Tafsir Ar Ridha Dari Syaikh Shaduq Penghinaan Terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?

 

Tafsir Ar Ridha Dari Syaikh Shaduq Penghinaan Terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?

Tafsir yang dimaksud adalah tafsir terhadap salah satu ayat Al Qur’an yaitu Al Ahzab ayat 37 dimana diriwayatkan bahwa Imam Ali Ar Ridha [‘alaihis salaam] menjelaskan suatu perkataan yang didalamnya terkandung penghinaan terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Begitulah syubhat yang dilontarkan oleh sang pencela dalam salah satu tulisan di situsnya

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah member nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi [QS Al Ahzab : 37]

.

.

.  U'yun Akhbar Ar Ridha

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 180

قال الرضا عليه السلام: ان رسول الله (ص) قصد دار زيد بن حارثه بن شراحيل الكلبي فيأمر اراده فرأى امرأته تغتسل فقال لها: سبحان الذي خلقك

Ar Ridha [‘alaihis salaam] berkata bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] pergi ke rumah Zaid bin Haaritsah bin Syarahiil Al Kalbiy dalam urusan yang Beliau kehendaki, kemudian Beliau melihat istrinya [Zaid] sedang mandi maka Beliau berkata “Maha suci Allah yang telah menciptakanmu”…[U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 1/180-181]

.

Perkataan Imam Ali Ar Ridha [‘alaihis salaam] di atas telah disebutkan oleh Syaikh Ash Shaduq dalam sebuah riwayat yang panjang dalam kitabnya U’yun Akhbar Ar Ridha, sanad riwayat sebagaimana disebutkan Syaikh Ash Shaduq adalah sebagai berikut

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 174

حدثنا تميم بن عبد الله بن تميم القرشي رضي الله عنه قال: حدثني أبي عن حمدان بن سليمان النيسابوري عن علي بن محمد بن الجهم قالحضرت مجلس المأمون وعنده الرضا علي بن موسى عليهما السلام فقال له المأمون

Telah menceritakan kepada kami Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku dari Hamdaan bin Sulaiman An Naisaburiy dari Aliy bin Muhammad bin Jahm yang berkata aku menghadiri majelis Al Ma’mun dan disisinya ada Ar Ridhaa ‘Aliy bin Musa [‘alaihis salaam], maka Al Ma’mun berkata kepadanya…[U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 1/174]

.

.

Kedudukan riwayat tersebut berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah adalah dhaif karena kedhaifan guru Ash Shaduq yaitu Tamim bin ‘Abdullah.

تميم بن عبد اللهابن تميم القرشي، الذي يروي عنه أبو جعفر محمد بن بابويه، ضعيف،ذكره ابن الغضائري

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, yang telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, dhaif, disebutkannya oleh Ibnu Ghadhaa’iriy [Mu’jam Rijal Al Hadits, Sayyid Al Khu’iy 4/285-286 no 1930]

تميم بن عبد الله بن تميم القرشي، الذي روى عنه أبو جعفر محمد بن بابويه، ضعيف

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, dhaif [Khulashah Al Aqwaal, Allamah Al Hilliy hal 329]

تميم بن عبد الله بن تميم القرشي الذي روى عنه أبو جعفر محمد بن بابويه (غض) ضعيف

Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy, telah meriwayatkan darinya Abu Ja’far Muhammad bin Baabawaih, [Ibnu Ghadha’iriy] dhaif [Rijal Ibnu Dawud hal 234 no 84].

Selain itu ayahnya Tamim bin ‘Abdullah yaitu Abdullah bin Tamiim Al Qurasyiy tidak dikenal kredibilitasnya dalam kitab Rijal Syi’ah atau muhmal. Syaikh Aliy Alu Muhsin berkata mengenai riwayat di atas

Lillah Haqiqah juz 1

Lillah Haqiqah juz 1 hal 105

هذا الخبر ضعيف السند ، فإن من جملة رواته تميم بن عبد الله بن تميم القرشي، فإنه وإن كان من شيوخ الإجازة للصدوق رحمه الله ، وأكثر الصدوق من الترضي عنه، إلا أنه لم يثبت توثيقه في كتب الرجال، بل ضعفه ابن الغضائري والعلاَّمة الحلي وغيرهماومن رواته والد الراوي السابق، وهو مهمل في كتب الرجال

Kabar ini dhaif sanadnya, berasal dari riwayat Tamiim bin ‘Abdullah bin Tamim Al Qurasyiy dan ia termasuk dalam guru-guru ijazah Ash Shaduq [rahimahullah] dan Shaduq banyak memberikan taradhi kepadanya kecuali bahwa ia tidak tsabit tawtsiq-nya dalam kitab Rijal bahkan ia telah didhaifkan Ibnu Ghadhaa’iriy, Allamah Al Hilliy dan selain mereka berdua, dan riwayatnya ini dari Ayahnya dan ia seorang yang muhmal dalam kitab Rijal [Lillahil Haqiiqah, Sayyid Aliy Alu Muhsin 1/105-106]

.

.

Ash  Shaduq sendiri dalam kitabnya U’yun Akhbar Ar Ridha setelah menuliskan riwayat tersebut, ia melemahkannya dengan kata-kata berikut

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 181

هذا الحديث غريب من طريق علي بن محمد بن الجهم مع نصبه وبغضه وعداوته لأهل البيت عليه السلام

Hadis ini gharib dari jalan Aliy bin Muhammad bin Jahm bersamaan dengan kenashibiannya, kebenciannya dan permusuhannya kepada ahlul bait [‘alaihis salaam] [U’yun Akhbar Ar Ridha, Syaikh Ash Shaduq 2/182]

Maka sangat jelas kedhaifan riwayat yang dinukil sang pencela tersebut. Pada hakikatnya ia hanya menyebarkan syubhat seputar masalah ini dengan menukil riwayat dhaif di sisi Syi’ah dan menjadikan riwayat tersebut sebagai dasar untuk mencela Syi’ah.

.

.

.

Seandainya seorang penuntut ilmu atau pencari kebenaran memang bermental jujur dan bersikap objektif maka perkara yang hampir  sama juga ditemukan dalam kitab ahlus sunnah. Terdapat riwayat-riwayat dhaif mungkar yang menceritakan soal Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihiwasallam] dan Zainab binti Jahsy

Tafsir Ath Thabariy juz 19

Tafsir Ath Thabariy hal 116

حدثني يونس قال : أخبرنا ابن وهب قال : قال ابن زيد : كان النبي – صلى الله عليه وسلم – قد زوج زيد بن حارثة زينب بنت جحش ، ابنة عمته ، فخرج رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يوما يريده وعلى الباب ستر من شعر ، فرفعت الريح الستر فانكشف ، وهي في حجرتها حاسرة ، فوقع إعجابها في قلب النبي – صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepadaku Yunus yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu  Wahb yang berkata IbnuZaid berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menikahkah Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy putri bibinya maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] suatu hari berada di depan pintu rumah [Zaid] yang tertutup tirai, kemudian bertiuplah angin mengangkat tirai tersebut sehingga nampaklah ia [Zainab] dalam kamarnya dengan keadaan terbuka [kepala dan tangannya], maka muncullah kekaguman dalam hati Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]…[Tafsir Ath Thabariy 19/116]

.

.

Musnad Ahmad juz 19

Musnad Ahmad no 12511

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلَ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ ، فَرَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ ، فَكَأَنَّهُ دَخَلَهُ لَا أَدْرِي مِنْ قَوْلِ حَمَّادٍ ، أَوْ فِي الْحَدِيثِ ، فَجَاءَ زَيْدٌ يَشْكُوهَا إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : فَنَزَلَتْ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ إِلَى قَوْلِهِ زَوَّجْنَاكَهَا سورة الأحزاب آية 37 ، يَعْنِي زَيْنَبَ

Telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismaiil yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Tsaabit dari Anas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dating ke kediaman Zaid bin Haritsah maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat istrinya [Zaid] yaitu Zainab, seolah-olah ia [Zaid] telah menggaulinya, [tidak tahu ini dari perkataan Hammad atau ada dalam hadis], maka datang Zaid mengadukan istrinya, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepadanya “tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah ” [perawi] berkata maka turunlah ayat dan “bertakwalah kepada Allah, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya sampai firmannya Kami nikahkan kamu dengan dia, surat Al Ahzab ayat 37 yakni Zainab [Musnad Ahmad bin Hanbal no 12511]

.

.

Kedua riwayat di atas dhaif mungkar di sisi Ahlus sunnah. Riwayat Ath Thabariy sanadnya dhaif mu’dhal. Ibnu Zaid adalah Abdurrahman bin Zaid bin Aslam seorang yang dhaif. Bukhariy telah mendhaifkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, An Nasa’iy berkata “dhaif”, Aliy bin Madiniy berkata “tidak ada anak dari Zaid bin Aslam yang tsiqat”. Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya [Al Kamil IbnuAdiy 4/270]. Dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam tidak menemui masa hidup Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka riwayatnya terputus.

Riwayat Ahmad bin Hanbal dhaif karena Mu’ammal bin Ismaiil. Ia telah dinyatakan tsiqat dan shaduq oleh sebagian ulama tetapi bersamaan dengan itu ia juga telah disifatkan dengan banyak kesalahan atau buruk hafalannya. Yahya bin Ma’in menyatakan ia tsiqat, Abu Hatim berkata “shaduq, tegas dalam sunnah, banyak kesalahan dan ditulis hadisnya” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 8/374 no 1079]. Dan dalam riwayat Ahmad di atas terdapat qarinah yang menunjukkan bahwa matan tersebut berasal dari keburukan hafalannya dimana terdapat lafaz “tidak tahu apakah ini berasal dari perkataan Hammad atau ada di dalam hadis”.

.

.

Kesimpulan : Riwayat riwayat dhaif yang mengandung penghinaan terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perkara ini terdapat dalam kitab Syi’ah dan kitab Ahlus Sunnah maka tidak ada alasan untuk menjadikan riwayat-riwayat di atas sebagai dasar mazhab yang satu untuk mencela mazhab yang lain

Mengapa Neraka Diciptakan? : Kebodohan Nashibi

 

Mengapa Neraka Diciptakan? : Kebodohan Nashibi

Tiada kata yang tepat selain kebodohan. Jika diri memang bodoh maka ada baiknya tidak perlu banyak bicara. Dan jika yang bersangkutan berpura-pura bodoh maka yang nampak hanyalah kedustaan. Itulah gambaran yang tepat untuk tulisan “tidak berharga” alias “fitnah murahan” ala nashibiy terhadap Syi’ah. Nashibi tersebut mengutip salah satu riwayat yang disebutkan oleh salah seorang ulama Syi’ah Allamah Mirza Muhammad Taqiy dalam kitabnya Shahifatul Abraar 1/335.

.

.

Riwayat ini juga dinukil Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 39/247. Asal riwayat tersebut adalah riwayat Ash Shaduq dalam kitab Amaliy

Amali Shaduq

Amali Shaduq hal 466

حدثنا محمد بن أحمد السناني (رضي الله عنه)، قال: حدثنا محمد بن أبي عبد الله الكوفي، قال: حدثنا موسى بن عمران النخعي، عن عمه الحسين بن يزيد، عن علي بن سالم، عن أبيه، عن أبان بن عثمان، عن أبان بن تغلب، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله): قال الله جل جلاله: لو اجتمع الناس كلهم على ولاية علي ما خلقت النار

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad As Sinaaniy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Kuufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muusa bin ‘Imraan An Nakha’iy dari pamannya Husain bin Yaziid dari Aliy bin Saalim dari ayahnya dari Aban bin ‘Utsman dari Aban bin Taghlib dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Allah Jalla Jalaaluhu berfirman seandainya seluruh manusia berkumpul pada Wilayah Aliy maka aku tidak akan menciptakan neraka [Amaliy Ash Shaduq hal 466]

Riwayat Ash Shaduq di atas kedudukannya sangat dhaif di sisi Ilmu Rijal Syi’ah. Ada empat perawi yang bermasalah dalam riwayat di atas yaitu

  1. Muhammad bin Ahmad As Sinaaniy
  2. Aliy bin Saalim
  3. Ayahnya Aliy bin Saalim
  4. Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas

Muhammad bin Ahmad As Sinaaniy yaitu Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Sinaan adalah salah satu dari Syaikh [guru] Ash Shaduq yang mendapat lafaz taradhi [radiallahu ‘anhu] olehnya. Sebagaimana dalam pembahasan khusus yang membahas masalah ini telah kami simpulkan bahwa taradhi Ash Shaduq tidaklah kuat sebagai tautsiq. Muhammad bin Ahmad As Sinaaniy telah dilemahkan oleh Ibnu Ghadha’iriy

محمد بن أحمد بن محمد بن سنان، أبو عيسى نسبه وحديثه مضطرب

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Sinaan, Abu Iisa, nasab dan hadisnya mudhtharib [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 119]

Ibnu Dawud Al Hilliy telah memasukkan Muhammad bin Ahmad As Sinaaniy dalam kitabnya bagian kedua yang memuat perawi dhaif dan majhul [Rijal Ibnu Dawud Al Hilliy hal 269 no 422]. Disebutkan dalam Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits oleh Muhammad Jawahiriy bahwa ia majhul

محمد بن أحمد السنائي: مجهول – من مشايخ الصدوق أكثر الرواية عنه في كتبه مترضيا عليه

Muhammad bin ‘Ahmad As Sinaaniy majhul, termasuk guru Ash Shaduq dimana ia banyak meriwayatkan darinya dalam kitabnya dan memberikan lafaz taradhi kepadanya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 496]

Al Majlisi dalam Al Wajiizah menyatakan bahwa Muhammad bin Ahmad As Sinaany seorang yang dhaif. [Al Wajiizah no 1564]

Aliy bin Saalim adalah Ali bin Abi Hamzaah Al Bathaa’iniy sebagaimana yang disebutkan Sayyid Al Khu’iy bahwa nama Abi Hamzah adalah Saalim [Mu’jam Rijal Al Hadits, 13/37 no 8157]. Aliy bin Abi Hamzaah dia seorang yang dhaif. Disebutkan dalam Rijal Al Kisyiy

محمد بن مسعود، قال: حدثني علي بن الحسن، قال: علي بن أبي حمزة كذاب متهم

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Hasan yang berkata Aliy bin Abi Hamzah pendusta tertuduh [Rijal Al Kisyiy 2/742]

Riwayat Al Kisyiy di atas shahih, Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kisyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]. Aliy bin Hasan bin Fadhl gurunya juga seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 156].

Allamah Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat perawi dhaif [Khulashah Al Aqwaal hal 362]. Ibnu Dawud Al Hilliy juga memasukkannya dalam kitab Rijal-nya bagian kedua yang memuat perawi majruh dan majhul [Rijal Ibnu Dawud Al Hilliy hal 259]. Diantara ulama Syi’ah muta’akahirin yang mendhaifkannya adalah

  1. Sayyid Al Khu’iy menyatakan ia tertuduh pendusta sebagaimana yang dikatakan Ibnu Fadhl [Kitab Thaharah 9/271, Sayyid Al Khu’iy]
  2. Syaikh Al Jawahiriy dalam Jawahir Kalaam menyatakan ia pendusta [Jawaahir Kalam 8/440]
  3. Sayyid Muhammad Shadiq Ruhaniy menyatakan ia dhaif dalam kitabnya Fiqh Ash Shaadiq [Fiqh Ash Shaadiq 26/197]

Adapun ayahnya yaitu Abu Hamzaah yang namanya adalah Saalim disebutkan dalam Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits oleh Muhammad Al Jawahiriy bahwa ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 240]

Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas termasuk perawi yang dhaif dalam Rijal Syi’ah. Allamah Al Hilliy menyebutkannya dalam bagian kedua kitabnya yang memuat perawi yang dhaif dan ia bertawaquf dengannya [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 383]. Ibnu Dawud Al Hilliy juga memasukkannya dalam bagian kedua kitabnya yang memuat daftar perawi majruh dan majhul, ia berkata

عكرمة مولى ابن عباس (كش) ضعيف

‘Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas dhaif [Rijal Ibnu Dawud Al Hilliy hal 258]

Kesimpulannya hadis atau riwayat Ibnu ‘Abbas di atas dhaif dengan kelemahan yang kami sebutkan. Adapun kebodohan yang disebutkan si pencela itu adalah ucapannya bahwa maksud riwayat di atas adalah lakukan apa saja yang kalian suka menyembah kuburan, menuhankan auliya’, membunuh, berzina dan segala dosa asalkan berwilayah kepada Aliy maka tidak akan masuk neraka. Kami heran bagian mana dari hadis di atas yang menyebutkan demikian?.

.

.

.

Silakan bandingkan dengan hadis di sisi mazhab Ahlus sunnah berikut, dan lihat bagaimana jika kita terapkan kebodohan pencela tersebut terhadap hadis yang dimaksud.

