Kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan mengangkat Yazid putranya sendiri sebagai khalifah atas kaum muslimin adalah awal pemicu prahara tak berkesudahan dalam tubuh umat Islam

Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis

Karbala bukanlah sebuah peristiwa sejarah yang berhenti pada 10 Muharram, tetapi merupakan titik balik yang sangat penting bagi aqidah Islam yang agung. Yang dilakukan Imam Husain as di Karbala adalah revolusi tauhid, yakni revolusi yang –menurut Ali Syariati- gugusannya dimulai oleh nabi Ibrahim as, diledakkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad saww, dipertahankan hidup oleh Imam Husain as dan berakhir pada Imam Mahdi. 

 

 Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis

Karbala terletak beberapa kilo meter dari hulu sungai Eufrat di barat laut Kufah. Tanah Karbala awalnya bernama Kur Babal lalu disingkat menjadi Karbala untuk memudahkan pengucapan. Kata Babal dalam nubuat Yesaya berarti gurun laut (shahra’ al bahr) sebuah lembah luas yang dibelah oleh sungai Eufrat. Versi lainnya, disebut Karbala karena pada zaman Babilonia disana terdapat tempat penyembahan.

Karb berarti tempat penyembahan, tempat sembahyang dan tempat suci dan kata ‘Abala dalam bahasa Aramea berarti Tuhan, sehingga Karbala artinya tanah suci Tuhan. Kitab-kitab samawi sebelumnya menyebut tanah tersebut Karbala, karena dinubuatkan  di tempat inilah terjadi kesulitan dan bencana yang sangat memilukan hati. Karb dalam bahasa Arab artinya kesulitan dan bala artinya bencana. Al-Kitab, memberitakan bahwa di Karbala inilah terjadi penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum darah mereka (Yeremia 46:1).

Sejarahpun mengabadikan, Karbala adalah hamparan sahara yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya — termasuk di dalamnya anak-anak — syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang Karbala, Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota. Sangat disayangkan, peristiwa tragis ini kurang mendapat apresiasi bahkan dari kaum muslimin sendiri. Diantara buku-buku sejarah yang menumpuk diperpustakaan kita, sulit kita temukan buku yang membahas pembantaian Karbala, seakan-akan peristiwa ini tidak ada pentingnya untuk dikaji dan diapresiasi, sedangkan yang dibantai secara tragis adalah Imam Husain, cucu Rasulullah yang tersisa. Rasul bersabda tentangnya, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah mencintai siapa yang mencintainya. Siapa menyakitinya berarti menyakitiku”

Karbala bukanlah sebuah peristiwa sejarah yang berhenti pada 10 Muharram, tetapi merupakan titik balik yang sangat penting bagi aqidah Islam yang agung. Yang dilakukan Imam Husain as di Karbala adalah revolusi tauhid, yakni revolusi yang –menurut Ali Syariati- gugusannya dimulai oleh nabi Ibrahim as, diledakkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad saww, dipertahankan hidup oleh Imam Husain as dan berakhir pada Imam Mahdi. Ali Syariati merasa perlu mengingatkan, bahwa melupakan riwayat Imam Husain as sebagai mata rantai yang lepas dari rangkaian sejarah tidak bedanya memotong bagian tubuh manusia yang masih hidup untuk dilakukan penelitian atasnya. Perlawanan yang dikobarkan Imam Husain adalah hikayat kebebasan yang dikubur hidup-hidup oleh pisau kezaliman pada setiap zaman dan tempat. Karenanya semangat itu perlu kita hidupkan kembali.

Pentingnya Mengenang Karbala

Kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan mengangkat Yazid putranya sendiri sebagai khalifah atas kaum muslimin adalah awal pemicu prahara tak berkesudahan dalam tubuh umat Islam. Pengangkatan ini tidak hanya mengakhiri keagungan dan kecemerlangan Daulah Islamiyah yang telah dibangun oleh Rasulullah saww dan dijaga oleh keempat sahabat beliau yang mulia namun juga telah mengoyak-ngoyak tatanan politik Islam yang berkeadilan. Para sejarahwan menuliskan Yazid bukanlah orang yang layak menjadi khalifah, ia dzalim dan sering tampak secara terang-terangan menginjak-injak sunnah Rasulullah. Untuk memutlakkan kekuasaannya atas kaum muslimin, Yazid bin Muawiyah meminta baiat dan pengakuan dari Imam Husain as, sebagai orang yang paling alim dimasanya.

 Disinilah kondisi lebih pelik bermula, berhadapan dengan kekuatan besar dan kekuasaan Yazid, kematian adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi ketika memilih menolak berbaiat. Sebenarnya bisa saja Imam Husain as menganggap jalan menuju surga tidak hanya terbatas pada berjuang di bawah kilatan pedang. Jihad bukanlah satu-satunya jalan menuju surga, bukankah dengan hidup zuhud, menyingkirkan diri dari keramaian, menyibukkan diri dengan ibadah di sudut-sudut mesjid adalah jalan yang lebih mudah dan aman menempuh surga?. Tetapi tidak bagi al-Husain, surga bukanlah satu-satunya tujuan dan impiannya. Beliau harus melaksanakan tugas yang diemban dan taklif yang saat itu berada dipundaknya, mempertahankan kebenaran dan revolusi Islam yang telah diledakkan sang kakek. Menurut Imam Husain as, dasar kepercayaan Islam adalah kekuatan perlawanan dan pembebas. Islam tidak semata-mata memuat deretan do’a dan ibadah melainkan perlawanan yang bergelora. Mungkin dengan semangat itulah, Islam hakiki akan tampak, sebagaimana diturunkan pertama kali, menjadi pembebas bagi mereka yang berada dalam ketertindasan. Baginya, mengosentrasikan jiwa dan pikiran di sudut-sudut mesjid dan rumah-rumah kosong adalah pengkhianatan terhadap revolusi Islam. Dengan kekuatan yang tersisa, Imam Husain as mengajak keluarganya untuk memilih kematian daripada harus mengakui kekuasaan Yazid yang menumpahkan tinta lain selain Islam dalam pemerintahannya.

Imam Husain berangkat melawan untuk membela kebenaran, yakni kebenaran bagi semua umat manusia. Jadi perlawanan tersebut dengan esensinya akan terus berlangsung selama-lamanya. Dimanapun seorang melakukan perlawanan terhadap kezaliman, disitulah Karbala. Setiap tusukan pedang pada hari Asyura adalah tusukan terhadap penguasa yang dzalim pada periode kapanpun. Itulah perlawanan yang mulai membara dan terus membara selama masih ada kedzaliman di atas muka bumi, selama masih ada pemerintah yang dzalim, selama masih ada aqidah dipermainkan. Itulah perlawanan yang takkan mereda, terutama saat ini ketika intimidasi menimpa banyak bangsa, aqidah dan agama dipermainkan untuk mengokohkan kezaliman, pengrusakan dan membenarkan kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya

Antoane Bara dalam bukunya The Saviour Husain dalam Kristinitas (Citra, 2007) menulis, Al-Husain adalah pelita Islam yang menerangi batin agama-agama hingga akhir zaman. Ajaran-ajaran revolusi Imam Husain, perlawanan terhadap ketidak adilan, kebebasan dan kemerdekaan jiwa, altruisme (ajaran rela berkorban) bukankah ini batin agama-agama sepanjang masa? Revolusi Al-Husain adalah lompatan keberanian dalam penjara-penjara hegemoni pada zamannya. Sebuah citarasa yang tinggi. Kalimat syahadat, La ila haillallah adalah simbol universitas kesyahidan, yakni kebebasan, tidak ada ketundukan kepada selain Allah.

Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tetapi mereka hidup” Demikianlah Al Husain tetap hidup, hidup di sisi Allah, di dalam hati, jiwa dan pikiran orang-orang yang memerdekakan jiwanya. Hidup dalam perasaan, di atas mimbar, di dalam majelis-majelis, dalam slogan-slogan perlawanan, hidup dalam buku. Gerakan, semangat dan misi Al-Husain di Karbala, di hari Asyura akan selalu menginspirasi setiap gerakan revolusi di dunia, di setiap masa. Revolusi Al-Husainlah yang menginspirasi Mahatma Ghandi membawa rakyat India menuju pembebasan dari penjajahan Inggris. Di penghujung abad 20 Imam Khomeini telah menuntun kafilah dan semangat Asyura meruntuhkan Imperium yang berkuasa 2.500 tahun membuktikan Revolusi Al-Husain mengungguli dunia dan zaman. Kullu Yaumin As-Syura , Kullu ardin Karbala, semua hari adalah As-Syura, semua tempat adalah Karbala.

Wallahu ‘alam bishshawwab

jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as 12, maka jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian ! Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.”

Imamah dan Ahlul Bait

Maka bagaimanakah dengan keluarga Muhammad saw sendiri? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu dua belas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?. Barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.”
 

 Imamah dan Ahlul Bait

Akidah Islamiyah adalah kumpulan kaidah, hukum, landasan, perintah, larangan dan pengetahuan yang universal dan terperinci yang diturunkan Allah SWT kepada hamba-Nya, Muhammad SAW. Rasululullah SAW bertugas memberikan penjelasan kepada umat mausia melalui perantara dakwah dan daulah yang dipimpinnya sendiri. Oleh karena itu setiap perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah SAW adalah juga aturan Ilahi sebagai pelengkap Al-Qur’an. Semasa hidupnya, Rasulullah menjadi satu-satunya sumber rujukan syar’i yang merupakan pengejewantahan akidah Ilahiah.

Adalah mustahil jika aqidah yang berasal dari Allah ini dibiarkan tanpa seorang rujukan yang bertugas menjelaskan aqidah tersebut. Sumber rujukan ini haruslah orang yang memiliki pengetahuan Ilahiah, paling baik, afdhal dan tepat dari sekian manusia yang ada. Untuk memilih dan mengangkat orang yang memiliki kapasitas itu, hanya Allah sendirilah yang berhak menentukan. Sejarah perjalanan manusiapun membuktikan, semua nabi-nabi yang 124 ribu jumlahnya diutus dan diangkat oleh Allah SWT. Tak sekalipun Allah SWT menyerahkan penentuan dan pemilihan orang yang menjadi sumber rujukan kepada hawa nafsu dan pendapat-pendapat manusia. Begitulah sejarah membuktikan, dan tidak ada seorangpun yang menyelisihi ini.

Lewat tulisan ini, saya ingin memperlihatkan ada realitas lain selain Nabi dan Rasul yang juga menjadi ketetapan Ilahi. Allah SWT berfirman, “Dan ingatlah ketika Ibrahim di uji Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman :”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu seorang Imam bagi umat manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman :”Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah : 124). 

Ayat ini menunjukkan bahwa menurut Al-Qur’an ada satu lagi realitas selain nabi dan rasul yakni imam, sebab bukankah penunjukan Ibrahim sebagai imam setelah ia menjadi nabi dan rasul dengan berbagai ujian ?.  Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim), Ishak dan Yaqub sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh. Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Qs. Al-Anbiya : 73). Di ayat lain, “…Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Al-Baqarah : 41). Dari ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penunjukkan imam, khalifah ataupun pemimpin atas umat manusia adalah wewenang dan otoritas mutlak Allah SWT sebagaimana penunjukan nabi dan rasul.

Sebagaimana surah Al-Baqarah ayat 124 di atas, kedudukan imam sebagai jabatan langit selain nabi dan rasul juga dianugerahkan kepada keturunan biologis nabi Ibrahim as.

Pada dasarnya, jabatan imam Allah merupakan tunas dari “Pohon Kejadian” yang menjadi tujuan atas penciptaan manusia di bumi. Sedangkan kenabian atau kerasulan adalah cabang dari “Pohon Kejadian” tersebut. Artiya, institusi ilahiah ini secara gradual diawali lebih dahulu oleh kenabian, kerasulan dan berakhir pada keimamahan. Ini bisa dimaklumi bahwa tidak mungkin ada hukum tanpa ada hakim. Hukum Islam telah sempurna, karenanya dengan wafatnya Nabi terakhir meniscayakan adanya hakim Ilahiah yang mendampingi pelaksanaan hukum. Hakim di bumi inilah yang disebut Imam.

Setelah nabi Ibrahim as wafat, jabatan-jabatan ini terus diwariskan melalui keturunan biologis Ismail dan Ishak yang mana keduanya adalah nabi. Dalam Alkitab dinubuatkan bahwa dari Ismail dan keturunannya akan muncul duabelas orang imam “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas imam dan Aku akan membuatnya menjadi umat yang besar (Kejadian 17:20). Kondisi serupa juga ditampakkan kepada bangsa Israel pada zaman Musa as yang mana dia telah diperintahkan oleh Allah untuk melantik dua belas orang imam yang dikepalai oleh Harun dan keturunannya, “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin” (QS. Al-Maidah :12)

Pelantikan para imam Allah ini menandai kesempurnaan RisalahNya dan puncak dari perjanjian antara Allah dan para nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan AjaranNya kepada manusia. Bahkan fungsi utama dari pengutusan seorang nabi atau rasul itu adalah untuk menegakkan kerajaan imam dan umat yang kudus. Al-Qur’an menyatakan: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. (QS. 33:7)

Alhasil, substansi yang ingin saya tegaskan, bahwa status seorang imam di dalam Islam bahkan dalam ajaran Ibrahimik lainnya (Yahudi dan Nashrani) memang ada dan dipilih secara mutlak oleh Allah sebagaimana halnya kenabian dan kerasulan. Artinya tidak melalui konsensus. Imam Allah adalah jabatan sorgawi yang kudus dan tidak terbentuk melalui mekanisme pemilihan umum ataupun cara-cara lain yang dilandasi oleh perspektif manusia. Imamah atau kekhalifaan terlalu berharga, terlalu tinggi dan tidak pantas hanya disebut sebagai pemimpin sebuah pemerintahan. Imamah terlalu pelik dan rumit bagi manusia biasa untuk  memilih dan mengangkat sendiri imam mereka. Imamah tidak dapat diputuskan dalam pemilihan. Sebab imamah bukan sekedar masalah mengurus ummat melainkan perwakilan Allah SWT di muka bumi. Karena itu hanya Allah SWT yang berhak memilih dan mengangkatnya.

Sungguh tidak mengherankan bila Al-Qur’an sendiri pernah menegaskan bahwa keluarga Ibrahim as telah dianugerahi suatu kerajaan yang besar.

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (QS. 4:54) Maka bagaimanakah dengan keluarga Muhammad saw sendiri? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu dua belas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?. Barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari  ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.”

Imamah dan Penjagaan Risalah

Setelah jelas dari pembahasan di atas, bahwa Imamah adalah juga jabatan Ilahiah seperti halnya kenabian dan kerasulan. Maka kita selanjutnya mengkaji lebih mendalam tentang peran keimamahan dalam menjaga warisan spiritual Islam. Kita akan mengawali pembahasan imamah dan penjagaan warisan spiritual Islam dari hadits Tsaqalain. Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, juz 4 hal 123 terbitan Beirut Lebanon, Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah.

Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat  dan peringatan Rasulullah SAW berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.” Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.”

Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.”

Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).” Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan salah seorang sahabat pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355).

Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini. 

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Qur’an bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya. 

Pertanyaanya, mengapa Al-Qur’an saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah ?. Diantara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim : 4). Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail ? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah SAW memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya.

Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kuffar pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci. Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38). Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib. 

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.” Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as.

Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah SAW tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.

Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakan Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman ?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra': 71).

Selamat Hari Raya Ghadir 1434 H, hari diangkatnya Maulana Ali as sebagai imam dan khalifah pengganti Rasulullah Saw dan pelanjut risalah kenabian…

 

Imam Ridha, Mutiara Ilmu Ahlul Bait

Mengenal Ahlul Bait as:
Imam Ridha, Mutiara Ilmu Ahlul Bait
Imam Ridha dalam setiap perdebatan menyampaikan kebenaran ajaran Islam dengan argumentasi yang rasional dan kokoh, sehingga tidak ada tempat lagi bagi lawan untuk membantahnya. Untuk itulah Imam Ridha disebut sebagai Alim Ali Muhammad Saw. 

 Para Imam Maksum merupakan manifestasi keagungan dan keindahan Allah swt. Di berbagai riwayat dijelaskan mengenai sifat dan panggilan masing-masing imam. Sheikh Saduq dalam bukunya “Ayun Akhbar Ar-Ridha” menulis, “Imam Ridha dipanggil dengan beberapa sebutan seperti Ridha, Shadiq, Fadhil, Qurata Ayun al-Mukminin (penyejuk mata kaum Muslimin) dan Ghaidul al-Mulhidin (penyebab kemarahan pengingkar Tuhan).”

Tapi dalam riwayat lain disebutkan bahwa panggilan yang paling terkenal dari Imam Ridha adalah “Alim Ali Muhammad Saw”. Sheikh Saduq menuturkan bahwa Imam Kadzim mengungkapkan kembali perkataan ayahnya, Imam Shadiq yang pernahberkata, “Alim Ali Muhammad Saw ada dari generasi keturunanmu, dan aku beruntung sekali jika bisa bertemu dengannya. Namanya sama dengan nama Amirul mukminin (Ali bin Abi Thalib).” Maksud dari riwayat ini, alim Ahlul Bait Rasulullah Saw adalah Imam Ali Ridha putra Imam Kadzim yang nama depannya sama dengan Imam Ali bin Abi Thalib.

Imam Ridha dilahirkan pada 11 Dzulqaidah 148 H. Di era kehidupan Imam Ridha, umat Islam sedang menghadapi puncak gelombang penerjemahan literatur teologi dan filsafat dari bahasa Yunani yang berkembang di era Makmun. Selama bertahun-tahun, Makmun dikenal sebagai khalifah dari Bani Abbasiyah yang paling cerdas dan mengenal berbagai khazanah keilmuan yang tengah berkembang pesat di zamannya. Ketika itu, dunia Islam dipengaruhi berbagai kembang pemikiran yang beraneka ragam.

Setelah membawa Imam Ridha ke Marw, pusat pemerintahannya di Iran saat itu, Makmun mengelar berbagai pertemuan yang mengundang Imam Ridha dan menghadirkan para cendikiawan terkemuka di zaman itu. Makmun mendatangkan setiap ilmuwan yang memiliki kemampuan untuk berdebat dengan Imam Ridha dalam berbagai pertemuan ilmiah.

Amran Shabii, salah seorang teolog Shabiin (pengikut Nabi Yahya) termasuk salah seorang yang diundang oleh Makmun untuk berdebat dengan Imam Ridha. Selain itu, dalam pertemuan juga hadir para pemuka berbagai agama dan cendekiawan ternama. Imam Ridha mengajukan pertanyaan kepada para pemuka agama yang hadir saat itu, “Adakah dari kalian yang menentang Islam dan ingin mengajukan pertanyaan tentang agama ilahi ini, ” Ketika itu Amran Shabii menjawab, “Wahai cendekia! Jika engkau sendiri tidak mempersilahkan, aku tidak akan bertanya kepadamu. Aku telah mengunjungi berbagai kota dari Kufah, Bashrah, Syam, Hijaz dan bertemu dengan berbagai teolog. Tapi dari mereka aku tidak menemukan bukti yang kuat bahwa Tuhan itu esa, selain-Nya tidak ada yang lain. Apakah Anda mengizinkan aku menanyakan masalah ini kepadamu ? Imam Ridha menukas, “Silahkan, pertanyakan apa saja yang engkau inginkan,”. Ketika itu, Imam Ridha menjawab satu-persatu pertanyaan Amran hingga tidak ada satupun yang tersisa dan pemuka agama Shabii itu akhirnya masuk Islam karena mengetahui ketangkasan dan kejelian Imam Ridha dalam menjelaskan masalah yang dia utarakan pada pertemuan ilmiah itu. Kebenaran Islam yang disampaikan Imam Ridha membuka mata hati dan pikiran Amran Shabii.

Imam Ridha memberikan jawaban yang benar dan tepat dalam setiap pertemuan, termasuk perdebatan dengan para pemuka berbagai agama dengan menggunakan sumber bersama yang disepakati dalam perdebatan. Suatu hari Makmun mengundang tokoh terkemuka Kristen untuk berdebat dengan Imam Ridha. Sebelum debat dimulai, tokoh Kristen ini berkata, “Bagaimana mungkin aku berdebat dengan orang yang bersandar dengan kitab dan Nabi yang tidak kuterima ?”. Imam Ridha menjawab, “Wahai tokoh Kristen, jika aku berargumentasi dengan Injil, apakah engkau bisa menerimanya?”. “Ya”, jawab tokoh Kristen itu. Kemudian Imam Ridha berdebat dengan menggunakan sumber yang disepakati lawannya. Di akhir debat, tokoh Kristen itu dengan jujur berkata, “Demi kebenaran Isa, tidak ada seorang Muslim yang kuketahui (kemampuannya) sepertimu.”

Pada pertemuan lain, Imam Ridha dalam perdebatan dengan Rais Jalut, pemimpin Yahudi menanyakan mengenai Nubuwah Nabi Musa. Lelaki Yahudi itu menjawab, “(Nabi Musa) memiliki mukjizat yang tidak dipunyai oleh nabi sebelumnya.” Imam Ridha menukas, “Seperti apa misalnya ?”. Rais Jalut menjawab, “Seperti membelah laut dan mengubah tongkat menjadi ular, dan tongkat dipukulkan ke batu maka keluar air, tangan yang bersinar dan berbagai tanda lain dari kekuatannya yang tidak dimiliki orang lain.”

Imam Ridha berkata, “Engkau benar mengenai dalil kebenaran dakwah Nabi Musa yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, apakah klaim nubuwah dan perbuatan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, tidak menjadi pembenaran yang wajib bagi kalian?”. Ulama Yahudi itu menjawab, “Tidak, sebab kedudukan Musa di samping Tuhan tidak ada bandingannya. Dan orang yang mengklaim membawa nubuwah dan harus juga memiliki mukjizat seperti Nabi Musa.”

Imam Ridha kembali berkata, “Bagaimana dengan para Nabi sebelum Nabi Musa, apakah kalian juga mengimaninya, padahal mereka tidak memiliki mukjizat seperti Musa?. ” Lelaki Yahudi itu menjawab, “Ketika membawakan bukti nubuwah dengan mukjizatnya, meski mukjizatnya berbeda dengan Musa maka wajib untuk mengakui kebenarannya.” Kemudian, Imam Ridha mengajukan pertanyaan, “Mengapa kalian tidak mengimani Isa putra Maryam? Padahal ia mampu menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan orang buta hingga bisa melihat sebagai mukjizatnya. Nabi Isa dengan izin Allah swt juga bisa membuat burung yang hidup dari tanah liat ?”. Jalut menukas, “Kabarnya itu terjadi, tapi aku tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Mendengar jawaban pemimpin Yahudi itu, Imam Ridha berkata, “Apakah engkau melihat sendiri mukjizat Nabi Musa? Apakah berita tentang mukjizatnya diterima oleh kalian melalui sumber yang bisa dipercaya?”. “Ya”, jawab lelaki Yahudi itu. Setelah itu, Imam Ridha kembali berkata, “Demikian juga dengan Nabi Isa, berita tentang mukjizatnya disampaikan melalui sumber yang terpercaya, lalu mengapa engkau mengakui mukjizat Musa dan mengimaninya, tapi tidak dengan Isa?. Demikian juga dengan nubuwah Nabi Muhammad Saw, serta nabi-nabi yang utus oleh Allah swt…” Perdebatan terus berlanjut hingga pemuka Yahudi itu dengan jujur mengakui kebenaran Imam Ridha. Rais Jalut berkata, “Demi Tuhan, wahai putra Muhammad, jika bukan karena posisi dalam agama Yahudi yang menghalangiku, niscaya aku akan mengikuti perintahmu. Demi Tuhan yang telah menurunkan Taurat bagi Musa dan Zabur bagi Dawud, aku tidak pernah melihat orang yang membaca dan menafsirkan Injil lebih baik darimu”.

Imam Ridha dalam setiap perdebatan menyampaikan kebenaran ajaran Islam dengan argumentasi yang rasional dan kokoh, sehingga tidak ada tempat lagi bagi lawan untuk membantahnya. Untuk itulah Imam Ridha disebut sebagai Alim Ali Muhammad Saw.

Sebagai penutup tulisan, berikut petuah mulia Imam Ridha as, beliau berkata, “Ilmu dan pengetahuan seperti harta karun dan kuncinya adalah pertanyaan, maka bertanyalah. Allah merahmati kalian, sebab dalam bertanya terdapat empat unsur; penanya, pembelajar, pendengar dan orang yang menjawab, semuanya mendapatkan pahala.”

Wilayah lebih utama dari shalat, puasa, zakat dan haji. Akal wahabi tidak menalarnya

Mengenal Ahlul Bait Nabi Saw:
Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran
Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20) 

 Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran

Imam As-Shadiq as dilahirkan pada tanggal 17 Rabiul Awwal tahun 83 Hijriah di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Baqir as. Era Imam As-Shadiq as, merupakan penggalan sejarah Islam yang paling banyak mencatat peristiwa, menyusul transisi kekuasaan dari Bani Umayah menuju Bani Abbas dan dampak-dampaknya. Di sisi lain, era tersebut merupakan era interaksi berbagai pemikiran dan ideologi serta era pertukaran pendapat pemikiran filsafat dan teologi. Dibandingkan era sebelumnya, umat Muslim di era ini lebih menunjukkan antusias sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Dengan bekal ilmu yang mendalam dan besarnya tekad untuk menghidupkan dan menyebarkan agama Islam,  Imam Ja’far As-Shadiq as membentuk sebuah markas ilmiah besar dan mencetak murid-murid ternama di berbagai bidang.

Selain aktivitas ilmiah, Imam Shadiq as jua memperhatikan masalah pemerintahan dan mengecam para penguasa zalim. Terkait kerjasama dengan orang-orang zalim beliau berkata, “Orang yang memuji penguasa zalim dan merendahkan diri di hadapannya, dengan harapan mendapatkan harta dari penguasa, maka orang seperti ini akan bersama dengan penguasa zalim itu di neraka jahannam.” (Ushul Al-Kaafi jilid 12, hal 133).

Terkait kepemimpin umat (al-wilayah), beliau mengatakan, “Wilayah lebih utama dari shalat, puasa, zakat dan haji, karena wilayah (kepemimpinan) adalah kunci itu semua, penguasa dan pemimpin adalah pembimbing masyarakat menuju itu semua, (Ushul Al-Kaafi jilid 2, hal 242)

Revivalisasi kembali mutiara ajaran Islam oleh Imam As-Shadiq as membuka ufuk-ufuk baru di hadapan umat Islam dan menciptakan gelombang semangat ke arah ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Salah satu pertanyaan ghalib tentang Al-Quran adalah, apakah Al-Quran mencakup seluruh ilmu pengetahuan umat manusia? Lahiriyah ayat-ayat Al-Quran menunjukkan bahwa kitab langit ini menjelaskan “segala sesuatu.” Allamah Thabathabai, seorang ahli tafsir Al-Quran dalam hal ini menyatakan, “Maksud dari segala sesuatu itu adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan hidayah (petunjuk) bagi umat manusia, yakni maarif hakiki yang berkaitan dengan dunia, penciptaan dan kiamat, akhlak mulia, syariat Allah, kisah dan nasehat-nasehat.”

Imam As-Shadiq as berkata, “Allah Swt telah menjelaskan segala sesuatu. Demi Allah, tidak ada yang kurang dalam sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat, sehingga tidak ada orang yang akan berkata hal ini benar dan seharusnya disebutkan dalam Al-Quran. Sesungguhnya dalam Al-Quran telah disebutkan.”

Dinukil dari Imam As-Shadiq as, “Tidak ada satu masalah pun yang diperselisihkan oleh dua orang, kecuali telah ditetapkan sebuah pokok untuk menyelesaikannya dalam Al-Quran, akan tetapi akal manusia tidak menalarnya.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 60, hadis 6)

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa segala sesuatu telah dijelaskan dalam Al-Quran, hanya saja semua masalah itu tidak dapat dinalar manusia yang tidak maksum.

Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20)

Imam Shadiq as ditanya bagaimana mungkin setelah sekian lama tersebar dan dengan berlalunya masa, Al-Quran selalu baru akan tetapi tidak ada yang ditambahkan di dalamnya? Beliau menjawab, “Karena Allah Swt tidak menetapkannya (Al-Quran) untuk masa dan masyarakat tertentu. Sebab itu, Al-Quran hingga hari kiamat selalu baru di setiap masa dan selalu baru bagi sebuah kaum baru.” 

Yang dimaksud Imam As-Shadiq as adalah bahwa Allah Swt menurunkan Al-Quran sedemikian rupa sehingga cocok untuk setiap masa dan menjawab seluruh tuntutan umat manusia. Karena Al-Quran dengan penjelasan hukum dan ketentuan universalnya serta kehadiran imam dan berlanjutnya ijtihad, memiliki potensi untuk menjadi sumber proses esktrasi jawaban bagi berbagai permasalahan baru di setiap masa.

Mengenal Al-Quran sebagai kitab Allah Swt yang terlengkap sangat penting dan menjadi keharusan. Dalam hal ini Imam Ja’far As-Shadiq as berkata, “Sebaiknya jangan sampai seorang mukmin meninggal dunia sebelum dia mempelajari Al-Quran atau ketika sedang belajar Al-Quran.”

Yang dimaksud dalam hadis Imam As-Shadiq as tentu bukan membaca atau qiraah saja, melainkan pemahaman kandungan, arti dan perintah dalam Al-Quran serta pada akhirnya mengamalkannya. Karena Imam Shadiq as dalam hadis lain menyinggung orang-orang yang telah benar-benar melaksanakan tugasnya dalam membaca Al-Quran dan berkata, “Mereka membaca ayat-ayat Al-Quran, memahami maknanya, mengamalkan hukum dalam Al-Quran, berharap akan janji-janjinya serta takut akan azab, mencontohkan kisah-kisahnya, mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Demi Allah bahwa tilawah Al-Quran bukan hanya menghapal ayat-ayatnya, menjelaskan huruf dan membaca surat-suratnya saja… masyarakat telah menghapal huruf Al-Quran dan membacanya dengan indah akan tetapi melanggar batasan-batasannya, melainkan perenungan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya Allah Swt berfirman: telah Kami turunkan kitab penuh berkah ini kepadamu agar kau merenunginya.” (Muntakahab Mizan Al-Hikmah halaman 418, hadis 5192)

Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq as, “Apa maksud dari ayat 59 surat Al-Nisa bahwa Allah berfirman patuhilah Allah Swt, Rasulullah Saw, dan Ulil Amr? Siapa sebenarnya itu Ulil Amr?” Imam Shadiq as menjawab, “Yang dimaksud Allah Swt adalah hanya kami Ahlul Bait dan Allah mewajibkan kaum mukmin untuk mematuhi kami hingga hari kiamat.’

Beliau juga ditanya, “Mengapa nama Ali as dan Ahlul Bait tidak disebutkan dalam Al-Quran?” Imam Ja’far As-Shadiq as menjawab, “Allah Swt telah memerintahkan shalat dalam Al-Quran, akan tetapi tidak menyebutkan tiga atau empat rakaatnya. Sampai akhirnya Rasulullah Saw  menafsirkannya (dan menjelaskan jumlah rakaat shalat), diturunkan pula ayat tentang zakat, sampai akhirnya Rasulullah menafsirkannya, dan diturunkan pula ayat tentang haji dan tidak disebutkan tujuh kali kalian bertawaf mengelilingi Ka’bah, sampai akhirnya Rasulullah Saw menafsirkannya, dan juga diturunkan ayat:

اطیعوا الله و اطیعوا الرسول و اولی الامر منکم

Tentang Ali, Hasan dan Husein as (akan tetapi nama mereka tidak disebutkan), kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada Ali: Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Kemudian beliau bersabda: Aku menasehati kalian untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Ahlul Baitku, karena aku telah memohon kepada Allah Swt agar keduanya tidak terpisahkan sampai bertemu denganku di telaga Kautsar (di sorga). Allah pun memberikannya kepadaku. Dan Rasulullah Saw bersabda: jangan kalian mengajari sesuatu kepada Ahlul Baitku, karena mereka lebih tahu dari kalian dan mereka tidak akan menyimpangkan kalian dari jalur hidayah dan tidak akan menjerumuskan kalian.”

Jika Rasulullah Saw diam dan tidak menjelaskan siapa Ahlul Baitnya, niscaya semua orang akan mengaku sebagai Ahlul Bait Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah Saw telah menjelaskannya dan Al-Quran membenarkannya, “Sesungguhnya Allah Swt berkehendak membersihkan kalian Ahlul Bait dari keburukan dan menyucikan kalian. (Surat Al-Ahzab ayat 33)

Sebelum pembahasan berakhir, berikut ini satu kisah hikmah yang dinukil oleh seorang lelaki yang bertanya kepada Imam Ja’far As-Shadiq as. Lelaki itu bertanya, “Wahai putra Rasulullah! Kenalkan aku dengan Allah. Apa itu Allah? Orang-orang yang berdiskusi memandangku sinis dan membuatku kebingungan. Imam Shadiq as menyatakan, “Wahai hamba Allah! Pernahkah kau naik kapal? Lelaki itu menjawab: iya. Imam berkata, Bayangkan kapal itu pecah dan tidak ada kapal lain yang akan menolongmu dan kamu tidak bisa menyelamatkan dirimu dengan berenang? Lelaki itu berkata: maka ketika itu aku akan berada di kondisi yang sangat mengerikan. Imam berkata, “Apakah dalam kondisi seperti ini kau merasa ada sesuatu yang kau harapkan dapat menyelematkanmu? Lelaki itu menjawab, tidak diragukan lagi dalam batinku aku ingin terselamatkan. Aku merasa ada kekuatan yang dapat membantuku. Imam Shadiq as berkata, apa yang kau harapkan itu adalah Allah Swt yang mampu menyelamatkan ketika tidak ada penyelamat lain…”

Imamah dan Ahlul Bait

Imamah dan Ahlul Bait

Maka bagaimanakah dengan keluarga Muhammad saw sendiri? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu dua belas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?. Barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.”
 

 

 

Akidah Islamiyah adalah kumpulan kaidah, hukum, landasan, perintah, larangan dan pengetahuan yang universal dan terperinci yang diturunkan Allah SWT kepada hamba-Nya, Muhammad SAW. Rasululullah SAW bertugas memberikan penjelasan kepada umat mausia melalui perantara dakwah dan daulah yang dipimpinnya sendiri. Oleh karena itu setiap perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah SAW adalah juga aturan Ilahi sebagai pelengkap Al-Qur’an. Semasa hidupnya, Rasulullah menjadi satu-satunya sumber rujukan syar’i yang merupakan pengejewantahan akidah Ilahiah. Adalah mustahil jika aqidah yang berasal dari Allah ini dibiarkan tanpa seorang rujukan yang bertugas menjelaskan aqidah tersebut.

Sumber rujukan ini haruslah orang yang memiliki pengetahuan Ilahiah, paling baik, afdhal dan tepat dari sekian manusia yang ada. Untuk memilih dan mengangkat orang yang memiliki kapasitas itu, hanya Allah sendirilah yang berhak menentukan. Sejarah perjalanan manusiapun membuktikan, semua nabi-nabi yang 124 ribu jumlahnya diutus dan diangkat oleh Allah SWT. Tak sekalipun Allah SWT menyerahkan penentuan dan pemilihan orang yang menjadi sumber rujukan kepada hawa nafsu dan pendapat-pendapat manusia. Begitulah sejarah membuktikan, dan tidak ada seorangpun yang menyelisihi ini.

Lewat tulisan ini, saya ingin memperlihatkan ada realitas lain selain Nabi dan Rasul yang juga menjadi ketetapan Ilahi. Allah SWT berfirman, “Dan ingatlah ketika Ibrahim di uji Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman :”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu seorang Imam bagi umat manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman :”Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah : 124). 

Ayat ini menunjukkan bahwa menurut Al-Qur’an ada satu lagi realitas selain nabi dan rasul yakni imam, sebab bukankah penunjukan Ibrahim sebagai imam setelah ia menjadi nabi dan rasul dengan berbagai ujian ?.  Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim), Ishak dan Yaqub sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh. Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (Qs. Al-Anbiya : 73). Di ayat lain, “…Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Al-Baqarah : 41). Dari ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penunjukkan imam, khalifah ataupun pemimpin atas umat manusia adalah wewenang dan otoritas mutlak Allah SWT sebagaimana penunjukan nabi dan rasul.

Sebagaimana surah Al-Baqarah ayat 124 di atas, kedudukan imam sebagai jabatan langit selain nabi dan rasul juga dianugerahkan kepada keturunan biologis nabi Ibrahim as.

Pada dasarnya, jabatan imam Allah merupakan tunas dari “Pohon Kejadian” yang menjadi tujuan atas penciptaan manusia di bumi. Sedangkan kenabian atau kerasulan adalah cabang dari “Pohon Kejadian” tersebut. Artiya, institusi ilahiah ini secara gradual diawali lebih dahulu oleh kenabian, kerasulan dan berakhir pada keimamahan. Ini bisa dimaklumi bahwa tidak mungkin ada hukum tanpa ada hakim. Hukum Islam telah sempurna, karenanya dengan wafatnya Nabi terakhir meniscayakan adanya hakim Ilahiah yang mendampingi pelaksanaan hukum. Hakim di bumi inilah yang disebut Imam.

Setelah nabi Ibrahim as wafat, jabatan-jabatan ini terus diwariskan melalui keturunan biologis Ismail dan Ishak yang mana keduanya adalah nabi. Dalam Alkitab dinubuatkan bahwa dari Ismail dan keturunannya akan muncul duabelas orang imam “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas imam dan Aku akan membuatnya menjadi umat yang besar (Kejadian 17:20). Kondisi serupa juga ditampakkan kepada bangsa Israel pada zaman Musa as yang mana dia telah diperintahkan oleh Allah untuk melantik dua belas orang imam yang dikepalai oleh Harun dan keturunannya, “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin” (QS. Al-Maidah :12)

Pelantikan para imam Allah ini menandai kesempurnaan RisalahNya dan puncak dari perjanjian antara Allah dan para nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan AjaranNya kepada manusia. Bahkan fungsi utama dari pengutusan seorang nabi atau rasul itu adalah untuk menegakkan kerajaan imam dan umat yang kudus. Al-Qur’an menyatakan: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. (QS. 33:7)

Alhasil, substansi yang ingin saya tegaskan, bahwa status seorang imam di dalam Islam bahkan dalam ajaran Ibrahimik lainnya (Yahudi dan Nashrani) memang ada dan dipilih secara mutlak oleh Allah sebagaimana halnya kenabian dan kerasulan. Artinya tidak melalui konsensus. Imam Allah adalah jabatan sorgawi yang kudus dan tidak terbentuk melalui mekanisme pemilihan umum ataupun cara-cara lain yang dilandasi oleh perspektif manusia. Imamah atau kekhalifaan terlalu berharga, terlalu tinggi dan tidak pantas hanya disebut sebagai pemimpin sebuah pemerintahan. Imamah terlalu pelik dan rumit bagi manusia biasa untuk  memilih dan mengangkat sendiri imam mereka. Imamah tidak dapat diputuskan dalam pemilihan. Sebab imamah bukan sekedar masalah mengurus ummat melainkan perwakilan Allah SWT di muka bumi. Karena itu hanya Allah SWT yang berhak memilih dan mengangkatnya.

Sungguh tidak mengherankan bila Al-Qur’an sendiri pernah menegaskan bahwa keluarga Ibrahim as telah dianugerahi suatu kerajaan yang besar.

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (QS. 4:54) Maka bagaimanakah dengan keluarga Muhammad saw sendiri? Dan apabila jumlah para imam dari keluarga Ibrahim as ini selalu dua belas orang, maka mungkinkah jumlah para imam dari keluarga Muhammad pun juga demikian?. Barangkali hadis Nabi saw yang pernah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari  ini bisa membawa kita kepada kontemplasi mendalam yang selaras dengan pendewasaan beragama. Bukhari-Muslim meriwayatkan, “Agama (Islam) akan selalu tegak kukuh sampai tiba saatnya, atau sampai dua belas khalifah, semuanya dari Qurays.”

Imamah dan Penjagaan Risalah

Setelah jelas dari pembahasan di atas, bahwa Imamah adalah juga jabatan Ilahiah seperti halnya kenabian dan kerasulan. Maka kita selanjutnya mengkaji lebih mendalam tentang peran keimamahan dalam menjaga warisan spiritual Islam. Kita akan mengawali pembahasan imamah dan penjagaan warisan spiritual Islam dari hadits Tsaqalain. Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, juz 4 hal 123 terbitan Beirut Lebanon, Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah.

Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat  dan peringatan Rasulullah SAW berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.” Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.”

Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.”

Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).” Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan salah seorang sahabat pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355).

Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini. 

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Qur’an bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya. 

Pertanyaanya, mengapa Al-Qur’an saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah ?. Diantara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim : 4). Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail ? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah SAW memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya.

Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kuffar pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci. Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38). Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib. 

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.” Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as.

Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah SAW tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.

Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakan Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman ?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra': 71).

Selamat Hari Raya Ghadir 1434 H, hari diangkatnya Maulana Ali as sebagai imam dan khalifah pengganti Rasulullah Saw dan pelanjut risalah kenabian…

[Mahasiswa Ulumul Qur’an Universitas Internasional al Mustafa Republik Islam Iran]

Wahabi menuduh Nabi Muhammad saw itu pengecut

Membantah Syubhat Wahabi:
Dalil Naqli Dan Aqli Adanya Penyerangan Rumah Fatimah sa

 

Abu Bakar berkata:

Aku menyesal terhadap tiga perkara yang telah ku lakukan, aku suka sekali sekiranya tidak melaksanakannya. Salah satunya ialah serangan terhadap rumah Fathimah Az-Zahra. Aku suka sekali kalau tidak merusak rumah Fathimah untuk membongkar apapun sekalipun aku…
 

Suparno Sutrisno

 Dalil Naqli Dan Aqli Adanya Penyerangan Rumah Fatimah sa

لا تحزن ان الله معنا

Janganlah kamu takut karena Allah bersama kita.

Janganlah kamu takut karena Allah berada dikelompok kita.

Janganlah kamu takut karena Allah yang menjadi pendukung kita.

Janganlah kamu takut karena Allah yang menjadi penolong kita.

Janganlah kamu takut karena Allah swt yang menjadi pembela kita.

Janganlah kamu takut karena Allah swt yang menjadi penunjuk kita.

Sebuah syubhat yang kerap ditudingkan kelompok wahabi adalah syubhat yang berkaitan erat dengan para ahlul bait yang lima, baik terhadap imam Ali, Fatimah sa, imam Hasan dan Husain.

Pada kesempatan ini mari kita urai terkait syubhat yang ditujukan pada kelompok syiah atau sunni. Syubhat yang berkaitan langsung dengan empat orang ahlul bait Nabi Muhammad saaw, syubhat kasus penyerangan rumah Fatimah sa.

Dalam syubhat itu dipertanyakan bagaimana mungkin Ali bin Abi Thalib sang Haidar, sang jagoan dimedan laga membiarkan non mahram menyerang istrinya, menyerang rumahnya, padahal sebagai seorang muslim maka Ali bin Abi Thalib harus melakukan jihad pembelaan diri?

Disini dalam syubhat ini ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan:

Pertama, Ali as itu seorang pemberani.

Kedua, dalam syubhat ini digambarkan Ali itu tidak mau melakukan pembelaan diri. Beliau membiarkan keluarganya diserang oleh orang-orang yang disebut sebagai sahabat-sahabat Nabi Muhammad saaw. Beliau diam sama sekali tanpa melakukan perlawanan apalagi mengangkat pedang.

Ketiga, membela diri dan keluarga adalah salah satu kewajiban seorang muslim.

Keempat, hal ini menunjukkan adanya ketimpangan karena untuk keberanian Imam Ali as tidak ada sedikitpun keraguan, karena orang arab sendiri ketika ada keluarganya mati di medan laga dan yang membunuh adalah Ali maka mereka akan bangga, sebab tidak ada seorang musuh pun yang selamat ketika berperang melawan Ali as.

Kelima, jadi dengan syubhat diatas diangkat tujuan untuk menolak bahwa sebenarnya tidak pernah terjadi penyerangan terhadap rumah Fatimah sa.

Sesungguhnya syubhat ini tidak hanya datang dari kalangan wahabi yang memang gemar sekali mencipta fitnah untuk menyerang syiah, tapi juga dikalangan interen syiah sendiri. Namun ada perbedaan diantara keduanya walau syubhat isinya sama. Ketika syubhat itu ditanyakan interen syiah tujuannya untuk mengetahui apa hikmat dan tujuan dari Imam Ali mengapa melakukan seperti itu jika memang itu beliau lakukan. Mengingat prilaku seorang imam jaman jelas hal itu pasti berdasarkan pada pemikiran dan pertimbangan yang luas. Sedang ketika syubhat ini dilayangkan kelompok takfiri tujuannya lain, tujuan mereka tidak lain adalah untuk mengingkari kejadian pemakaman sayidah Fatimah sa yang dilakukan secara rahasia, sehingga manusia terutama umat Islam tidak perlu bingung dengan pertanyaan dimanakah tempat Fatimah sa dimakamkan?

Seperti kita tahu, ketika ada yang menanyakan dimana makam Fatimah sa maka otomatis dia akan sampai pada pertanyaan mengapa sampai makam beliau tidak diketahui, mengapa beliau mewasiatkan untuk dimakamkan dimalam hari, mengapa Abu Bakar bin Kuhafah dan Umar bin Khatab tidak diberitahu untuk datang mengiring kepergian jenazah Fatimah sa dst sampai pada pertanyaan alasan apa yang membuat sayidah Fatimah sa melakukan tindakan tersebut.

Terkait Penyerangan rumah dan syahâdah Fatimah Zahra sa kami akan mengutip beberapa matan dari kitab-kitab Ahlusunnah sehingga menjadi jelas bahwa masalah penyerangan kediaman Hadhrat Fatimah Zahra Sa merupakan sebuah peristiwa sejarah faktual serta bukan sebuah mitos dan legenda!! Meski pada masa para khalifah terjadi sensor besar-besaran terhadap penulisan keutamaan dan derajat (para maksum); akan tetapi kaidah menyatakan bahwa “hakikat (kebenaran) adalah penjaga sesuatu.” Hakikat sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Di sini kami akan mengutip beberapa referensi dengan memperhatikan urutan masa semenjak abad-abad pertama hingga masa kini.

1. Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Musannif”

Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannif dengan sanad sahih menukil demikian:

“Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya![1]

2. Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf”

Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimana yang telah disebutkan.

Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? Umar berkata, “Iya. Perbuatan ini akan membantu pekerjaan yang untuknya ayahmu diutus.”[2]

3. Ibnu Qutaibah dan kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah”

Sejarawan kawakan Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Dainawari (216-276) yang merupakan salah seorang tokoh dalam sastra dan penulis kawakan dalam bidang sejarah Islam, penulis kitab “Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits” dan “Adab al-Kitab” dan sebagainya. Dalam kitab “Al-Imamah wa al-Siyasah” ia menulis sebagai berikut:

“Abu Bakar mencari orang-orang yang menghindar untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib. Kemudian ia mengutus Umar untuk mendatangi mereka. Ia datang ke rumah Ali As dan tatkala ia berteriak untuk meminta mereka keluar namun orang-orang dalam rumah tidak mau keluar. Melihat hal ini Umar meminta supaya kayu bakar dikumpulkan dan berkata, “Demi Allah yang jiwa Umar di tangan-Nya! Apakah kalian akan keluar atau aku akan membakar rumah (ini).” Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Aba Hafs (julukan Umar) dalam rumah ini ada Fatimah, putri Rasulullah.” Umar menjawab: “Sekalipun.”!![3]

Ibnu Qutaibah sebagai kelanjutan kisah ini, menulis lebih mengerikan, “Umar disertai sekelompok orang mendatangi rumah Fatimah. Ia mengetuk rumah. Tatkala Fatimah mendengar suara mereka, berteriak keras: “Duhai Rasulullah! Selepasmu alangkah besarnya musibah yang ditimpakan putra Khattab dan putra Abi Quhafah kepada kami.” Tatkala orang-orang yang menyertai Umar mendengar suara dan jerit tangis Fatimah, maka mereka memutuskan untuk kembali namun Umar tinggal disertai sekelompok orang dan menyeret Ali keluar rumah dan membawanya ke hadapan Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Berbaiatlah.” Ali berkata, “Apabila Aku tidak memberikan baiat lantas apa yang akan terjadi?” Orang-orang berkata, “Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, kami akan memenggal kepalamu.”[4]

Tentu saja penggalan sejarah ini sangat berat dan pahit bagi mereka yang mencintai syaikhain (dua orang syaikh, Abu Bakar dan Umar). Karena itu, mereka meragukan kitab ini sebagai karya Ibnu Qutaibah. Padahal Ibnu Abil Hadid, guru sejarah ternama, memandang bahwa kitab ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan senantiasa menukil hal-hal di atas. Namun amat disayangkan kitab ini telah mengalami distorsi dan sebagian hal telah dihapus tatkala dicetak sementara hal yang sama disebutkan dalam Syarh Nahj al-Balâghah karya Ibnu Abil Hadid.

Zarkili menegaskan bahwa kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah” ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan mengimbuhkan bahwa sebagian memiliki pendapat terkait dengan masalah ini. Artinya keraguan dan sangsi disandarkan kepada orang lain bukan kepada mereka, sebagaimana Ilyas Sarkis[5] memandang bahwa kitab ini merupakan salah satu karya Ibnu Qutaibah.

4. Thabari dan kitab “Târikh”

Muhammad bin Jarir Thabari (W 310 H) dalam Târikh-nya peristiwa penyerangan ke rumah wahyu menjelaskan demikian:

Umar bin Khattab mendatangi rumah Ali bin Abi Thalib sementara sekelompok orang-orang Muhajir berkumpul di tempat itu. Umar berkata kepada mereka: “Demi Allah! Saya akan membakar rumah ini kecuali kalian keluar untuk memberikan baiat.” Zubair keluar dari rumah sembari membawa pedang terhunus, tiba-tiba kakinya terjungkal dan pedangnya terjatuh. Dalam kondisi ini, orang lain menyerangnya dan mengambil pedang darinya.[6]

Penggalan sejarah ini merupakan sebuah indikator bahwa pengambilan baiat dilakukan dengan intimidasi dan ancaman. Seberapa nilai baiat semacam ini? Kami persilahkan Anda untuk menjawabnya sendiri.

5. Ibnu Abdurabih dan kitab “Al-‘Aqd al-Farid”

Syihabuddin Ahmad yang lebih dikenal dengan Ibnu Abdurabih Andalusi (463 H) penulis kitab al-Aqd al-Farid dalam kitabnya menulis sebuah pembahasan rinci terkait dengan sejarah Saqifah dengan judul “Orang-orang yang menentang baiat kepada Abu Bakar.” Berikut tulisannya, “Ali, Abbas dan Zubair duduk di rumah Fatimah dimana Abu Bakar mengutus Umar bin Khattab untuk mengeluarkan mereka dari rumah Fatimah. Ia berkata kepadanya, “Apabila mereka tidak keluar, maka berperanglah dengan mereka! Dan ketika itu, Umar bin Khattab bergerak menuju ke rumah Fatimah dengan membawa api untuk membakar rumah tersebut. Dalam kondisi seperti ini, ia berjumpa dengan Fatimah. Putri Rasulullah Saw berkata, “Wahai putra Khattab! Kau datang untuk membakar (rumah) kami. Ia menjawab: “Iya. Kecuali kalian memasuki apa yang telah dimasuki umat![7]

Kiranya kami cukupkan sampai di sini penggalan kisah tentang adanya keinginan untuk menyerang rumah Fatimah. Sekarang mari kita mengulas pembahasan kedua kita yang menunjukkan alasan adanya niat untuk menyerang ini.

Apakah penyerangan itu benar-benar terjadi?

Di sini ucapan-ucapan kelompok yang hanya menyinggung niat buruk khalifah dan para pendukungnya berakhir sampai di sini saja. Sebuah kelompok yang tidak ingin atau tidak mampu menyuguhkan laporan tragedi yang terjadi dengan jelas, sementara sebagian kelompok menyinggung inti tragedi yaitu penyerangan terhadap rumah dan sebagainya, sehingga tersingkap kedok yang sebenarnya meski pada tingkatan tertentu. Di sini kami akan menyebutkan beberapa referensi terkait dengan penyerangan dan penodaan kehormatan (pada bagian ini juga dalam mengutip beberapa literatur dan referensi ghalibnya dengan memperhatikan urutan masa penulis atau sejarawan):

1.   Abu Ubaid dan kitab “Al-Amwâl”

Abu Ubaid Qasim bin Salam (W 224 H) dalam kitabnya “Al-Amwâl” yang menjadi sandaran para juris Islam menukil: “Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Demikian juga saya berharap saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah Saw. Adapun tiga hal yang telah saya lakukan dan saya berharap kiranya saya tidak melakukannya adalah: “Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[8]

Abu Ubaid tatkala sampai pada redaksi ini, tatkala sampai pada redaksi ini, alih-alih menulis “Lam aksyif baita Fatima wa taraktuhu…” Ia malah menulis, “kadza..kadza..” dan menambahkan bahwa saya tidak ingin menyebutkannya!

Namun kapan saja Abu Ubaid berdasarkan fanatisme mazhab atau alasan lainnya menolak untuk menukil kebenaran dan hakikat ini; namun para peneliti kitab al-Amwâl menulis pada catatan kaki: Redaksi kalimatnya telah dihapus dan disebutkan pada kitab “Mizân al-I’tidâl” (sebagaimana yang telah dijelaskan). Di samping itu, Thabarani dalam “Mu’jam” dan Ibnu Abdurrabih dalam “Aqd al-Farid” dan lainnya menyebutkan redaksi kalimat yang telah dihapus itu. (Perhatikan baik-baik)

2.   Thabarani dan kitab “Mu’jam al-Kabir”

Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Thabarani (260-360 H) dimana Dzahabi bercerita tentangnya dalam Mizân al-I’tidâl: Ia adalah seorang yang dapat dipercaya.[9] Dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir yang berulang kali telah dicetak, terkait dengan Abu Bakar, khutbah-khutbah dan wafatnya, Thabarani menyebutkan: “Abu Bakar sebelum wafatnya ia berharap dapat melakukan beberapa hal. Kiranya saya tidak melakukan tiga hal. Kiranya saya melakukan tiga hal. Kiranya saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah. Ihwal tiga perkara yang dilakukan dan berharap kiranya tidak dilakukannya, Abu Bakar menuturkan, “Saya berharap saya tidak melakukan penodaan atas kehormatan rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja![10] Redaksi-redaksi ini dengan baik menunjukkan bahwa ancaman Umar itu terlaksana.

3.   Ibnu Abdurrabih dan “Aqd al-Farid”

Ibnu Abdurrabih Andalusi (W 463 H) penulis kitab “Aqd al-Farid” dalam kitabnya menukil dari Abdurrahman bin Auf: ““Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Salah satu dari tiga hal tersebut adalah. Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[11] Dan juga nama-nama dan ucapan-ucapan orang-orang yang menukil ucapan khalifah ini akan disebutkan bagian mendatang.

4.   Nazzham dan “Al-Wâfi bi al-Wafâyât”

Ibrahim bin Sayyar Nazzham Muktalizi (160-231) yang lantaran keindahan tulisannya dalam puisi dan prosa sehingga ia dikenal sebagai Nazzham. Dalam beberapa kitab menukil tragedi pasca hadirnya beberapa orang di rumah Fatimah sa. Ia berkata, “Umar, pada hari pengambilan baiat untuk Abu Bakar, memukul perut Fatimah dan ia keguguran seorang putra yang diberi nama Muhsin yang ada dalam rahimnya.”[12] (Perhatikan baik-baik)

5.   Mubarrad dan kitab “Kâmil”

Muhammad bin Yazid bin Abdulakbar Baghdadi (210-285), seorang sastrawan, penulis terkenal dan pemilik karya-karya terkemuka, dalam kitab “Al-Kâmil”-nya, mengutip kisah harapan-harapan khalifah dari Abdurrahman bin Auf. Ia menyebutkan, “Saya berharap kiranya saya tidak menyerang rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja pintunya (meski) tertutup untuk (siap-siap) perang.”[13]

6.   Mas’udi dan “Murûj al-Dzahab”

Mas’udi (W 325 H) dalam Murûj al-Dzahab menulis: “Tatkala Abu Bakar menjelang wafatnya berkata demikian, “Tiga hal yang saya lakukan dan berharap kiranya saya tidak melakukannya. Salah satunya adalah: Saya berharap kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah. Hal ini banyak (kali) ia sebutkan.”[14]

Mas’udi meski ia memiliki kecendrungan yang baik kepada Ahlulbait namun sayang ia menghindar untuk mengungkap ucapan khalifah dan menyampaikannya dengan bahasa kiasan. Akan tetapi Tuhan mengetahui dan hamba-hamba Tuhan juga secara global mengetahui hal ini!

7.   Ibnu Abi Daram dalam Mizân al-I’tidâl

Ahmad bin Muhammad yang dikenal sebagai “Ibnu Abi Daram” ahli hadis Kufa (W 357 H), adalah seseorang yang dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Himad Kufah: “Ia adalah orang yang menghabiskan seluruh hidupnya di jalan lurus.”

Dengan memperhatikan martabat ini, ia menukil bahwa di hadapannya berita ini dibacakan, “Umar menendang Fatimah dan ia keguguran seorang putra bernama Muhsin yang ada dalam rahimnya![15] (Perhatikan baik-baik)

8. Abdulfatah Abdulmaqshud dan kitab “Al-Imâm Ali”

Ia menyebutkan dua hal terkait dengan penyerangan ke rumah wahyu dan kita hanya menukil satu darinya: “Demi (Dzat) yang jiwa Umar berada di tangan-Nya. Apakah kalian keluar atau aku akan membakar rumah ini (berikut penghuninya). Sebagian orang yang takut (kepada Allah) dan menjaga kedudukan Rasulullah Saw dari akibat perbuatan ini, mereka berkata: “Aba Hafs, Fatimah dalam rumah ini.” Tanpa takut, Umar berteriak: “Sekalipun!! Ia mendekat, mengetuk pintu, kemudian menggedor pintu dengan tangan dan kaki untuk masuk ke dalam rumah secara paksa. Ali As muncul.. pekik jeritan suara Zahra kedengaran di dekat tempat masuk pintu rumah… suara ini adalah suara meminta pertolongan..”[16]

satu hadis lainnya dari “Maqatil Ibnu ‘Athiyyah” dalam kitab al-Imâmah wa al-Siyâsah (Meski masih banyak yang belum diungkap di sini!)

Ia menulis dalam kitab ini sebagai berikut:

“Tatkala Abu Bakar mengambil baiat dari orang-orang dengan ancaman, pedang dan paksaan, Umar, mengirim Qunfudz dan sekelompok orang ke rumah Ali dan Fatimah sa dan Umar mengumpulkan kayu bakar dan membakar pintu rumah…”[17]

Ibnu Zanjawaih di dalam al-Amwal, Ibnu Qutaibah Dainuri di dalam kitab al-Imamah Was-Siyasah, Thabari di dalam kitab Tarikhnya, Ibnu Abd Rabbah di dalam kitab al-ʽAqdul Farid, Masʽudi di dalam kitab Muruj al-Zahab, Thabari di dalam kitab al-Muʽjam al-Kabir, Muqaddasi di dalam kitab al-Ahadis al-Mukhtarah, Shamsuddin Zahabi di dalam kitab Tarikh al-Islam dan banyak lagi… telah menukilkan Pengakuan Abu Bakar dengan sedikit perbedaan teks. Kami ingin bawakan di sini matan dari kitab al-Amwal ibnu Zanjawaih yang merupakan salah satu tokoh Ahlusunnah kurun ke-tiga: 

أنا حميد أنا عثمان بن صالح، حدثني الليث بن سعد بن عبد الرحمن الفهمي، حدثني علوان، عن صالح بن كيسان، عن حميد بن عبد الرحمن بن عوف، أن أباه عبد الرحمن بن عوف، دخل على أبي بكر الصديق رحمة الله عليه في مرضه الذي قبض فيه … فقال [أبو بكر] : « أجل إني لا آسى من الدنيا إلا على ثَلاثٍ فَعَلْتُهُنَّ وَدِدْتُ أَنِّي تَرَكْتُهُنَّ، وثلاث تركتهن وددت أني فعلتهن، وثلاث وددت أني سألت عنهن رسول الله (ص)، أما اللاتي وددت أني تركتهن، فوددت أني لم أَكُنْ كَشَفْتُ بيتَ فاطِمَةَ عن شيء، وإن كانوا قد أَغْلَقُوا على الحرب… .

Telah menceritakan kepada kami Hamid, telah menceritakan kepada kami Usman bin Shalih, telah menceritakan kepada kami al-Lays bin Saʽd bin Abdul Rahman al-Fahmi, telah menceritakan kepada kami ʽUlwan, daripada shalih bin Kaysan, daripada Hamid bin Abdul Rahman bin ʽAuf, sesungguhnya ayahnya Abdul Rahman bin ʽAuf bertemu dengan Abu Bakar ketika sedang sakit yang bakal membawa kematiannya…. Maka Abu Bakar berkata:

Aku menyesal terhadap tiga perkara yang telah ku lakukan, aku suka sekali sekiranya tidak melaksanakannya. Salah satunya ialah serangan terhadap rumah Fathimah Az-Zahra. Aku suka sekali kalau tidak merusak rumah Fathimah untuk membongkar apapun sekalipun aku…[18-19]

Sekarang jelas bahwa tidak ada jalan lagi untuk mengingkari kejadian penyerangan rumah Fatimah sa. Dan ketentuannya barangsiapa mengakui bahwa penyerangan ini terjadi dan dilakukan khalifah waktu itu maka harus percaya bahwa Sayidah Fatimah telah marah kepada mereka, dan ini berlanjut hingga wafat beliau, sehingga beliau tidak mengijinkan dua syaikh tadi untuk datang kepemakaman beliau. 

Permasalahan selanjutnya, apakah benar Imam Ali as hanya berdiam diri?
sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita Tanya, pada masa Nabi Muhammad masih hidup dimana banyak orang munafik dan musyrik yang ada disekitar beliau, banyak para pemeluk agama Islam diserang dan dibunuh namun nabi tidak datang mengangkat pedang melakukan pembelaan, apakah dengan semua kenyataan ini wahabi  akan berkata bahwa Nabi Muhammad saw itu pengecut, nauzubillah minzalik, jelas kita tidak akan berbuat lancang mengatakan hal demikian ini.

dalam hal ini sebenarnya Imam Ali as tidak hanya berdiam diri, beliau melakukan perlawanan, walau perlawanan beliau tidak dengan menyabetkan pedang sehingga para penyerang harus bergelimang darah. Perlawanan dengan sebuah tujuan yang akan kami jelaskan nantinya.

Sebelum menjawab pertayaan diatas mari kita telusur berbagai kemungkinan ketika Imam Ali mengangkat pedang dan membunuh semua orang yang menyerang rumah beliau.

Ketika Imam Ali mengangkat pedang maka beliau dan keluarga beliau akan dicap sebagai pemberontak yang melakukan pemeberontakan kepada khalifah yang “sah” sesuai pemilihan sepihak di Saqifah bani Saidah. Ketika hal ini terjadi maka dengan mudah dan tanpa arti para musuh islam itu akan menyerang Imam Ali as dan keluarga membunuh mereka tanpa ada bekas dan arti bagi umat Islam, umat Islam hanya akan mengenang mereka sebagai seorang pemberontak tidak lebih. Berbeda dengan kasus pengangkatan pedang yang dilakukan Imam Husain as.

Ketika Imam Ali as melakukan perlawanan pedang maka islam akan musnah, tidak akan pernah terdengar adzan sehari-hari. Waktu itu musuh Islam menunggu titik-titik lemah Islam dan peperangan saudara peperangan interen ditengah umat Islam jelas akan melemahkan Islam yang memang baru berdiri. Roma dan Persia jelas akan girang mendengar berita peperangan intern ditengah umat Islam, dan jelas mereka akan mencari waktu tepat untuk membumi hangus islam sampai keakar-akarnya. Bagaimana dengan tugas Imam Ali as untuk menjaga Islam, mengembangkan Islam, mendakwahkan Islam, apakah hal itu bisa terwujud jika beliau memulai peperangan intern dalam Islam sendiri? Selain itu apa yang akan dilakukan para munafikin, bukankah ketika ada peperangan didalam islam ini kesempatan emas buat mereka, bagaimana dengan para Nabi Palsu, bukankah para nabi Palsu akan berpesta dan berkata, nih lihatlah agama islam, penuh dengan kekacauan, maka dari itu ikutilah aku, ikuti ajaranku.

Ketika Imam Ali sampai meninggal dalam perlawanan maka tidak ada lagi yang mengawasi pemerintahan Islam, dalam sejarah kita bisa membaca bahwa walau bagaimana Imam Ali as tetap berperan dalam menjaga Islam, berulang kali khalifah bertanya dan merujuk kepada beliau, sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa mereka kalah ilmu dibanding Ali as. Ketika Imam Ali as tidak ada maka islam yang ada adalah islam versi khulafa yang tiga dimana dalam kasus pemilihan Imam Ali as untuk dipilih menjadi khalifah menggantikan Umar, beliau menolak persyaratan untuk mengikuti apa-apa yang sudah dilakukan dua khalifah pertama kedua, sebab itu tidak sesuai dengan ajaran Nabi saw.

Kedua perlu diketahui bahwa waktu itu Imam Ali as tidak memiliki jumlah pendukung yang cukup, hanya sahabat setia pada wasiat nabi saja yang mengikuti beliau hingga akhir, dan mereka sedang berkumpul dirumah Ali as pada saat dilakukan penyerangan dan pembakaran pintu rumah Ali as. Mungkin ada sahabat lain yang tidak ada disana tapi jumlahnya tidaklah seberapa.

Ketiga, apa yang dilakukan Imam Ali as dengan tidak mengangkat pedang dan dengan melarang para sahabat setia beliau untuk tidak melakukan perlawanan tidak jauh beda dengan tindakan Allah yang masih membiarkan setan tetap ada dimuka bumi padahal setan itu membuat manusia sengsara, menipu sehingga banyak manusia tidak menyembah Allah. Padahal Allah kuasa dan Maha segala, jika Allah berkehendak maka setan dan iblis akan binasa tanpa tersisa namun kenyataannya Allah tidak melakukan hal ini. Apakah masih eksisnya setan dan iblis menunjukkan bahwa Allah itu pengecut?

Keempat, pada jaman Nabi banyak sahabat yang disiksa dan dibunuh kaum musyrik, namun Nabi tidak mengangkat pedang dan melakukan peperangan pada mereka, apakah hal itu berarti Nabi saw itu pengecut tidak berani?

Kelima, ketika Imam Ali as melakukan perlawanan maka beliau akan dibilang telah murtad dan layak dibunuh. Sebab telah melawan khalifah yang “sah”.

Keenam, kondisi waktu itu sungguh kacau sehingga sahabat yang membunuh sahabat lain lalu mezinai wanita itu dihitung sebagai sebuah ijtihad yang salah dan itu mendapat pahala satu. Khalid bin al-Walid membunuh sahabat Malik bin Nuwairah, petugas pengumpul zakat Nabi SAW hanya karena ingin memiliki isteri Malik yang cantik jelita bernama Ummu Tamim.

Cerita ini diangkat berdasarkan apa yang dicatat oleh Tabari dalam Tarikhnya ketika Umar berkata keras kepada Khalid :”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu memperkosa isterinya. Demi Allah aku akan merajam kamu dengan batu.”[20]

Dan juga tercatat dalam al-Isabah bahwa Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib menuntut supaya Khalid dihukum rajam. [21]

Sebenarnya mengapa Imam Ali as tidak melakukan perlawanan bersenjata tidak perlu kita buktikan dengan nash dan riwayat, sesungguhnya dengan akal sehat pun sudah bisa memahami mengapa beliau melakukan langkah itu, dari sisi islam yang masih baru, islam yang masih rentan, jelas Imam tidak mungkin bertindak gegabah dengan melakukan perlawanan bersenjata.

Alasan mengapa Imam Ali as tidak melakukan perlawanan bersenjata adalah untuk maslahat umat, untuk menjaga agar Islam tetap eksis, untuk menjaga islam yang hakiki, sebuah tindakan yang sudah semestinya dilakukan seorang imam umat. Dia melakukan segala hal dengan penuh pertimbangan. Tidak hanya melihat dari satu sisi saja, yang diukur sebagai pengecut atau penakut.

Wallahu ‘alam Bishshawwab

Footnote:

[1]. Ibnu Abi Saibah, al-Musannif, 8/572, Kitab al-Maghazi:

« انّه حین بویع لأبی بکر بعد رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) کان علی و الزبیر یدخلان على فاطمة بنت رسول اللّه، فیشاورونها و یرتجعون فی أمرهم. فلما بلغ ذلک عمر بن الخطاب خرج حتى دخل على فاطمة، فقال: یا بنت رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) و اللّه ما أحد أحبَّ إلینا من أبیک و ما من أحد أحب إلینا بعد أبیک منک، و أیم اللّه ما ذاک بمانعی إن اجتمع هؤلاء النفر عندک أن امرتهم أن یحرق علیهم البیت. قال: فلما خرج عمر جاؤوها، فقالت: تعلمون انّ عمر قد جاءَنى، و قد حلف باللّه لئن عدتم لیُحرقنّ علیکم البیت، و أیم اللّه لَیمضین لما حلف علیه

[2]. Ansab al-Asyrâf, 1/582, Dar Ma’arif, Kairo:

«انّ أبابکر أرسل إلى علىّ یرید البیعة فلم یبایع، فجاء عمر و معه فتیلة! فتلقته فاطمة على الباب. فقالت فاطمة: یابن الخطاب، أتراک محرقاً علىّ بابى؟ قال: نعم، و ذلک أقوى فیما جاء به أبوک…»

[3]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 12, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:

« انّ أبابکر رضی اللّه عنه تفقد قوماً تخلّقوا عن بیعته عند علی کرم اللّه وجهه فبعث إلیهم عمر فجاء فناداهم و هم فی دار على، فأبوا أن یخرجوا فدعا بالحطب و قال: والّذی نفس عمر بیده لتخرجن أو لاحرقنها على من فیها، فقیل له: یا أبا حفص انّ فیها فاطمة فقال، و إن!! »

[4]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 13, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:

« ثمّ قام عمر فمشى معه جماعة حتى أتوا فاطمة فدقّوا الباب فلمّا سمعت أصواتهم نادت بأعلى صوتها یا أبتاه رسول اللّه ماذا لقینا بعدک من ابن الخطاب، و ابن أبی قحافة فلما سمع القوم صوتها و بکائها انصرفوا. و بقی عمر و معه قوم فأخرجوا علیاً فمضوا به إلى أبی بکر فقالوا له بایع، فقال: إن أنا لم أفعل فمه؟ فقالوا: إذاً و اللّه الّذى لا إله إلاّ هو نضرب عنقک…!»

[5]. Mu’jam al-Mathbu’ât al-Arabiyah, 1/212.

[6]. Târikh Thabari, 2/443:

« أتى عمر بن الخطاب منزل علی و فیه طلحة و الزبیر و رجال من المهاجرین، فقال و اللّه لاحرقن علیکم أو لتخرجنّ إلى البیعة، فخرج علیه الزّبیر مصلتاً بالسیف فعثر فسقط السیف من یده، فوثبوا علیه فأخذوه

[7]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu Hilal:

فأمّا علی و العباس و الزبیر فقعدوا فی بیت فاطمة حتى بعثت إلیهم أبوبکر، عمر بن الخطاب لیُخرجهم من بیت فاطمة و قال له: إن أبوا فقاتِلهم، فاقبل بقبس من نار أن یُضرم علیهم الدار، فلقیته فاطمة فقال: یا ابن الخطاب أجئت لتحرق دارنا؟! قال: نعم، أو تدخلوا فیما دخلت فیه الأُمّة

[8]. Al-Amwâl, Catatan Kaki 4, Nasyr Kulliyat Azhariyah, al-Amwal, hal. 144, Beirut dan juga dinukil Ibnu Abdurrabih dalam Aqd al-Farid, 4/93:

« وددت انّی لم أکشف بیت فاطمة و ترکته و ان اغلق على الحرب»

[9]. Mizân al-I’tidâl, jil. 2, hal. 195.

[10]. Mu’jam Kabir Thabarani, 1/62, Hadis 34, Tahqiq Hamdi Abdulmajid Salafi:

« أمّا الثلاث اللائی وددت أنی لم أفعلهنّ، فوددت انّی لم أکن أکشف بیت فاطمة و ترکته. »

[11]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu al-Hilal:

« وودت انّی لم أکشف بیت فاطمة عن شی و إن کانوا اغلقوه على الحرب

[12]. Al-Wâfi bil Wafâyât, 6/17, No. 2444. Al-Milal wa al-Nihal, Syahrastani, 1/57, Dar al-Ma’rifah, Beirut. Dan pada terjemahan Nazzham silahkan lihat, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 3/248-255.

« انّ عمر ضرب بطن فاطمة یوم البیعة حتى ألقت المحسن من بطنها

[13]. Syarh Nahj al-Balâghah, 2/46-47, Mesir:

« وددت انّی لم أکن کشفت عن بیت فاطمة و ترکته ولو أغلق على الحرب

[14]. Muruj al-Dzahab, 2/301, Dar Andalus, Beirut:

« فوددت انّی لم أکن فتشت بیت فاطمة و ذکر فی ذلک کلاماً کثیراً! »

[15]. Mizân al-I’tidâl, 3/459:

«انّ عمر رفس فاطمة حتى أسقطت بمحسن

[16]. Abdulfattah Abdulmaqshud, ‘Ali bin Abi Thalib, 4/276-277:

« و الّذی نفس عمر بیده، لیَخرجنَّ أو لأحرقنّها على من فیها…! قالت له طائفة خافت اللّه، و رعت الرسول فی عقبه: یا أبا حفص، إنّ فیها فاطمة…! فصاح لایبالى: و إن..! و اقترب و قرع الباب، ثمّ ضربه و اقتحمه… و بداله علىّ… و رنّ حینذاک صوت الزهراء عند مدخل الدار… فان هى الا طنین استغاثة…»

[17]. Maqatil ibn ‘Athiyyah, Kitâb al-Imâmah wa al-Khilâfah, hal. 160-161, diterbitkan dengan kata pengantar Dr. Hamid Daud, dosen Universitas ‘Ain al-Syams, Kairo, Cetakan Beirut, Muassasah al-Balagh:

« ان ابابکر بعد ما اخذ البیعة لنفسه من الناس بالارهاب و السیف و القوّة ارسل عمر، و قنفذاً و جماعة الى دار علىّ و فاطمه(علیه السلام) و جمع عمر الحطب على دار فاطمه و احرق باب الدار..»

 IQuest! ()

[18]. Jawaban ini diadaptasi dan diringkas dari makalah Ayatullah Makarim Syirazi. Demikan juga Anda dapat mengklik tebyan.net   untuk telaah lebih jauh.

 [19] Al-Kurasani, Abu Ahmad Hamid bin Makhlad bin Qutaibah bin Abdullah al-maʽruf bi Ibnu Zanjawaih (meninggal dunia pada tahun 251 Hijarah), al-Amwal, jilid 1 halaman 387. Abna Melayu

– Al-Dainuri, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim Ibnu Qutaibah (meninggal dunia pada tahun 276 Hijrah), Al-Imamah Was Siyasah, jilid 1 halaman 21, tahqiq: Khalil al-Manshur, penerbit Dar Kutub Al-ʽIlmiyyah, Beirut 1418 Hijrah – 1997 Miladi, tahqiq Shiri, jilid 1 halaman 36, tahqiq Zaini, jilid 1 halaman 24;

– Al-Thabari, Muhammad bin Jarir (meninggal dunia 310 Hijrah), Tarikh al-Thabari, jilid 2 halaman 353, penerbit Darul Kutub al-ʽIlmiyyah, Beirut.

– Al-Andalusi, Ahmad bin Muhammad bin Abdul Rabbah (meninggal dunia pada tahun 328 Hijrah), al-ʽAqdul Farid, Jilid 4 halaman 254, penerbit Dar Ihya al-Turats al-ʽArabi, Lubnan, cetakan ke-tiga, 1420 Hijrah – 1999 Miladi.

– Al-Masʽudi, Abul Hasan Ali bin al-Husain bin Ali (meninggal dunia tahun 346 Hijrah), Muruj al-Dhahab, Jilid 1 halaman 290;

– Al-Thabrani, Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abul Qasim (meninggal dunia pada tahun 360 Hijrah), al-Muʽjam al-Kabir, jilid 1 halaman 62 Hijrah), tahqiq  Hamdi bin Abdul Majid al-Salafi, Penerbit Maktabah al-Zahra, al-Maushul, cetakan ke-dua, 1404 Hijrah 1983 Miladi;

– al-ʽAshimi al-Makki, Abdul Malik bin Husain bin Abdul Malik al-Shafiʽi (meninggal dunia pada tahun 1111 Hijrah), Samṭ al-nujūm al-ʻawālī fī anbāʼ al-awāʼil wa-al-tawālī, jilid 2 halaman 465, tahqiq: ʽAdil Ahmad Abdul Maujud – Ali Muhammad Muʽawwadh, penerbit Darul Kutub al-ʽIlmiyyah, Beirut, 1419 Hijrah 1998 Miladi.

[20] [Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928]

[21] [Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

debu kemunafikan pada masa Imam Hasan lebih pekat dari masa Imam Ali,

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei berkata, “Masa-masa genting setiap revolusi adalah masa di mana hak dan batil telah samar… debu kemunafikan pada masa Imam Hasan lebih pekat dari masa Imam Ali… Imam Hasan tahu bahwa jika ia bersama beberapa sahabatnya berperang dengan Muawiyah dan gugur syahid, maka tidak dibiarkan siapapun menuntut darahnya karena dekadensi moral telah mendominasi para elite masyarakat. Propaganda, harta dan kelicikan Muawiyah, semua akan ia gunakan dan setelah berlalu satu atau dua tahun, masyarakat akan berkata, ‘Imam Hasan sia-sia berpedang dengan Muawiyah.’ Oleh karena itu, Imam Hasan menghadapi semua kesulitan dan tidak menyeret dirinya ke medan perang, karena ia tahu darahnya akan sia-sia.”

Imam Hasan as senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. Terkadang ia duduk di pangkuan Nabi Saw, terkadang pula beliau memikul cucu kesayangannya itu di pundaknya. Setiap kali wahyu turun, ia pun mendengar langsung dari bibir Rasulullah Saw dan menukilkannya untuk sang ibu, Sayidah Fatimah Zahra as. Sejatinya, keistimewaan terbesar yang dimiliki Imam Hasan as adalah kepribadian beliau yang begitu mirip dengan Rasulullah Saw. Meski ia adalah cucu Rasul saw, namun beliau selalu menyebut Imam Hasan as sebagai putranya. Seluruh ulama dan sejarawan muslim juga meyakini hal itu.

Sisi Lain Kehidupan Putra Kesayangan Rasul

Imam Hasan as senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. Terkadang ia duduk di pangkuan Nabi Saw, terkadang pula beliau memikul cucu kesayangannya itu di pundaknya. Setiap kali wahyu turun, ia pun mendengar langsung dari bibir Rasulullah Saw dan menukilkannya untuk sang ibu, Sayidah Fatimah Zahra as. Sejatinya, keistimewaan terbesar yang dimiliki Imam Hasan as adalah kepribadian beliau yang begitu mirip dengan Rasulullah Saw. Meski ia adalah cucu Rasul saw, namun beliau selalu menyebut Imam Hasan as sebagai putranya. Seluruh ulama dan sejarawan muslim juga meyakini hal itu.

 

 Imam Hasan al-Mujtaba as adalah cucu pertama Rasulullah Saw dari Ali bin Abi Thalib as dan Sayidah Fathimah as. Beliau lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 3 hijriah di kota Madinah. Ketika Rasul Saw diberi kabar tentang kelahiran cucu pertamanya itu, wajah beliau berseri-seri dan hatinya dipenuhi rasa gembira. Beliau bergegas menuju rumah Sayidah Fathimah as untuk melihat langsung cucunya itu.

Sayidah Fathimah as langsung menyerahkan Imam Hasan as yang masih bayi kepada Rasulullah Saw. Setelah menggendongnya, Rasul Saw kemudian membacakan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri Imam Hasan as. Ketika itu, Malaikat Jibril as turun dan menyampaikan perintah Allah Swt kepada beliau agar menamakan cucu pertamanya dengan Hasan, yang berarti baik dan terpuji.

Imam Hasan as yang mendapat gelar mujtaba yang berarti “terpilih” ini, merupakan salah satu dari empat orang terdekat Nabi Saw atau Ahlul Bait as yang dibawa ke arena mubahalah menghadapi tantangan kaum Nasrani Najran. Mereka inilah yang telah disucikan Allah dari noda dan dosa, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tathir. Pada tanggal 24 Dzulhijjah, para pendeta Nasrani datang untuk bersumpah dengan Nabi Muhammad Saw guna membuktikan mana yang paling benar. Tapi pribadi-pribadi yang diajak oleh Rasulullah Saw membuat mereka takut dan membatalkan niatnya untuk bermubahalah dengan Rasul Saw dan keluarganya.

Imam Hasan as senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. Terkadang ia duduk di pangkuan Nabi Saw, terkadang pula beliau memikul cucu kesayangannya itu di pundaknya. Setiap kali wahyu turun, ia pun mendengar langsung dari bibir Rasulullah Saw dan menukilkannya untuk sang ibu, Sayidah Fatimah Zahra as. Sejatinya, keistimewaan terbesar yang dimiliki Imam Hasan as adalah kepribadian beliau yang begitu mirip dengan Rasulullah Saw. Meski ia adalah cucu Rasul saw, namun beliau selalu menyebut Imam Hasan as sebagai putranya. Seluruh ulama dan sejarawan muslim juga meyakini hal itu.

Mufasir al-Quran, Jalaluddin Suyuti meyakini bahwa ayat 61 surat Ali Imran merupakan bukti yang menguatkan masalah tersebut. Dalam penggalan surat Ali Imran yang juga dikenal sebagai ayat mubahalah itu dinyatakan, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Para ulama sepakat, pada peristiwa Mubahalah, Imam Hasan dan Imam Husein as bersama Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as mendampingi Rasulullah Saw. Dengan demikian sesuai dengan ayat tadi, ungkapan ‘anak-anak kami’ yang dimaksud tak lain adalah Imam Hasan as dan Imam Husein as. Di samping itu, hadis-hadis Rasulullah Saw merupakan juga bukti lain akan hal ini. Beliau senantiasa menyebut kedua cucu kesayangannya itu sebagai putranya. Nabi Saw bersabda, “Hasan dan Husein as adalah dua putraku. Barang siapa yang mencintainya, maka ia mencintai aku pula.”

Imam Hasan as dicintai oleh seluruh masyarakat dan mereka semua menghormati beliau. Salah satu bentuk kecintaan masyarakat kepada Imam Hasan as adalah mereka selalu berkumpul di sekitar rumah beliau di Madinah untuk menanyakan berbagai permasalahan dan setiap orang yang lewat di depan rumah Imam Hasan as, mereka selalu memperlambat gerak langkahnya dan menikmati kata-kata mutiara yang keluar dari lisan manusia mulia ini atau mereka sekedar menatap tajam wajah beliau sebagai pengingat sosok Nabi Saw. Imam Hasan as menyelesaikan semua permasalahan masyarakat dengan penuh semangat dan dengan wajah yang ramah. 

Imam Hasan as memiliki kepribadian yang luhur, suci, dan berakhlak mulia. Sikap beliau kepada seluruh masyarakat dan bahkan musuh, sangat santun dan mulia sehingga semua mendekat ke arahnya. Rendah hati dan kebesaran jiwa beliau di samping kedermawanan dan pemaaf telah menjadi buah bibir khalayak. Imam Hasan as berkata, “Memberi sebelum diminta adalah kebesaran jiwa yang teragung.” Imam Hasan as adalah pribadi yang sangat agung, penyabar, sangat berwibawa dan teguh pendirian. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat pemberani. Ketinggian ilmu dan hikmah beliau membuat kagum siapapun serta sangat bijak dalam memutuskan suatu perkara.

Dikisahkan bahwa “Suatu hari, Imam Hasan as berjalan di tengah keramaian masyarakat. Tiba-tiba di tengah jalan beliau bertemu dengan orang tak dikenal yang berasal dari Syam. Pendatang itu ternyata seorang yang sangat membenci Ahlul Bait Nabi as. Mulailah ia mencaci maki Imam Hasan. Beliau tertunduk diam tidak menjawab sepatah kata pun terhadap cacian itu, hingga orang tersebut menuntaskan hinaannya.” Setelah itu, Imam Hasan as membalasnya dengan senyuman, lantas mengucapkan salam kepadanya sembari berkata, “Wahai kakek, aku kira engkau seorang yang asing. Bila engkau meminta pada kami, kami akan memberimu. Bila engkau meminta petunjuk, aku akan tunjukkan. Bila engkau lapar, aku akan mengenyangkanmu. Bila engkau tidak memiliki pakaian, aku akan berikan pakaian. Bila engkau butuh kekayaan, aku akan berikan harta. Bila engkau orang yang terusir, aku akan mengembalikanmu. Dan bila engkau memiliki hajat yang lain, aku akan penuhi kebutuhanmu.”

Mendengar jawaban seperti itu, kakek tersebut terperanjat dan terkejut, betapa selama ini ia keliru menilai keluarga Nabi Saw. Sejak saat itu, dia sadar bahwa Muawiyah telah menipu dirinya dan masyarakat lain. Bahkan Muawiyah telah menyebarkan isu dan fitnah tentang ihwal Ali bin Abi Thalib as dan keluarganya. Terkesima oleh jawaban Imam Hasan as, kakek itu pun menangis dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah khalifah Allah Swt di muka bumi ini, dan sesungguhnya Allah Maha Tahu kepada siapa risalah-Nya ini hendak diberikan. Sungguh sebelum ini engkau dan ayahmu adalah orang-orang yang paling aku benci dari sekalian makhluk Tuhan. Tapi, sekarang engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segenap makhluk-Nya.” Lelaki tua itu akhirnya diajak oleh Imam Hasan as ke rumahnya dan beliau menjamunya sebagai tamu kehormatan hingga ia pamit untuk pulang.

Imam Hasan as tidak pernah menolak orang fakir dan peminta kecuali memenuhi semua hajat mereka. Ketika seseorang bertanya kepada beliau, “Bagaimana bisa engkau tidak pernah menolak pengemis?” Imam Hasan as menjawab, “Aku sendiri adalah pengemis di pintu rumah Tuhan dan pecinta kedekatan dengan-Nya. Aku malu mengusir seorang pengemis sementara aku sendiri seorang peminta-minta. Tuhan telah membiasakanku dengan nikmat yang berlimpah dan aku juga sudah terbiasa di hadapan-Nya untuk memperhatikan masyarakat dan berbagi nikmat Tuhan dengan mereka.”

Kehidupan para ksatria Tuhan selalu dipenuhi oleh berbagai peristiwa besar dan kehidupan mulia Imam Hasan as juga demikian. Meski Imam Hasan as tidak hidup lebih dari 48 tahun, tapi dalam masa singkat itu beliau senantiasa memerangi kebatilan dan menyebarkan kebenaran.

 

wahabi Perluas Pengaruh atas NU Lewat Kekayaan, NU – Wahabi Bersaing sejak Dulu

wahabi dan NU, Bersaing sejak Dulu

Nu Nahdlotul Ulama

Ponpes wahabi di indonesia saat ini sdh tersebar hampir di setiap provinsi, terbanyak di jabar dan jateng, alumni2nya tersebar dari sabang s/d merauke, bahkan ajaran wahabi  sdh masuk kurikulum sekolah semakin banyak guru2 yang bermanhaj wahabi, di setiap perguruan tinggi ada ponpes mahasiswa, wahabi berdakwah di semua instansi. inilah yg menjadi berkembangnya dakwah wahabi dg pesat bahkan diperkirakan 20 thn lg, indonesia akan dikuasai orang2 yg bermanhaj wahabi.

orang wahabi banyak duitnya… hampir seluruh web mereka kuasai… maklum yg kuliah di saudi dikasih duit banyak jadi buta mata buta hati, wahabi akan terus berkembang dan membendung NU. Inikah ketakutan kalian kepada NU…dimana NU terus berkembang pesat dan semakin diakui masyarakat. NU tak kan terbendung.

Arab Saudi Perluas Pengaruh Atas NU Lewat Kekayaan

Arab Saudi menjadi negara Arab yang paling berpengaruh. Kerajaan ini mengandalkan kekayaan dari ladang minyaknya untuk mewujudkan kepentingannya.

Kerajaan Arab Saudi sepertinya tidak kekurangan sumber keuangan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Memang kekayaan negara ini juga terbatas. Tetapi pemasukan dari ladang minyak masih memungkinkan para penguasa untuk menghamburkan kekayaannya. Saat ini cadangan kekayaan masih cukup untuk menjamin standar kehidupan tinggi bagi warganya dan mendukung sekutu di luar negeri.

Jutaan bagi dewan militer

Arab Saudi produsen minyak terpenting dunia

“Sudah jadi tradisi Arab Saudi menegakkan pengaruhnya melalui pemberian uang atau janji dalam bentuk pemberian uang”, kata Guido Steinberg, pakar Arab Saudi dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik. Ini terlihat di Mesir. Disana Arab Saudi mendukung dewan militer yang mewakili rezim Mubarak dengan kucuran uang cukup besar.

Selama puluhan tahun, mantan kepala negara Mesir itu adalah sekutu terpenting Arab Saudi. Banyak warga Mesir menjadi pekerja migran di negara-negara Teluk. Sebaliknya, warga Arab Saudi banyak yang memilih untuk berlibur di Mesir. Milyaran juga diinvestasi Arab di negara itu. Dewasa ini pun, Arab Saudi tidak mau melepaskan begitu saja pengaruhnya di Mesir.

Takut hilang kekuasaan

“Arab Saudi terus berusaha mendukung stabilitas rezim otoriter”, ujar Steinberg.

“Mereka punya tujuan bersama: mempertahankan kekuasaan.”

Ditambah lagi, adanya ketakutan terhadap kaum minoritas Syiah di wilayah timur.

Persaingan kekuasaan antara Iran dan Arab Saudi

Di Arab Saudi, kaum Sunni yang berkuasa. Wahabisme bisa dibilang adalah agama negara di Arab Saudi. Kini pengaruh Wahabisme meluas melewati batas kerajaan – walau setidaknya secara resmi pemerintah Arab Saudi menyatakan berusaha menekan arus ekstrimisme.

Wahabisme sangat berpengaruh

Kaum Wahabis di luar Arab Saudi juga mulai memiliki pengaruh lebih besar. “Sejak beberapa dekade lalu, khususnya awal 60an, warga Arab Saudi berupaya meyebarkan ajaran ini”, kata ilmuwan Islam Steinberg. “Khususnya di wilayah yang tidak akan memberikan perlawanan terlalu besar: di Afrika Barat, Asia Tenggara, Asia Selatan, juga di belahan barat dunia dan Eropa.”

Arab Saudi memiliki kota suci seperti Mekkah dan Madinah yang setiap tahunnya menerima kedatangan jutaan jemaah haji. Namun, secara tidak langsung, Arab dianggap turut berperan atas bertambahnya anggota kelompok teroris yang bermazhab Wahabi. Antara lain di Afrika Barat, Maghribi, di Asia Tengah dan Tenggara dan semenanjung Arab.

Ketegangan Sektarian

Kerusuhan ketegangan sektarian di Tunisia

Di Suriah, dimana minoritas Alawiyah yang menentukan haluan politik, pengaruh Arab Saudi tetap terbatas. Ini juga karena Suriah dianggap sebagai sekutu Iran. Tidak heran, jika dalam konflik aktual di Suriah, Arab Saudi secara terang-terangan mendukung keuangan para pemberontak.

Menurut laporan tidak resmi, Arab Saudi dan Qatar juga menyuplai senjata bagi penentang Presiden Bashar al Assad. Ini menyebabkan, perang saudara di Suriah semakin brutal dan solusi politik semakin tidak mungkin tercapai.

Suriah menjadi ajang perang dalam konflik regional antara Arab Saudi dan Iran. Dalam konflik ini, ketegangan sektarian antara kaum Sunni, sebagai pimpinan kekuasaan di Riyadh dan kaum Syiah, yang pusatnya di Teheran, memainkan peranan yang semakin besar. Jadi perang saudara di Suriah juga menjadi perang propaganda antara media di negara-negara ini. Stasiun televisi Al Jazeera dan Al Arabiya dipimpin oleh seorang Sunni.

Mitra ekonomi penting

Di kawasan Teluk Persia, kelompok monarki Teluk dan penguasa kaum Mullah di Iran sejak lama berkompetisi di bidang persenjataan. “Tujuan Arab Saudi adalah memperoleh peran hegemoni di kawasan tersebut”, jelas Thomas Demmelhuber, profesor ilmu politik di Universitas Hildesheim.

Di saat Teheran berupaya menjadi negara adidaya atom, Arab Saudi lebih berpegang pada janji perlindungan dari Amerika Serikat dan berbelanja senjata di luar negeri. Peran Arab Saudi sebagai penyuplai minyak dan mitra ekonomi terlalu penting untuk mendapat kritikan dari Amerika Serikat dan Eropa.

Bagaimanapun juga, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang mampu menaikkan produksi minyaknya dalam waktu hanya beberapa hari, dan dengan demikian bisa meregulasi harga minyak. Selama kasusnya masih seperti ini dan uang milyaran dari hasil penjualan minyak terus mengalir, maka di bidang ekonomi, politik dan agama, Arab Saudi tetap punya ruang bergerak amat leluasa

Kawan-kawan dan pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali, salah satu sahabat Nabi.

Namun, Ali dan kawan-kawan akhirnya harus kecewa karena setelah Nabi wafat, setelah selesai penguburan jenazah Nabi, pelaksanaan pemilihan khalifah dilakukan secara musyawarah. Ali dan kawan-kawan melakukan protes, tapi berlawanan dengan harapan mereka, protes itu tak diindahkan dan mereka malah diminta menurut karena keselamatan muslimin bisa terancam.

Protes dan kecaman inilah yang memisahkan kaum minoritas pengikut Ali (minoritas Syiah) dari kaum mayoritas Sunni, dan menjadikan pengikut-pengikutnya dikenal masyarakat sebagai kaum partisan atau Syiah Ali.

Syiah secara harfiah berarti partisan atau pengikut adalah kaum muslimin yang menganggap penggantian Nabi Muhammad SAW merupakan hak istimewa keluarga Nabi dan mereka yang dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahlul Bait.

Ahlus Sunnah Mengambil Hadis Dari Pengikut Saba’iyyah?

 

Ahlus Sunnah Mengambil Hadis Dari Pengikut  Saba’iyyah?

Tulisan ini tidak usah dianggap serius, hanya sekedar selingan untuk menyentil akal para nashibiy yang sudah keracunan Abdullah bin Saba’. Nashibiy tidak henti-hentinya menuduh bahwa Syi’ah adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’ tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kitab hadis Ahlus Sunnah [yang entah menjadi pegangan mereka atau tidak] juga terdapat perawi hadis yang ternyata dikatakan sebagai pengikut Saba’iyyah.

Menurut sebagian ulama ahlus sunnah, Saba’iyyah adalah penisbatan terhadap kaum atau kelompok yang mengikuti Abdullah bin Saba’. Tidak usah berpanjang lebar berikut nukilan dari Al Jauzjaniy dalam salah satu kitab-nya

ثم السبئية غلت في الكفر فزعمت أن علياً إلهاً حتى حرقهم بالنار إنكاراً عليهم

Kemudian As Saba’iyyah ghuluw dalam kekufuran, mereka menganggap Aliy sebagai Tuhan  sehingga [Aliy] membakar mereka dengan api sebagai pengingkaran terhadap mereka [Ahwal Ar Rijaal Abu Ishaaq Al Jauzjaaniy hal 37]

Kami tidak perlu meneliti nukilan ini karena para nashibi sangat mempercayainya dan berhujjah dengan nukilan ini untuk merendahkan Syi’ah. Bahkan Asy Sya’biy pernah berkata tentang As Saba’iyyah

فلم أر قوما أحمق من هذه السبئية

Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih tolol dari kelompok Saba’iyyah ini [Al Kamil Ibnu Adiy 6/116]

Jadi menurut anggapan para nashibi tersebut pengikut Saba’iyyah tergolong orang yang tolol dan ghuluw dalam kekufuran. Kemudian perhatikan apa yang ditulis Bukhariy berikut

عبد الله بن محمد ابن الحنفية ومحمد هو ابن على بن ابى طالب الهاشمي أبو هاشم اخو الحسن، سمع اباه، يعد في اهل المدينة، قال عبد الله بن محمد عن ابن عيينة حدثنا الزهري كان الحسن اوثقهما في انفسنا وكان عبد الله يتبع السبائية

‘Abdullah bin Muhammad Ibnu Al Hanafiah -dan Muhammad ia putra Aliy bin Abi Thalib Al Haasyimiy- Abu Haasyim saudara Hasan, mendengar dari Ayahnya termasuk penduduk Madiinah, Abdullah bin Muhammad berkata dari Ibnu Uyainah yang berkata telah menceritakan kepada kami Az Zuhriy yang berkata Al Hasan yang paling tsiqat diantara keduanya bagi diri kami dan Abdullah ia mengikuti As Saba’iyyah [Tarikh Al Kabir Al Bukhariy 5/187]

Sanad riwayat Bukhari kedudukannya shahih, para perawinya tsiqat termasuk Az Zuhriy dan dia adalah murid Abdullah bin Muhammad Al Hanafiah

  1. Abdullah bin Muhammad, gurunya Bukhariy adalah Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far Al Ju’fiy seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib Ibnu Hajar 1/321]
  2. Sufyan bin Uyainah adalah seorang imam tsiqat, termasuk sahabat Az Zuhriy yang paling tsabit dan ia lebih alim dalam riwayat ‘Amru bin Diinar daripada Syu’bah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 1/35]
  3. Az Zuhriy adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihaab Az Zuhriy seorang faqih hafizh disepakati kebesaran dan keitqanannya termasuk pemimpin thabaqat keempat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/506]

Faktanya Abdullah bin Muhammad Al Hanafiah atau Abdullah bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib adalah perawi hadis kutubus sittah [Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah], sebagaimana telah ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/321]

Bukankah Saba’iyyah itu kelompok orang-orang tolol dan ghuluw dalam kekufuran lantas mengapa Abdullah bin Muhammad Al Hanafiah diambil hadisnya dalam kutubus sittah?. Kalau ada yang berdalih hadisnya hanya sebagai mutaba’ah dan ia dikuatkan oleh saudaranya Hasan bin Muhammad Al Hanafiah, maka itupun tetap bermasalah. Untuk apa mengambil hadis sebagai mutaba’ah perawi yang tolol dan ghuluw dalam kekufuran.

Dan masalah utamanya adalah Abdullah bin Muhammad Al Hanafiah ini telah ditsiqatkan oleh para ulama ahlus sunnah seperti

  1. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat sedikit hadisnya” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/322]
  2. Al Ijliy mengatakan bahwa Abdullah bin Muhammad tsiqat dan dia seorang syi’ah [Ma’rifat Ats Tsiqat 2/58]
  3. An Nasa’iy berkata bahwa Abdullah bin Muhammad tsiqat [At Tahdzib Ibnu Hajar 5/612]
  4. Ibnu Hibban memasukkan Abdullah bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 7/2]
  5. Adz Dzahabiy menyatakan ia tsiqat dalam Al Miizan [Miizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 2/483 no 4533]

Jika dikatakan mereka yang menyatakan tsiqat kepada Abdullah bin Muhammad tidak mengetahui bahwa ia pengikut As Saba’iyyah maka inipun keliru, Ibnu Hajar dalam At Tahdzib telah menukil riwayat dari Az Zuhriy kalau ia pengikut Saba’iyyah tetapi dalam At Taqrib ia tetap menyatakan tsiqat. Dan Az Zuhriy sebagai muridnya yang mengakui kalau ia pengikut Saba’iyyah tetap meriwayatkan hadis Abdullah bersama saudaranya Hasan sebagaimana dapat dilihat dalam kitab hadis diantaranya Shahih Bukhariy.

Mungkin dalam pandangan mereka menjadi pengikut As Saba’iyyah tidak menjatuhkan kredibilitas Abdullah bin Muhammad, ia tetap seorang yang tsiqat. Sebagaimana banyak perawi hadis yang ternyata khawarij, nashibi, rafidhah, murji’ah, qadariyah dan sebagainya yang dianggap sebagai firqah sesat tetapi tetap diambil hadisnya jika mereka termasuk orang-orang tsiqat. Hal ini juga ditemukan dalam kitab hadis Syi’ah yaitu perawi yang dikenal bermazhab menyimpang seperti waqifiy, fathhiy tetap diambil hadisnya jika yang bersangkutan memang tsiqat.

Tetapi masalah-nya firqah-firqah sesat di sisi Ahlus Sunnah seperti khawarij, nashibi, rafidhah, murjiah dan firqah sesat di sisi Syi’ah seperti waqifiy dan fathahiy, semuanya tetap menyembah Allah SWT, tidak ada yang dikatakan menuhankan Imam Aliy seperti apa yang dinisbatkan pada As Saba’iyyah.

Atau akan ada dalih bahwa As Saba’iyyah disana bukan bermakna sebagai pengikut Abdullah bin Saba’ yang menuhankan Imam Aliy. Kalau begitu ada berapa macam makna As Saba’iyyah dan Abdullah bin Muhammad ini termasuk As Saba’iyyah jenis yang mana?. Akhir kata seperti yang kami katakan tulisan ini cuma sekedar selingan dan kalau dipikirkan dengan serius hanya menimbulkan kebingungan saja.

Apakah Ibnu ‘Abbas Meyakini Adanya Tahrif Al Qur’an?

 

Apakah Ibnu ‘Abbas Meyakini Adanya Tahrif Al Qur’an?

Tulisan ini agak bernada satir, tidak ada sedikitpun niat penulis untuk merendahkan sahabat Nabi yang Mulia Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anhu]. Kami hanya membawakan riwayat yang shahih dan silakan para pembaca menilai dan memahami sendiri riwayat tersebut.

.

.

Riwayat Pertama

Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anhu] menyatakan bahwa ada kesalahan dalam Al Qur’anul Kariim. Menyatakan kesalahan dalam Al Qur’an baik sedikit ataupun banyak sama halnya dengan meyakini adanya tahrif dalam Al Qur’an

حدثنا ابن بشار قال ثنا محمد بن جعفر قال ثنا شعبة  عن أبي بشر عن سعيد بن جُبير عن ابن عباس في هذه الآية( لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ) وقال إنما هي خطأ من الكاتب حتى تستأذنوا وتسلموا

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai ayat [Laa tadkhuluu buyuutan ghayra buyuutikum hattaa tasta’nisuu wa tusallimuu ‘alaaa ahlihaa] dan ia berkata “sesungguhnya itu kesalahan dari penulisnya yang benar adalah [hattaa tasta’zinuu wa tusallimuu]. [Tafsir Ath Thabariy 19/145]

Terdapat perselisihan dalam sanad riwayat Syu’bah. Muhammad bin Ja’far [Ghundaar] dalam periwayatan dari Syu’bah di atas memiliki mutaba’ah dari Wahb bin Jarir sebagaimana yang disebutkan Ath Thabariy [Tafsir Ath Thabariy 19/146].

Muhammad bin Ja’far [Ghundaar] adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah” [At Tahdzib juz 9 no 129]. Wahb bin Jarir bin Hazm adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.Al Ijli menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 273]

Keduanya diselisihi oleh Sufyan Ats Tsawriy dimana ia meriwayatkan dari Syu’bah dari Abu Bisyir [Ja’far bin Iyas] dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, sebagaimana disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak 2/430 no 3496, Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman 18/305 no 8534 dan Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar 2/441. Sufyan Ats Tsawriy memiliki mutaba’ah dari Abdurrahman bin Ziyaad Ar Rashaashiysebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar 2/441. Abdurrahman bin Ziyaad dikatakan Abu Hatim “shaduq”, Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah padanya” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/235]

Diriwayatkan pula oleh Ya’qub bin Ishaq Al Makhraamiy dari Abu Umar Al Hawdhiy dari Syu’bah dari Ayub As Sakhtiyaaniy dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman no 8535. Sanad riwayat ini tidak tsabit sampai ke Syu’bah karena Ya’qub bin Ishaq Al Makhramiy seorang yang majhul hal, biografinya disebutkan Adz Dzahabiy dalam Tarikh Al Islam tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Tarikh Al Islam 21/337].

Syu’bah dalam periwayatan dari Ja’far bin Iyaas dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbasmemiliki mutaba’ah yaitu

  1. Husyaim bin Basyiir sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir-nya 19/145-146 dan Al Baihaqiy dalam Syua’ib Al Iman no 8533.
  2. Abu Awanah sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Syu’aib Al Iman no 8532.
  3. Mu’adz bin Sulaiman sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir-nya 19/146.

Oleh karena itu riwayat yang rajih adalah riwayat Syu’bah dari Ja’far bin Iyaas Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Ja’far bin Iyaas Abu Bisyr perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, An Nasa’i dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 129]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan termasuk orang yang paling tsabit dalam riwayat Sa’id bin Jubair, Syu’bah melemahkannya dalam riwayat Habib bin Salim dan Mujahid” [At Taqrib 1/160 no 932]. Sa’id bin Jubair tabiin kutubus sittah seorang yang tsiqat tsabit faqiih [At Taqrib 1/234]. Kesimpulannya riwayat di atas sanadnya shahih. Ibnu Hajar berkata

فأخرج سعيد بن منصور والطبري والبيهقي في الشعب بسند صحيح أن ابن عباس “كان يقرأ حتى تستأذنوا” ويقول أخطأ الكاتب

Telah dikeluarkan oleh Said bin Manshur, Ath Thabari dan Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Abbas membaca [hattaa tasta’zinuu] dan mengatakan kesalahan penulisnya. [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 11/8]

.

.

.

Riwayat Kedua

Ibnu Abbaas berkata mengenai Surat Ar Ra’d ayat 31 ‘Afalam Yay’asilladziina Aamanu

حدثنا أحمد بن يوسف قال حدثنا القاسم قال حدثنا يزيد عن جرير بن حازم عن الزبير بن الخريت أو يعلى بن حكيم عن عكرمة عن ابن عباس أنه كان يقرؤها “أفلم يتبين الذين آمنوا ” قال كتب الكاتب الأخرى وهو ناعس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qaasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid dari Jarir bin Hazm dari Az Zubair bin Khurait atau Ya’la bin Hukaim dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas bahwa ia membacanya ‘Afalam Yatabayyanilladziina Aamanuu, ia berkata penulisnya telah menulis itu dalam keadaan mengantuk [Tafsir Ath Thabariy 16/452]

Riwayat Ath Thabariy di atas sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqat, dengan perincian sebagai berikut

  1. Ahmad bin Yuusuf At Taghlibiy adalah syaikh [guru] Ath Thabariy yang tsiqat. Abdurrahman bin Yuusuf berkata “tsiqat ma’mun”. Abdullah bin Ahmad berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad Al Khatiib 5/218 no 2693]
  2. Al Qaasim bin Sallaam Abu Ubaid, Abu Dawud berkata “tsiqat ma’mun” [Su’alat Al Ajurriy no 1948]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 9/16 no 14938]. Ibnu Hajar berkata “Imam masyhur tsiqat, memiliki keutamaan, penulis kitab” [At Taqrib 2/19]
  3. Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612].
  4. Jarir bin Hazm termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata shaduq shalih. Ibnu Ady menyatakan kalau ia hadisnya lurus shalih kecuali riwayatnya dari Qatadah. Syu’bah berkata “aku belum pernah menemui orang yang lebih hafiz dari dua orang yaitu Jarir bin Hazm dan Hisyam Ad Dustuwa’i. Ahmad bin Shalih, Al Bazzar dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 111].
  5. Zubair bin Khurait, termasuk perawi Bukhariy dan Muslim. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, An Nasa’i, dan Al Ijliy menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 582]
  6. Ya’la bin Hukaim Ats Tsaqafiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, An Nasa’i menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ya’qub bin Sufyan berkata “hadisnya lurus”. Ibnu Khirasy berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 675].
  7. Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas termasuk perawi Bukhariy. Al Ijli berkata “tsiqat”. Bukhari berkata “tidak seorangpun dari sahabat kami kecuali berhujjah dengan Ikrimah”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan dapat berhujjah dengannya [At Tahdzib juz 7 no 476]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit alim dalam tafsir” [At Taqrib 1/685].

Penyebutan lafaz dari Zubair bin Khurait atau Ya’la bin Hukaim dalam riwayat Ath Thabariy di atas tidaklah memudharatkan sedikitpun karena keduanya dikenal tsiqat. Riwayat ini sanadnya shahih. Ibnu Hajar berkata

وروى الطبري وعبد بن حميد بإسناد صحيح كلهم من رجال البخاري عن بن عباس أنه كان يقرؤها أفلم يتبين ويقول كتبها الكاتب وهو ناعس

Dan diriwayatkan Ath Thabariy dan Abdu bin Humaid dengan sanad shahih, semua perawinya perawi Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya ia membaca ‘Afalam Yatabayyani, dan mengatakan penulisnya menulis itu dalam keadaan mengantuk [Fath Al Bariy 8/373]

.

.

.

Riwayat Ketiga

حَدَّثَنِى مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً يَقُولُ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَلاَ أَدْرِى مِنَ الْقُرْآنِ هُوَ أَمْ لاَ . قَالَ وَسَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ ذَلِكَ عَلَى الْمِنْبَرِ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Makhlad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij yang berkata aku mendengar ‘Atha’ mengatakan aku mendengar Ibnu ‘Abbas yang mengatakan aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “Sekiranya anak adam memiliki harta sebanyak satu bukit niscaya ia akan mengharapkan satu bukit lagi yang seperti itu dan tidaklah mata anak adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah dan Allah menerima taubat siapa saja yang ingin bertaubat”. Ibnu ‘Abbas berkata “aku tidak mengetahui apakah itu termasuk Al Qur’an atau tidak”. [Atha’] berkata dan aku mendengar Ibnu Zubair mengatakan itu di atas mimbar. [Shahih Bukhari no 6437]

Sisi pendalilan hadis ini adalah sebagai berikut. Ibnu Abbas berkata bahwa ia tidak mengetahui apakah ayat itu termasuk Al Qur’an atau tidak. Ayat tersebut jelas tidak ada dalam Al Qur’an yang ada sekarang, apa yang membuat Ibnu ‘Abbas ragu apakah ayat tersebut Al Qur’an atau bukan.

Apakah Ibnu Abbas tidak hafal Al Qur’an sehingga ia tidak tahu ayat tersebut ada dalam Al Qur’an atau tidak?. Rasanya tidak mungkin jika sahabat seperti Ibnu Abbas yang dijuluki Tarjuman Al Qur’an tidak hafal Al Qur’an. Jika dikatakan ayat tersebut telah dinasakh tilawah-nya lantas mengapa Ibnu Abbas ragu apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak. Jelas sekali ayat Al Qur’an yang telah dinasakh bukan lagi bagian dari Al Qur’an sekarang. Sejak wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Al Qur’an itu telah lengkap dan tidak akan mengalami perubahan maka apa yang ada dalam Al Qur’an itu adalah perkara yang jelas. Maka sangat aneh sekali ketika Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepada Atha’ mengenai hadis di atas, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak.

Kalau ada dalam Al Qur’an maka itu adalah Al Qur’an dan kalau tidak ada dalam Al Qur’an ya dengan mudah dikatakan itu tidak ada dalam Al Qur’an. Ungkapan Ibnu Abbas seolah-olah ia mengetahui Al Qur’an yang ada pada masa itu tetapi ia ragu apakah ayat tersebut termasuk dalam Al Qur’an atau tidak, bukankah ini seolah menunjukkan telah terjadi tahrif Al Qur’an di sisi Ibnu ‘Abbas.

Jika Ibnu Abbas meyakini Al Qur’an yang ada sekarang bebas dari tahrif maka apapun yang tidak ada di dalam Al Qur’an sekarang sudah jelas bukan Al Qur’an. Tidak perlu ada keraguan apakah ayat tersebut termasuk Al Qur’an atau tidak. Hadis ini secara zhahir lafaz memang membingungkan, lain ceritanya kalau kita mencari-cari pembenaran maka seaneh apapun lafaz hadis bisa dibenar-benarkan atau dicari-cari pembelaannya.

.

.

Sikap yang paling baik menghadapi hadis-hadis seperti ini adalah bertawaqquf dengannya, berpaling darinya [meskipun shahih sanadnya] karena bertentangan dengan Al Qur’anul Karim yang jelas-jelas dijaga oleh Allah SWT. Tetapi riwayat ini memang menjadi sasaran empuk bagi para penuduh dan kita berlindung kepada Allah SWT dari segala tuduhan tersebut.

Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

 

Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

Di antara tuduhan busuk para pencela Syiah [yaitu para Nashibi di jagad maya] adalah Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada sekarang tebalnya tiga kali dari Al Qur’an sekarang dan disebut Mushaf Fathimah. Tuduhan ini hanya muncul dari kejahilan yang bercampur dengan kedengkian. Apa sebenarnya Mushaf Fathimah?. Berikut riwayat shahih di sisi Syi’ah mengenai Mushaf Fathimah

Diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang panjang dari Abu Bashiir dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis salaam] dimana Beliau berkata

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ

Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] itu?. Beliau berkata “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”. Aku berkata “demi Allah, ini adalah ilmu”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/239]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَجَّالِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام

Beberapa dari sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad dari Abdullah bin Hajjaal dari Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam].. [Al Kafiy Al Kulainiy 1/238]

Sebagian orang mengira bahwa sanad di atas dhaif karena terdapat lafaz “dari sahabat kami” yang seolah-olah perawi-perawi tersebut majhul. Anggapan ini tidak benar karena An Najasyiy dalam biografi Al Kulainiy menyebutkan

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني وداود بن كورة وأحمد بن إدريس وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, beberapa sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim seorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]

  1. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  2. Abdullah bin Hajjaal adalah Abdullah bin Muhammad Al Hajjaal seorang yang tsiqat tsiqat tsabit [Rijal An Najasyiy hal 226 no 595]
  3. Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy adalah Ahmad bin ‘Umar bin Abi Syu’bah Al Halabiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 98 no 245]
  4. Abu Bashiir adalah Yahya bin Qasim dikatakan juga Yahya bin Abi Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah. Hal ini telah dinyatakan oleh Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul bahwa sanadnya shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/54]

Matan hadis di atas menyebutkan bahwa Mushaf Fathimah ukurannya tiga kali dari Al Qur’an dan tidak ada di dalamnya ayat-ayat Al Qur’an. Hal ini ditegaskan dalam lafaz

وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ

Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu hurufpun dari Al Qur’an kalian

Lafaz “Qur’anikum” artinya “Al Qur’an kalian”, makna kum disana sesuai dengan yang diajak bicara oleh Imam Ja’far [Abu ‘Abdullah] saat itu adalah Abu Bashiir yang notabene adalah Syiah-nya sendiri. Maka maksudnya adalah tidak ada di dalam Mushaf Fathimah, Al Qur’an yang dipegang oleh Syi’ah. Adapun lafaz perkataan Abu ‘Abdullah “dan sesuangguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah” maka disini terdapat faedah bahwa Mushaf Fathimah dimiliki oleh para Imam Ahlul Bait tidak disebarkan kepada Syi’ah mereka.

Jadi apa kandungan sebenarnya Mushaf Fathimah?. Hal itu dijelaskan dalam riwayat Al Kafiy selanjutnya dari Abu Ubaidah dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

قَالَ فَمُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ فَسَكَتَ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْحَثُونَ عَمَّا تُرِيدُونَ وَ عَمَّا لَا تُرِيدُونَ إِنَّ فَاطِمَةَ مَكَثَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَمْسَةً وَ سَبْعِينَ يَوْماً وَ كَانَ دَخَلَهَا حُزْنٌ شَدِيدٌ عَلَى أَبِيهَا وَ كَانَ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) يَأْتِيهَا فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَ يُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَ يُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَ مَكَانِهِ وَ يُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ (عليه السلام) يَكْتُبُ ذَلِكَ فَهَذَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام

[salah seorang] berkata “maka apa itu Mushhaf Faathimah?”. Abu ‘Abdillah terdiam beberapa lama, lalu berkata “Sesungguhnya kalian benar-benar ingin mempelajari apa-apa yang kalian inginkan dan tidak kalian inginkan. Sesungguhnya Faathimah hidup selama 75 hari sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Ia sangat merasakan kesedihan atas kematian ayahnya. Maka pada waktu itu, Jibriil datang kepadanya dan mengucapkan ta’ziyyah atas kematian ayahnya, menghiburnya, serta mengabarkan kepadanya tentang keadaan ayahnya dan kedudukannya [di sisi Allah]. Jibril juga mengabarkan kepadanya tentang apa yang akan terjadi terhadap keturunannya setelah Faathimah meninggal. Dan selama itu ‘Aliy mencatatnya.Inilah Mushaf Faathimah [‘alaihas salaam] [Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنِ ابْنِ رِئَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) بَعْضُ أَصْحَابِنَا

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Mahbuub dari Ibnu Ri’aab dari Abu Ubaidah yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] pernah ditanya oleh sebagian sahabat kami…[Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Riwayat Al Kaafiy di atas sanadnya shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  3. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. Aliy bin Ri’aab Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. Abu Ubaidah adalah Ziyad bin Iisa Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 170 no 449]

Muhammad Baqir Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul menyatakan hadis di atas shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/59]. Riwayat Al Kaafiy di atas menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah bukanlah Al Qur’an melainkan kabar yang dibawa Jibril kepada Sayyidah Fathimah dan dicatat oleh Imam Aliy [‘alaihis salaam], diantara kandungannya adalah kabar mengenai apa yang terjadi pada keturunan Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam]. Maka dustalah para pencela yang menyatakan bahwa Mushaf Fathimah adalah Al Qur’an versi Syi’ah yang tebalnya tiga kali Al Qur’an yang kita pegang sekarang

Studi Kritis Kedudukan Hadis Tawasul Malik Ad Daar

 

Studi Kritis Kedudukan Hadis Tawasul Malik Ad Daar

Sebelumnya di dalam blog ini sudah pernah dibahas panjang lebar mengenai hadis Malik Ad Daar. Tulisan kali ini bisa dibilang daur ulang dengan sedikit penambahan dan hujjah.

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ مَالِكِ الدَّارِ قَالَ وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ  قَالَ أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إلَى قَبْرِ النَّبِيِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ , وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مَسْقِيُّونَ وَقُلْ لَهُ عَلَيْك الْكَيْسُ عَلَيْك الْكَيْسُ فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ثُمَّ قَالَ يَا رَبِّ لاَ آلُو إلاَّ مَا عَجَزْت عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar, [Abu Shalih] berkata dan ia seorang bendahara Umar untuk persediaan makanan. [Malik Ad Daar] berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang pada masa Umar. Maka seorang laki-laki datang ke makam Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkata “wahai Rasulullah mintakanlah hujan untuk umatmu karena sungguh mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah SAW dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan sampai salam untuknya, beritahukan kepadanya mereka akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut datang kepada Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Maka Umar menangis dan berkata “Ya  Tuhanku aku tidak melalaikan kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/31 no 32600]

Atsar di atas diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikh-nya 2/80 no 1818, Al Khaliliy dalam Al Irsyaad 1/313 no 153, Al Baihaqiy dalam Dala’il An Nubuwah 7/47 no 2984, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 56/489 dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab 1/355 dengan kisah yang lengkap seperti riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas. Al Bukhari menyebutkan riwayat ini secara ringkas dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1295 yaitu hanya lafaz perkataan Umar yang terakhir. Semuanya meriwayatkan dengan jalan sanad yang berujung pada Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Malik Ad Daar.

.

.

Riwayat ini sanadnya shahih. Abu Mu’awiyah Muhammad bin Hazm Ad Dhariir yaitu perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijliy menyatakan tsiqat, Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat banyak meriwayatkan hadis. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan hafizh mutqin. Disebutkan bahwa ia termasuk salah seorang yang paling tsabit riwayatnya dari Al A’masy. Waki’ berkata “kami tidak pernah menemui orang yang paling alim tentang hadis A’masy selain Abu Mu’awiyah. Ibnu Ma’in berkata “Abu Mu’awiyah lebih tsabit dalam riwayat A’masy daripada Jarir”. Abu Hatim berkata “orang yang paling tsabit dalam riwayat A’masy adalah Sufyaan kemudian Abu Mu’awiyah” [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar juz 9 no 192]. Ibnu Hajar berkata tentangnya “tsiqat orang yang paling hafal dalam hadis A’masy dan terkadang keliru dalam riwayat selainnya” [At Taqrib 2/70]

Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]. Riwayat ‘an anahnya dari para syaikh-nya seperti Ibrahim, Abu Wail dan Abu Shalih dianggap muttashil [bersambung] seperti yang dikatakan Adz Dzahabi dalam biografi A’masy

وهو يدلس وربما دلس عن ضعيف ولا يدرى به فمتى قال ثنا فلا كلام ومتى قال عن تطرق إليه احتمال التدليس إلا في شيوخ له أكثر عنهم. كإبراهيم وأبي وائل وأبي صالح السمان فإن روايته عن هذا الصنف محمولة على الاتصال

Dan ia melakukan tadlis, dituduh melakukan tadlis dari perawi dhaif yang ia tidak mengetahui dengannya, maka perkataannya “menceritakan kepada kami” tidak ada pembicaraan atasnya dan perkataannya “dari” mengandung kemungkinan tadlis kecuali riwayat dari para Syaikh-nya yang mana ia memiliki banyak riwayat dari mereka seperti Ibrahiim, Abu Wa’il, dan Abu Shalih As Samaan maka riwayatnya disini dianggap bersambung [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 2/224 no 3157]

Abu Shalih As Samaan yaitu Dzakwan termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shalih al hadits dapat dijadikan hujjah”. Abu Zur’ah berkata “tsiqat hadisnya lurus”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”, As Sajiy berkata tsiqat shaduq, Al Harbiy berkata “termasuk orang tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat dan Al Ijliy berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 3 no 417]

Malik Ad Daar adalah Malik bin Iyadh sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas bahwa ia adalah bendahara persediaan makanan di masa Umar. Ibnu Sa’ad menyebutkan biografinya dan berkata

وروى مالك الدار عن أبي بكر الصديق وعمر رحمهما الله روى عنه أبو صالح السمان وكان معروفا

Dan Malik Ad Daar meriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar [rahmat Allah untuk keduanya] dan telah meriwayatkan darinya Abu Shalih As Samaan. Ia seorang yang ma’ruf [dikenal] [Thabaqat Ibnu Sa’ad 5/12]

مالك الدار مولى عمر بن الخطاب رضي الله عنه تابعي قديم متفق عليه اثنى عليه التابعون وليس بكثير الرواية روى عن ابي بكر الصديق وعمر

Malik Ad Daar mawla Umar bin Khaththaab radiallahu ‘anhu tabiin awal muttafaq ‘alaihi telah dipuji oleh para tabiin, ia tidak memiliki banyak riwayat. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar [Al Irsyaad Al Khaliliy 1/313 no 153]

حَدَّثَنَا الأثرم عن أبي عبيدة قَالَ قَالَ مالك الدار مولى عمر بن الخطاب ولاه عمر كيلة عيال عمر فلما قام عثمان ولى مالك الدار دار القسم فسمى مالك الدار

Telah menceritakan kepada kami Al Atsram dari Abu Ubaidah yang berkata Malik Ad Daar maula Umar bin Khaththaab, Umar mengangkatnya sebagai pengurus keluarga Umar ketika Utsman menjadi khalifah, ia mengangkat Malik Ad Daar sebagai darul qasim maka ia dinamakan Malik Ad Daar [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 2/80 no 1819]

Ibnu Hibban menyebutkan biografinya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat 5/384 no 5312]. Ibnu Asakir menyebutkan biografinya dalam Tarikh-nya dimana ia berkata tentang Malik Ad Daar

سمع أبا بكر الصديق وعمر بن الخطاب وأبا عبيدة بن الجراح ومعاذ بن جبل وروى عنه أبو صالح السمان وعبد الرحمن بن سعيد بن يربوع وابناه عون بن مالك وعبد الله بن مالك

Mendengar dari Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal dan meriwayatkan darinya Abu Shalih As Saman, Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ dan kedua anaknya Aun bin Malik dan Abdullah bin Malik [Tarikh Ibnu Asakir 56/489 no 7180]

Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ adalah tabiin madinah tsiqat thabaqat ketiga [At Taqrib 1/572]. Nampak disini bahwa telah meriwayatkan dari Malik Ad Daar dua perawi tsiqat yaitu Abu Shalih As Samaan dan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’.

أخبرنا أبو البركات بن المبارك أنا أبو طاهر الباقلاني أنا يوسف بن رباح أنا أبو بكر المهندس نا أبو بشر الدولابي نا معاوية بن صالح قال سمعت يحيى بن معين يقول في تسمية تابعي أهل المدينة ومحدثيهم مالك الدار مولى عمر بن الخطاب

Telah mengabarkan kepada kami Abul Barakaat bin Mubaarak yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Al Baaqilaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuuf bin Rabbaah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Muhandis yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr Ad Duulabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shaalih yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’iin berkata tentang penamaan tabiin ahlul madinah dan muhaddis mereka yaitu Malik Ad Daar maula Umar bin Khaththaab [Tarikh Dimasyiq Ibnu Asakir 56/491].

Berdasarkan penjelasan di atas maka Malik Ad Daar adalah tabiin awal dan muhaddis di kalangan tabiin madinah dimana para tabiin telah memberikan pujian terhadapnya. Ia merupakan seorang yang ma’ruf, telah dipercaya oleh khalifah Umar dan Utsman sehingga ia dinamakan Malik Ad Daar [seandainya kedua khalifah meragukan kejujurannya maka tidak mungkin mereka mempercayakan amanat kepada Malik Ad Daar]. Telah meriwayatkan darinya dua perawi tsiqat yaitu Abu Shalih As Samaan dan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’. Ibnu Hibban telah memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Semua ini secara bersama-sama menunjukkan bahwa Malik Ad Daar adalah seorang tabiin yang tsiqat atau minimal shaduq.

Sebagian orang mengira bahwa tautsiq Al Khaliliy terhadap Malik Ad Daar bukanlah tautsiq yang mu’tamad dengan alasan Al Khaliliy adalah ulama muta’akhirin dan perkataan Al Khaliliy tidak didahului oleh ulama mutaqaddimin. Alasan ini tidak bisa dijadikan hujjah karena tautsiq baik itu dari kalangan mutaqaddimin ataupun muta’akhirin tetaplah bisa diterima. Pernyataan orang tersebut bahwa tidak ada ulama mutaqaddimin sebelum Al Khaliliy yang memuji Malik Ad Daar juga tidak bernilai hujjah karena ia sendiri berhujjah pula dengan pernyataan Al Khaliliy mengenai penukilan bahwa sebagian orang mengatakan Abu Shalih mengirsalkan hadis Malik Ad Daar. Faktanya penukilan Al Khaliliy ini pun tidak didahului oleh ulama mutaqaddimin.

.

.

.

Ada satu syubhat menarik yang dipertahankan oleh kaum pengingkar mengenai hadis Abu Shalih As Samaan dari Malik Ad Daar yaitu inqitha’ [keterputusan] antara Abu Shalih dan Malik Ad Daar. Seperti yang pernah kami jelaskan sebelumnya bahwa tidak ada satupun ulama mu’tabar yang menetapkan adanya inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar. Jumhur ulama menetapkan periwayatan Abu Shalih dari Malik Ad Daar tanpa menegaskan penyimakan ataupun menyatakan inqitha’. Oleh karena Abu Shalih As Samaan bukan mudallis maka riwayatnya dengan lafaz ‘an anah bisa diterima.

Satu-satunya hujjah para pengingkar untuk mendukung syubhat inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar adalah perkataan Al Khaliliy setelah menyebutkan hadis Malik Ad Daar, ia berkata.

يقال إن أبا صالح سمع مالك الدار هذا الحديث والباقون ارسلوه

Dikatakan bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik Ad Daar dan yang lain mengatakan ia telah mengirsalkannya [Al Irsyaad Al Khaliliy 1/313 no 153]

Tidak benar kalau hujjah ini dijadikan dasar untuk menyatakan inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar. Karena apa yang dinukil dari Al Khaliliy adalah pendapat sebagian orang bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik dan yang lainnya berpendapat Abu Shalih mengirsalkan hadis tersebut. Untuk merajihkan dua pendapat yang berbeda tentu dengan menilai sejauh mana kedudukan para ulama yang mengatakan demikian tetapi karena Al Khaliliy tidak menyebutkan siapakah para ulama yang menyatakan demikian dan tidak ternukil pendapat tersebut dari kalangan mutaqaddimin maka dapat digunakan kaidah al mutsabit muqadam al nafiy [yang menetapkan lebih didahulukan dari menafikan] artinya nukilan Al Khaliliy bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik Ad Daar adalah lebih rajih dibanding nukilan yang mengirsalkannya.

Dan seandainyapun perajihan ini ditolak maka disini tidak ada ruang pula bagi pengingkar untuk berhujjah dengan sebagian nukilan Al Khaliliy dan menafikan nukilan yang lain. Bagaimana bisa mereka menegakkan irsal kemudian menafikan pernyataan yang lain bahwa Abu Shalih mendengar dari Malik Ad Daar. Maka hal ini dikembalikan dengan kaidah ‘an anah yang dikenal dalam ilmu hadis yaitu ‘an anah perawi tsiqat semasa yang bukan mudallis dianggap muttashil sampai ada bukti yang menyatakan irsal atau inqitha’.

Malik Ad Daar tidak diketahui tahun lahir dan tahun wafatnya sedangkan Abu Shalih As Samaan disebutkan oleh Adz Dzahabiy bahwa ia lahir pada masa kekhalifahan Umar [As Siyaar Adz Dzahabiy 5/37]. Dengan ini dapat dinyatakan bahwa Abu Shalih semasa dengan Malik Ad Daar dan keduanya dikenal sebagai penduduk Madinah.

Para pengingkar membuat syubhat mengais segala macam kemungkinan untuk melemahkan hadis yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka berkata bisa saja Malik Ad Daar wafat pada awal pemerintahan Utsman dan Abu Shalih lahir pada akhir masa khalifah Umar maka usia Abu Shalih tidak memungkinkan dalam menerima riwayat dari Malik Ad Daar. Sebenarnya andai-andai seperti inilah yang harusnya dibuktikan dalam melemahkan suatu hadis karena kalau setiap orang bebas berandai-andai maka hadis apapun bisa saja dilemah-lemahkan.

.

.

Ternukil pendapat ulama yang mengatakan bahwa Dzakwan Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbar yaitu sebagaimana yang dikatakan Ibnu Jauziy, ia berkata

ذكوان أبو صالح السمان‏ سمع من كعب الأحبار

Dzakwaan Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbaar [Al Muntazam Fii Tarikh Ibnu Jauziy 7/69]

كعب الأحبار بن ماتع ويكنى أبا إسحاق وهو من حمير من آل ذي رعين وكان على دين يهود فأسلم وقدم المدينة ثم خرج إلى الشام فسكن حمص حتى توفي بها سنة اثنتين وثلاثين في خلافة عثمان بن عفان

Ka’ab Al Ahbar bin Maata’ kuniyah Abu Ishaaq, ia berasal dari Himyaar dari keluarga Dzii Ra’iin dia awalnya bergama Yahudi kemudian memeluk islam datang ke Madinah kemudian keluar menuju Syam menetap di Himsh dan wafat di sana pada tahun 32 H pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan. [Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/445]

Berdasarkan sirah Ka’ab Al Ahbar maka Abu Shalih As Samaan memungkinkan untuk mendengar dari Ka’ab ketika ia datang ke Madinah pada masa pemerintahan Umar.

حدثنا ابن بشار قال ثنا عبد الرحمن قال ثنا سفيان عن الأعمش عن أبي وائل قال جاء رجل إلى عبد الله ، فقال  من أين جئت ؟ قال من الشأم قال من لقيت؟ قال لقيت كعبا فقال ما حدثك كعب ؟ قال حدثني أن السماوات تدور على منكب ملك

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari A’masy dari Abi Wa’il yang berkata datang seorang laki-laki kepada ‘Abdullah, maka ia berkata “dari mana engkau?” ia menjawab “dari syam”. Abdullah berkata “siapa yang engkau temui?”. Ia menjawab “aku menemui Ka’ab” maka Abdullah berkata “apa yang diceritakan Ka’ab kepadamu?”. Ia menjawab “Ka’ab menceritakan kepadaku bahwa langit berputar di atas pundak malaikat” [Tafsir Ath Thabariy 20/482]

Riwayat ini sanadnya shahih, Abu Wa’il adalah Syaaqiq bin Salamah adalah penduduk Kufah yang paling alim dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud.

وقال عمرو بن مرة قلت لابي عبيدة من أعلم أهل الكوفة بحديث عبدالله ؟ قال أبو وائل

Amru bin Murrah berkata aku berkata pada Abu Ubaidah “siapakah penduduk kufah yang paling alim dalam menceritakan hadis Abdullah?”. Ia berkata ‘Abu Wa’il” [Tahdzib Al Kamal 12/552 no 2767]

Faidah yang didapatkan dari riwayat Ath Thabariy di atas adalah Abu Wa’il menyaksikan bahwa ketika Abdullah bin Mas’ud berada di Kufah ada seseorang datang kepadanya dan ia baru saja menemui Ka’ab Al Ahbar di Syam. Artinya pada saat Abdullah bin Mas’ud masih di Kufah, Ka’ab Al Ahbar sudah berada di Syam.

Dalam sirah Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa ia datang ke Kufah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab dan kembali ke Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan lebih kurang tahun 28 atau 29 H. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Ka’ab Al Ahbar sudah berada di Syam sebelum tahun 28 atau 29 H. Dan sebelum pergi ke Syam, Ka’ab Al Ahbar menetap di Madinah yaitu pada masa pemerintahan Umar dan pada awal masa pemerintahan Utsman.

Pada saat  di Madinah inilah Abu Shalih As Samaan mendengar dari Ka’ab Al Ahbar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masa awal pemerintahan Utsman, Abu Shalih As Samaan minimal sudah masuk dalam usia tamyiz yang memungkinkan menerima dan mendengar hadis. Maka seandainya pun Malik Ad Daar wafat pada awal pemerintahan Utsman, Abu Shalih tetap berkemungkinan mendengar dari Malik Ad Daar.

.

.

Qarinah lain yang menunjukkan bahwa Abu Shalih As Samaan berada satu masa dengan Malik Ad Daar adalah bahwa ia Abu Shalih berada dalam satu thabaqat yang sama dengan Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ Al Makhzuumiy yang meriwayatkan dari Malik Ad Daar. Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ adalah seorang yang tsiqat, Ibnu Hajar mengatakan dalam biografinya

قال بن سعد توفي سنة تسع ومائة وهو بن ثمانين سنة وكان ثقة في الحديث

Ibnu Sa’ad berkata wafat pada tahun 109 H dan ia umurnya lebih kurang delapan puluh tahunan, ia seorang yang tsiqat dalam hadis [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 379]

Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ seorang yang tsiqat dan tidak pernah disifatkan ulama dengan tadlis atau irsal maka riwayat ‘an anahnya dari Malik Ad Daar dianggap muttashil [bersambung]. Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal telah menyebutkan bahwa diantara para syaikh-nya [gurunya] adalah Malik Ad Daar. [Tahdzib Al Kamal 17/147 no 3835].

Dari sini didapatkan faidah bahwa Malik Ad Daar masih hidup sampai akhir pemerintahan Utsman karena pada saat itulah usia Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ minimal sudah mencapai usia tamyiz dan memungkinkan menerima hadis dari Malik Ad Daar.

.

.

Hadis Malik Ad Daar ini telah dishahihkan oleh sebagian Ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Katsiir. Ibnu Katsiir berkata “hadis ini sanadnya shahih” [Al Bidayah Wa Nihayah 7/106] dan di tempat lain ia berkata “hadis ini sanadnya jayyid kuat” [Jami’ Al Masanid Wa Sunan 1/223]. Ibnu Hajar berkata

وروى بن أبي شيبة بإسناد صحيح من رواية أبي صالح السمان عن مالك الداري وكان خازن عمر

Dan telah diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih dari riwayat Abu Shalih As Samaan dari Malik Ad Daar bendahara Umar [Fath Al Bariy 2/495]

Sebagian orang yang lemah akalnya dan bergaya sok ulama [padahal jahil] berbasa basi bahwa pernyataan Ibnu Hajar shahih itu maksudnya shahih hanya sampai Abu Shalih saja sehingga masih tersisa kelemahan lain baik inqitha’ antara Abu Shalih dan Malik Ad Daar dan majhulnya Malik Ad Daar.

Ucapan mereka itu tidak lain sia-sia belaka karena mereka tidak memahami perkataan Ibnu Hajar sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar. Jika Ibnu Hajar memaksudkan bahwa hadis tersebut sanadnya shahih hanya sebatas Abu Shalih maka ia akan menggunakan lafaz “diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih sampai Abu Shalih” bukan dengan lafaz di atas yaitu sanad shahih dari riwayat Abu Shalih

Dalam penulisan riwayat di kitab-kitab beliau, Ibnu Hajar sering mengutip riwayat dengan cara yang demikian yaitu menyebutkan kedudukan sanad riwayat kemudian memotong atau meringkas sebagian sanadnya. Misalnya Ibnu Hajar pernah mengutip riwayat dalam biografi salah seorang sahabat yaitu Tsa’labah bin Al Hakaam, Ibnu Hajar berkata

وله في بن ماجة حديث بإسناد صحيح من رواية سماك بن حرب سمعت ثعلبة بن الحكم قال كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم فانتهب الناس غنما فنهى عنها

Dan ia [Tsa’labah bin Hakaam] memiliki riwayat dalam Ibnu Majah hadis dengan sanad shahih dari riwayatnya Simaak bin Harb yang berkata aku mendengar Tsa’labah bin Al Hakaam yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian orang-orang merampas seekor kambing maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarangnya [Al Ishabah Ibnu Hajar 1/517 no 932]

Apakah perkataan Ibnu Hajar di atas bermakna bahwa riwayat Ibnu Majah tersebut hanya shahih sampai Simaak bin Harb saja?. Jawabannya tidak, Ibnu Hajar menyatakan hadis Ibnu Majah tersebut shahih kemudian menyebutkan sebagian sanadnya yaitu dari Simmak dari Tsa’labah. Ibnu Hajar sendiri telah menta’dilkan Simmak bin Harb dalam At Taqrib dan ia mengakui kalau Tsa’labah termasuk shahabat, kemudian Simaak menegaskan pula disini penyimakannya dari Tsa’labah. Jadi disisi Ibnu Hajar hadis tersebut shahih tanpa ada keraguan dan ia jadikan hujjah bukti persahabatan Tsa’labah bin Hakaam.

Selain Ibnu Hajar para ulama lain juga sering menggunakan lafaz seperti yang digunakan Ibnu Hajar misalnya Al Iraaqiy

وروى الطبرانى بإسناد صحيح من رواية عبد الرزاق عن معمر عن ابن طاوس عن أبيه عن ابن عباس قال أول من أسلم على

Dan diriwayatkan Thabraniy dengan sanad yang shahih dari riwayat ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas yang berkata “yang pertama memeluk islam adalah Aliy” [Taqyiidh Wal Idhaah Al Iraaqiy 1/310]

Apakah Al Iraaqiy disini memaksudkan bahwa sanad tersebut shahih sampai Abdurrazaaq saja?. Tentu saja tidak, Al Iraaqiy justru menyatakan bahwa sanad tersebut shahih dari awal sanad Thabraniy sampai Ibnu Abbas kemudian ia membawakan sanad Thabraniy tersebut beserta matannya.

.

Kesimpulan : Hadis Tawasul Malik Ad Daar kedudukannya shahih sedangkan syubhat para nashibi terhadap hadis ini hanya kebathilan yang muncul karena bertentangan dengan hawa nafsu mereka