Golongan Perusak dan pelaknat NU Terdepan Itu Bernama wahabi

Golongan Perusak dan yang melaknat NU Terdepan Itu Bernama wahabi

Tantangan NU, Mengharmoniskan Kembali Keberagaman

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, sejak dulu penduduk Nusantara sanggup menerima kehadiran agama-agama dari luar dalam suasana harmonis. Perbedaan tak menimbulkan gejolak berarti hingga datang era modern seperti sekarang ini.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said ini, modernisasi telah membuat warga Tanah Air terpecah. Padahal, sejarah mencatat pergantian agama-agama, mulai dari Kapitayan, Hindu, Budha, Islam, atau Kristen, di Nusantara berlangsung damai.

“Kita sekarang ini dikejar-kejar tantangan yang luar biasa. Baik tantangan dari kanan maupun dari kiri,” katanya saat meresmikan dua program unggulan di bidang pemberdayaan ekonomi Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) di Jakarta, Jumat (26/7) petang.

Dari sisi kiri, sambung Kang Said, Indonesia mendapat gempuran kebudayaan liberal yang ditimbulkan globalisasi. Sementara dari sisi kanan, ekstrimisme agama menekan masyarakat cenderung kaku dan anti-perubahan.

“Begitu (budaya) ini datang ke budaya kita, maka kita harus hati-hati. Karena bisa menyebabkan kita kehilangan budaya, karakter, dan jati diri bangsa,” ujarnya di hadapan sekitar 100 pengurus masjid NU.

Kang Said mengajak umat Islam untuk kembali menjaga keharmonisan yang sedang tertantang ini. Sebagai filternya, NU harus tetap berpegang teguh pada motto al-muhafadhat ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (merawat khazanah lama yang baik, dan mengadopsi khazanah baru yang lebih baik)

Kehadiran orang-orang wahabi yang berkepentingan duniawi dan dengki terhadap Islam, dan manusia-manusia yang masuk Islam dengan membawa kepentingan untuk merusaknya dari dalam menjadi penyebab tersulutnya fitnah besar di tengah umat Islam

Wahabi didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Pendiri Wahabi ini merupakan murid Ibn Qayyimal-Jauziyah. Ibn Qayyim sendiri merupakan murid Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah adalah pemuka mazhab Hanbali.

Dari silsilah seperti itu, kita tahu bahwa sebenarnya pendapat ataupun kalau boleh disebut ajaran Wahabi itu sebenarnya bersumber dari mazhab Hanbali. Imam Ahmad bin Hanbal terkenal sebagai Imam mazhab yang cukup ketat berpegang pada nash. Jarang sekali ia memainkan unsur logika dalam membahas suatu nash.Tak heran banyak kalangan yang mempersoalkan posisi Imam Ahmad. Beliau dianggap bukan ahli fiqih. Beliau hanya menyusun kitab hadis yang sistematika babnya disusun menurut bab dalam ilmu fiqh. Kalaupun ia dianggap ahli hadis, ternyata kitab Musnad-nya tidaklah termasuk dalam “kutubus sittah” (enam kitab hadis terkemuka). Jadi, sebagai ahli fiqih ia diragukan, dan sebagai ahli hadis pun juga layak dipertanyakan.

Akan tetapi, terlepas dari kontroversi akan ketokohan Imam ahmad, yang jelas dari sisi penganut paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beliau berjasa besar dalam mempertahankan aqidah islamiyah. Imam Ahmad dalam ilmu kalam dikelompokkan sebagai penganut paham salafiyah; sebuah paham yang sebenarnya banyak berbeda dengan paham Asy’ariyah (yang diikuti di Indonesia itu).

Dari sini kita sudah bisa menangkap bahwa Muhammad bin Abdul wahhab, pendiri Wahabi itu, sudah punya beban sejarah yang kontroversial, karena guru dari gurunya sendiri juga dianggap kontroversial. Dari sini pula kita bisa mengerti mengapa Muhammadiyah dan NU terlihat sangat susah untuk “bertemu”. NU mengambil paham Asy’ariyah sedangkan Muhammadiyah, yang terpengaruh Wahabi, lebih cenderung pada paham Salaf.

Dari sini kita bisa pula mengerti mengapa pesantren tradisional di Indonesia tidak mengajarkan kitab Ibn Taimiyah (pemuka mazhab Hanbali), bahkan banyak yang masih mengkafirkan Ibn Taimiyah di Indonesia.

Apa dan Bagaimana langkah Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren mencegah pergerakan Wahabi Salafi di Indonesia yang masuk ke kampong-kampung dan desa? Untuk menjawab kegelisahan ini, Majalah Risalah NU melakukan wawancara dengan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj. Berikut petikan wawancaranya:
.
Bagaimana sebenarnya Wahabi di Indonesia?
Itu sebenarnya sudah lama, tapi eksisnya sejak tahun 80-an setelah Arab Saudi membuka LIPIA (Lembaga llmu Pengetahuan Islam dan Arab). Ketika itu direkturnya masih bujangan yang kawin dengan orang Bogor. Kemudian menampakkan kekuatannya, bahkan mereka membuka yayasan-yayasan. Setahu saya ada 12 yayasan yang pertama kali dibentuk. Antara lain As-Shafwah, Assunnah, Annida, Al-Fitrah, Ulil Albab, yang semuanya didanai oleh masyarakat Saudi, bukan oleh negaranya. Contoh, Assunah dibangun oleh Yusuf Ba’isa di Cirebon, di Kali Tanjung, Kraksan. Sekarang ketuanya Prof. Salim Badjri, muridnya adalah Syarifuddin yang ngebom Polresta Cirebon beberapa waktu lalu. Dan satu lagi yang ngebom gereja Bethel di Solo namanya Ahmad Yusuf. Jadi, sebenarnya, Wahabi ajarannya bukan teroris, tapi bisa mencetak orang jadi teroris karena menganggap ini itu bid’ah, musyrik, lama-lama bagi orang yang diajari punya keyakinan,”Kalau begitu orang NU boleh dibunuh dong, kalau ada maulid nabi boleh di bom,” dan seterusnya.
.
Soal pemalsuan kitab-kitab Sunni, khususnya kitab yang jadi referensi NU, bagaimana?
Kita sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengkounter pendapat mereka. Kita jangan minder dan merasa kalah. Kalau hanya dihujat maulid nabi gak ada dalilnya, atau ziarah kubur gak ada dalilnya, sudah banyak buku yang ditulis untuk membantahnya. Misalnya yang ditulis pak Munawir-Yogya, Abdul Manan-Ketua PP LTM NU, Idrus santri Situbondo, Muhyiddin Abdus Somad dari Jember, dan lain sebagainya. Banyak yang menulis buku tentang dalil-dalil amaliah kita. Ziarah kubur dalilnya ini, maulid nabi dalilnya ini, tawassul dalilnya ini. Seperti saya sering mengatakan maulid nabi itu memuji-muji nabi Muhammad, semua sahabat juga memuji nabi Muhammad, setinggi langit bahkan. Nabi Muhammad diam saja tidak melarang. Tawassul, semua sahabat juga tawassul dengan Rasulullah. Tawassul dengan manusia, Rasulullah lho! Bukan Allahumma langsung, tapi saya minta tolong Rasullulah.sampai begitu! Litarhamna,rahmatilah kami. Labid bin Rabiah mengatakan, kami datang kepadamu wahai manusia yang paling mulia di atas bumi, agar engkau merahmati kami. Coba, minta rahmat kepada Rasulullah, kalau itu dilarang, kalau itu salah, Rasulullah pasti melarang, “jangan minta ke saya, musrik”. Tapi Enggak tuh!
.
Dalam Al-Quran juga ada dalil, walau annahum idz dzalamu anfusahum jauka fastaghfarullaha wastaghfara lahumurrasul lawajadullaha tawabarrahima (surat Ahzab). Seandainya mereka yang zalim datang kepada Muhammad, mereka istigfar, dan kamu pun (Muhammad) memintakan istighfar untuk mereka, pasti Allah mengampuni.
.
Ya kan sudah banyak yang diterjemah, bahkan kalau ada orang pergi haji pulang dapat terjemahan. Itu dari kitab-kitab Wahabi semua.
.
Begini, Muhammad bin Abd Wahab, pendiri Wahabi itu mengaku bermazhab Hambali, tapi Hambali versi ibn Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah pengikut Hambali yang ekstrim. Imam Hambali itu imam ahli sunnah yang empat yang selalu mendahulukan nash atau teks daripada akal, jadi banyak sekali menggunakan hadist ahad. Kalau Imam Hanafi kebalikannya, dekat dengan akal. Murid Imam Hambali lebih ekstrim, lahirlah Ibnu Taimiyah yang kemudian punya pengikut Muhammad bin Abd Wahab. Di sini menjadi luar biasa, malah dipraktekkan menjadi tindakan, bongkar kuburan. Sementara Ibnu Taimiyah masih teori dan wacana.
.
Bukan dari Mekkah, dari Najd, Riyadh. Orang Makkah asli, Madinah asli, Jiddah asli gak ada yang Wahabi, hanya tidak berani terang- terangan.Dulu hampir saja terjadi fitnah, ketika mahkamah Syar’iyyah al ‘ulya (mahkamah tinggi syar’i) menghukumi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki harus dibunuh karena melakukan kemusyrikan. Keputusannya sudah ditandatangani oleh Raja Khalid, tapi dimasukkan laci oleh Raja Fahd.waktu itu putera mahkota, katakanlah dibekukan! Kalau terjadi, gempar itu!
.
Saya yakin kalau yang keluaran pesantren gak terpengaruh. Saya di sana 13 tahun, sedikitpun, malah berbalik benci. Semua yang keluaran dari NU ke sana, seperti pak Agil Munawar, Masyhuri Na’im, gak ada yang Wahabi. Semua keluaran sana gak ada yang Wahabi kalau dari sini bekalnya kuat. Atau bukan NU, seperti Muslim Nasution dari Wasliyah, pak Satria Efendi dari PERTI, gak Wahabi meskipun di sana belasan tahun sampai doktor. Pak Maghfur Usman, Muchit Abdul Fattah, pulang malah sangat anti, Wahabinya.
.
Insya Allah Selama pesantren- NU masih eksis, Wahabi gak akan masuk. Wahabi pertama kali dibawa Tuanku Imam Bonjol yang tokoh Padri. Padri itu pasukan berjubah putih yang anti tahlil. Hanya waktu itu kekerasannya Imam Bonjol untuk menyerang Belanda. Padahal ke internal juga keras. Imam Bonjol itu anti ziarah kubur. Kuburannya di Manado. Waktu saya ke Menado ditawari, “mau ziarah kubur gak?” Ya waktu hidupnya gak seneng ziarah kubur, masak saya ziarahin?
.
Tentang pengikut Wahabi yang banyak dari kalangan Eksekutif?
Orang kalau sudah punya status sosiai, direktur, sudah dapat kedudukan, terhormat, kaya, yang kurang satu, ingin mendapatkan legitimasi sebagai orang soleh dan orang baik-baik. Nah, mereka kemudian mencari guru agama. Guru agama yang paling gampang ya mereka, ngajarinya gampang. Kalau ngaji sama orang NU kan sulit, detil. Kalau sama mereka yang penting ini Islam, ini kafir, ini halal, ini haram, doktrin hitam putih. Sehingga di antara orang-orang terdidik terbawa oleh aliran mereka. Karena masih instan faham agamanya. Kaiau kita gak, kita faham agamanya sejak kecil.
.
Inti gerakan Wahabi itu di semua lini ya?
Harus diingat bahwa berdirinya NU itu adalah karena perilaku Wahabi. Wahabi mau bongkar kuburan Nabi Muhammad, KH Hasyim bikin komite Hijaz yang berangkat Kiai Wahab, Haji Hasan Dipo (ketua PBNU pertama), KH Zainul Arifin membawa suratnya kiai Hasyim ketemu Raja Abdul Azis mohon, mengharap, atas nama umat Islam Jawi, mohon jangan dibongkar kuburan Nabi Muhammad. Pulang dari sana baru mendirikan Nahdlatul Ulama. Jadi memang dari awal kita ini sudah bentrok dengan Wahabi. Lahirnya NU didorong oleh gerakan Wahabi yang bongkar-bongkar kuburan, situs sejarah, mengkafir- kafirkan, membid’ah-bid’ahkan perilaku kita, amaliah kita. Tadinya diam saja, begitu yang mau dibongkar makam Nabi Muhammad, baru KH Hasyim perintah bentuk komite tersebut.
.
Seberapa Kuat Wahabi Sekarang?
Sebetulnya tidak kuat, sedikit. Tapi dananya itu yang luar biasa. Dan belum tentu orang yang ikut karena percaya Iho! Artinya kan semata-mata karena dapat uang. Uangnya luar biasa. Si Arab-arab itu, kan kebanyakan Arab bukan Habib. Jadi pada dasarnya mereka juga cari uang.
.
Ancamannya seberapa besar?
Yah, Kalau kita biarkan ya terancam. Kalau setiap hari radio MTA, TV Rodja ngantemin maulid nabi, ziarah kubur, lama-lama orang terpengaruh juga.

10 Logika dasar penangkal syi’ah? Inilah 10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah Level Awam hingga Ulama ?

:cry

HANYA DENGAN 1 ARTIKEL INI ANDA DAPAT MENUMBANGKAN FITNAH WAHABI TERHADAP MADZHAB SYIAH ! Artikel ini Meruntuhkan Fitnah Wahabi atas Madzhab Syi’ah dari Dasarnya ! 10 Logika Dasar Penangkal Wahabi

  • hakekat.com
    Lihat Gallery Syiah

    Artikel ini menjawab tuduhan hakekat.com

    SYI’AH, sebagai kelompok yang mendukung penuh keputusan Ali tanpa tanya kenapa !!!
    .
    Dicap Syi’ah jika membela 12 khalifah Quraisy Ahlul Bait !!! Dicap Sunnah jika membela kelompok pemberontak (bughat) pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.
    .
    Dicap Syi’ah jika anda mengingkari Nabi tidak menunjuk atau menentukan seseorang yang harus menggantikannya. Padahal Abubakar dan Umar menunjuk penggantinya, artinya tuduhan berat dilontarkan pada Nabi SAW.
    .
    Dicap Syi’ah jika mempersoalkan Ketidakhadiran Ali bin Abi Thalib karena sibuk mengurus pemakaman Nabi, memunculkan pendapat yaitu bahwa khalifah harus dari keluarga Nabi (dalam hal ini Ali bin Abi Thalib).

    Memang seseorang tatkala hendak mencela Syi’ah terkadang harus mencampakkan “kewarasan” nya demi mencapai tujuannya yaitu mencela sekaligus membuat stigma buruk terhadap Syi’ah.Dimanapun tulisan banyak sekali ditemukan tulisan dengan kwalitas seperti itu . . . .

    Betapa sikap orang tersebut setali tiga uang dengan sikap orientalis Barat dalam memahami ajaran Islam. Pemahaman sikap orientalis Barat yang tidak jujur akan ajaran Islam hanyalah dilandasi oleh persepsi semata bukan bukti konkrit. Mereka sepertinya enggan untuk menelaah dan mengkaji Islam secara detil dan hanya berkutat pada persepsi dan asumsi belaka.

    Akan tetapi lihatlah apa yang orientalis Barat itu lakukan ketika mereka melakukan kajian teologis atas kitab2 mereka. Mereka melakukannya secara kritis dan dengan sungguh2 didasarkan atas timbangan bukti2. Bagi mereka yang pernah duduk dalam kajian teologi Kristen tentulah tidaklah asing lagi

    Tapi mengapa ketika mereka menulis dan mengkaji Islam, sikap dan prinsip akademis tersebut mereka campakan begitu saja seolah mereka cukup berpuas diri dengan hanya berbekal asumsi dan persepsi semata?

    Demikian halnya timbangan yang sama dilakukan kepada Syiah. Ketika ada teman Sunni yang berbicara tentang Syiah, beberapa dari mereka hanya berpuas diri dengan hanya mengutip dan kemudian berasumsi.

    BERIKUT ini adalah 10 LOGIKA DASAR yang membela  akidah Syiah, bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syiah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai WAHABI  SALAFi yang ingin menyesatkan Ummat Islam dari jalan yang lurus.

    Kalau Anda berbicara dengan orang wahabi, atau ingin mengajak orang wahabi bertaubat dari kesesatan, atau diajak berdebat oleh orang wahabi, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai wahabi; coba kemukakan 11 LOGIKA DASAR di bawah ini.

    Sehingga kita bisa membuktikan, bahwa tuduhan hakekat.com adalah absurd !

    Meludah kelangit terpercik muka hakekat.com :

    LOGIKA 1  ; Seputar otentisitas Kitab Rujukan Syi’ahDoa Singkat Situs Humor Indonesia Cerita Lucu Gambar Lu

    Wahabi sengaja membaca nukilan dari kitab kitab Syi’ah secara sepotong- sepotong.

    Wahabi memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya. Wahabi sengaja membaca kutipan yang memperkuat  pendapatnya, dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengankepentingan mereka (sengaja tidak dibaca). Hendaknya membaca kitab Syiah  seluruhnya supaya faham maksud perkataan sesuatu hal dengan jelas.

    APAKAH MUNGKiN BUKU DAN WEBSiTE SALAFY YANG MENGKRiTiK SYi’AH ( YANG MEREKA KLAiM MENCANTUMKAN CATATAN KAKi DENGAN MERUJUK KEKiTAB UTAMA SYi’AH) ADALAH REKAYASA ????

    Jawaban :
    Ya, mengandung unsur rekayasa.. Karena saya sudah pernah membuktikan nya…
    – Salafi tidak merujuk langsung ke kitab syi’ah tapi mereka ambil dari buku buku yang memuat teks syi’ah sepotong sepotong
    – Mereka juga mengutip isi dari ktab kitab syi’ah tidak secara lengkap dan mereka memotong motong teks nya atau menambah nambah teks yang tidak ada didalam kitab asli syi’ah dengan teks buatan salafi
    – Terkadang mereka menghilangkan tanda ( ) dari teks agar bercampur baur hadis dalam tanda tanda itu dengan tafsirnya
    – Itulah beberapa cara atau sebagian cara cara salafy dalam memutar balikkan kitab syiah

    Orang orang Wahabi yang menentang Syi’ah, saya yakin mayoritas mereka belum pernah melihat langsung nukilan itu di kitab Syiah

    Saya yakin hakekat.com mengutip dari pihak ketiga, lalu sok tau seolah olah mengutip dari kitab asli…

    hakekat.com…. kalau buat artikel kok asal asalan saja … ente cuma katanya katanya… cuma membaca beberapa buku , tak pernah survey ke daerah nya ( iran) …sehingga ente memvonis syiah itu jelek/ kafir … coba kalau ente langsung ke tempatnya dan tempat syiah yang ahlulbait yang baik tentu ente akan terbelalak hati ente…. karena golongan syiah itu banyak, mungkin yg ente tahu hanya syiah yg jelek (extrem),…..begitu juga digolongan sunni… banyak ragamnya…coba menurut ente yang mana kelompok suni yang paling benar ?  NU, muhammadiyah, LDII, Islam salafi, salafi wahabi, jamaah tabligh, atau wahabi ? inilah gambaran kecil dari umat islam

    Jika pihak Syi’ah menukil sebuah hadis dari Bukhari (yang merupakan salah satu literatur induk tafsir ahlussunnah wal jamaah). Apakah anda akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah hanya karena   berasal dari salah satu kitab literatur utama ahlussunnah ? misal :

    Hadis tentang  kedua orang tua Nabi SAW dikatakan sebagai isi neraka dibantah NU !

    Hadis tajsim tasybih Abu Hurairah dibantah NU !

    Syi’ah menghujat kitab sendiri ?? (hakekat.com menuduh demikian)..

    Jika pihak Syi’ah mengambil riwayat dari sumber ahlussunnah, apakah itu   dapat dianggap pendapat resmi ahlussunnah ? Seolah olah adanya sebuah riwayat dari kitab ahlusunnah bisa memastikan ahlussunnah berpendapat    seperti itu. Misal :

    hadis tentang Abubakar tidak dijamin surga dalam Kitab Al  Muwatha’ Imam Malik !

    Hadis Haudh riwayat Abu Hurairah bahwa mayoritas sahabat berbuat bid’ah (haudh) !

    Meski ada dalam kitab Sunnah, namun pihak Aswaja tidak mempercayai hadis ini

    Riwayat hadis Ahlusunnah meskipun shahih, namun jika bertentangan dengan  pendapat resmi Ahlusunnah, maka riwayat tersebut tidak dapat dianggap menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri. Misal :

    Hadis Imam Ali mengakui kepemimpinan nya !

    Hadis Umat berkhianat pada Ali !

    Hadis 12 khalifah ! Hadis khalifah umat Islam adalah Ahlul Bait !

    Hadis tersebut shahih, namun Ahlu Sunnah tidak memakainya.. Jadi Syi’ah mengutip dari sebagian sumber Sunni juga..

    Jika memang Syi’ah sudah memiliki pendapat resmi tentang sesuatu hal, lalu  mengapa ada riwayat yang bertentangan dengan hal tersebut sehingga bisa dinukil oleh musuh Syi’ah seperti Wahabi ? Riwayat itu untuk sekedar  pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi   riwayat yang mengandung kejanggalan dan pertentangan di berbagai tempat  tidak digubris oleh Syi’ah karena lemah, sehingga hal ini tidak  mempengaruhi kesepakatan ulama Ushuliy mutaakhirin

    Betapa banyak riwayat aneh, palsu, mungkar dalam kitab Sunni dan Syi’ah

    Hakekat.com pernah membuat tulisan sensasional lainnya dengan judul “Ketika Keledai Telah Menjadi Perawi Hadis”. Penulis membawakan hadis dalam kitab hadis mazhab Syiah yaitu Al Kafi dimana matannya menceritakan ada seekor keledai menyebutkan hadis keutamaan Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Orang-orang bodoh akan tertipu dan tanpa sadar mentertawakan kebodohannya sendiri. Riwayat Al Kafi ini kedudukannya dhaif jika dipandang dari sisi keilmuan hadis Syiah karena ia diriwayatkan atau dinukil tanpa sanad dalam kitab Al Kafi. Maka orang yang objektif akan berpikir bagaimana mungkin mencela mazhab Syiah dengan riwayat yang dhaif di sisi mereka. Betapa banyak riwayat aneh, palsu, mungkar dalam kitab Ahlus Sunnah lantas bisakah riwayat ini dijadikan dasar mencela mazhab Ahlus Sunnah?

    Ulama Syi’ah yang pertama kali mencetuskan ide pembagian hadis Syi’ah adalah Sayid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus (589 H- 664 H), murid beliau meneruskan jejak langkah sang guru yaknu Syaikh Allamah Al Hilli ibn Al Muthahhar (w.726 H). Dapat dikatakan bahwa tokoh tokoh ini merupakan ulama mutaakhirin (ushuliy) yang banyak memakai akal sehat dalam beragama, jelas mereka memperbaiki kesalahan ulama mutaqaddimiin syi’ah. Dalam syi’ah pintu ijtihad selalu terbuka ! Maka muncullah beberapa jenis hadis seperti sahih, hasan, muwatstsaq, dhaif dan qawiy

    Api kemenangan muncul ketika pada abad ke 10 H Syahid Tsani melakukan penelitian atas sanad hadis Al Kafi Kulaini lalu menyimpulkan bahwa : dalam Al Kafi terdapat 5073 hadis sahih, 114 hadis hasan, 1118 hadis muwatstsaq, 302 hadis qawiy dan 9845 hadis dhaif..Pada awal abad ke 11 Putera Syahid Tsani mengeluarkan hadis hadis shahih dari empat kitab utama ( Kutub Al Atba’ah) dan menuangkannya dalam sebuah kitab berjudul : MUntaqa Al Jaman Fi Ahadits Al Shihah Wa Al Hisan

    Dalam kitab Man La Yahdhuruh Al Faqih didapatkan bahwa jumlah riwayat yang muktabar dan shahih hanya berjumlah 1.642 hadis saja.

    Hadis hadis dha’if  Syi’ah memang masih tercantum dalam literatur syi’ah sampai hari ini, namun telah   ada upaya untuk mengingkari dan mengadakan upaya reformasi terhadap ajaran yang memantik pertikaian ini. Pembagian hadis Syi’ah merupakan upaya  mereformasi ajaran syi’ah demi  memulai persatuan mazhab. Keyakinan dan doktrin yang bertentangan dengan Al Quran tidaklah mustahil untuk dikoreksi, sehingga dapat memperbaiki kesalahan kesalahan nyata ulama mutaqaddimin Syi’ah yang tertulis dalam buku Syi’ah

    Perubahan dalam mazhab Syi’ah ? Jika kita perhatikan lebih dalam, ada perubahan-perubahan dalam mazhab syiah. Ada beda antara ajaran syiah yang dulu dan yang sekarang. Dalam Syi’ah, ijtihad yang diambil adalah ijtihad yang terbaru dari fukaha atau marja’i taqlid yang masih hidup, bukan dari fukaha atau marja’i taklid yang sudah wafat.

    Syi’ah mengkritisi banyak kesalahan Al-Kafi karya al-Kulayni, karena itu bukan kitab suci yang tidak bisa salah.

    Dalam Syi’ah pintu ijtihad selalu terbuka untuk memperbaiki kesalahan ulama masa lampau. Hadis hadis dha’if  zaman kuno (yang sudah tidak berlaku) yang digunakan HAKEKAT.COM , atau sekedar pendapat pendapat pribadi segelintir ulama Syi’ah  (yang hilang setelah mereka meninggal ) tidaklah  dapat digunakan untuk menghantam Syi’ah modern !

    Jangan lupa dalam Syi’ah ada Ushuliy yang menghantam Syi’ah Akhbariy, ini bentuk tajdid dan reformasi Syi’ah.

    Janganlah kesalahan ulama zaman kuno (mutaqaddimin) ditimpakan kepada ulama  mutaakhirin !

    Saat ini Marja’ Taqlid Syi’ah adalah Ayatullah Ali Khamenei, jadi buat apa kesalahan Imam Khomeini (jika ada) di anggap sebagai kesalahan Syi’ah dimasa kini…

    Logikanya begini : Apakah kesalahan Bukhari, kesalahan kitab kuning NU, kesalahan Imam Ghazali, kesalahan Abu Hasan Al Asy’ari adalah KESALAHAN SEMUA PEMELUK mazhab Sunni ???

    .

    Pertanyaan : Mengapa Hadith Syiah Banyak Yang Dhaif ? Apakah perawi hadis syi’ah pendusta ?
    .
    Jawaban :
    1. Hadis yang dikumpulkan berasal dari semua sekte syi’ah yang mengaku ngaku syi’ah, termasuk syi’ah ghulat dll dan Syaikh Kulaini belum mengklasifikasikan shahih tidak nya hadis tersebut
    .
    2. Sanad hadis banyak lemah karena kondisi keamanan dalam pengumpulan hadis tidak kondusif
    .
    3. Bercampur antara riwayat taqiyah dan yang bukan taqiyah
    .
    4. Penguasa dan musuh musuh syiah banyak menyembelih pengikut syiah, memalsukan teks teks kitab lalu dinisbahkan kepada syiah dan membakar perpustakaan syiah
    .
    5. Masuknya musuh musuh islam ke jalur periwayatan hadis untuk merusak Syi’ah, sehingga muncul hadis hadis ghuluw dll

    LOGIKA 2 ; Islam dan Sahabat

    Syi’ah Caci Maki Sahabat Dan Istri Nabi ??? tidak ada tuh anjuran mencaci sahabat, yg ada mengkoreksi “kemaksuman” sahabat ! para sahabat tidak hanya saling menghina tetapi juga saling membunuh

    Aswaja (Sunni) Menuduh Abubakar dan Umar Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw ! Rasulullah saw difitnah mengabaikan wasiat  kepemimpinan politik, sementara Abubakar dan Umar memikirkan siapa penggantinya kelak.

    Tanyakan kepada orang wahabi: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan sahabat Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai sahabat merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai sahabat Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

    Lalu katakan kepada dia: “Sahabat Nabi adalah teman Nabi. Kalau orang wahabi  mengaku sangat mencintai sahabat Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam lebih utama daripada sahabat-nya? Mengapa kaum wahabi  sering membawa-bawa nama sahabat, tetapi kemudian melupakan Nabi?”

    Faktanya, Rasulullah saw memerintah kaum muslimin selama 23 tahun tetapi (versi wahabi) Beliau SAW tidak pernah memikirkan wajibnya dan pentingnya mengangkat khalifah.   Tetapi Abubakar dan Umar menjelang sekarat malah memikirkan siapa sosok penggantinya kelak.Bagaimana bisa terpikirkan bahwa Rasulullah saw mengabaikan wasiat  kepemimpinan politik untuk negara Islam ???

    Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”

    Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Sebuah adagium yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”

     Ushul NU dan Syi’ah dibidang  sahabat ternyata ada kesamaan :

    a. Syi’ah mempedomani sahabat yang setia pada Ali hingga akhir hayatnya. Artinya Syi’ah juga berpedoman pada sahabat

    b. Sahabat yang berkhianat pada Ali ketika meriwayatkan hadis maka hadisnya diseleksi dulu, misal : Syi’ah menerima hadis tentang keutamaan Persia + hadis haudh riwayat Abu Hurairah, Syi’ah menerima hadis ahlulkisa + hadis Fatimah marah pada Abubakar dari Ummul Mukminin Aisyah. Jadi tidak benar Syi’ah mengkafirkan sahabat

    c. Jika sahabat yang berkhianat pada Ali juga diterima sebagian hadisnya oleh Syi’ah, maka ADiL atau TiDAK ADiL nya sahabat kelompok tersebut tidaklah menjadi masalah, karena NU dan Syi’ah sama sama mencari hadis otentik melalui jalur sahabat !

    Inilah ushul yang indah, jalannya beda tetapi tujuan sama yakni mencari hadis otentik dari Nabi SAW

    Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ?

    Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

    Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Syiah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci semua sahabat. Bahkan syiah   sangat mencintai mayoritas sahabat yang wafat semasa Nabi SAW hidup + minoritas SAHABAT yang hidup pasca Nabi SAW wafat. Justru kami meragukan klaim wahabi  yang mencintai ahlul bait

    • Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya. Syi’ah dituduh tukang laknat. Tetapi pembunuh sahabat, pembunuh cucu Nabi SAW (Imam Hasan) dan pembunuh Fatimah justru diagung agungkan. Syi’ah dituduh melaknat sahabat padahal PADA HARi WAFAT NABi  banyak panutan sunni  “meninggalkan jenazah Nabi SAW lalu mengadakan kudeta di Saqifah”.
    • Jenazah Nabi SAW saja ditinggalkan !!! itukah panutan dijamin surga ?? Bagai mana dengan muawiyah dan amr bin ash nya menggulingkan pemerintahan sah khalifah ali bin abi thalib ? DI TII dituduh bughat, tetapi Aisyah dan Muawiyah tidak bughat. Muawiyah menghapus sistem pemerintahan kekhalifahan menjadi feodal, dimana logika anda yang cerdas itu?:)   lebih baik anda simpan logika2 yang mungkin akan menyesatkan anda, gunakan energi anda untuk membangun islam yg rahmatalilalamin. bukan untuk memperuncing perbedaan.

    LOGIKA 3 ; “Ali dan Jabatan Khalifah”

    Tanyakan kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”

    Salahkan Syi’ah marah pada Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah (aktor peristiwa Saqifah) yang karena ulah mereka telah menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain

    yang merampas hak orang lain dicela ATAU Imam Ali dan Imam Hasan yang menuntut haknya ?

    Imam Ali tidak memerangi Abubakar, Umar dan Usman BUKAN TANDA KELEMAHAN beliau…

    Dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para sahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

    Kenapa Abubakar Bisa Berkuasa Mengalahkan Imam Ali ? Ini rahasianya..

    Pertentangan Aus dan Khazraj sudah terlalu terkenal dalam sejarah Islam..Diterimanya Rasul di Madinah dan terpilihnya Abubakar di Saqifah Bani Sa’idah  secara kokoh  di kedua klan tersebut karena kedua klan tersebut membutuhkan “orang ketiga” dalam konflik diantara mereka. Hal ini bisa dipahami dalam manajemen konflik politik.

    Imam Ali AS dan Fathimah AS bukan orang lemah, Mereka Penjaga Keberlangsungan Risalah Islam Dari Kepunahan

    Apakah Imam Ali Lemah Tidak Menuntut Tiga Khalifah ???

    Jawab :

    1. Kenapa Nabi Harun diam terhadap Samiri ????

    2. Kenapa Allah hanya diam saja kepada Iblis yang tidak mau tunduk terhadap perintah Allah??? Bukankah Allah mempunyai kemampuan utk menghabisi iblis saat itu juga….

    3.Kenapa Allah berikan kesempatan kepada Iblis yang jelas jelas tidak taat untuk menggoda umat mencari temannya sampai akhir kiamat?

    LOGIKA 4 ; “Hadis Ahlul Bait Ditolak, Anda Ingkar Sunnah”

    Tanyakan kepada orang wahabi : “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”

    Lalu katakan kepada dia: “Orang Yang Tidak Mencintai Ahlul Bait ciri cirinya : sangat membenci dan menolak keberadaan hadis Al-Ghadir. Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait tanpa dikaji sedikit pun.Ingkar Sunnah Jika Anda Menolak Kebenaran Syi’ah dan Hadits Ahlul Bait”

    Benarkah Sumber  Ajaran Syi’ah berpegang pada Ahlul Bait ?? Benarkah Syi’ah mengikuti Ahlul Bait ? Apa cirinya ??

    LOGIKA 5 : “Pengikut  Ahlul Bait Melaknat Sahabat dan Isteri Nabi ?”

    LOGIKA 6 ; “Seputar Imam Syiah”

    Tanyakan kepada orang Syiah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syiah SEBAGAi PEDOMAN AGAMA.

    Lalu tanyakan kepada orang wahabi: “Mengapa dari ke-12 imam Syiah itu bisa kalah dengan Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hanbali, Imam Asy’ari dan Imam Ghazali ? Mengapa Asy’ari, Syafii dan Ghazali  bisa kalah dengan deretan 12 imam Syiah? Apakah orang Syiah meragukan keilmuan 12 imam sebagai pedoman agama tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam madzhab lebih tinggi dari 12 imam Syiah?”

    Tanyakan kepada orang wahabi : “Siapa yang lebih Anda taati, Mayoritas Sahabat atau imam Syiah?” Tentu dia akan akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada semua sahabat.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada mayoritas sahabat ? Bukankah khalifah Quraisy itu ada 12 menurut riwayat yang mutawatir yang mencapai 20 jalan  ? Bukankah anda disuruh berpegang pada tsaqalain ?”

    Syi’ah pengikut khilafah Allah dan khilafah Rasulullah s.a.w dituduh SESAT. Lalu pengikut Asy’ari, Syafi’i dan Ghazali YANG BENAR ?

    Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
    itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
    Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar

    Kemudian tanyakan ke wahabi  itu: “Mengapa dalam kehidupan orang sunni, dalam kitab-kitab sunni, dalam pengajian-pengajian Sunni; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat mayoritas sahabat daripada pendapat 12 khalifah ahlulbait ? Mengapa orang Sunni jarang mengutip dalil-dalil dari Ahlul Bait? Mengapa orang Sunni lebih mengutamakan perkataan mayoritas sahabat ?”

    Kenapa Mu’awiyah hadisnya diterima lalu dianggap tsiqah dan adil padahal  dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

    Kenapa Mu’awiyah  tidak  menjadi kafir  zindiq padahal dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

    Kenapa Mu’awiyah hadisnya diterima lalu dianggap tsiqah dan adil padahal  dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

    Banyak kitab sejarah  mencatat bahwa  “Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pemuka agama untuk melaknat   Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Pemerintah Bani Umayyah menyuruh khatib khatib untuk melaknat keluarga Ali”, contoh :

    1. Kitab Al Ahdats karya Ali Al Madini (gurunya Bukhari)
    2. Tarikh Ibnu Asakir jilid 4 halaman 69
    3. Tarikh Ibnu Ishaq
    4. Tarikh Ibnu Khaldun  3/55-58
    5. Musnad Ahmad jilid 1 halaman 188
    6. Mustadrak Al Hakim  jilid 1 halaman 358

    LOGIKA 7 ; Anak dan isteri Nabi Nuh ada yang ingkar, Paman Muhammad SAW ada yang ingkar. Logiskah semua sahabat adil sementara Isteri, Anak dan paman para Nabi saja ada yang ingkar pada Tuhan ?

    o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
    o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam

    LOGIKA 8 ; Islam dan Politik

    Tanyakan pada wahabi : “Apakah mungkin orang yang kuat akidah maka tidak akan menegakkan pemerintahan dan negara ISlam ?”. Maka wahabi menjawab : “Kerajaan Saudi Arabia adalah negara Islam, Orang Indonesia dan Malaysia sampai patah leher pun mereka shalat namun gagal mendirikan Negara Islam.”

    Lalu tanyakan pada wahabi : “Mengapa Arab Saudi yang bertauhid menjadi budak Amerika ? Sampai menjadikan Tanah Suci sebagai pangkalan Amerika menghadapi Irak dalam Perang teluk ?”

    Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat. Islam Syi’ah menyatukan negara dengan Agama. Agama tanpa negara adalah omong kosong kata Syiah

     

    .
    LOGIKA 9 ; Kecintaan Pada Ahlul Bait

    Ahlusunnah (Sunni) tidak mencintai Ahlul Bait, buktinya membela ORANG YANG MELAKUKAN pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya

    Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
    1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

    Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

    2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
    Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
    Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

    3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
    Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

    4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
    Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

    5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
    Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

    6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
    beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

    7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
    Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

    8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
    beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

    9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
    Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

    10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
    beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

    11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
    beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
    Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

    12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
    beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

    CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

    Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

    (1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

    (2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

    (3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

    (4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

    (5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

    (6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

    (7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

    (8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

    (9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

    (10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

    (11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

    (12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

  • Logika 10 : Ijtihad Sahabat Mengalahkan Al Quran ?
    Menurut ajaran sunni :
    – Imam Ali berijtihad
    – Mu’awiyah berijtihad
    – Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
    Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

    Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

    PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

    Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

    Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

    Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

    Demikianlah 10 LOGIKA DASAR yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum wahabi. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan Ummat Islam dari propaganda-propaganda wahabi. Amin Allahumma amin

web ini awalnya dibuat oleh Ustad Amin Farazala Al Malaya .

Namun Amin Farazala Al Malaya pembuat website https://syiahali.wordpress.com meninggal dunia pada Selasa 9 Agutus 2011 pukul 01.30 WIB (dini hari). Ustad Husain Ardilla lalu mengambil alih web ini

wahabi gencar menuduh “Said Aqil Merusak Islam”.

Apa target wahabi yang diback up Saudi untuk mewahabikan NKRI ??

Agar Jabatan Ketum PBNU dialihkan kepada ulama NU yang anti syi’ah !! Wahabi menghalalkan segala cara agar Said Aqil dicopot dari jabatannya. Tokoh anti syi’ah sangat diharapkan wahabi jadi ketua umum PBNU

Prihatin dengan ulah wahabi ? Ya, banyak Masjid dan Mushola bahkan Rumah Sakit dan Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah, NU dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) ingin dikuasai kelompok Wahabi yang sering membidahkan bahkan mengkafirkan sesama umat Islam.

Yang berupaya menghancurkan N.U dan syi’ah di indonesia adalah para pembantu dajjal  maka AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI FITNAH wahabi si pembantu DAJJAL YANG TERKUTUK

baca : Sejarawan Wahhabi membongkar Jazirah Najd adalah tempat perselisihan dan berbagai macam fitnah, tempat keburukan, ujian, pembunuhan, perampokan dan permusuhan di antara desa dan kotanya dan sisa kejahiliaan di antara qabilah Arab

Sang Pencinta Ahlul Baitfitnah wahabi\
web ini membela NU dan rakyat malaysia  dari serangan salafi wahabi !! NU dan rakyat Malaysia silahkan saja berbeda mazhab dengan syi’ah tetapi yang penting antara NU dan Rakyat Malaysia serta syi’ah bisa toleran dan saling sayang.. Bagimu mazhab mu bagiku mazhab ku, namun kita bersaudara !
.

MalaysiaSementara itu dari Malaysia diberitakan, secara diam diam kaum syi’ah Malaysia terus melindungi Malaysia dari ajaran sesat wahabi. Rakyat Malaysia boleh berbeda akidah dengan syi’ah namun memiliki musuh yang sama yakni wahabi. Air susu dibalas air tuba !

Syi’ah yang kerap dizalimi di Malaysia justru menghadang perkembangan wahabi di Malaysia. Sambutlah panggilan Husain, walau terus dizalimi namun justru Syi’ah Malaysia melindungi Malaysia dari kesesatan wahabi

 

Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia telah menetapkan perintah larangan terhadap tiga buah buku yang diterbitkan di Indonesia karena menyebarkan doktrin yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah di negara ini

.
Sekretaris Bagian Pengendalian Publikasi dan Teks Al-Quran, Abdul Aziz Mohamed Nor menjelaskan, tiga buku yang diharamkan adalah “Pengantar Ilmu-ilmu Islam,” “Dialog Sunnah Syi’ah” dan “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah.”

Buku “Pengantar Ilmu-ilmu Islam” ditulis oleh Murtadha Muthahhari dan diterbitkan Pustaka Zahra dari Jakarta, sedangkan “Dialog Sunnah Syi’ah” ditulis oleh A Syarafuddin Al-Musawi dan diterbitkan Penerbit Mizan Bandung. Sementara “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah” pula ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat dan diterbitkan PT Remaja Rosdakarya, juga dari Bandung.

1328948585682907091

inilah artikel kami yang membela NU :

warga NU kami himbau mewaspadai web web wahabi yang PENUH PEMALSUAN DATA dan REKAYASA PALSU

.

NU dan syi’ah harus bersatu melawan wahabi penyebar vonis ‘BID’AH ! SESAT ! KAFIR ! dan BOOM !!!

.

Said Agil Siraj Bilang “Syiah di Indonesia Tidak Berbahaya,Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Cocoknya Jadi Pimpinan Ranting NU”

.
.

ulama yang menolak syi’ah hanyalah kaum nashibi (pembenci Sayyidina Ali dan keluarga Nabi saw.) yang mengagung agungkan musuh-musuh Sayyidina Ali dan Ahlul Bait

.

.
.
.
.
.

https://syiahali.wordpress.com  dibuat oleh Ustad Husain Ardilla demi membela N.U dan rakyat Malaysia dari serangan wahabi

wahabi  berusaha mempengaruhi warga nahdliyin dengan membagikan brosur juga mengajak kiai masuk kelompok mereka. Bahkan para aktvis  wahabi masuk ke masjid masjid membagikan bulletin dan majalah serta buku. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran pembajakan oleh mereka. Kantong kantong NU berusaha diwahabikan, dalam hal ini HANYA SYi’AH lah yang melindungi NU. Syi’ah tidak mensyi’ahkan NU tetapi menolak wahabi menyusup ke NU
.
salafi wahabi pecah dua :
a. Salafi dakwah,
ciri cirinya : menganggap NU sebagai ahlul bid’ah sehingga mereka berupaya menghancurkan N.U. Celakanya kini muncul alumni salafi yamani yang membanjiri Indonesia yang doyan membid’ah bid’ah kan N.U
.
b. Salafi jihadi

ciri ciri : gemar ngebom, teroris. Juga kelompok Ustadz Abu Bakar Ba’asir yg sangat mengesankan mengakomodasi tindak kekerasan

dul-cemen.jpg
Utsaimin ulama wahabi yang menjadi budak raja abdullah
.
RIYADH –
Tidak diragukan lagi bahwa Wahabi adalah aliran yang diciptakan untuk mendukung kepentingan kerajaan. Ulama wahabi adalah sekelompok manusia yang dengan tanpa pernah merasa berdosa berusaha menghancurkan sendi-sendi tradisi islam yang baik.
.
Mereka anti kepada yang namanya majlis SHOLAWAT yang disitu nama RASULULLAH (saw) dan AHLUL BAYT nya dipuji dan di sanjung. Mereka anti kepada majlis Tahlil dan Istighostah yang didalamnya banyak sekali menyebut asma ALLAH (swt). Dengan mudah mereka membuat hukum bid’ah dan mentakfirkan pemikiran yang tidak sejalan. Sangat ringan mulut mereka berucap bahwa “bercampurnya wanita dan pria yang bukan muhrim dalam suatu tempat adalah haram dan halal darahnya.”

.

Pada kenyataannya mereka tidak seperti yang mereka katakan. Wahabi diam seribu bahasa saat melihat kotoran menempel dipelupuk matanya. Wahabi tak punya nyali saat menghadapi kebengisan israel terhadap bangsa Palestina, Wahabi tak memiliki cukup keberanian untuk menentang arogansi Amerika di negeri kaum muslimin. Kenapa bisa begitu ? Ya inilah jawaban nyata tanpa perlu kita untuk bertabayyun mencari kebenarannya.

.
as2.jpg

“Memberi kalung emas kepada obama, (Pembantai rakyat irak, afganistan, libya dan negeri muslim lainnya) disaat hari ulang tahunnya. Sementara pada saat yang sama ulama wahabi melarang dan membid’ahkan peringatan maulid untuk mengenang Rasul saw yang mulia “
as3.jpg

.“Ber-tasyabbuh bil kuffar. apakah ini ajaran islam ?

Saling ‘TOAST’ antara peminum khamr ? Wahabi diam seperti kerbau melihat hal ini !“

as4.jpg

.“Lagi al-waleed bin talal bersama ameera al-taweel mengunjungi pesta selebriti diholiwood. Sudah pasti jilbab dilepaskan. Padahal para wanita wahabi diharuskan memakai cadar. nudzubillah.. “
.
as6.jpg
“Bandar bin sultan lagi asik bercanda dengan sahabat dekatnya BUSH (anjing israel), pembantai bangsa PALESTINA“
.
as7.jpg
“Jendral Khaled bin Sultan, menteri pertahanan arab saudi sedang bersama selingkuhan atau pelacur dalam suatu kunjungannya di event miss universe amerika. Lagi-lagi wahabi bungkam, padahal fatwanya adalah halal darahnya jika pria dan wanita yang bukan muhrim bercampur disatu tempat“
14-02-12-20-48.jpg
Kontestan putri dari arab saudi di event miss universe yang memakai gaun bertuliskan kalimat syahadat dan mendapatkan pengawalan langsung dari pangeran Khaleed bin sultan menteri pertahanan saudi
.
dul-markel.jpg
Jabat tangan mesra yang bukan muhrimnya bersama PM jerman Angela Markel
.
dulmesum.jpg
Ciuman mesra dari wanita israel kepada sang raja saat penyambutan obama di istana al-saud
.

Pantaskah mahluk-mahluk terkutuk seperti ini menyebut dirinya ‘Khadimul Haramain’ ???

Pangeran Saudi Berpesta SEX Dan Narkoba Di Istananya

.
JEDDAH – Godaan duniawi kini tersedia di Jeddah, Arab Saudi. Alkohol, narkoba, dan seks bebas kini tersedia, asalkan punya relasi dengan kerabat kerajaan. Demikian bunyi bocoran dari Wikileaks. Informasi ini dikirimkan tahun lalu dari konsulat jenderal Amerika Serikat di Jeddah. Di Arab yang kata ulama bayaran wahabi , alkohol dilarang dan hubungan lawan jenis diatur secara ketat, Tapi jika kemaksiatan yang dilakukan keluarga kerajaan direstui.

.

Sebagai bukti, Konsul Jenderal Martin Quinn mengacu pada pesta Halloween tahun lalu. Laporan yang kemudian dihapus berbunyi: “Bersama dengan lebih dari 150 Saudi muda (laki-laki dan perempuan ) sebagian besar berusia 20-an dan awal 30-an tahun), ConGenOffs menerima undangan ke pesta Halloween bawah tanah di kediaman Pangeran Bandar bin sultan di Jeddah.”

.

“Adegan mirip sebuah klub malam di manapun di Amerika : alkohol berlimpah, pasangan muda menari, seorang DJ ada di balik turntable, dan semua orang mengenakan kostum,” katanya. Aparat kepolisian “menjaga” pesta ini agar tak terendus polisi agama. “Ada ribuan pangeran di Arab Saudi hadir di pesta ini.” Adapun rincian pesta, kabel Wikileaks melanjutkan: “Mereka menyewa bartender asal Filipina khusus untuk meramu koktail menggunakan sadiqi, sejenis minuman keras buatan lokal. dari obrolan yang terdengar, sejumlah tamu adalah perempuan pekerja sex komersial.”

.

wikileaks melanjutkan dengan membuat garis bewah bahwa ada pasar gelap minuman keras mahal – bahkan untuk pangeran. Se botol vodka Smirnoff dijual setara dengan 400 dolar AS. “Selain itu, dalam pesta kokain itu, menggunakan ganja adalah umum dalam lingkaran sosial dan telah dilihat pada kesempatan lain,” tambahnya.

.

Konsul Jenderal menarik kesimpulan yang menarik pada akhir pengiriman.“Ini fenomena yang relatif baru di Jeddah … Hal ini tidak biasa di Jeddah. Untuk rumah pribadi mewah basement-nya dimanfaatkan untuk bar, diskotik, pusat hiburan, dan klub.”

.

Pertanyaan : Dimana para ulama wahhabi-Salafy dan “Rois Haiah Kibar Ulama” mereka? Mengapa mereka bungkam seribu bahasa atas perbuatan maksiat para amir ? Apa mereka cuma sibuk menuduh bid’ah dan syirik terhadap umat Islam yang muwahhid? di mana amar ma’ruf dan nahi munkar mereka ? Apa mereka takut belanja dan jatah makan mereka sehari-hari serta biaya dakwah mereka di stop oleh para amir ? Umat Islam di dunia sulit menerima sebutan “KHADIMUL HARAMAIN” bagi keluarga bejat al-saud.

Inilah foto-foto kemaksiatan keluarga Al-saud yang membuat ulama-ulama Wahabi tunduk dan patuh.

ps1mwb.jpg
ps2mwb.jpg
ps3mwb.jpg
ameramwb.jpg

Perayaan ulang tahun saudi arabia
Ibnu abd wahab bersama agen-agen spionase barat
Konspirasi Ibnu Abd Wahab Bersama Agen Inggris
Seorang wanita seporter tim sepakbola saudi tampak ditangannya memegang rokok
Para Seporter Keseblasan Sepak bola Arab Saudi
Tampak Ditengah-tengah Para Amir Saudi Tumpeng Arab
Konspirasi Ibnu Saud Bin Abd Wahab Dengan Hemper
Kontes Ratu Kecantikan Cilik Saudi Di Saudi Arabia
Tumpeng Arab
Spion Badui, Ibn Saud (muda), Prince Husein, Ibn Abdul Wahhab, Sir Percy Cox

519fp7d5rwl_ss500_

QURAN AND HADITH SPEAK AGAINST THE HYPOCRITES AND  DEVILS OF NAJD SAUDI ARABIA

tanduk-setan
mekah-berubah-mengikuti-rencana-illuminati

najd-is-najd-iraq-is-iraq1

Najd adalah Najad, Iraq adalah Iraq

basmalah

Syi’ah Sesat hanya propaganda SETAN NEJED WAHABi, Agen Zionis dan Pemecah Belah Umat !! Milyaran dollar tumpah ke Indonesia

wahabi1.1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ   رواه البخاري، والترمذي، وأحمد وابن حبان في صحيحه

 
Daripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

tanduk-setan

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya.

Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.”

Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/ 1792 M.

wahabi  berusaha mempengaruhi warga nahdliyin dengan membagikan brosur juga mengajak kiai masuk kelompok mereka. Bahkan para aktvis  wahabi masuk ke masjid masjid membagikan bulletin dan majalah serta buku. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran pembajakan oleh mereka. Kantong kantong NU berusaha diwahabikan, dalam hal ini HANYA SYi’AH lah yang melindungi NU. Syi’ah tidak mensyi’ahkan NU tetapi menolak wahabi menyusup ke NU

AKHIRNYA, KAMI PERSEMBAHKAN CATATAN KECIL INI BAGI SAUDARAKU KAUM MUSLIMIN DI NEGERI INDONESIA, PARA ULAMA MAUPUN SELURUH WARGA BAIK DARI KALANGAN NAHDLIYIN dan MUHAMMADIYAH YANG SEMUA ADALAH KAUM PECINTA ahlulbait

Dari Saudi Muncul Dajjal ?

logo-dajjal.jpg

“simbol asli freemasonry (All-Seeing Eye)“

Wahabi –

Dajjal adalah fitnah (cobaan, kesesatan, huru hara, dan kekufuran) terbesar yang akan muncul di akhir zaman.
Simbol-simbol Dajjal yang berkaitan dengan Zionis Yahudi seperti mata satu bermunculan di mana-mana dari mulai uang dolar AS hingga digunakan sebagai simbol penerbitan buku-buku wahabi, dan kepolisian kerajaan Arab Saudi yang notabene adalah negara ‘Islam’.

.

berpangkal pada hadits berikut:لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

.
maka insya Allah Imam Mahdi syi’ah akan memerangi  SETAN SETAN anti islam tetapi berlabel salaf..
Berikut ini adalah beberapa simbol MATA SATU yang digunakan oleh WAHABI SALAFI.
.

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL : JANGKA DI KESATUAN SAUDI ARABIA

Kesatuan khusus dengan logo Jangka terbalik – al Masuniyyah

Bandingkan dengan yang ini

Seperti organisasi pada umumnya, freemasonry juga memiliki lambang. Lambangnya yang paling terkenal adalah sebuah jangka dan penggaris busur dengan huruf G ditengahnya.

.

Namun anehnya, mereka tidak memiliki interpretasi resmi terhadap arti simbol ini. Jadi interpretasinya seringkali hanya diberikan oleh para individu dengan pandangan dan pemikiran masing-masing.
Misalnya, Huruf G di tengah lambang itu. Di beberapa lodge, huruf G itu diterima sebagai kependekan dari “God”. Di tempat lain “Goodness”. Tapi mungkin yang paling populer adalah “Geometry”, sebuah dasar matematika yang melahirkan legenda freemason.

.
Di beberapa negara seperti Inggris, huruf G tersebut telah dihilangkan dari lambang freemason setempat.
Menurut Albert Pike, pendiri The Scottish Rite dalam bukunya “Morals and Dogma” yang juga dianggap sebagai “kitab sucinya” freemason, lambang jangka berarti “Ketuhanan yang Kreatif”, sedangkan penggaris busur adalah “Bumi produktif alam semesta”

.
Entah apa maksudnya. Tapi kedengarannya sangat New Age

.
Selain lambang tersebut, lambang lain yang sering dihubungkan dengan freemason adalah lambang piramida dengan sebuah mata di puncaknya. Lambang ini disebut “all seeing eye”

.
Menurut Fredrick Goodman, mata yang melihat di puncak piramida itu memainkan peranan sangat penting dalam dunia okultis. Asal lambang tersebut adalah “The Eye of Horus” dari zaman Mesir purba

.
Sedangkan lambang piramida diambil karena freemason menganggap piramida sebagai lambang penyatuan semua agama. Menurut Foster Bailey, seorang mason level 33, “Simbol piramida, yang bisa ditemukan di Mesir dan Amerika Selatan menjadi saksi bahwa misteri zaman purba memiliki keterkaitan dengan pekerjaan para Mason pada zaman ini.”
Disinilah sebagian orang mulai mencium bau konspirasi. Simbol ini ternyata terdapat pada uang kertas Dolar Amerika

.
Dari blog lain (
http://khai79.blogspot.com
), dijelaskan sbb :

Perhatikan simbol-simbol tersebut, semuanya mempunyai asas yang sama iaitu mempunyai satu jangkalukis (compasses) di bahagian atas , sesiku (square) di bahagian bawah dan huruf ‘G’ di tengah-tengah. Semuanya itu mempunyai maksud yang tersendiri dan di kalangan ahli-ahli Masons sendiri pun ada bermacam-macam maksud dan biasanya ia tidak didedahkan di kalangan ahli. Cuma saya akan cuba ketengahkan pendapat yang kuat tentang simbol tersebut mengkikut kajian saya

.

Di kebanyakan negara, huruf ‘G‘ di tengah tadi itu membawa makna ‘God‘ atau ‘Tuhan‘. Dan pendapat satu lagi yang kuat adalah ‘Geometry’. Inilah yang menjadi asas kepada kerja-kerja KREATIF yang dilakukan oleh kumpulan Freemasons dari awal dulu lagi. Maka apabila dihubungkan Geometri dengan God, maka kebiasaanya para arkitek dan pereka bentuk akan menggunakan alat-alat Geometri kan. Maka maksud di situ adalah tuhan itu mereka cipta dunia ini dan itulah secara analoginya digambarkan dengan Geometri tersebut

.

Tentang jangkalukis dan sesiku itu pula, ia merupakan antara alat utama yang digunakan oleh Freemasons dalam kerja-kerja mereka sejak dulu. Jangkalukis biasanya digunakan untuk melakarkan bentuk bulat dan bahagian-bahagiannya dengan mudah. Manakala sesiku pula untuk menyemak ketepatan sudut 90° yang mana amat penting dalam pembinaan bangunan. Dari sudut lain, simbol itu juga melambangkan jantina iaitu jangkalukis yang atas itu lelaki dan sesiku bawah itu wanita. Dan akhirnya lahirlah ‘G’ di tengah-tengah itu. Begitulah menurut beberapa pendapat berkenaan simbol Freemasons.

.

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL : TEMPLAR CROSS DARI INGGRIS UNTUK RAJA SAUDI

“Abdullah, anak Umar, menyatakan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di tengah-tengah umat mereka, kemudian beliau memuji -muji Allah dalam cara yang patut sekali, lalu beliau menyebutkan tentang Dajjal dan bersabda: “Saya peringatkan kalian, dan tidaklah ada Nabi yang tidak memperingatkan tentang masalah ini kepada umatnya. Nabi Nuh ‘alaihis sallam memperingatkan umatnya, tetapi saya akan katakan tentang dia bahwa tidak ada Nabi selain dia yang telah menceritakan itu kepada umatnya. Kalian harus tahu bahwa Dajjal itu bermata satu; padahal Allah tidak bermata sa tu.(Shahih Bukhari an Muslim) (Mishkah al-Masabih, bab Fit nah)
.
Coba bandingkan dengan yang ini
Apa pendapat anda tentang simbol dibawah ini ?

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL : EYE OF HORUS DI ASYKAR HAJI

Logo Asykar Haji Saudi Arabia

Pic from Gus Kaheel saat Jalan jalan di Arofah,  logo/lambang ini adalah lambang kantor umum polisi lalu lintas Saudi Arabia

.

Bandingkan dengan yang ini

AROMA ILLUMINATI PADA BENTUK BANGUNAN DI SAUDI

Tugu Geometri di Engineering Square di Jeddah

.

Letaknya di Lapangan Al Handasa  salah satu landmark ternama di Kota Jeddah dan merupakan salah satu persimpangan jalan terbesar. Di tengah-tengah alun-alun ini ada alat geometris raksasa seperti kompas, busur derajat, segitiga dan penggaris. Ini adalah salah satu alat geometris terbesar di dunia.

.

Bandingkan dengan yang ini

Menara Pusat Kerajaan dibangun disekitar Riyadh, ibukota Arab Saudi. Bangunan ini berisi kantor, apartemen, toko, dan hotel. Di bagian atas adalah sebuah dek observasi.

Kingdom City Jeddah bangunan tertinggi dunia yang akan mengalahkan Burj Khalifa setidaknya 568 kaki (173m) diatasnya

Al – Faisaliah Tower

Bandingkan dengan yang ini

Pelabuhan Jizan Arab Saudi – Selatan

Bandingkan dengan yang ini

Dan dibawah ini adalah Master Plan kota suci Mekah, dapat terlihat dari atas seperti bentuk apa

Bandingkan dengan yang ini

Upacara penutupan Olympiade London 2012

Master Plan Makkah

Master Plan Makkah 2

Bandingkan dengan yang ini

All Seeing Eye, in Madonna Concert

Menara Jam Mekkah (kiri), Menara mata satu dalam film Lord Of The Ring (baca lebih lanjut)

Jam Big Ben di Inggris (Kiri), Kanan Royal Clock Makkah

Mari kita lihat video  fungsi dari jam ini ketika azan, dimana lampu berkelap kelip, seperti kelap kelip di pohon cemara ketika Natal, na’udzubillah

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL : EYE OF HORUS DI TEMBOK MADRASAH SAUDI

Pic dari Gus Kaheel : Ini adalah pagar tembok Madrasah Hamzah bin abdil muthallib tingkat ibtida’iyah di kota suci Madinah, Gedung madrasah ini bersebelahan dengan makam syuhada’ uhud.

.
Bandingkan dengan yang ini

Atau ini

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL DI PERUSAHAAN SAUDI

1. ARAMCO

Pada tahun 1962, dengan dorongan, CIA, Saudi mendirikan sebuah organisasi bernama Liga Muslim Dunia. Ditanggung awalnya oleh beberapa donor, termasuk Aramco, maka kolaborator CIA, Liga membentuk kehadiran internasional yang kuat, dengan perwakilan di 120 negara. Hal ini dipimpin oleh Mufti saat itu kepala Arab Saudi, Mohammed bin Ibrahim Al al-Sheikh, seorang keturunan langsung dari Muhammad ibn Abdul Wahhab, dan presiden tetap berada di tangan Mufti Saudi sampai hari ini. (source)

.

Bandingkan dengan yang ini

Logo segitiga piramid

2. SAUDI BIN LADEN GROUP

Grup Saudi Binladen telah diinvestasikan di Carlyle Group, sebuah ekuitas global perusahaan investasi swasta yang mantan Presiden George HW Bush menjabat sebagai penasehat. Yang cukup menarik, Carlyle Group didirikan oleh Illuminati Mormon (Source)

.

Bandingkan dengan sayap burung ini

Dewa Horus Burung Gepeng bermata satu simbol Dajjal

3. ZAIN

Adalah perusahaan telekomunikasi Saudi Arabia yang didirikan pertama kali di Quwait

.

Bandingkan dengan yang ini

AOL adalah Stasiun TV rancangan Illuminati

4. Elite Asuransi & Broker Reasuransi

5. Saudi IAIC Cooperative Insurance Co._company

6. Mal Of Arabia (Jeddah)

7.  AMB Engineering (Jubail – Arab Saudi)

8.  NPBC

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL DI KESENIAN & KEBUDAYAAN ARAB SAUDI

Logo Organisasi Kebudayaan & kesenian Saudi Arabia

Simbol Pagan, Ketika acara Maulid (Hari Lahirnya) Negara Saudi Arabia

Bandingkan dengan ini

Mereka menari – nari di depan patung Burung, sambil memukul rebana

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL DI BATCH & LOGO INSTANSI SAUDI

Logo segitiga di mobil dinas Depdagri Saudi

Kesatuan Polisi Militer

Rompi Relawan Nejed

Logo Mata Satu di lengan asykar

IT corner masjidil Haram

Elite Royal National Ignsinia

Aneka inSingina Militer Su’ud

Pejabat pemerintah meresmikan rencana kegiatan pemerintahan Saudi

Pin kerah baju polisi

Mobil ini milik petugas di masjidil haram

Unit pemantau kecepatan

Salah satu pustaka su’udiyyah yang berdomisili di Indonesia (link Jember – Jakarta), bernama pustaka Imam Syafi’i, tapi ini bukan Syafi’iyyah melainkan Wahabi/Salafy

Kepolisian Arab Saudi

The eye below

Sekolah Intelijen Arab Saudi

SIMBOL – SIMBOL DAJJAL : EYE OF HORUS DI MOBIL KEPOLISIAN SAUDI

Simbol mata (Eye Of Horus) di mobil kepolisian Saudi Arabia

Petugas sedang berjaga dengan mobil patrolinya

Bandingkan dengan yang ini

 

pen-salaf.jpg

“Logo Penerbitan buku Wahabi yang menggunakan simbol MATA SATU“

logo1.jpg

“Tanda Pangkat Polisi kerajaan Saudi yang berlogo MATA SATU“

logo2.jpg

“Rompi Polisi Kerajaan Saudi yang berlogo MATA SATU“

logo3.jpg

“Mobil Patroli Kerajaan Saudi Yang berlogo MATA SATU“

saudi-zionis
Berbicara mengenai Saudi dan Wahabisme tidak bisa tidak musti terkait dengan dua hal:

  1. seorang (insyaAllah) syahid, bernama Mohammad Sakher;
  2. laporan inteligen Irak sejak September 2002.

Mohammad Sakher (semoga Allah membalas jasanya bagi dunia Islam) diduga kuat dibunuh oleh rezim Saudi setelah beliau memublikasikan hasil penelitian silsilah keluarga Saud (The Saudi Dynasty: Its Origin And Who Is The Real Ancestor Of This ‘Royal’ Family?).

Ini diperkuat dengan bocornya informasi inteligen Irak semasa Saddam Husein masih berkuasa. Laporan inteligen ini diberi judul “The Emergence of Wahhabism and its Historical Roots

[http://fariedwijdan.multiply.com/journal/item/93/Dinasti_Saud_dan_Yahudi_Ternyata_Satu_Nenek_Moyang._Benarkah | Link asli tidak saya buka di sini, khawatir terjadi pemusnahan bukti di dunia maya oleh hacker-hacker Wahabi.]

saudi-zionis

Bukti-bukti nyata kezionisan Kerajaan Arab Saudi

  1. Kerajaan Saudi dimodali oleh Inggris [soal sejarah kerajaan itu silakan cari sendiri, sedangkan Inggris sebagai ibukota pertama Dajjal  ==>  http://wake-up-project-indonesia.blogspot.com/2001/10/arrivals-25-nubuat-tentang-dajjal.html].
  2. Kerajaan Saudi adalah sekutu total Amerika [http://www.youtube.com/watch?v=UwQpXxIbyqk&feature=colike]. Bahkan, pernah ada pertemuan OPEC beberapa negara Arab lainnya pernah merencanakan penjualan minyak dengan emas, tapi Saudi  bersikukuh menjual minyak negeri-negeri Muslim hanya dengan dollar.

saudi-zionis

Saudi-Wahabi-Salafy Menghancurkan Situs-Situs Bersejarah Islam dengan Tujuan yang Keji.

Ini adalah hal yang paling krusial. Dengan dalih memberikan pelayanan pada jemaah haji mereka

    • mengubah bentuk tugu lempar jumrah, tidak lagi berupa obelisk (simbol setan)
ini sama dengan penghilangan jejak “simbol peradaban satanik” yang diperintahkan Allah untuk dilontar oleh orang beriman.
Tujuan makar ini, tentu agar generasi Islam masa depan tidak tahu bahwa tugu-tugu obelisk yang ada di luar Tanah Suci dan dijadikan kebanggaan di negeri-negeri Dajjalis adalah sesungguhnya simbol setan yang dulu dilontar oleh nenek moyang kaum beriman dalam ritual haji. Sungguh siasat keji. Dan tindakan Saudis ini sudah bukan bidah lagi namanya, melainkan benar-benar menentang dan menantang Allah. Nauzubillah!
Bentuk.Tugu.Jumrah.bukan.Obelisk.lambang.setan.lagi
  • meyahudikan mihrab Rasulullah?
Mihrab.Rasulullah.Saw.dan.menorah.zionis
  • merusak keabsahan haji umat Islam pada ritual Sa`i.                                                                                    [https://www.facebook.com/note.php?note_id=173986189284965]
  • mengubah bekas rumah Siti Khadijah r.a. menjadi toilet umum!!!                                                               [http://www.infosalafi.com/berita/2012/05/17/wahabi-penghancur-peradaban-islam/]
  • pelecehan sublim terhadap Kabah dan Masjidil Haram
Fatwa ulama-ulama setan Wahbabi-sarafi menyatakan tidak boleh ada nama Nabi Muhammad Saw. di seantero Masjidil Haram sebab itu bidah dan syirik. Tapi lihat apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Wahabi+tampering+of+the+Kiswa
Wahabi+tampering+of+the+Kiswa-

Tujuan Saudizion melakukan pemusnahan lebih dari 95% situs-situs bersejarah Islam? Apalagi kalau bukan untuk membuat goyang iman umat Islam generasi mendatang.

Cukup dengan perkataan “agama Islam itu hanya mitos sebab tidak ada bukti sejarahnya.”

Apa setimpal dalih pelayanan prima untuk jemaah haji dengan tujuan makar jangka panjang ini? Sadarlah wahai umat Muhammad!

saudi-zionis

Persamaan fenomena pembelokan akidah Yahudi-Kristen dengan ajaran Wahabi yang mencegah umat Islam dari mengenal Allah

  1. Larangan memikirkan Zat Allah dibantah wahabi
  2. Memakhlukkan Tuhan dengan “menempatkan” Tuhan di atas/langit/Arsy ini sama dengan tuhan-tuhan di agama lain (yang sukses dibelokkan Iblis) bahwa Tuhan itu di surga, di kahyangan, atau di mana-mana (seperti dewa-dewi dalam Hindu dan pagan lainnya).
  3. Kaum salafy-wahaby tulen memiliki akidah tajsim tasybih
  4. Kewajiban umat salafi-wahabi untuk taqlid pada ulama dan menularkan taqlid ini pada umat Islam. Ini mirip dengan gaya dakwah Vatikan. Kawan saya yang orang Saksi Yehuwa tadi mengatakan salah satu alasan dia murtad dari Katolik adalah karena dia tidak puas dengan fakta bahwa jemaat Katolik tidak boleh banyak tanya dan sebaiknya mengimani saja apa-apa yang disampaikan pastor

 

Akidah Sunni menghalalkan semua kejahatan Mu’awiyah dengan dalih mujtahid yang salah ijtihad dapat satu pahala

Pertentangan dan Permusuhan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah

menguraikan kejahatan Umayyah dan anak-anaknya 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS 3:103)

Picture

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusak kehormatan dan nama baiknya” (HR Muslim)

Sungguh, aku sangat keheranan menyaksikan keserakahan  Bani Umayyah untuk mempertahankan kekhalifahan; padahal mereka jauh dari keluarga Rasulullah saw dan keluarga Bani Hasyim. Mengapa mereka merasa berhak atas kekhalifahan?

Di mana Bani Umayyah dan Bani Marwan bin Al-Hakam –yang diusir Rasul Allah saw dan dilaknatnya- dalam urusan ini?  Telah jelas permusuhan antara Bani Umayyah dengan Bani Hasyim pada zaman jahiliah. Kemudian, permusuhan yang sangat dari Bani Umayyah kepada Rasulullah saw dan keterlaluan mereka dalam menyakiti Nabi dan membohongkan apa yang diajarkannya sejak Allah saw mengutusnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, sampai Allah memuliakan NabiNya dengan kemenangan. Maka masuklah ke dalam Islam siapa saja di antara mereka, seperti yang kita kenal

satu puak yang memusuhi dan dimusuhi Rasulullah saw  bisa merebut kekuasaan dan memerintah umat Islam atas nama agama. Ia ingin menjawab pertanyaan mengapa Bani Umayyah dengan segala kejahatannya dapat menyisihkan Bani Hasyim dengan segala kemuliaan akhlaknya.

silahkan melacak permusuhan di antara kedua puak itu pada saat kelahiran Hasyim dan ‘Abd al-Syams yang kembar dempet. Mereka dipisahkan dengan pedang. Itulah tanda pertumpahan darah di antara anak-anak keduanya.

Derita Imam Ali 

Ketika Muawiyah mengirimkan Sufyan bin ‘Auf al-Ghamidi untuk menjarah kota Anbar, ia mengirimkan 6000 penunggang kuda. Mereka menyerang Hit dan Anbar, membunuhi kaum muslimin, merampas perempuan mereka, dan memaksa orang untuk melaknat Imam ‘Ali. Mendengar berita itu Amirul Mukminin mengajak orang untuk memerangi mereka. Sebelumnya mereka berdiam diri saja. Ali memerintahkan orang untuk berkumpul.


Ia menyampaikan khotbah. Setelah memuji Allah dan membacakan shalawat kepada Rasulillah, ia berkata: ’Amma ba’d: wahai manusia! Demi Allah penduduk kota kalian sekarang ini lebih banyak dari jumlah orang Anshar di tengah-tengah bangsa Arab. Ketika mereka membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk membela dia dan orang-orang muhajir yang besertanya, sehingga Rasulullah menyampaikan Risalah tuhannya, mereka hanyalah dua kabilah yang paling muda usianya di tengah-tengah bangsa Arab. Bilangan mereka juga bukan yang paling banyak. Ketika mereka melindungi Rasulullah dan para sahabatnya, membela Allah dan agamanya, bangsa Arab bersatu dan melakukan perjanjian bersama dengan kaum Yahudi. Kabilah demi kabilah memerangi mereka. Tetapi mereka persembahkan dirinya untuk agama. Mereka putuskan hubungan di antara mereka dan orang Arab lainnya dan di antara mereka dan orang Yahudi… sampai dekatlah Rasulullah dengan orang Arab. Ia melihat mereka dengan bahagia sebelum Allah memanggilnya kehadiratNya. Kalian sekarang ini lebih banyak dari mereka pada zaman itu.”Berdirilah seorang lelaki hitam dan tinggi. Ia berkata: ”Engkau tidak sama seperti Muhammad! Kami juga tidak sama dengan orang-orang yang kau sebut itu. Janganlah engkau bebani kami dengan apa yang kami tidak mampu melakukannya.” Amirul Mukminin berkata: “dengarkan baik-baik supaya engkau mendapat jawaban yang baik. Celakalah kalian! Kalian hanya merisaukan daku. Apakah aku bercerita kepada kalian bahwa aku seperti Muhammad saw, dan kalian seperti para pembelanya? Aku hanya membuat perumpamaan. Aku ingin kalian belajar dari perumpamaan ini.”

Seorang lelaki lain berdiri dan berkata: “Betapa perlunya Amirul Mukminin dan orang besertanya kepada ahli Nahrawan.” Dari setiap penjuru orang berbicara sehingga terdengar suara hiruk pikuk. Maka berdirilah seorang lelaki lainnya lagi dengan suara yang sangat keras: “Jelas sekali bagaimana penduduk Irak kehilangan Asytar. Sekiranya ia masih hidup tidak akan terjadi hiruk-pikuk seperti ini. Setiap orang akan berbicara yang ia ketahui.”

Kemudian Amirul Mukminin berkata: “Biarkan ibu-ibu menangisi anaknya yang keguguran!(Imam Ali menegur mereka dengan keras seakan-akan mereka adalah anak-anak yang seharusnya gugur sebelum lahir dan ditangisi ibunya) Aku lebih berhak ditaati ketimbang Asytar. Bukankah hak Asytar atas kalian adalah semata-mata hak seorang muslim kepada muslim lainnya.” Ia turun dari mimbarnya dalam keadaan murka.(al-amâli 173,293; al-ghârât 2:479; syarh nahj al-balaghah 2:89).

Penggalan sejarah di atas kita kutip untuk menunjukkan betapa beratnya Imam Ali menghadapi para sahabatnya. Mereka tidak terbiasa mentaati pemimpinnya yang adil. Mereka hanya patuh kepada pemimpin yang menggunakan madu dan racun untuk menegakkan kekuasaannya.  Imam Ali hanya menawarkan kebenaran. Betapa sedikitnya orang yang mau menerima kebenaran dan setia mempertahankannya. Ia tahu bahwa manusia lebih tertarik untuk bergabung dengan orang-orang yang menawarkan dunia. Ia menyebutnya maidah,  hidangan. Ia berkata: “Lâ tastawhisyū fi tharīqil hudâ liqillati ahlih. Fainnan nâsa qad ijtama’ū ‘ala mâidah syiba’uha qashīr wa ju’uha thawīl” ( Nahj al-Balaghah, Khuthbah 192).  Janganlah kamu merasa kesepian di jalan petunjuk karena sedikit pengikutnya. Manusia sungguh hanya berkumpul di sekitar hidangan. Kenyangnya sebentar, laparnya berkepanjangan.

Seperti akan kita uraikan kemudian,  banyak sahabat Imam Ali berbelot karena ingin mendekati hidangan duniawi sekarang; sementara Imam Ali menawarkan hidangan surgawi pada hari akhirat kelak.. Saya tidak tahu apakah sudah “fitrah” manusia bahwa mereka sangat taat kepada pemimpin yang zalim tetapi  sangat membangkang kepada pemimpin yang adil. Lihatlah kembali kutipan di atas. Mungkinkah mereka berani bersuara hiruk pikuk di depan Muawiyyah atau Ibn Ziyad?  Mereka berani berbuat begitu di depan Imam Ali, karena mereka tahu Imam Ali tidak akan menindak mereka dengan pedangnya.

Karena ia menegakkan kekuasaannya di atas keadilan dan kebenaran, orang banyak berani menentangnya. Kalau jihad yang paling utama adalah berbicara yang benar di depan penguasa yang zalim, rakyat imam Ali bebricara yang batil di depan penguasa yang adil. Semua rakyat takut kepada penguasanya yang zalim. Imam Ali takut akan kezaliman rakyatnya.

Pada tahun 39 H, Muawiyyah mengirimkan berbagai pasukan ke seluruh penjuru daerah kekuasaan Imam Ali. Nu’man bin Basyir disuruhnya menyerang ‘Ainut Tamar, Sufyan bin ‘Auf ke Anbar dan Hit, Abdullah bin Mas’adah ke Tayma, Al-Dhahhak bin Qais ke pinggiran Kufah, Busur bin Arthah ke Madinah dan Makkah. Di berabagai penjuru negeri itu mereka melakukan penjarahan, perkosaan, pembunuhan dengan cara-cara yang keji. Pada suasana kritis itu, Imam Ali mengajak rakyatnya untuk berperang, melawan agresi dari kaum yang zalim. Tampaknya “sense of crisis” yang dimiliki Imam Ali tidak terdapat pada para pengikutnya. Mereka ogah-ogahan. Ketika panggilan datang, mereka pura-pura tidak mendengar. Mereka bersembunyi di rumah-rumahnya, “seperti biawak yang bersembunjyi di sarangnya” dalam kalimat Imam Ali. Imam Ali menyampaikan instruksi, tetapi mereka tidak menggubrisnya.. Dengan murkan, Imam Ali menyampaikan khutbah berikut ini:

“Walaupun Allah memberikan waktu kepada si penindas, ia tak akan luput dari tangkapan-Nya. Allah mengawasinya pada jalur perjalanannya dan pada kedudukan yang melemaskan kerongkongan.

Demi Allah yang hidupku dalam kekuasaan-Nya, orang-orang ini (Muawiyah dan orang-orangnya) akan menguasai Anda; bukan karena mereka lebih berhak dari Anda\, melainkan bergegasnya mereka menuju kepada yang salah bersama pemimpin mereka, dan kelambanan Anda tentang hak saya (untuk diikuti). Orang takut akan penindasan oleh para penguasa mereka, sementara saya takut akan penindasan oleh rakyat saya.

Saya memanggil Anda, tetapi Anda tak datang. Saya memperingatkan Anda, tetapi Anda tak mendengarkan. Saya memanggil Anda secara rahasia maupun terbuka, tetapi Anda tidak menjawab. Saya berikan kepada Anda nasihat yang tulus, tetapi Anda tidak menerimanya. Apakah Anda hadir sebagai tak hadir, dan budak sebagai tuan? Saya bacakan kepada Anda pokok-pokok kebijaksanaan, tetapi Anda berpaling darinya, dan saya nasihati Anda dengan nasihat yang menjangkau jauh, tetapi Anda menjauh darinya. Saya bangkitkan Anda untuk berjihad terhadap orang durhaka, tetapi sebelum saya mencapai akhir bicara saya, saya lihat Anda bubar seperti anak-anak Sabâ. Anda kembali ke tempat-tempat Anda dan saling menipu dengan nasihat Anda. Saya luruskan Anda di pagi hari, tetapi Anda kembali kepada saya di petang hari (dalam keadaan) bengkok seperti belakang busur. Si pelurus telah letih sementara yang diluruskan sudah tak dapat diperbaiki.

Wahai, orang-orang yang badannya hadir tetapi akalnya tak hadir dan keinginan-keinginannya bertebaran. Para penguasa mereka sedang dalam ujian. Pemimpin Anda menaati Allah, tetapi Anda membangkanginya; sedang pemimpin orang Suriah membangkangi Allah, tetapi mereka menaatinya. Demi Allah, saya ingin Muawiyah bertukaran dengan saya seperti dinar dengan dirham sehingga ia mengambil ddari saya sepuluh di antara Anda dan memberikan kepada saya satu dari mereka.

Wahai penduduk Kufah, saya telah mengalami dalam diri Anda tiga hal dan dua lainnya: Anda tuli walaupun Anda bertelinga, bisu walaupun bercakap, buta walaupun bermata. Anda bukan pendukung yang sebenarnya dalam pertempuran, dan bukan pula sahabat yang dapat diandalkan dalam kesedihan. Semoga tangan Anda dilumuri tanah. Wahai (manusia) yang seperti unta yang gembalanya telah menghilang, apabila mereka dikumpulkan dari satu sisi, mereka bertebaran dari sisi lain. Demi Allah, saya melihat Anda dalam khayalan saya bahwa apabila peperangan menjadi sengit dan tindakan sedang penuh gerak, Anda akan lari dari putra Abu Thalib seperti perempuan yang menjadi telanjang di depan. Sesungguhnya saya berada pada petunjuk yang jelas dari Tuhan saya dan pada jalan Nabi saya, dan saya berada pada jalan yang benar yang saya ikuti secara teratur. (Puncak kefasihan, khutbah 96).

Imam Ali bukan meramal. Ia menceritakan apa yang dialaminya. Tiga tahun sebelumnya, Mesir diserang Amr bin Ash.  Gubernur yang ditunjuk Imam Ali di situ adalah Muhammad putra Abu Bakar, adik ‘Aisyah. Ketika sampai di Mesir, pasukan Kinanah yang diutus Muhammad menghadangnya. Amr bin Ash meminta tambahan bala bantuan. Muawiyah bin Hudayj al-Sukuni tiba dengan segera. Kinanah dan anggota-anggota pasukannya dikepung dari segala penjuru. Kinanah turun dari kudanya sambil membaca Al-Quran; Tidaklah satu diri akan mati kecuali dengan izin Allah, ketentuan yang sudah ditetapkan waktunya. Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia kami akan memberikannya. Barangsiapa menghendaki pahala Akhirat kami akan memberikannya juga. Kami akan membalas orang-orang yang bersyukur’ (Ali Imran 145). Ia pun dan para pengikutnya ditebas dengan pedang. Mereka syahid. Berita hancurnya pasukan Kinanah meruntuhkan moral tentara Muhammad bin Abu Bakar. Mereka meninggalkannya sendirian.

Muhammad mengirimkan surat meminta bantuan pasukan kepada Imam Ali. Sementara pasukan belum datang, ia bersembunyi sendirian di sebuah puing-puing di pinggir jalan. Muawiyah menemukannya dan mengeluarkannya dari tempat persembunyiannya dalam keadaanhampir mati kehausan.

Muawiyah berkata: Tahukah kamu pa yang akan aku lakukan atasmu? Aku akan masukkan kamu dalam bangkai keledai kemudian membakarnya.

Muhammad berkata: Kalau kamu melakukan begitu kepadaku, seperti itulah seringkali para kekasih Allah diperlakukan. Aku berharap api yang membakarku itu akan dijadikan Allah sejuk dan sejahtera seperti Ia jadikan seperti itu pada Ibrahim as. Mudah-mudahan Allah memperlakukan kamu seperti Ia memperlakukan Namrud dan para pendukungnya…

Muawiyah marah Ia memasukkan Muhammad pada perut bangkai keledai dan membakarnya. Ketika Aisyah mendengar berita itu, ia menangis sepedih-pedihnya dan berrkunut setiap selesai salat mendoakan kebinasaan untuk Muawiyah dan Amr” (Tarikh Thabari 5:103; Al-Kamil fi al-tarikh 2:412; al-Gharat 1:282-5; Ansab al-Asyraf 3:171)

Masih dalam tarikh Thabari dikisahkan bagaimana Imam Ali berusaha keras untuk mengumpulkan bala bantruan. Ia  berpidato di hadapan orang banyak: “Wahai hamba-hamba Allah! Mesir lebih besar dari Syam. Lebih banyak kebaikannya dan lebih banyak penduduknya. Jangan sampai orang lain merebut mesir. Karena lestarinya Mesir pada tangan kalian akan memuliakan kalian dan merendahkan musuh kalian. Besok datanglah ke Jur’ah, antara Hirat dan Kufah. Aku akan menunggu kalian di sana insya Allah.

Kesokan harinya Imam Ali keluar berjalan ke Jur’ah. Pagi-pagi sekali. Ia menunggu di situ sampai pertengahan hari. Tidak ada satu pun yang datang. Pada malam hari ia memanggil para tokoh ke tempat kediamannya. Di situ ia menyampaikan khotbah:

“Saya berhadapan dengan manusia yang tidak menaati bila saya perintahkan, dan tidak menyahut bila saya memanggilnya. Celakalah Anda! Apa yang Anda nantikan untuk bangkit pada Jalan Allah? Tidakkah iman menggabungkan Anda bersama-sama atau rasa malu membangunkan Anda? Saya berdiri di antara Anda sambil berteriak, tetapi Anda tidak mendengarkan perkataan saya, dan tidak menaati perintah-perintah saya, sampai keadaan menunjukkan akibat-akibat buruknya. Tak ada darah yang dapat ditebus melalui Anda, dan tak ada maksud yang dapat dicapai dengan Anda. Saya memanggil Anda untuk menolong saudara-saudara Anda, tetapi Anda membuat kebisingan seperti unta yang sakit perut, dan menjadi terlepas seperti unta yang berpunggung tipis. Kemudian suatu kontingen lemah yang goyah datang kepada saya dari antara Anda sekalian “seolah-olah mereka dihalau menemui maut, sedang mereka melihatnya”. (QS: 8:6)” (Puncak Kefasihan, khutbah 39).

Malik bin Ka’ab al-Hamdani beridri dan menyatakan siap berbaiat untuk dikirm melawan Amr bin Ash.  Di pertengahan jalan, Malik mendengar berita terbunuhnya Muhammad. Abdurrahman bin Syuraih al-Syabami disuruh Ali untuk menjemputnya dan kembali lagi ke Kufah. Imam Ali sangat berduka mendengar syahidnya Muhammad putra Abu Bakar. Seperti biasa dengan bahasa yang indah Imam Ali memuji Muhammad: Laqad kana ilayya habiban, wa kana li rabiban, fa ‘indallahi nahtasibuhu waladan nashihah, wa amilan kadihan, wa sayfan qathi’an, wa ruknan dafi’an.  Ia telah menjadi kesayanganku. Ia telah menjadi anak asuhku. Kepada Allah kami mengharapkan ganjarannya. Anak yang setia, yang beramal saleh, pedang yang tajam dan tiang yang kokoh (Nahj al-balaghah, al-Kitab 35).

Ia  mengulangi pujiannya pada suratnya yang dikirim kepada Abdullah bin Abbas.

“Kemudian daripada itu, Mesir telah ditaklukkan dan Muhammad ibn Abu Bakar, semoga rahmat Allah atasnya, telah mati syahid. Kami memohon ganjarannya kepada Allah. Ia adalah putra dan teman setia, pekerja keras, pedang tajam dan benteng pertahanan. Saya telah membangkitkan rakyat untuk bergabung dengannya dan memerintahkan kepada mereka untuk pergi menolongnya sebelum kejadian ini. Saya memanggil mereka secara rahasia maupun terbuka berulang-ulang. Sebagian dari mereka datang dengan setengah hati, sebagian mengajukan dalih-dalih palsu dan sebagian pergi meninggalkan saya. Saya memohon kepada Allah Yang Mahamulia untuk memberikan kepada saya kebebasan yang segera dari mereka, karena demi Allah, sekiranya saya tidak merindukan untuk menemui musuh demi kematian syahid dan tidak mempersiapkan diri saya untuk kematian, tentulah tak akan suka berada dengan orang-orang ini untuk sehari suntuk pun, dan tidak pula akan pernah menghadapi musuh dengan mereka. (Puncak Kefasihan, surat 35).

Dalam suratnya ini, masih juga Imam Ali mengungkapkankekecewaannya kepada para sahabatnyatidak setia kepadanya. Melihat kawan-kawan yang seperti itu, kalau tidak memikirkan tugas yang diembannya, ia ingin segera meninggalkan mereka menemui Kekasih Abadinya.

Picture

memerinci apa yang dilakukan Mu’awiyah terhadap Imam Ali dan putranya al-Hasan.

Setelah Muawiyah merebut kekuasaan, ia bertindak sewenang-wenang kepada  kelompok Syura yang masih hidup, kepada jamaah muslimin dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada satu tahun yang ia sebut tahun jama’ah. Sebetulnya tahun itu adalah tahun perpecahan, penaklukan, tirani, dan pemaksaan, tahun yang mengubah imamah menjadi kekuasaan Kisrawi, khilafah menjadi perampasan Kaisari, belum dihitung semua kesesatan dan kefasikan…

Telah disampaikan kepadaku pendapat generasi di zaman kita dan ahli bid’ah saat ini yang berkata: Jangan mengecam dia karena ia itu sahabat. Mengecam Muawiyah bid’ah. Siapa yang membencinya telah melanggar Sunnah.

Aswaja (Sunni) Menuduh Abubakar dan Umar lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw ! Rasulullah saw difitnah mengabaikan wasiat kepemimpinan politik

Bagaimana bisa terpikirkan bahwa Rasulullah saw mengabaikan wasiat  kepemimpinan politik untuk negara Islam ???

Aswaja (Sunni) Menuduh Abubakar dan Umar Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw ! Rasulullah saw difitnah mengabaikan wasiat  kepemimpinan politik

Serba Palsu, Surat Palsu, Alamat Palsu, Status Palsu, Plat Palsu, Kesaksian Palsu

Ada sebuah guyonan / humor ala Syi’ah :

Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?”baca selengkapnya

Diriwayatkan ada seorang alim Syiah melewati kelompok Ahlus Sunnah. Mereka meminta agar alim Syiah itu bermalam di rumah mereka. Ia menyatakan kesediaannya dengan syarat tidak terjadi diskusi mazhab. Usai makan malam, berkatalah salah seorang ulama Ahlus Sunnah, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ia menjawab, “Abu Bakar adalah muslim yang utama, salat, saum, haji, bersedekah, dan menyertai Nabi saw.” Kata alim Sunni, “Bagus, teruskan.”

Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?”

Orang Syiah itu berkata, “Rasulullah saw memerintah kaum muslimin selama 23 tahun tetapi ia tidak pernah memikirkan wajibnya dan pentingnya mengangkat khalifah. Abu Bakar hanya memerintah kurang dari tiga tahun tetapi ia mengerti dan memahami pentingnya seorang khalifah. Dengan begitu, niscaya Abu Bakar lebih cerdas dari Nabi saw.”

Dengan kisah ini, Ayatullah Al-Uzhma Montazeri menyimpulkan dan menyederhanakan konsep imamah dalam pandangan Syiah. Berbeda dengan Ahlus Sunnah yang menganggap bahwa Nabi saw menyerahkan kepemimpinan umat kepada pilihan kaum Muslimin, Syiah percaya bahwa Rasulullah saw mengangkat khalifah sesudahnya.

Montazeri menulis, “Tidak mungkin Abu Bakar yang mengangkat khalifah (istakhlafa) lebih mengerti kemaslahatan kaum muslimin, lebih santun dan lebih sayang kepada mereka ketimbang Rasulullah saw; padahal tentang diri Rasulullah saw Al-Quran berkata – sangat ingin kamu memperoleh kebahagiaan, sangat santun dan sangat sayang kepada kaum mukmin. Tidak mungkin Nabi saw mengabaikan urusan yang menjadi dasar tegaknya sistem pemerintahan, kekuatan serta kekuasaan muslimin.”

Setelah itu, Montazeri mengutip pendapat para sahabat lainnya tentang pentingnya istikhlaf. Ketika khalifah Umar bin Khathab berada dalam keadaan kritis setelah ditusuk oleh pembunuhnya, anaknya, Abdullah bin Umar, berkata kepadanya: “Aku mendengar orang-orang mengucapkan perkataan yang sangat berat aku sampaikan kepadamu. Mereka menyatakan bahwa engkau tidak akan mengangkat khalifah. Jika engkau punya penggembala unta atau kambing, lalu ia meninggalkan ternaknya, apakah menurutmu ia sudah melalaikan tugasnya? Menggembalakan manusia lebih berat lagi dari itu.” Ibnu Umar berkata: “Ayahku menyetujui pembicaraanku.”

Bagaimana mungkin Rasulullah tidak memperhatikan urusan yang sangat penting ini padahal Ibnu Umar memperhatikannya dan ayahnya menyetujuinya? Aisyah pernah berkata kepada Abdullah bin Umar: “Anakku, sampaikan kepada Umar salamku. Katakan kepadanya: Jangan biarkan umat Muhammad tanpa pemimpin. Angkatlah khalifah atas mereka. Jangan telantarkan mereka setelahmu karena aku takut fitnah menimpa mereka.” Aisyah mengetahui bahaya fitnah itu, tapi Rasulullah tidak?

Montazeri menulis: “Kami ingin menegaskan bahwa Nabi yang mulia diutus Tuhan kepada seluruh umat manusia, dijadikan rahmat bagi alam semesta serta penutup segala nabi. Ia diutus dengan membawa petunjuk agama yang benar agar agama ini mengungguli semua agama ini walaupun benci orang-orang musyrik. Itulah semua yang dibicarakan oleh Al-Quran. Nabi saw telah menghabiskan usianya yang mulia dengan mengerahkan segala kekuatannya dan kekuatan keluarga dan sahabatnya untuk menyebarluaskan Islam. Demi dakwah itu, ia mengorbankan dirinya dan mempersembahkan di jalan itu ratusan para syuhada dari kaum muslimin yang baik-baik. Ia tidak pernah melalaikan urusan dakwah ini satu saat pun pada seluruh hidupnya. Ia memberikan perhatian pada dakwah dan bimbingannya sampai kepada masalah-masalah kecil dengan perhatian yang sepenuh-penuhnya.

“Walaupun begitu, Rasulullah saw menyadari bahwa Islam belum meliputi seluruh Hijaz, apalagi seluruh negeri. Sedangkan kekuasaan kafir di , Romawi, dan lain-lain berdiri di hadapan penyebaran Islam. Tidak mudah menolak tantangan itu kecuali dengan kekuatan kekuasaan dan kepemimpinan yang kokoh.

“Nabi saw mengenal akhlak orang Arab dengan kefanatikan mereka terhadap kabilah dan keluarganya. Ia juga tahu adanya kaum munafik yang bergerak untuk mencuri peluang. Ia tahu tentang kecintaan mereka pada dunia dan bahwa kecintaan kepada dunia dan kedudukan itu adalah sumber segala kesalahan. Ia tahu bahwa kemurtadan dari agama adalah sesuatu yang perlu dikuatirkan. Padahal Allah swt berfirman: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah bila ia meninggal atau terbunuh, kamu akan murtad meninggalkan agamamu? (QS. Ali Imran; 144).

“Rasulullah saw bersabda: “Akan didatangkan orang-orang dari antara umatku kemudian diseret ke sebelah kiri. Aku berkata: Tuhanku, mereka sahabat-sahabatku. Kemudian dikatakan: Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sesudahmu. Maka aku berkata seperti perkataan hamba yang salih: Aku menjadi saksi atas mereka selama aku bersama mereka. Bila Engkau mematikan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. (QS. Al-Maidah; 117). Kemudian dikatakan lagi: Mereka itu tidak henti-hentinya murtad meninggalkan agamanya setelah kamu meninggalkan mereka. (Al-Bukhari 3: 137, Tafsir Surat Al-Maidah; Sunan Al-Turmudzi 5: 4, Tafsir Surat al-Anbiya)”.

Seperti Montazeri, Sayyid Baqir Shadr mengemukakan argumentasi yang sama. Nabi saw adalah pemimpin sebuah gerakan revolusioner yang mengubah dunia. Sebagai pemimpin sebuah gerakan, bagaimanakah sikap Nabi saw terhadap masa depan Islam sepeninggalnya? Ketika menjawab pertanyaan “Kaifa wulida al-tasyayyu?” Shadr menyebutkan tiga kemungkinan sikap Nabi saw. Kemungkinan pertama, ia tidak menghiraukan masa depan dakwah Islamiyah. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada apa yang terjadi pada masa depan. Sebutlah, ini sikap negatif terhadap masa depan. Kemungkinan kedua, Nabi saw memikirkan masa depan Islam dan menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan Islam pada para sahabatnya melalui musyawarah di antara mereka. Sebutlah ini sikap positif pada masa depan dakwah. Kemungkinan ketiga, Nabi saw memikirkan masa depan Islam dan menunjuk khalifah yang dipercayainya untuk memimpin gerakan dakwah Islamiah.

Makalah ini akan menganalisa tiga kemungkinan sikap Nabi saw dan menunjukkan mana yang paling mungkin. Setelah itu, kita akan mengemukakan keterangan dalam Al-Quran dan Sunnah tentang kepemimpinan Ahlul Bait. Kita akan menutup makalah ini dengan posisi Ahlul Bait di dalam pelaksanaan ajaran Islam.

Politik Islam adalah politik syar’i. Ia merupakan politik yang berlandaskan konsepsi mendasar aqidah Islamiyyah, yaitu La Ilaha Illa Allah, keyakinan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya tempat memuja, memuji, memohon pertolongan, menyerahkan kepatuhan dan loyalitas total. Politik Islam pasti akan menghantarkan masyarakat untuk membentuk diri menjadi masyarakat Islam.

Sedangkan politik jahiliyyah merupakan politik yang tidak syar’i. Politik jahiliyyah akan menghasilkan tumbuhnya sebuah masyarakat jahiliyyah lengkap dengan suburnya eksistensi para thaghut di dalamnya. Politik seperti ini akan menyebabkan manusia sadar tidak sadar menghamba kepada sesama manusia.

syi’ah meminta umat muslim untuk serius mempelajari tauhid. Karena tauhid itu tidak hanya bersifat penghambaan kepada Allah semata, tapi juga ingkar kepada ilah-ilah lainnya seperti hukum buatan manusia. “Masyarakat Islam ini sudah rusak tauhidnya, karena ideologi-ideologi yang berlaku di Indonesia bukan Islam.

Sikap Negatif: Tidak Menghiraukan Masa Depan

Nabi saw dapat bersikap begitu bila ia merasa aman dan tidak mencemaskan bahaya yang akan mengancam gerakan Islam; atau ia tahu akan ancaman terhadap Islam, tetapi ia tidak perlu memikirkannya, karena tugasnya hanya mengikatnya sepanjang hidupnya saja. Keduanya sangat tidak mungkin dinisbahkan kepada Nabi saw.

Jika kita menengok tarikh Nabi saw, kita menyaksikan berbagai ancaman pada dakwah Islam. Ancaman pertama datang dari dalam masyarakat Islam sendiri. Nabi saw datang untuk mengubah sebuah sistem sosial, kultural, politik, dan ekonomi yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun. Dalam waktu sekitar dua puluh dua tahun, ia meletakkan dasar-dasar sistem Islam. Waktu dua dasawarsa tidak cukup untuk mensosialisasikan ajaran Islam ke seluruh jazirah Arabia. Peperangan demi peperangan yang dilakukan Nabi saw menunjukkan bahwa proses pengislaman itu tidak berlangsung mulus.

Para sahabat Nabi saw memiliki kesempatan belajar yang bermacam-macam.
Ada di antara mereka yang “menghirup” ajaran Nabi saw sejak permulaan risalah. Mayoritas di antara mereka hanya mengenal ajaran Islam sedikit saja. Sebagian di antara mereka juga –seperti diperingatkan Al-Quran berkali-kali- adalah orang –orang munafik, yang tidak henti-hentinya merongrong bangunan Islam. Untuk itu, harus ditambahkan juga kesulitan untuk mengkomunikasikan ajaran Islam kepada rentangan geografis yang sangat luas dan rintangan psikologis yang sangat berat.

Seperti seorang guru, Nabi saw sudah menyampaikan seluruh kurikulum; tetapi tiba-tiba ia harus meninggalkan kelasnya karena panggilan Mawlanya. Belum sempat murid-muridnya mendalami pelajaran yang mereka terima. Sebagian murid yang datang terlambat bahkan belum sempat mempelajari Islam kecuali hanya sedikit saja.

Mungkinkah guru yang baik akan meninggalkan murid-muridnya begitu saja? Bayangkan juga kalau guru itu melihat bahwa lingkungan di sekitar sekolah itu sangat buruk. Di sekitar masyarakat Islam yang masih bayi itu ada kerajaan Roma dan Persia dengan kekuatan dan kekuasaan yang meraksasa. Di Madinah, markas kekuasaan Islam, bukan hanya ada orang-orang munafik, tetapi juga ada Yahudi dan pengikut agama-agama lainnya. Inilah ancaman yang kedua –ancaman eksternal.

Mungkinkah setelah semua tantangan dan penentangan yang berat dari Yahudi dan kabilah-kabilah musyrik, serta kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam, kita membayangkan bahwa mereka semua akan merunduk dan pasrah kepada Islam dan tidak menghalangi Islam dengan dakwahnya? Mungkinkah seorang politisi yang cerdas, seorang pemimpin yang arif untuk mengabaikan semua peristiwa permusuhan yang menghadang di depan dakwahnya dan tidak merencanakan program untuk memelihara dakwah itu di masa depan?

Jika kita mengasumsikan Nabi saw menyadari ancaman-ancaman itu, mungkinkah Nabi saw berlepas diri dari masa depan dakwah; mungkinkah ia tidak mau memikirkan kelanjutan dakwah ini dan tidak membuat perencanaan untuknya? Peristiwa-peristiwa sebelum wafatnya menolak anggapan ini. Bukankah pada hari-hari akhir hayatnya, Nabi saw –dalam keadaan dipapah Fadhl dan Ali, dengan kepala yang dibalut kompres- memerintahkan untuk segera memberangkatkan pasukan Usamah.

Berulangkali ia berkata: “Siapkan pasukan Usamah. Berangkatkan pasukan Usamah. Kirim pasukan Usamah.” Bukankah pada sakitnya yang membawa kewafatannya, ia masih memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya, “Bawakan kepadaku kertas dan pena, akan aku tuliskan kepadamu, yang jika kamu pegang teguh kamu tidak akan sesat selama-lamanya.” –peristiwa yang disebut Ibn Abbas sebagai tragedi hari Kamis? Bukankah dalam khotbah-khotbah Nabi saw yang terakhir ia mengingatkan tentang “fitnah” yang akan meliputi umat Islam seperti gulungan awan? Tidak mungkin seorang Nabi yang disifati dengan kecerdasan (fathanah) tidak membuat antisipasi untuk menghadapi kemelut yang sudah diketahuinya.

Sikap Positif: Menyerahkan Masa Depan pada Syura

Inilah pandangan Ahlus Sunnah. Penulis Mesir, Al-Khudhari, menjelaskan asumsi kedua ini sebagai berikut, “Tidak terdapat di dalam Al-Quran perintah yang tegas berkenaan dengan pemilihan khalifah Rasulullah, kecuali perintah-perintah yang bersifat umum, yang menyangkut persoalan khalifah atau lain-lainnya seperti ketika Allah mensifatkan kaum muslimin dengan firman-Nya dan urusan mereka dimusyawaratkan di antara mereka (QS. Al-Syura; 38). Begitu pula tidak disebutkan di dalam sunnah penjelasan tentang sistem pemilihan khalifah, kecuali nasihat-nasihat yang melarang ikhtilaf atau perpecahan, seakan-akan syariat ingin menyerahkan urusan ini kepada kaum muslimin untuk diselesaikan oleh mereka sendiri. Sekiranya urusan itu tidak seperti itu, tentulah sudah dipersiapkan kaidah-kaidahnya, dijelaskan cara-caranya, sebagaimana telah dijelaskan cara-cara shalat dan puasa

Untuk menjawab pandangan Ahli Sunnah ini, Ali Abdul Karim menulis: “Bagaimana bisa terpikirkan bahwa Rasulullah saw mengabaikan kepemimpinan politik untuk negara Islam yang ditegakkannya, yang unsur-unsur dan tonggak-tonggaknya sudah dikokohkannya, lalu ia tidak meletakkan dasar tertentu untuk pemilihan khalifah seperti anggapan mereka; padahal kita tahu bahwa kepemimpinan dalam hubungannya dengan negara seperti kepala dengan tubuh, dan seperti jantung dengan seluruh anggota badan.

Apakah Nabi membiarkan persoalan kepemimpinan negara dan tidak berbicara tentangnya sedikitpun, dengan mengiyakan ataupun menolaknya? Apakah Nabi membiarkannya untuk memberikan peluang kepada orang-orang yang ambisius buat merampasnya?Atau menyerahkan kepada hawa nafsu penguasa yang akan berbuat kerusakan di bumi? Sehingga dengan cara itu, masyarakat kembali lagi setelah kematiannya kepada zaman Jahiliyyah dan penyembahan thagut. Setelah Nabi saw dan sahabatnya berjuang melewati segala kepayahan dan penderitaan, setelah mereka mempersembahkan pengorbanan yang mahal dan mulia untuk membebaskan masyarakat dari berbagai kekejiannya?

Apakah Nabi membiarkannya untuk menjadi penyebab pertumpahan darah dan pembunuhan? Padahal beliau diutus sebagai rahmat bukan sebagai bencana bagi alam semesta, sebagai cahaya dan petunjuk buat orang-orang yang kebingungan dan tersesat? Sama sekali tidak. Nabi saw sudah meletakkan bagi umatnya berdasarkan wahyu dari Tuhan Yang Mahatahu, semua tonggak dan dasar kehidupan manusia dalam bidang-bidangnya yang luas.

Nabi tidak mengabaikan hal-hal yang kecil seperti adab makan dan minum, memakai sandal, sampai adab pergi ke toilet. Nabi sudah menjelaskan kepada umatnya tuntunan kehidupan yang tinggi. Puncak dari tuntunan itu berkaitan dengan kehidupan politik. Inilah kepemimpinan yang dikenal dalam bahasa Al-Quran dan Sunnah sebagai imamah dan khilafah. Karena itulah turun kabar gembira dari Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata tentang penyempurnaan agama dan kesempurnaan nikmat serta keridoan-Nya dengan Islam, seperti firman-Nya: Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku lengkapkan atas kamu nikmat-Ku dan Aku rido Islam menjadi agamamu. (Al-Maidah: 3)

Syeikh Ja’far Subhani memberikan bantahan pada argumentasi Ahli Sunnah sebagai berikut:
“Sekiranya pemerintahan ditegakkan atas dasar Syura, dan sekiranya Syura adalah jalan untuk menunjuk pemimpin pemerintahan, niscaya Nabi sudah menyadarkan umat dengan sistem ini, dan memberikan penjelasan tentang batas-batas dan ketentuan-ketentuan Syura. Dengan begitu umat tidak bingung dan tidak berbeda pendapat dalam pelaksanaannya. Dengan segala urgensi Syura ini, anehnya kita tidak menemukan satu keterangan pun dalam Al-Kitab dan Sunnah yang menjelaskan pemilihan penguasa berdasarkan Syura. Kami tidak bermaksud bahwa Syari’ harus memberikan perincian Syura yang sangat luas, tetapi ada beberapa inti Syura yang tidak boleh ditinggalkan oleh Syari: siapa peserta di dalam Syura? Apakah ulama saja atau para politisi saja atau kelompok militer saja, atau campuran di antara semuanya? siapa yang memilih Ahli Syura itu? sekiranya Ahli Syura berbeda pendapat tentang seseorang, apa kriteria untuk mendahulukan satu pendapat di atas pendapat yang lain?

Kemudian orang menyebutkan bahwa pemilihan seperti itu haruslah sesuai kesepakatan Ahl Hall wal ‘Aqd. Tetapi ungkapan ini lebih kabur daripada yang sebelumnya. Tidak diketahui siapa itu Ahl Hall wal ‘Aqd, apa yang mereka urai dan yang mereka ikat? Apakah mereka itu ahli fiqih, atau pemimpin opini yang menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai peristiwa? Apakah diperlukan tingkat tertentu dalam fiqih dan ilmu supaya berkualifikasi untuk menjadi Ahl Hall wal ‘Aqd, apa ukurannya?”

Jadi sistem syura ini tidak punya landasan yang kuat dalam Al-Quran dan Sunnah. Kita juga tidak menemukannya sebagai tradisi di antara para sahabat. Dr. Thaha Husayn, “Sekiranya kaum muslimin mempunyai sistem yang tertulis tentang syura, pastilah kaum muslimin mengetahuinya pada zaman Utsman, membawakannya, menyerukannya, tanpa harus ada perpecahan dan pertentangan.” Setelah wafatnya Nabi saw, ada dua aliran politik besar: Aliran Ahli Bait yang mempercayai wasiat dan imamah dan aliran Sahabat yang tidak mempercayainya. Yang pertama jelas tidak menerima syura; dan yang kedua tidak menjalankannya. Abu Bakar hanya dipilih oleh lima orang dalam rapat singkat di Saqifah Bani Sa’idah: Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah al-Jarrah, Usayd bin Hudhayr, Bashir bin Sa’d dan Salim Mawla Abu Hudzaifah. Umar diangkat melalui surat perintah Abu Bakar. Utsman ditunjuk lewat “dewan formatur” yang terdiri Utsman, Ali, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Tentang dewan fromatur ini Umar pernah berkata, “Sekiranya dua orang ini –Salim mawla Abi Hudzaifah dan Abu Ubaidah- masih sezaman denganku, aku akan percayakan urusanku ini kepada mereka. Sekiranya Salim mawla Abi Hudzaifah masih hidup aku tidak akan menyerahkannya pada syura.”

Sikap Positif: Penunjukan Khalifah

Menurut orang Syiah, karena kedua asumsi di atas sudah gugur, yang tinggal hanya asumsi ketiga. Rasulullah saw memikirkan dan mengantisipasi kelangsungan dakwah Islam dan karenanya mengangkat seseorang yang dipercayainya sebagai pelanjutnya. Untuk menopang argumentasi ini, mereka mengajukan dua macam pembuktian. Pertama, selama hidupnya, setiap kali Nabi saw meninggalkan kaumnya, ia melakukan istikhlaf.

Kedua, selama hidupnya, Nabi saw berulangkali menegaskan penunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sesudahnya itu.

Negara Islam Sunni (Aswaja) tidak tegak salah satunya karena hadis-hadis politik yang penuh rekayasa !

sabun

Syi’ah  Imamiyah  Mampu  Membuktikan  Kaitan  Rezim Politik  Umayyah  Abbasiyah  Dengan  Penulisan   Hadis  Sunni

hadis-hadis politik adalah hadis palsu yang “diciptakan” belakangan untuk menjustifikasi penguasa-penguasa dalam dinasti Islam.. Sebagaimana kita tahu, banyak sekali khalifah Islam yang bertindak tiranik dan despotic..

Hadis-hadis politik ini jelas menguntungkan mereka secara politik, sebab menekankan ketaatan rakyat, walaupun seorang penguasa menempuh kebijakan yang tak menguntungkan mereka..

Sikap  non  akomodatif  dari  syi’ah terhadap  system non islami  serta ulama yang  independent  dan   non kompromistis yang  mengakar pada  massa  adalah  inti  kekuatan ideologi  Revolusi  Islam  Iran..

Kaum  Syi’ah  Menentang  Setiap kekuatan  politik  yang  tidak  sepenuhnya  melakukan  syari’at   Islam… Sesuai  dengan  kondisi, penentangan ini  boleh  dengan  bersikap pasif ( taqiyyah ) atau  dengan  bersikap  aktif  ( melalui  revolusi  seperti  yang pernah terjadi  di  Iran )

Di tengah konflik Irak ada kalangan dan bahkan sarjana yang melihat terjadinya kebangkitan Syiah, dalam konteks ini di Irak. Inilah yang menjadi tajuk buku Seyyed Vali Reza Nasr, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future (New York: WW Norton, 2006). Apa sesungguhnya ‘kebangkitan Syiah’ itu? Jelas, kebangkitan itu kini terkait dengan Irak pasca-Saddam Hussein dijatuhkan pasukan AS dan sekutu-sekutunya. Tumbangnya kekuasaan Saddam Hussein yang dipandang merepresentasikan kaum Suni dalam perspektif ini adalah ‘kebangkitan Syiah’ setelah berpuluh tahun berada di bawah kekuasaan Suni yang merupakan kelompok minoritas di Irak.

Jika argumen tentang ‘kebangkitan Syiah’ di Irak pasca-Saddam Hussein bisa diterima, hemat saya, dalam konteks Dunia Syi’ah, ini merupakan ‘kebangkitan kedua Syiah’. Kebangkitan pertama terjadi dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini pada 1979. Tetapi, berbeda dengan ‘kebangkitan kedua Syiah’ di Irak yang terjadi dalam konteks persaingan kekuasaan dengan kaum Suni, sebaliknya ‘kebangkitan pertama Syiah’ terjadi dalam pergumulan di antara kaum Syiah sendiri, dalam hal ini antara Ayatullah Khomeini versus penguasa Iran Syiah, Syah Reza Pahlevi, yang didukung AS.

Terlepas dari perbedaan semacam ini, satu hal menarik adalah kebangkitan itu berkaitan dengan faktor Amerika. Dalam konteks Iran, AS yang mati-matian membela Syah Reza Pahlevi gagal menghentikan keberhasilan Revolusi Ayatullah Khomeini. Berikutan dengan ‘kebangkitan pertama Syiah’ tersebut, upaya untuk penyebaran Syiah secara global ke negara-negara Muslim lainnya –termasuk Indonesia– berlangsung dengan intens. Walaupun hasilnya dalam pengamatan saya tidaklah sebesar yang diharapkan kalangan Syiah sendiri, yang berusaha memanfaatkan momentum keberhasilan Revolusi Ayatullah Khomeini untuk penyebaran Syiah di luar wilayah-wilayah yang selama ini merupakan kawasan mayoritas Suni.

Kebangkitan kedua Syiah di Irak sekarang ini, menurut argumen Nasr, pertama, berkaitan dengan tumbangnya kekuasaan Suni yang dipegang Presiden Saddam Hussein. Bahkan, Seyyed Vali Nasr mengklaim, tumbangnya Saddam Hussein menghasilkan terbentuknya apa yang dia sebut sebagai ‘negara Syiah Arab’ pertama. Sebagai penduduk mayoritas Irak, kaum Syiah sejak pemilu pertama pada 2005 telah mendominasi lanskap politik Irak. Pemilu yang berlangsung hanyalah mengonfirmasikan dominasi Syiah dalam politik Irak sekarang.

Lebih jauh, tumbangnya Saddam Hussein juga memungkinkan terjadinya ‘kebangkitan’ kultural dan keagamaan Syiah dalam bentuk meningkatnya dinamika pusat-pusat kebudayaan dan keagamaan Syiah di berbagai tempat di Irak. Dalam masa pasca-Saddam, ratusan ribu jamaah Syiah memadati tempat-tempat yang dipandang suci di Najaf, Karbela, dan lain-lain.

Berkumpulnya orang-orang Syiah dalam jumlah besar seperti itu memungkinkan terjadi penguatan hubungan transnasional di antara mereka, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tapi juga dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Inilah yang dipandang Vali Nasr –putra Seyyed Hussein Nasr, ahli tentang Islam dan sains– sebagai penguatan transnasionalisme Syiah; tidak hanya di Irak dan Iran, tetapi juga kaum Syiah di tempat-tempat lain seperti Pakistan dan Lebanon; transnasionalisme itu memungkinkan akselerasi penyebaran Syiah.

Kritik sanad sudah dikembangkan dengan canggih oleh sarjana Islam, tetapi kritik matan kurang banyak dicoba. Metode proyeksi bisa masuk dalam kritik matan itu.

Imam Bukhari, kolektor yang paling bertanggung jawab atas kodifikasi hadis itu, meninggal pada 870 M.. Nabi meninggal pada 632 M.. Anda bisa hitung sendiri jarak antara keduanya.

.

Fondasi sanad adalah pendapat seseorang bahwa si A atau si B yang menjadi perawi hadis bisa dipercaya karena dia seorang yang baik (‘adl, bukan fasik), hafalannya bisa dipercaya (dhabth), dan pernah bertemu langsung dengan perawi sebelumnya  ( muttashil )..

.

Menurut saya, fondasi seperti ini mengandung banyak soal, meskipun sebagai sebuah “temuan”, metode itu cemerlang dan pantas kita hormati. Poin saya, metode itu tidak memberikan fondasi sekukuh seperti dikira oleh banyak orang selama ini. Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.

.

Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif karena bercampur pendapat pribadi.. Dan ingatan manusia, seberapapun sempurnanya, tentu mengandung  kemungkinan  meleset.

.

menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 7000 an hadis.

.

Bayangkan, Imam Bukhari menyuling 7000 an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis… Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini?

Dengan rasio 300.000 : 7000 an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid  hanyalah perkecualian saja.

.

Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa massif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga saya  membuat semacam  kaidah : hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception

.

Hadis datang ke kita melalui sebuah ingatan. Sebagaimana setiap ingatan, sudah tentu ada masalah di sana menyangkut seberapa jauh validitas ingatan itu dan bagaimana mengeceknya. Seberapapun kuatnya sebuah ingatan, ia tetap sangat “precarious” dan rentan

.

Yang menjadi teka-teka saya selama ini adalah hadis-hadis politik sunni itu kok “klop” benar dengan kepentingan penguasa Mu’awiyah dan Abbasiyah zaman itu. Kalau memang hadis ini sudah ada dari “sono“-nya, kenapa tidak dikutip pada saat situasinya relevan, yaitu waktu Usman diberontak oleh penduduk Mesir? Kenapa hadis-hadis itu tidak dikutip Abu Bakar waktu perang melawan kaum pembangkang zakat ? Kenapa hadis itu tak dipakai oleh Ali untuk menghadapi perlawanan Mu’awiyah? Dst. dst.

.

Sebagaimana sudah saya katakan, teori proyeksi tidak bisa memberikan informasi yang cukup, juga tidak bisa memberikan kepastian apapun. Teori itu hanya menjadi pemandu saja bagi kita, bahwa hadis ini atau itu “very-unlikely” disabdakan Nabi, sebab begini dan begitu.

.

BARU-baru ini, saya  membaca buku-buku yang ditulis oleh Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri gerakan Hizbut Tahrir. Ada dua buku karangan Nabhani yang menarik perhatian saya. Yang pertama berjudul “Al-Khilafah” (Kekhilafahan), yang kedua “Al-Dawlah al-Islamiyyah” (Negara Islam). Dalam dua buku itu, Nabhani mencoba mengemukakan beberapa argumen tentang keharusan agama untuk mendirikan sistem “khilafah”. Salah satu argumen yang ia pakai adalah sejumlah hadis berikut ini:

1. Hadis riwayat Nafi’ dari ‘Umar, Nabi SAW bersabda: “Man khala’a yadan min tha’at al-Lahi laqiya al-Laha yawm al-qiyamati la hujjata lahu. Wa man mata wa laysa fi ‘unuqihi bai’atun mata maytatan jahiliyyatan“.

Artinya: Barangsiapa melepaskan diri dari ketaatan kepada Allah, maka ia akan bertemu dengan Allah di hari kiamat dalam keadaan bungkam/tak memiliki argumentasi apapun. Barangsiapa meninggal dalam keadaan tak berbai’at (kepada seorang imam), maka ia akan mati secara jahiliyyah (mati dalam keadaan kafir)

.

2. Hadis riwayat Hisyam b. ‘Urwah dari Abi Shalih dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Sayalikum ba’di wulatun fayalikum al-barru bi birrihi wa al-fajiru bi fujurihi fa-sma’u lahum wa athi’u fi kulli ma wafaqa al-haqqa, fa in ahsanu fa lakum wa in asa’u fa lakum wa ‘alaihim.”

Artinya: Setelah aku meninggal, kalian akan diperintah oleh penguasa yang baik dengan kebaikannya dan penguasa yang jahat dengan kejahatannya. Kalian harus patuh mendengarkan dan menaati mereka dalam hal-hal yang sesuai dengan kebenaran. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikan itu akan berguna buat kalian. Tetapi jika mereka berbuat jahat, kalian tak rugi apa-apa, sebaliknya yang rugi adalah mereka sendiri

.

3. Riwayat Muslim dari Abu Hazim, ia berkata: “Selama lima tahun aku bersahabat dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengarnya menceritakan sebuah hadis dari Nabi, “Kanat banu Isra’ila tasusuhum al-anbiya’ kullama halaka nabiyyun khalafahu nabiyyun, wa innahu la nabiyya ba’di, wa satakunu khulafa’u fa taktsuru.” Qalu: Fama ta’muruna? Qala, “Fu bi bai’at al-awwali fa al-awwali wa a’thuhum haqqahum fi inna l-Laha sa’iluhum ‘amma istar’ahum.”

Artinya: Bangsa Israel dulu diperintah oleh para nabi; setiap satu nabi meninggal, maka nabi lain akan menggantikannya. Sementara itu tak ada nabi lagi sepeninggalku, yang ada hanyalah para khulafa’/pengganti, dan mereka akan banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami untuk menghadapi mereka. Nabi berkata: Berikanlah dan penuhilah ba’iat kalian kepada khalifah pertama, lalu yang berikutnya, dan seterusnya. Berikanlah hak mereka, sebab Allah akan meminta pertanggungjawaban kelak mengenai segala hal yang menjadi tanggung-jawab mereka

.

Ada beberapa hadis lain yang dipakai oleh Nabhani sebagai dasar argumentasi mengenai keharusan menegakkan sistem khilafah menurut Islam. Isinya hampir serupa. Saya sengaja memilih tiga hadis ini sebagai contoh saja. Ketiga hadis di atas masuk dalam kategori yang ingin saya sebut “hadis-hadis politik”

.

Marilah kita telaah tiga hadis di atas.

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah: kalau kita telaah literatur sejarah yang merekam perdebatan awal mengenai kekhilafahan paska Nabi (misalnya karya Ibn Qutaybah [ w. 276 H/889 M ], “Al-Imamah wa al-Siyasah“), tak satupun hadis-hadis politik yang sering kita dengar selama ini, termasuk tiga hadis di atas, disebut-sebut dan dikutip oleh sahabat sebagai dasar argumentasi, terutama pada fase genting saat mereka berdebat mengenai siapa yang akan menjadi penguasa baru sepeninggal Nabi

.

Hal  tersebut untuk  melegalisir  Abu Bakar yang  melakukan kudeta persis setelah Nabi wafat. Jika hadis itu memang benar-benar ada sejak dari awal, kenapa Abu Bakar tidak mengutipnya? Hadis ini dengan gampang akan menyelesaikan perdebatan, dan Abu Bakar tak harus susah-susah mencari argumen yang “njlimet” untuk mendukung pendapatnya bahwa yang berhak menjadi pengganti Nabi adalah suku Quraish

.

Jika dia sendiri tak tahu mengenai hadis itu, dan sahabat lain tahu, tentu sahabat itu akan memberi tahu Abu Bakar. Mengandaikan bahwa sahabat yang lain tahu mengenai hadis tersebut tetapi menyembunyikannya dengan motif politik tertentu jelas tak sesuai dengan “konstruksi doktrinal” dalam kalangan Sunni sendiri di mana sahabat dianggap sebagai manusia-manusia adil yang tak akan berbohong

.

Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu.. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik

.

Salah satu penulis sunni  penting di bidang al-Siyasah” atau fikih politik adalah Abu al-Hasan ‘Ali al-Mawardi (w. 450 H/1058 M), seorang penting dari lingkungan mazhab Syafii. Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi hidup kira-kira empat abad lebih sepeninggal Nabi. Al-Mawardi hidup pada masa dinasti Abbasiyah, terutama pada fase awal saat imperium ini berada di tangan orang-orang Saljuk

.

Buku al-Mawardi yang terkenal, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah, dianggap sebagai semacam cara untuk memberikan legitimasi pada dinasti Abbasiyah berhadapan dengan lawan-lawannya, seperti dinasti Fatimiyyah di Mesir

.

Observasi lain yang relavan mengenai hadis-hadis “politik” adalah sebagai berikut: kenapa hadis-hadis ditu cocok dan pas benar dengan kondisi politik yang berkembang pada era kedinastian Islam ?

.

Marilah kita lihat hadis yang pertama. Hadis itu berbicara mengenai dua model penguasa: penguasa yang adil (al-barr) dan penguasa tiran (al-fajir)

.

Yang menarik, Nabi memerintahkan umat Islam untuk taat kepada seorang penguasa, tak peduli apakah mereka adil atau tiran, sebagaimana terbaca dalam hadis yang kedua

.

Yang lebih mengagetkan adalah sabda Nabi berikut ini, “Fa in ahsanu falakum wa in asa’u falakum wa ‘alaihim“. Sesuai dengan sabda ini, jika seorang penguasa bertindak adil, maka yang diuntungkan adalah rakyat; jika penguasa bertindak lalim, maka rakyat tak dirugikan apapun; kelaliman itu hanya merugikan penguasa bersangkutan

.

Saya nyaris tak percaya bahwa Nabi mengeluarkan statemen seperti ini. Bagaimana mungkin penguasa yang tiran tidak merugikan rakyat? Apakah masuk akal Nabi mengeluarkan statemen seperti ini ?

.

Jika hadis ini memang benar-benar pernah diucapkan oleh Nabi, kenapa beberapa sahabat memberontak pada Usman, khalifah ketiga, saat ia dituduh mempraktekkan kebijakan-kebijakan yang “nepotistik” dan meresahkan banyak masyarakat, hingga akhirnya dia terbunuh? Apakah sahabat melanggar perintah Nabi untuk tunduk pada penguasa, baik penguasa adil ataupun jahat ?

.

Kontradiksi-kontradiksi historis semacam ini tidak pernah dijawab secara memuaskan dalam literatur fikih siyasah, dan sebaliknya ditutup rapat-rapat melalui doktrin “al-shahabi ‘udul“, para sahabat adalah adil. Pokoknya diandaikan saja bahwa generasi sahabat pasti benar, tak mungkin mereka berbuat salah. Kalau pun mereka berbuat sesuatu yang tampaknya salah, itu adalah hasil ijtihad mereka. Ijtihad yang salah tetap mendapat pahala. Solusi semacam ini hanyalah melarikan diri dari masalah, bukan menghadapinya dengan “jantan”

.

Hadis ketiga lebih menarik lagi. Di sana kita temukan suatu kesejajaran antara nabi dengan khalifah. Khalifah pada masa Islam sama kedudukannya dengan nabi-nabi pada bangsa Israel.. Karena tak ada nabi lagi sepeninggal Nabi Muhammad, maka yang muncul sebagai “penguasa” yang melanjutkan misi Nabi adalah para khalifah. Oleh karena itu, seperti kita baca dalam penutup hadis itu, umat Islam diperintahkan untuk memberikan hak kepada para khalifah itu. Yang disebut dengan hak di sini adalah ketaatan

.

Sekali lagi, hadis ini tak pernah diungkit-ungkit saat terjadi pembangkangan atas Usman, dan juga Ali, khalifah keempat

.

Apa kesimpulan yang hendak saya capai dengan observasi ini? Saya menduga dengan kuat, bahwa hadis-hadis politik ini adalah hadis palsu yang “diciptakan” belakangan untuk menjustifikasi penguasa-penguasa dalam dinasti Islam. Sebagaimana kita tahu, banyak sekali khalifah Islam yang bertindak tiranik dan despotik. Hadis-hadis politik ini jelas menguntungkan mereka secara politik, sebab menekankan ketaatan rakyat, walaupun seorang penguasa menempuh kebijakan yang tak menguntungkan mereka

.

Saya hampir tak bisa percaya bahwa Nabi mengatakan bawa seorang penguasa yang zalim tak membawa kerugian apa-apa bagi rakyat. Hadis semacam ini kemungkinan besar dibuat belakangan dan “dinisbahkan” atau “diproyeksikan” ke belakang sebagai sabda Nabi

.

Verifikasi hadis hanya dengan metode sanad atau mata rantai transmisi sebagaimana selamaini ditempuh oleh kesarjanaan Islam tradisional sama sekali tak memadai. Metode proyeksi ini membantu kita untuk melakukan verifikasi dengan metode non-sanad

.

Sebetulnya metode ini sudah dibuka kemungkinannya dalam studi hadis sendiri. Sebagaimana kita tahu, dalam studi ilmu-ilmu hadis (mushthalah al-hadith) kita kenal dua metode kritik (naqd), yaitu kritik sanad dan kritik matan atau teks hadis. Kritik sanad sudah dikembangkan dengan canggih oleh sarjana Islam, tetapi kritik matan kurang banyak dicoba. Metode proyeksi bisa masuk dalam kritik matan itu

.

Terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab hadis sunni… Hadis shahih tapi ternyata palsu mazhab sunni bermacam-macam.. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian

.

Kriteria hadis sahih yang dipakai Bukhari adalah kesahihah yang disepakati, diriwayatkan oleh orang yang masyhur sebagai perawi hadis dan minimal dua orang perawi di kalangan sahabat yang tsiqah (adil dan kuat hafalan), serta lainnya

.

Padahal, para ulama hadis lainnya menyusun sejumlah kriteria dalam menilai hadis sebuah dapat dikatakan sahih dan tidak, mulai dari segi sanad (tersambungnya para perawi hadis), matan (isi hadis), serta kualitas dan kuantitas para perawi hadis. Bagaimana tingkat hafalannya, keadilannya, suka berbohong atau tidak, dan lain sebagainya

.
Ketidaklayakan disebut sebagai hadis sahih itu meliputi adanya pertentangan atau ketidaksesuaian dengan nas Alquran,  fakta  sejarah dan  akal sehat…

TiDAK   CUKUP   HANYA  HADiS  !!!  PERLU   TARiKH  !!!

Hadis  perlu  di verivikasi denga  kitab tarikh  mu’tabar…

Penulisan sejarah Islam Sunni benar-benar telah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dan ideologis. Banyak data-data sejarah dirahasiakan demi meloloskan sederetan agenda ideologis sebagaimana tidak sedikit kepalsuan dipasarkan dengan serius juga demi membangun kesimpulan-kesimpulan tertentu yang diharapkan mampu membangun ide-ide politik dan kemazhaban tertentu.

Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan secara tuntas masalah ini. ia hanya akan menyajikan beberapa contoh yang diharap dapat menjadi pembuka wawasa baru yang sehat dan bertanggung jawab dalam mengkaji sejarah Islam jauh dari kepentingan dan tujuan apapun selain menemukan kebenaran sejarah sejati dan hakikan apa yang terjadi…

Tidak sedikit faktor yang memperkosa data-data sejarah untuk disesuaikan dengan pola pandang resmi tertentu dan kemudian diterima sbagai sebuah kepastian yang dijadikan pondasi di atasnya mereka akan membangun kesimpulan-kesimpulan seperti apa yang mereka maukan sesuai dengan ideologi yang mereka yakini sebelumnya.

Menyajikan sebuah kasus sejarah dengan sederetan rinciannya atau mengada-ngada sebuah kasus sejarah yang lalu memaksanya masuk dalam daftar peristiwa yang harus diterima tanpa boleh dipertanyakan tidak lain adalah upaya penulisan sejarah dan kemudian menggiring para pembaca untuk membacanya sesuai dengan kaca mata pemikiran dan kemazhaban siap saji yang dimaukan!

Upaya seperti diharap mampu menjadikan para pembaca sebagai pengekor yang menelan mentah-mentah sebuah pemikiran yang disajikan dan dikampanyekan oleh “polisi pemberangus kebebasan berfikir” yang berkhidmat untuk kekuasaan di masa penulisan sejarah itu berlangsung.

Jika metodologi penulisan sejarah telah ditundukkan kepada kepentingan kekuasaa maka ia pasti akan menundukkan data-data sejarah yang disajikan demi kekuasaan yang kecenderungan-kedenderungannya.

Dalam kasempatan ini saya akan angkat satu data sejarah yang selama disengaja disembunyikan dan dirahasiakan sedemikian rupa oleh kepentingan politik dan kemazhaban. Ia adalah:

Nabi saw. Telah Menceraikan Hafshah –Putri Umar-!

Ibnu al Jauzi membongkar dokumen sejarah berbahaya tersebut. Ia berkata:

Dari Qais ibn Zaid bahwa Nabi saw. telah menceraikan Hafshah binti Umar. Lalu saudara ibunya; Qudamah dan Utsman keduanya putra Madz’ûn, ia (Hafshah) menangis dan berkata, ‘Demi Allah, ia tidak menceraikanku dalam keadaan kenyang. Dan Nabi saw. datang dan ia pun berjilbab… “[1]

Peristiwa penceraian Hafshah dapat dibilang sebagai peristiwa yang tergenting dalam kehidupan rumah tangga Nabi saw. sebab ia akan membongkar tingkat kemesraan yang erjalin antara keduanya yang tentunya akan berpengaruh kepada hubungan antara Nabi dan Umar; ayah Hafshsh yang selama ini diandalkan oleh pola pandang sebagian mazhab Islam. Di mana mereka membangun sederetan kesimpulan dan keistimewaan atas dasar hubungan itu! Demikian pula dengan hubungan Nabi saw. dengan Aisyah.

Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan sebuah riwayat panjang dari Ibnu Abbas ra. tentang keretakan hubungan rumah tangga Nabi dengan Hafshah putrinya. Dalam riwayat itu Umar –ayah Hafshah- memperjelas kisah kegentingan dan keretakan hubungan rumah tangga itu:

قَالَ كُنَّا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ قَوْمًا نَغْلِبُ النِّسَاءَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ وَجَدْنَا قَوْمًا تَغْلِبُهُمْ نِسَاؤُهُمْ فَطَفِقَ نِسَاؤُنَا يَتَعَلَّمْنَ مِنْ نِسَائِهِمْ قَالَ وَكَانَ مَنْزِلِي فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ بِالْعَوَالِي فَتَغَضَّبْتُ يَوْمًا عَلَى امْرَأَتِي فَإِذَا هِيَ تُرَاجِعُنِي فَأَنْكَرْتُ أَنْ تُرَاجِعَنِي فَقَالَتْ مَا تُنْكِرُ أَنْ أُرَاجِعَكَ فَوَاللَّهِ إِنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُرَاجِعْنَهُ وَتَهْجُرُهُ إِحْدَاهُنَّ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ فَانْطَلَقْتُ فَدَخَلْتُ عَلَىحَفْصَةَ فَقُلْتُ أَتُرَاجِعِينَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ نَعَمْ فَقُلْتُ أَتَهْجُرُهُ إِحْدَاكُنَّ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ قَالَتْ نَعَمْ قُلْتُ قَدْ خَابَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْكُنَّ وَخَسِرَ أَفَتَأْمَنُ إِحْدَاكُنَّ أَنْ يَغْضَبَ اللَّهُ عَلَيْهَا لِغَضَبِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هِيَ قَدْ هَلَكَتْ لَا تُرَاجِعِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَسْأَلِيهِ شَيْئًا وَسَلِينِي مَا بَدَا لَكِ وَلَا يَغُرَّنَّكِ أَنْ كَانَتْ جَارَتُكِ هِيَ أَوْسَمَ وَأَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْكِ يُرِيدُ عَائِشَةَ  

قَالَ وَكَانَ لِي جَارٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَيَأْتِينِي بِخَبَرِ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَآتِيهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَكُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ غَسَّانَ تُنْعِلُ الْخَيْلَ لِتَغْزُوَنَا فَنَزَلَ صَاحِبِي ثُمَّ أَتَانِي عِشَاءً فَضَرَبَ بَابِي ثُمَّ نَادَانِي فَخَرَجْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ حَدَثَ أَمْرٌ عَظِيمٌ قُلْتُ مَاذَا أَجَاءَتْ غَسَّانُ قَالَ لَا بَلْ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ وَأَطْوَلُ طَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ فَقُلْتُ قَدْ خَابَتْ حَفْصَةُ وَخَسِرَتْ قَدْ كُنْتُ أَظُنُّ هَذَا كَائِنًا حَتَّى إِذَا صَلَّيْتُ الصُّبْحَ شَدَدْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي ثُمَّ نَزَلْتُ فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ وَهِيَ تَبْكِي فَقُلْتُ أَطَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَا أَدْرِي هَا هُوَ ذَا مُعْتَزِلٌ فِي هَذِهِ الْمَشْرُبَةِ

“ … Umar berkata, “Kami kaum Quraisy adalah kaum yang mengalahkan istri-istri kami dan setelah kami berhijrah ke Madinah kami menemukan kaum yang dikalahkan oleh istri-istri mereka. Wanita-wanita kami mulai belajar dari wanita-wanita mereka. Umar berkata, “Rumah tempat tinggalku di daerah bani Umayyah ibn Zaid di perbukitan. Pada suatu hari aku marah kepada istriku, tiba-tiba ia berami membantahku, aku marah kepadanya karena ia berani membantahku, lalu ia berkata, ‘Mengaka kaum mengingkari karena aku membanthmu? Demi Allah sesungguhnya istri-istri Nabi saw. benar-benar telah membantahnya dan seorang dari mereka terkadang tidak mengajaknya berbicara sehari semalam! Aku pergi dan menemui Hafshah, aku bertanya, “Apakah engkau membantah Rasulullah saw.? Ia menjawab, “Ya. Aku berkata, “Akapah seorang dari kalian tidak mengajaknya berbicara sehari semalam? Ia menajwab, ‘Ya.’ Aku berkata, “Sungguh celaka dan merugilah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan itu. Apakah seorang dari kalian merasa aman dari murka Allah karena murka Rasul-Nya. Pasti ia celaka! Jangan engkau membantah Rasulullah saw. dan jangan engkau meminta-minta sesuatu darinya. Mintalah kepadaku apapun yang engkau inginkan! Janganlah engkau tertipu oleh tetanggamu (Aisyah) maksudnya  ia itu lebih cantik dan lebih dicintai Rasulullah saw.’

Umar berkata, “Aku punya tetangga dari suku Anshar, kami bergantian mendatangi Rasulullah saw. sehari aku turun dan sehari ia yang turun. Ia dating dengan membawa kabar tentang wahyu dan selainnya.  Begitu juga aku seperti itu. Kami berbincang-bincang bahwa suku Ghassân telah bersiap-siap untuk menyerang kota Madinah. Temanku turun kemudian ia dating menemuiku dan mengetuk pintu rumahku dan memanggilku. Aku keluar menemuinya. Ia berkata, “Telah terjadi perkara besar!” Aku bertanya, “Apakah suku Ghassân dating?” Ia menjawab, “Lebih besar dan lebih panjang ceritanya dari itu. Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya!” Aku berkata, ‘Kecewa dan merugilah Hafshah. Aku telah memperkirakan ini pasti terjadi. Seusai aku shalat shubuh aku pakai bajuku aku turun ke kota menemui Hafshah, ia menangis. Aku kerkata kepadanya, ‘Apakah Rasulullah saw. menceraikan kalian? Hafshah menjawab, “Aku tidak tau. Sekarang ia menyendiri di tempat istirahatnya… “[2]

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis lain dari Ibnu Abbas ra. bahwa Umar mengabarkan kepadanya seperti di bawah ini:

لَمَّا اعْتَزَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا النَّاسُ يَنْكُتُونَ بِالْحَصَى وَيَقُولُونَ طَلَّقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُؤْمَرْنَ بِالْحِجَابِ فَقَالَ عُمَرُ فَقُلْتُ لَأَعْلَمَنَّ ذَلِكَ الْيَوْمَ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَقَدْ بَلَغَ مِنْ شَأْنِكِ أَنْ تُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا لِي وَمَا لَكَ  يَا ابْنَ الْخَطَّابِعَلَيْكَ بِعَيْبَتِكَ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ فَقُلْتُ لَهَا يَا حَفْصَةُ أَقَدْ بَلَغَ مِنْ شَأْنِكِ أَنْ تُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحِبُّكِ وَلَوْلَا أَنَا لَطَلَّقَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَكَتْ أَشَدَّ الْبُكَاءِ

Ibnu Abbas  berkata, “Umar berkata kepadaku, ‘Ketika Nabi saw. mengasingkan diri dari sitri-istrinya, aku masuk ke dalam masjid tiba-tiba aku menyaksikan orang-orang membulak-balikkan batu-batu kecil ke atas tanah (sebagai tanda kesedihan _pen), mereka berkata, ‘Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya.’ Ketika itu hijab belum diwajibkan.

Umar berkata, “Aku akan mencari tau hari ini. ia berkata, ‘Aku masuk menemui Aisyah lalu aku berkata, ‘Hai anak Abu Bakar, apakah sudah sampai seperti itu kamu mengganggu Rasulullah saw.? Aisyah berkata, “Apa urusanmu dan dan aku hai anak Khaththab? Uruslah anakmu sendiri!”

Umar berkata, “Aku masuk menemui Hafshah, aku berkata kepadanya, “Apakah sudah sampai seperti itu kamu mengganggu Rasulullah saw.? Demi Allah aku benar-benar mengatahui bahwa Rasulullah tidak mencintaimu. Jika buklan karena aku pastilah beliau sudah menceraikanmu.” Maka ia menangis dengan tangisan yang sangat… .”[3][4]

Demikianlah hubungan yang terjalin antara Rasulullah saw. dan kedua istri beliau; anak Abu Bakar dan anak Umar!

Peristiwa ini tidak mendapat perhatian yang sesuai di kalangan sekelompk Muslimin padahal ia sangat penting dalam pristiwa-pristiwa Sirah Nabi saw. Sepertinya mereka bersepakat untuk tidak mengangkat kasus ini agar tidak memimbulkan keingintauan kaum Muslimin terhadap apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Nabi saw. yang tentu akan memiliki ekor panjang dalam kehidupan sejarah umat Islam! Dan akan mempertanyakan kembali sederetan keistimewaan yang diberikan kepada kedua ayah merekaa atas dasar kedekatan dan kemesraan hubungan yang terjalin antara Nabi saw. dan kedua anak mereka! Karenanya pristiwa ini harus ditutup rapat demi kemapanan ideologis yang telah dibangun di atas kisah kemesraan dan kehangatan hubungan!

Semua kisah sejarah harus dirajut jauh dari bayanhg-bayang kasus/peristiwa yang tidak diinginkan. 

Benarkan Aisyah Masih Gadis Ketika Menikah Dengan Nabi saw.?

Kasus lain yang juga diupayakan agar tetap dalam kerahasiannya adalah peristiwa pernikahan Aisyah dengan seorang pemuda bernama Jubair ibn Muth’im, tentunya sebelum kemudian Aisyah menikah dengan Rasulullah saw.! Artinya ketika dinikahi Nabi saw., Aisyah adalah janda setelah diceraikan oleh suaminya atas permiantaan Abu Bakar.

Perhatikan riwayat Ibnu Sa’ad di bawah ini yang ia nukil dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata, “Rasulullah saw. melamar Aisyah  binti Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku sudah berikah dia kepada Muth’im untuk dinikahkah kepada anaknya si Jubair. Jadi biarkan aku ambil dengan berlahan lagi dari mereka.’ Lalu Abu Bakar mengambilnya dengan cara halus kemudian menikahkannya dengan Rasulullah saw.”[5]

Data riwayat di atas tidak menjelaskan apakah suami Aisyah sudah melakukan hubungan suami istri dengannya atau belum sempat. Dan karena Rasulullah saw. melawar Aisyah maka Abu Bakar melihat bahwa adalah mashlahat apabila ia meminta kerelaan keluarga Muth’im untuk mengembalikan putrinya kepadanya. Kemudian keluarga Muth’im berbaik hati dengan menuruti permintaan Abu Bakar dan menceraikan Aisyah dan setelahnya Abu Bakar menikahkannya dengan Rasulullah saw.

Peristiwa yang mirip juga terjadi dengan Zainab dan Zaid ibn Hâritsah anak angkat Rasulullah saw. ketika Zaid mengetahui bahwa Rasulullah saw. tertarik kepada istrinya; Zainab, ia datang menemui Rassullah dan berkata, “Wahai Rasulullah saw. telah sampai berita kepadaku bahwa Anda dating ke rumahku, mengapa Anda tidak sudi masuk? Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku sebagai tebusan begi Anda, apakah Anda tertarik kepada Zainab? Aku siap menceraikannnya untuk Anda.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Peganglah tali pernikahanmu dengan istrimu!”[6]

Di sini, dalam kasus ini, Zaid lebih mengutamakan keingininan Nabi saw. dan siap menceraikan istrinya demi beliau saw. mirip dengan apa yang dilakukan oleh Jubair ketika ia sudi menceraikan Aisyah demi keinginan Rasulullah saw.

Pristiwa pernikahan Aisyah dengan Jubair ibn Muth’im meruntuhkan khayalan yang selama dijadikan pondasi membangun sederetan kesimpulan dan penganugerahan berbagai keistimewaan untuk Siti Aisyah. Dia anartanya aadalah bahwa ia adalah satu-satunya istri Nabi saw. yang gadis saat dinikahi Rasulullah saw. yang di atasnya pengagungan dan pengutamaan dibangun!

Demikianlaah dua contoh kasus sejarah yang dirahasiakan dan/atau diabaikan sedemikian rupa demi mepertahankan bangunan keutamaan dan keistimewaan yang atas pula pondasi ideologi dan kemazhaban ditegakkan dan kemudian disakralkan!

Mengada-ngada Pristiwa Demi Politik Dan Mazhab

Sebagaimana sebagian mereka juga mengada-ngada pristiwa sejarah demi tujuan kemazahaban dan ideologis dan kemudian sebagian lainnya terjebak dalam membesar-besarkannya serta terseret dalam penyimpulan-penyimpulan yang sengaja dimaukan para pembaca terjebak di dalamnya, seperti pristiwa NIKAHNYA UMAR DENGAN UMMU KULTSUM PUTRI IMAM ALI AS.

Di mana kita menyaksikan bagaimana sebagian mereka yang terjebak, baik dengan sadar atau tidak berlomba-lomba menyajikan kesimpulan-kesimpulan “lugu” dan terkadang terkesan ‘dungu” di atas pristiwa yang sulit mereka buktikan sendiri jika tidak mustahil untuk dibuktikan kebenarannya!

Dengan pristiwa yang paling baik status yang pantas kita berikan untuknya adalah pristiwa yang belum pasti kebenarannya, mereka membangun kesimpulan “lugu” dan mengabaikan semua bukti sejarah yang bertolak belakang dengannya… sungguh sukses para pemalsu itu ketika mampu menciptkan generasi pembaca sejarah sesuai dengan arah yang dimaukan oleh para pemalsu itu!

Mudah-mudahan dalam kesempatan lain kami dapat menyajikan tema tersebut!Insya Allah.


[1] Shafwah ash Shafwah,1/354, al Kunâ wa al Asmâ’; Imam an Nawawi,2/338 dan ath Thabaqât; Ibnu Sa’ad,6/62.

[2] Shahih Muslim, Kitâb ath Thalâq, Bab (5) al Îlâ’ wa I’tizâl an Nisâ’ wa takhyîruhunna,4/192-193. Dâr al Ma’rifah, Bairut.  Lihat juga di sini: http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=663&BookID=25&PID=2779

[3] Ibid. 188. Lihat juga di sini: http://hadith.al-islam.com/ Page.aspx? pageid= 192& BookID =25& TOCID =663.

[4] Mungkin saat itu Sayyidina Umar, Siti Hafshah dan siti Aisyah belum mengetahui bahwa semua sahabat itu adalah ADIL, dan apapun yang mereka lakukan pasti diberi pahala sebab dilakukan berdasarkan ijtihad! Jadi semestinya Sayyidina Umar tidak perlu mengancam dan Siti Hafshah pun tidak perlu menangis! Mendapat pahala kok malah menangis?! Aneh bukan?!

[5] Ath Thabaqat al Kubrâ,6/42.

[6] Ibid.75.

Ketika Mu’awiyah mencaci maki Imam ‘Ali dan menyembelih pengikut Ahlul Bait

kaget

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan.

Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Kekhalifahan Imam Ali  diteruskan oleh puteranya, Al-Hasan ra., tetapi sisa-sisa kekuatan pendukung mendiang Imam  Ali  sudah banyak mengalami kemerosotan mental dan patah semangat.. Bahkan terjadi penyeberangan ke pihak Mu’wiyah untuk mengejar kepentingan-kepentingan materi, termasuk ‘Ubaidillah bin Al-‘Abbas (saudara misan Imam ‘Ali ra.) yang oleh Al-Hasan ra, diangkat sebagai panglima perangnya !

Hilanglah sudah imbangan kekuatan antara pasukan Al-Hasan ra dan pasukan Mu’awiyah, dan pada akhirnya diadakanlah perundingan secara damai antara kedua belah pihak. Dalam perundingan itu Al-Hasan ra. menyerahkan kekhalifan kepada Mu’awiyah atas dasar syarat-syarat tertentu, berakhirlah sudah kekhalifahan Ahlu-Bait Rasulallah saw. Seluruh kekuasaan atas dunia Islam jatuh ketangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Ahlul-Bait, mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya. Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw. direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulullah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulallah saw..

Kenapa Abubakar Bisa Berkuasa Mengalahkan Imam Ali ? Ini rahasianya..

Kenapa Abubakar Bisa Berkuasa Mengalahkan Imam Ali ? Ini rahasianya..

bintang-jatuh

Pertentangan Aus dan Khazraj sudah terlalu terkenal dalam sejarah Islam..

Diterimanya Rasul di Madinah dan terpilihnya Abubakar di Saqifah Bani Sa’idah  secara kokoh  di kedua klan tersebut karena kedua klan tersebut membutuhkan “orang ketiga” dalam konflik diantara mereka. Hal ini bisa dipahami dalam manajemen konflik politik.

Adapun diterimanya Rasul oleh kaum Yahudi merupakan catatan tersendiri. Tentu saja Yahudi menerima Nabi dengan penuh kecurigaan tetapi pendekatan yang dilakukan Nabi mampu “menjinakkan” mereka, paling tidak, sampai Nabi eksis di Madinah.

Periode Madinah: Kesempurnaan Agama Islam

Hijrah ke Madinah tidaklah terwujud begitu saja (atau sekonyong-konyong). Ada beberapa pra-kondisi seperti Bai`at Aqabah (pertama dan kedua). Kedua Ba`iat ini merupakan batu-batu pertama bagi bangunan negara Islam. Kehadiran Rasul melalui peristiwa hijrah ke dalam masyarakat Madinah yang majemuk amat menarik untuk dibahas. Peta demografis Madinah saat itu adalah sebaagai berikut: (1) Kaum Muslimin yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar, (2) Anggota suku Aus dan Khazraj yang masih berada pada tingkat nominal muslim, bahkan ada yang secara rahasia memusuhi Nabi saw., (3) Anggota suku Aus dan Khazraj yang masih menganut paganisme, (4) Orang-orang Yahudi yang terbagi dalam tiga suku utama: Banu Qainuqa, Banu Nadhir dan Banu Quraizha.

Kemajemukan komunitas tersebut tentu saja melahirkan conflict dan tension. Pertentangan Aus dan Khazraj sudah terlalu terkenal dalam sejarah Islam. Bahkan diduga diterimanya Rasul di Madinah (Yatsrib) dengan baik di kedua klan tersebut karena kedua klan tersebut membutuhkan “orang ketiga” dalam konflik diantara mereka. Hal ini bisa dipahami dalam manajemen konflik politik. Adapun diterimanya Rasul oleh kaum Yahudi merupakan catatan tersendiri. Tentu saja Yahudi menerima Nabi dengan penuh kecurigaan tetapi pendekatan yang dilakukan Nabi mampu “menjinakkan” mereka, paling tidak, sampai Nabi eksis di Madinah.

Kemajemukan komunitas Madinah membuat Rasul melakukan negosiasi dan konsolidasi melalui perjanjian tertulis yang terkenal dengan “Piagam Madinah”(lihat Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah, h. 301-301). Piagam Madinah sesungguhnya merupakan rangkaian penting dari proses berdirinya negara Madinah, meskipun Nabi, selaku “mandataris” Piagam Madinah tidak pernah mengumumkan bahwa beliau mendirikan negara, dan tak satupun ayat Qur’an yang memerintahkan beliau untuk membentuk suatu negara.

Dari sudut pandang ilmu politik, obyek yang dipimpin oleh Nabi saw.memenuhi syarat untuk disebut sebagai negara. Syarat berdirinya negara ialah ada wilayah, penduduk dan pemerintahan yang berdaulat. Kenyataan sejarah menunjukkan adanya elemen negara tersebut.Walhasil, setelah melalui proses Ba`iat dan Piagam Madinah Nabi dipandang bukan saja sebagai pemimpin ruhani tetapi juga sebagai kepala negara.

Kita beralih pada persoalan ajaran Islam. Pada periode Madinah ajaran Islam merupakan kelanjutan dari periode Mekkah. Bila pada periode Mekkah, ayat tentang hukum belum banyak diturunkan, maka pada periode Madinah kita mendapati ayat hukum mulai turun melengkapi ayat yang telah ada sebelumnya. Ini bisa dipahami mengingat hukum bisa dilaksanakan bila komunitas telah terbentuk. Juga dapat dicatat kemajemukan komunitas Madinah turut mempengaruhi ayat hukum ini. Satu contoh menarik pada peristiwa kewajiban zakat dan pelarangan riba. Setting sosio-ekonomi Madinah yang dikuasai oleh Yahudi memerlukan sebuah “perlawanan” dalam bentuk zakat (untuk pemerataan ekonomi di kalangan muslim) dan pelarangan riba. Yang terakhir ini membawa implikasi baik secara ekonomi maupun politik bagi praktek riba kaum Yahudi.

Bukan hanya ayat hukum saja yang berangsur-angsur “sempurna”, juga ayat tentangetika, tauhid dan seluruh elemen ajaran Islam berangsur-angsur mendekati titik kesempurnaan,dan mencapai puncaknya pada QS 5:3. Setelah Nabi wafat, dimulailah era khulafaur rasyidin. Tidak dapat dipungkiri, di Madinah Islam sempurna dan disinilah awal sebuah peradaban yang dibangun oleh umat Islam mulai tercipta

Imam Ali AS dan Fathimah AS bukan orang lemah, Mereka Penjaga Keberlangsungan Risalah Islam Dari Kepunahan

ya-fatimah.gif

Download buku Syiah  :

Fatimah dizalimi ! baca Klik disini (format Pdf)

Sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, konspirasi suksesi penggantian sudah dirancang, sehingga wasiat Nabi Muhammad SAW ketika selesai melaksanakan haji wada ditutup-tutupi hingga sampai saat ini, peristiwa Saqifah Bani Sa’idah menghasilkan pengangkatan Abubakar menjadi khalifah atas intimidasi Umar bin Khattab, dan Syiah sampai saat ini dituduh sesat dan kafir…

ahlulbait mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang  dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“JIka kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui.

Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab… Tapi Muhsin gagal lahir kedunia ini karena sewaktu dalam kandungan Fatimah ; perut Fatimah dipukul  Umar Bin Khattab hingga Fatimah keguguran, peristiwa tersebut terjadi  sewaktu  Umar cs  menyerbu  ke rumah Fatimah  malam hari pasca tragedi  Pemilihan Abubakar di Saqifah…

Fatimah  tidak  wafat  secara alamiah, melainkan  karena  sakit bekas  pukulan lahir dan bathin… Jelas  Fatimah Az Zahra mati syahid

Salahkan Syi’ah marah pada Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah (aktor peristiwa Saqifah) yang karena ulah mereka telah menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain

siapakah sahabat Nabi saw ?  adakah perselisihan di antara para sahabat semenjak wafatnya Nabi ??

Membaca pikiran-pikiran Ali Syari’ati menghentak nurani keagamaan kita sebagaimana teman Syari’ati. Pesannya yang kuat secara ideologis (Islam) pada saat yang sama menunjukkan keluasan pandangannya di luar tradisi Islam seperti Marxisme dan eksistensialisme membawa kita pada Syariati yang gelisah, cerdas, dan otentik sekaligus ingin taat kepada agama “syiah merahnya”.

Syariati menolak pemikiran Marxis dan eksistensialis tapi menggunakannya untuk mengkaji Islam lewat analisis atas penantian yang aktif terhadap Imam Mahdi as yang diyakininya.

Jiwanya dididik dalam tradisi Islam, tapi pengetahuannya berkemang melalui tradisi Marxis dan eksistensialis. Kedua tradisi yang jelas memiliki struktur toritis yang bertentangan  (seperti kajian Muthahhari rekan Syariati di Huseiniyah Irsyad Iran), Tapi Syariati tetaplah Syariati yang mencintai Agama dan ekspresi perlawanan Imam Husein di Karbala dalam rangka menegakkan Agama Rasul SAW. Karya Syariati adalah bahan untuk menunjukkan kembali tingginya tradisi intelektual dan spiritual Islam pada saat yang sama memliki progresifitas sosial-historis yang kuat.

Buku ini baik sebagai bahan untuk memulai membangun orientasi Islam, selanjutnya kajian Muthahhari bisa menjadi bahan menstrukturkan orientasi Islam Syari’ati.

Diantara 20 buku judul buku Ali Syari’ati yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan buku dengan terjemahan terbaik dan mudah dipahami bahkan bagi pembaca awam yang belum mengenal sosok Ali Syari’ati.

Secara garis besar, Ummah dan Imamah adalah prinsip akidah Islamiyah yang paling penting dan terkenal, khususnya dikalangan mazhab Syi’ah. Pokok permasalahan terbesar adalah makin jauhnya Islam dari nilai-nilai intelektual, perubahan, dan kehadiran Imam teladan diantara Ummah.

Dengan cerdas beliau menulis “Sejak masa Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, kita lihat Islam sudah tidak lagi seperti apa yang tampil di permukaan. Kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat banyak sekali sendi-sendi yang meragukan—seperti yang kita saksikan dewasa ini—atau akidah tersebut bercampur aduk dengan unsur-unsur budaya asing”.

Kritik tajam Ali Syari’ati dalam membandingkan gerakan kaum Protestan yang disebut sebagai pembaharu dunia dengan keadaan kaum Muslim yang jauh tertinggal, membuka mata pembaca terhadap kesalahan-kesalahan berpikir yang selama ini mengganggu jalannya perkembangan ilmu di kalangan Muslim.

Konsep Imam sendiri dalam mempersiapkan revolusi Islam menurut Syari’ati memiliki posisi sentral: “Imam mempunyai peranan penting dalam kehidupan, dan beriman kepada Imam memiliki makna yang besar dalam kehidupan para pemikir dan cendekiawan, khususnya para pengkaji masalah-masalah sosial…Imam juga dapat diartikan sebagai Nabi bersenjata yang baru.”

.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi aktivis mahasiswa yang konsern dalam gerakan sosial. Ali Syari’ati pantas disebut sebagai pemikir Iran abad ini, karena penjelasan tentang konsep-konsep dasar Ummah dan Imamah-nya sangat terperinci dan detail, dari cara memilih seorang Imam, kepatuhan terhadap Imam, dan strategi taktis lainnya untuk menggerakan Ummah menuju revolusi.

UMMAH DAN IMAMAH; SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGIS; DR. ALI SYARI’ATI

A. BIOGRAFI ALI SYARI’ATI
1. Latar Belakang Kehidupan
Ali Syari’ati adalah anak pertama Muhammad Taqi dan Zahra, lahir pada 24 November 1933. Bertepatan dengan periode ketika ayahnya menyelesaikan studi keagamaan dasarnya dan mulai mengajar di sebuah sekolah dasar, Syerafat. ‘Ali lahir dalam keluarga terhormat. Dalam keluarga ini ritual dan ritus keagamaan ditunaikan dengan seksama
.
Pada masa kanak-kanak ketika teman-temannya asyik bermain, Syari’ati asyik membaca buku-buku sastra seperti Les Miserable karya Victor Hugo. Kegemaran ini terus berlanjut hingga masa remajanya. Sejak tahun pertamannya di sekolah menengah atas, ia asyik membaca buku-buku filsafat, sastra, syair, ilmu sosial dan studi keagamaan di perpustakaan ayahnya yang berjumlah 2000 buku. Kegemarannya inilah yang membuat ia jarang bermain dengan teman-teman sebayanya
.
Pada 1955, Syari’ati masuk Fakultas Sastra Universitas Masyhad yang baru saja diresmikan. Selama di universitas, sekalipun menghadapi persoalan administratif akibat pekerjaan resminya sebagai guru full-time, Syari’ati paling tinggi rangkingnya di kelas. Bakat, pengetahuan dan kesukaannya kepada sastra menjadikannya popular di kalangan mahasiswa. Di universitas, Syari’ati bertemu Puran-e Syari’at Razavi, yang kemudian menjadi istrinya. Karena prestasi akademisnya di Universitas ini, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi keluar negeri
.
Pada April 1959, Syari’ati pergi ke Paris sendirian. Istri dan putranya yang baru lahir, bernama Ehsan bergabung dengannya setahun kemudian
.
Selama di Paris, Syari’ati berkenalan dengan karya-karya dan gagasan-gagasan baru yang mencerahkan, yang mempengaruhi pandangan hidup dan wawasannya mengenai dunia. Dia mengikuti kuliah-kuliah para akademisi, filosof, penyair, militan, dan membaca karya-karya mereka, terkadang bertukar pikiran dengan mereka, serta mengamati karya-karya seniman dan pemahat. Dari masing-masing mereka Syari’ati mendapat sesuatu, dan kemudian mengaku berutang budi kepada mereka. Di sinilah Syari’ati berkenalan dengan banyak tokoh intelektual barat antara lain Louis Massignon yang begitu dihormatinya, Frantz Fanon, Jacques Berque dan lain-lain
.
Namun pribadi Syari’ati yang penuh dengan semangat perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, walaupun tidak berada di Iran, ia tetap berjuang menentang rezim Iran. Antara 1962 dan 1963, waktu Syari’ati tampaknya habis tersita untuk aktivitas politik dan jurnalistiknya. Keberanian ini dia ungkapkan sebagai berikut
:
Dengan bimbingan dan pertolongan Allah-lah saya berani menerjunkan diri menghadapi berbagai fenomena, dan dengan cinta dan dukungan mukjizatlah saya bisa mengatasi hal-hal yang menyakitkan hati saya. Rahmat Allah telah menyebabkan saya memperoleh tenaga baru sesudah saya mengalami kejenuhan. Tanpa bekal keahlian apapun saya menempuh jalan yang situ saya tak akan menyia-nyiakan hidup saya barang sekejappun untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang. Semoga Allah menolong saya, sehingga saya bisa mengatasi berbagai kekurangan yang dapat saya tangkap, dan semoga pula semuanya itu tidak larut oleh kesenangan-kesenangan hidup kala umur yang pendek ini dipergunakan dalam bentuk seperti ini
.
Setelah meraih gelar doktornya pada 1963, setahun kemudian Syari’ati dan keluarganya kembali ke Masyhad, Iran. Di sini ia mengajar di sekolah menengah atas. Pada 1965, dia bekerja di Pusat Penelitian Kementerian Pendidikan di Teheran. Kemudian pada 1967 Ali Syari’ati mulai mengajar di universitas Masyhad. Inilah awal kontaknya Ali Syari’ati dengan mahasiswa-mahasiswa Iran. Universitas Masyhad yang relatif tenang dan teduh, segera saja semarak. Kelas Syari’ati tak lama kemudian menjadi kelas favorit. Gaya orator Syari’ati yang memukau memikat audiens, memperkuat isi kuliahnya yang membangkitkan orang untuk berpikir
.
Sejak Juni 1971, Syari’ati meninggalkan jabatan mengajarnya di Universitas Masyhad, lalu dikirim ke Teheran. Ia bekerja keras untuk menjadikan Hosseiniyeh Ershad menjadi sebuah ‘Universitas Islam’ radikal yang modernis. Berbagai peristiwa politik di Iran pada 1971 memainkan peranan penting dalam membentuk dan mengarahkan orientasi serta aktivitas Hosseiniyeh Ersyad yang semakin militan dan akibatnya semakin terkenal di kalangan kaum muda. Namun pada tanggal 19 November 1972 Hosseiniyeh Ersyad ditutup dan Syari’ati di penjara karena berbagai aktivitas politiknya, yang mengecam rezim Syah
.
Pada 16 Mei 1977, Syari’ati meninggalkan Iran. Ia mengganti namanya menjadi ‘Ali Syari’ati. Tentara Syah, Savak akhirnya mengetahui kepergian Ali Syari’ati mereka mengontak agen mereka di luar negeri. Di London Inggeris, pada 19 Juni 1977 jenasah Ali Syari’ati terbujur di lantai tempat ia menginap
.
Kematian yang tragis seorang pejuang Islam yang teguh memperjuangkan keyakinannya. Ia syahid dalam memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Ali Syari’ati telah mengkuti jejak sahabat Nabi dan Imam Ali yang begitu dikagumi dan dijadikan simbol perjuangannya, Abu Dzar Al-Ghifari. 19 Juni tahun 1977, Doktor Ali Syari’ati, seorang cendekiawan Iran kontemporer, gugur di London akibat dibunuh oleh agen rahasia rezim Shah Pahlevi
.
Al-Ummah wa Al-Imamah (Ummah dan Imamah) adalah karya karya lengkap Ali Syari’ati tentang kepemimpinan dalam Islam. Didalamnya dijelaskan secara lengkap konsep imamah sekaligus hubungannya engan ummah. Perspketif yang digunakan adalah perspektif dari ideology Syiah. Walaupun begitu Ali Syari’ati membahasnya sesuai dengan sejarah-sejarah kepemimpinan Islam sejak Rasulullah sampai dengan sahabat
.
B. Pemikiran Ali Syari’ati dalam buku Al-Ummah wa Al-Imamah (Ummah dan Imamah)
1. Tujuan Pemerintahan Islam
Konsep pemerintahan Islam banyak dibahas oleh Ali Syari’ati dalam bukunya ummah dan imamah. Menurutnya tujuan pemerintahan ini ditentukan oleh konsep negara itu sendiri. Ali Syari’ati membedakan konsep siyasah dalam istilah Islam dan konsep politique dalam bahasa Yunani. Berbedaan ini berimplikasi kepada berbedanya pula tujuan yang ingin dicapai oleh negara
.
Siyasah menurutnya adalah suatu filsafat yang mendobrak dan dinamis, dan tujuan negara dalam filsafat politik adalah merombak bangunan, pranata-pranata, dan hubungan–hubungan sosial, bahkan juga akidah, akhlaq, peradaban, tradisi sosial; dan secara umum menegakkan nilai-nilai sosial diatas landasan pesan revolusi dan ideologi revolusioner, serta bertujuan merealisasikan cita-cita dan harapan-harapan yang lebih sempurna, membimbing masyarakat mencapai kemajuan, menciptakan kesempurnaan dan bukan kebahagiaan, yang baik dan bukan pelayanan, pertumbuhan dan bukan kenyamanan, kebaikan dan bukan kekuatan yang hakiki dan superficial, yang kesemua itu bisa dirumuskan dalam satu kalimat pendek “pembangunan masyarakat” dan bukan “administrasi dan pemeliharaan masyarakat
.
Berbeda dengan siyasah, politque yang didasarkan kepada filsafat pemerintahan barat. Politik menurut Ali Syari’ati sama sekali tidak bermaksud membangun melainkan bertopang pada apa yang mungkin dikerjakan dan politik bertujuan untuk mengatur negara tidak atas dasar ideologi revolusioner, tetapi berdasarkan pandangan popular dan mencari perkenan bukan membimbing menuju keutamaan. Politik hanya bertujuan agar masyarakat hidup nyaman dan bukan melakukan perbaikan terhadap masyarakat agar mereka bisa hidup dengan baik
.
Dari dua pengertian ini, lanjut Syari’ati, konsep siyasah lebih unggul daripada konsep politik. Siyasah membangun masyarakat sedangkan politik mengatur negara yang berimplikasi kepada pemasungan aspirasi rakyat, pengendalian kebijaksanaan pemerintah, penindasan alam pikiran dan penyingkapan taqiyyah
.
Untuk itulah tujuan dari pemerintahan Islam adalah sama halnya dengan konsep imamah dalam pengertian Ali Syari’ati. Berkenaan dengan hal ini, ia berkata:
Imamah bukanlah semacam kantor dan pemelihara masyarakat dalam bentuknya yang beku dan kaku. Tanggung jawab paling utama dan penting dari imamah-yakni filsafat politik untuk membentuk imamah dan seperti yang tercakup dalam pengertiannya-adalah perwujudan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, dan akan melakukan selerasi dan menggiring ummat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan
.
Tampaknya yang digaris bawahi oleh Ali Syari’ati adalah adanya perubahan dalam masyarakat yang berwujud kemajuan. Perubahan inilah yang tonggak dari pemerintahan Islam. Ali Syari’ati menghendaki seluruh dari rakyat sebagai individu yang merupakan bagian dari negara tidak sekedar eksis melainkan membetuk diri kepada keadaan yang lebih baik: “…tujuan manusia bukan sekedar eksis, melainkan pembentukan diri. Umat, dengan demikian, tidaklah bebas dari keenakan berdiam ditempatnya, tetapi ia harus lestari dan senantias bergerak cepat”
.
Sebab pada dasarnya manusia memiliki dua karakteristik yaitu suatu transformasi terus menerus menuju tercapainya kesempurnaan-kesempurnaan yang mutlak dan perjalanan tanpa henti untuk menciptakan nilai-nilai yang tertinggi. Dua prinsip diatas, mengandung makna revolosioner yang amat dalam yang membukakan ufuk yang amat luas
.
Sebagai aplikasi dari keinginan-keinginan dari Ali Syari’ati untuk mewujudkan perubahan revolusioner dalam masyarakat Islam. Ia banyak menulis buku yang menggugah semangat juang para kaum muda. Selain itu ia juga mendirikan Husayniyah Irsyad yang kerap melakukan riset diberbagai bidang
.
2. Dasar-Dasar Pemerintahan Islam
a. Keadilan
Dalam pandangan Ali Syari’ati keadilan merupakan fundamen yang sangat penting dalam masyarakat Islam. Hal ini diungkapkan oleh Ali Syari’ati dengan melihat bahwa keadilan termasuk dari infra struktur dari sistem dunia Islam
.
Berkenaan dengan hal ini ia berkata sebagai berikut
:
Keadilan dalam mazhab Syi’ah ialah suatu keyakinan kepada konsep bahwa keadilan adalah sifat intrinsic Allah. Dengan demikian, setiap tindakan manusia-entah benar atau salah-haruslah dinilai oleh-Nya. Karena itu, ‘adl adalah infrastruktur sistem dunia dan pandangan kaum muslimin didasarkan atasnya
.
Konsekwensinya, jika suatu masyarakat tidak dibangun atas landasan ini, maka ia adalah masyarakat yang sakit dan menyimpang, yang dipastikan bakal hancur lantaran, seperti telah disebutkan, Allah bersifat adil dan penciptaan bertumpu diatas keadilan. Oleh sebab itu, sistem-sistem kehidupan haruslah juga didasarkan atasnya dan karena kenyataan ini, maka kediktatoran dan ketidakadilan dalam pemerintahan adalah system-sistem anti-Tuhan yang tidak alamiah, yang mesti ditumbangkan dan dihancurkan
.
Pernyataan ini menilik begitu pentingnya keadilan dalam tatanan sebuah pemerintahan Islam. Keadilan pula ialah suatu tujuan dari gerakan-gerakan revolusi Islam, khususnya revolusi Iran
.
b. Imamah
Imamah dalam pandangan Ali Syari’ati memiliki arti penting sebagai dasar dari pemerintahan Islam. Dalam banyak tulisannya ia menekankan bahwa tegak berdirinya sebuah pemerintah tergantung kepada imam. Sebab dalam ajaran syi’ah ada suatu keyakinan akan adanya imam al-Ashr atau imam sepanjang zaman (imam of the Age) yang akan melakukan revolusi pemikiran dan gerakan
.
Imamah menurutnya adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik guna membimbing manusia serta membangun masyarakat diatas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan dan kemandirian dalam mengambil keputusan
.
3. Kepemimpinan dalam Pemerintahan Islam
     a. Konsep Imamah
Ali Syari’ati memulai konsep imamah dengan terlebih dahulu menerangkan makna ummah. Ia membandingkan istilah Nation, Qaum, Qabilah dan Sya’b dengan ummah. Baginya, keempat istilah itu – dengan pengecualian pada istilah qabilah – sama sekali tidak mengandung arti kemanusiaan yang dinamis. Hanya saja, kelebihan istilah qabilah ditemukan pula pada istilah ummah. Istilah yang terakhir ini masih memiliki kelebihan lain dibandingkan istilah qabilah, yakni ia mempunyai gerakan yang mengarah pada tujuan yang sama. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justru merupakan landasan ideologis
.
Istilah ummah secara terperinci mengandung tiga konsep: kebersamaan dalam arah dan tujuan; gerakan menuju arah dan tujuah tersebut; dan keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif. Dari kajian filologi ini, Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya tidak mungkin ada ummah tanpa imamah. Apa karakteristik imamah itu? Sebagaimana istilah ummah, istilah imamah menampakkan diri dalam bentuk sikap sempurna, di mana seseorang dipilih sebagai kekuatan penstabilan dan pendinamisan massa. Yang pertama berarti menguasai massa sehingga berada dalam stabilitas dan ketenangan, dan kemudian melindungi mereka dari ancaman, penyakit, dan bahaya. Yang terakhir berkenaan dengan asas kemajuan dan perubahan ideologis, sosial dan keyakinan, serta menggiring massa dan pemikiran mereka menuju bentuk ideal
.
Syari’ati memandang umat dan imam dalam kondisi yang dinamis, yang selalu bergerak ke arah perubahan demi tujuan bersama. Ia memandang bahwa tanggung jawab paling utama dan penting dari Imamah adalah perwujuan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, lalu melakukan akselerasi, dan menggiring umat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan
.
Dalam kalimat lain namun senada ia menulis:
Imamah dalam mazhab pemikiran Syi’ah adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan
.
Tugas imam, di mata Syari’ati, tidak hanya terbatas memimpin manusia dalam salah satu aspek politik, kemasyarakatan, dan perekonomian, juga tidak terbatas pada masa-masa tertentu dalam kedudukannya sebagai panglima, amir atau khalifah, tetapi tugasnya adalah menyampaikan kepada umat manusia dalam semua aspek kemanusiaan yang bermacam-macam. Seorang Imam dalam arti seperti ini, tidak terbatas hanya pada masa hidupnya, tetapi selalu hadir di setiap saat dan hidup selamanya. Walaupun demikian, Syari’ati mengingatkan bahwa imam bukanlah supra-manusia tetapi manusia bisa yang memiliki banyak kelebihan di atas manusia lain atau manusia super
.
Selain itu, Syari’ati mulai menyinggung peristiwa Saqifah. Menurutnya, dengan mengabaikan polemik nass-wasiyyat, di satu sisi, dan bay’at al-syura, di sisi lain, dalam peristiwa Saqifah hanya ada lima suara: dua suara dari kabilah Aus dan Khazraj, tiga suara dari Muhajirin, yakni Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Itu pun dengan catatan apabila pemimpin kabilah Aus, Sa’id bin Mu’adz, sudah tidak ada lagi, maka otomatis Sa’ad bin Ubaidah, pemimpin Khazraj, menjadi pemimpin tunggal orang Madinah menghadapi kelompok Mekah – yang terakhir ini disebut Syari’ati telah memiliki kesadaran politik tinggi, sebagamana terbukti pada akhirnya, di mana mereka (kelompok Mekah) tahu betul apa yang sedang mereka hadapi, dan bagaimana pula seharusnya bertindak.Syari’ati bermaksud mengatakan bahwa aspirasi dan kebutuhan penduduk Madinah hanya ditemukan oleh lima suara, yang berarti mengabaikan ratusan suara lainnya, dalam peristiwa Saqifah
.
Bagi Syari’ati, sesungguhnya prinsip bay’at al-syura dan nass-wasiyyat tidaklah bertentangan sama sekali dan tidak pula ada di antara keduanya yang merupakan bid’ah dan tidak Islami. Baik bay’a, musyawarah, maupun ijma’ (demokrasi) adalah salah satu kaidah Islamiyah yang diajarkan oleh Al-Quran. Ali Syari’ati menegaskan sebagai berikut: tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari adanya wasiat Rasulullah kepada Ali  Umat harus melaksanakan wasiat ini dan menyerahkan persoalan mereka kepada washi (orang yang diberi wasiat), dan kalau itu tidak mereka lakukan, mereka akan tersesat
.
Dalam pandangan Syari’ati, wasiyyat itu berfungsi sepanjang beberapa generasi, hingga kelak tiba pada masanya masyarakat dapat berdiri sendiri di atas kaki mereka, lalu memulai- setelah berakhirnya imamah atau tahap wasiat – tahapan pembinaan revolusioner tertentu, suatu tahap bay’a, musyawarah, dan ijma’ atau apa yang disebut Syi’ah atau para wasiyyat Al-Rasulullah berjumlah dua belas imam, tidak lebih. Sementara jumlah pemimpin masyarakat (politik) sesudah wafat Nabi hingga akhir sejarah, jumlahnya tidak terbatas
.
Pada masa-masa awal wasiyyat digunakan dalam proses suksesi. Selanjutnya, menurut Syari’ati, setelah pada tahun 250 H (tahun gaibnya Imam ke-dua belas) baru berlaku prinsip syura. Kalau ini berjalan mulus maka pada 250 H kita telah mempunyai masyarakat yang sempurna bentuknya, dan memiliki kelayakan yang membuatnya patut memilih pemimpin mereka yang paling baik melalui asas musyawarah, yang kemudian menduduki kursi kepemimpinan, dan menggerakkan sejarah sesuai dengan jalur yang telah digariskan oleh risalah Muhammad Saw
.
Masa sepeninggal Nabi sampai 250 H adalah masa revolusi yang tidak membutuhkan demokrasi. Sayangnya, menurut Syari’ati, sesuatu yang tidak terduga telah muncul di Saqifah, bani Sa’idah dan menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain. Syari’ati pun berandai-andai, kalau seandainya peristiwa Saqifah itu terjadi pada 250 H dan tidak pada tahun 11 H, niscaya sejarah akan lain bentuknya. Sebab, meminjam istilah Chandle, demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.’
.
b. Pemilihan Pemimpin
Akar awal Ali Syari’ati dalam tulisannya menggambarkan beberapa sistem pemilihan pemimpin yang dikenal pada masa sekarang hingga akhirnya ia menawarkan satu konsep tentang pemilihan imam. Diantara mekanisme pemilihan tersebu adalah
:
Pertama, kudeta (Coup d’Etat), istilah Coup berarti pukulan atau serangan dan etat adalah pemerintah. Dengan demikian coup etat berarti gerakan yang secara mendadak dilakukan dalam bentuk pemberontakan guna menumbangkan pemerintahan yang berkuasa. Kemudian pemberontak itu menjadi penguasa baru yang menggantikan penguasa lama yang ditumbangkannya
.
Kedua, intervensi dan hegemoni. Istilah ini dalam pandangan Syari’ati adalah dominasi atas nasib bangsa melalui serangan yang dilancarkan oleh kekuatan asing yang kemudian menaklukkan negeri tersebut.Ketiga, pewarisan, bentuk ini paling banyak digunakan dalam sejarah pemilihan. Bagi kaidah pewarisan terdapat kebenaran yang bersifat sosio filosofis. Keempat, revolusi, yang dimaksud disini adalah revolusi dalam pengertian politik bukan dalam pengertian sosial, perhatian ditujukan untuk terciptanya perubahan struktur sosial, yang secara politis dimaksudkan sebagai perubahan insitusi politik dan sistem pemerintahan, dan gerakan ini dilakukan oleh mayoritas rakyat
.
Selain hal tersebut Syari’ati menyajikan pula bentuk pemilihan pencalonan akan tetapi Syari’ati mempertanyakan apakah pencalonan ini atau pemilihan dengan system lain adalah cara yang paling baik
.
Sekarang kita bertanya, ”mungkinkah unsur-unsur yang lahir , tumbuh, dan memberi petunjuk dalam bentuk seperti ini-dapat direalisasikan melalui pemberian jabatan, pemilihan umum, pewarisan atau pencalonan? Pertanyaan lain yang muncul, ’apakah imam dipilih melalui pengangkatan atau pemilihan ataukah berdasarkan penunjukan Nabi Muhammad SAW, atau imam sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab oleh Syari’ati dengan negatif. Menurutnya dalam ajaran syiah, imam dipilih tidak dengan cara diatas melainkan dengan membuktikan kapabelitas seseorang sebagai pemimpin. Imam bukan dipilih oleh orang diluar dirinya akan tetapi ia muncul dari dalam dirinya sendiri. Ia berkata:
Imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang
.
Sumbernya adalah diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. Pertama-tama ia adalah imam sebagai posisi puncak dan manusia paling terpilih lantaran ia memiliki aspek-aspek dan kelebihan-kelebihan seperti yang disebutkan terdahulu. Dia adalah seorang imam, tak perduli apakah ia muncul dari penjara Al-Mutawakkil maupun dari mimbar Rasul, baik didukung oleh seluruh umat atau hanya diketahui keaguangnnya oleh tujuh atau delapan kelompok saja
.
Dalam alinea lain, ia menjelaskan bahwa imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang. Sumbernya adalah dari diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. Syari’ati menyimpulkan
:
Imamah tidak diperoleh melalui pemilihan, melainkan melalui pembuktian kemampuan seseorang. Artinya, masyarakat – yang merupakan sumber kedaulatan dalam sistem demokrasi – tidak terikat dengan imam melalui ikatan pemerintahan, tetapi berdasarkan ikatan orang banyak dengan kenyataan yang ada (pada imam tadi). Mereka bukan menunjuknya sebagai imam, tetapi mengakui kelayakannya (sebagai seorang imam)
.
Jika logika Syari’ati di atas diteruskan, maka persoalannya apakah ada pemisahan lapangan kerja antara imam (yang diakui) dengan khalifah (yang dipilih)?
Syari’ati menolak pandangan ini karena akan bermuara kepada pemisahan antara agama dan negara. Kendati demikian, itu selalu identik dengan imamah. Baginya, Imamah terbatas hanya kepada pribadi-pribadi tertentu sebagaimana halnya dengann nubuwah, sedangkan pemerintahan tidak terbatas pada masa, sistem dan orang-orang tertentu. Satu-satunya garis pemisah yang ditegaskan Syari’ati adalah
:
Pemerintahan (khilafah) itu merupakan tanggung jawab yang tidak terbatas dalam sejarah, sedangkan imamah terbatas, baik dalam masa maupun orangnya. Dengan mengabaian perbedaan tadi, imamah dan khilafah sebenarnya merupakan tanggung jawab yang satu, untuk mencapai satu tujua dengan satu keterbatasan, seperti telah dikemukakan di atas, di mana seorang penguasa tidak selamanya seorang imam
.
Dalam hubungannya dengan peristiwa Saqifah, ada dua persoalan besar dari alur logika Syari’ati di atas. Pertama, bagaimana hubungan imam dengan khalifah yang ada pada masa yang sama? Kedua, apakah imam tersebut harus dipilih oleh Allah atau Nabi sebagai pilihan yang harus pula diterima oleh umat manusia, kemudian diangkat sebagai imam untuk memimpin mereka dalam bidang politik, ataukah ia dipilih oleh manusia sendiri melalui musyawarah dan pemilihan umum?
.
Dalam pandangan Syari’ati hubungan khalifah dengan imam yang ada pada satu masa merupakan bentuk hubungan seorang pemimpin spiritual, politik dan sosial dengan penguasa, sebagaimana halnya yang ada pada hubungan antara Gandhi dengan Nehru. Bentuk seperti ini, di mata Syari’ati, adalah bentuk yang wajar, dan pemisahan antara kedua tugas tersebut dapat memberi jaminan bagi tetap terpeliharanya keagungan dan kehormatan imam
.
Sepintas memang jawaban Syari’ati bertentangan dengan tidak setujunya ia pada pemisahan kerja khilafah dan imamah, yang menurutnya akan bermuara pada pemisahan antara politik dan agama. Dapat dijelaskan bahwa bagi Syari’ati, pemisahan antara urusan politik atau negara dan agama bukan produk Islam, tetapi produk sejarah Islam yang terpengaruh nilai-nilai nasrani. Pada mulanya, seorang pemimpin mengurusi masalah politik dan agama sekaligus. Ia bagaikan Nabi Muhammad yang memimpin perang tetapi juga menjadi imam sholat
.
Sejarah Islam kemudian mencatat terjadinya pergeseran yang memisahkan antara khilafah dan imamah dalam bentuk aplikatif. Dan ini tidak disetujui oleh Syari’ati.Ini dipersulit dengan terjadinya pemisahan keduanya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Terjadi pula pereduksian peranan imamah dan khilafah dalam sejarah Islam, lalu masing-masing ditempatkan dalam medan yang sempit
.
Adapun yang dimaksud Syari’ati dengan pemisahan khilafah dan Imamah (atribut/sifat) di atas adalah pada tataran realitas. Ada imam yang diakui oleh sekelompok orang, lalu kelompok yang lain memilih orang lain untuk menjadi khilafah. Di sini perlu diingatkan bahwa, bagi Syari’ati, imamah bukanlah jabatan tetapi atribut (sifat). Penunjukan atas orang lain sebagai khilafah di saat adanya imam, dapat disejajarkan dengan penerimaan terhadap seorang Nabi sebagai seorang Rasul – seperti yang diberlakukan pada Yesus – dan menunjuk orang lain pada jabatan pemerintahan bagi bangsa Arab atau kaum muslim Emperor Islam, sebagaimana halnya dengan Kaisar
.
Bagi Syari’ati, dalam ajaran Islam tidak dikenal pemisahan urusan negara atau politik dengan agama. Jika terjadi pada satu masa adanya imam dan adanya Khalifah maka hubungan yang terjadi adalah bagaikan hubungan Nehru dan Gandhi. Imam meski diam di rumah tidak berarti ke-imam-annya hilang, karena imam adalah atribut (sifat); tanpa melewati pemilihan. Dengan demikian, tanggung jawab dan tugas seorang imam – meski tidak dipilih sebagai khalifah – tetaplah ada
.
Berbeda dengan konsep sekular yang betul-betul menghendaki pemisahan antara negara dan agama; dalam konsep Syari’ati, kalau pun harus terjadi – adanya imam dan khalifah dalam satu masa – maka yang ada adalah adanya pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Apabila kemudian imam terpilih sebagai khalifah (melalui pemilihan), seperti yang terjadi pada Imam Ali dan Imam Hasan, maka bukanlah hal yang tabu bersatunya pemimpin politik dan pemimpin spiritual dalam diri satu pemimpin. Ini yang tidak mungkin terjadi dalam konsep sekular karena pemimpin spiritual bukanlah sebuah sifat tetapi sebuah jabatan tersendiri
.
Berangkat dari tesis bahwa imam adalah sifat (atribut), ketika yang bukan imam menjadi khalifah maka bukannya hak imam yang terampas; tetapi yang terampas adalah hak umat manusia. Seorang imam tetap menjadi imam meskipun ia tidak menjalankan kekuasaan duniawi. Yang terampas haknya (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) adalah makmum. Adalah hak umat untuk mendapat bimbingan dari imam dan bila ada “rekayasa” maka yang paling merugi adalah umat; karena umatlah yang terampas haknya
.
Persoalan kedua sesungguhnya bermuara pada dua prinsip; pengangkatan dari Tuhan dan ijma’ umat Islam. Sejarah telah menjelaskan bahwa Syi’ah cenderung pada prinsip pertama dan Sunni cenderung pada prinsip kedua. Syari’ati menyerang prinsip kedua yang oleh Sunni dianggap telah menjadi unsur penting pada peristiwa Saqifah. Syari’ati sempat “terbang” ke Konferensi Asia Afrika di Bandung, menyebut Jenderal De Gaul dari Maroko, mengutip Profesor Chandle yang mengatakan, “musuh demokrasi dan kebebasan yang paling besar adalah demokrasi, liberalisme, dan kebebasan individu itu sendiri”, menyerang dunia Barat atas kecurangan mereka dalam memperkenalkan demokrasi, menyerang Robert Kennedy, revolusi kebudayaan di Cina dan revolusi Perancis. Syari’ati menyebut semua itu untuk menyerang demokrasi dan pemilihan pemimpin dengan suara terbanyak
.
c. Hubungan Imamah dengan Ummah
Ali Syari’ati tidak secara jelas menyiratkan hubungan antara ima>mah dengan ummah. Ia hanya menyatakan bahwa ummat membutuhkan sebuah teladan yang menjadi uswah, karena dalam pandangannya panutan itu akan mendidik manusia menuju jalan perubahan. Ia berkata sebagai berikut
:
Jadi, teladan yang ideal dan sempurna bagi manusia, jelas merupakan sesuatu yang amat penting, agar manusia dapat menempuh perjalanan menuju kesempurnaan dan mencapai tingkat tertinggi, serta mewarnai kepribadian mereka dengan kesempurnaan itu. Hal semacam ini adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, seperti yang dikatakan ayah saya, bahwa para panutan kita, yang berkewajiban mendidik dan mewarnai moral kita melalui petunjuk berupa prilaku dan kelebihan-kelebihan mereka, tak bias tidak adalah manusia seperti kita juga
.
Dan yang menjadi uswah tak lain adalah para imam, berhubungan dengan ini ia juga berkata:
Pada saat yang sama, ketika pengaruh imam yang spritual dan padagogik terhadap kalbu dan peranan spritualnya dalam membimbing umat manusia dapat disamakan dengan peran yang dimainkan oleh para hero dalam sejarah dan mitologi serta personifikasi keagungan nilai-nilai kemanusian, maka perwujudan dan hakikat imam tidak mungkin dapat dimasukkan dalam kategori para hero. Sebab imam bukanlah tokoh mitologi dan bukan pula pahlawan dalam sejarah, tetapi merupakan ungkapan seorang manusia yang wajar sebagaimana manusia yang lain. Bedanya, dalam diri imam tersebut terdapat perwujudan-perwujudan dan teladan-teladan dalam karakter semua jenis manusia yang dianggap paling sempurna
.
Dari penjelasan tersebut, imam dalam pandangan Ali Syari’ati adalah manusia yang hebat dan patut untuk diteladani. Bahkan Ali Syari’ati menyamakannya dengan pahlawan.
Pandangan ini merupakan karakteristik dari pemikiran-pemikiran Ali Syari’ati sekaligus khas pemikiran syiah. Sebagaiman dijelaskan di awal bahwa Ali Syari’ati sangat mengistimewakan kedudukan imam. Imam bukanlah posisi yang dipilih oleh rakyat akan tetapi ditentukan oleh kemampuan dirinya sendiri. Dengan demikian hubungan antara imam dengan ummah dalam pemikiran Ali Syari’ati adalah bahwa ummah seharusnya meneladani imam dan seorang imam harus bisa membawa ummah kepada perubahan yang lebih baik.

Aliran Sesat termasuk Aliran yang memisahkan agama dan politik

Khatib Jum’at Teheran:
Sanksi dan Tekanan Musuh Gagal Lumpuhkan Iran
“Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat.”
 

 
 Sanksi dan Tekanan Musuh Gagal Lumpuhkan IranHujjatul Islam wa Muslimin Kazem Seddiqi, dalam khutbah Jum’atnya (29/3) di Teheran Ibu Kota Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawanya menyambut masuknya hari peringatan kesyahidan Sayyidah Fatimah as dan menyampaikan beberapa hal yang telah menjadi keutamaan agung putri kesayangan Rasulullah Saw tersebut diawal-awal khutbahnya. Beliau mengatakan, “Kita mengawali tahun baru ini dengan shalawat kepada Sayyidah Fatimah as, dan pada dasarnya kita semua telah menjadi tamu beliau.”

Ulama yang didaulat menjadi khatib Jum’at tersebut kemudian menyebutkan harapan besarnya bahwa tahun baru Persia kali ini menjadi tahun keberhasilan, kemudahan, kemenangan dan tahun yang penuh dengan cahaya keimanan. Menukil pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamanei yang menamakan tahun 1392 HS sebagai tahun epik politik  dan ekonomi, khatib Jum’at Teheran tersebut berkata, “Musuh pada tahun 1391 HS dan sepanjang 34 tahun semenjak kemenangan Revolusi Islam Iran telah menggencarkan berbagai tekanan dan konspirasi terhadap bangsa Iran, bahkan termasuk dengan agresi militer. Tujuan utamanya adalah menghancurkan sistem politik Iran.”

“Kemenangan revolusi rakyat Iran bukan diraih melalui kudeta ataupun campur tangan dan bantuan pihak asing. Namun melalui petunjuk dan bimbingan seorang ulama marja taklid yang kemudian rakyat memberikan dukungan dan ketaatan sepenuhnya padanya. Negara ini adalah Negara fukaha, Negara yang rakyatnya taat dan patuh pada hukum dan syariat, dan rakyat yang bertekad menyatukan diri di bawah satu bendera revolusi agamis. Karenanya rakyat agamis Iran akan selalu memberikan pembelaan dan dukungannya terhadap sistem wilayatul faqih dan nilai-nilai revolusi dan tegar bersama dengan sistem wilayah tersebut.” Lanjutnya.

Hujjatul Islam wa Muslimin Kazem Shadiqi  dalam lanjutan khutbahnya menegaskan, “Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat.”

Beliau kemudian menyebutkan diantara upaya pihak musuh untuk menekan dan mengalahkan Iran adalah dengan memberlakukan embargo ekonomi. Beliau berkata, “Beberapa tahun belakangan ini, pihak musuh menetapkan embargo ekonomi terhadap Iran, namun pada kenyataannya, embargo tersebut gagal dan tidak sesuai dengan hasil yang mereka harapkan. Mereka berkhayal bahwa dengan adanya embargo tersebut rakyat akan mengalami kesulitan hidup dan akhirnya melepaskan kesetiaan terhadap revolusi, sementara rakyat Iran pada 22 Bahman 1391 HS (hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran 11 Februari), begitu juga pada kunjungan Rahbar ke kota Masyhad, menunjukkan kesetiaannya kepada Wilayatul Faqih dan revolusi Islam. Rakyat Iran memperlihatkan kepada pihak musuh, bahwa semakin besar tekanan dan permusuhan yang mereka dapatkan, maka iman rakyat Iran semakin besar dan kuat pula.”

Karenanya dengan kenyataan tersebut, Khatib shalat Jumat Tehran, Hujjatul Islam Kazem Seddiqi menilai sanksi sepihak Barat terhadap Iran yang bertujuan untuk membenturkan antara rakyat dan pemerintah,  telah gagal dan menyebutnya akan selalu gagal. Beliau kemudian menyebutkan tujuan lain dari adanya sanksi berupa embargo ekonomi tersebut adalah mencegah kemajuan Iran.

“Mereka telah menyaksikan sendiri, Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi telah mengalami kemajuan pesat, dibidang tekhnologi nano, medis, nuklir dan bidang lainnya. Mereka berpikir dengan segala sanksi dan tekanan yang mereka berlakukan atas Iran mampu mencegah segala kemajuan itu. Namun apa yang mereka harapkan itu tidak kesampaian, bahkan pada tahun 1391 HS kita telah menjadi saksi atas kemajuan yang dicapai Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi. Bahkan Iran telah berhasil melakukan peluncuran roket dan satelit ke luar angkasa, mengirim makhluk hidup ke luar angkasa, memproduksi jet tempur canggih, yang semua itu membuktikan bahwa sanksi tidak akan melumpuhkan bangsa Iran.”

Hujjatul Islam Seddiqi kemudian menambahkan, sanksi juga menargetkan pemilu presiden mendatang Iran, namun rakyat Iran akan menjawab konspirasi itu dengan partisipasi luas mereka dalam pemilu.

Di bagian lain khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi menyinggung tentang kondisi keamanan di dalam negeri dan mengatakan, pemilu presiden akan digelar dalam kondisi yang tenang dan bebas dari gangguan. Beliau menyerukan dan mengharapkan partisipasi luas rakyat Iran dalam pemilu presiden mendatang dan menyebut partisipasi dalam pemilu adalah bukti dari kesetiaan terhadap Rahbar, para syuhada dan menunjukkan perlawanan terhadap musuh untuk menggagalkan segala bentuk konspirasi mereka.

Khatib Jum’at Teheran tersebut turut menyinggung mengenai para kandidat yang akan maju mencalonkan diri sebagai presiden periode mendatang. “Kita berharap niat para kandidat yang akan maju dalam pencalonan presiden adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Kita bisa menilai, apakah keinginannya menjadi presiden karena haus kekuasaan atau karena cinta pada perkhidmatan. Jika kandidat yang maju cinta pada perkhidmatan dan pelayanan maka kita menyambutnya dengan suka cita, namun jika niatnya karena haus pada kekuasaan, semoga Allah menggagalkan ambisinya.”

Pada bagian akhir khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi memesankan kepada masyarakat muslim Iran untuk tetap senantiasa menghidupkan masjid. “Imam masjid hubungannya dengan jama’ahnya disebuah masjid ibarat hubungan seorang ayah terhadap anak disebuah keluarga. Imam masjid harus mampu menarik hati para kaum muda untuk mempertautkan jiwanya pada masjid. Dimana di masjid itu Al-Qur’an dibaca dan dikaji, Nahjul Balaghah disampaikan, dan pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan kaum muda diselesaikan dan dicarikan solusinya. Baik dalam hal akhlak, aqidah maupun masalah ahkam atau fiqh. Masjid harus mampu menjawab semua kebutuhan maknawi dan spritual jama’ahnya. Dan yang memikul tanggungjawab besar ini adalah para pelajar agama, ulama dan para pengurus masjid.”

“Hidupkanlah masjid itu. Karena masjid adalah benteng penjaga kemurnian aturan-aturan agama. Masjid adalah tempat untuk meraih segala kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tidak ada hari libur bagi masjid, sebab masjid adalah darussyifa’, darul qur’an dan darul tafsir.” tegasnya.

Fenomena pertama politik dan insani Islam adalah terbentuknya umat Islam yang lahir di Madinatun Nabi

Fenomena pertama politik dan insani Islam adalah terbentuknya umat Islam yang lahir di Madinatun Nabi (Kota Nabi Saw), dan secara mencengangkan dan bak legenda umat ini maju dan berkembang dengan cepat dari sisi kuantitas dan kwalitas.

Komunitas Islam ini memiliki kebudayaan yang kaya dengan khazanah warisannya yang cemerlang dan kemajuan yang jarang ada padanannya. Meski nampak beragam namun warisan budaya ini menyiratkan sebuah kesatuan dan keserasian yang mengagumkan. Semua itu berkat pengaruh Islam serta tauhid khas dan murni yang ada di seluruh bagiannya. Komunitas ini secara geografis menempati salah satu kawasan dunia yang terkaya -jika tidak kita katakan kawasan paling kaya- akan sumber alam.

Kini para elit politik dan pemikiran di dunia Islam mengemban tugas yang berat. Para cendekiawan Muslim harus menyampaikan pesan kebebasan Islam selantang dan sejelas mungkin kepada semua orang. Jatidiri keIslaman bangsa-bangsa Muslim harus dijelaskan dengan baik. Dalam hal ini ada dua unsur penting yang harus diperhatikan;

Pertama, dijelaskan bahwa pemikiran dan identitas keIslaman di dunia telah semakin kuat, terhormat dan aktif. Dan Islam telah menjelma sebagai salah satu fenomena paling menonjol di dunia.

Kedua, kekuatan adidaya dunia telah semakin terbuka dan frontal dalam memusuhi Islam dan kepentingan Islam. Secara pasti, salah satu fase utama bagi musuh-musuh saat ini adalah fase permusuhan terhadap Islam dan aksi melawan perkembangan pergerakan Islam yang kian marak.

Musuh yang licik, adalah pemegang kendali utama pusat-pusat imperialisme. Mereka menganggap kebangkitan Islam sebagai ancaman bagi kepentingan ilegal dan agenda hegemoninya yang zalim atas dunia Islam. Seluruh bangsa Muslim, khususnya kalangan politikus, ulama, cendekiawan dan pemimpin bangsa di negara-negara Islam harus memperkuat barisan persatuan Islam dalam menghadapi musuh agresor. Hendaknya mereka mengerahkan segenap daya untuk menjadikan umat ini kuat.

Tentunya, sebuah komunitas manusia selalu rawan menghadapi serangan dari dua arah; pertama dari dalam diri sendiri akibat dari kelemahan manusia dan keragu-raguan, menyukai hal-hal yang asing, lupa kepada Allah, terkekang di tengah godaan duniawi, tidak jeli dalam menghadapi gerak langkah musuh yang berusaha memukul Islam dan muslimin, perselisihan internal yang berbau partisan dan mazhab yang biasanya melibatkan ulama-ulama bejat (suu’) dan lantas disebarluaskan dan diperkuat oleh penulis-penulis bayaran, dan masih banyak lagi penyakit mematikan yang sepanjang sejarah Islam selalu mengancam umat Islam akibat berkuasanya orang-orang yang tak layak dan tidak mengenal Allah atas kehidupan politik dan nasib umat. Dalam beberapa abad terakhir, kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah masuknya kekuatan imperialis ke tengah kawasan yang dilanjutkan dengan jatuhnya kekuasaan negara-negara di kawasan ke tangan boneka-boneka imperialis yang bejat dan mabuk oleh gemerlap dunia.

Kedua, serangan dari musuh luar yang terjadi dalam bentuk agresi, permusuhan, penyebaran kebejatan oleh mereka di negara-negara Islam, serangan budaya Barat ke dalam lingkungan kehidupan masyarakat Muslim, intimidasi militer, politik dan ekonomi terhadap bangsa-bangsa Muslim, pembantaian yang mereka lakukan di Lebanon, Palestina, Irak, Afganistan dan negara-negara Muslim lainnya. Semua itu menunjukkan adanya ancaman serius terhadap dunia Islam. Lingkungan Islam, baik dalam bentuk individu maupun sebagai bangsa, selalu berada dalam ancaman yang datang dari dua arah ini. Dan kini ancaman itu semakin besar.

Akan tetapi masalah paling krusial saat ini adalah masalah Palestina, yang sejak lebih dari setengah abad lalu selalu menjadi masalah terpenting di dunia Islam, bahkan masalah terpenting bagi umat manusia. Di sini, pembahasannya dalah tentang petaka dan ketertindasan sebuah bangsa dan perampasan sebuah negeri. Dengan demikian, saat ini rezim zionis yang perampas, adalah bahaya terbesar yang mengancam masa kini dan masa depan dunia Islam. Tentunya kita tidak ragu bahwa dalam waktu dekat, kemenangan besar bakal diraih bangsa Palestina berkat perjuangan dan pengorbanannya serta kesadaran dunia Islam. Mereka akan mendapatkan kembali hak-hak yang terampas. Akan tetapi tekad dan kehendak bangsa-bangsa dan negara-negara Islam akan mempercepat proses ini dan mengurangi derita bangsa Palestina.