terlaknat jika anda mengubah agama Allah dan Rasul Nya

 

The Prophet said:
“Some of my companions will come to me at my Lake Fount,
and after I recognize them, they will then be taken away from me, whereupon I will say, ‘My companions!
Then it will be said, ‘You do not know what they innovated
(new things) in the religion after you.“ Sahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584]

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya membaca sebuah tulisan pada situs resmi Wahabi yang isinya menuduh orang-orang Syiah beranggapan bahwa para sahabat Nabi murtad. Saya terkejut, karena sudah sangat lama sekali saya pernah membaca beberapa hadis dari Rasulullah Saw tentang ini. Apakah para “ustadz” atau para “alim” Wahabi itu tidak tahu atau pura2 tidak tahu tentang hadis2 ini? Sebelum kita membahas permasalahan yang cukup sensitif ini, saya mohon pembaca benar-benar menyimak tulisan ini secara seksama agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berakibat terjadinya kecurigaan yang tidak mendasar. Tulisan ini semata-mata bertujuan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang mengatakan para sahabat Nabi murtad sepeninggal Nabi Saw.

Selama ini kaum Wahabi menuduh orang-orang Syiah-lah yang melakukan pernyataan itu. Benarkah? Dari sini kita akan mengetahui seberapa jauh pengetahuan kaum Wahabi terhadap hadis-hadis yang mereka percayai shahih dan bahkan mutawatir, atau barangkali mereka justru menyembunyikan hadis-hadis ini, atau paling tidak, mereka tidak menginformasikannya secara jelas kepada umat Islam.

Siapakah Sebenarnya Yang Mengatakan Para Sahabat Nabi Murtad?

1. Diriwayatkan dari Abdullah bn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw Bersabda :“Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengakar dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata : Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan : Sesungguhgnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.”

Hadis ini diriwayatkan di dalam :

– Shahih Bukhari , hadis no. 6089, 6090, 6527.

– Shahih Muslim, hadis no. 4250

– Ibn Majah, hadis no. 3048

– Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya, Jil. 1, hlm. 384, 402, 406, 407, 425, 439, 453, 455 dan Jil. 5 hlm. 387, 393, 400.

Oleh para ulama hadis Sunni, hadis ini diklasifikasikan sebagai hadis mutawatir.

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1322

Bunyi hadis di atas belum menjelaskan apa yang menyebabkan para sahabat Nabi tidak ditolong Allah Swt? Mari kita lihat hadis berikut :

2. Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Rasulullah Saw bersabda :“Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku memohon : Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku, dan termasuk umatku. Kemudia dikatakan : Tidak tahukah kamu apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka (yarji’uuna) langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abi Malikah berdoa : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami.”

Hadis ini menjelaskan dengan tegas dan lugas bahwa sebagian besar para sahabat Nabi Saw langsung berbalik kafir segera setelah Rasulullah Saw. wafat. Hadis ini diriwayatkan di dalam :

– Shahih Bukhari, hadis no. 6104.

– Shahih Muslim, hadis no. 4245.

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1320

3. Diriwayatkan dari Sahal bahwa ia berkata : Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku mendahului kalian di telaga (al-Haudl). Barangsiapa yang sampai di sana tentu ia akan minum dan siapa yang minum tentu tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenalku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka.”

Tentu tidak bisa dibantah lagi kaum yang mengenal Rasul Saw dan Rasul Saw pun mengenal mereka adalah para sahabat Nabi. Apalagi kita sudah mengetahui apa definisi sahabat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hadis di atas terdapat di dalam :

– Shahih Bukhari, hadis no. 6097

– Shahih Muslim, hadis no. 4243

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 5, hlm. 333, 339

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1318

Jika Anda masih belum yakin dan belum merasa puas dengan keterangan keterangan hadis-hadis di atas, mari saya kutip beberapa hadis lagi :

4. Diriwayatkan dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang lelaki Anshar menemui Rasulullah Saw lalu bertanya : Apakah engkau tidak ingin mengangkatku sebagaimana engkau mengangkat si fulan? Rasulullah Saw menjawab : Sesungguhnya kamu sekalian akan menemui sepeningalku para pemimpin yang egois, maka bersabarlah samapai kamu menjumpaiku di telaga kelak.”

Siapa pemimpin yang egois yang dimaksud Rasulullah Saw sepeninggal Rasul Saw? Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa semua hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (Syaikhan) Lihat :

– Shahih Bukhari, hadis no. 3508, 6533

– Shahih Muslim, hadis no. 3432

– Shahih Tirmidzi, hadis no. 2115

– Al-Nasaai, hadis no. 5288

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 351, 352

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1073

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid : Bahwa Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang ketika memenangkan perang Hunain. Beliau memberi orang-orang yang hendak dibujuk hatinya (orang yang baru masuk Islam). Lalu sampai berita kepadanya bahwa orang-orang Ansar ingin mendapatkan seperti apa yang diperoleh oleh mereka. Maka Rasulullah saw. berdiri menyampaikan pidato kepada mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda: Hai orang-orang Ansar, bukankah aku temukan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah menunjuki kalian dengan sebab kau? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya dengan sebab aku? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan terpecah-belah, lalu Allah mempersatukan kalian dengan sebab aku? orang-orang Ansar menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit.

Kemudian beliau bersabda: Mengapa kalian tidak menjawabku? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit. Beliau bersabda: Kalian boleh saja berkata begini dan begini pada masalah begini dan begini. (Beliau menyebutkan beberapa hal. Amru, perawi hadis mengira ia tidak dapat menghafalnya). Selanjutnya beliau bersabda: Tidakkah kalian rela jika orang lain pergi dengan membawa kambing-kambing dan unta dan kalian pergi bersama Rasulullah ke tempat kalian? Orang-orang Ansar itu bagaikan pakaian dalam dan orang lain seperti pakaian luar (maksudnya orang Ansarlah yang paling dekat di hati Nabi saw.)

Seandainya tidak ada hijrah, tentu aku adalah salah seorang di antara golongan Ansar. Seandainya orang-orang melalui lembah dan lereng, tentu aku melalui lembah dan celah orang-orang Ansar. Kalian pasti akan menemukan keadaan yang tidak disukai sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah kalian hingga kalian bertemu denganku di atas telaga (pada hari kiamat).”

Hadis ini juga bisa dijumpai di dalam kitab :

– Shahih Bukhari, hadis no. 3985, 6704.

– Shahih Muslim, hadis no. 1758

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 42

Atau Anda klik : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=579

6. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. menziarahi kuburan lalu Beliau berdoa, “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu.”. Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: Semoga Allah menjauhkan mereka.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari & Muslim):

– Shahih Bukhari, hadis no. 2194

– Shahih Muslim, hadis no. 367

– Al-Nasaai, hadis no. 150

– Abu Dawud, hadis no. 2818

– Ibn Majah, hadis no. 4296

– Ahmad bin Hanbal, di dalam Musnadnya jil. 2, hlm. 454, 467, 300, 375, 408.

– Malik, di dalam al-Muwatha’-nya , hadis no. 53.

Namun jika Anda masih belum juga percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik disini :

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=131

Dari seluruh hadis yang saya ungkapkan di sini, siapakah sebenarnya yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi menjadi murtad sepeninggal Nabi Saw? Siapakah ynag menyatakan semua itu di atas? Siapa? Apakah al-Wahabiyyun itu tidak pernah membaca hadis-hadis ini? Saya pun meyakini bahwa tidak semua sahabat Nabi yang berbalik ke belakang sepeninggal Rasul Saw, karena memang ada beberapa sahabat Nabi Saw yang masih setia berpegang teguh kepada ajaran-ajaran dan wasiat-wasiat Nabi saw. Dari sini kita juga mengetahui bahwa kaum Wahabi sering berdusta dan meremehkan hadis-hadis Nabi Saw. Mereka senang menyembunyikan kebenaran, karena mereka inilah dajjal-dajjal masa kini! Betapa tidak, mereka membela mati-matian Kerajaan Saudi Arabia yang sudah banyak diketahui telah menjalin hubungan mesra dengan AS (Amerika Serikat) si Setan Besar. Sudah tidak dapat dibantah lagi fakta-fakta dan data-data tentang kemesraan Dinasti Saud dan Dinasti Bush. Dan di mana kaum Wahabi? Bukankah mereka hidup dari cucuran dana Kerajaan Saudi? Di mana ulama Wahabi? Bukankah mereka berlindung di balik ketiak para raja Saudi? Jadi wajar saja mereka membela mati-matian sang pengucur dana. Jika tidak ada Kerajaan Saudi darimana LPIA bisa hidup? Darimana ustadz-ustadz ini bisa terus berdusta dan menyebar fitnah terhadap orang-orang Syiah yang memusuhi AS dan Zionis Israel? Kita semua tahu para raja Saudi punya hubungan mesra dengan mereka (AS & Zionis Israel) dan jika kaum Wahabi mendustakan riwayat-riwayat ini maka INGATLAH hadis Rasulullah Saw lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Musa bahwa Nabi Saw telah bersabda: ”Sesungguhnya perumpamaanku sebagai utusan Allah adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya seraya berkata: Wahai kaumku! Sesungguhnya kau telah melihat dengan mata kepala sendiri sepasukan tentara dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak bersenjata, maka carilah keselamatan. Sebagian kaumnya ada yang mematuhi lalu pada malam hari mereka berangkat (menyelamatkan diri) dengan tidak terburu-buru. Sebagian yang lain mendustakan hingga keesokan paginya mereka masih berada ditempat semula maka diserbulah mereka oleh pasukan tentara tadi lalu dimusnahkan dan dibantailah mereka. Itu adalah perumpamaan orang yang patuh kepadaku dan mengikuti ajaran yang aku bawa serta perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa.”
(Shahih Bukhari & Shahih Muslim)

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka! Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Untuk menyingkat waktu kami akan sebebtkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang prorsional dan ilmiah tentangnya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

* Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

* Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

…”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

* Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

* Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
o Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

* Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

* Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”

Ibnu Jakfari berkata:

Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Wallah A’lam.
[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

saudaraku……..

Syiah kafirkan sahabat Nabi saw ??????????????????

Salafi wahabi mengutip hadis syi’ah lalu tanpa basa basi mengklaim bahwa “Syi’ah MENGKAFiRKAN SAHABAT NABi SAW”

Inilah 3 contoh kutipan salafi wahabi, walaupun kutipan tersebut dipelintir tetapi biarlah asal mereka puas :

•”semua manusia adalah murtad selepas kewafatan nabi saw kecuali tiga orang. Aku (perawi) bertanya: siapakah yang tiga itu? lalu abu ja’far (muhammad al-baqir) menjawab miqdad al-aswad, abu dzar, dan salman al-farisi…”(Ar-raudhah min al-kafi jilid 8 hlm 246)

•Kebanyakan para sahabat adalah munafik tetapi cahaya nifaq mereka tersembunyi di zaman mereka. Tetapi apabila wafat nabi s.a.w ternyatalah cahaya nifaq mereka itu melalui wasiat Nabi SAW dan mereka itu kembali secara mengundur ke belakang, dan karena ini Saidina Ali berkata; “Semua manusia murtad selepas wafat nabi s.a.w kecuali empat orang saja yaitu Salman, Abu Zar, Miqdad dan Ammar, dan perkara ini tidak ada masalah lagi.”(Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi juz 27, hal 64-66)

•Khumaini dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 113-114 (cet. Persia) menuduh para shahabat kafir (Shurtani Mutadhadataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi’ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M), dikutip dengan pelintiran salafi !!

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Seorang murid SD di Iran yang pernah datang ke Indonesia langsung tertawa terpingkal pingkal setelah kami tanyakan perihal kutipan diatas

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Zaman Abubakar : orang yang tidak mau bayar zakat juga disebut MURTAD ( ridad/riddah )

Kembali kepada hadis diatas !!! Inilah maknanya versi Anak SD Iran yang tertawa mendengar tuduhan salafi wahabi :

a. Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!!

b. Hadis di atas menjelaskan tentang Sahabat yang pernah ikut peristiwa Ghadir Kum atau pernah mendengar wasiat Nabi tentang imamah Ali, tetapi TELAH MENiNGGALKAN WASiAT NABi SAW tentang Imamah Ali

Yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah : “selain 3 atau 4 atau 7 orang sahabat tersebut bukan berarti mereka kafir keluar dari Islam.. Murtad atau kafir yang mereka maksudkan bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam

Ringkasnya Murtad/kafir disini bermakna : “murtad dari janji mereka dengan Rasul, bukan kafir tulen/murtad tulen dari Islam”

Bahkan Umar dan Abubakar mengakui imamah Ali ! mereka mengakui pelantikan imam Ali di Ghadir Kum

Hanya saja di akhir hayat Nabi SAW : Abubakar, Umar cs adalah kelompok yang menginginkan kekuasaan, mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen.. Demikian juga dengan kelompok khusus anshar yang ingin menguasai kembali Madinah setelah wafat Nabi SAW seperti Bin Ubadah mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen…

Sedangkan Mu’awiyah dan Kirkirah apakah mereka tergolong kelompok MUNAFiK seperti Bin Salul ??? saya tidak tau

c.Sedangkan siapa saja sahabat Nabi SAW yang tidak pernah terlibat peristiwa Ghadir Kum atau tidak pernah mendengar wasiat Nabi SAW tentang imamah Ali, tetapi TETAP mendukung atau memihak kepada Imam Ali dimana saja mereka berada tidak tergolong kedalam hadis tersebut, misal ; Bilal, orang orang Anshar yang masuk Islam sejak awal dll

d.Nabi SAW menyatakan kafir kepada sahabat yang berperang dengan sesamanya… Kafir disini bukan keluar dari Islam !!!

Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw. (Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58)

==================================================================================================================================================================

iNiLAH PANDANGAN SYi’AH TENTANG SAHABAT

Hadis-hadis haudh tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).

Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka… “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?

Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “

Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).

Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “…Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).

Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?

Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi… agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).

Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:

Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;

Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;

Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi – bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.

Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.

Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.

Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.

Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:

Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“

Pada ayat lain Allah berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,… yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).

Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.

Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.

Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.

Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).

Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).

Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).

Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)

Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).

Sekarang kita perhatikan ayat berikut.
Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).

Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah… “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “

Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.

Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.

Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.

Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).

Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)

Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa ;

1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;

2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;

3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“

Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :

Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)

Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):

Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)

Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.

Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.

Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.

Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.

Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.

Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.

Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:

Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi (QS. az-Zumar : 65).

Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.

Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).

Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)

Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)

Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).

Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.

Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang, apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.

Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah tersebut. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)”

Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.

Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah. Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.

Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di indonesia).

Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.

Komposisi ‘Shahabat’ menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu ‘ahlulbait nabi’ QS 33:33.

2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.

3. Orang-orang islam yang ‘berkerumun di pinggir jalan’, yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.

4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya ‘mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk’ QS 9:102.

5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena ‘trend’. Orang-orang ‘sangat awam’
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97

6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum muslimin. “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi” QS 9:61

7. dll…dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.

Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah ‘bertemu diri’ sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.

Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.

===============================================================================
Kaum Syiah kafirkan Sahabat ?
=============================================================================

Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta’dil dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam. Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah, sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.

Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat merugikan islam, kaum syiah dianggap ‘mengkafirkan’ dan mengecam shahabat.

Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap ‘bukan mereka yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst’. Sedangkan kaum syiah tidak menerima demikian.

Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali dianggap ‘atas kehendak Allah’, tidak secuilpun ulama sunni mengecam Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist, Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.

Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah manusia yang ‘mulia’.

Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah.

Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal ‘Tanah Fadak’, yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi. Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan sahabat nabi.

Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian ijtihad mereka.

Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb: Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang besar. (QS. 9:101)

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)

Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:”Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:”Ia mempercayai semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. 9:61)

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. 9:74)

SYi’AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan)

SYi’AH : Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada sahabat penentang Imam Ali adalah dari Sifat fi’l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.”

Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun bertentangan
nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur’an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada
pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, ” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur’an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan “aqidah” , padahal Sahabat sendiri berkelahi,
caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq,hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena “bersepakat” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid,hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan/ kesepakatan” dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu
sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.” Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut
adalah bahaya dan merupakan bara pada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI’AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam menilai sesuatu urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah,”

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, ” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Karena itu pendapat
al-Asy’ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.

==================================================================================================================================================================

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

Hadis diatas membuktikan pendukung Imam Ali tidak sesat :
1.Al Quran tidak dapat dipahami dengan tepat tanpa pendampingnya, yakni ahlulbait Rasaul yang suci dari kesalahan dalam menafsir

2.Adakah Ali bagian daripada umat ataupun tidak ?

3.Adakah golongan menentang Abubakar cs yang terdiri dari Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dll termasuk di dalam umat ?

4.Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi Abubakar cs ? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Allah dan Rasulnya mengangkat Imam Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah di Ghadirkhum. Pengangkatan tersebut juga disaksikan oleh Abubakar, Umar dan Usman serta ribuan sahabat lainnya. Ironisnya Abubakar Umar cs melawan pengangkatan Imam Ali secara sembunyi dengan membuat rapat gelap untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai khalifah yang sah

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai madzhab Ahlul Bait (Syi’ah) sedang mengharu-biru. Bermula dari maraknya kontroversi mengenai nikah mut’ah, yang dianggap sebagai nikah yang dibolehkan madzhab Syi’ah, sampai kepada rekomendasi pelarangan madzhab tersebut di tanah air. Sayangnya, dilihat sebagai suatu wacana, perbincangan tersebut lebih diwarnai emosi dan dipenuhi stereotif yang kurang bertanggung jawab. Kajian yang berwawasan, apalagi yang memberi ruang kepada Syi’ah untuk memunculkan perspektifnya, mungkin belum terbuka. Oleh karenanya, menutup kekurangan yang ada, tulisan ini hendak menjelaskan satu perspektif penting Syi’ah, yang berlainan dengan madzhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Yakni, perspektifnya mengenai shahabat Nabi saw. Perspektif ini secara historis merupakan cikal bakal lahirnya gerakan Syi’ah sendiri.

Berbeda dengan Sunni, yang cenderung tidak membuat penggolongan, Syi’ah mengelompokkan shahabat Nabi saw menjadi empat kelompok. Pengelompokannya itu sendiri didasarkan kepada nilai ‘keadilan’ yang dipraktekkan shahabat semasa Nabi saw hidup hingga menjelang wafatnya. Yang pertama dari kelompok tersebut adalah shahabat yang sangat istimewa, yang juga dikenal dengan istilah Ahlul Bait Nabi saw. Yakni mereka yang karena kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya.

Kedua adalah kelompok shahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Ketiga adalah kelompok shahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan, baik menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Dan yang terakhir adalah kelompok munafik yang “menemani” Rasul karena ingin memperdayakannya.

Karena adanya kondisi dan motif yang berbeda tersebut, Syi’ah menyatakan bahwa tidak semua shahabat adalah adil. Masyarakat muslim tidak sepatutnya menjadi buta tuli terhadap apa yang pernah diperbuat seorang shahabat, terutama dosa dan kezalimannya. Di lain pihak, Sunni berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw adalah sama dan sejajar baik dalam kedudukan maupun dalam keadilannya terhadap Islam. Dan tidak seorang pun di antaranya yang diistimewakan, tak terkecuali istri-istri, anak-anak, menantu dan keluarga lain Nabi saw sendiri.

Penggolongan shahabat kalaupun dikenal dalam tradisi Sunni hanya bersifat generatif. Artinya dilihat dari kedekatannya dengan Nabi dalam segi waktu. Sehingga penggolongannya dibagi menjadi golongan shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dst. Sebagian membaginya berdasarkan mula pertama masuknya para shahabat ke dalam Islam, seperti tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun. Dan ada juga yang membagi bahwa Empat Khulafa’ Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali, pada tingkatan yang paling atas dari sekalian shahabat, disusul kemudian oleh enam shahabat lain yang dijamin masuk sorga.

+++

Untuk menjadi wacana yang ‘benar’ dan bermanfaat, tentunya perspektif Syi’ah mengenai shahabat tersebut secara intelektual haruslah mendapatkan sekaligus legitimasi, baik yang bersifat historis maupun futuris. Legitimasi historis mengandaikan bukti intelektual. Yakni adanya indikator untuk menetapkan bahwa ’sejarah’ yang bersangkutan memang ada. Sedangkan legitimasi futuris mensyaratkan bahwa perspektif itu mempunyai implikasi penting sedikitnya bagi masa depan pencerahan Islam, terutama pasca Nabi saw wafat.

Tentang indikasi ketidakadilan menurut Syi’ah dapat dilihat dari beberapa peristiwa berupa pembangkangan, penjatuhan wibawa Nabi, dan yang terpenting adanya penghalangan terhadap Nabi untuk menegaskan wasiatnya dalam bentuk tertulis. Di antara peristiwa tersebut, misalnya peristiwa Perdamaian Hudaibiyah. Sebagian shahabat tidak senang atas penerimaan Nabi saw terhadap persyaratan yang diajukan kafir Quraisy. Umar bin Khattab sampai mendatangi Nabi saw dan berkata: “Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”. Kemudian setelah berdebat dengan Nabi saw, mengulangi perkataan itu kepada Abu Bakar. Dan ketika beliau menyuruh menyembelih binatang korban yang dibawa para shahabat serta perintahnya untuk mencukur rambut, tidak satu shahabat pun yang mematuhi.

Selanjutnya bentuk ketidakadilan lain dapat dilihat dari adanya motif politis yang menghalang-halangi Nabi saw mengukuhkan wasiatnya agar dituliskan di atas kertas. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hari Khamis itu, terjadi tiga hari menjelang Nabi saw wafat. Para shahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhi Nabi saw, dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perkataan Umar Bin Khattab yang menyatakan, bahwa “Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Qur’an ada di sisi kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”, menurut Syi’ah merupakan bentuk langsung penolakan hadits Nabi. Yakni yang menyuruh para shahabat berpegang kepada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi.

Kemudian dua hari menjelang wafat Nabi saw, sebagian shahabat kembali mencela perintah Nabi. Yakni dalam pengangkatan Usamah sebagai komandan ekspedisi untuk memerangi Roma. Menurut para shahabat, bagaimana mungkin Nabi mengangkat orang yang baru berumur delapan belas tahun menjadi komandan para shahabat besar. Nabi saw sampai mengulang-ulang perintahnya, namun para shahabat tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Itulah beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah Islam. Penting dikemukakan di sini bahwa peristiwa-peristiwa di atas tidak hanya diberitakan oleh sumber-sumber Syi’ah. Shahih Bukhari dan Muslim, yang notabene merupakan sumber terpercaya madzhab Sunni, pun memberitakannya. Mengenai hal ini, DR Muhammad al-Tijani al-Samawi, seorang Wahabi Tunisia yang kemudian menjadi pengikut Syi’ah, mempunyai komentar. Bahwa seandainya orang alim Syi’ah menukilnya dari kitab mereka sendiri, maka aku tidak akan mempercayainya sama sekali. Namun ketika ia nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah sendiri, maka tak ada jalan untuk mencelanya.

+++

Maksud Syi’ah selalu memunculkan peristiwa-peristiwa seperti disebutkan di atas tentu sudah umum diketahui, bahwa yang berhak atas kepemimpinan pasca Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ali memenuhi kriteria sebagai Itrah Ahlul Bait Nabi yang keadilannya (keutamaannya) tidak disangsikan lagi. Dibandingkan para shahabat lain, orang pasti kesulitan untuk mencari cela, dosa dan kezaliman Ali. Namun sejarah telah berbicara lain, di kala keluarga Ali sibuk mengurus jenazah Nabi saw, Abu Bakar dilantik dengan tergesa-gesa menjadi Khalifah atas prakarsa Umar bin Khattab. Ali sendiri, bersama istrinya Fatimah, putri tercinta Nabi, terpaksa memberikan bai’at atas pengangkatan itu setelah diancam akan dibakar rumahnya.

Sejarah telah berlalu, namun perspektif Syi’ah untuk tetap berpegang pada Itrah Ahlul Bait Nabi dan keadilannya sampai kini tentu mempunyai raison d’etre. Maka sampailah kita kepada persoalan mengenai persyaratan bahwa suatu perspektif mesti mempunyai implikasi untuk menjadi bermanfaat. Tentang hal ini dijawab oleh Syi’ah dengan berbagai fenomena yang terjadi di dunia Sunni. Yang terpenting dan saling berhubungan di antaranya adalah bahwa hilangnya perspektif keadilan para shahabat berpengaruh pada manipulasi data, distorsi penafsiran serta peminggiran wacana dan keteladanan dalam Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya wacana mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di akhir masa hidup Nabi, yang sudah tentu dalam perspektif Syi’ah dapat menjelaskan keberpihakannya kepada Ali. Bahkan pemberitaan mengenai peristiwa di akhir masa hidup Nabi dalam dunia Sunni cenderung ditutup-tutupi dengan alasan “menjaga segala kemuliaan para shahabat”.

Konsekuensi lain adalah pengaruhnya atas kualitas kepemimpinan pasca Nabi. Menurut Syi’ah, Sunni pasti kesulitan untuk mencari alasan, bilamana dipertanyakan tentang apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abubakar misalnya. Tidak demikian apabila pertanyaan semacam itu dipertanyakan kepada Syi’ah atas penetapannya pada khilafah Ali, yang alasan dan dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karenanya khilafah pasca Nabi versi Sunni kehilangan legitimasinya ketika ia dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Yang berkembang kemudian dalam pemikiran politik Sunni adalah ijtihadz tanpa dasar dengan alasan yang semena-mena. Contoh paling ekstrim mengenai ini adalah tragedi pembantaian cucu Nabi, Husein, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Atas pembantaian itu Sunni cukup memberi alasan bahwa Yazid sedang berijtihadz. Bilamana ia benar maka mendapat dua pahala, sedangkan bilamana salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bait Nabi. Kesimpulan Syi’ah mengenai hal ini adalah bahwa Sunni telah mengalahkan Sunnah Nabi dengan ijtihadznya.

Lebih jauh lagi adalah adanya peminggiran wacana dan keteladan Ahlul Bait Nabi. Siti Fatimah, yang oleh Nabi sendiri digelari “ibu bagi ayahnya” karena kecintaan dan ketakdhiman putrinya tersebut kepada beliau, jarang sekali menjadi rujukan dan kajian di dalam Sunni. Adanya pembekuan madzhab fiqh menjadi empat madzhad di dalam Sunni, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menurut Syi’ah adalah juga konsekuensi langsung dari peminggiran Ahlul Bait Nabi. Padahal ada sumber penting yang lebih dekat, baik secara kekerabatan maupun waktu, yakni Imam Jafar al-Shadiq, yang tidak lain adalah cicit Nabi dari keturunan Fatimah. Bahkan sejarah sendiri mencatat bahwa keempat imam madzhab merupakan murid-murid Imam Jafari’, sehingga Imam Jafari’ digelari “guru para imam”.

Dari uraian di atas, dengan demikian menjadi jelas bagi Syi’ah, bahwa perspektif mengenai keadilan para shahabat mempunyai legitimasi historis maupun futuris. Dan perspektif itu baginya tidak hanya berhenti dalam masalah khilafah Ali saja. Pada kenyataan historis dan sosiologis, eliminasi perspektif itu akan berpengaruh pada ruang waktu yang lebih luas, serta pencerapan kebenaran Islam yang lebih dalam. Wallahua’lam

Peristiwa Ghadir Khum berdasarkan Al Qur’an

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam pada masa sebelum wafat Rasulullah SAAW adalah peristiwa Ghadir Khum. Peristiwa Ghadir Khum termasuk riwayat mutawatir.[1] Dalam hadits Ghadir Khum, setelah haji wada (haji terakhir), Rasulullah menghentikan perjalanan para sahabatnya yang sudah hampir pulang ke rumahnya masing-masing di suatu tempat yang bernama Khum (antara Makah dan Madinah). Sebelumnya, dalam perjalanan dari Makah ke Madinah, Jibril turun dan mangatakan ”Hai Rasul, sampaikanlah!”.  Rasulullah tidak langsung menyampaikan, melainkan mencari situasi dan waktu yang tepat untuk menyampaikan perintah Allah tersebut. Tidak lama kemudian Jibril turun kembali dan mengatakan,”Hai Rasul, sampaikanlah!” dan Rasulullah tetap belum menyampaikannya. Kemudian Jibril turun untuk ketiga kalinya dengan membawa ayat sebagai berikut :

Al Maaidah (QS5:67)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah (balligh) apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan maka engkau tidak menjalankan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir “

Apabila kita perhatikan bahasa Arab ayat di atas, Allah menggunakan kata balligh (sampaikan!), yang menunjukkan perintah Allah yang sifatnya memaksa. Apabila kita perhatikan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an sebanyak 30 juz, kita tidak akan menemukan perintah Allah lain yang sifatnya memaksa Rasulullah sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ini. Hal ini tentunya menunjukkan betapa pentingnya perintah “penyampaian” dalam ayat tersebut. Oleh karena itu ayat ini juga disebut ayat tabligh.

Pentingnya hal yang perlu disampaikan tersebut juga tergambarkan pada bagian akhir ayat, di mana terdapat ancaman Allah jika Rasul tidak mengerjakan perintah tersebut. Dalam ancaman tersebut seolah-olah perjuangan Nabi selama 23 tahun tidak ada artinya, atau sia sia, jika tidak menyampaikan suatu “hal”. Penundaan penyampaian yang dilakukan oleh Rasulullah tentulah didasari oleh adanya kekhawatiran dalam pikiran Rasulullah mengenai kemampuan ummatnya untuk menerima dan menjalankan perintah yang disampaikannya. Oleh karenanya Rasulullah mencari strategi bagaimana agar tidak ada alasan bagi ummat untuk menolak. Ayat di atas juga menyebutkan bahwa Allah, selain memberikan perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan suatu “hal” tersebut, juga memberikan jaminan berupa penjagaan kepada Rasulullah atas gangguan manusia.[2]

Dengan demikian, terdapat 3 hal penting pada ayat ini, yaitu:

  1. Nabi diperintahkan untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting
  2. Allah menjaga Rasulullah dari gangguan manusia
  3. Dampak dari orang-orang yang tidak menerima apa yang disampaikan oleh Rasulullah

Lalu bagaimanakan isi tafsir atas ayat tabligh di atas? Sebagaimana perbedaan penafsiran yang sering kali terjadi, sebagian kecil tafsir menyebutkan bahwa ayat tabligh tersebut turun di Madinah, yaitu ketika Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang Yahudi. Apabila kita kritisi tafsir tersebut, perlu kita ingat bahwa Rasulullah semenjak hijrah dari kota Mekkah, telah tinggal selama 10 tahun di kota Madinah. Selama Rasulullah berada di Madinah tersebut, bukankah sudah ada orang orang Yahudi? Lalu kenapa baru sekarang Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan Islam kepada mereka? Kenapa pada saat-saat terakhir sebelum Rasullah meninggal, barulah Allah mengancam Rasulullah untuk menyampaikan Islam kepada Yahudi? Berdasarkan logika dan pemahaman kita tentang sejarah Islam, tentulah kita dapat menilai bahwa tafsir ini tidak tepat dan sama sekali tidak berdasar.

Kembali kepada peristiwa Ghadir Khum. Setelah Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berhenti, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menumpuk batu hingga menjadi sebuah mimbar. Kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar tersebut dan memberikan ceramah kepada 120 ribu sahabat. Jumlah pendengar yang sangat banyak inilah yang menyebabkan riwayat ini bukan hanya shoheh, tetapi mutawatir. Dalam ceramahnya Rasulullah dengan sangat terperinci menjelaskan kepemimpinan setelah beliau. Beliau mengatakan “Man kuntu maula fa Aliyyun maula (Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya setelah aku).”

Mengenai perkataan Rasulullah tersebut, ada kelompok yang mengatakan bahwa yang dikatakan Rasulullah adalah “Siapa yang menjadikan aku sebagai kekasihnya maka menjadikan Ali sebagai kekasihnya.” Bila kita kritisi pendapat tersebut, tentulah kita akan menganggap bahwa adalah suatu kesia-siaan bahwa Rasulullah mengumpulkan 120 ribu sahabatnya hanya untuk mengatakan “cintailah Ali”.  Kata “Maula” sendiri bukanlah berarti kekasih, melainkan “pemimpin”. Selain itu, dalam penyampaiannya, Rasulullah bukan hanya mengangkat tangan Imam Ali, tetapi juga memindahkan sorbannya ke kepala Ali. Hal ini didasari pada kedudukan Sorban sebagai lambang kepemimpinan, sehingga ummat yang bisu dan tuli, yang tidak dapat mendengar ceramah Rasulullah, dapat memahami maksud yang ingin disampaikan Rasulullah dengan isyarat tersebut. [3]

Riwayat sebagaimana di atas dapat ditemukan dalam kitab-kitab berikut ini:

  1. Tafsir Al Manar dari Muhammad Rasyid Ridho Juz 6 hal 343

Kitab ini menyebutkan bahwa ayat tabligh (Al Maaidah :67) adalah ayat dimana Allah menegur keras kekasih-Nya, Rasulullah, untuk menyampaikan tentang wilayah Amirul Mu’minin.

  1. Kitab Kanzul Ummal Al Allamah Al Hindi Jilid 5 hal 114

Menyebutkan hal yang sama dengan tafsir Al Manar

  1. Fushulul Muhimmah karya Ibnu Sobbar hal 42

Menyebutkan hal yang sama dengan tafsir Al Manar

  1. Asbabun Nuzul karya Al Wahidi hal 104

Menyebutkan hal yang sama dengan tafsir Al Manar, dengan tambahan bahwa setelah ayat ini turun Umar bin Kathab datang kepada Ali bin Abi Thalib dan mengucapkan,”Selamat, selamat wahai putra Abu Thalib. Hari ini engkau menjadi pemimpin kami semua.”

  1. Yanabiul Mawaddah karya Ibrahim Al Qundusi Al Hanafi
  2. Tafsir Al Kabir karya Fakhrurrozi Jilid 6 Hal 53
  3. Mustadrak Shahihain Juz 3 Hal 330
  4. Syawahidu Tanzil karya Al Hashakani  Jilid 1 hal 192
  5. Faraidus shimtain Jilid 1 hal 63
  6. Ibnu Katsir
  7. Al Milal wal Nihar karya Syakhrestani hal 141

Dalam kitab ini diceritakan ketika Rasul SAAW hendak meninggal dunia, Rasulullah memerintahkan pasukan Usamah bin Zaid untuk memerangi suatu kaum. Abu Bakar, Umar dan Usman diperintahkan menjadi prajurit dibawah komando Usamah. Apa tujuan Rasul SAAW melibatkan mereka (mengingat usia mereka tidak muda lagi)? Hal ini didasari kesadaran Rasulullah bahwa dirinya hendak meninggal dunia dan agar keberadaan ketiga orang tersebut akan mengganggu kelancaran peralihan kekhalifahan. Rasulullah kemudian juga meberikan ancaman, ”La’natullah orang yang keluar dari tentara Usamah.” Berangkatlah pasukan Usamah. Ketika dalam perjalanan, sampailah kabar bahwa Rasulullah meninggal dunia, dan Abu Bakar, Umar dan Usman keluar dari pasukan.

  1. Tafsir Durul Mantsur karya Imam Suyuthi Jilid 3 hal 117

Menjelaskan ayat tabligh turun di Ghadir Khum

  1. Kitab Farhul Khadir karya Syaukhani Jilid 2 hal 88

Berdasarkan riwayat Ghadir Khum, telah jelas bagi kita bahwa hal penting yang diperintahkan Allah untuk disampaikan oleh Rasulullah adalah mengenai wilayah (kepemimpinan) Imam Ali bin Abi Thalib. Apabila kita kembali kepada Al Qur’an, hal ini dijelaskan dalam surat Al Maaidah (5) : 55 sebagai berikut:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan membayar zakat dalam keadaan rukuk (rakiun) ”

Apabila kita baca terjemahan Al Qur’an dari Departemen Agama, kata “Raki’un” dalam ayat di atas diartikan sebagai “tunduk” padahal makna raki’un adalah ruku’. Untuk lebih jelasnya, coba kita lihat QS At Taubah (9): 112 sebagai berikut:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang orang yang bertobat, yang bribadat, yang memuji Allah, yangyang berpuasa, yang ruku’ (rakiun), yang sujud, yang menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”

Dapat kita lihat bahwa dalam ayat ini, kata “rakiun” diartikan sebagai ruku’. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam ayat berikut ini:

QS Ali Imran (3):43

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Hai Maryam, patuhlah engkau pada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku’ (raaki’iin)“

Kata “rakiun” dalam ayat ini juga diterjemahkan sebagai ruku’. Dengan demikian patut kita pertanyakan mengapa dalam QS Al Maaidah (5):55 kata rakiun diartikan sebagai tunduk?

Kembali ke QS Al Maaidah (5):55, ayat tersebut diawali dengan kata “Innama”. Apabila kita menemukan kata “Innama” dalam Al Qur’an, hal ini menunjukkan kalimatul hasyr (pembatas). Jadi dapat disimpulkan tidak ada pemimpin lain selain yang disebutkan daam ayat tersebut. Dengan demikian, pemimpin (bagi umat Islam) adalah Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Orang-orang beriman manakah yang dimaksud di sini? Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali bin Abi Thalib. Riwayat menyebutkan ketika beliau sedang sholat di dalam mesjid, seorang pengemis datang dan meminta uang kepada sahabat-sahabat Nabi. Sahabat tidak ada yang membawa uang, kemudian Rasul berkata,”Masuklah kamu dan mintalah kepada orang yang sedang sholat.” Imam Ali yang saat itu sedang dalam keadaan ruku’, memberikan sedekah melalui isyarat dengan mengulurkan cincin di jarinya. Jelas bahwa Ini adalah perintah dari Rasulullah SAAW yang memiliki makna besar sehingga terekam dalam Al Qur’an. Lalu bagaimana dengan kata “orang-orang” yang beriman, yang berarti jamak dalam ayat ini? Patut kita diketahui dalam Al Qur’an tidak berarti kalimat berbentuk jamak itu dinisbatkan kepada orang yang banyak. Bisa jadi kalimat jamak dinisbatkan ke satu orang. Contohnya dalam ayat QS Ali Imran (3):61 (Ayat Mubahalah) berikut ini:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Kata “Nisaa ana” dalam ayat di atas mempunyai arti “wanita-wanita kami” yang berarti banyak, tetapi hanya dinisbatkan kepada satu orang yaitu Sayyidah Zahra a.s.

Contoh lainnya sebagaimana terdapat dalam QS An Nahl (16):120 sebagai berikut:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sungguh, Ibrahim adalah ummat (ummatan) yang patuh kepada Allah lagi lurus dan dia bukanlah termasuk golongan orang yang musyrik”

Meninjau ayat di atas, ada berapa orangkah Ibrahim? Hanya satu. Akan tetapi Allah menyebutkan “Ummatan”. Ummatan adalah kata jamak tetapi dinisbatkan hanya kepada Nabi Ibrahim.

Selanjutnya, QS Al Maaidah (5):55 menyebutkan bahwa seseorang, ketika menjadikan Allah pemimpinnya, Rasul pemimpinnya, orang yang beriman tadi pemimpinnya maka masuk ke dalam golongan hizbollah (pengikut Allah). Jadi syarat untuk masuk sebagai pengikut Allah adalah menjadikan Allah, Rasul dan orang yang beriman tadi sebagai pemimpinnya (berwilayah kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman). Yang tidak menjadikan Allah, Rasul dan orang beriman sebagai pemimpinnya dalam satu kesatuan adalah lawan dari pengikut Allah atau pengikut syaitan.

Berdasarkan pembahasan di atas jelaslah bahwa perintah yang harus disampaikan dalam ayat tabligh adalah wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Isi dari QS Al Maaidah (5):55 menjelaskan bahwa wajib bagi ummat Islam untuk taat mutlak kepada wilayah tersebut. Hal ini juga dijelaskan dalam ayat QS An Nisa (4):59 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, Rasul dan ulim amri. Jika kamu berselisih dalam suatu urusan kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman terhadap Allah dan hari kemudian. Itulah yang lebih baik dan lebih bagus kesudahannya”

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang beriman (secara umum) diperintahkan untuk mentaati Allah, Rasul dan ulil amri. Apabila kalian (orang-orang beriman) berselisih mengenai siapa ulil amri tersebut, Allah mengatakan kembalikan lagi kepada Allah dan Rasul yang akan menjelaskan. Kalau memang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir maka harus taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Hal ini sesuai dengan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim yang mengatakan siapa yang mati tidak mengenal imam pada zamannya maka mati jahiliyah.

Rasulullah, ketika ditanya siapakah ulil amri, menjawab,”Mereka adalah imam imam dari ahlul baytku.” Hal ini tercantum dalam kitab:

  1. Yanabiul Mawaddah
  2. Faraidus Shimtain
  3. Syawahidu Tanzil.

Setelah ditetapkannya wilayah melalui nas dan keterangan dari Rasulullah SAAW, apabila ummat sudah menerima ini semua maka sempurnalah Islam sebagai agama mereka.

QS Al Maaidah (5):3

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Apabila kita lihat kata-kata yang terdapat di dalam ayat di atas, dapat kita lihat bahwa istilah yang digunakan adalah:

Akmaltu = kusempurnakan

Atmamtu = kusempurnakan

Kafaitu = aku cukupkan

Dari ayat di atas jelaslah bahwa masih ada yang disempurnakan oleh Allah SWT, yang artinya ada satu masalah yang belum sempurna untuk disampaikan selama ini. Begitu masalah tersebut disampaikan barulah di akhir ayat disebutkan bahwa Allah meridhai agama Islam tersebut. Jadi kita harus mengikuti nikmat yang disempurnakan tadi, bila tidak, tentunya tidak akan mencapai Islam yang di-ridhai Allah SWT.

Dalam kitab Bidayah wal Nihayah Juz 5 hal 464 karya Ibnu Katsir.

Dari Abu Hurairah berkata,”Siapa yang puasa pada hari 18 Dzulhijjah ditulis baginya sebagaimana puasa 60 bulan. Dan pada hari Ghadir Khum, pada hari itu Nabi mengambil tangannya Ali. Nabi berkata,”Bukankah aku pemimpinnya orang orang beriman.” “Ya Rasulullah”, jawab mereka. Rasulullah berkata,”Siapa yang menjadikan aku maula, maka Ali adalah maulanya.” Berkatalah Umar bin Khattab, ”Selamat, selamat wahai putra Abu Thalib. Hari ini engkau adalah pemimpin aku, dan pemimpin setiap muslim.” Ketika itu juga Allah menurunkan ayat QS Al Maaidah (5):3.

Setelah sahabat semua membaiat Rasul, satu orang bernama Harris bin Nu’man tidak mau membaiat. Dia datang ke Rasulullah dan bertanya,”Apakah perintah ini dari Allah atau karangan engkau sendiri Ya Rasulullah.” Rasulullah berkata,”Demi Allah, ini adalah perintah dari Allah.” “Kalau begitu turunkan azab dari Allah kalau benar dari Allah.”, kata Harris. QS Al Maarij (70):1 – 2

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ

لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ

“Seseorang bertanya tentang azab yang cepat terjadi. Bagi orang orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.”

Telah meminta seseorang siksa yang cepat, Allah menjadikan orang itu kafir, kisah ini tercantum dalam kitab:

  1. Faraidus ShiMtain Jilid 1 hal 82
  2. Tafsir Qurtubi Juz 9 hal 216
  3. Kitab Fushulul Muhimmah hal 42
  4. Faidhul Ghadir juz 6 hal 268 karya Manawi
  5. Kitab Nur Abshor hal 87 karya Sarblanji

meriwayatkan cerita tentang Harris bin Nu’man. Ketika ayat ini turun, batu dari langit turun dan tembus kepalanya.

Sebagai penutup pembahasan ini, perhatikan ayat QS Az Zukhruf (43):45 berikut ini:

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau. Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?”

Ayat di atas menyebutkan bahwa terdapat pertemuan antara Rasulullah dengan Rasul-rasul Allah lainnya, yaitu pada saat Isra Mi’raj. Ayat di atas menyebutkan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah untuk bertanya kepada para Rasul tersebut. Apakah yang diperintahkan Allah untuk ditanyakan tersebut?

Di dalam kitab:

Faraidush Shimtain Juz 1 hal 81 karya Juwaini

Tarikh Damsikh Jus 42 hal 241 karya Ibnu Ashakir asy Syafii

Syawahidu Tanzil juz 2 hal 157 karya Al Hashakani al Hanafi

Diriwayatkan Rasulullah bersabda,”Datang kepadaku malaikat dan berkata,”Tanyakanlah siapa yang telah kami utus dari Rasul-rasul sebelum kamu, untuk apa mereka itu diutus.” “ Menjawab para Rasul, ”Kami membawa wilayah engkau dan wilayah Ali bin Abi Thalib.””


[1] Jika ditinjau dari sisi riwayat, tingkatan hadis itu ada shoheh, hasan, dhaif, dsb. Tapi ada hadis yang tingkatannya diatas shoheh, yaitu mutawatir. Jika yang meriwatkan diatas 3 itu disebut hadis shoheh, tapi jika yang meriwayatkan lebih dari 7 maka disebut mutawatir. Kedudukan hadis mutawatir hampir sama dengan Qur’an.

[2] Ayat ini juga menepis pendapat yang menyatakan Rasulullah meninggal karena diracun

[3] Subhanallah tempat Ghadir Khum itu masih ada sampai sekarang, dan dari tempat Rasulullah berdiri suara yang berbicara  di sana akan terdengar sampai 5km. Itulah bagaimana 120rb sahabat bisa mendengar kata-kata Rasul

.

Ali pada Peristiwa Ghadir Khum, Pemimpin Muslimin
Setelah melakukan tawaf perpisahan, Nabi kembali menuju Madinah. Sejumlah besar kaum muslimin bersamanya waktu itu. Dalam perjalanan pulang, Nabi dan kaum muslimin tiba di sebuah tempat yang bernama Ghadir Kham (telaga Khum); sebuah tempat yang masih termasuk daerah Juhfah. Yaitu, tempat persimpangan jalan orang-orang yang ingin kembali ke daerahnya masing-masing, baik yang dari Irak, Mesir, Madinah dan lain-lainnya. Hari itu bertepatan dengan tanggal delapan belas Dzil hijjah.
Pada waktu itu, turun wahyu yang berbunyi: “Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”.
Nabi diperintahkan untuk menunjuk Ali sebagai pemimpin di hadapan kaum muslimin. Nabi diminta untuk menyampaikan apa yang diturunkan dari Allah; bahwa Ali bin Abi Thalib adalah wali dan pemimpin kaum muslimin. Diwajibkan ke atas setiap muslim untuk taat kepada Ali.
Pada waktu itu rombongan pertama telah dekat dengan Juhfah. Nabi segera memerintahkan mereka yang telah dahulu berjalan agar segera kembali, dan mereka yang berjalan dari belakang agar ditunggu. Tempat itu belum pernah ditinggali sebelumnya. Nabi tidak akan berhenti di situ bila wahyu tidak turun kepadanya.
Setelah semua terkumpul, Nabi berdiri di tengah-tengah kerumunan manusia dan berbicara dengan nada suara yang tinggi: “Wahai seluruh manusia! Aku telah mengajak kalian untuk memeluk Islam dan kalian menerimanya. Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka; Kitabullah (Al-Quran) dan ‘Itrah: Ahlul Baitku. Perhatikan dengan seksama apa yang kalian lakukan terhadap keduanya sepeninggalku nanti. Ingat! Keduanya tidak akan pernah terpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar (di Hari Kiamat).
Kemudian Nabi melanjutkan: “Allah adalah pemimpinku. Aku adalah pemimpin segenap kaum muslim dan muslimah”.
Setelah itu, Nabi mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib seraya berkata: “Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah! Engkau mencintai orang yang mencintai Ali. Engkau adalah musuh bagi orang yang memusuhi Ali. Tolonglah orang yang menolong Ali. Tinggalkan orang yang tidak puas dengannya. Lingkarilah kebenaran di mana saja ia berada. Ketahuilah kalian semua! Hendaknya setiap yang hadir di sini memberitahukan kepada yang tidak hadir di sini”.
Kemudian sebelum mereka berpencar kembali menuju arah tujuannya masing-masing, turunlah ayat: “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan aku telah lengkapi nikmat-Ku kepada kalian dan aku rela Islam sebagai agama kalian”.
Setelah membacakan ayat tersebut, Nabi lantas berucap: “Allahu Akbar, Allah Maha Besar atas penyempurnaan agama dan penyelesaian nikmat dan kerelaan Allah akan risalah yang aku emban dan kepemimpinan Ali sepeninggalku”.
Para sahabat berduyun-duyun mengucapkan selamat atas terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin kaum muslimin. Orang Yang paling dahulu mengucapkan selamat dari kalangan sahabat ternama adalah Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Mereka berdua menyalami Ali sambil berkata: “Selamat, selamat atasmu, wahai Ali bin Abi Thalib! Engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua kaum muslim dan kaum muslimah.
Diriwayatkan bahwa Nabi memerintahkan agar membuat kemah tersendiri untuk Ali. Kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin secara berkelompok-kelompok untuk mengucapkan selamat kepada pemimpin mereka. Semua masuk mengucapkan selamat kepada Ali bahkan istri-istri Nabi dan istri-istri kaum muslimin yang mengikuti ibadah haji -tanpa terkecuali- mengucapkan selamat kepadanya.

Peristiwa Harits bin Nu’man dan Ayat Sa’ala Sailun
Setelah ucapan Nabi tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sepeninggalnya (barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpinnya maka ini Ali adalah pemimpinnya) tersebar dan sampai ke telinga Al-Harits bin An-Nu’man, ia langsung mendatangi Nabi sambil menaiki untanya. Pada waktu itu, Nabi berada di tempat bernama Al-Abthah, yaitu ketika Al-Harits bin Nu’man menemuinya setelah turun dari untanya.
Al-Harits berkata kepada Nabi di hadapan para sahabat: “Wahai Muhammad! Engkau memerintahkan kami untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah. Perintah ini kami terima, karena engkau mengatakannya dari Allah”. Kemudian, Al-Harits menyebutkan seluruh rukukn Islam lalu berkata: “Apakah engkau masih belum merasa cukup dengan semua ini sehingga perlu lagi mengulurkan tanganmu untuk mengangkat tangan anak pamanmu dan melebihkannya dari kami semua dengan ucapanmu: “Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ucapan ini kau buatanmu sendiri atau dari Allah?
Nabi menjawab: “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya! Apa yang aku ucapkan adalah perintah-Nya”.
Al-Harits kemudian membelakangi Nabi untuk menaiki untanya sambil berkata, “Ya Allah! Bila apa yang diucapkan itu memang benar dari-Mu, jatuhkanlah batu dari langit atau berikan kami azab yang sangat pedih”. Belum lagi selesai ucapan Al-Harits ini, Allah melemparnya dengan sebuah batu yang jatuh tepat mengenai kepalanya dan keluar dari lubang pantatnya. Setelah kejadian itu, turun wahyu “Ketika seorang meminta diturunkan azab yang pedih”.

Usaha-usaha Rasulullah Memperkuat Baiat Ali
Nabi sangat memahami benar apa yang akan terjadi pada kaum muslimin sepeninggalnya. Oleh karena itu, beliau selalu mengawasi dampak-dampak negatif dan penyakit-penyakit yang menimpa masyarakat Islam. Nabi juga percaya betul bahwa yang pertama menerima terpaan dan guncangan adalah garis risalah yang prinsip-prinsipnya dikuatkan oleh beliau bersama Ali bin Abi Thalib dan kepemimpinan yang telah dijelaskan oleh Nabi; bahwa bila umat Islam meninggalkannya, maka telah berpaling dari garis yang benar dari dakwah Islam. Meninggalkan wasiat Nabi tentang kepemimpinan sangat merugikan dan merongrong kemaslahatan mayoritas yang ingin mendapatkan kemuliaan dari Islam dan ingin mendapatkan berkah yang dapat memuaskan dahaga mereka di bawah lindungan Islam. Dan meninggalkan kepemimpinan Islam bukanlah langkah yang menguntungkan Islam, karena itu melemahkan kebesaran Islam  yang telah dibangun oleh Nabi.
Nabi saw. merasa khawatir akan perubahan syariat Islam menjadi seakan tidak seperti yang diturunkan oleh Allah. Syariat Islam akan tunduk pada hawa nafsu dan kepentingan. Salah satu kekhawatiran yang melanda Nabi adalah kejadian Al-Harits bin An-Nu’man yang meragukan bahkan mengingkari; bahwa apa yang diucapkan Nabi dalam peristiwa Al-Ghadir bukan wahyu, melainkan hawa nafsu.
Untuk menanggulangi agar peristiwa semacam Al-Harits tidak terulang lagi, Nabi berulang kali dan di berbagai tempat sering mengulangi garis dakwah Islam yang benar. Sering kali Nabi mengulangi ucapannya: “Bila kalian menjadikan Ali sebagai khalifah sepeninggalku, dan aku tidak berpikir bahwa kalian akan melakukannya, niscaya kalian akan menjumpainya sebagai orang yang memberi petunjuk dan orang yang mendapat hidayah. Ia akan mengantarkan kalian kepada tujuan yang jelas”.
Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abu ‘Ubadah berkata di depan orang banyak: “Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah saw. berkata: “Bila aku meninggal dunia, hawa nafsu akan semakin sesat, manusia akan kembali kepada keyakinan sebelumnya. Pada saat-saat seperti itu, kebenaran bersama Ali”.
Hadis At-Tsaqalain adalah bukti lain atas keharusan berpegang dan taat kepada Ali bin Abi Thalib. Berjalan mengikuti petunjuk, jalan dan kepemimpinan Ali adalah jaminan keselamatan akidah Islam dan pengawal manusia agar tidak tersesat.
Dengan penuh kesadaran, Nabi mulai memikirkan cara baru untuk menyelesaikan masalah ilahi tentang penetapan Ali bin Abi Thalib sebagai Amir Mukminin (pemimpin kaum mukminin). Untuk itu, Nabi berusaha untuk menyiapkan sebuah pasukan besar yang di dalamnya diikutkan seluruh unsur yang mungkin dapat mengganggu penetapan Ali sebagai pemimpin Islam sepeninggalnya. Bila mereka hadir di Madinah dan mampu membelokkan rencana ini, maka risalah Islam akan menyimpang dari jalannya yang lurus. Atau, setidak-tidaknya kepemimpinan Islam dibutuhkan sebagai posisi politis atau pengaturan di samping struktur pemerintahan. Masalah kepemimpinan Islam dari unsur-unsur tersebut muncul sebagai sebuah sikap permusuhan ketika mereka menolak Ali sebagai pemimpin. Penolakan terhadap Ali menimbulkan banyak masalah terhadap umat Islam, sementara masalah kepemimpinan Islam semakin kabur, karena pada saat yang sama, umat Islam kehilangan Nabi Muhammad saw.

Nabi Sakit dan Pengiriman Pasukan Usamah
Kehidupan Ali bin Abi Thalib identik dengan kehidupan Rasulullah saw. dan risalah Islam. Pada kondisi-kondisi genting dan sulit dalam masa-masa kritis dan peperangan, Ali selalu berada di barisan terdepan. Ia menghadapi segalanya dengan kebijakan dan keberanian yang patut menjadi contoh. Hal itu berlangsung hingga akhir-akhir kehidupan Nabi. Semua ini mengandung makna yang dalam akan kedekatan dan hubungan yang terus menerus antara Nabi dan Ali.
Dengan melakukan penelusuran terhadap ayat-ayat, riwayat-riwayat dan data-data sejarah, akan jelas bagi semua bahwa perwujudan Ali bin Abi Thalib adalah kepanjangan dari Rasulullah saw. Ali adalah pribadi yang paling layak dan tepat untuk memimpin umat Islam setelah meninggalnya Rasulullah saw. bukan orang lain.
Nabi telah menyiapkan dan menyimpan rahasia-rahasia kenabian, perincian risalah Islam dan memberikannya tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi risalah Islam. Lebih dari itu, Nabi mewakilkan Ali untuk melakukan segala persiapan kematiannya. Mulai dari segala sesuatunya yang terkait dengan orang yang meninggal hingga penguburannya. Pekerjaan ini tidak diserahkan kepada orang lain. Nabi tahu betul dan percaya pada Ali bahwa apa yang diperintahkannya pasti dilaksanakannya. Ali tidak akan menyimpang dari perintah Nabi sekecil apapun. Yang lebih penting adalah Ali tidak pernah ragu dalam melaksanakan perintah Nabi. Beliau tidak pernah mempercayai orang lain sebagaimana kepercayaannya pada Ali.
Selama hidup, Nabi bersikeras untuk menjelaskan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dan hanya dia yang patut menggantikannya. Hal itu senantiasa dilakukannya hingga akhir hayatnya, di samping apa yang telah dilakukannya sebelum-sebelumnya di berbagai tempat dan kondisi.
Setelah melakukan ibadah hajinya yang terakhir dan kembali ke Madinah, Nabi tinggal beberapa waktu sehingga sakitnya semakin bertambah berat. Beliau berkata: “Sampai saat aku ini masih merasakan pedih dan sakitnya makanan yang aku makan di Khaibar. Sekarang ini adalah saat-saat terputusnya urat-urat jantungku, karena racun itu”.
Kaum muslimin secara berkelompok menjenguk Nabi. Dalam jiwa mereka, ada perasaan tidak enak sementara pikiran mereka bingung dan bertanya-tanya; bagaimana masa depan risalah Islam. Nabi telah memberi kabar tentang semakin dekat kematiannya. Nabi memberi nasihat kepada mereka tentang hal yang dapat memberikan jaminan perjalanan sejarah risalah Islam dan mewujudkan kebahagiaan dan kemenangan. Nabi berkata: “Wahai manusia! Semakin dekat waktu ajalku dan aku akan pergi bersamanya. Aku ingin menyatakan permohonan maafku kepada kalian. Ketahuilah aku telah meninggalkan kepada kalian Kitabullah dan ‘Itrah; Ahlul Baitku’. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nabi mengangkat tangan Ali sambil berkata: “Ini adalah Ali bin Abi Thalib. Ia senantiasa bersama Al-Qur’an, dan Al-Qur’an senantiasa bersamanya. Ali dan Al-Qur’an tidak akan terpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga Kautsar (di Hari Kiamat)’.
Nabi masih memiliki satu keinginan lagi. Beliau sangat ingin melihat suksesi berjalan mulus tanpa ada perseteruan dan persekongkolan dari orang-orang yang memiliki tujuan-tujuan buruk. Para sejarawan sepakat bahwa pada saat-saat terakhir dari kehidupannya, Nabi sangat menekankan dan memperhatikan persiapan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Dalam pasukan itu, Nabi menyertakan para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan tokoh-tokoh lain dari Muhajirin dan Anshar. Nabi mengirim pasukan ini ke batas utara jazirah Arab. Salah satu sahabat besar yang tidak ikut adalah Ali bin Abi Thalib.
Sejumlah sahabat tidak mentaati perintah Nabi dan bersikeras untuk tetap tinggal dan tidak mau menyertai pasukan Usamah. Mereka mulai mengada-ada alasan agar dapat tetap tinggal di Madinah. Tidak cukup itu saja, mereka juga mulai mengkritik dan tidak setuju dengan penunjukan Usamah sebagai pemimpin pasukan. Mendengar semua itu, Nabi dengan susah payah dan dengan menahan sakit yang tak tertahankan keluar dan menceramahi mereka. Beliau memberikan semangat agar mereka mau mengikuti pasukan yang dipimpin oleh Usamah. Beliau mengetahui bagaimana mereka mulai tidak mendengarkan ucapannya dan mulai bersikap keras kepala. Namun Nabi tetap secara konsisten memerintah mereka untuk bergabung dengan pasukan Usamah dan pergi menuju tujuan yang telah ditentukan. Di akhir usahanya Nabi mengatakan: “Ikut dan taatilah pasukan Usamah! Allah akan melaknat siapa saja yang membangkang dari pasukan Usamah”.
Di sini, muncul sebuah keanehan. Rasulullah saw. tetap bersikeras untuk menjelaskan betapa pentingnya perjalanan pasukan Usamah menuju tujuan yang telah ditentukan, padahal beliau dalam kondisi sakit keras dan telah mendekati ajalnya. Seandainya siapa saja yang berada di bawah komando Usamah mau melihat pentingnya masalah ini dan itu terkait erat dengan dekatnya ajal Nabi, niscaya ia akan mengecualikan hal ini dan langsung menaati ucapan belaiu sejak awal.
Yang lebih aneh lagi, mereka tidak mau melakukan perintah Nabi dan membangkang. Apakah peristiwa ini tidak memberikan sebuah pelajaran akan adanya sesuatu yang disembunyikan untuk dilaksanakan? Adakah rencana tersembunyi di balik semua ini?
Nabi telah mencium gelagat sebagian sahabat. Mereka menunggu kesempatan untuk menghabisi Ahlul Bait. Mereka berkumpul untuk merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait. Oleh karenanya, Nabi merasa perlu, dengan segala upaya dan dengan kondisi yang tidak mendukung, untuk melindungi umatnya dari penyimpangan dan fitnah. Nabi mengambil langkah baru untuk mengokohkan, sekali lagi, kepemimpinan dan khilafah Ali bin Abi Thalib. Nabi berkata: “Bawakan aku kertas dan alat tulis! Aku ingin menuliskan sesuatu untuk kalian sehingga kalian tidak tersesat selama-lamanya”.
Kondisi menjadi kacau. Setiap orang berbicara membuat suasana sangat bising. Mereka saling berselisih tentang ucapan Nabi, padahal tidak boleh berselisih di hadapan Nabi. Sebagian berkata: “Bagaimana keadaan Nabi? Apakah Nabi dalam kondisi sadar ketika mengucapkannya, mari kita tanyakan kepada Nabi”. Mereka mendatangi Nabi dan menanyakan apa yang diinginkannya. Satu demi satu bertanya. Nabi akhirnya tidak tahan lagi dan berkata: “Menyingkirlah mereka dari sisiku! Kondisiku sebelumnya lebih baik dari apa yang kalian lakukan padaku”. Kemudian Nabi menasihati mereka tiga hal. Belia berkata: “Keluarkan orang-orang musyrik dari jazirah Arab. Biarkan pasukan pergi ke arah yang telah aku tentukan”. Kemudian Nabi terdiam, dengan sengaja, tidak menyebutkan yang ketiga. Atau ia berkata, “Aku lupa yang ketiga”.

Sebuah Pandangan
Mayoritas sejarawan Islam menuliskan tiga wasiat Nabi seperti hadis di atas. Mereka tidak menuliskan secara lengkap wasiat tersebut, namun hanya mencukupkan pada dua wasiat. Sementara, ketika sampai pada wasiat ketiga, mereka tidak menyebutkan apa-apa, seakan-akan mereka melupakannya dengan alasan berdamai dengan dua pemimpin yang berbaju khilafah setelah meninggalnya Nabi. Ada satu hal yang terlupakan namun bagaimana para perawi tidak pernah lupa akan sesuatu yang diriwayatkan, atau ada yang terlewatkan tanpa ditulis sehingga dapat dikatakan bahwa mereka mencatat semua bahkan tarikan nafas Nabi. Bagaimana mungkin mereka yang hadir dengan jumlah yang sedemikian banyak melupakan wasiat yang ketiga; di saat-saat Nabi mengucapkan kalimat perpisahan dengan mereka?! Sementara di sisi lain, mereka menanti setiap kata yang keluar dari beliau yang dapat menenangkan situasi dan dapat memberikan harapan menatap masa depan?
Kelihatannya, wasiat ketiga terkait dengan teks yang memuat kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Tidak seorang pun yang melupakan hal itu atau mencoba untuk berbuat seolah-olah lupa!

Ali bersama Nabi di Akhir Hidupnya
Sakit Nabi semakin keras sehingga ia pingsan. Ketika siuman, beliau berkata: “Panggilkan saudara dan temanku! Setelah mengucapkan kalimat tersebut, keadaan Nabi kembali melemah. Aisyah berkata: “Seandainya aku membawa Abu Bakar mendekati Rasulullah!”. Hafshah berkata: “Seandainya aku membawa Umar mendekati Rasulullah!”. Para sahabat berkumpul di sisi Nabi. Kemudian Nabi berkata: “Enyahlah kalian dari sisiku! Bila kalian membutuhkan sesuatu, aku akan mengirimkannya kepada kalian”.
Kemudian Ali bin Abi Thalib dipanggil untuk menghadap Nabi. Ketika Ali telah mendekat, Nabi mengisyaratkan sesuatu kepadanya, lalu keduanya terlibat percakapan yang panjang. Setelah itu, kondisi Nabi semakin sulit dan menjelang kematiannya. Ketika jiwanya semakin dekat untuk keluar dari tubuhnya, Nabi berkata kepada Ali: “Letakkan kepalaku di pangkuanmu. Perintah Allah telah tiba. Bila sakaratul maut telah menjemputku, sentuhkan tanganmu ke jiwaku, setelah itu usapkan ke wajahmu. Bila telah kau lakukan, hadapkan aku ke arah kiblat. Lakukanlah semua urusanku. Shalatilah aku sebelum yang lain menyalati diriku. Jangan berpisah denganku sampai aku dimakamkan. Dan, selalu memohon bantuan kepada Allah”.

Bab Ketiga
ZAMAN ALI BIN ABI THALIB A.S.

Wafat Rasulullah
Pada saat-saat terakhir kehidupan Nabi, tidak ada seorang pun yang bersamanya kecuali Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim. Kaum muslimin lainnya mengetahui kepergiannya lewat teriakan dan tangisan kaum wanita. Mereka segera berkumpul di masjid dan di sekelilingnya disertai perasaan bingung yang menghantui. Jawaban dari kebingungan ini hanyalah tangisan. Kondisi ini tidak berubah, bahkan ditambah dengan sikap aneh Umar bin Khatthab yang keluar setelah masuk ke dalam kamar Rasulullah, sementara tangannya menggenggam sebilah pedang terhunus. Ia berkata: “Sekumpulan orang-orang munafik menganggap bahwa Nabi telah meninggal. Demi Allah, sesungguhnya Nabi tidak mati, melainkan ia hanya pergi menghadap Tuhannya sebagaimana kepergian Musa bin Imran”.
Keadaan Umar bin Khatthab tetap tidak bisa tenang hingga Abu Bakar tiba di rumah Nabi dan menyingkap kain yang menutupi wajah Rasulullah saw. dan dengan cepat keluar sambil berkata: “Wahai kalian semua! Barang siapa yang menyembah Nabi, maka ketahuilah bahwa Nabi telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka ketahuilah bahwa Allah senantiasa hidup dan tidak pernah mati”. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat:
“Muhammad hanyalah seorang rasul (utusan) Allah. Telah berlalu beberapa orang utusan sebelumnya”.

Setelah kondisi agak tenang, Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan Abu Ubaidah secara bersamaan keluar dari rumah Nabi dan meninggalkan jasad beliau bersama Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang masih merasa kehilangan  dengan wafat beliau. Musibah ini telah membuat mereka lupa akan segalanya. Yang menjadi pikiran mereka adalah bagaimana melaksanakan tugas sebaik-baiknya terhadap jasad Nabi hingga shalat dan mengebumikannya. Sementara itu, pada saat yang sama, kaum Anshar tengah melakukan pertemuan di Saqifah Bani Sa’adah untuk memikirkan suksesi sepeninggal Nabi.

Kelompok Quraisy dan Anshar di Saqifah
Umar bin Khatthab belum mengetahui pertemuan yang dilakukan oleh Anshar di Saqifah, sampai ia menuju rumah Nabi dan menjumpai ada Abu Bakar di sana. Segera ia menyuruh orang untuk memanggil Abu Bakar agar bertemu dengannya. Orang yang disuruhnya kembali dan menjawab bahwa Abu Bakar masih sibuk. Umar
bersikeras untuk mengirim orang tersebut kedua kalinya agar keluar menemuinya mengingat sebuah kejadian sangat penting yang harus diikutinya.
Abu Bakar keluar menemui Umar. Setelah menemuinya, dengan bercepat-cepat keduanya menuju Saqifah bersama Abu Ubaidah dan beberapa orang lain. Mereka menemukan kaum Anshar sedang berbincang-bincang dan perkumpulan mereka selesai dan urusan sahabatnya telah selesai. Didatangi dalam kondisi demikian, air muka Saad bin Ubadah berubah dan apa yang ada di tangan mereka terjatuh. Perasaan malu dan salah tingkah menghantui mereka. Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah berhasil menguasai keadaan. Mereka mengenal betul titik-titik lemah yang dimiliki oleh kaum Anshar, dan dengan itu mereka mampu menguasai suasana.
Umar hendak berbicara namun dilarang oleh Abu Bakar. Ia tahu betul Umar orang yang keras sementara kondisi sedang kritis. Pada kondisi yang seperti ini, diperlukan kecakapan diplomasi dengan memakai kata-kata yang lembut untuk dapat menguasai keadaan. Bila tahap pertama ini tidak diterima, baru menggunakan cara kedua, yaitu kekerasan.
Abu Bakar membuka ucapannya dengan cara yang lembut. Ia berkata kepada kaum Anshar dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak mempergunakan kata-kata yang dapat membangkitkan kemarahan kaum Anshar: “Kami adalah kaum Muhajirin yang lebih dahulu memeluk Islam, dan secara keseluruhan, kaum yang terhormat. Tempat tinggal mereka adalah yang terbaik, dan posisi mereka adalah yang paling utama. Kaum Muhajirin paling merasakan kasih sayang Nabi Muhammad saw. Kalian, Anshar, adalah saudara kami dalam Islam dan sahabat dalam agama. Kalian telah menolong dan membantu kami, semoga Allah swt. membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik balasan! Kami dilahirkan sebagai pemimpin, sementara kalian adalah pembantu dan menteri kami. Kalian adalah tempat bermusyawarah. Kami tidak akan memutuskan perkara tanpa kalian”.
Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jumuh berkata: “Wahai kaum Anshar! Pertahankan apa yang menjadi milik kalian! Semua orang saat ini berada dalam lindungan kalian, tidak ada yang berani untuk melawan kalian. Tidak boleh ada satu ucapan pun yang keluar tanpa izin kalian. Kalian, Anshar, adalah kaum yang mulia dan mampu menghalau apa saja. Jumlah kalian banyak dan memiliki kekuatan yang bisa diandalkan. Orang-orang selain kalian hanya dapat melihat apa yang kalian lakukan. Jangan berselisih, karena akan membuat rusak apa yang kalian ingin raih. Bila mereka tidak mau menerima semua ini, maka jadikan dua orang pemimpin, satu dari kita dan satu dari mereka”.
Mendengar ucapan itu, Umar lalu berkata: “Tidak mungkin itu! Dua buah pedang tidak mungkin dapat dimasukan pada sebuah sarung pedang. Demi Allah! Arab tidak akan pernah rela menjadikan kalian sebagai pemimpin sementara nabi Arab tidak dari kalian. Arab hanya akan rela bila yang mengatur kehidupannya adalah orang yang kenabian berasal darinya. Siapakah yang ingin menggoyahkan kekuasaan Muhammad dari kami sementara kami adalah wali dan keluarganya?”
Al-Hubab Al-Mundzir menjawab ucapan Umar: “Wahai kaum Anshar! Miliki dan kuasai apa yang ada pada kalian. Jangan dengarkan apa yang diucapkan oleh dia (Umar bin Khatthab) dan teman-temannya, karena apa yang diucapkannya berarti hilangnya kesempatan kalian untuk berkuasa. Bila mereka menolak, padahal kalian telah memuliakan mereka di kota ini, kalian lebih berhak untuk memimpin, bukan mereka. Dengan pedang kalian, orang-orang memeluk agama ini. Aku adalah orang yang paling bisa dipercaya dalam masalah kepemimpinan ini. Aku adalah ayah dari singa kecil yang masih menyusu di sarang singa. Demi Allah! Bila kalian menginginkan, kita dapat menjadikannya seekor kambing”.
Kedua kelompok saling bersikeras hingga hampir saja terjadi pertempuran di antara keduanya. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berdiri menjadi penengah di antara kelompok yang bertikai sambil berbicara dengan suara yang lemah kepada Anshar: “Wahai orang-orang Anshar! Kalian adalah orang pertama yang menolong dan memberikan tempat perlindungan, namun tidak berarti kalian berada pada urutan pertama dalam masalah ini. Abu Ubaidah makin mengecilkan volume suaranya sehingga semua menjadi terdiam.
Pada kondisi itu, Basyir bin Saad mengambil kesempatan demi keuntungan kaum Muhajirin. Dengan tangkas, ia melontarkan ungkapan tanda ketidaksukaannya kepada Saad bin Ubadah: “Wahai kaum Anshar! Ketahuilah bahwa Muhammad dari kabilah Quraisy dan ia pasti mengutamakan kaumnya. Demi Allah! Semoga Allah tidak melihatku sedang memperebutkan hak Quraisy dalam masalah kepemimpinan”.
Untuk kali ketiganya, kaum Muhajirin berhasil meraih keuntungan berhadap-hadapan dengan Anshar. Kaum Muhajirin mulai saling mengutamakan tokoh-tokoh yang dimilikinya. Di sini menjadi lebih jelas bagaimana mereka tidak mendapatkan pembenaran dan penjelasan langsung dari wahyu mengenai kelayakan tokoh-tokoh yang mereka usulkan untuk menjadi khalifah.
Abu Bakar berkata: “Ini Umar bin Khatthab dan Abu Ubaidah, baitlah salah satu dari mereka jika kalian ingin!” Umar bin Khatthab sendiri berkata: “Wahai Abu Ubaidah! Ulurkan tanganmu, aku akan membaitmu. Engkau adalah orang yang tepercaya umat ini”. Abu Bakar tidak mau kalah dan berkata: “Wahai Umar! Ulurkan tanganmu, aku akan membaitmu’. Umar berkata: “Engkau, Abu Bakar, lebih utama dariku”. Abu Bakar berkata: “Tapi Engkau lebih kuat dan perkasa dariku”. Umar menambahkan: “Kekuatan dan keperkasaanku kupersembahkan untukmu dengan segala keutamaan yang engkau miliki. Ulurkan tanganmu, aku pasti akan membaitmu”.
Ketika Abu Bakar mengulurkan tangannya untuk dibaiat oleh Umar, Basyir bin Saad mendahului dan membait Abu Bakar. Al-Hubab bin Al-Mundzir kemudian berteriak: “Wahai Basyir! Engkau telah merusak segalanya. Apakah engkau ingin bersaing dengan anak pamanmu dalam masalah kepemimpinan?”
Ketika Kabilah Aus melihat apa yang diperbuat oleh Basyir dan dengan memperhatikan apa yang diinginkan kabilah Khazraj untuk menjadikan Saad sebagai Khalifah, mulai timbul bisik-bisik di antara mereka. Suara mereka mulai terpecah. Usaid bin Khudhair, salah satu dari kabilah Aus yang dikenal akan kebaikan budi pekertinya, berkata: “Demi Allah! Seandainya sekali saja Khazraj memberikan urusan ini, niscaya kalian senantiasa dalam keutamaan selama-lamanya. Bangun dan baiat Abu Bakar!”
Kekuatan Saad menjadi terbelah. Khazraj yang sebelumnya sepakat memilih Saad menjadi semakin lemah. kemudian para pengikut Usaid berdiri dan membaiat Abu Bakar. Sementara sebagian Anshar berkata: “Kami hanya akan membaiat Ali bin Abi Thalib”.
Setelah berlangsung proses pembaiatan Abu Bakar, mereka semua kembali menuju masjid sambil mengarak Abu Bakar bak seorang pengantin baru, sementara Nabi masih tergeletak di atas pembaringan. Umar dengan cepat selalu berada di depan Abu Bakar; mengucapkan pembaiatan dan membuka mulutnya lebar-lebar sementara orang-orang mengelilinginya. Mereka memakai kain dari Shana’ (sebuah tempat di Yaman yang terkenal dengan kainnya yang bagus dan mahal). Ketika bertemu dengan seseorang, mereka akan menutunnya ke depan dan tangannya ditarik agar terulur kemudian diusapkan ke tangan Abu Bakar agar membaiatnya, apakah orang itu suka atau tidak.
Argumentasi kelompok Quraisy di Saqifah ketika berhadapan dengan kaum Anshar bertumpu pada dua prinsip:
Orang Muhajirin adalah yang lebih dahulu memeluk islam.
Orang Muhajirin adalah kelompok yang paling dekat dengan Rasulullah saw. dan paling mengasihinya.
Mereka yang mencalonkan dirinya menjadi kandidat pemimpin sepeninggal Nabi berargumentasi dengan dua prinsip di atas. karena kekhalifahan hanya diraih dengan lebih dahulu memeluk Islam dan kedekatan secara kekeluargaan dengan Rasulullah saw. Bila kedua prinsip ini diklaim sebagai syarat kepemimpinan, maka yang paling layak untuk memimpin adalah Ali bin Abi Thalib. Ali adalah orang pertama yang memeluk Islam, beriman dan yang lebih dahulu membenarkan risalah Islam. Di samping itu, ia adalah saudara Rasulullah saw. yang dikukuhkan lewat persaudaraan di Hari Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang dilakukan di Madinah. Ali sendiri pada dasarnya adalah anak paman Rasulullah saw. dan paling dekatnya orang pada diri dan hati beliau.

Analisa atas Pertemuan Saqifah
Anshar bercepat-cepat menuju Saqifah Bani Saidah untuk mengadakan pertemuan rahasia. Dalam pertemuan itu, hadir tokoh Khazraj Saad bin Ubadah yang tengah sakit. Saad berkata kepada sebagian keluarganya bahwa mereka yang hadir tidak akan dapat mendengar suaranya karena penyakit yang dideritanya. Ia memerintahkan salah satu anaknya menjadi perantara apa yang diucapkannya agar yang hadir dapat mendengar apa yang diinginkannya. Saad kemudian berkata dan anaknya dengan serius mendengar apa yang diucapkannya lalu dengan suara yang tinggi mengulang apa yang diucapkan Saad. Saad berkata kepada yang hadir:
“Kalian, Anshar, lebih dahulu memeluk Islam dan memiliki keutamaan dalam Islam yang tidak dimiliki oleh kabilah Arab lainnya. Rasulullah saw. tinggal sekitar sepuluh tahunan di tengah-tengah kaumnya dan mengajak mereka untuk menyembah Allah Sang Pengasih dan meninggalkan penyembahan kepada berhala. Setelah berusaha keras, hanya sedikit yang beriman kepadanya. Akhirnya, Nabi menginginkan sebaik-baik keutamaan pada kalian. Nabi menuntun kalian kepada kemuliaan dan kehormatan dan mengkhususkan kalian dengan agamanya. Kalian adalah orang-orang yang bersikap keras dengan mereka yang menentang Nabi. Sikap kalian sangat keras terhadap musuh-musuh Nabi dibandingkan dengan yang lainnya. Sekarang, Allah telah memanggil Nabi-Nya dan ia rela dengan kalian. Oleh karenanya, pertahankan masalah kekhilafiahan dengan segenap kekuatan. Kalian lebih berhak dari orang lain”.
Namun, dengan kembali melacak kejadian pertemuan itu, dapat ditemukan bahwa pertemuan kaum Anshar pada awalnya tidak untuk mengeksploitasi peninggalan Nabi dan berusaha untuk mengambil kekhalifahan dari pemiliknya yang sah. Klaim ini dapat dibuktikan dengan beberapa poin berikut ini:
Tidak hadirnya tokoh-tokoh terbaik Anshar pada pertemuan tersebut seperti: Abu Ayub Al-Anshari, Hudzaifah bin Al-Yaman, Al-Barra bin ‘Azib dan Ubadah bin As-Shamit.
Kaum Anshar mengetahui dengan baik teks-teks Nabi dan selalu berusaha untuk melindunginya. Salah satu teks hadis tersebut menyebutkan bahwa Aimmah min Quraisy (para pemimpin, imam, adalah dari Quraisy). Kaum Anshar mengetahui secara pasti hukum-hukum yang dijelaskan menganai posisi keluarga suci Nabi. Mereka juga menyaksikan bagaimana Nabi mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sepeninggalnya di Ghadir Khum. Beliau juga mewasiatkan mereka untuk tetap bersama Ali dan keluarganya. Bila mereka mendapatkan kenyataan bahwa Ali tidak memiliki peran penting dalam masalah pemerintahan mereka serentak berkata: “Kami tidak akan membaiat seorang pun kecuali Ali”.
Saat itu Nabi masih tergeletak di atas pembaringan menunggu dikuburkan. Kondisi ini menguatkan bahwa sangat tidak rasional sekali bila tokoh-tokoh terbaik Anshar tidak ikut dalam acara penguburan Nabi dan menyempatkan diri berkumpul untuk memilih seorang khalifah.
Pertemuan Anshar dapat ditafsirkan sebagai usaha mereka untuk menetapkan sikap mereka terhadap pemerintahan baru setelah mereka mengetahui rencana Quraisy untuk mewujudkan semboyan kenabian dan kekhalifahan tidak boleh berkumpul di Bani Hasyim’. Kaum Anshar tidak memiliki alasan sebagaimana yang ada pada tokoh-tokoh Quraisy. Kekhawatiran mereka ini bukan tanpa alasan. Kekhawatiran ini berawal dari Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah). Orang-orang Anshar khawatir bila setelah itu, nabi tidak kembali bersama mereka ke Madinah. Sebenarnya kekhawatiran yang alami ini dari keterasingan politis dan kekuasaan.
Bila dapat dipastikan bahwa Quraisy akan mengambil kekhalifahan dari pemiliknya yang sah, yaitu Ali bin Abi Thalib, maka peran apa yang dapat dilakukan oleh Anshar? Bukankah mereka adalah kelompok kedua terbesar setelah Muhajirin?! Bukankah mereka memiliki peran penting dalam mengembangkan dakwah Islam?!
Pertemuan Anshar di Saqifah sebenarnya belum sepakat untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka. Pertemuan tersebut baru membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang bakal muncul terkait dengan khilafah sepeninggal Nabi. Di sisi lain, kaum Anshar belum sepakat tentang apapun. Yang ada adalah keinginan-keinginan yang masih tersimpan dalam dad,a dan kelihatannya berbeda satu dengan yang lain. Untuk itu, tampak bagaimana sebagian dari mereka menjawab ucapan Saad: “Engkau benar dalam masalah ini, dan ucapanmu juga benar. Kita tidak boleh melangkah lebih dari pandangan Saad. Untuk masalah ini, kami siap menjadikanmu sebagai pemimpin”.
Kemudian mereka saling berbicara dan menyanggah. Akhirnya, mereka berkata: “Bila kaum Muhajirin menolak kesepakatan kita ini, maka kitalah yang menjadi wali dan keluarga Nabi”.
Sebagian yang lain tidak menyetujui usulan sebelumnya dan memberikan usulan baru; bahwa kita akan memilih pemimpin kita sendiri, dan kaum Muhajirin akan memilih pemimpin mereka sendiri. Saad mengomentari pendapat ini: “Ini pendapat pertama yang menunjukkan kelemahan”.
Dengan sikap yang diambil, Anshar telah menyiapkan sebuah kesempatan berharga secara politis untuk menghadapi lawan politik dan mencapai kemenangan. Mereka telah membuka pintu untuk berhadapan dengan Quraisy dengan argumentasi yang jauh dari hukum-hukum Islam. Mereka membuat perhitungan dalam menghadapi kemungkinan yang bakal muncul dengan argumentasi kesukuan. Keuntungan yang bakal diraih kembali kepada kabilah, bukan kepada Islam.
Umar bin Khatthab tidak setuju dengan sikap Anshar yang berkumpul di Saqifah. Ia berkata: “Demi Allah! Kami tidak melihat masalah yang lebih besar keuntungannya selain membaiat Abu Bakar. Kami khawatir bila ada kaum lain yang tidak setuju dengan ide ini dan tidak membaiat Abu Bakar, karena ada kemungkinan sepeninggal Abu Bakar bahwa mereka akan membaiat orang lain. Tawaran yang ada adalah kami mengikuti kaum Anshar sekalipun kita tidak setuju, atau kami tidak mengikuti mereka walaupun akan terjadi kekacauan”.
Demikianlah sikap yang diambil secara politis semakin membuat keadaan bertambah keruh dan kompleks.

