Buku Membongkar Syiah ??

Selasa, 10 April 2012 14:11 Redaksi

E-mailCetakPDF

Rincian Produk :

Judul : Syiah

Penulis : Lajnah Ilmiah

Cover : Soft Cover

Isi : 262 hlm

Ukuran : 14.5 x 20.5 cm

Berat : 350 gr

Harga : Rp. 30.000,00 ( Harga Diskon )

Penerbit : Pustaka Sunni (Marwah Indomedia)

Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: “ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!.”

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Barat dan wahabi nashibi  menjalin kesamaan visi: sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan, yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi, yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan. Namun kesamaan visi Wahabi – AS  digunakan  wahabi untuk melakukan penindasan kepada muslim syi’ah.

Buku buku wahabi merupakan pesanan AS / Israel untuk menyudutkan islam syi’ah…

Wahabi tidak memiliki adab dibidang ilmu maka wahabi perlu diajarkan adab ketika belajar agama

.

Pentingnya Adab Bagi Seorang Alim dan Pelajar

KEDUDUKAN adab bagi orang berilmu dan pelajar sangat penting. Diriwayatkan, Imam Malik bin Anas menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mempelajari adab dan empat tahun untuk mencari ilmu. Artinya, beliau memposisikan akhlak pada posisi penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Riwayat tentang Imam Malik di atas juga dialami oleh Imam Syafi`i dengan kondisi yang berbeda. Suatu ketika beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) akhlak?.” Dijawab oleh beliau, “Aku mencari adab seperti usaha seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang hilang.” (hal. 10-11).

Dengan kata lain, begitu keras usaha seorang Imam Syafi`i untuk memacu diri berhias akhlak. Kenyataan yang kita lihat belakangan ini dalam dunia pendidikan sangat mengenaskan. Tawuran antar pelajar atau dengan masyarakat kerap terjadi; hubungan guru dan murid bagaikan hubungan penjual dan pembeli; pergaulan bebas yang melanda dan Narkoba, menjadi potret buram dunia pendidikan di tanah air

Persoalan seperti ini bisa sering terjadi karena minimnya pola pendidikan yang menitikberatkan pada nilai-nilai relijius, dan lebih utamanya lagi, akhlak.

Padahal kata Abdullah bin Mubarak, seperti dikutip dalam buku ini, “Kami lebih membutuhkan adanya sedikit adab tinimbang banyaknya ilmu.” (hal. 10).

Perkataan Abdullah tersebut menandakan ilmu yang banyak tidak ada harga dan nilainya, baik di hadapan Allah maupun sesama makhluk, tanpa disertai budi pekerti luhur. Lahirlah di kemudian hari, orang-orang berilmu yang bermental korup, mengambil uang rakyat dengan kelihaian dan titel akademiknya. Bergelar Guru Besar namun tersangkut kasus korupsi seperti kejadian yang banyak kita saksikan di media. Karenanya, KH. Hasyim Asy`ariy merasa terpanggil untuk menggoreskan tintanya dalam lembaran-lembaran yang berisi adab sebagai orang berilmu dan pelajar.

Selain itu, salah satu pembahasan dari buku ini berakaitan dengan adab kita dalam membawa dan meletakkan buku pelajaran, sesuatu yang barangkali sering kita abaikan, bukan? Kata sang penulis, hendaknya seseorang menaruh perhatian terhadap buku pelajarannya, tidak meletakkan di sembarang tempat, tidak menaruhnya di bawah, dan barangsiapa yang meminjam suatu buku hendaknya ia betul-betul menjaga buku tersebut dengan sebaik-baiknya.

Secara sisitematis buku ini terdiri dari Delapan Bab. Tiap bab dipaparakan dengan sistem penomoran sehingga membuat para pembacanya mudah mengambil kesimpulan darinya. Meski sudah banyak buku yang mengangkat tema serupa, namun tidak ada salahnya kita menambah pengetahuan soal adab agar kita, baik sebagai guru maupun pelajar, lebih menomorsatukan adab dari sekadar memperbanyak ilmu tanpa adab

.

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).  Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad
.
Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW
.

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Saqifah Bani Sa’idah

Bermula dari tragedi di Saqifah bani Sa’idah, semangat kesukuan di kalangan Anshar, antara Khazraj dan ‘Aus, yang pada masa Nabi bisa disatukan berpotensi bangkit kembali. Gelagat yang tidak sehat ini dapat dibaca oleh sayyidina Umar, maka ia mengajak sayyidina Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk datang ke balairung tersebut. Silang sengketa pun semakin melebar menjadi perseteruan antara Muhajirin dan Anshar

.

Terjadilah dialog panjang yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah kemudian benih-benih penyelewengan sejarah umat Islam dimulai

.

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka!
.
Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka
.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

.

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang   ilmiah tentangnya

.

Syi’ah menyebutkan bahwa para sahabat Nabi semuanya murtad sepeninggal beliau kecuali hanya segelintir orang saja ???

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen)

Tentang Syi’ah kafirkan sahabat ??

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).. Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh, jadi hanya segelintir yang selamat di haudh.. Namun mayoritas sahabat Nabi SAW yang wafat masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga..

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak.. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

Kafir dan murtad versi syi’ah dapat diumpakan seperti kafir/murtad nya orang yang MALAS  SHALAT  FARDHU

Adapun sahabat Nabi SAW diluar yang 7 orang seperti Hujr bin Adi dll tetap dianggap ahli surga..

.

Rasulullah (Saw.) mengatakan bahawa majoriti sahabat telah menjadi murtad selepas kewafatannya (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen tetapi tidak patuh pada wasiat), kerana mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Hanya sedikit sahaja bilangan mereka terselamat. Syi‘ah tidak mengkafirkan mereka tetapi al-Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut.
.

Seperti  dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw. (Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58)

.
Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana)

.

.

.

.

.

Siapakah Sahabat Nabi yang murtad dalam Hadits ini?

Link sumber ambilan Hadits : http://bb.indoquran.com/en/hadith-bukhari/surah/42.html

Volume 4, Book 55, Number 568 :

Narrated by Ibn Abbas

The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_4_55.php

Narrated Ibn Abbas: The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.searchtruth.com/book_display.php?book=55&translator=1&start=19&number=561

_______________________________________

Ternyata menurut Hadits yang ada dalam Shahih Bukhari ini,sepeninggal Rasulullah ada sekumpulan para Sahabat Rasulullah yang Murtad,karena di dalam Hadits ini Rasulullah memanggil mereka “Ashabi .. Ashabi (Sahabatku .. Sahabatku) kemudian dalam kalimat bahasa Arab di dalam Hadits ini memakai lafazh “Murtadina” yang berarti menunjukkan kepada kata Jamak atau banyak orang atau sekumpulan orang,dengan memakai lafazh jamak,itu menunjukkan bahwa sahabat Rasulullah yang murtad itu banyak,tidak satu orang.

Siapa sajakah para Sahabat Rasulullah yang murtad itu ?

Hadits ini ada di dalam kitab Shahih Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas ra ,Kitab/Bab Para Nabi/Prophets. Jika umat Sunni dan umat agama Wahabi berani menuduh sesat Syi’ah karena Syi’ah berpendapat bahwa sebagian Sahabat Rasulullah ada yang murtad sepeninggal Rasulullah,beranikah umat Sunni dan umat agama Wahabi menuduh sesat Imam Bukhari dan Ibnu. Abbas ra ? karena ternyata Imam Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas telah meriwayatkan bahwa ada segolongan Sahabat Rasulullah yang murtad sepeninggal Rasulullah.

Beranikah umat Sunni mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Beranikah umat agama Wahabi mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Mau menolak Hadits ini ? Atau mau menuduh ini Hadits palsu buatan Syi’ah ? Atau mau menuduh ini Hadits Palsu buatan Non-Muslim ?

Jangan buru-buru ,silahkan periksa dulu Kitab Shahih Bukhari yang ada di rumah kalian.

Mau mendhai’fkan Hadits ini ? Maaf,Hadits ini ada dalam Kitab Shahih Bukhari,Kitab Hadits paling Shahih no.1 menurut Sunni dan Wahabi. Jadi mutlak Shahih.

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi

Periksalah rumahmu sebelum mengatakan rumah orang lain kotor

“…. memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, ….”(QS.Yasin:6)

Mereka mengatakan : “setelah Nabi Muhammad wafat semua sahabat murtad kecuali + 6 orang. (lihat Al ushul minal Kafi lil Kulaini 1/196-197, dan Kitab Kasyful Asror lil Khumaini hal. 155)”

wahai pembaca…

       Ahmad bin Muhammad bin Yahya daripada bapanya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.   Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]
.
Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata : “Para shahabat seluruhnya murtad kecuali tiga orang, yaitu Salman, Abu Dzarr, dan Al-Miqdad”. Aku bertanya,”Bagaimana dengan ‘Ammar bin Yasir?”. Ia menjawab,”Ammar telah melakukan satu penentangan kemudian ia kembali”. Abu Ja’far kembali melanjutkan perkataannya,”Jika yang engkau maksud adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi dan tidak tercemar dengan sesuatu pun, maka ia adalah Al-Miqdad. Adapun Salman, merasuk ke dalam hatinya sesuatu keraguan bahwa Amirul-Mukminin (yaitu ‘Ali) disokong oleh Asma’ Allah Yang Maha Agung, sekiranya ia mengucapkannya niscaya bumi akan menenggelamkan mereka, seperti ini : “Ia memperagakannya dengan mengalungkan bajunya ke leher dan memukul lehernya dengan tangan dan pisau lalu dibiarkan tergantung seperti serigala. Lalu Amirul-Mukminin berpapasan dengannya lalu berkata,”Wahai Abu Abdillah, ini adalah balasannya, berbai’atlah!”. Maka Salma pun berbai’at. Adapun Abu Dzarr, Amirul-Mukminin memerintahkannya supaya diam. Namun, ia adalah orang yang tidak takut celaan orang dalam membela agama Allah, ia pun tidak mau mengikuti perintah beliau dan berbicara. Lalu ‘Utsman mencekal dan membuangnya. Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).
.
       Daripadanya, daripada Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)].

Jawaban pihak syi’ah :

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

.

Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Mushannaf:  Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannaf dengan sanad sahih menukil demikian:  “Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya!

.

Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf: Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimaan yang telah disebutkan.  Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? Umar berkata, “Iya. Perbuatan ini akan membantu pekerjaan yang untuknya ayahmu diutus.”

.

5.Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudhaifah

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syi’ah Ali merupakan golongan sahabat paling utama yang beriman dan mengorbankan seluruh diri mereka demi kepentingan Islam

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi…

Hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

.

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

.

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!!

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

Yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah : “selain 7 orang sahabat tersebut bukan berarti mereka kafir keluar dari Islam..

Murtad atau kafir yang mereka maksudkan bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam

Ringkasnya Murtad/kafir disini bermakna : “murtad dari janji mereka dengan Rasul, bukan kafir tulen/murtad tulen dari Islam”

Demikian juga dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Jabir bin Abdullah Anshari Ra disebutkan, “Pascawafatnya Rasulullah Saw, Hadhrat Fatimah Zahra jatuh sakit, dua orang sahabat Rasulullah Saw datang ingin membesuk dan menanyakan beliau! Hadhrat Fatimah Zahra Sa bersabda, ’Apakah kalian tidak mendengar Rasulullah Saw bersabda: Fatimah adalah belahan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sesungguhnya ia telah menyakiti aku? Dua orang sahabat itu berkata, ‘Iya. Kami mendengar darinya (Rasulullah).’ Saat itu, Hadhrat Fatimah Zahra Sa mengangkat kedua tangannnya ke atas dan berkata, ’Tuhanku. Engkau menjadi saksi bahwa kedua orang ini telah menyakitiku dan telah merampas hakku,’ kemudian beliau berpaling dari keduanya. Selepas itu beliau tidak berbicara dengan keduanya.”

Bahkan Umar dan Abubakar mengakui imamah Ali ! mereka mengakui pelantikan imam Ali di Ghadir Kum

Hanya saja di akhir hayat Nabi SAW : Abubakar, Umar cs adalah kelompok yang menginginkan kekuasaan, mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen.. Demikian juga dengan kelompok khusus anshar yang ingin menguasai kembali Madinah setelah wafat Nabi SAW seperti Bin Ubadah mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen…

Nabi SAW menyatakan kafir kepada sahabat yang berperang dengan sesamanya… Kafir disini bukan keluar dari Islam !!!

Dengan kondisi seperti ini sangat sulit bertindak, beliau harus tetap berdiam diri karena orang orang beriman yang sedikit ini akan terbunuh tanpa mereka bisa berbuat apa apa terhadap Islam

Perpecahan  diantara kaum muslimin bisa saja membumi hanguskan islam dari muka bumi ini. Oleh karenanya Imam Ali AS tidak bisa berbuat apa apa seperti yang dilakukan Nabi Harun AS untuk mencegah terjadinya perpecahan…

Bagaimana syi’ah memandang PARA SAHABAT ??

Adapun Abubakar dan Umar merupakan orang orang Islam tetapi perbuatan mereka tidak sungguh sungguh membela islam pasca Nabi SAW wafat

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan BAHAYA YANG MENiMPA ISLAM di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri + cucu Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB SUNNi  (ahlusunnah waL jama’ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  “SUNNAH  BUATAN “ SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Pertikaian politik sering dicarikan legitimasi nya oleh Mazhab Sunni dengan memalsukan sumber sumber hadis dan kitab kitab sejarah. Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni.

Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Wasiat Nabi SAW bahwa 12 khalifah Quraisy haruslah berasal dari Ahlul bait dan dari Bani Hasyim membuat mayoritas suku suku pasca Nabi SAW wafat tidak mau menerima. Mereka berpikir :  “Apakah kenabian dan kekhalifahan hanya hak eksklusif Bani Hasyim ???

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Misalnya : apa yang terjadi di Madinah selama jenazah Nabi SAW terbaring di kamar ‘Aisyah ?? Buku buku sejarah dikaburkan dengan polemik polemik sengit kaum sunni dengan penafsiran yang diselewengkan, bahkan dengan mengkafirkan dan membid’ahkan mazhab ahlul bait. Apakah tidakan keji ini membuat umat tidak sesat dikemudian hari ???

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Tanyakan pada mereka : Apakah masuk akal pada bidang religius misalnya orang mengikuti Imam Malik lalu pada bidang politik mereka mengikuti KHALiFAH AL MANSHUR ???  Bukankah thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah dikategorikan sebagai kelompok sunni ?

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) menyatakan bahwa pemimpin sah dengan salah satu diantara empat cara perebutan kekuasaan :

  1. Sistem syura yang terbatas ( seperti pemilihan Abubakar )

Padahal sistem ini tidak lebih dari persekongkolan kalangan tertentu untuk merampas hak Imam Ali AS sebagai penerus tugas suci Nabi SAW

  1. Sistem istikhlaf ( penunjukan oleh khalifah sebelumnya seperti yang dilakukan Abubakar kepada Umar )
  2. Sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya ( seperti pengangkatan Usman bin Affan )
  3. Sistem al ghalabah bi as saif ( kemenangan perang /penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu’awiyah yang menghunus pedang kepada Imam Ali AS), bahkan Sunni mengharuskan pentaatan pada penguasa yang zalim selama mereka masih shalat. Abdullah bin Umar menyatakan : “kami bersama orang yang berkuasa”

Apakah empat hal yang saling bertentangan seperti diatas bisa disatukan ??? Apakah sunnah Nabi yang otentik mengandung ajaran tersebut ?? Otak saya tidak bisa mencerna kontradiksi ini. Apalagi perbutan kekuasaan dengan meninggalkan jenazah Nabi, mencampakkan bani Hasyim, penindasan, berlaku sewenang wenang dan penumpahan darah terhadap manusia manusia MAKSUM dan para pengikutnya..

Sampai sampai khutbah jum’at pun dijadikan medan propaganda untuk membusukkan dan mengutuk Imam Ali AS. Apakah Sahabat Nabi SAW yang membenci Imam Ali dan keturunan nya bukan pendusta agama ??? Apakah Sahabat Nabi yang membunuh sahabat Nabi yang lain dan meracuni imam Hasan adalah adil ???

Perkongsian antara para SULTAN dan ulama kerajaan seperti Abu Hurairah menghasilkan SUNNAH REKAYASA bernama hadis hadis yang melarang rakyat berontak kepada penguasa zalim, hadis keadilan semua sahabat dan tidak adanya wasiat tentang  imamah Ali

Fatwa yang menyenangkan hati KANJENG PENGUASA akan mendapat pujian dan bintang tanda jasa dari Thaghut Umayyah – Abbasiyah, berduyun duyunlah ulama su’ mendekati istana dengan target menjual iman kepada pihak yang berkuasa !!

Sedangkan ulama yang berani berterus terang menyatakan ajaran islam yang sejati dihabisi karena Bani ‘Alawiyyah, orang orang yang pro Ali dan keturunannya dimusuhi thaghut Umayyah – Abbasiyah. Dituduh RAFiDHi. Rafidhi dikutuk dimana mana, ulama kerajaan berlomba lomba mengutuk rafidhi dalam kitab kitab nya. Apa saja kekeruhan dalam negara maka rafidhi yang salah, kalau ada kekacauan maka rafidhi punya ulah !!!

Mau dibawa kemana firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan ” (Qs. Huud : 113)

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB  SUNNi  (ahlusunnah waL jama’Ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  SUNNAH  SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Lalu bagaimana dengan mazhab syi’ah imamiyah selaku satu satunya mazhab yang selamat ??? 12 imam maksum syi’ah memegang hak kepemimpinan politik sekaligus menjadi rujukan dalam masalah masalah keagamaan sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW ketika menjadi Pemimpin Negara Madinah yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat..

Bukankah Nabi SAW tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi pembawa wahyu, pengajar ilmu (guru), penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga berperan sebagai pemimpin NEGARA…

Kepemimpinan syi’ah adalah amanah ke Tuhanan (divine trust) yang merangkumi urusan duniawi-ukhrawi dengan dwi peran utama yaitu memelihara agama dan mengurus dunia

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Fatimah Az Zahra, penghulu wanita di syurga
.

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya

.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam
.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

.

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang
.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312
.
fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah
.
Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat
.
Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa? 
.
Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS. Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?
.
sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya
.
cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaranbila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia
.
Allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabibahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran
.
Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umardan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak
(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??
.
Ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???
.
tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullahInilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…
,
mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat
.
Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa
..
begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?
.
As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100

.
Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?

.
Kenapa, dan kenapa?

.
Ada apa dibalik semua ini?

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Sakit berkepanjangan mengakibatkan janin Muhsin pun gugur..tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur..Muhsin gugur dari perut ibunya…..Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid… Orang itu  fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya

.

seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)

.

……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Fatimah az Zahra, anak perempuan Rasulullah, seorang wanita yang keagungannya di angkat sendiri oleh Allah swt ke satu tahap tertinggi, yang tidak tercapai oleh mana-mana wanita. kedudukan beliau tidak boleh di ragukan lagi kerana terlampau banyak hadis yang meriwayatkan keagungan makam Fatimah az Zahra. Mari kita ambil pengajaran dengan melihat sedikit dari kata-kata Rasulullah(sawa) tentang anak kesayangan baginda.
  1. Ahli keluargaku yang paling di sayangi ialah Fatimah.
  2. Ayatul Tatheer(33:33) diturunkan untuk 5 orang, diriku, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain
  3. Penghulu wanita di syurga ialah Fatimah
  4. Aku tidak gembira melainkan Fatimah gembira
  5. Mahdi akan datang dari Ahlul Baitku dari keturunan Fatimah.
  6. Fatimah ialah sebahagian dari ku, barangsiapa membuatkan beliau marah, membuatku marah, menyakiti beliau bermakna menyakiti ku.
  7. Ya Fatimah, sesungguhnya Tuhan berasa marah apabila kamu marah.

Begitulah kedudukan beliau di sisi Rasulullah, yang juga menunjukkan kedudukan beliau di sisi Allah swt. Satu kedudukan yang tidak akan di capai lagi oleh mana-mana wanita.

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”
.

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

.

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat

.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH

.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

.

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

.

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

.

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

.

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

.

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

.

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau

.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’

.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“Jika kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

.

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui

.

Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab… Tapi Muhsin gagal lahir kedunia ini karena sewaktu dalam kandungan Fatimah ; perut Fatimah dipukul  Umar Bin Khattab hingga Fatimah keguguran, peristiwa tersebut terjadi  sewaktu  Umar cs  menyerbu  ke rumah Fatimah  malam hari pasca tragedi  Pemilihan Abubakar di Saqifah…

Fatimah  tidak  wafat  secara alamiah, melainkan  karena  sakit bekas  pukulan lahir dan bathin… Jelas  Fatimah Az Zahra mati syahid

.

saudaraku….

Suatu hari Rasulullah S.A.W menyempatkan diri berkunjung kerumah Fatimah az-zahra. Setiba dikediaman putri kesayangannya itu, Rosulullah berucap salam & kemudian masuk. Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir ( Sejenis Gandum ) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rosul bertanya kepada putrinya

.
“ Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.”

.
Fatimah menjawab. “ Wahai Rosulullah, Penggilingan dan Urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan Ananda menangis.”

Kemudian duduklah Rosulullah S.A.W disisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan. “ Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku. Mencarikan seorang Jariah ( Hamba Perempuan ) untuk membantu Ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerja’an Rumah ?”

.

Maka bangkitlah Rasulullah S.A.W mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca BASMALLAH. Ajaib dengan seizing ALLAH S.W.T. penggilingan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada ALLAH S.W.T dalam berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. “ Berhentilah berputar dengan izin ALLAH S.W.T.” maka penggilingan itu berhenti berputar

.

Lalu dengan izin ALLAH pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia.” Yaa.. Rasulullah, demi ALLAH yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga kebaratpun niscaya hamba gilingkan semuanya, Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab ALLAH S.W.T. “ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang dititahkannya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkannya. Maka hamba takut yaa.. Rasulullah kelak hamba menjadi batu dineraka.”

.

Dan bersabdalah Rasulullah.” Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai Fatimah az-zahra didalam surga. Maka bergembiralah penggilingan batu itu

.

Lalu Rasulullah bersabda.

” Jika ALLAH menghendaki,niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Tapi ALLAH menghendaki dituliskan-nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-nya beberapa kasalahanmu. Dan diangkatnya beberapa derajat untukmu bila wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. Dan ALLAH menuliskannya setiap gandum yang digilingkannya SATU kebaikan dan mengangkatnya SATU derajat “

.

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya.

” Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat. Ketika wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. ALLAH akan menjadikan antara dirinya dan Neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka. ALLAH akan mencatat pahala seperti memberi seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetanga-tetangganya, ALLAH akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar diahari kiamat.”

.

Rasulullah S.A.W masih meneruskan nasehatnya..

” Wahai Fatimah yang lebih utama dari semua itu adalah keridha’an Suami terhadap Istrinya. Jika suamimu tidak Ridha, aku tidaklah akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, Ridha Suami adalah Ridha ALLAH S.W.T, dan kemarahannya adalah kemarahan ALLAH S.W.T ?”

.

Apabila seorang wanita mengandung Janin, Maka beristigfarlah para malaikat. Dan ALLAH mencatat Tiap – tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit karena melahirkan, ALLAH akan mencatat seperti pahala orang-orang yang berjihad.
Apabila ia Melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadan sa’at ibunya melahirkannya.
Apabila ia Meninggal dalam melahirkan ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikitpun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan ALLAH mangaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristigfarlah seribu malaikat untuknya dihari kiamat

.

” Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar. ALLAH S.W.T menghapuskan dosa-dosanya. Dan akan mengenakan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan ( setiap helai seribu kebaikan ).. Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya, ALLAH memandangnya dengan pandangan Rahmat

.

.” Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, berserulah para malaikat untuknya. Teruskanlah Amalmu, maka ALLAH telah mengampunimu dari dosa yanglalu maupun yang akan datang.”

.” Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, ALLAH memberinya minuman dari sungai – sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan ALLAH menyelamatkannyadari api neraka, serta selamat dari titian Sirotulmustakim.

DARI ABDULLAH BIN AMR AL-ASH RA, ROSULULLAH BERSABDA.
“ DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.” ( H.R MUSLIM )

.

Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al HasanAl Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsumdan Zainab.

Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdulloh bin Ja’far bin Abi Tholib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak).

Adapun Al Hasan ra dan Al Husin ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rosululloh Saw.

Diantara keistimewaan atau fadhel Ikhtishos yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyahnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul

.

Hal mana sesuai dengan keterangan Rasulullah saw, bahwa anak-anak Fathimah ra itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya

.

Rasulullah Saw bersabda:
“Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tobroni)

.

Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Tobroni dan Abu Ya’la)

.

Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”


Itulah sebabnya, mengapa keturunan Siti Fathimah ra disebut Dzurriyyaturrasul atau keturunan Rasulullah SAW. Dan Dzurriyyaturrasul yang mayoritas masih lurus tentu lebih pantas diikuti dari pada Waladussyaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab

.

Keistimewaan yang lain dari keturunan Siti Fathimah ra adalah disamping mereka itu disebut sebagai Dzurriyyaturrasul, mereka itu menurut Rasulullah Saw akan terus bersambung sampai hari kiamat. Dimana semua keturunan menurut Rasulullah Saw akan putus.

Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:
“ Semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Tobroni, Al Hakim dan Al Baihaqi)

.

iNiLAH PANDANGAN SYi’AH TENTANG SAHABAT

Hadis-hadis haudh tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).

Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka… “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?

Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “

Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).

Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “…Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).

Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?

Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi… agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).

Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:

Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;

Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;

Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi – bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.

Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.

Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.

Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.

Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:

Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“

Pada ayat lain Allah berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,… yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).

Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.

Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.

Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.

Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).

Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).

Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).

Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)

Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).

Sekarang kita perhatikan ayat berikut.
Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).

Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah… “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “

Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.

Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.

Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.

Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).

Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)

Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa ;

1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;

2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;

3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“

Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :

Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)

Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):

Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)

Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.

Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.

Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.

Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.

Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.

Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.

Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:

Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi (QS. az-Zumar : 65).

Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.

Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).

Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)

Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)

Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).

Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.

Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang, apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.

Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah tersebut. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)”

Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.

Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah. Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.

Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di indonesia).

Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.

Komposisi ‘Shahabat’ menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu ‘ahlulbait nabi’ QS 33:33.

2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.

3. Orang-orang islam yang ‘berkerumun di pinggir jalan’, yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.

4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya ‘mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk’ QS 9:102.

5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena ‘trend’. Orang-orang ‘sangat awam’
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97

6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum muslimin. “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi” QS 9:61

7. dll…dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.

Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah ‘bertemu diri’ sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.

Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.

Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta’dil dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam. Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah, sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.

Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat merugikan islam, kaum syiah dianggap ‘mengkafirkan’ dan mengecam shahabat.

Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap ‘bukan mereka yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst’. Sedangkan kaum syiah tidak menerima demikian.

Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali dianggap ‘atas kehendak Allah’, tidak secuilpun ulama sunni mengecam Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist, Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.

Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah manusia yang ‘mulia’.

Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah.

Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal ‘Tanah Fadak’, yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi. Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan sahabat nabi.

Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian ijtihad mereka.

Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb: Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang besar. (QS. 9:101)

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)

Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:”Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:”Ia mempercayai semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. 9:61)

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. 9:74)

SYi’AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan)

SYi’AH : Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada sahabat penentang Imam Ali adalah dari Sifat fi’l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.”

Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun bertentangan
nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur’an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada
pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, ” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur’an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan “aqidah” , padahal Sahabat sendiri berkelahi,
caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq,hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena “bersepakat” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid,hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan/ kesepakatan” dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.”

.

Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI’AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam menilai sesuatu urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah,”

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, ” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Karena itu pendapat
al-Asy’ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

Hadis diatas membuktikan pendukung Imam Ali tidak sesat :
1.Al Quran tidak dapat dipahami dengan tepat tanpa pendampingnya, yakni ahlulbait Rasaul yang suci dari kesalahan dalam menafsir

2.Adakah Ali bagian daripada umat ataupun tidak ?

3.Adakah golongan menentang Abubakar cs yang terdiri dari Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dll termasuk di dalam umat ?

4.Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi Abubakar cs ? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Allah dan Rasulnya mengangkat Imam Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah di Ghadirkhum. Pengangkatan tersebut juga disaksikan oleh Abubakar, Umar dan Usman serta ribuan sahabat lainnya. Ironisnya Abubakar Umar cs melawan pengangkatan Imam Ali secara sembunyi dengan membuat rapat gelap untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai khalifah yang sah

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai madzhab Ahlul Bait (Syi’ah) sedang mengharu-biru. Bermula dari maraknya kontroversi mengenai nikah mut’ah, yang dianggap sebagai nikah yang dibolehkan madzhab Syi’ah, sampai kepada rekomendasi pelarangan madzhab tersebut di tanah air. Sayangnya, dilihat sebagai suatu wacana, perbincangan tersebut lebih diwarnai emosi dan dipenuhi stereotif yang kurang bertanggung jawab. Kajian yang berwawasan, apalagi yang memberi ruang kepada Syi’ah untuk memunculkan perspektifnya, mungkin belum terbuka. Oleh karenanya, menutup kekurangan yang ada, tulisan ini hendak menjelaskan satu perspektif penting Syi’ah, yang berlainan dengan madzhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Yakni, perspektifnya mengenai shahabat Nabi saw. Perspektif ini secara historis merupakan cikal bakal lahirnya gerakan Syi’ah sendiri.

Berbeda dengan Sunni, yang cenderung tidak membuat penggolongan, Syi’ah mengelompokkan shahabat Nabi saw menjadi empat kelompok. Pengelompokannya itu sendiri didasarkan kepada nilai ‘keadilan’ yang dipraktekkan shahabat semasa Nabi saw hidup hingga menjelang wafatnya. Yang pertama dari kelompok tersebut adalah shahabat yang sangat istimewa, yang juga dikenal dengan istilah Ahlul Bait Nabi saw. Yakni mereka yang karena kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya.

Kedua adalah kelompok shahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Ketiga adalah kelompok shahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan, baik menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Dan yang terakhir adalah kelompok munafik yang “menemani” Rasul karena ingin memperdayakannya.

Karena adanya kondisi dan motif yang berbeda tersebut, Syi’ah menyatakan bahwa tidak semua shahabat adalah adil. Masyarakat muslim tidak sepatutnya menjadi buta tuli terhadap apa yang pernah diperbuat seorang shahabat, terutama dosa dan kezalimannya. Di lain pihak, Sunni berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw adalah sama dan sejajar baik dalam kedudukan maupun dalam keadilannya terhadap Islam. Dan tidak seorang pun di antaranya yang diistimewakan, tak terkecuali istri-istri, anak-anak, menantu dan keluarga lain Nabi saw sendiri.

Penggolongan shahabat kalaupun dikenal dalam tradisi Sunni hanya bersifat generatif. Artinya dilihat dari kedekatannya dengan Nabi dalam segi waktu. Sehingga penggolongannya dibagi menjadi golongan shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dst. Sebagian membaginya berdasarkan mula pertama masuknya para shahabat ke dalam Islam, seperti tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun. Dan ada juga yang membagi bahwa Empat Khulafa’ Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali, pada tingkatan yang paling atas dari sekalian shahabat, disusul kemudian oleh enam shahabat lain yang dijamin masuk sorga.

Untuk menjadi wacana yang ‘benar’ dan bermanfaat, tentunya perspektif Syi’ah mengenai shahabat tersebut secara intelektual haruslah mendapatkan sekaligus legitimasi, baik yang bersifat historis maupun futuris. Legitimasi historis mengandaikan bukti intelektual. Yakni adanya indikator untuk menetapkan bahwa ’sejarah’ yang bersangkutan memang ada. Sedangkan legitimasi futuris mensyaratkan bahwa perspektif itu mempunyai implikasi penting sedikitnya bagi masa depan pencerahan Islam, terutama pasca Nabi saw wafat.

