Seluruh Manusia Adalah Anak Pelacur Dan Setan Bersama Mereka Kecuali Syi’ah?

Seluruh Manusia Adalah Anak Pelacur Dan Setan Bersama Mereka Kecuali Syi’ah?

Judul yang mengerikan dan itulah syubhat yang dilontarkan oleh sang pencela dengan mengandalkan riwayat-riwayat dhaif dalam mazhab Syi’ah. Perlu kami ingatkan wahai para pembaca, dalam mazhab Syi’ah juga dikenal Ilmu hadis. Pencela  yang hidup dalam dunianya sendiri, mungkin menganggap ilmu hadis Syi’ah itu sampah dan tidak bisa dibandingkan dengan ilmu hadis Sunni.

Kami tidak menafikan bahwa ilmu hadis Syi’ah dan ilmu hadis Sunni memiliki banyak perbedaan, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tetapi menyatakan ilmu hadis Syi’ah sebagai sampah jelas terlalu berlebihan dan hanya muncul dari orang yang akalnya sudah tertutup dengan kedengkian. Menurut kami ilmu hadis Syi’ah adalah salah satu timbangan yang baik untuk mengukur validitas riwayat-riwayat yang sering dijadikan syubhat oleh para pencela untuk merendahkan Syi’ah.

.

.

Al Kafiy juz 8

Al Kafiy juz 8 hal 154

 

علي بن محمد، عن علي بن العباس، عن الحسن بن عبد الرحمن، عن عاصم بن حميد، عن أبي حمزة، عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: قلت له: إن بعض أصحابنا يفترون ويقذفون من خالفهم فقال لي: الكف عنهم أجمل، ثم قال: والله يا أبا حمزة إن الناس كلهم أولاد بغايا ما خلا شيعتنا

Aliy bin Muhammad dari Aliy bin ‘Abbaas dari Hasan bin ‘Abdurrahman dari ‘Aashim bin Humaid dari Abi Hamzah dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Hamzah] berkata aku berkata kepadanya “sesungguhnya sebagian dari sahabat kami mencela dan menuduh siapa yang menyelisihi mereka”. Maka Beliau berkata kepadaku ”sebaiknya mereka menghentikan hal itu” kemudian Beliau berkata “demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya manusia semuanya adalah anak pelacur kecuali Syi’ah kami”…[Al Kafiy 8/154 no 431]

Riwayat di atas sanadnya dhaif jiddan di sisi ilmu hadis Syi’ah karena di dalam sanadnya terdapat Aliy bin ‘Abbaas dan Hasan bin ‘Abdurrahman. Aliy bin ‘Abbaas Ar Raaziy dikatakan oleh An Najasyiy seorang yang tertuduh ghuluw dan dhaif jiddan [Rijal An Najasyiy hal 255 no 668].

Sedangkan Hasan bin ‘Abdurrahman, di adalah Al Himmaniy sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyid Al Khu’iy bahwa ia meriwayatkan dari Abu Hasan [‘alaihis salaam], ‘Aashim bin Humaid dan Aliy bin Abi Hamzah  dan telah meriwayatkan darinya Aliy bin ‘Abbaas. [Mu’jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu’iy 5/364 no 2900]. Ia seorang yang majhul

الحسن بن عبد الرحمان: الحماني – مجهول – روى عن أبي الحسن موسى بن جعفر (ع) في الكافي

Al Hasan bin ‘Abdurrahman Al Himmaniy majhul, ia meriwayatkan dari Abu Hasan Muusa bin Ja’far [‘alaihis salaam] dalam Al Kafiy [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Hadiits Muhammad Al Jawahiriy hal 143]

Sayyid Aliy Alu Muhsin menegaskan kedhaifan riwayat ini dalam kitabnya Lillaahil Haqiiqah 2/490.

Lillah Haqiqah juz 2

Lillah Haqiqah juz 2 hal 490

.

.

.

عن إبراهيم بن أبي يحيى عن جعفر بن محمد عليه السلام قال: ما من مولود يولد الا إبليس من الأبالسة بحضرته، فان علم الله انه من شيعتنا حجبه عن ذلك الشيطان، وان لم يكن من شيعتنا أثبت الشيطان إصبعه السبابة في دبره فكان مأبونا وذلك أن الذكر يخرج للوجه فان كانت امرأة أثبت في فرجها فكانت فاجرة، فعند ذلك يبكى الصبي بكاءا شديدا إذا هو خرج من بطن أمه، والله بعد ذلك يمحو ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب

Dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Ja’far bin Muhammad [‘alaihis salaam] yang berkata Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali ada satu iblis yang mendatanginya. Jika Allah mengetahui bahwa dia dari Syi’ah kami, maka Allah akan melindunginya dari setan itu. Dan jika bukan dari Syi’ah kami, maka setan akan menancapkan jari telunjuknya di duburnya, lalu ia akan menjadi orang yang buruk, oleh karenanya zakar keluar di depan. Dan jika ia seorang perempuan, setan akan menancapkan jari telunjuknya di kemaluannya sehingga ia menjadi pezina. Di saat itulah seorang bayi akan menangis dengan kencang jika ia keluar dari perut ibunya. Dan setelah itu, Allah akan menghapus dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab [Tafsir ‘Ayasyiy 2/234 no 73]

Riwayat di atas sanadnya dhaif karena ketidakjelasan perawi yang meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad [‘alaihis salaam]. Dalam sebagian naskah disebutkan bahwa perawi tersebut adalah Abi Maitsam bin Abi Yahya sebagaimana dikutip dalam catatan kaki dari pentahqiq kitab Tafsir Al ‘Ayasyiy.

Riwayat ini juga dikutip oleh Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar dan disebutkan bahwa perawi tersebut adalah Abi Maitsam bin Abi Yahya. Dalam catatan kaki pentahqiq kitab Bihar Al Anwar disebutkan bahwa ia majhul [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 4/121 no 64]. Tidak jelas disini siapakah ia apakah Ibrahim bin Abi Yahya ataukah Abi Maitsam bin Abi Yahya dan biografinya tidak ditemukan dalam kitab Rijal Syi’ah.

Bihar Al Anwar juz 4

Bihar Al Anwar juz 4 hal 121

Yang kami tidak mengerti adalah apa sebenarnya maksud dari si pencela tersebut mengutip riwayat dalam tafsir Al ‘Ayasyiy di atas. Jika melihat dari judul tulisan yang ia buat, nampak bahwa pencela tersebut memahami riwayat ‘Ayasyiy dengan makna bahwa “setan bersama seluruh manusia kecuali Syi’ah”

.

.

Riwayat yang agak mirip tapi tak sama juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah dan riwayat tersebut shahih

 

Shahih Bukhariy juz 2

Shahih Bukhari no 3286

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَهَبَ يَطْعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Abu Az Zanaad dari Al A’raj dari Abu Hurairah [radiallahu ‘anhu] yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata semua anak adam akan ditusuk setan dengan jarinya pada perutnya ketika dilahirkan kecuali Iisa bin Maryam, setan berusaha menusuknya tetapi ia menusuk pada hijab [Shahih Bukhariy no 3286]

Dan kalau kita gunakan kacamata pencela itu dalam memahami riwayat maka hadis Bukhari di atas akan ia pahami sebagai “setan bersama seluruh manusia kecuali Iisa bin Maryam”. Mari kita lihat, apakah riwayat ini akan ia jadikan bahan untuk mencela Ahlus Sunnah atau ia akan membuat dalih kengeyelan untuk meredakan “kontroversi hati” yang ia alami setelah membaca tulisan ini.

Aqidah Busuk : Para Imam Syiah Adalah Mata, Telinga dan Lisan Allah? Kejahilan Nashibiy

 

Aqidah Busuk : Para Imam Syiah Adalah Mata, Telinga dan Lisan Allah? Kejahilan Nashibiy

Berikut adalah salah satu contoh kejahilan nashibiy dalam memahami makna hadis dan dalam memahami makna kesyirikan. Nashibi sang pencela mengatakan dengan bodohnya bahwa hadis berikut termasuk aqidah syirik dan busuk versi Syi’ah

.

 At Tauhid Shaduq

At Tauhid Shaduq hal 167

أبي رحمه الله، قال: حدثنا سعد بن عبد الله، قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن الحسين بن سعيد، عن فضالة بن أيوب، عن أبان بن عثمان، عن محمد بن مسلم قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: إن لله عز وجل خلقا من رحمته خلقهم من نوره ورحمته من رحمته لرحمته (١) فهم عين الله الناظرة، وأذنه السامعة ولسانه الناطق في خلقه بإذنه، وأمناؤه على ما أنزل من عذر أو نذر أو حجة، فبهم يمحو السيئات، وبهم يدفع الضيم، وبهم ينزل الرحمة، وبهم يحيي ميتا، وبهم يميت حيا، وبهم يبتلي خلقه، وبهم يقضي في خلقه قضيته، قلت: جعلت فداك من هؤلاء؟ قال: الأوصياء

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Husain bin Sa’id dari Fadhalah bin Ayuub dari Aban bin ‘Utsman dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Allah ‘azza wajalla menciptakan dari rahmatnya, menciptakan mereka dari cahaya-Nya dan rahmat dari rahmat-Nya untuk rahmat-Nya. Mereka adalah mata Allah yang melihat, telinga-Nya yang mendengar dan lisan-Nya yang berbicara tentang ciptaan-Nya atas izin-Nya. Para pemegang amanah-Nya atas apa yang diturunkan berupa dalil, peringatan dan hujjah. Karena mereka, Dia menghapus keburukan, karena mereka Dia menghapus kezaliman, karena mereka Dia menurunkan rahmat, karena mereka Dia menghidupkan orang mati, karena mereka Dia mematikan orang hidup. Karena mereka, Dia menguji makhluk-Nya dan karena mereka Dia memutuskan tentang makhluknya dengan keputusan-Nya. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu, siapakah mereka?. Beliau berkata “Para washiy” [At Tauhiid Syaikh Shaduuq hal 167]

Bagaimanakah kedudukan hadis ini berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah?. Berikut keterangan mengenai para perawinya dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  5. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy disebutkan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam hadis dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  6. Aban bin ‘Utsman Al Ahmar adalah seorang yang tsiqat [Al Muufid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 2]
  7. Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy dikatakan An Najasyiy bahwa ia termasuk orang yang paling tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

Ternukil illat [cacat] terhadap sanad ini sebagaimana yang disebutkan An Najasyiy dalam biografi Fadhalah bin Ayuub.

قال لي أبو الحسن البغدادي السورائي البزاز. قال لنا الحسين بن يزيد السورائي: كل شئ تراه الحسين بن سعيد عن فضالة، فهو غلط، إنما هو الحسين عن أخيه الحسن عن فضالة وكان يقول: إن الحسين بن سعيد لم يلق فضالة، وإن أخاه الحسن تفرد بفضالة دون الحسين

Telah berkata kepadaku Abu Hasan Al Baghdadiy As Sawara’iy Al Bazaaz yang berkata telah berkata kepada kami Husain bin Yazid As Sawara’iy bahwa semua yang diriwayatkan Husain bin Sa’id dari Fadhalah maka itu keliru, sesungguhnya Husain hanya meriwayatkan dari saudaranya Hasan dari Fadhalah dan ia mengatakan Husain bin Sa’id tidak bertemu Fadhalah, dan sesungguhnya saudaranya Hasan menyendiri meriwayatkan dari Fadhalah tanpa Husain. [Rijal An Najasyiy hal 311]

Seandainya riwayat yang dinukil An Najasyiy ini shahih maka benarlah hal ini menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan sanad riwayat Ash Shaduq di atas, tetapi Husain bin Yazid dalam riwayat An Najasyiy tidak diketahui kredibilitasnya dan disebutkan dalam Masyaikh Tsiqat bahwa Husain bin Yaziid ini dhaif karena jahalah [tidak dikenal] [Masyaikh Ats Tsiqat hal 39]

Hadis di atas telah dishahihkan oleh Syaikh Aliy Asy Syahruudiy ketika ia menyebutkan biografi Fadhalah bin Ayuub

وفي التوحيد باب 24 معنى العين والأذن بإسناده الصحيح رواية عظيمة مهمة في شؤون الولاية

Dan dalam kitab At Tauhiid bab 24 makna mata, telinga dengan sanad shahih riwayat yang agung dan penting mengenai urusan wilayah [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 6/200]

.

Dalam pandangan nashibi tersebut mungkin matan hadis di atas mengandung kesyirikan karena terdapat lafaz bahwa para washiy menjadi mata telinga dan lisan Allah SWT. Sebenarnya hal ini hanya menunjukkan kerendahan akal nashibiy tersebut dan sebaik-baik bantahan bagi nashibiy tersebut adalah riwayat Shahih Bukhariy yang juga menggunakan lafaz mirip seperti riwayat Ash Shaduq. Silakan perhatikan riwayat berikut

Shahih Bukhari

Shahih Bukhari 6502

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaal yang berkata telah menceritakan kepadaku Syarik bin ‘Abdullah bin Abi Namir dari Atha’ dari Abi Hurairah yang berkata Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah sehingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya pasti akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya pasti akan Kulindungi. [Shahih Bukhariy no 6502]

Menurut kami cara ahlus sunnah memahami hadis Bukhari di atas tidaklah jauh berbeda dengan cara syi’ah memahami hadis riwayat Ash Shaduq sebelumnya. Kalau nashibiy tersebut menghina Syi’ah karena riwayat Ash Shaduq maka patutlah ia juga menghina ahlus sunnah karena riwayat Bukhariy di atas.

.

.

Dan sekedar tambahan, ahlus sunnah memiliki banyak hadis yang lebih aneh, salah satu diantaranya adalah hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad. Hadis tersebut telah dishahihkan oleh sekelompok ulama ahlus sunnah seperti Abu Zur’ah, Ibnu Shadaqah, Ath Thabraniy dan Ibnu Taimiyyah. Pembahasan lengkapnya dapat para pembaca lihat pada tulisan kami disini.

Dan tentunya kalau kita menggunakan akal rendah versi nashibiy tersebut maka dapat dengan mudah dinyatakan bahwa aqidah ahlus sunnah juga aqidah yang busuk. Akhir kata, kerendahan akal dalam memahami matan riwayat sering mengakibatkan kekacauan para nashibiy dalam berhujjah dan menunjukkan kerusakan aqidah mereka. Dan jika mereka punya sedikit kerendahan hati untuk menilai ulang cara pikir akal mereka maka insya Allah mereka akan mendapatkan petunjuk dalam memahami matan riwayat dan memahami apa sebenarnya makna kesyirikan.

Antara Ali dan Mu’awiyah, siapa pengkhianat ? Antara Hasan dan Mu’awiyah siapa pengkhianat ? wajar NU bela syi’ah

http://hakekat.com/content/view/96/ menyatakan sebagai berikut ::

2. 16-03-2011 21:59 Imam HAsan membaiat Muawiyah

Nah ini dia yang biasanya memancing kemarahan syiah …..coba buka telinga lebar lebar untuk para syiahmania…IMAM ALI MEMPERTAHANKAN KEKALIFAHANNYA SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN…NGOTOT AGAR MUAWIYAH MEMBAIAT KEPADANYA…EH ANAKNYA MALAH MENYERAHKAN KEKUASAAN KEKALIFAHAN DAN MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH….IMAM HASAN YANG MAKSUM SAJA MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH …KENAPA SYIAH TIDAK MENGAKUI MUAWIYAH SEDANGKAN IMAM HASAN MEGAKUI???..sudahlah ikuti saja jejak Imam Hasan kembali ke Sunnah Wal Jamaah pasti selamat dunia akhirat……terus dukung Mr Shiaa!

 

Mu’awiyah adil ?? Maka pedomanilah PEMBUNUHAN 30.000 ORANG YANG BERIMAN OLEH BUSR BIN ARTAT DENGAN ARAHAN MUAWIYAH !! MUAWIYA MENGARAHKAN SUPAYA ALI DIKUTUK. !!PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BERIMAN YANG TERKENAL SEPERTI IMAM HASAN, AMMAR HAJAR BIN ADI MALIK ASHTAR DAN MUHAMMAD BIN ABI BAKR ATAS ARAHAN MUAWIYAH bahkan ada KETERANGAN DARI SURAH AL-QURAN DAN HADITH, MUAWIYA DAN YAZID ADALAH TERKUTUK.

Salafi:                  Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla:                    Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Imam Hasan MENYERAHKAN KEKUASAAN KEKALIFAHAN DAN MEMBAIAT KEPADA MUAWIYAH ?? Ah tidak, itu perjanjian damai temporal dengan syarat syarat tertentu. Nah, syarat syarat itu lalu dikhianati Muawiyah

Guru kita Prof. DR. Quraish Shihab berkata : “Ketika masa Sayyidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayyidina Husain”

kenapa kenapa kenapa ?

kenapa awam wahabi setia kepada wahabi  walaupun tau kalau di tipu oleh ustad2 mereka?
jawab : karena hanya di wahabi yang ada ajaran UANG, termasuk hakekat.com.

kenapa ustad wahabi setia kepada wahabi walaupun tau kalau dia itu telah menipu awam wahabi  ?
jawab : karena hanya di syiah yg ustadnya dapat uang riyal:?

quraish-shihab.jpg

.
Prof. DR. Quraish Shihab : “Siapa yang tidak mengagungkan Imam Husain maka diragukan keimanannya.”

qurais-shihab.jpg

.

DR. Quraish Shihab saat menerima tamu dari Iran yang bermadzab Syiah

Jakarta –

qurais-shihab.jpg

kata Quraish, banyak di antara umat yang terjebak pada sikap yang picik, tanpa wawasan akal yang memadai. Tanpa menelaah kitab-kitab secara benar, banyak yang merasa dirinya paling benar dan tiba-tiba saja mengkafirkan yang lain. Ia tidak menampik fakta banyak ulama masa silam yang juga terjebak kebodohan, sehingga mempengaruhi umat di masa kini. Makanya, sikap kritis mesti diperlukan untuk menelaah kembali semua pemikiran di masa silam demi menemukan titik-titik kesamaan di masa kini

.
“Kalau kita mau cari perbedaan supaya kita konflik, akan banyak sekali ditemukan. Namun, apa tujuannya kita berkonflik? Kita semakin membatasi diri kita. Lebih baik kita mencari titik kesamaan supaya kita bersatu sebagai sesama umat Islam,“ katanya
.
Prof. DR. Quraish Shihab : “Siapa yang tidak mengagungkan Imam Husain maka diragukan keimanannya.”
.