Pandangan Qurasiy tentang Khilafah
Saat Islam mulai muncul di kota Mekkah di tengah kabilah Quraisy, pada hakikatnya orang-orang Quraisy tidak mampu menerima kenyataan ini. Bagaimana ada Nabi yang muncul dari salah satu kabilah terbaik bahkan yang paling utama, dan itu adalah Bani Hasyim. Quraisy bersepakat untuk menyerang dan menghabisi Nabi serta Bani Hasyim dengan segala macam cara yang mungkin dapat dilakukan. Lalu mereka bekerja sama tidak dari rasa kecintaan terhadap berhala atau ingin melakukan ibadah, juga bukan karena benci terhadap dakwah agama baru. Dalam Islam, tidak ada ajaran yang tidak dapat diterima oleh fitrah dan hati nurani yang sehat. Akan tetapi, justru Quraisy tidak ingin ada perubahan dalam peta kekuasaan yang dibangun atas pembagian posisi kepemimpinan. Khususnya, di Jazirah Arab, sistem kesukuanlah yang berkuasa.
Oleh karenanya, Quraisy tidak ingin kabilah Bani Hasyim berbeda dengan kabilah yang lain, bahkan jangan sampai ia berada di atas yang lain. Quraisy memandang bahwa konsentrasi Bani Hasyim di samping Nabi dan pembelaan mereka adalah usaha Bani Hasyim untuk mendapat peluang berbeda dengan kabilah lainnya, bahkan lebih dari kabilah yang lain. Reaksi Quraisy adalah dengan mengembargo dan mengurung Bani Hasyim dan Nabi di lembah Abi Thalib. Mereka berusaha untuk melenyapkan Nabi. Embargo yang dilakukan mengalami kegagalan dan gagal pula semua usaha yang dilakukan oleh Quraisy untuk membunuh Nabi. Dakwah Islam menyebar ke mana-mana dan mampu mengatasi segala kekuatan yang berkuasa. Pada peristiwa pembebasan kota Mekkah, Quraisy memeluk Islam baik secara tulus atau terpaksa, mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk berhadap-hadapan dengan Nabi.
Kemudian Nabi mempersiapkan khilafah sepeninggalnya agar berada di tangan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dan itu atas dasar perintah langsung dari Allah. Perintah ini sesuai dengan prinsip-prinsip dan hukum-hukum syariat. Ali dan keluarganya adalah yang paling utama dibandingkan dengan semua umat Islam. Ali dan keluarganya adalah yang lebih tepat untuk memimpin umat. Sayangnya, logika wahyu ini mendapat reaksi lain dari Quraisy. Logika Quraisy yang masih bertumpu pada kekabilahan dan masih menyimpan permusuhan masa lalu membuat mereka semakin merasa yakin untuk menghalangi berkumpulnya kenabian dan khilafah di kabilah Bani Hasyim. Menurut Quraisy kenabian dan kekhalifahan adalah kekuasaan dan kepemimpinan, seperti yang diucapkan oleh Abu Sufyan pada Pembebasan Mekkah. Ia berkata kepada Abbas: “Tampaknya, kerajaan anak saudaramu semakin besar dan agung”.
Cita-cita dan rasionalitas ini berkuasa pada iklim politik, terutama pada akhir-akhir kehidupan Nabi. Quraisy dengan jeli mengetahui bahwa sakitnya kali ini akan mengantarkan Nabi pada kematiannya. Nabi sendiri di beberapa tempat mengabarkan hal itu. Dan bila kondisi ini dibiarkan demikian, niscaya Ali bin Abi Thalib yang akan menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Dari sini, kisah perebutan khilafah bermula dan pergerakan kelompok oposan ini diniatkan untuk mengganjal Bani Hasyim secara umum dan Ali bin Abi Thalib secara khusus dari kursi kepemimpinan. Oleh karenanya, lahirlah peristiwa Saqifah.
Pikiran dan cita-cita Quraisy agar kenabian dan kekhalifahan tidak hanya di tangan Bani Hasyim dapat ditemukan pada sela-sela obrolan Umar bin Khatthab  dengan Ibnu Abbas di masa kekhalifahannya. Umar pernah berkata: “Wahai Ibnu Abbas! Apa yang membuat kalian (Bani Hasyim) tidak menjadi khalifah sepeninggal Nabi?” Ibnu Abbas berkata: “Aku tidak ingin menjawab pertanyaan ini”. Namun akhirnya Ibnu Abbas berkata: “Bila aku tidak tahu alasannya mengapa, tentu amirul mukminin (Umar bin Khatthab) mengetahui alasannya mengapa demikian”. Umar kembali berkata: “Orang-orang tidak suka bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul pada kalian (Bani Hasyim) akhirnya mereka bertindak tidak adil kepada kalian. Quraisy memilih sendiri seorang pemimpin untuk dirinya dan pilihan itu benar”.
Ada alasan lain yang masih erat kaitannya dengan penyingkiran Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah; bahwa Ali telah menyakiti semua orang Quraisy dalam perang yang terjadi antara Islam dan Quraisy. Semua korban yang jatuh di tangan Nabi Muhammad saw. lewat pedang Ali. Saat ini, Ali seorang diri yang harus bertanggung jawab sepeninggal Nabi. Menurut Quraisy, dari kalangan pengikut Nabi, tidak ada yang lebih berhak dari Ali untuk melakukan pembalasan dendam atas jumlah korban yang terbunuh dalam perang.

Beberapa Rencana Menggulingkan Ali dari Khilafah
Dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini, dapat dimengerti bahwa ada rencana yang matang untuk menggulingkan Ali bin Abi Thalib dari kekhalifahan, seperti:
Tidak keluar dari Madinah guna mengikuti pasukan Usamah, dan bersikeras untuk tetap di Madinah tanpa mengindahkan perintah Nabi. Sikap ini lebih diperkuat dengan kenyataan bahwa sakit Nabi semakin parah. Di samping itu, pada hari-hari terakhir, Nabi sering memperbanyak wasiat tentang Ali dan keharusan kaum muslimin untuk mengikutinya agar agama dan negara tetap selamat.
Kehadiran mereka yang terus menerus di sisi Nabi dan berusaha untuk menggagalkan upaya Nabi untuk menyokong kepemimpinan Ali. Hal itu dapat ditemukan pada fitnah yang terjadi di kediaman Nabi dengan semboyan yang dilontarkan Umar bin Khatthab; bahwa kita cukup dengan Al-Qur’an saja, Hasbuna Kitabullah. Kemudian ia menambahkan bahwa apa yang ingin diucapkan Nabi sudah tidak dari kesadarannya lagi; Nabi mengigau akibat sakit yang dideritanya. Oleh karenanya, ketika Nabi berkata, ‘Bawakan padaku alat tulis dan kertas, malah terjadi keributan karena ucapan sebelumnya, yang pada akhirnya membuat banyak orang termakan dengan isu yang dibuatnya. Tujuan penting dari ucapan Umar adalah timbulnya keragu-raguan dari orang-orang di sekeliling Nabi dan mencegah Nabi untuk tidak menuliskan wasiat.
Kecepatan dalam usaha menutupi masalah kekhalifahan dan baiat dengan menghabiskan waktu yang tidak lama; serentang masa kesibukan Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim dalam mengurusi jenazah Nabi dan menguburkannya. Ketika Umar mendengar kabar perkumpulan di Saqifah, ia langsung mengutus seseorang untuk mengabari Abu Bakar yang berada di rumah Nabi untuk segera keluar karena peristiwa penting yang harus diikutinya. Umar tidak menjelaskan kepada perantaranya tentang apa yang sedang terjadi dan seberapa pentingnya kejadian itu, karena khawatir Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim mengetahui masalah itu. Bila Umar tidak khawatir Ali dan Bani Hasyim mengetahui kabar yang terjadi, mengapa tidak dijelaskan kepada yang hadir di rumah Nabi? Apakah kejadian penting ini hanya perlu diikuti oleh Abu Bakar, tidak seluruh kaum muslimin, sementara diketahui bahwa banyak sahabat yang kepedulian mereka Islam lebih besar dari kepedulian Umar dan Abu Bakar? Mengapa Umar tidak masuk sendiri ke dalam rumah Nabi dan menyampaikan kabar berita itu, padahal kaum muslimin sedang berkumpul di sana dan mendengar  apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Usaha mereka untuk mendapat jaminan dari kaum Anshar untuk tetap bersikap netral dan menjauhkan mereka dari perebutan kekuasaan dengan mengklaim bahwa mereka bukan dari keluarga Nabi Muhammad saw.
Usaha untuk menempatkan Anshar sebagai kaum pertama yang membaiat. Agar Quraisy yang lebih dahulu membaiat khalifah baru, sehingga baiat yang mereka lakukan memiliki nilai yang rendah. Ali bin Abi Thalib dapat saja setelah itu membatalkan argumentasi yang dipakai oleh Quraisy bila ia didukung oleh Anshar. Dan dari sisi lain, tidak ada seorang pun yang mampu memposisikan dirinya menjadi kandidat dan rival Ali.
Proses ini dapat diamati setelah pembaiatan meluas ke luar Saqifah. Pada waktu itu, para sahabat tengah berkumpul di Masjid dan Umar berkata: “Mengapa aku harus melihat kalian duduk secara berpencar? Bangunlah kalian! Baiat Abu Bakar! Kaum Anshar telah membaiatnya”. Utsman bin Affan dan mereka yang bersamanya dari Bani Umayyah berdiri dan membaiat Abu Bakar. Saad dan Abdurrahman bersama kelompoknya dari Bani Zarah juga bangkit dari duduknya kemudian membaiat Abu Bakar.
Masuknya unsur lain dari luar kota Madinah yang sejak awal telah siap untuk menguatkan upaya diskriminasi Bani Hasyim sesuai dengan ucapan Umar: “Kami lakukan semua ini karena aku melihat kabilah Aslam, dan dari situlah aku yakin akan meraih kemenangan”.
Upaya untuk memperluas pelaksanaan rencana yang telah berjalan dengan segala macam cara, dan menuduh setiap orang yang tidak setuju sebagai penyulut api fitnah agar umat Islam tenggelam dalam perpecahan. Hal ini dapat dimengerti pada kejadian-kejadian sesudahnya dan usaha untuk melenyapkan siapa yang enggan melakukan baiat dan menerima keputusan Saqifah.
Salah satu bukti atas adanya rencana sebelumnya adalah Utsman bin Affan telah menulis nama Umar bin Khatthab, sebagai khalifah setelah Abu Bakar dalam wasiatnya tanpa diperintah sebelumnya oleh Abu Bakar untuk melakukan itu, yaitu di saat Abu Bakar tidak sadar. Utsman mengetahui bahwa Umar menjadi khalifah setelah meninggalnya Abu Bakar.
Kemudian Umar meletakkan Utsman sebagai salah satu kandidat dari enam orang kandidat yang bakal dipilih sebagai khalifah muslimin. Ia dimasukkan oleh Umar bin Khatthab agar dapat menjamin garis politik mereka. Siapa saja yang mempelajari sejarah tentang proses pemilihan khalifah setelah Umar dan kombinasi para kandidat enam, dapat menganalisa dan memprediksi apa yang bakal terjadi. Hal yang sama dimengerti dengan baik oleh Ali bin Abi Thalib sehingga ia dapat mengambil sikap dengan jelas dan tegas.
Setelah terbentuknya pemerintahan pasca yang muncul dari peristiwa Saqifah dan Abu Bakar menjadi khalifah, Abu Ubaidah menjabat sebagai menteri keuangan dan Umar sebagai ketua Mahkamah Agung. Ketiga posisi ini sangat vital dalam sebuah negara. Kombinasi ini tidak mungkin muncul begitu saja tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu.
Ucapan Umar bin Khatthab menjelang kematiannya: “Seandainya Abu Ubaidah masih hidup, tentu aku akan mengangkatnya sebagai khalifah”. Ucapan Umar tidak lahir dari kelayakan dan kapabilitas Abu Ubaidah yang mengilhami Umar untuk mengucapkan hal itu. Ia tahu betul bahwa yang layak menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib. Namun pada saat yang sama ia tidak ingin Ali menguasai urusan umat, baik selama ia hidup atau setelah kematiannya.
Muawiyah menuduh Abu Bakar dan Umar telah merencanakan sejak awal untuk merampas kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib. Hal itu diungkapkannya dalam suratnya yang dikirimkan ke Muhammad bin Abu Bakar. Di dalamnya Muawiyah berkata: “Kita sama-sama tahu, ayahmu (Abu Bakar) juga tahu akan keutamaan Ali bin Abi Thalib dan haknya atas kekhalifahan adalah keharusan buat kita, bahkan sebuah kebaikan. Namun, ketika Allah memilih untuk Nabinya seorang wakil, kemudian Nabi menyempurnakan janji Allah dengan mengangkat Ali sebagai khalifah setelahnya, dan semua argumentasi telah dikeluarkan untuk menetapkan Ali hingga ajal menjemputnya, ayahmu dan Umar  adalah orang pertama yang merampas hak Ali dan menentang perintah Nabi. Ihwal mengenyahkan Ali bin Abi Thalib dari pucuk kepemimpinan, Abu Bakar dan Umar telah bersepakat sebelumnya. Kemudian keduanya meminta baiat dari Ali. Ali hanya menundukkan kepala sebagai tanda keengganannya membaiat keduanya. Hal ini menyebabkan Abu Bakar dan Umar seakan dilanda masalah yang besar hingga berfikir untuk merekayasa kejadian yang lebih besar terhadap Ali”.
Ucapan Ali bin Abi Thalib a.s. kepada Umar: “Wahai Umar! Peraslah dengan sungguh-sungguh segala kecerdikan yang kau miliki. Mulai hari ini Persiapkan masalah ini (kekhalifahan) untuk dirimu, karena mungkin masalah kekhalifahan menjadi bagianmu kelak”.
Tuduhan Fathimah Az-Zahra a.s. yang dialamatkan kepada kedua khalifah (Abu Bakar dan Umar) yang melakukan politik kesukuan dan persekongkolan untuk menjatuhkan kepemimpinan Ali dan upaya untuk menjauhkan Bani Hasyim dari kekuasaan. Fathimah a.s.  berkata: “Kalian telah menunjukkan selain unta kalian. Kalian telah minum selain dari tempat minum kalian. Semua itu karena keinginan kalian untuk segera menentukan khalifah dari kalian dengan alasan takut akan munculnya fitnah. Ketahuilah! dalam fitnah, telah banyak manusia yang tersungkur, dan neraka jahanam melingkari orang-orang kafir’.

Peristiwa Saqifah dan Dampak Negatifnya
Pemaksaan pendapat. Mereka yang berkumpul di Saqifah telah menghina dan menginjak-injak wasiat Rasulullah saw. untuk kaum muslimin agar senantiasa berpegang teguh pada Ahlul bait keluarganya yang suci. Mereka menganggap remeh perintah-perintah Nabi yang secara terang-terangan disampaikan terkait dengan keharusan untuk mengikuti keluarga Nabi. Jika dikatakan bahwa tidak ada teks wahyu yang menjelaskan bahwa khalifah sepeninggal Nabi diserahkan kepada salah seorang dari keluarga beliau, dan itu adalah Ali bin Abi Thalib, dan andaikan keluarga Nabi tidak berbeda dengan sahabat yang lain, baik dari sisi keturunan, ketokohan, moral, perjuangan, keilmuan, perilaku, keimanan dan atau keikhlasan, lalu apakah ada larangan secara normatif berbentuk teks-teks agama? Adakah larangan secara rasional atau larangan normatif sosial untuk menunda pembaiatan hingga berakhirnya proses penguburan Nabi?!
Ketergesa-gesaan yang ditunjukkan oleh mereka yang berinisiatif untuk melangsungkan pemilihan khalifah ialah untuk mengisi kekosongan yang bakal terjadi pasca wafat Nabi. Bila ketergesa-gesaan ini menunjukkan satu hal, niscaya perilaku ini menunjukkan bahwa ada teks-teks dan persiapan yang telah diupayakan oleh Nabi yang masih harus diperkuat untuk memerintah. Namun, agar teks-teks yang berhubungan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib tidak efektif bila dibiarkan mengikuti alur alamiahnya, perlu dilakukan sebuah penetrasi. Oleh karenanya, ketika Umar melakukan bait kepada Abu Bakar, ia sempat berkata: “Pembaiatan ini adalah kejadian yang tidak pernah direncanakan dan terjadi begitu saja. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya dan keburukannya. Barang siapa yang melakukan hal seperti ini lagi, maka kalian harus membunuhnya”.
Baiat tidak mencakup semua ahlul halli dan aqdi (tokoh-tokoh kaum muslimin) yang menjadi syarat utama untuk menghasilkan kesepakatan dan untuk mendapatkan legitimasi dalam pemilihan. Pada peristiwa Saqifah, tidak diikutsertakannya kelompok dan para tokoh dari sahabat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas, Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, Khuzaimah bin Sabit, Abu Dzar Al-Ghiffari, Abu Ayub Al-Anshari, Zubeir bin ‘Awwam, Thalhah, Ubai bin Ka’ab dan yang lain-lain.
Penggunaan kekerasan dan pemaksaan dalam mengambil baiat. Sebagian besar kaum muslimin dipaksa untuk melakukan baiat kepada Abu Bakar. Di sini, peran Umar dalam rangka sosialisasi dengan kekerasan, membuat masalah pembaiatan kepada Abu Bakar menjadi sangat penting.
Peristiwa Saqifah telah membentuk beberapa pengertian yang menyesatkan umat Islam, seperti:
a. Superioritas penguasa atas umat dan meremehkan pentingnya umat lewat semboyan, “Siapa yang berani menentang kami yang memegang kekuasaan Muhammad?”
b. Penyimpangan terma kenabian dan kekhalifahan menjadi sebuah pengertian yang rendah sebagai kekuasaan kekeluargaan yang kekuatan dan legitimasinya berasaldari pemilihan putra mahkota dari keluarga. Legitimasi kekhalifahan tidak lagi berasal teks-teks wahyu suci.
c. Membuka lebar-lebar kesempatan kepada kaum muslimin untuk memunculkan konsep pluralitas kekuasaan Islam dan terbukanya kesempatan bagi setiap orang untuk bersaing dengan orang yang secara tegas telah mendapat legitimasi dari teks-teks wahyu. Di sisi lain, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk membangkang pemerintah dan penguasa yang telah mendapat mandat dari Allah lewat teks-teks wahyu, yaitu dengan mengatakan: “Dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian seorang pemimpin”.
d. Pertemuan Saqifah menyiapkan kondisi yang tepat untuk sekali lagi melanggar hak-hak umat dalam bersuara dan memilih pemimpin politik, sebagaimana yang terjadi dalam penetapan Umar bin Khatthab sebagai khalifah. Dan yang ketiga kalinya adalah ketika Umar menjelang kematiannya. Sebelum meninggal Umar menyiapkan enam kandidat untuk menjadi penggantinya yang hanya dipilih oleh keenam kandidat tanpa melibatkan suara umat. Siapa yang terpilih harus diterima oleh kaum muslimin.

Sikap Ali dan Pertemuan Saqifah
Ali bin Abi Thalib as. tidak rakus menjadi khalifah, juga tidak berusaha untuk mendapatkannya seperti yang dilakukan oleh sebagian sahabat. Keinginannya hanya satu; yaitu menguatkan sendi-sendi Islam, menyebarkan agama, membuat Islam dan pengikutnya menjadi mulia, menjelaskan keagungan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. tanpa lupa mengungkapkan sejarah kehidupannya dan mengajak manusia untuk mengikuti cara hidupnya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin memasukkan pikiran-pikiran dalam hati mereka yang berbeda dengan apa yang diwasiatkan Nabi di perang Uhud dan Hunain. Mereka rakus akan kekuasaan tanpa dasar. Mereka meninggalkan Nabi sebelum dikuburkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan semasa hidup Nabi, ketika menghadapi kesulitan dan mara bahaya.
Kabar pertemuan di Saqifah sampai juga ke rumah Nabi yang di sana berkumpul Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim dan beberapa sahabat yang benar-benar ikhlas mengelilingi jasad Nabi. Abbas, paman Nabi, berkata kepada Ali: “Wahai anak saudaraku! Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu. Pasti apa yang kulakukan ini akan disebarkan bahwa paman Rasulullah saw. telah membaiat anak paman Rasulullah sendiri, Ali. Setelah itu, aku pastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan berselisih mengenai masalah ini”. Ali menjawab: “Wahai paman! Apakah engkau merasa ada orang yang begitu rakus ingin meraih kekuasaan selainku? Abbas berkata: “Kau akan tahu nanti”.
Padahal Ali tahu betul persekongkolan yang dilakukan pada waktu itu. Oleh karenanya, ia dengan transparan berkata: “Aku tidak senang kekuasaan ini direbut lewat pintu yang terkunci”.

Sikap Abu Sufyan
Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan tiba di depan pintu rumah Rasulullah saw, sementara Ali dan Abbas berada di dalam. Abu Sufyan berkata: “Apa yang terjadi tidak akan berlangsung lama dalam kehidupan Quraisy. Demi Allah! Seandainya aku ingin, akan kupenuhi mereka dengan kuda-kuda dan orang laki-laki”. Ali menjawab: “Wahai Abu Sufyan! Pulanglah! Sudah sejak lama engkau memusuhi Islam dan umatnya namun kau tidak pernah berhasil sedikit pun mencelakainya”.
Diriwayatkan juga bahwa ketika kaum muslimin mengadakan pertemuan untuk memilih Abu Bakar, Abu Sufyan maju ke depan sambil berkata: “Demi Allah! Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Wahai keturunan Abdi Manaf! Apa yang bisa diperbuat Abu Bakar untuk menyelesaikan masalah-masalah kalian? Di mana orang-orang lemah, Ali dan Abbas?” Kemudian ia melanjutkan: “Abu Hasan (panggilan Ali bin Abi Thalib), ulurkan tanganmu! Aku ingin membaiatmu!” Ali menolak mengulurkan tangannya seraya berkata: “Demi Allah! Aku tahu bahwa yang engkau inginkan adalah terjadinya fitnah. Sudah sejak lama engkau memusuhi Islam dan menginginkan kejelekannya. Kami tidak butuh nasihatmu!” Ketika Abu Bakar dibaiat, Abu Sufyan berkata: “Apa yang ada di antara kami dan keberuntungan hanyalah Bani Abdi Manaf!”
Dikatakan kepadanya: “Ia telah menjadikan anakmu sebagai penguasa”. Abu Sufyan menjawab: “Aku hanya melakukan silaturahmi”.
Ketidaksetujuan Abu Sufyan terhadap peristiwa Saqifah tidak berarti keyakinannya akan kebenaran Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim. Itu hanyalah sebuah manuver politik yang pada dasarnya adalah tipuan untuk merusak citra Islam. Hubungan Abu Bakar dan Abu Sufyan sangat kuat dalam rangka mencapai tujuan yang dicita-citakan.

sunni durhaka pada Nabi SAW

Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah
Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan.Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah

Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dariQuraisy, dan hal itu telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini : Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalibdan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far,Musa‘AliMuhammad‘Ali, Hasanal Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.”(1)

 

Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khusususnya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidak pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.  Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.” (QS.Fathir:32) Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat…?”

 

Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju. Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah, (2) bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan? Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.  Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya…? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya: “Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.”(3) Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.(4) Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.” Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu. Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,” itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah: Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan. (5). Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah…? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan: Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu. (6). Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan, sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .” (QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.” (QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.” (QS. al-Haj :78) Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.” Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya. Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.” (Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat. Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.” Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu. Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,” Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh. Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya. Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah. Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.” (7)).

Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.

 

 

Foot note

 

  1. Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.
  2. Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu  telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal.  143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.
  3. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan ia menyatakan shahih menurut syarat Bukhari Muslim.
  4. Diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi saww melarang shalat tarawih dalam bulan Ramadhan secara jama’ah dengan sabdanya, “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya seutama-seutama shalat seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardu.” Tetapi Ahlussunnah mengabaikan larangan Nabi saww dan mereka mengikuti bid’ah Umar bin Khathab.
  5. Tadzkirat al-Huffadz oleh Dzahabi, I, hal. 3.
  6. Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, I, hal. 4
  7. Muqaddaimah Ibnu Khaldun, hal. 494 dalam fasal Ilmu Fiqih
.Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah
Dialog Analisa Subhat Mengenai Peristiwa Ghadir Khum
Khutbah Rasulullah saww pada hari Ghadir Khum terkait pengangkatan Ali
sebagai wasyi khalifah Nabi adalah mutawatir dan mutasalam. Namun sampai detik ini tetap saja orang-orang yang tidak suka melakukan protes dan memunculkan subhat-subhat maupun keraguan ditengah umat Islam.

Menurut Kantor Berita ABNA, Apa yang ada dihadapan anda ini adalah dialog yang dilakukan dalam menjawab subhat subhat diatas oleh Hujjatul Islam wal Muslimin AbulQasim Salawati Gulistani seorang dosen ilmu tafsir dan ilmu Kalam di Hauzah Ilmiah kota suci Qom.

ABNA:

Ustadz Shalawati, dari hadis-hadis suni yang meriwayatkan khutbah pada tragedi Ghadir Khum kebanyakan memiliki matan khutbah dalam hadis yang pendek sedang pada sumber-sumber syiah hadits terkait tragedi Ghadir justru lebih panjang sebagai misal pada kitab Ihtijaj karya Alamah Thabrisi, disini matan atas khutbah Ghadir sangatlah panjang serta memiliki kandungan isi yang luas dan banyak, adanya perbedaan panjang khutbah ini dipakai oleh musuh islam dan musuh wilayah Amirul Mukminin untuk mempertanyakan keabsahan hadis-hadis tentang Ghadir, Oleh karena itu tolong jelaskan terkait kesahihan hadis yang
mengetengahakan khutbah Ghadir Qhum tersebut?

Jawaban:

“Bismillahirahmannirahim, pertama saya ucapkan selamat hari raya pada semuanya, selamat merayakan hari raya terbesar disisi Allah bagi kaum muslimin, Thabrasi dalam kitabnya Al Ihtijaj sanadnya itu terhubung pada ahli Lajaj dan ini disanadkan sampai Imam Muhammad Al Baqir as. Dalam muqadimah bukunya terkait I’tibar seluruh  riwayatnya beliau
menulis,” Saya dengan dalil Ijma’, Aql, dan kemutawatiran suatu sanad hadis pada buku Fariqain banyak sekali sanad dari riwayatnya tidak saya tuliskan kecuali hadis dari Imam Hasan Al Askari as yang tidak memiliki kemutawatiran seperti yang lain, walaupun dari kandungan isi matan tidak ada perselisihan satu dengan yang lainnya. Salah satu
riwayat yang menurut beliau memiliki sanad mutawatir  adalah khutbah Rasulullah di Ghadir Khum, riwayat ini dengan sedikit perbedaan diksi dinukil juga oleh Syaikh Syahid Said Muhammad bin Al Hasan Ibnu Qital Nisyaburi pada kitab Roudhatul Wa’idzin.”

ABNA:

Subhat lain yang sering dilontarkan adalah terkait kata walidan kata Maula (و لی و مولا) dalam bahasa  Arab, sebagian dari saudara kita Ahli sunnah tanpa memperhatikan Qarinah dari dua kata ini, keduanya mereka artikan dengan kata sahabat dan persaudaraan tidak
diartikan sebagai pimpinan dan khalifah, menurut ustad dari dua makna diatas manakah yang lebih dekat dengan kebenaran?

Jawaban:

Kata (و لی و مو لا “ولاء”، “ولایت”، “ولی”، “مولا” و “اولی”)  semua diambil dari kata-kata yang lain jadi semuanya adalah isim musytaq, kata-kata ini dipakai 124 kali dalam AlQur’an dan dalam bentuk isim, kata Maula dipakai dalam banyak makna dan ada empat kemungkinan
pemakaian disini adalah: 1. Bahwa makna maula memiliki makna musytarak lafdhi (homofon) atas beberapa kata yang ada. 2. Makna pertama bermakna keutamaan untuk berkuasa atas pihak lain dan makna kedua bermakna majazi. 3. Maula bermakna Musytarak maknawi diantara berbagai macam makna dan makna secara umumnya adalah berkuasa pada pihak lain dimana makna ini meliputi makna dari kata-kata yang lain. 4. Maula merupakan kata yang memiliki persamaan kata musytarak maknawi dan makna umumnya adalah kedekatan dua hal tanpa ada penghalang sedikitpun dari pihak ketiga. Dan makna menyeluruh (umum) itu meliputi makna kata-kata yang lain. Secara mutlak sifat ini hanya di digunakan pada hubungan masyarakat pada Tuhan mereka serta dengan para auliyaNya. Makna penekanan pada kepemilikan kekuasaan dan ihtiar atas pihak lainnya serta makna kecintaan juga mutlak terkandung didalamnya. Dengan kemungkinan pertama maka kata wali dan maula memiliki keserupaan dari segi lafal pengucapan pada kalimat “Man kuntu maula fa Aliyun maula” tapi dengan adanya qarinah yang sudah mendahului maka
makna kata pertama lebih utama dari kata kedua. Pada kemungkinan kedua pada hakikatnya adalah keutamaan dalam member keputusan pada orang lain dan makna lainnya adalah makna majazi. Kemungkinan ketiga penggunaan  kata maula selalu bermakna hakikat sama
dan wujud luarnya adalah satu saja. Almarhum Ayatullah Amini memilih kemungkinan ketiga ini dan ketika menerangkan alasanya beliau berkata,” Makna maula pada hadis Ghadir Khum selain makna maula disini hanya sesuai dengan kata keutamaan dalam memberi keputusan pada orang lain. Karena tidak ada makna lain yang memungkinkan untuk dimaknakan padanya, sebagian ada yang mendevinisikan kata wali dan maula dalam dua puluh makna seperti maula diartikan sebagai : 1. Tuhan 2. Paman 3. Anak 4. Keponakan 5. Anak wanita dari paman 6. Pemerdeka 7. Yang sudah merdeka 8. Hamba 9. Raja 10. Pimpinan 11. Nikmat yang sudah diberikan 12. Sekutu 13. Seperjanjian 15. Yang bersama 16. Serumah dan tamu 17. Menantu laki-laki 18. Tetangga 19. Pemberi nikmat 20. Seperjanjian 21. Wakil 22. Pemilik atas sesuatu 23. Pimpinan selain Raja dan Pemberi kemerdekaan 24. Pecinta 25. Keyakinan 26. Pelaku suatu pekerjaan dan 27. Penanggung jawab atas suatu pekerjaan. Makna yang lebih kami utamakan dari makna-makna diatas adalah seperti Paman yaitu sosok yang menjadi penanggung jawab atas anak kakaknya dengan penuh kasih sayang, karena dia sedang menggantikan posisi seorang ayah. Anak paman lebihbtepat dalam kebersamaan dan saling menolong dengan keponakan yang
lain. Karena keduanya merupakan satu cabang dari satu pohon yang sama. Makna anak juga memiliki kelayakan dari sisi bahwa dia adalah sosok yang bersikap hormat pada ayahnya, dan seterusnya.”

ABNA:

Menurut anda mana pernyataan yang lebih benar?

Jawaban:

Kemungkinan pertama yaitu makna musytarak secara lafal pengucapan bertentangan dengan asli. Karena penggunan lafal kebanyakan digunakan bertentangan dengan makna lahir.  Kemungkinan kedua yaitubermakna majazi dihadapan makna-makna yang lain disini tidak ada saksi dari ahli bahasa mengenainya. Kemungkinan ketiga dimana maula diartikan sebagai “yang lebih baik” hakikat ini harus bisa dibuktikan dari segi bahasa, walaupun makna inilah yang meliputi makna kata-kata yang lain. Untuk membuktikan dua hal ini sangatlah berat dan sekarang ini kita belum membutuhkannya. Karena itu kami memilih kemungkinan
ketiga.”

ABNA:

Apakah pernyataan ini juga disetujui para ahli bahasa?

Jawaban:

Iya, ada bebarapa ahli bahasa seperti Ismail bin Hamid Jauhari dalam kitab Shihah, Ahmad bin Fars dalam kitab Mafasir Lughah, Roghib Isfahani dalam kitab Mufrodat, Muhammad bin Mukaram bin Mundhawar Afriki dalam Lisanul Arab, dan Ahmad bin Muhammad bin Ali Fiyumi dalam kitab Misbahul Munir, mereka semua berpendapat bahwa makna yang benar
adalah pada kemungkinan kempat.

Para Ahli bahasa terkait kata Wali mengetengahkan 7 makna kata: 1. Dekat tanpa ada jeda 2. Teman 3. Pemimpin 4. Penolong 5. Hujan yang turun pada musim gugur 6.
Seperjanjian 7. Keponakan. Disini dapat diambil kesimpulan bahwa kesamaan dari tuju kata ini adalah dekat tanpa ada jeda, dan meletakkan sesuatu pada suatu tempat tanpa ada pemisah apapun.  Jadi bermakna kedekatan, lebih umum dari kedekatan materi dan maknawi. Dari
beberapa makna yaitu sahabat, penolong, pemberi perintah, keahlian dan keutamaan, semua kata-kata ini masih sejeneis dengan kedekatan dan hubungan.

Abna:

Kedekatan disini bagaimana bisa kita jadikan sebagai dalil tentang wilayah?

Jawaban:

Misalnya Tuhan semesta alam lebih dekat dengan manusia dari pada urat nadi mereka, makna kedekatan disini melazimkan kedekatan dalam hubungan antara pencipta dan yang diciptakan semata, tidak bisa digantikan dengan makna kedektan yang lain. Karena itu Tuhan adalah pemilik ihtiar manusia, raja, pemimpin, dan pemilik hak untuk ditaati bagi para manusia. Dari sisi ini para ahli bahasa berkata,” wilayah dengan kasrah pada waw sebuah masdar (kata dasar) yang bermakna perintah dan pengutamaan atas yang lain. Pada kesempatan lain juga
diartikan sebagai perintah-perintah. Karena Tuhan Maha tinggi maka kekuasaan ini diberikan pada rasul-rasulnya, kemudian Rasul terahir memberikan wilayah itu pada Ali as, wilayah ini bersifat mutlak tanpa membutuhkan qarinah apapun. Ini tidak lain adalah dalil keutamaan dan kemutlakannya. Karena kita tahu bahwa Maula atau auliya’ Tuhan adalah orang yang lebih mengharapkan tersebarnya kebaikan dari pada pihak lain dibanding untuk dirinya
sendiri. Jadi kedekatan pada mereka dari diri mereka sendiri, dan kedekatan semacam ini melazimkan pengutamaan atas keimamahan dengan kecintaan pada makhluk Tuhan lainnya.

ABNA:

Menurut para ahli tafsir jaman sekarang bagaimana?

Jawaban:

Almarhum Alamah Thabathabai dengan mengisyaratkan kata mauladalam hubungannya dengan makna kedekatan berkata,” Pada hakikatnya wilayah adalah rasa bertanggung jawab atas suatu pekerjaan, serta terangkum didalamnya dan kata wali serta maula kadang juga dipakai dalam bentuk isim fail “mawli” dengan mengkasrohkan lam kadang dipakai dengan makna isim maf’ul menjadi “mawla” dengan memfathahkan lam, dikatakan karena wilayah bermakna kedekatan yang khusus dalam masalah maknawi sudah kelaziman makna dari wali adalah kedekatan juga dan ini tidak berlaku pada yang lain. Jadi walaupun dari pemakaian dalam kehidupan dipakai Mawla ‘alaih (berkuasa padanya) dimana bisa diletakkan pada pihak lain kata wali bisa memiliki makna ini dan menggantikan posisinya. Sebagai contoh mayit sebelum meninggal memiliki kekuasaan atas harta bendanya begitu juga setelah dia
meninggal tetap saja dia memiliki kekuasaan atas harta benda miliknya tersebut dimana disaat yang sama orang lain tidak ada yang memiliki kekuasaan ini. Kesimpulannya ketika kata mawla dipakai pasti memiliki arti kedekatan dan menjadikan adanya kekuasaan untuk menentukan suatu perkara atas yang dikuasai.

ABNA:

Ahli Sunah kadang mempertanyakan ayat wilayah ataupun hadis yang menunjukkan akan keberwilyahan imam Ali as. Dimana menurut mereka dua hal itu tidak berkaitan dengan wilayah Ali sama sekali. Dengan alasan lain bahwa jika memang hal itu berkaitan dengan wilayah Imam Ali maka seharusnya sejak ayat itu turun maka tidak menunggu lama lagi
beliau harus langsung menjadi pimpinan kaum muslimin dan pada kenyataannya tidaklah demikian. Sebagaimana ayat Al Maidah ayat lima yang berbunyi, “Sesungguhnya wali kalian adalah Allah RasullNya dan orang-orang yang beriman…..”  sedang dua hal diatas berlaku setelah kewafatan Nabi Muhammad saw. Dan disini jika Imam Ali menjadi pimpinan
sejak turunnya Ayat juga tidak bisa dibenarkan karena tidak mungkin dalam satu jaman ada dua orang pemimpin atas kaum yang sama. Apakah subhat ini bisa dibenarkan?”

Jawaban:

Dari sisi manapun subhat ini tidak bisa diterima, memang Imam Ali tidak langsung menjabat sebagai khalifah sejak ayat itu turun pada kejadian Ghadir Khum tapi ini tidaklah menjadi masalah, kenapa?

Pertama, keduanya sejak awal adalah orang-orang yang maksum dan diantara keduanya tidak pernah ada suatu perselisihan, kedua keberwilyahan seorang mawla pada Imam Ali juga berlaku jadi pada saat itu Imam Ali sedang berada dibawah wilayah Nabi Muhammad saw,
sebagaimana jika seluruh nabi dikumpulkan dalam sebuah kota maka tidak akan muncul permasalahan diantara mereka. Ketiga orang yang mengeluarkan subhat ini apa tindakan dan penilaian mereka pada hadis Nabi yang berbunyi ajakan pada keluarga terdekat ( da’watu asyiratil Aqrabin)  dimana ditujukan pada para pembesar Qurais,” Wasmau lahu wa athiuh” yaitu Dengarkanlah dia (imam Ali) dan taatlah padanya, apakah ini mau diartikan sebagai dua wali juga? Jadi sebenarnya keberwilayahan Imam Ali itu sudah ada tapi kekhilafaahan beliau itu baru dimulai setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw.”

ABNA:

Orang wahabi setelah tidak mampu menggugurkan hadis tentang Ghadir mereka beralih dengan mengalih maknakan arti dan tujuan dari Ghadir, mereka berkata ghadir tidak lain hanya sebuah ungkapan keprihatinan pada Imam Ali as dimana dia diperolok oleh sebagian
shabat yang merupakan sahabat yang baru pulang perang dari yaman para
tentara itu tidak terima dengan tindakan keras dan adil imam Ali pada
mereka, khitbah ghadir dilakukan setelah Imam Ali mengadu pada beliau.

Jawaban:

Secara lahir orang yang mengungkapkan subhat ini adalah AbuBakar Ahmad bin Husaini Baihaqi yang hidup pada abad ke lima dia berkata,” Hadis ghadir Khum dari segi sanad bukanlah dalil atas kekhilafahan Ali as setelah Nabi Muhammad saw tapi hanya sebuah
jawaban pada sekelompok orang dari sahabat yang baru datang dari Yaman
yang merasa terganggu dengan sikap keras dan menjunjung keadilan yang
Imam Ali terapkan pada mereka karena itu mereka mengadukan tindakan Imam Ali as pada nabi Muhammad saaw. Dengan hadis ini Nabi as bermaksud agar mereka menjauhi permusuhan pada Ali as. Setelah dia Ibnu Kastir dalam tarikhnya juga menulis,” Nabi Muhammad saaw, sebelum haji wada’ beliau kirim Khalid bin Walid ke Yaman dan beliau berkata,” Kalian jangan berperang dengan masyarakat, jadi jangan sampai membuat
keaadaan yang mengharuskan kalian berperang, sehingga mereka memeluk islam dan namun akhirnya hasil rampasan perang jatuh ditangan Khalid, Khalid menulis surat pada Nabi Muhammad saw sehingga ada yang dikirim untuk membagi humus dari harta rampasan yang didapatkan. Karena surat itu ahirnya Ali as dikirim kesana untuk mengambil humus dari harta
rampasan itu serta membagikannya pada yang berhak. Ketika Ali membagi-bagikan humus ada sekelompok orang dari orang yang menyertai beliau agar unta mereka bisa sedikit beristirahat dan minta menaiki unta-unta baitul mal yang waktu itu belum dibagikan itu. Namun Ali as tidak menerima permintaan ini, Ali as berkata,” Pada unta-unta ini ada
hak orang lain, pada saat bersamaan Nabi saaw sedang bersiap untuk
mengajar tentang materi haji, Nabi mengirim surat pada Ali as, beliau mengundang Ali as untuk menunaikan haji, haji terahir nabi, setelah menerima surat itu Ali as menjaga harta rampasan itu dengan sebuah laskar perang dengan pimpinan Baridah Aslami agar mereka menjaga harta itu dari siapapun sehingga Imam Ali as kembali kesana. Dan imam
Ali pun segera ke Mekah untuk ikut menunaikan haji bersama Nabi saw. Orang-orang yang menyertai menghitung harta rampasan itu dan sebagian orang yang bersama Imam Ali, yaitu mereka yang sebelumnya permintaannya tidak dikabulkan meminta apa yang sebelumnya mereka minta pada Baridah sebelum mereka sampai di kota Mekah. Mereka meminta
agar unta milik Baitul Mal (dana kaum muslimin) itu bisa mereka tunggangi selain itu pada masing-masing dari mereka juga mengambil dan memakai pakaian mahal khas negara Yaman dari harta yang belum sempat dibagi-bagikan itu. Sebelum mereka sampai Mekah Ali as menyambut kedatangan mereka dan Ali as Melihat bahwa mereka telah memakai
unta-unta baitul Mal dan memakai pakaian dari harta yang bukan hak mereka. Dengan segera Imam Ali mengambil apa-apa yang mereka ambil tanpa ijin itu dari mereka. Tindakan pengambilan harta baitul mal yang mereka bagi pada saat Imam Ali tidak ada ini membuat mereka berang. Hal itu menjadikan munculnya rasa permusuhan mereka pada Imam Ali as.
Ucapan protes mereka pun menyebar dari mulut ke mulut. Protes ini terus berdengung hingga umat islam waktu itu melaksanakan prosesi ibadah haji. Hal ini pula yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa pada hari minggu tanggal 18 Dzulhijjah tahun  itu (tahun 10 Hijriah)
di gadir Khum tempat yang terletak didekat Jafah sebelum melaksanakan shalat dhuhur dibawah pepohonan orang-orang dikumpulkan dan disampaikan khutbah mengenai keutamaan, penjagaan amanat dan keadilan yang dimiliki Ali as serta kedekatannya pada Rasulullah saaw. Pada saat yang sama apa yang ada dalam benak orang-orangberupa protes
tentang Imam Ali as pun mereka sampaikan. Pada riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi saaw memerintahkan pada seseorang agar berteriak, ”Kalian jangan berbicara seperti itu tentang Ali as; karena dia berlaku seperti itu tidak lain adalah karena Allah swt   dan dia
dijalan agama Allah swt tidak pernah merasa lelah sedikitpun.” Akhirnya mereka berhenti memperbincangkan tuduhan keburukan tentang Ali as, jadi peristiwa Ghadir tidaklah untuk menentukan bahwa Ali adalah khalifah penerus Nabi Muhammad, peristiwa itu hanya untuk
menghilangkan kesimpangsiuran yang terjadi diantara para sahabat waktu itu.

Yang lebih aneh lagi adalah adanya para pembenci konsep keimamahan sering menggunakan cerita terpenggal ini serta menambahkan penjelasan bermacam-macam tambahan lainnya sesuai tuduhan mereka, mereka pun menyelewengkan makna lahir dan maknawi hadis tentang Ghadir tersebut.

ABNA:

Jawaban atas subhat ini apa ustad?

Jawaban:

Sudah dikenal banyak orang kisah tentang seorang turis yang bertanya.”
Apakah dikota kamu ada peninggalnh budaya kuno?” dia menjawab,” Tidak, tidak punya namun sekarang pemerintah kota punya dan sedang membangunnya” Pertama, bagaimana mungkin ribuan saksi peristiwa Ghadir serta para ulama islam hingga jaman Baihaqi yaitu abad kelima tidak mampu memahami hal demikian ini dalam hadis nabi Muhammad saw, dimana rentang waktu sampai jaman Baihaqi adalah 400 tahun setelah kejadian
itu atau jaman ibnu Katsir 600 tahun lamanya. Ini menjadi dalil tidak bisa diterimanya pemaparan itu.  Kedua; kemungkinan ini tidak setara ketika kita bandingkan dengan kefasihan dan kebahasaan Nabi Muhammad saaw. Ketiga; Imam Ali sudah pergi ke yaman sebanyak tiga kali, pada kepergian kedua yang beliau lakukan pada tahun ke 9 Hijriah untuk
menjadi hakim, dimana pada waktu itu tidak ada satupun protes yang dilontarkan, pada kepergian pertama tahun ke 8 Hijriah Khalid bin Walid didasarkan rasa dendam mengadukan Imam Ali asa pada Nabi Muhammad saw, dan menulis surat pada Nabi, dengan memberikan surat itu pada Baridah Asalami, dan surat itu ia bawa ke Madinah dan diberikan pada Nabi Muhammad. Tapi ketika Nabi megetahui isi surat itu beliau terlihat menjadi marah dan berkata,” Jangan sampai kalian memprotes Ali as, karena dia dariku dan aku darinya, dan Ali adalah pimpinan kalian setelahku. Imam Bukhori pun meriwayatkan kisah ini. Protes ini
dilakukan di Madinah tahun 8 Hijriah, protes ini terjadi satu setengah tahun sebelum peristiwa Ghadir Khum, dan Rasul tidak merespon protes mereka, jadi protes ini tidak ada hubungan apapun dengan hadis Ghadir Khum, jadi siapapun yang menghubungkan hadis ghadir dengan protes Baridah itu tidak bisa diterima sama sekali. Terkait protes pada kepergian Imam Ali yang ketiga jika aslinya memang benar dan tidak
berhubungan dengan kepergian pertama beberapa prajurit juga mengabdi
pada beliau setelah peristiwa Ghadir Khum di kota Madinah dimana hal ini juga tidak ada hubungannya dengan hadis ghadir. Dimana nama dari orang yang melakukan protes pada kepergian Imam Ali ketiga juga tidak ada kejelasan.
ABNA:

Apa dari sini dapat disimpulkan ada penyimpangan sejarah secara sengaja ?

Jawaban:

Iya, para pengingkar keimamahan dengan dasar protes yang dilakukan Baridah pada tahun ke delapan Hijriah serta protes ketiga setelah peristiwa Ghadir berusaha untuk menunjukkan protes sebelum peristiwa ghadir agar tampak lebih besar dimata umat islam dan mereka
bisa mencucuk hidung umat islam dengan pemahaman bahwa peristiwa ghadir tidak lain hanya untuk menyelsaikan perselisihan dalam bentuk protes umat dengan Imam Ali waktu itu,   selain itu mereka juga meriwayatkan khutbah yang tidak sempurna, padahal pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Saksi lain mengatakan, kami punya riwayat shahih
dan dengan dalil yang jelas dimana Imam Ali as pernah mengumpulkan masyarakat Kufah dan berkata pada mereka, ” Setiap umat islam yang mendengar ucapan Nabi Muhammad saaw pada hari ghadir silahkan berdiri untuk memberikan saksi, paling tidak ada tiga orang yang berdiri dan memberikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad saw dimana waktu itu tangan Ali as beliau angkat keatas dan berkata pada umat islam waktu itu, ”
Apakah kalian mengetahui bahwa aku lebih beriman dari pada kalian ? ”
mereka menjawab,” Iya, wahai Nabi Allah”. Beliau berkata,”Barang siapa menjadikan aku adalah Maulanya maka Ali adalah maulanya. Duhai Allah cintailah siapapun yang mencintai Ali as, dan musuhilah siapapun  yang memusuhinya.”

Apakah ini masih mau disebut sebagai jawaban atas protes dari orang-orang tersebut atau untuk mengukuhkan Imam Ali sebagai Khalifahbeliau? Apakah setelah tiga puluh tahun ada protes yang dilakukan mengacu pada kejadian 30 tahun silam tersebut?

ABNA:
Apakah kesempatan lain Nabi juga meberi isyarat akan keimamahan
Imam Ali as?

Jawaban:

Memang seperti itu, karena permasalahan keimamahan imam Ali sudah beliau isyaratkan sejak tahun awal dari kerasulan beliau saw dengan perintah Allah swt, sejak dakwah yang dilakukan secara umum pada sanak keluarga di mekah tahun  3 bi’tsah sampai pada peristiwa
ghadir tiga bulan sebelum beliau meninggal, beliau sering sekali mengungkapkan hal ini, tiap kali ada kesempatan beliau pasti mengungkapkannya, dan pada hari ghadir adalah pengumuman atas kepemimpinan Imam Ali secara resmi didepan umum umat Islam.

ABNA:

Sebelum mengahiri dialog ini tolong jelaskan bagaimana kemungkinan Nabi Muhammad saaw yang mengumpulkan masyarakat pada siang dibawah terik mentari yang membakar hanya untuk menyatakan tali persaudaraan beliau dengan Ali as?

Jawaban:

Dalam sebuah cerita ada bagian tertentu yang dijadikan sebagai penarik perhatian dari para pembaca, dan ini tidak pernah tidak ada disemua cerita yang dibuat. Dimana orang yang menjelaskan hal itu tidak memaparkan poin penting kejadiannya, karena itu maka hakikat yang ada dibalik kejadian itu tidak terungkap dengan jelas, jika tindakan Nabi dengan memberhentikan masyarakat dalam kondisi yang tidak mendukung, hawa siang yang panas, hanya untuk menyatakan bahwa Ali as adalah sahabatnya maka harus dipakai kata-kata yang lebih jelas untuk menunjukkan bahwa maksudnya agar orang-orang tidak memusuhi
beliau, seperti yang diungkapkan dalam riwayat yang menceritakan protes Baridah itu digunakan kata Latubghidhuhu wa uhibuhu, jangan kamu musuhi dia dan cintailah dia, disitu beliau menggunakan kata-kata yang jelas untuk mencintai dan menjadi kawan Imam Ali as.

ABNA:

Atas waktu yang diberikan kami ucapkan banyak terimakasih. (*)

Ghadir Khum Adalah Untuk Segenap Umat Islam

Berkenaan dengan hari raya Ghadir Khum yang di dalam riwayat-riwayat kita disebut dengan ied akbar, saya ucapkan selamat kepada segenap umat Syiah dunia, kepada bangsa Iran yang mulia, kepada hadirin sekalian yang terhormat, dan kepada segenap orang mengakui tingginya kedudukan makrifat-makrifat Ilahi yang murni.

Pada hari-hari pertama tahun ini, terdapat beberapa hari bahagia untuk masyarakat secara umum yaitu hari raya Norouz yang sebelumnya adalah Idul Adha, dan sekarang ialah hari raya Ghadir Khoum. Dalam suasana penuh vitalitas, suka cita dan di sisi makam suci Hazrat Abul Hasan Imam Ali bin Musa Arridha A.S ini masalah pertama yang ingin saya kemukakan di depan para hadirin saudara dan saudari sekalian ialah menyangkut masalah AlGhadir sendiri.

Al-Ghadir adalah masalah keislaman dan bukan masalah kesyiahan saja. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah mengutarakan suatu pernyataan dan beliau aktualisasikan. Pernyataan dan aktualisasi ini memiliki pelajaran dan makna dari berbagai aspeknya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa AlGhadir dan hadits AlGhadir hanya digunakan oleh kaum Syiah sedangkan umat Islam lainnya tidak memanfaatkan kandungan ucapan mulia Rasul yang kaya muatan dan tidak dikhususkan untuk masa tertentu ini. Hanya saja, karena dalam kasus Ghadir Khoum ini terdapat pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib A.S, maka umat Syiah lebih menaruh perhatian kepada hari dan hadits ini. Tetapi, kandungan hadits AlGhadir tidak hanya menyangkut masalah pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, melainkan juga mengandung muatan-muatan lain yang bisa diaplikasikan oleh umat Islam lainnya.

Mengenai prinsip terjadinya peristiwa AlGhadir, sudah sepatutnya semua orang yang berminat kepada masalah-masalah sejarah Islam mengetahui bahwa masalah Ghadir Khoum adalah satu masalah yang diakui dan tidak diragukan kebenarannya. Bukan hanya orang Syiah yang meriwayatkannya. Para ahli hadits Sunni maupun Syiah, baik pada periode terdahulu maupun periode pertengahan dan setelahnya, telah meriwayatkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Haji Wada’ Rasul di Ghadir Khoum. Rombongan besar umat Islam yang turut menunaikan haji bersama Rasul dalam perjalanan ini sebagian ada yang di depan. Rasul mengirim para kurir kepada mereka yang ada di depan supaya kembali ke belakang dan berhenti agar mereka yang berada di barisan belakang tiba di tempat.

Rapat akbar pun terjadi. Sebagian orang mengatakan jumlahnya 90 ribu, sebagian lagi mengatakan 100 ribu, ada pula yang mengatakan 120 ribu. Di saat cuaca panas, masyarakat Jazirah Arab yang sebagian besar adalah penghuni gurun sahara dan desa-desa yang terbiasa dengan cuaca panas bahkan ada yang tidak tahan dengan panas cuaca saat itu. Mereka berdiri di atas tanah yang panas menyala. Mereka meletakkan pakaian aba’ah di bawah kaki supaya tahan panas. Hal ini juga disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlussunah.

Dalam situasi seperti ini, Rasululllah SAWW menampilkan Amirul Mukminin di depan mata orang-orang kemudian berkata:

“Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinya, maka Ali-lah pemimpinnya. Ya Allah tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Kata-kata ini tentunya juga beliau utarakan sebelum dan sesudahnya. Tetapi masalahnya yang terpenting ialah bahwa di sini beliau mengutarakan secara resmi dan tegas masalah wilayat (kepemimpinan), yakni masalah pemerintahan Islam serta menunjuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai figur pilihan. Seperti yang tentu pernah Anda dengar dan pernah pula saya utarakan, saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah juga meriwayatkannya dalam puluhan kitab-kitab muktabar mereka, dan bukan dalam satu atau dua kitab saja. Riwayat-riwayat ini sudah dihimpun oleh Almarhum AlAllamah AlAmini. Selain beliau, juga banyak para penulis yang mencatatnya dalam jumlah kitab yang besar. Atas dasar ini, pertama-tama hari ini adalah hari wilayat (kepemimpin), dan kedua adalah hari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Dalam kalimat yang diucapkan Rasul ini, apakah makna wilayat? Secara ringkas, maknanya ialah bahwa Islam tidak terbatas hanya pada solat, puasa, zakat, dan amal-amal ibadah individual. Islam juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yang berlandaskan ketentuan-ketentuan yang sudah dipertimbangkan. Dalam terminologi Islam, pemerintahan Islam ialah wilayat. Dalam bentuk bagaimanakah wilayat itu? Wilayat ialah suatu pemerintahan di mana sosok yang berkuasa memiliki ikatan-ikatan cinta, batin, pemikiran dan akidah dengan segenap lapisan masyarakat. Makna wilayat bukanlah pemerintahan yang dipaksakan, pemerintahan yang disertai kudeta, pemerintahan yang penguasanya tidak menerima akidah rakyatnya, tidak mementingkan pikiran-pikiran dan sensibilitas rakyatnya, dan bahkan pemerintahan yang sudah umum ditengah masyarakat –sebagaimana pemerintahan-pemerintahan yang ada di dunia sekarang ini- dimana penguasanya menikmati berbagai fasilitas khusus dan perlakuan istimewa serta terdapat zona khusus untuknya guna mendapatkan kenikmatan-kenikmatan duniawi.

Wilayat adalah pemerintahan yang didalamnya terdapat ikatan-ikatan pemikiran, akidah, kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta antara penguasa dan rakyat. Pemerintahan dimana rakyat bersambung dan bergabung dengan penguasa, menaruh simpati kepadanya, dan penguasanya pun menganggap sumber seluruh sistem politik beserta tugas-tugasnya ini adalah dari Allah, serta memandang dirinya sebagai hamba dan abdi Allah. Dalam wilayat tidak ada aroganisme. Pemerintahan yang diperkenalkan oleh Islam lebih merakyat daripada demokrasi-demokrasi yang popular di dunia. Pemerintahan ini memiliki ikatan dengan pikiran, perasaan, akidah dan berbagai kebutuhan pemikiran rakyat. Pemerintahan adalah untuk melayani masyarakat.

Secara materi, pemerintahan tidak boleh dipandang sebagai santapan untuk diri penguasa dan komponen pemerintahan. Bermegah-megahan bukanlah wilayat. Bukanlah sosok pemimpin orang yang berada di pucuk pemerintahan Islam kemudian mengincar materi demi kekuasaan, demi dirinya, demi kedudukan yang sudah dan akan dicapainya. Dalam pemerintahan Islam sosok wali amr yaitu orang yang diserahi urusan mengelola sistem politik secara hukum sederajat dengan orang lain. Dia memang berhak untuk melaksanakan berbagai pekerjaan besar untuk rakyat, negara, Islam dan umat Islam, namun dia sendiri juga berada di bawah hukum.

Sejak hari pertama hingga sekarang, khususnya setelah berdirinya pemerintahan Republik Islam, terdapat orang-orang yang menyelewengkan makna wilayat. Wilayat diperkenalkan sebagai sesuatu yang bukan apa adanya. Mereka katakan makna wilayat ialah bahwa rakyat itu terlarang dan memerlukan ketua dan pemimpin. Orang-orang yang punya nama secara tegas menulis sedemikian ini di dalam buku-buku dan artikel-artikel mereka. Ini adalah dusta belaka dan merupakan fitnah kepada Islam dan wilayat.

Dalam AlGhadir, masalah wilayat diutarakan Rasul sebagai satu masalah resmi, dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ditunjuk sebagai substansinya. Tentu saja terdapat banyak rincian dalam masalah ini, dan Andapun mengetahuinya. Dan kalau masih ada orang yang tidak mengetahui rincian itu, khususnya para pemuda, maka hendaknya merujuk kepada berbagai tulisan dan kitab argumentatif dan ilmiah. Dalam hal ini berbagai kitab sudah ditulis dan bermanfaat.

Dalam permulaan tahun ini saya sudah mengemukakan seruan persatuan nasional dan keamanan nasional. Mengenai dua seruan ini, saya berminat untuk menjelaskan dua materi ringkas kepada hadirin yang mulia serta kepada segenap masyarakat Iran. Masalah Ghadir Khoum bisa dijadikan sebagai sumber persatuan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Almarhum Ayatullah Syahid Mutahari dalam artikelnya yang berjudul ‘Ghadir Khoum dan Persatuan Islam’. Beliau menyebut kitab AlGhadir yang membicarakan berbagai persoalan menyangkut peristiwa Ghadir Khoum sebagai salah satu poros persatuan Islam. Dan ini memang benar.

Kelihatannya mungkin aneh, tetapi inimerupakan kenyataan. Masalah AlGhadir, selain aspek dimana Syiah menerimanya sebagai keyakinam, yaitu penobatan Amirul Mukminin oleh Rasul sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits AlGhadir, juga mengemukakan masalah wilayat yang merupakan masalah lintas Sunnah dan Syiah. Jika sekarang ini umat Islam dunia dan bangsa-bangsa di negara-negara Islam meneriakkan seruan wilayat Islami, niscaya sebagian besar jalan keluar tidak akan hilang, berbagai kebuntuan umat Islam akan terbuka dan berbagai dilematika dunia Islam akan segera teratasi.

Masalah pemerintahan, sistem, dam otoritas politik adalah salah satu masalah yang tersulit untuk berbagai negara. Sebagian negara terbentur kepada despotisme dan diktatorial, kepada pemerintahan yang korup, kepada pemerintahan yang rentan, dan kepada pemerintahan boneka. Jika pemerintahan Islam sesuai maknanya yang hakiki, yakni wilayat, ditampilkan sebagai satu syiar untuk umat Islam, maka kelemahan akan terobati, begitu pula masalah ekonomi, masalah status sebagai negara boneka, dan masalah diktatorial. Atas dasar ini, bendera wilayat adalah satu bendera Islami.

Kepada segenap saudara-saudara dari kalangan Syiah dan Sunni di negara kita ini –untuk sementara ini sengaja saya kemukakan batasan geografis-, saya menghimbau supaya masalah AlGhadir ditinjau dengan kacamata ini, serta menaruh perhatian kepada bagian dari hadits dan masalah AlGhadir ini. Saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah hendaknya juga merayakan hari raya AlGhadir, hari raya wilayat, sebagaimana kami. Hari ini adalah merupakan asal kelahiran masalah wilayat, karena itu hari ini sangatlah penting, sebagaimana pentingnya wilayat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang disepakati bersama oleh kita dan saudara-saudara kita dari kalangan Sunni.

Baik pada masa pasca kemenangan revolusi maupun pada masa pra revolusi, saya selalu meyakini bahwa Syiah dan Sunnah sudah seharusnya menyingkirkan pertikaian lamanya dalam pergaulan mereka sehari-hari. Konfrontasi dan perdebatan harus disingkirkan lalu merekatkan berbagai persamaan mereka. Ini sendiri juga merupakan salah satu dari berbagai kesamaan itu. Sampai sekarang saya masih meyakini hal ini.

Dewasa ini, banyak sekali upaya untuk menciptakan ikhtilaf antara Syiah dan Sunnah. Namun orang-orang yang berpikir dan pandai menganalisis tentunya mengetahui keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh kaum mustakbirin dari upaya ini. Tujuan mereka ialah menceraikan Iran dari himpunan negara-negara Islam. Revolusi Islam hanya terbatas pada teritorial Iran. Mereka menciptakan kondisi supaya Iran mendapat tekanan dari negara-negara Islam lainnya, serta mencegah bangsa-bangsa lain mengambil pelajaran dari bangsa Iran. Kita harus benar-benar melawannya. Siapapun, baik dari lingkungan Sunnah maupun Syiah, yang membantu terjalinnya solidaritas dan komunikasi yang baik dan bersahabat antara Syiah dan Sunnah, maka ia telah melakukan pekerjaan yang menguntungkan revolusi, Islam dan cita-cita umat Islam. Dan siapapun yang berusaha menciptakan perpecahan, maka ia telah bergerak kepada arah yang berlawanan.

Saya mendapat informasi jelas bahwa sekarang sebagian negara Islam yang tidak ingin saya sebutkan namanya menaruh dan menggunakan uang dari kotak-kotak dana yang berkaitan dengan tujuan dan kehendak pihak-pihak asing, khususnya untuk menulis buku-buku yang mendiskreditkan Syiah, akidah Syiah, dan sejarah Syiah yang kemudian dipublikasikan ke Dunia Islam. Apakah mereka itu memang bersimpati kepada Ahlussunnah? Tidak. Mereka tidak menghendaki Syiah, tidak pula Sunnah. Mereka tidak bersahabat dengan Syiah maupun Sunnah. Namun, karena di Iran sekarang ini pemerintahan dan bendera Islam ada di tangan kelompok Syiah dan karena mereka memandang segenap komitmen rakyat Iran tertumpu pada Syiah, maka segala bentuk permusuhan mereka kepada revolusi tertumpu kepada revolusi Islam. Mereka berusaha memberantas Syiah agar pemerintahan politik Islam dan bendera kehormatan ini tidak menjalar ke tempat-tempat lain dan menarik simpati kaum muda di negara-negara lain.! Jangan sampai ada orang yang membantu pengkhianatan para musuh ini. Siapapun, baik di negara kita, di lembaga-lembaga Islam, di kalangan Syiah maupun diantara saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah di negara kita, jangan sampai ada yang melakukan tindakan yang membantu ambisi kaum mustakbirin untuk menciptakan kebencian dan permusuhan.

Dengan pernyataan ini, tentu saja kami tidak bermaksud mengatakan supaya orang Syiah menjadi Sunni, atau orang Sunni menjadi Syiah, juga bukan supaya orang Syiah dan Sunni tidak lagi melakukan kegiatan ilmiah sesuai dengan kemampuannya untuk memperkuat akidah mereka. Kegiatan ilmiah kebetulan baik sekali. Sama sekali tidak ada masalah. Silahkan mereka menulis buku-buku ilmiah dan dalam lingkungan ilmiah, bukan dalam lingkungan non-ilmiah, apalagi dengan nada yang tercela dan keras. Dengan demikian, jika seseorang bisa membuktikan logikanya, maka kita tidak boleh mencegah kegiatannya. Namun, jika seseorang menghendaki perpecahan dengan kata-kata, tindakan dan berbagai macam cara, maka kita menganggapnya sebagai melayani musuh. Orang-orang Sunni harus waspada, begitu pula orang-orang Syiah. Persatuan nasional yang kami katakan tadi juga meliputi masalah ini.

Perlu juga saya ungkapkan di sini bahwa dewasa ini terdapat orang-orang yang memperlakukan persatuan nasional bukan sebagai semboyan-semboyan agamis, melainkan mencemarinya dengan slogan-slogan politik belaka. Kami sudah menasehati mereka dan sekarang pun kami juga menghimbau supaya persatuan bangsa yang besar dan bersatu ini jangan sampai goyah. Memisahkan bangsa yang besar ini satu dengan yang lain adalah tindakan melayani musuh bangsa ini. Jika bangsa yang besar dan matang ini memelihara persatuan nasional di negeri ini, niscaya akan tercipta peluang untuk persatuan bangsa-bangsa lain. Jika umat Islam yang berjumlah sekitar satu setengah milyar ini bersatu dalam berbagai persoalan prinsipal mereka, maka bisa Anda lihat betapa besarnya kekuatan yang akan tercipta di dunia ini. Namun, jika persatuan nasional ternyata retak, maka bicara soal persatuan Dunia Islam adalah omongan yang fiktif dan mengundang tawa semua orang. Sebagian orang menginginkan! supaya ini terjadi.

Bagaimanakah persatuan nasional bisa dipenuhi? Salah satu hal yang bisa menjamin persatuan nasional ialah bahwa orang-orang yang kata-katanya punya pengaruh di tengah masyarakat, atau para pejabat dan figur-figur agamawan dan rohaniwan hendaknya tidak memberikan pernyataan yang mengotori perasaan sekelompok masyarakat kepada kelompok-kelompok lain. Mereka jangan sampai membangkitkan fitnah. Membangkitkan fitnah dan membuat masyarakat saling curiga adalah salah satu bahan program para musuh terhadap bangsa ini. Radio-radio asing dan pusat-pusat pemberitaan ini mungkin bisa dikatakan bahwa separoh dari pernyataan-pernyataan mereka sudah direkayasa supaya satu kelompok masyarakat tertentu berburuk sangka kepada kelompok yang lain. Mereka duduk dan merancang pernyataan sedemikian rupa agar punya pengaruh.

Orang-orang yang bekerja dengan lisan dan pena pertama-tama harus waspada agar apa yang mereka nyatakan jangan sampai menciptakan prasangka buruk, jangan sampai menjadikan masyarakat saling berburuk sangka dan pessimis kepada pemerintah, karena hal ini juga merupakan satu bentuk tindakan membangkitkan fitnah dan perbuatan dosa lain. Sebagian orang sangat berkepentingan dengan pembuatan isu, membikin-bikin berita, mendistorsi berita, dan boleh jadi asal usul beritanya benar, namun berita ini dikemukakan sedemikian rupa agar materinya yang tidak sesuai dengan kenyataan bisa ditanamkan pada persepsi lawan bicaranya, agar hati rakyat, para pemuda, para pembaca dan pendengarnya berburuk sangka kepada para pejabat pemerintah, dan supaya orang-orang mengalami keragu-raguan.

Apa untungnya perbuatan ini? Perbuatan ini tidak mendatangkan hasil apapun kecuali menghambat laju perkembangan bangsa dan negara, membuat pemerintah ragu-ragu dalam bekerja, membuat rakyat frustasi kepada masa depan, dan merampas kekuatan optimisme yang besar dari tangan rakyat. orang berusaha menciptakan prasangka buruk orang-orang lain kepada pemerintahan secara keseluruhan atau kepada sebagian pejabat pemerintah. Padahal, kalau memang ada pernyataan yang benar, maka pernyataan ini bisa menghasilkan pengaruh yang jauh lebih baik jika disalurkan melalui jalur tertentu kepada pejabat atau kepada pejabat yang ada di atasnya. Ketika suatu peristiwa terjadi, kasus teror terjadi, kejahatan terjadi di suatu tempat, terdengarlah pernyataan yang sedemikian menyimpang, menimbulkan kecurigaan, dan membangkitkan keheranan para pembaca pernyataan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki tanggungjawab. Coba lihat, betapa mereka yang memberitakan tentang fakt! a-fakta yang ada itu ternyata sangat jauh atau memang sengaja menjauhi fakta. Ini semua adalah masalah-masalah yang merusak persatuan nasional. Atas dasar ini, persatuan nasional adalah salah satu aspirasi yang paling mendasar dari sebuah bangsa.

Sebuah bangsa akan maju jika bersatu dalam memasuki gelanggang ekonomi dan terjadi peperangan. Dengan persatuan nasional wibawa bangsa akan lebih terpelihara. Di bawah naungan persatuan suatu bangsa akan berhasil meraih segala cita-cita besarnya. Perselisihan, perpecahan, hati yang saling tercerai, membenturkan berbagai kelompok dan tokoh tidak akan bisa memberikan pengabdian. Dengan demikian, ini merupakan satu prinsip yang mudah-mudahan bisa dijaga oleh kita semua. Ini adalah harapan kami kepada para pejabat yang berurusan dengan opini khalayak umum.

Materi kedua ialah materi keamanan nasional. Keamanan nasional sangatlah penting. Keamanan nasional tentunya mencakup keamanan dalam dan luar negeri. Keamanan luar negeri ialah menyangkut keamanan negara yang terancam dari arah kekuatan-kekuataan di luar perbatasan, atau tentara militer yang menyerang perbatasan suatu negara seperti beberapa perang yang pernah terjadi, atau berupa serangan politik dan propaganda terhadap sebuah negara yang adakalanya menimbulkan kekacauan dan kerusuhan. Hal ini berulang kali terjadi di pelbagai negara sehingga menimbulkan berbagai kesulitan. Keamanan dalam negeri merupakan upaya dalam skala besar yangmana jika segenap pejabat terkait bekerja dengan mengerahkan segenap kemampuannya akan sanggup menjamin aspirasi besar ini. Maka dari itu, keamanan bukanlah masalah kecil.

Seperti yang pernah saya katakan pada awal tahun, jika keamanan tidak ada, maka aktivitas ekonomi juga tidak akan ada, keadilan sosial tidak akan ada, pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan terjadi, semua sektor sebuah negara secara bertahap akan porak poranda. Dengan demikian, keamanan merupakan tonggak dan fondasi.

Dalam masalah keamanan tentu ada contoh-contoh yang tidak begitu krusial, seperti ketidak amanan yang dialami oleh segenap masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya, atau pernah didengarnya dari orang-orang lain. Ini adalah sesuatu yang kalau toh penting, namun tidak terlalu mengancam. Contohnya ialah pencurian, walaupun aparat keamanan tetap harus mencegahnya. Pencurian adalah masalah yang tentu harus dicegah dengan serius oleh aparat kepolisian. Sejumlah orang mengacaukan keamanan rumah tangga orang lain demi tujuannya yang terselubung dan hina. Ini merupakan satu contoh untuk ketidak amanan, namun ini bukanlah contoh utama. Ini merupakan ketidak amanan dari orang-orang yang cuek, jahat dan hina yang tentunya menimbulkan dampak buruk dan mengganggu keamanan lingkungan. Ini juga merupakan ketidak amanan.

Di kanan kiri kita terdapat laporan-laporan yang tentunya sebagian dari Anda sudah pernah melihat atau mendengarnya. Orang-orang yang tidak komitmen kepada UU dan ketentuan adalah orang-orang jahat yang menciptakan ketidak amanan di berbagai tempat dan di majalah-majalah terhadap bangsa serta kehormatan dan wibawa masyarakat. Aparat kepolisian dan badan legislatif bertanggujawab menindaklanjuti kekejian dan kebrutalan para pengacau keamanan lingkungan dan urusan masyarakat, supaya mereka yang menjadikan titik kelemahan yang ada sebagai batu loncatan itu jangan sampai berpikir bahwa mereka berhak melakukan segala kesalahan dan perbuatan-perbuatan menyimpang. Mereka harus tahu bahwa mengacaukan kemanan lingkungan hidup masyarakat hukumannya bukan hanya meringkuk di dalam tahanan dalam waktu singkat. Islam memberikan hukuman yang lebih berat untuk para pengacau keamanan dan mereka yang menakut-nakuti masyarakat.

Jika hukum Ilahi diterapkan kepada mereka dan para pencuri, khususnya mereka yang menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi, tentu hukum ini akan punya pengaruh besar. Tak usah mereka memperhatikan sebagian apa yang dianggap tabu di dunia serta berbagai gelombang propaganda, tetapi coba lihat apa itu hukum Allah? Hukum Allah menentukan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan kadarnya. Kekacauan di bidang ekonomi juga merupakan bagian dari ketidak amanan. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi. Jika ada orang yang memiliki modal kecil, maka mereka menghancurkan modal-modal kecil dan fasilitas rakyat dengan tindakan-tindakan ilegal dan kelicikan. Mereka merampasnya demi keuntungan mereka sendiri. Selagi ada kesempatan, mereka tidak bosan melakukan penyalahgunaan-penyalahgunaan pribadi. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi.

Coba Anda perhatikan, jika kondisi ekonomi dalam sebuah negara sakit, maka salah satu penyakitnya ialah adanya celah-celah pelarian dari hukum yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk memenuhi kantong-kantong mereka. Mereka merebut fasilitas masyarakat dan pemerintah demi interes dan kedudukan mereka.

Masalah yang lebih krusial ialah ketidak amanan sosial yang pada hakikatnya ketidak amanan nasional banyak berkaitan dengan masalah ini. Mereka mengacaukan keamanan lingkungan kerja, lingkungan ilmu, lingkungan mahasiswa. Sebelumnya pernah saya singgung bahwa seorang pejabat AS sebulan lalu menyatakan di Iran bakal terjadi kekacauan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Mereka mempunyai berbagai program. Karena itu, segenap komponen masyarakat harus waspada. Orang-orang yang banyak mendapat gelombang konspirasi mereka juga harus waspada.

Sejak awal revolusi hingga sekarang, musuh sudah berkali-kali berusaha mengacaukan lingkungan kerja. Mereka berusaha menciptakan aksi mogok agar tenaga kerja berhenti melakukan kegiatan konstruktif di dalam negeri. Kendati sampai sekarang tidak pernah bisa, mereka tetap merancangnya. Mereka juga mengacaukan keamanan di dalam berbagai universitas. Mereka sudah mencobanya dalam satu dua kasus, tetapi mahasiswa sendiri telah menampar mulut musuh. Namun, boleh jadi musuh pernah berhasil di tempat-tempat tertentu. Upaya mereka ialah menghentikan aktivitas, kegiatan dan usaha di dalam kelas dan membuat para dosen dan mahasiswa menganggur, dengan cara menyulut ketegangan dan kerusuhan atas nama semboyan, unjuk rasa dan sebagainya.

Semua orang mengetahui bahwa para mahasiswa kita memiliki potensi yang cemerlang. Di tengah kegiatan para mahasiswa, kita melihat hal-hal yang memang benar-benar membangkitkan harapan dan sinyalemen cerahnya masa depan. Salah satu pekerjaan musuh ialah menciptakan ketidak amanan di lingkungan universitas. Yakni mereka melakukan tindakan untuk mempersulit dan memustahilkan kegiatan belajar, sekolah, mengajar dan kegiatan di laboratorium, atau mereka berusaha merusak keamanan kota sebagaimana yang pernah terjadi di Teheran pada tanggal 12 dan 13 Juli 1999, dimana jiwa para pemuda, anak kecil, para wanita, para pejalan kaki dan orang-orang yang berada di balik jendela rumahnya terancam bahaya. Mengapa? Karena sebagian orang lebih mementingkan aksi turun ke jalan-jalan dan menciptakan kerusuhan dengan melancarkan gerakan kekerasan dan pembangkangan. Mereka membakari kendaraan bermotor atau memecahkan kaca-kaca.

Kemudian mereka membuat-buat alasan. Tetapi alasan manakah yang membolehkan sekelompok orang menciptakan kerusuhan di sebuah negara yang merupakan rumah mereka sendiri -ini bukan rumah orang asing-? Di saat peristiwa seperti ini terjadi, petugas keamanan, pasukan militer, dan pasukan sukarelawan tentu tidak akan diam berpangku tangan. Siapakah yang harus waspada di depan kseperti ini? Jawabannya tak lain ialah masyarakat sendiri, para pemuda sendiri, para aparat sendiri, para mahasiswa sendiri dan lingkungan-lingkungan yang menjadi sasaran aksi makar ini sendiri. Haruslah diperhatikan, kalau mereka melihat seseorang tampil ke depan untuk mengompori situasi, maka orang itu harus ditangkap. Ketahuilah, mulut musuhlah yang sedang berkoar, suara musuhlah yang keluar dari kerongkongan orang ini.

Sebagaimana di setiap tempat para musuh selalu mencari-cari sesuatu, di dalam setiap kasus pun mereka menemukan hal-hal seperti ini. Setelah segenap masyarakat waspada, tanggungjawab keamanan ada di tangan instansi-instansi terkait, yaitu kementerian inteljen, kementerian dalam negeri, aparat kepolisian, badan yudikatif dsb. Inilah harapan rakyat yang paling besar kepada aparat pemerintah, dan ini juga merupakan permintaan saya yang paling utama kepada instansi-instansi terkait. Semuanya harus waspada dan mengawasi. Semuanya harus menunjukkan sikap waspada terhadap berbagai kasus. Kita tidak boleh membiarkan musuh melakukan apa saja yang mereka kehendaki.

Dalam masalah keamanan dalam negeri ini, adakalanya berkaitan dengan pihak di luar negeri, seperti halnya tindakan mengompori. Lihatlah, beberapa hari lalu seorang menteri AS menyampaikan pidato. Setelah hampir setengah abad, orang-orang AS baru mengakui bahwa merekalah yang menggerakkan kudeta 28 Mordad (1953). Mereka baru mengakui telah menyokong pemerintahan Pahlevi yang penindas, diktator, dan korup. Hampir 47 tahun setelah kudeta 28 Mordad, baru sekarang mereka mengakui hal ini. Kemudian mereka juga mengakui telah menyokong Saddam Husain dalam memerangi Iran.

Menurut Anda, bagaimanakah perasaan bangsa Iran yang teraniaya ini depan sikap dan pengakuan-pengakuan tersebut? Perang delapan tahun telah dipaksakan Rezim Irak terhadap kita. Berbagai kota dibom bardir, sumber-sumber kehidupan musnah, para pemuda berguguran sebagai syahid, trilyunan aset nasional musnah, berbagai kesempatan lenyap, sebuah kejahatan besar dalam sejarah terjadi. Sejak saat itu sudah berkali-kali kami tegaskan bahwa AS membantu Saddam Husain. Dalam berbagai pidato pada hari-hari peperangan berulang kali kami menegaskan masalah ini. Tetapi mereka memungkirinya dan mengatakan tidak berpihak. Kini, 12 tahun setelah perang usai, Menlu AS dalam pidatonya yang transparan di sebuah lembaga pusat secara resmi mengakui telah membantu Saddam Husain.

Sekarang, apa gunanya pengakuan-pengakuan kalian itu untuk kita. 25 tahun Muhammad Reza Pahlevi yang tiran, penindas dan bejat telah menjadikan musuh bangsa ini berkuasa. Sekarang kalian mengakui dan mengatakan: “Ya, kitalah yang melakukan perbuatan itu?” Apa gunanya untuk masa sekarang ini?! Seseorang memukul, membunuh anak dan kesayangan orang lain lalu begitu saja mengatakan saya minta maaf. Apalagi mereka juga tidak menyatakan permohonan maaf. Mereka hanya menyatakan pengakuan. Kalian (AS) telah menggerakkan kudeta 28 Mordad. Setelah itu, kalian memasung negara ini ke dalam kezaliman dan kebejatan. Sekarang kalian baru mengatakan: “Memang, kamilah yang melakukannya.” Apa gunanya pengakuan kalian sehubungan dengan masa itu untuk masa kami sekarang ini?!

Saya katakan sekarang, boleh jadi 20 atau 25 tahun mendatang seorang menteri AS lainnya tampil dan mengatakan pengakuannya: “Memang, pada satu waktu –yaitu masa sekarang ini- kami telah melakukan konspirasi anti Iran. Kami telah melancarkan gerakan ini, kami telah melakukan perbuatan menyimpang ini, kami telah membekali musuh-musuh Iran sedemikian rupa, kami telah mengorganisasikan para pembangkang pemerintah Iran, dan seterusnya”

Setelah sekian tahun berbuat kejahatan, dan sekarang pun kalian masih melakukan tindakan-tindakan serupa dengan tindakan pada masa-masa itu, lantas untuk apa pengakuan kalian itu untuk bangsa Iran?! Dalam pernyataan kalian, ada dua kalimat yang kalian katakan, yaitu bahwa Iran memiliki bangsa yang besar dan memiliki kebudayaan yang tua. Apakah ini cukup untuk menghapus semua pengkhianatan, permusuhan dan pembunuhan hak bangsa ini?! Apakah kalian sedang mengecohkan bocah kecil?! Bangsa ini sendiri jauh labih mengetahui bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang tua dan memiliki warisan-warisan budaya yang bernilai. Sebelum kalian, kami sendiri tahu bahwa letak geografis kami sangatlah penting dan strategis. Namun, apakah baru sekarang masalah ini membuat kalian bersusah payah dan apakah baru sekarang kalian mengetahuinya?! Inilah perangai orang-orang yang hanya ingin memperlakukan sebuah bangsa dengan sikap tirani dan otoriter.

Keaiban besar AS yang merupakan malapetaka besar bagi umat manusia sekarang ini ialah sikapnya yang tirani dan mempraktikkan posisi antara tuan dan rakyat jelata dalam memperlakukan bangsa-bangsa dan masyarakat dunia. Kepada OPEC bersikap tirani. Kepada bangsa-bangsa dan politik suatu negara juga demikian. Untuk apa bersikap tirani? Apakah demi aspirasi? Tidak, sikap tirani itu hanya untuk interesnya sendiri. Mereka (AS) hanya menghendaki pelayan yang menjamin kepentingan-kepentingannya. Bisa jadi, karena berbagai alasan, suatu negara dan bangsa bersedia berada di bawah sikap tirani ini. Namun, (lain lagi) jika ada suatu bangsa seperti Iran dimana pemerintahnya tidak berhutang kepada kalian, tangan mereka tidak berada di bawah pisau kalian, tidak punya kelemahan di depan kalian, tidak melakukan perbuatan yang membuat mereka takut kepada ekspos kalian, dan memiliki hubungan dengan rakyat. Bangsa Iran juga merupakan bangsa yang telah menjajaki kehor! matan dan Islam serta keteguhan kepada akidah dan kehidupan yang disertai dengan keyakinan yang mendalam dan merdeka. Apakah berdosa jika bangsa yang sedemikian ini tidak bersedia tunduk di bawah tirani kalian ? Dengan cara dan instrumen apakah kalian akan menaklukkannya jika bangsa ini tidak bersedia menerima tirani dan mengatakan, kami menolak prinsip tirani dan kesewenang-wenangan kalian? Bagaimana mungkin kalian bisa melakukannya?!

Kekuatan-kekuatan adi daya bersikeras untuk mengesankan bahwa apa saja yang mereka kehendaki di dunia bisa mereka lakukan. Di berbagai tempat hal ini memang terjadi, tetapi mengapa terjadi? Sebabnya ialah para pemimpin negara di situ berposisi sebagai boneka dan lemah.

Pemerintahan Islam dan rakyat Iran dengan keteguhannya selama 20 tahun dan kemajuan yang dicapainya kendati adi daya AS menentang habis-habisan bangsa Iran dan tujuan-tujuannya telah membuktikan bahwa AS dan ada daya lain atau konsolidasi semua adi daya tidak akan bisa berbuat tidak senonoh di depan suatu bangsa yang sadar, pemberani serta mengetahui dan membela hak-haknya.

Saya katakan pula, pemerintah AS yang sekarang mengaku 25 tahun membela kediktatoran, sampai sekarang masih tetap membela kediktatoran.tersebut, namun dengan cara propaganda dan gangguan. Sekarang mereka (Rezim Pahlevi) sudah tiada. Mereka sudah pergi menuju jahannam. Yang ada hanya sampah-sampah mereka di AS yang bernaung di bawah dukungan pemerintah AS. Para antek dan orang-orang bayaran mereka di pelosok dunia manapun, termasuk yang ada di sudut-sudut negara kita ini, selalu didukung oleh AS.

Sekarang seorang menteri AS tersebut dalam pidatonya juga masih mempromosikan Rezim Syah dengan kebohongan. Dikatakannya bahwa Rezim Syah memang diktator, namun telah memajukan ekonomi Iran. Ini merupakan kebohongan terbesar dan menggelikan yang telah diucapkan oleh seorang menteri luar negeri AS dalam situasi sekarang. Benarkah mereka telah memajukan ekonomi Iran?! Tentang ini, ketahuilah, khususnya para pemuda, bahwa orang-orang yang mengalami masa itu telah merasakan fakta-fakta yang ada dari dekat bahwa Iran pada masa itu Rezim Pahlevi telah melakukan pengkhianatan terbesar kepada ekonomi Iran, baik dari aspek taraf ekonomi pada masa itu maupun dari aspek fondasi-fondasi ekonomi yang dampaknya masih terasa hingga tahun-tahun setelahnya. Iran dijadikan sebagai gudang produk-produk impor dari Barat yang tak ada nilai dan faedahnya. Sarana-sarana yang tak laku, barang-barang lebihan dan tak diperlukan dibeli dengan harga yang tinggi.

Pertanian negara yang pernah meswasembada penuh dihancurkan secara total oleh Rezim Pahlevi sehingga keadaan masih tetap tak berubah sampai bertahun-tahun. Pertanian kita masih belum pulih seperti sediakala. Sebabnya ialah arus urbanisasi yang terjadi dengan dorongan dari mereka. Masalah ini tentu tidak bisa dicegah dengan mudah. Mereka telah membuat bangsa ini bergantung kepada negara asing dalam sektor pertanian. Ketika itu Iran membeli gandum dari AS, sedangkan lumbung-lumbung gandum dibuat oleh orang-orang Rusia. Jadi, bukan hanya dari sisi gandum Iran bergantung kepada luar, tetapi juga dari sisi penyimpanannya. Ketika itu mereka merusak desa-desa. Industri negara yang saat itu mengalami kemajuan dihentikan. Kemajuan yang seharusnya terjadi dalam industri demi mencegah barang-barang impor akhirnya tidak terjadi. Industri yang sangat aktif di negara ini dicegah Industri yang digalakkan hanyalah industri yang memiliki ketergantungan yang s! ama besarnya dengan produk-produk yang dihasilkannya, atau bahkan lebih.

Kegiatan ilmu pengetahuan mereka hentikan. Mereka bicara tentang universitas dan mahasiswa, tetapi dalam praktik kegiatan ilmiah di universitas-universitas Iran sangat minim. Orang-orang yang pikirannya aktif dan memiliki potensi yang cemerlang ingin bekerja seandainya di dalam negeri tidak ditindas, tetapi mereka terpaksa pergi dan bekerja di luar negeri karena di sini tidak bisa.

Perusahaan-perusahaan asing mendominasi sebagian besar sumber-sumber ekonomi negara. Mereka memusnahkan sebagian besar sumber-sumber minyak dengan cuma-cuma. Sekarangpun harga minyak tentunya juga murah. Uang yang kini diperoleh para produsen minyak pada hakikatnya bisa dikatakan bahwa mereka hanya menerima sepersepuluh dari uang yang seharusnya mereka dapati. Saya katakan pula sekarang bahwa uang yang didapati negara-negara importir minyak sebagai pajak jumlahnya lebih banyak dari keuntungan yang diperoleh negara-negara eksportir minyak. Sampai sekarang masih demikian. Namun saat itu tidak bisa dibandingkan dengan sekarang.

Selama sekian tahun hingga tahun 50-an, harga minyak perbarel di bawah satu US dolar . Lalu, karena orang-orang Eropa dan AS ingin menjual produk-produknya kepada mereka (para produsen minyak) dengan harga mahal, sedangkan mereka tidak punya uang, maka Eropa dan AS mendongkrak harga minyak sesuai keinginannya sendiri hingga mencapai angka 8 sampai 9 US dolar, supaya mereka bisa mendapatkan uang dan membeli produk-produk tersebut.

Pada zaman Rezim Syah, uang-uang Iran dalam jumlah yang besar ditransfer ke dalam rekening-rekening milik AS. Sebagai imbalannya, AS memberi dan menjual berbagai suku cadang pesawat dan barang-barang keperluan lainnya. Jadi, masalah produksi sendiri tidak dibicarakan. Ekonomi Iran saat itu adalah ekonomi yang terburuk untuk rakyat Iran. Dan ini tentunya sangat baik untuk para penjarah dan orang-orang AS. Kini masa sudah berlalu sekian tahun, dan para analis dan ekonom tentu tahu, dan bukan rahasia lagi untuk para ahli saat itu bahwa Rezim Syah telah mendatangkan bencana untuk ekonomi Iran.

Rezim ini dikatakan telah memajukan ekonomi Iran. Mengapa baru sekarang hal ini diutarakan?! Sebabnya ialah supaya para pemuda Iran sekarang yang terkadang mengalami kesulitan akibat kondisi ekonomi yang ada beranggapan bahwa pada masa rezim lama ekonomi Iran lebih baik. Trik dengan maksud seperti ini diutarakan oleh politisi itu dengan sangat polos. Niatnya ialah menyatakan dan menyebarkan persepsi bahwa ekonomi Iran pada masa lalu adalah ekonomi yang berkembang. Padahal masa itu adalah masa yang paling buruk untuk lapisan rakyat miskin, dan masa yang paling buruk dari sisi perampasan dan penjarahan sumber-sumber alam di Iran oleh pihak-pihak asing, terutama AS.

Maksud musuh dari luar negeri ini ialah menciptakan ketidak-amanan, perselisihan, keragu-raguan dan guncangan. Bukannya tanpa alasan jika sekarang rakyat dan pemerintah Iran memandang AS sebagai musuh. Mereka (AS) mengatakan, “Mari kita robohkan dinding ketidak percayaan.” Ini dikatakan oleh Menlu AS di sana. Di sini pun sebagian penulis langsung memohon kepada Allah (agar ini terjadi). Mereka inilah yang sebagian kemungkinan besar berafiliasi dengan lembaga-lembaga (AS) tersebut dan mendapat dukungan dari sana. Mereka langsung menindak-lanjuti masalah ini.

Masalahnya bukanlah ada atau tidak adanya kepercayaan. Masalahnya ialah bangsa Iran melihat masa lalunya. Sejak awal revolusi, bangsa Iran segera melihat AS sebagai musuh. Sejak awal-awal revolusi sampai sekarang, AS masih terlihat memusuhi bangsa Iran, kepentingan nasional bangsa Iran dan pemerintahan yang diminati bangsa Iran. Hanya saja, sebagian dari aksi permusuhan ini dibantah oleh AS, tetapi sebagian lain diakuinya. Mereka mengakui bantuannya kepada Saddam. Bisa dipastikan, dalam waktu relatif dekat, AS juga akan mengakui dengan cara apa mereka menyerahkan bom-bom kimia kepada pemerintah Irak. Kami punya para korban-korban luka senjata kimia. Kita memiliki orang-orang yang cacat akibat persitiwa ini. Kami telah melihat semua bahaya ini. Apapun yang dilihat bangsa Iran, masalah-masalah seperti ini akan terlihat.

Dewasa ini pun, berbagai sarana propaganda mereka digunakan untuk menyudutkan Iran. Begitu juga fasilitas politiknya. Mereka mengesahkan dana untuk memusuhi keamanan. Sepak terjang politik luar negeri mereka selalu merongrong Iran. Bangsa Iran melihat ada musuh yang sedang berdiri di sana. Atas dasar ini, persepsi bangsa kami tentang AS bukanlah tidak adanya kepercayaan kepada AS, melainkan memandangnya sebagai musuh.

Mereka katakan siap berunding dengan pemerintah Iran. Ini merupakan sebentuk langkah-langkah pendahuluan untuk menambah permusuhan. Ini adalah tipuan. Sebagian orang mengatakan kita harus pergi untuk berunding dengan AS agar permusuhan ini bisa dienyahkan. Tetapi, tidak. Permusuhan dengan AS tidak akan teratasi dengan perundingan. AS hanya memburu kepentingannya sendiri di Iran. Jika di sini terdapat pemerintahan boneka seperti Rezim Syah, AS akan menghantam bangsa Iran seperti pada saat itu. Jika pemerintahan Iran independen, maka AS akan melakukan aksi permusuhan seperti sekarang. Jika kita lakukan perbandingan, akan kita lihat bahwa bahaya orang yang merdeka di depan AS jauh lebih kecil ketimbang bahaya tunduk kepada tekanan-tekanan AS.

Persepsi bangsa Iran ialah mengandalkan spirit keberanian dan pengorbanannya di depan konspirasi dan penipuan, di depan ketidak amanan, dan permusuhan. Bangsa Iran mengandalkan kekuatan dirinya, kekuatan akalnya, manajemen dan intelektualitas pemerintahnya serta kepada keberanian dan keteguhannya. Bangsa Iran percaya bahwa suatu saat mereka akan bisa membuat segenap musuhnya, termasuk AS, menyesali aksi permusuhan kepada mereka, sebagaimana yang terjadi pada sebagian musuh yang tadinya memang musuh tetapi kemudian tampil menjadi pihak mediator secara normal.

Ya Rabbi, dengan berkat Nabi Muhammad dan keluarganya, turunkanlah anugerah-Mu dari detik ke detik kepada bangsa ini. Menangkanlah bangsa ini dalam meniti jalan untuk menggapai cita-cita besar yang telah mereka gariskan. Ya Rabbi, binasakan dan jungkirkanlah musuh bangsa ini. Berkat Nabi Muhammad dan keluarganya, tunjukkanlah kekuatan hakiki dan gaib-Mu terhadap orang-orang yang melancarkan aksi makar terhadap bangsa ini.

Ya Rabbi, terimalah pembelaan dengan segenap jiwa dan raga bangsa ini atas citra, kemerdekaan, agama dan pribadinya sebagai salah satu perjuangan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Rabbi, jagalah kaum muda kami dan jadikanlah hati mereka yang cemerlang itu semakin banyak mengenal-Mu. Ya Rabbi, singkirkanlah sesegera mungkin berbagai kesulitan yang dialami bangsa ini. Tolonglah orang-orang yang mengabdi kepada bangsa ini. Hadapkan kepada amarah dan murka-Mu orang-orang yang mengkhianati bangsa ini. Ceriakanlah hati Al-Mahdi Sahibuzzaman atas kami. Gembirakanlah arwah suci Imam Khomaini atas kami. Gembirakan dan puaskanlah arwah suci para syuhada atas kami

.

The Prophet said:
“Some of my companions will come to me at my Lake Fount,
and after I recognize them, they will then be taken away from me, whereupon I will say, ‘My companions!
Then it will be said, ‘You do not know what they innovated
(new things) in the religion after you.“ Sahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584]

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya membaca sebuah tulisan pada situs resmi Wahabi yang isinya menuduh orang-orang Syiah beranggapan bahwa para sahabat Nabi murtad. Saya terkejut, karena sudah sangat lama sekali saya pernah membaca beberapa hadis dari Rasulullah Saw tentang ini. Apakah para “ustadz” atau para “alim” Wahabi itu tidak tahu atau pura2 tidak tahu tentang hadis2 ini? Sebelum kita membahas permasalahan yang cukup sensitif ini, saya mohon pembaca benar-benar menyimak tulisan ini secara seksama agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berakibat terjadinya kecurigaan yang tidak mendasar. Tulisan ini semata-mata bertujuan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang mengatakan para sahabat Nabi murtad sepeninggal Nabi Saw.

Selama ini kaum Wahabi menuduh orang-orang Syiah-lah yang melakukan pernyataan itu. Benarkah? Dari sini kita akan mengetahui seberapa jauh pengetahuan kaum Wahabi terhadap hadis-hadis yang mereka percayai shahih dan bahkan mutawatir, atau barangkali mereka justru menyembunyikan hadis-hadis ini, atau paling tidak, mereka tidak menginformasikannya secara jelas kepada umat Islam.

Siapakah Sebenarnya Yang Mengatakan Para Sahabat Nabi Murtad?

1. Diriwayatkan dari Abdullah bn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw Bersabda :“Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengakar dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata : Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan : Sesungguhgnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.”

Hadis ini diriwayatkan di dalam :

– Shahih Bukhari , hadis no. 6089, 6090, 6527.

– Shahih Muslim, hadis no. 4250

– Ibn Majah, hadis no. 3048

– Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya, Jil. 1, hlm. 384, 402, 406, 407, 425, 439, 453, 455 dan Jil. 5 hlm. 387, 393, 400.

Oleh para ulama hadis Sunni, hadis ini diklasifikasikan sebagai hadis mutawatir.

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1322

Bunyi hadis di atas belum menjelaskan apa yang menyebabkan para sahabat Nabi tidak ditolong Allah Swt? Mari kita lihat hadis berikut :

2. Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Rasulullah Saw bersabda :“Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku memohon : Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku, dan termasuk umatku. Kemudia dikatakan : Tidak tahukah kamu apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka (yarji’uuna) langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abi Malikah berdoa : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami.”

Hadis ini menjelaskan dengan tegas dan lugas bahwa sebagian besar para sahabat Nabi Saw langsung berbalik kafir segera setelah Rasulullah Saw. wafat. Hadis ini diriwayatkan di dalam :

– Shahih Bukhari, hadis no. 6104.

– Shahih Muslim, hadis no. 4245.

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1320

3. Diriwayatkan dari Sahal bahwa ia berkata : Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku mendahului kalian di telaga (al-Haudl). Barangsiapa yang sampai di sana tentu ia akan minum dan siapa yang minum tentu tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenalku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka.”

Tentu tidak bisa dibantah lagi kaum yang mengenal Rasul Saw dan Rasul Saw pun mengenal mereka adalah para sahabat Nabi. Apalagi kita sudah mengetahui apa definisi sahabat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hadis di atas terdapat di dalam :

– Shahih Bukhari, hadis no. 6097

– Shahih Muslim, hadis no. 4243

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 5, hlm. 333, 339

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1318

Jika Anda masih belum yakin dan belum merasa puas dengan keterangan keterangan hadis-hadis di atas, mari saya kutip beberapa hadis lagi :

4. Diriwayatkan dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang lelaki Anshar menemui Rasulullah Saw lalu bertanya : Apakah engkau tidak ingin mengangkatku sebagaimana engkau mengangkat si fulan? Rasulullah Saw menjawab : Sesungguhnya kamu sekalian akan menemui sepeningalku para pemimpin yang egois, maka bersabarlah samapai kamu menjumpaiku di telaga kelak.”

Siapa pemimpin yang egois yang dimaksud Rasulullah Saw sepeninggal Rasul Saw? Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa semua hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (Syaikhan) Lihat :

– Shahih Bukhari, hadis no. 3508, 6533

– Shahih Muslim, hadis no. 3432

– Shahih Tirmidzi, hadis no. 2115

– Al-Nasaai, hadis no. 5288

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 351, 352

Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1073

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid : Bahwa Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang ketika memenangkan perang Hunain. Beliau memberi orang-orang yang hendak dibujuk hatinya (orang yang baru masuk Islam). Lalu sampai berita kepadanya bahwa orang-orang Ansar ingin mendapatkan seperti apa yang diperoleh oleh mereka. Maka Rasulullah saw. berdiri menyampaikan pidato kepada mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda: Hai orang-orang Ansar, bukankah aku temukan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah menunjuki kalian dengan sebab kau? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya dengan sebab aku? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan terpecah-belah, lalu Allah mempersatukan kalian dengan sebab aku? orang-orang Ansar menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit.

Kemudian beliau bersabda: Mengapa kalian tidak menjawabku? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit. Beliau bersabda: Kalian boleh saja berkata begini dan begini pada masalah begini dan begini. (Beliau menyebutkan beberapa hal. Amru, perawi hadis mengira ia tidak dapat menghafalnya). Selanjutnya beliau bersabda: Tidakkah kalian rela jika orang lain pergi dengan membawa kambing-kambing dan unta dan kalian pergi bersama Rasulullah ke tempat kalian? Orang-orang Ansar itu bagaikan pakaian dalam dan orang lain seperti pakaian luar (maksudnya orang Ansarlah yang paling dekat di hati Nabi saw.)

Seandainya tidak ada hijrah, tentu aku adalah salah seorang di antara golongan Ansar. Seandainya orang-orang melalui lembah dan lereng, tentu aku melalui lembah dan celah orang-orang Ansar. Kalian pasti akan menemukan keadaan yang tidak disukai sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah kalian hingga kalian bertemu denganku di atas telaga (pada hari kiamat).”

Hadis ini juga bisa dijumpai di dalam kitab :

– Shahih Bukhari, hadis no. 3985, 6704.

– Shahih Muslim, hadis no. 1758

– Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 42

Atau Anda klik : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=579

6. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. menziarahi kuburan lalu Beliau berdoa, “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu.”. Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: Semoga Allah menjauhkan mereka.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari & Muslim):

– Shahih Bukhari, hadis no. 2194

– Shahih Muslim, hadis no. 367

– Al-Nasaai, hadis no. 150

– Abu Dawud, hadis no. 2818

– Ibn Majah, hadis no. 4296

– Ahmad bin Hanbal, di dalam Musnadnya jil. 2, hlm. 454, 467, 300, 375, 408.

– Malik, di dalam al-Muwatha’-nya , hadis no. 53.

Namun jika Anda masih belum juga percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik disini :

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=131

Dari seluruh hadis yang saya ungkapkan di sini, siapakah sebenarnya yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi menjadi murtad sepeninggal Nabi Saw? Siapakah ynag menyatakan semua itu di atas? Siapa? Apakah al-Wahabiyyun itu tidak pernah membaca hadis-hadis ini? Saya pun meyakini bahwa tidak semua sahabat Nabi yang berbalik ke belakang sepeninggal Rasul Saw, karena memang ada beberapa sahabat Nabi Saw yang masih setia berpegang teguh kepada ajaran-ajaran dan wasiat-wasiat Nabi saw. Dari sini kita juga mengetahui bahwa kaum Wahabi sering berdusta dan meremehkan hadis-hadis Nabi Saw. Mereka senang menyembunyikan kebenaran, karena mereka inilah dajjal-dajjal masa kini! Betapa tidak, mereka membela mati-matian Kerajaan Saudi Arabia yang sudah banyak diketahui telah menjalin hubungan mesra dengan AS (Amerika Serikat) si Setan Besar. Sudah tidak dapat dibantah lagi fakta-fakta dan data-data tentang kemesraan Dinasti Saud dan Dinasti Bush. Dan di mana kaum Wahabi? Bukankah mereka hidup dari cucuran dana Kerajaan Saudi? Di mana ulama Wahabi? Bukankah mereka berlindung di balik ketiak para raja Saudi? Jadi wajar saja mereka membela mati-matian sang pengucur dana. Jika tidak ada Kerajaan Saudi darimana LPIA bisa hidup? Darimana ustadz-ustadz ini bisa terus berdusta dan menyebar fitnah terhadap orang-orang Syiah yang memusuhi AS dan Zionis Israel? Kita semua tahu para raja Saudi punya hubungan mesra dengan mereka (AS & Zionis Israel) dan jika kaum Wahabi mendustakan riwayat-riwayat ini maka INGATLAH hadis Rasulullah Saw lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Musa bahwa Nabi Saw telah bersabda: ”Sesungguhnya perumpamaanku sebagai utusan Allah adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya seraya berkata: Wahai kaumku! Sesungguhnya kau telah melihat dengan mata kepala sendiri sepasukan tentara dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak bersenjata, maka carilah keselamatan. Sebagian kaumnya ada yang mematuhi lalu pada malam hari mereka berangkat (menyelamatkan diri) dengan tidak terburu-buru. Sebagian yang lain mendustakan hingga keesokan paginya mereka masih berada ditempat semula maka diserbulah mereka oleh pasukan tentara tadi lalu dimusnahkan dan dibantailah mereka. Itu adalah perumpamaan orang yang patuh kepadaku dan mengikuti ajaran yang aku bawa serta perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa.”
(Shahih Bukhari & Shahih Muslim)

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka! Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Untuk menyingkat waktu kami akan sebebtkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang prorsional dan ilmiah tentangnya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

* Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

* Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

…”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

* Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

* Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
o Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

* Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

* Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”

Ibnu Jakfari berkata:

Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Wallah A’lam.
[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

saudaraku……..

Syiah kafirkan sahabat Nabi saw ??????????????????

Salafi wahabi mengutip hadis syi’ah lalu tanpa basa basi mengklaim bahwa “Syi’ah MENGKAFiRKAN SAHABAT NABi SAW”

Inilah 3 contoh kutipan salafi wahabi, walaupun kutipan tersebut dipelintir tetapi biarlah asal mereka puas :

•”semua manusia adalah murtad selepas kewafatan nabi saw kecuali tiga orang. Aku (perawi) bertanya: siapakah yang tiga itu? lalu abu ja’far (muhammad al-baqir) menjawab miqdad al-aswad, abu dzar, dan salman al-farisi…”(Ar-raudhah min al-kafi jilid 8 hlm 246)

•Kebanyakan para sahabat adalah munafik tetapi cahaya nifaq mereka tersembunyi di zaman mereka. Tetapi apabila wafat nabi s.a.w ternyatalah cahaya nifaq mereka itu melalui wasiat Nabi SAW dan mereka itu kembali secara mengundur ke belakang, dan karena ini Saidina Ali berkata; “Semua manusia murtad selepas wafat nabi s.a.w kecuali empat orang saja yaitu Salman, Abu Zar, Miqdad dan Ammar, dan perkara ini tidak ada masalah lagi.”(Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi juz 27, hal 64-66)

•Khumaini dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 113-114 (cet. Persia) menuduh para shahabat kafir (Shurtani Mutadhadataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi’ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M), dikutip dengan pelintiran salafi !!

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Seorang murid SD di Iran yang pernah datang ke Indonesia langsung tertawa terpingkal pingkal setelah kami tanyakan perihal kutipan diatas

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Zaman Abubakar : orang yang tidak mau bayar zakat juga disebut MURTAD ( ridad/riddah )

Kembali kepada hadis diatas !!! Inilah maknanya versi Anak SD Iran yang tertawa mendengar tuduhan salafi wahabi :

a. Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!!

b. Hadis di atas menjelaskan tentang Sahabat yang pernah ikut peristiwa Ghadir Kum atau pernah mendengar wasiat Nabi tentang imamah Ali, tetapi TELAH MENiNGGALKAN WASiAT NABi SAW tentang Imamah Ali

Yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah : “selain 3 atau 4 atau 7 orang sahabat tersebut bukan berarti mereka kafir keluar dari Islam.. Murtad atau kafir yang mereka maksudkan bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam

Ringkasnya Murtad/kafir disini bermakna : “murtad dari janji mereka dengan Rasul, bukan kafir tulen/murtad tulen dari Islam”

Bahkan Umar dan Abubakar mengakui imamah Ali ! mereka mengakui pelantikan imam Ali di Ghadir Kum

Hanya saja di akhir hayat Nabi SAW : Abubakar, Umar cs adalah kelompok yang menginginkan kekuasaan, mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen.. Demikian juga dengan kelompok khusus anshar yang ingin menguasai kembali Madinah setelah wafat Nabi SAW seperti Bin Ubadah mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen…

Sedangkan Mu’awiyah dan Kirkirah apakah mereka tergolong kelompok MUNAFiK seperti Bin Salul ??? saya tidak tau

c.Sedangkan siapa saja sahabat Nabi SAW yang tidak pernah terlibat peristiwa Ghadir Kum atau tidak pernah mendengar wasiat Nabi SAW tentang imamah Ali, tetapi TETAP mendukung atau memihak kepada Imam Ali dimana saja mereka berada tidak tergolong kedalam hadis tersebut, misal ; Bilal, orang orang Anshar yang masuk Islam sejak awal dll

d.Nabi SAW menyatakan kafir kepada sahabat yang berperang dengan sesamanya… Kafir disini bukan keluar dari Islam !!!

Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw. (Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58)

==================================================================================================================================================================

iNiLAH PANDANGAN SYi’AH TENTANG SAHABAT

Hadis-hadis haudh tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).

Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka… “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?

Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “

Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).

Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “…Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).

Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?

Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi… agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).

Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:

Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;

Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;

Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi – bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.

Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.

Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.

Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.

Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:

Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“

Pada ayat lain Allah berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,… yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).

Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.

Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.

Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.

Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).

Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).

Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).

Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)

Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).

Sekarang kita perhatikan ayat berikut.
Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).

Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah… “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “

Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.

Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.

Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.

Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).

Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)

Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa ;

1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;

2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;

3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“

Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :

Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)

Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):

Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)

Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.

Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.

Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.

Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.

Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.

Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.

Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:

Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi (QS. az-Zumar : 65).

Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.

Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).

Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)

Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)

Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).

Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.

Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang, apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.

Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah tersebut. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)”

Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.

Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah. Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.

Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di indonesia).

Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.

Komposisi ‘Shahabat’ menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu ‘ahlulbait nabi’ QS 33:33.

2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.

3. Orang-orang islam yang ‘berkerumun di pinggir jalan’, yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.

4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya ‘mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk’ QS 9:102.

5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena ‘trend’. Orang-orang ‘sangat awam’
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97

6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum muslimin. “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi” QS 9:61

7. dll…dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.

Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah ‘bertemu diri’ sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.

Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.

===============================================================================
Kaum Syiah kafirkan Sahabat ?
=============================================================================

Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta’dil dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam. Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah, sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.

Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat merugikan islam, kaum syiah dianggap ‘mengkafirkan’ dan mengecam shahabat.

Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap ‘bukan mereka yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst’. Sedangkan kaum syiah tidak menerima demikian.

Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali dianggap ‘atas kehendak Allah’, tidak secuilpun ulama sunni mengecam Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist, Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.

Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah manusia yang ‘mulia’.

Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah.

Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal ‘Tanah Fadak’, yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi. Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan sahabat nabi.

Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian ijtihad mereka.

Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb: Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang besar. (QS. 9:101)

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)

Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:”Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:”Ia mempercayai semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. 9:61)

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. 9:74)

SYi’AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan)

SYi’AH : Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada sahabat penentang Imam Ali adalah dari Sifat fi’l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.”

Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun bertentangan
nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur’an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada
pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, ” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur’an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan “aqidah” , padahal Sahabat sendiri berkelahi,
caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq,hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena “bersepakat” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid,hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan/ kesepakatan” dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu
sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.” Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut
adalah bahaya dan merupakan bara pada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI’AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam menilai sesuatu urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah,”

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, ” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Karena itu pendapat
al-Asy’ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.

==================================================================================================================================================================

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

Hadis diatas membuktikan pendukung Imam Ali tidak sesat :
1.Al Quran tidak dapat dipahami dengan tepat tanpa pendampingnya, yakni ahlulbait Rasaul yang suci dari kesalahan dalam menafsir

2.Adakah Ali bagian daripada umat ataupun tidak ?

3.Adakah golongan menentang Abubakar cs yang terdiri dari Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dll termasuk di dalam umat ?

4.Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi Abubakar cs ? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Allah dan Rasulnya mengangkat Imam Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah di Ghadirkhum. Pengangkatan tersebut juga disaksikan oleh Abubakar, Umar dan Usman serta ribuan sahabat lainnya. Ironisnya Abubakar Umar cs melawan pengangkatan Imam Ali secara sembunyi dengan membuat rapat gelap untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai khalifah yang sah

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai madzhab Ahlul Bait (Syi’ah) sedang mengharu-biru. Bermula dari maraknya kontroversi mengenai nikah mut’ah, yang dianggap sebagai nikah yang dibolehkan madzhab Syi’ah, sampai kepada rekomendasi pelarangan madzhab tersebut di tanah air. Sayangnya, dilihat sebagai suatu wacana, perbincangan tersebut lebih diwarnai emosi dan dipenuhi stereotif yang kurang bertanggung jawab. Kajian yang berwawasan, apalagi yang memberi ruang kepada Syi’ah untuk memunculkan perspektifnya, mungkin belum terbuka. Oleh karenanya, menutup kekurangan yang ada, tulisan ini hendak menjelaskan satu perspektif penting Syi’ah, yang berlainan dengan madzhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Yakni, perspektifnya mengenai shahabat Nabi saw. Perspektif ini secara historis merupakan cikal bakal lahirnya gerakan Syi’ah sendiri.

Berbeda dengan Sunni, yang cenderung tidak membuat penggolongan, Syi’ah mengelompokkan shahabat Nabi saw menjadi empat kelompok. Pengelompokannya itu sendiri didasarkan kepada nilai ‘keadilan’ yang dipraktekkan shahabat semasa Nabi saw hidup hingga menjelang wafatnya. Yang pertama dari kelompok tersebut adalah shahabat yang sangat istimewa, yang juga dikenal dengan istilah Ahlul Bait Nabi saw. Yakni mereka yang karena kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya.

Kedua adalah kelompok shahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Ketiga adalah kelompok shahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan, baik menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Dan yang terakhir adalah kelompok munafik yang “menemani” Rasul karena ingin memperdayakannya.

Karena adanya kondisi dan motif yang berbeda tersebut, Syi’ah menyatakan bahwa tidak semua shahabat adalah adil. Masyarakat muslim tidak sepatutnya menjadi buta tuli terhadap apa yang pernah diperbuat seorang shahabat, terutama dosa dan kezalimannya. Di lain pihak, Sunni berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw adalah sama dan sejajar baik dalam kedudukan maupun dalam keadilannya terhadap Islam. Dan tidak seorang pun di antaranya yang diistimewakan, tak terkecuali istri-istri, anak-anak, menantu dan keluarga lain Nabi saw sendiri.

Penggolongan shahabat kalaupun dikenal dalam tradisi Sunni hanya bersifat generatif. Artinya dilihat dari kedekatannya dengan Nabi dalam segi waktu. Sehingga penggolongannya dibagi menjadi golongan shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dst. Sebagian membaginya berdasarkan mula pertama masuknya para shahabat ke dalam Islam, seperti tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun. Dan ada juga yang membagi bahwa Empat Khulafa’ Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali, pada tingkatan yang paling atas dari sekalian shahabat, disusul kemudian oleh enam shahabat lain yang dijamin masuk sorga.

+++

Untuk menjadi wacana yang ‘benar’ dan bermanfaat, tentunya perspektif Syi’ah mengenai shahabat tersebut secara intelektual haruslah mendapatkan sekaligus legitimasi, baik yang bersifat historis maupun futuris. Legitimasi historis mengandaikan bukti intelektual. Yakni adanya indikator untuk menetapkan bahwa ’sejarah’ yang bersangkutan memang ada. Sedangkan legitimasi futuris mensyaratkan bahwa perspektif itu mempunyai implikasi penting sedikitnya bagi masa depan pencerahan Islam, terutama pasca Nabi saw wafat.

Tentang indikasi ketidakadilan menurut Syi’ah dapat dilihat dari beberapa peristiwa berupa pembangkangan, penjatuhan wibawa Nabi, dan yang terpenting adanya penghalangan terhadap Nabi untuk menegaskan wasiatnya dalam bentuk tertulis. Di antara peristiwa tersebut, misalnya peristiwa Perdamaian Hudaibiyah. Sebagian shahabat tidak senang atas penerimaan Nabi saw terhadap persyaratan yang diajukan kafir Quraisy. Umar bin Khattab sampai mendatangi Nabi saw dan berkata: “Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”. Kemudian setelah berdebat dengan Nabi saw, mengulangi perkataan itu kepada Abu Bakar. Dan ketika beliau menyuruh menyembelih binatang korban yang dibawa para shahabat serta perintahnya untuk mencukur rambut, tidak satu shahabat pun yang mematuhi.

Selanjutnya bentuk ketidakadilan lain dapat dilihat dari adanya motif politis yang menghalang-halangi Nabi saw mengukuhkan wasiatnya agar dituliskan di atas kertas. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hari Khamis itu, terjadi tiga hari menjelang Nabi saw wafat. Para shahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhi Nabi saw, dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perkataan Umar Bin Khattab yang menyatakan, bahwa “Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Qur’an ada di sisi kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”, menurut Syi’ah merupakan bentuk langsung penolakan hadits Nabi. Yakni yang menyuruh para shahabat berpegang kepada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi.

Kemudian dua hari menjelang wafat Nabi saw, sebagian shahabat kembali mencela perintah Nabi. Yakni dalam pengangkatan Usamah sebagai komandan ekspedisi untuk memerangi Roma. Menurut para shahabat, bagaimana mungkin Nabi mengangkat orang yang baru berumur delapan belas tahun menjadi komandan para shahabat besar. Nabi saw sampai mengulang-ulang perintahnya, namun para shahabat tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Itulah beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah Islam. Penting dikemukakan di sini bahwa peristiwa-peristiwa di atas tidak hanya diberitakan oleh sumber-sumber Syi’ah. Shahih Bukhari dan Muslim, yang notabene merupakan sumber terpercaya madzhab Sunni, pun memberitakannya. Mengenai hal ini, DR Muhammad al-Tijani al-Samawi, seorang Wahabi Tunisia yang kemudian menjadi pengikut Syi’ah, mempunyai komentar. Bahwa seandainya orang alim Syi’ah menukilnya dari kitab mereka sendiri, maka aku tidak akan mempercayainya sama sekali. Namun ketika ia nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah sendiri, maka tak ada jalan untuk mencelanya.

+++

Maksud Syi’ah selalu memunculkan peristiwa-peristiwa seperti disebutkan di atas tentu sudah umum diketahui, bahwa yang berhak atas kepemimpinan pasca Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ali memenuhi kriteria sebagai Itrah Ahlul Bait Nabi yang keadilannya (keutamaannya) tidak disangsikan lagi. Dibandingkan para shahabat lain, orang pasti kesulitan untuk mencari cela, dosa dan kezaliman Ali. Namun sejarah telah berbicara lain, di kala keluarga Ali sibuk mengurus jenazah Nabi saw, Abu Bakar dilantik dengan tergesa-gesa menjadi Khalifah atas prakarsa Umar bin Khattab. Ali sendiri, bersama istrinya Fatimah, putri tercinta Nabi, terpaksa memberikan bai’at atas pengangkatan itu setelah diancam akan dibakar rumahnya.

Sejarah telah berlalu, namun perspektif Syi’ah untuk tetap berpegang pada Itrah Ahlul Bait Nabi dan keadilannya sampai kini tentu mempunyai raison d’etre. Maka sampailah kita kepada persoalan mengenai persyaratan bahwa suatu perspektif mesti mempunyai implikasi untuk menjadi bermanfaat. Tentang hal ini dijawab oleh Syi’ah dengan berbagai fenomena yang terjadi di dunia Sunni. Yang terpenting dan saling berhubungan di antaranya adalah bahwa hilangnya perspektif keadilan para shahabat berpengaruh pada manipulasi data, distorsi penafsiran serta peminggiran wacana dan keteladanan dalam Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya wacana mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di akhir masa hidup Nabi, yang sudah tentu dalam perspektif Syi’ah dapat menjelaskan keberpihakannya kepada Ali. Bahkan pemberitaan mengenai peristiwa di akhir masa hidup Nabi dalam dunia Sunni cenderung ditutup-tutupi dengan alasan “menjaga segala kemuliaan para shahabat”.

Konsekuensi lain adalah pengaruhnya atas kualitas kepemimpinan pasca Nabi. Menurut Syi’ah, Sunni pasti kesulitan untuk mencari alasan, bilamana dipertanyakan tentang apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abubakar misalnya. Tidak demikian apabila pertanyaan semacam itu dipertanyakan kepada Syi’ah atas penetapannya pada khilafah Ali, yang alasan dan dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karenanya khilafah pasca Nabi versi Sunni kehilangan legitimasinya ketika ia dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Yang berkembang kemudian dalam pemikiran politik Sunni adalah ijtihadz tanpa dasar dengan alasan yang semena-mena. Contoh paling ekstrim mengenai ini adalah tragedi pembantaian cucu Nabi, Husein, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Atas pembantaian itu Sunni cukup memberi alasan bahwa Yazid sedang berijtihadz. Bilamana ia benar maka mendapat dua pahala, sedangkan bilamana salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bait Nabi. Kesimpulan Syi’ah mengenai hal ini adalah bahwa Sunni telah mengalahkan Sunnah Nabi dengan ijtihadznya.

Lebih jauh lagi adalah adanya peminggiran wacana dan keteladan Ahlul Bait Nabi. Siti Fatimah, yang oleh Nabi sendiri digelari “ibu bagi ayahnya” karena kecintaan dan ketakdhiman putrinya tersebut kepada beliau, jarang sekali menjadi rujukan dan kajian di dalam Sunni. Adanya pembekuan madzhab fiqh menjadi empat madzhad di dalam Sunni, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menurut Syi’ah adalah juga konsekuensi langsung dari peminggiran Ahlul Bait Nabi. Padahal ada sumber penting yang lebih dekat, baik secara kekerabatan maupun waktu, yakni Imam Jafar al-Shadiq, yang tidak lain adalah cicit Nabi dari keturunan Fatimah. Bahkan sejarah sendiri mencatat bahwa keempat imam madzhab merupakan murid-murid Imam Jafari’, sehingga Imam Jafari’ digelari “guru para imam”.

Dari uraian di atas, dengan demikian menjadi jelas bagi Syi’ah, bahwa perspektif mengenai keadilan para shahabat mempunyai legitimasi historis maupun futuris. Dan perspektif itu baginya tidak hanya berhenti dalam masalah khilafah Ali saja. Pada kenyataan historis dan sosiologis, eliminasi perspektif itu akan berpengaruh pada ruang waktu yang lebih luas, serta pencerapan kebenaran Islam yang lebih dalam. Wallahua’lam

syi’ah tidak mencaci sahabat !!

.

kaum Syiah bukan mengolok-olok  atau mencaci para sahabat Nabi Muhammad SAW, Peran Kasih Sayang dalam Sistem  Pendidikan Syi’ah Imamiyah Sangat Besar

Menurut salah satu ketua MUI Pusat, KH. Umar Shihab, antara Sunni dan Syi’ah banyak persamaan dari aspek akidah. Oleh sebab itu beliau secara pribadi setuju diadakannya deklarasi ukhuwah tersebut. Hal-hal seperti itu diharapkan diakomodasi oleh MUI. MUI sendiri menyatakan bahwa Syi’ah madzhab sah dalam Islam.

Sesungguhnya persoalannya bukannya Sunni yang menolak untuk berukhuwah. Akan tetapi, penistaan yang dilakukan oleh Salafi wahabi terhadap 12 imam syi’ahjelas-jelas menodai konsep persatuan yang sesungguhnya. Salafi wahabi mengadu domba sunni dengan syi’ah

Kritikan Syi’ah terhadap sahabat Nabi SAW, bukan rahasia lagi saat ini. Selain buku-buku, rujukan utama mereka dan penganut Syi’ah sendiri sudah tidak segan lagi memujii sahabat pro ahlul bait. Syi’ah tidak memakai topeng taqiyyah. Saat ini buku-buku Syi’ah telah banyak beredar di tangan umat Islam.

Silahkan anda buktikan secara ilmiah bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan menjamin kekhalifahan Syiah Ali dengan menunjukkan sandaran ilmiah? Justru Muawiyah telah membikin-bikin isu bahkan hadis palsu yang membuat nama Syiah Ali tercemar, bahkan Muawiyah mewajibkan para khatib jum’at untuk melaknat Syiah Ali, apakah itu merupakan jaminan mulia ? Jaminan model apa?

Sebelumnya saya mau tanya; Sabda Rasul itu beliau ungkapkan di hadapan siapa? Sahabat juga khan? Berarti seakan Rasul bersabda: “Wahai sahabatku, Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku…dst”.

Kenyataannya gimana? Tahukah anda siapa yang membunuh Ammar bin Yasir, yang mengucilkan Abu Dzar al-Ghiffari, dst? Sahabat juga bukan? Lha terus kita mau membenarkan yang mana…? Ungkapan Rasul untuk siapa?

Dan secara global, Kita setuju itu, tetapi sahabat yang mana? Apakah al-Ashab al-Akhyar atau juga al-Ashab yang berani menentang perintah Rasul dan melanggar garis hukum Allah? Lihat kembali tulisan kami tentang siapa sahabat…

Kalau semua sahabat secara mutlak dan tanpa perkecualian, maka itu namanya Pengkultusan Semua Sahabat…padahal pengkultusan itu khan gak baik. Pengkultusan satu manusia biasa saja gak bener koq, ini malah ratusan ribu yang mau dikultuskan…? Yang bener aja om…:)

sebenarnya dalam syiah, mereka bukan mencaci maki sahabat tetapi lebih kepada memberikan penjelasan secara lebih proposional antara sahabat nabi : mana yang jujur dan mana yang tidak/kurang jujur (bukankah itu juga manusiawi).

apakah sama sahabat nabi yang saling berperang ..?
apakah sama kebenarannya jika mereka berperang..?
apakah sahabat nabi sama-sama masuk surga walau satu sama lain saling berperang..?

apakah sama yang satu membela kebenaran dan yang lain membela untuk kepentingan lain..?

apakah sama yang satu syahid membela kebenaran dan yang mati karena kepentingan urusan dunia..?

tapi kenyataan bahwa Sahabat nabi yang banyak dicaci maki oleh umat nabinya adalah justru sahabat yang telah banyak mendapat keutamaan dari nabinya.

sekian puluh tahun ( 70 hingga 80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah.

jadi siapa yang mencaci maki disini..? syiahkah yang mencaci Ali bin Abi Thalib ra ..? atau siapa..?

-” sekian puluh tahun ( 70-80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah. ” ini tahun berapa dan siapa yang berkuasa yah?

Secara ringkas, hingga tahun 110 H Ali dilaknat di mimbar-mimbar Jumat atas prakarsa penguasa Bani Umayyah, namun Umar bin Abdul Aziz (salah satu penguasa Bani Ummayah) yang melihat ketidakadilan ini akhirnya melarangnya.

Apakah menghormati itu harus membenarkan semua prilaku mereka sehingga menjadi kesepakatan bahwa DILARANG mengkritisi kesalahan sahabat? Apakah Islam melarang mengkritisi orang yang bersalah? Apakah membenarkan atau paling tidak diam akan kesalahan seseorang bahkan hanya menunjukkan keutamaan secara umum saja itu bukan berarti membesar-besarkan mereka? Pujian yang bukan pada tempatnya itu namanya ‘kultus individu’….

sebenarnya dalam syiah, mereka bukan mencaci maki sahabat tetapi lebih kepada memberikan penjelasan secara lebih proposional antara sahabat nabi : mana yang jujur dan mana yang tidak/kurang jujur (bukankah itu juga manusiawi).

apakah sama sahabat nabi yang saling berperang ..?
apakah sama kebenarannya jika mereka berperang..?
apakah sahabat nabi sama-sama masuk surga walau satu sama lain saling berperang..?

apakah sama yang satu membela kebenaran dan yang lain membela untuk kepentingan lain..?

apakah sama yang satu syahid membela kebenaran dan yang mati karena kepentingan urusan dunia..?

tapi kenyataan bahwa Sahabat nabi yang banyak dicaci maki oleh umat nabinya adalah justru sahabat yang telah banyak mendapat keutamaan dari nabinya.

sekian puluh tahun ( 70 hingga 80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah.

jadi siapa yang mencaci maki disini..? syiahkah yang mencaci Ali bin Abi Thalib ra ..? atau siapa..?

-” sekian puluh tahun ( 70-80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah. ” ini tahun berapa dan siapa yang berkuasa yah?

Secara ringkas, hingga tahun 110 H Ali dilaknat di mimbar-mimbar Jumat atas prakarsa penguasa Bani Umayyah, namun Umar bin Abdul Aziz (salah satu penguasa Bani Ummayah) yang melihat ketidakadilan ini akhirnya melarangnya.

Apakah menghormati itu harus membenarkan semua prilaku mereka sehingga menjadi kesepakatan bahwa DILARANG mengkritisi kesalahan sahabat? Apakah Islam melarang mengkritisi orang yang bersalah? Apakah membenarkan atau paling tidak diam akan kesalahan seseorang bahkan hanya menunjukkan keutamaan secara umum saja itu bukan berarti membesar-besarkan mereka? Pujian yang bukan pada tempatnya itu namanya ‘kultus individu’….

Masalahnya bukan hanya itu urusan Allah atau tidak…tetapi kita generasi sekarang ini lho, apakah akan mengikuti yang berbuat salah (atau yang kadang salah dan kadang benar) atau yang dijamin benar?

Hanya Rasul yang maksum, lantas apa yang anda pahami dari 33:33 itu? Apakah penyucian sesuci-sucinya itu bukan jaminan maksum? Lihat hadis-hadis yang ada, kepada siapa ayat itu turun…Selamat meneliti.

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAWA seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAWA dan khalifah kedua.

Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah]

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool.

Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?

Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].

Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?

Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencari Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?

Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud:

Dan janganlah kamu cenderung kepada
orang-orang yang zalim yang
menyebabkan kamu disentuh oleh
api neraka…”

.
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889].

Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang engkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]:

“Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”

Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT.

Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an?

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]

dalam kitab muslim jilid4. bab keutamaan sohabat, diceritakan Aisyah dan zainab binti jahsy saling mencerca satu sama lain di depan Baginda Rosulullah Saww, kemudian ketika aisyah mencerca zainab Rosul Saww tertawa bahagia.

kemudia dalam kitab Jami’ Al Kabir, sunan Ibnu Dawud jilid 4, hadis 4898 menceritakan Aisyah bertengkar dengan hafsah di depan Rosululloh Saw, Zainab mulai mencerca Aisyah, kemudian Rosululloh Saww berkata pd Aisyah, “Cercalah dia juga!”

Dalam waktu yang singkat ini biarlah saya bawakan sebuah hadis untuk membuktikan bahawa mencaci maki isteri nabi memang sudah lama menjadi amalan Wahabi. Abu Dawud di dalam Sunannya yang ditermasuk sebagai Sahih Sittah (Six Compilers of Hadith: Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Abu Dawood, Tirmizi and Nisa’i) menceritakan: Ketika berlaku pertengkaran sengit antara Aisyah dan Zainab di depan mata Rasulullah (s.a.w), Zainab mula mencerca Aisyah. Rasulullah pun berkata kepada Aisyah:

سبيها، فسبتها فغلبتها
.

Iaitu Rasulullah memberi arahan kepada Aisyah, “Cercalah ia, maka Aisyah pun mencaci maki Zainab, dan Aisyah pun menang”.

Pertengkaran di depan Rasullah ini pernah diriwayatkan juga di dalam Sahih Muslim. Aisyah berkata Rasulullah kelihatan gembira ketika aku mencerca Zainab dan dalam membela Aisyah baginda bersabda: “Sesungguhnya Aisyah adalah anak Abu Bakar”

انها ابنة ابی بکر

Saya mengatakan perbuatan mencerca ini dilarang di dalam surah Al-An’am ayat 108: “Dan janganlah kamu cerca benda-benda yang mereka sembah yang lain dari Allah, kerana mereka kelak akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan”.

Kalau dilihat dari sejarah pasca wafatnya Rasulullah saw, Sebenarnya hadis hadis yang melarang ummat agar jangan mencela, mengkritik, melaknat para sahabat nabi adalah hadis buatan para penguasa saja, dan hadis hadis tsb dibuat untuk melindungi para penguasa (yang berkedok ahlussunnah ) yang bertindak diluar sunnah Rasulullah saw agar kekeliruan dan kesesatan mereka terlindungi dari hujatan hujatan dan kritikan kritikan

Sebab hadis hadis yang melarang mencela, mengkritik dan melaknat sahabat nabi adalah bertentangan dengan Al-qur’an dan sunnah Nabi saw itu sendiri.

Yg jelas bahwa sahabat yg berkhianat dan yg membangkang terhadap Rasulullah saw memang selayaknya dan pantas untuk dikritik, dan begitulah adanya suka atau tidak.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei selaku pemimpin dan Marji’ Syiah terbesar di dunia telah mengeluarkan fatwa haram menghina simbol Ahlusunnah

semoga perpaduan Sunni dan Syiah semakin utuh di samping kita sama-sama membongkar kegiatan Wahabi membunuh dan merosakkan tempat suci umat Islam dalam persidangan antara mazhab nanti.

Subhanallâh, Ternyata Nabi saw. Juga Melaknat Sahabatnya!

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka. Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah, apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.”

Pada pembahasan sebelumnya, telah kita singgung posisi sahabat Nabi saaw. Sekali lagi ingin kami sebutkan, bahwa, mengetahui sahabat secara jelas, akan sangat membantu kita dalam kritik selanjutnya. Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka.

Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah, apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.

Ada dua komentar untuk pandangan di atas, Pertama: seluruh sahabat karena kedekatan dan tenggelamnya mereka dalam cinta dan perkhidmatan kepada Rasulullah saaw. maka secara otomatis rahmat dan kasih sayang Allah swt. menjadikan mereka seluruhnya adil. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa para sahabat adalah hukum syar’i sebagaimana Rasulullah saaw. Pandangan kedua: penerimaan sahabat atas didikan dan pengajaran sekaligus menyerap hikmah-hikmah kenabian, sangat tergantung pada potensidan kemampuan penerimaan sahabat.

Sahabat terbagai dalam kelompok besar menurut penganut pandangan ini. Sebagian ada yang sampai kepada penerimaan yang sempurna, ada yang hanya sebagian, dan ada yang tidak menerima kecuali sangat sedikit dari hikmah-hikmah kenabian. Golongan ini mengatakan bahwa, sahabat harus dipilah dan pilih, tidak bisa dikategorikan sama. Dan karenanya, mereka dengan Rasul tidak boleh disamakan dalam posisi syar’i.

Siapakah sahabat Nabi?

Menurut Kamus

Al-Ashhab, ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Shuhbatan, Shahabatan, Shahibun, artinya: teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong pengikut. As-Shahib artinya kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan atau menjaga sesuatu. Kata ini juga bisa diartikan sebagai orang yang mengikuti suatu paham atau mazhab tertentu. Misalnya, kita bisa bisa mengatakan: pengikut Imam Ja’far, pengikut Imam Syafi’I, pengikut Imam Malik dan lain-lain. Dapat juga kita menyatakannya seperti dalam frasa ishthahaba al-qaum, yang artinya, mereka saling bersahabat satu sama lain, atau ishthahaba al-bar, artinya, menyelamatkan unta (lih. Lisan-al-Arab Ibn Manzhur 1/915).

Menurut Peristilahan al-Qur’an

Kata as-Shuhbah – persahabatan- dapat diterapkan pada hubungan: antara seorang mukmin dengan mukmin yang lain (Kahfi ayat 6), antara seorang anak dengan kedua orang tuanya yang berbada keyakinan(Lukman ayat 15), antara dua orang yang sama-sama melakukan perjalanan(an-Nisa ayat 36), antara tabi (pengikut) dengan matbu’ (yang mengikuti) (at-Taubah ayat 40), antara orang mukmin dengan orang kafir (al-Kahfi ayat 34 dan 37), antara orang kafir dengan orang kafir lainnya (al-Qamar ayat 29), antara seorang Nabi dengan kaumnya yang kafir yang berusaha menghalangi dari kebaikan dan mengembalikannya pada kesesatan (an-Najm ayat 2, Saba ayat 41) lihat juga Tafsir Ibn Katsir untuk masing-masing ayat di atas.

Ahlul Sunnah wal Jam’ah (selanjutnya kita sebut; Sunni) bersepakat dalam mendefenisikan sahabat dengan keadilan mereka (sahabat). Pendapat mereka antara lain:

– Sa’id Bin Musayyab : Sahabat, adalah mereka yang berjuang bersaama Rasulullah selama setahun atau dua tahun dan berperang bersama Rasul sekalil atau dua kali.

– Al-Waqidi : Kami melihat, para ulama mengatakan, mereka (sahabat Rasulullah) adalah siapa saja yang melihat Rasul, mengenal dan beriman kepada beliau, menerima dan ridha terhadap urusan-urusan agama walaupun sebentar.

– Ahmad bin Hanbal : Siapa saja yang bersama dengan Rasul selama sebulan, atau sehari, atau satu jam atau hanya melihat beliau saja, maka mereka adalah sahabat Rasulullah saaw.

– Bukhari : barang siapa yang bersama Rasulullah atau belihat beliau dan dia dalam keadaan Islam, maka dia adalah Rahabat Rasulullah saaw.

Al-Qawali menambahkan, kebersamaan itu walaupun sejam saja, tapi secara umum kebersamaan itu mempersyaratkan waktu yang lama.Al-Jaziri berkata, mereka adalah yang hadir dalam perang Hunain yang berjumlah dua belas ribu orang, yang ikut dalam perang Tabuk, dan ikut bersama Rasul dalam haji wada’. Demikianlah pendefenisian sahabat menurut Sunni, walaupun secara Lughawai dan al-‘Uruf al-‘Am memliki perbedaan yang jauh. Di mana persahabatan itu mempersyaratkan kebersamaan dalam waktu yang lama. Jadi tidak bisa dimasukkan dalam defenisi ini, bagi mereka yang bertemu hanya dalam waktu singkat, atau hanya mendengar perkataan atau hanya dengan bercakap-cakap singkat, atau tinggal bersama dalaml waktu yang singkat. Yang mengherankan adalah, bahwa Sunni sudah sampai kepada kesepakatan tentang keadilan sahabat sedangkan mereka masih saling ikhtilaf dalam pendefinisian sahabat?

Apakah Tujuan dari Tinjauan Kehidupan Sahabat?

Sebagian besar ulama Sunni memasukan sahabat Nabi ke dalam wilayah profane sangat holistic, sehingga sering kali kita mendengar pengkafiran, Zindiq, munafik dan pembuat bid’ah bagi mereka yang melanggar secret zona-line­ ini. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishabah jilid 1 hal. 17 mengatakan: Ahlu Sunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah ‘adil, kecuali dan barang siapa yang menentang ini adalah ahli bid’ah. Al-Khatib berkata: keadilan sahabat dengan legitimasi Allah swt. adalah sesuatu yang tetap dan telah diketahui. Allah telah memilih mereka (sahabat) dan mengabari tentang kesucian mereka. Kemudian Ibnu Hajar berkata: al-Khatib meriwayatkan dari Abi Zar’ah al-Razi: Kalau kamu melihat seseorang berkata tentang kekurangan (baca:kejelekan) sahabat Rasul, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq. Karena Rasulullah adalah haq, al-Qur’an dan apa yang datang bersamanya adalah haq. Dan sahabat telah menyampaikan itu semua kepada kita. Orang-orang yang ingin mencemari keyakinan kita tentang itu, adalah mereka yang ingin menolak kebenaran al-Qur’an dan Sunnah. Maka menolak mereka adalah lebih utama sebab mereka adalah kaum zindiq.

Jawaban atas pernyataan di atas akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya. Tapi, terlepas dari itu semua, kritik terhadap akidah dan sepak terjang sahabat bertujuan bukan untuk membatalkan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah, atau ingin menghilangkan keyakinan kaum muslim. Tapi bila ingin mengetahui dan menguji keadilan para sahabat, maka kita harus menguji secara naqidi, untuk mengetahui yang shaleh dan thaleh, untuk kemudian kita ambil dari mereka yang shaleh, agama bima huwa yang diajarkan Rasul dan menolak sebaliknya.

Kesulitan Kritik Objektif

In any case , kritik akan sampai kepada hasil yang diharapkan bila saja, kita mampu melihat secara objektif objek yang kita kritik. Salah satunya adalah melepaskan nilai-nilai yang sudah dari dulu diletakkan para pendahulu kita. Tentu saja harus segera digaris bawahi, bahwa tidak setiap yang old itu begitu saja kita tolak, tapi yang ingin kita lakukan hanya ingin bersikap ilmiah dengan mengolah dan menguji kembali apa-apa yang sudah dianggap paten oleh para pendahulu kita.

Sebagai contoh: Imam Hanbal (lih. Kitab as-Sunnah Ahmad Bin Hanbal hal.50) dan sebaik-baik ummat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar. Kemudian secara berurut, Umar, kemudian Ustman, kemudian Ali -radiyallahu ‘anhum- kemudian para sahabat Muhammad saaw. setelah empat Khulafa ar-Rasyidin. Dia melanjutkan, tak seorang pun boleh membanding-bandingkan mereka, atau mencukupkan satu dari yang lain…..

Imam Asy’ari juga berpendapat bahwa, kita percaya kepada sepuluh ahli surga sebagaimana yang disabdakan Rasul, kita mengikuti mereka dan seluruh sahabat Nabi saaw. dan menerima segala tentang mereka….(lih.al-Ibana hal.40/Maqalat, hal.294).

Cukupkah kita terhadap pernyataan di atas? Sementara sedemikian jelasnya sejarah panjang perjalanan sahabat Rasul yang saling berikhtilaf dan bertentangan dari permasalahan ritual ibadah sampai akidah! Tidakkah para ulama di atas membaca sejarah bahwa sahabat berbeda sampai dengan Rasul sendiri? Tidakkah mereka membaca bahwa sesama sahabat saling menumpahkan darah! Bagaimana mungkin kita bisa menerima seluruhnya, dan tidak boleh menolak seluruhnya sekaligus zindiq-kafir bila mengambil segolongan dari mereka! Ini sangat bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah an-Nabawiyah sekaligus akal sehat!

Al-Qur’an telah mensifatkan sebagian sahabat dengan fasiq sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang beriman, apabila datang padamu seorang fasiq…..(al-Hujurat:6) dalam hadits, mensifati golongan yang membunuh ‘Ammar Bin Yasir sebagai golongan yang al-Baghiyah. Rasul bersabda: Engkau (‘Ammar) akan dibunuh golongan Baghyah, engkau memanggil mereka ke surga, sedangkan mereka memanggilmu ke neraka (al-Jam’ bain as-Shahihain 2/461). Sedangkan untuk orang-orang khawarij Rasul menyebut mereka orang-orang yang membunuh golongan yang paling utama dalam kebenaran.

Hadits-hadits seperti ini banyak termuat dalam kitab Shahih dan Masanid. Apabila berpegang kepada sahabat adalah sebuah kewajiban sedangkan mempertanyakan ihwal mereka adalah haram, kenapa al-Qur’an dan Rasulullah saaw. mengabarkan kepada kita sifat-sifat seperti di atas. Akal sehat tidak menerima penutupan kebenaran dengan kesalahan, menutupi kebenaran, dan memposisikan sama antara yang benar dan yang salah.

Al-Qur’an dan Keadilan Sahabat

Dalam perang Uhud, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh, banyak di antara sahabat yang kembali lemah imannya, bahkan mengarah ke arah kemurtadan, sehingga turunlah Ayat 144 surah al-Imran “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika Dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik kebelakang (murtad)?……

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa perang Uhud, untuk sahabat setelah mendengar Rasululllah telah terbunuh (lih. Tafsir Ibnu Katsir 1/409). (lihat juga Zadul Ma’ad Ibnu al-Qayyum al-Jauzi hal.253). Ayat di atas menjelaskan tentang kemungkinan berpaling dan goyahnya keimanan sahabat (hanya setelah mendengar berita bohong terbunuhnya Rasul). Mungkinlah kita menyifati mereka dengan ‘adil mutlak’ kepada yang berpotensi untuk murtad?

Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata: Berkata kepada Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata: Aku sering masuk ke Madinah dan ketika Rasulullah saaw. sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja,kemudian turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) ataupermainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah)(al-Jumu’ah ayat 11). Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590)

Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang naqd al-Qur’an terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:

– Tafsir Ibn Katsir 1/421 dan Tafsir at-Tabari 4/155, tafsir surah al-Imran ayat 161.

– Tafsir Ibn katsir 4/209 tafsir surah al-Hujurat ayat 6 dan 2/283-285 tafsir surah al-Anfal ayat 1

Lihat juga tafsir surah al-Imran ayat 103, al-Ahzab ayat 12-13. at-Taubah 101-102, al-Hujurat 14, at-Taubah ayat 60. dan lain-lain yang tidak memungkinkan kita urai dan tulis satu persatu pada tempat ini.

Al-Sunnah an-Nabawiyah dan Keadilan Sahabat

Al-Qur’an, sebagaimana telah kita urai, melihat sahabat sebagaimana tabi’in, yang di antara mereka ada yang adil dan yang fasiq, yang shaleh dan thaleh dan lain-lain. Sekarang merilah kita menengok sahabat dalam hadits-hadits Nabi saaw.

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang sahabat-sahabat beliau untuk menyalati mayat seorang sahabat yang lain (lih.Mustadrak al-Hakim 2/127, lihat juga Musnad Ahmad kitab al-jihad 4/114).

Rasulullah berlepas tangan dari Khalid Bin Walid, karena membunuhi Bani Juzaimah yang telah menerima Islam, sebagian yang hidup lalu ditawan, tapi kemudian para tawanan itu pun dibunuh juga. Rasul mengangkat tangan ke langit “Ya Allah, aku berlepas tangan dari yang diperbuat Khalid” beliau mengatakannya dua kali (lih.Shahih Bukhari, Kitab Maghazi bab Ba’atsa an-Nabi Khalid Bin al-Walid, hadits 4339).

Rasulullah saaw. melaknat Hakam bin Ash Umayyah bin Abdus-Salam – paman Ustman bin Affan dan ayah Marwan bin Hakam – dan melaknat apa yang terdapat dalam tulang rusuknya (keturunannya). Rasulullah bersabda, “celaka bagi umatku dari apa yang terdapat pada tulang rusuk orang ini (keturunan Hakam bin Ash).” Dalam hadits, Aisyah berkata kepada Marwan Bin Hakam, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah melaknat ayahmu, sedangkan engkau ketika itu berada pada tulang rusuknya.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi saaw. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda, “Takkala aku sedang berdiri, muncullah segerombolan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, “Ayo ” Aku bertanya, “Kemana?” Ia menjawab, “Ke neraka, demi Allah!!” Aku bertanya; “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab; “Mereka berbalik setelah engkau wafat.” Dan yang lain dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata: Nabi bersabda; “Takkala berada di al-Haudh, aku tiba-tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku, yang mengikuti selain diriku. AKu berkata; Ya Rabbi, dari diriku dan umatku? Dan terdengar suara seseorang: Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu.” Dari bab yang sama yang berasal dari Sa’id bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda “Di al-Haudh sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi mereka adalah sahabatku!”. Dan Nabi mendapat jawaban; “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!” Riwayat ini juga disampaikan oleh Sahl bin Sa’d. Bukhari juga meriwayatkan yang berasal dari Ibnu Abbas, Nabi saaw. Bersabda; “Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban: “Mereka tak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.” (lih.Shahih Bukhari jilid 4 bab al-Haudh, akhir bab ar-Ruqab, hal.94 dan jilid 3/30 bab Ghazwah Hudaibiyah).

Muslim juga meriwayatkan, Nabi bersabda; “Sebagian orang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga Haudh, yaitu takkala dengan tiba-tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar-benar akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu” (lih.Shahih Muslim kitab Fadhail hadits 40, lihat juga Musnad Ahmad 1/453, jilid 2/28 dan jilid 5/48).

Sejarah dan Keadilan Sahabat

Dua uraian sumber hukum terpenting agama Islam, telah kita jelajahi dalam membaca kembali sahabat. Sekarang marilah kita journey ke petak-petak sejarah sahabat Nabi setelah beliau wafat. Mukhtashar Tarikh Dimasyk 8/19, Sirah I’lam an-Nubala’ 3/235, Tarikh at-Thabari 2/272, Usudul Ghabah 2/95, dan al-Ishabah 5/755.

Kita ambil dari at-Thabari, Malik Bin Nawairah Bin Hamzah al-Ya’rubi sudah Islam dan saudaranya, Rasul menunjuknya sebagai petugas pengumpul shadaqah bani Yarbu’. Setelah Rasul saaw. wafat, meluas kemurtadan di antara kabilah-kabilah. Abu Bakar, mengutus Khalid Bin Walid untuk memandamkan fitnah tersebut, tapi Khalid sangat berlebihan. Khalid membunuh sahabat-sahabat Nabi saaw. termasuk Malik Bin Nawairah, tidak sampai di situ, Khalid kemudian menzinahi istri Malik Bin Nawairah (yakni tanpa menunggu iddahnya).

Abu Bakar dan Umar berbeda keras dalam kasus ini, Umar bersikeras agar Khalid Bin Walid dihukum berat. Umar berkata kepada Khalid “Kamu telah membunuh seorang muslim, lali engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau! (lih.Tarikh Ibn Atsir, dan Wafayat al-‘A’yan Ibn Khalikan Abu Bakar alih-alih menghukum Khalid, Khalid dia malah diberi gelar saif Allah al-madzlul. Umar, setelah menjabat sebagai khalifah, memecat Khalid dan melantik Abu Ubaidah untuk menggantikan Khalid (lih. Sirah a’lam an-Nubala 3/236).

Sa’ad Bin Ubadah, Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh al-Anshari, tidak membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Amirul Mukminin Ali as, al-Abbas, ‘Uthbah bin Abi Lahab (juga anggota Bani Hasyim lainnya), Abu Dzar, Salman al-Farisi, al-Miqdad, ‘Ammar bin Yasir, Zubair, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Amr bin Waqadah, Ubay bin Ka’ab, al-Bara’ bib ‘Azib. Semuanya pada mulanya menolak membaiat kepada Abu Bakar. Sejarah mencatat, malah sebagian dari mereka, seperti Sa’d bin Ubadah dan Hubab al-Munzdir, malah terbunuh secara rahasia. (lih.Shahih Bukhari dan Muslim, Tarikh at-Tabari, al-‘Iqd al-Farid dan al-Kamil Ibn Katsir).

Lihat juga pertengkaran Sayyidah Fathimah az-Zahra, penghulu para wanita seluruh alam, putri belahan jiwa Rasulullah, dengan Abu Bakar. Semua mengetahui pertengkaran tersebut.(lih.Shahih Bukhari 3/36 – 4/105, Muslim 2/72, Musnad Ahmad bin Hanbal 1/6, al-Imamah wa as-Siyasah Ibn Qutaibah, dan Syahr Nahjul Balaghah Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili).

Sebenarnya masih sangat banyak yang telah tercatat dalam sejarah tentang prilaku sahabat, sebagaimana yang dilaporkan Muslim tentang sahabat pada masa Umar Bin Khattab yang menjual Khamar (lih.Shahih Muslim 5/41 bab Tahrim al-Khamer) tidak hanya sebatas itu, sahabat tersebut juga, suka menumpahkan darah orang-orang yang tak berdosa dan para pengumpul Qur’an (lih.Tarikh at-Thabari 3/176).

Aisyah Binti Abi Bakar melaknat Utsman (lih. Tarikh at-Thabari 4/459, an-Nihayah Ibn Atsir 5/80), Mu’awiyah melaknat dan memerintahkan setiap khatib jum’at dan imam shalat untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu Rasulullah saaw, al-Hasan dan al-Husain di atas minbar dan dalam qunut shalat. Umar dan Abu Bakar melaknat Sa’id Bin Ubadah ketika ia masih hidup. Dan masih banyak lagi dalam sejarah, para sahabat melaknat sebagian sahabat yang lain dan berlepas diri dari yang lain.

Kesimpulan Bahasan

To make long story short, Sebagaimana yang telah al-Qur’an dan Sunnah telah wajibkan, menghormati sahabat dan memposisikan mereka pada derajat yang tinggi merupakan suatu kelaziman. Tapi selain itu, kedua sumber hukum Islam ini juga memerintahkan kepada kita untuk menilai sesuai dengan kapasitas mereka.

Orang-orang yang dicela al-Qur’an sudah pasti bukan orang adil, orang-orang yang disebut fasiq pasti tidak adil. Orang-orang yang menyepelekan Nabi pasti bukan adil, orang-orang yang dilaknat Nabi saaw. pasti tidak adil, orang-orang yang tidak cela Nabi saaw. pasti tidak adil. Mereka sebagaimana kamu muslim yang lain, bisa jadi berbuat salah dan benar, di antara mereka ada yang adil sebagimana ada yang tidak. Menghukumi mereka adil secara keseluruhan adalah sangat berseberangan dengan sikap ilmiah dan bertentangan dengan sejarah, dan secara tidak langsung meragukan kebenaran nas. Bahkan syi’ar tersebut terbukti benar-benar bertentangan dengan nas-nas dan hadits Rasulullah saaw. yang jelas. Al-Qur’an mengajarkan kita, wa la tus-alu ‘amma ka nu ya’malun –kalian tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka lakukan- bukan, wa la tas-alu ‘amma kanu ya’malun –janganlah kalian bertanya terhadap apa yang mereka lakukan-.


Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah

Tidak diragukan kalau Imam Ali benar dalam tindakannya memerangi Muawiyah. Sebagaimana yang telah dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok pemberontak [baaghiyyah]. Hanya saja beberapa orang dari pengikut salafy yang ghuluw mencintai Muawiyah tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengan segenap usaha“yang melelahkan”membela Muawiyah. Tidak jarang demi membela Muawiyah mereka mengutip perkataan Imam Ali. Bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan para pengikutnya?. Perhatikanlah hadis-hadis berikut

.

.

Doa Imam Ali Untuk Muawiyah dan Pengikutnya

حدثنا تميم بن المنتصر الواسطي قال أخبرنا إسحاق يعني الأزرق عن شريك عن حصين عن عبد الرحمن بن معقل المزني قال صليت مع علي بن أبي طالب رضوان الله عليه الفجر ” فقنت على سبعة نفر منهم فلان وفلان وأبو فلان وأبو فلان

Telah menceritakan kepada kami Tamim bin Muntashir Al Wasithiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ishaq yakni Al Azraq dari Syarik dari Hushain dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy yang berkata “aku shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu maka ia membaca qunut untuk tujuh orang, diantara mereka adalah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2628]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syarik ia memang seorang yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya. Ishaq Al Azraq meriwayatkan dari Syarik sebelum hafalannya berubah maka riwayatnya shahih.

  • Tamim bin Muntashir Al Wasithiy adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’I menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 958]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dhabit [At Taqrib 1/143-144]
  • Ishaq bin Yusuf Al Azraq adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shahih hadisnya shaduq tidak ada masalah dengannya”. Yaqub bin Syaibah berkata “ia termasuk orang yang alim diantara yang meriwayatkan dari Syarik”. Al Khatib berkata “termasuk tsiqat dan ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Bazzar menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/87]
  • Syarik Al Qadhi adalah Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507]
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 2 no 659]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124].
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Riwayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ali membaca qunut nazilah untuk beberapa orang pada shalat fajar. Terdapat riwayat lain yang menyebutkan kalau Imam Ali juga membaca qunut ini [nazilah] pada shalat maghrib

حدثني عيسى بن عثمان بن عيسى قال حدثنا يحيى بن عيسى عن الأعمش عن عبد الله بن خالد عن عبد الرحمن بن معقل قال صليت خلف علي المغرب فلما رفع رأسه من الركعة الثالثة قال اللهم العن فلانا وفلانا وأبا فلان وأبا فلان

Telah menceritakan kepadaku Isa bin Utsman bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Khalid dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata “aku shalat maghrib di belakang Ali ketika ia mengangkat kepalanya pada rakaat ketiga, ia berkata “ya Allah laknatlah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2627]

Riwayat ini sanadnya hasan dengan penguat riwayat sebelumnya. ‘Abdullah bin Khalid adalah seorang kufah yang tsiqat dimana telah meriwayatkan darinya Sufyan Ats Tsawri dan Al A’masy.

  • Isa bin Utsman bin Isa adalah perawi Tirmidzi. Telah meriwayatkan darinya jama’ah hafizh diantaranya Tirmidzi dan Ibnu Jarir. Nasa’I menyatakan “shalih” [At Tahdzib juz 8 no 410]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/772]
  • Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • ‘Abdullah bin Khalid meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy dan telah meriwayatkan darinya Sufyan dan ‘Amasy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 8812]. Al Fasawiy menyebutkan ia seorang yang tsiqat [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/104]
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Kedua riwayat ini menyebutkan kalau Imam Ali membaca qunut nazilah pada shalat shubuh dan maghrib dimana Beliau mendoakan keburukan atau melaknat orang-orang tertentu. Siapa orang-orang tersebut memang tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarir tetapi tampak jelas kalau perawi [entah siapa] menyembunyikan nama-nama mereka karena tidak mungkin ada seseorang bernama fulan atau abu fulan. Alhamdulillah ternyata terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan nama beberapa diantara mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Riwayat ini sanadnya shahih, Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]. Sedangkan Hushain dan Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan kalau mereka tsiqat.

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war[Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/134]

Riwayat ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat termasuk perawi Bukhari Muslim [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin perawi kutubus sittah [At Taqrib 2/193]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy atau Abu Hasan Al Kufiy adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 128]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/643]. Dan ‘Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan bahwa ia tabiin yang tsiqat.

Kedua riwayat Abdurrahman bin Ma’qil ini menyebutkan kalau diantara mereka yang didoakan [dalam qunut] keburukan atau laknat oleh Imam Ali adalah Mu’awiyah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Imam Ali, Muawiyah dan pengikutnya itu menyimpang dan telah sesat plus menyesatkan banyak orang sehingga Imam Ali sampai membaca qunut nazilah untuk mereka. Abbas Ad Duuriy berkata

سمعت يحيى يقول أبو الأعور السلمي رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وكان مع معاوية وكان علي يلعنه في الصلاة

Aku mendengar Yahya [bin Ma’in] berkata “Abul A’war As Sulamiy seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia bersama Muawiyah dan Ali telah melaknatnya di dalam shalat”[Tarikh Ibnu Ma’in 3/43 no 175]

.

.

Kelompok Muawiyah Berada Di Jalan Yang Bathil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah”[Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Telah terbukti kalau ‘Ammar terbunuh dalam perang shiffin dan ia berada di pihak Imam Ali jadi kelompok baaghiyyah [pembangkang] yang membunuh ‘Ammar dalam hadis Bukhari di atas adalah kelompok Muawiyah. Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Jadi berdasarkan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dalam perang shiffin Imam Ali dan pengikutnya berada dalam kebenaran sedangkan Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت عبد الله بن سلمة يقول رأيت عمارا يوم صفين شيخا كبيرا آدم طوالا آخذا الحربة بيده ويده ترعد فقال والذي نفسي بيده لقد قاتلت بهذه الراية مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات وهذه الرابعة والذي نفسي بيده لو ضربونا حتى يبلغوا بنا شعفات هجر لعرفت أن مصلحينا على الحق وأنهم على الضلالة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Salamah berkata “aku melihat ‘Ammar dalam perang shiffin, dia seorang Syaikh yang berumur, berkulit agak gelap dan berperawakan tinggi, ia memegang tombak dengan tangan bergetar. Ia berkata “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa panji ini bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiga kali dan ini adalah yang keempat. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami kepada kematian maka aku yakin bahwa orang-orang shalih yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan[Musnad Ahmad 4/319 no 18904]

Riwayat ini sanadnya hasan. ‘Abdullah bin Salamah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit perbincangan karena hafalannya. Riwayat ini juga disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 5651.

  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • ‘Amru bin Murrah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan shaduq tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah [At Taqrib 1/745]
  • ‘Abdullah bin Salamah adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ai Ijli menyatakan ia tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat termasuk thabaqat pertama dari ahli fiqih kufah setelah sahabat”. Abu Hatim berkata “dikenal dan diingkari”. Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. Ibnu Ady berkata “aku kira tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 5 no 421]. Ibnu Hajar berkata “shaduq mengalami perubahan pada hafalannya” [At Taqrib 1/498]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Al Kasyf no 2760], Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam Man Tukullima Fihi wa huwa Muwatstsaq no 182. Ibnu Hibban telah menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080]. Ibnu Khuzaimah telah berhujjah dan menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/104 no 208]. Al Hakim ketika membawakan hadis ‘Abdullah bin Salamah ia menyatakan hadis tersebut shahih sanadnya walaupun syaikhan tidak berhujjah dengan ‘Abdullah bin Salamah tetapi tidak ada cela terhadapnya [Al Mustadrak juz 1 no 541] itu berarti Al Hakim menganggap ‘Abdullah bin Salamah tsiqat. Pendapat yang rajih, ‘Abdullah bin Salamah adalah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit pembicaraan dalam hafalannya tetapi itu tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan.

Riwayat ini dengan tegas menyatakan kalau ‘Ammar dan orang-orang shalih di pihak Imam Ali adalah berada di atas kebenaran sedangkan mereka kelompok Muawiyah berada di atas kesesatan atau kebathilan. Kami tidak akan berbasa-basi seperti sebagian orang yang mengklaim kalau Muawiyah berijtihad dan walaupun salah ijtihadnya tetap mendapat pahala. Itu berarti Muawiyah yang dalam perang shiffin dikatakan mengajak orang ke neraka tetap mendapat pahala. Sungguh perkataan yang aneh bin ajaib.

Kami juga ingin menegaskan kepada orang yang memang tidak punya kemampuan memahami perkataan orang lain bahwa kami tidak pernah menyatakan kalau Muawiyah dan pengikutnya kafir dalam perang shiffin berdasarkan hadis-hadis di atas. Jika dikatakan mereka bermaksiat maka itu sudah jelas, orang yang mengajak ke jalan neraka maka sudah jelas ia bermaksiat. Tetapi apakah maksiat itu membawa kepada kekafirannya maka hanya Allah SWT yang tahu. Soal Muawiyah kami sudah pernah membahas

.

Syubhat Salafy Dalam Membela Muawiyah

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِيُّ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ ، قَالَ : سُئِلَ عَلِيٌّ عَنْ قَتْلَى يَوْمِ صِفِّينَ ، فَقَالَ : قَتْلاَنَا وَقَتْلاَهُمْ فِي الْجَنَّةِ ، وَيَصِيرُ الأَمْرُ إلَيَّ وَإِلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayub Al Maushulliy dari Ja’far bin Burqaan dari Yazid bin Al Aasham yang berkata Ali pernah ditanya tentang mereka yang terbunuh dalam perang shiffin. Ia menjawab “yang terbunuh diantara kami dan mereka berada di surga” dan masalah ini adalah antara aku dan Muawiyah[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 15/302 no 39035]

Riwayat ini secara zahir sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat di dalamnya. Adz Dzahabi mengatakan tentang Yazid bin Al Aasham kalauriwayatnya dari Ali tidak shahih[As Siyar 4/517 no 211]. Walaupun dikatakan Adz Dzahabi ia menemui masa khalifah Ali tetapi tetap saja Adz Dzahabi sendiri mengatakan kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih. Cukup ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa terkadang ada perawi yang melihat atau bertemu atau semasa dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dikatakan tidak shahih. Salah satu contohnya adalah Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Madini berkata tentangnya“ia melihat Abu Sa’id Al Khudri tawaf di baitullah dan ia melihat Abdullah bin Umar tetapi tidak mendengar hadis dari keduanya” [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 520].

Ada yang berhujjah sembarangan dengan hadis ini. Mereka dengan hadis ini membela Muawiyah dan pengikutnya. Ini namanya asal berhujjah, telah kami tunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali sebenarnya kepada kelompok Muawiyah. Jika Imam Ali sendiri berdoa dalam qunut nazilah agar Muawiyah dan pengikutnya mendapatkan hukuman dari Allah SWT maka sudah jelas menurut Imam Ali mereka kelompok Muawiyah berada dalam kesesatan atau kebathilan dan hal ini pun sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pandangan ‘Ammar bin Yasir radiallahu ‘anhu.

Jadi jika riwayat di atas diartikan bahwa Imam Ali membenarkan Muawiyah dan pengikutnya maka itu keliru. Kami pribadi menganggap atsar tersebut matannya mungkar dan sanadnya memang mengandung illat. Bukankah dalam perang shiffin Muawiyah dan pengikutnya telah terbukti berada di atas Jalan yang menuju ke neraka berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Apakah mereka yang gugur karena membela kebathilan akan mendapat imbalan surga?. Jadi dari sisi ini kalau riwayat tersebut diartikan secara zahir maka mengandung pertentangan dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainyapun orang-orang tersebut menerima riwayat Imam Ali di atas maka sudah seharusnya diartikan bahwa yang dimaksud bukan secara umum. Bukankah salafy sendiri [Muawiyah dan pengikutnya] menganggap bahwa dalam kelompok Imam Ali terdapat para pembunuh Utsman radiallahu ‘anhu. Nah apakah mereka yang terbunuh dalam kelompok Imam Ali ini akan mendapat surga? Silakan mereka salafy menjawabnya. Begitu pula mungkin saja dalam kelompok Muawiyah terdapat orang-orang yang tidak memahami persoalan, mereka tertipu oleh propaganda Muawiyah atau dengan bahasa yang lebih kasar fitnah kalau Imam Ali dan pengikutnya melindungi para pembunuh khalifah Utsman radiallahu ‘anhu. Mungkin saja kelompok ini yang dikatakan Imam Ali bahwa yang terbunuh diantara mereka mendapat surga. Sehingga sangat wajar di akhir riwayat Imam Ali mengatakan kalau masalah ini adalah antara diri Beliau dan Muawiyah.

Selain itu sangat ma’ruf kalau tidak semua orang yang ikut berperang memiliki niat yang baik walaupun mereka berada di pihak yang benar. Kedudukannya tergantung niat orang tersebut, jika ia berperang dengan niat mendapatkan harta atau niat lain yang buruk dan gugur dalam perang tersebut bukan berarti ia lantas mendapat surga. Terdapat kisah dimana salah seorang sahabat gugur di medan perang kemudian para sahabat yang lain mengatakan ia syahid tetapiRasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membantahnya dan mengatakan kalau ia di nerakakarena sahabat tersebut telah berkhianat dalam harta rampasan perang. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa atsar Imam Ali di atas seandainya kita terima maka ia tidak bisa diartikan secara umum untuk semua orang yang terbunuh di shiffin. Apalagi sangat tidak benar menjadikan hadis ini untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yang lain.

Sebenarnya ada hal lucu yang tidak terpikirkan oleh salafy. Bukankah mereka sering merendahkan Syiah yang katanyaSyiah mengatakan bahwa Imam Ali mengetahui perkara yang ghaib. Padahal yang dilakukan syiah mungkin hanya berhujjah dengan riwayat yang ada di sisi mereka. Sekarang lihatlah riwayat Imam Ali di atas, bukankah pengetahuan siapa yang akan masuk surga adalah pengetahuan yang bersifat ghaib lantas kenapa sekarang salafy anteng-anteng saja meyakini riwayat tersebut. Sekarang dengan lucunya [demi membela Muawiyah] salafy mengakui kalau Imam Ali mengetahui perkara ghaib bahwa yang terbunuh di shiffin itu masuk surga. Sungguh tanaqudh dan memprihatinkan mereka suka mencela mazhab lain tetapi apa yang mereka cela ada pada diri mereka sendiri

.

Syi’ah Mencontoh NAbi SAW Yang Melaknat dan Mencela Sahabat Yang Jahat… Jadi Mustahil Itu Berdosa, Kalau Anda Katakan Berdosa Berarti NAbi SAW Juga Berdosa Karena Mencela/Melaknat Sahabat Yang Durhaka…Justru Yang Berdosa Adalah Aswaja Sunni Yang Membela/Memihak Orang Yang Dilaknat/Dicela Nabi SAW

Abu Bakar dan Umar Di Bawah Pimpinan Usamah Bin Zaid

Menjelang akhir hayat Rasulullah SAW, Beliau mengangkat Usamah bin Zaid memimpin pasukan untuk menuju tanah Balqa di Syam persis tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah RA, Ja’far RA dan Ibnu Rawahah RA. Telah dinyatakan oleh banyak ulama bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk mereka yang ikut dalam Sariyyah Usamah. Saat itu usia Usamah bin Zaid masih muda, anehnya kepemimpinan Usamah ini dikecam oleh sebagian sahabat Nabi dan kabar kecaman ini sampai ke telinga Rasulullah SAW

عن بن عمر ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث بعثا وأمر عليهم أسامة بن زيد فطعن بعض الناس في أمرته فقام رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ان تطعنوا في أمرته فقد تطعنون في إمرة أبيه من قبل وأيم الله ان كان لخليقا للأمارة وان كان لمن أحب الناس إلى وان هذا لمن أحب الناس إلى بعده

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela kepemimpinannya tersebut. Lalu Rasulullah SAW berdiri dan berkata “Jika kalian mencela kepemimpinannya maka kalian mencela kepemimpinan Ayahnya sebelumnya. Demi Allah, dia (Zaid) memang layak memimpin pasukan dan dia termasuk orang yang paling aku cintai, dan anaknya ini termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya.[Shahih Muslim 4/1884 no 2426, Shahih Bukhari 5/23 no 3730, Musnad Ahmad 2/20 no 4701 dan 2/110 no 5888 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Sukar dibayangkan kalau para sahabat berani mengecam apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW tetapi memang begitulah kenyataannya. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalamAth Thabaqat4/66 yang berkata

أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Riwayat ini sanadnya hasan, telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Al Umari, dia seorang yang hadisnya hasan.Abdul Wahab bin Atha’adalah seorang perawi yang tsiqat. DalamAt Tahdzibjuz 6 no 838 disebutkan bahwa ia adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim dantelah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya Al Qattan, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin, Daruquthni dan Hasan bin Sufyan. Ibnu Ady dan Nasa’i berkata“tidak ada masalah dengannya”.Nafi’ maula Ibnu Umaradalah seorang yang tsiqat tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/239.

Al Umariadalah Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab Al Umari, ia adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan yang diperselisihkan dan pendapat terkuat adalah ia seorang yang hadisnya hasan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 5 no 564 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Ahmad bin Yunus dan Al Khalili.Ahmad bin Hanbal menghasankan hadisnya, terkadang berkata“ tidak ada masalah dengannya”, terkadang pula berkata“dia termasuk perawi yang shalih”. Ibnu Ady mengatakantidak ada masalah dengannya dan shaduq. Al Ajli memasukkannya ke dalam perawi tsiqat dalamMa’rifat Ats Tsiqatno 937 dan berkata

عبد الله بن عمر بن حفص بن عاصم بن عمر بن الخطاب أخو عبيد الله لا بأس به مديني

Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab saudara Ubaidillah ‘tidak ada masalah dengannya’, orang Madinah.

Memang terdapat sebagian ulama yang mencacatnya dan mereka ini dapat dikelompokkan menjadi

  • Ulama yang mencacat Al Umari tanpa menyebutkan alasannya. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 5 no 564 diantaranya Yahya bin Sa’id, Ali bin Madini, Bukhari dimana ia hanya mengikuti pencacatan Yahya bin Sa’id
  • Ulama yang mencacat Al Umari bukan dengan jarh yang keras seperti Salih Al Jazarah yang berkata“layyin”(lemah), An Nasa’i dan Al Hakim yang berkata“laisa bi qawiy” (tidak kuat). Dimana pencacatan dengan predikat“laisa bi qawy”bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi jika telah dinyatakan tsiqah oleh ulama-ulama lain.
  • Ulama yang mencacat Al Umari tetapi juga memberikan predikat ta’dil padanya diantaranya At Tirmidzi, pencacatan Tirmidzi hanyalah mengikuti gurunya Bukhari yang mengikuti Yahya bin Sa’id. Dalam kitabSunan-nya Tirmidzi telah membawakan hadis-hadis Al Umari, terkadang ia menyatakan“laisa bi qawy”dan terkadang ia mengatakan shaduq(Sunan Tirmidzi 1/321 hadis no 172).

Pencacatan terhadap Al Umari tanpa menyebutkan alasannya tidak bisa dijadikan hujjah sebagaimana yang ma’ruf dalam Ulumul hadis jika seorang perawi telah dinyatakan tsiqat oleh ulama-ulama lain maka pencacatan terhadapnya hendaknya bersifat mufassar atau dijelaskan. Satu-satunya alasan pencacatan Al Umari mungkin karena hafalannya seperti yang diisyaratkan Adz Dzahabi dalamMizan Al ‘Itidalno 4472 dimana Dzahabi juga menyatakania shaduq (jujur)dan Adz Dzahabi juga memasukkan Al Umari dalam kitabnyaAsma Man Tukullima Fihi Wa huwa Muwatstsaq1/112 no 190.

Riwayat Al Umari ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang juga menyatakan Abu Bakar dan Umar ikut dalam Sariyyah Usamah. Riwayat tersebut terdapat dalamAl Mushannaf6/392 no 32305

حدثنا عبد الرحيم بن سليمان عن هشام بن عروة عن ابيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان قطع بعثا قبل مؤتة وأمر عليهم اسامة بن زيد وفي ذلك البعث أبو بكر وعمر

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya bahwa Rasulullah SAW sebelum wafatnya mengutus pasukan dan mengangkat pemimpin diantara mereka Usamah bin Zaid, didalamnya juga terdapat Abu Bakar dan Umar…

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tetapi mursal. Abdurrahim bin Sulaiman dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/598, Hisyam bin Urwah juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/267 dan ayahnya Urwah bin Zubair adalah seorang tabiin yang tsiqat dalamAt Taqrib1/671. Riwayat Urwah dan Riwayat Ibnu Umar saling menguatkan sehingga bisa dijadikan hujjah.

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalamTarikh Dimasyq Ibnu Asakir8/60

أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya sehingga sanadnya jayyid (baik). Berikut keterangan mengenai para perawinya.

  • Abu Bakar Wajih bin Thahir, Adz Dzahabi dalamSiyar ‘Alam An Nubala20/109 menyebutnya sebagai seorangSyaikh Alim Adil Musnid Khurasan. Ibnu Jauzi dalamAl Muntazam Fi Tarikh18/54 menyebutkan bahwaia seorang Syaikh yang shalih shaduq (jujur).
  • Abu Hamid Al Azhari, Adz Dzahabi dalamAs Siyar18/254 menyebutnya sebagaiseorang syaikh yang adil dan shaduq.Disebutkan pula biografinya dalamSyadzrat Adz DzahabIbnu ‘Imad Al Hanbali 3/311 bahwaia seorang yang tsiqah.
  • Abu Muhammad Al Makhlad, Adz Dzahabi dalamAs Siyar16/539 menyebutnya sebagaiseorang Syaikh, Adil, Imam dan shaduq (jujur).Ibnu ‘Imad Al Hanbali dalamSyadzrat Adz Dzahab3/131 juga menyebutnyaseorang Syaikh Muhaddis yang Adil.
  • Muammal bin Hasan, Adz Dzahabi dalamSiyar ‘Alam An Nubala15/21-22 menyebutnya sebagaiseorang Imam Muhaddis Mutqin.DalamTarikh Al Islam23/592 Adz Dzahabi menyebutnya sebagaiSyaikh Naisabur termasuk dari kalangan syaik-syaikh yang mulia.
  • Ahmad bin Manshur Ar Ramadi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 1 no 143 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Daruquthni, Abu Hatim, Maslamah bin Qasim, Al Khalili dan Ibnu Hibban. DalamAt Taqrib1/47 ia dinyatakantsiqat.
  • Abu Nadhr Hasyim bin Qasim, Ibnu Hajar memuat keterangan tentangnya dalamAt Tahdzibjuz 11 no 39 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Madini, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Ibnu Qani’. DalamAt Taqrib2/261 ia dinyatakantsiqat tsabit.
  • Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar menyebutkannya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 92 dania dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban.DalamAt Taqrib1/459 ia dinyatakantsiqat.
  • Ubaidillah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar memuat biografinya dalamAt Tahdzibjuz 7 no 71, ia adalah perawi Bukhari Muslim yang telahdinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ahmad bin Shalih dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/637 menyatakan iatsiqat.
  • Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Hajar menyebutkan keterangannya dalamAt Tahdzibjuz 10 no 743, ia seorang perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat.Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Ibnu Kharrasy, An Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin dan yang lainnya menyatakan bahwa ia tsiqat. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib 2/239 menyatakanNafi’ tsiqat tsabit.

Semua Atsar di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Abu Bakar dan Umar ikut dalam pasukan Usamah bin Zaid di bawah pimpinan Usamah RA. Hal ini juga telah ditegaskan oleh banyak ulama di antaranya

  • Ibnu Sa’ad dalam kitabnyaAt Thabaqat2/190
  • Al Baladzuri dalam kitabnyaAnsab Al Asyraf2/115
  • Ibnu Atsir dalamAl Kamil Fi Tarikh2/317
  • Ibnu Hajar dalamTahdzib At Tahdzibjuz 1 no 391 biografi Usamah bin Zaid dan dalamFath Al Bari8/190
  • Al Hafiz Ibnu Zaky Al Mizzi dalamTahdzib Al Kamal2/340 biografi Usamah bin Zaid no 316
  • As Suyuthi dalamIs’af Al Mubatta1/5 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Jauzi dalam kitabnyaAl Muntazam2/405
  • Muhammad bin Yusuf Shalih Asy Syami dalam kitabnyaSubul Al Huda Wa Rasyad11/341
  • Al Qasthalani dalamIrsyad As Sari Syarh Shahih Bukhari9/423
  • Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq8/46 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Manzur dalamMukhtasar Tarikh Dimasyq4/248
  • Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya‘Uyun Al Atsar 2/352

Keterangan bahwa Abu Bakar dan Umar di bawah pimpinan Usamah telah diriwayatkan melalui kabar yang shahih dan hal ini juga ditegaskan oleh banyak ulama. Oleh karena itu pengingkaran terhadap hal ini hanyalah usaha yang lemah dan tidak berdasar.Wallahu’alam

bahwa Abu bakar dan Umar ibn Khattab termasuk dlm pasukan dibawah kepemimpinan Usamah bin Zaid adalah sbb

Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 4/66 yang berkata
أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 8/60
أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

=================================================================

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

=============================================================================

===========================================================================

Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka

Saya tidak memfitnah, hal ini memang tercatat di dalamKitab Shahih.Sebelumnya saya katakan kalausaya tidak merendahkan siapapun apalagi mencaci.Saya Cuma menunjukkanapa yang saya bacasebagai kritikan terhadapapa yang saya dengar. Telah sampai kabar kepada sayaada orang yang mengatakan bahwa semua sahabat Nabi pasti masuk surga dan tidak ada yang masuk neraka.Orang tersebut bisa dibilang korbandogma dan generalisasi yang fallasius.Jika ia adalah seorang yang bersandar padakitab-kitab Shahihmaka apa yang akan ia katakan jika ia membaca bahwaada sahabat Nabi yang masuk neraka, dan bahkan yang mengatakan bahwa sahabat tersebut masuk neraka adalah Nabi SAW sendiri.

DalamShahih Bukhari4/74 no 3074 dan dalam kitabShahih Sunan Ibnu MajahSyaikh Al Albani no 2299 disebutkan(ini riwayat Bukhari)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كَانَ عَلَى ثَقَلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ كِرْكِرَةُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ فِي النَّارِ فَذَهَبُوايَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Amr yang berkata “Pernah ada seseorang yang biasa menjaga perbekalan Nabi SAW, orang tersebut bernama Kirkirah. Kemudian dia pun meninggal dunia, ketika itu Rasulullah SAW bersabda“Dia berada di Neraka”.Maka para sahabat pergi melihatnya dan mereka mendapatkan sebuah mantel yang diambilnya dari harta rampasan perang sebelum dibagikan.

Sahabat Nabi yang dimaksud adalahKirkirahdan ternyata kesalahan yang ia lakukan adalahberkhianat atau mengkhianati harta rampasan perangoleh karenanya Rasul SAW berkata“Dia di Neraka”. Ibnu Hajar memasukkan namaKirkirahdalam KitabAl Ishabah Fi Tamyiz As Sahabah5/587 no 7405, ia menyebutnya sebagaiKirkirah mawla Rasulullah SAW, Ibnu Hajar juga berkata

وقال بن منده له صحبة ولا تعرف له رواية

Ibnu Mandah berkata “dia seorang Sahabat Nabi dan tidak diketahui memiliki riwayat hadis”

Selain Ibnu Hajar, Ibnu Atsir dalamAsad Al Ghabah4/497 juga mengatakan kalauKirkirah adalah Sahabat Nabi SAWdan Adz Dzahabi dalamTajrid Asma As Shahabah2/29 no 323 menyebutkan kalauKirkirah seorang Sahabat Nabi SAW. Bukankah ini membuktikan bahwaseorang Sahabat Nabi bisa saja masuk NerakadanKirkirah sahabat Nabi SAWdi atas disebutkan oleh Nabi SAW sendiri bahwa“dia berada di neraka”.

===========================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orangterkadang mengundang tanda tanya bagiorang yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwasahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia.Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwadiantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitabShahih Muslim4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKuada dua belas orang munafik.Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadisShahih Muslimdi atas menyatakan bahwaRasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik.Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolakada sahabat Nabi munafikmengatakan bahwa hadisShahih Muslimdi atas menceritakanbahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه /emو سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKuada dua belas orang munafikyang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadisShahih Muslimdiatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabitidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakanDi antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakanDiantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakanbahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi.Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kataSahabatKuadalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kataUmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalahdiantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik.Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafazSahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.

Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya.

Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, pelanggaran, pembangkangan para sahabat mereka (ulama Sunni dan tentunya juga kaum awamnya) segera mengatakan mereka yang disebutkan dalam data-data dan nash (Al Quran dan Sunnah) adalh kaum munafik! Dan kaum munafik bukan termasuk sahabat Nabi! Jangan masukan munafik ke dalam daftar sahabat Nabi Saw.! Munafik ya munafik!

Demikianlah kurang lebih pembelaan yang mereka lontarkan.

Tetapi benarkan kaum munafik itu bukan sahabat Nabi Saw.?

Sepertinya seluruh data bertolak belakang dengan pembelaan yang mereka kkatakan. Sebab kenyataannya iaalah bahwa kaum munafik adalah mereka yang menyatakan (mengikrarkan) syahâdatain dengan lisan mereka, kendati hati mereka tidak menerimanya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat manusia di hadapan da’wah Nabi saw. Terkelompkkan menjadii tiga kelompok:

1) Mereka yang menerima da’wah dan beriman kepada kenabian beliau dengan tulus. Mereka adalah kaum Mu’min.

2) Kedua kaum yang menginkari kebenaran da’wah dan menolak kenabian beliau. Mereka iitu adalah kaum kafir. Kaum kafir yang ingkkar ini terbagi menjadi dua kelompok: A) Mereka yang berterus terang dalam kekafiran dan menentangannya. Mereka disebut kafir dan

3) B) Mereka yang tidak berterus terang daalam kekafiiran dan pengingkarannya. Mereka menampakkkan keimanan sementara pada hakikatnya mereka adalah kafir! Mereka ini disebut sebagai kaum munafik!

Nah, jelslah sekarang siapa sebenarnya kaum munafik itu? Mereka yang secara lahrriyah muslim akan tetepi pada hakikatnya mereka itu kafir!

Mereka yang menampakkan keislaman dan keimanan itu pastilah akan dberlakukan atas mereka hukum Islam. Nabi saw. Akan mempperlakukan mereka sebagai orang-orang Muslim dan memberlakukan atas mereka hukum-hukum Islam sebagaimana diberlakukan atas yang lainnya.

Demikianlah sejaraan mencatat. Kaum munafik itu bergabung bersama kaum muslim lainnya di zaman Nabi saw.’ Mereka shalat berjama’ah bermaza Nabi saw., menunaikan haji bersama beliau bahkan berjihad melawan musuh-musuh Islam bersama Nabi saw. Dan kaum Muslim lainnya.

Jika demikian kenyataannya, apa alasan kita mengatakan bahwa kaum munafik itu buan sahabat Nabi saw.?!

Bukankah mereka yang berikrar dengansyahâdataindi hadapan Nabi saw. atau di zaman beliau lalu bergabung dengan jama’ah kaum muslim lainnnya sudah cukup syarat untuk disebut sebagai sahabat Nabi saw.?

Selain kenyataan di atas banyak data di mana Nabi saw. Menyebut kaum munafik sebagai sahabat beliau! Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajak Anda melihat dari dekat data tersebut dan merenungkannya baik=baik.

Para mufassir Sunni ketika menerangkan atar-ayat surah al Munâfqûn demikian juga para sejarawan Islam ketika mereka menyebutkan perang Muraisi’ atau nama lainnya perang bani Mushthaliq pasti menyebutkan sebuah pristiwa percek-cokan antara dua orang sahabat; satu dari kalangan Anshar dan yang satu dari kalangan Muhajrin dalam urusan perebutan yangkemudian berakhir dengan luapan kemaraham Abdullah ibn Ubay ibn Salûl (yang kata data-data Sunni disebut sebagai gembong kaum Munafik) yang iia tuang dalam kata-kata busuk yang mengejek-ejek dan mengancam untuk mengusir Nabi saw. dan kaum Muslim dari kota Madinah. Kemdian setelah ucapannya yang menjelaskan kekentalan kemunafikannya iitu dilaporkan kepada Nabi saw. dan beliau pun menegurnya lalu Abdullah ibn Ubay pun mengelak dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan apa-apaun seperti yang dilaporkan kepada beliau.

Menyikapi kekejian kata-kata Abdullah ibn Ubay ibn Salûl sebagai sahabat lainnya (khususnya Umar ibn al Khaththâb) meminta (atau mengslkan) agar Nabi saw. memerintah untuk membunuh saja Abdullah ibn Ubay si gembong munafik iitu. Tetapi mereka (dan saya yakin, kaum awam Sunni yang selama ini menjadi korbar pembuutaan) benar-benar dikejutkan dengan jawaban Nabi saw.

Apa jawaban Nabi saw. terhadap Umar yang mengusulkan agar Abdullah ibn Ubay dibunuh saja?

Perhatikan keterangan yang diabadikan para ulama Islam di bawah ini;

Ibnu Jarir ath Thabari, al Baghawi, al Khâzin, Ibnu Katsîr, as Suyûthi, asy Syaukâni dll menyebutkan banyak riwayat: bahwa ketika Umar berkata kepada Nabi, ‘Wahai Nabi, perintahkan Mu’âdz ibn Jabal agar memenggal kepala si munafik itu!’ Maka Nabi saw. menjawab:

لا يتَحَدَّثُ الناسُ أَنَّ مُحمدًا يَقْتُلُ أَصْحابَهُ.

“Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad mebunuh para sahabatnya.”

Riwayat di atas dengan berbagai jalur dan perincian pristiwanya dapat Anda baca dalam :

1) Tafsir ath Thabari, ayat 8 surah al Munâqûn,28/112-115.

2) Tafsir al Baghwi,7/99.

3) Tafsir al Khizin,7/99.

4) Tafsir Ibnu Katsîr,4/370.

5) Tafsir asy Syaukâni,5/233.

Dan banyal lainnya.

Ibnu Jakfari berkata:

Nah, kini jelaslah bagi kita bahwa kaum munafik juga disebut Nabi saw. sebagai Sahabat beliau!

============================================================================

Sebuah Renungan Terhadap Konsep Keadilan Sahabat

Diantara doktrin yang tak henti-hentinya ditalqinkan olehjumhûrpenganut mazhab Ahlusunnah, khususnya yang Sunni Plus/Nashîbi(Ekstrimis Wahhâbi/Salafi) adalah bahwa seluruh sahabat[1]Nabi saw. adalah bersifat ‘Udûl(baik, tidak mungkin jahat dan menyengaja melanggar syari’at tanpa dasar). Dan barang siapa yang meragukan doktrin ini akan berhadapan dengan Pasukan Pembela Sahabat yang siap meluncurkan edisi fatwa terekstrim:Zindiq, Kafirdll!

Apabila ada yang mengatakan bahwa sahabat A atau B itu fasik apalagi munafik mereka segera menuduh Anda telah terpengaruh oleh Abdullah Ibnu Saba’ (si aktor Yahudi yang merusak Islam dengan menjelak-jelekkan para sahabat)…. Menuduh Anda berusaha meruntuhkan risalah agama dengan mencacat para pengembannya. Demikianlah doktrin itu dicekokkan di hampir setiap kesempatan, khususnya di pengajian atau pengkajian yang bernuansa menghujat ajaran Syi’ah!

Saya tidak pedulu dengan itu semua. Karena masalah ini telah lama menjadi bahan perdebatan mandul antara mereka yang menganut “Mazhab Pokoknya” dan para kritikus sejarah. Saya hanya mengajak Anda merenungkan beberapa catatan yang mungkin dapat membuka mata hati dan pikiran Anda (bukan mereka yang menganut “Mazhab Pokoknya”. Sebab bagi mereka apapun yang dapat meruntuhkan doqma mazhab mereka harus disingkirkan jauh-jauh….Ayat-ayat Al Qur’an yang membombardir doqma mazhab mereka harus dilawan.Sesekali ditakwil dan sesekali dilupakan!Hadis-hadis palsu pun yang tak henti-hentinya diproduksi di masa subur pemalsuan. Dan diobral untuk mengggertak kaum awam di masa kini! Data-data sejarah pun harus diabaikan dan diragukan bahkan dibohongkan…Pokoknya, semua sahabat harus adil!Titik!!

Jangan-jangan Nabi saw. ”Agak Terpengaruh” Syi’ah!

Ketika mereka dikagetkan dengan banyak hadis Nabi saw. yang membongkar bahwa di antara sahabat-sahabat beliau tenyata ada yang munafik, (walaupun tidak semestinya mereka kaget sebab Al Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang membongkar kemunafikan sebagian sahabat, bahkan yang dekat sekalipun)… ketika memergoki hadis-hadis seperti itu dalam kitab-kitab hadis standar mungkin terbesit dalam kepala sebagian awam (yang sudah “tercerahkan” oleh doktrin “Mazhab Pokoknya”): jangan-jangan Nabi saw. sendiri sudah terpengaruh fitnah Syi’ah Sabaiyyah?! Atau jangan-jangan Nabi saw’ agak berpihak kepada kaum Syi’ah?!

Imam Ahmad dan para muhaddistîn lain telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

إنَّ فِي أصحابِي مُنافِقِيْنَ.

“Di antara para sahabatku ada yang munafik.”[2]

Atau sabda Nabi saw.“Di antara sahabatku ada dua belas orang munafik, delapan di antaranya tidak pernah masuk surga sehingga onta memasuki lubang jarum.”Seperti diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya[3].

Jumlah kaum munafik di antara sahabat Nabi saw. tidaklah sedikit. Terbukti bahwadalam peperangan Uhud, Abdullah ibn Ubay ibn Salûl –gembong kaum Munafikin- membelot bersama tiga ratusan prajurit dari total jumlah prajurit sekitar seribut personil.[4]Akan tetapi karena satu dan lain hal, identitas sebagian mereka dirahasiakan demi menjaga nama baik mereka… akan tetapi ketika mereka tidak termasuk kelompok “Saqifah Group” maka kekebalan itu tidak lagi dipertahankan! Nama mereka akan disebutkan! Kedok kemunafikan mereka segera dibongkar. Mereka dijadikan tumbal untuk keselamatan teman-teman lainnya! Karenanya kaum munafik dari kalangan Anshar dibongkar kedok kemunafikan mereka, sementara kaum munafik dari kaum Quraisy dirahasiakan identitas mereka!

Ibnu Hisyam Membongkar Kedok Kemunafikan Kaun Ashar!

Gelar Anshar yang artinya para pembela kini tak lagi sakral. Kaum Anshar yang dikenal membela perjuangan da’wah Nabi saw. yang untuk mereka beberapa ayat turun memuji ketulusan keimanan dan perjuangan mereka, kini dibongkar data-data yang menaburkan keraguan atas mereka. Kaum Anshar ternyata tidak semuanya seperti yang kita bayangkan selama ini!

Ibnu Hisyam melaporkan dalam Sirahnya yang sangat terkenal itu di bawah judul pasal:Man Ijtama’a Ilâ al Yahûd Min Munafiqî al Anshâr/Kaum Munafik dari kalangan Anshar yang bergabung dengan kaum Yahudi, pada laporannya itu ia mengatakan:

  • “(Dari bani ‘Amr)

Ibnu Ishaq berkata, “Dan di antara kaum munafik dari suku Aus dan Khazraj[5]yang bergabung dengan kaum Yahudi –dalam persekongkolan mengkhianati Nabi saw.- yang nama-nama mereka disampaikan kepada kami adalah (Allah Maha Mengetahui): dari suku Aus tepatnya dari keluarga bani ‘Amr ibn Auaf ibn Mâlik ibn Aus kemudian dari suku bani Laudzân ibn ‘Amr ibn Auf adalah: Zuwai ibn al Hârits.

  • (Dari suku bani Habîb)

Dan dari suku bani Habîb ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah Julâs ibn Suwaid ibn Shâmid dan saudaranya yang bernama al Hârits ibn Suwaid.

Sekilas Tentang Julâs ibn Suwaid

Julâs adalah orang yang berkata -ketika ia membelot dari rombongan pasukan nabi dalam peperangan Tabûk-, “Jika orang ini (Nabi saw. maksudnya) benar, pastilah kita ini lebih jahat/jelek dari keledai.” Lalu ucapannya ini dilaporkan kepada Nabi saw. oleh ‘Umair ibn Sa’ad (anak tirinya sendiri). Lalu setelah dipanggil Nabi saw. dan ditanyakan kepadanya atas ucapannya itu, ia mengelak dengan bersumpah bahwa ia tidak mengatakannya. Lau turunlan beberapa ayat tentangnya:

.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ ما قالُوا وَ لَقَدْ قالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا وَ ما نَقَمُوا إِلاَّ أَنْ أَغْناهُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْراً لَهُمْ وَ إِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذاباً أَليماً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ ما لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصيرٍ

.

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. At Taubah [9];74)

Sekilas Tentang al Hârits ibn Suwaid

Ia bergabung bersama pasukan kaum Muslim dalam peperangan Uhud dalam keadaan munafik, kemudian dia membunuh dua orang Muslim; al Mujadzdzar ibn Diyâb al Balwi dan Qais ibn Zaid[6], karena dahulu di sa’at terjadi peperangan di masa jahiliyah antara suku Aus dan Khazraj, al Mujadzdzar membunuh ayahnya. Dan setelahnya ia melarikan diri bergabung dengan kaum kafir Quraisy.[7]

  • (Dari suku bani Dhabî’ah)

Dan dari suku bani Dhabî’ah ibn Zaid ibn Mâlik ibn ‘Auf ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah: Bijâd ibn Utsman ibn ‘Âmir.

  • (Dari suku bani Ladzân)

Dan dari suku bani Ladzân ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah Nabtal ibn al Hârits. Dialah yang Nabi saw. bersabda tentangnya,“Barang siapa ingin menyaksikan setan maka hendaknya ia melihat Nabtal ibn al Hârits.”Dialah yang gemar menukil pembicaraan Nabi saw. kepada rekan-rekan kaum munafiknya dan mengejek Nabi saw. dengan ejekan bahwa beliau adalah bak telinga yang tak mampu membedakan omongan apapun, semuanya ia terima!

Maka Allah SWT menurunkan ayat:

.

وَ مِنْهُمُ الَّذينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَ يَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ يُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنينَ وَ رَحْمَةٌ لِلَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ

.

“Di antara mereka (orang- orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:” Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:” Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang- orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang- orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang- orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At Taubah [9];61)

  • (Dari suku bani Dhabî’ah)

Dan dari suku bani Dhabî’ah[8]adalah 1) Abu Habîbah ibn al Az’ar. -dia termasuk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhirâr-, 2) Tsa’labah ibn Hâthib, 3) Mu’tab ibn Qusyair- kedua orang ini yang berjanji jika ia diberi kelapangan rizki untuk bersedekah dan menjadi orang-orang yang shaleh. Tsa’labah ini yang berbicara ketika perang Uhud berkecamuk, “Andai kita punya kekuasaan pastilah kita tidak terbunuh di sini.” Maka Allah SWT menurunkan ayat mengecam sikapnya:

.

وَ طائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْ‏ءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ في‏ أَنْفُسِهِمْ ما لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كانَ لَنا مِنَ الْأَمْرِ شَيْ‏ءٌ ما قُتِلْنا هاهُنا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ في‏ بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلى‏ مَضاجِعِهِمْ وَ لِيَبْتَلِيَ اللَّهُ ما في‏ صُدُورِكُمْ وَ لِيُمَحِّصَ ما في‏ قُلُوبِكُمْ وَ اللَّهُ عَليمٌ بِذاتِ الصُّدُورِ

.

“… sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata:” Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini” Katakanlah:”Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:” Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu) hak campur tangan (dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah:” Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang- orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Âlu “imrân [3];154)

Dan dialah yang juga berkomentar miring pada hari peperangan Ahzâb/Khandaq, “Muhammad menjanjikan kita untuk menikmati harta simpanan raja Kisra dan Kaisar, sementara seorang dari kita kini tidak merasa aman atas dirinya ketika pergi ke tempat buang air. Maka Allah SWT menurunkan ayat:

.

وَ إِذْ يَقُولُ الْمُنافِقُونَ وَ الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ ما وَعَدَنَا اللَّهُ وَ رَسُولُهُ إِلاَّ غُرُوراً

.

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb [33];12(

4) al Hârits ibn Hâthib.

Ibnu Jakfari berkata:

Sebagian orang –termasuk Ibnu Hisyâm- meragukan bahwa Mu’tab dan kedua putra Hâthib adalah termasuk kaum munafik, dengan satu alasan yang terkesan lugu yaitu karena mereka ikut serta dalam perang Badr. Akan tetapi jujur saja harus dikatakan bahwa tidak alasan yang meinscayakan bahwa tidak mungkin seorang pun dari yang ikut serta dalam peperangan Badr itu munafik! Mungkin anggapanj itu didasarkan kepada sebuah riwayat yang sangat ganjil dari sisi kandungannya konon diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,“Bisa jadi Allah telah menyaksikan para peserta peperangan Badr lalu berfirman, ‘lakukan sekehandak kalian, Aku telah ampuni kalian semua.’”

Selain mereka, Ibnu Hisyam juga menyebutkan nama-nama sebagai berikut: 5) ‘Abbâd ibn Hunaif saudara Sahl ibn Hunaif, 6) Bahzaj. Mereka termasuk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhihrâr. 7) ‘Amr ibn Khidâm dan 8.). Abdullah ibn Nabtal.

  • (Dari bani Tsa’labah)

Dan dari suku bani Tsa’labah ibn ‘Amr ibn ‘auf adalah: 1) Jâriyah ibn ‘Âmir ibn al ‘Aththâf, dan keduan putranya 2) Zaid dan 3) Mujamma’. Mereka termasduk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhihrâr.

Catatan Penting!

Yang sangat membingungkan adalah laporan Ibnu Hisyâm bahwa Mujamma’ adalah seorang pemuda cerdas yang telah menghafal hampir seluruh Al Qur’an. Dialah yang bertindak sebagai imam dalam shalat di masjid Dhirâr itu. Dan di masa kekhalifahan Umar ibn al Khaththâb ada usulan agar ia diangkat kembali menjadi imam shalat, tetapi Umar menolak dengan alasan:“Bukankah ia adalah imamnya kaum munafikin di masjid Dhirâr!”Dan setelah ia berasalan di hadapan Umar bahwa ia tidak tau apa-apa tentang niatan jahat mereka. Ia hanya diminta memimpin mereka shalat maka ia lakukan, maka Umar pun mengizinkan kembali.

Ibnu Jakfari berkata:

Selain nama-nama yang telah saya sebutkan banyak nama lainnya yang dibongkar Ibnu Hisyâm dalam kitabSirâh-nya hal mana menimbulkan pertanyaan serius,bagaimana di kalangan sahabat Anshar kok ada yang munafik? Bukankah mereka semua itu ‘udûl?Lalu bagaimana nasib doktrin yang selama ini disakralkan bahwa semua sahabat Nabi saw. itu‘udûl?

Lalu apakah ada pula kaum munafik dari suku Quraisy yang selama bertahun-tahun getol memerangi Nabi Muhammad saw. dan hanya terpaksa berhenti berterang-terangan memerangi Nabi saw. ketika mereka ditaklukkan dengan ditaklukkannya kota suci Mekkkah?

Sementara ada ayat yang sangat serius turun untuk sebagian mereka, khususnyaaimmatul kufri, para pembesar kafir Quraisy yang selalu menjadi pelopor dalam memerangi Nabi saw…

Allah SWT berfirman:

.

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوْبِهمْ وَ عَلَى سَمْعِهِمْ وَ عَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَ لَهُمْ عَذَابٌ عظِيْمٌ

.

“Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak; mereka tidak akan beriman* Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. ” (QS. Al Baqarah [2];6-7)

Para mufassirin, di antaranya adalah Ibnu Jarîr ath Thabari, Ibnu Mundzir dan ibnu Abi Hâtim meriwayatkanbahwa kedua ayat ini turun berkaitan dengan para pembesar kafir Quraisy, di antaranya adalah Abu Sufyân[9](ayah Mu’awiyah dan kakek Yazid serta suami Hindun si pengunyah jantung Sayyidina Hamzah; paman Nabi saw.) dan al Hakam ibn al ‘Âsh (moyang para penguasa bani Marwân/dinasti Umayyah)[10].

Jadi pertanyaan yang mungkin muncul ialah: mungkinkah orang-orang yang oleh Allah divonis tidak akan beriman:Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak;mereka tidak akan beriman,dan telah dikabarkan bahwaAllah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup, mungkinkah mereka itu akan beriman dengan sepenuh hati?

Mereka tidak mungkin akan beriman dengan tulus walaupun mereka mengikrarkannya dengan lisan!

Selain itu, Anda berhak mempertanyakan, mengapakah hanya kaum Anshar saja yang menjadi bulan-bulanan pembongkaran data kemunafikan ini?

Dan terakhir yang menarik untuk diteliti adalahmengapakah maraknya terma munafik dan kenufikan itu hanya ada di masa hidup Nabi saw. saja, sementara, sepeninggal beliau seakan tidak ada lagi kaum munafikin! Lalu kemanakah mereka itu?

Apakah mereka kini, sepeninggal Nabi saw. mendadak berubah menjadi kaum Mukminin yang tulus keimanannya?

Lalu apakah yang menghalangi mereka di masa hidup Nabi saw. untuk menjadi mukmin sejati?

Apakah keberadaan Nabi saw. di tengah-tengah mereka dengan serba-serbi mu’jizat yang beliau miliki jusretu menghalangi mereka dari beriman dengan tulus?

Mengapa? Mungkinkah keberadaan beliau ssaw. menjadi penghalang bagi keimanan mereka?

Jika keberadaan Nabi saw. menjadi penghalang bagi keimanan mereka, lalu siapakah yang dapat menjadi pelancar keimanan kaum munafikin itu?

Atau justru, kekuasaan menuntut kita untuk merahasiakan nama dan data kaum munafik, karena mereka kini berpartisipasi dalam kabinet gotong royong pemerintahan “Saqifah Group”?

Atau kini kemunafikan telah tidak lagi menjadi trend yang digemari kaum munafikin, sebab berterang-terang dalam menampakkan kekafiran tidak menjadi apa-apa, ia sudah menjadi fenomena biasa yang ditoleransi?

Atau ada alasan lain,lastu adri!

Wallahu A’lam Bihaqîqatil Umûr.


[1]Para ulama Ahlsunnah mendefenisikan Sahabat dengan:Setiap orang yang melihat Nabi saw. dalam keadaan Muslim walaupun hanya melihatnya sebentar saja.Lebih lanjut baca: Syarah Imam Nawawi atas Shahih Muslim,16/85.[2]Musnad Ahmad,4/83 hadis dengan nomer urut:16810 dan Musnad ath Thayâlisi,1/128 hadis dengan nomer urut:949.

[3]Shahih Muslim,4/2143 hadis dengan nomer urut 2779.

[4]Târîkh ath Thabari,2/60. Demikian juga dalam peparangan Tabûk ada sekitar delapan puluh sahabat sengaja absen tidak mau ikut serta bergabung bersama pasukan kaum Muslimin. (BacaFathu al Bâri,8/113).

[5]Suku Aus dan Khazraj adalah dua suku yang membentuk masyarakat kota madinah yang menyambut Nabi saw… yang kemudian mereka disebut dengan nama Al anshar.

[6]Ada yang mengatakan bahwa ia hanya membunuh al Mujadzdzar seorang.

[7]Ketarngan selengkapnya dipersilahlkan dirujuk dalam Sirah Ibnu Hisyam.

[8]Bisa jadi ia bukan suku bani Dhabî’ah ibn Zaid yang telah disebutkan sebelumnya.

[9]Para sejarawan Islam seperti ath Thabari melaporkan bahwa dalam peperangan Hunain, ketika Abu Sufyan ikut serta bersama para sahabat lainnya (tentunya setelah ia mengikrarkansyahadataindengan lisan kerena terpaksa sebagai syarat formal menjadi sahabat Nabi saw. yang diyakini kaadilannya oleh Ahlusunnah), ia menanti-nantikan saat kekalahan kaum Muslimin dan ia selalu membawa sertaazlâm, arca-arca kecil sesembahannya. (Târîkh ath Thabari,2/168). Abu Sufyan, Hakîm ibn Hizâm dan Shafwân ibn Umayyah –mereka adalah gembong kagfir Quraisy yang terpaksa mengikrarkan syahadatain- mereka menanti-nanti kekalahan atas kaum Muslimin. (Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,7/418 hadis dengan nomer urut:36996.)

[10]Dalam banyak hadis, seperti diriwayatkan ulama dari Aisyah dan lain bahwa Nabi saw. telah mengutuk al Hakam dan Marwan anaknya serta keturunan dari sulbinya.

========================================================================

Sahabat Nabi Yang Membunuh Ammar bin Yasir RA

Bukankah mencela sahabat Nabi SAW itu tidak dibolehkan?. Benar, tidak hanya sahabat Nabi tetapi mencela sesama Muslim itu tidak dibolehkan. Apalagi membunuh, tentu tidak boleh lagi. Kenyataan pahit dalam sejarah Islam adalahpara generasi awal umat ini yaitu para Sahabat ternyata mengalami perselisihan sampai ke taraf memerangi dan membunuh.Sangat tidak mungkin kalau sejarah seperti ini mau ditutup-tutupi atau dinyatakan seolah tidak ada apa-apa.

Sebagian pihak tidak senang kalau sejarah seperti ini dibicarakan karena tidak ada gunanya membicarakan perselisihan para Sahabat. Mereka menganggap bahwa semua sahabat diridhai Allah SWT,semua sahabat tidak layak untuk dikritik atau dinyatakan salah karena itu berarti sudah mencela sahabat Nabidan hal ini jelas diharamkan menurut mereka. Jika sahabat melakukan kesalahan maka itu berarti sahabat berijtihad dan sebagaimana ijtihadjika benar dapat dua pahala dan jika salah satu pahala. Intinya pihak tersebut akan selalu memuliakan sahabat walau bagaimanapun perilakunya. Sehingga jika orang sudah dicap sahabat maka semua perilakunya berpahala. Duhai alangkah anehnya, apakah jikasahabat menghina Ahlul Bait, meminum khamar, dan murtadmaka itu dikatakan ijtihad?.Alangkah kacaunya orang yang mengatakan bahwa tindakan seperti itu berpahala hanya karena yang melakukannya adalah seorang Sahabat Nabi.Silakan renungkan

Kali ini kami akan mengajak para pembaca untuk kembali ke peristiwa bersejarah yaitu Perang Shiffin.Pada perang ini Imam Ali AS dan sahabat yang mengikuti Beliau berperang dengan Muawiyah dan sahabat yang mengikutinya. Di antarasahabat Nabi yang setia pada Imam Ali adalah Ammar bin Yasir RA. Beliau adalah Sahabat yang mulia dimanaRasulullah SAW pernah bersabda bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.Sejarah membuktikan bahwa Ammar RA syahid dalam perang Shiffin. Hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa dalam Perang ShiffinImam Ali berada dalam kebenaran dan Muawiyah serta pengikutnya merupakan kelompok pembangkang.Kematian Ammar RA mengundang kecemasan di kalangan pengikut Muawiyah sehingga untuk menenangkan pengikutnyaMuawiyah memberikan ta’wilan yang batil bahwa Yang membunuh Ammar RA adalah orang yang membawanya ikut berperang.Dengan perkataan itu Muawiyah ingin melemparkan kesalahan kepada Imam Ali AS, sungguh perilaku yang bisa dibilang tidak terpuji.

Riwayat ini salah satunya disebutkan dalamMusnad Ahmad2/161 no 6499

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن عبد الرحمن بن زياد عن عبد الله بن الحرث قال اني لأسير مع معاوية في منصرفه من صفين بينه وبين عمرو بن العاص قال فقال عبد الله بن عمرو بن العاصي يا أبت ما سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعمار ويحك يا بن سمية تقتلك الفئة الباغية قال فقال عمرو لمعاوية ألا تسمع ما يقول هذا فقال معاوية لا تزال تأتينا بهنة أنحن قتلناه إنما قتله الذين جاؤوا به

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Harits yang berkata “Aku berjalan bersama Muawiyah sepulang dari Shiffin dan juga bersama Amru bin Ash. Abdullah bin Amru bin Ash berkata “wahai ayah tidakkah kau mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ammar “Kasihan engkau Ibnu Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Amru berkata kepada Muawiyah “Tidakkah engkau dengar perkataannya”. Muawiyah berkata “Ia selalu bermasalah bagi kita, apakah kita yang membunuh Ammar?. Sesungguhnya yang membunuhnya adalah orang yang membawanya”.

Syaikh Syuaib Al Arnauth dalamSyarh Musnad Ahmadtahqiqnya berkata tentang hadis ini“sanadnya shahih”. Begitu pula Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadtahqiq Beliau juga menyatakanhadis ini shahih. Siapa sebenarnya orang dalam kelompok Muawiyah yang membunuh Ammar bin Yasir RA?. Para ulama telah menyebutkan bahwaorang yang membunuh Ammar bin Yasir adalah Abu Ghadiyah Al Juhanidan tahukah anda siapa dia?. Para ulama menyebutnya sebagaiSahabat Nabi SAW.

Ibnu Hajar dalamAl Ishabah7/311 no 10365 memuat biografi Abu Ghadiyah Al Juhani dan menyebutkan

وقال الدوري عن بن معين أبو الغادية الجهني قاتل عمار له صحبة

Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “Abu Ghadiyah Al Juhani orang yang membunuh Ammar dan dia seorang Sahabat Nabi”.

Al Bukhari berkata dalamTarikh Al Kabirjuz 8 no 3557

أبو غادية الجهني سمع النبي صلى الله عليه وسلم

Abu Ghadiyah Al Juhani mendengar langsung dari Nabi SAW.

Ibnu Abdil Barr dalamAl Isti’ab4/1725 dan Ibnu Atsir dalamUsud Al Ghabah5/534 juga mengatakan bahwaAbu Ghadiyah seorang sahabat Nabi yang membunuh Ammar bin Yasir RA.Adz Dzahabi dalamTarikh Al Islam4/135 menyebutkan biografi Abu Ghadiyah Al Juhani dan menyebutkan

وقال الدار قطني وغيره هو قاتل عمار بن ياسر يوم صفين

Daruquthni dan yang lainnya berkata “Dia adalah orang yang membunuh Ammar bin Yasir pada perang Shiffin”.

Tahukah anda pahala apa yang akan didapat oleh orang yang membunuh Ammar?. Rasulullah SAW pernah bersabda

قاتل عمار و سالبه في النار

Yang membunuh Ammar dan menjarah( harta)nya akan masuk neraka

Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits As Shahihahno 2008 danShahih Jami’ As Shaghirno 4294. Jika memang para Ulama menyebutAbu Ghadiyah sebagai Sahabat Nabi SAW yang membunuh Ammar bin Yasir RAmaka tidak salah untuk dikatakan bahwa perbuatan Abu Ghadiyah itu telah mengantarkannya ke neraka.

============================================================================

Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait

Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait yaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi mereka. Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa Beliau akan memerangi siapapun yang memerangi Ahlul Bait dan berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan Ahlul Bait.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalamSunan Ibnu Majah1/52 no 145

حدثنا الحسن بن علي الخلال وعلي بن المنذر قالا حدثنا أبو غسان حدثنا أسباط بن نصر عن السدي عن صبيح مولى أم سلمة عن زيد بن أرقم قال- قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي وفاطمة والحسن والحسين أنا سلم لمن سالمتم وحرب لمن حاربتم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khallal dan Ali bin Mundzir yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan yang berkata telah menceritakan kepada kami Asbath bin Nashr dari As Suddi dari Shubaih mawla Ummu Salamah dari Zaid bin Arqam yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain “Aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian”.

Hadis di atas juga diriwayatkan dalamMushannafIbnu Abi Syaibah6/378 no 32181,Shahih Ibnu Hibban15/433 no 6977,Sunan Tirmidzi5/699 no 3870, Ath Thabrani dalamMu’jam Al Kabir3/40 no 2619,Mu’jam Al Kabir5/184 no 5030,Mu’jam As Shaghir2/53 no 767, danMu’jam Al Awsath5/182 no 5015.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis Hasan.Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis sedangkan Shubaih adalah seorang tabiin mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam.

  • Hasan bin Ali Al Khallal, Perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. DalamAt Tahdzibjuz 2 no 530 disebutkan kalauia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, An Nasa’i, Al Khatib dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/207 menyatakania tsiqat.
  • Ali bin Mundzir, Perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 7 no 627 bahwaia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4803 menyatakanAli bin Mundzir tsiqat.
  • Malik bin Ismail, dengan kuniyah Abu Ghassan adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. DalamAt Tahdzibjuz 10 no 2ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban, Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Syahin.Ibnu Sa’ad dan Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/151 menyatakanAbu Ghassan tsiqah.
  • Asbath bin Nashr adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. DalamTarikh Ibnu Ma’inriwayat Ad Dawri no 1251Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqah. DalamAt Tahdzibjuz 1 no 396 disebutkan kalau ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalamAts Tsiqat, Bukhari menyatakania shaduq (jujur)dan Musa bin Harun berkata“tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Syahin juga memasukkan namanya dalamTarikh Asma Ats Tsiqatno 101. Sebagian orang mencacatnya diantaranya An Nasa’i yang berkata“laisa bi qawy (tidak kuat), Abu Nu’aim dan As Saji tetapi mereka tidak menyebutkan alasan pencacatannya sehingga pernyataan ta’dil terhadap Asbath bin Nashr lebih layak untuk diterima. Adz Dzahabi memasukkan namanya dalamMan Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaqno 27.
  • Ismail As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. DalamAt Tahdzibjuz 1 no 572ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Ibnu Hibban. An Nasa’i berkata“tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Ady menyatakania hadisnya lurus jujur dan tidak ada masalah dengannya. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/97 menyatakan ia jujur terkadang salah tetapi dikoreksi dalamTahrir At Taqribno 463 bahwa sebenarnyaAs Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam. Ibnu Hibban menyebutkannya dalamAts Tsiqatjuz 4 no 3462. Ibnu Hajar dalamAl Ishabah3/405 no 4037 menyebutkan bahwaia gurunya As Suddi dan ia seorang tabiin. Al Bukhari menyebutkannya dalamTarikh Al Kabirjuz 4 no 2972 tanpa menyebutkan jarh atau cacat padanya. Ibnu Abi Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil4/449 juga menuliskan keterangan tentangnya tanpa sedikitpun menyatakan cacatnya. At Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal, pernyataan ini tidak perlu diperhatikan karena telah disebutkan banyak ulama yang menulis keterangan tentangnya bahkan Adz Dzahabi dalamAl Kasyfno 2371 juga memberikanpredikat ta’dil padanya. Shubaih seorang tabiin dan tidak ada satupun ulama yang mencacatkan dirinya dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan mendapat predikat ta’dil dari Adz Dzahabi. Oleh karena ituhadisnya lebih tepat dinilai hasan.

Keterangan mengenai para perawinya menunjukkankalau hadis ini adalah hadis yang hasan. Syaikh Al Albani dalamShahih Jami’ As Shaghirno 1462 menyatakan bahwa hadis ini hasan tetapi anehnya beliau malah mendhaifkan hadis tersebut dalamDhaif Sunan Ibnu MajahdanDhaif Sunan Tirmidzi. DalamSilsilah Ahadist Ad Dhaifahno 6028 ternyata Syaikh Al Albani menyatakan bahwa ia rujuk dari pandangannya dalam Shahih Al Jami’. Menurut beliau hadis tersebut dhaif dan mesti dipindahkan keDhaif Jami’ As Shaghir. Mari kita ikuti telaah Syaikh Al Albani

.

.

Tinjauan Pencacatan Syaikh Al Albani

Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6028 ketika membahas hadis ini telah membawakan 3 jalan hadis yaitu

  • Hadis Shubaih mawla Ummu salamah
  • Hadis Abu Hurairah
  • Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih

Hadis Shubaih di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani karena Shubaih mawla Ummu Salamah. Syaikh mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal nasabnya kemudian Syaikh mengutip Ibnu Ady(dalam Al Kamil 4/86)yang menuliskan keterangan tentang“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”.Dalam kitab tersebut disebutkan kalau Shubaih seorang pendusta.

Tanggapan kami: Hujjah syaikh Al Albani sungguh tidak bernilai dan terkesan dicari-cari. Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dalamAl Kamil4/86 bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah tetapiShubaih yang tidak dikenal nasab maupun hadis-hadisnya.Bukti kalau Shubaih mawla Ummu Salamah bukanlah Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady adalah

  • Shubaih mawla Ummu Salamah meriwayatkan hadis dari Zaid bin Arqam(berdasarkan keterangan dari kitab-kitab biografi perawi)sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dikenal hadisnya yaitu hadis keutamaan Ahlul Bait di atas sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dikatakan oleh Ibnu Ady sendiri bahwa ia tidak dikenal hadis-hadisnya.

Ibnu Ady dalamAl Kamilhanya mengutip Yahya dan Abu Khaitsamah yang menyatakanbahwa ada seseorang bernama Shubaih yang tidak dikenal nasabnya meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah dan dia seorang pendusta. Syaikh Al Albani dengan seenaknya mendugabahwa Shubaih mawla Ummu Salamah adalah Shubaih yang dimaksud. Bagaimana bisa Yahya dan Abu Khaitsamah menyatakan Shubaih yang tidak dikenal nasabnya itu sebagai seorang pendusta?. Jawabannya tidak lain dari hadis-hadis yang diriwayatkan Shubaih yang sampai kepada mereka yaitu hadis Shubaih dari Utsman dan Aisyah. Tetapi sayang sekali hadis-hadis Shubaih ini tidaklah tercatat dalam kitab-kitab hadis sehingga Ibnu Ady berkata“tidak dikenal hadis-hadisnya”. Oleh karena itu tidak bernilai sedikitpun menjadikan riwayat Ibnu Ady tersebut sebagai hujjah untuk melemahkan Shubaih mawla Ummu Salamah.Tidak ada bukti sedikitpun kalau“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”adalah Shubaih mawla Ummu Salamah

Kalau memang mau menuruti logika Syaikh Al Albani maka kita dapat menemukan Shubaih lain yang juga satu thabaqah dan lebih cocok untuk dinisbatkan dengan“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitabTabshir Al Muntabah3/882 Ibnu Hajar menyebutkan nama-nama Shubaih dan diantaranya ada Shubaih mawla Ummu Salamah kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan Shubaih lain

صبيح، عن عثمان، وعنه أبو عون الثقفي

Shubaih yang meriwayatkan dari Utsman dan meriwayatkan darinya Abu ‘Aun Ats Tsaqafi

DalamTahdzib Al Kamalno 5433 biografi Muhammad bin Ubaidillah bin Sa’id Abu ‘Aun Ats Tsaqafi, Al Mizzi menyebutkan bahwaAbu ‘Aun meriwayatkan dari Shubaih sahabat Utsman. Shubaih ini lebih cocok dinisbatkan dengan“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”dalam Al Kamil Ibnu Ady karena mereka sama-sama meriwayatkan hadis dari Utsman. KesimpulannyaShubaih yang dikatakan pendusta dalam Al Kamil Ibnu Ady bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah.

Kedua hadis lainnya yaitu hadis Abu Hurairah dan hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani. Hadis Abu Hurairah dinyatakan dhaif karena dalam sanadnya terdapatTalid bin Sulaimanyang dikenal dhaif sedangkan dalam hadis Muslim bin Shubaih di dalamnya terdapatHusain bin Hasan Al Urani yang tidak dikenal oleh Syaikh sehingga ia menduga bahwa orang tersebut adalah Husain bin Hasan Al Asyqar.

Tanggapan kami: Pernyataan dhaif terhadap Talid bin Sulaiman patut diberikan catatan karena ia adalah Syaikh atau gurunya Ahmad bin Hanbal dimanaAhmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dari orang yang dikenal tsiqah menurutnya. DalamTahdzibjuz 1 no 948 disebutkan kalauAhmad bin Hanbal, Al Ajli dan Muhammad bin Abdullah bin Ammar menyatakan tidak ada masalah dengannya.Memang banyak ulama yang mengecam Talid menuduhnya pendusta dikarenakan ia mencaci sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Lucunya kalau ada perawi lain yang mencaci Ali bin Abi Thalib(seperti Hariz bin Utsman Al Himsh), hal itu malah tidak merusak kredibilitas perawi tersebut dan ia tetap dinyatakan tsiqah. Sungguh suatu inkonsistensi yang layak dibuat bahasan tersendiri, tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kemudian Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih memang sanadnya dhaif tetapi perawi yang dimaksud bukanlah Husain bin Hasan Al Urani seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani tetapi dia adalah Hasan bin Husain Al Urani seperti yang diriwayatkan dalamAmali Al Muhamili2/36 no 515. Biografinya disebutkan dalam Al Mizan dan jelas sekali ia bukan Husain bin Hasan Al Asyqar.

.

.

Kesimpulan

Pada dasarnya kami tidak menjadikan Hadis Abu Hurairah dan Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih sebagai hujjah. Kami berhujjah denganhadis Shubaih mawla Ummu Salamah di atas yang merupakan hadis hasansedangkan pencacatan Syaikh terhadap Shubaih tidak bernilai dan hanyalah pencacatan yang dicari-cari untuk melemahkan hadis tersebut.

=======================================================================

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

=========================================================================

Kedudukan Hadis “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”.

Dalam tulisan kali ini akan dibahas contoh lain kesinisan salafy dalam menyikapi hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban syiahphobia yang menjangkiti para ulama.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عامر بن السبط قال حدثني أبو الجحاف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا علي انه من فارقني فقد فارق الله ومن فارقك فقد فارقني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Amir bin As Sibth yang berkata telah menceritakan kepadaku Abul Jahhaf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang memisahkan diri dariMu maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

Hadis dengan sanad diatas diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalamFadhail As Shahabahno 962. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalamAl Mustadrakno 4624 dan no 4703, Al Bukhari dalamTarikh Al Kabirjuz 7 no 1431 biografi Muawiyah bin Tsa’labah, Ibnu Ady dalamAl Kamil3/82 dan Al Bazzar dalamMusnad Al Bazzarno 4066. Berikut sanad riwayat Al Bazzar

حدثنا علي بن المنذر وإبراهيم بن زياد قالا نا عبد الله بن نمير عن عامر بن السبط عن أبي الجحاف داود عن أبي عوف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضي الله عنه قال قال رسول الله لعلي يا علي من فارقني فارقه الله ومن فارقك يا علي فارقني

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mundzir dan Ibrahim bin Ziyad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Amir bin As Sibth dari Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Wahai Ali siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang mmisahkan diri dariMu Ali maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini sanadnya shahih, telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya sebagaimana yang dikatakan Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid9/184 no 14771 setelah membawakan hadis Abu Dzar RA di atas

رواه البزار ورجاله ثقات

Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya tsiqat.

Al Hakim telah mnshahihkan hadis ini dalam kitabnyaAl Mustadrakno 4624 dan memang begitulah keadaannya. Berikut keterangan mengenai para perawi hadis tersebut

  • Ali bin Mundzir disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 7 no 627 bahwaia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4803 menyatakanAli bin Mundzir tsiqat.
  • Abdullah bin Numair, disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 6 no 110 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh para ulama seperti Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/542 menyatakania tsiqah.
  • Amir bin As Sibth atau Amir bin As Simth, Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 108 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id, Ibnu Hibban, An Nasa’i dan Ibnu Ma’in berkata “shalih”.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/461 menyatakania tsiqah.
  • Abul Jahhaf namanya Dawud bin Abi Auf. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 3 no 375 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”.Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah dalam kitabnyaTarikh Asma’ Ats Tsiqatno 347. Ibnu Ady telah mengkritik Abul Jahhaf karena ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dan tentu saja kritikan seperti ini tidak beralasan sehingga pendapat yang benarAbul Jahhaf seorang yang tsiqah.
  • Muawiyah bin Tsa’labah, ia seorang tabiin yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalamAts Tsiqatjuz 5 no 5480 seraya menegaskan bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalamTarikh Al Kabirjuz 7 no 1431 seraya membawakan sanad hadis di atas dan tidak sedikitpun Bukhari memberikan cacat atau jarh pada Muawiyah bin Tsa’labah dan hadis yang diriwayatkannya. Abu Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil8/378 no 1733 menyebutkan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf. Abu Hatim sedikitpun tidak memberikan cacat atau jarh padanya. Adz Dzahabi memasukkan nama Muawiyah bin Tsa’labah dalam kitabnyaTajrid Asma’ As Shahabahno 920 dimana ia mengutip Al Ismaili bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat Nabi, tetapi Ibnu Hajar dalamAl Ishabah6/362 no 8589 menyatakan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang tabiin. Tidak menutup kemungkinan kalau Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat atau jika bukan sahabat maka ia seorang tabiin. Statusnya sebagai tabiin dimana tidak ada satupun yang memberikan jarh terhadapnya dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat sudah cukup sebagai bukti bahwaia seorang tabiin yang tsiqat.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga tidak diragukan lagi kalau hadis tersebut shahih. Sayangnya para pendengki tidak pernah puas untuk membuat syubhat-syubhat untuk meragukan hadis tersebut seolah hati mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang ada pada hadis tersebut. Mari kita lihat syubhat salafiyun seputar hadis ini.

.

.

Syubhat Salafy Yang Cacat

Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam kitabnyaSilsilah Ahadits Ad Dhaifahno 4893 dan berkatabahwa hadis ini mungkar. Pernyataan beliau hanyalah mengikut Adz Dzahabi dalamTalkhis Al Mustadrakhadis no 4624 danMizan Al I’tidalno 2638 yang berkata“hadis mungkar”. Seperti biasa perkataan ini muncul dari penyakit syiahphobia yang menjangkiti mereka, seolah mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali, tidak rela kalau hadis ini dijadikan hujjah oleh kaum Syiah, tidak rela kalau keutamaan Imam Ali melebihi semua sahabat yang lain. Apa dasarnya hadis di atas disebut mungkar?. Silakan lihat, adakah kemungkaran dalam hadis di atas. Adakah isi hadis di atas mengandung suatu kemungkaran?. Apakah keutamaan Imam Ali merupakan suatu kemungkaran?. Sungguh sangat tidak bernilai orang yang hanya berbicara mungkar tanpa menyebutkan alasan dan dimana letak kemungkarannya. Begitulah yang terjadi pada Adz Dzahabi dan diikuti oleh Syaikh Al Albani, mereka hanya seenaknya saja menyebut hadis tersebut mungkar. Tentu saja jika suatu hadis disebut mungkar maka akan dicari-cari kelemahan pada sanad hadis tersebut.

Syaikh Al Albani melemahkan sanad hadis ini karena Muawiyah bin Tsa’labah bahwa ia hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban sedangkan Abu Hatim dan Bukhari tidak memberikan komentar yang menta’dil ataupun yang mencacatnya. Memang bagi salafyun tautsiq Ibnu Hibban yang menyendiri tidaklah berharga dengan alasan Ibnu Hibban sering menyatakan tsiqah para perawi majhul. Sayang sekali alasan ini tidak bisa dipukul rata seenaknya. Muawiyah bin Tsa’labah tidak diragukan seorang tabiin dimana Al Hakim berkata tentang tabiin dalamMa’rifat Ulumul Hadishal 41

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن

Sebaik-baik manusia setelah sahabat adalah mereka yang bertemu langsung dengan sahabat Rasulullah SAW, memelihara dari mereka agama dan sunnah.

Jadi kalau seorang tabiin tidak dinyatakan cacat oleh satu orang ulamapun bahkan para ulama semisal Al Bukhari dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya maka tautsiq Ibnu Hibban dapat dijadikan hujjah, artinyatabiin tersebut seorang yang tsiqah.

Mari kita lihat seorang perawi yang akan menggugurkan kaidah salafy yang seenaknya merendahkan tautsiq Ibnu Hibban, dia bernama Ishaq bin Ibrahim bin Nashr. Ibnu Hajar menyebutkan keterangan tentangnya dalamAt Tahdzibjuz 1 no 409. Disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwaIshaq bin Ibrahim adalah perawi Bukhari dan hanya Bukhari yang meriwayatkan hadis darinya. Tidak ada satupun ulama yang menta’dil beliau kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya dalamAts Tsiqat. Bahkan Al Bukhari yang menuliskan biografi Ibrahim bin Ishaq dalamTarikh Al Kabirjuz 1 no 1212 hanya berkata

إسحاق بن إبراهيم بن نصر أبو إبراهيم سمع أبا أسامة

Ishaq bin Ibrahim bin Nashr Abu Ibrahim mendengar hadis dari Abu Usamah

Adakah dalam keterangan Bukhari di atas ta’dil kepada Ishaq bin Ibrahim?. Tidak ada dan tentu berdasarkan kaidah salafy yang menganggap tautsiq Ibnu Hibban tidak bernilai maka Ishaq bin Ibrahim itu majhul dan hadisnya cacat. Tetapi bertolak belakang dengan logika salafy itu justru Ishaq bin Ibrahim dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam kitabnyaShahih Bukhari.

Seperti biasa ternyata syaikh kita satu ini telah menentang dirinya sendiri. Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits As Shahihahno 680 telah memasukkan hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang bernamaAbu Sa’id Al Ghifari yang hanya dita’dilkan oleh Ibnu Hibban bahkan Syaikh mengakui kalau Abu Hatim dalam Jarh Wat Ta’dil hanya menyebutkan biografinya tanpa memberikan komentar jarh ataupun ta’dil. Dan yang paling lucunya Syaikh Al Albani mengakui kalauia menguatkan hadis tersebut karena Abu Sa’id Al Ghifari adalah seorang tabiin. Sungguh kontradiksi syaikh kita satu ini. Mengapa sekarang di hadis Abu Dzar yang berisi keutamaan Imam Ali Syaikh mencampakkan metodenya sendiri dan bersemangat untuk mendhaifkan hadis tersebut. Apa masalahnya wahai syaikh?.

Selain itu Syaikh Al Albani juga menyebutkan syubhat yang lain yaitu ia melemahkan hadis ini karena Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf walaupun banyak yang menta’dilkan Abul Jahhaf, syaikh Al Albani mengutip perkataan Ibnu Ady seperti yang tertera dalamAl Mizanno 2638

ابن عدى فقال ليس هو عندي ممن يحتج به شيعي عامة ما يرويه في فضائل أهل البيت

Ibnu Ady berkata “Menurutku ia bukan seorang yang dapat dijadikan hujjah, seorang syiah dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya adalah tentang keutamaan Ahlul Bait.

Bagaimana mungkin Syaikh mengambil perkataan Ibnu Ady dan meninggalkan Ibnu Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan An Nasa’i. Seperti yang kami katakan sebelumnya jarh Ibnu Ady diatas tidak bernilai sedikitpun karena alasan seperti itu tidak dibenarkan. Bagaimana mungkin seorang perawi hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah. Apa namanya itu kalau bukan syiahphobia!. Abul Jahhaf adalah perawi yang tsiqah dan untuk mencacatnya diperlukan alasan yang kuat bukan alasan ngawur seperti yang dikatakan Ibnu Ady karena kalau ucapan Ibnu Ady itu dibenarkan maka alangkah banyaknya perawi yang hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah(termasuk hadis Bukhari dan Muslim)hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait.

.

.

Kesimpulan

Hadis Abu Dzar di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat sedangkan syubhat-syubhat salafiyun untuk mencacatkan hadis tersebut hanyalah ulah yang dicari-cari dan tidak bernilai sedikitpun. Sungguh kedengkian itu menutupi jalan kebenaran.

============================================================================

Imam Hasan Dan Bani Umayyah Di Mimbar Nabi

Imam Hasan Alaihis Salam adalah cucu Rasulullah SAW yang sangat mulia. Sejarah hidupnya dipenuhi kemuliaan yang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang mengaku pengikut Rasulullah SAW. Sebagian orang tersebut lebih suka mengikuti Muawiyah dan memerangi Imam Hasan AS. Bagaimana bisa kesucian cucu Rasul SAW dibandingkan dengan Muawiyah?. Ketika Rasul SAW mengatakanberpeganglah kepada Ithrah Ahlul Baitmaka sebagian orang tersebut malah memisahkan diri dari Imam Hasan.

Tulisan kali ini akan membahas penyelewengan yang dilakukan sebagian orang yang ingin mendistorsi sejarah. Minimnya pengetahuan mereka membuat mereka menyebarkan klaim-klaim demi melindungi Muawiyah dan pengikutnya. Mereka mengatakanImam Hasan menyerahkan kekhalifahan karena mengakui kredibilitas Muawiyah.Klaim yang sangat naïf, Imam Hasan mendamaikan kedua kelompok kaum muslimin karena Beliau AS tidak menyukai pertumpahan darah dan beliau mengetahui bahwa ketentuan Allah SWT pasti terjadi.Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Hasan bahwa bani Umayyah akan menguasai mimbar Nabi walaupun Nabi SAW tidak menyukainyaoleh karena itu bagi Imam Hasan AS lebih baik Beliau menyelamatkan banyak darah kaum muslimin karena ketentuan Allah SWT pasti terjadi. Hal inilah yang sukar atau tidak mungkin dipahami oleh para pecinta Muawiyah.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalamSunan Tirmidzi5/444 no 3350

بسم الله الرحمن الرحيم حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود الطيالسي حدثنا القاسم بن الفضل الحداني عن يوسف بن سعد قال قام رجل إلى الحسن بن علي بعد ما بايع معاوية فقال سودت وجوه المؤمنين أو يا مسود وجوه المؤمنين فقال لا تؤنبني رحمك الله فإن النبي صلى الله عليه و سلم أري بني أمية على منبره فساءه ذلك فنزلت { إنا أعطيناك الكوثر } يا محمد يعني نهرا في الجنة ونزلت { إنا أنزلناه في ليلة القدر * وما أدراك ما ليلة القدر * ليلة القدر خير من ألف شهر } يملكها بنو أمية يا محمد قال القاسم فعددناها فإذا هي ألف يوم لا يزيد يوم ولا ينقص

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Fadhl Al Huddani dari Yusuf bin Sa’ad yang berkata “Seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan setelah Muawiyah dibaiat. Ia berkata “Engkau telah mencoreng wajah kaum muslimin” atau ia berkata “Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin”. Al Hasan berkata kepadanya “Janganlah mencelaKu, semoga Allah merahmatimu, karena Rasulullah SAW di dalam mimpi telah diperlihatkan kepada Beliau bahwa Bani Umayyah di atas Mimbar. Beliau tidak suka melihatnya dan turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu nikmat yang banyak”. Wahai Muhammad Al Kautsar adalah sungai di dalam surga. Kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan . Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Bani Umayyah akan menguasainya wahai Muhammad. Al Qasim berkata “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih”.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalamMustadrak As Shahihain3/187 no 4796 dan beliau menshahihkannya dan diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalamDalail An Nubuwahhal 510-511 semuanya dengan sanad yang berakhir pada Al Qasim bin Fadhl dari Yusuf bin Saad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibi.
.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini adalah hadis yang shahihdan telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Tidak ada keraguan dalam sanad hadis ini kecuali mereka yang mencari-cari dalih untuk membela Bani Umayyah. Berikut perawi hadis tersebut

  • Mahmud bin Ghailan. Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 109 bahwa ia adalah perawi Bukhari Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan pula bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Daud Ath Thayalisi dandinyatakan tsiqat oleh Maslamah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/164 menyatakania tsiqat.
  • Abu Daud At Thayalisi. Namanya adalah Sulaiman bin Daud, Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Tahdzibjuz 4 no 316 bahwa ia adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan.Sulaiman bin Daud telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Amru bin Ali, An Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad Al Khatib dan Al Fallas. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/384 menyatakan bahwaia seorang hafiz yang tsiqat.
  • Al Qasim bin Fadhl. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 8 no 596 dan ia adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Al Qasim bin Fadhl meriwayatkan hadis dari Yusuf bin Sa’ad dan telah meriwayatkan darinya Abu Daud Ath Thayalisi.Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Sa’ad, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin.Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/22 menyatakania tsiqat.
  • Yusuf bin Sa’ad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibi. Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 11 no 707 menyebutkan bahwa ia adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i dan meriwayatkan hadis dari Imam Hasan. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwaIbnu Main telah menyatakan ia tsiqat. Disebutkan dalamSu’alat Ibnu Junaid1/319-320 no 186 bahwaIbnu Main telah menyatakan tsiqat pada Yusuf bin Sa’ad. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/344 menyatakan bahwaYusuf bin Sa’ad Al Jumahi atau Yusuf bin Mazin tsiqat.

Sudah jelas hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga kedudukannya shahih tetapi dalih ternyata selalu bias dicari-cari. At Tirmidzi dalamSunan Tirmidzino 3350 setelah meriwayatkan hadis ini ia berkata

هذا حديث غريب لا نعرفه إلا من هذا الوجه من حديث القاسم بن الفضل وقد قيل عن القاسم بن الفضل عن يوسف بن مازن و القاسم بن الفضل الحداني هو ثقة وثقه يحيى بن سعيد و عبد الرحمن بن مهدي و يوسف بن سعد رجل مجهول ولا نعرف هذا الحديث على هذا اللفظ إلا من هذا الوجه

Hadis ini gharib, tidak dikenal kecuali dari hadis Al Qasim bin Fadhl dan dikatakan pula dari Qasim bin Fadhl dari Yusuf bin Mazin. Al Qasim bin Fadhl Al Huddani seorang perawi yang tsiqat, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id dan Abdurrahman bin Mahdi. Sedangkan Yusuf bin Sa’ad adalah perawi yang majhul. Hadis dengan lafal di atas tidak diketahui kecuali dari jalur tersebut.

Pernyataan Tirmidzi bahwa Yusuf bin Sa’ad majhul adalah keliru. Yusuf bin Sa’ad telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in sebagaimana yang dikutip Ibnu Hajar dan telah meriwayatkan darinya banyak perawi tsiqah sehingga dalamAt TaqribIbnu Hajar memberikan predikat tsiqat.

Syaikh Al Albani telah memasukkan hadis ini dalamDhaif Sunan Tirmidzino 3350 seraya berkata

ضعيف الإسناد مضطرب ومتنه منكر

Hadis dhaif sanadnya Mudhtharib dan matannya mungkar

Pernyataan Syaikh hanyalah mengikut apa yang disebutkan Ibnu Katsir dalamTafsir Ibnu Katsir8/442, hadis ini dinyatakan mudhtharib karena diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dalamTafsir At Thabari24/533 dengan sanad dariQasim bin Fadhl dari Isa bin Mazin, oleh karena itu Ibnu Katsir menyebut sanad ini idhtirab. Pernyataan ini jelas kekeliruannya

  • Isa bin Mazin tidak diketahui biografinya sehingga dalam hal ini sanad riwayat Ibnu Jarir adalah dhaif, bagaimana mungkin hadis bersanad dhaif menjadi penentu suatu hadis shahih sebagai mudhtharib
  • Al Tirmidzi tidak menyendiri meriwayatkan hadis tersebut dari Yusuf bin Mazin, ia juga telah dikuatkan oleh Al Hakim dan Al Baihaqi sedangkan Ibnu Jarir menyendiri dalam menyebutkan Isa bin Mazin. Oleh karena itu jauh lebih mungkin untuk dikatakan bahwa Ibnu Jarir melakukan kekeliruan dalam menuliskan hadis tersebut.

Hadis tersebut tidak memenuhi syarat mudhtharib karena hadis yang dipermasalahkan Ibnu Katsir berstatus dhaif sehingga tidak dapat dipertentangkan dengan hadis Yusuf bin Mazin. Mengenai pernyataan matan yang mungkar, Ibnu Katsir dalamTafsirnya telah mengkritik perkataan Al Qasim bin Fadhl“Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih”.Seandainyapun kritik Ibnu Katsir tersebut benar maka yang keliru adalah perkataan Qasim bin Fadhl bukan hadisnya. Aneh sekali,bagaimana mungkin dikatakan hadisnya mungkar hanya karena penafsiran Qasim terhadap hadis tersebut keliru.Dan seandainya pernyataan Qasim bin Fadhl benar maka tidak ada gunanya perkataan Ibnu Katsir bahwa hadis tersebut mungkar. Ataukah bagi Ibnu Katsir dan Al Albani menyebutkan keburukan Bani Umayyah adalah hal yang mungkar?. Sudah jelas itu cuma ulah yang dibuat-buat untuk menolak hadis tersebut demi melindungi Muawiyah dan Bani Umayyah.

===========================================================================

Kedudukan Hadis “Jika Kamu Melihat Muawiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”

Muqaddimah
Sebelumnya kami telah menuliskan hadis ini dalam salah satu tulisan kami yang berjudulMuawiyah dan Mimbar Nabi,disana kami menyatakan bahwakami bertawaqquf mengenai kedudukan hadis tersebut.Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan kemudahan bagi kami untuk meneliti kembali sanad hadisnya. Berikut adalah hasil kajian sanad hadis tersebut.

Dalam menilai kedudukan suatu hadis yang perlu dilakukan salah satunya adalahmenilai para perawi yang menyampaikan hadis tersebut.Dinilai apakah para perawi tersebut terpercaya atau jujur karena seorang perawi yang pendusta tidaklah diterima hadisnya. Tetapi kemusykilan akan terjadi jikaisi hadis tersebut tidak kita sukai,kita berkeras untuk melakukan penolakan dan mencari-cari kelemahan hadis tersebut. Hal inilah yang ternyata saya temukan dalam mengkaji hadis“Jika kamu melihat Muwiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”. Banyak ahli hadis yang menolak hadis ini dan mereka menilaihadis ini sangat tidak pantas disandarkan kepada Nabi SAW.Mengapa? KarenaMuawiyah adalah sahabat Nabidansemua sahabat Nabi itu adilsehingga mustahil hadis ini benar. Oleh karena itu dalam pembahasan sanad yang dilakukan oleh para ulama, mereka condong atau bermudah-mudah dalam melemahkan dan mendhaifkan hadis tersebut. Mereka begitu mudah menjarh para perawi hadis tersebut bahkan seorang perawi yang dikenal jujur malah dinilai dhaif hanya karena ia ikut meriwayatkan hadis ini.

Kalau anda masih ingat, inilah yang saya katakan Logika Sirkuler yang menyedihkan

  • Suatu Hadis dinilai dhaif atau palsu karena matan atau isinya batil dan mungkar atau karena isi hadis tersebut tidak layak
  • Karena sudah dinyatakan dhaif dan palsu maka harus ada perawi yang bertanggungjawab atas kedhaifan dan pemalsuan hadis itu. Sehingga salah satu atau beberapa perawi dinyatakan cacat karena meriwayatkan hadis tersebut.
  • Karena perawi tersebut sudah dinyatakan cacat, dhaif atau dituduh memalsu hadis maka kedudukan hadis tersebut sudah pasti dhaif atau palsu.

Untuk membuktikan benar tidaknya yang kami katakan, silakan anda mengikuti kajian kami kali ini.
.

.

.

Hadis Abu Sa’id Al Khudri RA

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq59/155 dan Ibnu Ady dalamAl Kamil7/83 menyebutkan

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبى سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Qasim dari Mujalid dari Abil Wadak dari Abi Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda “Jika kamu melihat Muwiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”.
.

Hadis Hasan Lighayrihi.
Hadis ini kedudukannya hasan lighairihi karenatelah diriwayatkan oleh para perawi yang shaduq hasanul hadis kecuali Mujalid bin Sa’id yang hadisnya hasan jika dikuatkan oleh yang lain. Pada dasarnya Mujalid seorang yang jujur hanya saja memiliki kelemahan pada hafalannya. Berikut analisis terhadap para perawi hadis tersebut.

Ali bin Mutsannaadalahperawi yang shaduq dan hasan hadisnya. DalamAt Tahdzibjuz 7 no 611 disebutkan bahwatelah meriwayatkan darinya banyak orang-orang tsiqah dan Ibnu Hibban memasukkannya kedalam Ats Tsiqat.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/702 memberikan predikatmaqbul (diterima)dan pernyataan ini dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4788 bahwaAli bin Mutsanna adalah shaduq hasanul hadis.Pernyataan ini lebih tepat karena Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat.

Walid bin Qasimadalahperawi yang shaduq hasanul hadis. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 11 no 245 bahwa iadinyatakan tsiqat oleh imam Ahmad, Ibnu Ady berkata“ia meriwayatkan dari orang-orang tsiqat dan telah meriwayatkan darinya orang yang tsiqat pula, tidak ada masalah dengannya”.Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat tetapi juga menyebutkannya dalam Al Majruhin. Ibnu Main mendhaifkannya tanpa menyebutkan alasan atas jarhnya tersebut, apalagi dikenal kalau Ibnu Ma’in terkenal ketat dalam mencacatkan perawi. Oleh karena itu predikat ta’dil lebih tepat untuk Walid bin Qasim. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/288 memberikan predikatshaduq yukhti’u (jujur tetapi sering salah).Pernyataan ini dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 7447 bahwaWalid bin Qasim shaduq hasanul hadisdimana mereka juga mengutip bahwa Ibnu Qani’ menyatakan Walid bin Qasim shaduq.

Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniadalahperawi yang hasan hadisnya dengan penguat dari yang lain. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 65 bahwa dia salah satu perawi Muslim yang berarti Muslim memberikan predikat ta’dil padanya. Disebutkan pula bahwa Syu’bah telah meriwayatkan darinya dan sebagaimana sangat dikenal bahwaSyu’bah hanya meriwayatkan dari orang yang tsiqah. Yaqub bin Sufyan berkata“dia dibicarakan orang dan dia shaduq (jujur)”.Beliau telah dinyatakan dhaif oleh sekelompok ulama seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, Ibnu Sa’ad dan yang lainnya. An Nasa’i memasukkannya dalamAd Dhu’afatetapi disebutkan pula oleh Ibnu Hajar bahwa An Nasa’i juga mengatakan iatsiqah. Bukhari juga memasukkannya dalamAdh Dhu’afatetapi Ibnu Hajar juga mengutip bahwa Bukhari berkata“shaduq”. Al Ajli memasukkannya dalamMa’rifat Ats Tsiqahno 1685 dan mengatakan“jaiz al hadis dan hasanul hadis”. Ibnu Syahin memasukkannya dalamTarikh Asma Ats Tsiqahno 1435. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/159 memberikan predikatlaisa bil qawy (tidak kuat). Pernyataan ini kendati bersifat jarh tetapi tidak menjatuhkan artinyawalaupun ada kelemahan padanya hadisnya bisa menjadi hasan dengan adanya penguat. Syaikh Ahmad Syakir telah menghasankan hadis Mujalid dalamSyarh Musnad Ahmadhadis no 211, beliau berkata

“Mujalid adalah orang yang jujur namun mereka mempersoalkan hafalannya”.

Pernyataan beliau ini adalah pernyataan yang adil dan bagi kami dalam masalah ini hadis Mujalid kedudukannya hasan dengan penguat dari yang lain.

Abul Wadak Jabr bin Naufadalahperawi yang tsiqat.Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 2 no 92 bahwadia adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim, dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 752 menyatakania tsiqat.Dalam At Taqrib 1/156 Ibnu Hajar memberikan predikat“shaduq tetapi sering keliru”dan dikoreksi dalamTahrir At Taqribno 894 bahwaJabr bin Nauf seorang yang tsiqah.

.

.

.

Selain melalui jalan Mujalid bin Sa’id, hadis Abu Said Al Khudri juga diriwayatkan dengan sanad dari Ali bin Zaid bin Jud’an. Hadis tersebut diantaranya diriwayatkan dalamAnsab Al Asyraf Al Balazuri5/136, Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq59/55 dan Ibnu Ady dalamAl Kamil7/83 dan 5/314. Berikut hadis Ali bin Zaid dalamAl Kamil5/314

أخبرنا الحسن بن سفيان الفسوي ثنا إسحاق بن إبراهيم الحنظلي أخبرنا عبد الرزاق عن سفيان بن عيينة عن علي بن زيد بن جدعان عن أبي نضرة عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

Telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Sufyan Al Fasawi yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzali yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Sufyan bin Uyainah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Abi Nadhrah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “jika kamu melihat Muawiyah di MimbarKu maka bunuhlah ia”.

.

Hadis Hasan Lighairihi
Hadis di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqah kecualiAli bin Zaid bin Jud’an. Ia diperselisihkan dan telah dilemahkan karena hafalannya. Walaupun begitu hadis Ali bin Zaid bersama hadis Mujalid saling menguatkan sehinggasanadnya terangkat menjadi hasan lighairihi.

Hasan bin Sufyan Al Fasawiadalahseorang Hafiz yang tsabit. Ibnu Hibban telah menyebutkannya dalamAts Tsiqatjuz 8 no 12808 dan disebutkan pula dalamTazkirah Al HuffazAdz Dzahabi 10/70 no 724 bahwaHasan bin Sufyan seorang Al Hafiz Al Imam Syaikh Khurasan penulis Musnad yang mendengar hadis dari Ishaq bin Ibrahim.

Ishaq bin Ibrahim Al HanzaliadalahIshaq bin Rahawaih seorang Hafiz yang terkenal tsiqat. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/78 menyatakan bahwaia seorang Hafiz yang tsiqat dan mujtahid.Abdurrazaq bin Hammam As Shan’aniadalah ulama terkenal penulis kitab tafsir dan Mushannaf. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/599 menyatakan bahwaia seorang hafiz yang tsiqat.Sufyan bin Uyainahadalah ulama yang tsiqat, Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/371 menyatakan kalauSufyan seorang hafiz yang tsiqat faqih, imam dan hujjah.

Ali bin Zaid bin Jud’anadalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 7 no 545 kalau Ia telah dicacatkan oleh sekelompok ulama diantaranya Ibnu Ma’in, An Nasai, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lain-lain. Tetapi ia bukanlah seorang pendusta apalagi pemalsu hadis. Cacat yang banyak disematkan kepadanya adalahlaisa bi qawiy atau tidak kuatyang berartihadisnya dapat menjadi hasan dengn penguat dari yang lain.

Selain itu pada dasarnya ia adalahseorang yang jujur hanya saja terdapatkelemahan pada hafalannya dan hadis-hadisnya yang diingkari oleh para ulama.DalamAt Tahdzibjuz 7 no 545 disebutkan kalauSyu’bah telah meriwayatkan darinya dan sebagaimana diketahui bahwa Syu’bah hanya meriwayatkan dari orang-orang tsiqah.Imam Tirmidzi menyatakanbahwa ia shaduq (jujur), Yaqub bin Syaibah menyatakania tsiqat dan hadisnya baik walaupun ada kelemahan padanya.As Saji juga mengelompokkannya sebagai orang yang jujur. Imam Tirmidzi telah menshahihkan hadis Ali bin Zaid dalam kitabnyaSunan Tirmidzino 109. Al Ajli memasukkan Ali bin Zaid dalam kitabnyaMa’rifat Ats Tsiqahno 1298 dan berkata

على بن زيد بن جدعان بصرى يكتب حديثه وليس بالقوي وكان يتشيع وقال مرة لا بأس به

Ali bin Zaid bin Jud’an orang Basrah ditulis hadisnya, tidak kuat, bertasyayyu’ dan tidak ada masalah padanya.

Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadno 783 menolak pencacatan Ali bin Zaid, beliau dengan tegas menyatakan bahwaAli bin Zaid adalah perawi yang tsiqah. Syaikh Ahmad Syakir berkata

Ali bin Zaid adalah Ibnu Jad’an , telah kami sebutkan dalam hadis no 26 bahwa dia adalah perawi yang tsiqah. Para ulama berbeda pendapat tentang dirinya, tetapi pendapat yang paling kuat menurut kami adalah yang menyebutkan bahwa dia adalah perawi yang tsiqah. Tirmidzi telah menshahihkan hadis-hadis yang diriwayatkannya. Di antaranya hadis no 109 dan 545.

Selain karena hafalannya,para ulama mencacat Ali bin Za’id karena ia telah meriwayatkan hadis tentang Muawiyah di atasseperti yang disebutkan dalamAt Tahdzibbiografi Ali bin Zaid. Pada dasarnya para ulama mengingkari hadis tersebut dan cukup dengan melihat matannya mereka menyatakan hadis itu bathil. Oleh karenanya harus ada yang bertanggung jawab untuk kebatilan hadis di atas dan tuduhan disematkan pada Ali bin Zaid. Pencacatan seperti ini justru hal yang bathil karenaAli bin Zaid tidaklah menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Ia hanya menyampaikan apa yang ia dengar, bersamanya ada perawi lain yang meriwayatkan hadis ini dan diantaranya ada orang yang terpercaya. Dengan mempertimbangkan semua ini maka kami berkesimpulan bahwahadis Ali bin Zaid menjadi hasan jika mendapat penguat dari yang lain.

Abu Nadhrahadalah Mundzir bin Malik perawi Bukhari dalam Shahihnya bagian Ta’liq, Muslim dalam Shahihnya dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 528 kalau ia telahdinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, An Nasa’i, Ibnu Saad, Ibnu Syahin, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/213 menyatakan bahwaia tsiqat.
.

.

Kesimpulan Hadis Abu Sa’id
Hadis“Jika kamu melihat Muawiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”salah satunya diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri RA. Hadis Abu Sa’id RA telah diriwayatkan dengan dua jalan sanad, sanad yang pertama diriwayatkan olehpara perawi yang shaduq hasan hadisnya dan tsiqat kecuali Mujalid bin Sa’id yang terdapat cacat pada hafalannyasedangkan jalan sanad yang kedua diriwayatkan olehpara perawi tsiqah kecuali Ali bin Zaid yang juga memiliki cacat pada hafalannya. Perhatikanlah, baik Mujalid dan Ali bin Zaid merupakan perawi yang dinyatakan cacat karena kelemahan pada hafalannya, hal ini ditunjukkan oleh

  • Adanya penta’dilan oleh sebagian ulama yang berarti penetapan akan kredibilitasnya
  • Kebanyakan cacat yang ditujukan kepada mereka tidak bersifat menjatuhkan seperti “tidak kuat” atau “ada kelemahan padanya” dan lain-lain

Maka, status hadits tersebut naik menjadi hasan lighairihi. Tentu saja ini sesuai dengan definisi hadis hasan lighairihi sebagaimana dalamilmu Mushthalah Hadisseperti yang dapat dilihat dalam kitabTaisiru Mushthalah Al Hadishal 43-44.

هو الضعيف إذا تعددت طرقه، ولم يكن سببُ ضعفه فِسْقَ الراوي أو كَذِبَهٌ يستفاد من هذا التعريف أن الضعيف يرتقى إلى درجة الحسن لغيره بأمرين هما أ‌) أن يٌرْوَيٍِ من طريق آخر فأكثر ، على أن يكون الطريقٌ الآخر مثله أو أقوى منه ب‌) أن يكون سببٌ ضعف الحديث إما سوء حفظ راويه أو انقطاع في سنده أو جهالة في رجاله

Ia adalah hadits (yang asalnya) dha’if yang memiliki beberapa jalur (sanad), dan sebab kedha’ifannya bukan karena perawinya fasiq atau dusta. Berdasarkan definisi ini, menunjukkan bahwa hadits dla’if itu dapat naik tingkatannya menjadi hasan lighairihi karena dua hal

  1. Jika hadits tersebut diriwayatkan melalui jalan lain (dua jalur) atau lebih, asalkan jalan lain itu semisal atau lebih kuat.
  2. Penyebab kedha’ifannya bisa karena buruknya hafalan perawinya, terputusnya sanad, atau jahalah dari perawi”

Kedua sanad hadis di atas saling menguatkan karena baikAli bin Zaid dan Mujalid bin Sa’id bukanlah orang yang fasik, pendusta dan pemalsu hadis, mereka pada dasarnya orang yang jujur hanya saja memiliki cacat pada hafalannyatetapi dengan adanya mereka berdua bersama-sama maka hadisnya saling menguatkan sehingga kedudukan hadisnya terangkat menjadi Hasan Lighairihi.

.

.

.

Hadis Ibnu Mas’ud RA

Ahmad bin Yahya Al Baladzuri meriwayatkan dalam kitabnyaAnsab Al Asyraf5/130

حدثني إبراهيم بن العلاف البصري قال سمعت سلاماً أبا المنذر يقول قال عاصم بن بهدلة حدثني زر بن حبيش عن عبد الله بن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رأيتم معاوية بن أبي سفيان يخطب على المنبر فاضربوا عنقه

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Alaf Al Bashri yang berkata aku telah mendengar dari Sallam Abul Mundzir yang berkata telah berkata Ashim bin Bahdalah yang berkata telah menceritakan kepadaku Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbarKu maka pukullah tengkuknya”

.

Hadis Hasan Lidzatihi
Hadis riwayat Al Baladzuri ini sanadnya Hasan. Para perawinya adalahperawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis. Berikut keterangan lebih rinci mengenai para perawinya

Ibrahim bin Al Alaf Al BashriadalahIbrahim bin Hasan Al Alaf Al Bashri. Biografinya disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnyaAts Tsiqatjuz 8 no 12325. Ibnu Abi Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil1/92 no 242 mengutip Abu Zar’ah yang mengatakania tsiqat.Abu Zar’ah berkata

وكان صاحب قرآن كان بصيرا به وكان شيخا ثقة

Dia seorang penghafal Al Qur’an, sangat mengetahui makna-maknanya dan dia seorang Syaikh yang tsiqat.

Sallam Abul MundziradalahSallam bin Sulaiman Al Muzannisalah seorang perawi Tirmidzi. Beliau telah mendapat predikat ta’dil dari Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Abu Dawud. Ibnu Hajar menyebutkannya dalamAt Tahdzibjuz 4 no 499 dan mengutip

وقال بن أبي خيثمة عن بن معين لا بأس به

Ibnu Abi Khaitsamah berkata dari Ibnu Ma’in “tidak ada masalah dengannya”.

وقال بن أبي حاتم صدوق صالح الحديث

Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq dan hadisnya baik”.

Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/406 memberikan predikatshaduq yahim yaitu jujur terkadang salah. Dan pernyataan ini telah dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 2705 bahwaSallam bin Sulaiman Al Muzanni adalah shaduq hasanul hadis.

Ashim bin Bahdalahatau Ibnu Abi Najud adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 67 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Syahin, Ibnu Ma’in, Al Ajli, Abu Zar’ahdan ia juga mendapat predikat ta’dil dari Abu Hatim, An Nasa’i dan Ahmad bin Hanbal. Ibnu Syahin memasukkannya dalamTarikh Asma Ats Tsiqatno 830 dan berkata

عاصم بن بهدلة ثقة رجل صالح خير قاله أحمد بن حنبل عاصم بن أبي النجود قال بن معين ليس به بأس

Ashim bin Bahdalah tsiqat orang yang shalih dan baik seperti yang dikatakan Ahmad bin Hanbal. Ashim bin Abi Najud, Ibnu Ma’in berkata “tidak ada masalah dengannya”.

Cacat yang ada padanya adalahia terkadang salahsehingga Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Taqrib1/456shaduq lahu awham yaitu jujur terkadang salah. Tetapi kesalahan yang pernah dilakukan Ashim bin Abi Najud tidaklah membahayakan hadisnya dan pada dasarnya ia seorang yang tsiqat dan hasan hadisnya. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir At Taqribno 3054 mengatakan bahwaia tsiqat terkadang salah dan seorang yang hasan hadisnya. Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadtelah menyatakan shahih hadis-hadis Ashim bin Bahdalah, salah satunya dapat dilihat dari hadis no 680.

Zirr bin Hubaiysadalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 3 no 597 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/311 menyatakan kalauia tsiqat.
.

.

.

Analogi Penilaian Syaikh Ahmad Syakir

Hadis Ibnu Mas’ud di atas kami nilai sebagai hadis yang kedudukannya hasan lidzatihi dan bersama-sama hadis Abu Sa’id maka hadis tersebut kami nilai Hasan. Walaupun begitu jika kami menerapkan metode Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadmaka tidak diragukan lagi kalau hadis ini bersanad Shahih.

  • Hadis Abu Sa’id dengan jalan Mujalid bin Sa’id adalah Hadis Hasan. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir terhadap Mujalid dalam Syarh Musnad Ahmad no 211 bahwa dia adalah seorang yang jujur dan hadisnya hasan.
  • Hadis Abu Sa’id dengan jalan Ali bin Zaid adalah Hadis Shahih. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir terhadap Ali bin Zaid dalam Syarh Musnad Ahmad no 26 dan no 783 bahwa Ali bin Zaid adalah perawi yang tsiqah menurut Syaikh Ahmad Syakir.
  • Hadis Ibnu Mas’ud dengan jalan Ashim dari Zirr adalah Hadis shahih. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir yang menyatakan shahih hadis Ashim bin Bahdalah dalam Syarh Musnad Ahmad no 680.

Hadis ini memang dinyatakan dhaif oleh banyak ulama. Hal ini disebabkan mereka menganggapmatan hadis tersebut batil atau maudhu’sehinggabagaimanapun banyaknya sanad dan jalan periwayatan hadis tersebut maka itu tetap tidak ada artinya bagi mereka.Tentu saja jika memang kita berpegang teguh pada Ulumul Hadis maka sudah jelashadis tersebut bersanad hasansehingga terdapat juga Ulama yang menyatakan shahih atau hasan hadis ini seperti Syaikh Muhammad bin Aqil Al Hadhramy Al Alawy dalamAl Atab Al Jamil Ala Ahlul Jarh Wat Ta’dilhal 63 kemudian Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliki dalamMa’a Syaikh Abdullah As Sa’di Fi Al Suhbah Wal Shahabah1/201 dan 1/207.
.

.

Kesimpulan
Hadis“Jika Kamu Melihat Muawiyah di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”telah diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri RA dan Ibnu Mas’ud RA dengan para perawi yang tsiqah, hasanul hadis dan walaupun ada diantara perawi tersebut yang dinyatakan cacat tetapi mereka saling menguatkan sehingga bersama-samaKedudukannya menjadi Hasan.

.

.

Catatan :

  • Mari kita lihat dalih apa lagi yang akan muncul dari mereka yang tidak suka
  • Hadis ini dari segi sanad lebih layak dinyatakan hasan lighairihi dari pada hadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”
  • Cukup banyak yang diedit tetapi secara substansial tidak merubah apapun
  • Pada emdasarnya tulisan ini hanyalah sebuah kajian maka dari itu tolong disikapi dengan bijak, dan tentu kami akan senang sekali jika ada yang bersedia mengkritik atau membantah tulisan ini. Mari kita berdiskusi dengan santun

==============================================================================

Bantahan Terhadap Salafy : Benarkah Hadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya” Berstatus Hasan Lighairihi?

Jika anda sering mengkaji kitab-kitab Salafy maka anda dapat melihatAntagonisme Salafydalam berhadapan dengan hadis-hadis yang menjadi hujjah mereka. Jika hadis tersebut bertentangan dengan keyakinan mereka, contohnyaberkenaan dengan tawassul (yang menjadi hujjah para ulama Alawy)ataukeutamaan Ahlul Bait (yang sering menjadi hujjah Syiah)maka salafy akan bersikap ketat dalam mencacatkan hadis tersebut. Tetapi jika suatu hadis menjadi dasar hujjah mereka, maka mereka bertasahul dalam menguatkan hadis tersebut. Contoh nyata adalahhadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”.Telah berlalu penjelasan kami bahwa hadis ini berstatus dhaif tetapi salafy telah berupaya dengan“begitu memaksa”bahwa hadis ini berstatus hasan lighairihi. Berikut adalah bantahan kami.

.

.

Pembahasan Sanad Hadis Al Ifriqy Dan Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i

Pada dasarnya Salafy tidak membawakan sanad lain dari hadis“Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”.Salafy hanya membawakan riwayat Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy dan Abdullah bin Sufyan, kemudian membuat kesimpulan bahwakedua riwayat itu saling menguatkan sehingga berstatus hasan lighairihi.

Kesimpulan tersebut terburu-buru tetapi salafy dengan cerdik membungkusnya dengan kata-kata yang seolah-olah ilmiah tetapi mengandung kerancuan. Mengenai Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy ia adalah seorang yang dhaif dan kami tidak keberatan kalau dikatakan bahwa dhaifnya Abdurrahman disebabkan kelemahan pada hafalannya. Memang ada indikasi yang menunjukkan ke arah sana seperti

  • Adanya penta’dilan dari beberapa ulama terhadap Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy
  • Sebagian dari Jarh yang disematkan pada Abdurrahman bukan bersifat jarh yang menjatuhkan keadilan perawi seperti perkataan “tidak kuat”, “ada kelemahan padanya” atau “ada hal-hal yang diingkari dalam hadisnya”.

Walaupun begitu terdapat pula sebagian ulama yang menetapkan jarh yang bersifat syadid dan ada yang memberikan alasannya. Diantaranya adalahImam Ahmad yang bahkan tidak mau menulis hadis darinya,Ibnu Kharrasy yang menyatakan ia matruk,An Nasa’i yang menyatakan ia dhaif, dan Ibnu Hibban yang memasukkannya dalamAl Majruhinno 586 sebagai perawi dhaif dan ia berkata

كان يروي الموضوعات عن الثقات

Ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari perawi tsiqat.

Salafy mengatakan bahwaperkataan Ibnu Hibban berlebihankarena jika pernyataan Ibnu Hibban benar maka akan masyhur pernyataan ulama bahwa Abdurrahman seorang pendusta atau minimal tertuduh melakukan kedustaan. Logika seperti ini tidak mutlak benar karena ada kalanya para ulama memang berselisih paham terhadap kedudukan suatu perawi karenaulama yang satu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh ulama lain dan mungkin pula sebaliknya.Sehingga kaidah yang benar menyebutkan bahwajarh yang bersifat mufassar (dijelaskan sebabnya) lebih diutamakan dibanding ta’dil.Melihat status Abdurrahman bin Ziyad, kita melihatada ulama yang menyatakan ia matruk dan tidak mau menulis hadis darinya.Hal ini merupakan suatu kemungkinan bahwa para ulama tersebut pada dasarnya bersepakat dengan Ibnu Hibban yang mencacat Abdurrahman dengan cacat yang menjatuhkan. Kami pribadi tidak melihat adanya ulama yang membantah perkataan Ibnu Hibban dengan mengatakan bahwa Ibnu Hibban berlebih-lebihan dalam hal ini, bahkan Ibnu Jauzi memasukkan Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy dalam kitabnyaAd Dhu’afa Wal Matrukin1670 dengan mengutip perkataan Ibnu Hibban.

Salafy juga mengutip pernyataan Ibnu Hajar dalamAt Taqribyang menyatakan bahwaAbdurrahman bin Ziyad orang yang lemah hafalannya.Itu adalah pendapat Ibnu Hajar sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 3862 justru mengatakan kalauAbdurrahman bin Ziyad dhaif dan dapat dijadikan I’tibar.Dengan mempertimbangkan semua pernyataan di atas maka kami berkesimpulan bahwapada dasarnya Abdurrahman bin Ziyad dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah tetapi hadisnya dapat dijadikan I’tibar dan menjadi naik statusnya jika dikuatkan oleh perawi yang setaraf dengannya atau lebih tinggi darinya.

Jadi agar hadis Abdurrahman bin Ziyad naik statusnya menjadi hasan lighairihi maka ia harus dikuatkan oleh perawi yang setingkat dengannya atau lebih baik darinya. Salafy hanya membawakan riwayat Abdullah bin Sufyan sebagai penguat Abdurrahman bin Ziyad. Tentu saja Abdullah bin Sufyan tidaklah setingkat dengan Abdurrahman disebabkan

  • Abdullah bin Sufyan hanya dikenal melalui hadis ini artinya yang meriwayatkan darinya hanya satu orang yaitu Wahab bin Baqiyah, jadi ia berstatus majhul ‘ain.
  • Tidak ada satupun Ulama yang memberikan predikat ta’dil padanya sehingga bagaimana bisa ditentukan ‘adalahnya (keadilannya)
  • Terdapat Ulama seperti Al Uqaili dan Adz Dzahabi yang memasukkannya ke dalam daftar perawi dhaif.

Bagaimana mungkin Salafy dengan mudahnya berkata

Jika kita perhatikan perkataan para ahli hadits di atas terhadap ‘Abdullah bin Sufyaan, maka kritik mereka disebabkan karena kebersendiriannya dalam periwayatan. Jenis kelemahan ini biasa disebabkan karena keraguan atas kekuatan hapalannya – dan ia merupakan kelemahan yang ringan.

Perkataan ini mengandung kerancuan.Kebersendirian Abdullah bin Sufyan dalam periwayatan dinyatakan dhaifkarena tidak ada satupun ulama yang memberikan predikat ta’dil padanya(ditambah lagi hadisnya tidak diikuti)sehingga dalam hal ini kredibilitasnya tidak diakui. Ini saja sudah cukup untuk mengatakan sebab pendhaifan Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i bukan karena kelemahan pada hafalannya. Bagaimana bisa salafy mengatakan bahwacacat Abdullah bin Sufyan terletak pada hafalannyapadahal tidak ada yang memberikan predikat ta’dil padanya. Jika pernyataan ini disebabkan ketidaksengajaan maka itu adalah kekeliruan atau kecerobohan dan jika dilakukan dengan sengaja maka itu adalah sebuah kedustaan. Kelemahan Abdullah bin Sufyan jelas lebih parah dibanding Al Ifriqy lantas bagaimana bisa ia menjadi penguat bagi Abdurrahman Al Ifriqy.

Salafy mengutip pernyataan Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid1/448 no 899

رواه الطبراني في الصغير وفيه عبد الله بن سفيان قال العقيلي لا يتابع على حديثه هذا وقد ذكره ابن حبان في الثقات

Diriwayatkan Thabrani dalam As Shaghir dan didalamnya ada Abdullah bin Sufyan. Al Uqaili berkata “hadisnya tidak diikuti” dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat.

Pernyataan Al Haitsami layak diberikan catatan. Pernyataannya yang mengutip Al Uqaili benar adanya dan memang itulah yang tertulis dalam kitabAd Dhu’afa Al Uqaili2/262 no 815 tetapi kami tidak menemukan nama Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i dalam kitabAts Tsiqat Ibnu Hibban. Bahkan diantara ulama yang menyebutkan tentang Abdullah bin Sufyan tidak ada satupun yang mengutip pentsiqahan Ibnu Hibban.

  • Adz Dzahabi baik dalam kitabnyaMizan Al I’tidalno 4356 ,Mughni Ad Dhu’afano 3197 danDiwan Ad Dhu’afa Al Matrukinno 2187 tidak menyebutkan adanya pentsiqahan dari Ibnu Hibban, Adz Dzahabi hanya mengutip pencacatan Al Uqaili.
  • Ibnu Hajar dalamLisan Al Mizanjuz 3 no 1230 juga menyebutkan tentang Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i, Ibnu Hajar mengutip pencacatan Al Uqaili tetapi tidak sedikitpun menyebutkan kalau Ibnu Hibban memasukkannya dalamAts Tsiqat.

Kami berpandangan bahwa Al Haitsami keliru soal perkataannya bahwa Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i disebutkan dalamAts Tsiqat Ibnu Hibban(kecuali kalau salafy memang menemukannya dalam Ats Tsiqat, karena tidak menutup kemungkinan bahwa kami bisa juga keliru). Seandainya pula Ibnu Hibban memasukkan Abdullah bin Sufyan dalamAts Tsiqatmaka itu tidak akan menjadi hujjah apapun bagi Salafy karena sangat masyhur di kalangan salafy bahwaTautsiq Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat tidak menjadi hujjah jika ia menyendiri karena menurut Salafy, Ibnu Hibban sering memasukkan perawi-perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat.

Kesimpulan dari kedua sanad tersebut adalah sanad dengan Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy adalah dhaif walaupun dikatakan karena hafalannya tetap saja hadisnya dhaif jika menyendiri alias tidak bisa dijadikan hujjah dan hanya bisa terangkat oleh perawi yang setingkat atau lebih baik darinya. Sedangkan sanad Abdullah bin Sufyan memiliki cacat yang lebih parah dari Al Ifriqy karena tidak ada satupun yang menta’dilkannya bahkan terdapat ulama yang memasukkannya sebagai perawi dhaif. Ditambah lagi jika kita menuruti cara kerja Salafy makahadis Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i juga mengandung illat dugaan inqitha’ karena tidak ditemukan tahun lahir dan tahun wafatnya dalam biografi perawi dan tidaklah diketahui penyimakan hadisnya dari Yahya bin Sa’id Al Anshari, bukankah bagi salafy ini sebuah cacat. Maka dari itu Pendapat yang benar adalahSanad Abdullah bin Sufyan tidak menaikkan status hadis Al Ifriqy.

.

.

Pembahasan Matan Hadis Al Ifriqy

Salafy membawa hujjah lain untuk menguatkan hadis ini yaitu hadis Irbadh bin Sariyyah, Hadis“berpegang teguh pada SunahKu dan Sunnah Khulafaur Rasydin yang mendapat petunjuk”.Hadis ini memang shahih tetapi menjadikan hadis ini sebagai penguat bagi hadis Al Ifriqy adalah kesimpulan yang prematur. Mari kita lihat perkataan Salafy

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
a. ‘Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap Sunnahku’ (‘alaikum bi-sunnatii) adalah sama dengan ‘Apa-apa yang aku berada di atasnya’ (maa ana ‘alaihi);
b. ‘Dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk’ (wa sunnatil-Khulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin) adalah sama dengan ‘Dan para shahabatku’ (wa ashhaabiy).

Bagi mereka yang berpikir kritis maka poin b itu jelas sekali rancu. Apa dasarnya mengatakan bahwaSunnah Khulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin yang dimaksud itu Para Sahabat?.Memangnya siapaKhulafaur Rasydinyang dimaksud dalam hadis Irbadh? Apakah itu adalah setiap sahabat Nabi? Atau hanya orang-orang tertentu. Jika memang khusus orang-orang tertentu maka mengapa dipukul rata untuk semua sahabat. Kemudian Apakah itu adalah Khalifah Abu Bakar RA, Umar RA dan Utsman RA?. Bagaimana bisa dikatakan bahwa sunnah mereka harus dipegang teguh jika sebagian perilaku mereka bertentangan dengan Sunah Nabi?. Contoh yang mudah adalah pelarangan haji tamattu yang justru dibolehkan secara mutlak oleh Rasulullah SAW. Perkara ini saja sudah cukup untuk mengugurkan bahwa sunah mereka tidak layak dipegang teguh.

Lagipula terlalu jauh menjadikan hadis Irbadh sebagai penguat. Itu namanya mencampuraduk umum dan khusus.Apakah para Sahabat itu semuanya menjadi khalifah?. Rasanya tidak, seandainya juga ada sahabat yang menjadi khalifah itu tidak membuatnya langsung dikatakan sebagai bagian dariKhulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin.Hal ini disebabkan sangat jelas bahwa sahabat yang menjadi khalifah itu sendiri sering menyatakan hal yang berbeda dan bertentangan satu sama lain. Jadi bagaimana mungkin berpegang pada hal-hal yang bertentangan.

Lafaz Hadis Al Ifriqy sudah jelas tidak bisa diterima.Para sahabat bukanlah hujjah dan kenyataannya terkadang para sahabat juga berselisih, melakukan kesalahan, yang bahkan ada diantara kesalahan tersebut berbau maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh, mencaci Ahlul Bait dan lain-lain. Dan kita tidak melupakan sejarah para sahabat dimana mereka berselisih sampai menyulut terjadinya perperangan. Semua fakta ini menunjukkan bahwa para sahabat bukanlah timbangan kebenaran dan justru perbuatan sahabat itu yang harus ditimbang dengan timbangan kebenaran yaitu Allah SWT dan RasulNya.

Keanehan Salafy yang lain adalah perkataan

Dan ini sama sekali tidak bertentangan dengan makna Al-Jama’ah sebagaimana dalam riwayat yang lain. Sebab, al-jama’ah yang pertama kali ada saat hadits ini diucapkan adalah jama’ah para shahabat radliyallaahu ‘anhum ajma’in.

Boleh-boleh saja kalau salafy mengatakan tidak bertentangan tetapi apa dasarnya bahwa Al Jama’ah itu para sahabat. Anehnya salafy seperti pura-pura tidak tahu bahwa hadis tersebut justru diucapkan dihadapan para sahabat dan untuk sahabat juga. Jika Al Jama’ah yang dimaksud adalah para sahabat bukankah jauh lebih tepat kalau redaksinya“Apa Yang Aku dan Kalian Ada Di Atasnya”.Jika Al Jama’ah yang dimaksud adalah para sahabat maka patutlah kita bertanyaapakah pada zaman sahabat sudah terdapat 73 firqah yang dimaksud?.Jika ada dan yang selamat adalah Al Jama’ah yaitu para sahabat maka ini mengandung kontradiksi. Karena jika Para sahabat itu Al Jama’ah yang dimaksud maka bagaimana mungkin bisa ada firqah-firqah diantara sahabat, lha sahabat itu sendiri Al Jama’ah yang dimaksud. Jika firqah yang dimaksud akan ada sampai akhir zaman maka tidak ada alasan bagi salafy untuk mengkhususkan Al Jama’ah pada para Sahabat Nabi, bisa saja Al Jama’ah yang dimaksud juga berasal dari kalangan Umat Islam yang bukan Sahabat Nabi. Sungguh berkutat dalam pemaksaan seperti ini hanya membuahkan asumsi-asumsi yang membutuhkan banyak bukti. Bagi kami Pernyataan yang lebih bernilai soal Al Jama’ah telah disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwaAl Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun sendirian.

Mengenai perkataan salafy bahwa Sahabat adalah generasi yang terbaik maka cukuplah dikatakan bahwa ada pulaMereka yang lebih baik dari Sahabat Nabi.Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalamMusnad Ahmadjuz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan beliau menshahihkannya

أبو جمعة قال تغدينا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ومعنا أبو عبيدة بن الجراح قال فقال يا رسول الله هل أحد خير منا اسلمنا معك وجاهدنا معك قال نعم قوم يكونون من بعدكم يؤمنون بي ولم يروني

Dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”

Kalau mengikuti cara berhujjah salafy maka bukankah bisa juga dikatakan kalauAl Jama’ah itu adalah mereka Umat Islam yang beriman kepada Nabi SAW tetapi tidak bertemu Nabi SAWdengan kata lain bukan Sahabat Nabi. Lha mereka bahkan lebih baik dari Sahabat Nabi SAW berdasarkan hadis di atas.

Terakhir masalah penukilan pendapat ulama seperti Al Iraqi, Ibnu Katsir dan Al Albani yang telah menghasankan hadis Al Ifriqy, semua itu adalah sikap tasahul yang tidak berpegang pada dalil atau hanya cenderung pada keyakinan semata. Telah berlalu penjelasan kami atas dhaifnya sanad hadis tersebut. Pernyataan Hasan mereka bisa jadi dikarenakan

  • Mereka menjadikan hadis Iftiraq Al Ummah yang lain sebagai penguat yang mengangkat hadis Al Ifriqy. Sudah jelas ini keliru karena lafaz yang kita permasalahkan (Apa yang Aku dan Para SahabatKu Ada Di Atasnya) tidak ada pada riwayat Iftiraq Al Ummah yang bersanad shahih.
  • Mereka menganggap hadis Al Ifriqy dan hadis Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i sebagai saling menguatkan sehingga statusnya menjadi hasan lighairihi. Telah kami tunjukkan bahwa hal ini keliru, hadis Abdullah bin Sufyan kedhaifannya lebih parah dari Al Ifriqy sehingga jelas tidak bisa menguatkannya.

Karena mereka meyakininya maka mereka memudahkan dalam menguatkan hadis tersebut. Anehnya jika ada hadis lain yang mengecam sahabat tak peduli sekuat apapun sanadnya atau sebanyak apapun sanadnya tetap harus ditolak dan dinyatakan palsu. Sungguh Antagonisme yang aneh. Tulisan berikutnya mungkin akan membahas salah satu hadis yang sering dinyatakan palsu padahal sanadnya jauh lebih kuat dari sanad hadis“Apa Yang Aku dan Para SahabatKu ada di Atasnya”.Mari kita lihatakankah Salafy menyatakan hadis tersebut hasan lighairihiataumalah bersemangat menyatakan hadis tersebut palsu. =============================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Berzina

Pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab terdapat kasus dimanaseorang Sahabat Nabi telah dikatakan oleh beberapa orang bahwa ia telah berzina.Pada mulanya ada 4 orang saksi yang menyaksikan tetapi satu orang saksi ternyata tidak yakin dengan peristiwa tersebut. Sahabat yang dimaksud adalah Mughirah bin Syu’bah sedangkan yang bersaksi adalah Abu Bakrah, Nafi’, Syibil bin Ma’bad dan Ziyad bin Abihi. Dua diantara mereka adalah sahabat Nabi yaitu Abu Bakrah dan Nafi’.

Diriwayatkan Al Hafiz Abu Bakar Baihaqi dalamSunan Baihaqi8/234 no 16819 dari Qusamah bin Zuhair

عن قسامة بن زهير قال لما كان من شأن أبي بكرة والمغيرة الذي كان وذكر الحديث قال فدعا الشهود فشهد أبو بكرة وشبل بن معبد وأبو عبد الله نافع فقال عمر رضي الله عنه حين شهد هؤلاء الثلاثة شق على عمر شأنه فلما قام زياد قال إن تشهد إن شاء الله إلا بحق قال زياد أما الزنا فلا أشهد به ولكن قد رأيت أمرا قبيحا قال عمر الله أكبر حدوهم فجلدوهم قال فقال أبو بكرة بعد ما ضربه أشهد أنه زان فهم عمر رضي الله عنه أن يعيد عليه الجلد فنهاه علي رضي الله عنه وقال إن جلدته فارجم صاحبك فتركه ولم يجلده

Dari Qusamah bin Zuhair yang berkata “Ketika ada permasalahan antara Abu Bakrah dengan Mughirah dan dilaporkan maka kemudian Umar meminta kesaksian. Abu Bakrah, Syibil bin Ma’bad, dan Abu Abdullah Nafi’ memberikan kesaksian. Umar berkata setelah mereka memberikan kesaksian, “Masalah ini membuat Umar dalam kesulitan”. Kemudian Ziyad datang, Umar berkata kepadanya, “bersaksilah insya Allah kecuali yang haq” . Maka Ziyad berkata, “Adapun zina, maka aku tidak menyaksikan dia berzina. Namun aku melihat sesuatu yang buruk”. Umar berkata, “Allahu Akbar, hukumlah mereka”. Oleh karena itu dicambuklah mereka bertiga. Kemudian setelah dicambuk oleh Umar, Abu Bakrah berkata, “ Saya bersaksi bahwa sesungguhnya dia Mughirah berzina”. Umar RA hendak mencambuknya lagi, namun Ali RA mencegahnya seraya berkata kepada Umar, “Jika engkau mencambuknya lagi, maka rajamlah sahabatmu itu”. Maka Umar mengurungkan niatnya dan tidak mencambuk Abu Bakrah lagi”.

Hadis ini adalah salah satu dari sekian banyak hadis dalam masalah ini dan hadis riwayat Baihaqi ini telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalamIrwa Al Ghalil8/37. Abu Bakrah RA adalah salah seorang Sahabat Nabi SAW sebagaimana yang diebutkan Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/251 dan dia dengan jelas bersaksi menyatakan bahwaMughirah bin Syu’bah telah berzina.Kenyataan ini hanya memiliki dua kemungkinan.Abu Bakrah benar akan kesaksiannya sehingga dalam hal ini Mughirah memang berzinaatau malahMughirah tidak berzina sehingga dalam hal ini Abu Bakrah telah memberikan kesaksian palsu.Sebelumnya mari perhatikan hadis berikut dalamShahih Muslim tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi1/91 no 143 (87)

حدثني عمرو بن محمد بن بكير بن محمد الناقد حدثنا إسماعيل بن علية عن سعيد بن الجريري حدثنا عبدالرحمن بن أبي بكرة عن أبيه قال كنا عند رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ( ثلاثا ) الإشراك بالله وعقوق الوالدين وشهادة الزور ( أو قول الزور ) وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم متكئا فجلس فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Muhammad bin Bakir bin Muhammad Naqid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ulayyah dari Sa’id bin Al Jurairi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Ayahnya (Abi Bakrah) yang berkata “kami berada di sisi Rasulullah SAW, kemudian Beliau bersabda “Perhatikanlah Aku akan memberitahukan pada kalian dosa yang terbesar (beliau mengulanginya tiga kali) yaitu Menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orang tua dan kesaksian palsu (atau ucapan dusta). Rasulullah yang semula bersandar kemudian duduk, Beliau mengulang-ngulang perkataannya sehingga kami berkata “semoga Beliau berhenti”.

Abu Bakrah RA adalah sahabat Nabi yang mendengar dan meriwayatkan langsung dari Nabi SAW bahwaKesaksian palsu adalah dosa terbesar,oleh karenanya wajar jika diasumsikan jauh kemungkinannya bahwa Beliau akan bersaksi palsu. Ditambah lagi jika kita melihat hadis riwayat Baihaqi bahkan setelah dihukum cambukpunAbu Bakrah tetap berkeras pada kesaksiannya kalau Mughirah bin Syu’bah berzina.Tentu saja dalam masalah ini Mughirah terlepas dari hukuman karena Ziyad merubah kesaksiannya artinya saksi itu tidak mencukupi empat orang.

Ziyad dalam kisah ini adalahZiyad bin Abihiorang yang di kemudian hari menjadi saudara Muawiyah dimana Muawiyah telah menetapkan nasabnya yaituZiyad bin Abi Sufyan,hal ini juga salah satu penyimpangan syariat yang dilakukan Muawiyah.Abu Bakrah dan Nafi’ adalah sahabat Nabi yang sudah jelas mengetahui bahwa dalam perkara zina kesaksian yang dibutuhkan adalah empat orang jika tidak maka yang bersaksi akan dikenakan hukuman bersaksi palsu.Oleh karena itu keberanian mereka berdua bersaksi atas Mughirah menunjukkan bahwa mereka berempat Abu Bakrah, Nafi, Syibil dan Ziyad memang menyaksikan hal yang sama. Tetapi kemudian Ziyad menyatakan kesaksian yang berbeda dengan ketiga orang lainnya yaituia tidak menyaksikan Mughirah berzina tetapi menyaksikan sesuatu yang buruk.Anehnya,apa sesuatu yang buruk itusendiri tidak dijelaskan lebih lanjut. Kalau memang harus ada yang dituduh maka jauh lebih mungkin untuk dikatakankalau Ziyad yang berdustadaripada mengatakan kalauAbu Bakrah bersaksi palsu.Jadi dalam hal iniMughirah bin Syu’bah dikatakan telah berzina berdasarkan kesaksian Abu Bakrah RA.

============================================================================

Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Musnad Ahmad

Muawiyah dikabarkan meminum minuman yang diharamkan oleh Rasulullah SAW dan mengajak orang lain untuk meminumnya. Tindakan seperti ini jelas termasuk penyimpangan yang mesti diluruskan. Diriwayatkan Imam Ahmad dalamMusnad Ahmad5/347 no 22991

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Ayahku berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata dalamtahqiq Musnad Ahmadbahwahadis ini sanadnya kuat. DalamSyarh Musnad Ahmadtahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain disebutkan kalau sanadnya shahih. Al Haitsami menyebutkan hadis ini dalamMajma Az Zawaid5/54 no 8022 dan mengatakanhadis ini telah diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah perawi shahih. =======================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orangterkadang mengundang tanda tanya bagiorang yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwasahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia.Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwadiantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitabShahih Muslim4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKuada dua belas orang munafik.Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadisShahih Muslimdi atas menyatakan bahwaRasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik.Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolakada sahabat Nabi munafikmengatakan bahwa hadisShahih Muslimdi atas menceritakanbahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKuada dua belas orang munafikyang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadisShahih Muslimdiatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabitidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakanDi antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakanDiantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakanbahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi.Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kataSahabatKuadalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kataUmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalahdiantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik.Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafazSahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.

==========================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim

Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahulilah olehmu bahwa diantaramu ada Rasulullah. Kalau Ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan maka benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.

Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan denganWalid bin Uqbah bin Abi Mu’ithyang diutus Rasulullah SAW untuk mengambil sedekah atau zakat dari bani Musthaliq.Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam ayat di atas. Hal ini telah diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dalamMusnad Ahmad4/279

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن سابق ثنا عيسى بن دينار ثنا أبي انه سمع الحرث بن ضرار الخزاعي قال قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعاني إلى الإسلام فدخلت فيه وأقررت به فدعاني إلى الزكاة فأقررت بها وقلت يا رسول الله أرجع إلي قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجاب لي جمعت زكاته فيرسل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم رسولا لإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة فلما جمع الحرث الزكاة ممن استجاب له وبلغ الإبان الذي أراد رسول الله صلى الله عليه و سلم ان يبعث إليه احتبس عليه الرسول فلم يأته فظن الحرث أنه قد حدث فيه سخطة من الله عز و جل ورسوله فدعا بسروات قومه فقال لهم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان وقت لي وقتا يرسل إلى رسوله ليقبض ما كان عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه و سلم الخلف ولا أرى حبس رسوله الا من سخطة كانت فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه و سلم وبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم الوليد بن عقبة إلى الحرث ليقبض ما كان عنده مما جمع من الزكاة فلما أن سار الوليد حتى بلغ بعض الطريق فرق فرجع فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال يا رسول الله إن الحرث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم البعث إلى الحرث فأقبل الحرث بأصحابه إذ استقبل البعث وفصل من المدينة لقيهم الحرث فقالوا هذا الحرث فلما غشيهم قال لهم إلى من بعثتم قالوا إليك قال ولم قالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله قال لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته بتة ولا أتاني فلما دخل الحرث على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال لا والذي بعثك بالحق ما رأيته ولا أتاني وما أقبلت إلا حين احتبس علي رسول رسول الله صلى الله عليه و سلم خشيت أن تكون كانت سخطة من الله عز و جل ورسوله قال فنزلت الحجرات { يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين } إلى هذا المكان { فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم }

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Isa bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku bahwa ia pernah mendengar Al Harits bin Dhirar Al Khuza’i bercerita “Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW , Beliau mengajakku masuk islam maka aku memeluk islam dan mengikrarkannya. Kemudian Beliau mengajakku mengeluarkan zakat, aku menunaikannya dan berkata “Ya Rasulullah aku akan pulang kepada kaumku dan akan kuajak mereka memeluk islam dan mengumpulkan zakat. Siapa saja yang mengikuti seruanku maka akan kuambil zakatnya dan kirimkanlah Utusan kepadaku Ya Rasulullah pada waktu begini dan begini untuk membawa zakat yang telah kukumpulkan itu. Setelah Al Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya yang mengikutinya dan telah sampai masa datangnya utusan Rasulullah SAW ternyata utusan tersebut tertahan di jalan dan tidak datang menemuinya. Al Harits mengira bahwa telah turun kemurkaan Allah dan RasulNya kepada dirinya. Ia pun mengumpulkan pembesar kaumnya dan berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan waktu kepadaku dimana Beliau akan mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, sungguh tidak pernah Rasulullah SAW menyalahi janji dan aku takut ini karena murka Allah. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah.Adapun Rasulullah SAW telah mengutus Walid bin Uqbah menemui Al Harits untuk mengambil zakat yang dikumpulkannya. Ketika Walid berangkat di tengah perjalanan ia merasa takut dan kembali pulang lalu menemui Rasulullah SAW seraya berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Al Harits menolak memberikan zakat kepadaku bahkan ia bermaksud membunuhku”.Maka Rasulullah SAW mengirim utusan lain kepada Al Harits dan Al Harits berserta sahabatnya juga berangkat. Ketika utusan Rasul keluar kota Madinah dan bertemu Al Harits , mereka berkata “inilah Al Harits”. Al Harits menghampiri dan berkata “kepada siapa kalian diutus?”. Mereka menjawab “kepadamu”. “Untuk apa kalian diutus kepadaku?” Tanya Al Harits.Mereka menjawab “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan ia mengaku bahwa kau menolak membayar zakat bahkan mau membunuhnya”. Al Harits berkata “Tidak benar, demi Rabb yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku”.Setelah Al Harits menghadap Rasulullah SAW, Beliau bertanya “Apakah kau menolak membayar zakat dan hendak membunuh utusanKu?”.Ia menjawab “Tidak, demi Rabb yang telah mengutusMu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku dan aku tidak datang kepadaMu melainkan ketika utusanMu tidak datang aku takut datangnya kemarahan Allah dan RasulNya. Pada saat itulah turun ayat Al Hujurat {Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.} sampai {sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.}
.

.

Kedudukan Hadis
Hadis ini memilikisanad yang jayyid (baik). Al Hafiz As Suyuthi dalamLubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzulsurah Al Hujurat ayat 6 berkata

أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحرث بن ضرار الخزامي

Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid dari Harits bin Dhirar Al Khuza’i.

Kemudian Al Hafiz Suyuthi menyebutkan riwayat tersebut setelah itu ia berkata

رجال إسناده تقات

Para perawi sanad ini tsiqat

Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid7/238 hadis no 11352 juga membawakan hadis ini dan mengatakan bahwapara perawi Ahmad tsiqat.Ibnu Katsir dalamTafsir Ibnu Katsir7/370 ketika menafsirkan Al Hujurat ayat 6 telah membawakan hadis ini dan beliau menyatakanbahwa hadis ini hasan.DalamMusnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zainhadis no 18371 disebutkan bahwa“sanadnya shahih”.Pentahqiq kitabLubabun NuqulAbdurrazaq Mahdi juga mengakuibahwa sanad hadis ini jayyiddalam keterangannya terhadap riwayat no 1014.

Jika kita melihat kitab-kitab biografi para perawi hadis maka dapat diketahui bahwaWalid bin Uqbah ini adalah seorang sahabat Nabi, Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/287 menyebutkan bahwaWalid bin Uqbah adalah sahabat Nabi.Padahal telah jelas disebutkan di atas bahwaWalid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam Al Hujurat ayat 6.Dan dalam riwayat di atas kita lihat bahwaWalid bin Uqbah salah seorang sahabat Nabitelah berkata dusta kepada Rasulullah SAW.Apakah ini berarti seorang Sahabat Nabi bisa saja dikatakan fasik dan bisa saja ia berdusta kepada Rasulullah SAW?.Silakan direnungkan

==============================================================================

Tragedi Kamis Kelabu : Mengungkap Kekeliruan Salafy

Salah satu situs salafy telah berpanjang lebar membahas tentang“Tragedi Kamis Kelabu”.Setelah kami baca maka kami dapati bahwa apa yang ia tulis adalah pembahasan liar yang tidak objektif dan hanya bertujuan membantah setiap apa yang dikatakan Syiah. Begitu bersemangatnya situs itu menulis bantahan terhadap Syiah sehingga ia terjerumus ke dalam kedustaan [yang mungkin ia sadari atau mungkin juga tidak]. Pembahasan yang kami tulis ini tidak dalam rangka membela apa yang menjadi hujjah Syiah melainkan untuk meluruskan kedustaan [yang selanjutnya akan kami sebut dengan kekeliruan] atau talbis yang terdapat dalam pembahasan situs salafy tersebut.

Kekeliruan pertama situs tersebut adalah perkataannya bahwa Nabi SAW pingsan atau tidak sadarkan diri dalam “tragedi kamis kelabu”. Berikut perkataan keliru yang ia tulis

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta kertas dan tinta untuk menuliskan (mendiktekan) beberapa nasehat agama bagi kaum muslimin. Tetapi, tiba-tiba setelah meminta kertas dan tinta, Nabi pingsan dan tidak sadarkan diri. Ketika Nabi terbaring tidak sadar, seseorang bangkit mengambil kertas dan tinta, tetapi Umar bin Khattab memanggil kembali orang tersebut. Umar merasa bahwa mereka seharusnya tidak mengganggu Nabi dengan meminta beliau untuk menuliskan nasehat, tetapi mereka seharusnya membiarkan beliau untuk mendapatkan kesadaran beliau kembali, beristirahat, dan menjadi pulih kembali. Oleh karena itu, Umar berkata kepada kaum Muslimin yang lain : “Nabi sedang sakit parah dan kalian mempunyai Al-Qur’an, Kitabullah sudah cukup buat kita”.

Bukti kekeliruan perkataan ini adalahtidak ada satupun riwayat shahih yang menunjukkan bahwa Nabi SAW tidak sadarkan diri atau pingsanseperti yang dikatakan penulis tersebut. Bahkan riwayat-riwayat shahih menunjukkan kalau Nabi SAW benar-benar dalam keadaan sadar.

عن ابن عباس قال لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي البيت رجال فيهم عمر ابن الخطاب فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( هلم أكتب لكم كتابا لا تضلون بعده ) فقال عمر إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قد غلب عليه الوجع وعندكم القرآن حسبنا كتاب الله فاختلف أهل البيت فاختصموا فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( قوموا ) قال عبيدالله فكان ابن عباس يقول إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم

Dari Ibnu Abbas yang berkata “Ketika ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir tiba dan di dalam rumah beliau ada beberapa orang diantara mereka adalah Umar bin Khattab. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “berikan kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian wasiat, agar kalian tidak sesat setelahnya”. Kemudian Umar berkata “sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dikuasai sakitnya dan di sisi kalian ada Al-Qur’an, cukuplah untuk kita Kitabullah” kemudian orang-orang di dalam rumah berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata, “berikan apa yang dipinta Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan”. Sebagian lainnya mengatakan sama seperti ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata “menyingkirlah kalian” Ubaidillah berkata Ibnu Abbas selalu berkata “musibah yang sebenar-benar musibah adalah penghalangan antara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan penulisan wasiat untuk mereka disebabkan keributan dan perselisihan mereka”[Shahih Muslim no 1637]

ابن عباس رضي الله عنهما يقول يوم الخميس وما يوم الخميس، ثم بكى حتى بل دمعه الحصى، قلت يا أبا عباس ما يوم الخميس؟ قال اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه، فقال (ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا). فتنازعوا، ولا ينبغي عند نبي تنازع، فقالوا ما له أهجر استفهموه؟ فقال (ذروني، فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه)

Ibnu Abbas RA berkata “hari kamis, tahukah kamu ada apa hari kamis itu?. Ibnu Abbas menangis hingga air matanya mengalir seperti butiran kerikil. Kami berkata “hai Abul Abbas ada apa hari kamis?. Ia menjawab “Hari itu sakit Rasulullah SAW semakin berat, kemudian Beliau SAW bersabda “Berikan kepadaku kertas, aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya. Kemudian mereka berselisih, padahal tidak sepantasnya terjadi perselisihan di sisi Nabi. Mereka berkata “beliau sedang menggigau, tanyakan kembali tentang ucapan beliau tersebut?. Namun Rasulullah SAW bersabda “Tinggalkanlah aku. Sebab keadaanku lebih baik daripada apa yang kalian ajak”[Shahih Bukhari no 2997]

Kedua hadis di atas dan hadis-hadis lainnya membuktikan bahwa Nabi SAW benar-benar dalam keadaan sadar ketika terjadi peristiwa tersebut. Setelah Nabi SAW meminta kertas dan terjadi perselisihan diantara sahabat Nabi, Rasulullah SAW saat itu masih sadar sehinggabeliau SAW menyuruh mereka keluarkarena tidak pantas terjadi perselisihan di sisi Nabi SAW. Begitu pula ketika sebagian sahabat mengatakanNabi SAW menggigau dan meminta untuk menanyakan kembali kepada Nabi SAW. Nabi SAW malah menjawab mereka agar mereka menyingkir dan mengatakan bahwakeadaan Beliau lebih baik dari apa yang mereka serukan. [Memang perkataan “menggigau” sangat tidak pantas dalam peristiwa ini]

Penulis yang “aneh” itu malah menghiasi kekeliruannya dengan basa-basi untuk mengecoh kaum awam. Ia membuat analogi untuk kisah ini yaituseorang guru yang tiba-tiba pingsan setelah meminta muridnya agar membawa kapur tulis. Menurutnya tidak masuk akal ketika guru siuman, sang murid menyodorkan kapur tulis. Kami katakan bahwa argumen ini jelas argumen yang skizofrenik. Membuat asumsi sendiri kemudian mencari-cari analogi untuk asumsi yang ia buat sendiri. Rasulullah SAW memang dalam kondisi sakit tetapi Beliau SAW dalam kondisi sadar, Beliau mengetahui dengan jelas bahwa para sahabat beliau sedang berkumpul di sisi Beliau. Beliau dalam kondisi sadar saat mengatakan“aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya”. Beliau dalam kondisi sadar sehingga dengan jelas mengetahui perselisihan yang terjadi sehingga menyuruh mereka keluar. Beliau SAW dalam kondisi sadar untuk menjawab mereka yang mengira beliau menggigau dan dengan jelas beliau mengatakan keadaan beliau lebih baik dari apa yang mereka katakan. Maka kita lihat betapa batilnya analogi yang diserupakan penulis tersebut. Penulis itu juga berkata

Sesudah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta kertas dan tinta, beliau pingsan dengan tiba-tiba dan itulah sebabnya Umar ra meminta kepada orang-orang untuk tidak jadi mengambil kertas dan tinta karena Nabi sedang dalam keadaan sakit berat. Itu adalah merupakan pendapat Umar ra (dan tentunya kami sependapat dengan beliau), adalah merupakan sebuah kejahatan mengganggu Nabi dalam keadaan seperti itu.

Penulis ini terlalu bersemangat mensucikan kesalahan Umar sehingga ia tidak menyadari betapa perkataannya telah menuduh para sahabat lain. Jika ia beranggapan merupakan sebuah kejahatah mengganggu Nabi dalam keadaan seperti itu, maka bagaimana dengan sebagian sahabat yang memang ingin memenuhi permintaan Nabi. Apakah perbuatan sebagian sahabat itu bisa disebut “kejahatan”. Ditambah lagi orang lain pun bisa berbasa-basi,Kalau memang kondisi Nabi SAW sakit berat sehingga beliau tidak sadar dan pingsan atau membutuhkan banyak istirahat maka mengapa mereka para sahabat berkumpul di rumah Nabi SAW. Bukankah kalau menuruti gaya berbasa-basi penulis, orang yang sakit membutuhkan istirahat yang tenang, lihat saja di rumah sakit jumlah pengunjung yang membesuk saja dibatasi dan tidak boleh membuat keributan. Jadi bukankah seharusnya para sahabat membiarkan Nabi SAW beristirahat dengan tenang bukannya berkerumun sampai akhirnya maaf terjadi keributan.

Sudah jelas pemicu keributan itu adalah perkataan Umar. Seandainya Umar diam dan para sahabat memenuhi permintaan Nabi maka tidak akan ada keributan. Memenuhi permintaan Nabi SAW itu jelas tidak membuat kesusahan bagi Nabi SAW. Saat itu Nabi SAW dalam kondisi sadar sehingga beliau bisa berbicara dengan jelas, jadi jika para sahabat membawakan kertas dan tinta maka mungkin beliau akan mendiktekan sesuatu dan meminta salah seorang sahabat menuliskannya. Mendiktekan sesuatu sama halnya dengan berbicara, jika Nabi SAW bisa berbicara“meminta kertas dan tinta”atau“mengusir para sahabat keluar”atau“membantah mereka yang mengatakan beliau menggigau”maka Nabi SAW jelas bisa berbicara untuk mendiktekan wasiat Beliau SAW.

Dan yang paling lucu adalah analogi yang dibuatnya yaitu ketika seorang ayah mendapat serangan jantung setelah meminta anaknya membawakan remote TV. Ya ampun betapa lucunya talbis yang ia buat. Dari analogi ini ia menginginkan perkataan

Secara akal sehat, permintaan Nabi akan kertas dan tinta tidak relevan lagi, sebagai mana faktanya ketidaksadaran beliau harus diambil tindakan terlebih dahulu daripada permintaan beliau tersebut. Jika Nabi dalam keadaan sehat, dan meminta diambilkan kertas dan tinta, tetapi orang-orang menolaknya, maka situasi akan berbeda. Tetapi di sini, Nabi tidak sadarkan diri setelah permintaan tersebut dan itu merubah situasi seluruhnya.

Kita telah tunjukkan bahwa perkataannya soalNabi SAW tidak sadarkan dirihanyalah perkataan yang dibuat-buat. Menurut akal sehatnyapermintaan Nabi SAW itu sudah tidak relevandan dengan ini yang ia inginkan adalah menunjukkan bahwaapa yang dilakukan Umar adalah perbuatan yang terbaik saat itu. Salafy memang terlalu bersemangat dalam membela sahabat bahkan demi membela sahabat mereka tidak segan-segan mengatakan“permintaan Nabi SAW sudah tidak relevan lagi”. Alhamdulillah akal sehat kami tidaklah seperti akal sehat penulis tersebut, bagi kami perkataan Nabi SAW itu adalah bentuk kecintaan Beliau kepada umatnya dan perkataan Umar adalah perkataan yang keliru dan tidak pantas karena pada akhirnya perkataan Umar malah menyulut terjadinya perselisihan dan keributan. Kami tidaklah ghuluw dalam membela sahabat Umar, kami tidaklah membenci sahabat Umar tetapi kami menyikapi sahabat secara objektif. Jika sahabat menyelisihi Rasul SAW maka kami memilih Rasulullah SAW.

Pembaca yang tanggap seharusnya mempertimbangkan bahwa pada hari Kamis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakit yang lebih parah daripada sebelumnya, dan mungkin hal ini sebabnya sehingga beliau meminta untuk dibawakan kertas dan tinta karena beliau sedang mengalami kesulitan bicara dengan keras dan beliau menghendaki untuk mendikte dengan pelan apa yang mesti ditulis oleh orang yang paling dekat dengan beliau sehingga mereka dapat menyampaikannya kepada yang lain. Kita melihat bahwa saat itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit yang tak tertahankan dan tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyaman; itulah alasan mengapa Umar bin Khattab ra berharap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara seperti itu agar beliau tidak perlu merasakan sakit.

Pembaca yang tanggap akan melihat bahwa baru sebentar saja penulis itu sudah mengalami tanaqudh. Sekarang ia mengatakan bahwaNabi SAW mengalami sakit tak tertahankan dan tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyamansehingga ini menjadi alasan bagi Umar untuk menolak permintaan Nabi SAW. Padahal sebelumnya dengan lugas sekali, penulis berkata

Umar bin Khattab berpikir – dan ini adalah benar – bahwa permintaan akan kertas dan tinta tidak berlaku lagi sekarang karena Nabi sedang pingsan. Umar merasa mereka seharusnya membiarkan Nabi beristirahat.

Sungguh mengagumkan betapa penulis ini benar-benar mengetahui baikapa yang dipikirkan Umaratauapa yang benar-benar dirasakan Nabi SAW. Semua perkataan penulis hanya bertujuan untuk membela Umar, ia tidak sedikitpun memikirkan apakah perkataannya saling bertentangan satu sama lain.

Umar merasa – dan kami setuju dengannya – bahwa permintaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat dilakukan lagi sehubungan dengan kenyataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang tak sadarkan diri. Ini bukan masalah ketidaktaatan tetapi merupakan ijtihad sederhana Umar bahwa permintaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi dapat dilakukan dalam situasi seperti itu (Nabi sedang tidak sadarkan diri). Lebih jauh, posisi Umar adalah berdasarkan cintanya yang dalam kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dia tidak suka melihat beliau dalam keadaan kesakitan dan menderita.

Perkataan ini hanyalah basa-basi yang tidak sedikitpun bernilai hujjah. Kita yakin bahwapara sahabat mencintai Nabi SAW tidak hanya Umar. Kalau kita berbicara soal benar atau tidak maka tidak cukup hanya mengandalkan“cinta yang dalam”.Apakah para sahabat yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAW tidak memiliki“cinta yang dalam”kepada Nabi SAW?. Kami yakin mereka juga punya dan karena kecintaan mereka yang begitu besarlah mereka ingin memenuhi permintaan Nabi SAW. Tidak sedikitpun mereka ingin menyusahkan Nabi, mereka akan berusaha agar permintaan Nabi SAW dipenuhi tanpa menyusahkan Beliau SAW.

Untuk menguatkan hujjahnya bahwa Nabi SAW pingsan atau tidak sadarkan diri, dengan terpaksa penulis itu berhujjah atau memanfaatkan kitab Syiah yang biasa ia dustakan. Sungguh betapa mengagumkan. Kenapa? Tentu saja karena ia tidak bisa menemukan bukti dalam kitab yang menjadi rujukannya. Kami perhatikan, penulis ini sangat lemah sekali dalam metodologi tetapi benar-benar bersemangat dalam berbasa-basi. Kami lihat ia dengan mudahnya mengutip riwayat tanpa membuktikan apakah riwayat yang ia kutip shahih atau tidak. Diantaranya ia mengutip kitabTarikh At Tabari,Sirah Ibnu Ishaqdan kitabAl Irsyad.Apakah semua riwayat dalam kitab tersebut shahih? Apalagi nukilannya dari kitab Syiah? Kami heran bagaimana menyikapinya. Kalau sekedar asal menukil maka siapapun bisa, bahkan cukup banyak nukilan yang akan membatalkan semua hujjahnya diantaranya

عن عمر بن الخطاب قال كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم وبيننا وبين النساء حجاب فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم اغسلوني بسبع قرب وأتوني بصحيفة ودواة أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا فقال النسوة ائتوا رسول الله صلى الله عليه وسلم بحاجته قال عمر فقلت اسكتهن فإنكن صواحبه إذا مرض عصرتن أعينكن وإذا صح أخذتن بعنقه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هن خير منكم

Dari Umar bin Khattab yang berkata “kami berada di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wassalam dan terdapat hijab diantara kami dan para wanita. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam bersabda “basuhlah aku dengan tujuh kantung air dan bawakan kepadaku kertas dan tinta, aku akan tuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak tersesat setelahnya selama-lamanya. Para wanita berkata “penuhilah permintaan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam. Umar berkata “diamlah kamu seperti wanita Yusuf, jika Beliau sakit kamu menangisinya, dan jika Beliau sehat kamu membebaninya. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam bersabda “mereka [para wanita] lebih baik dari kamu”[Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/371]

Adakah dari nukilan diatas Nabi SAW pingsan atau tidak sadar?..Bahkan Nabi SAW membela para wanita dan mengatakan kalau mereka lebih baik dari Umar dan sahabat yang sependapat dengan Umar. Kenapa? Karena para wanita tersebut mengatakan “penuhilah permintaan Nabi SAW”. Kalau cuma sekedar kutip-mengutip riwayat maka kami katakan akan ada banyak sekali kutipan yang membatalkan semua hujjah penulis tersebut..Keanehan lain dari penulis salafy itu adalah pembahasan kata “menggigau”. Kami melihat apa yang ia katakan soal “menggigau” hanyalah basa-basi yang tidak sedikitpun bernilai hujjah.

dalam konteks hadits, kata tersebut digunakan dalam memaknai seseorang yang pergi atau berangkat dari keadaan pikirannya yang asli; lebih spesifik, istilah ini dikenakan kepada orang yang memisahkan diri dari manusia dan dunia, seperti dalam keadaan kehilangan kesadaran. Dengan kata lain, orang yang bertanya “apakah Nabi mengigau” tidak berarti bahwa Nabi berbicara tanpa akal sehat atau beliau telah gila. Tetapi, lelaki tersebut hanya bertanya apakah Nabi dalam keadaan sadar atau tidak, dan kita tahu dari cerita syaikh Mufid mengenai kejadian tersebut bahwa Nabi dalam keadaan tidak sadar.

Telah disebutkan dalam riwayat shahih bahwa Nabi SAW dalam kondisi sadar ketika mengucapkan permintaan Beliau“Berikan kepadaku kertas, aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya”. Setelah Nabi SAW berkata seperti ini maka diantara sahabat muncul berbagai respon diantaranyaMereka yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAWdanmereka yang terpengaruh dengan perkataan Umarbahwa Nabi SAW dikuasai sakitnya dan cukuplah Kitab Allah. Diantara mereka yang terpengaruh ucapan Umar itu ada yang mengatakan Nabi SAW menggigau dan mau menanyakan kembali kepada Nabi SAW

عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس ثم جعل تسيل دموعه حتى رأيت على خديه كأنها نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( ائتوني بالكتف والدواة ( أو اللوح والدواة ) أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يهجر

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA berkata “hari kamis, tahukah kamu ada apa hari kamis itu kemudian Ibnu Abbas menangis hingga aku melihat air matanya mengalir seperti butiran mutiara. Ibnu Abbas berkata Rasulullah SAW bersabda “Berikan kepadaku tulang belikat dan tinta aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya. Kemudian mereka berkata Rasulullah SAW sedang menggigau[Shahih Muslim 3/1257 no 1637]

Riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa diantara para sahabat memang ada yang mengatakan “Rasulullah SAW menggigau”oleh karena itu sebagian sahabat lain menjadi terpengaruh dan berkata“tanyakan kembali kepada Rasul SAW”. Mendengar perkataan ini Rasulullah SAW berkata“Tinggalkanlah aku. Sebab keadaanku lebih baik daripada apa yang kalian ajak”.Perkataan Rasul SAW ini menjadi bukti bahwa Beliau dalam kondisi sadar dan Beliau tidak sedang menggigau.

Orang tersebut berkata “Tanya kepada beliau” dan “coba belajar dari beliau” dimana artinya bahwa dia berharap kepada mereka untuk melihat apakah Nabi sedang dalam keadaan sadar. Dalam dunia medis, dokter secara rutin menggunakan “Glasgow Coma Scale” (GCS Exam) untuk mengetes tingkat kesadaran pasien. Tes GCS dilakukan dengan menanyai pasien dengan berbagai pertanyaan untuk melihat respon si pasien, dan respon dari pasien menunjukkan tingkat kesadaran pasien tersebut. Dalam bahasa Inggris yang artinya untuk mengecek apakah seseorang dalam keadaan sadar atau tidak, hal terbaik yang dilakukan adalah bertanya kepadanya apakah dia baik-baik saja. Pada kenyataannya, ini adalah langkah pertama dari CPR: untuk mengecek apakah pasien dalam keadaan sadar atau tidak, hal pertama yang dilakukan adalah dia akan bertanya “are you OK?” (kamu baik-baik saja?) jika dia menjawab baik-baik saja, maka tidak ada masalah, tetapi jika tidak, tindakan CPR segera dilakukan.

Ucapan ini sungguh membuat kami tersenyum geli. Memang benar GCS digunakan untuk menilai kesadaran pasien dan memang benar bertanya “are you OK?” adalah langkah pertama CPR tetapi semua ini benar-benar tidak nyambung dengan keadaan Rasulullah SAW saat itu. GCS dilakukan jika memang keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran. Jika pasien tersebut masih sadar dalam arti ia mengenal siapa dirinya, dimana dirinya dan mengenal lingkungan sekitarnya maka tidak ada gunanya memakai GCS walaupun orang tersebut sakit berat. Sakit yang berat tidak selalu diiringi penurunan kesadaran. Apalagi saat itu Rasulullah SAW mengatakan sesuatu dengan jelas“aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya”.Perkataan ini memiliki struktur kalimat yang jelas dengan makna yang jelas pula, dan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dalam keadaan sadar akan dirinya dan orang-orang sekitarnya serta menyadari apa yang Beliau SAW katakan.

Apalagi jika dianalogikan dengan CPR betapa jauhnya pengandaian itu. Misalnya nih ada si A tiba-tiba terjatuh atau mengalami kecelakaan di tengah jalan, nah kemudian ada si B yang lewat menolong A. A itu masih sadar dan berkata“tolong pindahkan aku dari tengah jalan dan tolong telepon ambulans”. Perkataan si A ini menunjukkan bahwa ia dalam kondisi sadar dan jelas tidak ada gunanya jika si B mau melakukan CPR. Lha CPR itu dilakukan kalau orang tersebut tidak sadar mengalami henti napas atau henti jantung, orang yang bisa berkata-katadengan struktur kalimat yang jelas dan makna yang jelas maka napas dan jantung orang tersebut bisa dibilang belum ada masalah [setidaknya gak perlu CPR]. Atau contoh lain si A pengusaha kaya yang sedang sakit keras, tiba-tiba ketika anak-anaknya berkumpul disisinya, ia berkata“tolong ambilkan kertas, aku mau menuliskan wasiat soal warisan sehingga nanti kalian tidak akan ribut sepeninggalku”. Tentu saja anak-anak yang mendengar ini akan memenuhi permintaan ayahnya. Justru terasa ganjil jika mendengar perkataan ayahnya ini, ada anak yang berkata “apakah ayah menggigau” atau dengan konyolnya si anak siap-siap melakukan CPR. Kami sungguh heran dengan ulasan penulis tersebut yang makin tidak karuan.

Kemudian penulis tersebut membawakan riwayat dari Syaikh Mufid untuk mendukung pandangannya. Anehnya kami justru melihat ada yang aneh dalam caranya memahami riwayat tersebut. Inilah riwayat Syaikh Mufid yang kami ambil dari tulisannya [kami tidak berhujjah dengan riwayat ini kecuali hanya menunjukkan kekeliruan pemahaman salafy tersebut]

Beliau [Nabi] tak sadarkan diri [pingsan] karena kelelahan yang menimpa beliau dan kesedihan yang dirasakan oleh beliau. Beliau tidak sadar dalam waktu yang singkat sementara kaum muslimin menangis dan istri-istri beliau serta para wanita, anak-anak kaum muslimin dan semua yang hadir berteriak meratap. Rasulullah kembali sadar dan melihat mereka. Kemudian beliau bersabda : “Ambilkan tinta dan kertas (dari kulit) sehingga aku dapat menulis untuk kalian, dan setelah itu kalian tidak akan tersesat”. Kembali beliau tidak sadarkan diri dan satu dari mereka yang hadir bangkit mencari tinta dan kertas. “Kembalilah”, Umar memerintahnya [orang tersebut]. “beliau mengigau.” Orang tersebut kembali. Orang-orang yang hadir menyesalkan kelalaian [yang telah mereka tunjukkan] dalam mengambil tinta dan kertas dan bertengkar satu sama lain. Mereka selalu mengatakan: “Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali, tetapi kita menjadi cemas akan kedurhakaan kita kepada Rasulullah, semoga Allah memberkati beliau dan keluarga beliau” Ketika beliau (Nabi) shalallahu ‘alaihi wa sallam kembali sadar… [Kitab Al-Irsyad, oleh Syaikh Mufid, hal 130]

Setelah membawakan atsar ini, penulis yang aneh itu berkata

Dari cerita ini menjadi jelas bahwa kata-kata “apakah beliau mengigau” diucapkan ketika Nabi sedang tidak sadarkan diri (sebelum beliau kembali sadar)! Apakah seorang yang sedang tidak sadar (pingsan) dapat bicara? tentu tidak! Ini adalah pukulan telak atas argument Syi’ah, dan dimanapun syi’ah membuat kehebohan tentang kata-kata “apakah beliau mengigau”, maka kita akan langsung ke bagian ini.

Silakan perhatikan kata-kata dalam riwayat Syaikh Mufid“Rasulullah kembali sadar dan melihat mereka. Kemudian beliau bersabda : “Ambilkan tinta dan kertas (dari kulit) sehingga aku dapat menulis untuk kalian, dan setelah itu kalian tidak akan tersesat”. Kembali beliau tidak sadarkan diri dan satu dari mereka yang hadir bangkit mencari tinta dan kertas. “Kembalilah”, Umar memerintahnya [orang tersebut]. “beliau mengigau.”. Dari kalimat ini dapat dipahami bahwaRasulullah SAW dalam keadaan sadar ketika meminta kertas dan pena, kemudian setelah itu beliau tidak sadarkan diri. Salah seorang sahabat ingin mengambilkan kertas dan tinta tetapi Umar mencegahnya dan mengatakan beliau menggigau. Siapapun yang punya sedikit akal pikiran akan mengerti kalau ucapan Umar“menggigau”itu ditujukan terhadap perkataan Rasulullah SAW“ambilkan kertas dan tinta”oleh karena itulah Umar mencegah sahabat yang mau mengambil kertas dan tinta. Seolah-olah Umar mengatakan tidak perlu mengambil kertas dan tinta karena Rasulullah SAW sedang menggigau. Dan kita tahu dari riwayat Syaikh Mufid bahwa ucapan“ambilkan kertas dan tinta”diucapkan Rasulullah SAW dalam keadaan sadar. Jadi sungguh aneh sekali jalan pikiran penulis itu, apalagi dengan ngawurnya malah berkata

Jika kata-kata “apakah beliau mengigau” diucapkan ketika Nabi sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri, maka tidak ada yang namanya “bicara meracau” sebagaimana seorang yang sedang tidak sadarkan diri (pingsan) tidak dapat berbicara, apalagi berbicara meracau. Dengan kata lain, yang dimaksud dari kata “mengigau” sebenarnya adalah sebuah gangguan kesadaran. Jadi pengertiannya adalah; seseorang yang sedang tidur dalam ketidaksadaran dikatakan sebagai “berangkat” (hajara) dari manusia dan dunia ini.

Sudah jelas yang dimaksudkan“menggigau”oleh Umar adalah perkataan“ambilkan kertas dan tinta”oleh karena itu Umar mencegah sahabat yang mau membawakan kertas dan tinta dengan mengatakan kalau Rasulullah SAW menggigau jadi tidak perlu mengambil kertas dan tinta. Silakan pembaca memahaminya dan kami yakin tidak perlu akal yang brilian untuk memahaminya. Siapapun yang punya sedikit akal pikiran akan mampu memahami bahasa mudah yang seperti ini. Penulis itu sudah terjebak oleh nafsu pembelaannya yang terkesan mengkultuskan Umar sehingga ia membuat semua“pembelaan bergaya pengacara”untuk melindungi image sahabat Umar. Kami hanya ingin menunjukkan kepada pembaca sekalian jika penulis itu tidak memiliki kemampuan untuk memahami bahasa yang mudah seperti ini maka apa jadinya untuk bahasa yang lebih rumit dari ini.

Secara metodologi, penulis salafy itu sungguh tidak memiliki nilai sama sekali. Inti pembelaan dalam tulisannya adalah hujjahnya bahwaNabi SAW tidak sadar dalam situasi tersebut dan satu-satunya bukti bagi hujjahnya ini adalah riwayat Syaikh Mufid yang tidak diketahui apakah shahih atau tidak. Anehnya ini adalah sumber syiah yang biasanya ia dustakan lantas mengapa sekarang ia berhujjah dengannya. Mana perkataan basa-basinya“mengambil hadis sunni yang mu’tabar”. Kita lihat wajah aslinya, ketika ia tidak menemukan hujjah untuk pembelaannya dari sumber sunni yang ia sebut mu’tabar [bahkan sumber mu’tabar justru mengancam image idolanya] maka tidak segan-segan ia mengambil dari sumber yang ia dustakan sendiri.

Yang membuat metodenya lebih lucu lagi adalah ia menolak kalau orang yang berkata menggigau itu adalah Umar padahal kalau ia berhujjah dengan riwayat Syaikh Mufid maka sungguh jelas yang berkata “menggigau” adalah Umar. Dan sebenarnya tidak hanya syiah yang menyatakan kalau yang berkata “menggigau” adalah Umar, Ibnu Taimiyyah syaikhnya salafiyyun ternyata juga mengatakan kalau yang berkata “menggigau” adalah Umar [Minhaj As Sunnah 6/202]. Sepertinya penulis salafy itu memang tidak berniat “berpegang pada dalil”, yang ia inginkan hanyalah mencari-cari pembelaan apapun caranya. Mau tanaqudh atau bertentangan atau berbasa-basi itu tidak menjadi masalah, karena mungkin sekali ia tidak mengerti bagaimana cara berhujjah dengan benar.

Kekeliruan kedua kedua situs tersebut adalah perkataannya bahwa yang dimaksud dengan tragedi dalam perkataan Ibnu Abbas itu adalah perselisihan para sahabat di hadapan Nabi. Berdasarkan riwayat-riwayat shahih justru yang dimaksud Ibnu Abbas dengan tragedi adalahpenghalangan antara Nabi SAW dan wasiat yang akan Beliau SAW tulis.Hal ini tampak jelas dalam riwayat berikut

عن ابن عباس قال لما اشتد بالنبي صلى الله عليه وسلم وجعه قال (اتئوني بكتاب أكتب لكم كتابا لا تضلوا من بعده). قال عمر إن النبي صلى الله عليه وسلم غلبه الوجع، وعندنا كتاب الله حسبنا. فاختلفوا وكثر اللغط، قال (قوموا عني، ولا ينبغي عندي التنازع). فخرج ابن عباس يقول: إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين كتابه

Dari Ibnu Abbas yang berkata ketika sakit Nabi SAW semakin parah, Beliau bersabda “Berikan kepadaku kertas, aku akan tuliskan untuk kalian tulisan yang kalian tidak akan sesat setelahnya”. Umar berkata”Sesungguhnya Nabi SAW telah dikalahkan oleh sakitnya dan kita sudah memiliki Kitabullah dan cukuplah itu bagi kita. Lalu mereka berselisih dan terjadi keributan. Nabi SAW pun berkata”Menyingkirlah kalian dari-Ku, tidak sepantasnya terjadi perselisihan di hadapan-Ku”. Maka Ibnu Abbas berkata “Sesungguhnya bencana yang sebenar-benar bencana adalah penghalangan antara Rasulullah SAW dan penulisan wasiatnya”[Shahih Bukhari no 114]

Dari riwayat Ibnu Abbas tersebut diketahui dengan jelas bahwa yang dimaksud bencana oleh Ibnu Abbas itu adalah“penghalangan antara Rasulullah SAW dan penulisan wasiatnya”. Nabi SAW tidak jadi menuliskan wasiatnya itulah yang disesalkan oleh Ibnu Abbas. Dan memang yang menyebabkan Rasulullah SAW tidak jadi menuliskan wasiatnya adalah disebabkan perselisihan dan keributan dihadapan Nabi.

فكان ابن عباس يقول إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم

Ibnu Abbas selalu berkata “musibah yang sebenar-benar musibah adalah penghalangan antara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan penulisan wasiat untuk mereka disebabkan keributan dan perselisihan mereka”[Shahih Muslim no 1637]

Dan disebutkan dalam riwayat shahih bahwa penyebab terjadi perselisihan karena sebagian sahabat ingin memenuhi permintaan Nabi SAW dan sebagian yang lain menginginkan seperti apa yang dikatakan Umar RA. Jadi pemicu terjadinya keributan adalah perkataan Umar RA. Seandainya Umar diam atau memenuhi permintaan Nabi SAW untuk mengambilkan kertas dan tinta maka insya Allah tidak akan terjadi pertengkaran dan keributan sampai akhirnya wasiat tersebut dituliskan.

فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( قوموا )

Sebagian dari mereka berkata, “berikan apa yang dipinta Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan”. Sebagian lainnya mengatakan sama seperti ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata “menyingkirlah kalian”[Shahih Muslim no 1637]

Ringkasnya adalah sebagai berikut

  • Umar berkata “Nabi SAW dikuasai oleh sakitnya dan cukuplah kitab Allah bagi kita”. Sebagian sahabat mengikuti perkataan Umar dan sebagian lain ingin memenuhi permintaan Nabi SAW
  • Terjadi perselisihan dan keributan di hadapan Nabi SAW
  • Nabi SAW tidak jadi menuliskan wasiatnya [dan inilah yang dimaksud bencana oleh Ibnu Abbas]

Jadi perkataan penulis salafy tersebut

Apa yang kami temukan adalah bahwa Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai musibah tidak berkaitan dengan penolakan Umar, melainkan berkaitan dengan kenyataan bahwa sahabat saling berselisih pendapat di hadapan Nabi.

Adalah keliru, bagaimana mungkin dikatakanitu tidak ada kaitannya dengan penolakan Umar. Justru penolakan Umarlah yang memicu terjadinya perselisihan sahabat di hadapan Nabi karena yang berselisih itu adalah sebagian sahabat yang mengikuti ucapan Umar dan sebagian sahabat yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAW. Posisi yang benar dalam hal ini adalah sahabat yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAW. Karena sebagai umat islam, para sahabat diharuskan untuk mentaati perintah Nabi SAW terutama yang berkaitan dengan syariat apalagi apa yang ingin disampaikan Nabi SAW adalah sesuatu yang sangat penting dimana Beliau SAW berkata“berikan kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian wasiat, agar kalian tidak sesat setelahnya”.

Perkataan Ibnu Abbas yang menganggap penghalangan antara Nabi SAW dan wasiat Beliau SAW sebagai bencana justru mengisyaratkan bahwaIbnu Abbas sangat mengharapkan agar wasiat tersebut dituliskan. Dan kami yakin Ibnu Abbas adalah sahabat yang sangat mencintai Nabi SAW, disinipun sebenarnya sangat jelas bahwa Nabi SAW itu dalam keadaan mampu menuliskan wasiat tersebut dalam arti Beliau SAW dalam kondisi sadar. Menurut Ibnu Abbas, Nabi SAW tidak jadi menuliskan wasiat tersebut karena penghalangan antara Nabi SAW dan kertas yang dipinta oleh Nabi SAW. Tidak hanya Ibnu Abbas RA, sahabat lain seperti Jabir RA menyatakan dengan jelas kalau Umar-lah yang menyelisihi perintah Nabi SAW dan menolak permintaan Nabi SAW

عن جابر أن النبي صلى الله عليه و سلم دعا عند موته بصحيفة ليكتب فيها كتابا لا يضلون بعده قال فخالف عليها عمر بن الخطاب حتى رفضها

Dari Jabir bahwa Nabi SAW menjelang wafatnya meminta lembaran dimana Beliau akan menuliskan tulisan agar tidak ada yang tersesat setelahnya kemudian Umar menyelisihi-nya dan akhirnya menolak Rasulullah SAW[Musnad Ahmad 3/346 no 14768]

Atsar di atas dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth“shahih lighairihi”karena di dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah yang dhaif pada dhabitnya tetapi riwayat Ibnu Lahi’ah memiliki mutaba’ah sebagaimana yang disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 3/394 no 1871 dan berkata Syaikh Husain Salim Asad [pentahqiq kitab Musnad Abu Ya’la]“para perawinya perawi shahih”.

Dari atsar di atas diketahui bahwa Jabir RA justru menyatakanbahwa yang menyelisihi dan menolak Nabi SAW ketika beliau SAW wafat adalah Umar bin Khattab. Pernyataan ini menggugurkan logika basa-basi penulis salafy soal . Kami tidak menafikan kalau Umar mencintai Nabi SAW dan begitu pula sahabat Nabi yang lain yaitu Ibnu Abbas dan Jabir tetapi hal itu tidak berartiapa yang dikatakan Umar menjadi benar. Penolakan Umar adalah keliru apapun alasan yang mendasarinya baik itu karena kecintaan ataupun alasan lainnya. Perkataan Jabir ini menjadi bukti bahwa perkataan salafysoal Nabi SAW yang tidak sadarmemang hanyalah bualan belaka. Jika memang Nabi SAW dalam keadaan tidak sadar maka mengapa Jabir RA mengatakan kalau Umar menyelisihi dan menolak Nabi SAW. Kalau memang Nabi SAW tidak sadar tentu para sahabat juga akan memaklumi sikap Umar dan tidak akan mengatakan “Umar menolak Nabi SAW”.

Permainan kata-kata lainnya dari penulis salafy itu yang maaf saja menentang perkatannya sendiri adalah

Logikanya, jika Nabi ingin menyampaikan pesan, maka beliau seharusnya mengatakan “pergi” hanya untuk orang-orang yang mencegah beliau dari hal itu, dan beliau seharusnya mengatakan “tetap tinggal” kepada mereka yang berharap memenuhi permintaan beliau. Apa yang mencegah Nabi untuk mengatakan hal yang mudah “Umar pergi” atau “pergi” ditujukan kepada kelompok yang menolak permintaan beliau?

Memang benar Rasulullah SAW mengatakan “pergi” dikarenakan para sahabat berselisih dan bertengkar di hadapan Nabi SAW. Perselisihan dan keributan di sisi Nabi SAW itu memang sungguh tidak pantas dan seharusnya yang dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW adalah bersama-sama memenuhi permintaan Nabi SAW dengan mengambilkan kertas dan tinta agar Nabi SAW bisa mendiktekan wasiatnya. Sayangnya Umar dan sahabat lain menolak permintaan Nabi sehingga terjadi perselisihan. Sekarang perhatikanlah perkataan penulis salafy“Apa yang mencegah Nabi untuk mengatakan hal yang mudah “Umar pergi” atau “pergi” ditujukan kepada kelompok yang menolak permintaan beliau?”dan bandingkan dengan perkataannya sebelumnya“Kita melihat bahwa saat itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit yang tak tertahankan dan tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyaman; itulah alasan mengapa Umar bin Khattab ra berharap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara seperti itu agar beliau tidak perlu merasakan sakit”.Bagaimana bisa sekarang untuk membela Umar ia berkata “apa yang mencegah Nabi mengatakan hal yang mudah?”. Padahal sebelumnya ia berkata untuk membela Umar “Nabi SAW tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyaman”. Sungguh betapa anehnya

فتنازعوا، ولا ينبغي عند نبي تنازع، فقالوا ما له أهجر استفهموه؟ فقال (ذروني، فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه

Kemudian mereka berselisih, padahal tidak sepantasnya terjadi perselisihan di sisi Nabi. Mereka berkata “beliau sedang menggigau, tanyakan kembali tentang ucapan beliau tersebut?. Namun Rasulullah SAW bersabda “Tinggalkanlah aku. Sebab keadaanku lebih baik daripada apa yang kalian ajak”[Shahih Bukhari no 2997]

Jika kita memperhatikan riwayat ini, maka sebab lain yang membuat Rasululullah SAW menyuruh mereka pergi adalah perkataan sebagian sahabatnya soal“menggigau”. Dan yang mengatakan ini hanyalah para sahabat dari kelompok Umar dan yang sependapat dengannya. Hal ini sangat jelas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai perkataan kelompok Umar dan para sahabat yang mengikuti Umar.

Betapa banyaknya perkataan basa-basi yang diucapkan oleh penulis salafy yang membuat dirinya sendiri tidak menyadari kalau perkataannya telah merendahkan salah seorang sahabat. Perhatikan perkataannya

Jika Nabi telah menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah atas kaum muslimin, maka masyarakat luas akan merasa bahwa itu adalah tindakan seorang Tirani. Kebiasaan bangsa Arab saat itu dalam memilih pemimpin mereka sendiri adalah melalui musyawarah dan kedaulatan rakyat. Oleh karena itu, pendapat beberapa ulama, penarikan pengetahuan mengenai penunjukkan Abu Bakar ditarik kembali untuk kepentingan umat, sehingga mereka dapat memilih pemimpin mereka sendiri yang hal tersebut terlihat lebih adil.

Fakta sejarah menunjukkan kalau Abu Bakar malah menunjuk Umar sebagai khalifah atas kaum muslimin. Tentu dengan logika salafy itu maka masyarakat luas [yaitu para sahabat] akan merasa bahwa tindakan Abu Bakar itu adalah tindakan seorang tirani karena kebiasaan bangsa Arab dalam memilih pemimpin mereka adalah melalui musyawarah. Perkataan salafy itu menunjukkan kalau para sahabat menganggap Abu Bakar melakukan tindakan tirani, naudzubillah.

Apa yang dikatakan Umar sebenarnya hanyalah sebatas rasa kasihan dia terhadap kondisi nabi yang parah saat itu dan tidak lebih, Umar merasa orang-orang mengganggu Nabi yang sedang sakit parah dan susah untuk mengucapkan kata-kata, apalagi digambarkan juga oleh sumber Syi’ah bahwa saat itu Nabi dalam keadaan sebentar pingsan sebentar kemudian sadar lagi, hal ini sangat jelas dari perkataan tulus Umar tanpa ada tendensi apapun “sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit parah dan di sisi kalian ada Al-Qur’an, cukuplah Kitabullah untuk kita”.

Perkataannya kalauUmar merasa orang-orang mengganggu Nabi yang sedang sakit parahadalah perkataan yang aneh. Kalau memang Nabi SAW sedang sakit parah dan merasa terganggu oleh orang-orang maka untuk apa para sahabat termasuk Umar berduyun-duyun datang kepada Nabi SAW. Dimana perasaan Umar, bukankah bisa saja dikatakan Nabi SAW sedang sakit dan membutuhkan istirahat yang tenang. Kami tidak menafikan Nabi SAW sedang sakit dan silakan saja kalau ada orang yang mau mengatakan Umar sangat mencintai Nabi, tidak ada masalah karena sahabat lain pun tidak kalah kecintaannya kepada Nabi. Yang dipermasalahkan disini adalahtidak pada tempatnya Umar menolak perkataan atau permintaan Nabi SAW apalagi dengan alasan “cukuplah Kitab Allah”. Bukankah kitab Allah memerintahkan agar kita mentaati perintah Rasulullah SAW, jadi sungguh aneh sekali orang yang mengatakan“cukuplah Kitab Allah”untuk menyelisihi Nabi SAW.

Begitu pula dengan alasan “Nabi SAW dikuasai sakitnya”. Justru Nabi SAW yang sakit harus diperlakukan dengan hati-hati dan dipenuhi permintaannya. Apalagi permintaan Nabi SAW tersebut disebabkan kecintaan Beliau SAW yang sangat besar kepada umatnya. Bukankah justru dengan perkataan Umar malah memicu terjadinya keributan yang benar-benar mengganggu Nabi SAW. Telah kami katakan sebelumnyaNabi SAW dalam keadaan sadardan mampu berbicara, saat itu Beliau SAW menginginkan untuk mewasiatkan sesuatu agar umat tidak tersesat setelahnya. Coba bayangkan betapa besarnya keinginan Nabi SAW tersebut mengalahkan sakit yang Beliau derita. Sangat wajar jika Nabi SAW mengharapkan agar para sahabat memenuhi permintaan Beliau SAW. Tetapi faktanya muncul penolakan, perselisihan dan keributan. Dapatkah para pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Nabi SAW? Yang kami dapati Nabi SAW begitu tidak menyukai perselisihan itu sehingga menyuruh mereka pergi.

Apa salahnya jika para sahabat termasuk Umar bersepakat mengambilkan kertas dan tinta?. Nabi SAW memang sakit parah tetapi Beliau SAW masih mampu untuk berbicara dengan jelas. Bagi kami yang diinginkan Nabi SAW saat itu adalah Beliau akan mendiktekan wasiatnya dan meminta salah seorang sahabat untuk menuliskannya di hadapan para sahabat lain. Nabi SAW memang sedang sakit tetapi saat itu Beliau SAW bisa berbicara dengan jelas. Jika memang sakitnya Nabi SAW dipermasalahkan maka para sahabat bisa meminta Beliau SAW untuk berbicara dengan pelan. Riwayat yang shahih justru menunjukkan kalau Nabi SAW dalam keadaan sadar dan bisa berbicara dengan jelas. Beliau SAW mampu berbicara “meminta kertas dan tinta” bahkan Beliau pun bisa berbicara menyuruh para sahabat pergi ketika mereka berselisih atau ketika Beliau SAW menjawab sebagian sahabat yang bicara soal “menggigau”. Jadi tidak diragukan lagi kalau kondisi Nabi SAW saat itu adalah dalam kondisi mampu untuk menyampaikan wasiat. Oleh karena itulah Ibnu Abbas menyayangkan penghalangan antara Nabi SAW dan wasiatnya dan begitu pula sahabat Jabir RA yang menyatakan kalau Umar telah menyelisihi dan menolak Nabi SAW.

Bukan berarti Umar menyepelekan Nabi atau menganggap apa yang akan dituliskan/didiktekan Nabi itu tidak penting, tetapi karena keadaan Nabi saat itulah yang membuat Umar berkata seperti itu, hal itu dia lakukan karena rasa sayangnya kepada Sang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin anda sekalian mengetahui kisah bagaimana Umar seperti orang yang “kehilangan akal sehatnya” karena kesedihan yang begitu dalam ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dikhabarkan telah wafat, yang akhirnya disadarkan oleh Abu Bakar dengan dibacakan Al-Qur’an.

Kami tidak ada masalah untuk menerima kalau Umar mencintai Nabi SAW. Tetapi hal itu tidak mencegah kami untuk mengatakan kalau Umar RA keliru. Penolakannya disini tidak pada tempatnya apalagi terjadi ketika Nabi SAW sedang sakit berat. Kami juga merasa aneh dengan perkataan salafy“Umar seperti kehilangan akal karena kesedihan yang mendalam atas wafatnya Nabi SAW”. Para pembaca pasti akan tahu jika seseorang sangat mencintai kekasihnya dan merasakan kesedihan yang mendalam atas wafatnya kekasih yang ia cintai maka orang tersebut pasti akan berada di sisi kekasihnya untuk melepaskan jasad kekasihnya sampai ke liang kubur. Orang tersebut tidak akan terpalingkan oleh hal-hal lain karena akan terasa berat baginya berpisah dengan kekasih yang dicintai. Silakan pembaca memperhatikan apa yang terjadi pada Abu Bakar dan Umar ataupun sahabat Anshar lainnya, jasad Nabi SAW belumlah dikuburkan mereka telah berselisih di saqifah soal kepemimpinan. Apakah mereka tidak bisa bersabar sampai pemakaman Nabi SAW selesai?. Yang kami dapati pihak yang sangat besar kecintaannya kepada Nabi SAW adalah Ahlul Bait Beliau SAW yang dengan setia tetap mengurus pemakaman Nabi SAW sampai selesai.

Apa tepatnya wasiat Nabi SAW tersebut?. Kami katakan tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Yang bisa dilakukan adalah mengira-ngira apa tepatnya yang akan disampaikan Nabi SAW. Ada dua kemungkinan,

  • pertama yang akan disampaikan Nabi SAW adalah sesuatu yang baru atau
  • kedua sesuatu yang pernah disampaikan Nabi SAW sebelumnya, sehingga penekanan untuk dituliskan memiliki arti penting bahwa hal itu benar-benar sangat berat.

Kami memilih yang kedua karena bagi kami tidak mungkin Nabi SAW tidak jadi memberitahukan sesuatu yang baru jika memang itu dapat mencegah kesesatan bagi umatnya. Jadi wasiat Nabi SAW kemungkinan sudah pernah beliau sampaikan sebelumnya dan melihat redaksinya “tidak akan tersesat setelahnya” maka kami berpandangan bahwa wasiat tersebut adalah hadis Tsaqalain yaitu perintah agar umat berpegang teguh pada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Rasul SAW.

يا أيها الناس ! إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا , كتاب الله وعترتي أهل بيتي

Wahai manusia, sungguh aku tinggalkan bagi kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Itrah-ku Ahlul Bait-ku[Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 1761]

Begitu beratnya wasiat ini hingga sekarang kita melihat adaorang-orang yang mengaku umatnya Rasulullah SAWtetapi menolak Ahlul Bait sebagai pedoman bagi umat islam. Kami menyebut mereka ini sebagai orang-orang yang terpengaruh dengan virus nashibi. Kami melihat mereka mengaku-ngaku mencintai Ahlul Bait tetapi aneh bin ajaib mereka menolak keutamaan Ahlul Bait sebagai pedoman umat islam, mereka membela bahkan menyanjung orang-orang yang menyakiti Ahlul bait dan mereka menuduh dusta kepada pengikut Syiah yang sangat mencintai Ahlul Bait. Tidak hanya itu mereka bahkan dengan mudah menuduh orang yang mencintai Ahlul Bait sebagai Syiah Rafidhah. Anehnya dengan sikap-sikap seperti itu mereka mengklaim [dengan tidak tahu malu] kalau merekalah yang benar-benar mencintai Ahlul Bait. Sungguh cinta yang aneh kalau tidak mau dikatakan penuh kepalsuan.

Nabi SAW mencela sahabat nya sendiri dalam HR. Bukhari : ““kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka”… Jadi jelas tidak semua sahabat adil dan ada sahabat yang boleh dicela

Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah

Tidak diragukan kalau Imam Ali benar dalam tindakannya memerangi Muawiyah. Sebagaimana yang telah dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok pemberontak [baaghiyyah]. Hanya saja beberapa orang dari pengikut salafy yang ghuluw mencintai Muawiyah tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengan segenap usaha“yang melelahkan”membela Muawiyah. Tidak jarang demi membela Muawiyah mereka mengutip perkataan Imam Ali. Bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan para pengikutnya?. Perhatikanlah hadis-hadis berikut

.

.

Doa Imam Ali Untuk Muawiyah dan Pengikutnya

حدثنا تميم بن المنتصر الواسطي قال أخبرنا إسحاق يعني الأزرق عن شريك عن حصين عن عبد الرحمن بن معقل المزني قال صليت مع علي بن أبي طالب رضوان الله عليه الفجر ” فقنت على سبعة نفر منهم فلان وفلان وأبو فلان وأبو فلان

Telah menceritakan kepada kami Tamim bin Muntashir Al Wasithiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ishaq yakni Al Azraq dari Syarik dari Hushain dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy yang berkata “aku shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu maka ia membaca qunut untuk tujuh orang, diantara mereka adalah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2628]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syarik ia memang seorang yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya. Ishaq Al Azraq meriwayatkan dari Syarik sebelum hafalannya berubah maka riwayatnya shahih.

  • Tamim bin Muntashir Al Wasithiy adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’I menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 958]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dhabit [At Taqrib 1/143-144]
  • Ishaq bin Yusuf Al Azraq adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shahih hadisnya shaduq tidak ada masalah dengannya”. Yaqub bin Syaibah berkata “ia termasuk orang yang alim diantara yang meriwayatkan dari Syarik”. Al Khatib berkata “termasuk tsiqat dan ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Bazzar menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/87]
  • Syarik Al Qadhi adalah Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507]
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 2 no 659]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124].
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Riwayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ali membaca qunut nazilah untuk beberapa orang pada shalat fajar. Terdapat riwayat lain yang menyebutkan kalau Imam Ali juga membaca qunut ini [nazilah] pada shalat maghrib

حدثني عيسى بن عثمان بن عيسى قال حدثنا يحيى بن عيسى عن الأعمش عن عبد الله بن خالد عن عبد الرحمن بن معقل قال صليت خلف علي المغرب فلما رفع رأسه من الركعة الثالثة قال اللهم العن فلانا وفلانا وأبا فلان وأبا فلان

Telah menceritakan kepadaku Isa bin Utsman bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Khalid dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata “aku shalat maghrib di belakang Ali ketika ia mengangkat kepalanya pada rakaat ketiga, ia berkata “ya Allah laknatlah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2627]

Riwayat ini sanadnya hasan dengan penguat riwayat sebelumnya. ‘Abdullah bin Khalid adalah seorang kufah yang tsiqat dimana telah meriwayatkan darinya Sufyan Ats Tsawri dan Al A’masy.

  • Isa bin Utsman bin Isa adalah perawi Tirmidzi. Telah meriwayatkan darinya jama’ah hafizh diantaranya Tirmidzi dan Ibnu Jarir. Nasa’I menyatakan “shalih” [At Tahdzib juz 8 no 410]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/772]
  • Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • ‘Abdullah bin Khalid meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy dan telah meriwayatkan darinya Sufyan dan ‘Amasy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 8812]. Al Fasawiy menyebutkan ia seorang yang tsiqat [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/104]
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Kedua riwayat ini menyebutkan kalau Imam Ali membaca qunut nazilah pada shalat shubuh dan maghrib dimana Beliau mendoakan keburukan atau melaknat orang-orang tertentu. Siapa orang-orang tersebut memang tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarir tetapi tampak jelas kalau perawi [entah siapa] menyembunyikan nama-nama mereka karena tidak mungkin ada seseorang bernama fulan atau abu fulan. Alhamdulillah ternyata terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan nama beberapa diantara mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Riwayat ini sanadnya shahih, Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]. Sedangkan Hushain dan Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan kalau mereka tsiqat.

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war[Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/134]

Riwayat ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat termasuk perawi Bukhari Muslim [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin perawi kutubus sittah [At Taqrib 2/193]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy atau Abu Hasan Al Kufiy adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 128]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/643]. Dan ‘Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan bahwa ia tabiin yang tsiqat.

Kedua riwayat Abdurrahman bin Ma’qil ini menyebutkan kalau diantara mereka yang didoakan [dalam qunut] keburukan atau laknat oleh Imam Ali adalah Mu’awiyah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Imam Ali, Muawiyah dan pengikutnya itu menyimpang dan telah sesat plus menyesatkan banyak orang sehingga Imam Ali sampai membaca qunut nazilah untuk mereka. Abbas Ad Duuriy berkata

سمعت يحيى يقول أبو الأعور السلمي رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وكان مع معاوية وكان علي يلعنه في الصلاة

Aku mendengar Yahya [bin Ma’in] berkata “Abul A’war As Sulamiy seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia bersama Muawiyah dan Ali telah melaknatnya di dalam shalat”[Tarikh Ibnu Ma’in 3/43 no 175]

.

.

Kelompok Muawiyah Berada Di Jalan Yang Bathil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah”[Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Telah terbukti kalau ‘Ammar terbunuh dalam perang shiffin dan ia berada di pihak Imam Ali jadi kelompok baaghiyyah [pembangkang] yang membunuh ‘Ammar dalam hadis Bukhari di atas adalah kelompok Muawiyah. Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Jadi berdasarkan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dalam perang shiffin Imam Ali dan pengikutnya berada dalam kebenaran sedangkan Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت عبد الله بن سلمة يقول رأيت عمارا يوم صفين شيخا كبيرا آدم طوالا آخذا الحربة بيده ويده ترعد فقال والذي نفسي بيده لقد قاتلت بهذه الراية مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات وهذه الرابعة والذي نفسي بيده لو ضربونا حتى يبلغوا بنا شعفات هجر لعرفت أن مصلحينا على الحق وأنهم على الضلالة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Salamah berkata “aku melihat ‘Ammar dalam perang shiffin, dia seorang Syaikh yang berumur, berkulit agak gelap dan berperawakan tinggi, ia memegang tombak dengan tangan bergetar. Ia berkata “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa panji ini bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiga kali dan ini adalah yang keempat. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami kepada kematian maka aku yakin bahwa orang-orang shalih yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan[Musnad Ahmad 4/319 no 18904]

Riwayat ini sanadnya hasan. ‘Abdullah bin Salamah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit perbincangan karena hafalannya. Riwayat ini juga disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 5651.

  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • ‘Amru bin Murrah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan shaduq tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah [At Taqrib 1/745]
  • ‘Abdullah bin Salamah adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ai Ijli menyatakan ia tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat termasuk thabaqat pertama dari ahli fiqih kufah setelah sahabat”. Abu Hatim berkata “dikenal dan diingkari”. Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. Ibnu Ady berkata “aku kira tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 5 no 421]. Ibnu Hajar berkata “shaduq mengalami perubahan pada hafalannya” [At Taqrib 1/498]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Al Kasyf no 2760], Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam Man Tukullima Fihi wa huwa Muwatstsaq no 182. Ibnu Hibban telah menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080]. Ibnu Khuzaimah telah berhujjah dan menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/104 no 208]. Al Hakim ketika membawakan hadis ‘Abdullah bin Salamah ia menyatakan hadis tersebut shahih sanadnya walaupun syaikhan tidak berhujjah dengan ‘Abdullah bin Salamah tetapi tidak ada cela terhadapnya [Al Mustadrak juz 1 no 541] itu berarti Al Hakim menganggap ‘Abdullah bin Salamah tsiqat. Pendapat yang rajih, ‘Abdullah bin Salamah adalah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit pembicaraan dalam hafalannya tetapi itu tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan.

Riwayat ini dengan tegas menyatakan kalau ‘Ammar dan orang-orang shalih di pihak Imam Ali adalah berada di atas kebenaran sedangkan mereka kelompok Muawiyah berada di atas kesesatan atau kebathilan. Kami tidak akan berbasa-basi seperti sebagian orang yang mengklaim kalau Muawiyah berijtihad dan walaupun salah ijtihadnya tetap mendapat pahala. Itu berarti Muawiyah yang dalam perang shiffin dikatakan mengajak orang ke neraka tetap mendapat pahala. Sungguh perkataan yang aneh bin ajaib.

Kami juga ingin menegaskan kepada orang yang memang tidak punya kemampuan memahami perkataan orang lain bahwa kami tidak pernah menyatakan kalau Muawiyah dan pengikutnya kafir dalam perang shiffin berdasarkan hadis-hadis di atas. Jika dikatakan mereka bermaksiat maka itu sudah jelas, orang yang mengajak ke jalan neraka maka sudah jelas ia bermaksiat. Tetapi apakah maksiat itu membawa kepada kekafirannya maka hanya Allah SWT yang tahu. Soal Muawiyah kami sudah pernah membahas

.

Syubhat Salafy Dalam Membela Muawiyah

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِيُّ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ ، قَالَ : سُئِلَ عَلِيٌّ عَنْ قَتْلَى يَوْمِ صِفِّينَ ، فَقَالَ : قَتْلاَنَا وَقَتْلاَهُمْ فِي الْجَنَّةِ ، وَيَصِيرُ الأَمْرُ إلَيَّ وَإِلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayub Al Maushulliy dari Ja’far bin Burqaan dari Yazid bin Al Aasham yang berkata Ali pernah ditanya tentang mereka yang terbunuh dalam perang shiffin. Ia menjawab “yang terbunuh diantara kami dan mereka berada di surga” dan masalah ini adalah antara aku dan Muawiyah[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 15/302 no 39035]

Riwayat ini secara zahir sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat di dalamnya. Adz Dzahabi mengatakan tentang Yazid bin Al Aasham kalauriwayatnya dari Ali tidak shahih[As Siyar 4/517 no 211]. Walaupun dikatakan Adz Dzahabi ia menemui masa khalifah Ali tetapi tetap saja Adz Dzahabi sendiri mengatakan kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih. Cukup ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa terkadang ada perawi yang melihat atau bertemu atau semasa dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dikatakan tidak shahih. Salah satu contohnya adalah Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Madini berkata tentangnya“ia melihat Abu Sa’id Al Khudri tawaf di baitullah dan ia melihat Abdullah bin Umar tetapi tidak mendengar hadis dari keduanya” [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 520].

Ada yang berhujjah sembarangan dengan hadis ini. Mereka dengan hadis ini membela Muawiyah dan pengikutnya. Ini namanya asal berhujjah, telah kami tunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali sebenarnya kepada kelompok Muawiyah. Jika Imam Ali sendiri berdoa dalam qunut nazilah agar Muawiyah dan pengikutnya mendapatkan hukuman dari Allah SWT maka sudah jelas menurut Imam Ali mereka kelompok Muawiyah berada dalam kesesatan atau kebathilan dan hal ini pun sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pandangan ‘Ammar bin Yasir radiallahu ‘anhu.

Jadi jika riwayat di atas diartikan bahwa Imam Ali membenarkan Muawiyah dan pengikutnya maka itu keliru. Kami pribadi menganggap atsar tersebut matannya mungkar dan sanadnya memang mengandung illat. Bukankah dalam perang shiffin Muawiyah dan pengikutnya telah terbukti berada di atas Jalan yang menuju ke neraka berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Apakah mereka yang gugur karena membela kebathilan akan mendapat imbalan surga?. Jadi dari sisi ini kalau riwayat tersebut diartikan secara zahir maka mengandung pertentangan dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainyapun orang-orang tersebut menerima riwayat Imam Ali di atas maka sudah seharusnya diartikan bahwa yang dimaksud bukan secara umum. Bukankah salafy sendiri [Muawiyah dan pengikutnya] menganggap bahwa dalam kelompok Imam Ali terdapat para pembunuh Utsman radiallahu ‘anhu. Nah apakah mereka yang terbunuh dalam kelompok Imam Ali ini akan mendapat surga? Silakan mereka salafy menjawabnya. Begitu pula mungkin saja dalam kelompok Muawiyah terdapat orang-orang yang tidak memahami persoalan, mereka tertipu oleh propaganda Muawiyah atau dengan bahasa yang lebih kasar fitnah kalau Imam Ali dan pengikutnya melindungi para pembunuh khalifah Utsman radiallahu ‘anhu. Mungkin saja kelompok ini yang dikatakan Imam Ali bahwa yang terbunuh diantara mereka mendapat surga. Sehingga sangat wajar di akhir riwayat Imam Ali mengatakan kalau masalah ini adalah antara diri Beliau dan Muawiyah.

Selain itu sangat ma’ruf kalau tidak semua orang yang ikut berperang memiliki niat yang baik walaupun mereka berada di pihak yang benar. Kedudukannya tergantung niat orang tersebut, jika ia berperang dengan niat mendapatkan harta atau niat lain yang buruk dan gugur dalam perang tersebut bukan berarti ia lantas mendapat surga. Terdapat kisah dimana salah seorang sahabat gugur di medan perang kemudian para sahabat yang lain mengatakan ia syahid tetapiRasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membantahnya dan mengatakan kalau ia di nerakakarena sahabat tersebut telah berkhianat dalam harta rampasan perang. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa atsar Imam Ali di atas seandainya kita terima maka ia tidak bisa diartikan secara umum untuk semua orang yang terbunuh di shiffin. Apalagi sangat tidak benar menjadikan hadis ini untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yang lain.

Sebenarnya ada hal lucu yang tidak terpikirkan oleh salafy. Bukankah mereka sering merendahkan Syiah yang katanyaSyiah mengatakan bahwa Imam Ali mengetahui perkara yang ghaib. Padahal yang dilakukan syiah mungkin hanya berhujjah dengan riwayat yang ada di sisi mereka. Sekarang lihatlah riwayat Imam Ali di atas, bukankah pengetahuan siapa yang akan masuk surga adalah pengetahuan yang bersifat ghaib lantas kenapa sekarang salafy anteng-anteng saja meyakini riwayat tersebut. Sekarang dengan lucunya [demi membela Muawiyah] salafy mengakui kalau Imam Ali mengetahui perkara ghaib bahwa yang terbunuh di shiffin itu masuk surga. Sungguh tanaqudh dan memprihatinkan mereka suka mencela mazhab lain tetapi apa yang mereka cela ada pada diri mereka sendiri.

Gagasan ukhuwah Sunni-Syi’ah yang digagas selama ini masih produkitf.

Syi’ah mengajak Sunni untuk bergandengan tangan dengan tidak mencaci para sahabat yang dimulyakan oleh umat Islam.

Jelas penistaan ini tidak menodai kesucian akidah Islam.

Produktif sebab, konsep ukhuwah dengan keyakinan seperti itu, justru tidak merugikan Sunni. Karena dengan cara itu, Syi’ah akan merebut penganut Sunni untuk disyi’ahkan.

Makanya, gagasan untuk membentuk forum ukhuwah Sunni-Syi’ah di Masjid Akbar Jakarta pada 20 Mei kemarin tidak dipersoalkan sejumlah ormas dan para ulama’.

Menurut salah satu ketua MUI Pusat, KH. Umar Shihab, antara Sunni dan Syi’ah banyak persamaan dari aspek akidah. Oleh sebab itu beliau secara pribadi setuju diadakannya deklarasi ukhuwah tersebut. Hal-hal seperti itu diharapkan diakomodasi oleh MUI. MUI sendiri menyatakan bahwa Syi’ah madzhab sah dalam Islam.

Sesungguhnya persoalannya bukannya Sunni yang menolak untuk berukhuwah. Akan tetapi, penistaan yang dilakukan oleh Salafi wahabi terhadap 12 imam syi’ahjelas-jelas menodai konsep persatuan yang sesungguhnya. Salafi wahabi mengadu domba sunni dengan syi’ah

Kritikan Syi’ah terhadap sahabat Nabi SAW, bukan rahasia lagi saat ini. Selain buku-buku, rujukan utama mereka dan penganut Syi’ah sendiri sudah tidak segan lagi memujii sahabat pro ahlul bait. Syi’ah tidak memakai topeng taqiyyah. Saat ini buku-buku Syi’ah telah banyak beredar di tangan umat Islam.

Silahkan anda buktikan secara ilmiah bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan menjamin kekhalifahan Syiah Ali dengan menunjukkan sandaran ilmiah? Justru Muawiyah telah membikin-bikin isu bahkan hadis palsu yang membuat nama Syiah Ali tercemar, bahkan Muawiyah mewajibkan para khatib jum’at untuk melaknat Syiah Ali, apakah itu merupakan jaminan mulia ? Jaminan model apa?

Sebelumnya saya mau tanya; Sabda Rasul itu beliau ungkapkan di hadapan siapa? Sahabat juga khan? Berarti seakan Rasul bersabda: “Wahai sahabatku, Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku…dst”.

Kenyataannya gimana? Tahukah anda siapa yang membunuh Ammar bin Yasir, yang mengucilkan Abu Dzar al-Ghiffari, dst? Sahabat juga bukan? Lha terus kita mau membenarkan yang mana…? Ungkapan Rasul untuk siapa?

Dan secara global, Kita setuju itu, tetapi sahabat yang mana? Apakah al-Ashab al-Akhyar atau juga al-Ashab yang berani menentang perintah Rasul dan melanggar garis hukum Allah? Lihat kembali tulisan kami tentang siapa sahabat…

Kalau semua sahabat secara mutlak dan tanpa perkecualian, maka itu namanya Pengkultusan Semua Sahabat…padahal pengkultusan itu khan gak baik. Pengkultusan satu manusia biasa saja gak bener koq, ini malah ratusan ribu yang mau dikultuskan…? Yang bener aja om…:)

sebenarnya dalam syiah, mereka bukan mencaci maki sahabat tetapi lebih kepada memberikan penjelasan secara lebih proposional antara sahabat nabi : mana yang jujur dan mana yang tidak/kurang jujur (bukankah itu juga manusiawi).

apakah sama sahabat nabi yang saling berperang ..?
apakah sama kebenarannya jika mereka berperang..?
apakah sahabat nabi sama-sama masuk surga walau satu sama lain saling berperang..?

apakah sama yang satu membela kebenaran dan yang lain membela untuk kepentingan lain..?

apakah sama yang satu syahid membela kebenaran dan yang mati karena kepentingan urusan dunia..?

tapi kenyataan bahwa Sahabat nabi yang banyak dicaci maki oleh umat nabinya adalah justru sahabat yang telah banyak mendapat keutamaan dari nabinya.

sekian puluh tahun ( 70 hingga 80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah.

jadi siapa yang mencaci maki disini..? syiahkah yang mencaci Ali bin Abi Thalib ra ..? atau siapa..?

-” sekian puluh tahun ( 70-80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah. ” ini tahun berapa dan siapa yang berkuasa yah?

Secara ringkas, hingga tahun 110 H Ali dilaknat di mimbar-mimbar Jumat atas prakarsa penguasa Bani Umayyah, namun Umar bin Abdul Aziz (salah satu penguasa Bani Ummayah) yang melihat ketidakadilan ini akhirnya melarangnya.

Apakah menghormati itu harus membenarkan semua prilaku mereka sehingga menjadi kesepakatan bahwa DILARANG mengkritisi kesalahan sahabat? Apakah Islam melarang mengkritisi orang yang bersalah? Apakah membenarkan atau paling tidak diam akan kesalahan seseorang bahkan hanya menunjukkan keutamaan secara umum saja itu bukan berarti membesar-besarkan mereka? Pujian yang bukan pada tempatnya itu namanya ‘kultus individu’….

sebenarnya dalam syiah, mereka bukan mencaci maki sahabat tetapi lebih kepada memberikan penjelasan secara lebih proposional antara sahabat nabi : mana yang jujur dan mana yang tidak/kurang jujur (bukankah itu juga manusiawi).

apakah sama sahabat nabi yang saling berperang ..?
apakah sama kebenarannya jika mereka berperang..?
apakah sahabat nabi sama-sama masuk surga walau satu sama lain saling berperang..?

apakah sama yang satu membela kebenaran dan yang lain membela untuk kepentingan lain..?

apakah sama yang satu syahid membela kebenaran dan yang mati karena kepentingan urusan dunia..?

tapi kenyataan bahwa Sahabat nabi yang banyak dicaci maki oleh umat nabinya adalah justru sahabat yang telah banyak mendapat keutamaan dari nabinya.

sekian puluh tahun ( 70 hingga 80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah.

jadi siapa yang mencaci maki disini..? syiahkah yang mencaci Ali bin Abi Thalib ra ..? atau siapa..?

-” sekian puluh tahun ( 70-80 tahun) Ali bin Abi Thalib ra mendapat cacian disetiap mimbar jum’at.. riwayat ini sudah munttawatir dikalangan kitab Ahlussunnah. ” ini tahun berapa dan siapa yang berkuasa yah?

Secara ringkas, hingga tahun 110 H Ali dilaknat di mimbar-mimbar Jumat atas prakarsa penguasa Bani Umayyah, namun Umar bin Abdul Aziz (salah satu penguasa Bani Ummayah) yang melihat ketidakadilan ini akhirnya melarangnya.

Apakah menghormati itu harus membenarkan semua prilaku mereka sehingga menjadi kesepakatan bahwa DILARANG mengkritisi kesalahan sahabat? Apakah Islam melarang mengkritisi orang yang bersalah? Apakah membenarkan atau paling tidak diam akan kesalahan seseorang bahkan hanya menunjukkan keutamaan secara umum saja itu bukan berarti membesar-besarkan mereka? Pujian yang bukan pada tempatnya itu namanya ‘kultus individu’….

Masalahnya bukan hanya itu urusan Allah atau tidak…tetapi kita generasi sekarang ini lho, apakah akan mengikuti yang berbuat salah (atau yang kadang salah dan kadang benar) atau yang dijamin benar?

Hanya Rasul yang maksum, lantas apa yang anda pahami dari 33:33 itu? Apakah penyucian sesuci-sucinya itu bukan jaminan maksum? Lihat hadis-hadis yang ada, kepada siapa ayat itu turun…Selamat meneliti.

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAWA seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAWA dan khalifah kedua.

Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah]

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool.

Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?

Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].

Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?

Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencari Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?

Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud:

Dan janganlah kamu cenderung kepada
orang-orang yang zalim yang
menyebabkan kamu disentuh oleh
api neraka…”
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka

.
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889].

Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang engkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]:

“Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”

Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT.

Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an?

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]

Syi’ah tidak mencaci para sahabat yang dimulyakan oleh umat Islam sunni.. Murtad artinya berbalik kebelakang tidak mematuhi wasiat imamah Ali, jadi bukan keluar dari Islam….

Posted onJuni 1, 2011by syiahali

website http://www.albayyinat.net/jwb5tb.html menulis propaganda sebagai berikut ;

7. Ahlussunnah :Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah :Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah :Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

======================================================

jawaban pihak kami :


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatollah Nasser Makarem Shirazi

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi SAW !!! Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan

Posted on Maret 30, 2011 by syiahali |Sunting

(Terjemahan artikel dalam bukuAzmah al-Wa’y ad-Dini karya Fahmi Huwaidi, Dar ash-Shan’a al-Yamaniyah, cet. 1, 1988 M, dapat dibaca dalam bukuHaruskah Menderita Karena Agama?, terbitan Sahara Publishers, cetakan pertama: Rajab 1426 H/September 2005 M, h. 234-246)

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuannya, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

Fahmi Huwaidi

Saya bermaksud mengejutkan teman saya dengan mengatakan bahwa sebagian kaum Muslim di Timur (?) menyangka bahwa orang Syiah memiliki ekor seperti binatang, roh mereka akan bereinkarnasi menjadi binatang, dan mereka tidak pernah makan seperti layaknya makhluk lain! Ternyata teman saya tidak terkejut, karena di negerinya, Irak, dia telah mendengar orang yang menyebarkan dongeng dan cerita serupa tentang orang Syiah yang menggambarkan mereka dalam bentuk binatang yang aneh dan sifat, kebiasaan, dan nasibnya setelah kematian berbeda dengan makhluk lain.

Cerita aneh tersebut ada di awal bukuAshl asy-Syiah wa Ushuluha(Asal Muasal Syiah dan Prinsip-Prinsipnya) karya Allamah al-Husain Kasyif al-Ghitha. Meski cerita ini telah berumur lebih dari setengah abad, tapi pengaruhnya masih ada di tengah-tengah kita hingga sekarang. Maksud saya, yang masih ada adalah sampai sekarang bukanlah detail cerita itu, melainkan sika curiga yang membuka gerbang untuk pelbagai kemungkinan perusakan dan penghancuran citra, serta perpisahan dan perceraian sebaagi konsekuensinya. Pada akhirnya, sikap ini berarti penistaan terhadap akidah 100 juta kaum Muslim, usaha mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan penghapusan mereka dari peta kaum Muslim. Ya, logika ini memang sederhana!

Belum lama ini, di Mesir, seorang penulis kenamaan mencampuradukkan Syiah dengan komunisme, menganggap keduanya sama, lalu berdasarkan hal ini menyerang keduanya sekaligus. Kebetulan salah seorang guru saya—yang menceritakan kisah ini—membaca artikel tersebut sebelum dipublikasikan. Jika tidak, ini akan menjadi skandal terbesar dalam jurnalistik Mesir!!

Saya tidak bermaksud merunut berbagai cerita seputar masalah ini. Sebab, orang yang mampu berkeliling ke negeri-negeri Arab pasti dapat melihat sendiri pengaruh sikap curiga tersebut dari kubu Ahlussunnah terhadap Syiah. Bahkan, saya mendengar ada seorang ulama “Salafiyah” di salah satu negeri Arab menyusun buku yang menggambarkan akidah Syiah bukan sekadar bertentangan dengan Islam, tapi lebih buruk daripada Ahlul Kitab, Shabiah, Majusi, dan penyembah berhala! Saya ingat pengalaman saya di salah satu negara Teluk, saat saya mencari masjid untuk shalat Jumat, lalu saya bertanya kepada seorang anak, anak itu menunjuk ke dua arah sambil berkata, ini masjid kaum Muslim, dan itu masjid orang Syiah!

Tidak jauh-jauh, di tangan saya masih ada artikel-artikel seminggu ini yang mengomentari peristiwa berdarah di Masjidil Haram Mekkah. Tanpa alasan jelas, artikel-artikel ini membuka kembali file Sunnah-Syiah dalam konteks menggugat, menjelek-jelekkan, merusak, dan menuduh akidah Syiah dalam bentuk yang pasti menggelisahkan dan mencengangkan hati seorang muslim. Anehnya, artikel-artikel ini mengarahkan tuduhan kepada Pemerintah Iran, dan bukannya kepada mazhab Syiah Imamiyah. Dan, yang lebih aneh lagi, artikel-artikel ini dipublikasikan di Mesir, negara pelopor dalam upaya harmonisasi antar mazhab, yang tidak memiliki sensitivitas apa pun terhadap Syiah, dan rakyatnya sering disebut para sejarawan sebagai “para pencinta Ahlul Bait.”

Jadi, masalah ini telah melewati batasan sikap yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, sehingga banyak penulis menjadi korban pengetahuan yang rancu. Setiap peneliti yang jujur—apa pun keyakinannya—pasti dapat melihat kesalahan dan kerancuan di dalam artikel-artikel tersebut dalam tiga level: pengetahuan umum, akidah Syiah, dan sejarah pertikaian Syiah-Sunni.

Saya tidak tahu, bagaimana penulis yang terbatas pengetahuannya seperti saya dapat mengkaji masalah ini tanpa terjerumus ke dalam tuduhan atau bisik-bisik negatif dari pembaca, atau pembelaannya terhadap Syiah tidak dianggap sebagai pembelaan terhadap Pemerintah Iran. Hal serupa ini tidak pernah terlintas di pikiran saya, sebab yang penting bagi saya aspek-aspek ilmiah dan historis serta kesatuan umat Islam dan bukannya perselisihan atau pertimbangan politis.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat mengendalikan emosi sehingga kita dapat membedakan aksi Pemerintah Iran dengan ajaran mazhab Syiah; menyadari bahwa komunitas Syiah lebih luas daripada wilayah negara Iran yang hanya menyumbang setengah pemeluk Syiah saja, sehingga kemarahan terhadap aksi yang terjadi di Mekkah tidak berubah menjadi api yang membakar hubungan Sunnah-Syiah dan membakar kepala pengikut Syiah di mana saja mereka berada, yang beberapa juta di antaranya adalah orang Arab yang hidup di sekitar kita, dan sebagian lagi tersebar di India, Pakistan, Afganistan, Turki, dan Azerbaijan.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat berbeda paham secara bijaksana, tidak saling melanggar kehormatan sesama, dan tetap menghormati wilayah sakral yang tidak boleh diserang atau diperangi, yaitu wilayah akidah, khususnya jika pemeluk akidah itu adalah kaum Muslim seperti kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebutlah ini cara beradab dalam bertikai, tapi saya lebih suka menyebutnya cara dan etika Islam. Nabi saw dalam salah satu sabdanya melarang tiga hal dan pelanggaran atasnya akan menyebabkan murka Allah sehingga pelakunya tidak Dia lindungi pada hari tiada perlindungan selain dari-Nya, salah satunya adalah, “Keji dalam bertikai.”

Saya tidak tahu kapankah tiba waktunya kita dapat memenuhi syarat berdialog dalam masalah apa saja, sehingga kita dapat menentukan tujuan, kelayakan, peserta, kepantasan tempat berdialog, juga metode dan etikanya. Sebab, beberapa tulisan tampaknya hanya bertujuan membuat para penganut Syiah menanggalkan akidah mereka, sementara para penulisnya sendiri nampaknya tidak cukup mengetahui masalah yang diperbincangkan, sehingga mereka terjerumus ke dalam pelbagai kesalahan dan kerancuan. Di samping itu, koran-koran ikut mem-blow up masalah yang seharusnya didiskusikan di forum ilmiah, seperti akar pertikaian antara Sunnah dengan Syiah, konsep taqiyah, ruj’ah, wilayah, dan lainnya.

Saya tidak tahu kapan kita sadar bahwa tata cara dialog kita sangat berbahaya dan dapat menjerumuskan kita ke dalam pertikaian yang lebih dalam. Dalam kasus ini, dialog bermuara ke arah perpecahan umat Islam, peningkatan pertikaian sesama kita, dan penyegaran kembali rasa kebencian lama. Sungguh aneh, beberapa penulis menyatakan dalam pendahuluan bukunya bahwa dia menginginkan persatuan umat Islam dan tidak memusuhi mazhab dan akidah Syiah, tapi beberapa baris kemudian dia kembali lagi ke sikap lama itu, menembakkan peluru dari senjata berat dan senjata kimia ke arah pengikut mazhab Syiah secara keseluruhan.

Akhirnya, saya tidak tahu apakah kampanye negatif terhadap Syiah ini merugikan rezim yang berkuasa di Iran atau tidak. Saya kira hal ini menguntungkan mereka dan menyatukan kaum Syiah di sekitar mereka. Sebab, kritik dan hujatan seperti yang dilakukan para penulis artikel tersebut memberikan kesan bahwa pertikaian ini diarahkan pada mazhab Syiah, dan bukan para rezim di Teheran, dan bertujuan membasmi akidah Syiah sebagai sebuah episode baru dari aksi yang disebut sebagai “kezaliman historis” sehingga para penganut Syiah yang “terkena peluru nyasar dan tidak bertanggung jawab” ini akan mendapati dirinya terpaksa berlindung di bawah rezim Iran. Saya pikir, hal ini sangat menyenangkan para penguasa di Teheran!

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil). Salah satunya berjudulal-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah(Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Fiqih Syiah yang otentik menyebut para sahabat, termasuk Abu Bakar, dengan ungkapan-ungkapan yang penuh penghormatan. Di dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah, yaitu doa-doa yang dibaca oleh Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dan didawamkan pembacaannya oleh para penganut Syiah sampai sekarang, terdapat nash yang menyatakan, “Semoga Allah menurunkan rahmat dan ridha bagi para sahabat Muhammad yang telah menderita dalam membantunya, melindunginya, berlomba menjalankan ajarannya, dan memenuhi ajakannya ketika beliau menjelaskan argumentasi risalahnya.”
  4. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena merekatelah menetapkan untukmengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah(al-Baghdadi,al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwaKami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah(Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau”(Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi).(Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1. “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2. “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…”(QS al-A’raf: 184)

3.Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalamal-Fathir : 32,Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu :

1. Ada sahabat yang“menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2. Ada yangpertengahan(tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3.Ada yang yangmendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya:

1. Nabi SAWW bersabda ,“Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2. Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda :Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku.Akuakan berkata: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka(inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)(Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3. Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku.Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku.Maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku.Dijawab:Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him).(Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlahbagaimana mungkinpahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi)(al-Asy’ari,al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWWtelahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlahbukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ?,

Jangan sampaikalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya, hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung ,semoga Allah belum membutakan mata hati(karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekalisudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as , Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as:

Saudaraku (Ali) adalah: kemegahan Arab.Engkauadalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an,paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya,paling benar lidahnya sertapaling mencintai Allah dan aku (Rasul).[1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu.Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini.Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

……………………

1. Al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani,Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i,Kifayah al-Talib, hlm. 332.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi…. Murtad artinya berbalik kebelakang tidak mematuhi wasiat imamah Ali, jadi bukan keluar dari Islam….

Posted on September 1, 2010 by syiahali |Sunting

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari,Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. ) meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu ( lihat Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari,Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

—————————————————————–

Tentang Ummu’l mu’minin ‘A’isyah

Rasul juga bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. ( Bukhari,Shahihdalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi’. )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. ( Imam Ahmad bin Hambal,Musnad, jilid 2, hlm. 23. )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” ( Imam Ahmad bin Hambal,Musnad, jilid 2, hlm. 26.)

‘Kutukan’ terhadapnya dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagaiAhlus Sunnah.

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan : “Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam.. Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as)..Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil””

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.” -Qom-

Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar. Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat dari mereka itu ada yang bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.

Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendeiawan Ahsa menyusul penghinaan-penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji mengaku bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah.

Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayyid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mun’min Aisyah.”

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “ diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangakain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh “ Yasir al-Habib” terhadap Siti Aisyah.

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Berikut teks bahasa Arab fatwa tersebut:

نص الاستفتاء:

بسم الله الرحمن الرحيم

سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

التوقيع

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

جواب الإمام الخامنئي:

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

موفقين لكل خير

website http://www.albayyinat.net/jwb5tb.html menulis propaganda sebagai berikut ;

7. Ahlussunnah :Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah :Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah :Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

======================================================

jawaban pihak kami :


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatollah Nasser Makarem Shirazi

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi SAW !!! Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan

Posted on Maret 30, 2011 by syiahali |Sunting

(Terjemahan artikel dalam bukuAzmah al-Wa’y ad-Dini karya Fahmi Huwaidi, Dar ash-Shan’a al-Yamaniyah, cet. 1, 1988 M, dapat dibaca dalam bukuHaruskah Menderita Karena Agama?, terbitan Sahara Publishers, cetakan pertama: Rajab 1426 H/September 2005 M, h. 234-246)

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuannya, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

Fahmi Huwaidi

Saya bermaksud mengejutkan teman saya dengan mengatakan bahwa sebagian kaum Muslim di Timur (?) menyangka bahwa orang Syiah memiliki ekor seperti binatang, roh mereka akan bereinkarnasi menjadi binatang, dan mereka tidak pernah makan seperti layaknya makhluk lain! Ternyata teman saya tidak terkejut, karena di negerinya, Irak, dia telah mendengar orang yang menyebarkan dongeng dan cerita serupa tentang orang Syiah yang menggambarkan mereka dalam bentuk binatang yang aneh dan sifat, kebiasaan, dan nasibnya setelah kematian berbeda dengan makhluk lain.

Cerita aneh tersebut ada di awal bukuAshl asy-Syiah wa Ushuluha(Asal Muasal Syiah dan Prinsip-Prinsipnya) karya Allamah al-Husain Kasyif al-Ghitha. Meski cerita ini telah berumur lebih dari setengah abad, tapi pengaruhnya masih ada di tengah-tengah kita hingga sekarang. Maksud saya, yang masih ada adalah sampai sekarang bukanlah detail cerita itu, melainkan sika curiga yang membuka gerbang untuk pelbagai kemungkinan perusakan dan penghancuran citra, serta perpisahan dan perceraian sebaagi konsekuensinya. Pada akhirnya, sikap ini berarti penistaan terhadap akidah 100 juta kaum Muslim, usaha mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan penghapusan mereka dari peta kaum Muslim. Ya, logika ini memang sederhana!

Belum lama ini, di Mesir, seorang penulis kenamaan mencampuradukkan Syiah dengan komunisme, menganggap keduanya sama, lalu berdasarkan hal ini menyerang keduanya sekaligus. Kebetulan salah seorang guru saya—yang menceritakan kisah ini—membaca artikel tersebut sebelum dipublikasikan. Jika tidak, ini akan menjadi skandal terbesar dalam jurnalistik Mesir!!

Saya tidak bermaksud merunut berbagai cerita seputar masalah ini. Sebab, orang yang mampu berkeliling ke negeri-negeri Arab pasti dapat melihat sendiri pengaruh sikap curiga tersebut dari kubu Ahlussunnah terhadap Syiah. Bahkan, saya mendengar ada seorang ulama “Salafiyah” di salah satu negeri Arab menyusun buku yang menggambarkan akidah Syiah bukan sekadar bertentangan dengan Islam, tapi lebih buruk daripada Ahlul Kitab, Shabiah, Majusi, dan penyembah berhala! Saya ingat pengalaman saya di salah satu negara Teluk, saat saya mencari masjid untuk shalat Jumat, lalu saya bertanya kepada seorang anak, anak itu menunjuk ke dua arah sambil berkata, ini masjid kaum Muslim, dan itu masjid orang Syiah!

Tidak jauh-jauh, di tangan saya masih ada artikel-artikel seminggu ini yang mengomentari peristiwa berdarah di Masjidil Haram Mekkah. Tanpa alasan jelas, artikel-artikel ini membuka kembali file Sunnah-Syiah dalam konteks menggugat, menjelek-jelekkan, merusak, dan menuduh akidah Syiah dalam bentuk yang pasti menggelisahkan dan mencengangkan hati seorang muslim. Anehnya, artikel-artikel ini mengarahkan tuduhan kepada Pemerintah Iran, dan bukannya kepada mazhab Syiah Imamiyah. Dan, yang lebih aneh lagi, artikel-artikel ini dipublikasikan di Mesir, negara pelopor dalam upaya harmonisasi antar mazhab, yang tidak memiliki sensitivitas apa pun terhadap Syiah, dan rakyatnya sering disebut para sejarawan sebagai “para pencinta Ahlul Bait.”

Jadi, masalah ini telah melewati batasan sikap yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, sehingga banyak penulis menjadi korban pengetahuan yang rancu. Setiap peneliti yang jujur—apa pun keyakinannya—pasti dapat melihat kesalahan dan kerancuan di dalam artikel-artikel tersebut dalam tiga level: pengetahuan umum, akidah Syiah, dan sejarah pertikaian Syiah-Sunni.

Saya tidak tahu, bagaimana penulis yang terbatas pengetahuannya seperti saya dapat mengkaji masalah ini tanpa terjerumus ke dalam tuduhan atau bisik-bisik negatif dari pembaca, atau pembelaannya terhadap Syiah tidak dianggap sebagai pembelaan terhadap Pemerintah Iran. Hal serupa ini tidak pernah terlintas di pikiran saya, sebab yang penting bagi saya aspek-aspek ilmiah dan historis serta kesatuan umat Islam dan bukannya perselisihan atau pertimbangan politis.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat mengendalikan emosi sehingga kita dapat membedakan aksi Pemerintah Iran dengan ajaran mazhab Syiah; menyadari bahwa komunitas Syiah lebih luas daripada wilayah negara Iran yang hanya menyumbang setengah pemeluk Syiah saja, sehingga kemarahan terhadap aksi yang terjadi di Mekkah tidak berubah menjadi api yang membakar hubungan Sunnah-Syiah dan membakar kepala pengikut Syiah di mana saja mereka berada, yang beberapa juta di antaranya adalah orang Arab yang hidup di sekitar kita, dan sebagian lagi tersebar di India, Pakistan, Afganistan, Turki, dan Azerbaijan.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat berbeda paham secara bijaksana, tidak saling melanggar kehormatan sesama, dan tetap menghormati wilayah sakral yang tidak boleh diserang atau diperangi, yaitu wilayah akidah, khususnya jika pemeluk akidah itu adalah kaum Muslim seperti kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebutlah ini cara beradab dalam bertikai, tapi saya lebih suka menyebutnya cara dan etika Islam. Nabi saw dalam salah satu sabdanya melarang tiga hal dan pelanggaran atasnya akan menyebabkan murka Allah sehingga pelakunya tidak Dia lindungi pada hari tiada perlindungan selain dari-Nya, salah satunya adalah, “Keji dalam bertikai.”

Saya tidak tahu kapankah tiba waktunya kita dapat memenuhi syarat berdialog dalam masalah apa saja, sehingga kita dapat menentukan tujuan, kelayakan, peserta, kepantasan tempat berdialog, juga metode dan etikanya. Sebab, beberapa tulisan tampaknya hanya bertujuan membuat para penganut Syiah menanggalkan akidah mereka, sementara para penulisnya sendiri nampaknya tidak cukup mengetahui masalah yang diperbincangkan, sehingga mereka terjerumus ke dalam pelbagai kesalahan dan kerancuan. Di samping itu, koran-koran ikut mem-blow up masalah yang seharusnya didiskusikan di forum ilmiah, seperti akar pertikaian antara Sunnah dengan Syiah, konsep taqiyah, ruj’ah, wilayah, dan lainnya.

Saya tidak tahu kapan kita sadar bahwa tata cara dialog kita sangat berbahaya dan dapat menjerumuskan kita ke dalam pertikaian yang lebih dalam. Dalam kasus ini, dialog bermuara ke arah perpecahan umat Islam, peningkatan pertikaian sesama kita, dan penyegaran kembali rasa kebencian lama. Sungguh aneh, beberapa penulis menyatakan dalam pendahuluan bukunya bahwa dia menginginkan persatuan umat Islam dan tidak memusuhi mazhab dan akidah Syiah, tapi beberapa baris kemudian dia kembali lagi ke sikap lama itu, menembakkan peluru dari senjata berat dan senjata kimia ke arah pengikut mazhab Syiah secara keseluruhan.

Akhirnya, saya tidak tahu apakah kampanye negatif terhadap Syiah ini merugikan rezim yang berkuasa di Iran atau tidak. Saya kira hal ini menguntungkan mereka dan menyatukan kaum Syiah di sekitar mereka. Sebab, kritik dan hujatan seperti yang dilakukan para penulis artikel tersebut memberikan kesan bahwa pertikaian ini diarahkan pada mazhab Syiah, dan bukan para rezim di Teheran, dan bertujuan membasmi akidah Syiah sebagai sebuah episode baru dari aksi yang disebut sebagai “kezaliman historis” sehingga para penganut Syiah yang “terkena peluru nyasar dan tidak bertanggung jawab” ini akan mendapati dirinya terpaksa berlindung di bawah rezim Iran. Saya pikir, hal ini sangat menyenangkan para penguasa di Teheran!

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil). Salah satunya berjudulal-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah(Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Fiqih Syiah yang otentik menyebut para sahabat, termasuk Abu Bakar, dengan ungkapan-ungkapan yang penuh penghormatan. Di dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah, yaitu doa-doa yang dibaca oleh Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dan didawamkan pembacaannya oleh para penganut Syiah sampai sekarang, terdapat nash yang menyatakan, “Semoga Allah menurunkan rahmat dan ridha bagi para sahabat Muhammad yang telah menderita dalam membantunya, melindunginya, berlomba menjalankan ajarannya, dan memenuhi ajakannya ketika beliau menjelaskan argumentasi risalahnya.”
  4. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena merekatelah menetapkan untukmengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah(al-Baghdadi,al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwaKami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah(Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau”(Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi).(Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1. “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2. “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…”(QS al-A’raf: 184)

3.Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalamal-Fathir : 32,Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu :

1. Ada sahabat yang“menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2. Ada yangpertengahan(tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3.Ada yang yangmendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya:

1. Nabi SAWW bersabda ,“Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2. Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda :Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku.Akuakan berkata: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka(inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)(Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3. Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku.Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku.Maka aku akan bersabda:Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku.Dijawab:Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him).(Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlahbagaimana mungkinpahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi)(al-Asy’ari,al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWWtelahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlahbukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ?,

Jangan sampaikalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya, hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung ,semoga Allah belum membutakan mata hati(karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekalisudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as , Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as:

Saudaraku (Ali) adalah: kemegahan Arab.Engkauadalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an,paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya,paling benar lidahnya sertapaling mencintai Allah dan aku (Rasul).[1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu.Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini.Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

……………………

1. Al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani,Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i,Kifayah al-Talib, hlm. 332.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi…. Murtad artinya berbalik kebelakang tidak mematuhi wasiat imamah Ali, jadi bukan keluar dari Islam….

Posted on September 1, 2010 by syiahali |Sunting

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari,Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. ) meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu ( lihat Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari,Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

—————————————————————–

Tentang Ummu’l mu’minin ‘A’isyah

Rasul juga bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. ( Bukhari,Shahihdalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi’. )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. ( Imam Ahmad bin Hambal,Musnad, jilid 2, hlm. 23. )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” ( Imam Ahmad bin Hambal,Musnad, jilid 2, hlm. 26.)

‘Kutukan’ terhadapnya dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagaiAhlus Sunnah.

.

dalam kitab muslim jilid4. bab keutamaan sohabat, diceritakan Aisyah dan zainab binti jahsy saling mencerca satu sama lain di depan Baginda Rosulullah Saww, kemudian ketika aisyah mencerca zainab Rosul Saww tertawa bahagia.

kemudia dalam kitab Jami’ Al Kabir, sunan Ibnu Dawud jilid 4, hadis 4898 menceritakan Aisyah bertengkar dengan hafsah di depan Rosululloh Saw, Zainab mulai mencerca Aisyah, kemudian Rosululloh Saww berkata pd Aisyah, “Cercalah dia juga!”

Dalam waktu yang singkat ini biarlah saya bawakan sebuah hadis untuk membuktikan bahawa mencaci maki isteri nabi memang sudah lama menjadi amalan Wahabi. Abu Dawud di dalam Sunannya yang ditermasuk sebagai Sahih Sittah (Six Compilers of Hadith: Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Abu Dawood, Tirmizi and Nisa’i) menceritakan: Ketika berlaku pertengkaran sengit antara Aisyah dan Zainab di depan mata Rasulullah (s.a.w), Zainab mula mencerca Aisyah. Rasulullah pun berkata kepada Aisyah:

سبيها، فسبتها فغلبتها
.

Iaitu Rasulullah memberi arahan kepada Aisyah, “Cercalah ia, maka Aisyah pun mencaci maki Zainab, dan Aisyah pun menang”.

Pertengkaran di depan Rasullah ini pernah diriwayatkan juga di dalam Sahih Muslim. Aisyah berkata Rasulullah kelihatan gembira ketika aku mencerca Zainab dan dalam membela Aisyah baginda bersabda: “Sesungguhnya Aisyah adalah anak Abu Bakar”

انها ابنة ابی بکر

Saya mengatakan perbuatan mencerca ini dilarang di dalam surah Al-An’am ayat 108: “Dan janganlah kamu cerca benda-benda yang mereka sembah yang lain dari Allah, kerana mereka kelak akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan”.

Kalau dilihat dari sejarah pasca wafatnya Rasulullah saw, Sebenarnya hadis hadis yang melarang ummat agar jangan mencela, mengkritik, melaknat para sahabat nabi adalah hadis buatan para penguasa saja, dan hadis hadis tsb dibuat untuk melindungi para penguasa (yang berkedok ahlussunnah ) yang bertindak diluar sunnah Rasulullah saw agar kekeliruan dan kesesatan mereka terlindungi dari hujatan hujatan dan kritikan kritikan

Sebab hadis hadis yang melarang mencela, mengkritik dan melaknat sahabat nabi adalah bertentangan dengan Al-qur’an dan sunnah Nabi saw itu sendiri.

Yg jelas bahwa sahabat yg berkhianat dan yg membangkang terhadap Rasulullah saw memang selayaknya dan pantas untuk dikritik, dan begitulah adanya suka atau tidak.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei selaku pemimpin dan Marji’ Syiah terbesar di dunia telah mengeluarkan fatwa haram menghina simbol Ahlusunnah

semoga perpaduan Sunni dan Syiah semakin utuh di samping kita sama-sama membongkar kegiatan Wahabi membunuh dan merosakkan tempat suci umat Islam dalam persidangan antara mazhab nanti.

Subhanallâh, Ternyata Nabi saw. Juga Melaknat Sahabatnya!

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka. Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah, apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.”

Pada pembahasan sebelumnya, telah kita singgung posisi sahabat Nabi saaw. Sekali lagi ingin kami sebutkan, bahwa, mengetahui sahabat secara jelas, akan sangat membantu kita dalam kritik selanjutnya. Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka.

Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah, apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma’siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi’ah, qabuliyyat dan isti’dadiyat mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saaw.

Ada dua komentar untuk pandangan di atas, Pertama: seluruh sahabat karena kedekatan dan tenggelamnya mereka dalam cinta dan perkhidmatan kepada Rasulullah saaw. maka secara otomatis rahmat dan kasih sayang Allah swt. menjadikan mereka seluruhnya adil. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa para sahabat adalah hukum syar’i sebagaimana Rasulullah saaw. Pandangan kedua: penerimaan sahabat atas didikan dan pengajaran sekaligus menyerap hikmah-hikmah kenabian, sangat tergantung pada potensidan kemampuan penerimaan sahabat.

Sahabat terbagai dalam kelompok besar menurut penganut pandangan ini. Sebagian ada yang sampai kepada penerimaan yang sempurna, ada yang hanya sebagian, dan ada yang tidak menerima kecuali sangat sedikit dari hikmah-hikmah kenabian. Golongan ini mengatakan bahwa, sahabat harus dipilah dan pilih, tidak bisa dikategorikan sama. Dan karenanya, mereka dengan Rasul tidak boleh disamakan dalam posisi syar’i.

Siapakah sahabat Nabi?

Menurut Kamus

Al-Ashhab, ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Shuhbatan, Shahabatan, Shahibun, artinya: teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong pengikut. As-Shahib artinya kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan atau menjaga sesuatu. Kata ini juga bisa diartikan sebagai orang yang mengikuti suatu paham atau mazhab tertentu. Misalnya, kita bisa bisa mengatakan: pengikut Imam Ja’far, pengikut Imam Syafi’I, pengikut Imam Malik dan lain-lain. Dapat juga kita menyatakannya seperti dalam frasa ishthahaba al-qaum, yang artinya, mereka saling bersahabat satu sama lain, atau ishthahaba al-bar, artinya, menyelamatkan unta (lih. Lisan-al-Arab Ibn Manzhur 1/915).

Menurut Peristilahan al-Qur’an

Kata as-Shuhbah – persahabatan- dapat diterapkan pada hubungan: antara seorang mukmin dengan mukmin yang lain (Kahfi ayat 6), antara seorang anak dengan kedua orang tuanya yang berbada keyakinan(Lukman ayat 15), antara dua orang yang sama-sama melakukan perjalanan(an-Nisa ayat 36), antara tabi (pengikut) dengan matbu’ (yang mengikuti) (at-Taubah ayat 40), antara orang mukmin dengan orang kafir (al-Kahfi ayat 34 dan 37), antara orang kafir dengan orang kafir lainnya (al-Qamar ayat 29), antara seorang Nabi dengan kaumnya yang kafir yang berusaha menghalangi dari kebaikan dan mengembalikannya pada kesesatan (an-Najm ayat 2, Saba ayat 41) lihat juga Tafsir Ibn Katsir untuk masing-masing ayat di atas.

Ahlul Sunnah wal Jam’ah (selanjutnya kita sebut; Sunni) bersepakat dalam mendefenisikan sahabat dengan keadilan mereka (sahabat). Pendapat mereka antara lain:

– Sa’id Bin Musayyab : Sahabat, adalah mereka yang berjuang bersaama Rasulullah selama setahun atau dua tahun dan berperang bersama Rasul sekalil atau dua kali.

– Al-Waqidi : Kami melihat, para ulama mengatakan, mereka (sahabat Rasulullah) adalah siapa saja yang melihat Rasul, mengenal dan beriman kepada beliau, menerima dan ridha terhadap urusan-urusan agama walaupun sebentar.

– Ahmad bin Hanbal : Siapa saja yang bersama dengan Rasul selama sebulan, atau sehari, atau satu jam atau hanya melihat beliau saja, maka mereka adalah sahabat Rasulullah saaw.

– Bukhari : barang siapa yang bersama Rasulullah atau belihat beliau dan dia dalam keadaan Islam, maka dia adalah Rahabat Rasulullah saaw.

Al-Qawali menambahkan, kebersamaan itu walaupun sejam saja, tapi secara umum kebersamaan itu mempersyaratkan waktu yang lama.Al-Jaziri berkata, mereka adalah yang hadir dalam perang Hunain yang berjumlah dua belas ribu orang, yang ikut dalam perang Tabuk, dan ikut bersama Rasul dalam haji wada’. Demikianlah pendefenisian sahabat menurut Sunni, walaupun secara Lughawai dan al-‘Uruf al-‘Am memliki perbedaan yang jauh. Di mana persahabatan itu mempersyaratkan kebersamaan dalam waktu yang lama. Jadi tidak bisa dimasukkan dalam defenisi ini, bagi mereka yang bertemu hanya dalam waktu singkat, atau hanya mendengar perkataan atau hanya dengan bercakap-cakap singkat, atau tinggal bersama dalaml waktu yang singkat. Yang mengherankan adalah, bahwa Sunni sudah sampai kepada kesepakatan tentang keadilan sahabat sedangkan mereka masih saling ikhtilaf dalam pendefinisian sahabat?

Apakah Tujuan dari Tinjauan Kehidupan Sahabat?

Sebagian besar ulama Sunni memasukan sahabat Nabi ke dalam wilayah profane sangat holistic, sehingga sering kali kita mendengar pengkafiran, Zindiq, munafik dan pembuat bid’ah bagi mereka yang melanggar secret zona-line­ ini. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishabah jilid 1 hal. 17 mengatakan: Ahlu Sunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah ‘adil, kecuali dan barang siapa yang menentang ini adalah ahli bid’ah. Al-Khatib berkata: keadilan sahabat dengan legitimasi Allah swt. adalah sesuatu yang tetap dan telah diketahui. Allah telah memilih mereka (sahabat) dan mengabari tentang kesucian mereka. Kemudian Ibnu Hajar berkata: al-Khatib meriwayatkan dari Abi Zar’ah al-Razi: Kalau kamu melihat seseorang berkata tentang kekurangan (baca:kejelekan) sahabat Rasul, maka ketahuilah bahwa orang itu adalah zindiq. Karena Rasulullah adalah haq, al-Qur’an dan apa yang datang bersamanya adalah haq. Dan sahabat telah menyampaikan itu semua kepada kita. Orang-orang yang ingin mencemari keyakinan kita tentang itu, adalah mereka yang ingin menolak kebenaran al-Qur’an dan Sunnah. Maka menolak mereka adalah lebih utama sebab mereka adalah kaum zindiq.

Jawaban atas pernyataan di atas akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya. Tapi, terlepas dari itu semua, kritik terhadap akidah dan sepak terjang sahabat bertujuan bukan untuk membatalkan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah, atau ingin menghilangkan keyakinan kaum muslim. Tapi bila ingin mengetahui dan menguji keadilan para sahabat, maka kita harus menguji secara naqidi, untuk mengetahui yang shaleh dan thaleh, untuk kemudian kita ambil dari mereka yang shaleh, agama bima huwa yang diajarkan Rasul dan menolak sebaliknya.

Kesulitan Kritik Objektif

In any case , kritik akan sampai kepada hasil yang diharapkan bila saja, kita mampu melihat secara objektif objek yang kita kritik. Salah satunya adalah melepaskan nilai-nilai yang sudah dari dulu diletakkan para pendahulu kita. Tentu saja harus segera digaris bawahi, bahwa tidak setiap yang old itu begitu saja kita tolak, tapi yang ingin kita lakukan hanya ingin bersikap ilmiah dengan mengolah dan menguji kembali apa-apa yang sudah dianggap paten oleh para pendahulu kita.

Sebagai contoh: Imam Hanbal (lih. Kitab as-Sunnah Ahmad Bin Hanbal hal.50) dan sebaik-baik ummat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar. Kemudian secara berurut, Umar, kemudian Ustman, kemudian Ali -radiyallahu ‘anhum- kemudian para sahabat Muhammad saaw. setelah empat Khulafa ar-Rasyidin. Dia melanjutkan, tak seorang pun boleh membanding-bandingkan mereka, atau mencukupkan satu dari yang lain…..

Imam Asy’ari juga berpendapat bahwa, kita percaya kepada sepuluh ahli surga sebagaimana yang disabdakan Rasul, kita mengikuti mereka dan seluruh sahabat Nabi saaw. dan menerima segala tentang mereka….(lih.al-Ibana hal.40/Maqalat, hal.294).

Cukupkah kita terhadap pernyataan di atas? Sementara sedemikian jelasnya sejarah panjang perjalanan sahabat Rasul yang saling berikhtilaf dan bertentangan dari permasalahan ritual ibadah sampai akidah! Tidakkah para ulama di atas membaca sejarah bahwa sahabat berbeda sampai dengan Rasul sendiri? Tidakkah mereka membaca bahwa sesama sahabat saling menumpahkan darah! Bagaimana mungkin kita bisa menerima seluruhnya, dan tidak boleh menolak seluruhnya sekaligus zindiq-kafir bila mengambil segolongan dari mereka! Ini sangat bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah an-Nabawiyah sekaligus akal sehat!

Al-Qur’an telah mensifatkan sebagian sahabat dengan fasiq sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang beriman, apabila datang padamu seorang fasiq…..(al-Hujurat:6) dalam hadits, mensifati golongan yang membunuh ‘Ammar Bin Yasir sebagai golongan yang al-Baghiyah. Rasul bersabda: Engkau (‘Ammar) akan dibunuh golongan Baghyah, engkau memanggil mereka ke surga, sedangkan mereka memanggilmu ke neraka (al-Jam’ bain as-Shahihain 2/461). Sedangkan untuk orang-orang khawarij Rasul menyebut mereka orang-orang yang membunuh golongan yang paling utama dalam kebenaran.

Hadits-hadits seperti ini banyak termuat dalam kitab Shahih dan Masanid. Apabila berpegang kepada sahabat adalah sebuah kewajiban sedangkan mempertanyakan ihwal mereka adalah haram, kenapa al-Qur’an dan Rasulullah saaw. mengabarkan kepada kita sifat-sifat seperti di atas. Akal sehat tidak menerima penutupan kebenaran dengan kesalahan, menutupi kebenaran, dan memposisikan sama antara yang benar dan yang salah.

Al-Qur’an dan Keadilan Sahabat

Dalam perang Uhud, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh, banyak di antara sahabat yang kembali lemah imannya, bahkan mengarah ke arah kemurtadan, sehingga turunlah Ayat 144 surah al-Imran “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika Dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik kebelakang (murtad)?……

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa perang Uhud, untuk sahabat setelah mendengar Rasululllah telah terbunuh (lih. Tafsir Ibnu Katsir 1/409). (lihat juga Zadul Ma’ad Ibnu al-Qayyum al-Jauzi hal.253). Ayat di atas menjelaskan tentang kemungkinan berpaling dan goyahnya keimanan sahabat (hanya setelah mendengar berita bohong terbunuhnya Rasul). Mungkinlah kita menyifati mereka dengan ‘adil mutlak’ kepada yang berpotensi untuk murtad?

Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata: Berkata kepada Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata: Aku sering masuk ke Madinah dan ketika Rasulullah saaw. sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja,kemudian turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) ataupermainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah)(al-Jumu’ah ayat 11). Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590)

Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang naqd al-Qur’an terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:

– Tafsir Ibn Katsir 1/421 dan Tafsir at-Tabari 4/155, tafsir surah al-Imran ayat 161.

– Tafsir Ibn katsir 4/209 tafsir surah al-Hujurat ayat 6 dan 2/283-285 tafsir surah al-Anfal ayat 1

Lihat juga tafsir surah al-Imran ayat 103, al-Ahzab ayat 12-13. at-Taubah 101-102, al-Hujurat 14, at-Taubah ayat 60. dan lain-lain yang tidak memungkinkan kita urai dan tulis satu persatu pada tempat ini.

Al-Sunnah an-Nabawiyah dan Keadilan Sahabat

Al-Qur’an, sebagaimana telah kita urai, melihat sahabat sebagaimana tabi’in, yang di antara mereka ada yang adil dan yang fasiq, yang shaleh dan thaleh dan lain-lain. Sekarang merilah kita menengok sahabat dalam hadits-hadits Nabi saaw.

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang sahabat-sahabat beliau untuk menyalati mayat seorang sahabat yang lain (lih.Mustadrak al-Hakim 2/127, lihat juga Musnad Ahmad kitab al-jihad 4/114).

Rasulullah berlepas tangan dari Khalid Bin Walid, karena membunuhi Bani Juzaimah yang telah menerima Islam, sebagian yang hidup lalu ditawan, tapi kemudian para tawanan itu pun dibunuh juga. Rasul mengangkat tangan ke langit “Ya Allah, aku berlepas tangan dari yang diperbuat Khalid” beliau mengatakannya dua kali (lih.Shahih Bukhari, Kitab Maghazi bab Ba’atsa an-Nabi Khalid Bin al-Walid, hadits 4339).

Rasulullah saaw. melaknat Hakam bin Ash Umayyah bin Abdus-Salam – paman Ustman bin Affan dan ayah Marwan bin Hakam – dan melaknat apa yang terdapat dalam tulang rusuknya (keturunannya). Rasulullah bersabda, “celaka bagi umatku dari apa yang terdapat pada tulang rusuk orang ini (keturunan Hakam bin Ash).” Dalam hadits, Aisyah berkata kepada Marwan Bin Hakam, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah melaknat ayahmu, sedangkan engkau ketika itu berada pada tulang rusuknya.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi saaw. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda, “Takkala aku sedang berdiri, muncullah segerombolan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, “Ayo ” Aku bertanya, “Kemana?” Ia menjawab, “Ke neraka, demi Allah!!” Aku bertanya; “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab; “Mereka berbalik setelah engkau wafat.” Dan yang lain dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata: Nabi bersabda; “Takkala berada di al-Haudh, aku tiba-tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku, yang mengikuti selain diriku. AKu berkata; Ya Rabbi, dari diriku dan umatku? Dan terdengar suara seseorang: Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu.” Dari bab yang sama yang berasal dari Sa’id bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda “Di al-Haudh sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi mereka adalah sahabatku!”. Dan Nabi mendapat jawaban; “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!” Riwayat ini juga disampaikan oleh Sahl bin Sa’d. Bukhari juga meriwayatkan yang berasal dari Ibnu Abbas, Nabi saaw. Bersabda; “Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban: “Mereka tak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.” (lih.Shahih Bukhari jilid 4 bab al-Haudh, akhir bab ar-Ruqab, hal.94 dan jilid 3/30 bab Ghazwah Hudaibiyah).

Muslim juga meriwayatkan, Nabi bersabda; “Sebagian orang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga Haudh, yaitu takkala dengan tiba-tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar-benar akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu” (lih.Shahih Muslim kitab Fadhail hadits 40, lihat juga Musnad Ahmad 1/453, jilid 2/28 dan jilid 5/48).

Sejarah dan Keadilan Sahabat

Dua uraian sumber hukum terpenting agama Islam, telah kita jelajahi dalam membaca kembali sahabat. Sekarang marilah kita journey ke petak-petak sejarah sahabat Nabi setelah beliau wafat. Mukhtashar Tarikh Dimasyk 8/19, Sirah I’lam an-Nubala’ 3/235, Tarikh at-Thabari 2/272, Usudul Ghabah 2/95, dan al-Ishabah 5/755.

Kita ambil dari at-Thabari, Malik Bin Nawairah Bin Hamzah al-Ya’rubi sudah Islam dan saudaranya, Rasul menunjuknya sebagai petugas pengumpul shadaqah bani Yarbu’. Setelah Rasul saaw. wafat, meluas kemurtadan di antara kabilah-kabilah. Abu Bakar, mengutus Khalid Bin Walid untuk memandamkan fitnah tersebut, tapi Khalid sangat berlebihan. Khalid membunuh sahabat-sahabat Nabi saaw. termasuk Malik Bin Nawairah, tidak sampai di situ, Khalid kemudian menzinahi istri Malik Bin Nawairah (yakni tanpa menunggu iddahnya).

Abu Bakar dan Umar berbeda keras dalam kasus ini, Umar bersikeras agar Khalid Bin Walid dihukum berat. Umar berkata kepada Khalid “Kamu telah membunuh seorang muslim, lali engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau! (lih.Tarikh Ibn Atsir, dan Wafayat al-‘A’yan Ibn Khalikan Abu Bakar alih-alih menghukum Khalid, Khalid dia malah diberi gelar saif Allah al-madzlul. Umar, setelah menjabat sebagai khalifah, memecat Khalid dan melantik Abu Ubaidah untuk menggantikan Khalid (lih. Sirah a’lam an-Nubala 3/236).

Sa’ad Bin Ubadah, Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh al-Anshari, tidak membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Amirul Mukminin Ali as, al-Abbas, ‘Uthbah bin Abi Lahab (juga anggota Bani Hasyim lainnya), Abu Dzar, Salman al-Farisi, al-Miqdad, ‘Ammar bin Yasir, Zubair, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Amr bin Waqadah, Ubay bin Ka’ab, al-Bara’ bib ‘Azib. Semuanya pada mulanya menolak membaiat kepada Abu Bakar. Sejarah mencatat, malah sebagian dari mereka, seperti Sa’d bin Ubadah dan Hubab al-Munzdir, malah terbunuh secara rahasia. (lih.Shahih Bukhari dan Muslim, Tarikh at-Tabari, al-‘Iqd al-Farid dan al-Kamil Ibn Katsir).

Lihat juga pertengkaran Sayyidah Fathimah az-Zahra, penghulu para wanita seluruh alam, putri belahan jiwa Rasulullah, dengan Abu Bakar. Semua mengetahui pertengkaran tersebut.(lih.Shahih Bukhari 3/36 – 4/105, Muslim 2/72, Musnad Ahmad bin Hanbal 1/6, al-Imamah wa as-Siyasah Ibn Qutaibah, dan Syahr Nahjul Balaghah Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili).

Sebenarnya masih sangat banyak yang telah tercatat dalam sejarah tentang prilaku sahabat, sebagaimana yang dilaporkan Muslim tentang sahabat pada masa Umar Bin Khattab yang menjual Khamar (lih.Shahih Muslim 5/41 bab Tahrim al-Khamer) tidak hanya sebatas itu, sahabat tersebut juga, suka menumpahkan darah orang-orang yang tak berdosa dan para pengumpul Qur’an (lih.Tarikh at-Thabari 3/176).

Aisyah Binti Abi Bakar melaknat Utsman (lih. Tarikh at-Thabari 4/459, an-Nihayah Ibn Atsir 5/80), Mu’awiyah melaknat dan memerintahkan setiap khatib jum’at dan imam shalat untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu Rasulullah saaw, al-Hasan dan al-Husain di atas minbar dan dalam qunut shalat. Umar dan Abu Bakar melaknat Sa’id Bin Ubadah ketika ia masih hidup. Dan masih banyak lagi dalam sejarah, para sahabat melaknat sebagian sahabat yang lain dan berlepas diri dari yang lain.

Kesimpulan Bahasan

To make long story short, Sebagaimana yang telah al-Qur’an dan Sunnah telah wajibkan, menghormati sahabat dan memposisikan mereka pada derajat yang tinggi merupakan suatu kelaziman. Tapi selain itu, kedua sumber hukum Islam ini juga memerintahkan kepada kita untuk menilai sesuai dengan kapasitas mereka.

Orang-orang yang dicela al-Qur’an sudah pasti bukan orang adil, orang-orang yang disebut fasiq pasti tidak adil. Orang-orang yang menyepelekan Nabi pasti bukan adil, orang-orang yang dilaknat Nabi saaw. pasti tidak adil, orang-orang yang tidak cela Nabi saaw. pasti tidak adil. Mereka sebagaimana kamu muslim yang lain, bisa jadi berbuat salah dan benar, di antara mereka ada yang adil sebagimana ada yang tidak. Menghukumi mereka adil secara keseluruhan adalah sangat berseberangan dengan sikap ilmiah dan bertentangan dengan sejarah, dan secara tidak langsung meragukan kebenaran nas. Bahkan syi’ar tersebut terbukti benar-benar bertentangan dengan nas-nas dan hadits Rasulullah saaw. yang jelas. Al-Qur’an mengajarkan kita, wa la tus-alu ‘amma ka nu ya’malun –kalian tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka lakukan- bukan, wa la tas-alu ‘amma kanu ya’malun –janganlah kalian bertanya terhadap apa yang mereka lakukan-.


Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah

Tidak diragukan kalau Imam Ali benar dalam tindakannya memerangi Muawiyah. Sebagaimana yang telah dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok pemberontak [baaghiyyah]. Hanya saja beberapa orang dari pengikut salafy yang ghuluw mencintai Muawiyah tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengan segenap usaha“yang melelahkan”membela Muawiyah. Tidak jarang demi membela Muawiyah mereka mengutip perkataan Imam Ali. Bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan para pengikutnya?. Perhatikanlah hadis-hadis berikut

.

.

Doa Imam Ali Untuk Muawiyah dan Pengikutnya

حدثنا تميم بن المنتصر الواسطي قال أخبرنا إسحاق يعني الأزرق عن شريك عن حصين عن عبد الرحمن بن معقل المزني قال صليت مع علي بن أبي طالب رضوان الله عليه الفجر ” فقنت على سبعة نفر منهم فلان وفلان وأبو فلان وأبو فلان

Telah menceritakan kepada kami Tamim bin Muntashir Al Wasithiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ishaq yakni Al Azraq dari Syarik dari Hushain dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy yang berkata “aku shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu maka ia membaca qunut untuk tujuh orang, diantara mereka adalah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2628]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syarik ia memang seorang yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya. Ishaq Al Azraq meriwayatkan dari Syarik sebelum hafalannya berubah maka riwayatnya shahih.

  • Tamim bin Muntashir Al Wasithiy adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’I menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 958]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dhabit [At Taqrib 1/143-144]
  • Ishaq bin Yusuf Al Azraq adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shahih hadisnya shaduq tidak ada masalah dengannya”. Yaqub bin Syaibah berkata “ia termasuk orang yang alim diantara yang meriwayatkan dari Syarik”. Al Khatib berkata “termasuk tsiqat dan ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Bazzar menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/87]
  • Syarik Al Qadhi adalah Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507]
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 2 no 659]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124].
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Riwayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ali membaca qunut nazilah untuk beberapa orang pada shalat fajar. Terdapat riwayat lain yang menyebutkan kalau Imam Ali juga membaca qunut ini [nazilah] pada shalat maghrib

حدثني عيسى بن عثمان بن عيسى قال حدثنا يحيى بن عيسى عن الأعمش عن عبد الله بن خالد عن عبد الرحمن بن معقل قال صليت خلف علي المغرب فلما رفع رأسه من الركعة الثالثة قال اللهم العن فلانا وفلانا وأبا فلان وأبا فلان

Telah menceritakan kepadaku Isa bin Utsman bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Khalid dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata “aku shalat maghrib di belakang Ali ketika ia mengangkat kepalanya pada rakaat ketiga, ia berkata “ya Allah laknatlah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan”[Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2627]

Riwayat ini sanadnya hasan dengan penguat riwayat sebelumnya. ‘Abdullah bin Khalid adalah seorang kufah yang tsiqat dimana telah meriwayatkan darinya Sufyan Ats Tsawri dan Al A’masy.

  • Isa bin Utsman bin Isa adalah perawi Tirmidzi. Telah meriwayatkan darinya jama’ah hafizh diantaranya Tirmidzi dan Ibnu Jarir. Nasa’I menyatakan “shalih” [At Tahdzib juz 8 no 410]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/772]
  • Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • ‘Abdullah bin Khalid meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy dan telah meriwayatkan darinya Sufyan dan ‘Amasy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 8812]. Al Fasawiy menyebutkan ia seorang yang tsiqat [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/104]
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Kedua riwayat ini menyebutkan kalau Imam Ali membaca qunut nazilah pada shalat shubuh dan maghrib dimana Beliau mendoakan keburukan atau melaknat orang-orang tertentu. Siapa orang-orang tersebut memang tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarir tetapi tampak jelas kalau perawi [entah siapa] menyembunyikan nama-nama mereka karena tidak mungkin ada seseorang bernama fulan atau abu fulan. Alhamdulillah ternyata terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan nama beberapa diantara mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Riwayat ini sanadnya shahih, Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]. Sedangkan Hushain dan Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan kalau mereka tsiqat.

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war[Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/134]

Riwayat ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat termasuk perawi Bukhari Muslim [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin perawi kutubus sittah [At Taqrib 2/193]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy atau Abu Hasan Al Kufiy adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 128]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/643]. Dan ‘Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan bahwa ia tabiin yang tsiqat.

Kedua riwayat Abdurrahman bin Ma’qil ini menyebutkan kalau diantara mereka yang didoakan [dalam qunut] keburukan atau laknat oleh Imam Ali adalah Mu’awiyah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Imam Ali, Muawiyah dan pengikutnya itu menyimpang dan telah sesat plus menyesatkan banyak orang sehingga Imam Ali sampai membaca qunut nazilah untuk mereka. Abbas Ad Duuriy berkata

سمعت يحيى يقول أبو الأعور السلمي رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وكان مع معاوية وكان علي يلعنه في الصلاة

Aku mendengar Yahya [bin Ma’in] berkata “Abul A’war As Sulamiy seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia bersama Muawiyah dan Ali telah melaknatnya di dalam shalat”[Tarikh Ibnu Ma’in 3/43 no 175]

.

.

Kelompok Muawiyah Berada Di Jalan Yang Bathil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah”[Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Telah terbukti kalau ‘Ammar terbunuh dalam perang shiffin dan ia berada di pihak Imam Ali jadi kelompok baaghiyyah [pembangkang] yang membunuh ‘Ammar dalam hadis Bukhari di atas adalah kelompok Muawiyah. Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Jadi berdasarkan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dalam perang shiffin Imam Ali dan pengikutnya berada dalam kebenaran sedangkan Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت عبد الله بن سلمة يقول رأيت عمارا يوم صفين شيخا كبيرا آدم طوالا آخذا الحربة بيده ويده ترعد فقال والذي نفسي بيده لقد قاتلت بهذه الراية مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات وهذه الرابعة والذي نفسي بيده لو ضربونا حتى يبلغوا بنا شعفات هجر لعرفت أن مصلحينا على الحق وأنهم على الضلالة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Salamah berkata “aku melihat ‘Ammar dalam perang shiffin, dia seorang Syaikh yang berumur, berkulit agak gelap dan berperawakan tinggi, ia memegang tombak dengan tangan bergetar. Ia berkata “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa panji ini bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiga kali dan ini adalah yang keempat. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami kepada kematian maka aku yakin bahwa orang-orang shalih yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan[Musnad Ahmad 4/319 no 18904]

Riwayat ini sanadnya hasan. ‘Abdullah bin Salamah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit perbincangan karena hafalannya. Riwayat ini juga disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 5651.

  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • ‘Amru bin Murrah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan shaduq tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah [At Taqrib 1/745]
  • ‘Abdullah bin Salamah adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ai Ijli menyatakan ia tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat termasuk thabaqat pertama dari ahli fiqih kufah setelah sahabat”. Abu Hatim berkata “dikenal dan diingkari”. Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. Ibnu Ady berkata “aku kira tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 5 no 421]. Ibnu Hajar berkata “shaduq mengalami perubahan pada hafalannya” [At Taqrib 1/498]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Al Kasyf no 2760], Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam Man Tukullima Fihi wa huwa Muwatstsaq no 182. Ibnu Hibban telah menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080]. Ibnu Khuzaimah telah berhujjah dan menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/104 no 208]. Al Hakim ketika membawakan hadis ‘Abdullah bin Salamah ia menyatakan hadis tersebut shahih sanadnya walaupun syaikhan tidak berhujjah dengan ‘Abdullah bin Salamah tetapi tidak ada cela terhadapnya [Al Mustadrak juz 1 no 541] itu berarti Al Hakim menganggap ‘Abdullah bin Salamah tsiqat. Pendapat yang rajih, ‘Abdullah bin Salamah adalah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit pembicaraan dalam hafalannya tetapi itu tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan.

Riwayat ini dengan tegas menyatakan kalau ‘Ammar dan orang-orang shalih di pihak Imam Ali adalah berada di atas kebenaran sedangkan mereka kelompok Muawiyah berada di atas kesesatan atau kebathilan. Kami tidak akan berbasa-basi seperti sebagian orang yang mengklaim kalau Muawiyah berijtihad dan walaupun salah ijtihadnya tetap mendapat pahala. Itu berarti Muawiyah yang dalam perang shiffin dikatakan mengajak orang ke neraka tetap mendapat pahala. Sungguh perkataan yang aneh bin ajaib.

Kami juga ingin menegaskan kepada orang yang memang tidak punya kemampuan memahami perkataan orang lain bahwa kami tidak pernah menyatakan kalau Muawiyah dan pengikutnya kafir dalam perang shiffin berdasarkan hadis-hadis di atas. Jika dikatakan mereka bermaksiat maka itu sudah jelas, orang yang mengajak ke jalan neraka maka sudah jelas ia bermaksiat. Tetapi apakah maksiat itu membawa kepada kekafirannya maka hanya Allah SWT yang tahu. Soal Muawiyah kami sudah pernah membahas

.

Syubhat Salafy Dalam Membela Muawiyah

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِيُّ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ ، قَالَ : سُئِلَ عَلِيٌّ عَنْ قَتْلَى يَوْمِ صِفِّينَ ، فَقَالَ : قَتْلاَنَا وَقَتْلاَهُمْ فِي الْجَنَّةِ ، وَيَصِيرُ الأَمْرُ إلَيَّ وَإِلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayub Al Maushulliy dari Ja’far bin Burqaan dari Yazid bin Al Aasham yang berkata Ali pernah ditanya tentang mereka yang terbunuh dalam perang shiffin. Ia menjawab “yang terbunuh diantara kami dan mereka berada di surga” dan masalah ini adalah antara aku dan Muawiyah[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 15/302 no 39035]

Riwayat ini secara zahir sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat di dalamnya. Adz Dzahabi mengatakan tentang Yazid bin Al Aasham kalauriwayatnya dari Ali tidak shahih[As Siyar 4/517 no 211]. Walaupun dikatakan Adz Dzahabi ia menemui masa khalifah Ali tetapi tetap saja Adz Dzahabi sendiri mengatakan kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih. Cukup ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa terkadang ada perawi yang melihat atau bertemu atau semasa dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dikatakan tidak shahih. Salah satu contohnya adalah Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Madini berkata tentangnya“ia melihat Abu Sa’id Al Khudri tawaf di baitullah dan ia melihat Abdullah bin Umar tetapi tidak mendengar hadis dari keduanya” [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 520].

Ada yang berhujjah sembarangan dengan hadis ini. Mereka dengan hadis ini membela Muawiyah dan pengikutnya. Ini namanya asal berhujjah, telah kami tunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali sebenarnya kepada kelompok Muawiyah. Jika Imam Ali sendiri berdoa dalam qunut nazilah agar Muawiyah dan pengikutnya mendapatkan hukuman dari Allah SWT maka sudah jelas menurut Imam Ali mereka kelompok Muawiyah berada dalam kesesatan atau kebathilan dan hal ini pun sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pandangan ‘Ammar bin Yasir radiallahu ‘anhu.

Jadi jika riwayat di atas diartikan bahwa Imam Ali membenarkan Muawiyah dan pengikutnya maka itu keliru. Kami pribadi menganggap atsar tersebut matannya mungkar dan sanadnya memang mengandung illat. Bukankah dalam perang shiffin Muawiyah dan pengikutnya telah terbukti berada di atas Jalan yang menuju ke neraka berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Apakah mereka yang gugur karena membela kebathilan akan mendapat imbalan surga?. Jadi dari sisi ini kalau riwayat tersebut diartikan secara zahir maka mengandung pertentangan dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainyapun orang-orang tersebut menerima riwayat Imam Ali di atas maka sudah seharusnya diartikan bahwa yang dimaksud bukan secara umum. Bukankah salafy sendiri [Muawiyah dan pengikutnya] menganggap bahwa dalam kelompok Imam Ali terdapat para pembunuh Utsman radiallahu ‘anhu. Nah apakah mereka yang terbunuh dalam kelompok Imam Ali ini akan mendapat surga? Silakan mereka salafy menjawabnya. Begitu pula mungkin saja dalam kelompok Muawiyah terdapat orang-orang yang tidak memahami persoalan, mereka tertipu oleh propaganda Muawiyah atau dengan bahasa yang lebih kasar fitnah kalau Imam Ali dan pengikutnya melindungi para pembunuh khalifah Utsman radiallahu ‘anhu. Mungkin saja kelompok ini yang dikatakan Imam Ali bahwa yang terbunuh diantara mereka mendapat surga. Sehingga sangat wajar di akhir riwayat Imam Ali mengatakan kalau masalah ini adalah antara diri Beliau dan Muawiyah.

Selain itu sangat ma’ruf kalau tidak semua orang yang ikut berperang memiliki niat yang baik walaupun mereka berada di pihak yang benar. Kedudukannya tergantung niat orang tersebut, jika ia berperang dengan niat mendapatkan harta atau niat lain yang buruk dan gugur dalam perang tersebut bukan berarti ia lantas mendapat surga. Terdapat kisah dimana salah seorang sahabat gugur di medan perang kemudian para sahabat yang lain mengatakan ia syahid tetapiRasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membantahnya dan mengatakan kalau ia di nerakakarena sahabat tersebut telah berkhianat dalam harta rampasan perang. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa atsar Imam Ali di atas seandainya kita terima maka ia tidak bisa diartikan secara umum untuk semua orang yang terbunuh di shiffin. Apalagi sangat tidak benar menjadikan hadis ini untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yang lain.

Sebenarnya ada hal lucu yang tidak terpikirkan oleh salafy. Bukankah mereka sering merendahkan Syiah yang katanyaSyiah mengatakan bahwa Imam Ali mengetahui perkara yang ghaib. Padahal yang dilakukan syiah mungkin hanya berhujjah dengan riwayat yang ada di sisi mereka. Sekarang lihatlah riwayat Imam Ali di atas, bukankah pengetahuan siapa yang akan masuk surga adalah pengetahuan yang bersifat ghaib lantas kenapa sekarang salafy anteng-anteng saja meyakini riwayat tersebut. Sekarang dengan lucunya [demi membela Muawiyah] salafy mengakui kalau Imam Ali mengetahui perkara ghaib bahwa yang terbunuh di shiffin itu masuk surga. Sungguh tanaqudh dan memprihatinkan mereka suka mencela mazhab lain tetapi apa yang mereka cela ada pada diri mereka sendiri

.

Syi’ah Mencontoh NAbi SAW Yang Melaknat dan Mencela Sahabat Yang Jahat… Jadi Mustahil Itu Berdosa, Kalau Anda Katakan Berdosa Berarti NAbi SAW Juga Berdosa Karena Mencela/Melaknat Sahabat Yang Durhaka…Justru Yang Berdosa Adalah Aswaja Sunni Yang Membela/Memihak Orang Yang Dilaknat/Dicela Nabi SAW

Abu Bakar dan Umar Di Bawah Pimpinan Usamah Bin Zaid

Menjelang akhir hayat Rasulullah SAW, Beliau mengangkat Usamah bin Zaid memimpin pasukan untuk menuju tanah Balqa di Syam persis tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah RA, Ja’far RA dan Ibnu Rawahah RA. Telah dinyatakan oleh banyak ulama bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk mereka yang ikut dalam Sariyyah Usamah. Saat itu usia Usamah bin Zaid masih muda, anehnya kepemimpinan Usamah ini dikecam oleh sebagian sahabat Nabi dan kabar kecaman ini sampai ke telinga Rasulullah SAW

عن بن عمر ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث بعثا وأمر عليهم أسامة بن زيد فطعن بعض الناس في أمرته فقام رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ان تطعنوا في أمرته فقد تطعنون في إمرة أبيه من قبل وأيم الله ان كان لخليقا للأمارة وان كان لمن أحب الناس إلى وان هذا لمن أحب الناس إلى بعده

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela kepemimpinannya tersebut. Lalu Rasulullah SAW berdiri dan berkata “Jika kalian mencela kepemimpinannya maka kalian mencela kepemimpinan Ayahnya sebelumnya. Demi Allah, dia (Zaid) memang layak memimpin pasukan dan dia termasuk orang yang paling aku cintai, dan anaknya ini termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya.[Shahih Muslim 4/1884 no 2426, Shahih Bukhari 5/23 no 3730, Musnad Ahmad 2/20 no 4701 dan 2/110 no 5888 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Sukar dibayangkan kalau para sahabat berani mengecam apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW tetapi memang begitulah kenyataannya. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalamAth Thabaqat4/66 yang berkata

أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Riwayat ini sanadnya hasan, telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Al Umari, dia seorang yang hadisnya hasan.Abdul Wahab bin Atha’adalah seorang perawi yang tsiqat. DalamAt Tahdzibjuz 6 no 838 disebutkan bahwa ia adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim dantelah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya Al Qattan, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin, Daruquthni dan Hasan bin Sufyan. Ibnu Ady dan Nasa’i berkata“tidak ada masalah dengannya”.Nafi’ maula Ibnu Umaradalah seorang yang tsiqat tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/239.

Al Umariadalah Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab Al Umari, ia adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan yang diperselisihkan dan pendapat terkuat adalah ia seorang yang hadisnya hasan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 5 no 564 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Ahmad bin Yunus dan Al Khalili.Ahmad bin Hanbal menghasankan hadisnya, terkadang berkata“ tidak ada masalah dengannya”, terkadang pula berkata“dia termasuk perawi yang shalih”. Ibnu Ady mengatakantidak ada masalah dengannya dan shaduq. Al Ajli memasukkannya ke dalam perawi tsiqat dalamMa’rifat Ats Tsiqatno 937 dan berkata

عبد الله بن عمر بن حفص بن عاصم بن عمر بن الخطاب أخو عبيد الله لا بأس به مديني

Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab saudara Ubaidillah ‘tidak ada masalah dengannya’, orang Madinah.

Memang terdapat sebagian ulama yang mencacatnya dan mereka ini dapat dikelompokkan menjadi

  • Ulama yang mencacat Al Umari tanpa menyebutkan alasannya. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 5 no 564 diantaranya Yahya bin Sa’id, Ali bin Madini, Bukhari dimana ia hanya mengikuti pencacatan Yahya bin Sa’id
  • Ulama yang mencacat Al Umari bukan dengan jarh yang keras seperti Salih Al Jazarah yang berkata“layyin”(lemah), An Nasa’i dan Al Hakim yang berkata“laisa bi qawiy” (tidak kuat). Dimana pencacatan dengan predikat“laisa bi qawy”bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi jika telah dinyatakan tsiqah oleh ulama-ulama lain.
  • Ulama yang mencacat Al Umari tetapi juga memberikan predikat ta’dil padanya diantaranya At Tirmidzi, pencacatan Tirmidzi hanyalah mengikuti gurunya Bukhari yang mengikuti Yahya bin Sa’id. Dalam kitabSunan-nya Tirmidzi telah membawakan hadis-hadis Al Umari, terkadang ia menyatakan“laisa bi qawy”dan terkadang ia mengatakan shaduq(Sunan Tirmidzi 1/321 hadis no 172).

Pencacatan terhadap Al Umari tanpa menyebutkan alasannya tidak bisa dijadikan hujjah sebagaimana yang ma’ruf dalam Ulumul hadis jika seorang perawi telah dinyatakan tsiqat oleh ulama-ulama lain maka pencacatan terhadapnya hendaknya bersifat mufassar atau dijelaskan. Satu-satunya alasan pencacatan Al Umari mungkin karena hafalannya seperti yang diisyaratkan Adz Dzahabi dalamMizan Al ‘Itidalno 4472 dimana Dzahabi juga menyatakania shaduq (jujur)dan Adz Dzahabi juga memasukkan Al Umari dalam kitabnyaAsma Man Tukullima Fihi Wa huwa Muwatstsaq1/112 no 190.

Riwayat Al Umari ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang juga menyatakan Abu Bakar dan Umar ikut dalam Sariyyah Usamah. Riwayat tersebut terdapat dalamAl Mushannaf6/392 no 32305

حدثنا عبد الرحيم بن سليمان عن هشام بن عروة عن ابيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان قطع بعثا قبل مؤتة وأمر عليهم اسامة بن زيد وفي ذلك البعث أبو بكر وعمر

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya bahwa Rasulullah SAW sebelum wafatnya mengutus pasukan dan mengangkat pemimpin diantara mereka Usamah bin Zaid, didalamnya juga terdapat Abu Bakar dan Umar…

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tetapi mursal. Abdurrahim bin Sulaiman dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/598, Hisyam bin Urwah juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/267 dan ayahnya Urwah bin Zubair adalah seorang tabiin yang tsiqat dalamAt Taqrib1/671. Riwayat Urwah dan Riwayat Ibnu Umar saling menguatkan sehingga bisa dijadikan hujjah.

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalamTarikh Dimasyq Ibnu Asakir8/60

أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya sehingga sanadnya jayyid (baik). Berikut keterangan mengenai para perawinya.

  • Abu Bakar Wajih bin Thahir, Adz Dzahabi dalamSiyar ‘Alam An Nubala20/109 menyebutnya sebagai seorangSyaikh Alim Adil Musnid Khurasan. Ibnu Jauzi dalamAl Muntazam Fi Tarikh18/54 menyebutkan bahwaia seorang Syaikh yang shalih shaduq (jujur).
  • Abu Hamid Al Azhari, Adz Dzahabi dalamAs Siyar18/254 menyebutnya sebagaiseorang syaikh yang adil dan shaduq.Disebutkan pula biografinya dalamSyadzrat Adz DzahabIbnu ‘Imad Al Hanbali 3/311 bahwaia seorang yang tsiqah.
  • Abu Muhammad Al Makhlad, Adz Dzahabi dalamAs Siyar16/539 menyebutnya sebagaiseorang Syaikh, Adil, Imam dan shaduq (jujur).Ibnu ‘Imad Al Hanbali dalamSyadzrat Adz Dzahab3/131 juga menyebutnyaseorang Syaikh Muhaddis yang Adil.
  • Muammal bin Hasan, Adz Dzahabi dalamSiyar ‘Alam An Nubala15/21-22 menyebutnya sebagaiseorang Imam Muhaddis Mutqin.DalamTarikh Al Islam23/592 Adz Dzahabi menyebutnya sebagaiSyaikh Naisabur termasuk dari kalangan syaik-syaikh yang mulia.
  • Ahmad bin Manshur Ar Ramadi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 1 no 143 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Daruquthni, Abu Hatim, Maslamah bin Qasim, Al Khalili dan Ibnu Hibban. DalamAt Taqrib1/47 ia dinyatakantsiqat.
  • Abu Nadhr Hasyim bin Qasim, Ibnu Hajar memuat keterangan tentangnya dalamAt Tahdzibjuz 11 no 39 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Madini, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Ibnu Qani’. DalamAt Taqrib2/261 ia dinyatakantsiqat tsabit.
  • Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar menyebutkannya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 92 dania dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban.DalamAt Taqrib1/459 ia dinyatakantsiqat.
  • Ubaidillah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar memuat biografinya dalamAt Tahdzibjuz 7 no 71, ia adalah perawi Bukhari Muslim yang telahdinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ahmad bin Shalih dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/637 menyatakan iatsiqat.
  • Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Hajar menyebutkan keterangannya dalamAt Tahdzibjuz 10 no 743, ia seorang perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat.Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Ibnu Kharrasy, An Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin dan yang lainnya menyatakan bahwa ia tsiqat. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib 2/239 menyatakanNafi’ tsiqat tsabit.

Semua Atsar di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Abu Bakar dan Umar ikut dalam pasukan Usamah bin Zaid di bawah pimpinan Usamah RA. Hal ini juga telah ditegaskan oleh banyak ulama di antaranya

  • Ibnu Sa’ad dalam kitabnyaAt Thabaqat2/190
  • Al Baladzuri dalam kitabnyaAnsab Al Asyraf2/115
  • Ibnu Atsir dalamAl Kamil Fi Tarikh2/317
  • Ibnu Hajar dalamTahdzib At Tahdzibjuz 1 no 391 biografi Usamah bin Zaid dan dalamFath Al Bari8/190
  • Al Hafiz Ibnu Zaky Al Mizzi dalamTahdzib Al Kamal2/340 biografi Usamah bin Zaid no 316
  • As Suyuthi dalamIs’af Al Mubatta1/5 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Jauzi dalam kitabnyaAl Muntazam2/405
  • Muhammad bin Yusuf Shalih Asy Syami dalam kitabnyaSubul Al Huda Wa Rasyad11/341
  • Al Qasthalani dalamIrsyad As Sari Syarh Shahih Bukhari9/423
  • Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq8/46 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Manzur dalamMukhtasar Tarikh Dimasyq4/248
  • Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya‘Uyun Al Atsar 2/352

Keterangan bahwa Abu Bakar dan Umar di bawah pimpinapn Usamah telah diriwayatkan melalui kabar yang shahih dan hal ini juga ditegaskan oleh banyak ulama. Oleh karena itu pengingkaran terhadap hal ini hanyalah usaha yang lemah dan tidak berdasar.Wallahu’alam

bahwa Abu bakar dan Umar ibn Khattab termasuk dlm pasukan dibawah kepemimpinan Usamah bin Zaid adalah sbb

Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 4/66 yang berkata
أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 8/60
أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

=================================================================

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

=============================================================================

===========================================================================

Sahabat Nabi Yang Masuk Neraka

Saya tidak memfitnah, hal ini memang tercatat di dalamKitab Shahih.Sebelumnya saya katakan kalausaya tidak merendahkan siapapun apalagi mencaci.Saya Cuma menunjukkanapa yang saya bacasebagai kritikan terhadapapa yang saya dengar. Telah sampai kabar kepada sayaada orang yang mengatakan bahwa semua sahabat Nabi pasti masuk surga dan tidak ada yang masuk neraka.Orang tersebut bisa dibilang korbandogma dan generalisasi yang fallasius.Jika ia adalah seorang yang bersandar padakitab-kitab Shahihmaka apa yang akan ia katakan jika ia membaca bahwaada sahabat Nabi yang masuk neraka, dan bahkan yang mengatakan bahwa sahabat tersebut masuk neraka adalah Nabi SAW sendiri.

DalamShahih Bukhari4/74 no 3074 dan dalam kitabShahih Sunan Ibnu MajahSyaikh Al Albani no 2299 disebutkan(ini riwayat Bukhari)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كَانَ عَلَى ثَقَلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ كِرْكِرَةُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ فِي النَّارِ فَذَهَبُوايَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Amr yang berkata “Pernah ada seseorang yang biasa menjaga perbekalan Nabi SAW, orang tersebut bernama Kirkirah. Kemudian dia pun meninggal dunia, ketika itu Rasulullah SAW bersabda“Dia berada di Neraka”.Maka para sahabat pergi melihatnya dan mereka mendapatkan sebuah mantel yang diambilnya dari harta rampasan perang sebelum dibagikan.

Sahabat Nabi yang dimaksud adalahKirkirahdan ternyata kesalahan yang ia lakukan adalahberkhianat atau mengkhianati harta rampasan perangoleh karenanya Rasul SAW berkata“Dia di Neraka”. Ibnu Hajar memasukkan namaKirkirahdalam KitabAl Ishabah Fi Tamyiz As Sahabah5/587 no 7405, ia menyebutnya sebagaiKirkirah mawla Rasulullah SAW, Ibnu Hajar juga berkata

وقال بن منده له صحبة ولا تعرف له رواية

Ibnu Mandah berkata “dia seorang Sahabat Nabi dan tidak diketahui memiliki riwayat hadis”

Selain Ibnu Hajar, Ibnu Atsir dalamAsad Al Ghabah4/4. Ibnu Hajar dalam97 juga mengatakan kalauKirkirah adalah Sahabat Nabi SAWdan Adz Dzahabi dalamTajrid Asma As Shahabah2/29 no 323 menyebutkan kalauKirkirah seorang Sahabat Nabi SAW. Bukankah ini membuktikan bahwaseorang Sahabat Nabi bisa saja masuk NerakadanKirkirah sahabat Nabi SAWdi atas disebutkan oleh Nabi SAW sendiri bahwa“dia berada di neraka”.

===========================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orangterkadang mengundang tanda tanya bagiorang yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwasahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia.Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwadiantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitabShahih Muslim4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKuada dua belas orang munafik.Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadisShahih Muslimdi atas menyatakan bahwaRasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik.Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolakada sahabat Nabi munafikmengatakan bahwa hadisShahih Muslimdi atas menceritakanbahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKuada dua belas orang munafikyang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadisShahih Muslimdiatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabitidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakanDi antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakanDiantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakanbahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi.Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kataSahabatKuadalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kataUmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalahdiantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik.Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafazSahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.

Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya.

Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, pelanggaran, pembangkangan para sahabat mereka (ulama Sunni dan tentunya juga kaum awamnya) segera mengatakan mereka yang disebutkan dalam data-data dan nash (Al Quran dan Sunnah) adalh kaum munafik! Dan kaum munafik bukan termasuk sahabat Nabi! Jangan masukan munafik ke dalam daftar sahabat Nabi Saw.! Munafik ya munafik!

Demikianlah kurang lebih pembelaan yang mereka lontarkan.

Tetapi benarkan kaum munafik itu bukan sahabat Nabi Saw.?

Sepertinya seluruh data bertolak belakang dengan pembelaan yang mereka kkatakan. Sebab kenyataannya iaalah bahwa kaum munafik adalah mereka yang menyatakan (mengikrarkan) syahâdatain dengan lisan mereka, kendati hati mereka tidak menerimanya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat manusia di hadapan da’wah Nabi saw. Terkelompkkan menjadii tiga kelompok:

1) Mereka yang menerima da’wah dan beriman kepada kenabian beliau dengan tulus. Mereka adalah kaum Mu’min.

2) Kedua kaum yang menginkari kebenaran da’wah dan menolak kenabian beliau. Mereka iitu adalah kaum kafir. Kaum kafir yang ingkkar ini terbagi menjadi dua kelompok: A) Mereka yang berterus terang dalam kekafiran dan menentangannya. Mereka disebut kafir dan

3) B) Mereka yang tidak berterus terang daalam kekafiiran dan pengingkarannya. Mereka menampakkkan keimanan sementara pada hakikatnya mereka adalah kafir! Mereka ini disebut sebagai kaum munafik!

Nah, jelslah sekarang siapa sebenarnya kaum munafik itu? Mereka yang secara lahrriyah muslim akan tetepi pada hakikatnya mereka itu kafir!

Mereka yang menampakkan keislaman dan keimanan itu pastilah akan dberlakukan atas mereka hukum Islam. Nabi saw. Akan mempperlakukan mereka sebagai orang-orang Muslim dan memberlakukan atas mereka hukum-hukum Islam sebagaimana diberlakukan atas yang lainnya.

Demikianlah sejaraan mencatat. Kaum munafik itu bergabung bersama kaum muslim lainnya di zaman Nabi saw.’ Mereka shalat berjama’ah bermaza Nabi saw., menunaikan haji bersama beliau bahkan berjihad melawan musuh-musuh Islam bersama Nabi saw. Dan kaum Muslim lainnya.

Jika demikian kenyataannya, apa alasan kita mengatakan bahwa kaum munafik itu buan sahabat Nabi saw.?!

Bukankah mereka yang berikrar dengansyahâdataindi hadapan Nabi saw. atau di zaman beliau lalu bergabung dengan jama’ah kaum muslim lainnnya sudah cukup syarat untuk disebut sebagai sahabat Nabi saw.?

Selain kenyataan di atas banyak data di mana Nabi saw. Menyebut kaum munafik sebagai sahabat beliau! Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajak Anda melihat dari dekat data tersebut dan merenungkannya baik=baik.

Para mufassir Sunni ketika menerangkan atar-ayat surah al Munâfqûn demikian juga para sejarawan Islam ketika mereka menyebutkan perang Muraisi’ atau nama lainnya perang bani Mushthaliq pasti menyebutkan sebuah pristiwa percek-cokan antara dua orang sahabat; satu dari kalangan Anshar dan yang satu dari kalangan Muhajrin dalam urusan perebutan yangkemudian berakhir dengan luapan kemaraham Abdullah ibn Ubay ibn Salûl (yang kata data-data Sunni disebut sebagai gembong kaum Munafik) yang iia tuang dalam kata-kata busuk yang mengejek-ejek dan mengancam untuk mengusir Nabi saw. dan kaum Muslim dari kota Madinah. Kemdian setelah ucapannya yang menjelaskan kekentalan kemunafikannya iitu dilaporkan kepada Nabi saw. dan beliau pun menegurnya lalu Abdullah ibn Ubay pun mengelak dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan apa-apaun seperti yang dilaporkan kepada beliau.

Menyikapi kekejian kata-kata Abdullah ibn Ubay ibn Salûl sebagai sahabat lainnya (khususnya Umar ibn al Khaththâb) meminta (atau mengslkan) agar Nabi saw. memerintah untuk membunuh saja Abdullah ibn Ubay si gembong munafik iitu. Tetapi mereka (dan saya yakin, kaum awam Sunni yang selama ini menjadi korbar pembuutaan) benar-benar dikejutkan dengan jawaban Nabi saw.

Apa jawaban Nabi saw. terhadap Umar yang mengusulkan agar Abdullah ibn Ubay dibunuh saja?

Perhatikan keterangan yang diabadikan para ulama Islam di bawah ini;

Ibnu Jarir ath Thabari, al Baghawi, al Khâzin, Ibnu Katsîr, as Suyûthi, asy Syaukâni dll menyebutkan banyak riwayat: bahwa ketika Umar berkata kepada Nabi, ‘Wahai Nabi, perintahkan Mu’âdz ibn Jabal agar memenggal kepala si munafik itu!’ Maka Nabi saw. menjawab:

لا يتَحَدَّثُ الناسُ أَنَّ مُحمدًا يَقْتُلُ أَصْحابَهُ.

“Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad mebunuh para sahabatnya.”

Riwayat di atas dengan berbagai jalur dan perincian pristiwanya dapat Anda baca dalam :

1) Tafsir ath Thabari, ayat 8 surah al Munâqûn,28/112-115.

2) Tafsir al Baghwi,7/99.

3) Tafsir al Khizin,7/99.

4) Tafsir Ibnu Katsîr,4/370.

5) Tafsir asy Syaukâni,5/233.

Dan banyal lainnya.

Ibnu Jakfari berkata:

Nah, kini jelaslah bagi kita bahwa kaum munafik juga disebut Nabi saw. sebagai Sahabat beliau!

============================================================================

Sebuah Renungan Terhadap Konsep Keadilan Sahabat

Diantara doktrin yang tak henti-hentinya ditalqinkan olehjumhûrpenganut mazhab Ahlusunnah, khususnya yang Sunni Plus/Nashîbi(Ekstrimis Wahhâbi/Salafi) adalah bahwa seluruh sahabat[1]Nabi saw. adalah bersifat ‘Udûl(baik, tidak mungkin jahat dan menyengaja melanggar syari’at tanpa dasar). Dan barang siapa yang meragukan doktrin ini akan berhadapan dengan Pasukan Pembela Sahabat yang siap meluncurkan edisi fatwa terekstrim:Zindiq, Kafirdll!

Apabila ada yang mengatakan bahwa sahabat A atau B itu fasik apalagi munafik mereka segera menuduh Anda telah terpengaruh oleh Abdullah Ibnu Saba’ (si aktor Yahudi yang merusak Islam dengan menjelak-jelekkan para sahabat)…. Menuduh Anda berusaha meruntuhkan risalah agama dengan mencacat para pengembannya. Demikianlah doktrin itu dicekokkan di hampir setiap kesempatan, khususnya di pengajian atau pengkajian yang bernuansa menghujat ajaran Syi’ah!

Saya tidak pedulu dengan itu semua. Karena masalah ini telah lama menjadi bahan perdebatan mandul antara mereka yang menganut “Mazhab Pokoknya” dan para kritikus sejarah. Saya hanya mengajak Anda merenungkan beberapa catatan yang mungkin dapat membuka mata hati dan pikiran Anda (bukan mereka yang menganut “Mazhab Pokoknya”. Sebab bagi mereka apapun yang dapat meruntuhkan doqma mazhab mereka harus disingkirkan jauh-jauh….Ayat-ayat Al Qur’an yang membombardir doqma mazhab mereka harus dilawan.Sesekali ditakwil dan sesekali dilupakan!Hadis-hadis palsu pun yang tak henti-hentinya diproduksi di masa subur pemalsuan. Dan diobral untuk mengggertak kaum awam di masa kini! Data-data sejarah pun harus diabaikan dan diragukan bahkan dibohongkan…Pokoknya, semua sahabat harus adil!Titik!!

Jangan-jangan Nabi saw. ”Agak Terpengaruh” Syi’ah!

Ketika mereka dikagetkan dengan banyak hadis Nabi saw. yang membongkar bahwa di antara sahabat-sahabat beliau tenyata ada yang munafik, (walaupun tidak semestinya mereka kaget sebab Al Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang membongkar kemunafikan sebagian sahabat, bahkan yang dekat sekalipun)… ketika memergoki hadis-hadis seperti itu dalam kitab-kitab hadis standar mungkin terbesit dalam kepala sebagian awam (yang sudah “tercerahkan” oleh doktrin “Mazhab Pokoknya”): jangan-jangan Nabi saw. sendiri sudah terpengaruh fitnah Syi’ah Sabaiyyah?! Atau jangan-jangan Nabi saw’ agak berpihak kepada kaum Syi’ah?!

Imam Ahmad dan para muhaddistîn lain telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

إنَّ فِي أصحابِي مُنافِقِيْنَ.

“Di antara para sahabatku ada yang munafik.”[2]

Atau sabda Nabi saw.“Di antara sahabatku ada dua belas orang munafik, delapan di antaranya tidak pernah masuk surga sehingga onta memasuki lubang jarum.”Seperti diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya[3].

Jumlah kaum munafik di antara sahabat Nabi saw. tidaklah sedikit. Terbukti bahwadalam peperangan Uhud, Abdullah ibn Ubay ibn Salûl –gembong kaum Munafikin- membelot bersama tiga ratusan prajurit dari total jumlah prajurit sekitar seribut personil.[4]Akan tetapi karena satu dan lain hal, identitas sebagian mereka dirahasiakan demi menjaga nama baik mereka… akan tetapi ketika mereka tidak termasuk kelompok “Saqifah Group” maka kekebalan itu tidak lagi dipertahankan! Nama mereka akan disebutkan! Kedok kemunafikan mereka segera dibongkar. Mereka dijadikan tumbal untuk keselamatan teman-teman lainnya! Karenanya kaum munafik dari kalangan Anshar dibongkar kedok kemunafikan mereka, sementara kaum munafik dari kaum Quraisy dirahasiakan identitas mereka!

Ibnu Hisyam Membongkar Kedok Kemunafikan Kaun Ashar!

Gelar Anshar yang artinya para pembela kini tak lagi sakral. Kaum Anshar yang dikenal membela perjuangan da’wah Nabi saw. yang untuk mereka beberapa ayat turun memuji ketulusan keimanan dan perjuangan mereka, kini dibongkar data-data yang menaburkan keraguan atas mereka. Kaum Anshar ternyata tidak semuanya seperti yang kita bayangkan selama ini!

Ibnu Hisyam melaporkan dalam Sirahnya yang sangat terkenal itu di bawah judul pasal:Man Ijtama’a Ilâ al Yahûd Min Munafiqî al Anshâr/Kaum Munafik dari kalangan Anshar yang bergabung dengan kaum Yahudi, pada laporannya itu ia mengatakan:

  • “(Dari bani ‘Amr)

Ibnu Ishaq berkata, “Dan di antara kaum munafik dari suku Aus dan Khazraj[5]yang bergabung dengan kaum Yahudi –dalam persekongkolan mengkhianati Nabi saw.- yang nama-nama mereka disampaikan kepada kami adalah (Allah Maha Mengetahui): dari suku Aus tepatnya dari keluarga bani ‘Amr ibn Auaf ibn Mâlik ibn Aus kemudian dari suku bani Laudzân ibn ‘Amr ibn Auf adalah: Zuwai ibn al Hârits.

  • (Dari suku bani Habîb)

Dan dari suku bani Habîb ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah Julâs ibn Suwaid ibn Shâmid dan saudaranya yang bernama al Hârits ibn Suwaid.

Sekilas Tentang Julâs ibn Suwaid

Julâs adalah orang yang berkata -ketika ia membelot dari rombongan pasukan nabi dalam peperangan Tabûk-, “Jika orang ini (Nabi saw. maksudnya) benar, pastilah kita ini lebih jahat/jelek dari keledai.” Lalu ucapannya ini dilaporkan kepada Nabi saw. oleh ‘Umair ibn Sa’ad (anak tirinya sendiri). Lalu setelah dipanggil Nabi saw. dan ditanyakan kepadanya atas ucapannya itu, ia mengelak dengan bersumpah bahwa ia tidak mengatakannya. Lau turunlan beberapa ayat tentangnya:

.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ ما قالُوا وَ لَقَدْ قالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا وَ ما نَقَمُوا إِلاَّ أَنْ أَغْناهُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْراً لَهُمْ وَ إِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذاباً أَليماً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ ما لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصيرٍ

.

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. At Taubah [9];74)

Sekilas Tentang al Hârits ibn Suwaid

Ia bergabung bersama pasukan kaum Muslim dalam peperangan Uhud dalam keadaan munafik, kemudian dia membunuh dua orang Muslim; al Mujadzdzar ibn Diyâb al Balwi dan Qais ibn Zaid[6], karena dahulu di sa’at terjadi peperangan di masa jahiliyah antara suku Aus dan Khazraj, al Mujadzdzar membunuh ayahnya. Dan setelahnya ia melarikan diri bergabung dengan kaum kafir Quraisy.[7]

  • (Dari suku bani Dhabî’ah)

Dan dari suku bani Dhabî’ah ibn Zaid ibn Mâlik ibn ‘Auf ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah: Bijâd ibn Utsman ibn ‘Âmir.

  • (Dari suku bani Ladzân)

Dan dari suku bani Ladzân ibn ‘Amr ibn ‘Auf adalah Nabtal ibn al Hârits. Dialah yang Nabi saw. bersabda tentangnya,“Barang siapa ingin menyaksikan setan maka hendaknya ia melihat Nabtal ibn al Hârits.”Dialah yang gemar menukil pembicaraan Nabi saw. kepada rekan-rekan kaum munafiknya dan mengejek Nabi saw. dengan ejekan bahwa beliau adalah bak telinga yang tak mampu membedakan omongan apapun, semuanya ia terima!

Maka Allah SWT menurunkan ayat:

.

وَ مِنْهُمُ الَّذينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَ يَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ يُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنينَ وَ رَحْمَةٌ لِلَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ

.

“Di antara mereka (orang- orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:” Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:” Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang- orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang- orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang- orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At Taubah [9];61)

  • (Dari suku bani Dhabî’ah)

Dan dari suku bani Dhabî’ah[8]adalah 1) Abu Habîbah ibn al Az’ar. -dia termasuk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhirâr-, 2) Tsa’labah ibn Hâthib, 3) Mu’tab ibn Qusyair- kedua orang ini yang berjanji jika ia diberi kelapangan rizki untuk bersedekah dan menjadi orang-orang yang shaleh. Tsa’labah ini yang berbicara ketika perang Uhud berkecamuk, “Andai kita punya kekuasaan pastilah kita tidak terbunuh di sini.” Maka Allah SWT menurunkan ayat mengecam sikapnya:

.

وَ طائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْ‏ءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ في‏ أَنْفُسِهِمْ ما لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كانَ لَنا مِنَ الْأَمْرِ شَيْ‏ءٌ ما قُتِلْنا هاهُنا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ في‏ بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلى‏ مَضاجِعِهِمْ وَ لِيَبْتَلِيَ اللَّهُ ما في‏ صُدُورِكُمْ وَ لِيُمَحِّصَ ما في‏ قُلُوبِكُمْ وَ اللَّهُ عَليمٌ بِذاتِ الصُّدُورِ

.

“… sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata:” Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini” Katakanlah:”Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:” Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu) hak campur tangan (dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah:” Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang- orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Âlu “imrân [3];154)

Dan dialah yang juga berkomentar miring pada hari peperangan Ahzâb/Khandaq, “Muhammad menjanjikan kita untuk menikmati harta simpanan raja Kisra dan Kaisar, sementara seorang dari kita kini tidak merasa aman atas dirinya ketika pergi ke tempat buang air. Maka Allah SWT menurunkan ayat:

.

وَ إِذْ يَقُولُ الْمُنافِقُونَ وَ الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ ما وَعَدَنَا اللَّهُ وَ رَسُولُهُ إِلاَّ غُرُوراً

.

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb [33];12(

4) al Hârits ibn Hâthib.

Ibnu Jakfari berkata:

Sebagian orang –termasuk Ibnu Hisyâm- meragukan bahwa Mu’tab dan kedua putra Hâthib adalah termasuk kaum munafik, dengan satu alasan yang terkesan lugu yaitu karena mereka ikut serta dalam perang Badr. Akan tetapi jujur saja harus dikatakan bahwa tidak alasan yang meinscayakan bahwa tidak mungkin seorang pun dari yang ikut serta dalam peperangan Badr itu munafik! Mungkin anggapanj itu didasarkan kepada sebuah riwayat yang sangat ganjil dari sisi kandungannya konon diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,“Bisa jadi Allah telah menyaksikan para peserta peperangan Badr lalu berfirman, ‘lakukan sekehandak kalian, Aku telah ampuni kalian semua.’”

Selain mereka, Ibnu Hisyam juga menyebutkan nama-nama sebagai berikut: 5) ‘Abbâd ibn Hunaif saudara Sahl ibn Hunaif, 6) Bahzaj. Mereka termasuk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhihrâr. 7) ‘Amr ibn Khidâm dan 8.). Abdullah ibn Nabtal.

  • (Dari bani Tsa’labah)

Dan dari suku bani Tsa’labah ibn ‘Amr ibn ‘auf adalah: 1) Jâriyah ibn ‘Âmir ibn al ‘Aththâf, dan keduan putranya 2) Zaid dan 3) Mujamma’. Mereka termasduk yang terlibat dalam pembangunan masjid Dhihrâr.

Catatan Penting!

Yang sangat membingungkan adalah laporan Ibnu Hisyâm bahwa Mujamma’ adalah seorang pemuda cerdas yang telah menghafal hampir seluruh Al Qur’an. Dialah yang bertindak sebagai imam dalam shalat di masjid Dhirâr itu. Dan di masa kekhalifahan Umar ibn al Khaththâb ada usulan agar ia diangkat kembali menjadi imam shalat, tetapi Umar menolak dengan alasan:“Bukankah ia adalah imamnya kaum munafikin di masjid Dhirâr!”Dan setelah ia berasalan di hadapan Umar bahwa ia tidak tau apa-apa tentang niatan jahat mereka. Ia hanya diminta memimpin mereka shalat maka ia lakukan, maka Umar pun mengizinkan kembali.

Ibnu Jakfari berkata:

Selain nama-nama yang telah saya sebutkan banyak nama lainnya yang dibongkar Ibnu Hisyâm dalam kitabSirâh-nya hal mana menimbulkan pertanyaan serius,bagaimana di kalangan sahabat Anshar kok ada yang munafik? Bukankah mereka semua itu ‘udûl?Lalu bagaimana nasib doktrin yang selama ini disakralkan bahwa semua sahabat Nabi saw. itu‘udûl?

Lalu apakah ada pula kaum munafik dari suku Quraisy yang selama bertahun-tahun getol memerangi Nabi Muhammad saw. dan hanya terpaksa berhenti berterang-terangan memerangi Nabi saw. ketika mereka ditaklukkan dengan ditaklukkannya kota suci Mekkkah?

Sementara ada ayat yang sangat serius turun untuk sebagian mereka, khususnyaaimmatul kufri, para pembesar kafir Quraisy yang selalu menjadi pelopor dalam memerangi Nabi saw…

Allah SWT berfirman:

.

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوْبِهمْ وَ عَلَى سَمْعِهِمْ وَ عَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَ لَهُمْ عَذَابٌ عظِيْمٌ

.

“Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak; mereka tidak akan beriman* Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. ” (QS. Al Baqarah [2];6-7)

Para mufassirin, di antaranya adalah Ibnu Jarîr ath Thabari, Ibnu Mundzir dan ibnu Abi Hâtim meriwayatkanbahwa kedua ayat ini turun berkaitan dengan para pembesar kafir Quraisy, di antaranya adalah Abu Sufyân[9](ayah Mu’awiyah dan kakek Yazid serta suami Hindun si pengunyah jantung Sayyidina Hamzah; paman Nabi saw.) dan al Hakam ibn al ‘Âsh (moyang para penguasa bani Marwân/dinasti Umayyah)[10].

Jadi pertanyaan yang mungkin muncul ialah: mungkinkah orang-orang yang oleh Allah divonis tidak akan beriman:Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak;mereka tidak akan beriman,dan telah dikabarkan bahwaAllah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup, mungkinkah mereka itu akan beriman dengan sepenuh hati?

Mereka tidak mungkin akan beriman dengan tulus walaupun mereka mengikrarkannya dengan lisan!

Selain itu, Anda berhak mempertanyakan, mengapakah hanya kaum Anshar saja yang menjadi bulan-bulanan pembongkaran data kemunafikan ini?

Dan terakhir yang menarik untuk diteliti adalahmengapakah maraknya terma munafik dan kenufikan itu hanya ada di masa hidup Nabi saw. saja, sementara, sepeninggal beliau seakan tidak ada lagi kaum munafikin! Lalu kemanakah mereka itu?

Apakah mereka kini, sepeninggal Nabi saw. mendadak berubah menjadi kaum Mukminin yang tulus keimanannya?

Lalu apakah yang menghalangi mereka di masa hidup Nabi saw. untuk menjadi mukmin sejati?

Apakah keberadaan Nabi saw. di tengah-tengah mereka dengan serba-serbi mu’jizat yang beliau miliki jusretu menghalangi mereka dari beriman dengan tulus?

Mengapa? Mungkinkah keberadaan beliau ssaw. menjadi penghalang bagi keimanan mereka?

Jika keberadaan Nabi saw. menjadi penghalang bagi keimanan mereka, lalu siapakah yang dapat menjadi pelancar keimanan kaum munafikin itu?

Atau justru, kekuasaan menuntut kita untuk merahasiakan nama dan data kaum munafik, karena mereka kini berpartisipasi dalam kabinet gotong royong pemerintahan “Saqifah Group”?

Atau kini kemunafikan telah tidak lagi menjadi trend yang digemari kaum munafikin, sebab berterang-terang dalam menampakkan kekafiran tidak menjadi apa-apa, ia sudah menjadi fenomena biasa yang ditoleransi?

Atau ada alasan lain,lastu adri!

Wallahu A’lam Bihaqîqatil Umûr.


[1]Para ulama Ahlsunnah mendefenisikan Sahabat dengan:Setiap orang yang melihat Nabi saw. dalam keadaan Muslim walaupun hanya melihatnya sebentar saja.Lebih lanjut baca: Syarah Imam Nawawi atas Shahih Muslim,16/85.[2]Musnad Ahmad,4/83 hadis dengan nomer urut:16810 dan Musnad ath Thayâlisi,1/128 hadis dengan nomer urut:949.

[3]Shahih Muslim,4/2143 hadis dengan nomer urut 2779.

[4]Târîkh ath Thabari,2/60. Demikian juga dalam peparangan Tabûk ada sekitar delapan puluh sahabat sengaja absen tidak mau ikut serta bergabung bersama pasukan kaum Muslimin. (BacaFathu al Bâri,8/113).

[5]Suku Aus dan Khazraj adalah dua suku yang membentuk masyarakat kota madinah yang menyambut Nabi saw… yang kemudian mereka disebut dengan nama Al anshar.

[6]Ada yang mengatakan bahwa ia hanya membunuh al Mujadzdzar seorang.

[7]Ketarngan selengkapnya dipersilahlkan dirujuk dalam Sirah Ibnu Hisyam.

[8]Bisa jadi ia bukan suku bani Dhabî’ah ibn Zaid yang telah disebutkan sebelumnya.

[9]Para sejarawan Islam seperti ath Thabari melaporkan bahwa dalam peperangan Hunain, ketika Abu Sufyan ikut serta bersama para sahabat lainnya (tentunya setelah ia mengikrarkansyahadataindengan lisan kerena terpaksa sebagai syarat formal menjadi sahabat Nabi saw. yang diyakini kaadilannya oleh Ahlusunnah), ia menanti-nantikan saat kekalahan kaum Muslimin dan ia selalu membawa sertaazlâm, arca-arca kecil sesembahannya. (Târîkh ath Thabari,2/168). Abu Sufyan, Hakîm ibn Hizâm dan Shafwân ibn Umayyah –mereka adalah gembong kagfir Quraisy yang terpaksa mengikrarkan syahadatain- mereka menanti-nanti kekalahan atas kaum Muslimin. (Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,7/418 hadis dengan nomer urut:36996.)

[10]Dalam banyak hadis, seperti diriwayatkan ulama dari Aisyah dan lain bahwa Nabi saw. telah mengutuk al Hakam dan Marwan anaknya serta keturunan dari sulbinya.

========================================================================

Sahabat Nabi Yang Membunuh Ammar bin Yasir RA

Bukankah mencela sahabat Nabi SAW itu tidak dibolehkan?. Benar, tidak hanya sahabat Nabi tetapi mencela sesama Muslim itu tidak dibolehkan. Apalagi membunuh, tentu tidak boleh lagi. Kenyataan pahit dalam sejarah Islam adalahpara generasi awal umat ini yaitu para Sahabat ternyata mengalami perselisihan sampai ke taraf memerangi dan membunuh.Sangat tidak mungkin kalau sejarah seperti ini mau ditutup-tutupi atau dinyatakan seolah tidak ada apa-apa.

Sebagian pihak tidak senang kalau sejarah seperti ini dibicarakan karena tidak ada gunanya membicarakan perselisihan para Sahabat. Mereka menganggap bahwa semua sahabat diridhai Allah SWT,semua sahabat tidak layak untuk dikritik atau dinyatakan salah karena itu berarti sudah mencela sahabat Nabidan hal ini jelas diharamkan menurut mereka. Jika sahabat melakukan kesalahan maka itu berarti sahabat berijtihad dan sebagaimana ijtihadjika benar dapat dua pahala dan jika salah satu pahala. Intinya pihak tersebut akan selalu memuliakan sahabat walau bagaimanapun perilakunya. Sehingga jika orang sudah dicap sahabat maka semua perilakunya berpahala. Duhai alangkah anehnya, apakah jikasahabat menghina Ahlul Bait, meminum khamar, dan murtadmaka itu dikatakan ijtihad?.Alangkah kacaunya orang yang mengatakan bahwa tindakan seperti itu berpahala hanya karena yang melakukannya adalah seorang Sahabat Nabi.Silakan renungkan

Kali ini kami akan mengajak para pembaca untuk kembali ke peristiwa bersejarah yaitu Perang Shiffin.Pada perang ini Imam Ali AS dan sahabat yang mengikuti Beliau berperang dengan Muawiyah dan sahabat yang mengikutinya. Di antarasahabat Nabi yang setia pada Imam Ali adalah Ammar bin Yasir RA. Beliau adalah Sahabat yang mulia dimanaRasulullah SAW pernah bersabda bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.Sejarah membuktikan bahwa Ammar RA syahid dalam perang Shiffin. Hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa dalam Perang ShiffinImam Ali berada dalam kebenaran dan Muawiyah serta pengikutnya merupakan kelompok pembangkang.Kematian Ammar RA mengundang kecemasan di kalangan pengikut Muawiyah sehingga untuk menenangkan pengikutnyaMuawiyah memberikan ta’wilan yang batil bahwa Yang membunuh Ammar RA adalah orang yang membawanya ikut berperang.Dengan perkataan itu Muawiyah ingin melemparkan kesalahan kepada Imam Ali AS, sungguh perilaku yang bisa dibilang tidak terpuji.

Riwayat ini salah satunya disebutkan dalamMusnad Ahmad2/161 no 6499

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن عبد الرحمن بن زياد عن عبد الله بن الحرث قال اني لأسير مع معاوية في منصرفه من صفين بينه وبين عمرو بن العاص قال فقال عبد الله بن عمرو بن العاصي يا أبت ما سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعمار ويحك يا بن سمية تقتلك الفئة الباغية قال فقال عمرو لمعاوية ألا تسمع ما يقول هذا فقال معاوية لا تزال تأتينا بهنة أنحن قتلناه إنما قتله الذين جاؤوا به

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Harits yang berkata “Aku berjalan bersama Muawiyah sepulang dari Shiffin dan juga bersama Amru bin Ash. Abdullah bin Amru bin Ash berkata “wahai ayah tidakkah kau mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ammar “Kasihan engkau Ibnu Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Amru berkata kepada Muawiyah “Tidakkah engkau dengar perkataannya”. Muawiyah berkata “Ia selalu bermasalah bagi kita, apakah kita yang membunuh Ammar?. Sesungguhnya yang membunuhnya adalah orang yang membawanya”.

Syaikh Syuaib Al Arnauth dalamSyarh Musnad Ahmadtahqiqnya berkata tentang hadis ini“sanadnya shahih”. Begitu pula Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadtahqiq Beliau juga menyatakanhadis ini shahih. Siapa sebenarnya orang dalam kelompok Muawiyah yang membunuh Ammar bin Yasir RA?. Para ulama telah menyebutkan bahwaorang yang membunuh Ammar bin Yasir adalah Abu Ghadiyah Al Juhanidan tahukah anda siapa dia?. Para ulama menyebutnya sebagaiSahabat Nabi SAW.

Ibnu Hajar dalamAl Ishabah7/311 no 10365 memuat biografi Abu Ghadiyah Al Juhani dan menyebutkan

وقال الدوري عن بن معين أبو الغادية الجهني قاتل عمار له صحبة

Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “Abu Ghadiyah Al Juhani orang yang membunuh Ammar dan dia seorang Sahabat Nabi”.

Al Bukhari berkata dalamTarikh Al Kabirjuz 8 no 3557

أبو غادية الجهني سمع النبي صلى الله عليه وسلم

Abu Ghadiyah Al Juhani mendengar langsung dari Nabi SAW.

Ibnu Abdil Barr dalamAl Isti’ab4/1725 dan Ibnu Atsir dalamUsud Al Ghabah5/534 juga mengatakan bahwaAbu Ghadiyah seorang sahabat Nabi yang membunuh Ammar bin Yasir RA.Adz Dzahabi dalamTarikh Al Islam4/135 menyebutkan biografi Abu Ghadiyah Al Juhani dan menyebutkan

وقال الدار قطني وغيره هو قاتل عمار بن ياسر يوم صفين

Daruquthni dan yang lainnya berkata “Dia adalah orang yang membunuh Ammar bin Yasir pada perang Shiffin”.

Tahukah anda pahala apa yang akan didapat oleh orang yang membunuh Ammar?. Rasulullah SAW pernah bersabda

قاتل عمار و سالبه في النار

Yang membunuh Ammar dan menjarah( harta)nya akan masuk neraka

Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits As Shahihahno 2008 danShahih Jami’ As Shaghirno 4294. Jika memang para Ulama menyebutAbu Ghadiyah sebagai Sahabat Nabi SAW yang membunuh Ammar bin Yasir RAmaka tidak salah untuk dikatakan bahwa perbuatan Abu Ghadiyah itu telah mengantarkannya ke neraka.

============================================================================

Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait

Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait yaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi mereka. Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa Beliau akan memerangi siapapun yang memerangi Ahlul Bait dan berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan Ahlul Bait.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalamSunan Ibnu Majah1/52 no 145

حدثنا الحسن بن علي الخلال وعلي بن المنذر قالا حدثنا أبو غسان حدثنا أسباط بن نصر عن السدي عن صبيح مولى أم سلمة عن زيد بن أرقم قال- قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي وفاطمة والحسن والحسين أنا سلم لمن سالمتم وحرب لمن حاربتم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khallal dan Ali bin Mundzir yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan yang berkata telah menceritakan kepada kami Asbath bin Nashr dari As Suddi dari Shubaih mawla Ummu Salamah dari Zaid bin Arqam yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain “Aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian”.

Hadis di atas juga diriwayatkan dalamMushannafIbnu Abi Syaibah6/378 no 32181,Shahih Ibnu Hibban15/433 no 6977,Sunan Tirmidzi5/699 no 3870, Ath Thabrani dalamMu’jam Al Kabir3/40 no 2619,Mu’jam Al Kabir5/184 no 5030,Mu’jam As Shaghir2/53 no 767, danMu’jam Al Awsath5/182 no 5015.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis Hasan.Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis sedangkan Shubaih adalah seorang tabiin mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam.

  • Hasan bin Ali Al Khallal, Perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. DalamAt Tahdzibjuz 2 no 530 disebutkan kalauia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, An Nasa’i, Al Khatib dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/207 menyatakania tsiqat.
  • Ali bin Mundzir, Perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 7 no 627 bahwaia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4803 menyatakanAli bin Mundzir tsiqat.
  • Malik bin Ismail, dengan kuniyah Abu Ghassan adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. DalamAt Tahdzibjuz 10 no 2ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban, Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Syahin.Ibnu Sa’ad dan Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/151 menyatakanAbu Ghassan tsiqah.
  • Asbath bin Nashr adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. DalamTarikh Ibnu Ma’inriwayat Ad Dawri no 1251Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqah. DalamAt Tahdzibjuz 1 no 396 disebutkan kalau ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalamAts Tsiqat, Bukhari menyatakania shaduq (jujur)dan Musa bin Harun berkata“tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Syahin juga memasukkan namanya dalamTarikh Asma Ats Tsiqatno 101. Sebagian orang mencacatnya diantaranya An Nasa’i yang berkata“laisa bi qawy (tidak kuat), Abu Nu’aim dan As Saji tetapi mereka tidak menyebutkan alasan pencacatannya sehingga pernyataan ta’dil terhadap Asbath bin Nashr lebih layak untuk diterima. Adz Dzahabi memasukkan namanya dalamMan Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaqno 27.
  • Ismail As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. DalamAt Tahdzibjuz 1 no 572ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Ibnu Hibban. An Nasa’i berkata“tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Ady menyatakania hadisnya lurus jujur dan tidak ada masalah dengannya. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/97 menyatakan ia jujur terkadang salah tetapi dikoreksi dalamTahrir At Taqribno 463 bahwa sebenarnyaAs Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam. Ibnu Hibban menyebutkannya dalamAts Tsiqatjuz 4 no 3462. Ibnu Hajar dalamAl Ishabah3/405 no 4037 menyebutkan bahwaia gurunya As Suddi dan ia seorang tabiin. Al Bukhari menyebutkannya dalamTarikh Al Kabirjuz 4 no 2972 tanpa menyebutkan jarh atau cacat padanya. Ibnu Abi Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil4/449 juga menuliskan keterangan tentangnya tanpa sedikitpun menyatakan cacatnya. At Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal, pernyataan ini tidak perlu diperhatikan karena telah disebutkan banyak ulama yang menulis keterangan tentangnya bahkan Adz Dzahabi dalamAl Kasyfno 2371 juga memberikanpredikat ta’dil padanya. Shubaih seorang tabiin dan tidak ada satupun ulama yang mencacatkan dirinya dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan mendapat predikat ta’dil dari Adz Dzahabi. Oleh karena ituhadisnya lebih tepat dinilai hasan.

Keterangan mengenai para perawinya menunjukkankalau hadis ini adalah hadis yang hasan. Syaikh Al Albani dalamShahih Jami’ As Shaghirno 1462 menyatakan bahwa hadis ini hasan tetapi anehnya beliau malah mendhaifkan hadis tersebut dalamDhaif Sunan Ibnu MajahdanDhaif Sunan Tirmidzi. DalamSilsilah Ahadist Ad Dhaifahno 6028 ternyata Syaikh Al Albani menyatakan bahwa ia rujuk dari pandangannya dalam Shahih Al Jami’. Menurut beliau hadis tersebut dhaif dan mesti dipindahkan keDhaif Jami’ As Shaghir. Mari kita ikuti telaah Syaikh Al Albani

.

.

Tinjauan Pencacatan Syaikh Al Albani

Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6028 ketika membahas hadis ini telah membawakan 3 jalan hadis yaitu

  • Hadis Shubaih mawla Ummu salamah
  • Hadis Abu Hurairah
  • Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih

Hadis Shubaih di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani karena Shubaih mawla Ummu Salamah. Syaikh mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal nasabnya kemudian Syaikh mengutip Ibnu Ady(dalam Al Kamil 4/86)yang menuliskan keterangan tentang“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”.Dalam kitab tersebut disebutkan kalau Shubaih seorang pendusta.

Tanggapan kami: Hujjah syaikh Al Albani sungguh tidak bernilai dan terkesan dicari-cari. Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dalamAl Kamil4/86 bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah tetapiShubaih yang tidak dikenal nasab maupun hadis-hadisnya.Bukti kalau Shubaih mawla Ummu Salamah bukanlah Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady adalah

  • Shubaih mawla Ummu Salamah meriwayatkan hadis dari Zaid bin Arqam(berdasarkan keterangan dari kitab-kitab biografi perawi)sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dikenal hadisnya yaitu hadis keutamaan Ahlul Bait di atas sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dikatakan oleh Ibnu Ady sendiri bahwa ia tidak dikenal hadis-hadisnya.

Ibnu Ady dalamAl Kamilhanya mengutip Yahya dan Abu Khaitsamah yang menyatakanbahwa ada seseorang bernama Shubaih yang tidak dikenal nasabnya meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah dan dia seorang pendusta. Syaikh Al Albani dengan seenaknya mendugabahwa Shubaih mawla Ummu Salamah adalah Shubaih yang dimaksud. Bagaimana bisa Yahya dan Abu Khaitsamah menyatakan Shubaih yang tidak dikenal nasabnya itu sebagai seorang pendusta?. Jawabannya tidak lain dari hadis-hadis yang diriwayatkan Shubaih yang sampai kepada mereka yaitu hadis Shubaih dari Utsman dan Aisyah. Tetapi sayang sekali hadis-hadis Shubaih ini tidaklah tercatat dalam kitab-kitab hadis sehingga Ibnu Ady berkata“tidak dikenal hadis-hadisnya”. Oleh karena itu tidak bernilai sedikitpun menjadikan riwayat Ibnu Ady tersebut sebagai hujjah untuk melemahkan Shubaih mawla Ummu Salamah.Tidak ada bukti sedikitpun kalau“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”adalah Shubaih mawla Ummu Salamah

Kalau memang mau menuruti logika Syaikh Al Albani maka kita dapat menemukan Shubaih lain yang juga satu thabaqah dan lebih cocok untuk dinisbatkan dengan“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitabTabshir Al Muntabah3/882 Ibnu Hajar menyebutkan nama-nama Shubaih dan diantaranya ada Shubaih mawla Ummu Salamah kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan Shubaih lain

صبيح، عن عثمان، وعنه أبو عون الثقفي

Shubaih yang meriwayatkan dari Utsman dan meriwayatkan darinya Abu ‘Aun Ats Tsaqafi

DalamTahdzib Al Kamalno 5433 biografi Muhammad bin Ubaidillah bin Sa’id Abu ‘Aun Ats Tsaqafi, Al Mizzi menyebutkan bahwaAbu ‘Aun meriwayatkan dari Shubaih sahabat Utsman. Shubaih ini lebih cocok dinisbatkan dengan“Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”dalam Al Kamil Ibnu Ady karena mereka sama-sama meriwayatkan hadis dari Utsman. KesimpulannyaShubaih yang dikatakan pendusta dalam Al Kamil Ibnu Ady bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah.

Kedua hadis lainnya yaitu hadis Abu Hurairah dan hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani. Hadis Abu Hurairah dinyatakan dhaif karena dalam sanadnya terdapatTalid bin Sulaimanyang dikenal dhaif sedangkan dalam hadis Muslim bin Shubaih di dalamnya terdapatHusain bin Hasan Al Urani yang tidak dikenal oleh Syaikh sehingga ia menduga bahwa orang tersebut adalah Husain bin Hasan Al Asyqar.

Tanggapan kami: Pernyataan dhaif terhadap Talid bin Sulaiman patut diberikan catatan karena ia adalah Syaikh atau gurunya Ahmad bin Hanbal dimanaAhmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dari orang yang dikenal tsiqah menurutnya. DalamTahdzibjuz 1 no 948 disebutkan kalauAhmad bin Hanbal, Al Ajli dan Muhammad bin Abdullah bin Ammar menyatakan tidak ada masalah dengannya.Memang banyak ulama yang mengecam Talid menuduhnya pendusta dikarenakan ia mencaci sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Lucunya kalau ada perawi lain yang mencaci Ali bin Abi Thalib(seperti Hariz bin Utsman Al Himsh), hal itu malah tidak merusak kredibilitas perawi tersebut dan ia tetap dinyatakan tsiqah. Sungguh suatu inkonsistensi yang layak dibuat bahasan tersendiri, tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kemudian Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih memang sanadnya dhaif tetapi perawi yang dimaksud bukanlah Husain bin Hasan Al Urani seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani tetapi dia adalah Hasan bin Husain Al Urani seperti yang diriwayatkan dalamAmali Al Muhamili2/36 no 515. Biografinya disebutkan dalam Al Mizan dan jelas sekali ia bukan Husain bin Hasan Al Asyqar.

.

.

Kesimpulan

Pada dasarnya kami tidak menjadikan Hadis Abu Hurairah dan Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih sebagai hujjah. Kami berhujjah denganhadis Shubaih mawla Ummu Salamah di atas yang merupakan hadis hasansedangkan pencacatan Syaikh terhadap Shubaih tidak bernilai dan hanyalah pencacatan yang dicari-cari untuk melemahkan hadis tersebut.

=======================================================================

Kenyataan pahit yang memporak-porandakan doqma keadilan sahabat yang menjadi tonggak doktrin mazhab Sunni adalah kenyataan bahwa ternyata Nabi saw. tidak jarang melaknati dan bersikap marah kepada para sahabat beliau. Tentunya yang membangkang dan menentang!

Di antara dokumen rahasia yang membongkar kenyataan pahit ini adalah:

Bahwa di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. beliau mempersiapkan sebuah pasukan besar yang melibatkan para pemuka sabahat Muhajirin dan Anshar, di bawah pimpinan panglima muda bernama Usamah ibn Zaid ibn Haritsan- putra anak angkat Rasulullah saw-, akan tetapi sayangnya sebagian sahabat enggan bergabung meskipun telah diperintah berkali-kali oleh Rasulullah saw. bahkan dalam keedaan sakit beliau memaksa diri menaiki mimbar dengan dipikul Imam Ali as. Abbas paman beliau, dalam pidato itu beliau saw. menegaskan kembali agar pasukan segera diberangkatkan dan beliau mengatakan,“Berangkatkan pasukan Usamah, semoga Allah melaknat (mengutuk) siapa saja yang enggan berangkat dan bergabung dengan pasukan usamah”.[1]

Dan tidak cukup itu, mereka mengecam Nabi saw. atas pengangkatan Usamah sebagai panglima dalam ekspedisi itu.

Para ulama, diantaranya asy Syahrastani dalamal-Milal wa al-Nihalmelaporkan peristiwa itu dan sabda Nabi saw. yang mengutuk mereka yang enngan bergabung dengan pasukan Usamah. Ia adalah sebuah kenyataan pahit dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. yag justru terjadi di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. di tengah-tengah sahabat beliau -yang konon kata riwayat yang belum jelas sumbernya adalah sebaik-baik generasi-.

Imam Muslim Juga Meriwayatkan Aksi Pelaknatan Nabi saw. Atas Sahabatnya!

Peristiwa lain yang dapat disebutkan di sini ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabShahih-nya, bahwa dalam sebuah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat beliau, dalam perjalanan itu beliau berpesan agar tidak seorangpun yang mendahului beliau menuju tempat air yang kebetulan sangat sedikit itu, beliau bersabda“ Jangan seorang mendahului saya ke tempat iar itu.”Tetapi anehnya malah ada sekelompok yang dengan sengaja mendahului beliau mengambli air dari tempat. Kata Hudzaifah ra.,“Maka Nabi melaknat mereka.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Kami tidak mengerti apa kira-kira komentar dan tanggapan para ulama Sunni terhadap pelaknatan Nabi saw. atas para sahabatnya tersebut, apakah mereka harus menyerah di hadapan ketegasan hadis di atas?

Atau mereka menganggapnya sebagai pelaknatan salah sasaran dan tidak akhlaki yang muncul dari kelemahan kontrol Nabi saw. atas nafsunya sehingga beliau melaknat dan mencaci orang-orang yang tidak layak menerimanya? Seperti nyang diimani kaum Sunni berdasarkan riwayat-riwayat yang dishahihkan para muhaddis papan atas mereka (walaupun akal sehat Anda mungkin sulit mererimanya).

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul, bab qaulin Nabi saw.,man Âdzaituhu faj‘alhu lahu zakatan wa rahmatan(bab, barang siapa yang aku sakiti ia maka jadikan ganguan itu baginya sebagai penyuci dan rahmat). Dalam bab itu ia menyebutkan satu hadis dari Abu Hurairah, ia mengaku mendengar Nabi saw. bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.[3]

Dalam Shahih Muslim padaKitab al-Birr wa ash Shilah Wa al-Âdâb(Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun) imam Muslim menulis sebuah bab dengan judulMan La’anahu an Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzâlika Kâna Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan(Orang yang dilaknat, dicaci-maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci-makian dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya). Dalam bab tersebut Muslim menyebutkan belasan hadis yang menegaskan isu yang kemudian beubah menjadi akifdah Sunni itu.

Ibnu Hajuar Mempertegas!

Dalam keterangannya, Ibnu Hajar mengutip banyak hadis yang mendukung hadis di atas, dan sebagiannya menegaskan bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tidak mampu mengontrol hawa najsunya!!

Jadi kerena para sahabat itu tidak layak Nabi laknat dan laknatan Nabi itu salah sasaran, maka ia secara otomatis berubah menjadi keutamaan; pelebur dosa dan meninggikan derajat!![4]

Kata para ulama itu, kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!! Selamat atas Umat Islam yang memiliki Nabi bermental seperti itu!!

Bukankah keyakinan seperti itu terhadap Nabi saw. termasuk melecehkan derajat Nabi Muhammad saw.?!

Jawabnya saa serahkan kepada Anda….


[1]Al-Milal wa al-Nihal, mukaddimah ketiga. Vol.1,23.

[2]Shahih Muslim. 17,125-126.

[3]Fathu al-Baari.11,143-144.

[4]Baca dalamSyarah Shahih Muslimdan lainnya.

=========================================================================

Kedudukan Hadis “Memisahkan Diri Dari Ali Berarti Memisahkan Diri Dari Nabi SAW”.

Dalam tulisan kali ini akan dibahas contoh lain kesinisan salafy dalam menyikapi hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban syiahphobia yang menjangkiti para ulama.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا بن نمير قثنا عامر بن السبط قال حدثني أبو الجحاف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا علي انه من فارقني فقد فارق الله ومن فارقك فقد فارقني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Amir bin As Sibth yang berkata telah menceritakan kepadaku Abul Jahhaf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Wahai Ali, siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang memisahkan diri dariMu maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

Hadis dengan sanad diatas diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalamFadhail As Shahabahno 962. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalamAl Mustadrakno 4624 dan no 4703, Al Bukhari dalamTarikh Al Kabirjuz 7 no 1431 biografi Muawiyah bin Tsa’labah, Ibnu Ady dalamAl Kamil3/82 dan Al Bazzar dalamMusnad Al Bazzarno 4066. Berikut sanad riwayat Al Bazzar

حدثنا علي بن المنذر وإبراهيم بن زياد قالا نا عبد الله بن نمير عن عامر بن السبط عن أبي الجحاف داود عن أبي عوف عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضي الله عنه قال قال رسول الله لعلي يا علي من فارقني فارقه الله ومن فارقك يا علي فارقني

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mundzir dan Ibrahim bin Ziyad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Amir bin As Sibth dari Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf dari Muawiyah bin Tsa’labah dari Abu Dzar RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Wahai Ali siapa yang memisahkan diri dariKu maka dia telah memisahkan diri dari Allah dan siapa yang mmisahkan diri dariMu Ali maka dia telah memisahkan diri dariKu”.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini sanadnya shahih, telah diriwayatkan oleh para perawi terpercaya sebagaimana yang dikatakan Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid9/184 no 14771 setelah membawakan hadis Abu Dzar RA di atas

رواه البزار ورجاله ثقات

Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya tsiqat.

Al Hakim telah mnshahihkan hadis ini dalam kitabnyaAl Mustadrakno 4624 dan memang begitulah keadaannya. Berikut keterangan mengenai para perawi hadis tersebut

  • Ali bin Mundzir disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 7 no 627 bahwaia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4803 menyatakanAli bin Mundzir tsiqat.
  • Abdullah bin Numair, disebutkan Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 6 no 110 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh para ulama seperti Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/542 menyatakania tsiqah.
  • Amir bin As Sibth atau Amir bin As Simth, Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 108 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id, Ibnu Hibban, An Nasa’i dan Ibnu Ma’in berkata “shalih”.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/461 menyatakania tsiqah.
  • Abul Jahhaf namanya Dawud bin Abi Auf. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 3 no 375 dania telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”.Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah dalam kitabnyaTarikh Asma’ Ats Tsiqatno 347. Ibnu Ady telah mengkritik Abul Jahhaf karena ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dan tentu saja kritikan seperti ini tidak beralasan sehingga pendapat yang benarAbul Jahhaf seorang yang tsiqah.
  • Muawiyah bin Tsa’labah, ia seorang tabiin yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkan namanya dalamAts Tsiqatjuz 5 no 5480 seraya menegaskan bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalamTarikh Al Kabirjuz 7 no 1431 seraya membawakan sanad hadis di atas dan tidak sedikitpun Bukhari memberikan cacat atau jarh pada Muawiyah bin Tsa’labah dan hadis yang diriwayatkannya. Abu Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil8/378 no 1733 menyebutkan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah meriwayatkan hadis dari Abu Dzar dan telah meriwayatkan darinya Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf. Abu Hatim sedikitpun tidak memberikan cacat atau jarh padanya. Adz Dzahabi memasukkan nama Muawiyah bin Tsa’labah dalam kitabnyaTajrid Asma’ As Shahabahno 920 dimana ia mengutip Al Ismaili bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat Nabi, tetapi Ibnu Hajar dalamAl Ishabah6/362 no 8589 menyatakan bahwa Muawiyah bin Tsa’labah seorang tabiin. Tidak menutup kemungkinan kalau Muawiyah bin Tsa’labah seorang sahabat atau jika bukan sahabat maka ia seorang tabiin. Statusnya sebagai tabiin dimana tidak ada satupun yang memberikan jarh terhadapnya dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat sudah cukup sebagai bukti bahwaia seorang tabiin yang tsiqat.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga tidak diragukan lagi kalau hadis tersebut shahih. Sayangnya para pendengki tidak pernah puas untuk membuat syubhat-syubhat untuk meragukan hadis tersebut seolah hati mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang ada pada hadis tersebut. Mari kita lihat syubhat salafiyun seputar hadis ini.

.

.

Syubhat Salafy Yang Cacat

Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam kitabnyaSilsilah Ahadits Ad Dhaifahno 4893 dan berkatabahwa hadis ini mungkar. Pernyataan beliau hanyalah mengikut Adz Dzahabi dalamTalkhis Al Mustadrakhadis no 4624 danMizan Al I’tidalno 2638 yang berkata“hadis mungkar”. Seperti biasa perkataan ini muncul dari penyakit syiahphobia yang menjangkiti mereno 2371 juga memberikanka, seolah mereka tidak rela dengan keutamaan Imam Ali, tidak rela kalau hadis ini dijadikan hujjah oleh kaum Syiah, tidak rela kalau keutamaan Imam Ali melebihi semua sahabat yang lain. Apa dasarnya hadis di atas disebut mungkar?. Silakan lihat, adakah kemungkaran dalam hadis di atas. Adakah isi hadis di atas mengandung suatu kemungkaran?. Apakah keutamaan Imam Ali merupakan suatu kemungkaran?. Sungguh sangat tidak bernilai orang yang hanya berbicara mungkar tanpa menyebutkan alasan dan dimana letak kemungkarannya. Begitulah yang terjadi pada Adz Dzahabi dan diikuti oleh Syaikh Al Albani, mereka hanya seenaknya saja menyebut hadis tersebut mungkar. Tentu saja jika suatu hadis disebut mungkar maka akan dicari-cari kelemahan pada sanad hadis tersebut.

Syaikh Al Albani melemahkan sanad hadis ini karena Muawiyah bin Tsa’labah bahwa ia hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban sedangkan Abu Hatim dan Bukhari tidak memberikan komentar yang menta’dil ataupun yang mencacatnya. Memang bagi salafyun tautsiq Ibnu Hibban yang menyendiri tidaklah berharga dengan alasan Ibnu Hibban sering menyatakan tsiqah para perawi majhul. Sayang sekali alasan ini tidak bisa dipukul rata seenaknya. Muawiyah bin Tsa’labah tidak diragukan seorang tabiin dimana Al Hakim berkata tentang tabiin dalamMa’rifat Ulumul Hadishal 41

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن

Sebaik-baik manusia setelah sahabat adalah mereka yang bertemu langsung dengan sahabat Rasulullah SAW, memelihara dari mereka agama dan sunnah.

Jadi kalau seorang tabiin tidak dinyatakan cacat oleh satu orang ulamapun bahkan para ulama semisal Al Bukhari dan Abu Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya maka tautsiq Ibnu Hibban dapat dijadikan hujjah, artinyatabiin tersebut seorang yang tsiqah.

Mari kita lihat seorang perawi yang akan menggugurkan kaidah salafy yang seenaknya merendahkan tautsiq Ibnu Hibban, dia bernama Ishaq bin Ibrahim bin Nashr. Ibnu Hajar menyebutkan keterangan tentangnya dalamAt Tahdzibjuz 1 no 409. Disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwaIshaq bin Ibrahim adalah perawi Bukhari dan hanya Bukhari yang meriwayatkan hadis darinya. Tidak ada satupun ulama yang menta’dil beliau kecuali Ibnu Hibban yang memasukkannya dalamAts Tsiqat. Bahkan Al Bukhari yang menuliskan biografi Ibrahim bin Ishaq dalamTarikh Al Kabirjuz 1 no 1212 hanya berkata

إسحاق بن إبراهيم بن نصر أبو إبراهيم سمع أبا أسامة

Ishaq bin Ibrahim bin Nashr Abu Ibrahim mendengar hadis dari Abu Usamah

Adakah dalam keterangan Bukhari di atas ta’dil kepada Ishaq bin Ibrahim?. Tidak ada dan tentu berdasarkan kaidah salafy yang menganggap tautsiq Ibnu Hibban tidak bernilai maka Ishaq bin Ibrahim itu majhul dan hadisnya cacat. Tetapi bertolak belakang dengan logika salafy itu justru Ishaq bin Ibrahim dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam kitabnyaShahih Bukhari.

Seperti biasa ternyata syaikh kita satu ini telah menentang dirinya sendiri. Syaikh Al Albani dalamSilsilah Ahadits As Shahihahno 680 telah memasukkan hadis yang di dalam sanadnya ada perawi yang bernamaAbu Sa’id Al Ghifari yang hanya dita’dilkan oleh Ibnu Hibban bahkan Syaikh mengakui kalau Abu Hatim dalam Jarh Wat Ta’dil hanya menyebutkan biografinya tanpa memberikan komentar jarh ataupun ta’dil. Dan yang paling lucunya Syaikh Al Albani mengakui kalauia menguatkan hadis tersebut karena Abu Sa’id Al Ghifari adalah seorang tabiin. Sungguh kontradiksi syaikh kita satu ini. Mengapa sekarang di hadis Abu Dzar yang berisi keutamaan Imam Ali Syaikh mencampakkan metodenya sendiri dan bersemangat untuk mendhaifkan hadis tersebut. Apa masalahnya wahai syaikh?.

Selain itu Syaikh Al Albani juga menyebutkan syubhat yang lain yaitu ia melemahkan hadis ini karena Abul Jahhaf Dawud bin Abi Auf walaupun banyak yang menta’dilkan Abul Jahhaf, syaikh Al Albani mengutip perkataan Ibnu Ady seperti yang tertera dalamAl Mizanno 2638

ابن عدى فقال ليس هو عندي ممن يحتج به شيعي عامة ما يرويه في فضائل أهل البيت

Ibnu Ady berkata “Menurutku ia bukan seorang yang dapat dijadikan hujjah, seorang syiah dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya adalah tentang keutamaan Ahlul Bait.

Bagaimana mungkin Syaikh mengambil perkataan Ibnu Ady dan meninggalkan Ibnu Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan An Nasa’i. Seperti yang kami katakan sebelumnya jarh Ibnu Ady diatas tidak bernilai sedikitpun karena alasan seperti itu tidak dibenarkan. Bagaimana mungkin seorang perawi hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah. Apa namanya itu kalau bukan syiahphobia!. Abul Jahhaf adalah perawi yang tsiqah dan untuk mencacatnya diperlukan alasan yang kuat bukan alasan ngawur seperti yang dikatakan Ibnu Ady karena kalau ucapan Ibnu Ady itu dibenarkan maka alangkah banyaknya perawi yang hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah(termasuk hadis Bukhari dan Muslim)hanya karena ia syiah atau hanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul bait.

.

.

Kesimpulan

Hadis Abu Dzar di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat sedangkan syubhat-syubhat salafiyun untuk mencacatkan hadis tersebut hanyalah ulah yang dicari-cari dan tidak bernilai sedikitpun. Sungguh kedengkian itu menutupi jalan kebenaran.

============================================================================

Imam Hasan Dan Bani Umayyah Di Mimbar Nabi

Imam Hasan Alaihis Salam adalah cucu Rasulullah SAW yang sangat mulia. Sejarah hidupnya dipenuhi kemuliaan yang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang mengaku pengikut Rasulullah SAW. Sebagian orang tersebut lebih suka mengikuti Muawiyah dan memerangi Imam Hasan AS. Bagaimana bisa kesucian cucu Rasul SAW dibandingkan dengan Muawiyah?. Ketika Rasul SAW mengatakanberpeganglah kepada Ithrah Ahlul Baitmaka sebagian orang tersebut malah memisahkan diri dari Imam Hasan.

Tulisan kali ini akan membahas penyelewengan yang dilakukan sebagian orang yang ingin mendistorsi sejarah. Minimnya pengetahuan mereka membuat mereka menyebarkan klaim-klaim demi melindungi Muawiyah dan pengikutnya. Mereka mengatakanImam Hasan menyerahkan kekhalifahan karena mengakui kredibilitas Muawiyah.Klaim yang sangat naïf, Imam Hasan mendamaikan kedua kelompok kaum muslimin karena Beliau AS tidak menyukai pertumpahan darah dan beliau mengetahui bahwa ketentuan Allah SWT pasti terjadi.Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Hasan bahwa bani Umayyah akan menguasai mimbar Nabi walaupun Nabi SAW tidak menyukainyaoleh karena itu bagi Imam Hasan AS lebih baik Beliau menyelamatkan banyak darah kaum muslimin karena ketentuan Allah SWT pasti terjadi. Hal inilah yang sukar atau tidak mungkin dipahami oleh para pecinta Muawiyah.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalamSunan Tirmidzi5/444 no 3350

بسم الله الرحمن الرحيم حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود الطيالسي حدثنا القاسم بن الفضل الحداني عن يوسف بن سعد قال قام رجل إلى الحسن بن علي بعد ما بايع معاوية فقال سودت وجوه المؤمنين أو يا مسود وجوه المؤمنين فقال لا تؤنبني رحمك الله فإن النبي صلى الله عليه و سلم أري بني أمية على منبره فساءه ذلك فنزلت { إنا أعطيناك الكوثر } يا محمد يعني نهرا في الجنة ونزلت { إنا أنزلناه في ليلة القدر * وما أدراك ما ليلة القدر * ليلة القدر خير من ألف شهر } يملكها بنو أمية يا محمد قال القاسم فعددناها فإذا هي ألف يوم لا يزيد يوم ولا ينقص

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Fadhl Al Huddani dari Yusuf bin Sa’ad yang berkata “Seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan setelah Muawiyah dibaiat. Ia berkata “Engkau telah mencoreng wajah kaum muslimin” atau ia berkata “Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin”. Al Hasan berkata kepadanya “Janganlah mencelaKu, semoga Allah merahmatimu, karena Rasulullah SAW di dalam mimpi telah diperlihatkan kepada Beliau bahwa Bani Umayyah di atas Mimbar. Beliau tidak suka melihatnya dan turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu nikmat yang banyak”. Wahai Muhammad Al Kautsar adalah sungai di dalam surga. Kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan . Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Bani Umayyah akan menguasainya wahai Muhammad. Al Qasim berkata “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih”.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalamMustadrak As Shahihain3/187 no 4796 dan beliau menshahihkannya dan diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalamDalail An Nubuwahhal 510-511 semuanya dengan sanad yang berakhir pada Al Qasim bin Fadhl dari Yusuf bin Saad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibi.
.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini adalah hadis yang shahihdan telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Tidak ada keraguan dalam sanad hadis ini kecuali mereka yang mencari-cari dalih untuk membela Bani Umayyah. Berikut perawi hadis tersebut

  • Mahmud bin Ghailan. Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 109 bahwa ia adalah perawi Bukhari Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan pula bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Daud Ath Thayalisi dandinyatakan tsiqat oleh Maslamah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/164 menyatakania tsiqat.
  • Abu Daud At Thayalisi. Namanya adalah Sulaiman bin Daud, Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Tahdzibjuz 4 no 316 bahwa ia adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan.Sulaiman bin Daud telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Amru bin Ali, An Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad Al Khatib dan Al Fallas. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/384 menyatakan bahwaia seorang hafiz yang tsiqat.
  • Al Qasim bin Fadhl. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 8 no 596 dan ia adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Al Qasim bin Fadhl meriwayatkan hadis dari Yusuf bin Sa’ad dan telah meriwayatkan darinya Abu Daud Ath Thayalisi.Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Sa’ad, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin.Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/22 menyatakania tsiqat.
  • Yusuf bin Sa’ad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibi. Ibnu Hajar dalamAt Tahdzibjuz 11 no 707 menyebutkan bahwa ia adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i dan meriwayatkan hadis dari Imam Hasan. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwaIbnu Main telah menyatakan ia tsiqat. Disebutkan dalamSu’alat Ibnu Junaid1/319-320 no 186 bahwaIbnu Main telah menyatakan tsiqat pada Yusuf bin Sa’ad. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/344 menyatakan bahwaYusuf bin Sa’ad Al Jumahi atau Yusuf bin Mazin tsiqat.