Tentang indikasi ketidakadilan menurut Syi’ah dapat dilihat dari beberapa peristiwa berupa pembangkangan, penjatuhan wibawa Nabi, dan yang terpenting adanya penghalangan terhadap Nabi untuk menegaskan wasiatnya dalam bentuk tertulis. Di antara peristiwa tersebut, misalnya peristiwa Perdamaian Hudaibiyah. Sebagian shahabat tidak senang atas penerimaan Nabi saw terhadap persyaratan yang diajukan kafir Quraisy. Umar bin Khattab sampai mendatangi Nabi saw dan berkata: “Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”. Kemudian setelah berdebat dengan Nabi saw, mengulangi perkataan itu kepada Abu Bakar. Dan ketika beliau menyuruh menyembelih binatang korban yang dibawa para shahabat serta perintahnya untuk mencukur rambut, tidak satu shahabat pun yang mematuhi.

Selanjutnya bentuk ketidakadilan lain dapat dilihat dari adanya motif politis yang menghalang-halangi Nabi saw mengukuhkan wasiatnya agar dituliskan di atas kertas. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hari Khamis itu, terjadi tiga hari menjelang Nabi saw wafat. Para shahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhi Nabi saw, dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perkataan Umar Bin Khattab yang menyatakan, bahwa “Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Qur’an ada di sisi kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”, menurut Syi’ah merupakan bentuk langsung penolakan hadits Nabi. Yakni yang menyuruh para shahabat berpegang kepada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi.

Kemudian dua hari menjelang wafat Nabi saw, sebagian shahabat kembali mencela perintah Nabi. Yakni dalam pengangkatan Usamah sebagai komandan ekspedisi untuk memerangi Roma. Menurut para shahabat, bagaimana mungkin Nabi mengangkat orang yang baru berumur delapan belas tahun menjadi komandan para shahabat besar. Nabi saw sampai mengulang-ulang perintahnya, namun para shahabat tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Itulah beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah Islam. Penting dikemukakan di sini bahwa peristiwa-peristiwa di atas tidak hanya diberitakan oleh sumber-sumber Syi’ah. Shahih Bukhari dan Muslim, yang notabene merupakan sumber terpercaya madzhab Sunni, pun memberitakannya. Mengenai hal ini, DR Muhammad al-Tijani al-Samawi, seorang Wahabi Tunisia yang kemudian menjadi pengikut Syi’ah, mempunyai komentar. Bahwa seandainya orang alim Syi’ah menukilnya dari kitab mereka sendiri, maka aku tidak akan mempercayainya sama sekali. Namun ketika ia nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah sendiri, maka tak ada jalan untuk mencelanya.

+++

Maksud Syi’ah selalu memunculkan peristiwa-peristiwa seperti disebutkan di atas tentu sudah umum diketahui, bahwa yang berhak atas kepemimpinan pasca Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ali memenuhi kriteria sebagai Itrah Ahlul Bait Nabi yang keadilannya (keutamaannya) tidak disangsikan lagi. Dibandingkan para shahabat lain, orang pasti kesulitan untuk mencari cela, dosa dan kezaliman Ali. Namun sejarah telah berbicara lain, di kala keluarga Ali sibuk mengurus jenazah Nabi saw, Abu Bakar dilantik dengan tergesa-gesa menjadi Khalifah atas prakarsa Umar bin Khattab. Ali sendiri, bersama istrinya Fatimah, putri tercinta Nabi, terpaksa memberikan bai’at atas pengangkatan itu setelah diancam akan dibakar rumahnya.

Sejarah telah berlalu, namun perspektif Syi’ah untuk tetap berpegang pada Itrah Ahlul Bait Nabi dan keadilannya sampai kini tentu mempunyai raison d’etre. Maka sampailah kita kepada persoalan mengenai persyaratan bahwa suatu perspektif mesti mempunyai implikasi untuk menjadi bermanfaat. Tentang hal ini dijawab oleh Syi’ah dengan berbagai fenomena yang terjadi di dunia Sunni. Yang terpenting dan saling berhubungan di antaranya adalah bahwa hilangnya perspektif keadilan para shahabat berpengaruh pada manipulasi data, distorsi penafsiran serta peminggiran wacana dan keteladanan dalam Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya wacana mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di akhir masa hidup Nabi, yang sudah tentu dalam perspektif Syi’ah dapat menjelaskan keberpihakannya kepada Ali. Bahkan pemberitaan mengenai peristiwa di akhir masa hidup Nabi dalam dunia Sunni cenderung ditutup-tutupi dengan alasan “menjaga segala kemuliaan para shahabat”.

Konsekuensi lain adalah pengaruhnya atas kualitas kepemimpinan pasca Nabi. Menurut Syi’ah, Sunni pasti kesulitan untuk mencari alasan, bilamana dipertanyakan tentang apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abubakar misalnya. Tidak demikian apabila pertanyaan semacam itu dipertanyakan kepada Syi’ah atas penetapannya pada khilafah Ali, yang alasan dan dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karenanya khilafah pasca Nabi versi Sunni kehilangan legitimasinya ketika ia dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Yang berkembang kemudian dalam pemikiran politik Sunni adalah ijtihadz tanpa dasar dengan alasan yang semena-mena. Contoh paling ekstrim mengenai ini adalah tragedi pembantaian cucu Nabi, Husein, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Atas pembantaian itu Sunni cukup memberi alasan bahwa Yazid sedang berijtihadz. Bilamana ia benar maka mendapat dua pahala, sedangkan bilamana salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bait Nabi. Kesimpulan Syi’ah mengenai hal ini adalah bahwa Sunni telah mengalahkan Sunnah Nabi dengan ijtihadznya.

Lebih jauh lagi adalah adanya peminggiran wacana dan keteladan Ahlul Bait Nabi. Siti Fatimah, yang oleh Nabi sendiri digelari “ibu bagi ayahnya” karena kecintaan dan ketakdhiman putrinya tersebut kepada beliau, jarang sekali menjadi rujukan dan kajian di dalam Sunni. Adanya pembekuan madzhab fiqh menjadi empat madzhad di dalam Sunni, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menurut Syi’ah adalah juga konsekuensi langsung dari peminggiran Ahlul Bait Nabi. Padahal ada sumber penting yang lebih dekat, baik secara kekerabatan maupun waktu, yakni Imam Jafar al-Shadiq, yang tidak lain adalah cicit Nabi dari keturunan Fatimah. Bahkan sejarah sendiri mencatat bahwa keempat imam madzhab merupakan murid-murid Imam Jafari’, sehingga Imam Jafari’ digelari “guru para imam”.

Dari uraian di atas, dengan demikian menjadi jelas bagi Syi’ah, bahwa perspektif mengenai keadilan para shahabat mempunyai legitimasi historis maupun futuris. Dan perspektif itu baginya tidak hanya berhenti dalam masalah khilafah Ali saja. Pada kenyataan historis dan sosiologis, eliminasi perspektif itu akan berpengaruh pada ruang waktu yang lebih luas, serta pencerapan kebenaran Islam yang lebih dalam. Wallahua’lam

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura


Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. 

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”


Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!  

Wallah A’lam.


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

Para pembaca..

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50.]

.

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.]

Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi]

.

.
                                                                                               I
    Definisi kekafiran
.
Kafir dan murtad disini bermakna tidak taat atau tidak patuh, bukan bermakna kafir tulen
.
Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi ianya suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun kerana ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sendiri. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis daripada mazhab Ahlu l-Bait(a.s) di dalam buku-buku mereka.
.
Amatlah dikesali bahawa kaum Wahabi yang menyamar sebagai Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sentiasa menyamarakkan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka.Walau bagaimanapun rencana ringkas ini sekadar mendedahkan hakikat sebenar  bagi menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.
.
Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt) Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), nescaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah atau Hadis Nabi (Saw.)
.
      Definisi sahabat
Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah daripada para sahabatnya.”
.
Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
.
Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima (Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)
.
Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi, hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).
.                                                                  
                  Kedudukan para sahabat
.
Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.
.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) atau Syi‘ah atau Imam Dua belas.
.
3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.
                                                                                            II
Dikemukan dibawah ini lima hadis daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384 (Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih MuslimMuslim, Sahih, edisi Muhammad Fuad  ‘Abdu l-Baqi, Cairo, 1339H,
        . 
                                                      Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari
.
1. Hadis no. 578. Daripada Abdullah bahawa Nabi(Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebahagian daripada kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh daripadaku.Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
2. Hadis no. 584. Daripada Anas daripada Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka, lantas mereka dibawa jauh daripadaku. Kemudian aku akan bersabda:Para sahabatku (ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
3. Hadis no. 585. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi  ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar  sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat Allah)  atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) 
.
           Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)
.
4. Hadis no. 586. Daripada Ibn Musayyab bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka  ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
.
5.Hadis no.587. Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (Saw.)bersabda: Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka : Datang kemari.Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka,demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka  ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).
.
                                                         Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim
.
1. Hadis no.26. (2290) Daripada Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata:Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya.
.
(2291) Dia berkata: Aku naik saksi  bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah: Dia berkata: Sesungguhnya mereka itu adalah daripadaku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh !Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)
.
2. Hadis no.27 (2293) Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakr berkata: Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu  ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
.
3. Hadis no. 28. (2294) Daripada  ‘Aisyah berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya (ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah daripada (para sahabat) ku dan daripada umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma  ‘amilu ba‘da-ka). Mereka sentiasa mengundur ke belakang(kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)
.
4. Hadis no.29 (2295) Daripada Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah; isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang daripada kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir daripadaku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana  dihalau/diusir unta yang tersesat (ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu). Aku akan bersabda: Apakah salahnya?  Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh! (daripada  rahmat Allah) (suhqan).
.
5. Hadis no.32 (2297) Daripada Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka.Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku.Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
6. Hadis no.40. (2304) Daripada Anas bin Malik bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) daripada mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku.Kemudian mereka dipisahkan daripadaku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka).
.
  Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadis-hadis tersebut.
.
Daripada hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali
b. Inna-ka la tadri atau la  ‘ilma la-ka ma ahdathu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali. Perkataan ahdathu bererti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah atau inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).
c. Inna-hum  Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.
d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau ke Nerakalah mereka yang telah mengubah atau menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan“Ghayyara” bererti mengubah atau menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya) satu kali.
.
Sementara Muslim telah menyebut perkataan:
.
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.
b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,
c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali
d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.
e. Innaka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.
f. Inna-ka la tadri atau sya‘arta ma  ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui atau menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali . Perkataan “Ma‘amilu” (Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
g. Ma barihu atau Ma zalu Yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him (mereka sentiasa kembali kepada kekafiran) dua kali
h. Suhqan suhqan li-man baddala  ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau  ke
.
Nerakalah mereka yang telah mengganti atau  mengubah atau  menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti atau mengubah atau menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Justeru itu sebab-sebab  mereka menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah kerana mereka:
(1)  Ahdathu=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(2) ‘Amilu   =Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(3) Ghayyaru=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(4) Baddalu=Irtaddu atau yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
.
                                                                                           III
Ini bererti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati(mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti MaslahahMasalihu l-MursalahSaddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah atau menukar atau menangguh atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)
.
Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu atau La yazalun yarji‘un ‘ala  a‘qabi-him)di dalan hadis-hadis tersebut adalah kerana mereka telah mengubah sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdathu)  dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama. Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil daripada mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat atau terbiar (mithlu hamali n-Na‘am). Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo, 1958, hlm.12) dan dijadikan akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.
.
Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bertepatan dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’ (34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103“Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih, tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud (11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak hairanlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah (swt).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A’masy telah memberitahu kami bahawa dia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt).Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”
.
Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.)  itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.)  itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itab berkata: “Aisyah berkata: Nabi (Saw.)  pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”
.
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata: “Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata: Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”
.
Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.)dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. “[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”, Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid,Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku , dia menyakiti Allah”  “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi,Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).
.
Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111],  mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’hlm.136)
.
Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )
.
Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”
      .

Siapa yang benar terkait penafsiran terhadap hadis Haudh ??

Versi Sunni atau Versi Syi’ah yang benar ???

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a)  dan Anas bin Malik akan menjadi “juri”

 Saya sadar kalau tulisa ini akan membuahkan sebuah pertanyaan usil yang akan membuat sebagian orang mendelik sambil berkata “Jangan mencaci sahabat Rasul”.

Samasekali bukan maksud saya hendak menjelek jelekkan sahabat RasuluLLAAH SAW, namun saya hanya inhgin mengajak insane agar mengambil ajaran Islam ini dari sumber yang masih benar benar Jernih, belum terkontaminasi oleh intrik semata. Karena Din Islam yang kita yakini akan dipertanggungjawabkan kelak diakherat, maka sudah selayaknya kita memilih ajaran yang benar dapat menyelamatkan kita dari Adzab ALLAAH,bukanlah ajaran yang akan menjebloskan kita pada posisi ketersesatan yang berkepanjangan. Mari kita ikuti satu persatu rangkaian tulisan ini,bila anada berkehendak membanrtah, maka silahkan membantah dengan argumentasi sekali lagi dengan argumentasi, bukan dengan cibiran yang tanpa ilmu, karena ilmu itulah yang akan membiaskan keadilan

Dijelaskan dalam suatu hadits shahih :
وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك
Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin UbaidiLLAAH bahwa RasuluLLAAH SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai RasuluLLAAH, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. RasuluLLAAH SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

.

Maka telah jelas bahwa Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka,juga tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW,sebab sebagian para shahabat banyak menyelewengkan ajaran Islam dari pokoknya


Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak .Para sahabat banyak yang mengkhianati imam Ali,Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali

Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده
Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui  Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena
dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu

apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan

siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah

mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok

dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) MEMBENARKAN Mazhab Syi’ah terkait Hadis Haudh yang berbunyi :  ”Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya”

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

hadits-hadits mengenai dihalaunya sekumpulan orang Islam dari telaga Haudh-nya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari akhir kelak, yang beliau menyebut sekumpulan orang tersebut dengan sebutan “Sahabat” beliau.

Hadits-hadits mengenai hal ini telah tercatat di shahih Bukhari dan Muslim dan juga kitab hadits yang lainnya, diantaranya adalah seperti berikut ini:

diantaranya adalah seperti berikut ini:

7049 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

(9/46)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Mughirah dari Abi Wail yang berkata Abdullah berkata Nabi SAW bersabda “Aku akan mendahului kalian sampai di Al Haudh dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka Aku bertanya “Wahai Rabbku mereka itu sahabat-sahabatku. Dia menjawab “engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. [Shahih Bukhari 9/46 no 7049] diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim 4/1796 no 2297.

6593 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا { أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ } تَرْجِعُونَ عَلَى الْعَقِبِ

(8/121)

Diriwayatkan oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya akan berdiri di atas telaga Haudh kemudian saya akan melihat beberapa orang akan datang kepadaku diantara kalian, dan beberapa manusia dihalau dariku, dan aku akan berkata, “Ya Rabb, mereka dariku, dari ummatku” Kemudian akan dikatakan “Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang (murtad). (Shahih Bukhari 8/121 No. 6593, Shahih Muslim 4/1794 No. 2293)   

akan sangat akrab dengan hadits berikut :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Mughiirah, dari Abu Waail, ia berkata : Telah berkata ‘Abdulah : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku akan mendahului kalian sampai di Haudl dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. Kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka aku bertanya : ‘Wahai Rabbku, mereka itu shahabat-shahabatku. Dia berfirman : ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu’[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7049].

Mari kita lihat bersama hadits berikut :

حدثنا سعيد بن أبي مريم: حدثنا محمد بن مطَّرف: حدثني أبو حازم، عن سهل بن سعد قال:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (إني فرطكم على الحوض، من مر علي شرب، ومن شرب لم يظمأ أبدا، ليردنَّ علي أقوام أعرفهم ويعرفونني، ثم يحال بيني وبينهم).
قال أبو حازم: فسمعني النعمان بن أبي عياش فقال: هكذا سمعت من سهل؟ فقلت: نعم، فقال: أشهد على أبي سعيد الخدري، لسمعته وهو يزيد فيها: (فأقول: إنهم مني، فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك، فأقول: سحقاً سحقاً لمن غيَّر بعدي).

Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutharrif : Telah menceritakan kepadaku Abu Haazim, dari Sahl bin Sa’iid, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya akulah yang pertama-tama mendatangi Haudl. Barangsiapa yang menuju kepadaku akan minum, dan barangsiapa yang minum niscaya tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi”. Abu Haazim berkata : “Lalu An-Nu’maan bin Abi ‘Ayyaasy mendengarku, lalu berkata : ‘Beginikah kamu mendengar dari Sahl ?’. Aku berkata : ‘Benar’. Lalu ia berkata : ‘Aku bersaksi atas Abu Sa’iid Al-Khudriy, bahwasannya aku benar-benar telah mendengarnya dimana ia menambah lafadh : “Lalu aku (Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam) berkata : ‘Mereka adalah bagian dariku !‘. Namun dikatakan : ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu !’ Maka aku berkata : ‘Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6583-6584].


Dan beberapa riwayat lagi yang maknanya senada dengan hadits-hadits di atas. Yaitu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam akan datang mendahului umatnya sampai di telaga Haudh, dan kemudian akan ada sekelompok orang yang beliau mengenal mereka sebagai umatnya datang mendekati telaga beliau untuk ikut minum air dari telaga beliau tersebut, tetapi tiba-tiba mereka dihalau oleh Malaikat, dan beliau akan berusaha membela mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah “sahabat” beliau, dalam riwayat lain “mereka dariku, dari golongan umatku” maka akan dikatakan kepada beliau bahwa “beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat atau ada-adakan sepeninggal beliau”, dalam riwayat lain “sekelompok orang tersebut telah berbalik ke belakang (murtad) sepeninggal beliau”, “merubah ajaran agama sepeninggal beliau”. Kemudian beliau akan berkata kepada mereka : “menjauhlah”.

Demikian ringkasan matan dari hadits-hadits tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, kaum Syi’ah menjadikan hadits-hadits tersebut (khususnya yang mengandung kata sahabat) sebagai alat untuk menyerang keadilan Para Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengklaim bahwa yang dimaksud hadits-hadits di atas adalah para sahabat anti Imam Ali , sehingga menurut mereka sepeninggalNabi SAW sebagian besar sahabat telah menjauh dari agamanya dan mengada-adakan hal-hal baru dalam agama kecuali hanya segelintir sahabat, sehingga di akhirat nanti mereka akan diusir dari telaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan salah satu yang menyebabkan hal itu adalah karena mereka telah menolak walayah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Benarkah demikian?

Artinya :
Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang mendahului kamu atas telaga, maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhan, shahabat-shahabatku, maka dikatakan : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di telaga sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku”, kemudian Allah berfirman : “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, heliau bersabda : “Ketika Aku sedang berdiri, tiba-tiba ada sekelompok or­ang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang laki-laki dari antaraku dan antara mereka. Kemudian orang laki-laki itu berkata : “Marilah”, maka aku bertanya : “Akan ke mana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”. Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu”. Kemudian tiba-tiba ada satu kelompok orang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang lelaki dari antaraku dan mereka. Lalu dia berkata : “Marilah.” Aku bertanya : “Akan kemana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu, dan aku tidak menduga orang yang selamat dari mereka kecuali seperti onta yang tersesat (tanpa penggembala)”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Aku di telaga, sehingga Aku melihat orang dari kalanganmu yang datang kepadaku dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata : “Wahai Tuhan, itu dari golonganku dan dari ummatku”. Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? Demi Allah, mereka terus menerus kembali ke tumit mereka”. Dan Ibnu Abi Mulaikah berkata : “Wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Mu agar kami tidak kembali ke tumit kami, atau terfitnah dalam agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.
                                                                                       Kesimpulan
Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan  sekali. Dan ianya menyalahi akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menegaskan bahawa semua para sahabat adalah adil (kebal). Lantaran itu mana-mana Muslim sama ada dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘i, mufti, kadi  dan kita sendiri, tidak boleh mengubah atau  menangguhkan atau melanggar atau  membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut.

Membongkar Kesesatan Syiah di Masjid al-Ikhlas, Jatipadang-Jakarta ???

Rabu, 11 April 2012 16:51 Redaksi

E-mailCetakPDF
Jakarta – 
Dalam  diskusi publik “Menyongsong Generasi Gemilang Bersama Cahaya Al Qur’an” di Masjid Al Ikhlas, Jl. Ragunan No. 11, Jatipadang, Jakarta Selatan, belum lama ini, Ahad (8/4), sejumlah narasumber seperti Ustadz Rahmat Abdurrahman LC (Wakil Ketua LPPI Indonesia Timur), Dr. H. Daud Rasyid, MA (Pakar Pemikiran Islam), dan KH. A. Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat), gagal membuktikan tentang kesesatan Syiah. Juga hadir Dr. KH. Mushlih Abdul Karim, MA (Pakar Tafsir) dalam diskusi tersebut.

Barat menuduh perempuan-perempuan Islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia Islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas Islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%.

Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

Ulama Ulama Sunni diatas justru berupaya membela BARAT untuk menyingkirkan ISlam syi’ah dari Indonesia, oleh karena itu maka ulama ulama diatas perlu diajarkan ilmu tentang format pendidikan islam masa depan !

.

Menata Ulang Format Pendidikan Islam Sunni

DIAKUI atau tidak, potret pendidikan Islam Sunni yang diselenggarakan umat Islam Sunni Indonesia, terutama oleh para perancang dan praktisi yang bergerak di dunia pendidikan Islam, belakangan ini, justru memperlihatkan kesenjangan yang cukup tajam antara doktrin dan praktik, antara cita dan fakta. Singkat kata, pendidikan Islam di mana-mana masih jauh dari menggembirakan.

Akibatnya, pendidikan Islam Sunni kerap dikesan sebagai aktivitas pembelajaran yang hanya mengurusi masalah-masalah ritual. Sementara kajian di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, manajemen, kesehatan, pertanian, kelautan dan sebagainya kurang menjadi perhatian serius. Pemisahan ilmu dalam penyelenggaraan pendidikan Islam semacam itu pada gilirannya akan menghambat kemajuan peradaban umat Islam itu sendiri.

Selain adanya pemisahan ilmu agama dari kebutuhan riil masyarakat modern, pendidikan Islam hingga kini seolah dalam posisi problematik. Di satu sisi, umat Islam berada pada romantisme historis karena pernah memiliki para pemikir dan ilmuwan besar serta memiliki kontribusi yang besar pula bagi peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Namun di sisi lain, umat Islam harus menghadapi sebuah fakta bahwa pendidikan Islam tidak berdaya dihadapkan pada realitas masyarakat industri.

Kenyataan di atas kiranya dapat dihubungkan dengan pendidikan agama Islam yang selama ini lebih menekankan pada hubungan formalitas antara hamba dan Tuhannya. Pada waktu yang bersamaan, Islam diajarkan lebih pada tingkat hafalan, padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus dipraktikkan.

Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kita disuguhi fakta yang mengerikan. Sekedar contoh, peserta didik yang diharapkan menjadi penentu sejarah masa depan bangsa, akrab dengan VCD porno, narkoba, tawuran dan aneka perbuatan tak sedap lainnya. Kasus-kasus itu mengindikasikan betapa rendah dan rapuhnya fondasi moral dan spiritual mereka.

Semua itu tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam, yang terkait langsung dengan penanaman dasar-dasar moral dan spiritual di ruang sekolah. Itu sebabya, kualitas pendidikan agama Islam harus lebih ditingkatkan berlandaskan teori-teori dan konsep-konsep kurikulum serta metodologi pembelajaran yang dinamis dan inovatif.

Dalam rangka itulah Mujtahid mengusung wacana reformulasi pendidikan Islam sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang integratif dan diharapkan  melahirkan manusia-manusia unggul yang berpredikat ulul albab, yakni sosok yang memiliki kekuatan dzikir, fikir, dan amal shalih. Tegas penulis, andaikan formula ulul albab ini diimplementasikan dalam segala aktivitas pendidikan Islam, pendidikan Islam niscaya mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan umum.

Buku Reformulasi Pendidikan Islam ini menganalisa secara kritis formula pendidikan Islam baik pada wilayah konsep dan landasannya yang dilakukan oleh para pemikir dan praktisi pendidikan Islam. Upaya penulis penting diapresiasi mengingat wajah pendidikan Islam sampai hari ini belum sepenuhnya berhasil untuk mencetak lulusan yang andal, baik secara akademis maupun moral dan spiritual.

Apa yang menjadi sorotan penulis buku ini sejatinya menjadi gambaran betapa tingginya harapan publik terhadap kontribusi pendidikan Islam yang seharusnya dapat menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman. Pendidikan Islam yang diidealkan ke depan adalah tidak saja tangguh dalam konsep dan landasannya, melainkan juga efektif dalam operasional dan manajerialnya.

Ada tujuh tema pokok terkait pendidikan Islam yang ditelaah buku ini, mulai dari konsep pendidikan Islam hingga metode dan strategi pembelajaran. Selanjutnya, penulis menawarkan pendekatan multidisipliner sebagai prioritas dalam melakukan transformasi pengetahuan kepada peserta didik, seperti pendekatan filosofis psikologis, sosiologis, historis maupun kultural.

Tentu saja, membahas pendidikan Islam dari masa ke masa tidak akan pernah tuntas. Meskipun penulis buku ini mengulas dari segala dimensinya, kajian pendidikan Islam tetap saja belum final. Terlebih setiap orang pasti memiliki keterbatasan perspektif dalam mengartikulasikan pendidikan Islam itu ke dalam bingkai yang komprehensif. Namun, setidaknya, buku hasil kompilasi penelitian ini cukup inspiratif di tengah kenyataan pendidikan Islam yang kian dijauhi masyarakat karena dinilai kurang bertaring dan cenderung bersifat normatif-teologis an sich

Reformulasi Pendidikan Islam Sunni Meretas Mindset Baru,  Meraih Peradaban Unggul

.

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).  Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad
.
Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW
.

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Saqifah Bani Sa’idah

Bermula dari tragedi di Saqifah bani Sa’idah, semangat kesukuan di kalangan Anshar, antara Khazraj dan ‘Aus, yang pada masa Nabi bisa disatukan berpotensi bangkit kembali. Gelagat yang tidak sehat ini dapat dibaca oleh sayyidina Umar, maka ia mengajak sayyidina Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk datang ke balairung tersebut. Silang sengketa pun semakin melebar menjadi perseteruan antara Muhajirin dan Anshar

.

Terjadilah dialog panjang yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah kemudian benih-benih penyelewengan sejarah umat Islam dimulai

.

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka!
.
Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka
.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

.

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

.

Untuk menyingkat waktu kami akan sebutkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang   ilmiah tentangnya

.

Syi’ah menyebutkan bahwa para sahabat Nabi semuanya murtad sepeninggal beliau kecuali hanya segelintir orang saja ???

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen)

Tentang Syi’ah kafirkan sahabat ??

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).. Syi’ah menganggap mayoritas sahabat pasca wafat Nabi SAW tidak patuh, jadi hanya segelintir yang selamat di haudh.. Namun mayoritas sahabat Nabi SAW yang wafat masa Nabi SAW hidup mayoritas masuk surga..

Kafir dan Murtad yang dimaksudkan syi’ah bukan seperti kafirnya Abu Thalib versi Sunni, sama sekali tidak.. Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

Kafir dan murtad versi syi’ah dapat diumpakan seperti kafir/murtad nya orang yang MALAS  SHALAT  FARDHU

Adapun sahabat Nabi SAW diluar yang 7 orang seperti Hujr bin Adi dll tetap dianggap ahli surga..

.

Rasulullah (Saw.) mengatakan bahawa majoriti sahabat telah menjadi murtad selepas kewafatannya (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen tetapi tidak patuh pada wasiat), kerana mereka telah mengubah atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Hanya sedikit sahaja bilangan mereka terselamat. Syi‘ah tidak mengkafirkan mereka tetapi al-Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut.
.

Seperti  dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw. (Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58)

.
Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana)

.

.

.

.

.

Siapakah Sahabat Nabi yang murtad dalam Hadits ini?

Link sumber ambilan Hadits : http://bb.indoquran.com/en/hadith-bukhari/surah/42.html

Volume 4, Book 55, Number 568 :

Narrated by Ibn Abbas

The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_4_55.php

Narrated Ibn Abbas: The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.searchtruth.com/book_display.php?book=55&translator=1&start=19&number=561

_______________________________________

Ternyata menurut Hadits yang ada dalam Shahih Bukhari ini,sepeninggal Rasulullah ada sekumpulan para Sahabat Rasulullah yang Murtad,karena di dalam Hadits ini Rasulullah memanggil mereka “Ashabi .. Ashabi (Sahabatku .. Sahabatku) kemudian dalam kalimat bahasa Arab di dalam Hadits ini memakai lafazh “Murtadina” yang berarti menunjukkan kepada kata Jamak atau banyak orang atau sekumpulan orang,dengan memakai lafazh jamak,itu menunjukkan bahwa sahabat Rasulullah yang murtad itu banyak,tidak satu orang.

Siapa sajakah para Sahabat Rasulullah yang murtad itu ?

Hadits ini ada di dalam kitab Shahih Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas ra ,Kitab/Bab Para Nabi/Prophets. Jika umat Sunni dan umat agama Wahabi berani menuduh sesat Syi’ah karena Syi’ah berpendapat bahwa sebagian Sahabat Rasulullah ada yang murtad sepeninggal Rasulullah,beranikah umat Sunni dan umat agama Wahabi menuduh sesat Imam Bukhari dan Ibnu. Abbas ra ? karena ternyata Imam Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas telah meriwayatkan bahwa ada segolongan Sahabat Rasulullah yang murtad sepeninggal Rasulullah.

Beranikah umat Sunni mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Beranikah umat agama Wahabi mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Mau menolak Hadits ini ? Atau mau menuduh ini Hadits palsu buatan Syi’ah ? Atau mau menuduh ini Hadits Palsu buatan Non-Muslim ?

Jangan buru-buru ,silahkan periksa dulu Kitab Shahih Bukhari yang ada di rumah kalian.

Mau mendhai’fkan Hadits ini ? Maaf,Hadits ini ada dalam Kitab Shahih Bukhari,Kitab Hadits paling Shahih no.1 menurut Sunni dan Wahabi. Jadi mutlak Shahih.