DR. Quraish Shihab saat menerima tamu dari Iran yang bermadzab Syiah

Jakarta –

Kita tidak dapat menjangkau seluruh makna arba’în. Kita tidak tahu persis mengapa angka 40 hari itu yang dipilih; bukan 30, bukan 20, bukan juga 100. Tapi yang jelas angka 40 disebut di dalam Al-Quran sebanyak empat kali. Nabi Musa AS tadinya dijanjikan untuk “bertemu” dengan Allah, tapi kemudian Allah menyempurnakannya: … Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam (QS. Al-A’râf [7] : 142). Seorang manusia oleh Al-Quran juga dinyatakan bahwa manusia mencapai kesempurnaannya. Hatta idzâ balagha asyuddahu wa balagha arba’în sannah (QS. Al-Ahqâf [46] : 15). Bani Israil pun yang dihukum Tuhan, disebutkan bahwa mereka dihukum Tuhan tersesat selama 40 tahun.

.

Dalam hadis-hadis pun kita temukan angka 40 itu. Sekian banyak ulama, baik dari mazhab apapun, mengakui sabda Nabi yang menyatakan, “Barang siapa yang menghafal 40 hadis dan memeliharanya, ia akan dibangkitkan kelak dalam kelompok orang-orang alim.” Karena itu dari kalang Sunni misalnya, kita menemukan Imam Nawawi menyusun Al- Arba’în An-Nawawiah. Dalam kalangan Syiah kontemporer Imam Khomeini menulis 40 hadis pilihan. Kita menemukan di dalam hadis misalnya, ada hadis yang menyatakan “Barang siapa yang shalat 40 kali— dalam riwayat lain 40 hari —di Madinah Rasul, maka ia terbebas dari kemunafikan.”

.

Kita menemukan misalnya dalam hukum, 2,5% zakat harta atau 1 bagi setiap 40 ekor binatang; juga menggunakan angka 40. Kelihatannya 40 ini adalah angka kesempurnaan. Jika demikian kalau kita memperingati tokoh yang telah berlalu, yang kita ingin teladani pada masa keempatpuluhnya, maka sebenarnya salah satu yang diharapkan adalah kesempurnaan keteladan kita kepada beliau. Hal kedua yang ingin saya garis bawahi adalah, Allah SWT memerintahkan kita untuk merenung. Berulang-ulang dalam Al- Quran, tidak kurang 200 kali, kata “merenung”, “mengingat” terulang di dalamnya

.

Banyak hal yang perlu direnungkan. Sejak dulu misalnya, Allah berpesan kepada Nabi Musa agar mengingatkan kaummya: Wa dzakkirhum bi ayyâmillâh. Ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah (QS. Ibrâhîm [14] : 5), maka kita dapat berkata, bahwa salah satu hari Allah adalah hari gugurnya Sayyidina Husain. Saya terkadang berpikir, kalau unta atau sapi dijadikan Allah min sya’âirillâhsya’âirillâh? Kalau Ka’bah, al-hadya, al- qalâid (binatang yang dibawa ke Ka’bah untuk disembelih saat haji), semua dinamai Allah sebagai sya’âirillâh, maka heran rasanya kalau ada tokoh, baik yang disebut di dalam Al-Quran maupun yang tidak, selama dia tokoh, heran kalau dia tidak dapat dinilai sebagai salah satu dari sya’âirillâh. (bagian dari syiar-syiar Allah), maka apakah tokoh tidak dapat menjadi salah satu dari sya’airillah?

.
.
Seperti kita baca dalam Al-Quran: Barang siapa yang mengagungkan sya’âirillâh (syiar-syiar Allah) maka sesungguhnya itu adalah tanda ketakwaan dari hati (QS. Al-Hajj [22] : 32). Itu sebabnya kita merayakan maulid Nabi, itu sebabnya kita mengagungkan tokoh-tokoh. Itu sebabnya sebagaimana kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad, sebagaimana kita menyambut tokoh- tokoh yang kita agungkan, kita pun wajar bersedih dalam batas-batas yang dibenarkan agama, dengan kepergian siapa yang mesti kita cintai.

.

Syi’âr – sya’âir – sya’irah seakar dengan kata syu’ûr, rasa. Setiap yang menjadi syiar mesti menimbulkan rasa. Ketika pada hari Idul Adhha misalnya, kita melihat kambing, domba atau sapi yang dijadikan syiar oleh Allah, maka ketika itu dia tidak menjadi syiar kalau dia tidak menjadi tanda kebesaran Allah dan tidak timbul di dalam hati Anda rasa kekaguman akan kebesaran Allah. Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai syiar, maka harus timbul rasa di dalam hati Anda. Rasa hormat, rasa kagum dan boleh jadi rasa menyesal kenapa kita tidak hidup pada masa beliau (Imam Husain) dan ikut berjuang bersama beliau.

.

Hal ketiga yang ingin saya kemukakan, mengapa kita mengagungkan Sayyidina Husain? Tentu akan sangat panjang uraian kalau kita berbicara tentang beliau. Kita hanya bisa menunjuk dengan jari telunjuk; kita tidak dapat merangkul semua dari keistimewaan beliau. Untung kata orang menunjuk ke suatu gunung yang tinggi terkadang lebih mampu untuk menggambarkannya dari pada usaha kedua lengan untuk merangkul dunia ini. Kita hanya ingin menunjuk dan menyinggung sedikit dari banyak yang diakui oleh seluruh muslim, apapun mazhabnya baik Sunni atau Syiah, dan yang terdapat dalam semua kitab menyangkut Sayyidina Husain.

.

Pertama, beliau dan Sayyidina Hasan adalah Sayyid Syabâb Ahli Jannah (Pemimpin Pemuda Penghuni Surga), semua mengakui. Ada hal yang menarik dari dua sosok agung ini. Sepintas terlihat bahwa kepribadiannya bertolak belakang. Sayyidina Hasan mau damai, Sayyidina Husain revolusioner. Kelihatannya bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak bertolak belakang. Semua bersumber dari didikan ayah beliau, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan semua yang dari Imam Ali bersumber dari Rasulullah SAW. Semua diajarkan untuk membela agama dan mempertahankannya sambil melihat kondisi yang sedang dialami.

.

Kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan sudah berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Imam Husain. Ketika masa Sayyidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayyidina Husain.  Kalau begitu, ketika Sayyidina Husain bersedia gugur walau dengan memberi pilihan kepada pengikutnya untuk mundur ketika dikepung, beliau juga dalam perjuangannya bukan menuntut kekuasaan. Yang beliau inginkan ketika itu adalah syu’ûr, rasa, kepekaan terhadap ajaran agama dan nilai-nilainya. Yang beliau inginkan ketika itu adalah tumbuh suburnya ajaran ini yang sejak masa ayah beliau sudah mulai menjauh dari nilai-nilai yang diajarkan Rasul.

.
 Abbas Al-Aqqad, seorang ulama Mesir yang diakui otoritas keilmuannya, menulis dalam buku Abqarîyat ‘Ali mengatakan bahwa kendati Sayyidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi  khalifah setelah Rasul, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum umat menyerahkannya kepada beliau. Ditulis oleh ulama-ulama Syiah, salah satunya di dalam buku Ashlu Syî’ah wa Ushulihâ, bahwa Sayyidina Ali menerima kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar dan Umar, kepimpinan dalam urusan kenegaraan karena beliau melihat bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan jalan Rasulullah. Walaupun dalam buku itu dikatakan beliau tidak menyerahkan soal imamah keagamaan. Sekali lagi saya ingin katakan, ketika Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain dan sebelumnya Sayyidina Ali, beliau tidak pernah berpikir untuk duduk sebagai penguasa. Ini ‘kan suatu ajaran yang perlu kita camkan sekarang ini.

.
Hal terakhir yang saya ingin kemukakan dalam konteks berbicara tentang Imam Husain adalah bahwa beliau, menurut Nabi SAW, adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, penghulu, tokoh yang terutama dari para syuhada. Saya tidak ingin membatasi pengertian syuhada itu hanya dalam arti orang yang gugur membela agama. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahîd. Syahid itu kata yang patronnya bisa berarti objek dan bisa berarti subjek. Syahâdah adalah kesaksian. Kalau dia berarti subjek maka syahîd berati yang menyaksikan, kalau dia berarti objek berarti bahwa beliau yang disaksikan.
.

Keguguran dan darah yang terpancar memang menjadi saksi akan ketulusan perjuangan beliau. Tapi karena kita tidak ingin membatasi arti syahadah hanya pada pengertian gugur di medan juang, itu juga berarti ketika kita menjadikan beliau sebagai syahîd (yang disaksikan), berarti kita ikut menyaksikan dihadapan Allah berdasarkan pada pengetahuan kita bahwa beliau tokoh dan di sisi lain kita menyaksikan beliau sebagai teladan kita dalam hidup. Itu sebabnya dalam Quran disebutkan: Wa kadzâlika ja’alnâkum ummatan wasatha litakûnû syuhadâ ‘alâ an-nâs wa yakûna ar- rasûl ‘alaikum syahîda. Dan Kami telah menjadikan kalian umat pertengahan agar kamu menjadi teladan-teladan atas manusia, sedang Rasul adalah teladan kamu (QS. Al-Baqarah [2] : 143)

.

Mengapa saya berkata begitu? Karena kita tidak pernah berkata bahwa hidup ini hanya di dunia; kita berkata hidup di dunia ini adalah perjuangan sepanjang masa. Kita perlu teladan- teladan yang baik, dan keteladan Imam Husain itu berlanjut hingga sekarang. Itu sebabnya tadi dikatakan sampai sekarang masih jutaan orang berkunjung ke Karbala, sampai sekarang saya tahu persis di Mesir, Masjid Imam Husain itu dikunjungi orang; yang berkunjung bukan hanya orang Syiah tapi juga Sunni yang mengelilingi bagaikan bertawaf di sana. Mengagungkan Imam Husain karena perjuangannya sehingga kita dapat berkata, “Siapa yang tidak mengagungkan beliau (Imam Husain) maka diragukan keimanannya.” Aqûlu qauli hadzâ wastaghfirullâh lî walakum. (Deleteisrael/ICC.doc)

.

Sumber: Ceramah disampaikan oleh Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam acara Peringatan Arbain Imam Husain di Islamic Cultural Center, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 2009 (20 Shafar 1430 H).

Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak melakukan perlawanan seperti saudaranya?
.
Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak bangkit melawan Bani Umayyah sementara beliau mampu melakukan hal itu? Dan satu-satunya imam yang bangkit melakukan perlawanan adalah Imam Husain As. Apa saja yang menjadi dalil kebangkitan Imam Husain As melawan Bani Umayyah?
.
Jawaban Global
Setiap kejadian sejarah harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan pelbagai kondisi dan situasi politik yang berkembang pada zamannya.Tindakan pertama Imam Hasan As setelah naiknya ke tampuk pemerintahan adalah menyiapkan pasukan untuk menghadapi eskalasi pasukan Muawiyah.  Namun sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat Imam memilih berdamai dan menghindar melanjutkan perang setelah menimbang seluruh sisi persoalan yang terdapat pada dunia Islam. Di samping itu dengan memperhatikan kemampuan dan kekuataan militer pemerintahannya apabila angkat senjata berhadapan dengan Muawiyah maka diputuskan untuk berdamai dan tidak melanjutkan perang lantaran ini tidak memberikan maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin.Sejarah menunjukkan bahwa pertama, Imam Hasan As,  lantaran tidak memiliki penolong dan panglima-pangliman yang tulus, beliau tidak memiliki peluang untuk meraih kemenangan militer melawan Muawiyah dan para antek-anteknya. Kedua, dalam kondisi seperti ini hasil perang dengan Muawiyah tidak akan memberikan keuntungan bagi dunia Islam. Ketiga, peperangan Imam Hasan melawan Muawiyah  kemungkinan hasilnya adalah terbunuhnya Imam Hasan di tangan Muawiyah dan hal itu bermakna kekalahan sentral kekhalifaan kaum Muslimin.Adapun situasi dan kondisi yang berkembang pada masa Imam Husain As sama sekali berbeda dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Imam Hasan As. Lantaran orang-orang pada masa ini sudah muak dengan kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah. Mereka ingin berbaiat kepada Imam Husain As dan meminta beliau untuk datang ke Kufah untuk membentuk pemerintahan. Demikian juga,  orang yang berhadapan dengan Imam Husain As adalah Yazid yang sama sekali tidak mengindahkan hukum-hukum dan aturan-aturan Islam dan baiat Imam Husain As kepada Yazid bermakna menerima secara resmi kezaliman, kejahatan, kemungkaran dan kehancuran Islam.Karena itu, perdamaian (sulh) Imam Hasan dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As adalah dua peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam sejarah. Keduanya harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masa keduanya. Apabila tidak demikian dalam pandangan kami keduanya adalah imam dan keduanya terjaga dari segala jenis kesalahan dan kekeliruan. Apabila sekiranya Imam Husain yang menjadi pengganti dan khalifah Imam Ali As menduduki jabatan imamah maka beliau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh saudaranya Imam Hasan As.

Jawaban Detil

Pada hakikatnya Islam adalah agama rahmat, perdamaian dan kedamaian. Sejarah Islam dan peri kehidupan Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As adalah penjelas hal ini. Tentu terkait dengan hal-hal yang mendesak dan memaksa Rasulullah Saw atau para Imam Maksum untuk berperang dan perang itu pun lebih bercorak defensif (membela diri) ketimbang ofensif (memulai peperangan) harus dikecualikan dalam hal ini.

Demikian juga Imam Hasan As tatkala naik tampuk kekhalifahan, beliau berhadapan dengan penentangan dan eskalasi pasukan Muawiyah (yang ingin memulai peperangan). Karena itu, Imam Hasan menyiapkan pasukan untuk membela dan melawan pasukan Muawiyah. Namun selanjutnya, dengan memperhatikan kondisi yang berkembang, Imam Hasan terpaksa memilih berdamai dan membela Islam dengan cara yang lain.[1]

Adapun terkait dengan sebab perdamaian (sulh) Imam Hasan As dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As harus dikatakan bahwa keduanya adalah peristiwa sejarah yang merupakan akibat dari pelbagai situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masanya. Dua peristiwa ini harus dikaji dan ditelusuri dengan memperhatikan tuntutan pelbagai situasi dan kondisi yang terdapat pada masa Imam Hasan As dan Imam Husain As.

Dalam pandangan kami (Syiah) Imam Hasan As dan Imam Husain As keduanya adalah imam dan terjaga (maksum) dari kesalahan dan kekeliruan. Rahasia mengapa Imam Hasan memilih berdamai (sulh) dan mengapa Imam Husain As memilih angkat senjata (qiyam) terletak pada perbedaan situasi sosial dan politik yang berkembang masing-masing pada zamannya yang akan disinggung sebagian sebagaimana berikut ini:

1.     Apa yang pasti dalam sejarahadalah bahwa Muawiyah merupakan seorang licin dan licik. Ia secara lahir mengamalkan hukum-hukum Islam hingga batasan tertentu. Berbeda dengan Yazid yang tidak hanya memiliki permusuhan dengan Islam pada pemerintahannya namun juga menampakkan permusuhan ini secara telanjang. Tidak satu pun dari amalan-amalan dan nilai-nilai suci Islam yang diamalkan dan dijunjung tinggi.[2] Atas dasar inilah, Imam Husain As, pada masa pemerintahan Muawiyah, menerima surat-surat dari penduduk Irak untuk angkat senjata dan bangkit melawan Muawiyah. Namun Imam Husain tidak angkat senjata dan bangkit mengusung perlawanan. Imam Husain As bersabda, “Hari ini bukanlah hari untuk mengusung perlawanan. Semoga Allah Swt merahmati kalian. Sepanjang Muawiyah hidup janganlah kalian bertindak dan tetaplah di rumah-rumah kalian.”[3]

2.     Bermunculannya kekuatan-kekuatan Khawarij dan tiadanya penolong tulus serta panglima-panglima yang rela berkorban bagi Imam Hasan As.[4] Dan juga, karena kelemahan internal yang telah membuat kemampuan dan kekuatan militer Imam Hasan menjadi lemah. Di samping itu, orang-orang enggan dan tidak suka untuk terlibat dalam peperangan melawan Muawiyah.[5] Imam Hasan As, terkait dengan sebab-sebab perdamaian dengan Muawiyah, bersabda, “Melihat banyak orang memilih untuk berdamai dan enggan untuk berperang (karena itu) aku tidak ingin mendesakkan sesuatu yang kalian tidak sukai.” Oleh itu, untuk menjaga jiwa – sebagian kecil – Syiahku, aku memilih berdamai.”[6]

3.     Imam Hasan As adalah khalifah kaum Muslimin. Peperangan Imam Hasan As dengan Muawiyah dan (kemungkinan) terbunuhnya beliau di tangan lasykar Muawiyah adalah kekalahan sentral kekhalifahan kaum Muslimin. Meminjam tuturan Muthahhari “Bahkan Imam Hasan As menghindar untuk tidak terbunuh dengan cara seperti ini guna menghindari citra bahwa seseorang yang duduk menggantikan Rasulullah Saw dan menjabat sebagai khalifah terbunuh.” [7] Dengan alasan yang sama, Imam Husain tidak rela terbunuh di Mekkah; karena dengan terbunuhnya beliau di Mekkah maka kehormatan Mekkah akan hilang. Karena itu, kondisi yang dihadapi Imam Hasan As menuntut untuk tidak berperang dan perdamaian merupakan sebuah taktik dan strategi yang penting untuk mengurus kepentingan kaum Muslimin dan penguatan fondasi-fondasi pemerintahan Islam.

Karena itu, kami meyakini bahwa apabila Imam Husain berada pada posisi Imam Hasan As maka pastilah beliau akan melakukan hal yang sama.

Bukti atas pandangan ini adalah bahwa pasca perdamaian Imam Hasan As sebagian orang datang menghadap Imam Husain As dan berkata bahwa kami tidak menerima perdamaian. Apakah kami harus berbaiat kepada Anda? Imam Husain As menjawab, “Tidak! Aku mengikuti apa pun yang dilakukan oleh saudaraku Hasan As.”[8]

Adapun dalil-dalil berikut ini adalah kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As persis berkebalikan dengan kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan As:

1.     Perbedaan asasi antara kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As pada masa Imam Hasan As yang berujung pada kebangkitan Imam Husain As adalah bahwa Yazid meminta baiat dari beliau dan baiat Imam Husain As kepada Yazid – yang sama sekali tidak mengamalkan hukum-hukum lahir Islam dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam– bermakna menerima secara resemi kezaliman, kejahatan, kerusakan dan kemungkaran dan seterusnya. Hal ini sama saja dengan kehancuran Islam. Berbeda dengan Muawiyah yang tidak menuntut baiat dari Imam Husain dan salah satu materi surat perjanjian damai adalah tiadanya tuntutan baiat dari Muawiyah kepada Imam Hasan As.

2.     Orang-orang yang tadinya tidak ingin berperang pada masa Imam Hasan As melawan Muawiyah,[9] menyatakan muak dengan pelbagai kejahatan dan kezaliman yang dilakukan Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya. Dan Kufah yang kurang-lebihnya adalah sebuah kota menyatakan telah siap untuk membentuk pemerintahan bagi Imam Husain As dan hal ini merupakan hujjah bagi Imam Husain untuk bereaksi dan bertindak.[10]

3.     Faktor terpenting kebangkitan Imam Husain As adalah faktor amar makruf dan nahi mungkar.

Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya, beramal bertentangan dengan Islam, bertindak zalim dan berbuat kejahatan. Ia merubah hukum-hukum Islam, menghambur-hamburkan baitul mal, menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa, tidak mematuhi surat perjanjian damai, tidak mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Demikian juga setelah Muawiyah adalah putranya Yazid, peminum khamar dan gemar bermain dengan anjing. Ia memperkenalkan dan mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Hal ini telah menyebabkan Imam Husain untuk bangkit sebagai kewajibannya menunaikan amar makruf dan nahi mungkar. Sementara kondisi Muawiyah ini belum lagi terbongkar bagi masyarakat pada masa Imam Hasan As. Dan boleh jadi atas dasar ini orang-orang berkata, “Perdamaian Imam Hasan As adalah persiapan bagi kebangkitan Imam Husain As.” Artinya isi perjanjian damai yang dilampirkan oleh Imam Hasan As menjadikan jalan untuk mengecoh dan menipu bagi Muawiyah tertutup. Meski Muawiyah sebelumnya mematuhi isi perjanjian damai tersebut, namun hal ini tidak lain merupakan pendahuluan bagi terbongkarnya kedok Muawiyah bagi masyarakat Islam dan kebangkitan Imam Husain As melawan Yazid putra Muawiyah.

Sebagian isi surat perjanjian damai Imam Hasan adalah:

1.     Muawiyah beramal sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

2.     Urusan kekhalifaan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada Imam Hasan As dan apabila terjadi sesuatu dan lain hal maka didelegasikan kepada Imam Husain As.

3.     Cacian dan pencitraan buruk Ali As harus dilarang pada mimbar-mimbar dan shalat-shalat.

4.     Muawiyah harus menutup mata dari baitul mal Kufah yang memiliki perbendaharaan sebanyak lima juta Dirham.

5.     Kaum Muslimin dan orang-orang Syiah harus aman dari gangguan dan kejahatan.

Dari isi surat perjanjian damai ini dapat disimpulkan dengan baik bahwa Imam Hasan As sekali-kali tidak berada pada tataran ingin menguatkan kekhalifaan Muawiyah, melainkan hanya untuk menjaga kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin. Itu pun dilakukan karena sesuai dengan tuntutan kondisi sosial masyarakat Islam.

Karena itu, dengan memperhatikan pelbagai situasi dan kondisi yang berkembang di tengah masyarakat Islam pada masa Imam Hasan As dan sebagai khalifah Imam Hasan berdamai dengan Muawiyah. Karena adanya tuntutan situasi dan kondisi yang beragam dan berbeda, oleh itu, situasi dan kondisi sosial-kemasyarakatan pada masa Imam Hasan As menuntut adanya perdamaian (sulh) dan pada Imam Husain adalah kebangkitan (qiyâm). [IQuest]

UNtuk telaah lebih jauh silahkan lihat Sairi dar Sirah Aimmah Athar, karya Murtadha Muthahhari, hal. 51-97.


[1]Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[2]. Ibid, hal. 319.

[3].  I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As, Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[4]. Mereka berkata, “Imam As memilih empat panglima pasukan dan Muawiyah menarik keempat panglima tersebut dengan menyogok mereka.” Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[5]. Meletusnya tiga peperangan, Jamal, Shiffin, Nahrawan, pada masa Imam Ali As, telah menciptakan kelelehan dan frustasi untuk kembali berperang (dengan Muawiyah) di kalangan penolong Imam Hasan As.

[6]I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As,  Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[7]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 77.

[8]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 96.

[9]. Imam Hasan As pada akhir khutbah yang beliau sampaikan meminta pendapat dari masyarakat terkait dengan kelanjutan perang. Mereka berteriak dari pelbagai sisi bahwa kami ingin tetap hidup. Kalau begitu tanda tanganilah surat perjanjian damai itu. Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[10]Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 81.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.

Saya akan berikan lagi ayat al-Quran sebagai tambahan dan hadith sahih dari ulama sunni supaya kamu jangan tersalah faham mengenai perkataan ‘sahabat’. Perkataan ini telah digunakan untuk semua sahabat, sama ada mereka muslim ataupun kafir.

[1] Di dalam surah Najm [bintang], Allah berkata kepada yang kafir, ‘Sahabat kamu tidak membuat salah, dan tidak juga sesat.’ [53:2]

[2] Di dalam surah Saba [Sheba] Allah berkata, ‘Katakan, aku menyuruh kamu pada satu perkara, bahawa kamu bangun untuk Allah secara berpasangan atau sendirian, kemudian fikirkan; sahabat kamu tidak dirasuk.’ [34:46]

[3] Di dalam surah Kahf [Gua] Allah berkata, ‘dan berkata ia kepada sahabatnya sedang ia berselisih dengan dia: Saya punyai harta yang lebih dari kamu dan lebih ramai pengikut.. ‘ [18:34]

[4] di dalam surah yang sama, Allah berkata, ‘Sahabatnya berkata kepada dia sedang ia berselisih dengan dia: Adakah kamu percaya kepada Dia, yang menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitik mani, kemudian Dia menjadikan kamu manusia yang sempurna.’ [18:37]

[5] Di dalam surah al-A’raf [tempat yang ditinggikan], Allah berkata, ‘Tidakkah mereka bayangkan bahawa sahabat mereka bukannya gila? Dia hanya sekadar memberi peringatan.’ [7:184]

[6] Di dalam surah An’am [ternakkan], Allah berkata, ‘Katakan: haruskan kita memanggil selain dari Allah, yang tidak memberi faedah kepada kami amhupun menganiaya kami, dan haruskan kami berpatah kebelakang setelah Allah membimbing kami, seperti mereka yang syaitan telah membuat mereka jatuh kebinggongan didunia. Dia mempunyai sahabat yang mengajak kepada jalan yang benar [berkata], ‘Marilah kepada kami’ Katakan sesungguhnya petunjuk Allah, adalah petunjuk yang benar, dan kita diarah supaya menyerah kepada tuhan alam ini.’ [6:71]

[7] Di dalam surah Yusuf, dia berkata, ‘[Yusuf berkata kepad dua orang sahabatnya yang kafir] Wahai sahabat aku di penjara berdua! Adakah banyak tuhan lebih baik dari Allah, yang satu, yang berkuasa?’ [12:39]

Ini adalah beberapa ayat yang saya telah sampaikan sebagai contoh. Adalah jelas bahawa perkataan ‘sahaba’, ‘sahib’ ‘musahib’ dan ‘ashab’ tidak mempunyai kaitan khusus kepada muslim. Ianya digunakan kepada muslim dan bukan muslim sama sahaja. Sebagaimana saya telah katakan, sesaorang yang mempunyai hubungan sosial dengan seorang yang lain dipanggil musahib atau ashab. Sahabat nabi dirujuk kepada mereka yang mempunyai hubungan sosial dengan diri baginda.

Sudah pasti diantara para sahabat nabi dan diantara mereka yang duduk-duduk dalam kumpulannya, terdapat segala jenis manusia, baik dan jahat, yang beriman dan juga hipokrit. Ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat tidak boleh dikatakan untuk mereka semua. Ianya hanya merujuk kepada sahabat yang baik. Adalah benar bahawa tidak ada nabi yang terdahulu mampunyai sahabat yang terkenal seperti yang ada kepada nabi kita. Sebagai contoh sahabat pada Badr, Uhud dan Hunain yang telah berdiri teguh dengan berlalunya dugaan masa. Mereka telah menolong nabi dan teguh dengan keputusan.

Tetapi diantara sahabatnya terdapat beberapa orang yang berperangai buruk, musuh kepada nabi dan ahli baytnya, manusia seperti Abdullah bin Ubayy, Abu Sifyan, Hakam bin As, Abu Huraira, Thalabi, Yazid bin Sufyan, Walid Bin Aqaba, Habib Bin Musailima, Samra Bin Jundab, Amr Bin As, Busr Bin Artat (seorang zalim yang hauskan darah manusia), Mughira Bin Sha’ba, Mu’awiya Bin Abi Sufyan, and Dhu’s-Sadiyya. Manusia ini, semasa hidup nabi dan juga setelah nabi wafat, telah memyebabkan bencana yang besar kepada manusia. Seorang yang seperti itu adalah Muawiya, yang nabi telah kutuk masa hidup baginda. Setelah wafatnya nabi, apabila Muawiya mempunyai peluang, dia bangun memberontak dengan nama mencari pembalasan terhadap pembunuhan Uthman dan telah menyebabkan pertumpahan darah yang banyak diantara muslim. Di dalam pembunuhan ini ramai dari sahabat nabi yang terhormat, seperti Ammar Yasir telah terbunuh syahid. Nabi sendiri telah meramalkan akan syahidnya. Saya telah sampaikan hadith mengenai kejadian itu.

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Terdapat banyak ayat dari al-Quran dan hadith yang memuji sahabat yang terkenal dan wara serta beriman. Dan terdapat juga banyak ayat dan hadith yang mengutuk para sahabat yang keji.

Salafi:                    Bagaimana kamu boleh mengatakan bahawa sahabat nabi menyebabkan kekacauan umum?

Ustad Husain Ardilla:                    Ini bukan sahaja kata-kata saya. Allah di dalam sura ahli Imran berkata: ‘Jika dia [Muhammad] mati atau terbunuh, adakah kamu akan berpaling semula?’ [3:144]

Selain dari itu dan ayat yang lain dari al-Quran, Ulama kamu, termasuk Bukhari, Muslim, Ibn Asakir, Yaqub Bin Sufyan, Ahmad Bin Hanbal, Abdu’l-Bar, dan lainnya telah merakamkan laporan dan hadith mengenai kutukan terhadap sebahagian sahabat. Saya akan merujuk hanya dua hadith. Bukhari menyatakan dari Sahl Ibn Sa’d dan Abdullah Ibn Mas’ud bahawa nabi Allah berkata, ‘Saya akan menunggu kamu dipancutan Kauthar. Apabila sekumpulan dari kamu telah sesat dari jalan saya. Saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Mereka semua adalah sahabat saya!’ Kemudian jawapan dariNya akan sampai kepada saya, ‘Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka telah adakan selepas kamu.’

Dan lagi Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Tabrani di dalam Kabir, dan Abu Nasr Sakhri di dalam Ibana menyampaikan dari Ibn Abbas bahawa nabi berkata, ‘Saya hendak menyelamatkan kamu dari siksaan neraka. Saya meminta kamu takutlah kepada neraka dan janganlah membuat perubahan pada agama Allah. Apabila saya mati dan berpisah dengan kamu, saya akan berada dipancutan Kauthar. Sesiapa yang sampai kepada saya disana selamat. Dan pada penghujung masa apabila saya dapati ramai dari manusia di dalam siksaan tuhan, saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Ini adalah manusia dari ummah saya,’ Jawapannya akan sampai, ‘Sesungguhnya, mereka ini kebali kebelakang sesudah kamu.’ Menurut dari kenyataan Tabrani di dalam Kabir, jawapannya adalah, ’Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka adakan selepas kamu. Mereka menerima agama mereka yang terdahulu.’

ABU TALIB SEORANG YANG KUAT BERIMAN.

Kamu menekankan bahawa Muawiya dan Yazid adalah muslim walaupun banyak kesalahan mereka telah dirakamkan di dalam buku kamu. Sebahagian dari ulama sunni menulis sebuah buku mengenai kutukan terhadap mereka, tetapi kamu masih berkeras mengatakan bahawa mereka berhak dipuji dan bahawa Abu Talib yang beriman tulus kamu katakan kafir.

Memang dapat dilihat kata-kata begini adalah hasil dari kebencian terhadap Amirul-Mukminin Ali. Kamu cuba membantah hujah yang membuktikan kekafiran dan hipokritnya Muawiya dan Yazid. Dan bahkan kamu menolak kenyataan Abu Talib secara terbuka mengenai imannya kepada Allah dan nabi.

BUKTI TAMBAHAN TERHADAP IMAN ABU TALIB.

Bukankah ianya satu fakta bahawa ahli bayt nabi telah mengatakan bahawa Abu Talib adalah seorang yang beriman dan dia mati sebagai yang beriman? Tidakkah Asbagh Bin Nabuta, seorang yang dipercayai, telah menyampaikan dari Amirul-Mukminin bahawa dia berkata, ‘Saya bersumpah dengan Allah bahawa bapa saya, Abu Talib, datuk saya Abdul-Muttalib Hashim dan Abdul-Munaf tidak pernah menyembah berhala.’

Adakah wajar bahawa kamu menolak kenyataan Ali dan ahli bayt yang suci dan memberikan kepujian kepada kenyataan yang terkutuk Mughira, Amawis, Khariji, Nasibi dan musuh-musuh lain Amirul-mukminin.

JAFAR TAYYAR MEMELUK ISLAM ATAS ARAHAN BAPANYA.

Lebih-lebih lagi ramai ulama kamu, termasuk Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha telah menulis bahawa satu hari Abu Talib datang ke masjid dan melihat nabi sedang sembahyang. Ali sedang sembahyang pada sebelah kanan baginda. Abu Talib mengarahkan anaknya Jafar, yang bersama dengannya dan belum lagi memeluk islam, ‘berdirilah disebelah sepupu kamu dan lakukan sembahyang bersamanya’ Jafar pergi berdiri kesebelah kiri nabi dan mula bersembahyang. Pada ketika itu Abu Talib mengubah syair ini, ‘Sesungguhnya Ali dan Jafar adalah kekuatan saya dan penghibur di dalam kesusahan dan kekeciwaan. Wahai Ali dan Jafar! Janganlah tinggalkan berdampingan dengan sepupu kamu dan anak saudara ku, tetapi bantulah dia. Saya bersumpah, saya tidak akan meninggalkan nabi. Bolehkah sesiapa meninggalkan kumpulan nabi yang begitu mulia?’

Maka itu adalah pandangan semua ulama kamu bahawa Jafar memeluk islam dan melakukan sembahyang dengan nabi adalah arahan dari Abu Talib.

NABI MENANGIS DENGAN KEMATIAN ABU TALIB DAN MENDOAKAN RAHMAT ALLAH PADANYA.

Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha dan Ibn Jauzi di dalam Tadhkirat-e-Khawasu’l-Umma mengatakan dari Tabaqat-e-Muhammad Ibn Sa’d, yang menyampaikan dari Waqidi dan Allama Seyyed Muhammad Bin Seyyed Rasul Barzanji di dalam Kitabu’l-Islam Fi’l-‘am-o-Aba’-e-Seyyedu’l-An’am, kenyataan dari Ibn Sa’d dan Ibn Asakir, yang menyampaikan dari punca yang sahih dari Muhammad Bin Ishaq bahawa  Ali berkata, ‘Apabila Abu Talib meninggal dan saya memberitahu nabi Allah mengenainya, baginda menangis. Kemudian dia berkata kepada saya, ‘Pergi dan mandikan jasadnya di dalam persediaan untuk pengkebumian, balut dirinya dengan kafan dan kebumikan dia. Semoga Allah merahmatinya dan keampunan keatasnya!’

Adakah dibolehkan oleh islam untuk melakukan upacara pengkebumian kepada kafir? Adakah dibenarkan kepada kita untuk mengatakan bahawa nabi mendoakan kerahmatan Allah keatas orang kafir dan musyirik? Nabi tidak meninggalkan rumahnya untuk beberapa hari dan berterusan mendoakan untuk keamanan abadi Abu Talib

.

KETERANGAN DARI SURAH AL-QURAN DAN HADITH, MUAWIYA DAN YAZID ADALAH TERKUTUK.

[1] Sila rujuk kepada ayat 60 Surah 17 Bani Israel. Pengulas dari ulama kamu, seperti Tha’labi, Imam Fakhru’d-din Razi, dan yang lainnya berkata bahawa nabi melihat di dalam mimpinya bahawa Bani Umayya, seperti monyet, naik dan turun dari mimbarnya. Kemudiannya Jibril membawa ayat yang suci ini, ‘Dan apabila Kami katakan kepada kamu: Sesungguhnya Tuhanmu meliputi manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang Kami tunjukkan kepada kamu melainkan sebagai percubaan untuk manusia dan pokok yang terkutuk di dalam al-Quran juga. Dan Kami menjadikan mereka ketakutan, tetapi ianya hanya menambahkan kepada kedurhakaan mereka.’’[17:60]

Allah maha besar telah memanggil Bani Umayya, yang pemimpinnya adalah Abu Sufyan dan Muawiya, ‘pokok terkutuk’ di dalam al-Quran. Muawiya, yang menjadi dahan yang kuat pada pokok ini, pastinya terkutuk.

[2] Lagi Allah maha besar berkata, ‘Tetapi jika kamu berkuasa, kamu pastinya membuat kerosakkan dibumi dan memutuskan perhubungan persaudaraan. Mereka itulah yang Allah telah kutuk maka Dia telah menjadikan dia pekak dan buta matanya.’ [47:22-23]

Di dalam ayat ini mereka yang melakukan kerosakkan dibumi dan memutuskan tali persaudaraan telah dikutuk oleh Allah. Siapakah yang lebih merosakan dari Muawiya, yang mana khalifanya adalah terkenal dengan amalan kezaliman. Selain itu dia telah memutuskan ikatan persaudaraan.

[3] Juga Allah berkata di dalam al-Quran, ‘Sesungguhnya mereka yang mengatakan perkara yang jahat mengenai Allah dan rasulNya, Allah telah mengutuk mereka di dalam dunia ini dan juga diakhirat, dan dia telah menyediakan untuknya siksaan yang menghinakan.’ [33:57]

Pastinya menyakitkan Amirul-Mukminin dan kedua cucu nabi Hasan dan Husain begitu juga Ammar-e-Yasir dan sahabat terkenal yang lain adalah umpama menyakitkan nabi sendiri juga. Oleh kerana Muawiya telah menyakiti manusia yang wara’ ini, dia, menurut dari ayat al-Quran yang jelas, pastinya terkutuk didunia ini dan juga diakhirat.

[4] Di dalam surah Mukminun Allah berkata, ‘Pada hari dimana alasan mereka tidak memberikan faedah kepada mereka yang keji dan untuk mereka adalah kutukan dan untuk mereka tempat tinggal yang jahat.’ [40:52]

[5] Di dalam surah Hud, Dia berkata, ‘Sekarang sesungguhnya kutukan Allah kepada mereka yang zalim.’ [11:18]

[6] Di dalam surah al-Araf [Tempat yang ditinggikan] Allah berkata, ‘Kemudian yang memanggil akan panggil kepada mereka bahawa kutukan Allah keatas mereka yang zalim.’ [7:44]

Begitu juga banyak ayat lain yang diwahyukan mengenai mereka yang zalim. Telah jelas, bagi setiap mereka yang zalim dikutuk. Saya tidak fikir ada diantara kamu yang akan menafikan kezaliman yang dilakukan oleh Muawiya. Maka jelaslah pada fakta bahawa dia adalah zalim, cukuplah pada menerima kutukkan dari Allah, dari segala bukti yang nyata kita juga boleh mengutuk mereka yang menerima kutukkan dari Allah.

[7] Di dalam surah an-Nisa Allah berkata, ‘Dan sesiapa yang membunuh orang beriman dengan sengaja, hukuman baginya adalah neraka; dia akan tinggal di dalamnya, dan Allah akan hantar siksaan kepadanya dan mengutuknya dan menyediakan untuknya siksaan yang amat pedih.’ [4:93]

PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BERIMAN YANG TERKENAL SEPERTI IMAM HASAN, AMMAR HAJAR BIN ADI MALIK ASHTAR DAN MUHAMMAD BIN ABI BAKR ATAS ARAHAN MUAWIYA..

Ayat al-Quran dengan jelas mengatakan bahawa jika sesaorang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, dia berhak menerima kutukkan dan tempat tinggalnya adalah neraka. Tidakkah Muawiya bersekutu di dalam pembunuhan orang yang beriman? Tidakkah dia yang mengarahkan terhadap pembunuhan Hajar Ibn Adi dan tujuh orang sahabatnya? Tidakkah dia yang mengarahkan supaya Abdur-Rahman bin Hasan Al-Ghanzi ditanam hidup-hidup?

Ibn Asakir dan Yaqub Bin Sufyan di dalam buku sejarah mereka; Baihaqi di dalam Dala’il; Ibn Abdu’l-Bar di dalam Isti’ab; dan Ibn Athir di dalam Kamil telah mengatakan bahawa Hajar Bin Adi, salah seorang sahabat yang terkenal, dan bersama tujuh orang sahabatnya telah dibunuh dengan kejam oleh Muawiya. Kesalahan mereka, kerana enggan mengutuk Ali.

Imam Hasan adalah cucu nabi yang pertama. Tidakkah dia terjumlah di dalam Ashab-e-Kisa [mereka yang dibawah selimut]? Bukankah dia salah seorang dari ketua remaja disyurga dan yang beriman, yang mempunyai kedudukan tertinggi? Menurut dari kenyataan Mas’udi, Ibn Abdu’l-Bar, Abu’l-Faraj Ispahani, Tabaqa oleh Muhammad Bin Sa’d, Tadhkira oleh Sibt Ibn Jauzi, dan ulama sunni yang lain, Muawiya menghantar racun kepada Asma’ Ju’da dan menjanjkan kepada dia bahawa jika dia membunuh Hasan Ibn Ali, Muawiya akan memberi kepadanya 100 000 dirham dan akan mengahwinkannya dengan anaknya Yazid. Adakah kamu teragak-agak untuk memanggil Muawiya terkutuk? Tidakkah fakta yang sebenar, bahawa di dalam peperangan Siffin sahabat nabi yang agung Ammar Yasir, telah syahid atas arahan Muawiya? Kesemua ulama kamu mengatakan dengan satu kenyataan bahawa nabi telah berkata kepada Ammar Yasir, ‘Tidak beberapa lama lagi kamu akan dibunuh oleh sekumpulan penentang yang sesat.’

Adakah kamu masih ragu bahawa ribuan muslim beriman telah dibunuh oleh pegawai Muawiya? Tidakkah perwira yang gagah dan ikhlas telah diracun oleh arahan Muawiya? Bolehkan kamu nafikan bahawa pegawai tertinggi Muawiya, Amr bin As dan Muawiya bin Khadij, secara kejam mensyahidkan gabenor Imam Amirul-Mukminin, yang wara’ Muhammad bin Abi Bakr? Tidak puas dengan itu mereka masukkan badannya kedalam kulit keldai dan membakarnya. Jika saya hendak berikan kepada kamu secara khusus mereka yang beriman yang telah dibunuh oleh Muawiya dan pegawainya, ianya memerlukan bukan satu malam malah beberapa malam.

PEMBUNUHAN 30.000 ORANG YANG BERIMAN OLEH BUSR BIN ARTAT DENGAN ARAHAN MUAWIYA.

Kekejaman yang paling besar adalah Busr bin Artat telah membunuh ribuan orang yang beriman atas perintah Muawiya. Abu’l-Faraj Ispahani dan Allama Samhudi di dalam Ta’rikhu’l-Medina, Ibn Khallikan, Ibn Asakir dan Tabari di dalam sejarah mereka; Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, dan ramai lain dari ulama kamu telah menulis bahawa Muawiya mengarahkan Busr menyerang San’a dan Yaman dari Madina dan Makah. Dia berikan arahan yang sama kepada Zuhak bin Qais Al-Fahri dan yang lain. Abu’l-Faraj mengatakannya dengan perkataan ini, ‘Sesiapa sahaja dari sahabat dan shia Ali yang dijumpai hendaklah dibunuh, walaupun wanita dan kanak-kanak, jangan dibiarkan hidup.’ Dengan arahan yang tegas ini, mereka keluat dengan tenaga askar 3 000 orang dan menyerang Madina, San’a, Yaman, Ta’if dan Najran. Apabila mereka sampai ke Yaman, gabenornya, Ubaidullah Ibn Abbas telah keluar dari kota. Mereka memasukki rumahnya dan membunuh kedua-dua anaknya, Sulayman dan Dawud diatas pangkuan ibunya.

Ibn Abi’l-Hadid menulis di dalamSharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid I, ms 121, bahawa di dalam serangan ini 30 000 telah terbunuh, tidak termasuk yang mati terbakar.

Adakah tuan-tuan masih ragu yang Muawiya berhak pada kutukan?

MUAWIYA MENGARAHKAN SUPAYA ALI DIKUTUK.

Diantara bukti yang jelas bahawa Muawiya adalah kafir dan berhak kutukkan adalah secara umum penolakkannya terhadap Amirul-Mukminin dan arahannya kepada manusia untuk membaca kutukkan terhadap Imam di dalam qunut [doa di dalam solat] mereka. Fakta ini telah disahkan oleh kita berdua shia dan sunni. Bahkan ahli sejarah bangsa lain telah merakamkan bahawa amalan yang hina itu telah diarahkan secara terbuka, dan ramai yang telah terbunuh kerana tidak menyebutkan kutukan tersebut. Amalan ini telah diberhentikan oleh khalifa Umayya, Umar bin Abdil-Aziz.

Mereka yang mengutuk adik nabi, suami Fatima, Amirul-Mukminin Ali Ibn Abi Talib, dan yang mengarahkan orang lain melakukan pastinya dikutuk. Fakta ini telah dirakamkan oleh semua ulama terkenal di dalam buku sahih mereka, Sebagai contoh Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Imam Abu Abdu’r-Rahman Nisa’i di dalam Khasa’isu’l-Alawi, Imam Tha’labi dan Imam Fakhru’d-in Razi di dalam Tafsir (ulasan), Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, Muhammad Bin Yusuf Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, Sibt Ibn Jauzi di dalam Tadhkira, Sulayman Balkhi Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda, Mir Seyyed Ali Hamadani di dalam Mawaddatu’l-Qurba, Dailami di dalam Firdaus, Muslim Bin Hajjaj di dalam Sahih, Muhammad Bin Talha Shafi’i di dalam Matalibu’s-Su’ul, Ibn Sabbagh Maliki di dalam Fusulu’l-Muhimma, Hakim di dalam Mustadrak, Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib, Abraham Hamwaini di dalam Fara’id, Ibn Maghazili Shafi’i di dalam Manaqib, Imamu’l-haram di dalam Dhakha’iru’l-Uquba, Ibn Hajar di dalam Sawa’iq, dan ulama yang lainnya telah menyampaikan dengan sedikit perbezaan perkataan, mengatakan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menghina Ali, sebenarnya menghina saya; yang menghina saya sebenarnya telah menghina Allah.’

Dailami di dalam Firdaus, Sulayman Hanafi di dalam Yanabiu’l-Mawadda telah menyampaikan bahawa nabi telah berkata, ‘Sesiapa yang menyakiti Ali, sebenarnya telah menyakiti saya, dan kutukan Allah keatas mereka yang telah menyakiti saya.’ Ibn Hajar Makki di dalam Sawa’iq menyebut satu hadith mengenai akibat terhadap sesaorang yang mengutuk terhadap mana-mana dari keturunan nabi. Dia mengatakan bahawa nabi berkata, ‘Jika sesiapa mengutuk ahli bayt saya, semoga kutukkan Allah diatasnya.’

Dari itu Muawiya pastinya terkutuk. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Athir di dalam Kamil, Muawiya biasa mengutuk Ali, cucu-cucu nabi, Hasan dan Husain dan juga Abbas dan Malik Ashtar di dalam qunut solat harian.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan di dalam Musnad dan beberapa punca bahawa nabi Allah berkata, ‘Jika sesiapa melukakan Ali dia akan dilayani sebagai yahudi atau kristian pada hari pengadilan.’ Pastinya kamu semua telah tahu bahawa adalah satu dari hukum islam bahawa memanggil Allah dan nabi dengan nama yang hina membawa kepada kafir.

Muhammad Bin Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib, bahagian X, mengatakan bahawa satu ketika Abdullah Ibn Abbas and Sa’id Ibn Jabir melihat pada pinggir telaga zamzam sekumpulan orang Syria menghina Ali. Mereka pergi mendapatkannya dan berkata, ‘Siapa diantara kamu yang menghina nabi Allah?’ Orang Syria menjawa, ‘Tiada siapa diantara kami yang menghina nabi Allah.’ Kemudian mereka berkata, ‘Baik, siapa diantara kamu yang menghina Ali?’ Orang Syria berkata, ‘Ya, kami telah menghina Ali,’

Kemudian Abdullah dan Sa’id berkata, ‘Kamu harus menjadi saksi bahawa kami mendengat nabi berkata kepada Ali, ‘Sesiapa yang menghina kamu, sesungguhnya telah menghina saya; sesiapa yang menghina saya telah menghina Allah. Jika sesiapa yang menghina Allah, Dia akan menlontarkan mereka kedalam neraka.’

PARA SAHABAT NABI DITAHAP YANG BERBEZA PADA PEMAHAMAN.

Salafi:                    Adakah wajar bagi orang yang berkaliber seperti kamu, mengutuk sahabat nabi yang terhormat? Tidakkah terdapat fakta bahawa Allah telah mewahyukan beberapa ayat pada memuji sahabat nabi dan berikan berita gembira dengan penyampaiannya. Dan khalu’I-Mukminin Muawiya, yang pastinya sahabat yang terhormat, berhak pada pujian yang dikandongi oleh ayat tersebut. Tidakkah menghina para sahabat bersamaan dengan menghina Allah dan nabi?

Ustad Husain Ardilla:                    Mungkin kamu telah terlupa pada apa yang saya telah katakan dimalam yang lalu. Tiada siapa menafikan terdapat ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat. Tetapi jika kamu faham pengertian sahabat atau kawan, kamu akan mengakui bahawa ayat yang diwahyukan pada memuji sahabat bukanlah ditujukan secara umum. Kita tidak boleh menganggap bahawa kesemuanya adalah suci.

Tuan yang dihormati! Kamu tentu faham bahawa ‘sahabat’ secara lisan bererti ikatan dua insan. Maka ia boleh bererti tinggal bersama atau sebagaimana yang difahami secara umum, menolong atau memberikan bantuan kepada yang lain. Menurut bahasa Arab, al-Quran dan hadith, sahabat nabi merujuk kepada yang menghabiskan masa hidupnya bersama dengan nabi, sama ada dia muslim ataupun kafir. Maka interpretasi kamu bahawa semua para sahabat berhak syurga adalah salah. Itu bertentangan dengan minda yang sihat dan juga hadith.

Ada tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Nabi SAW tidak memiliki perkara yang serupa

Syiah Berkata Ali Lebih Pemberani Dari Rasulullah [Shallallahu ‘Alaihi Wasallam]  ?

pembahasan yang tendensius tampak mudah dipatahkan, tidak semua kitab/hadis kitab kitab syiah dipandang sahih/ disetujui oleh jumhur syiah,begitu pula hadis hadis dari sunni, tidak terkecuali kitab Bukhari-Muslim.

Berkatalah salah seorang dengan lisannya yang kotor bahwa diantara penghinaan Syiah kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ghuluw terhadap Aliy sehingga memuliakannya di atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ia mengutip perkataan Nikmatullah Al Jaza’iriy dalam kitabnya Anwar An Nu’maniyah

وأما ألثلاث التي أعطى علي ولم أشاركه فيها فإنه أعطي شجاعة ولم أعط مثله وأعطى فاطمة الزهراء ولم اعط مثلها وأعطى ولديه الحسن والحسين عليهما السلام ولم أعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan keberanian dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan Fathimah Az Zahraa’ dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain [‘alaihimas salam] dan Aku tidak memiliki yang semisal keduanya [Anwar An Nu’maniyah Sayyid  Al Nikmatullah Jaza’iriy 1/19]

Anwar Nu'maniyah juz 1

Anwar Nu'maniyah juz 1 hal 19

.

Nampak bahwa Sayyid Al Jaza’iriy membawakan riwayat dari Syaikh Shaduq bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata [riwayat di atas]. Riwayat ini ternukil tanpa sanad dalam kitab Anwar An Nu’maniyyah. Sebenarnya asal riwayat ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Amaliy-nya yaitu sebagaimana berikut

Amaliy Syaikh Ath Thuusiy

Amaliy Syaikh AthThuusiy hal 513 dan 514

أخبرنا ابن الصلت، قال: أخبرنا ابن عقدة، قال: حدثنا علي بن محمد القزويني، قال: حدثنا داود بن سليمان الغازي، قال: حدثنا علي بن موسى، عن أبيه، عن جده عن محمد بن علي، عن أبيه، عن علي بن الحسين، عن أبيه، عن علي (عليه السلام) قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله): ياعلي، إنك اُعطيت ثلاثاً ما لم أعط أنا، قلت: يارسول الله، ما اُعطيت؟ فقال: اُعطيت صهراً مثلي ولم اُعط، وأُعطيت زوجتك فاطمة ولم اُعط، وأُعطيت مثل الحسن والحسين ولم اُعط

Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Ash Shult yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uqdah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Al Qazwiiniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Sulaiman Al Ghaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Musa dari Ayahnya dari kakenya dari Muhammad bin Aliy dari Ayahnya dari Aliy bin Husain dari Ayahnya dari Aliy [‘alaihis salam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “wahai Aliy sesungguhnya engkau diberikan tiga hal yang tidak diberikan kepadaku. Aku berkata “wahai Rasulullah apa yang diberikan kepadaku itu?”. Beliau menjawab “engkau diberikan aku sebagai shihran dan aku tidak diberikan semisalnya, engkau diberikan istrimu Fathimah dan aku tidak diberikan yang semisalnya, engkau diberikan Hasan dan Husain dan aku tidak diberikan yang semisalnya [Amaliy Syaikh Ath Thuusiy 12/513-514 no 46]

.

.

.

Riwayat yang disebutkan Sayyid Nikmatullah Al Jaza’iriy tidak ditemukan dalam riwayat Ash Shaduq, diantara yang mengutip riwayat tersebut adalah Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar dan Syadzaan bin Jibriil Al Qummiy dalam Al Fadhaa’il. Keduanya dengan matan yang sedikit berbeda dengan yang disebutkan dalam kitab Anwar An Nu’maniyah

Bihar Al Anwar juz 39 cover

Bihar Al Anwar juz 39 hal 90

وأما الثلاث التي أعطيها علي ولم أشاركه فيها فإنه أعطي ابن عم مثلي ولم اعط مثله، وأعطي زوجته فاطمة ولم اعط مثلها، وأعطي ولديه الحسن والحسين ولم اعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan sepupu sepertiku dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan istrinya Fathimah dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain dan Aku tidak memiliki yang semisalnya [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 39/90]

واما الثلاث التي أعطيت عليا ولم أشاركه فيها فإنه اعطى رسول الله صهرا ولم اعط مثله وأعطى زوجته فاطمة الزهراء ولم اعط مثلها وأعطى ولديه الحسن والحسين (ع) ولم اعط مثلهما

Adapun tiga perkara yang diberikan kepada Ali dan Aku tidak memiliki perkara yang serupa adalah Dia diberikan Rasulullah sebagai shihran dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan istrinya Fathimah Az Zahraa’dan Aku tidak memiliki yang semisalnya. Dia diberikan anak-anak seperti Al-Hasan dan Al-Husain dan Aku tidak memiliki seperti keduanya [Al Fadhaa’il Syadzaan bin Jibriil hal 111-112]

.

.

.

Nampak bahwa tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz Syaja’ah [keberanian] sebagaimana yang dinukil Sayyid Nikmatullah Al Jaza’iriy. Lafaz yang benar adalah “Shihraan” sebagaimana yang nampak dalam asal riwayat Amaliy Ath Thuusiy yang bersanad lengkap. Shihraan bermakna hubungan kekerabatan yang timbul dari pernikahan dalam hal hubungan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan Aliy adalah sebagai mertua Aliy. Maka disini ada dua kemungkinan

  1. Terjadi tashif dalam kitab Anwar An Nu’maniyah seharusnya lafaznya shihran menjadi syaja’ah
  2. Sayyid Al Jaza’iry keliru dalam menukil riwayat, hal ini dikuatkan bahwa ia juga keliru menukil sumber riwayat dari Ash Shaduuq

Yang manapun dari kedua kemungkinan di atas tetap pada dasarnya riwayat tersebut tidak mengandung penghinaan syiah kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Karena yang dimaksud bukanlah Ali memiliki keberanian dan Rasulullah tidak memiliki yang semisalnya tetapi yang dimaksud adalah Ali memiliki Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai shihraan dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak memiliki yang semisalnya.

.

.

Sekedar tambahan bahwa riwayat yang sama juga ditemukan dalam kitab Ahlus sunnah yaitu Riyadh An Nadhirah oleh Muhibbudin Ath Thabariy

Riyadh An Nadhrah

Riyadh An Nadhrah juz 2 hal 202

روى أبو سعيد في شرف النبوة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي، أوتيت ثلاثا لم يؤتهن أحد ولا أنا، أوتيت صهراً مثلي ولم أؤت أنا مثلك، أو أوتيت زوجة صديقة مثل ابنتي، ولم أؤت مثلها زوجة وأوتيت الحسن والحسين من صلبك، ولم أؤت من صلبي مثلهما، ولكنكم مني وأنا منكم

Abu Sa’id meriwayatkan dalam Syarf An Nubuwah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Aliy, engkau telah diberikan tiga perkara yang tidak diberikan kepada siapapun termasuk aku. Engkau telah diberikan shihraan sepertiku dan aku tidak diberikan yang semisalnya, engkau diberikan istri yang shiidiqah seperti anakku dan aku tidak memiliki istri yang sepertinya, engkau telah diberikan Hasan dan Husain dari sulbimu dan tidak diberikan dari sulbiku, seperti keduanya. Tetapi kalian dariku dan aku dari kalian [Riyadh An Nadhirah 2/202].

