Tantangan Aktual Ahlusunnah Wal Jama’ah

Jum’at, 17 Februari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

Solusi Problem Pemuda versi syi’ah 

Pendidikan Sunni sudah seharusnya menemukan jati dirinya tanpa menyesat nyesatkan syi’ah. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda sunni hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.

Apa yang ada pada mayoritas pemuda sunni hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Sunni dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

DALAM tinjauan teologis dan historis-sosiologis, istilah Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah pengikut sunnah dan lawan dari sifat bid’ah pemikiran. Dalam sejarahnya, Aswaja sering diasosiasikan pengikut para imam-imam sunni yang merupakan antitesa dari paham muktazilah, syiah, khawarij, murjiah, musyabbihah dan jabariyah. Lebih spesifik lagi, Imam As-Safariniy Al-Hanbali (1114-1188 H) dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Syarh Ad-Durrat Al-Mudhiyyah fi ‘Aqd Al-Firqoh Al-Mardhiyyah (vol.1/73) menegaskan bahwa Ahlusunnah wal Jama’ah terdiri dari 3 golongan besar yaitu, Asy’ariyah (pengikut Imam Abul Hasan Asy’ari), Maturidiyah (pengikut Imam Abu Manshur Maturidi) dan Ahlul Hadis/Atsar (pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal)

.

Perkembangan kondisi kekinian umat mengharuskan terciptanya persaudaraan, kesepahaman (tafahum), saling menyayangi dan merangkul (tarahum), sehingga melahirkan kerjasama dan sinergitas (ta’awun wa takamul). Sikap-sikap positif itu mutlak harus diwujudkan oleh semua pihak yang mengaku dirinya Ahlusunnah wal Jama’ah, apalagi di tengah tantangan dakwah Islam yang semakin berat dewasa ini

“Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.” … saatnya… bring come back alive

.

Tantangan Ukhuwah Aswaja

Berikut ini, beberapa tantangan ukhuwah di kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Pertama, Sikap saling menafikan. Di muka, saya telah mengutip pandangan tokoh terkemuka Sunni Imam As-Safariniy tentang 3 kelompok Aswaja, yang disepakati oleh seluruh ulama Sunni. Namun dalam sejarah, tak jarang terjadi polemik dan sikap saling menafikan antar kelompok Ahlusunnah, terutama antara Asy’ariyah dan Maturidiyah di satu sisi dan Ahlul Hadis di sisi lain. Tantangan ini tidak bisa dipandang remeh.

Sebagian ulama Asy’ariah misalnya menafikan Ahlul Hadis, terutama dalam hal tanzih sifat Allah, bahwa mereka (Ahlul Hadis) terkena sindrom tajsim dan tasybih antara Allah dan makhluk-Nya. Seperti yang sering dituduhkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taymiah (661-728 H, 1263-1328 M). Sebaliknya sebagian ulama Ahlul Hadis menafikan Asy’ariah dan Maturidiyah dan menuduh mereka terkena sindrom jahamiyah dan muktazilah dalam soal takwil sifat-sifat Allah. Wahabi yang didukung kekuatan asing memanfaatkan hal ini untuk memecah umat

Kedua, Kurangnya sikap penghargaan terhadap tokoh panutan mazhab masing-masing. Sikap kritis ilmiah terhadap madrasah Sunni lainnya sah saja, -bukan hal yang tabu- namun harus diiringi sikap yang berimbang dan tetap saling menghargai.

Ketiga, Kecurigaan terhadap perkembangan gerakan keagamaan baru; label “ideologi transnasional” disematkan kepada mereka dan dianggap paham yang bertentangan dengan Aswaja. Gerakan seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tablig sering diasosiasikan ke dalam kecurigaan itu. Padahal kalau mau jujur, aliran wahabi nashibi lebih tepat dilabeli “transnasional” yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa yang mayoritas muslim Sunni dan sudah mengakar di Indonesia. Hal ini akibat kurangnya informasi tentang perkembangan ideologi Sunni yang bertransformasi menjadi gerakan politik disamping ormas keagamaan murni.

Di Timur Tengah, kelompok Sunni yang berupaya menyatukan gerakan keagamaan dan politik sudah jamak terjadi akibat dipicu oleh keinginan lepas dari imperialisme Barat. Ada yang sifatnya lokal seperti gerakan Sanusiyah dan Mahdiyah sebagai penggerak kemerdekaan jajahan asing di Afrika Utara. Dan ada juga yang jangkauannya internasional seperti gerakan Pan-Islam besutan Rasyid Ridha –yang diilhami Urwatul Wutsqa dan Al-Manar, dan merembet pengaruhnya ke seluruh dunia Islam termasuk Indonesia dengan munculnya gerakan pembaharuan di Minang (Haji Rasul) dan Jawa (Muhammadiyah)-, lalu dilanjutkan oleh Ikhwanul Muslimin oleh Hasan Al-Banna dan Hizbut Tahrir oleh Taqiudin Nabhani.

Di sisi lain kelahiran Jam’iyah NU juga terinspirasi dari gerakan ulama Sunni-Syafi’i-Asy’ari transnasional di Haramain yang menolak penyeragaman mazhab yang dilakukan oleh Raja Al-Saud di Arab Saudi. Jadi kalau sekarang muncul kegaduhan labelisasi gerakan transnasional, maka ormas-ormas Islam yang berdiri di awal abad-20 pun –sedikit banyak- terpengaruh ‘ide keislaman transnasional’. Hemat saya, kelompok-kelompok Sunni di Indonesia jangan terjebak dengan istilah yang rancu itu.

Saya optimis, kecurigaan dan prasangka buruk itu bisa dieliminir jika terjalin silaturahim yang efektif dan berksesinambungan, tanpa harus terjadi klaim kebenaran sepihak dan rebutan ‘lahan’ dakwah, yang bisa memicu konflik dan mengundang pihak di luar Ahlusunnah dan musuh Islam untuk mengail di air keruh.

Apalagi umat Islam Indonesia yang Sunni saat ini berhadap-hadapan dengan berbagai tantangan berat dalam dakwah Islam. Mulai dari maraknya gerakan anti-syariat (sekularisme), liberalisasi Islam, dan pluralisme agama. Hingga tantangan gerakan aliran-aliran menyimpang seperti Ahmadiyah dan wahabi nashibi, gerakan pemurtadan, dan budaya permisif-hedonis dan free sex yang dilancarkan dengan massif untuk menjauhkan umat Islam dari moral dan norma agama.

Epilog

Peta tantangan internal dan eksternal itu dapat berpotensi mengancam dan menggerogoti akidah Islam –Ahlusunnah wal Jamaah-. Alangkah baiknya para tokoh dan pemimpin Sunni duduk bersama dan menyatukan barisan.

Aktualisasi dan dinamisasi gerakan Aswaja di Indonesia amat diperlukan, khususnya upaya membangun ukhuwah hakiki dan sinergitas, tidak memperbesar perbedaan penafsiran cabang-cabang akidah dan fiqih, serta kerjasama yang intens dan memupuk kepercayaan dengan seluruh elemen Aswaja, tanpa harus kehilangan jatidiri masing-masing.

Di sinilah pentingnya memahami etika perbedaan (Fiqhul Ikhtilaf) dan toleransi (tasamuh), serta perlunya sinkronisasi dan kordinasi gerakan dakwah (Taswiyatul Manhaj-Tansiqul Harakah) Ahlusunnah wal Jama’ah. Dengan demikian kita dapat menyatukan langkah untuk mulai menyusun proyek peradaban Syiah-Sunni yang komprehensif untuk pembangunan Indonesia dan dunia Islam umumnya agar dihormati dalam kancah pergaulan antar bangsa.

Wallahu A’lam.* 

Virus K-Pop dan Kelemahan Ulama Sunni

Virus K-Pop dan Dekonstruksi Aqidah

.

Ulama Sunni indonesia begitu lemah… Syi’ah ingin memperbaikinya

.

HADIRNYA artis Korea (K-POP) dalam blantika hiburan, rupanya benar-benar telah membius dan menghipnotis sebagaian besar masyarakat Indonesia, terutama para remaja. Mulai dari sinetron, lagu, bahkan pakian dengan aksisorisnya menjadi kiblat bagi mereka yang mengidolakan.

Sejumlah remaja sunni kini menggandrungi dan cenderung mengikuti trend artis Korea. Mulai potongan rambut disasak tanpa aturan, mode busana ala K-Pop Boy and Girl Band, sampai bahasa-pun, kian digandrungi. Bahkan yang ironis, karena saking inginnya untuk perfect dalam berbahasa Korea, seorang gadis fans berat Korean Style dari Inggris benama Rhiannon Brooksbank-Jones mengoprasi lidahnya

.

Pendidikan merupakan infestasi yang paling berharga. Dengan pendidikan yang terrencana serta tersusun dengan baik maka akan menghasilkan output yang baik pula. Titik kritisi pada transformasi pendidikan di era modernisasi ” Penerapan nilai-nilai pendidikan di tanah air lebih cenderung membentuk alur berpikir, akan tetapi dalam penerapan pada aspek aktifitas jauh dari nilai-nilai keilmuan yang seharusnya (tataran implementasi)

.

Siswa hanya tahu tentang teori ilmu, tetapi dalam penerapannya jauh dari yang di harapkan. Alhasil, muncullah saat ini para pemimpin yang berilmu akan tetapi tidak mengaktualisasikan dan memberi kemanfaatan atas ilmunya tersebut. Maka, banyak saat ini kasus-kasus korupsi, bahkan penyalagunaan amanah sebagai terobosan dalam mencari kesenangan dunia yang sementara. Komentator : Kata kunci utama dari tulisan ilmiah ini yakni. Pentingnya pendidikan Islam pada anak-anak usia dini maupun dewasa, agar moralitas dan akhlah dapat terbentuk dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena pada hakekatnya ilmu merupakan infestasi yang paling berharga di duni dan akhirat

.

“Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.” … saatnya… bring come back alive

.
Tidak saja di Indonesia, ternyata virus demam artis korea dengan K-Pop-nya telah menjalar ke Negara Eropa. Sebuah media baru-baru ini memuat kesuksesan artis Korea terlebih dalam dunia tarik suara, tidak saja membooming di Asia, namun sudah menembus di Eropa. Hal ini terbukti dengan suksesnya konser lima band asal Korea Selatan di Le Zenith de Paris Concert Hall, Paris, Prancis yang digelar 10 Juni lalu.

Bicara tentang keberhasilan dunia intertainment Korea, tentunya yang dimaksud adalah Korea selatan yang pro dengan gaya hidup Barat (Amerika). Tentulah tidak mengherankan jika yang mencuat, dan sedang naik daun dalam dunia intertainment adalah Korea Selatan, bukan Korea Utara. Karena media Barat sangat berjasa dalam memboomingkan artis-artis Negeri Ginseng tersebut.

Bukan tanpa maksud para awak media Barat dengan kroni-kroninya menskenario popularitas artis Korea dengan K-Pop, sinetron dan fashionnya. Tidak ada makan siang geratis bagi Barat dalam setiap memberikan bantuan jasa kepada negara lain. Ada misi tertentu yang bisa menghasilkan keuntungan bagi peradaban Barat dan Amerika pada khususnya. Penulis tidak bermaksud membahas keuntungan apa yang diperoleh Barat terhadap Gelombang Korean Style, namun lebih menfokuskan kepada bahaya apa yang dibawa fenomena idolasisasi ini.

Produk Hegemoni Barat

Ustad Husain Ardilla mengatakan, maraknya idolasisasi terhadap hiburan inport (dalam hal ini Korea), merupakan sebuah bukti bahwa betapa kuat arus globalisasi dalam bidang hiburan, yang mana globalisasi mengarah pada “imperialisme Budaya” Barat terhadap budaya lain.

Inilah yang kemudian disebut dengan hegemoni Barat. Hegemoni adalah mengendalikan negara bawahannya melalui imperialisme budaya, misalnya bahasa (lingua franca penguasa) dan birokrasi (sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan), untuk memformalkan dominasinya. Hal ini membuat kekuasaan tidak bergantung pada seseorang, melainkan pada aturan tindakan.

Menurut Antonio Gramsci bahwa dominasi Barat terhadap budaya di negara-negara berkembang, bertujuan untuk memaksa negara berkembang agar terpaksa mengadopsi budaya Barat. Sedangkan bagi Dr Adian, salah satu misi dari hegemoni Barat terutama Amerika ialah mengekspor moderintas dan memprogandakan konsumerisme.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan hegemoni Barat terhadap bangsa lain adalah untuk melanggenkan dominasi peradabannya.

Dekonstruksi Aqidah

Demam Korean style (K-Pop) merupakan bahaya laten bagi umat Islam. Hal ini disebabkan Korean style, selain mencemari tradisi budaya Indonesia yang terkenal santun, juga merusak sendi-sendi akhlak dan mendonstruksi prinsip-prinsip dalam Agama.

Korean style sebagai produk globalisasi dalam bidang Fun atau hiburan, telah mengikis akhlak umat Islam. Kehidupan borjuistis ala musik K-Pop, semangat hidonis dan matrealistis dalam alur cerita sinetronnya, serta pakian minim dalam model busananya, menggeser polapikir para penikmatnya. Hal itu kemudian menjadi gelombang trend besar-besaran seluruh masyarakat.

Tengok saja remaja muslim sekarang, dari penampilan sampai mindset, pelan tapi pasti telah berubah ala Korean style. Seolah tersihir dengan performance artis Korea, setiap hal baru yang datang dari mereka dianggap positif dan selalu diup -date. Bahkan Minuman Wine (bir) beras khas Korea yang jelas-jelas haram, dikatakan baik dan menyehatkan meski agak memabukkan.

Jika dikaji dalam perspektif hukum Islam, gelombang Korean Style tidak saja bisa mengikis akhlak umat Islam, tapi juga akan mendekonstruksi keimanan. Hal ini disebabkan karena adanya tasabbuh (meniru-niru) dengan menjadikannya sebagai artis ideola, padahal semua tindak-tanduk, kepribadian dan perilaku sehari-harinya menyebabkan seorang muslim menjadi munafik atau keluar dari akhlak Islam.

Sebuah peringatan keras dalam al-Qur’an bagi mereka yang menjadikan idola selain orang Islam akan dibangsakan sebagai orang munafik. Firman Allah An Nisaa Ayat 138 – 140:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

yang dimaksud dengan lafadz “auliya’” itu bermakna penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola. Adanya rasa simpatik dan empatik dalam hati karena menjadikan penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola ghairul muslim, bisa menyebabkan lunturnya iman seseorang dan bisa mengkonversi dari mukmin menjadi munafiq.

Kelompok munafik adalah sejelek-jeleknya umat. Mereka lebih hina daripada orang kafir. Siksaan bagi munafikin-pun lebih pedih, bahkan mereka ditaruh di dasar neraka (inna al-munaafiqina fi al-darki al-asfal mi al-naar).

Oleh karenanya dalam QS. an-Nisaa’ 144, Allah melarang orang-orang beriman untuk mengidolakan orang-orang kafir. Karena hal itu sama saja dengan mengundang kemurkaan Allah yang siap dengan siksaan-Nya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: Al-Nisaa’. 144).


Ternyata virus gelombang Korean style bukan permasalahan sepele, sebatas gandrung menikmati musik dan sinetronya semata. Disamping produk hegemoni Barat, lebih dari itu, gelombang Korean style telah membawah problem yang serius bagi umat Islam, problem yang menyebabkan dekadensi akhlak dan dekonstruksi aqidah alias rusaknya akidah.

Karenanya, segenap kaum Muslimin, mari kita rapatkan barisan, guna membentengi umat dari serangan virus yang lahir dari globalisasi-modernisasi Barat. Yang tanpa sadar, keberedaannya dapat menghapus nilai-nilai ajaran agama. Serta memalingkan pengikutnya dan tidak akan kembali. Bak anak panah, ia terlepar dari gendewanya.

Solusi Problem Pemuda versi syi’ah

Pendidikan Islam sudah seharusnya menemukan jati dirinya. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.

Apa yang ada pada mayoritas pemuda hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Islam dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

Wallahu ‘a’lam bi shawwab.*

SURAT PERINTAH MUAWIYAH DAN YAZID UNTUK MEMBUNUH IMAM HUSAIN AS.


Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullah, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.” Ketika kabar tentang terbunuhnya Al Husain sampai kepada Yazid, maka nampak terlihat kesedihan di wajahnya dan suara tangisan pun memenuhi rumahnya. Kaum wanita rombongan Al Husain yang ditawan oleh pasukan Ibnu Ziyad pun diperlakukan secara hormat oleh Yazid hingga mereka dipulangkan ke negeri asal mereka. Dalam buku-buku Syiah, mereka mengangkat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Ahlul Bait yang tertawan diperlakukan secara tidak terhormat. Mereka dibuang ke negeri Syam dan dihinakan di sana sebagai bentuk celaan kepada mereka. Semua ini adalah riwayat yang batil dan dusta. Justru sebaliknya, Bani Umayyah memuliakan Bani Hasyim.Disebutkan pula bahwa kepala Al Husain dihadapkan kepada Yazid. Tapi riwayat ini pun tidak benar, karena kepala Al Husain masih berada di sisi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.



Ibnu Taimiyah dan Ahlul bait

Diatas disebutkan bahwa sumber yang dipakai untuk membantah bahwa Yazid bin Muawiyah tidak terlibat pembunuhan Imam Husain adalah Ibnu Taimiyah, seperti diketahui bersama bahwa Ibnu Taimiyah memiliki kebencian yang luar biasa pada Ahlul bait dan memiliki kecintaan yang bukan alang kepalang kepada Muawiyah dan Yazid sebuah kitab berjudul “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid) didesikasikan untuk Muawiyah dan Yazid. Berikut adalah bukti-bukti Ibnu taimiyah menampakan kebencian kepada Ahlul Ba’it (salah satunya Imam Ali bin Abi Tholib) yang dinukil dari kitabnyua sendiri Minhaj as Sunnah:

1. Ibnu Taimiyah menolak kekhalifahan Imam ali bin Abi Thalib “Diriwayatkan dari Syafi’i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman”.[1]

2. Ibnu Taimiyah menolak ke imamahan Imam Ali “Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat bahwa ia (Ali) bukanlah imam, akan tetapi Muawiyah-lah yang menjadi imam. Sebagian lagi menyatakan, bahwa pada zaman itu tidak terdapat imam secara umum, bahkan zaman itu masuk kategori masa (zaman) fitnah”.[2]

3. “Dari mereka terdapat orang-orang yang diam (tidak mengakui) atas (kekhalifahan) Ali, dan tidak mengakuinya sebagai khalifah keempat. Hal itu dikarenakan umat tidak memberikan kesepakatan atasnya. Sedang di Andalus, banyak dari golongan Bani Umayyah yang mengatakan: Tidak ada khalifah. Sesungguhnya khalifah adalah yang mendapat kesepakatan (konsensus) umat manusia. Sedang mereka tidak memberi kesepakatan atas Ali. Sebagian lagi dari mereka menyatakan Muawiyah sebagai khalifah keempat dalam khutbah-khutbah jum’atnya. Jadi, selain mereka menyebutkan ketiga khalifah itu, mereka juga menyebut Muawiyah sebagai (khalifah) keempat, dan tidak menyebut Ali”.[3]

4. “Kita mengetahui bahwa sewaktu Ali memimpin, banyak dari umat manusia yang lebih memilih kepemimpinan Muawiyah, atau kepemimpinan selain keduanya (Ali dan Muawiyah)…maka mayoritas (umat) tidak sepakat dalam ketaatan”.[4]

Dan menariknya lagi ulama-ulama ahlu sunnah banyak juga yang mengomentari atas sikapnya yang berlebihan yang melecehkan Imam Ali dan Ahlul Ba’it Nabi dalam Kitab Minhaj dan tersebut :

1. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan tentang pribadi Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ia terlalu berlebihan dalam menghinakan pendapat rafidhi (Allamah al-Hilli seorang ulama Syiah. red) sehingga terjerumus kedalam penghinaan terhadap pribadi Ali”.[5]

2. Allamah Zahid al-Kautsari mengatakan: “…dari beberapa ungkapannya dapat dengan jelas dilihat kesan-kesan kebencian terhadap Ali”.[5]

3. Syeikh Abdullah Ghumari pernah menyatakan: “Para ulama yang sezaman dengannya menyebutnya (Ibnu Taimiyah) sebagai seorang yang munafik dikarenakan penyimpangannya atas pribadi Ali”.[6]

4. Syeikh Abdullah al-Habsyi berkata: “Ibnu Taimiyah sering melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan: Peperangan yang sering dilakukannya (Ali) sangat merugikan kaum muslimin”.[7]

5. Hasan bin Farhan al-Maliki menyatakan: “Dalam diri Ibnu Taimiyah terdapat jiwa ¬nashibi dan permusuhan terhadap Ali”.[8]

6. Hasan bin Ali as-Saqqaf berkata: “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai ‘syeikh Islam’, dan segala ungkapannya dijadikan argumen oleh kelompok tersebut (Salafy). Padahal, ia adalah seorang nashibi yang memusuhi Ali dan menyatakan bahwa Fathimah (puteri Rasulullah. red) adalah seorang munafik”.[9]

Demikian pula dalam kasus Imam Husain bagaimana Ibnu taimiyah membela matimatian Yazid bin Muawiyah, sebagaimana dalam Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut, Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua” di halaman lain Ibnu taimiyah mengatakan pula “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.”

saking ngefan dan memujanya Ibnu Taimiyah pada Yazid sampai-sampai dalam peristiwa Hara pun Ibnu taimiyah membelanya. bahkan ketika Yazid melakukan perusakan Ka’bah sebagaimana Abrahah Ibnu taimiyah pun membela lagi dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Tidak seorang muslim pun yang mau bermaksud menghinakan Ka’bah, bukan wakil Yazid, juga bukan wakil Abdul Malik yang bernama Hajjaj bin Yusuf, ataupun selain mereka berdua, bahkan segenap kaum muslimin bermaksud untuk mengagungkan Ka’bah. Jadi, kalaulah Masjid al-Haram dikepung, hal itu karena pengepungan terhadap Ibnu Zubair. Pelemparan menggunakan manjanik-pun tertuju kepadanya. Yazid tidak ada maksud untuk membakar dan merusak Ka’bah, Ibnu Zubair yang telah melakukan semua itu”. Dikalangan Ahlu sunnah sendiri Ibnu Taimiyah dikatagorikan orang yang sesat lihat di syiahnews.wordpress.com

Benarkah Muawiyah idak memerintahkan membunuh Husain AS ?

Kebencian Bani Umayyah yang oleh Allah dalam Al Qur’an al Isra : 60 dijuluki sebaga al syajarah al Mal’unah (pohon kayu terkutuk/terlaknat) kepada Rasulullah SAWW dan Ahlul Ba’itnya memang tak disangsikan lagi, termasuk diantaranya sekenario pembunuhan terhadap Imam Husain AS, perencanaan pembunuhan itu disusun sendiri oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan dan dilanjutkan oleh Yazid bin Muawiyah, adapun buktinya adalah surat yang dikirimkan oleh Muawiyyah kepada Yazid berikut isi surat itu :

Kepada Yazid dari Muawiyyah bin abi sufyan, tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sungguh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki berkuasa seperti ayahmu. Namun, biarkanlah, semua peran telah kumainkan. Semua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah dan semuanya telah terjadi, Aku sangat bangga telah berjaya membangun kekuasaan atas nama para leluhur Umayyah.

Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengan pada masa-masa mendatang, Maka camkanlah, putraku, meski tubuh ayahmu telah terbujur dalam perut bumi, kekuasaan ini, sebagaimana yang di inginkan Abu sofyan dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.

Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil, Berikan perhatian istimewa kepada warga syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan saran-saran mereka, Kelak mereka dapat kau jadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia kepadamu.

Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor kelinci manis ditengah gerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap 4 tokoh masyarakat yang ku sebut dibawah ini :

pertama adalah ‘Abdurahman bin Abu Bakar, pesanku, jangan terlalu khawatir menghadapinya, ia mudah di bius dengan harta dan gemerlap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi dungu, bahkan menjadi pendukungm.

Ke 2 Abdullah bin Umar bin al Khatab, ia menurut pengakuanya, hanya peduli pada agama damn akherat, seperti mendalami dan mengajarkan Al qur’an dan mengurung diri dalam mihrab masjid. Aku meramalkan, ia tidak terlalu berbahaya bagi keududkanmu, karena dunia dimatanya adalah kotor, sedangkan panji-panji Muhammad adalah harapan pertama dan terakhir. Biarkan putra kawanku ini larut dalam upacara-upacara keagamaanya dan menikmati mantra-mantranya

Ke 3 adalah ‘Abdullah bin Zubair, Ia seperti ayahnya bisa memainkan 2 peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak geriknya, jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan ia tidak akan mengusikmu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, sertakanlah cucu Al ‘Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun jika ia berperan seperti Harimau, yaitu berambisi merebut kekuasaanmu, maka janganlah mengulur-ulur waktu mengemasnya dalam keranda. Ia cukup berani, cerdik dan bangsawan.

Ke 4 adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, sengaja aku letakkan namanya pada urutan terakhir, karena ayahmu ingin mengulasnya lebih panjang. Nasib kekuasanmu sangat ditentukan oleh sikap dan caramuy dalam menghadapinya. Bila kuingat namanya, kuingat pada kakek, ayah, ibu dan saudaranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebonngkah kayu menghantam kepalaku dan jilatan api cemburu membakar jiwaku. Putra ke 2 musuh bebuyutanku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan masyarakat.

Pesanku, dalam jangka sementara, bersikaplah lembut padanya, karena, sebagaimana kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya, Ia pria satria, putra pangeran jawara, susu penghulu para ksatria. Ia pandai, berpenampilan sangat menarik, dan gagah. Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati dan di taati

Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan keadaan telah mendesak, kau harus mempertahankan kekuasaan yang telah kuperoleh dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali menebas batang leher al Husain dan menyediakan sebidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya. Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, kau siap-siap melaksanakan pesan-pesanku tersebut “

Dan surat tersebut di antar oleh Adh Dhahhak bin Qais al Fihri kepada Yazid bin Muawiyah, sebagian sejahrawan menyebutkan bahwa Muawiyyah sempat menasehati Yazid dengan statment sama seperti surat yang tertulis diatas. [10]

Reaksi Yazid bin Muawiyyah setelah matinya Muawiyah adalah memerintahkan Al Walid bin Uthbah untuk memaksa orang-orang yang disebut dalam waisat bapaknya agar berbai’at kepadanya. Surat perintah tersebut didokumentasikan oleh para ahli sejarah, berikut kutipan lengkapnya :

Surat ditujukan kepada al Walid Ibn Utba :

Panggil al Husain Ibn Ali Ibn Abi Thalib (AS) dan Abdullah Ibn Zubair, Minta padanya untuk membaiat kekhalifaanku ! dan jika mereka menolak, pisahkan kepalanya dari tubuhnya dan kirimkan padaku di Damaskus ! Juga galanglah baiat untukku dari orang-orang madinah, dan jika ada yang menolak, maka perintah yang telah aku keluarkan juga berlaku untuk mereka ! [11]

Bukti ke 2 bukti surat diatas adalah bukti difinitif yang membuktikan bahwa Muawiyah dan Yazid memerintahkan untuk membunuh Husain as. Kegagalan pengambilan paksa bai’at kepada Imam Husain tersebut diteruskan kepada perwira-perwira lapangan, salah 1 surat tersebut memerintahkan pembunuhan dan perusakan jenazah Imam Husain, dalam surat tersebut di Perintah kepada Ibn Sa’ad, agar memilih 1 diantara 2 perintah : segera menyerang Husain atau menyerahkan komando tentara kepada Syimr, dan bila Husain gugur dalam pertempuran, tubuhnya harus di injak-injak [12]

Benarkah Yazid tidak memukul kepala dan gigi imam Husain ?

Dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut, Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua”.

Benarkah bualan Ibnu Taimiyah itu ? mari kita uji dengan pandangan ulama Sunni yang lain :

Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata, “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis, “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair”. Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlusunnah mengatakan: “Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya”. Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahab dengan jelas menuliskan “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad”.

Menarik lagi jika diperhatikan Sabath Ibn al Jauzi ia menuliskan : Ketika ahlul bait sampai ke syam dalam keadaan tertawan, Yazid duduk di Istananya, menghadap ke arah balkon, dan Yazid meminta sorang penyair melantunkan syairnya :

Ketika kepala-kepala itu mulai tampak
Terlihatlah kepala para pembangkang itu di atas balkon
Burung gagak berkoak koak
Aku berkata ” Hutang-Hutangku kepada Nabi telah terlunasi.
 [13]

Ulama-ulama ahlu sunnah lainya menceritakan dalam kitab-kitabnya : Yazid menyambut gembira dengan terbunuhnya Imam al Husain, ia kemudian mengundang kaum yahudi dan Nasrani untuk mendatangi majelisnya, yazid meletakkan kepala al husain di Hadapanya sambil mendengarkan syair-syair yang dilantunkan oleh Asyar bin al Zubari :

Seandainya para leluhurku di Badar
Menyaksikan kesedihan kaum al Khazraj
Karena patahnya lembing mereka
Mereka pasti akan senenang melihat hal ini

Kemudian mereka berkata :

”Hai Yazid seharusnya jangan kau potong kepalanya
Sesungguhnya kami telah membunuh pemuka mereka
Terbunuhnya ia sebanding dengan kekalahan kita di Badar
Hasyim mencoba bermain-main dengan Sang Penguasa
Akibatnya, tidak ada berita dan tidak ada yang hidup
Aku bukannya sombong, jika aku tidak membalas dendam kepada keturunan Bani Muhammad
Namun, kami telah membalas dendam kepada Ali Dengan mebunuh si Husain pengendara kuda. Si singa pemberani

Para sejahrawan ahlu sunnah seperti menuliskan bahwa ketika lantunkan syair bait ke 2 di atas Yazid memukul gigi depan Imam Husain dengan tongkatnya [14]

Tentang Tangisan Yazid (dan Muawiyah)

Mengapa mereka tidak mau belajar tentang tangisan dari Kitab Agung Al Qur’an ? sehingga dapat dibuai oleh tangisan palsu Muawiyah dan Yazid. Ibnu Jawi al Jogjakartani menulis tentang tangisan Muawiyah dan Yazid ini dalam artikel Tangisan Politik Muawiyah dan Yazid Tangisan Palsu Yang Menipu.

Tentang wanita-wanita Ahlul ba’it yang tertawan

Sejahrawan menuliskan secara jelas bagaimana tawanan itu digiring, bagaimana Zainnab, Ummu kultsum, Sukainah, Atikah, Shafiyah, ”ali awsath bagaimana Yazid begitu kegirangan menyaksikan tawanan tersebut, silahkan merujuk ke maqtal Abu Mikhnaf, Mir’at al jinan Juz I , al Kamil Juz 4, al Iqad al farid juz 2, Majma’ az zawa’id juz 1 dll terlalu banyak untuk disebutkan kitab yang menyebutkan serangkaian tindakan penawanan keluarga Nabi Saw. Adalah aneh jika dikatakan bahwa riwayat penawanan wanita-wanita ahlul ba’it sebagai batil dan dusta, bukankah begitu banyak saksi yang melihat dan mendengar pidato-pidato keluaraga nabi di istana Yazid ? mengapa kalian mendustakan itu ? kami akan menyebutkan nama-nama sebagian yang turut menyaksikan peristiwa tersebut, diantarannya :

1. Al Ghazu bin Rabi’ah al Jusrasyi (ia berada di dalam Istana Yazid dan menyaksikan peristiwa penawanan wanita-wanita Ajlul Ba’it dan arak-arakan kepala keluarga Nabi SAWW)

2. Al Qasim bin ’Abdurrahman (budak yazid bin Muawiyah, ia mendengar ucapan penistaan pada kepala Imam husain dan menyaksikan rombongan tawanan wanita ahlul ba’it)

3. Abu ’Imarah al Absi (ia yang menyaksikan bagaimana Yazid memerintahkan putranya Khalid agar mendebat Ali bin Husain dan bagaimana menyaksikan bagaimana ia berkata pada wanita-wanita Ahlul Ba’it yang dicela oleh khalid.

4. Fatimah binti Ali bin Abi Thalib (ia menceritakan bagaimana perdebatan antara Zaenab dan Yazid dan menyaksikan bagaimana Yazid mencoba cuci tangan dari peristiwa pembunuhan Imam Husain seraya melemparkan tanggungjawab pada Ibnu Marjanah.

5. Kesaksian ’Uwanah bin al hakam al kalbi (ia menyaksikan bagaimana Yazid meperlakukan wanita-wanita ahlul bait tersebut)

6. Kesaksian al Qasim bin Bukhait (ia menyaksikan tawanan dibawa ke istana Yazid dan melihat bagaimana Yazid memukul dan menusuk-nusuk mulut Imam Husain)

Penutup

Jika argumentasi didfasarkan pada presentasi dan pendapat Ibnu taimiyah bisa dipastikan terdapat distorsi sejarah yang teramat besar, ia banyak sekali mendhoifkan hadis keutamaan ahlul ba’it demi membela Bani Umayyah demikianpula dalam masalah kesejarahan banyak pula yang ia distorsi demi membela banu Umayah bani yang dikutuk oleh Allah azza wajala sebagai Pohon kayu terkutuk.

Wallahu alam bhi showab

[1] Minhaj as-Sunnah Jil:2 Hal:404
[2] Ibid Jil:1 Hal:537
[3] Ibid Jil:6 Hal:419
[4] Lisan al-Mizan Jil:6 Hal:319-320
[5] Al-Hawi fi Sirah at-Thahawi Hal:26
[6] Ar-Rasail al-Ghomariyah Hal:120-121
[7] Al-Maqolaat as-Saniyah Hal:200
[8] Dinukil dari kitab Nahwa Inqod at-Tarikh al-Islami karya Sulaiman bin Shaleh al-Khurasyi hal:35
[9] At-Tanbih wa ar-Rad Hal:7[4] Ibid Jil:4 Hal:682
[10] Surat ini di dokumentasikan oleh : Al Khawarizmi, Maqtal al Husain hal 175; Maqtal abu Mikhnaf, baladzuri Ansab al Asyraf IV hal 122, ThabariTarikh ar rasul wa al Muluk Juz II hal 196 ; Dinawari Kitab al Akhbar at Tiwal, 226
[11]. Surat Yazid ini terdokumentasikan dalam Kitab Baladzuri, Ansab al Asyraf Juz IV hal 12, Ya’qubi, ath Tarikh Juz II hal 2414, Thabari, Tarikh ar rasul wa al Muluk Juz II hal 216, Bidayah Juz VIII hal 146.
[12] lebih detail lihat di Thabari, Tarikh ar rasul wa al Muluk,II hal 308-16. Dinawari, al akhbar at Tiwal hal 253, Bidayah,Juz VIII hal 175
[13] al tadzkirah, hlm 148
[14] Silahkan rujuk detailnya di Abu al faraj Ibnu al Jauzi, al Tadzkirah h 148, Abdullah bin Muhammad bin Amir al Syabrawi, al Ittihaf bi Hubb al asyaraf, h 18; al Khathib al Khawarizmi, Maqtal al Husain, juz 2.

perbedaan Suni – Syi’ah dalam damai

“ Mencintai keluarga Nabi tidak menjadikan kita anti-Sunni, sementara menghormati para sahabat tidak menjadikan kita anti-Syiah “ (Wake Up Project – The Arrivals)

MENDOBRAK DINDING PEMISAH SUNNI-SYIAH

Agama dan Politik

 Agama dan politik sangat berdekatan, jika tak bisa dibilang tidak terpsahkan baik secara strategi, pemikiran, anggapan atau apapun. Mengapa begitu, cara berpikir sederhananya adalah kekuasaan. Perpecahan akan dimulai dan sangat kentara setelah para nabi  wafat.

Dosen Sosiologi Peneliti Syiah di Indonesia dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Dr. Zulkifli mengatakan sulit memberikan fatwa haram Syiah di Indonesia.

“Paham Syiah tidak bisa dibuat fatwa haram karena tidak menyentuh sisi fundamental keislaman di indonesia,” ujarnya kepada Republika, Rabu, (25/1), dalam seminar ‘Membincang Syiah di Indonesia’.

Karenanya ia meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat harus berhati-hati dalam memutuskan fatwa syiah. Karena kecenderungan paham syiah terus dipolitisasi untuk memenangkan dominasi sunni.

Jika kita mencoba menengok beberapa puluh tahun ke belakang, bumi ini masih disibukkan oleh pertentangan antar agama, sekte dalam agama, ras, suku, bangsa, dan ideologi. Semakin kita tarik garis mundur, maka semakin besar pula pertumpahan darah yang diakibatkan oleh yang namanya “Perbedaan.”

Namun kini, era milenium ditandai dengan adanya fenomena hubungan antar manusia yang hampir-hampir tidak berbatas. Sudah menjadi hal yang wajar ketika melihat rumah-rumah ibadah berdiri berdampingan. Tidak aneh pula ketika kita melihat ada orang kulit putih dan hitam berjalan bersama-sama, dan sudah biasa ketika ada orang Jawa dan Tionghoa menjadi pasangan hidup. Kemajuan teknologi dan informasi menjadi pintu gerbang bagi masing-masing individu yang berbeda untuk saling mengenal, memahami, dan mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah.

Maka dari itu, amat sangat mengherankan dan sekaligus memalukan ketika masih saja ada kelompok yang membawa kebencian zaman purba ke masa kini. Dan hal itu terjadi pada sebagian umat Islam yang masih mempersoalkan perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah!

Saya ingatkan pada anda semua : perpecahan antara Sunni dan Syiah adalah karena faktor POLITIS,! Maka jika ada yang menganggap perbedaan Sunni dan Syiah itu seperti halnya Katolik dan Protestan dalam Kekristenan, maka itu menunjukkan bahwa mereka tidak paham sejarah!

Mari sejenak kita kembali ke abad ke-VI tepatnya pada tahun 632 M. Tatkala Nabi Muhammad SAW berada di saat-saat terakhir dalam pembaringannya, beliau terus bergumam, “ Ummati .. ummati .. (artinya : umatku .. umatku)”.

Rasulullah sangat bersedih, karena beliau mendengar kasak-kusuk di belakang bahwa umatnya mulai terpecah dalam menyikapi siapa yang berhak menggantikan beliau untuk memimpin umat Islam. Maka benar saja, ketika Rasulullah wafat, terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagian beranggapan bahwa anggota keluarga Nabi yang berhak memimpin umat, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Sementara yang lain menganggap Ali masih terlalu muda, sehingga diajukanlah nama Abu Bakar

Setelah melakukan pemalsuan begitu banyak hadis dengan bantuan Abu Hurairah, Samurah bin Jundub dll maka Mu’awiyah membuat doktrin PAHAM JAMAAH dan doktrin SEMUA SAHABAT ADiL untuk memelihara kekuasaan yang diperoleh dengan cara biadab…

Ketika Mu’awiyah menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya, situasi politik internal umat Islam kembali memanas. Mu’awiyah dituding telah melanggar perjanjian dengan Hasan bin Ali, yang merupakan putra Ali bin Abi Thalib dan cucu Nabi Muhammad. Pada saat itu, Husain bin Ali, adik dari Hasan bin Ali memutuskan untuk tidak ikut berbai’at kepada Yazid, yang dikenal sebagai orang yang kejam dan gemar bermewah-mewahan.

Yazid sangat marah dan mengirim ribuan pasukan untuk mengejar Husain bin Ali dan para pengikutnya yang telah dicap sebagai pemberontak. Di padang Karbala, pasukan Husain bin Ali yang hanya menurut catatan sejarah hanya berjumlah 72 orang, harus berhadapan dengan pasukan Yazid yang berjumlah 10.000. orang. Pasukan Husain bin Ali ditumpas habis, dan Husain, cucu Rasulullah, hidupnya berakhir dengan tragis ketika lehernya dipenggal. Peristiwa memilukan ini diperingati pada hari Asyura setiap tahunnya oleh kaum Syiah.

Sampai di sini sudah jelaskah bagi anda semua, bahwa perpecahan di antara umat Islam ini adalah murni politis

Penamaan Sunni dan Syiah sendiri terjadi akibat perbedaan pendapat terkait pesan terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat. Ada beberapa versi dari kesaksian para sahabat tentang ucapan Rasulullah sebelum wafat :

1. “ Aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian berpegang kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya : Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah-ku. “ (HR Malik – Al Muwatta 46/3).

Inilah hadits yang menjadi pegangan kaum Sunni yang artinya : “Pemegang Sunnah Nabi.”

2. “ Aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian berpegang kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya : Kitabullah (Al Qur’an) dan Keluargaku. “ (HR Muslim 44/4 No. 2408, Darimi 23/1 No. 3319, dan Ibn Hanbal 4/366).

Inilah hadits yang menjadi pegangan kaum Syiah yang artinya : ”Para pengikut setia (merujuk kepada Ali dan keluarga Nabi).

Perpecahan dua kelompok ini terjadi setelah beliau wafat.
Perpecahan dan sikap saling memecah belah umat adalah hal yang sangat dimurkai Allah! Al Qur’an telah memperingatkan :

“ Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang MEMECAH BELAH agama mereka dan mereka menjadi BEBERAPA GOLONGAN. Tiap-tiap golongan merasa BANGGA dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar-Ruum [30] : 31-32)

“ Dan mereka TERPECAH BELAH melainkan SESUDAH datangnya pengetahuan (Qur’an) kepada mereka karena KEDENGKIAN antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam KERAGUAN yang menggoncangkan tentang kitab itu. “ (QS Asy-Syura [42] : 14)

.

Islam yang dibawa Muhammad SAW pecah belah karena pemalsuan hadis mega dahsyat dan pemalsuan sirah secara besar besaran yang dimulai pada masa MU’awiyah bin Abu Sofyan

Dialog santai ini adalah FIKTIF,  Sekedar untuk menggambarkan perbedaan Suni – Syiah, dengan santai …
Biar nggak usah, pusing-pusing…Tidak dimaksudkan untuk detil2 amat… Dialog santai antara Ahmad (A), seorang Suni dan Al-Baqir (B), seorang Syiah, di kantin.
  • A: Eh, Al-Baqir kamu kok Syiah, sih? Syiah kan sesat… Mbok ikut Suni saja yang lurus..
  • B: Lho, justru menurut saya kamulah yang sesat, ikuti Syiah saja… ini jalan yang lurus..
DASAR KEBENARAN
  • A: Iya, yah… Nggak mungkin kamu ikut Syiah kalau kamu pikir tidak benar, kalau gitu kita dialog santai saja. Apa dasarnya Syiah itu benar? Kalau Suni kan jelas, “umat Islam akan pecah jadi 73, yang benar adalah Ahlu Sunah”.
  • B: Oh, pasti ada dong, hadis Nabi “Ahlul Bait adalah laksana bahtera Nuh, siapa yang masuk ke dalamnya dia akan selamat”
QURAN BEDA?
  • A: Oh, gitu yah? Hadis ini kok jarang saya dengar… Terus ini yang penting, kalau kamu Islam kok pakai Quran yang lain dengan kami?
  • B: Tidak, itu fitnah! Quran kami sama dengan kamu. Kalau memang beda, gampang kok membuktikannya. Datang ke rumah saya, apa Qurannya beda? Cari buku tafsir orang Syiah, apa ayat2nya beda? Sekarang kan zaman informasi, kalau beda gampang buktikannya, misalnya kunjungi website Syiah, ada banyak sekali, apa ada ayat Qurannya beda?
  • A: Tapi katanya ada ulama Syiah yang bilang Quran sekarang tidak asli?
  • B: Iya memang ada, tapi itu bukan pendapat yang sahih. Lagian yang ngomong gitu, juga nggak mbuktikan Quran yang asli itu kayak apa? Tidak usah dianggap… Kalau memang beda, tentu Iran akan mencetak Quran versi Syiah sendiri ke seluruh dunia, kan Iran negara Islam Syiah?
TAQIYAH
  • A: Ah, jangan-jangan kamu ngomong gitu untuk taqiyah… Orang Syiah nggak bisa dipercaya, karena suka taqiyah, sih…
  • B: Jangan begitu, orang Syiah itu juga punya akhlaq. Kalau misalnya ajaran agamanya mengajarkan untuk bohong ya agama itu nggak aku ikutin. Pastilah semua agama juga menjunjung tinggi kejujuran… Taqiyah itu artinya menyembunyikan keimanan, karena alasan yang benar, misalnya ancaman jiwa. Seperti istri Fir’aun, dia menyembunyikan keimanan dihadapan Firaun, meski kemudian ketahuan.
  • A: Tapi seharusnya dalam kondisi apa pun, kita harus menunjukan kebenaran…
  • B: Untuk alasan yang keselamatan misalnya, kita boleh pura2, seperti dilakukan oleh Amar bin Yasir ra. Inilah yang disebut taqiyah. Kalau kondisi aman, beribadah bebas, semua orang boleh bicara tanpa intimidasi, apa gunanya taqiyah.
  • A: Masuk akal, tapi kayaknya saya nggak sreg, jadi orang Islam kan harus berani…
  • B: Iya, tapi kalau akibatnya umat Islam menjadi lemah, bagaimana?
RUKUN IMAN & ISLAM
  • A:Ohya, apa Syiah punya rukun Iman & Islam sendiri?
  • B: Iya, kami menamakan agak berbeda, yaitu Usuludin dan Furu’udin. Usuludin ada 5, yaitu: Tauhid, Adalah (Keadilan Allah), Nubuwah (Kenabian), Imamah dan Qiyamah. Berbeda sedikit dengan rukun Iman versi Suni, yaitu pada Imamah. Kalau yang lain relatif sama, hanya istilahnya beda.
  • A: Kalau Suni menggunakan khilafah, tapi itu tidak masuk kedalam rukun Iman… Terus iman kepada Kitab, Malaikat, dan Taqdir kok nggak masuk?
  • B: Oh, tentu kami percaya dengan Kitab, dan Malaikat tetapi itu bagian dari keyakinan dari Tauhid dan Nubuwah. Sedang Taqdir, kami menekankan kepada Adalah, keadilan Allah dalam taqdir…
  • A: Terus Furu udin, apa itu?
  • B: Ya hampir sama dengan Rukun Islam, tapi kami lebih banyak karena ada tambahan lain, yaitu khums, jihad, amar ma’ruf nahi munkar.
  • A: Oh, begitu… Cuma khums kok nggak dikenal ya dalam Suni?
  • B: Memang agak berbeda, khums kalau Suni masuk dalam zakat. Yaitu zakat barang tambang, rampasan perang, itu 1/5 (khums), . Tapi di Syiah, tidak hanya barang tambang, tetapi setiap keuntungan, termasuk kelebihan pendapatan selama setahun (seperti zakat profesi), dikenai 1/5
  • A: Wah banyak juga, yah… Kalau Suni hanya 2.5% saja….
MADZHAB FIKH
  • A: Terus cara shalat, puasa apa sama?
  • B: Secara umum samalah, seperti subuh 2 rakaat, maghrib 3 rakaat, dll… Gerakannya juga sama dari takbir hingga salam… Namun ada beda pada detil, misalnya waktu berdiri tangan tidak sedekap, tapi lurus. Kita mengikuti fikh madzhab Ja’fari…
  • A: Apaan tuh fikh ja’fari, kok tidak ikut madzhab 4 saja?
  • B: Yah, kalau kaum Suni punya 4 madzhab Hanafi, Syafii, Maliki dan Hambali… Kami punya madzhab Ja’fari. Madzhab ini mengikuti pendapat Ja’far Shadiq salah satu Imam Syiah.
  • A: Ja’far Shadiq? Kok kaya nama salah satu wali songo ya?
  • B: Oh, benar… Banyak keturunan Nabi SAW memiliki nama Ja’far Shadiq, di antaranya adalah wali songo penyebar Islam di tanah Jawa, beliau juga keturunan Nabi SAW.
  • A: Tapi Ja’far Shadiq hidup pada zaman siapa?
  • B: Beliau hidup hampir bersamaan dengan Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Malah konon Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pernah berguru kepada Ja’far Sadiq. Sehingga terkenal kata2 Imam Abu Hanifah, “Kalau tidak karena 2 tahun (bersama Imam Ja’far), maka celekalah Nu’man (nama Abu Hanifah)”…
  • A: Oh, gitu? Ternyata saling berguru ya? Seperti juga Imam kaum Suni, Imam Syafi’i pernah berguru kepada Imam Malik, dan Imam Ahmad pernah berguru kepada Imam Syafii… Ternyata ke-5 Imam madzhab saling berdamai, ya? kenapa umatnya saling bertikai?
  • B: Entahlah… Orang sekarang makin sulit toleransi, beda pendapat sedikit saja, dibilang “Aqidah kita berbeda, engkau bukan saudaraku”
  • A: Iya, kayaknya lebih mudah menyatukan anak kecil bertengkar, ya? Padahal shalatnya menghadap kiblat yang sama, membaca Quran yang sama, naik haji juga ke tempat yang sama..
  • B: Tapi syukurlah, sudah mulai banyak yang menginginkan persatuan kayak Ikhwanul Muslimin… Dari Syiah, kemarin presiden Iran dateng ke Indonesia untuk silaturahmi… Saya bersyukur, kamu masih mau silaturahmi sama saya… meski tahu saya Syiah.
  • A: Oh, bagaimana pun, kamu Saudara saya dalam Islam…
AHLUL BAIT NABI SAW
  • B: Boleh tanya, kami kaum Syiah sering menyebut sebagai madzhab Ahlul Bait, sebenarnya kamu tahu nggak Ahlul Bait…
  • A: Memang agak jarang kami membahas Ahlul bait dalam kajian-kajian Suni… Tapi setahu saya, ahlul bait maknanya banyak… Ada yang mengartikan keturunan Ali, ada yang mengartikan ya seluruh umat Islam ini Ahlul bait Nabi… Kalau menurut Syiah bagaimana? Apa sih pentingnya ahlul bait?
  • B: Bagi kami, konsep ahlul bait justru merupakan pilar dari ajaran Syiah. Sebagaimana hadis nabi, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga (tsaqalain), yang pertama adalah Kitab Allah, dan yang kedua adalah Ahlu baitku”. Hadis ini sahih, lho… Soalnya diriwayatkan diantaranya oleh Muslim.
  • A: Lho, bukannya dua perkara itu Al-Quran dan Sunahku? Itu setahu saya…
  • B: Ya, memang ada… tetapi kami lebih memilih hadis dengan ahlul bait ini… Bagi kami ahlul bait nabi bukan sekedar keluarga Nabi, tetapi adalah yang kami jadikan anutan, dan kami cintai. Kami ingin menjadi kelompoknya…
  • A: Wah, bukannya itu kultus individu, Nabi SAW kan tidak suka dikultusindividukan…
  • B: Bukan kultus individu, tetapi memang itu perintah Allah dan Rasul.. seperti hadis tadi itu…
  • A: Apa ada perintah Allah untuk mencintai ahlul bait Nabi? setahu saya tidak ada…
  • B: Ada, misalnya di surah Asy-syura: 23, “Katakanlah : Aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (al-qurba) “. Kami menafsirkan Al-Qurba adalah Ahlul bait Nabi… Menurut Syiah, Ahlul bait itu adalah ahlul kisa, yaitu Fatimah, Ali, Hasan dan Husain… dan keturunan mereka…
  • A: Kalau menurut kami keluarga, ya keluarga dalam arti umum. Okelah, memang kita disuruh mencintai ahlul bait Nabi SAW, karena hadisnya cukup banyak… Tapi, kok bisa2nya Syiah berpendapat Ahlul bait itu suci, tidak punya dosa, seperti nabi saja… Ini kan tidak masuk akal?
  • B: Menurut saya tidak mustahil kok orang biasa dosanya sedikit, sepanjang dia selalu menjaga diri.. Nah, menurut kami Ahlul Bait Nabi itu selain menjaga diri, juga memang dijaga oleh Allah SWT dari segala noda..
  • A: Apa dasarnya?
  • B: Ada, surat Al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Ini artinya Ahlul bair dijaga Allah…
  • A: Ah, kami nggak menafsirkan seperti itu…
  • B: Ya, nggak apa-apa… Kita lanjutkan lain kali saja deh…
AHLUL BAIT (2)
  • A: Ohya, lanjutkan ya ngobrol kemarin masalah ahlul bait… Apa benar orang Syiah menyembah Ali dan keturunannya atau ahlul Bait?
  • B: Ah, ya nggak dong… Ajaran kita kan sama TAUHID, artinya mengesakan Allah, hanya menyembah Allah, kalau membuat sekutu kan syirk.
  • A: Terus kenapa kamu sering dikatakan menyembah Ahlul bait?
  • B: Nggak tahu, ya? Barangkali karena kami memang mencintai dan membela ahlul Bait Nabi SAW… Tapi itu kan perintah Allah dan Rasul. Jadi menurut kami, kecintaan kepada Ahlul Bait adalah karena kecintaan kepada Rasul, kecintaan kepada Rasul adalah karena cinta kepada Allah..
  • A: Sebenarnya, kami kaum Suni juga mencintai Ahlul Bait Nabi, bukankah kita dianjurkan untuk banyak-banyak shalawat dan bunyi salawat salah satunya ” wa aali Muhammad”…
  • B: Benar, sebenarnya kita juga sama2 mencintai ahlul bait Nabi SAW sebagaimana salawat tadi…
  • A: Saya pengin tahu lebih lanjut mengenai kecintaan kepada Ahlul Bait… Bagaimana riwayat mereka kenapa orang syiah seneng sekali memperingati Hari Asy-Syura…
  • B: Kalau kita baca sejarah ahlul Bait Nabi memang penuh dengan pelajaran. Al-Hasan, cucu Nabi SAW, mementingkan perdamaian dengan Muawiyah, demi persatuan kaum Muslimin. Al-Husein, juga cucu kesangan Nabi SAW, bersama dengan sekitar 70an orang dibantai oleh orang-orang Islam juga di Karbala… Ini yang menyedihkan…Inilah mengapa orang-orang Syiah selalu mengenang kejadian ini… Sebagai bukti kesetiaan kami terhadap Ahlul Bait, sebagaimana perintah Rasul untuk mencintai dan membela mereka…
  • A: Saya juga tahu sejarah mereka, hanya kami tidak memperingati sampai gitu-gitu amat?
  • B: Ya, itu terserah keyakinanmu, tetapi bagi kami memperingati kejadian bersejarah adalah salah satu bukti kecintaan kami kepada mereka… Bukankah, hal biasa misalnya kamu memperingati hari kelahiran, pernikahan atau kematian saudaramu? Apalagi dengan panutanmu…
  • A: Iya, lah… Memang jujur saja… Saya tidak begitu mengenal tokoh-tokoh Ahlul bait… Siapa saja selain Hasan dan Husein… Kalau ini sudah kami kenal…
  • B: Terutama mereka adalah Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-shadiq… ini yang menjadi pendiri fikh ja’fari, terus Musa Al-Kaziem, Ali Ar-Rida, Muhamad al-Jawad, Ali Al-Hadi, Hasan al-askari, dan Muhamad Al-Mahdi…
  • A: Terima kasih, menambah daftar orang shaleh yang biasa dikenal di kalangan ahlu Sunah, seperti Imam Hanafi, Imam Ahmad, Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Taymiah, Ibn Hazm, Imam Asy’ari… saya juga mengenal Ash-Shadiq, Zainal Abidin, Al-Kazim….
  • B: Saya sangat bersyukur kalau mau mengenal tokoh-tokoh ahlul bait, karena mereka termasuk pelita umat… selain ulama2 yang biasa kamu kenal…
  • A: Iya deh, tapi tidak untuk disembah…
  • B: heh, siapa yang nyembah?
  • A: Bercanda… Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad
  • B: Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad…
AHLUL BAIT (3)
  • A: Masih penasaran nih dengan Ahlul Bait… Kalau jelas bahwa mencintai Ahlul bait adalah kewajiban umat Islam, mengapa kok kurang populer di kalangan Ahlu Sunah? Sehingga kita harus shalawat kepadanya, kan?
  • B: Tidak tahu, ya? Tapi dalam hadis Muslim, Rasulullah mengingatkan 3 kali, “Aku ingatkan kalian akan Ahlul Baitku”… Mungkin karena sejarah. Orang yang menjadi Syiah, adalah merupakan nista, “aib”, dianggap kelompok pemberontak… Nah, salah satu ciri orang Syiah adalah kecintaan terhadap Ahlul Bait.
  • A: Tapi setahu saya, kalangan nahdliyin juga sangat menghormati kalangan Ahlul Bait Nabi… Kalau ada habaib, keturunan Nabi SAW, mereka sering minta doa kepada mereka… Sehingga Gus Dur pernah bilang NU itu Syiah kultural…
  • B: Ya, kalangan NU mengenal Ahlul Bait Nabi, sehingga banyak disebut dalam shalawat-salawat mereka… Juga mereka banyak mengamalkan zikir-zikir karya para habaib, seperti Ratib Al-Hadad, Simtud-Durar, dll.
  • A: Ohya, saya pernah baca buku kalau nggak salah “Rumah Suci Keluarga Nabi”, berisi sejarah dan ajaran penghulu Ahlul Bait itu karya orang Suni madzhab Syafi’i…
  • B: Betul, ada juga buku-buku Abdullah bin Nuh yang banyak menceritakan kisah-kisah Ahlul Bait Nabi…
  • A: Ohya, saya tahu juga kalau di kalangan tasauf, tokoh-tokoh seperti Imam Ja’far, Ali Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, dll banyak dikenal. Apa memang mereka pengikut tasauf?
  • B: Mereka memang rujukan ajaran Islam, termasuk tasauf, kami menyebutnya Irfan. Ajaran rohani mereka memang menonjol… sehingga kebanyakan kalangan tasauf bersanad dengan mereka…
  • A: Baiklah, saya akan coba mempelajari sejarah dan ajaran mereka, seperti siapa sih Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, di samping mempelajari ulama-ulama kami Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibnul Qayim… Ohya, ngomong-ngomong nama kalangan ahlul bait kok kayaknya khas ada nama dan gelar?
  • B: Ya, itu kebiasaan kami, seperti Muhammad “Al-Mustafa”, Fatimah “Az-Zahra”, Ali “Zainal Abidin” atau “As-Sajad”, Muhammad “Al-Baqir”…

MAM MAHDI

  • A: Lama gak ketemu nih Baqir.. kangen juga, kepingin ngobrol lagi nih…
  • B: Iya, saya juga, alhamdulillah bisa bertemu…
  • A: Saya nanya lagi nih… Syiah ini pahamnya aneh, masa percaya kepada Imam Mahdi yang katanya sedang Ghaib, dan nanti akan turun…
  • B: Wah, kamu kurang teliti… Sebenarnya kepercayaan akan Imam Mahdi juga kepercayaan Ahlu Sunah juga… Banyak buku ulama Suni tentang Imam Mahdi, misalnya di buku Aqidah Islam karya Sayid Sabiq, bahkan Al-Bani juga menjelaskan di salah satu bukunya…
  • A: Ya, setahu saya Imam Mahdi juga diyakini oleh kalangan Suni, cuma tidak populer… Dan kita hanya menunggu saja…Kalau di Syiah apa populer?
  • B: Bukan hanya populer, tetapi bahkan kalangan Syiah percaya Imam bagi kaum Syiah sekarang adalah Imam Mahdi. Di Iran, misalnya, dalam konstitusinya yang dianggap Imam Negara yang sesungguhnya adalah Imam Mahdi… Sedang Imam Khamaeni hanya mewakili, menunggu Imam Mahdi muncul.
  • A: Apa Imam Mahdi yang dimaksud Syiah dan Suni itu sama?
  • B: Banyak persamaannya, misalnya Imam Mahdi bernama Muhammad, dari kalangan Ahlul bait, akan muncul di akhir zaman, ketika Al-Masih Ad-Dajjal muncul… kemudian Nabi Isa AS juga turun… Imam Mahdi dipercaya baik Suni maupun Syiah akan memimpin dunia dengan sangat adil dan sejahtera di akhir zaman…dan lain-lain. Tetapi memang ada bedanya.
  • A: Apa saja bedanya?
  • B: Ada, misalnya kalangan Suni menganggap Al-Mahdi belum lahir, sedang Syiah sudah… yaitu putra Imam ke-11  (Hasan Al-Asykari), tetapi sekarang sedang dalam ghaib kubra, berada di tempat yang hanya Allah yang tahu… Sebagaimana Nabi Isa AS, yang diangkat Allah ke tempat yang hanya Dia yang tahu…
  • A: Apalagi bedanya?
  • B: Menurut Syiah, Imam Mahdi bernama Muhamad bin Hasan, sedang kebanyakan Suni berpendapat bernama Muhammad bin Abdullah… Perbedaan lain, ya, seperti tadi bagi kaum Syiah, Imam Mahdi dinanti-nanti dan diakui sebagai the real Imam di masa kini… Sedang bagi kaum Suni, tidak begitu, bahkan ada yang tidak meyakini adanya Al-Mahdi… Namun bagi banyak ulama Suni, riwayat Al-Mahdi bahkan merupakan riwayat yang mutawatir…
  • A: Ok, lah… kalau begitu kita berpegang kepada kesamaan saja, bahwa kita sama-sama mempercaya kehadiran Al-Mahdi…
SAHABAT RASUL
  • A: Ini lho kawan, salah satu masalah yang sering mengganjal hubungan dengan temen2 Syiah… Yaitu mereka suka sekali mencela sahabat. Padahal, meski mereka bukan orang yang bebas dari kesalahan, bagi kami para sahabat adalah anutan umat… Dari merekalah kita memahami Islam. Bagaimana sih pandangan Syiah terhadap Sahabat Nabi RA?
  • B: Jujur saja, saya juga menyesalkan kenapa banyak orang syiah yang kerjaanya mencela sahabat Nabi. Tapi, memang kami menilai sahabat agak beda dengan kaum Suni…
  • A: Bedanya bagaimana?
  • B: Kaum Suni menganggap semua sahabat adalah adil, di antaranya begitu kaidah dalam ilmu hadis, sehingga semua ucapan dan tindakannya bisa menjadi rujukan… Sedang bagi kaum Syiah, terlepas bahwa mereka adalah salah satu generasi terbaik Islam, kami menganggap sahabat itu bermacam-macam. Salah satu kaidahnya adalah bagaimana kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap Ahlul Bait Nabi, yaitu Fatimah, ALi, Hasan, Husein dan keturunannya…
  • A: Bukankah semua sahabat telah mendapat rida dari Allah SWT dan panutan umat, sebagaimana hadis, “Sahabatku seperti bintang…” dalam arti bisa menjadi petunjuk?
  • B: Sayangnya, kaum Syiah memang memaknai berbeda… Di antara sahabat ada yang sangat saleh, tetapi ada juga yang tidak saleh. Indikasinya adalah di antara mereka ada yang mengkutuk dan membenci Ahlul Bait… Nah, yang shaleh itulah yang kami jadikan Rujukan…
  • A: Yah, kalau kita agak teliti membaca sejarah pada masa sahabat, tidaklah semua berisi keindahan… Pada masa mereka pertentangan bahkan peperangan antar sesama muslim terjadi… Namun, bagi kami kaum Suni menganggap itu adalah ijtihad mereka, mereka bisa benar bisa salah. Sikap kami adalah tidak banyak membicarakan masalah ini, tetapi mengambil yang baik-baik… Mengapa Syiah tidak demikian?
  • B: Memang sulit, karena ini memang berkaitan dengan sebab asal munculnya Syiah Ali… Sulit menjelaskan sebab adanya Syiah Ali tanpa mempelajari sejarah di sekitar pertentangan antar sahabat, hingga munculnya perang jamal, perang Siffin, dan apalagi tragedi Karbala…
  • A: Ok, lah … Yang sudah terjadi biarlah berlalu, masing-masing mengambil pelajaran dari sudut pandang masing-masing… Mereka adalah salah satu generasi terbaik  umat Islam, yang di samping ada kelemahannya, tetapu lewat tangan merekalah terutama umat Islam bisa berkembang ke seluruh dunia. Bahkan pada masa Umar RA perkembangan Islam sangat pesat dalam waktu singkat… Jadi, kalau memang tidak ada hal yang urgen ngapain bicara kelemahan mereka…
  • B: Saya setuju… Mestinya pertentangan mereka bisa menjadi pelajaran bagi kita agar mengambil yang baik, sekaligus menghindari yang kurang baik… Seperti kata Imam Ja’far Sidiq dalam Lentera Ilahi, tentang Sahabat, saya lupa isinya, tetapi kurang lebih agar kita mengenang kebaikan dan keutamaan mereka….
  • A: Nah, gitu dong… baru bagus! Tapi apa orang Syiah mau begitu?
  • B: Insya Allah mau… Untuk kebaikan bersama…
  • A: Amien…
TRAGEDI KARBALA
  • A: Oh, ya sebentar lagi hari Asy-Syuro, bagi kaum Suni merupakan salah satu hari besar yang disunahkan untuk berpuasa… Bagaimana kaum Syiah malah memperingati tragedi Karbala?
  • B: Ya, ini adalah perbedaan lain antara Suni-Syiah… Kaum Suni memperingati sebagai hari baik, sedang kami memperingati tragedi Karbala dengan kesedihan. Mungkin kita mulai dengan membaca komentar Haidar Nashir, seorang tokoh Muhammadiyah di Republika
.
Kutip
Kita dapat belajar pada kegetiran sejarah di Karbala, sebuah daerah di Irak bagian Tengah yang berjarak sekitar 90 km dari Baghdad atau 40 km dari Kufah. Bagaimana Husain putra Ali bin Abi Thalib harus mengakhiri hidupnya secara tragis dan menyedihkan sebelum sampai ke Kufah yang menjadi tujuannya. Perselisihan politik yang keras dengan baju agama yang dikobarkan rezim khalifah Yazid Mu’awiyah telah menelan korban cucu terkasih Nabi itu bersama sanak keluarga dan pengikut setianya secara memilukan
.

Dalam catatan sejarah yang muktabar, Ubaidillah sang Gubernur Iraq wakil Dinasti Umayyah di negeri Seribu Satu Malam itu harus mengarak penggalan kepala Husain dan korban lainnya di kota Basrah dan Kufah untuk kemudian dibawa ke Damaskus untuk diserahkan ke Yazid sebagai bukti. Sebuah tragedi getir yang dilakukan Muslim terhadap Muslim lainnya secara tak kenal perikemanusiaan.

ini menjadi pelajaran pentingnya bersatu, menghindari perpecahan,mementingkan ukhuwah.

  • A: Terus bagaimana Tragedi Karbala bagi kaum Syiah? Mengapa mereka sampai ada yang menyiksa diri? Itukan tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam??
  • B: Tindakan menyiksa diri seperti sebagian kalangan Syiah, sebenarnya diharamkan oleh ulama Syiah. Yang dibolehkan adalah memukul dada tapi tidak perlu keras-keras, sekedar ungkapan kesedihan… Imam Husein adalah salah satu panutan umat Islam, diperlakukan seperti itu… Maka kami memperingatinya sebagai ungkapan kecintaan kami kepada Imam Husein, dan kesetiaan kami kepada Imam Husein.
  • A: Kalau saya perhatikan dalam sejarah, konflik yang paling sering di antara kaum muslim adalah karena masalah politik. Menurutnya bagaimana?
  • B: Benar, politik memang kadang ruwet… Saudara bisa menjadi musuh karena perbedaan politik. Dalam konteks juga politik, kita bisa menganalisa konflik dan persaingan antara kaum Suni dan Syiah.
  • A: Bagus juga kalau masalah kontemporer ini kita bahas juga.
  • B: Ya, tapi mungkin lain kali, ya.. Saya lagi ingin membaca buku mengenai Tragedi Karbala.
  • A: Baiklah, saya juga akan baca namun dari kacamata Suni, seperti tulisan Abul A’la Maududi…
  • B: Ok, sampai ketemu lagi…
Pertentangan Politik dalam Islam
  • A: Saya telah membaca sebagian kisah tragedi Karbala baik dari sumber Syiah maupun Suni. Saya sungguh sedih sekali, bagaimana cucu kesayangan Rasul SAW beserta handai taulannya dibantai begitu sadis. Tidak mungkin dalam hal ini saya membela atau memaklumi Yazid, seorang penguasa yang zalim dan fasik.
  • B: Yah, itulah politik… Kalau kita pelajari sejarah, hampir semua pertengkaran penuh dengan nuansa politik, termasuk dalam sejarah Islam, seperti kasus Karbala tadi. Dan politik itu, sesuai sifatnya rumit dan penuh dengan siasat, dan tipu daya…
  • A: Penuh tipu daya bagaimana, bukankah ada politik yang baik…
  • B: Mungkin ada, tapi sayangnya kebanyakan buram. Penuh intrik dan kekerasan, di mana-mana sama… coba lihat sejarah politik bangsa Indonesia.
  • A: Lho kalau begitu apa orang Islam itu tidak usah berurusan dengan politik, karena politik itu buram? Itu kan pandangan sekuler?
  • B: Bukan begitu, tetapi kita harus hati-hati penuh cek dan ricek, serta tidak emosional, berpikiran sempit, dan mudah percaya begitu saja… Dan ini yang penting, lebih mengutamakan dialog dan kerja sama dalam berpikir dan bertindak… Sebagai contoh kasus Irak, sungguh sangat memilukan…
  • A: Bagaimana kamu memahami kasus Irak? Saya lihat kaum Suni dibantai Syiah…
  • B: Ya, dan kaum Suni juga melakukan hal sama dengan membakar Masjid-masjid, Ulama-ulama Syiah… dalam kasus terakhir, ratusan muslim Syiah tewas dalam peringatan Asy-Syura…
  • A: Menurut kamu bagaimana sih, peta politik di Irak itu?
  • B: Seperti saya katakan, rumit, buram… Ada banyak sekali kelompok, dan masing-masing bertindak berdasar interes masing-masing.
  • A: Misalnya?
  • B: Pertama, pihak paling berkepentingan adalah USA & UK dan sekutunya. Mereka telah keluar uang dan nyawa banyak orang, tentu mereka ingin menguasai Irak sedalam-dalamnya, terutama untuk menguasai minya dan gas. Makin tergantung orang Irak dengan mereka makin senang dia… Saya kira salah satunya dengan menebarkan dan mendukung kebencian antara Suni-Syiah. Mereka punya keuntungan besar dengan kondisi ini…
  • A: Keuntungan bagaimana? Bukanlah mereka banyak tentaranya yang mati?
  • B: Pertama adalah menciptakan image bahwa memang benar Islam, baik Suni dan Syiah memang sukanya bertengkar, berperang, kekerasan dan terorisme. Kedua, untuk meyakinkan dunia bahwa Irak memang sangat membutuhkan & tergantung kepada USA. ketiga, senjata mereka laku… Perlu diingat bahwa senjata adalah bisnis besar bagi USA & UK. Konon, di UK ada pabrik senjata yang sudah mem-PHK ribuan karyawannya, begitu perang Irak, mereka memanggil semua karyawannya. Keempat, menyibukkan umat Islam di dunia dengan masalah yang makin banyak melingkupi mereka, sehingga mereka lemah, putus asa. Kelima, kasus Irak adalah sinyal penting dari USA kepada negara mana saja yang menentangnya, bisa mengalami nasib seperti Irak. Muamad Khadafi, dan pemimpin Arab lainnya, paham sekali hal ini. Sehingga kita bisa lihat semua pemimpin negara Islam, tunduk patuh kepada USA… Kita bisa menambahkannya lagi…
  • A: Tapi orang Syiah sendiri juga mengambil keuntungan dari kehadiran USA, kan?
  • B: Dalam beberapa hal mungkin benar. Seperti kemungkinan untuk ikut berperan dalam politik akan makin besar, mengingat mereka mayoritas. Hal yang tidak mungkin terjadi pada masa Sadam Husein yang sangat menindas kaum Syiah. Bahkan, mungkin ada sebagian orang Syiah yang dendam dengan Sadam yang telah berpuluh tahun menindas mereka…
  • A: Sebenarnya siapa yang mendahului saling membunuh itu? Kalau kami kaum Suni hanya membela diri saja…
  • B: Sulit untuk dipastikan… Bagi kami orang Syiah, kami bahhanya membela diri. Orang Suni juga begitu, mereka hanya merasa membela diri. Tetapi, sebenarnya ada pihak lain seperti eks pengikut sadam dan kelompok-kelompok lain… Yang jelas, peristiwa di Irak ini telah membunuh sekitar 500 ribu orang. Dan menyatukan lagi kayaknya merupakan jalan panjang. Ketika darah sudah banyak bertumpah, perkara menjadi lain…
  • A: Rumit juga, yah. Jadi nampaknya, tragedi Irak tidaklah simpel, tetapi melibatkan banyak pihak yang memiliki interes masing-masing. Baik, USA dan Konconya, kaum Syiah, Kaum Suni, yang keduanya juga masing-masing berpecah-belah, para pengikut Sadam, dan mungkin kelompok-kelompok lain…
  • B: Ya, dan yang rugi adalah orang-orang tak berdosa dan Islam itu sendiri
PERSATUAN & UKHUWAH ISLAMIYAH
  • A: Memang setelah saya pelajari sejarah Islam, bahkan pada masa Sahabat, sulit untuk dipungkiri bahwa masalah politik memiliki andil besar dalam perpecahan umat Islam.
  • B: Ya, itulah sebabnya kita perlu membangun kembali semangat persatuan dan ukhuwah Islamiyah, sebagaimana diserukan oleh Rasulullah SAW dari dulu. Bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh. Seharusnya kita menjadikan Islam sebagai ikatan paling kuat di antara kita.
  • A: Sebenarnya memang sebaiknya mesti begitu, ya, perbedaan kalau mau diungkit-ungkit tidak pernah akan selesai untuk diperdebatkan. Tetapi bukankah, mestinya umat Islam itu satu, berasal dari sumber yang satu dan tidak ada  lagi perbedaan?
  • B: Ada dua hal dari pertanyaan Akhi Ahmad. Pertama, apakah Islam tidak memungkinkan perbedaan? Kedua, apakah perbedaan yang menyebabkan perpecahan?
  • A: Kalau saya baca sejarah Islam, maupun sebab-sebab perbedaan memang sudah ada bahkan zaman Nabi SAW. Bedanya pada masa Nabi SAW ada yang yang menjadi pemutus, yaitu Rasul SAW sendiri. Sedang pada masa sesudahnya tidak ada…
  • B: Ya, kalau kita baca sebab perbedaan pendapat adalah banyak sekali, termasuk di antaranya perbedaan memahami Al-Quran dan Sunah itu sendiri dalam menjawab tantangan hidup yang terus berkembang. Perbedaan adalah keniscayaan di dalam hidup ini, kita tidak bisa menghindarinya…
  • A: Betul juga, ya, bahkan dalam kelompok yang sudah digembleng dalam satu “aqidah” yang sangat kuat, dan mencela yang berbeda pun akhirnya berbeda-beda pendapat juga, bahkan kadang-kadang perbedaan itu keras sekali…
  • B: Ya, karena persatuan itu ada di dalam HATI, di dalam SIKAP… Bukan ditentukan oleh persamaan pendapat atau bahkan persamaan lahir, misalnya pakaian, atribut…
  • A: Betul juga, persatuan akan muncul dari sikap menganggap orang lain sebagai saudara, dari sikap rendah hati, tawadlu, dan menghargai orang lain. Karena meskipun kita ada dalam satu kelompok dengan pendapat sama, bahkan pakaian, atribut sama semuanya hingga kecil-kecil, namun dalam hati masing-masing merasa paling baik, paling benar, paling shaleh, ingin menonjolkan diri sendiri, dan mau menang sendiri… Perpecahan tinggal menunggu waktu.
  • B: Tapi bukan berarti persamaan atau kesepakatan itu tidak baik, lho? Karena kira umat Islam sebenarnya memiliki persamaan dalam sangat banyak hal, seperti misalnya shalat, secara menakjubkan sebenarnya kita shalat dengan cara yang secara umum sama sehingga bisa dipimpin oleh imam dari madzhab mana pun, tanpa makmumnya kesulitan untuk mengikuti…  Di samping itu, kita punya ikatan yang sangat kuat, yaitu Tauhid, Al-Quran, kecintaan kepada Rasulillah dan Islam… Ini adalah sesungguhnya ikatan yang sangat kuat (urwatul wustqa)… Kalau orang lain, bisa bersatu dalam hal yang remeh temeh seperti kesamaan selera musik, mengapa tali yang begitu kuat di atas tidak mampu menyatukan umat Islam?
  • A: Saya juga ingat anjuran tokoh-tokoh persatuan Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Rasyid Ridha agar “KITA BANTU-MEMBANTU DALAM MASALAH YANG KITA SEPAKATI, DAN BERSIKAP TOLERAN DALAM MASALAH YANG KITA PERSELISIHKAN”
  • B: Alhamdulillah, sebenarnya tokoh-tokoh utama umat Islam dari semua kelompok sebenarnya sangat toleran. Dalam NU, KH Hasyim Muzadi, Said Agil Siraj, atau Gus Mus misalnya. Dalam  Muhamadiyah ada , Pak Amien Rais, Pak Syafi’i juga Din Syamsudin… Adalah tokoh-tokoh yang menyerukan persatuan Umat Islam, termasuk dengan kelompok minoritas Syiah seperti saya ini…
  • A: Apakah toleransi, mementingkan ukhuwah Islam bukan berarti kita tidak punya pendirian, mencla-mencle?
  • B: Oh, bukan… Kita tetap memiliki pendirian masing-masing secara kuat. Seperti saya akan tetap mencintai, mengikuti dan membela Ahlul Bait Nabi SAW bahkan dengan jiwa raga saya… Namun, di saat yang sama saya tetap bisa bergaul, berdialog, bekerja sama dengan teman2 dari kelompok lain dalam hal-hal yang sama, yang sebenarnya memang sangat banyak…
  • A: Betul juga, kalau waktu kita hanya dihabiskan untuk bertengkar masalah khilafiah tanpa henti, bagaimana umat Islam akan bisa maju jika kita tidak bisa bersatu dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat?
  • B: Setuju Akhi…
SEKTARIAN, HIZBIYAH, MAZHAB & ABSOLUTISME
  • Ahmad: Melanjutkan ide tentang persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah, kayaknya salah satu rintangannya adalah sikap hizbiyah atau sektarianisme. Tetapi apakah merasa bahwa pemahamannyalah yang benar itu salah?
  • Baqir: Tentu semua orang akan mengikuti pendapat yang menurutnya paling benar. & adalah kecenderungan, dan sikap semua orang. Itu sikap yang wajar dan memang harus begitu… Yang jadi masalah adalah sikap menegasikan orang lain, sikap yang menganggap bahwa pendapatnya dan kelompoknya sama dan sebangun dengan Islam itu sendiri dan yang tidak sesuai dengan pendapatnya sebagai bentuk kekafiran… Itulah sikap absolutisme…
  • A: Kalau begitu sektarianisme, bukan berarti tidak memiliki mazhab atau kelompok
  • B: Menurut saya, ya! Hizbiyah atau sektarianisme adalah sikap bagaimana memandang orang lain yang berbeda pendapat dengan kita. Kita bisa saja, dan itu wajar, mengikuti pendapat suatu ulama, kelompok atau hizb… Namun, ketika kita pada saat yang sama memandang orang lain yang berbeda itu dengan sikap toleransi, dan tetap menjadikan saudara seiman, dia tidaklah sektarian. Contohnya adalah NU dan Muhamadiyah… Orang NU tetap menganggap orang Muhamadiyah sebagai saudara seiman, walau mereka berbeda pendapat dalam banyak sekali masalah. Namun, di saat yang sama ketika kita TIDAK memilih mazhab atau hizb apa pun, namun KITA BERSIKAP: hanya kitalah yang benar, yang lain adalah kesesatan. Kita telah bersikap sektarian, hizbiah, meski kita secara fisik tidak menjadi anggota kelompok apa pun, atau tidak menisbahkan kepada mazhab apa pun…
  • A: Ya, kalau saya membaca sekilas fikh perbandingan (muqaran), saya dapati perbedaan yang sangat banyak dalam satu masalah saja. Sehingga Ahmad Deedat mengatakan bahkan dalam masalah shalat saja terdapat perbedaan dalam lebih dari 200 masalah…
  • B: Itulah kawan, agama kita sudah melalui lebih dari 1400 tahun… Melalui berbagai generasi dari berbagai bangsa, dengan latar belakang dan kecenderungan masing-masing. Masing- masing memiliki pola anutan yang berbeda, sehingga sangat wajar pendapatnya menjadi berbeda. Bagi kami Mazhab Ahlul Bait, rujukan paling utama adalah 12 Imam itu, serta para ulama yang mengikuti 12 Imam kami.
  • A: Ya, begitu juga kami kaum Ahlu Sunah… Memiliki banyak sekali ulama anutan. Misalnya dalam masalah fikh ada 4 mazhab besar, yang paling banyak diikuti. Belakangan memang ada yang tidak mengikuti mazhab tertentu, namun sebenarnya juga membentuk mazhab tersendiri juga. Bagi kaum NU misalnya, tentu rujukannya Imam Nawawi, Imam Al-Ghazali, Al-Baghawi, dll. Atau yang belakangan Sayid Alawi Al-Maliki, misalnya… Sedang bagi kelompok lain, rujukannya berbeda misalnya Ibnul Qayim atau yang belakangan Syaikh Al-Bani atau Al-Qaradawi…
  • B: Meskipun begitu tidak ada alasan bagi kita untuk berpecah belah, dan saling hujat sendiri…
  • A: Setuju Akhi Baqir… Semoga Allah mengaruniai seluruh umat Islam kasih sayang kepada saudaranya sendiri, dan menjauhkan fitnah, sikap iri, dan prasangka di hati kaum Muslimin.
  • B: Amien… Ya Rabbal ‘alamiin…

Syi’ah Spiritualitas Abad Modern

Syi’ah Spiritualitas Abad Modern !!!

Pesona syi’ah yang menggabungkan ilmu kalam dengan fikih dengan tasawuf dan filsafat tak mampu dihadang wahabi nejed !!

Ada kelompok yang memandang kebenaran hanya dari sudut pandang dirinya saja, di sisi lain kita temui pula, sebagian kelompok yang mencoba pula mengeliminir kebenaran menjadi milik semua orang bahkan sampai pada tingkat merelativitaskan kebenaran, atau bahkan menolak kemungkinan benar pada susunan pengetahuan manusia. Kelompok seperti ini dahulu dikenal dengan sophis atau sekarang dengan nama skeptis. Karenanya, diperlukan kajian yang serius untuk menjelaskan nilai kebenaran secara lebih detil. Namun pada kesempatan ini hanya akan menguraikan secara sederhana hal-hal penting tentang kebenaran tersebut.

Membincangkan Wilayah alFaqih (vilayat-e faqih) tidak bisa terlepas dari konsep Imamah dan wilayah. Imamah dan wilayah adalah konsep kepemimpinan yang diyakini oleh umat syiah. Mayoritas syiah terdapat di Iran (Persia). Iran lewat perjuangan Ayatullah Khomeini telah menjadikan konsep Wilayah al-Faqih sebagai konstitusi negaranya setelah revolusi 1979. Karenanya, sebelum membahas fokus kajian ini, penulis terlebih dahulu menguraikan konsep Imamah dan wilayah tersebut sebagai faktor perumusan wilayah al-faqih.

Tema spiritualitas dan globalisasi sangat urgen untuk dibincangkan. Selain karena tugas mata kuliah spiritualitas dan kemodrenan, diskursus ini juga terkait dengan sebuah “era”, di mana kita hidup di dalamnya, dan kita termasuk makhluk yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.

Apa hakekat globalisasi? Bagaimana sejarahnya? Apa yang dimaksud dengan spiritualitas? Bagaimana spiritualitas di era global? Deretan pertanyaan tersebut akan coba dijelaskan dalam makalah ini.

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, ImamImam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah

Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.[1]

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.[2]

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.[3]

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.[4]

Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai konsekwensi modernitas di era global ini, berakhir pada peniscayaan terhadap ratio yang membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (2004).[5] Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.

Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi,  jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.

Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip sebagaimana dikutip oleh Nurhamzah,[6] bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, dan televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.

Sejarah globalisasi

Banyak sejarawan menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera maupun jalan laut untuk berdagang.[7]

Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.[8]

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.[9]

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.[10]

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.[11]

Spiritualitas

Spiritualitas dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kejiwaan, rohani, batin, mental; dan moral.[12] Term ini disejajarkan dengan istilah rúhaniyah. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyah mendefinisikan “rúhaniyah” sebagai idrak shillah billahi (kesadaran hubungannya dengan Allah SWT).[13] Sementara al-Farra` dan Abu Haitsam menyebutnya dengan istilah “ruh”, yaitu substansi kehidupan manusia dan tidak diketahui secara pasti eksestensinya.[14] Ruh juga digunakan untuk wahyu, seperti pada surat al-Mukmin ayat 15. Wahyu ibarat nyawa bagi seorang Muslim, sebagaimana ruh menjadi nyawa bagi manusia.

Terlepas dari perbedaan istilah spritualitas dalam bahasa Arab, pendapat Nurcholis Madjid berikut kelihatannya mewakili arti diskursus ini, yaitu sesuatu yang hanya bisa dipahami dan dialami sendiri, bersifat individual dan berasal dari fitrah kemanusiaan.[15]

Sebagai fitrah kemanusiaan, spiritualitas, menurut Yasraf, adalah sesuatu yang mempunyai kekuatan otonom dan mampu menghidupi atau menggerakkan sesuatu yang lain di luar dirinya, baik yang bersifat ketuhanan maupun yang bukan. Dia mengidentikkan spiritualitas sebagai Sesuatu yang Tidak Diketahui dan Yang Tak Berhingga.[16]

Dimensi spiritual manusia tersebut dan kecenderungan-kecenderungan dasarnya adalah sebuah bukti yang gamblang  atas kefitrahan kepercayaan (spritualitas), dan termasuk salah satu dari empat perasaan yang populer dan mendasar yang akhir-akhir ini diintroduksi oleh sebagian psikolog dan psikoanalis sebagai dimensi spiritual manusia, yaitu perasaan kognitif atau kuriositas, perasaan estetik, perasaan etik dan perasaan religius (spritualitas).[17]

Di antara empat dimensi spritual manusia yang terkadang juga disebut sebagai kecenderungan kepada kesempurnaan mutlak, kecendrungan terakhir itu mengajak manusia kepada kesadaran akan keberadaan Tuhan, dan  keyakianan akan adanya Sumber Awal Yang Maha Agung.

Kebutuhan Spritualitas di Era Global

Era global adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Manusia dipandang sebagai makhluk yang hebat, yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia di era global dan sebagai konsekwensi modernisasi, melepaskan diri dari keterikatannya dengan Tuhan (theomosphisme), untuk selanjutnya membangun tatanan manusia yang semata-mata berpusat pada manusia (antropomorphisme). Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri, yang mengakibatkan terputusnya dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, manusia modern “Barat” pada akhirnya tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidup sendiri.

Modernisme akhirnya dirasakan membawa kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Timbul berbagai kritik dan usaha pencarian baru. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadaran dan pola kehidupan baru. Dalam hal kesadaran manusia, secara praktis, timbul gejala pencarian makna hidup dan upaya penemuan diri pada kepercayaan-kepercayaan yang sarat dengan spiritualitas. “Organized Religion” (agama yang terorganisasi) tidak selamanya dapat memenuhi harapan. Oleh sebab itu, bermunculan kecenderungan untuk kembali kepada orisinalitas (fundamentalis), kharisma yang dapat menentukan (cults) dan fenomena-fenomena yang luar biasa (magic). Sebagaimana diungkapkan oleh Komaruddin Hiayat:

Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan,  pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern di era global yang memiliki fasilitas transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba kebendaan di zaman modern (era glogal) yang menyebabkan manusia sulit menemukan dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.[18]

Namun, seperti senantiasa terjadi dalam sejarah kehidupan spiritual manusia, gagasan tentang spiritualitas yang murni selalu mengalami distorsi dan materialisasi yang bersifat fetis. Tak heran, spiritualitas dalam realitas kebudayaan kontemporer pun mengalami distorsi.[19]

Saat ini, spiritualitas telah mengalami titik balik, yaitu dari nilai spiritual ke terapi. Dahulu, apabila seseorang gelisah, maka mereka biasanya mencari penentram jiwanya dalam agama, sedang saat ini manusia lebih banyak lari ke terapi-terapi yang sifatnya adalah “pengobatan” sementara. Manusia konsumer, menurut Yasraf, tidak tertarik akan “keselamatan diri” lewat perenungan atau ibadat, melainkan tertarik terhadap ilusi-ilusi yang bersifat sementara, seperti kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keamanan psikis lewat terapi; hanyut dalam berbagai bentuk terapi, seperti, yoga, latihan spiritual kilat, konser musik rock, astrologi populer, joging, pusat kebugaran, karaoke. Kondisi ini melahirkan suatu fenomena yang disebut Yasraf sebagai pospiritualitas, yaitu kondisi spiritualitas ketika yang suci bercampur aduk dengan yang profan, yang sakral bersimbiosis dengan yang permukaan, sehingga batas-batas di antara semuanya menjadi kabur.

Permasalahan yang agak pelik dan cukup licin tentang spiritualitas, apalagi dalam realitas kebudayaan kontemporer, adalah “makna” pengalaman spiritual itu sendiri. dalam masyarakat kontemporer, suatu pengalaman yang sifatnya sangat profan dan sekuler pun bisa dimaknai sebagai pengalaman “spiritual”. Inilah bentuk pos spiritualitas dalam masyarakat kontemporer. Yasraf, misalnya, mengutip sebuah pernyataan Madonna dari karya Akbar S. Ahmed, yang bisa merepresentasikan fenomena pospiritualitas tersebut:

“Saya religius“, “Saya spiritual”, katanya. Namun ketika ditanya tentang doa tersebut, ia berkata “Ya saya religius…, saya tidak mencoba membangun jembatan antara seks dan agama. Hanya gereja Katolik yang bersi¬keras memisahkan dan itu nonsens.”[20]

Pembicaraan tentang permasalahan spiritualitas dan apa yang disebut sebagai “pengalaman” spiritual memang sangat problematis. Selain sulit untuk diverifikasi—dan juga permasalahan “otoritas”—adalah masalah keserupaan dan tafsirannya. Misalnya, seseorang yang memakan obat-obatan psikotropika bisa saja menafsirkan bahwa dia pun “merasakan” pengalaman spiritual, entah berupa penglihatan, penampakan, atau bahkan bisikan-bisikan. Bahkan, pada tingkatan filosofis pun, hal tersebut tetap menjadi permasalahan yang tak terdamaikan, seperti yang diungkapkan oleh Dodi Salman:

Sufisme diharapkan dapat menjadi mesin “pencerahan” di tengah deru mesin hasrat kapitalisme dan masyarakat postmodern (era global) yang berputar tanpa henti. Akan tetapi, derasnya perputaran mesin hasrat tersebut—yang mewujud di dalam bentuk-bentuk komoditi, citra, gaya hidup, tontonan—telah menimbulkan kekhawatiran, jangan-jangan sufisme itu sendiri dapat terperangkap di dalam arus hasrat postmodern sehingga yang tercipta adalah semacam “sufi materialistik”, yaitu para sufi yang terperangkap di dalam pengaruh jagat materi dan gaya hidup masyarakat postmodern. Inilah misalnya, seorang wanita “sufi”, yang berkunjung ke sebuah mall mewah, mengendarai sendiri mobil build-up-nya yang terbaru, mengenakan setelan fesyen mutakhir rancangan Versace, memakai kacamata sunglass yang gelap; membawa handpone mutakhirnya yang trendi, sambil menenteng ke mana-mana “sertifikat sufi”, sebagai “citra” dan “legitimasi” diri di tengah belantara citra budaya postmodern yang bersifat paradoks.[21]

Perkembangan Spritualitas di Era Global

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, baik bersifat negatif maupun positif, termasuk di antaranya aspek budaya[22] dan spiritualitas.

Era ini, dan merupakan prestasi mutakhir modernisme, telah mengantarkan manusia pada supremasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme dan dogmatisme agama. Kenyataan ini dapat dipahami, karena abad modern dibangun atas dasar pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh agama (sekularisme). Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi melahirkan apa yang oleh Huxley disebut dengan metode ilmiah (scientific method).[23]

Kesimpulan

Spritualitas merupakan potensi kemanusian yang tidak mungkin hilang dalam kondisi dan situasi apa pun. Gaung spiritualitas akan tetap menggema kendatipun manusia telah bertahta di puncak rasionalitas, dan berada di sebuah “era”, disebut globalisai. Tuntutan spiritualitas manusia tidak terikat dengan ruang waktu, ia akan tetap eksis dan menggema dalam setiap situasi.


REFERENSI

Ahmed, Akbar S. and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, London and New York, Routledge, 1994

______________, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, Bandung: Mizan, 1992

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan,.  Bandung: Mizan, 2003

Giddens, A., The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press, 1990

Hidayat, Komaruddin, Kualifikasi Seorang Kiyai, http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009

“Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, Jakarta: Grasindo, 2004

Maksum, Ali, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama, http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-1.html, 2008

Mandhur, Ibn, Lisan al-Arab, Jilid 3, Kairo: Dar al-Hadits 2003

Mustafa, Mr., Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi, http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008

Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009

Pals, Daniel L. Seven Trories of Religion, Yogyakarta: Qalam, 2001

Pirages, Dennis, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, North Scituate, Massachusetts, tt.

Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990

Yakub, Husein, Muhammad, Mafahim Islamiyah, Kairo: Maktabah Syafa, 2000

Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004

_________________, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004


[1].  Mr. Mustafa, Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi,(http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008/12/31/), h. 1

[2]. Dennis, Pirages, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, (North Scituate, Massachusetts, tt.), h. 4-6

[3]. Akbar S. Ahmed and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, (London and New York, Routledge, 1994), h. 1-3. Lihat: A. Giddens, The Consequences of Modernity, (Cambridge: Polity Press, 1990), h. 64

[4]. Ibid.

[5]. Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 23

[6]. Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, (E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009), h. 3

[7] . Mr. Mustafa, h. 2

[8]. Ibid.

[9]. Ibid.

[10]. Ibid.

[11]. Ibid.

[12]. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990), h. 857

[13]. Muhammad Husein Yakub, Mafahim Islamiyah, (Kairo: Maktabah Syafa, 2000), h. 17

[14]. Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, Jilid 3, (Kairo: Dar al-Hadits 2003), h. 290

[15] . Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, (Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000), h.1

[16]. Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 503-504

[17]. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan,.  (Bandung: Mizan, 2003), h. VII

[18]. Komaruddin Hidayat, Kualifikasi Seorang Kiyai, (http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009), h. 3

[19]. Dikutip dari prolog Dunia yang Dilipat, Edisi 1, tidak dimuat lagi dalam Edisi II

[20]. Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, (Bandung: Mizan, 1992), h. 224.

[21]. “Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, (Jakarta: Grasindo, 2004), h. 204

[22]. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Daniel L. Pals, Seven Trories of Religion, (Yogyakarta: Qalam, 2001), h. 149

[23]. Ali Maksum, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama,

(http: //www.geocities.com/HotSprings/6774/j-1.html, 2008), h. 2

Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia

Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia

Melarang syi’ah berarti melarang kemajuan filsafat Indonesia masa depan..

Ditengah derasnya paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme maka Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia..

Telah menjadi Ittifaq para ahli bahwa filsafat dengan nalar burhani-nya merupakan salah satu warisan berharga nalar Islami, selain bayani (fiqih), dan irfani (tasauf).[1] Bagi Hasan Hanafi, ini merupakan turas berharga yang sangat sukses mempertahankan eksistensi ajaran Islam, disamping Ilmu Kalam, Ushul Fiqh, dan Tasauf.[2] Lebih lanjut, menurut Hanafi, meskipun Ilmu Kalam mirip dengan filsafat dan merupakan tradisi berpikir warisan Islam yang agung namun filsafat memiliki kelebihan sendiri, diantara kelebihan tersebut –dengan bahasa yang dipersingkat—adalah :

  1. Merubah teologi menjadi ontologi. Di sini filsafat tidak hanya berbicara tentang Tuhan tetapi tentang wujud secara umum.
  2. Tidak membutuhkan metode nash yang dominan dalam  ilmu kalam. Filsafat telah menancapkan rasionalisme Islam yang independent disamping kalam yang menujudkan kebenarannya dari formulasi makna-makna wahyu.
  3. Filsafat telah mengungkapkan dimensi misteri dalam nash agama, stile-stile imaginer dan bentukbentuk seni, kemudian ia melompat menuju metaimaginasi yang membebaskan dirinya dari bentuk-bentuk seni dan menghancurkan keharfiahan makna.
  4. Melepaskan dari bahasa teologi yang tertutup dan tunduk pada rumus keagamaan, menuju jalan rasional, terbuka, dan humanis.
  5. Filsafat mampu menggabungkan teori-teori yang berserakan yang ditinggalkan ilmu kalam.
  6. Filsafat telah menghapuskan keterpecah belahan firqah-firqah menjadi semangat yang tunggal dominan.
  7. Filsafat mencerminkan ufuk yang lebih luas, lebih sempurna dan universal ketimbang ilmu kalam.
  8. Secara prinsip, filsafat berlandaskan pada pembuktian dan membahas kepastian internal, rasional dan natural, sementara ilmu kalam selalu bertumpu pada polemic dan jadaliyah yang lebih bertujuan membungkam lawan daripada mencari kebenaran.[3]

Dengan nalar filsafat, umat Islam dituntut untuk tidak melakukan apologetik dengan kepura-puraan ganda, yakni kebanggaan menyebutkan Islam sebagai agama yang rasional dan menghargai ilmu pengetahuan, namun disisi lain sangat takut atau bahkan marah saat keyakinan agamanya yang doktriner bertentangan dengan hasil-hasil sains yang faktual.

Meskipun demikian, filsafat bukanlah alat untuk menjustifikasi kebenaran atau kesalahan agama, tetapi lebih sebagai alat bantu yang dipertimbangkan untuk dapat menafsirkan agama dengan benar, aktual, dan fungsional. Ini bukanlah usaha apologetis tetapi ijtihadis. Dengan cara ini Filsafat akan Memberikan ketelitian manusia dalam berpikir, sehingga berimplikasi memperkuat keyakinan agama dan kebenaran ajaran yang dianutnya.

Salah satu yang menyebabkan tertancapnya akar keyakinan beragama secara kuat adalah paradigma dan ideologi yang dianut. Ideologi pada dasarnya merupakan tumpuan agama yang diperoleh dari pandangan dunia (al-ru’yah al-kauniyah; world view) sebagai poros manusia dalam menafsirkan secara universal keberadaan hirarki wujud semesta. Al-ru’yah al-kauniyah ini sebagai hasil kajian dan penalaran yang memberikan kesimpulan tentang alam jagat raya (makrocosmos), tentang manusia (mikrokosmos), masyarakat dan sejarahnya, diperoleh dari analisis filosofis yang matang yang berasaskan pada epistemologi islami.[4] Ciri-ciri Pandangan dunia yang baik adalah:

  1. Pandangan dunia yang berlandaskan pada berbagai argumentasi akal (logika).
  2. Pandangan atau proses penafsirannya harus sesuai dengan fitrah penciptaan alam.
  3. Selain memiliki nilai, pandangan dunia tersebut juga mengobarkan semangat, harapan, serta rasa bertanggungjawab.[5]

Dengan demikian jelaslah, bahwa nalar filsafat membantu manusia membangun paradigma dan ideologinya. Paradigma adalah asumsi-asumsi filosofis yang mendasari suatu bidang peradaban seperti misalnya sains dan teknologi. Dalam sains, paradigma berarti asumsi-asumsi filosofis yang diyakini ilmuan secara umum dalam usaha mengkaji sesuatu. Karena dikatakan sebagi asumsi-asumsi filosofis maka ia mengandung asumsi metafisis, ontologis, epistemologis, aksiologis, visi, bahkan sistem nilai.

Paradigma menjadi populer dengan didengungkan oleh Thomas Kuhn pada tahun 1970 melalui karyanya yang cemerlang The Structure of Scientific Revolutions. Dalam karyanya ini dia telah mendeskripsikan berbagai makna paradigma. Yang menarik adalah temuannya yang mengemukakan bahwa analisis sains mendasarkan diri pada paradigma yang dianut seorang saintis, sehingga dapat terjadi perbedaan para saintis dalam kajian risetnya dikarenakan perbedaan paradigma yang dianut.[6]

Di jurusan lain, jika kita menelusuri ayat-ayat al-Quran yang tersurat, yang tersirat, maupun yang tersuruk, maka, walaupun al-Quran bukanlah kitab filsafat yang diilhami melalui refleksi filosofis, namun tak mungkin pula kita pungkiri bahwa al-Quran memuat unsur-unsur yang filosofis, rasional, dan memancing nalar untuk melakukan fikr yang argumentatif.

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, ImamImam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah

Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini :

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergiliran malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir. (Yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya mereka berkata) : Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (Q.S. Ali Imran: 190-191)

“Seandainya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (Q.S. al-Anbiya: 22); “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) kamu akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Q.S. Fathir: 43); “Tuhan kami adalah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Q.S. Thaha: 50)

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika filsafat dikatakan sebagai salah satu model al-Quran berdalil. Bahkan hal ini diperkuat, jika kita merujuk pada pembagian filsafat secara umum, yang dibagi pada dua yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat Teoritis adalah mengkaji sesuatu sebagaimana adanya, sedangkan Filsafat Praktis berarti membahas bagaimana mestinya manusia bertindak, baik dalam poisisi individual maupun sosial.

Dengan makna ini, meskipun pada dasarnya filsafat ingin mendapatkan informasi seakurat mungkin tentang wujud, baik itu wajib al-wujud (Tuhan) sebagai sumber keberadaan, maupun mumkin al-wujud (wujud makhluk) sebagai efek keberadaan wajib al-wujud, akan tetapi titik terang pencarian informasi yang benar melalui refleksi filosofis dan bertindak yang benar sejauh amal praktis merupakan ciri khas filsafat dan filosof.

INTERNALISASI FILSAFAT KE DUNIA ISLAM

Meskipun di atas telah dijelaskan bahwa filsafat memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam itu sendiri, namun tidaklah dinafikan bahwa nalar filsafat lainnya (baca: Yunani) memberikan kontribusi besar pada bangunan filsafat Islam.[7]

Merujuk pada sejarah umum perkembangan filsafat, maka Yunani pada abad-abad sebelum masehi, telah memiliki peradaban yang berlebih dari wilayah-wilayah lainnya. Ia telah memiliki tradisi keilmuan yang matang, yang lebih dikenal dengan philoshopia (artinya: cinta kearifan), yang menjadi akar kata filsafat dalam tradisi Islam.

Masuknya filsafat Yunani ke dalam tradisi Islam diawali oleh penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin ke wilayah-wilayah yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan besar Yunani. Wilayah-wilayah tersebut telah memiliki peradaban dengan warisan keilmuan Yunani yang maju, sehingga pada saat ekspansi, kaum muslimin bersinggungan dengan tradisi keilmuan tersebut. Persinggungan ini menjadikan tantangan baru bagi kaum muslimin untuk menunjukkan citra agamanya yang positif dan menghargai secara mulia ilmu pengetahuan. Bahkan, tidak jarang doktrin-doktrin Islam yang sakral mendapatkan gugatan serius melalui nalar filsafat yang ada saat itu.

Karenanya, untuk kepentingan praktis dan pembelaan suci ini, umat Islam melakukan revolusi tradisi arab menuju tradisi Islam.[8] Berkembang dan majunya filsafat dalam pangkuan Islam melalui beberapa cara, yaitu :

  1. Mengumpulkan dan menerjemahkan berbagai literatur ilmu
  2. Mengomentari karya-karya filosof sebelumnya
  3. Menulis buku-buku filsafat

Dengan ketiga usaha ini, filsafat Islam membentuk jati dirinya sedemikian rupa dengan ciri khas yang independent, bahkan menjadi mercusuar yang menerangi peradaban dunia.

Sebagian orang menganggap bahwa filsafat Islam merupakan duplikat filsafat Yunani dan hanya menjadi jembatan transfer bagi dunia modern. Untuk itu, analisis Murtadha Muthahhari pantas diperhatikan sebagai tanggapan serius terhadap anggapan ini. Bagi Muthahhari, filsafat Islam secara tematik dapat dikategorikan pada empat kategori, yaitu :

  1. Isu-isu yang tetap mempertahankan bentuk dan karakter aslinya serta belum pernah mengalami perubahan atau perkembangan. Contohnya, tema-tema logika (mantiq), tentang sepuluh kategori, empat sebab, klassifikasi ilmu, dan pembagian serta jumlah fakultas jiwa.
  2. Isu-isu yang dikembangkan lebih jauh oleh para filosof Islam. Proses pengembangan ini dilakukan dengan memberikan fondasi yang lebih kukuh, basis lebih mendalam dan baik, bentuk argumen berubah atau bertambah. Contohnya: tentang kemustahilan ihwal kemunduran tak terbatas, nonmaterialitas jiwa, bukti bagi eksistensi Wujud Mutlak, kesatuan Wujud Mutlak, satu hanya menimbulkan satu (al-wahid la yasduru minhu illa wahid), kesatuan subjek dan objek ilmu (ittihad al-aqil wa al-ma’qul), dan hakikat substansial bentuk-bentuk spesipik (al-shuwar al-nau’iyyah).
  3. Problem-problem yang masih memiliki nama dan deskripsinya saja tetapi isinya telah mengalami perubahan menyeluruh. Contohnya: ide-ide platonic (mutsul aflathuni).
  4. Problem-problem baru yang tidak mempunyai preseden dalam era pra-Islam dan hanya dilontarkan oleh para filosof Muslim dan ada dalam filsafat Islam. Contohnya: kehakikian eksistensi (ashalat al-wujud); eksistensi mental (al-wujud al-dzihni); hukum-hukum non eksistensi; kemustahilan kembali dari apa yang sudah tidak ada; problem ‘menjadikan’ (ja’l); kriteria kebutuhan sesuatu akan sebab; konsepsi-konsepsi yang berbeda (I’tibarat) ihwal kuiditas; konsep sekunder (al-ma’qulat al-tsanawiyah) dalam filsafat; jenis-jenis baharu dan kekal (huduts dan qadim); berbagai jenis kemestian, kemustahilan dan kemungkinan; gerak substansial (al-harakah al-jauhariyah); immaterialitas jiwa binatang; immaterialitas barzakhi jiwa manusia di samping immaterialitas intelektualnya (tajarrud al-aqli); prinsip realitas sederhana; kebangkitan jasmani di alam barzakh; waktu sebagai dimensi keempat; dan sifat sederhananya ilmu Ilahi meski karakternya terperinci.[9]

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT ISLAM

Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran-aliran filsafat Islam mengambil empat bentuk formula yaitu  : 1). Hikmah Masyya’iyyah (Parepatetisme); 2). Hikmah Israqiyyah (Illuminisme); 3). Hikmah Irfani (Gnosis); 4). Hikmah Muta’aliyah (Teosofi transenden). Di bawah ini akan diuraikan secara sederhana pandangan-pandangan berbagai aliran tersebut.[10]

1. Hikmah Masyya’iyyah (Parepatetik)

Filsafat Parepatetik (masyya’iyyah) ditahbiskan sebagai aliran pertama dalam filsafat Islam. Aliran ini berporos pada argumentasi rasionalisme (burhani) dalam mengukuhkan pandangan-pandangannya.

Parepatetik, dalam tarikh filsafat Islam, di mulai oleh al-Kindi, kemudian di kerjakan oleh al-Farabi (257-339 H/870-950 M), yang akhirnya mendapatkan kematangan di tangan cerdas Ibnu Sina (337-429 H/980-1037 M) yang mendapat gelar Syaikh al-Rais (pemimpin para syaikh).

Pandangan-pandangan aliran ini yang menonjol diantaranya adalah :

  1. Realitas yang hakiki dan sejati adalah wujud (ashalat al-wujud).
  2. Gerak terjadi pada empat aksiden (kuantitas, kualitas, tempat, posisi) dan tidak terjadi gerak pada substansi.
  3. Dalam pengetahuan setiap subjek juga merupakan objek (kullu aqil fa huwa ma’qul).
  4. Pembagian akal menjadi akal hayulani, akal bi al-malakat, akal bi al-fi’li, dan akal al-mustafad.
  5. Pembagian wujud kepada wajib dan mungkin (wajib al-wujud dan mumkin al-wujud).

2. Hikmah Israqiyyah (Iluminasi)

Syihabuddin Yahya Ibn Habasyi Ibn Amirak al-Suhrawardi (549-587 H/1154-1191 M) merupakan pendiri dari aliran israqiyyah. Beliau di panggil dengan sebutan Syeikh al-Isyraq dan juga al-maqtul.[11]

Aliran ini cenderung bersifat intuitif (mistisisme) sebagai bandingan bagi aliran parepatetik yang memiliki kecenderungan rasionalisme. Diantara pendapat-pendapatnya yang terkenal adalah :

  1. Realitas yang hakiki dan sejati adalah esensi (ashalat al-mahiyyah).
  2. Cahaya adalah bertingkat dan perbedaan tingkat cahaya maujud-maujud abstrak adalah tingkat kesempurnaan dan kekurangannya (kamal wa naqsh).
  3. Gerak hanya terjadi pada aksiden tidak pada substansi
  4. Pembagian ilmu menjadi ilmu hudhuri dan ilmu hushuli.
  5. Ilmu adalah cahaya sedangkan kebodohan adalah maujud dhulmani (kegelapan).[12]

3. Hikmah Irfani (Gnosis)

Satu lagi aliran yang memiliki kecenderungan mistisisme adalah irfani (gnosis) yang digaungkan oleh Ibnu Arabi (1165-1240 M) dari Andalus yang mendapat gelar Syeikh al-Akbar.

Pandangan-pandangannya yang mengguncang dunia diantaranya adalah :

  1. Kesatuan wujud yang menegaskan bahwa realitas yang ada sebenarnya adalah Allah, sedangkan yang lainnya adalah semu atau metaforis (wahdat al-wujud wa al-maujud).
  2. Ada tiga jenis kategori keberadaan (ontologis) yaitu: 1). sesuatu yang ada dan mewujud dengan sendirinya (Allah). 2). Sesuatu yang mewujud dengan Tuhan disebut al-wujud al-muqayyad (wujud terbatas). 3). Sesuatu yang tidak bersifat wujud dan juga tidak bersifat ‘adam (tidak ada) tidak bersifat huduts dan tidak pula qidam. Secara ontologis ia adalah Tuhan dan alam, namun pada saat yang sama dia bukan Tuhan dan alam. Ibnu Arabi menyebutnya haqiqah al-haqaiq (realitas dari semua realitas) atau al-maddah al-ula (materi pertama).
  3. Dari pandangan ontologis tersebut di atas dikembangkanlah teori tentang entitas-entitas tetap (a’yan al-tsabitah).
  4. Proses eksistensiasi (ijad) kosmos dengan Wujud Abadi (wujud al-qidam) terjadi melalui properti (ahkam), relasi (nisab), dan atribusi (idhafah), bukan melalui eksistensi entitas (wujud al-‘ayn).[13]

4. Hikmah Muta’aliyah (Teosofi Transenden)

Aliran terakhir ini dianggap sebagai aliran yang murni dan puncaknya filsafat Islam. Hal ini dikarenakan elaborasi dan sintesa yang akurat dan cermat dari sang pendirinya, Mulla Shadra, terhadap berbagai aliran pemikiran mulai dari parepatetik, illuminatif, gnosis, bahkan kalam. Menariknya hasil elaborasi itu menghasilkan karya orisinilitas Islam karena dipadukan juga dengan teks-teks wahyu melalui al-Quran dan hadits serta perkataan Imam-imam Syiah sebagai mazhab yang dianutnya.

Aliran ini memiliki pandangan-pandangan inti yang diantaranya adalah :

  1. Kehakikian eksistensi dan kerelatifan esensi (ashalah al-wujud wa I’tibariat al-mahiyyah) yaitu bahwa realitas yang sebenarnya ada adalah wujud, sedangkan esensi (mahiyah) merupakan penampakan (I’tibari).
  2. Kesatuan wujud dalam penampakan yang beragam (wahdat al-wujud fi ‘ain al-katsrah).
  3. Gradasi eksistensi (tasykik al-wujud) yaitu pandangan bahwa wujud adalah satu yang bertingkat, dimana perbedaan dan persamaan antara wujud yang satu dengan wujud yang lainnya adalah wujud itu sendiri.
  4. Gerakan terjadi pada aksiden dan juga pada substansi (al-harakah al-jauhariyah).
  5. Ittihad al-aqil wa al-ma’qul yaitu satunya subjek dan objek ilmu pada saat terjadinya pengetahuan.

STAGNASI FILSAFAT DI DUNIA ISLAM

Meskipun tidak pernah putus, namun setidaknya pengkajian filsafat pernah mengalami masa suram dan stagnan dibeberapa wilayah Islam termasuk Indonesia. Hal ini, dikarenakan :

  1. Masih adanya kesan negatif pada filsafat yang dilontarkan oleh para ulama sehingga menjadi salah paham, dicurigai dan dibenci.
  2. Filsafat menjadi momok dan terkesan elit untuk mempelajarinya. Wajah filosof lebih digambarkan sebagai orang yang berkepala botak dengan kening berkerut dan wajah yang masam cemberut.
  3. Pengajaran filsafat dilakukan dengan pendekatan dan metode yang kaku, tidak menarik dan rumit.
  4. Tidak ada dukungan penuh dari lembaga atau tokoh yang berkompeten.
  5. Berkembangnya ilmu empiris yang membawa dampak pada perkembangan teknologi dan sikap pragmatis.

Lemahnya perkembangan filsafat di dunia Islam, berakibat kebekuan dan stagnasi pemikiran Islam serta gersangnya interpretasi doktrin agama dalam usaha mengukuhkan keyakinan agama. Oleh karenanya, ‘mati suri intelektual’ ini mesti diobati dengan sungguh-sungguh dalam agenda yang penulis sebut sebagai proyek “Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Filsafat (Ihya ulum al-falasifah).”[14]

MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT

Meskipun dilanda kemunduran dan kini mulai bergerak mengejar ketertinggalannya, namun sepanjang sejarahnya, Islam telah menjadi bagian terbesar peyumbang kontribusi peradaban dunia. Tak mungkin terlupakan bahwa Islam pernah menjadi mercusuar bahtera manusia dalam mengarungi kehidupan di semesta raya ini dengan warisan ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Mata air pengetahuan ini hingga kini masih terus diwarisi oleh generasi ke generasi berikutnya. Diantara sekian pengetahuan itu, patut pula dibanggakan filsafat sebagai satu fondasi intelektual Islam yang memberikan kedalaman makna dibalik pesan-pesan ketuhanan yang tekstual.

Dalam tarikh Islam, filsafat menjadi jembatan emas bagi aql (rasio) dan naql (wahyu). Banyak filosof menghabiskan lembaran-lembaran kitabnya untuk menunjukkan keselarasan antara pesan-pesan langit (wahyu) dengan perolehan-perolehan dari bumi (pikiran manusia). Meskipun api filsafat Islam itu tak pernah padam, namun terpaan badai terkadang meredupkan cahayanya.[15]

Dengan harapan yang besar itu, penulis melakukan usaha kecil untuk menyumbang secuil pemikiran dalam usaha mengembalikan mahkota filsafat pada singgasananya semula. Berikut ini beberapa tawaran penulis yang bisa dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka panjang secara bertahap untuk menciptakan sebuah “Laboratorium Filsafat”, yaitu :

  1. Memperkaya khazanah literatur filsafat. Untuk ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
    1. Mengumpulkan literatur-literatur filsafat dari berbagai bahasa yang bisa diperoleh dan diakses baik literature tersebut milik sebuah lembaga maupun koleksi pribadi. Literatur tersebut merupakan karya klasik maupun modern.
    2. Membentuk tim penerjemah karya-karya filsafat ke dalam bahasa Indonesia dengan akurat.
    3. Memberikan komentar yang memadai atas karya-karaya filsafat tersebut untuk mudah dipahami bagi peminat-peminatnya.
    4. Menulis buku-buku daras filsafat yang bersifat sederhana untuk pemula.
  2. Menggalakkan pengkajian filsafat. Hal ini dapat dilakukan dengan beragam cara, diantaranya :
    1. Mengadakan paket-paket training filsafat.
    2. Membuat jurnal filsafat.
    3. Mengundang para pakar filsafat untuk memberikan masukan-masukan dan analisis filosofis.
    4. Karjasama dengan lembaga-lembaga yang konsen terhadap kajian filsafat.
  3. Menyusun kurikulum filsafat yang komprehensif dalam setiap jenjangnya.

PENUTUP

Sebuah keharusan yang menjadi kerja keras kita adalah mengembalikan filsafat sebagai nalar Islami yang mengalirkan ruh kehidupan diseluruh unsur pengetahuan dan tafsiran ajaran Islam, yang mulai gersang dari percikan mata air kudus rasionalitas. Semoga!


[1] Tentang trilogi nalar islami ini lihat pembahasan komprehensifnya pada karya Muhammad Abid al-Jabiri. Bunyah al-Aql al- Araby: Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah Li al-Nudzumi al- Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Arabiyyah. (Beirut: Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyyah, 1990).

[2] Lihat, Hasan Hanafi. Turas dan Tajdid. (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 2001), h. 225-234.

[3] Hasan Hanafi. Turas, h. 229-231.

[4] Lihat Murtadha Muthahhari. Mengenal Epistemologi. (Jakarta: Lentera, 2001), h. 18.

[5] Muhsin Qiraati. Membangun Agama. (Bogor: Cahaya, 2004), h. 4.

[6] Thomas Khun. Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains. (Bandung: Rosda, 1989), h. 108-109.

[7] Penamaan filsafat Islam merujuk pada makna kerangka perkembangan filsafat di dalam sejarah Islam. Artinya, hal ini bukan saja alasan geografis atau tokoh tetapi juga alasan substansial bahwa filsafat memiliki akar yang kuat dalam tradisi Islam itu sendiri.

[8] Secara historis, Jazirah Arab dengan penduduk aslinya dapat dikatakan nyaris tidak memiliki warisan peradaban yang bisa dibanggakan. Namun, setelah Islam datang dengan risalah yang di bawa Nabi Muhammad saww (salallahu ‘alaihi wa alihi wasallam) telah menjadi inspirasi besar yang dapat bersaing bahkan mengungguli peradaban-peradaban yang pernah muncul sebelumnya dalam pentas dunia.

[9] Lihat Murtadha Mutahhari. Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra. (Bandung: Mizan, 2002), h. 63-72.

[10] Untuk memahami lebih jauh sejarah tumbuh dan berkembangnya filsafat Islam serta pandangan-pandangan umum aliran-aliran ini dapat dirujuk secara umum dalam M.M. Syarif (ed), A History of Muslim Philosophy vol. II (Delhi India: Low Price Publications, 1961); Majid Fakhri, A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia University Press, 1983); T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam (New York: Islamic Philosophy Online). Dalam bahasa Indonesia sendiri telah diterjemahkan Karya Oliever Leaman dengan Syed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam dalam tiga jilid (Bandung: Mizan, 2003)

[11] Almaqtul berarti terbunuh, karena ia setelah dipenjara di Aleppo atas perintah Malik (putra Salahuddin al-Ayyubi) akhirnya dihukum mati pada tahun 1191 dalam usia 38 tahun.

[12] Lihat Suhrawardi, Hikmah al-Isyraq. (Yogyakarta: Islamika, 2003); Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan Cahaya Tuhan. (Bandung: Mizan, 2003)

[13] Untuk lebih mengenal Ibnu Arabi lihat Kausar Azhari Noer, Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan. (Jakarta: Paramadina: 1995); A.E. Afifi, Filsafat Mistis Ibnu Arabi. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1995).

[14] Sudah popular diantara kita, salah satu cendekiawan dunia Islam yang gigih melakukan rekonstruksi ilmu-ilmu keislaman adalah Hasan Hanafi. Setidaknya ia telah menulis tujuh agenda rekonstruksi ilmu yang salah satunya adalah filsafat dengan judul Min al-Naql ila al-Ibda : Muhawala li I’ada Bina’ Ulum al-Hikma (Dari Terjemahan Menuju Kreasi: Upaya Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Hikmah). Kemudian di Iran salah seorang filosof kontemporer yang banyak menulis dan melakukan rekonstruksi filsafat Islam adalah Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi dengan salah satu karya pentingnya Al-Manhaj al-Jadid fi Ta’lim al-Falsafah yang berisi 70 kuliah filsafat di Qum.

[15] Telah menjadi anggapan umum bahwa filsafat pernah mengalami masa suram di beberapa wilayah Islam karena adanya kemenangan kelompok tertentu yang didukung kekuasaan melanggengkan pelarangan terhadap kajian-kajian filosofis. Namun, disadari pula, nalar filsafat itu tidak pernah padam dari sejak al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, hingga puncaknya Mulla Shadra, bahkan Allamah Thabathabai dan Murtadha Muthahhari di abad ini menjadi bagian dari ikon filsafat Islam kontemporer.

Belajar Tentang Syi’ah Pada Wahabi Bagaikan Belajar Islam Pada Yahudi Nasrani !!

Wahabi berteriak : “Syi’ah kafirkan sahabat”

Wahabi berteriak :  “Syi’ah tidak ada beda dengan Yahudi”

Belajar Tentang Syi’ah Pada Wahabi Bagaikan Belajar Islam Pada Yahudi Nasrani !!

cita-cita AS / Israel yaitu , ‘menjauhkan umat Islam dari al-Quran’, dan dia berhasil melaksanakannya. Hasilnya, kaum muslimin mundur dan mengalami kekalahan di seluruh dunia, ilmu pengetahuannya mengalami kemunduran, dan tingkah lakunya jauh dari etika islami. Anehnya Wahabi mau saja menjadi kaki tangan Yahudi Israel untuk menghancurkan Islam melalui tak tik adu domba

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, ImamImam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah

“Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Tujuan musuh-musuh Islam adalah menjauhkan umat Islam dari al-Quran. Sebab, saat manusia dijajah, al-Quran mengajak manusia untuk merdeka; saat manusia hidup dalam kebodohan, al-Quran mengajak pada ilmu pengetahuan; saat manusia membunuh anak perempuan, al-Quran mengajak menghormati para perempuan; saat manusia berbuat kezaliman, al-Quran mengajak menegakkan keadilan; saat orang-orang kaya menindas orang-orang miskin, al-Quran mengajak orang miskin mengambil bagian mereka dari orang-orang kaya; saat orang menjual belikan budak, al-Quran memerintahkan membebaskan budak. Saat manusia sibuk mencari kenikmatan dunia, al-Quran menyatakan agar umat Islam berdoa ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kehidupan baik di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu ilmu kenabian menyebutkan keutamaan membaca al-Quran sebagai berikut :
“Ketahuilah bahwa al-Quran ini adalah pemberi nasehat yang tidak akan memperbayai, pemberi petunjuk yang tidak akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak akan pernah berbohong. Siapa saja yang menekuni al-Quran, maka akan terjadi hal pada dirinya, yaitu penambahan dan pengurangan. Yakni, bertambahnya hidayah dan berkurangnya kebodohan pada dirinya. Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang setelah mempelajari al-Quran akan mengalami kesulitan, dan tidak seorangpun sebelum mempelajari al-Quran akan merasa berkecukupan. Jadikanlah al-Quran sebagai penawar sakit bagimu, dan mintalah pertolongan kepadanya. Sesungguhnya dalam al-Quran terdapat penawar penyakit bagi sakit yang paling parah sekalipun, seperti kufur, nifak, dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah swt dan menghadaplah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta.”

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan.

Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya. Amin

Menurut kamus, kata syiah berarti para pengikut, partisan, sekelompok orang yang memperlihatkan kesamaan sikap atas suatu masalah atau suatu keyakinan yang mereka dukung dan bela. Akan tetapi, istilah itu kemudian sinonim dengan pengikut atau pendukung Imam Ali ibn Abi Thalib.[1] Selanjutnya, kata syiah dalam istilah teknis sehari-hari lebih banyak digunakan sebagai nama untuk menyebut kelompok Islam yang menjadi pengikut setia Ali bin Abi Thalib.

Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi menyatakan bahwa kata syiah berarti pengikut dan pembela. al-Fairuzabadi di dalam al-Qamus menyebutkan kata sya’a dalam, ‘syia’atur rajul’ berarti para pengikut dan pembela seseorang, dan dalam konteks tertentu berarti kelompok. Hal ini berlaku untuk satu orang, sekelompok orang, laki-laki dan perempuan. Namun, pada umumnya kata ini digunakan dalam arti setiap orang yang setia kepada Ali dan Ahlul Baitnya sehingga menjadi julukan khusus bagi mereka. Bentuk jamaknya adalah asyya’ dan syiya’.[2]

Memang, persoalan krusial antara Syi’ah dan aliran lainnya adalah debat soal suksesi pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw pada 632 M. Sebagai Nabi, Muhammad tidak dapat digantikan. Beliau dipandang oleh kaum Muslimin sebagai “Penutup Para Nabi” (khatam al-nabiyin), Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt, yang membawa risalah sempurna yang berlaku secara universal bagi semua umat manusia.

Muhammad bukan saja Nabi, namun juga negarawan, dia menjadi kepala negara Islam yang didirikan di kota Madinah, dan pemimpin seluruh Muslim di muka bumi. Ketika wafat, mayoritas pengikutnya berpendapat bahwa Nabi tidak menunjuk pengganti, karena itu umat bebas menunjuk penggantinya. Namun sebagian sahabat tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa penggantinya haruslah Ahlu al-Bait (keluarga Nabi), yaitu Ali, sepupu Muhammad dan suami Fatimah sehingga mereka disebut syiah Ali.[3]

Perkataan syiah di dalam al-Quran disebut sebanyak empat kali dalam arti golongan atau kelompok. Satu kali dalam Q.S. Maryam: 69; dua kali dalam Q.S. al-Qasas: 15; dan satu kali dalam Q.S. As-Saffat: 83, sebabagi berikut :

Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan (syiiatin) siapa diantara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah” (Q.S. Maryam: 69).

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum firaun). Maka orang yang dari golongannya (syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (Q.S. al-Qasas: 15).

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syiatihi) Nuh. (Q.S. as-Saffat: 83).

Begitu pula di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad saaw. istilah syiah telah digunakan untuk menegaskan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, diantaranya adalah, “Syiah Ali adalah orang-orang yang beroleh kemenangan. hadis ini dan hadis-hadis semisalnya diriwayatkan oleh para ulama Ahlu al-Sunnah dalam kitab-kitab mereka.[4] Hadis lainnya dengan sanad dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat yang mulia ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98: 7), Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai”.[5]

Salah satu ulama terkemuka Ahl al-Sunnah, Jalaluddin al-Suyuti dalam tafsir al-Durr al-Mantsur meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa ia berkata; kami berada bersama Rasulullah Saaw, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang. Maka Nabi Saw bersabda, “Demi diriku dalam kekuasaanNya, orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat.” Kemudian turun ayat ‘sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98:7)”.[6] Zakariya Barkat Darwisy, telah mengumpulkan 40 riwayat tentang syiah dalam kitabnya yang berjudul “Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah”.

Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun memberikan definisi berikut:

Menurut para ahli hukum (faqih) dan teolog spekulatif (mutakallimin), baik pada masa kini maupun pada masa lalu, syiah adalah istilah yang menggambarkan para pengikut Ali, anak keturunannya (semoga Allah melimpahkan keselamatan atas mereka) dan mazhab pemikiran mereka. Mereka (para pengikut Imam Ali), dalam hal ini, sepakat bahwa imamah bukan jabatan publik yang dapat diserahkan kepada umat (komunitas Muslim). Memilih siapa yang bakal menjadi imam bukanlah wewenang mereka. Ini adalah tiang agama dan pondasi Islam. bukan hak preogratif seorang rasul untuk melalaikannya atau mendelegasikan (tanggung jawab) memilih Imam kepada umat. Adalah suatu keharusan bahwa ia (Nabi) menunjuk Imam, yang maksum dan berakhlak sempurna.[7]

Kemunculan syiah, dalam studi para ahli ataupun sejarawan aliran-aliran dalam Islam tidaklah satu pandangan. Sebagian mengatakan bahwa syiah lahir sesaat setelah Nabi Muhammad Saaw berpulang ke rahmatullah, tepatnya ketika terjadi perebutan kekuasaan antara kaum Muhajirin dan Ansar di balai pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Akan tetapi, sejarawan yang lain berpendapat bahwa syiah lahir pada masa kekhalifahan Usman bin Affan berakhir (35 H/656 M), atau pada awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain lagi menyatakan bahwa syiah lahir bersamaan dengan Khawarij, yakni setelah kekalahan diplomatik Ali dari Mu‘awiyah.[8] Selain itu ada juga yang berpendapat, bahwa syiah muncul setelah peristiwa Karbala yang mengakibatkan syahidnya cucu kesayangan Rasul, Imam Husain as.[9] Namun, terdapat pula penegasan bahwa syiah telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah saaw. Para pemikir syiah, ittifaq pada pendapat yang terakhir ini sesuai dengan hadits-hadits yang disebutkan di atas.

Muhammad Baqir as-Sadr, ulama besar syiah, menegaskan bahwa, golongan syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasul yang beranggotakan orang-orang Muslim yang secara praktis telah mematuhi dengan mutlak konsep ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelah Rasul. Kelompok ini muncul kepermukan setelah sikap protes dan menolak keputusan sidang darurat Saqifah Bani Saidah yang juga berarti membekukan kepemimpinan Ali dan memberikannya pada orang lain.[10]

Lepas dari perbedaan pendapat itu, sepeninggal Nabi Muhammad Saaw. telah tampak keretakan dalam tubuh kaum Muslim dalam melihat siapa yang lebih pantas menjadi khalifah. Satu kelompok cenderung memandang kaum Anshar yang berhak atas kepemimpinan umat, sedangkan kaum muhajirin menegaskan hak itu ada pada mereka. Dari kalangan muhajirin ini, ada yang menganggap khalifah mesti dari Bani Quraisy, atau lebih sempit lagi dari Bani Hasym. Dari Bani Hasym ini yang berhak adalah Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah dari pada yang lainnya. Dari sahabat yang mendukung Ali terdapat nama-nama Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Zar  al-Giffari, Salman al-Farisi, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Zubair, serta lainnya. Para sahabat yang mendukung Ali inilah yang dipandang sebagai pelopor gerakan syiah.[11] Jadi, keyakinan mendasar seluruh kaum syiah adalah bahwa yang berhak penuh melanjutkan kedudukan Nabi Muhammad saaw. sebagai pemimpin seluruh umat Islam adalah sepupu sekaligus menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib.

Sebagaimana diketahui secara luas, Ali bin Abi Thalib, seperti halnya Nabi, berasal dari suku Arab Quraisy dan termasuk anggota Bani Hasyim. Ali terkait dengan Islam sejak awal mulanya, dalam sejarah, dia dianggap sebagai remaja Islam yang pertama, kalau tidak dapat dikatakan sebagai muallaf pertama. Seorang pria yang sigap bertindak dengan keberanian yang luar biasa, selalu siap untuk bertarung dalam duel sebelum perang yang sesungguhnya dimulai, namun pada saat yang sama, dia adalah orang beriman yang rendah hati dan selalu mengedepankan akal sehat. Tak diragukan lagi, Ali benar-benar mendekati gambaran ideal manusia sempurna (alinsan alkamil).[12]

Namun, pada faktanya, pelanjut efektif Nabi Muhammad saaw pada 632 M dengan gelar khalifah[13] (pengganti atau wakil) adalah Abu Bakar, kemudian disusul dua khalifah lainnya, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Akhirnya,  Ali menjadi khalifah keempat pada 656 M dan memerintah hingga terbunuh pada 21 ramadhan 661 M.

Syiah memandang bahwa yang berhak penuh melanjutkan kepemimpinan Imam Ali adalah anaknya, Imam Hasan, namun dikarenakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya Imam Hasan pensiun dari kegiatan politik melalui penandatanganan perjanjian dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sepuluh tahun kemudian, Muawiyah melanggar perjanjian yang dibuatnya, karena secara otoriter mengangkat anaknya, Yazid menjadi khalifah. Yazid yang dikenal memiliki temperamen jauh dari sosok pemimpin, mendatangkan reaksi keras dari Imam Husain.

Muawiyah yang pernah melakukan manipulasi politik pada peristiwa perang Shiffin dengan Imam Ali bin Abi Thalib, dan memaksa Imam Hasan untuk berdamai dengan menyerahkan kekhalifahan kepadanya, kini mengulangi manipulasi politiknya dengan melakukan pelanggaran lagi saat menobatkan Yazid anaknya sebagai putera mahkota untuk menggantikan dirinya sebagai khalifah. Inilah awal pergeseran paradigma politik Islam, dari jabatan yang berkualitas keilahian-kemanusiaan menjadi jatah yang turun temurun hanya berdasarkan hubungan ke-darahan tanpa memandang kualitas kemanusiaan (monarki).

Hal ini mengindikasikan akan kepiawaian Muawiyah terhadap kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, yang mana demi mempertahankan bergulirnya kekuasaan di tangan keluarganya, maka Muawiyah melakukan pem-baiat-an secara paksa dan lobi-lobi politik yang licik untuk menyematkan jabatan khalifah kepada Yazid.

Yazid yang terkenal keburukan watak dan perilakunya, jelas tidak memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan khalifah, dan Muawiyah menyadari hal itu. Ia tahu betul, jika menyerahkan pemilihan khalifah kepada rakyat, jelas Yazid tidak memiliki peluang untuk merebutnya. Sebab itu, Muawiyah melakukan manuver politik dengan mendahului pengangkatan Yazid selagi ia masih berkuasa sehingga dapat menekan siapa pun yang tidak menyetujuinya. Dan hal itu memang terjadi.

Kepemimpinan Yazid mendapat tantangan dari berbagai kalangan, namun berhasil diredam dengan berbagai tekanan, ancaman, penyiksaan, pembunuhan atau bayaran. Sebagai taktik awalnya ia mengangkat dan memerintahkan para gubernurnya untuk meminta bai’at (sumpah setia) di setiap daerah kekuasaannya.  Meminta bai’at kepada para sahabat-sahabat Nabi, seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair, Ibnu Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar dan terutama Husain bin Ali, cucunda Rasulullah saww. Akan tetapi, ia mendapat hambatan dari Husain bin Ali yang tidak mau membai’atnya. Bagi Yazid, bai’at yang diberikan oleh kaum muslimin kepadanya tidaklah berarti tanpa restu cucu Nabi saaw tersebut. Terlebih lagi ada indikasi bahwa Imam Husain akan melakukan propaganda politik dan pemberontakan untuk menumbangkan kekuasaan Yazid.

Menyikapi kondisi ini, Yazid mengambil jalan ekstrim dengan mengutus tentaranya untuk memaksa Imam Husain ber-bai’at dan jika tidak mau juga, agar ia dibunuh. Akhirnya, tragedi yang pernah diramalkan Nabi Muhammad saaw, benar-benar terjadi. Di sebuah padang sahara yang bernama Karbala di Irak, Imam Husain dan keluarganya serta sekelompok kecil sahabatnya (sekitar 72 orang) dalam keadaan lapar dan dahaga diserang dan dipenggal kepalanya untuk dihadiahkan kepada Yazid. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 muharram 61 H (680 M), sehingga disebut dengan yaum al-asyura (hari kesepuluh).

Peristiwa syahidnya Imam Husein ini, sebagaimana diyakini, hingga kini masih tetap diperingati setiap tahun oleh pengikut syiah dan menjadi sebuah peringatan besar di seluruh dunia dengan mengobarkan emosi-emosi keagamaan di kalangan masyarakat syiah. Dengan demikian, peristiwa tragis ini telah diimplementasikan syiah menjadi sebuah dasar ideologis yang disebut dengan syahadah.[14]

Menurut Hamid Enayat, ditinjau dari segi politik, mengenang drama kesyahidan tersebut penting karena dua alasan :

Pertama, Husein adalah satu-satunya imam syiah dua belas Imam (syiah itsna asy’ariah) yang tewas sebagai konsekuensi penggabungan gugatannya atas Kekhalifahan dengan pemberontakan bersenjata. Kesebelas imam lainnya, ada yang memperoleh kedudukan politik melalui prosedur konstitusional yang lazim, ada yang membuat perjanjian perdamaian dengan penguasa zamannya dan ada yang menutup diri dalam kehidupan kesalehan. Sementara imam terakhir (Imam Mahdi), mengalami kegaiban tanpa terlebih dahulu memperlihatkan pilihan dari berbagai alternatif tindakan yang ditempuh oleh para pendahulunya tersebut.

Kedua, unsur kesyahidan dalam drama tersebut jelas memiliki daya tarik yang kuat bagi semua gerakan syiah yang menentang tatanan yang telah mapan. Jadi, Husein adalah satu-satunya imam yang tragedinya bisa menjadi unsur positif dalam mitologi setiap kelompok syiah yang militan dan tertindas dalam mazhab dua belas imam (itsna ‘asyariyah).[15]

Pemikir kontemporer syiah, Sayid Husain Muhammad Jafri, mengemukakan suatu paparan mengesankan, di mana ia memandang penunjukan Abu Bakar pada 632 untuk menduduki tempat Ali sebagai suatu pilihan atas calon yang semata-mata manusia yang lebih disukai dari pada calon yang kepadanya orang dapat menyandarkan dirinya pada ilham Ilahi yang telah diberikan kepada keluarga besar Muhammad saaw. Senada dengan itu, ia melihat kekhalifahan Bani Umayyah, khususnya saat Yazid sebagai khalifah sebagai suatu penegasan kembali konservatisme Arab menentang aksi ‘Islam Muhammad yang progresif’. Tidak masuk akal bagi seorang cucu Nabi untuk mengakui Yazid yang sekuler itu sebagai khalifah. Dalam rangka menjawab reaksi ini terhadap aksi Islam, Husein menyiapkan strateginya. Dalam pandangannya ia memiliki hak, berdasarkan keturunan dan kedudukannya, untuk membimbing masyarakatnya dan membangkitkan kehormatan mereka. Namun jika hak ini ditentang, ia rela dan sadar bahwa kekuatan senjata semata tidak akan menyelamatkan aksi dan kesadaran Islam. Maka, ia memutuskan bahwa hal ini hanya dapat dicapai melalui pengorbanan dan penderitaan. Jadi kematian (syahadah) Husein  merupakan kematian seorang yang rela berkorban demi tujuan yang lebih tinggi, tanpa peduli kepada segala risiko.[16]

Terbukti, pasca syahidnya Imam Husain, terjadi pergolakan besar kaum muslimin, yang ingin meruntuhkan kekhalifahan Yazid, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Gerakan at-Tawwabun (orang-orang yang bertaubat) yang dikomandoi oleh sahabat-sahabat Imam Ali seperti Sulaiman bin Shurad al-Khuzai, al-Musayab bin Najabah al-Fazari, Abdullah bin Sa’ad bin Nufail al-Azdi, Abdullah bin Walin at-Taimi, dan Rifaah bin Syaddad al-Bajali, telah memberikan warna baru bagi gerakan syiah di Kufah dan memberikan inspirasi besar bagi aktivitas politik syiah selanjutnya.[17]

Begitulah, akhirnya dalam sejarahnya, komunitas syiah menjadi komunitas pinggiran yang senantiasa ditindas dalam setiap pergantian rezim kekuasaan. Karenanya, menyikapi perkembangan politik yang tiranis dan tidak menguntungkan ini, umat syiah itsna ‘asyariyah, selain menekankan ideologi syahadah, juga mengembangkan doktrin gaybah (kegaiban)[18] dan secara khusus taqiyah (menyembunyikan kebenaran demi kewaspadaan dan demi mencegah kesia-siaan)[19]. Ketiga prinsip ini terbukti berhasil dimainkan oleh penganut Syi’ah Itsna Asyariyah dalam perjalanannya sebagai salah satu mazhab dalam Islam.

Taqiyah merupakan prinsip pemeliharaan diri dan keimanan dari tindakan kejam para penguasa. Secara teoritis, sebenarnya taqiyah ini diakui keberadaanya oleh kaum sunni,[20] namun dalam bentuk praktisnya lebih banyak dilakukan oleh kaum syiah. Pendirian syiah mengenai perlunya taqi’yyah ini didasarkan pada pertimbangan akal sehat, yakni saran untuk berhati-hati di pihak minoritas yang tertindas.

Dalam sebagian besar sejarahnya kaum syiah merupakan minoritas di tengah-tengah masyarakat Islam dunia, dan hampir selamanya hidup di bawah rezim yang memusuhi mereka, maka satu-satunya jalan bijaksana yang mesti mereka tempuh adalah menghindar dari tindakan-tindakan yang akan menghadapkan diri mereka pada resiko pemusnahan dikarenakan mempertahankan keyakinan-keyakinan mereka secara terang-terangan, meskipun mereka tidak pernah meninggalkan misi untuk menggenjot kesadaran kaum Muslim dengan jalan memberontak terhadap penguasa-penguasa yang tidak saleh (zalim).

Pengabsahan sikap taqiyah mendapat legitimasi dari al-Quran dan hadits dan sebagian sahabat telah melakukannya di zaman Nabi saw seperti Ammar bin Yasir. Ada tiga ayat al-Quran di bawah ini yang meligitimasi taqiyah :

  1. ”Janganlah hendaknya orang-orang yang beriman mengutamakan orang-orang kafir dari pada orang-orang yang beriman untuk dijadikan teman dan pelindung; barang siapa yang berbuat demikian, mereka tidak akan memperoleh pertolongan dari Allah, kecuali (jika hal itu dilakukan) untuk melindungi diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Tetapi Allah memperingatkan kamu, karena kepada-Nya-lah kamu akan kembali. (Q.S. Ali Imran: 28).

Ayat ini merupakan peringatan umum kepada kaum beriman untuk tidak mengutamakan orang-orang kafir daripada orang-orang beriman sebagai teman dan pelindung. Namun, jika ada keterpaksaan dan penindasan, kaum muslimin diperkenankan melakukan hal itu sebagai siasat dan pemeliharaan diri.

  1. “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman, maka ia akan mendapat murka Tuhan dan azab yang besar, kecuali jika dia dipaksa, sedangkan hatinya tetap beriman dengan mantap” (Q.S. An-Nahl: 106). Ayat ini mengecualikan dari hukuman Tuhan, orang-orang yang menampakkan kekafiran setalah menyatakan beriman, karena ancaman atau paksaan.
  2. “Ketika Fir’aun, Haman dan Qarun memerintahkan untuk membunuh para pengikut Musa, “seorang Mukmin dari kalangan keluarga Fir’aun yang merahasiakan keimanannya” mempertanyakan bijaksananya membunuh seseorang hanya karena keyakinannya” (Q.S.al-Mukmin: 28). Ayat terakhir ini, adalah bagian dari kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, yang mana dalam keluarga Fir’aun—yaitu istrinya—ternyata adalah orang yang beriman. Namun istrinya tersebut menyembunyikan keimanannya dari Fir’aun untuk menjaga diri dan keluarganya.

Selain ayat di atas, banyak hadits-hadits atau ucapan para imam, yang menguatkan keharusan ber-taqi’yyah, bahkan sampai-sampai mengidentikkannya dengan esensi agama. Imam Ja’far Shadiq berkata: “Barang siapa yang tidak melakukan taqi’yyah, berarti tidak beragama”. Dan ia juga berkata : “Taqi’yyah adalah ciri agamaku dan agama nenek moyangku”.[21]

Dengan menggunakan sikap taqiyah disamping syahadah dan ghaibah ini, komunitas dapat bertahan dari segala ancaman dan tindak kekerasan dari berbagai pemerintahan tirani yang mewarnai sejarah kekhilafahan Islam. Bahkan dalam beberapa babakan sejarah, komunitas syiah berhasil pula mendirikan kekhalifahan yang besar dan berpengaruh seperti kekhalifahan Fatimiyah di Mesir, dan Safawi di Persia hingga Republik Islam di Iran sekarang ini yang secara formal berhasil menjadikan syiah dan wilayah al-faqih sebagai dasar negaranya.

Menariknya, dengan, ragam suka dukanya, maju mundurnya, maka perkembangan syiah lebih mengarah pada aktivitas intelektual sehingga dapat mengurangi tekanan politis dari para penguasa. Ini terlihat melalui peranan Imam kelima syiah, Muhammad al-Baqir dan Imam keenam, Ja’far Shadiq, yang secara peluang memiliki kesempatan besar mengukuhkan dasar-dasar syiah, sehingga sampai saat ini selain dengan sebutan mazhab syiah, komunitas pengikut ahlul bait ini dikenal juga sebagai Mazhab Ja’fari. Sederetan intelektual Islam dunia, sepanjang sejarahnya, didominasi oleh non-Arab dan sebahagian besarnya juga bermazhab syiah. Pengakuan akan karya besar kaum syiah terhadap dimensi intelektual ini disepakati oleh para peneliti dengan menyatakan secara tegas bahwa dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi kevakuman tradisi keilmuan, jika di wilayah sunni pernah ada masa suram intelektualisme maka hal itu tidak terjadi di wilayah syiah.

SEKTE-SEKTE TERBESAR DALAM SYIAH

Dalam sejarah teologi Islam (ilmu kalam), dikenal banyak mazhab kalam diantaranya Qadariyah, Jabariyah, Muktazilah, Khawarij, Murjiah, Maturudiyah, Asy’ariyah, ahl al-sunnah, dan syiah. Namun, pada saat ini, semuanya nyaris hilang kecuali ahl al-sunnah dan syiah, sehingga disebutkan, jika pada saat ini, jika seseorang bukan kelompok syiah maka ia adalah kelompok ahl al-sunnah.

Meskipun begitu, bukan berarti legitimasi ini menunjukkan persoalan sekte dalam Islam telah selesai. Jika kita telusuri, jejak-jejak peninggal kekayaan khazanah Islam yang terpolarisasi dalam beragam mazhab masih meninggalkan bekas dalam kehidupan kaum muslimin saat ini, baik disadari maupun tidak. Ahl al-sunnah misalnya, menurut sejarahnya merupakan jejak baru dari sekte asy’ariyah dan maturudiyah.

Syiah, sebagai salah satu sekte dalam Islam, juga tidak lepas dari hukum ini. Dalam perjalanan karirnya ia terbag-bagi menjadi beragam sub mazhab. Dalam hal ini, para ahli sejarah tidak sependapat dalam menghitung jumlahnya. Tetapi, pada umumnya, syi’ah dapat dibagi atas beberapa golongan besar, yaitu Ismailiyah, Zaidiyyah, dan Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah). [22]

Syiah Ismailiyah

Syi’ah Ismailiyah, merupakan komunitas yang memisahkan diri dari mayoritas Syi’ah karena perbedaan di sekitar identitas imam ketujuh. Sebahagian kaum Syi’ah mempercayai bahwa imam keenam, Ja`far al-Shadiq, telah memilih puteranya, Ismail berdasarkan ilham dari Tuhan menjadi Imam ketujuh. Akan tetapi, Ismail meninggal ketika bapaknya masih hidup. Berikutnya, Imam Musa al-Kazim dipilih sebagai Imam ketujuh, tetapi sejumlah orang di dalam masyarakat Syi’ah menolak untuk menerima penganugerahan itu dan tetap berpandangan bahwa Ismail adalah Imam ketujuh bagi mereka sehingga mereka dinamakan kelompok Ismailiyah.

Selama beberapa waktu, Imam-Imam mereka tidak muncul secara terbuka sampai tiba-tiba pada abad ke-10, penganut Ismailiyah muncul di Tunisia dan menyatakan diri mereka sebagai penguasa dan mereka terus memperluas kekuasaannya sampai ke Mesir dan hampir ke seluruh Negara Afrika Utara lainnya, bahkan sampai ke Suriah. Mereka bahkan mampu mendirikan Kekhalifahan Fathimiyyah yang menyaingi dan menentang Kekhalifahan Sunni, Abbasiyyah, yang beribukota di Baghdad. Kekhalifahan Fathimiyyah menjadikan Kairo sebagai ibu kota dan membangun kota itu sehingga menjadi pusat ilmu dan seni. Universitas Al-Azhar, yang telah berumur ratusan tahun dan sekarang menjadi institusi pendidikan paling penting bagi kaum Sunni di seluruh dunia, didirikan oleh Kekhalifahan Fathimiyah yang pemimpinnya merupakan para Imam kaum Syi’ah Ismailiyah.[23]

Ismailiyah Fathimiyah menggambarkan bentuk paling moderat dari kaum Ismailiyah, tetapi setelah itu muncul gerakan-gerakan Ismailiyah yang lebih radikal. Pada awalnya, khalifah Fathimiyah, Mustanshir Billah, memindahkan mahkota Imamah dari puteranya yang lebih tua, Nizar, kepada puteranya yang lebih muda, Musta`li. Sesaat setelah kematiannya pada 1094 M, sebagian kaum Ismailiyah mengikuti Nizar dan sebagian yang lain mengikuti Musta`li. Pengikut Musta`li atau Musta`liyah, melanjutkan ajaran moderat Imam Fathimiyah sebelumnya, sedangkan pengikut Nizar menjadi kelompok radikal.

Di Iran, kaum Nizariyah membangun berbagai kota pertahanan atau benteng di atas gunung-gunung dan yang paling terkenal di antaranya adalah Alamut. Seorang Ismailiyah Persia, Hasan Shabbah, memegang peranan penting dalam pembangunan benteng-benteng itu dan dalam penyebaran tujuan-tujuan kaum Nizariyah. Pada 1164 M, Imam Ismailiyah saat itu, Hasan, memproklamasikan suatu “kebangkitan besar” dan menegaskan bahwa mulai saat itu kaum Ismailiyah hanya mementingkan aspek spiritual dan esoteris dari Islam dan mengesampingkan masalah-masalah yang bersifat legal-formal. Golongan Ismailiyah Nizariyah kemudian menjadi suatu kekuatan radikal dan revolusioner sampai akhirnya mereka dikalahkan oleh tentara Mongol.

Diberitakan bahwa penganut Ismailiyah, yang bertekad mengorbankan hidup mereka sebagai syahid atau dikenal dengan fada`iyan, selalu membunuh kaum Sunni penentang mereka yang melakukan penekanan terhadap mereka. Kata-kata bahasa Inggris assassin ternyata kemungkinan besar berasal dari Hasan, tetapi sebagian sarjana Barat berpendapat berasal dari hasyis, sesuatu yang diperintahkan oleh musuh harus dilakukan calon korban sebelum musuh tersebut melakukan aksi pembunuhan.[24]

Karakter revolusioner Ismailiyah padam setelah invasi Mongol abad ke-13 M, dan di Persia sendiri, kebanyakan kaum Ismailiyah melakukan gerakan bawah tanah. Dalam pada itu, kaum Musta’aliyah berkembang di Yaman. Selain kedua golongan tersebut, terdapat golongan ketiga Ismailiyah, yang telah bermukim di Sindh dan Gujarat, India, sejak awal sejarah Islam dan telah banyak memasukkan penganut Hindu ke dalam Ismailiyah. Kelompok tersebut belakangan terpecah dan kelompok mayoritasnya kemudian dinamakan dengan Sat Panth atau jalan yang benar. Cabang Ismailiyah ini terlihat sangat eklektif dalam mempraktikkan ajarannya dan memasukkan banyak ajaran-ajaran Hindu. Syair keagamaan mereka, disebut Ginan, memiliki bait-bait yang di dalamnya figur-figur utama dalam Islam, seperti Ali, dibandingkan dan bahkan digelari dengan berbagai nama para dewa Hindu.

Mulai abad ke-19 M, cabang Ismailiyah Persia dan Yaman atau di sebut Tayyibiyah juga berkembang di India, terutama disebabkan oleh migrasi yang dilakukan Aga Khan terbagi dua, Aga Khaniyyah dan Bohras, di mana pengikut dari kedua cabang tersebut terpusat di India dan sebagian kecil lainnya di Pakistan. Masyarakat Isma’iliyah juga dapat ditemukan di Asia Tengah, Persia, Suriah, Sudan, Afrika Timur, dan di Kanada, di mana  mereka merupakan pindahan dari Afrika Timur setelah terjadinya tragedi politik pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an.[25]

Seyyed Hossein Nasr berpendapat bahwa tidak ada orang luar Ismailiyah yang mengetahui persis jumlah kaum Syi’ah Ismailiyah, walaupun, disebabkan Imam mereka tidak gaib dan berfungsi sebagai pemimpin di tengah-tengah masyarakat, mereka terorganisasi dengan baik dan memiliki jaringan global yang kuat yang merangkul seluruh anggotanya. Walaupun jumlah mereka jelas lebih kecil dibanding pengikut Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Syi’ah Ismailiyah telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam keseluruhan sejarah Islam secara intelektual, seni, dan politik dan terlepas dari jumlah mereka yang kecil, mereka telah mengambil tempat yang sangat penting dalam spektrum Islam.[26]

Syiah Zaidiyah

Syi’ah Zaidiyah adalah pengikut Zaid bin Ali bin Husein bin Ali. Menurut kelompok ini, yang berhak menjadi khalifah sesudah Ali Zainal Abidin al-Sajjad (imam keempat) ialah puteranya yang bernama Zaid, yang kemudian menjadi imam kelima.

Zaid bin Ali berencana ingin melakukan penyerangan dan pemberontakan pada dinasti Umayyah. Imam Muhammad al-Baqir (imam kelima mazhab syiah itsna asyariyah) yang juga anak dari Imam Ali Zanal Abidin tidak menyetujui pergerakan Zaid, karena hanya akan mendatangkan celaka dan kerugian, serta mengorbankan masyarakat dengan sia-sia.

Namun, tanpa menghiraukan nasehat Imam Muhamad al-Baqir, pada tahun 121 H, Zaid melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Bani Umaiyah, Hisyam bin Abdul Malik. Ketika terjadi peperangan di Kufah, pasukannya mengalami kekalahan dan ia sendiri syahid di dalam peperangan tersebut. Kemudian anaknya yang bernama Yahya menggantikan keududukannya, dan melakukan pemberontakan juga terhadap Walid bin Yazid. Selanjutnya kepemimpinan syiah zaidiyah terus berlanjut di bawah kepemimpinan Muhammad bin Abdullah dan Ibrahim bin Abdullah.

Setelah mereka terbunuh, Zaidiyah menjalani masa-masa kritis yang hampir menyebabkan kelompok ini punah. Pada tahun 250-320 H., Nashir Uthrush, salah seorang anak cucu saudara Zaid bin Ali, mengadakan pemberontakan terhadap penguasa Khurasan. Karena dikejar-kejar oleh pihak penguasa yang berusaha untuk membunuhnya, ia melarikan diri ke Mazandaran yang hingga saat itu penduduknya belum memeluk agama Islam. Setelah 13 tahun bertabligh, ia akhirnya dapat mengislamkan mayoritas penduduk Mazandaran dan menjadikan mereka penganut mazhab Syi’ah Zaidiyah. Dengan bantuan mereka, ia dapat menaklukkan Thabaristan dan daerah itu menjadi pusat bagi kegiatan Syi’ah Zaidiyah.

Kelompok ini menghadirkan bentuk moderat Syi’ah dan berbeda dengan Ismailiyah. Mereka tidak semata-mata mementingkan dimensi esoteris agama dan meninggalkan aspek eksoterisnya. Pada abad ke-10 M, kelompok Zaidiyah memiliki banyak pengikut di Persia dan Arab bagian timur, tetapi berangsur-angsur mereka pindah ke Yaman, yang akhirnya mereka mengisi setengah dari jumlah penduduk negara tersebut dan menjadi penguasa selama ribuan tahun sampai pada 1962 menyusul penyerangan Mesir ke Yaman. Kaum Zaidiyah memiliki mazhab fiqih dan teologi sendiri, begitu juga teori politik, yang menyebutkan bahwa siapa saja yang taat beragama, berilmu pengetahuan, dapat mempertahankan negara dan memelihara perdamaian dan keagamaan, dapat diangkat menjadi Imam dan pemimpin.[27] Syi’ah Zaidiyah menggabungkan dua ajaran dalam mazhabnya. Dalam bidang ushuluddin ia menganut paham Mu’tazilah dan dalam bidang furu’uddin ia menganut paham Hanafiah.

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, ImamImam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).[28]

Imam kedua belas, Muhammad al-Mahdi, dipercaya oleh kalangan syiah diberikan Tuhan kehidupan panjang sampai akhir dunia, tapi mengalami kegaiban. Akan tetapi, ia tetap menjadi pemimpin dan dapat muncul atau memperlihatkan diri kepada orang-orang yang memiliki kondisi spiritual tertentu. Imam Mahdi akan muncul secara terbuka sebelum akhir dunia (kiamat), yaitu ketika dunia dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan, sehingga kemunculannya untuk membangun kembali keadilan dan perdamaian di muka bumi serta menegakkan janji-janji ilahi.

Persoalan kemunculan Imam Mahdi ini, sebenarnya bukanlah khas dan milik syiah saja. Golongan Sunni juga memiliki ajaran tersebut. Bedanya, kaum syiah mengklaim telah mengetahui siapa Imam Mahdi itu, yakni keturunan dari Imam Hasan al-Askari, yang telah dilahirkan ke dunia, hanya saja mengalami kegaiban dalam waktu yang tidak diketahui.  Sedangkan kaum Sunni hanya membayangkan suatu figur dengan nama Mahdi akan muncul pada masa yang mereka tidak tahu kapan terjadi, dan keturunan siapa?

Karena merupakan sekte terbesar dan sekaligus yang memiliki kesistematisan sebuah mazhab, maka uraian tentang syiah di dalam duku ini semua merujuk pada syiah itsna asyariah (syiah dua belas imam).

PRINSIP-PRINSIP AJARAN SYIAH

Pokok-pokok ajaran Syi’ah disamping berbeda dengan sunni, juga banyak memiliki kesamaan. Dalam akidah misalnya, syiah meyakini keesaan Tuhan, kenabian, dan hari akhir. Sebahagian peneliti memandang bahwa dalam bidang teologi kaum Syi’ah banyak sepaham bahkan meniru Mu’tazilah.[29] Namun, ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa dan tidak akurat, karena bagaimanapun, seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa syiah merupakan mazhab yang tertua dan lahir sebelum muktazilah.

Seperti mazhab lainnya, Syiah meyakini prinsip-prinsip dasar (ushuluddin) dalam Islam yakni ketuhanan (Tauhid), kenabian (al-Nubuwah), dan hari akhir (al-Maad). Sebagai tambahannya yang khas syiah memasukkan keadilan (al-Adl) dan kapemimpinan (al-imamah) sebagai bagian dari prinsip-prinsip ajarannya.

Dalam tauhid syiah meyakini bahwa Allah tidak merupakan jism, substansi, atau tubuh, tidak berbentuk, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dia adalah esa dari segala sisinya baik dari sisi zat, sifat maupun perbuatannya (tauhid zat, tauhid sifat, dan af’al) serta tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakan, Dia memiliki sifat-sifat yang sempurna, seperti Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Hayat (Maha Hidup), Alim (Maha Berilmu), Sami’ (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), serta sifat-sifat sempurna lainnya. Dan terhadap semua sifat-sifat tersebut diyakini oleh syiah bukanlah sesuatu yang lain yang ditambahkan kepada zat-Nya, melainkan identik dengan zat-Nya itu sendiri.

Syiah juga meyakini bahwa Allah Maha Adil, karenanya, Dia akan menghukum siapa yang berdosa dan mengganjar siapa yang berpahala. Dengan prinsip keadilan ini, syiah meyakini bahwa Allah tidak akan menzalimi makhluk-Nya, merampas hak seseorang, bahkan Allah senantiasa mencurahkan karunia-Nya kepada setiap makhluk sesuai dengan ketentuan alam yang berpijak di atas kebijaksanaan-Nya. Keadilan juga menjadi prinsip kebertanggungjawaban manusia di hadapan Allah swt. Artinya, melalui takdir Allah, manusia diberikan kebebasan oleh Allah, sehingga harus bertanggung jawab atas segala tindakannya, dan akan mendapatkan pahala atau dosa atas tindakannya tersebut.

Dalam hal kenabian syiah memegang teguh keyakinan bahwa Allah swt telah mengirim utusan-Nya sebagai Nabi dan Rasul untuk menyampaikan dan menjelaskan syariat Allah swt. Para Nabi itu seluruhnya bersifat maksum (terpelihara dari dosa) dan memiliki berbagai mukjizat. Nabi pertama yang di utus oleh Allah swt. adalah Nabi Adam as. dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad saaw. Syiah meyakini secara bulat, bahwa pintu kenabian telah tetutup setelah Nabi Muhammad saaw, karenanya beliau disebut dengan khatam al-nabiyin (penutup para nabi) dan membawa agama Islam yang sempurna. Pengakuan kenabian dalam syiah juga memberikan konsekuensi bahwa Nabi telah menerima berbagai wahyu dari Allah swt. melalui malaikat-Nya, dan wahyu-wahyu tersebut dihimpun dalam sebuah kitab yang bernama al-Quran. Kitab al-Quran merupakan kitab paling sempurna yang diturunkan Allah serta Allah akan menjaganya dari segala jenis perubahan. Ini berarti syiah meyakini bahwa al-Quran yang ada di hadapan kita, sama persis dengan yang ada di hadapan Rasulullah saaw, tanpa ada pengurangan ataupun penambahan di dalamnya.

Hanya saja syiah meyakini bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad saaw. kepemimpinan berlanjut dengan diangkatnya Imam Ali bin Abi Thalib as. oleh nabi sebagai penggantinya. Bukan hanya Imam Ali bin Abi Thalib, syiah juga meyakini sebelas Imam keturunan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin atau imam yang telah digariskan Allah melalui rasul-Nya. Inilah yang disebut dengan prinsip imamah. Para imam tersebut mendapatkan kemuliaan dari Allah dan merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman yang harus ditaati sebagaimana kaum muslimin menaati Nabi Muhammad saaw.

Terakhir, syiah meyakini bahwa setelah akhir dunia (kiamat), manusia akan dikumpulkan dan dibangkitkan oleh Allah di alam akhirat untuk bertanggungjawab atas segala tindakannya di dunia semasa hidupnya. Jika manusia memiliki amal ibadah yang baik maka Allah akan mengganjarnya dengan surga, dan sebaliknya, jika amalnya buruk, maka Allah akan menghukumnya dengan neraka. Syiah mengakui segala prosesi ke alam akhirat seperti kematian, alam kubur atau alam barzakh, shirat, mizan, penerimaan buku catatan,  dan prosesi lainnya, yang semuanya di bawah kekuasaan Allah.

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah.[30] Dalam bidang fiqh merujuk pada Mazhab Ja’fari yang dibangsakan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, Imam keenam Syiah.[31]


[1] Seyyed Hossein Nasr. et. al. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. (Bandung: Mizan, 2003), h. 146 .

[2] Sayyid Muhammad al-Musawi. Mazhab Syi’ah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 53.

[3] Khalid Ibrahim Jindan. Teori-Teori Politik Islam. (Surabaya; Risalah Gusti, 1999), h. 8.

[4] Lihat Zakariya Barakat Darwisy. Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah (Kul al-Huquq Mahfuzhah, 2006), h.9-39.

[5] Zakaria Barakat Darwisy. Syiah, h. 10.

[6] Sayid Muhammad al-Musawi. Mazhab, h. 56-57.

[7] Sayid Muhammad al-Musawi. Mazhab, h. 57.

[8] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 344 dan lihat Muhammad Abu Zahrah. Tarikh al-Mazahib al-Fiqhiyah. (Kairo; Ma’had al-Dirasah al-Islamiyah, tt), h. 53.

[9] Lihat Philip K. Hitti. History of the Arabs (Jakarta: Serambi, 2003), h. 237.

[10] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut Kepemimpinan Setelah Rasul. (Jakarta: Yayasan as-Sajjad, 1990), h. 62.

[11] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut, h. 62.

[12] Murad W. Hofmann. Menengok Kembali Islam Kita.(Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 136.

[13] Kata khalifah, yang bentuk pluralnya khulafa` dan khala`if, yang berasal dari kata khalafa berarti pengganti, yaitu seseorang yang menggantikan tempat orang lain dalam beberapa persoalan. Belakangan dimaknai sebagai kepala negara atau pemimpin tertinggi umat Islam sebagai pengganti Rasulullah Saw. Lihat Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 204-206.

[14] Syahadah diilhami oleh perjuangan Imam Husain di Karbala yang memperjuangkan keadilan dan tegaknya aturan agama. Dalam perspektif syiah, peristiwa syahidnya Imam Husein di Karbala pada 10 Muharram 61 H/680 M, menempati posisi historis yang sangat penting seperti halnya pelantikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai penerus kepemimpinan Nabi di Ghadir Khum. Bahkan, kebangkitan Imam Husain melawan tirani ini menjadi basis ideologi syiah lainnya yaitu amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah.

[15] Hamid Enayat. Reaksi Politik Sunni-Syi’ah.(Bandung: Pustaka, 1988), h. 280-281.

[16] William Montgomery Watt. Fundamentalisme Islam dan Modernitas. Terj. Taufiq Adnan Amal. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 260-261.

[17] Lihat Sayid Husain Muhammad  Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah. (Bandung: Mizan, 1995), h. 301-316.

[18] Gaibah maksudnya adalah keyakinan tentang gaibnya Imam ke-12 (Imam Muhammad al-Mahdi afs.) dan akan muncul kembali ke dunia untuk menegakkan kepemimpinan yang adil. Inspirasi konsep ini mengukuhkan semangat umat syiah untuk senantiasa dinamis dan progressif dalam perjuangan meniti kehidupan dan membentuk peradaban Islam sembari menunggu kemunculan Imam Mahdi.

[19] Secara etimologi, taqiyah berasal dari akar kata waqa, yaqi dalam bahasa Arab, yang berarti melindungi atau menjaga diri. Dari akar kata yang sama ini juga berasal kata taqwa (kesalehan atau takut kepada Allah). Dari sini maka taqiyah yang dianut syiah adalah  menyembunyikan atau menutupi keimanan, keyakinan, pemikiran, perasaan, pendapat, dan strategi, ketika terancam bahaya demi menyelamatkan diri dari penganiayaan. Keyakinan taqi’yyah ini didasarkan dalil aqli dan naqli. Akal sehat menyarankan untuk berhati-hati jika terjadi bahaya dan penindasan. Secara naqliyah ayat Alquran telah menyetujui prinsip taqiyah seperti Q.S. Ali Imran: 28; An-Nahl: 106; al-Mukmin: 28. Lihat Hamid Enayat. Reaksi, h. 271-272. Ja’far Subhani. Ma’a al-Syi’ah al-Imamiyah fi ‘Aqa’idihim. (Mu’awiniyatu Syu’uni al-Ta’lim wa al-Buhuts al-Islamiyah, 1413 H),, h. 76-96 .

[20] Misalnya, Jalaluddin al-Suyuti dalam kitab tafsirnya al-Dur al-Mantsur meriwayatkan pendapat Ibnu Abbas tentang Q.S. Ali Imran: 28 sebagai berikut : “Taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja: orang yang telah dipaksa menyatakan sesuatu yang membuat murka Allah swt, tetapi hatinya tetap beriman, maka (ucapannya itu) tidak akan merugikannya; karena taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja.” Begitu juga Abu Bakar al-Razi dalam Ahkam al-Quran membenarkan tindakan taqiyah apabila seseorang takut jika hidup atau anggota tubuhnya terancam bahaya. Qatadah juga mengatakan seseorang boleh mengucapkan kata-kata ketidakberiman saat taqiyah wajib dilakukan. Banyak lagi pendapat-pendapat lain yang senada dan menyatakan taqiyah sebagai bagian dari ajaran Islam yang penting. Lihat Tim Penerbit al-Huda. Peny. Antologi Islam. (Jakarta: al-Huda, 2005), h.758-764.

[21] Hamid Enayat. Reaksi, h. 271-272, dan lihat; Ja’far Syubhani. Ma’a al-Syi’ah, h. 76-96; Tim al-Huda. Antologi, h. 774.

[22] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 345-346. Informasi lebih lengkap tentang sekte-sekte dalam Syi’ah baca; Abu Hasan Isma’il al-Asy’ari, Prinsip-prinsip Dasar Aliran Teologi Islam. (Bandung: Pustaka Setia, 1998); al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal (Kairo, 1961); Syeikh Ja’far Subhani, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal (Beirut: Dar al-Islamiyah, 1991).

[23] Seyyed Hossein Nasr. The Heart of Islam: Pesan-pesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan. (Bandung; Mizan, 2003), h. 88-89.

[24] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 89-90.

[25] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 90-91.

[26] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 90-91.

[27] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 91.

[28] Lihat riwayat hidup mereka masing-masing dalam Syaikh al-Mufid. Sejarah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Para Imam Ahlul Bait Nabi Saw. (Jakarta: Lentera, 2007)

[29] Misalnya, menurut Harun Nasution, ada tiga hal yang melatarbelakangi adanya persamaan itu. Pertama, muktazilah dan syi’ah pernah bekerja sama melawan Ahl al-Sunnah. Kedua, aliran syiah yang lebih bersifat gerakan politik pada waktu itu belum memiliki paham teologi yang mandiri. Ketiga, pemikiran kaum syi’ah berhubungan erat dengan pemikiran filsafat yang melatih berpikir rasional; demikian pula halnya dengan kalam Muktazilah. Taufik Abdullah, et. al, Ensiklopedi, jilid III, h. 344-345. Pandangan ini kurang tepat seperti dijelaskan di atas.

[30] Ali Miskini. Sunnah Dalam Pandangan Syi’ah dan Sunni. dalam Jurnal Studi-Studi Islam Al-‘Ibrah, Vol. 1 No. 2, h. 81.

[31] Mazhab di sini tidak sama dengan pemakaian istilah mazhab dalam fiqih Sunni. Mazhab dalam pandangan Sunni menunjuk pada kumpulan ijtihad imam-imam mazhab. Namun, istilah mazhab Ja’fari bukanlah mencerminkan kumpulan pendapat atau hasil ijtihad Imam Ja’far al-Shadiq. Sebab dalam pandangan syiah, Imam Ja’far al-Shadiq, dan kesebelas Imam lainnya, bukan seorang mujtahid, tapi imam maksum yang memiliki otoritas penetapan atau pembuatan hukum. Lihat Umar Shahab. Sebuah Pengantar. dalam Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Ja’fari. (Jakarta: Lentera, 1995), h. vii.

Takfir Terhadap Abu Thalib dengan mencatut Al Quran oleh Sunni

Agama Allah tegak berkat dukungan paman Nabi Saydina Abu Thalib r.a dan sokongan istri Nabi Khadijah a.s
Berkata Saydina Abu Thalib r.a : “Demi Allah barangsiapa yang mengikuti petunjuknya (Muhammad) ia akan mendapat kebahagiaan di masa datang. Dan kalian Bani Hasyim, masuklah kepada seruan Muhammad dan percayailah dia. Kalian akan berhasil dan diberi petunjuk yang benar. Sesungguhnya ia adalah penunjuk ke jalan yang benar.”
.
Dalam Syair nya, ia melantunkan :
Kami mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang Nabi sebagaimana Musa
la telah diramalkan pada kitab-kitab sebelumnya
Wajahnya yang memancarkan cahaya merupakan perantara tururmya hujan
la adalah mata air bagi para yatim piatu dan pelindung para janda.
.
Kita ketahui dalam sejarah, bagaimana orang kafir qurais menjadi risau dan takut karena pembelaan yang dilakukan oleh Sang penjaga Ka’bah ini kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah bisa leluasa mengajarkan agama Allah kepada pengikutnya ketika paman beliau r.a ini masih hidup.
“Abu Thalib…..Abu Thalib…..telah menjadi pembela Muhammad! Apa yang harus kita perbuat?” ujar kaum kafir Quraisy kepada Abu Sufyan”.
Dengan sinar mata yang penuh dengan ketulusan Muhammad menatap wajah bening Abu Thalib, sementara mata liar dan garang kaum kafir Quraisy ingin menerkamnya
.
Muhammad mendengar getaran suara sang paman, Abu Thalib, yang jelas gaungnya : “Teruskan misi sucimu! Demi Allah mereka tak akan pernah menyentuhmu, sehingga keningku berkalang tanah.” Suara itu pun melangit, menerobos seantero Makkah. Bagi dunia, mungkin Abu Thalib hanya seorang pribadi, namun bagi Muhammad, Abu Thalib bahkan lebih berarti dari dunia beserta isinya. Mengapa orang seperti Abu Sufyan, yang demikian getol memusuhi Nabi saw dan akhirnya memeluk Islam secara terpaksa, telah dicatat sejarah sebagai seorang Muslim sejati? Sementara Abu Thalib, paman Nabi, yang mengasuh, melindungi, dan membelanya dengan seluruh harta dan jiwa raganya, telah divonis sejarah sebagai seorang yang harus masuk neraka?
.
Mungkinkah orang yang berani mengorbankan nyawa demi ajaran dan kecintaannya kepada Muhammad kemudian menyuruh orang lain mengikuti ajaran Muhammad secara terang-terangan dikatakan tidak mengucapkan kalimat shahadat karena takut ? sungguh suatu yang tidak masuk akal sama sekali !!
.
Ternyata sejarah sering memanipulasi pribadi-pribadi tulus dan mulia hanya untuk kepentingan sebuah hirarki yang sedang berkuasa. Abu Thalib adalah korban manipulasi sejarah yang di goreskan oleh pena-pena jahil dan kotor, yang tintanya dibayar oleh para penguasa yang bertendensi buruk terhadap Islam.
.
Riwayat-riwayat yang menyatakan Saidina Abu Thalib r.a mati dalam keadaan kafir perawihnya adalah Abu Hurairah yang disepakati Di­sepakati oleh Para ahli tarikh bahwa Abu Hurairah masuk Islam. pada perang Khaibar, tahun ketujuh Hijri. semantara Saydina Abu Thalib meninggal satu atau dua tahun sebelum hijrah.
.
Sementara ayat yang selalu dikaitkan dengan kekafiran Abu Thalib, yaitu Al-Tawbah 113 — melarang Nabi memohonkan ampunan bagi orang musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi Allah menegurnya, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai; sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya [al-Qashash 56], dapat dikatakan tadlis.
Surah ‘Al-Tawbah 113, menurut “para ahli tafsir, termasuk ayat yang terakhir turun di Madinah. Sementara itu, surah Al Qashash turun pada waktu perang Uhud. Sekali lagi kita ingatkan, Abu Thalib meninggal di Makkah sebelum Nabi berhijrah. jadi antara kematian Abu Thalib `dan turunnya kedua ayat itu ada jarak bertahun-tahun; begitu Pula ada jarak bertahun-tahun antara kedua ayat tersebut.
.
Telaah yang mendalarn tentang sejarah Rasulullah saw. dan riwayat Abu Thalib akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa Abu Thalib itu Mukmin. Lalu, mengapa Abu Thalib menjadi kafir sedangkan Abu Sufyan menjadi Muslim, Abu Thalib: adalah ayah `Ali. dan. Abu Sufyan adalah ayah Mu`awiyah. Ketika Mu`awiyah berkuasa, dia berusaha mendiskreditkan ‘Ali dan keluarganya. Para ulama disewa untuk memberikan fatwa yang menyudutkan keluarga Ali -lawan politiknya, Bagi ulama, tidak ada senjata yang paling ampuh selain hadis. Maka lahirlah riwayat-riwayat yang mengkafirkan Abu Thalib.

Persamaan Sunni (NU) & Syiah

:lol:

Lihat gambar ukuran penuh Lihat gambar ukuran penuh

yang saya tahu syiah itu bermazhab pada imam ali yang merupakan ahlul bait nabi dan merupakan mazhab yang paling masuk akal (:lol:

 

Maaf  NU yang saya maksud bukanlah NU gaya si habib tua ,begitu mudahnya si Ahmad bin Zen Alkaf menjadi pengurus NU,padaha dia itu lulusan TKI di Saudi,kerja di toko di wilayah Jeddah,pulang gak mengerti apa-apa,lalu mendompeng ke toko Wahabi Bangil Muhammad Ba Abdullah,orang kepercayaan Wahabi Saudi,semenjak 25 tahun,sampai sekarang,semua habaib tahu sepak terjangnya,mereka diam,karena ditutup oleh riyal-riyal yg di rupiahkan oleh Ahmad bin Zen Alkaf,dan di yys Al-Bayyinat dia ingin ditetapkan sebagai ketua seumur hidup,di Pekalongan 3 tahun yang lalu,orang2 hampir tidak memilih dia,karena dia mengancam jika tidak dia,maka tidak ada dana yg mengalir,sampai-sampai akan terjadi perkalian,yg begitulah si antek Wahabi tsb,Saya yakin dia menyuap kyai-kyai dg riyal-riyal,maka dari itu dikejutkan dg mendapat kedudukan di NU.Jadi kusarankan kepada toko2 NU untuk waspada atas sepak terjangnya si Ahmad Alkaf ini,liahatlah,apa yg dia tampilkan di forum2,hanya untuk memecah belah umat aja,memasukan rasa kebencian sesama NU khususnya,umat Islam pada umumnya.Sadarlah sebelum terlambat wahai saudara-saudaraku NU>:lol:

Syi’ah dan NU memiliki titik temu dibidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu

Titik Temu Islam Ahlusunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti WAHABi  NEJED.

Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia

Melarang syi’ah berarti melarang kemajuan filsafat Indonesia masa depan..

Ditengah derasnya paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme maka Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia..

Jika wahabi maju maka umat NU akan terus merosot, milyaran dolar dana AS/saudi/israel digunakan wahabi untuk bangun pesantren, cetak buku, cetak vcd yang membid’ah bid’ah kan NU

Gerakan trans nasional wahabi juga merampok masjid masjid NU dan me wahabikan kaum NU yang awam. Gerakan anti syi’ah di Indonesia dilakukan wahabi dengan memprovokasi kaum NU, maka keluarlah fatwa sesat dari NU Jatim.. Wahabi gembira dengan politik kotor ini

wahabi memiliki dua aliran :

1. salafi dakwah, tukang takfir dan tukang tuduh bid’ah

2. salafi jihadi, yakni neo khawarij alias teroris

Yang paling mencirikan kedua wajah Islam NU dengan syi’ah  adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam wahabi

Suatu hari di tahun 1982, pemerintah Iran pimpinan Khomeini mengirim tiga orang utusannya ke Indonesia . Mereka adalah Ayatollah Ibrahim Amini, Ayatollah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi. Salah satu dari kegiatan mullah-mullah ini adalah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menemui pimpinannya, Husein al-Habsyi
.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah diterimanya 10 murid pilihan Husein al-Habsyi untuk belajar di hauzah ‘ilmiyyah di kota Qom, Iran. Sejak saat itu hingga wafatnya pada tahun 1994, Husein al-Habsyi bertanggung jawab penuh menyeleksi para kandidat yang ingin nyantri ke hauzah ‘ilmiyyah di Qom, dan kota-kota lainnya di Iran
.
Direktur pusat Kebudayaan Iran (Islamic Cultural Center-Jakarta), Mohsen Hakimollahi mengatakan, selepas wafatnya Husein al-Habsyi, rekomendasi untuk kuliah ke Iran dilakukan oleh tokoh-tokoh ormas Islam seperti Amien Rais, Said Aqil Siradj, ataupun Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Selama berabad-abad lamanya, hubungan antara Sunni dan Syiah terus diwarnai perselisihan. Berbagai dialog untuk mempertemukan kedua aliran dalam Islam itu kerap dilakukan. Namun, ketegangan di antara kedua kubu itu tak juga kunjung mereda.

Akankah kedua aliran besar dalam Islam itu bersatu? Prof Dr Musthafa Ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, berupaya mencari benang merah yang menautkan antara Sunni dan Syiah.

Tokoh kelahiran Troblus, Lebanon, pada 1924 itu mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda dan mengkaji kedua aliran itu secara berimbang (fair), tanpa menghilangkan bobot dan nilai akademik.

Kitab ini mengkaji tentang kemungkinan mempersatukan antara dua kubu Sunni dan Syiah. Ar-Rifa’i menyertakan beberapa kajian penting dalam kitabnya. Ia mengupas bahasan tentang sebab kemunculan paham keagamaan Syiah, alasan penting bersatu, varian sekte yang ada dalam Syiah, serta prinsip-prinsip dan paham keagamaan mereka.

Bebarapa hal penting menjadi perhatian Ar-Rifa’i, di antaranya perbedaan hukum nikah mut’ah, konsep imamah, dan kemunculan Imam Mahdi. Ulasan tentang persoalan itu diuraikan dengan mengomparasikan pandangan kedua belah pihak. Kesimpulannya, diarahkan untuk mencari persamaan yang mempertemukan Sunni dan Syiah.

Ar-Rifa’i menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiyah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Setidaknya, menurut dia, pandangan tentang sikap saling menghormati dan toleransi diteladankan oleh para ulama Salaf. Imam Abu Hanifah mewakili Sunni dan Imam Ja’far bin Ash-Shadiq mewakili Syiah. Meski berbeda mazhab dan cara pandang, kedua tokoh tak saling bermusuhan dan tidak saling menafikan.

Menurut Ar-Rifa’i, keduanya justru saling meningkatkan sikap hormat dan menghormati. Dalam sebuah kisah dijelaskan bagaimana kedua pemimpin yang berbeda aliran itu hidup berdampingan dalam ukhuwah Islamiyah.

Dikisahkan, Zaid bin Ali seorang pemimpin kelompok Syiah Zaidiyyah—menerima pelajaran fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah yang notabene tersohor sebagai imam di kalangan Sunni. Demikian sebaliknya, Abu Hanifah mempelajari hadits dan disiplin ilmu lainnya dari Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Bahkan, Abu Hanifah berguru langsung ke tokoh Syiah tersebut selama dua tahun penuh. Pujian pun kerap dilontarkan Abu Hanifah ke gurunya itu. “Tak pernah bertemu guru lebih fakih dibanding Ja’far bin Muhammad,” ujarnya.

Menurut Ar-Rifa’i, perbedaan yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil. Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furu’iyyah yang dapat ditoleransi. Hal itu didasari kuat oleh pemahaman terhadap ijtihad sebagai upaya memahami teks-teks agama.

Ijtihad tersebut menggunakan berbagai dasar dan sumber hukum, antara lain Alquran, hadits, ijma (konsensus), dan qiyas (analogi). Tak jauh berbeda dengan metode yang akrab di kalangan Syiah.

Tradisi ijtihad tersebut populer di kalangan umat hingga akhirnya luntur seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah di pertengahan abad ke-4 Hijriah, ketika dinasti tersebut dikuasai oleh dinasti-dinasti yang terpecah dan tersebar di sejumlah wilayah.

Bersamaan dengan itu pula, ruh ijtihad mulai melemah. Sebagian umat kala itu, kembali memilih taklid dibandingkan mengembangkan budaya ijtihad. Kondisi ini menjadi satu dari sekian faktor yang mengakibatkan perbedaan antar dua kubu tersebut kian memanas.

Dalam konteks masa kini, Ar-Rafa’i meyakini faktor lain yang amat kuat mempengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperialis Barat. Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Umat bersaudara

Dalam konteks kemanusiaan, setidaknya ada beberapa hal yang mempertemukan Sunni-Syiah. Bahkan, prinsip itu menyatukan pula berbagai elemen dalam bingkai kemanusiaan. Perspektif ini—tidak boleh tidak—perlu didudukkan sebagai landasan cara pandang dan pola berpikir.

Prinsip yang pertama, persamaan asal mula. Islam menyatakan manusia berasal dari fitrah yang sama. Asal mula mereka sama, yakni diciptakan dari sari pati tanah. “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Prinsip selanjutnya yang mendasari urgensi mempertemukan kedua kubu tersebut adalah persamaan nilai. Manusia mempunyai tempat yang sama di sisi Allah. Titik yang membedakan adalah kadar dan tingkat ketakwaan seseorang. Tanpa itu, maka tak ada yang patut menjadi jurang pemisah satu sama lainnya. (QS. Al-Hujurat: 130).

Prinsip lain yang tak boleh diabaikan pula adalah bagaimana meletakkan pandangan bahwasanya manusia akan dikembalikan pada titik dan tempat yang sama, yaitu tanah. Apabila semua prinsip tersebut dijadikan sebagai mindset oleh berbagai kelompok— tak kerkecuali Sunni dan Syiah—maka paling tidak, permulaan itu akan memunculkan empati kebersamaan, rasa saling menghargai, dan toleransi satu sama lain.

Di Batam, Lagi-lagi Ketua Umum PBNU Serukan Perangi Ajaran Wahabi.

kini dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah

Inilah untuk kesekian kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menyerukan untuk memerangi ajaran Wahabi. Kali ini seruan itu diucapkan Said Aqil di Aula Politeknik Negeri, Batam, Ahad (5/2) dalam sebuah acara bedah bukuSejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram yang digelar Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau.

Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.”Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata dia.

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam. “Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami. Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi,” kata dia.

Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada. Satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikannya malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam.”NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai madzhab (dan agama lain),” kata dia. Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.

Humor
Dituduh Lebih Syiah

Ketika memasuki ruangan ketua Umum PBNU Kiai Hasyim Muzadi, tiba-tiba Kiai Said Agil Siradj nyeletuk. “Wah ini benar-benar tidak adil,” kata Said Agil sambil memandangi foto-foto yang dipajang di ruangan.

“Apanya yang tidak adil?” tanya Kiai Hasyim Muzadi keheranan karena dituduh tidak adil.

“Ya, sebenarnya sampeyan itu sangat Syiah lho, itu lihat banyak foto-bersama Ayatullah, tetapi kok hanya saya yang dituduh Syiah,” kata Kiai Said.

“Ooo.. beda saya dengan sampean Pak Said, kalau saya bolak balik ke Iran hanya membela reaktor nuklir Iran. Sementara sampeyan membela ajaran Syiah,” papar Kiai Hasyim.

“Ah enggak juga saya kan hanya menjelaskan beberapa kesamaan Syiah dengan Ahlussunnah, masa gitu aja sudah dianggap Syiah. Padahal masuk Syiah ada syahadat dan baiat sendiri.”

“Ah wong namanya tuduhan biarin aja nanti kan reda sendiri,” hibur Kiai Hasyim Muzadi. 

Riset Aktivis NU: Syiah Tampil Damai dan Sejuk

April 2, 2012

islam Syiah yang lagi ramai-ramainya dibicarakan di Indonesia, baru kali ini diteliti secara ilmiah nan mendalam. Komunitas Syiah di Kabupaten Jepara yang tak pernah muncul dalam berita, dilaporkan secara sangat bagus oleh mahasiswa S3 IAIN Walisongo M Muhsin Jamil MAg, yang merupakan ketua Lakpesdam PW Jawa Tengah 2004-2005.

Situs NU online melaporkan, riset yang luar biasa karena langka itu dinilai sangat bagus kala Muhsin mempresentasikannya di ujian promosi doktor dirinya di Kampus I IAIN Walisongo kemarin (Kamis, 19/1). Sehingga promovenda ini diganjar nilai yudisium IP 3,78 dan dikukuhkan sebagai doktor ke-7 yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Para pengujinya adalah Prof Dr Muhibbin, Ahmad Hakim Ph.D, Prof Dr Nurdien H Kistanto, Prof Dr A Ghazali Munir, Prof Dr Ibnu Hadjar, Abu Hapsin Ph D. Adapun promotornya  adalah Prof Dr Mudjahirin Rohir  dan co promotor Dr M Nafis.

Dengan disertasi berjudul Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi Minoritas Syiah di Jepara, dosen Fak Ushuluddin IAIN Walisongo ini mengungkapkan, Syiah di Jepara dan umumnya Indonesia, tidak seperti Syiah Imamiyah di negara-negara Arab.

Golongan minoritas ini, kata dia, berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat lokal yang secara tradisi adalah penganut sunni (mayoritas dunia). Amalan keagamaan yang mereka lakukan juga dibuat sama dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Seperti Mauludan, Muharoman atau Suronan.

“Komunitas Syiah di Jepara yang merupakan terbesar di Jawa Tengah, melakukan adaptasi dan dinamisasi dengan masyarakat sekitar. Identitas mereka tidak lagi tampak sebagai minoritas yang “aneh” apalagi sampai disebut menyimpang.

Hasil observasinya, kelompok Syiah di Jepara tidak menampilkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Tak satupun dari anggota Syiah Jepara, kata Muhsin, melakukan kawin kontrak alias nikah mut’ah. Mereka juga berbaur dan mengamalkan ritual keagamaan yang sama dengan sunni.

“Komunitas Syiah di Jepara sangat anteng. Mereka rukun saja dan selama ini guyub dengan komunitas lain yaitu NU dan Muhammadiyah. Tak pernah ada konflik walaupun sekedar debat,”  tuturnya.

Nikah mut’ah, ajaran Syiah yang sering dipraktekkan di Arab, jelas Muhsin, justru banyak dilakukan orang non Syiah. Yaitu wanita-wanita Jepara yang karena motivasi ekonomi, rela dinikahi orang asing secara kontrak alias berbatas waktu, semata untuk kepentingan bisnis mebel.

Mudjahirin Tohir dalam ulasannya usai sidang yudisium menyampaikan selamat atas kegigihan Muhsin Jamil melakukan penelitian. Suami dari Nur Rochayati SAg ini dinilai seorang muslim sejati. Karena sebagai orang berpaham sunni –mayoritas—Muhsin mampu menjadi peneliti yang netral dan meneguhkan dia sebagai aktivis multikulturalisme.

Pergumulannya di organisasi Nahdlatul Ulama sejak lama, kata Mudjahirin, membuah ayah dari Nahdiya Bella Pertiwi dan Zaka Aulia Nala Udhma ini sukses membawa pengertian yang luhur tentang syiah. Sehingga ormas seperti NU maupun lembaga MUI bisa turut menjaga iklim damai dan berdialog dengan Syiah secara nyaman.

Namun Rektor IAIN Walisongo yang juga menjadi penguji, Muhibbin menyatakan, pihaknya terpaksa tidak bisa memberi predikat cum laude kepada Muhsin karena sang promovenda melebihi batas waktu penyelesaian studi doktoral. Yakni lebih dari lima tahun yang dipersyaratkan.

“Anda mendapat nilai sangat memuaskan, tetapi tidak bisa diberi predikat cum laude. Karena disertasi Anda baru diujikan lebih dari lima tahun kuliah,” kata Muhibbin.

Muhsin lahir di Tegal, 15 Februari 1970. pendidikan SD dan Mts dia tempuh di kampung halaman, Danawarih, Balapulang, Tegal. Lalu jenjang MAN dia tempuh di Cilacap sambil mondok di Pesantren Sufyan Tsauri Cigaru Majenang Cilacap. Selanjutnya, S1 dan S2 dia tamatkan di IAIN Walisongo Semarang.

Pendidikan pendek berupa training maupun kursus banyak dia dapatkan di luar maupun dalam negeri. Karya tulisnya juga sudah cukup banyak. Diantara buku karangannya adalah “Agama-Agama Baru di Indonesia” dan “Membongkar Mitos, Menegakkan Nalar: Kontestasi Literalism dan Liberalisme Islam” yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Pengajar etika tasawuf ini juga pernah menulis buku berjudul “Tarekat dan Dinamika Sosial Politik NU: Tafsir Sosial Sufisme Nusantara” dengan penerbit sama.

Adapun aktivitas pengabdian masyarakat yang dilakoninya sekarang adalah Wakil Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jateng dan Direktur Komunitas Seni Madina.

Imam Musa Shadr, Menggagas Persatuan Fiqih Menggalang Persatuan Islam

Persatuan Fiqih

Kata persatuan fiqih “Wahdah Fiqh” pertama kalinya diperkenalkan oleh Imam Musa Shadr setelah terbentuknya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon dan sekaligus ia menjadi pimpinannya. Dalam pidatonya pertamanya sebagai ketua tanggal 23 Mei 1969, ia meletakkan dua khitthah penting:

1. Prinsip mencegah perselisihan antar kaum muslimin dan usaha keras demi terwujudnya persatuan.

2. Kerja sama dengan semua kelompok etnis dan mazhab di Lebanon dan menjaga persatuan nasional.

Imam Musa Shadr tidak cukup dengan menjelaskan khitthahnya tapi langsung berbuat. Pada bulan Oktober 1969, ia menuliskan sebuah surat bersejarah yang ditujukan kepada Mufti Lebanon Syaikh Hasan Khalid.[10] Dalam isi surat itu untuk pertama kalinya Imam Musa Shadr mempergunakan kata persatuan fiqih. Selain menjelaskan konsepnya, ia memerikan beberapa petunjuk pelaksanaan. Membicarakan konsep persatuan fiqih Imam Musa Shadr harus dilihat dari dua sisi. Pertama, masalah penjelasan substansi konsep persatuan fiqih dan kedua, aksi-aksi Imam Musa Shadr dalam mewujudkan ide-idenya.

Konsep persatuan fiqih

Imam Musa Shadr memulai konsep persatuan fiqihnya dengan mengingatkan kembali akan prinsip-prinsip Islam. Pada dasarnya umat Islam satu dalam akidah, kitab suci, pencipta dan keyakinan akan hari akhir. Kesamaan yang luas semacam ini membutuhkan kesatuan pula dalam masalah-masalah parsial. Persatuan kaum muslimin dalam masalah parsial juga merupakan keinginan ulama terdahulu kita. Sambil membeberkan beberapa nama seperti Syaikh Thusi yang menulis buku al-Khilaf sebagai buku fiqih perbandingan. Menurutnya, fiqih perbandingan adalah modal utama dalam mewujudkan persatuan fiqih dan penyempurna syariat yang satu.

Menurut Imam Musa Shadr, persatuan fiqih adalah bentuk paling sempurna dari fiqih, bahkan syariat. Namun, itu tidak dengan makna bahwa Imam Musa Shadr menutup mata dari perbedaan yang ada. Menurut Imam Musa Shadr, selama perbedaan itu hanya pada tataran teoritis dan tidak sampai pada fatwa, maka perbedaan itu dapat diterima bahkan dipuji. Perbedaan pandangan dari setiap mazhab yang ada bukanlah titik akhir dari fiqih Islam, namun sebuah jembatan untuk mencapai kesatuan dalam tindakan.

Keragaman fatwa yang berhubungan erat dengan tindakan dan perilaku dalam sebuah masyarakat, tanpa disadari mengakibatkan terpecahnya pengikut fatwa. Terpecahnya pengikut fatwa sangat merugikan sebuah masyarakat dalam sebuah negara atau bahkan dalam konsep yang lebih luas lagi adalah umat Islam. Oleh karenanya, diperlukan sebuah fatwa agar umat Islam tidak terpecah belah.

Dalam suratnya, ia membeberkan tiga bidang yang dapat digarap sekaitan dengan masalah persatuan fiqih ini; tujuan-tujuan syariat, sosial dan negara. Dalam tulisan ini hanya akan membahas masalah syariat. Dan sebagai usulannya, Imam Musa Shadr mengajak untuk membicarakan sebuah usulan mengenai masalah penentuan hari raya Idul fitri. Ia mengajak Mufti Lebanon untuk memakai alat teropong dan lainnya untuk menentukan munculnya hilal. Dengan ini, diharapkan seluruh kaum muslimin di Lebanon merayakan lebaran secara bersamaan.

Menurutnya, hanya ada satu hari raya akan sangat menghemat waktu, pikiran, tenaga dan materi. Hari libur juga menjadi jelas dan anjang sana ke sanak famili tidak punya masalah. Berbilangnya hari raya bagi umat Islam bukan sebuah maslahat.

Tentunya, usulan Imam Musa Shadr ini bukan harga mati dan tidak boleh ada kesepakatan mengenai penentuan hilal dengan menggunakan cara ru’yat. Itu boleh-boleh saja, namun harus sesuai dengan kesepakatan yang akhirnya sama dengan cara sebelumnya. Cara silahkan dipilih, namun menurut Imam Musa Shadr yang terpenting adalah ketika mengeluarkan keputusan hari raya hanya satu.

Tahun 1970 Imam Musa Shadr mengikuti konferensi tahunan Majma Buhuts Islami dan menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Dalam menjawab pertanyaan wartawan majalah al-Mushawwir cetakan Kairo tentang persatuan antar mazhab ia menjawab:

“… Masalah ini akan terwujud setelah diterapkannya konsep persatuan fiqih. Hanya dengan dialog dan pembahasan kosong antara para pemimpin mazhab, harapan persatuan antara mazhab tidak akan terwujud. Karena mazhab telah terpatri dalam jiwa setiap pengikutnya. Saya sangat berharap dari Majma yang anggotanya dari ulama besar Islam dapat mewujudkan persatuan fiqih ini…”[11]

Setiap kali mengikuti konferensi Majma Buhuts Islami, Imam Musa Shadr senantiasa menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Konferensi ke enam yang dilaksanakan tanggal 19 April 1971 diikutinya juga. Setelah konferensi, dalam pertemuannya dengan para tokoh dan kalangan militer Mesir di terusan Suez ia menekankan lagi masalah persatuan umat Islam dan khususnya ide persatuan fiqih selain menjelaskan pentingnya jihad melawan rezim Zionis. Konferensi ke tujuh dilaksanakan di Aljazair. Di sana ketika diwawancarai oleh majalah al-Mujahid ia kembali menjelaskan idenya tentang persatuan fiqih.[12]

Penerapan persatuan fiqih

Usaha-usaha yang dilakukan oleh Imam Musa Shadr untuk merealisasikan persatuan fiqih sangat banyak. Ada beberapa contoh yang dapat disebutkan:

1. Orang-orang Syiah Lebanon tidak punya masjid untuk melakukan shalat Jumat. Setelah didirikannya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon, Imam Musa Shadr berhasil meminta kepada tokoh-tokoh Ahli Sunah untuk melaksanakan shalat Jumat secara bergantian. Seminggu yang mengimami dari Ahli Sunah dan seminggu kemudian dari Syiah. Pelaksanaan shalat Jumat ini disiarkan langsung oleh radio Lebanon.

Suatu waktu, hari Jumat bertepatan dengan hari Idul Ghadir. Imam Musa Shadr mengadakan acara yang meriah. Ia mengundang ulama Ahli Sunah untuk hadir. Salah satu dari mereka Syaikh Abdullah ‘Alaili diminta untuk menyampaikan ceramah. Syaikh ‘Alaili dalam ceramahnya menyinggung hadis Ghadir dan mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis qath’i.

2. Presiden Lebanon setiap tahunnya mengundang tokoh-tokoh agama untuk berbuka bersama. Sebagai ketua Majelis Tertinggi Syiah, Imam Musa Shadr diundang untuk hadir. Waktu berbuka puasa antara Syiah dan Ahli Sunah berbeda sedikit. Syiah berbuka beberapa menit setelah matahari terbenam. Sementara Ahli Sunah berbuka ketika matahari terbenam. Perbedaan ini cukup mencemaskan tuan rumah karena khawatir akan muncul keributan.

Ketika matahari terbenam, Imam Musa Shadr mengambil segelas teh. Semua yang hadir melihat perilaku Imam Musa Shadr dan merasa heran. Satu tangannya yang lain diangkatnya ke atas dan mulai berdoa. Imam Musa Shadr berdoa dan hadirin mengucapkan amin. Doa dilakukan sehingga masuk waktu berbuka puasa bagi orang-orang Syiah. Setelah berdoa, dengan tersenyum ia mengucapkan “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizqika Afthartu Wa Alaika Tawakkaltu” dan meminum tehnya.

3. Imam Musa Shadr melakukan perjalanan ke Iran untuk menyambangi teman-temannya. Tentang pengalamannya ia berkata: “Aku bak seorang veteran perang yang kembali dari medan pertempuran. Allah menganugerahkan tempat kerjaku berdekatan dengan musuh. Aku berada di garis depan berhadapan dengan musuh. Aku melihat dari dekat serangan dan perusakan musuh”.

Ia mengatakan bahwa salah masalah terbesar masyarakat Syiah adalah berbilangnya marja. Ketika Marja Ayatullah Hakim pergi menunaikan haji dan pesawat yang membawanya melewati Lebanon, saya bertanya kepada presiden Lebanon. Mengapa engkau tidak mengucapkan pesan kepadanya, padahal ia adalah pemimpin Syiah. Sementara engkau memberikan pesan penghormatan kepada Paus pemimpin Katolik? Presiden menjawab: “Paus adalah sebuah jabatan resmi dan di Lebanon ia punya duta besar begitu juga kami punya duta di Vatikan.

Ayatullah Hakim dan para marja yang lain tidak diakui secara resmi dan bukan satu tapi berbilang sehingga kami bisa bersikap dengan jelas. Saya tidak menyampaikan pesan penghormatan karena ini dan bukan karena tidak menghormati.

Konsep persatuan fiqih adalah sebuah pandangan paling berani dalam usaha mempersatukan umat Islam. Persatuan fiqih merupakan jembatan antara Taqrib dan Wahdah. Usaha pendekatan antara mazhab saja tidak akan pernah bisa menghasilkan persatuan antara mazhab, apa lagi persatuan umat Islam. Ini tidak berarti bahwa usaha pendekatan antar mazhab yang selama ini tidak memiliki arti, namun dengan melihat tujuan Taqrib itu sendiri menjadi sangat sulit mewujudkan persatuan mazhab.

Wahdah akan terwujudkan bila persatuan fiqih menjadi kenyataan. Kendala terbesar dari persatuan adalah masih terikatnya setiap pengikut mazhab dengan fatwa ulamanya. Sementara itu, bila fatwa yang akan diamalkan telah menjadi satu, maka sikap yang akan diambil juga tidak mendua.

Lebih dari itu, konsep persatuan fiqih akan menjadi landasan yang baik dalam kajian-kajian fiqih lintas mazhab yang sedang berkembang di Indonesia. Tanpa menjadikan persatuan fiqih sebagai dasar pemikirannya, studi fiqih lintas mazhab hanya daur ulang apa yang telah dilakukan ulama sebelumnya dengan menempelkan sejumlah istilah-istilah baru.

MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik

Jumat, 13 Januari 2012, 18:19 WIB
MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik
Slamet Effendy Yusuf
 .
 Konflik yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, diduga merupakan salah satu bentuk perbedaan pemahaman antara penganut Islam Sunni dan Syiah. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Slamet Effendy Yusuf, konflik antara Sunni-Syiah tidak akan terselesaikan. Ini dikarenakan perbedaan faham keagamaan Islam yang sangat kontras di antara keduanya.
Dengan adanya perbedaan pemahaman yang kontras di antara keduanya, Slamet, meminta agar semua warga masyarakat baik Sunni atau Syiah untuk menghindari konflik dengan tidak melihat perbedaan. “Caranya terus menjaga persamaan sesama umat Islam, bukan mencari perbedaannya,” jelas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) ini, Jumat (13/1).Apabila umat muslim terus melihat perbedaan, menurutnya, tidak akan pernah selesai. Jangankan Sunni dan Syiah, kata dia, sesama Sunni pun banyak perbedaannya, seperti antara Wahabi non Wahabi. Tapi, untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, dia menyarankan, ada baiknya pemerintah daerah dan ulama di Sampang harus berpikir secara lebih maslahat. “Jangan selalu terpancing dengan perbedaan sektarian,” tegasnya.

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam

Jumat, 06 Januari 2012, 20:15 WIB
  

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam
Tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat
Aliran Islam Syiah yang ada di Indonesia menurut kajian Centries sebenarnya merupakan aliran Islam dengan tokoh sentralnya adalah Djalaluddin Rahman, seorang cendikiawam Muslim asal Bandung.Berbeda dengan kelompok Islam lainnya, kelompok ini, kata Direktur Central for Religion and Political Studies (Centries) Madura Sulaisi Abdurrazak, memang cenderung menokohkan Khalifah Ali Bin Abi Tholib dibanding ketiga Khalifah lainnya, semisal Abu Bakar, Umar dan Usman.Sebab menurut Sulaisi, yang menjadi landasan pijakan mereka adalah Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan ‘Aku ini adalah gudang ilmu dan Ali adalah pintunya.'”Syiah di Sampang ini menurut kajian kami sementara afiliasinya ke sana. Makanya, kami heran, ketika tiba-tiba ada pernyataan itu sesat hanya karena perbedaan cara pandang saja atau sebagian tradisi yang berbeda,” kata Sulaisi.Ke depan, pemuda yang pada masa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di pesantren kelompok Islam Sunni ini menyatakan, pendidikan keagamaan yang plural, bukan hanya bertumpu pada salah satu paham dari sekian pemahamaan keagamaan yang berkembang adalah sangat diperlukan
.
Sehingga pemuda Islam lebih terbuka dan tidak hanya bertumpu pada satu titik pemahaman saja.Kegagalan lembaga pendidikan Islam selama ini, sambung dia, karena pemuda Islam hanya disuguhkan dengan satu pemahaman saja, atau satu cara pandang.”Perbandingan mazhab saya kira perlu mulai diajarkan kepada kaum muda Islam sejak dini. Selama ini kan tidak seperti itu. Santri yang mondok di pesantren tertentu hanya satu pahan keagamaan saja. Jadi pikiran merekan tentang Islam tetap picik,” katanya menambahkan.Akibatnya, kata pemuda lulusan magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini, semua jenis pemahamaan yang berbeda dan tidak lumrah terjadi di masyarakat lalu dianggap sesat, apalagi pernyataan itu memang disampaikan oleh tokoh ulama setempat yang dianggap paham agama
.
Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya KH Rois yang beraliran Sunni.Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.

Puncaknya terjadi pada 29 Desember 2011 berupa pembakaran rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah.

Sebanyak 335 orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika itu.

Konflik ini sudah terjadi sejak 2006, namun hingga kini belum bisa diredam hingga akhirnya terjadi aksi anarkis berupa pembakaran.

Lihat gambar ukuran penuh

Mengenal lebih dekat islam sunni (NU) & syiah

:lol:

Lihat gambar ukuran penuh Lihat gambar ukuran penuh

Direktur Utama Lembaga Dakwah Islam Kurdistan Iran, Hujjatul Islam Masoud Safi-yari menekankan pentingnya perhatian terhadap masalah persatuan antarmazhab Islam dan mengatakan, “Persatuan yaitu ketika hati kita menyatu di satu jalan dan tujuan. Tujuan kita juga sudah jelas seperti yang dipaparkan dalam al-Quran dan sunnah.”

Kepada Mehr News (7/1) Safi-yari mengatakan, “Persatuan adalah prinsip dasar agama dan al-Quran serta merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya melebihi penyatuan mazhab karena yang diacu adalah penyatuan hati di satu jalan dan tujuan.”

Menyinggung propaganda musuh dalam upaya menyulut perpecahan antarmazhab Islam yang mengklaim Imam Ali as sebagai simbol perpecahan, Safi-yari menegaskan, “Sebaliknya, Imam Ali as adalah simbol persatuan dan persaudaraan. Saudara-saudara Sunni khususnya yang bermazhab Syafii di Kurdistan mengenal Imam Ali as sebagai sosok agung Islam dan pejuang sejati.”

Di wilayah Kurdistan Iran, menurut Safi-yari, diterbitkan kitab “Tolaye Welayat” yang merupakan kitab kumpulan syair-syair indah dari saudara-saudara Sunni tentang Imam Ali as. Dan ini membuktikan bahwa tidak ada masalah antara Sunni dan Syiah tentang Imam Ali as.

yang saya tahu syiah itu bermazhab pada imam ali yang merupakan ahlul bait nabi dan merupakan mazhab yang paling masuk akal (:lol: Maaf  NU yang saya maksud bukanlah NU gaya si habib tua ,begitu mudahnya si Ahmad bin Zen Alkaf menjadi pengurus NU,padaha dia itu lulusan TKI di Saudi,kerja di toko di wilayah Jeddah,pulang gak mengerti apa-apa,lalu mendompeng ke toko Wahabi Bangil Muhammad Ba Abdullah,orang kepercayaan Wahabi Saudi,semenjak 25 tahun

 

sampai sekarang,semua habaib tahu sepak terjangnya,mereka diam,karena ditutup oleh riyal-riyal yg di rupiahkan oleh Ahmad bin Zen Alkaf,dan di yys Al-Bayyinat dia ingin ditetapkan sebagai ketua seumur hidup,di Pekalongan 3 tahun yang lalu,orang2 hampir tidak memilih dia,karena dia mengancam jika tidak dia,maka tidak ada dana yg mengalir,sampai-sampai akan terjadi perkalian

yg begitulah si antek Wahabi tsb,Saya yakin dia menyuap kyai-kyai dg riyal-riyal,maka dari itu dikejutkan dg mendapat kedudukan di NU.Jadi kusarankan kepada toko2 NU untuk waspada atas sepak terjangnya si Ahmad Alkaf ini,liahatlah,apa yg dia tampilkan di forum2,hanya untuk memecah belah umat aja,memasukan rasa kebencian sesama NU khususnya,umat Islam pada umumnya.Sadarlah sebelum terlambat wahai saudara-saudaraku NU>:lol:

Syi’ah dan NU memiliki titik temu dibidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu

Titik Temu Islam Ahlusunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti WAHABi  NEJED.

Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia

Melarang syi’ah berarti melarang kemajuan filsafat Indonesia masa depan..

Ditengah derasnya paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme maka Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia..

Jika wahabi maju maka umat NU akan terus merosot, milyaran dolar dana AS/saudi/israel digunakan wahabi untuk bangun pesantren, cetak buku, cetak vcd yang membid’ah bid’ah kan NU

Gerakan trans nasional wahabi juga merampok masjid masjid NU dan me wahabikan kaum NU yang awam. Gerakan anti syi’ah di Indonesia dilakukan wahabi dengan memprovokasi kaum NU, maka keluarlah fatwa sesat dari NU Jatim.. Wahabi gembira dengan politik kotor ini

wahabi memiliki dua aliran :

1. salafi dakwah, tukang takfir dan tukang tuduh bid’ah

2. salafi jihadi, yakni neo khawarij alias teroris

Yang paling mencirikan kedua wajah Islam NU dengan syi’ah  adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam wahabi

Suatu hari di tahun 1982, pemerintah Iran pimpinan Khomeini mengirim tiga orang utusannya ke Indonesia . Mereka adalah Ayatollah Ibrahim Amini, Ayatollah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi. Salah satu dari kegiatan mullah-mullah ini adalah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menemui pimpinannya, Husein al-Habsyi
.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah diterimanya 10 murid pilihan Husein al-Habsyi untuk belajar di hauzah ‘ilmiyyah di kota Qom, Iran. Sejak saat itu hingga wafatnya pada tahun 1994, Husein al-Habsyi bertanggung jawab penuh menyeleksi para kandidat yang ingin nyantri ke hauzah ‘ilmiyyah di Qom, dan kota-kota lainnya di Iran
.
Direktur pusat Kebudayaan Iran (Islamic Cultural Center-Jakarta), Mohsen Hakimollahi mengatakan, selepas wafatnya Husein al-Habsyi, rekomendasi untuk kuliah ke Iran dilakukan oleh tokoh-tokoh ormas Islam seperti Amien Rais, Said Aqil Siradj, ataupun Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Selama berabad-abad lamanya, hubungan antara Sunni dan Syiah terus diwarnai perselisihan. Berbagai dialog untuk mempertemukan kedua aliran dalam Islam itu kerap dilakukan. Namun, ketegangan di antara kedua kubu itu tak juga kunjung mereda.

Akankah kedua aliran besar dalam Islam itu bersatu? Prof Dr Musthafa Ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, berupaya mencari benang merah yang menautkan antara Sunni dan Syiah.

Tokoh kelahiran Troblus, Lebanon, pada 1924 itu mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda dan mengkaji kedua aliran itu secara berimbang (fair), tanpa menghilangkan bobot dan nilai akademik.

Kitab ini mengkaji tentang kemungkinan mempersatukan antara dua kubu Sunni dan Syiah. Ar-Rifa’i menyertakan beberapa kajian penting dalam kitabnya. Ia mengupas bahasan tentang sebab kemunculan paham keagamaan Syiah, alasan penting bersatu, varian sekte yang ada dalam Syiah, serta prinsip-prinsip dan paham keagamaan mereka.

Bebarapa hal penting menjadi perhatian Ar-Rifa’i, di antaranya perbedaan hukum nikah mut’ah, konsep imamah, dan kemunculan Imam Mahdi. Ulasan tentang persoalan itu diuraikan dengan mengomparasikan pandangan kedua belah pihak. Kesimpulannya, diarahkan untuk mencari persamaan yang mempertemukan Sunni dan Syiah.

Ar-Rifa’i menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiyah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Setidaknya, menurut dia, pandangan tentang sikap saling menghormati dan toleransi diteladankan oleh para ulama Salaf. Imam Abu Hanifah mewakili Sunni dan Imam Ja’far bin Ash-Shadiq mewakili Syiah. Meski berbeda mazhab dan cara pandang, kedua tokoh tak saling bermusuhan dan tidak saling menafikan.

Menurut Ar-Rifa’i, keduanya justru saling meningkatkan sikap hormat dan menghormati. Dalam sebuah kisah dijelaskan bagaimana kedua pemimpin yang berbeda aliran itu hidup berdampingan dalam ukhuwah Islamiyah.

Dikisahkan, Zaid bin Ali seorang pemimpin kelompok Syiah Zaidiyyah—menerima pelajaran fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah yang notabene tersohor sebagai imam di kalangan Sunni. Demikian sebaliknya, Abu Hanifah mempelajari hadits dan disiplin ilmu lainnya dari Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Bahkan, Abu Hanifah berguru langsung ke tokoh Syiah tersebut selama dua tahun penuh. Pujian pun kerap dilontarkan Abu Hanifah ke gurunya itu. “Tak pernah bertemu guru lebih fakih dibanding Ja’far bin Muhammad,” ujarnya.

Menurut Ar-Rifa’i, perbedaan yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil. Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furu’iyyah yang dapat ditoleransi. Hal itu didasari kuat oleh pemahaman terhadap ijtihad sebagai upaya memahami teks-teks agama.

Ijtihad tersebut menggunakan berbagai dasar dan sumber hukum, antara lain Alquran, hadits, ijma (konsensus), dan qiyas (analogi). Tak jauh berbeda dengan metode yang akrab di kalangan Syiah.

Tradisi ijtihad tersebut populer di kalangan umat hingga akhirnya luntur seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah di pertengahan abad ke-4 Hijriah, ketika dinasti tersebut dikuasai oleh dinasti-dinasti yang terpecah dan tersebar di sejumlah wilayah.

Bersamaan dengan itu pula, ruh ijtihad mulai melemah. Sebagian umat kala itu, kembali memilih taklid dibandingkan mengembangkan budaya ijtihad. Kondisi ini menjadi satu dari sekian faktor yang mengakibatkan perbedaan antar dua kubu tersebut kian memanas.

Dalam konteks masa kini, Ar-Rafa’i meyakini faktor lain yang amat kuat mempengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperialis Barat. Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Umat bersaudara

Dalam konteks kemanusiaan, setidaknya ada beberapa hal yang mempertemukan Sunni-Syiah. Bahkan, prinsip itu menyatukan pula berbagai elemen dalam bingkai kemanusiaan. Perspektif ini—tidak boleh tidak—perlu didudukkan sebagai landasan cara pandang dan pola berpikir.

Prinsip yang pertama, persamaan asal mula. Islam menyatakan manusia berasal dari fitrah yang sama. Asal mula mereka sama, yakni diciptakan dari sari pati tanah. “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Prinsip selanjutnya yang mendasari urgensi mempertemukan kedua kubu tersebut adalah persamaan nilai. Manusia mempunyai tempat yang sama di sisi Allah. Titik yang membedakan adalah kadar dan tingkat ketakwaan seseorang. Tanpa itu, maka tak ada yang patut menjadi jurang pemisah satu sama lainnya. (QS. Al-Hujurat: 130).

Prinsip lain yang tak boleh diabaikan pula adalah bagaimana meletakkan pandangan bahwasanya manusia akan dikembalikan pada titik dan tempat yang sama, yaitu tanah. Apabila semua prinsip tersebut dijadikan sebagai mindset oleh berbagai kelompok— tak kerkecuali Sunni dan Syiah—maka paling tidak, permulaan itu akan memunculkan empati kebersamaan, rasa saling menghargai, dan toleransi satu sama lain.

Di Batam, Lagi-lagi Ketua Umum PBNU Serukan Perangi Ajaran Wahabi.

kini dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah

Inilah untuk kesekian kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menyerukan untuk memerangi ajaran Wahabi. Kali ini seruan itu diucapkan Said Aqil di Aula Politeknik Negeri, Batam, Ahad (5/2) dalam sebuah acara bedah bukuSejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram yang digelar Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau.

Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.”Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata dia.

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam. “Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami. Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi,” kata dia.

Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada. Satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikannya malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam.”NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai madzhab (dan agama lain),” kata dia. Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.

Humor
Dituduh Lebih Syiah

Ketika memasuki ruangan ketua Umum PBNU Kiai Hasyim Muzadi, tiba-tiba Kiai Said Agil Siradj nyeletuk. “Wah ini benar-benar tidak adil,” kata Said Agil sambil memandangi foto-foto yang dipajang di ruangan.

“Apanya yang tidak adil?” tanya Kiai Hasyim Muzadi keheranan karena dituduh tidak adil.

“Ya, sebenarnya sampeyan itu sangat Syiah lho, itu lihat banyak foto-bersama Ayatullah, tetapi kok hanya saya yang dituduh Syiah,” kata Kiai Said.

“Ooo.. beda saya dengan sampean Pak Said, kalau saya bolak balik ke Iran hanya membela reaktor nuklir Iran. Sementara sampeyan membela ajaran Syiah,” papar Kiai Hasyim.

“Ah enggak juga saya kan hanya menjelaskan beberapa kesamaan Syiah dengan Ahlussunnah, masa gitu aja sudah dianggap Syiah. Padahal masuk Syiah ada syahadat dan baiat sendiri.”

“Ah wong namanya tuduhan biarin aja nanti kan reda sendiri,” hibur Kiai Hasyim Muzadi. 

Riset Aktivis NU: Syiah Tampil Damai dan Sejuk

on April 2, 2012

islam Syiah yang lagi ramai-ramainya dibicarakan di Indonesia, baru kali ini diteliti secara ilmiah nan mendalam. Komunitas Syiah di Kabupaten Jepara yang tak pernah muncul dalam berita, dilaporkan secara sangat bagus oleh mahasiswa S3 IAIN Walisongo M Muhsin Jamil MAg, yang merupakan ketua Lakpesdam PW Jawa Tengah 2004-2005.

Situs NU online melaporkan, riset yang luar biasa karena langka itu dinilai sangat bagus kala Muhsin mempresentasikannya di ujian promosi doktor dirinya di Kampus I IAIN Walisongo kemarin (Kamis, 19/1). Sehingga promovenda ini diganjar nilai yudisium IP 3,78 dan dikukuhkan sebagai doktor ke-7 yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Para pengujinya adalah Prof Dr Muhibbin, Ahmad Hakim Ph.D, Prof Dr Nurdien H Kistanto, Prof Dr A Ghazali Munir, Prof Dr Ibnu Hadjar, Abu Hapsin Ph D. Adapun promotornya  adalah Prof Dr Mudjahirin Rohir  dan co promotor Dr M Nafis.

Dengan disertasi berjudul Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi Minoritas Syiah di Jepara, dosen Fak Ushuluddin IAIN Walisongo ini mengungkapkan, Syiah di Jepara dan umumnya Indonesia, tidak seperti Syiah Imamiyah di negara-negara Arab.

Golongan minoritas ini, kata dia, berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat lokal yang secara tradisi adalah penganut sunni (mayoritas dunia). Amalan keagamaan yang mereka lakukan juga dibuat sama dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Seperti Mauludan, Muharoman atau Suronan.

“Komunitas Syiah di Jepara yang merupakan terbesar di Jawa Tengah, melakukan adaptasi dan dinamisasi dengan masyarakat sekitar. Identitas mereka tidak lagi tampak sebagai minoritas yang “aneh” apalagi sampai disebut menyimpang.

Hasil observasinya, kelompok Syiah di Jepara tidak menampilkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Tak satupun dari anggota Syiah Jepara, kata Muhsin, melakukan kawin kontrak alias nikah mut’ah. Mereka juga berbaur dan mengamalkan ritual keagamaan yang sama dengan sunni.

“Komunitas Syiah di Jepara sangat anteng. Mereka rukun saja dan selama ini guyub dengan komunitas lain yaitu NU dan Muhammadiyah. Tak pernah ada konflik walaupun sekedar debat,”  tuturnya.

Nikah mut’ah, ajaran Syiah yang sering dipraktekkan di Arab, jelas Muhsin, justru banyak dilakukan orang non Syiah. Yaitu wanita-wanita Jepara yang karena motivasi ekonomi, rela dinikahi orang asing secara kontrak alias berbatas waktu, semata untuk kepentingan bisnis mebel.

Mudjahirin Tohir dalam ulasannya usai sidang yudisium menyampaikan selamat atas kegigihan Muhsin Jamil melakukan penelitian. Suami dari Nur Rochayati SAg ini dinilai seorang muslim sejati. Karena sebagai orang berpaham sunni –mayoritas—Muhsin mampu menjadi peneliti yang netral dan meneguhkan dia sebagai aktivis multikulturalisme.

Pergumulannya di organisasi Nahdlatul Ulama sejak lama, kata Mudjahirin, membuah ayah dari Nahdiya Bella Pertiwi dan Zaka Aulia Nala Udhma ini sukses membawa pengertian yang luhur tentang syiah. Sehingga ormas seperti NU maupun lembaga MUI bisa turut menjaga iklim damai dan berdialog dengan Syiah secara nyaman.

Namun Rektor IAIN Walisongo yang juga menjadi penguji, Muhibbin menyatakan, pihaknya terpaksa tidak bisa memberi predikat cum laude kepada Muhsin karena sang promovenda melebihi batas waktu penyelesaian studi doktoral. Yakni lebih dari lima tahun yang dipersyaratkan.

“Anda mendapat nilai sangat memuaskan, tetapi tidak bisa diberi predikat cum laude. Karena disertasi Anda baru diujikan lebih dari lima tahun kuliah,” kata Muhibbin.

Muhsin lahir di Tegal, 15 Februari 1970. pendidikan SD dan Mts dia tempuh di kampung halaman, Danawarih, Balapulang, Tegal. Lalu jenjang MAN dia tempuh di Cilacap sambil mondok di Pesantren Sufyan Tsauri Cigaru Majenang Cilacap. Selanjutnya, S1 dan S2 dia tamatkan di IAIN Walisongo Semarang.

Pendidikan pendek berupa training maupun kursus banyak dia dapatkan di luar maupun dalam negeri. Karya tulisnya juga sudah cukup banyak. Diantara buku karangannya adalah “Agama-Agama Baru di Indonesia” dan “Membongkar Mitos, Menegakkan Nalar: Kontestasi Literalism dan Liberalisme Islam” yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Pengajar etika tasawuf ini juga pernah menulis buku berjudul “Tarekat dan Dinamika Sosial Politik NU: Tafsir Sosial Sufisme Nusantara” dengan penerbit sama.

Adapun aktivitas pengabdian masyarakat yang dilakoninya sekarang adalah Wakil Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jateng dan Direktur Komunitas Seni Madina.

Imam Musa Shadr, Menggagas Persatuan Fiqih Menggalang Persatuan Islam

Persatuan Fiqih

Kata persatuan fiqih “Wahdah Fiqh” pertama kalinya diperkenalkan oleh Imam Musa Shadr setelah terbentuknya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon dan sekaligus ia menjadi pimpinannya. Dalam pidatonya pertamanya sebagai ketua tanggal 23 Mei 1969, ia meletakkan dua khitthah penting:

1. Prinsip mencegah perselisihan antar kaum muslimin dan usaha keras demi terwujudnya persatuan.

2. Kerja sama dengan semua kelompok etnis dan mazhab di Lebanon dan menjaga persatuan nasional.

Imam Musa Shadr tidak cukup dengan menjelaskan khitthahnya tapi langsung berbuat. Pada bulan Oktober 1969, ia menuliskan sebuah surat bersejarah yang ditujukan kepada Mufti Lebanon Syaikh Hasan Khalid.[10] Dalam isi surat itu untuk pertama kalinya Imam Musa Shadr mempergunakan kata persatuan fiqih. Selain menjelaskan konsepnya, ia memerikan beberapa petunjuk pelaksanaan. Membicarakan konsep persatuan fiqih Imam Musa Shadr harus dilihat dari dua sisi. Pertama, masalah penjelasan substansi konsep persatuan fiqih dan kedua, aksi-aksi Imam Musa Shadr dalam mewujudkan ide-idenya.

Konsep persatuan fiqih

Imam Musa Shadr memulai konsep persatuan fiqihnya dengan mengingatkan kembali akan prinsip-prinsip Islam. Pada dasarnya umat Islam satu dalam akidah, kitab suci, pencipta dan keyakinan akan hari akhir. Kesamaan yang luas semacam ini membutuhkan kesatuan pula dalam masalah-masalah parsial. Persatuan kaum muslimin dalam masalah parsial juga merupakan keinginan ulama terdahulu kita. Sambil membeberkan beberapa nama seperti Syaikh Thusi yang menulis buku al-Khilaf sebagai buku fiqih perbandingan. Menurutnya, fiqih perbandingan adalah modal utama dalam mewujudkan persatuan fiqih dan penyempurna syariat yang satu.

Menurut Imam Musa Shadr, persatuan fiqih adalah bentuk paling sempurna dari fiqih, bahkan syariat. Namun, itu tidak dengan makna bahwa Imam Musa Shadr menutup mata dari perbedaan yang ada. Menurut Imam Musa Shadr, selama perbedaan itu hanya pada tataran teoritis dan tidak sampai pada fatwa, maka perbedaan itu dapat diterima bahkan dipuji. Perbedaan pandangan dari setiap mazhab yang ada bukanlah titik akhir dari fiqih Islam, namun sebuah jembatan untuk mencapai kesatuan dalam tindakan.

Keragaman fatwa yang berhubungan erat dengan tindakan dan perilaku dalam sebuah masyarakat, tanpa disadari mengakibatkan terpecahnya pengikut fatwa. Terpecahnya pengikut fatwa sangat merugikan sebuah masyarakat dalam sebuah negara atau bahkan dalam konsep yang lebih luas lagi adalah umat Islam. Oleh karenanya, diperlukan sebuah fatwa agar umat Islam tidak terpecah belah.

Dalam suratnya, ia membeberkan tiga bidang yang dapat digarap sekaitan dengan masalah persatuan fiqih ini; tujuan-tujuan syariat, sosial dan negara. Dalam tulisan ini hanya akan membahas masalah syariat. Dan sebagai usulannya, Imam Musa Shadr mengajak untuk membicarakan sebuah usulan mengenai masalah penentuan hari raya Idul fitri. Ia mengajak Mufti Lebanon untuk memakai alat teropong dan lainnya untuk menentukan munculnya hilal. Dengan ini, diharapkan seluruh kaum muslimin di Lebanon merayakan lebaran secara bersamaan.

Menurutnya, hanya ada satu hari raya akan sangat menghemat waktu, pikiran, tenaga dan materi. Hari libur juga menjadi jelas dan anjang sana ke sanak famili tidak punya masalah. Berbilangnya hari raya bagi umat Islam bukan sebuah maslahat.

Tentunya, usulan Imam Musa Shadr ini bukan harga mati dan tidak boleh ada kesepakatan mengenai penentuan hilal dengan menggunakan cara ru’yat. Itu boleh-boleh saja, namun harus sesuai dengan kesepakatan yang akhirnya sama dengan cara sebelumnya. Cara silahkan dipilih, namun menurut Imam Musa Shadr yang terpenting adalah ketika mengeluarkan keputusan hari raya hanya satu.

Tahun 1970 Imam Musa Shadr mengikuti konferensi tahunan Majma Buhuts Islami dan menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Dalam menjawab pertanyaan wartawan majalah al-Mushawwir cetakan Kairo tentang persatuan antar mazhab ia menjawab:

“… Masalah ini akan terwujud setelah diterapkannya konsep persatuan fiqih. Hanya dengan dialog dan pembahasan kosong antara para pemimpin mazhab, harapan persatuan antara mazhab tidak akan terwujud. Karena mazhab telah terpatri dalam jiwa setiap pengikutnya. Saya sangat berharap dari Majma yang anggotanya dari ulama besar Islam dapat mewujudkan persatuan fiqih ini…”[11]

Setiap kali mengikuti konferensi Majma Buhuts Islami, Imam Musa Shadr senantiasa menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Konferensi ke enam yang dilaksanakan tanggal 19 April 1971 diikutinya juga. Setelah konferensi, dalam pertemuannya dengan para tokoh dan kalangan militer Mesir di terusan Suez ia menekankan lagi masalah persatuan umat Islam dan khususnya ide persatuan fiqih selain menjelaskan pentingnya jihad melawan rezim Zionis. Konferensi ke tujuh dilaksanakan di Aljazair. Di sana ketika diwawancarai oleh majalah al-Mujahid ia kembali menjelaskan idenya tentang persatuan fiqih.[12]

Penerapan persatuan fiqih

Usaha-usaha yang dilakukan oleh Imam Musa Shadr untuk merealisasikan persatuan fiqih sangat banyak. Ada beberapa contoh yang dapat disebutkan:

1. Orang-orang Syiah Lebanon tidak punya masjid untuk melakukan shalat Jumat. Setelah didirikannya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon, Imam Musa Shadr berhasil meminta kepada tokoh-tokoh Ahli Sunah untuk melaksanakan shalat Jumat secara bergantian. Seminggu yang mengimami dari Ahli Sunah dan seminggu kemudian dari Syiah. Pelaksanaan shalat Jumat ini disiarkan langsung oleh radio Lebanon.

Suatu waktu, hari Jumat bertepatan dengan hari Idul Ghadir. Imam Musa Shadr mengadakan acara yang meriah. Ia mengundang ulama Ahli Sunah untuk hadir. Salah satu dari mereka Syaikh Abdullah ‘Alaili diminta untuk menyampaikan ceramah. Syaikh ‘Alaili dalam ceramahnya menyinggung hadis Ghadir dan mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis qath’i.

2. Presiden Lebanon setiap tahunnya mengundang tokoh-tokoh agama untuk berbuka bersama. Sebagai ketua Majelis Tertinggi Syiah, Imam Musa Shadr diundang untuk hadir. Waktu berbuka puasa antara Syiah dan Ahli Sunah berbeda sedikit. Syiah berbuka beberapa menit setelah matahari terbenam. Sementara Ahli Sunah berbuka ketika matahari terbenam. Perbedaan ini cukup mencemaskan tuan rumah karena khawatir akan muncul keributan.

Ketika matahari terbenam, Imam Musa Shadr mengambil segelas teh. Semua yang hadir melihat perilaku Imam Musa Shadr dan merasa heran. Satu tangannya yang lain diangkatnya ke atas dan mulai berdoa. Imam Musa Shadr berdoa dan hadirin mengucapkan amin. Doa dilakukan sehingga masuk waktu berbuka puasa bagi orang-orang Syiah. Setelah berdoa, dengan tersenyum ia mengucapkan “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizqika Afthartu Wa Alaika Tawakkaltu” dan meminum tehnya.

3. Imam Musa Shadr melakukan perjalanan ke Iran untuk menyambangi teman-temannya. Tentang pengalamannya ia berkata: “Aku bak seorang veteran perang yang kembali dari medan pertempuran. Allah menganugerahkan tempat kerjaku berdekatan dengan musuh. Aku berada di garis depan berhadapan dengan musuh. Aku melihat dari dekat serangan dan perusakan musuh”.

Ia mengatakan bahwa salah masalah terbesar masyarakat Syiah adalah berbilangnya marja. Ketika Marja Ayatullah Hakim pergi menunaikan haji dan pesawat yang membawanya melewati Lebanon, saya bertanya kepada presiden Lebanon. Mengapa engkau tidak mengucapkan pesan kepadanya, padahal ia adalah pemimpin Syiah. Sementara engkau memberikan pesan penghormatan kepada Paus pemimpin Katolik? Presiden menjawab: “Paus adalah sebuah jabatan resmi dan di Lebanon ia punya duta besar begitu juga kami punya duta di Vatikan.

Ayatullah Hakim dan para marja yang lain tidak diakui secara resmi dan bukan satu tapi berbilang sehingga kami bisa bersikap dengan jelas. Saya tidak menyampaikan pesan penghormatan karena ini dan bukan karena tidak menghormati.

Konsep persatuan fiqih adalah sebuah pandangan paling berani dalam usaha mempersatukan umat Islam. Persatuan fiqih merupakan jembatan antara Taqrib dan Wahdah. Usaha pendekatan antara mazhab saja tidak akan pernah bisa menghasilkan persatuan antara mazhab, apa lagi persatuan umat Islam. Ini tidak berarti bahwa usaha pendekatan antar mazhab yang selama ini tidak memiliki arti, namun dengan melihat tujuan Taqrib itu sendiri menjadi sangat sulit mewujudkan persatuan mazhab.

Wahdah akan terwujudkan bila persatuan fiqih menjadi kenyataan. Kendala terbesar dari persatuan adalah masih terikatnya setiap pengikut mazhab dengan fatwa ulamanya. Sementara itu, bila fatwa yang akan diamalkan telah menjadi satu, maka sikap yang akan diambil juga tidak mendua.

Lebih dari itu, konsep persatuan fiqih akan menjadi landasan yang baik dalam kajian-kajian fiqih lintas mazhab yang sedang berkembang di Indonesia. Tanpa menjadikan persatuan fiqih sebagai dasar pemikirannya, studi fiqih lintas mazhab hanya daur ulang apa yang telah dilakukan ulama sebelumnya dengan menempelkan sejumlah istilah-istilah baru.

MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik

Jumat, 13 Januari 2012, 18:19 WIB
MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik
Slamet Effendy Yusuf
 .
 Konflik yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, diduga merupakan salah satu bentuk perbedaan pemahaman antara penganut Islam Sunni dan Syiah. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Slamet Effendy Yusuf, konflik antara Sunni-Syiah tidak akan terselesaikan. Ini dikarenakan perbedaan faham keagamaan Islam yang sangat kontras di antara keduanya
.
Dengan adanya perbedaan pemahaman yang kontras di antara keduanya, Slamet, meminta agar semua warga masyarakat baik Sunni atau Syiah untuk menghindari konflik dengan tidak melihat perbedaan
.
“Caranya terus menjaga persamaan sesama umat Islam, bukan mencari perbedaannya,” jelas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) ini, Jumat (13/1).Apabila umat muslim terus melihat perbedaan, menurutnya, tidak akan pernah selesai. Jangankan Sunni dan Syiah, kata dia, sesama Sunni pun banyak perbedaannya, seperti antara Wahabi non Wahabi. Tapi, untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, dia menyarankan, ada baiknya pemerintah daerah dan ulama di Sampang harus berpikir secara lebih maslahat. “Jangan selalu terpancing dengan perbedaan sektarian,” tegasnya.

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam

Jumat, 06 Januari 2012, 20:15 WIB
  

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam
Tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat
Aliran Islam Syiah yang ada di Indonesia menurut kajian Centries sebenarnya merupakan aliran Islam dengan tokoh sentralnya adalah Djalaluddin Rahman, seorang cendikiawam Muslim asal Bandung.Berbeda dengan kelompok Islam lainnya, kelompok ini, kata Direktur Central for Religion and Political Studies (Centries) Madura Sulaisi Abdurrazak, memang cenderung menokohkan Khalifah Ali Bin Abi Tholib dibanding ketiga Khalifah lainnya, semisal Abu Bakar, Umar dan Usman.Sebab menurut Sulaisi, yang menjadi landasan pijakan mereka adalah Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan ‘Aku ini adalah gudang ilmu dan Ali adalah pintunya.'”Syiah di Sampang ini menurut kajian kami sementara afiliasinya ke sana. Makanya, kami heran, ketika tiba-tiba ada pernyataan itu sesat hanya karena perbedaan cara pandang saja atau sebagian tradisi yang berbeda,” kata Sulaisi
.
Ke depan, pemuda yang pada masa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di pesantren kelompok Islam Sunni ini menyatakan, pendidikan keagamaan yang plural, bukan hanya bertumpu pada salah satu paham dari sekian pemahamaan keagamaan yang berkembang adalah sangat diperlukan. Sehingga pemuda Islam lebih terbuka dan tidak hanya bertumpu pada satu titik pemahaman saja
.
Kegagalan lembaga pendidikan Islam selama ini, sambung dia, karena pemuda Islam hanya disuguhkan dengan satu pemahaman saja, atau satu cara pandang.”Perbandingan mazhab saya kira perlu mulai diajarkan kepada kaum muda Islam sejak dini. Selama ini kan tidak seperti itu. Santri yang mondok di pesantren tertentu hanya satu pahan keagamaan saja. Jadi pikiran merekan tentang Islam tetap picik,” katanya menambahkan.Akibatnya, kata pemuda lulusan magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini, semua jenis pemahamaan yang berbeda dan tidak lumrah terjadi di masyarakat lalu dianggap sesat, apalagi pernyataan itu memang disampaikan oleh tokoh ulama setempat yang dianggap paham agama.
Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya KH Rois yang beraliran Sunni.Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.Puncaknya terjadi pada 29 Desember 2011 berupa pembakaran rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah.

Sebanyak 335 orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika itu.

Konflik ini sudah terjadi sejak 2006, namun hingga kini belum bisa diredam hingga akhirnya terjadi aksi anarkis berupa pembakaran.