perbedaan wudhu’ syiah dengan sunni

Wudhu syi’ah

Syi’ah Ja’fariyah berwudhu dengan membasuh kedua tangan; dari siku-siku sampai ujung jari-jari, bukan kebalikannya, karena mereka mengambil cara berwudhu para imam Ahlul Bait yang telah mengambilnya dari Nabi saw. Tentunya, para imam lebih mengetahui dari pada yang lainnya terhadap apa yang dilakukan oleh kakek mereka. Rasulullah saw. Telah berwudhu dengan cara demikian itu, dan tidak menafsirkan kata  (Ilaa/ الی) dalam ayat wudhu (Al-Maidah [5]: 6) dengan kata (ma’a/ مع) hal ini juga ditulis Imam Syafi’i dalam kitabnya, Nihâyatul Muhtaj.  Begitu juga, mengusap kaki dan kepala mereka atau tidak membasuhnya ketika berwudhu, dengan alasan yang sama yang telah dijelaskan di atas. Juga karena Ibnu Abbas mengatakan: “Wudhu itu dengan dua basuhan dan dua usapan”.


Sebagaimana diketahui, pada tertib ritual wudhu, madzhab ahlusunnah mewajibkan membasuh kaki.
Sementara, madzhab syi’ah mewajibkan mengusap kaki (bukan membasuh kaki), berdasarkan ayat al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [5]

Sedang hadits-hadits seputar hal itu juga diriwayatkan, baik dari jalur ahlusunnah maupun syi’ah. Namun, larangan sebagian ulama ahlusunnah untuk mengusap kaki dikarenakan hadits-hadits yang memerintahkan membasuh kaki; yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash, Urwah, dan lain-lain [6]. Dan sejarah membuktikan bahwa keempat orang tersebut adalah orang-orang yang tidak menyukai, bahkan memerangi Ahlul Bait as. Sementara hadits-hadits dari jalur ahlusunnah, yang memerintahkan untuk mengusap kaki, sebagai berikut :

1. Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Rifa’ah bin Rafi’, yang mengatakan bahwa Rasulullah (saww) bersabda : “Sungguh tidaklah kalian mengerjakan sholat, hingga kalian mengerjakan wudhu sebagaimana perintah Allah, yakni “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.” [7]

2. Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata bahwa ayat “usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” mengandung makna “mengusap”. [8]

3. Abdurrazzaq, Ibn Abi Syaibah, dan Ibn Majah meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata : “Orang-orang telah membasuh, padahal tidak aku jumpai dalam Kitabullah kecuali mengusap.” [9]

dan lain-lain.

Sementara dari jalur Ahlul Bait as (syi’ah), terdapat banyak sekali riwayat yang memerintahkan untuk mengusap kaki, seperti :

1. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika menerangkan wudhu Rasulullah saww, mengatakan bahwa Rasul saww mengusap kakinya sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan : “Usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [10]

2. Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwa ayat : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” termasuk ayat muhkam, yang tidak memerlukan takwil lagi. Adapun batasan (hukum) wudhu adalah membasuh muka dan kedua tangan, serta mengusap kepala dan kedua kaki. [11]

3. Imam Ali al-Ridha as, ketika ditanya seseorang, mengatakan bahwa surat al-Maidah tersebut sudah jelas, yaitu mengusap kepala dan kedua kaki. [12]

4. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika ditanya tentang darimana perintah untuk mengusap kepala dan kedua kaki, maka beliau menjawab bahwa perintah tersebut tercantum dalam al-Qur’an : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [13]

Referensi:

[5] QS. al-Maidah: 6

[6] Al-Syaukani, “Nailul Authar”, jilid 1, bab “Sifat Wudhu”; Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[7] Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Al-Hurr al-Amili, “Wasail al-Syi’ah”, jilid 1, hal. 389, riwayat 1022.

[11] Ibid, hal. 399, riwayat 1042.

[12] Al-Majlisi, “Bihar al-Anwar”, jilid 80, hal. 283, riwayat 32.

[13] Al-Kulaini, “Al-Kafi”, jilid 3, hal. 30, riwayat 4.

PERBAHASAN WUDHU’

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُؤُسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا وَ إِنْ كُنْتُمْ مَرْضى أَوْ عَلى سَفَرٍ أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ فَلَمْ تَجِدُوا ماءً فَتَيَمَّمُوا صَعيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْديكُمْ مِنْهُ ما يُريدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَ لكِنْ يُريدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit, berada dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyetubuhi perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan menggunakan tanah yang baik (bersih); usaplah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS Al Maidah:6)

Di dalam ayat di atas, dua bentuk ayat perintah digunakan:

(i) “faghsilu” yang berarti “basuh”
(ii) “wamsuhu” yang berarti “sapu/usap”.

Adalah jelas bahawa bentuk ayat perintah “basuh” merujuk pada dua objek iaitu mukamu (wujuhakum) dan kedua tanganmu (aidiyakum) manakala bentuk perintah kedua pula (sapu/usap) merujuk pada dua objek lainnya iaitu bagian kepalamu (bi ru’usikum) dan kedua kakimu (arjulakum)

Perkataan “muka” berarti bagian depan kepala, bermula dari bagian dahi dan bawah dagu, dan dari telinga ke telinga. Dalam artinya yang sah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis2 para A’immah as,ia merangkumi bagian muka dari batas anak rambut ke bagian hujung dagu, dan sebatas sejengkal dari sisi ke sisi.

Perkataan tangan berarti organ yang digunakan untuk menggenggam, dan merangkumi bagian atas antara bahu dan hujung jari. Maka, dari sudut bahasa, perkataan “yad” adalah umum bagi lengan,lengan bawah dan tangan. Apabila sesuatu perkataan itu digunapakai secara umum dalam lebih dari satu maksud, adalah penting untuk pembicara menjelaskan maksud katanya…dengan ini, kita lihat perkataan ‘ill ‘l marafiq “sehingga dengan siku” dalam ayat ini, menjelaskan hingga batas manakah wudu’ itu harus dilakukan.
( Wasa’il, jilid 1. hlm.283-286 bahagian 17-19 pada bab wudu’)

Kini kita sampai pada satu perbedaan utama antara Syiah dan Sunni dalam cara melakukan wudu’. Sunni membasuh lengan mereka dari hujung jari ke siku, manakala Syiah pula, membasuh lengan mereka dari siku ke hujung jemari. Seperti yang dinyatakan di atas, perkataan “hingga dengan siku” tidak menjelaskan kepada kita untuk membasuh lengan dari hujung jari hingga ke siku, malah, perkataan ini semata mata memberitahu bagian tangan yang manakah yang termasuk dalam bagian wudu’.

Lalu, bagaimana kita melakukan wudu’ dari siku ke hujung jemari? Jawaban pada persoalan ini terkandung di dalam sunnah. Salah satu dari tanggungjawab Rasul saaw adalah untuk menjelas dan menunjukkan tatacara sebenar berwudu’, dan ini kita peroleh lewat hadis para A’immah as.

Zurarah bin A’yan meriwayatkan hadis berikut:
“Imam Muhammad al-Baqir (a.s) berkata “Mahukah aku perlihatkan pada kalian cara wudu’nya Rasulullah saaw?” Kami menjawab, “Ya”. Apabila air dibawakan ke hadapan Imam, Imam lalu membasuh tangannya, setelah itu beliau menyingsing lengan bajunya. Beliau memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana, menceduk air dgn tangannya dan mencurahkannya ke dahinya. Beliau membiarkan air itu mengalir hingga ke janggutnya kemudian membasuh mukanya sekali. Kemudian, beliau memasukkan tangan kirinya ke dalam air dan menceduknya dengan tangannya dan menuangkannya ke ke siku tangan kanannya turun ke hujung jemarinya. Beliau mengulangi hal yang sama dengan tangan kanannya dan menuangkannya ke siku kirinya hingga ke hujung jemarinya.

Lalu setelah itu, beliau megusap bagian depan kepalanya dan muka kakinya dengan sisa air dari tangan kanan dan kirinya”( Wasa’il jilid 1 hlm 272)

Dalam hadis yang lain Imam Muhammad al-Baqir (a.s) meriwayatkan cara berwudu yang serupa dari Amirul Mukminin as yang menunjukkan cara berwudu Rasulullah saaw saat diminta seseorang (Wasa’il jilid 1 hlm 272)

Kata perintah “wamsahu “usap/sapu” berarti menyapukan tangan dsb pada sesuatu. Bila perkataan seperti ini digunakan dalam bentuk kata transitif, ia menandakan penyempurnaan dan keseluruhan perbuatan (sebagai contoh maksudnya “basuh seluruh kepalamu”)

Namun, setiap kali verb ini diikuti oleh huruf “ba”, ia menandakan sebagian darinya (bermakna, “basuhlah sebagian dari kepalamu”) Dalam ayat wudu’ ini, huruf “ba” telah digunakan dalam ayat perintah wudu’ yang berarti, terjemahannya yang tepat adalah “basuhlah sebagian dari kepalamu”

Bagian kepala yang manakah yang harus dibasuh saat berwudu’? Al Quran tidak menyebutkannya, namun hal ini bisa kita temukan di dalam sunnah Rasul saaw. Terdapat banyak hadis dari para A’immah as yang menjelaskan hal ini, bahawa “sebagian dari kepala” adalah bagian depannya (Wasa’il jilid 1 hlm 289)

Perkataan “arjulukum ” berarti “kaki, keseluruhan kaki”. Untuk mengkhususkan maksudnya, adalah penting untuk menambahkan perkataan “illa ‘l-ka’bayn”, “hingga kedua mata kaki”. Kata “ar-julakum” adalah berhubung kepada “bi ru’usikum” “sebagian dari kepalamu” oleh kata sendi “wa=dan “. Dengan ini, ayat tersebut berarti “usap/sapu sebagian dari kakimu”

Sekali lagi, di sini, kita temukan perbedaan di antara Syiah dan Sunni. Sunni membasuh keseluruhan kaki mereka sedangkan Syiah hanya mengusap bagian atas kaki mereka hingga ke mata kaki. Sekaitan hal ini, al Quran dan hadis hadis para A’immah as, menjelaskan bahawa “mengusap sebagian dari kakimu” itulah yang benar, dan tafsir inilah yang juga diterima oleh mufassir kenamaan Sunni Imam Fakhru ‘d-Din ar-Razi in his Tafsir al-Kabir.( ar-Razi, Tafsir al-Kabir, vol.3, p.370)

Satu satunya asas bagi Sunni dalam “membasuh kaki” adalah sebagian hadis yang terakam dalam kitab2 hadis mereka.

Hadis2 ini tidak valid karena:

Pertamanya, terdapatnya percanggahan dengan perintah al Quran. Rasul saaw bersabda “Jika hadisku disampaikan padamu, maka letakkannya di hadapan al Quran, jika ia sejalan dengan kitab Allah, ambillah, dan jika sebaliknya, tolaklah”

Keduanya, mereka menentang sunnah Rasul saaw, sebagaimana yang dijelaskan oleh para A’immah as, yang diterima oleh semua kaum Muslimin. Bahkan sebagian dari sahabat yang mengatakan adalah salah untuk menisbahkan “membasuh kaki” kepada Rasul saaw.

Sebagai contohnya, sahabat Ibn Abbas berkata, “Allah telah menetapkan dua basuh dan dua usap dalam berwudu’. Tidakkah engkau perhatikan, saat Allah memerintahkan bertayyamum, Allah telah meletakkan duausapan pada dua basuhan (muka dan tangan) dan menghilangkan dua usapan (kepala dan kaki) ( Muttaqi al-Hindi, Kanzu ‘l-Ummal, jil. 5, hlm. 103 (hadith 2213).Juga Musnad Ibn Hanbal, jil. 1, hlm.108).

Ketiga, hadis Sunni dalam hal ini (wudu’) adalah saling bertentangan. Sebagian hadis menyebutkan “membasuh kaki” seperti hadis Humran yang dikutip oleh Bukhari dan oleh Ibn ‘Asim yang dikutip oleh Muslim. Manakala sebagian dari hadis pula mengatakan bahawa Nabi saaw “mengusap kaki”, seperti hadis Ibad bin Tamim yang berkata, “Aku melihat Rasulullah saaw melakukan wudu’, dan Baginda mengusap kakinya”. Hadis ini diriwayatkan di dalam Ta’rikh of al-Bukhari, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Sunan Ibn Abi Shaybah, dan Mu’jamu ‘l-Kabir at-Tabarani; dan semua perawinya adalah tsiqah. ( al-’Asqalani, al-’lsabah, jil. 1, hlm. 193; juga Tahdhib at-Tahdhib).

Dan adalah suatu kesepakatan bahawa di dalam kaedah (usulu ‘l-fiqh) jika ada hadis2 yang bertentangan, maka yang sejalan dengan al Quran diterima dan selainnya ditolak

Diriwayatkan dari Rifa’ah Ibn Rafi’ bahawa beliau bersama dengan Rasul saaw lalu Baginda saaw bersabda, “Hakikatnya, tiada solat yang diterima sehinggalah seseorang itu menyempurnakan wudu’nya sebagaiman yang ditetapkan oleh Allah yang Maha Perkasa, iaitu membasuh muka dan tangan hingga ke siku dan mengusap kepala dan kedua kaki hingga ke mata kaki” . (Sunan Ibn Majah. jil. 1, bag 57, hadis 460, No. 453; Sunan Abi Dawud, No. 730; Sunan Al-Nisa’i, No. 1124; Sunan Al-Darimi 1295)

Al-Bukhari, Ahmad, Ibn Abi Shaybah, Ibn Abi Umar, Al-Baghawi, Al-Tabarani, Al-Bawirdi dan yang lainnya meriwayatkan dari Abbad Ibn Tamim Al-Mazani yang meriwayatkan bahawa bapanya berkata, “Aku melihat Rasulullah saaw berwudu’ dan mengusap kakinya dengan air”(Al-Isaba, jil. 1, hlm. 185, No. 843)

Abu Malik Ash’ari memberitahu kerabatnya, “Mari, biar aku tunjukkan cara berwudu’nya Rasulullah saaw” Beliau meminta air untuk berwudu’. Beliau menghidu air tersebut lalu membasuh mukanya tiga kali dan membasuh tangannya dari siku tiga kali dan mengusap kepala dan muka atas kakinya. Kemudian mereka solat (Musnad Ahmad Ibn Hanbal, No. 21825)

Diriwayatkan dari Rubayyi’ bahawa dia berkata, “Ibn Abbas datang kepadaku dan bertanyakan tentang hadis yang aku riwayatkan dari Rasul saaw yang menceritakan tentang Nabi saaw membasuh kakinya saat berwudu’. Lalu Ibn Abbas berkata, “Manusia mengelak apa sahaja kecuali basuh, sedang aku tidak melihat di dalam kitab Allah kecuali menyapu” (Sunan Ibn Majah, jil. 1, hlm. 156, No. 458, No. 451; Musnad Ahmad, No. 25773 )

Ulama Syi’ah berkeyakinan bahwa dalam berwudhu diwajibkan membasuh kedua tangan dari atas ke arah bawah. Sementara kaum Ahlusunnah berpendapat bahwa manusia (mukallaf) bebas memilih antara membasuh kedua tangannya dari atas ke bawah atau sebaliknya. Tetapi disunatkan membasuhnya dari ujung jari-jari ke arah atas.(Al-Fiqhu ‘ala al-madzâhibil khamsah, hal. 80, al-Fiqhu ‘ala al-madzâhibil arba’ah, jilid 1, hal. 65 pada pembahasan jumlah sunat-sunat dan lain-lain; Shalat al-mukmin al-qahthani, jilid 1, hal. 41, 42.)

Fukaha Syi’ah mendasari pandangannya dengan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Rasululah Saw membasuh kedua tangannya dari atas ke bawah.( Wasâ’il as-Syi’ah, jilid 1, hal. 387 pada abwâbul wudhu, bab 15, bâbu kayfiyati al-wudhu wa jumlatin min ahkamihi).

Dan berdasarkan riwayat sahih lainnya sebagai penafsiran yang disampaikan oleh para Imam makshum As atas ayat yang berkaitan dengan wudhu.(. Surat al-Maidah (5): 6).

Riwayat tersebut berbunyi: “Kalian harus membasuh kedua tanganmu dari atas ke bawah”( Wasa’il as-Syi’ah, jilid 1, abwâbu al-wudhu, bab 19, h 1.)

Adapun mengenai redaksi “ila” yang terdapat di dalam ayat Al-Qur’an, yaitu: “Wahai orang-orang yang beriman, ketika kamu ingin melakukan shalat, maka basuhkan wajahmu dan kedua tanganmu hingga bagian siku” (Qs. Al-Maidah [5]:6) dapat dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menjelaskan batasan-batasan basuhan dan kadarnya, bukan menjelaskan tata cara membasuh. Dengan kata lain bahwa ayat tersebut menentukan batasan dan kadar tangan yang harus dibasuh dalam berwudhu itu hingga bagian siku.( Kata “marâfiq” adalah bentuk plural dari kata “mirfaq” yang bermakna siku)

Untuk memperjelas maksud apa yang disebutkan di atas kami akan sampaikan contoh sebagai berikut. Misalnya ada seseorang berkata kepada pembantu masjid: “Uknus al-masjid min al-bâb ila al-mihrâb” (sapulah masjid dari pintu sampai ke mihrab). Dalam kalimat tersebut seseorang ingin menjelaskan kadar dan batasan yang harus di sapu. Dia tidak bermaksud mengatakan dari mana memulainya dan sampai dimana kesudahannya. Terlebih dalam ayat wudhu tersebut tidak terdapat kata “min” (dari). Dengan demikian bahwa kata “ila” yang terdapat pada ayat di atas itu tidak juga menunjukkan dianjurkannya (sunah) membasuh kedua tangan dari ujung jari-jari ke arah siku. Sebagai bukti terbaik atas maksud ayat tersebut adalah kebiasaan dan sunnah Rasulullah Saw yang telah dijelaskan oleh para Imam suci Ahlulbait As.

Dengan demikiian bahwa makna kata “ila” adalah ghayat ( Maknanya: ke, hingga), tetapi menunjukkan tangan yang dibasuh ( Yakni bahwa batas tangan yang harus dibasuh adalah sampai siku). dan bukan untuk cara membasuhnya.( Yakni bukan berarti basuhannya itu sampai siku sehingga menimbulkan dugaan bahwa tata cara membasuhnya itu harus ke arah siku). Atau bermakna “min” ( Bermakna: dari) atau bermakna “ma’a” ( Bermakna: beserta, bersama). sebagaimana pandangan Syaikh Thusi.( Wasâil as-Syi’ah, jilid 1, hal. 406).

Tatacara berwudu’ dalam mazhab Ahlul Bayt as

Wudu’ dilaksanakan secara empat tahap:

1. Membasuh muka. Selepas berniat, curahkan air dari atas arah anak rambut. Dengan menggunakan tangan kanan, basuhlah muka itu dari atas ke bawah, hingga air itu sampai ke seluruh wajah dari anak rambut ke dagu dan dari sisi ke sisi(bagian yg tidak ditumbuhi janggut)

Bacalah doa ini sebelum mulakan wudu’:

Bis mail-lahi wa bil-lahi ; wal hamdu lil-lahi lazi ja’ala ma’a tahuran wa lam yaj’alu najisa

dan doa ini saat membasuh muka:

Allahumma bayyiz wajhiy yawma tusawwidul wujuh; wa la tusawwid wajhiy yawma tubyyizul wujuh

2. Membasuh tangan dari siku ke hujung jemari. Lurutkan tangan ke bawah dan tidak boleh naik ke atas saat membasuh tangan ke bawah. Mulakan pada tangan kanan dahulu baru diikuti oleh tangan kiri.

Bacalah doa ini saat membasuh tangan kanan:

Allahumma ‘atiniy kitabi bi yaminiy, wal khuda fil jinani bi yasariy, wa hasibniy hisaban yasira

Bacalah doa ini saat membasuh tangan kiri:

Allahumma la tu’tiniy kitabiy bi shimaliy, wa la min wara’i zahriy, wa la taj’alha maghluqatan ila ‘unuqi; wa a ‘uzu bika min muqatta ‘atin niyran

3. Mengusap kepala. Dengan sisa air wudu’ itu (tidak perlu mengambil air lagi), usapkan kepala dari bagian atas kepala turun ke anak rambut. Gunakan tangan kanan, bisa dgn satu jari sahaja, namun sebaik baiknya 3 jari.

Bacalah doa ini saat mengusap kepala:

Allahumma ghash-shiniy bi rahmatika wa barakatika wa ‘afwika

4. Mengusap muka kaki. Seperti kepala tadi, air yg masih tersisa pada tangan tadi di usapkan pada kaki, bermula dari hujung jari kaki hingga ke atas (menggunakan tapak tangan), iaitu pada mata kaki(pergelangan kaki). Kaki tidak boleh digerakkan saat mengusap, hanya tangan sahaja yg digerakkan (kaki juga bisa diusap dari mata kaki ke hujung jari) Gunakan tapak tangan kanan utk kaki kanan dan tapak tangan kiri utk kaki kiri.

Bacalah doa ini saat mengusap kaki:

Allahumma thab-bitniy ‘alas sirati yawma tuzillu fiyhil aqdam ; waj’al sa’iy fi ma urziyka ;anniy ; ya zul jalali wal ikram

**Adalah penting utk memperhatikan bahawa saat menyapu kepala dan kaki, kedua dua bagian itu harusnya tidak basah, pastikan keduanya tidak berair.

_______________________________________________________________

di sunni -ketika membahas nasikh-mansukh-ayat wudlu ini dijadikan dalil bolehnya sunnah mengapus hukum qur’an. Di antara dalilnya adalah berikut ini:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Asim al-Ahwal, dari Anas yang mengatakan bahwa Al-Qur’an menurunkan perintah untuk mengusap (kaki), sedangkan sunnah memerintahkan untuk membasuh(nya). Ibnu Katsir berkata Sanad atsar ini sahih.

Ibn Katsir berkata “Memang diriwayatkan dari segolongan ulama Salaf hal yang memberikan pengertian adanya wajib mengusap kaki ini.” kemudian ia membawakan dalil-dalilnya, di antaranya:

1. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Humaid yang mengatakan bahwa Musa ibnu Anas berkata kepada Anas, sedangkan kami saat itu berada di dekat¬nya, “Hai Abu Hamzah, sesungguhnya Hajaj pernah berkhotbah ke pada kami di Ahwaz, saat itu kami ada bersamanya, lalu ia menyebutkan masalah bersuci (wudlu). Maka ia mengatakan, ‘Basuhlah wajah dan kedua tangan kalian dan usaplah kepala serta basuhlah kaki kalian. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dari anggota tubuh anak Adam yang lebih dekat kepada kotoran selain dari kedua telapak kakinya. Karenanya basuhlah bagian telapaknya dan bagian luarnya serta mata kakinya’.” Maka Anas berkata, “Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya dan dustalah Al-Hajaj. Allah Swt. telah berfirman, ‘Dan usaplah kepala kalian dan kaki kalian’

2. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Qais Al-Khurrasani, dari Ibnu Juraij , dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa wudu itu terdiri atas dua basuhan dan dua sapuan.

3. Hal yang sama diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Al-Minqari, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mihran, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya “dan sapulah kepala kalian dan kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.”(al-Maidah: 6). Makna yang dimaksud ialah mengusap kedua kaki (bukan membasuhnya).

Yang aneh, kenapa ia justeru menyerang syi’ah dengan pernyataan: “Orang-orang yang menganggap wajib mengusap kedua kaki seperti mengusap sepasang khuf dari kalangan ulama Syi’ah, sesungguhnya pendapat ini sesat lagi menyesatkan.”

Apa hubungannya dengan syi’ah, kenapa ia tidak mengkritik salaf yang berpendapat demikian tapi malah syi’ah yang disesatkan? aneh…

Ada 3 Amalan Bersuci (QS. 4: 43 dan QS. 5: 6) dengan perintah mandi, membasuh dan mengusap:

1.Basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan

2.Sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

3. Sapulah mukamu dan tanganmu.(tayamum)

Perbedaan qira’at tidak mempengaruhi arti dan maksudnya. Membasuh kaki karena mengikuti perintah “membasuh muka” bertentangan dengan susunan kalimat yang fasih seperti dicontohkan pada perintah “mengusap muka”

Sunni sendiri umumnya mengakui bahwa ayat tersebut menyuruh mengusap kaki, hanya saja ada sunnah yang mewajibkan membasuh kaki. Sehingga ada yang membawa dalil sunnah tsb sebagai penjelas dan ada juga sebagai penghapus hukum ayat tersebut.

Bagi saya ayat-ayat perintah dalam al-Quran adalah penting. semoga kita tidak termasuk orang yang diadukan oleh Rasul SAW:

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. 25: 30)

SHALAT DALAM MAZHAB AHLUL BAIT

Seorang profesor bidang studi Islam di Turki memicu kontroversi, setelah mengeluarkan fatwa bahwa umat Islam boleh sholat hanya tiga kali dalam sehari, dan bukan lima kali asalkan memperbanyak doa.Fatwa itu dikeluarkan oleh Profesor Muhammad Nour Dugan, dan ia mendapat dukungan dari sejumlah profesor bidang hukum Islam lainnya, sehingga menimbulkan perdebatan yang panas di media massa Turki.Para cendekiawan Islam yang mendukung fatwa tersebut antara lain Dr. Ali Kusa. Ia beralasan, Nabi Muhammad Saw dalam kasus-kasus khusus menggabungkan dua waktu sholat

.

SHALAT DALAM MAZHAB AHLULBAIT

Jika anda membaca Qs. 17:78 dan Qs. 11:114 maka jelaslah maka shalat 5 kali sehari dalam 3 waktu :
* Zuhur dan ashar
* Maghrib dan isya

* Subuh

.
How many prayer times are mentioned? THREE, NOT five. Count them: the
“Sun’s Decline, Darkness of the Night, and the Morning Prayer.” That’s
THREE, not FIVE.

Now, what did the Prophet (PBUH&HF) do? Here’s what Ibn Abbas, one of the
most famous narrators, says according to the Musnad of Ibn Hanbal (One of
the books of tradition):

“The Prophet (PBUH&HF) prayed in Madina, while residing there,
NOT TRAVELING, seven and eight (this is an indication to the seven
Raka’t of Maghrib and Isha combined, and the eight Raka’t of Zuhr and
`Asr combined).”

Musnad al-Imam Ibn Hanbal, vol. 1, page 221.

Also, in the Muwatta’ of Malik (Imam of Maliki sect), vol. 1, page 161, Ibn
Abbas says:

“The Prophet (PBUH&HF) prayed Zuhr and `Asr in combination and Maghrib
and Isha in combination WITHOUT a reason for fear or travel.”

As for Sahih Muslim, see the following under the chapter of “Combination of
prayers, when one is resident”:

Ibn Abbas reported: The messenger of Allah(may peace be upon him)
observed the noon and the afternoon prayers together, and the sunset
and Isha prayers together without being in a state of fear or in a
state of journey

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1515

Ibn Abbas reported that the messenger of Allah(may peace be upon him)
combined the noon prayer with the afternoon prayer and the sunset
prayer with the Isha prayer in Medina without being in a state of
danger or rainfall. And in the hadith transmitted by Waki(the words
are): “I said to Ibn Abbas: What prompted him to do that? He said: So
that his(prophet’s)Ummah should not be put to (unnecessary) hardship.”

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1520

Abdullah b. Shaqiq reported: Ibn Abbas one day addressed us in the
afternoon(after the afternoon prayer) till the sun disappeared, and
the stars appeared, and the people began to say: Prayer, prayer. A
person from Banu Tamim came there. He neither slackened nor turned
away, but (continued crying): Prayer, prayer. Ibn Abbas said: May you
be deprived of your mother, do you teach me sunnah? And then he said:
I saw the messenger of Allah(may peace be upon him) combining the noon
and afternoon prayers and the sunset and Isha prayers. Abdullah b.
Shaqiq said: Some doubt was created in my mind about it. So I came to
Abu Huraira and asked him(about it) and he testified his assertion.

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1523

Abdullah b. Shaqiq al-Uqaili reported: A person said to Ibn Abbas(as
he delayed the prayer): Prayer. He kept silent. He again said: Prayer.
He again kept silent, and he cried: Prayer. He again kept silent and
said: May you be deprived of your mother, do you teach us about
prayer? We used to combine two prayers during the lifetime of the
messenger of Allah(may peace be upon him).

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1524

Ibn Abbas reported: The messenger of Allah(may peace be upon him)
observed the noon and afternoon prayers together in Medina without
being in a state of fear or in a state of journey. Abu Zubair said: I
asked Sa’id[one of the narrators] why he did that. He said: I asked
Ibn Abbas as you have asked me, and he replied that he[the Holy
prophet] wanted that no one among his Ummah should be put to
[unnecessary] hardship.

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1516

Ibn Abbas reported that the Messenger of Allah(may peace be upon him)
observed in Medina seven (rakahs) and eight(rakahs), i.e., (he
combined) the noon and afternoon prayers(eight rakahs) and the sunset
and Isha prayers(seven Rakahs).

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1522

.
 

Shalat Tiga Waktu, Sehari Lima Kali Picu Kontroversi di Turki

SHALAT DALAM MAZHAB AHLUL BAIT

Seorang profesor bidang studi Islam di Turki memicu kontroversi, setelah mengeluarkan fatwa bahwa umat Islam boleh sholat hanya tiga kali dalam sehari, dan bukan lima kali asalkan memperbanyak doa.Fatwa itu dikeluarkan oleh Profesor Muhammad Nour Dugan, dan ia mendapat dukungan dari sejumlah profesor bidang hukum Islam lainnya, sehingga menimbulkan perdebatan yang panas di media massa Turki.Para cendekiawan Islam yang mendukung fatwa tersebut antara lain Dr. Ali Kusa. Ia beralasan, Nabi Muhammad Saw dalam kasus-kasus khusus menggabungkan dua waktu sholat

.

SHALAT DALAM MAZHAB AHLULBAIT

Jika anda membaca Qs. 17:78 dan Qs. 11:114 maka jelaslah maka shalat 5 kali sehari dalam 3 waktu :
* Zuhur dan ashar
* Maghrib dan isya

* Subuh

.
How many prayer times are mentioned? THREE, NOT five. Count them: the
“Sun’s Decline, Darkness of the Night, and the Morning Prayer.” That’s
THREE, not FIVE.

Now, what did the Prophet (PBUH&HF) do? Here’s what Ibn Abbas, one of the
most famous narrators, says according to the Musnad of Ibn Hanbal (One of
the books of tradition):

“The Prophet (PBUH&HF) prayed in Madina, while residing there,
NOT TRAVELING, seven and eight (this is an indication to the seven
Raka’t of Maghrib and Isha combined, and the eight Raka’t of Zuhr and
`Asr combined).”

Musnad al-Imam Ibn Hanbal, vol. 1, page 221.

Also, in the Muwatta’ of Malik (Imam of Maliki sect), vol. 1, page 161, Ibn
Abbas says:

“The Prophet (PBUH&HF) prayed Zuhr and `Asr in combination and Maghrib
and Isha in combination WITHOUT a reason for fear or travel.”

As for Sahih Muslim, see the following under the chapter of “Combination of
prayers, when one is resident”:

Ibn Abbas reported: The messenger of Allah(may peace be upon him)
observed the noon and the afternoon prayers together, and the sunset
and Isha prayers together without being in a state of fear or in a
state of journey

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1515

Ibn Abbas reported that the messenger of Allah(may peace be upon him)
combined the noon prayer with the afternoon prayer and the sunset
prayer with the Isha prayer in Medina without being in a state of
danger or rainfall. And in the hadith transmitted by Waki(the words
are): “I said to Ibn Abbas: What prompted him to do that? He said: So
that his(prophet’s)Ummah should not be put to (unnecessary) hardship.”

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1520

Abdullah b. Shaqiq reported: Ibn Abbas one day addressed us in the
afternoon(after the afternoon prayer) till the sun disappeared, and
the stars appeared, and the people began to say: Prayer, prayer. A
person from Banu Tamim came there. He neither slackened nor turned
away, but (continued crying): Prayer, prayer. Ibn Abbas said: May you
be deprived of your mother, do you teach me sunnah? And then he said:
I saw the messenger of Allah(may peace be upon him) combining the noon
and afternoon prayers and the sunset and Isha prayers. Abdullah b.
Shaqiq said: Some doubt was created in my mind about it. So I came to
Abu Huraira and asked him(about it) and he testified his assertion.

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1523

Abdullah b. Shaqiq al-Uqaili reported: A person said to Ibn Abbas(as
he delayed the prayer): Prayer. He kept silent. He again said: Prayer.
He again kept silent, and he cried: Prayer. He again kept silent and
said: May you be deprived of your mother, do you teach us about
prayer? We used to combine two prayers during the lifetime of the
messenger of Allah(may peace be upon him).

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1524

Ibn Abbas reported: The messenger of Allah(may peace be upon him)
observed the noon and afternoon prayers together in Medina without
being in a state of fear or in a state of journey. Abu Zubair said: I
asked Sa’id[one of the narrators] why he did that. He said: I asked
Ibn Abbas as you have asked me, and he replied that he[the Holy
prophet] wanted that no one among his Ummah should be put to
[unnecessary] hardship.

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1516

Ibn Abbas reported that the Messenger of Allah(may peace be upon him)
observed in Medina seven (rakahs) and eight(rakahs), i.e., (he
combined) the noon and afternoon prayers(eight rakahs) and the sunset
and Isha prayers(seven Rakahs).

Sahih Muslim, English version, Chapter CCL, Tradition #1522

.

Wudhu syi’ah

Syi’ah Ja’fariyah berwudhu dengan membasuh kedua tangan; dari siku-siku sampai ujung jari-jari, bukan kebalikannya, karena mereka mengambil cara berwudhu para imam Ahlul Bait yang telah mengambilnya dari Nabi saw. Tentunya, para imam lebih mengetahui dari pada yang lainnya terhadap apa yang dilakukan oleh kakek mereka. Rasulullah saw. Telah berwudhu dengan cara demikian itu, dan tidak menafsirkan kata  (Ilaa/ الی) dalam ayat wudhu (Al-Maidah [5]: 6) dengan kata (ma’a/ مع) hal ini juga ditulis Imam Syafi’i dalam kitabnya, Nihâyatul Muhtaj.  Begitu juga, mengusap kaki dan kepala mereka atau tidak membasuhnya ketika berwudhu, dengan alasan yang sama yang telah dijelaskan di atas. Juga karena Ibnu Abbas mengatakan: “Wudhu itu dengan dua basuhan dan dua usapan”.


Sebagaimana diketahui, pada tertib ritual wudhu, madzhab ahlusunnah mewajibkan membasuh kaki.
Sementara, madzhab syi’ah mewajibkan mengusap kaki (bukan membasuh kaki), berdasarkan ayat al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [5]

Sedang hadits-hadits seputar hal itu juga diriwayatkan, baik dari jalur ahlusunnah maupun syi’ah. Namun, larangan sebagian ulama ahlusunnah untuk mengusap kaki dikarenakan hadits-hadits yang memerintahkan membasuh kaki; yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash, Urwah, dan lain-lain [6]. Dan sejarah membuktikan bahwa keempat orang tersebut adalah orang-orang yang tidak menyukai, bahkan memerangi Ahlul Bait as. Sementara hadits-hadits dari jalur ahlusunnah, yang memerintahkan untuk mengusap kaki, sebagai berikut :

1. Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Rifa’ah bin Rafi’, yang mengatakan bahwa Rasulullah (saww) bersabda : “Sungguh tidaklah kalian mengerjakan sholat, hingga kalian mengerjakan wudhu sebagaimana perintah Allah, yakni “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.” [7]

2. Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata bahwa ayat “usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” mengandung makna “mengusap”. [8]

3. Abdurrazzaq, Ibn Abi Syaibah, dan Ibn Majah meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata : “Orang-orang telah membasuh, padahal tidak aku jumpai dalam Kitabullah kecuali mengusap.” [9]

dan lain-lain.

Sementara dari jalur Ahlul Bait as (syi’ah), terdapat banyak sekali riwayat yang memerintahkan untuk mengusap kaki, seperti :

1. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika menerangkan wudhu Rasulullah saww, mengatakan bahwa Rasul saww mengusap kakinya sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan : “Usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [10]

2. Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwa ayat : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” termasuk ayat muhkam, yang tidak memerlukan takwil lagi. Adapun batasan (hukum) wudhu adalah membasuh muka dan kedua tangan, serta mengusap kepala dan kedua kaki. [11]

3. Imam Ali al-Ridha as, ketika ditanya seseorang, mengatakan bahwa surat al-Maidah tersebut sudah jelas, yaitu mengusap kepala dan kedua kaki. [12]

4. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika ditanya tentang darimana perintah untuk mengusap kepala dan kedua kaki, maka beliau menjawab bahwa perintah tersebut tercantum dalam al-Qur’an : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [13]

Referensi:

[5] QS. al-Maidah: 6

[6] Al-Syaukani, “Nailul Authar”, jilid 1, bab “Sifat Wudhu”; Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[7] Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Al-Hurr al-Amili, “Wasail al-Syi’ah”, jilid 1, hal. 389, riwayat 1022.

[11] Ibid, hal. 399, riwayat 1042.

[12] Al-Majlisi, “Bihar al-Anwar”, jilid 80, hal. 283, riwayat 32.

[13] Al-Kulaini, “Al-Kafi”, jilid 3, hal. 30, riwayat 4.

PERBAHASAN WUDHU’

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُؤُسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا وَ إِنْ كُنْتُمْ مَرْضى أَوْ عَلى سَفَرٍ أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ فَلَمْ تَجِدُوا ماءً فَتَيَمَّمُوا صَعيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْديكُمْ مِنْهُ ما يُريدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَ لكِنْ يُريدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit, berada dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyetubuhi perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan menggunakan tanah yang baik (bersih); usaplah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS Al Maidah:6)

Di dalam ayat di atas, dua bentuk ayat perintah digunakan:

(i) “faghsilu” yang berarti “basuh”
(ii) “wamsuhu” yang berarti “sapu/usap”.

Adalah jelas bahawa bentuk ayat perintah “basuh” merujuk pada dua objek iaitu mukamu (wujuhakum) dan kedua tanganmu (aidiyakum) manakala bentuk perintah kedua pula (sapu/usap) merujuk pada dua objek lainnya iaitu bagian kepalamu (bi ru’usikum) dan kedua kakimu (arjulakum)

Perkataan “muka” berarti bagian depan kepala, bermula dari bagian dahi dan bawah dagu, dan dari telinga ke telinga. Dalam artinya yang sah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis2 para A’immah as,ia merangkumi bagian muka dari batas anak rambut ke bagian hujung dagu, dan sebatas sejengkal dari sisi ke sisi.

Perkataan tangan berarti organ yang digunakan untuk menggenggam, dan merangkumi bagian atas antara bahu dan hujung jari. Maka, dari sudut bahasa, perkataan “yad” adalah umum bagi lengan,lengan bawah dan tangan. Apabila sesuatu perkataan itu digunapakai secara umum dalam lebih dari satu maksud, adalah penting untuk pembicara menjelaskan maksud katanya…dengan ini, kita lihat perkataan ‘ill ‘l marafiq “sehingga dengan siku” dalam ayat ini, menjelaskan hingga batas manakah wudu’ itu harus dilakukan.
( Wasa’il, jilid 1. hlm.283-286 bahagian 17-19 pada bab wudu’)

Kini kita sampai pada satu perbedaan utama antara Syiah dan Sunni dalam cara melakukan wudu’. Sunni membasuh lengan mereka dari hujung jari ke siku, manakala Syiah pula, membasuh lengan mereka dari siku ke hujung jemari. Seperti yang dinyatakan di atas, perkataan “hingga dengan siku” tidak menjelaskan kepada kita untuk membasuh lengan dari hujung jari hingga ke siku, malah, perkataan ini semata mata memberitahu bagian tangan yang manakah yang termasuk dalam bagian wudu’.

Lalu, bagaimana kita melakukan wudu’ dari siku ke hujung jemari? Jawaban pada persoalan ini terkandung di dalam sunnah. Salah satu dari tanggungjawab Rasul saaw adalah untuk menjelas dan menunjukkan tatacara sebenar berwudu’, dan ini kita peroleh lewat hadis para A’immah as.

Zurarah bin A’yan meriwayatkan hadis berikut:
“Imam Muhammad al-Baqir (a.s) berkata “Mahukah aku perlihatkan pada kalian cara wudu’nya Rasulullah saaw?” Kami menjawab, “Ya”. Apabila air dibawakan ke hadapan Imam, Imam lalu membasuh tangannya, setelah itu beliau menyingsing lengan bajunya. Beliau memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana, menceduk air dgn tangannya dan mencurahkannya ke dahinya. Beliau membiarkan air itu mengalir hingga ke janggutnya kemudian membasuh mukanya sekali. Kemudian, beliau memasukkan tangan kirinya ke dalam air dan menceduknya dengan tangannya dan menuangkannya ke ke siku tangan kanannya turun ke hujung jemarinya. Beliau mengulangi hal yang sama dengan tangan kanannya dan menuangkannya ke siku kirinya hingga ke hujung jemarinya.

Lalu setelah itu, beliau megusap bagian depan kepalanya dan muka kakinya dengan sisa air dari tangan kanan dan kirinya”( Wasa’il jilid 1 hlm 272)

Dalam hadis yang lain Imam Muhammad al-Baqir (a.s) meriwayatkan cara berwudu yang serupa dari Amirul Mukminin as yang menunjukkan cara berwudu Rasulullah saaw saat diminta seseorang (Wasa’il jilid 1 hlm 272)

Kata perintah “wamsahu “usap/sapu” berarti menyapukan tangan dsb pada sesuatu. Bila perkataan seperti ini digunakan dalam bentuk kata transitif, ia menandakan penyempurnaan dan keseluruhan perbuatan (sebagai contoh maksudnya “basuh seluruh kepalamu”)

Namun, setiap kali verb ini diikuti oleh huruf “ba”, ia menandakan sebagian darinya (bermakna, “basuhlah sebagian dari kepalamu”) Dalam ayat wudu’ ini, huruf “ba” telah digunakan dalam ayat perintah wudu’ yang berarti, terjemahannya yang tepat adalah “basuhlah sebagian dari kepalamu”

Bagian kepala yang manakah yang harus dibasuh saat berwudu’? Al Quran tidak menyebutkannya, namun hal ini bisa kita temukan di dalam sunnah Rasul saaw. Terdapat banyak hadis dari para A’immah as yang menjelaskan hal ini, bahawa “sebagian dari kepala” adalah bagian depannya (Wasa’il jilid 1 hlm 289)

Perkataan “arjulukum ” berarti “kaki, keseluruhan kaki”. Untuk mengkhususkan maksudnya, adalah penting untuk menambahkan perkataan “illa ‘l-ka’bayn”, “hingga kedua mata kaki”. Kata “ar-julakum” adalah berhubung kepada “bi ru’usikum” “sebagian dari kepalamu” oleh kata sendi “wa=dan “. Dengan ini, ayat tersebut berarti “usap/sapu sebagian dari kakimu”

Sekali lagi, di sini, kita temukan perbedaan di antara Syiah dan Sunni. Sunni membasuh keseluruhan kaki mereka sedangkan Syiah hanya mengusap bagian atas kaki mereka hingga ke mata kaki. Sekaitan hal ini, al Quran dan hadis hadis para A’immah as, menjelaskan bahawa “mengusap sebagian dari kakimu” itulah yang benar, dan tafsir inilah yang juga diterima oleh mufassir kenamaan Sunni Imam Fakhru ‘d-Din ar-Razi in his Tafsir al-Kabir.( ar-Razi, Tafsir al-Kabir, vol.3, p.370)

Satu satunya asas bagi Sunni dalam “membasuh kaki” adalah sebagian hadis yang terakam dalam kitab2 hadis mereka.

Hadis2 ini tidak valid karena:

Pertamanya, terdapatnya percanggahan dengan perintah al Quran. Rasul saaw bersabda “Jika hadisku disampaikan padamu, maka letakkannya di hadapan al Quran, jika ia sejalan dengan kitab Allah, ambillah, dan jika sebaliknya, tolaklah”

Keduanya, mereka menentang sunnah Rasul saaw, sebagaimana yang dijelaskan oleh para A’immah as, yang diterima oleh semua kaum Muslimin. Bahkan sebagian dari sahabat yang mengatakan adalah salah untuk menisbahkan “membasuh kaki” kepada Rasul saaw.

Sebagai contohnya, sahabat Ibn Abbas berkata, “Allah telah menetapkan dua basuh dan dua usap dalam berwudu’. Tidakkah engkau perhatikan, saat Allah memerintahkan bertayyamum, Allah telah meletakkan duausapan pada dua basuhan (muka dan tangan) dan menghilangkan dua usapan (kepala dan kaki) ( Muttaqi al-Hindi, Kanzu ‘l-Ummal, jil. 5, hlm. 103 (hadith 2213).Juga Musnad Ibn Hanbal, jil. 1, hlm.108).

Ketiga, hadis Sunni dalam hal ini (wudu’) adalah saling bertentangan. Sebagian hadis menyebutkan “membasuh kaki” seperti hadis Humran yang dikutip oleh Bukhari dan oleh Ibn ‘Asim yang dikutip oleh Muslim. Manakala sebagian dari hadis pula mengatakan bahawa Nabi saaw “mengusap kaki”, seperti hadis Ibad bin Tamim yang berkata, “Aku melihat Rasulullah saaw melakukan wudu’, dan Baginda mengusap kakinya”. Hadis ini diriwayatkan di dalam Ta’rikh of al-Bukhari, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Sunan Ibn Abi Shaybah, dan Mu’jamu ‘l-Kabir at-Tabarani; dan semua perawinya adalah tsiqah. ( al-’Asqalani, al-’lsabah, jil. 1, hlm. 193; juga Tahdhib at-Tahdhib).

Dan adalah suatu kesepakatan bahawa di dalam kaedah (usulu ‘l-fiqh) jika ada hadis2 yang bertentangan, maka yang sejalan dengan al Quran diterima dan selainnya ditolak

Diriwayatkan dari Rifa’ah Ibn Rafi’ bahawa beliau bersama dengan Rasul saaw lalu Baginda saaw bersabda, “Hakikatnya, tiada solat yang diterima sehinggalah seseorang itu menyempurnakan wudu’nya sebagaiman yang ditetapkan oleh Allah yang Maha Perkasa, iaitu membasuh muka dan tangan hingga ke siku dan mengusap kepala dan kedua kaki hingga ke mata kaki” . (Sunan Ibn Majah. jil. 1, bag 57, hadis 460, No. 453; Sunan Abi Dawud, No. 730; Sunan Al-Nisa’i, No. 1124; Sunan Al-Darimi 1295)

Al-Bukhari, Ahmad, Ibn Abi Shaybah, Ibn Abi Umar, Al-Baghawi, Al-Tabarani, Al-Bawirdi dan yang lainnya meriwayatkan dari Abbad Ibn Tamim Al-Mazani yang meriwayatkan bahawa bapanya berkata, “Aku melihat Rasulullah saaw berwudu’ dan mengusap kakinya dengan air”(Al-Isaba, jil. 1, hlm. 185, No. 843)

Abu Malik Ash’ari memberitahu kerabatnya, “Mari, biar aku tunjukkan cara berwudu’nya Rasulullah saaw” Beliau meminta air untuk berwudu’. Beliau menghidu air tersebut lalu membasuh mukanya tiga kali dan membasuh tangannya dari siku tiga kali dan mengusap kepala dan muka atas kakinya. Kemudian mereka solat (Musnad Ahmad Ibn Hanbal, No. 21825)

Diriwayatkan dari Rubayyi’ bahawa dia berkata, “Ibn Abbas datang kepadaku dan bertanyakan tentang hadis yang aku riwayatkan dari Rasul saaw yang menceritakan tentang Nabi saaw membasuh kakinya saat berwudu’. Lalu Ibn Abbas berkata, “Manusia mengelak apa sahaja kecuali basuh, sedang aku tidak melihat di dalam kitab Allah kecuali menyapu” (Sunan Ibn Majah, jil. 1, hlm. 156, No. 458, No. 451; Musnad Ahmad, No. 25773 )

Ulama Syi’ah berkeyakinan bahwa dalam berwudhu diwajibkan membasuh kedua tangan dari atas ke arah bawah. Sementara kaum Ahlusunnah berpendapat bahwa manusia (mukallaf) bebas memilih antara membasuh kedua tangannya dari atas ke bawah atau sebaliknya. Tetapi disunatkan membasuhnya dari ujung jari-jari ke arah atas.(Al-Fiqhu ‘ala al-madzâhibil khamsah, hal. 80, al-Fiqhu ‘ala al-madzâhibil arba’ah, jilid 1, hal. 65 pada pembahasan jumlah sunat-sunat dan lain-lain; Shalat al-mukmin al-qahthani, jilid 1, hal. 41, 42.)

Fukaha Syi’ah mendasari pandangannya dengan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Rasululah Saw membasuh kedua tangannya dari atas ke bawah.( Wasâ’il as-Syi’ah, jilid 1, hal. 387 pada abwâbul wudhu, bab 15, bâbu kayfiyati al-wudhu wa jumlatin min ahkamihi).

Dan berdasarkan riwayat sahih lainnya sebagai penafsiran yang disampaikan oleh para Imam makshum As atas ayat yang berkaitan dengan wudhu.(. Surat al-Maidah (5): 6).

Riwayat tersebut berbunyi: “Kalian harus membasuh kedua tanganmu dari atas ke bawah”( Wasa’il as-Syi’ah, jilid 1, abwâbu al-wudhu, bab 19, h 1.)

Adapun mengenai redaksi “ila” yang terdapat di dalam ayat Al-Qur’an, yaitu: “Wahai orang-orang yang beriman, ketika kamu ingin melakukan shalat, maka basuhkan wajahmu dan kedua tanganmu hingga bagian siku” (Qs. Al-Maidah [5]:6) dapat dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menjelaskan batasan-batasan basuhan dan kadarnya, bukan menjelaskan tata cara membasuh. Dengan kata lain bahwa ayat tersebut menentukan batasan dan kadar tangan yang harus dibasuh dalam berwudhu itu hingga bagian siku.( Kata “marâfiq” adalah bentuk plural dari kata “mirfaq” yang bermakna siku)

Untuk memperjelas maksud apa yang disebutkan di atas kami akan sampaikan contoh sebagai berikut. Misalnya ada seseorang berkata kepada pembantu masjid: “Uknus al-masjid min al-bâb ila al-mihrâb” (sapulah masjid dari pintu sampai ke mihrab). Dalam kalimat tersebut seseorang ingin menjelaskan kadar dan batasan yang harus di sapu. Dia tidak bermaksud mengatakan dari mana memulainya dan sampai dimana kesudahannya. Terlebih dalam ayat wudhu tersebut tidak terdapat kata “min” (dari). Dengan demikian bahwa kata “ila” yang terdapat pada ayat di atas itu tidak juga menunjukkan dianjurkannya (sunah) membasuh kedua tangan dari ujung jari-jari ke arah siku. Sebagai bukti terbaik atas maksud ayat tersebut adalah kebiasaan dan sunnah Rasulullah Saw yang telah dijelaskan oleh para Imam suci Ahlulbait As.

Dengan demikiian bahwa makna kata “ila” adalah ghayat ( Maknanya: ke, hingga), tetapi menunjukkan tangan yang dibasuh ( Yakni bahwa batas tangan yang harus dibasuh adalah sampai siku). dan bukan untuk cara membasuhnya.( Yakni bukan berarti basuhannya itu sampai siku sehingga menimbulkan dugaan bahwa tata cara membasuhnya itu harus ke arah siku). Atau bermakna “min” ( Bermakna: dari) atau bermakna “ma’a” ( Bermakna: beserta, bersama). sebagaimana pandangan Syaikh Thusi.( Wasâil as-Syi’ah, jilid 1, hal. 406).

Tatacara berwudu’ dalam mazhab Ahlul Bayt as

Wudu’ dilaksanakan secara empat tahap:

1. Membasuh muka. Selepas berniat, curahkan air dari atas arah anak rambut. Dengan menggunakan tangan kanan, basuhlah muka itu dari atas ke bawah, hingga air itu sampai ke seluruh wajah dari anak rambut ke dagu dan dari sisi ke sisi(bagian yg tidak ditumbuhi janggut)

Bacalah doa ini sebelum mulakan wudu’:

Bis mail-lahi wa bil-lahi ; wal hamdu lil-lahi lazi ja’ala ma’a tahuran wa lam yaj’alu najisa

dan doa ini saat membasuh muka:

Allahumma bayyiz wajhiy yawma tusawwidul wujuh; wa la tusawwid wajhiy yawma tubyyizul wujuh

2. Membasuh tangan dari siku ke hujung jemari. Lurutkan tangan ke bawah dan tidak boleh naik ke atas saat membasuh tangan ke bawah. Mulakan pada tangan kanan dahulu baru diikuti oleh tangan kiri.

Bacalah doa ini saat membasuh tangan kanan:

Allahumma ‘atiniy kitabi bi yaminiy, wal khuda fil jinani bi yasariy, wa hasibniy hisaban yasira

Bacalah doa ini saat membasuh tangan kiri:

Allahumma la tu’tiniy kitabiy bi shimaliy, wa la min wara’i zahriy, wa la taj’alha maghluqatan ila ‘unuqi; wa a ‘uzu bika min muqatta ‘atin niyran

3. Mengusap kepala. Dengan sisa air wudu’ itu (tidak perlu mengambil air lagi), usapkan kepala dari bagian atas kepala turun ke anak rambut. Gunakan tangan kanan, bisa dgn satu jari sahaja, namun sebaik baiknya 3 jari.

Bacalah doa ini saat mengusap kepala:

Allahumma ghash-shiniy bi rahmatika wa barakatika wa ‘afwika

4. Mengusap muka kaki. Seperti kepala tadi, air yg masih tersisa pada tangan tadi di usapkan pada kaki, bermula dari hujung jari kaki hingga ke atas (menggunakan tapak tangan), iaitu pada mata kaki(pergelangan kaki). Kaki tidak boleh digerakkan saat mengusap, hanya tangan sahaja yg digerakkan (kaki juga bisa diusap dari mata kaki ke hujung jari) Gunakan tapak tangan kanan utk kaki kanan dan tapak tangan kiri utk kaki kiri.

Bacalah doa ini saat mengusap kaki:

Allahumma thab-bitniy ‘alas sirati yawma tuzillu fiyhil aqdam ; waj’al sa’iy fi ma urziyka ;anniy ; ya zul jalali wal ikram

**Adalah penting utk memperhatikan bahawa saat menyapu kepala dan kaki, kedua dua bagian itu harusnya tidak basah, pastikan keduanya tidak berair.

_______________________________________________________________

di sunni -ketika membahas nasikh-mansukh-ayat wudlu ini dijadikan dalil bolehnya sunnah mengapus hukum qur’an. Di antara dalilnya adalah berikut ini:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Asim al-Ahwal, dari Anas yang mengatakan bahwa Al-Qur’an menurunkan perintah untuk mengusap (kaki), sedangkan sunnah memerintahkan untuk membasuh(nya). Ibnu Katsir berkata Sanad atsar ini sahih.

Ibn Katsir berkata “Memang diriwayatkan dari segolongan ulama Salaf hal yang memberikan pengertian adanya wajib mengusap kaki ini.” kemudian ia membawakan dalil-dalilnya, di antaranya:

1. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Humaid yang mengatakan bahwa Musa ibnu Anas berkata kepada Anas, sedangkan kami saat itu berada di dekat¬nya, “Hai Abu Hamzah, sesungguhnya Hajaj pernah berkhotbah ke pada kami di Ahwaz, saat itu kami ada bersamanya, lalu ia menyebutkan masalah bersuci (wudlu). Maka ia mengatakan, ‘Basuhlah wajah dan kedua tangan kalian dan usaplah kepala serta basuhlah kaki kalian. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dari anggota tubuh anak Adam yang lebih dekat kepada kotoran selain dari kedua telapak kakinya. Karenanya basuhlah bagian telapaknya dan bagian luarnya serta mata kakinya’.” Maka Anas berkata, “Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya dan dustalah Al-Hajaj. Allah Swt. telah berfirman, ‘Dan usaplah kepala kalian dan kaki kalian’

2. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Qais Al-Khurrasani, dari Ibnu Juraij , dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa wudu itu terdiri atas dua basuhan dan dua sapuan.

3. Hal yang sama diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Al-Minqari, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mihran, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya “dan sapulah kepala kalian dan kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.”(al-Maidah: 6). Makna yang dimaksud ialah mengusap kedua kaki (bukan membasuhnya).

Yang aneh, kenapa ia justeru menyerang syi’ah dengan pernyataan: “Orang-orang yang menganggap wajib mengusap kedua kaki seperti mengusap sepasang khuf dari kalangan ulama Syi’ah, sesungguhnya pendapat ini sesat lagi menyesatkan.”

Apa hubungannya dengan syi’ah, kenapa ia tidak mengkritik salaf yang berpendapat demikian tapi malah syi’ah yang disesatkan? aneh…

Ada 3 Amalan Bersuci (QS. 4: 43 dan QS. 5: 6) dengan perintah mandi, membasuh dan mengusap:

1.Basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan

2.Sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

3. Sapulah mukamu dan tanganmu.(tayamum)

Perbedaan qira’at tidak mempengaruhi arti dan maksudnya. Membasuh kaki karena mengikuti perintah “membasuh muka” bertentangan dengan susunan kalimat yang fasih seperti dicontohkan pada perintah “mengusap muka”

Sunni sendiri umumnya mengakui bahwa ayat tersebut menyuruh mengusap kaki, hanya saja ada sunnah yang mewajibkan membasuh kaki. Sehingga ada yang membawa dalil sunnah tsb sebagai penjelas dan ada juga sebagai penghapus hukum ayat tersebut.

Bagi saya ayat-ayat perintah dalam al-Quran adalah penting. semoga kita tidak termasuk orang yang diadukan oleh Rasul SAW:

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. 25: 30)

Awas! Saudi Ubah Mekkah Jadi Las Vegas

Politik rezim Saudi dan juga paham Wahabisme yang berkuasa di negeri itu, pada akhirnya akan merusak seluruh warisan sejarah Islam di kota Mekkah. Satu-persatu situs-situs bersejarah di kota tuan rumah kiblat umat Islam itu akan dirusak dan digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit dan pusat-pusat perbelanjaan sehingga masyarakat dapat menyebut kota suci ini “Las Vegas Saudi.”Berdasarkan laporan Fars News, berbagai pemberitaan menunjukkan bahwa situs-situs bersejarah kota Mekkah akan dijadikan tumbal program mega-mewah berkedok perluasan Masjidul Harram.

Program pembangunan kereta cepat Mekkah, dan pengembangan wilayah sekitar Majidul Haram, termasuk program rezim Riyadh yang hingga kini telah merusak banyak situs-situs bersejarah Islam di kota ini.

Menurut para pejabat dan sejumlah pangeran Saudi, program tersebut mendatangkan keuntungan sangat besar bagi pemerintah. Beberapa waktu lalu, Basmah binti Saud bin Abdul Aziz al-Saud, dalam sebuah artikelnya mengungkap aksi korupsi jutaan dolar dalam program pembangunan kereta cepat Mekkah dan menulis, “Tentang program pembangunan kereta cepat Mekkah itu, semua orang tahu berapa dana yang dikeluarkan, seperti apa perencanaannya, desain dari Jepang, teknologi dari Amerika, dan mengusung kenyamanan dari Perancis, dengan dana melangit. Akan tetapi milik budaya mana menara jam besar di atas kota Mekkah yang berarsitek Inggris dan dengan ukiran Allahu Akbar itu? Desain gedung-gedung [sekitar kota Mekkah] sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesakralan Ka’bah… di Arab Saudi kita tengah tenggelam dalam pembangunan tempat-tempat hiburan megah.”

Koran Independent terbitan Inggris melaporkan bahwa situs-situs bersejarah kota Mekkah akan dirusak untuk menyediakan lahan pembangunan hotel-hotel mewah dan pusat-pusat perbelanjaan.

Perubahan pemandangan seperti itu mencuatkan gumaman sembunyi-sembunyi warga Saudi yang menyebut kota Mekkah telah berubah menjadi Las Vegas Saudi. Karena dalam 10 tahun terakhir, banyak situs-situs suci dan bersejarah Islam yang telah dirusak.

Tidak hanya sebagai tuan rumah jutaan jemaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia, namun kini setiap tahunnya Mekkah juga menerima kehadiran pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan mewah.

Bagi para penguasa Saudi, Mekkah adalah simbol kemajuan dan masa depan negara. Pencakar langit yang dibangun dengan pendapatan penjualan kekayaan minyak itu menjadi simbol kekuasaan dan kemegahan rezim al-Saud.

Setiap hari jumlah warga Saudi yang mengkhawatirkan politik keluarga kerajaan Saudi itu semakin bertambah, khususnya warga Mekkah dan Madinah yang menyaksikan langsung ketamakan rezim atas pembangunan gedung-gedung megah. Apalagi aksi tersebut didukung oleh para ulama Wahabi yang menentang pelestarian situs-situs bersejarah.

Pengembangan kota dijadikan alasan bagi rezim al-Saud yang ingin mengikis nilai-nilai sakral kota Mekkah dan Madinah. Namun di sisi lain banyak negara yang enggan menyuarakan protes atas aksi pemerintah Saudi itu. Selain Iran dan Turki, banyak negara yang lebih memilih bungkam daripada visa jemaah haji mereka dicabut.
(IRIB/MZ)

 

 

Jihad menurut Deskripsi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Rahbar ...Rahbar …

Belum lama ini, Indonesia kembali digoncang dengan ledakan bunuh diri di sebuah gereja, tepatnya di Gereja GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Aksi konyol ini sepertinya masih laku di kalangan militan yang tak terkoordinasi. Semangat jihad disalahpahami, bahkan cenderung disimpangkan sehingga kalangan militan yang bergelora di balik terminologi jihad, dimanfaatkan musuh dan konspirator untuk mengadu masyarakat beragama di Indonesia

Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj  mengutuk keras tindakan Ahmad Yosepa yang meledakkan bom di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Said bahkan menyebut, keyakinan para bomber yang akan disambut bidadari hanyalah gombal.

“Mereka ini berkeyakinan kalau sudah mati seperti ini (melakukan bom bunuh diri), begitu mati langsung disambut oleh pelukan bidadari. Keyakinan gombal itu,” kata Said Agil di GBIS Kepunton, Jalan Arief Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/9/2011) yang didampingi oleh Sekretaris Eksekutif Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Jeirry Sumampow dan Ketua Badan Antar-Gereja Kristen Surakarta Anton Karundeng.

Said dalam kesempatan itu, mengajak seluruh elemen bangsa terus bekerja keras untuk membentengi pengaruh kekerasan pada generasi muda, pelajar dan mahasiswa. Hal itu agar tidak ada lagi korban pemikiran radikal yang mengajarkan militan sehingga menganjurkan melakukan kekerasan atas nama agama.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengecam aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepuluh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah.

Terlebih tindakan itu dilakukaan saat jemaat gereja menunaikan ibadah mereka. Aksi itu pun dianggapnya tidak berprikemanusiaan dan hanya dilakukan oleh orang yang tak memiliki Tuhan.

“Aksi seperti itu tidak dapat dibenarkan dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertuhan,” katanya melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Ahad (25/9).

Ledakan bom di sebuah gereja Solo dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme yang ditentang agama, bukan jihad yang dinilai suci oleh agama. Terorisme sendiri sering muncul dengan mengatasnamakan agama. Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Padahal makna sebenarnya dari jihad dan mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil yang tidak terlibat dalam perang.

Pengertian Jihad Sesungguhnya

Jihad adalah perjuangan untuk sebuah tujuan yang tinggi dan suci. Salah satu medan jihad adalah keterlibatan dalam pertempuran bersenjata. Ada juga medan politik, medan ilmu, dan medan etika. Tolok ukur gerakan jihad adalah gerakan yang berjalan terarah dan siap berhadapan dengan rintangan yang kemudian bertekad kuat untuk menyingkirkannya. Inilah yang disebut perjuangan dalam deskripsi Jihad yang disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam salah satu pidatonya. Menurut Rahbar, jika perjuangan memiliki tujuan yang jelas dan misi ilahiyah, ketika itu ia akan menemukan sisi kesucian.
Lebih lanjut Rahbar menjelaskan, jihad bukan hanya berarti perang dan pergi ke medan pertempuran. Giat berusaha di medan ilmu, akhlak, politik dan penelitian bisa dikategorikan sebagai perjuangan dan jihad. Melahirkan budaya dan pemikiran yang benar di tengah masyarakat juga dikategorikan sebagai perbuatan jihad.

Melalui pemikiran, musuh mungkin dapat menyimpangkan pemikiran atau menjerumuskannya ke dalam kesalahan dan kekeliruan. Siapa saja yang gigih bekerja untuk mencerahkan pemikiran, mencegah penyimpangan dan menghalangi kesalahan berpikir di tengah masyarakat, berarti telah berjhad. Sebab, apa yang dilakukannya adalah melawan kemauan musuh. Untuk itu, pantaslah disebut jihad. Siapakah musuh itu? Yang dilawan dalam jihad atau musuh adalah kaum arogan, dan pihak-pihak yang memerangi martabat, kebangsaan, hati nurani dan keislaman.

Kitab suci Al-Qur’an memerintahkan agar kaum muslimin bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Lalu siapa yang dimaksudkan dengan kaum kafir itu? Dalam menjelaskan pertanyaan ini, Rahbar mengatakan, “Kita tidak semestinya bersikap keras terhadap semua orang hanya karena mereka tidak menerima Islam sebagai agama. Mereka yang tidak memusuhi kalian, tidak berkonspirasi terhadap kalian, tidak berpikir untuk menghabisi generasi dan bangsa kalian, walaupun mereka memeluk agama yang lain, maka kalian semestinya memperlakukan mereka dengan baik.”

“Orang kafir yang harus diperlakukan dengan keras bukanlah mereka. Kalian diperintahkan untuk bertindak keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang memerangi identitas, keislaman, kebangsaan, negara, kedaulatan, kemerdekaan, kemuliaan, harga diri, kehormatan, adat istiadat, budaya dan norma-norma suci kalian. Budaya seperti inilah yang harus tersosialisasikan di tengah masyarakat kita. Toleransi harus ada di antara kaum muslimin sendiri, ” jelas Rahbar.

Dua Unsur dalam Jihad
Salah satu poin menonjol di era awal Islam -sementara di zaman-zaman setelahnya jarang menonjol- adalah masalah budaya perjuangan dan jihad. Jihad bukan hanya berarti keterlibatan dalam medan perang. Sebab makna jihad meliputi segala usaha dan perjuangan dalam melawan musuh.

Memang terkadang kata jihad digunakan pula untuk menyebut perbuatan yang dilakukan dengan usaha keras. Tapi penggunaan istilah itu tidak tepat. Sebab dalam jihad ada satu syarat yang harus dipenuhi, yakni perbuatan itu harsu dilakukan dalam rangka melawan musuh. Perlawanan ini ada kalanya terjadi di medan perang bersenjata. Untuk model perlawanan ini digunakan istilah ‘Jihad Militer’. Terkadang perlawanan itu terjadi di arena politik sehingga layak untuk disebut dengan nama ‘Jihad Politik’. Satu waktu perlawanan itu terjadi di medan budaya sehingga disebut ‘Jihad Budaya’. Kadang pula terjadi di arena pembangunan, sehingga disebut dengan ‘Jihad Pembangunan’. Masih ada bermacam lagi bentuk jihad di medan-medan yang lain. Jadi tolok ukur dari jihad bukan terbatas pada pedang dan medan perang. Tolok ukurnya adalah pertarungan. Dalam pertarungan ini juga harus ada dua syarat yang lazim dipenuhi, yakni kerja keras dan perlawanan terhadap musuh.

Lebih lanjut Rahbar menjelaskan makna Jihad dan mengatakan, “Dalam jihad tak ada tempat untuk pelecehan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam jihad tak ada alasan untuk membunuh secara membabi buta. Dalam jihad tak ada kata membunuh siapa saja yang bukan muslim. Tidak benar bahwa setiap orang yang tak meyakini Islam harus diperlukan secara keras dan kasar. Yang harus diperlakukan dengan keras adalah mereka yang memerangi identitas, keislaman, independensi, kehormatan, kebudayaan, kedaulatan negeri, dan kesucian bangsa-bangsa Muslim. Dalam kaitan ini, jihad menjadi hukum yang diperintah oleh Allah.Jika perintah ini dilaksanakan, maka bangsa-bangsa Muslim akan terhormat.”

Rahbar di penghujung dekripsinya mengatakan, “Pelajaran penting yang diberikan oleh revolusi Islam kepada bangsa kita adalah budaya jihad. Budaya jihad ada di semua medan dan di segala bidang. Sejak awal revolusi Islam, semangat dan budaya jihad telah masuk menggerakkan pekerjaan infra struktur pertanian, peternakan dan lainnya. Revolusi ini telah melahirkan berbagai lembaga yang di dalam wujudnya ada gerakan dan gelora revolusi yang bergerak cepat dan bercorak jihad.”

.

Gelorakan Jihad Islam Hancurkan Zionis

/

Melihat Hegemoni Barat terutamanya Amerika terhadap perlakuan yang tidak adil USA dan sekutunya, terutama sikap standar ganda yang korup dan dzhalim atas sesama kaum muslimin dan nasib kaum mustadh’afin selama ini.Di mana kaum muslimin diberikan sanksi sebagai jaringan Teroris Internasional, sementara pada saat yang sama rezim jahat Israel dibiarkan sedemikian rupa menjajah Palestina, dan menguatkan cengkramannya atas kaum muslimin Palestina. Hal ini, kembali memperlihatkan kecongkakan dan tiraninya dengan melanggar kehormatan, mencemari lingkungan suci Masjdil Aqsha serta membunuhi umat Islam. Rezim ini telah menumpahkan darah para jamaah shalat dan memberondong seorang bocah kecil dalam pelukan ayahnya dengan peluru hingga gugur sebagai syahid. Adegan ganas dan brutal yang dilakukan rezim ini dalam kurun waktu 50 tahun sekarang kembali diperagakan, anehnya Amerika Serikat bungkam seribu bahasa. Bahkan melindungi dan membiarkan perlakuan Zionis Israel tersebut.

Kini kita lihat Tragedi Kemanusiaan di Iraq, setelah diberlakukan embargo ekonomi, kemudian dilucuti senjatanya atas nama PBB, apa yang yang kita perhatikan saat ini. Rezim Amerika dan tentara koalisi Inggris, Ausralia membombardir jutaan amunisi ke seluruh pelosok wilayah kedaulatan Irak. Tak ubahnya mereka sedang beronani di tengah-tengah penderitaan dan ketidak berdayaan rakyat Irak. Rezim ini berangan-angan bahwa mereka akan bisa memadamkan kobaran jihad untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebenaran yang tak kenal lelah. Mereka akan dapat melicinkan proses perdamaian dan memaksakan ambisi secara lebih keras terhadap pihak yang pro-perdamaian.

Namun sebagaimana yang kita ketahui, kejahatan ini pun tidak akan dibiarkan begitu saja. Praktik-praktik kotor dan khayalan-khayalan iblis dalam benak rezim Zionis pasti akan sia-sia. Aksi-aksi tak berprikemanusiaan yang penuh kebencian ini, sudah disusul dengan gelora protes warga muslim di seluruh antero dunia, kekuatan pasca tumbangnya Rusia (Uni Sovyet) ternyata kini beralih antara Amerika, Inggris dan seluruh kekuatan Eropa, Asia dan lainnya, semisal Perancis, Jerman, Rusia, China, dan negara-negara lainnya. Terbukti bahkan di negara aneksasi seperti Amerika, Inggris dan Australia sendiri gelombang besar secara bergantian memprotes serta mengutuk dengan aksi aksi demonya, tak terkecuali di belahan hampir di pelbagai negara Islam.

Tindakan koboi Amerika bak Drunkin Master dengan menembak seadanya tak peduli teman dan rekan sesamanya, terbukti telah banyak korban berjatuhan dari pihak tentara Inggris dan Kuwait akibat ulah tentara koboi Amerika. Jargon demokrasi yang dibawakan oleh Bush, kini nilai “The Dark Crime” dan “The Satanic War”, dimana korban tak dapat disangkal lagi berjatuhan dari pihak sipil (anak, istri dan keluarga serta masyarakat yang tak berdosa turut pula dimbantainya). Pasal dan traktat PBB yang mana lagi yang dipatuhi oleh Mr. Bush. War for Oil, demikian alih-alih menyebutnya, karenanya bila kran-kran oildistop ke Amerika kita yakin rakyat dan pemerintah USA, akan menyadari ternyata ketergantungan mereka pada sebahagian negara-negara produksen minyak adalah sangat besar.

Saatnya, kita boikot eksport minyak ke Amerika, dan beralih dengan penggunakan uang Euro, bila belum mungkin menggunakan real/dinar. Saatnya umat Islam bersatu, dibawah panji kebersamaan tauhid, sejarah telah menunjukkan dengan tegas bahwa Hizbullah (Libanon) negara kecil dapat membuat Israel hengkang dari negaranya, dan dipermalukan di dunia internasional. Karenanya gerakan intifadah menemukan spirit baru dan jalan jihad Islam semakin banyak diminati. “Umat Islam yang sadar dan waspada menggelar demonstrasi besar-besaran dan penuh dengan gelora semangat untuk meneriakkan slogan-slogan kebenaran, selanjutnya mendesak pemerintah negara-negara Islam agar membuka jalan jihad dan mengizinkan warga muslim untuk menunaikan tugas ini sebagai satu-satunya jalan demi mengusir para penjajah dari tanah-tanah pendudukan, serta memulangkan warga Palestina ke tanah air dan kampung halaman mereka.

Telah cukup melelahkan mereka, segala upaya dan jalur diplomatik yang ditempuh oleh media Internasional (baca:PBB), yang telah membuahkan hasil resolusi berupa kutukan dan ancaman kepada Israel, tetapi pada saat yang sama itu semua dianggapnya sebagai isapan jempol, dan angin lalu saja. Namun standar ganda ini berbeda dengan Irak, sekali negara muslim Irak ini melanggar resolusi PBB, maka saat itu pula kutukan dan kecaman dan bahkan serangan USA serta sekutu membenarkan atasnya. Nampaknya dunia kian melek, bahwa gelombang kutukan terhadap rezim penjajah Irak maupun Palestina sekarang kian merebak serta meredupkan proses perdamaian. Hal ini akan semakin memperjelaskan kesia-siaan proses perdamaian tersebut di depan mata semua orang.

Dukungan materi, spirit, dan politik kini semakin tercurah kepada gerakan-gerakan

jihad dan intifadah. Dan, pada akhirnya dunia yang sadar akan membenarkan tindakan bom bunuh diri sebagai gerakan perlawanan membela diri atas agresor Israel.

Gembar-gembor mereka yang mengaku pembela HAM sekarang sia-sia. Deru gendering skandal para penyokong Israel sudah terdengar sehingga sebagian besar dari mereka bahkan terpaksa turut mengutuk kejahatan rezim Zionis. Tragedi terkutuk ini dilakukan dengan tujuan memaksakan ambisi-ambisi kotor para penguasa Zionis terhadap pihak yang pro perdamaian. Namun, bangsa Palestina yang pemberani mengecam perundingan damai. Bangsa ini akan menyempitkan ruang pihak-pihak yang pro perdamaian, selanjutnya akan mengubah status mereka yang hina.

Perjuangan dengan janji-janji kemenangan dari Allah, suatu hari nanti pasti akan berhasil; Tanah-tanah yang terampas akan bebas dan modal harta kekayaan yang terjarah akan kembali kepada yang berhak. “Semangat ini bergelora sebagai lanjutan atas perjuangan rakyat Palestina dan dikobarkan oleh generasi muda yang tergodok oleh revolusi maupun jihad, dengan mengandalkan berbagai pengalaman berharga mereka. Ini menandakan bahwa generasi sekarang telah menemukan jalan yang benar untuk merebut kemenangan dan akan menempuhnya dengan tekad yang bulat”. Sepatutnya kita atas nama warga cinta keadilan dan damai mengucapkan selamat kepada seluruh bangsa Palestina dan Irak yang teraniaya, khususnya yang menempuh jalan jihad dan intifadah. Kabar gembira untuk Anda semua bahwa kebangkitan Anda kian hari kian mendapat sambutan dari umat Islam dan kaum revolusioner. Dan para penjajah akan kembali ke tempat asal mereka. Insyaallah.

Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah, mengabadikan do’a yang diajarkan datunya dengan nama “Do’a Li ahli Tsughuur” untuk Pejuang di Medan Perang sebagai berikut:

“Ya Allah sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, Kuatkan pertahanan kaum muslimin dengan kekuasaan-Mu, Kokohkan para pembelanya dengan kekuatan-Mu. Banyakkan bekal mereka dengan kekayaan Mu….Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Banyakkan bilangan mereka. Tajamkan senjata-senjata mereka. Jaga daerah mereka. Pertahankan medan mereka, Persatukan pasukan mereka…. Ketika mereka berjumlah dengan para musuh mereka, lupakan mereka (kaum muslimn) pada kenangan dunia mereka yang mengecoh dan menipu. Hapuskan bisikan mereka dari godaan harta yang penuh cobaan. Jadikan surga di depan mata mereka apa yang telah Kau persiapkan di dalamnya, tempat tinggal yang kekal, rumah kemuliaan, bidadari cantik jelita, sungai yang memancarkan macam-macam minuman, pohon-pohon rindang yang direndahkan, sehingga mereka tidak sekali-kali berniat lari dan juga tidak terlintas keinginan untuk desersi.”

Sekali lagi “Ma aktsaru ‘ibar wa aqollul i’tibar” betapa banyak peristiwa dan kejadian, namun sedikit sekali kita mengambil pelajaran (Imam Ali, Nahjul Balaghah).

Bila kita berniat mengambil pelajaran atas invansi Amerika dan koalisi terhadap

Iraq, dan bahkan tidak menutup kemungkinan kepada negara satu-satunya di dunia yang menggunakan nama Islam (yaitu Republik Islam Iran) dan Syria yang di dalamnya terdapat Hizbullah, maka mari kita bersatu singsingkan segala bentuk perbedaan dan ikhtilaf apa pun yang tak berdasar. Tuhan kita satu Allahu Rabbi, Kitab kita satu Al-Qur’anul Karim, Nabi kita satu Muhammad Rasulullah SAW, Kiblat kita satu Ka’batul Musyarrafah, dst. Jelas bahwa musuh kita pun semestinya satu alias sama yaitu Zioinisme Israel, dan Syetan serta Dajjal yang berlindung di jubah demokrasi baik itu Amerika, Inggris, dsb. Arru’yah al Kauniyah (pandangan alam semesta) secara benar kaum muslimin setidaknya dapat mengantarkan performa hubungan antara kebaikan dan keburukan. Jangan-jangan nasib buruk yang menimpa kaum muslimin di sebahagian besar belahan dunia, tak lain kain performa kelalaian, kepicikan, dan cara pandang yang salah selama ini terhadap siapa sebenarnya musuh kita.

Sekali lagi kami bagian dari kaum muslimin di Indonesia masih tetap melanjutkan dukungan dan restunya atas gerakan suci ini dengan penuh rasa bangga. Atas perjuangan rakyat Palestina dan rakyat Irak atas agresor Israel dan Amerika, Doa kami mengiringi setiap langkah putra-putri terbaik Anda, gerakan perlawanan Anda semakin membuka jalan yang panjang bagi mereka untuk lebih mengetahui lagi, bahwa kelanjutan do’a di atas :

“Ya Allah, dengan begitu, kalahkan musuh kaum muslimin, gunting taring-taring

mereka, pisahkan mereka dari senjata mereka, lepaskan ikatan hati mereka, jauhkan mereka dari perbekalan mereka, kacaukan mereka di jalan-jalan antara mereka sendiri, sesatkan mereka dari tujuan mereka sendiri, putusasakan bala bantuan mereka, kurangi bilangan mereka, penuhi hati hati mereka dengan (bayang-bayang) ketakutan, tahan tangan mereka dari penyerangan, ikat lidah mereka dari pembicaraan, cerai beraikan orang-orang di belakang mereka, putuskan Ya Allah dengan kekalahan.”

Iran dan Syi’ah Imamiyah berambisi pimpin dunia Islam ! Sunni sejarah silam

Tuesday, 20 September 2011 17:23 PDF Print E-mail
Pidato Rahbar di Konferensi Kebangkitan Islam Pertama

Ratusan ulama, cendekiawan, intelektual, sosiolog dan sejarahwan Muslim dari berbagai belahan dunia, khususnya Dunia Islam hari ini memulai pertemuan pertama Konferensi Internasional Tehran yang membahas kebangkitan dunia Islam. Konferensi dibuka hari Ahad (18/9) dengan pidato Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei.Dalam pidatonya, Rahbar menyebut kebangkitan Islam dan kematangan umat Islam sebagai fenomena yang mendobrak dinding-dinding kepungan arogansi dan kediktatoran. Beliau menjelaskan identitas kebangkitan rakyat dan revolusi yang terjadi di kawasan seraya mengungkapkan patologi dan tantangan yang menghadang di tengah perjalanan gerakan agung ini serta solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada.

“Kebangkitan umat yang penuh berkah ini berhasil menyentak setan-setan di kawasan dan menjatuhkan kekuasaan boneka-boneka musuh yang berbahaya. Meski demikian, dengan tawakkal kepada Allah, mengambil pelajaran dari sejarah kontemporer Dunia Islam dan mengandalkan akal, tekad dan keberanian, fenomena yang mengalir di kawasan ini harus dimenej dengan baik untuk sampai ke tujuan,” kata beliau.

Seraya menyinggung bahwa transformasi sosial yang besar memerlukan dukungan faktor sejarah dan peradaban, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut keterlibatan figur-figur pemikiran dan jihad di tengah medan yang menentukan dalam sejarah 150 tahun negeri-negeri Muslim dan kegagalan rezim-rezim dependen kepada Barat dan Timur sebagai faktor yang melahirkan kondisi saat ini.

“Dalam kaitan ini, kemenangan revolusi Islam (di Iran) dan pengaruh pemerintahan Republik Islam yang kokoh, kuat, berani dan maju tak diragukan telah menjadi babak baru yang signifikan dalam menganalisa dan mengabadikan hakikat sejarah yang terjadi saat ini di Dunia Islam,” imbuh beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyatakan bahwa keterlibatan rakyat secara aktif di medan amal, perjuangan dan jihad adalah unsur terpenting yang membentuk transformasi saat ini. Mengenai perbedaan mendalam antara gerakan yang melibatkan massa dengan gerakan sosial lainnya, beliau menegaskan, “Transformasi yang mengandalkan rakyat ibarat kalimah tayyibah Ilahi dimana partisipasi rakyat yang menentukan akan membentuk masa depan yang ideal dan tak memberi peluang bagi terjadinya penyimpangan dan konspirasi kalangan elit dan anasir susupan yang kotor dengan musuh.”

Beliau mengingatkan kembali akan slogan yang diusung rakyat dalam gerakan kebangkitan yang terjadi di kawasan. Menurut beliau, slogan-slogan itu menunjukkan prinsip, nilai dan tujuan dari gerakan-gerakan revolusi di kawasan. “Di antara prinsip utama gerakan revolusi di kawasan adalah menghidupkan kembali kehormatan dan harga diri yang sudah dinistakan oleh para diktator dan korup dan bergantung pada Barat dan Amerika Serikat (AS),” kata beliau.
Menurut beliau, pekikan slogan Islam yang membahana dalam revolusi-revolusi ini membuktikan dalamnya keimanan dan keyakinan rakyat di kawasan.

Prinsip lain dari gerakan revolusi ini adalah kegigihan dalam melawan pengaruh dan hegemoni AS dan Eropa yang menghinakan serta semangat perlawanan anti rezim penjajah Zionis. Kepada para peserta konferensi, beliau mengatakan, “Zionis dan Barat mengerahkan segenap kekuatan untuk menolak kenyataan ini. Tetapi, realita tak mungkin bisa diubah dengan pengingkaran dan penolakan.”
Rahbar mengecam keras tindakan Barat yang berusaha memperoleh bagian dari gerakan revolusi rakyat di kawasan seraya menandaskan, “Kubu hegemoni yang mati-matian berupaya mempertahankan kekuasaan rezim-rezim korup, diktator dan dependen tidak berhak menuntut bagian dari kemenangan revolusi ini.”

Beliau juga mempersoalkan intervensi AS dan NATO di Libya dan menyebut tindakan itu telah menghancurkan infrastrukur Libya dan menimbulkan kerugian yang sangat besar. “Jika tidak ada intervensi ini, mungkin rakyat Libya akan sedikit lebih lambat dalam memperoleh kemenangan. Akan tetapi pembunuhan warga sipil dalam jumlah besar ini tak akan pernah terjadi, selain itu, pihak-pihak yang sebelumnya bersahabat dengan Qaddafi tak bisa menuntut hak dari kemenangan rakyat yang mazlum ini,” tegas beliau.

Di bagian kedua pidato pembukaan ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam membahas patologi dan tantangan yang ada dalam gerakan revolusi. Seraya menjelaskan pengalaman bangsa Iran dalam menghadapi berbagai tantangan, beliau membagi tantangan dan patologi revolusi ke dalam dua kategori, yaitu ancaman internal dan ancaman yang dirancang oleh musuh.

Seraya mengingatkan bahwa kesenangan pasca kemenangan yang berujung pada melemahnya tekad dan semangat adalah bahaya internal pertama dari gerakan kebangkitan Islam. “Bahaya yang lebih besar muncul ketika sejumlah orang berambisi meraih bagian dan keuntungan sendiri,” imbuh beliau.

Beliau menambahkan, bahaya internal lainnya adalah rasa gentar menghadapi kekuatan lawan, percaya kepada musuh dan terjebak dalam jerat senyum dan tipuannya, kelalaian akan makar musuh, kesombongan, perselisihan di antara sesama, dan kekacauan di belakangan front perjuangan. “Semua masalah ini harus dihindari sekuat mungkin dan dengan mengerahkan keberanian, kearifan, tekad dan kegigihan, seluruh kekuatan yang Allah berikan mesti dimanfaatkan untuk meraih kemenangan-kemenangan yang datang silih berganti,” kata beliau.
Ayatollah al-Udma Khamenei mengingatkan akan konspirasi musuh untuk memasang boneka-boneka baru di kawasan seraya menegaskan,, “Jika skenario musuh ini berhasil dipatahkan oleh rakyat, kubu hegemoni akan menggunakan cara-cara yang lain untuk kembali menguasai keadaan.”
Kepada para cendekiawan Dunia Islam beliau mengatakan, “Jika taktik-taktik yang ada tidak membuahkan hasil, musuh akan membuat skenario lain seperti menebar kekacauan, melakukan teror, mengadu domba di antara berbagai kelompok bahkan menyulut perang antara satu negara dengan negara tetangga. Musuh juga akan melakukan embargo ekonomi, menebar perang urat saraf yang gencar dan memburukkan citra kubu-kubu yang baik dan benar dengan tujuan membuat rakyat kecewa dan putus asa. Dengan cara itu mereka berusaha menggagalkan revolusi-revolusi ini.”

Dalam pembicaraannya, Rahbar menekankan soal tawakkal kepada Allah Swt, yakin akan kebenaran janji pertolongan Ilahi, penggunaan logika yang benar, mengerahkan tekad dan keberanian, kehadiran selalu di tengah medan, tak mengenal kata letih dalam berjuang dan berkorban di jalan Allah, menghindari kelalaian dan kesombongan serta syukur kepada Allah.

“Jangan pernah mempercayai AS dan NATO serta senyuman dan iming-iming yang ditebarkan rezim-rezim yang keji seperti Inggris, Italia dan Perancis. Tolak resep yang mereka tawarkan dan carilah solusi yang benar dari Islam dan sumber-sumbernya,” tegas beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei mengimbau semua pihak agar menghindari perselisihan kelompok, suku, dan madzhab untuk bisa mengatasi masalah-masalah yang ada.

Kepada kalangan cendekiawan Dunia Islam beliau berpesan untuk mengakui adanya perbedaan lalu mengendalikannya dengan benar. “Kesepahaman di antara madzhab-madzhab Islam adalah kunci keselamatan. Mereka yang sibuk mengkafirkan pihak-pihak lain dan menebar api fitnah perselisihan, sadar atau tidak, telah menjadi kaki tangan setan.”

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Kita harus menentukan tujuan akhir yaitu mewujudkan umat yang satu, membentuk peradaban Islam baru yang dilandasi agama, logika, ilmu dan akhlak.”

Rahbar juga menyebut pembebasan Palestina dari cengkeraman kaum Zionis sebagai salah satu tujuan yang besar. “Generasi muda Islam di negeri-negeri Muslim punya potensi untuk mewujudkan cita-cita ini. Untuk itu rasa percaya diri harus dihidupkan pada diri mereka,” kata beliau.

Pada kesempatan itu, beliau memaparkan dua hal penting, yaitu pertama, peran serta rakyat dalam mengelola negara dengan menerapkan sistem kerakyatan yang agamis, dan kedua pemisahan yang cermat antara keislaman dengan kejumudan dan ekstrimisme.

Di bagian akhir, Rahbar menyatakan, kebangkitan Islam adalah sebuah fenomena yang menyeluruh saat ini di kawasan yang mesti di kelola dengan benar.

“Ketaqwaan dalam maknanya yang tinggi, luas, dan mendalam, penolakan terhadap dikte kaum kafir dan munafik, dan tawakkal kepada Allah adalah panduan Ilahi untuk semua masa khususnya di masa-masa yang menentukan untuk umat Islam seperti ini. Jika diamalkan dengan baik, maka kebangkitan Islam ini dengan izin Allah akan sampai ke tujuan dan cita-citanya,” tegas beliau.
Setelah menyampaikan pidato ini, Ayatollah al-Udzma Khamenei menemui para cendekiawan Dunia Islam dan terlibat berbincangan dengan para peserta Konferensi Internasional Tehran

.

Saturday, 24 September 2011 12:51 PDF Print E-mail
Iran Aktualita (20 September 2011)

Konferensi internasional perdana Kebangkitan Islam, digelar Sabtu (17/9) di Tehran dan dibuka dengan pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, atau Rahbar, dan ditutup pada hari Ahad (18/9). Dalam konferensi tersebut hadir sekitar 600 tokoh dari 80 negara dunia Islam dan juga para cendikiawan dari Eropa dan Amerika Serikat.Pelaksanaan konferensi itu dinilai penting mengingat kehadiran ratusan cendikiawan dan pemikir dunia Islam. Adapun yang melipatgandakan pentingnya konferensi itu adalah transformasi terkini di kawasan dan revolusi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara. Pidato Rahbar pada pembukaan konferensi itu pada hakikatnya merupakan sebuah penjelasan “peta jalan” dalam menjaga kebangkitan Islam di negara-negara regional dari makar para penguasa Barat yang ingin mendistorsi arah gerakan rakyat.