Fir’aun Adalah Abu Bakar dan Haman Adalah Umar?. Riwayat ini sanadnya dhaif jiddan [bahkan maudhu’] di sisi ilmu Rijal Syi’ah.

Syi’ah Berkata Fir’aun Adalah Abu Bakar dan Haman Adalah Umar?

Salah seorang nashibi menukil dari kitab ulama Syi’ah Ilzaamun Naashib Fii Itsbaatil Hujjah Al Ghaaib 2/231 oleh Syaikh Ali Al Yazdiy Al Hairiy

قال المفضل: يا سيدي ومن فرعون ومن هامان؟ قال (عليه السلام): أبو بكر وعمر

Al Mufadhdhal berkata “wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan siapakah Haamaan?. [Imam Ash Shadiq] [‘alaihis salaam] berkata “Abu Bakar dan Umar” [Ilzaamun Naashib Fii Itsbaatil Hujjah Al Ghaaib 2/231]

Syaikh Ali Al Yazdiy tidak membawa perkataannya sendiri melainkan membawakan riwayat yang sangat panjang dimana Al Mufadhdhal bin Umar bertanya kepada Imam Ja’far Ash Shaadiq. Al Majlisiy menukil riwayat ini dalam kitab Bihar Al Anwaar 53/17.

Bihar Al Anwar juz 53

Bihar Al Anwar juz 53 hal 17

Sanad riwayat tersebut dituliskan Al Majlisiy pada kitab Bihar Al Anwaar 53/1

Bihar Al Anwar juz 53 hal 1

وي في بعض مؤلفات أصحابنا، عن الحسين بن حمدان، عن محمد ابن إسماعيل وعلي بن عبد الله الحسني، عن أبي شعيب [و] محمد بن نصير، عن عمر بن الفرات، عن محمد بن المفضل، عن المفضل بن عمر قال: سألت سيدي الصادق عليه السلام

Dan diriwayatkan oleh sebagian penulis dari kalangan sahabat kami dari Husain bin Hamdaan dari Muhammad bin Ismaiil dan Aliy bin Abdullah Al Hasaniy dari Abi Syu’aib [dan] Muhammad bin Nushair dari ‘Umar bin Furaat dari Muhammad bin Mufadhdhal dari Mufadhdhdal bin ‘Umar yang berkata aku bertanya kepada tuanku Ash Shadiq [‘alaihis salaam] [Bihar Al Anwaar 53/1]

Riwayat Al Mufadhdhal yang sangat panjang ini disebutkan oleh Husain bin Hamdaan Al Khashiibiy dalam kitabnya Hidayatul Kubra 392 dengan sanad seperti di atas hanya saja disebutkan Abi Syu’aib Muhammad bin Nushair, tanpa huruf waw di antara Abi Syu’aib dan Muhammad bin Nushair.

Riwayat ini sanadnya dhaif jiddan [bahkan maudhu’] di sisi ilmu Rijal Syi’ah. Kelemahan dalam sanadnya disebabkan oleh

  1. Husain bin Hamdaan
  2. Abi Syu’aib Muhammad bin Nushair
  3. Umar bin Furaat
  4. Muhammad bin Mufadhdhal

Husain bin Hamdaan disebutkan oleh An Najasyiy dalam ktab Rijal-nya bahwa ia seorang yang jelek mazhab-nya [Rijal An Najasyiy hal 67 no 159]. Ibnu Ghada’iriy menyatakan ia pendusta dan jelek mazhabnya [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 54]. Ibnu Dawud Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi majruh dan majhul [Rijal Ibnu Dawud hal 240 no 140]. Allamah Al Hilliy juga memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi dhaif atau yang ia bertawaqquf dengannya [Khulashah Al Aqwaal hal 339].

Muhammad bin Nushair disebutkan oleh Ath Thuusiy bahwa ia seorang yang ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 402]. Dan diantara sifat ghuluw-nya adalah apa yang disebutkan oleh Al Kasyiy

قال أبو عمرو: وقالت فرقة بنبوة محمد بن نصير النميري، وذلك أنه ادعى أنه نبي رسول، وأن علي بن محمد العسكري عليه السلام أرسله، وكان يقول بالتناسخ والغلو في أبي الحسن عليه السلام، ويقول فيه بالربوبية ويقول: بإباحة المحارم، ويحلل نكاح الرجال بعضهم بعضا في أدبارهم ويقول أنه من الفاعل والمفعول به أحد الشهوات والطيبات، وأن الله لم يحرم شيئا من ذلك.

Abu ‘Amru [Al Kasyiy] berkata “terdapat firqah yang meyakini kenabian Muhammad bin Nushair An Numairiy dan hal itu karena ia mengakui bahwasanya ia seorang Nabi dan Rasul, dan bahwa Aliy bin Muhammad Al Asakriy [‘alaihis salaam] telah mengutusnya. Dan ia meyakini reinkarnasi dan ghuluw terhadap Abu Hasan [‘alaihis salaam], ia mengatakan tentang Rububiyah-nya dan ia membolehkan hal-hal yang diharamkan, menghalalkan nikah antara laki-laki satu dengan yang lain lewat dubur mereka. Dan ia mengatakan bahwasanya yang melakukan dan pasangannya, melakukan atas dasar syahwat dan kebaikan dan sesungguhnya Allah tidak mengharamkan yang demikian [Rijal Al Kasyiy 2/805]

Tidak diragukan lagi bahwa ghuluw yang seperti ini sudah jelas mengeluarkannya dari Islam dan hadis dari orang seperti ini tidak boleh diterima.

Umar bin Furaat disebutkan oleh Ath Thuusiy bahwa ia seorang yang ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 362]. Ibnu Dawud Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya bagian kedua yang memuat daftar perawi majruh dan majhul [Rijal Ibnu Dawud hal 264].

Muhammad bin Mufadhdhal dia adalah Muhammad bin Mufadhdhal bin ‘Umar dan dia seorang yang majhul

محمد بن المفضل بن عمر من أصحاب الكاظم (ع) مجهول

Muhammad bin Mufadhdhal bin ‘Umar termasuk ashaab Imam Kaazhim [‘alaihis salaam], seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 580, Muhammad Al Jawahiriy]

Maka tidak ada gunanya syubhat nashibi yang menukil riwayat tersebut karena kedudukan riwayat tersebut dari sisi ilmu Rijal Syi’ah sangatlah dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Ada bantahan dari nashibi tersebut, ia membantah dengan membawa perkataan Syaikh Ali Al Yazdiy dalam kitabnya berikut

Wahai anak mut’ah, apa anda tahu apa yang dikatakan oleh penulisnya sendiri (‘Ali Al-Yazdiy) terkait khobar-khobar yang dinukil? Pada bagian muqaddimahnya setelah memberikan keterangan mengenai nama kitabnya yaitu “Ilzamun-Nashib fi Itsbat Al-Hujjah Al-Ghaib” dia berkata:

ثم إني اقتصرت فيه على لباب الأخبار بطرح المكررات اللفظية والمعنوية، بإلغاء الأسانيد والرجال من الأخبار المروية، اعتمادا على الصحاح المشهورة المنقولة واتكالا على الثقات من الرجال المقبولة

“Kemudian sesungguhnya aku membatasi untuk bab di dalamnya riwayat-riwayat dengan membuang lafazh dan makna yang berulang. Dan dengan penghapusan sanad (untuk meringkas) dan perawi-perawi dari riwayat-riwayat yang dapat dijadikan pegangan, shahih lagi masyhur. Dan bersandar berdasarkan rawi-rawi yang tsiqah lagi diterima.” [Ilzamun-Nashib 1/7 bagian muqaddimah, lihat: http://shiaonlinelibrary.com/ا…]

Maka saya katakan wahai pencela yang rendah akalnya. Apakah anda pikir seorang ulama itu pasti benar setiap perkataannya. Kami tidak menafikan ulama Syi’ah yang berkata demikian. Tetapi dalam berhujjah yang menjadi hujjah adalah bukti bukannya klaim atau pengakuan. Siapapun bisa mengatakan bahwa suatu hadis shahih tetapi hujjahny adalah apa bukti bahwa hadis itu shahih, maka begitu pula perkataan ulama di atas, justru perkataannya itu yang harus ditimbang dengan kaidah ilmu [dalam hal ini ilmu hadis Syi’ah], apakah benar ia berpegang pada riwayat shahih saja dan para perawi tsiqat seperti yang ia katakan.

Perkara seperti ini banyak bahkan dalam kitab hadis ahlus sunnah. Siapapun yang membaca muqaddimah kitab Tafsir Ibnu Abi Hatim akan mendapati pernyataan yang serupa bahwa Ibnu Abi Hatim mencukupkan dalam kitabnya hadis yang shahih saja tetapi faktanya dalam kitab tafsir Ibnu Abi Hatim banyak pula riwayat dhaif jika ditimbang dengan ilmu hadis. Jadi jangan sok membantah dengan bantahan yang sia-sia. Apa anda pikir semua orang rendah akalnya seperti anda, membantah dengan bantahan anak kecil yang bikin malas orang mengomentarinya.

Atau kita bisa beri contoh lain yang sangat banyak yaitu penshahihan Al Hakim terhadap hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait dalam Al Mustadrak. Jika ditelaah dengan ilmu Rijal Ahlus Sunnah maka akan banyak sekali riwayat tersebut yang ternyata dhaif. Maka apa bisa kemudian datang cecunguk seperti nashibi itu yang berkata siapa dirimu dibanding Al Hakim yang sudah terkenal keilmuannya. kami yakin nashibi itu akan mengambil sikap yang sama jika kitab pegangannya dijadikan bahan celaan atau syubhat. Jika benar demikian maka hanya membuktikan kalau nashibi tersebut munafik dalam berhujjah

Silahkan pembaca menilai mana yang dijadikan pegangan dalam menilai rijal Syi’ah sesuai manhaj Syi’ah sendiri, apakah rafidhi recehan bernama secondprice tersebut atau ‘Ali Al-Yazdiy ?

Saya yakin pembaca yang bukan Syi’ah atau pun yang Syi’ah, jika mereka mengerti kaidah ilmu terutama ilmu hadis Syi’ah akan menerima tulisan kami di atas. Berbeda halnya jika pembaca adalah orang awam atau orang yang termakan syubhat rendahan ala nashibi maka untuk mereka kami hanya bisa mengingatkan agar jangan ikutan jadi orang yang kerdil akalnya seperti nashibi tersebut. Dan seperti biasa kami akan mengulang-ulang bahwa kami bukanlah penganut Syi’ah Rafidhah, kami hanya seorang penuntut ilmu yang berusaha mempelajari Syi’ah dengan objektif terutama mempelajari bagaimana kedustaan para nashibi terhadap Syi’ah. Jujur saja tidak semua tuduhan terhadap Syi’ah kami bela dan bantah tetapi yang mana diantara tuduhan tersebut kami mengetahui bahwa itu termasuk kedustaan atau syubhat yang sengaja dibuat nashibi untuk merendahkan Syi’ah maka kami tidak segan-segan membantahnya.

Wahai anak mut’ah, justru usahamu lah yang sia-sia setelah hujjahmu diludahi oleh ulamamu sendiri di atas. Betapa lebay dan lucunya anda terlalu memaksakan diri membantah riwayat di atas, karena shahih ataupun tidak, maka Syi’ah tetaplah agama yang mengkafirkan para Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam khususnya Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, kecuali beberapa Shahabat saja yang tidak dikafirkan oleh Syi’ah. Ini sudah bukan hal yang asing.

Ulama saya?. Mungkin ulama anda kali, karena anda dengan gampangnya taklid kepadanya dan melemparkan kaidah ilmu Rijal Syi’ah. Tidak perlu diingatkan bagi seorang yang objektif akan menempatkan perkara ini sesuai kaidah ilmiah. Maka yang benar adalah perkataan ulama harus ditimbang dengan kaidah ilmu bukannya kaidah ilmu ditinggalkan demi taklid kepada ulama. Mungkin si nashibi tersebut tidak mengenal kaidah ilmu yang seperti ini dan bisa dimaklumi karena keterbatasan akalnya.

Soal Syi’ah yang anda katakan mengkafirkan para sahabat, maka apa urusannya dengan saya wahai nashibi. Bagi saya nampak bahwa anda tidak jauh berbeda dengan apa yang anda tuduh.

Banyak dari takfir para ulama besar Syi’ah berdasarkan perkataan mereka sendiri bahkan yang lebih parah mulutnya dalam mencela Shahabat daripada di atas dan telah kami himpun beberapa darinya pada daftar artikel blog ini pada bab takfir. Tidak perlu kami paparkan disini sebab kami tidak lebay seperti anak mut’ah tersebut. Siapa pun bisa melihatnya dan siapa pun juga tahu bahwa yang namanya Syi’ah jelas berlepas diri dari para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum.

Oh silakan, tidak ada yang mempermasalahkan apa maunya anda. Dan seandainyapun para ulama besar Syi’ah seperti yang anda katakan mengkafirkan para sahabat maka itu tidak ada sangkut-pautnya dengan saya. Tulisan saya di atas hanya mengomentari kualitas riwayat yang anda kutip selebihnya andalah yang lebay sok membantah kacau kesana kemari.

Kami juga tidak menafikan bahwa ada dari rawi di atas ada yang dijarh, namun persoalan tersebut dijawab lagi oleh ulama kenamaan Syi’ah yakni Al-Hurr Al-‘Amiliy seperti berikut:

ومن المعلوم قطعاً أن الكتب التي أمروا عليهم السلام بالعمل بها ، كان كثير من رواتها ضعفاء ومجاهيل

“Termasuk dari hal yang telah diketahui secara pasti bahwasanya kitab-kitab yang diperintahkan oleh para Imam ‘alaihim as-salam untuk beramal dengannya banyak dari perawinya adalah rawi-rawi dha’if dan majhul.” [Wasail Asy-Syi’ah, 30/244]

Gak penting, apa anda pikir Al Hurr Al Amiliy itu adalah satu-satunya ulama yang menjadi pegangan orang Syi’ah. Tidak perlu kami ulangi perkataan ulama itu harus ditimbang dengan kaidah ilmu bukan malah sebaliknya. Perkara beramal dengan hadis dhaif, itu bukan hanya dilakukan oleh sebagian ulama Syi’ah bahkan sebagian ulama sunni pun demikian. Tidak perlu saya sebutkan ada ulama yang membantah tindakan Syaikh Albaniy dan ulama lain yang berupaya membagi hadis-hadis kitab Sunan menjadi shahih dan dhaif. Menurutnya tindakan seperti itu sia-sia belaka. Tetapi tentu saja perkataannya tidak menjadi hujjah karena yang menjadi hujjah adalah kaidah ilmu hadis yang memang dibuat untuk membedakan hadis shahih dan hadis dhaif.

Mengapa Al-Hurr Al-‘Amiliy sampai berkata demikian? Karena Al-Hurr Al-‘Amiliy juga menjelaskan yang intinya jika jarh dan ta’dil diterapkan dalam kitab-kitab Syi’ah maka itu akan mengakibatkan kecacatan yang parah bagi kitab-kitab tersebut yaitu hampir SELURUH riwayat Syi’ah adalah dha’if dan tertolak. Alasannya adalah sebagaimana jawaban Al-Hurr Al-‘Amiliy di atas.

Lho gak ada masalah kalau memang Al Hurr mengatakan demikian, saya dapat mengutip banyak ulama lain yang peduli terhadap ilmu Rijal Syi’ah. mereka berusaha mengkategorikan hadis ke dalam shahih, hasan, muwatstsaq dan dhaif seperti Al Majlisiy.

Entah apa yang membuat anak mut’ah tersebut terlalu memaksakan diri menolak riwayat di atas, padahal jelas-jelas agamanya murni membenci para Shahabat. Karena itu dia ini tidak ada bedanya dengan kaumnya (Syi’ah) yang munafik. Sok-sok tidak memusuhi Shahabat padahal yang ada dalam hati mereka (‘aqidah) jauh lebih busuk daripada apa yang mereka nampakkan kepada orang-orang awam yang tertipu. Dengan hal tersebut mereka hanya ingin dipandang simpati oleh masyarakat dan mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat agar agama mut’ah mereka diterima. Qabbahallah ar-rafidhah

Justru yang nampak adalah andalah yang munafik disini. Kalau anda menuduh agama saya murni membenci sahabat maka pada hakikatnya anda telah menuduh agama Islam sebagai agama membenci sahabat karena saya seorang Muslim dan bukan pengikut Syi’ah. Saya memang tidak pernah memusuhi sahabat berbeda dengan anda yang sok membela sahabat padahal anda ini ghuluw terhadap sahabat. Apa yang ada dalam hati anda mungkin jauh lebih busuk dari apa yang anda tampakkan? karena jangan-jangan anda ini meyakini dalam hati anda bahwa para sahabat ma’shum. [btw tidak hanya anda yang bisa membuat tuduhan :mrgreen: ]

sahabat Nabi ; Bilal bin Rabah adalah ahli surga karena keadilannya.

Bilal bin Rabah Dalam Pandangan Mazhab Syi’ah Imamiyah?

.

Di sisi Sunni, Bilal bin Rabah [radiallahu ‘anhu] dikenal sebagai sahabat Nabi [shalllallahu ‘alaihi wasallam] yang mulia, Ia adalah muadzin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Keutamaannya tidak diragukan baik di kalangan ulama maupun di kalangan awam. Kemudian bagaimanakah kedudukannya dalam mazhab Syi’ah Imamiyah.

.

.

Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan biografinya dalam kitab Rijal Ath Thuusiy dalam bab yang meriwayatkan dari Nabi dari kalangan sahabat-Nya.

بلال، مولى رسول الله صلى الله عليه وآله، شهد بدرا وتوفي بدمشق في الطاعون سنة ثمان عشرة، كنيته أبو عبد الله وقيل أبو عمرو، وهو بلال بن رباح، مدفون بباب الصغير بدمشق

Bilal maula Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa aalihi], ikut dalam perang Badar, wafat di Dimasyiq karena tha’un pada tahun 18 H, kuniyah-nya Abu ‘Abdullah, ada yang mengatakan Abu ‘Amru, ia Bilal bin Rabaah, dimakamkan di Babul Saghiir di Dimasyiq [Rijal Ath Thuusiy hal 27]

أبو عبد الله محمد بن إبراهيم، قال حدثني علي بن محمد بن يزيد القمي قال حدثني عبد الله بن محمد بن عيسى، عن ابن أبي عمير عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال كان بلال عبدا صالحا وكا ن صهيب عبد سوء كان يبكي على عمر

Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahim berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Muhammad bin Yaziid Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Muhammad bin Iisa dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata Bilal seorang hamba yang shalih, dan Shuhaib seorang hamba yang jelek, ia telah menangisi Umar [Rijal Al Kasyiy 1/190]

Riwayat di atas sanadnya dhaif berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah karena Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al Warraaq, syaikh [guru] Al Kasyiy seorang yang majhul

محمد بن إبراهيم الوراق: من أهل سمرقند. رجال الشيخ. أقول: هو من مشايخ الكشي، روى عنه في عدة موارد، منها ما في ترجمة زرارة – مجهول

Muhammad bin Ibrahim Al Warraaq termasuk penduduk Samarqand, rijal Syaikh. Aku katakan “ia termasuk diantara guru-guru Al Kasyiy, dimana ia telah meriwayatkan darinya pada beberapa tempat, diantaranya dalam biografi Zurarah, dia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 484]

.

عنه عن معاوية بن حكيم عن سليمان بن جعفر عن أبيه قال دخل رجل من أهل الشام على أبي عبد الله عليه السلام فقال له: إن أول من سبق إلى الجنة بلال قال: ولم؟ قال: لأنه أول من أذن

Telah meriwayatkan darinya [Muhammad bin Aliy bin Mahbuub] dari Mu’awiyah bin Hakiim dari Sulaiman bin Ja’far dari Ayahnya yang berkata seorang laki-laki penduduk Syam masuk menemui Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam], maka Beliau berkata kepadanya “orang yang pertama mendatangi Surga adalah Bilal”. Orang itu berkata “kenapa?”. Beliau berkata “ia orang pertama yang mengumandangkan adzan” [Tahdzib Al Ahkam, Syaikh Ath Thuusiy 2/284]

Riwayat ini shahih sanadnya di sisi Ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan para perawinya dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Aliy bin Mahbuub disebutkan An Najasyiy bahwa ia tsiqat faqih shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 349 no 940]
  2. Mu’awiyah bin Hakiim disebutkan An Najasyiy bahwa ia tsiqat jalil [Rijal An Najasyiy hal 412 no 1098]
  3. Sulaiman bin Ja’far bin Ibrahim Al Ja’fariy disebutkan An Najasyiy bahwa ia tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 182-183 no 483]
  4. Ja’far bin Ibrahim ayahnya Sulaiman disebutkan An Najasyiy bahwa ia tsiqat dalam biografi anaknya [Rijal An Najasyiy hal 182-183 no 483]

Allamah Al Hilliy memasukkan Bilal dalam kitabnya Khulashah bagian pertama yang memuat daftar perawi yang ia berpegang dengannya [Khulashah Al Aqwaal hal 82-83]. Walaupun hal ini sebenarnya layak dikritisi karena Al Hilliy memasukkan Bilal dalam kitabnya berdasarkan riwayat Al Kasyiy di atas yang kedudukannya dhaif.

Ibnu Dawud Al Hilliy juga memasukkan Bilal dalam kitab Rijalnya bagian pertama yang memuat daftar perawi tsiqat dan terpuji menurutnya [Rijal Ibnu Dawud hal 58].

Al Majlisiy dalam kitabnya Al Wajiizah memberikan predikat mamduh [terpuji] kepada Bilal bin Rabah [Al Wajiizah no 301]. Ada ulama syi’ah yang dikatakan memberikan predikat majhul kepada Bilal bin Rabah dan majhul disini adalah jahalah dalam hal ketsiqatan periwayatannya dalam hadis di sisi Syi’ah Imamiyah.

.

.

Nashibi pencela yang bisa dibilang “kerdil akalnya” membuat kedustaan dalam tulisannya dimana ia mengatakan mengenai Syaikh Ali Alu Muhsin

Dengan sombongnya dia menyatakan bahwa Sayyidinaa Bilal bin Rabah Radhiyallaahu ‘Anhu adalah tokoh fiktif, tidak diketahui.

Ucapan ini sangat jelas kedustaannya. Tidak ada ulama Syi’ah yang menyatakan bahwa Bilal bin Rabah [radiallahu ‘anhu] adalah tokoh fiktif tidak diketahui. Yang mengatakan majhul disini maksudnya tidak diketahui ketsiqatannya dalam riwayat di sisi Syi’ah Imamiyah. Sangat jauh bedanya menyatakan seseorang sebagai tokoh fiktif tidak diketahui dengan menyatakan bahwa orang tersebut memang ada tetapi tidak diketahui keadilannya dalam periwayatan hadis.

Dan rasanya tidak perlu diingatkan bahwa di sisi mazhab Syi’ah Imamiyah tidak dikenal doktrin keadilan sahabat sebagaimana yang diyakini mazhab Ahlus sunnah maka berdasarkan hal ini bisa dimengerti jika ada ulama Syi’ah yang mensifatkan sebagian sahabat dengan jahalah dalam hal keadilannya dalam periwayatan.

Adapun mengenai Syaikh Aliy Alu Muhsin maka ia tidak menyatakan Bilal majhul. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Aliy Alu Muhsin dalam kitabnya Irsyadus Saa’iliin hal 367-368

Irsyadus Sa'ilin cover

Irsyadus Sa'ilin cover2

Irsyadus Sa'ilin hal 367
Dalam kitabnya tersebut Syaikh Aliy Alu Muhsin merajihkan bahwa kedudukan Bilal bin Rabah yang rajih di sisinya adalah mamduh [terpuji] dan hadisnya hasan bukan majhul sebagaimana yang dinukil nashibi tersebut. Kami tidak tahu darimana asal penukilannya dan kami telah membuktikan bahwa pandangan Syaikh Aliy Alu Muhsin yang shahih adalah apa yang ia katakan dalam kitabnya di atas.

.

.

Sebenarnya penisbatan terhadap Sayyid Al Khu’iy bahwa Bilal bin Rabah majhul di sisinya juga layak dikritisi. Dalam kitab Mu’jam Rijal Al Hadits 4/270-272 no 1894 biografi Bilal bin Rabah tidak ada kata-kata sharih [tegas] bahwa Bilal majhul. Al Khu’iy menyebutkan bahwa ia maula Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] , ikut perang Badar sebagaimana yang disebutkan Syaikh Ath Thuusiy. Kemudian menukil riwayat Al Kasyiy, riwayat Ath Thuusiy dalam Tahdzib Al Ahkam di atas dan riwayat Ash Shaduq yang memuat pujian terhadap Bilal.

Dan begitu pula dalam Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 92, Muhammad Al Jawahiriy [yang merupakan ringkasan dari kitab Mu’jam Sayyid Al Khu’iy] juga tidak memberikan lafaz majhul sebagaimana yang sering diberikan pada perawi-perawi lain.

بلال مولى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: شهد بدرا، وتوفي بدمشق، كنيته أبو عبد الله، وقيل غيرها، وهو بلال بن رباح، من أصحاب رسول الله (ص)، وردت فيه روايات مادحة – روى في الفقيه، عن رسول الله (ص) – طريق الصدوق، إلى خبر بلال، وثواب المؤذنين، بطوله فيه مجاهيل

Bilal maula Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], ikut perang Badar, wafat di Dimasyiq, kuniyah Abu ‘Abdullah, dan ada yang mengatakan selain itu, ia adalah Bilal bin Rabaah termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terdapat riwayat-riwayat yang memujinya, diriwayatkan dalam Al Faqih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], jalan Ash Shaduq hingga kabar Bilal pahala orang yang azan dalam riwayat yang panjang, di dalamnya terdapat para perawi majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 92].

.

Menurut kami pendapat yang rajih mengenai Bilal bin Rabah [radiallahu ‘anhu] di sisi mazhab Syi’ah adalah pendapat ulama Syi’ah yang menyatakan ia tsiqat karena telah ternukil dalam riwayat shahih pujian dari Imam ma’shum [di sisi Syi’ah] dan pujian bahwa ia termasuk ahli surga adalah pujian yang sangat cukup menegaskan keadilannya.

wahabi dan sunni terbiasa mencatut riwayat-riwayat dhaif yang aneh dan ganjil untuk menyebarkan syubhat bahwa mazhab Syiah ternyata malah mencela Imam Ahlul Bait.

Syiah Memuji Aliy bin Abi Thalib Dengan Sebutan Keledai? : Dusta Nashibi

Agak aneh [baca : menjijikkan] melihat bagaimana nashibi berusaha membuat berbagai kedustaan untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Mereka terbiasa mencatut riwayat-riwayat dhaif yang aneh dan ganjil untuk menyebarkan syubhat bahwa mazhab Syiah ternyata malah mencela Imam Ahlul Bait. Berikut salah satu riwayat yang dimaksud

محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، عن محمد بن سنان، عن عمار بن مروان، عن المنخل ابن جميل، عن جابر بن يزيد، عن أبي جعفر عليه السلام قال: يا جابر ألك حمار يسير بك فيبلغ بك من المشرق إلى المغرب في يوم واحد؟ فقلت: جعلت فداك يا أبا جعفر وأني لي هذا؟فقال أبو جعفر عليه السلام: ذاك أمير المؤمنين ألم تسمع قول رسول الله صلى الله عليه وآله في علي عليه السلام: والله لتبلغن الأسباب والله لتركبن السحاب

Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab dari Muhammad bin Sinaan dari ‘Ammar bin Marwaan dari Minkhal bin Jamiil dari Jabir bin Yaziid dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata “wahai Jabir apakah engkau memiliki seekor keledai yang dapat melakukan perjalanan bersamamu dari timur ke barat hanya dalam satu hari?.Maka aku menjawab “aku menjadi tebusanmu wahai Abu Ja’far, dimana aku dapat menemukannya”. Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata “Itu adalah Amirul Mukminin [Aliy bin Abi Thalib], apakah engkau tidak mendengar perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy, Demi Allah akan tiba waktu dan sebabnya, Demi Allah sungguh engkau akan menaiki awan [Al Ikhtishaas Syaikh Mufiid hal 317]

Riwayat di atas disebutkan oleh Al Majlisiy dalam kitabnya Bihar Al Anwar 25/380 dan ia menukil dari Al Ikhtishaas Syaikh Mufid

Bihar Al Anwar juz 25

Bihar Al Anwar juz 25 hal 380
Dengan riwayat ini, nashibi mengatakan bahwa Syiah telah memuji Aliy bin Abi Thalib dengan sebutan keledai [astaghfirullah, semoga Allah menghancurkan kedustaan para nashibi]. Riwayat di atas sanadnya dhaif berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sinaan dan Minkhal bin Jamiil.

Minkhal bin Jamiil seorang yang dhaif, jelek riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 421 no 1127]. Ibnu Ghada’iriy berkata tentangnya dhaif dan mahzab ghuluw [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 89]

قال محمد بن مسعود: سألت علي بن الحسن، عن المنخل بن جميل فقال: هو لا شئ متهم بالغلو

Muhammad bin Mas’ud berkata aku bertanya kepada Aliy bin Hasan tentang Minkhal bin Jamiil, maka ia berkata “ia tidak ada apa-apanya, tertuduh ghuluw” [Rijal Al Kasyiy 2/664 no 686]

Riwayat Al Kasyiy di atas shahih, Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kisyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]. Aliy bin Hasan bin Fadhl gurunya juga seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 156].

Adapun Muhammad bin Sinan berdasarkan pendapat yang rajih kedudukannya dhaif dan kami telah membahas secara khusus tentangnya dalam tulisan yang lalu. Kesimpulannya riwayat yang dijadikan dasar nashibi untuk mencela Syi’ah di atas adalah riwayat yang dhaif.

Ilmu Rijal Syi’ah memiliki perbedaan yang unik dengan Ilmu Rijal Sunni, ada tiga cara untuk menetapkan kedudukan perawi dalam kitab Rijal Syi’ah

Ilmu Rijal Syi’ah : Ikhtilaf Mengenai Muhammad bin Sinan?

Dalam salah satu tulisan sebelumnya kami pernah melemahkan hadis Syi’ah yang di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sinan. Kali ini kami akan membahas lebih rinci mengenai kedudukan sebenarnya Muhammad bin Sinan berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Muhammad bin Sinan adalah perawi yang diperselisihkan kedudukannya dalam ilmu Rijal Syi’ah. Sebagian ulama Syi’ah mendhaifkannya dan sebagian lagi mentautsiq-nya. Pendapat yang rajih adalah ia seorang yang dhaif.

.

.

Ilmu Rijal Syi’ah memiliki perbedaan yang unik dengan Ilmu Rijal Sunni, dalam kitab Rijal Syi’ah terdapat fenomena dimana tautsiq atau jarh seorang perawi berasal dari Imam ahlul bait [yang ma’shum dalam pandangan Syi’ah]. Kemudian jarh dan ta’dil terhadap perawi Syi’ah dari ulama-ulama Syi’ah [dalam kitab Rijal Syi’ah] tidaklah sebanyak jarh dan ta’dil terhadap perawi Sunni dari Ulama-ulama Sunni [dalam kitab Rijal Sunni]. Sehingga dalam mentarjih antara yang mentautsiq dan menjarh [jika terdapat ikhtilaf], tidak terlalu rumit. Secara ringkas ada tiga cara untuk menetapkan kedudukan perawi dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Tautsiq atau Jarh dari Imam Ahlul Bait [jika ada] yang dapat ditemukan dalam riwayat yang sanadnya shahih sampai Imam ma’shum
  2. Tautsiq atau Jarh dari ulama mutaqaddimin
  3. Tautsiq atau Jarh dari ulama muta’akhirin

Tentu saja tautsiq atau jarh dari Imam Ahlul Bait mendapat peringkat paling Utama dalam mentarjih, artinya jika terdapat riwayat shahih dari Imam Ahlul Bait mengenai seorang perawi maka hal ini lebih diutamakan dibanding pendapat para ulama baik mutaqaddimin maupun muta’akhirin.

.

.

Kemudian tentu saja secara sederhana, pendapat ulama mutaqaddimin terhadap seorang perawi lebih diutamakan dibanding pendapat muta’akhirin dengan dasar mereka lebih dahulu masa hidupnya dan lebih mengetahui dibanding orang setelah mereka. Mengenai Muhammad bin Sinan, berikut pernyataan ulama mutaqaddimin tentangnya

وقال أبو العباس أحمد بن محمد بن سعيد أنه روى عن الرضا عليه السلام قال: وله مسائل عنه معروفة، وهو رجل ضعيف جدا لا يعول عليه ولا يلتفت إلى ما تفرد به

Abu ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’iid berkata bahwa ia [Muhammad bin Sinaan] meriwayatkan dari Ar Ridhaa [‘alaihis salaam], ia dikenal memiliki masa’il darinya, ia seorang yang dhaif jiddan, tidak bisa diandalkan dan tidak perlu diperhatikan riwayat yang ia tafarrud dengannya [Rijal An Najasyiy hal 328 no 888]

An Najasyiy sendiri dalam biografi Miyaah Al Mada’iniy menyatakan bahwa Muhammad bin Sinan dhaif [Rijal An Najasyiy hal 424-425 no 1140]. Ibnu Ghada’iriy berkata tentangnya dhaif ghuluw dan pemalsu hadis [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 92]

قال محمد بن مسعود، قال عبد الله بن حمدويه: سمعت الفضل بن شاذان، يقول: لا أستحل أن أروي أحاديث محمد بن سنان، وذكر الفضل في بعض كتبه: أن من الكاذبين المشهورين ابن سنان وليس بعبد الله

Muhammad bin Mas’uud berkata Abdullah bin Hamdawaih berkata aku mendengar Fadhl bin Syadzaan mengatakan aku tidak mengizinkan meriwayatkan hadis Muhammad bin Sinan, dan Fadhl menyebutkan dalam sebagian kitabnya “bahwa yang termasuk orang-orang yang dikenal pendusta yaitu Ibnu Sinan dan bukanlah yang dimaksud Abdullah [Rijal Al Kasyiy 2/796 no 978]

Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944] dan Abdullah bin Hamdawaih disebutkan bahwa ia tsiqat [Fa’iq Al Maqal Fi Hadits Ar Rijal hal 124 no 575]

Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Rijal-nya menyatakan bahwa Muhammad bin Sinan dhaif [Rijal Ath Thuusiy hal 364] dan ia pernah berkomentar dalam kitabnya Tahdzib Al Ahkam

ما في هذا الخبر انه لم يروه غير محمد بن سنان عن المفضل بن عمر، ومحمد بن سنان مطعون عليه ضعيف جدا،

Adapun khabar ini bahwa ia tidak diriwayatkan selain dari Muhammad bin Sinan dari Mufadhdhal bin ‘Umar dan Muhammad bin Sinan tercela atasnya dhaif jiddan [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 7/361]

Diantara ulama yang mentautsiq Muhammad bin Sinan adalah Syaikh Al Mufiid dalam kitabnya Al Irsyad dimana ia berkata

فصل فممن روى النص على الرضا علي بن موسى عليهما السلام بالإمامة من أبيه والإشارة إليه منه بذلك، من خاصته وثقاته وأهل الورع والعلم والفقه من شيعته: داود بن كثير الرقي، ومحمد بن إسحاق بن عمار، وعلي ابن يقطين، ونعيم القابوسي، والحسين بن المختار، وزياد بن مروان، والمخزومي، وداود بن سليمان، ونصر بن قابوس، وداود بن زربي، ويزيد ابن سليط، ومحمد بن سنان

Pasal : yang termasuk orang yang meriwayatkan nash atas Ar Ridha Aliy bin Muusa [‘alaihis salaam] tentang Imamah dari ayahnya dan isyarat tentangnya dari golongan khususnya dan tsiqat, ahlul wara’, alim dan faqih dari Syi’ah-nya adalah Dawud bin Katsir Ar Raaqiy, Muhammad bin Ishaq bin ‘Ammar, Ali bin Yaqthiin, Nu’aim Al Qaabuus, Husain bin Mukhtaar, Ziyaad bin Marwaan, Al Makhzuumiy, Dawud bin Sulaiman, Nashr bin Qaabuus, Dawud bin Zarbiy, Yaziid bin Sulaith dan Muhammad bin Sinan [Al Irsyad Syaikh Mufiid 2/247-248]

Tetapi Syaikh Al Mufiid mengalami tanaqudh [pertentangan] dalam perkara ini karena didalam kitabnya yang lain, ia malah menegaskan kedhaifan Muhammad bin Sinan. Syaikh Al Mufid dalam Jawabat Ahl Al Mawshul berkomentar mengenai suatu riwayat

غير معتمد عليه، طريقه محمد بن سنان، وهو مطعون فيه، لا تختلف العصابة في تهمته وضعفه، وما كان هذا سبيله لم يعمل عليه في الدين

Tidak dapat dijadikan pegangan atasnya, di dalamnya ada Muhammad bin Sinan dan ia tercela atasnya, tidak berselisih ashaabah mengenai tuduhan dan pendhaifan terhadapnya, dan yang menjadi jalannya disini adalah tidak beramal dengannya dalam agama [Jawabat Ahl Al Mawshul Syaikh Al Mufiid hal 20]

.

.

.

Sebagian ulama muta’akhirin menguatkan taustiq terhadap Muhammad bin Sinan karena ditemukan riwayat-riwayat dari Imam Ahlul Bait yang memuji Muhammad bin Sinan. Tetapi sebagian ulama mut’aakhirin yang lain menilai bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak shahih atau tidak kuat sebagai tautsiq terhadap Muhammad bin Sinan. Riwayat-riwayat Imam Ahlul Bait yang memuji Muhammad bin Sinaan terbagi menjadi dua

  1. Riwayat yang di dalamnya sanadnya terdapat Muhammad bin Sinaan, artinya riwayat tersebut berasal darinya sendiri
  2. Riwayat yang di dalam sanadnya tidak terdapat Muhammad bin Sinaan

Mengenai riwayat pertama maka ia tidak dapat dijadikan hujjah disini karena riwayat tersebut berasal dari Muhammad bin Sinaan sendiri padahal justru kedudukan Muhammad bin Sinaan yang sedang dibahas dhaif tidaknya. Maka pembahasan selanjutnya hanya difokuskan pada riwayat jenis kedua. Ada tiga riwayat yang menunjukkan tautsiq Imam ma’shum kepada Muhammad bin Sinaan

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد بن عبد الله، قال: حدثني أبو جعفر أحمد بن محمد بن عيسى، عن رجل، عن علي بن الحسين بن داود القمي قال: سمعت أبا جعفر الثاني عليه السلام يذكر صفوان بن يحيى ومحمد بن سنان بخير

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan keadaku Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari seorang laki-laki dari Aliy bin Husain bin Dawud Al Qummiy yang berkata aku mendengar Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salaam] menyebutkan Shafwan bin Yahya dan Muhammad bin Sinan dengan kebaikan…[Rijal Al Kasyiy 2/792 no 962]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang majhul karena tidak disebutkan namanya.

عن أبي طالب عبد الله بن الصلت القمي، قال: دخلت على أبي جعفر الثاني عليه السلام في آخر عمره فسمعته يقول: جزى الله صفوان بن يحيى ومحمد ابن سنان وزكريا بن آدم عني خيرا فقد وفوا لي ولم يذكر سعد بن سعد

Dari ‘Abi Thalib ‘Abdullah bin Ash Shalth Al Qummiy yang berkata “aku masuk menemui Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salaam] pada akhir umurnya, aku mendengar ia mengatakan semoga Allah SWT membalas Shafwan bin Yahya, Muhammad bin Sinaan, Zakariya bin Adam dariku dengan kebaikan, sungguh mereka telah setia kepadaku. Beliau tidak menyebutkan Sa’d bin Sa’d…[Rijal Al Kasyiy 2/792 no 963]

Abu Thalib ‘Abdullah bin As Shalt Al Qummiy termasuk perawi yang tsiqat meriwayatkan dari Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 217 no 564]. Hanya saja zhahir riwayat Al Kasyiy hanya menyebutkan sanadnya dari Abu Thalib ‘Abdullah bin As Shalt Al Qummiy maka riwayatnya dhaif karena mursal. Al Kasyiy tidak bertemu dengan ‘Abdullah bin As Shalt.

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد، عن أحمد بن هلال، عن محمد بن إسماعيل بن بزيع، أن أبا جعفر عليه السلام كان لعن صفوان بن يحيى ومحمد بن سنان، فقال: انهما خالفا أمري، قال، فلما كان من قابل، قال أبو جعفر عليه السلام لمحمد بن سهل البحراني: تول صفوان بن يحيى ومحمد بن سنان فقد رضيت عنهما

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d dari Ahmad bin Hilaal dari Muhammad bin Ismaiil bin Bazi’ bahwa Abu Ja’far [‘alaihis salaam] melaknat Shafwan bin Yahya dan Muhammad bin Sinaan. Maka Beliau berkata “keduanya telah menyelisihi perintahku”. [Perawi] berkata namun pada kali berikutnya, Abu Ja’far [‘alaihis salam] berkata kepada Muhammad bin Sahl Al Bahraniy “setialah dengan Shafwan bin Yahya dan Muhammad bin Sinaan, sungguh aku telah meridhai keduanya [Rijal Al Kasyiy 2/793 no 964]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena Ahmad bin Hilaal Al Arbata’iy. Ia seorang yang diperselisihkan tetapi yang rajih kedudukannya dhaif jika tafarrud.

أحمد بن هلال أبو جعفر العبرتائي صالح الرواية، يعرف منها وينكر، وقد روى فيه ذموم من سيدنا أبى محمد العسكري عليه السلام

Ahmad bin Hilaal Abu Ja’far Al ‘Abarta’iy shalih riwayatnya, dikenal darinya dan diingkari. Dan sungguh telah diriwayatkan tentangnya celaan dari Sayyid kami Abu Muhammad Al Askariy [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 83 no 199].

أحمد بن هلال العبرتائي أبو جعفر أرى التوقف في حديثه إلا في ما يرويه عن الحسن بن محبوب من كتاب “المشيخة” ومحمد بن أبي عمير من “نوادره” وقد سمع هذين الكتابين جلة أصحاب الحديث واعتمدوه فيهما

Ahmad bin Hilaal Al ‘Abarta’iy Abu Ja’far, aku berpandangan tawaqquf [berhenti] pada hadisnya kecuali apa yang diriwayatkannya dari Hasan bin Mahbuub dari kitab Al Masyaikh-nya dan Muhammad bin Abi Umair dari Nawadir-nya, dan sungguh telah mendengar dari dua kitab ini ashabul hadis yang Mulia dan berpegang dengannya dalam keduanya [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 111-112]

Syaikh Ath Thuusiy menyatakan Ahmad bin Hilaal dhaif dalam kitabnya Al Istibshaar, dimana ia berkomentar mengenai salah satu riwayat

فهذا الخبر ضعيف جدا لان راويه أحمد بن هلال وهو ضعيف جدا

Maka kabar ini dhaif jiddan karena dalam riwayatnya ada Ahmad bin Hilaal dan ia seorang yang dhaif jiddan [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 3/351]

Syaikh Ash Shaduuq dalam kitabnya Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah berkomentar mengenai salah satu riwayat yang didalamnya ada Ahmad bin Hilaal

أن راوي هذا الخبر أحمد بن هلال وهو مجروح عند مشايخنا رضي الله عنهم

Bahwa yang meriwayatkan kabar ini adalah Ahmad bin Hilaal dan ia majruh [tercela] di sisi guru-guru kami [radiallahu ‘anhum] [Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah hal 76]

حدثنا شيخنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال: سمعت سعد بن عبد الله يقول: ما رأينا ولا سمعنا بمتشيع رجع عن التشيع إلى النصب إلا أحمد بن هلال، وكانوا يقولون: إن ما تفرد بروايته أحمد بن هلال فلا يجوز استعماله

Telah menceritakan kepada kami guru kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata aku mendengar Sa’d bin ‘Abdullah yang mengatakan “kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar orang yang bertasyayyu’ yang ruju’ dari tasyayyu’ kepada nashibi kecuali Ahmad bin Hilaal, dan mereka mengatakan apa yang diriwayatkan Ahmad bin Hilaal secara tafarrud [menyendiri] maka tidak boleh beramal dengannya [Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah hal 76]

Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid adalah guru syaikh Shaduq dan dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042] dan Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]. Maka riwayat dimana Abu Ja’far [‘alaihis salaam] meridhai Muhammad bin Sinan kedudukannya dhaif karena Ahmad bin Hilaal meriwayatkan secara tafarrud tanpa ada yang menguatkannya.

.

.

.

Diantara ulama muta’akhirin yang mendhaifkan Muhammad bin Sinaan adalah Allamah Al Hilliy, Ibnu Dawud, Al Jaza’iriy, Al Bahbuudiy, Muhaqqiq Al Hilliy, Syahid Tsaaniy, Muhaqqiq Al Ardabiliy, As Sabzawariy dan yang lainnya [Ad Dhu’afa Min Rijal Al Hadits 3/193-194, Syaikh Husain As Saa’idiy].

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa

  1. Jama’ah ulama mutaqaddimin mendhaifkan Muhammad bin Sinaan
  2. Riwayat Imam Ahlul Bait yang mentautsiq Muhammad bin Sinaan kedudukannya dhaif
  3. Sebagian ulama muta’akhirin mendhaifkan Muhammad bin Sinaan

Maka pendapat yang rajih adalah mereka yang mendhaifkan Muhammad bin Sinan sedangkan sebagian ulama muta’akhirin yang menguatkan Muhammad bin Sinaan telah keliru.

perselisihan yang terjadi di kalangan ulama Syi’ah dalam menetapkan pendapat , maka ambil yang lebih rajih.

Ilmu Rijal Syi’ah : Ikhtilaf Mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah?

Tulisan ini kami buat sebagai pertanggungjawaban secara ilmiah dalam salah satu tulisan mengenai hadis Syi’ah yang di dalam sanadnya terdapat Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy. Dalam tulisan tersebut kami menampilkan secara ringkas ikhtilaf mengenai perawi ini dan menetapkan kedudukan yang rajih menurut pendapat kami. Kali ini kami akan membahas dengan lebih terperinci untuk menguatkan apa yang pernah kami katakan sebelumnya tentang Aliy bin Muhammad bin Qutaibah di sisi Syi’ah. Terjadi perselisihan di kalangan ulama Syi’ah muta’akhirin dalam menetapkan kedudukan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy.

.

.

Sebagian ulama Syi’ah menyatakan ia majhul hal atau tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya seperti Sayyid Al Khu’iy, Muhammad Al Jawahiriy, Sayyid Muhammad bin Aliy Al Musawiy [shahib Madarik Al Ahkam], dan Muhammad bin Aliy Al Ardabiliy

علي بن محمد القتيبي هو علي بن محمد بن قتيبة المجهول

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy, ia adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijalul Hadiits hal 413, Muhammad Al Jawahiriy]

والى الفضل بن شاذان فيه عبد الواحد بن عبدوس النيشابوري العطار رضي الله عنه وهو غير مذكور وعلي بن محمد بن قتيبة ولم يصرح بالتوثيق

Dan jalan kepada Fadhl bin Syadzaan di dalamnya ada ‘Abdul Waahid bin ‘Abduus An Naisaburiy Al ‘Aththaar [radiallahu ‘anhu] dan ia tidak disebutkan tentangnya, Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, tidak ada tautsiq yang jelas padanya [Jami’ Ar Ruwaat 2/539, Muhammad bin Aliy Al Ardabiliy].

.

.

Sebagian ulama Syi’ah menyatakan ia tsiqat atau minimal hadisnya hasan, diantara yang berpandangan demikian adalah Syaikh Muslim Ad Dawuriy, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy, Syaikh Muhammad Al Mahaayiy dan yang lainnya

وعده العلامة وغيره في المعتمدين فظهر ضعف قول من ضعفه، وقصور قول الوجيزة والبلغة أنه ممدوح، و قوة من قال: إنه ثقة، مثل الشيخ الأمين الكاظمي في المشتركات والفاضل الجزائري; كما حكاه المامقاني واستقربه

Dimasukkan oleh Allamah dan selainnya dalam golongan orang-orang mu’tamad maka nampak lemahlah pendapat yang mendhaifkannya dan kurang kuat pendapat dalam Al Wajizah dan Balaghah bahwa ia mamduh [terpuji], dan kuatlah yang mengatakan bahwa ia tsiqat seperti Syaikh Amin Al Kaazhimiy dalam Al Musytarakaat dan Fadhl Al Jazaa’iriy sebagaimana diceritakan oleh Al Mamaqaniy [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/466 no 10468]

وأما علي بن محمد بن قتيبة فقد تقدم أنهثقة على الأقوى

Dan adapun Aliy bin Muhammad bin Qutaibah maka pada pembahasan sebelumnya ia adalah seorang yang tsiqat berdasarkan pendapat yang paling kuat [Al Iidhah Ad Dala’il Fii Syarh Al Wasa’il, Syaikh Muslim Ad Dawuuriy 1/542]

.

Untuk menilai pendapat yang rajih maka yang harus dilihat adalah apa dasar setiap masing-masing ulama dan menilai secara ilmiah mana dasar atau hujjah yang paling kuat. Setiap ulama syi’ah muta’akhirin selalu merujuk pendapatnya pada pandangan ulama mutaqaddimin. Dalam hal ini hujjah kedudukan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah terletak pada apa yang dikatakan ulama mutaqaddimin tentangnya

.

.
Perkataan An Najasyiy

علي بن محمد بن قتيبة النيشابوري (النيسابوري) – عليه اعتمد أبو عمر والكشي في كتاب الرجال

Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy, Abu ‘Amru Al Kissyiy telah berpegang dengannya dalam kitab Rijal [Rijal An Najasyiy hal 259 no 678]

Perkataan An Najasyiy ini dianggap sebagian ulama sebagai bentuk tautsiq karena Abu ‘Amru Al Kissyiy telah berpegang dengan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitab Rijal.

Hal ini telah dijawab oleh Sayyid Al Khu’iy dimana ia mengutip perkataan An Najasyiy pula dalam biografi Abu ‘Amru Al Kasyiy

محمد بن عمر بن عبد العزيز الكشي أبو عمرو، كان ثقة، عينا، وروى عن الضعفاء كثيرا

Muhammad bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz Al Kasyiy Abu ‘Amru ia tsiqat ‘ayn banyak meriwayatkan dari para perawi dhaif [Rijal An Najasyiy hal 372 no 1018]

Yang dimaksud dengan perkataan An Najasyiy bahwa Al Kasyiy telah berpegang dengan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah maksudnya adalah Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya dalam kitab Rijal-nya. Hal ini disebabkan dalam kitab Rijal Al Kasyiy tidak ditemukan pernyataan Al Kasyiy yang mentautsiq Aliy bin Muhammad bin Qutaibah. Jadi maksud berpegang dengannya disana adalah banyak meriwayatkan. Seperti apa yang dikatakan Najasyiy dalam biografi berikut

محمد بن أحمد بن يحيى بن عمران بن عبد الله بن سعد بن مالك الأشعري القمي أبو جعفر، كان ثقة في الحديث. إلا أن أصحابنا قالوا: كان يروي عن الضعفاء ويعتمد المراسيل

Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin ‘Imraan bin ‘Abdullah bin Sa’d bin Malik Al Asy’ariy Al Qummiy Abu Ja’far, ia tsiqat dalam hadis hanya saja sahabat kami mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat-riwayat mursal [Rijal An Najasyiy hal 348 no 939]

Maksud berpegang dengan riwayat mursal tidak lain adalah ia banyak meriwayatkan dengan riwayat mursal. Ada yang mengatakan bahwa “berpegang dengannya” berbeda dengan “meriwayatkan darinya” maka dikatakan bahwa walaupun Al Kasyiy banyak meriwayatkan dari perawi dhaif maka bukan berarti ia berpegang dengan mereka sebagaimana diketahui bahwa berpegang dengannya berbeda dengan periwayatan.

Kami jawab An Najasyiy mengatakan dengan lafaz “Al Kasyiy berpegang dengannya dalam kitab Rijal” maka untuk memahami yang dimaksud dengan lafaz “berpegang dengannya” harus merujuk pada kitab Rijal Al Kasyiy. Dan dalam kitab tersebut tidak ada keterangan bahwa Al Kasyiy menshahihkan, menguatkan atau mentautsiq Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, yang ada adalah Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya. Maka maksud berpegang dengannya yang dimaksud An Najasyiy adalah “banyak meriwayatkan”.

Yang tidak dapat dimengerti secara ilmiah adalah anggapan sebagian ulama Syi’ah seolah-olah bahwa banyaknya periwayatan seorang perawi menunjukkan tautsiq terhadap perawi tersebut. Periwayatan bisa dianggap tautsiq jika perawi tersebut dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Hal ini bisa diketahui dari kesaksian perawi itu sendiri atau penelitian oleh ulama lain. Contohnya jika dalam ilmu rijal ahlus sunnah adalah Syu’bah yang dikenal hanya meriwayatkan dari perawi yang tsiqat dalam pandangannya atau Abu Zur’ah, Baqiy bin Makhlad dan yang lainnya. Atau Yahya bin Abi Katsir yang dikatakan Abu Hatim “ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqat”. Adapun dalam ilmu rijal Syi’ah contohnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Abi Umair dikatakan sebagian ulama Syi’ah bahwa ia hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Maka periwayatan mereka terhadap seorang perawi bisa dianggap sebagai tautsiq. An Najasyiy yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa semua gurunya tsiqat.

Dari biografi Al Kasyiy sebagaimana dijelaskan oleh An Najasyiy maka An Najasyiy mensifatkan Al Kasyiy sebagai ulama yang banyak meriwayatkan dari perawi dhaif artinya ia bukan dikenal sebagai ulama yang hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Maka bagaimana bisa periwayatan Al Kasyiy dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah menjadi tautsiq terhadapnya. Tidak peduli seberapa banyaknya Al Kasyiy meriwayatkan dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tetap itu tidak menjadi tautsiq terhadapnya.

.

Kita dapat menyederhanakan kasusnya dengan bahasa yang mudah dimengerti orang awam. Misalkan ada seseorang yang memiliki 2 orang guru, guru yang satu ilmunya banyak sehingga orang tersebut banyak mengambil ilmu darinya [maka ia banyak meriwayatkan dari gurunya yang ini] sedangkan guru yang satunya ilmunya sedikit jadi ilmu yang diambil juga sedikit [maka riwayat dari gurunya yang ini tidak banyak]. Kemudian pertanyaannya apakah bisa dikatakan orang tersebut hanya berpegang pada guru yang ilmunya banyak dan tidak berpegang dengan guru yang ilmunya sedikit, hanya dengan melihat bahwa ia punya banyak riwayat dari guru yang banyak ilmunya?. Sama saja bukan, orang tersebut berpegang pada kedua gurunya hanya saja bedanya guru yang satu ilmunya banyak sehingga riwayat darinya banyak pula dan guru yang satu ilmunya sedikit sehingga riwayat darinya sedikit.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kedua gurunya itu tsiqat?. Hal ini tidak bisa diketahui kecuali orang tersebut mengatakan dengan jelas bahwa “kedua guruku adalah tsiqat” atau ia menyatakan “guruku yang ini tsiqat dan guruku yang ini dhaif” atau “aku hanya meriwayatkan dari guru yang tsiqat”. Selagi tidak ada penjelasan darinya maka kita hanya bisa berprasangka dan prasangka tidak menjadi hujjah. Dan seandainya ada yang berkata “orang tersebut sering berguru pada guru yang dhaif” maka tidak akan bedanya antara guru yang banyak ia ambil ilmunya dengan guru yang sedikit ia ambil ilmunya, toh keduanya adalah gurunya dan kemungkinan dhaif itu bisa mencakup kedua gurunya atau salah satunya.

Tentu saja kita tidak sedang menyatakan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dhaif, kita hanya mengatakan bahwa hujjah sebagian ulama Syi’ah dengan banyaknya periwayatan Al Kasyiy dari Ali bin Muhammad bin Qutaibah menunjukkan tautsiq terhadapnya adalah keliru. Secara kritis kita dapat bertanya harus berapa banyak periwayatan sehingga menjadi tautsiq? Dan apa bedanya dengan satu atau beberapa periwayatan?. Jawabannya hanya sekedar zhan atau dugaan.

Kesimpulannya adalah perkataan An Najasyiy bahwa Al Kasyiy berpegang pada Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitab Rijal-nya tidak dapat dijadikan landasan tautsiq bagi Aliy bin Muhammad bin Qutaibah.

Ada tambahan hujjah dari ulama yang menyatakan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tsiqat, yaitu disebutkan dalam Qamuus Ar Rijal

يمكن استفادة وثاقته من قول الكشي في إبراهيم بن عبده: «حكى بعض الثقات بنيسابور الحديث»، وفي العلل روى التوقيع عن علي بن محمد بن قتيبة. فهو المعني به في كلام الكشي

Dapat dijadikan kajian pentsiqatannya dari perkataan Al Kasyiy tentang Ibrahim bin ‘Abdah “dihikayatkan oleh sebagian orang-orang tsiqat di Naisabur al hadits” dan dalam Al Ilal ternyata diriwayatkan dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, maka ialah yang dimaksud dalam perkataan Al Kasyiy [Qamuus Ar Rijal, Muhammad Taqiy At Tusturiy 7/151]

Pernyataan di atas ma’lul [cacat], perkataan Al Kasyiy tersebut dapat ditemukan dalam kitab Rijal-nya 2/844 dan sanad yang dimaksud dalam kitab Al Ilal Ash Shaduq adalah sebagai berikut

حدثنا علي بن أحمد رحمه الله: قال حدثنا محمد بن يعقوب عن علي بن محمد عن إسحاق بن إسماعيل النيسابوري

Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ya’quub dari Aliy bin Muhammad dari Ishaq bin Ismail An Naisaburiy…[Al Ilal Asy Syarai’ Syaikh Ash Shaduq 1/249]

Dalam sanad di atas tidak ada penyebutan bahwa Aliy bin Muhammad yang dimaksud adalah Al Qutaibiy, Muhammad bin Ya’qub yang meriwayatkan dari Aliy bin Muhammad di atas adalah Al Kulainiy dan salah satu diantara guru Al Kulainiy yang bernama Aliy bin Muhammad adalah Aliy bin Muhammad bin Bundaar.

علي بن محمد من مشايخ الكليني وقد أكثر الرواية عنه في الكافي في جميع أجزائه وأطلق. ومن ثم قد يقال بجهالته. ولكن الظاهر أنه علي بن محمد بن بندار الذي روى عنه كثيرا

Aliy bin Muhammad termasuk guru Al Kulainiy dan ia banyak meriwayatkan darinya dalam Al Kafiy dalam semua bagiannya, kemudian sungguh ada yang mengatakan bahwa ia tidak dikenal tetapi zhahirnya ia adalah Aliy bin Muhammad bin Bundaar yang Al Kulainiy banyak meriwayatkan darinya [Kulliyat Fi Ilm Rijal, Syaikh Ja’far Syubhaniy hal 455]

Maka hujjah penulis Qamuus Ar Rijal cacat sampai bisa dibuktikan bahwa Aliy bin Muhammad yang dimaksud dalam riwayat Ash Shaduq tersebut adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah.

.

.

.
Perkataan Syaikh Ath Thuusiy

علي بن محمد القتيبي، تلميذ الفضل بن شاذان، نيسابوري، فاضل

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy, murid Fadhl bin Syaadzaan, penduduk Naisabur, fadhl [Rijal Ath Thuusiy hal 429]

Sangat baik sekali jika ditemukan penjelasan dari Syaikh Ath Thuusiy sendiri mengenai lafaz “fadhl” yang ia gunakan tetapi tidak ditemukan keterangan demikian dalam kitabnya. Sehingga para ulama kemudian berselisih dalam memahami perkataan tersebut.

Perselisihan di kalangan ulama muta’akhirin terhadap perkataan Ath Thuusiy adalah dalam memahami lafaz fadhl. Sayyid Al Khu’iy berpandangan bahwa lafaz fadhl tidak menunjukkan tautsiq dalam kualitasnya sebagai perawi hadis. Pernyataan ini bahkan dibenarkan oleh mereka yang membantah Sayyid Al Khu’iy.

وأما قول الشيخ: فاضل، فكذلك لا يدل على التوثيق، نعم هو مدح فيكونحسنا

Adapun perkataan Syaikh “fadhl” maka darinya tidak dapat dijadikan dasar tautsiq, benar itu pujian maka menjadi hasan [Al Iidhah Ad Dala’il Fii Syarh Al Wasa’il, Syaikh Muslim Ad Dawuuriy 1/248]

Syahid Ats Tsaniy berkata dalam salah satu kitabnya mengenai lafaz “fadhl”

وأما الفاضل.، فظاهر عمومه.، لان مرجع الفضل إلى العلم.، وهو يجامع الضعف بكثرة

Dan adapun “fadhl” maka zhahirnya itu lafaz yang umum, merujuk “fadhl” kepada ilmu, dan lafaz itu sering digabungkan dengan lafaz yang mengandung kelemahan [Ar Ri’ayah Fi Ilm Dirayat hal 207, Syahid Ats Tsaniy]

Contoh dari apa yang dikatakan Syahid Ats Tsaniy bahwa lafaz “fadhl” sering digabungkan dengan lafaz yang mengandung kelemahan telah disebutkan An Najasyiy dalam biografi berikut

محمد بن جعفر بن أحمد بن بطة المؤدب، أبو جعفر القمي، كان كبير المنزلة بقم، كثير الأدب والفضلوالعلم (العلم والفضل)، يتساهل في الحديث، ويعلق الأسانيد بالإجازات، وفي فهرست ما رواه غلط كثيروقال ابن الوليد: كان محمد بن جعفر بن بطة ضعيفا مخلطا فيما يسنده

Muhammad bin Ja’far bin Ahmad bin Bathah Al Mu’addib Abu Ja’far Al Qummiy, ia besar kedudukannya di Qum, banyak meriwayatkan Sya’ir, memiliki keutamaan dan ilmu, tasahul dalam hadis, ia memutuskan sanad-sanad dengan ijazah dan dalam Al Fahrasat apa yang diriwayatkannya banyak mengandung kekeliruan. Ibnu Walid berkata “Muhammad bin Ja’far bin Bathah dhaif sering tercampur dalam sanadnya [Rijal An Najasyiy hal 372-373 no 1019]

Satu hal yang pasti adalah lafaz “fadhl” tidak menyatakan tautsiq di sisi ilmu Rijal Syi’ah maka kelirulah yang beranggapan bahwa Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tsiqat. Karena dari perkataan Syaikh Ath Thuusiy tidak bisa ditetapkan lafaz tsiqat.

Lafaz “fadhl” memang lafaz pujian maka dikatakan oleh sebagian ulama Syi’ah bahwa hadisnya hasan. Disinilah timbul perselisihan lain. Pengertian hadis hasan di sisi Ilmu Hadis Syi’ah adalah

الحسن: وهو على ما ذكروه ما اتصل سنده الى المعصوم (عليه السلام) بإمامي ممدوح مدحاً مقبولاً معتداً به غير معارض بذم من غير نص على عدالته مع تحقق ذلك في جميع مراتب رواة طريقه أو في بعضها بان كان فيهم واحد أمامي ممدوح غير موثق مع كون الباقي من الطريق من رجال الصحيح

Hadis hasan adalah apa yang disebutkan secara muttashil sanadnya sampai imam ma’shum [‘alaihis salaam] oleh perawi Imamiyah yang terpuji dengan pujian yang maqbul dan dapat dijadikan pegangan, tidak ada celaan yang menentangnya, tanpa disertai nash [dalil] tentang keadilannya, yang ditetapkan pada semua perawi dalam jalan tersebut atau sebagiannya yang mana di dalamnya terdapat satu perawi Imamiyah yang terpuji bukan muwatstsaq dan perawi sisanya dalam jalan tersebut adalah perawi shahih [Miqbas Al Hidayah Fii Ilm Ad Diraayah 1/145, Abdullah Mamaqaniy]

Perselisihan terletak pada lafaz mamduuh maqbul mu’taddu bihi yang artinya “pujian yang maqbul yang diakui atau yang dianggap atau dapat dijadikan pegangan”. Mereka yang menerima Aliy bin Muhammad bin Qutaibah menerima lafaz “fadhl” sebagai pujian yang bisa dijadikan pegangan tetapi mereka yang menyatakan majhul menyatakan bahwa “fadhl” adalah pujian yang tidak bisa dijadikan pegangan. Hal ini yang diisyaratkan oleh Sayyid Muhammad bin Aliy Al Musawiy penulis Madaarik Al Ahkam

لكن في طريق هذه الرواية علي بن محمد بن قتيبة، وهو غير موثق بل ولا ممدوح مدحا يعتد به

Tetapi dalam jalan riwayat ini ada Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, ia tidak ditsiqatkan bahkan tidaklah ia dipuji dengan pujian yang dapat dijadikan pegangan [Madaarik Al Ahkam 6/84]

Kami menimbang dan menganalisis perkara ini dengan hati-hati, kami sependapat bahwa lafaz “fadhl” yang artinya memiliki keutamaan adalah lafaz yang bersifat umum. Sehingga memutlakkannya bahwa lafaz itu kembali kepada ilmu tidak selalu benar karena banyak contohnya dalam kitab Rijal Najasyiy bahwa lafaz “fadhl” beriringan dengan lafaz “ilmu” dan lafaz selain “ilmu”. Kalau memang mutlak kembali kepada ilmu maka apa feadahnya disebutkan beriringan.

عمرو بن دينار المكي، أحد أئمة التابعين، وكان فاضلا عالما

Amru bin Diinar Al Makkiy, salah seorang imam tabiin, ia seorang yang fadhl alim [Rijal Ath Thuusiy hal 131]

Mungkin lebih tepat untuk dinyatakan jika lafaz tersebut beriringan dengan lafaz ilmu atau alim maka fadhl berarti menegaskan keutamaannya dari sisi ilmu. Ada contoh lain dimana lafaz fadhl beriringan dengan lafaz lain selain ilmu

أحمد بن محمد بن عيسى القسري، يكنى أبا الحسن، روى عن أبي جعفر محمد بن العلا بشيراز – وكان أديبا فاضلا

Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qasariy, kuniyah Abu Hasan, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad bin A’la di Syiiraz, ia seorang ahli sastra [penyair] yang fadhl [Rijal Ath Thuusiy hal 413]

علي بن إسماعيل الدهقان، زاهد خير فاضل، من أصحاب العياشي

Aliy bin Ismaiil Ad Dahqaan, orang yang zuhud, khair, fadhl, termasuk sahabat ‘Ayasyiy [Rijal Ath Thuusiy hal 429]

Bagi kami lafaz “fadhl” memiliki banyak kemungkinan dalam arti belum jelas keutamaan yang dimaksud dalam hal apa. Apakah dalam hal keshalehannya, ilmunya, jabatannya, kemasyhurannya, nasabnya dan sebagainya?. Banyak ternukil dalam kitab Rijal Syi’ah sebutan bagi perawi bahwa ia ahli kalam, ahli sastra [penyair], faqih, qadhiy, memiliki kitab yang baik, masyhur di kalangan sahabat kami, dan sebagainya.

عمرو بن جميع، أبو عثمان الأزدي البصري، قاضي الري، ضعيف الحديث

‘Amru bin Jami’ Abu ‘Utsman Al Azdiy Al Bashriy, Qadhiy di Ray, dhaif dalam hadis [Rijal Ath Thuusiy hal 251]

Dan sebutan-sebutan ini tentu termasuk keutamaan bagi mereka tetapi nyatanya terkadang beriringan dengan lafaz yang mengandung kedhaifan dalam hadis. Kemudian tentu tidak sama kualitasnya antara lafaz seorang perawi sebagai “faqih alim fadhl” dengan lafaz seorang perawi “fadhl”. Lafaz pertama jelas lebih kuat dan lebih jelas dibanding lafaz kedua. Oleh karena itu perkara menentukan pujian [mamduh] sebagai maqbul atau bisa dijadikan pegangan adalah perkara yang rumit dan sifatnya subjektif antara masing-masing ulama. Mereka yang bertasahul akan mudah menerima setiap pujian sebagai perawi berhadis hasan dan mereka yang kritis tidak mudah menerima setiap pujian sebagai perawi berhadis hasan.

.

.

Kami merajihkan pendapat yang menyatakan ia majhul hal atau tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya karena kami juga melihat bahwa lafaz “fadhl” mengandung banyak kemungkinan sehingga belum jelas menunjukkan keutamaannya dari sisi apa. Sehingga permasalahan disini lafaz “fadhl” adalah lafaz pujian yang mengandung dua kemungkinan

  1. Pujian yang dapat dijadikan pegangan sehingga hadisnya hasan misalnya jika fadhl beriringan dengan lafaz alim, jalil, khair dan sebagainya
  2. Pujian yang tidak dapat dijadikan pegangan untuk menetapkan hadisnya hasan yaitu jika lafaz “fadhl” tersebut tafarrud tanpa beriringan dengan lafaz lain yang menunjukkan keutamaannya. Karena “fadhl” juga mencakup keutamaan yang sifatnya umum misalnya keutamaan jabatan seseorang sebagai qadhiy, statusnya sebagai ahli kalam, ahli sastra atau penyair, keutamaan sebagai sahabat ulama tertentu, keutamaan nasabnya, memiliki banyak kitab, dan sebagainya

Kemungkinan yang satu tidaklah menafikan kemungkinan yang lain, dan pujian “fadhl”  untuk Aliy bin Muhammad bin Qutaibah lebih cenderung kami golongkan pada kelompok kedua yaitu pujian yang tidak dapat dijadikan pegangan. Tentu namanya kemungkinan kami tidak akan berani memastikan, yang terpenting adalah lafaz “fadhl” bersifat umum dan mengandung kemungkinan dapat dijadikan pegangan dan tidak dapat dijadikan pegangan. Sehingga mereka yang memastikan hadisnya hasan harus menunjukkan bukti bahwa lafaz “fadhl” tersebut memang menunjukkan “pujian yang maqbul atau diakui atau dapat dijadikan pegangan”. Selagi tidak ada bukti maka lebih rajih menetapkan tidak ada tautsiq yang jelas terhadapnya.

.

.

Allamah Al Hilliy telah memasukkan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal bagian pertama yang memuat golongan perawi yang dijadikan pegangan hadisnya, ia berkata

علي بن محمد بن قتيبة، ويعرف بالقتيبي النيسابوري، أبو الحسن، تلميذ الفضل بن شاذان، فاضل، عليه اعتمد أبو عمرو الكشي في كتاب الرجال

Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, yang dikenal dengan Qutaibiy, An Naisaburiy, Abu Hasan murid Fadhl bin Syadzan, fadhl, Abu ‘Amru Al Kasyiy telah berpegang dengannya dalam kitab Rijal [Khulashah Al Aqwal hal 177]

Seperti yang nampak secara zhahir, Al Hilliy berpegang pada perkataan An Najasyiy dan Ath Thuusiy maka pembahasannya kembali pada pembahasan di atas. Cukuplah kiranya kami mengutip catatan kaki dari pentahqiq kitab Khulasah Al Aqwaal [Syaikh Jawad Al Qayyumiy]

كلام المصنف هنا دال على اعتماده عليه، كما يؤيده ما ذكره في ترجمة يونس بن عبد الرحمان: ” وروى الكشي حديثا صحيحا عن علي بن محمد القتيبي – الخ “، وهذا الامر اما لما يقال: ان الكشي اعتمد عليه في كتابه وروى عنه كثيرا  كما يومئ عليه اعتماد المصنف هنا -، ويرده ما قال النجاشي في ترجمة الكشي: 372، الرقم: 1018، من أنه روى عن الضعفاء كثيرا واما لأصالة العدالة، ففيه ما مر سابقا واما لحكم الشيخ بأنه فاضل، وهو دال على فضل في نفسه، لاتصافه بالكمالات والعلوم لا مدح فيه بما هو راو، فالرجل غير موثق ولا ممدوح بمدح يعتد به.

Perkataan penulis [Al Hilliy] menunjukkan bahwa ia berpegang dengannya seperti yang disebutkannya dalam biografi Yunus bin Abdurrahman, ia berkata “diriwayatkan oleh Al Kasyiy hadis shahih dari Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy”. Dan perkaranya disini seperti yang dikatakan “Al Kasyiy berpegang padanya dalam kitabnya dengan banyak meriwayatkan darinya”. Hal inilah yang dijadikan pegangan penulis [Al Hilliy] disini, dan dijawab dengannya adalah perkataan Najasyiy dalam biografi Al Kasyiy hal 372 no 1018 bahwa ia banyak meriwayatkan dari perawi dhaif. Adapun perkataan Syaikh bahwasanya ia “fadhl” maka itu adalah keutamaan tentang dirinya disifatkan dengan kesempurnaan dan keilmuan, bukan pujian mengenai statusnya sebagai perawi maka ia termasuk yang tidak ditsiqatkan dan tidak memiliki pujian yang dapat dijadikan pegangan [catatan kaki pentahqiq Khulasah Al Aqwal hal 177]

Nampak sekali bahwa pentahqiq kitab disini hanya mengulang apa yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah. Secara umum kami sependapat dengan Al Khu’iy kecuali pada bagian perincian dimana Sayyid Al Khu’iy menetapkan secara pasti bahwa lafaz “fadhl” itu disifatkan dengan keilmuan. Pembahasannya sudah berlalu di atas walaupun pada akhirnya kesimpulan kami menyepakati apa yang dikatakan Sayyid Al Khui’y dan yang lainnya bahwa Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tidak memiliki lafaz tautsiq yang jelas padanya. Pendapat kami disini tidaklah mewakili mazhab Syi’ah, kami hanya meneliti bagaimana perselisihan yang terjadi di kalangan ulama Syi’ah dan menetapkan pendapat yang menurut kami lebih rajih.