Mustadrak Shahihain juz 3

Mustadrak Shahihain no 4712

حدثنا أبو جعفر أحمد بن عبيد بن إبراهيم الحافظ الأسدي بهمدان ثنا إبراهيم بن الحسين بن دبزيل ثنا إسماعيل بن أبي أويس ثنا أبي عن حميد بن قيس المكي عن عطاء بن أبي رباح و غيره من أصحاب ابن عباس عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال يا بني عبد المطلب إني سألت الله لكم ثلاثا أن يثبت قائمكم و أن يهدي ضالكم و أن يعلم جاهلكم و سألت الله أن يجعلكم جوداء نجداء رحماء فلو أن رجلا صفن بين الركن و المقام فصلى و صام ثم لقي الله و هو مبغض لأهل بيت محمد دخل النار

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Ubaid bin Ibrahim Al Hafizh Al Asdiy di Hamdaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Husain bin Dabziil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaiil bin Abi Uwais yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Humaid bin Qais Al Makkiy dari ‘Atha’ bin Abi Rabaah dan selainnya dari sahabat Ibnu ‘Abbas dari Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anhuma] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata wahai bani Abdul Muthalib aku telah memohon kepada Allah untukmu tiga perkara agar Allah menetapkan penegakmu, memberi petunjuk kepada yang sesat dan memberi ilmu kepada yang jahil diantara kamu. Dan aku juga memohon daripadaNya supaya menjadikanmu pemurah, berani, suka membantu dan penyayang. Seandainya seseorang berdiri di barisan antara rukn dan maqam [menunaikan haji], mengerjakan solat dan berpuasa kemudian menghadap Allah dalam keadaan membenci terhadap Ahlul Bait Muhammad maka pasti ia masuk neraka [Mustadrak Al Hakim juz 3 no 4712]

Al Hakim berkata setelah menyebutkan hadis ini “hadis hasan shahih sesuai syarat Muslim dan ia tidak mengeluarkannya”. Adz Dzahabiy menyepakatinya dan berkata “atas syarat Muslim”.

Dari segi sanad secara ilmu hadis Ahlus sunnah maka hadis tersebut sanadnya dhaif karena berdasarkan pendapat yang rajih, Ismail bin Abi Uwais dan ayahnya keduanya dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya.

Mengenai Ismaiil bin Abi Uwais Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya” [Akwal Ahmad no 166]. Nasa’i berkata “dhaif” [Adh Dhu’afa An Nasa’i no 42]. Daruquthni menyatakan ia dhaif [Akwal Daruquthni fii Rijal no 544]. Abu Hatim berkata “tempat kejujuran dan ia pelupa” [Al Jarh Wat Ta’dil 2/180 no 613]. Terdapat perselisihan soal pendapat Ibnu Ma’in

  1. Ad Darimi meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa tidak ada masalah padanya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/323].
  2. Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia shaduq tetapi lemah akalnya [Al Jarh Wat Ta’dil 2/180 no 613].
  3. Muawiyah bin Shalih meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa Ismail bin Abi Uwais dhaif [Adh Dhu’afa Al Uqaili 1/87 no 100]
  4. Ibnu Junaid meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa Ismail bin Abi Uwais kacau [hafalannya], berdusta dan tidak ada apa apanya [Su’alat Ibnu Junaid no 162]
  5. Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Qaasim meriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia dhaif, orang yang paling dhaif, tidak halal seorang muslim meriwayatkan darinya [Ma’rifat Ar Rijal Yahya bin Ma’in no 121]

Penjelasan yang masuk akal mengenai perkataan Ibnu Ma’in yang bertentangan adalah Ibnu Ma’in pada awalnya menganggap ia tidak ada masalah tetapi selanjutnya terbukti bahwa ia lemah akalnya, kacau hafalannya dan berdusta maka Ibnu Ma’in menyatakan ia dhaif dan tidak boleh meriwayatkan darinya.

Ibnu Adiy berkata “ini hadis mungkar dari Malik, tidak dikenal kecuali dari hadis Ibnu Abi Uwais, Ibnu Abi Uwais ini meriwayatkan dari Malik hadis-hadis yang ia tidak memiliki mutaba’ah atasnya dan dari Sulaiman bin Bilal dari selain mereka berdua dari syaikh syaikh-nya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/324]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 395]. Ibnu Hazm berkata “dhaif” [Al Muhalla 8/7]. Salamah bin Syabib berkata aku mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan mungkin aku membuat-buat hadis untuk penduduk Madinah jika terjadi perselisihan tentang sesuatu diantara mereka [Su’alat Abu Bakar Al Barqaniy hal 46-47 no 9]

Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata “shaduq tetapi sering salah dalam hadis dari hafalannya” kemudian dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa ia seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan I’tibar [Tahrir At Taqrib no 460]. Ibnu Hajar dalam Al Fath menyatakan bahwa ia tidak bisa dijadikan hujjah hadisnya kecuali yang terdapat dalam kitab shahih karena celaan dari Nasa’i dan yang lainnya [Muqaddimah Fath Al Bari hal 391]

Adapun Abu Uwais, Ahmad bin Hanbal terkadang berkata “shalih” terkadang berkata “tidak ada masalah padanya atau tsiqat”. Ibnu Ma’in terkadang berkata dhaif al hadits, terkadang berkata shalih, terkadang berkata “tidak kuat”, terkadang berkata shaduq tidak menjadi hujjah. Aliy bin Madiniy berkata “ia di sisi sahabat kami dhaif”. Amru bin Aliy berkata “ada kelemahan padanya dan dia termasuk ahlu shaduq”. Abu Dawud berkata “shalih al hadits”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy berkata “ditulis hadisya”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya, tidak dapat berhujjah dengannya dan tidak kuat”. [Tahdzib Al Kamal 4/180]. Pendapat yang rajih disini adalah Abu Uwais lemah dalam dhabit atau hafalannya sedangkan ia tergolong orang yang shaduq maka hadisnya dhaif tetapi dapat dijadikan mutaba’ah dan syawahid.

Sehingga jika disimpulkan pendapat Al Hakim dan Adz Dzahabiy sebelumnya yang menshahihkan hadis tersebut keliru. Kami berpanjang-panjang mengomentari hadis ini untuk menunjukkan kepada pencela tersebut bahwa dalam penghukuman suatu hadis ada yang namanya kaidah ilmu bukannya main loncat sana loncat sini seenaknya mengutip ulama yang menshahihkan.

Begitu pula hal-nya dalam kitab Syi’ah. Tentu tidak ada gunanya ketika kami telah mendhaifkan suatu hadis berdasarkan kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka pencela tersebut seenaknya mengutip ulama Syi’ah yang menurutnya berhujjah atau menshahihkan hadis tersebut. Jutsru hujjah ulama tersebut yang seharusnya ditimbang dengan kaidah ilmu.

Kembali pada matan hadis riwayat Al Hakim di atas, jika kita menuruti kebodohan pencela tersebut dalam memahami matan hadis Syi’ah sebelumnya dan menerapkannya pada hadis riwayat Al Hakim di atas maka dapat dikatakan bahwa menyembah kuburan, menuhankan auliya’, membunuh, berzina dan segala dosa asalkan tidak membenci ahlul bait maka tidak akan memasukannya ke dalam neraka dan sebaliknya walaupun orang tersebut shalat, puasa, haji tetapi membenci ahlul bait maka ia tetap akan dimasukkan ke dalam neraka

Memegang Kemaluan Tidak Membatalkan Shalat? Versi Syiah & Versi Sunni

 

Memegang Kemaluan Tidak Membatalkan Shalat?  Versi Syiah & Versi Sunni

Seperti biasa nashibi yang terlalu bernafsu mencela Syiah hanya menunjukkan kebodohannya. Ia membawakan riwayat Syiah tentang seorang yang memegang kemaluan ketika shalat dan shalatnya tetap sah kemudian menjadikan riwayat ini sebagai bahan tertawaan padahal riwayat yang sama juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah. Yah ini bukti nyata kalau nashibi ini bukan bagian dari ahlussunnah.

.

.

Berikut riwayat versi Syi’ah yang dikutipnya dari kitab Wasa’il Syi’ah, kami kutip dari kitab Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy

Istibshar Thuusiy

Istibshar juz 1 hal 52

الحسين بن سعيد عن فضالة عن معاوية بن عمار قال: سألت أبا عبد الله (ع) عن الرجل يعبث بذكره في الصلاة المكتوبة؟ فقال: لا بأس

Husain bin Sa’iid bin Fadhaalah dari Mu’awiyah bin ‘Ammaar yang berkata aku bertanya pada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang memainkan dzakar-nya dalam shalat fardhu?. Maka Beliau berkata “tidak apa-apa” [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 6]

عنه عن أخيه الحسن عن زرعة عن سماعة قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن الرجل يمس ذكره أو فرجه أو أسفل من ذلك وهو قائم يصلى أيعيد وضوءه؟فقال: لا بأس بذلك إنما هو من جسده

Telah meriwayatkan darinya dari saudaranya Al Hasan dari Zurarah dari Samaa’ah yang berkata aku bertanya kepada ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang menyentuh dzakar-nya atau farji-nya atau yang terletak di bagian bawah darinya sedangkan ia dalam keadaan shalat, apakah ia harus wudhu lagi?. Beliau berkata “tidak apa-apa dengannya, sesungguhnya itu hanyalah bagian dari tubuhnya” [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 7]

Selain kedua riwayat di atas juga ditemukan riwayat lain yang zhahirnya tampak bertentangan dengan kedua hadis tersebut,

فأما ما رواه محمد بن أحمد بن يحيى عن أحمد بن الحسن بن علي بن فضال عن عمرو بن سعيد عن مصدق بن صدقه عن عمار بن موسى عن أبي عبد الله عليه السلام قال: سئل عن الرجل يتوضأ ثم يمس باطن دبره قال: نقض وضوءه وإن مس باطنإحليله فعليه أن يعيد الوضوء، وإن كان في الصلاة قطع الصلاة ويتوضأ ويعيد الصلاة وان فتح إحليله أعاد الوضوء وأعاد الصلاة

Adapun riwayat Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari Ahmad bin Al Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl dari ‘Amru bin Sa’iid dari Mushadiq bin Shadaqah dari ‘Ammaar bin Muusa dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [‘Ammar] berkata Beliau ditanya tentang seorang laki-laki yang telah berwudhu’ kemudian menyentuh dubur-nya. Maka Beliau berkata“ itu membatalkan wudhu-nya dan jika ia menyentuh lubang kemaluannya maka ia hendaknya mengulang wudhu’nya dan jika [menyentuh dubur] di dalam shalat maka shalatnya batal, hendaknya berwudhu dan mengulangi shalatnya dan jika ia membuka lubang kemaluannya maka hendaknya mengulang wudhu dan shalatnya [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 8]

Sebagian ulama Syi’ah berusaha mengkompromikan riwayat-riwayat di atas, diantaranya Syaikh Ath Thuusiy sendiri dalam Al Istibshaar yang menyatakan bahwa kemungkinan maksud riwayat terakhir itu jika ditemukan adanya najis pada dubur dan lubang kemaluan tersebut sedangkan jika tidak ada maka hukumnya berlaku seperti dua hadis sebelumnya [tidak batal wudhu’ dan shalat].

Atau Muhaqqiq As Sabzawaariy yang menggabungkan riwayat-riwayat tersebut dan menyatakan bahwa riwayat terakhir menunjukkan anjuran atau disunahkan untuk berwudhu’ [Dzakhiirah Al Ma’ad1/15, Muhaqqiq Sabzawariy]

Terlepas dari apa sebenarnya hukum dalam perkara ini di sisi Syi’ah, penulis disini hanya menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak menjadi masalah bagi ulama Syi’ah dan ternyata juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah sebagaimana yang akan ditunjukkan berikut.

.

.

.

Riwayat dengan matan serupa ditemukan dalam kitab hadis ahlussunnah dan telah dishahihkan oleh sebagian ulama ahlussunnah

Shahih Ibnu Hibban juz 3

Shahih Ibnu Hibban no 1121

أخبرنا محمد بن إبراهيم بن المنذر النيسابوري بمكة حدثنا محمد بن عبد الوهاب الفراء حدثنا حسين بن الوليد عن عكرمة بن عمار عن قيس بن طلقعن أبيه أنه سأل النبي صلى الله عليه و سلم عن الرجل يمس ذكره وهو في الصلاة قال لا بأس به إنه لبعض جسدك

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahiim bin Mundzir An Naisabuuriy di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Wahaab Al Faaraa yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waliid dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dari Qais bin Thalq dari ayahnya bahwasanya ia bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihiwasallam] tentang seorang laki-laki yang menyentuh dzakar-nya dan ia dalam keadaan shalat. Maka Beliau berkata “tidak apa-apa dengannya, sesungguhnya itu adalah bagian dari tubuhnya” [Shahih Ibnu Hibban no 1121, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

Kami mengakui bahwa sebagian ulama berselisih mengenai kedudukan hadis ini, ada yang melemahkannya dan ada yang menguatkannya. Pendapat yang rajih adalah hadis tersebut kedudukannya hasan.

.

.

Hadis ini juga diamalkan oleh sebagian sahabat seperti Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Aliy bin Abi Thalib, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud. Berikut contoh atsar riwayat Hudzaifah

Sunan Daruquthniy

Sunan Daruquthni no 547

حدثنا أبو محمد بن صاعد، ثنا أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، نا عبثر، عن حصين، عن سعد بن عبيدة، عن أبي عبد الرحمن قال: قال حذيفة: ما أبالي مسست ذكري في الصلاة، أو مسست أذني

Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hushain ‘Abdullah bin Ahmad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abtsar dari Hushain dari Sa’d bin ‘Ubaidah dari ‘Abu ‘Abdurrahman yang berkata Hudzaifah berkata “sama saja bagiku, aku menyentuh dzakar-ku dalam shalat atau aku menyentuh telinga-ku” [Sunan Daruquthniy no 547]

Atsar ini sanadnya shahih, diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sampai Hudzaifah

  1. Abu Muhammad bin Shaa’idi adalah Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi, seorang imam hafizh, ditsiqatkan oleh Al Khaliliy, Al Baghawiy dan Daruquthniy [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/501-503]
  2. Abdullah bin Ahmad bin Yunus, Abu Hushain adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/295 no 3204]
  3. ‘Abtsar bin Qaasim termasuk perawi Bukhari Muslim yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/294 no 3197]
  4. Hushain bin ‘Abdurrahman termasukperawi Bukhari Muslim yang tsiqat tetapi hafalannya berubah pada akhir hayatnya [At Taqrib Ibnu Hajar 1/170 no 1369] dan periwayatan ‘Abstar dari Hushain telah diambil Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka
  5. Sa’d bin Ubaidah, Abu Hamzah Al Kuufiy perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/232 no 2249]
  6. Abu ‘Abdurrahman As Sulamiy adalah Abdullah bin Habiib bin Rabii’ah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib Ibnu Hajar 1/299 no 3271]

.

.

Dan terdapat hadis yang zhahirnya nampak bertentangan dengan hadis tersebut yaitu hadis Busrah yang menyatakan bahwa harus berwudhu’ jika menyentuh kemaluan.

Sunan Tirmidzi

Sunan Tirmidzi no 82

حدثنا إسحق بن منصور قال حدثنا يحيى بن سعيد القطان عن هشام بن عروة قال أخبرني أبي عن بسرة بنت صفوان : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من مس ذكره فلا يصل حتى يتوضأ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’iid Al Qaththaan dari Hisyaam bin ‘Urwah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku dari Busrah binti Shafwaan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihiwasallam] berkata “barang siapa yang menyentuh kemaluannya janganlah shalat sampai ia berwudhu” [Sunan Tirmidzi no 82, Tirmidzi berkata “hadis hasan shahih”, dishahihkan oleh Al Albaniy]

.

.

Ulama-ulama ahlussunnah mengalami ikhtilaf dalam perkara ini, diantara mereka ada yang menguatkan hadis Busrah dan melemahkan hadis Thalq dan ada juga yang menguatkan hadis Thalq dari pada hadis Busrah. Sebagian ulama lagi berusaha menjamak kedua hadis tersebut dengan menyatakan bahwa wudhu’ karena menyentuh kemaluan hanyalah disunahkan

Majmu Fatawa juz 21

Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah juz 21 hal 241

وَالْأَظْهَرُ أَيْضًا أَنَّ الْوُضُوءَ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ مُسْتَحَبٌّ لَا وَاجِبٌ وَهَكَذَا صَرَّحَ بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ وَبِهَذَا تَجْتَمِعُ الْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ بِحَمْلِ الْأَمْرِ بِهِ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ لَيْسَ فِيهِ نَسْخُ قَوْلِهِ  وَهَلْ هُوَ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْك وَحَمْلُ الْأَمْرُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ أَوْلَى مِنْ النَّسْخِ

Yang nampak [lebih kuat] bahwa berwudhu ketika menyentuh kemaluan hukumnya hanyalah dianjurkan atau disunahkan, tidak wajib. Pendapat ini secara tegas dinyatakan oleh Imam Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat darinya. Pendapat ini telah menjamak berbagai hadis dan atsar [dalam perkara ini] sehingga perintah Nabi bermakna disunahkan [anjuran], tidak ada nasakh terhadap hadis “bukankah itu adalah bagian dari tubuhmu”. Memahami perintah tersebut kepada makna sunnah itu lebih utama daripada nasakh [Majmuu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyyah 21/241]

.

.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah baik di sisi Sunni maupun di sisi Syiah memang terdapat pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan saat shalat tidaklah membatalkan wudhu’-nya dan shalatnya. Jadi apa sebenarnya yang dipermasalahkan nashibi tersebut kecuali kejahilannya terhadap sunnah

Kata Syi’ah : Ayat-ayat “Wahai Orang-orang Beriman” Untuk Aliy bin Abi Thalib

 

Kata Syi’ah : Ayat-ayat “Wahai Orang-orang Beriman” Untuk Aliy bin Abi Thalib

Ada salah satu tulisan yang dimuat oleh sang pencela [baca : nashibiy] dalam situsnya dengan judul di atas. Seperti biasa tulisan tersebut ingin menyudutkan kitab mazhab Syi’ah dengan mengutip riwayat-riwayat yang dalam pandangan penulis tersebut bermasalah. Inilah riwayat yang dikutip penulis tersebut

 

.

عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال: ما أنزل الله تعالى آية في القرآن فيها ” يا أيها الذين آمنوا ” إلا وعلي أميرها وشريفها

Dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa aliihi] bahwasanya Beliau bersabda “Tidaklah Allah menurunkan ayat Al Qur’an yang didalamnya berbunyi “wahai orang-orang beriman” kecuali Aliy sebagai pemimpinnya dan yang paling mulia [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 37/333]

عن جعفر عن أبيه [ عليهما السلام] قال : ما نزل في القرآن ( يا أيها الذين آمنوا ) إلا وعلي أميرها وشريفها

Dari Ja’far dari Ayah-nya [‘alaihimas salaam] “tidaklah turun ayat Al Qur’an “wahai orang-orang beriman” kecuali Aliy sebagai pemimpinnya dan yang paling mulia” [Tafsir Furaat Al Kuufiy hal 49]

وفي صحيفة الرضا عليه السلام: ليس في القرآن ” يا أيها الذين آمنوا ” إلا في حقنا، ولا في التوراة ” يا أيها الناس ” إلا فينا

Dan dalam Shahifah Ar Ridha [‘alaihis salaam] “tidak ada di dalam Al Qur’an ayat “wahai orang-orang beriman” kecuali tentang hak kami dan tidak ada di dalam Taurat ayat “wahai manusia” kecuali tentang kami [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 37/333]

.

.

Kemudian penulis atau pencela tersebut mengutip ayat-ayat Al Qur’an berikut yang menurutnya berdasarkan riwayat di atas ditujukan pada Aliy bin Abi Thalib dan ahlul bait.

يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون

Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan [QS Ash Shaff : 1]

 

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين

wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir [QS Al Maidah : 54]

يا أيها الذين آمنوا لا تقولوا راعنا وقولوا انظرنا واسمعوا وللكافرين عذاب أليم

wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) “Raa’inaa”, tetapi katakanlah “Unzhurnaa”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih [QS Al Baqarah : 104]

يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [QS Al Baqarah : 208]

يا أيها الذين آمنوا لا تخونوا الله والرسول وتخونوا أماناتكم وأنتم تعلمون

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui [QS Al Anfal : 27]

يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari [QS Al Hujurat : 2]

يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرو

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS. Al-Munafiqun : 9]

.

Penulis tersebut mengutip ayat-ayat Al Qur’an di atas sebagai bukti kebathilan dan kontradiksi dalam ajaran Syi’ah. Padahal justru hakikatnya adalah pikirannya yang penuh dengan kebathilan. Jawaban untuk perkara ini berdasarkan keilmuan hadis di sisi Syi’ah adalah sebagai berikut

Pertama : Jika hanya sekedar menukil riwayat tanpa memperhatikan shahih tidaknya riwayat tersebut di sisi Syi’ah [seperti yang dilakukan penulis tersebut] maka silakan perhatikan riwayat berikut

عن ابن عباس: ما نزلت” يا أيها الذين آمنوا ” إلا وعلي أميرها وشريفها. وعنه: ما ذكر الله في القرآن ” يا أيها الذين آمنوا ” إلا وعلي شريفها وأميرها، ولقد عاتب الله أصحاب محمد صلى الله عليه وآله في آي من القرآن وما ذكر عليا إلا بخير

Dari Ibnu ‘Abbas “tidaklah turun ayat “wahai orang-orang beriman” kecuali Aliy sebagai pemimpinnya dan yang paling Mulia  dan darinya “tidaklah disebutkan Allah dalam Al Qur’an “wahai orang-orang beriman” kecuali Aliy yang paling Mulia dan pemimpinnya, dan sungguh Allah telah menyalahkan sahabat Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam Al Qur’an dan tidaklah menyebutkan Aliy kecuali dengan kebaikan [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 36/117]

Maka riwayat di atas menjelaskan bahwa ayat “wahai orang-orang beriman” yang ditujukan kepada Aliy bin Abi Thalib adalah semua ayat yang menyebutkan tentang kebaikan bukan celaan atau menyalahkan.

.

Kedua : jika kita meneliti dengan baik autentisitas riwayat-riwayat yang dikutip penulis tersebut di sisi Syi’ah maka hasilnya adalah sebagai berikut

Riwayat marfu’ dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam kitab Al Bihar dinukil Al Majlisiy dengan sanad berikut

مناقب ابن شهرآشوب: روى جماعة من الثقاة عن الأعمش، عن عباية الأسدي، عن علي عليه السلام، والليث، عن مجاهد، والسدي، عن أبي مالك وابن أبي ليلى عن داود بن علي، عن أبيه، وابن جريح عن عطاء وعكرمة وسعيد بن جبير كلهم عن ابن عباس، وروى العوام بن حوشب عن مجاهد، وروى الأعمش عن زيد بن وهب عن حذيفة كلهم عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال

Manaqib Ibnu Syahr Asyuub : diriwayatkan dari jama’ah tsiqat dari Al A’masyiy dari Ubayah Al Asdiy dari Aliy [‘alaihis salaam] dan Laits dari Mujahid dan As Suddiy, dari Abu Malik dan Ibnu Abi Laila dari Dawud bin Aliy dari ayahnya, dan Ibnu Juraij dari Atha’, Ikrimah, dan Sa’id bin Jubair, Semuanya dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan A’wam bin Hausyab dari Mujahid dan diriwayatkan A’masyiy dari Zaid bin Wahb dari Huzaifah, semuanya dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa aalihi] bahwasanya Beliau bersabda…[Bihar Al Anwar Al Majlisiy 37/333]

Sebagian besar perawi hadis di atas selain penulis kitab Manaqib Ibnu Syahr Asyuub adalah perawi dari kalangan ahlus sunnah maka tidak dikenal kredibilitas mereka di sisi Syi’ah.

Riwayat dari Tafsir Furaat Al Kufiy, disebutkan sanad lengkapnya adalah sebagai berikut

فرات قال : حدثنا جعفر بن علي بن نجيح قال : حدثنا الحسن ـ يعني ابن الحسين ـ عن إسماعيل بن زياد السلمي عن جعفر عن أبيه

Furaat berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Aliy bin Najiih yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan yakni bin Husain dari Ismaiil bin Ziyaad As Sulamiy dari Ja’far’dari Ayahnya [Tafsir Furaat Al Kuufiy hal 49]

Riwayat ini dhaif karena Ja’far bin Aliy bin Najiih syaikh [guru] Furaat bin Ibrahim tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syi’ah, kecuali jika ia adalah orang yang sama dengan Ja’far bin Najiih Al Kindiy maka ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits, hal 115]. Hasan bin Husain adalah Al Uraniy disebutkan dalam Al Mufiid

الحسن بن الحسين العرني: النجار، مدني، له كتاب عن الرجال، عن جعفر بن محمد (ع) قاله النجاشي – مجهول

Hasan bin Husain Al ‘Uraniy An Najjaar penduduk Madinah memiliki kitab tentang Rijal dari Ja’far bin Muhammad sebagaimana yang dikatakan Najasyiy. Ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 137]

Riwayat yang dinukil Al Majlisi dalam Bihar Al Anwar dan disebutkannya dari Shahifah Ar Ridha, maka inilah yang tertulis dalam kitab Shahifah Ar Ridha

وبإسناده قال: قال علي بن أبي طالب عليه السلامليس في القرآن ” يا أيها الذين آمنوا ” إلا في التوراة يا أيها المساكين

Dan dengan sanadnya yang berkata Ali bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] berkata tidak ada di dalam Al Qur’an ayat “wahai orang-orang beriman” kecuali di dalam Taurat disebut “wahai orang-orang miskin” [Shahifah Ar Ridha no 136]

Maka kemungkinan disini Al Majlisiy melakukan kesalahan dalam penukilan matan riwayat. Oleh karena itu riwayat dalam Shahifah Ar Ridha tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara ini.

.

.

Riwayat-riwayat seperti ini juga ditemukan dalam kitab mazhab Ahlus sunnah dan memang kedudukan riwayat tersebut dhaif sama halnya dengan apa yang penulis tersebut kutip dari kitab Syi’ah

حدثنا زيد بن إسماعيل الصائغ ، ثنا معاوية بن هشام ، حدثني عيسى بن راشد ، عن علي بن بذيمة ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، قال : « ما في القرآن آية ( يا أيها الذين آمنوا) إلا أن عليا شريفها وسيدها وأميرها ، وما من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أحد إلا قد عوتب في القرآن إلا علي بن أبي طالب ، فإنه لم يعاتب في شيء منه

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Ismaiil Ash Sha’igh yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Iisa bin Raasyid dari Aliy bin Budzaimah dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata “tidak ada di dalam Al Qur’an ayat “wahai orang-orang beriman” kecuali bahwa Aliy sebagai yang paling Mulia, sayyid-nya dan pemimpin-nya, tidak ada satupun sahabat Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] kecuali ditegur di dalam Al Qur’an selain Aliy bin Abi Thalib, maka sesungguhnya ia tidak pernah ditegur tentang sesuatupun [Tafsir Ibnu Abi Hatim no 13243]

Riwayat ini dhaif karena Iisa bin Rasyiid, Adz Dzahabi menyebutkan tentangnya bahwa ia majhul dan kabarnya mungkar sebagaimana dikatakan Bukhari dalam Adh Dhu’afa Al Kabiir [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabi 3/311 no 6560]

حدثنا محمد بن عمر بن غالب ثنا محمد بن أحمد بن أبي خيثمة قال ثنا عباد بن يعقوب ثنا موسى بن عثمان الحضرمي عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ما أنزل الله آية فيها يا أيها الذين آمنوا إلا وعلي رأسها وأميرها قال الشيخ رحمه الله تعالى لم نكتبه مرفوعا إلا من حديث ابن أبي خيثمة والناس رووه موقوفا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umar bin Ghaalib yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abi Khaitsamah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Ya’quub yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Utsman Al Hadhraamiy dari Al A’masyiy dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tidaklah Allah menurunkan ayat yang di dalamnya ada “wahai orang-orang beriman” kecuali Aliy sebagai ketuanya dan pemimpinnya”. Syaikh [rahimahullahu ta’ala] berkata tidaklah ditulis marfu’ kecuali dari hadis Ibnu Abi Khaitsamah dan orang-orang meriwayatkannya secara mauquf [Hilyatul Auliya Abu Nu’aim 1/64]

Riwayat ini juga dhaif salah satunya karena Musa bin Utsman Al Hadhramiy, Ibnu Ma’in berkata tentangnya “tidak ada apa-apanya”. Abu Hatim berkata “matruk al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/152 no 687].

.

Kesimpulannya riwayat-riwayat tersebut terdapat dalam kitab mazhab Syi’ah dan dalam kitab mazhab Ahlus sunnah dan jika dinilai berdasarkan keilmuan masing-masing mazhab maka riwayat-riwayat tersebut kedudukannya dhaif. Ulah penulis dan pencela tersebut memang menyedihkan dan memang hanya ingin menyebar fitnah murahan terhadap mazhab yang ia benci.

Seluruh Manusia Adalah Anak Pelacur Dan Setan Bersama Mereka Kecuali Syi’ah?

Seluruh Manusia Adalah Anak Pelacur Dan Setan Bersama Mereka Kecuali Syi’ah?

Judul yang mengerikan dan itulah syubhat yang dilontarkan oleh sang pencela dengan mengandalkan riwayat-riwayat dhaif dalam mazhab Syi’ah. Perlu kami ingatkan wahai para pembaca, dalam mazhab Syi’ah juga dikenal Ilmu hadis. Pencela  yang hidup dalam dunianya sendiri, mungkin menganggap ilmu hadis Syi’ah itu sampah dan tidak bisa dibandingkan dengan ilmu hadis Sunni.

Kami tidak menafikan bahwa ilmu hadis Syi’ah dan ilmu hadis Sunni memiliki banyak perbedaan, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tetapi menyatakan ilmu hadis Syi’ah sebagai sampah jelas terlalu berlebihan dan hanya muncul dari orang yang akalnya sudah tertutup dengan kedengkian. Menurut kami ilmu hadis Syi’ah adalah salah satu timbangan yang baik untuk mengukur validitas riwayat-riwayat yang sering dijadikan syubhat oleh para pencela untuk merendahkan Syi’ah.

.

.

Al Kafiy juz 8

Al Kafiy juz 8 hal 154

 

علي بن محمد، عن علي بن العباس، عن الحسن بن عبد الرحمن، عن عاصم بن حميد، عن أبي حمزة، عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: قلت له: إن بعض أصحابنا يفترون ويقذفون من خالفهم فقال لي: الكف عنهم أجمل، ثم قال: والله يا أبا حمزة إن الناس كلهم أولاد بغايا ما خلا شيعتنا

Aliy bin Muhammad dari Aliy bin ‘Abbaas dari Hasan bin ‘Abdurrahman dari ‘Aashim bin Humaid dari Abi Hamzah dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Hamzah] berkata aku berkata kepadanya “sesungguhnya sebagian dari sahabat kami mencela dan menuduh siapa yang menyelisihi mereka”. Maka Beliau berkata kepadaku ”sebaiknya mereka menghentikan hal itu” kemudian Beliau berkata “demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya manusia semuanya adalah anak pelacur kecuali Syi’ah kami”…[Al Kafiy 8/154 no 431]

Riwayat di atas sanadnya dhaif jiddan di sisi ilmu hadis Syi’ah karena di dalam sanadnya terdapat Aliy bin ‘Abbaas dan Hasan bin ‘Abdurrahman. Aliy bin ‘Abbaas Ar Raaziy dikatakan oleh An Najasyiy seorang yang tertuduh ghuluw dan dhaif jiddan [Rijal An Najasyiy hal 255 no 668].

Sedangkan Hasan bin ‘Abdurrahman, di adalah Al Himmaniy sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyid Al Khu’iy bahwa ia meriwayatkan dari Abu Hasan [‘alaihis salaam], ‘Aashim bin Humaid dan Aliy bin Abi Hamzah  dan telah meriwayatkan darinya Aliy bin ‘Abbaas. [Mu’jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu’iy 5/364 no 2900]. Ia seorang yang majhul

الحسن بن عبد الرحمان: الحماني – مجهول – روى عن أبي الحسن موسى بن جعفر (ع) في الكافي

Al Hasan bin ‘Abdurrahman Al Himmaniy majhul, ia meriwayatkan dari Abu Hasan Muusa bin Ja’far [‘alaihis salaam] dalam Al Kafiy [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Hadiits Muhammad Al Jawahiriy hal 143]

Sayyid Aliy Alu Muhsin menegaskan kedhaifan riwayat ini dalam kitabnya Lillaahil Haqiiqah 2/490.

Lillah Haqiqah juz 2

Lillah Haqiqah juz 2 hal 490

.

.

.

عن إبراهيم بن أبي يحيى عن جعفر بن محمد عليه السلام قال: ما من مولود يولد الا إبليس من الأبالسة بحضرته، فان علم الله انه من شيعتنا حجبه عن ذلك الشيطان، وان لم يكن من شيعتنا أثبت الشيطان إصبعه السبابة في دبره فكان مأبونا وذلك أن الذكر يخرج للوجه فان كانت امرأة أثبت في فرجها فكانت فاجرة، فعند ذلك يبكى الصبي بكاءا شديدا إذا هو خرج من بطن أمه، والله بعد ذلك يمحو ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب

Dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Ja’far bin Muhammad [‘alaihis salaam] yang berkata Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali ada satu iblis yang mendatanginya. Jika Allah mengetahui bahwa dia dari Syi’ah kami, maka Allah akan melindunginya dari setan itu. Dan jika bukan dari Syi’ah kami, maka setan akan menancapkan jari telunjuknya di duburnya, lalu ia akan menjadi orang yang buruk, oleh karenanya zakar keluar di depan. Dan jika ia seorang perempuan, setan akan menancapkan jari telunjuknya di kemaluannya sehingga ia menjadi pezina. Di saat itulah seorang bayi akan menangis dengan kencang jika ia keluar dari perut ibunya. Dan setelah itu, Allah akan menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab [Tafsir ‘Ayasyiy 2/234 no 73]

Riwayat di atas sanadnya dhaif karena ketidakjelasan perawi yang meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad [‘alaihis salaam]. Dalam sebagian naskah disebutkan bahwa perawi tersebut adalah Abi Maitsam bin Abi Yahya sebagaimana dikutip dalam catatan kaki dari pentahqiq kitab Tafsir Al ‘Ayasyiy.

Riwayat ini juga dikutip oleh Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar dan disebutkan bahwa perawi tersebut adalah Abi Maitsam bin Abi Yahya. Dalam catatan kaki pentahqiq kitab Bihar Al Anwar disebutkan bahwa ia majhul [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 4/121 no 64]. Tidak jelas disini siapakah ia apakah Ibrahim bin Abi Yahya ataukah Abi Maitsam bin Abi Yahya dan biografinya tidak ditemukan dalam kitab Rijal Syi’ah.

Bihar Al Anwar juz 4

Bihar Al Anwar juz 4 hal 121

Yang kami tidak mengerti adalah apa sebenarnya maksud dari si pencela tersebut mengutip riwayat dalam tafsir Al ‘Ayasyiy di atas. Jika melihat dari judul tulisan yang ia buat, nampak bahwa pencela tersebut memahami riwayat ‘Ayasyiy dengan makna bahwa “setan bersama seluruh manusia kecuali Syi’ah”

.

.

Riwayat yang agak mirip tapi tak sama juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah dan riwayat tersebut shahih

 

Shahih Bukhariy juz 2

Shahih Bukhari no 3286

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Abu Az Zanaad dari Al A’raj dari Abu Hurairah [radiallahu ‘anhu] yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata semua anak adam akan ditusuk setan dengan jarinya pada perutnya ketika dilahirkan kecuali Iisa bin Maryam, setan berusaha menusuknya tetapi ia menusuk pada hijab [Shahih Bukhariy no 3286]

Dan kalau kita gunakan kacamata pencela itu dalam memahami riwayat maka hadis Bukhari di atas akan ia pahami sebagai “setan bersama seluruh manusia kecuali Iisa bin Maryam”. Mari kita lihat, apakah riwayat ini akan ia jadikan bahan untuk mencela Ahlus Sunnah atau ia akan membuat dalih kengeyelan untuk meredakan “kontroversi hati” yang ia alami setelah membaca tulisan ini.

Aqidah Busuk : Para Imam Syiah Adalah Mata, Telinga dan Lisan Allah? Kejahilan Nashibiy

 

Aqidah Busuk : Para Imam Syiah Adalah Mata, Telinga dan Lisan Allah? Kejahilan Nashibiy

Berikut adalah salah satu contoh kejahilan nashibiy dalam memahami makna hadis dan dalam memahami makna kesyirikan. Nashibi sang pencela mengatakan dengan bodohnya bahwa hadis berikut termasuk aqidah syirik dan busuk versi Syi’ah

.

 At Tauhid Shaduq

At Tauhid Shaduq hal 167

أبي رحمه الله، قال: حدثنا سعد بن عبد الله، قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن الحسين بن سعيد، عن فضالة بن أيوب، عن أبان بن عثمان، عن محمد بن مسلم قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: إن لله عز وجل خلقا من رحمته خلقهم من نوره ورحمته من رحمته لرحمته (١) فهم عين الله الناظرة، وأذنه السامعة ولسانه الناطق في خلقه بإذنه، وأمناؤه على ما أنزل من عذر أو نذر أو حجة، فبهم يمحو السيئات، وبهم يدفع الضيم، وبهم ينزل الرحمة، وبهم يحيي ميتا، وبهم يميت حيا، وبهم يبتلي خلقه، وبهم يقضي في خلقه قضيته، قلت: جعلت فداك من هؤلاء؟ قال: الأوصياء

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Husain bin Sa’id dari Fadhalah bin Ayuub dari Aban bin ‘Utsman dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Allah ‘azza wajalla menciptakan dari rahmatnya, menciptakan mereka dari cahaya-Nya dan rahmat dari rahmat-Nya untuk rahmat-Nya. Mereka adalah mata Allah yang melihat, telinga-Nya yang mendengar dan lisan-Nya yang berbicara tentang ciptaan-Nya atas izin-Nya. Para pemegang amanah-Nya atas apa yang diturunkan berupa dalil, peringatan dan hujjah. Karena mereka, Dia menghapus keburukan, karena mereka Dia menghapus kezaliman, karena mereka Dia menurunkan rahmat, karena mereka Dia menghidupkan orang mati, karena mereka Dia mematikan orang hidup. Karena mereka, Dia menguji makhluk-Nya dan karena mereka Dia memutuskan tentang makhluknya dengan keputusan-Nya. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu, siapakah mereka?. Beliau berkata “Para washiy” [At Tauhiid Syaikh Shaduuq hal 167]

Bagaimanakah kedudukan hadis ini berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah?. Berikut keterangan mengenai para perawinya dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  5. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy disebutkan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam hadis dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  6. Aban bin ‘Utsman Al Ahmar adalah seorang yang tsiqat [Al Muufid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 2]
  7. Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy dikatakan An Najasyiy bahwa ia termasuk orang yang paling tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

Ternukil illat [cacat] terhadap sanad ini sebagaimana yang disebutkan An Najasyiy dalam biografi Fadhalah bin Ayuub.

قال لي أبو الحسن البغدادي السورائي البزاز. قال لنا الحسين بن يزيد السورائي: كل شئ تراه الحسين بن سعيد عن فضالة، فهو غلط، إنما هو الحسين عن أخيه الحسن عن فضالة وكان يقول: إن الحسين بن سعيد لم يلق فضالة، وإن أخاه الحسن تفرد بفضالة دون الحسين

Telah berkata kepadaku Abu Hasan Al Baghdadiy As Sawara’iy Al Bazaaz yang berkata telah berkata kepada kami Husain bin Yazid As Sawara’iy bahwa semua yang diriwayatkan Husain bin Sa’id dari Fadhalah maka itu keliru, sesungguhnya Husain hanya meriwayatkan dari saudaranya Hasan dari Fadhalah dan ia mengatakan Husain bin Sa’id tidak bertemu Fadhalah, dan sesungguhnya saudaranya Hasan menyendiri meriwayatkan dari Fadhalah tanpa Husain. [Rijal An Najasyiy hal 311]

Seandainya riwayat yang dinukil An Najasyiy ini shahih maka benarlah hal ini menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan sanad riwayat Ash Shaduq di atas, tetapi Husain bin Yazid dalam riwayat An Najasyiy tidak diketahui kredibilitasnya dan disebutkan dalam Masyaikh Tsiqat bahwa Husain bin Yaziid ini dhaif karena jahalah [tidak dikenal] [Masyaikh Ats Tsiqat hal 39]

Hadis di atas telah dishahihkan oleh Syaikh Aliy Asy Syahruudiy ketika ia menyebutkan biografi Fadhalah bin Ayuub

وفي التوحيد باب 24 معنى العين والأذن بإسناده الصحيح رواية عظيمة مهمة في شؤون الولاية

Dan dalam kitab At Tauhiid bab 24 makna mata, telinga dengan sanad shahih riwayat yang agung dan penting mengenai urusan wilayah [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 6/200]

.

Dalam pandangan nashibi tersebut mungkin matan hadis di atas mengandung kesyirikan karena terdapat lafaz bahwa para washiy menjadi mata telinga dan lisan Allah SWT. Sebenarnya hal ini hanya menunjukkan kerendahan akal nashibiy tersebut dan sebaik-baik bantahan bagi nashibiy tersebut adalah riwayat Shahih Bukhariy yang juga menggunakan lafaz mirip seperti riwayat Ash Shaduq. Silakan perhatikan riwayat berikut

Shahih Bukhari

Shahih Bukhari 6502

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaal yang berkata telah menceritakan kepadaku Syarik bin ‘Abdullah bin Abi Namir dari Atha’ dari Abi Hurairah yang berkata Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah sehingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya pasti akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya pasti akan Kulindungi. [Shahih Bukhariy no 6502]

Menurut kami cara ahlus sunnah memahami hadis Bukhari di atas tidaklah jauh berbeda dengan cara syi’ah memahami hadis riwayat Ash Shaduq sebelumnya. Kalau nashibiy tersebut menghina Syi’ah karena riwayat Ash Shaduq maka patutlah ia juga menghina ahlus sunnah karena riwayat Bukhariy di atas.

.

.

Dan sekedar tambahan, ahlus sunnah memiliki banyak hadis yang lebih aneh, salah satu diantaranya adalah hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad. Hadis tersebut telah dishahihkan oleh sekelompok ulama ahlus sunnah seperti Abu Zur’ah, Ibnu Shadaqah, Ath Thabraniy dan Ibnu Taimiyyah. Pembahasan lengkapnya dapat para pembaca lihat pada tulisan kami disini.

Dan tentunya kalau kita menggunakan akal rendah versi nashibiy tersebut maka dapat dengan mudah dinyatakan bahwa aqidah ahlus sunnah juga aqidah yang busuk. Akhir kata, kerendahan akal dalam memahami matan riwayat sering mengakibatkan kekacauan para nashibiy dalam berhujjah dan menunjukkan kerusakan aqidah mereka. Dan jika mereka punya sedikit kerendahan hati untuk menilai ulang cara pikir akal mereka maka insya Allah mereka akan mendapatkan petunjuk dalam memahami matan riwayat dan memahami apa sebenarnya makna kesyirikan.

Antara Ali dan Mu’awiyah, siapa pengkhianat ? Antara Hasan dan Mu’awiyah siapa pengkhianat ? wajar NU bela syi’ah

http://hakekat.com/content/view/96/ menyatakan sebagai berikut ::

2. 16-03-2011 21:59 Imam HAsan membaiat Muawiyah

Nah ini dia yang biasanya memancing kemarahan syiah …..coba buka telinga lebar lebar untuk para syiahmania…IMAM ALI MEMPERTAHANKAN KEKALIFAHANNYA SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN…NGOTOT AGAR MUAWIYAH MEMBAIAT KEPADANYA…EH ANAKNYA MALAH MENYERAHKAN KEKUASAAN KEKALIFAHAN DAN MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH….IMAM HASAN YANG MAKSUM SAJA MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH …KENAPA SYIAH TIDAK MENGAKUI MUAWIYAH SEDANGKAN IMAM HASAN MEGAKUI???..sudahlah ikuti saja jejak Imam Hasan kembali ke Sunnah Wal Jamaah pasti selamat dunia akhirat……terus dukung Mr Shiaa!

 

Mu’awiyah adil ?? Maka pedomanilah PEMBUNUHAN 30.000 ORANG YANG BERIMAN OLEH BUSR BIN ARTAT DENGAN ARAHAN MUAWIYAH !! MUAWIYA MENGARAHKAN SUPAYA ALI DIKUTUK. !!PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BERIMAN YANG TERKENAL SEPERTI IMAM HASAN, AMMAR HAJAR BIN ADI MALIK ASHTAR DAN MUHAMMAD BIN ABI BAKR ATAS ARAHAN MUAWIYAH bahkan ada KETERANGAN DARI SURAH AL-QURAN DAN HADITH, MUAWIYA DAN YAZID ADALAH TERKUTUK.

Salafi:                  Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla:                    Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Imam Hasan MENYERAHKAN KEKUASAAN KEKALIFAHAN DAN MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH ?? Ah tidak, itu perjanjian damai temporal dengan syarat syarat tertentu. Nah, syarat syarat itu lalu dikhianati Muawiyah

Guru kita Prof. DR. Quraish Shihab berkata : “Ketika masa Sayyidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayyidina Husain”

kenapa kenapa kenapa ?

kenapa awam wahabi setia kepada wahabi  walaupun tau kalau di tipu oleh ustad2 mereka?
jawab : karena hanya di wahabi yang ada ajaran UANG, termasuk hakekat.com.

kenapa ustad wahabi setia kepada wahabi walaupun tau kalau dia itu telah menipu awam wahabi  ?
jawab : karena hanya di syiah yg ustadnya dapat uang riyal:?

quraish-shihab.jpg

.
Prof. DR. Quraish Shihab : “Siapa yang tidak mengagungkan Imam Husain maka diragukan keimanannya.”

qurais-shihab.jpg

.

DR. Quraish Shihab saat menerima tamu dari Iran yang bermadzab Syiah

Jakarta –

qurais-shihab.jpg

kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini

.
“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya
.
Prof. DR. Quraish Shihab : “Siapa yang tidak mengagungkan Imam Husain maka diragukan keimanannya.”
.

DR. Quraish Shihab saat menerima tamu dari Iran yang bermadzab Syiah

Jakarta –

Kita tidak dapat menjangkau seluruh makna arba’în. Kita tidak tahu persis mengapa angka 40 hari itu yang dipilih; bukan 30, bukan 20, bukan juga 100. Tapi yang jelas angka 40 disebut di dalam Al-Quran sebanyak empat kali. Nabi Musa AS tadinya dijanjikan untuk “bertemu” dengan Allah, tapi kemudian Allah menyempurnakannya: … Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam (QS. Al-A’râf [7] : 142). Seorang manusia oleh Al-Quran juga dinyatakan bahwa manusia mencapai kesempurnaannya. Hatta idzâ balagha asyuddahu wa balagha arba’în sannah (QS. Al-Ahqâf [46] : 15). Bani Israil pun yang dihukum Tuhan, disebutkan bahwa mereka dihukum Tuhan tersesat selama 40 tahun.

.

Dalam hadis-hadis pun kita temukan angka 40 itu. Sekian banyak ulama, baik dari mazhab apapun, mengakui sabda Nabi yang menyatakan, “Barang siapa yang menghafal 40 hadis dan memeliharanya, ia akan dibangkitkan kelak dalam kelompok orang-orang alim.” Karena itu dari kalang Sunni misalnya, kita menemukan Imam Nawawi menyusun Al- Arba’în An-Nawawiah. Dalam kalangan Syiah kontemporer Imam Khomeini menulis 40 hadis pilihan. Kita menemukan di dalam hadis misalnya, ada hadis yang menyatakan “Barang siapa yang shalat 40 kali— dalam riwayat lain 40 hari —di Madinah Rasul, maka ia terbebas dari kemunafikan.”

.

Kita menemukan misalnya dalam hukum, 2,5% zakat harta atau 1 bagi setiap 40 ekor binatang; juga menggunakan angka 40. Kelihatannya 40 ini adalah angka kesempurnaan. Jika demikian kalau kita memperingati tokoh yang telah berlalu, yang kita ingin teladani pada masa keempatpuluhnya, maka sebenarnya salah satu yang diharapkan adalah kesempurnaan keteladan kita kepada beliau. Hal kedua yang ingin saya garis bawahi adalah, Allah SWT memerintahkan kita untuk merenung. Berulang-ulang dalam Al- Quran, tidak kurang 200 kali, kata “merenung”, “mengingat” terulang di dalamnya

.

Banyak hal yang perlu direnungkan. Sejak dulu misalnya, Allah berpesan kepada Nabi Musa agar mengingatkan kaummya: Wa dzakkirhum bi ayyâmillâh. Ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah (QS. Ibrâhîm [14] : 5), maka kita dapat berkata, bahwa salah satu hari Allah adalah hari gugurnya Sayyidina Husain. Saya terkadang berpikir, kalau unta atau sapi dijadikan Allah min sya’âirillâhsya’âirillâh? Kalau Ka’bah, al-hadya, al- qalâid (binatang yang dibawa ke Ka’bah untuk disembelih saat haji), semua dinamai Allah sebagai sya’âirillâh, maka heran rasanya kalau ada tokoh, baik yang disebut di dalam Al-Quran maupun yang tidak, selama dia tokoh, heran kalau dia tidak dapat dinilai sebagai salah satu dari sya’âirillâh. (bagian dari syiar-syiar Allah), maka apakah tokoh tidak dapat menjadi salah satu dari sya’airillah?

.
.
Seperti kita baca dalam Al-Quran: Barang siapa yang mengagungkan sya’âirillâh (syiar-syiar Allah) maka sesungguhnya itu adalah tanda ketakwaan dari hati (QS. Al-Hajj [22] : 32). Itu sebabnya kita merayakan maulid Nabi, itu sebabnya kita mengagungkan tokoh-tokoh. Itu sebabnya sebagaimana kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad, sebagaimana kita menyambut tokoh- tokoh yang kita agungkan, kita pun wajar bersedih dalam batas-batas yang dibenarkan agama, dengan kepergian siapa yang mesti kita cintai.

.

Syi’âr – sya’âir – sya’irah seakar dengan kata syu’ûr, rasa. Setiap yang menjadi syiar mesti menimbulkan rasa. Ketika pada hari Idul Adhha misalnya, kita melihat kambing, domba atau sapi yang dijadikan syiar oleh Allah, maka ketika itu dia tidak menjadi syiar kalau dia tidak menjadi tanda kebesaran Allah dan tidak timbul di dalam hati Anda rasa kekaguman akan kebesaran Allah. Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai syiar, maka harus timbul rasa di dalam hati Anda. Rasa hormat, rasa kagum dan boleh jadi rasa menyesal kenapa kita tidak hidup pada masa beliau (Imam Husain) dan ikut berjuang bersama beliau.

.

Hal ketiga yang ingin saya kemukakan, mengapa kita mengagungkan Sayyidina Husain? Tentu akan sangat panjang uraian kalau kita berbicara tentang beliau. Kita hanya bisa menunjuk dengan jari telunjuk; kita tidak dapat merangkul semua dari keistimewaan beliau. Untung kata orang menunjuk ke suatu gunung yang tinggi terkadang lebih mampu untuk menggambarkannya dari pada usaha kedua lengan untuk merangkul dunia ini. Kita hanya ingin menunjuk dan menyinggung sedikit dari banyak yang diakui oleh seluruh muslim, apapun mazhabnya baik Sunni atau Syiah, dan yang terdapat dalam semua kitab menyangkut Sayyidina Husain.

.

Pertama, beliau dan Sayyidina Hasan adalah Sayyid Syabâb Ahli Jannah (Pemimpin Pemuda Penghuni Surga), semua mengakui. Ada hal yang menarik dari dua sosok agung ini. Sepintas terlihat bahwa kepribadiannya bertolak belakang. Sayyidina Hasan mau damai, Sayyidina Husain revolusioner. Kelihatannya bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak bertolak belakang. Semua bersumber dari didikan ayah beliau, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan semua yang dari Imam Ali bersumber dari Rasulullah SAW. Semua diajarkan untuk membela agama dan mempertahankannya sambil melihat kondisi yang sedang dialami.

.

Kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan sudah berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Imam Husain. Ketika masa Sayyidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayyidina Husain.  Kalau begitu, ketika Sayyidina Husain bersedia gugur walau dengan memberi pilihan kepada pengikutnya untuk mundur ketika dikepung, beliau juga dalam perjuangannya bukan menuntut kekuasaan. Yang beliau inginkan ketika itu adalah syu’ûr, rasa, kepekaan terhadap ajaran agama dan nilai-nilainya. Yang beliau inginkan ketika itu adalah tumbuh suburnya ajaran ini yang sejak masa ayah beliau sudah mulai menjauh dari nilai-nilai yang diajarkan Rasul.

.
 Abbas Al-Aqqad, seorang ulama Mesir yang diakui otoritas keilmuannya, menulis dalam buku Abqarîyat ‘Ali mengatakan bahwa kendati Sayyidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi  khalifah setelah Rasul, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum umat menyerahkannya kepada beliau. Ditulis oleh ulama-ulama Syiah, salah satunya di dalam buku Ashlu Syî’ah wa Ushulihâ, bahwa Sayyidina Ali menerima kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar dan Umar, kepimpinan dalam urusan kenegaraan karena beliau melihat bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan jalan Rasulullah. Walaupun dalam buku itu dikatakan beliau tidak menyerahkan soal imamah keagamaan. Sekali lagi saya ingin katakan, ketika Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain dan sebelumnya Sayyidina Ali, beliau tidak pernah berpikir untuk duduk sebagai penguasa. Ini ‘kan suatu ajaran yang perlu kita camkan sekarang ini.

.
Hal terakhir yang saya ingin kemukakan dalam konteks berbicara tentang Imam Husain adalah bahwa beliau, menurut Nabi SAW, adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, penghulu, tokoh yang terutama dari para syuhada. Saya tidak ingin membatasi pengertian syuhada itu hanya dalam arti orang yang gugur membela agama. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahîd. Syahid itu kata yang patronnya bisa berarti objek dan bisa berarti subjek. Syahâdah adalah kesaksian. Kalau dia berarti subjek maka syahîd berati yang menyaksikan, kalau dia berarti objek berarti bahwa beliau yang disaksikan.
.

Keguguran dan darah yang terpancar memang menjadi saksi akan ketulusan perjuangan beliau. Tapi karena kita tidak ingin membatasi arti syahadah hanya pada pengertian gugur di medan juang, itu juga berarti ketika kita menjadikan beliau sebagai syahîd (yang disaksikan), berarti kita ikut menyaksikan dihadapan Allah berdasarkan pada pengetahuan kita bahwa beliau tokoh dan di sisi lain kita menyaksikan beliau sebagai teladan kita dalam hidup. Itu sebabnya dalam Quran disebutkan: Wa kadzâlika ja’alnâkum ummatan wasatha litakûnû syuhadâ ‘alâ an-nâs wa yakûna ar- rasûl ‘alaikum syahîda. Dan Kami telah menjadikan kalian umat pertengahan agar kamu menjadi teladan-teladan atas manusia, sedang Rasul adalah teladan kamu (QS. Al-Baqarah [2] : 143)

.

Mengapa saya berkata begitu? Karena kita tidak pernah berkata bahwa hidup ini hanya di dunia; kita berkata hidup di dunia ini adalah perjuangan sepanjang masa. Kita perlu teladan- teladan yang baik, dan keteladan Imam Husain itu berlanjut hingga sekarang. Itu sebabnya tadi dikatakan sampai sekarang masih jutaan orang berkunjung ke Karbala, sampai sekarang saya tahu persis di Mesir, Masjid Imam Husain itu dikunjungi orang; yang berkunjung bukan hanya orang Syiah tapi juga Sunni yang mengelilingi bagaikan bertawaf di sana. Mengagungkan Imam Husain karena perjuangannya sehingga kita dapat berkata, “Siapa yang tidak mengagungkan beliau (Imam Husain) maka diragukan keimanannya.” Aqûlu qauli hadzâ wastaghfirullâh lî walakum. (Deleteisrael/ICC.doc)

.

Sumber: Ceramah disampaikan oleh Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam acara Peringatan Arbain Imam Husain di Islamic Cultural Center, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 2009 (20 Shafar 1430 H).

Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak melakukan perlawanan seperti saudaranya?
.
Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak bangkit melawan Bani Umayyah sementara beliau mampu melakukan hal itu? Dan satu-satunya imam yang bangkit melakukan perlawanan adalah Imam Husain As. Apa saja yang menjadi dalil kebangkitan Imam Husain As melawan Bani Umayyah?
.
Jawaban Global
Setiap kejadian sejarah harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan pelbagai kondisi dan situasi politik yang berkembang pada zamannya.Tindakan pertama Imam Hasan As setelah naiknya ke tampuk pemerintahan adalah menyiapkan pasukan untuk menghadapi eskalasi pasukan Muawiyah.  Namun sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat Imam memilih berdamai dan menghindar melanjutkan perang setelah menimbang seluruh sisi persoalan yang terdapat pada dunia Islam. Di samping itu dengan memperhatikan kemampuan dan kekuataan militer pemerintahannya apabila angkat senjata berhadapan dengan Muawiyah maka diputuskan untuk berdamai dan tidak melanjutkan perang lantaran ini tidak memberikan maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin.Sejarah menunjukkan bahwa pertama, Imam Hasan As,  lantaran tidak memiliki penolong dan panglima-pangliman yang tulus, beliau tidak memiliki peluang untuk meraih kemenangan militer melawan Muawiyah dan para antek-anteknya. Kedua, dalam kondisi seperti ini hasil perang dengan Muawiyah tidak akan memberikan keuntungan bagi dunia Islam. Ketiga, peperangan Imam Hasan melawan Muawiyah  kemungkinan hasilnya adalah terbunuhnya Imam Hasan di tangan Muawiyah dan hal itu bermakna kekalahan sentral kekhalifaan kaum Muslimin.Adapun situasi dan kondisi yang berkembang pada masa Imam Husain As sama sekali berbeda dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Imam Hasan As. Lantaran orang-orang pada masa ini sudah muak dengan kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah. Mereka ingin berbaiat kepada Imam Husain As dan meminta beliau untuk datang ke Kufah untuk membentuk pemerintahan. Demikian juga,  orang yang berhadapan dengan Imam Husain As adalah Yazid yang sama sekali tidak mengindahkan hukum-hukum dan aturan-aturan Islam dan baiat Imam Husain As kepada Yazid bermakna menerima secara resmi kezaliman, kejahatan, kemungkaran dan kehancuran Islam.Karena itu, perdamaian (sulh) Imam Hasan dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As adalah dua peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam sejarah. Keduanya harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masa keduanya. Apabila tidak demikian dalam pandangan kami keduanya adalah imam dan keduanya terjaga dari segala jenis kesalahan dan kekeliruan. Apabila sekiranya Imam Husain yang menjadi pengganti dan khalifah Imam Ali As menduduki jabatan imamah maka beliau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh saudaranya Imam Hasan As.

Jawaban Detil

Pada hakikatnya Islam adalah agama rahmat, perdamaian dan kedamaian. Sejarah Islam dan peri kehidupan Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As adalah penjelas hal ini. Tentu terkait dengan hal-hal yang mendesak dan memaksa Rasulullah Saw atau para Imam Maksum untuk berperang dan perang itu pun lebih bercorak defensif (membela diri) ketimbang ofensif (memulai peperangan) harus dikecualikan dalam hal ini.

Demikian juga Imam Hasan As tatkala naik tampuk kekhalifahan, beliau berhadapan dengan penentangan dan eskalasi pasukan Muawiyah (yang ingin memulai peperangan). Karena itu, Imam Hasan menyiapkan pasukan untuk membela dan melawan pasukan Muawiyah. Namun selanjutnya, dengan memperhatikan kondisi yang berkembang, Imam Hasan terpaksa memilih berdamai dan membela Islam dengan cara yang lain.[1]

Adapun terkait dengan sebab perdamaian (sulh) Imam Hasan As dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As harus dikatakan bahwa keduanya adalah peristiwa sejarah yang merupakan akibat dari pelbagai situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masanya. Dua peristiwa ini harus dikaji dan ditelusuri dengan memperhatikan tuntutan pelbagai situasi dan kondisi yang terdapat pada masa Imam Hasan As dan Imam Husain As.

Dalam pandangan kami (Syiah) Imam Hasan As dan Imam Husain As keduanya adalah imam dan terjaga (maksum) dari kesalahan dan kekeliruan. Rahasia mengapa Imam Hasan memilih berdamai (sulh) dan mengapa Imam Husain As memilih angkat senjata (qiyam) terletak pada perbedaan situasi sosial dan politik yang berkembang masing-masing pada zamannya yang akan disinggung sebagian sebagaimana berikut ini:

1.     Apa yang pasti dalam sejarahadalah bahwa Muawiyah merupakan seorang licin dan licik. Ia secara lahir mengamalkan hukum-hukum Islam hingga batasan tertentu. Berbeda dengan Yazid yang tidak hanya memiliki permusuhan dengan Islam pada pemerintahannya namun juga menampakkan permusuhan ini secara telanjang. Tidak satu pun dari amalan-amalan dan nilai-nilai suci Islam yang diamalkan dan dijunjung tinggi.[2] Atas dasar inilah, Imam Husain As, pada masa pemerintahan Muawiyah, menerima surat-surat dari penduduk Irak untuk angkat senjata dan bangkit melawan Muawiyah. Namun Imam Husain tidak angkat senjata dan bangkit mengusung perlawanan. Imam Husain As bersabda, “Hari ini bukanlah hari untuk mengusung perlawanan. Semoga Allah Swt merahmati kalian. Sepanjang Muawiyah hidup janganlah kalian bertindak dan tetaplah di rumah-rumah kalian.”[3]

2.     Bermunculannya kekuatan-kekuatan Khawarij dan tiadanya penolong tulus serta panglima-panglima yang rela berkorban bagi Imam Hasan As.[4] Dan juga, karena kelemahan internal yang telah membuat kemampuan dan kekuatan militer Imam Hasan menjadi lemah. Di samping itu, orang-orang enggan dan tidak suka untuk terlibat dalam peperangan melawan Muawiyah.[5] Imam Hasan As, terkait dengan sebab-sebab perdamaian dengan Muawiyah, bersabda, “Melihat banyak orang memilih untuk berdamai dan enggan untuk berperang (karena itu) aku tidak ingin mendesakkan sesuatu yang kalian tidak sukai.” Oleh itu, untuk menjaga jiwa – sebagian kecil – Syiahku, aku memilih berdamai.”[6]

3.     Imam Hasan As adalah khalifah kaum Muslimin. Peperangan Imam Hasan As dengan Muawiyah dan (kemungkinan) terbunuhnya beliau di tangan lasykar Muawiyah adalah kekalahan sentral kekhalifahan kaum Muslimin. Meminjam tuturan Muthahhari “Bahkan Imam Hasan As menghindar untuk tidak terbunuh dengan cara seperti ini guna menghindari citra bahwa seseorang yang duduk menggantikan Rasulullah Saw dan menjabat sebagai khalifah terbunuh.” [7] Dengan alasan yang sama, Imam Husain tidak rela terbunuh di Mekkah; karena dengan terbunuhnya beliau di Mekkah maka kehormatan Mekkah akan hilang. Karena itu, kondisi yang dihadapi Imam Hasan As menuntut untuk tidak berperang dan perdamaian merupakan sebuah taktik dan strategi yang penting untuk mengurus kepentingan kaum Muslimin dan penguatan fondasi-fondasi pemerintahan Islam.

Karena itu, kami meyakini bahwa apabila Imam Husain berada pada posisi Imam Hasan As maka pastilah beliau akan melakukan hal yang sama.

Bukti atas pandangan ini adalah bahwa pasca perdamaian Imam Hasan As sebagian orang datang menghadap Imam Husain As dan berkata bahwa kami tidak menerima perdamaian. Apakah kami harus berbaiat kepada Anda? Imam Husain As menjawab, “Tidak! Aku mengikuti apa pun yang dilakukan oleh saudaraku Hasan As.”[8]

Adapun dalil-dalil berikut ini adalah kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As persis berkebalikan dengan kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan As:

1.     Perbedaan asasi antara kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As pada masa Imam Hasan As yang berujung pada kebangkitan Imam Husain As adalah bahwa Yazid meminta baiat dari beliau dan baiat Imam Husain As kepada Yazid – yang sama sekali tidak mengamalkan hukum-hukum lahir Islam dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam– bermakna menerima secara resemi kezaliman, kejahatan, kerusakan dan kemungkaran dan seterusnya. Hal ini sama saja dengan kehancuran Islam. Berbeda dengan Muawiyah yang tidak menuntut baiat dari Imam Husain dan salah satu materi surat perjanjian damai adalah tiadanya tuntutan baiat dari Muawiyah kepada Imam Hasan As.

2.     Orang-orang yang tadinya tidak ingin berperang pada masa Imam Hasan As melawan Muawiyah,[9] menyatakan muak dengan pelbagai kejahatan dan kezaliman yang dilakukan Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya. Dan Kufah yang kurang-lebihnya adalah sebuah kota menyatakan telah siap untuk membentuk pemerintahan bagi Imam Husain As dan hal ini merupakan hujjah bagi Imam Husain untuk bereaksi dan bertindak.[10]

3.     Faktor terpenting kebangkitan Imam Husain As adalah faktor amar makruf dan nahi mungkar.

Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya, beramal bertentangan dengan Islam, bertindak zalim dan berbuat kejahatan. Ia merubah hukum-hukum Islam, menghambur-hamburkan baitul mal, menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa, tidak mematuhi surat perjanjian damai, tidak mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Demikian juga setelah Muawiyah adalah putranya Yazid, peminum khamar dan gemar bermain dengan anjing. Ia memperkenalkan dan mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Hal ini telah menyebabkan Imam Husain untuk bangkit sebagai kewajibannya menunaikan amar makruf dan nahi mungkar. Sementara kondisi Muawiyah ini belum lagi terbongkar bagi masyarakat pada masa Imam Hasan As. Dan boleh jadi atas dasar ini orang-orang berkata, “Perdamaian Imam Hasan As adalah persiapan bagi kebangkitan Imam Husain As.” Artinya isi perjanjian damai yang dilampirkan oleh Imam Hasan As menjadikan jalan untuk mengecoh dan menipu bagi Muawiyah tertutup. Meski Muawiyah sebelumnya mematuhi isi perjanjian damai tersebut, namun hal ini tidak lain merupakan pendahuluan bagi terbongkarnya kedok Muawiyah bagi masyarakat Islam dan kebangkitan Imam Husain As melawan Yazid putra Muawiyah.

Sebagian isi surat perjanjian damai Imam Hasan adalah:

1.     Muawiyah beramal sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

2.     Urusan kekhalifaan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada Imam Hasan As dan apabila terjadi sesuatu dan lain hal maka didelegasikan kepada Imam Husain As.

3.     Cacian dan pencitraan buruk Ali As harus dilarang pada mimbar-mimbar dan shalat-shalat.

4.     Muawiyah harus menutup mata dari baitul mal Kufah yang memiliki perbendaharaan sebanyak lima juta Dirham.

5.     Kaum Muslimin dan orang-orang Syiah harus aman dari gangguan dan kejahatan.

Dari isi surat perjanjian damai ini dapat disimpulkan dengan baik bahwa Imam Hasan As sekali-kali tidak berada pada tataran ingin menguatkan kekhalifaan Muawiyah, melainkan hanya untuk menjaga kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin. Itu pun dilakukan karena sesuai dengan tuntutan kondisi sosial masyarakat Islam.

Karena itu, dengan memperhatikan pelbagai situasi dan kondisi yang berkembang di tengah masyarakat Islam pada masa Imam Hasan As dan sebagai khalifah Imam Hasan berdamai dengan Muawiyah. Karena adanya tuntutan situasi dan kondisi yang beragam dan berbeda, oleh itu, situasi dan kondisi sosial-kemasyarakatan pada masa Imam Hasan As menuntut adanya perdamaian (sulh) dan pada Imam Husain adalah kebangkitan (qiyâm). [IQuest]

UNtuk telaah lebih jauh silahkan lihat Sairi dar Sirah Aimmah Athar, karya Murtadha Muthahhari, hal. 51-97.


[1]Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[2]. Ibid, hal. 319.

[3].  I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As, Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[4]. Mereka berkata, “Imam As memilih empat panglima pasukan dan Muawiyah menarik keempat panglima tersebut dengan menyogok mereka.” Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[5]. Meletusnya tiga peperangan, Jamal, Shiffin, Nahrawan, pada masa Imam Ali As, telah menciptakan kelelehan dan frustasi untuk kembali berperang (dengan Muawiyah) di kalangan penolong Imam Hasan As.

[6]I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As,  Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[7]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 77.

[8]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 96.

[9]. Imam Hasan As pada akhir khutbah yang beliau sampaikan meminta pendapat dari masyarakat terkait dengan kelanjutan perang. Mereka berteriak dari pelbagai sisi bahwa kami ingin tetap hidup. Kalau begitu tanda tanganilah surat perjanjian damai itu. Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[10]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 81.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.

Saya akan berikan lagi ayat al-Quran sebagai tambahan dan hadith sahih dari ulama sunni supaya kamu jangan tersalah faham mengenai perkataan ‘sahabat’. Perkataan ini telah digunakan untuk semua sahabat, sama ada mereka muslim ataupun kafir.

[1] Di dalam surah Najm [bintang], Allah berkata kepada yang kafir, ‘Sahabat kamu tidak membuat salah, dan tidak juga sesat.’ [53:2]

[2] Di dalam surah Saba [Sheba] Allah berkata, ‘Katakan, aku menyuruh kamu pada satu perkara, bahawa kamu bangun untuk Allah secara berpasangan atau sendirian, kemudian fikirkan; sahabat kamu tidak dirasuk.’ [34:46]

[3] Di dalam surah Kahf [Gua] Allah berkata, ‘dan berkata ia kepada sahabatnya sedang ia berselisih dengan dia: Saya punyai harta yang lebih dari kamu dan lebih ramai pengikut.. ‘ [18:34]

[4] di dalam surah yang sama, Allah berkata, ‘Sahabatnya berkata kepada dia sedang ia berselisih dengan dia: Adakah kamu percaya kepada Dia, yang menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitik mani, kemudian Dia menjadikan kamu manusia yang sempurna.’ [18:37]

[5] Di dalam surah al-A’raf [tempat yang ditinggikan], Allah berkata, ‘Tidakkah mereka bayangkan bahawa sahabat mereka bukannya gila? Dia hanya sekadar memberi peringatan.’ [7:184]

[6] Di dalam surah An’am [ternakkan], Allah berkata, ‘Katakan: haruskan kita memanggil selain dari Allah, yang tidak memberi faedah kepada kami amhupun menganiaya kami, dan haruskan kami berpatah kebelakang setelah Allah membimbing kami, seperti mereka yang syaitan telah membuat mereka jatuh kebinggongan didunia. Dia mempunyai sahabat yang mengajak kepada jalan yang benar [berkata], ‘Marilah kepada kami’ Katakan sesungguhnya petunjuk Allah, adalah petunjuk yang benar, dan kita diarah supaya menyerah kepada tuhan alam ini.’ [6:71]

[7] Di dalam surah Yusuf, dia berkata, ‘[Yusuf berkata kepad dua orang sahabatnya yang kafir] Wahai sahabat aku di penjara berdua! Adakah banyak tuhan lebih baik dari Allah, yang satu, yang berkuasa?’ [12:39]

Ini adalah beberapa ayat yang saya telah sampaikan sebagai contoh. Adalah jelas bahawa perkataan ‘sahaba’, ‘sahib’ ‘musahib’ dan ‘ashab’ tidak mempunyai kaitan khusus kepada muslim. Ianya digunakan kepada muslim dan bukan muslim sama sahaja. Sebagaimana saya telah katakan, sesaorang yang mempunyai hubungan sosial dengan seorang yang lain dipanggil musahib atau ashab. Sahabat nabi dirujuk kepada mereka yang mempunyai hubungan sosial dengan diri baginda.

Sudah pasti diantara para sahabat nabi dan diantara mereka yang duduk-duduk dalam kumpulannya, terdapat segala jenis manusia, baik dan jahat, yang beriman dan juga hipokrit. Ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat tidak boleh dikatakan untuk mereka semua. Ianya hanya merujuk kepada sahabat yang baik. Adalah benar bahawa tidak ada nabi yang terdahulu mampunyai sahabat yang terkenal seperti yang ada kepada nabi kita. Sebagai contoh sahabat pada Badr, Uhud dan Hunain yang telah berdiri teguh dengan berlalunya dugaan masa. Mereka telah menolong nabi dan teguh dengan keputusan.

Tetapi diantara sahabatnya terdapat beberapa orang yang berperangai buruk, musuh kepada nabi dan ahli baytnya, manusia seperti Abdullah bin Ubayy, Abu Sifyan, Hakam bin As, Abu Huraira, Thalabi, Yazid bin Sufyan, Walid Bin Aqaba, Habib Bin Musailima, Samra Bin Jundab, Amr Bin As, Busr Bin Artat (seorang zalim yang hauskan darah manusia), Mughira Bin Sha’ba, Mu’awiya Bin Abi Sufyan, and Dhu’s-Sadiyya. Manusia ini, semasa hidup nabi dan juga setelah nabi wafat, telah memyebabkan bencana yang besar kepada manusia. Seorang yang seperti itu adalah Muawiya, yang nabi telah kutuk masa hidup baginda. Setelah wafatnya nabi, apabila Muawiya mempunyai peluang, dia bangun memberontak dengan nama mencari pembalasan terhadap pembunuhan Uthman dan telah menyebabkan pertumpahan darah yang banyak diantara muslim. Di dalam pembunuhan ini ramai dari sahabat nabi yang terhormat, seperti Ammar Yasir telah terbunuh syahid. Nabi sendiri telah meramalkan akan syahidnya. Saya telah sampaikan hadith mengenai kejadian itu.

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Terdapat banyak ayat dari al-Quran dan hadith yang memuji sahabat yang terkenal dan wara serta beriman. Dan terdapat juga banyak ayat dan hadith yang mengutuk para sahabat yang keji.

Salafi:                    Bagaimana kamu boleh mengatakan bahawa sahabat nabi menyebabkan kekacauan umum?

Ustad Husain Ardilla:                    Ini bukan sahaja kata-kata saya. Allah di dalam sura ahli Imran berkata: ‘Jika dia [Muhammad] mati atau terbunuh, adakah kamu akan berpaling semula?’ [3:144]

Selain dari itu dan ayat yang lain dari al-Quran, Ulama kamu, termasuk Bukhari, Muslim, Ibn Asakir, Yaqub Bin Sufyan, Ahmad Bin Hanbal, Abdu’l-Bar, dan lainnya telah merakamkan laporan dan hadith mengenai kutukan terhadap sebahagian sahabat. Saya akan merujuk hanya dua hadith. Bukhari menyatakan dari Sahl Ibn Sa’d dan Abdullah Ibn Mas’ud bahawa nabi Allah berkata, ‘Saya akan menunggu kamu dipancutan Kauthar. Apabila sekumpulan dari kamu telah sesat dari jalan saya. Saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Mereka semua adalah sahabat saya!’ Kemudian jawapan dariNya akan sampai kepada saya, ‘Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka telah adakan selepas kamu.’

Dan lagi Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Tabrani di dalam Kabir, dan Abu Nasr Sakhri di dalam Ibana menyampaikan dari Ibn Abbas bahawa nabi berkata, ‘Saya hendak menyelamatkan kamu dari siksaan neraka. Saya meminta kamu takutlah kepada neraka dan janganlah membuat perubahan pada agama Allah. Apabila saya mati dan berpisah dengan kamu, saya akan berada dipancutan Kauthar. Sesiapa yang sampai kepada saya disana selamat. Dan pada penghujung masa apabila saya dapati ramai dari manusia di dalam siksaan tuhan, saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Ini adalah manusia dari ummah saya,’ Jawapannya akan sampai, ‘Sesungguhnya, mereka ini kebali kebelakang sesudah kamu.’ Menurut dari kenyataan Tabrani di dalam Kabir, jawapannya adalah, ’Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka adakan selepas kamu. Mereka menerima agama mereka yang terdahulu.’

ABU TALIB SEORANG YANG KUAT BERIMAN.

Kamu menekankan bahawa Muawiya dan Yazid adalah muslim walaupun banyak kesalahan mereka telah dirakamkan di dalam buku kamu. Sebahagian dari ulama sunni menulis sebuah buku mengenai kutukan terhadap mereka, tetapi kamu masih berkeras mengatakan bahawa mereka berhak dipuji dan bahawa Abu Talib yang beriman tulus kamu katakan kafir.

Memang dapat dilihat kata-kata begini adalah hasil dari kebencian terhadap Amirul-Mukminin Ali. Kamu cuba membantah hujah yang membuktikan kekafiran dan hipokritnya Muawiya dan Yazid. Dan bahkan kamu menolak kenyataan Abu Talib secara terbuka mengenai imannya kepada Allah dan nabi.

BUKTI TAMBAHAN TERHADAP IMAN ABU TALIB.

Bukankah ianya satu fakta bahawa ahli bayt nabi telah mengatakan bahawa Abu Talib adalah seorang yang beriman dan dia mati sebagai yang beriman? Tidakkah Asbagh Bin Nabuta, seorang yang dipercayai, telah menyampaikan dari Amirul-Mukminin bahawa dia berkata, ‘Saya bersumpah dengan Allah bahawa bapa saya, Abu Talib, datuk saya Abdul-Muttalib Hashim dan Abdul-Munaf tidak pernah menyembah berhala.’

Adakah wajar bahawa kamu menolak kenyataan Ali dan ahli bayt yang suci dan memberikan kepujian kepada kenyataan yang terkutuk Mughira, Amawis, Khariji, Nasibi dan musuh-musuh lain Amirul-mukminin.

JAFAR TAYYAR MEMELUK ISLAM ATAS ARAHAN BAPANYA.

Lebih-lebih lagi ramai ulama kamu, termasuk Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha telah menulis bahawa satu hari Abu Talib datang ke masjid dan melihat nabi sedang sembahyang. Ali sedang sembahyang pada sebelah kanan baginda. Abu Talib mengarahkan anaknya Jafar, yang bersama dengannya dan belum lagi memeluk islam, ‘berdirilah disebelah sepupu kamu dan lakukan sembahyang bersamanya’ Jafar pergi berdiri kesebelah kiri nabi dan mula bersembahyang. Pada ketika itu Abu Talib mengubah syair ini, ‘Sesungguhnya Ali dan Jafar adalah kekuatan saya dan penghibur di dalam kesusahan dan kekeciwaan. Wahai Ali dan Jafar! Janganlah tinggalkan berdampingan dengan sepupu kamu dan anak saudara ku, tetapi bantulah dia. Saya bersumpah, saya tidak akan meninggalkan nabi. Bolehkah sesiapa meninggalkan kumpulan nabi yang begitu mulia?’

Maka itu adalah pandangan semua ulama kamu bahawa Jafar memeluk islam dan melakukan sembahyang dengan nabi adalah arahan dari Abu Talib.

NABI MENANGIS DENGAN KEMATIAN ABU TALIB DAN MENDOAKAN RAHMAT ALLAH PADANYA.

Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha dan Ibn Jauzi di dalam Tadhkirat-e-Khawasu’l-Umma mengatakan dari Tabaqat-e-Muhammad Ibn Sa’d, yang menyampaikan dari Waqidi dan Allama Seyyed Muhammad Bin Seyyed Rasul Barzanji di dalam Kitabu’l-Islam Fi’l-‘am-o-Aba’-e-Seyyedu’l-An’am, kenyataan dari Ibn Sa’d dan Ibn Asakir, yang menyampaikan dari punca yang sahih dari Muhammad Bin Ishaq bahawa  Ali berkata, ‘Apabila Abu Talib meninggal dan saya memberitahu nabi Allah mengenainya, baginda menangis. Kemudian dia berkata kepada saya, ‘Pergi dan mandikan jasadnya di dalam persediaan untuk pengkebumian, balut dirinya dengan kafan dan kebumikan dia. Semoga Allah merahmatinya dan keampunan keatasnya!’

Adakah dibolehkan oleh islam untuk melakukan upacara pengkebumian kepada kafir? Adakah dibenarkan kepada kita untuk mengatakan bahawa nabi mendoakan kerahmatan Allah keatas orang kafir dan musyirik? Nabi tidak meninggalkan rumahnya untuk beberapa hari dan berterusan mendoakan untuk keamanan abadi Abu Talib

.

KETERANGAN DARI SURAH AL-QURAN DAN HADITH, MUAWIYA DAN YAZID ADALAH TERKUTUK.

[1] Sila rujuk kepada ayat 60 Surah 17 Bani Israel. Pengulas dari ulama kamu, seperti Tha’labi, Imam Fakhru’d-din Razi, dan yang lainnya berkata bahawa nabi melihat di dalam mimpinya bahawa Bani Umayya, seperti monyet, naik dan turun dari mimbarnya. Kemudiannya Jibril membawa ayat yang suci ini, ‘Dan apabila Kami katakan kepada kamu: Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang Kami tunjukkan kepada kamu melainkan sebagai percubaan untuk manusia dan pokok yang terkutuk di dalam al-Quran juga. Dan Kami menjadikan mereka ketakutan, tetapi ianya hanya menambahkan kepada kedurhakaan mereka.’’[17:60]

Allah maha besar telah memanggil Bani Umayya, yang pemimpinnya adalah Abu Sufyan dan Muawiya, ‘pokok terkutuk’ di dalam al-Quran. Muawiya, yang menjadi dahan yang kuat pada pokok ini, pastinya terkutuk.

[2] Lagi Allah maha besar berkata, ‘Tetapi jika kamu berkuasa, kamu pastinya membuat kerosakkan dibumi dan memutuskan perhubungan persaudaraan. Mereka itulah yang Allah telah kutuk maka Dia telah menjadikan dia pekak dan buta matanya.’ [47:22-23]

Di dalam ayat ini mereka yang melakukan kerosakkan dibumi dan memutuskan tali persaudaraan telah dikutuk oleh Allah. Siapakah yang lebih merosakan dari Muawiya, yang mana khalifanya adalah terkenal dengan amalan kezaliman. Selain itu dia telah memutuskan ikatan persaudaraan.

[3] Juga Allah berkata di dalam al-Quran, ‘Sesungguhnya mereka yang mengatakan perkara yang jahat mengenai Allah dan rasulNya, Allah telah mengutuk mereka di dalam dunia ini dan juga diakhirat, dan dia telah menyediakan untuknya siksaan yang menghinakan.’ [33:57]

Pastinya menyakitkan Amirul-Mukminin dan kedua cucu nabi Hasan dan Husain begitu juga Ammar-e-Yasir dan sahabat terkenal yang lain adalah umpama menyakitkan nabi sendiri juga. Oleh kerana Muawiya telah menyakiti manusia yang wara’ ini, dia, menurut dari ayat al-Quran yang jelas, pastinya terkutuk didunia ini dan juga diakhirat.

[4] Di dalam surah Mukminun Allah berkata, ‘Pada hari dimana alasan mereka tidak memberikan faedah kepada mereka yang keji dan untuk mereka adalah kutukan dan untuk mereka tempat tinggal yang jahat.’ [40:52]

[5] Di dalam surah Hud, Dia berkata, ‘Sekarang sesungguhnya kutukan Allah kepada mereka yang zalim.’ [11:18]

[6] Di dalam surah al-Araf [Tempat yang ditinggikan] Allah berkata, ‘Kemudian yang memanggil akan panggil kepada mereka bahawa kutukan Allah keatas mereka yang zalim.’ [7:44]

Begitu juga banyak ayat lain yang diwahyukan mengenai mereka yang zalim. Telah jelas, bagi setiap mereka yang zalim dikutuk. Saya tidak fikir ada diantara kamu yang akan menafikan kezaliman yang dilakukan oleh Muawiya. Maka jelaslah pada fakta bahawa dia adalah zalim, cukuplah pada menerima kutukkan dari Allah, dari segala bukti yang nyata kita juga boleh mengutuk mereka yang menerima kutukkan dari Allah.

[7] Di dalam surah an-Nisa Allah berkata, ‘Dan sesiapa yang membunuh orang beriman dengan sengaja, hukuman baginya adalah neraka; dia akan tinggal di dalamnya, dan Allah akan hantar siksaan kepadanya dan mengutuknya dan menyediakan untuknya siksaan yang amat pedih.’ [4:93]

PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BERIMAN YANG TERKENAL SEPERTI IMAM HASAN, AMMAR HAJAR BIN ADI MALIK ASHTAR DAN MUHAMMAD BIN ABI BAKR ATAS ARAHAN MUAWIYA..

Ayat al-Quran dengan jelas mengatakan bahawa jika sesaorang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, dia berhak menerima kutukkan dan tempat tinggalnya adalah neraka. Tidakkah Muawiya bersekutu di dalam pembunuhan orang yang beriman? Tidakkah dia yang mengarahkan terhadap pembunuhan Hajar Ibn Adi dan tujuh orang sahabatnya? Tidakkah dia yang mengarahkan supaya Abdur-Rahman bin Hasan Al-Ghanzi ditanam hidup-hidup?

Ibn Asakir dan Yaqub Bin Sufyan di dalam buku sejarah mereka; Baihaqi di dalam Dala’il; Ibn Abdu’l-Bar di dalam Isti’ab; dan Ibn Athir di dalam Kamil telah mengatakan bahawa Hajar Bin Adi, salah seorang sahabat yang terkenal, dan bersama tujuh orang sahabatnya telah dibunuh dengan kejam oleh Muawiya. Kesalahan mereka, kerana enggan mengutuk Ali.

Imam Hasan adalah cucu nabi yang pertama. Tidakkah dia terjumlah di dalam Ashab-e-Kisa [mereka yang dibawah selimut]? Bukankah dia salah seorang dari ketua remaja disyurga dan yang beriman, yang mempunyai kedudukan tertinggi? Menurut dari kenyataan Mas’udi, Ibn Abdu’l-Bar, Abu’l-Faraj Ispahani, Tabaqa oleh Muhammad Bin Sa’d, Tadhkira oleh Sibt Ibn Jauzi, dan ulama sunni yang lain, Muawiya menghantar racun kepada Asma’ Ju’da dan menjanjkan kepada dia bahawa jika dia membunuh Hasan Ibn Ali, Muawiya akan memberi kepadanya 100 000 dirham dan akan mengahwinkannya dengan anaknya Yazid. Adakah kamu teragak-agak untuk memanggil Muawiya terkutuk? Tidakkah fakta yang sebenar, bahawa di dalam peperangan Siffin sahabat nabi yang agung Ammar Yasir, telah syahid atas arahan Muawiya? Kesemua ulama kamu mengatakan dengan satu kenyataan bahawa nabi telah berkata kepada Ammar Yasir, ‘Tidak beberapa lama lagi kamu akan dibunuh oleh sekumpulan penentang yang sesat.’

Adakah kamu masih ragu bahawa ribuan muslim beriman telah dibunuh oleh pegawai Muawiya? Tidakkah perwira yang gagah dan ikhlas telah diracun oleh arahan Muawiya? Bolehkan kamu nafikan bahawa pegawai tertinggi Muawiya, Amr bin As dan Muawiya bin Khadij, secara kejam mensyahidkan gabenor Imam Amirul-Mukminin, yang wara’ Muhammad bin Abi Bakr? Tidak puas dengan itu mereka masukkan badannya kedalam kulit keldai dan membakarnya. Jika saya hendak berikan kepada kamu secara khusus mereka yang beriman yang telah dibunuh oleh Muawiya dan pegawainya, ianya memerlukan bukan satu malam malah beberapa malam.

PEMBUNUHAN 30.000 ORANG YANG BERIMAN OLEH BUSR BIN ARTAT DENGAN ARAHAN MUAWIYA.

Kekejaman yang paling besar adalah Busr bin Artat telah membunuh ribuan orang yang beriman atas perintah Muawiya. Abu’l-Faraj Ispahani dan Allama Samhudi di dalam Ta’rikhu’l-Medina, Ibn Khallikan, Ibn Asakir dan Tabari di dalam sejarah mereka; Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, dan ramai lain dari ulama kamu telah menulis bahawa Muawiya mengarahkan Busr menyerang San’a dan Yaman dari Madina dan Makah. Dia berikan arahan yang sama kepada Zuhak bin Qais Al-Fahri dan yang lain. Abu’l-Faraj mengatakannya dengan perkataan ini, ‘Sesiapa sahaja dari sahabat dan shia Ali yang dijumpai hendaklah dibunuh, walaupun wanita dan kanak-kanak, jangan dibiarkan hidup.’ Dengan arahan yang tegas ini, mereka keluat dengan tenaga askar 3 000 orang dan menyerang Madina, San’a, Yaman, Ta’if dan Najran. Apabila mereka sampai ke Yaman, gabenornya, Ubaidullah Ibn Abbas telah keluar dari kota. Mereka memasukki rumahnya dan membunuh kedua-dua anaknya, Sulayman dan Dawud diatas pangkuan ibunya.

Ibn Abi’l-Hadid menulis di dalamSharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, ms 121, bahawa di dalam serangan ini 30 000 telah terbunuh, tidak termasuk yang mati terbakar.

Adakah tuan-tuan masih ragu yang Muawiya berhak pada kutukan?

MUAWIYA MENGARAHKAN SUPAYA ALI DIKUTUK.

Diantara bukti yang jelas bahawa Muawiya adalah kafir dan berhak kutukkan adalah secara umum penolakkannya terhadap Amirul-Mukminin dan arahannya kepada manusia untuk membaca kutukkan terhadap Imam di dalam qunut [doa di dalam solat] mereka. Fakta ini telah disahkan oleh kita berdua shia dan sunni. Bahkan ahli sejarah bangsa lain telah merakamkan bahawa amalan yang hina itu telah diarahkan secara terbuka, dan ramai yang telah terbunuh kerana tidak menyebutkan kutukan tersebut. Amalan ini telah diberhentikan oleh khalifa Umayya, Umar bin Abdil-Aziz.

Mereka yang mengutuk adik nabi, suami Fatima, Amirul-Mukminin Ali Ibn Abi Talib, dan yang mengarahkan orang lain melakukan pastinya dikutuk. Fakta ini telah dirakamkan oleh semua ulama terkenal di dalam buku sahih mereka, Sebagai contoh Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Imam Abu Abdu’r-Rahman Nisa’i di dalam Khasa’isu’l-Alawi, Imam Tha’labi dan Imam Fakhru’d-in Razi di dalam Tafsir (ulasan), Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, Muhammad Bin Yusuf Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, Sibt Ibn Jauzi di dalam Tadhkira, Sulayman Balkhi Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda, Mir Seyyed Ali Hamadani di dalam Mawaddatu’l-Qurba, Dailami di dalam Firdaus, Muslim Bin Hajjaj di dalam Sahih, Muhammad Bin Talha Shafi’i di dalam Matalibu’s-Su’ul, Ibn Sabbagh Maliki di dalam Fusulu’l-Muhimma, Hakim di dalam Mustadrak, Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib, Abraham Hamwaini di dalam Fara’id, Ibn Maghazili Shafi’i di dalam Manaqib, Imamu’l-haram di dalam Dhakha’iru’l-Uquba, Ibn Hajar di dalam Sawa’iq, dan ulama yang lainnya telah menyampaikan dengan sedikit perbezaan perkataan, mengatakan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menghina Ali, sebenarnya menghina saya; yang menghina saya sebenarnya telah menghina Allah.’

Dailami di dalam Firdaus, Sulayman Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda telah menyampaikan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menyakiti Ali, sebenarnya telah menyakiti saya, dan kutukan Allah keatas mereka yang telah menyakiti saya.’ Ibn Hajar Makki di dalam Sawa’iq menyebut satu hadith mengenai akibat terhadap sesaorang yang mengutuk terhadap mana-mana dari keturunan nabi. Dia mengatakan bahawa nabi berkata, ‘Jika sesiapa mengutuk ahli bayt saya, semoga kutukkan Allah diatasnya.’

Dari itu Muawiya pastinya terkutuk. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Athir di dalam Kamil, Muawiya biasa mengutuk Ali, cucu-cucu nabi, Hasan dan Husain dan juga Abbas dan Malik Ashtar di dalam qunut solat harian.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan di dalam Musnad dan beberapa punca bahawa nabi Allah berkata, ‘Jika sesiapa melukakan Ali dia akan dilayani sebagai yahudi atau kristian pada hari pengadilan.’ Pastinya kamu semua telah tahu bahawa adalah satu dari hukum islam bahawa memanggil Allah dan nabi dengan nama yang hina membawa kepada kafir.

Muhammad Bin Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, bahagian X, mengatakan bahawa satu ketika Abdullah Ibn Abbas and Sa’id Ibn Jabir melihat pada pinggir telaga zamzam sekumpulan orang Syria menghina Ali. Mereka pergi mendapatkannya dan berkata, ‘Siapa diantara kamu yang menghina nabi Allah?’ Orang Syria menjawa, ‘Tiada siapa diantara kami yang menghina nabi Allah.’ Kemudian mereka berkata, ‘Baik, siapa diantara kamu yang menghina Ali?’ Orang Syria berkata, ‘Ya, kami telah menghina Ali,’

Kemudian Abdullah dan Sa’id berkata, ‘Kamu harus menjadi saksi bahawa kami mendengat nabi berkata kepada Ali, ‘Sesiapa yang menghina kamu, sesungguhnya telah menghina saya; sesiapa yang menghina saya telah menghina Allah. Jika sesiapa yang menghina Allah, Dia akan menlontarkan mereka kedalam neraka.’

PARA SAHABAT NABI DITAHAP YANG BERBEZA PADA PEMAHAMAN.

Salafi:                    Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla:                    Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.

Ada tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Nabi SAW tidak memiliki perkara yang serupa

Syiah Berkata Ali Lebih Pemberani Dari Rasulullah [Shallallahu ‘Alaihi Wasallam]  ?

pembahasan yang tendensius tampak mudah dipatahkan, tidak semua kitab/hadis kitab kitab syiah dipandang sahih/ disetujui oleh jumhur syiah,begitu pula hadis hadis dari sunni, tidak terkecuali kitab Bukhari-Muslim.

Berkatalah salah seorang dengan lisannya yang kotor bahwa diantara penghinaan Syiah kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ghuluw terhadap Aliy sehingga memuliakannya di atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ia mengutip perkataan Nikmatullah Al Jaza’iriy dalam kitabnya Anwar An Nu’maniyah

وأما ألثلاث التي أعطى علي ولم أشاركه فيها فإنه أعطي شجاعة ولم أعط مثله وأعطى فاطمة الزهراء ولم اعط مثلها وأعطى ولديه الحسن والحسين عليهما السلام ولم أعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan keberanian dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan Fathimah Az Zahraa’ dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain [‘alaihimas salam] dan Aku tidak memiliki yang semisal keduanya [Anwar An Nu’maniyah Sayyid  Al Nikmatullah Jaza’iriy 1/19]

Anwar Nu'maniyah juz 1

Anwar Nu'maniyah juz 1 hal 19

.

Nampak bahwa Sayyid Al Jaza’iriy membawakan riwayat dari Syaikh Shaduq bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata [riwayat di atas]. Riwayat ini ternukil tanpa sanad dalam kitab Anwar An Nu’maniyyah. Sebenarnya asal riwayat ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Amaliy-nya yaitu sebagaimana berikut

Amaliy Syaikh Ath Thuusiy

Amaliy Syaikh AthThuusiy hal 513 dan 514

أخبرنا ابن الصلت، قال: أخبرنا ابن عقدة، قال: حدثنا علي بن محمد القزويني، قال: حدثنا داود بن سليمان الغازي، قال: حدثنا علي بن موسى، عن أبيه، عن جده عن محمد بن علي، عن أبيه، عن علي بن الحسين، عن أبيه، عن علي (عليه السلام) قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله): ياعلي، إنك اُعطيت ثلاثاً ما لم أعط أنا، قلت: يارسول الله، ما اُعطيت؟ فقال: اُعطيت صهراً مثلي ولم اُعط، وأُعطيت زوجتك فاطمة ولم اُعط، وأُعطيت مثل الحسن والحسين ولم اُعط

Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Ash Shult yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uqdah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Al Qazwiiniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Sulaiman Al Ghaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Musa dari Ayahnya dari kakenya dari Muhammad bin Aliy dari Ayahnya dari Aliy bin Husain dari Ayahnya dari Aliy [‘alaihis salam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “wahai Aliy sesungguhnya engkau diberikan tiga hal yang tidak diberikan kepadaku. Aku berkata “wahai Rasulullah apa yang diberikan kepadaku itu?”. Beliau menjawab “engkau diberikan aku sebagai shihran dan aku tidak diberikan semisalnya, engkau diberikan istrimu Fathimah dan aku tidak diberikan yang semisalnya, engkau diberikan Hasan dan Husain dan aku tidak diberikan yang semisalnya [Amaliy Syaikh Ath Thuusiy 12/513-514 no 46]

.

.

.

Riwayat yang disebutkan Sayyid Nikmatullah Al Jaza’iriy tidak ditemukan dalam riwayat Ash Shaduq, diantara yang mengutip riwayat tersebut adalah Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar dan Syadzaan bin Jibriil Al Qummiy dalam Al Fadhaa’il. Keduanya dengan matan yang sedikit berbeda dengan yang disebutkan dalam kitab Anwar An Nu’maniyah

Bihar Al Anwar juz 39 cover

Bihar Al Anwar juz 39 hal 90

وأما الثلاث التي أعطيها علي ولم أشاركه فيها فإنه أعطي ابن عم مثلي ولم اعط مثله، وأعطي زوجته فاطمة ولم اعط مثلها، وأعطي ولديه الحسن والحسين ولم اعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan sepupu sepertiku dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan istrinya Fathimah dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain dan Aku tidak memiliki yang semisalnya [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 39/90]

واما الثلاث التي أعطيت عليا ولم أشاركه فيها فإنه اعطى رسول الله صهرا ولم اعط مثله وأعطى زوجته فاطمة الزهراء ولم اعط مثلها وأعطى ولديه الحسن والحسين (ع) ولم اعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan Rasulullah sebagai shihran dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan istrinya Fathimah Az Zahraa’dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain dan Aku tidak memiliki seperti keduanya [Al Fadhaa’il Syadzaan bin Jibriil hal 111-112]

.

.

.

Nampak bahwa tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz Syaja’ah [keberanian] sebagaimana yang dinukil Sayyid Nikmatullah Al Jaza’iriy. Lafaz yang benar adalah “Shihraan” sebagaimana yang nampak dalam asal riwayat Amaliy Ath Thuusiy yang bersanad lengkap. Shihraan bermakna hubungan kekerabatan yang timbul dari pernikahan dalam hal hubungan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan Aliy adalah sebagai mertua Aliy. Maka disini ada dua kemungkinan

  1. Terjadi tashif dalam kitab Anwar An Nu’maniyah seharusnya lafaznya shihran menjadi syaja’ah
  2. Sayyid Al Jaza’iry keliru dalam menukil riwayat, hal ini dikuatkan bahwa ia juga keliru menukil sumber riwayat dari Ash Shaduuq

Yang manapun dari kedua kemungkinan di atas tetap pada dasarnya riwayat tersebut tidak mengandung penghinaan syiah kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Karena yang dimaksud bukanlah Ali memiliki keberanian dan Rasulullah tidak memiliki yang semisalnya tetapi yang dimaksud adalah Ali memiliki Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai shihraan dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak memiliki yang semisalnya.

.

.

Sekedar tambahan bahwa riwayat yang sama juga ditemukan dalam kitab Ahlus sunnah yaitu Riyadh An Nadhirah oleh Muhibbudin Ath Thabariy

Riyadh An Nadhrah

Riyadh An Nadhrah juz 2 hal 202

روى أبو سعيد في شرف النبوة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي، أوتيت ثلاثا لم يؤتهن أحد ولا أنا، أوتيت صهراً مثلي ولم أؤت أنا مثلك، أو أوتيت زوجة صديقة مثل ابنتي، ولم أؤت مثلها زوجة وأوتيت الحسن والحسين من صلبك، ولم أؤت من صلبي مثلهما، ولكنكم مني وأنا منكم

Abu Sa’id meriwayatkan dalam Syarf An Nubuwah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Aliy, engkau telah diberikan tiga perkara yang tidak diberikan kepada siapapun termasuk aku. Engkau telah diberikan shihraan sepertiku dan aku tidak diberikan yang semisalnya, engkau diberikan istri yang shiidiqah seperti anakku dan aku tidak memiliki istri yang sepertinya, engkau telah diberikan Hasan dan Husain dari sulbimu dan tidak diberikan dari sulbiku, seperti keduanya. Tetapi kalian dariku dan aku dari kalian [Riyadh An Nadhirah 2/202].

Fir’aun Adalah Abu Bakar dan Haman Adalah Umar?. Riwayat ini sanadnya dhaif jiddan [bahkan maudhu’] di sisi ilmu Rijal Syi’ah.

Syi’ah Berkata Fir’aun Adalah Abu Bakar dan Haman Adalah Umar?

Salah seorang nashibi menukil dari kitab ulama Syi’ah Ilzaamun Naashib Fii Itsbaatil Hujjah Al Ghaaib 2/231 oleh Syaikh Ali Al Yazdiy Al Hairiy

قال المفضل: يا سيدي ومن فرعون ومن هامان؟ قال (عليه السلام): أبو بكر وعمر

Al Mufadhdhal berkata “wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan siapakah Haamaan?. [Imam Ash Shadiq] [‘alaihis salaam] berkata “Abu Bakar dan Umar” [Ilzaamun Naashib Fii Itsbaatil Hujjah Al Ghaaib 2/231]

Syaikh Ali Al Yazdiy tidak membawa perkataannya sendiri melainkan membawakan riwayat yang sangat panjang dimana Al Mufadhdhal bin Umar bertanya kepada Imam Ja’far Ash Shaadiq. Al Majlisiy menukil riwayat ini dalam kitab Bihar Al Anwaar 53/17.

Bihar Al Anwar juz 53

Bihar Al Anwar juz 53 hal 17

Sanad riwayat tersebut dituliskan Al Majlisiy pada kitab Bihar Al Anwaar 53/1

Bihar Al Anwar juz 53 hal 1

وي في بعض مؤلفات أصحابنا، عن الحسين بن حمدان، عن محمد ابن إسماعيل وعلي بن عبد الله الحسني، عن أبي شعيب [و] محمد بن نصير، عن عمر بن الفرات، عن محمد بن المفضل، عن المفضل بن عمر قال: سألت سيدي الصادق عليه السلام

Dan diriwayatkan oleh sebagian penulis dari kalangan sahabat kami dari Husain bin Hamdaan dari Muhammad bin Ismaiil dan Aliy bin Abdullah Al Hasaniy dari Abi Syu’aib [dan] Muhammad bin Nushair dari ‘Umar bin Furaat dari Muhammad bin Mufadhdhal dari Mufadhdhdal bin ‘Umar yang berkata aku bertanya kepada tuanku Ash Shadiq [‘alaihis salaam] [Bihar Al Anwaar 53/1]

Riwayat Al Mufadhdhal yang sangat panjang ini disebutkan oleh Husain bin Hamdaan Al Khashiibiy dalam kitabnya Hidayatul Kubra 392 dengan sanad seperti di atas hanya saja disebutkan Abi Syu’aib Muhammad bin Nushair, tanpa huruf waw di antara Abi Syu’aib dan Muhammad bin Nushair.

Riwayat ini sanadnya dhaif jiddan [bahkan maudhu’] di sisi ilmu Rijal Syi’ah. Kelemahan dalam sanadnya disebabkan oleh

  1. Husain bin Hamdaan
  2. Abi Syu’aib Muhammad bin Nushair
  3. Umar bin Furaat
  4. Muhammad bin Mufadhdhal

Husain bin Hamdaan disebutkan oleh An Najasyiy dalam ktab Rijal-nya bahwa ia seorang yang jelek mazhab-nya [Rijal An Najasyiy hal 67 no 159]. Ibnu Ghada’iriy menyatakan ia pendusta dan jelek mazhabnya [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 54]. Ibnu Dawud Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi majruh dan majhul [Rijal Ibnu Dawud hal 240 no 140]. Allamah Al Hilliy juga memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi dhaif atau yang ia bertawaqquf dengannya [Khulashah Al Aqwaal hal 339].

Muhammad bin Nushair disebutkan oleh Ath Thuusiy bahwa ia seorang yang ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 402]. Dan diantara sifat ghuluw-nya adalah apa yang disebutkan oleh Al Kasyiy

قال أبو عمرو: وقالت فرقة بنبوة محمد بن نصير النميري، وذلك أنه ادعى أنه نبي رسول، وأن علي بن محمد العسكري عليه السلام أرسله، وكان يقول بالتناسخ والغلو في أبي الحسن عليه السلام، ويقول فيه بالربوبية ويقول: بإباحة المحارم، ويحلل نكاح الرجال بعضهم بعضا في أدبارهم ويقول أنه من الفاعل والمفعول به أحد الشهوات والطيبات، وأن الله لم يحرم شيئا من ذلك.

Abu ‘Amru [Al Kasyiy] berkata “terdapat firqah yang meyakini kenabian Muhammad bin Nushair An Numairiy dan hal itu karena ia mengakui bahwasanya ia seorang Nabi dan Rasul, dan bahwa Aliy bin Muhammad Al Asakriy [‘alaihis salaam] telah mengutusnya. Dan ia meyakini reinkarnasi dan ghuluw terhadap Abu Hasan [‘alaihis salaam], ia mengatakan tentang Rububiyah-nya dan ia membolehkan hal-hal yang diharamkan, menghalalkan nikah antara laki-laki satu dengan yang lain lewat dubur mereka. Dan ia mengatakan bahwasanya yang melakukan dan pasangannya, melakukan atas dasar syahwat dan kebaikan dan sesungguhnya Allah tidak mengharamkan yang demikian [Rijal Al Kasyiy 2/805]

Tidak diragukan lagi bahwa ghuluw yang seperti ini sudah jelas mengeluarkannya dari Islam dan hadis dari orang seperti ini tidak boleh diterima.

Umar bin Furaat disebutkan oleh Ath Thuusiy bahwa ia seorang yang ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 362]. Ibnu Dawud Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi majruh dan majhul [Rijal Ibnu Dawud hal 264].

Muhammad bin Mufadhdhal dia adalah Muhammad bin Mufadhdhal bin ‘Umar dan dia seorang yang majhul

محمد بن المفضل بن عمر من أصحاب الكاظم (ع) مجهول

Muhammad bin Mufadhdhal bin ‘Umar termasuk ashaab Imam Kaazhim [‘alaihis salaam], seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 580, Muhammad Al Jawahiriy]

Maka tidak ada gunanya syubhat nashibi yang menukil riwayat tersebut karena kedudukan riwayat tersebut dari sisi ilmu Rijal Syi’ah sangatlah dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Ada bantahan dari nashibi tersebut, ia membantah dengan membawa perkataan Syaikh Ali Al Yazdiy dalam kitabnya berikut

Wahai anak mut’ah, apa anda tahu apa yang dikatakan oleh penulisnya sendiri (‘Ali Al-Yazdiy) terkait khobar-khobar yang dinukil? Pada bagian muqaddimahnya setelah memberikan keterangan mengenai nama kitabnya yaitu “Ilzamun-Nashib fi Itsbat Al-Hujjah Al-Ghaib” dia berkata:

ثم إني اقتصرت فيه على لباب الأخبار بطرح المكررات اللفظية والمعنوية، بإلغاء الأسانيد والرجال من الأخبار المروية، اعتمادا على الصحاح المشهورة المنقولة واتكالا على الثقات من الرجال المقبولة

“Kemudian sesungguhnya aku membatasi untuk bab di dalamnya riwayat-riwayat dengan membuang lafazh dan makna yang berulang. Dan dengan penghapusan sanad (untuk meringkas) dan perawi-perawi dari riwayat-riwayat yang dapat dijadikan pegangan, shahih lagi masyhur. Dan bersandar berdasarkan rawi-rawi yang tsiqah lagi diterima.” [Ilzamun-Nashib 1/7 bagian muqaddimah, lihat: http://shiaonlinelibrary.com/ا…]

Maka saya katakan wahai pencela yang rendah akalnya. Apakah anda pikir seorang ulama itu pasti benar setiap perkataannya. Kami tidak menafikan ulama Syi’ah yang berkata demikian. Tetapi dalam berhujjah yang menjadi hujjah adalah bukti bukannya klaim atau pengakuan. Siapapun bisa mengatakan bahwa suatu hadis shahih tetapi hujjahny adalah apa bukti bahwa hadis itu shahih, maka begitu pula perkataan ulama di atas, justru perkataannya itu yang harus ditimbang dengan kaidah ilmu [dalam hal ini ilmu hadis Syi’ah], apakah benar ia berpegang pada riwayat shahih saja dan para perawi tsiqat seperti yang ia katakan.

Perkara seperti ini banyak bahkan dalam kitab hadis ahlus sunnah. Siapapun yang membaca muqaddimah kitab Tafsir Ibnu Abi Hatim akan mendapati pernyataan yang serupa bahwa Ibnu Abi Hatim mencukupkan dalam kitabnya hadis yang shahih saja tetapi faktanya dalam kitab tafsir Ibnu Abi Hatim banyak pula riwayat dhaif jika ditimbang dengan ilmu hadis. Jadi jangan sok membantah dengan bantahan yang sia-sia. Apa anda pikir semua orang rendah akalnya seperti anda, membantah dengan bantahan anak kecil yang bikin malas orang mengomentarinya.

Atau kita bisa beri contoh lain yang sangat banyak yaitu penshahihan Al Hakim terhadap hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dalam Al Mustadrak. Jika ditelaah dengan ilmu Rijal Ahlus Sunnah maka akan banyak sekali riwayat tersebut yang ternyata dhaif. Maka apa bisa kemudian datang cecunguk seperti nashibi itu yang berkata siapa dirimu dibanding Al Hakim yang sudah terkenal keilmuannya. kami yakin nashibi itu akan mengambil sikap yang sama jika kitab pegangannya dijadikan bahan celaan atau syubhat. Jika benar demikian maka hanya membuktikan kalau nashibi tersebut munafik dalam berhujjah

Silahkan pembaca menilai mana yang dijadikan pegangan dalam menilai rijal Syi’ah sesuai manhaj Syi’ah sendiri, apakah rafidhi recehan bernama secondprice tersebut atau ‘Ali Al-Yazdiy ?

Saya yakin pembaca yang bukan Syi’ah atau pun yang Syi’ah, jika mereka mengerti kaidah ilmu terutama ilmu hadis Syi’ah akan menerima tulisan kami di atas. Berbeda halnya jika pembaca adalah orang awam atau orang yang termakan syubhat rendahan ala nashibi maka untuk mereka kami hanya bisa mengingatkan agar jangan ikutan jadi orang yang kerdil akalnya seperti nashibi tersebut. Dan seperti biasa kami akan mengulang-ulang bahwa kami bukanlah penganut Syi’ah Rafidhah, kami hanya seorang penuntut ilmu yang berusaha mempelajari Syi’ah dengan objektif terutama mempelajari bagaimana kedustaan para nashibi terhadap Syi’ah. Jujur saja tidak semua tuduhan terhadap Syi’ah kami bela dan bantah tetapi yang mana diantara tuduhan tersebut kami mengetahui bahwa itu termasuk kedustaan atau syubhat yang sengaja dibuat nashibi untuk merendahkan Syi’ah maka kami tidak segan-segan membantahnya.

Wahai anak mut’ah, justru usahamu lah yang sia-sia setelah hujjahmu diludahi oleh ulamamu sendiri di atas. Betapa lebay dan lucunya anda terlalu memaksakan diri membantah riwayat di atas, karena shahih ataupun tidak, maka Syi’ah tetaplah agama yang mengkafirkan para Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam khususnya Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, kecuali beberapa Shahabat saja yang tidak dikafirkan oleh Syi’ah. Ini sudah bukan hal yang asing.

Ulama saya?. Mungkin ulama anda kali, karena anda dengan gampangnya taklid kepadanya dan melemparkan kaidah ilmu Rijal Syi’ah. Tidak perlu diingatkan bagi seorang yang objektif akan menempatkan perkara ini sesuai kaidah ilmiah. Maka yang benar adalah perkataan ulama harus ditimbang dengan kaidah ilmu bukannya kaidah ilmu ditinggalkan demi taklid kepada ulama. Mungkin si nashibi tersebut tidak mengenal kaidah ilmu yang seperti ini dan bisa dimaklumi karena keterbatasan akalnya.

Soal Syi’ah yang anda katakan mengkafirkan para sahabat, maka apa urusannya dengan saya wahai nashibi. Bagi saya nampak bahwa anda tidak jauh berbeda dengan apa yang anda tuduh.

Banyak dari takfir para ulama besar Syi’ah berdasarkan perkataan mereka sendiri bahkan yang lebih parah mulutnya dalam mencela Shahabat daripada di atas dan telah kami himpun beberapa darinya pada daftar artikel blog ini pada bab takfir. Tidak perlu kami paparkan disini sebab kami tidak lebay seperti anak mut’ah tersebut. Siapa pun bisa melihatnya dan siapa pun juga tahu bahwa yang namanya Syi’ah jelas berlepas diri dari para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum.

Oh silakan, tidak ada yang mempermasalahkan apa maunya anda. Dan seandainyapun para ulama besar Syi’ah seperti yang anda katakan mengkafirkan para sahabat maka itu tidak ada sangkut-pautnya dengan saya. Tulisan saya di atas hanya mengomentari kualitas riwayat yang anda kutip selebihnya andalah yang lebay sok membantah kacau kesana kemari.

Kami juga tidak menafikan bahwa ada dari rawi di atas ada yang dijarh, namun persoalan tersebut dijawab lagi oleh ulama kenamaan Syi’ah yakni Al-Hurr Al-‘Amiliy seperti berikut:

ومن المعلوم قطعاً أن الكتب التي أمروا عليهم السلام بالعمل بها ، كان كثير من رواتها ضعفاء ومجاهيل

“Termasuk dari hal yang telah diketahui secara pasti bahwasanya kitab-kitab yang diperintahkan oleh para Imam ‘alaihim as-salam untuk beramal dengannya banyak dari perawinya adalah rawi-rawi dha’if dan majhul.” [Wasail Asy-Syi’ah, 30/244]

Gak penting, apa anda pikir Al Hurr Al Amiliy itu adalah satu-satunya ulama yang menjadi pegangan orang Syi’ah. Tidak perlu kami ulangi perkataan ulama itu harus ditimbang dengan kaidah ilmu bukan malah sebaliknya. Perkara beramal dengan hadis dhaif, itu bukan hanya dilakukan oleh sebagian ulama Syi’ah bahkan sebagian ulama sunni pun demikian. Tidak perlu saya sebutkan ada ulama yang membantah tindakan Syaikh Albaniy dan ulama lain yang berupaya membagi hadis-hadis kitab Sunan menjadi shahih dan dhaif. Menurutnya tindakan seperti itu sia-sia belaka. Tetapi tentu saja perkataannya tidak menjadi hujjah karena yang menjadi hujjah adalah kaidah ilmu hadis yang memang dibuat untuk membedakan hadis shahih dan hadis dhaif.

Mengapa Al-Hurr Al-‘Amiliy sampai berkata demikian? Karena Al-Hurr Al-‘Amiliy juga menjelaskan yang intinya jika jarh dan ta’dil diterapkan dalam kitab-kitab Syi’ah maka itu akan mengakibatkan kecacatan yang parah bagi kitab-kitab tersebut yaitu hampir SELURUH riwayat Syi’ah adalah dha’if dan tertolak. Alasannya adalah sebagaimana jawaban Al-Hurr Al-‘Amiliy di atas.

Lho gak ada masalah kalau memang Al Hurr mengatakan demikian, saya dapat mengutip banyak ulama lain yang peduli terhadap ilmu Rijal Syi’ah. mereka berusaha mengkategorikan hadis ke dalam shahih, hasan, muwatstsaq dan dhaif seperti Al Majlisiy.

Entah apa yang membuat anak mut’ah tersebut terlalu memaksakan diri menolak riwayat di atas, padahal jelas-jelas agamanya murni membenci para Shahabat. Karena itu dia ini tidak ada bedanya dengan kaumnya (Syi’ah) yang munafik. Sok-sok tidak memusuhi Shahabat padahal yang ada dalam hati mereka (‘aqidah) jauh lebih busuk daripada apa yang mereka nampakkan kepada orang-orang awam yang tertipu. Dengan hal tersebut mereka hanya ingin dipandang simpati oleh masyarakat dan mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat agar agama mut’ah mereka diterima. Qabbahallah ar-rafidhah

Justru yang nampak adalah andalah yang munafik disini. Kalau anda menuduh agama saya murni membenci sahabat maka pada hakikatnya anda telah menuduh agama Islam sebagai agama membenci sahabat karena saya seorang Muslim dan bukan pengikut Syi’ah. Saya memang tidak pernah memusuhi sahabat berbeda dengan anda yang sok membela sahabat padahal anda ini ghuluw terhadap sahabat. Apa yang ada dalam hati anda mungkin jauh lebih busuk dari apa yang anda tampakkan? karena jangan-jangan anda ini meyakini dalam hati anda bahwa para sahabat ma’shum. [btw tidak hanya anda yang bisa membuat tuduhan :mrgreen: ]