Satu, dua pendapat ulama Syiah tidak bisa dijadikan ukuran bahwa itu adalah ajaran Syiah, karena sebuah fatwa bukanlah ijmak.

Rabu, 18 April 2012 15:35 Redaksi

E-mail Cetak PDF

 MIUMI  Wahabi sebenarnya adalah antek2 yahudi… yang ingin menghancurkan ISLAM dari dalam.. Untung Allah selalu berpihak kepada hamba2-Nya yang benar yakni syiah

..

Jakarta –
Hari Senin, (16/04/2012) kemarin, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) yang ditunggangi WAHABi pro AS / israel  kembali menindaklanjuti sikap tegasnya terkait kelompok  Syiah di Indonesia. Kelompok ulama muda ini mendatangi Kantor Kemenag di di Jalan MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta Pusat guna menyerahkan empat hasil riset kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam.

.

Mereka terdiri dari  Sekretaris Jenderal (Sekjen) MIUMI, Bachtiar Nasir, LC didampingi Fahmi Salim Zubair, M.A. (Wasekjend MIUMI), Dr. Muchlis Hanafi (Wakil Ketua), dan M. Zaitun Rasmin, MA (Wakil Ketua).

mereka juga meminta agar Syiah menghentikan cercaan terhadap Sahabat dan istri Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

.

Video ini di perankan oleh Yasir Al Habib, dia bukan ulama syi’ah yang mu’tabar !

Syiah Melaknat Para Sahabat dalam Sholat mereka ?? Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah.

Sebagai mazhab (umum) terbesar kedua, tidak ada yang tahu secara pasti berapa jumlah pengikut mazhab Syiah ahlulbait di seluruh dunia. Berdasarkan data demografi, populasi pengikut Syiah di Bahrain (92%), Azerbaijan (74%), Irak (64%), Libanon (60%), dan Yaman (46%). Sedangkan Arab Saudi sekitar 15%, dan masih menurut Wikipedia, jumlah di Indonesia hampir 2 juta.Namun menurut penulis web syiahali, jumlah syi’ah di NKRI sudah 2,5 juta jiwa

Sedangkan Iran, yang negaranya dikenal mengikuti mazhab Syiah Ja’fari, memiliki jumlah pengikut terbesar: lebih dari 60 juta. Ada beberapa sebab mengapa mazhab Syiah menjadi mayoritas di wilayah Iran. Beberapa hal di antaranya dijelaskan oleh Ayatullah Muhammad Al-Musawi kepada Al-Hafizh Muhammad Rasyid dalam dialognya di kota Peshawar.

Pertama karena ketiadaan fanatisme kebangsaan, kepentingan kelompok, dan motif kesukuan pada orang Persia. Mereka tidak terkait kepada salah satu kabilah sebagaimana kabilah Quraisy atau kabilah di Jazirah Arab lainnya. Lalu kemudian mereka menemukan hal itu pada diri Ali bin Abi Thalib. Kefanatikan dan kepentingan kelompok (suku/bani/kabilah) tidak menghalangi mereka dari jalan ahlulbait.

Kedua, karena kecerdasan dan kerasionalan mereka yang mencegah mereka bersikap fanatik dan taklid buta. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/422) meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Kalau ilmu itu berada di bintang Tsuraiya, yang akan memperolehnya adalah dari orang Persia.” Begitu juga Ibnu Qani dalam Al-Ishâbah (3/459) meriwayatkan, “Kalau agama itu bergantung pada bintang, yang memperolehnya adalah orang Persia.”

Ketiga, Ali bin Abi Thalib mengetahui hak setiap orang dan hak tawanan dalam Islam. Sebab, Nabi saw. pernah mewasiatkan kepada kaum Muslim agar berlaku baik kepada tawanan. Nabi bersabda, “Berilah mereka makanan dengan makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian dengan yang biasa kalian pakai.” Sedangkan yang lain tidak mengetahuinya, atau kalau pun tahu mereka tidak menjalankannya.

Dalam sejarah dikisahkan bahwa ketika Islam membawa tawanan dari Persia (Iran) ke Madinah, sebagian kaum Muslim memperlakukan mereka secara tidak patut. Maka Imam Ali bangkit membela para tawanan itu, khususnya kepada kedua puteri Kisra ketika khalifah Abu Bakar hendak menjual mereka. Akan tetapi Ali mencegahnya dan mengatakan, “Rasulullah melarang menjual raja serta putra-putrinya.”

Lalu ia menyuruh masing-masing dari kedua putri Kisra itu memilih seorang laki-laki dari kaum muslim yang akan menikahinya. Di antara putri Kisra itu bernama Syah Zanan yang memilih menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar, dan seorang lagi bernama Syahr Banu yang memilih Husain bin Ali.

Ketika penduduk Iran melihat dan mendengar pernikahan kedua puteri Yazdajird dan penghormatan Imam Ali kepada keduanya, mereka berterima kasih atas sikap mulia dan manusiawi dari Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib. Ini merupakan sebab terpenting yang mendorong penduduk Iran lebih mendalami pribadi suci Ali.

Keempat, semacam ada keterikatan khusus penduduk Iran dengan Salman Al-Farisi yang merupakan anggota keluarga mereka. Karena keislaman Salman yang mengagumkan dan kedudukannya yang mulia di sisi Nabi saw., ia dianggap sebagai bagian dari ahlulbait. Sebuah hadis meriwayatkan bahwa nabi bersabda, “Salman adalah bagian dari kami, ahlulbait.” Sejak hari itu, ia biasa dipanggil dengan Salman Al-Muhammadi.

Karena Salman merupakan bagian dari Syiah ahlulbait, ia termasuk orang yang menentang perkumpulan di Saqifah dan pemilihan khalifah di sana, lalu kemudian mengajak kaumnya untuk berpegang kepada mazhab Syiah ahlulbait. Wallahualam.

Rasulullah menaruh tangannya kepada Salman Al-Farisi dan berkata, “Jika keimanan diletakkan di bintang ats-tsuraiya (pleiades), maka orang-orangnya (Salman, Persia) akan menggapainya.” (HR. Bukhari)

Beberapa orang telah mencampuradukkan antara Iran dengan Syiah. Mereka mencoba untuk menunjukkan bahwa Syiah adalah orang-orang Persia yang membenci Arab dan itu sebabnya mereka membenci Umar dan beberapa sahabat lainnya. Iran adalah sebuah negara dan Syiah adalah sebuah keyakinan. Keduanya adalah entitas yang berbeda. Banyak pengikut Syiah yang bukan orang Iran. Ada pengikut Syiah di Irak, Hijaz (Jazirah Arab), Suriah, Lebanon, dan mereka semua orang Arab. Selain itu, ada juga Syiah di Pakistan, India, Afrika, Amerika, dan mereka semua bukan Arab atau Persia.

Lebih lanjut, seluruh dua belas imam Syiah adalah Arab Quraisy dari Bani Hasyim. Jika Persia membenci Arab, sebagaimana tuduhan beberapa orang, mereka akan memilih Salman Al-Farisi sebagai imam karena beliau adalah sahabat besar nabi dan dihormati oleh Syiah maupun suni. Di sisi lain, banyak imam suni terkemuka adalah orang Persia, seperti Abu Hanifah, An-Nasai, At-Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-Ghazali, Al-Farabi, dan banyak lainnya.

Jika semua Syiah adalah orang Persia yang menolak Umar karena dia telah menghancurkan kekuatan mereka, bagaimana kita menjelaskan penolakan orang-orang Arab (terhadap Syiah) yang bukan orang Persia? Karenanya, hal tersebut adalah pernyataan yang tidak masuk akal. Orang-orang ini menolak Umar karena perannya dalam mengeluarkan Ali dari kepemimpinan setelah wafatnya nabi dan juga karena perselisihan yang tragis.

Memang benar bahwa Syiah, entah mereka Arab atau Persia atau bangsa lainnya, mengikuti Quran dan sunah nabi yang disampaikan oleh keluarga beliau, dan menolak alternatif lain, meskipun ada kebijakan menindas rezim Umayyah dan Abbasiah selama tujuh abad. Selama periode itu, mereka mengejar orang-orang Syiah di mana pun. Mereka membunuh, mengusir, menolak hak-hak mereka, dan berusaha menghancurkan kultur dan warisan intelektual, kemudian menyebarkan berbagai macam rumor tentang mereka agar orang-orang menjauh darinya. Warisan dari kebijakan tersebut masih terasa sampai sekarang.

Seorang Wahabi menyebutkan:

Semua catatan sejarah menunjukkan bahwa Iran adalah tempat subur bagi banyak kerusakan dalam sejarah Islam, baik itu Khurramiah, Khawarij, Hashshasyin, Qaramithah, dan segala macam kelompok rusak termasuk penyembah dua belas orang.

Benar-benar tak masuk akal! Khawarij muncul di Irak. Hamdan Qarmat (pemimpin Qaramithah) tinggal di Kufah. Kebanyakan pengikut Qaramithah berasal dari Yaman. Sekedar tahu saja, tidak ada sekte yang menyembah dua belas orang. Inikah (pengetahuan) yang Anda terima dari ASI ibu Anda?

Meskipun saya tidak ingin menyebut bangsa manapun, tetapi riwayat suni otentik mengandung banyak riwayat yang berpihak pada Persia. Saya akan mengutipkan beberapa di antaranya:

Sahih Al-Bukhari hadis: 6.420
Abu Hurairah meriwayatkan:

Ketika kami sedang duduk bersama nabi, Surah Al-Jumuah diturunkan kepadanya. Ketika ayat “…(dan Dia juga mengutus) kepada kaum yang lain dari mereka…” dibacakan oleh nabi, saya berkata, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Nabi tidak menjawab sampai saya mengulangi pertanyaan tiga kali. Pada saat itu, Salman Al-Farisi bersama kami. Maka Rasulullah meletakkan tangannya ke Salman, berkata, “Seandainya iman berada di (bintang tertinggi) Tsuraiya, maka orang-orang dari orang ini (Salman) yang akan mencapainya.”

Riwayat selanjutnya:

Sahih Al-Bukhari hadis: 6.421
Abu Hurairah meriwayatkan:

Nabi bersabda, “Maka beberapa orang dari orang tersebut akan meraihnya.”

Saya juga harus menyebutkan bahwa Salman berasal dari sebuah provinsi di Iran bernama Fars, yang saat ini berada di tengah-tengah Iran. Sahih Muslim juga memiliki riwayat terkait hal ini:

Abu Hurairah meriwayatkan: Kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. dan Surah Al-Jumuah diturunkan kepadanya. Ketika dia membaca: “Kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka” (62:3), seseorang di antara mereka (yang duduk di sana) berkata: “Rasulullah!” Tapi Rasulullah saw. tidak menjawab, hingga dia bertanya satu, dua, atau tiga kali. Di antara kami ada Salman Al-Farisi. Rasulullah saw. menempatkan tangannya pada Salman dan berkata: “Sekalipun iman berada dekat Tsuraiya, seseorang di antara orang ini yang akan menggapainya.”

Rujukan suni: Sahih Muslim, versi Bahasa Inggris, Bab MLI, di bawah judul: The merit of the people of Persia, riwayat #6178

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika agama berada di Tsuraiya, maka seseorang dari Persia akan mengambilnya, atau seseorang dari keturunan Persia pasti akan menemukannya.

Rujukan suni: Sahih Muslim, versi Bahasa Inggris, Bab MLI, di bawah judul: The merit of the people of Persia, riwayat #6177

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mendukung bangsa manapun, tapi saya mengutipkan riwayat tersebut untuk menunjukkan bertapa absurdnya tuduhan palsu terhadap muslim dari Iran.

Penulis Wahabi itu kemudian menyebutkan:

Sebenarnya, kebanyakan orang Iran telah menerima sunah nabi dan bergabung bersama jemaah sebelum mereka dipaksa pindah kepada Rafidisme oleh Safawi, untuk menunjukkan sejauh mana kekuatan fitnah di sana.

Mayoritas orang Persia sudah mengikuti ahlulbait sejak awal kemunculan Islam di wilayah tersebut, meskipun kebijakan menindas Umayyah dan Abbasiah terus berlanjut untuk mengadili pengikut ahlulbait di Persia, Irak, Hijaz, dan tempat-tempat lain.

Tidak ada yang bisa memaksakan seseorang untuk pindah ke agama lain, karena agama ada di hati seseorang dan bukan di kartu identitas. Logika Anda sangat kabur ketika saya melihat banyak orang Arab di Jazirah Arab (yang sekarang dikenal sebagai kerajaan Arab Saudi) adalah Syiah Imam Ali a.s. meskipun rezim menindas di Hijaz sejak awal sejarah Islam. Mungkin Anda juga akan beralasan bahwa Hijaz waktu itu bagian dari Iran?!

Mari kita mengulangi kembali salah satu subbab pelajaran dasar logika: generalisasi. Karena mungkin saja kita pernah mengucapkan atau mendengar seseorang mengatakan untuk tidak melakukan generalisasi. Kita akan mengulang sedikit saja agar saya dan Anda tidak salah lagi dalam melakukan penilaian terhadap kelompok atau orang lain.

Sebagai salah satu proses penalaran induksi (khusus-umum), generalisasi merupakan penyimpulan yang berawal dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum. Fenomena yang dialami kita setarakan dengan seluruh fenomena sejenis. Jadi, kesimpulan dari satu peristiwa yang terjadi kita berlakukan juga kepada peristiwa lain yang belum terjadi. Karena itulah, proses seperti ini sebenarnya tidak sampai pada kebenaran absolut, tetapi hanya sebuah kemungkinan.

Ketika berbicara mengenai generalisasi, maka yang dimaksud adalah generalisasi tidak sempurna, yaitu generalisasi yang didasarkan beberapa fenomena untuk menyimpulkan fenomena sejenis yang belum diselidiki. Untuk menguji apakah sebuah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat, kita harus mengevaluasi bukti-bukti yang ada, di antaranya:

  1. Meski tidak ada ukuran yang pasti, tapi apakah benar jumlah sampel yang dimiliki cukup untuk membuktikan kebenaran? Karena untuk menentukan faktor dominan, apalagi sebuah keyakinan, tidak cukup didasarkan kepada beberapa orang saja.
  2. Meski tidak menjamin kebenaran absolut, apakah sampel yang digunakan cukup bervariasi? Sampel yang semakin bervariasi akan semakin memperkuat kemungkinan kebenarannya; misalkan variasi pengaruh kehidupan dan lingkungan, latar belakang pendidikan, kultur, usia, negara, dan sebagainya.

Selain dua hal di atas, ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan seperti pengecualian dan konsistensi dalam menyimpulkan generalisasi.[1] Jika kita tidak memperhatikan banyak faktor maka dapat menghasilkan generalisasi yang salah. Misalkan, pelaku pemboman itu orang Arab, berjanggut, beragama Islam, lantas kita simpulkan bahwa (semua) orang Arab, berjanggut, Islam adalah teroris. Atau tersangka korupsi bermazhab suni, lantas kita simpulkan bahwa orang bermazhab suni koruptor.

Generalisasi yang salah ini tidak hanya terjadi pada Islam secara umum tapi juga Syiah. Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah. Satu, dua pendapat ulama Syiah tidak bisa dijadikan ukuran bahwa itu adalah ajaran Syiah, karena sebuah fatwa bukanlah ijmak. Satu, dua hadis lemah yang ada di dalam kitab Syiah tidak bisa dijadikan sandaran atas keyakinan Syiah.

Anjuran untuk tidak melakukan generalisasi terhadap Syiah sudah pernah dilontarkan oleh kristolog masyhur Ahmad Deedat. Beliau mengatakan, jika kita melihat satu orang suni melakukan kesalahan, kita hanya mengatakan bahwa orang itu tidak islami. Tapi jika satu orang Syiah melakukan kesalahan, kita malah menyalahkan seluruh komunitas Syiah yang jumlahnya jutaan.[2]

Pesan yang sama juga pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab. Dia mengatakan bahwa kita tidak boleh menggeneralisasi semua Syiah itu kafir dan sesat, karena mereka bermacam-macam. Begitu pula, dia mengatakan agar orang Syiah awam tidak melakukan caci-maki terhadap sahabat, sebab orang suni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Katanya, “Orang awam mudah menggeneralisasi.”[3]

Kebanyakan generalisasi yang muncul adalah generalisasi empiris, yakni generalisasi yang tidak disertai penjelasan. Diperparah lagi dengan orang yang menerimanya tidak berusaha mencari penjelasan mengapanya. Generalisasi mengenai Syiah sebagai kelompok sesat yang berakidahkan caci maki terhadap sahabat akan terus berjalan bertahun dan berabad lamanya. Tanpa ada penjelasan dan mencari penjelasan, sehingga menghasilkan stereotip.

Stereotip adalah konsepsi yang ada di benak mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip ini membuat seseorang malas berpikir, mempertanyakan, atau menganalisa. Anda melihat seseorang memakai kemeja putih-celana hitam-membawa map, maka kita simpulkan (melalui stereotip) bahwa dia sedang mencari kerja. Melihat orang memakai jubah dan peci maka disimpulkan bahwa dia bagian dari kelompok garis keras. Jika berkaitan dengan Syiah, tanpa perlu pikir panjang maka segera muncul konsepsi dalam benak orang-orang sebagai kelompok “sesat! kafir!”

Sampai di situ orang akan enggan untuk mencari tahu apakah konsepsinya benar atau tidak. Dia sudah merasa puas dengan apa yang pernah diterimanya dari seseorang yang—melalui stereotip—terlihat seperti pakar agama. Sebagai contoh, seorang syekh salafi mengatakan bahwa lebih baik merokok dan minum khamar daripada berdebat dengan orang Syiah.[4] Semua itu muncul karena stereotip bahwa Syiah kafir, sesat, dan pembicaraannya adalah kebohongan. Padahal untuk membuktikannya diperlukan dialog, bukan menutup mata.

Kita akan menghadapi masa paling berbahaya dalam sejarah manusia dan dunia. Kita akan membicarakan mengenai implikasi serangan Zionis Israel terhadap Iran, yang tidak hanya akan terjadi tapi juga tidak lama lagi. Kita melihat bahwa Israel akan menyerang Iran karena Zionis Israel ingin menguasai dan memerintah dunia secara penuh; karena sekutu Yahudi-Kristen-Zionis Eropa ingin memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai dunia.

Itu sebabnya kita yakin perang ini akan terjadi. Itu sebabnya mereka ingin menyerang Iran. Israel “memiliki hak” untuk membangkitkan perang yang tidak adil kepada orang lain, begitu juga perang terhadap Iran. Tetapi ada hal lain, yaitu mereka yang menabuh semangat perang di dunia Arab dan mengharapkan perang terhadap Iran terjadi. Mereka menabuh drum perang yang tidak adil.

Jika perang benar-benar terjadi, mereka juga melakukan dosa yang sama karena mendukung terjadinya perang. Celakalah kalian! Celakalah bagi kalian (negara Arab) yang menginginkan perang terhadap Iran. Jika kalian mendukung serangan terhadap Iran, berarti kalian mendukung perang yang tidak adil. Kalian menjadi bagian dari perbuatan zalim, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang zalim.

Salah satu alasan mengapa banyak (negara) Arab ingin menabuh drum peperangan dan mengharapkan perang terhadap Iran adalah karena Iran Syiah. Mereka menganggap Syiah kelompok kafir. Mereka membolehkan perang terhadap kelompok kafir. Bagaimana mereka sampai pada kesimpulan bahwa Syiah kelompok kafir? Jika Syiah kelompok kafir, maka harus ada konsensus tentang hal ini. Nyatanya tidak ada konsensus yang dicapai tentang hal ini selama 1.400 tahun.

Karena itulah kami mengatakan terlalu terlambat pada akhir zaman ini untuk menghasilkan argumen bahwa Syiah adalah kelompok kafir. Dominasi (Arab) melawan Syiah dan serangan yang akan dilancarkan terhadap Iran, menjadi keinginan (Zionis) yang hakikatnya bertujuan memerangi Islam melalui penciptaan perang saudara suni-Syiah di dunia Islam. Perang saudara suni-Syiah akan menjadi sangat bermanfaat bagi Israel.

  • Pertama, perang saudara suni-Syiah akan menciptakan buruknya Islam di mata dunia di saat Islam menjadi pusat perhatian dunia.
  • Kedua, perang saudara suni-Syiah akan memecahkan perhatian muslim dan non-muslim dari rencana Zionis untuk menguasai dunia.
  • Ketiga, kaum muslim yang saling berperang tentu saja akan menghilangkan kekuatan yang dimiliki, dan tentu saja sangat bermanfaat bagi Israel.

Perang terhadap Iran akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia. Pertama, harga minyak. Tidak hanya karena Iran menjadi salah satu penyumbang minyak terbesar tapi juga karena lokasi Iran yang strategis di Teluk Arab… Tidak sulit bagi Iran untuk memblokade selat Hormuz. Jadi kita tidak bisa mencegah harga minyak melambung tinggi sekali serangan terhadap Iran terjadi. Pemerintah Amerika tahu akan hal ini dan itu sebabnya mereka tidak ingin serangan terjadi. Karena pemerintah Amerika, Fed, dan para bankir tahu jika hal itu terjadi maka dolar dan perekonomian AS akan runtuh. Orang-orang kaya akan bangkrut dan akan terjadi kerusuhan masal di sana. Karena itulah perang terhadap Iran akan menjadi bencana bagi ekonomi, finansial, dan moneter.

Perang terhadap Iran juga bisa berlanjut dengan terjadinya perang terhadap Pakistan. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan Pakistan dari kelompok negara nuklir. Inilah saatnya bagi muslim seluruh dunia, termasuk muslim Iran, untuk menyadari bahwa rekan paling strategis Israel saat ini, setelah AS, adalah India, dengan Arab Saudi di belakangnya. Sehingga tidak hanya India akan terlibat dalam serangan tersebut, tapi juga serangan terhadap Pakistan akan menjadikan India menguasai wilayah atas nama Israel.

Sunni Mengikuti Kaum Muslimin Mayoritas (as-Sawaad al-A’zham), Syi’ah ikut minoritas

oleh : Ustad Husain Ardilla (syi’ah)

“ASWAJA”

sunni mengikuti as-sawaad al-a’zhom (jama’ah kaum muslimin yang terbanyak), karena kesepakatan mereka (as-sawaad al-a’zhom) mendekati ijma’ kata kaum sunni

Jika Indonesia dimaknai sebagai sebuah negara, maka kita perlu lihat dulu, apakah negara Indonesia merupakan negara yang diberkahi Allah ta’ala, negara yang menerapkan syari’ah-Nya, atau malah sebaliknya. Faktanya, Indonesia sudah memproklamirkan diri menjadi negara sekuler, negara yang mengerdilkan peran agama, khususnya diinul Islam. Islam yang punya aturan bagi seluruh sisi kehidupan, tak diberi ruang untuk diterapkan, kecuali hanya di sebagian kecil bagian kehidupan, semacam ibadah ritual dan pernikahan

.

Sebagian besarnya dicampakkan. Bahkan anak bangsa yang menyerukan penerapan syari’ah Islam, dicurigai dan dituduh sebagai teroris atau minimal menginspirasi terorisme. Membanggakan negara semacam ini tidaklah bisa diterima. Allah ta’ala berfirman dalam surah an-Nisaa ayat 60:

ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا

Artinya: “Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman terhadap apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu? Mereka ingin berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut tersebut. Dan syaithan ingin menyesatkan mereka sesesat-sesatnya.”

Indonesia –sebagai negara– telah berpaling dari hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, dan memilih hukum buatan manusia yang jauh dari petunjuk Allah ta’ala. Negara semacam ini tak layak kita banggakan. Yang harusnya kita lakukan adalah mengubah negara ini menjadi negara yang menerapkan syari’ah Islam secara kaffah, melindungi aqidah umat, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia

.

Nyatanya, ide nasionalisme-lah yang menyesatkan pemikiran anak negeri ini. Dengan alasan nasionalisme, mereka saling ejek dengan saudara muslim mereka di Malaysia, bahkan sampai ada ancaman ganyang-mengganyang. Gara-gara nasionalisme, hampir seluruh mata anak negeri ini memelototi layar kaca untuk menonton pertandingan sepakbola Sea Games antara Indonesia vs Malaysia, padahal secara teknis pertandingan dua negara ini tidaklah terlalu menarik. Gara-gara nasionalisme, muslim di negeri ini tak peduli dengan nasib saudara mereka di Palestina, Irak, Afghanistan, dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya yang membutuhkan pertolongan. Gara-gara nasionalisme, ikatan aqidah dianggap tak penting bila dibandingkan ikatan darah. Bahkan, gara-gara nasionalisme, sampai-sampai ada wacana mempatenkan fiqih Indonesia yang berbeda dengan fiqih Arab (?)

Anak bangsa ini pun tak kelihatan nasionalismenya ketika emas, minyak dan gas bumi, serta kekayaan alam negeri ini lainnya dikeruk habis-habisan oleh perusahaan asing. Mereka santai-santai saja ketika Freeport setiap hari mengeruk emas di tanah Papua, sedangkan ExxonMobil melahap minyak dan gas bumi di blok Cepu dan blok Natuna. Mereka santai-santai saja melihat kekayaan alam negerinya diangkut ke luar negeri, sedangkan mayoritas rakyat negeri ini hidup serba kekurangan. Inilah absurdnya nasionalisme

.
Ide nasionalisme adalah ide yang absurd. Hanya orang-orang yang tak mau berpikir saja yang masih tetap mempertahankannya. Karena ide nasionalisme adalah ide yang absurd, ide turunannya seperti kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia juga absurd. Menjadi bangsa Indonesia adalah ketetapan Allah, sebagaimana Dia menentukan saudara muslim kita yang lain lahir di tanah Arab, di Turki, atau di Afrika. Tak ada kelebihan pada bangsa Indonesia dibandingkan bangsa lain yang bisa dibanggakan. Begitu pula, tak ada kelebihan bangsa lain dibandingkan bangsa Indonesia.

Daripada berbangga-bangga sebagai orang Indonesia, lebih baik kita turut serta dalam perjuangan memperbaiki bangsa dan negeri ini. Menjadikan negeri ini negeri yang berlimpah berkah dari Allah ta’ala, dengan menerapkan syari’ah-Nya secara keseluruhan dan mencampakkan berbagai aturan yang bertentangan dengan syari’ah-Nya. Inilah tugas kita.

Sunni Mengikuti Kaum Muslimin Mayoritas (as-Sawaad al-A’zhom), Syi’ah ikut minoritas

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”(QS Al An’am 6 : 116)

Ayat ini sangat jelas dan tegas bagi kita untuk memperhatikannya. Allah (swt) menginformasikan kepada kita bahwa mayoritas dari orang-orang tidak bisa diikuti

Kebenaran tidak bersama mayoritas dan ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diketahui orang-orang yang berada dalam petunjuk Allah (swt). Kita mengetahui kebenaran dari nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah -teks wahyu) dan tidak oleh perkataan mayoritas. Faktanya, syaitan telah berjanji kepada Allah (swt) bahwa dia akan menyesatkan mayoitas dari hamba-hambaNya dan hanya minoritas dari orang-orang beriman yang ikhlas akan bisa dan mampu melawan bisikkan syaitan yang telah dia berikan.

Allah (swt) berfirman dalam Al Qur’an:

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Shaad 38 : 82-83)

Selanjutnya apa yang oleh mayoritas katakan, lakukan atau percayai seharusnya tidak akan menjadi standar bagi seorang Muslim untuk menghakimi apa yang benar dan apa yang salah, yang jahat dan yang baik. Kita hanya mendasrkan diri kepada Al-Qur’an dan ahlulbait

inilah apa yang disebut kita mengikuti dengan merujuk dari bagaimana orang-orang yang telah memegangnya. Telah di riwayatkan secara shahih bahwa Abdullah bin Mas’ud (ra) berkata:“Tetaplah bersama Jama’ah (kebenaran) meskipun jika kamu seorang diri.”

Selanjutnya Rasullullah (saw) menginformasikan kepada kita bahwa ummat ini akan terpecah ke dalam banyak golongan. Mayoritas dari mereka akan masuk ke dalam neraka, dan hanya minoritas yang akan selamat – dan mereka adalah orang-orang yang dengan teguh mengikuti tiada lain hanya Rasulullah (saw)

Rasulullah (saw) bersabda:

“Allah akan berkata (pada hari kebangkitan), ‘wahai Adam.’ Adam (as) menjawab, ‘inilah aku, dengan penuh ketaatan dan semua kebaikan ada pada tanganMu.’ Allah akan berkata, ‘bawalah orang-orang berada di neraka.’ Adam berkata, ‘yaa Allah! Berapa banyak orang-orang yang berada di neraka?’ Allah akan menjawab, ‘setiap dari seribu, ambillah ambilah sembilan ratus sembilan puluh sembilan.’” (Shahih Bukhari, Kitab kisah para Nabi)

Selanjutnya, sebagaimana kita telah sebutkan sebelumnya, opini ini telah sangat jelas kepada mereka orang-orang yang telah diberi petunjuk kepada tuhannya. Dan orang-orang yang berkata bahwa kami tidak bersama dengan mayoritas; kami yakin bahwa mereka berada dalam kebenaran yang mutlak! Kebanyakan orang-orang tidak diberi petunjuk dan mayoritas akan masuk neraka – kami tidak akan pernah berada dengan orang-orang yang akan masuk ke dalam neraka.

Rasulullah (saw) bersabda:“siapa saja yang mencari ke-ridho-an Allah dengan mengabaikan kebanyakan orang, akan mendapatkan ke-ridho-an Allah, dan Allah akan membuat orang-orang ridho kepadanya. Dan siapa saja yang mencari ke-ridho-an kebanyakan orang dengan mengabaikan kemurkaan Allah, tidak akan mendapatkan ke-ridho-an Allah, dan Allah akan memnyebabkan orang-orang tidak ridho dengannya.” (Musnad Imam Ahmad)

Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas

Di alam demokrasi seperti sekarang, suara mayoritas hampir dituhankan. Jika mayoritas individu menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus ada. Jika mayoritas manusia menyatakan baik sesuatu, maka sesuatu itu harus dianggap baik oleh semua orang. Jika mayoritas orang menyatakan buruk sesuatu, maka sesuatu itu harus diterima sebagai sesuatu yang buruk. Inilah cara berpikir yang dibentuk oleh sistem demokrasi, inilah kebenaran asasi versi demokrasi. Lalu, bagaimana pandangan Islam?

Sudah mafhum bagi kita kalau demokrasi bertentangan secara diametral dengan Islam. Ada kemiripan di beberapa cabang pemikirannya tak membuat demokrasi bisa dianggap sama, ekuivalen atau bagian dari Islam. Demokrasi yang asasnya meletakkan penentuan benar dan salah berdasarkan suara mayoritas manusia, jelas bertolak belakang dengan konsep Islam yang hanya menjadikan Allah –melalui keterangan dalam Kitabullah dan ahlulbait– sebagai penentu benar dan salah. Ini perkara asasi, dan asas inilah yang mendasari perbedaan tajam berbagai cabang pemikiran dan peraturan yang lahir dari sistem demokrasi dan sistem Islam.

Kembali ke suara mayoritas, ternyata Allah ta’ala dalam al-Qur’an banyak sekali mencela suara mayoritas (yang dalam sistem demokrasi begitu diagung-agungkan). Mari kita simak surah al-An’aam ayat ke 116 berikut ini:

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله ، إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini (mayoritas manusia), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

bahwa kesesatan kebanyakan manusia di muka bumi ini juga disebutkan Allah ta’ala dalam surah Yusuf ayat 103, yang berbunyi:

وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين

Artinya: “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.”

Juga dalam surah ash-Shaaffaat ayat 71, yang berbunyi:

ولقد ضل قبلهم أكثر الأولين

Artinya: “Sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (orang Quraisy) sebagian besar dari orang-orang dahulu.”

Ayat-ayat yang saya sampaikan di atas rasanya sudah cukup untuk menunjukkan pandangan Islam tentang suara mayoritas. Dalam Islam, tolok ukur benar dan salah, baik dan buruk, adalah kesesuaiannya dengan al-Kitab dan as-Sunnah, bukan didukung oleh mayoritas atau hanya minoritas.

Sekalipun mayoritas manusia menganggap baik aktivitas ribawi perbankan, tetap saja Islam menyatakannya haram dan buruk bagi manusia. Sekalipun mayoritas manusia menganggap baik pakaian wanita saat ini yang setengah telanjang, tetap saja dalam Islam hal tersebut haram dan salah. Sekalipun yang menginginkan dan memperjuangkan diterapkannya Syari’ah Islam secara kaffah di bumi Indonesia dan seluruh bumi ini hanya minoritas, tetap saja Islam memandang baik hal tersebut, dan menganggap buruk setiap penentangnya. Inilah pandangan Islam yang jernih, hanya orang-orang yang menutup diri dari kebenaran yang tidak mau menerima pandangan ini.

Kewajiban Terikat Pada Aturan Allah Secara Menyeluruh

Ikhwati fillah, Allah telah mewajibkan kita untuk terikat pada aturan Allah secara menyeluruh, dalam seluruh aspek kehidupan. Berikut beberapa dalil qath’i yang menjelaskan hal ini:

1. An-Nisa’ [4] : 59

ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم ، فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ، ذلك خير وأحسن تأويلا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (Nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.


2. An-Nisa [4] : 60

ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت و قد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا

Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Haram berhukum dengan selain hukum Allah, karena setiap hukum selain hukum Allah merupakan thaghut dan kita diperintahkan untuk mengingkari thaghut.


3. Al-Maidah [5] : 49

وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك ، فإن تولوا فاعلم أنما يريد الله أن يصيبهم ببعض ذنوبهم ، و إن كثيرا من الناس لفسقون

Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menimpakan musibah atas mereka karena sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.


4. Al-Maidah [5] : 50

أفحكم الجهلية يبغون ، ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون

Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?

wajibnya kita terikat pada aturan Allah secara menyeluruh, namun empat ayat ini sudah mencukupi untuk meyakinkan kita. Semoga kita tidak termasuk orang-orang fasik dan munafik yang berhukum kepada thaghut dan mengikuti hukum jahiliyah. Amiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwaamith thariiq.

Yang Membedakan Umat Sunni dan Syiah Menurut Pandanganku

“ Mencintai keluarga Nabi tidak menjadikan kita anti-Sunni, sementara menghormati para sahabat tidak menjadikan kita anti-Syiah “ (Wake Up Project – The Arrivals)

MENDOBRAK DINDING PEMISAH SUNNI-SYIAH
————————————————————

Jika kita mencoba menengok beberapa puluh tahun ke belakang, bumi ini masih disibukkan oleh pertentangan antar agama, sekte dalam agama, ras, suku, bangsa, dan ideologi. Semakin kita tarik garis mundur, maka semakin besar pula pertumpahan darah yang diakibatkan oleh yang namanya “Perbedaan.”

Namun kini, era milenium ditandai dengan adanya fenomena hubungan antar manusia yang hampir-hampir tidak berbatas. Sudah menjadi hal yang wajar ketika melihat rumah-rumah ibadah berdiri berdampingan. Tidak aneh pula ketika kita melihat ada orang kulit putih dan hitam berjalan bersama-sama, dan sudah biasa ketika ada orang Jawa dan Tionghoa menjadi pasangan hidup. Kemajuan teknologi dan informasi menjadi pintu gerbang bagi masing-masing individu yang berbeda untuk saling mengenal, memahami, dan mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah.

Maka dari itu, amat sangat mengherankan dan sekaligus memalukan ketika masih saja ada kelompok yang membawa kebencian zaman purba ke masa kini. Dan hal itu terjadi pada sebagian umat Islam yang masih mempersoalkan perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah!

Saya ingatkan pada anda semua : perpecahan antara Sunni dan Syiah adalah karena faktor POLITIS,! Maka jika ada yang menganggap perbedaan Sunni dan Syiah itu seperti halnya Katolik dan Protestan dalam Kekristenan, maka itu menunjukkan bahwa mereka tidak paham sejarah!

Mari sejenak kita kembali ke abad ke-VI tepatnya pada tahun 632 M. Tatkala Nabi Muhammad SAW berada di saat-saat terakhir dalam pembaringannya, beliau terus bergumam, “ Ummati .. ummati .. (artinya : umatku .. umatku)”.

Rasulullah sangat bersedih, karena beliau mendengar kasak-kusuk di belakang bahwa umatnya mulai terpecah dalam menyikapi siapa yang berhak menggantikan beliau untuk memimpin umat Islam. Maka benar saja, ketika Rasulullah wafat, terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagian beranggapan bahwa anggota keluarga Nabi yang berhak memimpin umat, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Sementara yang lain menganggap Ali masih terlalu muda, sehingga diajukanlah nama Abu Bakar

Setelah melakukan pemalsuan begitu banyak hadis dengan bantuan Abu Hurairah, Samurah bin Jundub dll maka Mu’awiyah membuat doktrin PAHAM JAMAAH dan doktrin SEMUA SAHABAT ADiL untuk memelihara kekuasaan yang diperoleh dengan cara biadab…

Ketika Mu’awiyah menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya, situasi politik internal umat Islam kembali memanas. Mu’awiyah dituding telah melanggar perjanjian dengan Hasan bin Ali, yang merupakan putra Ali bin Abi Thalib dan cucu Nabi Muhammad. Pada saat itu, Husain bin Ali, adik dari Hasan bin Ali memutuskan untuk tidak ikut berbai’at kepada Yazid, yang dikenal sebagai orang yang kejam dan gemar bermewah-mewahan.

Yazid sangat marah dan mengirim ribuan pasukan untuk mengejar Husain bin Ali dan para pengikutnya yang telah dicap sebagai pemberontak. Di padang Karbala, pasukan Husain bin Ali yang hanya menurut catatan sejarah hanya berjumlah 72 orang, harus berhadapan dengan pasukan Yazid yang berjumlah 10.000. orang. Pasukan Husain bin Ali ditumpas habis, dan Husain, cucu Rasulullah, hidupnya berakhir dengan tragis ketika lehernya dipenggal. Peristiwa memilukan ini diperingati pada hari Asyura setiap tahunnya oleh kaum Syiah.

Sampai di sini sudah jelaskah bagi anda semua, bahwa perpecahan di antara umat Islam ini adalah murni politis

Penamaan Sunni dan Syiah sendiri terjadi akibat perbedaan pendapat terkait pesan terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat. Ada beberapa versi dari kesaksian para sahabat tentang ucapan Rasulullah sebelum wafat :

1. “ Aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian berpegang kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya : Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah-ku. “ (HR Malik – Al Muwatta 46/3).

Inilah hadits yang menjadi pegangan kaum Sunni yang artinya : “Pemegang Sunnah Nabi.”

2. “ Aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian berpegang kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya : Kitabullah (Al Qur’an) dan Keluargaku. “ (HR Muslim 44/4 No. 2408, Darimi 23/1 No. 3319, dan Ibn Hanbal 4/366).

Inilah hadits yang menjadi pegangan kaum Syiah yang artinya : ”Para pengikut setia (merujuk kepada Ali dan keluarga Nabi).

Perpecahan dua kelompok ini terjadi setelah beliau wafat.
Perpecahan dan sikap saling memecah belah umat adalah hal yang sangat dimurkai Allah! Al Qur’an telah memperingatkan :

“ Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang MEMECAH BELAH agama mereka dan mereka menjadi BEBERAPA GOLONGAN. Tiap-tiap golongan merasa BANGGA dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar-Ruum [30] : 31-32)

“ Dan mereka TERPECAH BELAH melainkan SESUDAH datangnya pengetahuan (Qur’an) kepada mereka karena KEDENGKIAN antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam KERAGUAN yang menggoncangkan tentang kitab itu. “ (QS Asy-Syura [42] : 14)

.

Islam yang dibawa Muhammad SAW pecah belah karena pemalsuan hadis mega dahsyat dan pemalsuan sirah secara besar besaran yang dimulai pada masa MU’awiyah bin Abu Sofyan

Dialog santai ini adalah FIKTIF,  Sekedar untuk menggambarkan perbedaan Suni – Syiah, dengan santai …
Biar nggak usah, pusing-pusing…Tidak dimaksudkan untuk detil2 amat… Dialog santai antara Ahmad (A), seorang Suni dan Al-Baqir (B), seorang Syiah, di kantin.
  • A: Eh, Al-Baqir kamu kok Syiah, sih? Syiah kan sesat… Mbok ikut Suni saja yang lurus..
  • B: Lho, justru menurut saya kamulah yang sesat, ikuti Syiah saja… ini jalan yang lurus..
DASAR KEBENARAN
  • A: Iya, yah… Nggak mungkin kamu ikut Syiah kalau kamu pikir tidak benar, kalau gitu kita dialog santai saja. Apa dasarnya Syiah itu benar? Kalau Suni kan jelas, “umat Islam akan pecah jadi 73, yang benar adalah Ahlu Sunah”.
  • B: Oh, pasti ada dong, hadis Nabi “Ahlul Bait adalah laksana bahtera Nuh, siapa yang masuk ke dalamnya dia akan selamat”
QURAN BEDA?
  • A: Oh, gitu yah? Hadis ini kok jarang saya dengar… Terus ini yang penting, kalau kamu Islam kok pakai Quran yang lain dengan kami?
  • B: Tidak, itu fitnah! Quran kami sama dengan kamu. Kalau memang beda, gampang kok membuktikannya. Datang ke rumah saya, apa Qurannya beda? Cari buku tafsir orang Syiah, apa ayat2nya beda? Sekarang kan zaman informasi, kalau beda gampang buktikannya, misalnya kunjungi website Syiah, ada banyak sekali, apa ada ayat Qurannya beda?
  • A: Tapi katanya ada ulama Syiah yang bilang Quran sekarang tidak asli?
  • B: Iya memang ada, tapi itu bukan pendapat yang sahih. Lagian yang ngomong gitu, juga nggak mbuktikan Quran yang asli itu kayak apa? Tidak usah dianggap… Kalau memang beda, tentu Iran akan mencetak Quran versi Syiah sendiri ke seluruh dunia, kan Iran negara Islam Syiah?
TAQIYAH
  • A: Ah, jangan-jangan kamu ngomong gitu untuk taqiyah… Orang Syiah nggak bisa dipercaya, karena suka taqiyah, sih…
  • B: Jangan begitu, orang Syiah itu juga punya akhlaq. Kalau misalnya ajaran agamanya mengajarkan untuk bohong ya agama itu nggak aku ikutin. Pastilah semua agama juga menjunjung tinggi kejujuran… Taqiyah itu artinya menyembunyikan keimanan, karena alasan yang benar, misalnya ancaman jiwa. Seperti istri Fir’aun, dia menyembunyikan keimanan dihadapan Firaun, meski kemudian ketahuan.
  • A: Tapi seharusnya dalam kondisi apa pun, kita harus menunjukan kebenaran…
  • B: Untuk alasan yang keselamatan misalnya, kita boleh pura2, seperti dilakukan oleh Amar bin Yasir ra. Inilah yang disebut taqiyah. Kalau kondisi aman, beribadah bebas, semua orang boleh bicara tanpa intimidasi, apa gunanya taqiyah.
  • A: Masuk akal, tapi kayaknya saya nggak sreg, jadi orang Islam kan harus berani…
  • B: Iya, tapi kalau akibatnya umat Islam menjadi lemah, bagaimana?
RUKUN IMAN & ISLAM
  • A:Ohya, apa Syiah punya rukun Iman & Islam sendiri?
  • B: Iya, kami menamakan agak berbeda, yaitu Usuludin dan Furu’udin. Usuludin ada 5, yaitu: Tauhid, Adalah (Keadilan Allah), Nubuwah (Kenabian), Imamah dan Qiyamah. Berbeda sedikit dengan rukun Iman versi Suni, yaitu pada Imamah. Kalau yang lain relatif sama, hanya istilahnya beda.
  • A: Kalau Suni menggunakan khilafah, tapi itu tidak masuk kedalam rukun Iman… Terus iman kepada Kitab, Malaikat, dan Taqdir kok nggak masuk?
  • B: Oh, tentu kami percaya dengan Kitab, dan Malaikat tetapi itu bagian dari keyakinan dari Tauhid dan Nubuwah. Sedang Taqdir, kami menekankan kepada Adalah, keadilan Allah dalam taqdir…
  • A: Terus Furu udin, apa itu?
  • B: Ya hampir sama dengan Rukun Islam, tapi kami lebih banyak karena ada tambahan lain, yaitu khums, jihad, amar ma’ruf nahi munkar.
  • A: Oh, begitu… Cuma khums kok nggak dikenal ya dalam Suni?
  • B: Memang agak berbeda, khums kalau Suni masuk dalam zakat. Yaitu zakat barang tambang, rampasan perang, itu 1/5 (khums), . Tapi di Syiah, tidak hanya barang tambang, tetapi setiap keuntungan, termasuk kelebihan pendapatan selama setahun (seperti zakat profesi), dikenai 1/5
  • A: Wah banyak juga, yah… Kalau Suni hanya 2.5% saja….
MADZHAB FIKH
  • A: Terus cara shalat, puasa apa sama?
  • B: Secara umum samalah, seperti subuh 2 rakaat, maghrib 3 rakaat, dll… Gerakannya juga sama dari takbir hingga salam… Namun ada beda pada detil, misalnya waktu berdiri tangan tidak sedekap, tapi lurus. Kita mengikuti fikh madzhab Ja’fari…
  • A: Apaan tuh fikh ja’fari, kok tidak ikut madzhab 4 saja?
  • B: Yah, kalau kaum Suni punya 4 madzhab Hanafi, Syafii, Maliki dan Hambali… Kami punya madzhab Ja’fari. Madzhab ini mengikuti pendapat Ja’far Shadiq salah satu Imam Syiah.
  • A: Ja’far Shadiq? Kok kaya nama salah satu wali songo ya?
  • B: Oh, benar… Banyak keturunan Nabi SAW memiliki nama Ja’far Shadiq, di antaranya adalah wali songo penyebar Islam di tanah Jawa, beliau juga keturunan Nabi SAW.
  • A: Tapi Ja’far Shadiq hidup pada zaman siapa?
  • B: Beliau hidup hampir bersamaan dengan Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Malah konon Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pernah berguru kepada Ja’far Sadiq. Sehingga terkenal kata2 Imam Abu Hanifah, “Kalau tidak karena 2 tahun (bersama Imam Ja’far), maka celekalah Nu’man (nama Abu Hanifah)”…
  • A: Oh, gitu? Ternyata saling berguru ya? Seperti juga Imam kaum Suni, Imam Syafi’i pernah berguru kepada Imam Malik, dan Imam Ahmad pernah berguru kepada Imam Syafii… Ternyata ke-5 Imam madzhab saling berdamai, ya? kenapa umatnya saling bertikai?
  • B: Entahlah… Orang sekarang makin sulit toleransi, beda pendapat sedikit saja, dibilang “Aqidah kita berbeda, engkau bukan saudaraku”
  • A: Iya, kayaknya lebih mudah menyatukan anak kecil bertengkar, ya? Padahal shalatnya menghadap kiblat yang sama, membaca Quran yang sama, naik haji juga ke tempat yang sama..
  • B: Tapi syukurlah, sudah mulai banyak yang menginginkan persatuan kayak Ikhwanul Muslimin… Dari Syiah, kemarin presiden Iran dateng ke Indonesia untuk silaturahmi… Saya bersyukur, kamu masih mau silaturahmi sama saya… meski tahu saya Syiah.
  • A: Oh, bagaimana pun, kamu Saudara saya dalam Islam…
AHLUL BAIT NABI SAW
  • B: Boleh tanya, kami kaum Syiah sering menyebut sebagai madzhab Ahlul Bait, sebenarnya kamu tahu nggak Ahlul Bait…
  • A: Memang agak jarang kami membahas Ahlul bait dalam kajian-kajian Suni… Tapi setahu saya, ahlul bait maknanya banyak… Ada yang mengartikan keturunan Ali, ada yang mengartikan ya seluruh umat Islam ini Ahlul bait Nabi… Kalau menurut Syiah bagaimana? Apa sih pentingnya ahlul bait?
  • B: Bagi kami, konsep ahlul bait justru merupakan pilar dari ajaran Syiah. Sebagaimana hadis nabi, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga (tsaqalain), yang pertama adalah Kitab Allah, dan yang kedua adalah Ahlu baitku”. Hadis ini sahih, lho… Soalnya diriwayatkan diantaranya oleh Muslim.
  • A: Lho, bukannya dua perkara itu Al-Quran dan Sunahku? Itu setahu saya…
  • B: Ya, memang ada… tetapi kami lebih memilih hadis dengan ahlul bait ini… Bagi kami ahlul bait nabi bukan sekedar keluarga Nabi, tetapi adalah yang kami jadikan anutan, dan kami cintai. Kami ingin menjadi kelompoknya…
  • A: Wah, bukannya itu kultus individu, Nabi SAW kan tidak suka dikultusindividukan…
  • B: Bukan kultus individu, tetapi memang itu perintah Allah dan Rasul.. seperti hadis tadi itu…
  • A: Apa ada perintah Allah untuk mencintai ahlul bait Nabi? setahu saya tidak ada…
  • B: Ada, misalnya di surah Asy-syura: 23, “Katakanlah : Aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (al-qurba) “. Kami menafsirkan Al-Qurba adalah Ahlul bait Nabi… Menurut Syiah, Ahlul bait itu adalah ahlul kisa, yaitu Fatimah, Ali, Hasan dan Husain… dan keturunan mereka…
  • A: Kalau menurut kami keluarga, ya keluarga dalam arti umum. Okelah, memang kita disuruh mencintai ahlul bait Nabi SAW, karena hadisnya cukup banyak… Tapi, kok bisa2nya Syiah berpendapat Ahlul bait itu suci, tidak punya dosa, seperti nabi saja… Ini kan tidak masuk akal?
  • B: Menurut saya tidak mustahil kok orang biasa dosanya sedikit, sepanjang dia selalu menjaga diri.. Nah, menurut kami Ahlul Bait Nabi itu selain menjaga diri, juga memang dijaga oleh Allah SWT dari segala noda..
  • A: Apa dasarnya?
  • B: Ada, surat Al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Ini artinya Ahlul bair dijaga Allah…
  • A: Ah, kami nggak menafsirkan seperti itu…
  • B: Ya, nggak apa-apa… Kita lanjutkan lain kali saja deh…
AHLUL BAIT (2)
  • A: Ohya, lanjutkan ya ngobrol kemarin masalah ahlul bait… Apa benar orang Syiah menyembah Ali dan keturunannya atau ahlul Bait?
  • B: Ah, ya nggak dong… Ajaran kita kan sama TAUHID, artinya mengesakan Allah, hanya menyembah Allah, kalau membuat sekutu kan syirk.
  • A: Terus kenapa kamu sering dikatakan menyembah Ahlul bait?
  • B: Nggak tahu, ya? Barangkali karena kami memang mencintai dan membela ahlul Bait Nabi SAW… Tapi itu kan perintah Allah dan Rasul. Jadi menurut kami, kecintaan kepada Ahlul Bait adalah karena kecintaan kepada Rasul, kecintaan kepada Rasul adalah karena cinta kepada Allah..
  • A: Sebenarnya, kami kaum Suni juga mencintai Ahlul Bait Nabi, bukankah kita dianjurkan untuk banyak-banyak shalawat dan bunyi salawat salah satunya ” wa aali Muhammad”…
  • B: Benar, sebenarnya kita juga sama2 mencintai ahlul bait Nabi SAW sebagaimana salawat tadi…
  • A: Saya pengin tahu lebih lanjut mengenai kecintaan kepada Ahlul Bait… Bagaimana riwayat mereka kenapa orang syiah seneng sekali memperingati Hari Asy-Syura…
  • B: Kalau kita baca sejarah ahlul Bait Nabi memang penuh dengan pelajaran. Al-Hasan, cucu Nabi SAW, mementingkan perdamaian dengan Muawiyah, demi persatuan kaum Muslimin. Al-Husein, juga cucu kesangan Nabi SAW, bersama dengan sekitar 70an orang dibantai oleh orang-orang Islam juga di Karbala… Ini yang menyedihkan…Inilah mengapa orang-orang Syiah selalu mengenang kejadian ini… Sebagai bukti kesetiaan kami terhadap Ahlul Bait, sebagaimana perintah Rasul untuk mencintai dan membela mereka…
  • A: Saya juga tahu sejarah mereka, hanya kami tidak memperingati sampai gitu-gitu amat?
  • B: Ya, itu terserah keyakinanmu, tetapi bagi kami memperingati kejadian bersejarah adalah salah satu bukti kecintaan kami kepada mereka… Bukankah, hal biasa misalnya kamu memperingati hari kelahiran, pernikahan atau kematian saudaramu? Apalagi dengan panutanmu…
  • A: Iya, lah… Memang jujur saja… Saya tidak begitu mengenal tokoh-tokoh Ahlul bait… Siapa saja selain Hasan dan Husein… Kalau ini sudah kami kenal…
  • B: Terutama mereka adalah Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-shadiq… ini yang menjadi pendiri fikh ja’fari, terus Musa Al-Kaziem, Ali Ar-Rida, Muhamad al-Jawad, Ali Al-Hadi, Hasan al-askari, dan Muhamad Al-Mahdi…
  • A: Terima kasih, menambah daftar orang shaleh yang biasa dikenal di kalangan ahlu Sunah, seperti Imam Hanafi, Imam Ahmad, Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Taymiah, Ibn Hazm, Imam Asy’ari… saya juga mengenal Ash-Shadiq, Zainal Abidin, Al-Kazim….
  • B: Saya sangat bersyukur kalau mau mengenal tokoh-tokoh ahlul bait, karena mereka termasuk pelita umat… selain ulama2 yang biasa kamu kenal…
  • A: Iya deh, tapi tidak untuk disembah…
  • B: heh, siapa yang nyembah?
  • A: Bercanda… Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad
  • B: Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad…
AHLUL BAIT (3)
  • A: Masih penasaran nih dengan Ahlul Bait… Kalau jelas bahwa mencintai Ahlul bait adalah kewajiban umat Islam, mengapa kok kurang populer di kalangan Ahlu Sunah? Sehingga kita harus shalawat kepadanya, kan?
  • B: Tidak tahu, ya? Tapi dalam hadis Muslim, Rasulullah mengingatkan 3 kali, “Aku ingatkan kalian akan Ahlul Baitku”… Mungkin karena sejarah. Orang yang menjadi Syiah, adalah merupakan nista, “aib”, dianggap kelompok pemberontak… Nah, salah satu ciri orang Syiah adalah kecintaan terhadap Ahlul Bait.
  • A: Tapi setahu saya, kalangan nahdliyin juga sangat menghormati kalangan Ahlul Bait Nabi… Kalau ada habaib, keturunan Nabi SAW, mereka sering minta doa kepada mereka… Sehingga Gus Dur pernah bilang NU itu Syiah kultural…
  • B: Ya, kalangan NU mengenal Ahlul Bait Nabi, sehingga banyak disebut dalam shalawat-salawat mereka… Juga mereka banyak mengamalkan zikir-zikir karya para habaib, seperti Ratib Al-Hadad, Simtud-Durar, dll.
  • A: Ohya, saya pernah baca buku kalau nggak salah “Rumah Suci Keluarga Nabi”, berisi sejarah dan ajaran penghulu Ahlul Bait itu karya orang Suni madzhab Syafi’i…
  • B: Betul, ada juga buku-buku Abdullah bin Nuh yang banyak menceritakan kisah-kisah Ahlul Bait Nabi…
  • A: Ohya, saya tahu juga kalau di kalangan tasauf, tokoh-tokoh seperti Imam Ja’far, Ali Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, dll banyak dikenal. Apa memang mereka pengikut tasauf?
  • B: Mereka memang rujukan ajaran Islam, termasuk tasauf, kami menyebutnya Irfan. Ajaran rohani mereka memang menonjol… sehingga kebanyakan kalangan tasauf bersanad dengan mereka…
  • A: Baiklah, saya akan coba mempelajari sejarah dan ajaran mereka, seperti siapa sih Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, di samping mempelajari ulama-ulama kami Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibnul Qayim… Ohya, ngomong-ngomong nama kalangan ahlul bait kok kayaknya khas ada nama dan gelar?
  • B: Ya, itu kebiasaan kami, seperti Muhammad “Al-Mustafa”, Fatimah “Az-Zahra”, Ali “Zainal Abidin” atau “As-Sajad”, Muhammad “Al-Baqir”…

MAM MAHDI

  • A: Lama gak ketemu nih Baqir.. kangen juga, kepingin ngobrol lagi nih…
  • B: Iya, saya juga, alhamdulillah bisa bertemu…
  • A: Saya nanya lagi nih… Syiah ini pahamnya aneh, masa percaya kepada Imam Mahdi yang katanya sedang Ghaib, dan nanti akan turun…
  • B: Wah, kamu kurang teliti… Sebenarnya kepercayaan akan Imam Mahdi juga kepercayaan Ahlu Sunah juga… Banyak buku ulama Suni tentang Imam Mahdi, misalnya di buku Aqidah Islam karya Sayid Sabiq, bahkan Al-Bani juga menjelaskan di salah satu bukunya…
  • A: Ya, setahu saya Imam Mahdi juga diyakini oleh kalangan Suni, cuma tidak populer… Dan kita hanya menunggu saja…Kalau di Syiah apa populer?
  • B: Bukan hanya populer, tetapi bahkan kalangan Syiah percaya Imam bagi kaum Syiah sekarang adalah Imam Mahdi. Di Iran, misalnya, dalam konstitusinya yang dianggap Imam Negara yang sesungguhnya adalah Imam Mahdi… Sedang Imam Khamaeni hanya mewakili, menunggu Imam Mahdi muncul.
  • A: Apa Imam Mahdi yang dimaksud Syiah dan Suni itu sama?
  • B: Banyak persamaannya, misalnya Imam Mahdi bernama Muhammad, dari kalangan Ahlul bait, akan muncul di akhir zaman, ketika Al-Masih Ad-Dajjal muncul… kemudian Nabi Isa AS juga turun… Imam Mahdi dipercaya baik Suni maupun Syiah akan memimpin dunia dengan sangat adil dan sejahtera di akhir zaman…dan lain-lain. Tetapi memang ada bedanya.
  • A: Apa saja bedanya?
  • B: Ada, misalnya kalangan Suni menganggap Al-Mahdi belum lahir, sedang Syiah sudah… yaitu putra Imam ke-11  (Hasan Al-Asykari), tetapi sekarang sedang dalam ghaib kubra, berada di tempat yang hanya Allah yang tahu… Sebagaimana Nabi Isa AS, yang diangkat Allah ke tempat yang hanya Dia yang tahu…
  • A: Apalagi bedanya?
  • B: Menurut Syiah, Imam Mahdi bernama Muhamad bin Hasan, sedang kebanyakan Suni berpendapat bernama Muhammad bin Abdullah… Perbedaan lain, ya, seperti tadi bagi kaum Syiah, Imam Mahdi dinanti-nanti dan diakui sebagai the real Imam di masa kini… Sedang bagi kaum Suni, tidak begitu, bahkan ada yang tidak meyakini adanya Al-Mahdi… Namun bagi banyak ulama Suni, riwayat Al-Mahdi bahkan merupakan riwayat yang mutawatir…
  • A: Ok, lah… kalau begitu kita berpegang kepada kesamaan saja, bahwa kita sama-sama mempercaya kehadiran Al-Mahdi…
SAHABAT RASUL
  • A: Ini lho kawan, salah satu masalah yang sering mengganjal hubungan dengan temen2 Syiah… Yaitu mereka suka sekali mencela sahabat. Padahal, meski mereka bukan orang yang bebas dari kesalahan, bagi kami para sahabat adalah anutan umat… Dari merekalah kita memahami Islam. Bagaimana sih pandangan Syiah terhadap Sahabat Nabi RA?
  • B: Jujur saja, saya juga menyesalkan kenapa banyak orang syiah yang kerjaanya mencela sahabat Nabi. Tapi, memang kami menilai sahabat agak beda dengan kaum Suni…
  • A: Bedanya bagaimana?
  • B: Kaum Suni menganggap semua sahabat adalah adil, di antaranya begitu kaidah dalam ilmu hadis, sehingga semua ucapan dan tindakannya bisa menjadi rujukan… Sedang bagi kaum Syiah, terlepas bahwa mereka adalah salah satu generasi terbaik Islam, kami menganggap sahabat itu bermacam-macam. Salah satu kaidahnya adalah bagaimana kecintaan dan kesetiaan mereka terhadap Ahlul Bait Nabi, yaitu Fatimah, ALi, Hasan, Husein dan keturunannya…
  • A: Bukankah semua sahabat telah mendapat rida dari Allah SWT dan panutan umat, sebagaimana hadis, “Sahabatku seperti bintang…” dalam arti bisa menjadi petunjuk?
  • B: Sayangnya, kaum Syiah memang memaknai berbeda… Di antara sahabat ada yang sangat saleh, tetapi ada juga yang tidak saleh. Indikasinya adalah di antara mereka ada yang mengkutuk dan membenci Ahlul Bait… Nah, yang shaleh itulah yang kami jadikan Rujukan…
  • A: Yah, kalau kita agak teliti membaca sejarah pada masa sahabat, tidaklah semua berisi keindahan… Pada masa mereka pertentangan bahkan peperangan antar sesama muslim terjadi… Namun, bagi kami kaum Suni menganggap itu adalah ijtihad mereka, mereka bisa benar bisa salah. Sikap kami adalah tidak banyak membicarakan masalah ini, tetapi mengambil yang baik-baik… Mengapa Syiah tidak demikian?
  • B: Memang sulit, karena ini memang berkaitan dengan sebab asal munculnya Syiah Ali… Sulit menjelaskan sebab adanya Syiah Ali tanpa mempelajari sejarah di sekitar pertentangan antar sahabat, hingga munculnya perang jamal, perang Siffin, dan apalagi tragedi Karbala…
  • A: Ok, lah … Yang sudah terjadi biarlah berlalu, masing-masing mengambil pelajaran dari sudut pandang masing-masing… Mereka adalah salah satu generasi terbaik  umat Islam, yang di samping ada kelemahannya, tetapu lewat tangan merekalah terutama umat Islam bisa berkembang ke seluruh dunia. Bahkan pada masa Umar RA perkembangan Islam sangat pesat dalam waktu singkat… Jadi, kalau memang tidak ada hal yang urgen ngapain bicara kelemahan mereka…
  • B: Saya setuju… Mestinya pertentangan mereka bisa menjadi pelajaran bagi kita agar mengambil yang baik, sekaligus menghindari yang kurang baik… Seperti kata Imam Ja’far Sidiq dalam Lentera Ilahi, tentang Sahabat, saya lupa isinya, tetapi kurang lebih agar kita mengenang kebaikan dan keutamaan mereka….
  • A: Nah, gitu dong… baru bagus! Tapi apa orang Syiah mau begitu?
  • B: Insya Allah mau… Untuk kebaikan bersama…
  • A: Amien…
TRAGEDI KARBALA
  • A: Oh, ya sebentar lagi hari Asy-Syuro, bagi kaum Suni merupakan salah satu hari besar yang disunahkan untuk berpuasa… Bagaimana kaum Syiah malah memperingati tragedi Karbala?
  • B: Ya, ini adalah perbedaan lain antara Suni-Syiah… Kaum Suni memperingati sebagai hari baik, sedang kami memperingati tragedi Karbala dengan kesedihan. Mungkin kita mulai dengan membaca komentar Haidar Nashir, seorang tokoh Muhammadiyah di Republika
.
Kutip
Kita dapat belajar pada kegetiran sejarah di Karbala, sebuah daerah di Irak bagian Tengah yang berjarak sekitar 90 km dari Baghdad atau 40 km dari Kufah. Bagaimana Husain putra Ali bin Abi Thalib harus mengakhiri hidupnya secara tragis dan menyedihkan sebelum sampai ke Kufah yang menjadi tujuannya. Perselisihan politik yang keras dengan baju agama yang dikobarkan rezim khalifah Yazid Mu’awiyah telah menelan korban cucu terkasih Nabi itu bersama sanak keluarga dan pengikut setianya secara memilukan
.

Dalam catatan sejarah yang muktabar, Ubaidillah sang Gubernur Iraq wakil Dinasti Umayyah di negeri Seribu Satu Malam itu harus mengarak penggalan kepala Husain dan korban lainnya di kota Basrah dan Kufah untuk kemudian dibawa ke Damaskus untuk diserahkan ke Yazid sebagai bukti. Sebuah tragedi getir yang dilakukan Muslim terhadap Muslim lainnya secara tak kenal perikemanusiaan.

ini menjadi pelajaran pentingnya bersatu, menghindari perpecahan,mementingkan ukhuwah.

  • A: Terus bagaimana Tragedi Karbala bagi kaum Syiah? Mengapa mereka sampai ada yang menyiksa diri? Itukan tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam??
  • B: Tindakan menyiksa diri seperti sebagian kalangan Syiah, sebenarnya diharamkan oleh ulama Syiah. Yang dibolehkan adalah memukul dada tapi tidak perlu keras-keras, sekedar ungkapan kesedihan… Imam Husein adalah salah satu panutan umat Islam, diperlakukan seperti itu… Maka kami memperingatinya sebagai ungkapan kecintaan kami kepada Imam Husein, dan kesetiaan kami kepada Imam Husein.
  • A: Kalau saya perhatikan dalam sejarah, konflik yang paling sering di antara kaum muslim adalah karena masalah politik. Menurutnya bagaimana?
  • B: Benar, politik memang kadang ruwet… Saudara bisa menjadi musuh karena perbedaan politik. Dalam konteks juga politik, kita bisa menganalisa konflik dan persaingan antara kaum Suni dan Syiah.
  • A: Bagus juga kalau masalah kontemporer ini kita bahas juga.
  • B: Ya, tapi mungkin lain kali, ya.. Saya lagi ingin membaca buku mengenai Tragedi Karbala.
  • A: Baiklah, saya juga akan baca namun dari kacamata Suni, seperti tulisan Abul A’la Maududi…
  • B: Ok, sampai ketemu lagi…
Pertentangan Politik dalam Islam
  • A: Saya telah membaca sebagian kisah tragedi Karbala baik dari sumber Syiah maupun Suni. Saya sungguh sedih sekali, bagaimana cucu kesayangan Rasul SAW beserta handai taulannya dibantai begitu sadis. Tidak mungkin dalam hal ini saya membela atau memaklumi Yazid, seorang penguasa yang zalim dan fasik.
  • B: Yah, itulah politik… Kalau kita pelajari sejarah, hampir semua pertengkaran penuh dengan nuansa politik, termasuk dalam sejarah Islam, seperti kasus Karbala tadi. Dan politik itu, sesuai sifatnya rumit dan penuh dengan siasat, dan tipu daya…
  • A: Penuh tipu daya bagaimana, bukankah ada politik yang baik…
  • B: Mungkin ada, tapi sayangnya kebanyakan buram. Penuh intrik dan kekerasan, di mana-mana sama… coba lihat sejarah politik bangsa Indonesia.
  • A: Lho kalau begitu apa orang Islam itu tidak usah berurusan dengan politik, karena politik itu buram? Itu kan pandangan sekuler?
  • B: Bukan begitu, tetapi kita harus hati-hati penuh cek dan ricek, serta tidak emosional, berpikiran sempit, dan mudah percaya begitu saja… Dan ini yang penting, lebih mengutamakan dialog dan kerja sama dalam berpikir dan bertindak… Sebagai contoh kasus Irak, sungguh sangat memilukan…
  • A: Bagaimana kamu memahami kasus Irak? Saya lihat kaum Suni dibantai Syiah…
  • B: Ya, dan kaum Suni juga melakukan hal sama dengan membakar Masjid-masjid, Ulama-ulama Syiah… dalam kasus terakhir, ratusan muslim Syiah tewas dalam peringatan Asy-Syura…
  • A: Menurut kamu bagaimana sih, peta politik di Irak itu?
  • B: Seperti saya katakan, rumit, buram… Ada banyak sekali kelompok, dan masing-masing bertindak berdasar interes masing-masing.
  • A: Misalnya?
  • B: Pertama, pihak paling berkepentingan adalah USA & UK dan sekutunya. Mereka telah keluar uang dan nyawa banyak orang, tentu mereka ingin menguasai Irak sedalam-dalamnya, terutama untuk menguasai minya dan gas. Makin tergantung orang Irak dengan mereka makin senang dia… Saya kira salah satunya dengan menebarkan dan mendukung kebencian antara Suni-Syiah. Mereka punya keuntungan besar dengan kondisi ini…
  • A: Keuntungan bagaimana? Bukanlah mereka banyak tentaranya yang mati?
  • B: Pertama adalah menciptakan image bahwa memang benar Islam, baik Suni dan Syiah memang sukanya bertengkar, berperang, kekerasan dan terorisme. Kedua, untuk meyakinkan dunia bahwa Irak memang sangat membutuhkan & tergantung kepada USA. ketiga, senjata mereka laku… Perlu diingat bahwa senjata adalah bisnis besar bagi USA & UK. Konon, di UK ada pabrik senjata yang sudah mem-PHK ribuan karyawannya, begitu perang Irak, mereka memanggil semua karyawannya. Keempat, menyibukkan umat Islam di dunia dengan masalah yang makin banyak melingkupi mereka, sehingga mereka lemah, putus asa. Kelima, kasus Irak adalah sinyal penting dari USA kepada negara mana saja yang menentangnya, bisa mengalami nasib seperti Irak. Muamad Khadafi, dan pemimpin Arab lainnya, paham sekali hal ini. Sehingga kita bisa lihat semua pemimpin negara Islam, tunduk patuh kepada USA… Kita bisa menambahkannya lagi…
  • A: Tapi orang Syiah sendiri juga mengambil keuntungan dari kehadiran USA, kan?
  • B: Dalam beberapa hal mungkin benar. Seperti kemungkinan untuk ikut berperan dalam politik akan makin besar, mengingat mereka mayoritas. Hal yang tidak mungkin terjadi pada masa Sadam Husein yang sangat menindas kaum Syiah. Bahkan, mungkin ada sebagian orang Syiah yang dendam dengan Sadam yang telah berpuluh tahun menindas mereka…
  • A: Sebenarnya siapa yang mendahului saling membunuh itu? Kalau kami kaum Suni hanya membela diri saja…
  • B: Sulit untuk dipastikan… Bagi kami orang Syiah, kami bahhanya membela diri. Orang Suni juga begitu, mereka hanya merasa membela diri. Tetapi, sebenarnya ada pihak lain seperti eks pengikut sadam dan kelompok-kelompok lain… Yang jelas, peristiwa di Irak ini telah membunuh sekitar 500 ribu orang. Dan menyatukan lagi kayaknya merupakan jalan panjang. Ketika darah sudah banyak bertumpah, perkara menjadi lain…
  • A: Rumit juga, yah. Jadi nampaknya, tragedi Irak tidaklah simpel, tetapi melibatkan banyak pihak yang memiliki interes masing-masing. Baik, USA dan Konconya, kaum Syiah, Kaum Suni, yang keduanya juga masing-masing berpecah-belah, para pengikut Sadam, dan mungkin kelompok-kelompok lain…
  • B: Ya, dan yang rugi adalah orang-orang tak berdosa dan Islam itu sendiri
PERSATUAN & UKHUWAH ISLAMIYAH
  • A: Memang setelah saya pelajari sejarah Islam, bahkan pada masa Sahabat, sulit untuk dipungkiri bahwa masalah politik memiliki andil besar dalam perpecahan umat Islam.
  • B: Ya, itulah sebabnya kita perlu membangun kembali semangat persatuan dan ukhuwah Islamiyah, sebagaimana diserukan oleh Rasulullah SAW dari dulu. Bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh. Seharusnya kita menjadikan Islam sebagai ikatan paling kuat di antara kita.
  • A: Sebenarnya memang sebaiknya mesti begitu, ya, perbedaan kalau mau diungkit-ungkit tidak pernah akan selesai untuk diperdebatkan. Tetapi bukankah, mestinya umat Islam itu satu, berasal dari sumber yang satu dan tidak ada  lagi perbedaan?
  • B: Ada dua hal dari pertanyaan Akhi Ahmad. Pertama, apakah Islam tidak memungkinkan perbedaan? Kedua, apakah perbedaan yang menyebabkan perpecahan?
  • A: Kalau saya baca sejarah Islam, maupun sebab-sebab perbedaan memang sudah ada bahkan zaman Nabi SAW. Bedanya pada masa Nabi SAW ada yang yang menjadi pemutus, yaitu Rasul SAW sendiri. Sedang pada masa sesudahnya tidak ada…
  • B: Ya, kalau kita baca sebab perbedaan pendapat adalah banyak sekali, termasuk di antaranya perbedaan memahami Al-Quran dan Sunah itu sendiri dalam menjawab tantangan hidup yang terus berkembang. Perbedaan adalah keniscayaan di dalam hidup ini, kita tidak bisa menghindarinya…
  • A: Betul juga, ya, bahkan dalam kelompok yang sudah digembleng dalam satu “aqidah” yang sangat kuat, dan mencela yang berbeda pun akhirnya berbeda-beda pendapat juga, bahkan kadang-kadang perbedaan itu keras sekali…
  • B: Ya, karena persatuan itu ada di dalam HATI, di dalam SIKAP… Bukan ditentukan oleh persamaan pendapat atau bahkan persamaan lahir, misalnya pakaian, atribut…
  • A: Betul juga, persatuan akan muncul dari sikap menganggap orang lain sebagai saudara, dari sikap rendah hati, tawadlu, dan menghargai orang lain. Karena meskipun kita ada dalam satu kelompok dengan pendapat sama, bahkan pakaian, atribut sama semuanya hingga kecil-kecil, namun dalam hati masing-masing merasa paling baik, paling benar, paling shaleh, ingin menonjolkan diri sendiri, dan mau menang sendiri… Perpecahan tinggal menunggu waktu.
  • B: Tapi bukan berarti persamaan atau kesepakatan itu tidak baik, lho? Karena kira umat Islam sebenarnya memiliki persamaan dalam sangat banyak hal, seperti misalnya shalat, secara menakjubkan sebenarnya kita shalat dengan cara yang secara umum sama sehingga bisa dipimpin oleh imam dari madzhab mana pun, tanpa makmumnya kesulitan untuk mengikuti…  Di samping itu, kita punya ikatan yang sangat kuat, yaitu Tauhid, Al-Quran, kecintaan kepada Rasulillah dan Islam… Ini adalah sesungguhnya ikatan yang sangat kuat (urwatul wustqa)… Kalau orang lain, bisa bersatu dalam hal yang remeh temeh seperti kesamaan selera musik, mengapa tali yang begitu kuat di atas tidak mampu menyatukan umat Islam?
  • A: Saya juga ingat anjuran tokoh-tokoh persatuan Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Rasyid Ridha agar “KITA BANTU-MEMBANTU DALAM MASALAH YANG KITA SEPAKATI, DAN BERSIKAP TOLERAN DALAM MASALAH YANG KITA PERSELISIHKAN”
  • B: Alhamdulillah, sebenarnya tokoh-tokoh utama umat Islam dari semua kelompok sebenarnya sangat toleran. Dalam NU, KH Hasyim Muzadi, Said Agil Siraj, atau Gus Mus misalnya. Dalam  Muhamadiyah ada , Pak Amien Rais, Pak Syafi’i juga Din Syamsudin… Adalah tokoh-tokoh yang menyerukan persatuan Umat Islam, termasuk dengan kelompok minoritas Syiah seperti saya ini…
  • A: Apakah toleransi, mementingkan ukhuwah Islam bukan berarti kita tidak punya pendirian, mencla-mencle?
  • B: Oh, bukan… Kita tetap memiliki pendirian masing-masing secara kuat. Seperti saya akan tetap mencintai, mengikuti dan membela Ahlul Bait Nabi SAW bahkan dengan jiwa raga saya… Namun, di saat yang sama saya tetap bisa bergaul, berdialog, bekerja sama dengan teman2 dari kelompok lain dalam hal-hal yang sama, yang sebenarnya memang sangat banyak…
  • A: Betul juga, kalau waktu kita hanya dihabiskan untuk bertengkar masalah khilafiah tanpa henti, bagaimana umat Islam akan bisa maju jika kita tidak bisa bersatu dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat?
  • B: Setuju Akhi…
SEKTARIAN, HIZBIYAH, MAZHAB & ABSOLUTISME
  • Ahmad: Melanjutkan ide tentang persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah, kayaknya salah satu rintangannya adalah sikap hizbiyah atau sektarianisme. Tetapi apakah merasa bahwa pemahamannyalah yang benar itu salah?
  • Baqir: Tentu semua orang akan mengikuti pendapat yang menurutnya paling benar. & adalah kecenderungan, dan sikap semua orang. Itu sikap yang wajar dan memang harus begitu… Yang jadi masalah adalah sikap menegasikan orang lain, sikap yang menganggap bahwa pendapatnya dan kelompoknya sama dan sebangun dengan Islam itu sendiri dan yang tidak sesuai dengan pendapatnya sebagai bentuk kekafiran… Itulah sikap absolutisme…
  • A: Kalau begitu sektarianisme, bukan berarti tidak memiliki mazhab atau kelompok
  • B: Menurut saya, ya! Hizbiyah atau sektarianisme adalah sikap bagaimana memandang orang lain yang berbeda pendapat dengan kita. Kita bisa saja, dan itu wajar, mengikuti pendapat suatu ulama, kelompok atau hizb… Namun, ketika kita pada saat yang sama memandang orang lain yang berbeda itu dengan sikap toleransi, dan tetap menjadikan saudara seiman, dia tidaklah sektarian. Contohnya adalah NU dan Muhamadiyah… Orang NU tetap menganggap orang Muhamadiyah sebagai saudara seiman, walau mereka berbeda pendapat dalam banyak sekali masalah. Namun, di saat yang sama ketika kita TIDAK memilih mazhab atau hizb apa pun, namun KITA BERSIKAP: hanya kitalah yang benar, yang lain adalah kesesatan. Kita telah bersikap sektarian, hizbiah, meski kita secara fisik tidak menjadi anggota kelompok apa pun, atau tidak menisbahkan kepada mazhab apa pun…
  • A: Ya, kalau saya membaca sekilas fikh perbandingan (muqaran), saya dapati perbedaan yang sangat banyak dalam satu masalah saja. Sehingga Ahmad Deedat mengatakan bahkan dalam masalah shalat saja terdapat perbedaan dalam lebih dari 200 masalah…
  • B: Itulah kawan, agama kita sudah melalui lebih dari 1400 tahun… Melalui berbagai generasi dari berbagai bangsa, dengan latar belakang dan kecenderungan masing-masing. Masing- masing memiliki pola anutan yang berbeda, sehingga sangat wajar pendapatnya menjadi berbeda. Bagi kami Mazhab Ahlul Bait, rujukan paling utama adalah 12 Imam itu, serta para ulama yang mengikuti 12 Imam kami.
  • A: Ya, begitu juga kami kaum Ahlu Sunah… Memiliki banyak sekali ulama anutan. Misalnya dalam masalah fikh ada 4 mazhab besar, yang paling banyak diikuti. Belakangan memang ada yang tidak mengikuti mazhab tertentu, namun sebenarnya juga membentuk mazhab tersendiri juga. Bagi kaum NU misalnya, tentu rujukannya Imam Nawawi, Imam Al-Ghazali, Al-Baghawi, dll. Atau yang belakangan Sayid Alawi Al-Maliki, misalnya… Sedang bagi kelompok lain, rujukannya berbeda misalnya Ibnul Qayim atau yang belakangan Syaikh Al-Bani atau Al-Qaradawi…
  • B: Meskipun begitu tidak ada alasan bagi kita untuk berpecah belah, dan saling hujat sendiri…
  • A: Setuju Akhi Baqir… Semoga Allah mengaruniai seluruh umat Islam kasih sayang kepada saudaranya sendiri, dan menjauhkan fitnah, sikap iri, dan prasangka di hati kaum Muslimin.
  • B: Amien… Ya Rabbal ‘alamiin…

BAGAIMANA SEJARAH PEMBUKUAN HADIST SUNNi


Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat

.
Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Adhwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah” (Telaah Atas Sunnah Muhammad) patut dipertimbangkan di sini. Dia mengatakan dalam buku itu yang membuat saya terkesima saat membacanya pertama kali dan selalu saya ingat hingga sekarang: menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 2600an hadis
.
Kata Abu Rayyah: bayangkan, Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception“.
.
MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu dan tak terpisahkan
.
Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya
.
Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik
.
masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dari turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”
.
Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:
.
(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!
(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!
(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.
(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!
(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!
(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.
(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keistimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.
.
Situasi politik dan keamanan pada saat pengumpulan hadis hadis sunni tidak kondusif  bagi suasana ilmiah yang netral, buktinya antara lain :
– Imam Al Nasa’i, pengarang sunan Al Nasa’i dipukul dan dianiaya hingga sekarat didalam Masjid karena menyatakan : “saya tidak mengetahui keutamaan apapun dari Mu’awiyah kecuali Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
– Pemakaman Ibnu Jarir Al Thabary dipekuburan Islam dihalangi dan dicegah karena beliau menshahihkan hadis hadis Ghadir Kum dan menghimpun riwayat riwayat nya hingga mencapai tingkat mutawatir.. Beliau akhirnya dikubur dipekuburan Kristen dan hartanya dirampas
– Al ‘Amary yang meriwayatkan hadis burung panggang (yang menunjukkan keutamaan Imam Ali) di usir dari tempat duduk nya dicuci karena dianggap najis
– Imam Syafi’i dianiya karena mengucapkan syair syair yang memuji ahlulbait, bahkan beliau nyaris dihukum mati.
.
Sebagian hadis hadis sunni  berlabel shahih ternyata PALSU  dan PENUH  REKAYASA POLiTiK, fakta sejarah :
1. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) selalu menghina dan mengutuk Ali dan keturunannya.. Bahkan Yazid  membantai  Imam Husain  beserta pendukungnya… Tetapi  mereka memuliakan Abubakar, Umar, Usman dan sahabat sahabat lainnya melalui pembuatan hadis hadis politik jaminan surga dan lain-lainnya
2. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) sangat membenci Imam Ali dan menuduh nya sebagai pendukung pembunuh USMAN
3. Imam Ahmad bin Hambal pada masa kerajaan Abbasiyah yang pertama kali mengusulkan Ali sebagai bagian dari Khulafaurrasyidin
4.Imam Ahmad bin Hambal mendha’ifkan hadis hadis shahih karena perawinya yang pro ahlulbait mengkritik Abubakar Umar USman dan loyalisnya, mereka diberi label “rafidhah”… Ulama ulama hadis  sunni yang lain jauh lebih radikal dari Ahmad bin Hambal
5. Sepeninggal Nabi SAW pihak penguasa bersikap keras dan kejam kepada Imam Ahlulbait dan para pengikutnya, misalnya : Al Mutawakkil yang digelari “Khalifah Pembela Sunnah Nabi” melakukan :
– Membongkar kuburan imam Husain
– Melarang ziarah kubur ke makam Imam Ali dan Husain
– Memberikan hadiah kepada setiap orang yang mencaci maki Imam Ali
– Membunuh setiap bayi yang diberi nama Ali
– Berupaya membela kelompok Nawasib
.
Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka
.
Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats, Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.
.
Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.
.
Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.
.
Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…
.
Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…
.
Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain. Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam Ja’far Shadiq ( Imam Keenam) dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan kekejaman terhadap penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah.
.
Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.  Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Ja’far Shadiq Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam Ja’far Shadiq ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam Ja’far Shadiq dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam.
.
Kemudian, Imam Ja’far Shadiq diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam Ja’far Shadiq menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.
.
Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dan lain-lain terjadi pada masa Abbasiyah bukan ? Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…
.
Para pembaca…
Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…
.
Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan
Ahlul hadis sunni hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW
.
Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak. Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti
Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dari hadits tersebut.
.
Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yang disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya seperti Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Maka ucapan para Imam = ucapan Nabi saw. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW
.
Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis
.
Adanya pertentangan dan kontradiksi diinternal hadis sunni  MEMBUKTiKAN  bahwa  sebagian hadis  sunni yang  ditolak  (syi’ah imamiyah)  adalah hadis  BUATAN  rezim penjahat… 
.
Menghujat sahabat adalah kafir  rafidhah ?  bagaimana dengan muawiyah yang memerintahkan  untuk  menghujat  Imam Ali Di mimbar masjid yang diikuti mayoritas  khalifah  bani umayyah ? Apa muawiah kafir? 
.
Syi’ah Imamiyah Menerima Hadis Hadis Mazhab Sunni Jika : “Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama syi’ah dan Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan syi’ah”
.
Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ? Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:
  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan, “Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (sunni) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”
.
Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyah sesuai dengan syarat tersebut di atas.
.
Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )
.
Di dalam  Mazhab   Syi’ah   Imamiyah   Itsna   Asyariah ( mazhab   resmi    Iran ), ada  4  kitab   hadis :
a. Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb :5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif.
 .
Sangat-sangat   banyak hadis  dhaif dalam Kitab  Al Kafi  ( lebih  separuh  kitab  ini  hadisnya  dha’if ).. Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul.
Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi
.
Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]
.
Hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if. Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis
.
Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 16.121 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118 Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.
 .
al-Kulaini hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah
 
b. Kitab  hadis   Man la   yahdarul   fiqh  Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…
c. Kitab  hadis   Tazhibul  Ahkam Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.
d. Kitab  hadis  Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
.
Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:
Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.
Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.
.
Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.
.
Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.
.
Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak
.
Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.
.
Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka
.
Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.
.
Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini
.
‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapalnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah
.
Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”
.
Imam ash-Shadiq as memperkenalkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”
Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang halal dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”
.
Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan, “Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)
.
Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah
Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjah dan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.
.
hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”
.
Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali
Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushul yang ada pada mereka.
.
Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.
.
Peringatan 
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as
.
Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.
.
Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai ! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !
.
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF
.
Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah!
Kenapa banyak sekali hadis dha’if ? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ?Jawab: Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan….. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW
.
Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … ….
.
Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan
.
Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ? Jawab : Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah
.
Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat!
.
Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan
.
Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis
.
Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak
.
Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi . Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.
Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. 
.
Perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran sehingga Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman untuk memutuskan suatu hal yang boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yang konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yang zalim.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku
.
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullah wafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat
 .
Saudaraku, ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
 .
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW. (riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang di sebabkan para Sahabat mendengar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi, Karena tidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
 .
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya, isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi. Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama. Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama. Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka meriwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
 .
Sunni mengklaim  periwayatan Hadist oleh para Sahabat. Hadist tersebut dihafalkan dari Sahabat, dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid. Setelah para Sahabat terdekat meninggal dunia, barulah diadakan pengumpulan dan pembukuan Hadist
.
Kodifikasi hadits baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara hadits shahih dan hadits palsu tidak dapat dibedakan di sebabkan karena :
 .
1. usaha pembukuan yang terlambat.  Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada abad ke-2 H dan mengalami kejayaan pada abad ke-3 H. Sehingga  pencatatan Hadis sunni secara tekstual literatur Hadis tidak mudah dipercaya sebab pencatatan terhadap Hadis dilakukan setelah dua ratus tahun. Pembukuan dalam skala besar dilakukan di abad ketiga Hujriyah melalui para penulis Kutubus Sittah. Dalam konteks histories, periwayatan hadis tidak seberuntung al-Qur’an yang memang sejak awal telah dilakukan kodifikasi dan pembukuan. Sementara kodifikasi al-hadis dilakukan lebih belakangan jauh setelah wafatnya Nabi SAW. Dengan demikian periwayatan hadis menjadi problematic dan banyak mengundang kritik dari para orientalis yang cukup tajam dan bahkan memandang apriori terhadap otentisitasnya
 .
2. Bukhari menyaring 3.000 hadits dari 600.000 hadits yang telah ia kumpulkan.
Dalam sebagian literatur hadits sunni , nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (“…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities”), dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak: “…without hesitation, to reject at least one-half.” Itu dari sudut sumber isnādnya, sedangkan dari sudut isi matannya, maka hadits “must stand or fall upon its own merit”. Hanya sebagian hadis sunni yang memang betul-betul hadits shahih dari Nabi [SAW]. Penguasa telah  memalsukan sebagian  hadits; bahwa sebagian hadis-hadits yang diriwayatkan  sebenarnya bukan berasal dari Nabi SAW, akan tetapi adalah perkataan si pemalsu  sendiri atau perkataan orang lain yang disandarkan kepada Nabi SAW.
 .
3. Tidak ada ijma’ kaum syi’ah  tentang keshahihan hadits-hadits  Semua hadis sunni. Hadis sunni yang kami sepakati tentang kehujahannya berarti sahih
Bahwa perjalanan hadis sunni hingga era kodifikasi dalam korpus resmi telah melewati beberapa fase yang tidak selalu mulus dan murni, bukan saja dari rangkaian sanad-nya tetapi juga materi hadis itu sendiri. Hadis-hadis Nabi tersebut, sampai masa pembukuanya secara resmi  masih bercampur dengan kata-kata dan fatwa sahabat. Hal ini menyebabkan jumlah materi hadis menjadi menggelembung, tetapi setelah diseleksi menjadi sedikit lagi. Sebagian hadith sunni merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat Muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam. Sebagian hadith sunni adalah produk bikinan penguasa sunni  beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Sangat sulit untuk mempercayai literatur hadits secara keseluruhannya sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi SAW (“It is difficult to regard the hadīth literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the sayings and doings of Muhammad”). Keberagaman data periwayatan Sunni – Syiah merupakan hasil pemalsuan yang terencana dari Sunni
 .
4. Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H) melakukan penulisan Hadis karena tekanan dari Bani Umayyah. Munculnya pemalsuan hadits akibat perselisihan politik dan madzhab setelah terjadinya fitnah, dan terpecahnya kaum muslimin menjadi pengikut Ali dan pengikut Mu’awiyah, serta Khawarij yang keluar dari keduanya
 .
Bukhari misalnya berkata:Bahwa Hadist ini diucapkan kepada saya oleh seseorang bernama A dan A berkata:diucapkan kepada saya oleh B dan B berkata: diucapkan kepada saya dari C dan C berkata: diucapkan kepada saya dari D dan D berkata: diucapkan kepada saya dari E dan E berkata: diucapkan kepada saya dari F dan F berkata: diucapkan kepada saya dari Nabi SAW
 .
Menurut contoh ini antara Nabi SAW dan Bukhari ada 6 orang dan 6 (enam) orang ini tidak mesti, melainkan bisa jadi kurang atau lebih.Tiap-tiap orang dari A sampai F yang disebutkan tersebut diatas adalah Yang meriwayatkan atau Rawi (perawi). dan sejumlah Rawi pada suatu Hadist dinamakan dengan Sanad yang terkadang disebut Isnad
 .
Pada masa Abdul Malik (sekitar 70-8.0 H), yakni enam puluh tahun lebih setelah meninggalnya nabi, penggunaan sanad dalam periwayatan hadits juga belum dikenal. Dari sini saya  berkesimpulan bahwa pemakaian sanad baru dimulai pada antara Urwah dan Ibn Ishaq (w. 151 H). Oleh karena itu, sebagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad ke dua, bahkan abad ketiga. Tulisan-tulisan Urwah yang dikirimkan kepada Abdul Malik tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa Urwah pernah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan
 .
Bahkan sebagian hadits-hadits  sunni yang terdapat dalam al-kutub as-sittah sekalipun tidak dapat dijamin keasliannya: “even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic.” Sebagian sistem periwayatan berantai alias isnād merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktekkan pada abad kedua Hijriah: “there is no reason to suppose that the regular practice of using isnāds is older than the beginning of the second century.”
 .
Sedangkan yang di maksud dengan yang mengeluarkan Hadist adalah Orang   yang mencatat Hadist Rasulullah SAW,yaitu para  Ahli Hadist seperti Imam Malik, Bukhari,Muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi serta lain-lainnya.
 .
Syi’ah menemukan beberapa Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hadis-hadis tersebut terkesan mengucapkan kata-kata ganjil dan kasar, membuatnya heran sebagai sabda-sabda yang konon berasal dari Nabi saw tidak memiliki retorika penuh bunga yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan-tulisan
 .
Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia lahir 21 tahun sebelum Hijriah, sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdu al-Syams (hamba matahari), ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing, ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, kemudian setelah masuk Islam baru dinikahinya. Tatkala menjadi muslim, ia bersama Thufail bin Amr berangkat ke Makkah, Nabi Muhammad Saw mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Ia menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.
 .
Kami menggugat integritas Abu Hurairah  sebagai perawi dengan berbagai tuduhan, diantaranya adalah ia terlalu banyak meriwayatkan (lebih dari lima ribu Hadis) apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Nabi saw dalam waktu yang singkat. Ia hanya bersama Nabi sekitar tiga tahun, sebagian besar Hadisnya ia tidak mendengar dari Nabi secara langsung akan tetapi ia mendengar dari sahabat dan tabi’in. Apabila setiap sahabat dinyatakan adil sebagaimana jumhur ulama Hadis maka para tabi’in juga sama demikian adanya.
 .
Kami  mengingatkan bahwa Abu Hurairah masuk Islam ketika ia bergabung bersama Nabi saw dalam peristiwa Khaibar pada tahun 7 H/ 629 M, ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber. Abu Hurairah juga dituduh sebagai seorang pemalas yang tidak memiliki pekerjaan tetap selain mengikuti Nabi saw. kemanapun beliau pergi, juga merupakan orang yang rakus terutama setelah beliau mendapatkan posisi penting sebagai gubernur pada masa dinasti Bani Umaiyah
 .
Sahifah sahifah pro penguasa misalnya : shahifah Samurah bin Jundub
Ash-shohifah Ash-shohihah, catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 130 H). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah, berisikan kurang lebih 138 buah hadits. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalam berbagai bab
 .
Shahifah sahihah yaitu kumpulan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Kumpulan hadis tersebut disampaikan oleh Abu hurairah kepada Hammam Ibn Munabbih (40 – 131 H) dari generasi Tabiin. Ini memuat 138 hadis. Kemudian Hammam menyampaikan kepada sejumlah muridnya, antara lain Ma’mar Ibn Rasyid (w.154 H/ 770 M) yang memelihara dan membacakan kepada salah seorang muridnya, Abdur ar-Razaq as-Sam’ani (w.211 H/826 M). selain sebagai ulama terkemuka seperti gurunya, Abd ar-Razaq juga memelihara shahifah tersebut dalam bentuknya yang utuh dan menyampaikannya kepada generasi-generasi sesudahnya. Naskah ini telah ditemukan oleh DR. M. Hamudullah dalam bentuk manuskrip aslinya di Damaskus dan Berlin. Muhammad Ujjaj al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, (bairut: Dar al-Fikr, 1981), h. 355 – 357. Subhias-Shalih, Ulum al-hadis Wa Musthalahuh, (Bairut: Dar ‘Ilm Li al-Malayin, 1988), h. 32
 .
Kitab –Kitab Hadist.
a. Abad ke 2 H
1)   Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
2)   Al Musnad oleh Ahmad bin Hambal (150 – 204 H / 767 – 820 M)
3)   Mukhtaliful Hadits oleh As Syafi’i
4)   Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
5)   Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (82 – 160 H / 701 – 776 M)
6)   Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (107 – 190 H / 725 – 814M)
7)   Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (94 – 175 / 713 – 792 M)
8)   As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (88 – 157 / 707 – 773 M)
9)   As Sunan Al Humaidi (219 H / 834 M)
 .
b. Abad ke 3 H
1)       Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
2)       Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
3)       As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
4)       As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
5)       As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
6)       As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
7)       As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
 .
c. Abad ke 4 H
1)        Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
2)        Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
3)        Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H/873-952 M)
4)        Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
5)        Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
6)        At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
7)        As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
8)        Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
9)        As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
10)    Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
11)    Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)
 .
d. Abad ke 5 H dan selanjutnya
Hasil penghimpunan.
Bersumber dari kutubus sittah saja: Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M), Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (1084 M).
Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M).
Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M).
 .
Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :
1)   Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M).
2)   As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M).
3)   Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M).
4)   Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (1254 M).
5)   Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
6)   Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M).
7)   Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M).
 .
Kitab Al Hadits Akhlaq.
1)   At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)
2)   Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3)   Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadits).
4)   Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
5)   Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M).
6)   Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M).
7)   Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M).
8)   Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M).
 .
Para pembaca,
Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik. Dalam hal ini Ulil dengan mengutip pendapat Abu Rayyah menuliskan:
Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadits. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception” (http://ulil.net/).
 .
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan sejarah memang telah terjadi banyak praktik pemalsuan hadits yang terjadi antara lain karena ulah pendusta. Bahkan praktik dusta itu telah terjadi sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hadits Rasulullah Saw yang mengecam para pendusta atas nama Rasulullah menjadi salah satu bukti hal ini. Redaksi haditsnya sebagai berikut:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menyiapkan tempat duduknya di neraka”
Hadits tersebut merupakan hadits mutawatir, artinya diriwayatkan oleh banyak orang dari tiap-tiap generasinya. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh tujuh puluh orang lebih sahabat dengan redaksi yang sama (Nurddin Itr, 1988,; h. 405)
 .
Motif pemalsuan hadis oleh penguasa :
1. Syi’ah menolak kekhalifahan Umayyah Abbasiyah  ataupun tidak ikut membai’atnya
2.Upaya penyingkiran kekhalifahan yang sah yakni “ Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW”
3.Bani Umayyah juga dan Bani Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan-keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat, karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN. Ulama-ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung  bid’ah-bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.
Akibatnya ?  hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan
.
Apakah Bukhari sudah terbebas dari kesalahan ? Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !
 .
4. Mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongannya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya, pengikut-pengikut Ali (Syi’ah Ali) dicap sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang-orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, 
Antara Musuh-musuh Allah dan Ahlulbait, siapa sebagai AHLUSUNNAH?
Harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.
5.Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”
.
Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Al Muawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil
 .
Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal-hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu
Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang
.
Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait
 .
Pendukung-pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.
 .
Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ?
.
Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi
.
Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW
 .
Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT
.
Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaannya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisginil dan mana hadis yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!
Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh-tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW
.
Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ?
 .
Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda-sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ?
Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW
.
Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ?
Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetakalah yang terjadi kini.
Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah
 .
Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.
Contoh :
.
Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya
.
Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dari segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ?
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”
 .
Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dan lain-lain yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang
Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir
.
Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.
.
Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya
Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah
.
Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)
.
Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)
.
Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu
 .
Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.
Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH
.
Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.
 .
Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.
Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)
 .
Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW
.
Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkarnya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah
.
Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobarkan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS
Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
.
Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam
Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.
.
Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN
.
Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah
.
Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW
 .
Kenapa  jutaan  hadis  sunni  PALSU  ?
Ada  apa  ini ?  Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), anehnya Cuma 20.000 hadits saja yang ditulis, selainnya palsu ! Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !
 .
Sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
 .
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
 .
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
 .
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
 .
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
 .
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
 .
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
 .
Tahapan studi kritis yang mantap
 .
Sebagian materi hadits  mempunyai persamaan di kalangan Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah; Seandainya syi’ah sesat tentunya, tidak ada satupun hadis yang secara bersamaan terdapat dalam kitab kelompok-kelompok Islam tersebut. Namun, kenyataan justru menunjukkan; sebagian materi hadis yang memiliki persamaan dan keterkaitan
 .
Jangan belajar syiah dari ulama salafy.
Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri
Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ? Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan.
Jawab :
1. Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah  ? terletak pada  dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu. Perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW)
Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.   Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu).   Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.   Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis
.
Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ???? hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu …
.
Yang meriwayatkan hadis syi’ah imamiyah bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait…. justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !
 .
Jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak mudah diterima syiah. Ini disebabkan oleh Keyakinan syiah Imamiyah  bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.
 .
2. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama. Dalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/lihat  sehingga like-dislike
.
Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapa pun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset
.
Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih
.
Hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekyatan hukum sebuah hadits.
Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW
.
Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak
minimal syi’ah beragama dengan Iman dan Akal yang Sehat
.
Justru menurut saya metode sanad itu lebih memiliki banyak kelemahan. bukannya untuk menentukan jujur atau tidak seseorang akan sangat sulit, subyektifitas pasti bermain di sini. misal, perawi A dianggap jujur sama Z, tapi belum tentu dia dianggap jujur ama X. Nah kalo gitu, bukannya yang muncul malah ilmu mencari-cari kesalahan orang lain, asal menemukan sedikit kecacatan, maka dianggap riwayatya lemah. Saya kira menilai dari sisi matan, dan membandingkannya degan nilai-nilai universal dari Al-quran akan lebih bagus untuk menilai sebuah hadits. At least lebih obyektif
.
Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif, hal yang sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist-hadist sunni bahkan yang muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ). Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.
contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayyah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yang dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.
.
Kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a
.
Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda
 .
Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!  Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”!
.
Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan!
.
Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu.
Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan…
kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!
.
Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanya mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu..
.
Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain mengatakan bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, enggak mungkin bangetkan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih. (sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin dua hal yang kontradiktif bisa benar
.
Keanekaragaman Inkonsistensi
Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya
  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun
.
Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).
 .
3. Para imam mazhab sunni dan Bukhari serta perawi lain hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw  sehingga cara menilai tsiqat tidaknya  HANYA DUGA DUGA !
.
KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !
.
Coba saja hitung hadis yang diriwayatkan oleh Ali misalnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yang berasal dari Abu Hurairah yang terdapat dalam Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yang dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sebagai pembohong dan Umar mengancamnya dengan mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis-hadist. Apanya yang dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak mengambil hadis dari Abu Hurairah dan orang-orang Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.
.
setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadist yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.
Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadistnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadistnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta.
.
Verifikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuh sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh.
 .
Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah
  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai-sampai Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya.
Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku
.
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullah wafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat
 .
Saudaraku, ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
 .
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW. (riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang di sebabkan para Sahabat mendengar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi, Karena tidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
 .
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya, isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi. Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama. Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama. Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka meriwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
.
Pihak Sunni menerima hadis hadis yang diriwayatkan oleh Khawarij dan golongan Nawasib . Mereka tidak segan segan untuk menshahihkan hadis hadis palsu yang disusun secara sengaja  untuk memuliakan dan menguatamakan Abubakar, Umar, Usman dan loayalisnya. Padahal PERAWi  TERSEBUT dikenal  sebagai nawasib
.
contoh : Ibnu Hajar menyatakan Abdullah bin Azdy sebagai “pembela sunnah Rasul”
Ibnu Hajar juga menyatakan Abdullah bin Aun Al Bisry sebagai “Ahli ibadah pembela sunnah dan penentang bid’ah”
Padahal faktanya mereka berdua membenci Imam Ali dan para pendukungnya

Shalat hajat untuk mendapatkan keturunan

 


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

 

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Jika kamu ingin punya keturunan, berwudhu’lah secara sempurna, kemudian lakukan shalat dua rakaat secara baik. Setelah shalat sujudlah sambil membaca Istighfar sebanyak 71 kali, kemudian membaca doa berikut:

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي وَلَدًا لأُسَمِّيْهِ بِاسْمِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ

Allâhummarzuqnî waladan liusammîhi bismi Nabiyyika Muhammadin shallallâhu `alayhi wa âlihi.

 

Ya Allah, karuniakan padaku keturunan, agar aku dapat menamainya dengan nama Nabi-Mu Muhammad saw.

 

Allah akan memperkenankan keinginanmu, dan kamu jangan ragu dalam hal itu. Aku perintahkan kamu bersuci karena Allah swt berfirman: “Dia mencintai orang-orang yang bersuci.” (Al-Baqarah: 222); aku perintahkan kamu melakukan shalat, karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika Dia melihatnya dalam keadaan sujud dan ruku’; aku perintahkan kamu beristighfar karena Allah swt berfirman: “Berisighfarlah kamu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu..” (Nuh: 10-11); dan Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya: “Jika kamu memohonkan ampunan untuk mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka,” karena itu aku perintahkan kamu melebihi tujuh puluh kali.” (Diterjemahkan dari Mafatihul Jinan, kunci-kunci surga)

 

Tambahan: Dalam kitab Mujarrabat Imamiyah disebutkan: Membaca Tasbih (70 kali) dan Istighfar (10 kali) setiap hari pagi dan sore, kemudian membaca lagi Tasbih (9 kali) dan akhiri yang kesepuluh dengan Istighfar.

Wasiat Nabi Pada Ali(as): Adab Mendatangi Isteri

 


Bismillah. Salam wa rahmatollah

Berikut adalah wasiat Nabi(sawa) kepada Imam Ali(as), tentang adab mendatangi isteri, semoga bermanfaat.

Ahmad berkata: ‘Umru bin Hafs dan Abu Nasr telah memberitahu kami daripada Muhammad bin al-Haitham daripada Ishaq bin Najih daripada Husaib daripada Mujahid daripada al-Khudri berkata: Rasulullah s.a.w telah berwasiat kepada Ali a.s dan bersabda: Wahai Ali, apabila pengantin perempuan memasuki rumah anda, maka cabutlah kasutnya ketika beliau duduk dan basuhlah dua kakinya. Curahkan air dari pintu rumah anda ke pintu yang paling jauh, kerana apabila anda melakukannya, Allah akan mengeluarkan dari rumah anda tujuh puluh bahagian kefakiran dan memasukkan tujuh puluh bahagian keberkatan dan menurunkan ke atas anda tujuh puluh rahmat dibentangkan ke atas pengantin perempuan sehingga dia mendapati keberkatannya di setiap penjuru rumah anda. Ia juga aman daripada penyakit gila, penyakit kusta dan balar selama berada di rumah tersebut. Tegahlah pengantin perempuan di dalam minggu pertamanya daripada empat perkara: Susu, cuka, ketumbar dan buah epal yang masam.

Ali a.s berkata: Wahai Rasulullah! Apakah sebab utama empat perkara tersebut ditegah? Baginda s.a.w bersabda: Kerana rahim menjadi mandul dan sejuk daripada anak dengan perkara-perkara tersebut. Tikar di sudut rumah itu adalah lebih baik daripada perempuan yang tidak beranak.

Ali a.s berkata: Wahai Rasulullah! kenapakah cuka ditegah? Baginda s.a.w bersabda: Apabila perempuan datang haid selepas memakan cuka, maka haidnya tidak akan bersih dengan sempurna. Ketumbar akan membinasakan haid di perutnya dan menyukarkannya bersalin. Epal yang masam pula akan memutuskan haidnya dan akan menimbulkan penyakit kepadanya.

Kemudian Baginda s.a.w bersabda: Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri (la tujami‘ imra’ata-ka ) pada awal bulan, pada pertengahan bulan dan pada akhir bulan kerana akan menyebabkan gila, kusta dan balar cepat menghidapinya dan anaknya

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda selepas zuhur, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, maka matanya akan menjadi juling (ahwalu). Syaitan akan bergembira dengan orang yang bermata juling.

Wahai Ali, janganlah anda bercakap-cakap ketika bersama dgn isteri, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi bisu, dan janganlah anda melihat kepada kemaluan perempuan anda, pejamkan mata anda ketika bersamanya, kerana ia akan mewarisi buta kepada anak anda.

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda dengan syahwat perempuan, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi khunsa yang hina.

Wahai Ali, jika anda di dalam keadaan berjunub di atas tempat tidur anda, maka janganlah anda membaca al-Qur’an, kerana aku takut api akan turun dari langit dan membakar kamu berdua.

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda melainkan anda mempunyai kain (khirqah) dan isteri anda mempunyai kain yang lain, janganlah kamu berdua menyapunya dengan satu kain. Apabila syahwat akan bertemu syahwat maka ia akan membawa kepada perpisahan dan perceraian.

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda di dalam keadaan berdiri, kerana itu adalah perbuatan keldai, jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan kencing di atas tilam seperti keldai yang kencing di setiap tempat.

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada Malam Raya Puasa, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan mungkir janji dan dia kelak akan mendapat anak pada usia yang tua.

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada Malam Raya Korban, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, aku takut ia akan mempunyai enam atau empat jari.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda di tengah kepanasan matahari melainkan anda membentangkan tabir, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, maka ia akan berada di dalam kesengsaraan dan kefakiran sepanjang hidup.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda di bawah pokok yang berbuah, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi keras kepala dan pembunuh.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda di antara AZAN DAN IQAMAH, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan mengalirkan darah.

 

Wahai Ali, jika isteri anda hamil, maka janganlah anda bersama dengannya melainkan anda berWUDUK, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi buta hati dan tidak mahu memberi pertolongan kepada orang lain.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada pertengahan bulan Sya‘ban (nisf al-Sya‘ban), kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi lebam di mukanya.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada akhir bulan (iaitu dua hari dipenghujung bulan) kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi papa kedana.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda dengan syahwat saudara perempuan isteri anda, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi perompak, penolong kepada orang yang zalim atau pembinasa manusia yang ramai.

 

Wahai Ali, apabila anda bersama dengan isteri anda, maka bacalah: Wahai Tuhanku! Jauhilah aku daripada syaitan dan jauhilah syaitan dari apa yang Engkau kurniakan kepada aku” jika kamu berdua mendapat anak kelak, syaitan tidak dapat memudaratkannya.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda di bawah bumbung binaan (bukan rumah), kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi munafik, mahu menunjuk-nunjuk dan melakukan bid‘ah.

 

Wahai Ali, jika anda keluar musafir, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada malam itu, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan membelanjakan hartanya tidak pada tempatnya. Rasulullah s.a.w membaca Surah al-Isra’ (17): 27 “Sungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”

 

Wahai Ali, jika anda keluar musafir tiga hari dan tiga malam, janganlah anda bersama dengan isteri anda, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia kan membantu kepada orang yang zalim.

 

Wahai Ali, bersamalah dengan isteri anda pada malam Isnin, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjaga kitab Allah dan reda dengan rezeki yang dikurniakan Allah kepadanya.

 

Wahai Ali, jika anda bersama dengan isteri anda pada malam Selasa dan kamu berdua mendapat anak, ia akan mati syahid selepas syahadah bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Pesuruh-Nya. Dia tidak akan diseksa oleh Allah bersama-sama musyrikin. Bau mulutnya menjadi harum bersih lidahnya daripada mengumpat dan pembohongan.

 

Wahai Ali, jika anda bersama dengan isteri anda pada malam Khamis dan jika kamu berdua mendapat anak, ia akan menjadi bijak atau alim dan jika anda bersama dengan isteri anda ketika matahari condong dan mendapat anak, syaitan tidak akan mendekatinya sehingga dia beruban. Dia akan menjadi seorang fakih. Allah akan mengurniakan kepadanya keselamatan dunia dan akhirat.

 

Jika anda bersama dengannya pada malam Jumaat dan mendapat anak, ia akan menjadi seorang khatib dan pandai berbicara. Jika anda bersama dengannya pada hari Jumaat selepas asar dan kamu berdua mendapat anak, ia akan menjadi seorang yang terkenal dan alim. Jika anda bersama dengannya pada malam Jumaat selepas Isya’ akhir, adalah diharapkan anak anda kelak menjadi salah seorang abdal Insya’ Allah.

 

Wahai Ali, janganlah anda bersama dengan isteri anda pada awal jam malam, kerana jika kamu berdua mendapat anak kelak, ia akan menjadi tukang tenung dan tukang sihir, cinta kepada dunia daripada akhirat. Wahai Ali, hafazlah wasiat aku ini sebagaimana aku telah menghafaznya daripada Jibrail a.s.

Rujukan: Al Ikhtisas karangan Shaikh Mufid.

Kepada Mereka Yang Mencari Kontradiksi Dalam Syi’ah


Syiah. Setiap kali mendengar perkataan Syiah, atau membaca tulisan mengenai Syiah, apa yang akan tiba-tiba terlintas di fikiran anda? Sebuah kelompok yang memiliki pemahaman yang sesat dan kufur? Orang-orang yang gemar berdusta, taqiyah atau melakukan hal-hal yang memecah belah umat bahkan dalam segala hal berbahaya bagi umat Islam? Atau setiap kali mendengar mengenai Syiah, yang terus terbayang mengenai Mut’ah yang katanya telah diharamkan namun masih kekal dipraktikkan oleh orang-orang Syiah atau mungkin mengenai aqidah mereka yang begitu menyimpang dari mainstream keyakinan kaum muslimin kebanyakan, mengenai Zat Allah, kemaksuman Nabi, keimamahan yang hanya menjadi hak Ahlul Bait, ataukah mengenai keyakinan mereka yang katanya telah terjadi perubahan dan pengurangan terhadap Al-Qur’an, ataupun mengenai penghinaan dan kekurang ajaran mereka terhadap sahabat dan istri-istri Nabi?

.

Apapun sahaja yang terlintas, adalah tidak adil jika kita memberi penghinaan dan penghukuman terhadap sesuatu, tanpa bersikap adil. Dalam surah al Maidah ayat 2, Allah SWT berpesan, janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kita berbuat aniaya. Kita memang harus menanamkan kebencian terhadap penyimpangan, kesesatan dan apapun anasir-anasir kotor yang berusaha dimasukkan ke dalam agama yang suci ini, atau kesesatan didakwahkan sebagai kebenaran dan diakui merupakan sebahagian dari syiar Islam

.

Namun kita juga jangan sampai lalai bahkan keluar dari koridor yang telah digariskan ajaran agama ini. Kita boleh sahaja menaruh rasa curiga terhadap pemahaman Syiah, namun kecurigaan semata tidak pernah cukup untuk dijadikan dasar penilaian terhadap sebuah ajaran. Diperlukan sebuah kajian yang komprehensif dan menyeluruh untuk mencapai sebuah kesimpulan. Fatwa-fatwa ulama terdahulu mengenai kesesatan Syiah bukanlah sebuah hukum yang secara mutlak mengikat pada setiap waktu dan zaman, mengenangkan fatwa adalah produk hukum yang sangat bergantung pada situasi dan keadaan di mana dan bila sebuah fatwa dikeluarkan. Terlebih lagi jika kita mahu menyelidik jauh, kepentingan apa yang bermain dan pihak mana yang paling beruntung dengan keluarnya sebuah fatwa

.

Kaedah yang terpenting untuk menilai benar tidaknya sebuah ajaran, adalah menelusuri langsung sumber ajarannya, dari manakah ajaran itu berasal, dan bagaimana mereka memahami dan meyakini sumber ajaran tersebut serta bagaimana mereka mengaplikasikannya. Setiap kita membaca artikel atau mendengar ceramah-ceramah yang mengumbar segala kesesatan dan kebusukan-kebusukan aqidah Syiah, senantiasa dilengkapi nukilan riwayat-riwayat yang katanya berasal dari kitab-kitab induk Syiah ataupun nukilan fatwa-fatwa ulama-ulama mereka. Ada beberapa kaedah yang sebelumnya mesti kita lewati untuk kemudian menentukan sikap terhadap Syiah

.

Pertama, menyemak keberadaan riwayat-riwayat tersebut pada kitab-kitab dari mana ia dinukil. Apakah benar riwayat yang disebutkan tersebut benar keberadaanya pada kitab tersebut? Benarkah nukilannya sesuai dengan matan pada kitab yang mencantumkannya? Apakah tidak ada usaha manipulasi, dengan hanya mengambil sepenggal saja misalnya, dan lain-lain? Afwan, saya seringkali menemukan adanya teks-teks riwayat yang direkacipta, sebab ketika menyemak semula keberadaannya sebagaimana alamat riwayat yang telah dituliskan saya tidak menemukan keberadaannya pada kitab yang disebutkan. Saya merasa perlu menceritakan, misalnya beberapa artikel yang menuliskan tentang kesesatan Syiah pada site www.hakekat.com ada beberapa riwayat yang saya tidak temukan meskipun telah mencari pada kitab yang dimaksudkan

.

Saya berprasangka baik bahwa mungkin kitab yang dimaksud meskipun judul dan isinya sama namun penerbit dan terbitan yang berbeza sehingga juga mengalami perbezaan pada pernomboran hadits atau halaman misalnya, sebagaimana Sahih Bukhari yang memiliki banyak versi penerbitan. Namun ketika menanyakan ke pengelola site tersebut, penerbit dan terbitan keberapa kitab yang berada di tangan mereka, bukan hanya tidak mendapat jawaban, pertanyaan semacam itu malah tidak ditampilkan dalam kolum komentar yang disediakan

.

Kedua, mencari tahu pendapat ulama Syiah mengenai nukilan riwayat tersebut. Walaupun ternyata setelah diperiksa, riwayat yang menyatakan adanya penyimpangan aqidah kaum Syiah benar adanya bersumber dari kitab Syiah tersendiri, tugas selanjutnya adalah mencari tahu bagaimana orang-orang Syiah memahami riwayat atau nash tersebut

.

Kita mesti merujuk kepada orang-orang alim dikalangan mereka, bagaimana penilaian mereka terhadap riwayat tersebut, apakah kedudukannya shahih, hasan, dhaif atau malah palsu. Kalau ulama Syiah sendiri menghukumi riwayat tersebut dhaif atau palsu, adalah tidak adil menghukumi sesatnya keyakinan Syiah dari riwayat-riwayat yang tidak diakui keshahihannya oleh orang-orang Syiah sendiri meskipun terdapat dan tertulis jelas dalam kitab-kitab mu’tabar mereka. Sebagaimana halnya di kalangan Sunni, keberadaan hadits-hadits atau riwayat-riwayat dhaif dan palsu tidak bisa dinafikan keberadaannya dalam kitab-kitab mu’tabar Sunni sendiri. Dan tentu saja, merekapun tidak ingin dihakimi kelompok lain yang menyandarkan tuduhannya pada keberadaan riwayat-riwayat yang lemah tersebut

.

Ketiga, Walaupun ulama-ulama Syiah telah menyatakan keshahihannya, selanjutnya, apakah tidak ada perselisihan dari kalangan ulama Syiah mengenai keshahihannya?. Sebagaimana halnya ulama-ulama hadits dikalangan Sunni, misalnya Al-Hakim menshahihkannya, Imam Tirmidsi mendhaifkannya, hadits-hadits yang dianggap shahih misalnya oleh ulama-ulama hadits lainnya, namun Imam Bukhari dengan kaedah penilaiannya yang ketat, beliau boleh sahaja menilainya dhaif bahkan palsu. Hal seperti ini pun patut menjadi perhatian, riwayat-riwayat yang digunakan untuk memberi penilaian sesat tidaknya pemahaman Syiah harusnya adalah riwayat-riwayat yang secara ijma diakui keshahihannya oleh ulama-ulama hadits Syiah yang dianggap kuat dikalangan mereka

.

Keempat, kalaupun riwayat-riwayat tersebut dinilai shahih secara ijma dikalangan ulama-ulama Syiah, persoalan selanjutnya bagaimana mereka memahami riwayat tersebut. Misalnya mengenai taqiyah atau nikah mut’ah, walaupun ulama-ulama Syiah meyakini keshahihan riwayat-riwayat yang menegaskan keberadaan taqiyah dan nikah mut’ah untuk dipraktikkan pengikut-pengikutnya, kita semestinya menghukumi mereka dari bagaimana mereka memahami dan mempraktikkan kedua amalan tersebut

.

Yang berhak memberikan defenisi dan penjelasan adalah mereka, dan kita menghukumi dari apa yang mereka defenisikan dan jelaskan. Jika kita membaca artikel yang membahas mengenai nikah Mut’ah misalnya, yang ditulis oleh mereka yang mengecam Syiah, saya melihatnya terkadang terlalu berbau sentimen mazhab yang sangat menyengat. Mereka menggambarkan mut’ah tidak ubahnya dengan zina bahkan menyamakannya dengan praktik pelacuran, sehingga dengan mudahnya mereka menyematkan orang-orang Syiah dengan sebutan-sebutan yang keji, bahkan merasa mendapat pahala dengan itu

.

Kalau mereka mengakui sendiri nikah Mut’ah pernah dihalalkan oleh Rasulullah saww dan dipraktikkan oleh beberapa sahabatnya, maka tentu saja itu bukan zina apalagi pelacuran, karena tidak mungkin Allah SWT melalui Nabi-Nya pernah menghalalkan sesuatu perbuatan yang keji. Kalau dalam surah Al-Isra ayat 32 Allah SWT sendiri memerintahkan untuk jangan mendekati zina, lantas apakah Nabi-Nya malah pernah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berzina? Oleh itu, hanya Syiah sendirilah yang lebih berhak mengutarakan dan menjelaskan seperti apa nikah Mut’ah yang mereka pahami dan yakini, mengenai syarat-syarat, ketentuan, pemberlakuan masa iddah dan sebagainya, mereka yang tidak sepakat, cukup memberikan tanggapan dan kritikan terhadap yang diyakini Syiah itu, lewat hujjah-hujjah yang diterima oleh kedua kelompok. Bukan sebagaimana yang biasanya terjadi, mereka mengajukan defenisi dan memberikan penjelasan tersendiri mengenai nikah Mut’ah yang di”dramakan” sedemikian rupa lalu kemudian memberikan penghukuman, yang boleh jadi Mut’ah yang mereka fahami itu bukanlah Mut’ah yang diakui kehalalannya oleh Syiah. Begitu juga misalnya mengenai sahabat-sahabat Nabi

.

Kelima, berupaya mencari tahu makna yang tersirat terlebih dulu dari apa yang tersurat dari riwayat-riwayat Syiah. Islam biasanya diserang oleh pihak-pihak yang justru tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam. Yang biasa mendapat kritikan misalnya rajam dan hukum potong tangan, mereka hanya melihat dari satu sisi (yakni yang tersurat) sehingga memberikan cacian kepada syariat Islam itu kejam dan tidak berprikemanusiaan. Mereka tidak mencari tahu terlebih dahulu hikmah dibalik adanya perintah ataupun larangan. Begitupun dengan doktrin-doktrin Syiah, terkadang secara sekilas bagi kita tidak logik, tidak berkesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah, kitapun lalu menghukumi itu bukan hukum Islam, itu di luar dari ajaran Islam. Tentu kita tidak menerima klaim-klaim orientalis yang menyebut-nyebut Islam adalah aturan-aturan yang kuno dan ketinggalan zaman bahkan membahayakan bagi kemanusiaan hanya karena mereka pada dasarnya tidak mengenal dan memahami Islam itu lebih dekat dan memahami Islam dengan perspektif mereka sendiri

.

Begitupun dengan Syiah, tentu saja mereka tidak bisa menerima disebut sesat bahkan kafir hanya karena yang memberikan tuduhan dan stigma tidak memiliki upaya terlebih dahulu mengenal dan memahami Syiah dari apa yang dipahami dan diyakini oleh orang-orang Syiah, bukan dari tuduhan dan klaim-klaim pihak-pihak yang memusuhi dan membencinya. Biasanya pada bahagian ini yang paling sering disalah erti, adalah konsep kemaksuman Nabi dan para Aimmah as

.

Secara tersurat dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an tersampaikan, para Anbiyah as juga bisa salah, khilaf bahkan zalim, sementara bahagian dari keyakinan Syiah, para Anbiyah bahkan Aimmah adalah orang-orang yang maksum

.

Sebelum menghukumi Syiah menyimpang pemahamannya dari apa yang disampaikan Allah SWT lewat Al-Qur’an, kita mesti tahu dulu, bagaimana Syiah memahami dan memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang menceritakan mengenai kekhilafan dan kesalahan beberapa Nabi as, bagaimana mereka menyatukan keyakinan mereka dengan ayat-ayat tersebut. Penjelasan mereka tentang itulah yang kemudian mestinya mendapat tanggapan dan kritikan jika tetap tidak sependapat. Bukan membantai sejak awal, tanpa lebih dahulu berusaha mengenali alur berpikir orang-orang Syiah. Perlu proses pengenalan terlebih dahulu, berusaha memahami sebelum menentukan sikap. Semua ada pertanggungjawabannya di sisi Allah.

“Seseorang cenderung memusuhi apa yang tidak dikenalinya…” begitu pesan Imam Ali as.

Wallahu ‘alam bishshawwab

Qom

Takhrij Hadis Kisa’ Dengan Lafaz “Balaa Insyaa Allah”

Takhrij Hadis Kisa’ Dengan Lafaz “Balaa Insyaa Allah”

Salah satu hadis andalan para nashibi untuk menyelewengkan makna hadis kisa’ adalah hadis yang mengandung lafaz jawaban Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Balaa Insyaa Allah” yang artinya “benar insya Allah”. Dalam tulisan kali ini, kami tidak hendak berniat membahas matan hadis tersebut tetapi ingin menilai sejauh mana kekuatan hadis tersebut.

Sebenarnya lahirnya tulisan ini terinspirasi dari ulah para nashibi yang begitu arogan dalam ilmu hadis. Para nashibi selalu membuat syubhat untuk melemahkan hadis-hadis shahih yang menentang hujjah mereka. Tentu saja syubhat tersebut dibungkus dengan sok ilmiah agar pengikut awam mereka menjadi gembira dan tenang karena hujjah lawan sudah terbantahkan. Nah kali ini mari kita nilai sekuat apa hadis yang selalu mereka banggakan sebagai hujjah.

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ غَيْرَ مَرَّةٍ، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ السُّلَمِيُّ، مِنْ أَصْلِهِ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِي، قَالُوا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ مُكْرَمٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ شَرِيكِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: فِي بَيْتِي أُنْزِلَتْف إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًاق، قَالَتْ: فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى فَاطِمَةَ، وَعَلِيٍّ، وَالْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ، فَقَالَ: ” هَؤُلاءِ أَهْلُ بَيْتِي ” وَفِي حَدِيثِ الْقَاضِي، وَالسُّلَمِيِّ: هَؤُلاءِ أَهْلِي قَالَتْ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا أَنَا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ؟ قَالَ: بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى “، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ سَنَدُهُ ثِقَاتٌ رُوَاتُهُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abu ‘Abdullah lebih dari sekali dan Abu Abdurrahman Muhammad bin Husain As Sulamiy dari ‘ashl-nya dan Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Mukram yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar dari Syariik bin Abi Namir dari Atha’ bin Yasar dari Ummu Salamah yang berkata “di rumahku turun ayat [sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Ummu Salamah berkata maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus kepada Fathimah, Ali, hasan dan Husain. Beliau berkata “mereka adalah ahlul baitku” [Baihaqi berkata] dalam hadis Al Qaadhiy dan As Sulamiy “mereka adalah ahliku”.Maka Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk ahlul bait?. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “benar, insyaa Allah”. Abu Abdullah berkata “hadis ini shahih sanadnya, para perawinya tsiqat” [Sunan Baihaqi 2/149]

Disebutkan juga oleh Baihaqi dalam Al I’tiqaad hal 454, Al Baghawi dalam Syarh As Sunnah 14/116-117 no 3912 dan dalam Tafsir-nya 1/349, Abu Nu’aim dalam Akhbar Al Ashbahaan 2/222, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 23/286 no 627, Ibnu Atsiir dalam Asadul Ghaabah 5/365 dan 5/464, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 14/137.

Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Utsman bin Umar dari Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar dari Syarik bin Abi Namir dari Atha’ bin Yasar dari Ummu Salamah. Sanad ini lemah karena ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar.

Yahya bin Ma’in berkata tentangnya “dalam hadisnya disisiku ada kelemahan”. Abu Hatim berkata “lemah ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah”. Ibnu Adiy menyatakan ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar yang tidak memiliki mutaba’ah, termasuk golongan orang dhaif yang ditulis hadisnya. Al Harbiy berkata “yang lain lebih terpercaya darinya”. Al Baghawiy berkata “shalih al hadits”. Ibnu Khalfun menukil dari Ali bin Madini yang berkata “shaduq”. Ia termasuk perawi Bukhari dan telah meriwayatkan darinya Yahya Al Qaththan [At Tahdzib juz 6 no 422]

Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan menyatakan tidak boleh berhujjah dengan khabarnya jika tafarrud [Al Majruhin 2/51]. Al Uqailiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Ad Dhu’afa Al Uqailiy 2/339 no 936]. Abu Zur’ah berkata “ laisa bi dzaaka” [Su’alat Al Bardza’iy]. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Tarikh Asma’ Adh Dhu’afa Ibnu Syahin no 388]

Kedudukan ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar yang rajih adalah dhaif tetapi hadisnya bisa dijadikan i’tibar dan tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud. Dalam hadis ini ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar telah menyelisihi perawi yang tsiqat yaitu Ismaiil bin Ja’far bin Abi Katsiir Al Anshariy

حدثنا علي ، ثنا إسماعيل ، ثنا شريك ، عن عطاء أن هذه الآية ، نزلت في بيت أم سلمة إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا  فقالت أم سلمة من جانب البيت : ألست يا رسول الله صلى الله عليه وسلم من أهل البيت ؟ قال : « بلى إن شاء الله » ثم أخذ ثوبا فطرحه على فاطمة ، وحسن ، وحسين ثم قال : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaiil yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari Atha’ bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah [sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Ummu Salamah berkata dari samping rumah “apakah aku wahai Rasulullah termasuk ahlul bait?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “benar insya Allah”. Kemudian Beliau mengambil kain lalu menutupinya kepada Fathimah, Hasan dan Husain kemudian berkata sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya [Hadiits Ismaiil bin Ja’far hal 462 no 403]

Ismaiil bin Ja’far bin Abi Katsiir Al Anshaariy adalah perawi Bukhari Muslim. Ahmad, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad dan Al Khaliliy menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 533]

Dalam hadis di atas Ismaiil bin Ja’far meriwayatkan dari Syarik bin Abi Namiir dari Atha’ bin Yasar secara mursal. Atha’ bin Yasar meriwayatkan peristiwa turunnya ayat tersebut secara langsung. Perhatikan perkataannya “ayat ini turun di rumah Ummu Salamah” kemudian perkataan “Ummu Salamah berkata dari samping rumah”. Ini adalah lafaz Atha’ bin Yasar dimana ia menceritakan dialog antara Ummu Salamah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Begitu pula jawaban Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “balaa insya Allah” adalah lafaz dari Atha’ bin Yasar karena sanad riwayat tersebut berhenti padanya. Pentahqiq kitab Hadiits Ismaiil bin Ja’far berkata “hadis mursal dan sanadnya hasan sampai ke Atha’“.

Jadi ada dua perawi yang meriwayatkan dari Syarik bin Abi Namiir yaitu Ismaiil bin Ja’far dan Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Diinar. Ismaiil meriwayatkan secara mursal sedangkan Abdurrahman meriwayatkan secara maushul. Ismaiil bin Ja’far adalah seorang yang tsiqat lagi tsabit sedangkan Abdurrahman adalah perawi yang dhaif dan ia telah menyelisihi perawi yang tsiqat lagi tsabit maka riwayatnya tidak dapat diterima atau khata’.

Riwayat Atha’ bin Yasar yang tsabit adalah riwayat Ismaiil bin Ja’far Al Anshaariy dimana Atha’ bin Yasar meriwayatkan secara mursal. Jadi lafaz perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “balaa insya Allah” adalah mursal dari Atha’ bin Yasar maka kedudukannya dhaif tidak bisa dijadikan hujjah.

Sebelumnya kami pernah mengkompromikan riwayat Abdurrahman bin Abdullah bin Diinar yang mengandung lafaz “balaa insya Allah” ini dengan riwayat Abdurrahman yang mengandung lafaz bahwa Ummu Salamah bukan ahlul bait yang dimaksud ayat tersebut, tetapi setelah kami teliti kembali maka nampak lafaz-lafaz tersebut tidaklah tsabit sanadnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akibat kesalahan Abdurrahman bin Abdullah bin Diinar sehingga tidak perlu dikompromikan satu sama lain. Akhir kata kesimpulannya hadis yang dijadikan hujjah oleh nashibi itu adalah dhaif . Mari kita katakan kepada para nashibi berhentilah bersikap seperti orang munafik dan jujurlah dalam berhujjah. 

Salam Damai

2 Tanggapan

  1. ustad husain ardilla, on April 16, 2012 at 5:38 pm said:

    yah bantahan gak mutu, orang itu mana paham ilmu hadis dan lafaz jarh wat ta’dil. Bahkan arti hadis mursal saja ia tidak tahu. Tidak ada tuh yang menuduh Atha’ berdusta, cuma khayalan penulis itu saja. Namanya hadis mursal ya dhaif banyak tuh hadis mursal dalam kitab-kitab hadis dan dinyatakan dhaif. Pendhaifan hadis mursal bukan berarti menuduh tabiin yang meriwayatkannya sebagai pendusta. Makanya kalau belajar yang benar :P

    Ngapain sampean bawa hadis Atha’ dari Ummu Salamah yang lain. Tidak ada yang mengingkari bahwa Atha’ meriwayatkan dari Ummu Salamah tetapi yang namanya berhujjah itu ya pakai ilmu bukannya ngasal. Hadis lafaz “balaa insya Allah” itu memang mursal Atha’ bin Yasar kalau mau membantah ya silakan bawakan hadis dengan lafaz tersebut dari Atha’ dari Ummu Salamah. Bukannya malah bawa bawa hadis lain.

    Ada penyataan Ibnu Hajar yang sengaja tidak disampaikan oleh si cengeng ini. Ibnu Hajar berkata:

    “Bukhari menyelisihi orang-orang dimana ia menganggap bahwa Abdurrahman bin Abdullah ini tidak matruk.” (At Tahdzib juz 6 no 422)

    Dasar pendusta, itu bukan perkataan Ibnu Hajar, itu nukilan Ibnu Hajar dari Daruquthni, lihat saja teks arabnya kan begini

    وقال السلمي عن الدارقطني خالف فيه البخاري الناس وليس بمتروك

    waduh mengerti apa yang dibaca saja tidak bisa lah ini sok mau membantah orang. ck ck ck belajar dulu yang manis ya adik kecil :D

    Dalam seluruh komentarnya tersebut, Ibnu hajar sedikitpun tidak mengeluarkan pujian dan celaan terhadap Abdurrahman bin Abdullah, Ibnu Hajar dalam hal ini hanya bersikap diam dan sekedar mengutip pendapat para ulama yang pro dan kontra terhadapnya. Jadi dari mana si anak cengeng ini bisa berkesimpulan: yang rajih adalah dhaif.

    Lho yang bilang rajih itu kan saya, gak ada tuh saya mengatakan Ibnu Hajar merajihkan bahwa ia dhaif. lucu sekali anda wahai pendengki. Lagipula kitab At Tahdzib memang ditulis Ibnu Hajar dengan menukil pendapat para ulama sedangkan pendapatnya sendiri ya ia tulis dalam kitabnya yang lain yaitu At Taqrib. Kalau begitu aja tidak tahu, jangan terlalu sok deh. Kesannya komentar anda kebanyakan tidak tahu malunya

    Kemudian biar tambah banyak jarhnya dan meyakinkan ia mengutip ucapan Ibnu Hibban dalam Al Majruhin, Al-Uqaili dalam Dhuafa.

    Ini sesuatu yang lucu, bukankah ucapan Ibnu Hibban ini sudah disampaikan oleh Ibnu Hajar di atas

    Ini sesuatu yang dusta, nih baca yang benar wahai pendengki

    عبد الرحمن بن عبد الله بن دينار العدوي مولى بن عمر روى عن أبيه وزيد بن أسلم وأبي حازم بن دينار ومحمد بن زيد بن المهاجر وعمرو بن يحيى المازني وموسى بن عبيدة الربذي وأسيد بن أبي أسيد البراد ومحمد بن عجلان وعنه أبو النضر وعبد الصمد بن عبد الوارث وابن المبارك وأبو قتيبة والحسن بن موسى وأبو علي الحنفي وقره بن حبيب ومسلم بن إبراهيم وأبو الوليد الطيالسي وعلي بن الجعد وغيرهم قال الدوري عن بن معين في حديثه عندي ضعف وقد حدث عنه يحيى القطان وحسبته أن يحدث عنه يحيى وقال عمرو بن علي لم أسمع عبد الرحمن يحدث عنه بشيء قط وقال أبو حاتم فيه لين يكتب حديثه ولا يحتج به وقال بن عدي وبعض ما يرويه منكر لا يتابع عليه وهو في جملة من يكتب حديثه من الضعفاء قلت وقال السلمي عن الدارقطني خالف فيه البخاري الناس وليس بمتروك وقال الحاكم عن الدارقطني إنما حدث بأحاديث يسيرة وقال أبو القاسم البغوي هو صالح الحديث وقال الحربي غيره أوثق منه وقال بن خلفون سئل عنه علي بن المديني فقال صدوق

    Di bagian mana Ibnu Hajar menyebutkan jarh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin. Anda sedang berdusta atau sedang melantur. jangan-jangan usia anda sudah terlalu tua sehingga tidak bisa membaca dengan benar.

wahabi bermulut kotor pendengki ahlulbait

Daftar Kedunguan Troll Yang Pendengki

Yang kami maksud dengan troll pendengki adalah orang yang suka berbicara kotor [entah apa agama yang dianutnya] dan sangat membenci blog ini. Begitu sakit hatinya sampai ia rela datang berkali-kali menyampaikan spam dan komentar sampah. Alhamdulillah, sampah-sampah itu bisa dimoderasi sehingga para pembaca tidak perlu membacanya.

Kami membuat tulisan ini sebagai bantahan ilmiah atas klaim palsu alias dusta [talbis] yang dibuat oleh Troll tersebut. Agak aneh, entah mengapa kali ini kami bersedia meluangkan waktu untuk membantah tulisannya padahal yang namanya Troll bisanya cuma makan sampah walaupun dikasih makanan baik tetap saja suka sampah. Troll tersebut berkali-kali menghina kami dan berbicara kotor yang tidak enak dibaca dan didengar, hal yang membuktikan bahwa dirinya sangat suka sampah [kata-kata kotor]. Cukup basa-basinya kami akan langsung menanggapi komentarnya. [seperti biasa komentar yang kami tanggapi akan kami blockquote]

.

.

Sebelum kami membuat tulisan ini, kami telah memberikan sedikit bantahan atas tulisannya. Dalam tulisannya ia melemahkan Rauh bin Abdul Mu’min dengan mengatasnamakan Abu Zur’ah dan Al Uqaili. Kami katakan ini adalah dusta. Abu Zur’ah tidak pernah melemahkan Rauh bin Abdul Mu’min, nama Rauh memang disebutkan dalam kitab Adh Dhu’afa Abu Zur’ah tetapi itu bukan bagian dari daftar perawi dhaif menurut Abu Zur’ah melainkan daftar nama guru Abu Zur’ah. Hal ini adalah kesalahan yang bodoh sekali, jika memang ia membaca kitab tersebut dan paham bahasa arab maka sangat tidak mungkin kesalahan ini terjadi. Lucunya dengan kesalahan itu ia bersemangat mencaci dan membantah. Berlagak seperti ulama bertingkah seperti orang jahil.

Ia juga mengutip bahwa Al Uqaili melemahkan Rauh bin Abdul Mu’min. Ini juga adalah dusta. Kami tidak menemukan dalam kitab Adh Dhu’afa Al Uqaili bahwa ia melemahkan Rauh bin Abdul Mu’min.

.

.

Rauh bin Abdul Mu’min adalah perawi tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ia adalah salah satu guru Abu Hatim, dimana Abu Hatim berkata tentangnya “shaduq”. Abu Hatim termasuk ulama yang mutasyaddud sehingga perawi yang ia nyatakan shaduq sebenarnya kedudukannya tsiqat. Hal ini dinyatakan Al Muallimiy dalam At Tankil 1/350. Pernyataan ini memang memiliki dasar dari pernyataan Abu Hatim

أحمد بن إسماعيل بن أبي ضرار الرازي روى عن : أبي تميلة , وعبد الرزاق  وقدامه بن محمد المديني , والحكم بن بشير بن سلمان , ويحيى بن الضريس  روى عنه أبي , وقال : هو ثقة مأمون , سئل أبي عنه , فقال : صدوق

Ahmad bin Ismaiil bin Abi Dhiraar Ar Raaziy meriwayatkan dari Abi Tamiilah, ‘Abdurrazaq, Qudaamah bin Muhammad Al Madiniy, Al Hakam bin Basyiir bin Salman dan Yahya bin Dhurais. Telah meriwayatkan darinya ayahku dan berkata “ia tsiqat ma’mun”. Aku bertanya kepada ayahku tentangnya, Beliau berkata “shaduq”[Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 2/41 no 10]

Contoh di atas menunjukkan bahwa perawi yang dikatakan shaduq oleh Abu Hatim sebenarnya orang itu tsiqat ma’mun. Ada contoh lain yaitu ketika menyebutkan biografi Abdul Warits bin Sa’id Abu Ubaidah At Tamimiy

نا عبد الرحمن قال سألت ابى عن عبد الوارث فقال ثقة هو اثبت من حماد بن سلمة، نا عبد الرحمن قال سئل أبو زرعة عن عبد الوارث فقال ثقة، ثنا عبد الرحمن قال سمعت ابى يقول عبد الوارث صدوق

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya pada ayahku tentang ‘Abdul Waarits, ia berkata “tsiqat dan ia lebih tsabit dari Hammaad bin Salamah”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata ditanya Abu Zur’ah tentang ‘Abdul Waarits, ia berkata “tsiqat”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku mengatakan ‘Abdul Waarits shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 6/76 no 386]

Tentu tak dipungkiri bahwa terdapat juga perawi shaduq yang dikatakan Abu Hatim tidak bisa dijadikan hujjah atau shaduq banyak salahnya atau shaduq memiliki hadis mungkar. Hanya saja adanya perawi dengan kedudukan seperti itu bukan berarti semua perawi yang dinyatakan shaduq oleh Abu Hatim harus ikut dilemahkan. Seolah-olah lafaz shaduq itu menjadi tidak ada artinya. Pada prinsipnya lafaz “shaduq” disisi Abu Hatim adalah tautsiq mutlak kecuali jika Abu Hatim menyebutkan jarh bersama lafaz tersebut misalnya “shaduq tetapi tidak bisa dijadikan hujjah” atau “shaduq tetapi banyak salahnya” atau “shaduq dan memiliki hadis-hadis mungkar”.

Jadi contoh perawi yang bernama Yaman bin Adiy Al Himshiy dimana Abu Hatim menyatakan ia syaikh shaduq tetapi hadisnya mungkar tidaklah mengurangi sedikitpun kedudukan shaduq Rauh bin Abdul Mu’min. Abu Hatim tidak mensifatinya dengan jarh dan tidak pernah menyatakan kalau hadis Rauh mungkar. Apalagi Rauh bin Abdul Mu’min termasuk gurunya Abu Hatim dimana Abu Hatim telah meriwayatkan darinya maka lafaz “shaduq” disini menunjukkan bahwa Rauh bin ‘Abdul Mu’min tsiqat.

Hal ini seperti yang dinyatakan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf bahwa Rauh bin ‘Abdul Mu’min tsiqat [Al Kasyf no 1594]. Adz Dzahabi juga berkata “mutqin” [Ma’rifat Al Qurra’ 1/214 no 109]. Ibnu Jazari berkata tentang Rauh bin Abdul Mu’min “tsiqat dhabit masyhur” [Ghayatul Nihayah Thabaqat Al Qurra’ 1/125]

.

.

Ada kejahilan yang luar biasa konyol datang dari pendengki tersebut berkaitan dengan “Abu Hatim”. Ia menganggap bahwa kitab Al Ilal dan kitab Al Jarh Wat Ta’dil ditulis oleh Abu Hatim. Hal ini jelas konyol bagi orang yang biasa belajar ilmu hadis dan membaca kitab rijal. Lihat buktinya, pendengki itu berkata

Terlebih yang Abu Hatim dengar dari ayahnya dalam Jarh wa Ta’dilnya hanya menyatakan Ruh bin Abdul mu’min ini statusnya : Shaduq

Bolehlah kita bertanya pada pendengki itu, siapakah ayahnya Abu Hatim yang ia maksud? Dan bagaimana kredibilitas ayahnya Abu Hatim yang menurut pendengki itu, menyatakan Rauh shaduq.

وسألتُ أَبِي عن حديثٍ رواه اليَمَان ابن عَدِيٍّ الحِمْصي الحَضْرَمي ، عَنْ مُحَمَّدِ ابن زِيَادٍ، عَنْ أَبِي أُمَامة؛ قَالَ: قال رسولُ الله (ص) : إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ جُرْمًا يَوْمَ القِيَامَةِ: رَجُلٌ حَزَّز ظَهْرَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ؟ فسمعتُ أَبِي يقولُ: هَذَا حديثٌ مُنكَرٌ ، واليَمَانُ شيخٌ صدوق.
Abu bertanya pada ayahku tentang hadis riwayat Al-Yaman bin Adi Al-Himsi Al-Hadrami dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Umamah: Rasulullah bersabda: sesungguhnya manusia yang paling bejat pada hari kiamat adalah seseorang yang suka menikam seorang muslim dari belakang tanpa alasan yang jelas. Aku dengar ayahku berkata: Hadis ini Mungkar namun Al-Yaman adalah syaikh yang shaduq! (Ilalul Hadits Ibnu Abi Hatim, juz IV/ 219. no 1379)

Coba Anda semua perhatikan Ruh bin Abdul Mukmin oleh ayah Abu Hatim dikatakan Shaduq begitupun Al-Yaman di atas, namun apakah riwayatnya Ruh dengan serta merta bisa diterima?

Pendengki itu menganggap Abu Hatim yang bertanya pada ayahnya padahal yang sebenarnya adalah Ibnu Abi Hatim sedang bertanya pada ayahnya yaitu Abu Hatim. Abu Hatim adalah Muhammad bin Idris Abu Muhammad Ar Raziy At Tamimiy sedangkan Ibnu Abi Hatim adalah Abdurrahman bin Abu Hatim, ia lah yang dinyatakan sebagai penulis kitab Al Jarh Wat Ta’dil dan kitab Al Ilal. Lucunya ada pengikut pendengki [atau mungkin sebenarnya itu dirinya sendiri] berkomentar bahwa kami melakukan kesalahan pengutipan

2. Kesalahan pengutipan jilid 1
SP: Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 2259].
SPz merevisi: yang mengatakannya sebenarnya bukan Abu Hatim tapi ayah Abu Hatim . Abu Hatim hanya menukil. Silahkan cek ulang kalau ngga percaya! kesalahan seperti ini oleh Spz dianggap biasa dan tidak dibesar-besarkan Spz. Wah Spz emang baik hati ama orang kampung

Begitulah kalau orang-orang jahil pada berkumpul, bicaranya kegedean tanpa dasar ilmu. Betapa malasnya orang-orang jahil ini, kalau memang mereka punya kitab-kitab tersebut kan tinggal dibaca siapa penulisnya yang tercantum dalam sampul atau muqaddimah kitab tersebut. Entah keburu nafsu atau kebanyakan bicara kotor jadi dibutakan mata dan akal pikirannya.

.

.

Kedunguan berikutnya adalah ucapan pendengki itu bahwa riwayat Rauh bin ‘Abdul Mu’min itu mungkar karena tidak ada satupun diantara murid-murid Sulaiman yang meriwayatkan kisah ini. Kaidah dari mana ini?. Ini contoh orang yang tidak pernah belajar ilmu hadis. Rauh ini adalah seorang yang tsiqat jadi walaupun ia sendiri yang meriwayatkan maka tetap saja riwayatnya diterima.

Perkara seperti ini ma’ruf dalam ilmu hadis. Contohnya cukup sering hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat saja. Padahal ada berapa banyak para sahabat yang merupakan murid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Contoh fenomenal adalah hadis Umar bin Khaththab berikut

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ ، قَالَ : سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ ، يَقُولُ : أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhaab yang berkata aku mendengar Yahya bin Sa’id mengatakan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwasanya ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqaash Al Laitsiy yang mengatakan aku mendengar Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] mengatakan aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesungguhnya setiap amal tergantung dengan niat, setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang ia hijrah kepadanya[Shahih Bukhari no 6225]

Ada berapa banyak sahabat? Ratusan, ribuan atau lebih tetapi cuma Umar bin Khaththab yang meriwayatkan hadis ini. Ada berapa banyak murid Umar? Dalam Tahdzib Al Kamal disebutkan ada 153 orang yang meriwayatkan darinya tetapi Cuma Alqamah bin Waqqaash yang meriwayatkan hadis ini. Ada berapa banyak murid Alqamah bin Waqqaash? Dalam Tahdzib Al Kamal disebutkan ada 7 orang muridnya tetapi hanya Muhammad bin Ibrahim bin Al Haarits yang meriwayatkan hadis ini. Ada berapa banyak murid Muhammad bin Ibrahim?. Dalam Tahdzib Al Kamal disebutkan bahwa ada 19 murid Muhammad bin Ibrahim tetapi hanya Yahya bin Sa’id yang meriwayatkan hadis itu?.

Mengapa tidak ternukil riwayat ini dari sahabat selain Umar? Apakah hadis Umar menjadi mungkar?. Mengapa tidak ternukil riwayat ini dari murid-murid Umar selain Alqamah?. Apakah hadis Alqamah menjadi mungkar?. Mengapa tidak ternukil riwayat ini dari murid-murid Alqamah selain Muhammad bin Ibrahim?. Apa hadis Muhammad bin Ibrahim menjadi mungkar?. Mengapa tidak ternukil riwayat ini dari murid-murid Muhammad bin Ibrahim selain Yahya bin Sa’id?. Apakah hadis Yahya bin Sa’id menjadi mungkar?

Hadis Umar di atas telah dishahihkan oleh para ulama termasuk oleh Bukhari sendiri dan tidak ada sedikitpun mereka menyatakan hadis tersebut mungkar. Justru kaidah bid’ah pendengki itu yang lebih layak dikatakan mungkar.

.

.

Selanjutnya pendengki itu membuat Syubhat soal lahirnya Sulaiman tahun 34 H sehingga saat peristiwa pengepungan Utsman usianya masih satu tahun. Bocah umur satu tahun tidak diterima kesaksiannya. Inilah perkataan pendengki

Kedua: khabar dari Sulaiman atas Jahjah di atas tidak bisa diterima! Sebab kalau kita melihat fakta sejarah, Sulaiman lahir tahun 34 hijriah sementara peristiwa pengepungan terjadi kurang lebih setahun setelahnya, yaitu tepat pada saat tahun kematian Utsman, yaitu tahun 35 h. kalaupun memang Sulaiman mendengar dari orang lain, maka kedudukan hadis ini munqati/terputus, karena ia tidak menyebutkan sumber berita!

Ucapannya, Sulaiman lahir tahun 34 H sebagai fakta sejarah adalah ucapan dusta yang dilandasi oleh kebodohan dan kemalasan. Kedudukan sebenarnya adalah terjadi perselisihan kapan sebenarnya Sulaiman bin Yasar lahir dan wafat.

Ibnu Sa’ad menyatakan dalam kitabnya kalau Sulaiman bin Yasar wafat tahun 107 H pada usia 73 tahun, dan tampaknya ia menukil ini dari Al Waqidi. Maka Sulaiman bin Yasar lahir tahun 34 H dan ini pula yang dikatakan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat.

Tetapi Ibnu Hibban juga menyebutkan dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban no 1101 ketika menyebutkan hadis Sulaiman bin Yasar dari Miqdam, ia menyatakan bahwa Miqdam wafat tahun 33 H dan Sulaiman wafat tahun 94 H, Sulaiman telah mendengar dari Miqdam dan saat itu usianya kurang lebih 10 tahun. Begitulah yang dikatakan Ibnu Hibban, oleh sebab itu Ibnu Hajar dalam At Tahdzib menukil bahwa Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya menyatakan Sulaiman lahir tahun 24 H. Al Baihaqi mengatakan bahwa Sulaiman lahir tahun 27 H atau setelahnya.

Jadi ternukil kalau Sulaiman bin Yasar lahir tahun 34 H, tahun 24 H dan tahun 27 H. Untuk mengetahui mana yang benar maka kita harus menerapkan metode tarjih. Orang yang paling mengetahui kapan Sulaiman bin Yasar lahir adalah dirinya sendiri, maka metode yang paling baik adalah adakah riwayat shahih Sulaiman bin Yasar menyatakan kapan ia lahir atau setidaknya qarinah yang menguatkan kapan ia lahir.

Nah riwayat itulah yang kami bawakan sebelumnya yaitu terdapat riwayat dimana Sulaiman bin Yasar mendengar langsung hadis dari Abu Rafi’ dan Abu Rafi’ ini wafat tahun 35 H yaitu tahun yang sama dimana terjadi pengepungan Utsman. Riwayat tersebut terdapat dalam kitab Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah

وَحَدَّثَنَا ابْنُ الأَصْبَهَانِيِّ وحامد بن يَحْيَى ، وهذا لفظ حامد ، قال : حدثنا سُفْيَانُ ، قال : حدثنا صالح بن كيسان ، أَنَّهُ سَمِعَ سُلَيْمَان بن يَسَار ، قال : أَخْبَرَنِي أبو رَافِع

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Ashbahaniy dan Haamid bin Yahya, dan ini lafaz Haamid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kiisaan bahwasanya ia mendengarSulaiman bin Yasar yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Raafi’ [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 1/77 no 171]

Riwayat ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat. Riwayat ini dapat kita jadikan qarinah dalam mentarjih kapan Sulaiman bin Yasar lahir. Berdasarkan riwayat ini maka pendapat yang menyatakan Sulaiman lahir tahun 34 H adalah keliru karena kalau memang begitu usianya ketika Abu Rafi’ wafat adalah satu tahun yang tidak memungkinkan periwayatan. Jadi hanya ada dua kemungkinan, Sulaiman lahir tahun 24 H atau tahun 27 H kami lebih menguatkan bahwa Sulaiman lahir tahun 24 H karena Ibnu Hibban termasuk golongan mutaqaddimin dibanding Baihaqi.

Terlepas dari tahun berapa sebenarnya Sulaiman bin Yasar lahir, cukup shahihnya sima’ langsung Sulaiman bin Yasar dari Abu Rafi’ menunjukkan bahwa pada tahun 35 H, Sulaiman memiliki usia yang cukup sehingga riwayatnya diterima maka begitu pula kami katakan ia memiliki usia yang cukup untuk menyaksikan peristiwa pengepungan Utsman. Kesimpulannya sanad tersebut tidak munqathi’.

.

.

Ada lagi bantahan yang tidak mengena dimana pendengki itu menyatakan bahwa Ibnu Hibban dan Abu Hatim tidak menyatakan bahwa Jahjaah termasuk sahabat yang ikut membaiat di bawah pohon. Lha jawabannya sederhana, ulama yang kami kutip sebelumnya soal Jahjah termasuk yang ikut berbaiat di bawah pohon adalah Ibnu Hajar dan Adz Dzahabiy.

جهجاه بن سعيد وقيل بن قيس وقيل بن مسعود الغفاري شهد بيعة الرضوان بالحديبية

Jahjah bin Said, ada yang mengatakan Jahjah bin Qais ada yang mengatakan Jahjah bin Mas’ud Al Ghiffari, ia ikut menyaksikan Baiatur Ridwan di Hudaibiyah [Al Ishabah Ibnu Hajar 1/518 no 1247]

جهجاه بن قيس وقيل بن سعيد الغفاري، مدني، له صحبة. شهد بيعة الرضوان

Jahjah bin Qais dan ada yang mengatakan Jahjah bin Said Al Ghiffari adalah seorang Sahabat Nabi yang menyaksikan Baiatur Ridwan [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 3/560]

Walaupun Ibnu Hibban dan Abu Hatim tidak menyebutkannya, tetap saja faktanya Ibnu Hajar dan Adz Dzahabiy menyebutkannya. Para ulama itu bukanlah orang yang serba tahu, terkadang ada perkara yang diketahui oleh ulama lainnya tetapi tidak diketahui oleh ulama yang lain. Hal ini ma’ruf sekali dalam ilmu hadis.

.

.

Berikutnya pendengki itu melemahkan atsar Tarikh Madinah Ibnu Syabbah dengan syubhat –syubhat murahan. Ia mengatakan Urwah bin Zubair itu masih kecil dan seumuran dengan Sulaiman bin Yasar.

Ketiga: Adapun I’tibar yang datang dari Ibnu Syabbah An-Numairi maka hampir sama dengan riwayat Sulaiman di atas dimana Urwah bin Zubair saat itu masih kecil. Bila kita bandingkan dengan Sulaiman yang lahir tahun 34 dan wafat 107 h, maka Urwah bin Zubair yang wafat tahun 97 h masih seumuran dengan Sulaiman..

Dalam ilmu hadis tidak ada larangan mutlak bahwa anak kecil tidak bisa diterima riwayatnya. Para ulama ahli hadis telah menyebutkan bahwa jika anak kecil itu telah memasuki usia mumayyiz dalam arti telah mengerti satu seruan atau pembicaraan dan dapat menjawabnya maka riwayatnya diterima.

Urwah bin Zubair disebutkan bahwa ia lahir pada masa awal pemerintahan khalifah Utsman [At Taqrib 1/671]. Awal pemerintahan khalifah Utsman yaitu tahun 24 H dan peristiwa pengepungan Utsman terjadi tahun 35 H maka saat itu usia Urwah bin Zubair lebih kurang sebelas tahun. Jelas pada usia ini sudah memasuki usia mumayyiz dan diterima riwayatnya.

.

.

Kemudian ia menyebarkan syubhat lain bahwa Ibnu Syabbah melakukan tadlis. Ini ucapan konyol bin dusta.

Ada tadlis di sini, dimana Ibnu Syabbah tidak menjelaskan siapakah Ali bin Muhammad di sini, sebab Ali bin Muhammad adalah nama yang maruf saat itu, banyak sekali yang bernama Ali bin Muhammad.

Pendengki ini tidak mengerti ilmu hadis. Umar bin Syabbah bukanlah seorang mudalis dan tidak pernah ada ulama yang menyatakan ia pernah melakukan tadlis sehingga tuduhan konyol pendengki itu sangat dusta sekali. Perkara seperti ini bukanlah tadlis, adalah hal yang ma’ruf dalam periwayatan seorang perawi hanya menyebutkan sebagian nama gurunya dan tidak secara lengkap beserta semua nasab atau gelarnya.

Ali bin Muhammad Al Mada’iniy dikenal sebagai gurunya Umar bin Syabbah. Umar bin Syabbah dengan jelas menyatakan dalam kitabnya Tarikh Al Madinah dengan lafaz “telah menceritakan kepada kami Al Mada’iniy” [Tarikh Madinah Ibnu Syabbah 2/538]. Ibnu Jarir Ath Thabariy pernah berkata dalam kitabnya “dan juga perkataan Ali bin Muhammad Al Mada’iniy, telah menceritakan kepadaku hal itu Umar bin Syabbah yang telah meriwayatkan darinya” [Tarikh Ath Thabariy 2/607]

Mengenai kredibilitas Ali bin Muhammad Al Mada’iniy maka memang benar Ibnu Adiy menyebutkan dalam kitabnya Al Kamil

علي بن محمد بن عبد الله بن أبي سيف أبو الحسن المدائني مولى عبد الرحمن بن سمرة ليس بالقوي في الحديث

‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Abi Saif Abul Hasan Al Mada’iniy maula ‘Abdurrahman bin Samarah tidak kuat dalam hadis [Al Kamil Ibnu Adiy no 1366]

Perkataan “tidak kuat dalam hadis” bukanlah jarh yang menjatuhkan apalagi jika perawi tersebut telah dita’dilkan oleh ulama lain. Maka maksud perkataan Ibnu Adiy disini kedudukan Al Mada’iniy dalam hadis tidaklah mencapai derajat shahih atau kedudukan hadisnya adalah hasan. Tentu saja ini pendapat Ibnu Adiy. Seperti yang kami kutip sebelumnya Ibnu Ma’in telah berkata tentangnya “tsiqat tsiqat tsiqat”. Adz Dzahabi berkata tentangnya “hafizh shaduq”. Tetapi pendengki itu menyebarkan syubhat murahan

Status Ali bin Muhammad ini sendiri menurut Al-Jurjani tidak kuat hadisnya (Al-Kamil fi Dhuafa Rijal, VI/364, no: 1366) adapun ta’dil adz-Dzahabi hanya datang 400 tahun kemudian, tidak bisa mengalahkan jarh dari Al-Jurjani.

Baik Ibnu Adiy dan Adz Dzahabi keduanya bukanlah ulama yang bertemu dengan Al Mada’iniy. Al Mada’iniy wafat tahun 224 H sedangkan Ibnu Adiy lahir 277 H. Jadi jarh Ibnu Adiy pun datang lebih dari 50 tahun kemudian. Telah disebutkan kalau jarh“tidak kuat dalam hadis” bukanlah jarh yang menjatuhkan dan bisa saja ia seorang yang hadisnya hasan, ini tidaklah bertentangan dengan pernyataan Adz Dzahabi bahwa Al Mada’iniy seorang hafizh yang shaduq.

Mengenai tautsiq tiga kali (tsiqah tsiqah tsiqah) dari Ibnu Main yang diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Khaitsamah maka saya katakan tautsiq ini sifatnya munqathi/terputus sebab antara adz-Dzahabi dengan Ahmad bin Khaitsamah terbentang jarak sekitar 400 tahunan, lalu darimana adz-Dzahabi mengambil riwayat ini?

Adz Dzahabi hanya menukil riwayat tersebut. Riwayat tersebut disebutkan dengan sanad yang lengkap dalam kitab Tarikh Baghdad Al Khatib 12/54-55 no 6438 biografi Al Mada’iniy dan disana Al Khatib juga menyebutkan pujian Ibnu Jarir Ath Thabariy bahwa Al Mada’iniy orang yang alim dan shaduq dalam maghaziy. Riwayat Ibnu Ma’in itu juga disebutkan oleh Abu Abdullah Al Yaziidiy dalam kitabnya Al Amaliy 1/35 dimana ia mendengar langsung dari Ibnu Abi Khaitsamah

Sekalipun adz-Dzahabi melakukan tadlis maka tetap saja tidak bisa diterima. sebab bila benar Ibnu Main mentsiqahkan Ali bin Muhammad maka Ibnu Main tentu takan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Ali bin Muhammad dan mengambil riwayat darinya karena ketsiqahannya, namun faktanya tak satupun riwayat Ali bin Muhammad diambil oleh yahya bin Main. Silahkan datangkan hujjah bila kami keliru di sini.

Ini ucapan yang tidak berguna. Semua kutipan jarh wat ta’dil yang dibawakan Adz Dzahabi dalam kitabnya tidaklah memiliki sanad langsung sampai ke ulama yang dimaksud. Hal ini cukup ma’ruf dalam kitab-kitab rijal. Silakan lihat kitab At Tahdzib Ibnu Hajar sebagai contoh, Ibnu Hajar langsung saja mengutip para ulama yang hidup ratusan tahun sebelumnya tanpa menyebutkan sanad lengkap sampai ke ulama tersebut. Jadi sangat aneh kalau hal seperti itu dikatakan tadlis.

Pendengki itu mengatakan Ibnu Main tidak satupun mengambil riwayat dari Al Mada’iniy. Kalau begitu kita tanya padanya, dari mana anda tahu?. Bisa saja dikatakan Ibnu Main juga mengambil riwayat dari Al Mada’iniy tetapi hal itu tidak sampai dan tidak ternukil dari kitab-kitab yang ada sekarang. Atau anda punya waham hidup di zaman Ibnu Main dan melihat kalau seumur hidupnya ia tidak mengambil riwayat dari Al Mada’iniy. Namanya kemungkinan tidaklah menafikan kemungkinan lain. Jadi jangan sok bicara fakta kalau tidak tahu apa itu artinya fakta.

.

.

Pendengki itu mengkritik kami soal kredibilitas Abdullah bin Mush’ab. Sayang sekali semua kritiknya ngawur atau mengada-ada. Ia berasa sok tahu sehingga membuat aturan versinya sendiri dalam ilmu hadis.

Dan yang lucu lagi di sini adalah Abdullah bin Mush’ab ini dimasukkan oleh si kuda nil sebelah sebagai perawi tsiqat ibnu Hibban, padahal Ibnu Hibban sudah menjelaskan bahwa Ia hanya mengakui Abdullah bin Mushab baru ditsiqatkan i bila ia meriwayatkan dari Abu Hazim Salamah bin Dinar (no: 8992), Ismail bin Abdullah bin Jakfar (no: 1635) dan ngga ada tuh Ibnu Hibban mengakui an’anah hadis Abdullah bin Mushab dari Hisyam bin Urwah.

Nah ini contoh aturan ngayal yang kami maksud. Mana ada dalam ilmu hadis seseorang itu tsiqat jika meriwayatkan dari si A, atau tsiqat jika meriwayatkan dari si B dan jika ia meriwayatkan dari selain A dan B maka statusnya tidak tsiqat. Mari kita lihat no yang disebutkan oleh pendengki itu

إسماعيل بن عبد الله بن جعفر بن أبى طالب الهاشمي مدني أخو معاوية بن عبد الله بن جعفر يروى عن أبيه روى عنه عبد الله بن مصعب

Ismaiil bin ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al Haasyimiy orang madinah saudara Muawiyah bin ‘Abdullah bin Ja’far. Meriwayatkan dari ayahnya telah meriwayatkan darinya ‘Abdullah bin Mush’ab [Ats Tsiqat juz 4 no 1635]

Silakan lihat para pembaca apa ada dalam tulisan Ibnu Hibban itu bahwa ‘Abdullah bin Mush’ab itu tsiqat hanya jika meriwayatkan dari Ismail bin ‘Abdullah bin Ja’far?. Tidak ada, jelas si pendengki itu berdusta. Pada kitab Ibnu Hibban juz 4 no 1635 yang sedang ditsiqatkan Ibnu Hibban adalah Ismail bin ‘Abdullah bukannya ‘Abdullah bin Mush’ab. Apa mau dikatakan kalau Ismail bin ‘Abdullah itu tsiqat jika hanya meriwayatkan dari ayahnya?. Tidak ada ulama yang mengatakan demikian karena memang tidak ada aturan konyol begitu.

عبد الله بن مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير بن العوام يروى عن أبى حازم روى عنه إبراهيم بن خالد الصنعاني مؤذن مسجد صنعاء

‘Abdullah bin Mush’ab bin Tsaabit bin ‘Abdullah bin Zubair bin Al ‘Awwaam meriwayatkan dari Abu Haazim dan telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Khalid Ash Shan’aniy mu’adzin masjid Shan’a [At Tahdzib juz 7 no 8992].

Nah baru dalam kitab Ibnu Hibban juz 7 no 8992, Ibnu Hibban mentsiqatkan ‘Abdullah bin Mush’ab. Tidak ada dalam tulisan Ibnu Hibban itu keterangan bahwa ia tsiqat hanya jika meriwayatkan dari Abu Haazim. Ibnu Hibban jelas memasukkan nama Abdullah bin Mush’ab dalam kitabnya Ats Tsiqat tidak hanya itu, Ibnu Hibban juga berhujjah dengan hadisnya dan menshahihkan hadis Abdullah bin Mush’ab dalam kitab Shahih-nya [Shahih Ibnu Hibban no 7287].

Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban menetapkan syarat yang lebih ketat dibanding kitabnya Ats Tsiqat. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya memasukkan hadis dari para perawi yang memiliki ‘adalah dalam agamanya dan shaduq dalam hadisnya, hal ini dinyatakan Ibnu Hibban dalam muqaddimah kitab Shahih-nya tersebut.

Dalam Shahih-nya tersebut adalah riwayat Abdullah bin Mush’ab dari Qudaamah bin Ibrahim [bukan Ismail dan bukan pula Abu Haazim]. Jadi di sisi Ibnu Hibban, Abdullah bin Mush’ab ini tsiqat dan hal ini tidak tergantung pada ia meriwayatkan dari siapa. Karena secara umum pernyataan “tsiqat” atau “shaduq” itu tertuju pada ‘adalah  atau kredibilitas seorang perawi bukan dari mana ia meriwayatkan. Inilah yang ma’ruf dalam ilmu hadis.

Jauh sebelum Ibnu Hibban, Imam Bukhari dalam (Tarikh Kabirnya V/211, no: 678) menyatakan hal yang serupa. Padahal Bukhari semasa loh dengan Ibnu Syabbah dengan Tarikh Madinahnya.

Apa urusannya?, Apa yang pendengki itu maksudkan Bukhari menyatakan hal yang sama dengan Ibnu Hibban?. Inilah yang disebutkan Bukhari

عبد الله بن مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير بن العوام القرشي الأسدي عن أبي حازم سلمة روى عنه إبراهيم بن خالد اليماني والد مصعب

‘Abdullah bin Mush’ab bin Tsaabit bin ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awwaam Al Quurasy Al Asdiy meriwayatkan dari Abi Haazim Salamah dan telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Khalid Al Yamaaniy, ia ayah Mush’ab. [Tarikh Al Kabir juz 5 no 678]

Apakah ada Bukhari menyatakan ‘Abdullah bin Mush’ab tsiqat hanya jika ia meriwayatkan dari Abu Haazim?. Tidak ada, itu adalah kedustaan yang muncul dari kaidah konyolnya sendiri.

Abu Hatim dalam jarh wa tadilnya memang mengatakan bahwa Abdullah bin Mushab meriwayatkan dari Urwah bin Zubair namun hal tersebut diralatnya dalam kitabnya: Ilalul Hadits.

Apalagi ini, dustanya jelas sekali. Abdullah bin Mush’ab tidaklah meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, Abu Hatim tidak pernah mengatakan hal itu. Inilah yang dikatakan Abu Hatim

عبد الله بن مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير بن العوام الاسدي والد مصعب بن عبد الله الزبيري جد الزبير بن بكار القرشى البصري روى عن ابي حازم سلمة بن دينار وهشام بن عروة وموسى ابن عقبة وقدامة بن ابراهيم واسماعيل بن عبد الله بن جعفر روى عنه هشام بن يوسف الصنعانى وابراهيم بن خالد الصنعانى وابنه مصعب الزبيري وابو حارثة كعب بن خريم الدمشقي سمعت ابي يقول ذلك

‘Abdullah bin Mush’ab bin Tsaabit bin ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awwaam Al Asdiy ayahnya Mush’ab bin ‘Abdullah Az Zubairiy kakeknya Zubair bin Bakaar Al Quraasy Al Bashriy. Meriwayatkan dari Abu Haazim Salamah bin Diinar, Hisyaam bin Urwah, Musa bin Uqbah, Qudaamah bin Ibrahim dan Ismail bin ‘Abdullah bin Ja’far. Telah meriwayatkan darinya Hisyam bin Yusuf Ash Shan’aniy dan Ibrahim bin Khaalid Ash Shan’aniy, anaknya Mush’ab Az Zubairiy dan Abu Haaritsah Ka’b bin Khuraim Ad Dimasyiq. Aku mendengar ayahku mengatakan demikian [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/178 no 883]

Dan kami tidak mengerti apa yang dimaksud pendengki itu bahwa Abu Hatim meralatnya dalam kitab Ilal Al Hadits. Selain Abu Hatim, periwayatan Abdullah bin Mush’ab dari Hisyam bin Urwah telah disebutkan juga oleh Al Khatib dalam Tarikh Baghdad [Tarikh Baghdad 10/171 no 5313]

Adapun ucapan Abu Hatim yang menyatakan dia Syaikh (sebenarnya yang bilang begitu Abu Zurah, si kuda nil saja salah paham. Dasar OON) itu maksdunya bukan pujian tapi celaan yang halus, karena antara Abu Zurah dan Abu Hatim terlibat diskusi mengenai riwayat syubhat dari Mushab bin Abdullah ini, Abu Zurah bilang Abdullah itu sudah kena waham. Lalu Abu Hatim bertanya: statusnya gimana? Abu Zurah bilang: Syaikh. (Al-Ilal, V/79, no: 1819). Syaikh di sini bukan Syaikh banyak ilmu, tapi bermakna sudah sepuh alias aki-aki jadi ngelantur (waham) kalau ngomong!

Dengan ucapan ini, sang pendengki itu menunjukkan kedunguan yang nyata. Kami mengatakan sebelumnya bahwa Abu Hatim berkata tentang ‘Abdullah bin Mush’ab “syaikh”. Pernyataan ini memang benar disebutkan Abu Hatim sebagaimana yang tercantum dalam Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/178 no 883. Dalam kitab tersebut sangat jelas Ibnu Abi Hatim bertanya pada ayahnya yaitu Abu Hatim.

.

.

Memang benar Abu Zur’ah juga menyatakan ‘Abdullah bin Mush’ab “syaikh”. Hal ini juga disebutkan Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya Al Ilal no 1819.

وَسَأَلْتُ أَبِي ، وَأَبَا زُرْعَةَ ، عَنْ حَدِيثٍ ؛ رَوَاهُ مُصْعَبُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الزُّبَيْرِيُّ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ ، عَنْ جَابِرٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أَلا أُخْبِرُكُمْ عَلَى مَنْ تَحْرُمُ النَّارُ غَدًا ، عَلَى كُلِّ هَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ قَالا : هَذَا خَطَأٌ ، رَوَاهُ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ ، وَعَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو الأَوْدِيِّ ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وهَذَا هُوَ الصَّحِيح قُلْتُ لأَبِي زُرْعَةَ : الوهم ممن هو قَالَ : من عَبْد اللَّه بْن مُصْعَب قُلْتُ : ما حال عَبْد اللَّه بْن مُصْعَب قَالَ : شيخ

Aku bertanya kepada Ayahku dan Abu Zur’ah tentang hadis riwayat Mush’ab bin ‘Abdullah Az Zubairiy dari ayahnya dari Hisyaam bin Urwah dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Maukah aku kabarkan kepada kalian orang yang diharamkan neraka untuknya?. Yaitu semua orang yang lembut, mudah dan dekat”. Keduanya berkata “ini keliru, Laits bin Sa’d dan ‘Abdah bin Sulaiman meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari Musa bin Uqbah dari Abdullah bin ‘Amru Al Awdiy dari Ibnu Mas’ud dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], dan ini shahih”. Aku berkata kepada Abu Zur’ah “kesalahan ini berasal dari siapa?”. Abu Zur’ah “dari Abdullah bin Mush’ab”. Aku berkata “bagaimana status Abdullah bin Mush’ab?’. Abu Zur’ah berkata “syaikh” [Al Ilal Ibnu Abi Hatim 4/114 no 1819]

Dalam kitabnya tersebut Ibnu Abi Hatim bertanya kepada dua orang yaitu kepada ayahnya [Abu Hatim] dan kepada Abu Zur’ah tentang salah satu hadis Nabi yaituriwayat Mush’ab bin Abdullah dari ayahnya dari Hisyam bin Urwah dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir [radiallahu ‘anhu]. Keduanya berkata “hadis tersebut keliru” karena yang shahih adalah riwayat Laits bin Sa’ad dan ‘Abdah bin Sulaiman yang meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari Musa bin Uqbah dari Muhammad bin ‘Amru Al Awdiy dari Ibnu Mas’ud.

Jadi maksudnya dalam hadis tersebut Abdullah bin Mush’ab telah menyelisihi Laits bin Sa’ad dan ‘Abdah bin Sulaiman makanya dikatakan keliru. Memang keduanya lebih tsabit dan tsiqat dibanding Abdullah bin Mush’ab. Kemudian Ibnu Abi Hatim berkata kepada Abu Zur’ah “dari mana asalnya waham [kesalahan] ini?”.

Yang dimaksud waham disini adalah kekeliruan hadis tersebut, bukankah sebelumnya Abu Zur’ah menyatakan keliru nah dari mana asalnya kekeliruan tersebut. Jadi waham disini bermakna khata’. Abu Zur’ah menjawab “dari Abdullah bin Mush’ab”. Ada contoh lain dari kitab Al Ilal bahwa maksud dari “wahm” yang ditanyakan Ibnu Abi Hatim adalah keliru

وَسَأَلْتُ أَبِي ، وَأَبَا زُرْعَةَ ، عَنْ حَدِيثٍ ؛ رَوَاهُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ ، عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فِي لَيْلَةِ الْقَدْر ِفَقَالا : إِنَّمَا هُوَ عَنْ أَنَسٍ ، عَنْ عُبَادَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قُلْتُ لَهُمَا : الْوَهْمُ مِمَّنْ هُوَ ؟ قَالا : مِنْ مَالِكٍ

Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang hadis riwayat Malik bin Anas dari Humaid Ath Thawiil dari Anas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang lailatul qadar. Keduanya berkata “sesungguhnya itu dari Anas dari Ubadah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Aku berkata kepada keduanya “kesalahan itu berasal dari siapa”?. Keduanya berkata “dari Malik” [Al Ilal Ibnu Abi Hatim 2/128 no 696]

Jadi “wahm” yang dimaksud Ibnu Abi Hatim adalah kekeliruan dalam hadis tersebut. Ini tidak ada kaitannya dengan usia tua atau kata pendengki itu aki-aki. Si Pendengki itu memahami lafaz tersebut hanya dengan khayalannya sendiri bukan dengan yang dimaksudkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Kembali kepada Abdullah bin Mush’ab, kemudian Ibnu Abi Hatim berkata kepada Abu Zur’ah “bagaimana statusnya Abdullah bin Mush’ab?”. Abu Zur’ah menjawab “Syaikh”. Pendengki itu mengira bahwa “Syaikh” yang dimaksud adalah seorang yang sudah tua alias aki-aki yang suka ngelantur. Nah ini adalah khayalan pendengki itu sendiri. Syaikh yang dimaksud disini adalah bagian dari kedudukan perawi. Dalam ilmu hadis lafaz “syaikh” itu terletak pada klasifikasi lafaz ta’dil tetapi pada tingkatan yang rendah.

Artinya perawi dengan lafaz “syaikh” maka ia tidak kuat dalam dhabitnya, hadisnya ditulis tetapi tidak dijadikan hujjah dan tentu saja jika menyelisihi perawi tsiqat maka hadisnya tertolak. Dalam muqaddimah kitab Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim disebutkan kalau lafaz “syaikh” ini berada pada tingkatan ketiga lafaz ta’dil. Ada contoh lain perawi yang dikatakan “syaikh”

نا عبد الرحمن قال سألت ابى وابا زرعة عن مغيرة بن زياد فقالا: شيخ، قلت يحتج بحديثه ؟ قالا: لا وقال ابى: هو صالح صدوق ليس بذلك القوى بابة مجالد، وأدخله البخاري في كتاب الضعفاء. فسمعت ابى يقول يحول اسمه من كتاب الضعفاء

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya pada ayahku dan Abu Zur’ah tentang Mughirah bin Ziyad, keduanya berkata “Syaikh”. Aku berkata “apakah hadisnya bisa dijadikan hujjah?”. Keduanya berkata “tidak” dan berkata ayahku “ia shalih shaduq tidaklah begitu kuat, ia seperti Mujalid dan Bukhari telah memasukkannya dalam kitab Adh Dhu’afa” maka aku mendengar ayahku mengatakan “ia harus mengeluarkan namanya dari kitab Adh Dhu’afa” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/222 no 998]

Faedah yang diambil dari sini adalah perawi dengan lafaz “syaikh” tidaklah kuat hadisnya untuk dijadikan hujjah tetapi tidak pula ia dimasukkan ke dalam perawi dhaif sebagaimana terlihat Abu Hatim membantah Bukhari yang memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Maka dari Itu Ibnu Abi Hatim sebagai murid Abu Hatim dan Abu Zur’ah tetap memasukkan lafaz “syaikh” dalam kitabnya sebagai lafaz ta’dil pada tingkatan yang rendah. Tentu saja dikecualikan kaidah ini jika lafaz “syaikh” tersebut diikuti dengan lafaz “ta’dil” yang kuat atau diiringi dengan lafaz “jarh”. Misalnya lafaz “syaikh tsiqat” atau “syaikh shaduq” atau “syaikh dhaif”.

Bahkan Ibnu Hajar sendiri meskipun ia angkatan belakangan tetap sependirian dengan Bukhari dan Ibnu Hibban tidak mengakui adanya periwayatan Abdullah bin Mas’ud dari Urwah.

Apa-apaan itu? Mungkin maksud pendengki itu riwayat Abdullah bin Mush’ab dari Hisyam bin Urwah bukannya Abdullah bin Mas’ud dari Urwah. Kapan Ibnu Hajar tidak mengakui adanya periwayatan Abdullah bin Mush’ab dari Hisyam bin Urwah?. Cuma klaim dusta seperti biasa. Sebagai tambahan selain Abu Hatim dan Al Khatib, Adz Dzahabi juga mengakui kalau Abdullah bin Mush’ab meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah [As Siyar Adz Dzahabiy 8/517 no 137]

Nah sekarang permasalahan klimaks di sini adalah apakah Jahjah memang benar sahabat Nabi atau bukan? Untuk menjawabnya kita tidak bisa hanya berpangku pada ta’dil ulama mutaakhhirin saja. Kalau kita melihat ke atas, jelas sekali bila Ibnu Hibban atau Abu Hatim menyebutkan bahwa Jahjah adalah sahabat Nabi. Namun…….pengakuan ini memerlukan pembuktian, dan pembuktiannya adalah pertanyaan terakhir kita di sini ini, yaitu adakah hadis shahih yang menyatakan bahwa Jahjah adalah sahabat Nabi?

Perkataan ini contoh perkataan orang yang tidak mengerti ilmu hadis. Seperti yang sudah pernah kami katakan dalam ilmu hadis tidak ada aturan mutlak bahwa seseorang disebut sebagai sahabat Nabi maka ia harus mutlak punya hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ternukil dengan sanad shahih. Hal ini disebabkan ada seseorang yang dikenal sebagai sahabat Nabi tetapi tidak ternukil ada riwayat hadisnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan sanad yang shahih.

Mengapa begitu? Diantaranya disebabkan ia telah dinyatakan oleh tabiin yang tsiqat bahwa ia adalah sahabat Nabi atau dinyatakan oleh sahabat lain kalau ia termasuk sahabat Nabi. Bagaimana status Jahjah Al Ghifariy di atas?. Telah kami sebutkan bahwa tabiin tsiqat yang hidup semasa dengannya telah menyatakan bahwa Jahjaah termasuk sahabat apalagi telah ditegaskan oleh sekumpulan ulama bahwa ia adalah sahabat seperti Abu Hatim, Ibnu Hibban, Ibnu Hajar, Adz Dzahabi, dan Ibnu Abdil Barr. Maka tidak ada gunanya syubhat dari para pendengki yang berhati kotor. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita semua. 

Salam

Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Kamis, 29 Maret 2012 09:18 Redaksi
E-mailCetakPDF

Oleh : Ustad Husain Ardilla

.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis  ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu ??

Lalu bagaimana sebaiknya pandangan anda  sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

Syi’ah selalu melawan zionis..

Syi’ah selalu melawan kezaliman barat..

Wahabi sejak kecil umumnya tidak diajarkan tentang kasih sayang sehingga dalam rumah tangga kaum wahabi kerap terjadi kekerasan berupa hujatan hujatan kepada aliran lain

Dalam rangka pembelajaran kepada wahabi maka melalui tulisan ini akan saya tuliskan ilmu tentang menapaki kehidupan berumah tangga agar wahabi tau bahwa syi’ah selalu melawan zionis !!

MENAPAKI kehidupan berumahtangga pastilah tak akan sepi dari silih berganti masalah dan ujian kesabaran. Namun demikian, masalah dan ujian kesabaran, sejatinya bukanlah pengganggu ketenangan semata.

Karena, bersamanya justru Allah SWT memberikan kesempatan bagi setiap pasangan untuk membangun kedewasaan, melapangkan kesabaran, dan membuka cakrawala kebijaksanaan. Sebuah kesempatan yang tak akan didapatkan kecuali oleh orang-orang yang menyediakan dirinya tulus berjuang dalam ikatan pernikahan.

Namun demikian, tentunya membangun ketulusan dalam menghadapi masalah juga memerlukan cakrawala berpikir yang harus dibentangkan seluas mungkin, keterbukaan dalam mengakui adanya masalah dan mungkin mengakui kesalahan, serta tuntunan teladan dari junjungan kita Rasulullah Saw dan orang-orang saleh.

Membuka cakrawala berpikir, menemukan kembali tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya serta menumbuhkan kembali semangat mengikutinya untuk menghadirkan kebahagiaan di dalam berumahtangga, itulah yang disodorkan oleh buku ini.

Berangkat dari berbagai permasalahan yang nyata terjadi dalam lingkup keluarga, buku ini mengajak kita menyelami masalah dari dasarnya. Meski formula penyelesaian problem yang tepat mungkin sudah banyak diajukan oleh buku yang lain, tetapi bagaimana menyikapinya dengan bijak adalah kekuatan buku ini.

Kebijaksanaan tersebut tentu tak lain dan tak bukan hadir dari tuntunan ayat-ayat-Nya dan teladan Rasul-Nya yang senantiasa menjadi rujukan dan cermin utama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diangkat. Juga yang memegang peran penting, yaitu ketulusan hati yang berasal dari nurani yang bening dalam melihat permasalahan.

Seperti salah satu judul yang menjadi bahasan pertama dalam buku ini yaitu Masihkah Memilih Islam Pasca Akad. Dalam bahasan ini, penulis berusaha untuk mengajak pembacanya untuk meninjau kembali, apakah Islam masih merupakan pilihan terbaik bagi setiap pasangan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, setelah akad tersambung dengan langit di hari pernikahan. Sebab, seringkali, pilihan untuk menyikapi kebahagiaan  dan permasalahan  yang datang dalam kehidupan berkeluarga bukanlah lagi datang dari bagaimana Islam mengaturnya. Akan tetapi, bagaimana orangtua telah mewariskannya secara turun-temurun atau bagaimana masyarakat telah terbiasa melakukannya. Meski apa yang diwariskan orangtua dan dibiasakan masyarakat tak sepenuhnya buruk tetapi apa yang dimaklumkan oleh merekalah yang seringkali kita pahami sebagai standar keharusan.

Padahal sungguh, kehidupan pasca akad bukanlah hak mutlak bagi pasangan suami-sitri untuk “mau bagaimana” menjalaninya. Buku ini mengingatkan kita kembali untuk menyadari bahwa ada kehendak Allah SWT dan Rasul-Nya dalam memberi tuntunan bagaimana seharusnya bertindak. Agar kehidupan suami-istri tersebut tak hanya memberi kebahagiaan bagi keduanya. Namun, juga keberkahan dan kemanfaatan untuk anak-anaknya kelak, keluarga besar, masyarakat dan menjadi unit penopang terkecil bagi kemuliaan Islam.

Oleh karena itu, buku ini membukakan catatan sejarah ketika empat sahabat yang tak menaati perintah berjihad di perang Tabuk, harus menerima keputusan Rasulullah Saw yang melewati “pagar” kedaulatan rumah tangga yang mereka pimpin. Guna tunduk patuh dan tulus ikhlas menerima hukuman atas kesalahan yang mereka perbuat. Sekali lagi, untuk mengukuhkan ketulusan dan keikhlasan menerima titah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Inilah keindahan berumahtangga yang ingin diungkapkan oleh buku ini. Keindahan dan ketenangan yang hadir manakala menyadari bahwa ranah rumah tangga pun bukan semata dibawah kesewenangan pribadi tetapi harus tulus menerima tuntunan Sang Pencipta.

Disamping itu, berbagai penjelasan ilmiah pun diungkapkan oleh buku ini berkaitan dengan berbagai penyebab masalah yang kerap kali hadir. Penjelasan-penjelasan yang akan membuat kita semakin lapang dalam menerima ketidak-sesuaian dan membuat kita semakin rasional dalam merumuskan pemecahan masalah.

Buku Membongkar Syiah ??

Selasa, 10 April 2012 14:11 Redaksi

E-mailCetakPDF

Rincian Produk :

Judul : Syiah

Penulis : Lajnah Ilmiah

Cover : Soft Cover

Isi : 262 hlm

Ukuran : 14.5 x 20.5 cm

Berat : 350 gr

Harga : Rp. 30.000,00 ( Harga Diskon )

Penerbit : Pustaka Sunni (Marwah Indomedia)

Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: “ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!.”

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Barat dan wahabi nashibi  menjalin kesamaan visi: sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan, yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi, yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan. Namun kesamaan visi Wahabi – AS  digunakan  wahabi untuk melakukan penindasan kepada muslim syi’ah.

Buku buku wahabi merupakan pesanan AS / Israel untuk menyudutkan islam syi’ah…

Wahabi tidak memiliki adab dibidang ilmu maka wahabi perlu diajarkan adab ketika belajar agama

.

Pentingnya Adab Bagi Seorang Alim dan Pelajar

KEDUDUKAN adab bagi orang berilmu dan pelajar sangat penting. Diriwayatkan, Imam Malik bin Anas menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mempelajari adab dan empat tahun untuk mencari ilmu. Artinya, beliau memposisikan akhlak pada posisi penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Riwayat tentang Imam Malik di atas juga dialami oleh Imam Syafi`i dengan kondisi yang berbeda. Suatu ketika beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) akhlak?.” Dijawab oleh beliau, “Aku mencari adab seperti usaha seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang hilang.” (hal. 10-11).

Dengan kata lain, begitu keras usaha seorang Imam Syafi`i untuk memacu diri berhias akhlak. Kenyataan yang kita lihat belakangan ini dalam dunia pendidikan sangat mengenaskan. Tawuran antar pelajar atau dengan masyarakat kerap terjadi; hubungan guru dan murid bagaikan hubungan penjual dan pembeli; pergaulan bebas yang melanda dan Narkoba, menjadi potret buram dunia pendidikan di tanah air

Persoalan seperti ini bisa sering terjadi karena minimnya pola pendidikan yang menitikberatkan pada nilai-nilai relijius, dan lebih utamanya lagi, akhlak.

Padahal kata Abdullah bin Mubarak, seperti dikutip dalam buku ini, “Kami lebih membutuhkan adanya sedikit adab tinimbang banyaknya ilmu.” (hal. 10).

Perkataan Abdullah tersebut menandakan ilmu yang banyak tidak ada harga dan nilainya, baik di hadapan Allah maupun sesama makhluk, tanpa disertai budi pekerti luhur. Lahirlah di kemudian hari, orang-orang berilmu yang bermental korup, mengambil uang rakyat dengan kelihaian dan titel akademiknya. Bergelar Guru Besar namun tersangkut kasus korupsi seperti kejadian yang banyak kita saksikan di media. Karenanya, KH. Hasyim Asy`ariy merasa terpanggil untuk menggoreskan tintanya dalam lembaran-lembaran yang berisi adab sebagai orang berilmu dan pelajar.

Selain itu, salah satu pembahasan dari buku ini berakaitan dengan adab kita dalam membawa dan meletakkan buku pelajaran, sesuatu yang barangkali sering kita abaikan, bukan? Kata sang penulis, hendaknya seseorang menaruh perhatian terhadap buku pelajarannya, tidak meletakkan di sembarang tempat, tidak menaruhnya di bawah, dan barangsiapa yang meminjam suatu buku hendaknya ia betul-betul menjaga buku tersebut dengan sebaik-baiknya.

Secara sisitematis buku ini terdiri dari Delapan Bab. Tiap bab dipaparakan dengan sistem penomoran sehingga membuat para pembacanya mudah mengambil kesimpulan darinya. Meski sudah banyak buku yang mengangkat tema serupa, namun tidak ada salahnya kita menambah pengetahuan soal adab agar kita, baik sebagai guru maupun pelajar, lebih menomorsatukan adab dari sekadar memperbanyak ilmu tanpa adab

.

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).  Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad
.
Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW
.

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Saqifah Bani Sa’idah

Bermula dari tragedi di Saqifah bani Sa’idah, semangat kesukuan di kalangan Anshar, antara Khazraj dan ‘Aus, yang pada masa Nabi bisa disatukan berpotensi bangkit kembali. Gelagat yang tidak sehat ini dapat dibaca oleh sayyidina Umar, maka ia mengajak sayyidina Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk datang ke balairung tersebut. Silang sengketa pun semakin melebar menjadi perseteruan antara Muhajirin dan Anshar

.

Terjadilah dialog panjang yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah kemudian benih-benih penyelewengan sejarah umat Islam dimulai

.

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka!
.
Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka
.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

.

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang   ilmiah tentangnya

.

Syi’ah menyebutkan bahwa para sahabat Nabi semuanya murtad sepeninggal beliau kecuali hanya segelintir orang saja ???

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen)

Tentang Syi’ah kafirkan sahabat ??

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).. Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh, jadi hanya segelintir yang selamat di haudh.. Namun mayoritas sahabat Nabi SAW yang wafat masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga..

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak.. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

Kafir dan murtad versi syi’ah dapat diumpakan seperti kafir/murtad nya orang yang MALAS  SHALAT  FARDHU

Adapun sahabat Nabi SAW diluar yang 7 orang seperti Hujr bin Adi dll tetap dianggap ahli surga..

.

Rasulullah (Saw.) mengatakan bahawa majoriti sahabat telah menjadi murtad selepas kewafatannya (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen tetapi tidak patuh pada wasiat), kerana mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Hanya sedikit sahaja bilangan mereka terselamat. Syi‘ah tidak mengkafirkan mereka tetapi al-Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut.
.

Seperti  dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw. (Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58)

.
Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana)

.

.

.

.

.

Siapakah Sahabat Nabi yang murtad dalam Hadits ini?

Link sumber ambilan Hadits : http://bb.indoquran.com/en/hadith-bukhari/surah/42.html

Volume 4, Book 55, Number 568 :

Narrated by Ibn Abbas

The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_4_55.php

Narrated Ibn Abbas: The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.searchtruth.com/book_display.php?book=55&translator=1&start=19&number=561

_______________________________________

Ternyata menurut Hadits yang ada dalam Shahih Bukhari ini,sepeninggal Rasulullah ada sekumpulan para Sahabat Rasulullah yang Murtad,karena di dalam Hadits ini Rasulullah memanggil mereka “Ashabi .. Ashabi (Sahabatku .. Sahabatku) kemudian dalam kalimat bahasa Arab di dalam Hadits ini memakai lafazh “Murtadina” yang berarti menunjukkan kepada kata Jamak atau banyak orang atau sekumpulan orang,dengan memakai lafazh jamak,itu menunjukkan bahwa sahabat Rasulullah yang murtad itu banyak,tidak satu orang.

Siapa sajakah para Sahabat Rasulullah yang murtad itu ?

Hadits ini ada di dalam kitab Shahih Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas ra ,Kitab/Bab Para Nabi/Prophets. Jika umat Sunni dan umat agama Wahabi berani menuduh sesat Syi’ah karena Syi’ah berpendapat bahwa sebagian Sahabat Rasulullah ada yang murtad sepeninggal Rasulullah,beranikah umat Sunni dan umat agama Wahabi menuduh sesat Imam Bukhari dan Ibnu. Abbas ra ? karena ternyata Imam Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas telah meriwayatkan bahwa ada segolongan Sahabat Rasulullah yang murtad sepeninggal Rasulullah.

Beranikah umat Sunni mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Beranikah umat agama Wahabi mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Mau menolak Hadits ini ? Atau mau menuduh ini Hadits palsu buatan Syi’ah ? Atau mau menuduh ini Hadits Palsu buatan Non-Muslim ?

Jangan buru-buru ,silahkan periksa dulu Kitab Shahih Bukhari yang ada di rumah kalian.

Mau mendhai’fkan Hadits ini ? Maaf,Hadits ini ada dalam Kitab Shahih Bukhari,Kitab Hadits paling Shahih no.1 menurut Sunni dan Wahabi. Jadi mutlak Shahih.

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi

Periksalah rumahmu sebelum mengatakan rumah orang lain kotor

“…. memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, ….”(QS.Yasin:6)

Mereka mengatakan : “setelah Nabi Muhammad wafat semua sahabat murtad kecuali + 6 orang. (lihat Al ushul minal Kafi lil Kulaini 1/196-197, dan Kitab Kasyful Asror lil Khumaini hal. 155)”

wahai pembaca…

       Ahmad bin Muhammad bin Yahya daripada bapanya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.   Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]
.
Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata : “Para shahabat seluruhnya murtad kecuali tiga orang, yaitu Salman, Abu Dzarr, dan Al-Miqdad”. Aku bertanya,”Bagaimana dengan ‘Ammar bin Yasir?”. Ia menjawab,”Ammar telah melakukan satu penentangan kemudian ia kembali”. Abu Ja’far kembali melanjutkan perkataannya,”Jika yang engkau maksud adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi dan tidak tercemar dengan sesuatu pun, maka ia adalah Al-Miqdad. Adapun Salman, merasuk ke dalam hatinya sesuatu keraguan bahwa Amirul-Mukminin (yaitu ‘Ali) disokong oleh Asma’ Allah Yang Maha Agung, sekiranya ia mengucapkannya niscaya bumi akan menenggelamkan mereka, seperti ini : “Ia memperagakannya dengan mengalungkan bajunya ke leher dan memukul lehernya dengan tangan dan pisau lalu dibiarkan tergantung seperti serigala. Lalu Amirul-Mukminin berpapasan dengannya lalu berkata,”Wahai Abu Abdillah, ini adalah balasannya, berbai’atlah!”. Maka Salma pun berbai’at. Adapun Abu Dzarr, Amirul-Mukminin memerintahkannya supaya diam. Namun, ia adalah orang yang tidak takut celaan orang dalam membela agama Allah, ia pun tidak mau mengikuti perintah beliau dan berbicara. Lalu ‘Utsman mencekal dan membuangnya. Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).
.
       Daripadanya, daripada Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)].

Jawaban pihak syi’ah :

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

.

Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Mushannaf:  Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannaf dengan sanad sahih menukil demikian:  “Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya!

.

Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf: Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimaan yang telah disebutkan.  Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? Umar berkata, “Iya. Perbuatan ini akan membantu pekerjaan yang untuknya ayahmu diutus.”

.

5.Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudhaifah

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syi’ah Ali merupakan golongan sahabat paling utama yang beriman dan mengorbankan seluruh diri mereka demi kepentingan Islam

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi…

Hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

.

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

.

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!!

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

Yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah : “selain 7 orang sahabat tersebut bukan berarti mereka kafir keluar dari Islam..

Murtad atau kafir yang mereka maksudkan bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam

Ringkasnya Murtad/kafir disini bermakna : “murtad dari janji mereka dengan Rasul, bukan kafir tulen/murtad tulen dari Islam”

Demikian juga dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Jabir bin Abdullah Anshari Ra disebutkan, “Pascawafatnya Rasulullah Saw, Hadhrat Fatimah Zahra jatuh sakit, dua orang sahabat Rasulullah Saw datang ingin membesuk dan menanyakan beliau! Hadhrat Fatimah Zahra Sa bersabda, ’Apakah kalian tidak mendengar Rasulullah Saw bersabda: Fatimah adalah belahan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sesungguhnya ia telah menyakiti aku? Dua orang sahabat itu berkata, ‘Iya. Kami mendengar darinya (Rasulullah).’ Saat itu, Hadhrat Fatimah Zahra Sa mengangkat kedua tangannnya ke atas dan berkata, ’Tuhanku. Engkau menjadi saksi bahwa kedua orang ini telah menyakitiku dan telah merampas hakku,’ kemudian beliau berpaling dari keduanya. Selepas itu beliau tidak berbicara dengan keduanya.”

Bahkan Umar dan Abubakar mengakui imamah Ali ! mereka mengakui pelantikan imam Ali di Ghadir Kum

Hanya saja di akhir hayat Nabi SAW : Abubakar, Umar cs adalah kelompok yang menginginkan kekuasaan, mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen.. Demikian juga dengan kelompok khusus anshar yang ingin menguasai kembali Madinah setelah wafat Nabi SAW seperti Bin Ubadah mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen…

Nabi SAW menyatakan kafir kepada sahabat yang berperang dengan sesamanya… Kafir disini bukan keluar dari Islam !!!

Dengan kondisi seperti ini sangat sulit bertindak, beliau harus tetap berdiam diri karena orang orang beriman yang sedikit ini akan terbunuh tanpa mereka bisa berbuat apa apa terhadap Islam

Perpecahan  diantara kaum muslimin bisa saja membumi hanguskan islam dari muka bumi ini. Oleh karenanya Imam Ali AS tidak bisa berbuat apa apa seperti yang dilakukan Nabi Harun AS untuk mencegah terjadinya perpecahan…

Bagaimana syi’ah memandang PARA SAHABAT ??

Adapun Abubakar dan Umar merupakan orang orang Islam tetapi perbuatan mereka tidak sungguh sungguh membela islam pasca Nabi SAW wafat

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan BAHAYA YANG MENiMPA ISLAM di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri + cucu Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB SUNNi  (ahlusunnah waL jama’ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  “SUNNAH  BUATAN “ SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Pertikaian politik sering dicarikan legitimasi nya oleh Mazhab Sunni dengan memalsukan sumber sumber hadis dan kitab kitab sejarah. Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni.

Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Wasiat Nabi SAW bahwa 12 khalifah Quraisy haruslah berasal dari Ahlul bait dan dari Bani Hasyim membuat mayoritas suku suku pasca Nabi SAW wafat tidak mau menerima. Mereka berpikir :  “Apakah kenabian dan kekhalifahan hanya hak eksklusif Bani Hasyim ???

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Misalnya : apa yang terjadi di Madinah selama jenazah Nabi SAW terbaring di kamar ‘Aisyah ?? Buku buku sejarah dikaburkan dengan polemik polemik sengit kaum sunni dengan penafsiran yang diselewengkan, bahkan dengan mengkafirkan dan membid’ahkan mazhab ahlul bait. Apakah tidakan keji ini membuat umat tidak sesat dikemudian hari ???

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Tanyakan pada mereka : Apakah masuk akal pada bidang religius misalnya orang mengikuti Imam Malik lalu pada bidang politik mereka mengikuti KHALiFAH AL MANSHUR ???  Bukankah thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah dikategorikan sebagai kelompok sunni ?

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) menyatakan bahwa pemimpin sah dengan salah satu diantara empat cara perebutan kekuasaan :

  1. Sistem syura yang terbatas ( seperti pemilihan Abubakar )

Padahal sistem ini tidak lebih dari persekongkolan kalangan tertentu untuk merampas hak Imam Ali AS sebagai penerus tugas suci Nabi SAW

  1. Sistem istikhlaf ( penunjukan oleh khalifah sebelumnya seperti yang dilakukan Abubakar kepada Umar )
  2. Sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya ( seperti pengangkatan Usman bin Affan )
  3. Sistem al ghalabah bi as saif ( kemenangan perang /penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu’awiyah yang menghunus pedang kepada Imam Ali AS), bahkan Sunni mengharuskan pentaatan pada penguasa yang zalim selama mereka masih shalat. Abdullah bin Umar menyatakan : “kami bersama orang yang berkuasa”

Apakah empat hal yang saling bertentangan seperti diatas bisa disatukan ??? Apakah sunnah Nabi yang otentik mengandung ajaran tersebut ?? Otak saya tidak bisa mencerna kontradiksi ini. Apalagi perbutan kekuasaan dengan meninggalkan jenazah Nabi, mencampakkan bani Hasyim, penindasan, berlaku sewenang wenang dan penumpahan darah terhadap manusia manusia MAKSUM dan para pengikutnya..

Sampai sampai khutbah jum’at pun dijadikan medan propaganda untuk membusukkan dan mengutuk Imam Ali AS. Apakah Sahabat Nabi SAW yang membenci Imam Ali dan keturunan nya bukan pendusta agama ??? Apakah Sahabat Nabi yang membunuh sahabat Nabi yang lain dan meracuni imam Hasan adalah adil ???

Perkongsian antara para SULTAN dan ulama kerajaan seperti Abu Hurairah menghasilkan SUNNAH REKAYASA bernama hadis hadis yang melarang rakyat berontak kepada penguasa zalim, hadis keadilan semua sahabat dan tidak adanya wasiat tentang  imamah Ali

Fatwa yang menyenangkan hati KANJENG PENGUASA akan mendapat pujian dan bintang tanda jasa dari Thaghut Umayyah – Abbasiyah, berduyun duyunlah ulama su’ mendekati istana dengan target menjual iman kepada pihak yang berkuasa !!

Sedangkan ulama yang berani berterus terang menyatakan ajaran islam yang sejati dihabisi karena Bani ‘Alawiyyah, orang orang yang pro Ali dan keturunannya dimusuhi thaghut Umayyah – Abbasiyah. Dituduh RAFiDHi. Rafidhi dikutuk dimana mana, ulama kerajaan berlomba lomba mengutuk rafidhi dalam kitab kitab nya. Apa saja kekeruhan dalam negara maka rafidhi yang salah, kalau ada kekacauan maka rafidhi punya ulah !!!

Mau dibawa kemana firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan ” (Qs. Huud : 113)

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB  SUNNi  (ahlusunnah waL jama’Ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  SUNNAH  SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Lalu bagaimana dengan mazhab syi’ah imamiyah selaku satu satunya mazhab yang selamat ??? 12 imam maksum syi’ah memegang hak kepemimpinan politik sekaligus menjadi rujukan dalam masalah masalah keagamaan sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW ketika menjadi Pemimpin Negara Madinah yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat..

Bukankah Nabi SAW tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi pembawa wahyu, pengajar ilmu (guru), penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga berperan sebagai pemimpin NEGARA…

Kepemimpinan syi’ah adalah amanah ke Tuhanan (divine trust) yang merangkumi urusan duniawi-ukhrawi dengan dwi peran utama yaitu memelihara agama dan mengurus dunia

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Fatimah Az Zahra, penghulu wanita di syurga
.

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya

.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam
.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

.

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang
.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312
.
fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah
.
Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat
.
Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa? 
.
Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS. Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?
.
sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya
.
cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaranbila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia
.
Allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabibahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran
.
Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umardan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak
(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??
.
Ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???
.
tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullahInilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…
,
mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat
.
Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa
..
begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?
.
As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100

.
Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?

.
Kenapa, dan kenapa?

.
Ada apa dibalik semua ini?

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Sakit berkepanjangan mengakibatkan janin Muhsin pun gugur..tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur..Muhsin gugur dari perut ibunya…..Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid… Orang itu  fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya

.

seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)

.

……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Fatimah az Zahra, anak perempuan Rasulullah, seorang wanita yang keagungannya di angkat sendiri oleh Allah swt ke satu tahap tertinggi, yang tidak tercapai oleh mana-mana wanita. kedudukan beliau tidak boleh di ragukan lagi kerana terlampau banyak hadis yang meriwayatkan keagungan makam Fatimah az Zahra. Mari kita ambil pengajaran dengan melihat sedikit dari kata-kata Rasulullah(sawa) tentang anak kesayangan baginda.
  1. Ahli keluargaku yang paling di sayangi ialah Fatimah.
  2. Ayatul Tatheer(33:33) diturunkan untuk 5 orang, diriku, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain
  3. Penghulu wanita di syurga ialah Fatimah
  4. Aku tidak gembira melainkan Fatimah gembira
  5. Mahdi akan datang dari Ahlul Baitku dari keturunan Fatimah.
  6. Fatimah ialah sebahagian dari ku, barangsiapa membuatkan beliau marah, membuatku marah, menyakiti beliau bermakna menyakiti ku.
  7. Ya Fatimah, sesungguhnya Tuhan berasa marah apabila kamu marah.

Begitulah kedudukan beliau di sisi Rasulullah, yang juga menunjukkan kedudukan beliau di sisi Allah swt. Satu kedudukan yang tidak akan di capai lagi oleh mana-mana wanita.

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”
.

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

.

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat

.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH

.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

.

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

.

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

.

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

.

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

.

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

.

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau

.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’

.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“Jika kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

.

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui

.

Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab… Tapi Muhsin gagal lahir kedunia ini karena sewaktu dalam kandungan Fatimah ; perut Fatimah dipukul  Umar Bin Khattab hingga Fatimah keguguran, peristiwa tersebut terjadi  sewaktu  Umar cs  menyerbu  ke rumah Fatimah  malam hari pasca tragedi  Pemilihan Abubakar di Saqifah…

Fatimah  tidak  wafat  secara alamiah, melainkan  karena  sakit bekas  pukulan lahir dan bathin… Jelas  Fatimah Az Zahra mati syahid

.

saudaraku….

Suatu hari Rasulullah S.A.W menyempatkan diri berkunjung kerumah Fatimah az-zahra. Setiba dikediaman putri kesayangannya itu, Rosulullah berucap salam & kemudian masuk. Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir ( Sejenis Gandum ) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rosul bertanya kepada putrinya

.
“ Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.”

.
Fatimah menjawab. “ Wahai Rosulullah, Penggilingan dan Urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan Ananda menangis.”

Kemudian duduklah Rosulullah S.A.W disisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan. “ Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku. Mencarikan seorang Jariah ( Hamba Perempuan ) untuk membantu Ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerja’an Rumah ?”

.

Maka bangkitlah Rasulullah S.A.W mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca BASMALLAH. Ajaib dengan seizing ALLAH S.W.T. penggilingan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada ALLAH S.W.T dalam berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. “ Berhentilah berputar dengan izin ALLAH S.W.T.” maka penggilingan itu berhenti berputar

.

Lalu dengan izin ALLAH pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia.” Yaa.. Rasulullah, demi ALLAH yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga kebaratpun niscaya hamba gilingkan semuanya, Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab ALLAH S.W.T. “ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang dititahkannya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkannya. Maka hamba takut yaa.. Rasulullah kelak hamba menjadi batu dineraka.”

.

Dan bersabdalah Rasulullah.” Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai Fatimah az-zahra didalam surga. Maka bergembiralah penggilingan batu itu

.

Lalu Rasulullah bersabda.

” Jika ALLAH menghendaki,niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Tapi ALLAH menghendaki dituliskan-nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-nya beberapa kasalahanmu. Dan diangkatnya beberapa derajat untukmu bila wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. Dan ALLAH menuliskannya setiap gandum yang digilingkannya SATU kebaikan dan mengangkatnya SATU derajat “

.

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya.

” Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat. Ketika wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. ALLAH akan menjadikan antara dirinya dan Neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka. ALLAH akan mencatat pahala seperti memberi seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetanga-tetangganya, ALLAH akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar diahari kiamat.”

.

Rasulullah S.A.W masih meneruskan nasehatnya..

” Wahai Fatimah yang lebih utama dari semua itu adalah keridha’an Suami terhadap Istrinya. Jika suamimu tidak Ridha, aku tidaklah akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, Ridha Suami adalah Ridha ALLAH S.W.T, dan kemarahannya adalah kemarahan ALLAH S.W.T ?”

.

Apabila seorang wanita mengandung Janin, Maka beristigfarlah para malaikat. Dan ALLAH mencatat Tiap – tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit karena melahirkan, ALLAH akan mencatat seperti pahala orang-orang yang berjihad.
Apabila ia Melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadan sa’at ibunya melahirkannya.
Apabila ia Meninggal dalam melahirkan ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikitpun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan ALLAH mangaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristigfarlah seribu malaikat untuknya dihari kiamat

.

” Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar. ALLAH S.W.T menghapuskan dosa-dosanya. Dan akan mengenakan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan ( setiap helai seribu kebaikan ).. Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya, ALLAH memandangnya dengan pandangan Rahmat

.

.” Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, berserulah para malaikat untuknya. Teruskanlah Amalmu, maka ALLAH telah mengampunimu dari dosa yanglalu maupun yang akan datang.”

.” Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, ALLAH memberinya minuman dari sungai – sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan ALLAH menyelamatkannyadari api neraka, serta selamat dari titian Sirotulmustakim.

DARI ABDULLAH BIN AMR AL-ASH RA, ROSULULLAH BERSABDA.
“ DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.” ( H.R MUSLIM )

.

Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al HasanAl Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsumdan Zainab.

Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdulloh bin Ja’far bin Abi Tholib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak).

Adapun Al Hasan ra dan Al Husin ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rosululloh Saw.

Diantara keistimewaan atau fadhel Ikhtishos yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyahnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul

.

Hal mana sesuai dengan keterangan Rasulullah saw, bahwa anak-anak Fathimah ra itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya

.

Rasulullah Saw bersabda:
“Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tobroni)

.

Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Tobroni dan Abu Ya’la)

.

Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”


Itulah sebabnya, mengapa keturunan Siti Fathimah ra disebut Dzurriyyaturrasul atau keturunan Rasulullah SAW. Dan Dzurriyyaturrasul yang mayoritas masih lurus tentu lebih pantas diikuti dari pada Waladussyaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab

.

Keistimewaan yang lain dari keturunan Siti Fathimah ra adalah disamping mereka itu disebut sebagai Dzurriyyaturrasul, mereka itu menurut Rasulullah Saw akan terus bersambung sampai hari kiamat. Dimana semua keturunan menurut Rasulullah Saw akan putus.

Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:
“ Semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Tobroni, Al Hakim dan Al Baihaqi)

.

iNiLAH PANDANGAN SYi’AH TENTANG SAHABAT

Hadis-hadis haudh tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).

Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka… “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?

Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “

Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).

Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “…Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).

Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?

Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi… agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).

Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:

Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;

Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;

Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi – bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.

Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.

Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.

Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.

Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:

Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“

Pada ayat lain Allah berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,… yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).

Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.

Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.

Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.

Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).

Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).

Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).

Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)

Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).

Sekarang kita perhatikan ayat berikut.
Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).

Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah… “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “

Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.

Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.

Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.

Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).

Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)

Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa ;

1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;

2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;

3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“

Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :

Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)

Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):

Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)

Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.

Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.

Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.

Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.

Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.

Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.

Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:

Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi (QS. az-Zumar : 65).

Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.

Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).

Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)

Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)

Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).

Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.

Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang, apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.

Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah tersebut. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)”

Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.

Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah. Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.

Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di indonesia).

Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.

Komposisi ‘Shahabat’ menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu ‘ahlulbait nabi’ QS 33:33.

2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.

3. Orang-orang islam yang ‘berkerumun di pinggir jalan’, yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.

4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya ‘mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk’ QS 9:102.

5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena ‘trend’. Orang-orang ‘sangat awam’
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97

6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum muslimin. “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi” QS 9:61

7. dll…dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.

Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah ‘bertemu diri’ sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.

Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.

Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta’dil dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam. Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah, sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.

Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat merugikan islam, kaum syiah dianggap ‘mengkafirkan’ dan mengecam shahabat.

Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap ‘bukan mereka yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst’. Sedangkan kaum syiah tidak menerima demikian.

Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali dianggap ‘atas kehendak Allah’, tidak secuilpun ulama sunni mengecam Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist, Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.

Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah manusia yang ‘mulia’.

Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah.

Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal ‘Tanah Fadak’, yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi. Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan sahabat nabi.

Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian ijtihad mereka.

Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb: Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang besar. (QS. 9:101)

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)

Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:”Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:”Ia mempercayai semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. 9:61)

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. 9:74)

SYi’AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan)

SYi’AH : Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada sahabat penentang Imam Ali adalah dari Sifat fi’l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.”

Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun bertentangan
nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur’an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada
pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, ” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur’an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan “aqidah” , padahal Sahabat sendiri berkelahi,
caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq,hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena “bersepakat” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid,hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan/ kesepakatan” dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.”

.

Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI’AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam menilai sesuatu urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah,”

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, ” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Karena itu pendapat
al-Asy’ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

Hadis diatas membuktikan pendukung Imam Ali tidak sesat :
1.Al Quran tidak dapat dipahami dengan tepat tanpa pendampingnya, yakni ahlulbait Rasaul yang suci dari kesalahan dalam menafsir

2.Adakah Ali bagian daripada umat ataupun tidak ?

3.Adakah golongan menentang Abubakar cs yang terdiri dari Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dll termasuk di dalam umat ?

4.Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi Abubakar cs ? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Allah dan Rasulnya mengangkat Imam Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah di Ghadirkhum. Pengangkatan tersebut juga disaksikan oleh Abubakar, Umar dan Usman serta ribuan sahabat lainnya. Ironisnya Abubakar Umar cs melawan pengangkatan Imam Ali secara sembunyi dengan membuat rapat gelap untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai khalifah yang sah

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai madzhab Ahlul Bait (Syi’ah) sedang mengharu-biru. Bermula dari maraknya kontroversi mengenai nikah mut’ah, yang dianggap sebagai nikah yang dibolehkan madzhab Syi’ah, sampai kepada rekomendasi pelarangan madzhab tersebut di tanah air. Sayangnya, dilihat sebagai suatu wacana, perbincangan tersebut lebih diwarnai emosi dan dipenuhi stereotif yang kurang bertanggung jawab. Kajian yang berwawasan, apalagi yang memberi ruang kepada Syi’ah untuk memunculkan perspektifnya, mungkin belum terbuka. Oleh karenanya, menutup kekurangan yang ada, tulisan ini hendak menjelaskan satu perspektif penting Syi’ah, yang berlainan dengan madzhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Yakni, perspektifnya mengenai shahabat Nabi saw. Perspektif ini secara historis merupakan cikal bakal lahirnya gerakan Syi’ah sendiri.

Berbeda dengan Sunni, yang cenderung tidak membuat penggolongan, Syi’ah mengelompokkan shahabat Nabi saw menjadi empat kelompok. Pengelompokannya itu sendiri didasarkan kepada nilai ‘keadilan’ yang dipraktekkan shahabat semasa Nabi saw hidup hingga menjelang wafatnya. Yang pertama dari kelompok tersebut adalah shahabat yang sangat istimewa, yang juga dikenal dengan istilah Ahlul Bait Nabi saw. Yakni mereka yang karena kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya.

Kedua adalah kelompok shahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Ketiga adalah kelompok shahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan, baik menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Dan yang terakhir adalah kelompok munafik yang “menemani” Rasul karena ingin memperdayakannya.

Karena adanya kondisi dan motif yang berbeda tersebut, Syi’ah menyatakan bahwa tidak semua shahabat adalah adil. Masyarakat muslim tidak sepatutnya menjadi buta tuli terhadap apa yang pernah diperbuat seorang shahabat, terutama dosa dan kezalimannya. Di lain pihak, Sunni berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw adalah sama dan sejajar baik dalam kedudukan maupun dalam keadilannya terhadap Islam. Dan tidak seorang pun di antaranya yang diistimewakan, tak terkecuali istri-istri, anak-anak, menantu dan keluarga lain Nabi saw sendiri.

Penggolongan shahabat kalaupun dikenal dalam tradisi Sunni hanya bersifat generatif. Artinya dilihat dari kedekatannya dengan Nabi dalam segi waktu. Sehingga penggolongannya dibagi menjadi golongan shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dst. Sebagian membaginya berdasarkan mula pertama masuknya para shahabat ke dalam Islam, seperti tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun. Dan ada juga yang membagi bahwa Empat Khulafa’ Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali, pada tingkatan yang paling atas dari sekalian shahabat, disusul kemudian oleh enam shahabat lain yang dijamin masuk sorga.

Untuk menjadi wacana yang ‘benar’ dan bermanfaat, tentunya perspektif Syi’ah mengenai shahabat tersebut secara intelektual haruslah mendapatkan sekaligus legitimasi, baik yang bersifat historis maupun futuris. Legitimasi historis mengandaikan bukti intelektual. Yakni adanya indikator untuk menetapkan bahwa ’sejarah’ yang bersangkutan memang ada. Sedangkan legitimasi futuris mensyaratkan bahwa perspektif itu mempunyai implikasi penting sedikitnya bagi masa depan pencerahan Islam, terutama pasca Nabi saw wafat.

Tentang indikasi ketidakadilan menurut Syi’ah dapat dilihat dari beberapa peristiwa berupa pembangkangan, penjatuhan wibawa Nabi, dan yang terpenting adanya penghalangan terhadap Nabi untuk menegaskan wasiatnya dalam bentuk tertulis. Di antara peristiwa tersebut, misalnya peristiwa Perdamaian Hudaibiyah. Sebagian shahabat tidak senang atas penerimaan Nabi saw terhadap persyaratan yang diajukan kafir Quraisy. Umar bin Khattab sampai mendatangi Nabi saw dan berkata: “Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”. Kemudian setelah berdebat dengan Nabi saw, mengulangi perkataan itu kepada Abu Bakar. Dan ketika beliau menyuruh menyembelih binatang korban yang dibawa para shahabat serta perintahnya untuk mencukur rambut, tidak satu shahabat pun yang mematuhi.

Selanjutnya bentuk ketidakadilan lain dapat dilihat dari adanya motif politis yang menghalang-halangi Nabi saw mengukuhkan wasiatnya agar dituliskan di atas kertas. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hari Khamis itu, terjadi tiga hari menjelang Nabi saw wafat. Para shahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhi Nabi saw, dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perkataan Umar Bin Khattab yang menyatakan, bahwa “Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Qur’an ada di sisi kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”, menurut Syi’ah merupakan bentuk langsung penolakan hadits Nabi. Yakni yang menyuruh para shahabat berpegang kepada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi.

Kemudian dua hari menjelang wafat Nabi saw, sebagian shahabat kembali mencela perintah Nabi. Yakni dalam pengangkatan Usamah sebagai komandan ekspedisi untuk memerangi Roma. Menurut para shahabat, bagaimana mungkin Nabi mengangkat orang yang baru berumur delapan belas tahun menjadi komandan para shahabat besar. Nabi saw sampai mengulang-ulang perintahnya, namun para shahabat tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Itulah beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah Islam. Penting dikemukakan di sini bahwa peristiwa-peristiwa di atas tidak hanya diberitakan oleh sumber-sumber Syi’ah. Shahih Bukhari dan Muslim, yang notabene merupakan sumber terpercaya madzhab Sunni, pun memberitakannya. Mengenai hal ini, DR Muhammad al-Tijani al-Samawi, seorang Wahabi Tunisia yang kemudian menjadi pengikut Syi’ah, mempunyai komentar. Bahwa seandainya orang alim Syi’ah menukilnya dari kitab mereka sendiri, maka aku tidak akan mempercayainya sama sekali. Namun ketika ia nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah sendiri, maka tak ada jalan untuk mencelanya.

+++

Maksud Syi’ah selalu memunculkan peristiwa-peristiwa seperti disebutkan di atas tentu sudah umum diketahui, bahwa yang berhak atas kepemimpinan pasca Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ali memenuhi kriteria sebagai Itrah Ahlul Bait Nabi yang keadilannya (keutamaannya) tidak disangsikan lagi. Dibandingkan para shahabat lain, orang pasti kesulitan untuk mencari cela, dosa dan kezaliman Ali. Namun sejarah telah berbicara lain, di kala keluarga Ali sibuk mengurus jenazah Nabi saw, Abu Bakar dilantik dengan tergesa-gesa menjadi Khalifah atas prakarsa Umar bin Khattab. Ali sendiri, bersama istrinya Fatimah, putri tercinta Nabi, terpaksa memberikan bai’at atas pengangkatan itu setelah diancam akan dibakar rumahnya.

Sejarah telah berlalu, namun perspektif Syi’ah untuk tetap berpegang pada Itrah Ahlul Bait Nabi dan keadilannya sampai kini tentu mempunyai raison d’etre. Maka sampailah kita kepada persoalan mengenai persyaratan bahwa suatu perspektif mesti mempunyai implikasi untuk menjadi bermanfaat. Tentang hal ini dijawab oleh Syi’ah dengan berbagai fenomena yang terjadi di dunia Sunni. Yang terpenting dan saling berhubungan di antaranya adalah bahwa hilangnya perspektif keadilan para shahabat berpengaruh pada manipulasi data, distorsi penafsiran serta peminggiran wacana dan keteladanan dalam Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya wacana mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di akhir masa hidup Nabi, yang sudah tentu dalam perspektif Syi’ah dapat menjelaskan keberpihakannya kepada Ali. Bahkan pemberitaan mengenai peristiwa di akhir masa hidup Nabi dalam dunia Sunni cenderung ditutup-tutupi dengan alasan “menjaga segala kemuliaan para shahabat”.

Konsekuensi lain adalah pengaruhnya atas kualitas kepemimpinan pasca Nabi. Menurut Syi’ah, Sunni pasti kesulitan untuk mencari alasan, bilamana dipertanyakan tentang apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abubakar misalnya. Tidak demikian apabila pertanyaan semacam itu dipertanyakan kepada Syi’ah atas penetapannya pada khilafah Ali, yang alasan dan dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karenanya khilafah pasca Nabi versi Sunni kehilangan legitimasinya ketika ia dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Yang berkembang kemudian dalam pemikiran politik Sunni adalah ijtihadz tanpa dasar dengan alasan yang semena-mena. Contoh paling ekstrim mengenai ini adalah tragedi pembantaian cucu Nabi, Husein, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Atas pembantaian itu Sunni cukup memberi alasan bahwa Yazid sedang berijtihadz. Bilamana ia benar maka mendapat dua pahala, sedangkan bilamana salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bait Nabi. Kesimpulan Syi’ah mengenai hal ini adalah bahwa Sunni telah mengalahkan Sunnah Nabi dengan ijtihadznya.

Lebih jauh lagi adalah adanya peminggiran wacana dan keteladan Ahlul Bait Nabi. Siti Fatimah, yang oleh Nabi sendiri digelari “ibu bagi ayahnya” karena kecintaan dan ketakdhiman putrinya tersebut kepada beliau, jarang sekali menjadi rujukan dan kajian di dalam Sunni. Adanya pembekuan madzhab fiqh menjadi empat madzhad di dalam Sunni, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menurut Syi’ah adalah juga konsekuensi langsung dari peminggiran Ahlul Bait Nabi. Padahal ada sumber penting yang lebih dekat, baik secara kekerabatan maupun waktu, yakni Imam Jafar al-Shadiq, yang tidak lain adalah cicit Nabi dari keturunan Fatimah. Bahkan sejarah sendiri mencatat bahwa keempat imam madzhab merupakan murid-murid Imam Jafari’, sehingga Imam Jafari’ digelari “guru para imam”.

Dari uraian di atas, dengan demikian menjadi jelas bagi Syi’ah, bahwa perspektif mengenai keadilan para shahabat mempunyai legitimasi historis maupun futuris. Dan perspektif itu baginya tidak hanya berhenti dalam masalah khilafah Ali saja. Pada kenyataan historis dan sosiologis, eliminasi perspektif itu akan berpengaruh pada ruang waktu yang lebih luas, serta pencerapan kebenaran Islam yang lebih dalam. Wallahua’lam

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura


Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. 

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”


Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!  

Wallah A’lam.


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

Para pembaca..

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50.]

.

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.]

Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi]

.

.
                                                                                               I
    Definisi kekafiran
.
Kafir dan murtad disini bermakna tidak taat atau tidak patuh, bukan bermakna kafir tulen
.
Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi ianya suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun kerana ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sendiri. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis daripada mazhab Ahlu l-Bait(a.s) di dalam buku-buku mereka.
.
Amatlah dikesali bahawa kaum Wahabi yang menyamar sebagai Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sentiasa menyamarakkan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka.Walau bagaimanapun rencana ringkas ini sekadar mendedahkan hakikat sebenar  bagi menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.
.
Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt) Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), nescaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah atau Hadis Nabi (Saw.)
.
      Definisi sahabat
Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah daripada para sahabatnya.”
.
Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
.
Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima (Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)
.
Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi, hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).
.                                                                  
                  Kedudukan para sahabat
.
Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.
.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) atau Syi‘ah atau Imam Dua belas.
.
3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.
                                                                                            II
Dikemukan dibawah ini lima hadis daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384 (Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih MuslimMuslim, Sahih, edisi Muhammad Fuad  ‘Abdu l-Baqi, Cairo, 1339H,
        . 
                                                      Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari
.
1. Hadis no. 578. Daripada Abdullah bahawa Nabi(Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebahagian daripada kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh daripadaku.Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
2. Hadis no. 584. Daripada Anas daripada Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka, lantas mereka dibawa jauh daripadaku. Kemudian aku akan bersabda:Para sahabatku (ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
3. Hadis no. 585. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi  ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar  sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat Allah)  atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) 
.
           Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)
.
4. Hadis no. 586. Daripada Ibn Musayyab bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka  ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
.
5.Hadis no.587. Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (Saw.)bersabda: Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka : Datang kemari.Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka,demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka  ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).
.
                                                         Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim
.
1. Hadis no.26. (2290) Daripada Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata:Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya.
.
(2291) Dia berkata: Aku naik saksi  bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah: Dia berkata: Sesungguhnya mereka itu adalah daripadaku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh !Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)
.
2. Hadis no.27 (2293) Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakr berkata: Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu  ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
.
3. Hadis no. 28. (2294) Daripada  ‘Aisyah berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya (ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah daripada (para sahabat) ku dan daripada umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma  ‘amilu ba‘da-ka). Mereka sentiasa mengundur ke belakang(kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)
.
4. Hadis no.29 (2295) Daripada Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah; isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang daripada kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir daripadaku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana  dihalau/diusir unta yang tersesat (ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu). Aku akan bersabda: Apakah salahnya?  Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh! (daripada  rahmat Allah) (suhqan).
.
5. Hadis no.32 (2297) Daripada Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka.Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku.Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
6. Hadis no.40. (2304) Daripada Anas bin Malik bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) daripada mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku.Kemudian mereka dipisahkan daripadaku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka).
.
  Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadis-hadis tersebut.
.
Daripada hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali
b. Inna-ka la tadri atau la  ‘ilma la-ka ma ahdathu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali. Perkataan ahdathu bererti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah atau inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).
c. Inna-hum  Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.
d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau ke Nerakalah mereka yang telah mengubah atau menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan“Ghayyara” bererti mengubah atau menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya) satu kali.
.
Sementara Muslim telah menyebut perkataan:
.
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.
b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,
c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali
d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.
e. Innaka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.
f. Inna-ka la tadri atau sya‘arta ma  ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui atau menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali . Perkataan “Ma‘amilu” (Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
g. Ma barihu atau Ma zalu Yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him (mereka sentiasa kembali kepada kekafiran) dua kali
h. Suhqan suhqan li-man baddala  ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau  ke
.
Nerakalah mereka yang telah mengganti atau  mengubah atau  menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti atau mengubah atau menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Justeru itu sebab-sebab  mereka menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah kerana mereka:
(1)  Ahdathu=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(2) ‘Amilu   =Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(3) Ghayyaru=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(4) Baddalu=Irtaddu atau yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
.
                                                                                           III
Ini bererti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati(mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti MaslahahMasalihu l-MursalahSaddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah atau menukar atau menangguh atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)
.
Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu atau La yazalun yarji‘un ‘ala  a‘qabi-him)di dalan hadis-hadis tersebut adalah kerana mereka telah mengubah sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdathu)  dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama. Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil daripada mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat atau terbiar (mithlu hamali n-Na‘am). Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo, 1958, hlm.12) dan dijadikan akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.
.
Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bertepatan dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’ (34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103“Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih, tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud (11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak hairanlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah (swt).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A’masy telah memberitahu kami bahawa dia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt).Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”
.
Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.)  itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.)  itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itab berkata: “Aisyah berkata: Nabi (Saw.)  pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”
.
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata: “Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata: Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”
.
Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.)dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. “[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”, Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid,Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku , dia menyakiti Allah”  “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi,Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).
.
Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111],  mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’hlm.136)
.
Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )
.
Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”
      .

Siapa yang benar terkait penafsiran terhadap hadis Haudh ??

Versi Sunni atau Versi Syi’ah yang benar ???

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a)  dan Anas bin Malik akan menjadi “juri”

 Saya sadar kalau tulisa ini akan membuahkan sebuah pertanyaan usil yang akan membuat sebagian orang mendelik sambil berkata “Jangan mencaci sahabat Rasul”.

Samasekali bukan maksud saya hendak menjelek jelekkan sahabat RasuluLLAAH SAW, namun saya hanya inhgin mengajak insane agar mengambil ajaran Islam ini dari sumber yang masih benar benar Jernih, belum terkontaminasi oleh intrik semata. Karena Din Islam yang kita yakini akan dipertanggungjawabkan kelak diakherat, maka sudah selayaknya kita memilih ajaran yang benar dapat menyelamatkan kita dari Adzab ALLAAH,bukanlah ajaran yang akan menjebloskan kita pada posisi ketersesatan yang berkepanjangan. Mari kita ikuti satu persatu rangkaian tulisan ini,bila anada berkehendak membanrtah, maka silahkan membantah dengan argumentasi sekali lagi dengan argumentasi, bukan dengan cibiran yang tanpa ilmu, karena ilmu itulah yang akan membiaskan keadilan

Dijelaskan dalam suatu hadits shahih :
وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك
Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin UbaidiLLAAH bahwa RasuluLLAAH SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai RasuluLLAAH, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. RasuluLLAAH SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

.

Maka telah jelas bahwa Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka,juga tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW,sebab sebagian para shahabat banyak menyelewengkan ajaran Islam dari pokoknya


Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak .Para sahabat banyak yang mengkhianati imam Ali,Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali

Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده
Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui  Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena
dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu

apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan

siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah

mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok

dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) MEMBENARKAN Mazhab Syi’ah terkait Hadis Haudh yang berbunyi :  ”Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya”

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

hadits-hadits mengenai dihalaunya sekumpulan orang Islam dari telaga Haudh-nya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari akhir kelak, yang beliau menyebut sekumpulan orang tersebut dengan sebutan “Sahabat” beliau.

Hadits-hadits mengenai hal ini telah tercatat di shahih Bukhari dan Muslim dan juga kitab hadits yang lainnya, diantaranya adalah seperti berikut ini:

diantaranya adalah seperti berikut ini:

7049 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

(9/46)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Mughirah dari Abi Wail yang berkata Abdullah berkata Nabi SAW bersabda “Aku akan mendahului kalian sampai di Al Haudh dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka Aku bertanya “Wahai Rabbku mereka itu sahabat-sahabatku. Dia menjawab “engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. [Shahih Bukhari 9/46 no 7049] diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim 4/1796 no 2297.

6593 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا { أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ } تَرْجِعُونَ عَلَى الْعَقِبِ

(8/121)

Diriwayatkan oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya akan berdiri di atas telaga Haudh kemudian saya akan melihat beberapa orang akan datang kepadaku diantara kalian, dan beberapa manusia dihalau dariku, dan aku akan berkata, “Ya Rabb, mereka dariku, dari ummatku” Kemudian akan dikatakan “Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang (murtad). (Shahih Bukhari 8/121 No. 6593, Shahih Muslim 4/1794 No. 2293)   

akan sangat akrab dengan hadits berikut :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Mughiirah, dari Abu Waail, ia berkata : Telah berkata ‘Abdulah : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku akan mendahului kalian sampai di Haudl dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. Kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka aku bertanya : ‘Wahai Rabbku, mereka itu shahabat-shahabatku. Dia berfirman : ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu’[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7049].

Mari kita lihat bersama hadits berikut :

حدثنا سعيد بن أبي مريم: حدثنا محمد بن مطَّرف: حدثني أبو حازم، عن سهل بن سعد قال:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (إني فرطكم على الحوض، من مر علي شرب، ومن شرب لم يظمأ أبدا، ليردنَّ علي أقوام أعرفهم ويعرفونني، ثم يحال بيني وبينهم).
قال أبو حازم: فسمعني النعمان بن أبي عياش فقال: هكذا سمعت من سهل؟ فقلت: نعم، فقال: أشهد على أبي سعيد الخدري، لسمعته وهو يزيد فيها: (فأقول: إنهم مني، فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك، فأقول: سحقاً سحقاً لمن غيَّر بعدي).

Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutharrif : Telah menceritakan kepadaku Abu Haazim, dari Sahl bin Sa’iid, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya akulah yang pertama-tama mendatangi Haudl. Barangsiapa yang menuju kepadaku akan minum, dan barangsiapa yang minum niscaya tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi”. Abu Haazim berkata : “Lalu An-Nu’maan bin Abi ‘Ayyaasy mendengarku, lalu berkata : ‘Beginikah kamu mendengar dari Sahl ?’. Aku berkata : ‘Benar’. Lalu ia berkata : ‘Aku bersaksi atas Abu Sa’iid Al-Khudriy, bahwasannya aku benar-benar telah mendengarnya dimana ia menambah lafadh : “Lalu aku (Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam) berkata : ‘Mereka adalah bagian dariku !‘. Namun dikatakan : ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu !’ Maka aku berkata : ‘Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6583-6584].


Dan beberapa riwayat lagi yang maknanya senada dengan hadits-hadits di atas. Yaitu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam akan datang mendahului umatnya sampai di telaga Haudh, dan kemudian akan ada sekelompok orang yang beliau mengenal mereka sebagai umatnya datang mendekati telaga beliau untuk ikut minum air dari telaga beliau tersebut, tetapi tiba-tiba mereka dihalau oleh Malaikat, dan beliau akan berusaha membela mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah “sahabat” beliau, dalam riwayat lain “mereka dariku, dari golongan umatku” maka akan dikatakan kepada beliau bahwa “beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat atau ada-adakan sepeninggal beliau”, dalam riwayat lain “sekelompok orang tersebut telah berbalik ke belakang (murtad) sepeninggal beliau”, “merubah ajaran agama sepeninggal beliau”. Kemudian beliau akan berkata kepada mereka : “menjauhlah”.

Demikian ringkasan matan dari hadits-hadits tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, kaum Syi’ah menjadikan hadits-hadits tersebut (khususnya yang mengandung kata sahabat) sebagai alat untuk menyerang keadilan Para Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengklaim bahwa yang dimaksud hadits-hadits di atas adalah para sahabat anti Imam Ali , sehingga menurut mereka sepeninggalNabi SAW sebagian besar sahabat telah menjauh dari agamanya dan mengada-adakan hal-hal baru dalam agama kecuali hanya segelintir sahabat, sehingga di akhirat nanti mereka akan diusir dari telaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan salah satu yang menyebabkan hal itu adalah karena mereka telah menolak walayah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Benarkah demikian?

Artinya :
Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang mendahului kamu atas telaga, maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhan, shahabat-shahabatku, maka dikatakan : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di telaga sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku”, kemudian Allah berfirman : “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, heliau bersabda : “Ketika Aku sedang berdiri, tiba-tiba ada sekelompok or­ang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang laki-laki dari antaraku dan antara mereka. Kemudian orang laki-laki itu berkata : “Marilah”, maka aku bertanya : “Akan ke mana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”. Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu”. Kemudian tiba-tiba ada satu kelompok orang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang lelaki dari antaraku dan mereka. Lalu dia berkata : “Marilah.” Aku bertanya : “Akan kemana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu, dan aku tidak menduga orang yang selamat dari mereka kecuali seperti onta yang tersesat (tanpa penggembala)”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Aku di telaga, sehingga Aku melihat orang dari kalanganmu yang datang kepadaku dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata : “Wahai Tuhan, itu dari golonganku dan dari ummatku”. Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? Demi Allah, mereka terus menerus kembali ke tumit mereka”. Dan Ibnu Abi Mulaikah berkata : “Wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Mu agar kami tidak kembali ke tumit kami, atau terfitnah dalam agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.
                                                                                       Kesimpulan
Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan  sekali. Dan ianya menyalahi akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menegaskan bahawa semua para sahabat adalah adil (kebal). Lantaran itu mana-mana Muslim sama ada dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘i, mufti, kadi  dan kita sendiri, tidak boleh mengubah atau  menangguhkan atau melanggar atau  membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut.