Syi’ah mengatakan bahwa semua sahabat telah murtad kecuali beberapa orang saja ??????

oleh : Ustad Husain Ardilla

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium menuduh  Syi’ah dalam kitab mereka mengkafirkan para shahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi   kepada kita :

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Orang-orang (yaitu para shahabat) menjadi murtad sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi kecuali tiga orang”. Aku (perawi) berkata : “Siapakah tiga orang tersebut ?”. Abu Ja’far menjawab : “Al-Miqdaad, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy, dan Salmaan Al-Faarisiy rahimahullah wa barakaatuhu ‘alaihim…” [Al-Kaafiy, 8/245; Al-Majlisiy berkata : “hasan atau muwatstsaq”]. Al-Ayyasyi meriwayatkan hal yang sama (perhatikan yang diblok):

jawaban syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

Ahmad bin Muhammad bin Yahya  daripada bapaknya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.  Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]

Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata :… Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).

Literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352]

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)]

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, padahal hadis tersebut hanya terkait dengan SAHABAT Nabi yang berada di dalam Rumah Fatimah ketika Abubakar – Umar menyerbu rumah Fatimah !!

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah                                                                                                                                            .
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah                                                                       .
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar                                                         .
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

5.  Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam          bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR    RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!”

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti susul menyusul oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudzaifah

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja.

Riwayat-riwayat mutawatir yang datang dari Rasulullah Saw di dalam Shihah Sittah Ahlusunnah, dan sumber-sumber lain pada mazhab Ahlusunnah, dengan bilangan sanad sahih yang banyak, merupakan penjelas bahwa sebagian besar sahabat, pasca wafatnya Rasulullah Saw, telah meninggalkan jalan dan sunnah Rasulullah Saw

kemurtadan yang mengemuka pada riwayat-riwayat seperti ini, tidak bermakna kemurtadan secara teknis teologis yang menyebabkankafir tulen atau murtad tulen melainkan bermakna  berpaling dari jalan dan sunnah Rasulullah Saw.

Pada sebagian literatur Syiah Imamiyah yang dinukil dari para imam Ahlulbait As riwayat-riwayat semacam ini juga dapat dijumpai. Di antaranya dalam kitab Bihar al-Anwar yang dinukil dari Abu Bashir. Abu Bashir berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah orang-orang setelah Rasulullah Saw, selain tiga orang, Abu Dzar, Salman dan Miqdad, telah murtad? Imam Shadiq As bersabda, “Lantas Abu Sasan dan Abu Umrah Anshari dimana?”[Bihâr al-Anwâr, jil. 23, hal. 352)

Sebagaimana yang Anda lihat, Imam Shadiq menolak perkiraan Abu Bashir yang mengira hanya tiga orang dan selebihnya orang-orang yang lain telah murtad semuanya. Imam Shadiq As menyebut nama orang lain yang tetap berada pada jalan petunjuk dan kebenaran.

Terkait dengan hadis di atas harus diperhatikan bahwa:

Pertama: Hadis tersebut tidak disebutkan pada sumber-sumber riwayat standar Syiah.

Kedua: Redaksi kalimat “nas” (orang-orang) pada hadis yang disebutkan di atas bermakna sahabat bukan seluruh kaum Muslimin yang hidup pada abad yang berbeda pasca Rasulullah Saw. Dalil atas klaim ini adalah bahwa orang-orang yang disebutkan pada hadis di atas dan berada pada jalan petunjuk, seluruhnya adalah para sahabat Rasulullah Saw. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berada pada jalan petunjuk juga adalah para sahabat Rasulullah Saw.

Ketiga: Secara lahir, riwayat di atas dan riwayat-riwayat lainya yang menyebutkan jumlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, lebih banyak. Karena itu, dengan jelas dapat disimpulkan bahwa para imam maksum As pada riwayat ini, tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya. Dan mayoritas telah berpaling dari nilai-nilai Islam dan kembali kepada nilai-nilai jahiliyah. Dan sebagaimana yang telah disinggung bahwa makna kemurtadan (irtidâd) pada hadis di atas adalah kembalinya kepada nilai-nilai jahiliyah bukan kemurtadan dalam artian teknis teologis.

Bid’ah bermakna pikiran dan keyakinan yang baru yang tidak memiliki akar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Bid’ah, termasuk perbuatan dosa sesuai dengan penegasan hadis-hadis sahih Rasulullah Saw, dapat menghapus seluruh perbuatan baik pembuat bid’ah dan mengeluarkannya dari nilai-nilai Islam

bid’ah, seseorang tidak meninggalkan agama melainkan ia merasa telah menjaga agama. Namun karena hawa nafsu, segala sesuatu yang bukan bagian dari agama ia jadikan sebagai bagian dari agama. Dan kemurtadan yang juga disinggung dalam hadis-hadis telaga adalah kemurtadan yang bersumber dari bid’ah.

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) .

Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong.

 Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Hadis-hadis haudh  tidak dapat diterapkan atas ahli riddah, yaitu orang-orang yang baru memeluk Islam pada akhir-akhir usia Rasulullah Saw, atau tidak lama setelah Rasulullah Saw wafat yang tinggal di daerah-daerah jauh dalam negeri Islam. Ahli riddah ini adalah orang-orang yang telah keluar dari Islam. Dan sesuai dengan definisi yang paling sahih tentang sahabat, ahli riddah tidak termasuk dalam golongan sahabat.

Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis, “Definisi yang paling benar yang aku temukan ihwal sahabat, bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dan beriman kepadanya dan meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.

sebagian sahabat besar Rasulullah Saw mengakui bahwa setelah wafatnya beliau mereka menciptakan bid’ah.[Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah, hal. 134; Shahîh Bukhâri, Kitab Maghazi, bab 33]

Pengakuan-pengakuan ini dengan jelas menunjukkan bahwa bid’ah dan kemurtadan (irtidâd) yang disebutkan pada hadis-hadis telaga (haudh), bukan kemurtadan sejumlah orang yang baru memeluk Islam seperti ahli riddah.

Di dalam hadis-hadis telaga (haudh) terdapat redaksi “merubah” (tagyiir) dan mengganti” (tabdil) . “Suhqân suhqân liman gayyara ba’di.”, “Suhqan suhqân liman baddala ba’di.”

Redaksi hadis di atas dengan tegas menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dari kalangan sahabat setelah wafatnya Rasulullah Saw mengganti dan merubah hakikat-hakikat penting Islam. Tindakan mereka ini telah mengundang kemurkaan Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedemikian sehingga Rasulullah Saw mencela dan mengusir mereka dengan menggunakan kalimat “suhqân.

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD.. Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!! Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

http://www.gensyiah.com/waspada-buku-putih-mazdhab-syiah-yang-tidak-putih-bag-1.html?utm_source=rss&utm_medium  menuduh sbb :

عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: …….والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة

Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “…….Demi Allah, mereka (para shahabat) telah binasa kecuali tiga orang : Salmaan Al-Faarisiy, Abu Dzarr, dan Al-Miqdaad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammaar, Abu Saasaan, Hudzaifah, dan Abu ‘Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang [Al-Ikhtishaash oleh Al-Mufiid, hal. 5; lihat : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html%5D

.
Al-Kulaini meriwayatkan dalam ushul al-Kafi:

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .

Dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Makkah 70 kali lipatnya” [Al-Kaafiy, 2/410; Al-Majlisiy berkata : Muwatstsaq]. Perhatikan scan kitabnya:

jawaban pihak syi’ah :

Para imam maksum syi’ah tidak berada pada tataran menyebutkan jumlah bilangan tertentu, melainkan ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tetap loyal dan setia pada nilai-nilai Islam pasca Rasulullah adalah sedikit jumlahnya.

.
Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq:
“Kujadikan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar di antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua belas orang, dari kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman AI-Farisi, Abu Dzar AI-Ghifari, Miqdad bin AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”
.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:“Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” (Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316)

Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat), karena  mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw), KAFIR atau MURTAD disini bukan kafir tulen dan bukan murtad tulen melainkan kafir kecil seperti kafirnya orang yang malas shalat !!

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak..  Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut

Murtad atau kafir  bermakna : mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan dan tidak di artikan keluar dari agama islam, melainkan berpaling dari jalan sunnah dengan MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun tidak dianggap sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum. Sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.Dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah.

.

Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW 

SYi’AH  MENUDUH  SAHABAT  PASCA  NABi  KAFiR  ATAU  MURTAD ?

Sunni dan Syi’ah sepakat bahwa sahabat Nabi SAW yang wafat pada masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga.. Yang menjadi perdebatan sunni – syi’ah adalah status para sahabat Nabi SAW pasca Nabi wafat. Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Riwayat-riwayat Ahlusunnah dengan taraf mutawatir tentang kemurtadan para sahabat pasca Nabi SAW wafat jauh lebih banyak  dibandingkan apa yang dituliskan syi’ah, pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Hadis-hadis tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja. Pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin

Kesemua hadis-hadis haudh sunni adalah menepati ayat al-Inqilab, firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin / keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah!

Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentinya mereka sebar-luaskan. Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Padahal dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).

Dalam hadis sahih Bukhari Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang proporsional dan ilmiah tentangnya.

Artinya :

Dari Abdullah  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang  mendahului kamu di telaga (haudh), maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) ). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68. Sahih al-Bukhari Hadis no. 578)

Artinya :
Dari Anas  dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku” (ashabi)!. Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka) (Hadits ditakhrij oleh Bukhari  no. 584)

.Artinya :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am) (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari, Sahih Muslim Hadis No. 27 (2293)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi SAW.

Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah mendengar sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh ! Jauh ! (daripada rahmat Allah) atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di). ” (Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96,Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy) (Shahih Bukhari, 8/150)

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144. Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni. Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ada ayat-ayat diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut. Perlulah adanya pembahasan dan penelitian

Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada mereka. Dijelaskan dalam suatu hadits shahih : Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalku”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatha’ Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut: “Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga janjinya ini

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Kebenaran syi’ah terlihat ketika sejumlah sahabat bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah bid’ah  sepeninggal Nabi

Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib] seraya berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pohon. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku !  Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (Shahih Bukhari jil.3 hal. 32)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggal ku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

RANGKUMAN RIWAYAT KEBENARAN 12 IMAM AHLUL BAIT A.S

RANGKUMAN RIWAYAT KEBENARAN 12 IMAM AHLUL BAIT A.S

Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAWW di Ghadir Khum, suatu tempat antara Mekkah dan Madinah, sesudah haji wada’. Hadis ini disampaikan di depan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (A.S). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir dari semua hadis, tidak ada 1 pun hadis Nabi SAWW yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir. Karena tidak 1 pun hadis Nabi SAWW yang lain yang disaksikan dan didengarkan oleh puluhan ribu sahabat.Redaksi hadis ini juga bermacam-macam, antara lain :

Di Ghadir Khum, Rasulullah SAWW bersabda:

من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.” Dalam Redaksi yang disebutkan:

من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan tolonglah orang yang menolongnya.”

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah SAWW:

“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.”

Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya bersabda:

من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ini (Ali) adalah pemimpinnya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhi orang yang memusuhinya.” Dalam redaksi yang lain disebutkan:

من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku mawlanya, maka ini Ali adalah mawlanya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa orang yang pertama kali mengucapkan “Ucapan selamat” kepada Ali bin Abi Thalib (A.S) di Ghadir Khum adalah Umar bin Khaththab, dengan mengatakan:

بخ بخ لك يابن ابي طالب قد اصبحت مولاي و مولا كل مؤمن و مؤمنة

Selamat, selamat atasmu wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua mukmin dan mukminah.

Hadis Al-Ghadir dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:

1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.

2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.

3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.

4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.

5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.

6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.

7. Khashaish Amirul mu’minin (A.S), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.

8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.

9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.

10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.

11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.

12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.

13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.

14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.

15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.

16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (A.S), jilid 5, halaman 26.

17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.

18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.

19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.

20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.

21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.

22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.

23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.

24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.

25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.

26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.

27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.

28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.

29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.

30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.

31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.

32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.

33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.

34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.

35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.

36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.

37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.

38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.

39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.

40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.

41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.

42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.

43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.

44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.

45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.

46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.

47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.

48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.

49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.

50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.

51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.

52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.

53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.

54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.

55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq

56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.

57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.

58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.

59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.

60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.

61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.

62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.

63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.

64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.

65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.

66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.

67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.

68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.

69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.

70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.

71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.

72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.

73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.

74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.

75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.

76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.

77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.

78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.

79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.

80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.

81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

SYI’AH PRODUK ALAMI ISLAM

Tatkala al-Mutawakil (847-864) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal. Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni. Pada saat itulah Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya. Salah seorang tokohnya, al-Shafi’i menyusun ‘Ushul al-Fiqh yang di dalamnya mengandung ajaran tentang Ijma’ dan Qiyas. Dalam bidang Hadith lahir tokoh Bukhari dan Muslim.

Dalam bidang Tafsir, lahir al-Tabbari dan Ibn Mujahid. Pada masa inilah kaum Sunni menegaskan sikapnya terhadap posisi Uthman dan ‘Ali dengan mengatakan bahwa masyarakat terbaik setelah nabi adalah Abu Bakar, Umar, Uthman dan ‘Ali.

Berbeda dengan Mu’tazilah, pertikaian antara Sunni (Ahl al-Hadith) dan Shi’ah selalu diwarnai demensi politik..

Secara umum, pemikiran kelompok Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa

secara singkat dapat dikatakan bahwa pemikiran politik Sunni pertama kali muncul sebagai respon reaktif terhadap pemikiran-pemikiran Shi’ah dan Khawarij pada masa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib.

Dalam proses pembentukannya, ideologi Sunni ternyata tidak dapat dilepaskan dari pemikiran keagamaan mereka dan adanya ketegangan-ketegangan dengan golongan lain untuk memperoleh pengakuan dari penguasa. Dalam masa formal ideologi Sunni tersebut, misalnya telah terjadi polemik intelektual antara al-Syafi’I dengan ulama-ulama Khawarij dan Mu’tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik dari para khalifah yang sedang berkuasa.

Diperlukan waktu hampir beberapa abad untuk sampai pada proses terbentuknya pemikiran politik Ahl al-Sunnah ini, terhitung sejak mulai diperkenalkannya pada masa awal Islam, sahabat, tabi’in sampai pada pengukuhannya dalam Risalah al-Qadiriyyah.

Istilah ini (ahl al-Sunnah wa-Jama’ah) awalnya merupakan nama bagi aliran Asy’ariyah dan Maturidiah yang timbul karena reaksi terhadap paham Mu’tazilah yang pertama kali disebarkan oleh Wasil bin Ato’ pada tahun 100 H/ 718 M dan mencapai puncaknya pada masa khalifah ‘Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tasim (833-842 M) dan al-Wasiq (842-847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika paham Mu’tazilah dijadikan sebagai madzab resmi yang di anut negara pada masa al-Ma’mun

Jika ada perbedaan pokok antara teman-teman syi’ah dengan kalangan Islam yang lain, maka hal itu terletak dalam sikap yang mereka kembangkan terhadap tradisi Islam klasik tersebut.

Sikap syi’ah adalah tidak mengabaikan sama sekali khazanah intelektual Islam klasik sunni, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai “benda suci” yang tak boleh diutak-utik. Banyak pandangan yang dikemukakan oleh sarjana Islam di masa lampau yang masih tetap relevan dengan keadaan sekarang; tetapi tak sedikit pula yang sudah kehilangan relevansi sama sekali sehingga kami tak segan-segan untuk menafsirkannya kembali.

Dengan kata lain, sikap yang dikembangkan oleh syi’ah adalah hendak membaca kembali tradisi intelektual Islam klasik secara kritis. Jika kami mengkaji kembali pemikiran Al-Mawardi, Ibn Taymiyah, Ibn Rushd, al-Ghazali, dll., maka bukan berarti kami hendak menerima gagasan mereka apa adanya, tanpa kritik atau interpretasi ulang.

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing, dan ia akan dituntut untuk merumuskan jawaban sesuai dengan tantangan itu.

Sekarang, umat Islam hidup dalam konteks sejarah yang sudah berbeda dengan generasi al-Mawardi, dan kerena itu tantangan yang dihadapinya sudah sama sekali berbeda. Mengutip pendapat al-Mawardi tanpa memperhatikan konteks sejarah dan tantangan yang berbeda itu sama saja dengan terjatuh pada anakronisme sejarah.

Tentu warisan intelektual Islam dari generasi masa lampau sunni  penting untuk dijadikan sebagai sumber ilham guna merumuskan jawaban untuk tantangan yang dihadapi umat saat ini. Tetapi warisan itu tak boleh dianggap sebagai hal yang sakral sehingga harus disungkup rapat-rapat agar kedap dari segala bentuk kritik.

SEBAGIAN kalangan dalam Islam ada yang beranggapan bahwa sarjana Islam sunni di masa lampau telah mencapai suatu “maqam” atau tingkat kecanggihan intelektual yang sangat tinggi yang sulit ditandingi oleh generasi sekarang.

Ulama masa lampau juga telah menulis apa saja yang dibutuhkan oleh umat Islam berkenaan dengan ajaran Islam. Tugas umat Islam sekarang hanya sekedar melaksanakan apa yang sudah ditulis oleh mereka itu. Sebuah ungkapan terkenal menggambarkan sikap hormat pada masa lampau secara berlebihan ini: “ma taraka al-awa’ilu li al-awakhiri syai’an” (generasi lampau tak meninggalkan ruang sedikitpun bagi generasi belakangan).

Jika ada seseorang yang berani mengkritik pendapat ulama masa lampau, orang bersangkutan akan didamprat dengan sebuah argumen yang sangat khas, “Emangnya siapa kamu kok berani mengkritik pendapat ulama klasik? Apakah kamu memiliki ilmu yang setara dengan mereka?

Sikap semacam ini, menurut saya, sama sekali tidak tepat. Sikap seperti ini, dalam bentuk yang ekstrem, akan terjatuh pada “pengkultusan” ulama masa lampau, seolah-olah pendapat mereka begitu sucinya sehingga tak boleh dikritik atau ditafsirkan ulang.

Masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini begitu banyak dan kompleks, dan karena itu menantang generasi sekarang untuk merumuskan jawaban baru yang sama sekali berbeda. Terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini yang tak akan kita temukan solusinya dalam karya-karya ulama masa lampau.

Contoh sederhana adalah bentuk negara Iran  modern yang menempatkan semua warga negara dalam kedudukan yang sama, tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau latar-belakang budaya. Ini adalah fenomena baru yang tak pernah ada presedennya dalam praktek bernegara pada masa lampau, sejak zaman Nabi hingga runtuhnya kekhilafahan Usmaniah pada abad 20.

Konsep “warga negara” dan “kewarganegaraan” (muwathana, citizenship) sebagaimana kita kenal dalam konteks negara modern saat ini, misalnya, tak pernah kita temukan presedennya dalam praktek bernegara di masa lampau, baik dalam seharah Islam atau sejarah bangsa-bangsa lain.

Tentu saja, karya-karya mengenai fiqh politik yang ditulis oleh sarjana Islam klasik seperti al-Mawardi, al-Baqillani, al-Haramain, Ibn Taymiyah, dll. bisa dijadikan sebagai sumber ilham untuk merumuskan jawaban atas tantangan baru yang dihadapi oleh umat Islam saat ini.

Tetapi, secara umum, seluruh karya sarjana klasik itu ditulis dalam konteks sejarah yang berbeda sehingga tidak semua yang mereka tulis masih relevan dengan keadaan sekarang.


SYI’AH PRODUK ALAMI ISLAM

Sebagian orang telah menyelidiki Islam secara dangkal. Mereka berpendapat bahwa Syi’ah timbul karena peristiwa-peristiwa sosial dan politik tertentu.

Orang-orang semacam itu telah menuding bahwa fondasi Syi’ah berasal dari Abdullah bin Saba’, sementara yang lain mengatakan bahwa kondisi sosial dan politik selama pemerintahan Ali menjadi dasar mulainya faham Syi’ah.
Menurut pandangan kami, orang-orang tersebut kurang memahami tentang Syi’ah pada awal lahirnya Islam. Syi’ah tidak timbul pada suatu kondisi tertentu.

Orang-orang tersebut telah menentukan mayoritas dan minoritas sebagai ukuran, dan menganggap cara dan sistem mayoritas sebagai yang benar sementara yang minoritas dianggapnya sebagai kurang penting dan hal yang sekunder. Setiap orang yang berakal sehat akan sadar bahwa ukuran demikian ini tidak benar dan bertentangan dengan logika atau hukum alam dan bertentangan dengan keyakinan.

Berikut ini kami akan membahas tentang Syi’ah dan akan menjawab dua pertanyaan:

1. Bagaimana lahirnya Syi’ah?
2. Bagaimana timbulnya Syi’ah?

BAGAIMANA LAHIRNYA SYI’AH ?

Untuk menanggapi pertanyaan ini maka akan terjawab bahwa Sy’iah adalah berhubungan erat dengan timbulnya Islam dan merupakan produk alami Islam. Siapapun yang memahami benar-benar akan Islam dan Rasulullah saw maka akan memperoleh pentunjuk dan bimbingan yang tepat dari Rasulullah saw.

Rasulullah saw adalah seorang pembimbing ke arah revolusi suci yang meliputi seluruh fase kehidupan seperti cahaya dan udara yang sanggup mengubah masyarakat yang buas dan jahil menjadi masyarakat yang teratur dan sempurna.
Revolusi ini berdasarkan program Ilahi yang dibawa oleh rasulNya yang terpelajar dan mulia, dan yang sanggup menyebarkan misiNya ke segenap penjuruh dunia.

Walaupun misi ini bergerak maju di bawah bimbingan Rasulullah saw tetapi periode penyebarannya cukup pendek, jadi kemajuannya tentu amat sedikit, maka perlu setelah beliau revolusi ini harus dilanjutkan oleh seorang yang mampu membimbing secara tepat dan benar.

Wafatnya Rasulullah saw tidak dengan tiba-tiba, beliau sadar akan hal itu sedini mungkin, beliau menyatakan hal itu ketika Haji Wada’, bahwa beliau akan segera manyampaikan ucapan selamat kepada umatnya. Baliau memiliki waktu amat banyak untuk memikirkan tentang masa depan penyebaran misinya dan beliau telah menghilangkan kemungkinan-kemungkinan yang menghalangi kemajuan misinya. Memang hal itu merupakan tugas seorang pembimbing dalam sebuah revolusi yang bijaksana dan setia terhadap revolusinya.

USAHA NABI SAW SEHUBUNGAN DENGAN PENYEBARAN ISLAM DI MASA DEPAN

Dalam masalah ini Nabi saw dipastikan akan melakukan tiga asumsi untuk menjaga kelancaran masa depan revolusinya.

ASUMSI PERTAMA

Yakni, Nabi saw sendiri yang bertanggung jawab atas Islam dan muslimin selama masa hidup beliau, sedangkan setelah beliau wafat tentunya masa depan Islam dan muslimin bukan di tangan beliau lagi (tetapi diserahkan kepada muslimin). Tetapi asumsi demikian ini tidak mungkin terjadi kerena dua alasan:

Alasan Pertama

Jika demikian, yakni beliau bertanggung jawab atas Islam dan muslimin hanya ketika beliau masih hidup, berarti setelah beliau wafat, tanggung jawab tersebut diserahkan kepada kaum muslimin secara umum dan bukan urusan Rasulullah saw lagi.

Jadi beliau tidak ada urusan dan tidak menanggung resiko tentang masa depan Islam dan muslimin setelah beliau wafat. Tetapi jelas pandangan semacam ini tidak dapat begitu saja diterima, karena bagaimanapun setiap orang akan mengerti bahwa jika Nabi begitu saja meninggalkan Islam dan muslimin tanpa perlindungan atau tanpa petunjuk atau tanpa bimbingan beliau, maka tiga bahaya besar akan dialami oleh Islam dan muslimin.

Tiga Bahaya Tersebut Adalah:

1. Muslimin yang menghadapi berhentinya petunjuk religius semacam ini yang mana mereka belum tahu pasti tentang pemerintahan atas kaum muslimin, manajemen dan organisasinya serta pengaturan dan operasionalnya. Karena dibingungkan dengan situasi demikian itu sehingga mengganggu kemampuan mereka untuk berfikir kearah itu. Dengan alasan inilah Umar bin Khaththab menyatakan bahwa Nabi saw tidak wafat. Kaum muslimin sadar bahwa Islam tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa seorang pemimpin, maka pasti mereka akan segera memilih pemimpin mereka. Tetapi pemilihan pemimpin macam di Saqifah itu tidak sesuai dengan ruh Islam, apalagi pemilihan tersebut dilakukan oleh mereka yang mentalnya masih lemah dan dipengaruhi oleh situasi dan keterikatan sehubungan dengan pemilihan tersebut.

2. Karena muslimin belum memiliki kematangan mental dan kesadaran akan ruh Islam seperti halnya Nabi saw sendiri, mereka belum dapat melaksanakan pemerintahan Islam yang sesuai dengan prinsip-prinsipnya.

3. Segolongan yang menamakan dirinya muslimin, yang sebenarnya mereka jauh dari Islam dan ingin memetik keuntungan untuk menodai bahkan merusak Islam di saat Nabi saw telah wafat dan kosongnya pengganti beliau yang sebenarnya, hal ini merupakan kesempatan yang amat baik bagi musuh-musuh Islam.

Kita tahu bahwa Abu Bakar menyadari akan tanggung jawabnya terhadap Islam dan masa depan muslimin sehingga menetapkan dirinya sebagai pengganti Nabi saw. Dan ketika dia diprotes karena tindakannya yang tergesa-gesa itu, yakni dalam menduduki jabatan pemerintahan Islam, ia menjawab bahwa karena masyarakat saat itu masih belum jauh dari jahiliahnya dan dari sifat mereka yang primitif dan bahwa mereka masih sering berbuat durhaka setelah wafatnya Rasulullah saw1. Dengan demikian maka tentunya timbul pertanyaan: Apakah Rasulullah saw tidak bertanggung jawab sebagaimana yang dirasakan Abu Bakar?. Bukankah beliau lebih banyak memikirkan masa depan Islam dan muslimin daripada Abu Bakar?,

Alasan Kedua

Jika memang masa depan Islam dan muslimin diserahkan begitu saja kepada umat beliau, berarti beliau tidak lagi bertanggung jawab terhadap Islam dan mengabaikan masa depan Islam. Apalagi konon, beliau tidak menunjuk seorang sebagai gantinya, jelas hal ini akan membahayakan bagi Islam dan muslimin. Dan berarti beliau hanya hendak menyelamatkan Islam dan melindungunya sepanjang masa hidup beliau saja.
Setiap orang yang berfikiran sehat menyadari bahwa hal yang demikian itu tidak mungkin ada pada perasaan seorang Nabi seperti beliau. Bahkan jika memang demikian maka beliau bukan seorang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan dan beliau hanyalah seorang filosof.

Setiap orang yang menciptakan sebuah mazhab pemikiran tertentu pasti bersikap amat setia kepada mazhabnya itu. Dia pasti memikirkan benar-benar akan masa depan mazhabnya dan bekerja keras untuk menciptakan sistem agar mazhab tersebut berlangsung terus dan lebih maju.

Untungnya sejarah kehidupan Rasulullah saw merupakan bukti nyata bagaimana kesetiaan yang beliau miliki di dalam misi kerasulannya dan alangkah banyak pengorbanan yang dilakukan beliau demi kemajuan misi kerasulannya itu. Beliau selalu memeras otaknya memikirkan perkembangan masa depan Islam. Sebagai contoh: Sebelum wafat, beliau memerintahkan pasukan muslimin agar berperang di bawah komando Usamah. Ketika beliau terbaring di atas tempat tidur di saat kritisnya, sambil sebentar-sebentar beliau pingsan, beliau berkali-kali memerintahkan dan memberi semangat untuk menggerakkan pasukan Usamah.

Rasulullah yang menekankan betapa pentingnya masalah-masalah remeh seperti strategi perang, walaupun pada saat-saat kritis masa hidup beliau tetap memikirkan masalah tersebut. Mungkinkah beliau tidak memikirkan masa depan Islam dengan meninggalkan dan membiarkan masalah yang gawat dan membingungkan yakni masalah pengganti beliau yang menyangkut masa depan muslimin?.

Memang masalah di atas telah dipikirkan beliau dan terutama pada saat-saat akhir kehidupan beliau. Bahkan hal itu telah ditegaskan bahwa Rasulullah saw selalu berfikir tentang masa depan Islam dan muslimin. Masalah tersebut dengan suara bulat diakui baik oleh Syi’ah maupun Sunni.

Sebuah contoh bagaimana Nabi yang suci (saw) itu dengan susah payah memikirkan tentang masa depan perkembangan Islam dan muslimin.

Saat itu Rasulullah saw sedang berbaring di tempat tidurnya, dan beliau sedang sakit keras. Sebagian muslimin mengerumuni beliau di sekitar tempat tidur beliau. Di antara mereka hadir pula Umar bin Khaththab. Kemudian beliau bersabda: ”Bawakan kepadaku kertas dan tinta, aku akan tuliskan kepada kalian sehingga kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya”1 Sarah Nahjul Balaghah: Ibn Abil Hadid, jilid I hal. 54
.1 Sarah Nahjul Balaghah: Ibn Abil Hadid, jilid I hal. 54

Perintah Nabi saw ini merupakan bukti yang jelas bahwa beliau selalu memikirkan tentang masa depan Islam

Shahih Muslim jilid II: “Wasiat akhir Rasulullah”
Shahih Bukhari jilid I: Kitabus Suhl dan muslimin. Beliau memandang penting bertindak demikian agar setelah wafat beliau, muslimin dan Islam bebas dari bahaya dan gangguan di masa depan. Jadi asumsi pertama di atas tidak dapat diterima.

ASUMSI KEDUA

Jika telah kita akui bahwa Rasulullah saw selalu mimikirkan tentang masa depan Islam dan muslimin, tapi membiarkan masalah kekhalifahan dimusyawarahkan bersama oleh masyarakat banyak, maka hal ini tidak dapat diterima berdasarkan berbagai alasan.

Alasan Pertama

Jika memang Rasulullah saw telah menjelaskan kepada muslimin tentang pemerintahan demokratis dan segi-seginya yang terpenting, dan beliau membuat persiapan terhadap masyarakat luas bagi pembentukan pemerintahan semacam itu dan membuat agar muslimin menaati cara beliau tersebut, berarti semua sabda beliau menyatakan secara tidak langsung bahwa masalah pemerintahan tidak mungkin dilaksasnakan dengan musyawarah sedemikian rupa. Di samping itu kaum muslimin di zaman Nabi saw belum memiliki gambaran sedikit pun tentang sebuah pemerintahan. Dengan alasan inlah sebelum wafatnya, Abu Bakar tidak setuju apabila pemerintahan Islam dibentuk dengan cara musyawarah, dan ia menyerahkan kepemimpinan Islam kepada Umar, dan kaum muslimin tidak keberatan dengan tindakan itu sebagaimana yang telah dilukiskan dalam sejarah.

Ketika Abu Bakar sakit keras, ia memerintahkan Usman agar menuliskan sebuah wasiat. Usman menulis apa yang dikehendaki Abu Bakar sebagai berikut: “Aku adalah khalifah Rasulullah, aku nyatakan kepada kaum muslimin: Salam atas kalian. Segala puji kupanjatkan kehadirat Allah, Aku mengangkat Umar bin Khaththab sebagai pemimpin kalian. Kalian harus menaatinya”.

Dalam waktu yang singkat Abdurrahman bin Auf masuk ke tempat itu, dan setelah menegur sapa, Abu Bakar berkata: “Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian sebagai pemimpin kalian, jika tidak demikian, maka kalian akan mementingkan diri kalian kalian sendiri” Tarikh Ya’qubi, jilid II, hal. 128 .

Pengangkatan yang dilakukan Abu Bakar tersebut membuktikan bahwa jelas ia tidak memiliki konsep pemerintahan berdasarkan kehendak masyarakat, dan ia menganggap bahwa telah menjadi haknya untuk mengangkat seseorang sebagai gantinya setelah wafat. Oleh karena itu ketika khalifah kedua mendapat luka berat, orang-orang ramai berkerumun di sekitarnya, mereka mengusulkan agar ia harus mengangkat penggantinya karena mereka jelas tidak mempunyai gagasan untuk mengangkat seorang pengganti dengan cara musyawarah.

Alasan Kedua

Jika Rasulullah saw menyerahkan pemerintahan kepada umat Islam dan pelaksanaan manajemennya kepada kehendak muslimin, maka menjadi keharusan bagi beliau untuk mengumumkan hal itu bahwa keagungan ruh dan pemikiran Islam telah mencapai puncaknya dan kesulitan-kesulitan kenabian telah tiada dan terhenti, serta pemerintahan Islam dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Tetapi sayang, peristiwa-peristiwa yang menyusul setelah wafat beliau menunjukkan bahwa kaum muslimin kurang cakap, bahkan khalifah tidak peduli dengan adanya fakta bahwa daerah-daerah yang diduduki muslimin sebagai hasil rampasan perang, begitu saja dibagikan kepada para pahlawan menurut hukum agama, atau diserahkan kepada masyarakat umum untuk kepentingan bersama.

Mungkinkah bagi seorang Nabi yang telah meramalkan kemenangan kaum muslimin atas Kaisar dan Kosru membiarkan kaum muslimin tidak faham akan hukum agama sehubungan dengan hilangnya tanah-tanah hasil rampasan perang?.

Alasan Ketiga

Islam adalah agama yang sempurna, dan tidak ada agama lain yang menyamainya. Inilah agama yang akan mengguncangkan dunia dan mengubah seluruhnya serta melalui ajarannya dan peradabannya sanggup membimbing masyarakat Islam kepada ketinggian, kemulian dan kemajuan.

Pada sisi lain bayang-bayang Nabi yang suci menaungi setiap kepala umat Islam hanya dalam jangka waktu sepuluh tahun. Walaupun demikian jelas tak mungkin masyarakat primitif, buas dan barbar itu dapat berubah menjadi beradab dalam jangka waktu sependek itu sehingga cakap bertanggung jawab untuk membimbing dalam segala segi. Oleh Karena itu sehubungan dengan prinsip-prinsip setiap suatu ajaran, setelah perintisnya maka para anggotanya harus melanjutkan misi itu secara progresif di bawah bimbingan penggantinya, sehingga para anggota tersebut dapat bimbingan yang patut. Tetapi ternyata mereka yang hidup sezaman dengan Nabi saw masih merupakan para korban ortodikisme dan kebiasaaan-kebiasaan buruk dan belum tertanam di dalam jiwa mereka ruh Islam secara sempurna. Dengan demikian mereka belum punya cara untuk memilih pembimbing yang tepat untuk membimbing mereka.

Sejarah adalah saksi atas kenyataan bahwa pemerintah Islam akhirnya berubah menjadi kerajaan turun temurun4, sehingga orang-orang yang berhati suci dibunuh tanpa salah dan sebagian dari mereka dirampas kekayaan dan hak miliknya. Ajaran-ajaran Islam tinggal hanya permainan, dan Islam tidak bertambah kuat bahkan ia cenderung berantakan. Mengapa hal ini terjadi?. Jelas hal ini hanya disebabkan oleh sebagian muslimin menciptakan sebuah pola pemerintahan Islam dan kehalifahan setelah wafat Rasululllah yang suci. Pola tersebut tidak patut dan tidak sesuai diterapkan pada saat itu. Oleh karena itu pola demikian adalah jauh dari logis dan keadilan bila kita menganggap bahwa pemerintahan semacam itu disetujui Rasulullah.

Dengan demikian apapun yang dikatakan telah jelas bahwa asumsi kedua di atas tidaklah bijaksana dan mustahil Rasulullah saw akan menerimanya.

ASUMSI KETIGA

Seharusnya kita yakini bahwa Rasulullah saw selalu memikirkan tentang masa depan Islam dan muslimin dan telah menunjuk seorang yang patut sebagai pengganti beliau sesuai kehendak Allah, sehingga pengganti beliau itu sanggup melaksanakan pemerintahan Islam sepeninggal beliau. Dan berkat kemampuannya membimbing, dan dengan tindakannya yang bijak akan mudah mengenyahkan bahaya-bahaya yang

4 Dinasti-dinasti Bani Umaiyah, Bani Abbas dan lain-lain mengancam Islam dan muslimin, serta membimbing umat ke arah kemajuan.

Seorang yang terkemuka ini seharusnya bijaksana, dari hasil bayang-bayang Nabi saw, yang keberadaannya dan hidupnya benar-benar menyatu dengan realitas Islam dan kehidupan Nabi saw, dan orang itu seharusnya memiliki jiwa yang manunggal dengan jiwa Nabi saw.

Sejarah bersaksi bahwa orang semacam itu tiada lain adalah Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebenarnya Imam Ali telah berkata di dalam kitab Nahjul Balaghah: “Rasulullah telah memelihara aku semenjak kanak-kanakku. Beliau mengambil aku sebagai anaknya dan memelukku di ranjangnya bila kami tidur. Rasulullah memberiku pelajaran berupa etika dan hal-hal yang menakjubkan lainnya setiap hari. Pada saat itu tidak ada seorang muslimin pun yang menyelamatkan Nabi kecuali dirinya, Khadijah dan aku”.

Juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas di dalam Hulyatul Auliyah bahwa Nabi saw mewasiatkan kepada Ali tujuh puluh hal yang tidak beliau wasiatkan kepada orang lain.

Diriwayatkan Nasa’i bahwa Imam Ali berkata: “Setiap aku bertanya kepada Nabi, beliau menjawab, bila aku diam, beliau tetap bersabda kepadaku”.

Riwayat Nasa’i lainnya mengatakan bahwa Ummu Salamah (istri Rasulullah saw) berkata: “Aku besumpah demi Allah, Ali lebih dekat kepada Rasulullah daripada siapapun”.

Satu keharusan bagi logika yang matang meyakini bahwa siapapun yang merintis sebuah mazhab pemikiran tertentu pasti mempunyai pengikut. Jika si perintis mazhab pemikiran tersebut telah yakin dan setia kepada mazhabnya tersebut, maka pasti mengkader dan mendidik seorang yang paling cakap di antara muridnya ketika ia masih hidup, dan ia memilih orang itu sebagai pembimbing dalam mazhabnya dan mengangkatnya sebagai penggantinya serta mempercayakan kepadanya dan memperkenalkan dia kepada masyarakat sehingga masyarakat akan dibimbingnya kepada keharmonisan tanpa adanya perselisihan, perbedaan dan kemunduran.

Logika semacam ini telah dilakukan oleh Nabi saw sehubungan dengan Imam Ali. Dalam beberapa peristiwa beliau menunjuk Ali sebagai pengganti beliau dan memimpin kaum muslimin. Yakni berdasarkan Hadis ad-Dar, Hadis Tsaqalain, Hadis Manzilat, Hadis Ghadir. Hadis-hadis inilah sebagai bukti atas dalih-dalih di atas.

Sejarah telah membuktikan bahwa hanya Imam Ali yang sanggup menyelesaikan berbagai masalah. Pengaturan kekhalifahan Islam, walaupun tentang kebijaksanaan yang rumit sekali pun berhasil diselesaikan.

Dengan demikian terbukti bahwa Syi’ah dilahirkan oleh Islam dan Nabi saw sendiri yang menanamkan fondasinya dengan wahyu Allah. Alasan ini menyatakan agar Islam dan muslimin dapat dilindungi dari kemerosotan dan pertikaian, sehingga dapat mencapai kesempurnaan dan kemajuan Islam dan kaum muslimin. Secara fakta Syi’ah dilahirkan oleh Islam dengan cara alamiah, dan hanya Islam yang harus melahirkannya, karena Syi’ah adalah Islam itu sendiri yang dapat disaksikan sejarah ketika saat wafatnya Nabi saw sebagaimana yang telah diuraikan dan dijelaskan oleh Rasulullah atas kehendak Allah SWT.

BAGAIMANA TIMBULNYA SYI’AH ?

Kami telah meneliti tentang keadaan sekitar penyebab timbulya Syi’ah, dan sekarang masalah yang akan kami bahas 3
adalah bagaimana tibulnya Syi’ah, sehingga terjadi pembagian dua golongan muslimin, yakni Syi’ah dan Sunni.
Bila kita menperhatikan dan melayangkan fikiran kita kepada saat kedatangan Islam, maka kita akan mendapatkan bahwa muslimin pada saat itu telah menunjukkan adanya pengelompokan masing-masing.

Satu golongan percaya dan yakin bahwa segala masalah dan hukum agama telah terang dan jelas, dan perintah-perintah khusus harus diikuti dan tidak ada masalah atau hukum yang dapat diciptakan orang lain. Golongan yang lain percaya dan yakin bahwa hal ini terbatas hanya pada masalah-masalah ubudiyah dan masalah-masalah ghaib, sedangkan masalah-masalah selain itu adalah tugas orang-orang yang dapat meneliti dan memecahkannya sesuai dengan apa yang dipandangngnya baik walaupun sebenarnya perintah agama telah jelas.

Karena pandangan ini berdasarkan kecenderungan kemauan orang, dengan sendirinya pengikutnya semakin bertambah, sehingga sebagian sahabat Nabi yang terkenal seperti Umar bin Khaththab bergabung ke dalam kelompok ini. Dalam banyak hal mereka bertindak menurut kehandak mereka sendiri dan opini pribadi sambil tidak memperhatikan perintah-perintah Rasulullah saw yang telah jelas. Sebagaimana masalah perdamaian Hudaibiyah, mereka memprotes dan mengkritik Rasulullah saw, melenyapkan kata-kata “Hayya ala khairil amal” dari azan, meniadakan haji tamattu’ dan perkawinan mut’ah, dan masih banyak lagi lainnya.

Telah diriwayatkan oleh Abullah bin Abbas bahwa ketika Rasulullah saw memerintahkan agar orang-orang mendekat ke tempat pembaringan beliau di saat hampir wafat, kemudian beliau meminta agar mereka membawakan kertas dan tinta sehingga beliau dapat mendiktekan wasiatnya dan ditulis di kertas tersebut sehingga kaum muslimin tidak akan tersesat selamanya. Umar bin Khaththab menuruti kehendaknya sendiri, ia berkata bahwa Nabi sakit keras dan mengigau, Qur’an sudah cukup sebagai petunjuk. Maka timbullah perbedan pendapat di antara mereka yang hadir. Sebagian di antara mereka mendesak agar perintah Rasulullah saw segera dipenuhi dan kertas serta pena agar disediakan, sebagian yang lain mendukung pendapat Umar. Ketika suara ribut dan gaduh itu terdengar dan mengganggu Nabi, beliau mengusir mereka.

Satu Kejadian Tragis Lainnya

Ketika Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai komandan tempur prajurit Islam, beberapa sahabat bertindak atas kehendak mereka sendiri dan menolak perintah Usamah. Walaupun dalam keadaan sakit keras, beliau saw berusaha keluar rumah dan berteriak kepada mereka: “Aku telah mendengar sikap kalian tentang kepemimpinan Usamah. Kalian tidak hanya mengkritik kepada kepemimpinan Usamah, tetapi juga memboikot kepemimpinan ayahnya dahulu. Demi Allah, baik Usama atau ayahnya sangat tepat menduduki posisi itu”.

Dengan memperhatikan peristiwa di atas kita dapat memahami bahwa sebagian sahabat Nabi saw ada yang taat kepada Nabi saw dalam menerima kepemimpinan Usamah, sedang sebagian dari mereka menuruti kehendak mereka sendiri dan tidak menerima kepemimpinan Usamah. Kedua perbedaan pendapat dan keyakinan yang amat kontroversial di antara kaum muslimin ini adalah awal mula terjadinya perbedaan dalam pemerintahan kehalifahan Islam.

Golongan pertama menerima pemerintahan dan kekhalifahan Islam sesuai metode yang diajarkan Rasulullah saw, yakni mengakui seseorang yang ditunjuk Rasulullah saw sebagai pemimpin dan menaati pemimpin yang telah ditunjuk oleh Nabi saw. Golongan ini disebut sebagai Syi’ah.

Golongan kedua menggunakan kehendak mereka sendiri walaupun perintah agama telah jelas dan terang, menyelenggarakan pemerintahan dan kekhalifahan Islam dengan cara musyawarah, karena mereka menganggap hal tersebut lebih tepat menurut pendapat mereka. Golongan ini disebut Sunni.

Dengan penjelasan tersebut maka kita tahu bahwa timbulnya Syi’ah bersamaan dengan saat-saat Rasulullah saw akan wafat. Peristiwa menjelang wafatnya Rasulullah saw tersebut menunjukkan kepada kaum muslimin bahwa beliau saw menunjuk Ali sebagai Khalifah Rasulullah saw serta sebagai pemimpin kaum muslimin di dalam melaksanakan perintah-perintah Nabi yang jelas, dan mengkritik mereka yang menolak hal itu yang mana mereka akan mengangkat orang lain untuk menduduki tempat yang mulia itu.

Sehingga mereka yang memprotes pengangkatan Khalifah Abu Bakar pada saat itu sebagaimana yang telah tercatat di dalam kitab-kitab baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah, mereka adalah Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad dan Ammar bin Yasir, dan lain-lain yang mana mereka termasuk sahabat Nabi saw yang amat termasyhur dan terpercaya.

Jawaban lengkap atas Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah yang telah diadakan di Masjid Istiqlal pada tanggal 21 September 1997

Jawaban lengkap atas Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah yang telah diadakan di Masjid Istiqlal pada tanggal 21 September 1997. Seminar itu dibuka oleh Hasan Basri, Ketua MUI saat itu. Seminar juga dikatakan dihadiri oleh para pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan organisasi Islam, tokoh Islam dan masyarakat umum.

Seminar ini menghasilkan beberapa butir keputusan yang diambil berdasarkan pandang-pandangan kritis para peserta serta beberapa usulan kepada pemerintah RI.

Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) kemudian menganggap hasil seminar ini perlu ditanggapi.

Penulis:O. Hashem Penerbit: YAPI Cetakan: Pertama, September 1997.

Riwayat Singkat Penulis

O. Hashem dilahirkan di Tondano, Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1936. Cucu Sultan Badaruddin ini menyelesaikan SD dan SMP di Tondano dan di SMA Negeri Manado pada tahun 1953.

Tahun 1952 mendirikan dan menjadi Direktur SMP Muhammadiyyah Wawonasa, Manado. Tahun 1961, bersama teman-teman dari Muhammadiyyah, Al-Irsyad, Al-Khairiyah dan lain-lain mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) di Surabaya, yang diluar negeri dikenal dengan IPF (Islamic Propagation Foundation). Yayasan ini menerbitkan mingguan YAPI dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab yang diedarkan secara cuma-cuma.

Tahun 1963, O. Hashem pindah ke Bandung dan aktif dalam berbagai kegiatan dakwah Muhammadiyyah, PERSIS, PUI (Persatuan Umat Islam) Jawa Barat dan lain-lain.

Beliau adalah penulis buku Keesaan Tuhan, Marxisme dan Agama, Menaklukkan Dunia Islam, Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Prof. DR. J. Verkuyl, Saqifah, dan lain-lain.

Pada tahun 1970, penulis yang juga seorang dokter, bekerja di sebuah PUSKESMAS di daerah terpencil di Kota Agung, Lampung.

Beliau sejak remaja mempunyai obsesi persatuan umat Islam, tiga bulan terakhir tinggal di Jakarta dan masih aktif dalam kegiatan dakwah dan mengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Prakata

Basri, Ketua MUI. Seminar juga dikatakan dihadiri oleh para pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan organisasi Islam, tokoh Islam dan masyarakat umum.

Makalah yang dibacakan, diantaranya berasal dari:

1. KH. Moh. Dawam Anwar (Khatib Syuriah NU)

2. KH. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriah NU)

3. KH. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

5. KH. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Panji Masyarakat)

Disamping itu, dikatakan bahwa keputusan seminar diambil berdasarkan pandangan-pandangan kritis para peserta. Keputusan yang dikeluarkan, diantaranya:

1. Syi’ah melakukan penyimpangan dan perusakan aqidah Ahlussunah.

2. Menurut Syi’ah, Al-Quran tidak sempurna.

3. Taqiyyah sebagai menampakkan selain yang mereka siarkan dan sembunyikan.

4. Syi’ah berpandangan hadits mereka disampaikan oleh Ahlul Bait.

5. Ahlul Bait menolak ajaran Syi’ah.

6. Syi’ah berpendapat Imam mereka ma’shum, terjaga dari dosa dan UUD Iran menetapkan bahwa mazhab Ja’fari Itsna Asy’ariyah sebagai mazhab resmi.

7. Syi’ah, pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Sunnah

8. Imamah atau kepemimpinan adalah rukun Iman.

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam.

10. Adzan kaum Sunni berbeda dengan adzan kaum Syi’ah.

11. Syi’ah membenarkan kawin mut’ah.

12. Syi’ah terbukti sebagai pelaku kejahatan, pengkhianat dan teroris.

Kemudian seminar mengusulkan:

1. Mendesak pemerintah RI cq. Kejaksaan Agung melarang Syi’ah.

2. Pemerintah agar bekerjasama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk melarang penyebaran buku-buku Syi’ah.

3. Agar Mentri Kehakiman mencabut izin semua yayasan Syi’ah.

4. Meminta Mentri Penerangan mewajibkan semua penerbit menyerahkan semua buku terbitannya untuk diteliti MUI Pusat.

5. Agar seluruh organisasi dan lembaga pendidikan waspada terhadap faham Syi’ah.

6. Faham Syi’ah kufur dan masyarakat agar waspada.

7. Menghimbau segenap wanita agar menghindari kawin mut’ah.

8. Media massa (cetak, elektronik, padang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan Syi’ah.

9. Melarang kegiatan penyebaran Syi’ah oleh Kedutaan Iran.

Ditandatangani oleh tim perumus:

1. HM. Amin Djalaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Attas

5. Ahmad Zein Al-Kaff

YAPI Kemudian menganggap keputusan ini perlu ditanggapi.

Depok, 23 September 1997

O. Hashem

Kesimpulan Seminar Kesimpulan Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah 21 September 1997 Di Masjid Istiqlal Jakarta

Alhamdulillah, Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah, yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah, ABRI, MUI, Pimpinan Organisasi Islam, Tokoh-tokoh Islam dan masyarakat umum, setelah mengkasji makalah-makalah dari:

1. K.H. Moh. Dawam Anwar (Katib Syuriah PB. NU)

2. K.H. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriyah NU)

3. K.H. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiya Indonesia)

5. K.H. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Panji Masyarakat)

dan pandangan-pandangan kritis dari para peserta, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam mencegah berbagai upaya penyimpangan serta perusakan akidah Ahlussunnah yang dianut umat Islam di Indonesia.

2. Al-Qur’an yang ada sekarang dalam pandangan Ahlussunnah adalah sudah sempurna dan seluruh isinya benar-benar sesuai dengan firman Allah yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad saw. Sedangkan dalam pandangan Syi’ah, Al-Qur’an yang ada tidak sempurna, karena telah dirubah oleh Khalifah Utsman bin Affan ra. Dengan demikian Al-Qur’an yang ada harus ditolak dan yang sempurna akan dibawa oleh Imam Al-Muntazhar. Jika sekarang diterima, hanya sebagai Taqiyyah saja.

3. Kaum Syi’ah percaya kepada taqiyyah (menampakkan selain yang mereka niatkan dan yang mereka sembunyikan). Taqiyyah adalah agamanya dan agama leluhurnya. Tidaklah beriman barangsiapa tidak pandai-pandai bertaqiyyah dan bermain watak.

4. Ahlussunnah berpandangan bahwa hadits yang shahih sebagaimana yang disampaikan oleh perawi hadits (Imam Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Nasa’i dan lain-lainnya) diterima dan dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan setiap muslim. Sebaliknya Syi’ah berpandangan bahwa hadits yang dapat dipakai hanya disampaikan oleh Ahlul Bait atau yang tidak bertentangan dengan itu.

Dan mereka berkeyakinan bahwa perkataan dan perbuatan Imam diyakini seperti hadits Rasulullah.

Ahlul Bait adalah keluarga dan keturunan Rasulullah saw yang mengikuti jejak Rasulullah saw, sementara Syi’ah mengklaim mengikuti madzhab Ahlul Bait, padahal Ahlul Bait menolak ajaran mereka.

5. Ahlussunnah berpandangan bahwa Imam (pemimpin) adalah manusia biasa dan dapat berasal dari mana saja. Ia (Imam) tidak luput dari kekhilafan atau kesalahan. Imam adalah pemimpin untuk kemaslahatan umum dengan tujuan menjamin dan melindungi dakwah serta kepentingan umat.

6. Syi’ah berpandangan bahwa Imam adalah ma’shum (orang suci -terbebas dari dosa dan kesalahan). Imamah (menegakkan kepemimpinan/pemerintahan) adalah termasuk rukun agama. Imamah merupakan kepemimpinan rohaniah, politik bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia dan harus tunduk kepada Nizham Waritsi (aturan turun temurun dari Imam), hukum dan peraturan warisan yang silih berganti di kalangan 12 Imam.
UUD Iran menetapkan bahwa agama resmi bagi Iran adalah Islam madzhab Ja’fari Itsnaa ‘Asyariyah. Pasal ini tidak boleh dirubah selama-lamanya.

7. Ahlussunnah meyakini bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib adalah Khulafa’ur Rasyidin.
Sedangkan Syi’ah pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan.

8. Syiah Imamiyah berkata bahwa iman kepada tertib pewarisan kepemimpinan umat Islam adalah salah satu rukun iman, sama kedudukannya iman kepada Allah SWT.
Keimaman (menurut Syi;ah ‘Imamiyah) tersebut merupakan salah satu rukun pengganti iman kepada Malaikat dan iman kepada Qadha dan Qadar Khairihi Wa Syarrihi (baik dan buruk).

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam mereka

10. Adzan kaum Syi’ah Imamiyah ditambah dengan WA ASYHADU ANNA ‘ALIYYAN WALIYYULLAH. Alasannya bahwa Ali ra diutus resmi sebagai wali sebagaimana Muhammad SAW diutus sebagai Nabi/Rasul.

11. Menurut Syi’ah, NIKAH MUT’AH adalah rahmat. Belum sempurna iman sesorang kecuali dengan nikat mut’ah. Berapa pun banyaknya, boleh. Dibolehkan nikah mut’ah dengan gadis tanpa izin orang tuanya. Boleh mut’ah dengan pelacur, boleh mut’ah dengan Majusiah/Musyrikah (wanita Majusi/Musyrik).

12. Bahwa sepanjang sejarah, pihak Syi’ah terbukti pelaku-pelaku kejahatan dan pengkhiatan dan teroris.

berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut dan untuk menjada stabilitas masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, seminra ini merekomendasikan:

1. Mendesak Pemerintah Republik Indonesia cq. Kejaksaan Agung RI agar segera melarang faham Syi’ah di wilayah Indonesia, karena selain telah meresahkan masyarakat, juga merupakan suatu sumber destabilisasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, karena tidak mungkin Syi’ah akan loyal pada Pemerintah Indonesia karena pada ajaran Syi’ah tidak ada konsep musywarah melainkan keputusan mutlak dari Imam.

2. Memohon kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan seluruh jajaran terkait agar bekerja sama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk meneliti buku-buku yang berisi faham Syi’ah dan melarang peredarannya diseluruh Indonesia.

3. Mendesak kepada Pemerintah Indonesia cq. Menteri Kehakiman RI agar segera mencabut kembali izin semua yayasan Syi’ah atau yang mengembangkan ajaran Syi’ah di Indonesia, seperti:

1. Yayasan Muthahhari Bandung

2. Yayasan Al-Muntazhar Jakarta

3. Yayasan Al-Jawad Bandung

4. Yayasan Mulla Shadra Bogor

5. Yayasan Pesantren YAPI Bangil

6. Yayasan Al-Muhibbin Probolinggo

7. Yayasan Pesantren Al-Hadi Pekalongan

4. Meminta kepada Pemerintah cq. Mentri Penerangan RI agar mewajibkan pada semua penerbit untuk memberikan semua buku-buku terbitannya kepada MUI Pusat, selanjutnya untuk diteliti.

5. Mengingatkan kepada seluruh organisasi Islam, lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, pesantren, perguruan tinggi) di seluruh Indonesia agar mewaspadai faham Syi’ah yang dapat mempengaruhi warganya.

6. Mengajak seluruh masyarakat Islam Indonesia agar senantiasa waspada terhadap aliran Syi’ah, karena faham Syi’ah kufur, serta sesat menyesatkan.

7. Menghimbau kepada segenap kaum wanita agar menghindarkan diri dari praktek nikah mut’ah (kawin kontrak) yang dilakukan dan dipropagandakan oleh pengikut Syi’ah.

8. Menghimbau kepada semua media massa (cetak, elektronik, pandang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan faham Syi’ah di Indonesia.

9. Menghimbau pula kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melarang kegiatan penyebaran Syi’ah di Indonesia oleh Kedutaan Iran.

10. Secara khusus, mengharapkan kepada LPPI agar segera bekerja sama dengan MUI dan Departemen Agama untuk menerbitkan buku panduan ringkas tentang kesesatan Syi’ah dan perbedaan-perbedaan pokoknya dengan Ahlus Sunnah.

Jakarta, 19 Jumadil Ula 1418H

21 September 1997

TIM PERUMUS (ditandatangani oleh)

1. HM. Amin Djamaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Atas

5. Ahmad Zein Al-Kaff

Kafirkah Kaum Syi’ah?

Laporan harian Republika tentang seminar itu dengan judul ‘Para Ulama Sepakat, Sulit Pertemukan Faham Syi’ah dan Sunni’, sangat rapi dan bagus. (Republika, 22 September 1997, hal. 2).

Saya memang sudah menduga, seminar ini akan berlangsung dua atau tiga hari sebelum tanggal 23 September 1997, hari ulang tahun Kerajaan Saudi Arabia. Tapi saya mengira tidak akan berlangsung pada ulang tahun ke-65 ini, sebab pemerintah Saudi pada tahun ini baru saja menyatakan perlunya kerukunan beragama.

Apakah saudara-saudara ingin mengkafirkan negara sahabat, Kerajaan Saudi, karena membolehkan sekitar 200.000 orang Syi’ah yang saudara-saudara kafirkan, memasuki Ka’bah setiap tahun untuk beribadah Haji?

Tahukah saudara-saudara bahwa pada tahun 1994 Kerajaan Saudi telah mendirikan Dewan Syura yang terdiri dari 60 orang dan enam diantaranya pemeluk Syi’ah sesuai dengan jumlah penduduk Syi’ah di negara itu?

Alasan lain yang mengherankan saya, seminar ini diadakan justru tatkala presiden Soeharto baru saja menganjurkan dibina kerukunan beragama, menghindari penjelekan atau penyerangan terhadap mazhab lain.

Kita hidup di negara beradab, bukan di zaman Mu’awiyyah!

Apalagi ini berlangsung pada saat kaum muslimin sedunia sedang menghadapi masalah-masalah pelik seperti kejadian di Bosnia, Chechnya, Azerbaijan, Libanon, Palestina, Afghanistan, Sudan, Irak, Aljazair dan Morro, yang memerlukan bantuan agar perdamaian dapat timbul disana.

Alangkah baiknya bila biaya seminar ini dikeluarkan untuk mebantu anak-anak cacat korban perang Bosnia, Chechnya, Afghanistan, dan kelaparan di Irak. Selama ini yang memperjuangkan mereka malah bintang film Elizabeth Taylor. Kita mestinya malu.

Kita juga sedang sedih menghadapi musibah moneter maupun bencana pengotoran udara, yang membuat kita merasa berdosa kepada negara tetangga.

Kita membutuhkan bantuan pikiran dan tenaga semua warga untuk keprihatinan ini. Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang tidak merasa prihatin dan tidak memikirkan masalah-masalah kaum muslimin maka dia bukanlah dari kaum muslimin”?

Mengapa Menghindari Mujadalah?

Sayang sekali peristiwa itu sendiri lebih merupakan pengadilan in absentia terhadap kaum Syi’i, karena tak seorang pun wakil Syi’ah yang diundang untuk membela diri. Sangat disayangkan, wartawan tidak mewawancarai kaum cerdik pandai seperti Adurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid atau Jalaluddin Rahmat untuk turut menilai pernyataan itu. Mereka bukanlah Syi’i tetapi mereka membaca. Saya yakin, mereka akan membela Syi’ah bila dikufurkan apalagi bila dilarang.

Dalam pernyataannya peserta seminar menganjurkan Kejaksaan Agung RI untuk melarang ajaran Syi’ah yang dianggap sebagai sumber destabilisasi kehidupan berbangsa; menganjurkan Mentri Kehakiman untuk menutup yayasan, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan; agar Kejaksaan Agung bekerjasama dengan MUI dan Balitban Depag RI untuk meneliti buku-buku Syi’ah dan melarang peredarannya; meminta Mentri Penerangan RI agar mewajibkan semua penerbit menyerahkan buku-buku terbitannya untuk disahkan MUI, merupakan pernyataan yang mendirikan bulu roma. Ini belum pernah terjadi di zaman Orde Baru.

Sebenarnya untuk berdialog dengan kaum Syi’ah, kita punya ayat Al-Quran:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Kebiasaan sebagian ulama kita menghindari dialog dan menolak saling mengingatkan antara sesama muslim tidaklah islami. Sayang sekali, ayat ini kurang dipahami sementara etika berdialog masih sangat primitif.

Sebagai contoh, buku Saqifah terbitan YAPI dikupas secara berseri oleh majalah PERSIS lalu penulis buku memberi tanggapan atas hal itu. Anehnya, dari sekian banyak penjelasan penulis tidak satu pun yang dimuat di majalah tersebut. Jelas ini menunjukkan bahwa majalah ini tidak memberikan hak jawab kepada penulis, bertentangan dengan etika jurnalistik dan etika Islam.

Tatkala DDII menyebarkan fatwa-fatwa anti Syi’ah, dan salah satu anggotanya, Prof. Dr. HM Rasyidi, yang saya hormati, menulis buku yang menjelek-jelekan Syi’ah, YAPI mengkritik ‘kebijakan’ dewan tersebut dan mengajaknya berdialog pada tanggal 24 September 1984. Tetapi undangan untuk berdialog tersebut tidak dibalas dan penerbitan anti Syi’ah terus berlanjut.

Pernyataan saudara Hasan Basri diwaktu-waktu yang lalu yang dimuat di koran-koran, menyatakan bahwa Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib tidak mempunyai keturunan dan semua keturunan Husain sudah dibantai di Karbala. Pernyataan ini hampir selalu diutarakan pada hari ulang tahun Al-Irsyad, sama sekali tidak adil dan kurang sopan. Menyerang pribadi-pribadi kaum ‘Alawi sebagai anak haram jadah, na’udzu billah, dan pernyataan diatas sama sekali tidak historis. Toh, beliau tidak pernah mengoreksi kesalahan ini. YAPI mengingatkan bahayanya pernyataan ini karena dapat menghancurkan sejarah Islam.

Bila ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib dianggap tidak ada dalam sejarah, akan fiktif pulalah teman-temannya seperti Az-Zuhri dan Sa’id bin Musayyib. Padahal, kedua tokoh ini merupakan sumber banyak hadits Sunni. YAPI juga pernah menanyakan sumber pernyataannya dan surat itu pun tidak pernah dijawab.

Saya bersyukur, kaum ‘Alawi di Indonesia punya tasamuh yang demikian tinggi, sehingga tidak menuntut mereka ke pengadilan karena penghinaan yang luar biasa ini.

Pengurus YAPI heran, PERSIS dan Al-Irsyad yang memiliki murid-murid yang pintar menentang the right to be let alone (hak untuk tidak diganggu orang lain). Mengapa tidak mentolerir perbedaan, sebaliknya punya kecenderungan untuk menyerang pribadi orang lain, anti HAM dan tidak berani berdialog? Apakah lantaran kedua organisasi Islam ini didirikan oleh seorang India dan Arab yang ‘berdarah panas’ sehingga pengikutnya cenderung menghakimi penganut mazhab lain dan ingin memonopoli kebenaran?

Sebagian ulama punya kebiasan buruk dengan suka menuduh pembela Syi’ah sebagai penganut mazhab Syi’ah. Mereka lalu menyerang pribadi bukan buah pikirannya.

Fatwa Berbahaya

Seminar seperti ini sangat berbahaya karena sebagaimana biasa, fatwa pengkufuran Syi’ah akan disusul dengan fatwa yang menghalalkan darah kaum Syi’i. Dan mengarah pada ethnic cleansing (pembersihan etnis) seperti yang terjadi di zaman Mu’awiyah dan masa-masa sesudahnya.

Saya juga heran tatkala melihat istilah Ahlussunah wal Jama’ah. Apakah PERSIS, yang mengharamkan semua mazhab kecuali mazhabnya, dan Al-Irsyad yang Wahabi itu, juga termasuk Ahlussunah wal Jamaah?

Lalu kaum NU, nahdhiyin, bermazhab apa? Apakah KH. Irfan Zidny MA dan KH. Moh. Dawam Anwar merupakan wakil resmi NU? Kenapa saudara berdua membiarkan definisi Ahlussunah wal Jamaah dimanipulasi orang?

Seharusnya saudara-saudara sudah tahu bahwa kaum Wahabi menolak tawassul, ziarah kubur, qunut, talqin, tahlil dan lain-lain, yang menjadi akidah Ahlussunah wal Jamaah. Tahukah saudara-saudara, kalau tidak ada kaum nahdhiyin yang didukung oleh HOS. Cokroaminoto dan H. Agus Salim, maka kuburan Rasulullah SAWW sudah dibongkar?

Tahukah saudara-saudara bahwa tempat kelahiran Rasulullah SAWW dijadikan kandang unta dan sekarang dijadikan pasar malam? Tahukah saudara-saudara berapa banyak tempat-tempat bersejarah Islam yang dimusnahkan oleh kaum Wahabi?

Tahukah saudara-saudara apa motif pengkafiran terhadap Ustadz Husain Al-Habsyi dari Pesantren YAPI Bangil? Bukankah ini disebabkan karena Ustadz Husain menulis buku Lahirnya Mazhab Yang Mengharamkan Mazhab-mazhab untuk menjawab fatwa Hasan Bandung, pendiri PERSIS, yang mengharamkan taqlid? Kalau tidak dicegah M. Natsir, anggota PERSIS yang saya hormati, akan terjadi perdebatan hebat antara Ustadz Husain yang istiqomah dengan Hasan Bandung yang akan membuahkan hasil yang lebih jelas, yang membela pengikut mazhab Syafi’i dan mazhab Ahlussunah lain yang tentu saja melegakan Ahlussunah wal Jamaah, termasuk kaum nahdhiyin? Tahukah saudara, bahwa tatkala fitanh dijatuhkan pada Ustadz Husain, KH. Abdurrahman Wahid menangis?

Tahukah saudara-saudara bahwa orang-orang seperti saudara-saudaralah yang telah menyebabkan para pengikut keempat mazhab saling mengkafirkan sejak awal mazhab-mazhab itu lahir? Tahukah saudara-saudara bahwa sejarahwan muslim paling terkenal, Thabari, telah dituduh kafir oleh orang-orang seperti saudara-saudara karena dituduh Syi’ah? Dan oleh karena itu beliau terpaksa dikuburkan didalam rumahnya?

Karena saya tidak yakin saudara berdua mewakili NU, maka kata Ahlussunah atau Sunni dalam tulisan ini harus dibaca kaum Khawarij atau kaum Wahabi.

Dan apakah saudara Drs. Nabhan Husein mewakili DDII? Lalu apa pekerjaan DDII sekarang? Apakah saudara beranggapan DDII tidak konsisten lagi pada tugas dakwah yang menjadi tugas pokoknya? Dan saudara memilih untuk berkeliaran membuat fitnah yang mengatasnamakan DDII ini? Dan mendesak DDII agar memerangi sesama muslim, menyebar kebencian justru disaat-saat menjelang sidang MPR?

Bukankah Mentri Agama berkali-kali mengingatkan kita agar membuka diri?

Apakah mingguan Panji Masyarakat ingin menjadikan dirinya alat propaganda kaum Wahabi semata dan menyakiti golongan lain? Apakah saudara-saudara ingin mengaburkan pemikiran orang besar seperti HAMKA, perintis Panji Masyarakat, yang berkata tentang Syi’ah dan Sunnah: “Dalam beberapa ranting yang mengenai kepercayaan, terdapat perbedaan sedikit-sedikit”? (HAMKA, Tafsir Al-Azhar I, Panji Mas, 1983, hal. 161).

kebencian, hate, adalah alat pemersatu. Orang mudah dipersatukan dan dikerahkan untuk menghancurkan apa saja. Sedangkan cinta kasih punya faktor cemburu, dan orang tidak mau mencari teman untuk mencintai.

Maka menyebarkan kebencian jelas bertentangan dengan demokrasi, Pancasila dan UUD ’45.

Saya tidak percaya bahwa Drs. Nabhan Husein mewakili DDII karena saya tahu DDII sekarang dipimpin orang-orang muda yang berpikiran maju.

Saya teringat pengalaman saya dengan seorang tokoh DDII. Sejak tahun 70-an saya bekerja di Puskesmas terpencil di Lampung. Selama itu Muhammad Natsir sering menyurati saya untuk membicarakan beberapa masalah. Saya mencintainya dan dia mencintai saya. Saudara Amien Rais dan Endang Syaifuddin menyurati saya untuk membuat artikel pada hari ulang tahun M. Natsir yang ke 70. Sayang saya terlalu sibuk di klinik masa itu sampai-sampai membaca koran saja rasanya sudah tidak ada waktu.

Saya menghormati pak Natsir dan menyesal tidak dapat menghadiri pemakamannya. Orang boleh berbeda mazhab tetapi tidak boleh memutuskan tali silaturrahmi.

Karena saya tidak yakin Nabhan Husein sebagai wakil resmi DDII maka kata Ahlussunah atau Sunni dalam tulisan ini, sekali lagi, harus dibaca kaum Khawarij atau kaum Wahabi dan saya tidak menganggapnya mewakili DDII apalagi umat Islam, sampai ada bantahan dari DDII.

Meski pun saya dari keluarga besar NU tetapi sejak tahun 1952 saya aktif di Muhammadiyah sampai tahun 70-an karena harus bertugas di Puskesmas.

Terakhir, sebelum ke Puskesmas di Lampung, saya aktif di organisasi Muhammadiyah Jawa Barat dan seringkali menjadi pembawa makalah di seminar-seminar Muhammadiyah. Kadang bersama Ir. Muhammadi, saya tidak tahu dimana beliau sekarang. Prof. Dr. Rudy Syarief serta saudara-saudara lain. Tahun 1952, saya mendirikan dan menjadi direktur SMP Muhammadiyah di Wawonasa, Manado. Saya berdakwah, tetapi tidak pernah memikirkan untuk berkonfrontasi dengan sesama muslim.

Alhamdulillah, Muhammadiyah tidak mengirim wakilnya dalam seminar yang memalukan itu.

Tahun 1961 saya dan teman-teman membentuk YAPI (Yayasan Pendidikan Islam) di Surabaya. Saya mengusulkan, yang didukung Hadi A. Hadi, seorang pejuang dan memiliki beberapa bintang penghargaan, agar mengikutsertakan beberapa teman sebagai pengurus YAPI. Kawan-kawan tersebut antara lain Dr. Muhammad Suherman dan Dr. Masduki Sulaiman dari Muhammadiyah, Sa’ad Nabhan dari Al-Irsyad, Ustadz Husain Al-Habsyi dari Al-Khairiyyah dan beberapa teman lain. Alhamdulillah kami bekerja dengan sangat baik.

Saya juga aktif dalam PERSIS, atas ajakan almarhum H. Isa Anshari dan putra beliau Endang Syaifuddin almarhum, yang sangat saya cintai. Mudah-mudahan Allah merahmati mereka berdua.

Saya heran mengapa PERSIS tidak pernah maju-maju dari dulu sampai sekarang.

Kalau dari sepuluh masalah, kita berbeda dalam tiga poin, mengapa kita tidak berjalan bersama-sama diatas tujuh poin?

Berdakwah harus dilakukan dengan cinta kasih, dengan bijak, bukan dengan berpikir sektarian, mau benar sendiri dan menyebarkan kebencian. Apakah saudara-saudara sedang belajar berdakwah?

Saya pun hendak mengajak bicara saudara-saudara dari Al-Irsyad. Kita semua tahu saudara-saudara memulai pembaharuan dengan taqbil atau cium tangan dan kafa’ah.

Saudara-saudara dianggap pembaharu. Bersyukurlah, dan tidak perlu mengungkit-ungkit riwayat organisasi Al-Irsyad yang ‘berdarah’. Saudara-saudara adalah para pemuda yang sudah maju. Mengapa pula harus mempertahankan organisasi sektarian ini sedang zaman telah berubah, zaman internet, tatkala orang sedang membicarakan kerukunan beragama dan menghindari pikiran-pikiran kepentingan kelompok, tribalism, termasuk keturunan Arab di Indonesia.

Sekarang bukan zamannya lagi berbicara taqbil dan kafa’ah atau membicarakan bahwa keluarga Hasan tidak punya keturunan dan keluarga Husain semuanya sudah dibunuh di Karbala serta hasutan-hasutan yang mendirikan bulu roma.

Indonesia berpenduduk orang-orang toleran. Sudah waktunya saudara-saudara meninggalkan ‘darah Arab yang panas’. Dan meninggalkan kesetiaan ganda seperti kaum Zioni. Mengapa tidak bergabung saja dengan Muhammadiyah, misalnya?

Kalau saudara-saudara menolak cium tangan, betul orang Syi’ah mencium tangan ulama-ulamanya yang saleh dan berilmu, yang mengajak umatnya mendekat pada Allah SWT. Mengenai kafa’ah, apa masalahnya?

Kenapa kaum Syi’ah dianggap melakukan penyimpangan dan perusakan aqidah Ahlussunah? Mengapa Syi’ah dianggap meresahkan masyarakat dan sumber destabilisasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia? Apa yang mereka lakukan?

Bila saudara-saudara menanyai mahasiswa dan para pemikir Islam, mengapa membaca buku-buku Syi’ah, mereka akan mengatakan bahwa kehadiran buku-buku Syi’ah justru membangkitkan gairah mempelajari Islam.

Orang-orang yang anti Syi’ah sekali pun punya kesempatan mempelajari agama lebih dalam untuk ‘menyerang’ Syi’ah secara deskriptif dan tentu saja bukan normatif. Mereka tidak akan meminta pemerintah untuk melarang Syi’ah, suatu sifat buruk dari orang-orang yang tidak mau membaca, amat memprihatinkan.

Dapatkah kita menyodorkan tulisan-tulisan tokoh PERSIS dan Al-Irsyad, misalnya, yang setingkat Ali Syari’ati atau Muthahhari?

Apa yang terjadi, misalnya, jika buku sejenis ‘Haji’ karya Ali Syari’ati ditarik dari peredaran? Yang marah justru tokoh-tokoh Sunni.

Keluarkan Fatwa bahwa Syi’ah itu Kufur

Sebenarnya persoalannya sederhana. Keluarkan dulu fatwa oleh ulama yang mewakili umat Islam bahwa Syi’ah itu kufur atau tersesat. Saya ingin bertanya, dapatkah pengikut seminar atau MUI mengeluarkan fatwa yang mengkufurkan Syi’ah? Keluarkan dulu fatwa dan marilah kita sebarkan fatwa ini ke masyarakat luas.

Tetapi, bagaimana mungkin saudara dapat mengeluarkan fatwa seperti itu? Saudara-saudara tidak memahami Syi’ah, sebagaimana dapat saya simpulkan dari pemberitaan televisi dan koran.

Memahami Syi’ah memang perlu keberanian untuk membaca dan memahami akidah mereka. Sayang saudara-saudara tidak memilikinya. Kalau mengenal Syi’ah saja tidak maka menjelek-jelekkan mazhab lain, jelas tidak islami.

Bukankah ukhuwah islamiyah wajib hukumnya?

Kesulitan terletak pada alasan pengkufuran tersebut. Sudah sejak zaman Rasulullah SAWW sampai para sahabat, sejak kehadiran Syi’ah, belum pernah ada ‘fatwa’ seperti itu.

Pemerintah kita tidak membutuhkan dukungan ulama secara membabi-buta, yang menjerumuskan, melainkan ulama yang intelek, sopan dan mengenal tatakrama serta memberikan peringatan bila menganggap pemimpin berbuat salah, karena Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Dan berilah peringatan. Sungguh peringatan itu memberi manfaat kepada orang beriman.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 55)

Kita harus menolak pikiran orang asing seperti Robert Lacey, penulis The Kingdom (Fontana, 1982) yang melukiskan bahwa perbedaan Sunnah dan Syi’ah, adalah bahwa Sunnah lahir dari kalangan penguasa, dari ulama yang mendukung dan membuat fatwa untuk legitimasi kekuasaan.

Dan kita juga harus menolak anggapan tokoh Islam seperti Fazlur Rahman bahwa kebanyakan ulama Sunni jadi pendukung setiap pemimpin. Fazlur Rahman mengatakan dalam bukunya Membuka Pintu Ijtihad: “Orang-orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin negara.” (terjemahan Anas Mahyuddin, Pustaka, Bandung, 1984, hal. 137).

Bukankah fatwa ulama Kuffah atas bayaran gubernur Mughirah bin Syu’bah, yang juga sorang sahabat, untuk membenarkan pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah sebagai ‘khalifah’? Lupakah betapa dahsyat akibat fatwa tersebut?

Apakah yang dilakukan Yazid pada tahun 61 H. di Karbala? Ia membunuh Husain dengan 72 anggota keluarga dan sahabatnya, memenggal kepala, menginjak-injaknya dengan kaki-kaki kuda serta mengaraknya dari kota ke kota?

Atau penggerayangan kota Madinah pada tahun 63 H? Para sejarahwan mengatakan sekitar 20.000 orang dibunuh, termasuk masing-masing 700 orang Muhajirin dan Anshar. Dan tatkala ia (Yazid) memerintahkan pasukannya agar memperkosa para wanita dan menghamili sekitar 1000 gadis sehingga untuk menjawab pinangan wanita Madinah, orang tua anak-anak gadis itu mengatakan bahwa mereka tidak menjamin bahwa anak gadis mereka masih perawan?

Ia juga menghancurkan Ka’bah dengan ketapel. Sekali lagi, baca dan bacalah! Sebagai ulama, saudara-saudara tidak boleh malas.

Tapi tidak mengherankan kalau kaum Wahabi menulis buku ‘Yazid Amiru’l-Mu’minin’ atau ‘Pemimpin Kaum Mukminin’, dan mengharuskan para siswa membacanya!

Apakah Kerajaan Saudi Kufur? Jangan saudara-saudara mengira bahwa negara sahabat kita Saudi Arabia sebagai negara orang kafir karena membiarkan sekitar 200.000 orang Syi’ah yang saudara anggap kafir, memasuki Ka’bah untuk berhaji atau membiarkan orang Syi’ah hidup dinegaranya.

Dan jumlah orang Syi’ah di Saudi bukan satu dua orang, tapi paling sedikit terdiri dari 6% penduduknya. Bukankah Rasulullah SAWW dalam wasiat terakhirnya, seperti dimuat dalam hadits-hadits shahih, tidak membolehkan orang kafir berada di Jazirah Arab?

Tahun 1994, pemerintah Kerajaan Saudi menyusun Dewan Syura, yang terdiri dari 60 anggota, termasuk 6 orang dari wakil Syi’ah.

Pendapat H. Abubakar Aceh dan H. Abdullah bin Nuh

Selain pendapat HAMKA yang telah disebutkan, H. Abubakar Aceh dalam bukunya “Syi’ah, Rasionalisme Dalam Islam” membenarkan pendapat banyak ulama bahwa mazhab Syafi’i yang kita anut lebih dekat kepada mazhab Syi’ah daripada mazhab Hanafi. (Kata Pendahuluan, Cetakan II, Ramadhani, Semarang).

Demikian pula pendapat H. Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang banyak mempelajarai Syi’ah. Penulis buku “Al-Islam fi Indonesia” itu bukan saja sangat menghormati mazhab Syi’ah, tetapi malah berpendapat bahwa penyebar Islam di Indonesia, kebanyakan adalah orang Syi’ah dan banyak orang Iran tinggal di kota-kota di Indonesia. Beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang mengenal Syi’ah. Mudah-mudahan Allah SWT merahmatinya.

Setahu saya, pembela Syi’ah belum tentu menganut paham Syi’ah. Mereka membela karena banyak membaca sejarah, punya rasa keadilan serta tidak menyetujui pengkafiran lebih dari 200 juta kaum Syi’ah secara serampangan.

Anak-anak muda justru membaca buku untuk mengetahui apakah benar fatwa MUI atau fatwa-fatwa seperti ini? Jangan menganggap mahasiswa atau anak muda kita bodoh! Fatwa serupa inilah justru yang mendorong mahasiswa dan pemuda kita mempelajari sejarah dan melebihi literatur saudara-saudara.

Rukun Islam dan Rukun Iman Syi’ah

Kaum Syi’ah mempunyai rukun Islam seperti kaum Sunnah, membaca syahadat bahwa Allah itu Esa, ahad, tidak ada tuhan selain Dia, dan Muhammad SAWW adalah Rasul terakhir. Mereka juga mendirikan shalat menghadap ke Baitullah lima kali sehari, mengeluarkan zakat, puasa wajib di bulan Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.

Juga mereka mempunyai rukun Iman seperti kita. Mereka percaya pada Allah yang esa, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah untuk nabi-nabiNya yang mulia, percaya akan Rasul-rasulNya, hari kemudian, dan takdir Allah.

Sikap Terhadap Sahabat

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213.

Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengapa merekaharus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!

Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.

Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!

Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.

Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi!

Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.

Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Imam Ma’shum

Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudar-saudara menganut paham dosa warisan atau ‘original sin’?

Apalagi Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Yang dimaksud Al-Qur’an adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah 1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.

Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘saifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.”, kata Abu Bakar.

Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.

Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian.

Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala.

Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunah’ atau contoh para sahabat sebelumnya.

Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari.

Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!

Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.”

Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayat-ayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.

1 Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga.

Mazhab Ja’fari, Mazhab Resmi Iran

Mengapa saudara-saudara keberatan bila pemerintah Iran menetapkan Ja’fari sebagai mazhab resmi bangsanya? (Lihat pandangan kritis No. 6). Mengapa mencampuri urusan negara lain? Orang Iran sendiri tidak pernah keberatan Pancasila dijadikan dasar negara yang kita cintai ini.

Apakah saudara-saudara ingin agar Iran, yang mayoritas rakyatnya bermazhab Syi’ah, mengganti mazhab resminya dengan mazhab Wahabi? Saudara-saudara boleh mengusulkan kepada pemerintah Iran agar mengganti mazhab mresminya ke mazhab Wahabi atau ‘PERSIS’ atau mazhab ‘Al-Irsyad’. Saya yakin mereka tidak akan marah.

Kalau saudara-saudara bermazhab Syafi’i, beranikah saudara-saudara mengusulkan agar mazhab kerajaan Saudi Arabia yang Wahabi diganti dengan mazhab Syafi’i agar mereka masuk Ahlussunah wa’l Jamaah?

Melaknat Sahabat

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun. Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan. Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.

Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifa Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus. Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’. Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus.

Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al-Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat.

Beranikah saudara-saudara peserta seminar menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat?

Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Taqiyyah

Mengenai taqiyyah. Menjalankan taqiyyah adalah suatu permissibility, suatu kebolehan dalam Islam, berdasarkan nash. Seorang muslim yang lemah dan tertindas boleh menyangkal keimanannya bila nyawanya terancam seperti yang dialami oleh Ammar bin Yasir.

Thabathaba’i, misalnya membolehkan seseorang menyangkal keimanannya dalam keadaan terpaksa, untuk menyelamatkan nyawanya, kehormatan perempuan, atau hartanya yang bia dirampas, ia tidak dapat memberi nafkah kepada anak-istrinya. (Bacalah Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Syi’a, Qum, 1981).

Disamping kasus Ammar bin Yasir, juga ada seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya (lihat Al-Quran, Surat Al-Mukmin, ayat 28).

Barangkali para anggota seminar punya rumusan lebih baik dari ini. Kalau menyumbangkan pikiran saja tidak, bagaimana para anggota seminar berani mengatakan bahwa anggota Syi’ah sukar ditemukan karena bertaqiyyah dan karena mereka masih lemah?

Tetapi mengapa menyuruh menutup Yayasan Muthahhari (Bandung), Yayasan Al-Muntazhar (Jakarta), Yayasan Al-Jawad (Bandung), Yayasan Mulla Sadra (Bogor), Pesantren YAPI (Bangil), Yayasan Al-Muhibbin (Probolinggo) dan Yayasan pesantren Al-Hadi (Pekalongan)? Bukankah peserta seminar mengenal pimpinan yayasan-yayasan tersebut sebagai Syi’ah? Kenapa tidak mengajak mereka bermujadalah seperti yang dianjurkan Al-Quran?

Ini bertentangan dengan pernyataan seminar sendiri bahwa orang Syi’ah bertaqiyyah karena masih ‘lemah’ sehingga sukar ditemui. Saya tidak faham dengan ulama jenis ini.

Saya mengusulkan agar saudara-saudara mengundang pejabat-pejabat dan anggota ABRI yang kemarin saudara-saudara undang dan siapa saja. Hadir ‘pesakitan’ dihadapan saudara-saudara. Saudara-saudara akan mendapatkan perlawanan yang hebat dan tidak main-main karena ulama-ulama muda ini bukanlah ulama ‘karbitan’ dan bukan juga ulama mainan.

Ini baru tontonan menarik, saudara-saudara akan menyaksikan dialog bukan monolog.

Undanglah mereka, kalau tidak tahu alamat mereka, sampaikanlah undangan itu pada penulis.

Al-Quran Syi’ah Lain Dari Al-Quran Sunni ?

Al-Quran kaum Syi’i dan sunni sama dan itu-itu juga. Silahkan para anggota seminar memasuki masjid-masjid dan rumah-rumah kaum Syi’i di Saudi Arabia, Libanon, Iran, Irak, Bahrain atau pun Azerbaijan dan dimana saja orang Syi’ah itu berada. Saudara-saudara tidak akan menemukan Al-Quran yang lain.

Jangan berkata sesuatu by hearsay. Alangkah mudah saudara-saudara menyurati kantor-kantor keduataan kita di negeri-negeri tersebut dan memohon mereka untuk membelikan untuk saudara sebuah Al-Quran. Lihatlah isinya, adakah perbedaan dengan Al-Quran di rumah saudara?

Orang-orang Syi’ah telah membantah tuduhan-tuduhan yang tidak berguna ini. Saudara Nurcholis Madjid, seingat saya, pernah membantah saudara-saudara dalam suatu seminar beberapa tahun lalu, seperti dimuat di beberapa koran ibukota. Beliau meunjukkan ‘Al-Quran Syi’ah’ dan mengatakan bahwa kalau pun ada perbedaan, maka perbedaan itu hanyalah karena ‘Al-Quran Syi’ah’ rata-rata lebih indah dari Al-Quran kita. Ini karena orang-orang Syi’ah berpendapat bahwa Kitabullah haruslah dicetak lebih indah dari semua buku lain.

Jangan membicarakan Syi’i yang fanatik, kaum ghulat, karena pengecualian tidak dapat mewakili golongan terbanyak. Annadir la yu’tabar. Saya anjurkan saudara-saudara para ulama untuk membaca buku-buku mengenai Tahrif Al-Quran yang banyak jumlahnya.

Orang Syi’ah menganggap bahwa siapa saja yang meyakini Al-Quran kita telah berubah, maka ia telah meragukan kekuasaan Allah SWT dan tidak akan mendapat perlindungan dari-Nya karena Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Mengenai Imam Khumaini (Imam Khomeini), dikatakan bahwa mengakui adanya tahrif atau perubahan dalam Al-Quran dalam bukunya Hukumah Islamiyah, seorang teman telah menyediakan uang Rp. 100,000,000.00,- (seratus juta rupiah) bila saudara-saudara dapat menunjukkan adanya pernyataan tahrif Al-Quran dalam buku tersebut!

Saudara Profesor KH. Irfan Zidny MA sebenarnya tidak hendak mencoba mematikan harga diri lawan berdebat anda dengan menonjolkan serba gelar yang anda miliki atau umur anda yang tua, atau mengejek lawan bicara anda karena tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris atau mengecilkan tokoh yangt dihormati lawan bicara anda.

Saya bukan tidak percaya bahwa anda adalah ‘teman kuliah’ Imam Khomeini atau anda lebih pandai dari gurunya Imam Khomeini, dan mungkin anda telah bergelar Ayatullah, tetapi setahu saya Sayyid Khomeini tidak belajar di Irak, tetapi mengajar. Mungkin saja Anda lebih ‘besar’ dari gurunya Imam Khomeini tetapi jangan anda yang mengatakannya. Biarlah orang lain yang menilai. Karena argumentasi seperti ini disebut argumentasi negatif.

Orang tidak perlu belajar di Irak belasan tahun untuk disebut ulama yang pandai dan mukhlis. Orang menilai mutu pembicaraan anda dan bukan riwayat hidup anda yang ingin membungkam lawan bicara anda.

Hanya Allah SWT yang tahu iman dan akal kita selengkapnya. Anda harus ingat bahwa tidak semua teman BJ. Habibie menjadi seperti BJ. Habibie. Mungkin anda jadi murid Imam Khu’i di Irak, dan mungkin juga Imam Khomeini jadi murid Imam Khu’i bersama anda. Tapi anda harus ingat tidak semua teman BJ. Habibie menjadi seperti BJ. Habibie. Semua orang yang saya tanyai mengenai anda, tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi saya menangis, seperti anda ‘menangisi’ Syi’ah.

Karena saya peminat sejarah, mohon Anda sebutkan seorang nara sumber di Irak yang dapat membenarkan pernyataan anda bahwa anda telah belasan tahun seperguruan dengan Imam Khomeini, berapa umur anda dan berapa umur Imam Khomeini pada masa itu, kapan dan dimana anda belajar bersamanya. Saya ingin menyuratinya. Dan untuk itu saya ucapkan terima kasih.

Saya sebenarnya berpikir bahwa anda seharusnya jadi Mufti seluruh umat karena ‘ilmu’ dan ‘istiqomah’ anda.

Apakah NU tidak mengenal anda ?

Tapi biarpun demikian, saya yakin dengan melihat lamanya pendidikan dan keteguhan pendirian anda, anda tentu telah menghasilkan banyak karya bermutu atau menjadi ‘da’i besar’. Dan anda akan menjadi tempat rujukan tanpa harus membaca (buku-buku karya) Ali Syariati, HAMKA, Abu Bakar Aceh, Maududi, Sayyid Quttub, Sayyid Sabiq, Rasyid Ridha, Hassan Al-Banna, Muthahhari, Khomeini, Thabthaba’i atau Ali Khameini.

Mengapa anda sudah merasa cukup berteman dengan Thohir AlKaff dari Al-Bayyinat Nyamplungan Surabaya? Saya berteman dengan banyak orang panda dan mukhlis di Nyamplungan. Mengapa harus ‘diracuni’ oleh orang jenis Thohir Alkaff ini?

Kawin Mut’ah

Anda (Irfan Zidny) juga tidak mesti menangisi kawin mut’ah, tapi tangisilah salah satu sahabat besar Rasulullah SAWW, Zubair bin Awwam, seorang sahabat yang terkenal keberaniannya, suami Asma’ binti Abu Bakar, khalifah pertama. Perkawinan mereka dilakukan melalui kawin mut’ah yang melahirkan Abdullah dan urwah bin Zubair. Juga banyak sahabat yang lain, sebagaimana tercatat dalam buku-buku tarikh Sunni kita. Mengapa anda tidak sekaligus mengkritik Rasulullah karena ‘mengizinkan’ perkawinan mut’ah tersebut dan mengapa Rasulullah SAWW tidak menangisinya?1

Mengenai kawin mut’ah, Umar melarangnya, tetapi ayat Al-Quran tidak dapat dibuang. Islam tidak mengajarkan kita untuk mengawini tiap wanita yang kita temui di jalan, kawin biasa, kawin sirri atau kawin mut’ah.

Pernahkah saudara menyaksikan kawin mut’ah di Iran? Tanyailah Amien Rais atau Lukman Harun yang pernah berkunjung ke Iran. Atau Smith Alhadar, seorang pengamat Timur Tengah terkenal yang pernah mengelilingi Timur Tengah, seorang Sunni dari dulu sampai sekarang, yang pernah tinggal di Saudi Arabia maupun di Iran selama bertahun-tahun.

Apakah saudara-saudara telah menyelidiki berapa banyak kaum Wahabi dari Timur Tengah yang kawin disini untuk satu bulan samapai tiga tahun? Sudahkah saudara-saudara memeriksa surat nikah mereka?

Seorang kawan menceritakan kepada saya bahwa ia diberi uang Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) oleh seorang Timur Tengah agar dikawinkan mut’ah ala Wahabi. DIa mencari seorang pelacur dan ‘menasihatinya’ agar tidak menceritakan profesinya kepada suaminya. Setelah beberapa bulan, dia tinggalkan pelacur tersebut. Ia datang kembali dan orang itu menyuguhkan pelacur lain untuk dikawin-kontrakkan kepadanya selama tiga bulan.

Tahukah saudara-saudara berapa banyak TKI kita yang diperkosa disana ?

Tanpa ditanya, seorang teman yang telah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Kerajaan Saudi Arabia mengatakan kepada saya bahwa bila para lelaki bisa hamil, maka jumlah kehamilan diluar nikah akan berlipat ganda.

Apakah saudara-saudara punya statistik berapa banyak ulama yang punya istri lebih dari sepuluh dan berapa banyak yang kawin sirri di Indonesia? berapa banyak yang kawin antar agama dan membagi anak-anak dalam dua bagian, sebagian mengikuti agama bapak sebagian mengikuti ibu? Apakah saudara-saudara juga punya statistik serupa dikalangan Syi’ah? Metode berpikir komparatif sangat dibutuhkan dalam berbagai cabang ilmu, seperti ilmu kedokteran, ilmu perbandingan agama atau ilmu perbandingan mazhab.

Saudara-saudara menyatakan bahwa kawin mut’ah haram. Padahal ini jelas dilakukan di zaman Rasulullah SAWW, zaman Abu Bakar dan sebagian di zaman Umar. Kalu tidak setuju, kita bahas nanti dibagian lain. Tapi mampukah saudara mengatakan bahwa pelacuran dan lokalisasi pelacuran itu haram dalam Islam? Punyakah saudara-saudara statistik jumlah bayi, yang ayahnya entah berada dimana, yang dibungkus plastik dan dibuang ke selokan-selokan serta tempat-tempat sampah dan yang digugurkan di klinik-klinik yang resmi atau pun tidak, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi ?

Mampukah saudar-saudara mengeluarkan fatwa bahwa melacur itu haram dan dengan demikian melokalisasinya juga haram? Dan tahukah saudara-saudara bahwa pelacur-pelacur makin hari makin bertambah? Jangan-jangan saudara takut membuat fatwa yang mengharamkan pelacuran dan menutup lokalisasi tersebut?

Pelacuran tidak akan ada bila tidak ada sekelompok laki-laki ‘pencari seks’ yang hendak memenuhi naluri seks mereka.

Ataukah saudara-saudara takut jangan-jangan para ‘pencari seks’ memasuki jendela-jendela kita dan meperkosa istri dan anak-anak kita, sehingga saudara-saudara meras perlu menghalalkan lokalisasi tersebut? Bukankah berdiam diri dalam masalah ini sama dengan menghalalkan pelacuran, perzinaham dan lokalisasi ?

Say akhawatir saudara-saudara mengharamkannya karena mereka yang menjalankan mut’ah berhujjah dengan nash yang tidak terbantahkan. Sebaliknya menghalalkan pelacuran karena sudah jelas haramnya, meski pun beresiko anak yang lahir kelak tak akan pernah mengetahui bapaknya. Dan pelacuran juga menyulitkan untuk menjajaki, tracing, sumber penyakit kelamin. Kawin mut’ah ada masa iddah-nya, dan suaminya dikenal, sehingga sulit menyebarkan penyakit kelamin. Kalau pun ada, mudah dijajaki. Bukankah penyakit kelamin atau AIDS, terjadi karena menganti-ganti pasangan ?

Silahkan saudara-saudara mencukur jenggot dan kumis dan tinggal di tempat-tempat kost sekitar kampus lalu saksikan dengan mata kepala sendiri sexual behaviour, tingkah laku seks putra-putri saudara. Mungkin saudara-saudar akan pingsan waktu menyaksikan apa yang dilakukan oleh putra saudara-saudara yang tiap hari pulang ke rumah bak pangeran dan perjaka, serta putri bak perawan suci yang baru turun dari kahyangan. Mampukah kita mengucapkan istighfar dan membenarkan perzinahan sementara mengkambinghitamkan kawin mut’ah ?

Punyakah saudara-saudara statistik berapa banyak putra-putri kita yang berzinah, yang melakukan kawin sirri, atau kawin sembunyi-sembunyi ala Sunni atau kawin mut’ah ala Sunni? Sebagian besar mungkin akan menjawab bahwa mereka membaca artikel ‘Mut’ah, Sebuah Perkawinan Alternatif’ dalam sebuah koran ibu kota yang ditulis seorang tokoh Sunni.

Jangan sekali-kali berprasangka buruk, bahwa pemuda-pemuda kita adalah bodoh, lalu kawin mut’ah hanya karena dipengaruhi oleh orang Syi’ah.

Tahukah saudara-saudara berapa banyak tokoh dan pemuda Sunni kita yang kawin mut’ah ? Darimana mereka mendapat ‘fatwa’ bahwa mut’ah itu halal ?

Jangan menuduh Syi’ah sebagai scape goat, pemikul beban, sebagai ‘kucing hitam’, padahal Sunni sendiri yang mengeluarkan ‘fatwa’ dan kaum Sunni yang melakukan kawin mut’ah menurut versi Sunni sendiri sesuai dengan pandangan kritis pada nomor 11 hasil keputusan seminar.

Justru yang harus menjaga anak-anak gadisnya adalah kaum Syi’ah, bukan Sunni! Berbalikan dengan rekomendasi seminar nomor 7.

[1] Bacalah perdebatan antara Abdullah bin Abbas dan Ibnu Zubair: Ibn Abi’l-Hadid. Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 20, hal, 129-131.

Adzan Syi’ah Berbeda dengan Adzan Sunnah

Saudara-saudara tidak lengkap membicarakan lafal adzan dan iqamah. Saudara-saudara ‘lupa’ menyampaikan lafal adzan dan iqamah sesungguhnya. Yang pasti di zaman Rasulullah SAWW berbunyi sebagai berikut:

Lafal Adzan

Allaahu akbar

(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 4x)

Asyhadu an-laa ilaaha illa’llaah

Asyhadu anna Muhammadar’ Rasuulullaah

Hayya ‘ala Shalaah

Hayya ala’l falaah

(Semua kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 2x)

Hayya ‘ala khairi’l amaal

(Kalimat diatas hanya dalam mazhab Syi’ah, diucapkan 2x)

Allaahu akbar,Allaahu akbar

Laa ilaaha illa’llaah

(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan masing-masing 2x)

Ash-shalaatu khairun min an-naum

(Kalimat yang diucapkan dalam shalat shubuh diatas hanya dalam mazhab Sunnah, diucapkan 2x)

Dalam al-iqamah, semua kalimat diatas diucapkan sekali kecuali Allaahu akbar diucapkan dua kali.

Apakah saudara-saudara sudah mempelajari hadits-hadits dan sejarah adzan ini ?

Memang Syi’ah, sesudah membaca “Hayya ‘alaa’l falaah” (Marilah kita mencapai kemenangan) membaca “Hayya ‘alaa khairil ‘amaal” (Marilah membuat amal shalih).

Apakah kalimat Hayya ‘alaa khairil ‘amaal itu buatan Syi’ah?

Kalimat ini dilafalkan dimasa Rasulullah SAWW. Bacalah tulisan ulama Sunni seperti Baihaqi dalam Sunan jilid I, hal, 524, 525; Sirah Halabiyah jilid II, hal. 105; Maqaati’l Ath-Thalibin, hal 297; Adz-Dzahabi dalam Mizaan al-I’tidaal jilid I, hal. 139; Lisaan’l-Mizaan jilid I, hal. 268 dan banyak lagi yang lainnya. Juga terdapat dalam hadits-hadits orang Syi’ah.

Umar bin Khattab tuk lebih ‘memacu semangat’ jihad karena kalimat ini dianggap akan melemahkan semangat jihad tersebut. Umar berkata, “Ada tiga hal yang dijalankan di zaman Rasulullah SAWW dan aku melarangnya dan aku akan menghukum mereka yang melaksanakannya; kawin mut’ah, haji mut’ah, dan Hayya ‘ala khairi’l amaal.”

Kaum Syi’ah tatkala mengucapkan kalimat syahadat sering menambahkan “Asyhadu anna ‘Aliyyan waliiyullaah” Hal ini disebabkan pidato Rasulullah SAWW di Ghadir Khum, sesudah Haji Perpisahan, sekitar 80 hari sebelum beliau wafat. Bukan hadits lemah dikalangan Sunni, yaitu tatkala Rasulullah SAWW bersabda:

“Man kuntu maulaahu fa ‘Aliyyun maulaahu. Allaahumma waali man walaahu wa ‘aadi man ‘aadaahu”
(Barang siapa menganggap aku sebagai walinya, maka ‘Ali juga adalah walinya. Allaahumma, ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya).

Dan semua sahabat memberi selamat, termasuk Umar bin Khattab. Para sejarawan mencatat kata-kata yang diucapkan Umar:

“Bakhin, bakhin, laka, ya aba’l hasan, anta maulaaya, wa maulaa kullu mu’minin wa mu’minatin.”
(Selamat ayah Hasan, engkau adalah waliku dan wali kaum mu’minin dan mu’minat).

Dan ada pula dengan lafal “Thuuba laka” atau “hanii’an laka” yang punya arti serupa dan diriwayatkan oleh sekitar 110 sahabat.

Dan tatkala turun ayat:

“Innallaaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘ala’n-Nabii, yaa ayyuha’l ladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimu tasliiman”, yang artinya “Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi, Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah atasnya, dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormat salam!” (QS. Al-Ahzab: 56).

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAWW tentang cara bershalawat kepada Nabi, Rasulullah SAWW menjawab “Ucapkanlah ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘aali Muhammad’, (Ya Allah, shalawatilah Muhammad dan keluarga Muhammad)”

Karena itulah maka para ulama seperti Imam Syafi’i mengatakan tatkala dituduh rafidhah (yang berarti melakukan desersi dari kedua syaikh, Abu Bakar dan Umar atau yang lebih mengutamakan ‘Ali daripada kedua syaikh tersebut), menjawab, “Bila mencintai Ahlu’l Bait aku dituduh rafidhah, orang dulu punya peribahasa, tunjukkan kepadaku seorang rafidhah yang kecil, akan aku tunjuk kepadamu seorang Syi’ah yang besar!. Kalau aku dituduh demikian maka saksikanlah oleh seluruh jin dan manusia bahwa aku memang seorang rafidhi! Sebab shalatku tidak sah bila aku tidak bershalawat kepada Ahlul’l Bait!”

Tapi orang Syi’ah mengetahui betul bahwa kalimat Asyhadu anna ‘Aliyyan waliiyullaah bukan merupakan bagian integral dari adzan dan iqamah. Kalimat ini hanya merupakan kebolehan, optional, seperti kalimat Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘aali Muhammad.

Kalimat Ash-shalaatu khairun min an-naum (Shalat lebih baik daripada tidur) adalah tambahan dari Umar bin Khattab. Sekali lagi, baca!

Syi’ah Adalah Pengkhianat, pelaku Kejahatan dan Teroris

Dalam pandangan kritis nomor 12 disebutkan bahwa “Sepanjang sejarah, kaum Syi’ah terbukti sebagai para pelaku kejahatan dan pengkhianat serta teroris.”

Jika kaum Syi’ah bertempur melawan Israel di Libanon Selatan, saudara-saudara anggap sebagai teroris, perlu saya ingatkan bahwa kaum Syi’ah yang berjuang disana memang melakukannya. Mereka berpendapat bahwa setiap orang sipil yang melarikan diri dari medan pertempuran akan tetap memiliki hak atas tanah dan harta yang mereka tinggalkan sesuai dengan hukum mana pun juga.

Para pengungsi tersebut dalam Al-Quran disebut sebagai mustadh’afin, orang yang dilemahkan dan harus dibantu, harus direpatriasi, dikembalikan ke kampung halamannya. Kalau kaum Syi’ah yang membantu rakyat Palestina ini saudara-saudara maksudkan sebagai teroris, maka mereka memang teroris.

Jika kaum Syi’ah dari Iran yang berjuang di Bosnia untuk menahan pembunuhan berdarah dingin terhadap ratusan ribu kaum muslimin dan pemerkosaan terhadap 30.000 kaum ibu dan anak-anak gadis muslim disebut teroris, maka mereka memang teroris. Hal ini disebabkan kaum Syi’ah sangat anti-perlakuan keji. Mereka sangat pro-keadilan yang menjadi salah satu rukun mazhab mereka. Kaum Serbia, yang membunuh orang-orang Bosnia itu, bukan karena orang Bosnia bersalah, melainkan mereka membunuh saudara kita di Bosnia hanya karena mereka beragama Islam! Bila kaum Syi’ah ini saudara-saudara sebut teroris, maka mereka memang teroris.

Di Nagorno-Karabakh kaum Syi’ah datang membantu rakyat Azerbaijan dalam mempertahankan diri dari serangan tentara Armenia dan tentara Rusia yang memakai tanda salib dipunggungnya. Dan Amerika Serikat (AS) membantu Armenia dengan melakukan ermbargo senjata bagi kaum Azerbaijan karena pengaruh kaum diaspora Armenia di AS yang berjumlah satu juta orang. AS juga mengatakan bahwa Armenia adalah Israel di Asia Tengah untuk menghadapi kaum muslimin. Sementara Turki yang sesuku, seagama dan sebahasa dengan Azerbaijan tidak berani membantu, karena takut ditolak menajdi anggota masyarakat Eropa !

Kalau ini yang saudara-saudara maksudkan dengan teroris, mereka memang teroris! Mengenai peranan kaum Syi’ah membantu sesama muslim yang tertindas diseluruh dunia, bacalah Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Simon & Schuster, New York, 1996!

Lalu, bagaimana dengan pembunuhan-pembunuhan terhadap kaum Syi’ah, penganiayaan, pemotongan-pemotongan lidah dan tangan mereka, peracunan terhadap Imam Hasan dan pemotongan leher cucu Rasulullah SAWW, Imam Husain, yang oleh Rasulullah SAWW disebut sebagai anak-anaknya. Atau mereka yang mengarak kepala mereka sebagai bahan tontonan, menyembelih bayi-bayi, menawan wanita-wanita mereka sebagai budak, memasukkan tubuh-tubuh mereka kedalam beton tiang-tiang masjid ?

Jika semua perbuatan ini saudara-saudara katakan bukan kejahatan tapi hanya ‘permainan anak-anak’ dan dapat pahala karena hasil ijtihad, atau menganggap bahwa mereka yang melakukannya adalah orang-orang Syi’ah sendiri, tentu saudara-saudara sudah gila! Bacalah Maqaatil Ath-Thalibin tulisan Abu’l Faraj Al-Ishfahani, ahli sejarah kenamaan, anak cucu Bani ‘Umayyah sendiri, penulis buku Al-Aghani (Nyanyian-nyanyian) yang terkenal dan terdiri dari 20 jilid itu !

Sekiranya saudara-saudara mendapat berita ini dari sumber luar bahwa kaum Syi’ah adalah teroris, maka saya pikir saudara-saudara perlu mempelajari lagi istilah teroris dan HAM !

Salah satu bencana yang dihapadi oleh umat manusia adalah karena umat manusia terbiasa berpikir sektarian. Jika ada pembunuhan dan pemerkosaan, seperti di Bosnia, dan kaum muslimin yang jadi korbannya, maka yang ‘berteriak-teriak’ adalah kaum muslimin. Sebaliknya bila yang menjadi korban adalah orang kristen, yang ribut adalah orang kristen. Jika kaum muslimin diusir dari rumah-rumahnya dan jadi pengungsi, maka yang ribut adalah kaum muslimin. Andaikata orang kristen yang mengalami hal serupa, maka yang ribut adalah orang kristen.

Padahal, sejujurnya tidak ada agama yang membenarkan pembunuhan berdarah dingin atau pemerkosaan, misalnya. Nilai-nilai agama bersifat universal dan abadi. Semua mestinya ‘berteriak’ bila ada pembunuhan tanpa pengadilan, pemerkosaan, ketidakadilan, tidak peduli siapa pun pelakunya dan apa pun agamanya, siapa pun korbannya dan apa pun agamanya. Agama menganjurkan kita untuk membantu orang miskin dan tertindas, siapa pun dia dan apa pun agamanya. Kita diharuskan mendahulukan tetangga dan keluarga dekat, tetapi kita seharusnya memikirkan orang lain juga. Atau paling sedikit, tidak melukai atau menyakiti hati orang lain, bagi anda tentu terasa berat.

Memang HAM sering diartikan sebagai hak asasi seseorang dan jarang menggambarkannya sebagai hak asasi sekelompok orang, seperti orang-orang Palestina, Bosnia, Azerbaijan, Chechnya, Indian, dan Aborigin.

Teroris sering digambarkan sebagai tindakan pribadi-pribadi yang tidak berdaya yang meledakkan dirinya ditengah-tengah kaum mustakbirin dan bukan pemboman-pemboman serta embargo-embargo yang dilakukan oleh negara kuat terhadap kaum tertindas dan rakyat sipil, seperti yang dilakukan terhadap Libanon, Iran, Libya, dan Irak.

Jika saudara-saudara berpendapat bahwa definisi HAM dan teroris harus ditentukan oleh negara-negara asing dan sekutu-sekutunya maka saudara-saudara keliru !

Sejarah menunjukkan bahwa sering terjadi kerjasama antara pemimpin Islam dan luar Islam, atas permintaan raja-raja Islam dalam memerangi sesama muslim. Hal ini, misalnya, terjadi di Spanyol, seperti peristiwa Elcid atau kerjasama antara Harun Al-Rasyid dengan Karel Agung dari Perancis dalam memerangi khalifah Abdurrahman si Rajawali Spanyol atau apa yang terjadi dalam Perang Teluk.

Apakah saudara-saudara juga akan mengkambinghitamkan Syi’ah dan menganggap mereka sebagai teroris, pengkhianat dan penjahat? Apakah saudara-saudara sudah gila?

Definisi HAM atau teroris oleh AS harus saudara pikirkan matang-matang karena AS sendiri memiliki standard ganda dan oleh karena itu mereka tidak konsisten. Saudara-saudara perlu melihat, misalnya, standard ganda AS sperti yang dikritik oleh sarjana-sarjan AS sendiri.

Pada masa Agresi II Belanda, AS tetap konsisten dengan perjuangan anti-kolonialisme, tetapi pada saat yang sama mensuplai senjata-senjata untuk Belanda agar digunakan untuk meyerang Republik Indonesia dan berakibat dengan agresi kedua ini. Pelabuhan-pelabuhan ditutup sehingga rakyat menderita yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Usul yang tidak habis-habisnya oleh berbagai negara, agar Belanda menarik diri dari pendudukan barunya, di-veto AS.

AS menentang proliferasi nuklir di Iran dan Irak tetapi menolak melakukan hal yang sama untuk Israel. AS mengkritik pelanggaran HAM di Asia Timur, termasuk Indonesia, tetapi tidak di Israel dan Saudi Arabia. Janganlah mengambil ‘sunnah’ dari AS dan boneka-bonekanya yang ingin memonopoli kebenaran, sementara Sunnah Rasulullah SAWW ditinggalkan. Pikirkanlah lebih dalam dan berhentilah membuat fitnah. Pikiran-pikiran fascist seperti ini, tidak akan didukung oleh pemimpin yang waras, termasuk AS!

Syi’ah Pengkhianat

Anda menuduh Syi’ah pengkhianat. Setahu saya kaum Syi’ah tidak mempunyai kesetiaan ganda. Adakah saudara-saudara mendengar bahwa kaum Syi’ah Irak, misalnya, mengkhiatanai negaranya waktu berperang dengan Iran? Padahal Iran jelas menyatakan diri sebagai negara Islam dan mazhab resminya adalah Itsna Asyariyah, semazhab dengan Syi’ah Irak?

Pernahkah kaum Syi’ah Azerbaijan mengkhianati negaranya dan ingin bergabung dengan Iran? Memang di Libanon ada kaum Hisbullah yang Syi’ah dan membela kaum pengungsi Palestina. Hal ini haruslah dipahami, karena tiap serangan Israel yang ditujukan kepada pengungsi Palestina, turut mengorbankan kaum Syi’ah di selatan.

Apakah saudara-saudara ingin mereka memihak Israel ?

Ahlu’l-Bait Menolak Mazhab Alhu’l-Bait

Jika saudara-saudara menganggap bahwa keturunan Ahlu’l-Bait menolak mazhab ‘Ahlu’l-Bait, lalu menurut saudara-saudara apakah semua Ahlu’l-Bait di Iran, Irak, dan Libanon adalah anak-anak haram? Sudahkah anda menyusun statistiknya?

Keturunan Ahlu’l-Bait bukanlah kaum bigots, kaum pemrasangka buruk dan intoleran, Al-Bayyinat dari Nyamplungan Surabaya yang terbiasa berpikir eksklusif. Jangan meracuni masyarakat yang baik-baik dengan sikap tribalism, syu’ubiyah.

Kenapa saudara-saudara, termasuk Al-Irsyad tidak masuk saja ke dalam Muhammadiyah, misalnya, dan bersama-sama membangun akidah umat dengan akal sehat dan meninggalkan pikiran-pikiran sektarian?

Bunuh Syi’i Atau Paksa Pindah Agama

Sadarkah saudar-saudara berapa besar dampak keputusan seminar yang saudara-saudara keluarkan? Bagaimana pula hukumnya membuat fatwa yang demikian penting, hanya berdasarkan prasangka atau pre-judice, seperti Adolf Hitler menyusun Mein Kampf atau Perjuanganku? Yang jelas gagasan-gagasan yang didasarkan atas prasangka ras atau etnik, bertentangan dengan demokrasi, Pancasila dan UUD ’45 !

Mengapa saudara-saudara tidak meminta pemerintah kita agar mengusulkan Bahrain, Irak, Iran, Libanon, dan Azerbaijan dikeluarkan dari anggota OKI karena mayoritas penduduknya bermazhab Syi’ah yang saudara-saudara kafirkan? Apakah saudar-saudara hendak menghancurkan OKI juga ?

Apakah kaum Syi’ah akan dibunuh semua, atau dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi a la NAZI, atau memaksa mereka menganut agama diluar Islam? Bukankah orang yang mengaku nasrani atau Yahudi lebih aman dari pada mengaku Syi’ah seperti di zaman Mu’awiyyah ?

Apakah buku-buku mereka juga harus dibakar ?

Tahukah saudara-saudara bahwa dalam Al-Quran ada ayat yang berbunyi, “Laa ikraaha fi’ddin”, tiada paksaan dalam agama? (QS. Al-Baqarah: 256) dan juga ada tahukah saudara-saudara ada ayat yang berbunyi, “Lakum diinukum waliya diin”, bagimu agamamu dan bagiku agamaku ? (QS. Al-Kafirun: 6)

Jangan mengira Mentri Agama akan ikut gila melarang Syi’ah !

Mentri Agama kita bukanlah orang bodoh, saya mengenal beliau di Fakultas Kedokteran Airlangga, sama-sama anggota HMI dan sama-sama belajar di fakultas tersebut.

Saya harap keputusan para peserta seminar ini ditarik kembali. Jika keberatan, marilah kita bermujadalah dengan cara yang lebih baik. Saudara-saudara, saya persilahkan.

Mengapa memilih mazhab Ahlul Bait ?

Belakangan ini muncul di televisi swasta dan media-media lainnya

suara-suara yang sarat fitnah dari mulut yang cacat hatinya terhadap kaum yang mengimani Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang sakit yang sengaja menebarkan kemungkaran, tuduhan dan fitnah, sebagaimana yang diungkap al-Qur`an:“(ingatlah), ketika orang‐orang munafik dan orang‐orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “mereka itu (orang‐orang mukmin) ditipu oleh agamanya”.

(Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.”1

.
Tatkala al-Mutawakil (847-864) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal. Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni. Pada saat itulah Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya. Salah seorang tokohnya, al-Shafi’i menyusun ‘Ushul al-Fiqh yang di dalamnya mengandung ajaran tentang Ijma’ dan Qiyas. Dalam bidang Hadith lahir tokoh Bukhari dan Muslim.

Dalam bidang Tafsir, lahir al-Tabbari dan Ibn Mujahid. Pada masa inilah kaum Sunni menegaskan sikapnya terhadap posisi Uthman dan ‘Ali dengan mengatakan bahwa masyarakat terbaik setelah nabi adalah Abu Bakar, Umar, Uthman dan ‘Ali.

Berbeda dengan Mu’tazilah, pertikaian antara Sunni (Ahl al-Hadith) dan Shi’ah selalu diwarnai demensi politik..

Secara umum, pemikiran kelompok Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa

secara singkat dapat dikatakan bahwa pemikiran politik Sunni pertama kali muncul sebagai respon reaktif terhadap pemikiran-pemikiran Shi’ah dan Khawarij pada masa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib.

Dalam proses pembentukannya, ideologi Sunni ternyata tidak dapat dilepaskan dari pemikiran keagamaan mereka dan adanya ketegangan-ketegangan dengan golongan lain untuk memperoleh pengakuan dari penguasa. Dalam masa formal ideologi Sunni tersebut, misalnya telah terjadi polemik intelektual antara al-Syafi’I dengan ulama-ulama Khawarij dan Mu’tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik dari para khalifah yang sedang berkuasa.

Diperlukan waktu hampir beberapa abad untuk sampai pada proses terbentuknya pemikiran politik Ahl al-Sunnah ini, terhitung sejak mulai diperkenalkannya pada masa awal Islam, sahabat, tabi’in sampai pada pengukuhannya dalam Risalah al-Qadiriyyah.

Istilah ini (ahl al-Sunnah wa-Jama’ah) awalnya merupakan nama bagi aliran Asy’ariyah dan Maturidiah yang timbul karena reaksi terhadap paham Mu’tazilah yang pertama kali disebarkan oleh Wasil bin Ato’ pada tahun 100 H/ 718 M dan mencapai puncaknya pada masa khalifah ‘Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tasim (833-842 M) dan al-Wasiq (842-847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika paham Mu’tazilah dijadikan sebagai madzab resmi yang di anut negara pada masa al-Ma’mun

Jika ada perbedaan pokok antara teman-teman syi’ah dengan kalangan Islam yang lain, maka hal itu terletak dalam sikap yang mereka kembangkan terhadap tradisi Islam klasik tersebut.

Sikap syi’ah adalah tidak mengabaikan sama sekali khazanah intelektual Islam klasik sunni, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai “benda suci” yang tak boleh diutak-utik. Banyak pandangan yang dikemukakan oleh sarjana Islam di masa lampau yang masih tetap relevan dengan keadaan sekarang; tetapi tak sedikit pula yang sudah kehilangan relevansi sama sekali sehingga kami tak segan-segan untuk menafsirkannya kembali.

Dengan kata lain, sikap yang dikembangkan oleh syi’ah adalah hendak membaca kembali tradisi intelektual Islam klasik secara kritis. Jika kami mengkaji kembali pemikiran Al-Mawardi, Ibn Taymiyah, Ibn Rushd, al-Ghazali, dll., maka bukan berarti kami hendak menerima gagasan mereka apa adanya, tanpa kritik atau interpretasi ulang.

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing, dan ia akan dituntut untuk merumuskan jawaban sesuai dengan tantangan itu.

Sekarang, umat Islam hidup dalam konteks sejarah yang sudah berbeda dengan generasi al-Mawardi, dan kerena itu tantangan yang dihadapinya sudah sama sekali berbeda. Mengutip pendapat al-Mawardi tanpa memperhatikan konteks sejarah dan tantangan yang berbeda itu sama saja dengan terjatuh pada anakronisme sejarah.

Tentu warisan intelektual Islam dari generasi masa lampau sunni  penting untuk dijadikan sebagai sumber ilham guna merumuskan jawaban untuk tantangan yang dihadapi umat saat ini. Tetapi warisan itu tak boleh dianggap sebagai hal yang sakral sehingga harus disungkup rapat-rapat agar kedap dari segala bentuk kritik.

SEBAGIAN kalangan dalam Islam ada yang beranggapan bahwa sarjana Islam sunni di masa lampau telah mencapai suatu “maqam” atau tingkat kecanggihan intelektual yang sangat tinggi yang sulit ditandingi oleh generasi sekarang.

Ulama masa lampau juga telah menulis apa saja yang dibutuhkan oleh umat Islam berkenaan dengan ajaran Islam. Tugas umat Islam sekarang hanya sekedar melaksanakan apa yang sudah ditulis oleh mereka itu. Sebuah ungkapan terkenal menggambarkan sikap hormat pada masa lampau secara berlebihan ini: “ma taraka al-awa’ilu li al-awakhiri syai’an” (generasi lampau tak meninggalkan ruang sedikitpun bagi generasi belakangan).

Jika ada seseorang yang berani mengkritik pendapat ulama masa lampau, orang bersangkutan akan didamprat dengan sebuah argumen yang sangat khas, “Emangnya siapa kamu kok berani mengkritik pendapat ulama klasik? Apakah kamu memiliki ilmu yang setara dengan mereka?

Sikap semacam ini, menurut saya, sama sekali tidak tepat. Sikap seperti ini, dalam bentuk yang ekstrem, akan terjatuh pada “pengkultusan” ulama masa lampau, seolah-olah pendapat mereka begitu sucinya sehingga tak boleh dikritik atau ditafsirkan ulang.

Masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini begitu banyak dan kompleks, dan karena itu menantang generasi sekarang untuk merumuskan jawaban baru yang sama sekali berbeda. Terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini yang tak akan kita temukan solusinya dalam karya-karya ulama masa lampau.

Contoh sederhana adalah bentuk negara Iran  modern yang menempatkan semua warga negara dalam kedudukan yang sama, tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau latar-belakang budaya. Ini adalah fenomena baru yang tak pernah ada presedennya dalam praktek bernegara pada masa lampau, sejak zaman Nabi hingga runtuhnya kekhilafahan Usmaniah pada abad 20.

Konsep “warga negara” dan “kewarganegaraan” (muwathana, citizenship) sebagaimana kita kenal dalam konteks negara modern saat ini, misalnya, tak pernah kita temukan presedennya dalam praktek bernegara di masa lampau, baik dalam seharah Islam atau sejarah bangsa-bangsa lain.

Tentu saja, karya-karya mengenai fiqh politik yang ditulis oleh sarjana Islam klasik seperti al-Mawardi, al-Baqillani, al-Haramain, Ibn Taymiyah, dll. bisa dijadikan sebagai sumber ilham untuk merumuskan jawaban atas tantangan baru yang dihadapi oleh umat Islam saat ini.

Tetapi, secara umum, seluruh karya sarjana klasik itu ditulis dalam konteks sejarah yang berbeda sehingga tidak semua yang mereka tulis masih relevan dengan keadaan sekarang.
Oleh karena itu, saya persembahkan tulisan  ini, memuat opini ringkas dan jelas tentang mazhab Ahlulbait atau kesyiahan. Bahwa mazhab ini adalah mazhab islami yang resmi, sebagai sebuah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban lainnya seperti salat, zakat, puasa dan haji. Muslim sejati adalah pencari kebenaran sebagai benda berharga miliknya yang hilang, sebagaimana hadis:

“Kebenaran adalah barang barharga seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menemukannya, ia sangat berhak memilikinya.”2
Kebenaran adalah slogan dan sifat kaum beriman, yang Allah
anugerahkan kepada mereka, sesuai firman-Nya:

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang‐orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang‐orang yang berakal (ulul albab).”3
Seorang muslim dalam meneguhkan keyakinan dan ibadahnya harus mengkaji nash syar’i dari al-Qur`an dan hadis. Sekaitan dengan itu,
sebagai muslimin, kepada kami, dihadapkan pertanyaan:

Bagaimana kalian beribadah dan apa sandaran kalian ?

Mengapa kalian mengikuti mazhab Ahlulbait dan meninggalkan
selainnya ?

Jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Mazhab Ahlulbait adalah sebuah kewajiban islami, bukan
sekadar madzhabi (pandangan doktrinal hasil ijtihad). Sebagaimana Allah swt mewajibkan salat, zakat, puasa dan haji, juga mewajibkan kepada kita mencintai Ahlulbait dalam firman-Nya:

“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali mawaddah (kecintaan) kepada keluargaku”.

Nabi saw ditanya, siapakah kerabat engkau yang Allah wajibkan
kepada kami agar mencintai mereka. Beliau menjawab:
“Mereka adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein as.”

2. Al-Hakim dalam kitab “Mustadrak”nya meriwayatkan dari
Hanasy al-Kinani: “Aku mendengar Abu Dzar ra yang saat itu memegang
pintu Ka’bah, mengatakan, “Siapa mengenal aku maka akulah yang dia kenal. Siapa mengingkari aku maka akulah Abu Dzar, bahwa aku telah
mendengar Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagi kalian laksana bahtera Nuh bagi kaumnya, siapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.”4

Di sini Nabi saw menjelaskan kepada kita bahwa mengikuti
mazhab Ahlulbait adalah wajib bagi setiap muslim, laki maupun
perempuan. Dan, sungguh beliau saw:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”5

Jika keselamatan terletak pada mengikuti ajaran-ajaran Nabi, maka
tiada kerugian di dalamnya apabila mazhab keislaman mengikuti dan sesuai dengan mazhab Ahlulbait. Sebaliknya, adalah suatu penyimpangan kalau tidak mengikuti dan bertentangan dengan mazhab Ahlulbait. Karena yang demikian itu dilarang oleh Nabi saw dalam sabdanya:

“Siapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.”
Jadi seorang muslim dalam pengamalan ajaran Islam –dalam ibadat
dan mu’amalat– keyakinannya tidak boleh bertentangan dengan mazhab
Ahlulbait. Karena sabda Nabi saw merupakan firman Allah: “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”4

Kita menyaksikan beliau saw mengajak muslimin agar mengikuti
ajaran-ajaran mazhab ini, dan memperingatkan (jangan sampai)
bertentangan dan jauh darinya.

3-Mazhab Ahlulbait adalah mazhab islami yang resmi. Akarakarnya
menyambung sampai ke masa hidup Nabi saw. Beliaulah yang
menanamnya dengan tangannya sendiri, sedangkan mazhab-mazhab
keislaman lainnya, tak satu pun memiliki akar-akar tersebut. Mereka
semuanya baru muncul di masa akhir-akhir pemerintahan Umayah dan
awal-awal pemerintahan Abbasiyah.

Berdasarkan kajian ini, mazhab-mazhab tersebut baru muncul
setelah wafatnya Rasulullah saw. Sedangkan mazhab ahlulbait adalah
mazhab yang dibangun dan dikokohkan oleh Nabi sendiri di masa hidup
beliau saw. Sebagaimana riwayat as-Suyuthi dalam kitab tafsirnya “ad-Dur al-Mantsur” tentang ayat:

“Sesungguhnya orang‐orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik‐baik makhluk.”6

Lalu Nabi saw ditanya, siapakah “khairul bariyah” (sebaik‐baik manusia)? Beliau menjawab: “Ali dan syiahnya.”7

Dengan semua dalil Qur`ani dan hadis Nabi yang tegas dan jelas
itu, kami menyaksikan sebagian akal (pihak-pihak tertentu) menolaknya
mentah-mentah. Maka dibuatlah dongeng-dongeng imajinatif dan
berlawanan untuk sebagian tokoh mazhab-mazhab keislaman yang muncul di permukaan. Lalu dijadikannya sebagai dalil-dalil syar’i untuk para
pengikut dan sebagai justifikasi bagi mazhab-mazhab tersebut, yang pada hakikatnya adalah dalil-dalil yang menolak firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Melalui catatan kecil ini, Anda akan mendapatkan studi lengkap
dan kajian obyektif untuk menjawab pertanyaan, mengapa kami memilih
mazhab Ahlulbait ?

Jawabannya jelas, ringkas dan sederhana, semoga
menjadi penawar bagi mereka yang keliru akal dan hati mereka. Kami
menasihati mereka dengan penjelasan sebagai berikut:

Pertama; berpedoman pada al-Qur`an dan hadis, ada aturan dan
persyaratannya. Tidak berarti sekedar memanjangkan jenggot dan
memendekkan pakaian bagian bawah. Akan tetapi insan muslim haruslah
melaksanakan sepenuhnya segala kewajiban dan meninggalkan semua
larangan. Firman Allah:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al‐Kitab dan ingkar terhadap
sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa
yang kamu perbuat.”8

Kedua; salah satu perkara aksiomatis dalam Islam bahwa
memfitnah orang-orang beriman dan menisbatkan kebatilan-kebatilan
kepada mereka, adalah diharamkan secara tegas oleh Islam. Allah swt
melarang yang demikian itu dalam firman-firman-Nya antara lain:

“Maka barangsiapa mengada‐adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, Makamerekalah orang‐orang yang zalim.”9

“Sesungguhnya yang mengada‐adakan kebohongan, hanyalah orang‐orang yang tidak beriman kepada ayat‐ayat Allah, dan mereka Itulah orang‐orang pendusta.”10

Jadi mana boleh mereka membuat kebohongan terhadap kaum
beriman ?

Pada saat yang sama kaum ini (Syiah) dengan tegas dan bangga,
berlepas diri dari apa yang mereka tuduhkan. Kitab-kitab serta akidah
kaum ini menunjukkan tulusnya keimanan dan keislaman mereka. Lalu
mengapa mereka mengafirkan kaum beriman ini dan membuat
kebohongan terhadap mereka (Syiah). Padahal yang demikian itu dilarang oleh Allah. Namun mereka bertekad menolak firman Allah:

“…dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam”

kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin”….”11
Yang demikian itu sama halnya menentang tanpa alasan terhadap
Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:

“(yaitu) orang‐orang yang memperdebatkan ayat‐ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang‐orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang‐wenang.”12

Ketiga; pengalaman saya ketika berjumpa orang-orang dari
golongan mereka di halaman Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, mereka
berteriak: “Kalian adalah orang-orang syiah, kafir dan musyrik,
menyembah kuburan para imam kalian!” Tuduhan ini adalah dusta dan
nyata batil. Sekiranya mereka berfikir, (akan menyadari bahwa) tindakan tersebut diharamkan secara syar’i di tempat-tempat biasa. Apalagi di Baitullah al-Haram dan Masjid Nabawi, yang keduanya adalah pusat persatuan dan kesatuan serta keimanan.

Keempat; diharapkan mereka sudi memperhatikan kebenaran
walaupun sejenak dan mau membaca buku kecil ini dengan penuh
perhatian. Setelah itu, terserah mereka menilai apa atau mencela kami
asalkan dengan dalil dan argumentasi. Buku kecil ini adalah sebuah
jawaban bahwa Syiah adalah mazhab resmi dalam Islam. Saya membahas
tema ini secara obyektif dan berargumenkan al-Qur’an dan hadis.
Jika mereka berminat, mereka bisa mengontak kami melalui surat
dan internet dengan alamat: http://www.qazwini.org.

Kalau memang mereka cinta Islam, menyeru kepadanya dan ada
kemauan untuk mengenal kebenaran, maka kami siap menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka atau apapun yang masih samar bagi mereka. Seorang muslim sejati adalah sang pencari kebenaran dan terpikat padanya.

Jangankan muslimin, kaum nonmuslim pun diseru al-Qur`an
supaya mengkaji dan mengenal kebenaran. Allah berfirman:

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian
kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang‐orang yang berserah diri (kepada Allah).””13

Catatan kaki :

1 QS: al-Anfal 49.
2 Mizan al-Hikmah, juz 2, hal 492.
3 QS: az-Zumar 18.
4 Al-Mustadrak/al-Hakim, juz 3, hal 151.
5 QS: an-Najm 3-4.
6 QS: al-Bayinah 7.
7 Tafsir ad-Dur al-Amntsur/as-Suyuthi, juz 6, hal 379.
8 QS: al-Baqarah 85.
9 QS: Al Imran 94.
10 QS: an-Nahl 105.
11 QS: an-Nisa 94.
12 QS: al-Mu`min (Ghafr) 35.
13 QS: Al Imran 64.

Sunnah Umar bin khatab vs Sunnah Muhammad Rasulullah saw !! JIKA KHALIFAH UMAR DAN PENGIKUTNYA AHLU S-SUNNAH NABI S.A.W, NESCAYA MEREKA TIDAK MENENTANG SUNNAH NABI S.A.W

JIKA KHALIFAH UMAR DAN PENGIKUTNYA AHLU S-SUNNAH NABI
S.A.W, NESCAYA MEREKA TIDAK MENENTANG SUNNAH NABI S.A.W

Khalifah Umar dianggap contoh yang unggul sebagai pelaku atau
pengamal Sunnah Nabi (Sa.w) selepas Abu Bakr, tetapi para ulama
Ahlus Sunnah wa l–Jama‘ah juga mencatat sebaliknya di dalam bukubuku
mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka,
maka merekalah yang berdosa dan bertanggungjawab di hadapan Allah
(swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya
dan terus memusuhi Sunnah Nabi (S.a.w) yang bertentangan dengan
sunnah Umar? Justeru itu, adakah Umar dan pengikut-pengikutnya
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w)? Berikut dikemukakan sebahagian daripada
sunnah khalifah Umar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan
Sunnah Nabi (S.a.w) serta akal yang sejahtera:

1. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menghalang Nabi (S.a.w) dari menulis sunnahnya yang terakhir, tetapi
khalifah Umar telah menghalang Nabi (S.a.w) dari menulis sunnahnya
yang terakhir. Lantas Nabi (S.a.w) mengusir Umar dan kumpulannya
supaya keluar dari rumahnya. (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim,
Sahih, III, hlm. 69) Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

2. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w).), nescaya mereka tidak
bertengkar di hadapan Nabi (S.a.w) bagi menentang sunnahnya supaya
dibawa kepadanya pensel dan kertas untuk menulis wasiatnya
(sunnahnya), tetapi khalifah Umar dan kumpulannya telah melakukan
perkara tersebut.( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm.

69). Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar serta kumpulannya atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

3. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w).), nescaya mereka tidak
memisahkan Kitab Allah (al-Qur’an) daripada Nabi (S.a.w), tetapi
khalifah Umar telah memisahkan Kitab Allah daripada Nabi (S.a.w)

ketika dia berkata di hadapan Nabi (S.a.w): Kitab Allah adalah cukup
bagi kita”. Kata-kata Umar adalah secara langsung merendah martabat
Nabi (S.a.w). ( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69)

Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w).), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar dan kumpulannya atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

4. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi(S.a.w), nescaya mereka percaya
kemaksuman Nabi (S.a.w) setiap masa, kerana segala perkataan,
perbuatan dan taqrirnya merupakan sunnahnya, tetapi khalifah Umar
tidak mempercayai kemaksuman Nabi (S.a.w) ketika dia berkata :

“cukuplah bagi kita Kitab Allah” Kata-katanya itu ditentang oleh Nabi
(S.a.w) sendiri . Lalu beliau (S.a.w) menjadi marah dan terus mengusir khalifah Umar serta kumpulannya supaya keluar .(al-Bukhari, Sahih, I,hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). Justeru itu, mereka bukanlah Ahlus-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

5. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w).), nescaya mereka tidak
mengatakan bahawa Nabi (S.a.w) “sedang meracau” tetapi Khalifah
Umar telah mengatakan bahawa Nabi (S.a.w) sedang meracau (yahjuru).
Oleh itu permintaan beliau (S.a.w) supaya dibawa pensel dan kertas
untuk beliau menulis perkara-perkara yang tidak akan menyesatkan
ummatnya selama-lamanya tidak perlu dilayani lagi. [Muslim, Sahih, III,hlm. 69; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Justeru itu sunnah Umar adalah bertentangan dengan firman-Nya di dalam Surah al-Najm (53):3-4: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa nafsunya.”

Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

6. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melarang orang ramai dari meriwayat dan menulis Sunnah Nabi (S.a.w),
tetapi Khalifah Umar telah melarang orang ramai dari meriwayat dan
menulis Sunnah Nabi (S.a.w). Umar berkata: “Hasbuna Kitabullah (Kitab
Allah adalah cukup bagi kita). [Al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Sunnahnya adalah bertentangan dengan sunnah yang dipopularkan oleh Ahlu s-Sunnah: Aku tinggalkan pada kalian dua perkara selama kalian
berpegang kepada kedua-duanyaKitab Allah dan Sunnahku.” Lantaran
itu, khalifah Umar bertegas bahawa dia tidak perlu kepada sunnah Nabi (S.a.w) di hadapan Nabi (S.a.w) sendiri. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

7. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membakar sunnah atau hadis Nabi (S.a.w), tetapi khalifah Umar telah
membakar sunnah Nabi (S.a.w) Ibn Sa’d dalam Tabaqatnya, V hlm. 140
meriwayatkan bahawa apabila hadis atau Sunnah Nabi (S.a.w) banyak
diriwayat dan dituliskan pada masa Umar bin al-Khattab, maka dia
menyeru orang ramai supaya membawa kepadanya semua hadis-hadis
yang ditulis, kemudian dia memerintahkan supaya ianya dibakar.
Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka
adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka
sendiri.

8. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menahan sahabat yang banyak meriwayatkan sunnah Nabi (S.a.w) di
Madinah, tetapi khalifah Umar telah menahan tiga orang sahabat di
Madinah sehingga mati, kerana meriwayatkan banyak hadis Rasulullah
(S.a.w). Mereka ialah Ibn Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al-
Ansari.[al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 8; al-Haithami, Majma al-Zawaid, I, hlm. 149; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm. 110] Justeru itumereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

9. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berkata: “Apa itu hadis daripada Rasulullah?”, tetapi Khalifah Umar
berkata kepada Abu Darda: “Apa itu hadis daripada Rasulullah? “Abu
Salmah bertanya kepada Abu Hurairah: “Adakah anda meriwayatkan
hadis atau sunnah semacam ini pada masa Umar? Abu Hurairah
menjawab: Sekiranya aku meriwayatkan hadis atau sunnah (semacam
ini) pada masa Umar, nescaya dia memukul aku dengan cemetinya”[al-
Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7] Justeru itu mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar
atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

10. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka berkata:
Kami perlu kepada sunnah Nabi (S.a.w) setiap masa, tetapi khalifah
Umar berkata: Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, kerana kitab
Allah sudah cukup bagi kita” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim,Sahih, III, hlm. 69). Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

11. Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka menyibar
Sunnah Nabi (S.a.w), dan menjaganya, tetapi khalifah Umar,
melarangnya dan memusnahkannya (Ibn Sa’d dalam Tabaqat, V hlm.

140; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]. Lantaran itu
sunnah khalifah Umar adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi
(S.a.w): “Allah memuliakan seseorang yang mendengar hadisku dan
menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadis)
membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala
pembawa ilmu (hadis) bukanlah seorang yang alim. [Ahmad bin Hanbal,
al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 263] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-SunnahNabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlus-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

12. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka percaya
dan mengamalkan sunnah Nabi (S.a.w) daripada sunnah Umar, tetapi
khalifah Umar percaya bahawa sunnahnya adalah lebih baik daripada
sunnah Nabi (S.a.w) umpamanya menambahkan hukum sebat bagi
peminum arak dari 40 sebatan kepada 80 kali sebatan. [al-Suyuti, Tarikhal-Khulafa’, hlm. 137]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

13. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka percaya
bahawa taat kepada Nabi (S.a.w) adalah taat kepada Allah sebagaimana
firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’ (4):80 “Siapa yang mentaati Rasul,
maka dia mentaati Allah”. Ini bererti siapa yang mendurhakai Rasul,
maka dia menderhakai Allah, tetapi khalifah Umar percaya sebaliknya
ketika dia berkata: Kitab Allah adalah cukup bagi kita” “Nabi sedang
meracau” . ( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya menderhakai Nabi (Sa.w) bukan bererti menderhakai Allah.
Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka
adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka
sendiri.

14. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
memusuhi orang yang menghidupkan Sunnah Nabi (S.a.w), tetapi
khalifah Umar memusuhinya dan membakar sunnahnya (Ibn Sa’d
Tabaqat, V hlm. 140) . Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

15. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengesyaki Nabi (S.a.w) dan kaum Muslimin sama ada berada di dalam
kebenaran ataupun kebatilan, tetepi Khalifah Umar mengesyaki Nabi
(S.a.w) dan kaum Muslimin sama ada berada di dalam kebenaran
ataupun kebatilan. Ia bertanya Nabi (S.a.w): Adakah kita berada di
dalam kebenaran dan mereka (kafir) berada dai dalam kebatilan? Adakah
orang yang terbunuh di pihak kita akan memasuki syurga? Dan orang
yang terbunuh di pihak mereka ke neraka? Nabi (S.a.w) menjawab: Ya,
dan akhirnya Nabi (S.a.w) menegaskan kepadanya: “Wahai Ibn al-
Khattab, sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah dan Allah tidak akan
mengabaikan aku. Umar beredar dari Nabi (S.a.w) dengan marah
(muthaghayyizan), kemudian dia berjumpa Abu Bakar lalu ia
mengemukakan persoalan yang sama, lantas Abu Bakar menyakinkan
dia bahawa Muhammad itu adalah Rasulullah dan Allah tidak akan
mengabaikannya. [Muslim, Sahih, IV, hlm.12, 14; al-Bukhari, Sahih, II,hlm. 111] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w),
malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

16. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengkasari Ahlu l-Bait Nabi (S.a.w), malah mereka harus mempunyai
sifat kasih sayang kepada mereka khususnys terhadap Fatimah (a.s),
tetapi khalifah Umar tidak mempunyai sifat sedemikain, Kerana orang
yang menilai Nabi (S.a.w) dari segi budi pekertinya dan apa yang
dikurniakan Allah ke atasnya untuk kebaikan umatnya, lidah akan
menjadi lemah untuk melahirkan kesyukuran kepadanya, tidak akan
memusuhinya melalui keturunannya dan Ahlu l -Baitnya. Mereka tidak
menjadikan Ahlu l-Baitnya setaraf dengan mereka seperti kedudukan
mata di sisi kepala, kerana menjaga hati Nabi (S.a.w) dan kasih sayang kepada anak cucunya. Kenapa tidak, al-Qur’an telah menjelaskannya dan menyeru orang ramai kepadanya. Sunnah-sunnah menetapkan bahawa merekalah Ahlu l-Mawaddah. Merekalah orang yang Allah mewajibkan kasih sayang terhadap mereka dan berjanji ganjaran
kebaikan ke atas orang yang mencintai Ahlu l-Bait kerana sekiranya seorang melakukan al-Mawaddah terhadap mereka secara ikhlas, dia
berhak syurga kerana firman Allah Azza Wa-Jalla:” Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang soleh [berada] di dalam taman-taman syurga, mereka perolehi apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah kurniaan yang besar.” [Surah al-Syu’ara 26:22] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

17. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
memusuhi Ahlu l-Bait Nabi (S.a.w), apatah lagi mengepung dan cuba
membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s) kerana memaksa
Ali (a.s) supaya memberi bai’ah kepada Abu Bakar, tetapi Khalifah Umar adalah perencana utama dalam cubaan membakar rumah Fatimah (a.s)
kerana memaksa Ali (a.s) supaya memberi bai’ah kepada Abu Bakar.
Sunnahnya itu adalah membelakangi firman Tuhan Surah al-Ahzab
(33):33 “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Fatimah (a.s) adalah di kalangan Ashab al-Kisa’ yang disucikan oleh
Allah (swt). Umar berkata:”Aku akan membakar kalian sehingga kalian
keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida, Tarikh, I, hlm. 156] . Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

18. Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi(S.a.w), nescaya mereka tidak
membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah
Umar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepada
Abu Bakr di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah,al-Imamah wa
al-Siyasah, I, hlm.18-20, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, iii,
hlm.139; Abul-Fida, Tarikh,I, hlm. 159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (S.a.w) yang bersifat lembut terhadap Ali a.s dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap jawatan khalifah. (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’al-Mawaddah, hlm.144, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm.2180) Justeru itu,mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu sSunnah Umar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

19. Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka diizinkan
untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Umar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Dia berwasiat kepada suaminya Ali a.s supaya Abu Bakr dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke
atasnya. Kerana perbuatan mereka berdua yang menyakitkan
hatinya,khususnys mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih, VI, hlm.196; Ibn
Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah, I, hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I,
hlm.159; al-Tabari, Tarikh, III, hlm.159]. Nabi (S.a.w) bersabda:”
Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan redha
dengan keredhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

20. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengingkari kematian Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Umar telah
mengingkari kematian Nabi (S.a.w). Dia tidak mengetahui bahawa
kematian adalah harus bagi Nabi (S.a.w). Dia berkata: “Siapa yang
mengatakan bahawa Nabi telah mati, aku akan membunuhnya dengan
pedangku.” Abu Bakar datang dan berkata kepadanya: “Tidakkah anda
mendengar firman Allah (swt)(di dalam Surah al-Zumar (39):30,
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati
(pula)” dan firman-Nya (di dalam Surah Ali Imran (3):144), “Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sesungguhnya telah berlaku
sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh
kamu berbalik ke belakang (murtad)? Maka Umar pun berkata: “Aku
yakin dengan kematiannya seolah-olah aku tidak mendengar ayat-ayat
tersebut.”[al-Syarastani, al-Milal, I, hlm. 23; al-Bukhari, Sahih, VII, hlm.17] Bagaimana khalifah Umar berkata: “Kitab Allah adalah cukup bagi kita” ketika dia menegah Nabi (S.a.w) dari menulis wasiatnya di mana ummat tidak akan sesat selama-lamanya, sedangkan dia tidak mengetahui ayat-ayat tersebut sehingga Abu Bakar datang dan
membacakan kepadanya? Dan tindakan Umar yang tidak mempercayai
kewafatan Nabi (S.a.w) tidak boleh difahami sebagai kasihnya yang
teramat sangat kepada Nabi (S.a.w). Kerana dia telah berkata bahawa Nabi (S.a.w) sedang meracau dan Kitab Allah adalah cukup bagi kita.
Lalu dia menegah Nabi (S.a.w) dari melaksanakan apa yang
dikehendakinya. [al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, II, hlm. 69]

Dan kata-kata Abu Bakar pula menyokong pendapat Umar. Dia
berkata:”Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah
mati.” Ini bererti wahai orang yang bermegah ke atas kami dengan
Muhammad, habislah mereka kerana peranannya sudah selesai. Kitab
Allah adalah cukup bagi kita kerana ianya hidup. Persoalan yang timbul”Adakah kaum Muslimin pada masa itu menyembah Muhammad?”
Tidak, mungkin ini adalah satu sindiran kepada Bani Hashim secara
umum dan Ali bin Abi Talib secara khusus. Kerana mereka bermegah
dengan Muhammad. Nabi (S.a.w), dari kalangan mereka. Dan merekalah
keluarganya, dan orang yang paling berhak daripada orang lain, kerana
mereka lebih mengetahuikedudukan Nabi (S.a.w).

Atau adakah tindakan Umar yang ingin membunuh siapa sahaja
yang berkata Muhammad telah mati itu merupakan tindakan politik
sehingga dia dapat melambat-lambatkan kepercayaan kaum Muslimin
bahawa Nabi (S.a.w) telah mati. Dan dengan ini perancanaannya dapat
dilaksanakan sehingga segala-galanya diatur dengan baik. Sejurus
kemudian dia diberitahu secara sulit bahawa perdebatan di Saqifah
sedang berlaku. Lantas dia, Abu Bakar dan Abu Ubaidah meninggalkan
jenazah Nabi (S.a.w) menuju Saqifah tanpa diketahui oleh Bani Hasyim.
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

21. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melarang mahar (mas kahwin) yang tinggi, tetapi Khalifah Umar telah
melarang mahar (mas kahwin) yang tinggi. Dia berkata: Sesiapa yang
menaikkan mahar anak perempuannya, aku akan mengambilnya dan
menjadikannya milik Baitulmal. Sunnah Umar telah ditentang oleh
seorang wanita lalu dia membaca firman Tuhan di dalam Surah al-Nisa’
(4):20 “Sekiranya kamu telah memberikan kepada seorang di antara
mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambilnya kembali
barang sedikitpun. Umar menjawab: “Orang ramai lebih alim daripada
Umar sehingga gadis-gadis sunti di rumah-rumah. “[Fakhruddin al-Razi,
Mafatih al-Ghaib, II, hlm. 175; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm.133)

Kata-kata Umar itu tidak boleh difahami sebagai tawaduk, kerana ia
melibatkan hukum Allah SWT. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau
Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

22. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengharamkan haji tamattu’, tetapi Khalifah Umar telah mengharamkan
haji tamattu’. Ianya bertentangan dengan Sunnah Nabi (S.a.w) yang tidak pernah mengharamkannya [Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm. 233; al-Bukhari, Sahih, VII, hlm. 33] . Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

23. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
melaksanakan hukum had ke atas Mughirah bin Syu’bah yang dituduh
berzina dengan Umm Jamil, tetapi Khalifah Umar tidak melaksanakan
hukum had ke atas Mughirah bin Syu’bah yang dituduh berzina dengan
Umm Jamil isteri kepada Hajaj bin Atiq bin al-Harith bin Wahab al-
Jusyami dengan berkata: Aku sedang melihat muka seorang lelaki di
mana Allah tidak akan mencemarkan lelaki Muslim dengannya.” Maka
saksi tersebut tidak memberikan penyaksiannya yang tepat kerana
mengikut kehendak Umar. Di dalam riwayat yang lain Umar memberi
isyarat kepada saksi yang keempat supaya tidak memberika keterangan
yang tepat. Keempat orang saksi tersebut telah memberi penyaksian
yang tepat semasa mereka di Basrah.

Tetapi Umar mengadakan pengadilan yang kedua di Madinah.
Apabila saja saksi yang keempat tidak memberikan penyaksian yang
tepat sebagaimana diberikannya di Basrah, maka Umar pun melakukan
had ke atas tiga saksi tersebut. Seorang saksi bernama Abu Bakar
berkata: Demi Allah, Mughirah telah melakukannya. Umar ingin
mengenakan had ke atasnya kali kedua. Ali a.s berkata: Jika anda
melakukannya maka rejamlah al-Mughirah bin Syu’bah tetapi dia
enggan melakukannya. “[Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 448; Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 452; Ibn Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 407; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hlm. 88] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

24. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengintai satu kumpulan di rumah mereka di waktu malam dengan
memasukinya melalui pintu belakang tanpa salam, tetapi Khalifah
Umar mengintai satu kumpulan di rumah mereka di waktu malam
dengan memasukinya melalui pintu belakang tanpa salam. Kelakuannya
itu adalah menyalahi firman-Nya di dalam Surah al-Hujurat (49):12:
“Dan janganlah kamu mengintai-intai atau mencari-cari kesalahan orang
lain.”Dan firmanNya di dalam Surah al-Baqarah (2):189:”Dan masukilah
rumah-rumah itu melalui pintu-pintunya.” Dan firmanNya di dalam
Surah al-Nur (24):27: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
memberi salam kepada penghuninya.”

Lantaran itu tindakannya adalah bertentangan dengan ayat-ayat
tersebut.[al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, VI, hlm.93; al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VIII, hlm. 334] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

25. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
memerintahkan supaya di rejam seorang wanita gila, tetapi Khalifah
Umar telah memerintahkan supaya di rejam seorang wanita gila (yang
berzina). Maka Ali (a.s) memperingatkannya dan berkata:”Qalam
diangkat daripada orang gila sehingga dia sembuh.”Umar pun
berkata:”Sekiranya tidak ada Ali, nescaya binasalah Umar. “[Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab, III, hlm. 39; al-Tabari, Dhakhair al-Uqba, hlm. 80] Justeru itu. mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

26. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
membenarkan orang Islam yang bukan Arab mewarisi pusaka keluarga
mereka melainkan mereka dilahirkan di negeri Arab, tetapi Khalifah
Umar tidak membenarkan orang Islam yang bukan Arab mewarisi
pusaka keluarga mereka melainkan mereka dilahirkan di negeri Arab.
[Malik, al-Muwatta, II, hlm.12] Oleh itu ijtihad Umar adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w) yang tidak membezakan seseorang melainkan dengan takwa dan ianya juga mengandungi sifat asabiyah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Hujurat (49):10:

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah bersaudara.” Dan Nabi
(S.a.w) bersabda: “Tidak ada kelebihan orang Arab ke atas bukan Arab
melainkan dengan taqwa.” [Al-Haithami, Majma’al-Zawa’id, III, hlm. 226 Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

27. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengadakan korban (penyembelihan), tetapi Khalifah Umar tidak pernah
mengadakan korban (penyembelihan) kerana khuatir kaum Muslimin
akan menganggapnya wajib. [al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX, hlm. 265;Syafi’i, al-Umm, II, hlm. 189] Sunnahnya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w)yang menggalakkan amalan tersebut.Dan kaum Muslimin sehingga hari ini mengetahui ianya adalah sunat.Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

28. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui tentang al-Qur’an, hukum halal-haram dan masalah
pusaka, tetapi Khalifah Umar mengakui bahawa dia tidak mengetahui
tentang al-Qur’an, hukum halal-haram dan masalah pusaka. Dia
berkata: “Siapa yang ingin bertanya tentang al-Qur’an, maka hendaklah
dia bertanya kepada Ubayy bin Ka’ab. Sesiapa yang ingin mengetahui
halal dan haram, maka hendakah dia bertanya kepada Muadh bin Jabal.
Sesiapa yang ingin mengetahui tentang ilmu faraidh, hendaklah dia
bertanya kepada Zaid bin Thabit. Dan siapa yang ingin meminta harta
maka hendaklah dia datang kepadaku kerana akulah penjaganya. [al-
Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 271; Abu Ubaid, Kitab al-Amwal, hlm.
223; al-Baihaqi, al-Sunan, VI, hlm. 210] Ketiga-tiga ilmu tersebut
dikuasai oleh orang lain. Dia hanya penjaga harta. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

29. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melarang kaum Muslimin memakan daging dua hari berturut-turut,
tetapi Khalifah Umar melarang kaum Muslimin memakan daging dua
hari berturut-turut. Dan dia telah memukul seorang lelaki yang
melakukannya dengan cemeti. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V,
hlm. 161; Ibn al-Jauzi, Sirah Umar, hlm. 68] Tindakan khalifah Umar
adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-A’raf
(7):32; “Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah
yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah pula yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Justeru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar
atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

30. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menakut-nakut dan menggertak seorang wanita supaya membuat
pengakuan tentang perzinaannya, tetapi Khalifah Umar telah menakutnakut dan menggertak seorang wanita supaya membuat pengakuan
tentang perzinaannya. Lalu wanita tersebut membuat pengakuannya.
Maka khalifah Umar memerintahkan supaya ia direjam. Lalu Ali (a.s)
bertanya kepadanya: Tidakkah anda mendengar Rasulullah (S.a.w)
bersabda: “Tidak dikenakan hukum had ke atas orang yang membuat
pengakuan selepas ujian (bala’) sama ada ia diikat, ditahan atau diugut?

Oleh itu lepaskanlah dia.Maka Umar berkata: Wanita-wanita tidak
terdaya untuk melahirkan seorang seperti Ali. Sekiranya Ali tidak ada
nescaya binasalah Umar. [Fakhruddin al-Razi, al-Araba’ain, hlm. 466;
al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 48; al-Tabari Dhakha’ir al-
‘Uqba, hlm. 80] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

31. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui tempat untuk memulakan umrah, tetapi Khalifah Umar
tidak mengetahui tempat untuk memulakan umrah. Kemudian dia
berkata:”Tanyalah Ali.”[al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-Uqba, hlm. 89; al- Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 195] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

32. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membakar perpustakaan, tetapi Khalifah Umar telah memerintahkan
supaya perpustakaan-perpustakaan di Iran dan Iskandariah dibakar
atau dicampakkan buku-bukunya ke laut. Ditanya kenapa dia
memerintahkannya. Dia menjawab: Allah telah memberikan kepada kita
hidayah yang lebih baik daripada itu.

Perpustakaan-perpustakaan tersebut mengandungi banyak bukubuku
ilmiah di dalam berbagai-bagai bidang ilmu pengetahuan seperti
ilmu hisab, falak, hikmah, kedoktoran, dan lain-lain, tetapi khalifah
Umar tidak menghargainya. [Ibn al-Nadim, al-Fihrist, hlm. 334; Ibn Khaldun, Tarikh, I, hlm. 32; Ibn al-Jauzi, Sirah al-Umar, hlm. 107]
Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka
adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka
sendiri.

33. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
memerintahkan supaya dipotong pokok bai’ah Ridhwan, tetapi Khalifah
Umar memerintahkan supaya dipotong pokok bai’ah Ridhwan, kerana
kaum Muslimin mengerjakan solat di bawah pokok tersebut bagi
mengambil berkat. Apabila berita ini sampai kepada Umar dia
memerintahkan supaya ianya dipotong. [Ibn Sa’d, Tabaqat al-Kubra,
hlm.608; Ibn Jauzi, Sirah Umar, hlm. 107] Sepatutnya khalifah Umar
menjaga pokok tersebut dengan baik sebagai satu peninggalan sejarah
yang berharga. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

34. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengenakan zakat kuda, tetapi Khalifah Umar adalah orang yang
pertama mengenakan zakat kuda. Sunnhnya adalah bertentangan
dengan Sunnah Nabi (S.a.w) : “Aku memaafkan kalian zakat kuda dan
hamba.” [al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, V, hlm.26; al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 30; Ahmad bin Hanbal; al-Musnad, I, hlm. 62; al-Sayuti, Tarikh al- Khulafa’, I, hlm. 137]. Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnahciptaan mereka sendiri.

35. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui hukum orang yang syak tentang rakaat solatnya, tetapi
Khalifah Umar tidak mengetahui hukum orang yang syak tentang rakaat
solatnya bagaimana hendak dilakukannya. Dia bertanya kepada seorang
budak: Apabila seorang itu syak bilangan solatnya, apakah ia harus
lakukan? Sepatutnya dia telah bertanya kepada Nabi (S.a.w)
mengenainya. [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 190; al-Baihaqi,
Sunan, II, hlm. 332]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

36. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengharamkan memakai bauan (perfume) bagi orang yang mengerjakan haji sehingga mereka melakukan tawaf ifadhah, tetapi Khalifah Umar
telah mengharamkan memakai bauan (perfume) bagi orang yang
mengerjakan haji sehingga mereka melakukan tawaf ifadhah. Ijtihadnya
adalah menyalahi Sunnah Rasulullah di mana Aisyah berkata: Aku
meletakkan bauan ke atas Rasulullah (S.a.w) sebelum beliau
mengerjakan tawaf ifadhah. [Malik, al-Muwatta’, I, hlm. 285; al-
Turmudhi, Sahih, I, hlm. 173; al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 58; Muslim, Sahih, I, hlm. 330]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

37. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui faedah Hajr al-Aswad, tetapi Khalifah Umar tidak
mengetahui faedah Hajr al-Aswad. Dia berkata: Hajr al-Aswad tidak
memberi sebarang faedah dan kemudharatan.” Sekiranya dia tidak
melihat Rasulullah (S.a.w) mengucupnya, nescaya dia tidak
mengucupnya. Kata-kata Khalifah Umar tersebut adalah menyalahi
Sunnah Rasulullah (S.a.w), beliau bersabda: “Hajr al-Aswad diturunkan
dari Syurga warnanya putih seperti susu. Tetapi ianya bertukar menjadi hitam disebabkan dosa manusia.” Dan sabdanya lagi: “Demi Allah.Dia akan membangkitkannya di Hari Kiamat, ianya mempunyai dua mata dan satu lidah yang akan bercakap dan memberi penyaksian kepada orang yang telah mengucupnya”. [al-Turmudhi, Sahih, I, hlm. 180; al-Nasa’i,Sahih, II, hlm. 37; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 3]. Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

38. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka memberi
khums kepada kerabat Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Umar tidak memberi
khums kepada kerabat Nabi (S.a.w) . Sunnah Umar adalah menyalahi
firman-Nya dalam Surah al-Anfal 8:41 dan berlawanan dengan Sunnah
Nabi (S.a.w) [al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, II, hlm. 127; Ahmad bin
Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 248]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau
Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

39. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berkata bahawa memukul isteri tidak akan dikenakan dosa, tetapi
Khalifah Umar berkata bahawa memukul isteri tidak akan dikenakan
dosa. Dia mengaitkan kata-kata ini dengan Rasulullah(S.a.w). [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 20], sebenarnya ianya bertentangan
dengan firman-Nya di dalam Surah an-Nahl 16:90: “Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat dan Allahmelarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan”. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w),
malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

40. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melarang hadis “khabar gembira” bahawa setiap orang yang
mengucapkan dua kalimah syahadat dengan yakin, akan masuk syurga.
Tetapi Khalifah Umar melarang hadis “khabar gembira” bahawa setiap
orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat dengan yakin, akan
masuk syurga. Kerana dia khuatir kaum Muslim hanya mengucap dua
kalimah syahadat kemudian meninggalkan amalan lain. Dia berkata
kepada Rasulullah (S.a.w) : Adakah anda mengutuskan Abu Hurairah
dengan khabar tersebut? Rasulullah menjawab:Ya. Umar berkata
kepada Rasulullah (S.a.w): “Janganlah anda melakukannya”. [Ibn al-
Jauzi, Sirah Umar, hlm. 38; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, III,hlm. 108]. Sepatutnya dia tidak melarang Nabi (S.a.w) untuk melakukannya. Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

41. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui apakah bacaan Nabi (S.a.w) di dalam solat Hari Raya, tetapi Khalifah Umar tidak mengetahui apakah bacaan Nabi (S.a.w) di dalam solat Hari Raya. [Muslim, Sahih, I, hlm, 242; Abu Daud, Sunan, I, hlm. 180; Malik, al-Muwatta’, I, hlm. 147; Ibn Majah, Sunan, I, hlm. 388; al-Turmudhi, Sahih, I, hlm. 106; al-Nisa’i, Sahih, III, hlm. 184]. Sepatutnya dia mengetahui surah-surah yang dibaca oleh Nabi (S.a.w) di dalam solat Hari Raya. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

42. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melarang kaum Muslimin berpuasa pada bulan Rajab, tetapi Khalifah
Umar melarang kaum Muslimin berpuasa pada bulan Rajab. Dia
berkata: “Apa itu bulan Rajab? Bulan Rajab hanya bulan yang
dimuliakan oleh orang-orang Jahiliyah. Dan apabila datang agama Islam, ianya ditinggalkan. Sebenarnya Khalifah Umar tidak mengetahui
kelebihan bulan Rajab. Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan
Sunnah Rasulllah (S.a.w) yang menggalakkan setiap Muslim supaya
berpuasa tiga hari pada setiap bulan, termasuk bulan Rajab. [al-
Bukhari, Sahih, III, hlm. 215; Muslim, Sahih, I, hlm. 318; Ahmad bin
Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 326; Abu Daud, Sunan, I, hlm. 381] Justeru
itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

43. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka telah
membunuh Dzu al-Thadyah (ketua Khawarij), tetapi Khalifah Umar tidak
membunuh Dzu al-Thadyah (ketua Khawarij) sedangkan Rasulullah
(S.a.w) telah memerintahkannya supaya membunuhnya. Dia berkata:
Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang sujud?” Kemudian
Rasulullah (S.a.w) bertanya lagi: Siapa lagi yang akan membunuhnya? Ali menjawab: Aku.” Nabi (S.a.w) bersabda: “Sekiranya anda mendapatinya. Ali pun pergi tetapi tidak mendapatinya. Nabi (S.a.w) bersabda:

“Sekiranya lelaki itu dibunuh, tidak akan ada dua lelaki yang berselisih faham.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 15]
Sepatutnya Khalifah Umar membunuhnya tanpa mengambil kira
keadaannya kerana Rasulullah (S.a.w) telah memerintahkannya, tetapi
dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Rasulullah (S.a.w).
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

44. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka boleh
memahami ungkapan-ungkapan yang tinggi, tetapi Khalifah Umar tidak
boleh memahami ungkapan-ungkapan yang tinggi. Dia bertanya kepada
seorang lelaki: Bagaimana keadaan anda? Lelaki itu menjawab: Aku
adalah di kalangan orang yang mencintai fitnah, membenci al-Haqq dan
memberi penyaksian kepada orang yang tidak dilihat.”Lalu dia
memerintahkan supaya lelaki itu ditahan. Maka Ali a.s menyuruh
supaya ianya dilepaskan seraya berkata: Apa yang diucapkan oleh lelaki itu adalah benar. Umar berkata: Bagaimana anda dapat mengatakan ianya benar? Ali (a.s) menjawab: Dia mencintai harta dan anak sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Anfal(8):28: “Dan ketahuilah, bahawa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah.” Dan dia membenci kematian maka ia adalah al-haqq. Dan dia memberi penyaksian bahawa Muhammad adalah Rasulullah sekalipun dia tidak melihatnya.Kemudian Umar memerintahkan supaya ia dilepaskan Ibn
Qayyim al-Jauziyyah, al-Turuq al-Hukmiyyah, hlm.46]. Justeru itu,
mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

45. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menjatuhkan airmuka Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Umar telah
menjatuhkan airmuka Nabi (S.a.w) di hadapan Musyrikin yang datang
berjumpa Nabi (S.a.w) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka
yang lari dari mereka. Musyrikin berkata: Hamba-hamba kami telah
datang kepada anda bukanlah kerana mereka cinta kepada agama,
tetapi mereka lari dari menjadi milik kami dan harta kami. Justeru itu,kembalilah mereka kepada kami. Lebih-lebih lagi kami adalah jiran anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.Walau
bagaimanapun Rasulullah (S.a.w) tidak mahu menyerahkan hambahamba
tersebut kepada mereka kerana khuatir mereka akan menyiksa
hamba-hamba tersebut, tetapi beliau tidak mahu mendedahkan hakikat
ini kepada mereka. Lalu Rasulullah (S.a.w) bertanya kepada Umar. Maka
Umar menjawab: Benar kata-kata mereka itu wahai Rasulullah. Mereka
itu adalah jiran kita dan mereka telah membuat perjanjian damai
dengan kita. Maka muka Nabi (S.a.w) berubah kerana jawapannya
menyalahi apa yang dikehendaki oleh Nabi (S.a.w). [Ahmad bin Hanbal,
al-Musnad, I, hlm.155; al-Nasa’i, al-Khasa’is, hlm. 11] Justeru itu,
mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

46. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menjadikan mahar wanita berkahwin sebelum tamat iddahnya untuk
Baitulmal, tetapi Khalifah Umar menjadikan mahar wanita berkahwin
sebelum tamat iddahnya untuk Baitulmal. Kemudian dia memisahkan
pasangan tersebut dan berkata: Nikah adalah haram, mahar adalah
haram dan kedua-duanya tidak boleh berkahwin lagi. Ali berkata:
Sekiranya lelaki itu tidak mengetahuinya, wanita tersebut berhak
mengambil maharnya dan dipisahkan pasangan tersebut. Dan apabila
tamat ‘iddahnya dia menjadi peminangnya. Di dalam ertikata yang lain
dia hendaklah menyempurnakan iddahnya yang pertama kemudian
menyempurnakan pula iddahnya yang kedua. Lalu Umar berkata:
Kembalikan” “kejahilan” kepada Sunnah. [Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra,VII, hlm. 441; al-Tabari, Dhakha’ir al-‘Uqba, hlm. 81]

Persoalan yang timbul ialah kenapakah dia menjadikan mahar hal
Baitulmal dan bukan hak wanita tersebut dan kenapakah dia
mengharamkan wanita tersebut ke atas lelaki tersebut? Manakah ayat
atau Sunnah yang membolehkan khalifah Umar melakukan sedemikian?
Oleh itu ijtihadnya adalah menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w). Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

47. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mempelajari Surah al-Baqarah di dalam masa yang singkat,apatah lagi
jika seorang itu seorang pemimpin, tetapi Khalifah Umar telah
mempelajari Surah al-Baqarah selama dua belas tahun. Dan apabila dia
selesai mempelajarinya (khatam), dia menyembelih beberapa ekor
unta.[al-Qurtubi, Ahkam al-Qur’an, I, hlm. 34; al-Durr al-Manthur, I, hlm. 21] Oleh itu untuk mempelajari kesemua al-Qur’an dia memerlukan kepada masa yang lebih lama. Ini sebelum khalifah Umar menjadi seorang yang pelupa, kadangkala dia melupai bilangan raka’at
sembahyang, lalu dia menyuruh seorang lelaki berdiri di hadapannya
bagi memberikan isyarat kepadanya supaya dia berdiri ataupun rukuk,
kemudian dia melakukannya. [Ibn Jauzi, Sirah Umar , hlm. 135; Ibn Abi
l-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 110] Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w). malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

48. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menjadikan “enam jengkal” sebagai ukuran baligh, tetapi Khalifah Umar
telah menjadikan “enam jengkal” sebagai ukuran baligh. Dia berkata:
Sekiranya kalian mendapati budak lelaki yang mencuri itu setinggi enam jengkal (sittah asybar) genap, maka kalian potonglah tangannnya, jika tidak tinggallah dia.”

Di riwayatkan daripada Sulaiman bin Yasar, Sesungguhnya Umar
mendatangi seorang budak lelaki yang telah mencuri, lalu dia mengukur
budak tersebut, tetapi ianya tidak mencukupi enam jengkal tepat lalu
ditinggalkannya.”[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, I, hlm. 116]
Oleh itu sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah
Rasulullah (S.a.w) yang menetapkan baligh melalui ihtilam (mimpi) dan tumbuh bulu di kemaluan.[al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, V, hlm. 54- 55].Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

49. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menyesali menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Umar telah
menyesali menjadi seorang manusia.Dia berkata:”Alangkah
beruntungnya jika aku menjadi seekor kambing keluargaku. Mereka
menggemukkan aku seperti yang mereka suka. Kemudian aku menjadi
makanan kepada orang yang menyukainya. Mereka menghiris
sebahagian dariku dan memanggang sebahagian yang lain. Kemudian
mereka memakan aku dan mereka mengeluarkan aku sebagai najis dan
aku tidak menjadi manusia lagi.”[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,
VI,hlm. 345; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah, III, hlm. 131; Abu Nu’im,Hilyah al-Auliya’, I, hlm. 52]

Sepatutnya khalifah Umar tidak mengeluarkan kata-kata tersebut
kerana ianya bertentangan dengan Surah al-Tin (95):4: “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”Dan
jika dia benar seorang wali Allah kenapa dia menyesal menjadi manusia,

sedangkan Allah telah memberi jaminan di dalam Surah Yunus (10):62:
“Ingatlah, sesungguhnya walil-wali Allah itu tidak ada kekhuatiran
terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” Justeru itu
mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

50. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mehentikan pemberian zakat kepada muallaf, tetapi Khalifah Umar telah
mehentikan pemberian zakat kepada muallaf.[al-Suyuti, Tarikh al-
Khulafa, hlm. 137 dan lain-lain. Tindakan ini adalah bertentangan
dengan al-Qur’an Surah al-Taubah (4):60, “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untukorang-orang faqir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya….” Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w) malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

51. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
memohon keizinan ‘Aisyah supaya ianya disemadikan di sisi Rasulullah
(S.a.w), tetapi Khalifah Umar memohon keizinan ‘Aisyah supaya disemadikan di sisi Rasulullah (S.a.w), lalu ‘Aisyah menyetujui
permohonannya.[al-Bukhari, Sahih, V, hlm. 266] Persoalannya
kenapakah dia memohon izin daripada ‘Aisyah? Adakah ‘Aisyah
menerima pusaka Rasulullah (S.a.w)? Dimana kata-kata “Kami para
Nabi tidak meninggalkan pusaka? Jika beliau meninggalkan pusakanya
tidakkah pewaris-pewaris anak perempuannya lebih berhak daripada
‘Aisyah kerana saham ‘Aisyah hanya sepersembilan daripada
seperlapan? Nampaknya khalifah Umar sudah tidak mempercayai katakata”
Kami para Nabi tidak meninggalkan pusaka.” Lantas dia memohon
izin daripada ‘Aisyah. Sepatutnya dia memohon izin dari pewaris-pewaris Fatimah (a.s) yang mempunyai hak yang lebih banyak daripadanya.

Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

52. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
gelisah dan takut bagi menghadapi Allah (swt), tetapi Khalifah Umar
mengakui kegelisahan dan ketakutannya bagi menghadapi Allah (swt).
Ibn Abbas berkata kepadanya selepas dia ditikam Wahai Amiru l –
Mukminin tidakkah anda telah bersahabat dengan Rasulullah dan
persahabatan anda dengannya adalah baik. Kemudian beliau
meninggalkan anda di dalam keadaan redha terhadap anda. Kemudian
anda bersabahat pula dengan Abu Bakar, maka persahabatan anda
dengannya adalah baik, dia meninggalkan anda di dalam keadaan reda
terhadap anda.

Kemudian anda bersahabat dengan sahabat-sahabat mereka, maka
persahabatan anda adalahbaik dan sekiranya anda meninggalkan
mereka, maka mereka meredhai anda.”Umar menjawab: “Adapun apa
yang andasebutkan tadi tentang persahabatan dengan Rasulullah dan
keredhaannya, ianya merupakan satu kurniaan daripada Allah (swt)
yang dilimpahkan kepadaku. Adapun apa yang anda sebutkan tentang
persahabatan dengan Abu Bakar dan keredhaannya, maka ianya juga
satu kurniaan daripada Allah (swt) yang dilimpahkan kepadaku. Tetapi
apa yang anda lihat tentang kegelisahan dan ketakutanku adalah kerana
anda dan para sahabat anda. Demi Allah sekiranya aku mempunyai
segunung emas, nescaya aku menebus diriku dengannya dari azab Allah
sebelum aku menemui-Nya.” [al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 201] Sikap
sedemikian telah diterangkan oleh Allah SWT di dalam Surah Yunus
(10):54:”Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu…”

Dan sekiranya dia seorang wali Allah, dia tidak perlu khuatir
dengan azab Allah (swt). Kerana Dia berfirman di dalam Surah Yunus
(10): 62: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati iaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimatkalimat Allah yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” Pengakuan sedemikian telah dilakukan juga oleh khalifah Abu Bakar, al-Barra bin ‘Azib, ‘Aisyah dan Anas bin Malik. Al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 74 meriwayatkan bahawa Anas bin Malik berkata: Tidak ada suatupun yang aku ketahui di zaman Nabi (S.a.w) lebih baik dari sembahyang (solat). Dia berkata: Tidakkah kalian telah menghilangkan sesuatu padanya? Dan al- zuhuri berkata: Aku berjumpa Anas bin Malik di Damsyik ketika itu dia sedang menangis.

Aku bertanya kepadanya: Apakah yang menyebabkan anda
menangis? Dia menjawab: Aku tidak mengetahui sesuatupun selain dari
sembahyang (solat) itupun telah dihilangkan.” Al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 154 dan Muslim, Sahih, I, hlm. 260, meriwayatkan bahawa khalifah
Uthman dan ‘Aisyah telah mengubah Sunnah Rasulullah (S.a.w)
mengenai sembahyang. Kerana mereka mengerjakan sembahyang empat
rakaat (itmam) di Mina sedangkan Rasulullah (S.a.w) mengerjakan
sembahyang dua rakaat (qasr) di Mina.

Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya,I, hlm. 122 meriwayatkan
daripada Abi Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Rasulullah (S.a.w) keluar
sembahyang di hari Aidilfitri dan Aidiladha ke masjid, kemudian beliau berjumpa dengan orang-orang di barisan depan. Kemudian beliau mulai berkhutbah menasihati mereka, menyuruh mereka atau menyelesaikan isu-isu semasa. Dan selepas itu beliaupun pergi. “Abu Sa’id berkata:

“Cara demikian berterusan sehingga pada suatu hari aku keluar
bersama Marwan gabenor Madinah pada masa itu, ke masjid yang
mempunyai mimbar yang dibina oleh Kathir bin al-Salt.
Marwan terus menuju ke mimbar tersebut sebelum bersembahyang.
Kemudian aku menarik kainnya, tetapi dia menolakku dan terus ke
mimbar dan memberi khutbah kepada orang ramai sebelum dia
bersembahyang. Maka akupun berkata kepadanya: Demi Allah, kalian telah mengubah Sunnah Rasulullah. Dia menjawab: Wahai Abu Sa’id,
apa yang anda ketahui telah hilang begitu sahaja.Aku menjawab:Apa
yang aku ketahui adalah lebih baik, demi Allah, daripada apa yang aku
tidak mengetahuinya. Marwan berkata: Orang ramai tidak akan duduk
mendengar khutbah kita selepas sembahyang. Justeru itu, aku
jadikannya (khutbah) sebelum sembahyang.”

Oleh itu pengakuan-pengakuan tersebut membuktikan bahawa
sahabat bukan semuanya adil. Malah ada yang mengubah Sunnah
Rasulullah (S.a.w). Dan mungkin inilah yang membuatkan mereka
merasa khuatir terhadap azab Allah (swt). Dan mereka mengakui
bahawa tidak ada keistimewaan menjadi sahabat Rasulullah (S.a.w) jika
mereka mengubah Sunnahnya pula. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu
s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau
Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

53. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berhasrat untuk melantik Salim hamba Abu Huzaifah, tetapi Khalifah
Umar berhasrat untuk melantik Salim hamba Abu Huzaifah menjadi
khalifah sekiranya ia masih hidup. Oleh itu kata-katanya adalah
bertentangan dengan kata-katanya yang menyokong Abu Bakar di
Saqifah. Para imam mestilah daripada Quraisy kerana Salim adalah
seorang hamba dan dia bukanlah daripada Quraisy.[Ibn Qutaibah, al-
Imamah wal-Siyasah, I, hlm.19]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau
Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

54. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w) nescaya mereka tidak
menghukum rejam ke atas wanita yang mengandung selama enam
bulan, tetapi Khalifah Umar telah menghukum rejam ke atas wanita
yang mengandung selama enam bulan, kemudian melahirkan anak.Lalu
Ali (a.s) membantahnya dan membacakan firman Allah (swt) di dalam
Surah al-Ahqaf (46):15: Ibunya mengandungkannya sampai menyusunya
adalah tiga puluh bulan” dan firmanNya di dalam Surah Luqman
(31):14:”Penyusuannya selama dua tahun.”

Oleh itu “mengandung” sekurang-kurangnya ialah enam bulan
dan penyusuannya ialah selama dua tahun. Kemudian Umar menarik
balik hukumannya dan berkata: “Sekiranya tidak ada Ali, nescaya
binasalah Umar. [al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, I, hlm. 288; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hlm. 96; al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba, hlm.82, dan lain-lain]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

55. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengenakan hukum had ke atas Ja’dah dari Bani Sulaim tanpa saksi
yang mencukupi, tetapi Khalifah Umar telah mengenakan hukum had ke
atas Ja’dah dari Bani Sulaim tanpa saksi yang mencukupi. Dia memadai
dengan sepucuk surat yang mengandungi syair mengenai perzinaannya
yang dihantar oleh Buraid. [Ibn Sa’d, Tabaqat, III, hlm. 205] Lantaran itu ijtihadnya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (S.a.w) yang memerlukan empat orang saksi atau pengakuan secara sukarela. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

56. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mempunya sifat keberanian yang unggul dan tidak lari di dalam
peperangan, tetapi Khalifah Umar telah lari di dalam peperangan Uhud,
Hunain, dan Khaibar.[al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 46; al-Hakim, al-
Mustadrak, III, hlm.37; al-Dhahabi, al-Talkhis, III, hlm. 37 dan lain-lain] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

57. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengambil separuh dari harta kekayaan gabenor-gabenornya kerana dia
mengesyaki mereka melakukan pecah amanah terhadap Baitulmal,
tetapi Khalifah Umar telah mengambil separuh dari harta kekayaan
gabenor-gabenornya kerana dia mengesyaki mereka melakukan pecah
amanah terhadap Baitulmal. Persoalan yang timbul, sekiranya harta
tersebut adalah hasil dari kecurian dari Baitulmal, maka ianya wajib
dikembalikan kesemuanya, dan bukan dengan cara membahagi dua.
Dan mereka pula wajib dipecat daripada jawatan tersebut kerana mereka
telah melakukan pecah amanah, tetapi khalifah Umar tidak memecat
kesemua mereka. Dan sekiranya harta tersebut diusahakan oleh mereka
melalui jalan yang halal seperti perniagaan atau seumpamanya, maka
dia tidak harus mengambil daripada mereka. Kerana tidak halal
mengambil harta seorang Muslim melainkan dengan keredaannya.
Malah dia telah mengambilnya daripada mereka secara paksaan.[Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjal-Balaghah, III, hlm. 163] Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Umar atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

JIKA KHALIFAH ABU BAKR DAN PENGIKUTNYA AHLU SUNNAH NABI S.A.W, NISCAYA MEREKA TIDAK MENENTANG SUNNAH NABI S.A.W

Khalifah Abu Bakr dianggap contoh yang unggul sebagai pelaku
atau pengamal Sunnah Nabi (Sa.w), tetapi para ulama Ahlus Sunnah wa
l–Jama‘ah juga mencatat sebaliknya di dalam buku-buku mereka.
Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah
yang berdosa, tidak boleh dipercayai lagi dan bertanggungjawab di
hadapan Allah (swt). Sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita
menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (S.a.w). yang
bertentangan dengan sunnah Abu Bakr? Justeru itu, adakah Abu Bakr
dan pengikut-pengikutnya Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w)? Berikut
dikemukakan sebahagian daripada sunnah khalifah Abu Bakr yang
bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w) serta akal yang
sejahtera :

1. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menentang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi
(S.a.w), tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (S.a.w) (al-Dhahabi, Tadhkira al-Huffaz, I, hlm.3]. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

2. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berpendapat bahawa Sunnah Nabi (S.a.w) akan membawa perpecahan
kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakr berpendapat Sunnah Nabi (S.a.w)
akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata:
Kalian meriwayatkan daripada Rasulullah (S.a.w) hadis-hadis di mana
kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan
berselisih faham lebih teruk lagi” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I,
hlm.3] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

3. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( (S.a.w), nescaya mereka meriwayat
dan menyibarkan Sunnah Nabi (S.a.w) di kalangan orang ramai, tetapi
khalifah Abu Bakr melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia
berkata: Janganlah kalian meriwayat sesuatupun (syaian) daripada
Rasulullah (S.a.w) . “[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3] Justeru
itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

4. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak akan
mengatakan bahawa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan
segala masalah tanpa Sunnah Nabi (S.a.w), tetapi khalifah Abu Bakr
berkata: Kitab Allah boleh menyelesaikan segala masalah tanpa
memerlukan kepada Sunnah Nabi (S.a.w) Dia berkata: Sesiapa yang
bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa baina-kum
kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal
dan haramnya” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]
Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas
peristiwa Hari Khamis iaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika
dia berkata:” Rasulullah (S.a.w) sedang meracau dan cukuplah bagi kita
Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu, sunnah Abu Bakr tadi
adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlu s-
Sunnah: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian
berpegang kepada kedua-duanya nescaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan Sunnahku) Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

5. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membakar Sunnah Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Abu Bakr telah
membakarnya. Oleh itu tidak hairanlah jika Khalifah Abu Bakar tidak
pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadis Nabi
(S.a.w) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-
Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Dengan ini dia telah
menghilangkan Sunnah Rasulullah (S.a.w). Oleh itu kata-kata Abu
Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun daripada
Rasulullah (S.a.w)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan
dan penulisan hadis Rasulullah (S.a.w). Ianya tidak boleh ditakwilkan
sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
menyebarkan Sunnah Nabi (S.a.w), dan menjaganya, tetapi khalifah
Abu Bakr, melarangnya dan memusnahkannya (l-Muttaqi al-Hindi,
Kanz al-Ummal, V, hlm. 237] Lantaran itu, sunnah khalifah Abu Bakar
adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (S.a.w): “Allah
memuliakan seseorang yang mendengar hadisku dan menjaganya, dan
menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadis) membawanya
kepada orang yang lebih alim daripanya dan kadangkala pembawa ilmu
(hadis) bukanlah seorang yang alim. [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,
hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm. 78] Dan sabdanya “Siapa yang
ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan
membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-
Musnad, III, hlm. 263] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

7. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka berkata:
Kami perlu kepada sunnah Nabi (S.a.w) setiap masa, tetapi khalifah Abu
Bakr dan kumpulannya berkata: Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi,
kerana kitab Allah sudah cukup bagi kita. Dia berkata: Sesiapa yang
bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum
kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal
dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

8. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka percaya
bahawa taat kepada Nabi (S.a.w) adalah taat kepada Allah sebagaimana
firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’ (4):80 “ Siapa yang mentaati Rasul,
maka dia mentaati Allah” Ini bererti siapa yang menderhakai Rasul,
maka dia menderhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakr dan
kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : Sesiapa yang
bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum
kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal
dan haramnya. “[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3, al-Bukhari,
Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya menderhakai Nabi
(S.a.w) bukan bererti menderhakai Allah. Justeru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu
Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri

9. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengkasari Ahlu l-Bait Nabi (S.a.w), malah mereka harus mempunyai
sifat kasih sayang kepada mereka khususnys kepada Fatimah (a.s),
tetapi khalifah Abu Bakr tidak mempunyai sifat sedemikian. Kerana
orang yang menilai Nabi (S.a.w) dari segi budi pekertinya dan apa yang
dikurniakan Allah ke atasnya untuk kebaikan umatnya di mana lidah
menjadi lemah untuk melahirkan kesyukuran kepadanya, tidak akan
memusuhinya melalui keturunannya dan Ahlu l- Baitnya.
Mereka tidak menjadikan Ahlu l-Baitnya setaraf dengan mereka
seperti kedudukan mata di sisi kepala, kerana menjaga hati Nabi (S.a.w)
dan kasih sayang kepada anak cucunya. Kenapa tidak, al-Qur’an telah
menjelaskannya dan menyeru orang ramai kepadanya. Sunnah-sunnah
telah menetapkan bahawa merekalah Ahlu l-Mawaddah. Merekalah
orang yang Allah mewajibkan kasih sayang terhadap mereka dan berjanji
ganjaran kebaikan ke atas orang yang mencintai Ahlu l-Bait kerana
sekiranya seorang melakukan al-Mawaddah terhadap mereka secara
ikhlas, dia berhak syurga kerana firman Allah Azza Wa-Jalla:” Dan
orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang soleh [berada] di
dalam taman-taman syurga, mereka perolehi apa yang mereka kehendaki
di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah kurniaan yang besar.”
[Surah al-Syu’ara 26:22] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

10. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w) , nescaya mereka tidak
bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (S.a.w), apatah lagi mengepung
dan cuba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi
mereka telah mengepung dan cuba membakarnya dengan menyalakan
api di pintu rumahnya. Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah
mengepung dan cuba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipun
Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan
mereka tidak melakukan bai’ah kepadanya.

Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah
(a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga
beliau berjumpa bapanya dan merayu kepadanya. Al-Bukhari di dalam
Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan daripada Aisyah bahawa Fatimah
as tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia.
Beliau hidup selepas Nabi (S.a.w) wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,
Sahih, VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah, I, hlm.14;
Abu l-Fida, Tarikh, I, hlm.159; al-Tabari, Tarikh, III, hlm.159] Justeru
itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

11. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu
Bakr dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya
di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-
Siyasah, I, hlm.18-20, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, iii, hlm.139;
Abu l-Fida, Tarikh, I, hlm.159; al- Tabari, Tarikh, III, hlm.159].
Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (S.a.w)
yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah
selepasnya: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah
maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap
jawatan khalifah. (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.144,
al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 2180) Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

12. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka diizinkan
untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah
Abu Bakr dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk
mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya
Ali (a.s) supaya Abu Bakr dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat
ke atasnya. Kerana perbuatan mereka berdua yang menyakitkan
hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih, VI, hlm.196;
Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah, I, hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I,
hlm.159; al-Tabari, Tarikh, III, hlm.159]. Nabi (S.a.w) bersabda:”
Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan reda
dengan keredaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi
al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219] Justeru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu
Bakr dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

13. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
dirahsiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakr dan
kumpulannya telah dirahsiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),
kerana Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahsiakan
makamnya daripada mereka berdua. Nabi (S.a.w) bersabda:”
Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan redha
dengan keredhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 153; al-Muttaqi
al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219] ] Justeru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu
Bakr dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

14. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci
Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau
mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur)
kerana menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan
oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (S.a.w) selepas berlakunya dialog
dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah
bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri,
mengenai kata-kata tersebut: “Kepada siapakah ianya ditujukan?
“Gurunya menjawab: “Ianya ditujukan kepada Ali a.s. Kemudian dia
bertanya lagi: Adakah ia ditujukan kepada Ali? Gurunya menjawab:
“Wahai anakku inilah ertinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak
mengira kata-kata tersebut. [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,
IV, hlm. 80] .

Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu,
hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. “[Surah al-
Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali a.s adalah Ahlu l-Bait Rasulullah
(S.a.w.) yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah
(S.a.w.) bersabda: “Kami Ahlu l-Bait tidak boleh seorangpun dibandingkan
dengan kami . [Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.243]
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

15. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi (S.a.w), tetapi
Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada
keluarga Rasulullah ( S.a.w). Ijttihadnya itu adalah bertentangan dengan
Surah al-Anfal (8):41“Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima
adalah untuk Allah, Rasul-Nya, Kerabat, anak-anak yatim, orang miskin,
dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (S.a.w)
yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat
umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, II, hlm. 127] Justeru itu,
mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

16. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengambil kembali Fadak daripada Fatimah (a.s), tetapi Khalifah Abu
Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak daripada
Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (S.a.w). Khalifah Abu Bakar
memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa
yang kami tinggalkan ialah sedekah. Hujah yang diberikan oleh Abu
Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) kerana ianya
bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang
(pembahagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa
yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi
(S.a.w).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi
Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi
kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau
seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian keluarga
Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diredhai.”(Surah
Maryam:5-6). Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu
Bakar yang berpegang dengan hadis tersebut. Dan apabila hadis
bertentangan dengan al-Qur’an, maka ianya (hadis) mestilah
diketepikan.

d) Kalau hadis tersebut benar, ia bererti Nabi (S.a.w) sendiri telah cuai
untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan ianya bercanggah
dengan firman-Nya yang bermaksud: “Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat.”( Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan ianya
tidak boleh menjadi hujah kerana Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya.
Fatimah (a.s) berkata: Adakah kamu sekarang menyangka bahawa aku
tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum
Jahiliyyah?

Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah
kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi bapa kamu sedangkan aku
tidak mewarisi bapaku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara
keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14;
Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid,
Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di
dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-
Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang
Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran: 61. Adakah
wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi
pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya ?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul ianya bermakna Rasulullah
(S.a.w) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai
seorang bapa terhadap anaknya. Kerana anak-anak para nabi yang
terdahulu menerima harta pusaka dari bapa-bapa mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (S.a.w) dengan keluarganya
menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya Fatimah as sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam as. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah marah kerana kemarahanmu (Fatimah
AH) dan redha dengan keredhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III ,
hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz
al-Ummal,VI, hlm.219; Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari, Dhakhair al-
Uqba, hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang
yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap
dengan mereka sehingga beliau berjumpa bapanya dan merayu
kepadanya. [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm.14]
Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan
tidak membenarkan seorangpun daripada “mereka berdua” mengerjakan
solat jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 542; al-Bukhari,
Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab, II, hlm.75]
Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Jawatan khalifah untuk suaminya Ali a.s kerana dia adalah dari ahlul
Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh
100,000 orang dan ianya diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.

3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah (S.a.w) tetapi kesemuanya
ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-
Balaghah, V, hlm. 86] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

17. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih, tetapi
Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin
al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya.
Umar dan Ali (a.s) mahu supaya Khalid dihukum rejam. [Ibn Hajr, al-
Isabah , III, hlm. 336]

Umar berkata kepada Khalid: “Kamu telah membunuh seorang
Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah
aku akan merejam kamu dengan batu. “[Al-Tabari, Tarikh, IV, hlm. 1928]
Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahawa Malik bin Nuwairah
adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata: “Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”
Umar memahami bahawa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh
dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan
kaumnya tidak patut dilakukan kerana mereka adalah Muslim.
Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh
menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas
mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, iaitu
mengikut suku Kinanah ia bererti “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa
ia bererti “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan
darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid
bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Walaubagaimanapun mereka terus membunuh kaumnya dan Malik
sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh
itu Dhirar pasti memahami bahawa perkataaan idfi’u bukanlah
perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap
membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam
pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam jenayah Khalid,
apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia
dibunuh. Dengan itu tidak hairanlah jika Ali a.s dan Umar meminta
Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan
melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan
pembunuhan, maka Nabi (S.a.w) sendiri tidak memerangi sahabatnya
Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (S.a.w). Allah
(swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah (9):75-77.
Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahawa ayat itu
diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat kerana
beranggapan bahawa ianya jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan
hakikatnya.

Dan Nabi (S.a.w) tidak memeranginya dan tidak pula merampas
hartanya sedangkan beliau (S.a.w) mampu melakukannya. Adapun Malik
bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu
fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu
Bakar ke atas jawatan khalifah selepas Rasulullah (S.a.w) dengan
menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar
mengetahui tentang hadis al-Ghadir. Oleh itu tidak hairanlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira jenayah yang dilakukannya terhadap Muslimin kerana Khalid telah melakukan
sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya
di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun ianya
bertentangan dengan Sunah Nabi (S.a.w). Justeru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu
Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

18. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, walhal
mereka sendiri menolak wasiat Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Abu Bakar
telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, walhal
dia sendiri menolak wasiat Nabi (S.a.w). Beliau bersabda: “Ali adalah
saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan
penyerahan jawatan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip
syura yang diagung-agungkan oleh Ahlu s-Sunnah. Justeru itu, Abu
Bakar adalah orang yang pertama merosakkan sistem syura dan
memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi
mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani
Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi
kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura
dengan alasan bahawa Umar adalah orang yang paling baik baginya
untuk memegang jawatan khalifah selepasnya. Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

19. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka dilantik
oleh Nabi (S.a.w) untuk menjalankan mana-mana misi penting, tetapi
Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (S.a.w) untuk
menjalankan mana-mana misi atau tugasan, malah beliau melantik
orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa
Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian
meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya. [Al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba
hlm.61; al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461; Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

20. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an, tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb iaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31: “Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumputrumputan
(abban). “Dia berkata: Langit mana aku akan junjung dan
bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab
Allah apa yang aku tidak mengetahui? “[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-
Ummal, I, hlm.274] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

21. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak akan
melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (S.a.w), tetapi Khalifah Abu
Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas
Rasulullah (S.a.w). Malik bin Anas di dalam al-Muwatta’ bab “jihad
syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan daripada hamba Umar bin
Ubaidillah bahawa dia menyampaikannya kepadanya bahawa Rasulullah
(S.a.w) bersabda kepada para syahid di Uhud: “Aku menjadi saksi kepada
mereka semua. Abu Bakar berkata: Tidakkah kami wahai Rasulullah
(S.a.w) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana
mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana
mereka berjihad? Rasulullah (S.a.w) menjawab: Ya! Tetapi aku tidak
mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku. Abu
Bakarpun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang
dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri,
di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitabb bad’ al-Khalq fi bab
Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya
daripada al-Ala bin al-Musayyab daripada bapanya bahawa dia berkata:
“Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya:
Alangkah beruntungnya anda kerana bersahabat dengan Nabi (S.a.w)
dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pokok. Maka dia
menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak
mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-
Bukhari, Sahih, III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Nabi (S.a.w) bersabda kepada
orang-orang Ansar: “Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak
yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu
Allah dan Rasul-Nya di Haudh. Anas berkata: Kami tidak sabar. “[Al-
Bukhari, Sahih, III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm.
51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahawa dia berkata: “Aisyah
ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ahbid’ah
(Ahdathtu) selepas Rasulullah (S.a.w), maka kebumikanlah aku
bersama-sama isteri Nabi (S.a.w). ” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah
“Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (S.a.w) kerana aku
telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.
Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik
dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahawa mereka
telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (S.a.w).
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

22. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak akan
berkata: Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku
dan sekiranya aku menyeleweng, maka betullah aku, tetapi Khalifah Abu
Bakar berkata: Aku digodai Syaitan. sekiranya aku betul, maka bantulah
aku dan sekiranya aku menyeleweng ,maka betullah aku “[Ibn Qutaibah,
al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,
III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa‘iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci, Nur
al-Absar, hlm. 53] Ini bererti dia tidak mempunyai keyakinan diri, dan
bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?. Justeru itu mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

23. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal
menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pokok dimakan oleh
binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata: “Ketika dia
melihat seekor burung hingap di atas suatu kok, di berkata:
Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan
hinggap di pokok tanpa hisab dan balasan, tetapi aku lebih suka jika
aku ini sebatang pokok yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang
seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak
menjadi seorang manusia. “[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,
hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah, III, hlm. 130

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan
firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4: “Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”Dan
jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa diaharus takut kepada hari
hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada waliwalinya
di dalam Surah Yunus(10):62-64, ,”Ingatlah, sesungguhnya walwali
Allah ini tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula
mereka bersedih iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di
dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada
perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” ? Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

24. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mencorobohi rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah
Abu Bakar telah mencorobohinya dan ketika sakit menyesal kerana
mencerobohi rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya akut tidak
mencerobohi rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang
terhadapku. “[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-
Tabari, Tarikh, IV, hlm. 52; Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid, II, hlm.254]
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

25. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menjatuhkan air muka Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Abu Bakar telah
menjatuhkan air muka Nabi (S.a.w) di hadapan musyrikin yang datang
berjumpa dengan Nabi (S.a.w) supaya mengembalikan hamba-hamba
mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata: Hamba-hamba kami
telah datang kepada anda bukanlah kerana mereka cinta kepada agama
tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami
adalah jiran anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan
anda, tetapi Nabi (S.a.w) tidak mahu menyerahkan kepada mereka
hamba-hamba tersebut kerana khuatir mereka akan menyiksa hambahamba
tersebut dan beliau tidak mahu juga mendedahkan hakikat ini
kepada mereka. Nabi (S.a.w) bertanya kepada Abu Bakar dengan
harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar
berkata: Benar kata-kata mereka itu. Lantas berubah muka Nabi (S.a.w)
kerana jawapannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan RasulNya. [al-Nasa’i, al-Khasa’is, hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad I,hlm. 155]

Sepatutunya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang
dimaksudkan, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah dia
memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya. Justeru itu,
mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi ( S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.
26. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka telah
membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara,
akhirnya menentang khalifah Ali (a.s ), tetapi khalifah Abu Bakar tidak
membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah (S.a.w.) telah
memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu
Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata
kepada Rasulullah (S.a.w): “Subhanallah! Bagaimana aku membunuh
lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad, III,
hlm.14-150)

Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan kerana
Nabi (S.a.w) telah memerintahkannya, tetapi dia tidak membunuhnya,
malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (S.a.w).
Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah
mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan
mereka sendiri.

27. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengatakan bahawa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an
dan Sunnah Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan
bahawa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah (S.a.w). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang
pusakanya. Abu Bakar menjawab: Tidak ada saham untuk anda di
dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w).
Oleh itu kembalilah. “Lalu al-Mughirah bin Syu‘bah berkata: “Aku
berada di sisi Nabi (S.a.w) bahawa beliau memberikannya (nenek)
seperenam saham. “Abu Bakar berkata: “Adakah orang lain bersama
anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata
sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.
[Malik, al-Muwatta, I, hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV, hlm.224; Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, II, hlm. 334] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s- Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

28. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mengetahui hukum had ke atas pencuri yang kudung satu tangan dan
satu kakinya, tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang kudung satu tangan dan satu kakinya. Daripada
Safiyyah binti Abi Ubaid, Seorang lelaki kudung satu tangan dan satu
kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu
Bakar mahu memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat
bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata: Demi yang diriku
di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu
Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong. [al-Baihaqi,
Sunan, VIII, hlm.273-4] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

29. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berpendapat bahawa seorang khalifah bukan semestinya orang yang
paling alim, tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahawa seorang
khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal). [Ibn
Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-
Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah, III, hlm. 386] Ijtihadnya
adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar
(39):9 “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunuss
(10):35: Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada
kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidka dapat
memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu
mengambil keputusan?” Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

30. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya. Tetapi
Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan)
kerana khuatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya
adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (S.a.w) yang menggalakkannya. [Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX, hlm. 265; al-
Syafi’i, al-Umm, II, hlm.189] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr
atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

31. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah
ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar
mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah
ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyeksanya di
atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya: Adakah
anda fikir zina juga takdir-Nya? Lelaki itu bertanya lagi: “Allah
mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu
Bakar menjawab: Ya, demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang
masih berada di sisiku, nescaya aku menyuruhnya memukul hidung
anda. [al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm. 65]

Oleh itu, ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firmanfirman
Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3 “Sesungguhnya kami telah
menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur
dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah
menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang
bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya
sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha
Kaya lagi Maha Mulia’”. Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

32. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
berkata: Jika pendapat kami betul, maka ianya daripada Allah dan jika
ianya salah maka ia adalah daripada kami dan daripada syaitan Tetapi
Khalifah Abu Bakar berkata: Jika pendapatku betul, maka ianya
daripada Allah dan jika ianya salah maka ia adalah daripada aku dan
daripada syaitan. [Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari,
Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar
menunjukkan bahawa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya. Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-
Sunnah ciptaan mereka sendiri.

33. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka akur
kepada Sunnah Nabi (S.a.w) apabila mengetahui kesannya dengan
mengelakkan dirinya dari kilauan dunia, tetapi Khalifah Abu Bakar
mengetahui bahawa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu
dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan
dengan sanadnya daripada Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada
suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman,
lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke
mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya
menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus
menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka
menyangka bahawa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan
masalahnya. Dia berkata: Kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka
berkata: Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh
anda? Beliau menjawab: Dunia ini (di hadapanku) telah
“memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya: Pergilah
dariku maka ianya pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:
Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas
dariku. Hadis ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh
Baghdad, X, hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I,
hlm.30] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w),
malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

34. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka
mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka, tetapi Khalifah
Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya
melainkan ianya dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahawa
“Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar
dan berkata: Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di
sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami.Kami akan membajak
dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat
kepada kami dengannya. Lalu Abu Bakar menulis surat tentang
persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya
membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan
mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu
kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Kami tidak
mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka
berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata: “Kami tidak
melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”[al-
Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,
hlm.56] . Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w),
malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

35. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (S.a.w), tetapi Khalifah Abu
Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah (S.a.w.).
Tetapi Nabi (S.a.w) tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula,
Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah mencaci
Abu Bakr dan Nabi (S.a.w) sedang duduk, maka Nabi (S.a.w) kagum
dan tersenyum. [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] . Justeru
itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

36. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (S.a.w)
khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan
suara mereka di hadapan Rasulullah (S.a.w) . Abu Bakar berkata: Wahai
Rasulullah lantiklah al-Aqra‘ bin Habis bagi mengetuai kaumnya.” Umar
berkata: “Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga
mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan
Rasulullah (S.a.w). Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-
Hujurat(49):2, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara)
sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak terhapus
pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya
mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (S.a.w)
mengenainya. [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV, hlm. 6; al-Tahawi,
Musykil al-Athar, I, hlm. 14-42] . Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr
atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri 37. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya
melakukan sesuatu, tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat
pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,
tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan
dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,
9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:
“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak
melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya
aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya
Rasulullah (S.a.w) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah
melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka
mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah
Bani Saidah, iaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi
wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya
dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku
melakukannya:

1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai
tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk
hidup, kerana aku telah mendengar tentangnya bahawa ia bersifat
sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orangorang
murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya
mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah
aku boleh menghulurkan bantuan. Adapun tiga perkara yang sepatutnya
aku bertanya Rasulullah (S.a.w) ialah:

1. Kepada siapakan jawatan khalifah patut diberikan sesudah beliau
wafat, dengan demikian tidaklah jawatan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar
mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembahagian harta pusaka
anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki
kerana aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan
penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam
Tarikhnya, IV, hlm. 52; Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid, II, hlm. 254;Abu
Ubaid, al-Amwal, hlm. 131] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr
atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

38. Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mengundurkan diri dari tentera Usamah yang telah dilantik oleh Nabi
(S.a.w) menjadi penglima perang di dalam usianya yang muda, tetapi
Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentera di
bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (S.a.w) bersabda:
“Perlengkapkan tentera Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur
diri dari tentera Usamah. “[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d,
Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi]. Jesteru itu, mereka bukanlah
Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu
Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

39. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
menamakan dirinya (Abu Bakr) “Khalifah Rasulullah”, tetapi Khalifah
Abu Bakar telah menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn
Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm.13]; al-Suyuti, Tarikh al-
Khulafa’, hlm. 78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah
Rasulullah (S.a.w.) kerana beliau tidak menamakannya dan
melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau
bersabda: “Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.
Dan hadis-hadis yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah
selepas Rasulullah (S.a.w). Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

40. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membakar manusia hidup-hidup, tetapi Khalifah Abu Bakar telah
membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali
perbuatannya. [al-Tabari, Tarikh, IV, hlm.52] Dan ianya bertentangan
dengan Sunnah Nabi (S.a.w) “Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuannya.”(Al-Bukhari, Sahih, X, hlm.83] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

41. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak lari
di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam
peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat
keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad
di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (S.a.w) [al-Hakim, al-Mustadrak, III,
hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 394; al-Dhahabi,
al-Talkhis, III, hlm. 37] Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah
Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu
s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

42. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
meragui jawatan khalifah, tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragui
jawatan khalifahnya. Dia berkata: “Sepatutnya aku bertanya Rasulullah
(S.a.w), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam
jawatan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau
kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar
manakala mereka mengatakan bahawa Amir mestilah dari golongan
Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar,
bagaimana dia meragui”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah
menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu. “[Al-Ya’qubi, Tarikh
al-Ya’qubi, II, hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm.18,
19; al-Masudi, Muruj al-Dhahab, I, hlm.302] Justeru itu, mereka
bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-
Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

43. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka dapat
menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,
tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalanpersoalan
yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin
Malik berkata: “Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah
(S.a.w). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia
berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan
soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi
Nabi. Abu Bakar berkata: “Tanyalah apa yang anda mahu. Yahudi
berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak
ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.
Ibn Abbas berkata: Khalifah Abu Bakr tidak dapat memberikan
jawapan kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda
mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab:
Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah
bersamanya menemui Ali a.s, nescaya dia akan menjawabnya kerana
aku mendengar Rasulullah (S.a.w) bersabda kepada Ali bin Abi Talib
“Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia
berkata: Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang
kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin daripadanya. Abu Bakar
berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya
kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia
menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak
diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan
soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang
tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak
lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahawa Dia mempunyai anak
lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka
jawapannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun
kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawapannya tidak
ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan
melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah
dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana,
hlm.35] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w),
malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah
ciptaan mereka sendiri.

44. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
mempersendakan Nabi (S.a.w) di masa hidupnya, apatah lagi pada masa
Nabi (S.aw) sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakr dan
kumpulannya telah mempersendakan Nabi (S.a.w) dengan menolak
Sunnah Nabi (S.a.w) di hadapannya ketika Nabi (S.a.w) sedang sakit “
dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III,
hlm. 69),kemudian menghahalang penyibarannya. (Al-Dhahabi,
Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3] Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-
Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr
dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri

45. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak berkata: “Pecatlah aku kerana aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian, tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Pecatlah aku
kerana aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian. Di dalam
riwayat lain, Ali di kalangan kalian [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-
Siyasah,I, hlm. 14; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hlm.132]
Jikalau kata-katanya benar, bererti dia tidak layak untuk menjadi
khalifah Rasulullah (S.a.w), berdasarkan pengakuannya sendiri. Justeru
itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), malah mereka adalah
Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

46. Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (S.a.w), nescaya mereka tidak
membenci orang yang mencitai dan mengamalkan Sunnah Nabi (S.a.w),
tetapi mereka membenci orang yang mencitai Sunnah Nabi (S.a.w) dan
mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (S.a.w) bertentangan dengan
sunnah Abu Bakr. Justeru itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi
(S.a.w), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr dan
kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

Shahih Bukhari ; Allah ngobrol dengan Nabi Ayub as ketika Nabi Ayub as sedang mandi dalam keadaan telanjang

Shahih Bukhari ; Allah ngobrol dengan Nabi Ayub as ketika Nabi Ayub as sedang mandi dalam keadaan telanjang

Shahih Bukhari,Hadits no 270 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا فَخَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْتَثِي فِي ثَوْبِهِ فَنَادَاهُ رَبُّهُ يَا أَيُّوبُ أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى قَالَ بَلَى وَعِزَّتِكَ وَلَكِنْ لَا غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ وَرَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا

Dan (masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tatkala Ayyub mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba muncul belalang dari emas. Lalu Ayyub mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam baju. Maka Raabnya memanggilnya: ‘Wahai Ayyub, bukankah aku sudah memberimu kecukupan sebagaimana kau lihat? ‘ Ayyub menjawab, ‘Benar, dan demi segala kemuliaan-Mu. Tetapi aku tidak pernah merasa puas dari limpahan barakah-Mu’. Ibrahim juga meriwayatkan dari Musa bin ‘Uqbah dari Shafwan bin Sulaim dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Ketika Ayyub mandi dalam keadaan telanjang.

http://bb.indoquran.com/en/hadith-bukhari/surah/5.html

Volume 1, Book 5, Number 277 :

Narrated by Abu Huraira

Narrated Abu Huraira: The Prophet said, “When the Prophet Job (Aiyub) was taking a bath naked, golden locusts began to fall on him. Job started collecting them in his clothes. His Lord addressed him, ‘O Job! Haven’t I given you enough so that you are not in need of them.’ Job replied, ‘Yes!’ By Your Honor (power)! But I cannot dispense with Your Blessings.’ “

http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_1_05.php

_______________________________________

1.Katanya telanjang,koq belalang emasnya di masukkan ke dalam baju ?

2.Ternyata Nabi Ayub as versi Hadits Ahlu Sunnah dalam Hadits ini, masih tergoda dengan Emas,sempet-sempetnya lagi mandi sambil telanjang ngumpulin belalang Emas,apa tidak sebaiknya pakai baju dulu Nabi Ayubnya ? Atau takut belalang Emasnya keburu lari ?

3.Allah versi Hadits Ahlu Sunnah dalam hadits ini tidak malu-malu,Nabi Masih telanjang,langsung di ajak ngobrol ,dan Nabinya juga sama tidak malu,bukannya segera memakai baju,eh malahan cuek saja ngobrol dengan Allah sambil telanjang ,terlalu ,

4.Coba ceritakan hadits ini kepada orang awam,apakah itu anak kecil atau orang dewasa,tapi jangan beritahukan bahwa cerita ini hadits,kemudian tanya pendapat mereka,pantasnya cerita ini di sebut apa ? Dongeng ? Dagelan ? Atau apa ? Coba dengarkan dan lihat pendapat mereka.

5.Ada Nabi yang tidak pernah puas dengan limpahan berkah Allah ? ? Pantaskah ? ?

Ternyata gambaran Allah ta’ala dan Nabi Ayub as adalah seperti ini dalam Shahih Bukhari,kitab Hadits paling Shahih no.1 dalam Mazhab Ahlu Sunnah .

Mau di tolak ? Maaf ,ini hadits shahih,Atau mau bilang ini hadits fitnah buatan Syi’ah ? Atau mau bilang ini hadits fitnah buatan Non-Muslim ? Jangan buru-buru , silahkan cek Kitab Shahih Bukhari yang ada di rumah,mushala,masjid,pesantren,dll
, Bab Mandi ,cetakan mana saja dan terbitan mana saja ,dan dalam bahasa Negara mana saja,

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi

Periksa rumahmu,sebelum mengatakan bahwa rumah orang lain kotor

“…. memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, ….”(QS.Yasin:6)

Shahih Bukhari : kekejaman Rasulullah saw di dalam Shahih Bukhari !! Dusta Sunni

Shahih Bukhari : kekejaman Rasulullah saw di dalam Shahih Bukhari

Baca ini wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi.

Shahih Bukhari,Hadits no.1405 :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًا مِنْ عُرَيْنَةَ اجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَرَخَّصَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْتُوا إِبِلَ الصَّدَقَةِ فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَقَتَلُوا الرَّاعِيَ وَاسْتَاقُوا الذَّوْدَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِهِمْ فَقَطَّعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَرَ أَعْيُنَهُمْ وَتَرَكَهُمْ بِالْحَرَّةِ يَعَضُّونَ الْحِجَارَةَ تَابَعَهُ أَبُو قِلَابَةَ وَحُمَيْدٌ وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa ada sekelompok orang dari ‘Urainah yang sakit terkena udara dingin kota Madinah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengobati mereka dengan memberi bagian dari zakat unta, yang mereka meminum susu-susunya dan air kencingnya. Namun kemudian orang-orang itu membunuh pengembala unta tersebut dan mencuri unta-untanya sejumlah antara tiga hingga sepuluh. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang. Akhirnya mereka dibawa ke hadapan Beliau, lalu kemudian Beliau memotong tangan dan kaki mereka serta mencongkel mata-mata mereka dengan besi panas lalu menjemur mereka dibawah panas dan ditindih dengan bebatuan. Hadits ini dikuatkan juga oleh Abu Qalabah dan Humaid dari Tsabit dari Anas.

Link sumber ambilan Hadits :

Volume 2, Book 24, Number 577 :

Narrated by Anas

Some people from ‘Uraina tribe came to Medina and its climate did not suit them, so Allah’s Apostle (p.b.u.h) allowed them to go to the herd of camels (given as Zakat) and they drank their milk and urine (as medicine) but they killed the shepherd and drove away all the camels. So Allah’s Apostle sent (men) in their pursuit to catch them, and they were brought, and he had their hands and feet cut, and their eyes were branded with heated pieces of iron and they were left in the Harra (a stony place at Medina) biting the stones. (See Hadith No. 234, Vol. 1)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_2_24.php

_______________________________________

Ini fitnah terhadap Rasulullah atau memang seperti inilah gambaran perangai Rasulullah di mata Sunni ? ? ?
Ingat ! Ini hadits Shahih menurut Sunni,karena ada dalam kitab Shahih Bukhari,kitab Hadits paling Shahih no.1 dalam mazhab Ahlu sunnah .

Menolak hadits ini,berarti menodai kekredibilitasan Imam Bukhari sebagai Ulama Hadits handal Mazhab Ahlu Sunnah ,dan menodai keadilan para Sahabat,karena telah berani meriwayatkan Hadits yang memfitnah Rasulullah,dan menodai keUlamaan para ulama Ahlu Sunnah,karena telah berani menshahihkan Hadits seperti ini,dan berdiam diri tidak mengkritiknya.

Akan tetapi ,bila …..

Menerima Hadits ini,berarti Rasulullah di mata Sunni,di gambarkan sebagai seorang yang berperangai sangat Kejam ,sehingga tega memotong kaki manusia,memotong tangan manusia ,mencongkel mata manusia,bahkan setelah itu menindihnya dengan batu.

Beginikah ‘Sang Uswatun hasanah’ di mata Sunni dan Wahabi ???

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi.

Wahabi memutar balikkan fakta/ memfitnah/memprovokasi tentang kebenaran akidah Syi’ah lalu menampilkannya secara palsu sehingga seakan terlihat bertentangan dengan ajaran Islam agar umat membenci dan kemudian memerangi Syi’ah

wedus
wajar jika KH. Said Aqil Siraj Ketua Umum NU mewaspadai wahabi, maklum kanjeng Nabi SAW menyatakan bahwa mereka adalah setan dari nejed yang muncul pada akhir zaman.. Wahabi cuma ngomong besar tetapi ujung ujungnya cuma nyari duit dari asing (gerakan trans nasional)..Wahabi suka memalsu kitab kitab syi’ah
.
Rasulullah saww bersabda, “Kelak di akhir zaman akan muncul satu kaum dari kalangan muda dengan pikiran dangkal. Mereka mengatakan ucapan-ucapan yang paling baik, membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an tidak masuk ke dalam kalbunya. Mereka keluar dari agama ini (Islam) bak melesatnya anak panah dari busurnya.” (Hadis Shahih Muslim)
.
Hadits di atas menjelaskan awal dari munculnya kelompok Khawarij, yaitu sekelompok orang yang semula adalah pengikut Imam Ali as, namun kemudian keluar (kharaja) dari kelompok Imam Ali, terutama setelah peristiwa arbitrase (tahkim) antara pasukan Imam Ali as dan Mu’awiyah.


.

Seperti disabdakan Rasulullah saww, orang-orang Khawarij terdiri dari kalangan muda yang berpikiran dangkal. Kelompok ini cenderung menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an hanya dari sisi tekstual saja tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya, seperti nahwu, sharaf, balaghahma’anibayan, badi’, hadits, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, dan masih banyak lagi ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Kedangkalan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an melahirkan pola pikir yang ekstrim dan gegabah
.
Suatu malam Imam Ali as bersama salah seorang sahabatnya berjalan melewati sebuah gang di kota Kufah. Lalu mereka berdua mendengar suara bacaan al-Qur’an yang sangat menyentuh hati. Ayat yang dibaca orang itu :“Apakah kamu wahai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung atau orang-orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat tuhannya?” (QS 39 : 9).
.
Mendengar bacaan itu, sahabat Imam Ali berkata, “Alangkah berbahagia orang ini! Keselamatan dan kebahagiaan baginya!”
Imam Ali menoleh kepada sahabatnya seraya berkata, “Tunggu dulu! Engkau jangan iri dengan keadaannya!”
Imam Ali dan sahabatnya kembali melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa waktu setelah itu, terjadilah perang Nahrawan, perang antara  Imam Ali as dan pasukannya dengan kaum Khawarij
.
Setelah kaum Khawarij dikalahkan pasukan Imam Ali, Imam Ali memeriksa orang-orang Khawarij yang terbunuh. Imam Ali as melihat salah seorang mayat lalu beliau memanggil sahabatnya yang pernah berjalan di malam hari bersamanya, “Mayat ini adalah orang yang yang dulu melakukan shalat tahajjud dan membaca al-Qur’an di malam itu!” 1]
.
Sahabat Imam Ali as sangat terpukau dengan suara bacaan al-Qur’an seseorang, namun Imam Ali menolak pendapat sahabatnya yang cenderung melihat masalah dari sisi lahiriyah saja. Di kemudian hari, Imam Ali as membuktikan kebenaran pengetahuan intuisinya tentang seseorang yang nampak shalih tetapi sebenarnya ia berada dalam kesesatan yang nyata
.
Di dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani bahwa di dalam pasukan ‘Ali bin Abi Thalib (as) terdapat orang-orang yang membelot, maka Imam ‘Ali berkata, “Wahai manusia! Aku mendengar Rasulullah (saw) berkata : “Kelak akan muncul dari umatku ini suatu kaum yang tekun membaca al-Qur’an, bacaan mereka tidak berbeda dengan bacaan kalian, shalat mereka tidak berbeda dengan shalat kalian, dan puasa mereka pun tidak pula berbeda dengan puasa kalian. Mereka membaca al-Qur’an dan mengira bahwa dengan itu mereka memperoleh pahala, padahal justru mendapat bencana, dan shalat mereka tidak memberi manfaat apa pun terhadap diri mereka. Mereka keluar dari Islam persis melesatnya anak panah dari busurnya, dan bila para prajurit yang menemukan mereka dan harus melaksanakan perintah yang disampaikan oleh Nabinya, hendaknya mereka tidak kebingungan untuk bertindak. Tanda-tanda kaum itu adalah bahwa di antara mereka itu ada seorang laki-laki yang punya pundak besar dan memiliki lengan pendek. Di atas pundaknya terdapat semacam benjolan (punuk) dengan bulu-bulu berambut putih. Kemudian kalian akan lari meninggalkan mereka lalu bergabung dengan Mu’awiyah dan orang Syam, lalu membiarkan mereka menawan dan merampok anak dan harta benda kalian. Demi Allah! Aku berharap bisa bertemu dengan mereka, karena sesungguhnya mereka menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, merampas ternak dan menawan penggembalanya. Ayo maju dengan nama Allah!” 2]
Kaum Khawarij adalah orang-orang yang melakukan ibadah-ibadah ritual tanpa memahami makna filosofis, dan melupakan kaitan ibadah ritual dengan ibadah sosial yang tak bisa dipisahkan
.
Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang gelisah jiwanya, namun tidak tertutup kemungkinan banyak pula orang-orang yang sudah berumur juga terlibat
.
Mereka melihat kekacauan umat dengan kaca mata akidah yang kacau pula, berpikir dangkal, emosional dan cenderung beringas. Pemahaman dangkal terhadap al-Qur’an dan Sunnah Rasul membuat mereka bertindak serampangan, mengambil makna-makna lahiriah lalu mereka anggap sebagai ajaran agama yang sakral, tak boleh dilanggar dan mereka pertahankan secara membabi buta
.
Pada ujungnya, mereka mudah membuat klaim-klaim penyesatan bahkan pengkafiran terhadap sesama muslim lainnya
.
Pada masa kini pun kita banyak melihat orang-orang yang memiliki ciri-ciri seperti ini, suatu sikap religiusitas yang tumbuh secara liar. Mereka inilah orang-orang yang setapak demi setapak terjebak dalam pemikiran mentah dan reaksioner hingga akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka dengan tindakan-tindakan kekerasan seperti sabotase atau bahkan teror
.
Banyak ulama yang menyatakan bahwa aliran Wahabi Salafi merupakan Neo-Khawarij, karena memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.
Umumnya, tindakan ceroboh mereka itu karena pemahaman yang dangkal dari ibadah amar ma’ruf nahi munkar dan jihad. Mereka percaya bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Jihad tidak bersyarat apa pun, dan kapan pun perintah Ilahi ini mesti dilaksanakan. 3]
.
Ibadah Mereka Yang Sia Sia
Allah swT berfirman, “Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS Al-Kahfi [18] ayat : 103-104)
.
Abu Ja’far al-Thusi di dalam tafsirnya al-Tibyan menyebutkan bahwa Ibn al-Kawa’ (salah seorang pengikut Khawarij) bertanya tentang ayat ini kepada Amirul Mu’minin as, maka Imam as menjawab, “Engkau dan sahabat-sahabatmu, mereka itulah (termasuk) orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini” 4]
.
Menurut kaum salafy-wahabi, penggunaan istilah Wahhabi dengan menisbatkan kepada Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah tidak tepat. Mereka justru berdalih bahwasanya yang dimaksud dengan kaum wahhabi adalah kaum yang mengikuti Abdul Wahhab ibn Abdurrahman Rustum.
Pernyataan ini dapat ditemui di link ini http://muslim.or.id/manhaj/wahabisme-versus-terorisme.html
Perhatikan kalimat-kalimat ini:
.
“Sebenarnya, Wahabi merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad kedua hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -ed), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.”
Baiklah, jika menurut mereka istilah “wahabi” itu diperuntukkan pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, maka hal ini akan sangat bertentangan dengan FAKTA DI LAPANGAN.
.


Membongkar Fitnah Murahan Wahhabi-Salafi

Dengan segala cara kaum Pemfitnah melakukan prokasi umat Islam Sunni agar membenci dan  kemudian memerangi Syi’ah para pecinta dan pengikut setia Nabi saw. dan Ahlulbait as. Sesekali dengan memutar balikkan kebenaran akidah Syi’ah dan menampilkannya secara palsu sehingga seakan terlihat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri! Terkadang dengan memalsu data dengan cara memotong-motong nash/teks hadis dan terkadang juga dengan mengada-ngada fatwa yang tidak pernah difatwakan para ulama Syi’ah…. selain itu juga dengan mempermainkan akal kaum awam dengan memelesetkan terjemahan sebuah hadis..

Alhasil segala macam cara ditempuh oleh agen-agen fitnah dan para pemecah belah barisan Umat Islam, yang penting bagaimana caranya kaum Muslim Sunni marah dan kemudian bangkit memerangi Syi’ah. Dan itu semua itu pasti akan membuat bahagia musuh-musuh Allah dan musuh-musuh agama ini, utamanya AS dan Zionis Israel.

Kaum Sunni Bukan Kaum Nashibi!

Di antar yang dilakukan agen-agen Wahhabi-Salafi di tanah air tercinta dan juga tentunya di negeri asalnya yang sekarang dipinpin oleh Raja dan Emir-emir Arab Baduwi/A’râb (bukan Arab) adalah memprovokasi bahwakaum Syi’ah mengangap kaum Sunni adalah kaum Nashibi yang halal harta dan darah-darah mereka!

Nashibi (yang bentuk jamaknya Nawâshib) adalah orang yang menampakkan kebencian dan  permusuhan serta mengobarkan peperangan melawan Ahlulbait Nabi saw. Mereka, jelas-jelas dihukumi sesat. Para ulama Ahlusunnah pun tidak berselisih bahwa kaum Nashibi itu sesat! Akan tetepi menuduh bahwa Syi’ah menghukumi kaum Suni sebagai Nabshibi adalah ftitnah murahan yang tujuannya sudah sangat jelas yaitu memprovokasi uamt Isdlam agam segera bangkit memerangi dan membantai Syi’ah! Syi’ah yang selama ini membuat repot musuh-musuh Allah! Maka musuh-muush Allah itu hendak meminajm tangan kaum Muslimin melalui fitnah kaum Wahhabi-Salafi untuk memerangi Syi’ah….

Fitnah itu sering kita temukan dihenbuskan oleh mulut-mulut dan pena-pena beracum. Di antaranya adalah apa yang tertera dalam sebuah artikel sebagai berikut: 

Meyakini bahwa darah dan harta orang-orang Ahlus Sunnah adalah Halal.

  • Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad: “Aku bertanya kepada Abu Abdullah ‘alaihis salam: Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)? Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya. Aku bertanya lagi: Bagaimana dengan hartanya? Dia menjawab: Rampas sahaja semampu mungkin”.    (‘Ilal asy Syarâi’: 44. Cetakan Beirut.)
  • Berkata Abu Ja’far ath-Thusi (ulama Syiah): “Berkata Abu Abdullah ‘alaihis salam (Imam as-Sadiq): Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima”. (Tahzibul Ahkam. (1V/122) Cetakan Tehran.)
  • Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah): “Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya (Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah. (X11/323-324).]

Perhatikan wahai saudaraku dengan mata dan hati terbuka, adakah fitnah murahan lebih dari yang sedang Anda saksikan dari ulam mereka?! Mengapakah mereka memutar balikkan terjemahan kata an Nashibi dengan Ahlusunnah! Apakah ini yang namanya menghujat Syi’ah dengan ilmiah? Mengapakah kalian selalu bermain curang? Apa takut kalah kalau bermain jujur?

Sadarlah teman… di hadapan Anda ada harti hisab, di mana semua orang akan dihisab semua amal perbuatannya!

 .
MARI KITA BUKTIKAN !
Masih ingat kasus Pemalsuan atas Kitab Klasik Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir Jalalain yang dilakukan oleh kaum Salafy-Wahhabi tahun 1420 H?
.
Berikut ini adalah nukilan dari Kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, Beirut, Libanon, dicetak Tahun 1419 H) halaman 78, Tafsir ayat 7 dan 8 Surat Al-Fathir, karya al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki, seorang ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah mu’tabaar menyebutkan:
وقيل هذه الاية فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة ويستحلون بذالك دماء المسلمين وأموالهم, لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Dikatakan, ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al Quran dan Sunnah, dan dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yang benar-benar merugi. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
.
LIHAT FAKTA INI !
Kemudian, setelah setahun Kitab ini terbit, pada tahun 1420 H melalui penerbit Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon, kaum salafy-wahabi melakukan tahrif atas kitab ini dengan tujuan untuk menyembunyikan jati diri wahabi sebenarnya
.
Berikut ini adalah nukilan dari teks yang dipalsukan:
Hasyiyyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon. Tahqiiq: Muhammad Abdul Salam Syahin)
هذه الأية نزلت فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة, ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم.
“Ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al-Quran dan Sunnah, dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yangmerugi. Kitamemohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
Perhatikanlah, bahwasanya kaum Salafy-Wahabi memotong/menghilangkan kalimat:
لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون
Yang artinya: “Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.”
———————————————————-
Natijah / Kesimpulan:
Jika Istilah “Wahabi” itu diperuntukkan bagi para pengikut Abdul Wahhab ibn Abdurrahman ibn Rustum, kenapa kaum Salafy-Wahabi melakukan pemalsuan perkataan Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan dengan gamblang tentang jati diri kaum Wahabi sebenarnya?
Bukankah upaya pemalsuan atas perkataan al-Imaam Ahmad ibn Muhammad ash-Shawi al-Maliki ini justru menguatkan bahwa memang sebenarnya istilah Wahabi ini diperuntukkan bagi pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab.
____________________
Catatan Kaki :
1] Murtadha Muthahhari, Islam dan Tantangan Zaman, hal. 84
2] Shahih Muslim dengan Syarah dari al-Nawawi 3 : 118
3] Murtadha Muthahari, Ali bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, hal. 111
4] Abu Ja’far al-Thusi, Tafsir al-Tibyan 7 : 97, baris ke 6
*) Ali Syariati menjuluki kaum Khawarij sebagai Orang Shalih Yang Dungu.