Sudah jelas hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sehingga kedudukannya shahih tetapi dalih ternyata selalu bias dicari-cari. At Tirmidzi dalamSunan Tirmidzino 3350 setelah meriwayatkan hadis ini ia berkata

هذا حديث غريب لا نعرفه إلا من هذا الوجه من حديث القاسم بن الفضل وقد قيل عن القاسم بن الفضل عن يوسف بن مازن و القاسم بن الفضل الحداني هو ثقة وثقه يحيى بن سعيد و عبد الرحمن بن مهدي و يوسف بن سعد رجل مجهول ولا نعرف هذا الحديث على هذا اللفظ إلا من هذا الوجه

Hadis ini gharib, tidak dikenal kecuali dari hadis Al Qasim bin Fadhl dan dikatakan pula dari Qasim bin Fadhl dari Yusuf bin Mazin. Al Qasim bin Fadhl Al Huddani seorang perawi yang tsiqat, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id dan Abdurrahman bin Mahdi. Sedangkan Yusuf bin Sa’ad adalah perawi yang majhul. Hadis dengan lafal di atas tidak diketahui kecuali dari jalur tersebut.

Pernyataan Tirmidzi bahwa Yusuf bin Sa’ad majhul adalah keliru. Yusuf bin Sa’ad telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in sebagaimana yang dikutip Ibnu Hajar dan telah meriwayatkan darinya banyak perawi tsiqah sehingga dalamAt TaqribIbnu Hajar memberikan predikat tsiqat.

Syaikh Al Albani telah memasukkan hadis ini dalamDhaif Sunan Tirmidzino 3350 seraya berkata

ضعيف الإسناد مضطرب ومتنه منكر

Hadis dhaif sanadnya Mudhtharib dan matannya mungkar

Pernyataan Syaikh hanyalah mengikut apa yang disebutkan Ibnu Katsir dalamTafsir Ibnu Katsir8/442, hadis ini dinyatakan mudhtharib karena diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dalamTafsir At Thabari24/533 dengan sanad dariQasim bin Fadhl dari Isa bin Mazin, oleh karena itu Ibnu Katsir menyebut sanad ini idhtirab. Pernyataan ini jelas kekeliruannya

  • Isa bin Mazin tidak diketahui biografinya sehingga dalam hal ini sanad riwayat Ibnu Jarir adalah dhaif, bagaimana mungkin hadis bersanad dhaif menjadi penentu suatu hadis shahih sebagai mudhtharib
  • Al Tirmidzi tidak menyendiri meriwayatkan hadis tersebut dari Yusuf bin Mazin, ia juga telah dikuatkan oleh Al Hakim dan Al Baihaqi sedangkan Ibnu Jarir menyendiri dalam menyebutkan Isa bin Mazin. Oleh karena itu jauh lebih mungkin untuk dikatakan bahwa Ibnu Jarir melakukan kekeliruan dalam menuliskan hadis tersebut.

Hadis tersebut tidak memenuhi syarat mudhtharib karena hadis yang dipermasalahkan Ibnu Katsir berstatus dhaif sehingga tidak dapat dipertentangkan dengan hadis Yusuf bin Mazin. Mengenai pernyataan matan yang mungkar, Ibnu Katsir dalamTafsirnya telah mengkritik perkataan Al Qasim bin Fadhl“Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih”.Seandainyapun kritik Ibnu Katsir tersebut benar maka yang keliru adalah perkataan Qasim bin Fadhl bukan hadisnya. Aneh sekali,bagaimana mungkin dikatakan hadisnya mungkar hanya karena penafsiran Qasim terhadap hadis tersebut keliru.Dan seandainya pernyataan Qasim bin Fadhl benar maka tidak ada gunanya perkataan Ibnu Katsir bahwa hadis tersebut mungkar. Ataukah bagi Ibnu Katsir dan Al Albani menyebutkan keburukan Bani Umayyah adalah hal yang mungkar?. Sudah jelas itu cuma ulah yang dibuat-buat untuk menolak hadis tersebut demi melindungi Muawiyah dan Bani Umayyah.

===========================================================================

Kedudukan Hadis “Jika Kamu Melihat Muawiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”

Muqaddimah
Sebelumnya kami telah menuliskan hadis ini dalam salah satu tulisan kami yang berjudulMuawiyah dan Mimbar Nabi,disana kami menyatakan bahwakami bertawaqquf mengenai kedudukan hadis tersebut.Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan kemudahan bagi kami untuk meneliti kembali sanad hadisnya. Berikut adalah hasil kajian sanad hadis tersebut.

Dalam menilai kedudukan suatu hadis yang perlu dilakukan salah satunya adalahmenilai para perawi yang menyampaikan hadis tersebut.Dinilai apakah para perawi tersebut terpercaya atau jujur karena seorang perawi yang pendusta tidaklah diterima hadisnya. Tetapi kemusykilan akan terjadi jikaisi hadis tersebut tidak kita sukai,kita berkeras untuk melakukan penolakan dan mencari-cari kelemahan hadis tersebut. Hal inilah yang ternyata saya temukan dalam mengkaji hadis“Jika kamu melihat Muwiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”. Banyak ahli hadis yang menolak hadis ini dan mereka menilaihadis ini sangat tidak pantas disandarkan kepada Nabi SAW.Mengapa? KarenaMuawiyah adalah sahabat Nabidansemua sahabat Nabi itu adilsehingga mustahil hadis ini benar. Oleh karena itu dalam pembahasan sanad yang dilakukan oleh para ulama, mereka condong atau bermudah-mudah dalam melemahkan dan mendhaifkan hadis tersebut. Mereka begitu mudah menjarh para perawi hadis tersebut bahkan seorang perawi yang dikenal jujur malah dinilai dhaif hanya karena ia ikut meriwayatkan hadis ini.

Kalau anda masih ingat, inilah yang saya katakan Logika Sirkuler yang menyedihkan

  • Suatu Hadis dinilai dhaif atau palsu karena matan atau isinya batil dan mungkar atau karena isi hadis tersebut tidak layak
  • Karena sudah dinyatakan dhaif dan palsu maka harus ada perawi yang bertanggungjawab atas kedhaifan dan pemalsuan hadis itu. Sehingga salah satu atau beberapa perawi dinyatakan cacat karena meriwayatkan hadis tersebut.
  • Karena perawi tersebut sudah dinyatakan cacat, dhaif atau dituduh memalsu hadis maka kedudukan hadis tersebut sudah pasti dhaif atau palsu.

Untuk membuktikan benar tidaknya yang kami katakan, silakan anda mengikuti kajian kami kali ini.
.

.

.

Hadis Abu Sa’id Al Khudri RA

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq59/155 dan Ibnu Ady dalamAl Kamil7/83 menyebutkan

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبى سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Qasim dari Mujalid dari Abil Wadak dari Abi Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda “Jika kamu melihat Muwiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”.
.

Hadis Hasan Lighayrihi.
Hadis ini kedudukannya hasan lighairihi karenatelah diriwayatkan oleh para perawi yang shaduq hasanul hadis kecuali Mujalid bin Sa’id yang hadisnya hasan jika dikuatkan oleh yang lain. Pada dasarnya Mujalid seorang yang jujur hanya saja memiliki kelemahan pada hafalannya. Berikut analisis terhadap para perawi hadis tersebut.

Ali bin Mutsannaadalahperawi yang shaduq dan hasan hadisnya. DalamAt Tahdzibjuz 7 no 611 disebutkan bahwatelah meriwayatkan darinya banyak orang-orang tsiqah dan Ibnu Hibban memasukkannya kedalam Ats Tsiqat.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/702 memberikan predikatmaqbul (diterima)dan pernyataan ini dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 4788 bahwaAli bin Mutsanna adalah shaduq hasanul hadis.Pernyataan ini lebih tepat karena Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat.

Walid bin Qasimadalahperawi yang shaduq hasanul hadis. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 11 no 245 bahwa iadinyatakan tsiqat oleh imam Ahmad, Ibnu Ady berkata“ia meriwayatkan dari orang-orang tsiqat dan telah meriwayatkan darinya orang yang tsiqat pula, tidak ada masalah dengannya”.Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat tetapi juga menyebutkannya dalam Al Majruhin. Ibnu Main mendhaifkannya tanpa menyebutkan alasan atas jarhnya tersebut, apalagi dikenal kalau Ibnu Ma’in terkenal ketat dalam mencacatkan perawi. Oleh karena itu predikat ta’dil lebih tepat untuk Walid bin Qasim. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/288 memberikan predikatshaduq yukhti’u (jujur tetapi sering salah).Pernyataan ini dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 7447 bahwaWalid bin Qasim shaduq hasanul hadisdimana mereka juga mengutip bahwa Ibnu Qani’ menyatakan Walid bin Qasim shaduq.

Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniadalahperawi yang hasan hadisnya dengan penguat dari yang lain. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 65 bahwa dia salah satu perawi Muslim yang berarti Muslim memberikan predikat ta’dil padanya. Disebutkan pula bahwa Syu’bah telah meriwayatkan darinya dan sebagaimana sangat dikenal bahwaSyu’bah hanya meriwayatkan dari orang yang tsiqah. Yaqub bin Sufyan berkata“dia dibicarakan orang dan dia shaduq (jujur)”.Beliau telah dinyatakan dhaif oleh sekelompok ulama seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, Ibnu Sa’ad dan yang lainnya. An Nasa’i memasukkannya dalamAd Dhu’afatetapi disebutkan pula oleh Ibnu Hajar bahwa An Nasa’i juga mengatakan iatsiqah. Bukhari juga memasukkannya dalamAdh Dhu’afatetapi Ibnu Hajar juga mengutip bahwa Bukhari berkata“shaduq”. Al Ajli memasukkannya dalamMa’rifat Ats Tsiqahno 1685 dan mengatakan“jaiz al hadis dan hasanul hadis”. Ibnu Syahin memasukkannya dalamTarikh Asma Ats Tsiqahno 1435. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/159 memberikan predikatlaisa bil qawy (tidak kuat). Pernyataan ini kendati bersifat jarh tetapi tidak menjatuhkan artinyawalaupun ada kelemahan padanya hadisnya bisa menjadi hasan dengan adanya penguat. Syaikh Ahmad Syakir telah menghasankan hadis Mujalid dalamSyarh Musnad Ahmadhadis no 211, beliau berkata

“Mujalid adalah orang yang jujur namun mereka mempersoalkan hafalannya”.

Pernyataan beliau ini adalah pernyataan yang adil dan bagi kami dalam masalah ini hadis Mujalid kedudukannya hasan dengan penguat dari yang lain.

Abul Wadak Jabr bin Naufadalahperawi yang tsiqat.Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 2 no 92 bahwadia adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim, dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 752 menyatakania tsiqat.Dalam At Taqrib 1/156 Ibnu Hajar memberikan predikat“shaduq tetapi sering keliru”dan dikoreksi dalamTahrir At Taqribno 894 bahwaJabr bin Nauf seorang yang tsiqah.

.

.

.

Selain melalui jalan Mujalid bin Sa’id, hadis Abu Said Al Khudri juga diriwayatkan dengan sanad dari Ali bin Zaid bin Jud’an. Hadis tersebut diantaranya diriwayatkan dalamAnsab Al Asyraf Al Balazuri5/136, Ibnu Asakir dalamTarikh Dimasyq59/55 dan Ibnu Ady dalamAl Kamil7/83 dan 5/314. Berikut hadis Ali bin Zaid dalamAl Kamil5/314

أخبرنا الحسن بن سفيان الفسوي ثنا إسحاق بن إبراهيم الحنظلي أخبرنا عبد الرزاق عن سفيان بن عيينة عن علي بن زيد بن جدعان عن أبي نضرة عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

Telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Sufyan Al Fasawi yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzali yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Sufyan bin Uyainah dari Ali bin Zaid bin Jud’an dari Abi Nadhrah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “jika kamu melihat Muawiyah di MimbarKu maka bunuhlah ia”.

.

Hadis Hasan Lighairihi
Hadis di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqah kecualiAli bin Zaid bin Jud’an. Ia diperselisihkan dan telah dilemahkan karena hafalannya. Walaupun begitu hadis Ali bin Zaid bersama hadis Mujalid saling menguatkan sehinggasanadnya terangkat menjadi hasan lighairihi.

Hasan bin Sufyan Al Fasawiadalahseorang Hafiz yang tsabit. Ibnu Hibban telah menyebutkannya dalamAts Tsiqatjuz 8 no 12808 dan disebutkan pula dalamTazkirah Al HuffazAdz Dzahabi 10/70 no 724 bahwaHasan bin Sufyan seorang Al Hafiz Al Imam Syaikh Khurasan penulis Musnad yang mendengar hadis dari Ishaq bin Ibrahim.

Ishaq bin Ibrahim Al HanzaliadalahIshaq bin Rahawaih seorang Hafiz yang terkenal tsiqat. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/78 menyatakan bahwaia seorang Hafiz yang tsiqat dan mujtahid.Abdurrazaq bin Hammam As Shan’aniadalah ulama terkenal penulis kitab tafsir dan Mushannaf. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/599 menyatakan bahwaia seorang hafiz yang tsiqat.Sufyan bin Uyainahadalah ulama yang tsiqat, Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/371 menyatakan kalauSufyan seorang hafiz yang tsiqat faqih, imam dan hujjah.

Ali bin Zaid bin Jud’anadalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 7 no 545 kalau Ia telah dicacatkan oleh sekelompok ulama diantaranya Ibnu Ma’in, An Nasai, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lain-lain. Tetapi ia bukanlah seorang pendusta apalagi pemalsu hadis. Cacat yang banyak disematkan kepadanya adalahlaisa bi qawiy atau tidak kuatyang berartihadisnya dapat menjadi hasan dengn penguat dari yang lain.

Selain itu pada dasarnya ia adalahseorang yang jujur hanya saja terdapatkelemahan pada hafalannya dan hadis-hadisnya yang diingkari oleh para ulama.DalamAt Tahdzibjuz 7 no 545 disebutkan kalauSyu’bah telah meriwayatkan darinya dan sebagaimana diketahui bahwa Syu’bah hanya meriwayatkan dari orang-orang tsiqah.Imam Tirmidzi menyatakanbahwa ia shaduq (jujur), Yaqub bin Syaibah menyatakania tsiqat dan hadisnya baik walaupun ada kelemahan padanya.As Saji juga mengelompokkannya sebagai orang yang jujur. Imam Tirmidzi telah menshahihkan hadis Ali bin Zaid dalam kitabnyaSunan Tirmidzino 109. Al Ajli memasukkan Ali bin Zaid dalam kitabnyaMa’rifat Ats Tsiqahno 1298 dan berkata

على بن زيد بن جدعان بصرى يكتب حديثه وليس بالقوي وكان يتشيع وقال مرة لا بأس به

Ali bin Zaid bin Jud’an orang Basrah ditulis hadisnya, tidak kuat, bertasyayyu’ dan tidak ada masalah padanya.

Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadno 783 menolak pencacatan Ali bin Zaid, beliau dengan tegas menyatakan bahwaAli bin Zaid adalah perawi yang tsiqah. Syaikh Ahmad Syakir berkata

Ali bin Zaid adalah Ibnu Jad’an , telah kami sebutkan dalam hadis no 26 bahwa dia adalah perawi yang tsiqah. Para ulama berbeda pendapat tentang dirinya, tetapi pendapat yang paling kuat menurut kami adalah yang menyebutkan bahwa dia adalah perawi yang tsiqah. Tirmidzi telah menshahihkan hadis-hadis yang diriwayatkannya. Di antaranya hadis no 109 dan 545.

Selain karena hafalannya,para ulama mencacat Ali bin Za’id karena ia telah meriwayatkan hadis tentang Muawiyah di atasseperti yang disebutkan dalamAt Tahdzibbiografi Ali bin Zaid. Pada dasarnya para ulama mengingkari hadis tersebut dan cukup dengan melihat matannya mereka menyatakan hadis itu bathil. Oleh karenanya harus ada yang bertanggung jawab untuk kebatilan hadis di atas dan tuduhan disematkan pada Ali bin Zaid. Pencacatan seperti ini justru hal yang bathil karenaAli bin Zaid tidaklah menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Ia hanya menyampaikan apa yang ia dengar, bersamanya ada perawi lain yang meriwayatkan hadis ini dan diantaranya ada orang yang terpercaya. Dengan mempertimbangkan semua ini maka kami berkesimpulan bahwahadis Ali bin Zaid menjadi hasan jika mendapat penguat dari yang lain.

Abu Nadhrahadalah Mundzir bin Malik perawi Bukhari dalam Shahihnya bagian Ta’liq, Muslim dalam Shahihnya dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 10 no 528 kalau ia telahdinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, An Nasa’i, Ibnu Saad, Ibnu Syahin, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban.Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/213 menyatakan bahwaia tsiqat.
.

.

Kesimpulan Hadis Abu Sa’id
Hadis“Jika kamu melihat Muawiyah di MimbarKu maka bunuhlah Ia”salah satunya diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri RA. Hadis Abu Sa’id RA telah diriwayatkan dengan dua jalan sanad, sanad yang pertama diriwayatkan olehpara perawi yang shaduq hasan hadisnya dan tsiqat kecuali Mujalid bin Sa’id yang terdapat cacat pada hafalannyasedangkan jalan sanad yang kedua diriwayatkan olehpara perawi tsiqah kecuali Ali bin Zaid yang juga memiliki cacat pada hafalannya. Perhatikanlah, baik Mujalid dan Ali bin Zaid merupakan perawi yang dinyatakan cacat karena kelemahan pada hafalannya, hal ini ditunjukkan oleh

  • Adanya penta’dilan oleh sebagian ulama yang berarti penetapan akan kredibilitasnya
  • Kebanyakan cacat yang ditujukan kepada mereka tidak bersifat menjatuhkan seperti “tidak kuat” atau “ada kelemahan padanya” dan lain-lain

Maka, status hadits tersebut naik menjadi hasan lighairihi. Tentu saja ini sesuai dengan definisi hadis hasan lighairihi sebagaimana dalamilmu Mushthalah Hadisseperti yang dapat dilihat dalam kitabTaisiru Mushthalah Al Hadishal 43-44.

هو الضعيف إذا تعددت طرقه، ولم يكن سببُ ضعفه فِسْقَ الراوي أو كَذِبَهٌ يستفاد من هذا التعريف أن الضعيف يرتقى إلى درجة الحسن لغيره بأمرين هما أ‌) أن يٌرْوَيٍِ من طريق آخر فأكثر ، على أن يكون الطريقٌ الآخر مثله أو أقوى منه ب‌) أن يكون سببٌ ضعف الحديث إما سوء حفظ راويه أو انقطاع في سنده أو جهالة في رجاله

Ia adalah hadits (yang asalnya) dha’if yang memiliki beberapa jalur (sanad), dan sebab kedha’ifannya bukan karena perawinya fasiq atau dusta. Berdasarkan definisi ini, menunjukkan bahwa hadits dla’if itu dapat naik tingkatannya menjadi hasan lighairihi karena dua hal

  1. Jika hadits tersebut diriwayatkan melalui jalan lain (dua jalur) atau lebih, asalkan jalan lain itu semisal atau lebih kuat.
  2. Penyebab kedha’ifannya bisa karena buruknya hafalan perawinya, terputusnya sanad, atau jahalah dari perawi”

Kedua sanad hadis di atas saling menguatkan karena baikAli bin Zaid dan Mujalid bin Sa’id bukanlah orang yang fasik, pendusta dan pemalsu hadis, mereka pada dasarnya orang yang jujur hanya saja memiliki cacat pada hafalannyatetapi dengan adanya mereka berdua bersama-sama maka hadisnya saling menguatkan sehingga kedudukan hadisnya terangkat menjadi Hasan Lighairihi.

.

.

.

Hadis Ibnu Mas’ud RA

Ahmad bin Yahya Al Baladzuri meriwayatkan dalam kitabnyaAnsab Al Asyraf5/130

حدثني إبراهيم بن العلاف البصري قال سمعت سلاماً أبا المنذر يقول قال عاصم بن بهدلة حدثني زر بن حبيش عن عبد الله بن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رأيتم معاوية بن أبي سفيان يخطب على المنبر فاضربوا عنقه

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Alaf Al Bashri yang berkata aku telah mendengar dari Sallam Abul Mundzir yang berkata telah berkata Ashim bin Bahdalah yang berkata telah menceritakan kepadaku Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbarKu maka pukullah tengkuknya”

.

Hadis Hasan Lidzatihi
Hadis riwayat Al Baladzuri ini sanadnya Hasan. Para perawinya adalahperawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis. Berikut keterangan lebih rinci mengenai para perawinya

Ibrahim bin Al Alaf Al BashriadalahIbrahim bin Hasan Al Alaf Al Bashri. Biografinya disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnyaAts Tsiqatjuz 8 no 12325. Ibnu Abi Hatim dalamAl Jarh Wat Ta’dil1/92 no 242 mengutip Abu Zar’ah yang mengatakania tsiqat.Abu Zar’ah berkata

وكان صاحب قرآن كان بصيرا به وكان شيخا ثقة

Dia seorang penghafal Al Qur’an, sangat mengetahui makna-maknanya dan dia seorang Syaikh yang tsiqat.

Sallam Abul MundziradalahSallam bin Sulaiman Al Muzannisalah seorang perawi Tirmidzi. Beliau telah mendapat predikat ta’dil dari Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Abu Dawud. Ibnu Hajar menyebutkannya dalamAt Tahdzibjuz 4 no 499 dan mengutip

وقال بن أبي خيثمة عن بن معين لا بأس به

Ibnu Abi Khaitsamah berkata dari Ibnu Ma’in “tidak ada masalah dengannya”.

وقال بن أبي حاتم صدوق صالح الحديث

Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq dan hadisnya baik”.

Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/406 memberikan predikatshaduq yahim yaitu jujur terkadang salah. Dan pernyataan ini telah dikoreksi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 2705 bahwaSallam bin Sulaiman Al Muzanni adalah shaduq hasanul hadis.

Ashim bin Bahdalahatau Ibnu Abi Najud adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalamAt Tahdzibjuz 5 no 67 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Syahin, Ibnu Ma’in, Al Ajli, Abu Zar’ahdan ia juga mendapat predikat ta’dil dari Abu Hatim, An Nasa’i dan Ahmad bin Hanbal. Ibnu Syahin memasukkannya dalamTarikh Asma Ats Tsiqatno 830 dan berkata

عاصم بن بهدلة ثقة رجل صالح خير قاله أحمد بن حنبل عاصم بن أبي النجود قال بن معين ليس به بأس

Ashim bin Bahdalah tsiqat orang yang shalih dan baik seperti yang dikatakan Ahmad bin Hanbal. Ashim bin Abi Najud, Ibnu Ma’in berkata “tidak ada masalah dengannya”.

Cacat yang ada padanya adalahia terkadang salahsehingga Ibnu Hajar menyebutkan dalamAt Taqrib1/456shaduq lahu awham yaitu jujur terkadang salah. Tetapi kesalahan yang pernah dilakukan Ashim bin Abi Najud tidaklah membahayakan hadisnya dan pada dasarnya ia seorang yang tsiqat dan hasan hadisnya. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir At Taqribno 3054 mengatakan bahwaia tsiqat terkadang salah dan seorang yang hasan hadisnya. Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadtelah menyatakan shahih hadis-hadis Ashim bin Bahdalah, salah satunya dapat dilihat dari hadis no 680.

Zirr bin Hubaiysadalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Disebutkan dalamAt Tahdzibjuz 3 no 597 bahwaia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalamAt Taqrib1/311 menyatakan kalauia tsiqat.
.

.

.

Analogi Penilaian Syaikh Ahmad Syakir

Hadis Ibnu Mas’ud di atas kami nilai sebagai hadis yang kedudukannya hasan lidzatihi dan bersama-sama hadis Abu Sa’id maka hadis tersebut kami nilai Hasan. Walaupun begitu jika kami menerapkan metode Syaikh Ahmad Syakir dalamSyarh Musnad Ahmadmaka tidak diragukan lagi kalau hadis ini bersanad Shahih.

  • Hadis Abu Sa’id dengan jalan Mujalid bin Sa’id adalah Hadis Hasan. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir terhadap Mujalid dalam Syarh Musnad Ahmad no 211 bahwa dia adalah seorang yang jujur dan hadisnya hasan.
  • Hadis Abu Sa’id dengan jalan Ali bin Zaid adalah Hadis Shahih. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir terhadap Ali bin Zaid dalam Syarh Musnad Ahmad no 26 dan no 783 bahwa Ali bin Zaid adalah perawi yang tsiqah menurut Syaikh Ahmad Syakir.
  • Hadis Ibnu Mas’ud dengan jalan Ashim dari Zirr adalah Hadis shahih. Hal ini berdasarkan penilaian Syaikh Ahmad Syakir yang menyatakan shahih hadis Ashim bin Bahdalah dalam Syarh Musnad Ahmad no 680.

Hadis ini memang dinyatakan dhaif oleh banyak ulama. Hal ini disebabkan mereka menganggapmatan hadis tersebut batil atau maudhu’sehinggabagaimanapun banyaknya sanad dan jalan periwayatan hadis tersebut maka itu tetap tidak ada artinya bagi mereka.Tentu saja jika memang kita berpegang teguh pada Ulumul Hadis maka sudah jelashadis tersebut bersanad hasansehingga terdapat juga Ulama yang menyatakan shahih atau hasan hadis ini seperti Syaikh Muhammad bin Aqil Al Hadhramy Al Alawy dalamAl Atab Al Jamil Ala Ahlul Jarh Wat Ta’dilhal 63 kemudian Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliki dalamMa’a Syaikh Abdullah As Sa’di Fi Al Suhbah Wal Shahabah1/201 dan 1/207.
.

.

Kesimpulan
Hadis“Jika Kamu Melihat Muawiyah di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”telah diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri RA dan Ibnu Mas’ud RA dengan para perawi yang tsiqah, hasanul hadis dan walaupun ada diantara perawi tersebut yang dinyatakan cacat tetapi mereka saling menguatkan sehingga bersama-samaKedudukannya menjadi Hasan.

.

.

Catatan :

  • Mari kita lihat dalih apa lagi yang akan muncul dari mereka yang tidak suka
  • Hadis ini dari segi sanad lebih layak dinyatakan hasan lighairihi dari pada hadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”
  • Cukup banyak yang diedit tetapi secara substansial tidak merubah apapun
  • Pada dasarnya tulisan ini hanyalah sebuah kajian maka dari itu tolong disikapi dengan bijak, dan tentu kami akan senang sekali jika ada yang bersedia mengkritik atau membantah tulisan ini. Mari kita berdiskusi dengan santun

==============================================================================

Bantahan Terhadap Salafy : Benarkah Hadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya” Berstatus Hasan Lighairihi?

Jika anda sering mengkaji kitab-kitab Salafy maka anda dapat melihatAntagonisme Salafydalam berhadapan dengan hadis-hadis yang menjadi hujjah mereka. Jika hadis tersebut bertentangan dengan keyakinan mereka, contohnyaberkenaan dengan tawassul (yang menjadi hujjah para ulama Alawy)ataukeutamaan Ahlul Bait (yang sering menjadi hujjah Syiah)maka salafy akan bersikap ketat dalam mencacatkan hadis tersebut. Tetapi jika suatu hadis menjadi dasar hujjah mereka, maka mereka bertasahul dalam menguatkan hadis tersebut. Contoh nyata adalahhadis “Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”.Telah berlalu penjelasan kami bahwa hadis ini berstatus dhaif tetapi salafy telah berupaya dengan“begitu memaksa”bahwa hadis ini berstatus hasan lighairihi. Berikut adalah bantahan kami.

.

.

Pembahasan Sanad Hadis Al Ifriqy Dan Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i

Pada dasarnya Salafy tidak membawakan sanad lain dari hadis“Apa Yang Aku dan SahabatKu Ada Di Atasnya”.Salafy hanya membawakan riwayat Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy dan Abdullah bin Sufyan, kemudian membuat kesimpulan bahwakedua riwayat itu saling menguatkan sehingga berstatus hasan lighairihi.

Kesimpulan tersebut terburu-buru tetapi salafy dengan cerdik membungkusnya dengan kata-kata yang seolah-olah ilmiah tetapi mengandung kerancuan. Mengenai Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy ia adalah seorang yang dhaif dan kami tidak keberatan kalau dikatakan bahwa dhaifnya Abdurrahman disebabkan kelemahan pada hafalannya. Memang ada indikasi yang menunjukkan ke arah sana seperti

  • Adanya penta’dilan dari beberapa ulama terhadap Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy
  • Sebagian dari Jarh yang disematkan pada Abdurrahman bukan bersifat jarh yang menjatuhkan keadilan perawi seperti perkataan “tidak kuat”, “ada kelemahan padanya” atau “ada hal-hal yang diingkari dalam hadisnya”.

Walaupun begitu terdapat pula sebagian ulama yang menetapkan jarh yang bersifat syadid dan ada yang memberikan alasannya. Diantaranya adalahImam Ahmad yang bahkan tidak mau menulis hadis darinya,Ibnu Kharrasy yang menyatakan ia matruk,An Nasa’i yang menyatakan ia dhaif, dan Ibnu Hibban yang memasukkannya dalamAl Majruhinno 586 sebagai perawi dhaif dan ia berkata

كان يروي الموضوعات عن الثقات

Ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari perawi tsiqat.

Salafy mengatakan bahwaperkataan Ibnu Hibban berlebihankarena jika pernyataan Ibnu Hibban benar maka akan masyhur pernyataan ulama bahwa Abdurrahman seorang pendusta atau minimal tertuduh melakukan kedustaan. Logika seperti ini tidak mutlak benar karena ada kalanya para ulama memang berselisih paham terhadap kedudukan suatu perawi karenaulama yang satu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh ulama lain dan mungkin pula sebaliknya.Sehingga kaidah yang benar menyebutkan bahwajarh yang bersifat mufassar (dijelaskan sebabnya) lebih diutamakan dibanding ta’dil.Melihat status Abdurrahman bin Ziyad, kita melihatada ulama yang menyatakan ia matruk dan tidak mau menulis hadis darinya.Hal ini merupakan suatu kemungkinan bahwa para ulama tersebut pada dasarnya bersepakat dengan Ibnu Hibban yang mencacat Abdurrahman dengan cacat yang menjatuhkan. Kami pribadi tidak melihat adanya ulama yang membantah perkataan Ibnu Hibban dengan mengatakan bahwa Ibnu Hibban berlebih-lebihan dalam hal ini, bahkan Ibnu Jauzi memasukkan Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy dalam kitabnyaAd Dhu’afa Wal Matrukin1670 dengan mengutip perkataan Ibnu Hibban.

Salafy juga mengutip pernyataan Ibnu Hajar dalamAt Taqribyang menyatakan bahwaAbdurrahman bin Ziyad orang yang lemah hafalannya.Itu adalah pendapat Ibnu Hajar sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalamTahrir Taqrib At Tahdzibno 3862 justru mengatakan kalauAbdurrahman bin Ziyad dhaif dan dapat dijadikan I’tibar.Dengan mempertimbangkan semua pernyataan di atas maka kami berkesimpulan bahwapada dasarnya Abdurrahman bin Ziyad dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah tetapi hadisnya dapat dijadikan I’tibar dan menjadi naik statusnya jika dikuatkan oleh perawi yang setaraf dengannya atau lebih tinggi darinya.

Jadi agar hadis Abdurrahman bin Ziyad naik statusnya menjadi hasan lighairihi maka ia harus dikuatkan oleh perawi yang setingkat dengannya atau lebih baik darinya. Salafy hanya membawakan riwayat Abdullah bin Sufyan sebagai penguat Abdurrahman bin Ziyad. Tentu saja Abdullah bin Sufyan tidaklah setingkat dengan Abdurrahman disebabkan

  • Abdullah bin Sufyan hanya dikenal melalui hadis ini artinya yang meriwayatkan darinya hanya satu orang yaitu Wahab bin Baqiyah, jadi ia berstatus majhul ‘ain.
  • Tidak ada satupun Ulama yang memberikan predikat ta’dil padanya sehingga bagaimana bisa ditentukan ‘adalahnya (keadilannya)
  • Terdapat Ulama seperti Al Uqaili dan Adz Dzahabi yang memasukkannya ke dalam daftar perawi dhaif.

Bagaimana mungkin Salafy dengan mudahnya berkata

Jika kita perhatikan perkataan para ahli hadits di atas terhadap ‘Abdullah bin Sufyaan, maka kritik mereka disebabkan karena kebersendiriannya dalam periwayatan. Jenis kelemahan ini biasa disebabkan karena keraguan atas kekuatan hapalannya – dan ia merupakan kelemahan yang ringan.

Perkataan ini mengandung kerancuan.Kebersendirian Abdullah bin Sufyan dalam periwayatan dinyatakan dhaifkarena tidak ada satupun ulama yang memberikan predikat ta’dil padanya(ditambah lagi hadisnya tidak diikuti)sehingga dalam hal ini kredibilitasnya tidak diakui. Ini saja sudah cukup untuk mengatakan sebab pendhaifan Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i bukan karena kelemahan pada hafalannya. Bagaimana bisa salafy mengatakan bahwacacat Abdullah bin Sufyan terletak pada hafalannyapadahal tidak ada yang memberikan predikat ta’dil padanya. Jika pernyataan ini disebabkan ketidaksengajaan maka itu adalah kekeliruan atau kecerobohan dan jika dilakukan dengan sengaja maka itu adalah sebuah kedustaan. Kelemahan Abdullah bin Sufyan jelas lebih parah dibanding Al Ifriqy lantas bagaimana bisa ia menjadi penguat bagi Abdurrahman Al Ifriqy.

Salafy mengutip pernyataan Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid1/448 no 899

رواه الطبراني في الصغير وفيه عبد الله بن سفيان قال العقيلي لا يتابع على حديثه هذا وقد ذكره ابن حبان في الثقات

Diriwayatkan Thabrani dalam As Shaghir dan didalamnya ada Abdullah bin Sufyan. Al Uqaili berkata “hadisnya tidak diikuti” dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat.

Pernyataan Al Haitsami layak diberikan catatan. Pernyataannya yang mengutip Al Uqaili benar adanya dan memang itulah yang tertulis dalam kitabAd Dhu’afa Al Uqaili2/262 no 815 tetapi kami tidak menemukan nama Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i dalam kitabAts Tsiqat Ibnu Hibban. Bahkan diantara ulama yang menyebutkan tentang Abdullah bin Sufyan tidak ada satupun yang mengutip pentsiqahan Ibnu Hibban.

  • Adz Dzahabi baik dalam kitabnyaMizan Al I’tidalno 4356 ,Mughni Ad Dhu’afano 3197 danDiwan Ad Dhu’afa Al Matrukinno 2187 tidak menyebutkan adanya pentsiqahan dari Ibnu Hibban, Adz Dzahabi hanya mengutip pencacatan Al Uqaili.
  • Ibnu Hajar dalamLisan Al Mizanjuz 3 no 1230 juga menyebutkan tentang Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i, Ibnu Hajar mengutip pencacatan Al Uqaili tetapi tidak sedikitpun menyebutkan kalau Ibnu Hibban memasukkannya dalamAts Tsiqat.

Kami berpandangan bahwa Al Haitsami keliru soal perkataannya bahwa Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i disebutkan dalamAts Tsiqat Ibnu Hibban(kecuali kalau salafy memang menemukannya dalam Ats Tsiqat, karena tidak menutup kemungkinan bahwa kami bisa juga keliru). Seandainya pula Ibnu Hibban memasukkan Abdullah bin Sufyan dalamAts Tsiqatmaka itu tidak akan menjadi hujjah apapun bagi Salafy karena sangat masyhur di kalangan salafy bahwaTautsiq Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat tidak menjadi hujjah jika ia menyendiri karena menurut Salafy, Ibnu Hibban sering memasukkan perawi-perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat.

Kesimpulan dari kedua sanad tersebut adalah sanad dengan Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqy adalah dhaif walaupun dikatakan karena hafalannya tetap saja hadisnya dhaif jika menyendiri alias tidak bisa dijadikan hujjah dan hanya bisa terangkat oleh perawi yang setingkat atau lebih baik darinya. Sedangkan sanad Abdullah bin Sufyan memiliki cacat yang lebih parah dari Al Ifriqy karena tidak ada satupun yang menta’dilkannya bahkan terdapat ulama yang memasukkannya sebagai perawi dhaif. Ditambah lagi jika kita menuruti cara kerja Salafy makahadis Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i juga mengandung illat dugaan inqitha’ karena tidak ditemukan tahun lahir dan tahun wafatnya dalam biografi perawi dan tidaklah diketahui penyimakan hadisnya dari Yahya bin Sa’id Al Anshari, bukankah bagi salafy ini sebuah cacat. Maka dari itu Pendapat yang benar adalahSanad Abdullah bin Sufyan tidak menaikkan status hadis Al Ifriqy.

.

.

Pembahasan Matan Hadis Al Ifriqy

Salafy membawa hujjah lain untuk menguatkan hadis ini yaitu hadis Irbadh bin Sariyyah, Hadis“berpegang teguh pada SunahKu dan Sunnah Khulafaur Rasydin yang mendapat petunjuk”.Hadis ini memang shahih tetapi menjadikan hadis ini sebagai penguat bagi hadis Al Ifriqy adalah kesimpulan yang prematur. Mari kita lihat perkataan Salafy

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
a. ‘Wajib atas kalian berpegang teguh terhadap Sunnahku’ (‘alaikum bi-sunnatii) adalah sama dengan ‘Apa-apa yang aku berada di atasnya’ (maa ana ‘alaihi);
b. ‘Dan sunnah Al-Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk’ (wa sunnatil-Khulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin) adalah sama dengan ‘Dan para shahabatku’ (wa ashhaabiy).

Bagi mereka yang berpikir kritis maka poin b itu jelas sekali rancu. Apa dasarnya mengatakan bahwaSunnah Khulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin yang dimaksud itu Para Sahabat?.Memangnya siapaKhulafaur Rasydinyang dimaksud dalam hadis Irbadh? Apakah itu adalah setiap sahabat Nabi? Atau hanya orang-orang tertentu. Jika memang khusus orang-orang tertentu maka mengapa dipukul rata untuk semua sahabat. Kemudian Apakah itu adalah Khalifah Abu Bakar RA, Umar RA dan Utsman RA?. Bagaimana bisa dikatakan bahwa sunnah mereka harus dipegang teguh jika sebagian perilaku mereka bertentangan dengan Sunah Nabi?. Contoh yang mudah adalah pelarangan haji tamattu yang justru dibolehkan secara mutlak oleh Rasulullah SAW. Perkara ini saja sudah cukup untuk mengugurkan bahwa sunah mereka tidak layak dipegang teguh.

Lagipula terlalu jauh menjadikan hadis Irbadh sebagai penguat. Itu namanya mencampuraduk umum dan khusus.Apakah para Sahabat itu semuanya menjadi khalifah?. Rasanya tidak, seandainya juga ada sahabat yang menjadi khalifah itu tidak membuatnya langsung dikatakan sebagai bagian dariKhulafaail-Mahdiyyiin Ar-Raasyidiin.Hal ini disebabkan sangat jelas bahwa sahabat yang menjadi khalifah itu sendiri sering menyatakan hal yang berbeda dan bertentangan satu sama lain. Jadi bagaimana mungkin berpegang pada hal-hal yang bertentangan.

Lafaz Hadis Al Ifriqy sudah jelas tidak bisa diterima.Para sahabat bukanlah hujjah dan kenyataannya terkadang para sahabat juga berselisih, melakukan kesalahan, yang bahkan ada diantara kesalahan tersebut berbau maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh, mencaci Ahlul Bait dan lain-lain. Dan kita tidak melupakan sejarah para sahabat dimana mereka berselisih sampai menyulut terjadinya perperangan. Semua fakta ini menunjukkan bahwa para sahabat bukanlah timbangan kebenaran dan justru perbuatan sahabat itu yang harus ditimbang dengan timbangan kebenaran yaitu Allah SWT dan RasulNya.

Keanehan Salafy yang lain adalah perkataan

Dan ini sama sekali tidak bertentangan dengan makna Al-Jama’ah sebagaimana dalam riwayat yang lain. Sebab, al-jama’ah yang pertama kali ada saat hadits ini diucapkan adalah jama’ah para shahabat radliyallaahu ‘anhum ajma’in.

Boleh-boleh saja kalau salafy mengatakan tidak bertentangan tetapi apa dasarnya bahwa Al Jama’ah itu para sahabat. Anehnya salafy seperti pura-pura tidak tahu bahwa hadis tersebut justru diucapkan dihadapan para sahabat dan untuk sahabat juga. Jika Al Jama’ah yang dimaksud adalah para sahabat bukankah jauh lebih tepat kalau redaksinya“Apa Yang Aku dan Kalian Ada Di Atasnya”.Jika Al Jama’ah yang dimaksud adalah para sahabat maka patutlah kita bertanyaapakah pada zaman sahabat sudah terdapat 73 firqah yang dimaksud?.Jika ada dan yang selamat adalah Al Jama’ah yaitu para sahabat maka ini mengandung kontradiksi. Karena jika Para sahabat itu Al Jama’ah yang dimaksud maka bagaimana mungkin bisa ada firqah-firqah diantara sahabat, lha sahabat itu sendiri Al Jama’ah yang dimaksud. Jika firqah yang dimaksud akan ada sampai akhir zaman maka tidak ada alasan bagi salafy untuk mengkhususkan Al Jama’ah pada para Sahabat Nabi, bisa saja Al Jama’ah yang dimaksud juga berasal dari kalangan Umat Islam yang bukan Sahabat Nabi. Sungguh berkutat dalam pemaksaan seperti ini hanya membuahkan asumsi-asumsi yang membutuhkan banyak bukti. Bagi kami Pernyataan yang lebih bernilai soal Al Jama’ah telah disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwaAl Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun sendirian.

Mengenai perkataan salafy bahwa Sahabat adalah generasi yang terbaik maka cukuplah dikatakan bahwa ada pulaMereka yang lebih baik dari Sahabat Nabi.Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalamMusnad Ahmadjuz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan beliau menshahihkannya

أبو جمعة قال تغدينا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ومعنا أبو عبيدة بن الجراح قال فقال يا رسول الله هل أحد خير منا اسلمنا معك وجاهدنا معك قال نعم قوم يكونون من بعدكم يؤمنون بي ولم يروني

Dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”

Kalau mengikuti cara berhujjah salafy maka bukankah bisa juga dikatakan kalauAl Jama’ah itu adalah mereka Umat Islam yang beriman kepada Nabi SAW tetapi tidak bertemu Nabi SAWdengan kata lain bukan Sahabat Nabi. Lha mereka bahkan lebih baik dari Sahabat Nabi SAW berdasarkan hadis di atas.

Terakhir masalah penukilan pendapat ulama seperti Al Iraqi, Ibnu Katsir dan Al Albani yang telah menghasankan hadis Al Ifriqy, semua itu adalah sikap tasahul yang tidak berpegang pada dalil atau hanya cenderung pada keyakinan semata. Telah berlalu penjelasan kami atas dhaifnya sanad hadis tersebut. Pernyataan Hasan mereka bisa jadi dikarenakan

  • Mereka menjadikan hadis Iftiraq Al Ummah yang lain sebagai penguat yang mengangkat hadis Al Ifriqy. Sudah jelas ini keliru karena lafaz yang kita permasalahkan (Apa yang Aku dan Para SahabatKu Ada Di Atasnya) tidak ada pada riwayat Iftiraq Al Ummah yang bersanad shahih.
  • Mereka menganggap hadis Al Ifriqy dan hadis Abdullah bin Sufyan Al Khuza’i sebagai saling menguatkan sehingga statusnya menjadi hasan lighairihi. Telah kami tunjukkan bahwa hal ini keliru, hadis Abdullah bin Sufyan kedhaifannya lebih parah dari Al Ifriqy sehingga jelas tidak bisa menguatkannya.

Karena mereka meyakininya maka mereka memudahkan dalam menguatkan hadis tersebut. Anehnya jika ada hadis lain yang mengecam sahabat tak peduli sekuat apapun sanadnya atau sebanyak apapun sanadnya tetap harus ditolak dan dinyatakan palsu. Sungguh Antagonisme yang aneh. Tulisan berikutnya mungkin akan membahas salah satu hadis yang sering dinyatakan palsu padahal sanadnya jauh lebih kuat dari sanad hadis“Apa Yang Aku dan Para SahabatKu ada di Atasnya”.Mari kita lihatakankah Salafy menyatakan hadis tersebut hasan lighairihiataumalah bersemangat menyatakan hadis tersebut palsu. =============================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Berzina

Pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab terdapat kasus dimanaseorang Sahabat Nabi telah dikatakan oleh beberapa orang bahwa ia telah berzina.Pada mulanya ada 4 orang saksi yang menyaksikan tetapi satu orang saksi ternyata tidak yakin dengan peristiwa tersebut. Sahabat yang dimaksud adalah Mughirah bin Syu’bah sedangkan yang bersaksi adalah Abu Bakrah, Nafi’, Syibil bin Ma’bad dan Ziyad bin Abihi. Dua diantara mereka adalah sahabat Nabi yaitu Abu Bakrah dan Nafi’.

Diriwayatkan Al Hafiz Abu Bakar Baihaqi dalamSunan Baihaqi8/234 no 16819 dari Qusamah bin Zuhair

عن قسامة بن زهير قال لما كان من شأن أبي بكرة والمغيرة الذي كان وذكر الحديث قال فدعا الشهود فشهد أبو بكرة وشبل بن معبد وأبو عبد الله نافع فقال عمر رضي الله عنه حين شهد هؤلاء الثلاثة شق على عمر شأنه فلما قام زياد قال إن تشهد إن شاء الله إلا بحق قال زياد أما الزنا فلا أشهد به ولكن قد رأيت أمرا قبيحا قال عمر الله أكبر حدوهم فجلدوهم قال فقال أبو بكرة بعد ما ضربه أشهد أنه زان فهم عمر رضي الله عنه أن يعيد عليه الجلد فنهاه علي رضي الله عنه وقال إن جلدته فارجم صاحبك فتركه ولم يجلده

Dari Qusamah bin Zuhair yang berkata “Ketika ada permasalahan antara Abu Bakrah dengan Mughirah dan dilaporkan maka kemudian Umar meminta kesaksian. Abu Bakrah, Syibil bin Ma’bad, dan Abu Abdullah Nafi’ memberikan kesaksian. Umar berkata setelah mereka memberikan kesaksian, “Masalah ini membuat Umar dalam kesulitan”. Kemudian Ziyad datang, Umar berkata kepadanya, “bersaksilah insya Allah kecuali yang haq” . Maka Ziyad berkata, “Adapun zina, maka aku tidak menyaksikan dia berzina. Namun aku melihat sesuatu yang buruk”. Umar berkata, “Allahu Akbar, hukumlah mereka”. Oleh karena itu dicambuklah mereka bertiga. Kemudian setelah dicambuk oleh Umar, Abu Bakrah berkata, “ Saya bersaksi bahwa sesungguhnya dia Mughirah berzina”. Umar RA hendak mencambuknya lagi, namun Ali RA mencegahnya seraya berkata kepada Umar, “Jika engkau mencambuknya lagi, maka rajamlah sahabatmu itu”. Maka Umar mengurungkan niatnya dan tidak mencambuk Abu Bakrah lagi”.

Hadis ini adalah salah satu dari sekian banyak hadis dalam masalah ini dan hadis riwayat Baihaqi ini telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalamIrwa Al Ghalil8/37. Abu Bakrah RA adalah salah seorang Sahabat Nabi SAW sebagaimana yang diebutkan Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/251 dan dia dengan jelas bersaksi menyatakan bahwaMughirah bin Syu’bah telah berzina.Kenyataan ini hanya memiliki dua kemungkinan.Abu Bakrah benar akan kesaksiannya sehingga dalam hal ini Mughirah memang berzinaatau malahMughirah tidak berzina sehingga dalam hal ini Abu Bakrah telah memberikan kesaksian palsu.Sebelumnya mari perhatikan hadis berikut dalamShahih Muslim tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi1/91 no 143 (87)

حدثني عمرو بن محمد بن بكير بن محمد الناقد حدثنا إسماعيل بن علية عن سعيد بن الجريري حدثنا عبدالرحمن بن أبي بكرة عن أبيه قال كنا عند رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ( ثلاثا ) الإشراك بالله وعقوق الوالدين وشهادة الزور ( أو قول الزور ) وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم متكئا فجلس فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Muhammad bin Bakir bin Muhammad Naqid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ulayyah dari Sa’id bin Al Jurairi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Ayahnya (Abi Bakrah) yang berkata “kami berada di sisi Rasulullah SAW, kemudian Beliau bersabda “Perhatikanlah Aku akan memberitahukan pada kalian dosa yang terbesar (beliau mengulanginya tiga kali) yaitu Menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orang tua dan kesaksian palsu (atau ucapan dusta). Rasulullah yang semula bersandar kemudian duduk, Beliau mengulang-ngulang perkataannya sehingga kami berkata “semoga Beliau berhenti”.

Abu Bakrah RA adalah sahabat Nabi yang mendengar dan meriwayatkan langsung dari Nabi SAW bahwaKesaksian palsu adalah dosa terbesar,oleh karenanya wajar jika diasumsikan jauh kemungkinannya bahwa Beliau akan bersaksi palsu. Ditambah lagi jika kita melihat hadis riwayat Baihaqi bahkan setelah dihukum cambukpunAbu Bakrah tetap berkeras pada kesaksiannya kalau Mughirah bin Syu’bah berzina.Tentu saja dalam masalah ini Mughirah terlepas dari hukuman karena Ziyad merubah kesaksiannya artinya saksi itu tidak mencukupi empat orang.

Ziyad dalam kisah ini adalahZiyad bin Abihiorang yang di kemudian hari menjadi saudara Muawiyah dimana Muawiyah telah menetapkan nasabnya yaituZiyad bin Abi Sufyan,hal ini juga salah satu penyimpangan syariat yang dilakukan Muawiyah.Abu Bakrah dan Nafi’ adalah sahabat Nabi yang sudah jelas mengetahui bahwa dalam perkara zina kesaksian yang dibutuhkan adalah empat orang jika tidak maka yang bersaksi akan dikenakan hukuman bersaksi palsu.Oleh karena itu keberanian mereka berdua bersaksi atas Mughirah menunjukkan bahwa mereka berempat Abu Bakrah, Nafi, Syibil dan Ziyad memang menyaksikan hal yang sama. Tetapi kemudian Ziyad menyatakan kesaksian yang berbeda dengan ketiga orang lainnya yaituia tidak menyaksikan Mughirah berzina tetapi menyaksikan sesuatu yang buruk.Anehnya,apa sesuatu yang buruk itusendiri tidak dijelaskan lebih lanjut. Kalau memang harus ada yang dituduh maka jauh lebih mungkin untuk dikatakankalau Ziyad yang berdustadaripada mengatakan kalauAbu Bakrah bersaksi palsu.Jadi dalam hal iniMughirah bin Syu’bah dikatakan telah berzina berdasarkan kesaksian Abu Bakrah RA.

============================================================================

Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Musnad Ahmad

Muawiyah dikabarkan meminum minuman yang diharamkan oleh Rasulullah SAW dan mengajak orang lain untuk meminumnya. Tindakan seperti ini jelas termasuk penyimpangan yang mesti diluruskan. Diriwayatkan Imam Ahmad dalamMusnad Ahmad5/347 no 22991

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Ayahku berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata dalamtahqiq Musnad Ahmadbahwahadis ini sanadnya kuat. DalamSyarh Musnad Ahmadtahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain disebutkan kalau sanadnya shahih. Al Haitsami menyebutkan hadis ini dalamMajma Az Zawaid5/54 no 8022 dan mengatakanhadis ini telah diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah perawi shahih. =======================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orangterkadang mengundang tanda tanya bagiorang yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwasahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia.Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwadiantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitabShahih Muslim4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKuada dua belas orang munafik.Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadisShahih Muslimdi atas menyatakan bahwaRasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik.Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolakada sahabat Nabi munafikmengatakan bahwa hadisShahih Muslimdi atas menceritakanbahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKuada dua belas orang munafikyang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadisShahih Muslimdiatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabitidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakanDi antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakanDiantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakanbahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi.Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kataSahabatKuadalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kataUmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalahdiantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik.Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafazSahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan.

==========================================================================

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Fasiq Dalam Al Qur’anul Karim

Allah SWT telah mengingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap setiap kabar yang disampaikan oleh orang Fasik dan harus diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Karena barangsiapa mengambil keputusan berdasarkan keterangan orang fasik tersebut dimana pada saat itu orang fasik tersebut telah berdusta atau keliru maka itu berarti telah mengikuti jalan kerusakan. Padahal Allah SWT telah melarang kita umat islam untuk mengikuti jalan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujurat 6-8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahulilah olehmu bahwa diantaramu ada Rasulullah. Kalau Ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan maka benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.

Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan denganWalid bin Uqbah bin Abi Mu’ithyang diutus Rasulullah SAW untuk mengambil sedekah atau zakat dari bani Musthaliq.Walid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam ayat di atas. Hal ini telah diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dalamMusnad Ahmad4/279

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن سابق ثنا عيسى بن دينار ثنا أبي انه سمع الحرث بن ضرار الخزاعي قال قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فدعاني إلى الإسلام فدخلت فيه وأقررت به فدعاني إلى الزكاة فأقررت بها وقلت يا رسول الله أرجع إلي قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجاب لي جمعت زكاته فيرسل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم رسولا لإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة فلما جمع الحرث الزكاة ممن استجاب له وبلغ الإبان الذي أراد رسول الله صلى الله عليه و سلم ان يبعث إليه احتبس عليه الرسول فلم يأته فظن الحرث أنه قد حدث فيه سخطة من الله عز و جل ورسوله فدعا بسروات قومه فقال لهم إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان وقت لي وقتا يرسل إلى رسوله ليقبض ما كان عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه و سلم الخلف ولا أرى حبس رسوله الا من سخطة كانت فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه و سلم وبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم الوليد بن عقبة إلى الحرث ليقبض ما كان عنده مما جمع من الزكاة فلما أن سار الوليد حتى بلغ بعض الطريق فرق فرجع فأتى رسول الله صلى الله عليه و سلم وقال يا رسول الله إن الحرث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم البعث إلى الحرث فأقبل الحرث بأصحابه إذ استقبل البعث وفصل من المدينة لقيهم الحرث فقالوا هذا الحرث فلما غشيهم قال لهم إلى من بعثتم قالوا إليك قال ولم قالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله قال لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته بتة ولا أتاني فلما دخل الحرث على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال لا والذي بعثك بالحق ما رأيته ولا أتاني وما أقبلت إلا حين احتبس علي رسول رسول الله صلى الله عليه و سلم خشيت أن تكون كانت سخطة من الله عز و جل ورسوله قال فنزلت الحجرات { يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين } إلى هذا المكان { فضلا من الله ونعمة والله عليم حكيم }

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Isa bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku bahwa ia pernah mendengar Al Harits bin Dhirar Al Khuza’i bercerita “Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW , Beliau mengajakku masuk islam maka aku memeluk islam dan mengikrarkannya. Kemudian Beliau mengajakku mengeluarkan zakat, aku menunaikannya dan berkata “Ya Rasulullah aku akan pulang kepada kaumku dan akan kuajak mereka memeluk islam dan mengumpulkan zakat. Siapa saja yang mengikuti seruanku maka akan kuambil zakatnya dan kirimkanlah Utusan kepadaku Ya Rasulullah pada waktu begini dan begini untuk membawa zakat yang telah kukumpulkan itu. Setelah Al Harits mengumpulkan zakat dari kaumnya yang mengikutinya dan telah sampai masa datangnya utusan Rasulullah SAW ternyata utusan tersebut tertahan di jalan dan tidak datang menemuinya. Al Harits mengira bahwa telah turun kemurkaan Allah dan RasulNya kepada dirinya. Ia pun mengumpulkan pembesar kaumnya dan berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan waktu kepadaku dimana Beliau akan mengirim utusan untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, sungguh tidak pernah Rasulullah SAW menyalahi janji dan aku takut ini karena murka Allah. Oleh karena itu marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah.Adapun Rasulullah SAW telah mengutus Walid bin Uqbah menemui Al Harits untuk mengambil zakat yang dikumpulkannya. Ketika Walid berangkat di tengah perjalanan ia merasa takut dan kembali pulang lalu menemui Rasulullah SAW seraya berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Al Harits menolak memberikan zakat kepadaku bahkan ia bermaksud membunuhku”.Maka Rasulullah SAW mengirim utusan lain kepada Al Harits dan Al Harits berserta sahabatnya juga berangkat. Ketika utusan Rasul keluar kota Madinah dan bertemu Al Harits , mereka berkata “inilah Al Harits”. Al Harits menghampiri dan berkata “kepada siapa kalian diutus?”. Mereka menjawab “kepadamu”. “Untuk apa kalian diutus kepadaku?” Tanya Al Harits.Mereka menjawab “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan ia mengaku bahwa kau menolak membayar zakat bahkan mau membunuhnya”. Al Harits berkata “Tidak benar, demi Rabb yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku”.Setelah Al Harits menghadap Rasulullah SAW, Beliau bertanya “Apakah kau menolak membayar zakat dan hendak membunuh utusanKu?”.Ia menjawab “Tidak, demi Rabb yang telah mengutusMu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku dan aku tidak datang kepadaMu melainkan ketika utusanMu tidak datang aku takut datangnya kemarahan Allah dan RasulNya. Pada saat itulah turun ayat Al Hujurat {Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.} sampai {sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.}
.

.

Kedudukan Hadis
Hadis ini memilikisanad yang jayyid (baik). Al Hafiz As Suyuthi dalamLubabun Nuqul Fi Asbabun Nuzulsurah Al Hujurat ayat 6 berkata

أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحرث بن ضرار الخزامي

Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang jayyid dari Harits bin Dhirar Al Khuza’i.

Kemudian Al Hafiz Suyuthi menyebutkan riwayat tersebut setelah itu ia berkata

رجال إسناده تقات

Para perawi sanad ini tsiqat

Al Haitsami dalamMajma’ Az Zawaid7/238 hadis no 11352 juga membawakan hadis ini dan mengatakan bahwapara perawi Ahmad tsiqat.Ibnu Katsir dalamTafsir Ibnu Katsir7/370 ketika menafsirkan Al Hujurat ayat 6 telah membawakan hadis ini dan beliau menyatakanbahwa hadis ini hasan.DalamMusnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zainhadis no 18371 disebutkan bahwa“sanadnya shahih”.Pentahqiq kitabLubabun NuqulAbdurrazaq Mahdi juga mengakuibahwa sanad hadis ini jayyiddalam keterangannya terhadap riwayat no 1014.

Jika kita melihat kitab-kitab biografi para perawi hadis maka dapat diketahui bahwaWalid bin Uqbah ini adalah seorang sahabat Nabi, Ibnu Hajar dalamAt Taqrib2/287 menyebutkan bahwaWalid bin Uqbah adalah sahabat Nabi.Padahal telah jelas disebutkan di atas bahwaWalid bin Uqbah adalah orang fasik yang dimaksud dalam Al Hujurat ayat 6.Dan dalam riwayat di atas kita lihat bahwaWalid bin Uqbah salah seorang sahabat Nabitelah berkata dusta kepada Rasulullah SAW.Apakah ini berarti seorang Sahabat Nabi bisa saja dikatakan fasik dan bisa saja ia berdusta kepada Rasulullah SAW?.Silakan direnungkan

==============================================================================

Tragedi Kamis Kelabu : Mengungkap Kekeliruan Salafy

Salah satu situs salafy telah berpanjang lebar membahas tentang“Tragedi Kamis Kelabu”.Setelah kami baca maka kami dapati bahwa apa yang ia tulis adalah pembahasan liar yang tidak objektif dan hanya bertujuan membantah setiap apa yang dikatakan Syiah. Begitu bersemangatnya situs itu menulis bantahan terhadap Syiah sehingga ia terjerumus ke dalam kedustaan [yang mungkin ia sadari atau mungkin juga tidak]. Pembahasan yang kami tulis ini tidak dalam rangka membela apa yang menjadi hujjah Syiah melainkan untuk meluruskan kedustaan [yang selanjutnya akan kami sebut dengan kekeliruan] atau talbis yang terdapat dalam pembahasan situs salafy tersebut.

Kekeliruan pertama situs tersebut adalah perkataannya bahwa Nabi SAW pingsan atau tidak sadarkan diri dalam “tragedi kamis kelabu”. Berikut perkataan keliru yang ia tulis

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta kertas dan tinta untuk menuliskan (mendiktekan) beberapa nasehat agama bagi kaum muslimin. Tetapi, tiba-tiba setelah meminta kertas dan tinta, Nabi pingsan dan tidak sadarkan diri. Ketika Nabi terbaring tidak sadar, seseorang bangkit mengambil kertas dan tinta, tetapi Umar bin Khattab memanggil kembali orang tersebut. Umar merasa bahwa mereka seharusnya tidak mengganggu Nabi dengan meminta beliau untuk menuliskan nasehat, tetapi mereka seharusnya membiarkan beliau untuk mendapatkan kesadaran beliau kembali, beristirahat, dan menjadi pulih kembali. Oleh karena itu, Umar berkata kepada kaum Muslimin yang lain : “Nabi sedang sakit parah dan kalian mempunyai Al-Qur’an, Kitabullah sudah cukup buat kita”.

Bukti kekeliruan perkataan ini adalahtidak ada satupun riwayat shahih yang menunjukkan bahwa Nabi SAW tidak sadarkan diri atau pingsanseperti yang dikatakan penulis tersebut. Bahkan riwayat-riwayat shahih menunjukkan kalau Nabi SAW benar-benar dalam keadaan sadar.

عن ابن عباس قال لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي البيت رجال فيهم عمر ابن الخطاب فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( هلم أكتب لكم كتابا لا تضلون بعده ) فقال عمر إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قد غلب عليه الوجع وعندكم القرآن حسبنا كتاب الله فاختلف أهل البيت فاختصموا فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( قوموا ) قال عبيدالله فكان ابن عباس يقول إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم

Dari Ibnu Abbas yang berkata “Ketika ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir tiba dan di dalam rumah beliau ada beberapa orang diantara mereka adalah Umar bin Khattab. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “berikan kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian wasiat, agar kalian tidak sesat setelahnya”. Kemudian Umar berkata “sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dikuasai sakitnya dan di sisi kalian ada Al-Qur’an, cukuplah untuk kita Kitabullah” kemudian orang-orang di dalam rumah berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata, “berikan apa yang dipinta Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan”. Sebagian lainnya mengatakan sama seperti ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata “menyingkirlah kalian” Ubaidillah berkata Ibnu Abbas selalu berkata “musibah yang sebenar-benar musibah adalah penghalangan antara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan penulisan wasiat untuk mereka disebabkan keributan dan perselisihan mereka”[Shahih Muslim no 1637]

ابن عباس رضي الله عنهما يقول يوم الخميس وما يوم الخميس، ثم بكى حتى بل دمعه الحصى، قلت يا أبا عباس ما يوم الخميس؟ قال اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه، فقال (ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا). فتنازعوا، ولا ينبغي عند نبي تنازع، فقالوا ما له أهجر استفهموه؟ فقال (ذروني، فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه)

Ibnu Abbas RA berkata “hari kamis, tahukah kamu ada apa hari kamis itu?. Ibnu Abbas menangis hingga air matanya mengalir seperti butiran kerikil. Kami berkata “hai Abul Abbas ada apa hari kamis?. Ia menjawab “Hari itu sakit Rasulullah SAW semakin berat, kemudian Beliau SAW bersabda “Berikan kepadaku kertas, aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya. Kemudian mereka berselisih, padahal tidak sepantasnya terjadi perselisihan di sisi Nabi. Mereka berkata “beliau sedang menggigau, tanyakan kembali tentang ucapan beliau tersebut?. Namun Rasulullah SAW bersabda “Tinggalkanlah aku. Sebab keadaanku lebih baik daripada apa yang kalian ajak”[Shahih Bukhari no 2997]

Kedua hadis di atas dan hadis-hadis lainnya membuktikan bahwa Nabi SAW benar-benar dalam keadaan sadar ketika terjadi peristiwa tersebut. Setelah Nabi SAW meminta kertas dan terjadi perselisihan diantara sahabat Nabi, Rasulullah SAW saat itu masih sadar sehinggabeliau SAW menyuruh mereka keluarkarena tidak pantas terjadi perselisihan di sisi Nabi SAW. Begitu pula ketika sebagian sahabat mengatakanNabi SAW menggigau dan meminta untuk menanyakan kembali kepada Nabi SAW. Nabi SAW malah menjawab mereka agar mereka menyingkir dan mengatakan bahwakeadaan Beliau lebih baik dari apa yang mereka serukan. [Memang perkataan “menggigau” sangat tidak pantas dalam peristiwa ini]

Penulis yang “aneh” itu malah menghiasi kekeliruannya dengan basa-basi untuk mengecoh kaum awam. Ia membuat analogi untuk kisah ini yaituseorang guru yang tiba-tiba pingsan setelah meminta muridnya agar membawa kapur tulis. Menurutnya tidak masuk akal ketika guru siuman, sang murid menyodorkan kapur tulis. Kami katakan bahwa argumen ini jelas argumen yang skizofrenik. Membuat asumsi sendiri kemudian mencari-cari analogi untuk asumsi yang ia buat sendiri. Rasulullah SAW memang dalam kondisi sakit tetapi Beliau SAW dalam kondisi sadar, Beliau mengetahui dengan jelas bahwa para sahabat beliau sedang berkumpul di sisi Beliau. Beliau dalam kondisi sadar saat mengatakan“aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya”. Beliau dalam kondisi sadar sehingga dengan jelas mengetahui perselisihan yang terjadi sehingga menyuruh mereka keluar. Beliau SAW dalam kondisi sadar untuk menjawab mereka yang mengira beliau menggigau dan dengan jelas beliau mengatakan keadaan beliau lebih baik dari apa yang mereka katakan. Maka kita lihat betapa batilnya analogi yang diserupakan penulis tersebut. Penulis itu juga berkata

Sesudah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meminta kertas dan tinta, beliau pingsan dengan tiba-tiba dan itulah sebabnya Umar ra meminta kepada orang-orang untuk tidak jadi mengambil kertas dan tinta karena Nabi sedang dalam keadaan sakit berat. Itu adalah merupakan pendapat Umar ra (dan tentunya kami sependapat dengan beliau), adalah merupakan sebuah kejahatan mengganggu Nabi dalam keadaan seperti itu.

Penulis ini terlalu bersemangat mensucikan kesalahan Umar sehingga ia tidak menyadari betapa perkataannya telah menuduh para sahabat lain. Jika ia beranggapan merupakan sebuah kejahatah mengganggu Nabi dalam keadaan seperti itu, maka bagaimana dengan sebagian sahabat yang memang ingin memenuhi permintaan Nabi. Apakah perbuatan sebagian sahabat itu bisa disebut “kejahatan”. Ditambah lagi orang lain pun bisa berbasa-basi,Kalau memang kondisi Nabi SAW sakit berat sehingga beliau tidak sadar dan pingsan atau membutuhkan banyak istirahat maka mengapa mereka para sahabat berkumpul di rumah Nabi SAW. Bukankah kalau menuruti gaya berbasa-basi penulis, orang yang sakit membutuhkan istirahat yang tenang, lihat saja di rumah sakit jumlah pengunjung yang membesuk saja dibatasi dan tidak boleh membuat keributan. Jadi bukankah seharusnya para sahabat membiarkan Nabi SAW beristirahat dengan tenang bukannya berkerumun sampai akhirnya maaf terjadi keributan.

Sudah jelas pemicu keributan itu adalah perkataan Umar. Seandainya Umar diam dan para sahabat memenuhi permintaan Nabi maka tidak akan ada keributan. Memenuhi permintaan Nabi SAW itu jelas tidak membuat kesusahan bagi Nabi SAW. Saat itu Nabi SAW dalam kondisi sadar sehingga beliau bisa berbicara dengan jelas, jadi jika para sahabat membawakan kertas dan tinta maka mungkin beliau akan mendiktekan sesuatu dan meminta salah seorang sahabat menuliskannya. Mendiktekan sesuatu sama halnya dengan berbicara, jika Nabi SAW bisa berbicara“meminta kertas dan tinta”atau“mengusir para sahabat keluar”atau“membantah mereka yang mengatakan beliau menggigau”maka Nabi SAW jelas bisa berbicara untuk mendiktekan wasiat Beliau SAW.

Dan yang paling lucu adalah analogi yang dibuatnya yaitu ketika seorang ayah mendapat serangan jantung setelah meminta anaknya membawakan remote TV. Ya ampun betapa lucunya talbis yang ia buat. Dari analogi ini ia menginginkan perkataan

Secara akal sehat, permintaan Nabi akan kertas dan tinta tidak relevan lagi, sebagai mana faktanya ketidaksadaran beliau harus diambil tindakan terlebih dahulu daripada permintaan beliau tersebut. Jika Nabi dalam keadaan sehat, dan meminta diambilkan kertas dan tinta, tetapi orang-orang menolaknya, maka situasi akan berbeda. Tetapi di sini, Nabi tidak sadarkan diri setelah permintaan tersebut dan itu merubah situasi seluruhnya.

Kita telah tunjukkan bahwa perkataannya soalNabi SAW tidak sadarkan dirihanyalah perkataan yang dibuat-buat. Menurut akal sehatnyapermintaan Nabi SAW itu sudah tidak relevandan dengan ini yang ia inginkan adalah menunjukkan bahwaapa yang dilakukan Umar adalah perbuatan yang terbaik saat itu. Salafy memang terlalu bersemangat dalam membela sahabat bahkan demi membela sahabat mereka tidak segan-segan mengatakan“permintaan Nabi SAW sudah tidak relevan lagi”. Alhamdulillah akal sehat kami tidaklah seperti akal sehat penulis tersebut, bagi kami perkataan Nabi SAW itu adalah bentuk kecintaan Beliau kepada umatnya dan perkataan Umar adalah perkataan yang keliru dan tidak pantas karena pada akhirnya perkataan Umar malah menyulut terjadinya perselisihan dan keributan. Kami tidaklah ghuluw dalam membela sahabat Umar, kami tidaklah membenci sahabat Umar tetapi kami menyikapi sahabat secara objektif. Jika sahabat menyelisihi Rasul SAW maka kami memilih Rasulullah SAW.

Pembaca yang tanggap seharusnya mempertimbangkan bahwa pada hari Kamis Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakit yang lebih parah daripada sebelumnya, dan mungkin hal ini sebabnya sehingga beliau meminta untuk dibawakan kertas dan tinta karena beliau sedang mengalami kesulitan bicara dengan keras dan beliau menghendaki untuk mendikte dengan pelan apa yang mesti ditulis oleh orang yang paling dekat dengan beliau sehingga mereka dapat menyampaikannya kepada yang lain. Kita melihat bahwa saat itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit yang tak tertahankan dan tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyaman; itulah alasan mengapa Umar bin Khattab ra berharap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara seperti itu agar beliau tidak perlu merasakan sakit.

Pembaca yang tanggap akan melihat bahwa baru sebentar saja penulis itu sudah mengalami tanaqudh. Sekarang ia mengatakan bahwaNabi SAW mengalami sakit tak tertahankan dan tidak dapat berbicara melainkan dengan rasa sakit dan tidak nyamansehingga ini menjadi alasan bagi Umar untuk menolak permintaan Nabi SAW. Padahal sebelumnya dengan lugas sekali, penulis berkata

Umar bin Khattab berpikir – dan ini adalah benar – bahwa permintaan akan kertas dan tinta tidak berlaku lagi sekarang karena Nabi sedang pingsan. Umar merasa mereka seharusnya membiarkan Nabi beristirahat.

Sungguh mengagumkan betapa penulis ini benar-benar mengetahui baikapa yang dipikirkan Umaratauapa yang benar-benar dirasakan Nabi SAW. Semua perkataan penulis hanya bertujuan untuk membela Umar, ia tidak sedikitpun memikirkan apakah perkataannya saling bertentangan satu sama lain.

Umar merasa – dan kami setuju dengannya – bahwa permintaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat dilakukan lagi sehubungan dengan kenyataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang tak sadarkan diri. Ini bukan masalah ketidaktaatan tetapi merupakan ijtihad sederhana Umar bahwa permintaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi dapat dilakukan dalam situasi seperti itu (Nabi sedang tidak sadarkan diri). Lebih jauh, posisi Umar adalah berdasarkan cintanya yang dalam kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dia tidak suka melihat beliau dalam keadaan kesakitan dan menderita.

Perkataan ini hanyalah basa-basi yang tidak sedikitpun bernilai hujjah. Kita yakin bahwapara sahabat mencintai Nabi SAW tidak hanya Umar. Kalau kita berbicara soal benar atau tidak maka tidak cukup hanya mengandalkan“cinta yang dalam”.Apakah para sahabat yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAW tidak memiliki“cinta yang dalam”kepada Nabi SAW?. Kami yakin mereka juga punya dan karena kecintaan mereka yang begitu besarlah mereka ingin memenuhi permintaan Nabi SAW. Tidak sedikitpun mereka ingin menyusahkan Nabi, mereka akan berusaha agar permintaan Nabi SAW dipenuhi tanpa menyusahkan Beliau SAW.

Untuk menguatkan hujjahnya bahwa Nabi SAW pingsan atau tidak sadarkan diri, dengan terpaksa penulis itu berhujjah atau memanfaatkan kitab Syiah yang biasa ia dustakan. Sungguh betapa mengagumkan. Kenapa? Tentu saja karena ia tidak bisa menemukan bukti dalam kitab yang menjadi rujukannya. Kami perhatikan, penulis ini sangat lemah sekali dalam metodologi tetapi benar-benar bersemangat dalam berbasa-basi. Kami lihat ia dengan mudahnya mengutip riwayat tanpa membuktikan apakah riwayat yang ia kutip shahih atau tidak. Diantaranya ia mengutip kitabTarikh At Tabari,Sirah Ibnu Ishaqdan kitabAl Irsyad.Apakah semua riwayat dalam kitab tersebut shahih? Apalagi nukilannya dari kitab Syiah? Kami heran bagaimana menyikapinya. Kalau sekedar asal menukil maka siapapun bisa, bahkan cukup banyak nukilan yang akan membatalkan semua hujjahnya diantaranya

عن عمر بن الخطاب قال كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم وبيننا وبين النساء حجاب فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم اغسلوني بسبع قرب وأتوني بصحيفة ودواة أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا فقال النسوة ائتوا رسول الله صلى الله عليه وسلم بحاجته قال عمر فقلت اسكتهن فإنكن صواحبه إذا مرض عصرتن أعينكن وإذا صح أخذتن بعنقه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هن خير منكم

Dari Umar bin Khattab yang berkata “kami berada di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wassalam dan terdapat hijab diantara kami dan para wanita. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam bersabda “basuhlah aku dengan tujuh kantung air dan bawakan kepadaku kertas dan tinta, aku akan tuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak tersesat setelahnya selama-lamanya. Para wanita berkata “penuhilah permintaan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam. Umar berkata “diamlah kamu seperti wanita Yusuf, jika Beliau sakit kamu menangisinya, dan jika Beliau sehat kamu membebaninya. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam bersabda “mereka [para wanita] lebih baik dari kamu”[Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/371]

Adakah dari nukilan diatas Nabi SAW pingsan atau tidak sadar?..Bahkan Nabi SAW membela para wanita dan mengatakan kalau mereka lebih baik dari Umar dan sahabat yang sependapat dengan Umar. Kenapa? Karena para wanita tersebut mengatakan “penuhilah permintaan Nabi SAW”. Kalau cuma sekedar kutip-mengutip riwayat maka kami katakan akan ada banyak sekali kutipan yang membatalkan semua hujjah penulis tersebut..Keanehan lain dari penulis salafy itu adalah pembahasan kata “menggigau”. Kami melihat apa yang ia katakan soal “menggigau” hanyalah basa-basi yang tidak sedikitpun bernilai hujjah.

dalam konteks hadits, kata tersebut digunakan dalam memaknai seseorang yang pergi atau berangkat dari keadaan pikirannya yang asli; lebih spesifik, istilah ini dikenakan kepada orang yang memisahkan diri dari manusia dan dunia, seperti dalam keadaan kehilangan kesadaran. Dengan kata lain, orang yang bertanya “apakah Nabi mengigau” tidak berarti bahwa Nabi berbicara tanpa akal sehat atau beliau telah gila. Tetapi, lelaki tersebut hanya bertanya apakah Nabi dalam keadaan sadar atau tidak, dan kita tahu dari cerita syaikh Mufid mengenai kejadian tersebut bahwa Nabi dalam keadaan tidak sadar.

Telah disebutkan dalam riwayat shahih bahwa Nabi SAW dalam kondisi sadar ketika mengucapkan permintaan Beliau“Berikan kepadaku kertas, aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya”. Setelah Nabi SAW berkata seperti ini maka diantara sahabat muncul berbagai respon diantaranyaMereka yang ingin memenuhi permintaan Nabi SAWdanmereka yang terpengaruh dengan perkataan Umarbahwa Nabi SAW dikuasai sakitnya dan cukuplah Kitab Allah. Diantara mereka yang terpengaruh ucapan Umar itu ada yang mengatakan Nabi SAW menggigau dan mau menanyakan kembali kepada Nabi SAW

عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس ثم جعل تسيل دموعه حتى رأيت على خديه كأنها نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( ائتوني بالكتف والدواة ( أو اللوح والدواة ) أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يهجر

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA berkata “hari kamis, tahukah kamu ada apa hari kamis itu kemudian Ibnu Abbas menangis hingga aku melihat air matanya mengalir seperti butiran mutiara. Ibnu Abbas berkata Rasulullah SAW bersabda “Berikan kepadaku tulang belikat dan tinta aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya. Kemudian mereka berkata Rasulullah SAW sedang menggigau[Shahih Muslim 3/1257 no 1637]

Riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa diantara para sahabat memang ada yang mengatakan “Rasulullah SAW menggigau”oleh karena itu sebagian sahabat lain menjadi terpengaruh dan berkata“tanyakan kembali kepada Rasul SAW”. Mendengar perkataan ini Rasulullah SAW berkata“Tinggalkanlah aku. Sebab keadaanku lebih baik daripada apa yang kalian ajak”.Perkataan Rasul SAW ini menjadi bukti bahwa Beliau dalam kondisi sadar dan Beliau tidak sedang menggigau.

Orang tersebut berkata “Tanya kepada beliau” dan “coba belajar dari beliau” dimana artinya bahwa dia berharap kepada mereka untuk melihat apakah Nabi sedang dalam keadaan sadar. Dalam dunia medis, dokter secara rutin menggunakan “Glasgow Coma Scale” (GCS Exam) untuk mengetes tingkat kesadaran pasien. Tes GCS dilakukan dengan menanyai pasien dengan berbagai pertanyaan untuk melihat respon si pasien, dan respon dari pasien menunjukkan tingkat kesadaran pasien tersebut. Dalam bahasa Inggris yang artinya untuk mengecek apakah seseorang dalam keadaan sadar atau tidak, hal terbaik yang dilakukan adalah bertanya kepadanya apakah dia baik-baik saja. Pada kenyataannya, ini adalah langkah pertama dari CPR: untuk mengecek apakah pasien dalam keadaan sadar atau tidak, hal pertama yang dilakukan adalah dia akan bertanya “are you OK?” (kamu baik-baik saja?) jika dia menjawab baik-baik saja, maka tidak ada masalah, tetapi jika tidak, tindakan CPR segera dilakukan.

Ucapan ini sungguh membuat kami tersenyum geli. Memang benar GCS digunakan untuk menilai kesadaran pasien dan memang benar bertanya “are you OK?” adalah langkah pertama CPR tetapi semua ini benar-benar tidak nyambung dengan keadaan Rasulullah SAW saat itu. GCS dilakukan jika memang keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran. Jika pasien tersebut masih sadar dalam arti ia mengenal siapa dirinya, dimana dirinya dan mengenal lingkungan sekitarnya maka tidak ada gunanya memakai GCS walaupun orang tersebut sakit berat. Sakit yang berat tidak selalu diiringi penurunan kesadaran. Apalagi saat itu Rasulullah SAW mengatakan sesuatu dengan jelas“aku akan menuliskan sesuatu untuk kalian agar kalian tidak akan tersesat setelahnya selama-lamanya”.Perkataan ini memiliki struktur kalimat yang jelas dengan makna yang jelas pula, dan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dalam keadaan sadar akan dirinya dan orang-orang sekitarnya serta menyadari apa yang Beliau SAW katakan.

Apalagi jika dianalogikan dengan CPR betapa jauhnya pengandaian itu. Misalnya nih ada si A tiba-tiba terjatuh atau mengalami kecelakaan di tengah jalan, nah kemudian ada si B yang lewat menolong A. A itu masih sadar dan berkata“tolong pindahkan aku dari tengah jalan dan tolong telepon ambulans”. Perkataan si A ini menunjukkan bahwa ia dalam kondisi sadar dan jelas tidak ada gunanya jika si B mau melakukan CPR. Lha CPR itu dilakukan kalau orang tersebut tidak sadar mengalami henti napas atau henti jantung, orang yang bisa berkata-katadengan struktur kalimat yang jelas dan makna yang jelas maka napas dan jantung orang tersebut bisa dibilang belum ada masalah [setidaknya gak perlu CPR]. Atau contoh lain si A pengusaha kaya yang sedang sakit keras, tiba-tiba ketika anak-anaknya berkumpul disisinya, ia berkata“tolong ambilkan kertas, aku mau menuliskan wasiat soal warisan sehingga nanti kalian tidak akan ribut sepeninggalku”. Tentu saja anak-anak yang mendengar ini akan memenuhi permintaan ayahnya. Justru terasa ganjil jika mendengar perkataan ayahnya ini, ada anak yang berkata “apakah ayah menggigau” atau dengan konyolnya si anak siap-siap melakukan CPR. Kami sungguh heran dengan ulasan penulis tersebut yang makin tidak karuan.

Kemudian penulis tersebut membawakan riwayat dari Syaikh Mufid untuk mendukung pandangannya. Anehnya kami justru melihat ada yang aneh dalam caranya memahami riwayat tersebut. Inilah riwayat Syaikh Mufid yang kami ambil dari tulisannya [kami tidak berhujjah dengan riwayat ini kecuali hanya menunjukkan kekeliruan pemahaman salafy tersebut]

Beliau [Nabi] tak sadarkan diri [pingsan] karena kelelahan yang menimpa beliau dan kesedihan yang dirasakan oleh beliau. Beliau tidak sadar dalam waktu yang singkat sementara kaum muslimin menangis dan istri-istri beliau serta para wanita, anak-anak kaum muslimin dan semua yang hadir berteriak meratap. Rasulullah kembali sadar dan melihat mereka. Kemudian beliau bersabda : “Ambilkan tinta dan kertas (dari kulit) sehingga aku dapat menulis untuk kalian, dan setelah itu kalian tidak akan tersesat”. Kembali beliau tidak sadarkan diri dan satu dari mereka yang hadir bangkit mencari tinta dan kertas. “Kembalilah”, Umar memerintahnya [orang tersebut]. “beliau mengigau.” Orang tersebut kembali. Orang-orang yang hadir menyesalkan kelalaian [yang telah mereka tunjukkan] dalam mengambil tinta dan kertas dan bertengkar satu sama lain. Mereka selalu mengatakan: “Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali, tetapi kita menjadi cemas akan kedurhakaan kita kepada Rasulullah, semoga Allah memberkati beliau dan keluarga beliau” Ketika beliau (Nabi) shalallahu ‘alaihi wa sallam kembali sadar… [Kitab Al-Irsyad, oleh Syaikh Mufid, hal 130]

Setelah membawakan atsar ini, penulis yang aneh itu berkata

Dari cerita ini menjadi jelas bahwa kata-kata “apakah beliau mengigau” diucapkan ketika Nabi sedang tidak sadarkan diri (sebelum beliau kembali sadar)! Apakah seorang yang sedang tidak sadar (pingsan) dapat bicara? tentu tidak! Ini adalah pukulan telak atas argument Syi’ah, dan dimanapun syi’ah membuat kehebohan tentang kata-kata “apakah beliau mengigau”, maka kita akan langsung ke bagian ini.

Silakan perhatikan kata-kata dalam riwayat Syaikh Mufid“Rasulullah kembali sadar dan melihat mereka. Kemudian beliau bersabda : “Ambilkan tinta dan kertas (dari kulit) sehingga aku dapat menulis untuk kalian, dan setelah itu kalian tidak akan tersesat”. Kembali beliau tidak sadarkan diri dan satu dari mereka yang hadir bangkit mencari tinta dan kertas. “Kembalilah”, Umar memerintahnya [orang tersebut]. “beliau