Ketawa Mati Ala Syiah ? MATI KETAWA ALA FATWA SYIAH ?

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka. 

 Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Suatu hari, disebuah masjid kampung, dipingggiran kota, sehabis shalat Ashar berjama’ah, seorang anak muda, yang tampak begitu saleh dengan bekas sujud yang tampak jelas di dahinya dan penampilannya yang sedemikian islami dengan baju koko dan kopiah yang serba putih, mendekati imam masjid yang sudah sedemikian berumur. Keriput diwajah imam masjid itu sedemikian jelas disertai tubuh yang mulai membungkuk. Dia sedang membereskan sajadahnya, memasukkan mic kedalam kotaknya dan menutup lemari yang berisikan deretan kitab Al-Qur’an dan beberapa majalah bulanan Islam. Sementara jama’ah sudah meninggalkan masjid satu-satu dan menyisakan mereka berdua.  

Singkat cerita terjadilah dialog sebagai berikut:

Anak Muda [AM]: Pak ustad, mau tanya. Boleh?

Imam Masjid [IM]: Silahkan nak..

Keduanya kemudian duduk bersilah di sisi mimbar masjid. Pak Imam menyandarkan tubuh tuanya di dinding.

AM: Begini pak, benar di masjid ini akan diadakan peringatan maulid Nabi?

IM: Benar. Memang kenapa, bukannya kamu juga penduduk kampung ini, dan sudah tahu bahwa peringatan maulid di kampung ini telah menjadi tradisi tahunan dan warga kampung menyambutnya dengan gembira?

AM: Iya pak. Tapi bukankah itu amalan bid’ah?

IM: Bid’ah? Maksudnya?

AM: Iya bid’ah. Tidak ada contohnya dalam Islam. Tidak pernah dianjurkan Nabi, dan juga tidak pernah diamalkan para sahabat.

IM: Apa semua yang tidak dianjurkan Nabi dan tidak diamalkan sahabat sudah berarti bid’ah?

AM: Iya. Mengadakan hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya dari Nabi itu semuanya bid’ah, semua yang bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.

IM: Kamu tahu dari mana semua itu nak?

AM: Dari pengajian di kampusku di kota. Saya diajari ustad alumni Arab Saudi.

IM: Terus, apakah mengenakan kopiah dan sarung itu juga bid’ah? mengenakan mic di masjid saat azan itu juga bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi?

AM: Kalau itu termasuk bid’ah dari segi bahasa, dan tidak masalah.

IM: Jadi yang bermasalah, bid’ah dari segi mana?

AM: Bid’ah secara istilah. Yaitu melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dalam syariat. Menggunakan kopiah dan sarung itu, masalah duniawi, bahkan implementasi dari perintah untuk menutup aurat, jadi apa saja yang akan dikenakan itu diserahkan pada ummat.

IM: Bukankah, mengadakan maulid nabi juga dari perintah Nabi untuk mengagungkan, memuliakan dan selalu mengingatnya?

AM: Memang dalam agama kita, kita diperintahkan memuliakan Nabi, tapi ya tentu sesuai dengan tuntunan Nabi. Nabi misalnya telah menganjurkan untuk bershalawat dan mematuhi perintahnya. Sahabat-sahabat sedemikian besarnya cintanya pada Nabi, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang menganjurkan memperingati hari kelahiran Nabi apalagi melakukannya.

IM: Nabi juga tidak pernah meminta kita mendirikan pesantren, tapi mengapa dilakukan?

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Mendirikan pesantren bagian dari perintah Nabi untuk ummat ini menuntut ilmu dan belajar.

IM: Apa Nabi pernah memerintahkan mendirikan pesantren?

AM: Ya tidak pernah.

IM: Apa sahabat-sahabat melakukannya?

AM: Ya tidak. Tapi waktu itu memang tidak begitu penting mendirikan pesantren.

IM: Sekarang mengapa mendirikan pesantren? Apa karena dirasa penting, meskipun itu tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya?

AM: Tapi pak. Mendirikan pesantren itu ada dasarnya. Pertama, adanya perintah untuk menuntut ilmu. Bentuk bagaimana menuntut ilmu itu diserahkan kepada ummat. Mau dipesantren, kajian di masjid, dengar ceramah, nonton program TV Islami, baca buku dan sebagainya, terserah.

Kedua, dimasa Nabipun dilakukan majelis-majelis ilmu, yang sesungguhnya itu adalah cikal bakal berdirinya pesantren. Hanya saja di masa Nabi masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

IM: Bukankah memperingati maulid juga begitu?. Pertama, dasarnya adalah adanya perintah untuk mencintai dan mengagungkan Nabi. Bentuk amalannya diserahkan kepada ummat. Memperingati maulid Nabi adalah perwujudan dari kecintaan dan bentuk pengagungan pada Nabi. Sama halnya perintah mencintai dan menghormati orang tua. Nabi tidak memberi batasan dan pengkhususan mengenai bentuk amalannya. Ada yang mencintai orangtuanya dengan membiayai keduanya naik haji. Ada yang mencintai kedua orangtuanya dengan membangunkan rumah, membayarkan hutang-hutangnya atau dalam bentuk menjadi anak yang saleh dan berbakti. Ada pula yang sampai bertekad menjadi sarjana dengan niat, itu yang menjadi bentuk pengabdian dan kecintaannya pada orangtua. Jadi apa alasannya menghalangi mereka yang hendak mengekspresikan kecintaannya pada Nabi dengan memperingati hari kelahirannya dan bersuka cita didalamnya, sementara Nabi tidak pernah memberi batasan dan pengkhususan bagaimana amalan dari perintah mencintainya?.

Kedua, cikal bakalnya di masa Nabi sudah ada. Sahabat-sahabat sangat mengagungkan apa saja yang berkaitan dengan Nabi. Mereka berebutan untuk mengambil berkah dari sisa air wudhu Nabi. Mereka menyimpan rambut Nabi, mengambil keringat dan peluh Nabi. Mereka mendahulukan Nabi dari diri-diri mereka sendiri. Nah, dimasa kita yang tidak bisa bertemu Nabi, tentu tidak bisa mengagungkan Nabi sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Kalau kita di Madinah, tentu kita akan setiap hari berziarah ke makam Nabi, dan mengambil berkah dengan menyentuh pusaranya. Sayang, kita menetap di tempat yang jauh dari itu. [Mata imam tua itu mulai berkaca-kaca]

Karenanya, cukuplah memperingati kelahiran Nabi dan memuliakan bulan kelahirannya, sebagai bentuk yang paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk meluapkan kecintaan dan kerinduan kepada baginda Nabi. Selain itu, tentu saja dalam keseharian adalah meneladani Nabi. [Tidak tahan, imam masjid itu untuk menyeka matanya yang sembab]

Kalau kita tidak bisa mengambil berkah dari fisik ataupun makam Nabi dan semua tempat bersejarah yang pernah dipijaknya, setidaknya kita mengambil berkah dari waktu-waktu mulia yang pernah dilalui Nabi. Bukankah kita sendiri tetap menganggap istimewa, hari saat kita dilahirkan, hari pertama masuk sekolah, hari saat diwisuda, hari pernikahan, hari lahirnya anak pertama dan sebagainya, dan ketika mengenang semua hari-hari menggembirakan itu kita lantas bersyukur dan bersuka cita atas rahmat Allah. Karena itu kita mengistimewakan hari lahirnya Nabi, saat beliau hijrah, saat isra mi’raj, dengan mengenang, memperingati dan membicarakannya, sebagai bentuk cinta kita pada beliau.

AM: Tapi pak, bagaimanapun itu sama saja menambah-nambahkan syariat dalam agama. Tidak ada contohnya, dan tidak pernah diamalkan. Kalau memang itu penting, pasti Nabi dan sahabatnya pasti yang lebih dulu melakukan dan menyemarakkannya.

IM: Lho, kalau pesantren itu penting. Pasti Nabi dan sahabatnya yang lebih dulu mendirikannya.

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Bukan ibadah.

IM: Bukan ibadah? Maksudnya?

AM: Ya, hanya wasilah untuk lebih mudah menuntut ilmu, dan lebih tersistematis dengan adanya kurikulum. Intinya itu adalah pengamalan dari perintah Nabi untuk menuntut ilmu.

IM: Lho, kalau begitu, maulid adalah juga wasilah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi. Maulid, jalan untuk bisa mengumpulkan warga, sehingga mereka mau mendengarkan ceramah tentang Nabi, mereka jadi tahu akhlak dan keindahan perangai Nabi, mereka jadi tahu sunnah-sunnah Nabi apa saja. Dan dibuat tersistematis, agar ummat bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Setiap Muharram yang diingat, peristiwa hijrahnya Nabi. Setiap Zulhijjah, yang diingat peristiwa haji terakhir Nabi dan lengkapnya syariat Islam. Setiap Rajab yang diingat adalah peristiwa isra mi’raj. Setiap Ramadhan, disaat Nabi menerima wahyu dan turunnya Al Qur’an pertama kali. Setiap Safar bulan wafatnya Nabi dan setiap Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi. Dengan adanya tradisi memperingati semua hal yang penting dari peristiwa yang pernah dialami Nabi tersebut menjadi wasilah bagi para ulama, da’i dan muballigh untuk lebih mudah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada ummat.

Bapak tanya. Pembacaan proklamasi itu kapan? Hari ibu kapan diperingati? Kalau hari Kartini kapan?

AM: Hari proklamasi 17 Agustus. Hari Ibu 22 Desember dan Hari Kartini 21 April.

IM: Kok kamu bisa ingat?

AM: Ya, karena diperingati tiap tahun.

IM: Kalau tidak diperingati secara nasional, bagaimana? Apa kamu masih bisa ingat?

AM: Ya bisa jadi saya lupa. Tapi apa pentingnya mengetahui itu pak?

IM: Ya, apa pentingnya bagimu kamu tahu kapan kamu lahir, tanggal, bulan dan tahunnya?.

AM: [Diam]

IM: Sejarah itu penting nak. Dan adanya peringatan-peringatan itu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri banyak perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa ummat-ummat terdahulu, yang dengan itu kita bisa banyak mengambil ibrah?

AM: Tapi bukankah tanggal kelahiran Nabi itu diperselisihkan ulama pak?

IM: Tapi tidak ada yang menyelisihi bahwa baginda Nabi lahir dibulan Rabiul Awwal, iya kan?. Karena itu, kita juga tidak pernah mempersoalkan kapan acara maulid Nabi diadakan. Apa tepat 12 Rabiul Awal, lebih cepat atau lebih lambat. Ditiap kampung, masjid, kantor dan sekolah, beda-beda hari dimana mereka mengadakan Maulid. Dan itu tidak mesti dipersoalkan. Dan kami juga tidak pernah menyebut mereka yang tidak mau ikut maulidan sebagai orang yang tidak mencintai Nabi. Maulidan itu tidak wajib. Kalau ada yang menyatakan, yang tidak ikut acara maulidan itu berdosa, itu yang bid’ah.

AM: Tidak ada amalan yang kalau itu dianggap baik dan dapat mendekatkan pada Allah kecuali pernah dianjurkan Nabi dan diamalkan para sahabat. Maulid tidak dianjurkan dan tidak diamalkan, artinya tidak dianggap baik oleh Nabi.

IM: Nak, ceramah taraweh itu pernah tidak dilakukan Nabi? Pernah diamalkan sahabat?

AM: Setahu saya tidak.

IM: Lantas mengapa umat Islam saat ini menggalakkannya?. Di masjid-mesjid dibuatkan jadwal ceramah taraweh, ditentukan penceramahnya, temanya apa dan seterusnya. Kalau itu baik, pasti Nabi dan para sahabat yang lebih dulu mengamalkannya.

AM: Ya itu hanya karena memanfaatkan momentum Ramadhan saja pak. Ruhiyah umat Islam lebih siap mendengarkan siraman rohani dibanding bulan lain.

IM: Lho kalau itu alasannya. Kami mengadakan maulid juga sekedar memanfaatkan momentum Rabiul Awal saja. Ruhiyah umat Islam dibulan ini lebih siap untuk mendengarkan ceramah-ceramah mengenai keagungan Nabi dan keteladanannya. Jadi kalau memanfaatkan momentum Ramadhan bukan bid’ah, sementara memanfaatkan momentum Rabiul Awal menjadi bid’ah, begitu?.

AM: Tidak begitu juga sih pak. Tapi pak, memperingati Maulid itu menambah-nambah hari raya dalam Islam, sementara hari raya dalam Islam itu hanya tiga. Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak perlu ditambah lagi. Menambahhya sama halnya meragukan kesempurnaan ajaran Islam yang telah dijamin kesempurnannya oleh Allah Swt. Atau menuduh Nabi tidak amanah dalam menyampaikan syariat ini.

IM: Yang bilang Maulid itu hari raya siapa?. Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari Hnya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya.

AM: Tetap saja bid’ah pak. Bukankah bapak mengharapkan pahala dari mengadakan Maulid itu? Nah karena mengharap pahala, berarti itu dianggap ibadah. Sementara dalam ibadah Islam, tidak ada yang namanya maulidan. Kalau bapak ngotot menyebutnya bukan ibadah, berarti bapak harus menyebut itu perbuatan sia-sia karena tidak mengharap pahala.

IM: Apa mereka yang mendirikan pesantren itu tidak mengharap pahala? Apakah yang menyumbang untuk pembangunan pesantren tidak mengharap pahala? Sementara dalam hadits Nabi sama sekali tidak ada perintah untuk membangun pesantren, mendirikan ormas Islam, membuat yayasan-yayasan, membangun rumah sakit, puskesmas dan sekolah-sekolah?.

AM: [Diam]

IM: Apa yang lepas dari masalah ibadah nak? Mana yang kamu sebut tadi masalah duniawi?

AM: Mengenakan sarung dan kopiah. [Menjawab dengan nada lemah]

IM: Saya tanya, kalau itu hanya masalah duniawi. Mana yang lebih afdhal yang shalat dengan mengenakan sarung, kopiah dan baju koko, dengan yang shalat mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi koboy?

AM: Tentu yang pertama.

IM: Kok bisa? Bukankah itu hanya masalah duniawi? Berpakaian pun bisa menjadi ibadah, jika itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjalankan tuntunan Nabi untuk mengenakan pakaian yang layak dan bersih. Bukankah tidurpun termasuk ibadah?. Apa Nabi pernah mencontohkan tidur di kasur yang empuk dan mahal?.

Jadi sekarang saya bertanya lagi. Mana yang lebih afdhal yang bergembira di bulan Maulid dengan niat kegembiraannya itu karena tahu bahwa bulan itu adalah bulan lahirnya Nabi yang mulia, yang dijunjung dan diagungkan oleh semua umat Islam. Yang kegembiraannya itu diluapkan dengan berbondong-bondong ke masjid, mendengar ceramah, bersilaturahmi dan makan bersama, atau yang lebih sibuk dan ribut-ribut menyebut mereka yang memperingati maulid itu sebagai ahli bid’ah, sesat dan tempatnya kelak di neraka?.

Mana yang lebih meneladani Nabi, mereka yang menyerukan persatuan dan persaudaraan Islam dengan memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi atau mereka yang ngotot dan memaksakan pendapat mereka sendiri, dan menyebut mereka yang menyelisihnya sebagai golongan sesat dan jahil?.

AM: Lebih afdhal yang pertama, pak. [Sedikit tersipu]

Tapi pak, bukankah memperingati maulid Nabi sama halnya tasyabbuh dengan budaya kuffar yang juga memperingati hari kelahiran orang-orang yang mereka agungkan? Sementara Nabi melarang kita meniru-niru adat-adat dan kebiasaan mereka.

IM: Apa dalam semua hal? Kaum jahiliah Arab dulu dikenal sangat menghormati dan mengagungkan tamu, mereka juga punya ikatan yang kuat dengan keluarga dan kabilah mereka. Apa itu jelek dan harus diselisihi karena bakal menyerupai kebiasaan mereka? Kegigihan orang-orang Barat dalam menuntut ilmu, dalam menemukan hal-hal yang canggih dan baru dalam bidang tekhnologi, apa itu harus diselisihi karena telah menjadi tradisi keilmuan mereka?

Mengagungkan Nabi-nabi Allah, memuliakan orang-orang yang saleh dan mengistimewakan mereka diatas yang lainnya bukanlah kebiasaan jelek yang harus dihindari. Selama bentuk pengagungan dan pemuliaan kita tidak sampai menyamakan derajat mereka dengan Tuhan atau menyematkan sifat Rububiyah kepada orang-orang saleh itu.

Perintah agama kita jelas. Menyuruh kita melakukan hal-hal yang bisa menjengkelkan orang-orang kafir dan menyenangkan hati orang-orang beriman. Keras pada orang kafir dan berlembah lembut pada orang beriman. Nah, apa iya, melarang-larang umat Islam memperingat kelahiran Nabi itu menjengkelkan orang-orang kafir?. Apa iya mengharamkan makanan maulid itu membuat geram mereka? Apa iya sengaja menyulut perselisihan di bulan kelahiran Nabi itu membuat muak orang-orang kafir? 

Dalam keyakinan bapak, semakin semarak umat Islam memperingati kelahiran Nabinya, akan semakin menjengkelkan orang-orang kafir. Semakin ummat Islam mengagungkan Nabi di kantor-kantor, sekolah-sekolah, di jalan-jalan, di tanah lapang, dan memuliakan bulan kelahirannya akan semakin menggeramkan orang-orang kafir. Semakin anak-anak bergembira dan bersorak sorai, bershalawatan dan menyanyikan syair-syair rindu pada Nabi di bulan maulid, akan semakin membuat mereka putus asa untuk menjauhkan generasi muda Islam dengan Nabinya. 

Menyemarakkan maulid itu menyenangkan orang-orang beriman. Hari dimana kita berbagi kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, dengan makan bersama, duduk bersama, mendengarkan ceramah bersama, shalawatan bersama, melihat keceriaan anak-anak yang riang gembira, dan saling mematri janji untuk selalu saling memuliakan dan menjaga ukhuwah. Bukan begitu?. 

AM: Iya pak. [Pemuda itu menganggukkan kepalanya] 

Senyap sesaat, yang terdengar hanya suara gesekan tubuh imam masjid yang mengubah letak duduknya. 

AM: Tapi Pak. Yang patut disayangkan. Mereka yang getol memperingati maulid, justru hanya masuk masjid saat peringatan maulid, dan dihari selainnya tidak menampakkan lagi batang hidungnya di masjid. Bahkan pada saat shalat lima waktu sekalipun. 

IM: Justru, dengan adanya peringatan maulid itu setidaknya mereka tercatat pernah ke masjid. Coba kalau tidak ada maulid. Mungkin seumur-umur mereka tidak pernah ke masjid padahal mereka mengaku muslim juga.  

AM: [Mengangguk]  

IM: Nak, yang dimaksud bid’ah itu adalah jika mengubah-ubah syariat yang telah ditetapkan secara pasti. Misalnya menambah rakaat shalat. Naik haji bukan diwaktu yang telah ditentukan. Mengurangi rukun puasa. Dan sebagainya.  

Kita tidak mewajibkan maulid. Yang mau ikut silahkan, yang tidakpun tidak kita paksa. Apalagi sampai mencemoohnya tidak mencintai Nabi dan telah berdosa. Semua orang punya cara untuk meluapkan kecintaannya pada Nabi. Kita percaya, yang tidak memperingati maulid juga tetap tidak kurang cintanya pada Nabi. Hanya saja, kecintaan pada Nabi itu akan ternodai kalau sampai menyakiti hati sesama muslim dengan menggelari mereka yang memperingati maulid sebagai ahli bid’ah, sesat dan ahli neraka, padahal ini pun masih diperselisihkan para ulama. 

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka.  

AM: Iya pak. Terimakasih.  

IM: Sama-sama. 

Imam Masjid itu kemudian berdiri. Menyalakan tape masjid, yang seketika itu juga memperdengarkan alunan Qari yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.  Pak tua itu, keluar masjid, masuk WC, keluar dan memperbaharui wudhunya. Tidak lama lagi, matahari akan tenggelam, dan waktu maghrib akan masuk

.

Berbicara tentang Syiah seakan tidak ada habisnya.

Membaca Al Qur’an Di Kamar Mandi Dalam Fiqih Syi’ah Dan Fiqih Ahlus Sunnah?

Tulisan ini seperti biasa terkesan membela Syi’ah tetapi hakikat sebenarnya hanya ingin menunjukkan kedunguan para nashibiy. Sebagian orang yang memiliki kenifaqan di hatinya memasukkan perkara ini dalam kumpulan sampah yang disebutnya “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” tanpa mereka sadari bahwa perkara yang sama juga ada dalam kitab pegangan mereka.

.

.

.

FiqihSyi’ah

Dalam Fiqih Syi’ah terdapat riwayat shahih di sisi mazhab mereka bahwa tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi. Berikut riwayat yang dimaksud

Al Kafiy juz 6

Al Kafiy juz 6 hal 316

عنه، عن إسماعيل بن مهران، عن محمد بن أبي حمزة، عن علي بن يقطين قالقلت لأبي الحسن عليه السلام: أقرء القرآن في الحمام وأنكح؟ قال: لا بأس

Darinya dari Isma’iil bin Mihraan dari Muhammad bin Abi Hamzah dari Aliy bin Yaqthiin yang berkata aku bertanya kepada Abul Hasan [‘alaihis salaam] “bolehkah aku membaca Al Qur’an di kamar mandi dan nikah [di dalamnya]?”. Ia berkata “tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 31]

Kemudian kebolehan membaca Al Qur’an di kamar mandi ini telah dikhususkan oleh riwayat setelahnya yaitu sebagai berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن ربعي بن عبد الله، عن محمد بن مسلم قال: سألت أبا جعفر عليه السلام أكان أمير المؤمنين عليه السلام ينهى عن قراءة القرآن في الحمام؟قال: لا إنما نهى أن يقرء الرجل وهو عريان فأما إذا كان عليه إزار فلا بأس

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Rib’iy bin ‘Abdullah dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “apakah amirul mukminin ‘alaihis salaam telah melarang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”. Maka Beliau menjawab “tidak, sesungguhnya yang dilarang hanyalah orang yang membaca sedang ia dalam keadaan telanjang, adapun jika ia memakai kain maka tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 32]

Al Majlisiy berkata bahwa riwayat pertama sanadnya shahih dan riwayat kedua sanadnya hasan [Mir’at Al ‘Uquul 22/405]. Sebagian nashibiy menjadikan adanya riwayat ini sebagai bahan celaan dan tertawaan terhadap mazhab Syi’ah. Anehnya mereka tidak menyadari bahwa sebagian ulama ahlus sunnah juga ada yang berpendapat demikian. Apakah lantas mereka akan dicela dan ditertawakan juga?.

.

.

.

Fiqih Ahlus Sunnah

Shahih Bukhariy juz 1

Shahih Bukhariy bab 36

Bukhariy menyebutkan dalam kitab Shahih-nya sebuah bab dengan judul sebagai berikut

باب قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بَعْدَ الْحَدَثِ وَغَيْرِهِ
وَقَالَ مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ لاَ بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ فِى الْحَمَّامِ ، وَبِكَتْبِ الرِّسَالَةِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ . وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ إِزَارٌ فَسَلِّمْ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُسَلِّمْ

Bab bacaan Al Qur’an dan lainnya setelah hadats
Dan berkata Manshuur dari Ibrahiim “tidak apa-apa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’. Dan berkata Hammad dari Ibrahiim “jika mereka memakai kain maka jawab salamnya tetapi jika tidak memakai kain maka jangan dijawab salamnya” [Shahih Bukhariy 1/79 Kitab Wudhu’  bab 36 ]

Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy memberikan penjelasan bahwa terjadi perselisihan di kalangan ulama mengenai membaca Al Qur’an di kamar mandi, berikut apa yang dijelaskan Ibnu Hajar

Fath Al Bariy juz 1

Fath Al Bariy juz 1 hal 344

قوله وقال منصور أي بن المعتمر عن إبراهيم أي النخعي وأثره هذا وصله سعيد بن منصور عن أبي عوانة عن منصور مثله وروى عبد الرزاق عن الثوري عن منصور قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال لم يبن للقراءة فيه قلت وهذا لا يخالف رواية أبي عوانة فإنها تتعلق بمطلق الجواز وقد روى سعيد بن منصور أيضا عن محمد بن أبان عن حماد بن أبي سليمان قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال يكره ذلك انتهى والإسناد الأول أصح

Perkataannya “dan berkata Manshuur yaitu bin Mu’tamar dari Ibrahim yaitu An Nakha’iy “Atsar ini telah disambungkan oleh Sa’id bin Manshuur dari Abi ‘Awaanah dari Manshuur seperti ini. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ats Tsauri dari Manshur ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?” maka ia menjawab “tidak ada keterangan tentang membaca Al Qur’an di dalamnya”. Aku [Ibnu Hajar] berkata “riwayat ini tidak menyelisihi riwayat Abi ‘Awaanah, karena dikaitkan dengan kemutlakan pembolehannya” Dan diriwayatkan juga oleh Sa’id bin Manshuur dari Muhammad bin Abaan dari Hammaad bin Abi Sulaiman ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”maka ia berkata “dimakruhkan hal tersebut”. [Ibnu Hajar berkata] Sanad yang pertama [yaitu riwayat Manshuur] lebih shahih. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وروى بن المنذر عن على قال بئس البيت الحمام ينزع فيه الحياء ولا يقرأ فيه آية من كتاب الله وهذا لا يدل على كراهة القراءة وإنما هو أخبار بما هو الواقع بان شأن من يكون في الحمام أن يلتهي عن القراءة

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Aliy [radhiallahu ‘anhu] yang berkata “sejelek-jeleknya bagian rumah adalah kamar mandi, di dalamnya dilepaskan rasa malu dan tidak dibacakan di dalamnya ayat dari Kitabullah”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini tidak menjadi dalil makruhnya membaca Al Qur’an di dalam kamar mandi karena riwayat itu hanyalah merupakan kabar kenyataan yang terjadi, bahwa kamar mandi pada umumnya memang tempat yang tidak dibaca Al Qur’an di dalamnya. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وحكيت الكراهة عن أبي حنيفة وخالفه صاحبه محمد بن الحسن ومالك فقالا لا تكره لأنه ليس فيه دليل خاص وبه صرح صاحبا العدة والبيان من الشافعية وقال النووي في التبيان عن الأصحاب لا تكره فاطلق لكن في شرح الكفايه للصيمري لا ينبغي أن يقرأ وسوى الحليمي بينه وبين القراءة حال قضاء الحاجة ورجح السبكي الكبير عدم الكراهة واحتج بان القراءة مطلوبه والاستكثار منها مطلوب والحدث يكثر فلو كرهت لفات خير كثير ثم قال حكم القراءة في الحمام أن كان القارئ في مكان نظيف وليس فيه كشف عورة لم يكره وإلا كره

Dinukil pendapat makruh dari Abu Hanifah, namun diselisihi oleh sahabatnya Muhammad bin Hasan dan Malik keduanya berkata “tidak makruh karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya” demikian juga ditegaskan penulis kitab Al ‘Uddah dan Al Bayaan keduanya dari kalangan ulama Syafi’iyyah. An Nawawi berkata dalam At Tibyaan dari para sahabatnya yang mengatakan tidak makruh, lalu memutlakkan kebolehannya. Namun dalam Syarah Al Kifaayah Lis Shaimariy, ia berkata ”tidak selayaknya membaca Al Qur’an di kamar mandi”. Al Hulaimiy menyamakan antara membaca Al Qur’an di kamar mandi dengan membaca Al Qur’an pada saat buang hajat. As Subkiy Al Kabiir merajihkan tidak dimakruhkannya hal tersebut dan berhujjah bahwa membaca Al Qur’an telah diperintahkan, begitu juga memperbanyak membacanya juga sesuatu yang diperintahkan, sedangkan hadas itu sering terjadi, seandainya hal itu dimakruhkankan maka akan terluput kebaikan yang sangat banyak. Kemudian ia berkata “hukum membaca Al Qur’an di kamar mandi, jika membaca di tempat yang bersih dan tidak terbuka auratnya, maka tidak dimakruhkan, kalau tidak seperti itu, maka dimakruhkan. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hajar di atas maka ternukil pendapat yang memakruhkan membaca Al Qur’an di kamar mandi dan ternukil pula pendapat yang membolehkan membaca Al Qur’an di kamar mandi yaitu Ibrahim An Nakha’iy, Malik, Muhammad bin Hasan, An Nawawiy, As Subkiy dan ulama mazhab Syafi’iy lainnya.

.

.

Penutup

Dalam tulisan ini saya tidak merajihkan pendapat yang mana. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada sebagian ulama ahlus sunnah yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Imam ahlul bait mazhab Syi’ah. Tentu saja perkataan imam ahlul bait menjadi hujjah di sisi mazhab Syi’ah dan tidak menjadi hujjah di sisi ahlus sunnah begitu pula perkataan sebagian ulama ahlus sunnah tersebut menjadi hujjah bagi sebagian pengikut ahlus sunnah dan tidak menjadi hujjah bagi Syi’ah.

Perbedaannya, dalam mazhab Syi’ah perkara ini telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam ahlul bait, oleh karena itu saya tidak perlu repot-repot menukil pendapat para ulama Syi’ah. Sedangkan dalam mazhab Sunni, perkara ini tidak ditemukan adanya dalil yang membolehkan dan melarangnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] oleh karena itu para ulama ahlus sunnah berselisih pendapat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Kesimpulannya adalah mencela, mentertawakan atau merendahkan mazhab Syi’ah karena perkara ini sama saja seperti mencela, mentertawakan atau merendahkan sebagian ulama ahlus sunnah.

Syi’ah dan Imam Shadiq as menentang kejahatan pemerintah taghut dinasti zalim !

Mengenal Ahlul Bait as:
Peran Imam Shadiq as dalam Memerangi Penyimpangan

 

Imam Shadiq as di setiap kesempatan selalu menentang pemerintahan-pemerintahan taghut. Beliau tidak pernah menyerah terhadap tekanan dinasti-dinasti zalim di masa itu. Beliau bahkan selalu memerangi kejahatan pemerintah taghut dan akhirnya meneguk cawan kesyahidan pada tahun 148 Hijriah.

 

 Peran Imam Shadiq as dalam Memerangi Penyimpangan

Hari ini adalah tanggal 17 Rabiul Awal, dan menurut sebagian besar sejarawan Islam, 17 Rabiul Awal merupakan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw, manusia yang paling sempurna dan paling dekat dengan Allah SWT. Hari ini juga hari lahirnya cucu Rasulullah Saw generasi kelima, Imam  Jakfar Shadiq as yang akan menghidupkan dan membangkitkan kembali ajaran-ajaran murni kakeknya.

 

Tanggal 17 Rabiul Awal tahun 83 Hijriah, Imam Shadiq as terlahir ke dunia di kota Madinah. Sampai usia 12 tahun, beliau diasuh oleh kakek beliau, Imam Sajjad as, dan 19 tahun kemudian, beliau di bawah bimbingan ayah beliau, Imam Muhammad Baqir as. Imam Shadiq  as hidup di masa ketika Dinasti Bani Umayah sedang mengalami kemunduran dan Dinasti Bani Abbasiah mulai merebut kekuasaan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh beliau untuk menyebarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan Islam yang murni dan hakiki.   

Selain menguasai ilmu dan makrifat Islam, Imam Shadiq as juga menguasai ilmu kedokteran, kimia, matematika, dan bidang-bidang ilmu lainnya. Pada masa hidupnya, beliau adalah sumber rujukan ilmu dan dikunjungi banyak orang dari berbagai penjuru dunia untuk meminta jawaban atas berbagai persoalan ilmiah. Tercatat ada 4.000 murid yang belajar kepada Imam Shadiq as, di antaranya adalah Jabir bin Hayyan, seorang kimiawan muslim terkenal.  

 

Periode Imam Shadiq as adalah kesempatan emas untuk menghidupkan dan membangkitkan kembali ajaran-ajaran suci Islam. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, banyak terjadi penyimpangan terhadap ajaran-ajaran murni Islam, bahkan masyarakat lupa tentang bagaimana menunaikan shalat dan haji dengan benar. Hal itu disebabkan kesibukan mereka dengan berbagai urusan dunia seperti penaklukan wilayah atau negara, masalah keuangan dan berbagai persoalan lainnya.

Penyimpangan-penyimpangan itu terjadi sebagai dampak dari pelarangan penulisan hadis dan munculnya hadis-hadis palsu di tengah masyarakat Islam sejak masa kekuasaan Muawiyah. Agama Islam di masa itu dalam bahaya dan di ambang kehancuran. Sementara ilmu pengetahuan ditinggalkan dan terisolasi dan para ulama tidak memiliki sumber shahih untuk mengenalkan agama Islam. Selain itu, terjadi berbagai bentrokan dan konflik di antara kelompok-kelompok politik dan sosial. Perselisihan yang menyebabkan lemahnya pemerintahan Bani Umayah dan berdirinya pemerintahan Abbasiyah.

 

Situasi politik yang terbuka akibat lemahnya badan-badan pemerintahan di masa itu, dimanfaatkan oleh Imam Shadiq as untuk menyebarkan ajaran-ajaran murni Islam. Beliau melanjutkan gerakan ilmiah dan budaya yang sebelumnya dilakukan oleh ayahnya dengan membuka Hauzah Ilmiah di berbagai bidang ilmu dan mendidik ribuan murid. Murid-murid beliau yang menguasai ribuan hadis di berbagai cabang ilmu seperti tafsir, fikih, sejarah, akhlak, kalam, kedokteran, kimia dan lain sebagainya, sangat berpengaruh dalam menyebarkan hadis-hadis shahih Nabi Muhammad Saw dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Hal itu juga menjadi penghalang munculnya berbagai penyimpangan di tengah-tengah masyarakat Islam.

Murid-murid Imam Shadiq as yang mencapai 4.000 orang paling tidak telah mampu menghapus banyak penyimpangan dan syubhat, dan mengakhiri kemandekan budaya islami akibat pelarangan menukil hadis. Beliau mendorong dan mendidik setiap muridnya sesuai dengan bidang, bakat dan kapasitas murid tersebut. Hasilnya, setiap murid beliau mampu menguasai satu atau dua bidang ilmu seperti hadis, tafsir, ilmu kalam, dan cabang-cabang ilmu lainnya.

 

Menariknya, Imam Shadiq as meminta setiap muridnya untuk berbicara tentang cabang ilmu tertentu dan kemudian mendiskusikan hal itu dengan mereka. Metode ini bertujuan agar semua mengetahui keahlian apa saja yang harus dimiliki oleh seorang mubaligh. Hisham ibn Salim, salah satu murid beliau mengatakan, “Ketika kami bersama Imam Shadiq as, seorang laki-laki dari Syam datang. Imam Shadiq as bertanya: apa yang Anda inginkan? Laki-laki itu menjawab: mereka mengatakan kepadaku bahwa Anda adalah orang yang paling pandai di antara masyarakat. Aku akan bertanya beberapa persoalan kepada Anda. Imam Shadiq as bertanya: mengenai apa? Orang itu menjawab: tentang al-Quran, huruf muqaththa`ah, sukun, rafa`, nasab dan jar.

Imam Shadiq as kemudian berkata, “Wahai Hamran ibn A`yun! kamu yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang itu.” Lelaki dari Syam tersebut berkata: “Aku ingin Anda yang menjawabnya.” Beliau berkata, “Jika Anda menang atas dia maka Anda telah mengalahkanku.” Lelaki itu kemudian melontarkan berbagai pertanyaan kepada Hamran, tetapi ia mampu menjawab semua pertanyaannya hingga lelaki itu lelah dan kepada Imam Shadiq as ia berkata: “Ia lelaki yang pandai. Ia menjawab setiap pertanyaanku.”

 

Atas nasihat Imam Shadiq as, Hamran bertanya balik kepada lelaki dari Syam tersebut, namun lelaki itu tidak mampu menjawabnya. Warga Syam itu kemudian kepada Imam as berkata: “Aku ingin berbicara dengan Anda tentang ilmu Nahwu dan sastra.” Kemudian Imam Shadiq as memanggil Aban ibn Taglib untuk berdiskusi dengan lelaki tersebut mengenai Nahwu dan sastra. Kali ini, lelaki dari Syam tersebut juga kalah dalam berdebat dengan Aban. Namun ia tidak menyerah. Ia meminta kepada Imam Shadiq as untuk berdiskusi tentang fikih. Beliau kemudian meminta Zararah ibn A`yun untuk meladeni lelaki itu. Ketika lelaki itu meminta berdiskusi masalah ilmu Kalam, Imam Shadiq as menunjuk Mukmin al-Thaq. Di bidang ilmu tauhid, beliau menunjuk Hisham ibn Salim, dan di bidang Imamah, beliau menunjuk Hisham ibn al-Hakam untuk berdiskusi dengan lelaki dari Syam itu. Pada akhirnya, lelaki itu kalah dan semua pertanyaan dan persoalannya dijawab oleh murid-murid Imam Shadiq as.

 

Melalui perluasan budaya islami, Imam Shadiq as berusaha menghapus kebodohan umat Islam. Dari satu sisi, beliau berusaha memerangi kerusakan politik di Bani Umayah dan Abasiyah dan dari sisi lainnya, cucu Rasulullah Saw itu berusaha memerangi berbagai penyimpangan akidah, persepsi dan interpretasi keliru tentang agama.

Salah satu penafsiran keliru yang terjadi di masa itu adalah melakukan qiyas dalam hukum. Diriwayatkan bahwa suatu hari Imam Shadiq as melihat seorang laki-laki yang dikenal di masyarakat dengan ketakwaannya. Lelaki mencuri dua potong roti dan dengan cepat menyembunyikan roti-roti itu di balik bajunya. Ia kemudian mencuri dua buah delima dari seorang penjual buah dan melangkah menuju ke seseorang fakir yang sedang sakit. Ia memberikan dua potong roti dan dua buah delima itu kepada orang fakir tersebut.

 

Melihat perbuatan lelaki itu, Imam Shadiq as heran dan kepadanya ia bertanya; “Apa yang Anda lakukan.” Ia menjawab, “Aku mengambil dua potong roti dan dua buah delima, dengan demikian aku telah melakukan empat kesalahan. Tetapi dalam al-Quran disebutkan bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan buruk maka ia tidak akan dibalas kecuali sesuai dengan perbuatannya itu. Oleh karena itu, dalam hal ini aku telah melakukan empat dosa. Sementara di sisi lain, Allah Swt berfirman, “Barang siapa melakukan satu perbuatan baik, maka akan dilipatgandakan 10 kali lipat.” Karena aku telah memberikan dua potong roti dan dua buah delima kepada orang fakir itu, maka aku mendapatkan 40 kebaikan, dan jika dikurangi empat dosaku maka masih tersisa 36 kebaikan bagiku.”

 

Untuk meluruskan penafsiran keliru yang diakibatkan oleh ketidakpahaman terhadap dasar-dasar pemahaman ayat itu,  Imam Shadiq as membacakan Surat al-Maidah Ayat 27 yang artinya: “… Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban (perbuatan baik)  dari orang-orang yang bertakwa.” Jadi, jika perbuatan tersebut tidak sah maka tidak akan mendatangkan pahala apapun. Pada dasarnya, menjauhi sumber wahyu akan menyebabkan munculnya orang-orang yang mengklaim memiliki ilmu tetapi sebenarnya  tidak memahami dasar-dasar al-Quran dan agama.

 

 

 

Imam Shadiq as adalah sosok yang memiliki kesabaran dan toleransi yang tinggi. Beliau tidak hanya sopan dan ramah kepada umat Islam saja tetapi juga kepada pemeluk agama lain bahkan kepada orang-orang musrik dan kafir. Meski demikian, beliau sangat keras dan tegas terhadap kelompok ghulat yang membesar-besarkan Ahlul Bait as dan mensifati mereka dengan sifat-sifat yang Ahlul Bait as sendiri tidak menerimanya.

 

Keyakinan kelompok-kelompok ghulat adalah ancaman besar bagi dunia Islam. Imam Shadiq as yang memahami ancaman itu segera mengambil langkah-langkah untuk memerangi pemikiran keliru dan ekstim tersebut. Sebab, kecintaan yang bercampur dengan kebodohan akan melemahkan setiap akar keyakinan dan agama. Situasi itu juga akan membuka peluang bagi musuh untuk menghantam Islam. Salah satu langkah Imam Shadiq as dalam memerangi kelompok ghulat adalah memberikan petunjuk kepada masyarakat ke jalan yang benar, menjelaskan akidah murni Islam  dan mengungkap keyakinan keliru kelompok-kelompok tersebut.

 

Dengan demikian, Imam Shadiq as telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Beliau melarang keras masyarakat untuk duduk bersama dengan orang-orang ghulat dan memperingatkan kaum muda tentang bahaya akidah kelompok sesat itu. Imam Shadiq as berkata, “Hendaklah pemuda-pemuda kalian waspada terhadap orang-orang ghulat supaya mereka tidak dirusak oleh kelompok tersebut. Sebab, orang-orang ghulat adalah seburuk-buruknya ciptaan Tuhan. Mereka meremehkan kebesaran Tuhan dan mengklaim hamba Tuhan sebagai Tuhan. Aku bersumpah bahwa orang-orang ghulat lebih buruk dari pada Yahudi, Nasrani, Majusi dan orang-orang musrik.” 

 

Imam Shadiq as di setiap kesempatan selalu menentang pemerintahan-pemerintahan taghut. Beliau tidak pernah menyerah terhadap tekanan dinasti-dinasti zalim di masa itu. Beliau bahkan selalu memerangi kejahatan pemerintah taghut dan akhirnya meneguk cawan kesyahidan pada tahun 148 Hijriah.

 

Syiah sebagai pengikut Ali sudah muncul sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup

Artikel Islam:
Sejarah Syiah: Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H

 

Di tiga abad terakhir ini, mazhab Syi’ah berkembang dengan sangat pesat, khususnya setelah ia menjadi mazhab resmi Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Begitu juga di Yaman dan Irak, mayoritas penduduknya memeluk mazhab Syi’ah. Dapat dikatakan bahwa di setiap negara yang penduduknya muslim, akan ditemukan para pemeluk Syi’ah. Di masa sekarang, diperkirakan bahwa pengikut Syi’ah di seluruh dunia berjumlah 300.000.000 lebih. 

 Sejarah Syiah: Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H

Kapan Syiah Muncul?

Syiah sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib a.s. (imam pertama Mazhab Syiah) sudah muncul sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita-realita berikut ini:

Pertama, ketika Nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya masuk Islam, ia berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kalian yang siap untuk mengikutiku, maka ia akan menjadi pengganti dan washiku setelah aku meninggal dunia”. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk mengikutinya kecuali Sayyidina Ali bin abi thalib a.s. Sangat tidak masuk akal jika seorang pemimpin pergerakan –di hari pertama ia memulai langkah-langkahnya– memperkenalkan penggantinya setelah ia wafat kepada orang lain dan tidak memperkenalkanya kepada para pengikutnya yang setia. Atau ia mengangkat seseorang untuk menjadi penggantinya, akan tetapi, di sepanjang masa aktifnya pergerakan tersebut ia tidak memberikan tugas sedikit pun kepada penggantinya dan memperlakukannya sebagaimana orang biasa. Keberatan-keberatan di atas adalah bukti kuat bahwa Imam Ali bin abi thalib as setelah diperkenalkan sebagai pengganti dan washi Nabi Muhammad SAW di hari pertama dakwah, memiliki misi yang tidak berbeda dengan missi Nabi Muhammad SAW dan orang yang mengikutinya berarti ia juga mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Kedua, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir yang dinukil oleh Ahlussunnah dan Syiah, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Imam Ali bin abi thalib as terjaga dari setiap dosa dan kesalahan, baik dalam ucapan maupun perilaku. Semua tindakan dan perilakunya sesuai dengan agama Islam dan ia adalah orang yang paling tahu tentang Islam.

Ketiga, Imam Ali bin abi thalib as adalah sosok figur yang telah berhasil menghidupkan Islam dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah lakukannya. Seperti, ia pernah tidur di atas ranjang Nabi Muhammad SAW di malam peristiwa lailatul mabit ketika Nabi Muhammad SAW hendak berhijrah ke Madinah dan kepahlawannya di medan perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Seandainya pengorbanan-pengorbanan tersebut tidak pernah dilakukannya, niscaya Islam akan sirna di telan gelombang kebatilan.

Keempat, peristiwa Ghadir Khum adalah puncak keistimewaan yang dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as Sebuah peristiwa –yang seandainya dapat direalisasikan sesuai dengan kehendak Nabi Muhammad SAW– akan memberikan warna lain terhadap Islam.

Semua keistimewaan dan keistimewaan-keistimewaan lain yang diakui oleh Ahlussunnah bahwa semua itu hanya dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as secara otomatis akan menjadikan sebagian pengikut Nabi Muhammad SAW yang memang mencintai kesempurnaan dan hakikat, akan mencintai Imam Ali bin abi thalib as dan lebih dari itu, akan menjadi pengikutnya. Dan tidak menutup kemungkinan bagi sebagian pengikutnya yang memang memendam rasa dengki di hati kepada Imam Ali bin abi thalib as, untuk membencinya meskipun mereka melihat ia telah berjasa dalam mengembangkan dan menjaga Islam dari kesirnaan.

Mengapa Minoritas Syi’ah berpisah dari mayoritas Ahlussunnah?

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as, para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Nabi Muhammad SAW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Nabi Muhammad SAW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Saidah guna menentukan khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali bin abi thalib as yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Nabi Muhammad SAW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali bin abi thalib as seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali bin abi thalib as setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali bin abi thalib as untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali bin abi thalib as tampil aktif dalam memecahkannya.

Penyelewengan pada Masa Tiga Khalifah

Pada masa kepemimpinan tiga khalifah pertama muslimin, banyak terjadi penyelewengan-penyelewengan dilakukan oleh mereka dalam menjalankan pemerintahan yang tidak sesuai dengan rel Islam dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Diamnya pemerintah atas pembunuhan yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid terhadap Malik bin Nuwairah yang berlanjut dengan pemerkosaan terhadap istrinya, pembagian harta baitul mal yang tidak merata sehingga menimbulkan perbedaan strata masyarakat kaya dan miskin, penghapusan dua jenis mut’ah yang sebelumnya pernah berlaku pada masa Nabi Muhammad SAW, penghapusan khumus dari orang-orang yang berhak menerimanya, pelarangan penulisan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, pelarangan mengucapkan hayya ‘alaa khairil ‘amal dalam azan, pemberian harta dan dukungan istimewa kepada Mu’awiyah sehingga ia dapat berkuasa di Syam dengan leluasa, dan lain sebagainya, semua itu adalah bukti jelas penyelewengan dan kepincangan yang terjadi pada masa tiga khalifah pertama. Semua itu jelas terjadi sehingga orang yang berpikiran jernih dan tidak dipengaruhi oleh fanatisme mazhab akan dapat menerimanya dengan menelaah buku-buku sejarah yang otentik.

Setelah Utsman bin Affan, Khalifat ketiga muslimin dibunuh oleh para “pemberontak” yang tidak rela dengan kinerjanya selama ia memegang tampuk khilafah, masyarakat dengan serta merta memilih Imam Ali bin abi thalib as secara aklamasi untuk memegang tampuk khilafah. Di antara Muhajirin yang pertama kali berbai’at dengannya adalah Thalhah dan Zubair. Hal ini terjadi pada tahun 5 H. Sangat disayangkan kekhilafahannya hanya berjalan sekitar 4 tahun 5 bulan, masa yang sangat sedikit untuk mengadakan sebuah perombakan dan reformasi mendasar.

Begitu ia menjadi khalifah, khotbah pertama yang dilontarkannya adalah sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa segala kesulitan yang pernah kalian alami di masa-masa pertama Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi, sekarang akan kembali menimpa kalian. Sekarang orang-orang yang memiliki keahlian dan selama ini disingkirkan harus memiliki kedudukan yang layak dan orang-orang yang tidak becus harus disingkirkan dari kedudukan yang telah diberikan kepada mereka dengan tidak benar”.

Ia mengadakan perombakan-perombakan secara besar-besaran, baik di bidang birokrasi maupun bidang pembagian harta baitul mal. Ia mengganti semua gubernur daerah yang telah ditunjuk oleh para khalifah sebelumnya dengan orang-orang yang layak untuk memegang tampuk tersebut dan membagikan harta baitul mal dengan sama rata di antara masyarakat. Hal ini menyebabkan sebagian sahabat sakit hati. Tentunya mereka yang merasa dirugikan oleh metode Imam Ali bin abi thalib as tersebut. Hal itu dapat kita pahami dalam peristiwa-peristiwa berdarah berikut:

Faktor utama perang Jamal adalah rasa sakit hati Thalhah dan Zubair karena hak mereka –sebagai sahabat senior– dari harta baitul mal merasa dikurangi dan disamaratakan dengan masyarakat umum. Dengan alasan ingin menziarahi Ka’bah, mereka masuk ke kota Makkah dan menemui A’isyah yang memiliki hubungan tidak baik dengan Imam Ali bin abi thalib as demi mengajaknya memberontak atas pemerintahan yang sah. Slogan yang mereka gembar-gemborkan untuk menarik perhatian opini umum adalah membalas dendam atas kematian Utsman. Padahal, ketika Utsman dikepung oleh para “pemberontak” yang ingin membunuhnya, mereka ada di Madinah dan tidak sedikit pun usaha yang tampak dari mereka untuk membelanya. A’isyah sendiri adalah orang pertama dan paling bersemangat mensupport masyarakat untuk membunuhnya. Ketika ia mendengar Utsman telah terbunuh, ia mencelanya dan merasa bahagia karena itu.

Faktor utama perang Shiffin adalah rasa tamak Mu’awiyah atas khilafah, karena ia telah disingkirkan oleh Imam Ali bin abi thalib as dari kursi kegubernuran Syam. Perang ini berlangsung selama 1,5 tahun yang telah memakan banyak korban tidak bersalah. Slogan Mu’awiyah di perang adalah membalas dendam atas kematian Utsman juga. Padahal, selama Utsman dalam kepungan para “pemberontak”, ia meminta bantuan dari Mua’wiyah yang bercokol di Syam demi membasmi mereka. Dengan satu pleton pasukan lengkap, Mu’awiyah berangkat dari Syam ke arah Madinah. Akan tetapi, di tengah perjalanan mereka sengaja memperlambat jalannya pasukan sehingga Utsman terbunuh. Setelah mendengar Utsman terbunuh, mereka kembali ke Syam dan kemudian bergerak kembali menuju ke Madinah dengan slogan “membalas dendam atas kematian Utsman”. Akhirnya pecahlah Shiffin.

Anehnya, ketika Imam Ali bin abi thalib as syahid dan Mu’awiyah berhasil memegang tampuk khilafah, mengapa ia tidak mendengung-dengungkan kembali slogan “membalas dendam atas kematian Utsman”?

Setelah perang Shiffin berhasil dipadamkan, perang Nahrawan berkecamuk. Faktornya adalah ketidakpuasan sebagian sahabat yang disulut oleh Mu’awiyah atas pemerintahan Imam Ali bin abi thalib as dan atas hasil perdamaian yang dipaksakan oleh mereka sendiri terhadap Imam Ali bin abi thalib as yang menghasilkan pencabutannya dari kursi khilafah dan penetapan Mu’awiyah sebagai khalifah muslimin. Tapi akhirnya, Imam Ali bin abi thalib as juga berhasil memadamkan api perang tersebut.

Tidak lama berselang dari peristiwa Nahrawan, Imam Ali bin abi thalib as syahid dengan kepala yang mengucurkan darah akibat tebasan pedang Abdurrahman bin Muljam di mihrab masjid Kufah.

Keberhasilan-keberhasilan Pemerintahan Imam Ali bin abi thalib as

Meskipun Imam Ali bin abi thalib as tidak berhasil memapankan kembali situasi masyarakat Islam yang sudah bobrok itu secara sempurna, akan tetapi, dalam tiga segi ia dapat dikatakan berhasil:

Pertama, dengan kehidupan sederhana yang dimilikinya, ia berhasil menunjukkan kepada masyarakat luas, khususnya para generasi baru, metode hidup Nabi Muhammad SAW yang sangat menarik dan pantas untuk diteladani. Hal ini berlainan sekali dengan kehidupan Mu’awiyah yang serba mewah. Ia a.s. tidak pernah mendahulukan kepentingan keluarganya atas kepentingan umum.

Kedua, dengan segala kesibukan dan problema sosial yang dihadapinya, ia masih sempat meninggalkan warisan segala jenis ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tujuan hidup insani yang sebenarnya. Ia mewariskan sebelas ribu ungkapan-ungkapan pendek dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan rasional, sosial dan keagamaan. Ia adalah pencetus tata bahasa Arab dan orang pertama yang mengutarakan pembahasan-pembahasan filosofis yang belum pernah dikenal oleh para filosof kaliber kala itu. Dan ia juga orang pertama dalam Islam yang menggunakan argumentasi-argumentasi rasional dalam menetapkan sebuah pembahasan filosofis.

Ketiga, ia berhasil mendidik para pakar agama Islam yang dijadikan sumber rujukan dalam bidang ilmu ‘irfan oleh para ‘arif di masa sekarang, seperti Uwais Al-Qarani, Kumail bin Ziyad, Maitsam At-Tammar dan Rusyaid Al-Hajari.

Masa Sulit bagi Mazhab Syiah

Setelah Imam Ali bin abi thalib as syahid di mihrab shalatnya, masyarakat waktu itu membai’at Imam Hasan a.s. untuk memegang tampuk khilafah. Setelah ia dibai’at, Mu’awiyah tidak tinggal diam. Ia malah mengirim pasukan yang berjumlah cukup besar ke Irak sebagai pusat pemerintahan Islam waktu itu untuk mengadakan peperangan dengan pemerintahan yang sah. Dengan segala tipu muslihat dan iming-iming harta yang melimpah, Mu’wiyah berhasil menipu para anggota pasukan Imam Hasan a.s. dan dengan teganya mereka meninggalkannya sendirian. Melihat kondisi yang tidak berpihak kepadanya dan dengan meneruskan perang Islam akan hancur, dengan terpaksa ia harus mengadakan perdamaian dengan Mu’awiyah. (Butir-butir perjanjian ini dapat dilihat di sejarah 14 ma’shum a.s.)

Setelah Mu’awiyah berhasil merebut khilafah dari tangan Imam Hasan a.s. pada tahun 40 H., –sebagaimana layaknya para pemeran politik kotor– ia langsung menginjak-injak surat perdamaian yang telah ditandatanganinya. Dalam sebuah kesempatan ia pernah berkata: “Aku tidak berperang dengan kalian karena aku ingin menegakkan shalat dan puasa. Sesungguhnya aku hanya ingin berkuasa atas kalian, dan aku sekarang telah sampai kepada tujuanku”.

Dengan demikian, Mu’awiyah ingin menghidupkan kembali sistem kerajaan sebagai ganti dari sistem khilafah sebagai penerus kenabian. Hal ini diperkuat dengan diangkatnya Yazid, putranya sebagai putra mahkota dan penggantinya setelah ia mati.

Mua’wiyah tidak pernah memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi’ah untuk bernafas dengan tenang. Setiap ada orang yang diketahui sebagai pengikut Syi’ah, ia akan langsung dibunuh di tempat. Bukan hanya itu, setiap orang yang melantunkan syair yang berisi pujian terhadap keluarga Ali a.s., ia akan dibunuh meskipun ia bukan pengikut Syi’ah. Tidak cukup sampai di sini saja, ia juga memerintahkan kepada para khotib shalat Jumat untuk melaknat dan mencerca Imam Ali bin abi thalib as Kebiasaan ini berlangsung hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99-101 H.

Masa pemerintahan Mu’awiyah (selama 20 tahun) adalah masa tersulit bagi Mazhab Syiah di mana mereka tidak pernah memiliki sedikit pun kesempatan untuk bernafas.

Mayoritas pengikut Ahlussunnah menakwilkan semua pembunuhan yang telah dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu’awiyah itu dengan berasumsi bahwa mereka adalah sahabat Nabi SAWW dan semua perilaku mereka adalah ijtihad yang dilandasi oleh hadis-hadis yang telah mereka terima darinya. Oleh karena itu, semua perilkau mereka adalah benar dan diridhai oleh Allah SWT. Seandainya pun mereka salah dalam menentukan sikap dan perilaku, mereka akan tetap mendapatkan pahala berdasarkan ijtihad tang telah mereka lakukan.

Akan tetapi, Syi’ah tidak menerima asumsi di atas dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, tidak masuk akal jika seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan dan mengajak orang-orang yang ada si sekitarnya untuk merealisasikan hal itu, setelah tujuan yang diinginkannya itu terwujudkan, ia merusak sendiri cita-citanya dengan cara memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya, dan segala kesalahan, perampasan hak orang lain dengan segala cara, serta tindakaan-tindakan kriminal yang mereka lakukan dimaafkan.

Kedua, hadis-hadis yang “menyucikan” para sahabat dan membenarkan semua perilaku non-manusiwi mereka berasal dari para sahabat sendiri. Dan sejarah membuktikan bahwa mereka tidak pernah memperhatikan hadis-hadis di atas. Mereka saling menuduh, membunuh, mencela dan melaknat. Dengan bukti di atas, keabsahan hadis-hadis di atas perlu diragukan.

Mu’awiyah menemui ajalnya pada tahun 60 H. dan Yazid, putranya menduduki kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam. Sejarah membuktikan bahwa Yazid adalah sosok manusia yang tidak memiliki kepribadian luhur sedikit pun. Kesenangannya adalah melampiaskan hawa nafsu dan segala keinginannya. Dengan latar belakangnya yang demikian “cemerlang”, tidak aneh jika di tahun pertama memerintah, ia tega membunuh Imam Husein a.s., para keluarga dan sahabatnya dengan dalih karena mereka enggan berbai’at dengannya. Setelah itu, ia menancapkan kepala para syahid tersebut di ujung tombak dan mengelilingkannya di kota-kota besar; Di tahun kedua memerintah, ia mengadakan pembunuhan besar-besaran di kota Madinah dan menghalalkan darah, harta dan harga diri penduduk Madinah selama tiga hari kepada para pasukannya; Di tahun ketiga memerintah, ia membakar Ka’bah, kiblat muslimin.

Setelah masa Yazid dengan segala kebrutalannya berlalu, Bani Marwan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Bani Umaiyah menggantikan kedudukannya. Mereka pun tidak kalah kejam dan keji dari Yazid. Mereka berhasil berkuasa selama 70 tahun dan jumlah khalifah dari dinasti mereka adalah sebelas orang. Salah seorang dari mereka pernah ingin membuat sebuah kamar di atas Ka’bah dengan tujuan untuk melampiaskan hawa nafsunya di dalamnya ketika musim haji tiba.

Dengan melihat kelaliman yang dilakukan oleh para khalifah waktu itu, para pengikut Syi’ah makin kokoh dalam memegang keyakinan mereka. Di akhir-akhir masa kekuasaan Bani Umaiyah, mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa mereka masih memilliki eksistensi dan mampu untuk melawan para penguasa lalim. Di masa keimamahan Imam Muhammad Baqir a.s. dan belum 40 tahun berlalu dari terbunuhnya Imam Husein a.s., para pengikut Syi’ah yang berdomisili di berbagai negara dengan memanfaatkan kelemahan pemerintahan Bani Umaiyah karena tekanan-tekanan dari para pemberontak yang tidak puas dengan perilaku mereka, datang ke Madinah untuk belajar dari Imam Baqir a.s. Sebelum abad ke-1 H. usai, beberapa pembesar kabilah di Iran membangun kota Qom dan meresmikannya sebagai kota pemeluk Syi’ah. Beberapa kali para keturunan Imam Ali bin abi thalib as karena tekanan yang dilakukan oleh Bani Umaiyah atas mereka, mengadakan pemberontakan-pemberontakan melawan penguasa dan perlawanan mereka –meskipun mengalami kekalahan– sempat mengancam keamanan pemerintah. Realita ini menunjukkan bahwa eksistensi Syi’ah belum sirna.

Dikarenakan kelaliman dinasti Bani Umaiyah yang sudah melampui batas, opini umum sangat membenci dan murka terhadap mereka. Setelah dinasti mereka runtuh dan penguasa terkahir mereka (Marwan ke-2 yang juga dikenal dengan sebutan Al-Himar, berkuasa dari tahun 127-132 H.) dibunuh, dua orang putranya melarikan diri bersama keluarganya. Mereka meminta suaka politik kepada berbagai negara, dan mereka enggan memberikan suaka politik kepada para pembunuh keluarga Nabi Muhammad SAW tersebut. Setelah mereka terlontang-lantung di gurun pasir yang panas, mayoritas mereka binasa karena kehausan dan kelaparan. Sebagian yang masih hidup pergi ke Yaman, dan kemudian dengan berpakaian compang-camping ala pengangkat barang di pasar-pasar mereka berhasil memasuki kota Makkah. Di Makkah pun mereka tidak berani menampakkan batang hidung, mungkin karena malu atau karena sebab yang lain.

Sejarah Syiah pada Abad Ke-2 H.

Di akhir-akhir sepertiga pertama abad ke-2 H., karena kelaliman dinasti Bani Umaiyah, muncul sebuah pemberontakan dari arah Khurasan, Iran dengan mengatasnamakan Ahlu Bayt a.s. Pemberontakan ini dipelopori oleh seorang militer berkebangsaan Iran yang bernama Abu Muslim Al-Marwazi. Dengan syiar ingin membalas dendam atas darah Ahlu Bayt a.s., ia memulai perlawanannya terhadap dinasti Bani Umaiyah. Banyak masyarakat yang tergiur dengan syiar tersebut sehingga mereka mendukung pemberontakannya. Akan tetapi, pemberontakan ini tidak mendapat dukungan dari Imam Shadiq a.s. Ketika Abu Muslim menawarkan kepadanya untuk dibai’at sebagai pemimpin umat, ia menolak seraya berkata: “Engkau bukanlah orangku dan sekarang bukan masaku untuk memberontak”.

Setelah mereka berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umaiyah, di hari-hari pertama berkuasa mereka memperlakukan para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dengan baik, dan demi membalas dendam atas darah mereka yang telah dikucurkan, mereka membunuh semua keturunan Bani Umaiyah. Bahkan, mereka menggali kuburan-kuburan para penguasa Bani Umaiyah untuk dibakar jenazah mereka. Tidak lama berlalu, mereka mulai mengadakan penekanan-penekanan serius terhadap para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan para pengikut mereka serta orang-orang yang simpatik kepada mereka. Abu Hanifah pernah dipenjara dan disiksa oleh Manshur Dawaniqi dan Ahmad bin Hanbal juga pernah dicambuk olehnya. Imam Shadiq a.s. setelah disiksa dengan keji, dibunuh dengan racun dan para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dibunuh atau dikubur hidup-hidup.

Kesimpulannya, kondisi para pengikut Syi’ah pada masa berkuasanya dinasti Bani Abasiah tidak jauh berbeda dengan kondisi mereka pada masa dinasti Bani Umaiyah.

Sejarah Syiah pada Abad Ke-3 H.

Dengan masuknya abad ke-3 H., para pengikut Syi’ah Imamiah mendapatkan kesempatan baru untuk mengembangkan missi mereka. Mereka dapat menikmati sedikit keleluasaan untuk mengembangkan dakwah di berbagai penjuru. Faktornya adalah dua hal berikut:

Pertama, banyaknya buku-buku berbahasa Yunani dan Suryani dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan masyarakat bersemangat untuk memperlajari ilmu-ilmu rasional dengan antusias. Di samping itu, peran Ma`mun Al-Abasi (195-218 H.) juga tidak patut dilupakan. Ia menganut mazhab Mu’tazilah yang sangat mendorong para pengikutnya untuk mengembangkan dan mempelajari argumentasi-argumentasi rasional. Oleh karena itu, ia memberikan kebebasan penuh kepada para pemikir dan teolog setiap agama untuk menyebarkan teologi dan keyakinan mereka masing-masing. Para pengikut Syi’ah tidak menyia-siakan kesempatan ini. Mereka mengembangkan jangkauan mazhab Syi’ah ke berbagai penjuru kota dan mengadakan dialog dengan para pemimpin agama lain demi mengenalkan keyakinan mazhab Syi’ah kepada khalayak ramai.

Kedua, Ma`mun Al-Abasi mengangkat Imam Ridha a.s. sebagai putra mahkota. Dengan ini, para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan sahabat mereka terjaga dari jamahan tangan para penguasa, dan menemukan ruang gerak yang relatif bebas.

Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Karena setelah semua itu berlalu, politik kotor dinasti Bani Abasiyah mulai merongrong para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan pengikut mereka kembali. Khususnya pada masa Mutawakil Al-Abasi (232-247 H.). Atas perintahnya, kuburan Imam Husein a.s. di Karbala` diratakan dengan tanah.


Sejarah Syiah pada Abad ke-4 H.

Pada abad ke-4 H., dengan melemahnya kekuatan dinasti Bani Abasiyah dan kuatnya pengaruh para raja dinasti Alu Buyeh yang menganut mazhab Syi’ah di Baghdad (pusat khilafah Bani Abasiyah kala itu), terwujudlah sebuah kesempatan emas bagi para penganut Syi’ah untuk mengembangkan mazhab mereka dengan leluasa. Dengan demikian, –menurut pendapat para sejarawan–mayoritas penduduk jazirah Arab, seperti Hajar, Oman, dan Sha’dah, kota Tharablus, Nablus, Thabariah, Halab dan Harat menganut mazhab Syi’ah kecuali mereka yang berdomisili di kota-kota besar. Antara kota Bashrah sebagai pusat mazhab Ahlussunnah dan kota Kufah sebagai pusat mazhab Syi’ah selalu terjadi gesekan-gesekan antar mazhab. Tidak sampai di situ, penduduk kota Ahvaz dan Teluk Persia di Iran juga memeluk mazhab Syi’ah.

Di awal abad ini, seorang mubaligh yang bernama Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Hasan bin Ali bin Umar bin Ali bin Imam Husein a.s. yang dikenal dengan sebutan Nashir Uthrush (250-320 H.) melakukan aktifitas dakwahnya di Iran Utara dan berhasil menguasai Thabaristan. Lalu ia membentuk sebuah kerajaan di sana. Sebelumnya, Hasan bin Yazid Al-Alawi juga pernah berkuasa di daerah itu.

Pada abad ini juga tepatnya tahun 296-527 H., dinasti Fathimiyah yang menganut mazhab Syi’ah Isma’iliyah berhasil menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan besar di sana.

Sangat sering terjadi gesekan-gesekan antar mazhab di kota-kota seperti Bahgdad, Bashrah dan Nisyabur antara mazhab Ahlusunnah dan Syi’ah, dan di mayoritas gesekan antar mazhab tersebut, Syi’ah berhasil menang dengan gemilang.

Sejarah Syiah pada Abad ke-5 hingga Abad ke-9 H.

Dari abad ke-5 hingga abad ke-9 H., sistematika perkembangan mazhab Syi’ah tidak jauh berbeda dengan sistematika perkembangannya pada abad ke-4. Perkembangannya selalu didukung oleh kekuatan pemerintah yang memang menganut mazhab Syi’ah. Di akhir abad ke-5 H., mazhab Syi’ah Isma’iliyah berkuasa di Iran selama kurang lebih satu setengah abad dan ia dapat menyebarkan ajaran-ajaran Syi’ah dengan leluasa. Dinasti Al-Mar’asyi bertahun-tahun berkuasa di Mazandaran, Iran. Setelah masa mereka berlalu, dinasti Syah Khudabandeh, silsilah kerajaan Mongol memeluk dan menyebarkan mazhab Syi’ah. Dan kemudian, raja-raja dari dinasti Aaq Quyunlu dan Qareh Quyunlu yang berkuasa di Tabriz dan kekuasaan mereka terbentang hingga ke daerah Kerman serta dinasti Fathimiyah di Mesir berhasil menyebarkan mazhab Syi’ah ke seluruh masyarakat ramai.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah dinasti Fathimiyah mengalami kehancuran dan dinati Alu Ayyub berkuasa, para pengikut Syi’ah mulai terikat kembali dan mereka tidak bebas menyebarkan mazhab mereka. Banyak para tokoh Syi’ah yang dipenggal kepalanya pada masa itu. Seperti Syahid Awal dan seorang faqih kenamaan Syi’ah, Muhammad bin Muhammad Al-Makki dipenggal kepalanya pada tahun 786 H. di Damaskus karena tuduhan menganut mazhab Syi’ah, dan Syeikh Isyraq, Syihabuddin Sahruwardi dipenggal kepalanya di Halab karena tuduhan mengajarkan filsafat.

Sejarah Syiah pada Abad ke-10 hingga ke-11 H.

Pada tahun 906 H., Syah Isma’il Shafawi yang masih berusia 13 tahun, salah seorang keturunan Syeikh Shafi Al-Ardabili (seorang syeikh thariqah di mazhab Syi’ah dan meninggal pada tahun 153 H.), ingin mendirikan sebuah negara Syi’ah yang mandiri. Akhirnya, ia mengumpulkan para Darwisy pengikut kakeknya dan mengadakan pemberontakan dimulai dari daerah Ardabil dengan cara memberantas sistem kepemimpinan kabilah yang dominan kala itu dan membebaskan seluruh daerah Iran dari cengkraman dinasti Utsmaniyah dengan tujuan supaya Iran menjadi negara yang tunggal. Dan ia berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut sehingga sebuah kerajaan Syi’ah Imamiah terbentuk dan berdaulat kala itu. Setelah ia meninggal dunia, kerajaannya diteruskan oleh putra-putranya. Mazhab Syi’ah kala itu memiliki legistimasi hukum yang sangat kuat sehingga semua organ pemerintah menganut mazhab Syi’ah. Pada masa kecemerlangan dinasti Shafawiyah di bawah pimpinan Syah Abbas yang Agung, kuantitas pengikut Syi’ah mencapai dua kali lipat penduduk Iran pada tahun 1384 H.

Sejarah Syiah Pada Abad ke-12 hingga ke-14 H.

Di tiga abad terakhir ini, mazhab Syi’ah berkembang dengan sangat pesat, khususnya setelah ia menjadi mazhab resmi Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Begitu juga di Yaman dan Irak, mayoritas penduduknya memeluk mazhab Syi’ah. Dapat dikatakan bahwa di setiap negara yang penduduknya muslim, akan ditemukan para pemeluk Syi’ah. Di masa sekarang, diperkirakan bahwa pengikut Syi’ah di seluruh dunia berjumlah 300.000.000 lebih.

terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali

Imam Ali dalam Kaca-mata Al-Quran

Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s. Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun [setelah Nabi Muhammad Saw] 

Syiah berpendapat, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali a.s. dan memperkenalkannya sebagai pribadi islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah Saw. Ini menunjukkan bahwa ia mendapat perhatian yang tinggi disisi Allah Swt. Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s.[16] Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kateg ori berikut ini:

1. Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.

2. Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan keluarganya.

3. Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah Saw.

4. Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat ter-sebut.

Kategori Ayat Pertama Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali a.s. adalah sebagai berikut:

1.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Al-Ra‘d [13]: 7)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abbâs. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, Nabi Saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalu dia memegang pundak Ali a.s. sembari bersabda, ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”[17]

2.      Allah Swt. berfirman:

“… dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]: 12)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Ras ulullah Saw.”[18]

3.      Allah Swt. berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al- Baqarah [2]: 274)

Pada saat itu, Imam Ali a.s. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali a.s. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian, ayat tersebut turun.[19]

4.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir ibn Abdillah. Jâbir ibn Abdillah berkata: “Ketika kami bersama Nabi Saw., tiba-tiba Ali a.s. datang. Seketika itu, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Ali a.s. dan Syiah (para pengikut)-nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian, turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali a.s. datang, para sahabat Nabi Saw. mengatakan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”[20]

5.      Allah Swt. berfirman: “… maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahl Adz- Dzikr) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Nahl [16]: 43)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali a.s. berkata: ‘Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.’”[21]

6.      Allah Swt. berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Se- sungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)

Ayat ini turun kepada Nabi Saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk menga ngkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi Saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur, “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali a.s. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinak anlah orang yang menghinakannya.” Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali a.s.: “Selamat, hai Putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”[22]

7.      Allah Swt. berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzul- hijjah setelah Nabi Saw. mengangkat Ali a.s. sebagai khal ifah sepeninggalnya.[23] Setelah ayat tersebut turun, Nabi Saw. bersabda, “Allah Mahabesar lantaran pe- nyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali ibn Abu Thalib a.s.”[24]

8.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, seraya tunduk kepada Allah.” (QS. Al- Mâ’idah [5]: 55)

Seorang sahabat Nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasu- lullah Saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang memberikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul Saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali a.s. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian, dia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya saudaraku, Musa a.s. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkan lah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar me reka dapat memfahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Harun. Kukuhkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’” (QS. Thâ’ Hâ’ [20]: 25- 32)  “Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kukuhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin,’ (QS. Al- Qas hash [28]: 35). ‘Ya Allah, aku ini adalah Muhammad Nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah unt ukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kukuhkanlah punggungku dengannya.’” Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelum sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah:

Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ….’”[25] Seorang penyair tersohor, Hassân ibn Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata: “Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin, sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.”[26]

Arti kata “wali”

Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama, yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam ben- tuk kata kerja. Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradat Al-Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqâyis Al-Lughah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua benda sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada benda ketiga. Ketika kita katakan Waliya Zaid Amr, maka itu berarti Zaid dekat di sisi Amr. Kata ini juga bermakna teman, penolong, dan penanggung jawab. Dengan kata lain, pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan, hubungan, atau interaksi. Dan untuk menentukan arti yang dimaksud, dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami konteks kalimatnya. Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memfahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah bahwa Allah, Rasulullah, dan Ali a.s. sajalah—perhatikan kata innama yang berarti “hanyalah”—yang memiliki kedekatan istimewa dengan kaum Muslim. Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual/ metafi sik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula ‘alaih (yang dipimpin). Dengan pengertian semacam ini wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik upaya (ikhtiar).[27]

Dari satu sisi telah jelas bahwa Tuhan adalah wali sel uruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat me- reka. Dan Dia adalah wali kaum mukmin dalam urusan agama dan pencapaian kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin Tuhan merupakan wali bagi kaum mukmin. Sejalan dengan itu, wilayah Imam Ali a.s. yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu dan berhak mengelola masalah dan urusan kaum Muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan, dan agama.[28]

Ayat ini menempatkan wilâyah “kepemimpinan” universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah Swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali a.s. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka meng agungkan kemuliaan Imam Ali a.s. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk ka- limat afi rmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demi kian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali a.s. Sedangkan jika wali diartikan se bagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan pers ahabatan dan pertemanan dengan selain Allah, Ras ul, dan Ali a.s. bagi kaum Muslim. Padahal, kenyataannya kaum Muslim dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan yang lain.

Kategori Ayat Kedua

Al-Quran Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait a.s. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali a.s. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebajikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Al-Syûrâ [42]: 23) Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah Swt. kepada segenap hambaNya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain a.s. Sedangkan maksud dari “iqtirâf al-hasa- nah” (mengerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini. Dalam sebuah riwayat, Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”[29]

Dalam sebuah hadis, Jâbir ibn Abdillah berkata: “Seorang Arab Badui pernah datang menjumpai Nabi Saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Arab Badui itu segera men impali, ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab, “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’.

Orang Arab Badui itu bertanya lagi, ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi Saw. menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian, orang Arab Badui itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu: barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”[30]

Allah Swt. berfirman: “Barang siapa menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepa danya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubâhalah agar kita jadi- kan kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 61) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlu Bait Nabi Saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain a.s.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an- nisâ’ (wanita), yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ a.s., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib a.s., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).[31]

Allah Swt. berfirman: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut ….” (QS. Al-Dahr [76]: 1) Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis ber- pendapat bahwa surat ini diturunkan untuk Ahlu Bait Nabi Saw.32 Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya  lah bermaksud menghilangkan segala noda dari  kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 33) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang ahlul-Kisâ’.33 Mereka adalah Rasulullah Saw.; Ali a.s.; Sayyidah Fathimah, buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah ridha dengan keridhaannya dan murka dengan kemurkaannya; dan Hasan dan Husain a.s., ke- dua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah Saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keutamaan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini: Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathim ah, Hasan, Husain, dan Ali a.s. di rumahku.

Kemudian, Rasulullah Saw. menutupi mereka dengan kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: ‘Ya Allah, mereka adalah Ahlu Baitku. Hilangkanlah dari mer eka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu  Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat kisâ’ tersebut untuk aku masuk bersama mereka. Tetapi, beliau kembali menarik kisâ’ itu sembari bersabda, “Sesungguhnya eng- kau berada dalam kebaikan.”[34] Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyaksikan Rasulullah Saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali ibn Abu Thalib a.s. setiap kali masuk waktu shalat selama tujuh bulan berturut-turut. Dia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan shalat, semoga Allah merahmati kalian!’”[35] Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah ber- kata: “Aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, dia mendatangi pintu rumah Fathimah a.s. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala ko- toran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”36 Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah Saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait a.s. lantaran Ahlul Bait a.s. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan du- niawi maupun ukhrawi.

Kategori Ayat Ketiga Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali a.s. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan terkemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Dan diatas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘râf [7]: 46) Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi di atas Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali ibn Abu Thalib a.s., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pencinta mer eka dengan wajah mereka yang bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”[37] Allah Swt. berfirman: “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 23) Ali a.s. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara dia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah ibn Hârist. Adapun ‘Ubaidah, dia telah gugur sebagai syahid di medan Badar, dan Hamzah juga telah gugur di medan Perang Uhud. Sementara aku ma- sih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini (sembari dia men unjuk jenggot dan kepalanya).”[38]

Kategori Ayat Keempat

Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam para mu- suhnya yang senantiasa berusaha untuk menghapus segala keutamaannya.

Allah Swt. berfirman: “Apakah kamu menyama-kan pekerjaan memberi minuman kepada orang- orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masji dil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di ja lan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Taubah [9]: 19) Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s., Abbâs, dan Thalhah ibn Syaibah ketika mereka saling men unjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah ber- kata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusa n tab irnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beri badah haji.” Ali a.s. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan shalat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan shalat, dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian, turunlah ayat tersebut.[39] Allah Swt. berfirman: “Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidak- lah sama.” (QS. Al-Sajdah [32]: 18) Ayat ini turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali a.s. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajam daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali a.s. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik.” Kemudian turunlah ayat tersebut.[40] []

 

Catatan kaki:

16. Târîkh Baghdad, jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.

17. Tafsir At-Thabarî, jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musadrak Al- Hâkim, jil. 3/129.

18. Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/267.

19. Usud Al-Ghâbah, jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al- Wâhidî, hal. 64.

20. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.

21. Tafsir At-Thabarî, jil. 8/145.

22. Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.

23. Târîkh Baghdad, jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 6/19.

24. Dalâ’il Ash-Shidq, jil. 2/152.

25. Tafsir Ar-Râzî, jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, jil. 6/186.

26. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 3/106; Tafsir Al- Kasysyâf, jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 7/305.

27. Ragib Al-Isfahani dalam Mufradat Al-Quran, ha- laman 570 mengatakan, “Wilayah berarti keme- nangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan.” Sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti, yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subjek (ism fa’il) dan terkadang objek (ism maf’uli). Thabarsi dalam Majma’ al-Bayân setelah ayat 157, Surat Al-Baqarah mengatakan, “Wali dari kata walâ berarti berdekatan tanpa ada penghalang,

wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan, dan secara langsung, mengurusi, me- nyuruh, dan melarang berkenaan dengan semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah ham- ba.” Ibnu Faris juga mengatakan, “Barang siapa bert anggung jawab atas urusan seseorang, maka ia akan menjadi wali baginya.” (Maqâyis al-Lughah, jilid 6, hal. 141).

28. Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (Mengenal Imam), jilid 5, hal. 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al-Murajaat, Dialog 38, Ustad Muthahhari, Majmue-ye Atsar, jilid 3, halaman 268-289.

29. Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al- Mantsûr, jil. 7/348.

30. Hilyah Al-Awliyâ’, jil. 3/102.

31. Tafsir Ar-Râzî, jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, jil. 1/35; Shahîh Muslim, jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, jil. 7/63; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, jil. 3/193.

32. Tafsir Ar-Râzî, jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, jil. 6/546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, jil. 1/93; Ar-Riyâdh An- Nâdhirah, jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.

33. Tafsir Ar-Râzî, jil. 6/783; Shahîh Muslim, jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, jil. 2/264; Ar- Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, jil. 22/5; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 4/107; Sunan Al-Baihaqî, jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.

34. Mustadrak Al-Hâkim, jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, jil. 5/521.

35. Ad-Durr Al-Mantsur, jil. 5/199.

36. Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.

37. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.

38. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al- Abshar, hal. 80.

39. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, jil. 4/146; Asbâb An- Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.

40. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/206.

 

Ketawa Mati Ala Syiah yang dianggap membenarkan adanya tahrif Al-Quran ?? Justru Ketawa Mati Ala Wahabi

Syiah Menjawab Tudingan:
Penolakan Syiah terhadap Tahrif Al-Quran

 

Ada sejumlah hadis yang juga seolah-olah menunjukkan tahrif dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah. Misalnya dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al- Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.” 

 Penolakan Syiah terhadap Tahrif Al-Quran

Pembahasan hadis-hadis riwayat Al-Kulaini yang dianggap membenarkan adanya tahrif Al-Quran.

Riwayat Pertama

Abu Ja’far (Imam Al-Baqir) a.s. berkata, “Tidak seorang pun yang mengaku telah mengumpulkan Al-Quran sebagaimana yang telah diturunkan, melainkan ia adalah pembohong besar.  Dan tidak ada yang mengum pulkan serta menghafalnya seba gaimana diturunkan, kecuali Ali ibn Abu Thalib dan para imam dari keturunannya.”

Terlepas dari masalah yang terkait dengan sanad riwayat di atas, sebab ‘Amr ibn Abu Al-Miqdâm masih diperselisihkan para ulama Rijal tentang ketsiqahannya79, perlu diketahui bahwa dalam hadis tersebut tid ak ada penegasan akan terjadinya pengurangan pada Al-Quran Al-Karîm.

Sebab kata ﲨﻊ disusul dengan kata ﺣﻔﻆ, yang memberikan makna bahwa yang dihafal dan dikumpulkan oleh Imam Ali dan para Imam suci Syiah a.s. adalah ilmu tentang seluruh teks ayat Al-Quran beserta takwil, tafsir, dan kandungannya baik yang zhahir maupun yang bathin. Dan bukan sekadar menghafal teks ayat-ayat suci Al-Quran. Selain itu, pemaknaan seperti itu sangat sejalan dengan keyakinan Al-Kulaini yang memasukkan hadis di atas dalam bab khusus dengan judul: ﹶﻤﻊﹺ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥﹶ ﻛﻠﱠﻪﹸ ﺇﻻﱠ ﺍﻷﺋﻤﺔ) ﻉ (ﻭ ﺃﳖﻢ ﺇﹺﻧﱠﻪﹸ ﱂ ﳚ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻤﹶﻪﹸ ﻛﻠﱠﻪﹸ . Bahwa sesungguhnya tidak ada yang mengumpulkan Al-Quran seluruhnya, kecuali para imam dan mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Quran. Dalam bab ini Al-Kulaini meriwayatkan enam hadis, empat hadis terakhir berbicara tentang ilmu para Imam Ahlul Bait tentang apa yang terkandung dalam Al-Quran. Sedangkan dua hadis pertama adalah yang telah dikutip di atas.

Pada hadis di atas, terdapat dua masalah yang perlu didiskusikan, pertama, adanya mushaf milik Imam Ali a.s. Kedua, bentuk dan hakikat mushaf tersebut. Tent ang masalah pertama, tidak diragukan bahwa se- peninggal Rasulullah Saw. Imam Ali a.s. telah meluangkan waktu beliau untuk mengumpulkan Al-Quran. Berita tentangnya telah diterima kebenarannya oleh ulam a Ahlus Sunnah.

As-Sijistani dalam kitab Al-Mashâhif meriwayatkan dari Ibnu Sîrîn, berkata, “Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ali bersumpah untuk tidak mengenakan ridâ’ kecuali untuk shalat Jumat sehingga dia selesai mengumpulkan Al-Quran dalam sebuah mushaf.”80 Berita tentangnya juga dapat dibaca dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah seperti Al-Fahrasat Ibnu Nadîm, Al-Itqân As-Suyuthi, dan lain-lain. Kedua, tentang hakikat mushaf Imam Ali a.s. Para ulama menyebutkan bahwa ia ditulis sesuai dengan urutan nuzûl-nya, di samping disertakan keterangan tentang makna dan ta’wîlnya. Ibnu Juzzai berkata, “Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ali ibn Abu Thalib r.a. duduk di rumahnya, dia mengumpulkan Al-Quran sesuai urutan tanzîl-nya.

Andai mushaf itu ditemukan pasti di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan, tetapi sayang tidak ditemu-kan.”81 Suyuthi mengatakan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa tertib susunan/urutan surat-surat ditetap- kan berdasarkan ijtihad para sahabat. Ibnu Fâris berdalil bahwa di antara para sahabat ada yang menyusun surat-surat Al-Quran berdasarkan urutan tanzîl/turunnya, yaitu mushaf Ali. Awal mushaf itu adalah surat Iqra’ kemudian Nûn, kemudian Al-Muzammil, dan demikian seterusnya hingga akhir surat-surat Makkiyah, kemudian surat-surat Madaniyyah.”82

Riwayat Kedua

Hadis kedua yang diriwayatkan Al-Kulaini dalam bab tersebut adalah:

“Dari Abu Ja’far a.s. Dia berkata, ‘Tidak ada seorang yang mengaku memiliki seluruh Al- Quran, zhahir dan batinnya melainkan para washi (imam).’”

Terlepas dari kelemahan dua perawinya yang bernama Muhammad ibn Sinan dan Al-Munakhk hal— sebagaimana disebutkan oleh para pakar Ilmu Rijâl Syiah seperti An-Najjâsyi dalam Rijâlnya, Ath-Thûsi dalam Fihrasat, Tahdzîb Al-Ahkâm ketika menyebut hadis dengan nomor 1464 pada juz 7/361, Al-Istib- shâr (3/224) ketika menyebut hadis nomor 810, Al- Kasyi dalam Rijâl-nya, dan Al-Allamah Al-Hilli dalam Rijâl-nya dan sebagainya—penyebutan kalimat:  ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭ ﺑﺎﻃﻨﻪ akan memperjelas makna hadis tersebut, bahwa yang dimiliki para imam dan tidak dimiliki selain mereka adalah ilmu seluruh Al-Quran baik yang zhahir maupun yang batin. Jadi dalam usaha memfahami hadis pertama tidak dapat dipisahkan dari hadis kedua dan juga dari penempatan keduanya pada bab tentang ilmu para imam.

Demikianlah pemahaman para ulama Syiah seperti yang terungkap dalam Hasyiyah atas Al-Kâfî oleh Sayy id Ath-Thabathaba’i (1/228) dan Syarah Ash-Sha hîfah as-Sajjâdiyah oleh Sayyid Ali ibn Ma’shum Al-Madani (401). Untuk memperjelas makna kedua hadis di atas, mungkin kita bisa merujuk pada perkataan Ibnu Umar berikut ini: “Jangan sekali-kali seorang dari kalian mengatakan, ‘Aku telah mengambil seluruh Al- Quran!’ Tahukah dia apa ‘seluruhnya’ itu! Telah banyak (ilmu yang terkandung dalam) Al-Quran yang hilang. Akan tetapi, hendaknya dia berkata, ‘Aku mengambil yang zhahir saja.’”83

Riwayat Ketiga

Hadis ketiga yang disebutkan sebagai tuduhan tahrif dalam Al-Kâfi adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa Jibril a.s. kepada (Nabi) Muhammad Saw. adalah 17.000/tujuh belas ribu ayat.”

Hadis di atas diriwayatkan Al-Kulaini dalam ki- tab Al-Kâfi  pada bab Kitabu Fadhli Al-Quran, bab An- Nawâdir. Para perawi dalam silsilah riwayat di atas adalah tsiqâh seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl Syiah. Karenanya, sebagian orang menyerang Syiah dengan menyatakan bahwa hadis riwayat Al-Kâfi  yang menunjukkan adanya tahrif  di atas adalah sahih, jadi berarti Syiah meyakini adanya tahrif. Padahal, seperti diketahui bersama, baik dalam disiplin Ilmu Hadis Ahlus Sunnah maupun Syiah, bahwa bisa jadi sebuah hadis itu sahih dari sisi sanadnya, dalam arti para perawinya tepercaya/tsiqât, namun sebenarnya pada matannya terdapat masalah. Sebab ketepercayaan seorang perawi bukan segalanya dalam menentukan status sebuah hadis. Kita harus membuka kemungkinan boleh jadi dia lupa, atau salah dalam menyampaikan matan hadis dan sebagainya.

Selain itu, hadis di atas adalah hadis ahâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan baik dalam kitab Al-Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syiah lainnya dengan sanad diatas. Di samping itu, perlu dimengerti bahwa Al-Kulaini memasukkan hadis di atas dalam bab An-Nawâdir. Dan seperti disebutkan Syaikh Mufîd, para ulama Syiah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir (bentuk tunggal kata nawâdir) sama dengan istilah syâdz (ganjil). Para Imam Syiah telah memberikan kaidah dalam menimb ang sebuah riwayat, yaitu hadis yang syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang di- sepakati/al-mujma’ ‘alaih. Imam Ja’far a.s. bersabda,“Perhatikan apa yang diriwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Di antara riwayat-riwayat itu, apa  yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, maka ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur menurut sahabat-sahabatmu, maka tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ….”84

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat syâdz nâdirah (ganjil) dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemuka Syiah di sepanjang zaman, di antaranya Syaikh Shadûq, Syaikh Mufîd, Sayyid Al-Murtadha ‘Almul Hudâ, Syaikh Ath-Thûsi, Allamah Al-Hilli, Syaikh Ath-Thabarsi, dan puluhan bahkan ratusan lainnya. Angka 17.000 itu ternyata dalam beberapa manuskrip Al-Kâfi  tertulis 7.000. Dengan demikian, belum dapat dipastikan angka tersebut dari riwayat Al-Kâfi . Bisa jadi kesalahan dilakukan oleh penulis sebagian  manuskrip kuno kitab Al-Kâfi . Anehnya, angka 17.000/tujuh belas ribu ayat telah dinukil dari Al Kâfi  oleh beberapa ulama yang menuduhkan tahrif kepada Syiah seperti:

1. Al-Alûsi dalam Mukhtshar Tuhfah al Itsnâ ‘Asyriyah (hal. 52).

2. Mandzûr An-Nu’mâni dalam Ats-Tsawrah Al- Irâniyha Fî Mîzâni Al-Islâm (hal. 198).

3. Muhammad Mâlullah dalam Asy-Syiah wa Tah- rif ‘u Al-Qurân (hal. 63).

4. Dr. Muhammad Al-Bandâri dalam At-Tasyayyu’ Baina Mafhûmi Al-Aimmah wa Al-Mafhûm Al- Fârisi (hal. 95).

5. Dr. Shabir Abdurrahman Tha’imah dalam Asy- Syiah Mu’taqadan wa Madzhaban (hal. 103).

6. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa As-Sunnah: (hal. 80) dan Asy-Syiah wa Al-Qurân (hal. 31).

7. Dr. Umar Farîj dalam Asy-Syiah Fî At-Tashaw- wur Al-Qurâni (hal. 24).

8. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn (hal. 228).

Adapun di antara yang menisbatkan tahrif dalam Syiah yang menyebutkan hadis tersebut dari Al- Kâfi dengan angka 7.000/tujuh ribu ayat adalah:

1. Musa Jârullah dalam Al-Wasyî’ah (hal. 23).

2. Abdullah Ali Al-Qashîmi dalam Ash-Shirâ’ Baina Al-Islâm wa Al-Watsaniyah (hal. 71).

3. Syaikh Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab Al- Imâm Ash-Shâdiq (hal. 323).

4. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn (hal. 228).

5. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa Al- Qurân (hal. 31).

Hadis riwayat Al-Kâfi  di atas, dalam naskah kuno yang dimiliki dan dijadikan pijakan Al-Faidh Al-Kâsyâni dalam penukilan hadis Al-Kâfi  dalam ensklopedia hadis berjudul Al-Wâfi  yang beliau karang, adalah 7.000/tujuh ribu ayat. Dan beliau tidak menyebut-nyebut adanya riwayat dengan redaksi 17.000/tujuh belas ribu ayat. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa naskah asli Al-Kâfi  yang dimiliki Al-Faidh Al-Kâsyâni redaksinya adalah 7.000/tujuh ribu ayat, bukan 17.000/tujuh belas ribu ayat! Lebih lanjut baca kitab Shiyânatu Al-Qurân; Al-Marhum Syaikh Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah (hal. 223-224). Jumlah 7.000/tujuh ribu itu disebut tentunya dengan menggenapkan angka pecahan yang biasa dilakukan orang- orang Arab dalam menyebut angka/bilangan yang tidak genap. Demikian diterangkan oleh Allamah Asy-Sya’râni dalam Ta’lîqah-nya atas kitab Al-Wâfi .

Ada sejumlah hadis yang juga seolah-olah menunjukkan tahrif dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah. Misalnya dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al- Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa mem bacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.”85

Dalam kitab Al-Itqânnya As-Suyuthi kembali menyebutkan riwayat di atas dalam pasal, Naw’ (macam) ke-19: Bilangan surat, ayat, kata-kata, dan hurufnya dari riwayat Ath-Thabarâni, dan setelahnya ia mengomentari dengan mengatakan, “Hadis ini, seluruh perawinya tepercaya, kecuali guru Ath-Thabarâni; Muhammad ibn Ubaid ibn Adam ibn Abi Iyâs. Adz-Dzahabi mempermasalahkannya karena riwayat hadis di atas.”86 Artinya pada dasarnya dia juga jujur tepercaya, hanya saja dipandang cacat karena dia meriwa- yatkan hadis di atas.

Jalaluddin As-Suyuthi sendiri menerima kesahihan dan kemu’tabaran hadis di atas, dengan mengatakan, “Dan di antara hadis-hadis yang meng-i’tibar-kan masalah huruf-huruf Al-Quran adalah apa yang diriwayatkan At-Turmudzi (lalu dia menyebutkannya) dan apa yang diriwayatkan Ath- Thabarâni ….” yaitu hadis di atas. Hadis riwayat Khalifah Umar di atas telah diterima oleh para ulama Ahlus Sunnah, bahkan ada yang menyebutnya ketika menghitung jumlah huruf-huruf Al-Quran seperti yang dilakukan Doktor Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Rihâbul Qur’an Al- Karîm (hal. 132). Az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhân-nya87 menyebut beberapa hasil penghitungan para pakar Al- Quran tentang bilangan huruf Al-Quran, seperti di bawah ini:

1. Dalam penghitungan Abu Bakar Ahmad ibn Hasan ibn Mihrân: 323.015 huruf.

2. Dalam penghitungan Mujahid: 3.210.00 huruf.

3. Dalam penghitungan para ulama atas perintah Hajjaj ibn Yusuf: 340.740 huruf.

Inilah pendapat-pendapat yang disebutkan Az- Zarkasyi. Sengaja di sini disebutkan dengan beragam perbedaannya, agar dapat dilihat langsung bahwa jumlah tertinggi yang disebutkan di atas tidak melebihi tiga ratus empat puluh satu ribu huruf. Itu artinya jumlah ayat Al-Quran yang hilang sebanyak lebih dari 686.260 huruf. Sepertinya Khalifah Umar hendak memperkuat apa yang beliau riwayatkan dalam hadis di atas dengan penegasan lanjutan yang sangat tegas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbâs, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul. Setelah berkumpul dia berpidato, setelah memuji Allah, dia berkata: “Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Ki tab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al-Quran yang hilang bersama (wafatnya Nabi) Muh am- mad.”88

Namun, tak ada satu pun ulama Syiah yang menjadikan hadis-hadis di atas sebagai dasar untuk menuduh bahwa Ahlus Sunnah meyakini adanya tahrif, karena Syiah meyakini bahwa pendapat yang menyatakan ada mazhab Islam atau bahkan mazhab di luar Islam yang mampu mengubah Al-Quran berarti meng- ingkari Al-Quran dan jaminan Allah untuk menjaganya. Berikut ini adalah sebagian karya ulama Syiah yang menegaskan ketiadaan tahrif dalam Al-Quran:

1. I’tiqâdât: Ash-Shadûq (w. 381 H)

2. Aâil Al-Maqâlâl Fî Al-Madzâhib Al-Mukhtârât: Syaikh Mufid (w. 413 H)

3. Al-Masâil Ath-Tharablusiyah: Sayyid Murtadha yang bergelar ‘Alamul Huda (w. 436 H)

4. At-Tibyân Fi Tafsîr Al-Quran; Syaikh Ath-Thûsi yang bergelar Syaikh Ath-Thâifah (w. 460 H)

5. Tafsir Majma’ Al-Bayân: Ath-Thabarsi yang ber- gelar Aminul Islam (w. 548 H)

6. Sa’du As-Su’ûd: Sayyid Abul Qasim Ali Ibn Thâwûs Al-Hilli (w. 664 H)

7. Ajwibah Al-Masâil Al-Mihnâwiyah: Allamah Al-Hilli (w. 726 H)

8. Ash-Shirâth Al-Mustaqîm: Zainuddin Al-Baya- dhi Al-Amili (w. 877 H)

9. Tafsir Manhaj Ash-Shâdiqîn: Fathullah Al-Kâ- syân  i (w. 988 H)

10. Al-Wâfi: Al-Faidh Al-Kâsyâni (w. 1019 H)

11. Bihar Al-Anwâr, jilid 92: Syaikh Muhammad Baqir Al-Majlisi (w. 1111 H)

12. Kasyfu Al-Ghithâ’: Syaikh Akbar Ja’far yang  di- kenal dengan gelar Kâsyif Al-Ghithâ’ (w. 1228 H)

13. Tafsir ‘Âlâu Ar-Rahmân: Syaikh Muhammad Jawad Al-Balâghi (w. 1352 H)

14. A’yân Asy-Syiah: Sayyid Al-Mujtahid Al-Akbar Muhsin Al-Amin Al-‘Âmili (w. 1371 H)

15. Al-Fushûl Al-Muhimmah Fi Ta’lîf Al-Ummah dan Ajwibah Masâil Jârullah: Sayyid Al-Imam Syarafuddin Al-Muaswi (w. 1381 H)

16. Al-Bayân Fî Tafsîr Al-Qurân: Sayyid Al-Marja’ Al-A’la Abul Qâsim Al-Khûi.

17. Tahdzîb Al-Ushul dan Anwâr Al-Hidâyah: Imam Rûhullah Al-Muaswi Al-Khumaini (w. 1409 H)

Untuk kesempurnaan penelitian perlu diketahui bahwa konsep tanzîl dalam riwayat pertama difahami

oleh sebagian ulama Syiah sebagai tafsir atau penjelasan.

 

 

Catatan-Catatan

79. Lebih jelasnya baca Tanqîh Al-Maqâl, 2/323.

80. Al-Mashâhif: 16. 81. At Tas-hîl Li ‘Ulûmi at Tanzîl; Imam Muhammad ibn Ahmad ibn Juzzai Al-Kalbi, 1/4, Muqaddimah ‘Ulâ/mukadimah pertama).

82. Al-Itqân, 1/66.

83. Ad-Durr Al-Mantsûr, 1/106 dan Fadhâil Al-Qurân; Abu Ubid Al-Qâsim ibn Sallâm: bab 51, hadis 1, hal. 190.

84. HR. Al-Kâfi, Kitab Fadhli Al-‘Ilmi, bab Ikhtilâf al- Hadîts, hadis no. 10.

85. Ad-Durr al-Mantsûr, 6/422.

86. Al-Itqân, 2/93, cet. Al-Halabi-Mesir.

87. Al-Burhân Fî ‘Ulûmil Qur’ân, 1/314-315. cet. Dâr al-Kutub Al-Ilmiah. Lebanon. Thn. 1988.

88. Mushannaf Ash-Shan’âni, 7/345, hadis no. 13329. Maksud beliau, janganlah kalian bersedih dan ke- mudian mengingkari ayat rajam, walaupun ia sekarang tidak lagi tertera dalam Al-Quran. Sebab bukan hanya ayat itu yang hilang, banyak ayat lain juga hilang bersamanya!

Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain

Benarkah Yazid bin Mu’awiyah Tidak Terlibat Dalam Pembunuhan Husain bin Aliy?

Salah satu syubhat nashibiy dalam merendahkan Syi’ah adalah mereka menuduh bahwa sebenarnya kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan di sisi lain mereka membela Yazid bin Mu’awiyah dan mengatakan bahwa ia tidak memerintahkan dan tidak terlibat atas pembunuhan tersebut.

Perkataan nashibiy tersebut kalau dipikirkan dengan baik akan menimbulkan banyak kerancuan, diantaranya adalah

  1. Dalam riwayat shahih memang disebutkan bahwa sebagian sahabat seperti Ibnu Umar mencela penduduk Iraq Kufah atas pembunuhan Imam Husain. Riwayat-riwayat seperti ini yang dijadikan hujjah oleh nashibiy untuk menyatakan bahwa kaum Syi’ah adalah pembunuh Husain, menurut pandangan mereka, siapa lagi penduduk Kufah kalau bukan Syi’ah?. Jadi yang dimaksudkan para nashibiy bahwa Syi’ah membunuh Imam Husain adalah sebagian penduduk Kuufah yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain dan keluarganya. Tentu tidak bisa dipukul rata bahwa semua penduduk Kuufah adalah pembunuh Husain. Betapa banyak orang-orang Kufah yang tsiqat di masa Imam Husain tersebut dan mungkin tidak ikut terlibat maka apakah dengan seenaknya bisa dikatakan mereka pembunuh Imam Husain hanya karena mereka tinggal di Kuufah?.
  2. Sebenarnya pihak yang lebih patut bertanggung jawab adalah para petinggi yang memerintahkan pembantaian tersebut yaitu Yazid atau yang memimpin serangan tersebut seperti Ubaidillah bin Ziyaad dan Umar bin Sa’ad. Sebagian penduduk kufah tidak akan terlibat jika tidak ada yang mempengaruhi, memaksa, mengancam atau memerintahkan mereka
  3. Pengertian Syi’ah pada masa tersebut tidaklah sama dengan Syi’ah sekarang yang dikatakan nashibiy sebagai rafidhah, Syi’ah di masa tersebut lebih tepat diartikan bertasyayyu’ dan tidak mesti berpaham rafidhah. Dan kalau kita melihat kitab Rijal maka makna Syi’ah seperti ini mencakup juga tabiin kufah yang tsiqat di sisi ahlus sunnah pada masa Husain bin Aliy dan sebagian ulama ahlus sunnah di masa setelahnya. Contoh para ulama ahlus sunnah yang mendapat predikat seperti ini misalnya Sulaiman bin Mihran Al A’masyiy, Syarik, Abdurrazaq, dan lain-lain.
  4. Kita tidak akan menemukan dalam kitab Syi’ah Imamiyah orang-orang seperti A’masyiy, Syarik, dan Abdurrazaq sebagai orang-orang yang mereka jadikan pegangan dalam kitab mereka tetapi kita dapat menemukan dalam kitab ahlus sunnah bahwa mereka walaupun dituduh Syi’ah tetapi hadis-hadis mereka tetap menjadi pegangan ahlus sunnah. Sekarang silakan para nashibiy tersebut memiikirkan dengan baik ketika mereka menyatakan kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain, maka itu Syi’ah yang bagaimana?. Syi’ah yang jadi pegangan ahlus sunnah atau Syi’ah yang jadi pegangan Syi’ah Imamiyah.

Jadi hakikat sebenarnya pembunuh Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad bersama pasukan mereka yang menghadang Imam Husain di Karbala. Dalam pasukan tersebut terdapat mereka orang-orang Kufah yang memang setia dengan pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah dan terdapat pula sebagian penduduk Kuufah yang terlibat karena pengaruh, atau ancaman dari Ubaidillah bin Ziyad. Dan tentu Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah pada saat itu yang memerintahkan penyerangan kepada Imam Husain adalah orang yang paling patut untuk dikatakan sebagai pembunuh Imam Husain [‘alaihis salaam].

Walaupun begitu, sudah seharusnya penduduk Kufah yang tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut bergabung dengan Imam Husain dan membela Beliau bersama keluarganya. Bukankah mereka mengetahui bahwa akan ada pasukan yang dikerahkan untuk menghadang Imam Husain maka tidak ada tindakan yang benar pada saat itu kecuali bergabung dengan Imam Husain dan keluarganya.

.

.

.

Kemudian mengenai pembelaan nashibiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak terlibat atas pembunuhan Imam Husain maka memang kita temukan ada ulama yang menyatakan demikian seperti Ibnu Taimiyyah tetapi sebagian ulama lain telah menegaskan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Imam Husain, diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsiir, Ibnu Jauziy, Adz Dzahabiy, As Suyuthiy, Ibnu Hazm dan selainnya.

قلت ولما فعل يزيد بأهل المدينة ما فعل وقتل الحسين وأخوته وآله وشرب يزيد الخمر وارتكب أشياء منكرة بغضه الناس وخرج عليه غير واحد ولم يبارك الله في عمره

[Adz Dzahabiy] aku katakan “dan ketika Yazid melakukan terhadap penduduk Madinah apa yang telah ia lakukan, membunuh Husain, saudaranya dan keluarganya, Yazid meminum khamar, dan melakukan berbagai perbuatan mungkar, orang-orang jadi membencinya, menyimpang darinya lebih dari sekali dan Allah SWT tidak memberikan barakah dalam hidupnya” [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 2/65]

As Suyuthiy dalam Tarikh Al Khulafaa’ setelah menyebutkan kisah pembunuhan Imam Husain, ia berkata

لعن الله قاتله و ابن زياد معه و يزيد

Laknat Allah atas yang membunuhnya, Ibnu Ziyaad dan Yaziid [Tarikh Al Khulafaa’ 1/182]

Ibnu Katsiir dalam kitabnya Bidayah Wan Nihayah pernah berkata

وقد أخطأ يزيد خطأ فاحشا في قوله لمسلم بن عقبة أن يبيح المدينة ثلاثة أيام، وهذا خطأ كبير فاحش، مع ما انضم إلى ذلك من قتل خلق من الصحابة وأبنائهم، وقد تقدم أنه قتلالحسين وأصحابه على يدي عبيد الله بن زياد

Dan sungguh Yazid telah berbuat kesalahan dengan kesalahan yang begitu keji, ia memerintahkan kepada Muslim bin ‘Uqbah untuk menyerang Madinah selama tiga hari, dan ini kesalahan yang besar dan keji, bersamaan dengan itu banyak sahabat dan anak-anak mereka terbunuh, dan telah disebutkan sebelumnya bahwa ia telah membunuh Husain dan para sahabatnya melalui tangan Ubaidillah bin Ziyaad [Al Bidayah Wan Nihayah 8/243]

.

.

.

Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Yazid terlibat dalam pembunuhan Imam Husain sehingga kepala Imam Husain dibawa Ubaidillah bin Ziyaad kepada Yazid dan Yazid menusuk kepala Imam Husain tersebut

قال ابن أبي الدنيا وثنا أبو الوليد ، قال ثنا خالد بن يزيد بن أسد قال ثنا عمار الدهني عن أبي جعفر قال وضع رأس الحسين بين يدي يزيد وعنده أبو برزة، فجعل يزيد ينكت بالقضيب على فيه ، ويقول نفلقن هاماً…فقال له أبو برزة : ارفع قضيبك فوالله لربما رأيت فاه رسول الله صلى الله عليه وسلم على فيه يلثمه
قال ابن ابي الدنيا وثنا سلمة بن شبيب قال ثنا الحميدي عن سفيان قال سمعت سالم بن أبي حفصة يقول قال الحسن جعل يزيد بن معاوية يطعن بالقضيب موضع في رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ibnu Abi Dunyaa berkata telah menceritakan kepada kami Abul Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yaziid bin Asad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far yang berkata Kepala Husain diletakkan dihadapan Yazid dan disisinya ada Abu Barzah, maka Yazid menusuknya dengan tongkat seraya berkata “telah terpotong kepala…” maka Abu Barzah berkata “angkat tongkatmu, demi Allah aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menciumnya”

Ibnu Abi Dunyaa berkata dan telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy dari Sufyaan yang berkata aku mendengar Salim bin Abi Hafshah mengatakan Al Hasan berkata “Yazid bin Mu’awiyah menusuk dengan tongkat [kepala Husain] pada tempat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [menciumnya]…[Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 58]

Sanad dari Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa, telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu sebagai berikut

أخبرنا محمد بن ناصر ، قال : أخبرنا جعفر بن أحمد بن السراج ، قال : أخبرنا أبو طاهر محمد بن علي العلاف ، قال : أخبرنا أبو الحسين ابن أخي ميمي ، قال : ثنا الحسين بن صفوان ، قال : ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا القرشي

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Naashr yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As Siraaj yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Thaahir Muhammad bin Aliy Al ‘Alaaf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Akhiy Miimiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Shafwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa Al Qurasyiy… [Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 57]

Sanad Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa adalah jayyid [baik] berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Naashir, dikenal dengan Ibnu Naashir seorang imam muhaddis mufiid Iraaq. Ibnu Jauziy berkata “syaikh kami yang tsiqat hafizh dhabit termasuk ahlus sunnah” [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/265]
  2. Ja’far bin Ahmad As Siraaj seorang syaikh imam muhaddis musnad, Abu Bakar bin Arabiy berkata “tsiqat”. Ibnu Naashir berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyaar Adz Dzahabiy 19/228]
  3. Abu Thahir Muhammad bin Aliy yang dikenal Ibnu Al ‘Alaaf seorang imam yang alim, Al Khatib berkata “aku menulis darinya dan ia shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/608]
  4. Abu Husain Muhammad bin ‘Abdullah bin Husain Al Baghdadiy yang dikenal Ibnu Akhiy Miimiy syaikh shaduq musnad seorang yang tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/565]
  5. Husain bin Shafwan Abu Aliy seorang syaikh muhaddis tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/442]
  6. Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid yang dikenal Ibnu Abi Dunyaa seorang yang shaduq hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/321 no 3591]

Kami menukil dua sanad dari Ibnu Abi Dunyaa yang disebutkan Ibnu Jauziy, keduanya mengandung kelemahan tetapi saling menguatkan sehingga kedudukannya menjadi hasan.

.

.

Sanad pertama yaitu dari Ibnu Abi Dunyaa dari Abu Walid dari Khalid bin Yazid bin Asad dari ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far, berikut keterangan para perawinya

  1. Abul Walid adalah Ahmad bin Janab Al Mashiishiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Telah meriwayatkan darinya Muslim, Abu Zur’ah, Ahmad bin Hanbal dan anaknya [dimana mereka dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat]. Shalih Al Jazariy berkata “shaduq”. Al Hakim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim meriwayatkan darinya dan berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 25]
  2. Khalid bin Yazid bin Asad anak dari pemimpin Iraq, ia seorang ahli hadis dan ma’rifat, tidak mutqin, tafarrud dengan riwayat-riwayat mungkar. Al Uqailiy berkata “tidak memiliki mutaba’ah hadisnya”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy mengatakan hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah dan ia seorang yang dhaif tetapi ditulis hadisnya [As Siyaar Adz Dzahabiy 9/410]
  3. ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah . Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662].
  4. Abu Ja’far Al Baqir, Muhammad bin Aliy bin Husain seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/497 no 6151]. Ia seorang Sayyid Imam, lahir pada tahun 56 H [As Siyaar Adz Dzahabiy]

Para perawinya tsiqat kecuali Khalid bin Yazid ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar dan Abu Ja’far Al Baqir lahir tahun 56 H sedangkan peristiwa Yazid menusuk kepala Imam Husain terjadi pada tahun 61 H maka pada saat itu usia Beliau 5 tahun sudah memasuki usia tamyiz dan besar kemungkinan pada saat itu Beliau bersama ayahnya Aliy bin Husain dan keluarganya yang selamat digiring Ubaidillah untuk menghadap Yazid.

Sanad kedua yaitu Ibnu Abi Dunyaa dari Salamah bin Syabiib dari Al Humaidiy dari Sufyaan dari Salim bin Abil Hafshah dari Hasan Al Bashriy, berikut keterangan para perawinya

  1. Salamah bin Syabiib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/247 no 2494]
  2. Al Humaidiy Abdullah bin Zubair bin ‘Iisa Al Quurasyiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim seorang yang tsiqat hafizh faqih sahabat Ibnu Uyainah [Taqrib At Tahdzib 1/303 no 3320]
  3. Sufyan bin Uyainah perawi kutubus sittah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah, berubah hafalan diakhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi hanya dari perawi tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/245 no 2451]
  4. Salim bin Abil Hafshah termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad dan Tirmidzi seorang yang shaduq dalam hadis hanya saja ia berlebihan dalam syi’ahnya [Taqrib At Tahdzib 1/226 no 2171]. Terdapat perselisihan mengenai Salim bin Abi Hafshah, Ahmad bin Hanbal berkata “aku kira tidak ada masalah dalam hadisnya”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. ‘Amru bin Aliy menyatakan ia dhaif berlebihan dalam tasyayyu’. Abu Hatim berkata “ditulis hadinya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah”. Al Ijliy berkata “tsiqat”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Hibban berkata “sering terbalik dalam kabar dan keliru dalam riwayat”. Ibnu Adiy berkata “sesungguhnya aib atasnya hanyalah ia ghuluw dalam syi’ahnya adapun hadis-hadisnya aku harap tidak ada masalah padanya” [Tahdzib At Tahdzib juz 3 no 800]
  5. Hasan bin Abi Hasan Al Bashriy termasuk perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat faqiih fadhl masyhur banyak melakukan irsal dan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/160 no 1227]

Para perawi sanad kedua semuanya tsiqat kecuali Salim bin Abi Hafshah, ia diperselisihkan kedudukannya tetapi sanad ini bersama-sama sanad yang pertama kedudukannya saling menguatkanmaka derajatnya menjadi hasan.

Riwayat Ibnu Abi Dunyaa di atas dikuatkan pula oleh riwayat Ibnu Sa’ad berikut

أخبرنا كثير بن هشام قال حدثنا جعفر ابن برقان قال حدثنا يزيد بن أبي زياد قال لما أتي يزيد بن معاوية برأس الحسين بن علي جعل ينكت بمخصرة معه سنه

Telah mengabarkan kepada kami Katsiir bin Hisyaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Ziyaad yang berkata ketika didatangkan kepada Yazid bin Mu’awiyah kepala Husain bin Aliy ia menusuknya dengan tongkat yang ia bawa…[Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/448]

Riwayat ini para perawinya tsiqat kecuali Yazid bin Abi Ziyaad, ia seorang yang diperselisihkan kedudukannya dan yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

  1. Katsiir bin Hisyaam termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijliy berkata “tsiqat shaduq”. Abu Dawud berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 771]
  2. Ja’far bin Burqaan termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “jika meriwayatkan dari selain Az Zuhriy maka tidak ada masalah dalam hadisnya tetapi jika meriwayatkan dari Az Zuhriy maka sering keliru”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat dan dhaif dalam riwayat Az Zuhriy”. Ibnu Numair berkata “tsiqat dan hadis-hadisnya dari Az Zuhriy mudhtharib”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq”. Abu Nu’aim, Marwan bin Muhammad dan Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak kuat dalam riwayat Az Zuhriy dan tidak ada masalah dalam riwayat selainnya” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 131]
  3. Yazid bin Abi Ziyaad Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak hafizh”. Yahya bin Ma’in berkata “tidak kuat”. Al Ijliy berkata “ja’iz al hadits”. Abu Zur’ah berkata “layyin ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Dawud berkata “tidak diketahui satu orangpun yang meninggalkan hadisnya tetapi selainnya lebih disukai daripadanya”. Ibnu Adiy berkata “syi’ah Kufah dhaif ditulis hadisnya”. Jarir berkata dari Yazid bahwa ketika Husain terbunuh aku berumur 14 atau 15 tahun”. Ibnu Hibban berkata “shaduq kecuali ketika tua jelek dan berubah hafalannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ahmad bin Shalih Al Mishriy berkata “tsiqat dan tidak membuatku heran perkataan yang membicarakannya”. An Nasa’iy berkata “tidak kuat” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 531]

.
.

Kemudian dikuatkan lagi oleh riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy sebagaimana yang disebutkan Ath Thabraniy berikut

حدثنا علي بن عبد العزيز ثنا الزبير بن بكار حدثني محمد بن الضحاك بن عثمان الحزامي عن أبيه قال خرج الحسين بن علي رضي الله عنهما إلى الكوفة ساخطا لولاية يزيد بن معاوية فكتب يزيد بن معاوية إلى عبيد الله بن زياد وهو واليه على العراق إنه قد بلغني أن حسينا قد سار إلى الكوفة وقد ابتلى به زمانك من بين الأزمان وبلدك من بين البلدان وابتليت به من بين العمال وعندها يعتق أو يعود عبدا كما يعتبد العبيد فقتله عبيد الله بن زياد وبعث برأسه إليه فلما وضع بين يديه تمثل بقول الحسين بن الحمامنفلق هاما من رجال أحبة … إلينا وهم كانو أعق وأظلما

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Zubair bin Bakaar yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Dhahhaak bin ‘Utsman Al Hazaamiiy dari Ayahnya yang berkata Husain bin Aliy [radiallahu ‘anhum] pergi menuju Kufah dalam keadaan marah terhadap kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah. Maka Yazid bin Mu’awiyah menulis kepada ‘Ubaidillah bin Ziyaad dan ia adalah wali-nya atas Irak “bahwasanya telah sampai kepadaku Husain melakukan perjalanan menuju Kufah dan sungguh itu akan menjadi bencana bagi zamanmu dibanding zaman-zaman lainnya dan negrimu dibanding negri-negri lainnya dan akan menimpamu dibanding perbuatan lainnya, dan dengannya engkau akan terbebas atau akan kembali menjadi budak seperti halnya perbudakan para budak, maka Ubaidillah bin Ziyad membunuhnya [Husain] dan mengirimkan kepalanya kepada Yazid, ketika [Kepala Husain] diletakkan di hadapannya maka ia berujar dengan perkataan Husain bin Hamaam “telah terpotong kepala orang yang dicintai…kepada kami mereka durhaka dan zalim” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 3/115 no 2846]

Para perawi sanad Thabraniy tsiqat dan shaduq. berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin ‘Abdul Aziiz, Abul Hasan Al Baghawiy, Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 6/196 no 1076]. Daruquthniy berkata tentangnya “tsiqat ma’mun” [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 389]
  2. Zubair bin Bakaar termasuk perawi Ibnu Majah, seorang Qadhiy Madinah yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991]
  3. Muhammad bin Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Mundzir dan penduduk Madinah [Ats Tsiqat 9/59 no 15174]. Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya tanpa jarh dan ta’dil dan menyebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya Yaqub bin Humaid Al Madaniy [Al Jarh Wat Ta’dil 7/290 no 1576]. Jadi telah meriwayatkan darinya perawi yang tsiqat dan shaduq yaitu Ibrahim bin Mundzir [shaduq] [Taqrib At Tahdzib 1/94 no 253], Yaqub bin Humaid [shaduq yahim] [Taqrib At Tahdzib 1/607 no 7815] dan Zubair bin Bakaar [tsiqat] [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991].
  4. Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Mush’ab Az Zubairiy dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah berkata “tidak kuat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah dan dia shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsabit”. Ibnu Bukair berkata “tsiqat”. Ibnu Numair berkata “tidak ada masalah padanya”. Ali bin Madiniy berkata “tsiqat”. Ibnu ‘Abdil Barr berkata “banyak melakukan kesalahan tidak menjadi hujjah” [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787].

Riwayat Ath Thabraniy ini memiliki cacat yaitu Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan bahwa ia wafat tahun 153 H [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787] sedangkan kisah Yazid tersebut terjadi pada tahun 61 H. Maka terdapat jarak 92 tahun , tidak diketahui kapan lahirnya Dhahhaak bin Utsman dan jika berdasarkan usia pada umumnya maka ia lahir di atas tahun 61 H. Oleh karena itu riwayat Thabraniy tersebut dhaif karena sanadnya terputus, tetapi bisa dijadikan i’tibar.

.

.

Secara ringkas ada empat riwayat yang membuktikan bahwa kepala Imam Husain dibawa kehadapan Yazid dan tiga riwayat menyebutkan bahwa Yazid menusuk kepala Imam Husain dengan tongkat

  1. Riwayat Abu Ja’far Al Baqir lemah karena Khalid bin Yazid bin Asad seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar
  2. Riwayat Hasan Al Bashriy lemah karena Salim bin Abi Hafshah diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  3. Riwayat Yazid bin Abi Ziyaad lemah karena Yazid bin Abi Ziyaad diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  4. Riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy lemah karena sanadnya terputus dan bisa dijadikan i’tibar.

Keempat riwayat tersebut saling menguatkan maka kedudukannya menjadi hasan. Kepala Imam Husain memang dibawa ke hadapan Yazid dan Yazid menusuknya dengan tongkat.

Jika ada yang berdalih bahwa riwayat-riwayat di atas tidak menunjukkan bahwa Yazid memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad untuk membunuh Imam Husain. Maka jawabannya adalah sebagai berikut, jika para nashibiy tersebut menginginkan riwayat shahih dengan lafaz jelas perintah Yazid kepada Ubaidillah bin Ziyaad maka kami katakan dengan jujur kami tidak menemukannya. Tetapi anehnya para nashibiy itu menyatakan bahwa riwayat paling shahih mengenai peristiwa karbala dan siapa pembunuh Imam Husain adalah riwayat Shahih Bukhariy berikut

حدثني محمد بن الحسين بن إبراهيم قال حدثني حسين بن محمد حدثنا جرير عن محمد عن أنس بن مالك رضي الله عنهأتي عبيد الله بن زياد برأس الحسين بن علي عليه السلام فجعل في طست فجعل ينكث وقال في حسنه شيئا فقال أنس كان أشبههم برسول الله صلى الله عليه و سلم وكان مخصوبا بالوسمة

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Husain bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari Muhammad dari Anas bin Malik [radiallahu ‘anhu] “didatangkan kepada Ubaidillah bin Ziyaad kepala Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] maka ia meletakkannya di bejana dan menusuknya, seraya berkata tentang ketampanannya. Maka Anas berkata “Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan saat itu rambutnya disemir dengan wasmah [Shahih Bukhariy 5/26 no 3748]

Apakah dalam riwayat shahih Bukhariy di atas terdapat lafaz Ubaidillah bin Ziyad memerintahkan membunuh Imam Husain?. Tidak ada lafaz seperti itu tetapi para nashibiy memahami riwayat ini sebagai bukti paling shahih bahwa yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyaad.

Riwayat seperti ini sudah cukup bagi mereka yang ingin mencari kebenaran. Dihadapkannya kepala Imam Husain kepada Ubaidillah bin Ziyaad dan bagaimana cara Ubaidillah memperlakukan kepala Imam Husain tersebut menjadi bukti cukup bahwa ia bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]

Dan riwayat Bukhariy di atas tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang kami bahas sebelumnya, melainkan saling melengkapi. Setelah dihadapkan ke Ubaidillah maka ia mengirimkan kepala Imam Husain tersebut kepada Yazid dan Yazid-pun memperlakukan kepala Imam Husain tersebut dengan keji maka hal ini menjadi bukti bahwa Yazid bin Mu’awiyah juga bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam].

Pandangan kami adalah sebagaimana pandangan para ulama seperti Ibnu Hazm, Ibnu Katsiir, Adz Dzahabiy, Ibnu Jauziy dan As Suyuthiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah termasuk pihak yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]. Dan pandangan ini memang memiliki bukti kuat dari berbagai riwayat dan tarikh, diantaranya telah kami bawakan di atas.

.

.

Para nashibiy biasanya suka mencela Syi’ah sambil mengutip kitab-kitab Syi’ah yang menyatakan bahwa mereka yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah kaum Syi’ah sendiri. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya bahwa Syi’ah yang dimaksud adalah penduduk Kufah yang mengaku setia kepada Imam Husain tetapi pada akhirnya malah berkhianat atau berlepas diri dari Imam Husain. Hal ini diakui dalam mazhab Syi’ah sebagaimana nampak dalam literatur mereka, tetapi walaupun begitu mereka tidak menafikan bahwa orang yang paling bertanggung-jawab untuk pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah Yazid bin Mu’awiyah yang memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad kemudian Ubaidillah bin Ziyaad mempengaruhi, memerintahkan dan mengancam sebagian penduduk Kufah, sehingga sebagian mereka berkhianat dan sebagian lagi berlepas diri atau mungkin walaupun tidak ikut tetap tidak berani untuk menentangnya.

Terdapat riwayat shahih di sisi mazhab Syi’ah yang membuktikan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]

ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقولثلاث هن فخر المؤمن وزينه في الدنيا والآخرة: الصلاة في آخر الليل ويأسه مما في أيدي الناس وولايته الامام من آل محمد (صلى الله عليه وآله) قال: وثلاثة هم شرار الخلق ابتلى بهم خيار الخلق: أبو سفيان أحدهم قاتل رسول الله (صلى الله عليه وآله) وعاداه ومعاوية قاتل عليا (عليه السلام) وعاداه ويزيد بن معاوية لعنه الله قاتل الحسين بن علي (عليهما السلام) وعاداه حتى قتله

Ibnu Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan yang berkata aku mendengar Aba ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Ada tiga hal yang menjadi kebanggan seorang mukmin dan menjadi keindahan baginya dalam kehidupan dunia dan akhirat yaitu Shalat di akhir malam, tidak mengharapnya ia terhadap apa yang ada di tangan orang-orang, dan wilayah Imam dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau berkata “dan ada tiga orang makhluk yang paling buruk telah menyakiti makhluk yang paling baik yaitu Abu Sufyan yang memerangi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan memusuhinya, Mu’awiyah yang memerangi Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya, dan Yazid bin Mu’awiyah laknat Allah atasnya, yang memerangi Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya sampai membunuhnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/234]

Riwayat Al Kulainiy di atas sanadnya shahih, sanad Al Kulainiy sampai Hasan bin Mahbuub telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu dari Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/233]. Jadi sanad lengkap riwayat di atas adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Kami menukil riwayat di atas hanya ingin menunjukkan bahwa di sisi mazhab Syi’ah pandangan bahwa Yazid bin Mu’awiyah yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah pandangan yang shahih.

.

.

Kesimpulan :

Dalam pandangan mazhab Ahlus sunnah dan dalam pandangan mazhab Syi’ah telah tsabit bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam].

Umar bin Khaththab membaca Al Jumu’ah ayat 9 dengan lafaz yang berbeda dengan Al Qur’an sekarang

Benarkah Al Qur’an Versi Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] Berbeda Dengan Al Qur’an Sekarang?

Pertanyaan yang meresahkan tetapi jika anda membaca berbagai riwayat shahih maka sangat wajar timbul pertanyaan tersebut. Pada tulisan kali ini kami akan menunjukkan kepada para pembaca mengapa bisa timbul pertanyaan seperti itu

حدثني يونس بن عبد الأعلى قال أخبرنا ابن وهب قال ثنا حنظلة بن أبي سفيان الجمحي أنه سمع سالم بن عبد الله يحدث عن أبيه أنه سمع عمر بن الخطاب يقرأ إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فامضوا إلى ذكر الله

Telah menceritakan kepadaku Yuunus bin ‘Abdul A’laa yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyaan Al Jumahiy bahwasanya ia mendengar Salim bin ‘Abdullah menceritakan dari Ayahnya bahwasanya ia mendengar Umar bin Khaththab membaca ayat “idzaa nuudiyalish shalaati min yawmil jumu’ati famdhuu ilaa dzikrillaah” [Tafsir Ath Thabariy 22/638 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy]

Ath Thabariy menukil riwayat ini dalam kitab Tafsir surat Al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi sebagai berikut

يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله

Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu mengingat Allah…[QS Al Jumu’ah : 9]

Lafaz ayat fas’aw ilaa dzikrillaah dalam Al Qur’an dibaca Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dengan famdhuu ilaa dzikrillaah. Riwayat Ath Thabariy di atas kedudukannya shahih, berikut keterangan para perawinya

  1. Yunuus bin ‘Abdul A’laa bin Maisarah Ash Shadafiy termasuk perawi Muslim, Ibnu Majah dan Nasa’iy seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/349 tahqiq Mustafa Abdul Qadir Atha’]
  2. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi, seorang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  3. Hanzhalah bin Abi Sufyaan Al Jumahiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/250]
  4. Saalim bin ‘Abdullah bin Umar bin Khaththaab termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi salah seorang dari fuqaha sab’ah seorang yang tsabit ahli ibadah dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/335]

Bahkan diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] mengetahui lafaz bacaan Al Jumu’ah ayat 9 tersebut tetapi Beliau malah memerintahkan untuk membaca seperti apa yang ia baca

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ قال حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قال حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ قال رَأَى مَعِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه لَوْحًا مَكْتُوبًا فِيهِ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ فقال مَنْ أَمْلَى عَلَيْكَ هَذَا ؟ قلت أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فقال إِنَّ أُبَيًّا كَانَ أَقْرَأَنَا لِلْمَنْسُوخِ اقْرَأْهَا فَامْضُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah menceritakan kepada kami Mughiirah dari Ibrahim dari Kharasyah bin Al Hurr yang berkata Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] melihat lembaran yang di dalamnya tertulis ayat “idzaa nuudiyalish shalaati min yawmil jumu’ati fas’aw ilaa dzikrillaah” [QS Al Jumu’ah : 9] maka ia berkata “siapakah yang mendiktekan kepadamu ayat ini?”. Aku berkata “Ubay bin Ka’ab”. Maka ia berkata “sesungguhnya Ubay adalah orang yang paling tahu mengenai ayat mansukh diantara kami ”bacalah ayat itu “famdhuu ilaa dzikrillaah” [Akhbar Madinah Ibnu Syabbah 2/276-277]

Riwayat di atas mengisyaratkan bahwa Umar menganggap ayat yang dibacakan Ubay tersebut adalah mansukh, sehingga disini seolah-olah Umar menunjukkan keheranannya padahal menurut Umar, Ubay bin Ka’ab [radiallahu ‘anhu] adalah orang yang paling tahu mengenai ayat mansukh. Itulah sebabnya ia malah memerintahkan Kharasyah bin Al Hurr agar membacanya dengan “famdhuu ilaa dzikrillaah” seperti yang ia baca. Riwayat Ibnu Syabbah di atas kedudukannya shahih, berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Shabbaah Ad Duulabiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat lagi hafizh [Taqrib At Tahdzib 2/88]
  2. Husyaim bin Basyiir Al Washitiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat tsabit banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy [Taqrib At Tahdzib 2/269], riwayat di atas Husyaim menyatakan dengan jelas sima’ nya maka selamat dari tadlis dan irsal-nya
  3. Mughiirah bin Miqsam Adh Dhabiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang tsiqat mutqin kecuali ia melakukan tadlis dalam riwayatnya dari Ibrahiim [Taqrib At Tahdzib 2/208]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib terdapat komentar mengenai tadlisnya dari Ibrahim, Ahmad dan Ibnu Fudhail mengatakan ia melakukan tadlis dari Ibrahim tetapi Abu Dawud membantahnya bahwa ia tidak melakukan tadlis dari Ibrahim dan Aliy bin Madiniy menyebutkan bahwa ia orang yang paling alim dalam riwayat Ibrahim, kemudian riwayat ‘an anah Mughirah dari Ibrahiim telah diterima oleh Bukhariy dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 6851]. Jadi dapat disimpulkan bahwa tadlis Mughirah dari Ibrahim termasuk tadlis yang diterima dan memenuhi syarat Bukhariy Muslim.
  4. Ibrahiim bin Yazid An Nakha’iy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang faqiih tsiqat hanya saja banyak melakukan irsal, ia wafat tahun 96 H [Taqrib At Tahdzib 1/69]
  5. Kharasyah bin Al Hurr termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi, Abu Dawud mengatakan ia sahabat, Al Ijliy mengatakan ia tabiin kibar yang tsiqat, wafat tahun 74 H [Taqrib At Tahdzib 1/268]

Adapun soal Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy banyak melakukan irsal maka itu tidak membahayakan hadisnya karena tidak ada satupun ulama yang menyatakan bahwa ia melakukan irsal dalam riwayatnya dari Kharasyah bin Al Hurr dan berdasarkan tahun lahir dan wafat-nya Ibrahim hidup satu masa dengan Kharasyah maka berdasarkan kaidah jumhur ulama hadis, diterima dan dianggap muttashil riwayat ‘an anah perawi tsiqat bukan mudallis yang hidup dalam satu masa.

Dan diriwayatkan pula dengan sanad yang shahih bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] sampai wafatnya tetap membaca dengan bacaan “famdhuu ilaa dzikrillaah”.

عبد الرزاق عن معمر وغيره عن الزهري عن سالم عن بن عمر قال لقد توفي عمر وما يقرأ هذه الاية التي في سورة الجمعة إلا فامضوا إلى ذكر الله

‘Abdurrazzaaq dari Ma’mar dan selainnya dari Az Zuhriy dari Saalim dari Ibnu ‘Umar yang berkata sungguh Umar wafat dan tidaklah ia membaca ayat ini dalam Surat Al Jumu’ah kecuali dengan lafaz “famdhuu ilaa dzikrilaah” [Mushannaf ‘Abdurrazzaaq 3/207 no 5348]

Diantara selain Ma’mar bin Raasyid yang meriwayatkan hadis di atas dari Az Zuhriy adalah Yunus bin Yaziid sebagaimana dalam riwayat Ath Thabariy [Tafsir Ath Thabariy 22/639 tahqiq ‘Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy]. Riwayat ‘Abdurrazzaaq di atas sanadnya shahih berikut keterangan para perawinya

  1. ‘Abdurrazzaaq bin Hamaam Ash Shan’aniy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat hafizh penulis kitab, buta diakhir umurnya sehingga berubah hafalannya dan ia bertasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/599]. Riwayat di atas adalah dari Kitab-nya yang ditulis sebelum ia buta dan berubah hafalannya.
  2. Ma’mar bin Raasyid Al ‘Azdiy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang tsiqat tsabit fadhl kecuali riwayatnya dari Tsabit, A’masyiy, Hisyam bin Urwah dan apa yang ia riwayatkan di Basrah [Taqrib At Tahdzib 2/202]
  3. Muhammad bin Muslim, Ibnu Syihaab Az Zuhriy termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi seorang yang faqiih hafizh disepakati kemuliaan dan keitqanannya, termasuk pemimpin thabaqat keempat [Taqrib At Tahdzib 2/133]
  4. Saalim bin ‘Abdullah bin Umar bin Khaththaab termasuk perawi Bukhariy, Muslim, Ibnu Majah, Nasa’iy, Abu Daud dan Tirmidzi salah seorang dari fuqaha sab’ah seorang yang tsabit ahli ibadah dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/335]

Maka berdasarkan riwayat-riwayat shahih di atas tidak diragukan lagi bahwa Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] membaca Al Jumu’ah ayat 9 dengan lafaz yang berbeda dengan Al Qur’an sekarang yang disepakati kebenaran dan keasliannya. Kembali ke judul pertanyaan di atas maka kami persilakan untuk para pembaca menjawabnya sendiri?.

Menjawab Tulisan “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” www.lppimakassar.com

Berbicara tentang Syiah seakan tidak ada habisnya.

Membaca Al Qur’an Di Kamar Mandi Dalam Fiqih Syi’ah Dan Fiqih Ahlus Sunnah?

Tulisan ini seperti biasa terkesan membela Syi’ah tetapi hakikat sebenarnya hanya ingin menunjukkan kedunguan para nashibiy. Sebagian orang yang memiliki kenifaqan di hatinya memasukkan perkara ini dalam kumpulan sampah yang disebutnya “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” tanpa mereka sadari bahwa perkara yang sama juga ada dalam kitab pegangan mereka.

.

.

.

FiqihSyi’ah

Dalam Fiqih Syi’ah terdapat riwayat shahih di sisi mazhab mereka bahwa tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi. Berikut riwayat yang dimaksud

Al Kafiy juz 6

Al Kafiy juz 6 hal 316

عنه، عن إسماعيل بن مهران، عن محمد بن أبي حمزة، عن علي بن يقطين قالقلت لأبي الحسن عليه السلام: أقرء القرآن في الحمام وأنكح؟ قال: لا بأس

Darinya dari Isma’iil bin Mihraan dari Muhammad bin Abi Hamzah dari Aliy bin Yaqthiin yang berkata aku bertanya kepada Abul Hasan [‘alaihis salaam] “bolehkah aku membaca Al Qur’an di kamar mandi dan nikah [di dalamnya]?”. Ia berkata “tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 31]

Kemudian kebolehan membaca Al Qur’an di kamar mandi ini telah dikhususkan oleh riwayat setelahnya yaitu sebagai berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن ربعي بن عبد الله، عن محمد بن مسلم قال: سألت أبا جعفر عليه السلام أكان أمير المؤمنين عليه السلام ينهى عن قراءة القرآن في الحمام؟قال: لا إنما نهى أن يقرء الرجل وهو عريان فأما إذا كان عليه إزار فلا بأس

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Rib’iy bin ‘Abdullah dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “apakah amirul mukminin ‘alaihis salaam telah melarang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”. Maka Beliau menjawab “tidak, sesungguhnya yang dilarang hanyalah orang yang membaca sedang ia dalam keadaan telanjang, adapun jika ia memakai kain maka tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 32]

Al Majlisiy berkata bahwa riwayat pertama sanadnya shahih dan riwayat kedua sanadnya hasan [Mir’at Al ‘Uquul 22/405]. Sebagian nashibiy menjadikan adanya riwayat ini sebagai bahan celaan dan tertawaan terhadap mazhab Syi’ah. Anehnya mereka tidak menyadari bahwa sebagian ulama ahlus sunnah juga ada yang berpendapat demikian. Apakah lantas mereka akan dicela dan ditertawakan juga?.

.

.

.

Fiqih Ahlus Sunnah

Shahih Bukhariy juz 1

Shahih Bukhariy bab 36

Bukhariy menyebutkan dalam kitab Shahih-nya sebuah bab dengan judul sebagai berikut

باب قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بَعْدَ الْحَدَثِ وَغَيْرِهِ
وَقَالَ مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ لاَ بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ فِى الْحَمَّامِ ، وَبِكَتْبِ الرِّسَالَةِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ . وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ إِزَارٌ فَسَلِّمْ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُسَلِّمْ

Bab bacaan Al Qur’an dan lainnya setelah hadats
Dan berkata Manshuur dari Ibrahiim “tidak apa-apa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’. Dan berkata Hammad dari Ibrahiim “jika mereka memakai kain maka jawab salamnya tetapi jika tidak memakai kain maka jangan dijawab salamnya” [Shahih Bukhariy 1/79 Kitab Wudhu’  bab 36 ]

Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy memberikan penjelasan bahwa terjadi perselisihan di kalangan ulama mengenai membaca Al Qur’an di kamar mandi, berikut apa yang dijelaskan Ibnu Hajar

Fath Al Bariy juz 1

Fath Al Bariy juz 1 hal 344

قوله وقال منصور أي بن المعتمر عن إبراهيم أي النخعي وأثره هذا وصله سعيد بن منصور عن أبي عوانة عن منصور مثله وروى عبد الرزاق عن الثوري عن منصور قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال لم يبن للقراءة فيه قلت وهذا لا يخالف رواية أبي عوانة فإنها تتعلق بمطلق الجواز وقد روى سعيد بن منصور أيضا عن محمد بن أبان عن حماد بن أبي سليمان قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال يكره ذلك انتهى والإسناد الأول أصح

Perkataannya “dan berkata Manshuur yaitu bin Mu’tamar dari Ibrahim yaitu An Nakha’iy “Atsar ini telah disambungkan oleh Sa’id bin Manshuur dari Abi ‘Awaanah dari Manshuur seperti ini. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ats Tsauri dari Manshur ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?” maka ia menjawab “tidak ada keterangan tentang membaca Al Qur’an di dalamnya”. Aku [Ibnu Hajar] berkata “riwayat ini tidak menyelisihi riwayat Abi ‘Awaanah, karena dikaitkan dengan kemutlakan pembolehannya” Dan diriwayatkan juga oleh Sa’id bin Manshuur dari Muhammad bin Abaan dari Hammaad bin Abi Sulaiman ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”maka ia berkata “dimakruhkan hal tersebut”. [Ibnu Hajar berkata] Sanad yang pertama [yaitu riwayat Manshuur] lebih shahih. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وروى بن المنذر عن على قال بئس البيت الحمام ينزع فيه الحياء ولا يقرأ فيه آية من كتاب الله وهذا لا يدل على كراهة القراءة وإنما هو أخبار بما هو الواقع بان شأن من يكون في الحمام أن يلتهي عن القراءة

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Aliy [radhiallahu ‘anhu] yang berkata “sejelek-jeleknya bagian rumah adalah kamar mandi, di dalamnya dilepaskan rasa malu dan tidak dibacakan di dalamnya ayat dari Kitabullah”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini tidak menjadi dalil makruhnya membaca Al Qur’an di dalam kamar mandi karena riwayat itu hanyalah merupakan kabar kenyataan yang terjadi, bahwa kamar mandi pada umumnya memang tempat yang tidak dibaca Al Qur’an di dalamnya. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وحكيت الكراهة عن أبي حنيفة وخالفه صاحبه محمد بن الحسن ومالك فقالا لا تكره لأنه ليس فيه دليل خاص وبه صرح صاحبا العدة والبيان من الشافعية وقال النووي في التبيان عن الأصحاب لا تكره فاطلق لكن في شرح الكفايه للصيمري لا ينبغي أن يقرأ وسوى الحليمي بينه وبين القراءة حال قضاء الحاجة ورجح السبكي الكبير عدم الكراهة واحتج بان القراءة مطلوبه والاستكثار منها مطلوب والحدث يكثر فلو كرهت لفات خير كثير ثم قال حكم القراءة في الحمام أن كان القارئ في مكان نظيف وليس فيه كشف عورة لم يكره وإلا كره

Dinukil pendapat makruh dari Abu Hanifah, namun diselisihi oleh sahabatnya Muhammad bin Hasan dan Malik keduanya berkata “tidak makruh karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya” demikian juga ditegaskan penulis kitab Al ‘Uddah dan Al Bayaan keduanya dari kalangan ulama Syafi’iyyah. An Nawawi berkata dalam At Tibyaan dari para sahabatnya yang mengatakan tidak makruh, lalu memutlakkan kebolehannya. Namun dalam Syarah Al Kifaayah Lis Shaimariy, ia berkata ”tidak selayaknya membaca Al Qur’an di kamar mandi”. Al Hulaimiy menyamakan antara membaca Al Qur’an di kamar mandi dengan membaca Al Qur’an pada saat buang hajat. As Subkiy Al Kabiir merajihkan tidak dimakruhkannya hal tersebut dan berhujjah bahwa membaca Al Qur’an telah diperintahkan, begitu juga memperbanyak membacanya juga sesuatu yang diperintahkan, sedangkan hadas itu sering terjadi, seandainya hal itu dimakruhkankan maka akan terluput kebaikan yang sangat banyak. Kemudian ia berkata “hukum membaca Al Qur’an di kamar mandi, jika membaca di tempat yang bersih dan tidak terbuka auratnya, maka tidak dimakruhkan, kalau tidak seperti itu, maka dimakruhkan. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hajar di atas maka ternukil pendapat yang memakruhkan membaca Al Qur’an di kamar mandi dan ternukil pula pendapat yang membolehkan membaca Al Qur’an di kamar mandi yaitu Ibrahim An Nakha’iy, Malik, Muhammad bin Hasan, An Nawawiy, As Subkiy dan ulama mazhab Syafi’iy lainnya.

.

.

Penutup

Dalam tulisan ini saya tidak merajihkan pendapat yang mana. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada sebagian ulama ahlus sunnah yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Imam ahlul bait mazhab Syi’ah. Tentu saja perkataan imam ahlul bait menjadi hujjah di sisi mazhab Syi’ah dan tidak menjadi hujjah di sisi ahlus sunnah begitu pula perkataan sebagian ulama ahlus sunnah tersebut menjadi hujjah bagi sebagian pengikut ahlus sunnah dan tidak menjadi hujjah bagi Syi’ah.

Perbedaannya, dalam mazhab Syi’ah perkara ini telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam ahlul bait, oleh karena itu saya tidak perlu repot-repot menukil pendapat para ulama Syi’ah. Sedangkan dalam mazhab Sunni, perkara ini tidak ditemukan adanya dalil yang membolehkan dan melarangnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] oleh karena itu para ulama ahlus sunnah berselisih pendapat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Kesimpulannya adalah mencela, mentertawakan atau merendahkan mazhab Syi’ah karena perkara ini sama saja seperti mencela, mentertawakan atau merendahkan sebagian ulama ahlus sunnah.

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka. 

 

Suatu hari, disebuah masjid kampung, dipingggiran kota, sehabis shalat Ashar berjama’ah, seorang anak muda, yang tampak begitu saleh dengan bekas sujud yang tampak jelas di dahinya dan penampilannya yang sedemikian islami dengan baju koko dan kopiah yang serba putih, mendekati imam masjid yang sudah sedemikian berumur. Keriput diwajah imam masjid itu sedemikian jelas disertai tubuh yang mulai membungkuk. Dia sedang membereskan sajadahnya, memasukkan mic kedalam kotaknya dan menutup lemari yang berisikan deretan kitab Al-Qur’an dan beberapa majalah bulanan Islam. Sementara jama’ah sudah meninggalkan masjid satu-satu dan menyisakan mereka berdua.

Singkat cerita terjadilah dialog sebagai berikut:

Anak Muda [AM]: Pak ustad, mau tanya. Boleh?

Imam Masjid [IM]: Silahkan nak..

Keduanya kemudian duduk bersilah di sisi mimbar masjid. Pak Imam menyandarkan tubuh tuanya di dinding.

AM: Begini pak, benar di masjid ini akan diadakan peringatan maulid Nabi?

IM: Benar. Memang kenapa, bukannya kamu juga penduduk kampung ini, dan sudah tahu bahwa peringatan maulid di kampung ini telah menjadi tradisi tahunan dan warga kampung menyambutnya dengan gembira?

AM: Iya pak. Tapi bukankah itu amalan bid’ah?

IM: Bid’ah? Maksudnya?

AM: Iya bid’ah. Tidak ada contohnya dalam Islam. Tidak pernah dianjurkan Nabi, dan juga tidak pernah diamalkan para sahabat.

IM: Apa semua yang tidak dianjurkan Nabi dan tidak diamalkan sahabat sudah berarti bid’ah?

AM: Iya. Mengadakan hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya dari Nabi itu semuanya bid’ah, semua yang bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.

IM: Kamu tahu dari mana semua itu nak?

AM: Dari pengajian di kampusku di kota. Saya diajari ustad alumni Arab Saudi.

IM: Terus, apakah mengenakan kopiah dan sarung itu juga bid’ah? mengenakan mic di masjid saat azan itu juga bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi?

AM: Kalau itu termasuk bid’ah dari segi bahasa, dan tidak masalah.

IM: Jadi yang bermasalah, bid’ah dari segi mana?

AM: Bid’ah secara istilah. Yaitu melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dalam syariat. Menggunakan kopiah dan sarung itu, masalah duniawi, bahkan implementasi dari perintah untuk menutup aurat, jadi apa saja yang akan dikenakan itu diserahkan pada ummat.

IM: Bukankah, mengadakan maulid nabi juga dari perintah Nabi untuk mengagungkan, memuliakan dan selalu mengingatnya?

AM: Memang dalam agama kita, kita diperintahkan memuliakan Nabi, tapi ya tentu sesuai dengan tuntunan Nabi. Nabi misalnya telah menganjurkan untuk bershalawat dan mematuhi perintahnya. Sahabat-sahabat sedemikian besarnya cintanya pada Nabi, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang menganjurkan memperingati hari kelahiran Nabi apalagi melakukannya.

IM: Nabi juga tidak pernah meminta kita mendirikan pesantren, tapi mengapa dilakukan?

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Mendirikan pesantren bagian dari perintah Nabi untuk ummat ini menuntut ilmu dan belajar.

IM: Apa Nabi pernah memerintahkan mendirikan pesantren?

AM: Ya tidak pernah.

IM: Apa sahabat-sahabat melakukannya?

AM: Ya tidak. Tapi waktu itu memang tidak begitu penting mendirikan pesantren.

IM: Sekarang mengapa mendirikan pesantren? Apa karena dirasa penting, meskipun itu tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya?

AM: Tapi pak. Mendirikan pesantren itu ada dasarnya. Pertama, adanya perintah untuk menuntut ilmu. Bentuk bagaimana menuntut ilmu itu diserahkan kepada ummat. Mau dipesantren, kajian di masjid, dengar ceramah, nonton program TV Islami, baca buku dan sebagainya, terserah.

Kedua, dimasa Nabipun dilakukan majelis-majelis ilmu, yang sesungguhnya itu adalah cikal bakal berdirinya pesantren. Hanya saja di masa Nabi masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

IM: Bukankah memperingati maulid juga begitu?. Pertama, dasarnya adalah adanya perintah untuk mencintai dan mengagungkan Nabi. Bentuk amalannya diserahkan kepada ummat. Memperingati maulid Nabi adalah perwujudan dari kecintaan dan bentuk pengagungan pada Nabi. Sama halnya perintah mencintai dan menghormati orang tua. Nabi tidak memberi batasan dan pengkhususan mengenai bentuk amalannya. Ada yang mencintai orangtuanya dengan membiayai keduanya naik haji. Ada yang mencintai kedua orangtuanya dengan membangunkan rumah, membayarkan hutang-hutangnya atau dalam bentuk menjadi anak yang saleh dan berbakti. Ada pula yang sampai bertekad menjadi sarjana dengan niat, itu yang menjadi bentuk pengabdian dan kecintaannya pada orangtua. Jadi apa alasannya menghalangi mereka yang hendak mengekspresikan kecintaannya pada Nabi dengan memperingati hari kelahirannya dan bersuka cita didalamnya, sementara Nabi tidak pernah memberi batasan dan pengkhususan bagaimana amalan dari perintah mencintainya?.

Kedua, cikal bakalnya di masa Nabi sudah ada. Sahabat-sahabat sangat mengagungkan apa saja yang berkaitan dengan Nabi. Mereka berebutan untuk mengambil berkah dari sisa air wudhu Nabi. Mereka menyimpan rambut Nabi, mengambil keringat dan peluh Nabi. Mereka mendahulukan Nabi dari diri-diri mereka sendiri. Nah, dimasa kita yang tidak bisa bertemu Nabi, tentu tidak bisa mengagungkan Nabi sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Kalau kita di Madinah, tentu kita akan setiap hari berziarah ke makam Nabi, dan mengambil berkah dengan menyentuh pusaranya. Sayang, kita menetap di tempat yang jauh dari itu. [Mata imam tua itu mulai berkaca-kaca]

Karenanya, cukuplah memperingati kelahiran Nabi dan memuliakan bulan kelahirannya, sebagai bentuk yang paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk meluapkan kecintaan dan kerinduan kepada baginda Nabi. Selain itu, tentu saja dalam keseharian adalah meneladani Nabi. [Tidak tahan, imam masjid itu untuk menyeka matanya yang sembab]

Kalau kita tidak bisa mengambil berkah dari fisik ataupun makam Nabi dan semua tempat bersejarah yang pernah dipijaknya, setidaknya kita mengambil berkah dari waktu-waktu mulia yang pernah dilalui Nabi. Bukankah kita sendiri tetap menganggap istimewa, hari saat kita dilahirkan, hari pertama masuk sekolah, hari saat diwisuda, hari pernikahan, hari lahirnya anak pertama dan sebagainya, dan ketika mengenang semua hari-hari menggembirakan itu kita lantas bersyukur dan bersuka cita atas rahmat Allah. Karena itu kita mengistimewakan hari lahirnya Nabi, saat beliau hijrah, saat isra mi’raj, dengan mengenang, memperingati dan membicarakannya, sebagai bentuk cinta kita pada beliau.

AM: Tapi pak, bagaimanapun itu sama saja menambah-nambahkan syariat dalam agama. Tidak ada contohnya, dan tidak pernah diamalkan. Kalau memang itu penting, pasti Nabi dan sahabatnya pasti yang lebih dulu melakukan dan menyemarakkannya.

IM: Lho, kalau pesantren itu penting. Pasti Nabi dan sahabatnya yang lebih dulu mendirikannya.

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Bukan ibadah.

IM: Bukan ibadah? Maksudnya?

AM: Ya, hanya wasilah untuk lebih mudah menuntut ilmu, dan lebih tersistematis dengan adanya kurikulum. Intinya itu adalah pengamalan dari perintah Nabi untuk menuntut ilmu.

IM: Lho, kalau begitu, maulid adalah juga wasilah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi. Maulid, jalan untuk bisa mengumpulkan warga, sehingga mereka mau mendengarkan ceramah tentang Nabi, mereka jadi tahu akhlak dan keindahan perangai Nabi, mereka jadi tahu sunnah-sunnah Nabi apa saja. Dan dibuat tersistematis, agar ummat bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Setiap Muharram yang diingat, peristiwa hijrahnya Nabi. Setiap Zulhijjah, yang diingat peristiwa haji terakhir Nabi dan lengkapnya syariat Islam. Setiap Rajab yang diingat adalah peristiwa isra mi’raj. Setiap Ramadhan, disaat Nabi menerima wahyu dan turunnya Al Qur’an pertama kali. Setiap Safar bulan wafatnya Nabi dan setiap Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi. Dengan adanya tradisi memperingati semua hal yang penting dari peristiwa yang pernah dialami Nabi tersebut menjadi wasilah bagi para ulama, da’i dan muballigh untuk lebih mudah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada ummat.

Bapak tanya. Pembacaan proklamasi itu kapan? Hari ibu kapan diperingati? Kalau hari Kartini kapan?

AM: Hari proklamasi 17 Agustus. Hari Ibu 22 Desember dan Hari Kartini 21 April.

IM: Kok kamu bisa ingat?

AM: Ya, karena diperingati tiap tahun.

IM: Kalau tidak diperingati secara nasional, bagaimana? Apa kamu masih bisa ingat?

AM: Ya bisa jadi saya lupa. Tapi apa pentingnya mengetahui itu pak?

IM: Ya, apa pentingnya bagimu kamu tahu kapan kamu lahir, tanggal, bulan dan tahunnya?.

AM: [Diam]

IM: Sejarah itu penting nak. Dan adanya peringatan-peringatan itu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri banyak perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa ummat-ummat terdahulu, yang dengan itu kita bisa banyak mengambil ibrah?

AM: Tapi bukankah tanggal kelahiran Nabi itu diperselisihkan ulama pak?

IM: Tapi tidak ada yang menyelisihi bahwa baginda Nabi lahir dibulan Rabiul Awwal, iya kan?. Karena itu, kita juga tidak pernah mempersoalkan kapan acara maulid Nabi diadakan. Apa tepat 12 Rabiul Awal, lebih cepat atau lebih lambat. Ditiap kampung, masjid, kantor dan sekolah, beda-beda hari dimana mereka mengadakan Maulid. Dan itu tidak mesti dipersoalkan. Dan kami juga tidak pernah menyebut mereka yang tidak mau ikut maulidan sebagai orang yang tidak mencintai Nabi. Maulidan itu tidak wajib. Kalau ada yang menyatakan, yang tidak ikut acara maulidan itu berdosa, itu yang bid’ah.

AM: Tidak ada amalan yang kalau itu dianggap baik dan dapat mendekatkan pada Allah kecuali pernah dianjurkan Nabi dan diamalkan para sahabat. Maulid tidak dianjurkan dan tidak diamalkan, artinya tidak dianggap baik oleh Nabi.

IM: Nak, ceramah taraweh itu pernah tidak dilakukan Nabi? Pernah diamalkan sahabat?

AM: Setahu saya tidak.

IM: Lantas mengapa umat Islam saat ini menggalakkannya?. Di masjid-mesjid dibuatkan jadwal ceramah taraweh, ditentukan penceramahnya, temanya apa dan seterusnya. Kalau itu baik, pasti Nabi dan para sahabat yang lebih dulu mengamalkannya.

AM: Ya itu hanya karena memanfaatkan momentum Ramadhan saja pak. Ruhiyah umat Islam lebih siap mendengarkan siraman rohani dibanding bulan lain.

IM: Lho kalau itu alasannya. Kami mengadakan maulid juga sekedar memanfaatkan momentum Rabiul Awal saja. Ruhiyah umat Islam dibulan ini lebih siap untuk mendengarkan ceramah-ceramah mengenai keagungan Nabi dan keteladanannya. Jadi kalau memanfaatkan momentum Ramadhan bukan bid’ah, sementara memanfaatkan momentum Rabiul Awal menjadi bid’ah, begitu?.

AM: Tidak begitu juga sih pak. Tapi pak, memperingati Maulid itu menambah-nambah hari raya dalam Islam, sementara hari raya dalam Islam itu hanya tiga. Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak perlu ditambah lagi. Menambahhya sama halnya meragukan kesempurnaan ajaran Islam yang telah dijamin kesempurnannya oleh Allah Swt. Atau menuduh Nabi tidak amanah dalam menyampaikan syariat ini.

IM: Yang bilang Maulid itu hari raya siapa?. Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari Hnya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya.

AM: Tetap saja bid’ah pak. Bukankah bapak mengharapkan pahala dari mengadakan Maulid itu? Nah karena mengharap pahala, berarti itu dianggap ibadah. Sementara dalam ibadah Islam, tidak ada yang namanya maulidan. Kalau bapak ngotot menyebutnya bukan ibadah, berarti bapak harus menyebut itu perbuatan sia-sia karena tidak mengharap pahala.

IM: Apa mereka yang mendirikan pesantren itu tidak mengharap pahala? Apakah yang menyumbang untuk pembangunan pesantren tidak mengharap pahala? Sementara dalam hadits Nabi sama sekali tidak ada perintah untuk membangun pesantren, mendirikan ormas Islam, membuat yayasan-yayasan, membangun rumah sakit, puskesmas dan sekolah-sekolah?.

AM: [Diam]

IM: Apa yang lepas dari masalah ibadah nak? Mana yang kamu sebut tadi masalah duniawi?

AM: Mengenakan sarung dan kopiah. [Menjawab dengan nada lemah]

IM: Saya tanya, kalau itu hanya masalah duniawi. Mana yang lebih afdhal yang shalat dengan mengenakan sarung, kopiah dan baju koko, dengan yang shalat mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi koboy?

AM: Tentu yang pertama.

IM: Kok bisa? Bukankah itu hanya masalah duniawi? Berpakaian pun bisa menjadi ibadah, jika itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjalankan tuntunan Nabi untuk mengenakan pakaian yang layak dan bersih. Bukankah tidurpun termasuk ibadah?. Apa Nabi pernah mencontohkan tidur di kasur yang empuk dan mahal?.

Jadi sekarang saya bertanya lagi. Mana yang lebih afdhal yang bergembira di bulan Maulid dengan niat kegembiraannya itu karena tahu bahwa bulan itu adalah bulan lahirnya Nabi yang mulia, yang dijunjung dan diagungkan oleh semua umat Islam. Yang kegembiraannya itu diluapkan dengan berbondong-bondong ke masjid, mendengar ceramah, bersilaturahmi dan makan bersama, atau yang lebih sibuk dan ribut-ribut menyebut mereka yang memperingati maulid itu sebagai ahli bid’ah, sesat dan tempatnya kelak di neraka?.

Mana yang lebih meneladani Nabi, mereka yang menyerukan persatuan dan persaudaraan Islam dengan memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi atau mereka yang ngotot dan memaksakan pendapat mereka sendiri, dan menyebut mereka yang menyelisihnya sebagai golongan sesat dan jahil?.

AM: Lebih afdhal yang pertama, pak. [Sedikit tersipu]

Tapi pak, bukankah memperingati maulid Nabi sama halnya tasyabbuh dengan budaya kuffar yang juga memperingati hari kelahiran orang-orang yang mereka agungkan? Sementara Nabi melarang kita meniru-niru adat-adat dan kebiasaan mereka.

IM: Apa dalam semua hal? Kaum jahiliah Arab dulu dikenal sangat menghormati dan mengagungkan tamu, mereka juga punya ikatan yang kuat dengan keluarga dan kabilah mereka. Apa itu jelek dan harus diselisihi karena bakal menyerupai kebiasaan mereka? Kegigihan orang-orang Barat dalam menuntut ilmu, dalam menemukan hal-hal yang canggih dan baru dalam bidang tekhnologi, apa itu harus diselisihi karena telah menjadi tradisi keilmuan mereka?

Mengagungkan Nabi-nabi Allah, memuliakan orang-orang yang saleh dan mengistimewakan mereka diatas yang lainnya bukanlah kebiasaan jelek yang harus dihindari. Selama bentuk pengagungan dan pemuliaan kita tidak sampai menyamakan derajat mereka dengan Tuhan atau menyematkan sifat Rububiyah kepada orang-orang saleh itu.

Perintah agama kita jelas. Menyuruh kita melakukan hal-hal yang bisa menjengkelkan orang-orang kafir dan menyenangkan hati orang-orang beriman. Keras pada orang kafir dan berlembah lembut pada orang beriman. Nah, apa iya, melarang-larang umat Islam memperingat kelahiran Nabi itu menjengkelkan orang-orang kafir?. Apa iya mengharamkan makanan maulid itu membuat geram mereka? Apa iya sengaja menyulut perselisihan di bulan kelahiran Nabi itu membuat muak orang-orang kafir?

Dalam keyakinan bapak, semakin semarak umat Islam memperingati kelahiran Nabinya, akan semakin menjengkelkan orang-orang kafir. Semakin ummat Islam mengagungkan Nabi di kantor-kantor, sekolah-sekolah, di jalan-jalan, di tanah lapang, dan memuliakan bulan kelahirannya akan semakin menggeramkan orang-orang kafir. Semakin anak-anak bergembira dan bersorak sorai, bershalawatan dan menyanyikan syair-syair rindu pada Nabi di bulan maulid, akan semakin membuat mereka putus asa untuk menjauhkan generasi muda Islam dengan Nabinya.

Menyemarakkan maulid itu menyenangkan orang-orang beriman. Hari dimana kita berbagi kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, dengan makan bersama, duduk bersama, mendengarkan ceramah bersama, shalawatan bersama, melihat keceriaan anak-anak yang riang gembira, dan saling mematri janji untuk selalu saling memuliakan dan menjaga ukhuwah. Bukan begitu?.

AM: Iya pak. [Pemuda itu menganggukkan kepalanya]

Senyap sesaat, yang terdengar hanya suara gesekan tubuh imam masjid yang mengubah letak duduknya.

AM: Tapi Pak. Yang patut disayangkan. Mereka yang getol memperingati maulid, justru hanya masuk masjid saat peringatan maulid, dan dihari selainnya tidak menampakkan lagi batang hidungnya di masjid. Bahkan pada saat shalat lima waktu sekalipun.

IM: Justru, dengan adanya peringatan maulid itu setidaknya mereka tercatat pernah ke masjid. Coba kalau tidak ada maulid. Mungkin seumur-umur mereka tidak pernah ke masjid padahal mereka mengaku muslim juga.

AM: [Mengangguk]

IM: Nak, yang dimaksud bid’ah itu adalah jika mengubah-ubah syariat yang telah ditetapkan secara pasti. Misalnya menambah rakaat shalat. Naik haji bukan diwaktu yang telah ditentukan. Mengurangi rukun puasa. Dan sebagainya.

Kita tidak mewajibkan maulid. Yang mau ikut silahkan, yang tidakpun tidak kita paksa. Apalagi sampai mencemoohnya tidak mencintai Nabi dan telah berdosa. Semua orang punya cara untuk meluapkan kecintaannya pada Nabi. Kita percaya, yang tidak memperingati maulid juga tetap tidak kurang cintanya pada Nabi. Hanya saja, kecintaan pada Nabi itu akan ternodai kalau sampai menyakiti hati sesama muslim dengan menggelari mereka yang memperingati maulid sebagai ahli bid’ah, sesat dan ahli neraka, padahal ini pun masih diperselisihkan para ulama.

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka.

AM: Iya pak. Terimakasih.

IM: Sama-sama.

Imam Masjid itu kemudian berdiri. Menyalakan tape masjid, yang seketika itu juga memperdengarkan alunan Qari yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.  Pak tua itu, keluar masjid, masuk WC, keluar dan memperbaharui wudhunya. Tidak lama lagi, matahari akan tenggelam, dan waktu maghrib akan masuk

Penggunaan Nama Abdur Rasul dan Abdul Husain di manfaatkan oleh orang kristiani ?

Sedikit Tinjauan Atas Penggunaan Nama Abdur Rasul dan Abdul Husain?

Kalau para pembaca cukup rajin mempelajari kitab atau tulisan para ulama Syi’ah maka para pembaca akan menemukan sebagian dari ulama Syi’ah yang memiliki nama seperti Abdur Rasul atau Abdul Husain. Mungkin di mata orang awam penggunaan nama seperti ini mengindikasikan kesyirikan karena penghambaan hanyalah kepada Allah SWT dan tidak kepada selain-Nya. Dan tidak jarang penggunaan nama ini dijadikan syubhat oleh para nashibiy untuk merendahkan ulama Syi’ah.

Kami akan menyikapi masalah ini secara objektif. Sebenarnya dengan akal yang waras saja kita dapat melihat dan membaca tulisan para ulama Syi’ah, tidak ada satupun dari mereka yang menuhankan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau menuhankan Ahlul Bait termasuk Imam Husain [‘alaihis salaam]. Jadi di sisi mereka nama Abdur Rasul dan Abdul Husain bukan bermakna menuhankan Rasul atau menuhankan Husain.

.

Soal argumen yang sering dimanfaatkan oleh orang kristiani maka itu tidak hanya berlaku pada blog ini tetapi juga berlaku pada blog-blog salafy dan intinya setiap blog yang merujuk pada kitab-kitab hadis bisa saja dijadikan amunisi orang kristiani. Dan anehnya hal seperti itu adalah kenyataan yang tidak tergantung dengan adanya blog semacam ini atau tidak. Misalnya soal riwayat tahrif Al Qur’an, banyak riwayat yang tersebar dalam kitab hadis [baik Sunni atau Syi’ah] baik shahih atau pun dhaif. Ada orang kristiani yang menjadikan riwayat itu untuk mencela Islam tidak menafikan fakta bahwa riwayat tersebut memang ada. Oleh karena itu sikap yang harus ditunjukkan bukan menghindari riwayat2 semacam itu tetapi menghadapi riwayat-riwayat tersebut dan mematahkan argumen mereka dengan baik. Begitulah caranya orang yang berjalan di atas kebenaran.

Saya bisa kasih contoh soal hadis Al Gharaniq, hadis itu tercantum dalam kitab-kitab ahlus sunnah terdapat pula ulama yang menguatkan kisah tersebut seperti Ibnu Hajar [walaupun tidak dinafikan terdapat sebagian ulama lain yang mendustakannya]. Banyak kalangan anti islam yang merendahkan Islam dengan mengutip riwayat semacam itu. Apa anda akan menyalahkan para ulama karena menulis riwayat semacam itu dalam kitab mereka?. Tidak perlu, cukup hadapi saja adanya riwayat semacam itu, kalau memang dhaif maka buktikan kedhaifannya dan bantah saja argumen orang-orang anti islam tersebut.

Dalam perkara Sunni-Syi’ah, golongan salafy itu paling sering menunjukkan sikap yang mirip dengan blog anti islam tersebut yaitu mengutip2 riwayat Syi’ah dengan tujuan merendahkan Syi’ah. Itu adalah sesuatu yang memang nyata terjadi dan bagi mereka yang peduli ya hadapi saja, silakan bahas syubhat para salafy itu dengan hujjah yang objektif, itulah jalan orang yang berada di atas kebenaran

Soal tulisan di atas, anda sok mengatakan orang arab akan memahami nama tersebut kepada kesyirikan, saya katakan saya tidak menafikan pada umumnya orang awam akan memahaminya seperti itu, oleh karena itulah tulisan ini berusaha menunjukkan kebenarannya kepada mereka yang awam bahwa Al Qur’an dan Al Hadis pernah menggunakan lafaz yang seperti itu, jadi tidak mesti lafaz “abdu” itu bermakna kesyirikan jika dinisbatkan pada selain Allah SWT karena lafaz tersebut bisa bermakna hamba sahaya kaum mukminin termasuk hamba sahaya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Perkara orang kristiani mau menjadikan masalah ini sebagai bahan syubhat mereka untuk merendahkan Islam ya silakan tinggal dihadapi argumen mereka dan dibahas dan dibuktikan kebenarannya. Apa yang perlu anda takutkan jika anda yakin anda berada di atas jalan kebenaran?. Bukankah orang islam berani membahas kitab Injil kemudian berdebat dengan orang kristiani mengenai keyakinan mereka dan ternyata kalau orang kristiani berbalik membahas kitab pegangan orang islam maka mengapa orang islam mesti takut?

Fenomena seperti itu banyak dan tidak hanya tergantung Sunni dan Syi’ah, Saya juga dahulu lumayan sering membaca tulisan syubhat orang-orang anti islam dan memang yang mereka serang adalah Al Qur’an dan Al Hadis. Mungkin dalam kasus anda, anda sering menemukan argumen Syi’ah yang dijadikan amunisi tetapi dalam kasus saya justru yang sering saya temukan adalah argumen Sunni yang dijadikan amunisi terutama kitab Shahih Bukhariy Muslim.

.

.

Dan kalau kita melihat di dalam Al Qur’an dan Al Hadis maka akan kita dapati terdapat penggunaan kata ‘Abdu yang bukan bermakna kesyirikan atau penghambaan kepada selain Allah SWT. Diantaranya adalah sebagai berikut

وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan juga orang-orang shalih dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui [QS An Nuur ; 32]

Allah SWT berfirman dan menyebutkan hamba sahaya kaum muslimin dengan lafaz ‘ibaadikum yang merupakan jamak dari lafaz ‘abdu. Jadi dalam bahasa Al Qur’anul Kariim terdapat lafaz ‘abdu yang disematkan pada kaum muslimin dan lafaz ini tidak bermakna kesyirikan.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَ إِلَى امْرَأَةٍ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَكَانَ لَهَا غُلَامٌ نَجَّارٌ قَالَ لَهَا مُرِي عَبْدَكِ فَلْيَعْمَلْ لَنَا أَعْوَادَ الْمِنْبَرِ فَأَمَرَتْ عَبْدَهَا فَذَهَبَ فَقَطَعَ مِنْ الطَّرْفَاءِ فَصَنَعَ لَهُ مِنْبَرًا فَلَمَّا قَضَاهُ أَرْسَلَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ قَدْ قَضَاهُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسِلِي بِهِ إِلَيَّ فَجَاءُوا بِهِ فَاحْتَمَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ حَيْثُ تَرَوْنَ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassaan yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Haazim dari Sahl [radiallahu ‘anhu] bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus seorang wanita muhajirin dimana wanita tersebut memiliki budak yang pandai mengolah kayu. Beliau berkata kepadanya perintahkanlah hamba sahayamu agar membuatkan mimbar untuk kami. Maka ia memerintahkan hamba sahayanya. Kemudian hamba sahaya itu mencari kayu di hutan dan membuatkan mimbar, ketika selesai wanita tersebut mengutus kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia telah menyelesaikan mimbar tersebut. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bawalah mimbar tersebut kepadaku” maka orang-orang membawa mimbar tersebut kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] meletakkannya pada tempat yang sekarang kalian lihat [Shahih Bukhariy 3/154 no 2569]

Dalam hadis shahih di atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan lafaz ‘abdu untuk hamba sahaya milik seorang wanita muhajirin. Apakah lafaz tersebut bermakna budak itu menuhankan wanita muhajirin tersebut?. Tentu saja mereka yang berakal waras akan mengatakan tidak.

Dalam kitab Shahih Bukhariy, Bukhariy menyebutkan salah satu bab dengan lafaz berikut

بَاب إِمَامَةِ الْعَبْدِ وَالْمَوْلَى وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنْ الْمُصْحَفِ

Bab keimaman seorang budak dan maula, Aisyah pernah diimami budak-nya yang bernama Dzakwan dengan membaca Mushaf [Shahih Bukhariy 1/140].

Apakah dengan menggunakan lafaz ‘abduha, Bukhariy memaksudkan bahwa Dzakwan tersebut menuhankan Aisyah? Sekali lagi mereka yang berakal waras akan mengatakan tidak. Lafaz ‘abduha di atas bermakna budaknya atau hamba sahaya-nya Aisyah [radiallahu ‘anha].

حدثني أبو الطاهر قال أخبرني ابن وهب عن مالك بن أنس عن ثور بن زيد الدؤلي عن سالم أبي الغيث مولى ابن مطيع عن أبي هريرة ح وحدثنا قتيبة بن سعيد وهذا حديثه حدثنا عبدالعزيز ( يعني ابن محمد ) عن ثور عن أبي الغيث عن أبي هريرة قال خرجنا مع النبي صلى الله عليه و سلم إلى خبير ففتح الله علينا فلم نغنم ذهبا ولا ورقا غنمنا المتاع والطعام والثياب ثم انطلقنا إلى الوادي ومع رسول الله صلى الله عليه و سلم عبد له وهبه له رجل من جذام يدعى رفاعة بن زيد من بني الضبيب فلما نزلنا الوادي قام عبد رسول الله صلى الله عليه و سلم يحل رحله فرمي بسهم فكان فيه حتفه فقلنا هنيئا له الشهادة يا رسول الله قال رسول الله صلى الله عليه و سلم كلا والذي نفس محمد بيده إن الشملة لتلتهب عليه نارا أخذها من الغنائم يوم خبير لم تصبها المقاسم قال ففزع الناس فجاء رجل بشراك أو شراكين فقال يا رسول الله أصبت يوم خبير فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم شراك من نار أو شراكان من نار

Telah menceritakan kepada kami Abu Thahir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahab dari Malik bin Anas dari Tsaur bin Zaid Ad Dualiy dari Salim Abu Ghaits mantan budak Ibnu Muthi’ dari Abu Hurairah. Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan ini adalah haditsnya, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz [yaitu Ibnu Muhammad] dari Tsaur dari Abu Ghaits dari Abu Hurairah dia berkata Pada hari Khaibar kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga Allah memberi kemenangan kepada kami, namun ghanimah yang kami peroleh bukan berupa emas atau perak, melainkan harta benda, makanan dan pakaian. Kemudian kami bergegas menuju sebuah bukit. Dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu bersama dengan budak beliau yang diberikan oleh seorang lelaki dari Judzam yang biasa dipanggil dengan nama Rifa’ah bin Zaid dari bani Adh Dhubaib. Ketika kami sampai di bukit itu, budak Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut berdiri untuk melepaskan ikatan tali pelananya. Namun tiba-tiba dia dipanah, dan menemui ajalnya di sana. Kami pun berkata “kami mengucapkan selamat baginya wahai Rasulullah karena telah mendapatkan mati syahid”. Tapi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] malah berkata “Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh ia akan dilahap oleh api neraka karena selimut dari ghanimah perang Khaibar yang diambilnya sebelum dibagikan”. Abu Hurairah berkata Orang-orang pun terkejut. Setelah itu datanglah seorang lelaki dengan membawa seikat atau dua ikat tali sandal seraya berkata, Wahai Rasulullah, aku dapatkan ini saat perang Khaibar. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Seikat tali sandal dari api neraka atau dua ikat tali sandal dari api neraka [Shahih Muslim 1/108 no 115]

Perhatikan lafaz hadis Muslim di atas yaitu ‘abdu Rasulullah tersebut berdiri. Apakah yang dimaksud dengan lafaz tersebut adalah budak tersebut menuhankan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Tentu saja orang yang berakal waras akan mengatakan tidak.

Ayat Al Qur’an dan hadis-hadis shahih di atas menunjukkan bahwa lafaz ‘abdu bisa saja disematkan pada seseorang tertentu dari kalangan kaum muslimin dan lafaz tersebut bermakna budak atau hamba sahaya atau pembantu dari orang tersebut bukan bermakna kesyirikan atau menuhankan selain Allah SWT.

.

.

Kembali ke nama yang dipakai oleh sebagian orang Syi’ah dengan sebutan Abdur Rasul atau Abdul Husain maka itu tidak lain bermakna sebagai budak atau hamba sahaya atau pembantu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam]. Kalau ada yang membantah bagaimana mungkin itu diartikan sebagai budak karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Imam Husain [‘alaihis salaam] sudah wafat.

Ya tidak ada masalah, mungkin maksud pemberian nama tersebut adalah agar yang bersangkutan menjadi seorang yang selalu mentaati perintah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam] layaknya seperti budak atau hamba sahaya keduanya.

Kami juga tidak menafikan bahwa di sisi para ulama ahlus sunnah penggunaan nama seperti Abdur Rasul dan Abdul Husain termasuk perkara yang diharamkan dengan alasan penghambaan itu hanya kepada Allah SWT bukan kepada selain Allah SWT. Tetapi sayangnya fatwa ulama ahlus sunnah tidak menjadi hujjah bagi ulama Syi’ah.

Adapun alasan penghambaan itu hanya kepada Allah SWT maka hal itu disepakati juga oleh ulama Syi’ah hanya saja mereka memaksudkan nama Abdur Rasul dan Abdul Husain bukan sebagai penghambaan dalam arti menyembah dan menuhankan tetapi dalam arti sebagai hamba sahaya yang senantiasa mentaati tuannya dalam hal ini Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau Imam Husain [‘alaihis salaam].

Dengan tulisan ini kami hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan nama tersebut di sisi Syi’ah tidak sedikitpun bermakna kesyirikan sebagaimana yang dikatakan oleh para nashibiy dan orang awam yang tidak tahu ilmunya. Dan telah kami tunjukkan bahwa Al Qur’an dan Hadis mengizinkan penggunaan lafaz ‘abdu yang disematkan pada selain Allah SWT dan bukanlah lafaz tersebut bermakna kesyirikan atau menuhankan selain Allah SWT.

Kami pribadi juga tidak menyukai penggunaan nama seperti itu karena menurut kami di mata orang awam penggunaan nama tersebut mungkin dapat menimbulkan fitnah. Tetapi kami tidak akan merendahkan orang yang memiliki nama tersebut apalagi jika yang bersangkutan memang seorang muslim atau ulama yang tentunya hanya menyembah kepada Allah SWT.

Sekedar info ini bukan pertama kalinya saya berdiskusi dengan orang WAHABi.

Pengalaman saya sebelumnya, biasanya orang yang sibuk menuduh blog anonim dengan tuduhan majhul adalah orang yang hanya percaya dengan guru atau Ustadz yang ia kagumi saja atau Ustadz dari golongannya saja sedangkan kalau Ustadz lain yang berbeda mazhabnya [misalnya salafy] maka tidak peduli setinggi apapun pendidikannya meski sudah sampai S3 di tanah Arab sana tetap saja tidak akan dipercayainya. Jadi memang tidak ada gunanya tuduhan majhul tersebut selain ingin menunjukkan bahwa hanya Ustadz dan gurunya saja yang bisa dipercaya, yang lain tidak. Dan orang seperti itu biasanya juga tidak bisa mempelajari ilmu dari sumber rujukan melainkan hanya bisa mengambil dari guru dan Ustadz-nya saja.

anda bilang anda menjelaskan dgn bhs Arab dari Al-Quran dan Hadits Shohih. tapi anda tdk memaparkan fundamental analisa ilmu bahasa Arab dlm mengkaji hal tsb. ini kan namanya berargumen dgn klaim. maaf, yg saya tangkap dari penjelasan anda utk kasus ini, lebih ke tafsir, bukan analisa bahasa.

Maaf ya kalau saya katakan anda tidak paham betul cara beragumentasi bahkan anda tidak paham apa yang namanya klaim dan apa yang namanya tafsir. Saya tidak keberatan untuk mengulangi secara ringkas inti argumen saya di atas. Yang dipermasalahkan dalam tulisan saya di atas adalah Apakah lafaz “abdu” itu tidak boleh digabungkan dengan lafaz selain Allah? atau Apakah lafaz “abdu” jika digabungkan kepada selain Allah akan selalu bermakna kesyirikan?. Argumen saya di atas menunjukkan

Al Qur’an pernah mengabungkan lafaz “abdu” dalam bentuk jamak kepada kaum mukminin yang berarti hamba sahaya kaum mukminin.

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah menyebutkan lafaz “abdu” pada seorang wanita muhajirin yang berarti budak atau hamba sahaya wanita tersebut [lihat Shahih Bukhariy di atas]
Abu Hurairah pernah menyebutkan seseorang dengan lafaz “abdu Rasulullah” [Lihat Shahih Muslim di atas]
Imam Bukhariy pernah menyebutkan judul bab dalam kitabnya dan menyebut budak Aisyah dengan lafaz “abdu” [Lihat Shahih Bukhariy di atas]

Jadi saya telah menunjukkan bahwa lafaz “abdu” bisa digabungkan pada selain Allah SWT dan bermakna sebagai hamba sahaya seseorang bukan bermakna kesyirikan. Dimana letak saya mengklaim atau memberikan tafsiran, itu jelas-jelas bunyi lafaz dalam Al Qur’an dan Hadis

kalau artikel yg lain , saya tdk complain, saya beberapa kali baca…saya sadar blm punya ilmunya, dan analisa anda tajam, layak dipertimbangkan. tapi kalau buat artikel ini, maaf-maaf saja, kok serasa anti-klimaks, dan tdk mendalam , sebgm biasanya anda berargumen. makanya saya nanya dan kasih saran. apalagi sudah cross-check dgn ustadz dan penuntut ilmu yg kompeten dlm Bhs Arab.

Tidak perlu panjang berbasa-basi. Anda tidak perlu percaya saya cukup anda buka Al Qur’an dan buka kitab Shahih Bukhariy dan Muslim, kemudian tunjukkan Al Qur’an dan Hadis yang saya gunakan di atas kepada Ustadz anda dan penuntut ilmu bahasa Arab yang anda bilang kompeten. Kalau mereka masih bilang lafaz “abdu” dalam Al Qur’an dan hadis-hadis di atas itu bermakna kesyirikan maka akan nampak jelas siapa sebenarnya yang berhujjah dan siapa yang hanya sekedar menurutkan hawa nafsunya

saya tdk sepintar anda dlm mengkritisi, mengevaluasi banyak literatur Sunni, dan mengevaluasi kecacatan kritik Sunni thd Syiah.
dan saya bertanya bagaimana cara saya sepintar anda.

Saya tidak tahu soal itu kan yang bilang pintar itu anda, bagi saya ya biasa saja, saya hanya berusaha untuk belajar dengan objektif tinggal baca literatur Sunni atau Syi’ah yang ingin dipelajari

kalau anda tanya saya suruh cari tahu ke Syiah, saya tdk punya koneksi dan referensi ke Syiah. guru saya, rekan saya, semuanya Sunni.
justru karena melihat ketajaman anda mengevaluasi banyak artikel kritik Sunni thd Syiah, makanya saya bertanya ke anda.

Orang yang memang berniat mencari kebenaran maka biasanya ia tidak akan malas mencari dan tidak akan mudah percaya kecuali dengan bukti yang objektif. Makanya saya katakan kalau anda ingin tahu tentang Syi’ah maka silakan tanya pada Ustadz Syi’ah yang memang mapan ilmunya soal mazhab Syi’ah atau silakan anda pelajari kitab-kitab Syi’ah. Tidak punya koneksi ya silakan cari koneksi, tidak punya literatur ya silakan cari literatur. Masalahnya sederhana, anda memang mau atau sekedar basa basi. Saya jelas bukan orang yang tepat untuk mewakili mazhab Syi’ah secara saya juga masih belajar.

anda bisa melakukan evaluasi , pasti tlh mengalami proses pembelajaran, dan pasti punya kemampuan. sebab kalau orang tdk punya kemampuan main asal evaluasi, namanya tdk profesional. tapi sepertinya anda profesional sekali dlm melakukan evaluasi tsb.

Kata-kata yang maaf gak penting, mungkin itulah sebabnya “anda gak bisa mencari” karena dalam pikiran anda namanya evaluasi itu harus profesional, gak jelas sekali maksudnya. Mencari kebenaran, mengevaluasi sesuatu bisa dilakukan setiap orang yang berakal, tinggal belajar bagaimana caranya. Kalau mau membahas hadis ya silakan belajar ilmu hadis, begitulah caranya. Anda mau bertanya dengan seseorang yang anda anggap kompeten dalam ilmu hadis ya tidak masalah tetapi siap-siap saja bisa jadi orang yang anda anggap kompeten ternyata tidak begitu paham dengan apa yang anda tanya. Yah namanya anggapan bisa saja keliru, anda menganggapnya kompeten tetapi ternyata jika ditimbang dengan kaidah ilmu ternyata tidak kompeten

kalau ada pintu dan jalan di depan mata, kenapa harus jalan jauh, cari yg lain, yg blm pasti??
kalo saya tanya yg terlalu Pro Sunni, jadinya kurang obyektif kan?
tetapi kalau saya tanya ke anda, apalagi motto anda adalah “Pencari Kebenaran”, dan analisanya tajam…tentu sikap saya ini dibenarkan dong?!

Aduh maaf ya sepertinya sebelumnya ada yang bilang agak ndak enak belajar sama yang majhul, rasa percaya menurun, kenapa sekarang malah bilang analisanya tajam. Justru info dari saya ini berdasarkan standar anda bahwa saya majhul maka kedudukannya sangat “belum pasti” dan sangat “kurang objektif”. Maaf saya agak malas berbasa-basi, jadi cukuplah basa-basinya silakan balik ke diskusi pokok tulisan di atas. Kalau mau berhujjah silakan bawakan hujjahnya tetapi kalau cuma mau menggerutu, saya tidak berminat. salam

Akidah Wahabi dan NU Sunni Memang Beda

Antara Tradisi Kultur Syi’ah-NU dan Adu Domba Wahabi

Waspadai Politik Adu Domba Wahabism

wahabi tidak toleran dan isu ini bisa dibawa ke PBB, kalangan Syiah yang tetap percaya diri dengan mengadakan berbagai event  secara terbuka. Radikalisme wahabi bertujuan mengulangi peristiwa kekerasan seperti terjadi di Iran, Iraq, atau Suriah, provokasi wahabi ini akan terjadi juga di Indonesia.

Ahlus Sunnah harus bijak dan hati-hati menyikapi isu-isu seputar tradisi dan kultur kaum Syafiiyah ini. Perlu pemahman, bahwa tradisi tersebut bukanlah perkara ushul tapi furu’.

Akidah wahabi dan NU Memang Beda

Berbagai perbedaan pendapat dan pergerakan antara NU dan Syi’ah adalah suatu kewajaran. Sebab, menurut Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat): “Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.”

Lain halnya dengan aliran wahabi. Sebab ini aqidah. Karena wahabi  itu memang beda (dengan Sunni) secara aqidah

Saya  setuju kalau kita mengatakan ‘Laa Sunni Walaa Syiah’ (tidak ada Sunni dan tidak ada Syiah, Red).

SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu..Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed, Secara ideologis, wahabi selalu memiliki misi untuk menghancurkan negara yang tidak berdasarkan ajaran setan nejed.

Selain wahabi, Ahmadiyah dan aliran sesat sejenisnya berbeda dengan NU. Perbedaan utamanya dalam persoalan aqidah.

Perbedaan dalam Islam sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Para Sahabat sendiri sering berbeda dengan Nabi, juga dengan sesama Sahabat.

Tradisi perbedaan di kalangan para Sahabat berlanjut pada masa berikutnya. Termasuk di zaman para ulama mujtahidin. Perbedaan tersebut masing-masing berdasarkan dalil.Berbagai perbedaan di kalangan NU dan Syi’ah tidak perlu dipermasalahkan.

“Perbedaan sesama kita, Apalagi kalau hanya seperti angkat tangan berdoa setelah shalat, atau baca basmalah kecil dan keras, atau ketika sujud itu didahulukan tangan atau didahulukan lutut, atau kalau berwudhu sebahagian atau semua, MAKA JANGAN dipersoalkan”

“Yang penting (pendapatnya) ada dalil, dan tahu dalil, tidak taqlid,”

Kami meyakini, untuk menyerap berbagai perbedaan dalam dunia fikih, diperlukan tauhid yang lurus kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti tercermin dalam ayat pertama surat al-’Alaq, “Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq….” (Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!).*

Perbedaan syariat wahabi dan Islam sudah berbeda dari pemahaman akidah.

“wahabi mengkafirkan orang-orang yang tidak mau mendukung ajaran mereka,”

Hari-hari ini adalah momen di mana wahabi mencari tempat pijakan di tubuh NU, dengan alasan memiliki beberapa kesamaan  ajaran. Di internet, bisa mudah kita temukan bagaimana kaum wahabi mencari momen ‘meminjam’ tangan NU guna memusuhi sesama loyalis ahlulbait.

Strategi lain dari dakwah wahabi saat ini yang perlu diperhatikan adalah, klaim-klaim wahabi terhadap kesamaan ajaran sebagian penganut NU dan indikasi adu domba antar kelompok.

Sejumlah elemen Islam berpaham wahabiyang selama ini peduli dengan gerakan pemurtadan dan perusakan akidah, menghimpun diri ke dalam satu aliansi bernama ”Aliansi Ahlus Sunnah untuk Kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi”– selanjutnya disingkat  “ASKES”

Hari Kamis (14/11/2013), sekitar 600 massa ASKES menggelar aksi unjuk rasa damai menentang pelaksanaan Ritual ‘Asyurakaum Syi’ah di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta.

Dalam aksi di depan Balai Samodra Jakarta itu, ASKES juga membagi-bagikan 400 eksemplar buku terbitan MUI Pusat yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”.

Buku itu diutamakan dibagi kepada aparat keamanan yang dengan keras berupaya menjaga bentrokan antara massa ASKES dan peserta ritual Syiah.

“Ini salah satu bentuk edukasi. InsyaAllah, kami akan terus melakukan edukasi kepada umat Islam Indonesia tentang hakekat dan penyimpangan Syiah, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku MUI tersebut,” kata Koordinator ASKES yang akrab dipanggil Ustad Anung itu.

Pada saat yang sama, penentangan terhadap ritual kaum Syiah itu juga dilakukan kaum Muslimin Indonesia di sejumlah kota, khususnya di Surabaya dan Bandung.

Di Surabaya, ritual kaum Syiah itu dilarang diselenggarakan pihak keamanan, karena sikap tegas Gubernur dan MUI Jatim.

Menurut Koorodinator “ASKES”,  Anung Al Hamat Lc, aksinya terutama dilakukan sebagai bentuk penyadaran kepada kaum Muslimin, bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran dan ibadah kaum Syiah dengan umat Islam pada umumnya,

Pelaksanaan Asyuro pemeluk  Syiah yang dilaksanakan secara terbuka di beberapa kota rupanya telah menjadi perhatian elemen wahabi Indonesia. Seperti diketahui, biasanya dalam perayaan 10 Muharram, kaum Syiah mengadakan ritual atau kerap disebut Asyuro menimbulkan iri hati wahabi yang teramat sangat mencintai Mu’awiyah, Yazid dan konco konco nya.

Agresivitas wahabi di Indonesia, kini sangat mengganggu dan menyita tenaga serta pikiran umat Islam Indonesia. Hal itu juga suatu hal yang aneh. Kaum wahabi mengaku bersaudara dengan kaum NU, tetapi mereka tak henti-hantinya menyebarkan permusuhan, khususnya melaknat syi’ah yang pro ahlulbait.