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi

Periksalah rumahmu sebelum mengatakan rumah orang lain kotor

“…. memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, ….”(QS.Yasin:6)

Mereka mengatakan : “setelah Nabi Muhammad wafat semua sahabat murtad kecuali + 6 orang. (lihat Al ushul minal Kafi lil Kulaini 1/196-197, dan Kitab Kasyful Asror lil Khumaini hal. 155)”

wahai pembaca…

       Ahmad bin Muhammad bin Yahya daripada bapanya daripada Muhammad bin al-Husain daripada al-Hasan bin Mahbub daripada al-Harith beliau berkata: Aku telah mendengar Abd al-Malik bin A‘yan bertanya kepada Abu Abdullah a.s.   Abd al-Malik bertanya kepada Abu Abdullah a.s. sehingga dia berkata: Jika begitu, maka binasalah semua manusia? (halaka al-Nasu idhan?) Maka Abu Abdullah a.s berkata: Ya! Demi Allah, wahai Ibn A‘yan! semua manusia binasa (halaka al-Nasu ajma‘un). Abd al-Malik berkata: Semua penduduk Timur dan Barat? Beliau a.s menjawab: Ia telah terbuka kepada kesesatan. Demi Allah, mereka telah binasa (halaku) melainkan tiga orang iaitu (illa thalathata nafarin): Salman al-Farisi, Abu Dhar dan al-Miqdad. Setelah itu diikuti oleh ‘Ammar, Abu Sasan al-Ansari, Hudhaifah dan Abu ‘Amrah. Maka bilangan mereka bertambah menjadi tujuh orang”[Al-Kulaini, al-Raudhah, no.356, al-Kasyi,  al-Rijal, hal. 5,]
.
Dalam kitab Rijaalul-Kisysyi diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata : “Para shahabat seluruhnya murtad kecuali tiga orang, yaitu Salman, Abu Dzarr, dan Al-Miqdad”. Aku bertanya,”Bagaimana dengan ‘Ammar bin Yasir?”. Ia menjawab,”Ammar telah melakukan satu penentangan kemudian ia kembali”. Abu Ja’far kembali melanjutkan perkataannya,”Jika yang engkau maksud adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi dan tidak tercemar dengan sesuatu pun, maka ia adalah Al-Miqdad. Adapun Salman, merasuk ke dalam hatinya sesuatu keraguan bahwa Amirul-Mukminin (yaitu ‘Ali) disokong oleh Asma’ Allah Yang Maha Agung, sekiranya ia mengucapkannya niscaya bumi akan menenggelamkan mereka, seperti ini : “Ia memperagakannya dengan mengalungkan bajunya ke leher dan memukul lehernya dengan tangan dan pisau lalu dibiarkan tergantung seperti serigala. Lalu Amirul-Mukminin berpapasan dengannya lalu berkata,”Wahai Abu Abdillah, ini adalah balasannya, berbai’atlah!”. Maka Salma pun berbai’at. Adapun Abu Dzarr, Amirul-Mukminin memerintahkannya supaya diam. Namun, ia adalah orang yang tidak takut celaan orang dalam membela agama Allah, ia pun tidak mau mengikuti perintah beliau dan berbicara. Lalu ‘Utsman mencekal dan membuangnya. Kemudian orang-orang bertaubat setelah itu, orang pertama yang bertaubat adalah Abu Sasan Al-Anshari, Abu ‘Amrah, dan Syatirah. Total jumlahnya tujuh orang, tidak ada yang mengetahui hak Amirul-Mukminin kecuali tujuh orang tadi” (Rijaalul-Kisysyi 11-12).
.
       Daripadanya, daripada Muhammad bin al-Hasan, daripada Muhammad bin al-Hasan al-Saffar daripada Muhammad bin al-Husain daripada Musa bin Sa‘dan daripada Abdullah bin al-Qasim al-Hadhrami daripada ‘Umru bin Thabit berkata: Aku telah mendengar Abu Abdullah a.s berkata: Sesungguhnya selepas Nabi s.a.w wafat, maka orang ramai telah menjadi murtad melainkan tiga orang: Salman, al-Miqdad dan Abu Dhar. (Inna al-Nabi s.a.w lamma qubidha irtadda al-Nasu ‘ala a‘qabi-him kuffaran illa thalathan).Sesungguhnya apabila Rasulullah s.a.w wafat, maka empat puluh orang lelaki datang kepada Ali  bin Abu Talib a.s, Mereka berkata: Tidak, demi Allah! Kami tidak akan memberi ketaatan kepada sesiapapun melainkan anda. (la wallahi, la na‘ti ahadan ta‘atan ba‘da-ka abadan). Beliau a.s berkata: Kenapa? Mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar  Rasulullah s.a.w mengenai hak anda di hari Ghadir Khum. Beliau a.s berkata: Kamu semua akan melakukannya?. Mereka berkata: Ya. Beliau a.s berkata: Datang kepada aku esok dalam keadaan bercukur kepala (fa’tuuni ghadan muhalliqin). ‘Umru berkata: Tidak datang kepada Ali a.s. melainkan mereka bertiga. ‘Umru berkata: ‘Ammar bin Yasir datang kepada Ali a.s. selepas waktu Zuhur. Beliau a.s. memukul tangan  ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar: Kenapa anda tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu yang tidak mentaati aku di dalam pencukuran  kepala. Bagaimana kamu mentaati aku untuk memerangi bukit besi!. Justeru kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu (Irji‘u fa-la hajata li fi-kum antum lam tuti‘uni fi-halqi al-Ra’si fa-kaifa tuti‘uni fi qitali jibali  l-hadid)[Al-Majlisi,  Bihar al-Anwar, viii, 47, 51(Dikutip dari al-Ikhtisas, Syaikh Mufid)].

Jawaban pihak syi’ah :

Kronologis Asbabul Wurud hadis diatas dan maksud yang terkandung di dalamnya :

  1. Jenazah suci Rasulullah SAW belum dikebumikan, kaum Anshar suku Aus dan Khazraj berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, info ini bocor kepada trio Abubakar – Umar dan Abu Ubaidah sehingga mereka bergerak cepat ke lokasi PERTEMUAN. Abubakar terpilih jadi Khalifah di Saqifah
  2. Setelah Imam Ali AS mengurus pemakaman Rasulullah, mengafani dan mengebumikannya maka malam harinya 40 orang berkumpul di rumah Imam Ali AS antara lain : Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad Al Aswad, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, ‘Ammar bin Yasir, Bara’ bin Anzib, Ubay bin Ka’ab dan lain lain BERTEKAD membai’at Imam Ali AS menjadi khalifah
  3. Umar bin Khattab mencium gerakan ini sehingga menyerbu rumah Fatimah untuk membakarnya jika kubu Imam Ali   tidak mau membai’at Abubakar. Abubakar  dan Umar  menyerbu rumah  Fatimah  dengan kekerasan  dengan tujuan  agar loyalis pendukung  Imam Ali  segera  membai’at  Abubakar secara paksa.. Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian  kecil  sahabat  ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar
  4. Imam Ali AS diseret seret ke Masjid secara paksa, tetapi dihadang oleh Fatimah sehingga Abubakar meminta Umar menghentikan aksinya

.

Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Mushannaf:  Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannaf dengan sanad sahih menukil demikian:  “Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya!

.

Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf: Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimaan yang telah disebutkan.  Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? Umar berkata, “Iya. Perbuatan ini akan membantu pekerjaan yang untuknya ayahmu diutus.”

.

5.Umar bin Khattab memukul  perut Fatimah Az Zahra hingga keguguran dan sakit sakitan. Enam bulan kemudian puteri Nabi SAW ini wafat karena sakit akibat luka di penyerbuan tersebut

6. Setelah aksi penyerbuan bar bar ini selesai maka malam itu juga Imam Ali AS meminta kepada 40 orang yang berniat membai’at nya agar besok pagi datang lagi dengan BERCUKUR RAMBUT

Setelah  aksi  penyerbuan bar bar selesai, maka MALAM  iTU  JUGA Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang

7. Akan tetapi keesokan harinya hanya 3 orang yang datang BERCUKUR RAMBUT, yaitu

Salman Al Farisi (muhajirin)

Abu Dzar Al Ghifari (muhajirin)

Al Miqdad bin Aswad (muhajirin)

Adapun ‘Ammar bin Yasir telat datang sehingga ditegur keras oleh Imam Ali

Inilah  maksud  hadis hadis diatas !!!

Akan tetapi setelah itu dukungan kepada Imam Ali AS di ikuti oleh :

  1. ‘Ammar bin Yasir (muhajirin, diramalkan oleh Nabi SAW akan dibunuh oleh kelompok pemberontak)
  2. Abu Sasan Al Ansari
  3. Abu ‘Amrah
  4. Syatirah
  5. Hudhaifah

Jadi hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

Dari segi tata bahasa Arab, murtad banyak maknanya tergantung apa kalimat setelah kata “murtadad/yartadid/murtadin”. Contoh :“MURTADDiNA ‘ALA A’QAABiHiM” artinya membelot dari janji mereka

Hadis ini bersifat situasional ( fi’il madhi ), bukan bersifat  menyeluruh !!!

misal : Ayah anda wafat, lalu  adik kandung anda yang CEWEK  sedang  hamil , lalu datang  orang orang kampung  menyerbu rumah anda karena iri hati dengki  sehingga  adik  anda sakit lalu  keguguran.  Didalam  rumah  itu  ada  kawan  kawan  akrab  anda.. Lalu malam itu anda berkata  kepada kawan kawan  akrab  anda bahwa : “BESOK  BERKUMPULLAH disini, kita buat  PEMBALASAN”.. Nah, keesokan harinya yang datang  kerumah  anda  cuma  7  orang.. Salahkah jika anda berkata : “Yang patuh (tidak kafir) pada perintahku  cuma  7 orang saja ya, yang lain berbalik (murtad) dari perintahku” …

PERTANYAAN : Apakah kawan kawan  anda yang tidak berada  dalam rumah  tersebut juga bisa divonis  kafir dan  murtad  juga jika mendukung Imam Ali setelah peristiwa cukur rambut tersebut ???  YA  NGGAK LAH  akhi/ukhti  !!!

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  membuat  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  MURTAD..

Pihak  syi’ah  tidak  pernah  mengajarkan  i’tiqad  bahwa  hanya  3,4 atau 7  sahabat  yang  TiDAK  KAFiR..

Hadis  diatas bersifat  situasional  pada peristiwa itu saja…

Syi’ah Ali merupakan golongan sahabat paling utama yang beriman dan mengorbankan seluruh diri mereka demi kepentingan Islam

Selama  40  hari  setelah  Nabi  SAW  wafat, Imam Ali AS dan Fatimah Az Zahra menghubungi pemuka pemuka di malam hari untuk mengingatkan mereka tentang perintah Nabi Muhammad SAW mengenai haknya atas kekhalifahan, mengajak mereka untuk bergabung dengannya menggalang kekuatan

Tetapi…

Hanya segelintir orang yang memberi tanggapan, selain nama nama diatas ada tambahan dukungan dari beberapa orang lainnya seperti :

  1. Khalid bin Sa’id bin Abil Ash (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  2. Buraidah al Aslami (muhajirin, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  3. Abul Haitsam bin Taihan (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  4. Usman bin Hunaif (anshar, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  5. Khuzaimah ibn Tsabit Al Anshari  (anshar, dikenal sebagai dzusy syahadatain karena kesaksian nya dianggap Nabi SAW sama dengan kesaksian dua orang, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  6. Ubay bin Ka’ab (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  7. Abu Ayub Al Anshari (ANSHAR, beliau menentang kepemimpinan Abubakar)
  8. Jabir bin Abdillah Al Anshari (termasuk syi’ah Ali yang utama)

.

Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, Syi’ah Ali juga termasuk :

  1.  Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya yang berjumlah tujuh orang (yang dibunuh   di ADZRA, mereka sudah diramalkan akan mati syahid oleh Nabi SAW jauh sebelumnya)
  2.  Zaid bin Arqam (sahabat yang dikatakan Nabi akan masuk surga tanpa hisab,  juga diramalkan Nabi akan buta di masa tuanya)
  3.  Malik al Asytar
  4.  Hasyim Al Mirqal
  5.  Sha’sha’ah bin Shuhan
  6.  Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah
  7.  Muhammad bin Abubakar
  8.  ‘Addi bin Hatim Al Tha’i
  9.  Uwais Al Qarni
  10. dan lain lain. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN

.

Adapun Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Bani Hasyim merupakan KERABAT NABi SAW dan bukan sahabat Nabi SAW.. Jadi Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud merupakan kerabat dalam makna hadis diatas dan bukan sahabat !!!

Pascawafatnya Rasulullah Saw, sebagian sahabat dalam banyak kasus telah mengusik dan menyakiti Fatimah Zahra As sehingga telah menyebabkan kekecewaan dan ketidakrelaan beliau. Sebagian dari kasus ini disebutkan dalam literatur-literatur Ahlusunnah

Ummu  Salamah  isteri  Nabi SAW merupakan isteri, bukan SAHABAT yang dimaksud hadis tersebut

Adapun dari PiHAK KERABAT yang tergolong yang tergolong syi’ah Ali antara lain adalah :

  1. Fatimah sang isteri tercinta
  2. Ibnu Abbas
  3. Abbas bin Abdul Muthalib
  4. Fadhl bin Abbas
  5. Hasan
  6. Husain
  7. Dll dari Bani Hasyim
  8. Ummu Salamah (janda Nabi SAW)

Yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah : “selain 7 orang sahabat tersebut bukan berarti mereka kafir keluar dari Islam..

Murtad atau kafir yang mereka maksudkan bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam

Ringkasnya Murtad/kafir disini bermakna : “murtad dari janji mereka dengan Rasul, bukan kafir tulen/murtad tulen dari Islam”

Demikian juga dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Jabir bin Abdullah Anshari Ra disebutkan, “Pascawafatnya Rasulullah Saw, Hadhrat Fatimah Zahra jatuh sakit, dua orang sahabat Rasulullah Saw datang ingin membesuk dan menanyakan beliau! Hadhrat Fatimah Zahra Sa bersabda, ’Apakah kalian tidak mendengar Rasulullah Saw bersabda: Fatimah adalah belahan jiwaku. Barangsiapa yang menyakitinya sesungguhnya ia telah menyakiti aku? Dua orang sahabat itu berkata, ‘Iya. Kami mendengar darinya (Rasulullah).’ Saat itu, Hadhrat Fatimah Zahra Sa mengangkat kedua tangannnya ke atas dan berkata, ’Tuhanku. Engkau menjadi saksi bahwa kedua orang ini telah menyakitiku dan telah merampas hakku,’ kemudian beliau berpaling dari keduanya. Selepas itu beliau tidak berbicara dengan keduanya.”

Bahkan Umar dan Abubakar mengakui imamah Ali ! mereka mengakui pelantikan imam Ali di Ghadir Kum

Hanya saja di akhir hayat Nabi SAW : Abubakar, Umar cs adalah kelompok yang menginginkan kekuasaan, mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen.. Demikian juga dengan kelompok khusus anshar yang ingin menguasai kembali Madinah setelah wafat Nabi SAW seperti Bin Ubadah mereka bukan kafir tulen, bukan murtad tulen…

Nabi SAW menyatakan kafir kepada sahabat yang berperang dengan sesamanya… Kafir disini bukan keluar dari Islam !!!

Dengan kondisi seperti ini sangat sulit bertindak, beliau harus tetap berdiam diri karena orang orang beriman yang sedikit ini akan terbunuh tanpa mereka bisa berbuat apa apa terhadap Islam

Perpecahan  diantara kaum muslimin bisa saja membumi hanguskan islam dari muka bumi ini. Oleh karenanya Imam Ali AS tidak bisa berbuat apa apa seperti yang dilakukan Nabi Harun AS untuk mencegah terjadinya perpecahan…

Bagaimana syi’ah memandang PARA SAHABAT ??

Adapun Abubakar dan Umar merupakan orang orang Islam tetapi perbuatan mereka tidak sungguh sungguh membela islam pasca Nabi SAW wafat

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan BAHAYA YANG MENiMPA ISLAM di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri + cucu Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB SUNNi  (ahlusunnah waL jama’ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  “SUNNAH  BUATAN “ SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Pertikaian politik sering dicarikan legitimasi nya oleh Mazhab Sunni dengan memalsukan sumber sumber hadis dan kitab kitab sejarah. Kaum mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi ahlul hadis sunni, bukan karena mereka tidak percaya pada tradisi Nabi SAW, tetapi karena mereka ragu akan keoriginalan hadis hadis sunni.

Syi’ah menyortir hadis sunni, karena syi’ah hanya mamu memakai sunnah yang betul betul asli (orisinal) dan bukan hadis hadis buatan yang bukan dari Nabi SAW

Wasiat Nabi SAW bahwa 12 khalifah Quraisy haruslah berasal dari Ahlul bait dan dari Bani Hasyim membuat mayoritas suku suku pasca Nabi SAW wafat tidak mau menerima. Mereka berpikir :  “Apakah kenabian dan kekhalifahan hanya hak eksklusif Bani Hasyim ???

Penolakan terhadap wasiat Nabi SAW tentang imamah wa khilafah sangat mengerikan karena kelak di kemudian hari mengakibatkan terjadinya PENYESATAN UMAT Muhammad SAW sepanjang masa, apalagi sunni mengedarkan doktrin politik nya dengan gaya gaya absolutistik dan merasa “pasti benar”.

PERiSTiWA Saqifah menimbulkan DAMPAK BERANTAi di kemudian hari yakni UMAT MENJADi SESAT karena mendustakan, meninggalkan dan memusuhi ajaran ahlulbait. Teraniaya nya puteri Nabi dan tertahan haknya. Thaghut Umayyah Abbasiyah menindas para imam maksum lalu MERUBAH Hadis Hadis NABi, terampasnya warisan kepemimpinan ahlulbait penerus Nabi, Berkuasanya tiran fasik yang berlaku sewenang wenang kepada Ahlulbait dan syi’ah Ali sehingga mengalami ujian dan bencana tiada tara karena kezaliman pembangkang

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Bertakwalah kepada Allah” (Qs. Al Hujurat ayat 1)

Perpecahan, berbagai perselisihan, pertikaian dan propaganda yang tidak pada tempatnya mengakibatkan seseorang bisa menjadi MUSYRiK. Permusuhan membawa kepada kelemahan umat dan hilangnya wibawa !

Janganlah wahabi mengira definisi musyrik hanya dengan menyembah berhala, akan tetapi musyrik juga mencakup MEMECAH BELAH AGAMA dengan menjejalkan secara paksa berbagai kepentingan dan pandangan raja raja zalim kedalam agama  yang akhirnya melunturkan nilai keotentikan dan kesucian agama. Akibat nya hukum Allah menjadi keruh bercampur baur dengan tangan tangan kotor penguasa tiran.

Firman Allah SWT : “… janganlah kamu termasuk orang orang yang mempersekutukan Allah , yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Rum ayat 31-32 )

Firman Allah SWT : “Apakah mereka mempunyai semabahan sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan . Dan sesungguhnya orang orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Qs. Asy Syuraa ayat 21)

Misalnya : apa yang terjadi di Madinah selama jenazah Nabi SAW terbaring di kamar ‘Aisyah ?? Buku buku sejarah dikaburkan dengan polemik polemik sengit kaum sunni dengan penafsiran yang diselewengkan, bahkan dengan mengkafirkan dan membid’ahkan mazhab ahlul bait. Apakah tidakan keji ini membuat umat tidak sesat dikemudian hari ???

Perebutan kekuasaan menjadikan umat Islam terpecah belah. Syi’ah memerangi sektarianisme. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte sekte, engkau (Muhammad) tidak sedikitpun termasuk mereka” ( QS. Al An’am 169 ))

Tanyakan pada mereka : Apakah masuk akal pada bidang religius misalnya orang mengikuti Imam Malik lalu pada bidang politik mereka mengikuti KHALiFAH AL MANSHUR ???  Bukankah thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah dikategorikan sebagai kelompok sunni ?

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) menyatakan bahwa pemimpin sah dengan salah satu diantara empat cara perebutan kekuasaan :

  1. Sistem syura yang terbatas ( seperti pemilihan Abubakar )

Padahal sistem ini tidak lebih dari persekongkolan kalangan tertentu untuk merampas hak Imam Ali AS sebagai penerus tugas suci Nabi SAW

  1. Sistem istikhlaf ( penunjukan oleh khalifah sebelumnya seperti yang dilakukan Abubakar kepada Umar )
  2. Sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya ( seperti pengangkatan Usman bin Affan )
  3. Sistem al ghalabah bi as saif ( kemenangan perang /penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu’awiyah yang menghunus pedang kepada Imam Ali AS), bahkan Sunni mengharuskan pentaatan pada penguasa yang zalim selama mereka masih shalat. Abdullah bin Umar menyatakan : “kami bersama orang yang berkuasa”

Apakah empat hal yang saling bertentangan seperti diatas bisa disatukan ??? Apakah sunnah Nabi yang otentik mengandung ajaran tersebut ?? Otak saya tidak bisa mencerna kontradiksi ini. Apalagi perbutan kekuasaan dengan meninggalkan jenazah Nabi, mencampakkan bani Hasyim, penindasan, berlaku sewenang wenang dan penumpahan darah terhadap manusia manusia MAKSUM dan para pengikutnya..

Sampai sampai khutbah jum’at pun dijadikan medan propaganda untuk membusukkan dan mengutuk Imam Ali AS. Apakah Sahabat Nabi SAW yang membenci Imam Ali dan keturunan nya bukan pendusta agama ??? Apakah Sahabat Nabi yang membunuh sahabat Nabi yang lain dan meracuni imam Hasan adalah adil ???

Perkongsian antara para SULTAN dan ulama kerajaan seperti Abu Hurairah menghasilkan SUNNAH REKAYASA bernama hadis hadis yang melarang rakyat berontak kepada penguasa zalim, hadis keadilan semua sahabat dan tidak adanya wasiat tentang  imamah Ali

Fatwa yang menyenangkan hati KANJENG PENGUASA akan mendapat pujian dan bintang tanda jasa dari Thaghut Umayyah – Abbasiyah, berduyun duyunlah ulama su’ mendekati istana dengan target menjual iman kepada pihak yang berkuasa !!

Sedangkan ulama yang berani berterus terang menyatakan ajaran islam yang sejati dihabisi karena Bani ‘Alawiyyah, orang orang yang pro Ali dan keturunannya dimusuhi thaghut Umayyah – Abbasiyah. Dituduh RAFiDHi. Rafidhi dikutuk dimana mana, ulama kerajaan berlomba lomba mengutuk rafidhi dalam kitab kitab nya. Apa saja kekeruhan dalam negara maka rafidhi yang salah, kalau ada kekacauan maka rafidhi punya ulah !!!

Mau dibawa kemana firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan ” (Qs. Huud : 113)

POLiTiK KENEGARAAN MAZHAB  SUNNi  (ahlusunnah waL jama’Ah) MENYESATKAN  UMAT  DAN MUSTAHiL  TEGAK  KARENA  SUNNAH  SAHABAT  NABi SALiNG BERTENTANGAN

Lalu bagaimana dengan mazhab syi’ah imamiyah selaku satu satunya mazhab yang selamat ??? 12 imam maksum syi’ah memegang hak kepemimpinan politik sekaligus menjadi rujukan dalam masalah masalah keagamaan sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW ketika menjadi Pemimpin Negara Madinah yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat..

Bukankah Nabi SAW tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi pembawa wahyu, pengajar ilmu (guru), penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga berperan sebagai pemimpin NEGARA…

Kepemimpinan syi’ah adalah amanah ke Tuhanan (divine trust) yang merangkumi urusan duniawi-ukhrawi dengan dwi peran utama yaitu memelihara agama dan mengurus dunia

Syi’ah tidak gentar karena kami berpedoman pada surat Ali Imran ayat 103 yang isi nya agar UMAT berpegang teguh kepada AGAMA ALLAH.

Adapun semua penindasan terhadap Fatimah, 12 imam maksum dan kaum syi’ah kami anggap sebagai cobaan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Jika seandainya Allah menghendaki, maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu yang diberikan Nya kepada mu” (Qs. Al Maidah ayat 51)

Firman Allah SWT : “Kalau seandainya Tuhan mu menghendaki, maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka” (Qs. Huud 118-119)

Firman Allah : “Manusia tidak lain kecuali umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya SABDA (kalimah) yang telah lewat dari Tuhan mu, maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu” (Qs. Yunus 19)

Firman Allah : “Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Kemudian Allah mengutus para Nabi membawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselsihkan. Dan mereka yang menerima kitab suci itu tidaklah berselisih mengenai sesuatu kecuali setelah datang berbagai penjelasan, karena rasa permusuhan antara sesama mereka. Maka Allah pun dengan izin Nya memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk kearah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya” (Qs. Al Baqarah 213)

Mazhab Sunni menghindari pembicaraan tentang tingkah laku negatif para SAHABAT sehingga mazhab syi’ah menjadi terpojok dituding sebagai pencela/pelaknat. Namun dalam hal ini syi’ah siap menyerahkan perselisihan ini di MAHKAMAH AKHiRAT kelak

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Fatimah Az Zahra, penghulu wanita di syurga
.

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya

.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam
.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

.

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang
.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312
.
fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah
.
Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat
.
Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa? 
.
Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS. Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?
.
sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya
.
cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaranbila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia
.
Allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabibahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran
.
Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umardan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak
(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??
.
Ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???
.
tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullahInilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…
,
mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat
.
Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa
..
begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?
.
As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100

.
Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?

.
Kenapa, dan kenapa?

.
Ada apa dibalik semua ini?

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Sakit berkepanjangan mengakibatkan janin Muhsin pun gugur..tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur..Muhsin gugur dari perut ibunya…..Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid… Orang itu  fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya

.

seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)

.

……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)

.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Fatimah az Zahra, anak perempuan Rasulullah, seorang wanita yang keagungannya di angkat sendiri oleh Allah swt ke satu tahap tertinggi, yang tidak tercapai oleh mana-mana wanita. kedudukan beliau tidak boleh di ragukan lagi kerana terlampau banyak hadis yang meriwayatkan keagungan makam Fatimah az Zahra. Mari kita ambil pengajaran dengan melihat sedikit dari kata-kata Rasulullah(sawa) tentang anak kesayangan baginda.
  1. Ahli keluargaku yang paling di sayangi ialah Fatimah.
  2. Ayatul Tatheer(33:33) diturunkan untuk 5 orang, diriku, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain
  3. Penghulu wanita di syurga ialah Fatimah
  4. Aku tidak gembira melainkan Fatimah gembira
  5. Mahdi akan datang dari Ahlul Baitku dari keturunan Fatimah.
  6. Fatimah ialah sebahagian dari ku, barangsiapa membuatkan beliau marah, membuatku marah, menyakiti beliau bermakna menyakiti ku.
  7. Ya Fatimah, sesungguhnya Tuhan berasa marah apabila kamu marah.

Begitulah kedudukan beliau di sisi Rasulullah, yang juga menunjukkan kedudukan beliau di sisi Allah swt. Satu kedudukan yang tidak akan di capai lagi oleh mana-mana wanita.

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”
.

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

.

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat

.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH

.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

.

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

.

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

.

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

.

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

.

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

.

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau

.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’

.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“Jika kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

.

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui

.

Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab… Tapi Muhsin gagal lahir kedunia ini karena sewaktu dalam kandungan Fatimah ; perut Fatimah dipukul  Umar Bin Khattab hingga Fatimah keguguran, peristiwa tersebut terjadi  sewaktu  Umar cs  menyerbu  ke rumah Fatimah  malam hari pasca tragedi  Pemilihan Abubakar di Saqifah…

Fatimah  tidak  wafat  secara alamiah, melainkan  karena  sakit bekas  pukulan lahir dan bathin… Jelas  Fatimah Az Zahra mati syahid

.

saudaraku….

Suatu hari Rasulullah S.A.W menyempatkan diri berkunjung kerumah Fatimah az-zahra. Setiba dikediaman putri kesayangannya itu, Rosulullah berucap salam & kemudian masuk. Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling Syaiir ( Sejenis Gandum ) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu Rosul bertanya kepada putrinya

.
“ Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.”

.
Fatimah menjawab. “ Wahai Rosulullah, Penggilingan dan Urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan Ananda menangis.”

Kemudian duduklah Rosulullah S.A.W disisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan. “ Duhai Ayahanda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku. Mencarikan seorang Jariah ( Hamba Perempuan ) untuk membantu Ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerja’an Rumah ?”

.

Maka bangkitlah Rasulullah S.A.W mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca BASMALLAH. Ajaib dengan seizing ALLAH S.W.T. penggilingan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar, Rasulullah bertasbih kepada ALLAH S.W.T dalam berbagai bahasa, sehingga habislah gandum itu tergiling.. “ Berhentilah berputar dengan izin ALLAH S.W.T.” maka penggilingan itu berhenti berputar

.

Lalu dengan izin ALLAH pula penggilingan itu berkata dengan bahasa manusia.” Yaa.. Rasulullah, demi ALLAH yang telah menjadikan tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga kebaratpun niscaya hamba gilingkan semuanya, Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab ALLAH S.W.T. “ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang dititahkannya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkannya. Maka hamba takut yaa.. Rasulullah kelak hamba menjadi batu dineraka.”

.

Dan bersabdalah Rasulullah.” Bergembiralah, karena engkau adalah salah satu Mahligai Fatimah az-zahra didalam surga. Maka bergembiralah penggilingan batu itu

.

Lalu Rasulullah bersabda.

” Jika ALLAH menghendaki,niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu. Tapi ALLAH menghendaki dituliskan-nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-nya beberapa kasalahanmu. Dan diangkatnya beberapa derajat untukmu bila wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. Dan ALLAH menuliskannya setiap gandum yang digilingkannya SATU kebaikan dan mengangkatnya SATU derajat “

.

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya.

” Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat. Ketika wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya. ALLAH akan menjadikan antara dirinya dan Neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian mereka. ALLAH akan mencatat pahala seperti memberi seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetanga-tetangganya, ALLAH akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar diahari kiamat.”

.

Rasulullah S.A.W masih meneruskan nasehatnya..

” Wahai Fatimah yang lebih utama dari semua itu adalah keridha’an Suami terhadap Istrinya. Jika suamimu tidak Ridha, aku tidaklah akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, Ridha Suami adalah Ridha ALLAH S.W.T, dan kemarahannya adalah kemarahan ALLAH S.W.T ?”

.

Apabila seorang wanita mengandung Janin, Maka beristigfarlah para malaikat. Dan ALLAH mencatat Tiap – tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit karena melahirkan, ALLAH akan mencatat seperti pahala orang-orang yang berjihad.
Apabila ia Melahirkan, keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadan sa’at ibunya melahirkannya.
Apabila ia Meninggal dalam melahirkan ia meninggalkan dunia ini tanpa dosa sedikitpun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan ALLAH mangaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristigfarlah seribu malaikat untuknya dihari kiamat

.

” Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar. ALLAH S.W.T menghapuskan dosa-dosanya. Dan akan mengenakan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan ( setiap helai seribu kebaikan ).. Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya, ALLAH memandangnya dengan pandangan Rahmat

.

.” Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, berserulah para malaikat untuknya. Teruskanlah Amalmu, maka ALLAH telah mengampunimu dari dosa yanglalu maupun yang akan datang.”

.” Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, ALLAH memberinya minuman dari sungai – sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan ALLAH menyelamatkannyadari api neraka, serta selamat dari titian Sirotulmustakim.

DARI ABDULLAH BIN AMR AL-ASH RA, ROSULULLAH BERSABDA.
“ DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.” ( H.R MUSLIM )

.

Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al HasanAl Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsumdan Zainab.

Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdulloh bin Ja’far bin Abi Tholib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak).

Adapun Al Hasan ra dan Al Husin ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rosululloh Saw.

Diantara keistimewaan atau fadhel Ikhtishos yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyahnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul

.

Hal mana sesuai dengan keterangan Rasulullah saw, bahwa anak-anak Fathimah ra itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya

.

Rasulullah Saw bersabda:
“Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tobroni)

.

Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Tobroni dan Abu Ya’la)

.

Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”


Itulah sebabnya, mengapa keturunan Siti Fathimah ra disebut Dzurriyyaturrasul atau keturunan Rasulullah SAW. Dan Dzurriyyaturrasul yang mayoritas masih lurus tentu lebih pantas diikuti dari pada Waladussyaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab

.

Keistimewaan yang lain dari keturunan Siti Fathimah ra adalah disamping mereka itu disebut sebagai Dzurriyyaturrasul, mereka itu menurut Rasulullah Saw akan terus bersambung sampai hari kiamat. Dimana semua keturunan menurut Rasulullah Saw akan putus.

Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:
“ Semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Tobroni, Al Hakim dan Al Baihaqi)

.

iNiLAH PANDANGAN SYi’AH TENTANG SAHABAT

Hadis-hadis haudh tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).

Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka… “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?

Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “

Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).

Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “…Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).

Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?

Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi… agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).

Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:

Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;

Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;

Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi – bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.

Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.

Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.

Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.

Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:

Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).

Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“

Pada ayat lain Allah berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,… yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).

Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.

Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.

Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.

Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).

Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).

Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).

Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)

Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).

Sekarang kita perhatikan ayat berikut.
Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).

Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah… “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “

Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.

Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.

Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.

Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:

Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).

Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)

Ayat – ayat tersebut menunjukkan bahwa ;

1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;

2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;

3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“

Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :

Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)

Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):

Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)

Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.

Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.

Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.

Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.

Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.

Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.

Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:

Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi (QS. az-Zumar : 65).

Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.

Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).

Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)

Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)

Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).

Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.

Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang, apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.

Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah tersebut. “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)”

Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.

Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah. Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.

Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di indonesia).

Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.

Komposisi ‘Shahabat’ menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu ‘ahlulbait nabi’ QS 33:33.

2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.

3. Orang-orang islam yang ‘berkerumun di pinggir jalan’, yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.

4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya ‘mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk’ QS 9:102.

5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena ‘trend’. Orang-orang ‘sangat awam’
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97

6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum muslimin. “Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi” QS 9:61

7. dll…dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.

Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah ‘bertemu diri’ sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.

Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.

Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta’dil dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam. Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah, sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.

Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat merugikan islam, kaum syiah dianggap ‘mengkafirkan’ dan mengecam shahabat.

Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap ‘bukan mereka yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst’. Sedangkan kaum syiah tidak menerima demikian.

Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali dianggap ‘atas kehendak Allah’, tidak secuilpun ulama sunni mengecam Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist, Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.

Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah manusia yang ‘mulia’.

Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah.

Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal ‘Tanah Fadak’, yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi. Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan sahabat nabi.

Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian ijtihad mereka.

Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb: Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang besar. (QS. 9:101)

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)

Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:”Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah:”Ia mempercayai semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. 9:61)

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (QS. 9:74)

SYi’AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an secara keseluruhan)

SYi’AH : Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada sahabat penentang Imam Ali adalah dari Sifat fi’l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy’ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur’an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma’at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya, “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali.”

Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya’irah menerimanya dan dijadikannya “hukum” yang sah sekalipun bertentangan
nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy ‘Ala Khairil l-’Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur’an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada
pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya, ” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil.” Mereka juga berkata,” Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini.” Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata,” Nabi Saw tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman.”

Pertanyaannya, kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saw tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saw dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saw dan al-Qur’an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan “aqidah” , padahal Sahabat sendiri berkelahi,
caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq,hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena “bersepakat” dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:”Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid,hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan “persetujuan/ kesepakatan” dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:” Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu.”

.

Mereka berkata lagi:”Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada “aqidah” mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat.” Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur’an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI’AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam menilai sesuatu urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy’ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah
Allah,”

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya, ” Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka.” Karena itu pendapat
al-Asy’ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

Hadis diatas membuktikan pendukung Imam Ali tidak sesat :
1.Al Quran tidak dapat dipahami dengan tepat tanpa pendampingnya, yakni ahlulbait Rasaul yang suci dari kesalahan dalam menafsir

2.Adakah Ali bagian daripada umat ataupun tidak ?

3.Adakah golongan menentang Abubakar cs yang terdiri dari Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dll termasuk di dalam umat ?

4.Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi Abubakar cs ? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Allah dan Rasulnya mengangkat Imam Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah di Ghadirkhum. Pengangkatan tersebut juga disaksikan oleh Abubakar, Umar dan Usman serta ribuan sahabat lainnya. Ironisnya Abubakar Umar cs melawan pengangkatan Imam Ali secara sembunyi dengan membuat rapat gelap untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai khalifah yang sah

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai madzhab Ahlul Bait (Syi’ah) sedang mengharu-biru. Bermula dari maraknya kontroversi mengenai nikah mut’ah, yang dianggap sebagai nikah yang dibolehkan madzhab Syi’ah, sampai kepada rekomendasi pelarangan madzhab tersebut di tanah air. Sayangnya, dilihat sebagai suatu wacana, perbincangan tersebut lebih diwarnai emosi dan dipenuhi stereotif yang kurang bertanggung jawab. Kajian yang berwawasan, apalagi yang memberi ruang kepada Syi’ah untuk memunculkan perspektifnya, mungkin belum terbuka. Oleh karenanya, menutup kekurangan yang ada, tulisan ini hendak menjelaskan satu perspektif penting Syi’ah, yang berlainan dengan madzhab Ahlu Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Yakni, perspektifnya mengenai shahabat Nabi saw. Perspektif ini secara historis merupakan cikal bakal lahirnya gerakan Syi’ah sendiri.

Berbeda dengan Sunni, yang cenderung tidak membuat penggolongan, Syi’ah mengelompokkan shahabat Nabi saw menjadi empat kelompok. Pengelompokannya itu sendiri didasarkan kepada nilai ‘keadilan’ yang dipraktekkan shahabat semasa Nabi saw hidup hingga menjelang wafatnya. Yang pertama dari kelompok tersebut adalah shahabat yang sangat istimewa, yang juga dikenal dengan istilah Ahlul Bait Nabi saw. Yakni mereka yang karena kekerabatan mereka dengan nabi, ketinggian akhlak dan kemurnian jiwa yang dimiliki dan kekhususan yang telah dikaruniakan Allah dan rasul-Nya kepada mereka hingga tiada satu pun orang yang dapat menyainginya.

Kedua adalah kelompok shahabat yang baik yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan pengetahuan yang sempurna. Ketiga adalah kelompok shahabat yang memeluk Islam dan ikut Rasulullah karena suatu tujuan, baik menginginkan sesuatu atau takut pada sesuatu. Dan yang terakhir adalah kelompok munafik yang “menemani” Rasul karena ingin memperdayakannya.

Karena adanya kondisi dan motif yang berbeda tersebut, Syi’ah menyatakan bahwa tidak semua shahabat adalah adil. Masyarakat muslim tidak sepatutnya menjadi buta tuli terhadap apa yang pernah diperbuat seorang shahabat, terutama dosa dan kezalimannya. Di lain pihak, Sunni berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw adalah sama dan sejajar baik dalam kedudukan maupun dalam keadilannya terhadap Islam. Dan tidak seorang pun di antaranya yang diistimewakan, tak terkecuali istri-istri, anak-anak, menantu dan keluarga lain Nabi saw sendiri.

Penggolongan shahabat kalaupun dikenal dalam tradisi Sunni hanya bersifat generatif. Artinya dilihat dari kedekatannya dengan Nabi dalam segi waktu. Sehingga penggolongannya dibagi menjadi golongan shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dst. Sebagian membaginya berdasarkan mula pertama masuknya para shahabat ke dalam Islam, seperti tingkatan as-Sabiqun al-Awwalun. Dan ada juga yang membagi bahwa Empat Khulafa’ Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali, pada tingkatan yang paling atas dari sekalian shahabat, disusul kemudian oleh enam shahabat lain yang dijamin masuk sorga.

Untuk menjadi wacana yang ‘benar’ dan bermanfaat, tentunya perspektif Syi’ah mengenai shahabat tersebut secara intelektual haruslah mendapatkan sekaligus legitimasi, baik yang bersifat historis maupun futuris. Legitimasi historis mengandaikan bukti intelektual. Yakni adanya indikator untuk menetapkan bahwa ’sejarah’ yang bersangkutan memang ada. Sedangkan legitimasi futuris mensyaratkan bahwa perspektif itu mempunyai implikasi penting sedikitnya bagi masa depan pencerahan Islam, terutama pasca Nabi saw wafat.

Tentang indikasi ketidakadilan menurut Syi’ah dapat dilihat dari beberapa peristiwa berupa pembangkangan, penjatuhan wibawa Nabi, dan yang terpenting adanya penghalangan terhadap Nabi untuk menegaskan wasiatnya dalam bentuk tertulis. Di antara peristiwa tersebut, misalnya peristiwa Perdamaian Hudaibiyah. Sebagian shahabat tidak senang atas penerimaan Nabi saw terhadap persyaratan yang diajukan kafir Quraisy. Umar bin Khattab sampai mendatangi Nabi saw dan berkata: “Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”. Kemudian setelah berdebat dengan Nabi saw, mengulangi perkataan itu kepada Abu Bakar. Dan ketika beliau menyuruh menyembelih binatang korban yang dibawa para shahabat serta perintahnya untuk mencukur rambut, tidak satu shahabat pun yang mematuhi.

Selanjutnya bentuk ketidakadilan lain dapat dilihat dari adanya motif politis yang menghalang-halangi Nabi saw mengukuhkan wasiatnya agar dituliskan di atas kertas. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Hari Khamis itu, terjadi tiga hari menjelang Nabi saw wafat. Para shahabat berselisih. Sebagian mereka enggan mematuhi Nabi saw, dan bahkan menuduhnya telah meracau sampai Nabi marah sekali dan mengusir mereka dari rumahnya tanpa menuliskan apa-apa. Perkataan Umar Bin Khattab yang menyatakan, bahwa “Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Qur’an ada di sisi kalian, maka cukuplah bagi kita Kitabullah”, menurut Syi’ah merupakan bentuk langsung penolakan hadits Nabi. Yakni yang menyuruh para shahabat berpegang kepada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi.

Kemudian dua hari menjelang wafat Nabi saw, sebagian shahabat kembali mencela perintah Nabi. Yakni dalam pengangkatan Usamah sebagai komandan ekspedisi untuk memerangi Roma. Menurut para shahabat, bagaimana mungkin Nabi mengangkat orang yang baru berumur delapan belas tahun menjadi komandan para shahabat besar. Nabi saw sampai mengulang-ulang perintahnya, namun para shahabat tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Itulah beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah Islam. Penting dikemukakan di sini bahwa peristiwa-peristiwa di atas tidak hanya diberitakan oleh sumber-sumber Syi’ah. Shahih Bukhari dan Muslim, yang notabene merupakan sumber terpercaya madzhab Sunni, pun memberitakannya. Mengenai hal ini, DR Muhammad al-Tijani al-Samawi, seorang Wahabi Tunisia yang kemudian menjadi pengikut Syi’ah, mempunyai komentar. Bahwa seandainya orang alim Syi’ah menukilnya dari kitab mereka sendiri, maka aku tidak akan mempercayainya sama sekali. Namun ketika ia nukil dari kitab shahih Ahlu Sunnah sendiri, maka tak ada jalan untuk mencelanya.

+++

Maksud Syi’ah selalu memunculkan peristiwa-peristiwa seperti disebutkan di atas tentu sudah umum diketahui, bahwa yang berhak atas kepemimpinan pasca Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Ali memenuhi kriteria sebagai Itrah Ahlul Bait Nabi yang keadilannya (keutamaannya) tidak disangsikan lagi. Dibandingkan para shahabat lain, orang pasti kesulitan untuk mencari cela, dosa dan kezaliman Ali. Namun sejarah telah berbicara lain, di kala keluarga Ali sibuk mengurus jenazah Nabi saw, Abu Bakar dilantik dengan tergesa-gesa menjadi Khalifah atas prakarsa Umar bin Khattab. Ali sendiri, bersama istrinya Fatimah, putri tercinta Nabi, terpaksa memberikan bai’at atas pengangkatan itu setelah diancam akan dibakar rumahnya.

Sejarah telah berlalu, namun perspektif Syi’ah untuk tetap berpegang pada Itrah Ahlul Bait Nabi dan keadilannya sampai kini tentu mempunyai raison d’etre. Maka sampailah kita kepada persoalan mengenai persyaratan bahwa suatu perspektif mesti mempunyai implikasi untuk menjadi bermanfaat. Tentang hal ini dijawab oleh Syi’ah dengan berbagai fenomena yang terjadi di dunia Sunni. Yang terpenting dan saling berhubungan di antaranya adalah bahwa hilangnya perspektif keadilan para shahabat berpengaruh pada manipulasi data, distorsi penafsiran serta peminggiran wacana dan keteladanan dalam Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya wacana mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di akhir masa hidup Nabi, yang sudah tentu dalam perspektif Syi’ah dapat menjelaskan keberpihakannya kepada Ali. Bahkan pemberitaan mengenai peristiwa di akhir masa hidup Nabi dalam dunia Sunni cenderung ditutup-tutupi dengan alasan “menjaga segala kemuliaan para shahabat”.

Konsekuensi lain adalah pengaruhnya atas kualitas kepemimpinan pasca Nabi. Menurut Syi’ah, Sunni pasti kesulitan untuk mencari alasan, bilamana dipertanyakan tentang apa dasar dan alasan keabsahan khilafah Abubakar misalnya. Tidak demikian apabila pertanyaan semacam itu dipertanyakan kepada Syi’ah atas penetapannya pada khilafah Ali, yang alasan dan dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karenanya khilafah pasca Nabi versi Sunni kehilangan legitimasinya ketika ia dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Yang berkembang kemudian dalam pemikiran politik Sunni adalah ijtihadz tanpa dasar dengan alasan yang semena-mena. Contoh paling ekstrim mengenai ini adalah tragedi pembantaian cucu Nabi, Husein, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Atas pembantaian itu Sunni cukup memberi alasan bahwa Yazid sedang berijtihadz. Bilamana ia benar maka mendapat dua pahala, sedangkan bilamana salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bait Nabi. Kesimpulan Syi’ah mengenai hal ini adalah bahwa Sunni telah mengalahkan Sunnah Nabi dengan ijtihadznya.

Lebih jauh lagi adalah adanya peminggiran wacana dan keteladan Ahlul Bait Nabi. Siti Fatimah, yang oleh Nabi sendiri digelari “ibu bagi ayahnya” karena kecintaan dan ketakdhiman putrinya tersebut kepada beliau, jarang sekali menjadi rujukan dan kajian di dalam Sunni. Adanya pembekuan madzhab fiqh menjadi empat madzhad di dalam Sunni, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menurut Syi’ah adalah juga konsekuensi langsung dari peminggiran Ahlul Bait Nabi. Padahal ada sumber penting yang lebih dekat, baik secara kekerabatan maupun waktu, yakni Imam Jafar al-Shadiq, yang tidak lain adalah cicit Nabi dari keturunan Fatimah. Bahkan sejarah sendiri mencatat bahwa keempat imam madzhab merupakan murid-murid Imam Jafari’, sehingga Imam Jafari’ digelari “guru para imam”.

Dari uraian di atas, dengan demikian menjadi jelas bagi Syi’ah, bahwa perspektif mengenai keadilan para shahabat mempunyai legitimasi historis maupun futuris. Dan perspektif itu baginya tidak hanya berhenti dalam masalah khilafah Ali saja. Pada kenyataan historis dan sosiologis, eliminasi perspektif itu akan berpengaruh pada ruang waktu yang lebih luas, serta pencerapan kebenaran Islam yang lebih dalam. Wallahua’lam

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy SyuraSyiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura


Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. 

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ. 

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”


Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!  

Wallah A’lam.


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

Para pembaca..

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[Musnad Ahmad,5/48 dan 50.]

.

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.]

Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi]

.

.
                                                                                               I
    Definisi kekafiran
.
Kafir dan murtad disini bermakna tidak taat atau tidak patuh, bukan bermakna kafir tulen
.
Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi ianya suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun kerana ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sendiri. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis daripada mazhab Ahlu l-Bait(a.s) di dalam buku-buku mereka.
.
Amatlah dikesali bahawa kaum Wahabi yang menyamar sebagai Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sentiasa menyamarakkan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka.Walau bagaimanapun rencana ringkas ini sekadar mendedahkan hakikat sebenar  bagi menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.
.
Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt) Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), nescaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah atau Hadis Nabi (Saw.)
.
      Definisi sahabat
Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah daripada para sahabatnya.”
.
Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
.
Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima (Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)
.
Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi, hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).
.                                                                  
                  Kedudukan para sahabat
.
Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.
.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) atau Syi‘ah atau Imam Dua belas.
.
3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.
                                                                                            II
Dikemukan dibawah ini lima hadis daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384 (Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih MuslimMuslim, Sahih, edisi Muhammad Fuad  ‘Abdu l-Baqi, Cairo, 1339H,
        . 
                                                      Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari
.
1. Hadis no. 578. Daripada Abdullah bahawa Nabi(Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebahagian daripada kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh daripadaku.Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
2. Hadis no. 584. Daripada Anas daripada Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka, lantas mereka dibawa jauh daripadaku. Kemudian aku akan bersabda:Para sahabatku (ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
3. Hadis no. 585. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi  ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar  sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat Allah)  atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) 
.
           Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)
.
4. Hadis no. 586. Daripada Ibn Musayyab bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka  ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
.
5.Hadis no.587. Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (Saw.)bersabda: Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka : Datang kemari.Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka,demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka  ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).
.
                                                         Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim
.
1. Hadis no.26. (2290) Daripada Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata:Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya.
.
(2291) Dia berkata: Aku naik saksi  bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah: Dia berkata: Sesungguhnya mereka itu adalah daripadaku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh !Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)
.
2. Hadis no.27 (2293) Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakr berkata: Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu  ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
.
3. Hadis no. 28. (2294) Daripada  ‘Aisyah berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya (ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah daripada (para sahabat) ku dan daripada umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma  ‘amilu ba‘da-ka). Mereka sentiasa mengundur ke belakang(kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)
.
4. Hadis no.29 (2295) Daripada Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah; isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang daripada kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir daripadaku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana  dihalau/diusir unta yang tersesat (ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu). Aku akan bersabda: Apakah salahnya?  Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh! (daripada  rahmat Allah) (suhqan).
.
5. Hadis no.32 (2297) Daripada Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka.Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku.Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
6. Hadis no.40. (2304) Daripada Anas bin Malik bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) daripada mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku.Kemudian mereka dipisahkan daripadaku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka).
.
  Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadis-hadis tersebut.
.
Daripada hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali
b. Inna-ka la tadri atau la  ‘ilma la-ka ma ahdathu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali. Perkataan ahdathu bererti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah atau inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).
c. Inna-hum  Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.
d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau ke Nerakalah mereka yang telah mengubah atau menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan“Ghayyara” bererti mengubah atau menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya) satu kali.
.
Sementara Muslim telah menyebut perkataan:
.
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.
b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,
c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali
d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.
e. Innaka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.
f. Inna-ka la tadri atau sya‘arta ma  ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui atau menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali . Perkataan “Ma‘amilu” (Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
g. Ma barihu atau Ma zalu Yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him (mereka sentiasa kembali kepada kekafiran) dua kali
h. Suhqan suhqan li-man baddala  ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau  ke
.
Nerakalah mereka yang telah mengganti atau  mengubah atau  menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti atau mengubah atau menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Justeru itu sebab-sebab  mereka menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah kerana mereka:
(1)  Ahdathu=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(2) ‘Amilu   =Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(3) Ghayyaru=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(4) Baddalu=Irtaddu atau yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
.
                                                                                           III
Ini bererti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati(mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti MaslahahMasalihu l-MursalahSaddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah atau menukar atau menangguh atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)
.
Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu atau La yazalun yarji‘un ‘ala  a‘qabi-him)di dalan hadis-hadis tersebut adalah kerana mereka telah mengubah sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdathu)  dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama. Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil daripada mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat atau terbiar (mithlu hamali n-Na‘am). Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo, 1958, hlm.12) dan dijadikan akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.
.
Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bertepatan dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’ (34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103“Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih, tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud (11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak hairanlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah (swt).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A’masy telah memberitahu kami bahawa dia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt).Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”
.
Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.)  itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.)  itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itab berkata: “Aisyah berkata: Nabi (Saw.)  pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”
.
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata: “Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata: Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”
.
Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.)dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. “[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”, Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid,Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku , dia menyakiti Allah”  “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi,Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).
.
Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111],  mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’hlm.136)
.
Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )
.
Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”
      .

Siapa yang benar terkait penafsiran terhadap hadis Haudh ??

Versi Sunni atau Versi Syi’ah yang benar ???

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a)  dan Anas bin Malik akan menjadi “juri”

 Saya sadar kalau tulisa ini akan membuahkan sebuah pertanyaan usil yang akan membuat sebagian orang mendelik sambil berkata “Jangan mencaci sahabat Rasul”.

Samasekali bukan maksud saya hendak menjelek jelekkan sahabat RasuluLLAAH SAW, namun saya hanya inhgin mengajak insane agar mengambil ajaran Islam ini dari sumber yang masih benar benar Jernih, belum terkontaminasi oleh intrik semata. Karena Din Islam yang kita yakini akan dipertanggungjawabkan kelak diakherat, maka sudah selayaknya kita memilih ajaran yang benar dapat menyelamatkan kita dari Adzab ALLAAH,bukanlah ajaran yang akan menjebloskan kita pada posisi ketersesatan yang berkepanjangan. Mari kita ikuti satu persatu rangkaian tulisan ini,bila anada berkehendak membanrtah, maka silahkan membantah dengan argumentasi sekali lagi dengan argumentasi, bukan dengan cibiran yang tanpa ilmu, karena ilmu itulah yang akan membiaskan keadilan

Dijelaskan dalam suatu hadits shahih :
وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك
Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin UbaidiLLAAH bahwa RasuluLLAAH SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai RasuluLLAAH, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. RasuluLLAAH SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata “Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

.

Maka telah jelas bahwa Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka,juga tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Beliau tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW,sebab sebagian para shahabat banyak menyelewengkan ajaran Islam dari pokoknya


Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak .Para sahabat banyak yang mengkhianati imam Ali,Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali

Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده
Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al ‘Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui  Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena
dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu

apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan

siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah

mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok

dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

Sahabat Nabi bernama al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) MEMBENARKAN Mazhab Syi’ah terkait Hadis Haudh yang berbunyi :  ”Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya”

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

hadits-hadits mengenai dihalaunya sekumpulan orang Islam dari telaga Haudh-nya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pada hari akhir kelak, yang beliau menyebut sekumpulan orang tersebut dengan sebutan “Sahabat” beliau.

Hadits-hadits mengenai hal ini telah tercatat di shahih Bukhari dan Muslim dan juga kitab hadits yang lainnya, diantaranya adalah seperti berikut ini:

diantaranya adalah seperti berikut ini:

7049 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

(9/46)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Mughirah dari Abi Wail yang berkata Abdullah berkata Nabi SAW bersabda “Aku akan mendahului kalian sampai di Al Haudh dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka Aku bertanya “Wahai Rabbku mereka itu sahabat-sahabatku. Dia menjawab “engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. [Shahih Bukhari 9/46 no 7049] diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim 4/1796 no 2297.

6593 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا { أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ } تَرْجِعُونَ عَلَى الْعَقِبِ

(8/121)

Diriwayatkan oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya akan berdiri di atas telaga Haudh kemudian saya akan melihat beberapa orang akan datang kepadaku diantara kalian, dan beberapa manusia dihalau dariku, dan aku akan berkata, “Ya Rabb, mereka dariku, dari ummatku” Kemudian akan dikatakan “Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang (murtad). (Shahih Bukhari 8/121 No. 6593, Shahih Muslim 4/1794 No. 2293)   

akan sangat akrab dengan hadits berikut :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Mughiirah, dari Abu Waail, ia berkata : Telah berkata ‘Abdulah : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku akan mendahului kalian sampai di Haudl dan akan dihadapkan kepadaku beberapa orang dari kalian. Kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka aku bertanya : ‘Wahai Rabbku, mereka itu shahabat-shahabatku. Dia berfirman : ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu’[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7049].

Mari kita lihat bersama hadits berikut :

حدثنا سعيد بن أبي مريم: حدثنا محمد بن مطَّرف: حدثني أبو حازم، عن سهل بن سعد قال:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (إني فرطكم على الحوض، من مر علي شرب، ومن شرب لم يظمأ أبدا، ليردنَّ علي أقوام أعرفهم ويعرفونني، ثم يحال بيني وبينهم).
قال أبو حازم: فسمعني النعمان بن أبي عياش فقال: هكذا سمعت من سهل؟ فقلت: نعم، فقال: أشهد على أبي سعيد الخدري، لسمعته وهو يزيد فيها: (فأقول: إنهم مني، فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك، فأقول: سحقاً سحقاً لمن غيَّر بعدي).

Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutharrif : Telah menceritakan kepadaku Abu Haazim, dari Sahl bin Sa’iid, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya akulah yang pertama-tama mendatangi Haudl. Barangsiapa yang menuju kepadaku akan minum, dan barangsiapa yang minum niscaya tidak akan haus selama-lamanya. Sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi”. Abu Haazim berkata : “Lalu An-Nu’maan bin Abi ‘Ayyaasy mendengarku, lalu berkata : ‘Beginikah kamu mendengar dari Sahl ?’. Aku berkata : ‘Benar’. Lalu ia berkata : ‘Aku bersaksi atas Abu Sa’iid Al-Khudriy, bahwasannya aku benar-benar telah mendengarnya dimana ia menambah lafadh : “Lalu aku (Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam) berkata : ‘Mereka adalah bagian dariku !‘. Namun dikatakan : ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu !’ Maka aku berkata : ‘Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6583-6584].


Dan beberapa riwayat lagi yang maknanya senada dengan hadits-hadits di atas. Yaitu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam akan datang mendahului umatnya sampai di telaga Haudh, dan kemudian akan ada sekelompok orang yang beliau mengenal mereka sebagai umatnya datang mendekati telaga beliau untuk ikut minum air dari telaga beliau tersebut, tetapi tiba-tiba mereka dihalau oleh Malaikat, dan beliau akan berusaha membela mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah “sahabat” beliau, dalam riwayat lain “mereka dariku, dari golongan umatku” maka akan dikatakan kepada beliau bahwa “beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat atau ada-adakan sepeninggal beliau”, dalam riwayat lain “sekelompok orang tersebut telah berbalik ke belakang (murtad) sepeninggal beliau”, “merubah ajaran agama sepeninggal beliau”. Kemudian beliau akan berkata kepada mereka : “menjauhlah”.

Demikian ringkasan matan dari hadits-hadits tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, kaum Syi’ah menjadikan hadits-hadits tersebut (khususnya yang mengandung kata sahabat) sebagai alat untuk menyerang keadilan Para Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengklaim bahwa yang dimaksud hadits-hadits di atas adalah para sahabat anti Imam Ali , sehingga menurut mereka sepeninggalNabi SAW sebagian besar sahabat telah menjauh dari agamanya dan mengada-adakan hal-hal baru dalam agama kecuali hanya segelintir sahabat, sehingga di akhirat nanti mereka akan diusir dari telaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan salah satu yang menyebabkan hal itu adalah karena mereka telah menolak walayah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Benarkah demikian?

Artinya :
Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku adalah orang yang mendahului kamu atas telaga, maka sungguh orang-orang laki-laki diantaramu dinaikkan bersamaku, kemudian sungguh mereka dipisahkan dari aku, lalu aku berkata : “Wahai Tuhan, shahabat-shahabatku, maka dikatakan : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sungguh orang-orang dari sahabatku akan datang kepadaku di telaga sehingga apabila aku mengetahui mereka, mereka dipisahkan dariku, maka aku berkata : “Sahabat-sahabatku”, kemudian Allah berfirman : “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, heliau bersabda : “Ketika Aku sedang berdiri, tiba-tiba ada sekelompok or­ang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang laki-laki dari antaraku dan antara mereka. Kemudian orang laki-laki itu berkata : “Marilah”, maka aku bertanya : “Akan ke mana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”. Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu”. Kemudian tiba-tiba ada satu kelompok orang, sehingga ketika aku mengetahui mereka, keluarlah seorang lelaki dari antaraku dan mereka. Lalu dia berkata : “Marilah.” Aku bertanya : “Akan kemana ?”. Dia menjawab : “Ke neraka, demi Allah”. Aku bertanya : “Bagaimana keadaan mereka ?”Dia menjawab : “Sesungguhnya mereka kembali ke belakang mereka sesudahmu, dan aku tidak menduga orang yang selamat dari mereka kecuali seperti onta yang tersesat (tanpa penggembala)”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).Artinya :
Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Aku di telaga, sehingga Aku melihat orang dari kalanganmu yang datang kepadaku dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata dan akan diambil orang-orang dari sisiku”. Kemudian aku berkata : “Wahai Tuhan, itu dari golonganku dan dari ummatku”. Lalu dikatakan : “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang telah diperbuat mereka sesudahmu ? Demi Allah, mereka terus menerus kembali ke tumit mereka”. Dan Ibnu Abi Mulaikah berkata : “Wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Mu agar kami tidak kembali ke tumit kami, atau terfitnah dalam agama kami”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)
.
                                                                                       Kesimpulan
Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan  sekali. Dan ianya menyalahi akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menegaskan bahawa semua para sahabat adalah adil (kebal). Lantaran itu mana-mana Muslim sama ada dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘i, mufti, kadi  dan kita sendiri, tidak boleh mengubah atau  menangguhkan atau melanggar atau  membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut.

Era Kemunculan: Fitnah Timur dan Barat


Tulisan: Syeikh Ali al Kurani dari bukunya, ‘Asr adh-Dhuhur, terbitan Markaz an-Nasr li al Ilam al Islami, cetakan pertama: Shaaban 1408H, 1987H

Nota Admin shia-explained.com: Perhatikan bahawa buku ini ditulis pada tahun 1987, dan banyak perkara yang dinyatakan dalam artikel ini sudah terjadi atau boleh dikaitkan dengan kejadian-kejadian semasa. Perlu diingatkan bahawa artikel ini hanyalah secara umum di zaman kebangkitan, maka hadis-hadis hanya dinyatakan secara umum. InsyaAllah, perbahasan selanjutnya akan di upload dengan hujah-hujah yang lebih terperindi.

Di dalam Al Quran ataupun Sunnah, perkataan fitnah dipakai dengan makna umum dan khusus. Makna umumnya adalah setiap ujian dan cubaan yang menimpa manusia, baik disebabkan oleh dirinya sendiri, syaitan atau manusia lain. Makna khusus adalah semua peristiwa dan kejadian yang menyebabkan orang-orang Islam diuji dan dibuat berpaling dari agamanya. Inilah makna yang yang dimaksud dengan segala bentuk dari dalam mahupun luar yang diperingatkan oleh Nabi(s).

Para sahabat dan tabiin, dengan perbezaan aliran mereka, telah meriwayatkan banyak hadis Nabi tentang fitnah yang akan terjadi setelah masa hidupnya. Huzaifah ibn Yaman dikenali di kalangan para sahabat sebagai yang paling banyak mengetahui tentang fitnah, kerana beliau sering bertanyakan tentang kepada Nabi tentangnya, dan menghafal apa yang dikatakan oleh baginda. Kerana itu kita dapai banyak hadis fitnah dari sumber-sumber hadis yang dikaitkan pada Huzaifah, baik yang berasal langsung dari Nabi atau Amirul Mukminin. Sehingga Huzaifah pernah berkata: “Tidak ada seorang pun yang disebut sebagai pembawa fitnah melainkan aku dapat menyebutkan namanya dan nama ayahnya serta tempat tinggalnya sehingga hari kiamat. Semua itu telah diajarkan kepada ku oleh Rasulullah(s).” Dia juga pernah berkata lagi: “Kalau aku memberitahu kalian perkara yang aku tahu nescaya, niscaya kalian tidak perlu lagi mengintai ku di waktu malam.,” yakni kalian akan serta merta membunuhku tanpa menunggu sampai malam tiba.

Begitu besar perhatian kaum Muslimin tentang hadis fitnah sehingga mengalahkan perhatian mereka akan khabar kemunculan Imam Mahdi(as). Para penulis ensiklopedia hadis yang mutaakhir ini telah membuat bab-bab dan judul-judul “Fitnah-fitnah” atau malahim. Erti malahim adalah rangkaian pertempuran dan peristiwa penting yang telah diberitahu oleh Nabi(s). Sebahagian ulama dan perawi menulis karangan khusus bertajuk fitnah, malahim dan sebagainya. Di dalamnya mereka menghimpun beberapa hadis yang memperincikan fitnah dan malahim tersebut. Jumlah hadis Nabi tentang fitnah yang akan membuat umat baginda bersimpang siur itu ada yang menyebut lime, empat, enam tujuh bahkan lebih daripada itu. Barangkali sebab perbezaan jumlah ini terjadi kerana Nabi(s) di sebahagian tempat menguraikan fitnah-fitnah internal dan rinciannya, dan pada kesempatan lain menguraikan fitnah eksternal dan rinciannya. Atau mungkin juga baginda menyebutkan rangkaian fitnah itu dari segi jenisnya dan pengaruhnya pada kaum Muslimin.

Yang terpenting sekali bagi kita di sini bukanlah mencari jumlah, masa kejadiannya dan persamaannya dengan sejarah kaum Muslimin, tetapi mengetahuifitnah terakhir yang semuanya bersepakat akan terjadi seiring dengan kemunculan Imam Mahdi(as). Begitu juga dengan peristiwa-peristiwa yang disebutkan di dalam hadis-hadis suci sebagai fitnah dari barat yang besar pengaruhnya da dasyat akibatnya terhadap bangsa-bangsa dunia yang telah berlangsung sejak awal abad lalu. Orang-orang barat memerangi kita di dalam negara kita, menguasai kekayaan, sumber bumi dan segala hak kita. Mereka juga mendapatkan bantuan orang-orang timur untuk memerangi sebahagian negara kita, menghilangkan keberadaan Islam dan petunjuknya dari negara tersebut, lalu mencurinya dan mendakwa sebagai satu produk tamadun mereka. Inilah sebahagian dari contoh hadis-hadis tersebut.

================================

Dari sejumlah hadis Nabi dapat disimpulkan bahawa umat manusia akan tertimpa fitnah yang memiliki empat sifat:

Pertama, darah akan dihalalkan. Kedua, darah dan harta akan dihalalkan. Ketiga, darah, harta dan kehormatan akan dihalalkan. Keempat, fitnah ini bersifat buta tuli. Fitnah ini akan bergolak dan bergelojak laksana kapal di samudera luas, sehingga tidak seorang pun mendapat tempat perlindungan. Fitnah ini kemudian akan menyeberang ke Syam, menyerang Iraq dan memukul dengan keras Jazirah Arab pada tangan dan kakinya. Malapetaka ini akan menimpa umat manusia ibarat melepuhnya kulit, “sampai tidak seorang pun boleh mengatakan “ah..ah!”. Apabila fitnah ini selesai di suatu kawasan, ia akan meletup dikawasan lain.

Dalam riwayat lain disebutkan: “Apabila fitnah Palestin bergelojak, maka dampaknya akan menghentam wilayah Syam laksana bergolaknya air dalam bejana, kemudian lenyap senyap, sedang saat itu kalian berjumlah sedikit dan hanya mampu menyesal. (Ibnu Hammad, Hal. 63) Kami akan menyebutkan fitnah Palestin ini di dalam tajuk peranan Yahudi di era kebangkitan nanti. Riwayat lain menuturkan: “Sebuah fitna akan mengelilingi kota Syam, mendatangi Iraq dan mengacaukan Jazirah Arab. ” (Ibnu Hammad, hal. 9) Dalam riwayat lain disebutkan: “Kemudian terjadilah fitnah..setiap kali dikatakan selesai, maka fitnah itu akan berlanjut, sehingga tidak terdapat satu pun kawasan kecuali di masukinya dan tidak tinggal seorang Muslim pun melainkan diserangnya, sehingga keluar seorang lelaki dari Ahlulbaitku.”(Ibnu Hammad, hal.10)

Bila kita perhatikan hadis suci ini dan hadis-hadis lain yang sedemikian banyak itu, maka kita akan menemukan sejumlah persamaan antara fitnah-fitnah ini. Pertama: Batasnya sudah mencapai tawattur samada dari sumber Sunni atau Syiah. Ertinya, riwayat ini telah disampaikan oleh beberapa perawi yang berbeza dengan makna yang sama, sekalipun dengan redaksi yang berbeza. Dengan begitu, seorang ahli akan mengetahui bahawa kandungan berita itu telah diucapkan oleh Nabi(s) dan Ahlulbaitnya(a).

Kedua, fitnah ini bersifat umum dan mencakupi semua kaum Muslim, baik dari segi keamanan, kebudayaan dan ekonomi mereka. Segala yang diharamakan menjadi halal, atau seperti kata hadis lain yang menyifatinya sebagai buta dan tuli, tuli sehingga tidak dapat ditolak dengan kata-kata dan buta sehingga dapat menyeruduk sesiapa sahaja, mencakupi semua dan ditimpakan kepada semua; masuk ke semua Romawiyah dan memukul keperibadian setiap Muslim; bergelojak dalam masyarakat Muslim seperti mana bergelojaknya kapal di lautan yang bergelombang; tidak ada seorang pun yang dapat berlindung dari bahaya yang mengancam agamanya dan agama keluarganya; tidak ada tempat berlindung dari kekejaman para penguasa yang zalim dan tuan-tuan mereka yang datang dari timur dan barat menguasai mereka, seperti yang disebutkan dalam hadis yang berbunyi: “Ketika datang satu kaum dari timmur dan barat menguasai umat ku..”

Ketiga, kejahatannya dan permulaan gelombangnya berpusat di Syam, “akan berkobar di negeri-negeri Syam”. Ertinya, ia akan bermula di Syam, kerananya negeri-negeri itu dinamakan sebagai kawansan kebangkitan budaya. Apalagi, jika kita tambahkan di sini ketakutan Israel kepada negeri-negeri Syam. Dalam satu riwayat disebutkan , fitnah kan mengelilingi kota Syam dan meliputi negeri-negerinya, kemudian menjalar ke sebahagian negara Arab dan wilayah kaum Muslimin yang lainnya. Bahkan, salah satu riwayat menyatakan secara jelas bahawa “fitnah Palestin” akan berpusat di negeri Syam dan terjadi fitnah paling besar di sana.

Keempat, fitnah ini akan memakan waktu yang panjang dan segala macam penyelesaian tidak berguna, kerana ia merupakan fitnah kebudayaan yang tidak mungkin diselesaikan dan didamaikan. Gelombang perlawanan di masyarakat akan menguatkan dan mematahkan setiap usaha penyelesaian, “tidak ditarik di suatu sisi melainkan robek di sisi lainnya”. Dalam satu riwayat disebutkan, “tidak ditampal di suatu sisi melainkan robek di sisi lainnya”. Hal itu kerana penyelesaian masalah ii hanya dapat terjadi dengan mendukung Imam Mahdi(as) dari umat ini, kemudian disusul dengan kemunculannya yang penuh berkah.

Sifat-sifat penting fitnah yang disebutkan oleh sekian banyak hadis, tidak dapat disamakan dengan fitnah internal ataupun eksternal yang pernah menimpa umat Islam dari permulaan sejarah Islam hinggalah zaman sekarang ini, kecuali fitnah barat. Fitnah ini tidak sepadan dengan fitnah internal yang telah terjadi di zaman awal Islam ataupun sesudahnya. Tidak pula ia sepadan dengan fitnah perang Monggolia ataupun perang salin yang terjadi 900 tahun lalu, yang merupakan tragedi yang berpanjangan. Akan tetapi semua sifat itu hanya sepadan dengan fitnah terakhir ini, yakni manakala orang barat semena-mena memerangi orang Islam secara menyeluruh, bala tentera mereka memasuki negara-negara Islam dan menumbangkannya satu per satu, kemudiannya menanam barah Yahudi di tengah-tengah jantung umat Islam.

======================

Nabi(s) bersabda: “Demi jiwaku yang berada di dalam kekuasaanNya, kelak bakal muncul satu kaum yang menguasai umatku. Bila umatku berbicara nescaya mereka akan dibunuh; bila mereka diam, maka diharuskan meminta izin. Kaum ini akan mengeksploitasi harta rampasan, memijak-mijak kehormatan, menumpahkan darah dan akan memenuhi hati umatku dengan kecacatan dan ketakutan. Pada masa itu akan datang satu kaum dari timur dan satu kaum dari barat menguasai umatku, maka celakalah orang-orang yang lemah dari kalangan umat ku dan kecelakaan mereka dari Allah. Mereka tidak mengasihani anak kecil, dan tidak menghormati orang tua serta tidak pernah segan melakukan sesuatu.. Tubuh-tubuh mereka seperti manusia, tetapi hati mereka ibarat syaitan.” (Bisayaratul Islam, Hal. 25)

Hadis ini menyingkapkan adanya pertalian antara kezaliman internal dan juga penjajahan dari luar. Berkuasanya orang-orang kafir timur dan barat terhadap orang-orang Islam disebabkan oleh kezaliman dan kedurjanaan penguasa-penguasa dunia Islam atas bangsa mereka sendiri dengan cara menaku-nakutkan dan merampas kebebasan mereka. Akibatnya umat Islam memberontak dan membalas dendam ke atas para penguasa mereka dan sibuk dengan mala petaka yang menimpa mereka, sehingga lupa untuk menolak musuh yang datang dari luar. Musuh dari luar akan mempergunakan kesempatan ini dengan menyerang negara Muslim dengan dalih menyelamatkan rakyat Muslim dari kezaliman para penguasa di negeri-negeri mereka sendiri.

Jika kita cermati, ada enam sifat yang disebut-sebut dalam hadis suci di atas yang sangat sepadan dengan para penguasa negara Islam yang mempermudahkan dominasi orang-orang barat dan timur ke atas umat Islam, sebagaimana juga keenam sifat itu sangat sesuai dengan para penguasa dunia yang berusaha melanjutkan kekuasaan mereka pada zaman ini. Berikut adalah sifat-sifat ini:

  1. Merampas kebebasan berpendapat dan memasung semua perbicaraan, “kalau mereka berbicara, nescaya mereka akan dibunuh.”
  2. “Dan kalau mereka diam, mereka perlu minta izin”, kerana politik mereka mengharuskan kaum Muslimin untuk meminta izin dalam segala urusan sekalipun mereka membiarkan para penguasa tetap berkuasa.
  3. “Mereka mengutamakan harta rampasan dari mereka”. Mengutamakan kekayaan hasil bumi dalam negara merupakan dasar politik penguasa negara kita, sehingga seolah-olah ia sebuah kerajaan yang diwariskan untuk mereka dan keturunan mereka serta untuk orang-orang munafik yang menjilat mereka.
  4. “Menginjak-injak kehormatan mereka”, termasuk menumpahkan darah, merendahkan kehormatan dan merampas kebebasan, dan harta benda mereka.
  5. “Menumpahkan darah mereka” termasuk darah orang-orang yang berbicara menentang mereka dan mengatakan “Tuhan kami adalah Allah.”
  6. “Mengisi hati mereka dengan ketakutan dan kecacatan” barangkali makna kecacatan di sini adalah dendam pada penguasa yang zalim atau kezaliman dan kedurjanaan yang menjadikan kaum Muslim saling menghina diri mereka

Adapun orang-orang timur dan barat yang dikatakan Nabi(s): “Ketika itu datang satu kaum dari timur dan satu dari barat menguasai umatku”, maka tidak bisa disamakan kecuali dengan orang-orang barat yang mengambil kesempatan dengan kezaliman para penguasa, lalu memerangi negara-negara kaum Muslim dan berkuasa di tanah mereka.

Barangkali mungkin ada yang berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan orang-orang yang datang dari timur dan barat itu adalah penguasa Abbasiyah yang datang dari belahan timur kawasan Islam dan para penguasa Fatimiyyin yang datang dari belahan barat, kerana kekuasaan mereka ini juga disebabkan oleh kezaliman para penguasa dinasti Umayyah. Atau mungkin ada yang berpendapat dari timur itu adalah serangan kaum Mongol dan perang salib datang dari barat, kerana kezaliman para pemerintah Bani Abbasiyah.

Akan tetapi, hadis-hadis ini jelas mengatakan bahawa mereka adalah golongan non Muslim sehingga tidak bisa dikaitkan dengan orang-orang Monggolia dan serangan salib sebelumnya, lantaran orang-orang barat tidak mengambil alih kekuasaan umat Islam dengan penyerangan itu, sementara orang Mongolia berkuasa dalam masa yang singkat sahaja. Bahkan, sebahagian orang-orang Mongolia yang tinggal di wilayah Islam telah memeluk Islam dan bercampur dengan umat.

Lebih penting dari itu, penguasaan Mongolia dan perang salib yang bersejarah itu tidak berakhir dengan kemunculan Imam Mahdi(as), sementara deraksi sejumlah hadis lain menyebutkan bahawa dominasi orang-orang timur dan barat serta fitnah mereka akan bersambung dengan era kemunculan Imam Mahdi. Maka itu, orang-orang timur hanya sepadan dengan orang-orang Rusia dan orang-orang barat hanya sepadan dengan Amerika.

Walaupun begitu, mereka adalah para pewaris Mongolia di sebelah timur dan orang-orang salib di sebelah barat, kerana Rusia seyogianya adalah mereka yang diuraikan dengan kata Turki dalam hadis-hadis kemunculan Imam Mahdi, sementara orang-orang barat diungkapkan dengan perkataan Romawi. Semua ini akan nampak lebih jelas dalam perbahasan berikutnya.

==================

Nabi(s) bersabda: “Kalian akan senantiasa demikian ini sehingga timbul fitnah dan kezaliman yang memenuhi bumi sampai tidak ada orang yang bisa mengatakan ‘Allah’! Kemudian Allah akan mengutuskan lelaki dari keturunanku, lalu beliau akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.” (Al Bihar, Juz 51, hal.68)

Hadis ini menunjukkan bahawa fitnah terakhir itu akan berlanjutan sehingga beberapa generasi dari kalangan umat Islam yang tidak mengenal ajaran Islam kecuali yang telah menyimpang dan tidak mengenal politik kecuali politik kezaliman dan kedurjanaan. Inilah ungkapan secara konkrit yang mendedahkan kebudayaan barat dan kebijakan pemerintahannya untuk menguasai negara Islam. Dalam situasi itu, bayi Muslim akan tumbuh besar tanpa mengetahui sesuatu tentang Islam, peradaban dan keadilannya, kecuali sebahagian kecil dari mereka yang telah dipersiapkan Allah untuk mendapat hidayah dan perlindungan.

Maksud “kezaliman yang memenuhi bumi sampai tidak ada orang yang bisa mengatakan ‘Allah’!” ialah menyebarnya hukum kezaliman dan berlakunya kebijakan orang-orang zalim pada semua aspek kehidupan dan di semua kawasan. Begitulah kenyataan yang terjadi setelah serangan orang-orang barat. Sebelum dominasi mereka atas segenap wilayah kita, beberapa lingkungan dan wilayah yang berwarna Islam dan tidak dilitupi kedurjanaan dan kezaliman masih dapat kita temukan. Akan tetapi, setelah serangan dan dominasi firnah mereka, kebijakan kezaliman mencakup seluruh negeri dan kawasan hingga tidak ada seorang pun yang mampu berkata: “Kami adalah orang-orang Islam dan Tuhan kami adalah Allah. Kami ingin menerapkan syariat Islam.” Tidak ada seorang pun juga yang dapat berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kami untuk menolak segala bentuk kezaliman dan kedurjanaan.”

Jadi maksud teks di atas bukan seperti digambarkan oleh sebahagian penulis bahawa tidak ada seorang yang yang dapat menyebut “nama Allah” secara lisan, mengingatkan yang sesungguhnya menggentarkan hati orang-orang kafir dan zalim ateis bukanlah sebutan Allah secara lisan melainkan sebutan Allah yang secara langsung memukul kekufuran, kezaliman dan kekuasaan mereka. Oleh kerana itu, dalam suatu riwayat disebutkan “Sampai tidak ada orang yang dapat menyebut La ila hail Lallah” dan teks hadis ini lebih menjelaskan maksud tidak ada seorang pun yang dapat menyatakan keesaan Allah dalam hukum dan menolak dominasi orang-orang kafir dan zalim yang tidak memakai syariatnya.

================

Amirul Mukminin(a) berkata: “Sesungguhnya kedaulatan Ahlulbait Nabi kalian akan terlaksana pada akhir zaman. Di antara tanda-tandanya ialah tindakan balas dendam Romawi dan Turki ke atas kalian… Turki dan Romawi akan menguasai kalian secara bersilih ganti, hingga terjadi banyak peperangan di bumi.” (Al Bihar, juz 5, hal. 208)

Kata-kata inu jelas menandakan fitnah yang ditimbulkan oleh Romawi, Turki dan gerakan mereka untuk memerangi negeri-negeri kita yang akan menjadi sebahagian dari tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi(aj). Ungkapan membalas dendam merupakan kata yang tepat, yakni penyerangan negei-negeri Islam, dengan tujuan menguasai hasil-hasil buminya. Begitu juga dengan ungkapan “Turki dan Romawi akan menguasai kalian secara bersilih ganti..” kerana mereka bertikai atas pembahagian peranan dan wilayah kekuasaan. Meskipun demikian, mereka bersepakat dalam memusuhi kita dan saling membantu dalam membalas dendam serta menggerakkan pasukan tentera demi mencapainya. Ungkapan “hingga terjadi banyak peperangan di bumi.” dengan nyata kita saksikan. Tidak selesai satu peperangan di satu benua melainkan terjadi peperangan lain dengan frekuensi yang lebih kerap. Semua ini terjadi kerana dendam kesumat Turki dan Romawi serta perjanjian di antara mereka untuk menguasai dunia secara silih berganti. Di belakang kedua kuasa besar ini, Yahudi berperanan mengobarkan sumbu peperangan dengan sedaya upaya mereka dengan cara apa pun. Pada perbahasan selanjutnya kami akan mendedahkan maksud Romawi dan Turki dalam konteks ini.

=================

Amirul Mukminin(as) berkata: “Wahai manusia sekalian, tanyalah padaku sebelum kehilangan ku. Sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang banyak, maka bertanyalah padaku sebelum ditindas oleh fitnah yang datang dari timur. Kalian akan diinjak-injak bagai sampah.. Pada saat itu api akan membara akibat kayu dari sebelah barat, ekornya tinggi… Maka pada hari itu terlaksanalah takwil ayat berikut: “Sesungguhnya kami kembalikan putaran pada mereka dan kami sungguhkan pada mu harta dan anak serta kami jadikan kalian majoriti.. dan untuk itu terdapat tanda-tanda dan ciri..(Al BIhar, juz 52, hal. 272)

Imam Ali berbicara tentang kejadian kehancuran yang meluas di barat, tempat yang banyak hutan kayu dan sangat peka terhadap kebakaran. Hal ini disebabkan oleh fitnah yang timbul di kawasan timur atau disebabkan orang-orang Turki yang mengobarkan orang-orang timur dengan api peperangan melawan Romawi. Penjelasan soal ini akan kita paparkan dalam hadis-hadis tentang perang dunia yang diperkirakan terjadi pada tahun-tahun kemunculan Imam Mahdi(aj)

======================

Nabi(s) bersabda: “Akan turun kepada umatku satu ujian yang besar dari penguasa mereka, ujian yang tidak ada bandingannya. Bumi yang luas menjadi sempit dan dipenuhi kedurjanaan dan kezaliman, sehingga seorang mukmin tidak lagi mempunyai perlindungan yang dapat melindunginya dari kedurjanaan.. sehingga Allah mengutus seorang lelaki dari darah dagingku yang akan memenuhi bumi dengan kedamaian dan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan. Para penghuni langit dan bumi memberi restu padanya. Setelah itu, bumi tidak akan menyimpan benih melainkan menumbuhkannya dan langit tidak menyimpankan titisannya melainkan dituangkan pada mereka dengan deras..”(Bisyaratul Islam, hal 21 dari Uqdid Durar karya al Salmi)

Dari Huzaifah bin Al Yaman(ra) Nabi(s) bersabda: “Celakalah umat ini kerana penguasanya yang sombong. Bagaimana mereka bisa membunuh dan mengusir kaum Muslimin yang tidak menyatakan ketaatan pada mereka. Akibatnya orang  mukmin yang bersih menjilat dengan lidahnya dan menjauhi mereka dengan hatinya. Jika Allah mengkehendaki Islam menjadi berjaya kembali, tentunya Dia akan mematahkan punggung setiap orang yang sombong dan membangkang. Dia berkuasa atas apa yang dikehendakiNya untuk memperbaiki umat setelah porak peranda. Wahai Huzaifah, seandainya tidak tinggal di dunia melainkan satu hari, nescaya Allah akan memanjangkan satu hari itu sampai seorang lelaki dari Ahlulbaitku berkuasa dan memenangkan Islam. Sungguh Allah tidak pernah mengingkari janjinya dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” (Bisyaratul Islam hal 29, dari Yanabi al Mawaddah)

Nabi(s) bersabda: “Hampir sekali bangsa-bangsa lain merebut kalian seperti berebutnya orang ramai memakan satu hidangan, padahal jumlah kalian ramai. Tapi kalian laksana buih gelombang air. Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, lalu kalian akan dilanda kelemahan kerana cinta dunia dan takut mati.” (Al Malahim wa al Fitan, hal 129)

Makna hadis-hadis di atas sangat jelas, mendalam dan sarat dengan nur kenabian. Dalam hadis-hadis tersebut, Nabi(s) mengambarkan keadaan umat, para penguasa mereka yang zalim dan berkuasanya musuh ke atas mereka. Namun hadis-hadis ini memberikan berita gembira akan kelapangan dan kelonggaran yang disebabkan oleh kemunculan Imam Mahdi(aj)

=================

Nabi(s) bersabda: “Celakalah bangsa Arab kerana kejahatan yang sudah mendekati, iaitu berkepaknya sayap-sayap. Apakah sayap-sayap itu? Itulah angin yang mengiringi sumber tiupan dan angin yang menjauhi tiupannya. Celakalah mereka kerana pembunuhan yang cepat, kematian yang segera dan kelaparan yang sangat keji. Pada mereka akan dituangkan malapetaka yang serentak(Manuskrip Ibnu Hammad, hal. 53)

Barangkali yang dimaksudkan dengan “sayap-sayap” yang terbang dan hinggap seperti angin yang cepat dan lambat, dapat membunuh dengan dengan cepat dan mematikan dengan segera bermaksud pesawat tempur mutakhir yang bermacam-macam jenisnya. Agaknya pesawat tempur ini akan mucul dalam pertempuran antara Imam Mahdi dan pasukan al Sufyani berserta orang-orang Arab yang membela Yahudi dan Romawi serta pertempuran membebaskan AL Quds, seperti yang telah disebutkan.

Dalam hadis lain disebutkan, “Kemudian Allah mengirimkan angin dan burung yang menyerang wajah-wajah mereka dengan sayap-sayapnya, hingga mata mereka tercungkil dan ditelah bumi.”

Jadi mungkin sahaja ia sejenis burung ababil atau pesawat tempur yang digunakan oleh Imam Mahdi(aj). Hal ini akan kita bincangkan lebih jauh di dalam tema pertempuran untuk membebaskan Al Quds sesaat sesudah kemunculan Imam Mahdi(as).

========================

Nabi(s) bersabda: “Orang-orang musyrik akan memperbudakkan orang-orang Islam dan emnjual mereka ke kota-kota tanpa membezakan antara yang baik dan buruk antara mereka. Cubaan akan sentiasa menimpa penduduk zaman itu sehingga mereka bosan, putus asa dan berpransangka buruk bahawa mereka tidak akan dapat diselamatkan. Tiba-tiba Allah mengutuskan seorang lelaki dari keturunanku yang paling baik, paling mulia, paling adil, penuh dengan berkah, suci diri dan tidak meninggalkan kebaikan walaupun sebiji zarah. Allah menjayakan agama, Al Quran, Islam dan para pemeluknya serta menghinakan yang syirik dan para penganutnya melalui tangannya. Dia tetap dalam lindungan Allah, tidak tertipu oleh kekerabatan, tidak menumpuk-numpuk batu di atas batu, tidak menakutkan seseorang di dalam wilayah kekuasaannya dengan cemeti kecuali untuk menegakkan hudud. Allah akan menghapuskan segala yang bida’ah, membasmi segala fitnah, membuka segala pintu kebenaran, menutup segala pintu kebatilan dan membebaskan semua tawanan Islam di manapun mereka berada melalui dirinya.” (Al Malahim wal Fitan, hal. 108)

Inilah hadis yang menggambarkan kaum Muslimin yang sangat tragik, sehingga mereka diperjual belikan dan ditawan dalam negeri mereka sendiri. Inilah keadaan yang tidak jauh berbeza dengan keadaan kaum Muslimin di zaman kita ini, yang berkerja di bawah orang musyrik sebagai pembantu dan pegawai yang hina. Lalu kita diperjual belikan dan ditawan oleh kaum Musyrikin. Kemudian hadis suci ini menyebutkan kemunculan Imam Mahdi(as) sebagai juru penyelamat dalam waktu yang disebut sebagai “tiba-tiba” sementara kaum Muslimin berada dalam keputus asaaan dan ketidakberdayaan

.

Era Kemunculan: Gambaran Umum Era Kebangkitan


Tulisan: Syeikh Ali al Kurani dari bukunya, ‘Asr adh-Dhuhur, terbitan Markaz an-Nasr li al Ilam al Islami, cetakan pertama: Shaaban 1408H, 1987H

Nota Admin shia-explained.com: Perhatikan bahawa buku ini ditulis pada tahun 1987, dan banyak perkara yang dinyatakan dalam artikel ini sudah terjadi atau boleh dikaitkan dengan kejadian-kejadian semasa. Perlu diingatkan bahawa artikel ini hanyalah secara umum di zaman kebangkitan, maka hadis-hadis hanya dinyatakan secara umum. InsyaAllah, perbahasan selanjutnya akan di upload dengan hujah-hujah yang lebih terperindi.

Al Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad(s) yang abadi dan senantiasa relevan dengan setiap zaman dan generasi, demikian pula dengan hadis-hadis yang memberitakan masa depan kehidupan manusia dan perjalanan Islam sehingga datangnya zaman yang dijanjikan, yakni zaman di mana Allah memenangkan Islam di atas semua agama sekalipun orang-orang musyrik dan kafir tidak menginginkannya. Era kebangkitan bererti era kebangkitan Imam Mahdi(as), lantaran tidak ada perbezaan antara keduanya dalam hadis-hadis Nabi yang memberikan khabar gembira tentangnya dalam jumlah ratusan, baik yang diriwayatkan oleh para sahabat, tabiin dan para penulis shihah. Jika kita tambahkan hadis-hadis Nabi tentang masalah ini dengan hadis riwayat Imam-imam Ahlubait(as), maka jumlahnya mampu mencapai ratusan ribu.

Gambaran yang dipaparkan oleh hadis-hadis suci ini secara umum adalah mengenai keadaan dunia di zaman kemunculan Imam Mahdi, terutamanya kawasan yang meliputi Yaman, Hijaz, Iran, Iraq, Syria, Pelstin, Mesir dan Maghribi. Di kawasan ini akan terjadi banyak peristiwa besar. Hadis-hadis ini juga memaparkan secara terperinci tentang nama-nama tempat dan orang-orang yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi(a). Saya telah berusaha menyimpulakan teks-teks ini supaya lebih jelas, teratur dan tepat untuk difahami oleh masyarakat Muslim yang dihormati. Dalam bahagian ini saya akan mengajukan ringkasan mengenainya supaya menjadi gambaran umum untuk era kebangkitan sebelum memasuki bahagian-bahagian lain.

Beberapa hadis suci menyebutkan bahawa proses kemunculan Imam Mahdi(as) akan di mulai dari Makkah Mukaramah, setelah terjadinya beberapa peristiwa permulaan di peringkan antarabangsa dan watan. Di peringkat antarabangsa akan terjadi suatu pergolakan antara orang-orang Romawi(barat) dan Turki ata saudara-saudara Turki sebagaimana yang disebutkan oleh sejumlah hadis, yang mana tidak lain merupakan orang-orang Rusia sehingga terjadi perang besar di peringkat sedunia. Di peringkat watan, akan berdirilah dua negara yang setia kepada Imam Mahdi(as), iaitu Iran dan Yaman.

Para pendukung awal Imam Mahdi adalah orang-orang Iran yang merebut kembali negara mereka setelah berperang lama dan akhirnya menang. Kemudian, sebelum kemunculan Imam Mahdi, terdapat pemimpin politik yang bergelar Sayydi al Khurasani( keturunan Nabi dari daerah Khurasan) dan pemimpin tentera yang bernama Shuaib bin Shaleh. Dengan kepimpinan dua orang ini, orang-orang Iran akan memainkan peranan penting dalam kemunculan Imam Mahdi(as).

Adapun para pendukungnya dari Yaman akan dimulai dengan revolusi besar beberapa bulan sebelum kemunculan al Mahdi(as). Nampaknya orang-orang Yaman ini akan berfungsi sebagai pengisi kekosongan politik yang terjadi di Hijaz, dan membantu gerakan kemunculan beliau di wilayah ini. Kekosongan politik ini terjadi apabila seorang raja dungu dari keluarga kerajaan Hijaz yang bernama Abdullah dibunuh. Golongan bangsawan Hijaz akan berselisih tentang penggantinya. Abdullah ini merupakan raja terakhir yang berkuasa di Hijaz, kerana selepas pembunuhan beliau, kumpulan bangsawan berselisih tentang penggantinya. Perselisihan ini akan berlanjutan sehingga munculnya Imam Mahdi(as). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Basyir disebutkan: Ketahuilah jika Abdullah sudah mati, manusia tidak akan dapat dipersatukan lagi kecuali oleh shahib kalian insyaAllah. Kerajaan yang berkuasa selama bertahun-tahun itu akan punah dalam hitungan hari dan bulan.” Lalu aku bertanya: “Apakah masa antara kejadian ini dan kemunculan Imam Mahdi akan berlangsung lama?” Beliau menjawab: “Tidak.”

Permusuhan setelah terbunuhnya raja ini akan berubah menjadi suatu permusuhan antara suku-suku Hijaz. Dalam hadis disebutkan: “Sesungguhnya diantara kemunculan Imam Mahdi adalah terjadinya peristiwa besar di antara dua kota Haram.” Aku bertanya: “Peristiwa apa yang akan terjadi?” Dijawab: “Fanatisme akan tercetus di antara dua Haram, polan anak polan membunuh 15 ekor kambing”, yakni seorang akan membunuh 15 orang atau pemimpin dari kabilah yang bermusuhan, atau dari anak-anak pemimpin yang dikenal memusihinya.

Dalam keadaan inilah proses kemunculan Imam Mahdi dimulai. Barangkali tanda terbesar dari kemunculan Imam Mahdi adalah seruan dari langit yang memanggil namanya pada tanggal 23 Ramadhan. Said bin Umairah berkata: “Aku berada di sisi Abu Jaafar al Mansur lalu beliau berkata: “Wahai Saif bin Umairah, pasti akan ada penyeru dari langit yang akan menyerukan nama seorang putera Abu Thalib.” Maka aku tanyakan: “Akulah tebusan mu wahai Amirul Mukminin, apakah kau yang meriwatkan hadis ini?” Dia menjawab: “Ya demi jiwaku yang berada di tangannya, telinga ku benar-benar mendengar hadis ini.” Ku tanya lagi padanya: “Wahai Amirul Mukminin, hadis ini belum pernah ku dengar sebelumnya.” Dijawab: “Wahai Saif, hal ini memang benar. Dan kelak, kalau hal itu terjadi, kamilah orang pertama yang akan menjawabnya. Ketahuilah bahawa seruan itu untuk seorang dari sepupu kami!” Ku tanya lagi: “Seorang lelaki dari anak keturunan Fatimah(as)?” Dijawab: “Ya wahai Saif. Sekiranya aku tidak mendengarnya dari Abu Jaafar Muhammad bin Ali, niscaya aku tidak akan menerimanya meskipun seluruh penduduk bumi mengatakannya.Tetapi ini adalah Muhammad Bin Ali.”

Setelah seruan dari langit ini, mulalah Imam Mahdi berhubungan dengan para pendukungnya, namun secara rahsia. Pada masa itu, publik dunia akan membicarakan tentangnya dan menyebutnya dengan kecintaan sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis sedangkan musuh-musuhnya yang merasa takut akan kemuculannya akan bergiat untuk mencarinya. Kemudian tersebarlah berita bahawa Imam Mahdi tinggal di kota Madinah, sehingga kerajaan Hijaz atau kekuatan asing yang berkuasa di sana akan memanggil tentera As Sufyani dari Syria untuk mengamankan situasi Hijaz dan menyelesaikan pergolakan kabilah-kabilah yang menuntuk kekuasaan.

Selanjutnya tentera as Sufyani akan memasuki Madinah, menangkap setiap keturunan Bani Hasyim, membunuh sebahagian mereka dan pengikutnya serta menangkap sebahagian yang lain. Pada saat itu, Imam Mahdi dan al Mansur akan keluar dari Madinah sehingga pasukan as Sufyani mengambil seluruh keluarga Muhammad, besar ataupun kecil.

Di Makkah, Imam Mahdi akan berhubungan dengan sebahagian dari para pengikutnya. Gerakannya yang suci akan bermula di Masjidil Haram pada malam kesepuluh bulam Muharram setelah solat Isyak. Pada saat itulah beliau menyampaikan keterangan pertamanya kepada penduduk Makkah, sehingga musuh-musuh berusaha membunuhnya, tetapi mereka gagal melakukan hal tersebut kerana para pengikutnya mengelilinginya dan mempertahankannya sampai Masjidil Haram dikuasai mereka, dan dari situ, mereka menguasai Makkah.

Pada pagi hari kesepuluh bulan Muharam, Imam Mahdi akan menyampaikan kenyataannya ke seluruh bangsa dunia dengan menggunakan bahasa-bahasa yang berbeza, dan mengajak mereka untuk membantunya. Beliau mengumumkan bahawa beliau akan tetap tinggal di Makkah, sehingga terjadi mukjizat yang dijanjikan oleh datuknya, iaitu tenggelamnya tentera yang dihantar untuk menumpaskan gerakannya.  Dan benar terjadi apabila tentera Sufyani yang hendak menuju ke Makkah ditenggelamkan di sebuah kawasan berhampiran kota Madinah. Setelah mukjizat penenggelaman ini, Imam Mahdi dengan tenteranya yang terdiri dari beberapa belas ribu orang, bergerak dari Makkah menuju ke Madinah dan membebaskannya setelah melakukan beberapa pertempuran dengan pelbagai kekuatan yang memusuhinya. Dengan pembebasan dua kota suci ini, sempurnalah bagi beliau penaklukan kota Hijaz.

Sebahagian riwayat menyebutkan bahawa setelah menakluki negeri Hijaz, Imam Mahdi akan menuju ke selatan Iran tempat beliau akan menemui tentera dan masyarakat Iran yang dipimpin oleh al Khurasani dan Shuaib bin Saleh. Di sana mereka akan membaiat dan bergabung bersama Al Mahdi untuk melakukan pertempuran dengan kekuatan yang memusuhinya di Basrah, Iraq. Di kota itu mereka akan mendapatkan kemenangan besar. Kemudian Imam Mahdi akan memasuki wilayah Iraq yang lain, setelah menenteramkan suasana dan memerangi sisa-sisa kekuatan as Sufyani. Lantas, al Mahdi juga akan memerangi puak-puak Khawarij, dan menumpaskan mereka. Dan akhirnya Imam Mahdi akan menjadikan Iraq sebagai pusat pemerintahan dan Kufah sebagai ibu kota. Dengan cara ini beliau mempersatukan Yaman, Hijaz, Iraq, Iran dan negeri-negeri lain di bawah penguasaannya.

Banyak hadis yang menyebutkan bahawa peperangan pertama yang dilakukan setelah penaklukan Iraq adalah dengan Turki. “Satu briged dengan jelas akan dihantar menuju ke Turki untuk menakluknya.” Jelas apa yang dimaksudkan dengan Turki adalah Rusia yang sudah menjadi lemah akibat berperang dengan Romawi, yakni orang-orang barat.  Setelah itu Imam Mahdi akan menyiapkan satu pasukan besar yang akan berarak menuju ke Jerusalam. Pasukan Sufyani menjadi ragu-ragu untuk menghadapinya dan Marj Adzra yang berdekatan dengan Damaskus. Di sana terjadi beberapa rundingan antara beliau dan Sufyani sehingga posisi Sufyani menjadi lemah di hadapannya, terutamanya rakyat pada umumnya memihak kepada al Mahdi. Hampir sahaja Imam Mahdi menyerah secara total kepada Imam Mahdi sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa riwayat. Akan tetapi mereka yang berada di belakang Sufyani adalah kumpulan Yahudi, Romawi dan jajaran menteri yang menyalahkannya dan mempersiapkan kekuatan untuk melancarkan pertempuran besar menentang Imam Mahdi(as) dan bala tenteranya. Medan pertempuran ini akan meluas dari kota Akko di Palestin sehinggalah sampai ke Antiokhia di daratan Turki, dari Tiberius di Damaskus sampai ke dalam kota al Quds.  Maka turunlah kemurkaan Allah ke atas musuhnya apabila Yahudi, Romawi dan Sufyani akan dibunuh oleh kaum Muslimin. Bahkan jika ada seorang dari kalangan Yahudi yang bersembunyi di sebalik batu,  maka batu itu akan memberitahu kedudukan musuh tersebut. Akhirnya pertolongan Allah datang kepada Imam Mahdi dan kaum Muslimin, sehingga mereka dapat memasuki al Quds secara aman.

Pihak barat terkejut dengan kekalahan Yahudi. Bantuan kekuatan yang mereka berikan kepada kaum Yahudi juga sia-sia. Akhirnya mereka akan melempiaskan kemarahan dengan melancarkan perang ke atas Imam Mahdi. Akan tetapi pada detik-detik itu, mereka dikejutkan dengan turunnya Isa al Masih dari langit di Al Quds dan kenyataan yang beliau ucapkan ke seluruh dunia, khususnya kepada orang-orang Kristian.  Turunnya al Masih ini merupakan tanda-tanda kepada seluruh dunia yang menggembirakan hati orang-orang Islam dan Kristian, serta bangsa-bangsa lain.

Nampaknya al Masih menjadi orang tengah antara Imam Mahdi dan kuasa Barat. maka mereka bersetuju untuk perdamaian selama 7 tahun. Dalam sebuah hadis disebutkan: ” Antara kamu dan Romawi akan terjadi 4 kali gencatan senjata dan yang keempat akan dilangsungkan dengan keluarga Hiragl yang berlanjut hingga 7 tahun. Mungkin sahaja faktor yang mendorong orang-orang barat mengingkari perjanjian ini selepas dua tahun, sebagaimana yang disebutkan sebahagian riwayat adalah kerana ketakutan mereka terhadap gerakan Massal yang di ketuai oleh al Masih sehingga ramai dari kalangan mereka menerima Islam. Pada masa itu Romawi akan bangkit bersama sejuta tentera. “Kemudian mereka akan mengkhianati mu dan menyerangmu dengan 80 panji, setiap satu panji mempunyai 12 ribu orang tentera.” Setelah al Masih menyatakan dukungannya kepada al Mahdi dan melakukan solat di belakangnya di Masjid al Quds, berkecamuklah pertempuran dengan mereka seperti pertempuran semasa kaum Muslimin cuba merebut Al Quds, yakni dari Akko ke Antiokhia, dari Damaskus ke Al Quds,  dan Marja Dabiq. Akhirnya kekalahan fatal menimpa pasukan Romawi dan kaum Muslimin mendapat kemenangan besar.

Setelah pertempuran ini, terbukalah pintu di hadapan al Mahdi untuk menguasai Eropah dan Barat. Tampaknya, banyak negeri yang telah dikuasai oleh rakyat melalui berbagai revolusi yang menumbangkan setiap pemerintahan yang bermusuhan dengan al Masih dan al Mahdi, dan berdirilah sejumpah pemerintahan yang setia dengan Imam Mahdi.

Setelah Imam Mahdi menakluki Barat dan memasukkanya di bawah kekuasaannya, serta ramai penduduknya yang masuk Islam, al Masih(as) wafat dan disolatkan oleh al Mahdi dan kaum Muslimin. Imam Mahdi akan melaksanakan pengsolatan dan pengebumian ini secara terbuka, dilihat dan didengar oleh orang kebanyakan, seperti yang dinyatakan dalam riwayat-riwayat suci, seperti manusia tidak lagi menuduhnya seperti sediakala, lalu dikafankan dengan kain tenunan ibunya as Siddiqah Maryam(sa) dan dikuburkan di sebelah ibunya di al Quds.

Setelah menguasai dunia dan mempersatukannya di bawah negara Islam, Imam Mahdi mulai melaksanakan program-program Allah pada bangsa-bangsa di bumi dalam berbagai lapangan. Mula-mula, beliau akan memajukan kehidupan material, kekayaan dan kesejahteraan manusia, lalu memasyarakatkan kebudayaan dan menaikkan taraf pemikiran keagamaan dan keduniaan mereka. Dinyatakan oleh sebahagian hadis bahawa  kadar yang ditambahkan kepada khazanah pengetahuan manusia adalah 25 kali ganda lalu disebarkan kepada semua manusia menjadi 27 bidang keilmuan.

Penduduk-penduduk bumi akan ditunjukkan kepada penduduk planet lain, bahkan alam ghaib akan diperlihatkan di alam nyata. Maka datanglah manusia dari syurga ke bumi dan mereka menjadi bintangnya manusia. Beberapa Nabi dan Imam juga akan kembali ke bumi di zaman Imam Mahdi(as), mereka akan berkuasa selama Allah mengkehendaki dan itu akan menjadi tanda-tanda akhir zaman dan permulaan kehidupan baru.

Sepertinya gerakan dajjal yang terkutuk dan fitnahnya terjadi pada saat perkembangan ilmu dan kemewahan yang dinikmati masyarakat manusia di zaman Imam Mahdi(as) yang mana dajjal gunakan untuk hal-hal yang menyeleweng. Dajjal akan menggunakan segala cara baru dari jenis yang jahat untuk mengelabui mata remaja. Wanita-wanita ramai yang akan menjadi pengikutnya, sebagaimana yang dinyatakan dalam sejumlah hadis, lalu terjadilah arus fitnah dan pembenaran akan tipu daya dunia. Akan tetapi, Imam Mahdi akan menyingkapkan kepalsuan Dajjal dan menumpaskannya berserta seluruh pengikutnya.

=========================================

Demikianlah gambaran umum tentang gerakan al Mahdi yang dijanjikan serta revolusinya yang bertaraf antarabangsa. Adapun kejadiannya , maka ini juga tanda-tanda yang paling menonjol dan peristiwa yang yang dinyatakan dalam hadis suci. Di antaranya fitnah yang disebutkan hadis-hadis bahawa ia akan menimpa umat Islam dan disifatkan sebagai fitnah yang terakhir dan paling sulit untuk dihadapi sehingga munculnya Imam Mahdi(as).

Yang sangat memprihatikan adalah sifat-sifat keseluruhan dan terperici bagi fitnah ini sesuai dengan fitnahnya orang-orang barat dan penguasaan mereka terhadap negara-negara Islam di awal abad ini, serta para sekutu mereka dari orang-orang Timur.  Ini merupakan fitnah yang akan mencakupi negara-negara Islam dan penduduk di dalamnya sehingga “tidak tinggal satu rumah pun melainkan dimasukinya dan tidak seorang Muslim pun melainkan ditamparnya.” Bangsa-bangsa kafir akan merebut negara kaum Muslimin sebagaimana berebutnya orang-orang yang lapar dan rakus akan hidangan yang lazat. “Dan ketika itu datang satu kaum dari barat dan satu kaum dari timur, lalu menguasai urusan umatku”, yakni memerintah negara kaum Muslim.

Begitulah fitnah yang bermula di negeri Syam, tempat musuh-musuh Islam memulai gerakan dengan membantu penjajah yang zalim dan menamakannya sebagai pusat kemajuan kemanusiaan. Dari sinilah timbul fitnah yang dinamakan oleh hadis-hadis suci sebagai fitnah Palestin, dan disifatkan sebagai fitnah yang dapat menggoncangkan negara-negara Syam seperti bergoncangnya air di tempatnya. “Kalau fitnah Palestin sudah bergelojak, maka negara Syam akan bergelojak seperti bergelojaknya air di dalam bejana dan kemudiaannya hilang..sedangkan pada waktu itu jumlah kalian masih sedikit dan hanya dapat menyesali..” , yakni sedikit kerana banyak di antara kalian yang sudah terbunuh, baik ditangan musuh atau disebabkan oleh diri sendiri.

Beberapa hadis juga menguraikan tentang generasi anak-anak Muslim yang dilahirkan dalam situasi fitnah ini, sehingga hampir sahaja mereka tidak mengenali agama mereka sendiri. Beberapa hadis yang lain menguraikan tentang para pemimpin sombong yang menguasai negara-negara kaum Muslim dengan hukum-hukum kafir dan hawa nafsu bermaharajalela di tengah-tengah mereka dengan seburuk-buruk penindasan.

Sejumlah hadis juga menyebutkan pihak Romawi dan saudara-saudara mereka dari Turki yang lebih tepat dimaksudkan sebagai Rusia sebagai sebab timbulnya bermacam-macam fitnah. Ketika mereka berasa panik dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun kemunculan al Mahdi, mereka akan mengerahkan kekuatan di Ramallah, Palestin dan Antiokhia, daerah pesisir Turki dan Syria, serta di jazirah perbatasan antara Syria, Iraq dan Turki. ” Jika Tomawi dan Turki menyerang kalian, Turki dan Romawi akan berkerjasama untuk membuat banyak peperangan di muka bumi. Lalu saudara-saudara mereka dari Turki akan menghampiri al Jazirah, sementara kaum yang keluar dari agama Romawi akan menhampiri Ramallah.”

Beberapa hadis suci menyatakan bahawa permulaan munculnya Imam Mahdi akan terjadi di Iran. “Permulaannya akan terjadi di timur. Kalau hal itu sudah terjadi, maka as Sufyani akan keluar.” Ertinya, langkah permulaan kezuhuran Imam Mahdi berada di tangan kaum Salman, “pemilik bendera hitam”, “gerakan mereka akan dipimpin oleh seorang lelaki dari Qum, yang mengajak manusia ke arah kebenaran, di dokkong oleh kelompok yang berhati besi, tidak goyang akibat angin kencang, tidak bosan berperang dan tidak pernah gentar menghadapi musuh, berserah diri kepada Allah, dan sungguh, kemenangan adalah bagi orang yang bertaqwa.” mereka akan memberontak dan menuntut musuh-musuh mereka untuk tidak mencampuri urusan diri mereka sendiri. tetapi musuh-musuh mereka tidak akan membiarkan diri mereka sendiri. “Mereka menuntut hak tetapi tidak diberi, kemudian meminta lagi tetapi tetap tidak diberi. Kalau sudah demikian, mereka akan memikul senjata di pundak-pundak mereka lalu para musuh akan memberi segala yang mereka minta tetapi mereka menolak, sehingga terjadilah kebangkitan.. dan mereka tidak akan menyerahkan kekuasaan kecuali kepada Sahib kalian. Pada saat itu, mereka yang terbunuh dalam peperangan tersebut akan menjadi para shuhada.”

Hadis-hadis lain menyatakan bahawa mereka akan memperolehi kemenangan yang besar setelah peperangan yang panjang. dalam pada itu tampak kepada mereka dua orang yang dijanjikan. Salah seorang dari mereka dikenali sebagai al Khurasani, seorang faqih, rujukan dalam agama dan pemimipin politik. Yang kedua adalah Syuiab bin Saleh, iaitu seorang pemimpin tentera, pemuda berkulit sawo matang, berjanggut nipis dan datang dari sebuah dusun. Mereka berdua akan menyerahkan panji kepada Imam Mahdi(as), turut menyertai bala tentera beliau dalam gerakan kemunculannya. Akhirnya Shuaib Bin Saleh akan menjadi panglima besar dalam jajaran pasukan Imam Mahdi(a).

=============================

Sejumlah hadis juga menyebutkan adanya gerakan di Syria yang dipelopori oleh “Usman as Sufyani” yang setia kepada pihak Romawi dan Yahudi. As Sufyani akan mempersatukan Syria dan Jordan di bawah kekuasaannya. “As Sufyani berasal dari kabilah Makhzum. Masa pemeritahannya hanya selama 15 bulan. Enam bulan dipakainya untuk berperang. Jika beliau sudah menguasai 5 kawasan, maka beliau akan berkuasa selama 9 bulan dan tidak lebih walaupun 1 hari.” Lima kawasan yang disebutkan itu adalah sekitar Syria, Jordan dan kemungkinan juga termasuk Lubnan.

Akan tetapi penyatuan yang dicapai oleh Sufyani adalah satu penyatuan yang rapuh, kerana tujuannya adalah demi mengwujudkan perbatasan antara Arab dan Israel dan landasan serangan terhadap orang-orang Iran yang mendukung Imam Mahdi(as). Oleh kerana itu, Sufyani bertindak menduduki Iraq supaya kekuatannya turut memasukinya.” dan beliau mengirimkan 130 ribu pasukan ke Kufah. Sebahagian pasukan akan singgah di ar Raudha’ dan al Faruq, sementara 60 ribu dari pasukannya terus berjalan ke Kufah, tempat kuburan Nabi Hud(a) di Nukhailah.” “Seolah-olah aku sedang berhadapan dengan Sufyani yang telah bersiap sedia mengadakan perjalanan ke kawasan kalian di Kufah, maka penyerunya akan berteriak: “Siapa gerangan yang dapat membawa kepada pengikut Ali, maka ganjaranya adalah 1000 dirham. Maka bergegaslah seseorang memberitahukan sesama tentangganya dan mengatakan bahawa si anu merupakan sebahagian dari golongan mereka..”

Kemudian mereka bergerak untuk mengisi kekosongan politik yang terjadi di Hijaz dan membantu pemerintahnya yang lemah untuk menumpaskan gerakan Imam Mahdi yang dicintai manusia, di mana gerakannya diperkirakan akan bermula di Makkah. Maka itu, Sufyani akan mengirimkan tenteranya ke Makkah melalui Madinah dan membuat kerosakan di sana, lalu mereka menuju ke Makkah, tempat di mana Imam Mahdi memulakan gerakannya. Pada saat itu, berlakulah mukjizat Nabi(s) yang telah baginda janjikan berupa penenggelaman pasukan Sufyani sebelum tiba di Makkah “ketika tiba di al Baida, mereka akan ditenggelamkan Allah.”

Setelah kalah di Iraq akibat gempuran orang-orang Iran dan Yaman, serta kalah di Hijaz akibat mukjizat penenggelaman mereka, Sufyani kini berasa ragu-ragu dan mengumpulkan semua kekuatan di dalam kota Syam untuk menghadapi serangan Imam Mahdi dan tenteranya di sekitar Damaskus dan al Quds.

Peperangan besar yang telah disebutkan sebelumnya pun terjadi dan kemurkaan Allah turun ke atas Sufyani. Beliau ditangkap dan kemudiannya dibunuh, sementara Imam Mahdi dan kaum Muslimin akhirnya berjaya emasuki al Quds.

==========================================

Hadis-hadis juga ada menyebutkan bahawa satu gerakan lain yang mendukung Imam Mahdi(a) akan wujud di Yaman, di pimpin oleh seorang perwira yang bernama “al Yamani” dan mewajibkan kaum Muslim untuk membantu gerakannya. “Tidak ada bendera yang lebih unggul dari bendera al Yamani. Apabila al Yamani sudah keluar maka diharamkan menjual senjata kepada manusia. Apabila al Yamani sudah keluar maka bangkitlah kalian untuk membantunya kerana benderanya memiliki petunjuk. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mempersulitkannya. dan siapa yang melakukan itu, maka dia termasuk dari penghuni neraka kerana beliau dan kekuatannya mempunyai peranan penting di Hijaz dalam membantu gerakan Imam Mahdi(as). Disebutkan bahawa pasukan dari Yaman akan ke Iraq demi membantu negara itu menghadapai kekuatan Sufyani. Sebagaimana yang diketahui, pasukan Yamani mempunyai peranan yang penting di wilayah Hijaz dan dalam membantu gerakan Imam Mahdi(as)

===================================

Di bahagian lain, terdapat juga hadis yang menyebutkan bahawa gerakan revolusi yang akan dipimpin oleh seorang berkebangsaan Mesir akan terjadi di Mesir sebelum keluarnya al Yamani dan al Sufyani. Gerakan ini akan dipimpin oleh panglima tentera Mesir, sementara gerakan yang serupa turut terjadi di kalangan orang Qibthi di Mesir. Kemudian turut disebutkan bahawa kekuatan timur dan barat akan masuk ke Mesir. Akibat ketidakmakmuran ini, muncullah as Sufyani dan gerakan-gerakan di wilayah Syam.

Imam Mahdi akan menjadikan Mesir sebagai contoh untuk seluruh dunia dan menjadikannya sebagai mimbar. Hadis ini juga menyebutkan bahawa beliau dan sahabatnya akan memasuki Mesir. “Kemudian mereka berjalan menuju ke Mesir, tempat beliau menaiki sebuah mimbar dan memberi khutbah di khalayak ramai. Sejak itu, bumi akan merasa girang dengan tegaknya keadilan, langit akan menurunkan hujan, pohon akan menumbuhkan buahan, tanah akan memekarkan tumbuhan dan menghiasi dirinya untuk para penduduk dunia. Begitu juga binatang-binatang liar akan berasa aman berkeliaran di pinggiran bumi selayaknya haiwan peliharaan. Lalu ilmu pengetahuan akan dimasukkan ke dalam hari orang-orang Mukmin, sehingga seorang Mukmin tidak memerlukan ilmu yang dimiliki saudaranya. Pada hari itu terlaksana maksud ayat yang berbunyi: “Allah memenuhi keperluan setiap orang dari keluasannya.”

================================

Adapun keadaan di timur Islam, maka seperti yang disebutkan di dalam hadis suci bahawa akan muncul kekuatan-kekuatan untuk memasuki negeri-negeri Syam, barangkali juga termasuk Mesir. Disebutkan juga bahawa sebahagian kekuatan itu akan memasuki Iraq. Tugas pasukan ini adalah menyerupai pasukan tentera Pan Arab. Akan tetapi tentera ini tidak digunakan untuk kemashalatan Islam dan Muslimin.

Di Syam, pasukan tentera ini akan menghadapi kekuatan orang-orang Iran yang mendukung Imam Mahdi dan keduanya akan terperangkap dalam peperangan, hingga pasukan tentera ini akan ditarik masuk ke Jordan. Sisa pasukan tempur ini akan ditarik selepas as Sufyani muncul atau disatukan dengan pasukan yang dipimpinnya. Di Mesir, pasukan tempur ini akan dikerahkan untuk membantu rejim yang berkuasa dalam menghadapi gerakan massa Mesir atau untuk membantu kekuatan barat yang memasuki Mesir, sebelum berkibarnya gerakan Sufyani di Syria.

===================================================

Hadis-hadis tentang era kebangkitan Imam Mahdi menyebutkan bahawa orang-orang Yahudi di akhir zaman membuat kerosakan dan melakukan kesombongan yang luar biasa di muka bumi, sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalm Al Quran. Kesombongan mereka akan luruh di tangan para pembawa bendera yang keluar dari Khurasan. “Bendera ini tidak dapat dipatahkan sehingga di tancapkan di Aelia.” yakni al Quds. Orang-orang Iran adalah satu bangsa yang dipersiapkan oleh Allah untuk menghadapi orang-orang Yahudi. Allah swt berfirman: ” Kami mengutus kepada mu hamba-hamba kami yang luar biasa.”

Hadis hadis ini tidak menentukan apakan penghancuran yang dijanjikan ini akan terjadi dalam satu masa atau bertahap sehingga era kemunculan Imam Mahdi dan sesudahnya. Akan tetapi, hadis-hadis ini mengisyaratkan bahawa tahap akhir dari proses penghancuran ini akan terjadi di zaman Imam mahdi dan melalui kekuatan beliau serta bala tenteranya yang kebanyakannya terdiri dari orang-orang Iran. Semua itu bakal terjadi ketika pertempuran-pertempuran besar berhadapan dengan pihak romawi dan Yahudi, ketika Usman as Sufyani menjadi pemerintah Syam dan berposisi sebagai pasukan pertahanan.

Dinyatakan bahawa Imam mahdi mengeluarkan lembaran-lembaran Taurat yang asli dari sebuah gua di Antiokhia, dari pergunungan Palestin dan sebuah danau di Tripoli. Beliau akan berhujah dengan lembaran-lembaran taurat terhadap orang-orang Yahudi, lalu menampakkan tanda-tanda kebesaran dan kelebihannya, sehingga sebahagian dari mereka yang terselamat dari pertempuran al Quds akan memeluk Islam, manakala mereka yang tidak mahu memeluk Islam akan diusir dari kawasan negara Arab.

=====================================================

Sebagaimana yang dikhabarkan oleh sejumlah hadis suci bahawa sebuah perang dunia akan terjadi sebelum kemunculan Imam Mahdi yang disebabkan oleh faktor-faktor di timur. Perang dunia ini melibatkan dua kuasa besar, Romawi dan Turki, atau blok barat dan Rusia. Dari hadis pula dapat disimpulakn bahawa perang ini berskala besar, “yang akan menyuluh banyak peperangan di muka bumi ini.” Semua ini berlangsung pada tahun-tahun kemunculan Imam Mahdi. Kerugian akibat peperangan ini akan ditanggung oleh Amerika dan Eropah, “dan akan menyala api dengan kayu yang sangat banyak di belahan barat bumi”. Penduduk timur dan barat akan bertikai dengan sengit. Kecuali dari kalangan ahli kiblat, manusia akan menanggung beban besar dari apa yang menimpa mereka dari ketakutan.”

Disebutkan bahawa umat manusia juga akan terkesan dengan wabak tha’un yang terjadi sebelum dan selepas perang besar tersebut dan akan menjangkiti dua pertiga dari penduduk dunia. Wabak ini tidak akan menimpa kaum Muslimin kecuali dalam jumlah yang kecil. “Perkara ini(kemunculan Imam Mahdi) tidak akan terjadi sehingga 2/3 manusia lenyap, hingga kami bertanya: “Jika 2/3 manusia lenyap, siapa yang akan tinggal?” Dijawab: “Tidakkan kamu ingin menjadi 1/3 sisanya?”

Sebahagian riwayat menununjukkan bahawa peperangan ini berlangsung dalam beberapa tahap dan tahap akhirnya bakal terjadi setelah kemunculan Imam Mahdi dan pembebasan Hijaz. Pemicu dari pembebasan Hijaz ini adalah kekosongan politik dan tragedi penggulingan kekuasaan di Hijaz.

Anak SD Mazhab Sunni pun Melakukan Seks Bebas !! 90 Persen Pelaku Video Porno Adalah Anak-anak Mazhab Sunni

taushiyah oleh : Ustad Husain Ardilla
================================

Rusak nya Moral Bangsa ini..

Kaum Syi’ah Indonesia yang berjumlah 2,5 juta jiwa siap “meng islam” kan Indonesia lagi…

 dibayar dengan uang rakyat tetapi hanya bisa bermimpi dan berjanji untuk menyejahterakan rakyat
coba bandingkan dengan rusak nya tempat tinggal saudara – saudara kita yang terkena musibah tsunami di mentawai yang berharap diberikan dan dipulihkan kembali segala macam kebutuhan hidupnya
dan tengok saudara kita juga yang berada jauh di timur sana yang belujm pernah bahkan tidak pernah terjamah tangan – tangan bersih sang dewan DPR  RI (dewan perusak rakyat).
Apa Pemerintah yang hampir setiap hari bersenang – senang dengan gaji rakyat pernah berfikir apa yang harus mereka lakukan saat rumah rakyat nya hancur lebur oleh kejamnya alam ini?
 Seharusnya anggota DPR adalah orang – orang yang pernah menderita seperti mereka bukan dari orang – orang ber otak cerdas dan bermaterikan melimpah….
mungkin miris melihat kehidupan diIndonesia yang sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya….mereka eksis dan update tentang informasi tapi mengaapa mereka seakan buta melihat semua penderitaan rakyat
Cobalah sadar dan berusaha merasakan apa yang mereka rasakan mungkin yang saya katakan ini sedikit jeritan kecil dari rakyat – rakyat yang berharap pada anda yang menikmati uang mereka tanpa mau tau bagaimana mereka bersusah payah mendapatkan itu semua

BENCANA.
Mengapa bencana sering menyertai kehidupan masyarakat Indonesia? Hal ini perlu kita memahami apa makna dan maksud dari terjadinya bencana tersebut.Kalau kita menganggap bencana ini sebagai azab dari Tuhan berarti kita kufur nikmat. Mengapa? Karena kita hanya meratapi penderitaan yang Tuhan berikan tanpa mensyukuri akan apa yang Tuhan berikan kepada kita selama ini.Kita diberikan tanah yang subur tetapi kita rakus mengambil kesuburannya, diberikan air tetapi kejam terhadap air, diberikan udara bersih tetapi kita mengotori, diberikan tanah air yang subur makmur tetapi kita mengambilnya dengan serakah tanpa kita kembali memberikannya pada alam.Maka itulah akibatnya alam kembali mengambil apa yang menjadi miliknya
.
Karena alam mempunyai ruh, jiwa, hati, perasaan, hanya kita saja yang buta, tuli, kejam dan bodoh hingga kita hanya mengambilnya, memakannya, mengotorinya dan hanya memberikan kemaksiatan, kezholiman, kemunafikan, keserakahan dan kemungkaran pada alam.

Jika ini terus terjadi maka hanya AZAB yang akan terus datang setiap waktu. Tiap hari kita diseru untuk berbuat kebaikan tetapi itu hanya sampai di telinga saja, tidak sampai ke hati.

Kita dibutakan oleh dunia sehingga lupa bahwa kita hanya manusia yang tak mempunyai apa apa. Yang dilahirkan dari tetes air hina.

Ruh bukan punya kita, badan bukan punya kita, harta bukan punya kita.

Semua itu punya Tuhan yang Maha Kuasa. Kita hanya punya DOSA dan PAHALA maka dari sekaranglah kita Bijak pada Alam dan biarkan alam yang menjalaninya sesuai dengan kodratnya. Mudah-mudahan ungkapan hati ini bisa menyadarkan kita semua.

.
01 April 2012 | 17:00 wib
Anak SD pun Melakukan Seks Bebas

TEMANGGUNG,

Hubungan seks secara bebas atau tanpa ikatan pernikahan tidak hanya dilakukan kaum dewasa, namun anak-anak yang masih berstatus pelajar juga tidak sedikit yang melakukan hal tersebut. Bahkan, diantara para pelajar itu, ada yang masih duduk di sekolah dasar (SD) atau sederajat di Kabupaten Temanggung.

Seperti diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren At-Tauhid Parakan, Muh Madfur Nasocha atau  Gus Madfur, setidaknya ada dua anak perempuan yang masih berstatus pelajar SD di satu desa di kabupaten setempat, yang melakukan hubungan seks bebas, kemudian hamil. Sedangkan pasangan yang mengahamili mereka adalah pacarnya sendiri, pelajar dari sebuah SMP.

“Anak-anak SD sekarang, meski umurnya baru belasan tahun dan duduk di kelas V atau VI, namun kondisi fisiknya memang ada yang seperti remaja, dan organ-organ reproduksinya pun sudah berfungsi. Karena itu, tak mengherankan, jika kemudian
mengalami kehamilan setelah berhubungan badan,” tuturnya.

Menurutnya, kasus hubungan seks bebas di kalangan pelajar SD hingga mengakibatkan kehamilan tersebut, hanyalah merupakan contoh yang terungkap. Sebab, sebetulnya masih banyak kasus-kasus yang menunjukkan telah merambahnya hubungan seks bebas di kalangan pelajar SD, baik yang akhirnya mengakibatkan kehamilan atau tidak.

“Bahkan menurut penelitian kami, sekitar 7,5% anak-anak SD atau sederajat, telah pernah melakukan hubungan seks bebas tersebut,” ujar putra kiai khaos Parakan, Mbah Nasocha itu.

Gus Madfur bersama para santrinya, selama ini memang telah melakukan penelitian terkait dengan fenomena seks bebas di kalangan pelajar. Penelitiannya dilakukan secara kualititatif, yakni melakukan wawancara mendalam dengan para responden, baik dengan para pelajar pelakunya, maupun dengan pelajar yang mengetahui adanya seks bebas di kalangannya.

“Hasil penelitian itu cukup mencengangkan, selain pelajar SD yang mencapai 7,5% itu, sekitar 65% pelajar SMP  dan 80% pelajar SMA atau sederajat, ternyata pernah melakukan hubungan seks. Ketika diwawancarai ada yang mengaku secara terus terang, dan ada pula yang diungkapkan  teman-temas sebayanya,” terangnya

.

90 Persen Pelaku Video Porno Adalah Anak-anak

YOGYAKARTA,

Hasil pengamatan terhadap 100 video porno, berdurasi pendek 9-10 menit, sebanyak 90% pelaku merupakan anak muda. Sebanyak 76,3 persen memperlihatkan kegiatan sexual dan 91,4 persen pembuatan film dilakukan di ruangan tertutup.

“Kebanyakan mereka senang memproduksi film di hotel atau tempat kos,” ujar Basilica Dyah Putranti peneliti Pusat Studi Kependudukan & Kebijakan UGM.

Dijelaskan, sedikit relasi yang menunjukkan keterpaksaan, karena hampir 64 persen film memperlihatkan perempuan berinisiatif saat berhubungan sexual. Sementara 71 persen gambar film memperlihatkan hubungan sexual anak muda tanpa sehelai benang.

“Jadi benar-benar terlibat hubungan sexual. Aktivitas sexual lain yang bisa dibaca dari video amatir ini, 51,6 persen intercourse, 11 persen oral sex, lain-lain potongan adegan ciuman, mandi, striptise dan beberapa pelaku berseragam,” katanya.

Dia mengaku metodologi penelitian yang dilakukan memang sedikit memiliki kelemahan. Meski begitu Dia meyakini bahwa dari 100 video porno yang dianalisis mengandung banyak informasi. Dari analisis tidak ditemukan aktivitas homoseksual, namun terdapat aktivitas sexual lesbian. Sementara untuk perempuan dengan penampilan sexi dengan bikini tidak terlalu banyak ditemui.

“Saya mencarinya di warnet-warnet, dan ternyata sudah ada folder-folder yang tersimpan film-film porno tersebut. Saya mengambil secara random, dan 79,6 persen menampilkan sosok tubuh perempuan,” tambahnya.

Rina Widarsih Manager Divisi Pendampingan Rifka Annisa merasa prihatin. Dia berpandangan perkembangan teknologi komunikasi memicu meningkatnya jumlah pengakses pornografi dikalangan remaja sehingga berakibat terjadi tindak perkosaan dan hubungan sexual di kalangan remaja.

“Internet, hand phone menjadi perantara dan menjadi tools terjadinya hubungan sex, seperti maraknya kasus pemerkosaan remaja di Gunungkidul direkam melalui hand phone,” ujarnya

………………………………………………………………………………………….

Perilaku Orang Tua Sangat Parah, Maka Anak juga Parah

21 Maret 2012 | 16:01 wib
Ketahuan Merekam Tetangganya Mandi, Oknum PNS Ditahan 0

image

TERSANGKA:

Oknum PNS Maryanto (tengah), tersangka perekam wanita tetangga yang mandi, dalam kawalan petugas dan kini ditahan di Mapolres Wonogiri.

WONOGIRI

Gara-gara ketahuan merekam wanita tetangga yang tengah mandi, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Maryanto (38), kini ditahan polisi. Warga Dusun Dungpring RT 3/RW 7 Desa Ngunggahan Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri ini, sehari-harinya bekerja sebagai penjaga Sekolah Dasar (SD) Negeri IV Eromoko.

Kapolres Wonogiri AKBP I Ketut Swastika, melalui Kasubag Humas AKP Supriyadi didampingi Kabag Ops Reskrim Iptu Sukadi, Rabu (21/3), menyatakan, bersama tersangka polisi menyita barang bukti ponsel Nokia 5320, yang dipakai untuk alat merekam wanita mandi.

Tersangka, akan dijerat dengan pasal 35 juncto pasal 29 Undang-Undang Nomor: 44 tahun 2008 tentang pornografi. “Yang ancaman hukumannya minimal satu tahun penjara,” kata AKP Supriyadi.

Wanita tetangga yang dijadikan korban sasaran rekam ketika mandi, adalah Ny Jati Puji Mulyani (35), yang terhitung masih tetangga dengan tersangka. Sebagai tetangga, Maryanto hapal waktu Ny Jati mandi di petang hari. Utamanya ketika lampu kamar mandinya dinyalakan. Saat itu pula, tersangka memanjat ke atap untuk untuk membuka genting dan secara diam-diam ‘menyoting’ adegan lepas baju sampai Ny Jati mandi.

Di tengah asyik-asyiknya Maryanto ‘nyoting,’ mendadak Ny Jati menjerit ketika dari lubang atap genting kamar mandi yang terbuka, terlihat tangan dan ponsel yang mengarah ke tubuhnya. “Hee, sing motret aku iki sopo (Hee, yang memotret saya ini siapa),” teriaknya. Teriakan ini didengar suaminya, Didik Pujanto (41), yang kemudian mengejar tersangka saat berusaha kabur.

Bersamaan tersangka ditangkap, ponselnya dirampas untuk kemudian dibuka. Karena di dalam ponsel terdapat rekaman adegan Ny Jati mandi, segera tersangka dilaporkan polisi.

Perempuan Syi’ah Bisa Menjaga Keperawanan, Inilah Manfaatnya

Perempuan Syi’ah Bisa Menjaga Keperawanan, Inilah Manfaatnya

Di zaman moderen seperti sekarang, tidak sedikit perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual meski belum resmi menikah, bahkan diantaranya ada yang masih duduk di bangku sekolah. Padahal banyak manfaat kesehatan yang bisa dirasakan perempuan bila bisa menjaga keperawanannya.

Keperawanan masih sangat dihargai di negara dengan adat timur, termasuk di Indonesia. Perempuan dianggap suci secara agama dan moral bila bisa menjaga keperawanannya sebelum menikah.

Sayangnya, pergaulan bebas yang sedang marak di kalangan anak muda, membuat perempuan bisa melepas keperawanannya kapan saja, meski masih duduk di bangku sekolah sekalipun. Padahal keperawanan adalah salah satu hadiah paling istimewa yang Tuhan berikan pada seorang perempuan.

Berikut beberapa manfaat kesehatan bisa perempuan bisa menjaga keperawanannya sebelum menikah,

1. Tak perlu takut hamil di luar nikah
Dari banyak keuntungan, yang satu ini adalah yang paling jelas. Banyak perempuan lajang yang rutin berhubungan seks selalu khawatir dengan kehamilan. Jadi jika Anda seorang perawan, Anda tidak perlu khawatir dengan hal ini. Anda juga tidak perlu pusing karena harus rutin minum pil KB bila tak ingin hamil sebelum menikah.

2. Tidak kena infeksi menular seksual (IMS)
Perempuan yang bisa menjaga keperawanan tentu saja tidak akan melakukan hubungan seksual yang berbahaya. Hal ini tentu saja akan menjauhkannya dari berbagai infeksi menular seksual, seperti HIV/AIDS, herpes dan kutil kelamin, sifilis (raja singa) dan gonorhea (kencing nanah).

3. Tidak ada trauma emosional dari hubungan
Cinta tidak melulu soal seks. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pasangan belum menikah tanpa seks. Ingat, kekecewaan seksual dapat membuat Anda merasa sakit hati, stres, depresi, kesepian dan jadi pemarah.

4. Lebih bahagia
Faktanya, kebanyakan pria lebih menyukai menikahi perempuan yang masih perawan. Perempuan yang bisa menjaga keperawanannya sampai menikah nanti cenderung memiliki pernikahan yang lebih bahagia ketimbang yang melakukan seks pra nikah.

.

wanita syiah Iran

Thumbs up Profesi lain dari wanita syiah iran yang bikin takut israel

Mungkin kita bertanya – tanya ,perang saraf Israel sekutu,serambut terus bergulir namun belum berani juga mereka invasi ke Iran

Mungkin ini diantara sebabnya


Latihan Ninjutsu:

iran.jpg

polwan-iran-2.gif

polwan-iran-1.gif

polwan-iran-3.gif

masyarakat Syiah menghormati wanita.

Latihan Militer:

7 Ribu Lebih Warga Jabotabek Menangis Mengenang Tragedi Karbala

Untuk mengenang syahidnya cucu nabi Muhamad SAW, di padang Karbala Husain bin Ali bin Abi Thalib , pada 10 Muharam 61 Hijriah, atau tahun 680 masehi, ribuan umat Syiah seJabodetabek rayakan Asyura Nasional 1433, di Puri Ardhya Garini Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (06/12/2011).

Di tempat tersebut, terpantau ribuan orang, laki-laki, perempuan tua mau pun muda, dengan berpakaian serba hitam, datang untuk ikut mengenang kematian Husein. Tulisan “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala,” tampak di setiap sudut.

Panitia pun menetapkan standar keamanan tinggi untuk para peserta, siapapun yang datang, harus rela diperiksa tubuh dan barang bawaannya, serta melewati sebuah metal detektor.

Acara yang bertemakan “Derap Langkah Al Husain Wujudkan Keutuhan Bangsa,” itu, menurut wakil Kordinator acara, Hisam Sulaeman didatangi sekitar 7000 umat dari berbagai wilayah di Jabodetabek.

“Kita mengumpulkan ribuan umat, untuk merayakan Asyura,” katanya.

Acara tersebut juga diisi dengan donor darah, bazar, serta penggalangan dana Asyura dan sosialiasi Yayasan Dana Mustadhafin, Maqtal, pembacaan syair-syair Kesyahidan Al Husain, dan doa Ziarah,

Dalam acara tersebut, juga dihadiri sejumlah umat Syiah dari mancanegara, antara lain dari Singapura, Irak dan dari Pakistan.

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syurawanita Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Menuju Peradaban Syi’ah yang Lebih “Diberkahi”

Pelajaran “Hijrah Modern”

Menuju Peradaban Syi’ah yang Lebih “Diberkahi”

Selasa, 06 Desember 2011

oleh: Ustad Husain Ardilla

SEJAK awal perkembangan Islam, langkah fundamental yang diambil oleh Rasulullah Saw untuk membumikan nilai-nilai Islam, adalah mencari lingkungan yang steril dari kontaminasi dan dominasi hukmu al jahiliyyah (hukum jahiliyah), tabarruj Al Jahiliyyah (tatanan sosial yang mengabaikan moral), Zhan Al Jahiliyyah (gaya hidup yang menuhankan materi),hamiyyatul jahiliyyah (kultur jahiliyah) dalam segala dimensinya.

Membangun Islam dalam lingkungan yang tidak kondusif dengan begitu, laksana menanam benih di lahan yang gersang, kering kerontang. Tentu benih yang ditanam tidak akan tumbuh menjadi tanaman yang subur. Bahkan, kemungkinan besar akan layu. Hidup segan, mati tak mau. “Laa yamuutu wa laa yahyaa.”

Imam Ali ketika memimpin upacara pemberangkatan para dai ke berbagai belahan dunia: Fii ayyi ardhin taqo’ anta mas’ulun ‘an Islamiha (di bumi manapun anda berdiam, anda memiliki tugas untuk mengIslamkan penduduknya).

Selama 13 tahun Rasulullah Saw dan para sahabatnya berIslam di Makkah, terbukti hanya beberapa gelintir orang yang menyambut seruannya. Itupun, sebagian besar berasal dari kalangan grass root(mustadh’afin)..Karena lingkungan sosial Makkah didominasi kemusyrikan. Penyakit molimo (minum, mencuri, membunuh, main perempuan, berjudi, memakan riba) yang diderita masyarakat sudah pada stadium akut.

Rasulullah Saw bersabda : “Seseorang itu tergantung agama kekasihnya, maka lihatlah kepada siapa ia berteman.” (HR. Ahmad )

Dalam Hadits lain disebutkan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tua lah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Begitu pentingnya sebuah lingkungan (al Biah), sehingga sastra arab mengatakan : “Nahnu ibnul biah.” (kita adalah produk sebuah lingkungan). Ada ungkapan lain yang senada: “Al Jaaru qabla ddar.” (mencari tetangga yang sepaham/sefikrah terlebih dahulu sebelum membangun rumah). Manusia itu diperbudak oleh kebiasaan dimana ia berdiam, kata sastra Arab. Seseorang yang akrab, dekat dan erat dengan penjual minyak wangi, akan terkena bau wangi, seseorang yang dekat dengan pandai besi, akan kecipratan bau besi. Seseorang yang dekat dengan orang-orang pilihan, ia akan terpengaruh oleh mereka.

Jadi, lingkungan yang Islami merupakan hidden curiculum yang akan merekonstruksi/menata ulang struktur kepribadian penghuninya menjadi Islami. Sebaliknya kawasan yang jahili akan membentuk pola pikir dan sikap mental jahiliyah penghuninya pula.

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah, seperti tamsil hujan lebat mengguyur bumi. Maka ada tanah yang bagus menerima air kemudian menumbuhkan tanaman hijau dan rumput yang banyak. Dan ada tanah keras yang bisa menahan air, kemudian Allah berikan manfaatnya bagi manusia, sehingga mereka bisa mengambil air minum, menyirami, dan bercocok tanam. Dan ada lagi hujan yang mengguyur bumi yang licin, tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah tamsil orang yang memahami agama Allah dan petunjuk yang aku diutus Allah dengannya memberi manfaat baginya, maka ia tahu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tamsil orang yang tidak peduli dengan agama Allah dan tidak menerima hidayah Allah dengannya aku diutus.”

(HR. Bukhari, Shahih Al Bukhari 1/28).

Ketika Rasulullah Saw dan para syi’ah Ali   merasakan bumi Makah terlalu sempit menampung idealisme tauhid, Beliau ekspansi dakwah dan mencari basis teritorial lain yang lebih menjanjikan. Sehingga beliau memilih tanah Thaif sebagai alternatif pertama, tetapi respon kaum Thaif tidak menyenangkan. Bahkan beliau dilempari dengan batu. Kemudian mengadakan hijrah ke Habasyah. Namun imigrasi yang kedua ini kurang lebih sama dengan tujuan hijrah pertama. Sekalipun Raja Habsyi cukup toleran, hanya ghulam (seorang pemuda) yang masuk Islam ketika tertarik melihat Rasulullah Saw makan dengan membaca doa.

Baru setelah hijrah ke Madinah terjadi perkembangan spektakuler baik dari segi kaulitas maupun kuantitas kaum Muslimin. Dalam waktu 10 tahun di Madinah, kaum muslim tercatat 10.000 orang. Peristiwa hijrah ini kemudian dijadikan sunni sebagai momentum penetapan tahun baru Islam. Sekalipun banyak peristiwa besar yang mendahuluinya, seperti pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abraha untuk menghancurkan Ka’bah dll. Dari sini titik tolak perubahan totalitas kaum muslimin pertama terjadi.

Pelajaran Fundamental Hijrah

Ada beberapa pelajaran penting dari peristiwa hijrah ini, dikaitkan “hijrah” modern dengan visi membangunan peradaban Islam ke depan.

Pertama: Reformasi itu dimulai dari level kepemimpinan

Yang perlu diluruskan bahwa hijrah itu tidak identik dengan urbanisasi. Karena hijrah itu menuntut adanya perubahan secara radikal dan total. Dan setiap perubahan itu, berimplikasi sangat jauh. Perubahan itu memerlukan pengorbanan, maka terasa pahit. Apalagi jika seseorang itu telah membangun imperium, kedaulatan, status quo sudah sedemikian kokoh. Dipagari oleh kesetiaan dan hak-hak istimewa. Dalam kondisi demikian, perubahan itu biasanya ditafsirkan dengan instabilitas, anti kemapanan dll.

Dari berbagai teori perubahan, kejatuhan dan kebangunan negara dapat dipahami bahwa perubahan itu akan sukses jika di pelopori dari setiap individu, utamanya kalangan elitis sebuah komunitas. “Taghyiiru khuluqil ummah taabi’un litaghyiiri khuluqil qiyadah,” (perubahan sebuah bangsa berbanding lurus dengan kesiapan berubah di kalangan elit kepemimpinan), kata Ibnu Khaldun. Jika kita getol menyapu lantai rumah, sementara kotoran atapnya dibiarkan menempel, maka lantai akan kotor kembali.

Kedua: Komitmen terhadap regenerasi

Kepimpinan yang baik adalah mempersiapkan penggantinya. Penerus dan pewaris perjuangannya. Sebab usia seorang pemimpin umumnya lebih pendek dibandingkan dengan nilai immaterial, misi yang diperjuangkan. Bahkan ummat Muhammad hanya berumur berkisar 60 sampai 70 tahun (HR. Ahmad). Nilai-nilai moral yang tidak secepatnya diwariskan, maka negara, intitusi, akan kurang dinamis dalam merespon perubahan sekitarnya. Yang dimaksud kader disini adalah seseorang yang dididik, disiapkan, disetting, untuk melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam sebuah keluarga, partai, intitusi, lembaga, negara. Oleh karena itu sebelum Rasulullah Saw hijrah, telah mempersiapkan Ali untuk menggantikan tempat tidurnya. Dengan regenerasi maka kesinambungan amal dan transfer nilai akan berjalan dengan baik.

Ketiga: Memperkuat Sandaran Vertikal

Ketika rumah Rasulullah Saw sudah dikepung oleh para algojo dari berbagai kabilah Arab untuk menghabisi nyawanya, beliau tetap memiliki kestabilan jiwa. Hal ini merupakan salah satu buah ketargantungannya (ta’alluq) kepada Al Khaliq yang sudah terlatih selama 13 tahun di Makkah.

Setelah itu para algojo itu tidak bisa mendeteksi kepergian Rasulullah Saw. karena dibuat mengantuk oleh Allah. Setelah memasuki rumah beliau merasa terheran-heran, ternyata yang menempati tidur Rasulullah Saw adalah anak pamannya Abu Thalib, Ali kw. Betapa terkejutnya mereka. Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar yang lebih canggih kepada mereka.

Sebuah bangsa yang dibangun tanpa memperhatikan aspek moral, keterlibatan Tuhan maka ucapkanlah taziyah (ucapan terakhir untuk mayit) kepada bengsa itu. Negara yang dibangun dengan mengabaikan peranan Tuhan, laksana membangun istana pasir atau permukaan balon. Negara itu akan keropos, mudah rapuh oleh tangan jahil penghuninya atau oleh konspirasi eksternal.

Keempat: Membangun sinergi dengan pihak lain

Sesungguhnya eksistensi sebuah peradaban sangat didukung oleh ketrampilannya dalam membangun kerjasama dengan pihak lain. Untuk mendukung keberhasilan hijrah, Rasulullah Saw bekerjasama dengan penggembala kambing orang Nasrani (Abdullah) untuk menghilangkan jejak dan rute yang dilewati.

Sesungguhnya ajaran Islam menjunjung tinggi kerjama dalam kebaikan dan taqwa. Dan menolak sinergi dalam perbuatan dosa dan permusuhan.Ciri yang paling menonjol akhlaq Islam dengan agama lain adalah menjunjung tinggi kesepahaman dan tidak menghalalkan segala cara. Bertolak belakang dengan sistem politik Machiavelli. “Al ghoyatu tubarrirul wasaa-il” (segala cara ditempuh, demi mencapai tujuan). Maka ada sebuah pameo; “Tidak ada kawan abadi, yang kekal adalah kepentingan.”

Disamping konsep Islam teguh dalam persoalan prinsip, terbuka pula dalam menerima perubahan-perubahan yang bersifat tekhnikal. Rasulullah telah mengajarkan sikap keterbukaan dalam memandang perbedaan. Perbedaan pandangan adalah suatu fitrah. Bahkan dengan beragam perbedaan itu bisa mendewasakan seseorang. Yang penting, mensiasati dan mengelola perbedaan itu agar menjadi produktif. Islam mengajarkan sepakat dalam persoalan prinsip dan toleran dalam perbedaan yang bersifat non prinsip. Oleh karena itu, kita dituntut menyederhanakan perbedaan dan mengedepankan kesepahaman. Dengan kerjasama yang baik antara berbagai komponen komunitas (pemimpin (Rasulullah), generasi tua , kalangan pemuda (Ali krw) kesulitan dan tantangan seberat apapun akan mudah diatasi.

Kelima: Pemberdayaan perempuan

Sesungguhnya wanita adalah saudara laki-laki (syaqoiqur Rijal). Dalam Islam laki-laki dan wanita itu satu kesatuan. Bahkan wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Karena dari satu jiwa, maka laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan yang berprestasi akan mendapatkan balasan yang sama.Oleh karena itu Allah memberikan tugas dan kewajiban kepada makhluq-Nya sesuai dengan fungsi kodratinya.

Perempuan yang terdidik dengan baik, memiliki kualitas yang melebihi laki-laki. Asma’ binti Abu Bakar dalam usia belia berhasil mengomandani urusan logistik ketika hijrah. Sekalipun medan yang dilewati terjal, dan nyawanya terancam. Demikianlah perempuan yang berkualitas, mengungguli bidadari. Karena bidadari masuk surga karena takdir. Sedangkan wanita shalihah berhasil karena perjuangan. Ketika masuk surga, menghargai tempat yang dihuni.

Sebaliknya wanita yang dibiarkan bengkok, maka kejahatannya akan melebihi laki-laki. Masih ingatkah kita peristiwa pembedahan dada mayat Hamzah bin Abdul Mutholib, kemudian digigit hatinya. Itulah perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Hindun. Sehingga ketika telah masuh Islam, Rasulullah melihat wajahnya dengan cemberut. Terbayang dengan peristiwa yang memilukan/menyayat hati.

Wanita shalihah lebih baik dari bidadari. Karena wanita shalihah berhasil berkat perjuangannya (mujahadah). Ketika masuk surga, ia menghargai posisi yang ditempatinya. Sedangkan bidadari masuk surga secara cuma-cuma (majjanan). Ia tidak merasakan pentingnya tempat yang dihuni

Keenam: Membangun pola kepemimpinan Imamah

Berjamaah adalah media yang efektif dan efisien dalam memperkecil konflik. Mengesampingkan perbedaan dan menonjolkan persamaan. Berjamaah adalah fitrah manusia. Dengan berjamaah kita menyadari keterbatasan kita. Keberhasilan kita terwujud didukung oleh pengorbanan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kehadiran kita di bumi ini juga tidak bisa dilepaskan dari kerjasama kedua orang tua kita. Sesungguhnya kita berasal dari percikan-percikan air (qothorot) dan menjadi manusia (fashorot insanan).

Keberhasilan yang dinikmati sendirian, tidak terlalu membahagiakan. Kesusahan yang ditanggung secara kolektif, maka derita menjadi ringan untuk dipikul. Itulah pentingnya kebersamaan. Dan karena kelemahan kita, menuntut adanya kerja sama dengan pihak lain di luar kita. Bahkan menjaga keshalihan kita mustahil terwujud tanpa berjamaah.

Kebenaran tanpa aturan, terkadang dikalahkan oleh kebatilan yang teratur . Dunia ini dikuasai oleh negara Super Power. Namun, yang sedikit kita ketahui, dibalik kekuatan negara adi kuasa itu, terbukti ada kekuatan penekan (jama’atudh dhoghthi) yang diperankan oleh jaringan mafia kejahatan yang terorganisir dengan rapi. Dunia ini dikuasai oleh mafia. Wajar, jika kita menyaksikan media informasi di dunia ini tidak mendidik.

Demikian, beberapa pesan yang bisa dipetik dari hijrah. Yang jelas, “Al Hijratu maadhin ilaa yaumil qiayamah.” (hijrah tetap berlangsung sampai hari kiamat). Baik secara maknawi (hajara, meninggalkan segala bentuk maksiat), pula yang bersifat makani (haajara : meninggalkan lingkungan yang tidak Islami). Ketika Islam belum mendominasi kehidupan. Berbeda dengan haji, hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Sebaliknya, selama Islam belum tegak secara de jure dan de vacto, perintah hijrah bersifat wajib sampai hari kiamat sekalipun tidak memiliki apa-apa dan berangkat harus ditempuh dengan berjalan kaki, memakan urat pohon, tempat yang dituju tidak menjanjikan kehidupan dll, menurut jumhur ulama.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa (4) : 100).

Allah akan memberikan pertolongan kaum muhajir di tempat yang baru dengan berbagai fasilitas yang menggiurkan. Bakkah (lingkungan yang membuat orang menangis) yang semula ditempati Ibu Hajar dan Ismail, menjadi Makkah Al Mukarromah (tempat yang diberkahi dan dimuliakan). Tempat yang membuat daya tarik spiritual bagi yang pernah mengunjunginya. Gua dikelola oleh ashhabul kahfi menjadi pusat dakwah. Penjara dirubah oleh Yusuf menjadi sarana tarbiyah.

Jika di tempat pertama belum ditemukan janji Allah, maka carilah tempat yang lain. Karena di tempat yang baru ini Allah akan membuktikan jaminan-Nya. Bukankah bumi Allah itu luas?

Jika bahan pembuatan pabrik di perut bumi tertentu habis, carilah bumi yang lain. Insya Allah tempat yang baru akan ditemukan limpahan karunia-Nya.

ABUBAKAR DAN KETURUNANNYA MEMUSUHI KELUARGA NABI SAWW

sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yang memiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :

1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya.2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak.

3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

Muslim Syi’ah yang Benar, Tunduk pada Syariah!

 

Jum’at, 17 Februari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

ALLAH Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) menciptakan manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan sosial. Jadi gharizah tadayyun adalah permanen, kecenderungan kepada kekafiran adalah susulan.

Dalam sebuah hadits disampaikan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Batasan agama yang lurus menurut arahan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) di atas  menggunakan terma fitrah, sedangkan agama yang lain menggunakan istilah Yahudi, Nasrani dan Majusi. Maka, makna fitrah yang benar adalah Islam itu sendiri. Agama yang melekat dalam diri manusia sejak di alam rahim ibu. Sebelum menjadi janin, manusia sudah bersyahadat di hadapan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Ketika lahir diingatkan ulang kalimat tersebut di telinga kanan dengan suara adzan dan di telinga kiri dengan suara iqamat. Agar dalam kehidupan yang penuh ujian nanti, tidak sampai tergoda/tergelincir/terperosok ke dalam jurang kehancuran (darul bawar), dan meninggalkan Islam. Baik, diuji dengan jabatan, kekayaan dan ilmu.

Jadi, karunia yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah lazzatur ruh (keezatan spiritual), lazzatul Iman wal Islam (kenikmatan beriman dan berislam). Sekalipun kita menggenggam kekayaan dunia tujuh turunan, kekuasaan yang tanpa pensiun, ilmu yang tinggi (sundhul langit, Bhs Jawa), kehidupan yang memiliki pengaruh yang besar, popularitas, tetapi tidak ditemani oleh islam akan membuat kita kecewa seumur hidup. Sedangkan, sekalipun kita tinggal di gubug reot, di balik jeruji, di rumah kontrakan, kehidupan pas-pasan, jika islam bersama kita, justru disitulah rahasia kemuliaan, dan kebahagiaan kita.

Islam dan Dinullah

Nama Muslim bukanlah nama yang diberikan oleh orangtua kita, bukan pula warisan nama yang diberikan oleh nenek moyang kita, bukan pula nama yang dibuat oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Yang memberi nama seseorang sebagai muslim adalah Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Allah  memberi standar (ukuran), criteria (sifat) , status (posisi) orang tertentu yang memenuhi kelayakan sebagai muslim. Tentu, muslim di sini adalah muslim hakiki, lahir dan batin, hissiyyan wa ma’nawiyyan(penampakan lahiriyah dan batiniyah).

Jadi, muslim adalah sebuah nama yang agung, yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Mulia. Sejak sebelum Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) diutus di muka bumi ini.

Sesungguhnya inti dinul Islam adalah pandai bergaul (ad-Dinu huwal mua’amalah). Indikator kecintaan Allah  Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut dicintai orang-orang terdekatnya.

Dalam tata bahasa Arab, muslim adalah isim fa’il (pelaku) yang berasal dari kata – aslama-yuslimu-islaman – yang bermakna berserah diri. Dari akar kata aslama melahirkan kata turunan (derivat) – at-Taslim (berserah diri), as-Silmu (damai), salima minal mustaqdzirat (steril dari motivasi yang kotor), as Salamu(kesejahteraan), as-Salamah (keselamatan lingkungan).

Dari turunan terma Al-Islam telah tergambar sistem kehidupan secara utuh. Yaitu sistem aqidah dan ibadah, sistem sosial, sistem akhlak, sistem ekonomi, sistem penyelamatan lingkungan.

Jadi seorang muslim adalah orang yang telah menyerahkan jiwa dan raganya, pikiran, hati dan perilakunya untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Dan ia yakin dengan cara demikian ia akan merasakan kehidupan yang damai, bisa berbuat dengan tulus, makmur, sejahtera, bisa menyelamatkan lingkungan social dari berbagai bencana.

Seorang muslim menjalankan segala aspek kehidupannya dengan merujuk referensi Islam. Dalam skala kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bangsa. Sejak kelahirannya (fiqh aqiqah) hingga kematiannya (fiqh janazah). Menyangkut system ideologi, politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi, pertahanan kemanan dll.

Islam, Dinul Kaun

Sudah kita maklumi, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tunduk kepada suatu peraturan tertentu dan menginduk kepada undang-undang tertentu. Matahari, bulan dan bintang-bintang semuanya patuh kepada suatu peraturan yang permanen (tetap), tidak dapat bergeser atau menyeleweng darinya sedikitpun meskipun seujung rambut (hukum alam).

Bumi berputar mengelilingi sumbunya. Ia tidak dapat beranjak dari masa, gerak dan jalan yang telah ditetapkan baginya. Air, udara, cahaya dan panas semuanya tunduk kepada suatu sistem yang khas (unik). Benda-benda yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang tunduk kepada sesuatu ketentuan yang pasti, tidak lahir dan tidak mati kecuali menurut ketentuan itu.

Hingga manusia pun apabila kita perhatikan secara cermat keadaannya, niscaya ia tunduk kepada peraturan-peraturan (sunnah) Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dengan sepenuhnya. Ia tidak bernafas dan tidak merasai kebutuhannya akan air, makanan, cahaya panas, kecuali menurut undang-undang Allah yang mengatur kehidupannya, juga hati manusia dan gerakannya, peredaran darah nafasnya, keluar masuknya tunduk kepada undang-undang ini jua. Semua anggota badannya, seperti otak, perut besar, paru-paru, urat saraf, urat daging, dua tangan, dua kaki, lidah, dua mata, hidung, dan telinga semua berserah diri kepada-Nya.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar Ra’d (13) : 15).

Miniatur Madinah

Ketika din (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama “Madinah”. Jadi Din itu tidak bisa dipisahkan dari Daulah (susunan kekuasaan). Kekuasaan sebagai alat tetangga seagama dulu kemudian membangun rumah).

اَلْمَرء عَلَى ديْن خَليْله فَلْيَنْظُر الىَ مَنْ يُخاَللُ

“Seseorang itu tergantung pada din sahabatnya maka perhatikanlah kepada siapa ia menjalin teman akrab.”(HR. Ahmad).

مَثَلُ ماَبَعَثَنيَ اللهُ به منَ الْهُدَى وَالْعلْم كَمَثَل الْغيْث الْكَثيْر أَصاَبَ أَرْضاُ فَكَانَ منْهاَ نَقيةٌ قَبلَت الْماَءَ فأَنْبَتَتْ الْكلأ وَالْعُشْبَ الْكَثيْرَ وَكاَنَتْ منْهاَ أَجاَدبَ أَمْسَكَت الْماءَ فَنَفَعَ اللهُ بهاَ النَاسُ فَشَربُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا وَأَصَابَتْ منْهاَ طَائفَةٌ أُخْرَى انمَا هيَ قَيْعاَنٌ لاَ تَمْسكُ ماَءٌ وَلاَ تُنْبتُ كلَأً فَدلكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فيْ ديْن الله وَنَفَعَهُ ماَ بَعَثَنيَ اللهُ به فَعَلمَ وَعلمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بدلكَ رَأْساً وَ لًمْ يَقْبَلْ هُدَى الله الَديْ أُرْسلْتُ به

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang dengannya aku diutus oleh Allah, seperti tamsil hujan lebat mengguyur bumi. Maka ada tanah yang bagus menerima air kemudian menumbuhkan tanaman hijau dan rumput yang banyak. Dan ada tanah keras yang bisa menahan air, kemudian Allah berikan manfaatnya bagi manusia, sehingga mereka bisa mengambil air minum, menyirami, dan bercocok tanam. Dan ada lagi hujan yang mengguyur bumi yang licin, tidak menyerap air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itulah tamsil orang yang memahami agama Allah dan petunjuk yang aku diutus Allah dengannya memberi manfaat baginya, maka ia tahu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan tamsil orang yang tidak peduli dengan agama Allah dan tidak menerima hidayah Allah dengannya aku diutus.” (HR. Bukhari, Shahih Al Bukhari 1/28).

Di tempat  bernama “Madinah” dihuni oleh orang-orang yang memiliki keterikatan yang kuat dengan nilai-nilai Dinul Islam. Yakni, Sumber Daya Insani yang mukmin (menomorsatukan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎), menjadikan al-Quran sebagai dustur (undang-undangnya), memiliki kebersihan hati, peka terhadap penderitaan orang lain, mengidolakan para nabi, syuhada, shiddiqun, sholihun, muttaqin, mujahid dan mushlih.

Dari komunitas tersebut, secara otomatis akan lahir kultur yang islamiyah (agamis), da-abus shalihin, berkarakter sesuai dengan aturan kalimatullah dan khalqullah, ‘ilmiyah (terdidik), ustadziyah ‘alamiyyah(kepeloporan internasional), tamaddun (maju dan bermartabat).

Dari akar kata Din dan Madinah ini, juga dibentuk akar kata baru “madana”, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memakmurkan, mensejahterahkan secara lahir dan batin, memurnikan dan memartabatkan.

Maka, seseorang yang memeluk Islam secara benar, ia pasti akan mensucikan, memartabatkan dan memakmurkan dirinya baik secara hissiy (material) dan ma’nawiy (immaterial).

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal (8) : 24).

Kalimat ‘yuhyiikum’ dalam ayat diatas maksudnya adalah ‘yuhyin-nufus’ (menghidupkan jiwa), yuhyil-qulub(menghidupkan hati), yauhyidh-dhamir (menghidupkan suara dhamir). Jadi, berislam adalah memberdayakan fitrah kita. Senang kepada makruf (kebaikan yang dikenali hati) dan membenci mungkar (keburukan yang diingkari hati). Mendorong pemeluknya untuk hidup maju secara lahir dan batin serta bermartabat. Inilah yang dimaksud nikmat berlimpah.

Sebaliknya, berpaling dari Islam akan mengantarkan kepada kerumitan hidup di dunia, dan siksa di akhirat lebih menyakitkan dan memberatkan.

“Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Ar-Ra’du (13) : 34).

“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra (17) : 20).

Dari akar kata madana lahir kata benda tamaddun yang secara literal (teks) berarti peradaban (civilization), berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city).

perkataan Tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat Islam. Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Adapun kata hadharah digunakan oleh orang Arab sekarang untuk makna peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima ummat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun.

Seorang muslim adalah orang yang berlepas diri dari kemusyrikan (selingkuh kepada-Nya) dan kekafiran (ingkar kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. At Taubah (9) :10- 11).

Ayat ini menegaskan bahwa muslim adalah orang yang telah mentauhidkan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dan tidak menyekutukan-Nya, selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, mendekati-Nya dan tidak menjauhi-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengingkari-Nya (mu’taqodat).

Maka, Muslim yang benar adalah ia anti kemusyrikan, kekafiran, anti hukmul jahiliyyah, dhannul jahiliyyah, syakwal jahiliyyah, hamiyyatul jahiliyyah, tabarrujul jahiliyyah, da’wal jahiliyyah dan memproklamirkan kalimat tauhid “ La Ilaha Illalla” dan pasti mendukung Syariat Allah Subhanahu Wata ‘ala.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) bersabda:

مَنْ قاَلَ لاَ الَهَ الا الله وَكَفَرَ بما يعبد من دون الله حَرَم اللهُ دَمُهُ وَماَلُهُ وَحساَبُهُ عَلَى الله

“Barangsiapa mengikrarkan laa ilaaha illallah dan dia mengingkari segala perhitungannya terserah Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎)تعالى‎).” (HR. Muslim).

Karenanya, jika ada orang Muslim menentang syariah –bahkan—memusuhinya, boleh jadi dia belum paham kemuslimannya dan tidak tahu konsekwensi syahadat yang telah dia katakan tiap saat ketika shalat.

Marilah kita habiskan umur kita agar syariat-Nya mendominasi kehidupan. Ini adalah amanah vertikal dan horisontal (tugas-tugas keagamaan), wazhifah diniyyah. Agar melahirkan kehidupan individu yang bahagia secara lahir dan batin (hayatan thayyiban), keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, dan qaryah mubarakah, ahlul qura (perkampungan yang diberkahi), baladan amina, ummul qura (negeri yang aman), global state, kumpulan berbagai Negara yang makmur, penuh ampunan Tuhan, ummul qura wa man haulaha (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur), dunia yang damai (rahmatan lil ’alamin).*

Disorientasi Kehidupan Sunni karena Miskin Tazkiyatu Nafs

 

Rabu, 25 Januari 2012

Oleh: Ustad Husain Ardilla

SUATU kali, pemimpin Singapura, Lee Kuan Yew, mengingatkan generasi mudanya; “Hidup bukan cuma untuk sepotong roti. Masih ada bianglala di langit Singapura. Keberhasilan pembangunan fisik bukan segala-galanya dalam hidup ini.”

Ungkapan arif demi melihat kembali keluhuran tujuan hidup bukan tanpa alasan. Sekarang kita melihat generasi muda bangsa di dunia rata-rata berfikir dan berorientasi jangka pendek (mata’).

Pertanyaan umum klasik para calon mahasiswa di Amerika dari dulu sampai sekarang berkisar tentang kebimbangan/ketidakpastian tujuan hidup. “Bagaimana saya harus memutuskan apa yang harus saya lakukan setelah saya dewasa?”

.
Tapi sayang, perguruan tinggi tak bisa menjawab kegelisahan batin remaja dunia seperti itu. Bentuk baru kemiskinan idealisme generasi muda zaman ini ketika setiap fakultas hanya melaksanakan mandat mengajarkan kepada anak-anak bangsa untuk menjadi “mesin pembuat uang”.

Di seberang lain, perguruan tinggi harus merespon permintaan pasar sehingga berurusan dengan tujuan karir dan penambahan income belaka.

Pada saat yang sama, para guru bangsa –mereka yang berada di koridor kekuasaan, kelas menengah bangsa– merasakan ketiadaan makna hidup semacam itu. Tidak sedikit yang bertanya sendiri dalam hati, hidup ini untuk apa, ketika sudah di puncak? Ketika semuanya sudah diperoleh dan sangat berlebih? Tetapi mengapa seperti terus saja terasa ada yang belum tuntas dan belum terjawab dengan tuntas ? Seperti ada yang belum terselesaikan? Pesona gemerlapan material, prestise, terbukti membuat pemburunya kecewa?

Kata orang, itulah salah satu fenomena “sakit jiwa” dalam kehidupan modern. Bentuk kekosongan spiritual insan berdasi karena tidak tepat memilih dan memutuskan tujuan hidup. Kecenderungan hidup untuk memiliki, bukan untuk menjadi bermakna dengan memberi. Kebanyakan mereka mempersepsikan, aktifitas memberi dan berkorban untuk sesama itu sebagai kehilangan, bukan mendapatkan.

Padahal, Islam, 13 abad telah mengingatkan banyak orang, sesungguhnya jika hidup hanya ditujukan mencari dunia, hanyalah fatamorgana dan tipuan belaka. Layaknya harta yang diberikan pada kaum kafir. Nampak ada, namun sesungguhnya tipuan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun.” (QS. An-Nur (24) : 39).

Karena pemuasan kebutuhan psikologis, membuat orang yang mempercayakan kebahagiaan hidupnya pada kebendaan berubah karakternya. Mereka cenderung agresif, kompetitif, dan antagonistis. Wajah sipil tapi bertabiat militer. Bangsa maju yang berkarakter primitif. Bangsa yang bugar secara phisik, tetapi terluka jiwanya. Indikasinya, ketakutan akan kehabisan alat pemuas sesaat yang dianggap dapat mengancam kehilangan makna hidup itu, sehingga orang tak henti menimbun dan menumpuk harta. Siklus hidupnya tak lain; berebut pengaruh, posisi, nasi dan kursi. Sekalipun harus menghalalkan segala cara. Persetan dengan aturan halal dan haram.

Dari kecil, anak-anak bangsa di dunia, diajarkan kecanduan pada bendawi. Mereka menambah deretan panjang barisan kelas konsumen dunia, bukan di mata Tuhan. Mereka dibiasakan terbius oleh pemenuhan sesaat. “Besuk besak jadi apa? Dokter, ya,” bagitu para guru dan orangtua mendikte.

Karenanya, anak-anak tak lagi diajarkan dari mana kita ini lahir dan hidup, untuk apa dan mau kemana kita semua hidup?

Alhasil, materialisme yang membuat nilai-nilai, ikatan dalam keluarga dan masyarakat makin longgar. Kita lebih suka berikirim SMS daripada datang langsung untuk bersalaman dengan sahabat, saudara bahkan tetangga sebelah rumah.Banyak waktu, tapi seolah sibuk dan kekurangan waktu. Kita terasing di tengah keramaian dan kerumunan manusia. Kita berdekatan dengan anak, istri, saudara dan handai tolan, tetapi sesungguhnya hati terasa jauh.

“Industri hati yang sepi,” itulah tema dunia yang kini banyak diminati masyarakat modern. Mereka merasakan kesepian dan kekosongan jiwa, kian terpojok pada rasa nihilistik.

Dalam sebuah media, dicerikan, bagaimana generasi muda Jepang sekarang membenci orangtua mereka sendiri yang pandangan hidupnya cuma untuk kerja dan kerja (karosi). Mereka mengucilkan orangtua yang telah membuat hidup keluarga mereka terlanjur tak bahagia. Orang sekarang mengisi kehidupannya di mall dan diskotik, tempat rekreasi, di ajang politik, free seks, narkoba, dan entah apa lagi. Tetapi sayang, mereka tidak menemukan yang dicarinya di sana. Karena kebahagiaan bukan berbentuk barang yang harus diburu di tempat tertentu. Apa yang diidamkan terwujud, hanya saja membuat pemiliknya justru kehilangan. Mirip dengan hati sanubari yang menyelimuti orang-orang kafir. Allah mengibaratkan padanya seperti gelap tapi masih diliputi awan berlapis-lapis. Itulah hati dan jiwa orang yang tak pernah merasakan “cahaya” iman.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

“Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur (24) : 40).”

Sebut saja Negara Amerika Serikat (AS), tercatat sudah menjadi mall terbesar di dunia. Lebih banyak mall dibangun di dunia dibanding dengan sekolah atau gereja. Lebih banyak alat elektronik canggih diciptakan. Semua untuk pemuas kehidupan manusia. Hanya saja, tidak bisa menolong orang dengan krisis spiritual dalam kehidupan yang glamor. Kelaparan orang modern berbentuk miskin orientasi dan sikap hidup.

Pendiri Sightline dan peneliti senior di Institut Worldwatch di Washington, DC, Alan Thein Durning pernah mengatakan, gaya hidup konsumerisme Barat tak membuat kebahagiaan orang meningkat. Peningkatan gizi, minim sekali sumbangannya bagi kebahagiaan orang seorang di Amerika Serikat, dari tahun 1957 sampai sekarang tetap saja sepertiganya. Padahal selama lebih dari tiga dasawarsa, pola hidup konsumerisme telah berlipat kali lebih besar.

Akibatnya, banyak anak di dunia harus menggendong cita-cita, ambisi, dan falsafah hidup yang keliru yang bukan miliknya sendiri. Mereka memikul ambisi orangtua, kemauan politik, dan kesalahan sistem pendidikan bangsanya. Mereka disetting agar siap sukses dan berprestasi di mata dunia (dalam ukuran-ukuran materi dan finansial). Mereka dipilihkan jalan hidup yang terbukti salah.

Kita, rupanya ikut terlanjur mengajarkan pada anak-anak untuk menjadi “nomor satu”, seperti dilazimkan dalam kredo bangsa Amerika. Semua anak digiring bercita-cita agar menjadi dokter, insinyur, atau apa saja karena profesi semacam itu dinilai orang potensial meraup uang. Karenanya, Mohammad Iqbal pernah mengatakan, ”Pendidikan modern tidak mengajarkan air mata pada mata, dan kekhusuan di hati”, serta karakter.”

Saatnya kita dan anak-anak kita memerlukan logoterapi, bentuk terapi agar hidup yang pecah menjadi utuh dan bernilai. Sekarang kita membutuhkan kembali ilmu kehidupan itu bagi semua anak bangsa agar tahu bahwa menemukan cara hidupnya yang indah sama baiknya dengan cara matinya yang mempesona. Kematian yang berkesan dihati banyak orang. “‘isy kariiman au mut syahiidan.” 

.
Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Iman Kuat, Dahsyatnya Syi’ah !

Kamis, 19 Januari 2012

oleh: Ustad Husain Ardilla

Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

“Taharrak fa-inna fil harakati barakah”(bergeraklah, karena setiap gerakan ada tambahan kebaikan). Kebaikan yang ditanam pasti akan kita panen kembali kepada diri kita masing-masing. Baik secara kontan (langsung) ataupun secara kredit (tidak langsung). Bukan dipanen orang lain. Justru, jika berhenti bergerak,  potensi yang dimilikinya tinggal sebuah potensi. Tidak tumbuh dan berkembang.  Ibarat air yang tidak mengalir, ia hanya akan menjadi sarang berbagai kuman yang mematikan.

Tapi dengan apa seseorang bisa terus aktif memancarkan energy positif berupa kebaikan? Jawabannya dengan iman. Sebab hanya dengan imanlah yang menjadikan seseorang terus aktif membendung/menghalangi  berbagai pengaruh negatif kejelekan, kefasikan, kezhaliman, kemungkaran. Karena, semua perbuatan dosa dan maksiat akan menghancurkan dirinya sendiri. Manusia yang bergelimang dalam perbuatan dosa, di dunianya tersiksa, sedangkan di akhirat siksanya lebih menyakitkan. Imanlah yang mencegah pemiliknya untuk menelola hawa nafsu (syahwat), nafsu perut dan nafsu kelamin. Karena kedua nafsu duniawi itu semakin dicicipi dengan cara yang salah bagaikan meminum air laut. Semakin di minum, bertambah haus.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus bergerak menyemai kebaikan-kebaikan di taman kehidupan ini tanpa kenal letih. Karena, ia yakin dalam setiap gerakan yang dimotivasi oleh nilai-nilai keimanan itu tersimpan potensi kebaikan-kebaikan melulu (barakah).

Iman, bagaikan air sumur zamzam. Sumber yang dipancarkannya tidak akan pernah kering dan habis sepanjang sejarah peradaban manusia. Iman itulah yang memotivasi pemiliknya untuk istiqomah (konsisten), mudawamah (berkesinambungan), istimroriyah (terus-menerus), tanpa mengenal lelah, dengan sabar, tegar, teguh, tekun, tawakkal, mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran tanpa tendensi apapun, pura-pura dan pamrih. Tidak mengharapakan pujian, ucapan terima kasih dan balasan serta tidak takut celaan orang yang mencela.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan;  “Tiga hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, yaitu penghidupan yang serba sulit, sulit menemukan jalan keluar dari himpitan persoalan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya kecuali dengan melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala

Iman adalah thumuhat (gelora), ghirah (kecemburuan), yang mencerdaskan akal pikiran kita, menguatkan tekat dan membersihkan hati kita, mempertajam emosi dan perasaan kita, mengasah kepekaan sosial kita, menggerakkan raga kita untuk berjihad mengharumkan nama-Nya. Bahkan, membangkitkan serta memberdayakan segala potensi kita menuju batas maksimal.

Imanlah yang secara radikal berhasil merubah manusia yang jahat menjadi baik. Dari makhluk yang paling buruk (syarrul bariyyah), menjadi makhluk yang paling mulia (khoirul bariyyah). Kemudian, kebaikan menjalar dalam kehidupan masyarakat, menjadilah umat yang terbaik (khoiru ummah). Masyarakat itu kemudian akrab, dekat dan erat diikat oleh nilai-nilai prinsip itu (keimanan dan ketakwaan kepada AllahSubhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Iman merubah yang kaya menjadi dermawan (suka memberi). Yang miskin menjadi pandai memelihara kehormatan dirinya dan sabar. Iman juga mampu merubah seseorang di level kepemimpinan (qiyadah) bisa berbuat adil, sedang pada level bawah (junud), melahirkan sikap sam’an wa tha’atan (saya mendengar dan saya mentaati). Dan yang pintar akan memiliki sifat takwa, sehingga tidak untuk memperdayai yang bodoh. Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.

Dengan iman menjadi ilmu dan teknologi yang dimiliki mereka menjadi sarana untuk mempermudah dalam mengarungi kehidupan dan semakin bertaqwa kepada Allah, bukan malah menjadi ia tersesat jauh. Dengan iman pula, kesenian menjadi sumber inspirasi kebaikan. Iman, ibadah, akhlak mereka yang menghiasi panorama kehidupan ini. Itulah sepenggal firdaus di bumi,
Hanya iman yang bisa melahirkan ketegaran, keteguhan jiwa kepada pemiliknya, sekalipun berhadapan dengan kezaliman raja, bahkan melawannya.

Iman-lah yang menjadikan Nabiyullah Muhammad Saw bisa tertidur dengan pulas sekalipun nyawanya dalam keadaan terancam. Karena sandarannya yang demikian kuat kepada hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain.Bukan karena jabatan-jabatan, posisi, bukan pula uang, atau senjata.
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya : Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. 9 : 40).

Karena itu, apapun namanya di dunia ini, entah kedudukan, kekayaan, kepandaian, kecantikan yang tidak ditemani oleh iman ia hanya akan membuat pemburunya senantiasa kecewa. Ia disangka air yang bisa membasahi kerongkongan yang kering karena kehausan. Namun setelah didatanginya, sesungguhnya hanyalah berupa fatamorgana.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. ” (QS. 24 : 39).

Karenanya, orang-orang kafir  itu –karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wata’ala di akhirat– walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.

Kata Nabi, gerakan iman laksana taman yang menghiasi kehidupan. Di huni oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya. Para umara yang mengelola kekuasaanya dengan keadilan. Para pebisnis yang berniaga dengan kejujuran. Masyarakat bawah yang rajin beribadah. Dan para kaum profesional yang bekerja dengan taat aturan. Iman yang mengubah manusia fatalis, konsumtif, menjadi sosok yang produktif, kreatif, inovatif dan dinamis.

Mari kita rawat keimanan yang kita miliki selama agar tak terserang berbagai virus syahwat, syahwatul bathn(syahwat perut), syahwatul farj (syahwat kelamin), hubbud dunya (penyakit cinta dunia) dan syubhat dari dalam, tidak steril dari berbagai noda yang mengotori kejernihannya, sehingga tidak berdaya mencerdaskan pikiran kita, menguatkan tekad dan membersihkan hati kita, mempertajam emosi dan perasaan kita, mengasah kepekaan sosial kita, dan tidak bisa menggerakkan pisik kita untuk berjihad di jalan-Nya

.

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Sunni Berdosa dan menyesatkan umat karena tunduk dan patuh kepada pemimpin yang zalim

 Muawiyah bin Abu Sufyan menobatkan Yazid sebagai khalifah. Yazid banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin, di antaranya pembantaian terhadap  Imam Husain as, cucu Rasulullah, dan keluarga beliau di Padang Karbala, pembunuhan massal di Madinah, dan penyerangan ke Mekah serta perusakan terhadap Ka’bah
.
14 Rabiul Awal, Yazid Bin Muawiyah Meninggal

Yazid Bin Muawiyah Meninggal

Tanggal 14 Rabiul Awal tahun 64 Hijriah, Yazid bin Muawiyah, cucu dari Abu Sufyan, meninggal dunia. Yazid dinobatkan sebagai khalifah umat Islam oleh ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan.

Para sejarawan Islam mencatat, selama hampir empat tahun masa pemerintahannya, Yazid banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin, di antaranya pembantaian terhadap  Imam Husain as, cucu Rasulullah, dan keluarga beliau di Padang Karbala, pembunuhan massal di Madinah, dan penyerangan ke Mekah serta perusakan terhadap Ka’bah

.

Dr. Nurcholish Madjid juga mengatakan, “…Kezaliman dan penindasan terhadap pengikut Ali sudah muncul sejak rezim Bani Umayah di Damaskus. Tanpa alasan yang jelas, mereka menindas para keturunan Ali dan kelompok pengikutnya. Beberapa keturunan Ali lalu mencoba menentang kezaliman kaum Umawi ini. Kegigihan dan ketabahan mereka berjuang itu, ditopang oleh kepercayaan dan penantian yang mendalam kepada Imam Mahdi, sang juru selamat.”
.
Pandangan Yang Absurd
.
Bahkan secara fenomenologis, dapat dibuktikan bahwa keyakinan akan datangnya juru selamat, betapapun menyimpangnya ia, tidaklah khas milik masyarakat awam saja. Atau, bagi yang agak kagum pada Barat, ide messianisme temyata bukanlah khas masyarakat Timur yang dianggap agak kolot. Suburnya sekte sekte keagamaan yang memuja pemimpinnya sebagai orang suci dan juru selamat, bahkan mungkin lebih subur di Barat belakangan ini. Kalau dianggap bahwa ide tersebut muncul karena ketertindasan sosial politik, maka bagaimana itu akan dijelaskan dalam masyarakat Barat yang relatif makmur dan merdeka seperti itu
.
Memang, tidaklah dapat disangkal bahwa konsep seperti itu merupakan milik semua bangsa dan peradaban. Ia adalah sesuatu yang dapat dikatakan ada secara fitri dalam diri manusia. Ia dapat diiringkan dengan kecenderungan fitriah lainnya dalam diri manusia, seperti misalnya fitrah penyembahan. Yakni, kecenderungan dalam diri manusia untuk memuja dan menyembah sesuatu yang memiliki kekuatan dan kelebihan supranatural
Dalam semua “tingkatan peradaban”, bangsa bangsa melakukan penyembahan dan pemujaan kepada apa yang mereka sebut sebagai dewa, roh, atau Tuhan. Dalam masyarakat terpencil, di pedalaman Sungai Amazon di Amerika Latin, di tepi Sungai Nil di zaman peradaban Mesir Kuno, di ketinggian Pegunungan Himalaya, di tepi Sungai Kuning di Cina, atau di Pedalaman Pegunungan Jayawijaya di Irian sana, semua melakukan penyembahan, walaupun dengan perwujudan yang beragam dan berlainan: batu, pohon, api, nenek moyang, dan lain lain
.
Dalam masyarakat beradab sekalipun, kecenderungan seperti di atas ternyata tidaklah pupus. Dengan bentuk ekspresi yang.baru, kecenderungan seperti itu mengambil wataknya yang agak “intelek”. Dengan memanfaatkan kecanggihan dan perkembangan teknologi, mereka mengekspresikan hal yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan saudara-saudara mereka yang ada di pedalaman. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari kecenderungan aslinya
.
Begitu pula dengan kecenderungan “penantian” akan tegaknya keadilan dan perdamaian di dunia ini. Ia adalah sesuatu yang bisa dianggap fitrah dalam diri manusia. Walaupun bentuk ekspresinya terkadang terasa ganjil, sebagaimana penyembahan yang terkadang menyembah sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal, namun ia ada dan menjadi kecenderungan dalam diri manusia. Bagaimanapun orang menyangkalnya, keyakinan seperti itu tetap hidup dan bertahan, hingga hari ini
.
Pandangan Islam
Gagasan tentang akan berlakunya kemenangan akhir bagi kebenaran, perdamaian, dan keadilan atas kekuatan jahat, penindasan dan kezaliman, juga gagasan tentang akan menyebamya Islam di seluruh dunia, tegaknya nilai nilai kemanusiaan yang tinggi dan mulia, pembentukan masyarakat ideal dan idaman, dan kepercayaan akan kemampuan untuk menegakkan semua ideal di tangan orang suci yang dalam hadis hadis disebut sebagai al Mahdi diyakini oleh semua mazhab dalam Islam dan oleh berbagai aliran pemikiran
.
Sebenamya gagasan itu merupakan konsep al Quran sendiri. Al Quran dengan tegas dan jelas meramalkan kemenangan Islam atas kelompok penindas dan jahat tersebut, dan menyatakan bahwa kelompok yang zalim tersebut akan mengalami kekalahan/keruntuhan. Dengan kata lain, al Quran menjanjikan suatu masa depan yang gemilang bagi umat manusia
.
Atas dasar itu, maka kita mengerti bahwa sesungguhnya gagasan tersebut bukan merupakan khayalan dan angan angan kosong tanpa dasar, melainkan merupakan suatu gagasan yang berdasar atas suatu sistem kerja yang menyeluruh, evolusi sejarah, kepercayaan terhadap masa depan manusia, berlawanan dengan teori teori tertentu yang banyak berkembang saat ini, yang menyatakan pesimis terhadap masa depan manusia.(Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari)
.
Begitulah, penantian terhadap hadirnya aI Mahdi sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia seseorang. Seseorang yang memandang masa depan umat manusia dengan pandangan optimis¬tis, pastilah meyakini kemenangan ke¬benaran atas kebatilan. Seorang yang beri¬man atas keyakinan tertentu pun, bahkan kalaulah salah keyakinannya itu, tidaklah dapat menerima kalau dikatakan bahwa keyakinannya itu pasti akan hancur dan di-kalahkan, dan tidak akan mampu menjawab tantangan zaman dan waktu
.
Memang, haruslah diakui bahwa di antara yang mempercayai keharusan kemenangan kebenaran dan hadimya juru selamat, terdapat perbedaan pandangan yang dapat sangat bertentangan sekali. Bukan tidak mungkin bahwa penantian agung semacam itu justru menghasilkan sikap yang sebaliknya: fatalisme! Mereka memandang bahwa karena kehadiran “Sang Juru Selamat” tersebut justru untuk menyelamatkan manusia dari penindasan, maka masyarakat tidak perlu melakukan apa apa dan cukup menunggu saja
.
Bahkan, yang lebih ekstrim, memandang bahwa penegakan keadilan yang lebih dini, sebelum kemunculan al Mahdi, justru akan memperlambat kehadirannya. Jenis penantian seperti ini, meminjam istilah Ayatullah Syahid Muthahhari, adalah penantian yang keliru dan merusak
.
Semua ayat al Quran dan Hadis yang membentuk konsep dasar tentang al-¬Mahdi, sangat bertentangan dengan pemikiran yang merusak di atas. Keterangan tentang munculnya al Mahdi yang dapat dipahami dari al Quran adalah suatu mata rantai dari rangkaian perjuangan antara orang yang baik dengan orang orang jahat
.
Dan al Mahdi merupakan simbol kemenangan akhir bagi orang yang baik dan beriman, sebagaimana digambarkan Allah (QS 24: 55):
Dan Allah telah berjanji kepada or¬ang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal amal saleh bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka yang telah diridhai Nya untuk mereka, dan Dia benar benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”
.
Munculnya al Mahdi merupakan karunia Allah bagi kaum tertindas dan lemah, juga merupakan sarana bagi kekuasaan mereka serta mendapatkan pemerintahan yang dijanjikan Allah, di seluruh dunia. Al-Quran menegaskan:
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka sebagai orang orang yang mewarisi bumi.”(QS 24: 5)
 .
Akhirnya, kemunculan al Mahdi berarti realisasi janji Allah bagi orang orang yang saleh, seperti yang dijelaskan dalam al Quran: Dan sesungguhnya Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba ¬hamba Ku yang saleh.” (QS 21: 105)
.
Secara alami, semua keberadaan di alam semesta ini bergerak menuju kesempurnaannya masing-masing. Benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, beragam binatang, dan manusia, secara alami dan sesuai dengan kapasitas keberadaannya, bergerak menuju kesempurnaan penciptaan.
.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Qamar: 49)
.
Manusia berbeda dengan ciptaan lainnya yang bergerak menuju titik kesempurnaanya secara alami. Makhluk-makhluk lainnya tidak memiliki ikhtiar (pilihan) dalam menempuh proses perubahan menuju kesempurnaan. Dikarenakan manusia memiliki ikhtiar, maka manusia mampu memilih tujuan hidupnya yang dianggap sebagai kesempurnaan.
.
Meskipun manusia memiliki keberagaman secara fisik, pengetahuan, genetika, dan lain sebagainya, namun seluruh manusia memiliki kecenderungan yang sama, yaitu cinta pada kesempurnaan. Terdapat banyak pandangan tentang arti kesempurnaan. Ada menganggap kesempurnaan terletak pada harta, wanita, kedudukan, kekuatan spiritual, dan lain sebagainya. Setiap manusia terdorong untuk meraih apa yang diyakininya sebagai kesempurnaan.
.
Secara umum, manusia berupaya mengejar kesempurnaan dengan salah satu di antara dua cara, yaitu: pertama, cara berdasarkan tuntunan agama. Dan kedua, cara di luar tuntunan agama.
.
Kebutuhan manusia terhadap agama merupakan keniscayaan demi meraih kesempurnaan hidup. Terdapat beragam agama di dunia ini, baik agama langit atau pun agama bumi. Dari sekian banyak agama, al-Quran menjelaskan bahwa agama yang diterima di sisi Allah Swt hanyalah Islam. Yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
.
Islam merupakan agama yang menghidupkan hati manusia dan masyarakat. Dalam sebuah ayat al-Quran, Allah Swt berfirman:Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, tatkala dia mengajak kalian kepada suatu ajaran yang mampu menghidupkan kalian.
.
Ayat ini menegaskan bahwa Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw merupakan agama yang mampu menghidupkan hati manusia dan masyarakat. Mengapa al-Quran menyebut Islam sebagai agama yang memberikan kehidupan? Bagaimana cara agama suci ini menghidupkan hati dan masyarakat manusia? Apa sebenarnya hakikat agama Islam?
.
Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah an-nashihah. Yaitu an-nashihah terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab suci-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin.”
.
An-nasihah dalam hadis ini tidak berarti saran dan wejangan. Jelas pengertian ini tidak tepat dalam konteks hadis tersebut di atas. An-Nasihah artinya keselarasan antara bentuk lahir dan batin. Al-Quran menyebut taubat yang jujur dengan taubah an-nashuha. Yaitu taubat yang selaras antara dimensi lahir perbuatan dan dimensi batin manusia
.Pengertian an-nasihah terhadap Allah Swt adalah perbuatan manusia selaras dengan perintah Ilahi. Kesempurnaan iman kepada Allah Swt harus dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan hanya pada perintah dan larangan-Nya. Antara iman dan perbuatan manusia harus sesuai dan tidak bertentangan. Allah Swt membenci orang yang mengaku beriman, namun tidak jujur dalam perbuatan. Al-Quran mencela orang seperti itu dalam ayat yang berbunyi:Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian kerjakan? Sungguh hal yang demikian itu amat besar kebenciannya di sisi Allah, yaitu kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan.
.
An-Nashihah terhadap Rasulullah saw adalah tidak menentang apa yang beliau ajarkan. Berbeda dengan orang-orang munafik, mereka selalu membangkang dan melanggar perintah Rasulullah saw.
.
Adapun yang dimaksud dengan an-nashihah terhadap al-Quran adalah menjadikan al-Quran benar-benar sebagai pedoman hidup yang mengatur tatanan masyarakat. Keselaran dengan al-Quran menjadikan pemikiran dan perbuatan manusia sejalan dengan ajaran al-Quran
.Selanjutnya, pengertian an-nashihah terhadap para pemimpin kaum muslimin adalah kesetiaan dan kepatuhan terhadap para imam yang telah ditunjuk dan ditetapkan oleh Allah Swt melalui lisan suci Rasul-Nya
.
Dan yang terakhir, makna an-nashihah terhadap kaum muslimini adalah menjalin kasih sayang, kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan di antara mereka
.Atas dasar itu, agama yang hidup adalah kepatuhan pada perintah Allah Swt, tidak menentang ajaran Rasulullah saw, menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup dan aturan di tengah masyarakat, kesetiaan kepada para pemimpin pilihan Ilahi, dan membangun persatuan di tubuh kaum muslimin
.
Agama seperti inilah yang mampu menghidupkan hati dan masyarakat manusia. Agama yang sempurna adalah ajaran yang mampu mengantarkan manusia dan masyarakat menuju puncak kesempurnaannya
.
Sebelum datangnya agama Islam, masyarakat jahiliyah hidup dalam kegelapan kemusyrikan dan kekafiran. Yaitu gambaran masyarakat mati yang di dalamnya penindasan dan pengerusakan merajalela. Rasulullah saw datang membawa cahaya Ilahi yang mengentaskan mereka dari kegelapan menuju cahaya terang; dari kebodohan menuju pengetahuan; dan dari batas-batas kebinatangan menuju batas-batas kemanusiaan
.
Seperti itulah Rasulullah saw dan Islam menghidupkan masyarakat manusia. Namun Ironisnya, mengapa negeri yang mayoritas beragama Islam tidak nampak sebagai masyarakat yang hidup? Malah di dalamnya penindasan, pengerusakan, perampasan hak-hak kaum lemah, dan beragam kejahatan lainnya, justru menghantui masyarakat. Manakah agama menghidupkan yang dibawa Rasulullah saw itu? Ataukah masyarakat manusia sendiri yang enggan mereguk kehidupan dari ajaran suci Rasulullah saw?