Ulama Ulama Zindiq membantu Raja Raja Dinasti Umayyah dan Abbasiyah merusak Agama Muhammad

Yang menganggap semua sahabat adil adalah sebuah sikap ghuluw karena faktanya tidak semua sahabat adil, antara sahabat yg satu dengan sahabat yg lain tentulah ada perbedaannya tidaklah sama dalam hal ilmu dan keadilannya dan ini bisa kita analogikan sebagai sebuah sikap menentang sunatullah dan didalam sejarah terbukti siapa yang menentang Sunatullah akan binasa dan celaka….pelajari kitab-kitab sejarah dengan seksama dan saudara akan terbelalak melihat fakta yang tak sesuai dengan keinginan saudara !!!!!!

Demi Allah, cerita yang saya sampaikan ini adalah benar adanya. Bukan cerita fiktif atau sesuatu yang mengada-ngada. Tujuannya agar pembaca khususnya para pengemban dakwah dapat semakin istiqomah dan bersemangat dalam memperjuangkan tegaknya mazhab Ahlul Bait

Hizb ut-Tahrir promotion for Islamic Supremacist Caliphate conference shows "beheaded" Statue of Liberty and "burning" NYC

Ulama Ulama Zindiq membantu Raja Raja Dinasti Umayyah dan Abbasiyah merusak Agama Muhammad !

Islam hanya terbagi dua yakni : Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyyah

“Kaum munafikin di zaman Nabi saww sebagaimana penjelasan Al_qur’an sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Mereka sangat bersungguh-sungguh menampakkan diri sebagai bagian dari umat Islam. Mereka juga turut shalat di belakang Nabi, mereka juga duduk di setiap majelis-majelis Nabi bahkan mereka juga turut meriwayatkan hadits-hadits Nabi saww. Karenanya sangat memungkinkan bagi orang-orang setelahnya, orang-orang munafik ini juga terkategorikan sebagai sahabat-sahabat Nabi”

“Setelah saya mempelajari sejarah Islam dengan seksama secara esensial umat ini hanya terbagi dua yakni : Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyyah (Prof.Husein Alatas/Malaysia,Cucu Habib Empang).

kelompok Wahabi sangat membela Muawiyah.

Di dalam kitab Durarul Karimah Ibn Hajar al-Asqalani, jilid 1, hal.155, terbitan Darul Jil, tahun 1414 H/1993 M. Beliau mengatakan : Ibn Taimiyah berkata : ” Sesungguhnya (Ali) orang yang tercela dalam segala hal. Dia berusaha terus-menerus mengejar kekhalifahan meskipun tidak ia peroleh, dan berperang untuk kedudukan bukan untuk agama dan sesungguhnya Ali gila kekuasaan.”

Ciri utama Syi’ah Ali yg menonjol adalah gemar akan persatuan sebaliknya Syi’ah Mu’awiyyah gemar akan perpecahan, bersatulah Sunnah dan Syi’ah dan teruslah jalin Ukhuwah agar kita semua setia dalam barisan kebenaran.

Husein bin Hamid Alattas mengakui dirinya tidak menganggap Muawiyah Ra sebagai sahabat Nabi SAW, ia juga mengakui Muawiyah Ra boleh dihujat dan dikritik. Meskipun, dirinya menyatakan bermanhaj sebagai Ahlus Sunnah.

“Secara lughowy (bahasa) Muawiyah termasuk sahabat, tetapi secara syar’i Muawiyah tidak termasuk sahabat,” Kata Husein Hamid Alattas ditengah acara dialog dan mubahalah antara dr.Haidar Abdullah Bawazir dengan Husein bin Hamid Alattas di Radio Silaturahim, Jl. Masjid Silaturahim no.36, Cibubur, Bekasi, Rabu kemarin (27/6).

Husein berpendapat, Muawiyah Ra merupakan pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya banyak umat Islam dan Amar bin Yasir ketika terjadi perselisihan antara Muawiyah ra dengan Ali bin Abi Tholib Ra yang berujung dengan peperangan, pihak yang melakukan kesalahan dalam merubah sistem kekhilafahan menjadi kerajaan dengan mengangkat anaknya sebagai penerus kekhalifahan, serta yang menyebabkan peristiwa-peristiwa berdarah selanjutnya.

Pendapat bahwa terdapat perbedaan makna sahabat secara bahasa dan syar’i dan ketidak sepakatan ulama dalam menilai sahabat yang membunuh kaum muslimin, menurutnya berdasarkan kitab ulasan orang-orang yang sesuai dengan buku kalangan sunni kontemporer karya Hasan Farhan Al Maliki yang berjudul ‘Assubhu was Shahabah’. “Dalam buku itu tidak terdapat ijma dalam ahlussunnah berkaitan pandangan tersebut (status sahabat bagi orang yang membunuh orang beriman)” ujar Husein.

Penjelasan tersebut diutarakan Husein, setelah menolak definisi sahabat oleh jumhur ulama yang diutarakan Haidar Bawazir yakni, seseorang yang bertemu Nabi SAW dalam keadaan beriman ketika hidup dan beriman hingga ia meninggal dunia.

Padahal Nabi saw bersabda :”Barangsiapa yang mencaci-maki Ali, maka sama dengan halnya ia telah mencaci-maki aku, dan barang siapa yang mencaci-maki aku berarti dia telah mencaci Allah SWT.”

Muawiyah dikecam Rasulullah saw selamanya takkan merasakan kenyang, karena suka makan.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna Al ‘Anziy dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah Al Qashaab dari Ibnu Abbas yang berkata “aku bermain bersama anak-anak kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, aku bersembunyi di belakang pintu. Beliau datang dan menepuk pundakku seraya berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali dan berkata “ia sedang makan”. Kemudian Beliau berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali kepada Beliau dan berkata “ia sedang makan”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya” [Shahih Muslim 4/2010 no 2604]

Muawiyah dilaknat Rasulullah saw secara terang-terangan

Terdapat hadis shahih yang menunjukkan kalau Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang jayyid.

Telah menceritakan kepada kami Khalaf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah mawla Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk kemudian melintaslah Abu Sufyan di atas hewan tunggangan dan bersamanya ada Muawiyah dan saudaranya, salah satu dari mereka menuntun hewan tunggangan tersebut dan yang lainnya menggiringnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda “laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring”[Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121]

Dalam hadis di atas tertulis ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Jumhan, ini adalah tashif yang benar adalah ‘Abdul Warits ‘an Sa’id bin Jumhan. Karena telah ma’ruf kalau yang meriwayatkan dari Safinah adalah Sa’id bin Jumhan dan yang meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan adalah ‘Abdul Warits yaitu ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan.

Dalam biografi Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Safinah dan telah meriwayatkan darinya ‘Abdul Warits bin Sa’id [Tahdzib Al Kamal 10/376 no 2246]
Dalam biografi ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy [Tahdzib Al Kamal 18/478 no 3595]

Hadis ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dan Nasa’i dalam kitab Sunan-nya dengan sanad berikut

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Abu Dawud 2/416 no 3932]

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Nasa’i 3/190 no 4995]

Al Baladzuri termasuk ulama besar, Adz Dzahabi menuliskan keterangan tentang Al Baladzuri dalam kitabnya As Siyar dan Tadzkirah Al Huffazh. Adz Dzahabi menyebut ia seorang penulis Tarikh yang masyhur satu thabaqat dengan Abu Dawud, seorangHafizh Akhbari Allamah [Tadzkirah Al Huffazh 3/893]. Di sisi Adz Dzahabi penyebutan hafizh termasuk ta’dil yaitu lafaz ta’dil tingkat pertama. Disebutkan Ash Shafadi kalauAl Baladzuri seorang yang alim dan mutqin [Al Wafi bi Al Wafayat 3/104]. Tidak ada alasan untuk menolak atau meragukan Al Baladzuri, Ibnu Hajar telah berhujjah dengan riwayat-riwayat Al Baladzuri dalam kitabnya diantaranya dalam Al Ishabah, Ibnu Hajar pernah berkata “dan diriwayatkan oleh Al Baladzuri dengan sanad yang la ba’sa bihi” [Al Ishabah 2/98 no 1767]. Penghukuman sanad la ba’sa bihi oleh Ibnu Hajar berarti ia sendiri berhujjah dan menta’dil Al Baladzuri. Soal kedekatan kepada penguasa itu tidaklah merusak hadisnya karena banyak para ulama yang dikenal dekat dengan penguasa tetapi tetap dijadikan hujjah seperti Az Zuhri dan yang lainnya. Para ulama baik dahulu maupun sekarang tetap menjadikan kitab Al Balazuri sebagai sumber rujukan baik sirah ansab maupun hadis.

Riwayat Al Baladzuri di atas terdiri dari para perawi tsiqat dimulai dari Khalaf syaikh [guru] Al Baladzuri adalah Khalaf bin Hisyam Al Bazzar, ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan dan Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy. Sedangkan Safinah mawla Ummu Salamah yang juga dikenal mawla Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sahabat Nabi.

Khalaf bin Hisyam Al Bazzar adalah perawi Muslim dan Abu Dawud. Disebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Yahya bin Jabir Al Baladzuri. Imam Muslim juga meriwayatkan darinya itu artinya ia tsiqat menurut Muslim. Ahmad bin Hanbal dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata ahli ibadah yang memiliki keutamaan. Ibnu Hibban berkata “baik, memiliki keutamaan, alim dalam qiraat dan telah menulis darinya Ahmad bin Hanbal” [At Tahdzib juz 3 no 297]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/272]. Al Khalili menyatakan ia disepakati tsiqat [Al Irshad 1/95]

‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat hujjah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mutqin dalam hadis”. [At Tahdzib juz 6 no 826]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/625].

Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Dawud menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. As Saji berkata “tidak diikuti hadisnya” [At Tahdzib juz 4 no 15]. Yaqub bin Sufyan Al Fasawi menyatakan ia tsiqat [Al Ma’rifat Wal Tarikh 2/182]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq dan memiliki riwayat yang menyendiri, tetapi pernyataan ini dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Sa’id bin Jumhan seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 2279].

Jadi riwayat ini memiliki sanad yang shahih dan menunjukkan kalau Mu’awiyah adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Apapun alasannya, kami tidak bisa memastikan tetapi jika melihat bagaimana pribadi Mu’awiyah dan pemerintahan yang dipimpin olehnya maka riwayat ini tidaklah mengherankan. Cukup banyak penyimpangan yang dilakukan Mu’awiyah diketahui oleh mereka yang mengetahuinya dan dibela mati-matian oleh mereka yang mencintai Muawiyah. Bagi yang ingin melihat berbagai penyimpangan Muawiyah, dipersilahkan untuk melihat tulisan kami yang lain tentang Muawiyah. Akhir kata jika ada yang tidak setuju cukuplah sampaikan bantahan dan tidak perlu mencela kami. Kami tidak tertarik main tuduh-menuduh cela mencela, kalau kami keliru silakan dikoreksi tetapi kalau tidak mampu maka cukuplah berdiam diri.

2:159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,

33:57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.

tipikal penguasa Bani Umayyah yang Khalifahnya yang tidak suka berbasa-basi, tampil apa adanya dan sanggup berbuat apa saja untuk melindungi kekuasaannya dari ancaman. Berbeda nanti dengan Bani Abbasiyah yang tipikal penguasanya penuh dengan hipokrasi dan kemunafikan. Mereka tampil di depan khalayak dengan tampang khusuk dan penuh iman, tak jarang bercucuran air mata ketika dinasihati oleh para ahli ibadah. Namun pada lain waktu, mereka 360 derajat berbeda dengan melakukan hal-hal yang amat memalukan dan membelalakkan mata. Dalam kealfaan dan kegilaannya itu, mereka justru tidak risih disapa sebagai pemimpin kaum beriman (Amirul Mu’minin) dan Khalifah bagi umat Islam (Khalifah al-Muslimin).

Contoh kevulgaran dan kejujuran Bani Umayyah dapat dilihat dari sikap Abdul Malik bin Marwan. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan kisah dari Ibnu Abi Aisyah mengatakan, Abdul Malik pernah diminta untuk memutuskan suatu perkara sambil diajukan kepadanya sebongkah mushaf al-Qur’an. Akan tetapi, ia justru mencampakkannya seraya berkata: “Ini adalah persentuhanku yang terakhir denganmu!”. Dan kenyataanya, apa yang ia katakan kemudian ia lakukan. Setelah menyatakan talak dengan al-Qur’an, sang ahli fiqih ini kemudian menjalankan roda pemerintahan dengan instingnya.

Bani Umayyah awalnya didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan (satu kakek buyut dengan Utsman bin Affan R.A.). Ia menjadi Khalifah setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib. Orang-orang Madinah saat itu membaiat Hasan bin Ali, namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu yang sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah, dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

Namun kemudian Mu’awiyah bin Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk membai’at anaknya, yaitu Yazid bin Mu’awiyah sebagai Khalifah pengganti dirinya. Sekaligus memperkenalkan suksesi secara putra mahkota, seperti layaknya sistem Monarki (Kerajaan). Memang prosesi pengangkatannya menggunakan bai’at sebagai formalisasi pengangkatan Khalifah, akan tetapi bai’at tersebut kemudian hanya menjadi kamuflase saja, karena bai’at dilakukan secara paksa dan ancaman hukuman mati akan diberikan bagi siapa saja yang menentang keputusan itu atau menolak bai’at.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahkan memberikan interprestasi sendiri dari kata Khalifah, dimana ia menambahkan kata “Allah” dibelakang kata Khalifah, yang dalam pengertiannya penguasa yang diangkat oleh Allah. Sedangkan Abu Bakar R.A. telah melarang penggunaan kata “Khalifah Allah”, ketika ia dipanggil demikian. Ia berkata, “Aku bukan Khalifah Tuhan, tapi aku adalah Khalifah (pengganti, perwakilan) dari utusan Tuhan. Lagipula, seseorang hanya dapat bertindak sebagai “Khalifah” (pengganti, perwakilan) seseorang yang tidak ada, bukan sesuatu yang ada (karena Tuhan selalu ada).

Tindakan pewarisan tahta ini memicu protes dikalangan umat. Ia di anggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Mu’awiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.



Keterangan gambar: Makam Muawiyah bin Abu Sofyan di Syria. Digembok rapat karena orang-orang suka membuang kotoran di makam ini. Konon di sekitarnya juga tumbuh pohon berduri yang tidak tumbuh di tempat lain.

 Kubur Muawiyah Laknatullah

Sejarah kemudian mencatatat munculnya Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai Khalifah menggantikan Husain bin Ali yang terbunuh dalam perang Karbala. Terjadi dualisme kepemimpinan dan perpecahan yang hebat di kalangan umat Islam. Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan (Khalifah ke-5 Bani Umayyah yang juga dikenal ahli fiqih), yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Pola pemerintahan tangan besi yang dipraktekkan Dinasti Umayyah berlanjut. Ketika Abdul Malik bin Marwan memimpin, ia menjadikan Hajjaj “si tukang jagal” sebagai tangan kanannya. Kekejaman Hajjaj bin Yusuf begitu terkenal, hingga ada pameo “jika Hajjaj datang, malaikat menyingkir dan setanpun berdansa mendekat”.

Demikian kenyataan sejarahnya, bahwa Dinasti Umayyah dibangun di atas genangan darah sesama Muslim. Pendahulu Abdul Malik bin Marwan seperti Yazid dikenal sebagai monster haus darah dengan tumbal pertamanya Husain bin Ali bin Abu Thalib. Tidak kalah sadisnya, Abdul Malik sang ahli fiqih ini juga telah melakukan pembantaian dengan jubah kebesarannya sekaligus menyatakan talak tiga dengan al-Qur’an, lalu ia memimpin dengan instingnya.

Namun sayangnya, saat itu Ulama-Ulamanya atau sejenis Ulama plat merah saat ini, selalu saja mendoakan Abdul Malik seraya berkata bahwa Abdul Malik sang penjaga amanat umat Islam, dimana saat itu spekulasi hadits bermunculan, salah satunya berbunyi “orang-orang yang sekurang-kurangnya pernah tiga hari memimpin umat Islam akan diampuni dosa-dosanya”. Dan menjelang kematianya, Abdul Malik bin Marwan berwasiat kepada anaknya Walid “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dengan kekuasaan yang telah diamanatkan padamu dan tetaplah hormati Hajjaj bin Yusuf, serta jangan hiraukan komentar orang tentang Hajaj bin Yusuf”.

Dan ketika anaknya Walid menangis, Abdul Malik berkata “Mental apaan ini, jika aku mati singsingkan lengan bajumu, pakailah sabuk kulit macan dan selipkan pedang, jika ada orang yang berkata lebih berhak atas kekuasaan dari padamu, tebaslah batang lehernya”.

Sejarah mencatat, bahwa kekuasaan Dinasti Bani Umayyah dimarakkan oleh tiga nama orang sebagai sadis, namun merupakan Khalifah yang dikenal populer yakni Yazid bin Muawiyah sang pembantai, Yazid bin Abdul Malik dan Walid bin Yazid. Satu orang yang kemudian dikenal sebagai sangat bijaksana yakni Umar bin Abdul Azis, karena kebijaksanaannya itu ia dijuluki Umar kedua yang memiliki kebijaksanaan yang tinggi setelah Umar bin Khatab. Namun sayang orang baik ini harus mati terminum racun yang diduga diberikan oleh keluarga dekatnya sendiri karena menginginkan kekuasaannya.

Kezaliman Yazid bin Muawiyah tidak cukup ditandai dengan pembantaian atas Husain bin Ali, yakni ketika Yazid bin Muawiyah bersama pasukannya menaklukan Madinah karena masyarakatnya mencabut bai’at atasnya, Yazid memaklumatkan pembantaian dan anarkisme selama tiga hari dalam kota. Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh-nya meriwayatkan, akibat pembantaian itu 4.500 jiwa menjadi tumbal dan sekitar 1.000 perawan muslimah diperkosanya. Dan lebih dahsyatnya Yazid bin Muawiyah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, telah secara ekplisit menyatakan kemurtadan dengan menyebutkan, “Klan Hasyim bermain-main dengan kuasa. Kekuasaan tidak datang wahyupun tidak menjelang”. Disebutkan dalam Tarikh al-Khulafa, Yazid juga dikenal gemar mengumbar nafsu dan minum minuman keras.

Sementara itu Yazid yang lain yakni Yazid bin Abdul Malik, ia adalah Khalifah pengganti Umar bin Abdul Azis. Yazid bin Abdul Malik menjadikan selama kekuasaannya sebagai lautan kebobrokan moral dan kemesuman, namun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa-nya: Ketika Yazid bin Abdul Malik mendapatkan mandat sebagai Khalifah, ia datangkan 40 orang Syeikh (maha guru agama), dan meminta agar 40 Syeikh tersebut berfatwa yang isinya bahwa seorang Khalifah tidak akan dihisab oleh Tuhan, apalagi disiksa.

Keadaan ini menegaskan juga bahwa ternyata kerusakan itu tidak hanya datang dari Khalifah, tetapi juga bisa datang dari Ulama dalam pengertian ahli ilmu agama. Kalau selama kekuasaan Yazid bin Abdul Malik telah menghabiskan masanya dengan bermesum ria dengan perempuan bernama Salamah dan roman cintanya dengan Habbabah. Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya meriwayatkan dari jalur Abu Hamzah al-Khariji menyatakan; Yazid mendudukan Hababah di paha kanannya, dan Salamah di sebelah kirinya, lalu secara terbuka dia menyatakan “aku ingin terbang” sambil berkata aku terbang menuju laknat Tuhan dan azabnya yang pedih. Ibnu Katsir juga meriwayatkan, bahwa ia (Yazid bin Abdul Malik) menginginkan agar istana dikosongkan dari manusia, ia menginginkan berdua saja dengan Habbabah untuk mengumbar libidonya, hingga bersenda gurau, yang akhirnya Habbabah harus mati tersedak buah anggur, dan bangkainyapun terus diciumi, dipeluk dengan penuh nafsu, barulah ketika mulai membusuk, mayat Habbabah dikubur dan Yazid bin Abdul Malik menginap dikuburan berhari-hari meratapi kematian kekasihnya.

Cerita lebih gila dari tiga tokoh antik dalam Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya anak Yazid bin Abdul Malik, yakni al-Walid bin Yazid, Ia seorang homoseksual yang “overdosis” dan hobinya menjadikan Mushaf Al-Quran sebagai sasaran memanah sambil membaca ‘auzubillahi, laa hawla walaqwata‘. Ketika beberapa orang ulama menyatakan al-Walid bin Yazid sebagai kafir dan zindiq, seorang ulama besar pula yang bernama Al-Zhahabi membelanya, sambil berkata, tidak benar kalau al-Walid kafir dan zindiq, namun memang ia dikenal sebagai pemabuk dan pelaku homoseksual. Bahkan ketika al-Walid pergi kerumah seorang Ulama bernama al-Muhtadi tentang desas desus tuduhan kafir zindik, al-Muhtadi justru membelanya. Layaknya kebanyakan Ulama sekarang yang membela penguasa sekalipun penguasa sudah berlaku yang zalim. Ketika membaca perilaku homoseksualitas Khalifah ini, anda mungkin tersentak sejenak.

Kita mungkin menyangka bahwa gejala LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) hanya ada di zaman kita dimana kebebasan individu begitu didewakan. Kenyataannya, gejala seperti ini sudah ada bahkan sejak awal kekhilafahan. Pelakunya pun tidak tanggung-tanggung, sang Khalifah sendiri. Kita mungkin juga mengira bahwa kebiasaan perselingkuhan antara penguasa dan agamawan hanya ada dalam kisah sejarah Eropa.

Mari kita lihat apa yang dilakukan al-Walid ketika membaca ayat “Mereka melakukan penaklukan dan takluklah setiap tiran yang bebal. Dibelakang mereka sudah menguntit neraka jahannam. Mereka akan disiram air yang menggelegak…” Seketika itu pula ia meletakkan mushaf al-Qur’annya untuk dipanah. Namun, ia berubah pikiran, lalu cukup melemparkannya sambil berkata:

Aku menantang semua tiran yang bebal

Ini, akulah sang tiran bebal

Kalau tuhanku datang di hari kebangkitan

Katakan, Tuhan, aku telah ditaklukkan al-Walid

Muhammad Ibnu Yazid al-Mubarrad mengatakan: “Sesungguhnya al-Walid sudah ateis dalam syairnya yang menyebut-nyebut soal Nabi dan wahyu Tuhan yang tak datang padanya:”

Seorang Hasyimi bermain-main dengan kuasa

Tanpa wahyu turun, tanpa Kitab

Titahkan Tuhan melarangku makan

Suruh Tuhan menghalangiku minum

Al-Walid juga pernah berusaha membuat kubah di atas Ka’bah untuk minum-minum ketika ia melaksanakan haji beserta beberapa kerabatnya. Namun para pemuka sukunya berhasil meyakinkannya untuk mencabut keinginannya. Yang jelas, dari kisah hidupnya ia betul-betul memperturutkan hasratnya. Sampai-sampai kegilaan akan hiburan dan minuman itu mampu menguasai para elit dan masyarakat pada zamannya, sebagaimana diceritakan al-Mas’udi. Karena itu tak heran bila bermunculan bintang-bintang di bidang tarik suara bak American Idol, di antaranya Ibnu Sarih, Ma’bad, al-Gharidh, Ibnu Aisyah, Ibnu Muhriz, Thawis, dan Dahman.

Riwayat al-Walid berakhir dengan pembelotan sepupunya, yaitu Yazid bin al-Walid, yang membunuhnya setelah mencicipi kekuasaan selama satu tahun tiga bulan. Namun, takdir menentukan masa kepemimpinan Yazid pun jauh lebih pendek; tak lebih dari lima bulan. Ia meninggal, lalu digantikan adiknya, Ibrahim, untuk jangka waktu 70 hari saja, karena dikudeta Marwan bin Muhammad sebagai upaya balas dendam terhadap al-Walid bin Yazid. Setelah itu, masa Bani Umayyah berakhir dengan tewasnya Marwan, yang berkuasa sekitar 5 tahun, di tangan orang-orang Abbasiyah.

Terlalu banyak cerita gelap yang dapat diungkap dari Dinasti Bani Umayyah, beberapa kesimpulan yang dapat dipetik adalah pertama, adalah benar bahwa Dinasti ini telah melebarkan wilayah kekuasaan Islam, namun motivasinya lebih banyak untuk kesenangan nafsu sebagai layaknya masyarakat Jahiliyah yang baru berkenalan dengan dunia luar. Kedua, era Umayyah adalah nepostisme ke-Araban yang akut. Ketiga, pada era inilah Ulama-Ulama besar banyak bermunculan, namun seringkali Ulama malah bertindak menjustifikasi kebijakan Khalifah, sekalipun menyimpang dari Islam.

Selanjutnya akan kita dedah pula bagaimana Dinasti Bani Abbasiyah. Yang ternyata tidak kalah sadisnya, sekalipun pada Dinasti ini the Golden Era-nya peradaban Islam tertoreh dalam sejarah. Dinasti ini sebenarnya tidak perlu diperkenalkan lagi, sebab ia telah mempekenalkan diri lewat figur pendirinya yakni Abbul Abbas Al-Saffah (Abbul Abas si tukang jagal). Ada dua dekrit yang dikeluarkan oleh sang tukang jagal ini yakni pertama untuk mencari kuburan dan memburu apa saja yang tersisa dari pimpinan Bani Umayyah, kedua melecut, menyalib, membakar mayatnya dan menghamburkan ke udara abu jenazah para pemimpin Bani Umayyah.

Dinasti Bani Abbasiyah merebut kekuasaan dengan klaim bahwa hak kekuasaannya telah ditentukan dan diberi mandat langsung dari Tuhan. Dalam Musnad-nya, Ibnu Hanbal misalnya menyebutkan hadits berikut: “Akan muncul pemimpin dari sanak keluargaku pada masa terjadinya peralihan zaman dan malapetaka besar. Ia disebut al-Saffah, kedermawanannya sangat melimpah”. Al-Thabari juga menyebutkan: “Rasulullah pernah mewartakan kepada pamannya Abbas, bahwa kepemimpinan Arab kelak akan jatuh ke tangan sanak keluarganya. Sampai-sampai sanak keluarganya itu tidak sabar menantikan kapan saat itu tiba”. Inilah cara Abbasiyah merebut simpati massa untuk membai’at dan loyal terhadap mereka. Bermulalah model kekuasaan berdasarkan klaim palsu agama ini yang didukung dengan ancaman keras bagi mereka yang tidak loyal dan mengancam kekuasaan.

Pasukan tentara Bani Abbas kemudian berhasil menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Memang benar kemudian mereka bongkar kuburan Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah dan hanya menemukan sepotong tulang yang sudah mirip dengan arang lalu mereka angkat dan bakar lalu dilambungkan abunya ke udara. Sementara saat membongkar kuburan Abdul Malik bin Marwan, mereka menemukan tengkorangnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh mengungkapkan bahwa Al-Saffah juga melakukan pengejaran terhadap seluruh sanak keluarga dan pendukung Bani Umayyah. Ia menghabisi mereka semua, kecuali anak-anak yang masih menyusu dan mereka yang telah melarikan diri ke Andalusia.

Al-Mas’udi pula dalam Muruj al-Dzahab mengungkapkan kisahnya secara lebih terperinci. Haitsam bin Uday at-Tha’i meriwayatkan kisah dari Amru bin Hani. “Kami pergi mencari kuburan pemuka Umayyah pada masa Abu Abbas al-Saffah. Hanya mayat Hisyam yang kami temukan masih utuh, kecuali bagian hidungnya. Abdullah bin Ali mengeluarkannya, menyambuknya 80 kali, lalu membakarnya. Jenazah Sulaiman kami keluarkan dari pekuburan Dabiq. Yang tersisa memang hanya tulang belulang, tulang rusuk, dan tengkoraknya. Tapi kami membakarnya. Kami masih melakukan hal serupa terhadap setiap keluarga Umayyah, terutama di komplek pekuburan Qinasrin. Petualangan kami berakhir di Damaskus. Disana kami menemukan kuburan al-Walid bin Abdul Malik. Tapi kami tak menemukan apa-apa secuil pun. Kami juga menggali kuburan Abdul Malik, tapi tidak menemukan hal lain, kecuali sebagian tengkorak kepalanya. Lalu kami lanjutkan dengan penggalian kuburan Yazid bin Muawiyyah, tapi kami hanya menemukan sepotong tulang. Dan di sepanjang liang lahatnya kami menemukan garis hitam seperti di torehkan arang. Kami masih memburu jenazah-jenazah keluarga Umayyah di seantero negeri dan membakar apa yang terjumpa dari jenazah mereka”.

Farag Fauda dalam bukunya Al-Haqiqah al-Ghaybah, yang banyak menginspirasi dan komentarnya banyak saya kutip dalam tulisan ini mengatakan, ketika ia merenungkan kejadian-kejadian sadis ini, akal sehat bertanya, apa alasan dan justifikasi semua tindakan mereka ini. Pembunuhan terhadap para pembesar dalam konteks perebutan kekuasaan, membunuh sanak keluarga demi menjamin masa depan kekuasaan baru dan menghapuskan sisa-sisa kekuasaan masa lalu memang sudah sering terjadi. Akan tetapi, memburu jenazah, membalas dendam, menggantung dan membakarnya, benar-benar perkara yang sangat berlebihan.

Disamping berbuat bengis diluar kemanusiaan, pemimpin Abbasiah tetap saja berpidato dengan gaya layaknya orang yang sangat saleh dan beradab dengan cara memuji-muji Islam dengan kalimat “Segala puji bagi Allah yang telah memilih Islam, yang memuliakan dan mengagungkannya, yang telah memilihkannya untuk kita dan membuatnya tetap kukuh bersama kita, kita menjadi lurus dan lebur di dalamnya, serta menjadi pemenang karenanya”. Pidato tersebut sepintas mirip dengan pernyataan para pejabat saat ini yang menampakan diri seakan sangat suci dan sedikit-sedikit mengutip kalimat-kalimat suci bertabur ayat, namun membiarkan korupsi terus berlangsung, sehingga benar kemudian sepanjang masa Dinasti Bani Abbasiah, umat benar-benar tertipu dengan muslihat sang Khalifah yang berselingkuh dengan sebahagian besar Ulama dengan tampilan seakan muslim yang baik dan berlidung dibalik jubah agama, namun prilakunya sangat tidak beradab.

Dinasti Bani Umayyah kemudian di habisi sampai ke akar-akarnya oleh Bani Abbasiyah. Mereka yang masih tersisa dari Bani Umayyah menetap di Andalusia dan memerintah secara otonom, yang akhirnya musnah jua ditelan zaman sampai tahun 1031 H.

Kembali ke kisah Al-Saffah, Khalifah ini punya kepandaian dalam bersandiwara, bukan hanya bengis di hadapan lawan politik dan penuh iman di hadapan pendukungnya, ia juga pandai bersandiwara ketika mengeksekusi musuh-musuhnya. Ia mengatur skenario pembantaian sisa-sisa kerabat Bani Umayyah layaknya sebuah drama opera sabun, ada plot, kisahnya berlangsung secara alamiah, mengalir kemudian ada klimaks danending-nya yang sudah di set. Kita akan mulai kisah ini dengan babak sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Atsir. Ibnu Atsir menuturkan “Di saat al-Saffah sedang melakukan perjamuan yang ramah terhadap Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik, Sudaif sang penyair datang sembari melantunkan syairnya:

Jangan silau akan tampilan seseorang

Jika sumsum simpan penyakit mematikan

Hunuskan pedang, sediakan lecutan

Sampai tak tersisa keluarga Umayyah pun seorang

Kontan, Sulaiman tertegun seketika, lalu berkata: “Anda benar-benar telah membunuhku, wahai Syekh (Sudaif)!” Al-Saffah pun langsung beranjak masuk ke ruang pribadinya sambil menarik Sulaiman. Ia menghabisi nyawanya.

Suatu ketika Al-Saffah memberikan jaminan keamanan kepada keluarga Umayyah lainnya yang berjumlah 90 orang. Setting peristiwa masih tetap berada di tempat perjamuan makan yang sama. Dan sepanjang pembuat acara adalah Khalifah, kemurahan hati akan dipastikan tetap terjaga. Rasa amanpun tak pantas disangka-sangka. Tapi secara mengejutkan, seorang penyair datang seraya melantunkan syair:

Kekuasaan tidak akan goyah

Di tangan Badut-Badut Bani Abbas

Atas Bani Hasyim ia menuntut balas

Setelah lama terbuang tabah

Jangan lagi tergelincir oleh Abdus Syam

Penggallah tiap tunas yang sedang mengembang

Mendengar syair itu, al-Saffah lalu memerintahkan untuk menghantam kepala mereka semua dengan pentungan besi. Sebagian pecah kepala, tetapi jasadnya tetap bernyawa, dalam kondisi yang mengenaskan. Tatkala al-Saffah menyaksikan sekitar 90 orang yang sedang meregang nyawa, ia meninggikan suara sambil menuturkan titah: ‘Gelar permadaniku untuk bersantap secara lesehan di atas mereka!’ Ia dan orang-orangnya memulaidinner party (santap malam), sementara permadani menari ke kanan dan ke kiri. Tatkala permadani tidak lagi bergerak, mereka pun selesai dari kunyahan mereka sambil mengucap alhamdulillah dan tahniah kepada para tentara dan kerabatnya.

Apabila para Khalifah gemar mendeklarasikan dirinya sebagai “tukang jagal semena-mena” (al-Saffah al-Mubih) untuk menunjukkan kebengisannya, begitu pula tingkah seorang gubernurnya. Dalam Tarikh al-Ya’qubidisebutkan Rayyah bin Utsman selaku gubernur Madinah dimasa al-Mansur menggelari dirinya sebagai “si ular anak si ular”. Kondisi di masa ini menunjukkan pada kita bahwa otoritarianisme yang di balut agama tidak hanya terjadi di barat, dan menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak perlu mengusulkan adanya pembagian kekuasaan, menciptakan mekanisme kontrol dan Undang-Undang yang menjamin Negara tidak jatuh pada despotisme.

Abul A’la al-Maududi dalam al-Khilafah wa al-Mulk menceritakan kembali berdasarkan riwayat dari Ibnu Atsir dan al-Thabari; tidak lama kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan al-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan dikalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamananya”. Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqih terkenal di Khurasan bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani (pendiri Negara Khurasan yang kemudian menyerahkannya ke al-Saffah). Namun ketika ia (setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu) menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Abu Ja’far al-Mansur, Khalifah kedua Bani Abbasiyah naik tahta. Ia melakukan intrik politik agar Abu Muslim al-Khurasani bersedia membunuh Abdullah bin Ali (paman al-Saffah sekaligus panglima pasukan Abbasiyah di peperangan Zab yang menuntaskan kemenangan mereka terhadap orang-orang Umayyah). Setelah misi tuntas, ia sendiri yang turun tangan menghabisi Abu Muslim al-Khurasani. Abu Ja’far tidak peduli ketika Abu Muslim memohon: “Tidakkah lebih baik engkau biarkan aku hidup untuk menyingkirkan musuh-musuhmu?” Tetapi Abu Ja’far menampik: “Siapakah musuh yang lebih mematikan dari dirimu?!”.

Abu Ja’far al-Mansur bersekutu dengan Pepin dan Charlemagne, yang menguasai sebagian besar daratan Eropa pada abad pertengahan, demi menaklukkan Abdur Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, Khalifah Umayyah di Andalusia. Namun ia gagal menaklukkannya. Kita mungkin berfikir kalau Khalifah tidak sepantasnya bekerjasama dengan kafir harbi fi’lan (Negara kafir yang secara terang-terangan memerangi umat Islam) karena tindakan seperti ini di haramkan syara’, apalagi bekerjasama untuk membantai umat Islam sendiri. Kita juga mungkin berfikir bahwa situasi seperti ini hanya terjadi di zaman kita. Kekuasaan telah menggelapkan mata mereka. Bagi al-Mansur, prinsip politiknya: “Lakukanlah apapun, tempuh jalan manapun, bersekutulah dengan musuhnya musuhmu, demi mencapai tujuanmu dan menang atas musuhmu”. Artinya, ia benar-benar telah melupakan Islam, masa bodoh dengan hukum-hukum al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan diri sedapat mungkin dari teladan para Khulafa’ al-Rasyidun. Ia hanya mengingat dirinya sebagai “penguasa Tuhan di muka bumi”, tipikal penguasa Arab-Quraisy. Ia mendasarkan kekuasaannya atas hak Bani Abbas terhadap Khalifah, bukan berdasarkan hak rakyat untuk memilih.

Al-Mansur juga terkenal anti kritik. Suatu ketika Ibnu Muqaffa mengirimkan untuk al-Mansur buku yang berjudul Risalah al-Sahaabah (Risalah tentang Para Sahabat). Buku itu berisi nasihat untuk Khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Nasihat itu ia sampaikan dengan sangat santun. Boleh jadi, ia sedang mengharap penghargaan materi yang pantas untuk karyanya dengan mengirimkannya kepada Khalifah. Dan mungkin, ia pun tidak mengira bahwa sekedar memberi nasihat kepada penguasa adalah tindak kriminal. Kaki dan tangan Ibnu Muqaffa dicincang satu per satu. Potongan dagingnya di panggang di atas bara api, tepat di hadapannya. Setelah matang, satu per satu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Ibnu Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya.

Mungkin Ibnu Muqaffa pun bertanya tatkala harus mengunyah jasadnya sendiri atas perintah “pemimpin kaum beriman”: pemimpin apa dan beriman seperti apa??? Ia mungkin bertanya, inikah hakikatnya kekuasaan Khilafah yang disebut “Islamiyah” itu? Islamiyah apanya??? Mungkin saat itu ia juga menyadari apa yang sekarang mesti pula disadari oleh para pejuang Khilafah dan sistem syariah, dan mereka yang memandang remeh usulan pembatasan dan pembagian kekuasaan, yang berfantasi tentang nikmatnya Negara despotik yang mengatasnamakan agama.

Namun demikian, walaupun al-Mansur masuk sejarah dari aspek yang paling bejatnya, ia tetaplah tercatat sebagai seorang negarawan besar yang berhasil mengukuhkan kekuasaannya dan mewariskannya kepada keturunan-keturunannya, meskipun dibangun di atas genangan darah. Dan kenyataan bahwa ia semena-mena, sebetulnya juga tidak lepas dari fatwa para fuqaha, ketakutan sebagian, dan bungkamnya sebagian yang lain. Juga yang terpenting tidak jalannya fungsi-fungsi pemerintahan, tidak adanya pembagian kekuasaan dan check and balance.

Era Abbasiyah adalah era pemerintahan paling bergairah dalam kebangkitan akal dan peradaban. Dan paling maju dalam soal fiqih. Dan untuk melengkapi gambarnya, kita dapat pula menyebutnya paling maju dalam soal kenikmatan hidup dan durjananya, ini ditandai dengan maraknya dunia hiburan dan kemaksiatan. Farag Fauda mengatakan, kondisi ini didorong oleh banyak faktor, namun barangkali faktor utamanya adalah apa yang di masa sekarang disebut sebagai “iklim kondusif” yang membuka peluang untuk kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di masa lalu minuman keras, musik dan tarik suara menjadi kegemaran para Khalifah-Arab dalam pesta-fora mereka. Ini karena Ulama juga membolehkannya. Saat itu para fuqaha Irak yang terdiri dari murid-murid Abu Hanifah mempunyai fatwa yang membolehkan minuman keras. Sementara itu ulama Hijaz membolehkan musik dan nyanyian. Itulah iklim atau suasana umum yang mendorong maraknya musik dan minuman keras serta konsekuensi-konsekuensi lain seperti maraknya dunia hiburan, perempuan penghibur, dan penyimpangan perilaku seksual. Dunia hiburan sudah menjadi bagian dari kenikmatan masyarakat kala itu. Untuk soal menikmati perempuan penghibur, al-Mahdi dan putranya, Harun al-Rasyid adalah jagonya. Untuk soal penyimpangan seksual, al-Watsiq adalah bintangnya.

Mengenai maraknya minuman keras itu, “iklim kondusif” bukan hanya datang dari Khalifah, tapi pendapat fuqaha kala itu yang merupakan murid-murid Abu Hanifah yang merujukkan pendapatnya dari Abdullah bin Mas’ud yang kemudian mengambil kesimpulan bahwa kata khamar dalam al-Qur’an adalah air sari buah anggur berdasarkan makna kebahasaan dan dari hadits-hadits nabi lainnya. Pemahaman inilah yang membuat Abu Hanifah berijtihad menyangkut halalnya beberapa jenih khamar seperti sari buah kurma dan kismis. Dengan catatan, bahan-bahan itu diolah sewajarnya dan diminum dengan kadar tidak memabukkan.

Masa Abbasiyah ini diramaikan pula dengan maraknya perbudakan dan pergundikan. Perbudakan dan pergundikan bersumber dari sistem perdagangan budak yang masih ramai di masa itu, dan hasil pampasan perang. Asal mereka pun bermacam-macam, ada gundik Romawi, Persia dan Ethiopia. Terjadinya surplus budak ini menimbulkan fenomena saling menghadiahi selir, yang menjadi kebiasaan umum. Jumlah gundik-gundik yang dimiliki para petinggi Negara semakin berkembang dalam sejarah imperium Islam. Dari belasan di masa sahabat, menjadi puluhan pada masa Umayyah, mencapai ratusan pada masa Yazid bin Abdul Malik, dan menembus angka ribuan pada masa Abbasiyah. Bilangan ini bahkan mencapai angka 4000 (empat ribu) orang di masa al-Mutawakkil. DalamTarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan Khalifah yang gemar minum-minuman keras ini konon telah meniduri seluruh empat ribu gundiknya selama seperempat abad masa kepemimpinannya. Tentu ini merupakan rekor tertinggi kepemilikan gundik yang pernah tercatatkan dalam sejarah umat manusia yang seharusnya masuk ke dalam catatan Book of Record.

Membaca sejarah kehidupaan Khalifah di masa itu, pembaca mungkin terheran-heran, mengapa masyarakat Islam di masa itu jauh dari kehidupan Islam, padahal masa itu adalah masa kekhilafahan. Kita mungkin berimajinasi bahwa masyarakat Islam dan pemimpin-pemimpinnya di masa kekhilafahan adalah masyarakat yang dekat dengan agama, dan syariat diterapkan secara total dalam semua aspek kehidupan. Namun anggapan itu salah, masyarakat Islam kala itu tidak lebih baik dari masyarakat kita saat ini yang sebagian dari Anda menganggapnya sebagai “masyarakat jahiliah modern” atau jauh dari agama (ideologi) Islam yang sebenarnya. Saat itu, syariat memang diterapkan, tapi diterapkan secara “kreatif” dan tebang pilih.

Pembacaan sejarah akan dilanjutkan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid yang sangat terkenal itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihan, tentunya orang sudah kenal dengan siapa Harun al-Rasyid, atau paling tidak dengan al-Ma’mum dan al-Mu’tasim.

Pasca Harun al-Rasyid, putranya al-Amin (Shalih bin Harun) naik tahta. Al-Amin telah dinobatkan sebagai pengganti Harun semasa ia masih anak-anak. Harun al-Rasyid mewasiatkan bahwa setelah al-Amin naik tahta, jabatan Khalifah akan di lanjutkan oleh saudara al-Amin, yakni al-Ma’mun. Sementara al-Amin menjadi Khalifah, al-Ma’mun menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Namun kemudian, Khalifah al-Amin membatalkan hak Khalifah al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad al-Amin. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan perang saudara yang berujung pada dipenggalnya kepala al-Amin oleh panglima Tahir bin Husain yang di utus oleh saudaranya sendiri al-Ma’mun, setelah bala tentaranya berhasil menaklukkan tentara al-Amin dan memasuki Baghdad.

Al-Amin sebagai Khalifah ternyata juga dikenal abnormal dalam perilaku seksualnya. Dia sangat menyukai teman kencan seranjang sejenis dengan meninggalkan istri-istri dan gundik-gundiknya. Pacar yang sangat digandrungi oleh al-Amin bernama Kautsar, sementara Kautsar adalah seorang laki-laki tampan yang dibeli oleh Harun al-Rasyid sebagai hadiah buat al-Amin, karena dia mengetahui prilaku seksual anaknya. Satu peristiwa mencolok yang dilakukan oleh al-Amin terhadap kekasihnya Kautsar, yakni mengangkut dirham sebanyak tiga keledai untuk penyembuhan Kautsar karena cidera ringan, sementara dana tersebut sudah dialokasikan untuk biaya perang. Dan akhirnya al-Amin dihancurkan oleh para menteri dan gubernurnya sendiri karena ia lebih banyak berhura-hura, menghamburkan kas Negara dan asyik bermesraan dengan sesama jenis bernama Kautsar.

Satu Khalifah lagi yang kurang dikenal yang sangat piawai membuka babak baru sejarah dinasti keturunan Abbas bin Abdul Muthalib ini. Dia adalah al-Watsiq. Al-Watsiq adalah Khalifah terakhir Dinasti Abbasiah periode awal. Ia memerintah selama 6 tahun, ia seorang Transeks namun cenderung berperilaku homoseks, selama 6 tahun, nyaris waktunya digunakan dengan berpindah-pindah pelukan dari satu pria ke pria lainnya.

Satu pacar yang paling disukai oleh al-Watsiq adalah Muhaj, cowok keren dan sangat pandai memainkan perasaan al-Watsiq, sebuah pameo menceritakan, bila al-Watsiq sedang nyaman dalam pelukan Muhaj, maka stabilitas pemerintahan akan baik, namun jika al-Watsiq sedang cemburu buta dengan si Muhaj, maka dia akan mencari lawan-lawan politiknya untuk dibunuh. Prilaku homoseksual dua insan sesama jenis ini teruntai dalam syair ala dangdut:

Muhaj menguasai jiwa ini,

Lewat kerlingan mata yang sungguh menawan

Tubuhnya indah mempesona

Amboi manjanya dan penuh gairah

Jika mata tertuju padanya

Ia tak lagi mampu berpindah

Al-Watsiq selama hidupnya tercatat telah menyusun lebih dari 100 syair lagu. Satu riwayat menceritakan, ketika al-Watsiq sedang mengadakan rapat bersama para pembesar istana, kemudian Muhaj yang memang menyadari akan posisinya, tiba-tiba muncul dengan melenggak-lenggokan badanya kemudian mengerlingkan mata kepada al-Watsiq dan membawakannya sekuntum bakung, sehingga al-Watsiq tanpa banyak bicara kemudian dari mulutnya meluncur syair-syair penuh birahi dan menyebabkan rapat penting tentang posisinya sebagai Khalifah menjadi runyam.

Al-Watsiq selain memiliki perilaku seks yang menyimpang, dia juga mempunyai sejarah inkuisisi seperti halnya ayahnya al-Ma’mum, kalau al-Ma’mum meninkuisisi Imam Ahmad bin Hambal dan beberapa ulama lainnya, sementara al-Watsiq melakukan hal yang serupa terhadap Ahmad bin Nasr al-Khaza’i seorang ahli haditst, al-Khaza’i dijemput paksa dan dihadapkan kepada al-Watsiq bersama Ulama-Ulama pelat merah saat itu, dan terjadilah dialog tentang kemahlukan al-Qur’an, namun karena al-Khaza’i tetap teguh dengan pendapatnya, akhirnya al-Watsiq meminta sebilah pedang sambil berkata, jika aku bergerak jangan ada yang ikut bergerak, aku akan menghitung langkahku menuju si kafir yang tidak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan kita. Lalu ia meminta dibentangkan permadani tempat al-Khaza’i bersimpuh, lalu dipancungnyalah sang ahli hadits itu.

Sampai disini dululah pembacaan sejarah Bani Abbasiyah

Islam hanya terbagi dua yakni : Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyyah

Yang menganggap semua sahabat adil adalah sebuah sikap ghuluw karena faktanya tidak semua sahabat adil, antara sahabat yg satu dengan sahabat yg lain tentulah ada perbedaannya tidaklah sama dalam hal ilmu dan keadilannya dan ini bisa kita analogikan sebagai sebuah sikap menentang sunatullah dan didalam sejarah terbukti siapa yang menentang Sunatullah akan binasa dan celaka….pelajari kitab-kitab sejarah dengan seksama dan saudara akan terbelalak melihat fakta yang tak sesuai dengan keinginan saudara !!!!!!

Demi Allah, cerita yang saya sampaikan ini adalah benar adanya. Bukan cerita fiktif atau sesuatu yang mengada-ngada. Tujuannya agar pembaca khususnya para pengemban dakwah dapat semakin istiqomah dan bersemangat dalam memperjuangkan tegaknya mazhab Ahlul Bait

Hizb ut-Tahrir promotion for Islamic Supremacist Caliphate conference shows "beheaded" Statue of Liberty and "burning" NYC

Ulama Ulama Zindiq membantu Raja Raja Dinasti Umayyah dan Abbasiyah merusak Agama Muhammad !

Islam hanya terbagi dua yakni : Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyyah

“Kaum munafikin di zaman Nabi saww sebagaimana penjelasan Al_qur’an sangat keterlaluan dalam kemunafikan mereka. Mereka sangat bersungguh-sungguh menampakkan diri sebagai bagian dari umat Islam. Mereka juga turut shalat di belakang Nabi, mereka juga duduk di setiap majelis-majelis Nabi bahkan mereka juga turut meriwayatkan hadits-hadits Nabi saww. Karenanya sangat memungkinkan bagi orang-orang setelahnya, orang-orang munafik ini juga terkategorikan sebagai sahabat-sahabat Nabi”

“Setelah saya mempelajari sejarah Islam dengan seksama secara esensial umat ini hanya terbagi dua yakni : Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyyah (Prof.Husein Alatas/Malaysia,Cucu Habib Empang).

kelompok Wahabi sangat membela Muawiyah.

Di dalam kitab Durarul Karimah Ibn Hajar al-Asqalani, jilid 1, hal.155, terbitan Darul Jil, tahun 1414 H/1993 M. Beliau mengatakan : Ibn Taimiyah berkata : ” Sesungguhnya (Ali) orang yang tercela dalam segala hal. Dia berusaha terus-menerus mengejar kekhalifahan meskipun tidak ia peroleh, dan berperang untuk kedudukan bukan untuk agama dan sesungguhnya Ali gila kekuasaan.”

Ciri utama Syi’ah Ali yg menonjol adalah gemar akan persatuan sebaliknya Syi’ah Mu’awiyyah gemar akan perpecahan, bersatulah Sunnah dan Syi’ah dan teruslah jalin Ukhuwah agar kita semua setia dalam barisan kebenaran.

Husein bin Hamid Alattas mengakui dirinya tidak menganggap Muawiyah Ra sebagai sahabat Nabi SAW, ia juga mengakui Muawiyah Ra boleh dihujat dan dikritik. Meskipun, dirinya menyatakan bermanhaj sebagai Ahlus Sunnah.

“Secara lughowy (bahasa) Muawiyah termasuk sahabat, tetapi secara syar’i Muawiyah tidak termasuk sahabat,” Kata Husein Hamid Alattas ditengah acara dialog dan mubahalah antara dr.Haidar Abdullah Bawazir dengan Husein bin Hamid Alattas di Radio Silaturahim, Jl. Masjid Silaturahim no.36, Cibubur, Bekasi, Rabu kemarin (27/6).

Husein berpendapat, Muawiyah Ra merupakan pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya banyak umat Islam dan Amar bin Yasir ketika terjadi perselisihan antara Muawiyah ra dengan Ali bin Abi Tholib Ra yang berujung dengan peperangan, pihak yang melakukan kesalahan dalam merubah sistem kekhilafahan menjadi kerajaan dengan mengangkat anaknya sebagai penerus kekhalifahan, serta yang menyebabkan peristiwa-peristiwa berdarah selanjutnya.

Pendapat bahwa terdapat perbedaan makna sahabat secara bahasa dan syar’i dan ketidak sepakatan ulama dalam menilai sahabat yang membunuh kaum muslimin, menurutnya berdasarkan kitab ulasan orang-orang yang sesuai dengan buku kalangan sunni kontemporer karya Hasan Farhan Al Maliki yang berjudul ‘Assubhu was Shahabah’. “Dalam buku itu tidak terdapat ijma dalam ahlussunnah berkaitan pandangan tersebut (status sahabat bagi orang yang membunuh orang beriman)” ujar Husein.

Penjelasan tersebut diutarakan Husein, setelah menolak definisi sahabat oleh jumhur ulama yang diutarakan Haidar Bawazir yakni, seseorang yang bertemu Nabi SAW dalam keadaan beriman ketika hidup dan beriman hingga ia meninggal dunia.

Padahal Nabi saw bersabda :”Barangsiapa yang mencaci-maki Ali, maka sama dengan halnya ia telah mencaci-maki aku, dan barang siapa yang mencaci-maki aku berarti dia telah mencaci Allah SWT.”

Muawiyah dikecam Rasulullah saw selamanya takkan merasakan kenyang, karena suka makan.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna Al ‘Anziy dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah Al Qashaab dari Ibnu Abbas yang berkata “aku bermain bersama anak-anak kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, aku bersembunyi di belakang pintu. Beliau datang dan menepuk pundakku seraya berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali dan berkata “ia sedang makan”. Kemudian Beliau berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali kepada Beliau dan berkata “ia sedang makan”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya” [Shahih Muslim 4/2010 no 2604]

Muawiyah dilaknat Rasulullah saw secara terang-terangan

Terdapat hadis shahih yang menunjukkan kalau Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang jayyid.

Telah menceritakan kepada kami Khalaf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah mawla Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk kemudian melintaslah Abu Sufyan di atas hewan tunggangan dan bersamanya ada Muawiyah dan saudaranya, salah satu dari mereka menuntun hewan tunggangan tersebut dan yang lainnya menggiringnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda “laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring”[Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121]

Dalam hadis di atas tertulis ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Jumhan, ini adalah tashif yang benar adalah ‘Abdul Warits ‘an Sa’id bin Jumhan. Karena telah ma’ruf kalau yang meriwayatkan dari Safinah adalah Sa’id bin Jumhan dan yang meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan adalah ‘Abdul Warits yaitu ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan.

Dalam biografi Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Safinah dan telah meriwayatkan darinya ‘Abdul Warits bin Sa’id [Tahdzib Al Kamal 10/376 no 2246]
Dalam biografi ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy [Tahdzib Al Kamal 18/478 no 3595]

Hadis ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dan Nasa’i dalam kitab Sunan-nya dengan sanad berikut

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Abu Dawud 2/416 no 3932]

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Nasa’i 3/190 no 4995]

Al Baladzuri termasuk ulama besar, Adz Dzahabi menuliskan keterangan tentang Al Baladzuri dalam kitabnya As Siyar dan Tadzkirah Al Huffazh. Adz Dzahabi menyebut ia seorang penulis Tarikh yang masyhur satu thabaqat dengan Abu Dawud, seorangHafizh Akhbari Allamah [Tadzkirah Al Huffazh 3/893]. Di sisi Adz Dzahabi penyebutan hafizh termasuk ta’dil yaitu lafaz ta’dil tingkat pertama. Disebutkan Ash Shafadi kalauAl Baladzuri seorang yang alim dan mutqin [Al Wafi bi Al Wafayat 3/104]. Tidak ada alasan untuk menolak atau meragukan Al Baladzuri, Ibnu Hajar telah berhujjah dengan riwayat-riwayat Al Baladzuri dalam kitabnya diantaranya dalam Al Ishabah, Ibnu Hajar pernah berkata “dan diriwayatkan oleh Al Baladzuri dengan sanad yang la ba’sa bihi” [Al Ishabah 2/98 no 1767]. Penghukuman sanad la ba’sa bihi oleh Ibnu Hajar berarti ia sendiri berhujjah dan menta’dil Al Baladzuri. Soal kedekatan kepada penguasa itu tidaklah merusak hadisnya karena banyak para ulama yang dikenal dekat dengan penguasa tetapi tetap dijadikan hujjah seperti Az Zuhri dan yang lainnya. Para ulama baik dahulu maupun sekarang tetap menjadikan kitab Al Balazuri sebagai sumber rujukan baik sirah ansab maupun hadis.

Riwayat Al Baladzuri di atas terdiri dari para perawi tsiqat dimulai dari Khalaf syaikh [guru] Al Baladzuri adalah Khalaf bin Hisyam Al Bazzar, ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan dan Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy. Sedangkan Safinah mawla Ummu Salamah yang juga dikenal mawla Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sahabat Nabi.

Khalaf bin Hisyam Al Bazzar adalah perawi Muslim dan Abu Dawud. Disebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Yahya bin Jabir Al Baladzuri. Imam Muslim juga meriwayatkan darinya itu artinya ia tsiqat menurut Muslim. Ahmad bin Hanbal dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata ahli ibadah yang memiliki keutamaan. Ibnu Hibban berkata “baik, memiliki keutamaan, alim dalam qiraat dan telah menulis darinya Ahmad bin Hanbal” [At Tahdzib juz 3 no 297]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/272]. Al Khalili menyatakan ia disepakati tsiqat [Al Irshad 1/95]

‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat hujjah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mutqin dalam hadis”. [At Tahdzib juz 6 no 826]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/625].

Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Dawud menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. As Saji berkata “tidak diikuti hadisnya” [At Tahdzib juz 4 no 15]. Yaqub bin Sufyan Al Fasawi menyatakan ia tsiqat [Al Ma’rifat Wal Tarikh 2/182]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq dan memiliki riwayat yang menyendiri, tetapi pernyataan ini dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Sa’id bin Jumhan seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 2279].

Jadi riwayat ini memiliki sanad yang shahih dan menunjukkan kalau Mu’awiyah adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Apapun alasannya, kami tidak bisa memastikan tetapi jika melihat bagaimana pribadi Mu’awiyah dan pemerintahan yang dipimpin olehnya maka riwayat ini tidaklah mengherankan. Cukup banyak penyimpangan yang dilakukan Mu’awiyah diketahui oleh mereka yang mengetahuinya dan dibela mati-matian oleh mereka yang mencintai Muawiyah. Bagi yang ingin melihat berbagai penyimpangan Muawiyah, dipersilahkan untuk melihat tulisan kami yang lain tentang Muawiyah. Akhir kata jika ada yang tidak setuju cukuplah sampaikan bantahan dan tidak perlu mencela kami. Kami tidak tertarik main tuduh-menuduh cela mencela, kalau kami keliru silakan dikoreksi tetapi kalau tidak mampu maka cukuplah berdiam diri.

2:159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,

33:57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.

tipikal penguasa Bani Umayyah yang Khalifahnya yang tidak suka berbasa-basi, tampil apa adanya dan sanggup berbuat apa saja untuk melindungi kekuasaannya dari ancaman. Berbeda nanti dengan Bani Abbasiyah yang tipikal penguasanya penuh dengan hipokrasi dan kemunafikan. Mereka tampil di depan khalayak dengan tampang khusuk dan penuh iman, tak jarang bercucuran air mata ketika dinasihati oleh para ahli ibadah. Namun pada lain waktu, mereka 360 derajat berbeda dengan melakukan hal-hal yang amat memalukan dan membelalakkan mata. Dalam kealfaan dan kegilaannya itu, mereka justru tidak risih disapa sebagai pemimpin kaum beriman (Amirul Mu’minin) dan Khalifah bagi umat Islam (Khalifah al-Muslimin).

Contoh kevulgaran dan kejujuran Bani Umayyah dapat dilihat dari sikap Abdul Malik bin Marwan. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan kisah dari Ibnu Abi Aisyah mengatakan, Abdul Malik pernah diminta untuk memutuskan suatu perkara sambil diajukan kepadanya sebongkah mushaf al-Qur’an. Akan tetapi, ia justru mencampakkannya seraya berkata: “Ini adalah persentuhanku yang terakhir denganmu!”. Dan kenyataanya, apa yang ia katakan kemudian ia lakukan. Setelah menyatakan talak dengan al-Qur’an, sang ahli fiqih ini kemudian menjalankan roda pemerintahan dengan instingnya.

Bani Umayyah awalnya didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan (satu kakek buyut dengan Utsman bin Affan R.A.). Ia menjadi Khalifah setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib. Orang-orang Madinah saat itu membaiat Hasan bin Ali, namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu yang sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah, dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

Namun kemudian Mu’awiyah bin Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk membai’at anaknya, yaitu Yazid bin Mu’awiyah sebagai Khalifah pengganti dirinya. Sekaligus memperkenalkan suksesi secara putra mahkota, seperti layaknya sistem Monarki (Kerajaan). Memang prosesi pengangkatannya menggunakan bai’at sebagai formalisasi pengangkatan Khalifah, akan tetapi bai’at tersebut kemudian hanya menjadi kamuflase saja, karena bai’at dilakukan secara paksa dan ancaman hukuman mati akan diberikan bagi siapa saja yang menentang keputusan itu atau menolak bai’at.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahkan memberikan interprestasi sendiri dari kata Khalifah, dimana ia menambahkan kata “Allah” dibelakang kata Khalifah, yang dalam pengertiannya penguasa yang diangkat oleh Allah. Sedangkan Abu Bakar R.A. telah melarang penggunaan kata “Khalifah Allah”, ketika ia dipanggil demikian. Ia berkata, “Aku bukan Khalifah Tuhan, tapi aku adalah Khalifah (pengganti, perwakilan) dari utusan Tuhan. Lagipula, seseorang hanya dapat bertindak sebagai “Khalifah” (pengganti, perwakilan) seseorang yang tidak ada, bukan sesuatu yang ada (karena Tuhan selalu ada).

Tindakan pewarisan tahta ini memicu protes dikalangan umat. Ia di anggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Mu’awiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.



Keterangan gambar: Makam Muawiyah bin Abu Sofyan di Syria. Digembok rapat karena orang-orang suka membuang kotoran di makam ini. Konon di sekitarnya juga tumbuh pohon berduri yang tidak tumbuh di tempat lain.

 Kubur Muawiyah Laknatullah

Sejarah kemudian mencatatat munculnya Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai Khalifah menggantikan Husain bin Ali yang terbunuh dalam perang Karbala. Terjadi dualisme kepemimpinan dan perpecahan yang hebat di kalangan umat Islam. Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan (Khalifah ke-5 Bani Umayyah yang juga dikenal ahli fiqih), yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Pola pemerintahan tangan besi yang dipraktekkan Dinasti Umayyah berlanjut. Ketika Abdul Malik bin Marwan memimpin, ia menjadikan Hajjaj “si tukang jagal” sebagai tangan kanannya. Kekejaman Hajjaj bin Yusuf begitu terkenal, hingga ada pameo “jika Hajjaj datang, malaikat menyingkir dan setanpun berdansa mendekat”.

Demikian kenyataan sejarahnya, bahwa Dinasti Umayyah dibangun di atas genangan darah sesama Muslim. Pendahulu Abdul Malik bin Marwan seperti Yazid dikenal sebagai monster haus darah dengan tumbal pertamanya Husain bin Ali bin Abu Thalib. Tidak kalah sadisnya, Abdul Malik sang ahli fiqih ini juga telah melakukan pembantaian dengan jubah kebesarannya sekaligus menyatakan talak tiga dengan al-Qur’an, lalu ia memimpin dengan instingnya.

Namun sayangnya, saat itu Ulama-Ulamanya atau sejenis Ulama plat merah saat ini, selalu saja mendoakan Abdul Malik seraya berkata bahwa Abdul Malik sang penjaga amanat umat Islam, dimana saat itu spekulasi hadits bermunculan, salah satunya berbunyi “orang-orang yang sekurang-kurangnya pernah tiga hari memimpin umat Islam akan diampuni dosa-dosanya”. Dan menjelang kematianya, Abdul Malik bin Marwan berwasiat kepada anaknya Walid “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dengan kekuasaan yang telah diamanatkan padamu dan tetaplah hormati Hajjaj bin Yusuf, serta jangan hiraukan komentar orang tentang Hajaj bin Yusuf”.

Dan ketika anaknya Walid menangis, Abdul Malik berkata “Mental apaan ini, jika aku mati singsingkan lengan bajumu, pakailah sabuk kulit macan dan selipkan pedang, jika ada orang yang berkata lebih berhak atas kekuasaan dari padamu, tebaslah batang lehernya”.

Sejarah mencatat, bahwa kekuasaan Dinasti Bani Umayyah dimarakkan oleh tiga nama orang sebagai sadis, namun merupakan Khalifah yang dikenal populer yakni Yazid bin Muawiyah sang pembantai, Yazid bin Abdul Malik dan Walid bin Yazid. Satu orang yang kemudian dikenal sebagai sangat bijaksana yakni Umar bin Abdul Azis, karena kebijaksanaannya itu ia dijuluki Umar kedua yang memiliki kebijaksanaan yang tinggi setelah Umar bin Khatab. Namun sayang orang baik ini harus mati terminum racun yang diduga diberikan oleh keluarga dekatnya sendiri karena menginginkan kekuasaannya.

Kezaliman Yazid bin Muawiyah tidak cukup ditandai dengan pembantaian atas Husain bin Ali, yakni ketika Yazid bin Muawiyah bersama pasukannya menaklukan Madinah karena masyarakatnya mencabut bai’at atasnya, Yazid memaklumatkan pembantaian dan anarkisme selama tiga hari dalam kota. Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh-nya meriwayatkan, akibat pembantaian itu 4.500 jiwa menjadi tumbal dan sekitar 1.000 perawan muslimah diperkosanya. Dan lebih dahsyatnya Yazid bin Muawiyah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, telah secara ekplisit menyatakan kemurtadan dengan menyebutkan, “Klan Hasyim bermain-main dengan kuasa. Kekuasaan tidak datang wahyupun tidak menjelang”. Disebutkan dalam Tarikh al-Khulafa, Yazid juga dikenal gemar mengumbar nafsu dan minum minuman keras.

Sementara itu Yazid yang lain yakni Yazid bin Abdul Malik, ia adalah Khalifah pengganti Umar bin Abdul Azis. Yazid bin Abdul Malik menjadikan selama kekuasaannya sebagai lautan kebobrokan moral dan kemesuman, namun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa-nya: Ketika Yazid bin Abdul Malik mendapatkan mandat sebagai Khalifah, ia datangkan 40 orang Syeikh (maha guru agama), dan meminta agar 40 Syeikh tersebut berfatwa yang isinya bahwa seorang Khalifah tidak akan dihisab oleh Tuhan, apalagi disiksa.

Keadaan ini menegaskan juga bahwa ternyata kerusakan itu tidak hanya datang dari Khalifah, tetapi juga bisa datang dari Ulama dalam pengertian ahli ilmu agama. Kalau selama kekuasaan Yazid bin Abdul Malik telah menghabiskan masanya dengan bermesum ria dengan perempuan bernama Salamah dan roman cintanya dengan Habbabah. Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya meriwayatkan dari jalur Abu Hamzah al-Khariji menyatakan; Yazid mendudukan Hababah di paha kanannya, dan Salamah di sebelah kirinya, lalu secara terbuka dia menyatakan “aku ingin terbang” sambil berkata aku terbang menuju laknat Tuhan dan azabnya yang pedih. Ibnu Katsir juga meriwayatkan, bahwa ia (Yazid bin Abdul Malik) menginginkan agar istana dikosongkan dari manusia, ia menginginkan berdua saja dengan Habbabah untuk mengumbar libidonya, hingga bersenda gurau, yang akhirnya Habbabah harus mati tersedak buah anggur, dan bangkainyapun terus diciumi, dipeluk dengan penuh nafsu, barulah ketika mulai membusuk, mayat Habbabah dikubur dan Yazid bin Abdul Malik menginap dikuburan berhari-hari meratapi kematian kekasihnya.

Cerita lebih gila dari tiga tokoh antik dalam Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya anak Yazid bin Abdul Malik, yakni al-Walid bin Yazid, Ia seorang homoseksual yang “overdosis” dan hobinya menjadikan Mushaf Al-Quran sebagai sasaran memanah sambil membaca ‘auzubillahi, laa hawla walaqwata‘. Ketika beberapa orang ulama menyatakan al-Walid bin Yazid sebagai kafir dan zindiq, seorang ulama besar pula yang bernama Al-Zhahabi membelanya, sambil berkata, tidak benar kalau al-Walid kafir dan zindiq, namun memang ia dikenal sebagai pemabuk dan pelaku homoseksual. Bahkan ketika al-Walid pergi kerumah seorang Ulama bernama al-Muhtadi tentang desas desus tuduhan kafir zindik, al-Muhtadi justru membelanya. Layaknya kebanyakan Ulama sekarang yang membela penguasa sekalipun penguasa sudah berlaku yang zalim. Ketika membaca perilaku homoseksualitas Khalifah ini, anda mungkin tersentak sejenak.

Kita mungkin menyangka bahwa gejala LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) hanya ada di zaman kita dimana kebebasan individu begitu didewakan. Kenyataannya, gejala seperti ini sudah ada bahkan sejak awal kekhilafahan. Pelakunya pun tidak tanggung-tanggung, sang Khalifah sendiri. Kita mungkin juga mengira bahwa kebiasaan perselingkuhan antara penguasa dan agamawan hanya ada dalam kisah sejarah Eropa.

Mari kita lihat apa yang dilakukan al-Walid ketika membaca ayat “Mereka melakukan penaklukan dan takluklah setiap tiran yang bebal. Dibelakang mereka sudah menguntit neraka jahannam. Mereka akan disiram air yang menggelegak…” Seketika itu pula ia meletakkan mushaf al-Qur’annya untuk dipanah. Namun, ia berubah pikiran, lalu cukup melemparkannya sambil berkata:

Aku menantang semua tiran yang bebal

Ini, akulah sang tiran bebal

Kalau tuhanku datang di hari kebangkitan

Katakan, Tuhan, aku telah ditaklukkan al-Walid

Muhammad Ibnu Yazid al-Mubarrad mengatakan: “Sesungguhnya al-Walid sudah ateis dalam syairnya yang menyebut-nyebut soal Nabi dan wahyu Tuhan yang tak datang padanya:”

Seorang Hasyimi bermain-main dengan kuasa

Tanpa wahyu turun, tanpa Kitab

Titahkan Tuhan melarangku makan

Suruh Tuhan menghalangiku minum

Al-Walid juga pernah berusaha membuat kubah di atas Ka’bah untuk minum-minum ketika ia melaksanakan haji beserta beberapa kerabatnya. Namun para pemuka sukunya berhasil meyakinkannya untuk mencabut keinginannya. Yang jelas, dari kisah hidupnya ia betul-betul memperturutkan hasratnya. Sampai-sampai kegilaan akan hiburan dan minuman itu mampu menguasai para elit dan masyarakat pada zamannya, sebagaimana diceritakan al-Mas’udi. Karena itu tak heran bila bermunculan bintang-bintang di bidang tarik suara bak American Idol, di antaranya Ibnu Sarih, Ma’bad, al-Gharidh, Ibnu Aisyah, Ibnu Muhriz, Thawis, dan Dahman.

Riwayat al-Walid berakhir dengan pembelotan sepupunya, yaitu Yazid bin al-Walid, yang membunuhnya setelah mencicipi kekuasaan selama satu tahun tiga bulan. Namun, takdir menentukan masa kepemimpinan Yazid pun jauh lebih pendek; tak lebih dari lima bulan. Ia meninggal, lalu digantikan adiknya, Ibrahim, untuk jangka waktu 70 hari saja, karena dikudeta Marwan bin Muhammad sebagai upaya balas dendam terhadap al-Walid bin Yazid. Setelah itu, masa Bani Umayyah berakhir dengan tewasnya Marwan, yang berkuasa sekitar 5 tahun, di tangan orang-orang Abbasiyah.

Terlalu banyak cerita gelap yang dapat diungkap dari Dinasti Bani Umayyah, beberapa kesimpulan yang dapat dipetik adalah pertama, adalah benar bahwa Dinasti ini telah melebarkan wilayah kekuasaan Islam, namun motivasinya lebih banyak untuk kesenangan nafsu sebagai layaknya masyarakat Jahiliyah yang baru berkenalan dengan dunia luar. Kedua, era Umayyah adalah nepostisme ke-Araban yang akut. Ketiga, pada era inilah Ulama-Ulama besar banyak bermunculan, namun seringkali Ulama malah bertindak menjustifikasi kebijakan Khalifah, sekalipun menyimpang dari Islam.

Selanjutnya akan kita dedah pula bagaimana Dinasti Bani Abbasiyah. Yang ternyata tidak kalah sadisnya, sekalipun pada Dinasti ini the Golden Era-nya peradaban Islam tertoreh dalam sejarah. Dinasti ini sebenarnya tidak perlu diperkenalkan lagi, sebab ia telah mempekenalkan diri lewat figur pendirinya yakni Abbul Abbas Al-Saffah (Abbul Abas si tukang jagal). Ada dua dekrit yang dikeluarkan oleh sang tukang jagal ini yakni pertama untuk mencari kuburan dan memburu apa saja yang tersisa dari pimpinan Bani Umayyah, kedua melecut, menyalib, membakar mayatnya dan menghamburkan ke udara abu jenazah para pemimpin Bani Umayyah.

Dinasti Bani Abbasiyah merebut kekuasaan dengan klaim bahwa hak kekuasaannya telah ditentukan dan diberi mandat langsung dari Tuhan. Dalam Musnad-nya, Ibnu Hanbal misalnya menyebutkan hadits berikut: “Akan muncul pemimpin dari sanak keluargaku pada masa terjadinya peralihan zaman dan malapetaka besar. Ia disebut al-Saffah, kedermawanannya sangat melimpah”. Al-Thabari juga menyebutkan: “Rasulullah pernah mewartakan kepada pamannya Abbas, bahwa kepemimpinan Arab kelak akan jatuh ke tangan sanak keluarganya. Sampai-sampai sanak keluarganya itu tidak sabar menantikan kapan saat itu tiba”. Inilah cara Abbasiyah merebut simpati massa untuk membai’at dan loyal terhadap mereka. Bermulalah model kekuasaan berdasarkan klaim palsu agama ini yang didukung dengan ancaman keras bagi mereka yang tidak loyal dan mengancam kekuasaan.

Pasukan tentara Bani Abbas kemudian berhasil menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Memang benar kemudian mereka bongkar kuburan Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah dan hanya menemukan sepotong tulang yang sudah mirip dengan arang lalu mereka angkat dan bakar lalu dilambungkan abunya ke udara. Sementara saat membongkar kuburan Abdul Malik bin Marwan, mereka menemukan tengkorangnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh mengungkapkan bahwa Al-Saffah juga melakukan pengejaran terhadap seluruh sanak keluarga dan pendukung Bani Umayyah. Ia menghabisi mereka semua, kecuali anak-anak yang masih menyusu dan mereka yang telah melarikan diri ke Andalusia.

Al-Mas’udi pula dalam Muruj al-Dzahab mengungkapkan kisahnya secara lebih terperinci. Haitsam bin Uday at-Tha’i meriwayatkan kisah dari Amru bin Hani. “Kami pergi mencari kuburan pemuka Umayyah pada masa Abu Abbas al-Saffah. Hanya mayat Hisyam yang kami temukan masih utuh, kecuali bagian hidungnya. Abdullah bin Ali mengeluarkannya, menyambuknya 80 kali, lalu membakarnya. Jenazah Sulaiman kami keluarkan dari pekuburan Dabiq. Yang tersisa memang hanya tulang belulang, tulang rusuk, dan tengkoraknya. Tapi kami membakarnya. Kami masih melakukan hal serupa terhadap setiap keluarga Umayyah, terutama di komplek pekuburan Qinasrin. Petualangan kami berakhir di Damaskus. Disana kami menemukan kuburan al-Walid bin Abdul Malik. Tapi kami tak menemukan apa-apa secuil pun. Kami juga menggali kuburan Abdul Malik, tapi tidak menemukan hal lain, kecuali sebagian tengkorak kepalanya. Lalu kami lanjutkan dengan penggalian kuburan Yazid bin Muawiyyah, tapi kami hanya menemukan sepotong tulang. Dan di sepanjang liang lahatnya kami menemukan garis hitam seperti di torehkan arang. Kami masih memburu jenazah-jenazah keluarga Umayyah di seantero negeri dan membakar apa yang terjumpa dari jenazah mereka”.

Farag Fauda dalam bukunya Al-Haqiqah al-Ghaybah, yang banyak menginspirasi dan komentarnya banyak saya kutip dalam tulisan ini mengatakan, ketika ia merenungkan kejadian-kejadian sadis ini, akal sehat bertanya, apa alasan dan justifikasi semua tindakan mereka ini. Pembunuhan terhadap para pembesar dalam konteks perebutan kekuasaan, membunuh sanak keluarga demi menjamin masa depan kekuasaan baru dan menghapuskan sisa-sisa kekuasaan masa lalu memang sudah sering terjadi. Akan tetapi, memburu jenazah, membalas dendam, menggantung dan membakarnya, benar-benar perkara yang sangat berlebihan.

Disamping berbuat bengis diluar kemanusiaan, pemimpin Abbasiah tetap saja berpidato dengan gaya layaknya orang yang sangat saleh dan beradab dengan cara memuji-muji Islam dengan kalimat “Segala puji bagi Allah yang telah memilih Islam, yang memuliakan dan mengagungkannya, yang telah memilihkannya untuk kita dan membuatnya tetap kukuh bersama kita, kita menjadi lurus dan lebur di dalamnya, serta menjadi pemenang karenanya”. Pidato tersebut sepintas mirip dengan pernyataan para pejabat saat ini yang menampakan diri seakan sangat suci dan sedikit-sedikit mengutip kalimat-kalimat suci bertabur ayat, namun membiarkan korupsi terus berlangsung, sehingga benar kemudian sepanjang masa Dinasti Bani Abbasiah, umat benar-benar tertipu dengan muslihat sang Khalifah yang berselingkuh dengan sebahagian besar Ulama dengan tampilan seakan muslim yang baik dan berlidung dibalik jubah agama, namun prilakunya sangat tidak beradab.

Dinasti Bani Umayyah kemudian di habisi sampai ke akar-akarnya oleh Bani Abbasiyah. Mereka yang masih tersisa dari Bani Umayyah menetap di Andalusia dan memerintah secara otonom, yang akhirnya musnah jua ditelan zaman sampai tahun 1031 H.

Kembali ke kisah Al-Saffah, Khalifah ini punya kepandaian dalam bersandiwara, bukan hanya bengis di hadapan lawan politik dan penuh iman di hadapan pendukungnya, ia juga pandai bersandiwara ketika mengeksekusi musuh-musuhnya. Ia mengatur skenario pembantaian sisa-sisa kerabat Bani Umayyah layaknya sebuah drama opera sabun, ada plot, kisahnya berlangsung secara alamiah, mengalir kemudian ada klimaks danending-nya yang sudah di set. Kita akan mulai kisah ini dengan babak sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Atsir. Ibnu Atsir menuturkan “Di saat al-Saffah sedang melakukan perjamuan yang ramah terhadap Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik, Sudaif sang penyair datang sembari melantunkan syairnya:

Jangan silau akan tampilan seseorang

Jika sumsum simpan penyakit mematikan

Hunuskan pedang, sediakan lecutan

Sampai tak tersisa keluarga Umayyah pun seorang

Kontan, Sulaiman tertegun seketika, lalu berkata: “Anda benar-benar telah membunuhku, wahai Syekh (Sudaif)!” Al-Saffah pun langsung beranjak masuk ke ruang pribadinya sambil menarik Sulaiman. Ia menghabisi nyawanya.

Suatu ketika Al-Saffah memberikan jaminan keamanan kepada keluarga Umayyah lainnya yang berjumlah 90 orang. Setting peristiwa masih tetap berada di tempat perjamuan makan yang sama. Dan sepanjang pembuat acara adalah Khalifah, kemurahan hati akan dipastikan tetap terjaga. Rasa amanpun tak pantas disangka-sangka. Tapi secara mengejutkan, seorang penyair datang seraya melantunkan syair:

Kekuasaan tidak akan goyah

Di tangan Badut-Badut Bani Abbas

Atas Bani Hasyim ia menuntut balas

Setelah lama terbuang tabah

Jangan lagi tergelincir oleh Abdus Syam

Penggallah tiap tunas yang sedang mengembang

Mendengar syair itu, al-Saffah lalu memerintahkan untuk menghantam kepala mereka semua dengan pentungan besi. Sebagian pecah kepala, tetapi jasadnya tetap bernyawa, dalam kondisi yang mengenaskan. Tatkala al-Saffah menyaksikan sekitar 90 orang yang sedang meregang nyawa, ia meninggikan suara sambil menuturkan titah: ‘Gelar permadaniku untuk bersantap secara lesehan di atas mereka!’ Ia dan orang-orangnya memulaidinner party (santap malam), sementara permadani menari ke kanan dan ke kiri. Tatkala permadani tidak lagi bergerak, mereka pun selesai dari kunyahan mereka sambil mengucap alhamdulillah dan tahniah kepada para tentara dan kerabatnya.

Apabila para Khalifah gemar mendeklarasikan dirinya sebagai “tukang jagal semena-mena” (al-Saffah al-Mubih) untuk menunjukkan kebengisannya, begitu pula tingkah seorang gubernurnya. Dalam Tarikh al-Ya’qubidisebutkan Rayyah bin Utsman selaku gubernur Madinah dimasa al-Mansur menggelari dirinya sebagai “si ular anak si ular”. Kondisi di masa ini menunjukkan pada kita bahwa otoritarianisme yang di balut agama tidak hanya terjadi di barat, dan menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak perlu mengusulkan adanya pembagian kekuasaan, menciptakan mekanisme kontrol dan Undang-Undang yang menjamin Negara tidak jatuh pada despotisme.

Abul A’la al-Maududi dalam al-Khilafah wa al-Mulk menceritakan kembali berdasarkan riwayat dari Ibnu Atsir dan al-Thabari; tidak lama kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan al-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan dikalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamananya”. Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqih terkenal di Khurasan bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani (pendiri Negara Khurasan yang kemudian menyerahkannya ke al-Saffah). Namun ketika ia (setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu) menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Abu Ja’far al-Mansur, Khalifah kedua Bani Abbasiyah naik tahta. Ia melakukan intrik politik agar Abu Muslim al-Khurasani bersedia membunuh Abdullah bin Ali (paman al-Saffah sekaligus panglima pasukan Abbasiyah di peperangan Zab yang menuntaskan kemenangan mereka terhadap orang-orang Umayyah). Setelah misi tuntas, ia sendiri yang turun tangan menghabisi Abu Muslim al-Khurasani. Abu Ja’far tidak peduli ketika Abu Muslim memohon: “Tidakkah lebih baik engkau biarkan aku hidup untuk menyingkirkan musuh-musuhmu?” Tetapi Abu Ja’far menampik: “Siapakah musuh yang lebih mematikan dari dirimu?!”.

Abu Ja’far al-Mansur bersekutu dengan Pepin dan Charlemagne, yang menguasai sebagian besar daratan Eropa pada abad pertengahan, demi menaklukkan Abdur Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, Khalifah Umayyah di Andalusia. Namun ia gagal menaklukkannya. Kita mungkin berfikir kalau Khalifah tidak sepantasnya bekerjasama dengan kafir harbi fi’lan (Negara kafir yang secara terang-terangan memerangi umat Islam) karena tindakan seperti ini di haramkan syara’, apalagi bekerjasama untuk membantai umat Islam sendiri. Kita juga mungkin berfikir bahwa situasi seperti ini hanya terjadi di zaman kita. Kekuasaan telah menggelapkan mata mereka. Bagi al-Mansur, prinsip politiknya: “Lakukanlah apapun, tempuh jalan manapun, bersekutulah dengan musuhnya musuhmu, demi mencapai tujuanmu dan menang atas musuhmu”. Artinya, ia benar-benar telah melupakan Islam, masa bodoh dengan hukum-hukum al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan diri sedapat mungkin dari teladan para Khulafa’ al-Rasyidun. Ia hanya mengingat dirinya sebagai “penguasa Tuhan di muka bumi”, tipikal penguasa Arab-Quraisy. Ia mendasarkan kekuasaannya atas hak Bani Abbas terhadap Khalifah, bukan berdasarkan hak rakyat untuk memilih.

Al-Mansur juga terkenal anti kritik. Suatu ketika Ibnu Muqaffa mengirimkan untuk al-Mansur buku yang berjudul Risalah al-Sahaabah (Risalah tentang Para Sahabat). Buku itu berisi nasihat untuk Khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Nasihat itu ia sampaikan dengan sangat santun. Boleh jadi, ia sedang mengharap penghargaan materi yang pantas untuk karyanya dengan mengirimkannya kepada Khalifah. Dan mungkin, ia pun tidak mengira bahwa sekedar memberi nasihat kepada penguasa adalah tindak kriminal. Kaki dan tangan Ibnu Muqaffa dicincang satu per satu. Potongan dagingnya di panggang di atas bara api, tepat di hadapannya. Setelah matang, satu per satu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Ibnu Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya.

Mungkin Ibnu Muqaffa pun bertanya tatkala harus mengunyah jasadnya sendiri atas perintah “pemimpin kaum beriman”: pemimpin apa dan beriman seperti apa??? Ia mungkin bertanya, inikah hakikatnya kekuasaan Khilafah yang disebut “Islamiyah” itu? Islamiyah apanya??? Mungkin saat itu ia juga menyadari apa yang sekarang mesti pula disadari oleh para pejuang Khilafah dan sistem syariah, dan mereka yang memandang remeh usulan pembatasan dan pembagian kekuasaan, yang berfantasi tentang nikmatnya Negara despotik yang mengatasnamakan agama.

Namun demikian, walaupun al-Mansur masuk sejarah dari aspek yang paling bejatnya, ia tetaplah tercatat sebagai seorang negarawan besar yang berhasil mengukuhkan kekuasaannya dan mewariskannya kepada keturunan-keturunannya, meskipun dibangun di atas genangan darah. Dan kenyataan bahwa ia semena-mena, sebetulnya juga tidak lepas dari fatwa para fuqaha, ketakutan sebagian, dan bungkamnya sebagian yang lain. Juga yang terpenting tidak jalannya fungsi-fungsi pemerintahan, tidak adanya pembagian kekuasaan dan check and balance.

Era Abbasiyah adalah era pemerintahan paling bergairah dalam kebangkitan akal dan peradaban. Dan paling maju dalam soal fiqih. Dan untuk melengkapi gambarnya, kita dapat pula menyebutnya paling maju dalam soal kenikmatan hidup dan durjananya, ini ditandai dengan maraknya dunia hiburan dan kemaksiatan. Farag Fauda mengatakan, kondisi ini didorong oleh banyak faktor, namun barangkali faktor utamanya adalah apa yang di masa sekarang disebut sebagai “iklim kondusif” yang membuka peluang untuk kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di masa lalu minuman keras, musik dan tarik suara menjadi kegemaran para Khalifah-Arab dalam pesta-fora mereka. Ini karena Ulama juga membolehkannya. Saat itu para fuqaha Irak yang terdiri dari murid-murid Abu Hanifah mempunyai fatwa yang membolehkan minuman keras. Sementara itu ulama Hijaz membolehkan musik dan nyanyian. Itulah iklim atau suasana umum yang mendorong maraknya musik dan minuman keras serta konsekuensi-konsekuensi lain seperti maraknya dunia hiburan, perempuan penghibur, dan penyimpangan perilaku seksual. Dunia hiburan sudah menjadi bagian dari kenikmatan masyarakat kala itu. Untuk soal menikmati perempuan penghibur, al-Mahdi dan putranya, Harun al-Rasyid adalah jagonya. Untuk soal penyimpangan seksual, al-Watsiq adalah bintangnya.

Mengenai maraknya minuman keras itu, “iklim kondusif” bukan hanya datang dari Khalifah, tapi pendapat fuqaha kala itu yang merupakan murid-murid Abu Hanifah yang merujukkan pendapatnya dari Abdullah bin Mas’ud yang kemudian mengambil kesimpulan bahwa kata khamar dalam al-Qur’an adalah air sari buah anggur berdasarkan makna kebahasaan dan dari hadits-hadits nabi lainnya. Pemahaman inilah yang membuat Abu Hanifah berijtihad menyangkut halalnya beberapa jenih khamar seperti sari buah kurma dan kismis. Dengan catatan, bahan-bahan itu diolah sewajarnya dan diminum dengan kadar tidak memabukkan.

Masa Abbasiyah ini diramaikan pula dengan maraknya perbudakan dan pergundikan. Perbudakan dan pergundikan bersumber dari sistem perdagangan budak yang masih ramai di masa itu, dan hasil pampasan perang. Asal mereka pun bermacam-macam, ada gundik Romawi, Persia dan Ethiopia. Terjadinya surplus budak ini menimbulkan fenomena saling menghadiahi selir, yang menjadi kebiasaan umum. Jumlah gundik-gundik yang dimiliki para petinggi Negara semakin berkembang dalam sejarah imperium Islam. Dari belasan di masa sahabat, menjadi puluhan pada masa Umayyah, mencapai ratusan pada masa Yazid bin Abdul Malik, dan menembus angka ribuan pada masa Abbasiyah. Bilangan ini bahkan mencapai angka 4000 (empat ribu) orang di masa al-Mutawakkil. DalamTarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan Khalifah yang gemar minum-minuman keras ini konon telah meniduri seluruh empat ribu gundiknya selama seperempat abad masa kepemimpinannya. Tentu ini merupakan rekor tertinggi kepemilikan gundik yang pernah tercatatkan dalam sejarah umat manusia yang seharusnya masuk ke dalam catatan Book of Record.

Membaca sejarah kehidupaan Khalifah di masa itu, pembaca mungkin terheran-heran, mengapa masyarakat Islam di masa itu jauh dari kehidupan Islam, padahal masa itu adalah masa kekhilafahan. Kita mungkin berimajinasi bahwa masyarakat Islam dan pemimpin-pemimpinnya di masa kekhilafahan adalah masyarakat yang dekat dengan agama, dan syariat diterapkan secara total dalam semua aspek kehidupan. Namun anggapan itu salah, masyarakat Islam kala itu tidak lebih baik dari masyarakat kita saat ini yang sebagian dari Anda menganggapnya sebagai “masyarakat jahiliah modern” atau jauh dari agama (ideologi) Islam yang sebenarnya. Saat itu, syariat memang diterapkan, tapi diterapkan secara “kreatif” dan tebang pilih.

Pembacaan sejarah akan dilanjutkan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid yang sangat terkenal itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihan, tentunya orang sudah kenal dengan siapa Harun al-Rasyid, atau paling tidak dengan al-Ma’mum dan al-Mu’tasim.

Pasca Harun al-Rasyid, putranya al-Amin (Shalih bin Harun) naik tahta. Al-Amin telah dinobatkan sebagai pengganti Harun semasa ia masih anak-anak. Harun al-Rasyid mewasiatkan bahwa setelah al-Amin naik tahta, jabatan Khalifah akan di lanjutkan oleh saudara al-Amin, yakni al-Ma’mun. Sementara al-Amin menjadi Khalifah, al-Ma’mun menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Namun kemudian, Khalifah al-Amin membatalkan hak Khalifah al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad al-Amin. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan perang saudara yang berujung pada dipenggalnya kepala al-Amin oleh panglima Tahir bin Husain yang di utus oleh saudaranya sendiri al-Ma’mun, setelah bala tentaranya berhasil menaklukkan tentara al-Amin dan memasuki Baghdad.

Al-Amin sebagai Khalifah ternyata juga dikenal abnormal dalam perilaku seksualnya. Dia sangat menyukai teman kencan seranjang sejenis dengan meninggalkan istri-istri dan gundik-gundiknya. Pacar yang sangat digandrungi oleh al-Amin bernama Kautsar, sementara Kautsar adalah seorang laki-laki tampan yang dibeli oleh Harun al-Rasyid sebagai hadiah buat al-Amin, karena dia mengetahui prilaku seksual anaknya. Satu peristiwa mencolok yang dilakukan oleh al-Amin terhadap kekasihnya Kautsar, yakni mengangkut dirham sebanyak tiga keledai untuk penyembuhan Kautsar karena cidera ringan, sementara dana tersebut sudah dialokasikan untuk biaya perang. Dan akhirnya al-Amin dihancurkan oleh para menteri dan gubernurnya sendiri karena ia lebih banyak berhura-hura, menghamburkan kas Negara dan asyik bermesraan dengan sesama jenis bernama Kautsar.

Satu Khalifah lagi yang kurang dikenal yang sangat piawai membuka babak baru sejarah dinasti keturunan Abbas bin Abdul Muthalib ini. Dia adalah al-Watsiq. Al-Watsiq adalah Khalifah terakhir Dinasti Abbasiah periode awal. Ia memerintah selama 6 tahun, ia seorang Transeks namun cenderung berperilaku homoseks, selama 6 tahun, nyaris waktunya digunakan dengan berpindah-pindah pelukan dari satu pria ke pria lainnya.

Satu pacar yang paling disukai oleh al-Watsiq adalah Muhaj, cowok keren dan sangat pandai memainkan perasaan al-Watsiq, sebuah pameo menceritakan, bila al-Watsiq sedang nyaman dalam pelukan Muhaj, maka stabilitas pemerintahan akan baik, namun jika al-Watsiq sedang cemburu buta dengan si Muhaj, maka dia akan mencari lawan-lawan politiknya untuk dibunuh. Prilaku homoseksual dua insan sesama jenis ini teruntai dalam syair ala dangdut:

Muhaj menguasai jiwa ini,

Lewat kerlingan mata yang sungguh menawan

Tubuhnya indah mempesona

Amboi manjanya dan penuh gairah

Jika mata tertuju padanya

Ia tak lagi mampu berpindah

Al-Watsiq selama hidupnya tercatat telah menyusun lebih dari 100 syair lagu. Satu riwayat menceritakan, ketika al-Watsiq sedang mengadakan rapat bersama para pembesar istana, kemudian Muhaj yang memang menyadari akan posisinya, tiba-tiba muncul dengan melenggak-lenggokan badanya kemudian mengerlingkan mata kepada al-Watsiq dan membawakannya sekuntum bakung, sehingga al-Watsiq tanpa banyak bicara kemudian dari mulutnya meluncur syair-syair penuh birahi dan menyebabkan rapat penting tentang posisinya sebagai Khalifah menjadi runyam.

Al-Watsiq selain memiliki perilaku seks yang menyimpang, dia juga mempunyai sejarah inkuisisi seperti halnya ayahnya al-Ma’mum, kalau al-Ma’mum meninkuisisi Imam Ahmad bin Hambal dan beberapa ulama lainnya, sementara al-Watsiq melakukan hal yang serupa terhadap Ahmad bin Nasr al-Khaza’i seorang ahli haditst, al-Khaza’i dijemput paksa dan dihadapkan kepada al-Watsiq bersama Ulama-Ulama pelat merah saat itu, dan terjadilah dialog tentang kemahlukan al-Qur’an, namun karena al-Khaza’i tetap teguh dengan pendapatnya, akhirnya al-Watsiq meminta sebilah pedang sambil berkata, jika aku bergerak jangan ada yang ikut bergerak, aku akan menghitung langkahku menuju si kafir yang tidak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan kita. Lalu ia meminta dibentangkan permadani tempat al-Khaza’i bersimpuh, lalu dipancungnyalah sang ahli hadits itu.

Sampai disini dululah pembacaan sejarah Bani Abbasiyah

Semua kezaliman pemerintahan Yazid berawal dari Muawiyah. Muawiyah adalah orang yang menjadikan manusia semacam Yazid sebagai khalifah

Gimana ya? Sunni kok Begini..?!!

Mau jadi sunni, bingung dulu… Udah jadi sunni, tambah bingung… Piye to yaaa…????????????????

Siapa yang tidak kenal Yazid bin Muawiyah?. Uraian prestasinya [baca : aib] bisa terukir dalam berpuluh-puluh lembar. Yazid orang yang merusak ketentraman Madinah, Yazid biang keladi pembantaian Ahlul Bait di karbala, Yazid peminum khamar, Yazid seorang nashibi dan Yazid yang dikatakan oleh sebagian ulama dengan predikat laknatullah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah kata pepatah, begitu anaknya begitu pula ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan.

Semua kezaliman pemerintahan Yazid berawal dari Muawiyah. Muawiyah adalah orang yang menjadikan manusia semacam Yazid sebagai khalifah bagi umat islam saat itu. Muawiyah menghalalkan segala cara agar Yazid bisa menjadi khalifah dan dibaiat oleh kaum muslim, bahkan dengan cara paksaan dan ancaman bunuh.

وحدثنا وهب قال حدثني أبي عن أيوب عن نافع قال خطب معاوية فذكر ابن عمر فقال والله ليبايعن أو لأقتلنه فخرج عبد الله بن عبد الله بن عمر إلى أبيه فأخبره، وسار إلى مكة ثلاثا، فلما أخبره بكى ابن عمر، فبلغ الخبر عبد الله بن صفوان فد خل على ابن عمر فقال أخطب هذا بكذا ؟ قال نعم. فقال: ما تريد ؟ أ تريد قتاله ؟ فقال: يا بن صفوان الصبر خير من ذلك. فقال ابن صفوان: والله لئن أراد ذلك لأقاتلنه. فقدم معاوية مكة، فنزل ذا طوى، فخرج إليه عبد الله بن صفوان فقال أنت الذي تزعم أنك تقتل ابن عمر إن لم يبايع لابنك ؟ فقال: أنا أقتل ابن عمر ؟ ! إني والله لا أقتله

Dan telah menceritakan kepada kami Wahab yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Ayub dari Nafi’ yang berkata Muawiyah berkhutbah, menyebutkan Ibnu Umar dan berkata “Demi Allah, dia harus membaiat atau aku akan membunuhnya”. Maka ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Umar keluar menemui Ayahnya untuk mengabarkan hal itu, ia berangkat ke Makkah selama tiga hari kemudian ketika ia mengabarkan hal itu, Ibnu Umar menangis. Sampailah kabar tersebut kepada ‘Abdullah bin Shafwan, kemudian ia menemui Ibnu Umar dan berkata “apakah orang itu berkhutbah begini begitu?. Ibnu Umar berkata “benar”. Ibnu Shafwan berkata “apa yang engkau inginkan? Memeranginya?. Ibnu Umar berkata “wahai Ibnu Shafwan bersabar lebih baik dari hal itu”. Ibnu Shafwan berkata “demi Allah, jika beliau menginginkan itu maka aku akan memeranginya”. Muawiyah datang ke Makkah dan singgah di Dzi Thuwa. Abdullah bin Shafwan keluar menemuinya dan berkata “engkau orangnya yang mengatakan akan membunuh Ibnu Umar jika dia tidak membaiat putramu?”. Muawiyah berkata “aku membunuh Ibnu Umar! Demi Allah aku tidak membunuhnya” [Tarikh Khaliifah bin Khayyaat hal 162/163]

Tidaklah mudah menawarkan hidayah Allah kepada para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, sebab sumber hidayah ilahi utama; al Qur’an al Karîm sudah mereka nomer-sekiankan, setelah riwayat (tidak terlalu penting kualitas shahih tidaknya) dan ucapan para pembesar kaum Salaf Shaleh (itupun mereka pilih yang kira-kira dapat mendukung atau paling tidak yang tidak merugikan dokma mereka!!)…

Ini adalah kenyataan betapa pun pahit dirasa dan berat diterima!

Secara terori, mereka mengklaim mengikuti Al Qur’an dan Sunnah dengan berdasarkan pemahaman Salaf! Namun kenyataannya, kasihan sekali Salaf Shaleh, mereka hanya diperalat… dikala dibutuhkan, mereka dipuja dan dirujuk… ketika tidak sejalan dengan akidah bentukan Sekte Salafi Wahhâbi apalagi bertentangan, pasti mereka segera dibuang… kalau perlu dikecam terang-terangan!

Dalam hal akidah posturisasi Allah, Salaf diperalat… mereka mengatakan bahwa mazhab Salaf adalah meyakini tajsîm dan tasybîh (walaupun para pengikut sekte Salafi Wahhâbi keberatan disebut sebagai kaum Mujassimah dan Musyabbbihah)…

Dalam hal pembelaan terhadap kaum munafik dan fasik durjana … sekali lagi Salaf dirujuk… tentunya yang sikapnya sejalan dengan doktrin Sekte sempalan Salafi Wahhâbi kata mereka, Salaf adalah menghormati dan menjunjung tinggi harkat para munafikun seperti Mu’awiyah putra pasangan Pak Abu Sufyan (gembong kaum kafir Quraisy yang berubah setrategi dengan menjadi munafik tulen) Tante Hindun (yang terkenal doyan pria kekar, masalah warna kulit tidak menjadi masalah, seperti Wahsyi) si pengunyah jantung Sayyiduna Hamzah paman Nabi saw.! atau Amr bin al Âsh, al Walîd dkk.

Karenanya, di sini saya tidak akan membawakan ayat-ayat suci al Qur’an atau hadis-hadis Nabi saw. tentang kemunafikan kaum munafik yang dibanggakan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi sebagai Amirul Mukmin, sahabat mulia dan pengemban amanat kerasulan yang disucikan sesuci-suciya… Dia adalah Mu’awiyah!

Kaum Salafi Wahhâbi meyakini Mu’awiyah tidak sekedar sahabat Nabi saw. yang mulia, tetapi selain itu ia adalah paman kaum Mukminin, penulis wahyu suci… pembela Islam nomer wahid setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman!

Tidak sedikit –kata kaum Salafi Wahhâbi- hadis-hadis pujian disabdakan Nabi saw. untuk Mu’awiyah… mereka telan mentah-mentah (sampai-sampai mereka keracunan akidah sesat memuji mengidolakan gembong-gembong kaum munafik)…

Tetapi benarkan Mu’awiyah adalah hamba Mukmin kepercayaan Allah dan rasul-Nya?

Atau benarkan Mu’awiyah itu Islam dengan sebenar arti kata? Tidak munafik dan memendam dendam kusumat kepada Allah dan nabi-Nya?

Siapakah yang lebih mengenal Mu’awiyah dan kaum munafik sejawatnya? Kita yang telah dipisah oleh waktu dan ruang dengannya atau para sahabat dan tabi’in yang hidup sezaman dengannya. Mengenalnya dari dekat menyaksikan langsung sepak-terjangnya?

Allah telah menyebutkan kemunafikan Mu’awiyah! Nabi Muhammad saw. juga menegaskan hal itu dalam banyak hadisnya!

Tetapi semua itu tidak ada nilainya di mata pengikut sekte Salafi Wahhâbi! Yang laku hanya ucapan para Salaf Shaleh!

Itu pun masih harus dipilih dan disleksi! Salaf yang boleh dirujuk untuk memberikan penilaian akan kemunafikan Mu’awiyah haruslah salaf yang juga paling tidak “agak-agak munafik” juga!! Agar tidak menyalahi pengagungan doktrin sekte Salafi Wahhâbi terhadap Tuan mereka; Sayyiduna Mu’awiyah!

Salaf shaleh yang Mumkin apalagi pelopor dalam keimanan maka harus disingkirka jauh-jauh!

Kalau terlanjur diriwayatkan ia memberikan penilaian buruk atas Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka harus segera dicacat riwayatnya… berapa pun ongkosnya!

Ammâr Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah Kaum Kafir!

Tidak ada sahabat Nabi saw. yang paling menyebalkan buat kaum Salafi Wahhâbi melebihi Ammâr bin Yâsir (sahabat agung dan mulai yang surga rindu kepadanya)… pasalnya karena Ammâr ra. membela Sayyidin Ali as. Dan sangat membenci Mu’awiyah dan bersumpaj mengatakan bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah kaum kafir yang hanya berpura-pura menerima Islam sambil menanti pembela yang membelanya untuk memerangi dan menghancurkan Islam!

Banyak sekali bukti yang memuat sumpah Ammâr bin Yâsir ra. tersebut! Ia telah direkam oleh belasan kaum tabi’in terpercaya dan diabadikan dalam banyak leteratur utama dan terpercaya dengan sanad yang shahih!

Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyajikan satu saja di antara riwayat shahih sumpah Ammâr bin Yâsir ra., sambil menanti reaksi dari Barisan Pembela Kaum Munafik (BPKM) dari sekte Salafi Wahhâbi, yang pasti akan berontak dan segera menuduh kami Syi’ah Rafidhah … pembenci para sahabat dan tuduhan-tuduhan murahan lainnya!

Ya, pasti mereka akan mencarikan seribu satu alasan untuk menolak riwayat shahih yang akan saya sajikan di bawah ini! Mereka malu (jika masih punya rasa malu) kalau terbongkar bahwa mereka telah mengkhianati para Salaf Shaleh yang tegas-tegas bersumpah mengatakan bahwa Mu’awiyah –Tuan kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi- dan antek-anteknya adalah kafif!

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dalam Târîkh-nya yang dikenal dengan namaTârîkh Ibn Abi Khaitsamah,2/991, ia berkata:

حَدَّثَنَا أبي (زهير بن حرب ثقة) ، قال : حَدَّثَنا جَرِير ( هو ابن عبد الحميد ثقة)، عَنِ الأَعْمَش ( ثقة) ، عن مُنْذِرٍ الثَّوْرِيّ ( ثقة) ، عن سَعْد بن حُذَيْفَة ( ثقة) ، قال : قال عَمَّار (بن ياسر) – أي يوم صفين- : ( والله ما أَسْلَموا ولَكِنَّهُم اسْتَسْلَمُوا وأسرُّوا الْكُفْر حَتَّى وجدوا عليه أَعْوَانًا فأَظْهَروه ) اهـ.

“Ayahku (Zuhair bin Harb) berkata, ‘Jarîr (bin Abdul Hamîd) telah menyampaikan hadis kepadaku dari A’masy dari Mundzir ats Tsuari dari Sa’ad bin Hudzaifah ia berkata: “Ammâr (bin Yâsir) berkata (pada hari peperangan Shiffîn), ‘Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”

Ustad Husain Ardilla Berkata:

Saya berharap para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, khususnya para ustadz (sebab kaum awam mereka hanyalah korban pembodohan, walaupun tidak sedikit ustadz-ustadz yang awam; sama-sama korban pembodohan) mau melihat ucapan Sayyiduna Ammâr ra. dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menilai siapa yang laik dipuji… disanjung… diidolakan dan dicintai serta kecintaan kepadanya dijadikan sebagai bagian dari akidah penentu surga neraka!

Apakah kurang jelas penegasan Sayyiduna Ammâr ra. Yang ia kuatkan dengan sumpah itu?!

Apakah Sayyiduna Ammâr bin Yâsir bukan Salaf Shaleh! Dan yang Salaf Shaleh hanya gembong-gembong kaum munafik dari keturunan pohon terkutuk; bani Umayyah?!

Saya hanya meminta kejujuran kalian dalam beragama! Pikirkan, sampai kapan kalian terus membela aimmatul kufri,para pemimpin kaum kafir/munafik seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid, Hajjâj bin Yusuf, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan dkk. dengan mengatas-namakan Ahlusunnah wal Jama’ah?! Dengan mengatas-namakan Salaf Shaleh?!

Ahlusunnah adalah pembela kaum shalihin…. bukan pembela kaum dzalimin!!

Sekali lagi, saya hanya menyajikan satu dari ucapan Sayyiduna Ammâr ra. Sebagaimana saya sengaja tidak menghadirkan ayat-ayat al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. tentangnya… sebab makanan doyanan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi adalah yang diramu tangan-tangan Salaf Shaleh!

Salam sejahtera bagi yang mau tunduk kepada petunjuk Allah.

Mufti Ahlusunnah Perancis masuk Syiah

Perancis:
Mufti Ahlusunnah Perancis masuk Syiah

 

Malangnya sampai berusia 68 tahun saya masih belum juga mengenal Syiah , sekarang saya berbahagia. Sebelum ini saya safar ke Madinah tetapi masih belum mengenal Syiah dan Ahlul Bait (as) sampai akhirnya saya berkesempatan ke Karbala. Mereka menyembunyikan Ahlul Bait di Madinah namun hari ini saya telah menemukannya. 

 Mufti Ahlusunnah Perancis masuk SyiahSyaikh Sankoh Muhammadi, mufti serta imam masjid Ahlusunnah Perancis telah menerima Syiah sebagai mazhabnya setelah melakukan safar ilmiah di Iraq. Ulama yang aslinya berasal dari negara Kamerun tersebut telah menjadi warga negara Perancis setelah 43 tahun menetap di negara tersebut.

Syaikh Sankoh baru-baru ini telah melakukan perjalanan ke kota Karbala. Beliau sering berdialog dengan Syaikh Walid Al-Baaj (ulama Syiah) dengan kehadiran peneliti Tunisia, Muhamad Saleh al-Hinshir yang menjadi penerjemah bahasa Arab ke bahasa Perancis.

Mufti Ahlusunnah tersebut menyatakan rasa suka citanya telah melakukan lawatan ke Karbala. Ketika ditanya tentang perasaannya mengenai Syiah, beliau menyatakan rasa takjub ketika melakukan penelitian tentang mazhab tersebut. Kata beliau, meneliti Syiah membuat pemikirannya semakin bebas dan berlogika sebagaimana seorang manusia yang merdeka. Menurutnya lagi sudah menjadi tanggung jawab beliau untuk menyebarkan realitas kebenaran yang telah ditemukannya ke seluruh dunia.

Beliau bahkan sempat menyatakan rasa penyesalannya karena baru mengenal Syiah di usia menjelang uzur, 68 tahun. Sekarang tanggung jawab yang disandangnya menurutnya adalah menjadi seorang pendakwah Syiah.

Menceritakan pengalaman ketika berada di pemakaman Ahlul Bait di Baqi’, katanya air mata beliau menetes setelah mengetahui kebenaran Islam.

Beliau turut meninggalkan pesan kepada kaum muslimin supaya lebih memperbanyak bacaan dan penyelidikan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar ke seluruh dunia

Tsaqifah : dua suku mengatur siasat supaya kekhalifahan tidak keluar dari kalangan Aus dan Khazraj, namun Abubakar dan Umar yang menuai kemenangan !

Sejarah Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah versi Sunni :

Sejarah Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah versi Syi’ah :

ketika Jenazah Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peristiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka dan membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka.

Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ’idah pada hari Rasulullah saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekhalifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Rasulullah saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum.

Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Rasulullah saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Rasulullah saw. sedang mengigau sehingga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.

Rasulullah SAW sudah wafat, mereka lalu terpencar-pencar.

Golongan Anshar menggabungkan diri kepada Saad bin Ubadah di Saqifah (semacam balairung) Bani Sa’idah; Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah menyendiri pula di rumah Fatimah; pihak Muhajirin, termasuk Usaid bin Hudzair dari Bani Abdul-Asyhal menggabungkan diri kepada Abu Bakar.

Sementara Abu Bakar dan Umar dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada orang datang menyampaikan berita kepada mereka, bahwa Anshar telah menggabungkan diri kepada Saad bin Ubadah, dengan menambahkan bahwa, “Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan dengan mereka, segera susullah mereka, sebelum keadaan jadi berbahaya.

Jenazah Rasulullah SAW masih di dalam rumah, belum lagi dimakamkan dan keluarganya juga sudah menutupkan pintu.

“Baiklah,” kata Umar menujukan kata-katanya kepada Abu Bakar. “Kita berangkat ke tempat saudara-saudara kita dari Anshar itu, supaya dapat kita lihat keadaan mereka.”

Para sejarahwan, penafsir Al-Qur’an dan perawi terkenal sering membuat kesalahan dalam melaporkan suatu peristiwa. Mereka menerima beritaberita sebagaimana disampaikan kepada mereka tanpa menilai mutunya. Mereka tidak membandingkannya dengan laporan-laporan lain yang serupa.

Mereka tidak mengukur laporanlaporan tersebut dengan ukuran-ukuran filsafat, dengan bantuan pengetahuan hukum alam, tidak juga dengan bantuan renungan dan wawasan sejarah. Mereka lalu tersesat dari kebenaran dan hilang dalam padang pasir perkiraan dan kesalahan-kesalahan yang tak dapat dipertahankan.

Tarikh Ibnu Khaldun:

Sekitar dzuhur, hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Muhammad saw, acuan umat Islam, pelakon drama kemanusiaan yang terbesar dalam sejarah, wafat. Dan pada petang hari itu juga seorang sahabat nabi, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah di Saqifah Bani Saidah, sebuah Balairung milik klan Saidah yang terletak sekitar 500 meter sebelah Barat masjid Nabi.

Pembaiatan [1] Abu Bakar sebagai khalifah pertama di Saqifah Bani Sa’idah, adalah peristiwa yang berekor panjang. Abu Bakar dan Umar sendiri kemudian mengakuinya sebagai tindakan keliru yang dilakukan secara tergesagesa, faltah [2] . Peristiwa ini telah menimbulkan perpecahan pertama dan terbesar yang kelanjutannya terasa sampai di zaman ini.

Naskah-naskah sejarah tradisional, tarikh annaqli, yang tertera dalam buku-buku sejarah lama, yang beredar dan tersebar luas, telah memungkinkan para ahli membuat rekonstruksi peristiwa besar itu. Penulis membuat rekonstruksi peristiwa Saqifah berdasarkan pidato Umar bin Khaththab dalam khotbah Jum’atnya yang terakhir. Khotbah ini didengar banyak orang dan dicatat oleh hampir seluruh penulis sejarah lama dengan isnad yang lengkap dan melalui banyak jalur, sehingga pidato Umar ini diterima oleh semua ahli sebagai sumber yang patut dipercaya.

Naskah tertua yang mencatat pidato Umar ini ialah asSirah an Nabawiyah, yakni riwayat hidup Nabi Muhammad saw karya Ibnu Ishaq, yang sampai kepada kita melalui “revisi” Ibnu Hisyam. “Celah-celah” pidato Umar ini kemudian diisi dengan sumber lama lainnya, sehingga pembaca dapat mengikuti peristiwa itu dalam satu rangkaian yang terpadu. Bagi yang dapat membaca dalam bahasa Arab, tersedia banyak buku mengenai peristiwa itu, baik yang ditulis secara khusus, maupun yang terselip dalam rangkaian tulisan lain. Dua buku semacam itu adalah as-Saqifah oleh Syaikh Muhammad Ridha alMuzhaffar dan AsSaqifah wal-Khilafah oleh ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud. [3].

Bagi pembaca awam perlu diingatkan, bahwa menulis sejarah tidak sama dengan menulis buku dakwah untuk memperkuat keyakinan yang telah lama dianut. Penulis sejarah menulis apa adanya; tulisannya dapat berbeda dengan hipotesa atau keyakinannya semula. Dalam menulis suatu peristiwa sejarah ia harus mengumpulkan. Semua laporan tentang peristiwa tersebut dan harus bertindak sebagai hakim di pengadilan yang mengambil keputusan dari keteranganketerangan para saksi. Hal ini disebabkan kerana para penulis sejarah zaman dahulu, terutama pada zaman para sahabat dan tabi’in [4], sering menyampaikan laporan-laporan yang banyak tentang suatu peristiwa.

Laporan-laporan ini demikian rumit dan kadang-kadang saling bertentangan. Oleh kerana itu di beberapa bagian penulis terpaksa memuat laporan itu selengkap-lengkapnya. Sebagai contoh pembaca dapat melihat catatan pada bab ‘Pengepungan Rumah Fathimah’.

Penulis sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi pelapor suatu peristiwa dan para penyalur yang membentuk rangkaian isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka kerana kelemahan-kelemahan manusiawi seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya.

Sejak permulaan abad ke20 ini, telah muncul para peneliti dan penulis yang sangat tekun, antara lain yang namanya disebut di atas; namun tulisan-tulisan mereka, dalam bahasa Arab, tidak berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan kerana bukubuku sejarah lama telah terlanjur tersebar luas dan melembaga dalam rumusan akidah. Sebuah laporan yang diriwayatkan dalam buku sejarah dikutip ke dalam buku-buku dakwah, seperti mengutip Hadis, kemudian dikhotbahkan di masjid-masjid tanpa membandingkannya dengan laporanlaporan serupa yang lain, dan tidak juga diteliti dengan dasardasar metode sejarah.

Pada zaman dulu, ulama adalah manusia dua dimensi. Ia adalah ilmuwan dan sekaligus juga juru dakwah yang mengajak kaum awam mendekati agama; ia meneliti dan mengajar. Lama kelamaan, kedudukan seorang ulama makin beralih ke tugas dakwah, dan mengabaikan segi penelitian. Penelitian sejarah di zaman sahabat pun dilupakan. Maka timbullah semboyan yang terkenal: ‘Kita harus membisu terhadap segala yang terjadi di antara sahabat’ .

Para ulama telah menjadi juru dakwah sematamata, yang pekerjaannya ialah berdakwah dan mengajarkan agama. Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah zaman para sahabat serta tabi’in generasi pertama dan kedua. Dan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup seribu tahun lalu. Para pembaharu cenderung membangun pikirannya di atas permukaan, dan tidak menelusuri khazanah kebudayaan Islam yang kaya, yang merentang dalam kurun waktu yang panjang.

Dimensi-dimensi luas yang terkandung dalam AlQur’an, telah dibiarkan membeku dan tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Itulah sebabnya, bukubuku yang mengandung hasil studi yang kritis, tidak lagi mendapatkan pasaran. Membaca bukubuku ini dianggap tidak memberi manfaat, karena pikiran-pikiran baru ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah ‘mantap’ dalam keyakinan. Pada sisi lain, kelemahan dalam segi kepemimpinan membuat para ulama sukar memasarkan ‘pikiran-pikiran barunya’. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi kewajiban untuk menaati para ulama mujtahid yang kompeten, yang masih hidup, sebagai Imam.

Buku kecil ini sebenarnya hanyalah kumpulan kutipan dari para sejarahwan awal dan bukanlah ‘barang baru’, kecuali bagi yang tidak membaca buku buku sejenis dalam bahasa Arab. Bagi mereka, membaca buku ini akan menimbulkan unek-unek, kerana mungkin melihat adanya sumber lain yang tidak dikutip penulis. Misalnya, penulis sangat kritis terhadap hadis ramalan politik, hadis dan riwayat dari Saif bin Umar Tamimi dengan cerita Abdullah bin Saba’nya, hadis dari Abu Hurairah serta hadis keutamaan, fadha’il, yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan peristiwa Saqifah. Karena itu penulis perlu membicarakan walaupun sepintas laludalam pengantar ini, satu demi satu.

Ala kulli hal, kaum Anshar merupakan tulang punggung bagi kekuatan bersenjata pasukan Rasulullah saw. dan mereka pernah menebarkan kesedihan dan duka di rumah-rumah kaum Quraisy yang kala itu hendak melakukan perlawanan terhadap Rasulullah saw. Ketika itu orang-orang Quraisy betul-betul merasa dengki terhadap kaum Anshar. Oleh karena itu, kaum Anshar segera mengadakan muktamar, karena khawatir terhadap kaum Muhajirin.

Hubâb bin Munzdir berkata: “Kami betul-betul merasa khawatir bila kalian diperintah oleh orang-orang yang anak-anak, nenek moyang, dan saudara-saudara mereka telah kita bunuh.”

Kekhawatiran Hubbâb itu ternyata menjadi kenyataan. Setelah usia pemerintahan para khalifah usai, dinasti Bani kaum Umayyah berkuasa. Mereka berusaha untuk merendahkan dan menghinakan mereka. Mu’âwiyah telah berbuat zalim dan kejam. Ketika Yazîd bin Mu’âwiyah memerintah, ia juga bertindak sewenang-wenang dan menghancurkan kehormatan mereka dengan berbagai macam siksa dan kejahatan. Yazîd menghalalkan harta, darah, dan kehormatan mereka pada tragedi Harrah. Sejarah tidak pernah menyaksikan kekejian dan kekezaman semacam itu.

Ala kulli hal, pada muktamar Tsaqîfah tersebut, kaum Anshar mencalonkan Sa’d sebagai khalifah, kecuali Khudhair bin Usaid, pemimpin suku Aus. Ia enggan berbaiat kepada Sa’d karena kedengkian yang telah tertanam antara sukunya dan suku Sa’d, Khazraj. Sudah sejak lama, memang hubungan antara kedua suku ini tegang.

‘Uwaim bin Sâ’idah bangkit bersama Ma’n bin ‘Adî, sekutu Anshar, untuk menjumpai Abu Bakar dan Umar. Mereka ingin memberitahukan kepada Abu Bakar dan Umar peristiwa yang sedang berlangsung di Tsaqîfah. Abu Bakar dan Umar terkejut. Mereka segera pergi menuju ke Tsaqîfah secara tiba-tiba. Musnahlah seluruh cita-cita yang telah dirajut oleh kaum Anshar. Wajah Sa’d berubah. Setelah terjadi pertikaian yang tajam antara Abu Bakar dan kaum Anshar, kelompok Abu Bakar segera bangkit untuk membaiatnya. Umar yang bertindak sebagai pahlawan dalam baiat itu telah memainkan peranannya yang aktif dalam ajang pertikaian kekuasaan itu.

Dia menggiring masyarakat untuk membaiat sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar keluar dari Tsaqîfah diikuti oleh para pendukungnya menuju ke masjid Rasulullah saw. dengan diiringi oleh teriakan suara takbir dan tahlil. Dalam baiat ini, pendapat keluarga Nabi saw. tidak dihiraukan. Begitu pula pendapat para pemuka sahabatnya, seperti Ammâr bin Yâsir, Abu Dzar, Miqdâd, dan sahabat-sahabat yang lain.

Sikap Imam Ali as. Terhadap Pembaiatan Abu Bakar

Para sejarawan dan perawi hadis bersepakat bahwa Imam Ali as. menolak dan tidak menerima pembaiatan atas Abu Bakar. Ia lebih berhak untuk menjadi khalifah. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Kedudukan Ali as. di sisi Rasulullah saw. adalah seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Islam tegak karena perjuangan dan keberaniannya. Dia mengalami berbagai macam bencana dalam menegakkan Islam. Nabi saw. menjadikan Ali as. sebagai saudaranya. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada kaum muslimin: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah juga pemimpinnya.”

Atas dasar ini, Ali as. menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat untuk menyeret Ali as. dan memaksanya berbaiat. Umar bin Khaththab bersama sekelompok pengikutnya mengepung rumah Ali as. Umar menakut-nakuti, mengancam, dan menggertak Ali as. dengan menggenggam api untuk membakar rumah wahyu itu.

Buah hati Rasulullah saw. dan penghulu para wanita semesta alam keluar dan bertanya dengan suara lantang: “Hai anak Khaththab, apa yang kamu bawa itu?” Umar menjawab dengan keras: “Yang aku bawa ini lebih hebat daripada yang telah dibawa oleh ayahmu.”

Sangat disayangkan dan menggoncang kalbu setiap muslim! Mereka telah berani bertindak keras seperti itu terhadap Az-Zahrâ’ as., buah hati Rasulullah saw.

Padahal Allah rida karena keridaan Az-Zahrâ’ dan murka karena kemurkaannya. Melihat kelancangan ini, tidak ada yang layak kita ucapkan selain innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.

Akhirnya, mereka memaksa Imam Ali as. keluar dari rumahnya dengan paksa. Para pendukung Khalifah Abu Bakar menyeret Imam Ali as. untuk menghadap dengan pedang terhunus. Mereka berkata dengan lantang: “Baiatlah Abu Bakar! Baiatlah Abu Bakar!”

Imam Ali as. membela diri dengan hujah yang kokoh dan tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekerasan dan kekezaman mereka. Ia berkata: “Aku lebih berhak atas masalah ini daripada kalian. Aku tidak akan membaiat kalian, tetapi kalian sebenarnya yang harus membaiatku. Kalian telah merampas urusan ini dari kaum Anshar dengan alasan bahwa kalian memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi saw.

Tetapi kalian telah menggasab kekhalifahan itu dari kami Ahlul Bait secara paksa. Bukankah kamu telah mengaku di hadapan kaum Anshar bahwa kamu lebih utama dalam urusan ini daripada mereka karena Nabi Muhammad saw. berasal dari kalangan kalian, sehingga mereka rela memberikan dan menyerahkan kepemimpinan itu kepadamu? Kini aku juga ingin berdalih kepadamu seperti kamu berdalih kepada kaum Anshar.

Sesungguhnya aku adalah orang yang lebih utama dan lebih dekat dengan Rasulullah saw., baik Ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Camkanlah ucapanku ini, jika kamu beriman. Jika tidak, maka kamu telah berbuat zalim sedang kamu mengetahuinya.”

Betapa indah hujah dan dalil tersebut. Kaum Muhajirin dapat mengalahkan kaum Anshar lantaran hujah itu, karena mereka merasa memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi saw. Argumentasi Imam Ali as. lebih tepat, lantaran suku Quraisy yang terdiri dari banyak kabilah dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw. itu bukan anak-anak paman atau bibinya. Sementara hubungan kekerabatan antara Nabi saw. dengan Imam Ali as. terjelma dalam bentuk yang paling sempurna. Karena Ali as. adalah sepupu Nabi saw., ayah dua orang cucunya, dan suami untuk putri semata wayangnya.

Walau demikian, Umar tetap memaksa Imam Ali as. Umar berkata: “Berbaiatlah!”
“Jika aku tidak melakukannya?”, tanya Imam Ali pendek.

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika engkau tidak membaiat, aku akan penggal lehermu”, jawab Umar pendek.
Imam Ali as. diam sejenak. Ia memandang ke arah kaum yang telah disesatkan oleh hawa nafsu dan dibutakan oleh cinta kekuasaan itu. Imam Ali as. melihat tidak ada orang yang akan menolong dan membelanya dari kejahatan mereka. Akhirnya ia menjawab dengan nada sedih: “Jika demikian, kamu telah membunuh hamba Allah dan saudara Rasulullah.”
Umar segera menimpali dengan berang: “Membunuh hamba Allah, ya. Tetapi saudara Rasulullah, tidak.”

Umar telah lupa dengan sabda Rasulullah saw. bahwa Imam Ali as. adalah saudaranya, pintu kota ilmunya, dan kedudukannya di sisinya adalah sama dengan kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Ali as. adalah pejuang pertama Islam. Semua realita dan keutamaan itu telah dilupakan dan diingkari oleh Umar.

Kemudian Umar menoleh ke arah Abu Bakar seraya menyuruhnya untuk mengingkari hal itu. Umar berkata kepada Abu Bakar: “Mengapa engkau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk memaksanya?”

Abu Bakar takut fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia akhirnya menentukan sikap: “Aku tidak akan memaksanya, selama Fathimah berada di sisinya.”

akhirnya mereka membebaskan Imam Ali as. Ia berlari-lari menuju ke makam saudaranya, Rasulullah saw. untuk mengadukan cobaan dan aral yang sedang menimpanya. Ia menangis tersedu-sedu seraya berkata: “Wahai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah meremehkanku dan hampir saja mereka membunuhku.”

Mereka telah meremehkan Imam Ali as. dan mengingkari wasiat-wasiat Nabi saw. berkenaan dengan dirinya. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan hati yang hancur luluh dan sedih. Benar telah terjadi apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. akan terjadi pada umat Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Mereka kembali kepada kekufuran. Allah swt. berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.

Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun ….” (QS. ?li ‘Imrân [3]:144)

Sungguh mereka telah kembali kepada kekufuran, kekufuran yang dapat menghancurkan iman dan harapan-harapan mereka. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.

Kita tutup lembaran peristiwa-peristiwa yang mengenaskan dan segala kebijakan pemerintah Abu Bakar yang tiran terhadap keluarga Nabi saw. ini, seperti merampas tanah Fadak, menghapus khumus, dan kebijakan-kebijakan yang lain. Seluruh peristiwa ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Mawsû’ah Al-Imam Amiril Mukminin as.

Referensi:
[1] Bai’at dalam bahasa Arab berarti “penepukan tangan ke tangan seseorang sebagai pengukuhan (ijab) penjualan”. Biasanya dilakukan dengan cara menjulurkan tangan kanan ke depan dengan tapak tangan menghadap ke atas dan pembaiat menepuk dan menjabatya, tetap dalam posisi demikian. Saling membaiat dilakukan dengan saling menepuk tangan (tashafaqu) atau saling menjual (tabaya’u). Berasal dari kata menjual (ba’a, yabi’u, bai, bai’ah). Dalam Islam baiat artinya menepuk tangan sebagai tanda kewajiban penjualan, sebagai tanda membuat kontrak jual beli atau sebagai tanda ketaatan akan kesepakatan yang telah diputuskan keduanya. Seorang membaiat seseorang, artinya ia berjanji kepada seseorang. Di zaman Nabi, baiat merupakan lembaga pengukuhan. Dalam peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah ini lembaga baiat untuk pertama kali digunakan sebagai lembaga pemilihan.

[2] Faltah, menurut kamus al-Mu’jam al-Wasith adalah ‘suatu peristiwa yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan tanpa memakai pikiran dan kearifan’, (alarm yahdutsu min ghairrawiyyah wa ihkim). ‘Umar bin Khaththab mengancam, bahwa bila ada yang melakukan hal serupa agar dibunuh. Ibnu alAtsir tatkala meriwayatkan peristiwa Saqifah menyamakan faltah dengan fitnah, lihat Tarikh alKamil, jilid 2, hlm. 157; Syaikh Muhammad alHasan mengatakan bahwa faltah adalah dasar dan kepala dari semua fitnah, asas al-fitan wa ra ‘suha; Lihat Dala’il Shiaq, jilid 3, hlm. 21.

[3] Syaikh Muhammad Ridha al-Muzhaffar, AsSaqifah, penerbit Mu’assasah alAlamiy
lil-Mathbu’ah, Cetakan keempat, Beirut, 1973; ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, As Saqifah wa’IKhilafah, Maktabah Gharib, Kairo, tak bertahun.

[4] Tabi’in, generasi sesudah generasi sahabat Rasul Allah saw.

Peristiwa Saqifah yang penuh keributan

–         Wafatnya Rasul dan amukan Umar.

Rasul wafat di hari senin selepas dhuhur. Pada tanggal 12 Rabiul awal, tahun 11 H. atau tepatnya tanggal 8 juni 632 M. Umar dan Mughirah bin syu’bah di perkenankan masuk ke kamar untuk melihat jenazah Rasul. Kedua orang ini termasuk prajurit dalam pasukan Usamah. Dan Umar membuka tutup wajah Rasul dan mengatakan bahwa Rasul hanya pingsan.

Tatkala meninggalakan kamar itu Mughirah berkata kepada Umar “ tetapi anda mengetahui bahwa Rasul telah wafat.” Umar menjawab “ anda bohong, Nabi tidak akan wafat sebelum memusnahkan orang munafiq.” Umar lalu mengancam akan membunuh siapa saja yang menagatakan Rasul telah wafat.

Melihat Umar, Ibn Umm Maktum membacakan ayat Al-Qur’an. “ Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya telah berlalu Rasul-Rasul. Apabila ia wafat atau terbunuh apakah kamu akan bebalik murtad ? tetapi barang siapa berbalik murtad, sedikit pun tiada ia merugikan Allah SWT. Allah SWT memberikan pahala kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.Ali-Imran : 144)

Kemudian setelah Ibn Umm Maktum membacakan ayat kepada Umar, Umar masih terlihat marah-marah, sambil mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasul telah wafat. Kemudian Salim bin Ubaid pergi kepada Abu Bakar yang tinggal di Sunh, sekitar satu kilometer ke arah barat masjid Nabi. Ia menceritakan apa yang terjadi. Tatkala Abu Bakar tiba, Umar juga masih marah-marah. Setelah itu Umar diam dan menunggu Abu Bakar keluar dari kamar Rasul. Kemudian setelah Abu Bakar keluar dari kamar Rasui, ia mengatakan “barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup. Tetapi barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya ia telah wafat.” Setelah itu Abu Bakar membacakan yat yag tadi di bacakan oleh Maktum. Umar lalu bertanya kepada Abu Bakar “ Apakah itunayat Al-Qur’an ? ” Abu Bakar kemudian menjawab “ ya”.

Kembali kepada perangai Umar yang ganjil, yang menperagakan keraguannya tentang wafatnya Rasul, ia menjadi cemas tentang masalah yang menyangkut pengganti Rasul. Ia takut dan cemas apabila orang Anshar dan yang lain (yaitu keluarga Rasul) mengambil kekuasaan, maka ia menciptakan keraguan dan memperagakan sikap enggan menerima kenyataan bahwa Rasul telah wafat, untuk melindungi agama,sambil menunggu kedatangan Abu Bakar. Ada beberapa faktor bahwa peragakan Umar adalah sebuah drama yang tidak rasional. Berikut adalah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Rasul telah wafat. Dan Umar pun mengetahui hal tersebut.

  1. Pada hari kamis, 4 hari sebelum Rasul wafat. Rasul telah meminta kertas dan tinta untuk mendiktekan wasiatnya,yang kemudian di halang-halangi oleh Umar bin Khotthob.
  2. Rasul pada akhir hayatnya mendatangi rumah Sayyidah Fatimah dan berbisik kepadanya bahwa akan segera wafat. Dan kemudian Fatimah bersedih mendengar hal itu. Kemudian Rasul berbisik kepada fatimah untuk yang kedualinya “ Engkau adalah anggota Ahlul Bayt yang pertama kali menemui ku. “ kemudian fatimah tersenyum. Ini telah menunjukkan bahwa Rasul segera wafat, mana mungkin Umar tidak mengetahui hal ini.

Apabila Umar demikian sedihnya melihat Rasul wafat, mengapa ia tidak mengurus jenazah Rasul, tetapi malah pergi ke Saqifah ? atau, setelah sampai ke pertemuan orang anshar di Saqifah, mengapa Umar tidak mengajak mereka untuk kembali ke masjid nabi dan mengurusi pemakaman Rasul ?.

–         Pengepungan Rumah Fatimah.

Perdebatan di Saqifah bani Saidah yang berakhir dengan terpilihnya Abu Bakar berekor panjang. Petang hari itu juga, setelah selesai pembaiatan, rombongan yang dipimpin oleh Abu bakar dan Umar beramai-ramai datang ke masjid Madinah. Dan beberapa puluh meter dari masjid, dirumah Fathimah, Ali dan Abbas sedang mengurus jenazah Rasul. Pada saat itu ada beberapa sahabat yang berada di rumah tersebut. Seperti Abu dzar, Miqdad, Salman, Ammar bin yasir dan lain-lain.

Abu bakar dan Umar menyadari sepenuhnya akan tuntutan Ali bin abi Thalib, yang sepanjang hidup Rasul di anggapa sebagai saudara Rasul dalam pengertian yang luas, yang mana Ali adalah wasyi Rasul, pemimpin setelah Rasul yang kedudukan Imam Ali disisi Rasul bagaikan Harun disisi Musa. Dan kemudian Abu bakar dan Umar menyuruh serombongan sahabat untuk memanggil Imam Ali dan membaiat Abu bakar di masjid. Setelah Imam Ali menolak, Umar menasehati Abu bakar untuk segera bertindak agar tidak terlambat, kemudian Umar mengepung rumah Imam Ali dan Sayyidah Fathimah dengan serombongan orang bersenjata dan mengancam akan membakar rumah itu. Cerita ini diriwayatkan di kitab Tarikh jilid 2 halaman 126.

Umar dan Khalid bin walid mendekat kerumah Fathimah. Umar masuk kedalam rumah, dan Khalid berdiri di dekat pintu. Kemudian Zubair, sepupu Rasul, memegang pedang, Umar berkata kepada Zubair “untuk apa pedang ini” Zubair menjawab “untuk membaiat Ali”. kemudian Umar merampas pedang Zubair dan mematahkannya dan melemparkannya ke batu. Zubair pun dikeluarkan dari rumah dan diserahkan kepada Khalid. Kemudian Umar berkata kepada Imam Ali “Hai Ali baiatlah Abu bakar!” Imam Ali tidak mau membaiat Abu bakar, maka Ali kemudian diseret dandiserahkan kepada Kholid kemudian Imam Ali berkata kepada Umar “engkau sedang memerah susu untuk Abu bakar dan dirimu sendiri, engkau bekerja untuknya hari ini, dan besok dia akan mengangkatmu menjadi penggantinya.”

Maka orang-orang pun berkumpul untuk menonton, dan jalan-jalan madinah pun  menjadi ramai. Setelah sayyidah Fathimah melihat apa yang diperbuat oleh Umar, Ia menjerit, sehingga seakan-akan keramaian menjadi sepi sejenak. Fathimah lalu keluar dari pintu dan berseru. “ Hai Abu bakar! Alangkah cepatnya anda menyerang keluarga Rasul. Demi Allah, saya tidak berbicara dengan Umar sampai say menemui Allah. Kalian mengetahui bahwa jenazah Rasul belumlah terkubur dan masih berada di dalam rumah ini. Kalian telah mengambil keputusan antar kalian sendiri, tanpa bermusyawarah dengan kami dan tanpa menghoramati hak-hak kami. Demi Allah aku katakan keluarlah kalian dari sini segera! Maka rombongan itu pun membubarkan diri dan tanpa mendapat bait dari Imam Ali.

Peristiwa Saqifah yang penuh keributan

Setelah kaum muslimin menyalati jenazah Nabi saw., Imam Ali as. menggali kuburan untuknya. Setelah itu, ia menguburkan jenazah sau-daranya itu.Kekuatan Ali telah melemah. Ia berdiri di pinggiran kubur sembari menutupi kuburan itu dengan tanah dengan disertai linangan air mata. Ia mengeluh: “Sesungguhnya sabar itu indah, kecuali terhadapmu. Sesung-guhnya berkeluh-kesah itu buruk, kecuali atas dirimu. Sesungguhnya musibah atasmu sangat besar. Dan sesungguhnya sebelum dan sesudah-mu terdapat peristiwa besar.”[1]Pada hari bersejarah itu, bendera keadilan telah terlipat di alam kesedihan, tonggak-tonggak kebenaran telah roboh, dan cahaya yang telah menyinari alam telah lenyap. Beliaulah yang telah berhasil meng-ubah perjalanan hidup umat manusia dari kezaliman yang gelap gulita kepada kehidupan sejahtera yang penuh dengan peradAbân dan keadilan. Dalam kehidupan ini, suara para tiran musnah dan jeritan orang-orang jelata mendapat perhatian. Seluruh karunia Allah terhampar luas untuk hamba-hamba-Nya dan tak seorang pun memiliki kesempatan untuk menimbun harta untuk kepentingannya sendiri.

Muktamar Tsaqîfah

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peris-tiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka sekaligus membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka.

Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ‘idah pada hari Nabi saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekha-lifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Nabi saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Nabi saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi saw. sedang mengigau sehing-ga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.

Ala kulli hal, kaum Anshar telah berperan sebagai tulang punggung bagi kekuatan bersenjata pasukan Nabi saw. dan mereka pernah mene-barkan kesedihan dan duka di rumah-rumah kaum Quraisy yang kala itu hendak melakukan perlawanan terhadap Rasulullah saw. Ketika itu orang-orang Quraisy betul-betul merasa dengki terhadap kaum Anshar. Oleh karena itu, kaum Anshar segera mengadakan muktamar, karena khawatir terhadap kaum Muhajirin.

Hubâb bin Munzdir berkata: “Kami betul-betul merasa khawatir bila kalian diperintah oleh orang-orang yang anak-anak, nenek moyang, dan saudara-saudara mereka telah kita bunuh.”[2]

Kekhawatiran Hubbâb itu ternyata menjadi kenyataan. Setelah usia pemerintahan para khalifah usai, dinasti Bani kaum Umayyah berkuasa. Mereka berusaha merendahkan dan menghinakan para khalifah itu. Mu‘âwiyah telah berbuat zalim dan kejam. Ketika Yazîd bin Mu‘âwiyah memerintah, dia juga bertindak sewenang-wenang dan menghancurkan kehormatan mereka dengan berbagai macam siksa dan kejahatan. Yazîd menghalalkan harta, darah, dan kehormatan mereka pada tragedi Harrah. Sejarah tidak pernah menyaksikan kekejian dan kekezaman semacam itu.

Ala kulli hal, pada muktamar Tsaqîfah tersebut, kaum Anshar men-calonkan Sa‘d sebagai khalifah, kecuali Khudhair bin Usaid, pemimpin suku Aus. Ia enggan berbaiat kepada Sa‘d karena kedengkian yang telah tertanam antara sukunya dan suku Sa‘d, Khazraj. Sudah sejak lama memang hubungan antara kedua suku ini tegang.

‘Uwaim bin Sâ‘idah bangkit bersama Ma‘n bin ‘Adî, sekutu Anshar, untuk menjumpai Abu Bakar dan Umar. Mereka ingin memberitahukan kepada dua sahabat ini peristiwa yang sedang berlangsung di Tsaqîfah. Abu Bakar dan Umar terkejut. Mereka segera pergi menuju ke Tsaqîfah secara tiba-tiba. Musnahlah seluruh cita-cita yang telah dirajut oleh kaum Anshar. Wajah Sa‘d berubah. Setelah terjadi pertikaian yang tajam antara Abu Bakar dan kaum Anshar, kelompok Abu Bakar segera bangkit untuk membaiatnya. Umar yang bertindak sebagai pahlawan dalam baiat itu telah memainkan peranannya yang aktif di ajang perebutan kekuasaan itu. Dia menggiring masyarakat untuk membaiat sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar keluar dari Tsaqîfah diikuti oleh para pendukungnya menuju ke masjid Nabi saw. dengan diiringi oleh teriakan suara takbir dan tahlil. Dalam baiat ini, pendapat keluarga Nabi saw. tidak dihiraukan. Begitu pula pendapat para pemuka sahabatnya, seperti Ammâr bin Yâsir, Abu Dzar, Miqdâd, dan sahabat-sahabat yang lain.

Sikap Imam Ali as. Terhadap Pembaiatan Abu Bakar

Para sejarawan dan perawi hadis sepakat bahwa Imam Ali as. menolak dan tidak menerima pembaiatan atas Abu Bakar. Ia lebih berhak untuk menjadi khalifah. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan Nabi saw. Kedudukan Ali as. di sisi Nabi saw. seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Islam telah tegak karena perjuangan dan keberaniannya. Dia mengalami berbagai macam bencana dalam menegakkan Islam. Nabi saw. menjadikan Ali as. sebagai saudaranya. Ia pernah bersabda kepada kaum muslimin: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah juga pemimpinnya.”

Atas dasar ini, Ali as. menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat untuk menyeret Ali as. dan memak-sanya berbaiat. Umar bin Khaththab bersama sekelompok pengikutnya mengepung rumah Ali as. Dia menakut-nakuti, mengancam, dan meng-gertak Ali as. dengan menggenggam api untuk membakar rumah wahyu itu. Buah hati Nabi saw. dan penghulu para wanita semesta alam keluar dan bertanya dengan suara lantang: “Hai anak Khaththab, apa yang kamu bawa itu?” Umar menjawab dengan keras: “Yang aku bawa ini lebih hebat daripada yang telah dibawa oleh ayahmu.”[3]

Sangat disayangkan dan menggoncang kalbu setiap orang muslim! Mereka telah berani bertindak keras seperti itu terhadap Fatimah Az-Zahrâ’ as., buah hati Nabi saw. Padahal Allah ridha karena keridhaan Az-Zahrâ’ dan murka karena kemurkaannya. Melihat kelancangan ini, tidak ada yang layak kita ucapkan selain innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Akhirnya, mereka memaksa Imam Ali as. keluar dari rumahnya dengan paksa. Dengan pedang terhunus para pendukung Khalifah Abu Bakar menyeret Imam Ali as. untuk menghadap. Mereka berkata dengan lantang: “Baiatlah Abu Bakar! Baiatlah Abu Bakar!”

Imam Ali as. membela diri dengan hujah yang kokoh tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekerasan dan kekuatan mereka. Ia berkata: “Aku lebih berhak atas perkara ini daripada kalian. Aku tidak akan membaiat kalian, sebaliknya kalianlah yang semestinya membaiatku. Kalian telah merampas hak ini dari kaum Anshar dengan alasan bahwa kalian memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi saw. Tetapi kalian juga telah merampas kekhalifahan itu dari kami Ahlul Bait secara paksa. Bukankah kalian telah mendakwa di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak atas kekhilafahan ini daripada mereka dengan dalih Nabi Muhammad saw. berasal dari kalangan kalian, sehingga mereka rela memberikan dan menyerahkan kepemimpinan itu kepadamu? Kini aku juga ingin berdalih kepadamu seperti kamu berdalih kepada kaum Anshar. Sesungguhnya aku adalah orang yang lebih utama dan lebih dekat dengan Nabi saw., baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Camkanlah ucapanku ini, jika kamu beriman! Jika tidak, maka kamu telah berbuat zalim sedang kamu menyadarinya.”

Betapa indah hujah dan dalil tersebut. Kaum Muhajirin dapat mengalahkan kaum Anshar lantaran hujah itu, karena mereka merasa memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi saw. Argumentasi Imam Ali as. lebih kuat, lantaran suku Quraisy yang terdiri dari banyak kabilah dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw. itu bukan sepupu-sepupu atau pamannya. Sementara hubungan kekerabatan antara Nabi saw. dengan Imam Ali as. terjalin dalam bentuk yang paling sempurna. Ali as. adalah sepupu Nabi saw., ayah dua orang cucunya, dan suami untuk putri semata wayangnya.

Walau demikian, Umar tetap memaksa Imam Ali as. dan berkata: “Berbaiatlah!”

“Jika aku tidak melakukannya?”, tanya Imam Ali pendek.

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika engkau tidak mem-baiat, aku akan penggal lehermu”, jawab Umar sengit.

Imam Ali as. diam sejenak. Ia memandang ke arah kaum yang telah disesatkan oleh hawa nafsu dan dibutakan oleh cinta kekuasaan itu. Imam Ali as. melihat tidak ada orang yang akan menolong dan membe-lanya dari kejahatan mereka. Akhirnya ia menjawab dengan nada sedih: “Jika demikian, kamu telah membunuh hamba Allah dan saudara Rasu-lullah.”

Umar segera menimpali dengan berang: “Membunuh hamba Allah, ya. Tetapi saudara Rasulullah, tidak.”

Umar telah lupa dengan sabda Nabi saw. bahwa Imam Ali as. adalah saudaranya, pintu kota ilmunya, dan kedudukannya di sisinya adalah sama dengan kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Ali as. adalah pejuang pertama Islam. Semua realita dan keutamaan itu telah dilupakan dan diingkari oleh Umar.

Kemudian Umar menoleh ke arah Abu Bakar seraya menyuruhnya untuk mengingkari hal itu. Kepada Abu Bakar, Umar berkata: “Mengapa engkau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk memaksanya?”

Abu Bakar takut fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya dia menentukan sikap: “Aku tidak akan memaksanya, selama Fatimah berada di sisinya.”

Akhirnya mereka membebaskan Imam Ali as. Ia berlari menuju ke makam saudaranya, Nabi saw., untuk mengadukan cobaan dan aral yang sedang menimpanya. Ia menangis tersedu-sedu seraya berkata: “Wahai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah meremehkanku dan hampir saja mereka membunuhku.”[4]

Mereka telah meremehkan Imam Ali as. dan mengingkari wasiat-wasiat Nabi saw. berkenaan dengan dirinya. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan hati yang hancur luluh dan sedih. Benar, telah terjadi apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. akan terjadi pada umat Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Mereka kembali kepada kekufuran. Allah swt. berfirman:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun ….”(QS. Âli ‘Imrân [3]:144)

Sungguh mereka telah kembali kepada kekufuran, kekufuran yang dapat menghancurkan iman dan harapan-harapan mereka. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Kita tutup lembaran peristiwa-peristiwa yang mengenaskan dan segala kebijakan pemerintah Abu Bakar yang tiran terhadap keluarga Nabi saw. ini, seperti merampas tanah Fadak, menghapus khumus, dan kebijakan-kebijakan yang lain. Seluruh peristiwa ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Mawsû‘ah Al-Imam Amiril Mukminin as.

Fatimah Az-Zahrâ’ Menuju ke Alam Baka

Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan Imam Ali as. adalah kepergian buah hati Rasulullah saw., Fatimah Az-Zahrâ’ as. Ia jatuh sakit, sementara hatinya yang lembut tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit telah menyerangnya. Dan kematian begitu cepat menghampirinya, sementara usianya masih begitu muda. Oh, betapa beratnya duka yang menimpa buah hati dan putri semata wayang Nabisaw. itu. Ia telah mengalami berbagai kekejaman dan kezaliman dalam masa yang sangat singkat setelah ayahandanya wafat. Mereka telah mengingkari kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah, merampas hak warisannya dan menyerang rumahnya.

Fatimah Az-Zahrâ’ telah menyampaikan wasiat terakhir yang maha penting kepada putra pamannya. Dalam wasiat itu ditegaskan agar orang-orang yang telah ikut serta merampas haknya tidak boleh menghadiri pemakaman, jenazahnya dikuburkan pada malam hari yang gelap gulita, dan kuburannya disembunyikan agar menjadi bukti betapa ia murka kepada mereka.

Imam Ali as. melaksanakan wasiat istrinya yang setia itu di pusara-nya yang terakhir. Ia berdiri di pinggir makamnya sambil menyiramnya dengan tetesan-tetesan air mata. Ia menyampaikan ucapan takziah, bela sungkawa dan pengaduan kepada Nabi saw. setelah menyampaikan salam kepada beliau:

Salam sejahtera untukmu dariku, ya Rasulullah, dan dari putrimu yang telah tiba di haribaanmu dan yang begitu cepatnya menyusulmu. Ya Rasulullah, betapa sedikitnya kesabaranku dengan kemangkatanmu dan betapa beratnya hati ini. Hanya saja, dalam perpisahan denganmu dan besarnya musibahmu ada tempat untuk berduka. Aku telah membaring-kanmu di liang kuburmu. Dan jiwamu telah pergi meninggalkanku ketika kepalamu berada di antara leher dan dadaku. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn. Titipan telah dikembalikan dan gadai pun telah diambil kembali. Tetapi kesedihanku tetap abadi. Malam-malamkupun menjadi panjang, hingga Allah memilihkan untukku tempatmu yang kini engkau singgahi. Putrimu akan bercerita kepadamu tentang persekong-kolan umatmu untuk berbuat kejahatan. Tanyakanlah dan mintalah berita mengenai keadan mereka! Padahal perjanjian itu masih hangat dan namamu masih disebut-sebut. Salam sejahtera atasmu berdua, salam selamat tinggal, tanpa lalai dan jenuh! Jika aku berpaling, itu bukan karena bosan. Jika aku diam, itu bukan karena aku berburuk sangka terhadap apa yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar.[5]

Ungkapan-ungkapan Imam Ali as. di atas menunjukkan betapa ia menga-lami kesedihan yang mendalam atas kepergian titipan Rasulullah saw. itu. Ungkapan-ungkapan itu juga menunjukkan betapa dalamnya sakit hati dan duka yang dialaminya akibat perlakuan umat Islam. Imam Ali as. juga minta kepada Nabi saw. agar memaksa putrinya bercerita dan memberi-kan keterangan tentang seluruh kejahatan dan kezaliman yang telah dilakukan oleh umatnya itu.

Seusai menguburkan jenazah buah hati Nabi saw., Imam Ali as. kembali ke rumah dengan rasa duka dan kesedihan yang datang silih berganti. Para sahabat telah mengasingkannya. Imam Ali as. berpaling sebagaimana mereka juga berpaling darinya. Ia bertekad untuk menjauhi seluruh urusan politik dan tidak terlibat di dalamnya.


1.Nahjul Balaghah, khotbah ke-409.

2.Hayâh Al-Imam Husain as., Jil. 1/ 235.

3.Ansâb Al-Asyrâf, karya Al-Balâdzurî. Para sejarahwan sepakat tentang adanya ancaman Umar terhadap Ali as. untuk membakar rumahnya itu. Silakan merujuk Târîkh Ath-Thabarî, Jil. 3/202, Târikh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/156, Târîkh Al-Ya‘qûbî, Jil. 2/105, Murûj Adz-Dzahab, Jil. 1/414, Al-Imâmah wa As-Siyâsah, Jil. 1/12, Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, Jil. 1/ 34, Al-Amwâl, karya Abu ‘Ubaidah, hal. 131, A‘lâm An-Nisâ’, Jil. 3/205, danAl-Imam Ali, karya Abul Fattâh Maqshûd, Jil. 1/213.

4.Al-Imâmah wa As-Siyâsah, hal. 28-31.

5.Nahjul Balâghah, Jil. 2/ 182.

video pembantaian Ammar bin Yasir oleh Kelompok Ahli Neraka

Proses Berdirinya Daulah Bani Umayah Bagian 2

Syi’ah mencela sahabat ??Perang Siffin yang mengorban lebih 70.000 orang, kebanyakannya sahabat dan tabi’in .

RASUL MENGATAKAN BAHWA AMMAR BIN YASIR AKAN DIBUNUH KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA yakni KELOMPOK MUAWIYAH

Imam Ali menggempur orang itu kerana mereka menyelewengkan agama dan menyimpang daripada ajaran al-Quranul Karim serta mengacaukan takwil dan salah menafsirkan, dan mencuba hendak menyesuaikan tujuan ayatnya dengan kemahuan dan keinginan mereka peribadi.

Kebencian kepada Imam Ali as. adalah bukti kuat kemunafikan.

Dalam banyak hadis, Nabi menyabdakan:

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Zirr ibn Hubaisy, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. bersabda:

وَ الذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ و بَرَأَ النَّسَمَةَ إنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيْ أَنَّهُ : لاَ يُحِبُّنِيْ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُنِيْ إلا مُنافِقُ.

“Demi Dzat Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, ini adalah ketetapan Nabi yang Ummi kepadaku bahwa tiada mencintaiku kecuali mukmin dan tiada membenciku kecuali munafik.”[Imam Muslim dalam Shahihnya]

Allah SWT akan membongkar kedok kebusukan mereka melalui apa yang terlontar dari mulut-mulut mereka yang mencerminkan kebusukan hati mereka. Allah berfirman:

أَمْ حَسِبَ الَّذينَ في قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغانَهُمْ * وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka.* Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad [47]:29-30)

Perang Shiffin Meletus

Tanggal 1 Shafar tahun 37 Hijriah, Perang Shiffin meletus. Perang ini terjadi antara pasukan Imam Ali as melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, rakyat Madinah membaiat Imam Ali as dan mengangkat beliau sebagai khalifah. Namun, Muawiyah, seorang Gubernur di Damaskus, menolak menerima kepemimpinan Imam Ali dan melakukan perlawanan bersenjata.

Pertempuran itu terjadi tahun 37 H. (656 M.), antara Amirul Mukminin dan Gubernur Suriah, Mu’awiah, untuk apa yang dinamakan membalas dendam atas kematian Khalifah ‘Utsman. Tetapi penyebab sebenarnya hanyalah karena Mu’awiyah, yang telah lama menjadi Gubernur Suriah yang otonom sejak diangkat Khalifah ‘Umar, tidak mau kehilangan jabatannya itu dengan membaiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib.

Ia hendak mempertahankan keutuhan wewenangnya dengan mengeksploitasi pembunuhan Khalifah ‘Utsman. Peristiwa-peristiwa di hari-hari kemudian membuktikan bahwa setelah mengamankan pemerintahan ia tidak mengambil suatu langkah nyata untuk membalaskan darah ‘Utsman, dan sama sekali tak pernah berbicara tentang para pembunuh ‘Utsman.

Walaupun Amirul Mukminin menyadari sejak semula bahwa peperangan akan tak terelakkan, ia masih terus berusaha menyadarkan Mu’awiah. Pada hari Senin 12 Rajab 36 H., setelah kembali ke Kufah dari Perang Jamal, Amirul Mukminin mengutus Jarir ibn ‘AbduIlah al-Bajali ke Mu’awiah di Damsyik dengan membawa sepucuk surat di mana ia mengatakan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya dan Mu’awiah pun harus membaiat kepadanya dahulu baru kemudian mengajukan kasus pembunuhan ‘Utsman kepadanya supaya Amirul Mukminin dapat menjatuhkan keputusan berdasarkan Al-Qur’an dan sunah. Tetapi Mu’awiah menahan Jarir dengan berbagai alasan, dan setelah berunding dengan ‘Amr ibn al-‘Ash, ia membangkang dengan dalih kasus pembunuhan ‘Utsman.

Gubernur Suriah itu menahan Jarir dengan dalih untuk memberikan jawaban. Sementara ia mulai menyelidiki sejauh mana rakyat Suriah mendukungnya dengan membangkitkan semangat balas dendam atas darah ‘Utsman, ia bermusyawarah dengan saudaranya ‘Utbah ibn Abi Sufyan. ‘Utbah menyarankan, “Apabila dalam hal ini ‘Amr ibn ‘Ash dihubungi, ia akan menyelesaikan banyak kesulitan dengan kecerdikannya. Tetapi, ia tak akan mudah bersedia untuk menguatkan kekuasaan Anda apabila untuk itu ia tidak dibayari dengan apa yang diinginkannya. Apabila Anda telah bersedia untuk itu maka akan ternyata bahwa dia penasihat dan penolong yang terbaik.

Mu’awiah menyukai saran ini. Ia myuruh panggil ‘Amr ibn “’Ash lalu membicarakan hal itu, dan akhiraya diputuskan bahwa ia akan menuntut balas atas darah ‘Utsman dengan menuduh Amirul Mukminin bertanggung jawab atasnya. Sebagai imbalan ia akan menjadi Guberaur Mesir, dan bahwa dalam keadaan bagaimanapun ia tak akan membiarkan kekuasaan Mu’awiah di Suriah terganggu. Sesuai dengan itu, keduanya menepati dan memenuhi perjanjian itu.

Dengan Bantuan orang-orang penting di Suriah ia meyakinkan rakyat yang tak mengetahui persoalan, bahwa tanggung jawab pembunuhan ‘Utsman terpikul pada ‘Ali, dan bahwa Ali memberi semangat dan melindungi para pengepung ‘Utsman. Sementara itu ia menggantungkan baju ‘Utsman yang berlumur darah serta potongan jari-jari istrinya Na’ilah binti al-Farafishah di mimbar mesjid jamik Damsyik di mana sekitar 70.000 orang Suriah berikrar untuk membalaskan dendam atas darah ‘Utsman. Setelah berhasil membangkitkan emosi rakyat Suriah sehingga mereka bertekad bulat untuk mengorbankan nyawa, ia mendapatkan baiat mereka demi membalas dendam atas pembunuhan ‘Utsman, lalu ia bersiap untuk berperang. Sesudah itu ia memperlihatkan semua hal itu kepada Jarir lalu mengirimkannya kembali ke Kufah dalam keadaan malu.

Ketika Amirul Mukminin mendengar tentang hal ini dari Jarir, ia terpaksa bangkit menghadapi Mu’awiah. Ia memerintahkan Malik ibn Habib al-Yarbu’i untuk mengerahkan pasukan di lembah al-Nukhailah. Sehubungan dengan itu, orang dari sekitar Kufah datang ke sana dalam kelompok-kelompok besar sehingga jumlahnya melebihi 80.000 orang. Mula-mula Amirul Mukminin mengirimkan kontingen depan sebesar 8.000 di bawah komando Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi dan pasukan 4.000 orang di bawah pimpinan Syuraih ibn Hani al-Haritsi ke Suriah. Setelah berangkatnya kontingen depan ini, Amirul Mukminin sendiri berangkat ke Suriah memimpin sisa tentara itu, pada hari Rabu 5 Syawal.

Setelah keluar perbatasan kota Kufah, ia mendirikan salat lohor dan setelah berkemah di Dair Abi Musa, (sungai) Nahr Nars, Qubat Qubbin, Babil, Dair Ka’b, Karbala’, Sabat, Baburasini, al-Anbar dan al-Jazirah ia tiba di ar-Riqah. Penduduk tempat ini menyukai ‘Utsman, dan di tempat inilah Simak ibn Makhtamah al-Asadi bertengkar dengan 800 orangnya. Orang-orang itu telah berangkat dari Kufah untuk bergabung dengan Mu’awiah setelah membelot dari Amirul Mukminin. Ketika melihat pasukan Amirul Mukminin, mereka membongkar jembatan Sungai Efrat supaya pasukan Amirul Mukminin tak dapat menggunakannya untuk menyeberang.

Tetapi, dengan ancaman Malik ibn al-Harits al-Asytar an-Nakha’i mereka ketakutan, dan setelah berunding di antara sesamanya mereka memperbaiki lagi jembatan itu dan Amirul Mukminin melewatinya dengan tentaranya. Di seberang sungai itu ia melihat Ziyad dan Syuraih sedang berhenti di sana bersama pasukan mereka karena keduanya mengambil jalan darat. Ketika sampai di sana mereka dapati bahwa Mu’awiah sedang maju dengan tentaranya ke Sungai Efrat, dan karena berpikir bahwa mereka tidak akan mampu menghadapinya, mereka berhenti di sana sambil menunggu Amirul Mukminin. Ketika mereka memberikan alasan kepada Amirul Mukminin mengapa mereka berhenti di situ, Amirul Mukminin menerima alasannya lalu mengirimnya ke depan.

Ketika mereka sampai di Sur ar-Rum, mereka mendapatkan bahwa Abu al-A’war as-Sulami (pihak Mu’awiyah) sedang berkemah di sana dengan tentaranya. Keduanya melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin, lalu ia mengirim Malik al-Haritsi al-Asytar untuk menyusul mereka sebagai komandan sambil mengingatkannya supaya tidak memulai pertempuran melainkan berusaha menasihati mereka dan memberitahukan kepada mereka keadaan yang sebenarnya sedapat mungkin.

Ketika tiba di sana Malik al-Asytar berkemah agak jauh dari situ. Pertempuran mungkin akan meletus setiap saat, tetapi ia tidak mengganggu pihak lainnya dan tidak pula ia mengambil langkah yang mungkin memulai pertempuran. Tetapi Abu al-A’war menyerang secara tiba-tiba di malam hari yang atasnya mereka menghunus pedang untuk memukulnya mundur. Bentrokan itu terjadi beberapa lamanya tetapi akhirnya Abu al-A’war melarikan diri di malam hari. Karena pertempuran telah dimulai, segera setelah fajar, seorang komandan pasukan ‘Iraq, Hasyim ibn ‘Uqbah al-Mirqal az-Zuhri, datang menghadapinya di medan tempur.

Dari pihak lain datang pula suatu kontingen, dan api pertempuran pun berkecamuk. Pada akhirnya Malik al-Asytar menantang Abu al-A’war bertarung dengannya, tetapi yang ditantang ini tak berani menghadapinya dan di sore hari Malik al-Asytar maju.dengan pasukannya. Keesokan harinya Amirul Mukminin sampai di sana dengan pasukannya lalu berangkat ke Shifffn bersama kontingen depannya dan pasukan-pasukan lainnya.

Mu’awiah telah lebih dahulu tiba di sana dan telah mendirikan basisnya. Ia juga telah menempatkan pengawal di Sungai Efrat dan telah mendudukinya. Ketika tiba di sana Amirul Mukminin menyampaikan kepadanya untuk menyingkirkan pasukan pengawalnya dari Sungai Efrat itu, tetapi Mu’awiah menolaknya. Karenanya pasukan ‘Iraq menghunus pedang lalu menyerang dan merebut tempat di sungai itu.

Setelah itu Amirul Mukminin mengutus Basytr ibn ‘Arnr al-Anshari, Sa’id ibn Qais al-Hamdani dan Syabats ibn Ribi’ at-Tamimi kepada Mu’awiah untuk memperingatkannya tentang akibat-akibat peperangan dan mengajaknya membaiat. Tetapi jawabannya adalah bahwa mereka sama sekali tidak akan mengabaikan darah ‘Utsman dan sekarang hanya pedang yang dapat menjadi perantara mereka.

Akibatnya, dalam bulan Zulhijah 36 H. kedua pihak memutuskan untuk berperang dan para prajurit dari masing-masing pihak keluar untuk berhadapan di medan. Yang memasuki medan dari pihak Amirul Mukminin adalah Hujr ibn ‘Adi al-Kindi, Syabats ibn Ribi’ at-Tamimi, Khalid ibn al-Mu’ammar, Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi, Ziyad ibn Khashafah at-Taimi, Sa’id al-Hamdani, Qais ibn Sa’d al-Anshari, dan Malik al-Asytar an-Nakha’i. Dari pihak Suriah, ‘Abdur-Rahman ibn Khalid ibn Walid al-Makhzumi, Abu al-A’War as-Sulami, Habib ibn Maslamah al-Fihri, ‘Abdullah ibn Dzil-Kala’ al-Himyari, ‘Ubaidullah ibn ‘Umar ibn Khaththab, Syurahbil ibn Simth al-Kindi, dan Hamzah ibn Malik al-Hamdani.

Ketika bulan Zulhijah berakhir, pertempuran harus dihentikan karena tibanya bulan Muharam 37 H. Tetapi pada 1 Safar pertempuran berlanjut dan kedua belah pihak mengatur barisannya saling berhadapan dengan pedang, lembing dan persenjataan lain. Di pihak Amirul Mukminin, Malik al-Asytar memimpin pasukan berkuda dan ‘Ammar ibn Yasir memimpin pasukan infantri Kufah, sedang Sahl ibn Hunaif al-Anshari memimpin pasukan berkuda dan Qais ibn Sa’d memimpin infantri asal Bashrah. Panji tentara diberikan kepada Hasyim ibn ‘Utbah. Di tentara Suriah, sayap kanan dipimpin Ibn Dzil-Kala’ sedang kontingen sayap kiri dikomandoi Habib ibn Maslamah, pasukan berkuda dipimpin ‘Amr ibn al-‘Ash dan pasukan infantri dikomandoi adh-Dhahhak ibn Qais al-Fihri.

Pada hari pertama, Malik al-Asytar memasuki medan pertempuran dengan pasukannya, sedang di pihak Mu’awiah Habib ibn Maslamah datang dengan pasukannya, dan pertempuran sengit pun berkecamuk sepanjang hari.

Keesokan harinya Hasyim ibn ‘Utbah tampil dengan pasukan di pihak Amirul Mukminin sedang Abu al-A’war muncul dengan pasukan infantri pihak Mu’awiah. Pasukan berkuda berhadapan dengan pasukan berkuda, infantri dengan infantri.

Hari ketiga, ‘Ammar ibn Yasir dan Ziyad ibn an-Nadhr tampil dengan pasukan berkuda dan infantri, sedang pasukan besar pihak Mu’awiah dipimpin ‘Amr ibn al-‘Ash. Ziyad menyerang pasukan berkuda sedang Malik al-Asytar menyerang pasukan infantri Mu’awiah dengan sengitnya sehingga pasukan Mu’awiah mulai kehilangan pijakan, tak dapat bertahan lalu kembali ke perkemahan.

Hari keempat, Muhammad ibn al-Hanafiah tampil di medan dengan pasukannya. Dari pihak Mu’awiah tampil ‘Ubaidullah ibn ‘Umar al-Khaththab dan pertempuran berlangsung keras.

Hari kelima, ‘Abdullah ibn ‘Abbas memimpin tentara Amirul Mukminin sedang Walid ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu’ith menghadapinya. ‘Abdullah ibn ‘Abbas melancarkan serangan dengan sangat ulet dan berani dan memberikan pukulan keras sehingga lawannya mundur meninggalkan medan.

Hari keenam, Qais ibn Sa’d al-Anshari rnaju menghadapi pasukan Ibn Dzil-Kala’ dan pertempuran sengit berkecamuk. Banyak tentara gugur pada kedua pihak. Malam memisahkannya.

Hari ketujuh Malik al-Asytar berhadapan dengan Habib ibn Maslamah dan pertempuran berlangsung hingga tengah hari.

Hari kedelapan Amirul Mukminin sendiri maju dengan tentaranya dan serangan dilakukan di seluruh medan pertempuran yang berlangsung amat sengit. Kemudian Amirul Mukminin menantang Mu’awiah, lalu Mu’awiah, disertai ‘Amr ibn al-‘Ash datang agak mendekat. Amirul Mukminin berkata kepadanya, “Marilah hadapi aku. Biarlah barangsiapa yang membunuh lawannya kelak menjadi penguasa.” ‘Amr ibn al-‘Ash lalu berkata kepada Mu’awiah, “Ali benar. Beranikanlah diri Anda dan hadapilah dia.” Mu’awiah menjawab, “Saya tidak sedia menyia-nyiakan nyawa saya atas godaanmu.” Sambil berkata demikian ia mundur. Ketika Amirul Mukminin melihatnya mundur ia tersenyum lalu mundur pula.

Keberanian Amirul Mukminin dalam serangannya di Shifffn merupakan keperkasaan yang luar biasa. Bila saja ia keluar menantang di medan pertempuran, barisan lawannya menjadi kacau balau, dan bahkan petarung perkasa mengelak untuk menghadapinya. Itulah sebabnya maka dalam beberapa kesempatan ia maju ke medan dengan pakaian yang berbeda agar tidak dikenali lawan, supaya ada yang berani menghadapinya. Sekali ‘Arar ibn Ad-ham dari pihak Mu’awiah bertarung dengan ‘Abbas ibn Rabi’ah ibn al-Harits ibn ‘Abdul Muththalib. Mereka bertarung dengan alot dan tak ada yang jatuh, sampai ‘Abbas melihat bahwa sambungan pada baju zirah lawannya longgar.

Dengan pukulan mendadak ia menusuk sisi itu dengan pedangnya, dan kemudian ia menyerang sambungan-sambungan lainnya yang longgar. Kemudian, dengan tujuan yang sebenarnya ia menyerang dengan pedangnya langsung ke dadanya. Melihat ini orang menyerukan takbir. Mu’awiah kaget karena seruan itu dan setelah mengetahui bahwa ‘Arar ibn Ad-ham telah terbunuh, ia lalu berseru meminta siapa yang berani membalaskan dendam kematian ‘Arar itu dengan membunuh ‘Abbas ibn al-Harits. Beberapa orang tentara berkuda yang kelelahan dari kalangan suku lakhm datang menantang ‘Abbas. ‘Abbas mengatakan bahwa ia akan datang setelah meminta izin imamnya, lalu ia pergi kepada Amirul Mukminin untuk meminta izin. Amirul Mukminin menahannya, memakai baju ‘Abbas, dan sambil menunggang kuda tunggangan ‘Abbas ia masuk ke medan pertempuran. Karena mengira dia ‘Abbas, orang-orang Lakhm berkata, “Jadi, Anda telah mendapatkan izin imam Anda.” Sebagai jawabannya Amirul Mukminin membaca ayat,

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. “ (QS. 22:39)

Maka datanglah satu orang dari pihak lawannya sambil berteriak seperti gajah, menyerbu dengan mengamuk, tetapi Amirul Mukminin mengelakkan pukulannya lalu menetakkan pedangnya ke punggung penyerang itu sehingga badannya terputus dua. Mulanya dikira orang bahwa pukulan pedang itu sia-sia, tetapi ketika kuda tunggangannya melompat, tubuh itu jatuh dalam dua bagian. Setelah itu seorang lagi datang tetapi ia pun tewas dalam sekejap. Kemudian Amirul Mukminin menantang orang lain, tetapi dari pukulan pedangnya lawan mengetahui bahwa ialah Amirul Mukminin dalam pakaian ‘Abbas, dan tak ada lagi yang berani menghadapinya.

Pada hari kesembilan, sayap kanan di bawah komando ‘Abdullah ibn Budail dan sayap kiri di bawah pimpinan ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Pasukan di tengahnya dipimpin langsung oleh Amirul Mukminin. Di pihak Mu’awiah Habib ibn Maslamah memimpin pasukan Suriah. Ketika kedua barisan berhadap-hadapan, para pemberani menghunus pedang mereka dan saling menyerang dengan ganas seperti singa buas, dan pertempuran berkecamuk di seluruh medan. Panji sayap kanan tentara Amirul Mukminin berada di tangan Bani Hamdan.

Bila seseorang gugur, yang lainnya mengambil panji itu. Pertama-tama Kuraib ibn Syuraih memegangnya. Ketika ia gugur Syurahbil ibn Syuraih mengambilnya, lalu Martsad ibn Syuraih, kemudian Hubairah ibn Syuraih, kemudian Yarim ibn Syuraih, kemudian Sumail ibn Syuraih dan setelah gugurnya keenam orang bersaudara itu, panji dipegang berturut-turut oleh Sufyan, ‘Abd lalu Kuraib, ketiganya putra Zaid, dan semuanya gugur. Setelah itu panji dipegang oleh dua bersaudara, ‘Umair dan al-Harits ibn Basyir, dan setelah keduanya gugur pula, panji itu dipegang Wahb ibn Kuraib. Pada hari ini perhatian lebih besar pasukan Mu’awiah tertuju ke sebelah kanan, dan serangannya demikian sengitnya sehingga pasukan pihak Amirul Mukminin terpukul mundur.

Hanya 300 orang yang tertinggal bersama komandannya, ‘Abdullah ibn Budail. Melihat keadaan ini, Amirul Mukminin menyuruh Malik al-Asytar untuk memanggil mereka kembali dan menantang mereka ke mana mereka melarikan diri. “Apabila hari-hari kehidupan telah habis, mereka tak dapat mengelakkan maut dengan melarikan diri.” Sekarang, kekalahan sayap kanan itu pastilah berpengaruh pada sayap kiri.

Karena itu Amirul Mukminin pergi ke sayap kiri lalu maju ke depan, memaksa melewati barisan lawan, yang atasnya seorang budak Bani Umayyah berkata kepadanya, “Semoga Allah mematikan saya apabila saya tak dapat membunuh Anda hari ini.” Mendengar ini, budak Amirul Mukminin yang bernama Kaisan melompat kepadanya dan terbunuh olehnya. Ketika mengetahui ini Amirul Mukminin memegang budak Bani Umayyah itu di baju zirahnya, mengangkatnya lalu membantingnya dengan keras sehingga semua persediannya hancur.

Sementara itu, setelah dipanggil Malik al-Asytar dan menggugah rasa malunya, orang-orang yang tadinya mundur lalu kembali dan sekali lagi menyerang hingga musuh mundur sedang mereka maju sampai ke tempat di mana ‘Abdullah ibn Budail sedang dikepung musuh. Ketika melihat orang-orangnya sendiri datang, ia menjadi lebih berani lalu menyerang kemah Mu’awiah dengan pedang terhunus. Malik al-Asytar berusaha mencegahnya tetapi tak berhasil. Setelah membunuh tujuh orang Suriah, ia sampai ke kemah Mu’awiah.

Ketika Mu’awiah melihatnya di dekatnya, ia memerintahkan orang melemparinya dengan batu, dan orang Suriah pun mengeroyok dan membunuhnya. Ketika Malik al-Asytar melihat hal itu ia maju dengan para pejuang Bani Hamdan dan Bani Madzhij untuk menyerang Mu’awiah dan mengacaukan para pengawal yang mengelilinginya. Ketika tinggal satu lapis lagi dari lima lingkaran pengawalnya yang harus dipatahkan, Mu’awiah menunggang kudanya untuk melarikan diri, tetapi berhenti lagi setelah diberi semangat oleh seseorang.

Shandy Online - Persatuan Islam: Hikmah Perang Shiffin dan Perang Jamal

Di sisi lain medan, pertempuran gegap gempita sedang berlangsung dari ujung ke ujung oleh pedang ‘Ammar ibn Yasir dan Hasyim ibn ‘Utbah. Dari sisi mana saja ‘Ammar lewat, para sahabat Nabi berkumpul di sekitarnya lalu membuat paduan sedemikian rupa sehingga kehancuran menyebar di seluruh barisan musuh. Ketika Mu’awiah melihat mereka maju, ia mengerahkan pasukan segar untuk menghadapinya. Tetapi ‘Ammar terus menunjukkan kegagahannya dalam badai pedang dan lembing.

Penyokong Muawiyah mencuba sekuat daya menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya.

Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah beliau satu pasukan tentera juga, menghilangkan pertimbangan mereka.

Sebahagian anak buah Muawiyah mengintai kesempatan untuk menewaskannya, hingga selepas kesempatan itu terbuka mereka laksanakanlah dan tewas Ammar di tangan tentera Muawiyah.

Akhirnya Abu al-‘Adziyah al-Juhani mengenainya dengan lembingnya, lalu Ibn Hawi (Jaun as-Saksiki) maju dan membunuhnya.

Matinya ‘Ammar ibn Yasir menimbulkan kegemparan di barisan Mu’awiah, karena Nabi telah bersabda, “’Ammar akan terbunuh di tangan kalangan pendurhaka.” Maka sebelum ia gugur sebagai syahid, Dzul Kala’ telah berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Ash, “Saya melihat ‘Ammar di pihak ‘Ali; kitakah orang-orang pendurhaka itu?”

‘Amr ibn al-‘Ash meyakinkan dia bahwa pada akhirnya ‘Ammar ibn Yasir akan bergabung dengan mereka, tetapi ketika ia terbunuh di pihak Ali, pihak pendurhaka terungkap dan tak ada lagi interpretasi lain.

Walaupun demikian, Mu’awiah mengatakan kepada orang Suriah, “Kita tidak membunuh ‘Ammar, melainkan Ali membunuhnya karena ia membawanya ke medan pertempuran.”

Ketika Amirul Mukminin mendengar kalimat licik itu, ia berkata, “Apabila demikian maka Nabilah yang membunuh Hamzah karena beliau membawanya ke pertempuran Uhud.” Hasyim ibn ‘Utbah juga gugur dalam pertempuran itu. Ia terbunuh oleh al-Harits ibn Mundzir at-Tanukhi. Setelah gugurnya, panji dipegang oleh putranya ‘Abdullah.

Ketika para pejuang yang amat pemberani itu telah tiada, Amirul Mukminin berkata kepada orang suku Hamdan dan Rabi’ah, “Bagi saya, Anda adalah ibarat perisai dan lembing. Bangkitlah dan berilah pelajaran kepada para pendurhaka itu.” Maka 12.000 pejuang dari suku Rabi’ah dan Hamdan bangkit dengan pedang terhunus. Panji dipegang oleh Hudhain ibn al-Mundzir.

Ketika memasuki barisan musuh, mereka menggunakan pedang sedemikian rupa sehingga kepala-kepala berjatuhan, tubuh-tubuh bergelimpangan dan di kedua pihak mengalir darah. Dan serangan para jago pedang ini tidak berhenti hingga hari menjelang berakhir dengan segala kehancurannya dan kegelapan turun dibawa oleh malam yang menakutkan yang dalam sejarah dikenal sebagai Malam al-Harir, di mana dencingan senjata, derap kaki kuda dan pekik jerit orang Suriah menimbulkan perhatian sedemikian rupa sehingga suara-suara lain yang sampai ke telinga tak terdengar. Di pihak Amirul Mukminin, slogannya yang menghancurkan kebatilan membangkitkan gelombang keberanian dan keperkasaannya sambil menggetarkan hati musuh.

Pertempuran telah mencapai puncaknya. Kantong panah para pemanah telah kosong. Batang-batang lembing telah patah. Pertempuran tangan berlangsung dengan pedang, dan mayat-mayat tertumpuk; menjelang pagi, jumlah yang tewas melebihi 30.000 orang.

Pada hari kesepuluh, orang-orang Amirul Mukminin menunjukkan moral yang sama. Di sayap kanan Malik al-Asytar memegang komando dan di sayap kiri ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Serangan-serangannya berlangsung seperti tentara baru. Tanda-tanda kekalahan nampak pada orang Suriah, dan mereka sudah hendak meninggalkan medan dan melarikan diri. Pada saat itu lima ratus mashaf Al-Qur’an diangkat di ujung lembing tentara Mu’awiah, yang mengubah seluruh wajah pertempuran. Pedang-pedang berhenti bergerak, senjata penipuan berhasil, dan jalan terbuka bagi berkuasanya kebatilan.

Dalam pertempuran ini 45.000 tentara Suriah tewas sementara 25.000 tentara ‘Iraq gugur. (Kitab Shiffin oleh Nashr ibn Muzahim (m. 212 H.) dan Tarikh ath-Thabari, jilid I, h. 3256-3349.)

Di antara yang hadir di Shiffin di pihak Amirul Mukminin terdapat 80 orang pahlawan Badr dan 800 yang hadir di Baiat Ridhwan. (al-Mustadrak, III, h. 104; al-Istî’âb, III, h. 1138; al-Ishâbah, II, h. 389; at-Târîkh al-Ya’qubi, II, h. 188).

Di samping orang-orang yang menonjol dan para sahabat Amirul Mukminin yang terkemuka seperti ‘Ammar, Dzusy-Syahadatain dan Ibn Tayyihan, yang gugur sebagai syahid di Shiffin adalah:

i. Hasyim ibn ‘Utbah ibn Abi Waqqash terbunuh pada hari yang sama dengan ‘Ammar. Ia pembawa panji tentara Amirul Mukminin pada hari itu.

ii. ‘Abdullah ibn Budail ibn al-Warqa” al-Khuza’i yang pernah menjadi komandan sayap kanan dan pernah pula sebagai komandan infantri pasukan Amirul Mukminin.

Ketika semangat orang Suriah telah patah oleh pedang-pedang ganas orang ‘Iraq dan serangan-serangan yang tak berkeputusan pada Malam al-Harir menjatuhkan moralnya dan mengakhiri aspirasi-aspirasinya, ‘Amr ibn ‘Ash menyarankan siasat licik kepada Mu’awiah supaya mengangkat mashaf Al-Qur’an di ujung tombak dan berteriak-teriak mendesak untuk menggunakannya sebagai hakam seraya mengatakan, sebagian orang akan berusaha menghentikan peperangan dan sebagian lagi hendak meneruskannya.

Dengan demikian maka kita memecah belah mereka dan akan dapat menangguhkan peperangan sampai pada kesempatan lain.” Sesuai dengan saran itu, mushaf-mushaf Al-Qur’an diangkat pada ujung tombak. Hasilnya, sebagian orang yang tak berpikir membuat huru-hara dan berseru serta menimbulkan perpecahan dan kekacauan di kalangan tentara, dan perjuangan kaum Muslim yang terkicuh mereda setelah hampir mencapai kemenangan. Tanpa memahami sesuatu, mereka mulai menjerit-jerit menghendaki keputusan Al-Qur’an atas peperangan.

Ketika pasukan Imam Ali hampir mencapai kemenangan, penasehat Muawiyah bernama Amr bin Ash memerintahkan pasukannya agar menancapkan al-Quran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama al-Quran.

Imam Ali yang memahami tipuan ini memerintahkan pasukannya agar terus bertempur, namun sebagian kelompok menolak. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Atas desakan kelompok Khawarij pula, perang dihentikan dan diadakan perundingan antara kedua pihak. Dalam perundingan ini, delegasi Muawiyah melakukan tipuan. Akibatnya, kekhalifahan kaum muslimin direbut dari tangan Imam Ali dan jatuh ke tangan Muawiyah.

Melihat Al-Qur’an dijadikan alat siasat licik, Amirul Mukminin mengatakan, “Wahai, manusia. Janganlah kamu terjebak dalam penipuan dan kelicikan ini. Mereka menggunakan rancangan ini untuk mengelakkan aibnya kekalahan. Saya mengenal watak setiap orang dari mereka. Mereka bukan penganut Al-Qur’an dan tidak bertindak menurut perintah Al-Qur’an. Demi Allah, janganlah kamu terjebak dalam tipu daya mereka. Teruskan dengan tekad dan berani, dan baru berhenti setelah mengalahkan musuh yang sedang sekarat.”

Namun, siasat licik kebatilan telah bekerja. Orang-orang itu mengambil sikap membangkang dan memberontak. Mis’ar ibn Fadaki at-Tamimi dan Zaid ibn Husain ath-Tha’i, masing-masing dengan pasukan sebesar 20.000 orang, menghadapi Amirul Mukminin seraya berkata, “Hai ‘Ali. Apabila Anda tidak menyambut seruan Al-Qur’an, kami akan memperlakukan Anda seperti kami memperlakukan ‘Utsman. Segeralah akhiri pertempuran, dan tunduklah kepada keputusan Al-Qur’an.”

Amirul Mukminin berusaha sekuat kuasanya untuk menyadarkan mereka, tetapi iblis telah berdiri di hadapan mereka berjubahkan mashaf Al-Qru’an. Ia tidak mengizinkan mereka untuk berbuat demikian, dan mereka memaksa Amirul Mukminin mengutus seseorang untuk memanggil Malik ibn Harits al-Asytar dari medan pertempuran. Karena terpaksa, Amirul Mukminin mengirim Yazid ibn Hanif’ memanggil Malik.

Ketika Malik mendengar perintah ini, ia menjadi bingung, seraya berkata, ‘Tolong katakan kepadanya, ini bukan saat untuk meninggalkan posisi. Ia boleh menunggu sebentar saat saya menghadapnya dengan berita kemenangan.” Ibn Hani’ menyampaikan pesan itu sekembalinya, tetapi orang-orang berteriak bahwa tentulah Amirul Mukminin telah menyampaikan pesan rahasia kepadanya. Amirul Mukminin mengatakan bahwa tak ada kesempatan baginya untuk menyampaikan suatu pesan rahasia. Segala yang dikatakannya dilakukan di hadapan mereka.

Orang-orang itu mengatakan bahwa Ibn Hani’ harus diutus lagi, dan apabila Malik menunda kedatangannya maka Amirul Mukminin akan kehilangan nyawa. Amirul Mukminin menyuruh lagi Ibn Hani dan menyampaikan pesan bahwa telah terjadi pemberontakan; ia harus kembali dalam keadaan bagaimanapun. Maka Ibn Hani’ pergi lagi lalu mengatakan kepada Malik, “Apakah Anda lebih mencintai kemenangan atau nyawa Amirul Mukminin? Kalau nyawanya lebih Anda cintai, Anda harus melepaskan tangan dari pertempuran lalu pergi kepadanya.” Dengan meninggalkan kesempatan untuk menang, Malik berangkat menghadap Amirul Mukminin dengan sedih dan kecewa. Kekacauan pun berkecamuk. Ia membantah orang-orang itu dengan sangatnya, tetapi mereka tak dapat diperbaiki lagi.

Maka diputuskanlah bahwa setiap pihak harus menunjuk seorang hakam supaya mereka menyelesaikan persoalan kekhalifahan itu menurut Al-Qur’an. Dari pihak Mu’awiah telah diputuskan ‘Amr ibn ‘Ash. Dari pihaknya, orang-orang itu mengajukan Abu Musa al-Asy’ari. Melihat pilihan yang salah ini, Amirul Mukminin mengatakan, “Karena Anda tidak menerima pendapat saya tentang tahkim, sekurang-kurangnya sekarang Anda menyetujui untuk tidak mengangkat Abu Musa sebagai hakam. Ia bukan orang yang amanat. Di sini ada ‘Abdullah ibn ‘Abbas, dan di sini ada Malik al-Asytar. Pilihlah seorang di antara mereka.” Tetapi, mereka tak mau mendengarkannya, dan bersikeras pada Abu Musa. Amirul Mukminin akhirnya mengatakan, “Nah, Iakukanlah sesuka Anda. Tidak lama lagi Anda akan memakan tangan Anda sendiri karena kebatilan Anda.”

Setelah pengangkatan hakam, setelah surat persetujuan ditulis, imbuhan “Amirul Mukminin” pada nama ‘Ali ibn Abi Thalib juga tertulis. ‘Amr ibn ‘Ash mengatakan, “Ini harus dihapus. Apabila kami memandangnya sebagai Amirul Mukminin, mengapa peperangan ini harus dilakukan?” Mula-mula Amirul Mukminin menolak untuk menghapusnya, tetapi setelah mereka sama sekali tak mau menerima, ia menghapusnya seraya mengatakan, “Peristiwa ini sama dengan peristiwa di Hudaibiah, ketika orang-orang kafir bersikeras bahwa kata ‘Rasulullah’ bersama nama Nabi Muhammad harus dihapus, dan Nabi menghapusnya.” Mendengar ini ‘Amr ibn ‘Ash marah dan mengatakan, “Apakah Anda memperlakukan kami sebagai orang kafir?” Amirul Mukminin berkata. “Pada hari apa Anda mempunyai suatu hubungan dengan kaum mukmin dan kapan Anda telah menjadi pendukung mereka?”

Bagaimanapun, setelah penyelesaian ini, orang-orang bubar. Setelah bermusyawarah, kedua hakam memutuskan bahwa dengan menyingkirkan ‘Ali maupun Mu’awiah dari kekhalifahan, rakyat akan diberi hak memilih siapa saja yang mereka sukai.

Ketika tiba saat pengumumannya, diadakan suatu pertemuan di Daumatul Jandal. Yang terletak antara ‘Iraq dan Suriah, kemudian kedua hakam itu tiba pula di sana untuk memaklumkan keputusan tentang nasib umat Islam. Secara licik, ‘Amr ibn ‘Ash berkata kepada Abu Musa, “Saya merasa tak pantas mendahului Anda. Anda lebih tua dalam tahun dan usia, karena itu Andalah yang mula-mula menyampaikan maklumat itu.” Abu Musa menyerah pada kata-kata pujiannya lalu keluar dengan bangganya serta berdiri di hadapan hadirin. Kepada mereka ia berkata, “Wahai kaum Muslim, kami telah besama-sama menyelesaikan bahwa ‘Ali maupun Mu’awiah harus dimakzulkan dan hak memilih khalifah diserahkan kepada rakyat. Mereka akan memilih siapa saja yang mereka kehendaki.” Setelah mengatakan ini, ia duduk.

Sekarang giliran ‘Amr ibn ‘Ash, lalu ia berkata, “Hai, kaum Muslim. Anda telah mendengar bahwa Abu Musa telah menyingkirkan ‘Ali ibn Abi Thalib. Saya pun menyetujuinya. Tentang Mu’awiah, tidak ada persoalan akan menyingkirkan dia. Karena itu saya tetapkan dia pada kedudukan itu.”

Setelah ia mengatakan ini, serentak terdengar teriakan di mana-mana. Abu Musa berteriak sekuat-kuatnya bahwa itu tipu daya licik, seraya mengatakan kepada ‘Amr ibn ‘Ash, “Engkau telah menipu, dan ibaratmu adalah seperti anjing yang apabila kau mati sesuatu ia akan menjulurkan lidah, apabila engkau tinggalkan ia akan menjulurkan lidah.” ‘Amr ibn ’Ash menjawab, “Ibaratmu adalah seperti keledai yang dimuati buku.” Bagaimanapun, siasat licik ‘Amr ibn ‘Ash efektif dan kaki goyah Mu’awiah dikuatkan kembali.

Inilah ringkasan riwayat Tahkim yang dasarnya dilandaskan pada Al-Qur’an dan sunah. Tetapi, apakah itu keputusan Al-Qur’an, ataukah itu hasil tipu daya licik yang selalu digunakan manusia duniawi untuk mempertahankan kekuasaan mereka?

Dapatkah lembaran-lembaran sejarah ini dijadikan obor penyuluh bagi masa depan? Pantaskah Al-Qur’an dan sunah digunakan sebagai alat untuk keuntungan untuk mendapatkan kekuasaan duniawi?

Siapakah Ammar bin Yasir ??

Pada masa khalifah Umar, Ammar diangkat sebagai amir (wali negeri) di Kufah dan wazirnya adalah Abdullah bin Mas’ud. Jabatan tersebut tidaklah menambah kecuali zuhud, kesalehan dan juga kerendahan hatinya. Ia tak segan membeli sayur di pasar kemudian memanggulnya sendiri. Dan sebagaimana yang dilakukan Salman al Farisi, setelah menerima gaji (tunjangan)-nya sebagai amir, ia membagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kebutuhan hidupnya, ia menjalin (membuat) bakul dan keranjang dari daun kurma dan  menjualnya ke pasar
.
Sepeninggal khalifah Umar bin Khaththab, yang mana Nabi SAW pernah menyebut Umar sebagai “kunci (gembok) Fitnah”, mulai terjadi fitnah dan perselisihan di antara umat Islam. Dalam keadaan seperti ini, para sahabat selalu mengamati Ammar bin Yasir. Hal ini berawal dari sebuah peristiwa di masa awal hijrah ke Madinah, ketika sedang membangun Masjid Nabawi. Saat itu, sisi dinding di mana Ammar dan beberapa sahabat lainnya sedang bekerja tiba-tiba runtuh dan menimpa Ammar. Pada saat yang sama, Nabi SAW sedang mengamati Ammar, kemudian beliau bersabda, “Aduhai ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka…”
.
Para sahabat yang mendengar sabda beliau itu menyangka beliau sedang meratapi kematian Ammar karena tertimbun dinding yang runtuh. Karena itu mereka menjadi ribut dan panik atas musibah yang dialami Ammar. Nabi SAW yang tanggap reaksi para sahabat tersebut, sekali lagi bersabda untuk menenangkan mereka, “Tidak apa-apa, Ammar tidak apa-apa…hanya saja, nantinya ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!!”
.
Jelas dan lugas, Nabi SAW tidak menyebut, “Ammar dibunuh kaum kafirin, musyrikin atau musuh Allah.” Tetapi beliau menyebutnya, “Kaum/golongan pendurhaka (fi-atul baaghiyah),” masih kaum muslimin, tetapi mereka yang durhaka dan menyalahi ajaran Islam. Seperti halnya anak yang durhaka kepada orangtuanya, ia tidak menjadi kafir, tetapi berdosa besar dan terancam laknat Allah, kecuali jika Allah mengampuninya.
.
Fitnah makin memuncak ketika khalifah Utsman terbunuh. Para sahabat utama Nabi SAW yang masih hidup dan mayoritas umat Islam lainnya memba’iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. Tetapi Muawiyah dan masyarakat Syam pada umumnya menolak untuk memba’iat Ali, bahkan ia yang sebelumnya hanya gubernur yang membawahi wilayah Syam, mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah menggantikan khalifah Utsman, yang memang masih kerabat dekatnya.
.
Dengan dalih menuntut balas kematian Utsman bin Affan, Muawiyah menggalang dukungan untuk mengukuhkan jabatannya tersebut. Dalam situasi konflik seperti ini, beberapa sahabat sempat mendukung Muawiyah, sebagian besar lainnya mendukung Ali bin Abi Thalib, dan ada juga sekelompok kecil sahabat yang abstain, tidak memihak keduanya, dan tidak ingin terjatuh pada perselisihan tersebut.
.
Ketika berbagai upaya damai yang dilakukan Ali bin Thalib gagal, tidak terelakkan lagi terjadinya bentrok senjata, yang terkenal dengan nama perang Shiffin. Dan Ammar bin Yasir, dengan segala ijtihad dan pengenalannya akan kebenaran, memilih untuk berdiri di pihak Ali bin Abi Thalib. Dengan pilihannya tersebut, para sahabat yang mendukung Ali bin Abi Thalib merasa tenang tentram, karena mereka meyakini sabda Nabi SAW, bahwa bersama Ammar bin Yasir, mereka berada pada pilihan yang benar. Sementara sahabat yang berdiri di fihak Muawiyah merasa was-was dan penuh keraguan.
.
Setelah berperang beberapa lama dalam perang Shiffin, ia menemui Ali bin Abi Thalib dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, pada hari ini, dan itukah?”
.
Yang dimaksud oleh Ammar adalah tentang sabda Nabi SAW : “Aduhai Ibnu Sumayyah, ia akan dibunuh oleh  golongan pendurhaka”.
.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ali dengan bijak berkata, “Tinggalkanlah urusan tersebut…”
Tetapi Ammar mengulang pernyataannya, dan Ali memberi jawaban yang sama pula sampai tiga kali. Kemudian Ali memberi minuman susu kepada Ammar, susu kental yang dicampur sedikit air. Setelah minum susu tersebut ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku bahwa seperti inilah minuman terakhir yang aku  minum di dunia.”
.
            Ali jadi terkejut, ia tidak tahu menahu sabda Nabi SAW tentang minuman terakhir Ammar, dan tidak juga menjadi “Rahasia Umum” seperti tentang siapa pembunuh Ammar. Mungkin itu menjadi rahasia pribadi Ammar dan Rasulullah SAW semata. Dan jalannya takdir Allah memang tidak bisa dihalangi lagi jika telah tiba waktunya.
Setelah  itu Ammar terjun kembali dalam pertempuran. Di tengah pertempuran tersebut, Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf sempat mendengar seruan Ammar, “Sesungguhnya aku telah bertemu dengan Al Jabbar (yakni, Allah SWT), dan aku telah dinikahkan dengan bidadari. Pada hari ini aku akan bertemu dengan kekasihku, Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Beliau telah berjanji kepadaku, bahwa akhir bekalku di dunia ini adalah susu kental yang dicampur dengan sedikit air….”
.
Memang, setelah itu Ammar tidak minum atau makan apapun lagi dan ia terjun ke medan pertempuran. Saat itu Ammar berjuang bersebelahan dengan Hasyim bin Utbah yang membawa bendera, dan akhirnya mereka menemui syahidnya bersama.
Proses Berdirinya Daulah Bani Umayah Bagian 2

KHALIFAHNYA WAHABI ; MUAWIYAH SEBAGAI AHLI NERAKA…!!

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sabda Rasulullah SAW kepada Ammar: “Betapa kasihan Ammar, golongan pembangkang telah membunuhnya, padahal dia menyeru mereka kepada kebenaran (surga) sementara mereka menyeru kepada kesesatan (neraka)” (Hr. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad)

Padahal Allah SWT menyatakan : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal didalamnya dan Allah murka kepada, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs. An Nisa ayat 93)

Juga sabda nya : “Anakku Hasan akan mendamaikan dua kelompok besar yang berselisih”. Dan sabdanya pada Abu Dzar bahwa ia akan mati sendirian dan terasing. Demikian pula dengan sabda nya : “Imam imam setelahku ada 12, semuanya dari Quraisy”

Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Pada Perang Shiffin, dua orang yang membawa kepala ‘Ammar bin Yasir kepada Mu’awiyah, bertengkar, masing masing mengaku bahwa dialah yang memenggal kepala ‘Ammar yang oleh Rasul dikatakan bahwa ‘Ammar dibunuh  kelompok  pemberontak

Ibnu Qutaibah menceriterakan dalam al Ma’arif bahwa yang mengaku membunuh ‘Ammar yang telah berumur 93 tahun itu adalah Abu alGhadiyah. Ia sendiri yeng mengaku membunuh ‘Ammar: “Sesungguhnya seorang lelaki menikam dan membuka tutup kepala ‘Ammar dan memenggal kepalanya. Kepala ‘Ammar telah berubah rupa”.  ( Ibn Qutaibah, AlMa’arif, hlm. 112 )

Abu Umar menceriterakan ‘Ammar dibunuh oleh Abu alGhadiyah dan yang memenggal kepalanya adalah Ibnu Jaz as Saksaki ( Ibn Abil Hadid, Syarh NahjulBalaghah,jilid 10, hlm. 105. )

.

SHAHIH BUKHARI NO.428 MERIWAYATKAN BAHWA RASUL MENGATAKAN BAHWA AMMAR BIN YASIR AKAN DIBUNUH KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍفَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Khalid Al Hadza’] dari [‘Ikrimah], Ibnu ‘Abbas kepadaku dan kepada Ali, anaknya, “Pergilah kalian bedua menemui [Abu Sa’id] dan dengarlah hadits darinya!” Maka kami pun berangkat. Dan kami dapati dia sedang membetulkan dinding miliknya, ia mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba`. Kemudian ia mulai berbicara hingga menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia mengkisahkan, “Masing-masing kami membawa bata satu persatu, sedangkan ‘Ammar membawa dua bata dua bata sekaligus. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau berkata sambil meniup debu yang ada padanya: “Kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh golongan durjana. Dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.” Ibnu ‘Abbas berkata, “‘Ammar lantas berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut.”
.
SIAPAKAH KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA ITU..??

MASNAD AHMAD NO.17710حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَلَمَّا قُتِلَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ دَخَلَ عَمْرُو بْنُ حَزْمٍ عَلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ قُتِلَ عَمَّارٌ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ فَقَامَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فَزِعًا يُرَجِّعُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ مَا شَأْنُكَ قَالَ قُتِلَ عَمَّارٌ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قَدْ قُتِلَ عَمَّارٌ فَمَاذَا قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ دُحِضْتَ فِي بَوْلِكَ أَوَنَحْنُ قَتَلْنَاهُ إِنَّمَا قَتَلَهُ عَلِيٌّ وَأَصْحَابُهُ جَاءُوا بِهِ حَتَّى أَلْقَوْهُ بَيْنَ رِمَاحِنَا أَوْ قَالَ بَيْنَ سُيُوفِنَا
.
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] ia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Ma’mar] dari [Thawus] dari [Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm] dari [Bapaknya] ia berkata, “Ketika Ammar bin Yasir di bunuh, [Amru bin Hazm] menemui Amru bin Ash dan berkata, “Ammar telah dibunuh! Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ‘Yang akan membunuhnya adalah kelompok pemberontak.’” Amru bin Ash berdiri dengan penuh keterkejutan seraya mengucapkan kalimat tarji’ (Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun), lalu ia mendatangi Mu’awiyah. Mu’awiyah pun bertanya padanya, “Apa yang terjadi denganmu?” [Amru bin Ash] menjawab, “Ammar telah dibunuh!” Maka Mu’awiyah berkata, “Ammar telah dibunuh, lalu apa masalahnya?” Amru bin Ash menjawab, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Yang akan membunuhnya adalah kelompok pemberontak.’” Mu’awiyah berkata, “Kamu berpihak pada anakmu! Apakah kami yang membunuhnya? Yang membunuhnya adalah Ali dan para sahabatnya, mereka membawanya lalu melemparkan di tengah-tengah tombak-tombak kami, -atau ia mengatakan, “di antara pedang kami.”
.
JELAS KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA ITU ADALAH KELOMPOK MUAWIYAH YANG BERUSAHA MENGATAKAN ALI DAN SAHABATNYA YANG MEMBUNUH AMMAR BIN YASIR, PADAHAL IMAM ALI TERPILIH SECARA DEMOKRASI LANGSUNG SAH SECARA DEMOKRASI MAUPUN TEOKRASI
.
KELOMPOK PEMBERONTAK AHLI NERAKA INI HENDAK MENGATAKAN SESUNGGUHNYA RASULULLAH SAWW TELAH MEMBUNUH SAYYIDINA HAMZAH KARENA MENGIKUTSERTAKANNYA KE PERANG UHUD..NAUDZUBILLAH MIN DZALIK
.
‘Ammar ibn Yasir ibn ‘Amir al-’Ansi al-Madzhiji al-Makhzûmi masuk Islam di masa dini, dan Muslim pertama yang membangun mesjid dalam rumahnya sendiri di mana ia beribadat kepada Allah. (Ibn Sa’d, ath-Thabaqât, III, bagian I, h. 178; Usd al-Ghâbah, IV, h. 46; Ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 311).‘Ammar masuk Islam bersama ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah. Mereka mengalami siksaan di tangan kaum Quraisy karena masuk Islam. Ayah dan ibu ‘Ammar syahid dalam siksaan, lelaki dan wanita pertama yang syahid dalam Islam.Banyak hadis diriwayatkan dari Nabi (saw) mengenai kebajikan, perilakunya yang menonjol dan amal perbuatannya yang mulia, seperti hadis yang diriwayatkan dari Nabi oleh ‘A’isyah dan lain-lainnya bahwa Nabi telah bersabda, bahwa ‘Ammar dipenuhi dengan iman dari ubun-ubun kepalanya sampai ke tapak kakinya. (Ibn Majah, as-Sunan, I, h. 65; Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliyâ’, I, h. 139; al-Haitsamî, Majma’ az-Zawâ’id, IX, h. 295; al-Istî’âb, III, h. 1137; al-Ishâbah, II, h. 512)
.
Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata tentang ‘Ammar,“‘Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Ammar. la berpaling ke mana saja kebenaran berpaling. ‘ Ammar dekat kepadaku seperti dekatnya mata dengan hidung. Sayang, suatu kelompok pendurhaka akan membunuhnya.” (ath-Thabaqât, jilid III, bagian i, h. 187; al-Mustadrak, III, h. 392; Ibn Hisyam, as-Sîrah, II, h. 143; ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 268, 270)Juga dalam hadis mutawatir dan dikenal luas yang telah disalurkan oleh al-Bukhârî (dalam ash-Shahîh, VIII, h. 185-186), Tirmidzi (dalam al-Jami’ ash-Shahîh), Ahmad ibn Hanbal (dalam al-Musnad, II, h. 161, 164, 206; III. h. 5, 22, 28, 91; IV, h. 197, 199; V, h. 215, 306, 307; VI, h. 289, 300, 311, 315), dan semua periwayat hadis dan sejarawan menyalurkan melalui 25 sahabat bahwa Nabi bersabda,“Sayang! suatu kelompok pendurhaka yang menyeleweng dari kebenaran akan membunuh ‘Ammar. ‘Ammar akan menyeru mereka ke surga dan mereka menyerunya ke neraka. Pembunuhnya dan orang-orang yang merebut senjata dan pakaiannya akan berada di neraka.”Ibn Hajar al-’Asqalani (dalam Tahdzîb at-Tahdzîb, h. 409; al-Ishâbah, II, h. 512) dan as-Suyûthî (dalam al-Khashâ’ish al-Kubrâ, II, h. 140) mengatakan,“Riwayat hadis (tersebut di atas) ini adalah mutawâtir.” Yakni, hadis itu diriwayatkan secara berurut-turut oleh sekian banyak orang sehingga tidak ada keraguan mengenai keasliannya
.
Ibn ‘Abdul Barr (dalam al-Istî’âb, III, h. 1140) mengatakan,“Hadis itu mengikuti kesinambungan tanpa putus dari Nabi, bahwa beliau berkata, ‘Suatu kelompok pendurhaka akan membunuh ‘Ammar,’ dan ini adalah suatu ramalan dari pengetahuan rahasia Nabi dan tanda kenabiannya. Hadis ini termasuk yang paling sahih dan yang tercatat secara paling tepat.”Setelah wafatnya Nabi, ‘Ammar termasuk penganut dan pendukung terbaik Amirul Mukminin dalam masa pemerintahan ketiga khalifah pertama. Dalam masa kekhalifahan ‘Utsman, ketika kaum Muslim memprotes kepada ‘Utsman terhadap kebijakannya dalam pembagian harta baitul mal, ‘Utsman berkata dalam suatu pertemuan umum bahwa uang yang berada dalam perbendaharaan adalah suci dan adalah milik Allah, dan bahwa dia (sebagai khalifah Nabi) berhak untuk membelanjakannya menurut yang dianggapnya pantas. ‘Utsman mengancam dan mengutuk semua yang hendak memprotes atau menggerutu atas apa yang dikatakannya. Atasnya, ‘Ammar ibn Yâsir dengan beraninya menyatakan keberatannya dan mulai menuduh kecondongannya yang telah mendarah daging untuk mengabaikan kepentingan rakyat umum; ia menuduhnya telah menghidupkan adat kebiasaan kaflr yang dihapus oleh Nabi. Atasnya ‘Utsman memerintahkan supaya ia dipukuli, dan beberapa orang dari kalangan Bani Umayyah, kerabat Khalifah, segera menyerang ‘Ammar yang mulia itu, dan khalifah itu sendiri menyepak kemaluan ‘Ammar dengan kaki bersepatu, yang menyebabkan ia menderita hernia. ‘Ammar pingsan selama tiga hari dan dirawat oleh Ummul Mu’minin Umm Salamah di rumahnya (Umm Salamah). (al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, V, h. 48, 54, 88; Ibn Abil Hadid, III, h. 47-52; al-Imâmah was-Siyâsah, I, h. 35-36; al-’lgd al-Farîd, IV, h. 307; ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 185; Târîkh al-Khamîs, II, h. 271)Ketika Amirul Mukminin menjadi khalifah, ‘Ammar adalah salah seorang pendukungnya yang paling setia. la ikut serta dalam semua kegiatan sosial, politik dan militer dalam masa itu, terutama dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin.

Namun, ‘Ammar gugur dalam Perang Shiffin pada 9 Safar 37 H. dalam usia lebih sembilan puluh tahun. Pada hari syahidnya, ‘Ammar ibn Yasir menghadap ke langit seraya berkata,

“Ya Allah Tuhanku. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa apabila aku mengetahui bahwa kehendak-Mu supaya aku menerjunkan diri ke Sungai (Efrat) dan tenggelam, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa apabila Engkau rida sekiranya aku menaruh pedang di dada dan menekannya keras-keras sehingga keluar di punggungku, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku! Aku tidak mengira ada sesuatu yang lebih menyenangkan bagi-Mu daripada berjuang melawan kelompok berdosa ini, dan apabila kuketahui bahwa suatu perbuatan lebih Engkau ridai, aku akan melakukannya.”

Abu ‘Abdur-Rahman as-Sulami meriwayatkan,

“Kami hadir bersama Amirul Mukminin di Shiffln di mana saya melihat ‘Ammar ibn Yasir tidak memalingkan wajahnya ke sisi mana pun, atau ke wadi-wadi (lembah) Shiffin melainkan para sahabat Nabi mengikutinya seakan-akan ia merupakan suatu panji bagi mereka. Kemudian saya mendengar ‘Ammar berkata kepada Hasyim ibn ‘Utbah (al-Mirqal), “Wahai Hasyim, menyerbula ke barisan musuh, surga berada di bawah pedang. Hari ini saya menemui kekasih saya, Muhammad dan partainya.”

“Kemudian ia berkata. ‘Demi Allah, sekiranya pun mereka membuat kita lari hingga ke pepohonan kurma Hajar (sebuah kota di Bahrain), namun kita dengan yakin bahwa kita benar dan mereka salah.’

“Kemudian ‘Ammar melajutkan (berkata kepada musuh):

Kami menyerangmu (dahulu) untuk (beriman) pada wahyu

Dan kini kami menyerangmu untuk tafsirnya;

Serangan yang memisahkan kepala dari tumpuannya;

Dan membuat kawan lupa akan sahabat setianya;

Sampai kebenaran kembali kepada jalannya.”‘

Lalu ia (as-Sulami) berkata, “Saya tidak (pernah) melihat para sahabat Nabi terbunuh pada saat mana pun sebanyak terbunuhnya mereka pada hari ini.”

Kemudian ‘Ammar memacu kudanya, memasuki medan pertempuran dan mulai bertempur. la bersikeras memburu musuh, melancarkan serangan demi serangan, dan mengangkat slogan-slogan menantang sampai akhirnya sekelompok orang Suriah yang berjiwa kerdil mengepungnya pada semua sisi, dan seorang lelaki bernama Abu al-Ghadiyah al-Juhari (al-Fazari) menimpakan luka padanya sedemikian rupa sehingga tak dapat ditanggungnya lalu ia kembali ke kemahnya. la meminta air. Semangkuk susu dibawakan kepadanya.

Ketika ‘Ammar melihat mangkuk itu ia berkata, ‘Rasulullah telah mengatakan yang sebenarnya.’ Orang bertanya kepadanya apa yang dimaksudnya dengan kata-kata itu. la berkata, ‘Rasulullah telah memberitahukan kepada saya bahwa rezeki terakhir bagi saya di dunia ini adalah susu.’ Kemudian ia mengambil mangkuk susu itu, meminumnya, lalu menyerahkan nyawanya kepada Allah Yang Mahakuasa. Ketika Amirul Mukminin mengetahui kematiannya, ia datang ke sisi ‘Ammar, menaruh kepalanya ke pangkuannya sendiri dan mengucapkan elegi yang berikut,

“Sesungguhnya seorang Muslim yang tidak sedih atas terbunuhnya putra Yasir, dan tidak terpukul oleh petaka sedih ini, tidaklah ia beriman yang sesungguhnya.

“Semoga Allah memberkati ‘Ammar di hari ia masuk Islam, semoga Allah memberkatinya di hari ia terbunuh, dan semoga Allah memberkati ‘Ammar ketika ia dibangkitkan kembali.

“Sesungguhnya saya mendapatkan ‘Ammar (pada tingkat sedemikian) sehingga tiga sahabat Nabi tak dapat disebut tanpa ‘Ammar kecuali dia adalah yang keempat, dan empat nama dari mereka tak dapat disebut kecuali ‘Ammar sebagai yang kelima.

“Tak ada di antara para sahabat Nabi yang meragukan bahwa bukan saja surga sekali atau dua kali dilimpahkan dengan paksa kepada ‘Ammar, melainkan ia mendapatkan haknya atasnya (berkali-kali). Semoga surga memberikan kenikmatan kepada ‘Ammar.

“Sesungguhnya dikatakan (oleh Nabi), ‘Sungguh, ‘Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Ammar.”‘

Lalu Amirul Mukminin melangkah maju dan melakukan salat jenazah baginya, dan kemudian dengan tangannya sendiri ia menguburkannya.

Kematian ‘Ammar menyebabkan gejolak besar pada barisan Mu’awiah pula, karena ada sejumlah orang terkemuka yang berperang pada pihaknya berpikiran bahwa peperangan Mu’awiah melawan Amirul Mukminin adalah perjuangan yang benar. Orang-orang itu mengetahui akan ucapan Nabi bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh suatu kelompok yang berada di pihak yang batil. Ketika mereka melihat bahwa ‘Ammar telah terbunuh oleh tentara Mu’awiah mereka menjadi yakin bahwa Amirul Mukminin pastilah di pihak yang benar. Kecemasan di kalangan para pemimpin maupun prajurit tentara Mu’awiah diredakan olehnya dengan argumen bahwa justru Amirul Mukminin yang membawa ‘Ammar ke medan pertempuran dan karena itu ialah yang harus bertanggung jawab atas kematiannya. Ketika argumen Mu’awiah disebutkan kepada Amirul Mukminin, ia mengatakan bahwa seakan-akan Nabi harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah karena beliau yang membawanya ke Pertempuran Uhud. (ath-Thabari, at-Târîkh, I, h. 3316-3322; III, h. 2314-2319; Ibn Sa’d, ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 176-189; Ibn Atsîr, al-Kâmil, III, h. 308-312; Ibn Katsir, at-Târîkh, VII, h. 267-272; al-Minqarî, Shiffin, h. 320-345; Ibn ‘Abdil Barr, al-Istî’âb, III, h. 1135-1140; IV, h. 1725; Ibn al-Atsir, Usd al-Ghâbah, IV, h. 43-47; V, h. 267; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balâghah, jilid V, h. 252-258; VIII, h. 10-28; X, h. 102-107; al-Hakim, al-Mustadrak, III, h. 384-394; Ibn ‘Abdi Rabbih, al-’Iqd al-Farîd, IV, h. 340-343; al-Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, II, h. 381-382; al-Haitsamî, Majma’ az-Zawâ’id, IX, h. 292-298; al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf (biografi Amirul Mukminin), h. 310-319.

.

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis !

Sunni menutupi kesalahan kesalahan para Sahabat dengan menyalahkan tokoh fiksi Abdullah bin Saba’, menyembunyikan hadis dan membuat buat hadis palsu jaminan Surga kepada musuh musuh ahlulbait

Pasca  wafat Nabi SAW, para sahabat banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul sebelumnya !

Muawiyyah si Pengingkar Hadis Nabi Saaw

Percayakah anda bahwa ada orang yang meninggalkan sunnah karena kebenciannya terhadap Imam Ali. Mau percaya atau tidak semuanya terserah kepada anda sendiri, saya hanya menampilkan riwayat yang memang menyebutkan hal yang demikian.
أخبرنا أبو الحسن محمد بن الحسين العلوي أنبأ عبد الله بن محمد بن الحسن بن الشرقي ثنا علي بن سعيد النسوي ثنا خالد بن مخلد ثنا علي بن صالح عن ميسرة بن حبيب النهدي عن المنهال بن عمرو عن سعيد بن جبير قال كنا عند بن عباس بعرفة فقال يا سعيد ما لي لا أسمع الناس يلبون فقلت يخافون معاوية فخرج بن عباس من فسطاطه فقال لبيك اللهم لبيك وإن رغم أنف معاوية اللهم العنهم فقد تركوا السنة من بغض علي رضي الله عنه
Telah mengabarkan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Husein Al ‘Alawiy yang berkata telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Hasan bin Asy Syarqiy yang berkata:
.
telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id A Nasawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad yang berkata menceritakan kepada kami ‘Ali bin Shalih dari Maisarah bin Habiib An Nahdiy dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair yang berkata “kami di sisi Ibnu Abbas di ‘Arafah, dan ia berkata “wahai Sa’id kenapa aku tidak mendengar orang-orang bertalbiyah, aku berkata “mereka takut kepada Mu’awiyah”. Maka Ibnu Abbas keluar dari tempatnya dan berkata “labbaikallahumma labbaik, dan celaka [terhinalah] Mu’awiyah, ya Allah laknatlah mereka, mereka meninggalkan sunnah karena kebencian terhadap Ali radiallahu ‘anhu [Sunan Baihaqi 5/113 no 9230]
Hadis ini sanadnya hasan. Para perawinya tsiqat kecuali Khalid bin Makhlad dia salah satu syaikh [guru] Bukhari yang diperbincangkan tetapi perbincangan itu tidak menurunkan hadisnya dari tingkatan hasan. Pendapat yang rajih Khalid bin Makhlad seorang yang shaduq hasanul hadits
.
* Abul Hasan Muhammad bin Husein bin Dawud bin ‘Ali Al ‘Alawiy An Naisaburi. Adz Dzahabi menyebutnya Imam Sayyid Muhaddis Shaduq Musnad Khurasan [Siyar ‘Alam An Nubala 17/98 no 60]. Dia adalah guru Baihaqi yang utama dimana Baihaqi telah menshahihkan hadisnya [Sunan Baihaqi 5/142 no 9408]. Pernyataan Baihaqi kalau sanadnya shahih berarti Baihaqi menganggap Abu Hasan Al ‘Alawiy seorang yang tsiqat
.
* ‘Abdullah bin Muhammad bin Hasan bin Asy Syarqiy termasuk seorang yang tsiqat dalam hadis. As Sam’aniy berkata “ia dalam hadis seorang yang tsiqat dan ma’mun” [Al Ansab As Sam’aniy 3/149]. Al Khalili menyatakan ia tidak kuat [Al Irsyad 2/471] tetapi jarh ini tidak memiliki alasan atau jarh mubham apalagi jarh laisa bil qawiy adalah jarh yang ringan dan bisa diartikan sebagai perawi yang hasanul hadits [tidak sampai ke derajat shahih]. Adz Dzahabi mengatakan kalau ia shahih pendengarannya [dalam hal hadis] dari Adz Dzahili dan yang satu thabaqat dengannya dan ia diperbincangkan karena sering meminum minuman yang memabukkan [Mizan Al I’tidal juz 2 no 4664]. Tetapi tuduhan ini masih perlu diteliti kembali karena besar kemungkinan yang diminum adalah nabiidz
.
* Ali bin Sa’id An Nasawiy Abu Hasan dia seorang yang tsiqat dan tinggal di Naisabur ia mendengar hadis dari Abu Dawud, Abdus Shamad bin Abdul Warits dan Abu Ashim, telah mendengar darinya Ibnu Abi Khaitsamah [Al Irsyad Al Khalili 2/443]
.
* Khalid bin Makhlad Al Qazhwaniy adalah perawi Bukhari [termasuk guru Bukhari], Muslim, Abu Dawud dalam Musnad Malik, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ahmad berkata ia memiliki hadis-hadis mungkar. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya”. Abu Dawud menyatakan ia shaduq tasyayyu’. Ibnu Ma’in menyatakan tidak ada masalah padanya [yang berarti tsiqat]. Ibnu Adiy berkata “ia termasuk yang memiliki banyak riwayat, di sisiku insya Allah tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia mungkar al hadits dan berlebihan dalam tasyayyu’. Al Ijli berkata “ia tsiqat dan sedikit tasyayyu’ serta banyak meriwayatkan hadis”. Shalih bin Muhammad berkata “ia tsiqat dalam hadis hanya saja dituduh ghuluw”. Al Azdiy berkata “di dalam hadisnya terdapat sebagian yang kami ingkari tetapi di sisi kami ia termasuk orang yang jujur”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat dimana Utsman bin Abi Syaibah berkata “tsiqat shaduq”. As Saji dan Al Uqaili memasukkanya dalam Adh Dhu’afa dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 221]. Ibnu Hajar berkata “dia shaduq tasyayyu’ dan memiliki riwayat afrad” [At Taqrib 1/263]. Adz Dzahabi berkata “Syaikh [guru] Bukhari yang syiah shaduq” [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 100]
.
* ‘Ali bin Shalih bin Shalih bin Hay Al Hamdaniy adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Nasa’i menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia tsiqat. Utsman Ad Darimi dari Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat insya Allah hadisnya sedikit” [At Tahdzib juz 7 no 561]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/696].
.
* Maisarah bin Habib An Nahdiy termasuk perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah [itu berarti menurut Syu’bah ia tsiqat]. Ahmad, Ibnu Ma’in, Al Ijli dan Nasa’i menyatakan ia tsiqat. Abu Dawud berkata “ma’ruf [dikenal]”. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 691]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 2/232]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 5752]
.
* Minhal bin ‘Amru Al Asdiy termasuk perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abdullah bin Ahmad berkata aku mendengar ayahku mengatakan Syu’bah meninggalkan Minhal bin ‘Amru. Wahab bin Jarir dari Syu’bah yang berkata “aku datang ke rumah Minhal kemudian aku mendengar suara tambur maka aku kembali tanpa bertanya kepadanya. Wahab bin Jarir berkata “bukankah sebaiknya kau bertanya padanya, bisa saja ia tidak mengetahui hal itu”. [At Tahdzib juz 10 no 556]. Ibnu Hajar menyatakan shaduq dikatakan pernah salah [At Taqrib 2/216]
.
* Sa’id bin Jubair termasuk perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ia adalah tabiin murid Ibnu Abbas yang terkenal. Abu Qasim At Thabari berkata “ia tsiqat imam hujjah kaum muslimin”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia seorang yang faqih ahli ibadah memiliki keutamaan dan bersifat wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]
.
Sudah jelas kalau hadis ini sanadnya hasan. Sebagian orang berusaha melemahkan hadis ini dengan melemahkan Abu Muhammad Asy Syarqi Abdullah bin Muhammad bin Hasan karena ia sering minum minuman yang memabukkan [muskir]. Anehnya jika mereka konsisten maka seharusnya mereka juga melemahkan dan menolak para sahabat yang meminum khamar seperti Mu’awiyah dan Walid bin Uqbah. Kenyataannya mereka tetap menerima riwayat kedua sahabat tersebut.
.
Dan bagi mereka yang akrab dengan kitab rijal maka hal-hal seperti ini cukup ma’ruf [dikenal ] yaitu terdapat beberapa perawi yang tetap dita’dilkan oleh ulama walaupun ia meminum minuman yang memabukkan. Hamzah As Sahmiy mendengar Abu Zur’ah Muhammad bin Yusuf Al Junaidiy pernah berkata tentang perawi yang bernama Ma’bad bin Jum’ah “ia tsiqat hanya saja ia memimum minuman yang memabukkan” [Tarikh Al Jurjani no 951]. Kemudian terkait dengan lafaz yang digunakan dalam kitab rijal, lafaz tersebut bukan “khamar” tetapi “muskir” dimana pada lafaz ini terdapat ulama yang mengatakan kalau yang mereka minum adalah nabiidz. Dan memang nabiidz ini dperselisihkan oleh sebagian ulama kedudukannya. Terdapat para ulama yang menghalalkan nabidz diantaranya An Nakhaiy dan ulama irak lainnya kemudian tetap banyak para ulama yang menta’dil mereka.
.
Hadis Ibnu ‘Abbas di atas juga dikuatkan oleh jalur lain yang tidak melewati Abu Muhammad Asy Syarqiy dari ‘Ali bin Sa’id dari Khalid bin Makhlad. Ali bin Sa’id An Nasawiy dalam periwayatannya dari Khalid bin Makhlad memiliki mutaba’ah yaitu Ahmad bin Utsman bin Hakim Al Kufy sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan Nasa’i 2/419 no 3993 dimana Ahmad bin Utsman bin Hakin seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/42]. Selain itu Ali bin Sa’id juga memiliki mutaba’ah dari Ali bin Muslim As Sulamiy sebagaimana disebutkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah 4/260 no 2830. Ali bin Muslim As Sulamiy adalah syaikh [guru] dari Ibnu Khuzaimah dimana Ibnu Khuzaimah menyebutnya Syaikh Al Faqih Al Imam dan menyatakan hadisnya shahih. Hadis ini juga disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak no 1706 dengan jalan sanad dari Ahmad bin Haazim Al Ghifari dan Ali bin Muslim keduanya dari Khalid bin Makhlad dari Ali bin Mushir dari Maisarah bin Habib dari Minhal bin ‘Amru dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. [mungkin disini terjadi tashif dalam sanad Al Hakim yang benar bukan Ali bin Mushir tetapi Ali bin Shalih]
.
Penjelasan Singkat Hadis
.
Atsar Ibnu Abbas ini mengabarkan kepada kita situasi yang terjadi di zaman pemerintahan Mu’awiyah. Tampak bahwa pada masa itu terdapat orang-orang yang takut kepada Muawiyah sehingga mereka enggan bertalbiyah padahal itu termasuk sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dari riwayat ini maka kita dapat memahami bahwa Mu’awiyah telah melarang orang-orang untuk bertalbiyah di arafah dengan maksud menyelisihi Imam Ali yang teguh melaksanakan sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi wajarlah kalau orang-orang tersebut takut kepada Muawiyah.
.
Sikap Muawiyah dan para pengikutnya inilah yang diingkari oleh Ibnu Abbas dimana Ibnu Abbas menyebutnya sebagai “meninggalkan sunnah karena kebencian terhadap Imam Ali”. Hal yang seperti ini memang patut diingkari dan menunjukkan kepada kita bahwa memang Muawiyah dan pengikutnya konsisten untuk menunjukkan kebencian kepada Ahlul Bait sampai-sampai mereka rela meninggalkan sunnah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan melarang orang melakukannya.

Bekasi –

Husein bin Hamid Alattas akui dirinya tidak menganggap Muawiyah RA sebagai sahabat Nabi SAW, ia juga mengakui Muawiyah RA boleh dihujat dan dikritik. Meskipun, dirinya menyatakan bermanhaj sebagai Ahlus Sunnah.

“Secara lughowy (bahasa) Muawiyah termasuk sahabat, tetapi secara syar’i Muawiyah tidak termasuk sahabat,” kata Husein Hamid Alattas di tengah acara dialog dan mubahalah antara ustadz Haidar Abdullah Bawazir dengan Husein bin Hamid Alattas di Radio Silaturahim, Jl. Masjid Silaturahim No. 36, Cibubur, Bekasi, Rabu (27/6).

Husein berpendapat, Muawiyah RA merupakan  pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya orang beriman dan Amar bin Yasir ketika terjadi perselisihan antara Muawiyah RA dengan Ali bin Abi Tholib RA yang berujung dengan peperangan. Pihak yang melakukan kesalahan dalam merubah sistem kekhilafahan menjadi kerajaan dengan mengangkat anaknya sebagai penerus kekhalifahan, serta yang menyebabkan peristiwa-peristiwa berdarah. “Memecahbelah umat dan menguasai harta,” tambah Husein.

Pendapat bahwa terdapat perbedaan makna sahabat secara bahasa dan syar’i dan ketidaksepakatan ulama dalam menilai sahabat yang membunuh orang beriman, menurutnya adalah berdasarkan kitab ulasan orang-orang yang sesuai dengan buku kalangan sunni kontemporer karya Hasan Farhan Al Maliki yang berjudul ‘Assubhu was Sahabah’. “Dalam buku itu tidak terdapat ijma dalam ahlussunnah berkaitan pandangan tersebut (status sahabat bagi orang yang membunuh orang beriman),” ujar Husein.

Penjelasan tersebut diutarakan Husein, setelah menolak definisi sahabat oleh jumhur ulama yang diutarakan ustadz Haidar Bawazir, yakni seseorang yang bertemu Nabi SAW dalam keadaan beriman ketika hidup dan  beriman hingga ia meninggal dunia

.

animals_cats-015

Muawiyah bersama pengikutnya yang mengobarkan peperangan terhadap Imam Ali r.a dan menyebabkan banyak sahabat terbunuh. Muawiyah dan Amru bin Ash, yang mengobarkan perang Shiffin melawan Imam Ali.

Allah berfirman: “Barang siapa yang membunuh mukmin secara sengaja, Neraka Jahanam adalah balasan bagi mereka. Allah mengutuk dan memurkainya, dan azab yang sangat pedih menantinya” (QS. an-Nisa :93).

Dengan demikian, apakah kita harus menghormati seluruh sahabat dan mengikuti mereka semua, meski di antara mereka telah dikutuk Allah dengan ayat diatas? Mengapa kita harus mencintai orang yang dimurkai oleh Allah, dan kenapa kita harus taat pada orang yang telah dijanjikan baginya neraka?

Dalam hadis mutawatir dan dikenal luas yang telah disalurkan oleh al-Bukhârî (dalam ash-Shahîh, VIII, h. 185-186), Tirmidzi (dalam al-Jami’ ash-Shahîh), Ahmad ibn Hanbal (dalam al-Musnad, II, h. 161, 164, 206; III. h. 5, 22, 28, 91; IV, h. 197, 199; V, h. 215, 306, 307; VI, h. 289, 300, 311, 315), dan semua periwayat hadis dan sejarawan menyalurkan melalui 25 sahabat bahwa Nabi bersabda,“Sayang! suatu kelompok pendurhaka yang menyeleweng dari kebenaran akan membunuh ‘Ammar. ‘Ammar akan menyeru mereka ke surga dan mereka menyerunya ke neraka.”

Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata tentang ‘Ammar : “Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama ‘Ammar. la berpaling ke mana saja kebenaran berpaling. ‘ Ammar dekat kepadaku seperti dekatnya mata dengan hidung. Sayang, suatu kelompok pendurhaka akan membunuhnya.” (ath-Thabaqât, jilid III, bagian i, h. 187; al-Mustadrak, III, h. 392; Ibn Hisyam, as-Sîrah, II, h. 143; ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 268, 270)

Tahukah anda bahwa Nabi Muhammad bersabda seperti yang diriwayatkan Musnad Ahmad ibn Hanbal: “Barang siapa yang mengutuk Ali secara terang-terangan, maka ia telah mengutuk aku, dan barangsiapa yang telah mengutuk aku, maka ia telah mengutuk Allah, dan barangsiapa yang telah mengutuk Allah, Allah akan melemparkannya ke neraka jahanam.”

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis ! Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Baladzuri mencatat dalam Ansab al-Asyraf (3/ 403) :

حدثني الحسين بن علي بن الأسود، ثنا يحيى بن آدم عن وكيع عن إسماعيل بن أبي خالد عن شبيل اليحصبي قال: كانت لي حاجة إلى عمر بن الخطاب، فغدوت لأكلمه فيها، فسبقني إليه رجل فكلمه فسمعت عمر يقول له: لئن أطعتك لتدخلني النار، فنظرت فإذا هو معاوية.

“Aku mempunyai kebutuhan dari Umar bin Khatab, maka aku pergi kepadanya untuk bicara dengannya, namun seseorang laik-laki  sebelumku berbicara kepadanya, aku dengar bahwa Umar mengatakan kepadanya : Jika aku ta’at kepadamu, kau akan membuatku masuk neraka”..lalu aku melihat dan itu (orang tsb) adalah Muawiyah”

  1. Husain bin Ali al Aswad : Ibn Hajar berkata : “Shaduq” (Taqrib al Tahdib, j.1/ h.216).
  2. Yahya bin Adam : Ibn Hajar berkata : “Tsiqah” (Taqrib al Tahdib, j.2 / h.296).
  3. Waki : Ibn Hajar berkata: “Tsiqah” (Taqrib al-Tahdib, j.2 / h.284).
  4. Ismail bin Abi Khalid : Ibn Hajar berkata : “Tsiqah” (Taqrib al Tahdib, j.1 / h.93).
  5. Syubail al Yahshabi : Ibn Hajar berkata : “Tsiqah” (Taqrib al Tahdib, j.1/ h.412).

tak diragukan kalau Imam Ali benar dalam tindakannya memerangi Muawiyah. Sebagaimana yang telah dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok pemberontak [baaghiyyah]. Hanya saja beberapa orang dari pengikut salafy yang ghuluw mencintai Muawiyah tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengan segenap usaha “yang melelahkan” membela Muawiyah. Tidak jarang demi membela Muawiyah mereka mengutip perkataan Imam Ali. Bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan para pengikutnya?. Perhatikanlah hadis-hadis berikut

.

Doa Imam Ali Untuk Muawiyah dan Pengikutnya

حدثنا تميم بن المنتصر الواسطي قال أخبرنا إسحاق يعني الأزرق عن شريك عن حصين عن عبد الرحمن بن معقل المزني قال صليت مع علي بن أبي طالب رضوان الله عليه الفجر ” فقنت على سبعة نفر منهم فلان وفلان وأبو فلان وأبو فلان

Telah menceritakan kepada kami Tamim bin Muntashir Al Wasithiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ishaq yakni Al Azraq dari Syarik dari Hushain dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy yang berkata “aku shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu maka ia membaca qunut untuk tujuh orang, diantara mereka adalah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan” [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2628]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syarik ia memang seorang yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya. Ishaq Al Azraq meriwayatkan dari Syarik sebelum hafalannya berubah maka riwayatnya shahih.

  • Tamim bin Muntashir Al Wasithiy adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’I menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 958]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dhabit [At Taqrib 1/143-144]
  • Ishaq bin Yusuf Al Azraq adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shahih hadisnya shaduq tidak ada masalah dengannya”. Yaqub bin Syaibah berkata “ia termasuk orang yang alim diantara yang meriwayatkan dari Syarik”. Al Khatib berkata “termasuk tsiqat dan ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Bazzar menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/87]
  • Syarik Al Qadhi adalah Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507]
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan  kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 2 no 659]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi  menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124].
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Riwayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ali membaca qunut nazilah untuk beberapa orang pada shalat fajar. Terdapat riwayat lain yang menyebutkan kalau Imam Ali juga membaca qunut ini [nazilah] pada shalat maghrib

حدثني عيسى بن عثمان بن عيسى قال حدثنا يحيى بن عيسى عن الأعمش عن عبد الله بن خالد عن عبد الرحمن بن معقل قال صليت خلف علي المغرب فلما رفع رأسه من الركعة الثالثة قال اللهم العن فلانا وفلانا وأبا فلان وأبا فلان

Telah menceritakan kepadaku Isa bin Utsman bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Khalid dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata “aku shalat maghrib di belakang Ali ketika ia mengangkat kepalanya pada rakaat ketiga, ia berkata “ya Allah laknatlah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan” [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2627]

Riwayat ini sanadnya hasan dengan penguat riwayat sebelumnya. ‘Abdullah bin Khalid adalah seorang kufah yang tsiqat dimana telah meriwayatkan darinya Sufyan Ats Tsawri dan Al A’masy.

  • Isa bin Utsman bin Isa adalah perawi Tirmidzi. Telah meriwayatkan darinya jama’ah hafizh diantaranya Tirmidzi dan Ibnu Jarir. Nasa’I menyatakan “shalih” [At Tahdzib juz 8 no 410]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/772]
  • Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • ‘Abdullah bin Khalid meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy dan telah meriwayatkan darinya Sufyan dan ‘Amasy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 8812]. Al Fasawiy menyebutkan ia seorang yang tsiqat [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/104]
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Kedua riwayat ini menyebutkan kalau Imam Ali membaca qunut nazilah pada shalat shubuh dan maghrib dimana Beliau mendoakan keburukan atau melaknat orang-orang tertentu. Siapa orang-orang tersebut memang tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarir tetapi tampak jelas kalau perawi [entah siapa] menyembunyikan nama-nama mereka karena tidak mungkin ada seseorang bernama fulan atau abu fulan. Alhamdulillah ternyata terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan nama beberapa diantara mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Riwayat ini sanadnya shahih, Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]. Sedangkan Hushain dan Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan kalau mereka tsiqat.

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/134]

Riwayat ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat termasuk perawi Bukhari Muslim [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin perawi kutubus sittah [At Taqrib 2/193]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy atau Abu Hasan Al Kufiy adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 128]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/643]. Dan ‘Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan bahwa ia tabiin yang tsiqat.

Kedua riwayat Abdurrahman bin Ma’qil ini menyebutkan kalau diantara mereka yang didoakan [dalam qunut] keburukan atau laknat oleh Imam Ali adalah Mu’awiyah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Imam Ali, Muawiyah dan pengikutnya itu menyimpang dan telah sesat plus menyesatkan banyak orang sehingga Imam Ali sampai membaca qunut nazilah untuk mereka. Abbas Ad Duuriy berkata

سمعت يحيى يقول أبو الأعور السلمي رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وكان مع معاوية وكان علي يلعنه في الصلاة

Aku mendengar Yahya [bin Ma’in] berkata “Abul A’war As Sulamiy seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia bersama Muawiyah dan Ali telah melaknatnya di dalam shalat” [Tarikh Ibnu Ma’in 3/43 no 175]

.

.

Kelompok Muawiyah Berada Di Jalan Yang Bathil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” [Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Telah terbukti kalau ‘Ammar terbunuh dalam perang shiffin dan ia berada di pihak Imam Ali jadi kelompok baaghiyyah [pembangkang] yang membunuh ‘Ammar dalam hadis Bukhari di atas adalah kelompok Muawiyah. Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Jadi berdasarkan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dalam perang shiffin Imam Ali dan pengikutnya berada dalam kebenaran sedangkan Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت عبد الله بن سلمة يقول رأيت عمارا يوم صفين شيخا كبيرا آدم طوالا آخذا الحربة بيده ويده ترعد فقال والذي نفسي بيده لقد قاتلت بهذه الراية مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات وهذه الرابعة والذي نفسي بيده لو ضربونا حتى يبلغوا بنا شعفات هجر لعرفت أن مصلحينا على الحق وأنهم على الضلالة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Salamah berkata “aku melihat ‘Ammar dalam perang shiffin, dia seorang Syaikh yang berumur, berkulit agak gelap dan berperawakan tinggi, ia memegang tombak dengan tangan bergetar. Ia berkata “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa panji ini bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiga kali dan ini adalah yang keempat. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami kepada kematian maka aku yakin bahwa orang-orang shalih yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan [Musnad Ahmad 4/319 no 18904]

Riwayat ini sanadnya hasan. ‘Abdullah bin Salamah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit perbincangan karena hafalannya. Riwayat ini juga disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 5651.

  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • ‘Amru bin Murrah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan shaduq tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah [At Taqrib 1/745]
  • ‘Abdullah bin Salamah adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ai Ijli menyatakan ia tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat termasuk thabaqat pertama dari ahli fiqih kufah setelah sahabat”. Abu Hatim berkata “dikenal dan diingkari”. Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. Ibnu Ady berkata “aku kira tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 5 no 421]. Ibnu Hajar berkata “shaduq mengalami perubahan pada hafalannya” [At Taqrib 1/498]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Al Kasyf no 2760], Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam Man Tukullima Fihi wa huwa Muwatstsaq no 182. Ibnu Hibban telah menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080]. Ibnu Khuzaimah telah berhujjah dan menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/104 no 208]. Al Hakim ketika membawakan hadis ‘Abdullah bin Salamah ia menyatakan hadis tersebut shahih sanadnya walaupun syaikhan tidak berhujjah dengan ‘Abdullah bin Salamah tetapi tidak ada cela terhadapnya [Al Mustadrak juz 1 no 541] itu berarti Al Hakim menganggap ‘Abdullah bin Salamah tsiqat. Pendapat yang rajih, ‘Abdullah bin Salamah adalah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit pembicaraan dalam hafalannya tetapi itu tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan.

Riwayat ini dengan tegas menyatakan kalau ‘Ammar dan orang-orang shalih di pihak Imam Ali adalah berada di atas kebenaran sedangkan mereka kelompok Muawiyah berada di atas kesesatan atau kebathilan. Kami tidak akan berbasa-basi seperti sebagian orang yang mengklaim kalau Muawiyah berijtihad dan walaupun salah ijtihadnya tetap mendapat pahala. Itu berarti Muawiyah yang dalam perang shiffin dikatakan mengajak orang ke neraka tetap mendapat pahala. Sungguh perkataan yang aneh bin ajaib.

Kami juga ingin menegaskan kepada orang yang memang tidak punya kemampuan memahami perkataan orang lain bahwa kami tidak pernah menyatakan kalau Muawiyah dan pengikutnya kafir dalam perang shiffin berdasarkan hadis-hadis di atas. Jika dikatakan mereka bermaksiat maka itu sudah jelas, orang yang mengajak ke jalan neraka maka sudah jelas ia bermaksiat. Tetapi apakah maksiat itu membawa kepada kekafirannya maka hanya Allah SWT yang tahu. Soal Muawiyah kami sudah pernah membahas hadis shahih yang menunjukkan bahwa pada akhirnya ia mati tidak dalam agama islam sedangkan soal pengikutnya yang lain kami tidak memiliki dalil yang jelas soal itu.

.

.

.

Syubhat Salafy Dalam Membela Muawiyah

.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِيُّ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ ، قَالَ : سُئِلَ عَلِيٌّ عَنْ قَتْلَى يَوْمِ صِفِّينَ ، فَقَالَ : قَتْلاَنَا وَقَتْلاَهُمْ فِي الْجَنَّةِ ، وَيَصِيرُ الأَمْرُ إلَيَّ وَإِلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayub Al Maushulliy dari Ja’far bin Burqaan dari Yazid bin Al Aasham yang berkata Ali pernah ditanya tentang mereka yang terbunuh dalam perang shiffin. Ia menjawab “yang terbunuh diantara kami dan mereka berada di surga” dan masalah ini adalah antara aku dan Muawiyah [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 15/302 no 39035]

Riwayat ini secara zahir sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat di dalamnya. Adz Dzahabi mengatakan tentang Yazid bin Al Aasham kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih [As Siyar 4/517 no 211]. Walaupun dikatakan Adz Dzahabi ia menemui masa khalifah Ali tetapi tetap saja Adz Dzahabi sendiri mengatakan kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih. Cukup ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa terkadang ada perawi yang melihat atau bertemu atau semasa dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dikatakan tidak shahih. Salah satu contohnya adalah Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Madini berkata tentangnya “ia melihat Abu Sa’id Al Khudri tawaf di baitullah dan ia melihat Abdullah bin Umar tetapi tidak mendengar hadis dari keduanya” [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 520].

Ada yang berhujjah sembarangan dengan hadis ini. Mereka dengan hadis ini membela Muawiyah dan pengikutnya. Ini namanya asal berhujjah, telah kami tunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali sebenarnya kepada kelompok Muawiyah. Jika Imam Ali sendiri berdoa dalam qunut nazilah agar Muawiyah dan pengikutnya mendapatkan hukuman dari Allah SWT maka sudah jelas menurut Imam Ali mereka kelompok Muawiyah berada dalam kesesatan atau kebathilan dan hal ini pun sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pandangan ‘Ammar bin Yasir radiallahu ‘anhu.

Jadi jika riwayat di atas diartikan bahwa Imam Ali membenarkan Muawiyah dan pengikutnya maka itu keliru. Kami pribadi menganggap atsar tersebut matannya mungkar dan sanadnya memang mengandung illat. Bukankah dalam perang shiffin Muawiyah dan pengikutnya telah terbukti berada di atas Jalan yang menuju ke neraka berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Apakah mereka yang gugur karena membela kebathilan akan mendapat imbalan surga?. Jadi dari sisi ini kalau riwayat tersebut diartikan secara zahir maka mengandung pertentangan dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainyapun orang-orang tersebut menerima riwayat Imam Ali di atas maka sudah seharusnya diartikan bahwa yang dimaksud bukan secara umum. Bukankah salafy sendiri [Muawiyah dan pengikutnya] menganggap bahwa dalam kelompok Imam Ali terdapat para pembunuh Utsman radiallahu ‘anhu. Nah apakah mereka yang terbunuh dalam kelompok Imam Ali ini akan mendapat surga? Silakan mereka salafy menjawabnya. Begitu pula mungkin saja dalam kelompok Muawiyah terdapat orang-orang yang tidak memahami persoalan, mereka tertipu oleh propaganda Muawiyah atau dengan bahasa yang lebih kasar fitnah kalau Imam Ali dan pengikutnya melindungi para pembunuh khalifah Utsman radiallahu ‘anhu. Mungkin saja kelompok ini yang dikatakan Imam Ali bahwa yang terbunuh diantara mereka mendapat surga. Sehingga sangat wajar di akhir riwayat Imam Ali mengatakan kalau masalah ini adalah antara diri Beliau dan Muawiyah.

Selain itu sangat ma’ruf kalau tidak semua orang yang ikut berperang memiliki niat yang baik walaupun mereka berada di pihak yang benar. Kedudukannya tergantung niat orang tersebut, jika ia berperang dengan niat mendapatkan harta atau niat lain yang buruk dan gugur dalam perang tersebut bukan berarti ia lantas mendapat surga. Terdapat kisah dimana salah seorang sahabat gugur di medan perang kemudian para sahabat yang lain mengatakan ia syahid tetapi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membantahnya dan mengatakan kalau ia di neraka karena sahabat tersebut telah berkhianat dalam harta rampasan perang. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa atsar Imam Ali di atas seandainya kita terima maka ia tidak bisa diartikan secara umum untuk semua orang yang terbunuh di shiffin. Apalagi sangat tidak benar menjadikan hadis ini untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yang lain.

Sebenarnya ada hal lucu yang tidak terpikirkan oleh salafy. Bukankah mereka sering merendahkan Syiah yang katanya  Syiah mengatakan bahwa Imam Ali mengetahui perkara yang ghaib. Padahal yang dilakukan syiah mungkin hanya berhujjah dengan riwayat yang ada di sisi mereka. Sekarang lihatlah riwayat Imam Ali di atas, bukankah pengetahuan siapa yang akan masuk surga adalah pengetahuan yang bersifat ghaib lantas kenapa sekarang salafy anteng-anteng saja meyakini riwayat tersebut. Sekarang dengan lucunya [demi membela Muawiyah] salafy mengakui kalau Imam Ali mengetahui perkara ghaib bahwa yang terbunuh di shiffin itu masuk surga. Sungguh tanaqudh dan memprihatinkan mereka suka mencela mazhab lain tetapi apa yang mereka cela ada pada diri mereka sendiri.

Bukan nashibi namanya kalau tidak membela Muawiyah. Segala cara akan mereka lakukan untuk membela Muawiyah, apapun yang terjadi pokoknya Muawiyah harus dibebaskan dari segala perilaku buruk. Setiap perilaku buruk Muawiyah harus ditafsirkan sebagai akhlak yang mulia. Jika Muawiyah meminum minuman yang diharamkan maka harus ditafsirkan bahwa yang ia minum adalah susu. Jika Muawiyah menolak hadis dan menuduh sahabat berdusta maka harus ditafsirkan ia berijtihad. Orang yang berakal pasti akan merasa geli melihat ulah para nashibi yang menghalalkan segala cara untuk membela pujaan mereka Muawiyah.

Berkaitan dengan Muawiyah mencela Imam Ali, para nashibi [yang biasa terlibat di forum konyol kebanggaan mereka] menolak dengan sombongnya kalau Muawiyah mencela Imam Ali. Bahkan ada diantara mereka yang berlisan kotor menuduh orang yang tidak sependapat dengannya sebagai Dajjal. Na’udzubillah betapa buruknya akhlak para nashibi.

Kami sarankan agar para pembaca tidak terlibat diskusi dengan mereka karena kasihan itu hanya akan memperbanyak dosa mereka. Diskusi itu pada akhirnya hanya akan membuat para nashibi menghina anda bahkan menyebut anda Dajjal. Apalagi kalau anda tidak hati-hati dan terbawa emosi maka anda akan ikut ikutan menghina pula jadilah diksusi itu ajang caci mencaci dan hina menghina. Biarkanlah mereka hidup dengan tabiat mereka yang suka menghina, tidak lain itu warisan dari pujaan mereka Muawiyah yang suka mencaci Imam Ali

حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya [Sunan Ibnu Majah 1/45 no 121 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah no 98]

Nashibi yang sok berasa paham ilmu hadis Ahlus sunnah setelah menukil riwayat ini, ia menyatakan bahwa riwayat ini dhaif karena inqitha’ atau sanadnya terputus. Ibnu Sabith tidak mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqash maka riwayatnya mursal. Pernyataan ini hanya bertaklid buta pada pendapat Ibnu Ma’in berikut yaitu dari riwayat Ad Duuriy

سمعت يحيى يقول قال بن جريج حدثني عبد الرحمن بن سابط قيل ليحيى سمع عبد الرحمن بن سابط من سعد قال من سعد بن إبراهيم قالوا لا من سعد بن أبى وقاص قال لا قيل ليحيى سمع من أبى أمامة قال لا قيل ليحيى سمع من جابر قال لا هو مرسل كان مذهب يحيى أن عبد الرحمن بن سابط يرسل عنهم ولم يسمع منهم

Aku mendengar Yahya mengatakan Ibnu Juraij berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Saabith, dikatakan kepada Yahya, apakah ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Sa’ad?. Yahya berkata “Sa’ad bin Ibrahim?”. Mereka menjawab “bukan”, dari Sa’ad bin Abi Waqaash. Yahya berkata “tidak”. Dikatakan kepada Yahya, apakah ia mendengar dari Abu Umamah. Yahya menjawab “tidak”. Dikatakan kepada Yahya apakah ia mendengar dari Jabir. Yahya menjawab “tidak, itu mursal”. Mazhab Yahya adalah ‘Abdurrahman bin Saabith mengirsalkan hadis dari mereka dan tidak mendengar dari mereka [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 366]

Yahya bin Ma’in beranggapan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’ad, Abu Umamah, dan Jabir. Riwayat Ibnu Saabith dari ketiganya adalah mursal. Ini adalah pendapat atau mazhab Ibnu Ma’in dan ternyata terbukti keliru. Imam Bukhari berkata

عبد الرحمن بن عبد الله بن سابط الجمحي المكي سمع جابرا روى عنه ليث وعبد الله بن مسلم بن هرمز وفطر

‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy mendengar dari Jabir, meriwayatkan darinya Laits, ‘Abdullah bin Muslim bin Hurmuz dan Fithr [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 5 no 985]

عبد الرحمن بن سابط الجمحى مكى روى عن عمر رضى الله عنه مرسل وعن جابر بن عبد الله، متصل

‘Abdurrahman bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy meriwayatkan dari Umar radiallahu ‘anhu mursal dan dari Jabir bin ‘Abdullah muttashil [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/240 no 1137]

Dan terdapat riwayat dari Ibnu ‘Adiim dalam kitabnya Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab menyebutkan riwayat dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [silakan lihat http://islamport.com/w/tkh/Web/363/1013.htm%5D

وأخبرنا أبو اسحاق إبراهيم بن عثمان بن يوسف الكاشغري -قدم علينا حلب- قال: أخبرنا أبو المظفر أحمد بن محمد بن علي بن صالح الكاغدي وأبو الفتح محمد بن عبد الباقي بن أحمد بن سلمان. قال أبو المظفر: أخبرنا أبو بكر أحمد بن علي بن الحسين بن زكريا، وقال أبو الفتح: أخبرنا أبو الفضل أحمد بن الحسن بن خيرون قالا: أخبرنا أبو علي الحسن بن أحمد بن ابراهيم بن شاذان قال: أخبرنا أبو محمد عبد الله بن جعفر بن درستويه قال: أخبرنا أبو يوسف يعقوب بن سفيان الفسوي قال: حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير قال: حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله.

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kaasyghariy, yang mendatangi kami di Halab, yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muzhaffar Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Shalih Al Kaaghadiy dan Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan. Abu Muzhaffaar berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Husain bin Zakaria. Dan Abu Fath berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairuun. Keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan Al Fasawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabii’ bin Sa’d dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata “aku bersama Jabir maka masuklah Husain bin Ali radiallahu ‘anhum. Jabir kemudian berkata “siapa yang ingin melihat seorang ahli surga maka lihatlah orang ini, aku bersaksi telah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya [Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92]

Riwayat ini kedudukannya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Para perawi yang kami jelaskan berikut adalah yang kami cetak biru

  • Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kasyghariy disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar yaitu Syaikh Mu’ammar Musnad Iraq. Ibnu Nuqtah berkata “pendengarannya shahih” [dalam hadis]. Ibnu Najjar juga mengatakan ia shahih pendengarannya [As Siyar Adz Dzahabi 23/148-149 no 03]
  • Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan biografinya disebutkan Ibnu Ad Dimyathiy dalam kitabnya Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad dimana disebutkan kalau Abu Fath seorang syaikh shalih shaduq dan terpercaya [Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad no 14]
  • Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairun disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar bahwa ia Imam Alim Hafizh Musnad Hujjah. As Sam’aniy menyatakan ia tsiqat adil mutqin [As Siyar Adz Dzahabi 19/105-106 no 60]
  • Abu Ali Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan disebutkan biografinya oleh Adz Dzahabiy dalam As Siyaar bahwa ia Imam Al Fadhl Shaduq Musnad Iraq. Al Khatib berkata “aku menulis darinya, shahih pendengarannya, shaduq”. Abu Hasan bin Zarqawaih menyatakan ia tsiqat [As Siyar Adz Dzahabi 17/416-417 no 273]
  • ‘Abdullah bin Ja’far Abu Muhammad adalah Ibnu Darastawaih, Adz Dzahabi menyatakan ia seorang Imam, Allamah dan tsiqat [As Siyar 15/531 no 309]
  • Yaqub bin Sufyan Al Fasawi disebutkan Ibnu Hajar bahwa ia seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 2/337]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6388]
  • Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat hafizh memiliki keutamaan [At Taqrib 2/100]
  • ‘Abdullah bin Numair adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabiy menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]
  • Rabi’ bin Sa’d Al Ju’fiy dikatakan Abu Hatim “tidak ada masalah padanya” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 2077]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 6 no 7800]. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 2216]. Ibnu Syahin dan Ibnu Ammar menyatakan ia tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 354]
  • Abdurrahman bin Saabith, Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/570]. Adz Dzahabiy menyatakan ia faqih tsiqat [Al Kasyf no 3198]

Riwayat Ibnu Saabith di atas menjadi bukti bahwa mazhab Ibnu Ma’in keliru. Perkataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d, Abu Umamah dan Jabir disampaikan dengan satu lafaz perkataan dan menjadi mazhab Ibnu Ma’in. Jika terbukti bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir maka sangat wajar kita katakan pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d dan Abu Umamah sama tidak berdasarnya dengan pernyataan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Jabir. Satu-satunya yang mungkin Ibnu Ma’in mengatakan riwayat Ibnu Saabith dari mereka mursal karena menurut Ibnu Ma’in, Ibnu Saabith tidak menemui masa hidup mereka.

Dari riwayat tersebut Ibnu Saabith bertemu dengan Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhu bahkan melihat Husain bin Ali [‘alaihis salam]. Imam Husain wafat pada tahun 61 H [Al Kasyf no 1097]. Maka peristiwa di atas terjadi sebelum tahun 61 H dan saat itu Ibnu Saabith sudah dewasa dan bersama Jabir radiallahu ‘anhu. Sa’d bin Abi Waqash wafat pada tahun 55 H [Al Kasyf no 1845] maka Ibnu Saabith bertemu dengan Sa’d bin Abi Waqash apalagi, Ibnu Saabith itu adalah orang Makkah dan peristiwa Muawiyah mencela Imam Ali terjadi ketika Sa’ad bin Abi Waqash sedang berada di Makkah. Bagaimana mungkin perawi yang berada dalam satu masa dan satu kota yang sama bisa dikatakan tidak mendengar dan riwayatnya mursal. Kesimpulannya mazhab Ibnu Ma’in dalam hal ini terbukti keliru.

Ibnu Hajar dalam Al Ishabah mengutip bahwa ada yang mengatakan kalau Ibnu Saabith tidak shahih mendengar dari sahabat Nabi dan ada yang mengatakan kalau ia tidak menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash [Al Ishabah 5/228 no 6691]. Kemungkinan orang yang dimaksud Ibnu Hajar tersebut adalah Ibnu Ma’in. Lagipula terlepas dari siapa yang dikutip Ibnu Hajar tersebut pernyataan itu keliru. Ibnu Saabith terbukti mendengar dari Jabir radiallahu ‘anhu dan ia menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash.

Ad Dhiya’ Al Maqdisi dalam kitabnya Al Ahadits Al Mukhtarah [dimana ia menshahihkan hadis yang ia kutip] mengutip hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dengan judul “Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d radiallahu ‘anhu” [Al Ahadis Al Mukhtarah no 1008]. Hal itu menunjukkan bahwa di sisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’ad adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa’d. Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah 7/376 juga membawakan hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d di atas dan ia berkata “sanadnya hasan” maka itu berarti disisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa’d

.

.

.

عن عامر بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه قال أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي

Dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqash dari ayahnya yang berkata Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku” [Shahih Muslim 4/1870 no 2404]

Kami telah menjelaskan panjang lebar makna hadis ini dalam tulisan kami yang lalu, dimana kami membantah penafsiran An Nawawi terhadap hadis ini. Disini kami hanya ingin mengutip ulama yang menguatkan hujjah kami bahwa makna hadis riwayat Muslim di atas adalah Muawiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali.

Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy termasuk ulama yang mengartikan riwayat Muslim sebagai Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Imam Ali. Dalam kitabnya Syarh Sunan Ibnu Majah, ketika menjelaskan lafaz “Fanala minhu” dalam hadis Ibnu Saabith di atas ia berkata

قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي

Perkataannya “Fanala minhu” bermakna Muawiyah mencela Ali, berkata buruk tentangnya dan mencacinya kemudian memerintahkan Sa’ad untuk mencacinya seperti yang dikatakan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi [Syarh Sunan Ibnu Majah no 121]

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Manhaj As Sunnah ketika menyinggung hadis Sa’ad riwayat Muslim, ia berkata

وأما حديث سعد لما أمره معاوية بالسب فأبى فقال ما منعك أن تسب علي بن أبي طالب فقال ثلاث قالهن رسول الله صلى الله عليه وسلم فلن أسبه لأن يكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم الحديث فهذا حديث صحيح رواه مسلم في صحيحه

Adapun hadis Sa’ad ketika Muawiyah memerintahkannya untuk mencaci dan ia menolak maka Muawiyah berkata “apa yang mencegahmu mencaci Ali bin Abi Thalib?” Sa’ad berkata “selama masih ada tiga hal yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentangnya maka aku tidak akan mencacinya. Seandainya aku memiliki satu saja diantara ketiganya maka itu lebih aku cintai dari segala macam kebaikan –al hadits-. Hadis ini adalah hadis shahih diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya [Manhaj As Sunnah Ibnu Taimiyyah 5/16]

Penafsiran kami terhadap hadis ini jelas bersandarkan pada teksnya. Lafaz pertama “Muawiyah memerintah Sa’ad” kemudian lafaz berikutnya Muawiyah berkata “apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab”. Maka orang yang paham dan punya akal pikiran dapat mengetahui bahwa hadis itu bermakna Muawiyah memerintahkan Sa’d mencaci Ali tetapi Sa’d menolaknya maka Muawiyah bertanya “apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab?”. Sedangkan apa yang dijelaskan oleh Nawawi dalam Syarh Muslim dan diikuti secara buta oleh para nashibi [karena membela idola mereka] adalah penakwilan dan tidak berdasarkan pada lafaz hadisnya.

.

.

.

Berikut akan kami bawakan hadis lain sebagai bukti Muawiyah mencela Imam Ali dan menuduhnya dengan tuduhan konyol yang jika saja perkataan serupa ditujukan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami yakin para nashibi akan mengkafirkan orang yang mengatakannya.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata “Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Ali dan sahabatnya, mereka membawanya dan melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita [Musnad Ahmad 4/199 no 17813 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Perhatikan hadis di atas setelah mengetahui ‘Ammar bin Yasar radiallahu ‘anhu terbunuh dan terdapat hadis bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang maka Muawiyah menolaknya bahkan melemparkan hal itu sebagai kesalahan Imam Ali. Menurut Muawiyah, Imam Ali dan para sahabatnya yang membunuh ‘Ammar karena membawanya ke medan perang dan menurut Muawiyah Imam Ali itu yang seharusnya dikatakan sebagai kelompok pembangkang. Sudah jelas ini adalah celaan yang hanya diucapkan oleh orang yang lemah akalnya.

Tentu saja itu sama halnya dengan Muawiyah menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membunuh para sahabat Badar dan Uhud yang syahid di medan perang karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membawa mereka ke medan perang. Bayangkan jika perkataan dengan “logika Muawiyah” ini diucapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka sudah pasti para nashibi itu akan menyatakan kafir orang yang mengatakannya. Mari kita lihat dalih dalih konyol para nashibi atas pembelaan mereka terhadap sahabat pujaan mereka Muawiyah.