Anak SD Mazhab Sunni pun Melakukan Seks Bebas !! 90 Persen Pelaku Video Porno Adalah Anak-anak Mazhab Sunni

taushiyah oleh : Ustad Husain Ardilla
================================

Rusak nya Moral Bangsa ini..

Kaum Syi’ah Indonesia yang berjumlah 2,5 juta jiwa siap “meng islam” kan Indonesia lagi…

 dibayar dengan uang rakyat tetapi hanya bisa bermimpi dan berjanji untuk menyejahterakan rakyat
coba bandingkan dengan rusak nya tempat tinggal saudara – saudara kita yang terkena musibah tsunami di mentawai yang berharap diberikan dan dipulihkan kembali segala macam kebutuhan hidupnya
dan tengok saudara kita juga yang berada jauh di timur sana yang belujm pernah bahkan tidak pernah terjamah tangan – tangan bersih sang dewan DPR  RI (dewan perusak rakyat).
Apa Pemerintah yang hampir setiap hari bersenang – senang dengan gaji rakyat pernah berfikir apa yang harus mereka lakukan saat rumah rakyat nya hancur lebur oleh kejamnya alam ini?
 Seharusnya anggota DPR adalah orang – orang yang pernah menderita seperti mereka bukan dari orang – orang ber otak cerdas dan bermaterikan melimpah….
mungkin miris melihat kehidupan diIndonesia yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya….mereka eksis dan update tentang informasi tapi mengaapa mereka seakan buta melihat semua penderitaan rakyat
Cobalah sadar dan berusaha merasakan apa yang mereka rasakan mungkin yang saya katakan ini sedikit jeritan kecil dari rakyat – rakyat yang berharap pada anda yang menikmati uang mereka tanpa mau tau bagaimana mereka bersusah payah mendapatkan itu semua

BENCANA.
Mengapa bencana sering menyertai kehidupan masyarakat Indonesia? Hal ini perlu kita memahami apa makna dan maksud dari terjadinya bencana tersebut.Kalau kita menganggap bencana ini sebagai azab dari Tuhan berarti kita kufur nikmat. Mengapa? Karena kita hanya meratapi penderitaan yang Tuhan berikan tanpa mensyukuri akan apa yang Tuhan berikan kepada kita selama ini.Kita diberikan tanah yang subur tetapi kita rakus mengambil kesuburannya, diberikan air tetapi kejam terhadap air, diberikan udara bersih tetapi kita mengotori, diberikan tanah air yang subur makmur tetapi kita mengambilnya dengan serakah tanpa kita kembali memberikannya pada alam.Maka itulah akibatnya alam kembali mengambil apa yang menjadi miliknya
.
Karena alam mempunyai ruh, jiwa, hati, perasaan, hanya kita saja yang buta, tuli, kejam dan bodoh hingga kita hanya mengambilnya, memakannya, mengotorinya dan hanya memberikan kemaksiatan, kezholiman, kemunafikan, keserakahan dan kemungkaran pada alam.

Jika ini terus terjadi maka hanya AZAB yang akan terus datang setiap waktu. Tiap hari kita diseru untuk berbuat kebaikan tetapi itu hanya sampai di telinga saja, tidak sampai ke hati.

Kita dibutakan oleh dunia sehingga lupa bahwa kita hanya manusia yang tak mempunyai apa apa. Yang dilahirkan dari tetes air hina.

Ruh bukan punya kita, badan bukan punya kita, harta bukan punya kita.

Semua itu punya Tuhan yang Maha Kuasa. Kita hanya punya DOSA dan PAHALA maka dari sekaranglah kita Bijak pada Alam dan biarkan alam yang menjalaninya sesuai dengan kodratnya. Mudah-mudahan ungkapan hati ini bisa menyadarkan kita semua.

.
01 April 2012 | 17:00 wib
Anak SD pun Melakukan Seks Bebas

TEMANGGUNG,

Hubungan seks secara bebas atau tanpa ikatan pernikahan tidak hanya dilakukan kaum dewasa, namun anak-anak yang masih berstatus pelajar juga tidak sedikit yang melakukan hal tersebut. Bahkan, diantara para pelajar itu, ada yang masih duduk di sekolah dasar (SD) atau sederajat di Kabupaten Temanggung.

Seperti diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren At-Tauhid Parakan, Muh Madfur Nasocha atau  Gus Madfur, setidaknya ada dua anak perempuan yang masih berstatus pelajar SD di satu desa di kabupaten setempat, yang melakukan hubungan seks bebas, kemudian hamil. Sedangkan pasangan yang mengahamili mereka adalah pacarnya sendiri, pelajar dari sebuah SMP.

“Anak-anak SD sekarang, meski umurnya baru belasan tahun dan duduk di kelas V atau VI, namun kondisi fisiknya memang ada yang seperti remaja, dan organ-organ reproduksinya pun sudah berfungsi. Karena itu, tak mengherankan, jika kemudian
mengalami kehamilan setelah berhubungan badan,” tuturnya.

Menurutnya, kasus hubungan seks bebas di kalangan pelajar SD hingga mengakibatkan kehamilan tersebut, hanyalah merupakan contoh yang terungkap. Sebab, sebetulnya masih banyak kasus-kasus yang menunjukkan telah merambahnya hubungan seks bebas di kalangan pelajar SD, baik yang akhirnya mengakibatkan kehamilan atau tidak.

“Bahkan menurut penelitian kami, sekitar 7,5% anak-anak SD atau sederajat, telah pernah melakukan hubungan seks bebas tersebut,” ujar putra kiai khaos Parakan, Mbah Nasocha itu.

Gus Madfur bersama para santrinya, selama ini memang telah melakukan penelitian terkait dengan fenomena seks bebas di kalangan pelajar. Penelitiannya dilakukan secara kualititatif, yakni melakukan wawancara mendalam dengan para responden, baik dengan para pelajar pelakunya, maupun dengan pelajar yang mengetahui adanya seks bebas di kalangannya.

“Hasil penelitian itu cukup mencengangkan, selain pelajar SD yang mencapai 7,5% itu, sekitar 65% pelajar SMP  dan 80% pelajar SMA atau sederajat, ternyata pernah melakukan hubungan seks. Ketika diwawancarai ada yang mengaku secara terus terang, dan ada pula yang diungkapkan  teman-temas sebayanya,” terangnya

.

90 Persen Pelaku Video Porno Adalah Anak-anak

YOGYAKARTA,

Hasil pengamatan terhadap 100 video porno, berdurasi pendek 9-10 menit, sebanyak 90% pelaku merupakan anak muda. Sebanyak 76,3 persen memperlihatkan kegiatan sexual dan 91,4 persen pembuatan film dilakukan di ruangan tertutup.

“Kebanyakan mereka senang memproduksi film di hotel atau tempat kos,” ujar Basilica Dyah Putranti peneliti Pusat Studi Kependudukan & Kebijakan UGM.

Dijelaskan, sedikit relasi yang menunjukkan keterpaksaan, karena hampir 64 persen film memperlihatkan perempuan berinisiatif saat berhubungan sexual. Sementara 71 persen gambar film memperlihatkan hubungan sexual anak muda tanpa sehelai benang.

“Jadi benar-benar terlibat hubungan sexual. Aktivitas sexual lain yang bisa dibaca dari video amatir ini, 51,6 persen intercourse, 11 persen oral sex, lain-lain potongan adegan ciuman, mandi, striptise dan beberapa pelaku berseragam,” katanya.

Dia mengaku metodologi penelitian yang dilakukan memang sedikit memiliki kelemahan. Meski begitu Dia meyakini bahwa dari 100 video porno yang dianalisis mengandung banyak informasi. Dari analisis tidak ditemukan aktivitas homoseksual, namun terdapat aktivitas sexual lesbian. Sementara untuk perempuan dengan penampilan sexi dengan bikini tidak terlalu banyak ditemui.

“Saya mencarinya di warnet-warnet, dan ternyata sudah ada folder-folder yang tersimpan film-film porno tersebut. Saya mengambil secara random, dan 79,6 persen menampilkan sosok tubuh perempuan,” tambahnya.

Rina Widarsih Manager Divisi Pendampingan Rifka Annisa merasa prihatin. Dia berpandangan perkembangan teknologi komunikasi memicu meningkatnya jumlah pengakses pornografi dikalangan remaja sehingga berakibat terjadi tindak perkosaan dan hubungan sexual di kalangan remaja.

“Internet, hand phone menjadi perantara dan menjadi tools terjadinya hubungan sex, seperti maraknya kasus pemerkosaan remaja di Gunungkidul direkam melalui hand phone,” ujarnya

………………………………………………………………………………………….

Perilaku Orang Tua Sangat Parah, Maka Anak juga Parah

21 Maret 2012 | 16:01 wib
Ketahuan Merekam Tetangganya Mandi, Oknum PNS Ditahan 0

image

TERSANGKA:

Oknum PNS Maryanto (tengah), tersangka perekam wanita tetangga yang mandi, dalam kawalan petugas dan kini ditahan di Mapolres Wonogiri.

WONOGIRI

Gara-gara ketahuan merekam wanita tetangga yang tengah mandi, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Maryanto (38), kini ditahan polisi. Warga Dusun Dungpring RT 3/RW 7 Desa Ngunggahan Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri ini, sehari-harinya bekerja sebagai penjaga Sekolah Dasar (SD) Negeri IV Eromoko.

Kapolres Wonogiri AKBP I Ketut Swastika, melalui Kasubag Humas AKP Supriyadi didampingi Kabag Ops Reskrim Iptu Sukadi, Rabu (21/3), menyatakan, bersama tersangka polisi menyita barang bukti ponsel Nokia 5320, yang dipakai untuk alat merekam wanita mandi.

Tersangka, akan dijerat dengan pasal 35 juncto pasal 29 Undang-Undang Nomor: 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Yang ancaman hukumannya minimal satu tahun penjara,” kata AKP Supriyadi.

Wanita tetangga yang dijadikan korban sasaran rekam ketika mandi, adalah Ny Jati Puji Mulyani (35), yang terhitung masih tetangga dengan tersangka. Sebagai tetangga, Maryanto hapal waktu Ny Jati mandi di petang hari. Utamanya ketika lampu kamar mandinya dinyalakan. Saat itu pula, tersangka memanjat ke atap untuk untuk membuka genting dan secara diam-diam ‘menyoting’ adegan lepas baju sampai Ny Jati mandi.

Di tengah asyik-asyiknya Maryanto ‘nyoting,’ mendadak Ny Jati menjerit ketika dari lubang atap genting kamar mandi yang terbuka, terlihat tangan dan ponsel yang mengarah ke tubuhnya. “Hee, sing motret aku iki sopo (Hee, yang memotret saya ini siapa),” teriaknya. Teriakan ini didengar suaminya, Didik Pujanto (41), yang kemudian mengejar tersangka saat berusaha kabur.

Bersamaan tersangka ditangkap, ponselnya dirampas untuk kemudian dibuka. Karena di dalam ponsel terdapat rekaman adegan Ny Jati mandi, segera tersangka dilaporkan polisi.

Perempuan Syi’ah Bisa Menjaga Keperawanan, Inilah Manfaatnya

Perempuan Syi’ah Bisa Menjaga Keperawanan, Inilah Manfaatnya

Di zaman moderen seperti sekarang, tidak sedikit perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual meski belum resmi menikah, bahkan diantaranya ada yang masih duduk di bangku sekolah. Padahal banyak manfaat kesehatan yang bisa dirasakan perempuan bila bisa menjaga keperawanannya.

Keperawanan masih sangat dihargai di negara dengan adat timur, termasuk di Indonesia. Perempuan dianggap suci secara agama dan moral bila bisa menjaga keperawanannya sebelum menikah.

Sayangnya, pergaulan bebas yang sedang marak di kalangan anak muda, membuat perempuan bisa melepas keperawanannya kapan saja, meski masih duduk di bangku sekolah sekalipun. Padahal keperawanan adalah salah satu hadiah paling istimewa yang Tuhan berikan pada seorang perempuan.

Berikut beberapa manfaat kesehatan bisa perempuan bisa menjaga keperawanannya sebelum menikah,

1. Tak perlu takut hamil di luar nikah
Dari banyak keuntungan, yang satu ini adalah yang paling jelas. Banyak perempuan lajang yang rutin berhubungan seks selalu khawatir dengan kehamilan. Jadi jika Anda seorang perawan, Anda tidak perlu khawatir dengan hal ini. Anda juga tidak perlu pusing karena harus rutin minum pil KB bila tak ingin hamil sebelum menikah.

2. Tidak kena infeksi menular seksual (IMS)
Perempuan yang bisa menjaga keperawanan tentu saja tidak akan melakukan hubungan seksual yang berbahaya. Hal ini tentu saja akan menjauhkannya dari berbagai infeksi menular seksual, seperti HIV/AIDS, herpes dan kutil kelamin, sifilis (raja singa) dan gonorhea (kencing nanah).

3. Tidak ada trauma emosional dari hubungan
Cinta tidak melulu soal seks. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pasangan belum menikah tanpa seks. Ingat, kekecewaan seksual dapat membuat Anda merasa sakit hati, stres, depresi, kesepian dan jadi pemarah.

4. Lebih bahagia
Faktanya, kebanyakan pria lebih menyukai menikahi perempuan yang masih perawan. Perempuan yang bisa menjaga keperawanannya sampai menikah nanti cenderung memiliki pernikahan yang lebih bahagia ketimbang yang melakukan seks pra nikah.

.

wanita syiah Iran

Thumbs up Profesi lain dari wanita syiah iran yang bikin takut israel

Mungkin kita bertanya – tanya ,perang saraf Israel sekutu,serambut terus bergulir namun belum berani juga mereka invasi ke Iran

Mungkin ini diantara sebabnya


Latihan Ninjutsu:

iran.jpg

polwan-iran-2.gif

polwan-iran-1.gif

polwan-iran-3.gif

masyarakat Syiah menghormati wanita.

Latihan Militer:

7 Ribu Lebih Warga Jabotabek Menangis Mengenang Tragedi Karbala

Untuk mengenang syahidnya cucu nabi Muhamad SAW, di padang Karbala Husain bin Ali bin Abi Thalib , pada 10 Muharam 61 Hijriah, atau tahun 680 masehi, ribuan umat Syiah seJabodetabek rayakan Asyura Nasional 1433, di Puri Ardhya Garini Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (06/12/2011).

Di tempat tersebut, terpantau ribuan orang, laki-laki, perempuan tua mau pun muda, dengan berpakaian serba hitam, datang untuk ikut mengenang kematian Husein. Tulisan “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala,” tampak di setiap sudut.

Panitia pun menetapkan standar keamanan tinggi untuk para peserta, siapapun yang datang, harus rela diperiksa tubuh dan barang bawaannya, serta melewati sebuah metal detektor.

Acara yang bertemakan “Derap Langkah Al Husain Wujudkan Keutuhan Bangsa,” itu, menurut wakil Kordinator acara, Hisam Sulaeman didatangi sekitar 7000 umat dari berbagai wilayah di Jabodetabek.

“Kita mengumpulkan ribuan umat, untuk merayakan Asyura,” katanya.

Acara tersebut juga diisi dengan donor darah, bazar, serta penggalangan dana Asyura dan sosialiasi Yayasan Dana Mustadhafin, Maqtal, pembacaan syair-syair Kesyahidan Al Husain, dan doa Ziarah,

Dalam acara tersebut, juga dihadiri sejumlah umat Syiah dari mancanegara, antara lain dari Singapura, Irak dan dari Pakistan.

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syurawanita Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Menuju Peradaban Syi’ah yang Lebih “Diberkahi”

Pelajaran “Hijrah Modern”

Menuju Peradaban Syi’ah yang Lebih “Diberkahi”

Selasa, 06 Desember 2011

oleh: Ustad Husain Ardilla

SEJAK awal perkembangan Islam, langkah fundamental yang diambil oleh Rasulullah Saw untuk membumikan nilai-nilai Islam, adalah mencari lingkungan yang steril dari kontaminasi dan dominasi hukmu al jahiliyyah (hukum jahiliyah), tabarruj Al Jahiliyyah (tatanan sosial yang mengabaikan moral), Zhan Al Jahiliyyah (gaya hidup yang menuhankan materi),hamiyyatul jahiliyyah (kultur jahiliyah) dalam segala dimensinya.

Membangun Islam dalam lingkungan yang tidak kondusif dengan begitu, laksana menanam benih di lahan yang gersang, kering kerontang. Tentu benih yang ditanam tidak akan tumbuh menjadi tanaman yang subur. Bahkan, kemungkinan besar akan layu. Hidup segan, mati tak mau. “Laa yamuutu wa laa yahyaa.”

Imam Ali ketika memimpin upacara pemberangkatan para dai ke berbagai belahan dunia: Fii ayyi ardhin taqo’ anta mas’ulun ‘an Islamiha (di bumi manapun anda berdiam, anda memiliki tugas untuk mengIslamkan penduduknya).

Selama 13 tahun Rasulullah Saw dan para sahabatnya berIslam di Makkah, terbukti hanya beberapa gelintir orang yang menyambut seruannya. Itupun, sebagian besar berasal dari kalangan grass root(mustadh’afin)..Karena lingkungan sosial Makkah didominasi kemusyrikan. Penyakit molimo (minum, mencuri, membunuh, main perempuan, berjudi, memakan riba) yang diderita masyarakat sudah pada stadium akut.

Rasulullah Saw bersabda : “Seseorang itu tergantung agama kekasihnya, maka lihatlah kepada siapa ia berteman.” (HR. Ahmad )

Dalam Hadits lain disebutkan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tua lah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu pentingnya sebuah lingkungan (al Biah), sehingga sastra arab mengatakan : “Nahnu ibnul biah.” (kita adalah produk sebuah lingkungan). Ada ungkapan lain yang senada: “Al Jaaru qabla ddar.” (mencari tetangga yang sepaham/sefikrah terlebih dahulu sebelum membangun rumah). Manusia itu diperbudak oleh kebiasaan dimana ia berdiam, kata sastra Arab. Seseorang yang akrab, dekat dan erat dengan penjual minyak wangi, akan terkena bau wangi, seseorang yang dekat dengan pandai besi, akan kecipratan bau besi. Seseorang yang dekat dengan orang-orang pilihan, ia akan terpengaruh oleh mereka.

Jadi, lingkungan yang Islami merupakan hidden curiculum yang akan merekonstruksi/menata ulang struktur kepribadian penghuninya menjadi Islami. Sebaliknya kawasan yang jahili akan membentuk pola pikir dan sikap mental jahiliyah penghuninya pula.

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah, seperti tamsil hujan lebat mengguyur bumi. Maka ada tanah yang bagus menerima air kemudian menumbuhkan tanaman hijau dan rumput yang banyak. Dan ada tanah keras yang bisa menahan air, kemudian Allah berikan manfaatnya bagi manusia, sehingga mereka bisa mengambil air minum, menyirami, dan bercocok tanam. Dan ada lagi hujan yang mengguyur bumi yang licin, tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah tamsil orang yang memahami agama Allah dan petunjuk yang aku diutus Allah dengannya memberi manfaat baginya, maka ia tahu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tamsil orang yang tidak peduli dengan agama Allah dan tidak menerima hidayah Allah dengannya aku diutus.”

(HR. Bukhari, Shahih Al Bukhari 1/28).

Ketika Rasulullah Saw dan para syi’ah Ali   merasakan bumi Makah terlalu sempit menampung idealisme tauhid, Beliau ekspansi dakwah dan mencari basis teritorial lain yang lebih menjanjikan. Sehingga beliau memilih tanah Thaif sebagai alternatif pertama, tetapi respon kaum Thaif tidak menyenangkan. Bahkan beliau dilempari dengan batu. Kemudian mengadakan hijrah ke Habasyah. Namun imigrasi yang kedua ini kurang lebih sama dengan tujuan hijrah pertama. Sekalipun Raja Habsyi cukup toleran, hanya ghulam (seorang pemuda) yang masuk Islam ketika tertarik melihat Rasulullah Saw makan dengan membaca doa.

Baru setelah hijrah ke Madinah terjadi perkembangan spektakuler baik dari segi kaulitas maupun kuantitas kaum Muslimin. Dalam waktu 10 tahun di Madinah, kaum muslim tercatat 10.000 orang. Peristiwa hijrah ini kemudian dijadikan sunni sebagai momentum penetapan tahun baru Islam. Sekalipun banyak peristiwa besar yang mendahuluinya, seperti pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abraha untuk menghancurkan Ka’bah dll. Dari sini titik tolak perubahan totalitas kaum muslimin pertama terjadi.

Pelajaran Fundamental Hijrah

Ada beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah ini, dikaitkan “hijrah” modern dengan visi membangunan peradaban Islam ke depan.

Pertama: Reformasi itu dimulai dari level kepemimpinan

Yang perlu diluruskan bahwa hijrah itu tidak identik dengan urbanisasi. Karena hijrah itu menuntut adanya perubahan secara radikal dan total. Dan setiap perubahan itu, berimplikasi sangat jauh. Perubahan itu memerlukan pengorbanan, maka terasa pahit. Apalagi jika seseorang itu telah membangun imperium, kedaulatan, status quo sudah sedemikian kokoh. Dipagari oleh kesetiaan dan hak-hak istimewa. Dalam kondisi demikian, perubahan itu biasanya ditafsirkan dengan instabilitas, anti kemapanan dll.

Dari berbagai teori perubahan, kejatuhan dan kebangunan negara dapat dipahami bahwa perubahan itu akan sukses jika di pelopori dari setiap individu, utamanya kalangan elitis sebuah komunitas. “Taghyiiru khuluqil ummah taabi’un litaghyiiri khuluqil qiyadah,” (perubahan sebuah bangsa berbanding lurus dengan kesiapan berubah di kalangan elit kepemimpinan), kata Ibnu Khaldun. Jika kita getol menyapu lantai rumah, sementara kotoran atapnya dibiarkan menempel, maka lantai akan kotor kembali.

Kedua: Komitmen terhadap regenerasi

Kepimpinan yang baik adalah mempersiapkan penggantinya. Penerus dan pewaris perjuangannya. Sebab usia seorang pemimpin umumnya lebih pendek dibandingkan dengan nilai immaterial, misi yang diperjuangkan. Bahkan ummat Muhammad hanya berumur berkisar 60 sampai 70 tahun (HR. Ahmad). Nilai-nilai moral yang tidak secepatnya diwariskan, maka negara, intitusi, akan kurang dinamis dalam merespon perubahan sekitarnya. Yang dimaksud kader disini adalah seseorang yang dididik, disiapkan, disetting, untuk melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam sebuah keluarga, partai, intitusi, lembaga, negara. Oleh karena itu sebelum Rasulullah Saw hijrah, telah mempersiapkan Ali untuk menggantikan tempat tidurnya. Dengan regenerasi maka kesinambungan amal dan transfer nilai akan berjalan dengan baik.

Ketiga: Memperkuat Sandaran Vertikal

Ketika rumah Rasulullah Saw sudah dikepung oleh para algojo dari berbagai kabilah Arab untuk menghabisi nyawanya, beliau tetap memiliki kestabilan jiwa. Hal ini merupakan salah satu buah ketargantungannya (ta’alluq) kepada Al Khaliq yang sudah terlatih selama 13 tahun di Makkah.

Setelah itu para algojo itu tidak bisa mendeteksi kepergian Rasulullah Saw. karena dibuat mengantuk oleh Allah. Setelah memasuki rumah beliau merasa terheran-heran, ternyata yang menempati tidur Rasulullah Saw adalah anak pamannya Abu Thalib, Ali kw. Betapa terkejutnya mereka. Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar yang lebih canggih kepada mereka.

Sebuah bangsa yang dibangun tanpa memperhatikan aspek moral, keterlibatan Tuhan maka ucapkanlah taziyah (ucapan terakhir untuk mayit) kepada bengsa itu. Negara yang dibangun dengan mengabaikan peranan Tuhan, laksana membangun istana pasir atau permukaan balon. Negara itu akan keropos, mudah rapuh oleh tangan jahil penghuninya atau oleh konspirasi eksternal.

Keempat: Membangun sinergi dengan pihak lain

Sesungguhnya eksistensi sebuah peradaban sangat didukung oleh ketrampilannya dalam membangun kerjasama dengan pihak lain. Untuk mendukung keberhasilan hijrah, Rasulullah Saw bekerjasama dengan penggembala kambing orang Nasrani (Abdullah) untuk menghilangkan jejak dan rute yang dilewati.

Sesungguhnya ajaran Islam menjunjung tinggi kerjama dalam kebaikan dan taqwa. Dan menolak sinergi dalam perbuatan dosa dan permusuhan.Ciri yang paling menonjol akhlaq Islam dengan agama lain adalah menjunjung tinggi kesepahaman dan tidak menghalalkan segala cara. Bertolak belakang dengan sistem politik Machiavelli. “Al ghoyatu tubarrirul wasaa-il” (segala cara ditempuh, demi mencapai tujuan). Maka ada sebuah pameo; “Tidak ada kawan abadi, yang kekal adalah kepentingan.”

Disamping konsep Islam teguh dalam persoalan prinsip, terbuka pula dalam menerima perubahan-perubahan yang bersifat tekhnikal. Rasulullah telah mengajarkan sikap keterbukaan dalam memandang perbedaan. Perbedaan pandangan adalah suatu fitrah. Bahkan dengan beragam perbedaan itu bisa mendewasakan seseorang. Yang penting, mensiasati dan mengelola perbedaan itu agar menjadi produktif. Islam mengajarkan sepakat dalam persoalan prinsip dan toleran dalam perbedaan yang bersifat non prinsip. Oleh karena itu, kita dituntut menyederhanakan perbedaan dan mengedepankan kesepahaman. Dengan kerjasama yang baik antara berbagai komponen komunitas (pemimpin (Rasulullah), generasi tua , kalangan pemuda (Ali krw) kesulitan dan tantangan seberat apapun akan mudah diatasi.

Kelima: Pemberdayaan perempuan

Sesungguhnya wanita adalah saudara laki-laki (syaqoiqur Rijal). Dalam Islam laki-laki dan wanita itu satu kesatuan. Bahkan wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Karena dari satu jiwa, maka laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan yang berprestasi akan mendapatkan balasan yang sama.Oleh karena itu Allah memberikan tugas dan kewajiban kepada makhluq-Nya sesuai dengan fungsi kodratinya.

Perempuan yang terdidik dengan baik, memiliki kualitas yang melebihi laki-laki. Asma’ binti Abu Bakar dalam usia belia berhasil mengomandani urusan logistik ketika hijrah. Sekalipun medan yang dilewati terjal, dan nyawanya terancam. Demikianlah perempuan yang berkualitas, mengungguli bidadari. Karena bidadari masuk surga karena takdir. Sedangkan wanita shalihah berhasil karena perjuangan. Ketika masuk surga, menghargai tempat yang dihuni.

Sebaliknya wanita yang dibiarkan bengkok, maka kejahatannya akan melebihi laki-laki. Masih ingatkah kita peristiwa pembedahan dada mayat Hamzah bin Abdul Mutholib, kemudian digigit hatinya. Itulah perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Hindun. Sehingga ketika telah masuh Islam, Rasulullah melihat wajahnya dengan cemberut. Terbayang dengan peristiwa yang memilukan/menyayat hati.

Wanita shalihah lebih baik dari bidadari. Karena wanita shalihah berhasil berkat perjuangannya (mujahadah). Ketika masuk surga, ia menghargai posisi yang ditempatinya. Sedangkan bidadari masuk surga secara cuma-cuma (majjanan). Ia tidak merasakan pentingnya tempat yang dihuni

Keenam: Membangun pola kepemimpinan Imamah

Berjamaah adalah media yang efektif dan efisien dalam memperkecil konflik. Mengesampingkan perbedaan dan menonjolkan persamaan. Berjamaah adalah fitrah manusia. Dengan berjamaah kita menyadari keterbatasan kita. Keberhasilan kita terwujud didukung oleh pengorbanan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kehadiran kita di bumi ini juga tidak bisa dilepaskan dari kerjasama kedua orang tua kita. Sesungguhnya kita berasal dari percikan-percikan air (qothorot) dan menjadi manusia (fashorot insanan).

Keberhasilan yang dinikmati sendirian, tidak terlalu membahagiakan. Kesusahan yang ditanggung secara kolektif, maka derita menjadi ringan untuk dipikul. Itulah pentingnya kebersamaan. Dan karena kelemahan kita, menuntut adanya kerja sama dengan pihak lain di luar kita. Bahkan menjaga keshalihan kita mustahil terwujud tanpa berjamaah.

Kebenaran tanpa aturan, terkadang dikalahkan oleh kebatilan yang teratur . Dunia ini dikuasai oleh negara Super Power. Namun, yang sedikit kita ketahui, dibalik kekuatan negara adi kuasa itu, terbukti ada kekuatan penekan (jama’atudh dhoghthi) yang diperankan oleh jaringan mafia kejahatan yang terorganisir dengan rapi. Dunia ini dikuasai oleh mafia. Wajar, jika kita menyaksikan media informasi di dunia ini tidak mendidik.

Demikian, beberapa pesan yang bisa dipetik dari hijrah. Yang jelas, “Al Hijratu maadhin ilaa yaumil qiayamah.” (hijrah tetap berlangsung sampai hari kiamat). Baik secara maknawi (hajara, meninggalkan segala bentuk maksiat), pula yang bersifat makani (haajara : meninggalkan lingkungan yang tidak Islami). Ketika Islam belum mendominasi kehidupan. Berbeda dengan haji, hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Sebaliknya, selama Islam belum tegak secara de jure dan de vacto, perintah hijrah bersifat wajib sampai hari kiamat sekalipun tidak memiliki apa-apa dan berangkat harus ditempuh dengan berjalan kaki, memakan urat pohon, tempat yang dituju tidak menjanjikan kehidupan dll, menurut jumhur ulama.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa (4) : 100).

Allah akan memberikan pertolongan kaum muhajir di tempat yang baru dengan berbagai fasilitas yang menggiurkan. Bakkah (lingkungan yang membuat orang menangis) yang semula ditempati Ibu Hajar dan Ismail, menjadi Makkah Al Mukarromah (tempat yang diberkahi dan dimuliakan). Tempat yang membuat daya tarik spiritual bagi yang pernah mengunjunginya. Gua dikelola oleh ashhabul kahfi menjadi pusat dakwah. Penjara dirubah oleh Yusuf menjadi sarana tarbiyah.

Jika di tempat pertama belum ditemukan janji Allah, maka carilah tempat yang lain. Karena di tempat yang baru ini Allah akan membuktikan jaminan-Nya. Bukankah bumi Allah itu luas?

Jika bahan pembuatan pabrik di perut bumi tertentu habis, carilah bumi yang lain. Insya Allah tempat yang baru akan ditemukan limpahan karunia-Nya.

ABUBAKAR DAN KETURUNANNYA MEMUSUHI KELUARGA NABI SAWW

sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yang memiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :

1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya.2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak.

3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

Muslim Syi’ah yang Benar, Tunduk pada Syariah!

 

Jum’at, 17 Februari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

ALLAH Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) menciptakan manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan sosial. Jadi gharizah tadayyun adalah permanen, kecenderungan kepada kekafiran adalah susulan.

Dalam sebuah hadits disampaikan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Batasan agama yang lurus menurut arahan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) di atas  menggunakan terma fitrah, sedangkan agama yang lain menggunakan istilah Yahudi, Nasrani dan Majusi. Maka, makna fitrah yang benar adalah Islam itu sendiri. Agama yang melekat dalam diri manusia sejak di alam rahim ibu. Sebelum menjadi janin, manusia sudah bersyahadat di hadapan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Ketika lahir diingatkan ulang kalimat tersebut di telinga kanan dengan suara adzan dan di telinga kiri dengan suara iqamat. Agar dalam kehidupan yang penuh ujian nanti, tidak sampai tergoda/tergelincir/terperosok ke dalam jurang kehancuran (darul bawar), dan meninggalkan Islam. Baik, diuji dengan jabatan, kekayaan dan ilmu.

Jadi, karunia yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah lazzatur ruh (keezatan spiritual), lazzatul Iman wal Islam (kenikmatan beriman dan berislam). Sekalipun kita menggenggam kekayaan dunia tujuh turunan, kekuasaan yang tanpa pensiun, ilmu yang tinggi (sundhul langit, Bhs Jawa), kehidupan yang memiliki pengaruh yang besar, popularitas, tetapi tidak ditemani oleh islam akan membuat kita kecewa seumur hidup. Sedangkan, sekalipun kita tinggal di gubug reot, di balik jeruji, di rumah kontrakan, kehidupan pas-pasan, jika islam bersama kita, justru disitulah rahasia kemuliaan, dan kebahagiaan kita.

Islam dan Dinullah

Nama Muslim bukanlah nama yang diberikan oleh orangtua kita, bukan pula warisan nama yang diberikan oleh nenek moyang kita, bukan pula nama yang dibuat oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Yang memberi nama seseorang sebagai muslim adalah Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Allah  memberi standar (ukuran), criteria (sifat) , status (posisi) orang tertentu yang memenuhi kelayakan sebagai muslim. Tentu, muslim di sini adalah muslim hakiki, lahir dan batin, hissiyyan wa ma’nawiyyan(penampakan lahiriyah dan batiniyah).

Jadi, muslim adalah sebuah nama yang agung, yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Mulia. Sejak sebelum Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) diutus di muka bumi ini.

Sesungguhnya inti dinul Islam adalah pandai bergaul (ad-Dinu huwal mua’amalah). Indikator kecintaan Allah  Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut dicintai orang-orang terdekatnya.

Dalam tata bahasa Arab, muslim adalah isim fa’il (pelaku) yang berasal dari kata – aslama-yuslimu-islaman – yang bermakna berserah diri. Dari akar kata aslama melahirkan kata turunan (derivat) – at-Taslim (berserah diri), as-Silmu (damai), salima minal mustaqdzirat (steril dari motivasi yang kotor), as Salamu(kesejahteraan), as-Salamah (keselamatan lingkungan).

Dari turunan terma Al-Islam telah tergambar sistem kehidupan secara utuh. Yaitu sistem aqidah dan ibadah, sistem sosial, sistem akhlak, sistem ekonomi, sistem penyelamatan lingkungan.

Jadi seorang muslim adalah orang yang telah menyerahkan jiwa dan raganya, pikiran, hati dan perilakunya untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Dan ia yakin dengan cara demikian ia akan merasakan kehidupan yang damai, bisa berbuat dengan tulus, makmur, sejahtera, bisa menyelamatkan lingkungan social dari berbagai bencana.

Seorang muslim menjalankan segala aspek kehidupannya dengan merujuk referensi Islam. Dalam skala kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bangsa. Sejak kelahirannya (fiqh aqiqah) hingga kematiannya (fiqh janazah). Menyangkut system ideologi, politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi, pertahanan kemanan dll.

Islam, Dinul Kaun

Sudah kita maklumi, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tunduk kepada suatu peraturan tertentu dan menginduk kepada undang-undang tertentu. Matahari, bulan dan bintang-bintang semuanya patuh kepada suatu peraturan yang permanen (tetap), tidak dapat bergeser atau menyeleweng darinya sedikitpun meskipun seujung rambut (hukum alam).

Bumi berputar mengelilingi sumbunya. Ia tidak dapat beranjak dari masa, gerak dan jalan yang telah ditetapkan baginya. Air, udara, cahaya dan panas semuanya tunduk kepada suatu sistem yang khas (unik). Benda-benda yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang tunduk kepada sesuatu ketentuan yang pasti, tidak lahir dan tidak mati kecuali menurut ketentuan itu.

Hingga manusia pun apabila kita perhatikan secara cermat keadaannya, niscaya ia tunduk kepada peraturan-peraturan (sunnah) Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dengan sepenuhnya. Ia tidak bernafas dan tidak merasai kebutuhannya akan air, makanan, cahaya panas, kecuali menurut undang-undang Allah yang mengatur kehidupannya, juga hati manusia dan gerakannya, peredaran darah nafasnya, keluar masuknya tunduk kepada undang-undang ini jua. Semua anggota badannya, seperti otak, perut besar, paru-paru, urat saraf, urat daging, dua tangan, dua kaki, lidah, dua mata, hidung, dan telinga semua berserah diri kepada-Nya.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar Ra’d (13) : 15).

Miniatur Madinah

Ketika din (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama “Madinah”. Jadi Din itu tidak bisa dipisahkan dari Daulah (susunan kekuasaan). Kekuasaan sebagai alat tetangga seagama dulu kemudian membangun rumah).

اَلْمَرء عَلَى ديْن خَليْله فَلْيَنْظُر الىَ مَنْ يُخاَللُ

“Seseorang itu tergantung pada din sahabatnya maka perhatikanlah kepada siapa ia menjalin teman akrab.”(HR. Ahmad).

مَثَلُ ماَبَعَثَنيَ اللهُ به منَ الْهُدَى وَالْعلْم كَمَثَل الْغيْث الْكَثيْر أَصاَبَ أَرْضاُ فَكَانَ منْهاَ نَقيةٌ قَبلَت الْماَءَ فأَنْبَتَتْ الْكلأ وَالْعُشْبَ الْكَثيْرَ وَكاَنَتْ منْهاَ أَجاَدبَ أَمْسَكَت الْماءَ فَنَفَعَ اللهُ بهاَ النَاسُ فَشَربُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا وَأَصَابَتْ منْهاَ طَائفَةٌ أُخْرَى انمَا هيَ قَيْعاَنٌ لاَ تَمْسكُ ماَءٌ وَلاَ تُنْبتُ كلَأً فَدلكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فيْ ديْن الله وَنَفَعَهُ ماَ بَعَثَنيَ اللهُ به فَعَلمَ وَعلمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بدلكَ رَأْساً وَ لًمْ يَقْبَلْ هُدَى الله الَديْ أُرْسلْتُ به

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah, seperti tamsil hujan lebat mengguyur bumi. Maka ada tanah yang bagus menerima air kemudian menumbuhkan tanaman hijau dan rumput yang banyak. Dan ada tanah keras yang bisa menahan air, kemudian Allah berikan manfaatnya bagi manusia, sehingga mereka bisa mengambil air minum, menyirami, dan bercocok tanam. Dan ada lagi hujan yang mengguyur bumi yang licin, tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah tamsil orang yang memahami agama Allah dan petunjuk yang aku diutus Allah dengannya memberi manfaat baginya, maka ia tahu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tamsil orang yang tidak peduli dengan agama Allah dan tidak menerima hidayah Allah dengannya aku diutus.” (HR. Bukhari, Shahih Al Bukhari 1/28).

Di tempat  bernama “Madinah” dihuni oleh orang-orang yang memiliki keterikatan yang kuat dengan nilai-nilai Dinul Islam. Yakni, Sumber Daya Insani yang mukmin (menomorsatukan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎), menjadikan al-Quran sebagai dustur (undang-undangnya), memiliki kebersihan hati, peka terhadap penderitaan orang lain, mengidolakan para nabi, syuhada, shiddiqun, sholihun, muttaqin, mujahid dan mushlih.

Dari komunitas tersebut, secara otomatis akan lahir kultur yang islamiyah (agamis), da-abus shalihin, berkarakter sesuai dengan aturan kalimatullah dan khalqullah, ‘ilmiyah (terdidik), ustadziyah ‘alamiyyah(kepeloporan internasional), tamaddun (maju dan bermartabat).

Dari akar kata Din dan Madinah ini, juga dibentuk akar kata baru “madana”, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memakmurkan, mensejahterahkan secara lahir dan batin, memurnikan dan memartabatkan.

Maka, seseorang yang memeluk Islam secara benar, ia pasti akan mensucikan, memartabatkan dan memakmurkan dirinya baik secara hissiy (material) dan ma’nawiy (immaterial).

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal (8) : 24).

Kalimat ‘yuhyiikum’ dalam ayat diatas maksudnya adalah ‘yuhyin-nufus’ (menghidupkan jiwa), yuhyil-qulub(menghidupkan hati), yauhyidh-dhamir (menghidupkan suara dhamir). Jadi, berislam adalah memberdayakan fitrah kita. Senang kepada makruf (kebaikan yang dikenali hati) dan membenci mungkar (keburukan yang diingkari hati). Mendorong pemeluknya untuk hidup maju secara lahir dan batin serta bermartabat. Inilah yang dimaksud nikmat berlimpah.

Sebaliknya, berpaling dari Islam akan mengantarkan kepada kerumitan hidup di dunia, dan siksa di akhirat lebih menyakitkan dan memberatkan.

“Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Ar-Ra’du (13) : 34).

“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra (17) : 20).

Dari akar kata madana lahir kata benda tamaddun yang secara literal (teks) berarti peradaban (civilization), berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city).

perkataan Tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat Islam. Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Adapun kata hadharah digunakan oleh orang Arab sekarang untuk makna peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima ummat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun.

Seorang muslim adalah orang yang berlepas diri dari kemusyrikan (selingkuh kepada-Nya) dan kekafiran (ingkar kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. At Taubah (9) :10- 11).

Ayat ini menegaskan bahwa muslim adalah orang yang telah mentauhidkan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dan tidak menyekutukan-Nya, selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, mendekati-Nya dan tidak menjauhi-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengingkari-Nya (mu’taqodat).

Maka, Muslim yang benar adalah ia anti kemusyrikan, kekafiran, anti hukmul jahiliyyah, dhannul jahiliyyah, syakwal jahiliyyah, hamiyyatul jahiliyyah, tabarrujul jahiliyyah, da’wal jahiliyyah dan memproklamirkan kalimat tauhid “ La Ilaha Illalla” dan pasti mendukung Syariat Allah Subhanahu Wata ‘ala.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) bersabda:

مَنْ قاَلَ لاَ الَهَ الا الله وَكَفَرَ بما يعبد من دون الله حَرَم اللهُ دَمُهُ وَماَلُهُ وَحساَبُهُ عَلَى الله

“Barangsiapa mengikrarkan laa ilaaha illallah dan dia mengingkari segala perhitungannya terserah Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎)تعالى‎).” (HR. Muslim).

Karenanya, jika ada orang Muslim menentang syariah –bahkan—memusuhinya, boleh jadi dia belum paham kemuslimannya dan tidak tahu konsekwensi syahadat yang telah dia katakan tiap saat ketika shalat.

Marilah kita habiskan umur kita agar syariat-Nya mendominasi kehidupan. Ini adalah amanah vertikal dan horisontal (tugas-tugas keagamaan), wazhifah diniyyah. Agar melahirkan kehidupan individu yang bahagia secara lahir dan batin (hayatan thayyiban), keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, dan qaryah mubarakah, ahlul qura (perkampungan yang diberkahi), baladan amina, ummul qura (negeri yang aman), global state, kumpulan berbagai Negara yang makmur, penuh ampunan Tuhan, ummul qura wa man haulaha (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur), dunia yang damai (rahmatan lil ’alamin).*

Disorientasi Kehidupan Sunni karena Miskin Tazkiyatu Nafs

 

Rabu, 25 Januari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

SUATU kali, pemimpin Singapura, Lee Kuan Yew, mengingatkan generasi mudanya; “Hidup bukan cuma untuk sepotong roti. Masih ada bianglala di langit Singapura. Keberhasilan pembangunan fisik bukan segala-galanya dalam hidup ini.”

Ungkapan arif demi melihat kembali keluhuran tujuan hidup bukan tanpa alasan. Sekarang kita melihat generasi muda bangsa di dunia rata-rata berfikir dan berorientasi jangka pendek (mata’).

Pertanyaan umum klasik para calon mahasiswa di Amerika dari dulu sampai sekarang berkisar tentang kebimbangan/ketidakpastian tujuan hidup. “Bagaimana saya harus memutuskan apa yang harus saya lakukan setelah saya dewasa?”

.
Tapi sayang, perguruan tinggi tak bisa menjawab kegelisahan batin remaja dunia seperti itu. Bentuk baru kemiskinan idealisme generasi muda zaman ini ketika setiap fakultas hanya melaksanakan mandat mengajarkan kepada anak-anak bangsa untuk menjadi “mesin pembuat uang”.

Di seberang lain, perguruan tinggi harus merespon permintaan pasar sehingga berurusan dengan tujuan karir dan penambahan income belaka.

Pada saat yang sama, para guru bangsa –mereka yang berada di koridor kekuasaan, kelas menengah bangsa– merasakan ketiadaan makna hidup semacam itu. Tidak sedikit yang bertanya sendiri dalam hati, hidup ini untuk apa, ketika sudah di puncak? Ketika semuanya sudah diperoleh dan sangat berlebih? Tetapi mengapa seperti terus saja terasa ada yang belum tuntas dan belum terjawab dengan tuntas ? Seperti ada yang belum terselesaikan? Pesona gemerlapan material, prestise, terbukti membuat pemburunya kecewa?

Kata orang, itulah salah satu fenomena “sakit jiwa” dalam kehidupan modern. Bentuk kekosongan spiritual insan berdasi karena tidak tepat memilih dan memutuskan tujuan hidup. Kecenderungan hidup untuk memiliki, bukan untuk menjadi bermakna dengan memberi. Kebanyakan mereka mempersepsikan, aktifitas memberi dan berkorban untuk sesama itu sebagai kehilangan, bukan mendapatkan.

Padahal, Islam, 13 abad telah mengingatkan banyak orang, sesungguhnya jika hidup hanya ditujukan mencari dunia, hanyalah fatamorgana dan tipuan belaka. Layaknya harta yang diberikan pada kaum kafir. Nampak ada, namun sesungguhnya tipuan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun.” (QS. An-Nur (24) : 39).

Karena pemuasan kebutuhan psikologis, membuat orang yang mempercayakan kebahagiaan hidupnya pada kebendaan berubah karakternya. Mereka cenderung agresif, kompetitif, dan antagonistis. Wajah sipil tapi bertabiat militer. Bangsa maju yang berkarakter primitif. Bangsa yang bugar secara phisik, tetapi terluka jiwanya. Indikasinya, ketakutan akan kehabisan alat pemuas sesaat yang dianggap dapat mengancam kehilangan makna hidup itu, sehingga orang tak henti menimbun dan menumpuk harta. Siklus hidupnya tak lain; berebut pengaruh, posisi, nasi dan kursi. Sekalipun harus menghalalkan segala cara. Persetan dengan aturan halal dan haram.

Dari kecil, anak-anak bangsa di dunia, diajarkan kecanduan pada bendawi. Mereka menambah deretan panjang barisan kelas konsumen dunia, bukan di mata Tuhan. Mereka dibiasakan terbius oleh pemenuhan sesaat. “Besuk besak jadi apa? Dokter, ya,” bagitu para guru dan orangtua mendikte.

Karenanya, anak-anak tak lagi diajarkan dari mana kita ini lahir dan hidup, untuk apa dan mau kemana kita semua hidup?

Alhasil, materialisme yang membuat nilai-nilai, ikatan dalam keluarga dan masyarakat makin longgar. Kita lebih suka berikirim SMS daripada datang langsung untuk bersalaman dengan sahabat, saudara bahkan tetangga sebelah rumah.Banyak waktu, tapi seolah sibuk dan kekurangan waktu. Kita terasing di tengah keramaian dan kerumunan manusia. Kita berdekatan dengan anak, istri, saudara dan handai tolan, tetapi sesungguhnya hati terasa jauh.

“Industri hati yang sepi,” itulah tema dunia yang kini banyak diminati masyarakat modern. Mereka merasakan kesepian dan kekosongan jiwa, kian terpojok pada rasa nihilistik.

Dalam sebuah media, dicerikan, bagaimana generasi muda Jepang sekarang membenci orangtua mereka sendiri yang pandangan hidupnya cuma untuk kerja dan kerja (karosi). Mereka mengucilkan orangtua yang telah membuat hidup keluarga mereka terlanjur tak bahagia. Orang sekarang mengisi kehidupannya di mall dan diskotik, tempat rekreasi, di ajang politik, free seks, narkoba, dan entah apa lagi. Tetapi sayang, mereka tidak menemukan yang dicarinya di sana. Karena kebahagiaan bukan berbentuk barang yang harus diburu di tempat tertentu. Apa yang diidamkan terwujud, hanya saja membuat pemiliknya justru kehilangan. Mirip dengan hati sanubari yang menyelimuti orang-orang kafir. Allah mengibaratkan padanya seperti gelap tapi masih diliputi awan berlapis-lapis. Itulah hati dan jiwa orang yang tak pernah merasakan “cahaya” iman.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

“Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur (24) : 40).”

Sebut saja Negara Amerika Serikat (AS), tercatat sudah menjadi mall terbesar di dunia. Lebih banyak mall dibangun di dunia dibanding dengan sekolah atau gereja. Lebih banyak alat elektronik canggih diciptakan. Semua untuk pemuas kehidupan manusia. Hanya saja, tidak bisa menolong orang dengan krisis spiritual dalam kehidupan yang glamor. Kelaparan orang modern berbentuk miskin orientasi dan sikap hidup.

Pendiri Sightline dan peneliti senior di Institut Worldwatch di Washington, DC, Alan Thein Durning pernah mengatakan, gaya hidup konsumerisme Barat tak membuat kebahagiaan orang meningkat. Peningkatan gizi, minim sekali sumbangannya bagi kebahagiaan orang seorang di Amerika Serikat, dari tahun 1957 sampai sekarang tetap saja sepertiganya. Padahal selama lebih dari tiga dasawarsa, pola hidup konsumerisme telah berlipat kali lebih besar.

Akibatnya, banyak anak di dunia harus menggendong cita-cita, ambisi, dan falsafah hidup yang keliru yang bukan miliknya sendiri. Mereka memikul ambisi orangtua, kemauan politik, dan kesalahan sistem pendidikan bangsanya. Mereka disetting agar siap sukses dan berprestasi di mata dunia (dalam ukuran-ukuran materi dan finansial). Mereka dipilihkan jalan hidup yang terbukti salah.

Kita, rupanya ikut terlanjur mengajarkan pada anak-anak untuk menjadi “nomor satu”, seperti dilazimkan dalam kredo bangsa Amerika. Semua anak digiring bercita-cita agar menjadi dokter, insinyur, atau apa saja karena profesi semacam itu dinilai orang potensial meraup uang. Karenanya, Mohammad Iqbal pernah mengatakan, ”Pendidikan modern tidak mengajarkan air mata pada mata, dan kekhusuan di hati”, serta karakter.”

Saatnya kita dan anak-anak kita memerlukan logoterapi, bentuk terapi agar hidup yang pecah menjadi utuh dan bernilai. Sekarang kita membutuhkan kembali ilmu kehidupan itu bagi semua anak bangsa agar tahu bahwa menemukan cara hidupnya yang indah sama baiknya dengan cara matinya yang mempesona. Kematian yang berkesan dihati banyak orang. “‘isy kariiman au mut syahiidan.” 

.
Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Iman Kuat, Dahsyatnya Syi’ah !

Kamis, 19 Januari 2012

oleh: Ustad Husain Ardilla

Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

“Taharrak fa-inna fil harakati barakah”(bergeraklah, karena setiap gerakan ada tambahan kebaikan). Kebaikan yang ditanam pasti akan kita panen kembali kepada diri kita masing-masing. Baik secara kontan (langsung) ataupun secara kredit (tidak langsung). Bukan dipanen orang lain. Justru, jika berhenti bergerak,  potensi yang dimilikinya tinggal sebuah potensi. Tidak tumbuh dan berkembang.  Ibarat air yang tidak mengalir, ia hanya akan menjadi sarang berbagai kuman yang mematikan.

Tapi dengan apa seseorang bisa terus aktif memancarkan energy positif berupa kebaikan? Jawabannya dengan iman. Sebab hanya dengan imanlah yang menjadikan seseorang terus aktif membendung/menghalangi  berbagai pengaruh negatif kejelekan, kefasikan, kezhaliman, kemungkaran. Karena, semua perbuatan dosa dan maksiat akan menghancurkan dirinya sendiri. Manusia yang bergelimang dalam perbuatan dosa, di dunianya tersiksa, sedangkan di akhirat siksanya lebih menyakitkan. Imanlah yang mencegah pemiliknya untuk menelola hawa nafsu (syahwat), nafsu perut dan nafsu kelamin. Karena kedua nafsu duniawi itu semakin dicicipi dengan cara yang salah bagaikan meminum air laut. Semakin di minum, bertambah haus.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus bergerak menyemai kebaikan-kebaikan di taman kehidupan ini tanpa kenal letih. Karena, ia yakin dalam setiap gerakan yang dimotivasi oleh nilai-nilai keimanan itu tersimpan potensi kebaikan-kebaikan melulu (barakah).

Iman, bagaikan air sumur zamzam. Sumber yang dipancarkannya tidak akan pernah kering dan habis sepanjang sejarah peradaban manusia. Iman itulah yang memotivasi pemiliknya untuk istiqomah (konsisten), mudawamah (berkesinambungan), istimroriyah (terus-menerus), tanpa mengenal lelah, dengan sabar, tegar, teguh, tekun, tawakkal, mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran tanpa tendensi apapun, pura-pura dan pamrih. Tidak mengharapakan pujian, ucapan terima kasih dan balasan serta tidak takut celaan orang yang mencela.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan;  “Tiga hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, yaitu penghidupan yang serba sulit, sulit menemukan jalan keluar dari himpitan persoalan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya kecuali dengan melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala

Iman adalah thumuhat (gelora), ghirah (kecemburuan), yang mencerdaskan akal pikiran kita, menguatkan tekat dan membersihkan hati kita, mempertajam emosi dan perasaan kita, mengasah kepekaan sosial kita, menggerakkan raga kita untuk berjihad mengharumkan nama-Nya. Bahkan, membangkitkan serta memberdayakan segala potensi kita menuju batas maksimal.

Imanlah yang secara radikal berhasil merubah manusia yang jahat menjadi baik. Dari makhluk yang paling buruk (syarrul bariyyah), menjadi makhluk yang paling mulia (khoirul bariyyah). Kemudian, kebaikan menjalar dalam kehidupan masyarakat, menjadilah umat yang terbaik (khoiru ummah). Masyarakat itu kemudian akrab, dekat dan erat diikat oleh nilai-nilai prinsip itu (keimanan dan ketakwaan kepada AllahSubhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Iman merubah yang kaya menjadi dermawan (suka memberi). Yang miskin menjadi pandai memelihara kehormatan dirinya dan sabar. Iman juga mampu merubah seseorang di level kepemimpinan (qiyadah) bisa berbuat adil, sedang pada level bawah (junud), melahirkan sikap sam’an wa tha’atan (saya mendengar dan saya mentaati). Dan yang pintar akan memiliki sifat takwa, sehingga tidak untuk memperdayai yang bodoh. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.

Dengan iman menjadi ilmu dan teknologi yang dimiliki mereka menjadi sarana untuk mempermudah dalam mengarungi kehidupan dan semakin bertaqwa kepada Allah, bukan malah menjadi ia tersesat jauh. Dengan iman pula, kesenian menjadi sumber inspirasi kebaikan. Iman, ibadah, akhlak mereka yang menghiasi panorama kehidupan ini. Itulah sepenggal firdaus di bumi,
Hanya iman yang bisa melahirkan ketegaran, keteguhan jiwa kepada pemiliknya, sekalipun berhadapan dengan kezaliman raja, bahkan melawannya.

Iman-lah yang menjadikan Nabiyullah Muhammad Saw bisa tertidur dengan pulas sekalipun nyawanya dalam keadaan terancam. Karena sandarannya yang demikian kuat kepada hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain.Bukan karena jabatan-jabatan, posisi, bukan pula uang, atau senjata.
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya : Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. 9 : 40).

Karena itu, apapun namanya di dunia ini, entah kedudukan, kekayaan, kepandaian, kecantikan yang tidak ditemani oleh iman ia hanya akan membuat pemburunya senantiasa kecewa. Ia disangka air yang bisa membasahi kerongkongan yang kering karena kehausan. Namun setelah didatanginya, sesungguhnya hanyalah berupa fatamorgana.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. ” (QS. 24 : 39).

Karenanya, orang-orang kafir  itu –karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wata’ala di akhirat– walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.

Kata Nabi, gerakan iman laksana taman yang menghiasi kehidupan. Di huni oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya. Para umara yang mengelola kekuasaanya dengan keadilan. Para pebisnis yang berniaga dengan kejujuran. Masyarakat bawah yang rajin beribadah. Dan para kaum profesional yang bekerja dengan taat aturan. Iman yang mengubah manusia fatalis, konsumtif, menjadi sosok yang produktif, kreatif, inovatif dan dinamis.

Mari kita rawat keimanan yang kita miliki selama agar tak terserang berbagai virus syahwat, syahwatul bathn(syahwat perut), syahwatul farj (syahwat kelamin), hubbud dunya (penyakit cinta dunia) dan syubhat dari dalam, tidak steril dari berbagai noda yang mengotori kejernihannya, sehingga tidak berdaya mencerdaskan pikiran kita, menguatkan tekad dan membersihkan hati kita, mempertajam emosi dan perasaan kita, mengasah kepekaan sosial kita, dan tidak bisa menggerakkan pisik kita untuk berjihad di jalan-Nya

.

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Sunni Berdosa dan menyesatkan umat karena tunduk dan patuh kepada pemimpin yang zalim

 Muawiyah bin Abu Sufyan menobatkan Yazid sebagai khalifah. Yazid banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin, di antaranya pembantaian terhadap  Imam Husain as, cucu Rasulullah, dan keluarga beliau di Padang Karbala, pembunuhan massal di Madinah, dan penyerangan ke Mekah serta perusakan terhadap Ka’bah
.
14 Rabiul Awal, Yazid Bin Muawiyah Meninggal

Yazid Bin Muawiyah Meninggal

Tanggal 14 Rabiul Awal tahun 64 Hijriah, Yazid bin Muawiyah, cucu dari Abu Sufyan, meninggal dunia. Yazid dinobatkan sebagai khalifah umat Islam oleh ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan.

Para sejarawan Islam mencatat, selama hampir empat tahun masa pemerintahannya, Yazid banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin, di antaranya pembantaian terhadap  Imam Husain as, cucu Rasulullah, dan keluarga beliau di Padang Karbala, pembunuhan massal di Madinah, dan penyerangan ke Mekah serta perusakan terhadap Ka’bah

.

Dr. Nurcholish Madjid juga mengatakan, “…Kezaliman dan penindasan terhadap pengikut Ali sudah muncul sejak rezim Bani Umayah di Damaskus. Tanpa alasan yang jelas, mereka menindas para keturunan Ali dan kelompok pengikutnya. Beberapa keturunan Ali lalu mencoba menentang kezaliman kaum Umawi ini. Kegigihan dan ketabahan mereka berjuang itu, ditopang oleh kepercayaan dan penantian yang mendalam kepada Imam Mahdi, sang juru selamat.”
.
Pandangan Yang Absurd
.
Bahkan secara fenomenologis, dapat dibuktikan bahwa keyakinan akan datangnya juru selamat, betapapun menyimpangnya ia, tidaklah khas milik masyarakat awam saja. Atau, bagi yang agak kagum pada Barat, ide messianisme temyata bukanlah khas masyarakat Timur yang dianggap agak kolot. Suburnya sekte sekte keagamaan yang memuja pemimpinnya sebagai orang suci dan juru selamat, bahkan mungkin lebih subur di Barat belakangan ini. Kalau dianggap bahwa ide tersebut muncul karena ketertindasan sosial politik, maka bagaimana itu akan dijelaskan dalam masyarakat Barat yang relatif makmur dan merdeka seperti itu
.
Memang, tidaklah dapat disangkal bahwa konsep seperti itu merupakan milik semua bangsa dan peradaban. Ia adalah sesuatu yang dapat dikatakan ada secara fitri dalam diri manusia. Ia dapat diiringkan dengan kecenderungan fitriah lainnya dalam diri manusia, seperti misalnya fitrah penyembahan. Yakni, kecenderungan dalam diri manusia untuk memuja dan menyembah sesuatu yang memiliki kekuatan dan kelebihan supranatural
Dalam semua “tingkatan peradaban”, bangsa bangsa melakukan penyembahan dan pemujaan kepada apa yang mereka sebut sebagai dewa, roh, atau Tuhan. Dalam masyarakat terpencil, di pedalaman Sungai Amazon di Amerika Latin, di tepi Sungai Nil di zaman peradaban Mesir Kuno, di ketinggian Pegunungan Himalaya, di tepi Sungai Kuning di Cina, atau di Pedalaman Pegunungan Jayawijaya di Irian sana, semua melakukan penyembahan, walaupun dengan perwujudan yang beragam dan berlainan: batu, pohon, api, nenek moyang, dan lain lain
.
Dalam masyarakat beradab sekalipun, kecenderungan seperti di atas ternyata tidaklah pupus. Dengan bentuk ekspresi yang.baru, kecenderungan seperti itu mengambil wataknya yang agak “intelek”. Dengan memanfaatkan kecanggihan dan perkembangan teknologi, mereka mengekspresikan hal yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan saudara-saudara mereka yang ada di pedalaman. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari kecenderungan aslinya
.
Begitu pula dengan kecenderungan “penantian” akan tegaknya keadilan dan perdamaian di dunia ini. Ia adalah sesuatu yang bisa dianggap fitrah dalam diri manusia. Walaupun bentuk ekspresinya terkadang terasa ganjil, sebagaimana penyembahan yang terkadang menyembah sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal, namun ia ada dan menjadi kecenderungan dalam diri manusia. Bagaimanapun orang menyangkalnya, keyakinan seperti itu tetap hidup dan bertahan, hingga hari ini
.
Pandangan Islam
Gagasan tentang akan berlakunya kemenangan akhir bagi kebenaran, perdamaian, dan keadilan atas kekuatan jahat, penindasan dan kezaliman, juga gagasan tentang akan menyebamya Islam di seluruh dunia, tegaknya nilai nilai kemanusiaan yang tinggi dan mulia, pembentukan masyarakat ideal dan idaman, dan kepercayaan akan kemampuan untuk menegakkan semua ideal di tangan orang suci yang dalam hadis hadis disebut sebagai al Mahdi diyakini oleh semua mazhab dalam Islam dan oleh berbagai aliran pemikiran
.
Sebenamya gagasan itu merupakan konsep al Quran sendiri. Al Quran dengan tegas dan jelas meramalkan kemenangan Islam atas kelompok penindas dan jahat tersebut, dan menyatakan bahwa kelompok yang zalim tersebut akan mengalami kekalahan/keruntuhan. Dengan kata lain, al Quran menjanjikan suatu masa depan yang gemilang bagi umat manusia
.
Atas dasar itu, maka kita mengerti bahwa sesungguhnya gagasan tersebut bukan merupakan khayalan dan angan angan kosong tanpa dasar, melainkan merupakan suatu gagasan yang berdasar atas suatu sistem kerja yang menyeluruh, evolusi sejarah, kepercayaan terhadap masa depan manusia, berlawanan dengan teori teori tertentu yang banyak berkembang saat ini, yang menyatakan pesimis terhadap masa depan manusia.(Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari)
.
Begitulah, penantian terhadap hadirnya aI Mahdi sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia seseorang. Seseorang yang memandang masa depan umat manusia dengan pandangan optimis¬tis, pastilah meyakini kemenangan ke¬benaran atas kebatilan. Seorang yang beri¬man atas keyakinan tertentu pun, bahkan kalaulah salah keyakinannya itu, tidaklah dapat menerima kalau dikatakan bahwa keyakinannya itu pasti akan hancur dan di-kalahkan, dan tidak akan mampu menjawab tantangan zaman dan waktu
.
Memang, haruslah diakui bahwa di antara yang mempercayai keharusan kemenangan kebenaran dan hadimya juru selamat, terdapat perbedaan pandangan yang dapat sangat bertentangan sekali. Bukan tidak mungkin bahwa penantian agung semacam itu justru menghasilkan sikap yang sebaliknya: fatalisme! Mereka memandang bahwa karena kehadiran “Sang Juru Selamat” tersebut justru untuk menyelamatkan manusia dari penindasan, maka masyarakat tidak perlu melakukan apa apa dan cukup menunggu saja
.
Bahkan, yang lebih ekstrim, memandang bahwa penegakan keadilan yang lebih dini, sebelum kemunculan al Mahdi, justru akan memperlambat kehadirannya. Jenis penantian seperti ini, meminjam istilah Ayatullah Syahid Muthahhari, adalah penantian yang keliru dan merusak
.
Semua ayat al Quran dan Hadis yang membentuk konsep dasar tentang al-¬Mahdi, sangat bertentangan dengan pemikiran yang merusak di atas. Keterangan tentang munculnya al Mahdi yang dapat dipahami dari al Quran adalah suatu mata rantai dari rangkaian perjuangan antara orang yang baik dengan orang orang jahat
.
Dan al Mahdi merupakan simbol kemenangan akhir bagi orang yang baik dan beriman, sebagaimana digambarkan Allah (QS 24: 55):
Dan Allah telah berjanji kepada or¬ang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal amal saleh bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka yang telah diridhai Nya untuk mereka, dan Dia benar benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”
.
Munculnya al Mahdi merupakan karunia Allah bagi kaum tertindas dan lemah, juga merupakan sarana bagi kekuasaan mereka serta mendapatkan pemerintahan yang dijanjikan Allah, di seluruh dunia. Al-Quran menegaskan:
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka sebagai orang orang yang mewarisi bumi.”(QS 24: 5)
 .
Akhirnya, kemunculan al Mahdi berarti realisasi janji Allah bagi orang orang yang saleh, seperti yang dijelaskan dalam al Quran: Dan sesungguhnya Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba ¬hamba Ku yang saleh.” (QS 21: 105)
.
Secara alami, semua keberadaan di alam semesta ini bergerak menuju kesempurnaannya masing-masing. Benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, beragam binatang, dan manusia, secara alami dan sesuai dengan kapasitas keberadaannya, bergerak menuju kesempurnaan penciptaan.
.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Qamar: 49)
.
Manusia berbeda dengan ciptaan lainnya yang bergerak menuju titik kesempurnaanya secara alami. Makhluk-makhluk lainnya tidak memiliki ikhtiar (pilihan) dalam menempuh proses perubahan menuju kesempurnaan. Dikarenakan manusia memiliki ikhtiar, maka manusia mampu memilih tujuan hidupnya yang dianggap sebagai kesempurnaan.
.
Meskipun manusia memiliki keberagaman secara fisik, pengetahuan, genetika, dan lain sebagainya, namun seluruh manusia memiliki kecenderungan yang sama, yaitu cinta pada kesempurnaan. Terdapat banyak pandangan tentang arti kesempurnaan. Ada menganggap kesempurnaan terletak pada harta, wanita, kedudukan, kekuatan spiritual, dan lain sebagainya. Setiap manusia terdorong untuk meraih apa yang diyakininya sebagai kesempurnaan.
.
Secara umum, manusia berupaya mengejar kesempurnaan dengan salah satu di antara dua cara, yaitu: pertama, cara berdasarkan tuntunan agama. Dan kedua, cara di luar tuntunan agama.
.
Kebutuhan manusia terhadap agama merupakan keniscayaan demi meraih kesempurnaan hidup. Terdapat beragam agama di dunia ini, baik agama langit atau pun agama bumi. Dari sekian banyak agama, al-Quran menjelaskan bahwa agama yang diterima di sisi Allah Swt hanyalah Islam. Yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
.
Islam merupakan agama yang menghidupkan hati manusia dan masyarakat. Dalam sebuah ayat al-Quran, Allah Swt berfirman:Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, tatkala dia mengajak kalian kepada suatu ajaran yang mampu menghidupkan kalian.
.
Ayat ini menegaskan bahwa Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw merupakan agama yang mampu menghidupkan hati manusia dan masyarakat. Mengapa al-Quran menyebut Islam sebagai agama yang memberikan kehidupan? Bagaimana cara agama suci ini menghidupkan hati dan masyarakat manusia? Apa sebenarnya hakikat agama Islam?
.
Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah an-nashihah. Yaitu an-nashihah terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab suci-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin.”
.
An-nasihah dalam hadis ini tidak berarti saran dan wejangan. Jelas pengertian ini tidak tepat dalam konteks hadis tersebut di atas. An-Nasihah artinya keselarasan antara bentuk lahir dan batin. Al-Quran menyebut taubat yang jujur dengan taubah an-nashuha. Yaitu taubat yang selaras antara dimensi lahir perbuatan dan dimensi batin manusia
.Pengertian an-nasihah terhadap Allah Swt adalah perbuatan manusia selaras dengan perintah Ilahi. Kesempurnaan iman kepada Allah Swt harus dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan hanya pada perintah dan larangan-Nya. Antara iman dan perbuatan manusia harus sesuai dan tidak bertentangan. Allah Swt membenci orang yang mengaku beriman, namun tidak jujur dalam perbuatan. Al-Quran mencela orang seperti itu dalam ayat yang berbunyi:Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian kerjakan? Sungguh hal yang demikian itu amat besar kebenciannya di sisi Allah, yaitu kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan.
.
An-Nashihah terhadap Rasulullah saw adalah tidak menentang apa yang beliau ajarkan. Berbeda dengan orang-orang munafik, mereka selalu membangkang dan melanggar perintah Rasulullah saw.
.
Adapun yang dimaksud dengan an-nashihah terhadap al-Quran adalah menjadikan al-Quran benar-benar sebagai pedoman hidup yang mengatur tatanan masyarakat. Keselaran dengan al-Quran menjadikan pemikiran dan perbuatan manusia sejalan dengan ajaran al-Quran
.Selanjutnya, pengertian an-nashihah terhadap para pemimpin kaum muslimin adalah kesetiaan dan kepatuhan terhadap para imam yang telah ditunjuk dan ditetapkan oleh Allah Swt melalui lisan suci Rasul-Nya
.
Dan yang terakhir, makna an-nashihah terhadap kaum muslimini adalah menjalin kasih sayang, kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan di antara mereka
.Atas dasar itu, agama yang hidup adalah kepatuhan pada perintah Allah Swt, tidak menentang ajaran Rasulullah saw, menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup dan aturan di tengah masyarakat, kesetiaan kepada para pemimpin pilihan Ilahi, dan membangun persatuan di tubuh kaum muslimin
.
Agama seperti inilah yang mampu menghidupkan hati dan masyarakat manusia. Agama yang sempurna adalah ajaran yang mampu mengantarkan manusia dan masyarakat menuju puncak kesempurnaannya
.
Sebelum datangnya agama Islam, masyarakat jahiliyah hidup dalam kegelapan kemusyrikan dan kekafiran. Yaitu gambaran masyarakat mati yang di dalamnya penindasan dan pengerusakan merajalela. Rasulullah saw datang membawa cahaya Ilahi yang mengentaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya terang; dari kebodohan menuju pengetahuan; dan dari batas-batas kebinatangan menuju batas-batas kemanusiaan
.
Seperti itulah Rasulullah saw dan Islam menghidupkan masyarakat manusia. Namun Ironisnya, mengapa negeri yang mayoritas beragama Islam tidak nampak sebagai masyarakat yang hidup? Malah di dalamnya penindasan, pengerusakan, perampasan hak-hak kaum lemah, dan beragam kejahatan lainnya, justru menghantui masyarakat. Manakah agama menghidupkan yang dibawa Rasulullah saw itu? Ataukah masyarakat manusia sendiri yang enggan mereguk kehidupan dari ajaran suci Rasulullah saw?

Syi’ah hasilkan Ilmuwan Islam kaffah, bukan ilmuwan sekuler

Selasa, 21 Februari 2012

Oleh Ustad Husain Ardilla

“Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.” … saatnya… bring come back alive

.

DI ZAMAN Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para pemuda mampu memegang posisi strategis untuk penguatan dan kemajuan dakwah Islam. Termasuk Mush’ab bin Umair yang mampu merangkul pendudk Yatsrib untuk menerima Islam beberapa tahun sebelum masa hijrah

.

SEBAGIAN orang berpendapat, sain dan teknologi (saintek) bebas nilai sehingga dapat diambil dari mana saja. Sementara sebagian lain berpendapat sebaliknya. Bahwa,  saintek harus difilter dan “diislamkan” lebih dulu.

Pada umumnya,  mereka yang menganggap saintek bebas nilai, memberi contoh bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh para Sahabat belajar sampai ke China –yang tentunya bukan belajar ilmu agama tetapi saintek– sehingga mereka dapat menguasai matematika, pembuatan kertas hingga cara membuat mesiu.  Saintek ini kemudian juga dikembangkan lebih lanjut secara kreatif oleh para ilmuwan Muslim.
Sedang yang menganggap saintek tidak bebas nilai seperti teori evolusi Darwin, determinisme Newton yang menolak peran Tuhan dalam mekanisme alam hingga penggunaan senjata pemusnah massal.  Lahirnya teori-teori ekonomi komunis maupun neoliberal pun dianggap bukti bahwa saintek tidak bebas nilai.

Asumsinya, mahzhab saintek yang bersandar pada sesuatu di luar Islam terbukti bermasalah, dan ilmuwan yang menekuninya lebih sering dihitung sebagai ilmuwan sekuler, yakni ilmuwan yang memandang bahwa agama tidak perlu dilibatkan dalam pengaturan urusan kehidupan publik.

Faktanya, dua kelompok tadi memang ada.  Di mana kekeliruan menaruh suatu objek saintek pada suatu kelompok yang akhirnya berujung pada kefatalan.

Untuk melakukan komparasi mazhab ristek tersebut memang perlu diperjelas parameter yang dibandingkan.  Salah satu parameter yang paling menyeluruh adalah telaah menurut tiga aspek filsafat ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi.  Ontologi membahas hal-hal yang terkait mengapa suatu penelitian atas objek tertentu perlu dilakukan.  Epistemologi membahas tentang tata cara suatu penelitian harus dilakukan. Sedang aksiologi membahas sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan.

Ilmuwan Muslim

Ilmuwan Muslim seharusnya akan berontologi dengan (1) kebutuhan yang merupakan hajatul udhowiyah(kewajiban syar’iyyah), tetapi dapat juga (2) terinspirasi suatu ayat Qur`an yang bermuatan pertanyaan yang dapat dikaji lanjut secara ilmiah, atau (3) termotivasi oleh suatu ayat Qur`an yang memberikan tantangan, yang mau tak mau berarti pengembangan saintek terkait.

Seorang ilmuwan Muslim akan tergelitik untuk meneliti sehingga seluruh kebutuhan yang termasuk hajatul udhowiyah (kebutuhan asasi seperti sandang-pangan-papan) dapat dipenuhi dengan baik.  Selain itu, juga agar seluruh kewajiban syar’iyyah dapat terlaksana.  Konon, Imam Al-Khawarizmi mengembangkan aljabar karena ingin membantu membagi waris dengan akurat.

Kedua, ada ratusan ayat Qur’an yang seharusnya memberi inspirasi riset saintek pada ilmuwan Muslim. Bahkan ayat tentang surga saja masih dapat memberikan inspirasi riset, misalnya:

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

“Di surga itu mereka diberi segelas minum yang campurannya adalah jahe.” (Al-Insan [76]: 17).

Seorang ilmuwan Muslim pantas tergelitik untuk meneliti jahe, ada apa di dalam jahe sehingga disebut sebagai campuran minuman ahli surga?

Ketiga, seorang Muslim –apalagi ilmuwan– akan merasa tertantang oleh ayat-ayat Qur’an seperti ini:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. …” (Ali Imran [3]: 110).

Dua ayat di atas mendorong kaum Muslim untuk menjadi yang terbaik, yakni yang mampu menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar di dunia, sedang untuk itu diperlukan kekuatan apa saja.

Kemudian secara epistemologi, ilmuwan Muslim akan melakukannya dengan cara-cara yang dibatasi syariat: (1) tidak menolak suatu pernyataan yang harus diimani secara aqidah (yang tentu saja memerlukan dalil qath’i), dan (2) berjalan sesuai koridor perintah dan larangan.

Seorang ilmuwan Muslim juga tak akan membiarkan suatu maksiat terjadi sekalipun demi kemajuan ilmu pengetahuan.  Oleh karena itu, percobaan cloning pada manusia harus dilarang, karena bila berhasil berkonsekuensi melahirkan manusia tanpa nasab (yang akan menimbulkan berbagai masalah syara’).

Sedang secara aksiologi, produk saintek ilmuwan Muslim seharusnya dikembangkan atau didesain untuk kemanfaatan sebesar-sebesarnya sesuai syariat, bukan sebaliknya.
Contoh; matematikawan Muslim yang mempelajari teori permutasi ataupun neuronal network untuk melakukan prediksi kejadian, tak akan menggunakan ilmu itu (haram hukumnya) untuk memenangkan perjudian.

Ilmuwan Sekuler

Pendidikan merupakan infestasi yang paling berharga. Dengan pendidikan yang terrencana serta tersusun dengan baik maka akan menghasilkan output yang baik pula. Titik kritisi pada transformasi pendidikan di era modernisasi ” Penerapan nilai-nilai pendidikan di tanah air lebih cenderung membentuk alur berpikir, akan tetapi dalam penerapan pada aspek aktifitas jauh dari nilai-nilai keilmuan yang seharusnya (tataran implementasi)

.

Siswa hanya tahu tentang teori ilmu, tetapi dalam penerapannya jauh dari yang di harapkan. Alhasil, muncullah saat ini para pemimpin yang berilmu akan tetapi tidak mengaktualisasikan dan memberi kemanfaatan atas ilmunya tersebut. Maka, banyak saat ini kasus-kasus korupsi, bahkan penyalagunaan amanah sebagai terobosan dalam mencari kesenangan dunia yang sementara. Komentator : Kata kunci utama dari tulisan ilmiah ini yakni. Pentingnya pendidikan Islam pada anak-anak usia dini maupun dewasa, agar moralitas dan akhlah dapat terbentuk dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena pada hakekatnya ilmu merupakan infestasi yang paling berharga di duni dan akhirat

.

Berbeda dengan kalangan ilmuwan sekuler. Ilmuwan sekuler akan berontologi pada kepuasan batin peneliti dan/atau untuk kebutuhan dalam masyarakat kapitalis (industri).  Mereka hanya tertarik meneliti apa saja yang memberikan kepuasan batin, memenuhi selera konsumsi, meski sudah jelas melanggar hukum Allah. Karenanya, tak sedikit usaha yang dikeluarkan untuk suatu riset yang tidak menjawab masalah apa-apa kecuali kepuasan peneliti. Riset bahkan memperbudak manusia pada teknologi, atau  “menjajah” suatu masyarakat pada pihak yang menguasai teknologi.

Sekadar contoh.  Banyak penelitian terdepan di bidang matematika, kosmologi, palaeobiologi atau juga ilmu-ilmu sosial yang sudah kabur hubungannya dengan realitas kehidupan saat ini.  Setidaknya, para ilmuwan yang menggelutinya kesulitan menjelaskan kepada orang awam akan manfaat risetnya itu selain memenuhi rasa ingin tahu.
Tidak sedikit riset-riset yang dibiayai korporasi besar terus ingin mendapatkan saintek yang makin efisien untuk menghasilkan keuntungan besar.  Hasilnya mesin-mesin raksasa yang makin efisien untuk mengeruk sumberdaya alam tapi merugikan rakyat kecil dan melahirkan dampak lingkungan.

Secara epistemologi, ilmuwan sekuler pada dasarnya ingin bebas dan tidak ingin diatur, sekalipun oleh hukum.

Contoh nyata; di masa NAZI dulu, Hitler memerintahkan melakukan riset antropologi terapan untuk mengenali secara cepat etnis non-Arian murni pada masyarakat Jerman.  Riset ini bertujuan mengidentifikasi “bibit musuh dalam selimut” dalam masyarakat Jerman.  Riset dilakukan dengan melakukan pengukuran biometris secara paksa pada orang-orang yang dijadikan sampelnya.  Terkadang riset ini dibumbui dengan penyiksaan, perlukaan hingga pembunuhan atas nama kemajuan ilmu pengetahuan.
Sedang secara aksiologinya, ilmuwan sekuler  ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.

Di dunia Barat, semua penemuan saintek boleh dipakai – sepanjang selaras dengan hukum yang berlaku (tentunya hukum sekuler yang menolak agama dalam pengaturan urusan publik).  Wajar jika  hasil saintek hanya untuk optimalisasi maksiat seperti: perjudian, pelayanan seks komersial, pembuatan khamr).  Di Technical Univesity Munich Jerman bahkan ada program studi teknologi pembuatan bir.

Walhasil, banyak perbedaan antara saintek yang dikembangkan dalam sistem Islam dan sekuler.  Masalahnya, bagaimana kesediaan ilmuwan Muslim mengambil sikap dalam masalah ini?.   Bagaimanapun, ilmu pengetahuan yang kita miliki kelak akan dipertanggungjawabkan di padang mahsyar. Karena itu, tidak ada salahnya sejak dini kita kembangkan untuk kemaslahatan dan kebaikan banyak orang seperti yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Solusi Problem Pemuda versi syi’ah

Pendidikan Islam sudah seharusnya menemukan jati dirinya. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.

Apa yang ada pada mayoritas pemuda hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Islam dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

Tantangan Aktual Ahlusunnah Wal Jama’ah

Jum’at, 17 Februari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

Solusi Problem Pemuda versi syi’ah 

Pendidikan Sunni sudah seharusnya menemukan jati dirinya tanpa menyesat nyesatkan syi’ah. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda sunni hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.

Apa yang ada pada mayoritas pemuda sunni hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Sunni dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

DALAM tinjauan teologis dan historis-sosiologis, istilah Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah pengikut sunnah dan lawan dari sifat bid’ah pemikiran. Dalam sejarahnya, Aswaja sering diasosiasikan pengikut para imam-imam sunni yang merupakan antitesa dari paham muktazilah, syiah, khawarij, murjiah, musyabbihah dan jabariyah. Lebih spesifik lagi, Imam As-Safariniy Al-Hanbali (1114-1188 H) dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Syarh Ad-Durrat Al-Mudhiyyah fi ‘Aqd Al-Firqoh Al-Mardhiyyah (vol.1/73) menegaskan bahwa Ahlusunnah wal Jama’ah terdiri dari 3 golongan besar yaitu, Asy’ariyah (pengikut Imam Abul Hasan Asy’ari), Maturidiyah (pengikut Imam Abu Manshur Maturidi) dan Ahlul Hadis/Atsar (pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal)

.

Perkembangan kondisi kekinian umat mengharuskan terciptanya persaudaraan, kesepahaman (tafahum), saling menyayangi dan merangkul (tarahum), sehingga melahirkan kerjasama dan sinergitas (ta’awun wa takamul). Sikap-sikap positif itu mutlak harus diwujudkan oleh semua pihak yang mengaku dirinya Ahlusunnah wal Jama’ah, apalagi di tengah tantangan dakwah Islam yang semakin berat dewasa ini

“Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.” … saatnya… bring come back alive

.

Tantangan Ukhuwah Aswaja

Berikut ini, beberapa tantangan ukhuwah di kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Pertama, Sikap saling menafikan. Di muka, saya telah mengutip pandangan tokoh terkemuka Sunni Imam As-Safariniy tentang 3 kelompok Aswaja, yang disepakati oleh seluruh ulama Sunni. Namun dalam sejarah, tak jarang terjadi polemik dan sikap saling menafikan antar kelompok Ahlusunnah, terutama antara Asy’ariyah dan Maturidiyah di satu sisi dan Ahlul Hadis di sisi lain. Tantangan ini tidak bisa dipandang remeh.

Sebagian ulama Asy’ariah misalnya menafikan Ahlul Hadis, terutama dalam hal tanzih sifat Allah, bahwa mereka (Ahlul Hadis) terkena sindrom tajsim dan tasybih antara Allah dan makhluk-Nya. Seperti yang sering dituduhkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taymiah (661-728 H, 1263-1328 M). Sebaliknya sebagian ulama Ahlul Hadis menafikan Asy’ariah dan Maturidiyah dan menuduh mereka terkena sindrom jahamiyah dan muktazilah dalam soal takwil sifat-sifat Allah. Wahabi yang didukung kekuatan asing memanfaatkan hal ini untuk memecah umat

Kedua, Kurangnya sikap penghargaan terhadap tokoh panutan mazhab masing-masing. Sikap kritis ilmiah terhadap madrasah Sunni lainnya sah saja, -bukan hal yang tabu- namun harus diiringi sikap yang berimbang dan tetap saling menghargai.

Ketiga, Kecurigaan terhadap perkembangan gerakan keagamaan baru; label “ideologi transnasional” disematkan kepada mereka dan dianggap paham yang bertentangan dengan Aswaja. Gerakan seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tablig sering diasosiasikan ke dalam kecurigaan itu. Padahal kalau mau jujur, aliran wahabi nashibi lebih tepat dilabeli “transnasional” yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa yang mayoritas muslim Sunni dan sudah mengakar di Indonesia. Hal ini akibat kurangnya informasi tentang perkembangan ideologi Sunni yang bertransformasi menjadi gerakan politik disamping ormas keagamaan murni.

Di Timur Tengah, kelompok Sunni yang berupaya menyatukan gerakan keagamaan dan politik sudah jamak terjadi akibat dipicu oleh keinginan lepas dari imperialisme Barat. Ada yang sifatnya lokal seperti gerakan Sanusiyah dan Mahdiyah sebagai penggerak kemerdekaan jajahan asing di Afrika Utara. Dan ada juga yang jangkauannya internasional seperti gerakan Pan-Islam besutan Rasyid Ridha –yang diilhami Urwatul Wutsqa dan Al-Manar, dan merembet pengaruhnya ke seluruh dunia Islam termasuk Indonesia dengan munculnya gerakan pembaharuan di Minang (Haji Rasul) dan Jawa (Muhammadiyah)-, lalu dilanjutkan oleh Ikhwanul Muslimin oleh Hasan Al-Banna dan Hizbut Tahrir oleh Taqiudin Nabhani.

Di sisi lain kelahiran Jam’iyah NU juga terinspirasi dari gerakan ulama Sunni-Syafi’i-Asy’ari transnasional di Haramain yang menolak penyeragaman mazhab yang dilakukan oleh Raja Al-Saud di Arab Saudi. Jadi kalau sekarang muncul kegaduhan labelisasi gerakan transnasional, maka ormas-ormas Islam yang berdiri di awal abad-20 pun –sedikit banyak- terpengaruh ‘ide keislaman transnasional’. Hemat saya, kelompok-kelompok Sunni di Indonesia jangan terjebak dengan istilah yang rancu itu.

Saya optimis, kecurigaan dan prasangka buruk itu bisa dieliminir jika terjalin silaturahim yang efektif dan berksesinambungan, tanpa harus terjadi klaim kebenaran sepihak dan rebutan ‘lahan’ dakwah, yang bisa memicu konflik dan mengundang pihak di luar Ahlusunnah dan musuh Islam untuk mengail di air keruh.

Apalagi umat Islam Indonesia yang Sunni saat ini berhadap-hadapan dengan berbagai tantangan berat dalam dakwah Islam. Mulai dari maraknya gerakan anti-syariat (sekularisme), liberalisasi Islam, dan pluralisme agama. Hingga tantangan gerakan aliran-aliran menyimpang seperti Ahmadiyah dan wahabi nashibi, gerakan pemurtadan, dan budaya permisif-hedonis dan free sex yang dilancarkan dengan massif untuk menjauhkan umat Islam dari moral dan norma agama.

Epilog

Peta tantangan internal dan eksternal itu dapat berpotensi mengancam dan menggerogoti akidah Islam –Ahlusunnah wal Jamaah-. Alangkah baiknya para tokoh dan pemimpin Sunni duduk bersama dan menyatukan barisan.

Aktualisasi dan dinamisasi gerakan Aswaja di Indonesia amat diperlukan, khususnya upaya membangun ukhuwah hakiki dan sinergitas, tidak memperbesar perbedaan penafsiran cabang-cabang akidah dan fiqih, serta kerjasama yang intens dan memupuk kepercayaan dengan seluruh elemen Aswaja, tanpa harus kehilangan jatidiri masing-masing.

Di sinilah pentingnya memahami etika perbedaan (Fiqhul Ikhtilaf) dan toleransi (tasamuh), serta perlunya sinkronisasi dan kordinasi gerakan dakwah (Taswiyatul Manhaj-Tansiqul Harakah) Ahlusunnah wal Jama’ah. Dengan demikian kita dapat menyatukan langkah untuk mulai menyusun proyek peradaban Syiah-Sunni yang komprehensif untuk pembangunan Indonesia dan dunia Islam umumnya agar dihormati dalam kancah pergaulan antar bangsa.

Wallahu A’lam.* 

Virus K-Pop dan Kelemahan Ulama Sunni

Virus K-Pop dan Dekonstruksi Aqidah

.

Ulama Sunni indonesia begitu lemah… Syi’ah ingin memperbaikinya

.

HADIRNYA artis Korea (K-POP) dalam blantika hiburan, rupanya benar-benar telah membius dan menghipnotis sebagaian besar masyarakat Indonesia, terutama para remaja. Mulai dari sinetron, lagu, bahkan pakian dengan aksisorisnya menjadi kiblat bagi mereka yang mengidolakan.

Sejumlah remaja sunni kini menggandrungi dan cenderung mengikuti trend artis Korea. Mulai potongan rambut disasak tanpa aturan, mode busana ala K-Pop Boy and Girl Band, sampai bahasa-pun, kian digandrungi. Bahkan yang ironis, karena saking inginnya untuk perfect dalam berbahasa Korea, seorang gadis fans berat Korean Style dari Inggris benama Rhiannon Brooksbank-Jones mengoprasi lidahnya

.

Pendidikan merupakan infestasi yang paling berharga. Dengan pendidikan yang terrencana serta tersusun dengan baik maka akan menghasilkan output yang baik pula. Titik kritisi pada transformasi pendidikan di era modernisasi ” Penerapan nilai-nilai pendidikan di tanah air lebih cenderung membentuk alur berpikir, akan tetapi dalam penerapan pada aspek aktifitas jauh dari nilai-nilai keilmuan yang seharusnya (tataran implementasi)

.

Siswa hanya tahu tentang teori ilmu, tetapi dalam penerapannya jauh dari yang di harapkan. Alhasil, muncullah saat ini para pemimpin yang berilmu akan tetapi tidak mengaktualisasikan dan memberi kemanfaatan atas ilmunya tersebut. Maka, banyak saat ini kasus-kasus korupsi, bahkan penyalagunaan amanah sebagai terobosan dalam mencari kesenangan dunia yang sementara. Komentator : Kata kunci utama dari tulisan ilmiah ini yakni. Pentingnya pendidikan Islam pada anak-anak usia dini maupun dewasa, agar moralitas dan akhlah dapat terbentuk dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena pada hakekatnya ilmu merupakan infestasi yang paling berharga di duni dan akhirat

.

“Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.” … saatnya… bring come back alive

.
Tidak saja di Indonesia, ternyata virus demam artis korea dengan K-Pop-nya telah menjalar ke Negara Eropa. Sebuah media baru-baru ini memuat kesuksesan artis Korea terlebih dalam dunia tarik suara, tidak saja membooming di Asia, namun sudah menembus di Eropa. Hal ini terbukti dengan suksesnya konser lima band asal Korea Selatan di Le Zenith de Paris Concert Hall, Paris, Prancis yang digelar 10 Juni lalu.

Bicara tentang keberhasilan dunia intertainment Korea, tentunya yang dimaksud adalah Korea selatan yang pro dengan gaya hidup Barat (Amerika). Tentulah tidak mengherankan jika yang mencuat, dan sedang naik daun dalam dunia intertainment adalah Korea Selatan, bukan Korea Utara. Karena media Barat sangat berjasa dalam memboomingkan artis-artis Negeri Ginseng tersebut.

Bukan tanpa maksud para awak media Barat dengan kroni-kroninya menskenario popularitas artis Korea dengan K-Pop, sinetron dan fashionnya. Tidak ada makan siang geratis bagi Barat dalam setiap memberikan bantuan jasa kepada negara lain. Ada misi tertentu yang bisa menghasilkan keuntungan bagi peradaban Barat dan Amerika pada khususnya. Penulis tidak bermaksud membahas keuntungan apa yang diperoleh Barat terhadap Gelombang Korean Style, namun lebih menfokuskan kepada bahaya apa yang dibawa fenomena idolasisasi ini.

Produk Hegemoni Barat

Ustad Husain Ardilla mengatakan, maraknya idolasisasi terhadap hiburan inport (dalam hal ini Korea), merupakan sebuah bukti bahwa betapa kuat arus globalisasi dalam bidang hiburan, yang mana globalisasi mengarah pada “imperialisme Budaya” Barat terhadap budaya lain.

Inilah yang kemudian disebut dengan hegemoni Barat. Hegemoni adalah mengendalikan negara bawahannya melalui imperialisme budaya, misalnya bahasa (lingua franca penguasa) dan birokrasi (sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan), untuk memformalkan dominasinya. Hal ini membuat kekuasaan tidak bergantung pada seseorang, melainkan pada aturan tindakan.

Menurut Antonio Gramsci bahwa dominasi Barat terhadap budaya di negara-negara berkembang, bertujuan untuk memaksa negara berkembang agar terpaksa mengadopsi budaya Barat. Sedangkan bagi Dr Adian, salah satu misi dari hegemoni Barat terutama Amerika ialah mengekspor moderintas dan memprogandakan konsumerisme.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan hegemoni Barat terhadap bangsa lain adalah untuk melanggenkan dominasi peradabannya.

Dekonstruksi Aqidah

Demam Korean style (K-Pop) merupakan bahaya laten bagi umat Islam. Hal ini disebabkan Korean style, selain mencemari tradisi budaya Indonesia yang terkenal santun, juga merusak sendi-sendi akhlak dan mendonstruksi prinsip-prinsip dalam Agama.

Korean style sebagai produk globalisasi dalam bidang Fun atau hiburan, telah mengikis akhlak umat Islam. Kehidupan borjuistis ala musik K-Pop, semangat hidonis dan matrealistis dalam alur cerita sinetronnya, serta pakian minim dalam model busananya, menggeser polapikir para penikmatnya. Hal itu kemudian menjadi gelombang trend besar-besaran seluruh masyarakat.

Tengok saja remaja muslim sekarang, dari penampilan sampai mindset, pelan tapi pasti telah berubah ala Korean style. Seolah tersihir dengan performance artis Korea, setiap hal baru yang datang dari mereka dianggap positif dan selalu diup -date. Bahkan Minuman Wine (bir) beras khas Korea yang jelas-jelas haram, dikatakan baik dan menyehatkan meski agak memabukkan.

Jika dikaji dalam perspektif hukum Islam, gelombang Korean Style tidak saja bisa mengikis akhlak umat Islam, tapi juga akan mendekonstruksi keimanan. Hal ini disebabkan karena adanya tasabbuh (meniru-niru) dengan menjadikannya sebagai artis ideola, padahal semua tindak-tanduk, kepribadian dan perilaku sehari-harinya menyebabkan seorang muslim menjadi munafik atau keluar dari akhlak Islam.

Sebuah peringatan keras dalam al-Qur’an bagi mereka yang menjadikan idola selain orang Islam akan dibangsakan sebagai orang munafik. Firman Allah An Nisaa Ayat 138 – 140:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

yang dimaksud dengan lafadz “auliya’” itu bermakna penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola. Adanya rasa simpatik dan empatik dalam hati karena menjadikan penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola ghairul muslim, bisa menyebabkan lunturnya iman seseorang dan bisa mengkonversi dari mukmin menjadi munafiq.

Kelompok munafik adalah sejelek-jeleknya umat. Mereka lebih hina daripada orang kafir. Siksaan bagi munafikin-pun lebih pedih, bahkan mereka ditaruh di dasar neraka (inna al-munaafiqina fi al-darki al-asfal mi al-naar).

Oleh karenanya dalam QS. an-Nisaa’ 144, Allah melarang orang-orang beriman untuk mengidolakan orang-orang kafir. Karena hal itu sama saja dengan mengundang kemurkaan Allah yang siap dengan siksaan-Nya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: Al-Nisaa’. 144).


Ternyata virus gelombang Korean style bukan permasalahan sepele, sebatas gandrung menikmati musik dan sinetronya semata. Disamping produk hegemoni Barat, lebih dari itu, gelombang Korean style telah membawah problem yang serius bagi umat Islam, problem yang menyebabkan dekadensi akhlak dan dekonstruksi aqidah alias rusaknya akidah.

Karenanya, segenap kaum Muslimin, mari kita rapatkan barisan, guna membentengi umat dari serangan virus yang lahir dari globalisasi-modernisasi Barat. Yang tanpa sadar, keberedaannya dapat menghapus nilai-nilai ajaran agama. Serta memalingkan pengikutnya dan tidak akan kembali. Bak anak panah, ia terlepar dari gendewanya.

Solusi Problem Pemuda versi syi’ah

Pendidikan Islam sudah seharusnya menemukan jati dirinya. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu.

Apa yang ada pada mayoritas pemuda hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Islam dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

Wallahu ‘a’lam bi shawwab.*