Dalil Jama’ Shalat !!! Waktu shalat menurut al-Quran adalah tiga

 

 

saat saya tanya ke orang2 Syi’ah di milis FB, mereka bilang bahwa sholat mereka tetap 5x. Namun dilakukan di 3 waktu sebagaimana Muslim Sunni melakukannya saat shalat Jamak di perjalanan. Misalnya shalat Dzuhur waktunya digabung dgn shalat Ashar, Shalat Maghrib dgn  Isya.

 

Syiah dikenal menggabung dua shalatnya. Misalnya, ketika seorang Syiah telah melakukan shalat dhuhur, secara langsung setelahnya ia dapat melakukan shalat ashar. Begitu juga setelah shalat maghrib ia bisa langsung shalat isya’.Itu tidak diperbolehkan bagi Ahlu Sunah. 

 

Doktor Muhammad Tijani Samawi sebelum Syiah memiliki pengalaman menarik berkaitan dengan hal ini. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang shalat menjadi makmum Ayatullah Bagir Shadr, seorang marj’a besar Syiah di Iraq.

 

Saat itu mereka sedang shalat dhuhur berjama’ah. Seusai shalat dhuhur, setelah melakukan shalat-shalat sunah, imam langsung berdiri lagi untuk melakukan shalat ashar. Doktor Tijani pun bingung apakah dia harus ikut shalat ashar langsung setelah dhuhur atau tidak. Karena ia berada di tengah-tengah shaf jama’ah dan tidak memungkinkan baginya untuk keluar, akhirnya ia pun ikut shalat ashar berjama’ah. Namun sampai seusai shalat ia tetap bingung apakah shalat asharnya benar atau tidak karena dilakukan langsung seusai shalat dhuhur.

 

Ia pun menanyakan hal itu kepada Ayatullah Baqir Shadr, apakah perbuatan itu betul?

 

Shahid Shadr berkata: “Ya, betul. Kita diperbolehkan melakukan dua shalat wajib bersamaan (shalat dhuhur dan asar, shalat maghrib dan isya’). Yakni seusai shalat yang satu, dilanjutkan shalat yang kedua secara langsung; meskipun tidak ada udzur atau hal-hal yang menuntut kita untuk melakukannya bersamaan.”

 

Shalat

Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang Muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”. Shalat merupakan salah satu daripada Furu’ ud-Din (cabang agama) yang tanpanya maka tidak sempurnalah agama seseorang itu. Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:

1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.

Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).

Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –

Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya

Malik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”

ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.

Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.

Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.

Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.

Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Menjamak Shalat Menurut Syiah Imamiah

Mereka percaya bahwa setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat harian adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Yang paling penting adalah melakukan setiap shalat pada waktunya yang khusus. Hanya saja, mereka melakukan jamak antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah saw. melakukan jamak dua shalat tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa berpergian, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan kitab hadis lainnya, “Sebagai keringanan untuk umat serta untuk mempermudah bagi mereka”. Dan itu telah menjadi masalah biasa pada masa kita sekarang ini..Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian ingin mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan (keberatan) pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah dan seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Sesat. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ” Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”. Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW. Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya. Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan

.

Solat Jamak menurut Al-Quran dan Sunnah Nabi

Sembahyang tetap 5 kali sehari semalam. Cuma waktunya sahaja yang ditakrifkan sebagai waktu bersama (jamak) – Subuh, Zohor bersama Asar, dan Maghrib bersama Isyak. Ini telah difirmankan dalam Al-Quran dan diterangkan dalam sunah Nabi. Dan, sememangnya yang lebih afdal adalah 5 kali dalam lima waktu.

Berikut adalah petikan ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi yang menerangkan lebih lanjut sekitar perkara ini:

1.    Surah al-Israk ayat 78:
“Dirikanlah solat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula) solat subuh. Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

a.    Sesudah matahari tergelincir: Waktu bersama (jamak) Zuhur dan Asar.

b.    Gelap malam: Waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak.

c.    Solat Subuh.

(Inilah konsep 3 waktu tapi 5 kali sehari semalam- namun afdalnya dipisahkan seperti yang dilaksanakan sekarang).

2.    Surah al-Israk ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagi kamu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”

Sebahagian malam hari: Sesudah waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak habis (Sesudah lebih kurang 12.30  t/malam)- Inilah waktu solat tahajjud yang sebenarnya.

Ayat al-Quran berikut ini lebih mengkhususkan lagi:

3.    Surah Hud ayat 114:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam”.

Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).

Bahagian permulaan daripada malam: Mengisyaratkan waktu bersama antara Maghrib dan Isyak. Digunakan istilah bahagian permulaan daripada malam sebab bahagian akhir daripada malam adalah untuk solat tahajjud. (Lihat Surah al-Israk ayat 79).

Sehubungan itu, dikemukakan sebahagian kecil daripada hadis-hadis tentang solat jamak. Dalam kitab hadis Shahih Bukhari (diterjemah H. Zainuddin Hamidy – H.Fachruddin Hs, H. Hasharuddin Thaha – Johar Arifin, A. Rahman Zainuddin M.A; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 306 Berita dari Ibnu Abbas ra. mengatakan, bahawa Nabi saw salat di Madinah tujuh dan lapan rakaat. Yaitu salat zohor dan asar (dikerjakan berturut-turut pada waktu yang sama tujuh rakaat).

Hadis no 310 kata Abu Umammah ra. “Kami solat zohor bersama Umar bin Abdul Aziz, setelah itu kami pergi menemui Anas bin Malik dan kami dapati dia sedang salat asar. kataku kepadanya ‘Hai pakcik! salat apakah yang pakcik kerjakan ini?’ jawabnya, ‘Salat Asar! dan inilah (waktunya) salat asar Rasulullah saw, dimana kami pernah salat bersama-sama dengan beliau’.

……dan dalam kitab Sahih Muslim (diterjemah Ma’Mur Daud ditashih Syekh H. Abd. Syukur Rahimy; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 666 Dari Ibnu’ Abbas r.a., katanya: “Rasulullah saw pernah (baca: telah) menjama’ salat Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak tidak ketika takut dan tidak pula dalam perjalanan (baca: musafir)”.

Hadis no. 667. dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Rasulullah saw pernah menjama’ salat suhur dan asar di Madinah tidak pada waktu takut (perang atau dalam keadaan bahaya) dan tidak pula dalam perjalanan. Kata Abu Zubair, dia menanyakan hal itu kepada Sa’id, “Kenapa Rasulullah saw sampai berbuat demikian?’ Jawab Sa’id, “Aku pun pernah bertanya seperti itu kepada Ibnu Abbas, maka jawab Ibnu Abbas: ‘Beliau ingin untuk tidak menyulitkan umatnya’

Hadis no. 670 dari Ibnu Abbas ra. katanya: ‘Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau pernah menjamak solat zohor dengan asar, dan salat maghrib dengan Isya’, tidak pada saat perang dan tidak pula ketika hujan. Waki’ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa sebabnya Nabi saw berbuat demikian?’ Jawab Ibnu Abbas, “Supaya tidak menyulitkan umatnya”…. .

Hadis no. 671 dari Abdullah bin Syaqiq ra. katanya: ‘Pada satu hari sesudah asar, Ibnu Abbas memberikan pengajian dihadapan kami hingga terbenam matahari dan bintang-bintang sudah terbit. lalu jemaah berteriak, “salat! salat!” bahkan seorang laki-laki Bani Tamim langsung berdiri ke hadapan Ibnu Abbas, lalu ia berkata “salat! salat!” Kata Ibnu Abbas, “Apakah engkau hendak mengajariku tentang Sunnah Nabi, yang engkau belum tahu? Aku melihat Rasulullah saw menjama salat Zuhur dan Asar dan Maghrib dengan Isya'”. Kata Abdullah bin Syaqiq, ‘Aku ragu kebenaran ucapan Ibnu Abbas itu. Kerana itu aku bertanya kepada Abu Hurairah. Ternyata Abu Hurairah membenarkan ucapan Ibnu Abbas itu”.

Berdasarkan hadis-hadis ini dapat disimpulkan bahawa di kalangan para sahabat sendiri telah berlaku perselisihan pendapat sama ada boleh atau tidak menjamakkan solat tanpa musafir. Lihat misalnya Abu Umammah (bertanya kepada Anas bin Malik) dan Abdullah bin Syaqiq (merujuk kepada Abu Hurairah) bagi memastikan kebenarannya. Jika para sahabat Nabi yang terkenal dengan ilmunya masih berselisih pendapat maka tidak hairanlah jikalau kita masih meneruskan tradisi saling berselisih pendapat seperti pada zaman para sahabat. Bukankah sahabat itu seperti bintang-bintang?

Yang pastinya hadis-hadis tentang solat jamak ini bukan sahaja terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim namun terdapat juga dalam kitab-kitab hadis yang lain.

Hukum Shalat Jamak Ketika Tidak Sedang Dalam Perjalanan

Hal yang sangat dikenal di kalangan umat islam adalah diperbolehkannya Menjamak Shalat Ketika Sedang Dalam Perjalanan. Tetapi sangat disayangkan banyak orang Islam yang tidak tahu kalau sebenarnya Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan. Tidak jarang diantara mereka yang tidak tahu itu, pikirannya dipenuhi dengan prasangka-prasangka yang merendahkan ketika melihat orang lain Menjamak Shalat padahal tidak ada Uzur apapun. Beberapa dari mereka berkata “Jangan berbuat Bid’ah” atau “Ah itu mah kerjaan orang Syiah”. Coba lihat dialog ini

Si A :Ntar bareng kesana ya

Si B :Ok, tapi kita shalat dulu

Si A :hmm lagi nanggung, ntar aja deh aku jama’ dengan Ashar

Si B :( terpana)…. emang boleh seenaknya dijamak gitu, bukannya Jama’ itu boleh kalau dalam perjalanan.

Si A :he he he boleh, boleh.

Si B : kamu Syiah ya

Si A : bukan kok

Si B : ya udah terserah kamulah, yang penting saya shalat dulu

Saya cuma bisa tersenyum sinis mendengarkan mereka yang dipermainkan oleh Wahamnya ini. Pikiran mereka ini dipengaruhi oleh Syiahpobhia yang keterlaluan sehingga berpikir setiap amalan yang dilakukan oleh Syiah adalah sesat. Saya katakan Tidak ada urusan mau bagaimana Syiah mengamalkan Ritualnya. Sekarang yang sedang dibicarakan adalah Shalat Jama’ yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. ;)

.

.

Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.

Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan :mrgreen:

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah atau dengan pengaruh Syiahpobhia seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Syiah. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. :P

Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “ Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”.Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya.

Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan:) Wassalam

Catatan: Tulisan ini saya buat dalam kondisi sakit-sakitan, gak nyangka ternyata saya masih bisa-bisanya buat tulisan. Tolong doakan agar saya cepat sembuh ya, hmmm eh salah ding doakan agar badan saya enakan aja deh :mrgreen:

283791_460681150621691_171225324_n

shalat-penyembah-batu

Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnyaMalik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

.

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

.

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu

.

Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :

Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).

Waktu solat mengikut al-Quran

Allah (swt) berfirman dalam kitabNya yang suci:

“Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam, dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya).” 
Qur’an 17:78

Waktu solat menurut al-Quran adalah tiga, bukan lima.

  1. Gelincir Matahari
  2. Waktu Gelap Malam
  3. Waktu Subuh.

Imam Fakhruddin Razi, pengulas al-Quran terkenal Sunni, menulis berkenaan ayat yang dipetik (Surah 17, Ayat 78):

“Jika kita menafsirkan waktu gelap malam (ghasaq) sebagai masa apabila kegelapan mula muncul maka terma ghasaq merujuk kepada bermulanya Maghrib. Berdasarkan hal ini, tiga waktu disebut dalam ayat: ‘waktu tergelincir matahari, waktu bermulanya Maghrib dan waktu Fajar’. Ini menyatakan bahawa waktu tergelincir matahari adalah waktu untuk Zuhur dan Asar, waktu ini dikongsi oleh dua solat ini. Waktu bermulanya Maghrib adalah adalah waktu untuk Maghrib dan Isyak maka waktu ini juga dikongsi oleh dua solat ini. Hal ini memerlukan kebolehan untuk menjamak antara Zuhur dan Asar serta antara Magnrib dan Isyak pada setiap masa. Akan tetapi terdapat bukti yang menunjukkan bahawa manjamak ketika di rumah tanpa sebarang alasan adalah tidak dibenarkan. Hal ini menjurus kepada pandangan bahawa menjamak adalah dibolehkan apabila sedang bemusafir atau apabila hujan dll.”

Tafseer Kabeer, m.s 107

Sementara kami akan InsyaAllah menyangkal komentar Razi berkenaan menjamak tanpa sebab adalah tidak dibenarkan, apa yang kita dapat dari sini adalah masa untuk solat fardhu hanyalah tiga:
1). Masa untuk dua solat fardhu, Zuhur (tengah hari) dan Asar (petang), yang dikongsi oleh keduanya.
2). Masa untuk dua solat fardhu, Maghrib (senja) dan Isyak (malam) yang juga dikongsi oleh keduanya.
3). Masa untuk solat Subuh (pagi) yang hanya spesifik untuknya sahaja.

Kami melaksanakan solat Zuhur dan Asar dan kemudian solat Maghrib dan Isyak dalam satu satu masa. Kami tidak melakukannya hanya berdasarkan penghakiman kami, malah hal ini dilakukan kerana ianya adalah Sunnah Nabi Muhammad (s). Adalah dilaporkan dalam Sahih Bukhari bahawa Ibn Annas [r] berkata:

“Aku mengerjakan lapan rakaat (Zuhur dan Asar) dan tujuh rakaat (Maghrib dan Isyak) pada satu satu masa bersama Nabi Muhammad (s) (dengan tiada solat sunat diantaranya.)” Umru berkata bahawa dia berkata kepada Abul Shaqa: “Aku fikir Nabi (s) mengerjakan Zuhur sedikit lewat dan Asar sedikit awal, dan Isyak sedikit awal, Maghrib sedikit lewat, Abul Shaqa menjawab bahawa dia juga merasakan yang sama.”

Kita baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 537, Bab Waktu Solat:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
Rasul Allah (salam dan salawat ke atasnya) melakukan di Madinah tujuh (rakaat) dan lapan (rakaat), i.e. (menjamak) solat tengah hari (Zuhur) dan petang (Asar) (lapan rakaat) dan solat senja (Maghrib) dan malam (Isyak) (tujuh rakaat).

Dalam mengulas mengenai hadis ini, pada muka surat yang sama dalam Tayseer al-Bari, Allamah Waheed uz Zaman berkata:

“Hadis ini agak jelas di mana dua solat boleh dilakukan pada satu masa. Hadis yang kedua memberitahu kita mengenai insiden di Madinah sewaktu tiada rasa takut mahupun sebarang paksaan. Telah pun disebut di atas bahawa Ahli Hadis menganggapnya dibolehkan, dan dalam kitab-kitab Imamiah terdapat banyak hadis-hadis dari Imam Hadis dalam bab menjamak (solat) dan tiada alasan untuk hadis-hadis ini dikategorikan sebagai palsu”

 Tayseer al Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 2, Kitab Tahajjud, m.s 187, diterbitkan oleh Taj Company Limited, Karachi

Kita juga baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 518:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
“Nabi (s) melakukan solat lapan rakaat untuk Zuhur dan Asar, dan tujuh untuk solat Maghrib dan Isyak di Madinah.” Aiyub berkata, “Berkemungkinan ianya pada malam yang hujan.” Anas berkata, “Mungkin.”

Dalam ulasan berbahasa Urdu Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, dalam mengulas ungkapan terakhir Jabir di mana dia menduga bahawa berkemungkinan ianya malam yang hujan, Allamah Waheed uz-Zaman menulis:

“Kata-kata Jabir adalah berdasarkan kemungkinan, kesalahannya telah dibuktikan oleh riwayat Sahih Muslim yang menyatakan bahawa tiada hujan mahupun sebarang perasaan takut yang wujud.”

Maulana Waheed uz-Zaman menulis lagi:

“Ibn Abbas dalam riwayat yang lain berkata bahawa Nabi Muhammad (s) melakukannya untuk menyelamatkan umatnya dari sebarang kesukaran.”

 Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 1, m.s 370, Kitab Waktu Solat, diterbitkan oleh Taj Company Limited.

Dalam perkaitan ini riwayat Sunni juga menyingkirkan sebarang tanggapan bahawa jamak tersebut mungkin dilakukan kerana keadaan cuaca yang buruk:

Nabi Muhammad (s) bersolat di Madinah, ketika bermastautin di sana, tidak bermusafir, tujuh dan lapan (ini merujuk kepada tujuh rakaat Maghrib dan Isyak dijamakkan, dan lapan rakaat Zuhur dan Asar dijamakkan).
Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Jilid 1, m.s 221

“Nabi Muhammad (s) melakukan solat Zuhur dan Asar secara jamak serta Maghrib dan Isyak secara jamak tanpa perasaan takut mahupun dalam bermusafir.”
Malik ibn Anas, al-Muwatta’, Jilid 1, m.s 161

Sekarang mari kita lihat kepada hadis dari Sahih Muslim:

Ibn ‘Abbas melaporkan bahawa Rasul Allah (s) menjamak solat Zuhur dan Asar serta solat Maghrib dan Isyak di Madinah tanpa berada dalam keadaan merbahaya mahupun hujan. Dan di dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Waki’ (kata-katanya ialah): “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang membuatkan baginda melakukan hal tersebut? Dia berkata: Supaya umatnya (Rasulullah) tidak diletakkan dalam keadaan sukar (yang tidak diperlukan).”

Kami telah mengambil hadis ini dari sumber Sunni berikut:

  1. Sahih Muslim (terjemahan Inggeris), Kitab al-Salat, Buku 4, Bab 100 Menjamak solat apabila seseorang dalam bermastautin, hadis no. 1520;
  2. Jami al-Tirmidhi, Jilid 1, m.s 109, diterjemah oleh Badee’ uz-Zaman, diterbitkan oleh kedai buku No’mani, bazaar Urdu Lahore.
  3. Sunan Abi Daud, jilid 1, m.s 490, Bab: ‘Menjamak Solat’, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman

Dalam ulasannya mengenai hadis ini, Zaman menyatakan:

Terdapat dua jenis jamak solat, Jamak Taqdeem dan Jamak Takheer, yang awal bermaksud melaksanakan solat Asar pada waktu Zuhur dan Isyak pada waktu Maghrib, dan yang terkemudian adalah melakukan solat Zuhur pada waktu Asar dan Maghrib pada waktu Isyak, kedua-dua jenis adalah terbukti sah dari Sunnah Rasulullah.
Sunan Abu Daud, jilid 1, m.s 490, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman, diterbitkan di Lahore

Maulana Waheed uz-Zaman membuat rumusan pada muka surat yang sama dengan menyatakan:

“Hujah-hujah yang menentang jamak solat adalah lemah, sementara yang membenarkannya adalah kuat.”
Sunan Abu Daud, volume 1, page 490, translated by Maulana Waheed uz-Zaman, published in Lahore

Shah Waliullah Dehalwi menyatakan dalam Hujutallah Balagha, m.s 193:

Masa untuk solat sebenarnya adalah tiga, iaitu pagi, Zuhur dan pada waktu gelap malam dan ini adalah maksud kepada firman Allah ‘Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari’. Dan Dia berfirman hingga waktu gelap malam’ kerana masa untuk menunaikan solat Zuhur adalah sehingga matahari terbenam oleh kerana tiada kerenggangan antara duanya, maka, dalam keperluan, adalah dibolehkan untuk menjamak Zuhur dan Asar serta Maghrib dan Isyak

Sekarang kami sediakan testimoni Sahabat yang disayangi Ahli Sunnah bernama Abu Hurairah mengenai dibolehkan untuk menjamak solat. Kita baca dalam Musnad Ahmad:

Abdullah bin Shaqiq meriwayatkan bahawa pernah sekali selepas Asar, Ibn Abbas tinggal sehingga matahari terbenam dan bintang muncul, lalu orang berkata: ‘Solat’ dan di antara yang berkata adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang berkata: ‘Solat, solat’. Lalu dia (Ibn Abbas) manjadi marah dan berkata: ‘Bolehkah kamu mengajarku Sunnah!! Aku melihat Rasul Allah (sawa) menjamak solat Zuhur dan Asar, serta Maghrib dan Isyak’. Abdullah (bin Shaqiq) berkata: ‘Aku mempunyai keraguan mengenai perkara ini maka aku berjumpa Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan dia bersetuju dengan beliau (Ibn Abbas)’.

 Musnad Ahmad, Jilid 1 m.s 251 Hadis 2269

Shaykh Shu’aib al-Arnaout berkata:

‘Rataiannya adalah Sahih mengikut standard Muslim’.

Kami juga akan menyebut amalan Sahabat terkenal Anas bin Malik dan testimoninya mengenai mengerjakan solat Asar pada waktu Zuhur. Kita bca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 524:

Diriwayatkan Abu Bakr bin Uthman bin Sahl bin Hunaif:

bahawa dia mendengar Abu Umama berkata: Kami melakukan solat Zuhur bersama ‘Umar bin Abdul Aziz dan kemudian pergi kepada Anas bin Malik dan menjumpainya melakukan Solat Asar. Aku bertanya kepadanya, “Wahai pakcik! Solat apa yang kamu lakukan?” Dia berkata ‘Solat Asar dan ini adalah (waktu) solat Rasul Allah yang mana kami pernah bersolat bersama baginda.”

Riwayat ini memperkukuhkan tafsiran ayat 17:78 oleh Fakhruddin al-Razi yang mana menurutnya masa untuk melakukan Zuhur dan Asar adalah sama.

Melakukan dua solat dengan satu Azan

Apabila sudah terbukti bahawa jamak solat bukanlah satu pembaharuan, malah adalah Sunnah Nabi Muhammad (s) untuk menyelamatkan umatnya dari kesukaran, kita dibenarkan untuk menggunakan kemudahan ini. Mereka perlu tahu bahawa oleh kerana Sunnah Nabi membenarkan para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid untuk solat Zohor dan Asar, kemudian panggilan kedua untuk solat Asar dan Isyak dilaungkan didalam masjid tanpa pembesar suara dan kemudian solat ditunaikan. Cara yang sama juga turut dipetik oleh ulama Sunni.

Allamah Abdul Rehman al-Jazeeri menulis:

“Cara yang betul untuk menghimpun orang untuk bersolat adalah dengan melaungkan azan Maghrib dengan suara kuat yang biasa, kemudian selepas azan, masa diperlukan untuk melakukan solat tiga rakaat perlu ditangguhkan. Kemudian solat Maghrib perlu dilaksanakan dan kemudian adalah elok untuk melaungkan azan Isyak di dalam masjid, azan sepatutnya tidak dilaungkan dari menara supaya ianya tidak akan memberi tanggapan bahawa masa tersebut adalah masa kebiasaan untuk solat Isyak, oleh sebab itulah azan tersebut perlu dilaungkan dengan suara perlahan dan kemudian solat Isyak boleh dilaksanakan.” 
Al-Fiqa al-Al Madahib al-Arba’a, jilid 1 m.s 781, diterjemah oleh Manzoor Ahmed Abbas, diterbitkan oleh Akademi Ulama, Charity department Punjab

Jelas dari sini, berdasarkan dalil-dalil yang sahih,menjamakkan solat walaupun bukan dalam keadaan yang memerlukan adalah mubah dan sah. Ini bertepatan dengan cara yang diikuti oleh pengikut Mazhab Ahlulbait(as).

Keutamaan Sholat di Awal Waktu; Pandangan Al-Quran, Hadits dan Sirah Imam-imam Maksum dan Ulama

Pendahuluan

Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt dan sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi besar islam Muhammad saww dan kepada keluarganya yang suci dan jauhkanlah rahmatmu ya Allah atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk  tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah. Itu semua perlu juga kita perhatikan.

Sholat di awal waktu dalam pandangan Al-Quran

Allah swt berfirman: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[*]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”  [1]

Imam Shadiq as bersabda:

 امتحنوا شيعتنا عند مواقيت الصلاة كيف محافظتهم عليها

Ujilah syiah kami pada waktu-waktu sholat, bagaimana mereka menjaganya. [2]

Allah swt juga berfirman: “Celaka bagi orang-orang yang mendirikan sholat, yang mana mereka mendirikannya secara lalai.” [3] Berkenaan dengan ayat ini, Imam Shadiq as ditanya, beliau menjawab: “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang yang melalaikan sholatnya, dan ia tidak mendirikannya di awal waktu tanpa ada halangan (uzur).[4]

Keutamaan sholat di awal waktu dalam pandangan riwayat

Imam Bagir as bersabda:

اعلم ان اول الوقت ابدا افضل فتعجل الخيرابدا ما استطعت

 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal waktu itu adalah sebuah keutamaan, oleh karena itu laksanakanlah secepatnya pekerjaan baikmu selagi kamu mampu,.”[5]

Imam Shodiq as bersabda:

لفضل الوقت الاول على الاخير خير من ولده وماله

“Sesungguhnya keutamaan yang ada di awal waktu dibandingkan akhirnya lebih baik bagi seorang mukmin dari anak-anaknya dan hartanya.”[6]

Beliau juga dalam haditsnya yang lain bersabda:

فضل الوقت الاول على الاخير كفضل الآخرة على النيا

“Keutamaan awal waktu atas akhirnya sebagaimana keutamaan akherat terhadap dunia.”[7]

Imam Musa bin Jakfar as bersabda: “Sholat-sholat wajib yang dilaksanakan pada awal waktu, dan syarat-syaratnya dijaga, hal ini lebih wangi dari bunga melati yang baru dipetik dari tangkainya, dari sisi kesucian, keharuman dan kesegaran. Dengan demikian maka berbahagialah bagi kalian yang melaksanakan perintah shalat di awal waktu.”[8]

Imam Shadiq as bersabda: “Seorang yang mengaku dirinya haq (Syiah) dapat diketahui dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah: 1. Dengan penolongnya, siapakah mereka. 2. Dengan sholatnya, bagaimana dan kapan ia melaksanakannya. 3. Jika ia memiliki kekayaan, ia akan teliti dimana dan kapan akan ia keluarkan.[9]

Sholat di awal waktu cermin kesuksesan ruhani

Diantara salah satu rahasia penting sholat di awal waktu adalah keteraturan hidup dengan tolak ukur agama dan tidak lalai kepada tuhan. Adapun orang yang mendirikan sholat, namun tidak terikat dengan awal waktu, dasar tolak ukur hidup mereka adalah ditentukan oleh permasalahan selain tuhan, dan ketika masuk waktu sholat, mereka mendirikannya, namun terkadang di awal waktu, pertengahan dan atau diakhirnya, permasalahan ini sudah sangat merendahkan dan meremehkan sholat itu sendiri sebagai tiang dan pondasi agama bahkan merupakan rukun islam bagi setiap muslim, dan dengan demikian seseorang akan merasa bahwa setiap permasalahan duniawi yang datang, akan lebih ia dahulukan ketimbang mengerjakan sholat, seperti contoh: Di tengah pekerjaan, makanan sudah dihidangkan, dikarenakan teman atau tamu yang bertandang kerumah dan lain sebagainya dari permasalahan dunia yang menyebabkan kita lalai dan tidak mengerjakannya di awal waktu. Hal semacam ini adalah sebuah kejangkaan dan tidak komitmen terhadap urusan agama.

Adapun orang yang terikat -dengan urusan agama- mereka mendirikan sholat di awal waktu. Tolak ukur kehidupan mereka, mereka susun sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan oleh Ilahi. Dalam artian bahwa setiap pekerjaan telah disusun sedemikian rupa sehingga ketika datang waktu sholat, mereka tidak disibukkan dengan pekerjaan yang lain selain ibadah sholat. Dan perhatikanlah jika menjanjikan sasuatu jangan mendekati waktu sholat, dan jika hendak menyantap makan siang atau malam, hendaknya tidak pada waktu sholat, dan jika hendak mengundang tamu atau berpergian untuk tamasya, hendaknya disusun sesuai dengan waktu sholat. Dengan demikian ia telah menunjukkan bahwa untuknya agama dan sholat adalah segala-galanya. Permasalahan inilah yang memiliki pengaruh yang sangat dalam untuk membentuk jiwa seorang insan menuju kesempurnaan.

Sholat di awal waktu adalah rumus untuk dapat menguasai jiwa, hawa nafsu dan pikiran serta menentang keinginan syahwat, karena dengan cara mengatur waktu dan janji yang kuat, seorang manusia seiring dengan berjalannya waktu dapat menemukan dan berhadapan dengan berbagai ragam hawa nafsu. Ketika keragaman seperti makan, istirahat, rekreasi dan pekerjaan menghadang, yang mana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, namun dikarenakan waktu sholat telah tiba, hal itu dikesampingkan demi beribadah kepada Tuhannya (sholat), hal yang demikianlah yang disebut dengan tegarnya jiwa dan kuatnya iman.

Seorang yang ingin mendirikan sholatnya di awal waktu, tentu telah mengatur jadwal kehidupannya, misalnya: untuk dapat sukses melaksanakan sholat subuh di awal waktu, dia akan tidur lebih awal dan meninggalkan sebagian menu(kegiatan) yang menyebabkan ia begadang malam, karena hal itu bertentangan dengan keterjagaan di awal waktu. Di lain hal kita mengetahui bahwa bangun diwaktu(azan) subuh itu memiliki banyak barakah  dari sisi kejiwaan dan bahkan dari sisi materi.

Nah yang terpenting sekarang adalah kita harus mementingkan peranan sholat dalam diri kita, dan mulailah sejak saat ini mengambilnya sebagai rancangan yang mau tidak mau harus kita mulai dan kita kerjakan walaupun terkadang sering kali dalam memulainya kita ketinggalan untuk mengerjakan sholat itu di awal waktu, namun secepatnya kita mendirikannya. Bukan sebaliknya kemudian kita menaruhnya di akhir waktu, sehingga dengan cara ini, secara perlahan hal tersebut akan menjadi adat bagi kita untuk menjalankannya secara mudah dan tidak merasa beban. Dan ketika itulah sholat seseorang akan berbentur dengan keharuman dan kesucain yang luar biasa.

Dan Jika Tidak Sampai Laknatlah Aku

Almarhum Alamah Thabatabai dan Ayatullah Bahjat menukil dari almarhum Qadhi ra, ketika itu beliau berkata: “Kalau saja seorang yang mendirikan sholat wajibnya pada awal waktu dan ia tidak sampai pada jenjang yang tinggi (dari sisi keruhaniannya), maka laknatlah aku!.” (dalam naskah lain beliau berkata: “…maka ludahilah wajahku!”).

Awal waktu adalah rahasia yang sangat agung, karena firman allah swt yang berbunyi  “ حافظوا على الصلوات Peliharalah segala sholatmu…”, adalah salah satu poros dan sebagai pusat, dan selain itu juga terdapat firman Allah yang lain yang berbunyi “ واقيموا الصلاة Dan dirikanlah sholat…”, seorang insan yang mementingkan dan mengikat dirinya untuk mendirikan sholat di awal waktu, pada dasarnya itu adalah baik, dan memiliki pengaruh yang sangat besar dan positif untuk dirinya, walau tanpa dihadiri dengan sepenuh hati.[10]

Dari mana engkau dapatkan kedudukan ini

Mullah Mahdi Naroki yang sangat melatih dirinya dengan sifat-sifat baik seperti wara, kesucian, kesehatan, ketakwaan dan lain-lainnya, sehingga dengan itu semua beliau berhasil dapat melihat dengan mata akherat, berkata: “Pada hari raya, saya pergi berziarah ke tempat pemakaman, dan saya berdiri ke sebuah makam dan kepadanya saya katakan: “Adakah hadiah yang dapat engaku berikan padaku di hari raya ini?”.

Malam harinya ketika saya beranjak tidur, dalam mimpi, saya  melihat seseorang yang wajahnya indah dan bercahaya datang menghampiriku, dan berkata: “Datanglah esok hari ke makamku, akan aku berikan sesuatu kepadamu sebagai hadiah di hari raya”. Keesokan harinya aku datang kepemakaman yang diisyaratkan oleh mimpiku itu. Sesampainya aku di sana, tiba-tiba tersingkaplah alam barzah untukku. Ketika itu tampaklah sebuah taman yang indah dan sangat menakjubkan, di dalamnya ada sebuah pintu dan pepohonan yang sebelumnya tidak pernah seorang pun melihatnya, tapi aku dapat temukan di sana. Di tengahnya terdapat sebuah istana yang sangat megah berdiri kokoh. Kemudian saya diajak memasuki ke ruangan dalam istana, ketika aku masuk, aku melihat seseorang yang duduk penuh dengan keagungan di atas singgasana yang bertahtakan intan permata. Kepadanya aku katakan: “Dari golongan manakah engkau?. Ia menjawab: “Aku dari golongan orang-orang yang beribadah. Kemudian aku tanyakan kembali: “Dari manakah engkau dapatkan kedudukan ini?. Ia berkata: “Pekerjaan yang sehat, dan sholat berjamaah diawal waktu.[11]

Perjalanan Ahlul Bait as dalam Sholat di Awal Waktu:

Sholat Awal Waktu pada Perang Shiffiin (Shofain)

Dalam cuaca panas peperangan Shiffin, ketika imam Ali as sedang sibuk-sibuknya berperang, Ibnu Abbas ra melihat beliau yang sedang berada di tengah dua barisan perang itu, secara tiba-tiba menegadahkan wajahnya ke arah matahari, ia bertanya: “Wahai imam, Ya Amirul Mukminin, untuk apa hal itu engkau lakukan?. Beliau menjawab: “Aku melihatnya karena ingin memastikan apakah sudah masuk waktu sholat dzuhur, sehingga kita mendirikannya?. Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Apakah sekarang ini saatnya untuk mendirikan sholat?. Peperangan telah menghalangi kita untuk mendirikan sholat, imam menjawab: “Untuk apa kita berperang melawan mereka?, Bukankah kita berperang dengan mereka supaya kita dapat mendirikan sholat?, hanya karena sholat kita berperang melawan mereka. Setelah itu perawi berkata: “Imam Ali sama sekali tidak pernah meninggalkan sholat malamnya walaupun pada malam “Lailatul Harrir”[12] (Lailatul Harrir adalah sebuah malam yang sangat genting dimana pasukan  Imam Ali dan Muawiah (laknat Allah kepadanya) meneruskan perang mereka sampai pagi.)

Sholat Terakhir Imam Husain as

Siang hari dari sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari Asyura, keadaan yang begitu menyengat karena teriknya matahari, dan cuaca yang panas dengan peperangan yang tidak seimbang  sedang terjadi di tanah Karbala, salah seorang dari pembela Sayyidus Syuhada Imam Husain as bernama Abu Tsamamah Asshoidi kepada Imam berkata: “Wahai Aba Abdillah (Lakqab panggilan Imam Husain as), jiwaku aku korbankan untukmu, saya lihat para musuhmu ini sudah dekat denganmu, aku bersumpah demi Allah sungguh engkau tidak akan terbunuh, kecuali dengan seizin Allah aku kobankan dulu nyawaku, namun aku akan senang sekali menemui Tuhanku dalam keadaan aku telah menjalankan tugasku yaitu mendirikan sholat yang sekarang ini sudah saatnya melakukankan sholat dzuhur.

Seketika Imam Sayyidus Syuhada menengadahkan wajah suci beliau kearah langit dan melihat matahari (yang sudah condong) kemudian bersabda: “Engkau ingat akan sholat!, Semoga Allah swt menjadikan engkau termasuk orang-orang yang selalu ingat akan mendirikan sholat. Ya sekarang ini saatnya mendirikan sholat di awal waktu, mintalah dari mereka waktu sesaat untuk mengangkat senjata sehingga kita dapat mendirikan sholat. Seketika itu seorang yang terlaknat bernama Hashin bin Tamim berkata: “Sholat yang kalian dirikan tidak akan diterima., Kemudian perkataan itu dijawab oleh Habib bin Madzohir, dikatakan padanya: “Wahai peminum arak, kau pikir sholat yang didirikan oleh keluarga rasulullah saww tidak diterima Allah swt, sedangkan sholat yang kau dirikan diterima!, jangan kira begitu”.

Kemudian Imam Husain as mendirikan Sholat Khauf bersama segelintir para pembela beliau yang tersisa.[13]

Perjalanan Imam Khomaini dalam mendirikan sholat di awal waktu

Dalam sebuah media penerbitan yang menukil perkataan salah seorang dari putra Imam yang menceritakan bahwa: “Hari pertama kali Muhammad Reza Syah pergi, saat itu kami berada di kota Novel Losyatu. Hampir tiga atau empat ratus wartawan berkumpul mengelilingi rumah Imam, sebuah ranjang kecil disiapkan, dan Imam berdiri di atasnya. Seluruh kamera yang ada aktif mengontrol seluruh ruangan. Dan sesuai perjanjian setiap orang dari mereka melontarkan satu pertanyaan, setelah dua tiga pertanyaan, tiba-tiba suara azan terdengar, tanpa ada aba-aba Imam langsung meningalkan ruangan dan berkata: “Saat fadhilahnya (waktu yang diutamakan)  melaksanakan sholat dzuhur”. Semua orang yang hadir merasa heran dan takjub karena Imam meninggalkan ruangan begitu saja. Kemudian ada seseorang yang memohon kepada beliau untuk sedikit bersabar sampai minimalnya empat atau lima pertanyaan yang akan disampaikan beberapa wartawan, kemudian Imam dengan marahnya berkata: “Tidak bisa sama sekali” dan pergi meninggalkan ruangan.[14]

Imam Khomaini ra sampai akhir hayatnya, selalu merasa khawatir untuk tidak dapat menjalankan sholatnya di awal waktu, walaupun ketika beliau dirawat di rumah sakit. Dinukil dari Syekh Ansori ketika datang menjenguk beliau yang sedang dirawat, berkata: “Apakah engkau hendak mendirikan sholat?, kemudian beliau menggerakkan tangannya dan kami pun sadar bahwa beliau sedang beribadah sholat.[15]

Semua yang aku miliki dari menjalankan sholat di awal waktu

Hujjatul Islam Haji Hasyimi Nejad berkata: “Tempo lalu ada orang tua yang datang ke sebuah masjid bernama Loleh Zar pada bulan Ramadhan, ia termasuk seorang yang sukses di zaman itu, dan sebelum azan dikumandangkan ia selalu hadir di dalam masjid.

Kepadanya aku katakan: “Haji Fulan, saya lihat engkau termasuk orang yang sangat sukses, karena setiap hari saya datang ke masjid ini, pasti engkau lebih dahulu datang dariku dan mengambil tempat di salah satu bagian masjid. Ia menjawab: “Sebenarnya, semua yang aku miliki ini, karena sholat yang aku dirikan di awal waktu. Kemudian setelah itu ia meneruskan perkataannya: “Pada masa mudaku, aku pergi ke Masyhad dan aku berjumpa dengan Almarhum Haji Syekh Hasan Ali Bagceh-i, aku katakan padanya: “Aku memiliki tiga keinginan, dan aku ingin Allah memberikan ketiganya di masa mudaku, bisakah engkau mengajarkan sesuatu sehingga aku dapat mencapai semua keinginanku tadi.

Kemudian beliau bertanya, “Apa yang engkau inginkan; , aku katakan padanya: “Aku ingin di masa mudaku, aku bisa mengamalkan ibadah haji, karena ibadah haji di masa muda memiliki kelezatan tersendiri”.

Lalu ia berkata: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Dan kembali aku katakan: “Keinginanku yang kedua adalah aku ingin Tuhan memberikanku istri yang baik dan sholehah”.

Beliau pun menjawab: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Keinginanku yang terakhir aku katakan: “Aku ingin Allah memberikanku sebuah pekerjaan yang terhormat”.

Kemudian beliau menjawab sama seperti jawaban yang pertama dan kedua: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Setelah itu aku mulai jalankan amalan yang diajarkan Syekh itu kepadaku, dan dalam jangka waktu tiga tahun, Allah memberikan aku jalan untuk dapat menjalankan ibadah haji, dan mendapatkan istri yang mukminah dan sholehah dan memberikan padaku sebuah pekerjaan yang mulia.[16]  Allahu A’lam

Penulis: S2 Jurusan ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran

Sumber: http://www.Islamalternatif.net

* Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ada yang mengatakan bahwa sholat wusthaa itu adalah sholat dzuhur.


[1]  Surah Al-Baqarah ayat 238.

[2]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 23, dinukil dari kitab Qurbul isnad.

[3]  Surah almaaun ayat 3-4.

[4]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 6.

[5]  Idem dinukil dari kitab Asrar

[6]  Idem hal: 12, dari kitab Qurbul Isnad.

[7]  Idem dari kitab Tsawabul ‘Amaal.

[8]  Idem hal: 18-20, dinukil dari kitab Tsawabul ‘Amaal dan Almahasin

[9]  Idem.

[10]  Dar Mahzare Digaran, hal, 99.

[11]  Qeseha-e Namaz, hal: 92

[12]  Biharul Anwar, jilid 80 hal: 23 dinukil dari Irsyadul Qulub, Dailami.

[13]  Nafsul Mahmum, hal: 164.

[14]  Simo-e Farzonegan, hal: 159.

[15]  Dostonho-e Namaz, hal: 87. kemudian dikatakan bahwa Imam Khomaini setelah itu berkata: “Panggil perempuan-perempuan itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mereka”. Ketika mereka datang, beliau berkata: “Jalan, jalan yang sangat sulit dan meletihkan, kemudian beliau mengulangi perkataan beliau dan berkata: “janganlah kalian berbuat dosa”.

[16]  Idem.

 

Dalil Nabi tidak shalat bersedekap !!

Salam wa rahmatollah. Solawat ke atas Nabi dan Ahlulbaitnya.

Sudah 1400 tahun lebih telah berlalu sejak kewafatan Nabi kita, Muhammad(sawa). Tapi malang bagi kita, dalam jangka waktu yang panjang ini, umat Islam masih menjadi bahan jenaka apabila mereka hingga kini, masih gagal membuktikan yang mana satu cara solat sebenar Rasulullah(sawa). Setiap puak meyakini dan mendakwa, cara solat mereka ialah sunnah asli Rasulullah(sawa).

Rasulullah(sawa) sejak tempoh kerasulannya hingga ke akhir hayatnya, telah berdakwah selama 23 tahun. Dalam tempoh ini, sudah pasti Rasulullah(sawa) sekurang-kurangnya telah melaksanakan solat di hadapan para sahabat sebanyak 700,000 kali. Hairan sekali, kita masih gagal mensahihkan cara solat Nabi samada dengan tangan berlipat atau dengan tangan diluruskan. Kekeliruan ini bukanlah perkara yang baru, malah telah bermula di zaman para sahabat lagi, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 56, Nombor 664, Aisyah Ummul Mukminin berkata:

Beliau membenci apabila seseorang bersolat dengan tangan berlipat ketika bersolat. Ini kerana orang Yahudi juga berbuat begitu.

Di dalam keadaan yang penuh kekeliruan ini, teringat kata-kata Imam Ali(as):

Bahkan bagaimana kamu dapat disesatkan sedangkan kerabat-kerabat Nabi berada di kalangan kamu? Mereka itulh tonggak kebenaran; panji-panji agama; lidah-lidah yang selalu berkata benar!(Nahjul Balaghah Khutbah 83)

Turut teringat wasiat Rasulullah(sawa):

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan itrah, Ahlulbaitku.”

Oleh itu, kami Syiah, yang meyakini bahawa Imam dari Ahlulbait(as) adalah wasi Rasul, dan pembawa sunnah asli baginda. Dari mereka kami belajar cara solat, dan kami yakin bahawa itulah cara sebenar Rasulullah bersolat, yakni, dengan tangan terbuka.

Sebelum kita teruskan, mari kita lihat pendapat Imam Mazhab Sunni tentang cara solat Nabi. Untuk pengetahuan pembaca yang dirahmati, selain Syiah Imamiyah, mazhab Maliki juga turut meyakini bahawa Rasulullah bersolat dengan tangan terbuka.

Imam Hanafi berpendapat: Bagi lelaki, tangan kanan harus diletakkan di atas tangan kiri, serta kedudukannya di bawah pusat, manakala di dada bagi wanita.

Imam Syafi’i berpendapat: Tidak kira samada lelaki atau wanita, harus meletakkan tangan di atas pusat tetapi di bawah dada.

Imam Hanbal berpendapat: Lelaki dan wanita meletakkan tangan di bawah pusat.

Jika kalau para pembaca yang budiman melakukan kajian ke atas biografi ke tiga-tiga Imam Mazhab ini, kesemua mereka dilahirkan jauh dari Madinah, kampung halaman Rasulullah(sawa). Sementara Imam Malik bin Anas pula dilahirkan di Madinah, malah beliau merupakan antara Imam mazhab yang terawal di lahirkan iaitu pada 93 Hijrah, masih tidak jauh dari tempoh para sahabat dan masih belum banyak bidaah muncul. Islam masih segar di zaman beliau. Beliau membesar dalam keadaan melihat para penduduk dan sarjana Madinah bersolat dalam keadaan tangan terbuka, maka dengan itu, beliau juga mengarahkan perkara yang serupa di lakukan.

“Mengikut Imam Malik, solat perlu dilakukan dengan tangan terbuka, malah menyifatkan tindakan melipat tangan ketika solat fardhu sebagai makruh dan hanya dibenarkan di solat sunat.”
Sharh e Muslim, Jilid 1, ms 590, oleh Allama Ghulam Rasool Sa’eedi, Cetakan Lahore

Oleh kerana wujudnya perselisihan ini, maka muncullah komen yang aneh dari ahli fikah Sunni. Perlu diingatkan disini, Rasulullah(sawa) hanya mengajarkan satu sahaja cara solat kepada para sahabat. Logikkah seorang Rasul menanam benih-benih perpecahan dan kekeliruan dengan mengajar berbagai cara solat? Lihatlah apa yang sudah terjadi sekarang!

Ada orang telah mengatakan Rasulullah(sawa) mengajar cara solat berbeza untuk keadaan berbeza. Wow, itu adalah satu hujah paling mengarut pernah saya dengar. Ya, benar untuk situasi jika sakit, musafir atau dalam keadaan peperangan. Bagaimanapun, untuk ketiga-tiga situasi ini, masih lagi cara solat yang sama. Takkahlah Rasulullah ajar lurus tangan untuk solat ketika perang, dan lipat tangan untuk solat ketika sakit pula? Mari kita lihat komen aneh para sarjana Sunni apabila berhadapan dengan perselisihan ini.

Imam Nawawi dalam kitabnya Sharah Muslim berkata:

“Imam Ahmad Auzai dan Manzar berkata terpulanglah kepada diri mereka untuk bersolat dengan cara yang mereka mahukan. Imam Malik berpendapat tangan harus diluruskan, dan itu adalah kebiasaan bagi pengikut beliau, sama juga dengan pendapat Lais bin Saad. ”
Sharh Muslim Nawawi, Jilid 2, ms 28, terjemahan Maulana Waheed uz-Zaman

Begitu juga dengan komen Imam Tarmizi:

“Setiap darinya adalah dibenarkan mengikut pandangan ulama.” Sunan Ibn e Majah, Jilid 1, ms 413-414

Kenyataan Imam Malik turut menambahkan kekeliruan, dalam fatwanya bahawa melipat tangan adalah makruh untuk solat fardhu tetapi dibolehkan dalam solat sunat. Adakah semua perkara ini dilakukan di zaman Rasulullah(sawa)? Adakah ketika Rasulullah memimpin solat fardhu, sesetengah para sahabat melipat tangannya di dada, manakala yang lain di perut, satu kumpulan lagi di bawah pusat dan kumpulan terakhir meluruskan tangannya? Ini adalah satu perkara yang tidak mungkin. Tidak mungkin dalam erti kata Rasulullah(sawa) bersolat subuh dengan melipat tangan di dada, Zuhur di perut, Asar dengan tangan di bawah pusat serta solat Maghrib dab Isyak dengan meluruskan tangan, sedangkan Rasulullah(sawa) telah memberi arahan untuk bersolat seperti mana beliu bersolat.

Bagaimana Imam Ahlulbait(as) bersolat?

Saya tidak mahu memanjangkan perbahasan ini dengan mengemukakan hujah-hujah antara Sunni tentang tindakan meluruskan tangan. Saya letakkan disini amalan Imam dari Ahlulbait(as) dalam bersolat. Di dalam kitab hadis Syiah, penuh dengan hadis-hadis tentang Imam dari Ahlulbait(as) mengajar tentang cara solat Rasulullah(sawa), Syeikh Kulaini dan as Saduq meriwayatkan:

“Tuan kami mengadapkan mukanya ke Kaabah. Membuang segala hubungan di antara tangan beliau dan meletakkan tangannya di sisinya, menutup ruang antara jari-jari dan merapatkan kedudukan kaki beliau.”
1. Al-Shafi, terjemahan Furoo al Kafi, Jilid 2, ms 65
2. Man la Yuhdhirah al-Faqeeh, Jilid 1, ms 166

Imam Shawkani juga mengakui bahawa Imam dari Ahlulbait bersolat dengan tangan terbuka di sisi. Ini dapat kita baca dari kitab beliau Nayl al-Awtar, Jilid 2 ms 67

Hadis Dari Sumber Sunni

Berikut ialah sumber sokongan bagi menunjukkan Rasulullah(sawa) bersolat dengan tangan terbuka dari sumber rujukan Sunni.

1. Imam Ahmad mencatat :

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن مسيب بن رافع عن تميم بن طرفة عن جابر بن سمرة قال : خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال ما لي أراكم رافعي أيديكم كأنها أذناب خيل شمس أسكنوا في الصلاة

Jabir bin Samara berkata :

“Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata “Kenapa kau melipat tanganmu seperti tali kuda, kau harus menurunkannya dalam shalat” (musnad Ahmad bin Hanbal Juz.5 hal.93)

Syaikh Shaib Al Aranut menyatakan tentang riwayat diatas:

“Sanadnya shahih menurut Muslim”

Imam Syaukani mencatat dalam Nail al-Awthar, juz. 2 hal. 200:

“Mereka yang tidak melipat tangan (dalam shalat) bersandar pada riwayat Jabir bin Samara ; ‘mengapa kau lipat tanganmu’“

Bahkan Syaukani dalam Nayl al-Awthar, juz 2 hal.67 mengatakan bahwa Ahlul Bait Rasulullah saww shalat dengan meluruskan tangan.

2. Dalam Tanwir al Aynain hal 58 :

“Ibn Sirin ditanya mengapa kita meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat, ia berkata ini adalah perbuatan orang Roma”

(ada juga dalam Al-Awail hal. 209 oleh Allamah Askari, bab. Islami Namaz)

Dengan jelas riwayat di atas membuktikan bahawa Nabi (Sawa) Solat dengan tangan terbuka (Meluruskan Tangan)

Ibn Hajar Asqalani mencatat dalam “Talkhis al-Habir Fi Takhrij Ahadith” Juz.1 hal.333, bab ‘Sifat al Salat’

“Ma’az meriwayatkan bahwa ketika nabi SAW mendirikan Shalat, ia mengangkat kedua tangan hingga telinganya, dan setelah mengucap takbir kemudian menurunkan tangannya”

3. Dalam Umadatul Qari Syarh Sahih Bukhari, Juz. 9 hal 20:

Ibn al-Manzar meriwayatkan bahwa Abdullah Ibn Zubair dan al-Hassan al-Basri dan Ibn Sirin bahwa ia (Nabi) melaksanakana shalat dengan tangannya terbuka dan begitu juga Malik”.

4. Ulama Ahlul Hadist terkenal yakni Allamah Wahid-uz-Zaman Khan menulis:

“Siapapun yang mengatakan bahwa shalat dengan tangan terbuka adalah kebiasaan terkait dengan Syiah, dalam hal ini orang tersebut telah salah, karena tidak hanya Syiah tetapi juga seluruh umat muslim melakukan shalat dengan cara yang sama, khususnya selama masa Rasul SAW, para sahabat melakukan cara yang sama dan tidak seorang pun tahu tentang melipatkan tangan.”

Hadiyatul Mahdi, oleh Maulana Wahid uz Zaman, Juz. 1, hal.126

5. Abdullah bin Zubair Melaksanakan Shalat Dengan Tangan Terbuka

Imam Ibn Abhi Syaibah mencatat dalam Al-Mushaf nya , Juz. 1 hal 344:

Amr bin Dinar berkata ; ‘Abdullah Ibn Zubair melaksanakan shalat tanpa melipat tangannya’

6. Para Imam Ahlu Sunnah Said Ibn Jubair Dan Ibn Masayyid Juga Shalat Dengan Tangan Terbuka

Allamah Ibn Abdul Barr mencatat riwayat berikut dalam bukunya ‘Al Tamhid’:

“Abdullah ibn al-Izar berkata;

”Saya melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dengan Said Ibn al Jubair. Suatu saat, ia melihat seorang laki-laki menempatkan satu tangan di atas tangan yang lain, kemudian ia menghampirinya, dipisahkan tangannya, dan kembali lagi pada ku”

Kedudukan Said bin Jubayr di antara para ulama awal Islam adalah satu kedudukan yang telah diketahui umum. Menurut Ibn Kathir, Said bin Jubair adalah murid Ibn Abbas [ra] dan Imam dalam berbagai bidang Tafsir dan Fiqih. [Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Vol 9 hal 177 ‘Peristiwa Th. 94 H’.].

Ibn Hajar Asqalani menuliskan tentang Said bin Jubair :

“….Ia meriwayatkan hadits dari Ibn Abbas, Ibn Al-Zubair, Ibn Umar, Ibn Maqal, Uday Ibn Hatem, Abi Masood Al-Anasy, Abi Said Al-Khudri, Abu Huraira, Abu Musa Al-Asya’ari, Al-Dahak Ibn Qais Al-Fihri, Anas, Amr Ibn Maymun, Abi Abdulrahman Al-Sulami dan Aisyah….. Ibn Abi Mughira berkata bahwa ketika orang-orang Kufah mendatangi Abbas untuk menanyakan Fatwa, ia berkata kepada mereka: “bukankah Said Ibn Jubayr berada di antara kalian? … Amru Ibn Maimun mengatakan bahwa ayahnya berkata : “Said Ibn Jubair telah meninggal tetapi belum ada orang yang menggapai pengetahuan darinyi”……Abu Al-Qasim Al-Tabari berkata : “Dia adalah Imam dan Hujah yang dapat diandalkan Muslim”….Ibn Haban berkata bahwa Saeed adalah ahli hukum, pecinta shalat, benar dan saleh.”(Tahzib Al-Tahzib, Juz 4 No. 14)

Disini akan disinggung bagaimana posisi tangan Said bin al Mussayyib selama melaksanakan shalat. Namun bagi yang tahu sedikit tentang orang terkenal ini, kami menyajikan text yang dicatat oleh Ibn Kathir dalam kitabnya:

“Dia mendengar hadis dari Umar Faruq, Usman, Ali, Said and Abu Hurairah… Zuhri berkata :“Saya hidup bersamanya selama tujuh tahun dan saya tidak melihat orang lain yang lebih berpengetahuan dari pada dia”. Makhool berkata: “Saya pergi ke seluruh penjuru dunia dalam mengejar pengetahuan tetapi tidak ku temukan orang yang lebih berpengetahuan daripada Saeed”. Auzai berkata bahwa ada seseorang bertanya kepada Zuhri dan Makhul mengenai ahli hukum yang paling berwibawa di mata mereka, keduanya sepakat berkata ‘Said bin al Mussayyid’. Orang-orang memanggilnya “Faqih al Fuqaha”…Rabi telah menyatakan dengan merujuk kepada Imam Syafi’i bahwa bahkan sebuah hadis mursal dari Said bin al Musayyid adalah setara dengan hadis Hasan dan itu setara dengan hadis shahih dalam pandangan Imam Ahmad. Juga telah diungkapkan bahwa Said bin al Mussayyid lebih unggul dari semua Tabi’in… Abu Zarya berkata: “Dia adalah Madani dan Thiqa Imam”. Abu Hatim berkata : tidak ada di antara Tabi’in yang unik dan lebih hebat darinya”

Al Bidayah wal Nihayah (Urdu), Juz.9 Hal. 179-180 ‘Peristiwa 94 H’. (Nafees Book Academy Karachi)

Jelas sekali di sini, amalan bersolat dengan tangan terbuka bukanlah satu bidaah Syiah, malah ia merupakan satu perrbuatan yang ada asasnya dalam Sunnah Rasulullah(sawa). Kekeliruan tentang cara solat Nabi, seperti yang telah saya sebutkan, telah bermula sejak zaman Nabi lagi. Ini adalah kerana perbuatan puak-puak sesat yang memperkenalkan bidaah berterusan dalam agama Islam. Perhatikan hadis ini:

Diriwayatkan oleh Imran bin Husain :

“Aku shalat bersama Ali di Basrah dan ia mengingatkan kami pada shalat yang kami lakukan bersama Rasulullah. Ali mengucapkan Takbir pada setiap bangkit dan rukuk.”

(Sahih Bukhari, Juz 1, Kitab12, No hadis. 751)

Kepada orang-orang yang berfikiran kritis, akan segera terdetik di hati mereka, mengapa Imran teringat solat yang dilakukan oleh beliau bersama Rasulullah(sawa) hanya apabila beliau bersolat bersama Imam Ali? Adakah apabila beliau bersolat bersama imam lain tidak mengingatkan beliau tentang solat Rasulullah? Fikirkan..Wallahualam

Hasyim Muzadi Menggigau tentang tidak adanya bentuk negara Islam !

Meskipun kata dawlah dengan pengertian negara tidak tercantum di dalam as-Sunah Sunni,
bukan berarti realitas dari kata tersebut tidak ada di dalam Islam.
Alasannya, nash menggunakan kata lain yang unik, yaitu al-khilâfah, yang menunjukkan
makna yang sama dengan daulah (negara)
.
Walhasil, gambaran riil yang dimaksud oleh kata dawlah (negara)
telah disinggung oleh Islam dengan menggunakan kata lain, yaitu khilafah
.
Ajaklah mereka kepada Islam. Jika mereka memenuhi ajakanmu, terimalah mereka,
dan cegahlah (tanganmu) untuk memerangi mereka. Kemudian, ajaklah mereka berhijrah
dari negeri mereka (dâr al-kufr) ke negeri kaum Muhajirin (dâr al-Muhajirîn)
.
Lawan kata dari dâr al-Islam adalah dâr al-kufr, dâr al-musyrik, atau dâr al-harb.
Kata Dâr al-Islâm sendiri acapkali disamakan dengan kata Dâr al-Hijrah atau Dâr al-Muhâjirîn
.
syarat-syarat sebuah dar al-kufr, yaitu:
(1) Di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur;
(2) Bertetangga (dikelilingi) dengan negeri kufur;
(3) Kaum Muslim dan non-Muslim (dari kalangan ahlu dzimmah)
tidak memperoleh jaminan keamanan dengan keamanan Islam
.
bahwa suatu tempat/negeri dapat digolongkan sebagai Dar al-Islam jika memenuhi dua syarat:
(1) Diterapkannya sistem hukum Islam;
(2) Sistem keamanannya berada di tangan sistem keamanan Islam, yaitu berada
di bawah kekuasaan mereka
.
bahwa jika salah satu syarat dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi,
secara otomatis, tempat/negeri tersebut tidak bisa digolongkan sebagai Dar al-Islam
.
Berdasarkan uraian di atas, negara-negara seperti Iran, Sudan, Arab Saudi, dan Afghanistan,
tidak bisa dikategorikan sebagai Dar al-Islam, atau Daulah Islamiyah (Negara Islam)
,
Memang benar, negara-negara tersebut menerapkan hukum Islam, tetapi secara parsial,
yakni terbatas pada hukum hudûd, jinâyat, dan al-ahwâl as-syakhshiyyah (hukum perdata).
Sebaliknya, negara-negara tersebut tidak menjalankan hukum-hukum di bidang ekonomi,
pemerintahan, politik dalam dan luar negeri, militer, pergaulan sosial, pendidikan, dan lain-lain.
Apalagi negara seperti Arab Saudi, sistem keamanannya sangat bergantung pada AS dan sekutunya
.
(Ingat keberadaan puluhan ribu tentara AS di Arab Saudi)
.
Bahkan, saat ini, tidak ada satu negeri Islam
pun yang terkategori sebagai Daulah Islamiyah (Negara Islam) kecuali iRAN  yang hampir mendekati
.
====================================================
Jumat, 07 Oktober 2011 pukul 08:59:00

Hasyim Muzadi: Negara Islam Hanya Alternatif

Islam tidak Menentukan Negara


Konsep negara Islam menurut mantan Ketua PBNU Hasyim Muzadi merupakan alternatif pilihan yang tidak perlu diwajibkan. Pendapat tersebut untuk meruntuhkan keyakinan sekelompok Islam radikal yang meyakini negara Islam wajib dididirikan di Indonesia.

“Radikalisme yang berwatak agama khususnya Islam, bermula dari pemahaman keharusan negara Islam. Padahal penegakan syariat Islam dengan penegakan negara Islam itu beda,“ kata Hasyim Muzadi

“Negara Islam itu alternatif. Buat negara mono agama seperti Vatikan, Pakistan, Iran itu memungkinkan. Kalau membuat negara Islam di Indonesia, artinya membongkar sel-sel di republik ini. Ini akan meruntuhkan negara ini. Kalau yang multi agama seperti di Indonesia tidak bisa,“ tukas pimpinan Pondok Pesantren Al Hikam II tersebut.

Lantas, Hasyim mengajak para penganut Islam radikal untuk memulai menegakkan syariat Islam dari dirinya sendiri. Karena dengan itu, dukungan terhadap negara akan terbangun dengan sendirinya.

“Kalau menegakan syariat Islam Individual, akan mensuport negara ini. Itu yang perlu dilakukan,“ tukasnya.

Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi  mengatakan, Islam tak menentukan bentuk negara. Karena itu, walaupun Indonesia berpenduduk mayoritas Islam tapi bukan negara Islam. “Pancasila sebagai dasar negara itu berdasarkan ijtihad,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, kemarin.

Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu menjelaskan,Rasulullah membentuk “civil society” di Madinah kurang lebih dua tahun sebelum beliau wafat. Ketika itu, Rasulullah membuat aturan kemasyarakatan yang dikenal dengan istilah Piagam Madinah. Dalam Piagam Madinah tersebut dibuat kesepakatan yang mengatur kehidupan masyarakatnya yang majemuk, ada Muslim,Yahudi, Nasrani, dan agama lokal (shobiin), serta berbagai suku yang tidak jelas agamanya.

Dikatakannya, bentuk negara formal Islam juga belum tentu menjamin terlaksananya syariat Islam. Hal itu dibuktikan dengan terjadinya pergolakan yang terjadi sejumlah negara Islam di Timur Tengah yang disebabkan perilaku tidak Islami oleh para pemimpinnya. “Korupsi, ketidakadilan hukum, ekonomi dan sosial terjadi di negara-negara Islam. Itu kan bukan perilaku yang Islami,” katanya.

Hasyim Muzadi mengatakan, akan berangkat ke Eropa, Rabu, untuk menyampaikan pandangannya mengenai hubungan agama dan negara. Ia sekaligus akan  mengampanyekan Islam moderat model Indonesia.

Hasyim akan menghadiri dialog lintas agama di Krakow dan Warsawa, Polandia serta di Berlin, Jerman. Di Polandia, Hasyim yang menjadi anggota delegasi RI akan tampil sebagai pembicara dalam dialog “Managing Tolerance Respect and Understanding in the Religious Communities” yang diikuti tokoh lintas agama dari berbagai negara.”Dalam forum ini saya menjadi anggota delegasi Indonesia, sekaligus saya diminta menjadi pembicara,” ujarnya.

Di Berlin, 9-12 Oktober, Hasyim juga akan tampil sebagai narasumber dengan materi berjudul “The Role of Civil Society in Promoting Good Governance”. Menurut Presiden World Conference of Religions for Peace (WCRP) itu, dialog lintas agama tersebut merupakan upaya dunia untuk menciptakan kehidupan di dunia yang harmonis. Sementara kehadiran delegasi Indonesia ke forum tersebut sebagai wujud komitmen Indonesia dalam menciptakan harmoni di antara peradaban sekaligus mendorong kerja sama dan jejaring masyarakat madani.

Islam inklusif
Islam yang hendak dikembangkan di Indonesia yang ramah, terbuka, inklusif, pluralistik, dan mampu menawarkan solusi terhadap berbagai masalah besar bangsa dan negara akan ditawarkan sebagai konsep dalam “Annual Conference on Islamic Sudies (ACIS) XI” atau “Konferensi Internasional Kajian Islam XI” di Bangka Belitung, 10-13 Oktober 2011.

Ketua Panitia ACIS XI Prof Muhammad Ali kepada pers di Jakarta, Kamis, mengatakan, mozaik Islam dalam ruang publik untuk membangun karakter bangsa menjadi tema pada kegiatan itu. Islam, lanjut dia, agama yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, subkultur, kearifan lokal, dan fakta agama yang beragam. Islam memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan, keteduhan, dan perlindungan kepada semua yang berdiam di muka bumi tanpa diskriminasi, apa pun agama yang dianutnya.

“Islam yang toleran dan ramah terhadap siapa saja yang mempunyai kemampuan baik untuk membangun Indonesia yang bermartabat. Dalam konteks ini, upaya merawat dan merajut kebinekaan dalam mozaik keindonesiaan merupakan langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan bangsa ini,” jelasnya.

Syi’ah yang setia kepada Imam Ali(as) musuh perampas kuasa/ pembunuh Ahlulbait(as)/ penegak kebatilan : Muawiyah Bin Abu Sufyan.

Persuratan Di Antara Muawiyah dan Muhammad Bin Abu Bakar

 


Bismillahi Taala. Salamun Alaikum wa rahmatollah.

Allahumma Sholi ala Muhammad wa aali Muhammad
Kepimpinan Imam Ali(as) dan Ahlulbait Rasul(sawa) dapat dibuktikan dengan berbagai sumber riwayat, samada dari Kitab Sunni mahupun Syiah. Begitu juga pergeseran yang terjadi antara beliau dan puak yang merampas kuasa atau yang cuba merampas kuasa, adalah satu perkara yang sahih dan terjadi secara benar dalam sejarah. Kini, insyaAllah, saya akan bawakan beberapa riwayat, surat dari Muhammad bin Abu Bakar, seorang Syiah yang setia kepada Imam Ali(as) dengan perampas kuasa, pembunuh Ahlulbait(as), penegak kebatilan, Muawiyah Bin Abu Sufyan.

Sumber Dokumen Surat antara Muawiyah dan Muhamad b Abu Bakr

 

Sejarawan  besar Ahlu Sunnah, Al Baladzuri dalam kitabnya Ansab al Asyraf  jilid II hal  393-397, Nasr bin Muhazin dalam karyanya Waq’at ash Shiffin hal 118-121;Ibnu Abil al Hadid, Syarh  Nahjul Balaghah jilid III hal 188, Mas’udi pada karyanya Murudz Dzahab jil III hal 465, Abdul Malik  bin Husain al Islami pada kitabnya Samth an Nujum al ‘awali Jilid II hal 465  telah merekodkan surat menyurat di antara Muawiyah dan Muhammad bin Abu Bakar(ra) yang kemudian membongkar misteri bagaimana kekhalifahan itu berpindah tangan, dan berikut adalah isi surat tersebut :

Isi Surat Muhammad bin Abu Bakr Kepada Muawiyyah b Abu Sofyan

 

Dari Muhammad Bin Abu Bakar,

kepada si Sesat Muawiyyah bin Shakhr

 

Salam kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah !

 

Amma ba’du, sesungguhnya Allah swt, dengan keagungan dan kekuasaan-Nya, menciptakan makhluk-Nya tanpa main-main. Tiada celah kelemahan dalam kekuasaan_Nya. Tiada berhajat Dia terhadap hamba-Nya. Ia menciptakan mereka untuk mengabdi kepada-Nya. Dia menjadikan orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan orang yang beruntung.

 

 

Kemudian, dari antara mereka, Dia Yang Maha Tahu memilih dan mengkhususkan Muhammad SAW dengan pengetahuan-Nya. Dia jugalah yang memilih Muhammad saw berdasarkan ilmu-Nya sendiri untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengemban wahyu-Nya. Dia mengutusnya sebagai Rasul dan pembawa khabar gembira dan pemberi peringatan.

 

Dan orang pertama yang menjawab dan mewakilinya, mentaatinya, mengimaninya, membenarkanya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai agamanya, adalah saudaranya dan misanya Ali bin Abi Thalib, yang membenarkan yang ghaib. Ali mengutamakannya dari semua kesayanganya, menjaganya pada setiap ketakutan, membantunya dengan dirinya sendiri pada saat-saat mengerikan, memerangi perangnya, berdamai dengan perdamaianya, melindungi Rasulullah dengan jiwa raganya siang mahupun malam, menemaninya pada saat-saat yang  menggetarkan, kelaparan serta dihinakan. Jelas tiada yang setara dengannya  dalam berjihad. Tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang mendekatinya dalam amal perbuatanya.

 

Dan aku berasa hairan melihat engkau hendak menandinginya ! Engkau adalah engkau ! Sejak awal lagi, Ali telah unggul dalam setiap kebajikan, paling tulus dalam niat, keturunannya paling bagus, isterinya adalah wanita utama. Dan saudaranya (Jaafar) syahid di perang Mu’tah manakala seorang lagi pamannya(Hamzah) adalah penghulu para syuhada perang Uhud. Ayahnya adalah penyokong Rasulullah saw dan isterinya.

 

Dan engkau adalah orang yang terlaknat, anak orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan ayahmu menghalangi jalan Rasululah saw. Kalian berdua berjihad untuk memadamkan nur Ilahi, dan kamu berdua melakukannya dengan menghasud  dan menghimpun manusia, menggunakan kekayaan dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam keadaan demikian ayahmu mati. Dan engkau melanjutkan perbuatanya seperti itu pula.

 

Dan saksi-saksi perbuatan engkau adalah orang-orang yang meminta-minta perlindungan engkau, iaitu dari kelompok musuh Rasulullah yang memberontak, kelompok pemimpin-pemimpin yang munafiq dan pemecah belah dalam melawan Rasulullah saw.

 

Sebaliknya, saksi bagi Ali dengan keutamaanya yang terang dan keterdahuluanya (dalam islam) adalah penolong-penolongnya yang keutamaan mereka telah disebutkan di dalam Al Qur’an, iaitu kaum Muhajirin dan Ansar. Dan mereka itu merupakan pasukan yang berada di sekitarnya dengan pedang-pedang mereka dan siap menumpahkan darah untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya yang patut di taati dan malapetaka bila mengingkari .

 

Maka mengapa, wahai ahli neraka, engkau menyamakan dirimu dengan Ali, sedangkan beliau adalah pewaris dan pelaksana wasiat Rasulullah (sawa), bapa kepada anak-anak Rasulullah(sawa)(Hassanain), pengikut pertama, dan yang terakhir menyaksikan Rasulullah(sawa), teman berbincang, penyimpan rahasia  dan sekutu Rasulullah saw dalam urusanya. Rasulullah saw memberitahukan urusan baginda kepadanya, sedangkan engkau adalah musuh dan anak dari musuh baginda.

 

Tiada peduli keuntungan apa pun yang engkau peroleh dari kefasikanmu di dunia ini dan bahkan Ibnu al Ash menghanyutkan engkau dalam kesesatanmu, akan tampak bahawa waktumu sudah berakhir dan kelicikanmu tidak akan ampuh lagi. Maka akan menjadi jelas bagimu siapa yang akan memiliki masa depan yang mulia. Engkau tidak mempunyai harapan akan pertolongan Allah, yang tidak engkau fikirkan.

 

Kepada-Nya engkau berbuat Licik, Allah menunggu untuk menghadangmu, tetapi kesombonganmu membuat engkau jauh dari Dia.

Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk.

 ============================================================================

Surat balas Muawiyyah b Abu Sofyan kepada Muhammad b Abu Bakar

Dari Muawiyyah bin Abu Sufyan,

Kepada  Pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar.

Salam kepada yang taat kepada Allah

Telah sampai kepadaku suratmu, yang menyebut Allah Yang Maha Kusa dan Nabi Pilihan-Nya, dengan kata-kata yang engkau rangkaukan. Pandanganmu lemah. Engkau mencerca ayahmu. Engkau menyebut hak Ibnu Abi Thalib dan keterdahuluan serta kekerabatannya dengan Nabi Allah saw dan bantuan serta pertolongannya kepada Nabi pada setiap keadaan genting.

Engkau juga berhujjah dengan keutamaan orang lain dan bukan keutamaanmu. Aneh, engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada orang lain.

Di zaman Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak memungkiri hak Ibnu Abi Thalib. Keutamaanya jauh di atas kami. Dan Allah SWT memilih dan  mengutamakan Nabi sesuai janji-Nya. Dan melalui Nabi Dia menampakkan dakwah-Nya dan menjelaskan hujjah-Nya. Kemudian mengambil Nabi saw ke sisi-Nya.

Ayahmu dan Faruqnya (umar) adalah orang-orang pertama yang merampas hak ibnu Abi Thalib. Hal ini diketahui umum.

Kemudian mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar, tetapi Ali menunda dan memperlambatnya. Mereka marah sekali dan bertindak kasar. Hasrat mereka bertambah besar. Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai dengan mereka berdua.

Mereka berdua tidak mengajak Ali dalam pemerintahan mereka. Tidak juga mereka menyampaikan kepadanya rahsia mereka, sampai mereka berdua meninggal dan berakhirlah kekuasaan mereka.

Kemudian bangkitlah orang ketiga, iaitu Usman yang menuruti tuntunan mereka. Engkau dan temanmu berbicara tentang kerosakan-kerosakan yang dilakukan Usman agar orang-orang yang berdosa di wilayah-wilayah mengembangkan niat-niat buruk terhadapnya dan engkau bangkit melawannya. Engkau menunjukkan permusuhanmu kepadanya untuk mencapai keinginan-keinginanmu sendiri.

Hai putra Abu Bakar, berhati-hatilah atas apa yang engkau lakukan. Jangan engkau menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat engkau uruskan. Engkau tidak dapat menemukan seseorang yang mempunyai kesabaran yang lebih besar dari gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tidak ada yang dapat menyamainya.

Ayahmu bekerja sama dengan beliau untuk mengukuhkan kekuasaanya. Bila ada kaum yang mengatakan bahawa tindakanmu benar, maka ketahuilah, ayahmu yang mengambil alih kekuasaan ini, dan kami menjadi sekutunya. Jika ayahmu tidak melakukan hal itu, maka kami tidak akan sampai menentang anak abu Thalib dan kami akan sudah menyerah kepadanya.

Tetapi kami melihat bahawa ayahmu memperlakukan Ali seperti ini dihadapan kami, dan kami pun mengikutinya, maka cacat apapun yang akan kamu dapatkan, maka arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri atau berhentilah masuk campur(akan urusan kami).

Salam bagi orang yang kembali.

——————————————-

Kandungan surat ini agak menggusarkan jiwa. Ternyata dari isinya, terdapat satu pengkisahan cerita silam setelah kewafatan Nabi(sawa), tentang rampasan hak Imamah dari Imam Ali bin Abi Thalib(as). Malah Muawiyah, meletakkan kesalahan tertindasnya Ahlulbait(as) kepada para khalifah awwalin, yang memulakan segalanya. Wallahualam.

Provinsi Timur di Arab Saudi adalah tempat tinggal kebanyakan warga penganut Syi’ah.

Rabu, 05 Oktober 2011 14:02 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Arab Saudi panik menghadapi gelombang anti kezaliman yang dilancarkan minoritas syi’ah…

Yach, syi’ah anti kezaliman ! Syi’ah siap berantas kemungkaran rezim..

Arab Saudi hari Selasa (04/10/2011) mengatakan bahwa ada negara asing yang menyulut kerusuhan yang terjadi di Provinsi Timur pada hari Senin.

Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Saudi yang dikutip Al Arabiya, empat belas orang terluka dalam kerusuhan itu.

Provinsi Timur di Arab Saudi adalah tempat tinggal kebanyakan warga penganut Syi’ah.

Dalam pernyataannya, kementerian juga meminta agar pengunjuk rasa menunjukkan loyalitasnya kepada Allah, bangsa dan negaranya.

“Sebuah negara asing berusaha untuk mengacaukan keamanan nasional dengan menyulut bentrokan di kota Al Qatif,” kata kementerian.

Meskipun kementerian tidak menyebut negara asing yang dimaksud, tapi sudah dapat dimaklumi bahwa negara asing di wilayah Saudi dan Bahrain yang berhubungan dengan komunitas Syi’ah, tidak lain adalah Iran.

Pihak Kementerian mengatakan, setelah polisi membubarkan kerumunan massa pengunjuk rasa pada hari Senin (03/10/2011) itu, beberapa orang bersenjata memulai tembakan ke arah petugas keamanan. Akibatnya 11 orang luka-luka.

Kementerian menegaskan bahwa pihaknya akan menindak tegas para pengunjuk rasa, demi menjaga keamanan dan kestabilan dalam negeri.

Kolumnis Saudi, Ali Khsheiban, menyebut aksi protes tersebut sebagai “intervensi terang-terangan oleh Iran dalam masalah dalam negeri Arab Saudi.”

“Kejadian ini menunjukkan bahwa sumpah Iran untuk menjaga ketentraman di wilayah Teluk adalah bohong. Negara-negara Teluk tidak pernah menjadi sumber masalah dalam negeri Iran. Tapi, Teheran terus menerus berusaha untuk mengganggu kestabilan di kawasan ini,” tegas Ali Khseiban.

Imam Hasan Mendamaikan Dua kelompok besar Kaum Muslimin ?? Dan Tinjauan Tafsir Al Hujurat Ayat 9

sebenarnya wahabi nashibi menyadari bhw banyak riwayat ttg keburukan muawiyyah,
sbnrnya mereka bertahan dgn kejahilan mereka adalah dikarnakan semua lawan berat muawiyah adalah ahlulbait,ini lah yg mereka tdk suka.meyalahkan muawiyyah sama juga membenarkan keutamaan ahlulbait

Ada hadis shahih yang sering digunakan kaum salafy nashibi untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yaitu hadis Imam Hasan adalah Sayyid yang akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin.

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى عَنْ الْحَسَنِ سَمِعَ أَبَا بَكْرَةَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَالْحَسَنُ إِلَى جَنْبِهِ يَنْظُرُ إِلَى النَّاسِ مَرَّةً وَإِلَيْهِ مَرَّةً وَيَقُولُ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Musa dari Al Hasan yang mendengar Abu Bakrah berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di atas mimbar dan ketika itu Hasan berada di sisinya, terkadang Beliau melihat kearah orang-orang dan terkadang melihat ke arahnya [Hasan] dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Sesungguhnya anakku ini adalah Sayyid [pemimpin] dan dengan perantaraannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin” [Shahih Bukhari 5/26 no 3746]

Kami pernah berdiskusi dengan salah seorang salafy nashibi dan ia menyatakan dengan hadis ini sebagai bukti bahwa Muawiyah adalah muslim dan tidak kafir karena tindakannya yang memerangi Imam Ali. Sebenarnya kami pribadi tidak pernah menyatakan Muawiyah kafir karena perperangannya dengan Imam Ali, kami katakan Muawiyah dalam kesesatan karena perperangannya dengan Imam Ali [sebagaimana dinyatakan dalam hadis shahih]

Muawiyah adalah orang yang memiliki kemunafikan di dalam hatinya. Ia memerangi Imam Ali dengan alasan yang dicari-cari dan dengan alasan ini pula ia berusaha menghasut kaum muslimin di syam agar membantunya memerangi Imam Ali. Selain itu ia juga mencaci Imam Ali sampai-sampai Imam Hasan ketika berdamai dengannya menjadikan “tidak mencaci imam Ali” sebagai salah satu syarat perdamaian. Telah disepakati dalam hadis shahih bahwa tidaklah mencintai Imam Ali kecuali mukmin dan tidaklah membenci Imam Ali kecuali munafik.

Pada dasarnya seorang munafik mengaku bahwa dirinya seorang muslim sehingga orang-orang melihatnya masuk dalam kelompok kaum muslimin. Hadis Imam Hasan di atas mengandung lafaz “dua kelompok besar kaum muslimin”. Kelompok adalah kumpulan dari banyak orang. Jika orang-orang yang mengaku dirinya muslim berkumpul maka kumpulan tersebut bisa dibilang kelompok kaum muslimin. Dalam kelompok ini bisa jadi hakikat semua orangnya muslim atau bisa jadi sebagian besar muslim dan sebagian kecil mengaku muslim padahal sebenarnya munafik. Jadi lafaz “kelompok besar kaum muslimin” tidak menafikan ada sebagian kecil munafik yang masuk di dalamnya.

Salafy nashibi sebenarnya mengalami tanaqudh dalam pembelaan mereka terhadap Muawiyah. Hadis di atas menyebutkan ada dua kelompok besar kaum Muslimin yaitu

  1. Kelompok pengikut Imam Ali yang saat itu dipimpin Imam Hasan
  2. Kelompok pengikut Muawiyah yang saat itu dipimpin Muawiyah.

Nashibi menolak kalau Muawiyah munafik dengan alasan hadis Imam Hasan di atas tetapi nashibi gampang saja berkata bahwa yang membunuh Utsman adalah kaum munafik yang ada di pasukan Imam Ali. Padahal dengan hadis Imam Hasan di atas maka salafy nashibi harus mengakui bahwa para pembunuh Utsman termasuk kelompok kaum muslimin.

Inti dari tulisan ini adalah lafaz “kelompok besar kaum muslimin” tidaklah menafikan bahwa dalam kelompok tersebut terdapat sebagian kecil orang munafik. Buktinya dapat dilihat dari asbabun nuzul Al Hujurat ayat 9

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَتَيْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ حِمَارًا فَانْطَلَقَ الْمُسْلِمُونَ يَمْشُونَ مَعَهُ وَهِيَ أَرْضٌ سَبِخَةٌ فَلَمَّا أَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِلَيْكَ عَنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ آذَانِي نَتْنُ حِمَارِكَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْهُمْ وَاللَّهِ لَحِمَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْيَبُ رِيحًا مِنْكَ فَغَضِبَ لِعَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَشَتَمَهُ فَغَضِبَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْحَابُهُ فَكَانَ بَيْنَهُمَا ضَرْبٌ بِالْجَرِيدِ وَالْأَيْدِي وَالنِّعَالِ فَبَلَغَنَا أَنَّهَا أُنْزِلَتْ {وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا}

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’tamar yang berkata aku mendengar ayahku yang berkata bahwa Anas radiallahu ‘anhu berkata dikatakan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seandainya anda menemui Abdullah bin Ubay maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berangkat dengan menaiki keledai sedangkan kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang tandus. Ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menemuinya, Abdullah bin Ubay berkata “menjauhlah dariku demi Allah bau keledaimu mengaggangguku”. Seseorang dari kaum Anshar dintara mereka berkata “demi Allah keledai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih harum darimu” maka orang dari kaumnya Abdullah marah dan mencacinya. Kemudian setiap orang dari kedua kelompok menjadi marah. Dan diantara mereka terjadi saling pukul dengan pelepah kurma, tangan dan sandal kemudian sampai kepada kami bahwa turun ayat “jika dua kelompok kaum mukminin berperang maka damaikanlah antara keduanya” [Shahih Bukhari 3/183 no 2691]

Asbabun nuzul Al Hujurat ayat 9 di atas terkait dengan dua kelompok yang saling berselisih sehingga terjadi saling pukul diantara mereka.

  1. Kelompok pertama adalah kelompok yang membela Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diantaranya salah seorang dari kaum Anshar dan sahabatnya.
  2. Kelompok kedua adalah yang membela Abdullah bin Ubay. Kelompok ini termasuk di dalamnya Abdullah bin Ubay berserta sahabat-sahabatnya.

Kedua kelompok ini tetap disebut Allah SWT dengan “kaum mukminin” padahal pada kelompok kedua terdapat Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya yang masyhur dikenal sebagai munafik. Apakah kaum munafik ini yang disebut “kaum mukminin”?. Jelas tidak, maka yang dapat dipahami dari lafaz tersebut adalah diantara mereka yang membela Abdullah bin Ubay terdapat kaum mukminin yang terpengaruh oleh Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya yang munafik.

Ayat ini membuktikan bahwa jika dalam suatu kelompok terdapat orang-orang mukmin dan sebagian kecil orang munafik maka kelompok tersebut masih disebut sebagai kelompok kaum mukminin. Dari sini dapat diterima bahwa walaupun di dalam kelompok Muawiyah terdapat orang yang munafik maka itu tidak bertentangan dengan hadis Imam Hasan di atas.

Salam Damai

web syiahali : Duri Dalam Daging Nasibi

Ada-Apa-dengan-Salafi

Wah, 3 hari berturut-turut outstation, x sempat pun nak online ke internet, dan tengok apa perkembangan terbaru di web. Bila bukak sahaja laman admin, penuh dengan comment-comment para Nasibi. Sejak 2 bulan yang lepas, laman ini mendapat lawatan secara meluas dari pihak Nasibi as Salafi. Walaupun di tuduh tidak mempunyai hujah yang kuat, serta tidak layak ditanggapi, artikel-artikel yang di muatkan terus mendapat perhatian mereka. Puak Nasibi, tidak mampu membiarkan laman ini dengan tenang tanpa perasaan ingin mencaci maki kepada Syiah.

Okay la tu, namun makin banyak la kata-kata kotor yang memenuhi comment web ini. Dalam setiap comment mereka, dapat dirasakan kesumat dan kebencian yang teramat sangat kepada Syiah. Boleh rasa aura syaitan dari kata-kata mereka. Tetapi ada juga aura kajahilan dan kebodohan, serta kejumudan. Biasa lah tu, kerana kita sekarang sedang berhadapan dengan fitnah yang paling lama dalam sejarah Islam, sejak kewafatan Rasulullah(sawa) lagi.

Comment-comment mereka tidak layak ditanggapi, dan sedikit pun tidak akan melambatkan saya dalam menyebarkan mesej Ahlulbait(as). Kepada para Nasibi yang mungkin membaca, tidak kira apa comment dan kritikan kalian, saya akan terus meletakkan artikel-artikel kebenaran dalam web ini, tidak kiralah, samada saya copy paste ke, translate ke, edit ke atau buat sendiri, yang pasti, artikel-artikel ini mengajak kepada pembukaan fikiran, dan penghujahan kebenaran. Apa yang kalian suka, tidak ada kena mengena dengan saya. Kalian tidak akan dapat menghalang kebenaran.

Gelombang Syiah Tidak Terhalang.

kejayaan Sunni cuma sejarah silam

Hadis “Ali Khalifah Selepas Ku” Adalah Bersanad Muktabar

Salam Alaikum wa rahmatollah. Berbagai riyawat yang membawa maksud bahawa Ali adalah khalifah setelah Rasulullah (s.a.w) dapat ditemui di dalam sumber-sumber Ahlusunnah Wal Jamaah. Artikel ini hanya akan menampilkan salah satu riwayatnya bersama pembuktian kesahihan sanadnya. ‘Amrū bin Abī ‘Āṣim di dalam kitab Ahlusunnahnya mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سُلَيْمٍ أَبِي بَلْجٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص): …

وَخَرَجَ النَّاسُ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: أَخْرُجُ مَعَكَ، قَالَ: «لا»، قَالَ: فَبَكَى، قَالَ: «أَفَلا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلا أَنَّكَ لَسْتَ بِنَبِيٍّ، وَأَنْتَ خَلِيفَتِي فِي كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي».

الشيباني، عمرو بن أبي عاصم الضحاك (متوفاى287هـ)، السنة، ج 2، ص603 ، تحقيق: محمد ناصر الدين الألباني، ناشر: المكتب الإسلامي – بيروت، الطبعة: الأولى، 1400هـ.

Ibnu ‘Abbas berkata: RasūluLlah (s.a.w) bersabda… orang ramai keluar ke peperangan Tabuk. Maka ‘Alī bin Abī Ṭalib berkata: Saya juga turut keluar bersama engkau? RasūluLlah menjawab: Tidak. Maka ‘Alī pun menangis. Sabda RasūluLlah: Apakah engkau tidak reda perumpamaan engkau di sisiku seperti Ḥarun di sisi Musa?, melainkan engkau bukan nabi, dan engkau adalah khalifah setiap orang beriman setelahku? – Al-Shaybānī, ‘Amrū bin Abī ‘Āṣim, jilid 2 halaman 603.

Nasā’ī di dalam Khaṣā’iṣ Amīrul Mukminīn menukilkannya dengans sanad yang sama seperti berikut:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَضَّاحُ ، وَهُوَ أَبُو عَوَانَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ، قَالَ: ” إِنِّي لَجَالِسٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ… .

وَخَرَجَ بِالنَّاسِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: أَخْرُجُ مَعَكَ؟ فَقَالَ: لا، فَبَكَى، فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلا أَنَّكَ لَسْتَ بِنَبِيٍّ؟ ثُمَّ قَالَ: أَنْتَ خَلِيفَتِي، يَعْنِي فِي كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي.

النسائي، ابوعبد الرحمن أحمد بن شعيب بن علي (متوفاى303 هـ)، خصائص اميرمؤمنان علي بن أبي طالب، ج 1، ص50 ، تحقيق: أحمد ميرين البلوشي، ناشر: مكتبة المعلا – الكويت الطبعة: الأولى، 1406 هـ.

======================================

Penelitian sanad riwayat:

ʽAmrū bin Abī ʽĀṣim (عمرو بن أبي عاصم)

ʽAmrū bin Al-Ḍaḥḥāk merupakan seorang penulis kitab meskipun ia tidak masyhur seperti anak lelakinya (Aḥmad bin ʽAmrū bin Al-Daḥḥāk, penulis kitab Al-Aḥād Wal Mathānī), namun beliau merupakan salah seorang guru kepada Ibnu Mājah Al-Qazwīnī dan ulama-ulama Ahlusunnah menthiqahkan beliau.

Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī dimenyarahkan beliau sebagai berikut:

عمرو بن الضحاك بن مخلد البصري ولد أبي عاصم النبيل ثقة كان على قضاء الشام من الحادية عشرة مات سنة اثنتين وأربعين ق .

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، تقريب التهذيب، ج1 ص423، رقم:5052 ، تحقيق: محمد عوامة، ناشر: دار الرشيد – سوريا، الطبعة: الأولى، 1406 – 1986.

ʽAmrū bin Al-Daḥḥāk bin Makhlad Al-Baṣrī, anak Abī ʽĀṣim Al-Nabīl adalah thiqah dan menjadi Qadi Syam pada tahun sebelas (kurun ke-3), beliau meninggal pada tahun empat puluh dua. – Al-ʽAsqalānī Al-Shāfiʽī, Aḥmad bin ʽAlī bin Ḥajar Abul Faḍl, Taqrīb Al-Tahdhīb, jilid 1 halaman 423.

————————————————

Ibnu Ḥabbān Al-Shafiʽī menulis tentang beliau:

عمرو بن أبى عاصم النبيل يروى عن أبيه ثنا عنه محمد بن الحسن بن قتيبة وغيره من شيوخنا كان على قضاء الشام مستقيم الحديث.

التميمي البستي، ابوحاتم محمد بن حبان بن أحمد (متوفاى354 هـ)، الثقات، ج 8   ص 486، رقم: 14580، تحقيق السيد شرف الدين أحمد، ناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1395هـ – 1975م

ʽAmrū bin Abī ʽAṣim Al-Nabīl meriwayatkan daripada ayahnya yang menukilkan daripada Muḥammad bin Al-Ḥasan bin Qutaybah dan beberapa orang ulama yang lain bahawa beliau adalah Qadi Syam dan hadis-hadisnya adalah benar. – Al-Tamīmī, Abu Ḥātim Muḥammad bin Ḥabbān bin Aḥmad, Al-Thiqāt, jilid 8 halaman 486.

——————————————————-

Muhammad bin Al-Muthannā (محمد بن المثنى)

Beliau merupakan perawi hadis Bukhārī, Muslim dan sahih sittah yang lain, Dhahabī memuji beliau seperti berikut:

محمد بن المثنى أبو موسى العنزي الحافظ عن بن عيينة وعبد العزيز العمي وعنه الجماعة وأبو عروبة والمحاملي ثقة ورع مات 252 ع .

الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة، ج2 ص214، رقم: 5134 ، تحقيق محمد عوامة، ناشر: دار القبلة للثقافة الإسلامية، مؤسسة علو – جدة، الطبعة: الأولى، 1413هـ – 1992م.

Muḥammad bin Al-Muthannā Abū Mūsā Al-‘Anaziy Al-Ḥāfiẓ (mereka yang menghafal seratus ribu hadis).. seorang yang thiqah dan wara’. – Al-Dhahabī Al-Shafiʽī, Shamsuddin Abū ‘Abdullah Muḥammad bin Aḥmad bin Uthmān, Al-Kāshif fī Ma’rifah man lahu riwāyah fi Al-Kutub Al-Sittah, jilid 2 halaman 214, nombor 5134.

Ibnu Ḥajar berkata tentang beliau:

محمد بن المثنى بن عبيد العنزي بفتح النون والزاي أبو موسى البصري المعروف بالزمن مشهور بكنيته وباسمه ثقة ثبت من العاشرة وكان هو وبندار فرسي رهان وماتا في سنة واحدة ع .

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، تقريب التهذيب، ج1 ص505، رقم: 6264 ، تحقيق: محمد عوامة، ناشر: دار الرشيد – سوريا، الطبعة: الأولى، 1406 – 1986.

Maksudnya Muḥammad bin Muthannā adalah seorang yang thiqah – Al-‘Asqalānī Al-Shāfiʽī, Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar bin Abul Faḍl, Taqrīb Al-Tahdhib.

——————————————————–

Yaḥyā bin Ḥammād (يحيى بن حماد):

Merupakan perawi hadis Bukhari, Muslim dan sahih sittah yang lain. Dhahabī mensyarahkan beliau sebagai berikut:

يحيى بن حماد الشيباني مولاهم ختن أبي عوانة وراويته له عن عكرمة بن عمار وشعبة وعنه البخاري والدارمي والكديمي ثقة متأله توفي 215 خ م ت س ق

الكاشف ج2 ص364، رقم: 6158

Yaḥyā bin Ḥammād Al-Shaybānī meriwayatkan daripada ‘Akramah dan Shuʽbah. Al-Bukārī, Al-Dārimī dan Al-Kudaymiy menukilkan riwayat daripadanya dan menganggapnya Thiqah. – Al-Kāshif, jilid 2 halaman 364, nombor 6158.

Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī berkata:

يحيى بن حماد بن أبي زياد الشيباني مولاهم البصري ختن أبي عوانة ثقة عابد من صغار التاسعة مات سنة خمس عشرة خ م خد ت س ق .

تقريب التهذيب ج1 ص589، رقم:7535

Yaḥyā bin Ḥammād seorang yang Thiqah, Taqrībul Tahdhib, jilid 1 halaman 589, nombor 7535

——————————————————

Abū ‘Awānah, Waḍḍāḥ bin ‘AbduLlah (أَبُو عَوَانَةَ، وضّاح بن عبد الله)

Beliau merupakan perawi hadis Bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Dhahabī menganggap beliau adalah Thiqah dan Mutqin:

وضاح بن عبد الله الحافظ أبو عوانة اليشكري مولى يزيد بن عطاء سمع قتادة وابن المنكدر وعنه عفان وقتيبة ولوين ثقة متقن لكتابه توفي 176 ع

الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة، ج2 ص349، رقم:6049، تحقيق محمد عوامة، ناشر: دار القبلة للثقافة الإسلامية، مؤسسة علو – جدة، الطبعة: الأولى، 1413هـ – 1992م.

Ibnu Ḥajar turut menulis bahawa Waḍḍāḥ seorang yang thiqah tingkat ke-tujuh:

وضاح بتشديد المعجمة ثم مهملة اليشكري بالمعجمة الواسطي البزاز أبو عوانة مشهور بكنيته ثقة ثبت من السابعة مات سنة خمس أو ست وسبعين ع

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، تقريب التهذيب،ج1، ص580، رقم: 7407، تحقيق: محمد عوامة، ناشر: دار الرشيد – سوريا، الطبعة: الأولى، 1406 – 1986.

——————————————————

Abū Balj, Yaḥyā bin Sulaym bin Balj

Mizzi di dalam Tahdhibul Kamāl menulis:

أبو بلج الفزاري الواسطي، ويُقال: الكوفي، وهو الكبير، اسمه: يحيى بن سليم بن بلج…

قال إسحاق بن منصور، عن يحيى بن مَعِين: ثقة. وكذلك قال محمد بن سعد، والنَّسَائي، والدار قطني. وقَال البُخارِيُّ: فيه نظر. وَقَال أبو حاتم: صالح الحديث، لا بأس به.

المزي، ابوالحجاج يوسف بن الزكي عبدالرحمن (متوفاى742هـ)، تهذيب الكمال،ج33، ص162، تحقيق: د. بشار عواد معروف، ناشر: مؤسسة الرسالة – بيروت، الطبعة: الأولى، 1400هـ – 1980م.

Abu Balj Al-Fazārī…

Isḥaq bin Manṣūr menukilkan daripada Yaḥyā bin Muʽīn bahawa beliau adalah Thiqah. Begitu juga Muḥammad bin Saʽd, Nasā’ī dan Al-Dār Qaṭanī menthiqahkan beliau. Al-Bukhārī berkata: Ada pandangan tentangnya (ada masalah). Berkata Abū Ḥātim: Hadisnya adalah Ṣāliḥ, tidak ada sebarang masalah dengannya. – Al-Mizzi, Abul Hajjaj Yūsuf bin Al-Zakī ʽAbdul Raḥmān (meninggal pada tahun 742 Hijrah), Tahdhībul Kamāl, jilid 33 halaman 162.

Dhahabī di dalam kitab Al-Kāshif mengatakan bahawa beliau:

أبو بلج الفزاري يحيى بن سليم أو بن أبي سليم عن أبيه وعمرو بن ميمون الأودي وعنه شعبة وهشيم وثقه بن معين والدارقطني وقال أبو حاتم لا بأس به وقال البخاري فيه نظر

الكاشف ج2 ص414، رقم:6550

Abū Balj Al-Farazī Yaḥyā bin Sulaym atau Ibnu Abī Sulaym; Yaḥyā bin Mu’īn dan Dārqaṭnī menthiqahkan beliau, Abū Ḥatim berkata bahawa tidak ada masalah tentang beliau, dan Bukhārī mengatakan beliau ada masalah. – Al-Kāshif, jilid 2 halaman 414, bilangan 6550.

Ibnu Ḥajar di dalam Lisān Al-Mīzān berkata:

يحيى بن سليم ان أبو بلج الفزاري عن عمرو بن ميمون وعنه شعبة وهشيم وثقه بن معين والنسائي والدارقطني.

لسان الميزان ج7 ص432، رقم:5209

Yaḥyā bin Mu’īn, Nasā’ī dan Al-Dārqatanī menthiqahkan beliau. – Lisān Al-Mīzān, jilid ke-7 halaman ke 432, nombor 5209.

Di dalam Taqrīb Al-Tahdhib ia dianggap sebagai Ṣadūq meskipun ada ketika ia melakukan kesilapan.

أبو بلج بفتح أوله وسكون اللام بعدها جيم الفزاري الكوفي ثم الواسطي الكبير اسمه يحيى بن سليم أو بن أبي سليم أو بن أبي الأسود صدوق ربما أخطأ من الخامسة 4

تقريب التهذيب ج1 ص625، رقم: 8003.

Abū Balj sangat jujur, kemungkinan ia melakukan kesalahan. – Taqrīb Al-Tahdhib, jilid 1 halaman 625, no. 8003.

——————————————————

Ibnu ʽAbbās (ابْنِ عَبَّاسٍ)

Beliau adalah seorang sahabat sehinggakan ulama Wahabi yang bernama Albānī telah menganggap beliau sebagai Ḥasan di dalam kitab Ẓilāl Al-Jannah, jilid 2 halaman 337, hadith no. 1188. Oleh itu hadith ini tidak mempunyai masalah dalam persanadannya dan ia telah menyabitkan bahawa RasuluLlah (s.a.w) telah menggunakan kata-kata “وَأَنْتَ خَلِيفَتِي فِي كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي” untuk Ali bin Abī Ṭālib.

——————————————————

ʽAmru bin Maymūn (عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ)

Beliau adalah perawi hadis Bukhārī, Muslim dan Saḥiḥ Sittah yang lain:

عمرو بن ميمون الأودي عن عمر ومعاذ وعنه زياد بن علاقة وأبو إسحاق وابن سوقة كثير الحج والعبادة وهو راجم القردة مات 74 ع

الكاشف ج2 ص89، رقم: 4237

ʽAmrū bin Maymūn Al-Awdiy banyak kali mengerjakan haji dan beliau merupakan ahli ibadat.  Beliau seorang yang merejam kera, meninggal pada tahun 74. – Al-Kāshif, jilid 2 halaman 89, no. 4237.

عمرو بن ميمون الأودي أبو عبد الله ويقال أبو يحيى مخضرم مشهور ثقة عابد نزل الكوفة مات سنة أربع وسبعين وقيل بعدها ع.

تقريب التهذيب ج1 ص427، رقم:5122.

ʽAmru bin Maymūn Al-Awdiy yang dikatakan Abū Yaḥya, Mukhḍaram (mereka yang mengenali Islam di zaman Jahiliyyah), orangnya masyhur, thiqah dan ahli ibadat. – Taqrīb Al-Tahdhīb jilid 1 halaman 427, no. 5122.

Kisah kera direjam di zaman jahiliyah telah dinukilkan oleh Bukhārī sendiri:

حدثنا نُعَيْمُ بن حَمَّادٍ حدثنا هُشَيْمٌ عن حُصَيْنٍ عن عَمْرِو بن مَيْمُونٍ قال رأيت في الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عليها قِرَدَةٌ قد زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ.

البخاري الجعفي، ابوعبدالله محمد بن إسماعيل (متوفاى256هـ)، صحيح البخاري،ج3، ص1397، ح3636، کتاب مناقب الأنصار، باب القسامة في الجاهلية، تحقيق د. مصطفي ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Nuʽaym bin Ḥammād telah meriwayatkan daripada Hashim bin Ḥuṣayn, daripada ʽAmrū bin  Maymūn berkata: Di zaman jahilyah aku melihat sekumpulan kera berhimpun mengelilingi seekor kera yang telah berzina. Mereka merejamnya dan aku pun turut merejamnya bersama mereka. – Al-Bukharī Al-Ja’fī, Abū ʽAbduLlah Muḥammad bin Ismāʽīl (meninggal pada tahun 256 hijrah), Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 3 halaman 1397, kitāb Manāqib Al-Anṣār, bab Al-Qasāmah fi Al-Jahiliyyah.

——————————————————

Penelitian tentang pandangan Al-Bukhārī tentang Abūbalj:

Sebagaimana yang kita baca syarahan tentang Abūbalj Al-Fazārī, Dhahabī dan Mizzī mengatakan bahawa Al-Bukhāri mempermasalahkan beliau:

وقال البخاري فيه نظر.

“Al-Bukhārī mengatakan ada masalah padanya”.

Shuʽayb Al-Arna’ūṭ, penyelidik Wahabi di zaman ini menggunakan kata-kata Al-Bukhārī tersebut untuk mendhaifkan sebarang riwayat yang mempunyai sanad kepada Abū Balj.

إسناده ضعيفٌ بهذه السياقة، أبو بلج ـ وإسلمه يحيى بن سليم، أو ابن أبي سليم ـ، وإن وثقه غيرُ واحد، قد قال فيه البخاري: فيه نظر… .

مسند أحمد بن حنبل، ج5، ص181، تحقيق: شعيب الأرنؤوط/عادل مرشد، ناشر: مؤسسه الرسالة ـ بيروت، الطبعة: الأولى، 1416ه ـ 1995م.

Persadannya dhaif kerana Abū Balj (yang bernama Yahyā bin Sulaym atau Ibnu Abī Sulaym), jikalau bukan seorang ulama yang menthiqahkan beliau namun Al-Bukhārī mengatakan bahawa beliau bermasalah. – Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, jilid 5 halaman 181.

——————————————————

Namun permasalahan ini hendaklah dikaji dari berbagai sisi yang lain:

1. Apakah Al-Bukhārī mengatakan demikian kepada individu tersebut?

2. Apakah kata-kata Al-Bukhārī dapat menandingi penthiqahan beliau daripada ulama-ulama besar Ahlusunnah yang lain seterusnya ia dihitung sebagai dhaif.

3. Apakah ada ulama-ulama Ahlusunnah yang mensahihkan riwayat Abūbalj?

4. Pertentangan antara dua ulama Ahlusunnah dengan riwayat Abūbalj.

——————————————————

Sisi pertama; Apakah Al-Bukhārī, mendhaifkan Abūbalj?

Tatkala kita membahaskan bahawa pernahkah Al-Bukhārī mengatakan demikian tentang Abūbalj atau tidak, maka kita perlu meneliti tentang kesahihan dan penolakan perkara ini dari dua noktah:

1.    Aḥmad Shākir, menolak kaitan ini terhadap Bukhārī:

Ustāz Aḥmad Shākir salah seorang penyelidik Ahlusunnah terkenal masa kini mensahihkan sanad yang ada Abūbalj. Mengenai permasalahan Abūbalj Al-Fazāri, beliau menjawabnya sebagai berikut:

(3062) إسناده صحيح، أبو بلج، بفتح الباء وسكون اللام و آخره جيم: اسمه «يحيى بن سليم» ويقال «يحيى بن أبي الأسود» الفزاري، وهو ثقة، وثقه ابن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني وغيرهم.

وفي التهذيب أن البخاري قال: «فيه نظر» ! وما أدري أين قال هذا؟، فإنه ترجمه في الكبير 4/2/279 ـ 280 ولم يذكر فيه جرحاً، ولم يترجمه في الصغير، ولا ذكره هو والنسائي في الضعفاء، وقد روى عنه شعبة، وهو لا يروي إلا عن ثقه.

مسند أحمد بن حنبل، ج3، ص331، ح3062، تحقيق: احمد شاكر، ناشر: دار الحديث ـ قاهرة، الطبعة : الأولى، 1416هـ ـ 1995م.

Persanadannya Sahih, Abūbalj, dengan fatḥaḥ ba’, sukun pada lām dan berakhir dengan jim. Namanya Yaḥyā bin Sulaym. Dikatakan juga Yaḥya bin Abī Al-Aswad Al-Fazārī, beliau adalah thiqah. Ibnu Maʽīn, Ibnu Saʽd, Al-Nasā’ī, Al-Dārqaṭanī dan lain-lain lagi.

Di dalam Al-Tahdhib disebut bahawa Al-Bukhārī berkata: فيه نظر, dan saya tidak tahu di mana beliau mengatakan demikian? Sesungguhnya beliau tidak pernah mensyarahkannya di dalam Al-Kabīr dengan permasalahan, dan beliau juga tidak pernah menterjemahkannya di dalam Tarikh Al-Ṣaghīr, tidak pula disebutkan oleh Nasā’ī di dalam Al-Ḍuʽafā’. Shuʽbah meriwayatkan daripadanya dan beliau tidak meriwayatkan daripada sesiapapun kecuali daripada orang yang thiqah. – Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, jilid 3 halaman 331, Taḥqīq Aḥmad Shākir.

2.    Tiada bukti Al-Bukhārī mengatakan demikian.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Aḥmad Shākir, Al-Bukhārī tidak pernah mendhaifkan Abūbalj Al-Fazārī sehingga namanya dicatat di dalam Tārikh Al-Kabīr tanpa mendhaifkannya. Silakan rujuk teks berikut:

يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم

البخاري الجعفي،  ابوعبدالله محمد بن إسماعيل (متوفاى256هـ)، التاريخ الكبير، ج8، ص279، رقم: 2996، تحقيق: السيد هاشم الندوي، ناشر: دار الفكر.

Oleh itu, pendhaifan Abūbalj yang dikaitkan dengan Al-Bukhārī perlu ditolak, namun dari manakah sumber awal yang mengaitkan perkara ini dengan Al-Bukhārī? Orang yang mula-mula mengatakan demikian ialah Ibnu ʽAdī di dalam kitab Al-Kāmil dengan mengaitkan perkara ini kepada Al-Bukhārī:

يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم، سمعت إبن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .

الجرجاني ، عبدالله بن عدي بن عبدالله بن محمد أبو أحمد (متوفاى365هـ)، الكامل في ضعفاء الرجال ، ج 7   ص 229، رقم: 2128 ، تحقيق : يحيى مختار غزاوي ، ناشر : دار الفكر – بيروت ، الطبعة : الثالثة ، 1409هـ – 1988م.

Yaḥyā bin Abī Sulaym, Abūbalj Al-Fazārī, aku mendengar daripada Yaḥyā bin Maʽīn bahawa Abūbalj ialah Yaḥyā bin Abī Sulaym. Aku mendengar daripada Ḥammād bahawa Al-Bukhārī mengatakan bahawa:

Yaḥyā bin Abī Sulaym Abūbalj Al-Fazārī yang mendengar daripada Muḥammad bin Ḥāṭib dan ʽUmarū bin Maymūn bahawa Abūbalj mempunyai masalah. – Al-Jarjānī, ʽAbduLlah bin Muḥammad Abū Aḥmad, Al-Kāmil Fī Ḍuʽafā’, jilid 7 halaman 229.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini, orang yang menukilkan kata-kata tersebut ialah Muḥammad bin Aḥmad bin Ḥammād Al-Dūlābī yang didhaifkan oleh ibnu ʽAdī sendiri. Inilah yang dikatakan oleh Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām:

محمد بن أحمد بن حماد بن سعيد بن مسلم.

أبو بشر الأنصاري الدولابي الحافظ الوراق . من أهل الري … وعنه : عبد الرحمن بن أبي حاتم ، وعبد الله بن عدي ، والطبراني … قال الدارقطني : تكلموا فيه ، وما يتبين من أمره إلا خير. وقال ابن عدي : ابن حماد متهم فيما يقوله في نعيم بن حماد لصلابته في أهل الري .

قلت : رمى نعيم بن حماد بالكذب .

وقال ابن يونس : كان من أهل الصنعة ، وكان يضعف .

الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، تاريخ الإسلام ووفيات المشاهير والأعلام، ج 23   ص 276 ، تحقيق د. عمر عبد السلام تدمرى، ناشر: دار الكتاب العربي – لبنان/ بيروت، الطبعة: الأولى، 1407هـ – 1987م.

Muḥammad bin Aḥmad bin Ḥammād bin Saʽīd bin Muslim.

Abū Bashar Al-Anṣārī Al-Dūlābī Al-Warrāq, daripada penduduk Rey… ʽAbdul Raḥmān bin Abī Ḥātim, dan ʽAbduLlah bin ʽAdī dan Al-Ṭabrānī menukilkan riwayat daripada beliau. Dārqaṭānī berkata: Mereka berbicara tentangnya, tidaklah mereka jelaskan tentangnya kecuali kebaikan. Ibnu ʽAdī berkata: Ibnu Ḥammād dituduh dengan apa yang dikatakannya tentang Nuʽaym bin Ḥammaād kerana kerasnya beliau terhadap penduduk Rey. Saya mengatakan Nuʽaym bin Ḥammād dituduh sebagai penipu… – Al-Dhahabī Al-Shāfiʽī, Shamsuddin Abū AbdiLlah bin Aḥmad bin Uthmān, Tārikh Al-Islām Wa Wafayāt Al-Mashāhīr Wal-Aʽlām, jilid 23 halaman 276.

Oleh itu dapatlah kita simpulkan bahawa Al-Bukhārī tidak mendhaifkan Abūbalj dan pandangan yang dikaitkan dengan Al-Bukhārī tidak lebih dari pembohongan.

——————————————————

Sisi ke-dua: Apakah kata-kata “فيه نظر” dapat mendhaifkan AbūlBalj?

Andainya kita menerima bahawa Al-Bukhārī mengatakan demikian tentang individu tersebut, apakah kata-kata beliau itu dapat dijadikan sebab pendhaifannya? Apakah pendhaifan ini dapat menghadapi penthiqahannya oleh para ulama besar Ahlusunnah?

Yang penting di sini ialah kata-kata Al-Bukhari “فيه نظر” tidak dapat menghapuskan penthiqahan yang dipegang oleh para ulama rijal Ahlusnnah. Pendhaifan tersebut tidak dapat menggugat kesahihan riwayat kerana Yaḥyā bin Maʽīn, Dārqaṭānī, Nasā’ī, Muḥammad bin Saʽd dan Ibnu Abī Ḥātim menthiqahkan beliau. Oleh itu pendhaifan yang dikatakan Al-Bukhārī tidak dapat menewaskan penthiqahan oleh para ulama besar tersebut.

Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan merujuk kepada beberapa noktah berikut:

1. Abū Isḥāq Al-Ḥuwaynī menganggap pendhaifan Al-Bukhārī tidak mempunyai dalil:

Abū Isḥāq Al-Ḥuwaynī merupakan seorang lagi penyelidik Sunni di zaman ini, beliau di dalam kitab Khaṣā’iṣ Nasā’ī mengatakan bahawa terdapat Abūbalj di dalam sanad sebuah riwayat:

إسناده حسن.

… وأبو بلج بن أبي سليم وثقه ابن معين وابن سعد والمصنف والدارقطني وقال أبوحاتم : «صالح الحديث لا بأس به» .

أما البخاري فقال : « فيه نظر » (!) وهذا جرح شديد عنده لا أرى مُسَوِّغٍ له إلا أن يكون قاله فيه لكونه روى حديثا عن عمرو بن ميمون عن عبد الله بن عمرو «ليأتين على جهنم زمان تخفق أبوابها ليس فيها أحد » فإنهم أنكروا على أبي بلج أن يحدث بهذا .

قلت : وهذا الحديث أخرجه يعقوب بن … وقال الذهبي في «الميزان» : «وهذا الخبر من بلاياها».

فالظاهر أن من جرحه إنما كان لهذا الخبر وهذا لا يقتضي رد جمع مروياته و إنما يرد ما علي أنه خالف فيه أو نحو ذلك . والله أعلم .

خصائص نسائي، ص34، تحقيق: أبو اسحق الحويني الأثري الحجازي بن محمد بن شريف، ناشر: دار الكتب العلمية ـ بيروت ، الطبعة: الأولى، 1405هـ ـ 1984م.

Sanad riwayat ini adalah Ḥasan. Abūbalj bin Abī Sulaym dithiqahkan oleh Yaḥyā bin Maʽīn, Ibnu Saʽd, Al-Muṣannaf dan Al-Dārqaṭanī. Abu Ḥātim berkata: Abū Ḥātim mengatakan: Hadis yang diriwayatkannya adalah ṣālih dan beliau tidak mempunyai masalah. Namun mengenai Al-Bukhārī yang mempermasalahkan kethiqahan beliau (فيه نظر), pendhaifan ini adalah pendhaifan shadīd di sisi Al-Bukhārī, saya tidak melihat alasannya. Tidakkah sebuah riwayat yang beliau nukilkan daripada ʽAmrū bin Maymūb, daripada ʽAbduLlah bin ʽUmar bahawa: Akan datang nanti waktu pintu jahannam dibuka yang tiada seorang pun di dalamnya. Ulama mempermasalahkan Abūbalj kerana hadis yang ini. Saya berkata: Hadis ini dikeluarkan oleh Yaʽqūb bin… dan Al-Dhahabī berkata di dalam Al-Mīzān bahawa: Ini adalah berita tentang balanya. Zahirnya permasalahan ke atasnya adalah kerana penukilan riwayat ini; sedangkan ia bukan menjadi sebab untuk menolak semua riwayat daripadanya… – Khaṣā’ṣ Nasā’ī, halaman 34, tahqīq Abū Ishāq al-Ḥuwaynī.

2. Penthiqahan Yaḥyā bin Maʽīn cukup untuk mengisytiharkan beliau sebagai thiqah.

Badruddīn ʽAynī berkata tentang sebuah riwayat yang dinukilkan daripada Abūl Munīb ʽÛbaydiLlah bin ʽAbduLlah:

فإن قلت: في إسناده أبو المنيب عبيد الله بن عبد الله، وقد تكلم فيه البخاري وغيره. قلت: قال الحاكم: وثقه ابن معين، وقال ابن أبي حاتم: سمعت أبي يقول: هو صالح الحديث، وأنكر على البخاري إدخاله في الضعفاء، فهذا ابن معين إمام هذا الشأن وكفى به حجة في توثيقه إياه.

العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري،ج7، ص11، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Jikalau aku mengatakan bahawa di dalam sanadnya Abul Munīb ÛbaydiLlah bin ʽAbduLlah, maka Al-Bukhārī dan selainnya berbicara tentangnya. Aku mengatakan Al-Ḥakim berkata bahawa beliau menthiqahkan ibnu Maʽīn. Ibnu Abī Ḥatim berkata aku mendengar ayahku menyatakan: beliau adalah Ṣālih Al-Hadith. Namun Al-Bukhārī mengingkari dan memasukkannya ke dalam Al-Ḍuʽafā’, namun cukupkah penthiqahannya sebagai hujjah riwayat oleh ulama rijal. – Badruddīn ʽAynī Abū Muḥammad bin Aḥmad, ʽUmdatul Qārī Syarh Ṣahīh Al-Bukhārī, jilid 7 halaman 11.

Keadaan Yaḥyā bin Sulaym juga hampir seperti ini. Bukhārī mendhaifkannya, namun Yaḥyā bin Muʽīn dan ulama rijal Ahlusunnah yang lain menthiqahkan beliau. Oleh itu menurut kata-kata Badruddīn ʽAynī, pendhaifannya oleh Bukhārī tidak mempunyai nilai dan cukuplah penthiqahan Yaḥyā bin Muʽīn untuk menyabitkan hujjah riwayat.

4. Shuʽbah bin Ḥajjāj, hanya menukilkan riwayat daripada perawi yang thiqah sahaja.

Salah seorang yang menukilkan daripada Abūbalj adalah Shuʽbah bin Al-Ḥajjaj. Para ulama Ahlusunnah telah menjelaskan bahawa beliau hanya meriwayatkan hadis daripada perawi yang thiqah sahaja. Dengan kata lah penukilan riwayat daripada seseorang melalui Shuʽbah boleh menyabitkan kethiqahannya. Inilah yang disebut oleh peneliti Musnad Ibnu Hanbal Dr. Shākir yang menjelas masalah ini:

وقد روى عنه شعبة، وهو لا يروي إلا عن ثقه.

مسند أحمد بن حنبل، ج3، ص331، ح3062، تحقيق: احمد شاكر، ناشر: دار الحديث ـ قاهرة، الطبعة : الأولى، 1416هـ ـ 1995م.

Shuʽbah meriwayatkan daripadanya dan beliau tidak akan meriwayatkan daripada sesiapa pun melainkan daripada mereka yang thiqah. – Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, jilid 3 halmaan 331, hadis no. 3036, tahqīq Aḥmad Shākir.

Ibnu Abdul Bar Qurṭubī dalam Al-Tahmid menulis tentang jenis-jenis riwayat mursal dan penerimaan sebahagian daripadanya:

وقد يكون المرسِل للحديث نسى مَن حَدَّثه به وعرف المعزى اليه الحديث فذكره عنه فهذا أيضا لا يضر اذا كان أصل مذهبه أن لا يأخذ الا عن ثقة كمالك وشعبة.

ابن عبد البر النمري القرطبي المالكي، ابوعمر يوسف بن عبد الله بن عبد البر (متوفاى 463هـ)، التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد، ج 1   ص 17 ، تحقيق: مصطفي بن أحمد العلوي، محمد عبد الكبير البكري، ناشر: وزارة عموم الأوقاف والشؤون الإسلامية – المغرب – 1387هـ.

Kadang-kadang perawi hadis mursal terlupa tentang orang yang meriwayatkannya. Namun beliau tahu orang yang berikutnya. Ini juga tidak memudharatkan jika asalnya orang itu tidak meriwayatkan hadis melainkan daripada orang yang thiqah sahaja seperti Mālik dan Shuʽbah. – Ibnu ʽAbdul Bar, Al-Tamhīd lamma fi Al-Muwaṭṭā’ minal Maʽānī Wal Asānīd, jilid 1 halaman 17.

Ibnu Kathīr Dimasyqī Al-Salafī di dalam kitab Talkhiṣ Al-Istighāthah menulis:

و إنما العالمون بالجرح والتعديل هم علماء الحديث وهم نوعان: منهم من لم يرو إلا عن ثقة عنده كمالك و شعبة و يحيى ين سعيد و عبدالرحمن بن مهدي وأحمد بن حنبل و كذلك البخاري و أمثاله …

ابن كثير الدمشقي،  ابوالفداء إسماعيل بن عمر القرشي (متوفاى774هـ)، تلخيص كتاب الاستغاثة، ج1، ص77 .

Hanyasanya ulama ilmu Jarh Wa Taʽdīl mereka itu ulama hadis terbahagi kepada dua: Mereka yang tidak meriwayatkan hadis melainkan yang thiqah seperti Mālik, Shuʽbah, Yaḥyā bin Saʽīd, Abdul Raḥman bin Mahdī, Aḥmad bin Ḥanbal, begitu juga Al-Bukhārī dan yang sepertinya. – Ibnu Kathir AL-Dimasyhqī, Abul Fidā’ Ismāʽīl bin ʽUmar Al-Qarashī, Talkhiṣ kitāb Al-Istighāthah, jilid 1 halaman 77.

Al-Ṣāliḥī Al-Shāmī juga menthiqahkan orang yang Shuʽbah nukilkan riwayat daripadanya:

روى عنه شعبة ولم يكن يروي إلا عن ثقة عنده.

الصالحي الشامي، محمد بن يوسف (متوفاى942هـ)، سبل الهدي والرشاد في سيرة خير العباد، ج 12   ص 378 ، تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود وعلي محمد معوض، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1414هـ.

Shuʽbah meriwayatkan daripadanya sedangkan beliau tidak pernah meriwayatkan kecuali daripada orang yang thiqah pada pandangannya. – Al-Ṣāliḥī Al-Shāmī, Muḥammad bin Yūsuf, Subulul Hudā Wal Rashād fi Sīrah Khayr Al-ʽIbād, jilid 12 halaman 378.

Abū Saʽīd Kaykaldī berkata:

ومنها أن يكون المرسل للحديث نسي من حدثه به وعرف المتن جيدا فذكره مرسلا لأن اصل طريقته أنه لا يأخذ إلا عن ثقة كمالك وشعبة فلا يضره الإرسال.

العلائي، أبو سعيد بن خليل بن كيكلدي (متوفاى: 761هـ)، جامع التحصيل في أحكام المراسيل ، ج 1   ص 88 ، تحقيق : حمدي عبدالمجيد السلفي ، ناشر : عالم الكتب – بيروت  ، الطبعة : الثانية ، 1407هـ ـ 1986م

Di antara yang menjadikan perawi meriwayat hadis mursal ialah terlupa daripada ia mendengarnya, namun ia ingat matannya dengan baik. Maka ia menukilkannya dalam keadaan mursal kerana aslinya beliau tidak mengambil hadis melainkan daripada orang yang thiqah seperti Mālik, Shuʽbah. Maka kemursalan tidak memberi kesan terhadap hadis tersebut. – Al-ʽAlā’ī, Abū Saʽīd Kaykaldī, Jāmiʽ Al-Taḥṣīl fi Aḥkām Al-Marāsīl, jilis 1 halaman 88.

Di dalam kitab Al-Nukat ʽAlā Muqaddimah ibnu Ṣalāḥ terdapat catatan:

[ فائدة ] الذي عادته لا يروي إلا عن ثقة ثلاثة يحيى بن سعيد وشعبة ومالك قاله ابن عبد البر وغيره وقال النسائي ليس أحد بعد التابعين آمن على الحديث من هؤلاء الثلاثة.

Barangsiapa yang terbiasa tidak menukilkan riwayat kecuali daripada orang yang thiqah ada tiga orang: Yaḥyā bin Saʽīd, Shuʽbah dan Mālik. Ibnu ʽAbdul Bar dan beberapa ulama yang lain mengatakan demikian. Al-Nasāʽī mengatakan: Tidak ada seorang pun di kalangan selepas tabiʽīn yang sangat amanah daripada tiga orang ini. – ʽAbduLlah bin Bahādur, Badruddīn Abī AbduLlah Muḥammad bin Jamāluddīn, Al-Nukat ʽAlā Muqaddimah ibnu Ṣalāḥ, jilid 3 halaman 370.

Oleh itu penukilan riwayat Shuʽbah daripada Abūbalj menyabitkan kethiqahan perawinya.

4. Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī mencari kesalahan Abūbalj kerana keSyiahannya:

Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī yang dikenali sebagai “حافظ على الإطلاق” di kalangan Ahlusunnah menganggap Abūbalj sebagai Syiah. Lantaran itu beliau mengkritiknya setelah menyatakan pandangan ulama terhadap perawi hadis tersebut. Beliau turut mengatakan tidak perlu menerima riwayat daripadanya.

وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ إِلَّا أَبَا بَلْجٍ بِفَتْحِ الْمُوَحَّدَةِ وَسُكُونِ اللَّام بعْدهَا جِيم واسْمه يحيى وَثَّقَهُ بن مَعِينٍ وَالنَّسَائِيُّ وَجَمَاعَةٌ وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ بِسَبَبِ التَّشَيُّعِ وَذَلِكَ لَا يَقْدَحُ فِي قَبُولِ رِوَايَتِهِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ.

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852 هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري، ج 10   ص 182 ، تحقيق: محب الدين الخطيب، ناشر: دار المعرفة – بيروت.

Perawi hadis ini adalah perawi hadis Bukhārī melainkan Abūbalj yang namanya adalah Yaḥyā. Nasa’ī dan jemaah menthiqahkan beliau. Jemaah juga mendhaifkannya kerana beliau Syiah. Kerana itu tidak perlu menerima riwayat daripadanya. – Al-ʽAsqalānī Al-Shāfiʽī, Aḥmad bin ʽAlī bin Ḥajar Abul Faḍl, Fathul Bārī Sharḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 10 halaman 182.

——————————————————

Sisi ketiga: Kesahihan riwayat Abūbalj menurut ulama Ahlusunnah:

Biarpun ulama Ahlusunnah (selain Albānī) tidak mengemukakan pandangan tentang riwayat « وَأَنْتَ خَلِيفَتِي فِي كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي», sebagai Sahih, namun mereka telah mensahihkan beberapa hadis lain yang ada pada sanadnya Abūbalj Al-Fazārī, seperti mana sebuah hadis mengenai sepuluh fadhilat terbaik ʽAlī bin Abī Ṭālib yang dinukilkan daripada Ibnu ʽAbbas:

ثنا يحيى بن حَمَّادٍ ثنا أبو عَوَانَةَ ثنا أبو بَلْجٍ ثنا عَمْرُو بن مَيْمُونٍ قال: إني لَجَالِسٌ إلى إبن عَبَّاسٍ إذا أَتَاهُ تِسْعَةُ رَهْطٍ فَقَالُوا يا أَبَا عَبَّاسٍ إما أن تَقُومَ مَعَنَا وإما أَنْ تخلونا هَؤُلاَءِ؟

قال: فقال: إبن عَبَّاسٍ بَلْ أَقُومُ مَعَكُمْ قال: وهو يَوْمَئِذٍ صَحِيحٌ قبل أَنْ يَعْمَى. قال: فابتدؤا فَتَحَدَّثُوا فَلاَ ندري ما قالوا. قال: فَجَاءَ يَنْفُضُ ثَوْبَهُ وَيَقُولُ أُفْ وَتُفْ وَقَعُوا في رَجُلٍ له عَشْرٌ…

الشيباني،  ابوعبد الله أحمد بن حنبل (متوفاى241هـ)، فضائل الصحابة، ج2، ص685، ح3062 ، تحقيق د. وصي الله محمد عباس، ناشر: مؤسسة الرسالة – بيروت، الطبعة: الأولى، 1403هـ – 1983م؛

همو، مسند أحمد بن حنبل، ج1، ص3053، ح3062، ناشر: مؤسسة قرطبة ـ مصر؛

Ḥākim Al-Nīshabūrī setelah menukilkan riwayat ini mengatakan:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه بهذه السياقة.

النيسابوري، محمد بن عبدالله ابوعبدالله الحاكم (405 هـ)، المستدرك علي الصحيحين، ج 3، ص 143، تحقيق: مصطفي عبد القادر عطا، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1411هـ – 1990م.

Riwayat ini sahih persanadannya dan mereka berdua (Al-Bukhārī dan Muslim) tidak pernah menukilkannya dalam bentuk ini. – Al-Nisyaburī, Al-Mustadrak ʽAla Al-Ṣaḥiḥayn, jilid 3 halmaan 143.

Dhahabi juga di dalam Talkhiṣ Al-Mustadrak mengatakan Saḥīḥ setelah menukilkan hadis ini:

صحيحٌ.

المستدرك علي الصحيحين و بذيله التلخيص للحافظ الذهبي، ج3، ص134، كتاب معرفة الصحابة، باب ذكر اسلام امير المؤمنين، طبعة مزيدة بفهرس الأحاديث الشريفة، دارالمعرفة، بيروت،1342هـ.

Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn Wa Badhilihī Al-Talkhīṣ Lilḥāfiz Al-Dhahabī, jilid 3 halaman 134.

Ibnu ʽAbdul Bar Al-Qurṭubī setelah menukilkan riwayat ini mengatakan:

قال أبو عمر رحمه الله هذا إسنادٌ لا مَطْعَنٌ فيه لأحدٍ لصحته وثقة نَقَلَتِه… .

ابن عبد البر النمري القرطبي المالكي، ابوعمر يوسف بن عبد الله بن عبد البر (متوفاى 463هـ)، الاستيعاب في معرفة الأصحاب،ج3 ص1091 ـ 1092، تحقيق: علي محمد البجاوي، ناشر: دار الجيل – بيروت، الطبعة: الأولى، 1412هـ.

Abū ʽUmar (Ibnu ʽAbdul Bar) berkata: Tidak seorang pun berhak mempertikaikan kesahihan persanadan ini kerana sanadnya adalah sahih dan seluruh perawinya adalah thiqah. – Ibnu ʽAbdul Bar Al-Numayrī Al-Qurṭubī Al-Mālikī, Abū ʽUmar Yūsuf bin ʽAbduLlah bin ʽAbd Al-Bar, Al-Istīʽāb fī Maʽrifah Al-Aṣḥāb, jilid 3 halaman 1091-1092.

Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī setelah menukilkan antara riwayat ini dengan berbagai lafaz, beliau menulis:

اخرجهما أحمد والنسائي ورجالهما ثقات.

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاي852 هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري، ج 7، ص 15، تحقيق: محب الدين الخطيب، ناشر: دار المعرفة – بيروت.

Aḥmad dan Nasā’ī menukilkan kedua-dua riwayat ini, perawi kedua-duanya adalah thiqah. – Al-ʽAsqalānī Al-Shāfiʽī, Aḥmad bin ʽAlī bin Ḥajar Abul Faḍl, Fathul Bārī Sharh Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 7 halaman 15.

Ḥāfiz Abū Bakr Haythamī yang wafat pada tahun 807 Hijrah juga setelah menukilkan riwayat ini mengatakan:

رواه أحمد والطبراني في الكبير والأوسط باختصار ورجال أحمد رجال الصحيح غير أبي بلج الفزاري وهو ثقة وفيه لين.

الهيثمي، علي بن أبي بكر، مجمع الزوائد، ج9، ص120، دار الريان للتراث/ دار الكتاب العربي ـ القاهرة، بيروت ـ 1407هـ.

Riwayat ini telah dinukilkan secara ringkas oleh Aḥmad dan Ṭabrānī di dalam Muʽjam Al-Kabīr dan Muʽjam Al-Awsaṭ, dan rijal Aḥmad adalah rijal sahih melainkan Abī Balj Al-Fazārī, dan dia juga thiqah meskipun ada isykal padanya. – Al-Haythamī ʽAlī bin Abī Bakr, Majma’ Al-Zawā’id, jilid 9 halaman 120.

——————————————————

Sisi ke-empat: Pertentangan dua jenis riwayat Abū Balj:

Banyak riwayat Abūbalj Al-Fazārī yang terdapat di dalam sumber-sumber Ahlusunnah, sebahagian daripada riwayat-riwayat ini adalah tentang kelebihan Alī bin Abī Ṭālib, manakala sebahagian yang lain mengenai beberapa tajuk.

Malangnya beberapa ulama Wahabi yang fanatik berusaha sedaya upaya untuk mendhaifkan sebarang riwayat yang menceritakan tentang kelebihan Alī bin Abī Ṭālib. Namun di beberapa tempat yang lain mereka mensahihkan riwayatnya tanpa kaedah ilmu rijal. Sebagai contoh pertentangan antara Shuʽayb Al-Arna’ūṭ dan Al-Bānī adalah seperti berikut:

Pandangan-pandangan Shuʽayb Al-Arna’ūṭ tentang Abūbalj yang saling bercanggah

Shuʽayb Al-Arna’ūṭ seorang penyelidik Wahabi pada zaman ini yang melakukan penyelidikan ke atas kebanyakan kitab-kitab perawi dan rijal Ahlusunnah seperti Musnad Ibnu Ḥanbal, Ṣaḥīḥ ibnu Ḥabbān, Musnad Abū Bakr, Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Zād Al-Maʽād dan banyak lagi.  Beliau telah mengemukakan pandangan yang sangat bercanggah mengenai Abūbalj Al-Fazārī. Di mana sahaja ada riwayat tentang kelebihan Ahlul Bayt (a.s), beliau akan mendhaʽifkan, sementara itu beliau juga mensahihkan riwayat-riwayat dhaif yang lain seperti hadis berikut daripada kitab Musnad Aḥmad:

قال: ثُمَّ بَعَثَ فُلاَناً بسورة التَّوْبَةِ فَبَعَثَ عَلِيًّا خَلْفَهُ فَأَخَذَهَا منه قال لاَ يَذْهَبُ بها الا رَجُلٌ مني وأنا منه.

Ibnu ʽAbbās berkata: Rasulullah (s.a.w) bersabda: Kemudian Rasulullah  (s.a.w) mengutuskan seseorang untuk mebaca surah Al-Tawbah. Kemudian baginda mengutuskan pula Alī mengejarnya dan mengambil surah tersebut daripadanya. Rasulullah bersabda: Tidak layak seseorang membacanya kecuali seorang daripadaku dan dia adalah daripadaku.

Penyelidik tersebut mengatakan:

إسناده ضعيفٌ بهذه السياقة، أبو بلج ـ وإسمه يحيى بن سليم، أو ابن أبي سليم ـ، وإن وثقه غيرُ واحد، قد قال فيه البخاري: فيه نظر… .
مسند أحمد بن حنبل، ج5، ص181، تحقيق: شعيب الأرنؤوط/عادل مرشد، ناشر: مؤسسه الرسالة ـ بيروت، الطبعة: الأولى، 1416ه ـ 1995م.

Persanadannya dengan tema ini adalah dhaif , Abūbalj adalah namanya Yaḥyā bin Sulaym atau Ibnu Abī Sulaym. Meskipun ia dithiqahkan oleh beberapa ulama namun Al-Bukhāri mengatakan beliau bermasalah. – Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, jilid 5 halaman 181.

Beliau turut mendhaifkan riwayat daripada Abū Balj dalam jilid ke-5 halaman 475, hadis nombor 3542:

عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس قال : أول من صلى مع النبي صلى الله عليه و سلم بعد خديجة علي .

Daripada Abī Balj, daripada ʽAmrū bin Maymūn, daripada Ibnu ʽAbbās yang berkata: Orang yang pertama solat di belakang Nabi (s.a.w) setelah Khadijah ialah Alī bin Abī Ṭālib.

Pertentang pandangan beliau tentang Abī Balj dapat di lihat dalam hadis no. 6959 di mana beliau mengatakan persanadannya sebagai Ḥasan.

إسناده حسن.

Persanadannya Ḥasan. – jilid 11 halaman 547-548, hadis no. 6959.

Dalam jilid ke-13, halaman 345, hadis nombor 7966 beliau turut menegaskan hadis daripada Abū Balj itu adalah Hasan:

صحيح دون قوله «تحت العرش» وهذا إسناد حسن، أبو بلج هذا حسن الحديث، وباقي رجاله ثقات رجال الشيخين.

Di dalam jilid ke-15, halaman 129-128, tentang hadis ke 9233 beliau mengatakan:

حديث صحيح، وهذا إسناد حسن من أجل أبي بلج وباقي رجال الإسناد ثقات رجال الصحيح.

Asal hadis ini adalah Sahih, namun ianya menjadi Hasan kerana wujud perawi bernama Abī Balj. Perawi-perawi yang lain pula adalah thiqah dan rijal yang Sahih.

Dalam jilid 24 halaman 189, hadis ke 15451, beliau mengatakan:

إسناده حسن، أبو بلج: هو الفزاري، وقد اختلف في اسمه، يقال: يحيى بن سُلَيم بن بلج، ويقال : يحيى بن أبي سليم، و يقال : يحيى بن أبي الأسود، وثقه ابن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني، وقال أبو حاتم: صالح الحديث لا بأس به، وقال البخاري: فيه نظر وقال الجوزجاني: غيرثقه، وقال ابن حجر في «التقريب»: صدوق، ربما أخطأ.

Sanad riwayat ini adalah Hasan. Abū Balj ialah Al-Fazārī, ada perselisihan pada namanya, Abū Balj ialah Al-Fazārī. Telah berselisih tentang namanya iaitu: Yaḥyā bin Sulaym bin Balj, Yaḥyā bin Abī Sulaym dan Yaḥyā bin Abī Aswad. Ibnu Maʽīn, Saʽad, Nasā’ī dan Al-Dārqaṭānī menthiqahkan beliau. Abū Ḥātim berkata: Ṣāliḥ Al-Ḥādith dan tiada masalah dengannya. Bukhārī mengatakan: Kethiqahannya bermasalah. Al-Jawzajānī berkata: Beliau tidak thiqah. Ibnu Ḥajar berkata di dalam Al-Taqrīb: Ṣadūq, kemungkinan beliau ada melakukan kesilapan.

Setelah kita dapat buktikan bahawa kata-kata “fīhi naẓar” yang dikaitkan dengan Al-Bukhārī adalah tidak benar dan orang yang mula-mula menukilkannya daripada Al-Bukhārī adalah dhaif, maka apa yang dikatakan oleh Al-Jawzajānī adalah sebuah penipuan yang nyata. Ini disebabkan Al-Jawzajānī turut menthiqahkan beliau seperti mana yang dicatat oleh Ibnu Ḥajar tentang beliau di dalam Tahdhīb Al-Tahdhīb:

وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به وقال بن سعد قال يزيد بن هارون قد رأيت أبا بلج وكان جارا لنا وكان يتخذ الحمام يستأنس بهن وكان يذكر الله تعالى كثيرا قلت وذكره بن حبان في الثقات وقال يخطئ وقال يعقوب بن سفيان كوفي لا بأس به وقال إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني وأبو الفتح الأزدي كان ثقة.
العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، تهذيب التهذيب، ج12 ص49 ، ناشر: دار الفكر – بيروت، الطبعة: الأولى، 1404 – 1984 م.

Ibnu Maʽīn, Ibnu Saʽd, Al-Nasāʽī dan Al-Dārqaṭanī mengatakan beliau. Bukhārī mengatakan: Kethiqahannya bermasalah. Abū Ḥātim berkata: Ṣāliḥ Al-Ḥādith dan tiada masalah dengannya… dan Ibrāhīm bin Yaʽqūb Al-Jawzajānī dan Abū Al-Fath Al-Azdī mengatakan bahawa beliau adalah thiqah.

Kesimpulannya ialah Shuʽayb Al-Arna’ūṭ turut mengambil langkah seperti mana orang yang terdahulu yang hidup sebelumnya iaitu apabila sampai kepada riwayat mengenai kelebihan Alī bin Abī Ṭalib, mereka akan mendhaifkan perawinya dan menolak hadis tersebut dalam keadaan mata tertutup. Mereka tidak dapat menahan diri sedikit pun untuk berbohong demi untuk sampai kepada matlamat ini; namun pada satu ketika mereka akan terlupa tentang pembohongan yang telah mereka lakukan apabila mereka menganggap hadis lain yang diriwayatkan oleh orang yang pernah mereka dhaifkan itu sebagai muktabar.

=============================================

Kata-kata Muḥammad Nāṣir Al-Bānī yang saling bertentangan.

Muḥammad Nāṣir Al-Bānī yang digelar Wahabi sebagai Al-Bukhārī di zamannya dan dihitung sebagai Mujaddid agama dikurun ke-14 turut terjebak dalam masalah pertentangan antara pendapatnya sendiri:

Pertentangan yang pertama:

Di dalam kitab Ẓilāl Al-Jannah (ظلال الجنة) jilid 1 halaman 337, hadis nombor 1188 beliau telah mengeluarkan riwayat tersebut. Oleh kerana persanadan daripada Abū Balj, beliau menganggap hadis tersebut sebagai Hasan dengan mengatakan:

إسناده حسن ورجاله ثقات رجال الشيخين غير أبي بلج واسمه يحيى بن سليم بن بلج قال الحافظ صدوق ربما أخطأ.

Persanadannya Hasan dan rijalnya adalah thiqat menurut Al-Bukhārī dan Muslim kecuali Abū Balj yang nama sebenarnya ialah Yaḥyā bin Sulaym bin Balj. Al-Ḥāfiz mengatakan beliau sebagai Ṣadūq dan boleh jadi tersalah.

Namun di tempat lain, dalam sebuah riwayat yang tidak berkaitan dengan topik kelebihan Ahlul Bait (a.s), beliau secara terus terang mengatakan Abū Balj sebagai thiqah. Di dalam kitab Al-Silsilah Al-Ṣaḥiḥah, jilid 3 halaman 474, di bawah hadis ke-1400 beliau menulis:

قلت : و هذا إسناد جيد رجاله ثقات ، و يحيى بن أبي سليم هو أبو بلج الفزاري ، و هو بكنيته أشهر .

Saya mengatakan: Persanadan ini adalah baik dan perawinya adalah thiqah, Yaḥyā bin Abī Sulaym adalah Abū Balj Al-Fazārī yang masyhur dengan gelarannya.

Di tempat yang ke tiga, ketika menukilkan riwayat engkau adalah pemimpin setiap orang beriman setelahku (أنت ولى كل مؤمن بعد) yang mengandungi sanad daripada Abū Balj, beliau mengatakan:

فقال الطيالسي (2752 ): حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي: «أنت ولي كل مؤمن بعدي».
و أخرجه أحمد (1 / 330 – 331) ومن طريقه الحاكم (3 / 132 – 133) و قال: «صحيح الإسناد»، و وافقه الذهبي، و هو كما قالا.
ألباني، محمد ناصر (متوفاى1420هـ)، السلسلة الصحيحة المجلدات الكاملة، ج5، ص222، ذيل روايت: 2223

Al-Ṭayālisī berkata: Abū ʽAwānah, daripada Abū Balj, daripada ʽAmrū bin Maymūn, sesungguhnya RasuluLlah (s.a.w) bersabda kepada Alī: Engkau adalah pemimpin setiap orang beriman setelahku.
Aḥmad telah menukilkannya dan Al-Ḥākim juga turut menukilkannya dengan jalur tersebut dan berkata: Persanadannya adalah Ṣaḥīḥ. Dhahabī turut bersetuju dengannya. Persanadan itu adalah seperti yang dikatakan (sebagaimana pandangan Al-Ḥākim dan Al-Dhahabī). – Al-Bāni, Muḥammad Nāṣir, Al-Silsilah Al-Ṣaḥīḥah al-Mujalladāt al-Kāmilah, jilid 5 halaman 222, di bawah riwayat 2223.

Di sini beliau langsung mengesahkan pandangan Ḥākim Nishabūrī dan Al-Dhahābī. Sekarang pertanyaan untuk Albānī ialah, pandangan kamu yang manakah benar? Apakah riwayat daripada Abū Balj itu Sahih, baik atau Hasan?

===============================

Pertentangan ke-dua:

Kita dapat melihat di sini bahawa riwayat tersebut dikatakannya sebagai Hasan gara-gara keterangan daripada Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī  tentang Abū Balj. Beliau di bawah riwayat “ولو رأى حالهن اليوم منعهن” yang dinukilkan daripada ʽAyshah telah mengatakan:

وهذا إسناد صحيح رجاله كلهم ثقات رجال مسلم غير عبد الرحمن بن أبي الرجال وهو صدوق ربما أخطأ كما في (التقريب).
الباني ، محمد ناصر (متوفاى1420هـ) الكتاب : الثمر المستطاب في فقه السنة والكتاب، ، ج1، ص733، ناشر : غراس للنشر والتوزيع، الطبعة : الأولى.

Perawi dalam sanad-sanad ini adalah Sahih dan semuanya adalah thiqah, perawinya adalah perawi Muslim melainkan ʽAbdul Raḥmān bin Abū Balj, beliau adalah Ṣadūq (bicaranya sangat benar), ada ketika ia tersalah seperti mana di dalam Al-Taqrīb. – Al-Bānī, Muḥammad Nāṣir, Al-Thamar Al-Mustaṭāb fi fiqh Al-Sunnah Wal Kitāb, jilid 1 halaman 733.

Kedudukan kedua-dua riwayat tersebut adalah mirip antara satu sama lain; oleh itu hukumnya hendaklah sekurang-kurangnya sama.

Jikalau riwayat riwayat “أنت خليفتى فى كل مؤمن بعدي” dikatakan sebagai Hasan gara-gara persanadannya mempunyai perawi bernama Abū Balj Al-Fazārī yang disebut Ibnu Ḥajar sebagai “beliau adalah Ṣadūq, ada ketika ia tersalah”, maka riwayat “ولو رأى حالهن اليوم منعهن” hendaklah dikatan sebagai Hasan juga kerana Ibnu Ḥajar juga mengeluarkan pandangan yang sama tentang riwayat tersebut.

Jikalau riwayat ini Sahih; maka riwayat “Engkau adalah khalifah setiap orang beriman setelahku” juga hendaklah dikatakan Sahih juga.

=============================

Pertentangan ke-tiga

Sebagaimana Al-Bānī telah mengatakan Hasan untuk riwayat “Engkau adalah khalifah setiap orang beriman setelahku”, namun dalam kitabnya yang lain hadis beliau berteriak bahawa hadis “Sesungguhnya dia adalah khalifahku setelahku” sebagai riwayat yang batil dan ianya direka cipta oleh Syiah serta tidak Sahih dari segenap sisi:

وأما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث وغيره أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : في علي رضي اله عنه : إنه خليفتي من بعدي . فلا يصح بوجه من الوجوه . بل هو من أباطيلهم الكثيرة .
السلسلة الصحيحة، ج4، ص330، ح1750

Namun apa yang disebut oleh Syiah tentang Hadis ini dan yang lainnya, bahawa Nabi (s.a.w) bersabda tentang ʽAlī (r.a): “Sesungguhnya beliau adalah khalifahku setelahku”, ianya tidak Sahih dari sisi mana pun. Bahkan ianya daripada kebanyakan kebatilan mereka (Syiah). – Al-Silsilah Al-Ṣaḥīḥah, jilid 4 halaman 330, hadis nombor 1750.

Wahai Al-Bānī! Apakah ini dikatakan sebagai tatatertib beramanah dan saksama?

Maka diketahuilah bahawa neraca timbangan dan perbandingan Al-Bānī adalah menuruti orang yang terdahulu daripada golongannya, bukan daripada pertimbangan ilmu rijal yang sedia maklum. Bahkan di mana sahaja ada riwayat yang memberi kelebihan kepada Ahlul Bait Nabi, beliau akan berusaha untuk menurunkan darjat nilai riwayat tersebut seboleh mungkin sambil menyembunyikan kebenaran. Namun mengenai masalah lain, ketika itu juga beliau menyatakan kebenaran dari perspektif penilaian ilmu.

Kesimpulan:

Menurut apa yang telah disebutkan, Sanad hadis ini tidak mempunyai sebarang masalah. Oleh itu terbuktilah bahawa RasuluLlah (s.a.w) telah menggunakan rangkaikata “وَأَنْتَ خَلِيفَتِي فِي كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ بَعْدِي” untuk ʽAlī bin Abī Ṭālib.

sunni mengingkari ayat Al Quran tentang imamah Ali

Kepemimpinan Imam Ali as dan 11 keturunan terpilih beliau

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah:

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده “ doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22] Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703)

.


by syiahali

Hadis seputar Sayidina Ali as

1. Dikeluarkan oleh Abu Na’im Al-Esbahani yang sanadnya bersambung sampai Ibn Abbas yang mana Beliau (Ibn Abbas) berkata : “ dulu kami (para sahabat Nabi saw) saling berbincang2 bahwa sesungguhnya Nabi saw telah memberi 70 janji kepada Sayidina Ali as yang Beliau saw tidak memberinya kepada satupun dari sahabat”. {huliyah al-auliya’ jilid 1 halaman 68 cetakan dar al-kitab al-arabi –Beirut-.}

2. An-Nasa’i berkata yang sanadnya bersambung sampai Ibn Abbas dari sayidin Ali as berkata: “ dulu aku memiliki kedudukan disisi Rasulullah saw, yang mana tidak dimiliki oleh makhluk yang lain, dulu aku masuk ke dalam rumah Nabi saw setiap malam, dan jika Beliau saw sedang melaksanakan sholat maka Beliau mengucapkan tasbih (tanda izin Nabi saw) maka aku masuk kedalam rumahnya, dan jika tidak dalam keadaan sholat maka Beliau mengizinkan(dengan ucapan) aku untuk masuk, maka akupun masuk”. {as-Sunan al-Kubra jilid 5 halaman 140 hadis ke 8399, kitab al-Khashaish halaman 166-167}

3. An-Nasa’I berkata yang sanadnya sampai ke sayidina Ali as, yang mana Beliau (sayidina Ali as) berkata: “Jika aku bertanya atau meminta sesuatu kepada Nabi saw, maka aku pasti akan diberi (yang aku inginkan). Dan jika aku diam maka Beliaulah saw yang akan memulainya( menawarkan sesuatu baik ilmu atau apapun)”. {as-Sunan al-Kubra jilid 5 halaman 142 , kitab al-khashaish halaman 170-171, al-hakim di dalam mustadraknya juga menukilnya(mustadrak jilid 3 halaman 135 hadis 4630 cetakan dar al-kutub al-alamiah Beirut th1411H)}

4. An-Nasa’i juga berkata yang sanadnya dari Ummu salamah (istri Nabi saw ) yang berkata sesunggunya beliau (Ummu Salamah) berkata : “ demi yang Ummu salamah bersumpah atasnya(Allah swt) sesungguhnya paling dekatnya manusia kepada Nabi saw adalah Ali as”. {as-Sunan al-Kubra jilid 5 halaman 154 bab 54}

5. Para Ahli Hadis dan Para Sejarawan serta Para Mufasir dalam pembahasan ayat 214 dari surah as-Syu’ara mereka berkata bahwa ketika ayat ini turun Rasulullah saw mengundang 40 laki-laki dari Bani Hasyim dan dari Para Pembesarnya, dan ketika mereka semua selesai dari makan, Rasulullah saw berkata kepada mereka semua : “Wahai Anak-anak Abdul Muttalib!! Sesungguhnya demi Allah, tidak ada pemuda di arab yang datang kepada kaumnya dan membawa sesuatu untuk mereka yang lebih baik dari apa yang aku bawa kepada kalian, Sesungguhnya aku telah datang dengan sebaik-baik dunia dan akhirat, Allah swt telah menyuruhku untuk mengajak kalian kembali kepadaNya, Maka siapa dari kalian yang percaya kepadaku dan membantuku dalam hal ini maka akan menjadi saudaraku, wasi(pengganti)ku, dan khalifah setelahku.” Ketika Nabi saw selesai, kaum(anak-anak Abu Muttalib/para paman Nabi saw) diam tidak berbicara dan seketika itu juga Sayidina Ali berdiri dan berbicara: “ Aku ya Rasulullah saw, yang akan menjadi penolong serta pembantumu atas apa yang Allah perintahkan kepadamu.” Rasulullah berkata kepadanya(sayidina Ali): “ duduklah.” Kemudian Nabi saw mengundang mereka semua untuk kedua kalinya sampai tiga kali. Akan tetapi setiap Nabi mengundang mereka, tidak satupun dari mereka yang berbicara, mereka semua diam dari apa yang dikatakan Nabi saw dan hanya sayidina Ali as lah yang selalu menjawab pertanyaan Nabi saw serta beliau menyatakan kesediaannya untuk menjadi pembantu Nabi saw dalam perintah-perintah Allah swt, akan tetapi Nabi saw menyuruhnya untuk duduk di pertemuan pertama dan kedua, akan tetapi di pertemuan yang ketiga Rasulullah saw mengangkat tangan Sayidina Ali dan berkata kepada kaum yang ada saat itu : “ sesungguhnya dia adalah saudaraku dan dialah wasiku serta khalifah setelahku, maka dengarkanlah dia dan ta’atilah dia!” setelah mendengar hal ini berdirilah kaum dan menertawakan Abu Talib(ayah sayidina Ali as yang ikut hadir dalam pertemuan ini) dan berkata kepadanya: “dia telah menyuruhmu untuk mendengarkan anakmu dan menaatinya.” {Musnad Ahmad jilid 1 halaman 111, Tarikh al-Tabari jilid 2 halaman216, Takhir Ibn Al-Atsir jilid1 halaman 487, sayrkh Nahjul Balaghah (Ibn Abi al-hadid)jilid 3 halaman 267, Ghayah al-Maram jilid 3 halaman 279-286.(semua ini adalah ulama’ ahl as-sunnah)}

6. Ditulis di oleh Al-Khatib Al-Khawarizumidi bab ke enam di dalam bukunya al-Manaqib halaman 64-79 tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan kecintaan terhadap Sayidina Ali as dan Ahlulbayt Nabi saw, yang tercatat sekitar 30 hadis, dan ini adalah sebagian darinya:

· Jika seluruh manusia berkumpul dalam kecintaan kepada Ali ibn Abi Thalib maka Allah tidak akan menciptakan Neraka.

· Wahai Ali jika ada seorang hamba yang menyembah Allah swt seperti apa yang dilakukan Nabi Nuh as terhadap kaumnya dan jika dia memilik emas segunung uhud kemudian emas itu diinfakan dijalan Allah swt dan jika dipanjangkan umurnya sampai dia haji 1000tahun dengan jalan kaki kemudian terbunuh di antara safa dan marwa dengan terdholimi, akan tetapi dia tidak berwilayah kepadamu maka dia tidak akan mencium bau surga dan tidak akan masuk ke dalamnya.

· Siapa yang mencintai Ali as maka telah mencintaiku dan siapa yang membencinya maka telah membenciku.

· Sesungguhnya malaikat maut menghormati para pecinta Ali ibn Abi Thalib as seperti menghormati para Nabi as.

· Siapa yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepadaku dan kepada apa yang aku datang bersamanya(islam), akan tetapi dia membenci Ali as maka dia telah berbohong dan dia tidak mu’min.

7. Abdullah ibn Ahmad Ibn Hambal bekata: aku bertanya kepada ayahku : “apa pandangan anda terhadap keutamaan.” Ayahku berkata: “didalam khilafah , Abu bakar dan Umar dan Usman”. Maka aku bertanya kembali: “kalau Ali ?” ayahku berkata : “wahai anakku, Ali ibn Abu Thalib adalah dari Ahlulbayt maka tidak ada seorangpun yang bisa dibandingkan dengannya.” {Thabaqat al-Hanabalah jilid 2 halaman 120{

8. Rasulullah saw berkata kepada Sayidah Fatimah az-Zahra as: “wahai Fatimah, apakah kamu tidak rela kalau suamimu adalah sebaik-baiknya umatku, yang masuk islam terlebih dahulu, paling banyak ilmunya, dan paling bijak dan sabar dari umatku.”{al-Khatib al-Khawarizumi didalam al-Manaqib halaman 106 hadis 111}

9. Dari Ibn Abbas yang berkata : “Dihidangkan kepada Nabi saw burung matang(makanan dari langit), kemudian Nabi saw berkata : “Ya Allah, datangkanlah kepadaku orang yang paling kau cintai dari makhlukmu.” Maka datanglah Ali Ibn Abi Thalib. Kemudian Nabi saw berkata: “ya Allah dia juga orang yang paling aku cintai.”{al-Masdar al-Sabig halaman107-108 hadis ke 113-114}

10. Rasulullah saw bersabda: “wahai Ali perumpamaanmu dan perumpamaan para pemimpin setelahmu dari anak-anakmu adalah seperti kapal Nuh, siapa yang menaikinya selamat dan siapa yang meninggalkannya tenggelam, dan kalian adalah seperti bintang-bintang, setiap bintang menghilang maka bintang yang lain akan muncul sampai hari qiamat. {Faraid al-Simthain 2/243/517}

11. Dan dari Jabir, yang berkata: “dulu kita (para sahabt Nabi saw) berada di samping Nabi saw dan kemudian Ali ibn Abi Thalib as datang, maka berkatalah Nabi saw: “sungguh telah datang saudaraku” kemudian beliau menuju menoleh ke ka’bah dan memukul ka’bah dengan tangannya kemudian berkata: “ demi yang yawaku berada ditangannya sesungguhnya dia dan syiahnya adalah orang-orang yang menang dan beruntung di hari kiamat,kemudian beliau melanjutkan perkataannya: “ seseungguhnya dia adalah paling dahulunya orang dari kalian yang beriman bersamaku, dan dia adalah orang yang paling menyampaikan -janji Allah swt- diantara kalian,dan dia adalah orang yang paling lurus -dalam menjalankan perintah-perintah Allah swt- diantara kalian,dan dia adalah orang yang paling adil -didalam ummat- diantara kalian, dan dia adalah orang yang paling bisa membagi -dengan sama rata dan adil- diantara kalian, dan dia adalah orang yang paling besar -kemuliaannya di mata Allah swt- diantara kalian.”kemudian Jabir berkata: “dan turunlah wahyu kepada Nabi saw(((انّ الذين آمنوا وعملوا الصالحات اولئك هم خير البرية), dan jabir berkata: maka semenjak itu para sahabat Nabi saw jika kedatangan sayidina Ali as maka mereka berkata: “telah datang sebaik-baik makhluk.” {المصدر السابق halaman 111,112 hadis ke 120.}

12. Rasulullah saw bersabda: “orang pertama yang sholat berasamaku adalah Ali” (كنز العمال)

13. Orang pertama yang sholat adalah Ali dan orang yang pertama islam adalah Ali (صحيح الترمذي- تاريخ طبري – الرياض النضرة) hal ini juga di riwayatkan di dalam buku-buku ini (مسند احمد ابن حنبل – مستدرك الصحيحين – خصائص نسائي – الطبقات الكبرى – اسد الغابة – كنزالعمال) dan juga tertulis di buku-buku ahlulsunnah dan syiah yang lain.

14. Sayidina Ali as tidur di atas tempat tidur Nabi saw di malam kepergian Nabi saw ke Gua Hira untuk mengkelabuhi orang-orang quraysh yang ingin membunuh Nabi saw dan saat itu turun ayat “ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضاة الله…” (التفسير الكبير للفخر الرازي – اسد الغابة – تاريخ دمشق)hal ini juga di terangkan di dalam buku-buku berikut ini (خصائص نسائي- مستدرك الصحيحين – الرياض النضرة – كنزالعمال – مسند الامام احمد ابن حنبل – الطبقات الكبرى – الدر المنثور)

15. Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Allah swt telah menyuruhku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali.” (المعجم الكبيرللطبراني – كنزالعمال – معجم الزوائد – فيض القدير- الصواعق المحرقة)dan juga di buku(ذخائر العقبى)

16. Sesungguhnya Rasulullah saw selama 6 bulan ketika melewati pintu rumah sayidina Ali dan sayidah Fatimah untuk sholat subuh Beliau berkata : “sholat, wahai Ahlulbayt” kemudian Beliau membaca ayat suci al-Quran “انّما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت و يطهّركم تطهيراً” hal ini tertulis didalam kitab-kitab ahlusunnah dan syiah berikut kitab-kitab dari ahlu sunnah(صحيح الترمذي- مسند احمد ابن حنبل – تفسير ابن جرير الطبري – مستدرك الصحيحين – اسد الغابة – كنزالعمال – الدرالمنثور)

17. Aisyah berkata: “aku tidak mengetahui ada orang dicintai Nabi saw lebih dari Ali, dan tidak ada dibumi ini perempuan yang dicintai Nabi saw lebih dari isterinya(Fatimah)” riwayat ini tertulis didalam buku-buku berikut(خصائص نسائي – مستدرك الصحيحين)riwayat seperti ini juga terdapat didalam buku-buku yang lain seperti:(صحيح الترمذي – مسند احمد ابن حنبل – اسد الغابة – الاصابة – الرياض النضرة)dan masih banyak lagi riwayat seperti ini yang tertulis didalam buku-buku syiah.

18. Rasulullah saw bersabda: “Ali adalah pemimpin yang benar dan membenarkan, serta Dia adalah pembunuh orang-orang yang berbuat jahat.” (كنزالعمال)

19. Dirawayatkan bahwa Malaikat Jibril melantangkan suaranya didalam perang uhud : “tidak ada pedang kecuali dzulfigar dan tidak ada pemuda(pemberani) kecuali Ali.” (تاريخ الطبري- الكامل في التاريخ)hal seperti ini juga tertulis didalam buku-buku berikut: (كنزالعمال – الرياض النضرة – ذخائر العقبى)

20. Ketika ayat “قل تعالوا ندع ابناءنا وابناءكم ونساءنا ونساءكم وانفسنا و انفسكم ثمّ نبتهل فنجعل لعنة الله على الكاذبين” kemudian Nabi saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, kemudian beliau berdo’a: “Ya Allah mereka adalah keluargaku (صحيح مسلم – صحيح الترمذي – الدرالمنثور – مستدرك الصحيحين)

21. ابناءنا adalah Hasan dan Husain dan نساءنا adalah Fatimah serta انفسنا adalah Ali ibn Abu Thalib, hal ini tertulis dalam buku (اسباب النزول)

22. Nabi saw bersabda : “Dia disisiku seperti diriku…. (kemudian Nabi saw memegang bahu Ali)” hal ini tertulis didalam buku (تفسيرالكشّاف)

23. Nabi saw bersabda : “ana adalah kota ilmu dan ali adalah pintu kotanya, maka siapa yang ingin masuk kedalam kota maka akan datang ke pintunya.” Tertulis didalam buku-buku berikut (مستدرك الصحيحين – اسدالغابة – كنز العمال – فيض القدير – مجمع الزّوائد – تاريخ بغداد)

24. Nabi saw bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan (dia adalah) orang yang menerangkan apa yang aku diutus dengannya setelahku” (كنزالعمال – الصواعق المحرقة)

25. Sayidina Ali as menyedekahkan cincinnya kepada seorang pengemis dalam keadaan ruku’, kemudian Nabi saw bertanya kepada pengemis tersebut: “siapakah yang memberimu cincin ini?” si Pengemis berkata : “orang yang sedang ruku’ itu(menunjuk kepada sayidina Ali )” kemudian Allah swt menurunkan ayat ini kepada Nabi saw “انّما وليكم الله و رسوله والذين آمنوا الذين يقيمون الصّلوة ويؤتون الزكوة وهم راكعون”(al-Ma’idah ayat 55) hal ini tertulis dalam (المتّفق و المفترق – كنزالعمال) riwayat seperti ini juga terdapat dalam buku-buku berikut ini (معجم الزوائد – ذخائر العقبى – الدر المنثور – تفسيرالكشاف – تفسير الطبري – التفسير الكبير للفخر الرازي – الرياض النضرة)

26. Nabi saw bersabda: “sesungguhnya Ali as adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah pemimpin para mu’min setelahku” (صحيح الترمذي – مسند احمد ابن حنبل – مسند ابي داود – خصائص نسائي – كنزالعمال – الرياض النضرة)

27. Nabi saw bersabda: “ sesungguhnya setiap Nabi memiliki pengganti dan pewaris, sesungguhnya Ali adalah pengganti dan pewarisku” (تاريخ دمشق – فردوس – المناقب لابن مغازلي – كفاية الطالب)

WALI

اِنَّمَاوَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِيْنَ امَنُوْاالَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَوَيُؤْتُوْنَ الزَّكوةَوَهُمْ رَاكِعُوْنَ
﴿المئدة :٥٥﴾
Artinya :

Hanya sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman ; yaitu orang-orang yang mendirikan sholat dan membayar zakat sedang dia dalam keadaan rukuk(QS Al-Maidah : 55)
.
Ayat di atas turun berkenaan dengan peristiwa adanya pengemis yang meminta di Masjid, namun tidak ada orang yang mau memberinya sesuatu, lalu imam Ali bin abi Thalib yang sedang shalat mengisyaratkan agar pengemis itu mengambil cincin yang ada di jari tangan kanan beliau.
Kejadian ini diriwayatkan oleh:

1. Fahrur Razi dalam tafsir al Kabir juz 12 hal 26
2. Al Zamaksari dalam al Kassaf juz 1 hal 347
3. As Suyuti dalam ad Durul Mansur juz 1 hal 104,106
4. Al Ha’itsami dalam Majma’ al Jawa’id juz 7 hal 19,20
5. al Jassos dalam Ahkamul Qur’an juz 2 hal 446
6. As Sudi dalam tafsir Kabir al Qur’an 231
7. Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2 hal 74
8. Al Kanji As Syafi’i dalam Kifayat at Talib hal 200
9. An Nasafi dalam Tafsirul Qur’an juz1 hal 420
10. At Thabari dalam tafsirnya Jami’ul Bayan juz 13 hal 108
11. Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul hal 113
12. Al Muttaqi al Hindi dalam Kanzul Ummal juz 13 hal 108
13. Alauddin al Haziri dalam Tafsirnya juz 2 hal 67
14. As Saukani dalam Fathul Gadhir juz 2 hal 78
15. At Thabari dalam Dahairul Uqba hal 102
Dan masih ada 20 riwayat lagi yang berkata; ayat ini turun berkenaan dengan imam Ali bin abi Thalib, yang bersedekah saat shalat.

Dari ayat itu juga dapat dijelaskan bahwa Wali anda adalah Allah, Rasul dan orang yang bersedekah saat sholat yaitu Ali ibn Abi Thalib. Dan tentu ada beberapa hal yang perlu dijelaskan dari ayat ini. Pertama, ayat ini dimulai dengan [اِنَّمَا]yang artinya pengkhususan, dan jika bermakna khusus tentu ada penjelasan siapa yang dimaksud. Kedua, disini mengunakan kata wali yang berarti penolong, pencinta, pewaris, penguat, yang lebih utama dalam perkara. Namun, setelah ada pegkhususan [اِنَّمَا]maka tidak ada arti yang cocok kecuali yang lebih utama dalam perkara (pemimpin). Ketiga, Sifat pemimpin itu yaitu salat dan saat rukuk dia bersedekah, dan tentu tidak semua orang melakukan hal ini. Karena itu asbabun nuzul menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib. Keempat, tentu beliau khusu’ walau bersedekah. Terbukti Allah SWT kemudian menjadikan kejadian ini sebagai tanda bagi pemimpin setelah Rasulullah SAAW. Berikut kami nukilkan hadist yang dengan jelas mengartikan kata wali (وَلِيُّكُم) dengan arti pemimpin :

.
Diriwayatkan oleh al Qunduzi al Hanafi dalam kitab Yanabiul Mawaddah bab 38 hal 134, Rasul saw bersabda di Ghadir Khum, “Wahai manusia tahukah kalian bahwa Allah SWT adalah Waliku dan aku walinya kaum mukminin dan aku lebih utama [dalam kepemimpinan] kepada mereka dari diri mereka sendiri.” Lalu mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu beliau mengambil tangan Ali dan bersabda, “Siapa yang menjadikan Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Ya Allah! Pimpinlah orang yang menjadikan Ali sebagai pemimpinnya dan musuhilah yang menjadikan Ali sebagai musuhnya.” Lalu Salman berdiri dan berkata; “Ya Rasulullah! Kepemimpinan Ali seperti apa?” Kepemimpinannya adalah seperti kepemimpinanku! Barangsiapa yang menjadikan Aku lebih utama kepada dirinya dari pada dirinya , maka Ali juga harus lebih utama dari dirinya sendiri”.
Apabila ada yang bertanya, bukankah ayat itu وَالَّذِيْنَ امَنُوْا – menunjukan arti jamak (banyak)? Lalu mengapa hanya untuk satu orang, yaitu imam Ali bin Abi Thalib? Jawabnya yang pasti bahwa selain ayat ini ada juga ayat lain yang menggunakan lafadz jama’ tapi ¼ dituju hanya satu orang, berikut kami berikan contohnya:

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْجَمَعُوْالَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًا وَّقَالُوْاحَسْبُنَااللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ﴿ﺁل عمران : ١٧٣﴾

Artinya :
(yaitu) orang-orang yang (mentaati Allah dan Rasul) kepada mereka ada orang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang (kafir) telah berkumpul untuk menyerang kamu, maka takutlah kamu kepada mereka”. Maka (hal itu) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”.(QS Ali Imran : 173)

النَّاسُ – disini dipakai untuk satu orang, yaitu Naim bin Mas’ud al Asja’i, menurut;
• Ar Rozi dalam Tafsir Kabir juz 9 hal 99
• Az Zamaksari dalam al Kassaf jaz 1 hal 441

ياَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْااذْكُرُوْانِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْهَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّسْبُطُوْااِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَالتَّقُااللهَ وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ﴿ﺁل عمران : ١١﴾
Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika suatu kaum hendak mengulurkan tangan (jahat) mereka kepada kamu, maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakkal.(QS Ali Imran : 11)

يَّسْبُطُوْا – Walaupun jama’, yang dituju satu orang: غورث – Ada yang bilang . عموبن جحاس من بنى النضير menurut :
• Thabari, dalam Jamiul Bayan juz 10 hal 101
• Az Zamaksari, dalam al Kassas juz 1 hal 613
• Muhammad Rasid Rida, dalam al Manar juz 1 hal 276.

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَاجَاءَكَ مِنَ العِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْانَدْعُ اَبْنَاءَنَاوَاَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَاوَنِسَاءَكُمْ وَاَنْفُسَنَاوَاَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَفْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللهِ عَلَى الْكذِبِيْنَ ﴿ﺁل عمران : ٦١﴾
Artinya :

Maka barang siapa yang membantah engkau tentang (kebenaran) itu sesudah datang pengetahuan kepadamu, maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu, kemudian kita berdo’a dengan sungguh-sungguh (mubahala); dan kita jadikan (kita minta) supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta”.(QS Ali Imran : 61)

.
اَبْنَاءَنَا – bentuk jama’ untuk Hasan dan Husain
نِسَاءَنَا – bentuk jama’ untuk sayyidah Fatimah
اَنْفُسَنَا – bentuk jama’ untuk Imam Ali as, menurut :
a, Zamaksari, dalam Kassaf juz 1 hal 368
b, Muhammad Rasyid Rida dalam al Manar juz 3 hal 322
Ayat al Qur’an kadang pakai نَحْنُ padahal itu untuk Allah SWT yang Esa (untuk pengagungan).
Kita kadang ucapkan اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ – padahal untuk satu orang.

saudaraku….

IMÂMAH

Sejak Kapan Imâmah Menjadi Isu?

Pasca wafatnya Nabi saw., perbincangan tentang pengganti beliau mengemuka. Sekelompok orang berkeyakinan bahwa Nabi saw. tidak menentukan pengganti selepas beliau, dan urusan ini dilimpahkan di atas pundak umat supaya mereka duduk bersama dan bermusyawarah untuk menentukan sendiri pemimpin mereka; pemimpin yang mengendalikan urusan pemerintahan dan bertindak sebagai wakil rakyat (umat) untuk memerintah atas mereka.

Musyawarah ini tidak pernah terwujud, karena pada suatu kesempatan, hanya satu kelompok kecil sahabat yang memilih seorang khalifah, dan pada kesempatan yang lain, pemilihan khalifah berbentuk penunjukan (intishâbi), serta pada kesempatan ketiga, pemilihan ini hanya diemban oleh enam orang yang keseluruhannya bersifat penunjukan juga (intisâbi).

Para pendukung pemikiran ini disebut Ahli Sunnah.

Kelompok lain berkeyakinan bahwa imam dan pengganti (khalifah) Nabi saw. harus ditentukan oleh Allah swt., lantaran ia mesti seperti Nabi saw.; maksum dari dosa dan kesalahan serta memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga ia dapat mengemban kepemimpinan material dan spiritual, menjaga pondasi agama, menjelaskan hukum-hukum Tuhan kepada umat, menguraikan Al-Qur’an secara detail, dan menjaga keutuhan Islam.

Kelompok ini dinamakan sebagai Imamiyah atau Syi’ah. Dan penamaan berasal dari hadis-hadis Nabi saw. yang masyhur.

Dalam Tafsir Ad-Durr Al-Mantsûr, salah satu buku referensi tafsir standar Ahli Sunnah yang terkenal, tentang penafsiran ayat “Ulâ`ika hum khoirul Bariyyah”, terdapat sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Ia berkata, “Suatu hari kami berada di hadirat Nabi saw. Tiba-tiba Ali datang ke arah kami. Nabi saw. bersabda, ‘Ia dan Syi’ahnya pada Hari Kiamat adalah orang-orang benar.’ Setelah itu, turunlah ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka adalah sebaik-baik makhluk.’”.[1]

Al-Hakim An-Naisyaburi, salah seorang ulama terkenal Ahli Sunnah yang hidup pada abad kelima Hijriah, menukil muatan riwayat yang sama dari Nabi saw. dalam kitabnya yang terkenal, Syawâhid at-Tanzîl dan jumlah riwayat ini melebihi angka dua puluh. Di antaranya, riwayat Abbas yang berkata, “Ketika turun ayat ‘Innaladzîna Âmanû wa ‘amilush-Shôlihât …’, Nabi saw. bersabda kepada Ali, ‘Maksud dari ayat ini adalah engkau dan Syi’ahmu.’”[2]

Dalam hadis yang lain dari Abu Barzah, ketika Nabi saw. membacakan ayat ini, beliau bersabda, “Mereka adalah engkau dan Syi’ahmu.”[3]

Banyak lagi dari ulama Islam dan ulama Ahli Sunnah, seperti Ibn Hajar dalam Ash-Sawâ’iq Al-Muhriqah-nya dan Muhamamad Asy-Syablanji dalam Nûr Al-Abshâr-nya, juga menyebutkan hadis ini.

Oleh karena itu, dengan kesaksian riwayat-riwayat ini, Nabi saw. telah memilih nama Syi’ah sebagai pengikut jalan Ali dan pendukung beliau. Maka itu, sangat mengherankan sekali jika sebagian orang menggangap nama ini sebagai penanda kesialan dan keburukan. Mereka menganggap huruf syin pada awal kata Syi’ah merupakan hal yang mengingatkan kepada keburukan, kesialan, dan kata-kata buruk serta konotasi lainnya.

Sebenarnya, ungkapan-ungkapan ini bagi seorang peneliti yang memiliki kecenderungan untuk menerima pelita argumentasi logis sangat mengherankan. Karena, untuk setiap huruf dari huruf-huruf abjad Hijaiyah (dari alif sampai ya’) dapat dipilihkan kata-kata baik atau buruk (sebagai ungkapannya).

Secara umum, sejarah kemunculan Syi’ah tidak terjadi pasca wafatnya Rasulullah saw., tetapi bahkan pada masa hidup beliau. Dan kata ini dilekatkan kepada penolong dan pendukung Imam Ali a.s. Seluruh orang mengenal Nabi saw. sebagai Rasulullah. Mereka tahu bahwa beliau tidak berbicara atas dasar hawa dan nafsunya sendiri, wamâ yantiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâ. Dan jika beliau bersabda, “Engkau dan pengikutmu adalah orang-orang yang berjaya dan benar pada Hari Kiamat”, sabda beliau ini merupakan sebuah realitas.[4]

Wilâyah Takwînî dan Tasyrî’î itu

Sebagaimana telah kita ketahui, wilâyah terbagi menjadi dua bagian: wilâyah Tasyrî’î dan wilâyah Takwînî .

Maksud dari wilâyah Tasyrî’î (tata-aturan) adalah pemerintahan dan pengurusan konstitusional dan Ilahi. Wilâyah ini terkadang dapat dijumpai dalam ukuran terbatas, seperti wilâyah bapak dan kakek atas anak kecil. Dan terkadang dalam ukuran yang luas, seperti wilâyah seorang penguasa umat Islam atas seluruh masalah-masalaah yang bertalian dengan pemerintahan dan penyelenggaraan negara Islam.

Adapun maksud dari wilâyah takwînî (tata-cipta) adalah pengaturan cipta seseorang terhadap alam semesta dan penciptaan berdasarkan perintah dan izin Tuhan. Wilâyah ini dapat berseberangan dengan kebiasaan dan proses natural semesta dan prosedur sebab-akibat. Misalnya, dengan izin dan kekuasaan Tuhan, ia dapat menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau menghidupkan orang-orang mati, dan pekerjaan-pekerjaan lain semacam ini. Dan setiap bentuk pengaturan spiritual (tasharruf ma‘nawî) adalah bersifat supranatural yang terdapat dalam jiwa-jiwa dan raga-raga setiap manusia, demikian juga pada dunia natural.

Wilâyah Takwînî terbagi menjadi empat bagian. Sebagiannya dapat diterima, dan sebagian lainnya tidak.

a. Wilâyah Takwînî dalam Urusan Penciptaan Alam Semesta

Artinya, Tuhan memberikan kemampuan kepada para hamba atau malaikatnya sehingga ia dapat menciptakan hal tertentu, atau membatalkan halaman keberadaan, dengan keyakinan bahwa perkara ini bukanlah sebuah perkara yang mustahil dapat terwujud. Karena, Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu. Dan Ia mampu memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Akan tetapi, segenap ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta; langit dan bumi-bumi, jin, manusia, malaikat, flora dan fauna, gunung-gunung, dan lautan, seluruhnya terlaksana dengan kekuasaan Allah Swt., bukan melalui perantara hamba atau malaikat tertentu. Oleh karena itu, seluruh penciptaan dinisbahkan kepada Allah Swt. Dan tidak satu pun urusan lepas dari hubungannya dengan Allah. Dengan demikian, pencipta tujuh langit, tujuh bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia adalah Tuhan Yang Mahakuasa semata.

b. Wilâyah Takwînî sebagai Perantara Anugerah

Artinya, setiap bentuk pertolongan, rahmat, berkah, dan kekuasaan bersumber dari Tuhan. Semua itu sampai kepada hamba-Nya atau wujud-wujud lain yang berada di jagad raya ini melalui jalan para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang terpilih. Seperti air minum di rumah-rumah perkotaan, seluruhnya melalui jalan pipa utama. Pipa ini mengalirkan air dari sumber mata air dan mengantarkannya ke seluruh tempat. Pipa ini disebut sebagai perantara menebarkan anugerah.

Menurut akal, makna ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Contohnya dapat ditemukan dalam alam mikro kosmos pada tubuh manusia dan pembagian materi (mâddah) kehidupan kepada sel-sel melalui jantung dan urat nadi. Apa kendalanya jika pada makro kosmos juga demikian nyatanya?

Akan tetapi tanpa syak, pembuktian hal ini memerlukan dalil yang cukup. Dan sekiranya dapat dibuktikan, tetap hal itu terjadi dengan izin Allah swt.

c. Wilâyah Takwînî Terbatas

Umpamanya, menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang-orang sakit yang tidak dapat disembuhkan lagi dan semisalnya.

Contoh-contoh dari jenis wilâyah Takwînî ini terdapat secara gamblang dalam Al-Qur’an ihwal sebagian para nabi. Demikian juga pada riwayat-riwayat yang menjadi bukti atas jenis wilâyah ini. Oleh karena itu, tidak hanya dari sudut pandang rasional, bentuk Wilâyah Takwînî ini dapat terwujud, akan tetapi juga terdapat banyak dalil-dalil tekstual yang mendukung masalah ini.

d. Wilâyah Takwînî sebagai Doa untuk Terwujudnya Urusan-urusan Yang diharapkan

Aktualisasi wilâyah ini melalui perantara kekuasaan (qudrah) Tuhan. Dengan demikian, Nabi saw. dan para imam maksum a.s. berdoa, dan sesuai dengan kehendak Tuhan, doa tersebut terkabulkan.

Jenis Wilâyah Takwînî ini juga dapat terlaksana menurut akal dan teks agama. Banyak ayat dan riwayat yang menjadi contoh wilâyah ini. Mungkin dari satu sisi, kita tidak dapat menamakan hal ini sebagai wilâyah Takwînî, lantaran terkabulkannya (istijâbah) doanya berasal dari sisi Tuhan.

Banyak riwayat yang mengisyaratkan asma Allah yang agung (al-ism al-a’zhâm) yang berada dalam penguasaan Nabi dan para imam a.s. atau sebagian dari wali-wali Allah. Dengan perantaraan asma ini, mereka dapat mengatur tata cipta jagad raya ini.

Terlepas dari hakikat asma yang agung ini, riwayat-riwayat semacam ini dapat menjadi saksi atas adanya bagian ketiga dari wilâyah Takwînî ini, dan sesuai secara penuh dengan wilâyah tersebut.[5]

54. Apakah Hakikat Bai’at itu? Dan apakah Perbedaannya dengan Pemilihan Umum?

Bai’at adalah satu jenis perjanjian dan kontrak antara pemberi bai’at dari satu sisi, dan penerima bai’at dari sisi lain. Muatan bai’at ini adalah ketaatan, mengikuti, menolong, dan membela orang yang dibai’at. Dan sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam bai’at, bai’at memiliki tingkatan.

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, bai’at merupakan sejenis kontrak yang mengikat (‘aqd lâzim) dari sisi pemberi bai’at. Ia wajib mengamalkan apa yang telah diikrarkannya dalam bai’at tersebut. Dengan demikian, hal ini termasuk bagian dari kaidah umum; “Aufû bil ‘Uqûd (Penuhilah akad-akad itu).” (QS.Al-Maidah [5]: 1)

Oleh karena itu, orang yang memberikan bai’at tidak berhak untuk meninggalkan bai’at-nya. Akan tetapi, apabila menurut penerima bai’at tidak baik, ia dapat mencabut dan meninggalkan bai’at tersebut. Ketika itulah pemberi bai’at baru terbebas dari keharusan menaati janji yang diikrarkannya.[6]

Sebagian orang beranggapan bahwa bai’at itu ibarat pemilihan atau sejenisnya. Padahal pemilihan persis kebalikan dari bai’at. Maksudnya, esensi pemilihan hanya mewujudkan satu jenis tugas, tanggung jawab, dan kedudukan bagi orang-orang yang dipilih. Dengan kata lain, pemilihan merupakan satu jenis perwakilan dan representasi dalam menunaikan sebuah pekerjaan. Sementara pemilih dalam pemilihan ini memiliki tugas-tugas, (seperti seluruh representasi), bai’at tidak demikian adanya.

Dengan ungkapan lain, pemilihan adalah pemberian kedudukan, dan sebagaiamana yang telah kami sebutkan, seperti perwakilan dan representasi, sementara bai’at adalah pergikatan ikrar untuk taat.

Pada sebagaian efeknya, mungkin kedua kategori ini memiliki kesamaan. Akan tetapi, kesamaan ini tidak berarti kesatuan esensi. Maka, dalam masalah bai’at, pemberi bai’at tidak dapat untuk meninggalkan bai’at-nya, sementara dalam urusan pemilihan, dalam banyak kasus, para pemilih memiliki hak untuk menanggalkan pemilihan sehingga mereka dapat mendepak secara kolektif orang yang dipilih. (Perhatikan baik-baik).[7]

Apakah Bai’at Memiliki Peran dalam Legitimasi Kepemimpinan Seorang Nabi atau Imam?

Nabi saw. dan para imam maksum a.s. yang ditunjuk oleh Allah swt. secara langsung tidak pernah memerlukan bai’at. Maksudnya, ketaatan kepada Nabi saw. dan para imam maksum a.s. dan penunjukkan dari sisi Tuhan bersifat niscaya dan mesti, baik atas mereka yang berbai’at atau mereka yang tidak.

Dengan kata lain, kedudukan kenabian dan imâmah adalah wajib untuk ditaati. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amr di antara Kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Dari sini munsul satu pertanyaan, yaitu mengapa Nabi saw. berulang kali mengambil bai’at dari para sahabat dan orang-orang yang baru memeluk Islam?, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an secara jelas: bai’at Ridhwân dalam surat Al-Fath [48], ayat 18, dan bai’at dengan penduduk Makkah dalam surat Al-Mumtahanah [60].

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita tekankan bahwa seluruh bai’at itu merupakan satu jenis pengukuhan atas loyalitas yang diambil pada kondisi-kondisi tertentu, dan digunakan khususnya dalam menghadapi keadaan kritis. Hal ini dilakukan supaya di bawah siluetnya, bai’at ini dapat menghembuskan berkahnya kepada setiap orang.

Akan tetapi, bai’at yang dilakukan oleh para khalifah adalah sebagai penerimaan kedudukan khilafah (pemerintahan). Betapapun demikian, kami meyakini bahwa khilafah Nabi saw. bukan sebuah kedudukan yang diperoleh melalui bai’at, melainkan semata-mata dari sisi Allah swt. dan terwujud melalui persona Nabi saw. dan para imam maksum a.s.

Filsafat Intizhâr (Penantian) itu

Dalam ajaran Islam, keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi a.s. bukan produk impor ajaran agama lain. Konsep ini merupakan ajaran yang paling tegas dari seseorang yang meletakkan pondasi Islam (Nabi saw.). Umumnya aliran-aliran Islam dalam masalah ini bersepakat, dan hadis-hadis yang berkaitan dengannya adalah mutawâtir.

Kini, marilah kita melangkah ke kejadian-kejadian yang terjadi selama masa penantian ini pada kondisi aktual dan terkini komunitas Islam, dan kita lihat apakah kemunculan manusia seperti ini sebegitu fiktifnya sehingga lalai dari keadaan sekitarnya dan pasrah terhadap segala bentuk kondisi? Atau sebenarnya keyakinan ini adalah satu jenis seruan kepada kebangkitan dan pembangunan individu dan masyarakat?

Apakah penantian ini dapat menciptakan gerakan (baca: dinamika) atau stagnasi? Apakah ia membawa beban responsibilitas atau malah membuat kita lari dari tanggung jawab? Dan akhirnya, apakah penantian ini merupakan pelelap atau pembangkit?

Namun, sebelum menjelaskan dan mengkaji pertanyaan-pertanyaan ini, seharusnya kita memperhatikan satu poin yang sangat penting, yaitu bahwa aturan-aturan yang paling maju dan pemahaman yang unggul sekalipun, jika jatuh ke tangan orang-orang yang tidak ahli atau tidak laik, mungkin akan menimbulkan penyelewengan yang sedemikian bermetamorfosis sehingga ia akan memberikan hasil yang sama sekali bertentangan dengan tujuan utama dan bergerak di atas jalan yang sebaliknya. Banyak contoh yang bisa dibawakan di sini. Dan masalah penantian—sebagaimana yang kita akan lihat—berada pada asumsi ini.

Di atas segalanya, untuk melepaskan diri dari setiap bentuk kesalahan dalm mengevaluasi pembahasan seperti ini, hendaknya kita mengambil air dari sumbernya sehingga tidak menyisakan kontaminasi yang barangkali datang dari sungai-sungai dan saluran-saluran di pertengahan jalan.

Sekaitan dengan masalah “penantian”, sebagian kita secara langsung bertolak menuju teks-teks asli Islam, lalu kita jadikan berbagai redaksi riwayat yang menegaskan masalah ini sebagai objek kajian, sehingga kita mendapatkan banyak masukan dari tujuan utama kita, yaitu menulusuri masalah penantian (intizhâr) ini.

Kini mari kita renungkan baik-baik beberapa riwayat di bawah ini:

a. Seseorang bertanya kepada Imam Ash-Shadiq a.s. perihal seseorang yang beriman pada imamah para Imam dan menantikan munculnya pemerintahan hak, sedangkan ia akan meninggal. Imam Ash-Shadiq a.s. dalam menjawab pertanyaan ini berkata, “Ia ibarat orang yang menyertai pemimpin revolusi dalam kemah, dan setelah itu jeda beberapa waktu.” Beliau melanjutkan, “Ibarat orang yang bertempur di sisi Rasulullah saw.” Kandungan riwayat seperti ini banyak jumlahnya dengan redaksi yang berbeda-beda.[8]

b. Sebagian hadis lain menyatakan, “Ibarat pejuang yang mengayunkan pedang di jalan Allah.”

c. Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Seperti orang yang beserta Rasullah saw. dengan pedang yang menebas kepala musuh.”

d. Dalam riwayat yang lain, “Ibarat orang yang berada di bawah panji Al-Qâ’im.”

e. Dalam riwayat lain, “Ibarat orang yang berjihad di hadapan Rasulullah saw.”

f. Dalam riwayat lain, “Sebagaimana orang yang syahid bersama Rasulullah saw.”

Tujuh perumpamaan atas penantian kemunculan Imam Mahdi a.s. terdapat dalam enam riwayat di atas. Semua itu dapat menjadi penjelas satu realita. Yaitu, adanya sebuah bentuk hubungan antara masalah penantian dari satu sisi, dan jihad melawan musuh di sisi yang lain.

g. Hadis yang beragam juga menegaskan bahwa penantian akan pemerintahan seperti ini dinayatakan sebagai ibadah yang paling tinggi:

Muatan riwayat ini berasal dari Nabi saw. dan Amirul Mukminin a.s. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda; “Sebaik-baik amal umatku adalah menantikan faraj (keluasan dan kebebasan) yang berasal dari sisi Tuhan”.[9]

Dalam hadis yang lain, Nabi saw. bersabda, “Sebaik-baik ibadah adalah menantikan faraj (keluasan dan kebebasan).”[10]

Kita ketahui bahwa hadis ini mengindikasikan penantian faraj dengan makna yang luas atau dengan pengertian khusus, yaitu penantian kemunculan pembaru agung semesta. Dengan demikian, signifikansi penantian dalam pembahasan kita kali ini akan semakin terang.

Dengan menyimak segenap redaksi riwayat ini, indikasinya adalah penantian revolusi sebesar itu senantiasa disertai dengan satu jihad yang menyeluruh dan ekstensif, sehingga kita dapat bertolak menuju pengertian penantian, lalu dari semua itu kita mengambil sebuah konklusi.

Pengertian Penantian

Galibnya, Intizhâr (penantian) adalah kondisi seseorang yang berada dalam kesedihan dan ia berusaha untuk menciptakan keadaan yang lebih baik.

Sebagai contoh, orang sakit yang menantikan datangnya kesembuhan atau orang tua yang menantikan anaknya kembali dari perjalanan. Dalam keadaan sakit dan berpisah dengan anak, seseorang merasa sedih, dan ia berupaya untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik.

Sebagaimana juga seorang peniaga yang susah akibat gejolak pasar dan menantikan redanya krisis ekonomi. Peniaga ini menghadapi dua kondisi: “pasrah dengan kondisi yang ada” dan “upaya untuk menciptakan kondisi yang lebih baik”.

Oleh karena itu, masalah penantian pemerintahan hak dan adil (Mahdi) dan bangkitnya pembaru dunia sebenarnya terdiri dari dua unsur: unsur negasi (nafy) dan unsur afirmasi (itsbât). Unsur negasinya adalah menolak pasrah dengan kondisi yang ada dan unsur afirmasinya adalah kehendak kepada keadaan yang lebih baik.

Apabila kedua unsur ini mengakar dalam ruh manusia, keduanya akan menjadi dua cabang amal yang ekstensif. Kedua cabang amal ini akan menolak seluruh koordinasi dan kerjasama dengan faktor-faktor tiran, korup, dan bahkan, berusaha untuk memerangi mereka, dari satu sisi. Dan dari sisi lain, ia akan membangun diri dan berswadaya, mempersiapkan diri dari sisi jiwa dan raga, materi dan maknawi untuk membentuk pemerintah tunggal universal dan komunal.

Dan hendaknya kita perhatikan baik-baik bahwa kita melihat kedua unsur yang telah disebutkan di atas bersifat konstruktif dan merupakan faktor penggerak, inspiratif dan pembangkit.

Dengan memperhatikan pengertian dasar intizhâr (penantian), makna pelbagai riwayat tentang ganjaran dan hasil kerja para penanti yang telah kami nukil di atas akan dapat dipahami dengan baik. Kini kita memahami bahwa mengapa para penanti sejati terkadang ibarat orang-orang yang terhitung berada dalam kemah Imam Mahdi a.s., di bawah panji imam, seperti seseorang yang mengayunkan pedang di jalan Allah, atau bersimbah dengan darah dalam meraih syahadah.

Apakah semua ini bukan merupakan indikasi atas adanya tingkatan dan derajat perjuangan yang berbeda di jalan hak dan keadilan yang sesuai dengan derajat persiapan setiap orang?

Maksudnya, sebagaimana tolok ukur loyalitas para mujahid di jalan Allah dan peran mereka berbeda satu dengan yang lainnya, begitu pula penantian, persiapan, dan konstruksi diri juga memiliki derajat yang berbeda. Masing-masing dari sudut pandang “mukaddimah” dan “hasil” memiliki kesamaan. Masing-masing adalah perjuangan dan masing-masing menuntut persiapan dan konstruksi diri. Seseorang yang berada dalam tenda pemimpin pemerintahan seperti itu berarti ia berada pada sentral komando sebuah pemerintahan universal. Tidak ada tempat bagi seseorang yang lalai dan alpa. Tempat itu tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Tempat itu adalah tempat bagi orang yang layak dan patut sesuai dengan keadaan dan signifikansi yang dimilikinya.

Demikian juga seseorang yang memiliki kebaikan di hadapan pemimpin revolusi ini; berperang dengan para penentang pemerintahan keadilan dan kebaikan, memiliki persiapan ruhani, pikiran, dan kesiagaan tempur.

Untuk keterangan lebih jauh tentang efek dan realitas-realitas penantian kemunculan Imam Mahdi a.s, silakan simak penjelasan di bawah ini.

Penantian adalah Siaga Penuh

Sekiranya aku dzalim dan korup, bagaimana mungkin aku menantikan seseorang yang pedangnya digunakan untuk menumpahkan darah orang-orang dzalim dan korup?

Sekiranya aku ini manusia busuk, bagaimana mungkin aku menantikan revolusi yang kobaran pertamanya membakar orang-orang yang busuk?

Prajurit yang berada dalam penantian jihad agung akan selalu meningkatkan kesiagaan tempurnya. Spirit angin revolusi akan selalu berhembus ke arahnya dan ia akan selalu memperbaiki segala titik kelemahan yang dimilikinya. Hal itu lantaran kualitas penantian disertai dengan tujuan penantian.

Penantian datangnya musafir biasa dari perjalanan.

Penantian kembalinya seorang sahabat yang budiman.

Penantian tibanya musim menuai hasil.

Setiap penantian ini bergantung kepada satu jenis persiapan. Di antaranya, rumah harus tersedia dan alat-alat untuk menyambut orang yang selalu dinantikan harus dipersiapkan. Dan pada penantian yang lain, sarana-sarana yang diperlukan, seperti arit, cangkul, dan traktor, pun harus dipersiapkan.

Kini pikirkanlah mereka yang menantikan kebangkitan seorang pembaru agung dunia, pada hakikatnya memiliki penantian revolusi dan perubahan radikal, yang merupakan revolusi yang paling fundamental dan luas di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Revolusi yang berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya yang tidak memiliki dimensi lokal, melainkan bersifat mendunia dan menyeluruh, dan bahkan termasuk seluruh dimensi kehidupan manusia. Revolusi ini adalah revolusi politik, kultur, ekonomi, dan moral.

Filsafat Pertama: Konstruksi Diri Setiap Individu

Sebelum segala sesuatunya, perubahan besar ini memerlukan unsur-unsur persiapan setiap orang sehingga ia mampu memikul beban berat revolusi yang menguasai dunia ini. Dan ini pada mulanya memerlukan peningkatan informasi, pemikiran, persiapan spiritual, dan intelektual untuk koordinasi dalam mengawali program agung ini. Pandangan parokial, wawasan sempit, pemikiran yang menyimpang, kedengkian, ikhtilaf yang tak sehat dan irasional, segala bentuk kemunafikan, dan ketercerai-beraian tidak sesuai dengan sikap penanti sejati.

Poin penting di sini ialah bahwa untuk program sekrusial itu, penanti sejati tidak akan berperan sebagai penonton belaka. Ia sejadk dini harus berada pada barisan para revolusioner.

Iman pada hasil dan akhir dari perubahan ini sekali-kali tidak melepaskannya berada pada barisan penentangnya. Dan menempatkan dirinya di barisan revolusi juga memerlukan perbuatan-perbuatan suci dan jiwa yang tulus dan mempersenjatai diri dengan informasi dan keprawiraan yang memadai.

Sekiranya aku bermental korup dan buruk, maka dalam penantian militeristik yang tidak membuat orang-orang buruk kecuali terhina dan terhempas, bagaimana mungkin aku menunggu dalam penantian?

Apakah untuk menyuling spiritual, intelektual, dan penyucian jiwa dan raga dari polusi noda-noda, penantian ini tidak cukup?

Prajurit yang berada dalam masa penantian sebuah jihad pembebasan, niscaya selalu dalam keadaan siaga sempurna dan memperoleh senjata yang pantas untuk memasuki medan tempur seperti ini. Ia akan membangun basis pertahanan dan meningkatkan kesiapan tempur orang-orangnya. Ia selalu mengokohkan semangat mereka dan senantiasa menjaga supaya bara cinta dalam sanubari setiap prajurit untuk peperangan seperti ini tetap menyala. Prajurit yang tidak memiliki persiapan semacam ini, sekali-kali ia tidak akan pernah melewati masa penantian, dan kalau ia mengatakan dalam kondisi penantian, sungguh ia telah berkata dusta.

Menantikan seorang Pembaru dunia berarti bersiaga secara penuh, baik dari sisi intelektual dan moral, maupun materi dan maknawi, untuk perbaikan tatanan seluruh jagad. Pikirkanlah betapa konstruktifnya kesiagaan semacam ini.

Reformasi di seantero dunia dan mengakhiri segenap kezaliman bukanlah sebuah cerita komedi dan pekerjaan ringan. Bersiagalah untuk tujuan agung ini, dan Anda harus selaras dengan tujuan tersebut. Maksudnya, seluk dan beluk tujuan tersebut!

mewujudkan revolusi semacam ini memerlukan seorang yang berjiwa besar, bertekad kuat, suci, bercita-cita tinggi, bersiaga penuh, dan memiliki pandangan yang dalam.

Dan konstruksi diri demi tujuan seperti ini menuntut tersedianya program-program yang paling serius pada bidang moral, intelektual, dan sosial. Inilah makna penantian sejati. Apakah ada yang dapat mengatakan bahwa penantian semacam ini tidak konstruktif dan tidak membangun?

Filsafat Kedua: Swadaya Masyarakat

Pada saat menjalankan tugas, para penanti sejati tidak hanya berbuat untuk dirinya, tetapi ia juga memperhatikan keadaan yang lain. Di samping membenahi diri sendiri, ia juga berupaya memberbaiki orang lain. Sebab, misi agung dan berat sebesar “penantian” bukanlah sebuah agenda perseorangan. Agenda ini adalah sebuah program yang harus melibatkan seluruh unsur revolusi. Tugas harus dilakukan secara kolektif dan komunal. Pelbagai usaha dan upaya harus terkoordinasi. Seluk-beluk koordinasi ini harus seagung program revolusi semesta yang dinantikan.

Di sebuah medan luas peperangan kolektif, tidak seorang pun yang lalai dari memikirkan keadaan orang lain. Ia senantiasa berhati-hati. Setiap lini lemah yang ia lihat, segera diperbaiki. Setiap keadaan yang membawa petaka, secepatnya ia tanggulangi. Ia selalu menguatkan setiap bagian kelemahan dan ketidakmampuan yang ada. Karena, tanpa partisipasi aktif dan koordinatif, seluruh pejuang (mujâhid) tidak akan dapat mengemban misi ini.

Oleh karena itu, selain berupaya memperbaiki diri, penanti sejati juga memiliki tugas untuk memperbaiki orang lain. Hal ini merupakan hasil konstruktif lainnya dalam menantikan kebangkitan seorang pembaru dunia, dan inilah filsafat seluruh keutamaan para penanti sejati yang telah diperhitungkan.

Filsafat Ketiga: Penanti Sejati dalam Lingkungan Korup Tidak Akan Mendapatkan Solusi

Efek penting lain dari penantian Imam Mahdi a.s. ialah bahwa hal ini tidak akan pernah terwujud dalam lingkungan yang korup dan ketidakpasrahan dalam menghadapi segala gejala busuk.

Penjelasan

Manakala kerusakan merajalela dan mayoritas orang tertercemari, kerap orang-orang suci menemui jalan buntu yang pelik; jalan buntu yang bersumber dari gerakan-gerakan reformis yang putus asa.

Terkadang mereka berpikir, semuanya telah terjadi, dan tidak ada lagi harapan perbaikan. Upaya dan usaha dalam menjaga dirinya untuk tetap suci malah sia-sia. Putus asa seperti ini boleh jadi menggiring mereka secara bertahap kepada kerusakan dan pasrah pada lingkungan, mereka tidak dapat menjaga dirinya sebagai seorang saleh yang minoritas yang melawan kesalahan mayoritas, lalu berbaur lenyap di dalamnya. Hal ini akan membuatnya kehilangan wibawa dan harga diri.

Satu-satunya hal yang dapat dilakukan sehingga harapan masih tersisa di dalam diri mereka dan mengajak untuk selalu bersikap resistan, konsisten, dan sabar, serta tidak membiarkan mereka larut dalam lingkungan korup adalah berharap pada reformasi akhir jaman, disertai dengan semangat untuk tidak menyerah dalam berusaha, untuk menjaga diri agar tetap suci, dan melakukan perbaikan atas orang lain.

Apabila kita perhatikan ajaran-ajaran Islam, putus asa dari ampunan merupakan salah satu dosa besar. Barangkali orang-orang yang tidak ahli dalam bidang ini akan terkejut mengapa keputusasaan dari rahmat Tuhan dianggap sedemikian penting, bahkan lebih penting dari dosa-dosa yang lain? Jawabannya, karena para pendosa yang putus asa dari rahmat Tuhan tidak punya motivasi untuk menebus kesalahan atau—setidaknya—meninggalkan maksiatnya itu. Logika hidupnya adalah kini air telah dingin di hadapanku, persetan apakah segalon atau seratus galon? Kunodai duniaku, dan aku tidak merasa gundah. Tidak ada yang lebih legam melebihi warna hitam. Akhirnya adalah jahanam. Aku yang kini telah membelinya untuk diriku, kini aku takut apa lagi? Dan logika-logika lain semacam ini.

Akan tetapi, tatkala setiap hari harapannya tumbuh dan berharap maaf dari Tuhan, harapan terhadap perubahan kondisi yang ada ini akan menjadi titik awal perubahan dalam hidupnya. Demikian ini akan membawanya untuk menghentikan dosa dan kembali kepada kesucian dan perbaikan.

Atas dasar ini, asa dan harapan dapat dijadikan sebagai salah satu faktor determinan dalam pendidikan orang-orang korup. Demikian juga bagi seorang saleh yang hidup di lingkungan yang korup. Tanpa asa dan harapan, ia tidak dapat menjaga dirinya dari noda korupsi ini.

Kesimpulannya adalah, bahwa betapa pun rusaknya tatanan dunia, harapan terhadap kemunculan seorang pembaru dunia semakin besar dan ini menanamkan kesan mendalam pada jiwa orang-orang yang percaya pada kemunculannya. Harapan ini membantu mereka berhadapan dengan gelombang kerusakan. Ia tidak hanya tidak kehilangan asa dengan merajalelanya kerusakan, lebih dari itu ia juga melihat adanya sebuah titik harapan.

Semakin Dekat datangnya Janji, Semakin Membara Api Cinta

Ia melihat dirinya sampai kepada tujuan dan berupaya berjuang melawan kerusakan atau menjaga dirinya dengan kerinduan dan cinta.

Dari pembahasan sebelumnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kesan penantian hanya dapat memberikan hasil konsep yang tidak direduksi atau diselewengkan, sebagaimana dilakukan kelompok penentang yang menyelewengkan maknanya atau kelompok pendukung yang mereduksi kandungannya. Sekiranya makna sejati penantian tersebut benar-benar dihayati dan diaktualkan secara individu dan sosial, ia akan menjadi sebuah faktor edukasi dan konstruksi diri, gerakan dan harapan.

Di antara bukti-bukti jelas yang menegaskan subjek pembahasan kita kali ini adalah ayat “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh ….” Diriwayatkan dari para imam maksum a.s. bahwa maksud ayat ini adalah Imam Mahdi a.s. beserta para sahabatnya.[11]

Dan dalam hadis yang lain kita membaca, “Ayat ini turun berkenaan dengan Mahdi a.s.”

Pada ayat ini, Imam Mahdi a.s. beserta sahabatnya dikenal sebagai “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh”. Dengan demikian, terealisirnya revolusi semesta ini tanpa iman yang kokoh yang dapat menjauhkan segala bentuk kelemahan dan kekejian, serta tanpa amal saleh yang menjadi kunci pembuka jalan untuk perbaikan semesta tidak akan mungkin dapat terwujud. Mereka yang berada dalam penantian memiliki agenda semacam ini. Di samping informasi yang dimilikinya harus ditingkatkan, ia juga harus berupaya untuk memperbaiki amalan-amalannya.

Orang-orang seperti ini tidak hanya akan memberikan kabar gembira untuk selainnya demi terwujudnya pemerintahan Imam Mahdi a.s. dan tidak juga bekerja sama dengan kaum dzalim. Mereka selalu mengutamakan amal saleh. Mereka bukan penakut dan lemah yang takut kepada siapa saja, termasuk kepada bayangannya sendiri. Mereka juga bukan orang-orang malas, tanpa gairah.

Inilah efek konstruktif keyakinan terhadap konsep kebangkitan Imam Mahdi a.s. dalam komunitas Islam.[12]

Di samping itu, ia juga harus berusaha untuk meningkatkan ilmu dan imannya, dan berupaya maksimal untuk memperbaiki amal dan perbuatannya.

[1] Ad-Durr al-Mantsûr, jilid 6, hal. 379 dalam penafsiran surat al-Bayyinah [98], ayat 7.

[2] Syawâhid at-Tanzîl, jilid 2, hal. 357.

[3] Idem, hal. 359.

[4] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 9, hal. 22.

[5] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 9, hal. 161.

[6] Pada tragedi Karbala disebutkan bahwa Imam Husain a.s. pada malam Asyura membaca doa sembari menyatakan apresiasi dan respek terhadap para sahabat dan penolongnya. Imam Husain a.s. menarik bai’at mereka, sehingga mereka bebas ke mana pun mereka hendak pergi. (Akan tetapi, mereka tetap setia kepada Imam Husain a.s.). Silakan rujuk Al-Kâmil, karya Ibn Atsir, jilid 4, hal. 57.

[7] Tafsir Nemûneh, jilid 22, hal. 71.

[8] Al-Mahâsin sesuai dengan nukilan Bihâr al-Anwâr, cetakan lama, jilid 13, hal. 136.

[9] Al-Kâfî, sesuai dengan nukilan dari Bihâr al-Anwâr, jilid 13, hal. 137.

[10] Al-Kâfî, sesuai dengan nukilan dari Bihâr al-Anwâr, jilid 13, hal. 136.

[11] Bihâr al-Anwâr, cetakan lama, jilid 13, hal. 14.

[12] Tafsir Nemûneh, jilid7, hal. 378.

saudaraku….

IMAM ALI DALAM KACA MATA AL-QURAN

Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali as. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah swt. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali as.[1]

Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam manapun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:

Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.

Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan keluarganya.

Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah saw.

Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.

a. Kategori Ayat Pertama

Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali as. adalah sebagai berikut:

1. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan . Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:7)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abas. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, nabi saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalunya memegang pundak Ali as. sembari bersabda: ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”[2]

2. Allah swt. berfirman:

“.. dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]:12)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali as. berkata: “Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah saw.”[3]

3. Allah swt. berfirman:

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:274)

Pada saat itu, Imam Ali as. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah saw. bertanya kepa-danya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali as. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian ayat tersebut turun.[4]

4. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]:7)

Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir bin Abdillah. Jâbir bin Abdillah berkata: “Ketika kami bersama nabi saw., tiba-tiba Ali as. datang. Seketika itu itu Rasulullah saw. Ber-sabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguh-nya Ali as. dan Syi‘ah (para pengikut)nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali as. datang, para sahabat Nabi saw. Menga-takan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”[5]

5. Allah swt. berfirman:.

“… maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai penge-tahuan [Ahl Adz-Dzikr] jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]:43)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali as. berkata: “Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.”[6]

6. Allah swt. berfirman:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepada-mu dari Tuhanmu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)

Ayat ini turun kepada Nabi saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi saw. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepening-galnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali as. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali as. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang men-cintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”

Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali as.: “Selamat, hai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”[7]

7. Allah swt. berfirman:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah nabi saw. mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya.[8] Setelah ayat tersebut turun, Nabi saw. bersabda: “Allah Maha Besar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali bin Abi Thalib as.”[9]

8. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat ketika sedang rukuk.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 55)

Seorang sahabat nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku menger-jakan salat Dzuhur bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang membe-rikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali as. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian ia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi saw. Lalunya saw. Berdoa: ‘Ya Allah, sesung-guhnya saudaraku, Mûsâ as. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Hârûn. Kokohkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’ (QS. Thaha [20]:25–32)

“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kokohkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin.’ (QS. Al-Qashash [28]:35) Ya Allah, aku ini adalah Muhammad nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kokohkanlah punggungku dengannya.’”

Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelumnya sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: ‘Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ….’”[10]

Ayat ini menempatkan wilâyah ‘kepemimpinan’ universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali as. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali as. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali as.

Seorang penyair tersohor, Hassân bin Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:

Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin

Sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.[11]

b. Kategori Ayat Kedua

Al-Qur’an Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait as. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali as. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:

1. Allah swt. berfirman:

“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apapun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebaji-kan itu. Sesungguhnya Allah Maha Penghampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Asy-Syûrâ [42]:23)

Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah swt. kepada segenap hamba-Nya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain as., dan maksud dari “iqtirâf Al-hasanah” (me-ngerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini.

Dalam sebuah riwayat, Ibn Abas berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”[12]

Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Seorang Arab Baduwi pernah datang menjumpai Nabi saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah saw. Menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan rasul-Nya.’ Arab Baduwi itu segera menimpali: ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab: “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’. Orang Arab Baduwi itu bertanya lagi: ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi saw. Menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian orang Arab Baduwi itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu bahwa barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”[13]

2. Allah swt. berfirman:

“Barang siapa yang menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepadanya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudain kita ber-mubâhalah agar kita jadikan kutukan Allah atas orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘Imrân [3]:61)

Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain as.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an-nisâ’ (wanita) yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ as., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).[14]

3. Allah swt. berfirman:

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut ….” (QS. Ad-Dahr [76])

Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis berpendapat bahwa surah ini diturunkan untuk Ahlul Bait nabi saw.[15]

4. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala noda dari kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:33)

Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang penghuni Kisâ’.[16] Mereka adalah Rasulullah saw.; junjungan para makhluk, Ali as.; jiwa dan dirinya, Sayyidah Fathimah; buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah rida dengan keridaannya dan murka dengan kemurkaannya, dan Hasan dan Husain as.; kedua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keuta-maan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini:

Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali as. di rumahku. Kemudian Rasulullah saw. menutupi mereka dengan Kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Hilangkanlah dari mereka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat Kisâ’ tersebut untuk masuk bersama mereka. Tetapinya menarik Kisâ’ itu sembari bersabda: “Sesungguhnya eng-kau berada dalam kebaikan.”[17]

Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyak-sikan Rasulullah saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. setiap kali masuk waktu salat selama tujuh bulan berturut-turut. Ia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersih-kan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan salat, semoga Allah merahmati kalian!”[18]

Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah berkata: “Aku mengerjakan salat bersama Rasulullah saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, ia mendatangi pintu rumah Fathimah as. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”[19]

Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait as. Lantaran Ahlul Bait as. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

c. Kategori Ayat Ketiga

Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali as. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan ter-kemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:

1. Allah swt. berfirman:

“Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]:46)

Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi dari Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali bin Abi Thalib as., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pecinta mereka dengan wajah mereka bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”[20]

2. Allah swt. berfirman:

“Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:23)

Ali as. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara ia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah bin Hârist. Adapun ‘Ubaidah, ia telah gugur sebagai syahid di medan Badar dan Hamzah juga telah gugur di medan perang Uhud. Sementara aku masih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini—sembari ia menunjuk jenggot dan kepalanya.”[21]

d. Kategori Ayat Keempat

Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali as. dan mengecam para musuhnya yang senantiasa berusaha untuk meng-hapus segala keutamaannya.

1. Allah swt. berfirman:

“Apakah kamu menyamakan pekerjaan memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]:19)

Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as., Abbâs, dan Thalhah bin Syaibah ketika mereka saling menunjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah berkata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusan tabirnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beribadah haji.” Ali as. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan salat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan salat dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian turunlah ayat tersebut.[22]

2. Allah swt. berfirman:

“Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah [32]:18)

Ayat ini turun memuji Imam Ali as. dan mengecam Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali as. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajan daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali as. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik”. Kemudian turunlah ayat tersebut.[23]

[1]Târîkh Bagdad, Jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.

[2]Tafsir At-Thabarî, Jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musad-ak Al-Hâkim, Jil. 3/129.

[3]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, Jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/267.

[4]Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.

[5]Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, Jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.

[6]Tafsir At-Thabarî, Jil. 8/145.

[7]Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.

[8]Târîkh Baghdad, Jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 6/19.

[9]Dalâ’il Ash-Shidq, Jil. 2/152.

[10]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 6/186.

[11]Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 3/106; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/305.

[12]Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 7/348.

[13]Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 3/102.

[14]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, Jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, Jil. 1/35; Shahîh Muslim, Jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, Jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 7/63; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, Jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, Jil. 3/193.

[15]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, Jil. 6/ 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, Jil. 1/93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.

[16]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 6/783; Shahîh Muslim, Jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, Jil. 2/264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, Jil. 22/5; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4/ 107; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, Jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.

[17]Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, Jil. 5/521.

[18]Ad-Durr Al-Mantsâr, Jil. 5/199.

[19]Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.

[20]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.

[21]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. 80.

[22]Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, Jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, Jil. 4/146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.

[23]Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, Jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/206.

Sunni mengingkari ayat Al Quran tentang Ghadir Kum

Akidah Sunni sangat berbahaya karena mengi’tiqadkan juhud (pengingkaran) terhadap imamah Ali ! Kata “maula” jelas bermakna pemimpin karena Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlusunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat banyak riwayat dari Rasul SAW yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Sekarang mari kita periksa lagi hadis ghadir kum :

 ”Barangsiapa saya mawlanya, maka Ali ini juga mawlanya. Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia. “

Kata “mawla” di sini menurut sunni tidak dapat merujuk pada arti “pemimpin”, tetapi terjemahan terbaik dari kata “mawla” tersebut adalah “seorang teman tercinta”. Versi sunni  bahwa “mawla” di sini bermakna mencintai/ menyayangi dan hubungan dekat, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan dari kata Mu`adat (permusuhan).

bantahan :

Penafsiran sunni bertentangan dengan Al Quran.

Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari

ghadir khumAllah Swt berfirman: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah/agama-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 67)

Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi saw, terjadi di tempat yang bernama Ghadir Khum, yang terletak di kawasan antara Mekkah dan Madinah di dekat Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah.

Peristiwa besar yang menggemparkan sejarah ini terjadi pada bulan terakhir tahun ke-10 Hijriah, setelah Rasul saw menjalankan Haji Perpisahan/Terakhir (Hajjatul Wada’). Semua sahabat sadar bahwa sebentar lagi wahyu akan terputus dari mereka. Ini adalah saat-saat terakhir kebersamaan mereka dengan Nabi Besar Muhammad saw.

Maka perdebatan berkaitan dengan Ghadir Khum bukan berkisar pada benar tidaknya Nabi saw mengangkat tangan Imam Ali tinggi-tinggi dan membacakan hadis: Man Kuntu Maula, namun perselisihan pendapat hanya mengacu pada makna dan pemahaman dari hadis tersebut. Syiah punya makna dan pemahaman tersendiri terhadap hadis tersohor tersebut, sedangkan Ahlu Sunah juga memiliki persepsi dan pemahaman tersendiri.

Dalam hadits Ghadir Khum, setelah haji wada (haji terakhir), Rasulullah menghentikan perjalanan para sahabatnya yang sudah hampir pulang ke rumahnya masing-masing di suatu tempat yang bernama Khum (antara Makah dan Madinah). Sebelumnya, dalam perjalanan dari Makah ke Madinah, Jibril turun dan mangatakan ”Hai Rasul, sampaikanlah!”.  Rasulullah tidak langsung menyampaikan, melainkan mencari situasi dan waktu yang tepat untuk menyampaikan perintah Allah tersebut. Tidak lama kemudian Jibril turun kembali dan mengatakan,”Hai Rasul, sampaikanlah!” dan Rasulullah tetap belum menyampaikannya. Kemudian Jibril turun untuk ketiga kalinya dengan membawa ayat sebagai berikut :Al Maaidah (QS5:67) “Wahai Rasul, sampaikanlah (balligh) apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan maka engkau tidak menjalankan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir “
.
Apabila kita perhatikan bahasa Arab ayat di atas, Allah menggunakan kata balligh (sampaikan!), yang menunjukkan perintah Allah yang sifatnya memaksa. Apabila kita perhatikan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an sebanyak 30 juz, kita tidak akan menemukan perintah Allah lain yang sifatnya memaksa Rasulullah sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ini. Hal ini tentunya menunjukkan betapa pentingnya perintah “penyampaian” dalam ayat tersebut. Oleh karena itu ayat ini juga disebut ayat tabligh.Pentingnya hal yang perlu disampaikan tersebut juga tergambarkan pada bagian akhir ayat, di mana terdapat ancaman Allah jika Rasul tidak mengerjakan perintah tersebut. Dalam ancaman tersebut seolah-olah perjuangan Nabi selama 23 tahun tidak ada artinya, atau sia sia, jika tidak menyampaikan suatu “hal”.
.

Penundaan penyampaian yang dilakukan oleh Rasulullah tentulah didasari oleh adanya kekhawatiran dalam pikiran Rasulullah mengenai kemampuan ummatnya untuk menerima dan menjalankan perintah yang disampaikannya. Oleh karenanya Rasulullah mencari strategi bagaimana agar tidak ada alasan bagi ummat untuk menolak. Ayat di atas juga menyebutkan bahwa Allah, selain memberikan perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan suatu “hal” tersebut, juga memberikan jaminan berupa penjagaan kepada Rasulullah atas gangguan manusia.Dengan demikian, terdapat 3 hal penting pada ayat ini, yaitu:

  1. Nabi diperintahkan untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting
  2. Allah menjaga Rasulullah dari gangguan manusia
  3. Dampak dari orang-orang yang tidak menerima apa yang disampaikan oleh Rasulullah

Beberapa Indikasi Yang Menunjukkan bahwa Maula berarti Pemimpin

Indikasi Pertama: Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula di hadapan ribuan sahabat, tua-muda, laki-perempuan di musim panas yang menyengat, dan di gurun pasir yang tandus selepas manasik haji, dan memerintahkan mereka yang meninggalkan kafilah untuk kembali bergabung bersama beliau, dan mereka yang tertinggal di belakang, untuk segera mempercepat langkahnya untuk menyusul beliau hanya untuk mengatakan bahwa:

“siapa yang menjadikan beliau sebagai sahabatnya maka dia pun harus menjadikan Ali sebagai sahabatnya”

atau

“siapa yang menjadikan beliau sebagai kekasihnya maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai kekasihnya”?!

Bukankah mereka sudah tahu bahwa Ali adalah ahlul bait Rasul saw yang harus dicintai dan disayangi? Lalu mengapa Rasul saw perlu bersusah payah mengumpulkan mereka hanya untuk menyampaikan masalah ini menjelang akhir kehidupan beliau?!

Hadis Al-Ghadir disampaikan oleh Rasulullah saw di depan kurang-lebih 150.000 sahabat, sesudah haji wada’, dalam situasi yang sangat penting. Tentu missi ini bukan missi yang sederhana, tetapi missi yang paling besar, paling menentukan masa depan Risalah Nabi saw, dan nasib kaum muslimin dan mukminin pasca Rasulullah saw. Di sini jelas, tidak mungkin kata Mawla bermakna kekasih, penolong dan pelindung, tapi jelas bermakna pemimpin. Karena kepemimpinan adalah puncak segala persoalan dalam Islam. Gagalnya kepemimpinan adalah kegagalan segala aspek kehidupan

.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata Mawla dalam hadis Al-Ghadir bermakna pemimpin, bukan kekasih, penolong atau pelindung. Kondisi kaum muslimin dewasa ini menunjukkan adanya kegagalan kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Kegagalan kepemimpinan Islam akan berdampak pada segala aspek kehidupan: Idiologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan; penyimpangan makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, perselisihan, permusuhan, kezaliman, kesengsaraan kaum muslimin
.
Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum
.
Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Indikasi Kedua:

Mengenai perkataan Rasulullah tersebut, ada kelompok yang mengatakan bahwa yang dikatakan Rasulullah adalah “Siapa yang menjadikan aku sebagai kekasihnya maka menjadikan Ali sebagai kekasihnya.” Bila kita kritisi pendapat tersebut, tentulah kita akan menganggap bahwa adalah suatu kesia-siaan bahwa Rasulullah mengumpulkan 120 ribu sahabatnya hanya untuk mengatakan “cintailah Ali”.  Kata “Maula” sendiri bukanlah berarti kekasih, melainkan “pemimpin”. Selain itu, dalam penyampaiannya, Rasulullah bukan hanya mengangkat tangan Imam Ali, tetapi juga memindahkan sorbannya ke kepala Ali. Hal ini didasari pada kedudukan Sorban sebagai lambang kepemimpinan, sehingga ummat yang bisu dan tuli, yang tidak dapat mendengar ceramah Rasulullah, dapat memahami maksud yang ingin disampaikan Rasulullah dengan isyarat tersebut

.

 “Allah tidak meninggalkan sedikit pun argumen (hujjah) dan bantahan bagi siapa pun setelah peristiwa Ghadir Khum.” (Sayyidah Fathimah AS, Dala’il al-Imamah, hlm. 38. Lihat juga, al-Khisal, Jil. 1, hlm. 173; Bihar al-Anwar, Jil. 30, hlm. 124.)
.
Sepanjang khotbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum, beliau menekankan bahwa khotbahnya itu telah melengkapi hujjah (argumen) Allah atas seluruh manusia sampai Hari Kiamat. Itulah sebabnya Putri Tercinta Rasul, Sayyidah Fathimah As juga menekankan hal yang sama seperti yang saya kutip di atas
.

Fatimah Az-Zahrâ’ Menuju ke Alam Baka akibat luka keguguran pasca Penyerangan ke Rumah Fatimah As

Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan Imam Ali as. adalah kepergian buah hati Rasulullah saw., Fatimah Az-Zahrâ’ as. Ia jatuh sakit, sementara hatinya yang lembut tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit telah menyerangnya. Dan kematian begitu cepat menghampirinya, sementara usianya masih begitu muda. Oh, betapa beratnya duka yang menimpa buah hati dan putri semata wayang Nabisaw. itu. Ia telah mengalami berbagai kekejaman dan kezaliman dalam masa yang sangat singkat setelah ayahandanya wafat. Mereka telah mengingkari kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah, merampas hak warisannya dan menyerang rumahnya.

Fatimah Az-Zahrâ’ telah menyampaikan wasiat terakhir yang maha penting kepada putra pamannya. Dalam wasiat itu ditegaskan agar orang-orang yang telah ikut serta merampas haknya tidak boleh menghadiri pemakaman, jenazahnya dikuburkan pada malam hari yang gelap gulita, dan kuburannya disembunyikan agar menjadi bukti betapa ia murka kepada mereka.

Imam Ali as. melaksanakan wasiat istrinya yang setia itu di pusara-nya yang terakhir. Ia berdiri di pinggir makamnya sambil menyiramnya dengan tetesan-tetesan air mata. Ia menyampaikan ucapan takziah, bela sungkawa dan pengaduan kepada Nabi saw. setelah menyampaikan salam kepada beliau:

Salam sejahtera untukmu dariku, ya Rasulullah, dan dari putrimu yang telah tiba di haribaanmu dan yang begitu cepatnya menyusulmu. Ya Rasulullah, betapa sedikitnya kesabaranku dengan kemangkatanmu dan betapa beratnya hati ini. Hanya saja, dalam perpisahan denganmu dan besarnya musibahmu ada tempat untuk berduka. Aku telah membaring-kanmu di liang kuburmu. Dan jiwamu telah pergi meninggalkanku ketika kepalamu berada di antara leher dan dadaku. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn. Titipan telah dikembalikan dan gadai pun telah diambil kembali. Tetapi kesedihanku tetap abadi. Malam-malamkupun menjadi panjang, hingga Allah memilihkan untukku tempatmu yang kini engkau singgahi. Putrimu akan bercerita kepadamu tentang persekong-kolan umatmu untuk berbuat kejahatan. Tanyakanlah dan mintalah berita mengenai keadan mereka! Padahal perjanjian itu masih hangat dan namamu masih disebut-sebut. Salam sejahtera atasmu berdua, salam selamat tinggal, tanpa lalai dan jenuh! Jika aku berpaling, itu bukan karena bosan. Jika aku diam, itu bukan karena aku berburuk sangka terhadap apa yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar.[Nahjul Balâghah, Jil. 2/ 182.]

Ungkapan-ungkapan Imam Ali as. di atas menunjukkan betapa ia menga-lami kesedihan yang mendalam atas kepergian titipan Rasulullah saw. itu. Ungkapan-ungkapan itu juga menunjukkan betapa dalamnya sakit hati dan duka yang dialaminya akibat perlakuan umat Islam. Imam Ali as. juga minta kepada Nabi saw. agar memaksa putrinya bercerita dan memberi-kan keterangan tentang seluruh kejahatan dan kezaliman yang telah dilakukan oleh umatnya itu.

Seusai menguburkan jenazah buah hati Nabi saw., Imam Ali as. kembali ke rumah dengan rasa duka dan kesedihan yang datang silih berganti. Para sahabat telah mengasingkannya. Imam Ali as. berpaling sebagaimana mereka juga berpaling darinya. Ia bertekad untuk menjauhi seluruh urusan politik dan tidak terlibat di dalamnya.

.

Berdasarkan riwayat Ghadir Khum, telah jelas bagi kita bahwa hal penting yang diperintahkan Allah untuk disampaikan oleh Rasulullah adalah mengenai wilayah (kepemimpinan) Imam Ali bin Abi Thalib. Apabila kita kembali kepada Al Qur’an, hal ini dijelaskan dalam surat Al Maaidah (5) : 55 sebagai berikut:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan membayar zakat dalam keadaan rukuk (rakiun) ”

Ayat Wilâyah

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah AllahRasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadan ruku’”. (Al-Mâ`idah : 55).

Karena mengarti kan wali sebagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan untuk bersahabat dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as.

Selanjutnya, QS Al Maaidah (5):55 menyebutkan bahwa seseorang, ketika menjadikan Allah pemimpinnya, Rasul pemimpinnya, orang yang beriman tadi pemimpinnya maka masuk ke dalam golongan hizbollah (pengikut Allah). Jadi syarat untuk masuk sebagai pengikut Allah adalah menjadikan Allah, Rasul dan orang yang beriman tadi sebagai pemimpinnya (berwilayah kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman). Yang tidak menjadikan Allah, Rasul dan orang beriman sebagai pemimpinnya dalam satu kesatuan adalah lawan dari pengikut Allah atau pengikut syaitan.

Berdasarkan pembahasan di atas jelaslah bahwa perintah yang harus disampaikan dalam ayat tabligh adalah wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Isi dari QS Al Maaidah (5):55 menjelaskan bahwa wajib bagi ummat Islam untuk taat mutlak kepada wilayah tersebut. Hal ini juga dijelaskan dalam ayat QS An Nisa (4):59 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, Rasul dan ulim amri. Jika kamu berselisih dalam suatu urusan kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman terhadap Allah dan hari kemudian. Itulah yang lebih baik dan lebih bagus kesudahannya”

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang beriman (secara umum) diperintahkan untuk mentaati Allah, Rasul dan ulil amri. Apabila kalian (orang-orang beriman) berselisih mengenai siapa ulil amri tersebut, Allah mengatakan kembalikan lagi kepada Allah dan Rasul yang akan menjelaskan. Kalau memang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir maka harus taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Hal ini sesuai dengan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim yang mengatakan siapa yang mati tidak mengenal imam pada zamannya maka mati jahiliyah.

Rasulullah, ketika ditanya siapakah ulil amri, menjawab,”Mereka adalah imam imam dari ahlul baytku.” Hal ini tercantum dalam kitab:

  1. Yanabiul Mawaddah
  2. Faraidus Shimtain
  3. Syawahidu Tanzil.

.
Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai

.

Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]

Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.

Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].



Indikasi Ketiga: perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar

.

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].
.
Imam Ali As mengingatkan kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Masjid Nabawi (setelah mereka berbaiat kepada Abu Bakar), akan hak eksklusif kepemimpinannya atas umat dan perjanjian mereka kepada Rasulullah Saw di Ghadir Khum. Beberapa orang Anshar berdalih kepada Imam Ali, “Wahai Abul Hasan! Andai saja kami, kaum Anshar, mendengar hujjah-hujjah Anda sebelum kami berbaiat kepada Abu Bakar, pastilah tak seorang pun dari kami yang tidak menyetujui perintah Anda.”
.
Dengan tegas Imam Ali As menjawab, “Apakah kalian menginginkan saya meninggalkan jasad suci Rasulullah yang sudah dikafani dibiarkan tidak dikuburkan, kemudian saya mendatangi kalian untuk berselisih demi kekuasaan? Demi Allah! Saya tak dapat memercayai siapa pun yang mendambakan kekuasaaan lalu menyelisihi kami, Ahlul Bait, lalu membuat alasan untuk membenarkan apa yang telah mereka lakukan. Saya tidak melihat Rasulullah Saw meninggalkan sedikit pun ruang untuk pembicaraan kontroversial, atau satu bantahan pun untuk khotbah beliau di Ghadir Khum.”
.

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peris-tiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka sekaligus membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka

.

Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ‘idah pada hari Nabi saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekha-lifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Nabi saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Nabi saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi saw. sedang mengigau sehing-ga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.

.

Indikasi Keempat: Khalifah Abu Bakar dan Umar, juga sahabat Usman, Thalhah dan Zubair dengan tanpa sungkan-sungkan mengucapkan selamat (tabrik) kepada Imam Ali atas terpilihnya ia sebagai pemimpin umat Islam pasca Nabi saw. Ucapan selamat dikatakan kepada seseorang bila seseorang mendapatkan maqam yang tinggi, bukan karena ia dikenal sebagai sahabat yang harus dicintai. (Perihal ucapan selamat sahabat-sahabat senior terhadap Imam Ali atas kedudukannya sebagai pemimpin umat pasca Nabi saw, dapat Anda temukan dalam tafsir at Tsa`labi berkaitan dengan ayat al Maidah 67, dimana Tsa`labi tegas-tegas menyatakan bahwa ayat tersebut terkait dengan Peristiwa Ghadir Khum. kita juga bisa lihat dalam Musnad Ibn Hanbal 6, hal. 401, al Bidayah wa an Nihayah juz 5 hal. 209).

Indikasi Kelima: Hasan bin Tsabit adalah penyair pertama Ghadir. Setelah Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula, ia memimta izin kepada Nabi saw untuk membacakan syair terkait peristiwa besar tersebut. Dalam salah satu baitnya, disebutkan: “Qum ya `alyyun fa innani radhitu min ba`di imaman wa hadiya” (bangkitlah wahai Ali, aku meridhai engkau sebagai imam dan pemberi petunjuk sesudahku). Maka sahabat Hasan bin Tsabit sebagai seorang yang hidup di zaman Nabi saw dan dekat dengan masa turunnya wahyu lebih mengetahui sastra Arab ketimbang mereka yang mengartikan kata “maula” dengan sahabat/penolong atau budak yang dibebaskan dll.

Indikasi keenam,

MAYORiTAS  SAHABAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

.

Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW

Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali. Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]

Hadis ini adalah hadis yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Dulabi dalam Al Kuna Wal Asmaa’ 2/442 no 441

حدثنا يحيى بن غيلان ، عن أبي عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، وحدثنا فهد بن عوف ، قال ، ثنا أبو عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، عن أبي إدريس إبراهيم بن أبي حديد الأودي أن علي بن أبي طالب ، قال : عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي من بعده

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dari Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dan telah menceritakan kepada kami Fahd bin Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Ibrahim bin Abi Hadid Al Awdi bahwa Ali bin Abi Thalib berkata “telah dijanjikan oleh Nabi SAW bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.

Hadis ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya yaitu sanad Yahya bin Ghailan dari Abu Awanah dari Ismail bin Salim dari Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali. Ibrahim adalah seorang tabiin yang melihat atau bertemu dengan Ali.

  • Yahya bin Ghailan dia adalah perawi Muslim Nasa’i dan Tirmidzi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 429 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sahl, Al Khatib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/312 menyatakan ia tsiqat.
  • Abu ‘Awanah dia adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 204 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abdil Bar. Dalam At Taqrib 2/283 ia dinyatakan tsiqat . Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga mengatakan ia tsiqah.
  • Ismail bin Salim adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 1 no 554 menyebutkan bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Daruquthni, Yaqub Al Fasawi, Abu Ali Al Hafiz dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/94 ia dinyatakan tsiqat.
  • Ibrahim bin Abi Hadid dia adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 4 no 1613. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 908 menyebutkan keterangan tentangnya bahwa telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim tanpa menyebutkan jarh terhadapnya. Sehingga Ibrahim bin Abi Hadid adalah tabiin yang tsiqah dan Al Bukhari juga menyebutkan kalau ia bertemu atau melihat Ali bin Abi Thalib RA.

Jadi hadis riwayat Ad Dulabi dalam Al Kuna adalah hadis yang shahih. Sebelum mengakhiri tulisan ini kami akan membantah syubhat kalau Ibrahim bin Abi Hadid itu majhul dan hadisnya dari Ali mursal.

.
Indikasi ke tujuh, hadis tsaqalain yang berulangkali diucapkan Nabi SAW yang mengindikasikan Nabi SAW cemas akan nasib ahlul baitnya kelak
حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض
Telah menceritakan kepada kami Yahya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, dari Abudl-Dluhaa, dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla dan ‘itrahku ahlul-baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudl” [Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyaan Al-Fasaawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh, 1/536]
.
Yahya, menurut pen-tahqiq kitab Al-Ma’rifah (Dr. Akram Dliyaa’ Al-‘Umariy hafidhahullah) adalah Ibnu Yahyaa bin Bakiir, seorang perawi tsiqah. Sedangkan menurut jalan sanad Al-Haakim, ia adalah Ibnul-Mughiirah As-Sa’diy Ar-Raaziy. Abu Haatim mengatakan ia perawi shaduuq [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/191 no. 798]. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat [9/no. 16357]. Adapun perawi lain adalah perawi Shahihain, kecuali Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, ia hanya dipakai oleh Muslim saja
.
Al-Haakim (sebagaimana diisyaratkan sebelumnya) juga meriwayatkan dengan sanad dari Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin Mushlih Al-Faqiih, dari Muhammad bin Ayyub, dari Yahyaa bin Al-Mughiirah As-Sa’diy, dan seterusnya sama dengan sanad seperti di atas; akan tetapi dengan lafadh :
إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله وأهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض هذا حديث صحيح الإسناد على شرط الشيخين ولم يخرجاه
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain, (yaitu) : Kitabullah dan ahlul-baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudl” [Al-Mustadrak ­– bersama At-Tatabbu’ – 3/173-174 no. 4774. Al-Haakim berkata : “Hadits ini shahih sanadnya berdasarkan persyaratan Al-Bukhariy dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya/meriwayatkannya”].
.
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.”(H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533, juga terdapat di dalam kitab-kitab induk hadis yang lain)
.

ketika Rasul SAAW hendak meninggal dunia, Rasulullah memerintahkan pasukan Usamah bin Zaid untuk memerangi suatu kaum. Abu Bakar, Umar dan Usman diperintahkan menjadi prajurit dibawah komando Usamah. Apa tujuan Rasul SAAW melibatkan mereka (mengingat usia mereka tidak muda lagi)? Hal ini didasari kesadaran Rasulullah bahwa dirinya hendak meninggal dunia dan agar keberadaan ketiga orang tersebut akan mengganggu kelancaran peralihan kekhalifahan. Rasulullah kemudian juga meberikan ancaman, ”La’natullah orang yang keluar dari tentara Usamah.” Berangkatlah pasukan Usamah. Ketika dalam perjalanan, sampailah kabar bahwa Rasulullah meninggal dunia, dan Abu Bakar, Umar dan Usman keluar dari pasukan

.

Indikasi kedelapan,

Bersabda Nabi SAWW: “Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku,tinggal di surga A’dn yang telah ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai Walinya sepeninggalku dan me-wila’ walinya, serta ikut Ahlul Baitku yang datang setelahku. Mereka adalah itrah keluargaku, diciptakan dari bagian tanahku dan dilimpahkan kepahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang telah mendustakan keutamaan mereka dari ummatku, dan yang telah memutuskan tali silaturrahimnya dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberi mereka syafaatku kepadanya.”

sumber :
-Mustadrak al-Hakim jil. 3hal. 128; Jami’ al-Kabir oleh Thabarani; Al-Isabah Oleh Ibnu Hajar al-Asqalini;Kanzul Ummal jil. 6 hal. 155; Al-Manaqib oleh khawarizmi hal. 34; Yanabi al-Mawaddah hal. 149; Haliyah al-Auliya’jil. 1 hal. 86; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 95.Lihat seterusnya..

Indikasi kesembilan, hadis mutawatir tentang bahwa khalifah umat islam ada 12 khalifah, hadis ini disepakati sunni syi’ah

“Akan ada 12 khalifah” Berkata Jabir bin samurah (perawi hadis): “Dan kemudian beliau bersabda dengan kalimat yang tidak aku fahami. Ayahku berkata: “Semuanya dari orang Quraisy.” (HR Bukhari 329 dan Muslim 4477)

Indikasi kesepuluh, hadis khalifah umat islam adalah ahlulbait

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan olehAs Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen: