abu Salamah sama-sama pernah disusui oleh Tsuwaibah. Oleh karena itu, janganlah engkau tawarkan anak perempuanmu atau saudara perempuanmu kepadaku [Shahih Bukhariy no 5101]

Dengan kata lain berdasarkan hadis di atas, ‘Azzah binti Abu Sufyan saudara perempuan Ummu Habiibah tidak halal bagi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka bagaimana bisa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “Ya” untuk memenuhi permintaan Abu Sufyan. Penakwilan-penakwilan tersebut bisa dikatakan terlalu lemah untuk dianggap, kualitasnya sama seperti cerita “tetap kambing walaupun bisa terbang”. Sudah jelas-jelas hadis tersebut salah masih dicari-cari pembenarannya.

Kami tidak perlu berbusa-busa mencari pembelaan atas hadis Muslim mengenai keutamaan Abu Sufyan di atas. Hadis tersebut jelas terbukti kedustaannya. Maka silakan saja bagi mereka yang bersikeras melakukan pembelaan karena pembelaan seperti apapun tidak akan berguna menghadapi bukti yang jelas. Dan jika suatu hadis jelas terbukti kedustaannya [kesalahannya] maka tidak ada gunanya mengambil istinbath dari hadis tersebut atau mengamalkan hadis tersebut. Bagaimana seseorang bisa yakin kalau matan yang tersisa dari hadis tersebut juga selamat dari cacat [kedustaan atau kesalahan].

Bukankah perkara ini sama hal-nya dengan seorang perawi yang terbukti berdusta atau membuat hadis palsu kemudian ia meriwayatkan banyak hadis lain. Apakah yang ditolak hanya hadis palsu yang sudah terbukti ia palsukan saja sedangkan hadis-hadis lain yang tidak ada bukti bahwa itu dipalsukan olehnya bisa diterima?. Tentu saja jawabannya tidak. Seorang pendusta atau pemalsu hadis memang bisa saja suatu ketika meriwayatkan hadis yang benar bahkan bisa saja ia hanya memalsukan satu hadis saja seumur hidupnya tetapi bagaimana bisa diyakini kalau hadis-hadis lain tersebut benar jika ia terbukti pernah melakukan kedustaan atau memalsukan riwayat.

.

.

Sebelum kami mengakhiri tulisan di atas ada catatan menarik dari nashibi tersebut dimana ia menyinggung hadis Abu Bakar dan Umar Sayyid Kuhul ahli surga yaitu riwayat Hasan bin Zaid bin Hasan yang mengandung matan [wa syabaabuha] “para pemudanya”. Seperti yang pernah kami singgung hadis Hasan bin Zaid bin Hasan yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar sebagai Sayyid Kuhul dan Syabab ahli surga adalah mungkar karena terbukti dalam hadis shahih bahwa Sayyid Syabab ahli surga adalah Hasan dan Husain bukan Abu Bakar dan Umar. Hadis riwayat Hasan bin Zaid bin Hasan ini telah kami tulis dalam pembahasan khusus bahwa kedudukannya dhaif. Dan sayangnya kami tidak melihat adanya bantahan yang bernilai dari nashibi tersebut.

Al Kaafiy Sekarang Bukan Al Kaafiy Yang Dulu? : Kejahilan Nashibi

 

Al Kaafiy Sekarang Bukan Al Kaafiy Yang Dulu? : Kejahilan Nashibi

Tulisan ini akan membahas tuduhan nashibi terhadap kitab hadis mazhab Syiah yaitu Al Kaafiy. Intinya menyatakan bahwa Al Kaafiy yang beredar sekarang itu dibuat oleh pihak-pihak tertentu setelah era Al Kulainiy. Seandainya tuduhan tersebut valid dan tegak berdasarkan hujjah yang kuat maka tidak masalah dan akan menjadi tambahan ilmu bagi para peneliti tetapi sayang sekali tuduhan tersebut hanya bualan dan kicauan dari orang-orang yang jahil akal pikirannya. Selamat menyimak,

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَسْبَاطٍ عَنِ الْحَكَمِ بْنِ مِسْكِينٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) مَتَى يَعْرِفُ الْأَخِيرُ مَا عِنْدَ الْأَوَّلِ قَالَ فِي آخِرِ دَقِيقَةٍ تَبْقَى مِنْ رُوحِهِ

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Aliy bin Asbaath dari Al Hakam bin Miskiin dari sebagian sahabat kami yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah “kapan orang terakhir mengetahui apa yang ada di sisi yang pertama”. Beliau berkata “pada akhir daqiiqah yang tersisa dari ruh-nya” [Al Kaafiy Al Kulainiy 1/274]

Nashibi mengartikan lafaz “daqiiqah” yang dimaksud sebagai “menit” kemudian ia merujuk pada kitab Mu’jam Al Wasiith

الدقيقة وحدة زمنية تعادل جزءا من ستين جزءا من الساعة ووحدة لقياس خطوط الطول أو العرض تساوي جزءا من ستين جزءا من الدرجة (مج) (ج) دقائق محدثة

Menit [ad-daqiqah] adalah satuan waktu yang sama dengan 1/60 jam, dan satuan bagi busur garis vertikal dan horisontal yang disamakan dengan 1/60 derajat. Jamaknya daqaaiq; dan ia merupakan istilah baru [muhdats].[Mu’jaam Al Wasiith 1/291]

Dengan dasar ini mereka mengatakan bahwa Al Kafiy jelas dibuat setelah era Al Kulainiy karena lafaz “daqiiqah” adalah istilah baru. Hujjah ini bisa dibilang rapuh dengan alasan sebagai berikut

Di sisi Syiah, mereka tidak mengartikan lafaz “daqiiqah” tersebut sebagai menit. Dalam kitab Majma’ Al Bahrain Fakhruddin bin Muhammad Ath Thuraihiy

و فيحديث الأئمة و قد سئل ع متى يعرف الأخير ما عند الأول؟ قال في آخر دقيقة تبقى منروحه
أي آخر جزء

Dan dalam hadis Imam ketika ditanya “kapan orang terakhir mengenal apa yang ada di sisi yang pertama”. Beliau berkata “pada akhir daqiiqah yang tersisa dari ruh-nya”. Maksudnya adalah “bagian akhir” [Majma’ Al Bahrain 5/163]

Jika dikatakan istilah “daqiiqah” adalah istilah baru maka secara kritis kita dapat bertanya kalau begitu kapan tepatnya istilah itu muncul?. Kemudian apakah yang dimaksud dengan istilah baru tersebut? Apakah kata tersebut dahulunya tidak ada kemudian baru muncul atau kata tersebut sudah ada sebelumnya kemudian entah kapan baru dipakai sebagai lafaz bermakna “menit”.

.

.

Istilah daqiiqah sudah ada pada zaman Ibnu Hazm yang lahir pada tahun 384 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 18/185] dan digunakan untuk menyatakan waktu tertentu. Ibnu Hazm pernah berkata dalam kitabnya Al Muhalla

فإنه لو جاز أن يحول بين النية وبين العمل دقيقة لجاز أن يحول بينهما دقيقتان وثلاث وأربع

Maka jika dibolehkan adanya jeda antara niat dan amal, daqiiqah maka diperbolehkan juga adanya jeda antara keduanya dua daqiiqah, tiga dan empat [Al Muhalla Ibnu Hazm 1/77].

Sehingga pernyataan daqiiqah sebagai “istilah baru” itu harus diteliti kembali. Istilah daqiiqah sudah lama dikenal dalam ilmu Falaq. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al Khawarizmiy dalam Mafatih Al ‘Ulum

فلك البروج، هو الدائرة التي ترسمها الشمس بسيرها من المغرب إلى المشرق في سنة واحدة، وهو مقسوم إثني عشر قسماً، وهي البروج. وقد ذكرت أسماءها في الفصل الأول. وطول كل برج منها ثلاثون درجة، وكل درجة ستون دقيقة، وكل دقيقة ستون ثانية

Falaq Al Buruj, adalah lingkaran yang menunjukkan pergerakan matahari dari barat ke timur dalam satu tahun, itu dibagi dalam 12 bagian yang disebut Buruj dan telah disebutkan nama-namanya dalam pasal awal. Jarak setiap buruj adalah 30 derajat, setiap derajat 60 daqiiqah dan setiap daqiiqah 60 tsaniyah [Mafatih Al ‘Ulum Al Khawarizmiy 1/41]

Disebutkan dalam Mu’jam Al Mu’allifiin bahwa Al Khawarizmiy penulis Mafatih Al ‘Ulum wafat tahun 387 H [Mu’jam Al Mu’allifiin 9/29]. Istilah “daqiiqah” yang terkait ilmu Falaq juga digunakan Al Ya’qubiy dalam kitab Tarikh-nya [Tarikh Al Ya’qubiy 1/26]. Dan Al Ya’qubiy disebutkan oleh Yaqut Al Hamawiy dalam kitab Mu’jam Al ‘Udaba bahwa ia wafat tahun 284 H [Mu’jam Al ‘Udaba 1/214].

Al Kulainiy sendiri wafat pada tahun 329 H, sehingga jika dibandingkan dengan masa hidup Al Ya’qubiy, Al Khawarizmiy dan Ibnu Hazm maka dapat disimpulkan bahwa pada masa hidup Al Kulainiy sudah dikenal istilah “daqiiqah”. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa istilah ini sudah ada di zaman Imam Ja’far. Terdapat riwayat dalam Al Kafiy yang menyebutkan bahwa di masa Imam Ja’far sudah berkembang ilmu Falaq

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ عَنِ ابْنِ فَضَّالٍ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَسْبَاطٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَيَابَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) جُعِلْتُ لَكَ الْفِدَاءَ إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ إِنَّ النُّجُومَ لَا يَحِلُّ النَّظَرُ فِيهَا وَ هِيَ تُعْجِبُنِي فَإِنْ كَانَتْ تُضِرُّ بِدِينِي فَلَا حَاجَةَ لِي فِي شَيْ‏ءٍ يُضِرُّ بِدِينِي وَ إِنْ كَانَتْ لَا تُضِرُّ بِدِينِي فَوَ اللَّهِ إِنِّي لَأَشْتَهِيهَا وَ أَشْتَهِي النَّظَرَ فِيهَا فَقَالَ لَيْسَ كَمَا يَقُولُونَ لَا تُضِرُّ بِدِينِكَ ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ تَنْظُرُونَ فِي شَيْ‏ءٍ مِنْهَا كَثِيرُهُ لَا يُدْرَكُ وَ قَلِيلُهُ لَا يُنْتَفَعُ بِهِ تَحْسُبُونَ عَلَى طَالِعِ الْقَمَرِ ثُمَّ قَالَ أَ تَدْرِي كَمْ بَيْنَ الْمُشْتَرِي وَ الزُّهَرَةِ مِنْ دَقِيقَةٍ قُلْتُ لَا وَ اللَّهِ

Dari sebagian sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Khaalid dari Ibnu Fadhdhaal dari Al Hasan bin Asbaath dari ‘Abdurrahman bin Sayaabat yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] “aku menjadi tebusanmu, orang-orang mengatakan bahwa tidak boleh mempelajari ilmu perbintangan, dan itu membuatku heran. Maka jika itu membahayakan agamaku maka tidak ada alasan bagiku untuk membahayakan agamaku dan jika itu tidak membahayakan agamaku maka demi Allah aku menyukainya dan suka untuk mempelajarinya. Beliau berkata “Hal ini tidak seperti yang orang-orang itu katakan, hal itu tidak membahayakan agamamu”. Kemudian Beliau berkata “sesungguhnya kalian mempelajari sesuatu dimana banyak yang tidak kalian ketahui dan sedikit tidak memberikan manfaat dengannya, kalian telah menghitung pergerakan bulan. Kemudian Beliau berkata“apakah kalian mengetahui berapa daqiiqah antara musytariy dan zuharah?”. Aku berkata “tidak demi Allah”…[Al Kaafiy Al Kulainiy 8/195]

Jika kita asumsikan bahwa kedua riwayat Al Kaafiy tersebut shahih di sisi Syiah maka hal ini menjadi hujjah bahwa di masa Imam Ja’far sudah dikenal istilah “daqiiqah” yang terkait dengan ilmu falaq dan digunakan juga untuk menyatakan bagian tertentu yang singkat atau kecil [merujuk pada riwayat Al Kafiy yang pertama]. Jadi bisa saja dikatakan bahwa istilah “daqiiqah” memang tidak ada di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi sudah ada di zaman Imam Ja’far [‘alaihis salam]

Adapun tuduhan terhadap kitab Al Kaafiy bahwa ia ditulis setelah era Kulainiy karena adanya lafaz “daqiiqah” merupakan tuduhan yang tidak beralasan. Hal ini karena kata daqiqah bahkan sudah disebutkan oleh ulama lain sebelum Al Kulainiy seperti As Shaffaar yang wafat tahun 290 H

حدثنا محمد بن الحسين عن علي بن أسباط عن الحكم بن مسكين عن عبيد بن زرارة وجماعة معه قالوا سمعنا أبا عبد الله ع يقول يعرف الإمام الذي بعده علم من كان قبله في آخر دقيقة تبقى من روحه.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Husain dari Aliy bin Asbath dari Al Hakam bin Miskiin dari Ubaid bin Zurarah dan jama’ah yang bersamanya, mereka berkata “kami mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan imam setelahnya mengetahui apa yang ada pada sebelumnya pada akhir daqiqah yang tersisa dari ruh-nya [Basha’ir Ad Darajaat hal 520, Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar]

Makna daqiqah dalam riwayat di atas bukanlah “menit” dalam pengertian waktu di zaman sekarang ini. Lafaz “daqiqah” tersebut lebih mungkin diartikan sebagai bagian yang singkat atau kecil.

.

.

.
Yang lucunya fenomena yang sama juga terdapat dalam kitab hadis ahlus sunnah, yaitu adanya hadis yang menggunakan lafaz “sa’ah” yang pada bahasa arab modern, istilah ini bermakna jam yaitu 60 menit.

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ سَوَّادِ بْنِ الأَسْوَدِ بْنِ عَمْرٍو وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ – وَاللَّفْظُ لَهُ – عَنِ ابْنِ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنِ الْجُلاَحِ مَوْلَى عَبْدِ الْعَزِيزِ أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bin Sawwaad bin Al Aswad bin ‘Amru dan Al Haarits bin Miskiin membacakan kepadanya dan aku mendengar –lafaz darinya-dari Ibnu Wahb dari ‘Amru bin Al Haarits dari Al Julaah maula ‘Abdul ‘Aziiz bahwa Abu Salamah bin ‘Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Jabir bin ‘Abdullah dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bersabda “hari Jum’at ada dua belas jam, dan di dalamnya terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkannya, oleh karena itu carilah pada akhir jam setelah Ashar” [Sunan Nasa’i no 1400]

Al Iraqiy berkata “sanadnya shahih” [Tharh At Tatsriib 4/59]. Lafaz sa’ah ini berbeda dengan lafaz sa’ah yang digunakan dalam Al Qur’anul Kariim. Kalau kita memperhatikan lafaz “sa’ah” yang sering digunakan di dalam Al Qur’an maka akan kita dapati bahwa makna sa’ah tersebut adalah sesaat, tidak disematkan dengan angka tertentu

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya [QS. Al-A’raf : 34].

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanyasesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk [QS. Yunus : 45].

الساعة: ج ساعات، جزء من أجزاء الوقت، ومنه: مضت ساعة من الليل
ويراد به مقدار ستين دقيقة من الزمان الوقت الحاضر

As Sa’ah : jamak Saa’aat : adalah bagian dari waktu, dan darinya “sesaat dari malam telah berlalu”. Dan dimaksudkan pula dengannya adalah ukuran 60 menit dari waktu yang ada pada zaman sekarang ini. [Mu’jam Al Lughah Al Fuqaha 1/239]

Mudah saja dikatakan bahwa lafaz sa’ah yang disematkan dengan angka dua belas tidak bisa diartikan sebagai sesaat maka itu lebih tepat bermakna dua belas jam, dan makna satu jam disini dalam bahasa arab modern adalah 60 menit dan pembagian siang hari menjadi 12 jam [12 x 60 menit] itu perkara muhdats. Tetapi para ulama justru menjadikan hadis ini sebagai bukti bahwa pembagian satu hari menjadi 24 sa’ah dimana siang 12 sa’ah dan malam 12 sa’ah sudah dikenal di kalangan arab pada masa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] walaupun makna sa’ah disana bukan satu jam sebagai satuan waktu enam puluh menit tetapi hanyalah bagian dari waktu siang atau bagian dari waktu malam.

Kalau kita melihat permasalahan ini secara mendalam maka akan nampak bahwa ulama ahlus sunnah ketika menafsirkan hadis “dua belas sa’ah” di atas mereka menjadikan hadis tersebut sebagai dasar bahwa pada zaman itu sudah dikenal pembagian waktu satu hari satu malam sebagai 24 sa’ah dan sa’ah disana bukan bermakna sebagai satu jam yang dalam bahasa arab modern adalah 60 menit. Maka seharusnya dengan cara yang sama hadis Imam Ja’far dengan lafaz “daqiiqah” bisa dijadikan dasar bahwa pada zaman Imam Ja’far memang dikenal istilah daqiiqah sebagai bagian waktu tertentu yang singkat bukan diartikan sebagai menit dalam bahasa arab modern.

.

Note : Tulisan nashibi yang dimaksud dapat dibaca disini http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/al-kaafiy-sekarang-bukan-al-kaafiy-yang.html

Fiqh Syi’ah Boleh Meludah Di Masjid Ataukah Fiqh Sunni? Contoh Imam Ma’shum Atau Rasulullah

 

Fiqh Syi’ah Boleh Meludah Di Masjid Ataukah Fiqh Sunni? Contoh Imam Ma’shum Atau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Blog penebar fitnah yang ngaku-ngaku pengikut sunnah gemar sekali membuat tuduhan terhadap mazhab Syi’ah. Kali ini tuduhannya adalah bahwa Syi’ah membolehkan meludah di Masjidil Haram dan itu mengikut contoh Imam ma’shum.

.

.

Bagaimanakah sebenarnya pandangan mazhab Syi’ah mengenai perkara ini. Pertama kali adalah sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Qur’anul Kariim

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud [QS. Al-Hajj : 26].

Masjid adalah tempat yang dimuliakan bagi kaum muslimin. Ada beberapa hal yang termasuk larangan dilakukan di masjid sebagai satu adab penghormatan termasuk larangan meludah di dalamnya

أحمد بن محمد عن محمد بن يحيى عن غياث بن إبراهيم عن جعفر عن أبيه عن آبائه عليهم السلام ان عليا عليه السلام قال: البزاق في المسجد خطيئة وكفارته دفنه

Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Yahya dari Ghiyaats bin Ibrahiim dari Ja’far dari Ayahnya dari ayah-ayahnya [‘alaihimus salam] bahwa Aliy [‘alaihis salaam] berkata “meludah di dalam masjid adalah kesalahan dan kaffarahnya adalah menimbunnya” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 3/256]

Riwayat ini kedudukannya shahih di sisi Syiah, para perawinya tsiqat dalam Ilmu Rijal Syi’ah

  1. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  2. Muhammad bin Yahya Al Khazzaaz, seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 359 no 964]
  3. Ghiyaats bin Ibrahiim At Tamimiy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari ‘Abu Abdullah [Imam Ja’far] [Rijal An Najasyiy hal 305 no 833]

Ini adalah adab yang berlaku bagi kaum muslimin baik Ahlus sunnah maupun Syi’ah, tetapi para pendusta berusaha menuduh dan merendahkan mazhab Syi’ah dengan mengutip riwayat berikut

محمد بن يعقوب ، عن الحسين بن محمد ، عن عبد الله بن عامر ، عن علي بن مهزيار قال : رأيت أبا جعفر الثاني (عليه السلام) يتفل في المسجد الحرام فيما بين الركن اليماني والحجر الاسود ، ولم يدفنه.

Muhammad bin Ya’quub dari Al-Husain bin Muhammad, dari ‘Abdullah bin ‘Aamir, dari ‘Aliy bin Mahziyaar, ia berkata “Aku pernah melihat Abu Ja’far Ats-Tsaaniy [‘alaihis-salaam] meludah di Masjidil Haraam di tempat antara Rukun Yamaniydan Hajar Aswad tanpa menimbunnya” [Wasaailusy Syii’ah no. 6384. Juga dalam Al-Kaafiy 3/370].

Riwayat ini telah dijelaskan oleh Muhammad Taqiy Al Majlisiy bahwa ini adalah kekhususan para Imam

الظاهر أنه لبيان الجواز (أو يقال) إنه من خصائصهم ( ع ) لأنه ليس في بصاقهم خباثة بل يتشرف المسجد به

Yang nampak bahwa riwayat tersebut sebagai penjelasan bolehnya meludah di dalam masjid [atau dikatakan], sesungguhnya ia termasuk kekhususan para imam [‘alaihis-salaam] karena tidak ada dalam ludah mereka najis, dan bahkan masjid menjadi mulia dengannya [Raudhatul Muttaqiin Fii Syarh Man Laa Yahdhurruhu Al Faqiihlish-Shaduuq, 2/203]

.

.

Sebenarnya riwayat tentang kebolehan meludah di masjid juga terdapat dalam hadis-hadis ahlussunnah sebagaimana berikut

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب جميعا عن ابن علية قال زهير حدثنا ابن علية عن القاسم بن مهران عن أبي رافع عن أبي هريرة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى نخامة في قبلة المسجد فاقبل على الناس فقال ما بال أحدكم يقوم مستقبل ربه فيتنخع امامه أيحب أحدكم ان يستقبل فيتنخع في وجهه فإذا تنخع أحدكم فليتنخع عن يساره تحت قدمه

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya berkata dari Ibnu ‘Ulayyah dari Qaasim bin Mihraan dari Abu Raafi’ dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat dahak pada dinding kiblat masjid Kemudian Beliau menghadap kepada orang-orang seraya bersabda “Bagaimana pendapat kalian, jika ada orang sedang shalat menghadapi Tuhan-nya, lalu dia meludah ke hadapan-Nya? Senangkah kalian bila kalian sedang dihadapi seseorang, lalu orang itu meludahi muka kalian?. Oleh karena itu jika salah seorang dari kalian meludah ketika shalat, maka hendaklah dia meludah ke kiri atau ke bawah kaki kalian… [Shahih Muslim no 550]

Faedah yang dapat diambil dari hadis ini adalah larangan meludah ke arah kiblat di dalam masjid pada saat shalat tetapi jika ingin meludah maka dibolehkan meludah ke kiri atau ke bawah kaki, dan tentu saja ini masih di dalam masjid. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun pernah melakukan hal ini dan Beliau tidak menimbunnya tetapi menggosoknya dengan sandal Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا عبيد الله بن معاذ العنبري حدثنا أبي حدثنا كهمس عن يزيد بن عبد الله بن الشخير عن أبيه قال صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأيته تنخع فدنكها بنعله

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz Al ‘Anbariy yang berkata telah menceritakan ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Kahmas dari Yazid bin ‘Abdullah bin Asy Syikhkhiir dari Ayahnya yang berkata aku shalat bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku melihat Beliau meludah kemudian menggosok-gosoknya dengan sandal-nya [Shahih Muslim no 554]

.

Sedikit catatan mengenai ludah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], diriwayatkan dengan sanad shahih bahwa ludah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] suci tidaklah mengandung najis bahkan berkhasiat menyembuhkan sakit

ثم إن عروة جعل يرمق أصحاب النبى – صلى الله عليه وسلم – بعينيه . قال فوالله ما تنخم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – نخامة إلا وقعت فى كف رجل منهم فدلك بها وجهه وجلده ، وإذا أمرهم ابتدروا أمره ، وإذا توضأ كادوا يقتتلون على وضوئه ، وإذا تكلم خفضوا أصواتهم عنده ،

Kemudian Urwah memperhatikan para sahabat Nabi dengan kedua matanya. Ia berkata,”Demi Allah! Tidaklah Rasulullah mengeluarkan dahak, kecuali mengenai tangan salah seorang dari mereka, lalu menggosokkannya ke wajah dan kulitnya. Dan jika Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan mereka, maka mereka segera melaksanakannya. Juga jika Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwudhu, maka mereka seakan-akan berperang memperebutkan sisa air wudhunya. Dan jika berbicara, mereka merendahkan suara-suara mereka di sisinya…[Shahih Bukhari no 2732]

فقال أين علي فقيل يشتكي عينيه فأمر فدعي له فبصق في عينيه فبرأ مكانه حتى كأنه لك يكن به شيء

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “dimana Aliy?”. Maka dikatakan ia sakit kedua matanya. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggilnya kemudian meludahi kedua matanya hingga sembuh seolah-olah belum terkena penyakit sedikitpun…[Shahih Bukhari no 2783]

Akhir kata sebenarnya tidak ada alasan menjadikan perkara ini sebagai bahan celaan terhadap mazhab Syi’ah mengingat perkara yang sama juga ditemukan dalam kitab mazhab Ahlus Sunnah. Begitulah fitnah dari orang yang hatinya sudah dipenuhi dengan kebencian terhadap Syi’ah, ia tidak bisa melihat kebenaran dengan objektif karena yang nampak di matanya hanyalah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.

 

Note : Tulisan penebar fitnah yang dimaksud dapat dilihat disini http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/fiqh-syiah-4-boleh-meludah-di-kabah.html

Satu Cabang Aqidah Syi’ah Tentang Allah SWT : Kejahilan Nashibi Tentang Bada’

 

Satu Cabang Aqidah Syi’ah Tentang Allah SWT : Kejahilan Nashibi Tentang Bada’

Para nashibi adalah kaum yang tidak hanya sekedar jahil tetapi juga gemar memfitnah dan membuat kedustaan terhadap mazhab lain [baca : Syi’ah]. Sudah cukup banyak para ulama Syi’ah yang membuat tulisan yang membuktikan kedustaan mereka, kutipan yang tidak sebagaimana mestinya, berhujjah dengan riwayat dhaif dan palsu. Berikut akan penulis buktikan salah satu kedustaan mereka terhadap mazhab Syi’ah.

.

.

Salah satu da’i nashibi yang cukup dikenal di dunia maya membawakan riwayat dalam Al Kafi dan dengan riwayat tersebut ia berhujjah bahwa dalam aqidah bada’ di sisi Syi’ah, Allah tidak mengetahui kejadian baru tersebut sebelumnya dan baru mengetahui setelah kejadian tersebut terjadi. Inilah riwayat yang dimaksud

عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْجَعْفَرِيِّ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَبِي الْحَسَنِ ( عليه السلام ) بَعْدَ مَا مَضَى ابْنُهُ أَبُو جَعْفَرٍ وَ إِنِّي لَأُفَكِّرُ فِي نَفْسِي أُرِيدُ أَنْ أَقُولَ كَأَنَّهُمَا أَعْنِي أَبَا جَعْفَرٍ وَ أَبَا مُحَمَّدٍ فِي هَذَا الْوَقْتِ كَأَبِي الْحَسَنِ مُوسَى وَ إِسْمَاعِيلَ ابْنَيْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ ( عليه السلام ) وَ إِنَّ قِصَّتَهُمَا كَقِصَّتِهِمَا إِذْ كَانَ أَبُو مُحَمَّدٍ الْمُرْجَى بَعْدَ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) فَأَقْبَلَ عَلَيَّ أَبُو الْحَسَنِ قَبْلَ أَنْ أَنْطِقَ فَقَالَ نَعَمْ يَا أَبَا هَاشِمٍ بَدَا لِلَّهِ فِي أَبِي مُحَمَّدٍ بَعْدَ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) مَا لَمْ يَكُنْ يُعْرَفُ لَهُ كَمَا بَدَا لَهُ فِي مُوسَى بَعْدَ مُضِيِّ إِسْمَاعِيلَ مَا كَشَفَ بِهِ عَنْ حَالِهِ وَ هُوَ كَمَا حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ وَ إِنْ كَرِهَ الْمُبْطِلُونَ

Aliy bin Muhammad, dari Ishaaq bin Muhamad, dari Abu Haasyim Al-Ja’fariy, ia berkata “Aku pernah di sisi Abul-Hasan [‘alaihis salam] setelah wafatnya anaknya yang bernama Abu Ja’far. Dan aku waktu itu berpikir pada diriku sendiri untuk mengatakan ‘Seakan-akan kejadian yang menimpa Abu Ja’far dan Abu Muhammad saat ini seperti halnya kejadian yang menimpa Abul-Hasan Muusaa dan Ismaa’iil, dua anak dari Ja’far bin Muhammad [‘alaihis salam]. Dan sesungguhnya kisah keduanya [Abu Ja’far dan Abu Muhammad] serupa dengan kisah keduanya [Muusaa dan Ismaa’iil bin Ja’far], disebabkan Abu Muhammad Al-Murji menjadi imam setelah Abu Ja’far’. Tiba-tiba Abul-Hasan memandangku sebelum aku sempat berkata-kata. Ia berkata : “Benar, wahai Abu Haasyim. Allah memiliki pendapat baru tentang Abu Muhammad setelah wafatnya Abu Ja’far [‘alaihis salam] yang sebelumnya tidak Ia ketahui. Sebagaimana sebelumnya muncul pendapat baru pada Muusaa sepeninggal Ismaa’il yang sesuai dengan keadaannya. Hal itu sebagamana yang engkau katakan pada dirimu sendiri tadi, walaupun orang-orang sesat membencinya…[Al Kaafiy 1/327]

Lafaz yang dijadikan hujjah oleh nashibi tersebut adalah

بَدَا لِلَّهِ فِي أَبِي مُحَمَّدٍ بَعْدَ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) مَا لَمْ يَكُنْ يُعْرَفُ لَهُ

Allah memiliki pendapat baru tentang Abu Muhammad setelah wafatnya Abu Ja’far [‘alaihis salam] yang sebelumnya tidak Ia ketahui

Dari lafaz ini nampak bahwa Allah SWT menetapkan bada’ terhadap suatu perkara dimana Allah tidak memiliki pengetahuan sebelumnya. Pernyataan ini sangat jelas kebathilannya dan riwayat tersebut kedudukannya dhaif di sisi Syiah. Al Majlisiy dalam Mirat Al Uqul 3/391 berkomentar mengenai hadis ini “majhul”.

Secara kelimuan hadis di sisi Syiah riwayat tersebut dhaif karena di dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Muhammad An Nakha’iy yaitu Ishaq bin Muhammad bin Ahmad bin Abban. Sayyid Muhsin Al ‘Amin berkata tentangnya

لا اقبل روايته قال ابن الغضائري انه كان فاسد المذهب كذابا في الرواية وضاعا للحديث

Tidak diterima riwayatnya, Ibnu Ghada’iriy berkata bahwa ia jelek mazhabnya pendusta dalam riwayat dan pemalsu hadis [A’yan Asy Syi’ah 3/277]

Riwayat ini juga disebutkan Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Ghaybah tanpa adanya lafaz “yang sebelumnya tidak Allah ketahui”.

فقد رواه سعد بن عبد الله الأشعري قال: حدثني أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري قال: كنت عند أبي الحسن عليه السلام وقت وفاة ابنه أبي جعفر – وقد كان أشار إليه ودل عليه – فإني لافكر في نفسي وأقول: هذه قضية أبي إبراهيم وقضية إسماعيل، فأقبل علي أبو الحسن عليه السلام فقال: نعم يا أبا هاشم بدا لله تعالى في أبي جعفر وصير مكانه أبا محمد، كما بدا لله في إسماعيل بعدما دل عليه أبو عبد الله عليه السلام ونصبه، وهو كما حدثت به نفسك وإن كره المبطلون

Dan sungguh telah diriwayatkan Sa’d bin ‘Abdullah Al Asy’ariy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy yang berkata aku berada di sisi Abu Hasan [‘alaihis salam] ketika wafat anaknya Abu Ja’far [‘alaihis salam], dan sungguh ia telah menunjuknya. Maka aku berpikir pada diriku sendiri untuk mengatakan “ ini seperti kasus Abu Ibrahim dan kasus Ismail”. Kemudian Abu Hasan [‘alaihis salam] datang kepadaku dan berkata “benar wahai Abu Haasyim Allah memiliki pendapat baru tentang Abu Ja’far dan mengganti kedudukannya dengan Abu Muhammad sebagaimana Allah menetapkan pendapat baru tentang Ismail dan mengangkat Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam]. Hal itu sebagamana yang engkau katakan pada dirimu sendiri tadi, walaupun orang-orang sesat membencinya… [Al Ghaybah Ath Thuusiy hal 200].

Jika riwayat ini shahih maka hal ini menjadi bukti bahwa tanbahan lafaz “yang sebelumnya tidak Allah ketahui” berasal dari Ishaq bin Muhammad An Nakaha’iy. Hanya saja riwayat Ath Thuusiy di atas tidak disebutkan sanad lengkap Ath Thuusiy hingga Sa’ad bin Abdullah Al Asy’ariy.

.

.

Dalam sudut pandang Syi’ah, Bada’ [yang dalam terjemah hadis di atas disebut “pendapat baru”] pada dasarnya bermakna perubahan atas ketetapan Allah [SWT] sebagaimana halnya nasikh dan mansukh tetapi hal ini berlaku pada takdir. Sebagaimana firman Allah SWT

يَمحُوا اللهُ ما يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ ام الكتب

Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitaab [QS Ar Raad : 39]

Dan semua yang ditetapkan oleh Allah SWT telah Allah SWT ketahui sebelumnya. Jadi Bada’ dalam aqidah Syi’ah berada dalam lingkup ilmu Allah SWT. Hal inilah yang dinyatakan dengan sanad shahih [secara ilmu hadis Syi’ah] dari Imam Ja’far [‘alaihis salam]

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد، عن الحسن بن محبوب، عن عبد الله بن سنان، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ما بدا لله في شئ إلا كان في علمه قبل أن يبدو له

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’id dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] yang berkata “Tidaklah Allah menetapkan bada’ terhadap sesuatu kecuali hal itu berada dalam Ilmu-Nya sebelum ditetapkan atasnya”.[Al Kaafiy 1/148]

Riwayat Al Kaafiy di atas sanadnya shahih di sisi Syi’ah, diriwayatkan oleh para perawi tsiqat

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 19/33 no 12010]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  5. Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Inilah aqidah bada’ yang shahih di sisi Syiah, sedangkan barangsiapa yang menisbatkan bada’ terhadap sesuatu dimana Allah tidak mengetahui sebelumnya maka Syiah berlepas diri darinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shaduq

وعندنا من زعم أن الله عز وجل يبدو له اليوم في شئ لم يعلمه أمس فهو كافر والبراءة منه واجبة

Dan di sisi kami barang siapa yang menganggap Allah ‘azza wajalla menetapkan sesuatu pada hari ini yang tidak Allah ketahui sebelumnya maka ia kafir dan wajib berlepas diri darinya [Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah hal 69,  Syaikh Shaduuq]

Note : Bagi pembaca yang berminat membaca tulisan dai nashibi tersebut silakan dilihat dalam link berikut http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/satu-cabang-aqidah-syiah-tentang-allah.html

Al Kulainiy Tertangkap Basah Mengedit Sanad Hadis Pendahulunya? : Kedustaan Nashibiy

 

Al Kulainiy Tertangkap Basah Mengedit Sanad Hadis Pendahulunya? : Kedustaan Nashibiy

Dalam kitab yang dijadikan pegangan dalam mazhab Syi’ah yaitu Al Kafiy Al Kulainiy ditemukan riwayat yang menyebutkan nama dua belas Imam ma’shum di sisi Syi’ah. Sebagian ulama Syi’ah telah menshahihkan riwayat tersebut. Kemudian muncul sekelompok pencela menyebarkan fitnah atau syubhat bahwa Al Kulainiy telah mengedit sanad tersebut yang asalnya dhaif kemudian diubah sanadnya sehingga tampak baik. Tulisan ini berusaha menganalisis secara objektif apakah tulisan tersebut benar atau seperti biasa dusta murahan dari kalangan pencela. Berikut riwayat Al Kafiy yang dimaksud

.

Al Kafiy juz 1

Al Kafiy juz 1 hal 337

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْبَرْقِيِّ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ دَاوُدَ بْنِ الْقَاسِمِ الْجَعْفَرِيِّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الثَّانِي ع قَالَ أَقْبَلَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع وَ مَعَهُ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ ع وَ هُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى يَدِ سَلْمَانَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَجَلَسَ إِذْ أَقْبَلَ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ وَ اللِّبَاسِ فَسَلَّمَ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَجَلَسَ ثُمَّ قَالَ

Sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam]datang dan bersamanya Hasan bin Ali [‘alaihis salaam]dan ia berpegang dengan tangan Salman, kemudian Beliau masuk ke dalam Masjid Haram, maka beliau duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki yang berpenampilan dan berpakaian baik, Ia mengucapkan salam kepada Amirul Mukminin [‘alaihis salaam], maka Beliau menjawab salamnya, Orang tersebut duduk kemudian berkata…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/337]

Sengaja kami tidak mengutip matan lengkapnya karena panjang dan bukan itu yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Cukuplah dikatakan bahwa matan tersebut menyebutkan bahwa orang yang dimaksud adalah Khidir [‘alaihis salaam] dan Ia bersaksi mengenai kedua belas Imam Syi’ah beserta nama-nama mereka. Bagi yang ingin melihat matan lengkapnya silakan dilihat disini

Pencela yang dimaksud kemudian membawakan riwayat dengan matan yang sama dalam kitab Al Mahasin oleh Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dengan sanad sebagai berikut

Al Mahasin no 99

عنه، عن أبيه، عن أبي هاشم الجعفري رفع الحديث قال: قال أبو عبد الله

Darinya [Ahmad bin Muhammad Al Barqiy] dari Ayahnya dari Abi Haasyim Al Ja’fariy, ia merafa’kan hadis, ia berkata Abu ‘Abdullah berkata…[Al Mahasin Ahmad bin Muhammad Al Barqiy 2/332 no 99]

Maka berdasarkan riwayat dalam Al Mahasin, pencela tersebut mengatakan bahwa hadis itu diambil Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari ayahnya yaitu Muhammad bin Khalid Al Barqiy. Riwayat dalam Al Mahasin dhaif dengan alasan

  1. Muhammad bin Khalid telah didhaifkan oleh An Najasyiy.
  2. Abu Haasyim tidak bertemu dengan Abu ‘Abdullah maka riwayatnya mursal

Asal riwayat ini dhaif kemudian Al Kulainiy mengubahnya dalam Al Kafiy dengan menghilangkan nama ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dan mengganti nama Imam Abu ‘Abdullah dengan Abu Ja’far Ats Tsaniy.

.

.

.

Sebenarnya hakikat permasalahan riwayat ini bukanlah demikian. Kesalahan pencela tersebut karena terburu-buru dalam menarik kesimpulan, ia tidak mengumpulkan semua jalan sanad-sanadnya. Sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu kedudukan ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy yaitu Muhammad bin Khalid bin ‘Abdurrahman. An Najasyiy berkata dalam kitab Rijal-nya

وكان محمد ضعيفا في الحديث، وكان أديبا حسن المعرفة بالاخبار وعلوم العرب

Muhammad dhaif dalam hadis, dia seorang ahli sastra [penyair], baik pengenalannya dalam kabar dan ilmu-ilmu arab [Rijal An Najasyiy hal 335 no 898]

Walaupun ia didhaifkan oleh An Najasyiy tetapi ia telah ditsiqatkan oleh Syaikh Ath Thuusiy

محمد بن خالد البرقي، ثقة، هؤلاء من أصحاب أبي الحسن موسى عليه السلام

Muhammad bin Khalid Al Barqiy, tsiqat, mereka termasuk sahabat Abu Hasan Muusa [‘alaihis salaam] [Rijal Ath Thuusiy hal 363]

Allamah Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal bagian pertama yang memuat para perawi tsiqat atau yang ia berpegang dengannya. Allamah Al Hilliy mengutip Ibnu Ghada’iriy, An Najasyiy dan Ath Thuusiy kemudian berpegang pada pendapat Syaikh Ath Thuusiy.

محمد بن خالد بن عبد الرحمان بن محمد بن علي البرقي، أبو عبد الله، مولى أبي موسى الأشعري، من أصحاب الرضا (عليه السلام)، ثقةوقال ابن الغضائري: انه مولى جرير بن عبد الله، حديثه يعرف وينكر، ويروي عن الضعفاء ويعتمد المراسيلوقال النجاشي: انه ضعيف الحديثوالاعتماد عندي على قول الشيخ أبي جعفر الطوسي رضي الله عنه من تعديله

Muhammad bin Khaalid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Aliy Al Barqiy, Abu ‘Abdullah maula Abu Musa Al Asy’ariy, termasuk sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat. Ibnu Ghadha’iriy berkata bahwasanya ia maula Jarir bin ‘Abdullah, hadisnya dikenal dan diingkari dan ia meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang pada riwayat mursal. Najasyiy berkata bahwa ia dhaif dalam hadis. Dan yang menjadi pegangan di sisiku adalah perkataan Syaikh Abu Ja’far Ath Thuusiy [radiallahu ‘anhu] yang menta’dilnya [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 237]

Sayyid Al Khu’iy menjelaskan dalam kitab Mu’jam-nya bahwa sebenarnya perkataan Syaikh Ath Thuusiy tidaklah bertentangan dengan apa yang dikatakan Najasyiy dan Ibnu Ghada’iriy. Ia menjelaskan bahwa kedhaifan yang dimaksud Najasyiy bukan mendhaifkan Muhammad tetapi kepada hadisnya karena ia sering meriwayatkan dari perawi dhaif dan mursal seperti yang dikatakan Ibnu Ghadha’iriy. [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 17/71 no 10715].

Oleh karena itu dalam Al Mufiid, Muhammad Jawahiriy menegaskan bahwa Muhammad bin Khalid Al Barqiy tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 524]. Begitu pula yang dirajihkan oleh Ahmad bin ‘Abdur Ridha Al Bashriy dalam Fa’iq Al Maqaal Fii Hadits Wa Rijal hal 150 no 882.

Menurut kami pendapat yang paling baik adalah dengan mengambil jalan tengah bahwa ia pada dasarnya tsiqat tetapi terdapat kedhaifan dalam hadisnya sehingga hadisnya dikenal dan diingkari. Oleh karena itu ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud tetapi hadisnya dapat dijadikan penguat.

.

.

.

Setelah itu mari kita mengumpulkan sanad-sanad riwayat Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy di atas selain dari kitab Al Kafiy.

عنه، عن أبيه، عن أبي هاشم الجعفري رفع الحديث قال: قال أبو عبد الله

Darinya [Ahmad bin Muhammad Al Barqiy] dari Ayahnya dari Abi Haasyim Al Ja’fariy, ia merafa’kan hadis, ia berkata Abu ‘Abdullah berkata…[Al Mahasin Ahmad bin Muhammad Al Barqiy 2/332 no 99]

Kamal Ad Din Shaduq

Kamal Ad Din Shaduq hal 295

حدثنا أبي ، ومحمد بن الحسن رضي الله عنهما قالا : حدثنا سعد بن عبد الله وعبد الله بن جعفر الحميري ، ومحمد بن يحيى العطار ، وأحمد بن إدريس جميعا قالوا : حدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي قال : حدثنا أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري ، عن أبي جعفر الثاني محمد بن علي عليهما السلام قال

Telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Muhammad bin Hasan [radiallahu ‘anhuma] keduanya berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Athaar, Ahmad bin Idris, semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy Muhammad bin Aliy [‘alaihimus salaam] yang berkata…[Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah hal 294-295, Syaikh Shaduq]

Ilal Syarai' Shaduq

Ilal Syarai' Shaduq hal 99

حدثنا أبي رضي الله عنه قال : حدثنا سعد بن عبد الله ، عن أحمد بن محمد عن ابن خالد البرقي ، عن أبي هاشم داود بن القاسم الجعفري ، عن أبي جعفر الثاني

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Abdullah dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Khaalid Al Barqiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy…[Ilal Asy Syarai’ Syaikh Shaduq 1/96]

U'yun Akhbar Ridha juz 1

U'yun Akhbar Ridha juz 1 hal 67

حدثنا أبي ومحمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنهما قالا : حدثنا سعد بن عبد الله وعبد الله بن جعفر الحميري ومحمد بن يحيى العطار وأحمد بن إدريس جميعا قالوا : حدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي قال : حدثنا أبي هاشم  داود بن القاسم الجعفري عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهما السلام قال

Telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid [radiallahu ‘anhuma] keduanya berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Athaar, Ahmad bin Idris, semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihimus salaam] yang berkata…[U’yun Akhbar Ar Ridhaa Syaikh Shaduq 1/67]

Dengan mengumpulkan semua sanad riwayat kisah di atas maka didapatkan bahwa terkadang Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari ayahnya dari Abu Haasyim dan terkadang meriwayatkan langsung dari Abu Haasyim. Disini ada dua kemungkinan

  1. Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy melakukan tadlis sehingga terkadang ia meriwayatkan dengan menghilangkan nama ayahnya
  2. Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari Ayahnya dan mendengar langsung pula dari Abu Haasyim

Yang kedua inilah yang benar sebagaimana nampak dalam zhahir riwayat Ash Shaduq dimana Ahmad bin Muhammad meriwayatkan dari Abu Haasyim dengan lafaz “haddatsana” yaitu telah menceritakan kepada kami. Maka kedustaan pertama pencela tersebut ketika ia mengatakan bahwa Al Kulainiy menghilangkan nama ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dalam sanad kitab Al Kafiy. Padahal fakta riwayat menunjukkan bahwa sanad riwayat tersebut ada dua, yaitu Ahmad bin Muhammad Al Barqiy meriwayatkan dari Ayahnya dan Ahmad bin Muhammad Al Barqiy mendengar langsung dari Abu Haasyim. Maka dengan mudah dapat dikatakan bahwa riwayat Al Kafiy memang adalah riwayat Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari Abu Haasyim.

.

.

Terdapat perselisihan soal riwayat Abu Haasyim Dawud bin Qaasim. Dalam Al Mahasin, disebutkan bahwa ia merafa’kan kepada Abu ‘Abdullah. Lafaz merafa’kan di sisi ilmu hadis Syi’ah menunjukkan bahwa memang ada perawi yang tidak disebutkan namanya dalam sanad tersebut [rafa’ disini berbeda maksudnya dengan pengertian rafa’ di sisi Sunni]. Riwayat Al Mahasin berasal dari Muhammad bin Khalid Al Barqiy

Disebutkan oleh Ash Shaduq dalam Ilal Asy Syarai’ bahwa Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari Abu Haasyim dari Abu Ja’far Ats Tsaniy. Maka disini ada dua kemungkinan

  1. Muhammad bin Khalid Al Barqiy keliru dalam menyebutkan sanadnya sehingga hanya salah satu dari sanad tersebut yang benar
  2. Kedua riwayat tersebut benar, yaitu dari Abu ‘Abdullah seperti yang disebutkan dalam Al Mahasin dan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy seperti yang disebutkan Ash Shaduq

Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai kedudukan Muhammad bin Khalid Al Barqiy maka diketahui bahwa terdapat kelemahan dalam hadisnya sehingga pendapat yang rajih adalah kemungkinan pertama yaitu salah satunya yang benar. Untuk menentukan mana yang benar tentu dengan melihat qarinah dari riwayat lain’

.

Riwayat Ash Shaduq yang tidak melalui jalur Muhammad bin Khalid yaitu riwayat dimana Ahmad bin Muhammad Al Barqiy meriwayatkan langsung dari Abu Haaysim juga terjadi perselisihan yaitu terkadang Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy dan terkadang Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Al Baqir. Disini juga ada dua kemungkinan

  1. Salah satu riwayat Abu Haasyim keliru, riwayat Abu Ja’far Ats Tsaniy atau riwayat Al Baqir
  2. Kedua riwayat Abu Haasyim tersebut benar artinya ia meriwayatkan dari Al Baqir juga dari Abu Ja’far Ats Tsaniy

Kemungkinan yang rajih adalah yang pertama, salah satu riwayat Abu Haasyim tersebut keliru dan yang benar adalah riwayat dari Abu Ja’far Ats Tsaniy dengan qarinah sebagai berikut

  1. Abu Haasyim tidak dikenal sebagai sahabat Abu Ja’far Al Baqir bahkan ia tidak menemui masa Al Baqir dan dalam kitab Rijal Syi’ah disebutkan bahwa ia adalah sahabat Abu Ja’far Ats Tsaniy atau Imam Jawad [‘alaihis salaam]
  2. Jika memang lafaz yang dimaksud dalam salah satu riwayat Ash Shaduq adalah Abu Ja’far Al Baqir maka akan disebutkan lafaz “merafa’kan sanadnya” yang menunjukkan bahwa ada perawi lain antara keduanya sebagaimana halnya yang nampak dalam riwayat Al Mahasin

Menurut kami terjadi tashif dalam kitab U’yun Akhbar Ar Ridha tersebut sehingga lafaz yang benar adalah Ats Tsaniy bukan Al Baqir. Bukti nyata akan hal ini adalah Ayahnya Syaikh Shaduq yaitu Ibnu Babawaih Al Qummiy meriwayatkan sanad tersebut dengan menyebutkan lafaz Abu Ja’far Ats Tsaniy

Imamah Wa Tabshirah

Imamah Wa Tabshirah hal 106

سعد بن عبد الله، وعبد الله بن جعفر الحميري، ومحمد بن يحيى العطار، وأحمد بن إدريس، جميعا قالواحدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي، قال: حدثنا أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري، عن أبي جعفر الثاني محمد بن علي عليهما السلام قال

Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Aththaar, dan Ahmad bin Idris semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy Muhammad bin ‘Aliy [‘alaihimas salaam] yang berkata…[Al Imamah Wal Tabshirah, Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy hal 106 no 93]

Hadis di atas menguatkan bahwa pendapat yang rajih mengenai riwayat Ash Shaduq adalah Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy. Dan hadis ini juga menjadi dasar untuk menguatkan bahwa riwayat Muhammad bin Khalid Al Barqiy yang rajih adalah riwayat dalam kitab Ilal Asy Syarai’ yang menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy bukan riwayat dalam Al Mahasin

Maka kedustaan kedua adalah ketika pencela itu mengatakan bahwa Al Kulainiy mengganti nama Imam Abu ‘Abdullah menjadi Abu Ja’far Ats Tsaniy padahal justru yang rajih adalah riwayat yang menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy karena juga terdapat dalam riwayat selain dari Muhammad bin Khalid Al Barqiy.

Seandainya pun pencela tersebut menolak perajihan di atas maka itupun tetap membuktikan kedustaannya karena perselisihan riwayat yang tidak bisa ditarjih hanya menunjukkan bahwa terjadi idhthirab pada sanadnya dan idhthirab ini lebih mungkin dikembalikan kepada Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy atau Abu Haasyim Dawud bin Qaasim. Ini pun juga membuktikan bahwa Al Kulainiy tidaklah mengubah sanad tersebut karena penyebutan Abu Ja’far Ats Tsaniy juga ada dalam riwayat Ash Shaduq.

Kalau dikaji secara keseluruhan maka sanad yang benar memang dengan penyebutan Abu Ja’far Ats Tsaniy. Sebagaimana disebutkan oleh jama’ah dari Ahmad bin Muhammad Al Barqiy yang nampak dalam riwayat Al Kulainiy dan Ash Shaduq. Allamah Al Hilliy mengutip dari Al Kulainiy yang mengatakan

عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن خالد البرقي، فهم علي بن إبراهيموعلي بن محمد بن عبد الله ابن أذينة وأحمد بن عبد الله بن أميةوعلي بن الحسن

Sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy maka mereka adalah Aliy bin Ibrahim, Aliy bin Muhammad bin ‘Abdullah Ibnu Adziinah, Ahmad bin ‘Abdullah bin Umayyah dan Aliy bin Hasan [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 430]

Ada empat perawi dalam riwayat Al Kulainiy dan empat lagi dari riwayat Ash Shaduq yang semuanya meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy dengan menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy. Riwayat ini juga disebutkan Sayyid Haasyim Al Bahraniy dalam Madinatul Ma’aajiz dengan lafaz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Ats Tsaniy [Madinatul Ma’aajiz 3/341-346]. Kesimpulannya memang benar riwayat tersebut berasal dari Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salaam]

Kami tidak membahas kedudukan riwayat tersebut secara detail, apakah ia shahih atau tidak berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah?. Kami hanya ingin menunjukkan kedustaan pencela tersebut dengan analisa murahannya. Sekedar informasi riwayat Al Kafiy ini telah dishahihkan oleh Al Majlisiy dalam Mirat Al Uqul 6/203 dan kami lihat tidak ada masalah dengan penilaian Al Majlisiy.

.

.

.

Dalam kitab ahlus sunnah juga ditemukan fenomena seperti ini dan hanya orang yang pikirannya awam saja yang menyatakan bahwa seorang ulama mengubah sanad pendahulunya hanya karena sanadnya dengan sanad pendahulunya berbeda. Berikut ada hadis yang menyebutkan kalau Zubair tergolong pihak yang zalim ketika memerangi Imam Aliy. Hadis tersebut diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad berikut

Mustadrak juz 3

Mustadrak no 5575

حدثنا بذلك أبو عمرو محمد بن جعفر بن محمد بن مطر العدل المأمون من أصل كتابه ثنا عبد الله بن محمد بن سوار الهاشمي ثنا منجاب بن الحارث ثنا عبد الله بن الأجلح حدثني أبي عن يزيد الفقير قال منجاب : و سمعت فضل بن فضالة يحدث به جميعا عن أبي حرب بن أبي الأسود الديلي قال

Telah menceritakan demikian Abu ‘Amru Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Mathar Al ‘Adl Al Ma’mun dari Ushul Kitab-nya yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Sawaar Al Haasyimiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Munajaab bin Al Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Ajlah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Yaziid Al Faqiir. Munajaab berkata dan aku mendengar Fadhl bin Fadhalah menceritakan dengannya, keduanya [Yazid Al Faqiir dan Fadhl bin Fadhalah] dari Abi Harb bin Abil Aswad…[Mustadrak Al Hakim juz 3 no 5575]

Kemudian mari lihat hadis yang sama diriwayatkan oleh Baihaqiy dimana terjadi perubahan pada sanadnya

Dalail Nubuwah juz 6

Dalalil Nubuwah juz 6 hal 414

أخبرنا أبو بكر أحمد بن الحسن القاضي ، أخبرنا أبو عمرو بن مطر ، أخبرنا أبو العباس عبد الله بن محمد بن سوار الهاشمي الكوفي ، حدثنا منجاب بن الحارث ، حدثنا عبد الله بن الأجلح ، قال : حدثنا أبي ، عن يزيد الفقير ، عن أبيه ، قال : وسمعت الفضل بن فضالة ، يحدث أبي عن أبي حرب بن الأسود الدؤلي ، عن أبيه

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abu ‘Amru bin Mathar yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abbas ‘Abdullah bin Muhammad bin Sawaar Al Haasyimiy Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Munajaab bin Al Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ajlah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Yazid Al Faqiir dari Ayahnya. [Munajab] berkata aku mendengar Fadhl bin Fadhalah berkata telah menceritakan ayahku dari Abi Harb bin Aswad Ad Du’aliy dari Ayahnya… [Dala’il Nubuwah Baihaqiy 6/414].

Al Hakim meriwayatkan dari Abu ‘Amru bin Mathar dari Ushul kitabnya dengan dua sanad yaitu

  1. Munajaab dari Abdullah bin Ajlah dari Ayahnya dari Yaziid Al Faqiir dari Abi Harb bin Abil Aswad
  2. Munajaab dari Fadhl bin Fadhalah dari Abi Harb bin Abil Aswad

Al Baihaqiy dalam kitabnya meriwayatkan dari Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy dari Abu ‘Amru bin Mathar dengan dua sanad berikut

  1. Munajaab dari Abdullah bin Ajlah dari Ayahnya dari Yazid Al Faqiir dari Ayahnya dari Abi Harb bin Abil Aswad dari Ayahnya
  2. Munajaab dari Fadhl bin Fadhalah dari Ayahnya dari Abi Harb bin Abil Aswad dari Ayahnya

Sanad dalam kitab Al Baihaqiy terdapat penambahan kata ayahnya jika dibandingkan dengan sanad dalam Ushul Kitab Abu ‘Amru bin Mathar. Maka apakah itu berarti Baihaqiy mengubah atau mengedit sanad yang asalnya dari kitab Abu ‘Amru bin Mathar pendahulunya.

Mereka yang akrab dengan ilmu hadis tidak akan mengatakan demikian sebelum ada bukti nyata bahwa Baihaqiy mengubah sanad tersebut karena fenomena seperti ini banyak dalam kitab hadis. Hal yang bisa dikatakan disini adalah terdapat kekeliruan pada sanadnya dan siapa yang keliru jelas memerlukan penelitian atau qarinah lebih lanjut.

.

.

Kami pribadi tidak pernah keberatan dengan orang-orang yang mengkritik Syi’ah secara ilmiah. Bagi kami kritikan tersebut menjadi tambahan ilmu yang berguna dalam mencari kebenaran [dalam hal ini tentang Syi’ah]. Yang kami tidak suka adalah orang yang terburu-buru dan mungkin mengedepankan hawa nafsu kebenciannya atau kejahilan akalnya sehingga menghina Syi’ah dengan syubhat murahan yang bahkan hal itu banyak terjadi dalam kitab-kitab pegangan ahlus sunnah. Hal ini menunjukkan secara tidak langsung pencela tersebut juga menghina Ahlus Sunnah.

Dan orang seperti mereka jika kita tunjukkan bantahan atas tulisan mereka akan memandang siapapun yang membantah mereka sebagai antek syi’ah rafidhah, hamba mut’ah, dan celaan lain yang mereka nisbatkan kepada Syi’ah. Apa di dunia ini mereka pikir hanya ada dua jenis manusia yaitu Syi’ah dan Pencela Syi’ah?. Apa mereka hidup di dunia dimana siapapun Pembela Syi’ah maka sudah pasti Syi’ah?. Jika pertanyaan sederhana ini saja tidak bisa mereka pahami dan jawab secara kritis maka kami katakan tidak usah jauh-jauh membuat tulisan ilmiah karena kualitasnya pasti tidak jauh dari analisa murahan atau fitnah semata. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk bagi mereka yang mau menggunakan akalnya

Tafsir Ar Ridha Dari Syaikh Shaduq Penghinaan Terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?

 

Tafsir Ar Ridha Dari Syaikh Shaduq Penghinaan Terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?

Tafsir yang dimaksud adalah tafsir terhadap salah satu ayat Al Qur’an yaitu Al Ahzab ayat 37 dimana diriwayatkan bahwa Imam Ali Ar Ridha [‘alaihis salaam] menjelaskan suatu perkataan yang didalamnya terkandung penghinaan terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Begitulah syubhat yang dilontarkan oleh sang pencela dalam salah satu tulisan di situsnya

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah member nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi [QS Al Ahzab : 37]

.

.

.  U'yun Akhbar Ar Ridha

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 180

قال الرضا عليه السلام: ان رسول الله (ص) قصد دار زيد بن حارثه بن شراحيل الكلبي فيأمر اراده فرأى امرأته تغتسل فقال لها: سبحان الذي خلقك

Ar Ridha [‘alaihis salaam] berkata bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] pergi ke rumah Zaid bin Haaritsah bin Syarahiil Al Kalbiy dalam urusan yang Beliau kehendaki, kemudian Beliau melihat istrinya [Zaid] sedang mandi maka Beliau berkata “Maha suci Allah yang telah menciptakanmu”…[U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 1/180-181]

.

Perkataan Imam Ali Ar Ridha [‘alaihis salaam] di atas telah disebutkan oleh Syaikh Ash Shaduq dalam sebuah riwayat yang panjang dalam kitabnya U’yun Akhbar Ar Ridha, sanad riwayat sebagaimana disebutkan Syaikh Ash Shaduq adalah sebagai berikut

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 174

حدثنا تميم بن عبد الله بن تميم القرشي رضي الله عنه قال: حدثني أبي عن حمدان بن سليمان النيسابوري عن علي بن محمد بن الجهم قالحضرت مجلس المأمون وعنده الرضا علي بن موسى عليهما السلام فقال له المأمون

Telah menceritakan kepada kami Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku dari Hamdaan bin Sulaiman An Naisaburiy dari Aliy bin Muhammad bin Jahm yang berkata aku menghadiri majelis Al Ma’mun dan disisinya ada Ar Ridhaa ‘Aliy bin Musa [‘alaihis salaam], maka Al Ma’mun berkata kepadanya…[U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 1/174]

.

.

Kedudukan riwayat tersebut berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah adalah dhaif karena kedhaifan guru Ash Shaduq yaitu Tamim bin ‘Abdullah.

تميم بن عبد اللهابن تميم القرشي، الذي يروي عنه أبو جعفر محمد بن بابويه، ضعيف،ذكره ابن الغضائري

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, yang telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, dhaif, disebutkannya oleh Ibnu Ghadhaa’iriy [Mu’jam Rijal Al Hadits, Sayyid Al Khu’iy 4/285-286 no 1930]

تميم بن عبد الله بن تميم القرشي، الذي روى عنه أبو جعفر محمد بن بابويه، ضعيف

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, dhaif [Khulashah Al Aqwaal, Allamah Al Hilliy hal 329]

تميم بن عبد الله بن تميم القرشي الذي روى عنه أبو جعفر محمد بن بابويه (غض) ضعيف

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, [Ibnu Ghadha’iriy] dhaif [Rijal Ibnu Dawud hal 234 no 84].

Selain itu ayahnya Tamim bin ‘Abdullah yaitu Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy tidak dikenal kredibilitasnya dalam kitab Rijal Syi’ah atau muhmal. Syaikh Aliy Alu Muhsin berkata mengenai riwayat di atas

Lillah Haqiqah juz 1

Lillah Haqiqah juz 1 hal 105

هذا الخبر ضعيف السند ، فإن من جملة رواته تميم بن عبد الله بن تميم القرشي، فإنه وإن كان من شيوخ الإجازة للصدوق رحمه الله ، وأكثر الصدوق من الترضي عنه، إلا أنه لم يثبت توثيقه في كتب الرجال، بل ضعفه ابن الغضائري والعلاَّمة الحلي وغيرهماومن رواته والد الراوي السابق، وهو مهمل في كتب الرجال

Kabar ini dhaif sanadnya, berasal dari riwayat Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamim Al Qurasyiy dan ia termasuk dalam guru-guru ijazah Ash Shaduq [rahimahullah] dan Shaduq banyak memberikan taradhi kepadanya kecuali bahwa ia tidak tsabit tawtsiq-nya dalam kitab Rijal bahkan ia telah didhaifkan Ibnu Ghadhaa’iriy, Allamah Al Hilliy dan selain mereka berdua, dan riwayatnya ini dari Ayahnya dan ia seorang yang muhmal dalam kitab Rijal [Lillahil Haqiiqah, Sayyid Aliy Alu Muhsin 1/105-106]

.

.

Ash  Shaduq sendiri dalam kitabnya U’yun Akhbar Ar Ridha setelah menuliskan riwayat tersebut, ia melemahkannya dengan kata-kata berikut

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 181

هذا الحديث غريب من طريق علي بن محمد بن الجهم مع نصبه وبغضه وعداوته لأهل البيت عليه السلام

Hadis ini gharib dari jalan Aliy bin Muhammad bin Jahm bersamaan dengan kenashibiannya, kebenciannya dan permusuhannya kepada ahlul bait [‘alaihis salaam] [U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 2/182]

Maka sangat jelas kedhaifan riwayat yang dinukil sang pencela tersebut. Pada hakikatnya ia hanya menyebarkan syubhat seputar masalah ini dengan menukil riwayat dhaif di sisi Syi’ah dan menjadikan riwayat tersebut sebagai dasar untuk mencela Syi’ah.

.

.

.

Seandainya seorang penuntut ilmu atau pencari kebenaran memang bermental jujur dan bersikap objektif maka perkara yang hampir  sama juga ditemukan dalam kitab ahlus sunnah. Terdapat riwayat-riwayat dhaif mungkar yang menceritakan soal Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihiwasallam] dan Zainab binti Jahsy

Tafsir Ath Thabariy juz 19

Tafsir Ath Thabariy hal 116

حدثني يونس قال : أخبرنا ابن وهب قال : قال ابن زيد : كان النبي – صلى الله عليه وسلم – قد زوج زيد بن حارثة زينب بنت جحش ، ابنة عمته ، فخرج رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يوما يريده وعلى الباب ستر من شعر ، فرفعت الريح الستر فانكشف ، وهي في حجرتها حاسرة ، فوقع إعجابها في قلب النبي – صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepadaku Yunus yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu  Wahb yang berkata IbnuZaid berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menikahkah Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy putri bibinya maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] suatu hari berada di depan pintu rumah [Zaid] yang tertutup tirai, kemudian bertiuplah angin mengangkat tirai tersebut sehingga nampaklah ia [Zainab] dalam kamarnya dengan keadaan terbuka [kepala dan tangannya], maka muncullah kekaguman dalam hati Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]…[Tafsir Ath Thabariy 19/116]

.

.

Musnad Ahmad juz 19

Musnad Ahmad no 12511

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلَ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ ، فَرَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ ، فَكَأَنَّهُ دَخَلَهُ لَا أَدْرِي مِنْ قَوْلِ حَمَّادٍ ، أَوْ فِي الْحَدِيثِ ، فَجَاءَ زَيْدٌ يَشْكُوهَا إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : فَنَزَلَتْ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ إِلَى قَوْلِهِ زَوَّجْنَاكَهَا سورة الأحزاب آية 37 ، يَعْنِي زَيْنَبَ

Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismaiil yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Tsaabit dari Anas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dating ke kediaman Zaid bin Haritsah maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat istrinya [Zaid] yaitu Zainab, seolah-olah ia [Zaid] telah menggaulinya, [tidak tahu ini dari perkataan Hammad atau ada dalam hadis], maka datang Zaid mengadukan istrinya, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya “tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah ” [perawi] berkata maka turunlah ayat dan “bertakwalah kepada Allah, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya sampai firmannya Kami nikahkan kamu dengan dia, surat Al Ahzab ayat 37 yakni Zainab [Musnad Ahmad bin Hanbal no 12511]

.

.

Kedua riwayat di atas dhaif mungkar di sisi Ahlus sunnah. Riwayat Ath Thabariy sanadnya dhaif mu’dhal. Ibnu Zaid adalah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam seorang yang dhaif. Bukhariy telah mendhaifkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, An Nasa’iy berkata “dhaif”, Aliy bin Madiniy berkata “tidak ada anak dari Zaid bin Aslam yang tsiqat”. Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya [Al Kamil IbnuAdiy 4/270]. Dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam tidak menemui masa hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka riwayatnya terputus.

Riwayat Ahmad bin Hanbal dhaif karena Mu’ammal bin Ismaiil. Ia telah dinyatakan tsiqat dan shaduq oleh sebagian ulama tetapi bersamaan dengan itu ia juga telah disifatkan dengan banyak kesalahan atau buruk hafalannya. Yahya bin Ma’in menyatakan ia tsiqat, Abu Hatim berkata “shaduq, tegas dalam sunnah, banyak kesalahan dan ditulis hadisnya” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 8/374 no 1079]. Dan dalam riwayat Ahmad di atas terdapat qarinah yang menunjukkan bahwa matan tersebut berasal dari keburukan hafalannya dimana terdapat lafaz “tidak tahu apakah ini berasal dari perkataan Hammad atau ada di dalam hadis”.

.

.

Kesimpulan : Riwayat riwayat dhaif yang mengandung penghinaan terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perkara ini terdapat dalam kitab Syi’ah dan kitab Ahlus Sunnah maka tidak ada alasan untuk menjadikan riwayat-riwayat di atas sebagai dasar mazhab yang satu untuk mencela mazhab yang lain