Dalam pidatonya, Rahbar menyebut kebangkitan Islam dan kematangan umat Islam sebagai fenomena yang mendobrak dinding-dinding kepungan arogansi dan kediktatoran. Beliau menjelaskan identitas kebangkitan rakyat dan revolusi yang terjadi di kawasan seraya mengungkapkan patologi dan tantangan yang menghadang di tengah perjalanan gerakan agung ini serta solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Seraya menyinggung bahwa transformasi sosial yang besar memerlukan dukungan faktor sejarah dan peradaban, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut keterlibatan figur-figur pemikiran dan jihad di tengah medan yang menentukan dalam sejarah 150 tahun negeri-negeri Muslim dan kegagalan rezim-rezim dependen kepada Barat dan Timur sebagai faktor yang melahirkan kondisi saat ini.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyatakan bahwa keterlibatan rakyat secara aktif di medan amal, perjuangan dan jihad adalah unsur terpenting yang membentuk transformasi saat ini. Mengenai perbedaan mendalam antara gerakan yang melibatkan massa dengan gerakan sosial lainnya, beliau menegaskan,

Beliau mengingatkan kembali akan slogan yang diusung rakyat dalam gerakan kebangkitan yang terjadi di kawasan. Menurut beliau, slogan-slogan itu menunjukkan prinsip, nilai dan tujuan dari gerakan-gerakan revolusi di kawasan. “Di antara prinsip utama gerakan revolusi di kawasan adalah menghidupkan kembali kehormatan dan harga diri yang sudah dinistakan oleh para diktator dan korup dan bergantung pada Barat dan Amerika Serikat (AS),” kata beliau.

Menurut beliau, pekikan slogan Islam yang membahana dalam revolusi-revolusi ini membuktikan dalamnya keimanan dan keyakinan rakyat di kawasan.

Prinsip lain dari gerakan revolusi ini adalah kegigihan dalam melawan pengaruh dan hegemoni AS dan Eropa yang menghinakan serta semangat perlawanan anti rezim penjajah Zionis. Kepada para peserta konferensi, beliau mengatakan, “Zionis dan Barat mengerahkan segenap kekuatan untuk menolak kenyataan ini. Tetapi, realita tak mungkin bisa diubah dengan pengingkaran dan penolakan.”

Di bagian kedua pidato pembukaan ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam membahas patologi dan tantangan yang ada dalam gerakan revolusi. Seraya menjelaskan pengalaman bangsa Iran dalam menghadapi berbagai tantangan, beliau membagi tantangan dan patologi revolusi ke dalam dua kategori, yaitu ancaman internal dan ancaman yang dirancang oleh musuh.

Seraya mengingatkan bahwa kesenangan pasca kemenangan yang berujung pada melemahnya tekad dan semangat adalah bahaya internal pertama dari gerakan kebangkitan Islam. “Bahaya yang lebih besar muncul ketika sejumlah orang berambisi meraih bagian dan keuntungan sendiri,” imbuh beliau.

Beliau menambahkan, bahaya internal lainnya adalah rasa gentar menghadapi kekuatan lawan, percaya kepada musuh dan terjebak dalam jerat senyum dan tipuannya, kelalaian akan makar musuh, kesombongan, perselisihan di antara sesama, dan kekacauan di belakangan front perjuangan. “Semua masalah ini harus dihindari sekuat mungkin dan dengan mengerahkan keberanian, kearifan, tekad dan kegigihan, seluruh kekuatan yang Allah berikan mesti dimanfaatkan untuk meraih kemenangan-kemenangan yang datang silih berganti,” kata beliau.

Ayatollah al-Udma Khamenei mengingatkan akan konspirasi musuh untuk memasang boneka-boneka baru di kawasan seraya menegaskan,, “Jika skenario musuh ini berhasil dipatahkan oleh rakyat, kubu hegemoni akan menggunakan cara-cara yang lain untuk kembali menguasai keadaan.”

Kepada para cendekiawan Dunia Islam beliau mengatakan, “Jika taktik-taktik yang ada tidak membuahkan hasil, musuh akan membuat skenario lain seperti menebar kekacauan, melakukan teror, mengadu domba di antara berbagai kelompok bahkan menyulut perang antara satu negara dengan negara tetangga. Musuh juga akan melakukan embargo ekonomi, menebar perang urat saraf yang gencar dan memburukkan citra kubu-kubu yang baik dan benar dengan tujuan membuat rakyat kecewa dan putus asa. Dengan cara itu mereka berusaha menggagalkan revolusi-revolusi ini.”

Dalam pembicaraannya, Rahbar menekankan soal tawakkal kepada Allah Swt, yakin akan kebenaran janji pertolongan Ilahi, penggunaan logika yang benar, mengerahkan tekad dan keberanian, kehadiran selalu di tengah medan, tak mengenal kata letih dalam berjuang dan berkorban di jalan Allah, menghindari kelalaian dan kesombongan serta syukur kepada Allah.

Ditegaskan beliau, “Jangan pernah mempercayai AS dan NATO serta senyuman dan iming-iming yang ditebarkan rezim-rezim yang keji seperti Inggris, Italia dan Perancis. Tolak resep yang mereka tawarkan dan carilah solusi yang benar dari Islam dan sumber-sumbernya”.

Ayatollah al-Udzma Khamenei mengimbau semua pihak agar menghindari perselisihan kelompok, suku, dan madzhab untuk bisa mengatasi masalah-masalah yang ada.

Kepada kalangan cendekiawan Dunia Islam beliau berpesan untuk mengakui adanya perbedaan lalu mengendalikannya dengan benar. “Kesepahaman di antara madzhab-madzhab Islam adalah kunci keselamatan. Mereka yang sibuk mengkafirkan pihak-pihak lain dan menebar api fitnah perselisihan, sadar atau tidak, telah menjadi kaki tangan setan.”

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, terbang ke New York untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB ke-66.

Sebelum bertolak menuju New York, Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad Senin, 19 September menekankan perlunya reformasi terhadap manajemen dunia yang tidak adil.
Ahmadinejad mengatakan, “Kehadiran aktif negara-negara berpengaruh dan mempunyai ide cemerlang seperti Iran di sidang Majelis Umum PBB sangat berperan penting dalam memperbaiki ketidakadilan manajemen dunia.

Beberapa agenda Ahmadinejad dalam kunjungannya ke New York Adalah bertemu dengan berbagai kelompok rakyat Amerika, warga Iran, berdialog dengan para mahasiswa dari sejumlah universitas dan menghadiri konferensi pers serta wawancara khusus dengan media-media berpengaruh di AS.

Ahmadinejad mengatakan bahwa setelah kunjungannya ke New York usai, ia akan melanjutkan safarinya ke Venezuela guna mengadakan rapat komisi bersama kerjasama antarkedua negara.

Ahmadinejad juga mengatakan bahwa setelah berkunjung ke Venezuela ia akan melanjutkan lawatannya ke Mauritania dan Sudan. Ia menekankan bahwa pertemuan dengan para pejabat negara-negara tersebut selain membahas hubungan bilateral, yang lebih penting adalah membahas masalah regional dan internasional.

Arab Saudi, “Saudara Kembar” Barat

Wednesday, 28 September 2011 17:18 PDF Print E-mail
Arab Saudi, “Saudara Kembar” Barat

Mengapa Barat segera mengeluarkan dua resolusi Dewan Keamanan PBB (DK) PBB untuk intervensi militer di Libya? Namun pada saat yang sama, Barat membiarkan kebangkitan rakyat di Yaman dan Bahrain, bahkan cenderung membungkam diri dalam menyikapi pembantaian rakyat oleh dua rezim tersebut.Kebahagiaan rakyat Yaman ternyata tidak bertahan lebih dari tiga bulan setelah diktator Ali Abdullah Saleh kembali ke negaranya pada hari Jumat (23/9/2011). Dengan kembalinya Presiden Abdullah Saleh ke Yaman sulit terjadi perubahan damai di negara ini. Semenjak Abdullah Saleh kembali ke Yaman, ratusan warga tewas di tangan pasukan keamanan.

Tiga bulan lalu, Abdullah Saleh terpaksa diterbangkan ke Arab Saudi untuk perawatan medis setelah sebuah roket menghantam istana kepresidenannya. Pada hari-hari pertama keberadaan Saleh di Arab Saudi, informasi simpang siur terkait kematian diktator Yaman membuat rakyat negara ini berbahagia. Bahkan tidak sedikit dari masyarakat Yaman yang sudah menggelar pesta atas berita kematian Abdullah Saleh.

Akan tetapi keluarga Arab Saudi tidak membiarkan rakyat Yaman senang. Arab Saudi tetap memberikan dukungan penuh kepada diktator Abdullah Saleh yang memimpin Yaman selama 32 tahun. Meski Abdullah Saleh meninggalkan Yaman, namun anak-anak, keluarga Abdulllah serta kroni-kroni politik, ekonomi dan militernya yang didukung penuh Arab Saudi, terus bersikeras mengendalikan Yaman.

Abdullah Saleh, “Tameng” AS

Tidak adanya konsolidasi yang tangguh dan kepemimpinan yang solid di kalangan revolusioner Yaman disebut-sebut sebagai penghalang utama lanjutnya revolusi negara ini ke level berikutnya. Selain itu, ada intervensi asing yang terus mengganggu kebangkitan rakyat Yaman. Arab Saudi mempunyai peran penting untuk mencegah lengsernya rezim Abdullah Saleh. Setelah tak mampu menghentikan revolusi rakyat Yaman tanpa Abdullah Saleh, Arab Saudi mengembalikan kembali Presiden Yaman ke Sanaa.

Keluarga Saudi menyebut Yaman sebagai wilayah kekuasaannnya. Diktator Abdullah Saleh dapat bertahan lama di kursi kekuasaan karena dukungan penuh keluarga kerajaan Arab Saudi. Dengan memanfaatkan struktur kesukuan, Arab Saudi dapat mengendalikan wilayah Yaman melalui tangan besi Abdullah Saleh. Arab Saudi sendiri mendapat dukungan penuh dari AS dan Eropa untuk menerapkan politik anti-rakyat. Padahal AS dan Eropa selama ini, mengklaim dirinya sebagai pembela hak-hak asasi manusia. Namun pada saat yang sama, Barat memberikan ruang kepada Arab Saudi untuk bersikap brutal dan arogan di kawasan.
Selama 32 tahun berkuasa, Abdullah Saleh menjadi mitra setia AS dan penjamin kepentingan Gedung Putih di Selat Bab-el-Mandeb dan Laut Merah. Dalam beberapa tahun terakhir ini, khsususnya pasca Tragedi 11 September, Yaman menjadi strategi khusus AS dalam rangka memerangi hal yang diistilahkan dengan terorisme. Menurut para pejabat Gedung Putih, mengingat struktur kesukuan dan negara tetangga dengan Arab Saudi, Yaman dijadikan sebagai tempat persembunyian Al-Qaeda.

Hubungan dekat Ali Abdullah Saleh dengan Washington telah menjadikan Yaman sebagai alat politik dan negara yang siap dibombardir ketika Gedung Putih menghendakinya. Bahkan Abdullah Saleh siap menyatakan bahwa serangan militer AS ke sejumlah wilayah Yaman dilakukan oleh tentara lokal Yaman. Hal itu sengaja disampaikan Abdullah Saleh untuk mencegah sentimen luas rakyat Yaman terhadap AS. Ini mencerminkan bahwa Abdullah Saleh siap menjadi tameng AS.

Struktur masyarakat negara ini berlandaskan pada aspek kesukuan. Dengan memanfaatkan perselisihan antarsuku, Abdullah Saleh mampu mengokohkan kursi kekuasaannya hingga berpuluh-puluh tahun. Bahkan sejumlah pihak menyebutnya sebagai “Sang Musang”. Kini, “Sang Musang” kembali ke negaranya untuk dimanfaatkan melawan revolusi rakyat Yaman.

Namun Ali Abdullah Saleh lupa bahwa kebangkitan rakyat Yaman bukanlah friksi suku. Kebangkitan rakyat Yaman kali ini tidak dapat disamakan dengan perseteruan antarsuku. Pada kebangkitan ini, semua pemuda terlibat dan terjun di kancah. Mereka menghendaki kebebasan, independensi yang nyata, kemuliaan dan kehidupan yang bermartabat dan makmur.

Kebangkitan Islam di Yaman tidak akan pernah padam. Upaya Saudi untuk mempertahankan diktator Abdullah Saleh hanya akan menghasilkan pertumpahan darah dalam skala luas. Tidak ada jalan lain bagi Abdullah Saleh kecuali mengundurkan diri dan mengapresiasi perubahan seutuhnya sesuai kehendak rakyat.

Pertanyaan-Pertanyaan ke Barat

Tak dapat diabaikan peran Barat, khususnya AS, dalam memberangus revolusioner Yaman dan mempertahankan kekuasaan lalim yang dikendalikan Abdullah Saleh. Muncul sebuah pertanyaan yang harus digarisbawahi; Apakah perbedaan antara Muammar Gaddafi dan Ali Abdullah Saleh? Bukankah keduanya adalah pemimpin diktator dan arogan yang menggunakan cara militer dan kekerasan dalam memerintah rakyat? Mengapa Barat segera mengeluarkan dua resolusi dalam menyikapi fenomena di Libya? Namun pada saat yang sama, mengapa Barat tidak mereaksi apa yang terjadi di Yaman dan Bahrain, bahkan cenderung mengabaikannya? Bukankah langkah ini sama halnya dengan memberi lampu hijau bagi penguasa untuk terus brutal membantai rakyat?

Mengapa Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, menggelar pertemuan khusus untuk membantu revolusioner Libya? Namun pada saat yang sama, mengapa mereka tidak melakukannya untuk Yaman? Apakah perbedaan antara masyarakat Libya dan Yaman? Selama ini, negara-negara Barat mengklaim diri mereka sebagai pembela hak asasi manusia, demokrasi dan slogan-slogan kemanusiaan. Untuk itu, mereka harus menjawab semua pertanyaan ini.

Di Libya, banyak cadangan minyak. Dengan menunjukkan solidaritas terhadap kebangkitan rakyat di Libya, Barat berharap dapat mengendalikan sumber-sumber minyak di negara ini. Namun., Yaman tidak mempunyai cadangan besar minyak seperti Libya. Untuk itu, Barat tidak mempunyai kepentingan spesifik di negara ini.

Selain itu, Yaman dikendalikan oleh Arab Saudi yang juga mitra strategis AS. Kebangkitan Islam di kawasan, tentunya membuat keluarga Saudi kelimpungan. Dengan lengsernya para penguasa di kawasan , Arab Saudi akan kehilangan status “Saudara Besar” yang selalu mengawal para diktator di kawasan.

Kebangkitan Islam telah sampai pada negara-negara perbatasan Arab Saudi. Ini tentunya sinyal bahaya bagi kerajaaan Saudi. Selama ini, Arab Saudi menggunakan uang hasil penjualan minyaknya untuk mengendalikan negara-negara tetangga. Dengan kemungkinan lengsernya Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Al-Khalifah di Bahrain, mungkinkah Arab Saudi mengendalikan negara-negara tetangga dengan bahasa uang?! Karena itu, Arab Saudi tetap bersikeras untuk mempertahankan rezim-rezim diktator di kawasan, khususnya Yaman dan Bahrain.

Mengingat Arab Saudi adalah mitra baik Barat, maka Barat, khususnya AS, tidak mereaksi intervensi militer Arab Saudi ke Yaman dan Bahrain. Barat hanya bisa menyaksikan brutalitas di Yaman dan Bahrain tanpa komentar apapun. Bagi Barat, ancaman bagi Arab Saudi sama halnya dengan ancaman semua kepentingan Barat di kawasan. Pantaslah Arab Saudi disebut sebagai “Saudara Kembar” Barat di kawasan

.

Friday, 30 September 2011 09:41 PDF Print E-mail
Saudi Jadi Pasar Obral Produk Israel
Berbagai laporan menunjukkan, meski para pejabat Riyadh mengklaim memberlakukan boikot produk-produk dari Tel Aviv, namun pada hakikatnya Arab Saudi telah menjadi pasar obral produk-produk Israel.Fars News (30/9) mengutip laporan situs al-Intiqad menyebutkan, Kementerian Perdagangan dan Industri Arab Saudi dalam statemenya menjelaskan bahwa produk-produk Israel itu dimasukkan ke pasar negara ini oleh perusahaan-perusahaan asing dan Arab.

Dalam statemen itu disebutkan pula bahwa perusahaan-perusahaan Arab bekerjasama dengan perusahaan dagang Israel telah merambah ke sektor pertanian dan pupuk-pupuk produksi Israel dijual di pasar Saudi.

Seraya menganggap remeh masalah tersebut, Kementerian Perdagangan dan Industri Arab Saudi, hanya memperingatkan perusahaan-perusahaan asing yang bekerjasama secara langsung maupun melalui perantara dengan Israel. Perusahaan-perusahaan tersebut diancam akan dikenakan sanksi.

Kebangkitan Islam Modern Terjadi Di Iran dan Mazhab Syi’ah Imamiyah !! Sunni cuma sejarah silam

Kebangkitan Islam Menurut Cendikiawan

Mungkin masih terngiang ucapan Imam Khomeini ra, “Wahai umat Islam, bangkitlah, temukanlah Islam, bebas dan terhomatlah kalian…” Di antara acuan utama pendiri Republik Islam Iran itu adalah kemuliaan dan kejayaan umat Islam serta terbebaskan dari cengkeraman imperialis. Dengan pandangan dan analisanya yang mendalam tentang kondisi dunia dan masa depan, Imam Khomeini jauh-jauh hari telah memprediksikan runtuhnya Uni Soviet dan juga hancurnya sistem kapitalisme Barat.

Wednesday, 28 September 2011 13:05 PDF Print E-mail
Wilayatul Faqih

Beberapa waktu lalu, anggota Dewan Ahli Kepemimpinan bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, atau Rahbar. Dewan ini, yang para anggotanya dipilih langsung oleh rakyat, bertugas menentukan Rahbar dan mengawasi kinerjanya.Pada pertemuan itu Rahbar menekankan pentingnya masalah restrukturisasi dan menyikapi masalah itu secara serius untuk menutupi berbagai kekurangan, pembenahan, dan penyempurnaan gerakan revolusi. Kenyataannya adalah bahwa Republik Islam Iran yang telah menempuh perjalanan selama tiga dekade, telah menjadi sistem yang berhasil dan menjadi perhatian masyarakat dunia khususnya dunia Islam. Gerakan Republik Islam Iran terus berlanjut untuk membuktikan keunggulannya di atas sistem lain di dunia.

Sistem liberal demokrasi Barat yang dalam tiga dekade terakhir menguji berbagai teorinya di sektor filsafat, hukum, politik, dan ekonomi, berulangkali melakukan pembenahan dan penyempurnaan, kini menghadapi banyak tantangan berat dan semakin hari semakin terbukti inefesiensinya.

Dewasa ini, kebangkitan bangsa-bangsa Muslim dan krisis ekonomi Barat, telah mengancam keamanan dunia kapitalis dan kini tercipta jurang antarkekuatan global. Namun di sisi lain, Republik Islam Iran, terbebas dari frksi internasional dan dengan langkah pasti melanjutkan perjalanannya dengan cepat. Akan tetapi, interferensi dari para musuh Islam dan juga kelengahan untuk menjelaskan pandangan Islam yang benar kepada masyarakat, akan mengancam Republik Islam.

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan, mengungkapkan masalah Wilayatul Faqih mutlak, soal apa itu Wilayatul Faqih dan siapa Wali Faqih?

Republik Islam Iran telah melewati kepemimpinan Wilayatul Faqih selama lebih dari 30 tahun. Pada tahap awal dipimpin oleh Imam Khomeini ra, dan selanjutnya selama 22 tahun, Ayatullah Khamenei menjadi Wali Faqih. Kepemimpinan ini, sama seperti yang terjadi di masyarakat lain di dunia yang memerlukan pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang yang adil, yang mampu membimbing negara pada kemajuan dan menjaga kebebasan dan hak-hak rakyatnya.

Dalam masyarakat Islam, sungguh wajar jika pemimpinnya harus seseorang yang mendalami ajaran-ajaran Islam dan mampu melaksanakannya. Pada masa hidup Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya as, kepemimpinan dipegang oleh manusia-manusia suci itu. Dan tantangan terberat mereka adalah pelaksanaan hukum-hukum Islam khususnya masalah keadilan sosial.

Allah Swt dalam ayat 25 surat al-Hadid berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan …” Pada masa absennya Rasulullah dan penggantinya, maka kepemimpinan masyarakat Islam dipegang oleh Wali Faqih. Dia adalah orang yang mengetahui agama, adil, bertakwa, dan menguasai masalah-masalah dalam negeri dan internasional yang akan menentukan kebijakan makro negara berdasarkan asas Islam.”

Oleh karena itu, dalam pemerintahan Republik Islam, Rahbar memiliki peran kunci dan fundamental. Dalam hal ini Rahbar mengatakan, “Rahbar yakni titik akhir dalam menyelesaikan seluruh permasalahan pemerintah, ia akan menerangkan fakta kepada rakyat dan menyingkap propaganda musuh. Memberikan harapan kepada rakyat serta membela keutuhan revolusi di hadapan para penyulut makar.”

Berbeda dengan yang gencar dipropagandakan oleh musuh dan media massa Barat, Wilayatul Faqih bukan berarti tanpa batas karena jenis pemerintahan seperti itu tidak ada bedanya dengan rezim despotk.

Imam Khomeini ra menyinggung perbedaan tersebut dan dan menyatakan, “Islam adalah pendiri pemerintahan yang bukan despotis yang hanya pendapat seorang saja yang menguasai pendapat rakyat, dan juga bukan bersyarat dan republik yang bersandarkan pada undang-undang yang ditentukan oleh sekelompok orang yang berkuasa atas seluruh rakyat. Melainkan pemerintahan Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt serta memanfaatkannya di setap sektor, dan pendapat penguasa atau pemimpin masyarakat tidak berkuasa atas rakyat.”

Imam Khomeini menambahkan, “Seluruh program pemerintahan untuk menyelesaikan kendala yang dihadapi masyarakat harus berdasarkan pada hukum ilahi. Asas ini juga berlaku bahkan pada masalah kepatuhan terhadap para pemimpin negara.”(1)

Pendiri Republik Islam Iran itu menjelaskan bahwa faqih tidak boleh memimpin dengan tangan besi, dan jika itu terjadi, maka faqih itu sudah tidak memiliki legitimasi lagi.(2) Apa yang membedakan garis pemikiran pemerintahan Islam dengan politik Barat, adalah kekuatan dan keunggulan perspektif Wilayatul Faqih di atas pemikiran politik yang berkuasa di Barat.

Menurut Ayatullah Khamenei, Wilayatul Faqih yakni pengawas gerakan pemerintah dan juga pembenahannya. Ditambahkan beliau, “Wilayatul Faqih yakni fleksibilitas instansi pemerintah yang berarti bahwa seluruh instansi pengambil keputusan yang dipimpin oleh Rahbar, selalu mengalami perubahan dalam memilih apa saja yang lebih baik dan sempurna, dalam memajukan negara.”

Menyinggung pemahaman keliru musuh terhadap Wilayatul Faqih, Rahbar menegaskan, “Mereka mengatakan bahwa Wilayatul faqih yaitu negara bergerak sesuai keinginan faqih yang adil. Sementara seorang faqih yang adil tidak dapat bertindak sesuai keinginannya…” Dalam Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran termasuk pasal 107 disebutkan tentang wewenang, tugas persyaratan Rahbar dalam keilmuan, keadilan, ketakwaan, dan perspektif benar politik dan sosial, manajemen, keberanian, dan kepemimpinan. Seluruh elemen tersebut harus dimiliki oleh Rahbar.

Pada pasal 110 disebutkan bahwa penentuan politik makro Republik Islam dan pengawasan terhadap implementasi politik tersebut, termasuk di antara tugas-tugas pentng Rahbar. Rahbar bertanggung jawab memberikan penjelasan kepada rakyat dan memimpin mereka menuju tujuan-tujuan tinggi Islam.

Ayatullah Khamenei adalah sosok yang berasal dari lingkungan hauzah dan merupakan seorang penulis handal dan khatib revolusoiner. Beliau menguasai berbagai bidang ilmu Islam khususnya di bidang fiqih, al-Quran, dan sejarah Islam. Partisipasi luas beliau di sektor politik dan jabatan pentingnya dalam pemerintahan khususnya kejelian beliau dalam menyikapi berbagai gerakan dan transformasi, telah menjadi bekal keberhaslan beliau dalam memimpin Republik Islam Iran selama dua dekade terakhir.

Keterkaitan erat dengan rakyat, demokrasi agama, keadilan sosial, pemberantasan kefasadan ekonomi, upaya untuk meningkatkan sektor iptek, pembelaan terhadap rakyat dan umat Islam dunia, dan percepatan proses kebangkitan Islam, merupakan di antara masalah yang mendapat perhatian besar Rahbar.

Ayatullah Khamenei sebagai Wali Faqih, komitmen terhadap tujuan-tujuan Imam Khomeini ra, dan dengan penentangan terhadap perdamaian dengan kezaliman serta kewaspadaan di hadapan propaganda Barat, merupakan pemimpin yang tegas dan mampu meruntuhkan kekuatan semu Barat.

Beliau adalah penyeru persatuan dan solidaritas umat Islam dan pembela kepentingan dunia Islam di hadapan keusilan kaum agresor. Melalui peningkatan kepercayaan diri bangsa-bangsa Muslim dunia dan menyusul gelombang kebangkitan Islam regional dan global, Rahbar menyinggung terbentuknya Tmur Tengah baru yang sepenuhnya milik Islam.

Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei, dengan rapor kebijakan mereka yang penuh prestasi dalam kondisi yang paling sulit sekali pun, kini menjadi pemimpin agama teladan dunia, yang mampu menampilkan kehebatan pandangan Islam di hadapan perspektif materialis Barat.
(1) Kitab al-Bai’ jilid 2.
(2) Sahifah al-Nur jilid 10.

Saat ini, fenomena muqawama rakyat melawan despotisme di dalam negeri dan juga penjajahan asing, telah melahirkan gerakan kebangkitan hebat di Tunisia, Mesir, Bahran, Yordania, Libya, dan Yaman. Dalam beberapa bulan terakhir, kebangkitan di Dunia Islam tengah meluncur menuju kemenangannya. Dunia Barat khususnya Amerika Serikat, sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya revolusi islami di negara-negara Arab. Barat berupaya menyimpangkan prinsip-prinsip revolusi dan juga persatuan dunia Islam dengan mengerahkan seluruh daya, upaya, dan teknologi media untuk menebar perang urat saraf.

Oleh karena itu, pelaksanaan konferensi “Kebangkitan Islam” sangat penitng sebagai sebuah langkah penting dalam membantu menentukan arah gerakan rakyat negara-negara Islam dalam meruntuhkan pilar-pilar despotisme dan diktatorisme di kawasan. Jika pemerintah dan bangsa Muslim dapat menggunakan sumber-sumber kekuataannya secara proporsonal, maka transformasi di kawasan akan sangat menguntungkan dunia Islam.

Konferensi internasional Kebangkitan Islam perdana itu digelar pada 17 dan 18 September lalu dan dihadiri oleh para pemimpin agama dan warga revolusioner dari negara-negara Arab. Pada pembukaan konferensi tersebut, Pemimpin Besar Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Al Khamenei atau Rahbar memberikan petunjuk dan bimbingan terkait cara dan metode untuk menjaga dan memelihara revolusi agar berada di jalan yang benar. Penekankan beliau terhadap peradaban islami baru berdasarkan agama, logika, dan ilmu pengetahuan, telah memberikan gambaran global kepada para cedikiawan dunia Islam tentang tujuan akhir. Dalam konferensi itu dibahas pula berbagai perkembangan terbaru, tantangan, dan masa depan muqawama Islam yang dihadiri lebih dari 700 orang dari para cendikiawan dunia Islam, tokoh budaya, politik, dan media dari seluruh dunia.

Doktor Muhammad Jawad Larijani, cendikiawan Iran menilai kebangkitan rakyat regional adalah kebangkitan islami dan Revolusi Islam Iran menjadi pelandas kebangkitan tersebut di dunia. Ditambahkannya, “Adapun tentang berbagai peristiwa di kawasan, teori terbaik adalah bahwa itu semua merupakan pengaruh dari Revolusi Islam dan memiliki berbagai titik persamaan. Revolusi-revolusi tersebut memiliki sejumlah kriteria: bahwa bangsa-bangsa regional telah melewati masa lalu yang penuh penghinaan dan kini mereka bangkit melawan para diktator. Kriteria berikutnya adalah bahwa revolusi tersebut dalam rangka menentang ketergantungan dan pengaruh asing. Dan juga penentangan bangsa-bangsa anti-rezim Zionis. Di sisi lain, dalam slogan yang diteriakkan rakyat, nasionalisme dan liberalisme Barat tidak memiliki tempat lagi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa asas kebangkitan regional adalah Islam, dan bangsa-bangsa ingin mengangkat kembali nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, independensi, dan demokrasi agama.”

Doktor Kamal Halbawi, anggota senior gerakan Ikhwanul Muslmin Mesir, dalam konferensi tersebut menyinggung peran urgen Rabar dalam memperluas kebangkitan Islam di kawasan seraya mengatakan, “Saya berpendapat bahwa Ayatullah Khamenei memiliki wawasan dan informasi yang sangat mendalam dan pasti akan membimbung masyaraket regional. Republik Islam Iran adalah satu-satunya negara yang mampu menjaga revolusi tetap pada jalurnya pasca kemenangannya, dan bergerak dengan meningkatkan peran ulama di setiap bidang. Negara-negara Islam juga harus seperti Iran, melangkah menuju independensi multi-dimensi di seluruh sektor.” Halbawi menekankan bahwa bangsa-bangsa Islam senantiasa sebagai umat yang satu akan terus membela hak-hak mereka.”

Dewasa ini, sudah pasti bahwa Amerika Serikat dan sejumlah negara barat berusaha menggunakan berbagai macam cara baik secara terang-terangan maupun terselubung untuk ikut ambil bagian dalam revolusi yang tengah bergulir. Sekjen Gerakan Front Rakyat Pembebasan Palestina, Ahmad JIbril mengatakan, “Kebangkitan Islam saat ini telah memasuki tahap perlawanan. Kawan menyaksikan perang politik dan media serta upaya Amerika dan Barat untuk menggagalkan kebangkitan Islam. Amerika dan Israel berupaya membajak tekad dan kebangkitan rakyat regional. Namun kami percaya bahwa makar tersebut akan gagal.”

Lebih lanjut, Jibril menjelaskan, “Menurut saya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak pernah menginginkan sesuatu yang baik untuk masyarakat kawasan dan yang mereka inginkan adalah kekayaan bangsa-bangsa. Kita tidak mungkin percaya bahwa NATO dan sekutunya yang telah menumpahkan banyak darah warga tak berdosa itu akan dapat membantu mewujudkan kemenangan.

Hujjatuh Islam Sayid Ammar Hakim, Ketua Dewan Tinggi Islam Irak, mendefinisikan kebangkitan Islam sebagai bangkit dari tidur dan kebebasan dari pengaruh kaum imperials dunia. Dikatakannya, “Kita harus komitmen terhadap prinsip-prinsip Islam dalam kebangkitan tersebut. Islam adalah agama rahmat, pengasih, dan keadilan, dan moderat. Adapun pihak yang menisbatkan Islam dengan terorisme mereka sesungguhnya tidak mengetahui hakikat Islam. Pejabat tinggi Irak itu menegaskan pula tentang upaya musuh menyimpangkan gerakan revolusi.

Sheikh Rashid bin Isa, seorang pemerhati politik dunia Islam dari Aljazair mengatakan, “Iman merupakan modal utama untuk menggapai kemenangan dalam sebuah perjuangan.” Menurunya, tidak ada satu institusi pun yang dapat bertahan tanpa keimanan. Revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya berkat keimanan serta peran pemipin yang jeli dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap budaya Islam. Dan rakyat yang bangkit melawan saat ini di kawasan menginginkan pemerintahan seperti itu.”

Terkait manajemen global umat Islam, Sheikh Rashid menegaskan, “Umat Islam di seluruh dunia harus bersatu dengan melepaskan ikatan perbatasan dan etnis dan hal ini menuntut adanya seorang pemimpin yang menjadi teladan, dan untuk saat ini tidak ada teladan yang lebih baik dari pemerintahan Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Rahbar.”

.

Saturday, 24 September 2011 12:32 PDF Print E-mail
Kebangkitan dan Masa Depan Cerah di Bawah Panji Islam

Ketika cahaya ilahi menerangi relung-relung hati, maka pemikiran, keyakinan, dan perilaku pun akan bernuansa ilahi. Ketika itulah manusia-manusia terkekang akan bangkit dan bergerak menuju cahaya dan kebahagiaan. Transformasi yang terjadi di negara-negara seperti Mesir, Tunisia, Libya, dan Bahrain juga memiliki berakar dari kebangkitan Islam. Berkat pertolongan Allah Swt, hati umat Islam di negara-negara tersebut bersatu dan menyeru Allahu Akbar yang mengubah atmosfer dalam masyarakat. Di sisi lain, para penguasa despotik bak berhala-berhala Ka’bah yang tumbang satu-persatu karena kekuatan iman dan persatuan. Sekarang, sebuah proses penting kebangkitan telah dimulai.Konferensi internasional perdana Kebangkitan Islam, digelar Sabtu (17/9) di Tehran, dan dibuka dengan pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, atau Rahbar, dan ditutup pada hari Ahad (18/9). Dalam pidatonya, Rahbar menekankan bahwa gerakan kebangkitan rakyat bersumber dari latar belakang sejarah, peradaban, dan pengalaman revolusi bangsa-bangsa. Menurut beliau, “Peristiwa yang terus meningkat di dunia Islam, tidak terpisah dari berbagai peristiwa sejarah serta dari landasan pemikiran dan sosial, sehingga musuh dapat menganggapnya sebagai gelombang yang cepat berlalu, dan dengan analisa-analisa distorsif, dapat memadamkan pelita harapan di hati bangsa-bangsa.”

Dijelaskan Rahbar, “Rakyat lah yang membangun slogan, yang menentukan tujuan, yang mengindentifikasi dan memburu musuh, yang memetakan masa depan cerah, dan pada akhirnya yangtidak akan membiarkan penyimpangan dan perdamaian dengan musuh oleh para anasir penyusup, dapat mengubah jalur [perjalanan] mereka.” Revolusi-revolusi seperti ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu menjaga nilai dan tujuan dalam benak dan hati rakyat dan diperkokoh dengan slogan dan perilaku revolusoner.

Kebangkitan Islam dan revolusi anti-despotisme, merupakan di antara masalah-masalah penting dunia di era kini. Para pengamat politik dan sosial menyebut tuntutan keadilan dan kehormatan sebagai motivasi utama di balik gerakan kebangkitan tersebut. Akan tetapi harus ditekankan pula bahwa revolusi-revolusi tersebut memiliki prinsip-prinsip kolektif.

Ayatollah Khamenei menyebut prinsip-prinsip itu adalah pengibaran panji Islam, mencapai keamanan jiwa, keadilan, dan kemajuan di bawah naungan Islam, perjuangan melawan penyusupan imperialisme Amerika Serikat dan Eropa, perlawanan terhadap rezim agresor, perampas dan ilegal Zionis Israel. Tidak hanya itu, rakyat dan para tokoh masyarakat merupakan pemilik sebenarnya revolusi tersebut dan yang akan menjaganya.

Untuk saat ini, kebangkitan rakyat di negara-negara Arab telah menimbulkan kerugian yang tidak akan dapat ditebus terhadap kepentingan haram negara-negara Barat dan rezim Zionis Israel. Khususnya di Mesir, ketika Amerika Serikat dan rezim ilegal Israel, kehilangan sekutu Arabnya yang paling loyal yaitu Hosni Mubarak. Kini rakyat Arab berupaya membentuk negara independen, bebas, dan islami yang akan memperjuangkan kehormatan bangsa. Sama seperti Revolusi Islam Iran pada 1979 yang juga telah mewujudkan cita-cita tersebut bagi bangsa Iran. Rahbar menilai Revolusi Islam yang telah berusia 30 tahun, mengilhami gerakan kebangkitan umat Islam seraya menyinggung ayat 11 surat Raad: “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” Dan kini gerakan rakyat regional dan kemenangan yang diraih secara beruntun merupakan bukti kepastian janji-janji Allah Swt.

Rakyat revolusioner di negara-negara Arab, saat ini masih berada di awal jalan penuh liku dan bahaya. Menurut Rahbar, patologi dan bahaya yang mengancam revolusi, muncul dari kelemahan dari dalam atau dari makar langsung musuh. Rahbar menegaskan bahwa bersikap tenang pasca kemenangan akan melemahkan motivasi dan semangat rakyat, dan ini merupakan bahaya pertama yang mengancam revolusi. bahaya internal lainnya adalah rasa gentar menghadapi kekuatan lawan, percaya kepada musuh dan terjebak dalam jerat senyum dan tipuannya, kelalaian akan makar musuh, kesombongan, perselisihan di antara sesama, dan kekacauan di belakangan front perjuangan.

Mempercayai musuh dan terjebak senyum, janji, dan dukungan mereka juga merupakan bahaya internal lain. Rahbar menegaskan, “Semua masalah ini harus dihindari sekuat mungkin dan dengan mengerahkan keberanian, kearifan, tekad dan kegigihan, seluruh kekuatan yang Allah berikan mesti dimanfaatkan untuk meraih kemenangan-kemenangan yang datang silih berganti.”

Ayatollah al-Udma Khamenei mengingatkan akan konspirasi musuh untuk memasang boneka-boneka baru di kawasan seraya menegaskan,, “Jika skenario musuh ini berhasil dipatahkan oleh rakyat, kubu hegemoni akan menggunakan cara-cara yang lain untuk kembali menguasai keadaan.”

Kepada para cendekiawan Dunia Islam beliau mengatakan, “Jika taktik-taktik yang ada tidak membuahkan hasil, musuh akan membuat skenario lain seperti menebar kekacauan, melakukan teror, mengadu domba di antara berbagai kelompok bahkan menyulut perang antara satu negara dengan negara tetangga. Musuh juga akan melakukan embargo ekonomi, menebar perang urat saraf yang gencar dan memburukkan citra kubu-kubu yang baik dan benar dengan tujuan membuat rakyat kecewa dan putus asa. Dengan cara itu mereka berusaha menggagalkan revolusi-revolusi ini.”

Di bagian lain pidatonya, Ayatollah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengimbau semua pihak agar menghindari perselisihan kelompok, suku, dan madzhab untuk bisa mengatasi masalah-masalah yang ada.

Kepada kalangan cendekiawan Dunia Islam beliau berpesan untuk mengakui adanya perbedaan lalu mengendalikannya dengan benar. “Kesepahaman di antara madzhab-madzhab Islam adalah kunci keselamatan. Mereka yang sibuk mengkafirkan pihak-pihak lain dan menebar api fitnah perselisihan, sadar atau tidak, telah menjadi kaki tangan setan.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai sistem demokrasi agama sebagai pemerintahan terbaik untuk negara-negara Islam karena sistem ini berlandaskan nilai-nilai yang ditegakkan dalam masyarakat islami serta suara dan pendapat rakyat memiliki peran esensial dalam kekuasaan. Rahbar menyebut demokrasi sekuler dan liberal Barat sebagai sistem usang yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Namun dalam pemerintah Islam, selama tidak ada kejumudan, fanatisme, dan anarkisme, maka akan tercapai tujuan yang diharapkan. Rahbar menilai kejumudan dan fanatisme akan menimbulkan keterbelakangan dan penyimpangan revolusi.

Di akhir pidatonya, Rahbar menekankan bahwa kebangkitan Islam bukan sebuah konsep yang tidak jelas dan yang tidak dapat ditafsifkan, melainkan sebuah kenyataan yang dapat dirasakan dan disaksikan di negara-negara Arab. Fakta itu melahirkan revolusi besar yang menggulingkan pion-pion berbahaya musuh dan mendepak mereka keluar dari kancah.

Sebelum menutup pidatonya, Rahbar mengajak semua kalangan untuk merenungkan ayat pertama hingga tiga surat al-Ahzab yang menurut Rahbar sebagai aturan paling sempurna dalam melanjutkan gerakan revolusi. Dalam ayat itu, Allah Swt berfirman: “Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”

.

Friday, 23 September 2011 16:03 PDF Print E-mail
Seddiqi: Kebangkitan Rakyat Menghidupkan Kembali Martabat

Khatib Shalat Jumat Tehran, Kazem Seddiqi menyatakan bahwa kebangkitan rakyat di kawasan menghidupkan kemuliaan dan martabat bangsa dan Islam yang sebulum dilecehkan oleh AS dan sekutunya.Hujjatul Islam wal Muslimin, Kazem Seddiqi dalam khutbah Jumat yang disampaikah hari ini di Universitas Tehran, menjelaskan faktor dan identitas revolusi negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dikatakanya, rakyat negara-negara ini menunjukan sikap perlawanan dan jihad terhadap arogansi,bahkan mereka menghadapi pasukan rezim yang dilengkapi dengan tank dan senjata lengkap.

Lebih lanjut Seddiqi menjelaskan bahwa kebangkitan rakyat dimulai dari masjid-masjid dan khutbah-khutbah Jumat. Dikatakannya, revolusi Islam di negara-negara kawasan bukan berhubungan dengan kelompok tertentu.

“Rakyat tengah mencari identitas yang telah hilang, ” jelas Seddiqi dalam khutbahnya.

Lebih lanjut Khatib Jumat Tehran itu menyebut keinginan atas Islam sebagai ciri khas gamblang revolusi negara-negara di kawasan. Ditegaskannya, “Perlawanan terhadap arogansi dunia dan zionisme internasional sangatlah menonjol dalam revolusi-revolusi ini.”

Seddigi juga menyebut penyelenggaraan Konferensi Internasional Pertama Kebangkitan Islam di Tehran dan kehadiran para tamu penting dari berbagai penjuru dunia sebagai langkah yang penting.

Dalam khutbah tersebut, Seddiqi juga mengecam aksi teror terhadap Burhanuddin Rabbani, Ketua Dewan Tinggi Perdamaian Afghanistan. Dikatakannya, “Tokoh besar ini menentang pendudukan AS di negaranya. Untuk itu, pasukan asing harus bertanggung jawab atas aksi teror ini.”

.

Dr Umar Shahab Soal Kebangkitan Islam

Terminologi “Kebangkitan Islam” mengemuka menyusul gerakan rakyat yang dimulai dari Tunisia, Mesir, Libya dan Bahrain. Belum lama ini, Republik Islam Iran menggelar Konferensi Pertama Kebangkitan Islam di Tehran. Para aktivis gerakan diundang dalam konferensi tersebut untuk membahas gerakan rakyat di kawasan. Dalam kesempatan ini, wartawan IRIB mendapatkan kesempatan untuk mewancarai Dr Umar Shahab saat berkunjung ke kota Mashad, Iran barat.

Iran Temukan Cadangan Helium Terbesar dibumi ! Dahsyat Spektakuler

Friday, 30 September 2011 16:45 PDF Print E-mail
Iran Temukan Cadangan Helium Terbesar
Zona Pars Selatan

Direktur Perusahaan Minyak dan Gas Pars (POGC), Mousa Souri, mengumumkan penemuan cadangan helium terbesar di dunia di zona gas Pars Selatan.Mehr News hari ini (Jumat, 30/9) melaporkan, Souri juga mengkonfirmasikan bahwa POGC telah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Rusia untuk merampungkan studi kemungkinan penggarapan cadangan gas tersebut.

Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Kementerian Perminyakan Iran, pada lima bulan pertama tahun ini, Iran telah mengeksploitasi 428 milyar meter kubik gas dari zona Pars Selatan.

Zona gas Pars Selatan dieksploitasi secara kolektif oleh Iran dan Qatar. Zona milik Iran yang dibagi ke dalam 14 zona, menyimpan sekitar 14 trilyun meter kubik atau delapan persen dari total cadangan gas dunia dan lebih dari 18 milyar barel cadangan gas cair.

Saudi Jadi Pasar Obral Produk Israel ! Rezim Saudi sayangi israel

Friday, 30 September 2011 09:41 PDF Print E-mail
Saudi Jadi Pasar Obral Produk Israel
Berbagai laporan menunjukkan, meski para pejabat Riyadh mengklaim memberlakukan boikot produk-produk dari Tel Aviv, namun pada hakikatnya Arab Saudi telah menjadi pasar obral produk-produk Israel.Fars News (30/9) mengutip laporan situs al-Intiqad menyebutkan, Kementerian Perdagangan dan Industri Arab Saudi dalam statemenya menjelaskan bahwa produk-produk Israel itu dimasukkan ke pasar negara ini oleh perusahaan-perusahaan asing dan Arab.Dalam statemen itu disebutkan pula bahwa perusahaan-perusahaan Arab bekerjasama dengan perusahaan dagang Israel telah merambah ke sektor pertanian dan pupuk-pupuk produksi Israel dijual di pasar Saudi.

Seraya menganggap remeh masalah tersebut, Kementerian Perdagangan dan Industri Arab Saudi, hanya memperingatkan perusahaan-perusahaan asing yang bekerjasama secara langsung maupun melalui perantara dengan Israel. Perusahaan-perusahaan tersebut diancam akan dikenakan sanksi

.

Arab Saudi, “Saudara Kembar” Barat

Wednesday, 28 September 2011 17:18 PDF Print E-mail
Arab Saudi, “Saudara Kembar” Barat

Mengapa Barat segera mengeluarkan dua resolusi Dewan Keamanan PBB (DK) PBB untuk intervensi militer di Libya? Namun pada saat yang sama, Barat membiarkan kebangkitan rakyat di Yaman dan Bahrain, bahkan cenderung membungkam diri dalam menyikapi pembantaian rakyat oleh dua rezim tersebut.Kebahagiaan rakyat Yaman ternyata tidak bertahan lebih dari tiga bulan setelah diktator Ali Abdullah Saleh kembali ke negaranya pada hari Jumat (23/9/2011). Dengan kembalinya Presiden Abdullah Saleh ke Yaman sulit terjadi perubahan damai di negara ini. Semenjak Abdullah Saleh kembali ke Yaman, ratusan warga tewas di tangan pasukan keamanan.

Tiga bulan lalu, Abdullah Saleh terpaksa diterbangkan ke Arab Saudi untuk perawatan medis setelah sebuah roket menghantam istana kepresidenannya. Pada hari-hari pertama keberadaan Saleh di Arab Saudi, informasi simpang siur terkait kematian diktator Yaman membuat rakyat negara ini berbahagia. Bahkan tidak sedikit dari masyarakat Yaman yang sudah menggelar pesta atas berita kematian Abdullah Saleh.

Akan tetapi keluarga Arab Saudi tidak membiarkan rakyat Yaman senang. Arab Saudi tetap memberikan dukungan penuh kepada diktator Abdullah Saleh yang memimpin Yaman selama 32 tahun. Meski Abdullah Saleh meninggalkan Yaman, namun anak-anak, keluarga Abdulllah serta kroni-kroni politik, ekonomi dan militernya yang didukung penuh Arab Saudi, terus bersikeras mengendalikan Yaman.

Abdullah Saleh, “Tameng” AS

Tidak adanya konsolidasi yang tangguh dan kepemimpinan yang solid di kalangan revolusioner Yaman disebut-sebut sebagai penghalang utama lanjutnya revolusi negara ini ke level berikutnya. Selain itu, ada intervensi asing yang terus mengganggu kebangkitan rakyat Yaman. Arab Saudi mempunyai peran penting untuk mencegah lengsernya rezim Abdullah Saleh. Setelah tak mampu menghentikan revolusi rakyat Yaman tanpa Abdullah Saleh, Arab Saudi mengembalikan kembali Presiden Yaman ke Sanaa.

Keluarga Saudi menyebut Yaman sebagai wilayah kekuasaannnya. Diktator Abdullah Saleh dapat bertahan lama di kursi kekuasaan karena dukungan penuh keluarga kerajaan Arab Saudi. Dengan memanfaatkan struktur kesukuan, Arab Saudi dapat mengendalikan wilayah Yaman melalui tangan besi Abdullah Saleh. Arab Saudi sendiri mendapat dukungan penuh dari AS dan Eropa untuk menerapkan politik anti-rakyat. Padahal AS dan Eropa selama ini, mengklaim dirinya sebagai pembela hak-hak asasi manusia. Namun pada saat yang sama, Barat memberikan ruang kepada Arab Saudi untuk bersikap brutal dan arogan di kawasan.
Selama 32 tahun berkuasa, Abdullah Saleh menjadi mitra setia AS dan penjamin kepentingan Gedung Putih di Selat Bab-el-Mandeb dan Laut Merah. Dalam beberapa tahun terakhir ini, khsususnya pasca Tragedi 11 September, Yaman menjadi strategi khusus AS dalam rangka memerangi hal yang diistilahkan dengan terorisme. Menurut para pejabat Gedung Putih, mengingat struktur kesukuan dan negara tetangga dengan Arab Saudi, Yaman dijadikan sebagai tempat persembunyian Al-Qaeda.

Hubungan dekat Ali Abdullah Saleh dengan Washington telah menjadikan Yaman sebagai alat politik dan negara yang siap dibombardir ketika Gedung Putih menghendakinya. Bahkan Abdullah Saleh siap menyatakan bahwa serangan militer AS ke sejumlah wilayah Yaman dilakukan oleh tentara lokal Yaman. Hal itu sengaja disampaikan Abdullah Saleh untuk mencegah sentimen luas rakyat Yaman terhadap AS. Ini mencerminkan bahwa Abdullah Saleh siap menjadi tameng AS.

Struktur masyarakat negara ini berlandaskan pada aspek kesukuan. Dengan memanfaatkan perselisihan antarsuku, Abdullah Saleh mampu mengokohkan kursi kekuasaannya hingga berpuluh-puluh tahun. Bahkan sejumlah pihak menyebutnya sebagai “Sang Musang”. Kini, “Sang Musang” kembali ke negaranya untuk dimanfaatkan melawan revolusi rakyat Yaman.

Namun Ali Abdullah Saleh lupa bahwa kebangkitan rakyat Yaman bukanlah friksi suku. Kebangkitan rakyat Yaman kali ini tidak dapat disamakan dengan perseteruan antarsuku. Pada kebangkitan ini, semua pemuda terlibat dan terjun di kancah. Mereka menghendaki kebebasan, independensi yang nyata, kemuliaan dan kehidupan yang bermartabat dan makmur.

Kebangkitan Islam di Yaman tidak akan pernah padam. Upaya Saudi untuk mempertahankan diktator Abdullah Saleh hanya akan menghasilkan pertumpahan darah dalam skala luas. Tidak ada jalan lain bagi Abdullah Saleh kecuali mengundurkan diri dan mengapresiasi perubahan seutuhnya sesuai kehendak rakyat.

Pertanyaan-Pertanyaan ke Barat

Tak dapat diabaikan peran Barat, khususnya AS, dalam memberangus revolusioner Yaman dan mempertahankan kekuasaan lalim yang dikendalikan Abdullah Saleh. Muncul sebuah pertanyaan yang harus digarisbawahi; Apakah perbedaan antara Muammar Gaddafi dan Ali Abdullah Saleh? Bukankah keduanya adalah pemimpin diktator dan arogan yang menggunakan cara militer dan kekerasan dalam memerintah rakyat? Mengapa Barat segera mengeluarkan dua resolusi dalam menyikapi fenomena di Libya? Namun pada saat yang sama, mengapa Barat tidak mereaksi apa yang terjadi di Yaman dan Bahrain, bahkan cenderung mengabaikannya? Bukankah langkah ini sama halnya dengan memberi lampu hijau bagi penguasa untuk terus brutal membantai rakyat?

Mengapa Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, menggelar pertemuan khusus untuk membantu revolusioner Libya? Namun pada saat yang sama, mengapa mereka tidak melakukannya untuk Yaman? Apakah perbedaan antara masyarakat Libya dan Yaman? Selama ini, negara-negara Barat mengklaim diri mereka sebagai pembela hak asasi manusia, demokrasi dan slogan-slogan kemanusiaan. Untuk itu, mereka harus menjawab semua pertanyaan ini.

Di Libya, banyak cadangan minyak. Dengan menunjukkan solidaritas terhadap kebangkitan rakyat di Libya, Barat berharap dapat mengendalikan sumber-sumber minyak di negara ini. Namun., Yaman tidak mempunyai cadangan besar minyak seperti Libya. Untuk itu, Barat tidak mempunyai kepentingan spesifik di negara ini.

Selain itu, Yaman dikendalikan oleh Arab Saudi yang juga mitra strategis AS. Kebangkitan Islam di kawasan, tentunya membuat keluarga Saudi kelimpungan. Dengan lengsernya para penguasa di kawasan , Arab Saudi akan kehilangan status “Saudara Besar” yang selalu mengawal para diktator di kawasan.

Kebangkitan Islam telah sampai pada negara-negara perbatasan Arab Saudi. Ini tentunya sinyal bahaya bagi kerajaaan Saudi. Selama ini, Arab Saudi menggunakan uang hasil penjualan minyaknya untuk mengendalikan negara-negara tetangga. Dengan kemungkinan lengsernya Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Al-Khalifah di Bahrain, mungkinkah Arab Saudi mengendalikan negara-negara tetangga dengan bahasa uang?! Karena itu, Arab Saudi tetap bersikeras untuk mempertahankan rezim-rezim diktator di kawasan, khususnya Yaman dan Bahrain.

Mengingat Arab Saudi adalah mitra baik Barat, maka Barat, khususnya AS, tidak mereaksi intervensi militer Arab Saudi ke Yaman dan Bahrain. Barat hanya bisa menyaksikan brutalitas di Yaman dan Bahrain tanpa komentar apapun. Bagi Barat, ancaman bagi Arab Saudi sama halnya dengan ancaman semua kepentingan Barat di kawasan. Pantaslah Arab Saudi disebut sebagai “Saudara Kembar” Barat di kawasan

Ulama Istana Yaman Keluarkan Fatwa Haram Menentang Rezim ! dasar penjilat

Friday, 30 September 2011 12:56 PDF Print E-mail
Ulama Istana Yaman Keluarkan Fatwa Haram Menentang Rezim
 

Para tokoh politik dan agama Yaman mereaksi keputusan majelis ulama Yaman yang berafiliasi dengan rezim yang mengeluarkan fatwa haram menentang Presiden Ali Abdullah Saleh, dan menyebutnya sebagai “fatwa perang dengan revolusioner.”Fars News (30/9) mengutip laporan Aljazeera menyebutkan, menyusul perilisan fatwa oleh majelis ulama Yaman itu, banyak pihak yang langsung mengemukakan penentangan terhadap fatwa tersebut.

Para tokoh politik dan agama Yaman menilai statemen tersebut sama dengan fatwa perang dan legalisasi penumpasan berdarah atas protes damai di negera itu

Majelis ulama Yaman yang mendukung rezim Saleh, merilis statemen kontroversial itu kemarin (Kamis, 29/9) dan menilai haram penentangan terhadap penguasa secara verbal maupun praktis. Di akhir konferensi yang digelar selama tiga hari di Sanaa, majelis ulama Yaman melabel protes dan konsentrasi anti-Saleh haram baik menurut syariat maupun konstitusi.

Pada pembukaan konferensi itu, diktator Yaman, Ali Abdullah Saleh, menyampaikan pidato dan berharap para ulama di istananya mengeluarkan fatwa anti-demonstran dan revolusioner.