Bai’at Ali Radhiallahu ‘Anhu kepada Utsman tidak pernah ada (menjawab gensyiah.com)

menjawab :

http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html#more-1328

jawaban :

ancaman keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya[Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, Yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan Rasul- nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.].

Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab, 57-58)

BAGAIMANA ABU BAKAR SAMPAI MENJADI KHALIFAH

 Abu Bakar akhirnya menjadi khalifah. Nasi telah menjadi bubur. Sejarah tak bisa direka-ulang. Yang terjadi sudah terjadi dan meninggalkan bekas luka yang dalam di tubuh umat Islam. Luka yang tak mungkin tersembuhkan. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Berikut ulasannya
.
1. Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat Arab pada waktu itu apabila seseorang telah diangkat menjadi pemimpin walaupun itu diangkat oleh sekelompok kecil orang, maka orang-orang yang tidak boleh menentangnya walaupun ia tidak setuju dengan orang itu. Orang-orang yang ada di sekitarnya diharuskan untuk membai’atnya tanpa basa-basi dan tanpa banyak omong lagi. Kebiasaan ini diketahui benar oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi). Dan ia pada suatu ketika berkata kepada Ali: “Ulurkanlah tanganmu supaya aku bisa membai’at dirimu………karena begitu ini telah terjadi maka tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya darimu.”
Dan kebiasaan inilah yang menyebabkan Sa’ad bin Ubaydah bergegas membujuk-bujuk kaum Anshar agar segera mengambil kekhalifahan itu sebelum orang lain mengambil itu lebih dulu.
Dan kebiasaan yang sama inilah yang menyebabkan seseorang memberitahu Umar agar cepat-cepat bergegas menuju Saqifah dengan kata-kata “sebelum segala sesuatunya terlambat dan segala yang sudah diputuskan tak mungkin bisa diubah lagi.” Dan karena kebiasaan atau adat istiadat ini pula maka setiap orang menerima Abu Bakar menjadi seorang khalifah…………nasi sudah menjadi bubur…………masyarakat kota Madinah akhirnya terpaksa mengikuti orang-orang untuk berbai’at kepada Abu Bakar.
2. Ali tahu benar akan kebiasaan masyarakat Arab ini. Mungkin ada yang bertanya: “Kalau tahu akan kebiasaan masyarakat Arab itu seperti itu mengapa Ali tidak mau memberikan tangannya untuk dibai’at oleh Abbas seraya berkata kepadanya, ‘Adakah orang lain selain aku yang kira-kira akan dibai’at oleh orang-orang?’” (seolah-olah Imam Ali ingin menegaskan bahwa hak khilafah itu tidak lain melainkan untuk dirinya sehingga tidak ada kepentingannya untuk membai’at dirinya karena memang sudah mafhum setiap orang telah mengetahui adanya pelantikan di Ghadir Khum—red)
(Lihat Ibn Qutaybah: al-Imamah wa ‘s-siyasah, vol. 1, halaman 4; lihat juga al-Mawardi: al-Ahkamu ‘s-sultaniyyah, halaman 7)
.
Imam Ali tahu benar bahwa khilafah itu bukanlah hak umat untuk diperebutkan oleh mereka. Imam Ali tahu bahwa khilafah itu bukan ditunjuk oleh rakyat dan dari rakyat. Imam Ali tahu benar bahwa khilafahitu adalah tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah dan bukan diberikan oleh umat. Karena Imam Ali telah diangkat oleh Allah melalui Nabi dan diberikan tugas Imamah (kepemimpinan) (dalam beberapa kesempatan dan puncaknya di Ghadir Khum—red), maka beliau melihat tidak perlu adanya ketergesaan untuk meminta bai’at dari umat. Imam Ali tidak mau menciptakan kesan bahwa Imamah itu datangnya dari umat sehingga ia harus menghiba pada umat untuk meminta bai’at. Apabila umat datang kepada Imam Ali dan memberikan bai’atnya atas pengangkatan beliau di Ghadir Khum, maka itu baik dan bermanfaat bagi orang yang memberikan bai’at kepada Imam Ali itu. Sementara apabila mereka tidak memberikan bai’at kepada Imam Ali, maka kerugian ada di pihak orang yang tidak memberikan bai’at itu.
3. Sekarang kita lihat lagi apa yang terjadi di Saqifah. Selama masa hidup Rasulullah, mesjid selalu menjadi pusat aktifitas kaum Muslimin. Di mesjidlah semua keputusan yang penting dibuat seperti keputusan untuk melangsungkan peperangan dan gencatan senjata atau keputusan untuk damai; juga acara lainnya seperti penyambutan perwakilan negara lain, khutbah-khutbah dan ceramah dan juga tidak lupa keputusan hukum semuanya dibuat dan dilangsungkan di tempat ini. Oleh karena itu, tidak heran ketika umat mengetahui bahwa Rasulullah sudah meninggal dunia, maka seluruh umat Islam berkumpul di mesjid.
Lalu mengapa ada sekelompok kecil orang di pimpin oleh Sa’ad bin Ubadah berkumpul di Saqifah—sebuah tempat terpencil sekitar 4,5km jauhnya dari kota Medinah—padahal tempat itu terkenal dengan reputasinya yang sama sekali tidak baik? Bukankah itu mudah sekali ditebak? Mereka itu mau mengakali jabatan khalifah tanpa sepengetahuan orang-orang. Mereka ingin mendudukan Sa’ad bin Ubadah
.
Bukankah kalau mereka itu berniat baik, mereka akan datang ke mesjid dan mendeklarasikan khilafah bagi Sa’ad bin Ubadah? Mengapa mereka memilih tempat terpencil untuk tujuan itu? Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal selain karena mereka takut tidak bisa mewujudkan mimpinya itu apabila niat mereka diutarakan di mesjid nabi. Mereka tahu bahwa Imam Ali lebih berhak untuk jabatan ini selain karena kekerabatan yang amat dekat dengan Nabi juga karena Nabi pernah mengangkatnya di Ghadir Khum
.
4. Ketika Umar dan Abu Bakar mengetahui akan adanya pertemuan rahasia ini, mereka berdua sedang berada di mesjid. Demi mengetahui itu mereka segera meninggalkan mesjid dan bergabung dengan pertemua itu. Pertanyaan yang timbul ialah: “Mengapa Umar dan Abu Bakar tidak memberitahu orang-orang tentang pertemuan rahasia itu? Mengapa Umar dan Abu Bakar disertai dengan orang yang memberitahu mereka yaitu Abu Ubaydah bertiga beranjak dari mesjid secara hati-hati dan meninggalkan mesjid secara diam-diam? Apakah mereka melakukan itu karena mereka takut ketahuan? Apakah mereka kabur diam-diam dari tempat itu karena mereka melihat ada Ali dan keluarga Bani Hasyim (yang jauh lebih berhak terhadap kekhalifahan—red) ada di mesjid dan Abu Bakar serta Umar tidak ingin keluarga Bani Hasyim tahu tentang rencana jahat mereka? Mereka tampaknya takut kalau Ali tahu akan pertemuan di Saqifah dan kemudian ia juga ikut pergi ke sana maka Abu Bakar dan Umar tidak akan bisa menjalankan rencananya untuk merebut kekhalifahan. Mereka tidak akan berhasil mendapatkan khilafah apabila Ali ada di sana
.
5. Ketika Abu Bakar menggembar-gemborkan keutamaan kelompok Muhajirin sebagai kelompok yang paling dekat kekerabatannya kepada Rasulullah, apakah ia tidak tahu bahwa ada orang-orang yang kekerabatannya dengan Rasulullah sangatlah dekat dibandingkan dengan kekerabatan dirinya? Apakah Abu Bakar tidak tahu bahwa ada orang-orang yang memiliki klaim kekhalifahan yang jauh lebih kuat ketimbang dirinya karena orang-orang itu berasal dari keluarga suci Rasulullah? Orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan Rasulullah?
Tidaklah salah kalau Ali bin Abi Thalib segera bersabda:
“Mereka telah berhujjah dengan pohonnya tapi mereka melupakan buahnya” (Lihat: Ar-Radi: Nahjul Balaghah, Edisi Subhi as-Salih, terbitan Beirut, halaman 98)
.
Apabila kita cukup memiliki akal sehat, maka kita akan segera melihat bahwa peristiwa pengangkatan Abu Bakar itu sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai “pemilihan umum yang adil, jujur dan bersih” dengan alasan sebagai berikut:
1. Para pemilih (seharusnya seluruh kaum Muslimin yang bertebaran di seluruh jazirah Arab atau paling tidak seluruh Muslim di kota Madinah) sama sekali tidak tahu akan adanya pemilihan. Mereka tidak tahu kapan dan dimana akan diadakan pemilihan itu.
2. Para bakal calonnya pun bahkan tidak tahu apa yang bakalan terjadi di Saqifah. Tidak ada calon yang benar-benar calon karena sebelumnya mereka tidak pernah dijadikan calon. Masing-masing orang yang hadir mendambakan posisi khalifah itu untuk diri mereka sendiri.
Sehubungan dengan dua poin di atas, Imam Ali bersabda:

Kalau memang benar engkau telah mendapatkan kekuasaan dengan cara musyawarah bersama kaum Muslimin untuk mencapai mufakat

Lalu bagaimana itu bisa terjadi kalau yang engkau ajak musyawarah itu tak ada di tempat

Dan kalau engkau mengalahkan lawanmu dengan menunjukkan betapa dekatnya engkau dengan Rasulullah bagai kerabat

Lalu mengapa engkau lupakan orang yang lebih berhak dan kepadanya Rasulullah hubunganya lebih erat dan dekat
(Lihat: Ar-Radi: Nahjul Balaghah, Edisi Subhi as-Salih, terbitan Beirut, Kata-kata mutiara no. 190, [halaman 502—503] Kata-kata Imam Ali bin Abi Thalib telah dikutip oleh ash-Sharif ar-Radi dan dituliskan sebagai kata-kata mutiara no. 190 yang bunyinya sebagai berikut: “Betapa anehnya? Apakah khilafah itu turun melalui hubungan sahabat Rasulullah dan bukan melalui hubungan sahabat Rasullah ditambah dengan hubungan keluarga Rasulullah?” Cukup mengejutkan apabila kita lihat dalam edisi Subhi as-Salih dan edisi Muhammad Abduh (Beirut, 1973) kata-kata “dan bukan melalui hubungan sahabat Rasullah” Apabila anda ingin mendapatkan kalimat yang penuh dan lengkap anda bisa lihat versi kata-kata mutiara ini secara utuh dalam Sharh yang ditulis oleh Ibn Abi ‘l-Hadid (Cairo, 1959), volume 18, halaman 416)
————————————————————————————————————————-
Dengan tegas dan penuh keyakinan kita bisa katakan bahwa “pemilihan umum” yang terjadi di Saqifah itu bukanlah pemilihan umum yang sah, jujur, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan. Alasannya sederhana saja: banyak sekali sahabat Rasulullah yang ternama yang tidak sama sekali tidak tahu tentang pemilihan di Saqifah ini. Jadi jangankan hadir, tahu saja mereka tidak. Para sahabat ternama seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Utsma bin Affan, Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Ammar bin Yasir, Miqdad, Abdurrahman bin Auf, sama sekali tidak pernah diberitahu apalagi diundang
.
Satu-satunya argumentasi yang bisa digunakan untuk mendukung keabsahan pengangkatan Abu Bakar itu ialah: “Apapun yang terjadi di Saqifah—karena Abu Bakar telah terpilih menjadi khalifah (dengan menggunakan cara atau adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat suku Arab—jadi bukan dengan cara-cara Islami) dan menggenggam kekuasaan penuh di tangannya, maka ia dianggap sebagai khalifah secara konstitusional”
.
Dalam bahasa sederhana bisa kita katakan bahwa Abu Bakar itu dianggap sebagai khalifah yang sah hanya karena ia telah berhasil menggunakan kekuatannya. Ia berhasil karena ia telah berhasil memaksakan kehendaknya. Kaum Muslimin di seluruh dunia dan di seluruh jaman diajarkan dan didoktrin untuk mengagungkan peristiwa ini (sebagian kaum Muslimin menjadikannya contoh untuk menggambarkan betapa demokratisnya umat Islam ketika memilih pemimpinnya walaupun sejarah tidak bisa dibohongi bahwa yang terjadi sama sekali tidak demokratis—red). Kaum Muslimin didoktrin untuk memahami bahwa yang paling penting itu ialah  “kekuatan”. Sekali anda memiliki kekuatan dan berhasil duduk di kursi kekuasaan, maka segala sesuatu sudah dianggap benar. Anda akan menjadi khalifah yang “sah”  atau “konstitusional” walaupun usaha untuk meraih kekuasaan itu sama sekali tidak konstitusional
.
Untuk menutup tulisan ini, kami akan ketengahkan sebuah komentar dari Umar bin Khattab yang pada hakikatnya merupakan orang yang paling berjasa atas “terpilihnya” Abu Bakar. Umar-lah perancang atau perekayasa politik yang berhasil mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah. Umar berkata dalam sebuah khutbahnya ketika waktu itu ia sudah menjadi seorang khalifah:
“Aku diberitahu oleh seseorang bahwa ada seseorang yang berkata: ‘Kalau Umar mati, aku akan berbai’at pada si fulan atau si fulan.’ Aku harap tidak ada orang yang sesat seperti itu dengan mengira bahwa karena pemilihan Abu Bakar itu adalah sesuatu yang tidak bisa diduga-duga, maka ia juga boleh melakukan hal yang sama. Tentu saja, terplilihnya Abu Bakar itu betul-betul tak terduga, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kita dari keburukannya. Sekarang apabila ada orang yang berniat untuk melakukan hal yang sama (baca: hal yang sama seperti yang Umar lakukan) maka aku tidak akan segan-segan untuk memotong lehernya”

.

BAGAIMANA UMAR MENJADI KHALIFAH (kisah tentang sebuah surat sakti)

Mayoritas saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) meyakini bahwa yang terjadi di Saqifah itu ialah sebuah perwujudan dari semangat demokratis dalam Islam (walaupun dengan keheranan kita harus bertanya: Sejak kapan Islam mengenal demokrasi? Bukankah demokrasi itu berasal dari luar Islam?—red). Dengan pandangan seperti itu maka sudah sewajarnya apabila kita mengharapkan bahwa “PEMILIHAN DEMOKRATIS”  (lengkap dengan segenap artinya dan atribut yang di sandangnya dalam konteks “pemilihan” di Saqifah) itu akan berlanjut untuk dijadikan dasar pemilihan khalifah berikutnya. Bukankah wajar apabila sebuah sistem itu akan dilanjutkan untuk dijadikan dasar dari suatu peristiwa yang sama? Bukankah wajar apabila sebuah aturan pemilihan pemimpin itu sama dari satu pemilihan pemimpin ke pemilihan pemimpin yang lain.
سنة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ولا تجد لسنتنا تحويلا
“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu” (QS. Al-Israa: 77)
.
Ketetapan atau aturan Allah itu senantiasa tetap dan tidak berubah. Aturan untuk “pemilihan” khalifah sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah pun seharusnya tidak berubah. Aturannya harus tetap karena ia berasal dari Tuhan yang sama untuk menggantikan Rasul yang sama pula. Ketentuan pemilihan khalifah itu seharusnya sama dari satu khalifah ke khalifah yang lainnya. Kalau pemilihan Abu Bakar itu dianggap “demokratis” karena dianggap mencerminkan “semangat demokratis”, maka sudah sewajarnya kalau kita menginginkan hal yang sama terjadi untuk pemilihan khalifah berikutnya setelah khalifah Abu Bakar selesai menjabat. Ingat! Ketetapan Allah itu tidak berubah. Apalagi ini menyangkut sesuatu yang teramat penting dalam kehidupan manusia yaitu menentukan calon pemimpin dan memilihnya untuk dijadikan panutan dan suri teladan sebagai perwujudan sempurna dari nilai-nilai keIslaman seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Al-Mustafa, junjungan sekalian alam. Akan tetapi keingingan tetaplah keinginan. Rupanya elit politik jaman dulu pun seringkali suka bermain. Bermain dan berjudi untuk memperebutkan kepemimpinan dan kekuasaan. Lihatlah buktinya dalam sejarah berikut ini
.
Abu Bakar merasa berhutang budi pada Umar bin Khattab. Umarlah yang telah menjadikannya khalifah dan untuk itu Abu Bakar ingin menjadikan dia menjadi khalifah berikutnya. Hitung-hitung membalas hutang budi yang cukup tinggi dari Umar bin Khattab sahabatnya yang sejati. Abu Bakar tahu betul kalau kaum Muslimin disuruh atau diberikan kesempatan untuk memilih pemimpin, mereka tidak akan mau memilih Umar bin Khattab. Umar bin Khattab takkan mungkin mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin kaum Muslimin. Mengapa? Karena sepengetahuan kaum Muslimin waktu itu, Umar dikenal sebagai orang yang “fadzhun ghaliidzhul qalbi” atau “kasar dan hatinya keras”. Oleh karena itu, Abu Bakar berniat untuk memilih langsung pengganti dirinya. Ia ingin memilih Umar secara langsung tanpa melibatkan kaum Muslimin. Ini jelas bertentangan dengan cara pengangkatan dirinya dulu ketika menjadi khalifah
.
Sejarawan Sunni, At-Tabari menulis: “Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan (waktu itu Abu Bakar sedang menjelang sakaratul maut). Abu Bakar memanggilnya untuk menuliskan sebuah “SURAT PERINTAH”. Abu Bakar mendiktekan surat itu kepada Utsman bin Affan:
‘Dengan Nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Ini surat perintah dari Abdullah ibn Abi Qahafah (Abu Bakar—red) kepada seluruh kaum Muslimin. Dengan ini……….(kemudian Abu Bakar pingsan). Utsman kemudian menambahkan kata-kata sebagai berikut: ‘saya menunjuk Umar bin Khattab sebagai penerusku untuk memimpin kalian.’
.
“Kemudian Abu Bakar kembali siuman dan menyuruh Utsman bin Affan untuk membacakan surat perintah itu kepadanya. Utsman membacanya kemudian Abu Bakar bertakbir: Allahu Akbar!, dan kelihatan ia senang sekali sambil berujar, ‘Aku kira anda ini takut kalau orang-orang tidak setuju dan bertengkar satu sama lain apabila aku meninggal lebih dulu (belum sampai mendiktekan surat itu).’ Utsman menjawab, ‘Betul. Memang demikian  adanya.’ Abu Bakar kemudian berkata, ‘Semoga Allah memberikan balasan atas budi baikmu atas Islam dan kaum Muslimin.’ (lihat: at-Tabari: at-Tarikh, halaman 2138—2139). Dengan itu selesailah surat perintah itu dan Abu Bakar memerintahkan agar surat itu dibacakan di hadapan kaum Muslimin.
Ibn Abi ‘l-Hadid al-Mu’tazili menuliskan sebagai berikut: “Ketika Abu Bakar kembali siuman dari pingsannya dan si penulis surat itu membacakan apa yang telah ia tuliskan dan Abu Bakar mendengar nama “Umar” dibacakan maka Abu Bakar bertanya kepada si penulis surat itu, “Bagaimana anda sampai menuliskan nama ini?” Si penulis surat menjawab, “Anda tidak mungkin melupakan nama ini.” Abu Bakar menjawab, “Anda benar.” (lihat: Ibn Abi ‘l-Hadid al-Mu’tazili: Sharh, volume 1, halaman 163—165)
.
Tidak lama setelah itu, Abu Bakar meninggal.
Umar mendapatkan tampuk kekhalifahan dengan sepucuk surat perintah pengangkatan tersebut di atas. Mau tidak mau ingatan kaum Muslimin kembali kepada sebuah kejadian (Ibnu Abbas malah menamakan kejadian ini sebagai sebuah tragedi, yaitu TRAGEDI HARI KAMIS). Kejadian ini atau tragedi ini terjadi kira-kira tiga atau lima hari sebelum Rasulullah wafat
.
Dalam Sahih Muslim diriwayatkan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut:
“Tiga hari sebelum Rasulullah wafat, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya datang menemui Nabi di pembaringannya. Rasulullah berkata, ‘Sekarang akan aku tuliskan sesuatu untuk kalian berupa surat wasiat agar kalian tidak tersesat sepeninggalku.’ Umar berkata dengan keras, ‘Rasulullah sedang mengigau; cukuplah Kitabullah di samping kita.’ Pernyataan Umar yang tidak sopan ini mengundang kegaduhan di antara orang-orang yang hadir di kamar Nabi itu. Mereka bertengkar satu sama lainnya. Sebagian sahabat yang setia berkata bahwa apa-apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh Nabi itu harus didengar dan dipatuhi agar nanti Rasulullah bisa menuliskan apapun yang hendak beliau tuliskan untuk kebaikan umat. Sebagian lain memihak Umar dan tidak memberikan kesempatan pada Rasulullah untuk menuliskan surat wasiat. Ketegangan memuncak dan kemarahan terdengar di sana-sini akhirnya Rasulullah berkata, “Pergilah kalian semua dan menjauhlah dariku”
(Kejadian di atas anda bisa lihat dalam
1.  Muslim: as-Shahih (“Kitabu ‘l-Wasiyyah”, Babu’t-tarki ‘lwasiyyah), volume 5, halaman 75—76
2. al-Bukhari: as-Shahih, (Cairo, 1958), volume 1, (“Kitabu ‘l-‘Ilm”), halaman 38—39; volume 4, halaman 85; volume 6, halaman 11—12; volume 7 (“Kitabu ‘t-Tib”), halaman 155—156; volume 9, (“Kitabu ‘l I’tisam bi ‘l-Kitab wa ‘s-Sunnah”), halaman 137. Menarik untuk diketahui di sini ialah bahwa Bukhari menyatakan kalimat “Rasulullah sedang mengigau” akan tetapi ia menghapuskan nama orang yang mengatakan kalimat yang amat tidak sopan untuk Rasulullah itu. Akan tetapi lucunya ialah ketika Bukhari mengubah kalimat itu supaya lebih sopan lagi, ia menuliskan nama Umar secara jelas dan tegas sebagai orang yang mengucapkan kalimat tersebut. Rupanya Bukhari ingin melindungi Umar atas ketidak sopanan yang telah ia perbuat kepada Rasulullah.
3. Ibn Sa’d: at-Tabaqat, volume 2, halaman 242, 324f, 336, 368
4. Ahmad ibn Hanbal: al-Musnad, volume 1, halaman 232, 239, 324f, 336, 355.)
————————————————————————————————————————-
Kita lihat kembali peristiwa dimana Abu Bakar mendiktekan surat yang kurang lebih mirip dengan keadaan dimana Rasulullah terbaring sakit dan hendak menuliskan surat wasiat. Abu Bakar yang tidak memiliki kema’shuman (artinya sangat mungkin melakukan kesalahan dan dosa karena tidak diberikan perlindungan dari Allah dari dosa) mendiktekan surat wasiat pengangkatan dengan kondisi kesehatan yang sangat parah. Malahan ia sempat pingsan ketika mendiktekan surat itu kepada Utsman sebelum ia sempat menyebutkan siapa penerus kepemimpinan berikutnya. Akan tetapi meskipun demikian Umar tidak pernah mengatakan bahwa ABU BAKAR ITU MENGINGAU atau dikuasai sakitnya
.
Tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan apa yang hendak dituliskan oleh Rasulullah itu. Akan tetapi kalimat yang beliau pergunakan memberi kita sedikit gagasan akan apa yang sebenarnya beliau hendak tuliskan waktu itu. Dalam beberapa kesempatan Rasulullah pernah bersabda:
“Wahai manusia! Sesungguhnya, akan aku tinggalkan bersama kalian dua hal yang sangat berharga yaitu Kitabullah dan Keturunanku, Ahlul Baytku. Berpegang teguhlah kepada keduanya kuat-kuat, sehingga engkau takkan pernah sesat selamanya”
.
Ketika Rasulullah menggunakan kata-kata yang sama 5 hari sebelum wafatnya (yaitu kata-kata: “………akan aku tuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang apabila kalian berpegang teguh padanya maka kalian takkan sesat selamanya sepeninggalku”), maka dengan mudah kita menebak dan  menyimpulkan apa yang sebenarnya Rasulullah ingin tuliskan. Rasulullah ingin menuliskan agar kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Ahlul Baytnya. Umar tahu akan hal ini. Oleh karena itu ia berkata, “Cukuplah Kitabullah di samping kita.” Umar tidak ingin berpegang teguh kepada Ahlul Bayt seperti yang hendak diwasiatkan oleh Rasulullah kepada kita.
Mungkin memang Umar telah menduga hal ini dari semula bahwa Rasulullah hendak mewasiatkan agar kita berpegang teguh kepada Kitabullah dan Ahlul Baytnya. Itu tampak dari klaim dirinya ketika ia berujar: “Cukuplah Kitabullah di samping kita.” Ia ingin memberitahu Rasulullah secara langsung bahwa ia tidak akan berpegang teguh kepada Ats-Tsaqalayn (Dua hal yang sangat berharga). Satu saja cukup bagi Umar……….dan ia telah memilih Kitabullah saja
.
Umar sendiri di kelak kemudian hari mengaku kepada Abdullah bin Abbas:
“Aku tahu sekali bahwa ia (Rasulullah), dalam sakitnya,  ingin menyebutkan namanya (nama Ali), oleh karena itu saya cepat-cepat mencegahnya.”
(lihat: Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, volume 12, halaman 21 (mengutip dari Tarikh Baghdad  yang tditulis oleh al-Khatib al-Baghdadi)
Mungkin dengan alasan bahwa “Rasulullah telah mengigau” (seperti yang disebutkan oleh Umar), sudah cukup bagi Umar untuk menolak wasiat itu walaupun misalnya Rasulullah telah berhasil menuliskan wasiat itu. Umar dan para begundalnya akan berkata “karena wasiat itu ditulis dalam keadaan mengigau maka wasiat itu kehilangan validitasnya.”

.

BAGAIMANA UTSMAN BISA MENJADI KHALIFAH

Setelah berkuasa selama kurang lebih 10 tahun, Umar pada suatu ketika terluka oleh seorang budak yang beragama Zoroaster bernama Firuz
.
Umar sewaktu berkuasa merasa berhutang budi pada Utsman yang telah menuliskan namanya di surat wasiat yang didiktekan oleh Abu Bakar kepada Utsman. Akan tetapi walaupun begitu, Umar tidak ingin mencalonkan Utsman secara terbuka. Ia tidak ingin kaum Muslimin tahu bahwa ia berkehendak mencalonkan Utsman. Di sisi lain, Umar juga tidak ingin kaum Muslimin memilih secara bebas calon pemimpinnya di kelak kemudian hari ketika Umar mau lengser dari kepemimpinannya. Umar dengan cerdik menyusun sebuah sistem pemilihan khalifah. Sistem ini menjadi sistem ketiga yang berhasil ditemukan oleh Umar, Abu Bakar, dan Utsman sebagai elit politik yang hidup pada jaman Rasulullah. Sistem yang sebelumnya tidak dikenal dalam Islam dan kemudian dipaksakan kepada umat Islam dan secara perlahan dijadikan hukum Islam walaupun tidak berdasarkan Islam melainkan berdasarkan hasil kreatifitas manusia yang tidak terjaga dari dosa
.
Umar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah mati dan ia telah ridho dengan enam orang dari suku Qurays yaitu: Ali, Utsman, Thalhah, Zubayr, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf. Dan aku menginginkan agar mereka bermusyawarah bersama untuk menentukan siapakah yang akan menjadi khalifah selanjutnya. Jadi mereka boleh saling memilih satu sama lainnya (hingga terpilih seorang khalifah—red).”
.
Keenam orang itu akhirnya dipanggil kehadapan Umar ketika Umar menjelang kematiannya. Ketika melihat keenam orang itu, Umar berkata, “Jadi setiap orang dari kalian ini menginginkan jabatan khalifah sepeninggalku? Tak ada seorangpun yang menjawab. Umar mengulangi lagi pertanyaannya. Kali ini Zubayr bin Awwam balik bertanya, “Apa yang membuat kami tidak masuk hitungan untuk menjadi khalifah? Anda sendiri sudah pernah menjadi khalifah dan memerintah sebagai khalifah; padahal kami ini tidak lebih buruk dari anda selama ini. Kami ini semua orang Qurays yang memeliki hubungan kekerabatan yang sama baiknya (dengan anda terhadap Rasulullah)”
.
Umar bertanya, “Haruskah aku berbicara tentang kalian semua (tentang kelemahan mereka)?”
Az-Zubayr bin Awwam berkata, “Ceritakanlah kepadaku karena walaupun kami mencegahmu untuk tidak mengatakannya, anda tetap akan menceritakannya kepada kita semua, anda tidak akan menghiraukan kami.” Kemudian Umar mulai menyebutkan satu persatu kelemahan yang dimiliki oleh Zubayr bin Awwam, Thalhah bin Ubaydillah, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf. Kemudian ia menghadapkan wajahnya pada Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Demi Allah anda sangat layak untuk mendapatkan jabatan khalifah ini kalau anda ini tidak terlalu suka bercanda (Imam Ali dan Rasulullah seringkali diriwayatkan senang bercanda satu sama lainnya—red). Demi Allah, seandainya kalian memilih DIA (sambil menunjuk Imam Ali) untuk menjadi pemimpin kalian, maka ia akan membimbingmu menuju jalan kebenaran yang terang.”
.
Kemudian ia memandang Utsman bin Affan sambil berkata, “Ambillah khilafah ini dariku. Aku seolah-olah bisa melihat apa yang akan terjadi padamu. Aku lihat orang-orang Qurays mengalungkan kalung (khilafah) ini di lehermu karena kecintaanmu pada mereka; kemudian kamu akan mengutamakan orang-orang Bani Umayyah dan Bani Abu Mu’ayt (klan keluarga Utsman) di atas orang-orang lain. Kamu akan memberi mereka harta dari baytul mal (harta kaum Muslimin). Oleh karena itu, sekelompok orang, serigala-serigala Arab, akan datang padamu dan membunuhmu di tempat tidurmu.”
.
“Demi Allah apabila orang-orang Qurays memberimu jabatan khalifah, kamu akan segera memberikan hak-hak khusus pada kaum Bani Umayyah; dan apabila itu yang terjadi, maka kaum Muslimin akan membunuhmu.” Kemudian Umar memegang kepala Utsman sambil berkata, “Apabila ini memang terjadi, ingatlah kata-kataku. Karena ini memang akan terjadi.”
Kemudian Umar memanggil Abu Thalhah al-Ansari dan berkata padanya bahwa apabila ia (Umar) mati, maka setelah upacara penguburan selesai, Abu Thalhah harus mengumpulkan sebanyak 50 orang Anshar. Mereka semua harus dipersenjatai dengan pedang. Setelah itu 6 orang yang disebutkan di atas harus dikumpulkan di sebuah rumah. Mereka akan menjadi kandidat khalifah dan harus saling memilih hingga satu orang terpilih sebagai khalifah. Ketentuan yang diajukan Umar ialah sebagai berikut:
1. Apabila ada 5 orang yang setuju dan 1 orang menolak, yang satu itu harus dibunuh dipenggal kepalanya.
2. Apabila ada 4 orang yang setuju dan 2 orang menolak, maka yang dua orang itu harus dipenggal kepalanya.
3. Apabila kelompok terbagi kedalam 2 bagian yang sama yaitu masing-masing 3 orang, maka kelompok yang di dalamnya ada Abdurrahman bin Auf harus menang dan khilafah diberikan kepada orang yang dipilih oleh kelompok ini. Dan apabila kelompok yang satunya lagi tidak setuju, maka mereka yang berada di kelompok yang tidak setuju itu harus dipenggal semuanya.
4. Apabila setelah 3 hari 3 malam berlalu tidak ada juga keputusan, maka semuanya harus dipenggal kepalanya dan seluruh kaum Muslimin diberikan kebebasan untuk memilih khalifahnya masing-masing.
————————————————————————————————————————-
SEMUA PENJELASAN DI ATAS TERMAKTUB DALAM KITAB AHLU SUNNAH:
1. Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, volume 1, halaman 185—188
2. Ibn Qutaybah: al-Imamah wa ‘s-siyasah, volume 1, halaman 23—27
3. At-Tabari: at-Tarikh, (Egypt, n.d.), volume 5, halaman 33—41
————————————————————————————————————————-
Salah seorang penulis sejarah yang bermadzhab Ahlul Bayt bernama Qutbu ‘d-Din ar-Rawandi meriwayatkan bahwa ketika Umar memutuskan bahwa kelompok Abdurrahman bin Auf-lah yang akan memenangkan pemilihan apabila terjadi perpecahan kedalam dua kelompok yang sama banyaknya (yaitu tiga lawan tiga), Abdullah bin Abbas berkata kepada Imam Ali, “Sekali lagi kita akan kalah. Orang ini (Abdurrahman bin Auf) pastinya menginginkan Utsman menjadi khalifah.” Imam Ali menjawab, “Aku juga tahu itu akan tetapi aku tetap akan duduk bersama mereka dalam majelis syura ini. Dengan mengikuti aturan Umar ini aku paling tidak dianggap layak olehnya untuk menjabat jabatan khalifah padahal sebelumnya Umar sebelumnya pernah menyebutkan bahwa Nubuwwah (kenabian) tidak boleh tergabung jadi satu dengan Imamah dalam satu keluarga (maksudnya menurut Umar keturunan atau keluarga nabi tidak boleh menjabat menjadi khalifah—red). Oleh karena itu, aku akan tetap ikut serta dalam majelis Syura ini untuk menunjukkan kepada umat bahwa Umar senantiasa bertentangan antara perbuatan dan ucapannya.” (LIHAT: Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, halaman 189)
.
Sekarang kita bertanya-tanya mengapa Ibnu Abbas dan Imam Ali bisa yakin bahwa Umar itu menginginkan Utsman menjadi khalifah? Jawabannya terletak dari aturan pemilihan khalifah yang telah ditentukan oleh Umar sendiri.
a. Abdurrahman bin Auf itu menikah dengan saudarinya Utsman. Jadi Abdurrahman bin Auf dan Utsman itu adalah ipar.
b. Sementara itu Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf itu adalah saudara sepupu
Mengingat hubungan keluarga dalam masyarakat Arab itu begitu kuatnya, susah untuk membayangkan Sa’ad akan bertentangan dengan Abdurrahman bin Auf. Susah juga dibayangkan bahwa Abdurrahman bin Auf akan mengabaikan Utsman. Dengan begitu Utsman telah mengantongi tiga suara yaitu suara Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, dan suara dirinya sendiri.
c. Thalhah bin Ubaydillah berasal dari klan yang sama dengan Abu Bakar (yaitu sama-sama dari berasal dari Bani Taim), dan sejak peristiwa pengangkatan Abu Bakar di Saqifah klan Bani Hasyim dan Bani Taim memiliki hubungan yang buruk. Mereka terlibat dalam permusuhan yang sengit satu sama lainnya. Itu di satu sisi. Di sisi lainnya yang lebih bersifat pribadi: Imam Ali pernah membunuh pamannya Thalhah yang bernama Umayr bin Utsman; kemudian saudaranya Thalhah, Malik bin Ubaydillah; dan keponakannya Thalhah, Utsman bin Malik semuanya pada perang Badar (LIHAT: asy-Syaikh al-Mufid:al-Irsyad (dengan terjemahan Persia oleh Sh. Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani), halaman 65 [lihat juga: terjemahan bahasa Inggrisnya oleh I.K.A Howard, halaman 47).
Mengingat itu semua maka mustahil bagi Thalhah untuk mendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah.
d. Zubayr bin Awwam itu puteranya Safiyyah, bibinya Imam Ali, dan setelah peristiwa Saqifah ,ia telah menghunus pedangnya untuk memerangi siapa saja yang berusaha memasuki rumah Imam Ali untuk memaksa Imam Ali agar berbai’at kepada Abu Bakar. Zubayr melindungi keluarga Imam Ali karena hubungan darahnya dengan Imam Ali. Jadi ada kemungkinan ia akan memilih Imam Ali untuk menjadi khalifah. Akan tetapi di sisi lain ada juga kemungkinan ia tergiur oleh jabatan khalifah itu dan memilih untuk maju menjadi calon khalifah dengan memilih dirinya sendiri
.
Dengan ini, yang menjadi harapan Imam Ali satu-satunya ialah Zubayr akan memilih dirinya. Akan tetapi walaupun Zubayr memilih Imam Ali, Imam Ali tetap saja kalah karena di pihaknya hanya ada dua suara sementara di pihak lawannya ada 4 suara. Meskipun Thalhah menyeberang, misalnya, tetap saja Imam Ali akan kalah karena Umar bin Khattab sudah merekayasa pemilihan dengan ketentuan bahwa apabila keenam orang itu terpisah dalam kelompok yang sama besar (yaitu masing-masing 3 orang dalam setiap kelompoknya), maka kelompok yang menang ialah kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf-nya. (LIHAT: analisa ini dibuat oleh Thabari dalam Tarikh-nya, halaman 35; [lihat juga: percakapan antara Ibnu Abbas dan Imam Ali di atas])
Dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Umar bin Khattab, pemilihan khalifah berlangsunglah sudah. Thalhah mengundurkan diri dan memilih Utsman untuk menjadi calonnya. Zubayr bin Awwam ikut-ikutan mundur dan ia memilih Ali untuk menjadi calonnya. Sementara itu Sa’ad bin Abi Waqash juga mundur untuk memasrahkan suaranya pada Abdurrahman bin Auf
.
Pada hari ketiga, Abdurrahman bin Auf mundur dan berbicara kepada Ali bahwa ia akan memilih Ali apabila Ali bersumpah untuk mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Nabi serta sistem yang sudah dibuat oleh Abu Bakar dan Umar. Abdurrahman bin Auf tahu betul jawaban yang akan diberikan oleh Ali. Ali berkata, “Aku akan mengikuti Kitabullah dan sunnah Rasulullah serta keyakinanku sendiri.”
Setelah puas mendengar jawaban itu, Abdurrahman bin Auf memberikan persyaratan yang sama kepada Utsman bin Affan yang dengan segera menjawab bahwa ia sepakat dan bersedia menjalankan ketentuan atau syarat yang diajukan oleh Abdurrahman bin Auf itu. Setelah itu Abdurrahman bin Auf menyatakan bahwa khalifah terpilih ialah Utsman bin Affan.
Imam Ali berkata kepada Abdurrahman bin Auf: “Demi Allah, kamu tidak melakukan itu kecuali dengan satu harapan yang sama seperti harapan yang dimiliki Umar ketika ia memilih temannya (Abu Bakar)” (Maksudnya ialah Abdurrahman bin Auf menjadikan Utsman khalifah dengan harapan bahwa kelak Utsman akan menunjuk dirinya untuk menjadi khalifah selanjutnya)
.
Kemudian Ali berkata, “Semoga Allah menciptakan permusuhan diantara kalian berdua.” Setelah dua tahun berselang, Abdurrahman bin AUf dan Utsman saling membenci satu sama lainnya; mereka tak pernah bertegur sapa hingga akhirnya Abdurrahman bin Auf meninggal dunia.
————————————————————————————————————————-
BAHASAN:
1. Apakah yang dilakukan Umar ini ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi? Manakah dalil yang bisa dijadikan landasan pemilihan dengan sistem syura yang dilakukan Umar ini?
2. Apakah ketentuan Umar dalam pemilihan itu sudah adil dan jujur?
3. Alasan apakah yang dipakai Umar untuk membunuh mereka yang tidak sepakat?
4. Alasan apakah yang dipakai oleh Umar untuk mengutamakan Abdurrahman bin Auf sehingga ia menentukan bahwa kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf-lah yang harus menjadi pemenang?
5. Mengapa sistem yang diciptakan oleh Umar ini berbeda dengan sistem yang sebelumnya? Manakah yang lebih Islami?
6. Kalau pemilihan hasil rekayasa Umar ini tidak Islami, maka hasil pemilihannya pun pastilah tidak sah menurut Islam!
.
KEKUATAN MILITER DIANGGAP CARA YANG SAH UNTUK MENDAPATKAN JABATAN KHALIFAH
Utsman, sang khalifah ketiga, dibunuh beramai-ramai oleh kaum Muslimin yang tidak puas dengan prilaku nepotisnya. Keadaan yang berlangsung cepat dari waktu-ke-waktu membuat Utsman tidak sempat untuk memilih khalifah pengganti dirinya yang akan meneruskan kepemimpinannya. Kaum Muslimin untuk pertama kali setelah wafatnya Nabi, merasakan kebebasan untuk memilih pemimpinnya sendiri. Sewaktu pemilihan Abu Bakar, Umar, dan Utsman mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa memilih pemimpinnya sendiri. Kaum Muslimin, ketika kematian Utsman telah mereka dengar, mereka berbondong-bondong menuju rumah Ali. Mereka mengetuk pintu rumah Ali. Mereka beramai-ramai membai’at Ali untuk menjadi khalifah berikutnya. Untuk pertama kalinya, kaum Muslimin mendapatkan pemimpin yang mereka inginkan bukan pemimpin yang dipaksakan kepada mereka untuk dituruti dan dipatuhi
.
Akan tetapi jaman sudah berubah………kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya yang memerintah selama 25 tahun lamanya sudah mengubah segalanya. Sifat dan tabiat kaum Muslimin sudah banyak sekali yang  berubah dibandingkan dengan ketika ditinggalkan oleh Rasulullah. Para tokoh ternama di kalangan Muslimin sudah berubah perangai. Walaupun Imam Ali memerintah dengan sangat jujur, adil, penuh cinta kasih seperti ketika Rasulullah memimpin umat ini, tetap saja para tokoh ternama itu tidak senang dengan perlakuan Imam Ali terhadap mereka. Para tokoh ternama itu tidak suka diri mereka disejajarkan dengan kaum Muslimin non-Arab. Mereka merasa bahwa bangsa Arab jauh lebih mulia dan lebih utama dibandingkan bangsa lainnya. Tokoh-tokoh ternama seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam dan A’isyah binti Abu Bakar mulai menentang Imam Ali. Kemudian penentangan mereka itu diikuti oleh Mu’awiyyah bin Abu Sofyan. Terjadilah beberapa perang antara kaum Muslimin. Sebagian kaum Muslimin yang dihasut oleh para tokoh itu memerangi rakyat yang setia kepada Imam Ali
.
Setelah Imam Ali meninggal (syahid karena luka-luka yang dideritanya ketika dibacok oleh Ibn Muljam sewaktu Imam Ali sedang shalat—red), Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib meneruskan perjuangan Imam Ali. Imam Hasan ingin meneruskan jihad melawan Mu’awiyyah. Akan tetapi perjuangan Imam Hasan menemui kendala yang serius. Sebagian dari para prajuritnya disuap, disogok oleh Mu’awiyyah. Sebagian dari mereka ialah para perwira tinggi yang ketika dikirimkan untuk mencegat Mu’awiyyah, mereka malah tunduk dengan sogokan Mu’awiyyah dan beralih mendukung Mu’awiyyah. Di dalam situasi yang tidak mendukung seperti ini, Imam Hasan akhirnya terpaksa harus menerima tawaran damai dari Mu’awiyyah
.
Setelah peristiwa perdamaian atau gencatan senjata ini, kaum Ahlu Sunnah memandang bahwa kekuatan militer dianggap sebagai salah satu cara yang sah untuk mendapatkan jabatan khalifah secara konstitusional
.
Dengan itu kaum Ahlu Sunnah memiliki empat cara yang konstitusional untuk mendapatkan jabatan khilafah………………………
ULASAN SINGKAT TENTANG SISTEM KHILAFAH
Di dunia politik, biasanya sebuah undang-undang dasar negara itu disusun terlebih dahulu sebelum negara itu terbentuk. Dan ketika negara itu akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan calon pemimpinnya, maka perangkat untuk itu sudah ada sebelumnya. Undang-undang pemilu yang mengatur pemilihan harus sudah ada sebelumnya. Setiap kegiatan untuk menentukan calon dan memilih calon, mengangkat calon, memberhentikan calon, dan lain sebagainya sudah diatur dalam undang-undang itu. Kalau setiap aturan yang ada dalam undang-undang itu dipatuhi, maka itu artinya kita mematuhi undang-undang (dalam hal ini mematuhi hukum Islam); sedangkan kalau tidak mengikuti aturan itu kita dianggap membangkang dan harus dikenakan hukuman atas tindakan menyimpang itu. Belum lagi kita akan dianggap berdosa karena setiap pelanggaran hukum Islam bisa berdampak ganda. Melanggar aturan sosial dan dianggap berdosa
.
Menurut Ahlu Sunnah, mengangkat khalifah itu adalah tanggung jawab dan hak umat Islam (walaupun pada hakikatnya hanya ketika mengangkat Ali lah umat diberikan hak untuk mengangkat khalifah—red). Karena Ahlu Sunnah berpendapat demikian maka sudah selayaknya kalau kita menyebutkan bahwa Allah dan RasulNya harus terlebih dahulu menyediakan perangkat undang-undang (lengkap dengan prosedur pemilihan khalifah dan lain-lain). Dan apabila Rasulullah belum sempat membuatnya, maka seharusnya umat sudah membuat langkah-langkah konstitusional (membuat aturan pemilihan terlebih dahulu) sebelum akhirnya memilih khalifah
.
Akan tetapi anehnya ini belum pernah dilakukan sama sekali! Tidak pernah di dalam sejarah disebutkan bahwa umat berembuk untuk menentukan sistem pemilihan khalifah sebelum mereka memilih khalifah. Semua serba mendadak. Semua serba kebetulan. Semua serba darurat. Itulah fakta sejarah yang menyedihkan!
.
Kita bisa lihat bahwa “undang-undang” atau “aturan” pemilihan tidak mengikuti aturan baku karena memang tidak pernah ada aturan baku sebelumnya! Undang-undang atau aturan pemilihan hanya mengikuti perkembangan politik terkini saat itu!
.
Argumen atau alasan yang paling baik yang bisa diajukan kelompok Ahlu Sunnah demi membendung keheranan dan keberatan kelompok lain ialah bahwa mengangkat khalifah itu adalah sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya sampai orang-orang pada waktu itu mengabaikan dan menelantarkan keawajiban untuk mengurus jenazah Nabi yang suci. Para elit politik pada waktu itu malah secara sembunyi-sembunyi pergi ke Saqifah Bani Saidah untuk menetapkan khalifah penerus kepemimpinan umat Islam. Dari titik poin ini, kelompok Ahlu Sunnah berketetapan bahwa memilih khalifah itu adalah kewajiban umat
.
Akan tetapi sekali lagi mereka gagal membuktikan bahwa pemilihan khalifah di Saqifah itu adalah benar-benar pemilihan yang diketahui oleh umum (ingat! mereka bilang itu kewajiban umat!).
Kelompok pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) menganggap pemilihan Abu Bakar itu sebagai pemilihan ilegal dan bertentangan dengan Islam; sementara itu kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) menganggap itu legal dan benar. Bagaimana kelompok Ahlu Sunnah bisa membuktikan bahwa klaim mereka itu benar?
.
Kita bisa merangkum klaim mereka dengan sebuah peribahasa:
“TINGKAHKU INI BENAR KARENA AKU TELAH MELAKUKANNYA”
Pengadilan mana yang bisa membenarkan pernyataan tersebut di atas????????
————————————————————————————————————————-
ULASAN:
1. Klaim Ahlu Sunnah sangat lemah untuk menyebut tiga khalifah pertama sebagai khalifah yang sah karena sistem pemilihan mereka sangat berbeda dari satu pemilihan ke pemilihan yang lainnya
2. Kaum Ahlu Sunnah tidak bisa membuktikan bahwa ada undang-undang pemilihan sebelumnya yang akan dipakai untuk memilih khalifah
3. Pemilihan khalifah itu bukan seperti permainan anak-anak. Ini masalah serius. Tidak mungkin aturan dibuat mendadak dan tergesa-gesa tanpa sosialisasi kepada umat. Ingat! Hasil pemilihan itu harus dipertanggung jawabkan kepada umat (ingat! Kelompok Ahlu Sunnah percaya bahwa ini hak dan kewajiban umat, jadi wajar kalau umat harus—paling tidak—diberitahu tentang ini)
4. Perbedaan tata cara pemilihan khalifah itu menyiratkan bahwa tata cara itu ilegal dan tidak mengikuti syariat Islam karena syariat Islam pastilah memberlakukan satu sistem yang baku dan tegas dan tidak pernah berubah-ubah
.
AKIBAT BURUK DARI SISTEM KHILAFAH YANG AMBURADUL
Marilah kita kesampingkan dulu pembahasan akademis dari metoda pemilihan khalifah ini yang memang susah sekali untuk dicarikan dalil dan hujah untuk membenarkan sistem-sistem yang dipakai oleh para elit politik Madinah waktu itu untuk mengejar dan meraih jabatan khalifah. Marilah kita bahas dampak buruk yang timbul karena sistem khilafah yang amburadul itu. Kita akan bicarakan dampaknya terhadap mental kaum Muslimin dan terhadap kepemimpinan
.
Dalam kurun waktu tiga puluh tahun setelah Rasulullah wafat, setiap elit politik di kota Madinah menggunakan berbagai macam cara untuk merealisasikan ambisinya menduduki dan mengangkangi kursi khilafah. Berbagai macam cara mereka lakukan seperti sistem pemilihan (walaupun yang memilih cuma beberapa gelintir itupun memakai cara ancaman dan kekerasan); syura (memilih lewat dewan pemilih yang sekaligus calon yang bakal dipilih); atau pengangkatan langsung lewat surat penunjukkan; dan lewat kekuatan militer yang mengutamakan kemenangan dalam medan peperangan atau stratedi peperangan. Akibatnya yang langsung terasa ialah setiap orang berbondong-bondong terinspirasi untuk mendapatkan kursi khilafah yang sekaligus “pemimpin agama” di dunia Muslim. Dengan ini umat disibukkan untuk berpikir keras mendapatkan kursi khilafah itu baik dengan mencalonkan diri (dengan malu-malu) atau dengan mendukung calon yang mereka anggap layak untuk jabatan itu. Ini menimbulkan ketidak stabilan politis di dunia Muslim dari dulu hingga sekarang. Setiap pemimpin Muslim, sebagai seorang Muslim, yang telah dididik bahwa “kekuatan militer” itu adalah cara yang konstitusional untuk mendapatkan khilafah (seperti Mu’awiyyah) akan mencoba untuk melemahkan kekuatan para pemimpin atau tokoh agama sesama Muslim lainnya agar hanya dialah yang tersisa yang masih memiliki kekuatan militer yang tangguh agar nantinya dengan gampang ia akan menjadi kekuatan satu-satunya yang menonjol di wilayah itu (di dunia moderen anda bisa mengambil contoh Saddam Husein sebagai contoh yang paling shahih—red). Dengan perlombaan pengarus kekuatan militer ini, kaum Muslimin akan menjadi lemah karena tidak bersatu di bawah satu bendera. Mereka terkotak-kotak dan masing-masing kelompok memusuhi kelompok lainnya yang memiliki pemimpin yang berbeda dengan mereka.
Sebelum melangkah terlalu jauh, mari kita melihat lagi pada jaman sahabat ketika keempat sistem (sebetulnya lima karena ada sistem yang lain yaitu sistem pemilihan langsung oleh umat seperti yang terjadi pada diri Imam Ali yang ditunjuk oleh umat secara suka rela tanpa paksaan dan tanpa intrik politik—red) dan dampak langsungnya tepat ketika sistem itu ditemukan oleh para penemunya. Keempat sistem yang bid’ah itu mendorong orang untuk memilih siapa saja tanpa melihat kualitas dan karakter dari orang yang akan dipilihnya itu. Orang yang memiliki kualitas sangat buruk bisa saja melenggang menjadi khalifah asalkan ia bisa terpilih paling tidak dengan salah satu sistem yang ditemukan oleh para elit politik Madinah itu
.
Mu’awiyyah bin Abu Sofyan telah mengangkat anaknya yaitu Yazid bin Mu’awiyyah (mengkopi cara Abu Bakar ketika menunjuk Umar secara langsung oleh dirinya sendiri—red). Mu’awiyyah menggunakan juga kekuatan militernya yang tak tertandingi pada waktu itu untuk menakut-nakuti dan mengancam orang agar orang itu berbai’at kepada Yazid, anaknya. Karena “pengangkatan” Mu’awiyyah itu dianggap konstitusional oleh para elit politik dan sebagian umat Islam, maka khalifah Mu’awiyyah juga boleh memilih calon penggantinya karena dulu Abu Bakar juga memilih calon penggantinya yaitu Umar bin Khattab
.
Sekarang kita lihat siapakah Yazid bin Mu’awiyyah yang menjadi khalifah selanjutnya. Apakah ia memiliki karakter dan sifat yang baik untuk dijadikan khalifah? (Ahlu Sunnah berpendapat bahwa khalifah atau pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti Amanah, Fathonah, ‘Adalah, dan lain sebagainya—red) Kita ternyata dihadapkan kepada kenyataan yang pahit. Yazid bin Mu’awiyyah adalah orang yang sama sekali menolak kenabian dari Rasulullah al-Mustafa. Dia menyatakan keyakinannya dalam sebuah puisi sebagai berikut:

“Bani Hasyim telah bermain peran
Untuk mendapatkan kursi kerajaan
Sebenarnya tak pernah ada yang namanya utusan Tuhan
Yang mendapatkan wahyu bimbingan untuk disampaikan”
(LIHAT: Sibt ibn Al-Jawzi: Tadzkirah, edisi S.M.S Bahru ‘l ‘Ulum, halaman 261. [lihat juga: Tabari: at-Tarikh, volume 13, halaman 2174])
.
Yazid juga tidak pernah percaya dengan HARI PENGHISABAN. Ia seringkali berkata:
“Wahai cintaku! Janganlah percaya bahwa engkau akan bertemu denganku setelah kematian, karena apa yang telah mereka katakan kepadamu tentang hari kebangkitan setelah mati untuk menghadapi hari penghisaban itu hanyalah cerita bohong belaka yang akan membuat hatimu lupa akan kesenangan dunia yang lebih nyata.”
(LIHAT: Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, halaman 291)
.
Setelah mendapatkan kekhalifahan (khilafah), Yazid secara terbuka mempermainkan shalat. Ia juga menghina lambang-lambang keagamaan seperti misalnya memakaikan jubah yang biasanya dipakai oleh para ulama atau kaum agamawan pada waktu itu kepada binatang peliharaannya yaitu anjing dan kera. Berjudi dan bercanda dengan beruang adalah salah satu kegemarannya di waktu senggang. Yazid menghabiskan waktunya dengan minum minuman keras tanpa peduli tempat dan waktu. Ia tidak ragu-ragu untuk menengak minuman kerasnya itu. Yazid tidak pernah menghargai kaum wanita; bahkan kaum wanita yang secara hubungan keluarga masih dekat atau sangat dekat dengannya seperti ibu tirinya, adiknya, bibinya, dan puteri kandungnya sendiri. Menurut Yazid mereka semua sama dan dapat diperlakukan sama
.
Yazid pernah mengirimkan tentaranya ke kota Madinah. Kota suci Nabi itu dijarah habis. Tiga ratus perempuan yang masih gadis dan juga kaum wanita lainnya diperkosa oleh bala tentaranya. Tiga ratusqurra (pembaca) Qur’an dan tujuh ratus sahabat Nabi tercatat oleh sejarah dibunuh secara kejam oleh bala tentaranya.
Mesjid suci Nabawwi ditutup selama beberapa hari; tentara Yazid menggunakan tempat itu sebagai kandang kuda. Anjing-anjing juga dimasukkan kesana dan mimbar nabi dikotori dengan kotoran hewan
.
Akhirnya, komandan pasukan Yazid memerintahkan masyarakat kota Madinah untuk berbai’at kepada Yazid dengan kalimat bai’at seperti ini:
“Kami ini para budak dari Yazid; terserah dirinya apakah kami akan dibebaskan atau dijual di pasar budak.”
Diantara mereka yang berbai’at ada yang mau memberikan bai’atnya kepada Yazid asalkan Yazid bersedia mengikuti hukum yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan mengikuti Sunnah Nabi
.
Mereka yang memberikan syarat itu akhirnya dihukum mati oleh Yazid.
Pada suatu waktu Rasulullah pernah bersabda, “Semoga Allah mengutuk dia yang menakut-nakuti penduduk kota Madinah!”
————————————————————————————————————————-
LIHATLAH RUJUKAN BERIKUT INI:
1. as-Suyuti: Tarikhu ‘l-khulafa, halaman 209, [lihat juga  terjemahan bahasa Inggris Major H.S. Jarret, halaman 213])
2. Abu ‘l-Fida: at-Tarikh, volume 1, halaman 192
3. Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, halaman 288
4. Mir Khwand: Rawdatu ‘s-Safa, volume 3, halaman 66
5. Ibn Hajar al-Haytami: as-Sawa’iqu ‘l-muhriqah, halaman 79
————————————————————————————————————————-
Kemudian pasukan Yazid itu (dibawah perintah Yazid) berangkat menuju kota Mekah. Kota tersuci, rumah Allah yang paling keramat dikepung oleh tentara Yazid. Tapi tentara Yazid tidak bisa memasuki kota itu. Akhirnya mereka menggunakan manjaniq (ketapel besar yang bisa melontarkan batu yang besar yang dulu digunakan oleh angkatan bersenjata jaman dulu). Dengan ketapel manjaniq ini, pasukan Yazid melontarkan batu-batu besar dan obor-obor besar yang sudah dinyalakan ke arah Ka’bah. Kiswah (kain penutup Ka’bah) terbakar hebat dan sebagian dari bangunan Ka’bah hancur berantakan…………………..

Jangan Waspada ! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Syi’ah Iran (membantah gensyiah.com)

buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku yang diberi Kata Pengantar oleh Ketua PBNU, Prof KH Said Agil Siraj
1 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)
Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2007)
1 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)

Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham

Syi’ah Iran ???

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” –selanjutnya disingkat dengan SBSSW–

penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158)

.
Dalam bukunya dia berkata: “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224).

dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama.” Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi.

Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al Asyraf, namun hanya sampai di As Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105).

pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208).

Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201).

Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205).

mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222).

si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi –sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya-, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223).

Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar.” Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184).

si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun.

sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236).

perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al Qur’an, Sunnah Rasul SAW, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211).

Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan.” Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106).

Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224)

.

menjawab :

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html

1 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)

KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini dengan menulis komentar di sampul belakang: “Buku ini layak dibaca oleh siapapun.”

beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Bisakah di sini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah?

Tidak kalah dari KH. Makruf Amin, Ustadz Muhammad Arifin Ilham menulis: “Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun, penuh kasih sayang.”

BROSUR BEDAH BUKU1 Parade Bedah Buku Membongkar Aurot Trilogi Buku Karya Syaikh Idahram

Buku ini berisi Diantaranya adalah mempromosikan ajaran-ajaran Syiah ???

Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal ini:.

1 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)
1. Menyebut Kota Qum Kota suci Syiah, Iran

Di halaman 68-69 penulis buku yang menamakan diri sebagai Syaikh Idahram dan yang menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai ustadz kampung (halaman 31),

2. Menyebut wasiat Nabi kepada Ali di Ghadir Khum beserta perayaannya (hari raya id al-Ghadir) 

hadits Ghadir ada kaitannya dengan Khilafah Ali

3. Menyebut Najaf dengan gelar al-Asyraf

Perhatikan kalimat berikut ini:

“Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al-Asyraf, namun hanya sampai di As-Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105). Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al-Asyraf.[Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena di sana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al-Haram As-Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al-Asyraf (artinya, lebih mulia atau paling mulia).]

Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu seperti surat  milik ulama mereka Shadiq al-Ruhani (mengaku sebagai murid Abul Hasan al-Ishfahani) berikut ini:

2 283x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)3 300x225 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)4 300x170 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)

 4. Menyesalkan penghancuran kuburan dan menganggap menghancurkannya adalah kejahatan, ini satu bukti bahwa sebenarnya syiah itu  mengikut ahlul bait-.
Di halaman 136 penulis menyebutkan: “6. meratakan kuburan para imam yang sangat dihormati kaum syiah dan umat Islam dunia, khususnya di makam al-Baqi`.

5. Meratapi kubah-kubah kuburan dan menyebut Abdul Muththalib dan Abu Thalib dengan sayyidina. Di halaman 106 ditulis; saat salafi wahabi berkuasa  berbagai operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan. Diantaranya adalah pemusnahan apa saja yang ada di ma’la, sebuah kawasan pekuburan Quraisy yang terdiri dari kubah-kubah yang pegitu banyak, termasuk kubah sayyidina Abd al-Muththalib (kakek Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan sayyidina Abi Thalib…”

penulis yang memiliki ilmu tentu sudah tahu bahwa Abu Thalib adalah mati dalam keadaan islam sebagaimana yang dikatakan oleh putranya sendiri yaitu Khalifah Ali –ini bukti bahwa syiah itu mengikut ahlul bait, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-.

6. Mengangkat madzhab Ja’fari dan madzhab Imamiyyah.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis buku SBSSW berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh-Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208).

 Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. 

 

7. Memusuhi Syaikh ibn Jibrin dan menolak fatwa wajibnya jihad melawan syiah.

Di halaman 181 ada judul pembahasan “Di antara Fatwa dan Pendapat Salafi Wahabi Yang menyimpang” pada no.5: disebutkan: Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin: Fatwa Jihad terhadap Syiah dan wajib melaknat mereka.

Untuk mengenang kebaikan Khomeini  berikut ini perbandingan antara Jenazah Syaikh ibn Jibrin rahimahullahdan  penta’ziyah ahlussunnah dengan Jenazah Khumaini dan orang-orang syiah yang melayatnya :

5 146x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)

8. Menolak fatwa bolehnya menipu syiah
Penulis menyebutkan bahwa syaikh Aidh al-Dusari menfatwakan bolehnya menipu syiah. (SBSSW , halaman 181)

Imam Ali AS Tokoh Pemersatu Islam Yang Dikhianati..

sampul 4Pembaca budiman, untuk mewujudkan persatuan yang dicita-citakan, paling tidak ada dua hal yang mesti di perhatikan.

Pertama, niat tulus dari berbagai pihak dan kalangan dalam merealisasikannya.

Kedua, keterbukaan terhadap pemahaman dan pandangan orang yang berbeda dengan kita. Sikap keterbukaan di kalangan umat Islam, sebetulnya bukan hal yang baru, hal ini bisa kita lacak dari kisah kehidupan para ulama dan Imam-Imam Mazhab dahulu, yang senantiasa saling menghargai, saling memahami dan salingtakzim di antara mereka.

sampul 2

Perbedaan yang ada, tidak membuat mereka bermusuhan, apalagi memutuskan silaturrahmi. Zaman kegelapan Islam terjadi, ketika umat Islam terperosok dalam kotak-kotak mazhab yang sempit. Saat dimana pikiran kritis dibungkam, perbedaan paham dianggap tabu, dan yang pahamnya tidak sama dianggap sesat. Orang Islam tidak lagi belajar dari seluruh pelosok bumi, bahkan tidak ingin belajar dari saudara-saudara mereka sendiri yang berlainan mazhab. Maka sejak itu tirai ketertutupan jatuh menutupi jendela dunia umat

.

Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, kini sudah muncul pula kesadaran baru di kalangan kaum muslimin. Gelombang peradaban baru tengah lahir, yaitu peradaban Islam yang terbuka, yang mau belajar dari mana pun dan mencintai dialog

.

Fajar keterbukaan nampaknya telah terbit kembali, semoga tidak terselubungi lagi dengan tirai ketertutupan. Rasulullah SAW berkata, “Ambillah hikmah, dan tidak perlu merisaukan kamu dari mana hikmah itu keluar (Khudzil hikmah wa la yadhurruka min ayyi wia-in kharajat).”

sampul 3

Persatuan adalah merupakan hal yang begitu penting dan sangat diidam-idamkan oleh umat Islam sekarang ini. Karena betapa tidak, belakangan ini seringkali terjadi pergesekan, benturan bahkan konflik diantara sesama kaum muslimin, baik konflik yang berupa pemikiran dan pemahaman ataupun konflik yang bahkan tidak jarang pula terjadi dalam bentuk fisik dan berlangsung secara horisontal.

Tentu saja hal ini kita sesalkan, yang mana pada gilirannya akan menjadikan umat Islam terpuruk di hadapan kekuatan musuh-musuh Islam. Oleh sebab itu, kita perlu melakukan revisi ulang terhadap pandangan kita tentang apa yang selama ini didengungkan mengenaiUkhuwah Islamiah. Karena selama ini ungkapan mulia tersebut masih sebatas slogan, jargon dan penghias bibir bagi umumnya pemimpin-pemimpin Islam

.

Ukhuwah Islamiah yang ditampilkan masih sebatas lahiriah dan belum menyentuh hal-hal yang bersifat substansial. Mungkin karena itulah Al-Quran, sudah mengingatkan pada kita jauh sebelumnya dengan mengatakan, “Engkau mengira bahwa mereka itu bersatu, tetapi sesungguhnya hatinya berbeda-beda.” (QS. Al-Hasyr : 14)

.

Saat ini, jika kita ingin melihat Islam dan kaum Muslimin berjaya dan diperhitungkan oleh musuh-musuh Islam, tidak ada cara lain kecuali bersepakat dan berkomitmen untuk menggalang persatuan diantara sesama kaum Muslimin apapun mazhabnya. Dengan demikian pesan Al-Quran yang pernah diperdengarkan oleh Rasul Suci Muhammad SAW, “Innamal mukminuna ikhwah, Sesungguhnya Kaum Mukmin itu bersaudara”, dapat kita wujudkan bersama. Wallahu A’lam bisshawab.

akhir-akhir ini kita menyaksikan berbagai fenomena sosial terjadi di tengah-tengah masyarakat yang begitu mencemaskan kita semua. Dari persoalan kebangsaan, pemerintahan, sampai masalah keberagamaan. Kekerasan demi kekerasan silih berganti setiap saat, bahkan terkadang dilakukan atas nama agama, seolah tidak ada lagi cara lain dalam mengapresiasi dan mengekspresikan perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara sesama kelompok masyarakat

.

Padahal semestinya diyakini bahwa keragaman – dalam segala bentuknya – adalah suatu hal yang wajar saja, dan bukannya perpecahan yang dipercaya sebagai keniscayaan. Dari berbagai kejadian yang telah tersuguhkan dihadapan kita, satu hal yang dapat kami simpulkan, bahwa kita sekarang telah dilanda ‘krisis keteladanan’. 

Krisis keteladanan tersebut menghinggapi hampir seluruh elemen masyarakat, dari pemimpin negeri dan bangsa ini sampai pemimpin terkecil di masyarakat, dan tidak jarang pula terjadi di kalangan pemimpin umat dan agama. Akankah kita biarkan krisis seperti ini berlangsung terus menerus di negeri ini?


Dalam bentangan sejarah awal Islam, kita mengenal begitu banyak tokoh yang sangat berperan dalam mendukung penyampaian risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Salah satu sosok yang sangat monumental dalam hal ini ialah Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri kinasih Rasulullah SAW sendiri. Kita menyebutnya monumental karena pada diri beliau terdapat begitu banyak keagungan – sebagaimana Ayahandanya – yang seyogyanya kita teladani dalam kehidupan

.

Tapi siapakah Fatimah?  Boleh  jadi tidak begitu banyak kaum muslimin yang mengetahui kehidupan  dan kepribadian beliau, bahkan dari kaum perempuan sekalipun. Apalagi di zaman sekarang ini, dimana ketokohannya sudah digantikan oleh figur-figur perempuan yang ditampilkan oleh media massa. Namun begitu, kita tetap ingin memuaskan dahaga intelektual, spiritual, emosional atau bahkan sosiopolitis kaum muslimin terutama bagi para pecinta dan pengikutnya. Kita tidak hanya puas dengan sebatas berita bahwa beliau adalah putri Rasulullah, istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ibunda dari Sayyidina Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan seterusnya. Akan tetapi mampukah kita menguak ‘misteri’ kehidupannya? Seorang ulama bernama Syaikh Ibrahim Amini, dalam kata pengantar bukunya mengakui betapa sulitnya menulis buku tentang Fatimah Az-Zahra

.

Demikian juga yang dialami penulis lainnya, Ali Syariati, oleh karenanya setelah sedikit menjelaskan tentang Az-Zahra, Syariati berkomentar pendek Fatimah is Fatimah. Walaupun begitu, oleh Nabi SAW disebut sebagai Sayyidah Nisa al-Alamin, Penghulu perempuan sepanjang zaman, baik bagi kaum muslimin bahkan buat seluruh umat manusia. Masih enggan kah kita mencari tahu  diri serta kepribadiannya untuk kita jadikan inspirasi dalam kehidupan kita?

Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalam


Imam Khomeini sang Sufi Revolusioner mengajarkan makna tasawuf yang sebenarnya

14

Dalam beberapa waktu belakangan ini, masyarakat kita disuguhi informasi – baik lewat media cetak maupun elektronik –  seputar situasi perpolitikan  dan juga prilaku dalam berpolitik, oleh sejumlah kalangan tertentu. Pertanyaannya, adakah yang menarik dari suguhan tersebut? Adakah yang berubah dari sistem perpolitikan dan prilaku serta sikap para politisi? Dari fenomena yang ada, disertai kajian dan analisis yang kami lakukan, akhirnya sampailah pada kesimpulan sementara kami bahwa ternyata, sistem perpolitikan kita masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan dalam realitasnya

.

Perubahan kalau toh ada, hanya sebatas tataran pemikiran atau semacam konsep teoritis semata. Karena itu, tidak heran praktek-praktek kotor seperti manipulasi, kecurangan, politik uang  dan sifat-sifat sejenisnya, menjadi hal yang lumrah dan tidak mesti membuat pelakunya menjadi risih apalagi merasa malu. Sebab seperti itulah tampaknya wajah perpolitikan kita dan elit politik yang ada, termasuk para politisi yang mengatasnamakan ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam. Krisis keteladanan di kalangan pemimpin umat, sudah sampai pada tingkat yang sangat akut. Akibatnya, masyarakat dan umat Islam khususnya, sudah hampir kehilangan kepercayaan sama sekali. Seolah tidak ada lagi partai Islam dan politisi Islam yang bisa diharapkan dalam hal memperjuangkan kepentingan umat

.

Umat hanya dijadikan alat dalam mengejar kekuasaan dan kepentingannya masing-masing. Oleh sebab itu menurut hemat kami, ada baiknya kita semua, terkhusus para elit pejabat pemerintahan dan politisi, untuk mencoba belajar banyak dari sosok pribadi cemerlang Ayatullah Ruhullah Khomeini, yang telah berhasil membangkitkan Revolusi Islam di Iran.

Sebab dari kapasitas diri dan keteladanannya, beliau berhasil melakukan perubahan  konkrit dan nyata, yang pada akhirnya menciptakan sebuah sistem pemerintahan dan perpolitikan dengan berlandaskan pada nilai-nilai

.

Mencari sosok pemimpin ideal adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita, dalam berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi – saat tulisan ini dibuat – menjelang digelarnya agenda politik nasional yang begitu menentukan, yaitu pemilihan presiden untuk negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini.

James M. Burns menuliskan kalimat-kalimat untuk membuka bukunyaLeadership bahwa, “Salah satu kerinduan yang paling universal pada zaman ini ialah kerinduan akan kepemimpinan yang memikat dan kreatif … Para pemimpin raksasa telah melintas cakrawala budaya, politik dan intelektual kita. Sebagai pengikut, kita mencintai dan mengecam mereka. Kita berbaris untuk mereka dan berperang untuk mereka. Kita mati demi mereka dan kita membunuh sebagian mereka. Kita tidak dapat mengabaikan mereka.”

.

 Karena kita selalu merindukan pemimpin, maka olehnya itu kita tidak dapat mengabaikan begitu saja kehadiran mereka. Kita selalu harus menentukan sikap terhadap mereka : cinta atau benci, mendukung atau menentang, menerima atau mempermasalahkan. Sebagai umat Islam, kita tentu berharap akan lahirnya sosok pemimpin negeri yang memiliki legitimasi  kuat di tengah-tengah masyarakat, disebabkan karena kapabilitasnya, kapasitas dan kemampuannya serta kepribadiannya yang bersih dan terjaga dari berbagai pelanggaran dan penyelewengan.

Dan satu hal yang mesti diingat, bahwa pertanggungjawaban seorang pemimpin bukan hanya kepada rakyat yang dipimpinnya, tapi lebih dari itu akan dimintai tanggung jawabnya pada Pengadilan Ilahi di hari akhir nanti. Pada saat itulah akan terungkap dengan sangat jelas siapa diantara mereka betul-betul menjalankan amanah yang dititipkan padanya dan siapa yang mengingkarinya

.

Persoalan kepemimpinan memang menjadi persoalan yang begitu penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berkelompok pada umat manusia. Dari komunitas yang paling kecil  seperti keluarga, RT, RW, dan semacamnya, hingga masyarakat yang lebih luas, kesemuanya membutuhkan sosok pemimpin dalam mengatur segala hal berkenaan dengan kebutuhan dari komunitas tersebut.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita. Ramainya bursa caleg beberapa waktu lalu serta sibuknya politisi  sekarang ini mempersiapkan Pemilu Presiden yang akan datang, menunjukkan betapa orang-orang sangat memikirkan hal yang satu ini

.

Lantas bagaimana manusia memikirkan tentang Kepemimpinan Ilahiah? Apakah juga seserius ketika mengurusi kepemimpinan duniawi? Ataukah masalah ini tidak menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Padahal, Kepemimpinan Ilahiah inilah yang merupakan Kepemimpinan Hakiki yang akan menuntun dan mengantarkan kita umat manusia dalam perjalanan yang diridhai menuju Tuhan. Tanpa ini, rasanya sulit kita menjumpai Tuhan serta mendapatkan keridhaan-Nya.  Kepemimpinan Ilahiah tidak didapatkan dari proses pemilu yang menghabiskan dana begitu besar, melainkan melalui seleksi langsung dari Tuhan, Zat satu-satunya yang punya otoritas di alam semesta ini, dalam menentukan  siapa yang pantas menjadi Khalifah-Nya. Dan lewat andil para Insan Kamil lah, alam semesta ini akan terbimbing dari zaman ke zaman hingga berakhirnya kehidupan.

sampul 1

Berawal dari diskusi ringan mengenai berbagai khazanah pemikiran Islam, muncullah ide dan gagasan untuk melahirkan media sederhana ini. Dan alhamdulillah, setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya dapat juga terwujud dengan nama MITSAL. Istilah Mitsal sering ditemukan dalam wacana kajian filsafat Islam, yang menunjukkan tingkatan ‘Alam’, selain Alam Materidan Alam AkalAlam Mitsal yang juga bermakna Alam Barzakh, adalah merupakan Alam Penghubung, antara alam materi dengan alam akal, antara alam rendah ke alam yang lebih tinggi. Karenanya, dengan filosofi seperti itulah Mitsal ingin hadir menjadi penghubung, perantara, wasilah, dalam mentransformasikan dan mensosialisasikan gagasan-gagasan keislaman yang bersifat ilmiah, logis, rasional dan mencerahkan. Apalagi belakangan ini kita merasakan meningkatnya antusiasme kaum muslim, terutama generasi mudanya, terhadap ajaran-ajaran agama Islam. Keadaan semacam ini tentu saja patut kita syukuri

.

Namun, gejala semacam ini tidak mustahil mengandung bahaya yang serius, jika tidak tersalurkan secara memadai. Harapan kami, langkah ini dapat menjadi bagian dari kontribusi awal, dalam upaya membangkitkan minat kaum muslim terhadap aktivitas-aktivitas intelektual keislaman di masa akan datang.

Bagi para pecinta Al-Husain, duka cita dalam rangka mengenang syahadah beliau belum sepenuhnya berakhir setelah peringatan Asyura, akan tetapi berlanjut hingga 40 hari setelahnya, yang dikenal dengan hari Arbain. Madrasah Karbala memang tidak akan pernah mati dan habis untuk kita kaji dalam upaya mengambil manfaat serta hikmah dibalik peristiwa besar tersebut. Karena syahadah Al-Husain beserta keluarga dan sahabatnya, membangunkan manusia dari mimpi, kepedihannya memiliki kemampuan untuk membangkitkan kesadaran ruhaniah terdalam pada diri setiap insan. Adalah pesan dan kebangkitan Al-Husain lewat madrasah Karbala, yang mengembalikan kehormatan dan tanggung jawab umat. Adalah teladannya yang memberikan kekuatan dan memberi dorongan kepada umat untuk melawan tirani dan kebatilan serta berdiri menentang penyelewengan. Adalah Al-Husain dan madrasah Karbala yang telah meninggalkan simbol bagi generasi-generasi yang telah bekerja untuk menyapu bersih akar-akar penyimpangan dan menyemaikan kembali benih cinta pada kebenaran, kebajikan  dan petunjuk di tengah-tengah masyarakat

.

Sebab itu, menjadi relevan untuk mengambil ibrah dari madrasah Karbala untuk negeri kita yang dipenuhi hiruk pikuk masalah di kalangan elit penguasa dan pemerintahan yang tak berpihak pada umat dan rakyat, agar dapat belajar menjadi pemimpin-pemimpin yang dapat dipanuti dan diteladani. Ya, syahidnya Al-Husain di Padang Karbala sudah semestinya menjadi energi bagi umat untuk terus berjuang membangun masa depan yang lebih baik, dan jauh dari penindasan, kezaliman serta ketidakadilan.  Wallahu a’lam bisshawab.

Sejak awal, Islam memandang posisi pemuda sangat penting dan strategis. Betapa tidak, karena pada merekalah harapan dan impian tentang masa depan digantungkan oleh sebuah komunitas,  sebuah bangsa ataupun sebuah ajaran.  Demikian halnya dalam Islam, kita mengenal sebagian dari perjalanan sejarah beberapa tokoh pemuda yang telah memberikan andil dan perannya dalam berbagai peristiwa penting yang menyertai perjuangan Rasulullah SAW. Tentu kita tidak dapat melupakan begitu saja, sebuah kejadian yang sangat mendebarkan di saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw menggantikan posisi tidur Nabi SAW untuk menjemput kematian, ketika beliau hendak melakukan hijrah. Begitu pula dengan peristiwa ketika Rasulullah SAW menunjuk Usamah – yang saat itu berusia masih sangat belia – untuk memimpin sebuah ‘ekspedisi’ penting ketika itu. Kedua tokoh muda ini, bisa berkontribusi sedemikian itu, karena telah melalui proses penempaan diri. Al-Quran memberikan model yang dapat dijadikan rujukan dalam hal ini

.

Pertama, Model Nabi Ibrahim as, adalah model orang yang terpanggil rasa ingin tahunya, yang dengan itu ia mendekatkan diri pada Tuhan-Nya. Ini menggambarkan pemuda yang tidak henti-hentinya untuk mencari kebenaran dan ilmu pengetahuan. Kedua, Model Nabi Yusuf as, adalah model pemuda yang senantiasa mempertahankan kesucian moral, yang bagi pemuda lainnya mungkin akan menjerumuskan. Ketiga, Model Ashabul Kahfi, yaitu mirip dengan model pemuda pada Sumpah Pemuda, yang tidak puas dengan sistem. Dan karena tidak bisa merombak sistem itu, maka mereka mempertahankan imannya dengan berhijrah, namun komitmennya tetap pada keinginan untuk merubah sistem.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Syi’ah menentang kezaliman, sunni patuh pada pemimpin selama mereka masih shalat ?

Bagi para pecinta Al-Husain, duka cita dalam rangka mengenang syahadah beliau belum sepenuhnya berakhir setelah peringatan Asyura, akan tetapi berlanjut hingga 40 hari setelahnya, yang dikenal dengan hari Arbain. Madrasah Karbala memang tidak akan pernah mati dan habis untuk kita kaji dalam upaya mengambil manfaat serta hikmah dibalik peristiwa besar tersebut. Karena syahadah Al-Husain beserta keluarga dan sahabatnya, membangunkan manusia dari mimpi, kepedihannya memiliki kemampuan untuk membangkitkan kesadaran ruhaniah terdalam pada diri setiap insan. Adalah pesan dan kebangkitan Al-Husain lewat madrasah Karbala, yang mengembalikan kehormatan dan tanggung jawab umat. Adalah teladannya yang memberikan kekuatan dan memberi dorongan kepada umat untuk melawan tirani dan kebatilan serta berdiri menentang penyelewengan.

Adalah Al-Husain dan madrasah Karbala yang telah meninggalkan simbol bagi generasi-generasi yang telah bekerja untuk menyapu bersih akar-akar penyimpangan dan menyemaikan kembali benih cinta pada kebenaran, kebajikan  dan petunjuk di tengah-tengah masyarakat. Sebab itu, menjadi relevan untuk mengambil ibrah dari madrasah Karbala untuk negeri kita yang dipenuhi hiruk pikuk masalah di kalangan elit penguasa dan pemerintahan yang tak berpihak pada umat dan rakyat, agar dapat belajar menjadi pemimpin-pemimpin yang dapat dipanuti dan diteladani. Ya, syahidnya Al-Husain di Padang Karbala sudah semestinya menjadi energi bagi umat untuk terus berjuang membangun masa depan yang lebih baik, dan jauh dari penindasan, kezaliman serta ketidakadilan.  .

Bumi dan langit beserta isinya, sebagai saksi yang jujur dan selalu menyaksikan adegan-adegan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan serta penindasan yang kuat atas yang lemah. Kezaliman selalu harus berhadapan dengan keadilan  dan masing-masing dari keduanya memiliki pengikut dan pembela. Yang satu berusaha untuk mengenyahkan yang lain. Ketika kezaliman muncul maka keadilan diinjak-injak dan saat keadilan tegak maka kezaliman tersingkirkan. Umat manusia dihadapkan dua pilihan : membela keadilan atau memihak kezaliman.

Dan memilih salah satunya, menuntut konsekuensi dan resiko tersendiri. Gugurnya Sayyidina Husain beserta keluarga dan para sahabat setianya sebagai syuhada adalah resiko dan konsekuensi yang paling tinggi dan besar sepanjang sejarah umat Islam yang harus diterima oleh pihak yang membela kebenaran dan keadilan. Karena itulah, peristiwa Asyura dan Karbala akan selalu terngiang di telinga kita, apalagi di saat seperti sekarang ini, dimana keadilan dan kebenaran sudah terinjak-injak bahkan telah terkubur, sedangkan kezaliman dan kebatilan makin perkasa dan congkak. Namun, Sayyidina Husain telah mendemonstrasikan kepada dunia bahwa kebenaran dan keadilan harus dibela meski dengan mempersembahkan pengorbanan yang sedemikian dahsyat.  Panggilan Al-Husain , “Apakah masih ada orang yang akan membelaku dan mengikutiku?”, akan terus dikumandangkan sepanjang masa dan ke seluruh penjuru dunia, termasuk di negeri yang kita cintai ini. Pertanyaannya, apakah kita akan menyahuti panggilan tersebut atau tidak, semua itu bergantung pada pilihan sadar kita masing-masing serta siapkah kita untuk berkorban demi tegaknya keadilan dan kebenaran.

PERDAMAIAN! Secara sepintas, mungkin itulah yang paling diinginkan oleh semua orang ketika menengok dan melihat apa yang terjadi di Palestina. Impian dan keinginan tersebut tentu saja merupakan hal yang wajar, karena betapa tidak, puluhan tahun dalam situasi perang terus berlangsung di hampir seluruh waktu yang mereka lalui. Sebagian orang tentu juga akan bertanya-tanya, mengapa konflik Palestina tidak kunjung selesai? Pertanyaan yang sama juga pernah ada dalam pikiran kami. Namun, setelah sedikit mencermati kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa, yang berlangsung di sana, maka yang bisa disimpulkan sementara adalah bahwa perdamaian merupakan hal yang mustahil bisa dicapai, kalau ketidakadilan masih saja dilakukan sepanjang waktu oleh rezim zionis Israel. Bagi warga Palestina, bagaimana mungkin upaya perundingan menuju perdamaian itu akan menjadi pilihan mereka, sementara tanah-tanah yang mereka huni dan tempati sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, kini sejengkal demi sejengkal dirampas oleh komunitas asing dari belahan dunia lain, lantas dengan tanpa rasa kemanusiaan, mereka terusir dari tanah mereka sendiri, kemudian di depan matanya tanah mereka dikuasai. Perjalanan sejarah Palestina tidak berakhir sampai di situ, tetapi bahkan menjadi awal malapetaka berkepanjangan yang dialami mereka. Sejak itu, pembantaian, kekejian, kezaliman, penindasan, terus berlangsung tanpa henti. Lalu dengan realitas seperti itu, apakah kita masih juga berharap perdamaian terjadi? Imam Khomeini sebagai pemimpin besar dunia adalah orang yang paling pertama menyikapi rezim penjajah di Palestina. Dalam berbagai pernyataannya, beliau selalu menegaskan kewajiban jihad bagi seluruh umat Islam untuk membebaskan Palestina, mendukung kelompok-kelompok pejuang Palestina dan pentingnya memerangi zionis. Semua itu dilakukan Imam Khomeini agar opini publik dunia terus mengingatnya.

“Menembus Blokade Israel Terhadap Palestina!” Itulah kampanye yang didengungkan dari para relawan kemanusiaan yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Apa yang membuat mereka terpanggil untuk ikut bersama dalam upaya perjuangan tanah Palestina tersebut? Alasan utamanya tidak lain karena rasa kemanusiaan mereka terusik. Manusia yang memiliki hati nurani, tentu tidak tega melihat sesamanya manusia ditindas, dizalimi dan diperlakukan tidak adil, apalagi dipertontokan di hadapan kita. Betapa tidak, sejak pertengahan 2007, Jalur Gaza di Palestina yang dihuni oleh lebih dari 1,5 juta orang, diblokade dari darat, laut dan udara. Akses penduduknya dibatasi oleh tentara pendudukan Israel. Banyak orang menyebut wilayah jalur pantai ini sebagai “penjara paling besar di dunia” (the biggest prison in the world). Seluruh dunia berteriak – kecuali mereka yang tidak memiliki rasa kemanusiaan – atas kebiadaban yang dilakukan rezim zionis Israel. Karena itulah secara bersama, dalam komando yang satu, mereka bangkit menyuarakan kepeduliannya atas penderitaan serta penindasan yang dialami rakyat Gaza Palestina. Apa yang dialami oleh para relawan kemanusiaan beberapa waktu lalu, yang disergap dan diserang oleh tentara zionis secara brutal, telah menunjukkan kepada kita semua, bahwa dimensi kemanusiaan pada diri mereka telah hilang dan digantikan oleh unsur hewani dengan sifat kebinatangan. Walaupun begitu, denyut perlawanan rakyat Palestina adalah sebuah keharusan sejarah dan kemestian dari sebuah pilihan yang sadar. Dan bahwa pergolakan tersebut dalam rangka menghadapi kezaliman tidak boleh padam dan berhenti, akan tetapi harus terus dilanjutkan hingga kemenangan atas nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kebebasan serta kemerdekaan – khususnya bagi rakyat  Palestina –  diraih dan tercapai.  Wallahu a’lam bisshawab.


Dalam bentangan sejarah awal Islam, kita mengenal begitu banyak tokoh yang sangat berperan dalam mendukung penyampaian risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Salah satu sosok yang sangat monumental dalam hal ini ialah Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri kinasih Rasulullah SAW sendiri. Kita menyebutnya monumental karena pada diri beliau terdapat begitu banyak keagungan – sebagaimana Ayahandanya – yang seyogyanya kita teladani dalam kehidupan. Tapi siapakah Fatimah?  Boleh  jadi tidak begitu banyak kaum muslimin yang mengetahui kehidupan  dan kepribadian beliau, bahkan dari kaum perempuan sekalipun. Apalagi di zaman sekarang ini, dimana ketokohannya sudah digantikan oleh figur-figur perempuan yang ditampilkan oleh media massa. Namun begitu, kita tetap ingin memuaskan dahaga intelektual, spiritual, emosional atau bahkan sosiopolitis kaum muslimin terutama bagi para pecinta dan pengikutnya. Kita tidak hanya puas dengan sebatas berita bahwa beliau adalah putri Rasulullah, istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ibunda dari Sayyidina Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan seterusnya. Akan tetapi mampukah kita menguak ‘misteri’ kehidupannya? Seorang ulama bernama Syaikh Ibrahim Amini, dalam kata pengantar bukunya mengakui betapa sulitnya menulis buku tentang Fatimah Az-Zahra. Demikian juga yang dialami penulis lainnya, Ali Syariati, oleh karenanya setelah sedikit menjelaskan tentang Az-Zahra, Syariati berkomentar pendek Fatimah is Fatimah. Walaupun begitu, oleh Nabi SAW disebut sebagai Sayyidah Nisa al-Alamin, Penghulu perempuan sepanjang zaman, baik bagi kaum muslimin bahkan buat seluruh umat manusia. Masih enggan kah kita mencari tahu  diri serta kepribadiannya untuk kita jadikan inspirasi dalam kehidupan kita? Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalam

Setelah Imam Husain, keluarga dan sahabat-sahabat-nya, menjadi tumbal sejarah dan perubahan, maka perjalanan keluarga Rasulullah tidak serta merta berakhir. Justru dengan kesyahidan Imam Husain, penghulu para syuhada tersebut, menjadi titik awal menggaungnya kembali misi Ilahiah  yang telah dirintis oleh kakek beliau, Rasul Karim Muhammad SAW, tapi kemudian di selubungi oleh motif-motif pribadi dan kekuasaan oleh orang-orang yang mengaku diri sebagai umat Muhammad juga. Sehingga kebenaran dan kesucian misi Rasulullah ketika itu menjadi kabur dalam pandangan sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, peran Srikandi Karbala Sayyidah Zainab pasca peristiwa Asyura, menjadi sangat penting dalam menegaskan serta mengarahkan kembali umat ini untuk menyadari berbagai kekeliruan selama itu. Kita semua yang hidup di zaman sekarang ini, sudah sepantasnya mengambil posisi sebagaimana apa yang telah diperankan oleh Sayyidah Zainab. Kita mesti berjuang sekuat tenaga untuk berupaya mengambil bagian dalam menyebarkan misi Ilahiah yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW kemudian dilestarikan oleh Imam Husain dengan syahadahnya. Akankah kita biarkan para manusia pilihan tersebut menyaksikan ketidakberdayaan kita dalam membumikan nilai-nilai yang telah mereka usung? Wallahu a’lam bisshawab.

Dengarlah wahai insan ……..

Karbala tak kan sirna …….

Janganlah kau tinggalkan ……..

Tragedi duka Husaina …….


Peristiwa Imam Husain meninggalkan Mekah menuju Karbala dan terbunuh disana sebelum menyelesaikan ibadah hajinya, merupakan pelajaran yang lain disamping syahadahnya. Ibadah Haji adalah suatu kewajiban yang diperjuangkan oleh para leluhurnya. Darah pun tertumpah untuk menghidupkan tradisi ini. Imam Husain tidak menuntaskan ritus-ritus haji dan memutuskan untuk meninggalkan Mekah dan menjadi seorang Syahid. Ia tidak menyelesaikan ibadah hajinya untuk memberi pelajaran kepada para pelaku haji, yang shalat dan meyakini tradisi Ibrahim as, bahwa jika tidak ada kepemimpinan (imamah) dan tidak ada pemimpin yang sejati, jika tidak ada tujuan, jika “Husain” tidak ada di sana sementara “Yazid” ada di sana, maka melakukan tawaf mengelilingi rumah Allah adalah sama dengan melakukan tawaf mengelilingi rumah berhala. Orang-orang yang melanjutkan tawafnya sementara Imam Husain pergi ke Karbala, tidaklah lebih baik dari mereka yang bertawaf mengelilingi istana hijau Muawiyah. Apakah bedanya haji, sebagai sunnah Ibrahim as sang pembasmi berhala, dilakukan di ‘rumah Tuhan’ atau di ‘rumah manusia’? Demikianlah yang diungkapkan oleh Dr. Ali Syariati dalam salah satu bukunya. Dan Tragedi Kemanusiaan yang pernah terjadi di Karbala, tidak akan pernah hilang dan terhapus dalam ingatan umat manusia, khususnya pecinta-pecinta sejati Rasulullah SAW. Tetapi ia akan selamanya hidup dan bahkan akan terus membakar jiwa serta semangat para pejuang-pejuang kebenaran di mana pun mereka berada. Orang yang mengaku sebagai pecinta Rasulullah namun tidak mampu merasakan kepedihan yang menimpa keluarga Rasulullah di Karbala, maka bisa dipertanyakan siapa sesungguhnya yang mereka cintai. Wallahu a’lam bisshawab. Wassalam

Palestina kembali bergejolak belakangan ini. Bagaimana tidak, Masjid Al-Aqsha yang pernah menjadi kiblat kaum muslimin di seluruh dunia, ingin dikuasai oleh tentara zionis Israel. Apa yang menyebabkan Israel begitu leluasa menguasai dan mencaplok tanah Palestina? Jawabannya boleh jadi, Pertama; karena kekuatan Islam secara umum begitu lemah sehingga tidak diperhitungkan lagi oleh zionis Israel. Kedua; belum terjalinnya persatuan dan kesatuan umat Islam secara nyata dalam menghadapi musuh bersama kaum muslimin. Hal ini bisa kita lihat dan rasakan langsung dalam realitas kehidupan kita sehari-hari. Betapa masih sering kita temukan sebuah kelompok Islam yang dengan mudahnya menebarkan fitnah, menyerang, menuduh sesat dan kafir kelompok Islam lainnya, hanya karena perbedaan pandangan dan pemahaman.

Ini semua terjadi, karena mereka menganggap hanya mereka satu-satunya pemilik kebenaran dan yang lainnya berada dalam kebatilan. Mereka telah menjadikan kelompok mereka sebagai tuhan-tuhan kecil  untuk menghakimi muslim yang lain.

Mereka memaksakan pemahaman dan penafsirannya tentang Islam untuk diterima semua orang. Dan kalau tidak, berarti di luar Islam, yang pada akhirnya bisa disesatkan dan dikafirkan.  Dengan situasi seperti itu, apa masih memungkinkan kaum muslimin merapatkan barisan serta menyatukan langkah dalam menghadapi kekuatan zionis Israel untuk membebaskan Palestina? Tentu saja kita tetap harus optimis, dengan syarat terlebih dahulu meninggalkan sikap dan prilaku tidak produktif tadi.

Mari suarakan terus dengan lantang, nurani umat Muhammad SAW yang hari-harinya sarat dengan penderitaan, satukan gerak bebaskan Masjid Al-Aqsha dari cengkraman zionis Israel. Mari tunjukkan SOLIDARITAS untuk SERUAN PEMBEBASAN PALESTINA!!! ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR!!!

Pada bulan Muharram yang lalu, rasanya peristiwa Karbala hadir lagi dihadapan kita, khususnya bagi pecinta Al-Husain dan pecinta kemanusiaan. Karena betapa tidak, di akhir tahun 2008 lalu, saat mayoritas orang disibukkan dengan persiapan pergantian tahun yang dipenuhi suasana suka cita yang terkadang menjurus hura-hura, maka di bumi Palestina malahan terjadi tragedi kemanusiaan yang begitu memilukan. Negara penjajah Israel kembali mengulang kekejaman dan kebiadabannya. Mereka meluluhlantakkan Kota Gaza Palestina. Ribuan orang yang meninggal dunia disamping ribuan lainnya yang luka-luka akibat serangan brutal dari tentara rezim zionis Israel. Bagi rakyat Gaza, peristiwa ini adalah serangkaian penderitaan yang tak kunjung berakhir, yang sudah mereka alami selama lebih dari enam puluh tahun. Namun begitu, perlawanan para pejuang Hamas dan rakyat Gaza terhadap kezaliman dan penindasan rezim zionis Israel, tidak juga padam. Dan memang selayaknya mereka harus bangkit mempertahankan kehormatan serta tanah air mereka dari penjajahan. Kita pun yang mencintai perdamaian dan kemanusiaan, harus pula dengan tegas mendukung perjuangan mereka dalam melawan ketidakadilan. Karena kalau tidak, maka sesungguhnya kita menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang telah menginjak-injak nilai-nilai luhur yang bersifat universal seperti kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan kemerdekaan. Mari kita satukan langkah dalam rangka mencoba memberikan harapan pada masa depan bocah-bocah Palestina yang telah mengalami penderitaan di hampir sepanjang hidup mereka, karena Karbala demi Karbala berlangsung terus di bumi Palestina. Semoga Al-Husain dan para syuhada Karbala berkenang mensyafaati mereka semua.


Di Bulan Muharram, setidaknya ada dua peristiwa besar yang terjadi. Pertama, adalah Hijrah Rasul. Sebuah peristiwa pengorbanan luar biasa oleh Kaum Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin mengorbankan dan meninggalkan segala yang mereka miliki untuk menjaga kesucian iman, sedangkan Kaum Anshar berkorban dengan keikhlasannya dalam membantu saudara-saudaranya Kaum Muhajirin. Di bawa panji-panji Islam keduanya membangun persaudaraan sejati, tersucikan dan dalam keridhaan Ilahi, dengan bimbingan Rasulullah SAW, seorang nabi dan pemimpin yang mereka cintai dan taati.

Kedua, adalah Tragedi Karbala atau yang lebih dikenal dengan Hari Asyura. Peristiwa Karbala atau Asyura merupakan hari dimana terkuburnya kebenaran dan kemanusiaan sekaligus terbantainya cucu Nabi SAW beserta puluhan keluarga dan sahabat setianya. Meskipun begitu, kesyahidan Imam Husain di Padang Karbala memberi inspirasi bagi para pejuang kebenaran dan telah menyentuh kesadaran hati manusia. Dengan peristiwa itu, Imam Husain ingin menunjukkan bahwa kezaliman sebuah rezim harus ditentang walau mengorbankan segala-galanya, baik jiwa, keluarga dan harta.

Hijrahnya Imam Husain dari Madinah ke Makkah terus ke Karbala adalah hijrahnya seorang muslim untuk sebuh penyaksian kebenaran nilai-nilai Islam. Para pengikut Imam Husain telah hijrah dari kemasyhuran nama, kemewahan harta, menuju indahnya kesyahidan. Bercermin dari peristiwa tersebut, maka sudah sepantasnya kita menyambut tahun baru Islam dengan semangat Hijrah untuk Meraih Syahadah.

Wassalam


peribadatan yang dikerjakan sepatutnya tidak hanya diperoleh dengan berpegang pada perintah Ilahi dalam taraf lahiriah, melainkan hendaklah meliputi juga seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan begitu, badan, akal dan hati,

Salah satu makna diturunkannya syariat pada umat manusia adalah dalam rangka mencapai serta menuju hakikat kesempurnaan. Allah Yang Mahasuci asma-Nya menetapkan bagi manusia yang fakir, jalan untuk sampai kepada-Nya melalui utusan lahiriahnya, yaitu nabi, dan hujjahbatin berupa akal.

Ketika Tuhan memerintahkan untuk menunaikan peribadatan yang sebenarnya, maka mustahil Dia tidak menentukan perintah dan larangan yang dengannya bisa diketahui jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Peribadatan atau ubudiyyah adalah kata yang menunjukkan hubungan antara hamba dengan Tuhan. Ia adalah jalan yang dilalui manusia untuk bertemu dengan Sang Khaliq.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah Al-Insyiqaq ayat 6, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” Oleh karena itu, apabila manusia dengan pilihannya sendiri, berpindah ke maqam hamba dan berjalan dengan kehendaknya sendiri menuju Tuhan semata, maka ia telah menunaikan hakikat peribadatan.

Hal ini hanya dapat diperoleh jika memperhatikan dua hal utama sebagai berikut : Pertama, perbuatan atau amalan yang dilakukan hanya merupakan sesuatu yang bersumber dari Tuhan semata. Kedua, perbuatan itu dilaksanakan sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan.

Namun peribadatan yang dikerjakan sepatutnya tidak hanya diperoleh dengan berpegang pada perintah Ilahi dalam taraf lahiriah, melainkan hendaklah meliputi juga seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan begitu, badan, akal dan hati, seluruhnya hendaknya diperjalankan pada jalan ini dengan menyerahkan pengaturannya pada kekuasaan al-Haq seraya tunduk kepada Pemilik rahmat dalam segala perbuatannya. Oleh sebab itu, sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita mesti pasrah total atas seluruh perintah dari-Nya dan melaksanakannya dengan penuh keikhlasan.

Sejak awal, Islam memandang posisi pemuda sangat penting dan strategis. Betapa tidak, karena pada merekalah harapan dan impian tentang masa depan digantungkan oleh sebuah komunitas,  sebuah bangsa ataupun sebuah ajaran.  Demikian halnya dalam Islam, kita mengenal sebagian dari perjalanan sejarah beberapa tokoh pemuda yang telah memberikan andil dan perannya dalam berbagai peristiwa penting yang menyertai perjuangan Rasulullah SAW. Tentu kita tidak dapat melupakan begitu saja, sebuah kejadian yang sangat mendebarkan di saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw menggantikan posisi tidur Nabi SAW untuk menjemput kematian, ketika beliau hendak melakukan hijrah. Begitu pula dengan peristiwa ketika Rasulullah SAW menunjuk Usamah – yang saat itu berusia masih sangat belia – untuk memimpin sebuah ‘ekspedisi’ penting ketika itu. Kedua tokoh muda ini, bisa berkontribusi sedemikian itu, karena telah melalui proses penempaan diri. Al-Quran memberikan model yang dapat dijadikan rujukan dalam hal ini. Pertama, Model Nabi Ibrahim as, adalah model orang yang terpanggil rasa ingin tahunya, yang dengan itu ia mendekatkan diri pada Tuhan-Nya. Ini menggambarkan pemuda yang tidak henti-hentinya untuk mencari kebenaran dan ilmu pengetahuan. Kedua, Model Nabi Yusuf as, adalah model pemuda yang senantiasa mempertahankan kesucian moral, yang bagi pemuda lainnya mungkin akan menjerumuskan. Ketiga, Model Ashabul Kahfi, yaitu mirip dengan model pemuda pada Sumpah Pemuda, yang tidak puas dengan sistem. Dan karena tidak bisa merombak sistem itu, maka mereka mempertahankan imannya dengan berhijrah, namun komitmennya tetap pada keinginan untuk merubah sistem. 
Sebagai makhluk ciptaan dari Tuhan Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang adalah menjadi sebuah hal yang wajar manakala manusia senantiasa merindukan untuk kembali ke asal muasalnya. Kesadaran seperti ini mestinya tidak hilang dalam ingatan dan benak setiap manusia, karena betapa tidak, seluruh hal yang berkenaan dengan kelangsungan hidup manusia tidak mampu terlepas dari keterikatan dan ketergantungan kepada-Nya. Mengapa seperti itu?

Oleh karena manusia adalah wujud faqir, yang keberadaan kita saja sudah merupakan rahmat dan karunia yang sangat besar, disamping nikmat-nikmat yang senantiasa tercurahkan dan kita rasakan pada setiap saatnya.   Sebab itulah para kekasih-kekasih Tuhan dalam berbagai kesempatan seringkali mengatakan bahwa ‘syukur kita masih membutuhkan rasa syukur lagi’. Ungkapan ini menunjukkan kedudukan makhluk di hadapan Sang Khalik memang begitu kecil, lemah dan sangat bergantung. Karena itu, tidak ada secuil pun dari apa yang berkenaan dengan diri kita yang dapat kita banggakan apalagi untuk disombongkan pada makhluk ciptaan lainnya. Madrasah Ramadhan yang telah kita lalui, sesungguhnya dalam rangka menumbuhkan kesadaran fitrawi, agar kita tidak lupa diri dan dibutakan oleh berbagai aspek dan dimensi lahiriah yang seringkali menjerumuskan ke lembah kegelapan. Cahaya Ilahiah baru akan selalu nampak dan mewarnai pada seluruh eksistensi kedirian kita, apabila keimanan, ketakwaan. akhlak dan amaliah sosial, senantiasa kita internalisasikan dan artikulasikan dalam segala bidang kehidupan yang kita jalani, untuk kemudian mengantar kita menjadi manusia yang fitri.
Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dari falsafah penciptaan Adam. Ibadah haji menggambarkan kepulangan manusia kepada Allah, yang mutlak dan tidak terbatas serta tidak ada yang menyerupai-Nya. Kembali kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan dan nilai-nilai. Sesungguhnya tujuan manusia dalam kehidupan ini adalah untuk ‘berkembang’, dan semua itu dilakukan bukan ‘untuk Allah’ tapi membawa kita ‘kepada Allah’. Allah tidak berada jauh dari kita, karena itu kita harus senantiasa untuk mencoba menggapai-Nya. Sungguh, Allah lebih dekat kepada kita  dibanding kita kepada diri kita sendiri.

Demikianlah yang tertera dalam Al-Quran surah Qaaf : 16, “Kami lebih dekat kepadanya dibanding urat lehernya.” Sementara itu, siapa pun selain Allah terlalu jauh untuk dicapai. Wahai manusia, semua malaikat pernah bersujud kepadamu, tapi dalam perjalanan waktu dan pengaruh kehidupan sosial, maka engkau pun telah banyak sekali berubah. Engkau telah mengingkari janjimu untuk hanya menyembah kepada Allah Yang Mahakuasa. Engkau malah menjadi pemuja berhala-berhala yang sebagian di antaranya ciptaan manusia. Semoga jutaan kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia yang setiap tahun diajak untuk berpartisipasi dalam ‘pertunjukan akbar (haji) ini, dapat mencerap pelajaran berharga dari ritual suci tersebut. Di sana, semua orang dianggap sama. Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin ataupun status sosial. Sesuai ajaran Islam, kata Ali Syariati, “Semua adalah Satu dan Satu adalah Semua.” Bulan Ramadhan adalah bulan Allah SWT. Allah menyebutnya dengan bulannuzul Al-Quran. Bulan ini menjadi agung bukan dikarenakan puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran. Jadi Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Quran Al-Karim.

Pada bulan ini pula manusia menjadi tamu-tamu Allah SWT. Dan Allah SWT telah menyajikan hidangan bagi para tamu-Nya berupa Al-Quran Al-Karim. Al-Quran merupakan jamuan Ilahi yang diberikan bagi hamba-hamba-Nya. Tidak semua orang bisa menyantap dan menikmati jamuan tersebut. Al-Quran bukanlah jamuan yang diperuntukkan bagi setiap orang, ia merupakan pemberian khusus yang diperuntukkan bagi insan yang haus dan lapar akan makrifat Al-Quran. Merekalah yang dapat memperoleh makrifat tersebut. Allah SWT mengajak kita untuk membaca Al-Quran pada bulan yang mulia ini. Para ahli makrifat berkata : “Sesungguhnya walaupun puasa terasa berat dan melelahkan bagi mereka yang melakukannya, namun dengan mendengarkan ayat-ayat Al-Quran, beban tersebut akan hilang.”

Hal penting lainnya yang mesti diketahui adalah bahwa bulan Ramadhan merupakan titik awal dihitungnya perjalanan manusia menuju Allah SWT. Dan karena itu, pada bulan Ramadhan berikutnya, sang salik memulai penghitungan tingkatan yang telah ditempuhnya. Kita tentu berharap Ramadhan kali ini tidak kita lewatkan begitu saja, akan tetapi dapat kita maksimalkan berbagai usaha dan upaya untuk mengisinya dalam rangka meningkatkan kualitas diri dan kemanusiaan kita menuju tingkatan ketakwaan yang lebih sempurna. Sehingga pada penghujung Ramadhan nanti, kita  mampu merasakan dimensi ruhaniah yang telah tercerahkan saat bulan yang mulia dan agung ini meninggalkan kita lagi.

17

RAMADHAN untuk kesekian kalinya hadir lagi di hadapan kita semua. Bulan yang satu-satunya diabadikan namanya di dalam Al-Quran suci. Bulan yang dipenuhi dengan keagungan dan kemuliaan. Menjelang Ramadhan Rasulullah SAW bersabda : “Wahai segenap manusia! Telah menghampiri kalian bulan Allah yang penuh rahmat, berkah dan ampunan. Bulan yang menurut Allah SWT adalah bulan yang paling afdhal. Harinya adalah sebaik-baik hari. Malamnya adalah sebaik-baik malam. Waktunya adalah sebaik-baik waktu. Kalian telah dipanggil menjadi tamu Allah. Nafas-nafas kalian di bulan itu adalah tasbih. Tidur kalian adalah ibadah. Amal kalian diterima serta doa kalian diijabah. Oleh karena itu, memohonlah kepada Allah SWT dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, agar Allah memberikan taufik kepada kalian untuk dapat melakukan puasa dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang di bulan agung ini tidak mendapat ampunan Allah.”Keagungan utama bulan Ramadhan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran oleh Al-Karim (Yang Maha Mulia), yang dibawa oleh Kiram Bararah (Malaikat yang mulia lagi berbakti), yang menerimanya adalah Rasul Karim (Rasul yang Mulia), karena itu sudah pasti yang diturunkan adalah Quran Karim (Bacaan yang mulia). Pertanyaan mendasar bagi kita semua di bulan mulia ini adalah, sudahkah kita menempatkan Al-Quran yang mulia tersebut, pada tempat yang mulia pula dalam diri dan kehidupan kita sehari-hari? Ataukah ia hanya kita anggap sebagai bacaan biasa yang tidak begitu berpengaruh dalam menuntun hidup dan kehidupan yang sementara kita jalani. Semoga kita tidak termasuk kelompok orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan di bulan ini karena kelalaian yang kita lakukan sendiri. Wallahu a’lam bisshawab.


16

Kehadiran kepemimpinan yang adil menjadi hal yang diimpikan dan diidam-idamkan oleh segenap manusia. Ini sejalan dengan salah satu prinsip – universal – yang diyakini banyak orang bahwa akan datang seseorang di akhir zaman, yang akan menegakkan kepemimpinan di dunia ini diatas prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Kepemimpinan tersebut adalah merupakan Kepemimpinan Ilahiah, yang sering diistilahkan denganMahdiisme atau Messianisme. Kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi, bukan hanya milik sekelompok orang atau agama dan keyakinan tertentu, akan tetapi sudah menjadi keyakinan hampir seluruh manusia yang senantiasa merindukan hadirnya sosok pemimpin yang sempurna dan ideal. Tengoklah bagaimana orang-orang Barat menciptakan sosok dan tokoh-tokoh hasil imajinasi mereka seperti superman, spiderman dan sejenisnya, yang menurut hemat kami sedikit-banyak dipengaruhi oleh pemahaman tentangmessianisme ini. Hal itu menggambarkan bagaimana harapan mereka akan munculnya manusia super yang mampu mengatasi berbagai masalah dan persoalan yang hadir di bumi ini. Pada dimensi yang lain, konsep tentang al-Mahdi, meniscayakan kesadaran pada kita bahwa sesungguhnya kemampuan dan kapasitas kita sangat terbatas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan dunia ini. Oleh sebab itu, hadirnya Pemimpin Ilahiah, Insan Kamil atau Manusia Sempurna menjadi suatu kemestian dan begitu dinantikan oleh umat manusia, dalam rangka menyempurnakan alam semesta ini dan seisinya. Persoalannya apakah kita termasuk bagian dari mereka yang memiliki kesadaran untuk menyambutnya atau tidak.
edisi8

Ibadah haji adalah bagian dari ibadah yang paling fundamental dalam agama Islam. Ketika Nabi SAW menyebutkan ‘struktur’ bangunan Islam, maka ibadah haji beliau letakkan sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dalam Al-Quran Allah berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. 3:97). Secara historis memang ibadah ini berasal dari Nabiullah Ibrahim as. Namun kemudian ia menjadi simbol ibadah universal dimana seluruh umat manusia terpanggil untuk melakukannya. Dalam seluruh ajaran Islam, terlebih lagi pada ibadah haji, kecintaan menduduki posisi yang sangat mendasar. Kecintaan menumbuhkan kerinduan, kecintaan menghasilkan kekuatan dan kecintaan memerlukan pengorbanan. Karena kerinduan, kekuatan dan pengorbanan, harus ada dalam diri orang-orang yang hendak melaksanakan ibadah haji. Ketiga hal tersebut yang berpangkal dari kecintaan merupakan pondasi untuk mengikuti jejak-jejak Nabi Ibrahim. Pada ritual haji pula, manusia diajarkan untuk senantiasa berusaha menanggalkan segala atribut dan status sosial yang selama ini dibanggakan dan menjadi sekat-sekat hubungan diantara manusia. Dengan pakaian yang sama, pakaian ihram, orang melakukan serangkaian ritual yang disyariatkan dalam ibadah haji untuk memenuhi panggilan Allah dengan penuh kerendahan diri. Pembukaan jamuan Allah bagi tetamu-Nya dimulai pada bulan suci Ramadhan, sementara penutupnya adalah bulan Dzulhijjah, yang merupakan bulan haji dan akhir dari bulan-bulan suci. Semoga saudara-saudara kita yang berhaji di tahun ini, mempunyai penghayatan seperti yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim Alaihissalam, sehingga mereka mencapai haji yang mabrur.

sampul8

Bulan Ramadhan, yang di dalamnya berbagai keutamaan dan kemuliaan yang tercurahkan, kini telah meninggalkan kita semua. Namun demikian, Ramadhan sebagai madrasah ruhaniah dalam mencerahkan diri, untuk melatih dan mengasah dimensi spiritualitas serta kemanusiaan, masih terasa menyisakan bekas pada diri kita. Karena sesungguhnya kita semua berharap bahwa tempaan satu bulan lamanya di bulan Ramadhan, tidak lewat begitu saja secara sia-sia, melainkan dapat memberi arti dan makna bagi setiap diri yang dengan tulus dan ikhlas menjalani perintah amaliah di bulan suci tersebut. Sehingga saat memasuki fajar 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri, ia betul-betul sampai pada hakikat kemenangan sesungguhnya, kembali pada fitrah kemanusiaan yaitu “kesucian”. Dizaman dunia yang semakin materialistik sekarang ini, fitrah kemanusiaan tidak lagi menjadi perhatian utama umat manusia, bahkan seringkali mulai tercerabut dari diri kebanyakan orang. Itulah sebabnya Dr. Benyamin E. Mays -yang ketika itu menjabat sebagai rektor Morehouse College Georgia -pernah berkata, “kita memiliki orang-orang terdidik, sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi, namun kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit, yang kita butuhkan bukan lagi pengetahuan, karena itu sudah kita miliki, tetapi kemanusiaan kita sedang membutuhkan sesuatu yang bersifat spiritual.” Dan memang seluruh ajaran Islam dimaksudkan untuk mensucikan manusia, yakni menampilkan kembali sifat kemanusiaan mereka. Semoga dengan percikan cahaya Ramadhan, dapat senantiasa mengantarkan sisi kemanusiaan kita menuju hakikat ilahiah. Minal Aidin Wal Faidzin Maaf Lahir dan Bathin.

Wassalam

sampul 5Ramadhan suci telah datang kembali di hadapan kita. Perspektif bulan Ramadhan bukanlah semata-mata aspek ibadah kepada Allah saja. Ramadhan juga merupakan bulan yang penuh dengan refleksi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ketika rasa lapar dan haus hadir dalam diri kita, maka keikhlasan kita saat melaksanakan ibadah Ramadhan tercermin dari prilaku kita untuk mengapai Ridha Allah. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang berharga bagi kaum muslimin, setelah selama sebelas bulan kita disibukkan dengan berbagai kesibukan duniawi, untuk menemukan kembali sisi-sisi spiritual kita yang hilang. Menahan diri dari makan, dari berbicara, dari tidur, dekat dengan masjid, membaca Al-Quran, mengerjakan amal-amal kebajikan, bersilaturrahmi, memberikan infak dan sedekah, dapat menjadi obat penawar bagi berbagai penyakit masyarakat Muslim baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Refleksi dan renungan ini merupakan cermin dari realitas yang ada dalam masyarakat kita. Karena Ramadhan telah hadir dalam wujud budaya di masyarakat, yang mereka menyambutnya dengan berbagai tradisi. Dalam menyambut Ramadhan, seringkali suasana religius seakan berubah menjadi sejenis kemeriahan. Maraknya acara-acara TV, telah menjadikan Ramadhan sebuah momen hiburan yang di situ lebih besar nilai ekonominya dibanding suasana religiusnya. Padahal hakikat Ramadhan adalah menjadikan kita manusia yang bertakwa. Olehkarena itu, seharusnya kita menjalani Ramadhan dengan penuh kekhusyuan dan bekerja keras dalam membangun dan mengembangkan diri kita menjadi pribadi yang mulia, baik di mata Allah maupun manusia. Itulah yang ingin dicapai di bulan Al-Quran yang penuh berkah ini. Marhaban ya Ramadhan.

Wassalam


syi’ah memuliakan wanita, syi’ah memuliakan kaum ibu

Halaman Majalah

Beginilah Syiah Menghinakan Wanita
Nama : Majalah AKHWAT
Edisi : Vol.15/1432/2011
Penerbit : Penerbit Al-Ilmu
Moto : Jurnal Muslimah dan Keluarga Sakinah
Penasehat : Ust Ali Basuki, Ust Risqi, Ust Hammad, Ust Yuswaji, Ust Na’im, Ust Abu Faizah, Ust Nashrullah
Ukuran : 24 x 14
Jumlah Halaman : 90
Cover : Art paper 150gr kilap
Kertas isi : HVS 70 gr
Berat : 125 gram
Jumlah Grosir : 1
Diskon Grosir : 5%
Harga : Rp 10.000

Jelaskan Kedudukannya Dalam Islam, Iran Gelar Seminar Internasional Wanita

seminar internasional wanita di Iran
.

Jelaskan Kedudukannya Dalam Islam, Iran Gelar Seminar Internasional Wanita

Kamis, 02 Pebruari 2012 07:27 WIB

TEHERAN –

Teheran telah mengadakan Seminar Internasional ‘Ladies Eminent Agama Ilahi’. Seminar ini dihadiri oleh peserta wanita dari berbagai negara.

Wanita dari 22 negara menghadiri seminar bersama dengan sejumlah pejabat Iran dan ulama perempuan, pada Rabu (1/2) kemarin. Acara ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan menjelaskan pola individu, keluarga dan sosial untuk wanita terpilih, dengan kualitas khusus seperti, kesabaran, kejujuran, pengetahuan perdamaian dan iman.

Peserta seminar berbagi pikiran tentang bagaimana tempat pria dan wanita dalam Islam adalah sama, dalam urusan agama, politik, intelektual dan pendidikan.

Mereka juga menekankan bahwa perempuan diberikan kesempatan menjalankan urusan negara di banyak negara Islam.

Selain mengadakan seminar, Iran juga mengadakan Festival Internasional pertama dari Media Cetak Wanita Muslim untuk menghargai usaha perempuan muslim dalam memperluas nilai-nilai Islam

.

Perempuan Muslim teladan terbagi dalam dua kelompok; perempuan dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah SAW dan para pengikut setianya dari kalangan perempuan secara umum. Di antara anggota kelompok pertama, kita dapat menyebut nama-nama seperti Khadijah as (istri Nabi SAW), Fatimah as (putri beliau SAW), Zainab as (cucu perempuan SAW), serta beberapa saudara perempuan para Imam dan anak perempuannya, seperti Fatimah dan Sakinah (putri-putri Sayyidina Husain), Fatimah (saudara perempuan Imam Ridha), dan Hakimah (anak perempuan Imam Ali an-Naqi). Para istri sebagian imam juga termasuk dalam daftar tersebut, seperti Ibunda Imam Mahdi, Narjes, yang menurut beberapa laporan sejarah seorang murid Isa as. Terdapat juga sejumlah nama perempuan yang disebutkan sebagai pengikut setia Rasulullah SAW dan para Imam.

Fatimah Zahra

Fatimah, putri Rasulullah SAW, memiliki status paling tinggi di antara semua karakter tersebut. Karakteristiknya identik dengan apapun yang dinilai Al-Quran sebagai terpuji dan berharga pada diri perempuan. Berikut ini merupakan sejumlah laporan yang diriwayatkan tentang status spiritualnya.

  1. Fatimah merupakan sosok terpilih di antara seluruh perempuan di dunia.
  2. Fatimah bercakap-cakap dengan para malaikat dan bahkan setelah wafatnya Rasulullah SAW, berbicara dengan Jibril dan menerima beberapa penjelasan darinya.
  3. Fatimah dipandang pada derajat tinggi oleh Allah dan Allah telah menetapkannya sebagai salah seorang hamba-Nya yang terpilih.
  4. Fatimah merupakan titik sentral Ahlul Bait Nabi SAW dan semua anggota yang dirujuk pada Ahlul Bait berada dalam terminologi hubungan mereka dengannya. Diriwayatkan bahwa Allah, ketika berbicara kepada Jibril, merujuk pada anggota-anggota keluarga suci ini dalam terminologi berikut; mereka adalah Fatimah, ayahnya, suaminya, dan putra-putranya.
  5. Fatimah adalah salah satu dari orang-orang yang bersegera dalam melakukan semua perbuatan baik.
  6. Fatimah merupakan seorang manusia tersabar, yang mengalami berbagai derita dan diksriminasi dari orang-orang zalim tetapi tidak pernah mengutuk seorang pun dari mereka.
  7. Fatimah memiliki status tinggi sebagai eksistensi suci yang mampu memberikan pertolongan (syafaat) atas izin Allah untuk umat manusia.
  8. Fatimah merupakan kriteria bagi perbuatan-perbuatan manusia pada hari pengadilan
  9. Fatimah mengaplikasikan seluruh kualitas dan posisi tersebut pada perilakunya yang khas terhadap kehidupan dan perubahannya serta energi Fatimah yang seakan tak pernah habis dalam meraih pertumbuhan spiritual dan kesempurnaan.

Sikap Fatimah terhadap Kehidupan

Sebuah telaah yang seksama tentang gaya hidup Fatimah menunjukkan bahwa seluruh hidupnya dibentuk satu prinsip yang esensial; lebih memilih kesusahan daripada kemudahan.

Seseorang mungkin akan terkejut ketika mengetahui prinsip seperti itu; mengapa ia mesti memilih prinsip tersebut dan melaksanakannya sepanjang hayat? Di Dunia modern kita, yang di dalamnya seluruh nilai secara drastis mengalami metamorfosis dan yang di dalamnya teknologi bermaksud untuk mereduksi kesulitan dan memanjakan manusia dengan kemungkinan maksimal dari kemudahan dan kenyamanan, pertanyaan di atas jelaslah sangat relevan. Islam, bagaimanapun, memiliki pandangannya tersendiri.

Ketika berbicara tentang penemuan diri dan pertumbuhan spiritual, Islam mendorong adanya pengalaman dalam menghadapi kesulitan hingga batas yang layak bagi seseorang. Membangun suatu karakter memerlukan ketahanan akan kesusahan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah : 5)

Ini merupakan prinsip yang sama, yang dapat ditemukan dalam kehidupan semua orang saleh, para reformis besar, dan semua pencari tujuan-tujuan yang bermakna. Berikut beberapa contohnya.

  1. Lebih memilih kemiskinan ketimbang kemakmuran dan kekayaan. Meskipun memiliki penghasilan yang stabil dari tanah Fadak, Fatimah hidup dalam kemiskinan dan mendermakan penghasilannya pada fakir miskin. Ia diriwayatkan pernah berkata, ”Aku tidak memiliki sesuatu apapun kecuali sepasang sepatu sobek dan penuh tambalan serta sehelai pakaian dan selembar hijab dalam kondisi yang sama.”
  2. Lebih mencintai orang lain daripada diri sendiri; putra Fatimah, Sayyidina Hasan mengenang ibunya sebagai berikut, ”Suatu kali, ibuku mendirikan shalat sejak pertengahan malam hingga fajar menjelang dan mendoakan seluruh orang kecuali dirinya sendiri. Aku bertanya, kenapa ? beliau berkata, putraku tersayang! Yang pertama adalah tetangga lalu dirimu.
  3. Lebih menyukai kesederhanaan daripada kemewahan. Fatimah mendermakan perhiasan-perhiasan lehernya, anting-anting, perhiasan-perhiasan anak-anaknya, dan gorden-gorden rumahnya yang indah untuk membantu kemajuan Islam. Ayahnya, Nabi SAW, merupakan sumber pendorong akan hal ini.
  4. Lebih menyukai usaha dan kesulitan daripada kemudahan dan kemalasan. Fatimah bersikeras mengerjakan sendiri tugas-tugas rumah tangga dan tangannya menunjukkan efek kerja keras itu.
  5. Lebih menyukai shalat malam daripada tidur dan beristirahat. Putranya, Sayyidina Hasan pernah menuturkan, ”Tak seorang pun yang lebih mengabdi daripada Fatimah. Ia berdiri di atas kakinya (mendirikan shalat) begitu lama sehingga kakinya bengkak.”

”Pada sebagian besar malamnya, ia mendirikan shalat hingga pagi hari.”

  1. Lebih suka menentang kezaliman daripada diam. Fatimah adalah pejuang Tuhan di hadapan kezaliman, khususnya setelah Rasulullah SAW wafat, ketika dirinya melancarkan protes terhadap berbagai ketidakadilan dengan keberanian luar biasa. Dua di antara penentangannya yang penting tercermin dari dua khutbah yang disampaikannya; satu di masjid dihadapan semua orang, satunya lagi di rumah di hadapan kehadiran orang-orang yang datang menjenguknya tatkala sakit. Ia memohon kepada suaminya, Sayyidina Ali, agar menguburkannya diam-diam sehingga orang-orang zalim tidak mengetahui kuburnya dan, dengan begitu, terhindar dari hipokritas (kemunafikan) yang dipertontonkan orang-orang tersebut setelah kematiannya. Ini juga merupakan suatu bentuk yang kompleks dari penentangan Fatimah as terhadap kezaliman orang-orang tersebut.

Semua yang disebutkan di atas secara konsisten dilaksanakan karena Fatimah hendak meraih status tinggi dari keridhaan Allah serta dileburkan dalam eksistensi-Nya yang abadi, tangga tertinggi dari kesempurnaan manusia. Kaum perempuan yang hidup semasa dengan Fatimah mengatakan bahwa Fatimah memiliki seluruh karakteristik kemanusiaan yang transenden

.

”Aku tidak pernah melihat seorang perempuan yang lebih peduli daripada Zahra.

”Rasulullah SAW memberikan padaku putrinya. Maka, kudidik sang putri itu tetapi ia ternyata lebih terdidik dibandingkan aku.” Istri Nabi SAW, Aisyah berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang perempuan pun yang lebih mukmin daripada Fatimah.” Aku tidak pernah melihat siapa pun yang lebih utama dibanding Fatimah kecuali ayahnya.”

.

Haruslah diperhatikan bahwa kualitas-kualitas yang disebutkan dari sumber-sumber yang berbeda, sebagai bukti bagi status spiritual Fatimah dan karakter teladannya, merupakan tanga-tanda umum kesempurnaan bagi segenap manusia, di mana masalah gender sama sekali tidak berperan apapun dalam konteks ini.

Kesimpulan

Sudah menjadi Fitrah Manusia untuk mencontoh sosok yang ideal. Dalam Islam, sosok yang ideal mewujud pada pribadi-pribadi tertentu, yang memiliki nilai-nilai spiritual termulia

.

Melalui sebuah telaah terhadap karakter-karakter dalam Al-Quran dan teks-teks Islam, menjadi jelas bahwa kesempurnaan spiritual terbuka bagi siapapun, baik pria maupun perempuan. Kami menyajikan beragam contoh mengenai perempuan-perempuan yang telah meraih kedekatan dengan Tuhan dan menjadi teladan bagi pria dan perempuan di seluruh penjuru dunia. Dalam pribadi-pribadi yang disebut sebagai ”empat perempuan sempurna” kesalehan-kesalehan abadi telah dipaparkan, seperti kesabaran, kesucian, dan keberanian. Sebagai perempuan, mereka juga menampilkan diri di hadapan kaum perempuan Muslim, pelbagai model peran yang ideal dalam tugas-tugasnya sebagai istri dan ibu. Pada diri Maryam as, kita menyaksikan pengaruh langsung kesuciannya dalam membesarkan dan mendidik puranya, Nabi Isa as

.

Pada Khadijah, kita melihat signifikansi persahabatan seorang istri pada suaminya dalam mendukung sang suami dalam kehidupan yang berorientasi Ilahiah. Pada karakter Aisyah as, kita mengamati suatu personifikasi keberanian dan pengabdian pada Tuhan dalam penentangannya terhadap tirani dan kezaliman suaminya. Semua kebaikan dan kesalehan tersebut bersatu padu dalam semangat tanpa akhir pada diri Fatimah az-Zahra as. Ia benar-benar merupakan perempuan paling inspiratif dalam penciptaan dan cahayanya bersinar layaknya obor yang menerangi umat manusia

.

Seorang perempuan Muslim selamanya diberkati dengan keberadaan para teladan tersebut, yang menampilkan baginya suatu bimbingan dan inspirasi yang diperlukan untuk meraih kesempurnaan dan tetap mulia di antara perempuan-perempuan lain di masanya.

.

Dalam pandangan Islam, kedudukan pria dan wanita sesungguhnya tidak ada perbedaan secara subtansial. Perbedaan di antara keduanya – kalau pun ada – hanya seputar aspek lahiriah, peran serta fungsinya saja. Karena pada hakikatnya ‘manusia’ bukan pria dan bukan pula wanita. Makna kata ‘manusia’ dalam Al-Quran tidak terbatas pada jenis dan golongan manusia tertentu, namun ia mencakup  seluruh jenis manusia, baik pria maupun wanita, semuanya sama.

Itulah sebabnya Allah SWT lewat firman suci-Nya di dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13, telah menyampaikan secara tegas dan gamblang bahwa perbedaan kedudukan di antara manusia itu, hanyalah karena takwanya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” Pertanyaan kemudian, bagaimana dengan realitas di sekitar kehidupan kita? Adakah idealitas Al-Quran tersebut telah terwujud?

.

Dalam kenyataannya, memang kita melihat bahwa ajaran Islam tersebut tidak sepenuhnya dijalankan manusia, bahkan terkadang oleh umat Islam sendiri. Mungkin kita sering mendengar getirnya kehidupan para TKW kita yang mempertaruhkan nasibnya kepada para tuan-tuan di negeri-negeri yang umumnya muslim. Padahal di zaman awal Islam, Rasulullah telah memberikan contoh pengajaran dalam memuliakan wanita, tatkala masyarakat jahiliah Arab menempatkan wanita sebagai makhluk yang tidak berguna dengan cara mengubur mereka hidup-hidup

.

Agaknya sabda Rasulullah SAW perlu kita renungkan ketika mengatakan : “Tidak akan pernah memuliakan perempuan kecuali laki-laki yang mulia, dan tidak akan pernah merendahkan perempuan kecuali laki-laki yang rendah juga.” Dengan begitu akan terkuaklah bagaimana sesungguhnya wajah masyarakat kita. Apakah sudah di era pencerahan atau masih berada di masa jahiliah

.

Menjaga kehormatan dan harga diri manusia khususnya kehormatan wanita adalah suatu asas yang telah diterima dalam agama Islam serta dalam seluruh aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Dan masalah hijab adalah merupakan salah satu dari perkara tersebut. Al-Quran Karim telah menjelaskan berbagai topik hijab dalam berbagai bentuk, gambaran, dan ibarat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hijab dipandang sebagai suatu kewajiban dalam agama islam dan apabila seseorang mengingkarinya maka dia telah mengingkari satu hukum yang telah diwajibkan dalam agama dan mengingkari kewajiban agama berarti terjerumus di dalam kekafiran. Perlu diketahui bahwa tidak perlu semua aturan-aturan Islam itu dibahas dalam Al-Quran, karena Al-Quran Al-Karim adalah sebuah aturan pokok yang hanya memberikan pembahasan secara global dan masalah-masalah detailnya diserahkan kepada mufassir Al-Quran, yakni Rasulullah SAW  dan para awliya  di mana mereka mengambil sumber dari wahyu Tuhan, di sisi lain juga kebanyakan hukum-hukum tidak dibahas secara detail dalam Al-Quran, akan tetapi dibahas dengan terang dan jelas di dalam fiqih islam

.

Adapun masalah hijab terdapat beberapa ayat yang dijelaskan dengan detail di dalam Al-Quran, oleh karena itu sebagian orang yang tidak memiliki informasi tentang hijab, mereka menciptakan suatu keraguan dan kesangsian di dalam pikiran wanita sehingga menanyakan “Memangnya hijab juga terdapat dalam Al-Quran?” pertanyaan ini  sampai kapanpun tidak akan pernah tepat, sebab Al-Quran dengan jelas telah membahas topik tentang hijab dan setiap orang yang mengakui dirinya muslim, maka dia tidak boleh mengingkari masalah hijab dalam islam.

Sekarang kita tunjukkan sebagian dari ayat-ayat suci Al-Quran mengenai hijab berikut ini: (Qullilmu’minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wa yahpadzna puruujahunna walaa yubdiina ziinatahunna illaa maa dzhara minhaa walyadhribna bikhumurihinna ‘alaa juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna illaa libu’uulatihinna …) Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan ….(QS. An-Nur : 31)

.

Ayat di atas adalah ayat pertama yang menjelaskan tentang pandangan yang membangkitkan syahwat, dan lelaki serta perempuan dianjurkan untuk menahan pandangannya, sebab pandangan yang tercemari oleh syahwat pada lawan jenis merupakan langkah untuk melakukan dosa dan kerusakan karena itu akar dosa ini harus disingkirkan. Dan telah di jelaskan pula dengan transparan bahwa  memandang aurat orang lain (lelaki, perempuan, muhrim dan non muhrim) adalah dilarang. Topik lain yang perlu diperhatikan pada ayat ini adalah kewajiban menutup leher, dada dan seputar anggota badan wanita yang kebanyakan di jadikan pusat perhatian oleh lawan jenis, demikian juga dalam ayat ini menunjukkan bahwa adanya larangan berhias dan berdandan untuk yang non muhrim, kecuali apa yang telah nampak darinya, dan sambungan dari ayat sebelumnya, dengan jelas telah melarang secara mutlak untuk tidak menunjukkan dan mempertontonkan keindahan diri kepada yang non muhrim, dan kalimat itu adalah; walaa yadhribna biarjulihinna …; yaitu Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (seperti khalkhal yang di pakai oleh wanita-wanita arab); bahkan badan sampai pergelangan tangan dan juga kaki harus ditutup. Disamping itu ayat ini telah menjelaskan tentang falsafah hijab dan kehormatan menahan pandangan yang di antaranya adalah menghindari terjadinya kesalahan dan kerusakan

.

Ayat ke dua yang membahas tentang kewajiban menutup tubuh adalah ayat 59 surah Al-Ahzab yang berbunyi: ”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu.”

Dalam kitab Lisânul Arabi di katakan: Jilbab, yaitu lebih besar dari kerudung dan lebih kecil dari jubah, yang dengan wasilah ini wanita menutupi kepala dan dadanya. Oleh karena itu kata “Jilbâb” dalam surah Al-Ahzab di atas dan kata “Khumur” dalam surah An-Nur dengan jelas menekankan mengenai kewajiban menutup tubuh bagi wanita terhadap non mahramnya. Biasanya “Khumur” menunjukkan pada kewajiban menutup kepala dan dada serta leher dengan sesuatu yang menyerupai kerudung, akan tetapi “Julbaab” adalah sebuah pakaian yang lebih panjang dari kerudung di mana seluruh tubuh tertutupi olehnya; yaitu sesuatu yang menyerupai jubah dan biasanya dipakai oleh wanita-wanita arab

.

Hijab adalah wajib bagi semua wanita, dan wanita-wanita yang bertalian dan bersangkutan  dengan kepemimpinan umat harus lebih berhati-hati, sebab mereka akan menjadi tokoh atau panutan terhadap wanita-wanita lain. Dengan demikian baik dalam berbicara, berhadapan dan bertemu dengan masyarakat serta aktivitas lainnya, menjaga hijab sangatlah dianjurkan karena mereka dalam hal ini sangatlah peka dan sensitif. Dari sudut pandang yang lain, kali ini Al-Quran menjadikan istri-istri Nabi sebagai acuan, dan berkata: (Yaa nisaa’annabii lastunna kaahadin minannisaa’i inittaqaitunna falaa takhdha’na bil qauli fayathma’a aladzi fi qalbihi maradhun wa qulna qawlan ma’ruufan). “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS.Al-Ahzab : 32)

.

Ayat di atas adalah menegaskan tentang bagaimana menghindari terjadinya dosa dan fitnah dan wanita-wanita diharuskan memiliki batas di dalam berbicara dengan yang non  muhrimnya, sebagaimana di dalamnya tidak terlihat berbagai bentuk godaan dan rangsangan sehingga dapat menimbulkan fitnah. Demikan juga mengenai istri-istri Nabi saw dikatakan: (Wa qarna buyuutikunna walaa tabarrajna tabarruja aljahiliyyati al uula). Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. (QS.Al-Ahzab : 33) Dan juga ayat 53 dalam surah yang sama diketahui sebagai pelengkap tentang kebagaimanaan wanita-wanita menjaga hijabnya dalam bersosialisasi dan mengatakan:( Wa idzaa saaltumuhunna mataa’aan fas aluhunnna min waraai hijaabin dzalikum athharu liquluubikum wa quluubihinna …. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (QS. Al-Ahzab : 53)

.

Ketika kita mencermati muatan ayat tersebut di atas, maka sangatlah jelas bahwa hijab adalah menghindari dari terjadinya dosa dan fitnah, dan kesemuanya ini telah ditekankan pada hijab dan penutup tubuh wanita untuk kebersihan dan keselamatan masyarakat. Masih terdapat banyak poin-poin tentang hijab dari ayat yang lain dalam Al-Quran yang dikarenakan pembahasannya akan dialihkan ke topik yang lain maka kami tidak memberikan penjelasannya.

 

Hijab dalam Hadis-Hadis dan Budaya Ahli Bait         

Adapun Al-Quran yang merupakan Tsaql Akbar dan juga amanat besar ilahi, menjelaskan bahwa penutup atau hijab wanita adalah merupakan satu tugas dan tanggung jawab, dan juga di dalam hadis-hadis ahli bait yang dikenal sebagai  Tsaql Ashgar dan tafsir Quran menjelaskan tentang hijab. Efaf atau penutup bagi wanita secara detail yang sebahagian dari hadis tersebut dapat kita tunjukkan sebagai berikut: Imam Ali kw berkata dalam suratnya kepada anaknya Sayyidina Hasan; wakfuf  ‘alaihinna min absharihinna bihijaabika iyyahunna fainna syiddata alhijaabi abqaa ‘alaihinna … Wanita-wanita yang menutup wajahnya sehingga matanya tidak tertuju pada yang non muhrim (dan mata non muhrim tidak tertuju kepadanya) di sebabkan wanita-wanita yang ketat dalam berhijab akan lebih terjaga dari segala gangguan, dan ketika mereka keluar rumah tidak lebih buruk dari orang-orang non muhrim dan membawa orang lain yang tidak dapat di percaya kedalam rumahnya.(Bihar al-Anwar, Jilid 100)

.

Imam Ali dalam perkataan nuraninya, di samping beliau menegaskan tentang hijab, juga menjelaskan dengan aspek khusus filsafat dan penyebab dari hijab tersebut yang juga melingkupi kekekalan, daya tahan dan pemeliharaan wanita dalam sorotan hijabnya dan juga mengisyaratkan topik dan tema  penting yang lain yaitu tidak memasukkan orang-orang yang tidak dapat dipercaya ke dalam rumah, dan juga tidak seharusnya teman-teman dan keluarga yang non muhrim banyak lalu lalang atau bolak balik di dalam rumah, demikian pula wanita terlarang baginya untuk lalu lalang di tengah  masyarakat tanpa memakai hijab.

Dalam hadis-hadis mengenai akhir zaman telah di ingatkan, di antaranya tentang wanita-wanita yang berbuat dosa dan fitnah dan telah menjadi cercaan adalah mereka yang hadir di tengah-tengah lelaki untuk menjual diri dan tanpa memakai hijab

.

Rasulullah SAW megabarkan bahwa azab bagi wanita-wanita yang berhijab buruk adalah demikian: Shinfaani min ummatii min ahlinnaari lam arahumaa … wa nisaa’an kaasiyaatun ‘aariyaatun…; Pada malam mikraj Saya menyaksikan dua kelompok dari penghuni neraka yang sebelumnya saya tidak pernah melihat serupa ini, dalam siksaan saya melihat, sejumlah wanita-wanita yang memakai pakaian-pakaian tipis dan menampakkan tubuh (setengah telanjang) dengan wajah-wajah yang tidak tertutupi, mereka ini tidak akan memasuki surga dan tidak akan sampai kepadanya bau surga padahal bau wangi surga tersebut dapat tercium keharumannya dalam jarak yang sangat jauh dan panjang.(Atsaar as-Shadiqiin, Jilid 3)

.

Azab Bagi Yang Berhijab Buruk             

Imam Ali kw berkata: Saya menemui Rasulullah SAW, dan saya melihat beliau dalam keadaan menangis, saya menanyakan penyebab beliau menangis. Rasulullah SAW berkata: Dalam malam mikraj, saya melihat sejumlah wanita-wanita dari umat saya  sedang dalam azab yang sangat dahsyat. Salah satu dari mereka seorang wanita yang rambut kepalanya digantung dan dia adalah wanita yang tidak menutup rambutnya di depan non muhrim, demikian pula saya melihat seorang wanita yang memakan daging dirinya sendiri dan dia adalah wanita yang berhias dan mempercantik dirinya untuk orang lain. (Wasail, Jilid 14)

.

Wanita-Wanita di Akhir Zaman

Sangat disayangkan bahwa salah satu dari tanda-tanda akhir zaman yang telah banyak di jelaskan dalam hadis-hadis adalah perihal keadaan menyedihkan wanita-wanita berhijab buruk pada zaman itu. Wanita-wanita dalam zaman itu, hadir di tengah-tengah masyarakat dalam suatu bentuk yang buruk, memolekkan dan mempercantik dirinya bukan untuk suaminya, dan memakai pakaian-pakaian yang setengah telanjang dan menampakkan tubuhnya.

.

Rasulullah SAW berkata: Halaaku nisaai ummatii filahmaraini adzdszahabu watstsayaaburriqaaqi. Terdapat dua penyebab yang menghancurkan umat saya, yang pertama adalah emas (perhiasan-perhiasan) dan yang ke dua adalah pakaian-pakaian tipis dan menampakkan tubuh. (Arsyaadu al-Quluub, Jilid 1)

.

Berdasarkan inilah membuat wanita-wanita berhijab buruk dan bahkan lebih buruk lagi dari mereka yang tidak berhijab, hal ini mengisyaratkan tentang kebenaran-kebenaran dari kerusakan dan kebinasaan yang merupakan tanda-tanda akhir zaman dan juga kita lihat bahwa ketidakmaluan para wanita yang mempermainkan seorang lelaki, hal inilah yang menjadi sumber kekhawatiran Rasul Akram SAW dan sangat disayangkan bahwa sebagian dari wanita-wanita muslim yang terjun dan aktif ke dalam masyarakat, mereka selangkah lebih maju dari wanita-wanita barat dengan wajah yang dihias kental dan tebal serta berpakaian ringan dan sembrono, padahal mereka ini lebih merusak dan membinasakan dari pada wanita-wanita barat yang non hijab, dan hal ini adalah masalah yang sangat besar. Seorang wanita yang menyatakan dirinya muslim seharusnya dia tidak menodai dan menyakiti hati Rasulullah SAW dan jantung Imam ‘Ashr. Apakah memang tidak boleh seorang wanita muslim meneladani dan menokohkan Sayyidah Zahra dan Sayyidah Zaenab? Apakah dahulu beliau-beliau ini hijab dan pakainnya adalah demikian? Sayyidah Zaenab kubra dalam majelis Yazid di samping beliau menyatakan protesnya terhadap Yazid, beliau juga mengisyaratkan masalah hijab dan beliau berkata pada Yazid: Bagaimana prinsip kamu terhadap tirai kesucian sehingga kamu dapat terjaga dan terpelihara dari para non muhrim dan bagaimana pula  prinsip kamu mengarak para keluarga Rasulullah SAW dari kota ke kota sehingga setiap non muhrim menengok ke arah wajah-wajah mereka?

.

Aminal’adli yabnaththulaqaa’a takhdiruka haraairaka wa imaaaka wa sawquka banaati rasulillahi saw sabaayaa qad hatakta sutuurahunna wa abdaita wujuuhahunna, Wahai Yazid! Apakah ini berarti adil bahwa para wanita dan para kanizmu kamu tunjukkan dibalik tirai sementara putri-putri Rasulullah SAW kamu arak ke berbagai kota dan kamu jadikan mereka tawanan dan tirai hijab mereka kamu koyak, melepaskan cadar-cadar mereka dari wajahnya?!(Hayaatu al-Imam Husain, Khotbah Hadhrat Zaenab di Syam)

.

Penegasan Rasulullah SAW Tentang Hijab

Rasulullah SAW selain menyarankan secara tegas terhadap pentingnya menghindari berhijab buruk, beliau juga memperhatikan dalam tingkatan  amal, Ummu Salamah salah satu dari istri-istri Rasulullah SAW mengatakan: Saya dan Maemunah istri yang lain dari Rasulullah SAW setelah sampai kepada kami tentang perintah berhijab, kami menemui Rasulullah SAW yang ketika itu pula anak dari Ummu Maktum (yang matanya buta) memasuki ruangan kami, Rasulullah SAW berkata: Ihtajibaa; tutuplah diri-diri kalian. Saya mengatakan: Wahai Rasulullah! Dia adalah buta (dia tidak akan melihat kami). Beliau berkata: Afa’umyaa wa in antuma? Apakah kalian juga buta (dan kalian tidak melihat dia)? Jadi telah jelas bahwa menjaga hijab dan tidak melihat, tidak terbatas dan terkhusus pada lelaki saja bahkan wanita juga harus menjaga mata dan tubuhnya di hadapan lelaki. (Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan….

Wallahu a’lam bisshawab.

Ketua Umum PBNU Dr. KH. Said Aqil Siraj menyatakan : “Kemajuan Republik Islam Iran kebanggaan dunia Islam dan pengkhidmatan pemerintah Iran kepada rakyatnya dapat dijadikan teladan bagi semua negara Islam yang hasilnya adalah kembalinya umat Islam pada posisi ilmiah yang sesungguhnya.”

Prof.K.H.Said Agil Siradj Bersilaturrahmi Dgn Sayid Hasan Nasrallah (Sekjen Hizbollah)

Ketua Umum PBNU Dr. KH. Said Aqil Siraj menyatakan bahwa tekanan dan ancaman AS semakin meningkatkan kekuatan Republik Islam Iran.

Dalam wawancaranya dengan IRNA beberapa waktu lalu (13/5), Aqil Siraj menilai kebijakan Republik Islam Iran di bidang nuklir benar dan menyatakan,“Dengan memaksakan kehendaknya, Barat berupaya mencegah bangsa Iran menikmati haknya untuk berkembang cepat.”

Dia menilai permusuhan AS terhadap Revolusi Islam tidak hanya terbatas pada waktu tertentu saja seraya menandaskan, “Lebih dari 30 tahun Amerika berupaya bukan hanya menjegal perkembangan Iran melainkan juga menyudutkan dan membuatnya terbelakang, sehingga peluang untuk berkuasa atas Iran terbuka kembali.”

Ketua Umum PBNU ini menyinggung kegagalan semua rencana Barat khususnya Amerika Serikat dalam menjegal Iran mengatakan, “Dalam masalah nuklir, upaya Barat masih sama seperti dulu, tidak membuat Iran terkucilkan dan bahkan negara ini mampu mencapai puncak-puncak keberhasilan dengan mengandalkan ilmuwan dalam negeri.”

“Bangsa Indonesia dan banyak bangsa di dunia percaya bahwa tuduhan AS terhadap Iran infaktual dan bahwa program nuklir Iran semata-mata hanya demi kemajuan dan perkembangan bangsa Iran,” katanya.

Kemajuan Republik Islam Iran dinilainya sebagai kebanggaan dunia Islam dan pengkhidmatan pemerintah Iran kepada rakyatnya dapat dijadikan teladan bagi semua negara Islam yang hasilnya adalah kembalinya umat Islam pada posisi ilmiah yang sesungguhnya.

Terkait pernyataan kesiapan Teheran merundingkan program nuklirnya, Aqil Siraj menilainya sebagai bukti itikad baik dari pejabat Iran dan sekarang keputusan berada di tangan Barat untuk menggunakan peluang ini dalam menyelesaikan isu terkait melalui jalur diplomatik. Berlanjutnya politik represif terhadap Iran disebut Aqil Siraj sebagai kebijakan keliru.

“AS mengetahui bahwa Iran tidak mungkin bersedia mengabaikan haknya, oleh karena itu Washington harus mengubah politik agresifnya agar dunia tidak terseret ke gejolak dan krisis.”

Lebanon dan Suriah Bersatu, Siap Habisi Israel

Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri menyatakan, Beirut tidak takut atas ancaman Tel Aviv, dan bangsa Lebanon akan bersatu melawan serangan Israel, jika perang meletus.

Hariri dalam pertemuan dengan pemimpin katolik dunia, Paus Benediktus ke-16 di Roma, Italia pada Februari lalu mengatakan, “Lebanon mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kedaulatan nasional. Beirut senantiasa mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB No.1701 mengenai gencatan senjata dengan Rezim Zionis Israel, namun bangsa Lebanon bersatu menghadapi segala bentuk manuver rezim Zionis.”

Sementara itu, menyikapi ancaman rezim Zionis, Perdana Menteri Suriah, Muhammad Naji al-Atari memperingatkan, Israel jangan cari gara-gara di Timur Tengah.

Al-Atari dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Perancis, François Fillon di Damaskus, menyinggung peran Iran dalam mewujudkan stabilitas di kawasan, seraya mengatakan, ” Instabilitas politik dan keamanan di kawasan berakar dari keberadaan agresor Israel dan negara asing. Jika negara-negara Eropa menghendaki terwujudnya stabilitas di Timur Tengah, mereka harus memperjelas masalah agresor Israel sebelum mengambil keputusan politik apapun di kawasan.”

Tishreen: Kesalahan Terbesar Arab Adalah Bergantung Dengan Barat

Koran Tishreen, cetakan Suriah menulis, masalah terbesar bangsa Arab adalah kebergantungan mereka terhadap Amerika Serikat (AS) dalam setiap hal.

Di edisi Mei, Koran Tishreen menulis, kendala utama bangsa Arab adalah mereka mengira tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dan meyakini solusi bagi wilayah yang dijajah Israel hanya dapat diselesaikan oleh AS.

Koran ini menambahkan, penolakan terhadap penjajahan adalah hak dan kewajiban setiap bangsa yang terjajah. Selain itu, perjuangan untuk mengusir penjajah adalah hal yang dibenarkan oleh undang-undang internasional.

Masih menurut koran ini, sikap bangsa Arab ini adalah suatu kesalahan fatal, karena AS dapat memaksa bangsa Arab untuk tunduk terhadap kebijakannya. Tak hanya itu, Israel juga mendapat keuntungan dengan sikap rendah bangsa Arab ini untuk menyempurnakan program penjajahannya terhadap wilayah Arab.

Turki, Brazil, Rusia, dan Cina Bersatu Bela Iran

Turki, Brazil, Rusia dan Cina mendesak penyelesaian masalah nuklir Iran di jalur diplomatik.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Turki  di bulan April lalu mengatakan:“Bukan hanya Turki tapi juga Brazil, Rusia dan China juga menuntut penyelesaian masalah nuklir Iran melalui diplomasi dan negosiasi.”

Burak Ozugergin Jurubicara Departemen Luar Negeri Turki dalam sebuah konferensi persnya di Ankara menyatakan, peluang untuk mengatasi masalah nuklir Iran melalui dialog dan diplomasi terbuka lebar.

Seraya menekankan kembali pentingnya diplomasi Ozugergin menambahkan,“Dalam hal ini, Turki telah melakukan banyak hal.”

“Iran adalah negara besar dan bersejarah, dan Turki percaya bahwa keputusan Iran realistis dalam hal ini akan diambil.”

MUNAJAT ORANG YANG BERKEKURANGAN

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

Ilahi

Lukaku tak kan tersembuhkan kecuali dengan karunia dan kasih-Mu

Kefakiranku tak kan terkayakan kecuali dengan cinta dan kebaikan-Mu

Ketakutanku tak kan tertenangkan kecuali dengan kepercayaan-Mu

Keinginanku tak kan terpenuhi kecuali dengan anugerah-Mu

Keperluanku tak kan tertutupi kecuali dengan karunia-Mu

Kebutuhanku tak kan tercapai oleh selain-Mu

Kesulitanku tak kan teratasi kecuali dengan rahmat-Mu

Kesengsaraanku tak kan terhilangkan kecuali dengan kasih-Mu

Kehausanku tak kan terpuaskan kecuali dengan pertemuan-Mu

Kerinduanku tak kan teredakan kecuali dengan perjumpaan-Mu

Kedambaanku tak kan terpenuhi kecuali dengan memandang wajah-Mu

Ketenteramanku tak kan tenang kecuali dengan mendekati-Mu

Deritaku dapat ditolak hanya dengan karunia-Mu

Penyakitku dapat disembuhkan hanya dengan obat-Mu

Dukaku dapat dihilangkan hanya dengan kedekatan-Mu

Lukaku dapat ditutupi hanya dengan ampunan-Mu

Noda hatiku dapat dikikis hanya dengan maaf-Mu

Was-was dadaku dapat dilenyapkan hanya dengan perintah-Mu

Wahai Akhir harapan para pengharap

Wahai Tujuan permohonan para pemohon

Wahai Ujung pencarian para pencari

Wahai Puncak kedambaan para pendamba

Wahai Kekasih orang-orang yang saleh

Wahai Penentram orang-orang yang takut

Wahai Penyambut seruan orang-orang yang menderita

Wahai Tabungan orang-orang yang sengsara

Wahai Perbendaharaan orang-orang yang papa

Wahai Perlindungan para pencari perlindungan

Wahai Pemenuh Hajat fuqara dan masakin

Wahai Yang Paling Pemurah dari segala yang pemurah

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Untuk-Mu kerendahanku dan permohonanku

Bagi-Mu penyerahanku dan doaku

Aku mohon pada-Mu

Sampaikan daku pada kesenangan ridha-Mu

Kekalkan bagiku kenikmatan pemberian-Mu

Inilah aku berhenti di pintu kemurahan-Mu

menunggu hadiah kebajikan-Mu

berpegang pada tali-Mu yang kokoh

bergantung pada ikatan-Mu yang perkasa

Ilahi

Sayangilah hamba-Mu yang hina

yang berlidah lemah, beramal kurang

Berilah padanya karunia-Mu yang berlimpah

Lindungilah dia di bawah naungan-Mu yang teduh

Wahai Yang Pemurah, Wahai Yang Mahaindah

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Arhamar Rahimin

Mengapa Imam Husain as. tidak melawan saat Mu’awiyah menjadi khalifah?

Selama 11 tahun menjadi Imam, Imam Husain as. sering melakukan banyak perdebatan dengan Mu’awiyah. Hal ini dapat kita saksikan dalam surat-surat beliau yang ditujukan kepada Mu’awiyah. Dalam surat-surat beliau, tidak jarang beliau menyinggung kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Mu’awiyah seperti membunuh tokoh-tokoh Syi’ah sebagaimana Hajar bin ‘Uday dan ‘Amr bin Hamq. Dalam surat-surat itu juga Imam Husain as. menuding pemerintahan Mu’awiyah sebagai kejahatan besar bagi Muslimin.[1] Seperti itulah Imam Husain menunjukkan ketidak-cocokannya dengan pemerintahan Mu’awiyah. Beliau juga menyebut jihad melawan Mu’awiyah sebagai jihad yang terbaik dan orang meninggalkannya harus beristighfar.[2]

Adapun mengapa beliau tidak melawan Mu’awiyah waktu itu, kita bisa menemukan jawabannya dengan melihat kembali apa yang sering beliau sampaikan dalam perkataan-perkataannya. Selebihnya, kita dapat menemukan jawaban tersebut dengan cara menelaah kembali bukti-bukti sejarah lainnya yang berkenaan dengan beliau.

Perjanjian antara Imam Hasan as. dan Mu’awiyah

Imam Husain as. dalam salah surat yang telah beliau tulis untuk Mu’awiyah menyatakan bahwa beliau benar-benar menghormati surat perjanjian yang telah disepakati oleh Imam Hasan as. dan Mu’awiyah. Dalam surat tersebutlah beliau menentang tuduhan yang berbunyi bahwa beliau telah melanggar surat perjanjian itu.[3]

Tapi di sini timbul pertanyaan lain. Bukankah sejak awal saat Mu’awiyah memasuki Kufah ia sudah menginjak-injak perjanjian tersebut? Bukankah sejak awal Mu’awiyah tidak mempedulikan perjanjian tersebut? Lalu mengapa Imam Husain as. tetap bersikap sesuai perjanjian padahal perjanjian itu telah dilanggar sendiri oleh Mu’awiyah?

Kita dapat menjawab pertanyaan di atas dari beberapa sudut pandang:

Pertama, jika kita memperhatikan perkataan Mu’awiyah yang tercatat dalam surat-suratnya, kita tidak bisa menemukan bukti yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa Mu’awiyah telah melanggar perjanjiannya. Dalam perkataannya, “Aku telah menjanjikan beberapa hal kepada Hasan bin Ali…”, kita dapat memahami bahwa bisa jadi hal-hal yang dijanjikan Mu’awiyah kepada Imam Husain tersebut di luar lingkaran perjanjian yang kita maksud. Oleh karena itu kita tidak bisa secara langsung menganggap Mu’awiyah telah melanggar perjanjian antara dia dengan Imam Hasan as. Atau paling tidak, dia mempunyai alasan agar tidak disebut sebagai orang yang telah melanggar perjanjiannya.

Kedua, kita harus membedakan antara pribadi Mu’awiyah dengan pribadi Imam Husain as. dalam dunia politik; sebagaimana nampak jelas sekali perbedaan Mu’awiyah dengan Imam Ali as. dalam dunia itu.

Dalam dunia politik, Mu’awiyah adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara (meski cara-cara itu tidak benar) untuk mencapai tujuan-tujuannya. Kita dapat melihat contohnya ketika ia  berselisih dengan Imam Ali as. saat itu. Misalnya seperti alasan penuntutan darah Utsman, merayu Thalhah dan Zubair, menancapkan Al-Qur’an di ujung tombak saat perang Shiffin, menyerang kota-kota yang berada di bawah pemerintahan Imam Ali as. dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi di sisi lain, Imam Husain as. adalah seorang lelaki yang enggan melakukan kecurangan untuk menggapai tujuannya. Sebagaimana Imam Ali as. juga bukan tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangannya. Imam Ali as. berkata, “Aku tidak akan pernah menggunakan kezaliman untuk mencapai kemenanganku.”[4]

Oleh karena itu, pantas saja Imam Husain as. tidak bersedia melanggar perjanjian kakaknya Al Hasan dengan Mu’awiyah meskipun Mu’awiyah sendiri telah melanggarnya.

Ketiga, kita harus benar-benar memahami situasi dan kondisi masa itu dan mari kita pikirkan apa yang akan terjadi jika Imam Husain as. tidak mementingkan perjanjian tersebut. Pada waktu itu Mu’awiyah dikenal sebagai seorang pemerintah negara Islam. Kekuasaannya sangat luas sekali, mulai dari negri Syam, Iraq, Hijaz, hingga Yaman. Di setiap sudut negara yang ia kuasai, terdapat kelompok-kelompok yang bekerja untuknya dan bertugas melakukan segala macam propaganda politik yang memberikan keuntungan kepada Mu’awiyah.

Ketika ia berselisih dengan Imam Ali as. saja ia mampu menyembunyikan kesalahannya dalam memberikan perlindungan kepada Utsman dan akhirnya khalifah ketiga itu mati terbunuh; bahkan ia mengaku di hadapan banyak orang bahwa dirinya adalah penuntut darah Utsman. Apa lagi di zaman Imam Husain as. yang mana tidak ada lagi kekuatan yang berarti yang dapat menandingi Mu’awiyah. Jika seandainya Imam Husain as. tidak mempedulikan perjanjian yang telah disepakati oleh kakaknya dengan Mu’awiyah, maka ia akan dituduh sebagai seorang pengingkar dan pengkhianat. Dan jika hal itu terjadi, maka pemikiran masyarakat umum akan berlawanan dengan beliau; dan akhirnya, usaha beliau dan sahabat-sahabat beliau dalam menyingkap kedok Mu’awiyah menjadi gagal dan sia-sia.

Posisi Mu’awiyah

Image Mu’awiyah begitu positif di mata masyarakat saat itu, terutama masyarakat Syam; sehingga sama sekali tidak memungkinkan adanya satu gerakan pun untuk melawan kekuatannya. Terlebih lagi mereka mengenal Mu’awiyah sebagai sahabat sang Nabi, penulis wahyu, dan saudara dari salah satu istri Rasulullah Saw. Mereka juga memandang Mu’awiyah sebagai seseorang yang memiliki peran utama dalam penyebaran Islam di wilayah Syiria dan Damaskus.

Bagitu juga pengalamannya dalam dunia politik serta umur yang dimiliki oleh Mu’awiyah yang mana ia jauh lebih tua dari pada Imam Hasan as. dan Imam Husain as. Dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada Imam Hasan as., Mu’awiyah menyebut dua hal tersebut sebagai tanda kelayakannya untuk duduk di atas kursi kekhalifahan.[5] Dengan demikian, posisi Mu’awiyah sangat sulit diganggu gugat.

Siasat Mu’awiyah

Mu’awiyah selalu memanfaatkan segala kesempatan yang ia dapat untuk memberikan tekanan terhadap keluarga Bani Hasyim dan sampai-sampai ia berhasil membunuh Imam Hasan as. dengan cara meracuni beliau.[6] Akan tetapi, gerak geriknya begitu halus dan tersembunyi; ia berlaku keji di dalam namun di luar seakan ia yang nomor satu dalam memberikan penghormatan kepada Bani Hasyim, khususnya Imam Husain as. Sebagai contoh, salah satu siasatnya adalah, ia selalu memberikan hadiah-hadiah bulanan dan tahunan yang melimpah ruah kepada Imam Hasan as., Imam Husain as. dan Abdullah bin Ja’far (dan tujuannya hanyalah bersikap baik di luar, namun menyiksa di dalam—pent.). Adapun kenapa mereka menerima hadiah-hadiah tersebut, hal itu tidak perlu dipertanyakan, karena selain mereka memang berhak untuk memegang harta baitul mal, mereka juga paling tahu di jalan apa mereka harus menggunakannya.[7]

Inilah siasat Mu’awiyah dan kepicikannya. Bahkan sesaat sebelum ia mati pun ia sempat menasehati anaknya yang bernama Yazid bahwa jika kelak Imam Husain as. berperang melawannya, jangan sampai ia terbunuh.[8]

Kita dapat menyadari apa tujuan Mu’awiyah dari semua siasat piciknya ini. Jelas sekali dengan ini semua Mu’awiyah berusaha untuk menduduki kursi kekhilafahan yang dipandang sah oleh masyarakat umum. Ia tidak ingin kenyamanannya duduk di kursi kekhilafahan terganggu akibat tangan yang terlumuri darah Imam. Ia tidak ingin masyarakat memandangnya sebagai musuh keluarga nabi. Dengan demikian ia memamerkan kebaikan-kebaikannya terhadap keluarga nabi di mata umum meski di balik itu Mu’awiyah adalah yang paling keji terhadap Bani Hasyim. Mu’awiyah melakukan semua itu karena ia berpikiran bahwa dengan usahanya ia dapat membuat masyarakat merasa berhutang terhadapnya dan menghapuskan adanya kemungkinan masyarakat untuk memberontak. Di samping pemberian-pemberiannya pun, Mu’awiyah juga tak lupa menyisipkan kata-kata kecongkakan; ia berkata kepada Imam Hasan as. dan Imam Husain as., “Ambillah harta yang melimpah ini! Tapi ketahuilah, aku adalah anak Hindun, sedangkan anak-anak Hindun tidak pernah ada yang berbuat seperti ini padamu selain aku, baik sebelum aku atau setelahku nanti.”

Imam Husain as. menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa berhutang kepada Mu’awiyah hanya karena pemberian-pemberiannya dengan berkata, “Demi Tuhan, tidak ada satupun orang baik sebelummu maupun setelahmu yang dapat memberi hadiah-hadiah seperti ini kepada orang yang lebih mulia dari kami dua bersaudara ini.”[9]

Mu’awiyah sangat menyadari bahwa menggunakan cara yang kasar secara terang-terangan dalam menyikapi Bani Hasyim hanya akan memberikan hasil yang tak diharapkan. Jika ia terang-terangan tampil sebagai musuh Bani Hasyim, masyarakat umum bakal terheran-heran dengan sikapnya dan lama kelamaan timbul rasa benci di hati umum terhadap pemerintah, lalu satu persatu dari mereka akan menyadari kenyataan sebenarnya lalu menjadi pendukung Bani Hasyim. Yang lebih perlu kita perhatikan adalah, di zaman itu Mu’awiyah sama sekali tidak pernah memperkirakan adanya bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh Imam Husain as. Oleh karenanya, jalan terbaik untuknya adalah menjalankan siasat seperti ini.

Di sisi lain, Imam Husain as. selalu berupaya untuk mengukir tanda tanya sejelas-jelasnya atas pemerintahan yang tak sah ini. Salah satu contoh sikap beliau adalah surat-surat yang ditulis untuk Mu’awiyah dalam rangka mengingatkan ia atas pelanggaran-pelanggaran dan bid’ah-bid’ahnya.[10]Salah satu contohnya juga adalah penolakan beliau atas sikap Mu’awiyah yang mana sesaat sebelum meninggal ia mewasiatkan agar Yazid menjadi penggantinya.[11] Imam Husain as. pun sangat menyadari bahwa perlawanan ceroboh terhadap pemerintah tidak akan memberikan hasil apa-apa, terlebih lagi dengan adanya siasat busuk Mu’awiyah yang telah kita jelaskan dan juga upaya kaki tangan pemerintah yang tak pernah berhenti melakukan propaganda.

Kondisi saat itu

Imam Husain as. sesaat sepeninggal kakaknya Al Hasan as. menerima banyak surat dari warga Kufah yang mengaku sebagai pengikutnya dan siap dengan segala perintah Imam.[12] Akan tetapi, Imam Husain as. sama sekali tidak yakin ia akan menang jika ia bergabung dengan orang-orang Kufah itu. Beliau berfikiran sedemikian rupa dikarenakan beberapa sebab: kuatnya sistim pemerintahan Mu’awiyah yang berpusat di Syam, dikuasainya kota Kufah secara total oleh pihak pemerintah, di pengalaman-pengalaman sebelumnya warga Kufah pernah mengecewakan Imam Ali as. dan Imam Hasan as., Mu’awiyah memiliki wajah yang tampak sebagai seorang pemimpin Muslimin secara lahiriah meski kenyataannya ia serigala berbulu domba dan lain sebagainya. Oleh karena itu, melawan pemerintah bersama orang-orang Kufah artinya adalah membuang-buang tenaga yang sangat sedikit, mati konyol dan memberikan kesan pemberontakan.

Adapun di zaman pemerintahan Yazid, kondisi saat itu berbeda jauh dengan sebelumnya.


[1] Al Imamah Was Siyasah, jilid 1, halaman 180: Imam Husain as. berkata, “Aku tidak melihat kejahatan lain yang lebih besar dari pemerintahanmu bagi Muslimin.

[2] Ibid. Imam Husain as. berkata, “Demi Tuhan, aku tidak mengetahui adanya jihad yang lebih afdhal ketimbang berjihad melawanmu. Jika aku melakukannya, sesungguhnya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah; dan jika aku tidak melakukannya, maka aku harus beristighfar.” Ucapan beliau ini juga disebutkan dalam Biharul Anwar, jilid 44, halaman 213 dengan sedikit perbedaan.

[3] Mausu’ah Kalimatul Imam Husain as., halaman 239: Beliau berkata, “Na’uzubillah. Aku tidak melanggar perjanjian yang telah disepakati oleh kakakku Al Hasan denganmu.”

[4] Nahjul Balaghah, khutbah 126.

[5] Maqatilut Thalibin, halaman 40. Mu’awiyah berkata, “Sesungguhnya aku lebih layak dan lebih berpengalaman dari pada engkau dan umurku lebih tua dari padamu… maka tunduklah kepadaku.”

[6] Al Irsyad, halaman 357.

[7] Mausu’ah Kalimah Al Imam Al Husain as., halaman 209 dan 210.

[8] Al Akhbarut Thiwal, halaman 227, dan Tajarib Al Umam, jilid 2, halaman 39.

[9] Tarikh Ibnu Asakir, Tarjumatul Imam Husain as., halaman 7, hadis ke-5.

[10] Biharul Anwar, jilid 44, halaman 212.

[11] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 228; Al Imamah wa As Siyasah, jilid 1, halaman186.

[12] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 228.

Para  Pembaca…

Mengapa Imam Husain as. tidak memulai perjuangannya sejak ia masih di Madinah?


Jawaban pertanyaan ini juga bisa didapatkan jika kita benar-benar memperhatikan seperti apa kondisi yang ada saat itu. Saat Imam Husain as. masih berada di Madinah, berita kematian Mu’awiyah belum benar-benar tersebar dan terdengar di mana-mana. Lagi pula saat itu masyarakat masih belum merasakan apa perbedaan pemerintahan Yazid dengan Mu’awiyah. Meskipun beberapa pihak seperti Imam Husain as. sendiri, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar dan Abdurrahman bin Abu Bakar meyakini Yazid sebagai sosok pemabuk yang suka bermain dengan kera dan anjing,[1] tapi masyarakat umum masih terbawa propaganda-propaganda sebelumnya yang merupakan siasat busuk Mu’awiyah.[2]

 

Kota Madinah saat itu bukanlah tempat yang tepat untuk dijadikan titk permulaan bagi perjuangan beliau, karena beberapa hal:

Pertama, meskipun di Madinah terdapat banyak pengikut Ahlul Bait as. seperti kaum Anshar, akan tetapi mereka begitu lemah tekatnya sehingga tidak bersedia mengorbankan nyawa untuk Ahlul Bait as. di jalan ini; bahkan untuk hal-hal yang lebih kecil dari itu saja mereka enggan; sebagaimana lemahnya tekat mereka dapat kita saksikan pada peristiwa Saqifah dan setelahnya.

Sungguh menakjubkan jika kita melihat ketidak-bersediaan mereka saat Imam Ali as. meminta mereka untuk membantu melawan musuh-musuh beliau. Akhirnya beliau hanya memiliki beberapa ratus pejuang saja yang bersedia membantunya melawan ribuan pasukan musuh di salah satu peperangan bersejarahnya.

Kedua, sepeninggal Rasulullah saw. Madinah terkenal selalu tunduk dengan langkah-langkah politik kekhalifahan yang pernah berkuasa. Madinah sangat tunduk dengan sunah-sunah Syaikhain (Abu Bakar dan Umar). Salah satu contoh yang menggambarkan kenyataan ini adalah ketika Abdurrahman bin ‘Auf memaksa Imam Ali as. untuk mengikuti sunah-sunah Syaikhain sebagai syarat diberikannya kendali pemerintahan ke tangan beliau; akan tetapi beliau tidak memenuhi permintaan itu.[3] Imam Ali as. akhirnya menjadi khalifah pun sebenarnya yang mendorong beliau bukanlah orang-orang Madinah itu sendiri, tapi mereka adalah sekelompok orang yang berhijrah dari tempat lain, khususnya Kufah, dan mereka bersikeras mendesak Imam untuk menjadi sang khalifah.

Ketiga, ada beberapa orang dari beberapa kabilah Quraisy yang memiliki pengaruh besar di Madinah dan mereka bekerja untuk Muawiyah, contohnya orang-orang seperti Marwan dan keluarganya. Tak dapat diragukan lagi, orang-orang seperti mereka tidak akan tinggal diam jika mengetahui gerak-gerik Imam Husain as. yang mulai membahayakan.

Keempat, jumlah warga Madinah tidak terlalu banyak untuk menjadi para pejuang melawan pemerintahan batil. Artinya jika perjuangan itu terjadi, tidak akan memberikan hasil. Ini dapat kita pahami jika kita bandingkan Madinah dengan kota-kota yang lain seperti Kufah, Bashrah dan Syam.

Kelima, di sepanjang sejarah Madinah tidak pernah terbukti bahwa kota itu merupakan tempat yang mendukung jalannya perjuangan melawan pemerintahan batil. Dalam sejarah tercatat bahwa setiap pergerakan yang terjadi di kota ini selalu mengalami kegagalan, seperti gerakan sia-sia penduduk Madinah melawan pemerintahan Yazid pada tahun 63 H. yang dikenal dengan peristiwa Harrah.[4]Begitu juga dengan perjuangan kaum Alawi seperti Muhammad bin Abdullah yang dikenal dengan Nafsu Zakiyah pada tahun 145 H.[5], dan perjuangan Husain bin Ali yang dikenal sebagai Syahid Fakh pada tahun 169 H.[6]; semuanya menuai kegagalan.

Keenam, terbukti bahwa penduduk Madinah tidak pernah mau membela Ahlul Bait as. di masa-masa kekhilafahan dinasti Umayyah. Salah satu contohnya adalah sikap mereka terhadap siasat pelaknatan Imam Ali as. yang dijalankan oleh Mu’awiyah; masyarakat Madinah tidak pernah menunjukkan penolakan mereka terhadap siasat tersebut. Mereka membiarkan pejabat-pejabat pemerintah melaknat Imam Ali as. sepuasnya tanpa ada satu pun yang menentang. Hanya keluarga Bani Hasyim yang berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tradisi itu, terutama Imam Husain as. Akan tetapi beliau pun tidak pernah mendapatkan dukungan dan pembelaan dari pihak masyarakat.[7]

Ketujuh, Hakim Umawi yang saat itu adalah Walid bin Utbah memiliki kendali total atas Madinah. Dengan demikian tidak mungkin dengan terjadinya pemberontakan kecil kendali kekuasaannya dapat berpindah ke tangan yang lain dengan mudahnya.


[1] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 228.

[2] Al Imamah wa As Siyasah, jilid 1, halaman 161-164.

[3] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 162.

[4] Al Kamil fi At Tarikh, jilid 2, halaman 593.

[5] Ibid, jilid 3, halaman 563-579.

[6] Tarikh Ya’qubi, jilid 2, halaman 404 dan 405.

[7] Biharul Anwar, jilid 44, halaman 211.

Ayat-ayat Al Qur’an yang dapat ditafsirkan sebagai bukti kekhilafahan imam 12 Syi’ah

Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Apa alasan Syi’ah?

Sejak awal, Rasulullah saw selalu bersama Ali ke manapun pergi. Di goa Hira, saat beliau menerima wahyu, ia bersama Ali.

Rasul memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi. Ia mulai dari keluarganya, Bani Hasyim. Di saat itu ia bertanya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjadi pendampingku dan pengganti setelahku?” Ali mengangkat tangannya. Rasul menolaknya. Lalu bertanya lagi, namun Ali juga yang menjawab, selain ia tidak ada yang menjawab. Rasul tetap menolaknya. Hingga ketiga kalinya baru Rasul menerima Ali dan berkata

“Inilah pendampingku dan pengganti setelahku. Maka patuhlah padanya.”

(lihat: Tafsir Thabari, jil. 19, hal. 419; Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 319 – 321, cet. Darul Ma’arif Mesir; Tarikh Al Kamil – Ibnu Atsir Syafi’i, jil. 2, hal. 62 & 63, cet. Dar Al Hadzir – Beiriut; Kanzul Ummal, jil. 15, hal. 115, hadits 334, cet. ke-2 Haidarabad; Musnad Ahmad bin Hanbal, jil. 5, hal. 41 & 42)

Di akhir khutbah beliau pada hari Ghadir, dimana pada waktu itu beliau bersama rombongan haji lainnya sedang berjalan pulang. Saat di perempatan jalan turun wahyu yang memerintahkan beliau untuk menyampaikan satu masalah penting, yang jika tidak ia sampaikan berarti risalah kenabiannya percuma. “Wahai nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu. Jika engkau tidak menyampaikannya, maka artinya kamu tidak menunaikan risalahmu.”

Lalu masalah penting apakah itu? Rasul mengangkat tangan Ali seraya berkata kepada semua orang:

“Barang siapa menjadikan aku sebagai tuannya, maka jadikanlah Ali sebagai tuannya juga. Sungguh aku meninggalkan dua pusaka bagi kalian. Jika kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya.”

Nabi dengan jelas di awal dan akhir dakwah menunjuk Ali sebagai pemimpinnya. Namun apa sikap Muslimin? Jenazah nabi belum sempat dimandikan mereka semua ribut bercekcok di Saqifah untuk menunjuk khalifah.

Apakah nabi hanya menyinggung kekhilafahan Ali di awal dan akhir dakwahnya saja? Tidak, sungguh sangat sering beliau menjelaskan “siapakah Ali”.

Ali di sisi nabi bagai Harun as di sisi Musa as

Di perang Tabuk Rasulullah saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

“Engkau di sisiku bagaikan Harun di sisi Musa.”

(lihat:)

Siapakah Harun? Harun adalah wakil Musa. Lalu siapakah Ali kalau bukan wakil nabi?

Pesan nabi di haji terakhirnya

Di haji terakhirnya, haji Wada’, beliau berdiri di hadapan jama’ah haji seraya mengumumkan:

“Wahai umat manusia, aku meninggalkan dua hal untuk kalian yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya: kitab Allah dan Ahlul Baitku.”

Riwayat ini disebutkan oleh Turmudzi dan Nasa’i dari Jabir. Begitu pula Al Muttaqi Al Hindi menukilnya dalam Kanzul Ummal. Detil referensi riwayat ini: Sahih Turmudzi, jil. 5, hal. 328, hadits ke-3874, cet. Darul Fikr-Beirut; Sahih Turmudzi, jil. 13, hal. 199, cet. Maktabah As Shawi-Mesir; Sahih Turmudzi, jil. 2, hal.308, cet. Bulaq-Mesir; Nadzm Durar As Simthain-Az Zarandi Al Hanafi, hal. 232, cet. Al Qadha-Najaf; Yanabi’ul Mawaddah-Al Qunduzi Al Hanafi, hal. 33, 45 dan 445, cet. Al Haidariyah; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 30, 41 dan 370, cet. Islambul; Kanzul Ummal, hal. 153, cet. ke-2; Tafsir Ibnul Katsir, jil. 4, hal. 113, cet. Darul Ihya’ Al Kutub Al Arabiah-Mesir; Masabih Al Sunnah-Al Baghawi, hal. 206, cet. Al Qahirah; Masabih Al Sunnah-Al Baghawi, jil. 2, hal. 279, cet. Muhammad Ali Sabih.

Dalam versi yang lain disebutkan:

“Sesunguhnya aku meninggalkan di antara kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan pernah tersesat setelahku: Yang pertama adalah kitab Allah, tali yang mengulur dari langit ke bumi, yang kedua adalah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya nanti bertemu denganku di surga…”

Turmudzi meriwayatkannya dari Zaid bin Arqam. Referensi lengkap: Sahih Turmudzi, jil. 5, hal. 329, hal. 3876, cet. Darul Fikr; Sahih Turmudzi, jil. 2, hal. 308, cet. Bulaq-Mesir; Sahih Turmudzi, jil. 13, hal. 200, cet. Al Shawi; Nazm Durar Al Simthain-Zarandi Al Hanafi, hal. 231; Ad Durr Al Mantsur-Suyuthi, jil. 6, hal. 7; Ad Durr Al Mantsur, jil. 6, hal. 7 dan 306; Dzakhair Al Uqba, hal. 16; As Shawaiq Al Muhriqah, hal. 147 dan 226, cet. Al Muhammadiyah; As Shawaiq Al Muhriqah, hal.89, cet. Al Maymanah-Mesir; Yanabi’ul Mawaddah-Al Qunduzi Al Hanfi, hal. 33, 40, 226 dan 355, cet. Al Haidariyah

Al Qur’an tidak menjelaskan detil agama


Mengapa hal-hal yang sangat penting, misalnya nama Ali bin Abi Thalib tidak disebutkan dalam Al Qur’an? Sehingga jelas sudah terbukti bahwa ia adalah khalifah setelah nabi?

Imam Ja’far Shadiq as menjawab: “Memangnya rakaat shalat dijelaskan dalam Al Qur’an?”

Al Qur’an tidak menerangkan detil syariat dan perkara agama-agama. Oleh karena itu Rasulullah saw berwasiat di akhir hayatnya kepada umat manusia agar berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Itrahnya (Ahlulbait as). Karena Ahlul Bait adalah penafsir Al Qur’an. Keduanya tidak dapat dipisahkan

.

1. Ayat Tabligh.

Allah swt berfirman:

یا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَیْکَ مِنْ رَبِّکَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا یَهْدِی الْقَوْمَ الْکافِرین

Artinya: “Wahai nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan oleh Allah swt. Karena jika kau tidak menyampaikannya maka sama seperti kamu tidak menyampaikan apapun sama sekali. Dan Allah menjagamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum kafir.” (Al Maidah: 67)

Banyak sekali ulama Ahlu Sunah yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun mengenai kekhilafahan Imam Ali as. Misalnya: Fakhrur Razi dalam Tafsir Al Kabir, jilid 3 halaman 626; Jalaluddin Al Suyuthi, Ad Durr Al Mantsur, jilid 2, halaman 298; Syaikh Muhammad Abduh (mufti terkenal Mesir) dalam Tafsir Al Manar, jilid 6, halaman 463; dsb.

2. Ayat Wilayah

Allah swt berfirman:

إِنَّما وَلِیُّکُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذینَ آمَنُوا الَّذینَ یُقیمُونَ الصَّلاةَ وَ یُؤْتُونَ الزَّکاةَ وَ هُمْ راکِعُون

Artinya: “Sesungguhnya wali kalian adalah Allah swt, rasul-Nya, dan orang yang beriman yang memberikan zakat dalam keadaan rukuk.” (Al Maidah: 55)

Rujuk: Ad Durr Al Mantsur, jilid 2, halaman 293; Al Kasyaf Zamakshari, jilid 1, halaman 649; Tafsir Al Kabir Fakhrur Razi, jilid 12 halaman 26; Tafsir Thabari, jilid 6, halam 186; dan masih banyak lagi.

3. Ayat Ulil Amr

Allah swt berfirman: ا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا أَطیعُوا اللَّهَ وَ أَطیعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِی الْأَمْرِ مِنْکُم‏ Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah swt, rasul, dan Ulil Amri dari kalian.” (An Nisa’ : 59)

Hakim Haskani Hanafi Neysaburi dalam Syawahidut Tanzil menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah Ali bin Abi Thalib. (Syawahidut Tanzil, jilid 1, halaman 1480151) Rujuk pula: Tafsir Al Burhan, jilid 1, dalam tafsir ayat di atas.

4. Ayat Shadiqin Allah swt berfirman: یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ کُونُوا مَعَ الصَّادِقینَ Artinya: “Wahai orang yang beriman, bertakwalah dan bersamalah dengan Shadiqin (orang yang jujur).” (At Taubah : 119)

Yang dimaksud dengan Shadiqin dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib

5. Ayat Qurba Allah swt berfirman: قُلْ لا أَسْئَلُکُمْ عَلَیْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِی الْقُرْبی Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali kecintaan terhadap orang-orang terdekatku” (As Syura : 23)

Yang dimaksud dengan orang-orang terdekat adalah Ahlul Bait as., yang termasuk salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib.