Wahabi memutar balikkan fakta/ memfitnah/memprovokasi tentang kebenaran akidah Syi’ah lalu menampilkannya secara palsu sehingga seakan terlihat bertentangan dengan ajaran Islam agar umat membenci dan kemudian memerangi Syi’ah

wedus
wajar jika KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum NU mewaspadai wahabi, maklum kanjeng Nabi SAW menyatakan bahwa mereka adalah setan dari nejed yang muncul pada akhir zaman.. Wahabi cuma ngomong besar tetapi ujung ujungnya cuma nyari duit dari asing (gerakan trans nasional)..Wahabi suka memalsu kitab kitab syi’ah
.
Rasulullah saww bersabda, “Kelak di akhir zaman akan muncul satu kaum dari kalangan muda dengan pikiran dangkal. Mereka mengatakan ucapan-ucapan yang paling baik, membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an tidak masuk ke dalam kalbunya. Mereka keluar dari agama ini (Islam) bak melesatnya anak panah dari busurnya.” (Hadis Shahih Muslim)
.
Hadits di atas menjelaskan awal dari munculnya kelompok Khawarij, yaitu sekelompok orang yang semula adalah pengikut Imam Ali as, namun kemudian keluar (kharaja) dari kelompok Imam Ali, terutama setelah peristiwa arbitrase (tahkim) antara pasukan Imam Ali as dan Mu’awiyah.


.

Seperti disabdakan Rasulullah saww, orang-orang Khawarij terdiri dari kalangan muda yang berpikiran dangkal. Kelompok ini cenderung menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an hanya dari sisi tekstual saja tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya, seperti nahwu, sharaf, balaghahma’anibayan, badi’, hadits, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, dan masih banyak lagi ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Kedangkalan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an melahirkan pola pikir yang ekstrim dan gegabah
.
Suatu malam Imam Ali as bersama salah seorang sahabatnya berjalan melewati sebuah gang di kota Kufah. Lalu mereka berdua mendengar suara bacaan al-Qur’an yang sangat menyentuh hati. Ayat yang dibaca orang itu :“Apakah kamu wahai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung atau orang-orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya?” (QS 39 : 9).
.
Mendengar bacaan itu, sahabat Imam Ali berkata, “Alangkah berbahagia orang ini! Keselamatan dan kebahagiaan baginya!”
Imam Ali menoleh kepada sahabatnya seraya berkata, “Tunggu dulu! Engkau jangan iri dengan keadaannya!”
Imam Ali dan sahabatnya kembali melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa waktu setelah itu, terjadilah perang Nahrawan, perang antara  Imam Ali as dan pasukannya dengan kaum Khawarij
.
Setelah kaum Khawarij dikalahkan pasukan Imam Ali, Imam Ali memeriksa orang-orang Khawarij yang terbunuh. Imam Ali as melihat salah seorang mayat lalu beliau memanggil sahabatnya yang pernah berjalan di malam hari bersamanya, “Mayat ini adalah orang yang yang dulu melakukan shalat tahajjud dan membaca al-Qur’an di malam itu!” 1]
.
Sahabat Imam Ali as sangat terpukau dengan suara bacaan al-Qur’an seseorang, namun Imam Ali menolak pendapat sahabatnya yang cenderung melihat masalah dari sisi lahiriyah saja. Di kemudian hari, Imam Ali as membuktikan kebenaran pengetahuan intuisinya tentang seseorang yang nampak shalih tetapi sebenarnya ia berada dalam kesesatan yang nyata
.
Di dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa di dalam pasukan ‘Ali bin Abi Thalib (as) terdapat orang-orang yang membelot, maka Imam ‘Ali berkata, “Wahai manusia! Aku mendengar Rasulullah (saw) berkata : “Kelak akan muncul dari umatku ini suatu kaum yang tekun membaca al-Qur’an, bacaan mereka tidak berbeda dengan bacaan kalian, shalat mereka tidak berbeda dengan shalat kalian, dan puasa mereka pun tidak pula berbeda dengan puasa kalian. Mereka membaca al-Qur’an dan mengira bahwa dengan itu mereka memperoleh pahala, padahal justru mendapat bencana, dan shalat mereka tidak memberi manfaat apa pun terhadap diri mereka. Mereka keluar dari Islam persis melesatnya anak panah dari busurnya, dan bila para prajurit yang menemukan mereka dan harus melaksanakan perintah yang disampaikan oleh Nabinya, hendaknya mereka tidak kebingungan untuk bertindak. Tanda-tanda kaum itu adalah bahwa di antara mereka itu ada seorang laki-laki yang punya pundak besar dan memiliki lengan pendek. Di atas pundaknya terdapat semacam benjolan (punuk) dengan bulu-bulu berambut putih. Kemudian kalian akan lari meninggalkan mereka lalu bergabung dengan Mu’awiyah dan orang Syam, lalu membiarkan mereka menawan dan merampok anak dan harta benda kalian. Demi Allah! Aku berharap bisa bertemu dengan mereka, karena sesungguhnya mereka menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, merampas ternak dan menawan penggembalanya. Ayo maju dengan nama Allah!” 2]
Kaum Khawarij adalah orang-orang yang melakukan ibadah-ibadah ritual tanpa memahami makna filosofis, dan melupakan kaitan ibadah ritual dengan ibadah sosial yang tak bisa dipisahkan
.
Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang gelisah jiwanya, namun tidak tertutup kemungkinan banyak pula orang-orang yang sudah berumur juga terlibat
.
Mereka melihat kekacauan umat dengan kaca mata akidah yang kacau pula, berpikir dangkal, emosional dan cenderung beringas. Pemahaman dangkal terhadap al-Qur’an dan Sunnah Rasul membuat mereka bertindak serampangan, mengambil makna-makna lahiriah lalu mereka anggap sebagai ajaran agama yang sakral, tak boleh dilanggar dan mereka pertahankan secara membabi buta
.
Pada ujungnya, mereka mudah membuat klaim-klaim penyesatan bahkan pengkafiran terhadap sesama muslim lainnya
.
Pada masa kini pun kita banyak melihat orang-orang yang memiliki ciri-ciri seperti ini, suatu sikap religiusitas yang tumbuh secara liar. Mereka inilah orang-orang yang setapak demi setapak terjebak dalam pemikiran mentah dan reaksioner hingga akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka dengan tindakan-tindakan kekerasan seperti sabotase atau bahkan teror
.
Banyak ulama yang menyatakan bahwa aliran Wahabi Salafi merupakan Neo-Khawarij, karena memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.
Umumnya, tindakan ceroboh mereka itu karena pemahaman yang dangkal dari ibadah amar ma’ruf nahi munkar dan jihad. Mereka percaya bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Jihad tidak bersyarat apa pun, dan kapan pun perintah Ilahi ini mesti dilaksanakan. 3]
.
Ibadah Mereka Yang Sia Sia
Allah swT berfirman, “Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS Al-Kahfi [18] ayat : 103-104)
.
Abu Ja’far al-Thusi di dalam tafsirnya al-Tibyan menyebutkan bahwa Ibn al-Kawa’ (salah seorang pengikut Khawarij) bertanya tentang ayat ini kepada Amirul Mu’minin as, maka Imam as menjawab, “Engkau dan sahabat-sahabatmu, mereka itulah (termasuk) orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini” 4]
.
Menurut kaum salafy-wahabi, penggunaan istilah Wahhabi dengan menisbatkan kepada Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah tidak tepat. Mereka justru berdalih bahwasanya yang dimaksud dengan kaum wahhabi adalah kaum yang mengikuti Abdul Wahhab ibn Abdurrahman Rustum.
Pernyataan ini dapat ditemui di link ini http://muslim.or.id/manhaj/wahabisme-versus-terorisme.html
Perhatikan kalimat-kalimat ini:
.
“Sebenarnya, Wahabi merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad kedua hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -ed), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.”
Baiklah, jika menurut mereka istilah “wahabi” itu diperuntukkan pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, maka hal ini akan sangat bertentangan dengan FAKTA DI LAPANGAN.
.


Membongkar Fitnah Murahan Wahhabi-Salafi

Dengan segala cara kaum Pemfitnah melakukan prokasi umat Islam Sunni agar membenci dan  kemudian memerangi Syi’ah para pecinta dan pengikut setia Nabi saw. dan Ahlulbait as. Sesekali dengan memutar balikkan kebenaran akidah Syi’ah dan menampilkannya secara palsu sehingga seakan terlihat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri! Terkadang dengan memalsu data dengan cara memotong-motong nash/teks hadis dan terkadang juga dengan mengada-ngada fatwa yang tidak pernah difatwakan para ulama Syi’ah…. selain itu juga dengan mempermainkan akal kaum awam dengan memelesetkan terjemahan sebuah hadis..

Alhasil segala macam cara ditempuh oleh agen-agen fitnah dan para pemecah belah barisan Umat Islam, yang penting bagaimana caranya kaum Muslim Sunni marah dan kemudian bangkit memerangi Syi’ah. Dan itu semua itu pasti akan membuat bahagia musuh-musuh Allah dan musuh-musuh agama ini, utamanya AS dan Zionis Israel.

Kaum Sunni Bukan Kaum Nashibi!

Di antar yang dilakukan agen-agen Wahhabi-Salafi di tanah air tercinta dan juga tentunya di negeri asalnya yang sekarang dipinpin oleh Raja dan Emir-emir Arab Baduwi/A’râb (bukan Arab) adalah memprovokasi bahwakaum Syi’ah mengangap kaum Sunni adalah kaum Nashibi yang halal harta dan darah-darah mereka!

Nashibi (yang bentuk jamaknya Nawâshib) adalah orang yang menampakkan kebencian dan  permusuhan serta mengobarkan peperangan melawan Ahlulbait Nabi saw. Mereka, jelas-jelas dihukumi sesat. Para ulama Ahlusunnah pun tidak berselisih bahwa kaum Nashibi itu sesat! Akan tetepi menuduh bahwa Syi’ah menghukumi kaum Suni sebagai Nabshibi adalah ftitnah murahan yang tujuannya sudah sangat jelas yaitu memprovokasi uamt Isdlam agam segera bangkit memerangi dan membantai Syi’ah! Syi’ah yang selama ini membuat repot musuh-musuh Allah! Maka musuh-muush Allah itu hendak meminajm tangan kaum Muslimin melalui fitnah kaum Wahhabi-Salafi untuk memerangi Syi’ah….

Fitnah itu sering kita temukan dihenbuskan oleh mulut-mulut dan pena-pena beracum. Di antaranya adalah apa yang tertera dalam sebuah artikel sebagai berikut: 

Meyakini bahwa darah dan harta orang-orang Ahlus Sunnah adalah Halal.

  • Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad: “Aku bertanya kepada Abu Abdullah ‘alaihis salam: Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)? Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya. Aku bertanya lagi: Bagaimana dengan hartanya? Dia menjawab: Rampas sahaja semampu mungkin”.    (‘Ilal asy Syarâi’: 44. Cetakan Beirut.)
  • Berkata Abu Ja’far ath-Thusi (ulama Syiah): “Berkata Abu Abdullah ‘alaihis salam (Imam as-Sadiq): Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima”. (Tahzibul Ahkam. (1V/122) Cetakan Tehran.)
  • Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah): “Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya (Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah. (X11/323-324).]

Perhatikan wahai saudaraku dengan mata dan hati terbuka, adakah fitnah murahan lebih dari yang sedang Anda saksikan dari ulam mereka?! Mengapakah mereka memutar balikkan terjemahan kata an Nashibi dengan Ahlusunnah! Apakah ini yang namanya menghujat Syi’ah dengan ilmiah? Mengapakah kalian selalu bermain curang? Apa takut kalah kalau bermain jujur?

Sadarlah teman… di hadapan Anda ada harti hisab, di mana semua orang akan dihisab semua amal perbuatannya!

 .
MARI KITA BUKTIKAN !
Masih ingat kasus Pemalsuan atas Kitab Klasik Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir Jalalain yang dilakukan oleh kaum Salafy-Wahhabi tahun 1420 H?
.
Berikut ini adalah nukilan dari Kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, Beirut, Libanon, dicetak Tahun 1419 H) halaman 78, Tafsir ayat 7 dan 8 Surat Al-Fathir, karya al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki, seorang ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah mu’tabaar menyebutkan:
وقيل هذه الاية فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة ويستحلون بذالك دماء المسلمين وأموالهم, لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Dikatakan, ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al Quran dan Sunnah, dan dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yang benar-benar merugi. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
.
LIHAT FAKTA INI !
Kemudian, setelah setahun Kitab ini terbit, pada tahun 1420 H melalui penerbit Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon, kaum salafy-wahabi melakukan tahrif atas kitab ini dengan tujuan untuk menyembunyikan jati diri wahabi sebenarnya
.
Berikut ini adalah nukilan dari teks yang dipalsukan:
Hasyiyyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon. Tahqiiq: Muhammad Abdul Salam Syahin)
هذه الأية نزلت فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة, ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al-Quran dan Sunnah, dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yangmerugi. Kitamemohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
Perhatikanlah, bahwasanya kaum Salafy-Wahabi memotong/menghilangkan kalimat:
لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون
Yang artinya: “Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.”
———————————————————-
Natijah / Kesimpulan:
Jika Istilah “Wahabi” itu diperuntukkan bagi para pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, kenapa kaum Salafy-Wahabi melakukan pemalsuan perkataan Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan dengan gamblang tentang jati diri kaum Wahabi sebenarnya?
Bukankah upaya pemalsuan atas perkataan al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki ini justru menguatkan bahwa memang sebenarnya istilah Wahabi ini diperuntukkan bagi pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab.
____________________
Catatan Kaki :
1] Murtadha Muthahhari, Islam dan Tantangan Zaman, hal. 84
2] Shahih Muslim dengan Syarah dari al-Nawawi 3 : 118
3] Murtadha Muthahari, Ali bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, hal. 111
4] Abu Ja’far al-Thusi, Tafsir al-Tibyan 7 : 97, baris ke 6
*) Ali Syariati menjuluki kaum Khawarij sebagai Orang Shalih Yang Dungu.

Penyelewengan Kebijakan Khalifah Utsman-lah Pemicu Lahirnya Pemberontakan ! Abdullah bin Saba’ cuma kambing hitam penguasa sunni


Persembahan Buat Para Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Dan Para Tukang Fitnah!

  • Awal Perpecahan Umat Islam Dan Peran Abdullah ibn Saba’

Terma awal kemunculan fitnah di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan tidak diragukan lagi adalah satu di antara terma sensitif dalam sejarah Islam. Dampak negatif yang ditimbulkannya pun berekor panjang. Fitnah itu pemicu bagi berbagai peperangan yang terjadi di antara para pemeluk Islam!

Banyak kajian telah  disajikan untuk mengungkap faktor penyebabnya. Hampir setiap peneliti yang mengupas sejarah dan problematik Islam melainkan ia menyebutkan bahwa di antara sebab utama perselisihan umat Islam adalah perselisihan dan fitnah yang terjadi di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan.

Hanya saja analisa mereka berbeda dalam menetapkan faktok utama apa yang menjadi pemicunya? Masing-masing menyebutkan penyebab yang sesuai dengan kecenderungan dan alirannya. Sebagian cenderung menjadikan sumber-sumber klasik sejarah Islam, seperti kitab sejarah yang ditulis ath Thabari sebagai bahan utama dengan tanpa menyeleksi dan menganalisa secara seksama atau mengurai peristiwa demi peristiwa yang menyertainya dengan analisa obyektif. Mereka memikulkan beban terjadinya fitnah besar itu kepada seorang atau beberapa  oknum, seperti Abdullah ibn Saba’ (si Yahudi yang berpura-pura menampakkan Islam) dan para pendukungnya yang telah termakan oleh fitnah dan hasutannya. Mereka menganggap bahwa Abdullah ibn Saba’ lah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya fitnah yang memporak porandakan kesatuan umat Islam dan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Utsman ibn Affan dan kemudian berkacamuknya peperangan demi peperangan setalahnya. Dalam luapan keterseretan para pengkaji itu di belakang pandangan yang lahir akibat pengandalan buta mereka terhadap Tarikh ath Thabari yang menelan mentah-mentah informasi ganjil dari seorang periwayat cacat bernama Saif ibn Umar at Tamimi itu mereka lupa bahwa menerima dongen Saif ibn Umar tentang sebab dalang pemicu terjadinya fitnah dan pemberontakan atas Khalifah Utsman akan menyeret mereka untuk mengakui bahwa umat Islam –dan tentunya di dalamnya terdapat para pembesar sahabat- benar-benar telah dipermainakan dan mereka pun dipecundangi oleh seorang Yahudi muallaf yang menebar makar jahat di tengah-tengah umat Islam!Keluguan dan kebodohan telah menjadikan mereka terhayut dalam fitnahan Abdullah ibn Saba’ dan siap menjadi pengekor yang akan melancarkan semua agenda jahat si Yahudi munafi tersebut! Tidak sedikt sahabat Nabi saw. (yang justeru dikenal sangat zahid, taqwa, dan ta’at kepada agama), seperti Abu Dzarr al Ghiffâri, Ammâr ibn Yâsir dkk. benar-benar telah terjerat dalam jaring perangkap dan menjadi pengikut setia sang Yahudi asal negeri Yaman yang baru masuk Islam di masa Khalifah Utsman yang siap mensukseskan agenda  penghancuran kesatuan dan keutuhan umat Islam!

Mereka semau  berpastisipasi dalam menggulingkan dan membunuh Khalifah Utsman dan menebar kekacauan dan perpecahan umat Islam. Sehingga Khalifah Utsman pun mereka bunuh di siang bolong di depan mata para sahabat besar di kota suci Madinah – ibu kota kekhalifahan Islam yang dihuni oleh pembasar sahabat, Ali, Thalhah, Zubair dll. dan ribuan sahabat Nabi saw.- tanpa mereka dapat berbuat apapun untuk mnenyemalatkannya.

Hal ini kelihatannya juga telah membaut bingun para penulis klasik sejarah Islam sehingga mereka terpojok dan akhiranya mencari-cari alasan atas keganjilan itu dengan mengatakan bahwa memang Khalifahh Utsman telah menyerahkan nyawanya sebagai tumbal demi terpeliharanya darah-darah kaum Muslim, seperti yang konon telah diwasiatkan Nabi saw. kepadanya!

Di antara para penulis yang menerima mentah-mentah bahwa Abdullab ibn Saba’ adalah aktor intelektual di balik semua pemberontakan yang berbasis doktrin imamah Imam Ali as. dan yang berakhir dengan dibunuhnya Khalifah Utsman ibn Affan adalah para penulis yang tergabung dalam Lajnah Ilmiah HASMI dalam bukunya Syi’ah Bukan Islam?

Dalam buku tersebut dituliskan: “Salah satu firqoh sempalan yang embrionya mulai bersemi di masa akhir-akhir khilafah ‘Utsman bin Affan ra. adalah firqoh Syi’ah. Pencetus firqoh ini adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman yang hijrah ke Bashrah kemudian menampakkan ke-Islaman-nya (pura-pura masuk Islam) lalu menyebarkan pemikiran-pemikiran sesatnya di tengah-tengah kaum Muslim. Hasutan Ibnu Saba’ ini menjadi penyebab terbunuhnya Khalfah ‘Utsman bin Affan ra.

Kemudian firqoh ini semakin mengkristal dan menggumpal pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib ra. para pengikut firqoh sesat ini disebut Saba’iyah. Mereka sangat mengultuskan ‘Ali bin Abi Thalib ra. hingga sampai pada derajat menuhankannya. Sikap ‘Ali bin Abi Thalib ra. terhadap mereka sangat tegas. Beliau membakar para pengikut ‘Abdullah bin Saba’ tersebut dan mengasingkan tokohnya ke Mada’in (Persia).[1]

Selain mereka, para penulis sektarian yang terbagung dalam Tim Penulis Buku Pustaka Sidogiri juga ngotot mengatakan hal serupa. Dalam uraian panjang lebarnya dalam buku yang berjudul Mungkinkah Sunnah-Syi’ah Dalam Ukhuwah, di antaranya mereka menuliskan ketika berusaha mengaitkan akidah dan kemunculan Syi’ah dengan Abdullah ibn Saba’, “Sebab dalan catatan sejarah perkembangan Islam, peran Abdullah bin Saba’ sudah menjadi rahasia umum. Malah, biang keladi geerakan yang mengobarkan pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan ra. ini tidak hanya menjadi bahan dokumentasi ulama Sunni, tokoh-tokoh Syi’ah pun tidak ketinggalan membukukan biografinya.[2]

Tidak sedikit pun faktor penyimpangan dan kebejatan aparat pemerintahan Utsman ibn Affan bertanggung jawab atas munculnya ketidak puasan, ketidak sukaan dan protes-protes atas ketidak beresan dan penyelewengan kekuasan pada masa kekhalifahan Utsman! Sama sekali! Semua beres-beres saja… Hanya karena hasutan Si Yahudi bernama Abdullah ibn Saba’!

Pemerintahan berjalan mulus… para pejebat Negara adalah pelayan rakyat yang shaleh dan ta’at terhadap seluruh aturan agama…. Kebijakan keuangan sejalan dengan yang digariskan Islam…. Pelaksanaan hukum Islam juga berjalan rapi dan sesuai Syari’at…  Al hasil, semua serba rapi dan sesuai dengan idealisme pemerintahan yang dicita-citakan oleh Islam… Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafûr!

Penyelewengan Kebijakan Khalifah Utsman-lah Pemicu Lahirnya Pemberontakan!

Sementara sebagian peneliti tidak sependapat dengan terori konspirasi yang didalangi oleh Abdulllah ibn Saba’ di atas. Dalam ulasan dan paparannya tentang berbagai peristiwa dan gejolak serta fitnah yang terjadi di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan, mereka sama sekali tidak menyebut-nyebut adanya paran Abdullah ibn Saba’ dan antek-anteknya barang sedikit pun.

Mereka justeru membebankan sebab terjadinya fitnah besar yang terjadi itu kepada politik dan kebijakan Khalifah Utsman yang telah menyimpang jauh dan tidak lagi sejalan dengan garis-garis agama dan kepentingan umum masyarakat Muslim! Baik dalam kebijakan keuangan, administrasi, pengangkatan para aparat yang bejat dan tidak beromal dari suku bani Umayyah; keluarga dekat sang Khalifah serta kezaliman yang diakibatkan oleh kesemana-menaan para aparatnya!

Total atau sebagian faktor-faktor disebutkan di atas telah berparan dalam memicu lahirnya revolusi yang menuntut perbaikan kondisi pemerintahan dan berorientasi agama dan keadilan bagi seluruh lapisan rakyat. Dan karena tidak mendapat sambutan dari sang Khalifah meski telah berulang kali menjanjikan niatannya untuk memperbaiki kesalahan-kelasahan fatalnya dalam mengemban amanat kekhalifahan, maka terjadilah apa yang sangat dikhawatirkan oleh banyak kalangan… bahwa kesabaran masyarakat telah habis dan mereka pun dengan dipinmpin oleh sahabat dan putra-putra sahabat besar menyegerakan membunuh Khalifah Utsman yang enggan kembali ke jalan dan aturan agama.

Di antara mereka yang menolak paran Abdullah ibn Saba’ dalam mengobarkan fitnah di masa kekhalifahan Utsman yang berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah adalah Allamah muhaddis Muhammad al ‘Arabi at Tabbâni (salah seorang pakar ahli hadis) dalam kitab beliau Tahdzîr al ‘Abqari, ia menegaskan, “Al Hudhari telah membesar-besarkan perkara Ibnu Saba’ dan menjadikannya sebagai pimpinan dan motor penggeraka fitnah terbesar yang dialami Utsman di berbagai wilayah. Di sini ia mengualng-ulang sikap membesar-besarkan itu dengan menjadikan Ibnu Saba’ sebagai satu dari empat faktor terbunuhnya Utsman ra.[3] sementara itu ia (Ibnu Saba’) jauh lebih remeh dan lebih hina untuk berparan sebagai sebab terbunuhnya Utsman apalagi ia sebagai pimpinan fitnah… .”[4]

Ia juga mengatakkan, “Ibnu Saba’ di sisi mereka yang menyelami data-data sejarah Islam yang otentik lebih remeh dan lebih hina dari paran yang mereka pikulkan atasnya.”[5] Ia juga menegaskan bahwa membenarkan dongen paran besar Ibnu Saba’ mengandung konsekuensi yang tidak mungkin sanggup dibenarkan. Ia mengatakan, “(menepatkan paran Ibnu aba’) secara global mengandung tuduhan kepada seluruh bangsa Arab, para sahabat, Utsman dan para aparatnya sebagai orang-orang yang mudah dibodohi.“[6]

Selain Allamah at Tabbâni, Allamah al Mu’allimi penulis kitab al Anwâr al Kâsyifahjuga menolak peran Abdullah ibn Saba’ dalam terjadinya fitnah di masa Utsman tersebut.[7]

Untuk lebih lanjut nama di antara dua asumsi di atas yang lebih dapat dipertanggung-jawabkan, mari kita ikuti kajian di bawah ini. Dan sebelumnya, saya meminta ma’af kepada pembaca apabila kajian ini akan sedikit menyita waktu dan perhatian Anda. Namun mengingat urgensinya yang dalam maka hal itu terpaksa dilakukan.

Dan kajian ini akan dilakukan dengan meneliti dua masalah untuk sampai kepada sebuah kesimpulan bertanggung jawab.

Pertama, Aktualitas kisah dan peran Abdullah ibn Saba’ dalam mengobarkan pemberontakan terhadap Khalifah Utsman ibn Affan dan juga kaitannya dalam membentuk dasar-dasar akidah Syi’ah.

Kedua, Beberapa data sejarah masa pemerintahan Utsman ibn Affan yang –setidaknya- tidak boleh diabaikan dalam menganalisa sebab dan faktor semua yang terjadi yang berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah!

Untuk kedua kajian di atas ikuti terus artikel-artikel di blog ini!


[1] Syi’ah Bukan Islam? Pengantar:viii.

[2] Mungkinkah Sunnah-Syi’ah Dalam Ukhuwah:44.

[3] Analisa serupa dinyatakan oleh panulis Wahhâbi asal Timur Tengah; Utsman al Khamîs dalam kitabnya Huqbatun Min at Târîkh. Sebab pertama adalah fitnahan dan hasutan Abdullah ibn Saba’. Sebab kedua, kemewahan dan hidup berfoya-foya yang dialami kaum Msulim di masa Utsman. Sebab ketiga, kebaikan hati dan kelonggaran sikap yang diberikan oleh Utsman. Sebab keempat, keberatan suku-suku Arab untuk dipimpin oleh seorang Khalifah dari suku Quraisy, (http://www.h-alajmi.com/news.php?newsid=56).

[4] Tahdzîr al ‘Abqari,1/333.

[5] Ibid.292.

[6] Ibid.293.

[7] Al Anwâr al Kâsyifah:134. Buku terebut adalah bantahan atas kitab salah satu kitab Abu Rayyah yang menghujat Abu Hurairah.

 wahai para pembaca ..


Abdullah ibn Saba’, Doktrin Syi’isme Dan Pemberontakan Atas Khalifah Utsman ibn Affan

Ada dua masalah yang tidak seharusnya dicampur-adukkan antara keduanya, khususnya dalam menarik kesimpulan-kesimpulan. Pertama, tentang keberadaan seorang yang bernama Abdullah ibn Saba’, apakah ia sebuah kenyataan sejarah atau hanya sekedar lakon fiktif? Kedua, peran yang dikaitkan dengan aktifitasnya dalam mengobarkan permusuhan dan kebencian terhadap Utsman ibn Affan dan pemerintahannya -dengan terlebih dahulu menanamkan doktrin washiyah untuk Imam Ali ibn Abi Thalib as.- yang berakhir dengan terbunuhnya Utsman. Antara keduanya harus dipisahkan. Ketika seorang dalam analisanya mampu membuktikan keberadaan Abdullah ibn Saba’, tidak berarti dengan serta merta seluruh peran spektakuler yang menyerupai mukjizat yang dinisbatkan kepadanya berarti harus menjadi benar pula adanya!

Mengapa? Sebab, -seperti akan dibuktikan dalam lembaran-lembaran analisis  di bawah ini-, baik konsep washiyah maupun ketidak puasan dan bahkan penentangan atas Utsman dan pemerintahannya masing-masing memiliki akar yang berbeda dan tidak saling terkait! Tidak ada keterlibatan Abdullah ibn Saba’ dan antek-anteknya di dalamnya.

Ini hal pertama yang perlu dimengerti dan diindahkan!

Banyak penulis, entah memang karena kerancuan dalam metodologi penelitian (yang sering dialami oleh banyak peneliti Muslim, khususnya dari kalangan sarjana-sarjana Wahhâbi atau mereka yang terjangkit virus kebencian kepada Ahlulbait dan Syi’ah) atau memang karena kesengajaan, sebab mereka hanya akan menjaring pembaca kalangan awam saja… Banyak dari mereka mencampur-adukkan antara keduanya. Mereka memaksakan kesimpulan (yang sebenarnya juga tidak terlalu berdasar) bahwa karena Abdullah ibn Saba’ itu riil adanya maka seluruh peran yang dinisbatkan oleh sebagian riwayat (yang nanti juga akan dibuktikan kepalsuannya) haruslah juga diterima adanya! Sebab dengan demikian mereka dapat memasarkan isu bahwa Syi’ah adalah anggota asing di tubuh umat Islam dan Syi’aisme adalah ajaran sisipan dalam daftar ajaran Islam … ia hanya doktrin Yahudi yang disisipkan oleh seorang misionaris Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam demi merusak ajarannya. Dan pada waktu yang sama, harga diri Utsman ibn Affan selaku Khalifah tetap terjaga dan wibawa lembaga kekhalifahan pun dapat diselamatkan!

Karena dengan menerima dongen yang menerangkan adanya konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum Muslim yang dimotori oleh Abdullah ibn Saba’, kita dapat menumpahkan kegeraman kita terhadap semua yang terjadi kepada faktor eksternal/asing yang datang dari luar tubuh umat Islam dan menjadikan kaumSabaiyyîn (kelompok yang telah disesatkan oleh doktrin Abdullah ibn Saba’) sebagai kambing hitam.

Maka dengan demikain dua tujuan hendak mereka raih dengan meluncurkan edisi dongen Ibnu Saba’ dan perannya yang mirip dengan kekuatan sihir itu; pertama, Syi’ah sebagai anak haram dalam rumah tangga Islam dan kedua, pemberontakan atas Utsman sama sekali tidak dipicu oleh ketidak-beresan kebijakan pemerintahan Khalifah Utsman… ia hanya sekedar akibat hasutan Abdullah ibn Saba’… Tidak lain dan tidak bukan!!

Peran Abdullab ibn Saba’ Dalam Dongen Sejarawan Islam

Para ahli sejarah mengklaim bahwa ada seorang Yahudi[1] dari negeri Yaman tepatnya dari kota Shan’â’ menampakkan keislamannya pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan lalu membaur bersama kaum muslimin. Ia mulai berkeliling ke kota-kota besar Islam; Syâm, Kufah, Bashrah dan Mesir untuk meyebarkan misi “sesatnya” bahwa Nabi Muhammad saw. akan mengalami raj’ah (kehidupan kembali di muka bumi) seperti Nabi ‘Isa as. Dan Ali as. adalah washi Nabi Muhammad saw. sebagaimana setiap nabi pasti memiliki washi, Ali adalah penutup para washi seperti Muhammad penutup para nabi. Karena Utsman adalah merampas kekhilafahan yang menjadi hak Ali as. selaku washi maka ia harus ditentang dan digulingkan agar hak dapat dikembalikan kepada pemiliknya!

Pencetus doktrin ini adalah bernama Abdullah bin Saba’ yang juga bergelar Ibnu al Amah as Sawdâ’ (putra si budak wanita berkulit hitam), mereka mengklaim bahwa Abdullah bin Saba’ tersebut telah menyebar-luaskan para aktifis dan juru kampanyenya ke berbagai penjuru wilayah negeri Islam. Mereka diperintahkan agar menampakkan amr ma’ruf dan nahi munkar dan mengecam para umara/aparat Negara. Tidak lama setelah itu, umat Islam termakan oleh propaganda palsu Abdullah ibn Saba’ dan tertipu oleh  ajakannya. Di antara mereka terdapat para sahabat senior dan tabi’în tersohor seperti Abu Dzarr al Ghiffari, Muhammad putra Khalifah Abu Bakar, Ammâr ibn Yâsir, Sha’sha’ah ibn Shuhân, Muhammad ibn Abu Hudzaifah, Abdurrahman ibn ‘Udais, Mâlik al Asytar dan masih banyak yang lainnya.

Mereka juga mengatakan bahwa kelompok ini di manapun mereka berada selalu menghasut masyarakat agar melawan para pemimpin –demi melicinkan proyek pimpinan mereka-. Mereka menulis selebaran gelap yang memuat kejahatan paraumara dan menyebarkannya ke berbagai kota, maka bangkitlah mereka melawan para umara dan akhirnya mereka menyerang kota Madinah –ibu kota kekhilafahan- dan mengepung rumah Khalifah Utsman ibn Affan dan kemudian membantainya. Sementra para sahabat besar, seperti Ali, Zubair, Thalhah dkk. tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan aksi massa yang dipicu hasutan Ibnu Saba’ tersebut!

Mereka juga menyebutkan bahwa kaum  Muslim setelah membai’at Imam Ali as. dan setelah Thalhah dan Zubair memberontak serta mengobarkan peperangan Jamal, para tokoh Saba’iyah menyaksikan bahwa telah terlihat tanda-tanda bahwa kedua kelompok tersebut telah mendekati kata sepakat dan akan meminta pertanggung-jawaban dari mereka atas kejahatan mereka dalam membunuh Khalifah Utsman, maka mereka pun mengambil kesepakatan di malam hari –di saat pimpinan kedua kelompok ini; Ali dan Zurair, Thalhah dan Aisyah lengah- untuk menyusup ke dalam kedua kelompok tersebut dan memulai pertempuran tanpa sepengetahuan yang lainnya. Mereka telah sukses dalam penyusupan itu sebelum pasukan kedua kelompok itu terbangunkan di pagi hari. Lalu mereka yang telah menyusup ke dalam kedua kelompok tersebut memulai pertempuran dan ahkirnya berkobarlah perang Jamal di luar kendali pimpinan-pimpinan kedua kelompok yang hampir mencapai kata sepakat dan membatalkan pemberontakan.

Jadi dalam kisah itu, Abdullah ibn Saba’ dan para pengikutnyalah yang menyulut berkobarnya parang Jamal. Sebab memeng agenda besar kelompok ini adalah memporak-porandakan kesatuan dan persatuan umat Islam!

Sampai di sini pendongeng itu mengakhiri kisahnya tentang Saba’iyyûn dan setelah itu tidak ada lagi sebutan tentang paran dan aktifiotasnya.

Demikianlah kisah ringkas dan aktifitas Abdullah bin Saba’ serta perannya dalam menabur benih fitnah ditengah-tengah kaum Muslim.

Para Penulis Selalu Mengaitkan Kemunculan Kelompok Syi’ah Dengan Gerakan Sesat Abdullah ibn Saba’!

Sepuluh abad berlalu sudah, para sejarawan menulis kisah ini, setiap abad berlalu, kisah ini makin menyebar, sehingga jarang kiranya seorang penulis sejarah para sahabat yang tidak menyebutnya. Hanya saja pendongeng pertama menyampaikannya dalam bentuk riwayat, sementara para penulis yang datang setelahnya mengemasnya dengan memotong-motong kisah dan polesan analisa.

Kisah ini begitu menyebar, sehingga menuntut adanya penelitian dan analisa dengan seksama dengan merujuk kepada sumber awal pembawa kisah.

Dan sebelum kita menelusuri sumber awal kisah marilah kita menyimak beberapa kutipan tulisan para ulama tentang kisah tersebut, agar kita dapat mengetahui dengan pasti sumber isu tersebut dan sekeligus mengetahui sejauh mana validitas analisa dan tudingan mereka bahwa Syi’isme adalah produk Abdullah bin Saba’.

Pernyataan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha (W. 1354 H/1935M)

Dari kalangan ulama kontemporer kita temukan M. Rasyid Ridha menukil isu inidalam kitabnya as Sunnah wa asy Syi’ah[2], ia mengatakan, “Tasyayyu’ terhadap Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib ra. adalah pangkal perpecahan umat Islam dalam agama dan politik mereka.

Pencetus dasar-dasarnya adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’. Ia menampakkan keislaman hanya untuk menipu, ia menganjurkan sikap berlebih-lebihan/ghuluw terhadap Ali –karramallahu wajhahu – dengan tujuan memecah belah umat ini dan merusak agama serta urusan dunia mereka …”

Kemudian ia melanjutkan kisah tersebut dan memberikan komentar negatif tentangnya, dan apabila kita telusuri sumber kisah yang menjadi pijakan vonis yang ia lontarkan, kita temukan ia menyebutkan, “Barang siapa merujuk berita pertempuran Jamal seperti dalam Tarikh Ibnu al Atsîr misalnya, maka ia akan melihat betapa dalam pengaruh buruk Kaum Saba’iyyin dalam merusak hubungan persatuan setelah hampir tercapai kata sepakat. Coba lihat pada jilid ketiga hal. 95-96 dan 103.”

Di sini kita melihat bahwa sumber rujukan dongeng yang ia angkat adalah al Kamil fi at Tarikh karya Ibnu al Atsîr. Dan apabila kita merujuk Tarikh Ibnu al Atsîr maka kita akan temukan bahwa sumber andalahnya dalam kitab tersebut adalah Tarikh al Umam wa al Mulûk karya sejarawan tertua Islam Ibu Jarir ath Thabari, seperti yang ia tegaskan sendiri pada pendahuluan kitab tersebut.

Dalam tafsir al Manâr-nya,[3] M. R. Ridha juga mengatakan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah dalang di balik doktrin Syi’isme dan biang perpecahan umat Islam. Ia mengatakan, “Adapun kaum Yahudi … , dan ketika mereka gagal memadamkan cahaya Islam dengan bantuan kaum musyrik untuk membunuh Nabi saw. maka mereka bertujuan memadamkan cahaya Islam dengan menabur bid’ah di dalamnya dan memecah-belah kaum Muslim dengan apa yang dilakuakn oleh Abdullah bin Saba’ dengan mencetuskan doktrin Syi’isme dan bersikap berlebihan/ ghuluw terhadap Ali –karramallahu wajhahu– serta menaburkan benih perpecahan di kalangan umat Islam tentang masalah Khilafah, dan para Syi’ah- (para pengikut) nya melakukan makar untuk membunuh Khalifah Utsman ra. kemudian dalam fitnah antara Ali dan Muawiyah yang sangat jelek pengaruhnya, kalau bukan kerena mereka maka tidak akan jatuh korban ribuan tokoh kaum Muslim, sebab upaya untuk damai hampir tercapai, akan tetapi mereka merusaknya dengan berbagai makar … .”

Dan pada kesempatan lain ia juga mengtakan. “Tidak ada di dunia ini organisasi yang lebih rapi aturannya dan menusuk panah-panahnya melebihi organisasi al Bathiniyah yang didirikan oleh Abdullah bin Saba’ dan orang-orang Majusi Persia untuk merusak agama Islam dan menumbangkan kerajaan yang penganjurnya adalah orang-orang Arab. Dan tipu daya ini telah mengelabui Syia’h (pengikut\pecinta) keluarga Rasulullah saw. dari kalangan kaum Muslim yang memandang bahwa keluarga Nabi lebih berhak atas kepeminpinan Islam.“[4]

Pernyataan Ahmad Amin  (W:1373H)

Di antara para cendikiawan Mesir kontemporer yang menganalisa sejarah Islam dan berusaha mengembalikan segala sesuatu pada asal-usulnya adalah Ahmad Amin, ketika ia menganalisa peran orang-orang Persia dan pengaruhnya terhadap Islam, ia mengatakan, ketika ia menukil dari ath Thabari dan asy Syahrastâni tentan Mazdak dan Agamamya, “Yang paling khas darinya adalah ajaran Sosialisme-nya, ia berpendapat bahwa manusia dilahirkan setara, maka hendaknya mereka juga hidup setara. Dan yang paling penting untuk disama-ratakan adalah harta dan wanita dan dikarenakan mayoritas penyebab perselisihan dan peperangan adalah wanita dan harta. Maka ia menghalalkan wanita (tanpa ikatan nilah) dan membolehkan harta (dinikmati tanpa ikatan). Oleh karenanya kaum rendahan mengambil kesempatan dari pendapat itu dan mendukung Mazdak dan pengikutnya, maka manusia terganggu oleh mereka, dan kuatlah perkara mereka sehingga mereka masuk ke dalam rumah seorang dan menguasai rumah, wanita-wanita (istri) dan harta-hartanya, tidak lama kemudian seorang bapak tidak mengenal anaknya dan seorang anak tidak lagi mengenal ayahnya, dan seorang tidak memiliki sesuatu apapun yang lazim ia miliki…. Dan ada sekelompok orang yang menganut ajaran ini setelah datangnya Islam.”

Ahmad Amin menukil, “Sebagian desa Kirman (sebuah kota di Iran) penduduknya menganut ajaran Mazdakiyah sepanjang masa dinasti Umawiyyah … .”

Kemudian ia melanjutkan. “Dan kita melihat adanya kesamaan antara pandangan Abu Dzarr dan pandangan Mazdak dan masalah keuangan saja.”[5] Ath Thabari melaporkan bahwa Abu Dzarr berpidato di kota Syam seraya berkata, ‘Wahai sekalian manusia! Berdermalah terhadap kaum faqir! Berita gembirakan kepada orang-orang yang menumpuk-numpuk emas dan perak dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah dengan setrika dari api lalu dahi dan punggung mereka disetrika dengannya!’ Dan ia senantiasa mendengungkan seruan itu sehigga kaum faqir tergiur dengannya dan mengharuskan atas kaum kaya untuk menyantuni kaum faqir, lalu mereka mengeluhkan apa yang mereka dapatkan dari sikap manusia (fuqarâ’).

Kemudian Mu’awiyah memulangkan Abu Dzarr kepada Utsman bin Affan di Madinah agar tidak meracuni pikiran penduduk Syam. Dan ketika sampai di kota Madinah, Utsman bertanya kepadanya, ‘Mengapakah penduduk Syam mengeluhkan sikapmu?’ Abu Dzarr menjawab, ‘Tidak sepatutnya orang-orang kaya menumpuk-numpuk harta!’

Dan di sini Anda melihat bahwa pendapatnya mirip sekali dengan pendapat Mazdak  tentang harta; tetapi pertanyaannya ialah dari mana ia mengadopsi pendapata itu? Ath Thabari menyiapkan untuk kita jawaban atas pertanyaan itu, ia mengatakan, “Sesungguhnya Ibnu Sawdâ’ bertemu dengan Abu Dzarr lalu ia menghembuskan pendapat itu kepadanya, dan Ibnu Sawdâ’ ini juga mendatangi Abu Darda’ dan Ubadah ibn Shâmit namun keduanya tidak mendengarkan ajakannya, bahkan Ubadah menangkap Ibnu Sawda’ dan membawanya kehadapan Mu’awiyah seraya berkata, ‘Demi Allah! Orang inilah yang mengutus Abu Dzarr kepada Anda.’

Dan kita mengetahui bahwa Ibnu Sawdâ’ adalah gelar Abdullah bin Saba’, ia seorang Yahudi dari kota Shan’â’, ia menampakkan keislaman di masa Utsman, ia berupaya merusak agama kaum Muslim dan menyebar-luaskan doktrin-doktrin yang berbahaya, sebagaimana akan kami sebutkan nanti. Ia telah berkeliling ke berbagai kota besar Islam seperti Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam dan Mesir. Maka sangat mungkin bahwa Ibnu Saba’ mengadopsi pemikiran itu dari kaum Mazdakiyah negeri Iraq atau Yaman dan kemudian Abu Dzarr menerima dan meyakininya dengan niatan baik dalam meyakininya sepenuh hati … .”

Kemudian Ahmad Amin menyebutkan pada catatan kaki, demikian: lihat ath Thabari, 5\66 dan selanjutnya.

Setelahnya ia menyimpulkan, “Maka pandangan kaum Syiah terhadap Ali dan keturunannnya adalah pandangan nenek-moyang mereka (orang-orang Persia) dari kalangan para raja. Dan kaum Tsanâwiah Persi adalah sumber yang darinya kaum Rafidhah menimba tentang Islam.”

Dan pada halaman 254 ia menepati janjinya untuk menyebutkan aqidah Ibnu Saba’ yang berbahaya itu, ia mengatakan , “Dan tersebarlah  organisasi rahasiah (bawah tanah) pada akhir masa kekuasaan Utsman yang menyerukan penggulingan Utsman dan mengangkat yang lain. Di antara organisasi-organisasi itu ada yang mengajak kepada Ali, dan penyeru yang paling menonjol dalam hal ini adalah Abdullah bin Saba’ -seorang Yahudi dari Yaman yang memeluk Islam-, ia telah berkeliling ke kota Bashrah, Syam dan Mesir, ia berkata, ‘Sesungguhnya setiap nabi memliki washi dan Ali adalah washi Muhammad! Maka siapakah yang lebih zalim dari orang yang tidak melaksanakan wasiat Rasulullah dan merampas hak washinya ?!

Ia adalah orang yang paling getol menentang Utsman hingga Utsman pun tewas terbunuh.’

Kemudian ia mengulang keterangannya dengan sedikit terperinci pada pasal Syiah pada halaman: 266-278, ia berkata, “Dan konsep raj’ah ini diambil oleh Ibnu Saba’ dari ajaran Yahudi. Dalam pandangan mereka bahwa Nabi Ilyas itu naik ke langit dan akan kembali dan menghidupkan kembali ajaran agama….  . (lalu ia melanjutkan) , “Dan doktrin ini dalam ajaran Syi’ah berkembang menjadi akidak\keyakinan keghaiban para imam dan Imam yang sembunyi akan kembali dan memenuhi bumi dengan keadilan. Dan darinya muncul pemikiran tentang Mahdi Muntadzar.”[6]

Dan dari semua itu ia menyimpulkan, “Dan sebenarnya bahwa Syi’isme adalah tempat berlindung bagi semua pihak yang bermaksud untuk menghancurkan Islam, baik karena permusuhan atau kerena kedengkian, dan semua yang ingin menyusupkan ajaran nenek moyangnya baik ajaran Yahudi, Kristen ataupun Zoroaster … Mereka semua menjadikan kecintaan kepada Ahlulbait sebagai kedok untuk merahasiakan apa yang dikehendaki oleh hawa nafsu mereka. Ajaran Yahudi muncul dalam Syi’isme dalam konsep raj’ah.”[7]

Dari kutipan panjang lebar yang kami sebutkan dapat ditarik sebuah kesimpulkan yang hendak diambil oleh Ahmad Amin bahwa akidah Syi’ah tentang wasiat dan raj’ah diambil dari Ibnu Saba’. Adapun doktrin Mahdisme/juru selamat di akhir zaman maka ia diambil dari ajaran Yahudi, juga melalui Ibnu Sabai. Dan Abu Dzarr mengambil pemikiran tentang Sosialisme dari Ibnu Saba’ dan Ibnu Saba’ mengambilnya dari ajaran Mazdakiyah yang tersebar di masa kekuasaan Bani Umayyah, dan karena Mazdak adalah seorang berkebangasaan Persia maka akidah orang-orang Persi tentang raja-raja mereka berpindah ke dalam doktrin kaum Syi’ah terhadap para Imam mereka.

Dari semua ini ditariklah sebuah kesimpulan besar bahwa Syi’isme adalah benteng bagi semua pihak yang bermaksud menghancurkan ajaran Islam baik karena permusuhan atau kedengkian atau yang ingin menyusupkan ajaran nenek moyangnya kedalam ajaran Islam baik ajaran Yahudi, Nashran maupun Zoroaster …..

Apa yang menjadi dasar pijakan Amin dalam menarik kesimpulan besarnya itu? Jawabannya hanya satu! Dari dongen Abdullah bin Saba’ yang ia rujuk dari TârîkhIbnu Jarir ath Thabari.

Pernyataan Doktor Hasan Ibrahim Hasan

Dalam buku Tarikh al Islam as Siyâsi, setelah menyebutkan kondisi kaum Muslim pada akhir masa kekuasaan Utsman, ia mengatakan, “Maka kondisi ini sangat sesuai dan mendukung diterimanya ajakan Abdullah bin Saba’ dan antek-anteknya serta yang  terpengaruh dengannya, -dan yang mengobarkan api pemberontakan ini adalah seorang sahabat lama yang dikenal dengan wara’ dan ketaqwaan dan ia dari pembesar tokoh hadis, ia adalah Abu Dzarr –yang menentang politik Utsman dan Mu’awiyah–gubenur Utsman untuk wilayah Syâm – dengan pengaruh ajakan seorang dari penduduk Shan’â’ yaitu Abdullah bin Saba’;  seoarng Yahudi yang memeluk Islam kemudian berkeliling kota-kota besar Islam, ia memulai gerakannya di wilayah Hijaz kemudian Bashrah kemudian Kufah dan Syam serta Mesir.”[8]

Kemudian ia melanjutkan, “Dan Ibnu Saba’ –orang pertama yang membangkitkan massa untuk melawan Utsman- menemukan bahwa jalan untuk menggulingkan Utsman telah terbuka.”[9]

Pernyataan Syeikh Abu Zuhrah

“Abdullah bin Saba’ adalah seoarng Yahudi dari penduduk Shan’â’, ibunya berkulit hitam, ia memeluk Islam pada masa Utsman, kemudian berkeliling kota-kota besar kaum Muslim berupaya menyesatkan mereka. Ia memulai perjalanannya ke wilayah Hijaz kemudian Bashrah kemudia Syâm. Ia tidak berhasil membujuk seorang pun dari penduduk Syam untuk menerima ajakannya, bahkan mereka mengusirnya dari negeri Syam, kemudian ia mendatangi negeri Mesir dan berkata kepada mereka, “Adalah mengherankan seorang yang mengklaim bahwa Isa akan kembali sementara ia membohongkan bahwa Muhammad akan kembali, sedangkan Allah telah berfirman, “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Alqur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash;85)

Kemudian Muhammad lebih berhak untuk kembali dari pada Isa. Lalu ia mengatakan bahwa ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki washi dan Ali adalah washi Muhammad. Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali penutup para washi.”[10]

Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari penduduk Hirah, menampakkan keislaman dan memulai menyebar-luaskan di tengah-tengah manusia bahwa ia mendapatkan dalam kitab suci Taurat bahwa setiap nabi memiliki washi dan Ali adalah washi Muhammad. Dan Ali berkehendak untuk membunuhnya akan tetapi orang-orang mencegahnya, lalu ia diasingkan ke kota Madâin sebagai ganti membunuhnya.”[11]

Demikianlah kita menyaksikan bagaimana para penulis di atas mengaitkan kemunculan dan dasar-dasar akidah Syi’ah dengan seorang Yahudi penyusup yang bernama Abdullah ibn Saba’. Demikian juga dengan terjadinya pemberontakan atas Khalifah Utsman, pemicu utamanya adalah hasutan Ibnu Saba’!

Seperti disinggung sebelumnya bahwa tidak ada sumber dari semua dongeng di atas selain riwayat Saif ibn Umar yang diobral oleh ath Thabari dalam kitab Târîkh-nya. Karenanya kita berhak meneliti sejauh mana kebenaranya dongen itu dengan menilai periwayat tunggal yang menjadi perantara periwayatan dongen yang menyebutkan semua peran dahsyat yang dinisbatkan kepada Abdullah ibn Saba’.

Kisah Abdullah ibn Saba’ dan Para Ahli Sejarah

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa dongen Abdullah ibn Saba’ dan paran besarnya dalam memecah belah kesatuan umat Islam dengan doktrin kesyi’ahan dan hasutan atas Khalifah Utsman hanya ada dan diriwayat oleh Saif ibn Umar at Tamimi, dan tidak ada satupun riwayat dari selainnya! Dan bagi Anda yang mabok kegembiraan dengan menemukan edisi riwayat yang memojokkan Syi’ah dan ajarannya melalui dongen Abdullah ibn Saba’ yang dirajut benang kepalsuannya oleh tangan Siaf ibn Umar at Tamimi saya berharap Anda dapat menemukan edisi dongen tersebut dari selain riwayat Saif ibn Umar! Apabila Anda mampu menemukannya, maka saya akan siap mengatakan bahwa Syi’aisme adalah ajaran Yahudi yang disisipka oleh Misionaris Yahudi bernam Abdullah ibn Saba’!

Dan tidaklah terlalu dini apabila saya pastikan di sini bahwa Anda (dan juga para sarjana wahhâbi atau siapapun yang memusuhi Syi’ah) tidak akan pernah mampu menemukannya, walaupun kalian meminta bantuan dan pertolongan dari jin sekalipun!

Dan jika ternyata dongeng itu tidak pernah akan Anda temukan dalam selain riwayat Saif ibn Umar, maka ketahuilah bahwa Siaf itu adalah seorang yang telah disepakati para ulama Ahlusunnah sendiri sebagai pembohong besar… seorang zindiq yang sengaja meracuni agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuannya…

Tapi sayangnya, bahwa kebohongan itu begitu dinimati oleh para pendengki Ahlulbait as. dan Syi’ah mereka atau oleh mereka yang dangkal dan tumpul daya kritisnya… Oleh mereka yang hanya pandai mengulang-ulang tanpa seleksi riwayat-riwayat Saif ibn Umar. Hal demikian karena melalui riwayat seperti itu mereka menemukan senjata yang dapat memojokkan Syi’ah!

Para penulis sejarah itu melaporkan dongen tentang Abdullah bin Saba’ tanpa menyeleksi dan menganalisa secara seksama, mereka menurunkan berita tentang kepribadiannya dan peran besarnya seakan sebuah kenyataan sejarah yang tidak halal untuk diragukan. Dan sejarawan pertama yang menurunkan berita tentangnya adalah ath Thabari dalam buku sejarahnya yang berjudul Tarikh al Umam wa al Mulûk dengan mengandalkan jalur tunggal; Saif bin Umar at Tamimi.

Sedang seluruh penulis yang datang setelah ath Thabari yang meriwayatkan peran yang dilakonkan Ibnu Saba’, seperti Ibnu al Atsîr (W:630h), Abu al Fidâ’ (W:732H), Ibnu Katsîr (W:741H), Ibnu Khaldûn (W:808H), Ibnu Badrân (W:1346H) dll. hanya bersandar kepadanya. Bahan dasar mereka adalah laporang yang diturunkan ath Thabari  dari riwayat Saif bin Umar. Dan kalau pun ada selain ath Thabari yang menurunkan berita tentang Ibnu Saba’ maka jalur periwayatannya juga berakhir pada Saif.[12]

Jadi Saif adalah jalur tunggal kisah Abdullah bin Saba’.

Ath Thabari Dan Kisah Abdullah bin Saba’

Seperti telah disebutkan bahwa sumber tertua kisah Abdullah bin Saba’ adalah Ibnu Jarir ath-Thabari (W:310H) ketika ia menyebut peristiwa –peristiwa yang terjadi pada tahun 30-36 H. Dalam menukil kisah tersebut ath Thabari hanya bersandar pada perawi tunggal yaitu Saif bin Umar, sedang jalur yang menyambungkannya kepada Saif hanya dua jalur:

A)                Ubaidullah ibn Sa’id az Zuhri dari pamannya yang bernama Ya’qub ibn Ibrahim dari Saif. Kisah itu ia nukil dari jalur ini secara lisan .

B)                As Surri (Abu Ubaidah) ibn Yahya dari Syu’aib ibn Ibrahim dari Saif. Kisah itu ia nukil dari jalur ini melalui kitab al Futûh wa ar Riddah dan kitab Al Jamal wa Masîr ‘Aisyah karya Saif . Dan terkadang juga secara lisan.

Catatan:

As Surri ibn Yahya dalam jalur periwayatan ini bukan As Surri ibn Yahya seorang perawi yang terkenal dan ia tsiqah (terpercaya) itu, sebab masa hidup dia lebih awal dari ath Thabari, ia wafat tahun 167 H. sementara ath Thabari lahir tahun 224H. Jadi selisih antara wafat as Surri dan kelahiran ath Thabari adalah lima puluh tujuh tahun, sedang dalam batas penelusuran ulama tidak ada seorang perawi yang bernama as Surri ibn Yahya  selain dia. Oleh karenanya ada yang mengasumsikan bahwa as Surri yang menjadi perantara periwayatan ath Thabari adalah salah satu dari dua perawi yang keduanya adalah pembohong dan cacat di mata ulama:

Pertama: As Surri ibn Ismail al Hamdani al Kufi.

Kedua: As Surri ibn ‘Ashim al Hamdani (seorang imigran yang tinggal di kota Baghdad), wafat tahun 258 H. dan ath Thabari hidup sezaman dengannya selama tiga puluh tahun lebih.[13]

Saif bin Umar Di Mata Para Ulama

Nah,  setelah kita mengetahui kenyataan ini, kita perlu mengenal siapa sejatinya Saif ibn Umar at Tamimi itu?  Dan bagaima sikap ulama tentannya?

Saif bin Umar at Tamimi al Usaidi telah disebut-sebut oleh para ulama’ ahli jarh wa ta’dil dan tidak satupun dari mereka memberikan komentar positif tentangnya, mereka menilai bahwa dia adalah seorang pembohong besar dan riwayat-riwayat darinya tidak bernilai sedikitpun!

Perhatikan komentar-komentar mereka dibawah ini :

  • Yahya bin Main (w:233H) berkata tentangnya:

ضعيف الحديث

“Ia lemah dalam periwayatan hadis.”

Ia juga berkata:

فَلْس خير منه

“Uang sesen lebih berharga darinya.”[14]

  • Abu Da’ud (w:270H) berkata:

ليس بشيء

“Ia tidak berarti sedikitpun, ia pembohong.”

  • An-Nasa’i –penulis kitab Shahih– berkata (W:303H):

ضعيف

“Ia lemah.”

  • Abu Hatim(W:227 H):

متروك الحديث

“Ia ditinggalkan hadisnya.”

  • Ibnu Abi Hatim (W:327H) berkata:

وسيف متروك الحديث

“Dan Saiaf adalah orang yang ditinggalkan hadisnya.”

  • Ibnu Sakan (W:353H) berkata:

سيف بن عمر ضعيف

“Ia lemah.”

  • Ibnu Hibban (W:354H) berkata:

يروي الموضوعات عن الاثبات ، وقالوا: سيف يضع الحديث وكان قد اتهم بالزندقة

“Ia meriwayatkan hadis-hadis palsu (dan menisbatkannya) kepada orang-orangtsiqât/jujur terpercaya. Para ulama berkata, ‘ Saif sering memalsu hadis. Dan ia disinyalir tidak beragama.”

  • Ibnu ‘Adiy (W:360H) berkata:

وبعض أحاديثه مشهورة ، وعامتها منكرة لم يتابع عليها ، وهو إلى الضعف أقرب منه إلى الصدق

“Sebagian hadisnya masyhur/terkenal, akan tetapi rata-rata munkar tidak terdukung oleh riwayat parawi lain. Ia lebih dekat disifati lemah dari pada disifati jujur.”

  • Al-Hakim (W:405H) berkata:

اتهم بالزندقة وهو في الرواية ساقط

“Ia dituduh tidak beragama dan ia gugur dalam periwayatan.”

  • Ibnu Jauzi (W. 571 H) menegaskan kelemahan Saif ketika ia menvonis palsu sebuah hadis tentang keutamaan sahabat. Ia berkata:

هذا حديث موضوع على رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) وفيه مجهولون ، وضعفاء وأقبحهم حالاً سيف ….

“Hadis ini palsu atas nama Rasulullah saw. pada jalurnya terdapat banyak parawimajhûl (tidak dikenal) dan parawi dha’îf. Dan yang paling jeleknya (parawi dalam jalur itu) adalah Saif.”[15]

Ia juga mengatakan:

وهذا حديث موضوع بلا إشكال وفيه جماعة مجروحين ، وأشدهم في ذلك سيف وسعد ،وكلاهما متهم بوضع الحديث

“Ini adalah hadis palsu tanpa sedikit keraguan. Di dalamnya terdapat banyak parawi cacat dan yang paling parah cacatnya adalah Saif dan Sa’ad, keduanya tertuduh memalsu hadis.”[16]

  • Adz Dzahabi (W. 847 H) menegaskan bahwa para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa Saif adalah seorang yang cacat berat. Ia menegaskan:

متروك باتفاق

“Ia disepakati sebagai perawi terbuang/ditinggalkan.”

Setelahnya ia menukil pernayatan banyak ulama ahli hadis yang mendukung mencacatan Saif ibn Umar dan ia tidak menukil dari satu ulama pun yang memberikan penilaian positif untuknya.[17]

  • Ibnu Hajar (w. 841 H) menyebutkan data Saif dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb, ia menyebutkan komentar para ulama ahlij al jarh wa at Ta’dîl dan mereka semua melemahkan. Ibnu Hajar tidak menyebutkan seorang yang mentsiqahkannya. Dan dala kitab Lisân al Mîzân-nya ketika menyebut biodata Abdullah ibn Saba’ ia berkata, “Abdullah ibn Saba’ seorang zindiq ekstrim, sesat lagi menyesatkan. Saya mengira Ali membakarnya.” Setelahnya Ibnu Hajar menukil apa yang disebutkan oleh Ibnu ‘Asâkir tentang Abdullah ibn Saba’ dan ia mengomentarinya demikian, “Ibnu ‘Asâkir meriwayatkan dari jalur Saif ibn Umar at Tamimi dalam kitab al Futûh kisah panjang yang nama sanadnya tidak shahih.”[18]  

Dari komentar Ibnu Hajar di atas jelas sekali bahwa ia melemahkan dan mencacat riwayat-riwayat Saif dalam sejarah secara umum dan khususnya dongennya tentang Abdullah ibn Saba’.

Dalam kitab-nya al Ishâbah ketika menyebut biodata Khidir dan Musa as., ia berkata, “Saif ibn Umar at Tamimi meriwayatkan dalam kitab ar Riddah dari Said ibn Abdillah ibn Umar, ‘bahwa ketika Nabi saw. wafat …. ‘ Ibnu Hajar berkomentar, “pada sanadnya terdapat perbincaangan. Dan gur dia tidak dikenal.”[19] 

  • Jalâluddîn as Suyûfhi (W. 911 H) ketika menvonis palsu sebuah hadis ia mengatakan:

موضوع ، فيه ضعفاء أشدهم سيف

“Hadis ini palsu, pada sanadnya terdapat banyak parawi dha’îf/lemah, yang paling parah adalah Saif.”[20]

  • Asy Syaukâni menegaskan bahwa Saif ini adalah seorang pamalsu hadis, berbohong atas nama Nabi saw. ketika menimbang sebuah hadis yang pada sanadnya terdapat Saif, ia berkata:

وفي إسناده سيف بن عمر ، وهو وضاع

“Pada sanadnya terdapat Saif ibn Umar, ia seorang pemalsu hadis (atas nama Nabi saw.).”[21]

Dan dalam ksempatan lain ia menyebutkan komentar Ibnu Jauzi yang telah lewat dan ia membenarkannya.[22]

  • Syekh Muhaddis tersohor Muhammad al ‘Arabi at Tabbâni (W. a390 H) telah membeber panjang lebar kejahatan Saif ibn Umar. Ia berkali-kali menyebutnya sebagai ‘Pendekar para pemalsu’! Saya mencoba merangkum keterangan beliau yang beliau sebar di hampir setia kali beliau menyebut atau menyinggung riwayat Saif dalam terjadinya fitnah di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan.

Di antaranya beliau mengatakan:

سيف بن عمر الوضاع المتهم بالزندقة المتفق على أنه لا يروي إلا عن المجهولين.

“Saif ibn Umar seorang pemalsu yang tertuduh tidak beragama/zindiq, yang disepakati para ulama bahwa ia tidak meriwayatkan melainkan dari para parawi yangmajhûl.”[23]

Beliau juga mengatakan:

وقد اتفق أئمة النقد على أن سيفاً لا يروي إلا عن المجهولين وعلى طرحه  .

“Telah disekapati oleh para pakar kritikus bahwa Saif ini tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi yang majhûl dan mereka juga bersekapat membuangnya.”[24]

Beliau juga menegaskan:

وهذا التدافع والتخبط والطعن في الصحابة قد استقريناه في كل خبر يرويه الطبري عن سيف بن عمر المتهم بالزندقة الذي لا يروي إلا عن المجهولين  .

“Dan adanya saling pertentangan dan kekacauan serta kecaman terhadap para sahabat telah kami temukan seletah menelusuri setiap berita/riwayat yang diriwayatkan ath Thabari dari Saif ibn Umar yang tertuduh sebagai seorang zindiq yang tidak meriwayatkan melainkan dari para parawi majhûl.”[25]

Tentu maksaud beliau adalah bahwa kebanyakan guru Saif yang ia menimba riwayat dari mereka adalah demikian. Anda hampir tidak menemukan riwayat Saif melainkan pada mata rantai periwayatnya terdapat para parawi yang cacat dan/atau majhûl.

Ketika membantah anggapan sebagian orang yang berusaha membersihkan Saif dari berbagai bentuk cacat yang ditegaskan para ulama Ahli Hadis dan menganggapnya jujur dalam periwayatan data sejarah, Syeikh al ‘Abari at Tabbâni mengatakan:

وإذا كان وضع الأخبار الكثيرة على النبي (صلى الله عليه وآله) سهلاً على الوضاعين فالوضع على الصحابة والتابعين يكون أسهل

“Jika memalsu banyak hadis atas nama Nabi saw. adalah hal mudah bagi para pamalsu itu, maka memalsu ucapan atas nama para sahabat dan tabi’în tentu lebih mudah bagi mereka.”[26]

Dalam kesempatan lain ia menggelari Saif dengan Bathalul Akâdzîb (Pendekar Kebohongan). Beliau berkata:

روى هذه الرواية الطبري عن بطل الأكاذيب سيف بن عمر عن أناس مجهولين كعادته

“Riwayat ini diriwayatkan ole hath Thabari dari Bathalul Akâdzîb; Saif ibn Umar melalui jalur orang-orang yang majhûl, seperti kebiasaannya.”

Syeikh Nâshiruddîn al Albâni juga menegaskan bahwa Saif ini sangat dha’îf.[27]

Dan selain ketarangan yang saya sebutkan di atas banyak pencacatan atasnya dari para ulama dan seperti kita saksikan semua ulama dan pakar ahli hadis bersepakat mengatakan bahwa ia cacat, pembohong besar, pemalsu hadis dan pribadi yang diragukan kebersihan agamanya atau dengan istilah para ulama adalah seorang zindiq!

Oleh kerenanya, akankah dongen yang diandalkan para penulis itu dalam rangka menghujat Syi’ah berharga di pasar para ulama dan para peneliti?! Khususnya setelah kita mengehatui dengan yakin bahwa pembawa kisah itu adalah seorang pemalsu… seorang zindiq?!

(Bersambung)


[1] Para ahli sejarah tidak banyak menyebutkan nasab Abdullah bin Saba’ dan masa lalunya , dan dari kajian para ulama’ ditemukan bahwa yang pertama menyebut Abdullah bin Saba’ sebagai orang Yahudi adalah asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal . Akan tetapi klaim bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang yahudi sepertinya tidak tepat sebab dari namanya dan nama ayahnya terlihat jelas adalah nama-nama Arab bukan nama-nama yahudi.

[2] Hal :4-6 .

[3] jilid :10 ,hal :386 pada tafsir ayat :33 Surah at-Taubah (9) .

[4]Ibid.:8\225 .

[5] Fajr al-Islam :109-110 .

[6] Ibid.270.

[7] Ibid.276.

[8] Hal :347 . Dan ia menyebut sumber kisah Ibnu Saba’ :Ath-Thabari :1\2859 .

[9] Ibid.349 . Dan ia menyebut sumber rujukannya yaitu ath-Thabari sebanyak empat kali. Dan kemudian ia melanjutkan dongeng itu dengan menyebut ath-Thabari sebagai rujukan, lengkap dengan nomer halamannya sebanyak dua belas kali .

[10] Tarikh al Madzâhib al Islâmiyah :1\32.

[11] Ibid. 43 .

[12] Seperti Ibnu ‘Asakir (W:571H) dalam kitab Tarikh Damasqus dan adz-Dzahabi(W:748H) selain merujuk kepada buku ath-Thabari, imereka berdua juga merujuk langsung dari kitab alFutuh wa ar-Riddah karya Saif yang menjadi andalan ath-Thabari .

[13] Untuk mengetahui lebih lanjut data dan komentar ulama tentang keduanya pembaca dipersilahkan merujuk Tahdzîb at-Tahdzîb , Mizân al-I’tidâl ,Tadzkirah al-Maudlû’at dan Lisân al-Mizân.

[14]  Mizan al-I’tidal :2\255.

[15] Al Maudhû’ât,2/274 hadis nomer.837.

[16] Ibid.1/362 hadis nomer.444.

[17] Al Mughni fi adh Dhu’afâ’,1/460, nomer.2716 dan al Mîzân,3/353, nomer 3642.

[18] Lisân al Mîzân,3/289.

[19] Al Ishâbah,2/269,

[20] Al Laâli al Mashnû’ah,1/392.

[21] Al Fawâid al Majmû’ah:491.

[22] Ibid. 410.

[23] Tahdzîr al ‘Abqari,1/275.

[24] Ibid.1/272.

[25] Ibid.1/256.

[26] Ibid.1/272.

[27] Dha’îf Sunan at Turmudzi,:519.

Allah Membanggakan Bangsa Iran Untuk Membela Agama-Nya !

Kedatangan para rasul di tengah-tengah umatnya selalu disambut dengan keimanan oleh sekelompok dari mereka sementara sekelompok lainnya menentangnya dengan keras. Mereka yang menerima, beriman dan membela para rasul akan dipuji Allah dan digolongkan sebagai hamba-hamba yang dicintainya. Sedangkan mereka yang kafir dikecam, ditelantarkan dan disiksa Allah baik di dunia dan di akhirat kelak bagi mereka disiapkan siksa pedih yang menghinakan.

Nabi Muhammad saw. tidak terkecuali dari hukum di atas. Kedatangan beliau saw. disambut oleh sebagian dan ditentang bahkan diperangi oleh sebagian lainnya. Mereka yang menentang adalah bangsa Arab, khususnya suku Quraisy. Mereka sangat ganas, sehingga berulang kali mereka merencanakan untuk membunuh Nabi saw. akan tetapi Allah SWT selalu menyelamantkan Nabi-Nya dari makar jahat mereka. Setelah Nabi saw. berhijrah ke kota suci Madinah pun, kaum kafir itu tidak puas, sehingga peperangan demi peperangan mereka kobarkan. Dan Allah selalu memenangkan nabi-Nya berkat perjuangan Sayyidina Ali as. yang gigih tanpa mengenal lelah dan gentar serta lari dari pedan pertempuran! Parang Badr, Uhud, Khandak, Khaibar, Hunain dan lainnya menjadi saksi kegigihan dan ketangguhan perjuangan Imam Ali as.

Sepeninggal Nabi pun agama ini pasti akan dibela oleh hamba-hamba pilihan Allah SWT!

Nabi saw. Datang Memberi Peringatan kepada Bangsa Yang Degil lagi Angkuh!

Ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan kepada kita watak dan karakteristik bangsa Arab, khususnya suku Quraisy… mereka adalah bangsa dan suku yang degil lagi angkuh. Perhatikan ayat di abawah ini:

فَإِنَّما يَسَّرْناهُ بِلِسانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقينَ وَ تُنْذِرَ بِهِ قَوْماً لُدًّا

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.”(QS. Maryam [19];97)

Kata Luddan dalam ayat di atas memberikan arti:

  • Yang sangat berkeras kepala dalam menentang.
  • Yang zalim.
  • Doyan mendebat dengan kebatilan dan gemar menentang.
  • Kaum fujjâr/durhaka dan durjana.
  • Tuli dari mendengar kebenaran.

Mereka itu adalah bangsa Arab dan suku Quraisy[1]. Demikian Allah menjelaskan kepada kita karakteristik bangsa Arab dan khususnya suku Quraisy. Bangsa yang tidak dapat diandalkan untuk membela al Haq dan misi suci kerasulan.  

Allah Membanggakan Dan Mengandalkan Bangsa Iran Untuk Membela Agama-Nya!

Bukan ramalan Joyoboyo! Tapi ia adalah firman Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi… ternyata bangsa Arab tidak dapat diandalkan untuk membela agama Allah …  mereka adalah qauman luddan/bangsa degil, angkuh, zalim, keras kepala disampin labil keimanan dan semangat perjuangannya! Dan disampin semua itu, mereka adalah bangsa yang kikir dari mengingfakkan hartanya di jalan Allah SWT!

Apa yang dapat dinanti dan diharap dari suatu bangsa yang demikian sifatnya! Bangsa seperti itu harus segera diganti…. harus segera dimusiumkan… tentunya jika pengurus musium itu tidak keberatan… atau bahkan harus digilas habis ditelan siksa Allah.

Apakah Allah akan “kehabisan stok” umat yang siap membela agama-Nya?

Tentu tidak!! Allah akan segera menyingkirkan bangsa itu dan mendatangkan bangsa lain untuk membela agama-Nya. Dan bangsa ini jauh lebih berkualitas dibanding bangsa Arab yang disingkirkan karena kemurtadannya dan keberpalingannya dari membela agama Allah. Bangsa ini tidak kikir seperti bangsa Arab yang berpailing itu…. tidak angkuh… tidak degil dan siap berjuang demi agama Allah SWT.

Bengsa itu adalah bangsa Persia/Iran! Ya. Allah membanggakan dan mengandalkan mereka untuk membela agama-Nya di saat bangsa Arab tel;ah berpaling meninggalkan agama Allah… di saat mereka lebih senang mendemonstrasikan kemurtadan dengan berangkulan dan bermesraan dengan musuh-musuh Allah; Zionis Yahudi dan Nashrani serta kaum Musyrik!

Perhatikan firman Allah di bawah ini:

ها أَنْتُمْ هؤُلاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا في‏ سَبيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَ مَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّما يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَ اللَّهُ الْغَنِيُّ وَ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ وَ إِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثالَكُمْ

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS. Muhammad [47];38)

Asy Syaukâni berkata, “Jika kalian berpaling dari keimanan dan ketaqwaan pasti Allah akan mengganti kalian dengan satu bangsa/kaum yang lain yang mana mereka itu lebih taat kepada Allah dibanding kalian. Dan mereka itu tidak seperti kalian yang berpaling dari dari keimanan dan ketaqwaan. … “[2]

Ibnu Jarir ath Thabari menjelaskan bagian akhir ayat tersebut dengan mengatakan:“dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)” dalam kekikiran dalam berinfak di jalan Allah seperti yang kalian diperintahkan dan mereka itu tidak menyia-nyiakan hukum-hukum Allah sedikitpun, akan tetapi mereka akan menegakkannya semua sesuai yang diperintahkan. Dan dengan tafsir yang saya sebutkan ini para ahli tafsir berpendapat. Kemudian beliau menyebutkan ketarangan para ahli tafsir klasik seperti Qatadah, Ibnu Zaid.[3]

Semua ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan bangsa yang akan didatangkan menggantikan bangsa Arab yang berpaling itu adalah bangsa Persia/Iran.

Ibun Jarir ath Thabari, asy Syaukani, Ibnu Katsir, as Suyuthi dan lainnya menyebutkan beberapa riwayat yang menegaskan sabda Nabi Muhammad saw. banga bangsa yang diandalkan Allah untuk membela agama-Nya itu adalah bangsa Perisi, bangsanya Salman al Farisi…

Hadis Nabi Saw. Menafsirkan Ayat Al Qur’an

Para ulama dan ahli tafsir meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika turun ayat: “dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” Salman ada di samping Rasulullah saw., lalu para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah! Siapakah mereka yang jika kami berpaling Allah akan menggantikan kita dengan suatu kaum itu? Maka beliau menepuk pundak Salman seraya bersabda, ”dari orang ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, andai keimanan itu bergantung di bintang Sturayya pastilah akan digapai oleh manusia-manusia hebat dari bangsa Persia.”

Imam Alâuddîn al Baghdâdi al Khâzin berkata setelah menyebutkan hadis di atas, “Dan hadis ini memiliki banyak jalur dalam hadis shahih akan dipaparkan dalam tafsir surah Jum’ah.[4]

Riwayat-riwayat tentangnya dapat Anda saksikan langsung dalam”

  1. Tafsir ath Thabari,26/42.
  2. Tafsir al Qurthubi,16/258.
  3. Tafsir Fathu al Qadîr,5/43.
  4. Ad Durr al Mantsûr,6/55-56.
  5. Tafsir Ma’âlim at Tanzîl; Imam al Bangawi,6186.
  6. Tafsir Lubâb at Ta’wîl; Imam al Khâzin,6/186.

Dari firman Allah dan sabda Nabi saw. di atas dapat dimengerti bahwa bangsa Persia adalah bangsa yang gigih dalam mencari kebenaran sehingga andai keimnan itu bergantungan di bintang Tsurayya yang sangat tinggi niscaya mereka akan terbang untuk mencapainya, tidak seperti bangsa yang Nabi diutus di tengah-tengah mereka dan dari bangsa mereka tetapi mereka berpaling darinya dan menelantarkan pembelaan terhadapnya!

Sekali lagi Allah dan rasul-Nya membanggakan dan mengandalkan bangsa Iran untuk membela agama-Nya khususnya di akhir zaman di saat bangsa Arab telah berpaling dan menjual kesetiaannya kepada Allah dan rasul-Nya!

Jadi, akan sia-sialah setiap uyapa dan usuha dari siapapun untuk mengancurkan bangsa Iran sebab merekan adalah bangsa “Kebanggaan dan Andalan Allah” untuk membela agama-Nya… mereka adalah prajurit Imam Mahdi yang dijanjikan Nabi saw. akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dikotori oleh kezaliman kaun zalim… .

Hanya ada satu pulihan di hadapan umat manusia dan khususnya bangsa Arab, bergabung bersama “Bangsa Kebanggaan dan Andalan Allah” atau bergabung dengan Dajjal dan antek-anteknya yang terkutuk!

ALLAHUMMASALLI ‘ALA MUHAMMAD,,,,,,REVOLUSI ISLAM IRAN yg d Prakarsai oleh IMAM KHOMEINI adalah bukti NYATA dari keHEBATan ISLAM menuju keJAYAan,,,,,kenapa saudara MUSLIM lain masih menutup diri seakan-akan BUTA dan TULI bahkan sok “IDIOT”akan FAKTA yg sudah JELAS-JELAS di AKUI oleh seluruh Negara di DUNIA, pada hal satu2nya SOLUSI KITA adalah; terus DAKWAHkan perSATUan ISLAM menuju “REVOLUSI ISLAM SEDUNIA”,,, bukan terus berdebat yg sok hebat,, Kita tdk sadar bahwa d mata para yahudi dan nasrani kita di pandang BODOH/DUNGU ,,,!!! Yaa ALLAH,,, Lindungilah UmatMU ini dari keDZALIMan orang2 MUNAFIK,,,,

orang-orang iran kala ini sudah berjaya menghantar satelit ke orbit dan mungkin masa mendatang berjaya menghantar insan beriman ke planet yang tidak dicapai oleh amerika dan rusia sekarang.atas sebab inilah mereka berusaha memusnahkan teknologi nukliar iran.orang arab hanya beli teknologi as dan rusia..yang kaya orang baratlah.itu sebab barat memperbesarkan isu syiah iran agar orang islam berpecah…tiada yang menyokong iran.dengan itu mereka senang ganyang iran. syabas iran..semoga negara anda dan para mukmin di sana membawa obor kecemerlangan untuk islam seluruhnya

.
Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana)

.

.

.

.

.


[1] Tentang ketarangan tafsiran ayat di atas saya persilahkan pembaca melihat langsung tafsir ath Thabari,16/101, ad Durr al Mantsur,4/513.

[2] Tafsir Fathu al Qadîr,5/42.

[3] Tafsir ath Thabari,26/42.

[4] Tafsir Lubâb at Ta’wîl,6/186.

wahai para pembaca ..


Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

 Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.”

Tentang apa yang akan ditanyakan kepada umat manusia kelak di hari kiamat, di antara para ulama dan ahli tafsir ada yang mengatakan pertanyaan itu terkait dengan konsep Tauhid; Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah! Ada pula yangt mengatakan mereka akan ditayai dan dimintai pertanggung-jawaban tentang WilâyahImam Ali as.

Akan tetapi di sini perlu diketahui bahwa apa yang disebutkan di atas adalah penyebutan mishdâq dari apa yang akan ditanyakan… ia tidak sedang membatasai… bukan hanya itu yang akan ditanyakan…. Inti dari pertanyaan itu tentang kebenaran apapun yang mereka abaikan di dunia, baik ia berupa I’tiqâd/keyakinan yang intinya adalah Syahâdatain…Tentunya dan juga tentang Wilâyah Imam Ali as. yang akan menentukan nilai Syahâdatain di sisi Allah SWT. … Atau berupa amal shaleh yang mereka tinggalkan kerena keangkuhan dan sikap takabbur kepada atasnya.

Riwayat Tafsir Nabi saw.

Para muhaddis telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah menyebut bahwa di antara pertanyaan penting yang akan ditanyakan adalah tentang Wilâyah Imam Ali as., karenanya para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în, di antara mereka Abu Said al Khadri, Ibnu Abbas, Abu Ishaq as Subai’i, Jabir al Ju’fi, Mujahid, Imam Muhammad al Baqir as. dan Mandal bahwa kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menanyai setiap orang akan sikapnya terhadap wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as.

Riwayat Abu Sa’id al Khadri:

Ibnu Hajar (dan juga para ulama lainnya) menggolongkan ayat di atas sebagai ayat yang turun menjelaskan keagungan, keutamaan dan maqam mulia Ahlulbait as., ia berkata: “(Ayat Keempat) Firman Allah –Ta’âlâ-:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khadri bahwa Nabi saw. bersabda:

{و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ} عن وِلايَةِ علِيٍّ.

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”tentang wilayah Ali.

Sepertinya sabda ini yang dimaksud oleh al Wâhidi dengan ucapannya, ‘“Dan Hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” tentang wilayah Ali dan Ahlubait, sebab Allah telah memerintah Nabi-Nya saw. agar memberitahui umat manusia bahwa ia tidak meminta upah atas jerih payah mentablîghkan Risalah (agama) kecuali kecintaan kepada keluarga beliau. Maknanya, bahwa mereka akan ditanyai apakah mereka mengakui Wilâyah mereka dengan sepenuh arti seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka atau mereka menyia-nyiakan dan mengabaikannya, maka mereka akan dituntut dan dikenakan sanksi.’

Dan dengan ucapannya ‘seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka’ ia menunjuk kepada hadis-hadis yang datang dalam masalah ini, dan ia sangat banyak sebagainnya akan kami sebutkan pada pasal kedua nanti.”[1] 

 

Sumber Riwayat:

Hadis Abu Sa’id telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari banyak jalur. Dalam riwayat al Wâhidi di atas hadis itu diriwayatkan dari jalur: Qais ibn Rabî’i dari’Athiyyah dari Abu Sa’id dari Nabi saw.

Al Hakim al Hiskâni meriwayatkannya dari  dua jalur; 1) dari Qais ibn Rabî’ dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw…. 2) dari Isa ibn Maimun dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw. hadis

Riwayat Ibnu Abbas ra.

Al Hakim al Hiskâni juga meriwayatkan tafsir serupa dari Nabi saw. dari riwayat Ibnu Abbas ra….. Dari ‘Athâ’ ibn Sâib dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Kelak di hari kiamat aku dan Ali diberdirikan di atas Shirâth (jembatan pemeriksaan), maka tiada seorang pun yang melewatinya melainkan kami tanyai tentang WilâyahAli. Maka barang siapa memilikinya (maka ia boleh berjalan terus), dan yang tidak akan kami lemparkan ke dalam api neraka. Itu adalah firman Allah:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”[2]

Dalam riwayat lain, Al Hakim meriwayatkan tentang firman Allah SWT.:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Tentang Wilayah Ali ibn Abi Thalib.”[3]

 Status Hadis:

Seperti Anda saksikan bahwa Nabi saw.[4] sendirilah yang menafsirkan ayat di atas dengan Wilâyah Ali as…. Bahwa perkara terpenting yang akan ditanyakan kepada setiap manusia kelak di hari kiamat setelah tentang keesaan Allah dan kerasulan Mahammad saw. adalah Wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as. dan berdasarkan sikap setiap orang, nasib mereka akan ditentukan di sana!

Apabila seorang dalam hidupnya mengimani Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad ibn Abdillah sebagai Rasul penutup Allah serta mengimani Ali dan Ahlulbait as. sebagai para Wali (pemimpin)nya, maka ia akan mendapat rahmat dan nikmat dari Allah dan apabila tidak maka Allah akan memintainya pertangung-jawaban atas sikapnya tersebut dan memberinya sanksi, seperti yang ditegaskan Al Wâhidi di atas.

Lalu bagaimana sikap Anda? Apakah Anda telah mempersiapkan jawaban untuk intrograsi para malaikat Allah kelak di hari Pengadilan Akbar; hari kiamat terkait dengan sikap Anda terhadap kepemimpinan Imam Ali dan Ahlulbait as.?

Apakah Anda termasuk orang yang peduli akan nasib abadi Anda di alam akhirat sana? Atau Anda termasuk mereka yang acuh terhadap apapun tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan?

Jawabnya terserah Anda!!

Catatan:

Hadis Abu Sa’id dan keterangan Al Wâhidi, selain dikutip dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab ash Shawâiq-nya juga dikutip dan dibenarkan oleh banyak ulama Ahlusunnah lainnya, di antaranya:

A)        Syihâbuddîn al Khaffâji dalam kitab tafsir Ayat al Mawaddah-nya:82, seperti disebutkan dengan lengkap oleh az Zarandi dalam Nadzm  Durar as Simthain:109.

B)          Syeikhul Islam al Hamawaini dalam Farâid as Simthain,1/78-79 ketika menyebut hadis no.46 dan 47.

C)         As Samhûdi dalam Jawâhir al Iqdain,2/108.

Mereka menyebut dan menukilnya serta mendukungnya dengan beberapa bukti pendukung lainnya.

Tafsir Para Sahabat Dan Mufassir Salaf

Selain dua sahabat yang telah kami sebutkan tafsir mereka, para mufassir Salaf juga menafsirkan ayat di atas sesuai denga tafsir Nabi saw. di antara tafsir yang diriwayatkan dari mereka adalah sebagai berikut:

(1)                       Abu Ishaq as Subai’i

Al Khawârizmi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Ahwash dari Abu Ishaq as Subai’i tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[5]

(2)        Mujahid

Adz Dzahabi menykil riwayat dari jalur Israil dari Ibnu Najîh dari Mujahid tentang ayat:“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[6]

(3)        Imam Muhammad al Baqir as.

Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Daud ibn Hasan ibn Hasan dari ayahnya dari (Imam) Abu Ja’far tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.

Hadis serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Ishaq as Subai’i dari Jabir al Ju’fi.[7]

 

Hadis-hadis Pendukung!

Selain itu hadis tafsir Nabi saw. di atas dan juga tafsir para sahabat telah dikuatkan dan didukung oleh banyak bukti… di antara bukti-bukti itu adalah:

  • Hadis-hadis yang menegaskan bahwa kelak di hari kiamat Nabi saw. akan meminta dari umat Islam pertanggung-jawaban sikap terhadap Kitabullah dan Ahlulbait as. Di antara hadis-hadis itu dalah sebagai berikut ini:

Dari Abu Thufail Amir ibn Watsilah dari Hudzaifah ibn Usaid al Giffari dalam sebuah hadis panjang di antaranya beliau saw. bersabda:

يَا أيُّها الناسُ إِنِّيْ فَرَطُكُمْ, إِنَّكُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى إلى صَنْعاءَ فيهِ عَدَدُ النُّجُومِ قَدْحانَ فِضَّةٍ، و إِنِّيْ سائِلُكُمْ حين تَرِدُوْنَ عَنِ الثَّقَليْنَ ، فَانْظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما: الثقل ألأكْبَرُ كتابَ اللهِ عز و جلَّ سببٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ و طرفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فاسْتَمْسِكُوا بِهِ و لا تَضِلُّوا و لا تُبَدِّلُوا، وَعِتْرتِيْ أَهلَ بيتِيْ، فَإِنَِّ اللطيفَ الخبيرَنَبَّأَنِيْ أَنَّهُما لَنْ يَنْقَضِيا حتى يرِدَا عليَّ الْحَوْضَ.

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku akan mendahului kalian menuju telaga dan kalian pasti mendatangiku di telaga, sebuah telaga yang lebih lebar dari kota Bushra hingga kota Shan’a’, di dalamnya terdapat cawan-cawan sejumlah bintang di langit. Aku akan meminta pertanggung-jawaban kalian ketika menjumpaiku akanTsaqalaian. Maka perhatikan, bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya.Tsaqal pertama adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebab penyambung yang satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah; jangan kalian menyimpang dan mencari ganti selainnya, dan kedua adalah Itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah memberitauku bahwa keduanya tidak akan berakhir sehingga menjumpaiku di haudh (telaga).”[8]

  • Hadis akan ditanyakannya empat perkara di hari kiamat. Di antaranya adalah riwayat di bawah ini:

Al Hafidz al Haitsami berkata, “dan dari Ibnu Abbbas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تزولُ قَدَما عبْدٍ يومَ القيامة حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ و عن ماله فِيمَ أنْفَقَهُ و مِنْ أين إكْتَسَبَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang hartanya untuk apa ia belanjakan dan dari mana ia perolah dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Awsath, dan pada sanadnya terdapat Husain al Asyqar, ia dianggap lemah oleh sebagian ulama, akan tetapi Ibnu Hibbân mentsiqahkannya.

Al Haitsami juga meriwayatkannya dari jalur lain dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تزولُ قَدَما عبْدٍ حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ وَ عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه و عن ماله مِنْ أين إكْتَسَبَهُ وَ فِيمَ أنْفَقَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang harta dari mana ia perolahnya dan untuk apa ia belanjakan dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Lalu ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda kecintaan kepada kalian Ahlulbait?’

Maka beliau menunjuk Ali sambil menepuk pundaknya.“

Ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Awsath.

Perhatikan di sini, al Haitsami hanya mencacat hadis dengan jalur pertama yaitu disebabkan Husain al Asyqar. Sementara terhadap hadis dengan jalur kedua ia mendiamkan dan tidak mencacatnya dengan sepatah kata pun..

Dan dalam sumber aslinya disebutkan bahwa Nabi menjawab si penanya dengan sabda beliau, “Tanda kecintaan kepada kami adalah kecintaan kepada orang ini sepeninggalaku.” Sabda ini tidak disebutkan oleh al Haitsami. Adapun pencacatannya atas Husain al Asyqar sangat tidak berdasar. Perawi yang satu initsiqah dan adil seperti telah dibuktikan pada tempatnya.

Ikhtisar kata, hadis ini termasuk dari hadis-hadis terkuat tentang keutamaan Ali dan Ahlulbait as. tidak ada tempat untuk pencacatan!

  • Hadis yang mengatakan bahwa manusia tidak akan diizinkan melewati jembatan penyeberangan di Shirâth kelak kecuali setelah terbutki ia meyakiniWilayah Imam Ali as.

Di antara hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

A)                    Hadis riwayat Imam Ali as.

Al Hafidz Abul Khair al Hâkimi ath Thâliqâni berkata, “Dan dengannya al Hâkim berkata…. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جمَع اللهُ الأولين و الآخرين يوم القيامة و نصب الصراطَ على جسر جهنمَ ما جازاها أحدٌ حتى كانت معه برآءَةٌ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kelak pada hari kiamat Allah mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir dan Dia menegakkan Shirâth di atas jembatan neraka Jahannam, maka tidak seorang pun melewatinya sehingga ia memiliki surat jalan berupa (keyakinan akan) Wilâyah Ali ibn Abi Thalib.”[9]

B)          Hadis Anas ibn Malik.

Ibnu al Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Anas ibn Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إذا كان يوم القيامة و نُصِبَ الصراطُ على شَفِير جهنمَ لَمْ يَجُزْ إلاَّ مَن معه كتابُ  بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kiamat terjadi dan Shirath dibentangkan di atas bantaran nereka Jahannam, maka tidak ada yang dapat melewatinya kecuali orang memiliki catatan berupa Wilayah kepada Ali ibn Abi Thalib.”[10]

Dan selain dua hadis di atas banyak hadis lainnya dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas dan Abu Bakar.

Setelah ini semua adalah sebuah sikap gegabah jika ada yang meragukan kesahaihan tafsir ayat di atas dengan Wilayah Imam Ali ibn Abi Thalib as., apalagi mengatakannya sebagai hadis palsu!!

Wallahu A’lam.


[1] Ash Shawâiq al Muhriqah:149. Cet. Maktabah al Qahirah. Thn.1385 H/1965 M. dengan tahqiq Abdul Wahhâb Abdul Lathîf..

[2] Syawâhid at Tanzîl,2/162 hadis no..789.

[3] Ibid. no790.

[4] Pada riwayat-riwayat Abu Sa’id dan Ibnu Abbas ra. di atas Anda dapat saksikan bahwa sesekali mereka menukil tafsir ayat tersebut dari Nabi saw. dan sesekali mereka memauqufkan (tidak menyandarkannya) kepada Nabi saw.! Untuk bentuk yang kedua (yang mauqûf) para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa ucapan para sahabat tentang tafsir ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada ruang bagi ijtihad dan pendapat maka dihukumi marfû’ (diambil dari Nabi saw.) sebab tidak mungkin para sahabat itu membuat-buat keterangan palsu tentang masalah yang tidak ada ruang bagi berijtihad. Dan kasus kita sekarang ini termasuk darinya… pertanyaan di hari kaimat termasuk berita ghaib, maka pastilah ucapan Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam masalah ini bersumber dari Nabi saw. Apalgi telah terbukti bahwa Nabi saw. telah menafsirkan sendiri makna ayat tersebut seperti mereka berdua sampaikan!

[5] Manâqib:275 hadis no.256.

[6] Mâzân al I’tidâl,5/145 ketika menyebut sejarah hidup Ali ibn Hatim.

[7] Syawâhid at Tanzîl,2/164 hadis no.790.

[8] Hadis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Hilyah al Awliyâ’,1/355 dan 9/64, Tarikh Damasqus,1/45 tentang sejarah hidup Imam Ali as., 3/180, hadis no. 3052, Al Haitsami dalam Majma’ az Zawaid, 9/165, Tarikh Ibnu Katsir,7/348, as Sirah al Halabiyah,3/301, ash Shaw^aiq al Muhriqah:25, Farâid as Simthain,2/274, Nadzm Durar as Simthain:231 dan al Fushûl al Muhimmah:23.

[9] Kitâb al Arba’în al Muntaqâ Min Manâqib Ali al Murtadhâ, hadis no 40.

[10] Manâqib Ali ibn Abi Thalib:243.

Perbedaan Rukun Iman Syi’ah Dan Ahlusunnah!

Upaya Terakhir Membodohi Kaum Awam

Persembahan Untuk Para Tukang Fitnah

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana)

.

.

.

.

.

Semakin banyak Para Penabur Fitnah murahan itu berbicara memfitnah Mazhab Syi’ah semakin tampak kejahilan dan kebangkrutan logika mereka. Kebodohan demi kebodohan dan kekerdilan logika tak hentik-hentinya mereka pamerkan! Kini mereka bebupaya membodohi kaum awam bahwa Syi’ah itu sesat dan keluar dari Islam karena rukun imamnya berbeda! Mereka menyebut bahwa:

Rukun[1] Imam Syi’ah Vs Rukun Imam Ahlusunnah!

Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a)      Syahadatain

b)      As-Sholah

c)      As-Shoum

d)      Az-Zakah

e)      Al-Haj

 Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a)      As-Sholah

b)      As-Shoum

c)      Az-Zakah

d)      Al-Haj

e)      Al wilayah

2.      Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a)      Iman kepada Allah

b)      Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c)      Iman kepada Kitab-kitab Nya

d)      Iman kepada Rasul Nya

e)      Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f)       Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a)      At-Tauhid

b)      An Nubuwwah

c)      Al Imamah

d)      Al Adlu

e)      Al Ma’ad[2]

Lalu setelahnya mereka menyimpulkan bahwa Syi’ah tidak beriman kepada: Qadha’ dan Qadar, para malaikat dan kitab-kitab Allah!

ustad syiahali :

Alhamdulillah, saya tidak pernah terkejut dengan kejahilan mereka yang memusuhi Ahlulbait Nabi dan Syi’ahnya, sebab jika mereka tidak sejahil itu tidak mungkin mereka bergabung bersama kaum munafik untuk memusuhi kebenaran! Tetapi yang saya agak heran, mengapa mereka tidak malu memamerkan kejahilan memalukan yang mencerminkan kebangkrutan logika sehat itu! Mungkin mereka beranggapan bahwa para pembaca tulisan mereka itu adalah kaum sufahâ’ (kaum bodoh lagi dungu) padahal justru merekalah yang sufahâ’. Allah berfirman:

أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَّ يَعْلَمُوْنَ

“Ingatlah, sesungguhnya merekalah  orang-orang yang tolol, akan tetapi mereka tidak tahu.” (QS. 2;13)

Dengan logika jongkok kaum kerdil itu, Syi’ah segera dituduh tidak percaya kepada para malaikat, kitab-kitab dan qadha dan qadar! Dan kerananya pula Syi’ah divonis sesat dan kafir!

Sungguh hebat “kejelian penyimpulan” kaum Pemfitnah bayaran itu! Karena Syi’ah tidak menyebutnya dalam Rukun Iman mereka maka berarti Syi’ah tidak beriman kepadanya!

Tidak banyak yang ingin saya katakan dalam menjawab kejahilan kaum Pemfitnah itu sebab waktu saya jauh lebih berharga dari menanggapi kejahilan murahan kaum jahil itu. Saya hanya ingin mengatakan:

A) Apa pendapat kalian tentang hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya,1/30 Bab al Imân Ma Huwa wa Bayâni Khishalihi:

Hadis Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&BookID=24&TOCID=40)

Hadis Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=10&BookID=25&PID=81)

Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Imam itu hanya:

(1) Beriman kepada Allah,

(2) Kepada para malaikat,

(3) Kepada kitab-Nya,

(4) Perjumpaan dengan-Nya,

(5) Kepada para rasul.

Tidak ada sebutan apapun tentang kewajiban percaya kepada Qadha’ dan Qadar?! Apakah berarti Rukun Imannya Rasulullah saw. berbeda dengan Rukun Imannya Ahlusunnah? Sehingga beliau harus dituduh tidak berimam karena tidak mengimani qadha’ dan qadar?! Dan yang lebih konyol lagi, bahwa Rukun Iman itu tidak menyebut-nyebut Keimanan kepada Kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. secara khusus!

B)    Apa Pendapat Anda terhadap hadis shahih dalam riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya,1/35 Bab al Amru Bil Imân Billah wa rasûluhi, seperti di bawah ini:

قَالَ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسًا مِنْ الْمَغْنَمِ

“Aku perintahkan kamu agar berngesakan keimanan hanya kepada Allah! Tahukan kamu apa iman kepada Allah itu? Mereka menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Bersaksi bahwa tiada Tuhan slain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakan shalat, membayar zakat, puasa bulan ramadhan dan membayar khumus (seperlima dari keuntungan/perolehan).”

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=15&BookID=25&PID=95)

Hadis di atas menegaskan bahwa inti keimanan itu sebagai berikut:

(1) Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah,

(2) Dan bersaksi Muhammad adalah rasul Allah,

(3) menegakkan shalat,

(4) membayar zakat,

(5) dan membayar khumus.

Sementara dalam riwayat lain selanjutnya disebutkan poin yang berbeda yaitu: (*) berpuasa bulan ramadha, sehingga pilar keimanan itu menjadi berbeda. Dalam hadis pertama tidak ada sebutan tentang puasa bulan Ramadhan, sementara dalam hadis kedua ada sebutan tentang puasa Ramadhan!

Selain itu, apakan tiga atau empat poin selain beriman kepada Allah dan Rasul-Nya juga termasuk dalam Rukun/Pilar keimanan? Lalu apa bedanya dengan Rukun Islam yang diyakini Ahlusunnah?!

C)    Dalam Rukun Imam Ahlusunnah tidak disebutkan keimanan kepada keadilan Allah yang Maha Adil. Lalu apakah itu berarti Ahlusunnah tidak mengimani bahwa itu Maha Adil. Atau dengan kata lain bahwa Ahlusunnah mengimani bahwa Allah itu ZALIM?!

D)    Jika jawaban kalian mengatakan tidak demikian keimanan kita. Kami beriman bahwa Allah Maha Adil. Lalu mengapakah tidak kalian sebut dalam poin Rukun Imam!

E)     Apapun jawaban para ulama Ahlusunnah terhadapnya itu juga jawaban kami dalam membantah kaum Pemfitnah, khuususnya kaum Wahhâbi-Salafi (yang sudah mulai mempekerjakan sebagian uztadz-ustadz Sunni untuk menggempur Mazhab Syi’ah!) ketika mereka menuduh Syi’ah tidak mengimani kitab-kitab- para rasul dan qadha’ dan qadar hanya kerena alasan lugu (baca: dungu) bahwa hal-hal tersebut tidak disebutkan dalam poin Rukun Imam Syi’ah!

F)     Jika benar demikian bahwa Rukun Iman kalian adalah seperti yang kalian sebutkan, lalu mengapakah kalian begitu “ngotot” sampai-sampai kerongkongan para penjaual fitnah di atas-atas mimbar naas itu seakan hendak meladak menghujat Syi’ah karena mereka tidak mengimani kekhalifahan tiga Khalifah sebelum Imam Ali as.?! Mengapakah demikian? Bukankan ia bukan bagian dari Rukun Iman? Bahwa sama sekali ia bukan bagian dari keyakinan. Ia bagian dari urusan fikih. Bukankah demikian?! Jika kalian tidak mengerti bahwa masalah imamah/khilafah itu adalah bagian dari masalah furûiyah, maka alangkan jahil dan memalukannya kalian!! Jika sudah mengerti, lalu mengapakah kalian berlakan seperti orang jahil?!

G)    Dan akhirnya, saya hendak bertanya, apa yang akan kalian lakukan terhadap hadis-hadis shahih dari Nabi saw. dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menegaskan bahwa dengan sekedar mengiman Allah dan kerasulan Nabi Muhammad saw. seorang telah dipastikan beriman dan pasti masuk surga?

Akhirul Kalam

Dan akhirnya, saya berharap kalian mau membuka mata kalian untuk membaca ulasan akidah Islam yang ditulis oleh para ulama Syi’ah, baik klaisk maupun kontemporer… baca kitab-kitab Syeikh Shadûq, Syeikh Mufid, Sayyid al Murtadha, al Karâjiki, Allamah al Hilli, Khawaja Syeikh Nashiruddîn ath Thusi… juga kitab-kitab Syeikh Muhammad Ridha al Mudhaffar, Syeikh Kyif al Ghithâ’, Allamah Thabathabai, Syeikh Allamah ja’far Subhâni, Syeikh Allama Abdullah Jawadi Amuli, Sayyid Allamah Kamâl al Haidari… pasti kalian akan melihat bagaiamana sebenarnya akidah Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah.. dan bagaimana argumentasi naql dan aqli yang mereka paparkan untuk mendukung masing-masing poin akidah yang diyakini… dan akhirnya saya jamin setiap yang berakal pasti mengakui bahwa itulah akidah Islam yang murni, berbasis logika sehat dan nash shahih dan sharih serta jauh dari penyimpangan.

Dari pada kebeeja siang malam memerangi agama Allah yang telah dijamin untuk dijaga, dibela dan dimenangkan oleh Allah lebih baik kalian mencari lowongan kerja lain yang lebih terhormat dan tidak mencelakakan dunia akhirat! Itu sekedar saran dari lubuk hati yang ikhlas buat para pedagang fitnah!

Wassalam.


[1] Istilah Rukun Iman itu sendiri sepertinya perlu dipastikan dari mana? Sebab jika istilah itu tidak berbasis nash, maka dikhawatirkan terjebak dalam BID”AH!

[2] (http://www.albayyinat.net/ind1.html)

wahai para pembaca ….


Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

 Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.”

Tentang apa yang akan ditanyakan kepada umat manusia kelak di hari kiamat, di antara para ulama dan ahli tafsir ada yang mengatakan pertanyaan itu terkait dengan konsep Tauhid; Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah! Ada pula yangt mengatakan mereka akan ditayai dan dimintai pertanggung-jawaban tentang WilâyahImam Ali as.

Akan tetapi di sini perlu diketahui bahwa apa yang disebutkan di atas adalah penyebutan mishdâq dari apa yang akan ditanyakan… ia tidak sedang membatasai… bukan hanya itu yang akan ditanyakan…. Inti dari pertanyaan itu tentang kebenaran apapun yang mereka abaikan di dunia, baik ia berupa I’tiqâd/keyakinan yang intinya adalah Syahâdatain…Tentunya dan juga tentang Wilâyah Imam Ali as. yang akan menentukan nilai Syahâdatain di sisi Allah SWT. … Atau berupa amal shaleh yang mereka tinggalkan kerena keangkuhan dan sikap takabbur kepada atasnya.

Riwayat Tafsir Nabi saw.

Para muhaddis telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah menyebut bahwa di antara pertanyaan penting yang akan ditanyakan adalah tentang Wilâyah Imam Ali as., karenanya para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în, di antara mereka Abu Said al Khadri, Ibnu Abbas, Abu Ishaq as Subai’i, Jabir al Ju’fi, Mujahid, Imam Muhammad al Baqir as. dan Mandal bahwa kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menanyai setiap orang akan sikapnya terhadap wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as.

Riwayat Abu Sa’id al Khadri:

Ibnu Hajar (dan juga para ulama lainnya) menggolongkan ayat di atas sebagai ayat yang turun menjelaskan keagungan, keutamaan dan maqam mulia Ahlulbait as., ia berkata: “(Ayat Keempat) Firman Allah –Ta’âlâ-:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khadri bahwa Nabi saw. bersabda:

{و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ} عن وِلايَةِ علِيٍّ.

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”tentang wilayah Ali.

Sepertinya sabda ini yang dimaksud oleh al Wâhidi dengan ucapannya, ‘“Dan Hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” tentang wilayah Ali dan Ahlubait, sebab Allah telah memerintah Nabi-Nya saw. agar memberitahui umat manusia bahwa ia tidak meminta upah atas jerih payah mentablîghkan Risalah (agama) kecuali kecintaan kepada keluarga beliau. Maknanya, bahwa mereka akan ditanyai apakah mereka mengakui Wilâyah mereka dengan sepenuh arti seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka atau mereka menyia-nyiakan dan mengabaikannya, maka mereka akan dituntut dan dikenakan sanksi.’

Dan dengan ucapannya ‘seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka’ ia menunjuk kepada hadis-hadis yang datang dalam masalah ini, dan ia sangat banyak sebagainnya akan kami sebutkan pada pasal kedua nanti.”[1] 

 

Sumber Riwayat:

Hadis Abu Sa’id telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari banyak jalur. Dalam riwayat al Wâhidi di atas hadis itu diriwayatkan dari jalur: Qais ibn Rabî’i dari’Athiyyah dari Abu Sa’id dari Nabi saw.

Al Hakim al Hiskâni meriwayatkannya dari  dua jalur; 1) dari Qais ibn Rabî’ dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw…. 2) dari Isa ibn Maimun dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw. hadis

Riwayat Ibnu Abbas ra.

Al Hakim al Hiskâni juga meriwayatkan tafsir serupa dari Nabi saw. dari riwayat Ibnu Abbas ra….. Dari ‘Athâ’ ibn Sâib dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Kelak di hari kiamat aku dan Ali diberdirikan di atas Shirâth (jembatan pemeriksaan), maka tiada seorang pun yang melewatinya melainkan kami tanyai tentang WilâyahAli. Maka barang siapa memilikinya (maka ia boleh berjalan terus), dan yang tidak akan kami lemparkan ke dalam api neraka. Itu adalah firman Allah:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”[2]

Dalam riwayat lain, Al Hakim meriwayatkan tentang firman Allah SWT.:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Tentang Wilayah Ali ibn Abi Thalib.”[3]

 Status Hadis:

Seperti Anda saksikan bahwa Nabi saw.[4] sendirilah yang menafsirkan ayat di atas dengan Wilâyah Ali as…. Bahwa perkara terpenting yang akan ditanyakan kepada setiap manusia kelak di hari kiamat setelah tentang keesaan Allah dan kerasulan Mahammad saw. adalah Wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as. dan berdasarkan sikap setiap orang, nasib mereka akan ditentukan di sana!

Apabila seorang dalam hidupnya mengimani Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad ibn Abdillah sebagai Rasul penutup Allah serta mengimani Ali dan Ahlulbait as. sebagai para Wali (pemimpin)nya, maka ia akan mendapat rahmat dan nikmat dari Allah dan apabila tidak maka Allah akan memintainya pertangung-jawaban atas sikapnya tersebut dan memberinya sanksi, seperti yang ditegaskan Al Wâhidi di atas.

Lalu bagaimana sikap Anda? Apakah Anda telah mempersiapkan jawaban untuk intrograsi para malaikat Allah kelak di hari Pengadilan Akbar; hari kiamat terkait dengan sikap Anda terhadap kepemimpinan Imam Ali dan Ahlulbait as.?

Apakah Anda termasuk orang yang peduli akan nasib abadi Anda di alam akhirat sana? Atau Anda termasuk mereka yang acuh terhadap apapun tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan?

Jawabnya terserah Anda!!

Catatan:

Hadis Abu Sa’id dan keterangan Al Wâhidi, selain dikutip dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab ash Shawâiq-nya juga dikutip dan dibenarkan oleh banyak ulama Ahlusunnah lainnya, di antaranya:

A)        Syihâbuddîn al Khaffâji dalam kitab tafsir Ayat al Mawaddah-nya:82, seperti disebutkan dengan lengkap oleh az Zarandi dalam Nadzm  Durar as Simthain:109.

B)          Syeikhul Islam al Hamawaini dalam Farâid as Simthain,1/78-79 ketika menyebut hadis no.46 dan 47.

C)         As Samhûdi dalam Jawâhir al Iqdain,2/108.

Mereka menyebut dan menukilnya serta mendukungnya dengan beberapa bukti pendukung lainnya.

Tafsir Para Sahabat Dan Mufassir Salaf

Selain dua sahabat yang telah kami sebutkan tafsir mereka, para mufassir Salaf juga menafsirkan ayat di atas sesuai denga tafsir Nabi saw. di antara tafsir yang diriwayatkan dari mereka adalah sebagai berikut:

(1)                       Abu Ishaq as Subai’i

Al Khawârizmi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Ahwash dari Abu Ishaq as Subai’i tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[5]

(2)        Mujahid

Adz Dzahabi menykil riwayat dari jalur Israil dari Ibnu Najîh dari Mujahid tentang ayat:“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[6]

(3)        Imam Muhammad al Baqir as.

Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Daud ibn Hasan ibn Hasan dari ayahnya dari (Imam) Abu Ja’far tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.

Hadis serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Ishaq as Subai’i dari Jabir al Ju’fi.[7]

 

Hadis-hadis Pendukung!

Selain itu hadis tafsir Nabi saw. di atas dan juga tafsir para sahabat telah dikuatkan dan didukung oleh banyak bukti… di antara bukti-bukti itu adalah:

  • Hadis-hadis yang menegaskan bahwa kelak di hari kiamat Nabi saw. akan meminta dari umat Islam pertanggung-jawaban sikap terhadap Kitabullah dan Ahlulbait as. Di antara hadis-hadis itu dalah sebagai berikut ini:

Dari Abu Thufail Amir ibn Watsilah dari Hudzaifah ibn Usaid al Giffari dalam sebuah hadis panjang di antaranya beliau saw. bersabda:

يَا أيُّها الناسُ إِنِّيْ فَرَطُكُمْ, إِنَّكُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى إلى صَنْعاءَ فيهِ عَدَدُ النُّجُومِ قَدْحانَ فِضَّةٍ، و إِنِّيْ سائِلُكُمْ حين تَرِدُوْنَ عَنِ الثَّقَليْنَ ، فَانْظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما: الثقل ألأكْبَرُ كتابَ اللهِ عز و جلَّ سببٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ و طرفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فاسْتَمْسِكُوا بِهِ و لا تَضِلُّوا و لا تُبَدِّلُوا، وَعِتْرتِيْ أَهلَ بيتِيْ، فَإِنَِّ اللطيفَ الخبيرَنَبَّأَنِيْ أَنَّهُما لَنْ يَنْقَضِيا حتى يرِدَا عليَّ الْحَوْضَ.

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku akan mendahului kalian menuju telaga dan kalian pasti mendatangiku di telaga, sebuah telaga yang lebih lebar dari kota Bushra hingga kota Shan’a’, di dalamnya terdapat cawan-cawan sejumlah bintang di langit. Aku akan meminta pertanggung-jawaban kalian ketika menjumpaiku akanTsaqalaian. Maka perhatikan, bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya.Tsaqal pertama adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebab penyambung yang satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah; jangan kalian menyimpang dan mencari ganti selainnya, dan kedua adalah Itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah memberitauku bahwa keduanya tidak akan berakhir sehingga menjumpaiku di haudh (telaga).”[8]

  • Hadis akan ditanyakannya empat perkara di hari kiamat. Di antaranya adalah riwayat di bawah ini:

Al Hafidz al Haitsami berkata, “dan dari Ibnu Abbbas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تزولُ قَدَما عبْدٍ يومَ القيامة حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ و عن ماله فِيمَ أنْفَقَهُ و مِنْ أين إكْتَسَبَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang hartanya untuk apa ia belanjakan dan dari mana ia perolah dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Awsath, dan pada sanadnya terdapat Husain al Asyqar, ia dianggap lemah oleh sebagian ulama, akan tetapi Ibnu Hibbân mentsiqahkannya.

Al Haitsami juga meriwayatkannya dari jalur lain dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تزولُ قَدَما عبْدٍ حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ وَ عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه و عن ماله مِنْ أين إكْتَسَبَهُ وَ فِيمَ أنْفَقَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang harta dari mana ia perolahnya dan untuk apa ia belanjakan dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Lalu ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda kecintaan kepada kalian Ahlulbait?’

Maka beliau menunjuk Ali sambil menepuk pundaknya.“

Ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Awsath.

Perhatikan di sini, al Haitsami hanya mencacat hadis dengan jalur pertama yaitu disebabkan Husain al Asyqar. Sementara terhadap hadis dengan jalur kedua ia mendiamkan dan tidak mencacatnya dengan sepatah kata pun..

Dan dalam sumber aslinya disebutkan bahwa Nabi menjawab si penanya dengan sabda beliau, “Tanda kecintaan kepada kami adalah kecintaan kepada orang ini sepeninggalaku.” Sabda ini tidak disebutkan oleh al Haitsami. Adapun pencacatannya atas Husain al Asyqar sangat tidak berdasar. Perawi yang satu initsiqah dan adil seperti telah dibuktikan pada tempatnya.

Ikhtisar kata, hadis ini termasuk dari hadis-hadis terkuat tentang keutamaan Ali dan Ahlulbait as. tidak ada tempat untuk pencacatan!

  • Hadis yang mengatakan bahwa manusia tidak akan diizinkan melewati jembatan penyeberangan di Shirâth kelak kecuali setelah terbutki ia meyakiniWilayah Imam Ali as.

Di antara hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

A)                    Hadis riwayat Imam Ali as.

Al Hafidz Abul Khair al Hâkimi ath Thâliqâni berkata, “Dan dengannya al Hâkim berkata…. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جمَع اللهُ الأولين و الآخرين يوم القيامة و نصب الصراطَ على جسر جهنمَ ما جازاها أحدٌ حتى كانت معه برآءَةٌ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kelak pada hari kiamat Allah mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir dan Dia menegakkan Shirâth di atas jembatan neraka Jahannam, maka tidak seorang pun melewatinya sehingga ia memiliki surat jalan berupa (keyakinan akan) Wilâyah Ali ibn Abi Thalib.”[9]

B)          Hadis Anas ibn Malik.

Ibnu al Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Anas ibn Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إذا كان يوم القيامة و نُصِبَ الصراطُ على شَفِير جهنمَ لَمْ يَجُزْ إلاَّ مَن معه كتابُ  بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kiamat terjadi dan Shirath dibentangkan di atas bantaran nereka Jahannam, maka tidak ada yang dapat melewatinya kecuali orang memiliki catatan berupa Wilayah kepada Ali ibn Abi Thalib.”[10]

Dan selain dua hadis di atas banyak hadis lainnya dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas dan Abu Bakar.

Setelah ini semua adalah sebuah sikap gegabah jika ada yang meragukan kesahaihan tafsir ayat di atas dengan Wilayah Imam Ali ibn Abi Thalib as., apalagi mengatakannya sebagai hadis palsu!!

Wallahu A’lam.


[1] Ash Shawâiq al Muhriqah:149. Cet. Maktabah al Qahirah. Thn.1385 H/1965 M. dengan tahqiq Abdul Wahhâb Abdul Lathîf..

[2] Syawâhid at Tanzîl,2/162 hadis no..789.

[3] Ibid. no790.

[4] Pada riwayat-riwayat Abu Sa’id dan Ibnu Abbas ra. di atas Anda dapat saksikan bahwa sesekali mereka menukil tafsir ayat tersebut dari Nabi saw. dan sesekali mereka memauqufkan (tidak menyandarkannya) kepada Nabi saw.! Untuk bentuk yang kedua (yang mauqûf) para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa ucapan para sahabat tentang tafsir ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada ruang bagi ijtihad dan pendapat maka dihukumi marfû’ (diambil dari Nabi saw.) sebab tidak mungkin para sahabat itu membuat-buat keterangan palsu tentang masalah yang tidak ada ruang bagi berijtihad. Dan kasus kita sekarang ini termasuk darinya… pertanyaan di hari kaimat termasuk berita ghaib, maka pastilah ucapan Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam masalah ini bersumber dari Nabi saw. Apalgi telah terbukti bahwa Nabi saw. telah menafsirkan sendiri makna ayat tersebut seperti mereka berdua sampaikan!

[5] Manâqib:275 hadis no.256.

[6] Mâzân al I’tidâl,5/145 ketika menyebut sejarah hidup Ali ibn Hatim.

[7] Syawâhid at Tanzîl,2/164 hadis no.790.

[8] Hadis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Hilyah al Awliyâ’,1/355 dan 9/64, Tarikh Damasqus,1/45 tentang sejarah hidup Imam Ali as., 3/180, hadis no. 3052, Al Haitsami dalam Majma’ az Zawaid, 9/165, Tarikh Ibnu Katsir,7/348, as Sirah al Halabiyah,3/301, ash Shaw^aiq al Muhriqah:25, Farâid as Simthain,2/274, Nadzm Durar as Simthain:231 dan al Fushûl al Muhimmah:23.

[9] Kitâb al Arba’în al Muntaqâ Min Manâqib Ali al Murtadhâ, hadis no 40.

[10] Manâqib Ali ibn Abi Thalib:243.

wahabi neo khawarij dalang Gerakan Anti Syi’ah Di Indonesia Demi Puaskan AS/israel

wedus
wajar jika KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum NU mewaspadai wahabi, maklum kanjeng Nabi SAW menyatakan bahwa mereka adalah setan dari nejed yang muncul pada akhir zaman.. Wahabi cuma ngomong besar tetapi ujung ujungnya cuma nyari duit dari asing (gerakan trans nasional)..Wahabi suka memalsu kitab kitab syi’ah
.
Rasulullah saww bersabda, “Kelak di akhir zaman akan muncul satu kaum dari kalangan muda dengan pikiran dangkal. Mereka mengatakan ucapan-ucapan yang paling baik, membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an tidak masuk ke dalam kalbunya. Mereka keluar dari agama ini (Islam) bak melesatnya anak panah dari busurnya.” (Hadis Shahih Muslim)
.
Hadits di atas menjelaskan awal dari munculnya kelompok Khawarij, yaitu sekelompok orang yang semula adalah pengikut Imam Ali as, namun kemudian keluar (kharaja) dari kelompok Imam Ali, terutama setelah peristiwa arbitrase (tahkim) antara pasukan Imam Ali as dan Mu’awiyah.


.

Seperti disabdakan Rasulullah saww, orang-orang Khawarij terdiri dari kalangan muda yang berpikiran dangkal. Kelompok ini cenderung menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an hanya dari sisi tekstual saja tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya, seperti nahwu, sharaf, balaghahma’anibayan, badi’, hadits, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, dan masih banyak lagi ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Kedangkalan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an melahirkan pola pikir yang ekstrim dan gegabah
.
Suatu malam Imam Ali as bersama salah seorang sahabatnya berjalan melewati sebuah gang di kota Kufah. Lalu mereka berdua mendengar suara bacaan al-Qur’an yang sangat menyentuh hati. Ayat yang dibaca orang itu :“Apakah kamu wahai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung atau orang-orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya?” (QS 39 : 9).
.
Mendengar bacaan itu, sahabat Imam Ali berkata, “Alangkah berbahagia orang ini! Keselamatan dan kebahagiaan baginya!”
Imam Ali menoleh kepada sahabatnya seraya berkata, “Tunggu dulu! Engkau jangan iri dengan keadaannya!”
Imam Ali dan sahabatnya kembali melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa waktu setelah itu, terjadilah perang Nahrawan, perang antara  Imam Ali as dan pasukannya dengan kaum Khawarij
.
Setelah kaum Khawarij dikalahkan pasukan Imam Ali, Imam Ali memeriksa orang-orang Khawarij yang terbunuh. Imam Ali as melihat salah seorang mayat lalu beliau memanggil sahabatnya yang pernah berjalan di malam hari bersamanya, “Mayat ini adalah orang yang yang dulu melakukan shalat tahajjud dan membaca al-Qur’an di malam itu!” 1]
.
Sahabat Imam Ali as sangat terpukau dengan suara bacaan al-Qur’an seseorang, namun Imam Ali menolak pendapat sahabatnya yang cenderung melihat masalah dari sisi lahiriyah saja. Di kemudian hari, Imam Ali as membuktikan kebenaran pengetahuan intuisinya tentang seseorang yang nampak shalih tetapi sebenarnya ia berada dalam kesesatan yang nyata
.
Di dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa di dalam pasukan ‘Ali bin Abi Thalib (as) terdapat orang-orang yang membelot, maka Imam ‘Ali berkata, “Wahai manusia! Aku mendengar Rasulullah (saw) berkata : “Kelak akan muncul dari umatku ini suatu kaum yang tekun membaca al-Qur’an, bacaan mereka tidak berbeda dengan bacaan kalian, shalat mereka tidak berbeda dengan shalat kalian, dan puasa mereka pun tidak pula berbeda dengan puasa kalian. Mereka membaca al-Qur’an dan mengira bahwa dengan itu mereka memperoleh pahala, padahal justru mendapat bencana, dan shalat mereka tidak memberi manfaat apa pun terhadap diri mereka. Mereka keluar dari Islam persis melesatnya anak panah dari busurnya, dan bila para prajurit yang menemukan mereka dan harus melaksanakan perintah yang disampaikan oleh Nabinya, hendaknya mereka tidak kebingungan untuk bertindak. Tanda-tanda kaum itu adalah bahwa di antara mereka itu ada seorang laki-laki yang punya pundak besar dan memiliki lengan pendek. Di atas pundaknya terdapat semacam benjolan (punuk) dengan bulu-bulu berambut putih. Kemudian kalian akan lari meninggalkan mereka lalu bergabung dengan Mu’awiyah dan orang Syam, lalu membiarkan mereka menawan dan merampok anak dan harta benda kalian. Demi Allah! Aku berharap bisa bertemu dengan mereka, karena sesungguhnya mereka menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, merampas ternak dan menawan penggembalanya. Ayo maju dengan nama Allah!” 2]
Kaum Khawarij adalah orang-orang yang melakukan ibadah-ibadah ritual tanpa memahami makna filosofis, dan melupakan kaitan ibadah ritual dengan ibadah sosial yang tak bisa dipisahkan
.
Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang gelisah jiwanya, namun tidak tertutup kemungkinan banyak pula orang-orang yang sudah berumur juga terlibat
.
Mereka melihat kekacauan umat dengan kaca mata akidah yang kacau pula, berpikir dangkal, emosional dan cenderung beringas. Pemahaman dangkal terhadap al-Qur’an dan Sunnah Rasul membuat mereka bertindak serampangan, mengambil makna-makna lahiriah lalu mereka anggap sebagai ajaran agama yang sakral, tak boleh dilanggar dan mereka pertahankan secara membabi buta
.
Pada ujungnya, mereka mudah membuat klaim-klaim penyesatan bahkan pengkafiran terhadap sesama muslim lainnya
.
Pada masa kini pun kita banyak melihat orang-orang yang memiliki ciri-ciri seperti ini, suatu sikap religiusitas yang tumbuh secara liar. Mereka inilah orang-orang yang setapak demi setapak terjebak dalam pemikiran mentah dan reaksioner hingga akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka dengan tindakan-tindakan kekerasan seperti sabotase atau bahkan teror
.
Banyak ulama yang menyatakan bahwa aliran Wahabi Salafi merupakan Neo-Khawarij, karena memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.
Umumnya, tindakan ceroboh mereka itu karena pemahaman yang dangkal dari ibadah amar ma’ruf nahi munkar dan jihad. Mereka percaya bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Jihad tidak bersyarat apa pun, dan kapan pun perintah Ilahi ini mesti dilaksanakan. 3]
.
Ibadah Mereka Yang Sia Sia
Allah swT berfirman, “Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS Al-Kahfi [18] ayat : 103-104)
.
Abu Ja’far al-Thusi di dalam tafsirnya al-Tibyan menyebutkan bahwa Ibn al-Kawa’ (salah seorang pengikut Khawarij) bertanya tentang ayat ini kepada Amirul Mu’minin as, maka Imam as menjawab, “Engkau dan sahabat-sahabatmu, mereka itulah (termasuk) orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini” 4]
.
Menurut kaum salafy-wahabi, penggunaan istilah Wahhabi dengan menisbatkan kepada Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah tidak tepat. Mereka justru berdalih bahwasanya yang dimaksud dengan kaum wahhabi adalah kaum yang mengikuti Abdul Wahhab ibn Abdurrahman Rustum.
Pernyataan ini dapat ditemui di link ini http://muslim.or.id/manhaj/wahabisme-versus-terorisme.html
Perhatikan kalimat-kalimat ini:
.
“Sebenarnya, Wahabi merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad kedua hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -ed), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.”
Baiklah, jika menurut mereka istilah “wahabi” itu diperuntukkan pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, maka hal ini akan sangat bertentangan dengan FAKTA DI LAPANGAN.
.


Membongkar Fitnah Murahan Wahhabi-Salafi

Dengan segala cara kaum Pemfitnah melakukan prokasi umat Islam Sunni agar membenci dan  kemudian memerangi Syi’ah para pecinta dan pengikut setia Nabi saw. dan Ahlulbait as. Sesekali dengan memutar balikkan kebenaran akidah Syi’ah dan menampilkannya secara palsu sehingga seakan terlihat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri! Terkadang dengan memalsu data dengan cara memotong-motong nash/teks hadis dan terkadang juga dengan mengada-ngada fatwa yang tidak pernah difatwakan para ulama Syi’ah…. selain itu juga dengan mempermainkan akal kaum awam dengan memelesetkan terjemahan sebuah hadis..

Alhasil segala macam cara ditempuh oleh agen-agen fitnah dan para pemecah belah barisan Umat Islam, yang penting bagaimana caranya kaum Muslim Sunni marah dan kemudian bangkit memerangi Syi’ah. Dan itu semua itu pasti akan membuat bahagia musuh-musuh Allah dan musuh-musuh agama ini, utamanya AS dan Zionis Israel.

Kaum Sunni Bukan Kaum Nashibi!

Di antar yang dilakukan agen-agen Wahhabi-Salafi di tanah air tercinta dan juga tentunya di negeri asalnya yang sekarang dipinpin oleh Raja dan Emir-emir Arab Baduwi/A’râb (bukan Arab) adalah memprovokasi bahwakaum Syi’ah mengangap kaum Sunni adalah kaum Nashibi yang halal harta dan darah-darah mereka!

Nashibi (yang bentuk jamaknya Nawâshib) adalah orang yang menampakkan kebencian dan  permusuhan serta mengobarkan peperangan melawan Ahlulbait Nabi saw. Mereka, jelas-jelas dihukumi sesat. Para ulama Ahlusunnah pun tidak berselisih bahwa kaum Nashibi itu sesat! Akan tetepi menuduh bahwa Syi’ah menghukumi kaum Suni sebagai Nabshibi adalah ftitnah murahan yang tujuannya sudah sangat jelas yaitu memprovokasi uamt Isdlam agam segera bangkit memerangi dan membantai Syi’ah! Syi’ah yang selama ini membuat repot musuh-musuh Allah! Maka musuh-muush Allah itu hendak meminajm tangan kaum Muslimin melalui fitnah kaum Wahhabi-Salafi untuk memerangi Syi’ah….

Fitnah itu sering kita temukan dihenbuskan oleh mulut-mulut dan pena-pena beracum. Di antaranya adalah apa yang tertera dalam sebuah artikel sebagai berikut: 

Meyakini bahwa darah dan harta orang-orang Ahlus Sunnah adalah Halal.

  • Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad: “Aku bertanya kepada Abu Abdullah ‘alaihis salam: Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)? Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya. Aku bertanya lagi: Bagaimana dengan hartanya? Dia menjawab: Rampas sahaja semampu mungkin”.    (‘Ilal asy Syarâi’: 44. Cetakan Beirut.)
  • Berkata Abu Ja’far ath-Thusi (ulama Syiah): “Berkata Abu Abdullah ‘alaihis salam (Imam as-Sadiq): Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima”. (Tahzibul Ahkam. (1V/122) Cetakan Tehran.)
  • Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah): “Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya (Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah. (X11/323-324).]

Perhatikan wahai saudaraku dengan mata dan hati terbuka, adakah fitnah murahan lebih dari yang sedang Anda saksikan dari ulam mereka?! Mengapakah mereka memutar balikkan terjemahan kata an Nashibi dengan Ahlusunnah! Apakah ini yang namanya menghujat Syi’ah dengan ilmiah? Mengapakah kalian selalu bermain curang? Apa takut kalah kalau bermain jujur?

Sadarlah teman… di hadapan Anda ada harti hisab, di mana semua orang akan dihisab semua amal perbuatannya!

 .
MARI KITA BUKTIKAN !
Masih ingat kasus Pemalsuan atas Kitab Klasik Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir Jalalain yang dilakukan oleh kaum Salafy-Wahhabi tahun 1420 H?
.
Berikut ini adalah nukilan dari Kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, Beirut, Libanon, dicetak Tahun 1419 H) halaman 78, Tafsir ayat 7 dan 8 Surat Al-Fathir, karya al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki, seorang ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah mu’tabaar menyebutkan:
وقيل هذه الاية فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة ويستحلون بذالك دماء المسلمين وأموالهم, لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Dikatakan, ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al Quran dan Sunnah, dan dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yang benar-benar merugi. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
.
LIHAT FAKTA INI !
Kemudian, setelah setahun Kitab ini terbit, pada tahun 1420 H melalui penerbit Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon, kaum salafy-wahabi melakukan tahrif atas kitab ini dengan tujuan untuk menyembunyikan jati diri wahabi sebenarnya
.
Berikut ini adalah nukilan dari teks yang dipalsukan:
Hasyiyyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon. Tahqiiq: Muhammad Abdul Salam Syahin)
هذه الأية نزلت فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة, ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al-Quran dan Sunnah, dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yangmerugi. Kitamemohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
Perhatikanlah, bahwasanya kaum Salafy-Wahabi memotong/menghilangkan kalimat:
لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون
Yang artinya: “Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.”
———————————————————-
Natijah / Kesimpulan:
Jika Istilah “Wahabi” itu diperuntukkan bagi para pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, kenapa kaum Salafy-Wahabi melakukan pemalsuan perkataan Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan dengan gamblang tentang jati diri kaum Wahabi sebenarnya?
Bukankah upaya pemalsuan atas perkataan al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki ini justru menguatkan bahwa memang sebenarnya istilah Wahabi ini diperuntukkan bagi pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab.
____________________
Catatan Kaki :
1] Murtadha Muthahhari, Islam dan Tantangan Zaman, hal. 84
2] Shahih Muslim dengan Syarah dari al-Nawawi 3 : 118
3] Murtadha Muthahari, Ali bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, hal. 111
4] Abu Ja’far al-Thusi, Tafsir al-Tibyan 7 : 97, baris ke 6
*) Ali Syariati menjuluki kaum Khawarij sebagai Orang Shalih Yang Dungu.

mengikuti kesalahan dari sahabat Nabi SAW adalah bagian dari kesesatan

mengikuti kesalahan dari sahabat adalah bagian dari kesesatan.

pada Tanggal 16 Maret 2011, UIN Bandung kembali menggelar acara bedah buku Sahabat Nabi terjemahan dari buku “The Companions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Aligment”. Acara ini menghadirkan Dr. Fuad Jabali,MA (penulis buku), dan Prof.Dr. Jalaludin Rahmat, M.Sc serta Dr. Sulasman, menyimpulkan kurang lebih bahwa:

‘Para sahabat Nabi saw itu adalah manusia biasa dengan tingkat pemahaman yg berbeda2 sehingga bisa benar dan bisa juga salah, untuk itu kalau perilaku sahabat benar sesuai dengan sunnah Nabi saw harus diikuti, tetapi kalau perilaku sahabat salah (menyimpang dari Sunnah Nabi saw) ya harus ditinggalkan.’

Disela2 acara bedah buku tsb. Ustadz Jalal mengatakan, fanatisme para ahli hadis terhadap sahabat Nabi menyebabkan umat Islam sekarang enggan untuk melakukan studi kritis. Banyak perilaku dari para sahabat yang jauh dari akhlak Rasulullah saw, tetapi tetap diteladani dan disakralkan. Apabila dikemukakan perilaku tercela mereka maka akan dikecam sebagai zindiq atau sesat. Anehnya, kecaman sahabat terhadap sahabat lainnya tidak pernah disebut zindiq.

Terlepas Ustadz.Jalal itu syiah atau bukan yg pasti ucapan beliau itu benar adanya

.
Perbuatan yang yang sangat buruk yg dilakukan oleh sebagian dari sahabat yang tidak pernah n tidak mungkin terjadi di ummat setelah mereka. Perbuatan buruk dan sangat tercela itu adalah
1.menyakiti hati nabi
2.menyakiti hati ahlulbait(alkisa)
3.membunuh sahabat mulia rosul

.
Adakah lg yg bisa melakukannya dizaman ini?
Tentu tdk ada,Tp kenapa masih ada saja yg mengatakan bahwa sahabat pd waktu itu adalah ummat terbaik

.
Padahal perbuatan mulia ummat sekarang ini tdk akan pernah dapat dibuat oleh sahabat adalah:
1.mengimani rosul sedang ummat skrg ini tdk pernah melihat rosul
2.mengimani keutamaan ahlulbait rosul sedang ummat ini tdk pernah melihatnya
Jadi kenapa mesti dikatakan sesat ketika kita mengkritisi sahabat yg berbuat salah..?

bukankah ada hal2 yg kita jg lebih baik dari mereka n ada juga hal2 mereka lebih buruk perbuatannya dr kita?

Wahabi berkepentingan dengan konsep semua sahabat adil. Karena nenek moyang ibnu wahhab adalah muawiyah dan puak bani umayyah.

Wahhabi dengan berbagai Cara menurunkan derajat ahlul bait dan meninggikan keluarga laknat, umayyah. Wahabi biadab.

Wahabi mengatakan ayahanda nabi muhhamad sebagai kafir tetapi mengatakan tauhid rububiyah kepada nenek moyang muawiyah. Wahabi biadab.

Wahabi berkata rasulullah tidak meninggalkan warisan kecuali ilmu Dan kenabian. Ketika dikatakan bahwa berarti fatimah Dan keturunan pewaris nabi Dan keilmuan. Tetapi wahabi menjawab tidak sebab ulama-lah pewaris para rasulullah. Dengan ini wahhabi hendak mengambil semia keutamaan Ahlul bait Dan memberikannya kepada ulama jahat macam Bin Baz, utsaimin, abdul wahhab, dll. Wahabi biadab.

Wahabi menghancurkan rumah Rasul Dan semua peninggalan Rasullah dg alasan syirik tapi membangun monumen Utsaimin untuk mengingat Utsaimin. Wahabi biadab.

Maulid nabi diharamkan, haul para wali disyirikkan tetapi haul Utsaimin diteggakkan. Wahabi biadab.

Amerika dibuatkan pangkalan militer, orang amerika dan inggris disambut bak raja tetapi saudara sendiri, para TKW dari Indonesia diperkosa bak binatang oleh Arab Saudi wahabi. Tahun 2010 saja menurut data buruh migrant, setiap hari terjadi 2 kasus perkosaan di Arab Saudi. Hitung saja berapa kasus perkosaan selama setahun. Wahabi biadab

.

Sesungguhnya orang yang paling Mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa .. (Bahan untuk Renungan)

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan; “Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau”(Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Dan apa kata Rasulullah saww tentang Sahabatnya :

Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab:Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12) adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telah menentang pahaman kalian.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul? Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Sebenarnya masalah yang masih mengganjal dan memicu pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah pandangan terhadap para sahabat ini.

Saya tidak habis pikir kenapa Ahlu Sunnah begitu mati-matian tidak mau melihat kenyataan dalam riwayat2 yang sahih bahwa tidak semua para sahabat itu soleh. Kenapa harus men”dogma”kan pandangan bahwa semua sahabat adil ?

Saya rasa kunci untuk menghilangkan pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah kesadaran pengikut Ahlu Sunnah untuk meninggalkan dogma tsb dan secara gradual mau melihat petunjuk2 baik dalam AlQuran maupun hadis bahwa diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat. Dan ini fakta yang wajar berlaku di mana-mana dan kapan saja. Dan di pihak lain Syiah juga harus menahan diri untuk tidak terlalu “memojokkan” citra sebagian para sahabat yg memang sudah terpojok itu.

Kalau kita menyadari bahwa pandangan terhdp para sahabat itu bukan bagian dari keimanan dan keislaman kita, maka buat apa sih kita secara mati2an membela sebagian para sahabat yg dalam hadis dikatakan saling mencela bahkan saling berperang dan tidak setia kpd Nabi saw ?

Adakah dalil yg mengatakan bahwa mengagungkan seluruh sahabat akan membuat kita masuk sorga ?
…diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat.

Ini adalah salah satu (saja) tahapan transformasi seorang muslim untuk menjadi mu’min sejati. Ketika Alloh memberikan furqon kepada urusan haq dan bathil, maka kita harus faham bahwa dahulu kala ada sahabat nabi yang berada di posisi haq dan ada yang diposisi bathil. Jika kita salah menempatkan posisi seseorang pada maqom haq atau maqom bathil, maka kita akan disebut oleh Al-Quran sebagai ORANG YANG BERIMAN KEPADA BATHIL.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

.

Ketika Sahabat Nabi Saling Mencela : Studi Kritis Keadilan Sahabat

Mungkin ada di antara pembaca yang sudah sering membaca riwayat dimana para sahabat saling mencela atau ketika salah seorang sahabat mendustakan sahabat yang lain. Perkara ini kalau dipikirkan dengan kritis maka sangat dilematis bagi kaum yang meyakini dalam hati mereka doktrin kema’shuman sahabat yang mereka ucapkan dengan lafaz “keadilan sahabat”. Tanpa berbasa-basi kami akan menunjukkan riwayat dimana salah seorang sahabat mendustakan sahabat yang lain

حدثنا إبراهيم بن المنذر قال حدثنا عبد الله ابن وهب قال، حدثني ابن لهيعة، عن يزيد بن عمرو المعافري، أنه سمع أبا ثور التميمي قال: قدمت على عثمان بن عفان رضي الله عنه فبينما أنا عنده خرجت فإذا أنا بوفد أهل مصر، فرجعت إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه فقلت: أرى وفد أهل مصر قد رجعوا، خمسين عليهم ابن عديس، قال: وكيف رأيتهم ؟ قلت: رأيت قوما في وجوههم الشر. قال: فطلع ابن عديس منبر رسول الله صلى الله عليه وسلم فخطب الناس وصلى لاهل المدينة الجمعة، وقال في خطبته: ألا إن ابن مسعود حدثني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن عثمان بن عفان كذا وكذا، وتكلم بكلمة أكره ذكرها، فدخلت على عثمان رضي الله عنه وهو محصور فحدثته أن ابن عديس صلى بهم. فسألني ماذا قال لهم ؟ فأخبرته، فقال: كذب والله ابن عديس ما سمعها من ابن مسعود، ولا سمعها ابن مسعود من رسول الله صلى الله عليه وسلم قط، ولقد اختبأت عند ربي عشرا، فلولا ما ذكر ما ذكرت، إني لرابع أربعة في الاسلام، وجهزت جيش العسرة، ولقد أئتمني رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابنته، ثم توفيت فأنكحني الاخرى، والله ما زنيت، ولا سرقت في جاهلية ولا إسلام، ولا تعنيت، ولا تمنيت، ولا مسست بيميني فرجي مذ بايعت بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولقد جمعت القرآن على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا مرت بي جمعة إلا وأنا أعتق رقبة مذ أسلمت، إلا أن لا أجد في تلك الجمعة، ثم أعتق لتلك الجمعة بعد

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy bahwa ia mendengar Abu Tsawr At Tamimiy berkata aku mendatangi Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu, ketika aku berada di tempatnya aku keluar kemudian aku mendapati para penduduk Mesir maka aku kembali menemui Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu dan aku berkata “sungguh aku melihat para penduduk Mesir kembali ada lima puluh orang dan diantaranya ada Ibnu Udais”. Utsman berkata “bagaimana kamu lihat keadaan mereka?”. Aku berkata “aku melihat kaum yang tergambar di wajah mereka niat yang jahat” kemudian Ibnu Udais naik ke mimbar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkhutbah kepada orang-orang dan memimpin shalat penduduk Madinah pada hari Jum’at. Ia berkata dalam khutbahnya “Ibnu Mas’ud menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan bahwa Utsman bin ‘Affan begini begitu dan ia menyebutkan perkataan yang jelek untuk disebutkan. Maka aku menemui Utsman radiallahu ‘anhu dan ia dalam keadaan terkepung. Maka aku kabarkan kepadanya bahwa Ibnu Udais memimpin mereka shalat. Utsman bertanya kepadaku “apa yang ia katakan kepada mereka?”. maka aku mengabarkan kepadanya. Utsman berkata “Ibnu Udais berdusta, demi Allah tidaklah ia mendengarnya dari Ibnu Mas’ud dan tidak pula Ibnu Mas’ud mendengarnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sungguh aku telah menyembunyikan di sisi Rabku selama sepuluh tahun maka mengapa tidak kusebutkan apa yang akan kusebutkan. Aku adalah orang keempat dalam islam, aku yang menyiapkan bekal pasukan ‘Usrah. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menikahkanku dengan putrinya dan ketika ia wafat maka Beliau menikahkanku dengan putrinya yang lain. Demi Allah aku tidak pernah berzina dan tidak pernah mencuri baik di masa Jahiliah maupun di masa Islam, aku tidak bernyanyi dan tidak pula berangan-angan. Aku tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku membaiat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengannya. Aku telah mengumpulkan Al Qur’an di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada satu Jum’at kecuali aku memerdekakan hamba sejak aku memeluk islam kecuali jika aku tidak mendapatinya [hamba] pada Jum’at tersebut maka aku akan memerdekakannya pada Jum’at berikutnya [Tarikh Madinah Ibnu Syabbah An Numairi 4/1156]

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq. Ibnu Syabbah An Numairiadalah seorang yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “aku telah menulis darinya bersama ayahku dan ia seorang yang shaduq”. Daruquthni berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqim al hadits [hadisnya lurus]”. Al Khatib berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 7 no 768]

  • Ibrahim bin Mundzir adalah perawi Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Shalih bin Muhammad berkata “shaduq”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Wadhaah berkata “aku menemuinya di Madinah dan ia tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 300]
  • Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits shaduq”. Ibnu Sa’ad dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah dan Nasa’i menyatakan tsiqat. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 6 no 141]
  • Abdullah bin Lahii’ah termasuk perawi Muslim seorang yang shaduq tetapi mengalami kekacauan hafalan sejak kitabnya terbakar sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 1/526]. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar dan hadis-hadisnya shahih jika yang meriwayatkan darinya Abadillah yaitu Ibnu Mubarak, Ibnu Wahb, Ibnu Muqri dan Ibnu Maslamah Al Qa’nabiy [Tahrir At Taqrib no 3563]. Riwayat di atas adalah riwayat Ibnu Wahb dari Abdullah bin Lahii’ah maka riwayatnya shahih.
  • Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 576]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/329]. Adz Dzahabi berkata “shaduq” [Al Kasyf no 6344]
  • Abu Tsawr adalah sahabat Nabi. Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa ia adalah Abu Tsawr Al Fahmiy mendengar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aku mendengar ayahku [Abu Hatim] mengatakan telah meriwayatkan Ibnu Lahii’ah dari Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy darinya. Abu Zur’ah berkata “tidak dikenal namanya dan ia adalah sahabat Nabi, meriwayatkan dari Utsman [Al Jarh Wat Ta’dil 9/351 no 1570]

Atsar di atas sanadnya jayyid [baik] dan perhatikanlah matan riwayat tersebut dengan baik. Ibnu Udais yang merupakan salah satu pemimpin mereka yang mengepung Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu mengimami shalat jum’at di Madinah dan ia berkhutbah menyampaikan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia dengar dari Ibnu Mas’ud. Hadis ini berisi sesuatu yang jelek tentang Utsman bin ‘Affan sehingga sang perawi tidak menyebutkan matannya melainkan menyebutkan dengan lafaz “Utsman begini dan begitu”.

Ketika disampaikan ucapan Ibnu Udais kepada Utsman bin ‘Affan maka Utsman menyatakan Ibnu Udais dusta, ia tidak mendengar hal itu dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Mas’ud tidak pula mendengarnya dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kita telah mengenal siapa Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu, tidak diragukan ia salah seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Lalu siapakah Ibnu Udais, ia adalah Abdurrahman bin Udais Al Balawiy. Ternyata ia juga seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ikut membaiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam Baiatur Ridwan.

Abdurrahman bin Udais Al Balawiy. Ibnu Sa’ad berkata “ia sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mendengar dari Beliau, menyaksikan pembukaan Mesir dan ia termasuk yang mengepung Utsman. Ibnu Barqiy, Al Baghawiy dan selain mereka berdua mengatakan bahwa ia termasuk yang membaiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bawah pohon. Ibnu Abi Hatim berkata dari ayahnya bahwa ia adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] begitu pula yang dikatakan Abdul Ghaniy bin Sa’id, Abu Ali bin Sakan dan Ibnu Hibban. Ibnu Yunus menyatakan ia termasuk yang membaiat di bawah pohon dan menyaksikan pembukaan Mesir [Al Ishabah Ibnu Hajar 4/334 no 5167]

Sekarang setelah kita sama-sama mengetahui bahwa Ibnu Udais adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan termasuk yang ikut dalam Baiatur Ridwan maka perhatikan kedua fakta berikut

  1. Ibnu Udais berkhutbah dan berkata “Ibnu Mas’ud telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Utsman begini begitu [tentang sesuatu yang buruk]
  2. Utsman bin ‘Affan berkata “dusta, demi Allah Ibnu Udais tidak mendengarnya dari Ibnu Mas’ud dan tidak pula Ibnu Mas’ud mendengarnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ibnu Udais salah seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyampaikan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia dengar langsung dari Ibnu Mas’ud. Kemudian Utsman bin ‘Affan mendustakannya dan bersumpah bahwa Ibnu Udais tidak mendengarnya dari Ibnu Mas’ud. Dimana letak konsep Keadilan sahabat?. Sepertinya Utsman bin ‘Affan sebagai salah seorang sahabat utama tidak meyakini doktrin “keadilan sahabat” karena ia sendiri menyatakan salah seorang sahabat yaitu Ibnu Udais telah berdusta dalam menyampaikan hadis.

Kalau Utsman bin ‘Affan sendiri sebagai yang termasuk salafus salih tidak meyakini “keadilan sahabat” maka darimana datangnya konsep keadilan sahabat yang diyakini sebagian orang. Atau Utsman bin ‘Affan keliru karena tidak meyakini keadilan sahabat, wah kalau begitu maka benarlah hadis yang disampaikan oleh Ibnu Udais tersebut. Bagaimana salafy nashibi yang meyakini kema’shuman sahabat akan menjawab dilemma ini?. Sepertinya mereka hanya akan diam seribu bahasa atau mencari-cari dalih “konyol bin ngeyel”. Kami persilakan kepada salafy nashibi untuk menjawabnya.

Imam Malik Menyatakan Abubakar Tidak Dijamin Surga

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

Sunni memaksumkan PARA SAHABAT !!! Dengan teori “salah ijtihad dapat 1 pahala, benar ijtihad dapat 2 pahala” sehingga Imam Hasan Cucu Nabi SAW Yang Diracuni Mu’awiyah justru pembunuh di Elu elu kan dan di Jadikan Panutan, kegilaan macam apa yang sedang dialami Umat Muhammad SAW ?

makin jelas biang bobroknya umat saat ini…
Gak lain Gak bukan akibat produk dari kurikulum penguasa masa lalu…
akhirnya generasi islam sekarang mayoritas lahir dan dibesarkan oleh doktrin yang keliru…sangat keliru

Ijtihad Sahabat : Membunuh Cucu Nabi SAW, Imam Hasan AS.

.
KONSPIRASI PEMBUNUHAN IMAM HASAN BIN ALI (as) dalam Tarikh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
.
Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
.
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.(Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.)

Setelah Imam ‘Alî bin Abî Thâlib as meninggal dibunuh oleh ‘Abdurrahmân bin Muljam dengan pedang pada waktu subuh tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.,24 Januari 661 M., Hasan bin ‘Alî dibaiat dan pertempuran-pertempuran dengan Mu’âwiyah berlanjut. Pada pertengahan Jumadil Awal tahun 41 H., 16September 661 M. tercapai persetujuan damai antara Hasan bin ‘Alî dan Mu’âwiyah.

Surat perdamaian berbunyi sebagai berikut:

SURAT PERJANJIAN DAMAI
=================

Bismillâhirrahmânirrahim.

Ini adalah pernyataan damai dari Hasan bin ‘Alî kepada Mu’âwiyah bin Abî Sufyân, bahwa Hasan menyerahkan kepada Mu’âwiyah wilayah Muslimîn, dan Mu’âwiyah akan menjalankan Kitâb Allâh SWT dan Sunnah Rasûl Allâh saw. dan tata cara Khulafâ’ ur-Râsyidîn yang tertuntun, dan Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya, tetapi akan diadakan lembaga syura di antara kaum Muslimîn dan bahwa masyarakat akan berada dalam keadaan aman di daerah Allâh SWT di Syam, Iraq, Hijaz dan Yaman, dan bahwa sahabat-sahabat ‘Alî dan Syî’ah-nya
terpelihara dalam keadaan aman, bagi diri, harta, para wanita dan anak-anak mereka, dan bahwa Mu’âwiyah bin Abî Sufyân setuju dan berjanji dengan nama Allâh bahwa Mu’âwiyah tidak akan mengganggu atau menganiaya secara tersembunyi atau terbuka terhadap Hasan bin ‘Alî atau saudaranya Husain bin ‘Alî atau salah seorang ahlu’l-bait Rasûl Allâh saw. dan tidak akan mengganggu mereka yang berada di seluruh penjuru dan bahwa Mu’âwiyah akan menghentikan pelaknatan terhadap ‘Alî.”

{Ibnu Hajar, Shawâ’iq, hlm. 81}

Dan sebagaimana biasa Mu’âwiyah melanggar janji. Ia meracuni Hasan bin ‘Alî bin Abî Thâlib, dan setelah Hasan meninggal ia bersujud yang diikuti semua yang hadir seperti dilakukannya tatkala Imâm ‘Alî meninggal dunia. Ibnu Sa’d menceritakan: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan berulang-ulang’.
Wâqidî berkata: ‘Mu’âwiyah meminumkan racun kepada Hasan, kemudian ia selamat, kemudian diminumkan racun lagi dan selamat, kemudian yang terakhir Hasan meninggal.

Tatkala maut mendekat, dokter /thabib yang menjenguknya berulang-ulang mengatakan bahwa Hasan diracun orang.
Adiknya Husain (SA) berkata: ‘Ya ayah Muhammad, beritahukan saya, siapa yang meminumkan racun kepadamu?’.

Hasan ( SA) menjawab: ‘Mengapa, wahai saudaraku?’.

Husain (sa) : ‘Demi Allâh, aku akan membunuhnya. Dan bila aku tidak berhasil, akan aku meminta orang mencarinya’.

Hasan berkata (SA) : ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya dunia ini adalah malam-malam yang fana. Doakan dia, agar dia dan aku bertemu di sisi Allâh, dan aku melarang meracuninya’.

{Ibnu Katsîr, Târîkh, jilid 8, hlm. 43}

Mas’ûdî mengatakan: ‘Tatkala ia diberi minum racun, ia bangun menjenguk beberapa orang kemudian setelah sampai di rumah, ia berkata: ‘Aku telah diracuni, berkali-kali tetapi belum pernah aku diberi minum seperti ini, aku sudah keluarkan racun itu sebagian, tetapi kemudian kembali biasa lagi’.

Husain berkata: ‘Wahai saudaraku, siapa yang meracunimu?’. Hasan menjawab: ‘Dan apa yang hendak kau lakukan dengannya? Bila yang kuduga benar, maka Allâh-lah yang melakukan hisab terhadapnya. Bila bukan dia, aku tidak menghendaki orang membebaskan diriku. Dan dia berada dalam keadaan demikian sampai 3 hari sebelum ia ra. akhirnya meninggal.

Dan yang meminumkan racun kepadanya adalah Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî, dan Mu’âwiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan ‘aku akan mengawinkan kau dengan Yazîd’. Ialah yang mengirim racun kepada Ja’dah, istri Hasan.

Dan tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat: ‘Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazîd, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’.

{Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hlm. 50}

Abû’l-Faraj al-Ishfahânî menulis: ‘Hasan telah mengajukan syarat perdamaian kepada Mu’âwiyah: ‘Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak boleh mengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya. Dan bila Mu’âwiyah akan mengangkat Yazîd, anaknya, jadi khalîfah, maka yang memberatkannya adalah Hasan bin ‘Alî dan Sa’d bin Abî Waqqâsh110, maka Mu’âwiyah meracuni mereka berdua dan mereka meninggal. Ia mengirim racun kepada putri Asy’ats bin Qais: ‘Aku akan kawinkan kau dengan anakku Yazîd, bila kau racuni Hasan’, dan ia mengirim 100.000 dirham dan ia tidak mengawinkannya dengan Yazîd.

{Al-Ishfahânî, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, hlm. 29; Diriwayatkan Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 11, 17}

Abul Hasan al-Madâ’inî berkata: ‘Hasan meninggal tahun 49 H., 669 M. setelah sakit selama 40 hari pada umur 47 tahun. Ia diracuni Mu’âwiyah melalui tangan Ja’dah binti Asy’ats, istri Hasan dengan kata-kata: ‘Bila engkau membunuhnya dengan racun, maka engkau dapat 100.000 dan akan aku kawinkan kau dengan Yazîd, anakku’.

Dan tatkala Hasan meninggal, maka ia memberikan uang tersebut dan tidak mengawinkannya dengan Yazîd. Ia berkata: ‘Aku takut kau akan lakukan terhadap anakku seperti yang engkau lakukan terhadap anak Rasûl Allâh saw’

Hushain bin Mundzir ar-Raqasyi berkata: ‘Demi Allâh Mu’âwiyah tidak memenuhi sama sekali janjinya, ia membunuh Hujur dan teman-temannya, membaiat anaknya Yazîd dan meracuni Hasan.

{Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 4. & hlm. 7.}

Abû ‘Umar berkata dalam al-Istî’âb: ‘Qatâdah dan Abû Bakar bin Hafshah berkata: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan bin ‘Alî, melalui istri Hasan, yaitu putri Asy’ats bin Qais al-Kindî. Sebagian orang berkata: ‘Mu’âwiyah memaksanya, dan tidak memberinya apa-apa, hanya Allâh yang tahu!’. Kemudian ia menyebut sumbernya, yaitu Mas’ûdî.

{Ibnu ‘Abd al-Barr, Kitâb al-Istî’âb, jilid 1, hlm. 141}

Ibnu al-Jauzî mengatakan dalam ‘at-Tadzkirah Khawâshsh’l-Ummah’: ‘Para ahli sejarah di antaranya ‘Abdul Barr meriwayatkan bahwa ia diracuni istrinya Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî.

As-Sûdî berkata: Yang memerintahkannya adalah Yazîd bin Mu’âwiyah agar meracuni Hasan dan bahwa ia berjanji akan mengawininya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah mengirim surat kepada Yazîd menagih janjinya. Dan Yazîd berkata: ‘Hasan saja kamu bunuh, apalagi aku, demi Allâh, aku tidak rela’. Asy-Sya’bî mengatakan: ‘Sesungguhnya yang melakukan tipu muslihat adalah Mu’âwiyah. Ia berkata kepada istri Hasan: ‘Racunilah Hasan, maka akan aku kawinkan engkau dengan Yazîd dan memberimu 100.000 dirham.”

Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menuntut janjinya. Mu’âwiyah lalu mengiriminya uang tersebut dan menambahkan : ‘Sesungguhnya aku mencintai Yazîd, dan mengharapkan agar ia tetap hidup, kalau tidak demikian tentu aku akan kawinkan engkau dengannya’.

Sya’bî berkata lagi: ‘Dan ini benar dengan berdasarkan saksi yang dapat dipercaya: ‘Sesungguhnya Hasan berkata tatkala akan mati dan telah sampai kepadanya apa yang dilakukan Mu’âwiyah: ‘Aku telah tahu minumannya dan kebohongannya, demi Allâh ia tidak memenuhi janjinya, dia tidak jujur dalam perkataannya’. Kemudian Sya’bî mengutip ath-Thabaqât dari Ibnu Sa’d: “Mu’âwiyah meracuninya berulang ulang.

{Ibnu al-Jauzî, ‘al-Tadzkirah’, hlm. 121}

Ibnu ‘Asâkir berkata: ‘Ia diberi minum racun, berulang-ulang, banyak, mula-mula ia bisa pulih, lalu diberi minum lagi dan ia tidak bisa pulih dan dikatakan: Sesungguhnya Mu’âwiyah telah memperlakukan dengan ramah seorang pembantunya agar meracuninya dan ia lalu melakukannya dan berpengaruh sedikit demi sedikit, sampai ia memakai alat untuk bisa duduk dan ia bertahan sampai 40 kali.

Muhammad bin al-Mirzubân meriwayatkan: ‘Ja’dah binti Asy’ats bin Qais adalah istri Hasan dan Yazîd melakukan tipu muslihat agar ia mau meracuni Hasan. ‘Dan saya akan mengawininya, dan Ja’dah melakukannya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menanyakan janji Yazîd dan Yazîd berkata: ‘Sesungguhnya, demi Allâh, kalau Hasan saja kamu
bunuh, apalagi kami’.

{Ibnu ‘Asâkir, Târîkh, jilid 4, hlm. 229.}

Hasan bin ‘Alî (as) sakit yang berakhir dengan kematiannya. Ia diracun istrinya, atas suruhan Mu’âwiyah dengan bayaran 100.000 dinar. Ia lalu memerintahkan Marwân bin Hakam yang diangkatnya jadi gubernur Madînah untuk terus mengamati Hasan dan menyuratinya. Tatkala datang berita bahwa Hasan telah meninggal seluruh penduduk Syam bertakbir. Seorang wanita, Fakhîtah binti Quraidhah bertanya kepada Mu’âwiyah: ‘Apakah kamu bertakbir bagi matinya putri Fâthimah? Ya, aku bertakbir karena hatiku gembira

Ia sangat gembira dan bahagia dan bersujud, dan semua yang hadir ikut bersujud.

{Ibnu Qutaibah, al-Imâmah wa’s-Siyâsah, jilid 1, hlm. 144; Ibnu ‘Abdu Rabbih, al- ’Iqd al-Farîd, jilid 2, hlm. 298; ar-Raghib al-Ishfahânî, Al-Muhâdharât, jilid 2, hlm. 224 dll.}

Imam Ali as berkata bahwa Nabi Saww bersabda : Orang yang mendatangkan kesusahan kepada orang Mu’min tanpa sebab bagaikan orang yang telah memusnahkan Mekah dan Baitul Makmur sepuluh kali dan bagaikan dia telah membunuh seribu malaikat Allah. Mengasihi seorang Mu’min karena Allah semata-mata adalah sebagian dari iman. Ingatlah barang siapa yang cinta karena Ridha Allah semata-mata, membenci karena Allah semata-mata, memberikan sesuatu demi karena Allah, dan menjauhi pemberian hanya karena Allah (apabila dia tahu bahwa Allah tidak menyukainya) adalah salah seorang dari hamba-hamba pilihanNya. Dia adalah salah seorang dari orang-orang Islam yang sempurna, yang mana budi pekertinya amat disukai orang orang-orang lain.

{DiRiwayatkan Akhu Tirbal, Kitab Al Mukmin, Syed Murtadha Husayn }

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata, Nabi SAWW bersabda : “Apabila seorang Mu’min secara tidak benar mencela saudaranya, dia akan jauh dari persahabatan di antara mereka. Apabila seorang Mu’min memanggil saudaranya sebagai musuh, sama ada salah seorang dari mereka kafir. Allah tidak menerima doa-doa orang-orang yang mencela orang-orang Mu’min. Dia juga tidak menerima doa-doa yang membenci dan meletakkan permusuhan dalam hati-hati mereka terhadap orang-orang Mu’min.”

{Kitab Al Mukmin, Syed Murtadha Husayn}

Maka Apa yang membuat Kenistaan dan penindasan kaum yang dzalim terhadap AhlulBait Nabi SAWW dibiarkan, ditutupi, bahkan para Pelakunya DiIdolakan?

Apakah Para Imam Ahlul Bait Nabi SAWW bukan orang-orang yang Mulia? Bukankah Ahlal bait Nabi SAWW disucikanNYA ? lalu ketika Orang – Orang Suci di abaikan haknya dan didzalimi serta dibunuh para pelakunya justru di Elu2kan dan di Jadikan Panutan, kegilaan macam apa yang sedang dialami Umat Muhammad SAWW?

Murka Allah Bagi Pembunuh Hujr bin Adi, dkk

Pada hari ke 19 Ramadhan, Amirul Mukminin Imam Ali as sulit berbicara akibat racun yang bersarang dalam dirinya, dan beliau berkata, “Singkatkanlah pertanyaan-pertanyaan kalian.”Hujur bin Adhi berkata, “Aku berdiri dan mengungkapkan syair kepada Imam Ali as,
Alangkah malangnya sang pemuka kaum takwa, ayah para manusia suci, sang Haidar yang suci (jiwanya) !
Orang kafir yang nista, pezina, terkutuk, fasik turunnya, celakalah yang telah membunuhnya.
Laknat Allah bagi yang berpaling dari kalian (wahai Ahlulbayt) dan yang berlepas diri dari kalian dengan laknat yang amat dahsyat.
Karena kalian pada hari Mahsyar adalah bekalku, dan kalian Itrah Sang Nabi pemberi hidayah.

Mendengar syair Hujur ini, Imam Ali as menatapnya seraya berkata, “Bagaimanakah jadinya engkau nanti, yang pada saat itu, engkau akan dipaksa untuk berlepas diri dariku?”Hujur menjawab,”Aku bersumpah demi Allah, seandainya aku dicincang dengan pedang lalu dibakar, aku tidak akan berpaling darimu.”Imam Ali as berkata,”Semoga Allah memberimu balasan yang baik dan taufik dalam setiap kebaikan.”

Hujr bin Adi al Adbar adalah seorang sahabat Rasulullah (saww) dan salah satu pengikut sejati Imam Ali (as). Muawiyah Laknatullah telah memerintahkan pengikutnya (Laknatullah untuk mereka) membunuh Hujr bin Adi al Adbar. Hujr merupakan salah seorang sahabat Rasulullah (saww) yang tidak terima jika Imam Ali (as) dihina dengan cara apapun. Ibn Ziyad Laknatullah menyarankan kepada Muawiyah Laknatullah untuk menangkap Hujr dan sahabat-sahabatnya. Saat perjalanan ke Damaskus, Muawiyah Lakanatullah memerintahkan agar mereka dibunuh.

Ulama Mazhab Hanafi, Kamaluddin Umar ibn al Adim mencatat dalam Bughyat al Talib fi Tarikh Halab juz.2 hal.298 :

“Dia (Hujr bin Adi al Adbar) adalah penduduk Kufah, ia datang menemui Rasulullah (saww) sbg utusan (dr Kufah) dan dia salah seorang perawi dari (jalur) Ali bin Abi Thalib”

Hujr bin Adi al Adbar ikut serta dalam perang Jamal dan Sifin disisi Ali dan dia termasuk dalam syiah-nya. Ia telah dibunuh atas perintah Muawiyah di desa Mriaj Adra dekat Damaskus. Pada saat akan dibunuh ia meminta ; “Jgn singkirkan rantai ini setelah aku terbunuh, bgtu juga jgn bersihkan darahnya. Kami akan bertemu dg Muawiyah dan akan ku laporkan penentanganku terhadapnya” (Al Isaba, juz.1 halm.313 “Dzikr Hujr bin Adi”).

Aisyah berkata :

“Muawiyah..! kau telah membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya, Demi Allah, Rasul (saww) berkata kepadaku ; “Di lembah Adra tujuh orang akan terbunuh, yg membuat Allah dan seluruh (isi) langit murka”
(Tarikh, olh ibn Asakir, juz. 12 hal.227 “Dzikr Hujr bin Adi”)

“Hujr dan sahabat-sahabatnya ditangkap dan dibawa ke lembah Adra yang dekat dengan damaskus. Muawiyah memerintahkan bahwa hujr dan sahabat-sahabatnya hrs dibunuh dilembah tsb.”
(asad-ul-Ghaba, juz.1 hal. 244 “Dzikr Hujr bin Adi”)

Ibn Qutayba Dinwari (213-276 H) mencatat dalam karyanya yg masyhur “Al Ma’arif’”hal 76 :
Ia datang kepada Rasulullah saw sebagai utusan dan masuk Islam, ia hadir dalam perang Qadsiya, ia juga hadir dalam perang Jamal dan Sifin bersama Ali, lalu Muawiyah membunuhnya di Adra bersama kelompoknya”

Ulama mazhab Syafi’i, Allamah Hibatullah Lalkai (w.418) mencatat dalam “Syarh Usul Itiqad Ahlu Sunnah” Juz. 7 hal. 18 :
“Apa yang telah diriwayatkan mengenai karamah Hujr bin Adi atau Qais Makhshus seorang sahabat Rasulullah (saw)”

Imam Ali (as) bicara mengenai Hujr bin Adi :

Tercatat bahwa Imam Ali meramalkan terbunuhnya Hujr, hal ini oleh Allamah Muttaqi al Hindi dicatat dalam “Kanzul-Ummal” :
(Imam) Ali berkata “Hai orang-orang Kufah..! tujuh orang terbaik di antara kalian akan terbunuh, perumpamaan mereka sama dengan orang beriman di lembah”. Hujr bin Adi al Adbar dan sahabat-sahabatnya berada diantara mereka, dan mereka berasal dari Kufah, Muawiyah membunuh mereka di Adra perbatasan Damaskus” (Kanzul Umal, Juz. 13 hal.531 riwayat 36530)

Pernah juga Aisyah bertanya kepada Muawiyah, (Kanzul Ummal juz.13 hal.556 riwayat 37510) :
Abi al Aswad meriwayatkan bahwa Muawiyah menemui Aisyah, dan Aisyah bertanya kepadanya ;
“Mengapa kau bunuh orang-orang Adra” (mksdnya Hujr dan sahabatnya).
Muawiyah menjawab : “Wahai Umul Mukminin, Aku melihat bahwa kematian mereka lebih baik untuk umat dan hidupnya mereka akan membawa kerugian umat”

Ia (Aisyah) berkata : “Aku mendengar Rasulullah (saww) berkata : “Beberapa orang akan terbunuh di Adra, Allah dan penduduk surga akan murka karena hal itu”

Untuk para Nashibi (wahabi) Muawiyah adalah orang yang mulia, mereka menyanjung Muawiyah dan mengatakan dia adalah Khalifah Muslim, menyebut “Radhiallahu Anhu” setelah menyebut namanya…!

Sejarah dipaparkan sangat jelas bahwa Muawiyah telah membuat Allah Murka, bukan hanya dalam kasus yang ini, ia adalah pembenci Ahlul Bait (as) yang masuk dalam al Ahzab 33. Tidak diragukan lagi bahwa Muawiyah adalah orang yang pantas dilaknat..!

Dalam Al Bidayah wal Nihayah juz. 8 hal.55 disebutkan bahwa :
“Ibn Asakir mencatat bahwa Hujr datang kepada Rasulullah (saw) dan mendengar (hadis) dari Ali, ammar, Syarajil bin Marat yang dikenal dengan Syarjil bin Marat”

Al Hakim dalam Mustadrak membuat bab khusus tentang Hujr bin Adi (ra), “Keutamaan Hujr bin Adi (ra) dan Ia seorang sahabat Muhammad saw (Manaqib Hujr bin Adi wa huwa asahab Muhammad” (Al Mustadrak Sahihain Juz.3 hal.468)

Jika orang berdalih bahwa Muawiyah adalah “sahabat” Rasul (saww) dan oleh karenanya ia tidak boleh dilaknat, siapapun yang mengatakan hal tersebut, lihatlah bahwa Muawiyah adalah pembunuh sahabat Rasulullah (saww) yang sekaligus pengikut Imam Ali (as), maka cukup bagi kami bahwa murka Allah kepada Muawiyah membebaskan kami untuk melaknat orang terkutuk ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”(Al-
Baqarah ;159-160)

Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.Rasa terkejut dan kaget ini bertambah dalam dan seakan tidak akan pernah berakhir berakhir.

tidak ada tuh anjuran mencaci sahabat

yg ada mengkoreksi “kemaksuman” sahabat
karena di syiah tidak ada doktrin keadilan sahabat (salah dapet 1 bener dapet 2 pahala) …

maka sahabat2 versi syiah ada yg bener ada yg salah

yg bener yah diteladani sementara yg salah yah gak boleh diikuti – simple

karenanya mereka bisa tegas menunjukkan siapa yg salah dalam perang jamal & shiffin tanpa sungkan sama sahabat

sunni  mengkafirkan orangtua & paman Rasulullah = menyakiti hati syiah

salah satu lagi beda syiah adalah imamah – ada hubungannya dgn kekalifahan juga
kalo syiah bilang imam2nya maksum kenapa juga sunni ribut … wong sunni  gak mengakui imamah versi mereka
toh di sunni juga sahabat2 utama juga terbebas dari dosa (bisa dikatakan maksum juga) dgn doktrin ijtihad salah dapet 1 pahala bener dapet 2 pahala

.
– perang jamal Ali vs Aisyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)
– perang shifin Ali vs muawiyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)

.
tuh kejadian menghasilkan puluhan ribu muslim mati saling serang lho …

toh nyatanya sahabat2 utama tetep gak dosa khan? (gada beda sama maksum)

karena gada doktrin keadilan sahabat maka syiah sah2 saja menyalahkan pihak2 yg berseberangan dgn panutannya (amirul mukminin / khalifah Ali bin abu thalib)

Kebohongan demi kebohongan disodorkan hingga berabad-abad, kebutaan Ummat Muhammad karena jauh dari Kebenaran, hasilnya seperti yang kita sedang alami bersama

sunni mengkafirkan tokoh tokoh utama dalam Islam yang dihormati syiah;: Abu thalib & orang tua Rasulullah

tidak ada tuh anjuran mencaci sahabat

yg ada mengkoreksi “kemaksuman” sahabat
karena di syiah tidak ada doktrin keadilan sahabat (salah dapet 1 bener dapet 2 pahala) …

maka sahabat2 versi syiah ada yg bener ada yg salah

yg bener yah diteladani sementara yg salah yah gak boleh diikuti – simple

karenanya mereka bisa tegas menunjukkan siapa yg salah dalam perang jamal & shiffin tanpa sungkan sama sahabat

sunni  mengkafirkan orangtua & paman Rasulullah = menyakiti hati syiah

salah satu lagi beda syiah adalah imamah – ada hubungannya dgn kekalifahan juga
kalo syiah bilang imam2nya maksum kenapa juga sunni ribut … wong sunni  gak mengakui imamah versi mereka
toh di sunni juga sahabat2 utama juga terbebas dari dosa (bisa dikatakan maksum juga) dgn doktrin ijtihad salah dapet 1 pahala bener dapet 2 pahala

.
– perang jamal Ali vs Aisyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)
– perang shifin Ali vs muawiyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)

.
tuh kejadian menghasilkan puluhan ribu muslim mati saling serang lho …

toh nyatanya sahabat2 utama tetep gak dosa khan? (gada beda sama maksum)

karena gada doktrin keadilan sahabat maka syiah sah2 saja menyalahkan pihak2 yg berseberangan dgn panutannya (amirul mukminin / khalifah Ali bin abu thalib)

Status Ayah dan Ibu Rasulullah, Muslim atau Kafir?

Awal muncul saling Kafir-pengkafiran terhadap sesama umat Islam , yaitu ketika pada jaman kekuasaan dinasti Mu’awayah bin Abi Sufyan r.a, berlanjut terus sampai terjadi pembantaian terhadap cucu Rasulullah saw. Pengkafiran terhadap keluarga Rasul Muhammad saw , terhadap umat Islam ( yang politiknya tidak sefaham ).

Ayahnya dikafirkan , anaknya juga dikafirkan, cucu dan keturunannya pun dibantai.

[ sampai ada Ulama bermulut Besar Sekte WAHABI menyatakan : bahwa seluruh keturunan Rasulullah saw sudah musnah ]

Walaupun kekuasaan dinasti Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a , sudah berahir, pengkafiran berlanjut terus walau tidak sederas pendahulunya .

Pada jaman itulah . Umat Islam digoyang oleh fitnah, dan tidak sedikit pembuat Hadits Palsu menyebar luaskan hasil karyanya , untuk melanggengkan kekuasaan atau meraih jabatan . Bersamaan dengan itu, maka didengungkanlah kasidah “ Wa maa jaraa bainas-shahabaati-naskutu “ ( kita diamkan apa yang terjadi di antara para sahabat-Nabi ).

Perbedaan muatan sejarah bukanlah sebuah rahasia. “Tidak ada yang otentik tentang sejarah selain ketidak otentikannya!” demikianlah sebagian orang antipati dan larut dalam ifrati melihat sejarah yang seakan hanya dipenuhi lembaran-lembaran perbedaan. Tapi apakah traffic light diseluruh dunia harus dicabut hanya karena kecelakaan masih tetap ada? Ataukah seluruh obat harus dihentikan produksinya, sebab tidak sedikit jumlahnya orang mati over dosis?

‘Sejarah’ hanya benda mati. Sedang pena tidak tahu dosa sebab guratan-guratannya sangat tergantung pada orang yang menggerakkan tangannya, sementara sang subjek; ia mungkin tidak sendiri! Ada ide dibalik badannya, dan mungkin dibalik idenya? Boleh jadi ada kepentingan, boleh jadi ada force yang memaksanya panuh, boleh jadi paksaan itu bernama pedang dan atau demi keselamatan, atau boleh jadi karena gemerincing koin-koin emas, dan atau seperti kata sahabat Ali bin Abi Thalib as; an-Nas ‘ala dini mulukihim.

Bukankah dunia dipaksa menerima kebenaran ‘mitos’ Holocoust yang didongengkan Israil! Padahal orang tahu bahwa itu hanya kebohongan sejarah, tapi kenapa masih tetap diterima? Bagaimana dengan sejarah Islam?
.
Berikut ini kita akan mencoba mengalisa ulang sejarah Islam terutama sejarah Rasul dan keluarganya. Bukan untuk menolak sejarah secara ifrati, tapi membuang yang ‘membohongi kesadaran’ kita dan bergerak menuju sebuah pandangan baru yang jauh dari kebohongan dan pembohongan.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini muncul berbagai teori dan opini yang menyatakan bahwa kedua orangtua Rasulullah saw adalah kafir.Salah satunya adalah yang tertera pada sebuah buku yang bertajuk “Kafirkah kedua orangtua Rasulullah?” yang diterbitkan oleh pustaka As-sunah dan ditulis oleh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qaari

versi  Sunni :

telah beredar hadist yang menyinggung tentang adab keimanan yaitu tentang status dari ibu dan ayah nabi muhammad yang musyrik dan kafir

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir [1] Kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir [2] Kalau ada yang bertanya, “Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [3]

ootnote.
[1]. Hadits Riwayat Muslim Kitabul Jazaaiz 2 hal.671 no. 976-977, Abu Dawud 3234, Nasa’i 4 hal. 90 dll
[2]. Dalilnya, ada seorang bertanya, “Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku” Jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ayahmu di Neraka”. Ketika orang itu akan pergi, dipanggil lagi, beliau bersabda, “Ayahku dan ayahmu di neraka” [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 no. 203, Abu Dawud no. 4718 Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7/190] Pada riwayat yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kedua anak Mulaikah, “Ibu kamu di Neraka”, keduanya belum bisa menerima, lalu Nabi panggil dan beliau bersabda, “Sesungguhnya ibuku bersama ibumu di Neraka” [Thabrani dalam Mu’jam Kabir (10/98-99 no. 10017)], Hakim 4/364.
[3]. Lihat, Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fil A’zham fii Abawayir Rasul Alaihis Shalatu wa Salam ta’lif Al-‘Alamah Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qary (wafat 1014)

riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammemanggilnya dan bersabda:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.

Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.”

Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189)

Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mu’jam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah, bahwa Jibril ‘alaihis salam berkata kepada beliau,

فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ

Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya.” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.”

Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya firman Allah,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189)

Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mu’jam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah, bahwa Jibril ‘alaihis salam berkata kepada beliau,

فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ

Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya.” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)

Sedangkan riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bersabda:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.

Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)

Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’rabi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menjawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

Kemudian turun ayat yang berbunyi :

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

hadits: “Dari Anas bin Malik,bahwasanya seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah dimana ayahku?Nabi bersabda: ‘Dineraka.
Ketika orang tersebut berpaling Nabi memanggilnya lagi dan bersabda: ‘sesungguhnya ayahku dan ayahmu di An-nnar(neraka) (H.R Muslim)

Tidak sedikit jumlah hadits dan riwayat sejarah yang menyebutkan bahwa Ayah, Ibu, Paman dan Kakek Rasulullah saw mati dalam keadaan kafir! Paling tidak, kitab-kitab yang ditulis rawi dan penulis sejarah sekaliber Ahmad bin Hanbal –pemuka mazhab Hambali- dan Ibnu Katsir, sang sejarawan handal!(?)

Berikut ini beberapa riwayat akan kami ketengahkan;

a. Ibn Katsir dan Ibn Hambal meriwayatkan; Rasulullah bersabda: “Suatu hari aku mendatangi kuburan ibu Muhammad, dan aku memohonkan syafaat kepada Tuhanku untuknya, dan kumohonkan pengaampunan atasnya tapi Tuhanku menolak permohonanku” [1]

b. Salah seorang Arab bertanya kepada Rasul; “Dimanakah sekarang Ayahmu?” Rasul menjawab; “Takkala aku melintas di pekuburan orang-orang kafir, diperlihatkan padaku, bahwa ayahku berada di neraka”[2]

c. Rasululah bersabda: “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa aku berlepas tangan dari (kekafiran) Aminah ibuku, sebagaimana Ibrahim as berlepas tangan dari kekafiran ayahnya”[3]

Sungguh sebuah kebohongan atas diri Rasul dan kedua orang tua beliau. Selain itu sebuah kesalah besar ketika mengkiaskan Ayah Ibrahim as dan kedua orang tua Rasul, sebab ayah Ibrahim menolak kenabian dan risalah nabi Ibrahim as pada saat masih hidup, sedangkan bapak-ibu Rasulullah saw meninggal sebelum menjadi Nabi dan Rasul, terlebih ayahnda beliau, Abdullah yang meninggal sebelum beliau lahir. Bagaimana mungkin hukum kafir diberikan kepada seseorang yang tidak mendengar dan menghadapi sebuah kenabian atau kerasulan!

[1] . Bidayah wa Nihayah: 2/340-341, Musnad Ahmad: 5/357

[2] . Bidayah wa Nihayah: 2/342

[3] . al-Wafa: 116

Pendapat diatas adalah pendapat  sunni

==============================

Jawaban  Pihak  Syi’ah :

:

Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab,  yaitu :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.
Hadist tersebut juga bertentangan dengan surat Al-Baqoroh ayat 62 yang menyebutkan.

Sesungguhnya orang-orang
mukmin, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja
diantara mereka yang benar-
benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal
saleh, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka, tidak
ada kekhawatiran kepada
mereka, dan tidak (pula)
mereka bersedih hati

nah jelaslah bertentangan karena di tanah arab hanya ada yahudi dan nasrani. kuat mana hadist dan al-qur’an pernyataanya. Hadist bisa di buat maudhu’ atau hadist palsu, namun al-qur’an banyak yang telah hafidz menghafalnya.

Belajarlah agama pada ustadz yang ada di sekitarmu, jangan semua website atau wapsite anda jadikan panutan. Karena banyak jebakan di dunia maya.

Tidak masuk akal andai ayah ibu nabi muhammad musrik dan kafir, sedang yang melahirkan manusia suci juga dari rahim ibu yang suci. Tentu saja ada pengampunan khusus dari Allah ta’ala. Karna agama islam yang di bawa nabi muhammad belumlah di kenal.

Apakah kita layak mengkafirkan kedua orangtua Rasulullah saw?
Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor,tidakkah anda setuju?.Bagi umat islam,jiwa dan pribadi Rasulullah saw adalah jiwa dan pribadi yang agung,yang bersih,suci dan dicintai.itu bukan saja diakui oleh umat islam,akan tetapi oleh penganut agama lain.Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan catatan sejarah juga mendukung pendapat ini.Pribadi yang agung ini tentu tidak mungkin berbentuk begitu saja,ia pasti melalui prores,bimbingan sejak kecil,dan berasal dari benih-benih yang suci.

Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini muncul berbagai teori dan opini yang menyatakan bahwa kedua orangtua Rasulullah saw adalah kafir.Salah satunya adalah yang tertera pada sebuah buku yang bertajuk “Kafirkah kedua orangtua Rasulullah?” yang diterbitkan oleh pustaka As-sunah dan ditulis oleh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qaari.Buku ini juga sempat diulas oleh salah satu koran terkemuka yaitu Republika terbitan jum’at 15 April 2005 dengan sebuah artikel berjudul “Meluruskan posisi orangtua Rasulullah” .Mengapa muncul pendapat demikian?Apa dasar argumen tersebut?Dan bagaimana kita menyikapinya?Itulah beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab disini.Dalam artikel yang dimuat oleh koran Republika Jum’at 15 April 2005 dikatakan: “Kedua orangtua Rasulullah yakni Abdullah dan Siti Aminah,wafat sebelum Nabi membawa risalah islam,dengan kata lain keduanya meninggal dalam keadaan kafir.Namun banyak umat islam yang merasa tidak sampai hati mengatakan bahwa kedua orangtua Rasulullah saw wafat dalam keadaan kafir dan karena itu kelak masuk neraka”

.
Bagaimana kita menyikapi argumen tersebut?jawabannya mungkin mudah,yaitu dengan menerima atau menolaknya.Akan tetapi apa dasar yang kita gunakan untuk menerima atau menolak argumen tersebut?Alangkah baiknya jika disini menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai pedoman juga solusi

.
Allah swt berfirman dalam surat Al-Israa(17)ayat 15: ..”Dan kami tidak akan mengazhab sebelum kami mengutus seorang Rasul”
Bukankah kedua orangtua Rasulullah saw sudah meninggal tatkala beliau berusia 8tahun,sedangkan pengutusan Muhammad sebagai Rasul baru dilakukan ketika beliau berumur 40tahun?

.
Lalu bagaimana mungkin kedua orangtuanya Abdullah dan Aminah di azhab dineraka?Dimana keadilan Allah swt seperti yang tertera pada surat Al-Israa ayat 15 tersebut diatas?

.
Pada surat Asy-Syu’araa (Q.S-26:217-219) Allah swt berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.Yang melihat kamu ketika kamu berdiri(untuk sembahyang) dan melihat pula perpindahan badanmu dari(sulbi-sulbi) orang-orang bersujud”
Disini kita melihat perpindahan badan(benih)Rasulullah dari satu sulbi ke sulbi yang lain.Dan sulbi-sulbi tempat persinggahan itu tidak lain adalah milik orang -orang yang bersujud(beriman)

.
Masihkah kita menerima bahwa kedua orangtua Rasulullah saw kafir?

di riwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku pindahkan dari sulbi-sulbi yang suci kedalam rahim-rahim yang terjaga.”Selain itu dalam banyak riwayat juga diceritakan bahwa Bani Hasyim(keluarga besar Abdullah ayah Rasulullah)adalah penjaga ka’bah dan pengikut ajaran Nabi Ibrahim as.Apakah layak bagi kita untuk mengkafirkan kedua orangtua Rasulullah saw setelah mengetahui pernyataan-pernyataan ini?

Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor.Kalimat itulah yang kira-kira dapat menggambarkan diri Rasulullah saw dan kedua orangtuanya.Alangkah baiknya jika kita mempelajari secara lebih mendalam tentang keluarga Nabi Muhammad saw dan mengaca diri akan kedudukan kita dihadapan Rasulnya yang tercinta.Sehingga kita tidak mudah mengeluarkan opini-opini yang tidak pantas dan terjebak dalam badai kesalahpahaman yang terus menguak seperti ini.Semoga bermanfa’at.

Versi  Sunni :
.
Imam Bukhari meriwayatkan : “ Ketika Rasulullah saw, minta kepada Abu Thalib supaya mengucapkan kalimat “ La ilaha ilallah “, ‘amr bin hisyam ( Abu Lahab ) dan Abdullah bin Umayyah , bertanya kepada Abu Thalib : “ Tidakkah anda berpegang pada agama AbdulMutthalib..??.” Berulang-ulang dua orang itu mendesak pertanyaan tersebut, dan akhirnya Abu Thalib menjawab : “ Pada agama ‘Abdul-Mutthalib “ .Riwayat yang diketengahkan oleh Imam Bukhari itu, menunjukan bahwa Abu Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Karena Rasulullah sawberkata: “ Akan kumohonkan ampunan bagimu paman, selagi aku tidak dilarang berbuat itu ( syafaat )“.Mengenai persoalan itu, Ibnu Katsir mengatakan : “ Abu Thalib tahu dan mengerti , bahwa Rasulullah saw, itu benar, tidak dusta, tetapi hati Abu Thalib tidak beriman .” disini kita bisa melihat, seakan-akan Ibnu Katsir hendak menyamakan pengertian Abu Thalib mengenai kenabian Muhammad saw, dengan pengertian , kaum Yahudi mangenai beliau.Ibn Katsir menulis; Sesungguhnya Abu Thalib mati dalam keadaan beragama sebagaimana agama jahiliyah.[al-Wafa: 116]
.
Dari Al Abbas bin Abdul Muthalib, berkata, “Wahai Rasullulah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada Abu Thalib, sebab dia dulu memeliharamu dan membelamu?” Jawab beliau, “Benar, dia berada di neraka yang paling dangkal, kalau bukan karenaku niscaya dia berada di neraka yang paling bawah.“ (HR. Bukhari no. 3883, 6208, 6572, Muslim 209)
.
Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata, Disebutkan disisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda, ” Somoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih”. (HR.Bukhari 3885, 6564, Muslim 210)
==================================================
.
JAWABAN  PiHAK  SYi”AH :
.

Abu Thalib mu’min Sejati

Segala Puja dan Puji bagi Allah, sebanyak tetesan air hujan, sebanyak butiran biji-bijian, sebanyak makhluk-Nya dilangit, dibumi dan diantara keduanya.Segala Puja dan Puji yang banyak dan tak berkesudahan untuk Allah, meskipun puja segala pemuji selalu kurang dari sewajarnya.Segala Puja dan Puji untuk Allah seagung pujian-Nya terhadap diri-Nya.Shalawat dan Salam yang tiada pernah terputus dan tiada pernah terhenti terus-menerus, sambung-menyambung sampai ke akhir zaman untuk Nabi yang dicintai dan dikasihi oleh ruh, jiwa dan jasad kami, Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, juga untuk keluarganya yang telah disucikan dari segala noda dan nista, serta para sahabat yang berjihad bersamanya dan setia padanya sepanjang hayatnya.
Dalam berbagai kesempatan alfagir hamba Allah penulis risalah ini sering mendengar dalam khutbah-khutbah, diskusi-diskusi, maupun dialog-dialog bahwa Abu Thalib paman tercinta Rasulullah SAAW dikatakan kafir. Beberapa rekan sering bertanya tentang masalah ini, akhirnya alfagir harapkan risalah ini sebagai jawaban atas semuanya itu, sebaga pembelaan terhadap Abu Thalib dan terhadap Nabi SAAW, semoga beliau SAAW meridhainya Amin.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya (mengutuknya) didunia dan diakhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (Q.S. 33:57)”.

“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu,bagi mereka azab yang pedih(Q.S. 9:61)”

Diriwayatkan dari Al-Thabrani dan AL- Thabrani dan Al-Baihaqi, bahwa anak perempuan Abu Lahab (saudara sepupu Nabi saaw ) yang bernama Subai’ah yang telah masuk Islam datang ke Madinah sebagai salah seorang Muhajirin, seseorang berkata kepadanya : “Tidak cukup hijrahmu ini kesini, sedangkan kamu anak perempuan kayu bakar neraka” (menunjuk surat Allahab). Maka ia sakait mendengar kat-kat tersebut dan melaporkannya pada Rasulullah saaw. Demi mendengar laporan semacam itu beliau saaw jadi murka, kemudian beliau naik mimbar dan bersabda :

“Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku (silsilahku) maupun sanak kerabatku. Barang siapa menyakiti nasabku serta sanak kerabatku, maka telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku, maka dia menyakiti Allah SWT.

Sa’ad bin Manshur dalam kitab Sunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang Firman Allah SWT (Q.S; 42,23) : “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meinta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (Ahlul Bait)”.

Ia berkatyang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah saaw, (Hadits ini disebutkan juga oleh Al-Muhib Al-Thabari dalam Dzkhair Al-Uqbah ha.9 Ia mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Sirri, dikutib pula oleh Al-Imam Al-Hafid Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Suyuthi dalam kitab Ihyaul Maiyit Bifadhailil Ahlil Bait hadits nomer 1 dan dalam kitab tafsir Al-Dur Al-Mantsur ketika menafsirkan ayat Al-Mawaddah :42,43)

Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya Juz 4 hal.210 hadits no.177 meriwayatkan:

Abbas paman Nabi SAAW masuk menemui rasulullah saaw, lalu berkata: “Wahai rasulullah, sesungguhnya kita (bani hasyim) keluar dan melihat orang-orang quraisy berbincang-bincang lalu jika mereka melihat kita mereka diam”. Mendengar hal itu rasulullah saaw marah dan meneteskan airmata kemudian bersabda : “Demi Allah tiada masuk keimanan ke hati seseorang sehingga mereka mencintai kalian (keluarga nabi saaw) karena Allah dan demi hubungan keluarga denganku”. (hadits serupa diriwayatkan pula oleh Al-Turmudzi, Al-Suyuthi, Al-Muttaqi Al-Hindi, Al-Nasa’i, Al-Hakim dan Al-Tabrizi).

Ibnu Adi dalam kitab Al-Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata bahwa Rasulullah saaw bersabda: “Barang siapa yang membenci kami Ahlul Bayt (Nabi dan keluarganya) maka ia adalah munafiq”. (At-Athabrani dalam Dzakair, Ahmad dalam Al-Manaqib, Al-Syuthi dalam Al-Dur Al-Mantsur dan dalam Ihyaul Mayyit).

Al-Thabrani dalam kitab Al-Awsath dari Ibnu Umar, ia berkata: Akhir ucapan rasulullah saaw sebelum wafat adalah: “Perlakukan aku sepeninggalku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baitku.” (Ibnu Hajar dalam Al-Shawaiq). Al-Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari Ali bersabda : “Syafa’at (pertolongan diakhirat kelak) ku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baytku. (Imam Jalaluddin Al-Syuthi dalam Ihyaul Maiyit) .

Al-Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id ia berkata bahwa Rasulullah saaw bersabda :” Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang menggaguku dengan menggangu itrahku”. (Al-Suyuthi dalam Ihyaul Maiyit, dikutib juga oleh Al-Manawi dalam Faidh Al-Qadir, dan juga oleh Abu Nu’aim).

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang menyakiti seujung rambut dariku maka ia telahmenyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku berarti ia telah menyakiti Allah SWT”. Dengan demikian jelaslah bahwa siapa yang menyakiti Abu Thalib berarti menyakiti Rasulullah beserta cucu-cucu beliau pada setiap masa. Rasulullah bersabda :” Janganlah kalian menyakiti orang yang masih hidup dengan mencela orang yang telah mati”.

Sebenarnya pandangan tentang kafirnya Abu Thalib adalah hasil rekayasa politik Bany Umaiyah di bawah kendali Abu Sufyan seseorang yang memusuhi Nabi saaw sepanjang hidupnya, memeluk Islam karena terpaksa dalam pembebasan Makkah, kemudian dilanjutkan oleh putranya Muawiyah, seorang yang diberi gelar oleh Nabi saaw sebagai kelompok angkara murka, yang neracuni cucu Nabi saaw, Imam Hasan ibn Ali a.s. Dalam kitab Wafiyat Al-A’yan Ibnu Khalliqan menuturkan cerit Imam Nasa-i (penyusun kitab hadits sunna Al-Nasa-i), bahwasanya sewaktu Nasa-i memasuki kota Damaskus, ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Muawiyah, kata Nasa-i: “ Aku tidak menemukan keutamaan Muawiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya”. Selanjutnya dilanjutkan oleh Yazid anak Muawiyah si pembunuh Husein ibn Ali cucu Nabi Muhammad saaw di padang Karbala bersama 72 keluarga dan sahabatnya. Muawiyah yang sebagian Ulama dikatagorikan sebagai sahabat Nabi saaw , telah memerintahkan pelaknatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib hampir 70.000 mimbar umat Islam dan dilanjutkan oleh anak cucu-cucuBany Umaiyah selam 90 tahun sampai masa Umar bin Abdul Azizi. Ibnu Abil Hadid menyebutkan Muawiyah membentuk sebuah lembaga yan bertugas mencetak hadits-hadits palsu dalam berbagai segi terutama yang menyangkut keluarga Nabi saaw, lembaga tersebut beranggotakan beberapa orang sahabat dan Tabi’in (sahabtnya sahabat) diantaranya “Amr ibn Al-ash, Mughirah ibn Syu’bah dan Urwah ibn Zubair).

Sebagai contoh Ibnu Abil Hadid menebutkan hadits produksi lembaga tersebut :

“Diriwayatkan oleh Al-Zuhri bahwa : Urwah ibn Zubair menyampaikan sebuah hadits dari Aisyah bibinya ia berkata : Ketika aku bersama Nabi saaw, maka datanglah Abbas (paman Nabi saaw) dan Ali bin Abi Thalib dan Nabi saaw berkata padaku :”Wahai Aisyah kedua orang itu akan mati tidak atas dasar agamaku (kafir)”.

Inil adalah kebohongan besar tak mungkin Rasul saaw bersabda seperti itu yang benar Rasul saaw bersabda seprti yang termaktub dalam kitab : Ahlul Bayt wa Huququhum hal.123, disitu diterangkan: Dari Jami’ ibn Umar seorang wanita bertanya pada Aisyah tentang Imam Ali, lalu Aisyah menjawab : “Anda bertanya kepadaku tentang seorang yang demi Allah SWT, aku sendiri belum pernah mengetahui ada orang yang paling dicintai Rasulullah saaw selin Ali,dan di bumi ini tidak ada wanita yang paling dicintai putri Nabi saaw, yakni ( Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s istri Imam Ali a.s). Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, Al-Suyuthi dalam kitab Al-Jami Ash-Shaghir dan juga Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dari Ibnu Abbas, Rasulullah saaw bersabda :” Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, Maka barangsiapa ingin mendapat Ilmu, hendaknya ia mendatangi pintunya”. Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shadiq Al-Maghribi berdasarkan hadits ini telah membuat kitab khusus yang diberi judul :”Fathul Malik al’Aliy bishihati hadits Babul Madinatil Ilmi Ali” yang membuktikan ke shahihan hadits tersebut.

Tidak mungkin kami menyebutkan hadits-hadits keutamaan Imam Ali satu persatu karena jumlahnya sangat banyak , cukuplah yang dikatakan Imam Ahmad (pendiri mazhab sunni Hambali) seperti yang diriwayatkan oleh putranya Abdullah ibn Ahmad sbb: “Tidak ada seorang pun diantara para sahabat yang memiliki Fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanad yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib”. Bany Umaiyah tidak cukup dengan menciptakan hadits-hadits palsu bahkan mengadakan program kekerasan bagi siap yang berani mengungkap hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan keluarga Nabi saaw. Mereka meracuni dan mempengaruhi pikiran umat Islam bahwa orang yang mengungkap keutamaan keluarga Nabi saaw adalah para pengacau, musuh Islam dan mereka adalah orang-orang zindiq.

Maka tidak sedikit Ulama’ Islam yang menjadi korban karena mereka berani secara tegas menyebarkan hadits-hadits tersebut. Dimana Bany Umaiyah kemudian dimasa Bany Abbasiyah, Keluarga Nabi saaw dan anak, cucunya terus menerus menjadi korban intimidasi yang tidak henti-hentinya, mengalami pengejaran, pembunuhan, seperti pembantaian Karbala, pembantaian Imam Ali Zainal Abidin, Annafsuzzakia , peracuni Imam Al-Baqir, Ash-shodiq, Al-Khadzim, Ar-Ridha dll, sampai seorang sejarawan terkenal Abul Faraj yang diberi judul “Maqatilut – Thalabiyin”.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa mereka berlaku demikian itu dan apa yang mendasarinya?, jawabannya tiada lain hanyalah kaena dengki dan irihati terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah kepada keluarga Nabi saaw. “Ataukah mereka dengki kepada (sebagian ) manusia (=Muhammad dan keluarganya) lantaran karunia-karunia yang Allah SWT, telah limpahkan kepadanya…?” (QS; 4,54) Al-Hafid Ibnu Hajar dalam kitabnya As-Sawaiq meriwayatkan dari Ibnu Mughazili Asy-Syafi’i bahwasanya Imam Muhammad Al-Bagir berkata: “Kamilah Ahlul Bayt adalah orang yang kepada mereka sebagian manusia menunjukkan rasa iri dan dengki”.

Para pengutbah dan penceramah tentunya telah mengetahui semua hadits-hadits yang mengkafirkan Abu Thalib yang jumlahnya kurang lebih 9 hadits, oleh karena itu hamba AllahSWT tidak akan menyebutkan lagi disini. Dengan menggunakan Ilmu hadits dan memeriksa Rijal (orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut. Tidak mungkin merinci komentar para ahli Jarh (kritik hadits) disini, sebagai contoh ; salah seorang perawi hadits dari kalangan sahabat bernama Abi Hurairah, disepakati oleh para ahli sejarah bahwa dia masuk Islam pada perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah, sedangkan Abu Thalib meninggal satu dua tahun sebelum Hijrah. Apakah dia berhadits ?.

Anehnya beberapa periwayat hadits tersebut menyebutkan beberapa Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunya ayat dalam Al-Quran) dihubungkan untuk mengkafirkan Abu Thalib, sebagai contoh; Surah Al-Tawbah 113 dan Al-Qashash 56, surah Al-Tawbah ayat 113 menurut para ahli tafsir termaasuk surah yang terakhir turun di Madinah, sedang Al-Qashash ayat;56 turun pada waktu perang Uhud (sesudah Hijrah), jadi baik antara kedua surah itu ada jarak yang bertahun-tahun juga antara kedua surah tersebut dengan kewafatan Abu Thalib ada jarak yang bertahun-tahun pula. Sekarang kita telah menolak hadits yang mengkafirkan Abu Thalib dan akan mengetengahkan hadits-hadits yang menyebut beliau (semoga Allah meridhainya) sebagai seorang muslim, namun sebelumnya akan kami ketengahkan terlebih dahulu siapakah Abu Thalib itu?

Beliau Abu Thalib nama aslinya adalah Abdu Manaf, sedang nama Abu Thalib adalah nama Kauniyah (panggilan) yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib, Abu berarti Bapak. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh Rasulullah saaw, dia membela Nabi saaw dengan jiwa raganya. Ketika Nabi saaw berdakwah dan mendapat rintangan Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Ketika Nabi saaw dan pengikutnya di baikot di sebuah lembah, Abu Thalib mendampingi Nabi saaw dengan setia. Ketika dia melihat Ali shalat di belakang Rasulullah saaw. Ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi saaw dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.

Beliau telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi saaw dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi saaw adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Beliau mengetahu akan kenaibian Muhammad saaw jauh sebelum Nabi saaw diutus oleh Allah SWT, sebagai Rasul di atas dunia ini. Dia menyebutkan hal tersebut ketika berpidato dalam pernikahan Nabi saaw dengan Sayyidah Khadijah a.s. Abu Thalib berkata : “ Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sekalian sebagian anak cucu Ibrohim dan Ismail, menjadikan kita sekalian berpangkal dari Bany Ma’ad dan Mudhar menjadikan kita penanggung jawab rumah-Nya (ka’bah) sebagai tempat haji serta tanah haram yang permai, menjadikan kita semua sebagai pemimpin-pemimpin manusia. Kemudian ketahuilah bahwa kemponakan saya ini adalah Muhammad ibn Abdullah yang tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki manapun kecuali ia lebih tinggi kemuliaannya, keutamaan dan akalnya. Dia (Muhammad ), demi Allah setelah ini akan datang dengan sesuatu kabar besar dan akan mengahadapi tantangan yang berat”.

Kata-kata beliau ini, adalah hasil kesimpulan apa yang beliau lihat tentang pribadi Nabi saaw sejak kecil, atau sebuah ilham dan dari kaca mata sufi adalah sesuatu yang diperoleh dari Ilmu Mukasyafah atau beliau seorang Kasyaf.

Pada saat Abu Thalib berekspidisi ke Syiria (Syam), pada waktu itu Nabi saaw masih berusia 9 tahun dan diajak oleh Abu Thalib, ketika itu bertemu dengan seorang rahib Nasrani bernama Buhairah yang mengetahui tanda-tanda kenabian yang terdapat pada Nabi saaw dan memberitahukan pada Abu Thalib kemudian menyuruhnya membawa pulang kembali ke Mekkah karena takut akan gangguan orang Yahudi.Maka Abu Thalib tanpa melihat resiko perdagangannya dengan serta merta membawa Nabi saaw pulang ke Mekkah.

Jika Abu Thalib hendak makan bersama keluarganya, beliau selalu berkata: Tetaplah kalian menunggu hingga Muhammad datang, kemudian Nabi saaw datang serta makan bersama mereka hingga mereka menjadi kenyang, berbeda seandainya mereka makan tanpa keikut sertaan Nabi saaw, biasa hidangannya adlah susu, maka Nabi saaw dipersilahkan lebih dahulu, baru bergiliran mereka. Abu Thalib berkata kepada Nabi saaw: “Sesungguhnya Engkau adalah orang yang di berkati Tuhan”.

Setiap Nabi akan tidur Abu Thalib membentangkan selimutnya dimana beliau saaw biasa tidur. Beberapa saat setelah beliau saaw tertidur, dia membangunkan beliau saaw lagi dan kemudian memerintahkan sebagian ank-anaknya untuk tidur ditempat Rasulullah saaw tidur, sementara Rasulullah dibentangkan selimut ditempat lain agar Nabi saaw tidur disana. Semua ini dilakukkan oleh Abu Thalib demi keselamatan Nabi saaw.

Ya Allah, Engkaulah yang dituduh oleh sebagian umat Nabi-Mu , tidak mau memberi hidayah Islam kepada seseorang yang mencintai Nabi saaw yang tiada melebihinya dan Nabi saaw mencintainya dengan teramat sangat.

Ya Allah, sungguh prasangkaku baik kepada-Mu, tak mungkin engkau tidak memberi iman kepadanya. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Engkau terjauh dari perasangka buruk. Ya Allah, apakah mungkin umat Nabi-Mu akan menerima Syafa’at dari padanya, sedang lidah-lidah mereka tiada kering dari mengkafirkan paman kesayangannya. Ya Allah Engkau adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Engkau akan mengukum siapa saja yang menyakiti Nabi-Mu dan keluarganya. Dalam salah satu sya’irnya Imam Syafi’i berkata : Wahai Keluarga Rasulullah

Kecintaan kepadamu

Allah wajibkan atas kami

Dalam Al-Quran yang diturunkan

Cukuplah tanda kebesaranmu

Tidak sah shalat tanpa shalawat padamu

(maksudnya : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muahammad)

Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dalam sya’irnya:

Kecintaan Yahudi kepada keluarga Musa nyata

Dan bantuan mereka kepada keturunan saudaranya jelas

Pemimpin mereka dari keturunan Harun lebih utama

Kepadanya mereka mengikut dan bagi setiap kaum ada penuntun

Begitu juga Nasrani sangat memuliakan dengan penuh cinta

Kepada Al-Masih dengan menuju perbuatan kebajikan

Namun jika seorang muslim membantu keluaga Ahmad (Muhammad)

Maka mereka bunuh dan mereka sebut kafir

Inilah penyakit yang sulit disembuhkan, yang telah menyesatkan akal

Orang-oramg kota dan orang-orang desa, mereka tidak menjaga

Hak Muhammad dalam urusan keluarganya dan Allah Maha Menyaksikan.

Dalam Sya’irnya Imam Zamakhsyari bertutur:

Beruntung anjing karena mencintai Ashabul kahfi

Mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi saaw

Abu Hasyim Isma’il bin Muhammad Al-Humairi dalam salah satu sya’i permohonan syafa’at pada nabi saaw:

Salam sejahtera kepada keluarga dan kerabat Rasul

Ketika burung-burung merpati beterbangan

Bukankah mereka itu kumpulan bintang gemerlapan dilangit

Petunjuk-petunjuk agung tak diragukan

Dengan mereka itulah aku disurga, aku bercengkrama

Mereka itu adalah lima tetanggaku, Salam sejahtera.

Kini tibalah saatnya untuk kami ketengahkan hadits-hadits tentang Mukminnya Abu Thalib, namun akan kami kutip sebagian saja.

Dari Ibnu Adi yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik, ia berkata; “Pada suatu saat Abu Thalib sakit dan Rasulullah menjenguknya, maka ia berkata; “Wahai anak sudaraku, berdo’alah kamu kepada Allah agar ia berkenan menyembuhkan sakitku ini”, dan Rasulullah pun berdo’a: Ya Allah, …sembuhkanlah paman hamba”, maka seketika itu juga dia berdiri dan sembuh seakan dia lepas dari belenggu”. Apakah mungkin Rasulullah berdoa untuk orang yang kafir padanya ?, apakah mungkin orang kafir minta do’a kepada Rasulullah , apakah mungkin orang yang menyaksikan mukjizat yang demikian lantas tidak mau beriman ?. Perkaranya kembali pada logika orang yang waras.

“Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aqil bin Abu Thalib, diterangkan bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib:”Sesungguhnya anak saudramu ini telah menyakiti kami”, maka Abu Thalib berkata kepada Nabi Muhammad saaw :”Sesungguhnya mereka Bany pamanmu,menuduh bahwa kamu menyakiti mereka”. Beliau menjawab : “ Jika seandainya kalian (wahai kaum Quraisy) meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku untuk aku tinggalkan perkara ini, sehingga Allah menampakkannya atau aku hancur karenanya niscaya aku tidak akan meninggalkannya sama sekali”. Kemudian kedua mata beliau mencucurkan air mata karena menangis, maka berkatalah Abu Thalib kepada beliau saaw:”Hai anak saudaraku, katakalah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka selamanya”. Dia juga berkata kepada orang-orang Quraisy, “Demi Allah, anak saudaraku tidak bohong sama sekali”.

Kami bertanya apakah kata-kata dan pembelaan demikian ini dapat dilakukan oleh orang kafir, yang agamanya sendiri dicela habis-habisan oleh Nabi saaw ? Kalau yang demikian ini dikatakan tidak beriman, lalu yang bagaimana yang beriman itu ? apkah yang KTP ?

Dari Al-Khatib Al-Baghdadi dari Imam Ja’far Ash-Shadiq yang sanadnya sampai pada Imam Ali, berkata aku mendengar Abu Thalib berkata: Telah bersabda kepadaku, dan dia demi Allah adalah orang yang paling jujur, Abu Thalib berkata selanjutnya: “Aku bertanya kepada Muhammad, Hai Muhammad, dengan apa kamu diutus (Allah) ?” beliau saaw menjawab : “Dengan silaturrahmi, mendirikan shalat, serta mengeluarkan zakat”.

Al-Khatib Al-Baghdadi adalah seorang ulama besar dan beliau menerima hadits yang diriwayatkan oleh Abi Thalib, jika Abu Thalib bukan mukmin maka tentu haditsnya tidak akan diterima, demikian juga Imam Ali dan Imam Ash-Shadiq dll. Penelaahan lebih jauh tentang hadis ini kita akan menemukan bahwa beliau mukmin.

Dari Al-Khitab, yang bersambung sanadnya, pada Abi Rafik maula ummu Hanik binti Abi Thalib bahwasannya ia mendengar Abu Thalib berkata :”Telah berbicara kepadaku Muhammad anak saudaraku, bahwanya Allah memerintahkannya agar menyambung tali silaturrahmi, menyembah Allah serta tidak boleh menyembah seseorang selain-Nya”.(tidak menyekutukan-Nya), kemudian Abu Thalib berkata: “Dan Aku Abu Thalib berkata pula: “Aku mendengar anak saudaraku berkata:”Bersyukurlah, tentu kau akan dilimpahi rizki dan janganlah kufur, niscaya kau akan disiksa”. Apakah ada tanda-tanda beliau orang kafir dalam hadits di atas?, wahai saudaraku anda dikaruniai kemauan berpikir pergunakanlah, jangan seperti domba yang digiring oleh gembala. 14 Abad umat Muhammad telah ditipu oleh rekayasa Bany Umaiyah, kapan mereka mampu mengakhirinya. Ketahuilah lebih 13 abad yang lampau Bany Umaiyah telah ditelan perut bumi akibat kedengkiannya kepada keluarga Nabi, namun fitrahnya tidak habis-habisnya.

Dari Ibnu Sa’ad Al-Khatib dan Ibnu Asakir dari Amru ibn Sa’id, bahwasanya Abu Thalib berkata : “Suatu saat berada dalam perjalanan bersama anak saudaraku (Muhammad), kemudian aku merasa haus dan aku beritahukan kepadnya serta ketika itu aku tidka melihat sesuatu bersamanya, Abu Thalib selanjutnya berkata, kemudian dia (Muhammad) membengkokkan pangkal pahanya dan menginjakkan tumitnya diatas bumi, maka tiba-tiba memancarlah air dan ia berkata kepadku:”Minumlah wahai pamanku !”, maka aku kemudian minum”.

Ini adalah mukjizat Nabi saaw dan disaksikan oleh Abu Thalib, yang meminum air mukjizat, adakah orang kafir dapat meminum air Alkautsar ?. Berkata Al-Imam Al-Arifbillah Al-Alamah Assayyid Muhammad ibn Rasul Al-Barzanji:”Jika Abu Thalib tidak bertauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan memberikannya rizki dengan air yang memancar untuk Nabi saaw yang air tersebut lebih utama dengan air Al-Kautsar serta lebih mulia dari air zamzam.

Dari Ibnu Sa’id yang diriwayatkan dari Abdillah Ibn Shaghir Al-Udzri bahwasanya Abu Thalib ketika menjelang ajalnya dia memanggil Bany Abdul Mutthalib seraya berkata:”Tidak pernah akan putus-putusnya kalian dengan kebaikan yang kalian dengar dari Muhammad dan kalian mengikuti perintahnya, maka dari itu ikutilah kalian, serta bantulah dia tentu kalian akan mendapat petunjuk”. Jauh sekali anggapan mereka, dia tahu bahwa sesungguhnya petunjuk itu di dalam mengikuti beliau saaw. Dia menyuruh orang lain agar mengikutinya, apakah mungkin dia sendiri menginggalkannya?. Sekali lagi hanya logika yang waras yang bisa menentukannya dan ma’af bukan domba sang gembala.

Dari Al-Hafidz (si penghafal lebih dari 100.000 hadits) Ibn Hajar dari Ali Ibn Abi Thalib a.s bahwasanya ketika Ali memeluk Islam, Abu Thalib berkata kepadanya:”Teteplah kau bersama anak pamanmu !”. Pertanyaan apa yang bisa ditanyakan terhadap seorang ayah yang menyuruh anaknya memluk Islam, sedangkan dia sendirian dikatakn bukan Islam, adakah hal itu masuk akal ?.

Dari Al-Hafidz Ibn Hajar yang riwayatnya sampai pada Imran bin Husein, bahwasanya Abu Thalib : bershalatlah kamu bersama anak pamanmu, maka dia Ja’far melaksanakan shalat bersama Nabi Muahmmad saaw, seperti juga ia melksanakannya bersama Ali bin Abu Thalib. Sekiranya Abu Thalib tak percaya akan agama Muhammad, tentu dia tidak akan rela kedua putranya shalat bersama Nabi Muhammad saaw, sebab permusuhan yang timbul karena seorang penyair berkata:”Tiap permusuhan bisa diharapkan berakhirnya, kecuali permusuhan dengan yang lain dalam masalah agama”.

Dari Al-Hafidz Abu Nu’aim yang meriwayatkan sampai kepada Ibnu Abbas, bahwasannya ia berkata : “Abu Thalib adalah orang yang paling mencintai Nabi saaw, dengan kecintaan yang amat sangat (Hubban Syadidan) tidak pernah ia mencintai anak-anaknya melebihi kecintaannya kepada Nabi saaw. Oleh karena itu dia tidak tidur kecuali bersamanya (Rasulullah saaw).

Diriwayatkan dalam kitab Asna Al-Matalib fi najati Abu Thalib oleh Assayid Al-Almah Al-Arifbillah, Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan Mufti mazhab Syafi’i di Mekkah pada zamannya:”Sekarang orang-orang Quraisy dapat menyakitiku dengan sesuatu yang takpernah terjadi selama Abu Thalib hidup”. Tidaklah orang-orang Quraisy memperoleh sesuatu yang aku tidak senangi (menyakitiku) hingga Abu Thalib wafat”. Dan setelah beliau melihat orang-orang Quraisy berlomba-lomba untuk menyakitinya, beliau bersabda:” Hai pamanku, alangkah cepatnya apayang aku peroleh setelah engkau wafat”. Ketika Fatimah binti Asad (isteri Abi Thalib) wafat, Nabi saaw menyembahyangkannya, turun sendiri ke liang lahat, menyelimuti dengan baju beliau dan berbaring sejenak disamping jenazahnya, beberapa sahabat bertanya keheranan, maka Nabi saaw menjawab:” Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia (Fatimah binti Asad).

Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah istri Nabi saaw, wafat dalam tahun yang sama, oleh karena itu tahun tersebut oleh Nabi saaw disebut Aamul Huzn dalam tahun dukacita. Jika Abu Thalib seorang kafir patutlah kematiannya disedihkan. Dan apakah patut Nabi bercinta mesrah dengan orang kafir, dengan berpandangan bahwa Abu Thalib kafir sama dengan menuduh Allah, menyerahkan pemeliharaan Nabi saaw, pada seorang kafir dan membiarkan berhubungan cinta-mencintai dan kasih-mengasihi yang teramat sangat padahal dalam Al-Quran disebutkan:”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka(QS;48,29). Dan diayat yang lain Allah berfirman: “Kamu tidak akan mendpati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akherat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang itu bapak-bapak, atu anak-anak saudara-saudara atupun keluarga mereka”.(QS;58,29)

Seandainya kami tidak khawatir anda menjadi jemu, maka akan kami sebutkan hadits yang lainnya, kini untuk memperkuat argumentasi di atas akan kami ketengahkan disini sya’ir-sya’ir Abu Thalin:

Saya benar-benar tahu bahwa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini.

Di sya’ir yang lain beliau berkata: “Adakah kalian tidak tahu, bahwa kami telah mengikuti diri

Muahmmadsebagai Rasul seperti Musa yang telah dijelaskan pada kitab-kitab”.

Simaklah sya’ir beliau ini, bahwa beliau juga beriman pad Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Musa a.s, dan ketika Rahib Buhairah berkata padanya beliau juga menimani akan kenabian Isa a.s , sungguh Abu Thalib adalah orang ilmuan yang ahli kitab-kitab sebelumnya.

Dalam sya’ir yang lain: “Dan sesungguhnya kasih sayang dari seluruh hamba datang kepadanya (Muhammad). Dan tiada kebaikan dengan kasih sayang lebih dari apa yang telah Allah SWT khususkan kepadanya”.

“Demi Tuhan rumah (Ka’bah) ini, tidak kami akan serahkan Ahmad (Muhammad)kepada bencana dari terkaman masa dan malapetaka”.

“Mereka (kaum Quraisy) mencemarkan namanya untuk melemahkannya. Maka pemilik Arsy (Allah) adalah dipuji (Mahmud) sedangkan dia terpuji (Muhammad)”.

“Demi Allah, mereka tidak akan sampai kepadamu dengan kekuatannya. Hingga Aku terbaring diatas tanah”. Maka sampaikanlah urusanmu secara terang-terangan apa yang telah diperintahkan tanpa mengindahkan mereka. Dan berilah kabar gembira sehingga menyenangkan dirimu. Dan engkau mengajakku dan aku tahu bahwa engkau adalah jujur dan benar. Engkau benar dan aku mempercayai. Aku tahu bahwa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini”. Dan sebilah pedang meminta siraman air hujan dengan wajahnya, terhadap pertolongan anak yatim sebagai pencegahan dari muslim paceklik. Kehancuran jadi tersembunyi dari bany Hasyim (marganya Nabi saaw), maka mereka disisinya (Muhammad) tetap dalam bahgia dan keutamaan.

“Sepanjang umur aku telah tuangkan rasa cinta kepada Ahmad.

Dan aku menyayanginya dengan kasih sayang tak terputus.

Mereka sudah tahu bahwa anak yatim tidak berbohong.

Dan tidak pula berkata dengan ucapan yang bathil.

Maka siapakah sepertinya diantara manusia hai orang yang berfikir.

Jika dibanding pemimpinpun dia lebih unggul.

Lemah lembut, bijaksana, cerdik lagi tidak gagabah, suka santun serta tiada pernah lalai.

Ahmad bagi kami merupakan pangkal, yang memendekkan derajat yang berlebihan.

Dengan sabar aku mengurusnya, melindungi serta menepiskan darinya semua gangguan”.

Kiranya cukup, apa yang kami ketengahkan dari sya’ir-sya’ir Abu Thalib yang membktikan bahwa beliau adalah seorang mukmin dan telah menolong dan membela Nabi saaw, maka beliau termasuk orang-orang yang beruntung.

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS; 7;15)

Sesungguhnya Abu Thalib adalah orang yang telah mempercayainya, memuliakannya serta menolongnya, sehingga ia menentang orang-orang Quraisy. Dan ini telah disepakati oleh seluruh sejarahawan. Sebauah hadits Nabi saaw menyebutkan :”Saya (Nabi saaw) dan pengawal yatim, kedudukannya disisi Allah SWT bagaikan jari tengah dengan jari telunjuk”. Siapakah sebaik-baik yatim? Dan siapakah sebaik-baik pengasuh yatim itu?, Bukankah Abu Thalib mengasuh Nabi saaw dari usia 8 tahun sampai 51 tahun.

Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan :

“Ketika Rasul saaw diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliauberucap :”Paman, engkau memlihara diriku sejak kecil, mengasuhkusebagai anak yatim dan membelaku disaat aku sudah besar. Karena aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu”. Beliau lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata : ”Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu paman”.

Dalam buku Siratun Nabi saaw yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutkan: Abu Thalibmeninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy disekitarnya dan mengusapkan dua kalimat syahadat yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeckh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahwa Abu Thalib mengusapkan kalimat Syahadat diriwayatkan oleh Abu Bakar, yang dikutib oleh pengarang tersebut dari buku Sarah Nahjul balaghah III hal.312, Syekh Abthah hal.71nAl-Ghadir VII hal.370 & 401, Al-A’Yan XXXIX hal.136.

Abu Dzar Al-Ghifari seorang sahabat Nabi saaw yang sangat dicintai Nabi saaw bersumpah menyatakan, bahwa wafatnya Abu Thalib sebagai seorang mukmin (Al-Ghadir Vii hal.397).

Diriwayatkan dari Imam Ali Ar-Ridha dari ayahnya Imam Musa Al-Kadzim, riwaya ini bersambung sampai pada Imam Ali bin Abi Thalib dan beliau mendengar dari Nabi saaw, bahwa : “Bila tak percaya akan Imannya Abu Thalib maka tempatnya di neraka”. (An-Nahjul III hal.311, Al-Hujjah hal.16, Al-Ghadir VII hal.381 & 396, Mu’janul Qubur hal.189, Al-A’Yan XXXIX hal.136, As-Shawa’iq dll). Abbas berkata ;” Imannya Abu Thalib seperti imannya Ashabul Kahfi”.

Boleh jadi sebagian para sahabat tidak mengetahui secara terang-terangan akan keimana Abu Thalib. Penyembunyian Iman Abu Thalib sebagai pemuka Bany Hasyim terhadap kafir Quraisy merupakan strategi, siasat dan taktik untuk menjaga dan membela Islam pada awal kebangkitannya yang masih sangat rawan itu sangat membantu tegaknya agama Allah SWT.

Penyembunyian Iman itu banyak dilakukan ummat sebelum Islam sebagaimana banyak kita jumpai dalam Al-Qur’an, seperti Ashabul Kahfi (pemuda penghuni gua), Asiah istri Fir’aun yang beriman pada Nabi Musa a.s dan melindungi, memlihara dan membela Nabi Musa a.s, juga seorang laki-laki dalam kaumnya Fir’aun yang beriman dan membela pada Nabi Musa, Lihat Al-Quran; 40:28 berbunyi :”Dan seorang laki-laki yang beriman diantara pengikut-pengikut (kaum) Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata:’Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki (Musa) karena dia menyatakan: “Tuhanku adalah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dosanya itu, dan jika dia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah SWT, tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.

Jadi menyembunyikan iman terhadap musuh-musuh Allah tidaklah dilarang dalam Islam. Ada suatu riwayat dizaman Rasulullah saaw, demikian ketika orang-orang kafir berhasil menangkap Bilal, Khabab, Salim. Shuhaib dan Ammar bin Yasar serta ibu bapaknya, mereka digilir disiksa dan dibunuh sampai giliran Ammar,melihat keadaan yang demikian Ammar berjihad untuk menuruti kemauan mereka dengan lisan dan dalam keadaan terpaksa. Lalu dibritahukan kepada Nabi saaw bahwa Ammar telah menjadi kafir, namun baginda Nabi saaw menjawab:” Sekali lagi tidak, Ammar dipenuhi oleh iman dari ujung rambutnya sampai keujung kaki, imannya telah menyatu dengan darah dagingnya”. Kemudian Ammar datang menghadap Rasulullah saaw sambil menangis, lalu Rsulullah saaw mengusap kedua matanya seraya berkata:”Jika mereka mengulangi perbuatannya, mak ulangi pula apa yang telah engkau ucapkan”. Kemudian turunlah ayat (QS; 16;106) sebagai pembenaran tindakan Ammar oleh Allah SWT berfirman:”Barang siapa yang kafir kepada Allah SWT sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah SWT menimpahnya dan baginya azab yang besar”.

Imam Muhammad bin Husein Mushalla AlHanafi (yang bermazhab Hanafi) ia menyebut dalam komentar terhadap kitab Syihabul Akhbar karya Muhammad ibn Salamah bahwa: “Barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumnya adalah kafir”. Sebagian ulama dari Mazhab Maliki berpandangan yang sama seperti Ali Al-Ajhuri danAt-Tulsamany, mereka ini berkata orang yang mencela Abu Thalib (mengkafirkan) sama dengan mencela Nabi saaw dan akan menyakiti beliau, maka jika demikian ia telah kafir, sedang orang kafir itu halal dibunuh. Begitu pula ulama besar Abu Thahir yang berpendapat bahwa barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumannya adalah kafir.

Kesimpulannya, bahwa siapapun yang coba-coba menyakiti Rasulullah saaw adalah kafir dan harus diperangi (dibunuh), jika tidak bertaubat. Sedang menurut mazhab Maliki harus dibunuh walau telah taubat. Imam Al-Barzanji dalam pembelaan terhadap Abu Thalib, bahwa sebagian besar dari para ulama, para sufiah dan para aulia’ yang telah mencapai tingkat ”Kasyaf”, seperti Al-Qurthubi, As-Subki, Asy-Sya’rani dll. Mereka sepakat bahwa Abu Thalib selamat dari siksa abadi, kata mereka :” Ini adalah keyakinan kami dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT kelak”.

Akhirnya mungkin masih ada kalangan yang tanya, bukankah sebagian besar orang masih menganggap Abu Thalib kafir, jawabnya :”Banyaknya yang beranggapan bukan jaminan suatu kebenaran”.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT) (QS;6:115).

Semoga kita dijadikan sebagian golongan yang mencintai dan mengasihi sepenuh jiwa ruh dan jasad kepada Nabi Muhammad saaw dan Ahlul Baitnya yang telah disucikan dari segala noda dan nista serta para sahabatnya yang berjihad bersamanya yang setia mengikutinya sampai akhir hayatnya.

Sesungguhnya taufiq dan hidayah hanyalah dari Allah SWT, kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami akan kembali

Awal muncul saling Kafir-pengkafiran terhadap sesama umat Islam , yaitu ketika pada jaman kekuasaan dinasti Mu’awayah bin Abi Sufyan r.a, berlanjut terus sampai terjadi pembantaian terhadap cucu Rasulullah saw. Pengkafiran terhadap keluarga Rasul Muhammad saw , terhadap umat Islam ( yang politiknya tidak sefaham ).

Ayahnya dikafirkan , anaknya juga dikafirkan, cucu dan keturunannya pun dibantai.

[ sampai ada Ulama bermulut Besar Sekte WAHABI menyatakan : bahwa seluruh keturunan Rasulullah saw sudah musnah ]

Walaupun kekuasaan dinasti Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a , sudah berahir, pengkafiran berlanjut terus walau tidak sederas pendahulunya .

Pada jaman itulah . Umat Islam digoyang oleh fitnah, dan tidak sedikit pembuat Hadits Palsu menyebar luaskan hasil karyanya , untuk melanggengkan kekuasaan atau meraih jabatan . Bersamaan dengan itu, maka didengungkanlah kasidah “ Wa maa jaraa bainas-shahabaati-naskutu “ ( kita diamkan apa yang terjadi di antara para sahabat-Nabi ).

Beberapa Sya’ir Abu Thalib,yang sempat di abadikan di dalam beberapa Kitab yang menunjukan pembelaan dan keimanannya terhadap Rasulullah saw.

Ibnu Abdil Hadid dalam ” Syarh Nahjil Balaghah “ banyak mengetengahkan Sya’ir-sya’ir klasik Pusaka Abu Thalib yang menunjukan dukungan, pembelaan dan keimanannya kepada Rasulullah saw .

Dalam ” Syarh Najhil Balaghah Jilid – XIV , halaman 71- ” Abu Thalib dengan Sya’irnya mengatakan :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Mereka (kaum musyrikin quraisy), berencana jahat terhadap kami, namun mereka tak akan dapat mencapainya tanpa melalui peperangan dan perlawanan.

Mereka ingin kami membiarkan Muhammad (saw) dibunuh dan kami tidak mengayun pedang kami berdarah….Tidak , demi Allah (swt), kalian membual.

Niat kalian tak akan tercapai sebelum banyak Tengkorak berserakan di Rukn Hathim dan di sekitar Zamzam…..sebelum putus semua tali kekerabatan…sebelum kekasih melupakan kesayangan…….dan sebelum larangan demi larangan tak diindahkan orang.

Itulah akibat dari kebencian, kedurhakaan dan dosa dari kesalahan kalian…..
Akibat kelaliman kalian terhadap seorang Nabi yang datang menunjukan jalan lurus dan membawa perintah Tuhan penguasa ‘Arsy.

Janganlah kalian menyangka kami akan menyerahkan Muhammad (saw). Orang seperti dia , dimanapun tak akan diserahkan oleh kaum kerabatnya..!!..

Pada halaman ,72 buku tersebut , Abu Thalib dengan Sya’irnya berkata menentang pemboikotan kaum Musyrikin Quraisy , sebagai berikut :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tidak kalian tahu bahwa kami memandang Muhammad (saw) seperti Nabi Musa (as), yang sudah disuratkan dalam kitab-kitab terdahulu..??..yang telah ditakdirkan menjadi kesayangan ummat Manusia..?? ..tidak diragukan lagi bahwa Allah (swt)menganugerahkan kasih sayang yang istimewa kepadanya.

Sadarlah, sadarlah sebelum banyak ilmu digali orang , hingga yang tidak bersalah senasib dengan yang bersalah..!!..janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang jahat serta memutuskan tali persaudaraan dan kekerabatan.

Janganlah kalian mengobarkan peperangan yang mengerikan, yang akibat nya dirasa lebih pahit oleh mereka yang menjadi korban..!!.

Demi Allah (swt) kami tidak akan menyerahkan Muhammad(saw ) untuk memuaskan orang-orang yang akan ditelan dan dilanda bencana.
Bukankah orang tua kami, Hasyim, mewasiatkan anak-anak keturunannya supaya gigih berperang..??..Kami tak akan jemu berperang sebelum peperangan menjemukan kami, dan kami pun tak akan mengeluh menghadapai malapetaka..!!..

Pada halaman betikutnya,( yakni halaman , 73 ). buku tersebut, Abu Thalib dengan Sya’irnya yang masih berkata tentang pemboikotan, sebagai berikut :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Janganlah kalian menuruti perintah jahat orang-orang kalap ..!!..Kalau Kalian berharap akan dapat membunuh Muhammad (saw)..!!.. Sungguh, harapan kalian itu tidak lebih dari hanya impian belaka.

Demi Allah(swt), kalian tak akan dapat mebinasakannya sebelum kalian menyaksikan kepala-kepala kami jatuh bergelimpangan.
Kalian menyangka kami akan menyerahkan Muhammad(saw)dan kalian mengira kami tak sanggup membelanya..!!..dialah manusia terpercaya yang dicintai oleh umat manusia dan dianugerahi cap kenabian olehTuhan yang maha Jaya.

Semua orang menyaksikan tanda-tanda kenabian dan kewibawaannya. Namun, orang pandir dikalangan kaumnya tentu tak sama dengan orang yang cerdik dan pandai. Ia seorang Nabi penerima wahyu dari Tuhannya. Akan menyesallah orang yang berkata ……….. “ TIDAK “..

Ketika Abu Thalib mendengar kegagalan Abu Jahal yang hendak menghantam kan batu besar ke kepala Rasulullah saw, dikala beliau sedang bersujud , ia berkata dalam Sya’irnya ( lihat – Syarh Nahjil Balaghah jilid XIV, halaman 74 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Sadarlah wahai Anak-anak pamanku,..!..Hentikanlah kesalahan sikap kalian . Hentikanlah tuduhan dan ucapan seperti itu..!..bila tidak , aku khawatir kalian akan ditimpa bencanaseperti yang dahulu menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud..!. Adakah diantara mereka yang masih tinggal ( selain kepunahan ).

Sebuah riwayat yang terkenal luas memberitakan bahwa ‘Abdullah bin Ma’mun memastikan keislaman Abu Thalib , karena ia berkata dalam Sya’irnya


Yang pokok maknanya sebagai berikut :

Kubela seorang Rasul utusan Maharaja , Penguasa segala Raja , dengan Pedang Putih berkilau laksana kilat (halilintar-pen…). Kulindungi dan kubela utusan Tuhan dengan perlindungan sepenuh kasih sayang.

Sya’ir berikut , ditujukan kepada Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib ra ( saudaranya ), Abu Talib , berkata : ( lihat Syarh Nahjil Balaghah XIV halaman , 76 ).

{({…….ADA TEKS YANG RUSAK/…….})}

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Hai …Abu Ya’la ( nama panggilan yang khas untuk Hamzah ). Tabahlah berpegang kepada Agama Muhammad (saw) , dan jadilah engkau pembela yang gigih. Kawallah orang yang datang membawa kebenaran dari Tuhannya dengan jujur dan sungguh-sungguh..!!..

Hai Hamzah janganlah sekali-kali engkau mengingkarinya..!!.Beapa senang hatiku mendengar engkau sudah beriman . Hendaklah engkau tetap membela utusan Allah (swt).

Hadapilah orang-orang Quraisy secara terang-terangan dengan keimananmu , dan katakanlah : Muhammad (saw) bukan tukang sihir..!!..

Abu Thalib dengan Sya’ir-sya’irnya mengakui kenabian Muhammad (saw), antara lain berkata : (lihat dalam Syarh Nahjil Balaghah,halaman,76 )

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Muhammad , engkau adalah seorang Nabi, dimana masa mudamu , engkau lebih dihormati dan dimulyakan oleh kaum kerabatmu.Bahagialah mereka yang menghormatimu dan bahagialah kelahiranmu di dunia.

Aku menjadi saksi bahwa apa yang engkau katakan adalah benar , tidak berlebih-lebihan , sejak usia kanak-kanak hingga kapanpun , engkau tetap berkata benar..!!..

Abu Thalib memberikan dorongan kepada Rasulullah saw, supaya menyampaikan Da’wah Risalahnya secara terang-terangan kepada semua orang. Mengenai hal itu, Abu Thalib berkata dengan Sya’irnya ( lihat Syarh Nahjil Balaghah , halaman , 77 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tangan-tangan jahat dan gangguan suara tak akan mampu menghalangi kebenaran tugasmu. Dalam menghadapi cobaan dan musibah tanganmu adalah tangankudan jiwamu adalah jiwaku.
Abu Thalib dalam memperlihatkan kepercayaannya kepada Rasulullah saw, dengan Sya’ir-sya’irnya , ia berkata kepada kaum Musyrikin, ( lihat Syarh Nahjil Balaghah , halaman , 79 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tidakkah kalian tahu bahwa anakku ini tidak didustakan dikalangan kaum kerabatku , karena ia tidakpernah mengatakan hal-hal yang bathil..??..

DEMI ALLAH (swt), aku merasa wajib menjaga dan mencintai Muhammad (saw)dengan sepenuh jiwaku , Ia harus kulindungi dan kubela dengan segenap kekuatanku.

Dunia ini akan senantiasa indah bagi mereka yang membela Muhammad (saw) , dan akan selalu buruk bagi mereka yang memusuhnya.
Tuhan penguasa Manusia akan tetap memperkuat serta menolongnya dan memenangkan kebenaran AgamaNya yang mengandung kebatilan apapun juga.

Pendapat Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan :

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, beliau adalah seorang Ulama terkemuka di MAKKAH, dalam penjelasannya mengenai keimanan Abu Thalib , yang sempat dituangkan dalam sebuah kitab Syarhnya , yang berjudul – Asnal Mathalib Fi Najati Abi Thalib , antara lain ia mengatakan sebagai berikut :

Abu Thalib secara Dzahir tidak mengikuti pimpinan Nabi Muhammad saw, karena ia menghawatirkan keselamatan putra saudaranya (yakni – Nabi Muhammad saw. ) Abu Thalib lah orang yang selama itu melindungi , menolong dan membela Nabi Muhammad saw.

Menurut kenyataan kaum Musyrikin Quraisy mengurangi gangguan mereka terhadap Rasulullah saw. Berkat pengawasan dan perlindungan yang diberikan oleh Abu Thalib.

Sebagai pemimpin Masyarakat Quraisy perintah Abu Thalib dipatuhi oleh Masyarakat Quraisy. Dan perlindungan yang diberikannya kepada Nabi Muhammad sw tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab mereka yakin bahwa Abu Thalib itu masih tetap satu kepercayaan dengan mereka , kalau saja mereka tahu telah memeluk Islam dan mengikuti Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, mereka tentu tidak akan lagi mengindahkan lagi perlindungan kepada keponakannya.yaitu Nabi Muhammad saw.

Mereka tentu akan terus menerus mengganggu dan memerangi beliau , bahkan Abu Thalib sendiri .Mereka akan melancarkan perlawanan yang dahsyat dari pada perlawanan yang mereka lancarkan terhadap Nabi Muhammad saw. Tidak diragukan lagi semuanya itu merupakan alasan yang kuat bagi Abu Thalib untuk tidak memperlihatkan secara terang-terangan sikapnya yang membenarkan dan mendukung kenabian Muhammad saw.

Kaum Musyrikin Quraisy, memandang Abu Thalib sama dengan mereka. Perlindungan , dukungan dan pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw dipandang hanya sebagai kewajiban Tradisional Masyarakat Arab Jahiliyah yang mengharuskan setiap kabilah melindungi dan membela anggautanya dari gangguan dan serangan fihak lain.

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, kemudian mengetengahkan wasiat Abu Thalib yang di ucapkannya beberapa saat sebelum wafat, yaitu :

“…Kuwasiatkan kepada kalian supaya bersikap baik-baik terhadap Muhammad (saw) . Ia tepercaya dikalangan Quraisy. Orang yang selalu berkata benar dikalangan Masyarakat Arab, dan pada dirinya tercakup semua yang kuwasiatkan kepada kalian , Ia datang membawa persoalan yang dapat diterima oleh hati Nurani , tetapi diingkari dengan lidah hanya karena takut orang menghadapi kebencian fihak lain….”

….”…Hay Orang-orang Quraisy, jadilah kalian Orang-orang yang setia kepadanyadan Orang-orang yang melindungi kaumnya Demi Allah (swt) siapa yang mengikuti jalannya ia pasti beroleh petunjuk, dan barang siapa mengikuti Hidayahnya, ia pasti beroleh kebahagiaan . Bila aku masih mempunyai kesempatan dan ajalku dapat ditangguhkan , ia pasti akan tetap kulindungi dari semua gangguan dan kuselamatkan dari mara bahaya ….”.

Wasiat Abu Thalib tersebut oleh Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dikaitkan dengan dengan beberapa bait Sya’ir yang pernah diucapkan oleh paman Rasulullah saw , itu sebagai berikut :

“ …Telah kuketahui Agama Muhammad (saw), Agama terbaik untuk Manusia..!!.. Tidakkah kalian tahu , kami mendapati Muhammad (saw)sebagai Nabi seperti Musa (as), dibenarkan oleh semua Kitab Suci…” ( Taurat – Injil )

Sayyid Ahmad Zaini bin Zaini Dahlan , berkomentar lebih dalam lagi :

“…Kami sependapat dengan para Ulama yang menfatwakan , bahwa meng kafir-kafirkan Abu Thalib adalah perbuatan yang menyinggung dan menyakiti Rasulullah saw .

Walaupun kami tidak berpendapat bahwa pernyataan seperti itu ( sudah dapat dijadikan dasar Hukum Syara’ untuk menetapkan kekufuran seseorang ,). namun kami berani mengatakan , mengkafir-kafirkan Abu Thalib tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, apabila dibandingkan dengan perjuangan Abu Thalib , yang telah andil dalam perjuangan melindungi , membantu dan membela Nabi Muhammad Rasulullah saw , dan Agama Islam, barangkali , perjuangan kita dalam membela dan berjuang untuk Agama Islam , belum mencapai seperseratusnya dari perjuangan Abu Thalib.

Dan alangkah mulyanya , apabila kita berpegang saja pada saran yang dikemukakan oleh : Syeikh Muhammad bin Salamah al-Qudha’iy-yaitu :

…. “ Dalam menyebut Abu Thalib, hendaknya Orang membatasi diri hanya pada soal-soal perlindungan , Pertolongan dan Pembelaanyang telah diberikan olehnya kepada Rasulullah saw, dengan berpegang pada kenyataan Sejarah yang Obyektif itu, ia akan selamat , tidak akan tergelincir ke dalam hal-hal  yang sukar dipertanggungjawabkan “.

Siratul Mushthafa Saw

Mudah-mudahan sumbangsih dari – H.M.H. AL-HAMID AL-HUSAINI , akan menambah pengenalan ummat Islam Indonesia kepada Nabi dan Junjungannya , Muhammad Rasulullah saw

Terakhir : Wamaa Taufiiqii illa billah , ‘alaihi tawakaltu wa ilaihi uniib .

رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

RENUNGAN

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

Islam manakah yang paling baik..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab

Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.

HR – Imam Bukhari

.

Agama Allah tegak berkat dukungan paman Nabi Saydina Abu Thalib r.a dan sokongan istri Nabi Khadijah a.s
.
Berkata Saydina Abu Thalib r.a : “Demi Allah barangsiapa yang mengikuti petunjuknya (Muhammad) ia akan mendapat kebahagiaan di masa datang. Dan kalian Bani Hasyim, masuklah kepada seruan Muhammad dan percayailah dia. Kalian akan berhasil dan diberi petunjuk yang benar. Sesungguhnya ia adalah penunjuk ke jalan yang benar.”
.

Dalam Syair nya, ia melantunkan :
Kami mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang Nabi sebagaimana Musa
la telah diramalkan pada kitab-kitab sebelumnya
Wajahnya yang memancarkan cahaya merupakan perantara tururmya hujan
la adalah mata air bagi para yatim piatu dan pelindung para janda.

Kita ketahui dalam sejarah, bagaimana orang kafir qurais menjadi risau dan takut karena pembelaan yang dilakukan oleh Sang penjaga Ka’bah ini kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah bisa leluasa mengajarkan agama Allah kepada pengikutnya ketika paman beliau r.a ini masih hidup.
“Abu Thalib…..Abu Thalib…..telah menjadi pembela Muhammad! Apa yang harus kita perbuat?” ujar kaum kafir Quraisy kepada Abu Sufyan”.
Dengan sinar mata yang penuh dengan ketulusan Muhammad menatap wajah bening Abu Thalib, sementara mata liar dan garang kaum kafir Quraisy ingin menerkamnya

.
Muhammad mendengar getaran suara sang paman, Abu Thalib, yang jelas gaungnya : “Teruskan misi sucimu! Demi Allah mereka tak akan pernah menyentuhmu, sehingga keningku berkalang tanah.” Suara itu pun melangit, menerobos seantero Makkah. Bagi dunia, mungkin Abu Thalib hanya seorang pribadi, namun bagi Muhammad, Abu Thalib bahkan lebih berarti dari dunia beserta isinya. Mengapa orang seperti Abu Sufyan, yang demikian getol memusuhi Nabi saw dan akhirnya memeluk Islam secara terpaksa, telah dicatat sejarah sebagai seorang Muslim sejati? Sementara Abu Thalib, paman Nabi, yang mengasuh, melindungi, dan membelanya dengan seluruh harta dan jiwa raganya, telah divonis sejarah sebagai seorang yang harus masuk neraka?

Mungkinkah orang yang berani mengorbankan nyawa demi ajaran dan kecintaannya kepada Muhammad kemudian menyuruh orang lain mengikuti ajaran Muhammad secara terang-terangan dikatakan tidak mengucapkan kalimat shahadat karena takut ? sungguh suatu yang tidak masuk akal sama sekali !!

Ternyata sejarah sering memanipulasi pribadi-pribadi tulus dan mulia hanya untuk kepentingan sebuah hirarki yang sedang berkuasa. Abu Thalib adalah korban manipulasi sejarah yang di goreskan oleh pena-pena jahil dan kotor, yang tintanya dibayar oleh para penguasa yang bertendensi buruk terhadap Islam

.

Riwayat-riwayat yang menyatakan Saidina Abu Thalib r.a mati dalam keadaan kafir perawihnya adalah Abu Hurairah yang disepakati Di sepakati oleh Para ahli tarikh bahwa Abu Hurairah masuk Islam. pada perang Khaibar, tahun ketujuh Hijri. semantara Saydina Abu Thalib meninggal satu atau dua tahun sebelum hijrah

.

Sementara ayat yang selalu dikaitkan dengan kekafiran Abu Thalib, yaitu Al-Tawbah 113 — melarang Nabi memohonkan ampunan bagi orang musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi Allah menegurnya, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai; sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya [al-Qashash 56], dapat dikatakan tadlis.
Surah ‘Al-Tawbah 113, menurut “para ahli tafsir, termasuk ayat yang terakhir turun di Madinah. Sementara itu, surah Al Qashash turun pada waktu perang Uhud. Sekali lagi kita ingatkan, Abu Thalib meninggal di Makkah sebelum Nabi berhijrah. jadi antara kematian Abu Thalib `dan turunnya kedua ayat itu ada jarak bertahun-tahun; begitu Pula ada jarak bertahun-tahun antara kedua ayat tersebut

.

Telaah yang mendalarn tentang sejarah Rasulullah saw. dan riwayat Abu Thalib akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa Abu Thalib itu Mukmin. Lalu, mengapa Abu Thalib menjadi kafir sedangkan Abu Sufyan menjadi Muslim, Abu Thalib: adalah ayah `Ali. dan. Abu Sufyan adalah ayah Mu`awiyah. Ketika Mu`awiyah berkuasa, dia berusaha mendiskreditkan ‘Ali dan keluarganya. Para ulama disewa untuk memberikan fatwa yang menyudutkan keluarga Ali -lawan politiknya, Bagi ulama, tidak ada senjata yang paling ampuh selain hadis. Maka lahirlah riwayat-riwayat yang mengkafirkan Abu Thalib

.

ABU THALIB SEORANG MUKMIN

KECINTAAN KEPADA KELUARGA NABI

Menyakiti Keluarga Nabi Sama Seperti Menyakiti Allah Dan Rasul-Nya

 Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya (mengutuknya) d idunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (Q.S. 33:57) ”.

 Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih (Q.S. 9:61)

Diriwayatkan dari al-Thabrani dan al-Baihaqi, bahawa anak perempuan Abu Lahab (saudara sepupu Nabi Saww ) yang bernama Subai’ah yang telah masuk Islam datang ke Madinah sebagai salah seorang Muhajirin, seseorang berkata kepadanya : “ Tidak cukup hijrahmu ke sini, sedangkan kamu anak perempuan kayu bakar neraka” (menunjuk surah al-Lahab). Maka dari ucapan itu, menyebabkan hatinya luka dan melaporkannya pada Rasulullah Saww. Selepas mendengar ucapan itu, Baginda Saww menjadi murka, kemudian beliau naik ke mimbar dan bersabda :

Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku (salasilahku) maupun sanak kerabatku. Barang siapa menyakiti nasabku serta sanak kerabatku, maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku, maka dia menyakiti Allah SWT.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahawasanya Rasulullah Saww bersabda :

 Barang siapa yang menyakiti sehujung rambut dariku maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku berarti dia telah menyakiti Allah SWT ”. Dengan demikian jelaslah bahawa siapa yang menyakiti Abu Thalib bererti menyakiti Rasulullah Saww beserta cucu-cucu beliau pada setiap masa. Rasulullah saw bersabda :” Janganlah kamu menyakiti orang yang masih hidup dengan mencela orang yang telah mati ”.

Pencinta Keluarga Nabi Adalah Mukmin

Sa’ad bin Manshur dalam kitab Sunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang Firman Allah SWT (Q.S; 42,23) :

“ Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta dari kamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (Ahlul Bait )”.

Dia berkata: yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah Saww.

Hadis ini disebutkan juga oleh al-Muhib al-Thabari dalam Dzkhair al-Uqbah ha.9, Dia mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Sirri, dikutib pula oleh al-Imam al-Hafid Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi dalam kitab Ihyaul Maiyit Bifadhailil Ahlil Bait hadis no 1 dan dalam kitab tafsir al-Dur al-Mantsur ketika menafsirkan ayat al-Mawaddah :42,43 )

Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya Juz 4 hal.210 hadis no.177 meriwayatkan:
Abbas, pakcik Nabi Saww masuk menemui Rasulullah Saww, lalu berkata: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami (Bani Hasyim) keluar dan melihat orang-orang Quraisy berbincang-bincang lalu jika mereka melihat kami mereka diam ”. Mendengar hal itu Rasulullah Saww marah dan menitiskan airmata kemudian bersabda : “ Demi Allah tiada masuk keimanan ke hati seseorang sehingga mereka mencintai kamu (keluarga nabi Saww) kerana Allah dan demi hubungan keluarga denganku ” (hadis serupa diriwayatkan pula oleh al-Turmudzi, al-Suyuthi, al-Muttaqi al-Hindi, al-Nasa’i, al-Hakim dan al-Tabrizi).

Membenci Mereka Adalah Munafik

Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda: “ Barang siapa yang membenci kami Ahlul Bait (Nabi dan keluarganya) maka ia adalah munafik. ”(at-Athabrani dalam Dzakair, Ahmad dalam al-Manaqib, al-Syuthi dalam al-Dur al-Mantsur dan dalam Ihyaul Mayyit).

al-Thabrani dalam kitab al-Awsath dari Ibnu Umar, dia berkata: Akhir ucapan Rasulullah Saww sebelum wafat adalah: “Perlakukan aku setelah sepeninggalanku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baitku.” (Ibnu Hajar dalam al-Shawaiq). al-Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari ‘Ali as bersabda : “ Syafa’at (pertolongan di akhirat kelak) ku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baitku. (Imam Jalaluddin al-Syuthi dalam Ihyaul Maiyit) .

al-Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda : “ Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang mengganguku dengan menggangu itrahku ”. (al-Suyuthi dalam Ihyaul Maiyit, dikutib juga oleh al-Manawi dalam Faidh al-Qadir, dan juga oleh Abu Nu’aim).

Siapa Yang Mengkafirkan Abu Thalib ra?

Sebenarnya pandangan tentang kafirnya Abu Thalib adalah hasil rekaan politik Bani Umaiyah di bawah program Abu Sufyan, seseorang yang memusuhi Nabi Saww sepanjang hidupnya, memeluk Islam kerana terpaksa dalam pembebasan Makkah, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Muawiyah, seorang yang diberi gelaran oleh Nabi Saww sebagai “ kelompok angkara murka ”, yang meracuni cucu Nabi Saww, Imam Hasan ibn ‘Ali a.s. Dalam kitab Wafiyat al-A’yan Ibnu Khalliqan menuturkan cerita Imam Nasa-i (penyusun kitab hadis sunna al-Nasa-i), bahawasanya sewaktu Nasa-i memasuki kota Damaskus, dia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Muawiyah, kata Nasa-i: “ Aku tidak menemukan keutamaan Muawiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya”. Selanjutnya dilanjutkan oleh Yazid anak Muawiyah si pembunuh Husein ibn ‘Ali as cucu Nabi Muhammad Saww di padang Karbala bersama 72 keluarga dan sahabatnya. Muawiyah yang sebagian Ulama Ahli Sunnah telah mengkategorikannya sebagai sahabat Nabi Saww, telah memerintahkan pelaknatan terhadap Imam ‘Ali bin Abi Thalib as di hampir tujuh puluh ribu mimbar umat Islam dan dilanjutkan oleh anak cucu-cucu Bani Umaiyah selama 90 tahun. Ia berlangsung sehinggalah sampai zaman Umar bin Abdul Azizi. Ibnu Abil Hadid menyebutkan Muawiyah membentuk sebuah lembaga yang bertugas mencetak hadis-hadis palsu dalam berbagai segi terutama yang menyangkut keluarga Nabi Saww, lembaga tersebut beranggotakan beberapa orang sahabat dan Tabi’in (sahabatnya sahabat) di antaranya “ Amr ibn al-Ash, Mughirah ibn Syu’bah dan Urwah ibn Zubair)

.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika paman beliau Abu Thalib yang disaat sakaratul mautnya diperintah oleh Sang Nabi saw untuk mengucap syahadatain dan Abu Thalib menolak. Karena apa? karena takut kalau ia mengucapkan, nanti orang orang kafir Quraisy makin menyiksa Nabi Saw.

Sebagai contoh Ibnu Abil Hadid menyebutkan hadis ciptaan tersebut :

“ Diriwayatkan oleh al-Zuhri bahawa : Urwah ibn Zubair menyampaikan sebuah hadis dari Aisyah. ia berkata : Ketika aku bersama Nabi Saww, maka datanglah Abbas (pakcik Nabi Saww) dan ‘Ali bin Abi Thalib dan Nabi Saww berkata padaku : “ Wahai Aisyah kedua orang itu akan mati tidak di atas dasar agamaku (kafir)”.

Inil adalah kebohongan besar tak mungkin Rasul Saww bersabda seperti itu yang benar Rasul Saww bersabda seperti yang termaktub dalam kitab : Ahlul Bait  wa Huququhum hal.123, di situ diterangkan: Dari Jami’ ibn Umar seorang wanita bertanya pada Aisyah tentang Imam ‘Ali as, lalu Aisyah menjawab : “ Anda bertanya kepadaku tentang seorang yang demi Allah SWT, aku sendiri belum pernah mengetahui ada orang yang paling dicintai Rasulullah Saww selain Ali, dan di bumi ini tidak ada wanita yang paling dicintai puteri Nabi Saww, iaitu ( Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s isteri Imam Ali a.s).

al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, al-Suyuthi dalam kitab al-Jami ash-Shaghir dan juga al-Thabrani dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saww bersabda : “ Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya, Maka barangsiapa ingin mendapat Ilmu, hendaknya dia mendatangi pintunya ”. Imam Ahmad bin Muhammad ash-Shadiq al-Maghribi berdasarkan hadis ini telah membuat kitab khusus yang diberi judul : “ Fathul Malik al’Aliy bishihati hadis Babul Madinatil Ilmi ‘Ali ” yang membuktikan ke shahihan hadis tersebut.

Jadi berbalik kita kepada kisah Abu Thalib ra. Benar, sekitar kurang lebih 9 hadis yang mengkafirkan Abu Thalib. Tetapi sebagai mana yg telah disampaikan jalur-jalur hadis tersebut penuh dengan keraguan ditambah dengan ruwat (perawi) hadis tersebut yang lemah dan tidak boleh diterima. Diantaranya:

1- Salah seorang perawi hadis dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah. Para sejarawan Islam sepakat mengatakan dia masuk Islam pada perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah. Jadi bagaimana dia boleh meriwayatkan hadis tersebut?

SIAPA ABU THALIB?

Nama aslinya adalah Abdul Manaf, sedangkan nama Abu Thalib adalah nama ‘kunyah’ (panggilan) yang berasal dari nama putera pertamanya iaitu Thalib. Abu  bererti ayah. Abu Thalib adalah pakcik dan ayah asuh Rasulullah Saww, dia mengasuh Nabi Saww dengan jiwa raganya. Ketika Nabi Saww berdakwah dan mendapat rintangan dan halangan, Abu Thaliblah yang membelanya dan dengan tegar berkata:

“ Kamu tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kamu menguburkanku ”.

Ketika Nabi Saww dan pengikutnya dipulaukan di sebuah lembah, Abu Thalib mendampingi Nabi Saww dengan setia. Ketika dia melihat ‘Ali solat di belakang Rasulullah Saww, iaitu ketika beliau mahu meninggal dunia, dia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi Saww dan membelanya dalam dakwahnya.

BUKTI ISLAM ABU THALIB

Untuk menolak nukilan sejarah di atas, beberapa nukilan sejarah penolakan akan disebutkan;

a. Beberapa pernyataan langsung dari mulut Abdul Muthalib dalam sumpah atau doanya yang menjelaskan bahwa ia beriman kepada Allah SWT. Di antaranya; pertama; Ketika tentara Abrahah telah memasuki kota Makkah, Abdul Muthalib naik kesebuah bukit lalu berdoa; “Ya Allah aku serahkan penjagaan rumah-Mu kepada-Mu” kedua; ketika rasul lahir, ia membawa cucunya ini tawaf dan ke dalam Ka’bah lalu berdo’a dan memanjatkan syukur, “Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberiku anak ini….” Juga saat masa kanak-kanak, ketika Rasulullah hilang, Abdul Muthalib sekali lagi tawaf di Ka’bah dan berdoa; “Ya Tuhanku, Kembalikan padaku Muhammad….”

b. Ya’kubi menulis: Abu Thalib senantiasa menjaukan diri dari menyembah berhala dan hidup dengan mengesakan Allah SWT dan orang-orang Quraisy menyebutnya dengan Ibrahim kedua[Tarikh Ya’kubi: 2/12]

c. Ibn Atsir menulis: Abu Thalib berdiam di gua Hira setiap bulan Ramadhan (untuk beribadah) dan memberikan makanan kepada orang miskin seluruh kota.[Tarikh Ibn Atsir: 2/15]

Riwayat-riwayat di atas sudah cukup untuk menolak anggapan bahwa Abdul Muthalib mati dalam kekafiran. Kecintaannya kepada Muhammad bukan hanya karena emosi seorang kakek kepada cucunya, tapi pengetahuannya atas kabar kenabian cucunya ini yang telah disebutkan dalam kitab-kitab langit dari dari nabi-nabi sebelum Muhammad, cucunya.

.        Kesaksian Dengan Ucapan

Selain beliau merupakan benteng dan tempat bernaung Rasulullah saww daripada segala ancaman musyrikin Mekah, beliau juga telah menerima dan melaksanakan amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi Saww dan dia telah melaksanakan amanat tersebut dengan baik. Nabi Saww adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Beliau mengetahui akan kenabian Muhammad Saww jauh sebelum Nabi Saww diutus oleh Allah SWT, sebagai Rasul di atas dunia ini. Dia menyebutkan hal tersebut ketika berpidato dalam pernikahan Nabi Saww dengan Sayyidah Khadijah sa. Abu Thalib berkata :

“ Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan kita semua sebahagian anak cucu Ibrahim dan Ismail, dan menjadikan kita semua berasal dari Bani Ma’ad dan Mudhar dan menjadikan kita orang yang bertanggungjawab menjaga rumah-Nya (ka’bah) sebagai tempat haji pemimpin-pemimpin manusia. Ketahuilah bahawa anak buah saya ini adalah Muhammad ibn Abdullah yang tidak boleh dibandingkan dengan lelaki-lelaki manapun kecuali pasti dia lebih tinggi kemuliaannya, keutamaan dan akalnya. Dia  (Muhammad), demi Allah, setelah ini akan mendatangkan dengan sesuatu khabar besar dan akan menghadapi tentangan yang serta tanah haram yang aman damai, dan menjadikan kita semua sebagai berat”.

Kata-kata beliau ini, jelas menunjukkan bahawa Abu Thalib adalah seorang pemyembah Allah, seorang yang beragama dengan agama datuknya Ibrahim dan Ismail a.s. bagi Abu Thalib tidak susah untuk mengenal siapa itu Muhammad ibn Abdullah kerana beliau telah melihat ciri-ciri kenabian itu terpancar dari cahaya wujud Rasulullah saww.

·         Mendengar Tanda kenabian Nabi Dari Seorang Rahib

Pada saat Abu Thalib bermusafir ke Syam, sedang di waktu itu Nabi Saww masih berusia 9 tahun dan bersama dengan Abu Thalib ketika itu. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani bernama Buhairah yang mengetahui tanda-tanda kenabian yang terdapat pada Nabi Saww dan memberitahukan pada Abu Thalib berita tersebut. Kemudian beliau menyuruhnya membawa Rasulullah Saww pulang kembali ke Mekah karena takut akan gangguan orang Yahudi. Lantas dari itu Abu Thalib membawa Nabi Saww pulang ke Mekah, kerana takut ancaman tersebut.

·         Menunjukkan Dengan Tindakan (Akhlak Mulia)

Dengan bukti ini juga menunjukkan Abu Thalib tahu bahawa  Muhammad adalah Rasulullah Saww. Maka itu penghormatannya kepada Rasulullah Saww amat tinggi berbanding yang lain. Sebagai contoh, jika Abu Thalib hendak makan bersama keluarganya, beliau selalu berkata: bersabarlah kamu menunggu hingga Muhammad datang, kemudian Nabi Saww datang serta makan bersama mereka hingga mereka menjadi kenyang. Dan di antara adab mulia Abu Thalib kepada Nabi Saww, bahawa dia tidak makan melainkan Muhammad Saww makan dahulu kemudian barulah dia makan dan kemudian ahli keluarganya yang lain. Abu Thalib berkata kepada Nabi Saww: “ Sesungguhnya Engkau adalah orang yang di berkati Tuhan ”.

Setiap kali Nabi akan tidur, Abu Thalib akan membentangkan selimutnya di mana sahaja Nabi Saww tidur. Beberapa saat setelah baginda Saww tertidur, dia akan membangunkan beliau Saww lagi dan kemudian memerintahkan sebagian anak-anaknya untuk tidur di tempat Rasulullah Saww , sementara untuk Rasulullah akan dibentangkan selimut di tempat yang lain agar Nabi Saww tidur di sana. Semua ini dilakukkan oleh Abu Thalib demi keselamatan Nabi Saww.

Ya Allah! mereka menyangka Engkau tidak memberi hidayah kepada orang yang telah mengorbankan segala sisa hidupnya dalam membela nabi-MU, seorang yang teramat tinggi cintanya kepada sang kekasih-MU.

Ya Allah! sungguh prasangkaku baik kepada-Mu, tak mungkin Engkau tidak memberi iman kepadanya. Ya Allah Yang Maha Pemurah! dan Engkau amat jauh dari prasangka buruk ini. Ya Allah! apakah mungkin umat Nabi-Mu akan menerima syafa’at daripadanya, sedang lidah-lidah mereka tiada kering dari mengkafirkan pakcik kesayangannya. Ya Allah! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Engkau akan menghukum siapa saja yang menyakiti Nabi-Mu dan keluarganya.

·         Hadis-hadis Iman Abu Thalib as

Kini tibalah saatnya untuk kami ketengahkan hadis-hadis tentang Mukminnya Abu Thalib, namun untuk menjaga keringkasan buku ini, kami hanya mengutip sebagian sahaja.

1- Dari Ibnu Adi yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik, dia berkata; “ Pada suatu saat Abu Thalib sakit dan Rasulullah Saww menjenguknya, maka dia berkata; “ Wahai anak sudaraku, berdoalah kamu kepada Allah agar Ia berkenan menyembuhkan sakitku ini ”, dan Rasulullah pun berdoa: Ya Allah, …sembuhkanlah pakcik hamba ”, maka seketika itu juga dia berdiri dan sembuh seakan dia lepas dari belenggu ”.

Apakah mungkin Rasulullah berdoa untuk orang yang kafir ?, apakah mungkin orang kafir memohon doa daripada Rasulullah Saww? Apakah mungkin orang yang menyaksikan mukjizat yang demikian lantas tidak mahu beriman?. Perkaranya kembali pada logika orang yang waras.

2- Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aqil bin Abu Thalib, diterangkan bahawa orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib: “ Sesungguhnya anak saudaramu ini telah menyakiti kami ”, maka Abu Thalib berkata kepada Nabi Muhammad Saww : “ Sesungguhnya mereka Bani pakcikmu, menuduh kamu menyakiti mereka ”. Nabi menjawab : “ Jika seandainya kamu (wahai kaum Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku untuk aku tinggalkan perkara ini, sehingga Allah menampakannya atau aku hancur kerananya, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sama sekali ”.

Dari itu kedua mata beliau mencucurkan air mata karena menangis, maka berkatalah Abu Thalib kepada Nabi Saww: “ Wahai anak saudaraku, katakalah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka selamanya ”. Dia juga berkata kepada orang-orang Quraisy, “ Demi Allah, sesungguhnya anak saudaraku tidak berdusta. ”

Kami bertanya, apakah kata-kata dan pembelaan demikian ini dapat dilakukan oleh orang kafir, yang agamanya sendiri dicela habis-habisan oleh Nabi Saww ? Kalau yang demikian ini dikatakan tidak beriman, lalu yang bagaimana yang beriman?

3-  Dari al-Khatib al-Baghdadi dari Imam Jaa’far ash-Shadiq yang sanadnya sampai pada Imam ‘Ali as berkata: aku mendengar Abu Thalib berkata, “ Telah bersabda kepadaku, dan dia (Muhammad) demi Allah adalah orang yang paling jujur, Abu Thalib berkata selanjutnya: “ Aku bertanya kepada Muhammad, Wahai Muhammad, dengan apa kamu diutus (Allah) ? ” baginda Saww menjawab: “ Dengan silaturrahmi, mendirikan solat, serta mengeluarkan zakat.”

al-Khatib al-Baghdadi adalah seorang ulama besar dan beliau menerima hadis yang diriwayatkan oleh Abi Thalib, jika Abu Thalib bukan mukmin maka tentu hadisnya tidak akan diterima, demikian juga Imam ‘Ali dan Imam ash-Shadiq dan lain-lain lagi. Penelitian akan isi kandung hadis ini menunjukkan Abu Thalib adalah seorang mukmin.

4- Dari al-Khitab, yang bersambung sanadnya, pada Abi Rafik maula ummu Hanik binti Abi Thalib bahawasannya dia mendengar Abu Thalib berkata: “Telah berbicara kepadaku Muhammad anak saudaraku, bahawanya Allah memerintahkannya agar menyambung tali silaturrahmi, menyembah Allah serta tidak boleh menyembah selain-Nya (tidak menyekutukan-Nya) ”. Kemudian Abu Thalib berkata: “ Dan Abu Thalib berkata pula: “ Aku mendengar anak saudaraku berkata: “ Bersyukurlah, tentu anda akan dilimpahi rezeki dan janganlah kufur, nescaya anda akan disiksa ”.

Apakah ada tanda-tanda beliau seorang kafir dalam hadis di atas?, wahai saudaraku, anda dianugerah akal dan kemampuan berfikir, gunakanlah ianya sebaik mungkin sebelum ianya ditarik balik semasa usia tuamu.  Dan pergunakanlah ia, jangan seperti domba yang digiring oleh gembala. Selama 14 Abad umat Muhammad telah ditipu oleh propaganda Bani Umaiyyah, sampai bila mereka mampu mengakhirinya.

5-  Dari Ibnu Sa’ad al-Khatib dan Ibnu Asakir dari Amru ibn Sa’id, bahawasanya Abu Thalib berkata : “ Suatu saat aku bersama anak saudaraku (Muhammad) di dalam perjalanan (safar), kemudian aku merasa dahaga dan aku beritahukan kepadanya serta ketika itu aku tidak melihat sesuatu bersamanya, Abu Thalib selanjutnya berkata, kemudian dia (Muhammad) membengkokkan pangkal pahanya dan menginjakkan tumitnya diatas bumi, maka pakcikku minumlah !”, maka aku minum”.

Ini adalah mukjizat Nabi Saww dan disaksikan oleh Abu Thalib, yang meminum air mukjizat, adakah orang kafir dapat meminum air al-Kautsar ?. Berkata a-Imam al-Arifbillah al-Alamah Assayyid Muhammad ibn Rasul al-Barzanji: “ Jika Abu Thalib tidak bertauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan memberikannya rezeki dengan air yang memancar untuk Nabi Saww yang air tersebut lebih utama dengan air al-Kautsar serta lebih mulia dari air zamzam.

6- Dari Ibnu Sa’id yang diriwayatkan dari Abdillah Ibn Shaghir al-Udzri bahawasanya Abu Thalib ketika menjelang ajalnya dia memanggil Bani Abdul Mutthalib seraya berkata: “ Tidak pernah akan putus-putusnya kamu dengan kebaikan yang kamu dengar dari Muhammad dan kamu mengikuti perintahnya, maka dari itu, ikutilah dia, serta bantulah dia tentu kamu akan mendapat petunjuk ”. Jauh sekali anggapan mereka, dia tahu bahawa sesungguhnya petunjuk itu di dalam mengikuti baginda Saww.

Dia menyuruh orang lain agar mengikutinya, apakah mungkin dia sendiri meninggalkannya?. Sekali lagi hanya akal yang waras yang boleh menentukannya.

7-  Dari al-Hafidz (penghafal hadis lebih dari 100, 000 hadis) Ibn Hajar dari ‘Ali Ibn Abi Thalib a.s bahawasanya ketika ‘Ali memeluk Islam, Abu Thalib berkata kepadanya: “ Tetaplah engkau bersama anak pakcikmu ! ”.

Pertanyaan apa yang mampu ditanyakan terhadap seorang ayah yang menyuruh anaknya memeluk Islam, sedangkan dia sendirian dikatakan bukan Islam, adakah hal itu masuk akal ?.

Dari al-Hafidz Ibn Hajar yang riwayatnya sampai pada Imran bin Husein, bahawasanya Abu Thalib : bersolatlah kamu bersama anak pakcikmu, maka dia Jaa’far melaksanakan solat bersama Nabi  Muhammad Saww, seperti juga dia melaksanakannya bersama ‘Ali bin Abu Thalib. Sekiranya Abu Thalib tak percaya akan agama Muhammad, tentu dia tidak akan rela kedua putranya solat bersama Nabi Muhammad Saww, sebab permusuhan yang timbul karena seorang penyair berkata: “ Tiap permusuhan bisa diharapkan berakhirnya, kecuali permusuhan dengan yang lain dalam masalah agama ”.

8- Dari al-Hafidz Abu Nu’aim yang meriwayatkan sampai kepada Ibnu Abbas, bahawasannya dia berkata : “ Abu Thalib adalah orang yang paling mencintai Nabi Saww, dengan kecintaan yang amat sangat (Hubban Syadidan) tidak pernah dia mencintai anak-anaknya melebihi kecintaannya kepada Nabi Saww. Oleh karena itu dia tidak tidur kecuali bersamanya (Rasulullah Saww).

9- Diriwayatkan dalam kitab Asna al-Matalib fi najati Abu Thalib oleh Assayid al-Alamah al-Arifbillah, Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan Mufti mazhab Syafi’i di Mekah pada zamannya: “ Sekarang orang-orang Quraisy dapat menyakitiku dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi selama Abu Thalib hidup ”. Tidaklah orang-orang Quraisy memperoleh sesuatu yang aku tidak senangi (menyakitiku) hingga Abu Thalib wafat ”. Dan setelah beliau melihat orang-orang Quraisy berlumba-lumba untuk menyakitinya, baginda Saww bersabda: “ Hai pakcikku, alangkah cepatnya apa yang aku peroleh setelah engkau wafat ”. Ketika Fatimah binti Asad (isteri Abi Thalib) wafat, Nabi Saww menyembahyangkannya, turun sendiri ke liang lahat, menyelimuti dengan baju beliau dan berbaring sejenak di samping jenazahnya, beberapa sahabat bertanya kehairanan, maka Nabi Saww menjawab: “ Tak seorang  pun sesudah Abu Thalib yang ku patuhi selain dia (Fatimah binti Asad).

Kewafatan Abu Thalib

Ibnu Sa’ad, Mengetengahkan dalam kitabnya yang berjudul “ At-Thabaqatul-Kubra “ bahwa Abu Thalib menjelang ahir hayatnya, memanggil semua orang Bani Abdul Muththalib, kaum kerabatnya yang terdekat. Kepada mereka ia dengan tegas menganjurkan: “ Kalian akan tetap baik, bila kalian mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Muhammad(saw) dan mengikuti agamanya, karena itu hendaklah kalian mengikuti dan membantunya, kalian pasti mendapatkan petunjuk yang benar. “
Pesan dari Abu Thalib itu ,banyak dikemukakan oleh para penulis sejarah Islam klasik, antara lain : Ibnul – Jauzi Al-Hambali dibukukan dalam “ Tadzkiratul-Khawash “,- An-Nasa’iy , dalam “ Al-Khasha’ish “ Al-Halabiy dalam “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ dan di buku Sejarah islam lainnya.

Kepada sementara orang yang mengatakan, bahwa ,“ Abu Thalib itu Kafir dan Musyrik, masuk Neraka.”
Kami ingin bertanya : “ Apakah Mungkin, atau …apakah dapat dibayangkan, seorang yang mempunyai prinsip pendirian , atau..seorang yang meyakini adanya kebenaran dalam satu agama, ia akan secara sukarela dan dengan sekuat tenaga membantu serta membela prinsip pendirian atau agama lain yang memusuhi agamanya sendiri…??.

Andai ada orang yang mengatakan: “ Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw, itu dilandasi oleh semangat kekerabatan, — “ Abu Lahab bin Abdul Muthalib pun paman Rasulullah saw,—lalu kenapa Abu Lahab tidak berbuat seperti halnya Abu Thalib, ( melindungi dan membela ). Malah dengan sengit, Abu Lahab memusuhi Rasulullah saw, dan kaum Muslimin..??. bahkan ketika Abu Lahab sudah mati pun masih banyak kerabat Rasulullah saw, yang masih antipati dan masih menyembah Berhala.

Sebagian ahli riwayat mengatakan, ketika Abu Thalib mendengar da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, ia menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti beliau. Kepada mereka ia berkata : “ Muhammad (saw) tidak mengajak kalian selain pada kebajikan “ Tidak hanya sampai disitu saja, Abu Thalib malah memberikan dorongan dan membangkitkankan semangat mereka supaya menempuh jalan yang dipilh oleh Rasulullah saw, Bagi keselamatan mereka.
Kalau sikap yang demikian itu disamakan dengan sikap orang Musyrik atau Kafir, bukankah Islam itu agama yang mengakui ke Esa an Allah swt dan kenabian Muhammad saw…??.

Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw. Dan dukungannya kepada Da’wah beliau dapat kita temukan dalam sya’ir-sya’irnya yang dikumandangkan dalam berbagai kesempatan.

Ba’it demi ba’it dalam sya’ir. Semuanya menunjukan, betapa gigihnya Abu Thalib menjadi pembela Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin, pertanyaan diatas kami sodorkan, karena kami yakin, melindungi dan membela Rasulullah saw , dari serangan musuh-musuhnya tidak dapat diartikan lain, kecuali melindungi dan membela Islam beserta kaum Muslimin. Sebaliknya, sekalipun orang mengaku ber agama Islam, jika ia memusuhi Rasulullah saw. Tidak dapat diartikan sebagai pembela Islam, julukan yang cocok adalah musuh Islam dan musuh kaum Muslimin.

Dapat kita bayangkan, seumpama ketika itu Abu Thalib memeluk Islam dengan cara seperti yang dilakukan oleh Hamzah bin abdul muththalib r.a., atau Ali bin Abu Thalib r.a., atau juga mungkin seperti Utsman bin ‘Affan r.a. – , tentunya ia tidak akan dapat memberikan perlindungan dan pembelaan kepada Rasulullah saw, beserta para Sahabatnya. Sebab, kaum Musyrikin Quraisy pasti akan memandang Abu Thalib sebagai orang yang harus dimusuhi dan dilawan.

Jika demikian, maka ia akan kehilangan wibawa dan pengaruh dihadapan tokoh Quraisy. Bila mereka tidak mengakui lagi kepemimpinannya, tentu ia tidak akan dapat menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasulullah saw. Dan tidak akan dapat lagi membentengi dakwah beliau sebagaimana yang telah dilakukannya selama ini, adalah benar.

Pada lahirnya , Abu Thalib tampak seagama ( keberhalaan ) dengan mereka, tetapi apa yang ada didalam batinnya, hanya Allah saja yang Maha Mengetahui

.
Tiap orang Mukmin tidak meragukan dan tidak dapat mengingkari kenyataan , bahwa Abu Thalib memainkan peranan besar dalam melindungi dan membela da’wah Islam, yakni peran melindungi dan membela kebenaran, untuk itu ia rela menghadapi tantangan dan kesulitan. Ia bersama beberapa orang dari Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib rela menerima syarat-syarat penghidupan yang serba kekurangan demi tegaknya kebenaran yang dibawakan oleh Muhammad Rasulullah saw.

Pertanyaan kedua : “ Setelah Abu Thalib menunjukan pengabdian dan jasa-jasanya dalam melindungi dan membela Da’wah Islam,…apakah ia wafat sebagai Kafir atau Musyrik, tanpa iman sedikitpun nyangkut dalam hatinya…??.
Ibnu Ishaq mengataka, ketika kaum musyrikin Quraisy mendengar berita tentang penyakit Abu thalib bertambah kritis, mereka berkata satu sama lainnya : Hamzah bin ‘Umar, sekarang telah memeluk Islam dan persoalan Muhammad (saw) ( da’wahnya ) , telah meluas diantara kabilah-kabilah Arab. Sebaiknya kita datang kepada Abu Thalib untuk memper oleh penyelesaian soal itu.

Setelah mereka menjumpai Abu Thalib , lalu berkata ; “ Sebagaimana anda ketahui, sekarang anda dalam kondisi yang sangat menghawatirkan. Anda sangat mengetahui apa yang selama ini terjadi, antara kami dan kemenakan anda ( yaitu Muhammad saw ) . Sebaiknya anda memanggilnya hadir untuk kami ajak saling menerima dan saling memberi ( berkompromi ), agar dia tidak lagi mengganggu kami, dan kamipun tidak akan lagi mengganggu dia, dia harus membiarkan kami berpegang pada kepercayaan kami, dan kami pun akan membiarkan dia berpegang pada agamanya. “

Atas permintaan mereka itu, Abu Thalib menyuruh orang memanggil Rasulullah saw. Dan setelah Rasulullah saw menemuinya, maka Abu Thalib berkata : “ Anakku, orang-orang terkemuka dari kaummu( Bani Quraisy ). bersepakat hendak mengajakmu saling menerima dan saling memberi. “ Rasulullah saw menjawab : “ Paman, kalau mereka mau memberi (menyatakan ) satu kalimat saja, mereka akan menguasai seluruh orang Arab, dan akan dipatuhi oleh orang-orang bukan Arab……..” belum lagi Rasulullah saw mengahiri kata-katanya, ‘Amr bin Hisyam ( Abu Jahal ) menukas : “ jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun akan kami berikan .!..” Rasulullah saw , melanjutkan : “ …Hendaklah kalian mengucapkan kalimat ‘ La ilaha ilallah ’ dan meninggalkan selama ini yang kalian sembah-sembah. “

Ucapan beliau, ditanggapi oleh mereka dengan cemoohan dan ejekan, kemudian mereka berujar :” hai, Muhammad(saw), apakah engkau hendak membuat tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu tuhan,.??. sungguh aneh..! “
Mereka lalu berkata satu sama lain: “ Dia (Muhammad saw ), tidak akan memberikan sesuatu yang kita ingini. Marilah kita bubar saja, dan kita tetap pertahankan keyakinan pada agama nenek moyang kita. Biarlah apa yang akan menjadi kenyataan nanti antara kita dan dia . “ Abu Thalib pun berkata pada Rasulullah saw : “ Anakku, demi Allah, aku berpendapat permintaanmu itu tidaklah berlebih-lebihan, “ Ucapan Abu Thalib , menimbulkan kesan pada fikiran beliau, bahwa pamandanya, bersedia mengucapkan Syahadat. Karenanya beliau lalu berkata : “ Paman, ucapkanlah kalimat itu ( syahadat ). Dengan kalimat itu , pada hari kiyamat kelak akan kumohonkan syafaat (pertolongan ) kepada Allah swt bagi paman.” Dengan suara yang terputus-putus, Abu Thalib berkata : ”Anakku, demi Allah, kalau bukan karena aku khawatir orang Quraisy akan mencemoohkan diriku dan aku takut pada saat menghadapi maut, tentu kalimat itu sudah kuucapkan. “ ( dalam hal ini , Jelas – Abu Thalib tidak menolak, tapi tidak mengucapkan syahadat. )

Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah isteri Nabi Saww wafat dalam tahun yang sama, oleh karena itu tahun tersebut Nabi Saww menyebutnya sebagai Aamul Huzn iaitu tahun dukacita. Jika Abu Thalib seorang kafir patutkah kematiannya disedihkan. Dan apakah patut Nabi berkasih mesra dengan orang kafir, dengan berpandangan bahawa Abu Thalib kafir sama dengan menuduh Allah menyerahkan pemeliharaan Nabi Saww, pada seorang kafir dan membiarkan berhubungan cinta-mencintai dan kasih-mengasihi yang teramat sangat padahal dalam al-Quran disebutkan: “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka(QS;48,29). Dan di ayat yang lain Allah berfirman: “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak saudara-saudara atupun keluarga mereka”.(QS;58,29)

Seandainya kami tidak khuatir anda menjadi jemu, maka akan kami sebutkan hadis yang lainnya, kini untuk memperkuat argumentasi di atas akan kami ketengahkan disini sya’ir-sya’ir Abu Thalib:

“ Saya benar-benar tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini. ”

Di sya’ir yang lain beliau berkata: “ Adakah kamu tidak tahu, bahawa kami telah mengikuti diri Muahmmad sebagai Rasul seperti Musa yang telah dijelaskan pada kitab-kitab ”.

Semaklah sya’ir beliau ini, bahawa beliau juga beriman pada Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Musa a.s, dan ketika Rahib Buhairah berkata padanya beliau juga mengimani akan kenabian Isa a.s , sungguh Abu Thalib adalah orang ilmuan yang ahli kitab-kitab sebelumnya.

Dalam sya’ir yang lain:

“ Dan sesungguhnya kasih sayang dari seluruh hamba datang kepadanya (Muhammad). Dan tiada kebaikan dengan kasih sayang lebih dari apa yang telah Allah SWT khususkan kepadanya. ”

“ Demi Tuhan rumah (Ka’bah) ini, tidak kami akan serahkan Ahmad (Muhammad) kepada bencana dari terkaman masa dan malapetaka. ”

“ Mereka (kaum Quraisy) mencemarkan namanya untuk melemahkannya. Maka pemilik Arsy (Allah) adalah dipuji (Mahmud) sedangkan dia terpuji (Muhammad). ”

“ Demi Allah, mereka tidak akan sampai kepadamu dengan kekuatannya. Hingga Aku terbaring di atas tanah. Maka sampaikanlah urusanmu secara terang-terangan apa yang telah diperintahkan tanpa mengindahkan mereka. Dan berilah kabar gembira sehingga menyenangkan dirimu. Dan engkau mengajakku dan aku tahu bahawa engkau adalah jujur dan benar. Engkau benar dan aku mempercayai. Aku tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini . Dan sebilah pedang meminta siraman air hujan dengan wajahnya, terhadap pertolongan anak yatim sebagai pencegahan dari muslim yg berpura-pura. Kehancuran jadi tersembunyi dari Bani Hasyim (keluargaya Nabi Saww), maka mereka disisinya (Muhammad) tetap dalam bahagia dan berada dalam keutamaan. ”

“ Sepanjang umur aku telah tuangkan rasa cinta kepada Ahmad.

Dan aku menyayanginya dengan kasih sayang tak terputus.

Mereka sudah tahu bahawa anak yatim tidak berbohong.

Dan tidak pula berkata dengan ucapan yang bathil.

Maka siapakah sepertinya di antara manusia hai orang yang berfikir.

Jika dibanding pemimpinpun dia lebih unggul.

Lemah lembut, bijaksana, cerdik lagi tidak gelabah, santun serta tidak pernah lalai.

Ahmad bagi kami merupakan pangkal, yang memendekkan derajat yang berlebihan.

Dengan sabar aku mengurusnya, melindungi serta menepiskan darinya semua gangguan. ”

Kiranya cukup, apa yang kami ketengahkan dari sya’ir-sya’ir Abu Thalib yang membuktikan bahawa beliau adalah seorang Mukmin dan telah menolong dan membela Nabi Saww, maka beliau termasuk orang-orang yang beruntung.

“ Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS; 7;15)

Sesungguhnya Abu Thalib adalah orang yang telah mempercayainya, memuliakannya serta menolongnya, sehingga dia menentang orang-orang Quraisy. Dan ini telah disepakati oleh seluruh sejarawan. Sebuah hadis Nabi Saww menyebutkan : “ Saya (Nabi Saww) dan pengawal yatim, kedudukannya disisi Allah SWT bagaikan jari tengah dengan jari telunjuk ”. Siapakah sebaik-baik yatim? Dan siapakah sebaik-baik pengasuh yatim itu?, Bukankah Abu Thalib mengasuh Nabi Saww dari usia 8 tahun sampai 51 tahun.

Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan :

“ Ketika Rasul SAW diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliau berucap : “ Pakcik, engkau memelihara diriku sejak kecil, mengasuhku sebagai anak yatim dan memjagaku di saat aku sudah besar. Kerana aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu ”. Baginda lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata :      “ Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu pakcik. ”

Dalam buku Siratun Nabi Saww yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutkan: Abu Thalib meninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy di sekitarnya dan mengucapkan dua kalimat syahadah yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeikh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahawa Abu Thalib mengucapkan kalimat Syahadah diriwayatkan oleh Abu Bakar, yang dikutib oleh pengarang tersebut dari buku Sarah Nahjul balaghah III hal.312, Syekh Abthah hal.71nAl-Ghadir VII hal.370 & 401, Al-A’Yan XXXIX hal.136.

Abu Dzar al-Ghifari seorang sahabat Nabi Saww yang sangat dicintai Nabi Saww bersumpah menyatakan, bahawa wafatnya Abu Thalib sebagai seorang mukmin (al-Ghadir Vii hal.397).

Diriwayatkan dari Imam Ali ar-Ridha dari ayahnya Imam Musa al-Kadzim, riwayat ini bersambung sampai pada Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan beliau mendengar dari Nabi Saww, bahawa : “ Bila tak percaya akan Imannya Abu Thalib maka tempatnya di neraka ”. (An-Nahjul III hal.311, Al-Hujjah hal.16, Al-Ghadir VII hal.381 & 396, Mu’janul Qubur hal.189, Al-A’Yan XXXIX hal.136, As-Shawa’iq dll). Abbas berkata ; “ Imannya Abu Thalib seperti imannya Ashabul Kahfi. ”

Boleh jadi sebagian para sahabat tidak mengetahui secara terang-terangan akan keimanan Abu Thalib. Penyembunyian Iman Abu Thalib sebagai pemuka Bani Hasyim terhadap kafir Quraisy merupakan strategi, siasah dan taktik untuk menjaga dan membela Islam pada awal kebangkitannya yang masih sangat rawan itu sangat membantu tegaknya agama Allah SWT.

Penyembunyian Iman itu Banyak dilakukan ummat sebelum Islam sebagaimana banyak kita jumpa dalam al-Quran, seperti Ashabul Kahfi (pemuda penghuni gua), Asiah istri Fir’aun yang beriman pada Nabi Musa a.s dan melindungi, memelihara dan membela Nabi Musa a.s, juga seorang laki-laki dalam kaumnya Fir’aun yang beriman dan membela pada Nabi Musa a.s.

Lihat Al-Quran; 40:28 berbunyi : “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut (kaum) Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki (Musa) kerana dia menyatakan” : “ Tuhanku adalah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung dosanya itu, dan jika dia seorang yang benar nescaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah SWT, tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta . ”

Jadi menyembunyikan iman terhadap musuh-musuh Allah tidaklah dilarang dalam Islam. Ada suatu riwayat di zaman Rasulullah Saww, demikian ketika orang-orang kafir berhasil menangkap Bilal, Khabab, Salim. Shuhaib dan Ammar bin Yasir serta ibu bapanya, mereka digilir disiksa dan dibunuh sampai giliran Ammar, melihat keadaan yang demikian Ammar berjihad untuk menuruti kemahuan mereka dengan lisan dan dalam keadaan terpaksa. Lalu diberitahukan kepada Nabi Saww bahawa Ammar telah menjadi kafir, namun baginda Nabi Saww menjawab: “ Sekali lagi tidak, Ammar dipenuhi oleh iman dari ujung rambutnya sampai keujung kaki, imannya telah menyatu dengan darah dagingnya ”. Kemudian Ammar datang menghadap Rasulullah Saww sambil menangis, lalu Rasulullah Saww mengusap kedua matanya seraya berkata: “ Jika mereka mengulangi perbuatannya, maka ulangi pula apa yang telah engkau ucapkan. ” Kemudian turunlah ayat (QS; 16;106) sebagai membenarkan tindakan Ammar oleh Allah SWT dengan berfirman: “ Barang siapa yang kafir kepada Allah SWT sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah SWT menimpahnya dan baginya azab yang besar. ”

Imam Muhammad bin Husein Mushalla al-Hanafi (yang bermazhab Hanafi) dia menyebut  dalam komentar terhadap kitab Syihabul Akhbar karya Muhammad ibn Salamah bahawa:       “ Barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumnya adalah kafir ”. Sebagian ulama dari Mazhab Maliki berpandangan yang sama seperti Ali al-Ajhuri dan at-Tulsamany, mereka ini berkata orang yang mencela Abu Thalib (mengkafirkan) sama dengan mencela Nabi Saww dan akan menyakiti beliau, maka jika demikian dia telah kafir, sedang orang kafir itu halal dibunuh. Begitu pula ulama besar Abu Thahir yang berpendapat bahawa barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumannya adalah kafir.

Kesimpulannya, bahawa siapapun yang cuba-cuba menyakiti Rasulullah Saww adalah kafir dan harus diperangi (dibunuh), jika tidak bertaubat. Sedang menurut mazhab Maliki harus dibunuh walau telah taubat. Imam al-Barzanji dalam pembelaan terhadap Abu Thalib, bahawa sebagian besar dari para ulama, para sufiah dan para aulia’ yang telah mencapai tingkat ‘Kasyaf’, seperti al-Qurthubi, as-Subki, asy-Sya’rani dan lain-lain. Mereka sepakat bahawa Abu Thalib selamat dari siksa abadi, kata mereka : “ Ini adalah keyakinan kami dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT kelak. ”

Akhirnya mungkin masih ada kalangan yang tanya, bukankah sebagian besar orang masih menganggap Abu Thalib kafir, jawabnya : “Banyaknya yang beranggapan bukan jaminan suatu kebenaran. ”

“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT) (QS;6:115).

Semoga kita dijadikan sebagian golongan yang mencintai dan mengasihi sepenuh jiwa ruh dan jasad kepada Nabi Muhammad Saww dan Ahlul Baitnya yang telah disucikan dari segala noda dan nista serta para sahabatnya yang berjihad bersamanya yang setia mengikutinya sampai akhir hayatnya.

Sesungguhnya taufiq dan hidayah hanyalah dari Allah SWT, kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami akan kembali.

Sebagai contoh, Ibnu Katsir merujuk pada firman allah swt dalam Surah Al-Qur’an : Al-Baqarah, 146- yang maknanya : “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah kami beri Al-Kitab ( Taurat dan Injil), mengenai Muhammad (saw)seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. “ akan tetapi mereka tidak berbuat sesuai dengan pengenalan atau pengertian mereka. Jadi mereka itu benar-benar mengerti, bahwa Muhammad Saw, itu seorang Nabi, tetapi mereka mengingkarinya, demikian menurut Ibnu Katsir.

Kami berpendapat, menyamakan pengertian kaum Yahudi mengenai kenabian Muhammad saw. dengan pengertian Abu Thalib mengenai beliau…samasekali tidak pada tempatnya. Jauh sekali antara pengertian Abu Thalib mengenai Allah swt dan da’wah Rasul-Nya dari pengertian kaum Yahudi mengenai hal itu. Pengertian Abu Thalib disertai dengan, sikap membenarkan, mendukung, membela, dan melindungi agama Islam .

Sikap seperti itu mustahil tanpa disertai keyakinan dan kepercayaan ; sedang keyakinan dan kepercayaan mengenai hal tesebut, bukan lain adalah karena adanya iman ,Kalau dalam hal itu masih terdapat kekurangan pada Abu Thalib, kekurangan itu adalah karena ia tidak mengucapkan Syahadat dengan lisannya ( tidak disaksikan oleh manusia ). Atas dasar semuanya ini kami dapat mengatakan, Abu Thalib, sama sekali bukan orang Kafir atau orang Musyrik, tapi seorang muslim yang menyembunyi kan keimanannya.

Alasan yang kami kemukakan sebagai berikut : — 1/. Abu Thalib menolak dan tidak membenarkan pernyataan serta sikap kaum musyrikin Quraisy mengenai kenabian Muhammad saw,… Bahkan ia mendukung , membenarkan , membela dan melindungi da’wah tauhid yang diperintahkan Allah swt kepada Rasulullah saw. – 2/. Abu Thalib membela prinsip Tauhid dan para penganutnya , sehingga ia harus menghadapi tentangan dan tantangan sepeti yang dihadapi oleh setiap orang beriman. – 3/. Abu Thalib dengan keras menyatakan , bahwa Muhammad saw. Tidak berdusta dan semua yang dikatakan oleh Muhammad saw adalah benar.

Kalau ada fihak yang bimbang , ragu memasukan Abu Thalib kedalam golongan kaum Mu’minin atau Muslimin, kami juga tidak akan ragu mengeluarkan Abu Thalib dari golongan kaum Kafir dan kaum Musyrik .

Kalau benar riwayat yang memberitakan Abu Thalib pada detik-detik terahir hayatnya mengucapkan kalimat ; “ Pada agama ‘Abdul Muththalib “ , kalimat yang diucapkan itu tidak akan menghapus jasa-jasa serta pengabdiannya dalam membela dan melindungi Muhammad Rasulullah saw. .. yang berarti pula, membela dan melindungi da’wah agama Islam. Ucapan itupun tidak akan menghapus pernyataan-pernyataannya yang tegas, da’wah Rasulullah saw, itu benar dan tidak dusta.

Ibnu Katsir tidak menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya mengenai Abu Thalib. Ibnu Katsir dengan tegas mengatakan : “ Abu Thalib menghalangi dan mencegah gangguan yang tertuju kapada Rasulullah saw, dan para sahabatannya dengan segala kesanggupan yang ada pada dirinya : dengan kata-kata, dengan jiwa-raga juga dengan harta benda. Namun Allah swt belum berkenan mentakdirkannya sebagai orang yang beriman seperti yang lain-lain. Dalam hal ini pasti tersirat hikmah besar dan hujjah yang wajib kita yakini dan kita terima. Seumpama Allah swt, tidak melarang memohonkan ampunan dan karunia rahmat bagi Abu Thalib, “ —-Demikian , Ibnu Katsir menulis dalam “ Al-Bidayah wan-Nihayah “, Jilid dua halaman 131 ; yaitu suatu pernyataan yang mengandung dua arus yang berlawanan. Disatu fihak ia mengakui jasa-jasa pengabdian Abu Thalib dalam membela dan melindungi Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin. Tetapi dilain fihak, ia dengan kalimat terpulas mengatakan…. Abu Thalib, dia seorang Musyrik . !.??..

Dari penelitian kita dalam persoalan Abu Thalib yang kontroversial itu, kami dapat menyimpulkan : Abu Thalib bukan musyrik dan bukan kafir. Sebab , tiap orang Musyrik pasti memuja-muja berhala dan sesembahannya yang lain, atau…menyekutukannya dengan Allah saw. Karena itulah kami berpendapat, Abu Thalib bukan orang Musyrik dan juga bukan orang Kafir. Hanya Allah swt sajalah yang mengetahui semua yang tersimpan didalam dadanya da semua yang tersembunyi dikedalaman jiwanya.

Beberapa Dalil tentang keimanan Abu Thalib dan tanggapan para Ulama dan Ahli Riwayat.

Persoalan Abu Thalib sengaja kami kuak selebar mungkin , untuk melihat lebih kedalam lagi dalam rangka mengatasi suara sumbang dari fihak yang sampai sekarang MENGKAFIR – KAFIRKAN pamanda Rasulullah Muhammad saw.

Abu Thalib– seorang yang sudah berjasa besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Mereka mengetengahkan beberapa buah Hadits mengenai persoalan Abu Thalib – terlepas apakah Hadits –hadits yang mereka kemukakan itu , Hadits Shahih atau Hadits Maudlu ‘ – tetapi mereka tidak mengetengahkan semua Hadits yang berkaitan dengan ABU Thalib. Disini , kami akan mengetengahkan beberapa Hadits yang lain dan beberapa riwayat pendukung , tanggapan dari para Ulama , mengenai persoalan Abu Thalib , yang menunjukan pada ke Imanan paman Rasulullah saw.

Ibnu Sa’ad , dalam –Thabaqat – Kubra , Jilid, I halaman , 105. Mengetengahkan sebuahHadits berasal dari ‘Ubaidillah bin Rafi’ yang menerimanya langsung dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu . Imam ‘Ali r.a. berkata: “ Wafatnya Abu Thalib kuberitahukan kepada Rasulullah saw. Beliau menangis , kemudian berkata : “ Pergilah engkau dan mandikanlah dia, lalu kafankan dan kemudian kebumikan. Allah mengampuni dia dan merahmatinya, “.

Dari Hadits tersebut dapat ditarik kesimpulan : Kalau Abu Thalib seorang Musyrik seperti Musyrikin Quraisy , mungkinkah Rasulullah saw. Mengucapkan kalimat : – Allah mengampuni dan merahmatinya – sedangkan Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an : Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik , dan mengampuni dosa selain itu, bagi siapa saja yang dikehendakinya, “ ( An-Nisa – 48 ).

Mungkin ada yang mengomentari :… Ya.. tetapi Rasulullah saw, tidak turut mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur dan tidak di Shalatkan jenazahnya. — Pertanyaan tersebut sudah dapat jawabannya dari para Ulama, diantaranya adalah : Ibnul- ‘Asakir , sebagaimana tercantum di dalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ , halaman, 21—Al-Baihaqiy , didalam kitab : “ Dala’ilun-Nubuwwah “ —Ibnul-Jauziy didalam kitab : “ At-Tadzkirah “ , halaman, 6.—Ibnu Abil Hadid didalam kitab : “ Syarh Nahjil-Balaghah “ ,Jilid 3. Halaman 314.—Al-Halabiy didalam “ Sirah “ nya , jilid I halaman, 373. Sayyid Ahmad bin Zaini didalam “ Syarh-Nya “ mengenai kitab : “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ , Jilid I , halaman, 90.— Al-Barzanjiy, didalam kitabnya : “ Najatu Abi Thalib “ , sebagaimana termaktub didalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ ,halaman, 35.–Demikian juga , dalam kitab: Abu Dawud , Ibnul Jarud , Ibnu Khuzaimah , yang semuanya menjelaskan ;

Bahwa Rasulullah saw : tidak turut serta mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur, semata-mata untuk menghindari gangguan dan serangan dari kaum Musyrikin Quraisy. Bahwa Rasulullah saw : juga , tidak melakukan Shalat jenazah bagi Abu Thalib… jelas , karena waktu itu Shalat Jenazah belum di Syari’atkan.

Semua ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam , sepakat bahwa tahun wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah r.a, sebagai “ Tahun Duka-cita “ , atau: “ Amul – Huzn “. Bahkan sementara riwayat mengatakan, penamaan itu diberikan oleh Rasulullah saw , sendiri.
(Menurut Al-Aslamiy dan lain-lainnya, menerangkan: “ Abu Thalib wafat dalam bulan Syawwal tahun ke , 10 . setelah bi’tsah : sedangkan Sitti Khadijah r.a, wafat , 1 bulan + 5 hari, setelah wafatnya Abu Thalib.)

Betapa parahnya hati Rasulullah saw, ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan kemudian menyusul Sitti Khadijah r.a. Dua orang kecintaan dan kesayangan beliau , dua orang itulah yang membenarkan , mendukung , membantu , melindungi dan membela Rasulullah saw, dalam melaksanakan tugas risalahnya : sebelum ada orang lain mau berbuat seperti mereka berdua. Semua para ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam mengakui kenyataan itu, tak ada seorangpun yang mengingkarinya.

Apabila Abu Thalib itu seorang Musyrik dan Kafir , mungkinkah Rasulullah saw , sedih dan berduka-cita ditinggal wafat olehnya,..??.apabila ada orang yang mengatakan : “ Beliau sedih karena Abu Thalib itu pamandanya,” , lalu , kenapa Rasulullah saw , tidak berduka-cita dan tidak bersedih , ketika ditinggal mati oleh Abu Lahab , yang juga paman beliau sendiri..??. ( pada saat itu, Surah Al-Lahab , belum turun ) .

Mengenai musibah yang menyedihkan Rasulullah saw, dan mengenai “ Amul –Huzn “ , kita dapat membacanya pada kitab : Thabaqat – Qubra ( Ibnu Sa’ad ) Jilid I halaman 106. / kitab : Al – Imta ( Al – Muqriziy ) halaman 27. / kitab : Tarikh Ibnu Katsir ( Ibnu Katsir ) jilid III halaman 134, / kitab : Sirah Al-Halabiyyah , jilid I halaman 373. / kitab : Sirah – Nabawiyyah ( Sayyid Zaini Dahlan ) jilid I halaman 291, dan kitab : Asnal – Mathalib ( Ibnul – ‘Asakir ) halaman 11.

Ishaq bin ‘Abdullah bin Al-Harits mengetengahkan sebuah berita Hadits , yang mengatakan : Al-‘Abbas ,paman Rasulullah saw , pernah mengatakan : “ Ya Rasulullah(saw) , apa yang kau harap bagi Abu Thalib ..??.” , Rasulullah saw menjawab : “ Baginya aku mengharapkan semua yang baik dari Allah , Tuhanku “.
Berita Hadits tersebut diketengahkan oleh Ibnu Sa’ad di dalam kitab : Thabaqat – Qubra , jilid I -halaman 106. Dengan isnad Shahih dan para perawinya terdiri dari orang-orang yang dapat dipercaya ( tsiqah ) , seperti : ‘Affan bin Muslim, Hammad bin Salmah dan Tsabit Al-Bannaniy. Hadits di atas juga di tulis dan di abadikan oleh : Ibnu Katsir juga mengabadikan Hadits tersebut, didalam kitab : Al – Khasha’ishul — Kubra , jilid III, halaman 87.

Seorang Ulama Fiqh Madzhab Hanafiy ; Syeikh Ibrahim Ad-Danuriy, dalam kitab : Nihayatut – Thalab. Ibnu Thawus , dalam kitab : At – Thara’if , halaman 68. Ibnu Abdil Hadid, dalam kitab : Syarh Nahjil – Balaghah , jilid III – halaman 311. As- Sayuthiy , dalam kitab : At – Ta’dzim Wal – Minnah , halaman 8.

Tidak sedikit, kelompok yang menyatakan , bahwa Abu Thalib itu Musyrik dan Kafir, tapi..juga banyak para Ulama dan para penulis Sejarah Islam yang menyatakan keimanan pamanda Rasulullah saw itu.
Seorang Ulama besar berMadzhab Hanafi , yang bernama : Ahmad bin Al-Husain Al-Maushiliy , dalam uraiannya ( syarhnya ) mengenai kitab “ Syihabul – Akbar “ yang ditulis oleh : Al-‘ Allamah Muhammad bin Salmah Al-Qudha’iy ( wafat – 454 H ), dengan tegas mengatakan : “ Membenci Abu Thalib adalah Kufur “ .

Demikian juga Ulama besar dari Madzhab Malikiy, yang bernama : Al-‘Allamah ‘Ali Al-Ajhuriy. Dalam fatwanya mengenai Abu Thalib, ia menandaskan : “ membenci Abu Thalib berarti Kufur “ . Mereka mengatakan demikian, karena mereka yakin benar bahwa Abu Thalib seorang mu’min pertama yang melindungi dan membela Rasulullah saw.

Meskipun penilaian kami terhadap sikap yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib itu tidak sejauh penilaian kedua Ulama besar madzhab Hanafiy dan Madzhab Malikiy, namun kami dapat memahami mengapa mereka berfatwa sekeras itu. Siapakah yang tidak tertusuk perasaannya mendengar suara mengkafir-kafirkan orang yang mengasuh dan membesarkan Muhammad Rasulllah saw, sejak dari usia 8 th hingga dewasa: kemudian membenarkan , membantu , melindung , membela beliau dalam melaksanakan tugas Risalahnya..??.

Betapa hancurnya hati Rasulullah saw , jika semasa hidupnya mendengar suara sumbang seperti itu tertuju kepada pamandanya. Dikala beliau masih hidup ditengah umatnya tidak seorangpun yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib, atau menuduhnya sebagai Musyrik. Kaum Musyrikin Quraisy yang kemudian memeluk Islam semuanya mengetahui dengan mata kepala sendiri bahwa Abu Thalib adalah orang pertama yang membenarkan, mendukung, membela dan melindungi Rasulullah saw, setelah wafatnya isteri beliau sendiri Sitti Khadijah r.a. Ketika Rasul Muhammad saw , dan kaum muslimin sudah punya posisi yang cukup kuat, Pembela , pelindung , dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan Rasulullah saw , diambil alih oleh para sahabat , mereka bekerja sama saling bahu membahu , apabila ada yang berani menghina Islam atau Rasulullah saw, resikonya mereka harus berhadapan dengan pedang

SYA’IR-SYA’IR DALAM MEMUJI KELUARGA RASULULLAH SAWW

Dalam salah satu sya’ir Imam Syafi’i, beliau berkata :

“Wahai Keluarga Rasulullah

Kecintaan kepadamu

Allah wajibkan atas kami

Dalam Al-Quran yang diturunkan

Cukuplah tanda kebesaranmu

Tidak sah solat tanpa selawat padamu”

(maksud selawat : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad)

Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dalam sya’irnya:

“ Kecintaan Yahudi kepada keluarga Musa nyata

Dan bantuan mereka kepada keturunan saudaranya jelas

Pemimpin mereka dari keturunan Harun lebih utama

Kepadanya mereka mengikut dan bagi setiap kaum ada penuntun

Begitu juga Nasrani sangat memuliakan dengan penuh cinta

Kepada Al-Masih dengan menuju perbuatan kebajikan

Namun jika seorang Muslim membantu keluarga Ahmad (Muhammad)

Maka mereka bunuh dan mereka sebut kafir

Inilah penyakit yang sulit disembuhkan, yang telah menyesatkan akal

Orang-orang kota dan orang-orang desa, mereka tidak menjaga

Hak Muhammad dalam urusan keluarganya

dan Allah Maha Menyaksikan. ”

Imam Zamakhsyari dalam sya’irnya berkata:

“ Beruntung anjing karena mencintai Ashabul kahfi

Mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi Saww”

Abu Hasyim Isma’il bin Muhammad al-Humairi dalam salah satu sya’ir yang mengharap syafa’at nabinya Saww, berkata:

“ Salam sejahtera kepada keluarga dan kerabat Rasul

Ketika burung-burung merpati beterbangan

Bukankah mereka itu kumpulan bintang gemerlapan di langit

Petunjuk-petunjuk agung tak diragukan

Dengan mereka itulah aku di Syurga, aku bercengkerama

Mereka itu adalah lima tetanggaku, Salam sejahtera ”.

Bukan Syiah Yang Mengkafirkan Atau Mencela Sahabat Nabi SAW Tetapi Sunni sendiri

oleh : Ustad Husain Ardilla

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium menuduh  Syi’ah dalam kitab mereka mengkafirkan para shahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi   kepada kita :

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Orang-orang (yaitu para shahabat) menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi kecuali tiga orang”. Aku (perawi) berkata : “Siapakah tiga orang tersebut ?”. Abu Ja’far menjawab : “Al-Miqdaad, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy, dan Salmaan Al-Faarisiy rahimahullah wa barakaatuhu ‘alaihim…” [Al-Kaafiy, 8/245; Al-Majlisiy berkata : “hasan atau muwatstsaq”]. Al-Ayyasyi meriwayatkan hal yang sama (perhatikan yang diblok):

jawaban syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

Ahmad bin Muhammad bin Yahya  daripada bapaknya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.  Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]

Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata :… Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).

Literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352]

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)]

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, padahal hadis tersebut hanya terkait dengan SAHABAT Nabi yang berada di dalam Rumah Fatimah ketika Abubakar – Umar menyerbu rumah Fatimah !!

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah                                                                                                                                            .
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah                                                                       .
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar                                                         .
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

5.  Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam          bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR    RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!”

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti susul menyusul oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudzaifah

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja.

Riwayat-riwayat mutawatir yang datang dari Rasulullah Saw di dalam Shihah Sittah Ahlusunnah, dan sumber-sumber lain pada mazhab Ahlusunnah, dengan bilangan sanad sahih yang banyak, merupakan penjelas bahwa sebagian besar sahabat, pasca wafatnya Rasulullah Saw, telah meninggalkan jalan dan sunnah Rasulullah Saw

kemurtadan yang mengemuka pada riwayat-riwayat seperti ini, tidak bermakna kemurtadan secara teknis teologis yang menyebabkankafir tulen atau murtad tulen melainkan bermakna  berpaling dari jalan dan sunnah Rasulullah Saw.

Pada sebagian literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352)

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Terkait dengan hadis di atas harus diperhatikan bahwa:

Pertama: Hadis tersebut tidak disebutkan pada sumber-sumber riwayat standar Syiah.

Kedua: Redaksi kalimat “nas” (orang-orang) pada hadis yang disebutkan di atas bermakna sahabat bukan seluruh kaum Muslimin yang hidup pada abad yang berbeda pasca Rasulullah Saw. Dalil atas klaim ini adalah bahwa orang-orang yang disebutkan pada hadis di atas dan berada pada jalan petunjuk, seluruhnya adalah para sahabat Rasulullah Saw. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berada pada jalan petunjuk juga adalah para sahabat Rasulullah Saw.

Ketiga: Secara lahir, riwayat di atas dan riwayat-riwayat lainya yang menyebutkan jumlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, lebih banyak. Karena itu, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa para imam maksum As pada riwayat ini, tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya. Dan mayoritas telah berpaling dari nilai-nilai Islam dan kembali kepada nilai-nilai jahiliyah. Dan sebagaimana yang telah disinggung bahwa makna kemurtadan (irtidâd) pada hadis di atas adalah kembalinya kepada nilai-nilai jahiliyah bukan kemurtadan dalam artian teknis teologis.

Bid’ah bermakna pikiran dan keyakinan yang baru yang tidak memiliki akar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Bid’ah, termasuk perbuatan dosa sesuai dengan penegasan hadis-hadis sahih Rasulullah Saw, dapat menghapus seluruh perbuatan baik pembuat bid’ah dan mengeluarkannya dari nilai-nilai Islam

bid’ah, seseorang tidak meninggalkan agama melainkan ia merasa telah menjaga agama. Namun karena hawa nafsu, segala sesuatu yang bukan bagian dari agama ia jadikan sebagai bagian dari agama. Dan kemurtadan yang juga disinggung dalam hadis-hadis telaga adalah kemurtadan yang bersumber dari bid’ah.

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) .

Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong.

 Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Hadis-hadis haudh  tidak dapat diterapkan atas ahli riddah, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam pada akhir-akhir usia Rasulullah Saw, atau tidak lama setelah Rasulullah Saw wafat yang tinggal di daerah-daerah jauh dalam negeri Islam. Ahli riddah ini adalah orang-orang yang telah keluar dari Islam. Dan sesuai dengan definisi yang paling sahih tentang sahabat, ahli riddah tidak termasuk dalam golongan sahabat.

Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis, “Definisi yang paling benar yang aku temukan ihwal sahabat, bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dan beriman kepadanya dan meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.

sebagian sahabat besar Rasulullah Saw mengakui bahwa setelah wafatnya beliau mereka menciptakan bid’ah.[Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah, hal. 134; Shahîh Bukhâri, Kitab Maghazi, bab 33]

Pengakuan-pengakuan ini dengan jelas menunjukkan bahwa bid’ah dan kemurtadan (irtidâd) yang disebutkan pada hadis-hadis telaga (haudh), bukan kemurtadan sejumlah orang yang baru memeluk Islam seperti ahli riddah.

Di dalam hadis-hadis telaga (haudh) terdapat redaksi “merubah” (tagyiir) dan mengganti” (tabdil) . “Suhqân suhqân liman gayyara ba’di.”, “Suhqan suhqân liman baddala ba’di.”

Redaksi hadis di atas dengan tegas menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dari kalangan sahabat setelah wafatnya Rasulullah Saw mengganti dan merubah hakikat-hakikat penting Islam. Tindakan mereka ini telah mengundang kemurkaan Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedemikian sehingga Rasulullah Saw mencela dan mengusir mereka dengan menggunakan kalimat “suhqân.

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD.. Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!! Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium  menuduh sbb :

عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: …….والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة

Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “…….Demi Allah, mereka (para shahabat) telah binasa kecuali tiga orang : Salmaan Al-Faarisiy, Abu Dzarr, dan Al-Miqdaad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammaar, Abu Saasaan, Hudzaifah, dan Abu ‘Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang [Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 5; lihat : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html%5D

.
Al-Kulaini meriwayatkan dalam ushul al-Kafi:

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .

Dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Makkah 70 kali lipatnya” [Al-Kaafiy, 2/410; Al-Majlisiy berkata : Muwatstsaq]. Perhatikan scan kitabnya:

jawaban pihak syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

.
Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq:
“Kujadikan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar di antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua belas orang, dari kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman AI-Farisi, Abu Dzar AI-Ghifari, Miqdad bin AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”
.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:“Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” (Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316)

Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat), karena  mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw), KAFIR atau MURTAD disini bukan kafir tulen dan bukan murtad tulen melainkan kafir kecil seperti kafirnya orang yang malas shalat !!

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak..  Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut

Murtad atau kafir  bermakna : mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan dan tidak di artikan keluar dari agama islam, melainkan berpaling dari jalan sunnah dengan MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun tidak dianggap sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum. Sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.Dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah.

.

Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW 

SYi’AH  MENUDUH  SAHABAT  PASCA  NABi  KAFiR  ATAU  MURTAD ?

Sunni dan Syi’ah sepakat bahwa sahabat Nabi SAW yang wafat pada masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga.. Yang menjadi perdebatan sunni – syi’ah adalah status para sahabat Nabi SAW pasca Nabi wafat. Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Riwayat-riwayat Ahlusunnah dengan taraf mutawatir tentang kemurtadan para sahabat pasca Nabi SAW wafat jauh lebih banyak  dibandingkan apa yang dituliskan syi’ah, pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Hadis-hadis tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja. Pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

Kesemua hadis-hadis haudh sunni adalah menepati ayat al-Inqilab, firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin / keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah!

Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentinya mereka sebar-luaskan. Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Padahal dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).

Dalam hadis sahih Bukhari Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang proporsional dan ilmiah tentangnya.

Artinya :

Dari Abdullah  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang  mendahului kamu di telaga (haudh), maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) ). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68. Sahih al-Bukhari Hadis no. 578)

Artinya :
Dari Anas  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku” (ashabi)!. Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka) (Hadits ditakhrij oleh Bukhari  no. 584)

.Artinya :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am) (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari, Sahih Muslim Hadis No. 27 (2293)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi SAW.

Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh ! Jauh ! (daripada rahmat Allah) atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di). ” (Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96,Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy) (Shahih Bukhari, 8/150)

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144. Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni. Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ada ayat-ayat diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut. Perlulah adanya pembahasan dan penelitian

Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada mereka. Dijelaskan dalam suatu hadits shahih : Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatha’ Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut: “Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga janjinya ini

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Kebenaran syi’ah terlihat ketika sejumlah sahabat bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah bid’ah  sepeninggal Nabi

Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib] seraya berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pohon. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku !  Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (Shahih Bukhari jil.3 hal. 32)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggal ku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).