Benarkah banyak hadist sunni yang palsu ?

Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ??? Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??.. Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan mengingkari hadis Rasul dengan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW.

PERPECAHAN SUNNI VS SYI’AH SALAH SATUNYA KARENA HADIS HADiS SUNNI ASWAJA SALING KONTRADIKSI.. DENGAN KATA LAIN BAHWA HADIS HADIS SUNNI TELAH DIUTAK ATIK DAN DIJAMAH OLEH TANGAN TANGAN JAHIL LALU DI CAMPUR ADUK ANTARA YANG BENAR DENGAN YANG BATHIL SEHINGGA PENGANUT SUNNI TIDAK MAMPU LAGi MEMBEDAKAN MANA YANG ASLI DAN MANA YANG PALSU

Sebuah pertanyaan penting yang timbul, bagaimana kita menyikapi hadist-hadist yang simpang siur, yang setiap golongan mempertahankan pendapatnya masing-masing dengan menggunakan dalil-dalil hadistnya.

Jawaban pertanyaan ini pernah saya paparkan kepada seorang teman saya yang telah menjadi mu’alaf. Dia seorang mu’alaf yang tekun mempelajari agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tapi saking tekunnya dia malah menjadi bingung sendiri, karena fatwa yang dia dapat berbeda-beda pada setiap pesantren

Inti pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi hadist-hadist yg saling kontradiksi dan apakah mengakui hadist itu wajib atau tidak.

Saya menjawab bahwa dialah yang harus memutuskan sendiri jawabannya. Saya hanya bercerita sedikit tentang sejarah hadist. Selanjutnya saya minta agar dia mempergunakan PIKIRAN nya, karena Allah selalu dan selalu menyuruh umatnya untuk BERPIKIR.

Dalam sejarahnya, pembukuan hadist itu secara resmi muncul lebih 200 tahun setelah meninggalnya Rasulullah. Pertama-tama oleh Imam Bukhari (meninggal 256H/870), lalu Muslim (meninggal 261H/875), Abu Daud (meninggal 275H/888), Tirmidzi (meninggal 270H/883), Ibn Maja (meninggal 273H/886), dan al-Nasa’i (meninggal 303H/915).
Semenjak itulah baru Umat Islam menganggap Hadist sebagai sumber hukum Islam setelah alqur’an. Dan bagi umat islam yg tidak mau mengakui hadist akan dianggap menyeleweng, sesat, bahkan kafir.

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (yang dianggap sebagai sumber nomor satu dari Hadits shahih) menyatakan bahwa dari hampir 600 ribu Hadits yang ia ketahui pada zamannya, dia hanya dapat memastikan sebanyak 7397 sebagai hadits shahih dari nabi Muhammad. Ini adalah suatu pengakuan dari para pendukung Hadits bahwa sedikitnya 98,76% dari apa yang orang diharuskan untuk percaya sebagai sumber kedua selain Al-Qur’an, dan sebagai salah satu sumber utama hukum Islam, adalah semata-mata suatu kebohongan belaka!

Seharusnyalah PIKIRAN dan LOGIKA kita bertanya :
Apakah yg dipakai oleh umat Islam pada masa sebelum 200 tahun itu?
Apakah hadist2 yg kita pakai sekarang ini.? Tentu saja TIDAK.
Kalaupun ada hadist pada masa itu, tidaklah mungkin dipakai sebagai dasar hukum, karena ada jutaan hadist yang tersebar simpang siur, dan tidak ada yang dapat dipercaya sebagai suatu pegangan. Dan memang pada kenyataannya umat Islam pada masa itu tidak mengangap hadist apapun sebagai pegangan. Mereka hanya berpegang kepada satu2nya hukum, yaitu alqur’an yang suci dan mulia. Yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Lalu apa artinya ini…?
Apakah kita mengangap bahwa kita adalah umat yg lebih baik dari umat2 yg terdahulu.?
Apakah kita lebih baik dari pada umat-umat pada masa sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan para tabi’in…..?
Apakah umat islam pada masa ini lebih baik dari pada umat2 di masa2 dimana Islam begitu perkasa dan berjaya dan menjadi penguasa lebih dari separo belahan dunia.

Bukankah kenyataanya bahwa umat Islam pada masa itulah yang telah mengeluarkan Eropa dari kegelapan. Bahwa pemerintahan-pemerintahan besar pada masa itu adalah pemerintahan Islam, dan kebanyakan ilmu pengetahuan modern itu berasal dari Islam.
Bahwa akal pikiran yang terbesar dan termaju di segala zaman pada masa itu seluruhnya memandang dengan penuh hormat kepada kebudayaan Islam yang mutiara-mutiaranya tetap tersimpan dan Barat tidak pernah menemukannya.

Bukankah kenyataannya umat-umat Islam pada masa itu, walaupun jumlahnya tidak sebanyak pada masa ini tetapi mereka adalah singa-singa yg perkasa yang menguasai belantara dunia…..?

Dan adalah kenyataannya bahwa umat-umat Islam pada masa ini, walaupun jumlahnya begitu banyak, bahkan di Indonesia saja jumlahnya 200 juta lebih, namun hanyalah kawanan-kawanan kambing yang gampang digiring oleh serigala-serigala kelaparan.

Sangat Ironis bukan….?

Dan kenapa kita tidak juga mau BERPIKIR apakah yang menjadi penyebab semua itu.?

PERPECAHAN UMAT…!

Itulah biang keladinya. Terpecahnya umat ini yang memisahkan dirinya dalam golongan-golongan, mazhab-mazhab, sekte-sekte.

Lalu apa yang menjadi penyebab perpecahan umat ini.?
Tidak lain dari pada munculnya hadist-hadist…!
Masing-masing golongan menganggap hanya hadistnyalah yang benar dan shahih, dan tidak akan mau mengakui hadist-hadist di luar golongannya.

Lalu golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Sunni..?
Syi’ah..?
Mazhab Maliki..?
Mazhab Hanafi..?
Mazhab Hambali..?
Mazhab Syafi’i..?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran golongan-golongan itu.?

Lalu hadist golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran hadist-hadist itu.?
Kita kah…?
Ulama-ulama kita kah…?

Subhanallah….

Penulis Sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi-saksi pelapor suatu peristiwa atau keadaan dan para penyalur yang membentuk rangkaian Isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka karena kelemahan-kelamahan manusiawai, seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya. Suatu rangkaian Isnad yang lengkap , dengan penyalur-penyalur yang identitas orangnya dapat dipercaya, belum bisa menjadi kebenaran suatu berita.

Murthada al-Askari misalnya, telah berhasil menemukan nama 150 orasng sahabat nabi yang fiktif, yang telah dimasukan oleh para penulis sejarah lama sebagai saksi-saksi pelapor. Penulis sejarah semacam ini telah memasukan nama berbagai kota dan sungai yang kenyataannnya tidak pernah ada. Al’ Amin berhasil mengumpulkan nama 700 nama pembohong yang pernah mengada-adakan berita tentang Nabi Muhammad, bahkan ada yang menyampaikan seorang diri beribu-ribu hadis palsu. Diantar mereka terdapat para pembohong Zuhud, yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman tetapi pada pagi hari mulai duduk mengajar dan berbohong seharian.

Sebenarnya para ulama jaman dahulu telah mengetahui cerita fiktif, dan telah mengenal para penulis buku tersebut sebagai pembohong , tetapi karena berbagai sebab, keritik-keritik mereka terhenti ditengah jalan. Kedudukan Ulama makin beralih ke “tugas dakwah” dan “mengabaikan penelitian”. Penelitian dijaman para sahabatpun dilupakan. Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah jaman para sahabat dan tabiin, generasi kedua. Sedangkan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup pada masa-masa kemudian.
.

Itulah sebabnya buku-buku yang mengandung hasil studi yang kritis tidak lagi mendapatkan pasaran. Karena “pikiran-pikiran baru” ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah “mantap” dalam keyakinan.

.

Pada abad kedua puluh ini telah muncul para peneliti yang sangat tekun antar lain Syekh Muhammad Ridha al-Muzhaffar dalam bukunya SHAQIFAH dan Abdul Farah Abdul Maqshud dalam buku AS-SHAQIFAH WAL KHILAFAH. Dan buku ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian yang telah dilakukan peneliti2 muslim

.

RIWAYAT HIDUP DAN HADIS-HADIS ABU HURAIRAH :
========================================

Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي) (lahir 598 – wafat 678), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.

Masa muda

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya.

Menjadi muslim

Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Peran politik

Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.
Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka.

Periwayat hadits

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: “Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah”.
Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa’ Abi Hurairah.

Keturunan

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi’in terkemuka.

Wafat

Pada tahun 678 atau tahun 59 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi’.
Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan2 Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para dsahabat lainnya. Tetapi sehubungan dengan peristiwa saqifah , riwayat sejarah dan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah harus dipandang dengan kritis karena profil kontroversil tokoh ini.

“Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala ia kembali dari Bahrain, Umar bin Khatab memukulnya sampai berdarah, karena Umar menuduhnya menggelapkan uang Baitul Mal . Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menamakannya “musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Abu Hurairah ketika itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah Al’ Ala bin Hadhrami, yang kemudian diganti oleh Qudamah bin Madh’un. Umar tidak mempercayai sebuah hadis pun dari Abu Hurairah dan melarang (dia) menyampaikan hadis.”

Kesimpulan :
1. Keputusan Umar Bin Khatab ra ini berdasarkan emosi dan pertimbangan kehawatiran akan akhlak Abu Hurairah yang buruk.( wajar seorang Khalifah memberi instruksi spt ini saat kekuasaannya).
2. Tetapi ini hanya keputusan seorang Umar bin Khatab sebagai Khalifah ….yang TIDAK BOLEH DIJADIKAN PANUTAN UMAT Islam setelah kekhalifahan beliau,…..karena umat hanya boleh mengikuti ucapan risalah hadis Nabi SAW saja, dan sejarah adalah bagian dari kisah pembelajaran UNTUK DIAMBIL HIKMAHNYA.
3. Terbukti ADA BANYAK HADIS Abu Hurairah yang bisa dibilang SAHIH karena sinkron dengan Al Quran (sebagaimana nasihat Nabi SAW).
4. Tetapi TERBUKTI ADA BANYAK PULA HADIS Abu Huarirah yang JELAS PALSU (Madzu/ Dhaif) karena bertentangan dengan Al Quran dan akidah aqal sehat.

5. YANG JADI PERMASALAHAN , …..Siapa dan Bagaimana Cerita KONVERSI KEIMANAN sang Syek Doyan Makan ini…?…….monggo di duga2……mudah cekalii…

BUKTI :
=====
1. CONTOH HADIS YANG SAHIH DARI ABU HURAIRAH KARENA SINKRON DGN AL QURAN DAN AKIDAH ISLAM , SBB :

” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi :” Siapa yang paling bahagia dgn syafaatmu ya Rasulallah ?, Nabi menjawab : ” Orang yang mengatakan Tiada Tuhan Selain Allah dan Bersih Hatinya (ikhlas)”.

2. CONTOH HADIS PALSU DARI ABU HURAIRAH YANG BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN DAN JELAS BERSIFAT ” ISRAILIYAT” SBB :

“HR dari Abu Hurairah :” Nabi bersabda ” Kalau Allah memutuskan sesuatu dilangit , maka para malaikat semua “mengepakan sayapnya” dgn merendah diri karena mendengar firman Allah….bla…bla…”

MAKA BUNYI HADIS INI JELAS BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN SBB :

Az’Zukhruf 19 : “ Dan mereka (= Nasrani ) menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan . Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu ? .”

….KITA TAK BISA INGKARI BAHWA KAUM NASRANI KETIKA ITU MENGGAMBARKAN MALAIKAT SEBAGI “TERLIHAT SBG WANITA”( atau tak berjenis kelamin), “BERSAYAP”, atau “BAYI BERSAYAP”….

Setelah Utsman meninggal , Abu Hurairah mem-bai’at Mu’awiyah

Kepribadiannya yang piknikus itu dapat dilukiskan dengan kata-katanya sendiri (yg pernah diucapkan Abu Hurairah) :” Sungguh semarak makan di meja Mu’awiyah, dan sungguh sempurna solat dibelakang Ali bin Abi Thalib. Dan iapun memilih makan dimeja Mu’awiyah . Ia mem bai’at Mu’awiyah sebagai khalifahnya . Lalu hadis-hadisnya pun mulai bermunculan . Yang pertama berbunyi :”Aku mendengar rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Allah mengamanatkan wahyunya kepada ketiga oknum, yaitu saya , Jibril serta Mu’awiyah. Karena doyannya kepada makanan itulah maka orang menamakannya Syekh al’Mudhfrah, ….”Syekh Doyan Makan” . Seluruh hadisnya disampaikan di jaman Mu’awiyah.

Hadis-hadis yang disampaikan Abu Hurairah berjumlah 5.373 buah…dibandingkan dengan seluruh hadis yang disampaikan oleh keempat Khalifah ur Rassyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar misalnya menyampaikan hanya 142 hadis, Umar hanya 537 hadis, Utsman hanya 146 hadis dan Ali hanya 586 hadis, Jumlah semuanya hanya 1.411 hadis , dan itu berarti Cuma 21% dari jumlah hadis yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri. Dan jumlah ini hamper sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Umar mengancam akan memukulnya, apabila ia membawakan hadis. Ia (Abu Hurairah) sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadispun di jaman Umar. Ummul mukminin Aisyah mengatakan bahwa ia tak pernah mendengar rasul bercerita seperti apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Ali menamakannya “Pembohong Ummah”. Demikian juga tokoh-tokoh kemudian, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa sekiranya Abu Huarirah meninggal sebelum Umar, maka Umat Islam tidak akan mewarisi hadis-hadis yang penuh khurafat, isykalat dan israiliyat. (pengaruh Injil).

Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian (sejarah dll)..padahal dia tidak hadir ditempat tersebut. Ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di Suffah Mesjid Nabi di Madinah , yairu antara bulan safar tahun tujuh hijriah, sampai bulan zulkhaidah tahun delapan. Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi ia telah memberikan laporan –laporan sebagai saksi mata tentang hal-hal yang terjadi pada masa-masa sebelum dan sesudahnya. Misalnya ia menceriytakan bahwa Rasul Allah menyuruh Abu Thalib membaca syahadat tatkala ayah Ali itu sedang menghadapi maut, tetapi Abu Thalib menolak, dan karena itu Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Katanya, pada wqaktu itulah turun ayat Al Quran :” Kamu tidak dapat memberi hidayah (kepada) siapa saja yang kamu cintai, tetapi Allah-lah pemberi hidayah (kepada) siapa yang Ia kehendaki. Dan Ia telah mengetahui siapa yang menerima petunjuk.(QS 28:56). Anehnya Abu Thalib meninggal tiga tahun sebelum hijriah, sedangkan Abu Hurairah baru muncul dalam masyarakat Islam tujuh tahun setelah Hijriah, yakni 10 tahun setelah Abu Thalib wafat. Dan ia menyampaikan hadis itu sebagai saksi mata . Maka dapatlah dimaklumi apabila Mu’awiyah memberikannya sejumlah uang kepadanya untuk hadis tsb. Banyak sangat hadis Abu Hurairah seperti itu.

TERHILAFKAN/ TERKONTAMINASI KEDALAM KARYA2 BUKHARI DAN MUSLIM

A. Hadis-hadis Israiliyat banyak disampaikan Abu Hurairah. yang berakibat kehilafan manusiawi pengumpul hadis sekian abad kemudian seperti Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya antara lain meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan 60 hasta (27 m)” Dan tambahan via jalur Sa’id bin Musib :” Lebar badan Adam 7 hasta (dzira), yaitu 2,15 m”. Melalui jalur lain dengan lafal yang lain :” Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memeukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurtu bentuk-Nya”. Melalui jalur lain lagi , ada yang berbunyi :” Bila memukuil orang , hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata :” Mudah-mudahan Allah memburukan wajahmu”, sebab wajah Allah adalah SAMA dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membebntuk Adam menurut wajah-Nya.

B. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam sahihnya, dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Malaikat maut datsang kepad Musa dan bersabda :” Penuhilah kehendak Tuhanmu !”, maka Nabi Musa pun menampar mata malaekat Maut, sehingga biji mata Malaekat Maut keluar dari rongganya. Maka Malaekat Maut kembali kepada Allah dan berkata :” Sesungguhnya Engkau mengutus kepada hamba-Mu yang tiada menghendaki kematian dan ia mencopot mataku”. Maka Allah mengembalikan biji mata Malaekat Maut kedalam tempatnya semula. Dan berkata :” Kembalilah kepadanya dan katakan agar ia meletakan tangannnya diatas punggung seekor sapi , maka umurnya akan bertambah satu tahun untuk setiap bulu sapi yang melekat ditangannya”. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah :” Sesudah itu bagaimana ?”. Allah menjawab :” Sesudah itu mati”. Maka Musa bekata :” Jika demikian, maka lebih baik aku mati sekarang saja”. Ia lalu memohon kepada Allah agar ia didekatkan ke tanah suci, sejauh lemparan batu”.

C. Bukhari dan Muslim menulis dalam sahihnya berasal dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Bani Israil suatu ketika serdang mandi telanjang dan saling melihat aurat mereka. Dan Nabi Musa tidak akan mandi bersama mereka, karena (beliau malu) kemaluannnya besar, ia menderita hernia (burut).”. Suatu ketika Nabi Musa pergi mandi dan meletakan bajunya diatas batu , maka batu itupun berlari membawa bajunya . Dan setelah Musa menjamah bekas tempat batu itu , dia baru sadar dan melihat batu yang lari . Ia pun keluar dari tempat pemandiannnya dengan telanjang bulat dan mengejar batu itu, sambil berteriak :” Wahai batu , bajuku !! Wahai batu, bajuku !!”. Makam orang Israil pun melihat kearah kemaluan nabi Musa (pen : aneh, tak ada cerita insting menutupi dengan tangannya) dan berkata :” Demi Allah, Musa tidak menderita penyakit”. Maka batu itupun muncul kembali dari persembunyiannya, sehingga terlihat oleh Musa dan Musa lalu mengambil pakainnya . Ia kemudian menampar batu itu sehingga meninggalkan bekas pada enam atau tujuh tempat”.

D. Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Huarirah :” Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menciptakan Gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelak-jelek pada hari Selasa , menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan-hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam a.s pada hari Jumat, sesudah waktu Asar , sebagi ciptaan terakhir dan pada hari yang terakhir , serta saat yang terakhir, yaitu (waktu) diantara waktu Asar dan Malam”.

———————————————————-
NAH…INI DIA BUKTI YANG PENULIS CARI2, YANG MENYEMBUHKAN KEPALA YANG PUSING, MEMPERTANYAKAN KEGANJILAN BUNYI SUATU HADIS DALAM “SAHIH” BUKHARI DAN “SAHIH” MUSLIM. TERNYATA LABEL “SAHIH” TERSEBUT BUKANLAH ATAS KESEPAKATAN UMAT DAN ULAMA. TETAPI HANYA KEHENDAK ATAU KHILAF PRIBADI ATAU KEJAHILAN SEMENTARA ORANG…OK,
Semoga Allah SWT tetap melimpahkan rachmat dan hidayahnya kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim atas jerih payahnya selama ini dan semoga beliau di akhirat dapat menyaksikan generasi penerusnya “MEMBERSIHKAN” nama baik mereka…amin.
———————————————————-
HAL KEUTAMAAN PARA SAHABAT

A. Abdulah Faraj ibn Jauzi meriwayatkan dari Abu Huraihar : “ Rasul Allah menceritakan kepada saya , Surga dan Neraka saling membanggakan diri . Neraka berkata kepada Surga :” kedudukanku lebih agung dari pada kedudukanmu, ditempatku berdiam Fir’aun, raja-raja dan para penguasa yang jahat, serta kelaurga mereka, Lalu Allah mewahyukan kepada Surga agar ia berkata kapada Neraka :” Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

B. Abdul Abbas al- Walid bin Ahmad al-Jauzini menyampaikan dari Abu Hurairah :” Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar mempunyai sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintu-pintu itu hemnbusan angin rakhmat . Diluar kubah terdapat pengampunan Allah dan didalam kubah terdapat keridhaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah , maka pintun akan terbuka dan dia dapat melihat Allah.”.

C. Ibn Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Aku mendengar Rasul Allah bersabda :” tatkala aku bermikraj ke langit , aku tiada menemukan sesuatu dilangit, kecuali aku bertemu dengan tulisan “ Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq “.

D. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Setelah salat subuh Rasul Allah menemui orang banyak , maka berkatalah seorang gembala sapi, bahwa tatkala ia mengembala sapi maka ia telah memukul sapinya, dan tiba-tiba sapi itu berkata :” Kami tidak diciptakan untuk diperlakukan seperti itu, kami diciptakan untuk membajak”. Maka orang itu berkata :” Subhanallah sapi bicara”. Maka Rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami. Dan seorang diantara kami berkata, bahwa tatkala seseorang sedang mengembala kambing, ia bertemu dengan seekor Srigala yang sedang membawa seekor Kambing. Tatkala ia menuntut kambing itu dari Srigala , maka tiba-tiba Srigala itu berkata :” Rebutlah dariku kalau engkau sanggup, Bukankah hari ini Hari Binatang Buas, hari yang tiada seorang boleh mengembala, kecuali diriku ?”. Maka orang itupun berkata :” Maha suci Allah, Srigala berbicara”. Maka Rasul bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal mereka berdua ,Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami”.

Para penulis muslim dijaman dahulu telah melihat kelemahan2 hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu Abu Hurairah mendapatkan kisah-kisah Injil Perjajnjian Lama dari Ka’ah al-Ahbar selama hampir tiga puluh tahun persahabatan diantara keduanya, sebelum dia menyampaikan hadis2nya dijaman Mu’awiyah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah politikus yang ulung itu telah memerintahkan mengumpulkan “para sahabat” , agar menyampaikan hadis2 yang mengutamakan para sahabat Abu Bakar, Umar, Utman untuk mengimbangi keutamaan Abu Thurab (Ali bi Abu Thalib). Untuk itu Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedududkan kepada mereka .

Abul Hasan ‘ Ali bin Muhammad bin Abi Saif al-Mada’ini, dalam bukunya Al- Ahdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kapada bawahannya sbb:

“ Segera setelah menerima surat ini , kamu harus memanggil orang-orang . agar menyediakan hadis-hadis tentang para sahabat dan Khalifah. Perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamupun harus menyediakan hadis yang sama tentang sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Thurab dan syi’ah-nya”. Ia juga memerintahkan untuk menghotbahkannnya di semua desa dan mimbar.

Dalam hubungannya dengan peristiwa saqifah dan sejarah lainnya, maka kita akan melihat kesamaan berita tersebut meskipun ada perbedaan dalam detilnya. Kecuali berita yang dibuat oleh penulis bernama Sa’if bin Umar ‘Usayyid Tamimi. Ternyata Sa’if bin Umar merupakan satu satunya orang yang menceritakan adanya seorang tokoh yang bernama “Abdullah bin Saba” yang tidak dicatat oleh penulis lainya manapun. Abdullah bin Saba menurut Sa’if adalah seorang Yahudi dari Shan’a , Yaman yang memeluk agama Islam pada jaman Utsman. Ia bergabung dengan kaum Muslim dan mengembara dari kota ke kota.

abu artinya bapak—hurairah artinya kucing jadi abu hurairah artinya bapaknya kucing…kumpul dengan nabi 1 thn 3 bln meriwayatkan hampir 6000 hadis cukup fantastis karena Ali..abu bakar..umar dan usman gabungan dari hadis2 beliau ini jumblahnya kurang dari 1500 hadis ketika ditang aisyah darimana sumbernya abu hurairah menjawab dari kantongnya abu hurairah…di panggail abu hurirah atau bapaknya kucing karena malas bekerja dan kerjanya mengompulkan kucing tiap sore hari mengetuk ruah sahabat untuk minta makanan dgn dalih kucingnya…kare seringnya membawa2 kucing maka dia di panggil bapaknya kucing atau abu hurairah…ini jaman modern teliti aja hadis2nya dan jangan membunuh karakter saudara kita dgn cap syiah dan lain sebagainya beri argumen yang baik kalau kita membelanya..

pada jaman ali terjadi perang antara Ali sebagai Khalifah yang di kenal sebagai Ahlus Sunnah dan Muawiyah yang memberontak tdk mau mengakui ali sebagai Khalifah dan menamakan kelompoknya sebagai Jamaah..berebut pengaruh pada orang-orang madinah untuk segera memutuskan dia berada di pihak yang mana?Ali yang Ahlus Sunnah atau Muawiyah yg menamakan kelompoknya jamaah..?orang-orang madinah pada saat itu mengambil suatu keputusan,bahwa mrk bukan Ahlus Sunnah dan juga bukan Jamaah akan tetapi mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah..inilah sejarah Ahlus Sunnah wal jamaah yang didak mempunyai keberanian mengambil sikap..mana yang benar Ali atau si pemberontak Muawiyah?jawaban mereka benaaaaaaaar semua…yg kemudian kt warisi hingga saat ini….

Quraish Shihab menggugat Bukhari Yang Tidak Berpegang Pada Ahlulbait

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

Imam Bukhari  tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka.. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadis – hadisnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150)

Ilmu pengetahuan Islam banyak dirugikan, karena pandangan pandangan Syi’ah ditindas.Akibat tuduhan terkait Abdullah bin Saba’ ini,kerugian yang diderita ilmu pengetahuan Sunni  lebih besar daripada yang diderita oleh Syi’ah sendiri, karena sumber fiqih syi’ah  sangat kaya dan berlimpah, cenderung diabaikan, mengakibatkan terbatasnya ilmu pengetahuan. Selain itu, di masa lalu para cendekiawan syi’ah dicurigai. Sunni tidak mendapat  manfaat dari pandangan-pandangan Syi’ah

Bukankah pemimpin Syi’ah, Imam Jafar Shadiq (148 H), adalah guru dua orang Imam besar Sunni? Mereka adalah Abu Hanifah Nu’man (150 H), dan Malik bin Anas (179 H) ?  Imam Abu Hanifah berkata, “Selain dua tahun, Nu’man akan kelaparan.”

Artinya selama dua tahun ia mendapat keuntungan dari ilmu Imam Jafar Shadiq. Imam Malik juga mengakui secara terus terang bahwa ia belum pernah mendapati orang yang lebih terpelajar dalam fiqih Islam selain Imam Jafar Shadiq.

.
Penyimpangan 
Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT

.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini

.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia

.
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

***

Mu’awiyah, Yazid, dan para raja zalim setelahnya tidak segan-segan memerangi, membantai dan membunuh keturunan Nabi saw. dan para pecinta mereka!

Imam Syafi’i itu Sunni yang Syi’ah..

Persembahan Untuk Ustadz Firanda dan Para Wahhâbi Yang Nawashib!

Sejak dahulu, kaum nashibi (pembenci Sayyidina Ali dan keluarga Nabi saw.) menteror para pecinta Nabi saw. dan keluarga beliau ra. dengan segala cara keji!

Dimasa kekuasaan bani Umayyah yang ditegakkan di atas kezaliman dan kekejaman serta penyimpangan agama, Mu’awiyah, Yazid, dan para raja zalim setelahnya tidak segan-segan memerangi, membantai dan membunuh keturunan Nabi saw. dan para pecinta mereka!

Para raja zalim itu mendapat dukungan penuh dari kaum munafikin yang berpura-pura menampakkan Islam sementara kedengkian kepada Nabi saw. dan Dakwah Islam tertendam dalam lubuk jiwa-jiwa mereka! Mereka menampakkan kemunafikan dan kedengkian itu dengan kebencian yang mendalam kepada Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain serta keturunan mereka yang diberkahi Allah SWT. Serta menteror para pecinta mereka!

Setelah masa gelap kekuasaan para raja tiran itu berlalu dan tumbang serta terlempar ke neraka Jahannam, para pendukung mereka tetap saja gentayangan di mana-mana mengganggu para pecinta Nabi dan Ahlul Bait beliau!

Mereka, dalam menjalan aksi teror, melakukan berbagai caara di antaranya, menuduh setiap orang yang mencintai Nabi dan keluarga beliau; Ahlul Bait ra. dengan tuduhan keji yaitu Syi’ah Rafidhah! Semua itu mereka lakukan agar umat Islam mengosongkan jiwa-jiwa suci mereka dari kecintaan kepada keluarga Nabi ra.

Siapa saja yang berani berterang-terangan mencintai Sayyidina Ali dan Ahlul Bait pasti akan mereka kecam sebagai Syi’ah Rafidhah!

Jadi, di mata mereka, Syi’ah Rafidhah itu adalah identik dengan kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi ra.

.

Pendahulu Kaum Wahhâbi Menteror Imam Syafi’i!

Imam sunni, Imam Syafi’i satu dari sekian banyak ulama Ahlusunnnah yang mereka teror! Hanya karena kecintaannya kepada Ahlul Bait Imam Syafi’i mereka kecam dan mereka tuduh sebagai Syi’ah Rafidhah!

Sementara kaum munafik yang menvonis beliau dengannya tidak mengerti apa itu Syi’ah dan apa itu Rafidhah? Persis dengan kaum Wahhabi Salafi Nashibi zaman kita yang selalu melontarkan tuduhan tanpa mengerti makna tuduhan itu!

Perhatikan kekejian tuduhan para pendahulu kaum  Wahhabi Salafi Nashibi terhadap Imam kita; Imam Syafi’i ra. yang langsung beliau tanggapi dengan tegar dan tegas!

.

قَالُوا تَرَفَّضْتَ! قلتُ كَلاَّ *** ما الرُفْضُ دينِيْ وَ لاَ اعْتقادِيْ

و لـكِنْ تَوَلَّيْتُ دونَ شَكٍّ  ***  خيرَ إمامٍ  و خيرَ هـاديِ

إنْ كـانَ حُبُّ الوَصِيِّ رَفْضًا  ***   فَـإِنَّنِيْ أَرْفَضُ العبادِ

.

Mereka berkata; kamu telah berfaham Rafdh! Aku berkata: Tidak! ** Kerafidhian bukan agamaku dan bukan keyakinanku.

Akan tetapi aku tanpa ragu berwilayah ** kepada sebaik-baik Imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk.

Jika mencintai washi (Ali) itu kerafidhian ** maka ketahuilah bahwa aku paling rafidhinya manusia

.

Jadi dalam fitnahannya itu, para musuh Allah dan Rasul-Nya menuduh siapapun yang mencintai Sayyidina Ali yang (disebut Imam Syafi’i dengan gelar Washi) dan Ahlul Bait ra. adalah Rafidhi! Dan kecintaan kepada Sayyidina Ali yang Ahlul Bait ra. sebagai kerafidhian!

Dalam kesempatan lain Imam Syafi’i ra. mengeluhkan kejahatan fitnahan dan tuduhan yang disebarkan dalam rangka menebar teror keji itu.

.

إنْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد *** فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ

Jika mencintai keluarga Muhammad itu kerafidhian, ** maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi

.

ustad husain ardilla :

Berkat ketegaran dan ketegasan sikap Imam Syafi’i, maka kampanye kaum nashibi; musuh Allah dan Rasul-Nya itu benar-benar terhantam… umat Islam kembali kepada kesadaran agama bahwa kecintaan kepada Sayyidina Ali ra. (yang selama masa kekuasaan para raja bani Umayyah dilaknati sesuai perintah wajib Mu’awiyah; raja pertama rezim tiran itu) adalah bagian dari kewajiban agama! Tidak ada tempat lagi bagi tuduhan murahan dan menjijikkan itu di tengah-tengah masyarakat Muslim!

Kecintaan dan pembelaan kepada Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. adalah keyakinan yang diimani kaum Muslimin… Semua merasa aman dan mantap dengan kecintaan mereka kepada Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. tanpa ada gangguan yang berarti kecuali dari sebagian orang jahil!

Tetapi dengan menyebarnya virus Salafisme Wahhâbisme yang dalam sisi identik dengan kesinisan sikap dan kebencian kepada Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra., dan di sisi lain identik dengan pengagungan musuh-musuh Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. maka marak kembali tuduhan kepada siapapun yang mencintai dan membela  Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. sebagai Syi’ah Rafidhah!

Jika dahulu Imam Syafi’i dituduh kaum munafik yang membenci Sayyidina Ali dan Ahlul Bait ra. sebagai Syi’ah Rafidhah! Maka kini giliran kami  juga mendapat teror itu dari pelanjut kesesatan kaum munafik!

Demikianlah sejarah mengulang dirinya sendiri!

Imam Nasa’i rela mati syahid disiksa penduduk damaskus; para pemuja si penganjur (da’i) ke dalam api neraka; Mu’awiyah!

 Kejahatan Mu’awiyah terlalu banyak, tapi satu dulu saya sebutkan di sini…Mu’awiyah memerintah seluruh umat Islam agar melaknati Imam Ali KW dan menjadikan pelaknatan atas Imam Ali KW sebagai bagian inti dalam setiap pertemuan tidak terkecuali khutbah shalat jum’at! Baca kitab karangan seorang Habib mulia bernama Habib MUhammad bin Aqil bin Yahya yang berjudul an Nashaih al Kafiyah!
.

Imam Bukhari dan para ahli hadis lainnya telah meriwayatkan bahwa Mu’awiyah adalah PENGANJUR KEPADA API NERAKA! Lalu apakah ada yang berhak keberatan membeicarakan kejahatan2 Muawiyah. Para ulama  telah mengecamnya seperti Imam Hasan al Bashri! lalu bagaimana dengan sikap para sahabt Mulia seperti Ammar bin Yasir dkk tentang Mua’wiyah?

Mereka yang “takut-takutan” membicarakan kejahatan Mu’awiyah dengan dalih bahwa dia adalah sahabat Nabi saw. dan setiap sahabat itu adalah adil adalah sedang terjebak oleh hadis-hadis atau ayat-ayat umum yang memuji para sahabat tanpa memahami dengan baik bahwa pujian itu bersifat umum.

Tetapi ada beberapa yang mesti harus dikecualikan mengingat kefasikan dan kejahatan bahwa statemen2nya yang terang2an menampakkan kefasikan dan atau bahkan kekafiran! Dan tidak jarang juga (walaupun saya yakin yang Anda sebutkan itu tidak termasuk) yang dalam membela-bela Mu’awiyah berpura-pura seakan sedang menjaga kesucian seluruh sahabat.. padahal ujung2nya yang menjadi tujuan inti pembelaan mereka hanya bani Umayyah dan kaum munafik yang bersekongkol dengan mereka!

Mu’awiyah sebagai penulis wahyu itu tidak terbukti! Mu’awiyah bertobat juga tidak ada buktinya! Kalau si Penganjur kepada api neraka (menurut hadis Imam Bukhari itu) memang bertaubat, lalu mengapakah ia menunjuk yazid putranya yang dikenal fasik dan bejat itu sebagai Khalifah?!
Kita jangan mau diadu domba oleh Wahhabi sehingga ikut-ikutan memerangi dan memerangi ajaran Syi’ah! Alhamdulillah, kami sudah bisa aktif lagi.

Persembahan Untuk Para Salafiyyun; Pemuja Pohon Terkutuk!

Selamanya kaum Nawâshib yang banyak kita temukan di kalangan mereka yang berkedok sebagai pengikut “Para Salaf Shaleh” (PS2) selalu berusaha membentuk opini bahwa sebagai seorang Sunni haruslah mencintai Mu’awiyah si gembong kaum sesat !

Dan ciri seorang yang menyimpang dari Ahlusunnah adalah kebencian kepada Mu’awiyah! Demikian kaum Nawâshib Salafi Wahhâbi itu melancarkan propagandanya!

Akan tetapi, itu hanya sebuah kepalsuan belaka! Para imam dan ulama agung Ahlusunnah –tentunya bukan mereka yang telah terinfeksi penyakit kenashibian- tidak pernah sudi mau mencintai dan mengagungkan kaum munafik!

Saya tidak sedang memaksa anggapan bahwa semua mereka yang mengaku sebagai Ahlusunnah berpandangan demikian terhadap Mu’awiyah. Karena kenyataannya, propaganda Mu’awiyah dan para penguasa tiran Bani Umayyah yang memerintah kaum Muslim dengan tangan besi dan penipuan telah mempengarui sebagian orang sehingga mereka tertipu!

Akan tetapi yang hendak saya katakan ialah bahwa syiah  telah dengan berani menantang berbagai seriko untuk mengatakan dan bersikap yang sebenarnya terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan –si penganjur ke dalam api neraka Jahanam, seperti dikatakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya-!

Dan untuk menghemat waktu dan ruang saya akan menyajikan dokumen-dokumen penting tentang sikap para ulama dan para imam Ahlusunnah terhadap Mu’awiyah dan bagaimana para ulama dan para imam Ahlusunnah itu sama sekali tidak pernah dan tidak akan sudi mencintai Mu’awiyah bahkan mereka tidak segan-segan mencela dan mengecamnya!

  • Mu’awiyah Dalam Pandangan Imam an Nasa’i (W.303 H)

Adz Dzahabi –dan ia adalah ulama kebanggaan kaum Wahhâbi Salafi dan kaum pembenci keluarga Nabi saw.- berkata tentang Imam Nasa’i dalam kitabnya Siyar A’lâm an Nubalâ’,14/133:

“Pada Nasa’i terdapat sedikit kesyi’ahan dan penyimpangan terhadap musuh-musuh Imam Ali seperti Mu’awiyah dan ‘Amr bin ‘Âsh.”

Dan dalam kesempatan lain ia mengatakan bahwa demi keyakinannya itu Imam Nasa’i rela mati syahid disiksa penduduk damaskus; para pemuja si penganjur (da’i) ke dalam api neraka; Mu’awiyah!

Ustad Husain Ardilla:

Coba Anda perhatikan dan renungkan pernyataan adz Dzahabi di atas, bahwa Imam Nasa’i padanya terdapat sedikit kesyi’ahan! Mengapa beliau dituduh demikian? Jelas jawabnya, karena beliau membenci Mu’awiyah dan mencintai serta membela Imam Ali ra. Dan yakinlah, Anda atau siapapun yang berani terang-terangan membela Imam Ali dan membenci musuh-musuh beliau pasti akan segera dituduh oleh kaum Wahhabi Salafi sebagai Syi’ah! Dan itulah yang dialami oleh syiahali.wordpress.com !

Di mata kaum Wahhâbi Salafy, web ini adalah Syi’ah yang berbahaya! Mengapa demikian? Sebabsyiah  tidak sudi mencintai gembong kaum Munafik! Sebab syiah berani terang-terangan membela Sayyidina Ali ra. Bukankah demikian yang mereka tuduhkan kepada kami?!

Namun, Anda perlu ketahui bahwa kami tidak akan pernah hiraukan itu semua… biarkan anjing-anjing menggonggong kafilah tetap berjalan! Sebab memang kerjanya anjing adalah menggonggong! Jangan pernah menanti anijng mau kumpul-kumpul baca Maulid Barzanji atau baca Diba’aan!

  •    Mu’awiyah Dalam Pandangan Imam Al Hakim (W.405 H)

Imam al hakim an Nisaburi adalah salah satu ulama besar Ahlusunnah wal Jama’ah yang agung. Beliau adalah penulis kitab al Mustadrak dan kitab-kitab lain yang sangat berharga dalam disiplin ilmu hadis. Tentang sikap kebencian dan penyimpangannya terhadap Mu’awiyah adalah bukan rahasia lagi. Adz Dzahabi melaporkan dalam Siyar A’lâm-nya,17/175 dan Imam as Subki dalam Thabaqât asy Syafi’iyah-nya4/163, bahwa ketika dikatakan kepada al Hakim, “Sampaikan hadis tentang keutamaan Mu’awiyah agar mereka berhenti mengganggumu!” beliau berkata, “Tidak mungkin aku sudi menyampaikannya!

Demikianlah, para pemuja Mu’awiyah tidak pernah berhenti mengganggu para ulama Ahlusunnah yang tidak sudi mencintai dan memuja Mu’awiyah!

  • Mu’awiyah Dalam Pandangan Imam Abdurrazz ash Shan’ani (W.211 H)

Imam Imam Abdurrazz ash Shan’ani adalah penulis kitab Mushannaf yang sangat terkenal. Beliau adalah guru besar Imam Ahmad bin Hanbal.

Adz Dzahabi melaporkan dalam Siyar A’lâm-nya,9/570 bahwa beliau berkata kepada seorang yang menyebut-nyebu nama Mu’awiyah di hadapannya, “Janagn engkau kotori majlis kami dengan menyebut anak Abu Sufyan!”

ustad husain ardilla :

Perhatikan wahai sobat, bagaimana Imam besar Ahlusunnah; Abdurrazz ash Shan’ani benar-benar tidak sudi mulutnya dikotori dengan menyebut nama gembong kaum munafik itu sehingga ia hanya mengatakan “anak Abu Sufyan”.

Lalu apakah kita akan membuat najis hati dan pikiran kita dengan mencintai dan mengagungkan putra Abu Sufyan dari hasil hubungannya dengan tante Hindun!

Jika Anda benar-benar berpegang dengan ajaran agama Anda pasti Anda tidak akan sudi mencintai kaum sesat! Kaum yang memusuhi Sayyidina Ali ra. dan memerintahkan umat Islam di setiap kesempatan untuk melaknati menantu tercinta Rasulullah, pejuang Islam sejati dan Khalifah  kaum Muslimin; Ali bin Abi Thalib ra.!

Apakah karena takut dari juluran lidah-lidah beracum kaum Salafi Wahhâbi yang segera akan menuduh Anda sebagai Syi’ah, Anda takut menyatakan akidah yang benar !

Saudaraku, waspadai makar jahat kaum nawâshib yang banyak menyelinap di tengah-tengah kaum Muslim dengan kedok sebagai pengikut Salafi yang hendak menipu Anda dengan mengatakan bahwa benteng kesunian Anda adalah kecintaan kepada Mu’awiyah dan keluarga besar Bani Umayyah; Abu Sufyan, Hindun, Yazid, Marwan bin Hakam Cs.

Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni dan membongkar kebohongan sunni

Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni karena :
a. Khalifah sunni cuma 4 yakni Abubakar – Umar -USman dan Ali, sementara khalifah syiah ada 12
b. Dalam hadis shahih lain disebutkan bahwa khalifah umat islam adalah ahlulbait, Abubakar- Umar-Usman bukan ahlulbait, jadi mereka merampas kekhalifahan secara ilegal, maka mustahil ketiganya  dijamin surga
c. Ini artinya hadis Ghadir Kum membenarkan syi’ah tentang pengangkatan Ali sebagai khalifah
d. Mayoritas sahabat berkhianat kepada wasiat Ghadir KUm

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas !

Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah.

Mayoritas kaum Muslimin masih berkutat sebagai sebuah budak  kaum monarki dan penguasa, menafsirkan dan menafsirkan ulang Islam dan al-Qur’an sesuai dengan selera penguasa.

Sejarah kaum Muslimin (seperti sejarah-sejarah bangsa lain) dipenuhi dengan nama penguasa yang nota-bene zalim, pelaku maksiat, dan tiranik yang telah menodai citra kudus Islam. Pembahasan ini  akan dipaparkan lebih jauh  pada akhir bagian tulisan ini.

Penguasa-penguasa ini senantiasa dan akan selalu, berkata kepada kita bahwa mereka adalah Ulul Amr yang disebutkan dalam ayat ini.

Jika Allah Swt memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan penguasa-penguasa seperti ini, keadaan yang mustahil akan tercipta bagi kaum Muslimin. Pengikut-pengikut sial iniakan dikecam karena telah mencari kemurkaan Allah, terlepas dari apa yang mereka lakukan. Jika mereka mentaati penguasa-penguasa ini, mereka telah membangkang perintah Allah, “Janganlah kalian mentaati seorang pendosa”, dan jika mereka membantah kepada penguasa-penguasa tersebut, mereka tetap membantah perintah Allah untuk taat kepada penguasa Muslim.”

Jadi jika kita terima penafsiran ini, kaum Muslimin dilaknat dengan kemurkaan abadi baik mereka mentaati atau membantah penguasa yang bukan ma’sum tersebut.

Juga, ada penguasa Muslim yang berbeda akidah dan madzhabnya. Ada madzhab Syafi’i, Wahabi, Maliki, Hanafi, serta Syi’ah dan Ibadis. Sekarang, sesuai dengan penafsiran Ahli Sunnah yang berada di bawah seorang Ibadi Sultan (seperti di Oman) harus mengikuti ajaran madzhab Ibadi; dan mereka yang berada di bawah kekuasaan seorang Syiah (seperti di Iran) harus mengikuti ajaran madzhab Syiah.

Apakah orang-orang ini memiliki keberanian untuk mengikuti interpretasi ini hingga akhir penalaran logisnya?

Mufassir populer Sunni, Fakhruddin Razi, menyimpulkan dalam Tafsir Kabir-nya[1] bahwa ayat ini membuktikan bahwa Ulil Amr itu harus ma’sum. Ia berargumen bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Ulil Amr secara mutlak; oleh karena itu, ma’sum bagi Ulul Amr adalah suatu hal yang niscaya. Karena jika ada kemungkinan bagi Ulul Amr melakukan kesalahan atau dosa, hal ini berarti bahwa seseorang harus mentaatinya dan juga membantahnya dalam perbuatannya., dan hal ini tentu saja mustahil terjadi. Lalu, untuk membujuk para pembacanya dari kalangan Ahl al-Bait, ia menciptakan teori bahwa kaum Muslimin secara keseluruhan adalah ma’sum. Penafsiran ini termasuk penafsiran unik, karena tidak ada satu pun ulama yang menganut teori ini dan tidak ada dasarnya sama sekali dalam hadits-hadits. Yang mengejutkan adalah bahwa al-Razi menerimam bahwa setiap Muslim bukan orang ma’sum, namun ia masih saja mengklaim bahwa mereka secara keseluruhan adalah ma’sum. Bahkan anak sekolah dasar sekali pun tahu bahwa 200 ekor sapi ditambah 200 ekor sapi hasilnya adalah 400 ekor sapi bukan seekor kuda.

Namun, al-Razi mengatakan bahwa 70 juta non-ma’sum ditambah 70 juta non-ma’sum akan menghasilkan seorang ma’sum. Tidakkah ia ingin kita percaya bahwa jika seluruh pasien rumah sakit jiwa bergabung bersama menghasilkan seorang yang waras?[2]

Pujangga bangsa Timur, Iqbal Lahore bersajak,

“Otak dua ratus keledai tidak akan

menuai pikiran seorang manusia.”

Jelasnya, dengan ilmunya yang hebat ia mampu menyimpulkan bahwa Ulul Amradalah harus seorang yang ma’sum; namun karena prasangkanya, yang memaksanya untuk berkata bahwa kaum muslimin secara kesulurahan adalah ma’sum.

Juga, ia tidak jeda sejenak untuk melihat bahwa ayat ini memuat kata “minkum” (dari kalian) yang menunjukkan bahwa Ulul Amr yang dimaksud seharusnya berasal dari bagian umat Muslimin, bukan secara kesuluruhan, dan jika sekiranya seluruh kaum Muslimin harus ditaati, maka siapa lagi yang tersisa untuk ditaati?

Arti Sesungguhnya Ulul Amr

Kini kita kembali kepada penafsiran yang benar berkenaan dengan ayat di atas.

Imam Ja’far Sâdiq As berkata bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan ‘Ali bin Abi Tâlib, Hasan dan Husain As.

Setelah mendengar hadits dari Imam Ja’far ini, seseorang bertanya kepada Imam: “Orang-orang berkata, “Mengapa Allah tidak menyebutkan nama ‘Ali dan keluarganya dalam kitab-Nya?”.

Imam menjawab: “Katakan kepada mereka bahwa di dalam al-Qur’an terdapat perintah salat, namun Allah Swt tidak menyebutkan berapa rakaa’t  yang harus dikerjakan; Rasulullahlah yang menjelaskan seluruh permasalahan yang ada dengan seksama, dan perintah zakat diturunkan, akan tetapi Allah tidak menyebutkan zakat dalam setiap empat puluh dirham; Nabilah yang menjelaskan semua ini; dan ketika haji diperintahkan, Allah tidak menyebutkan perintah untuk mengerjakan tawaf tujuh kali – Nabilah yang menjelaskan semua ini. Demikian juga, ayat – taati Allah, dan taati Rasulullah dan Ulil Amri di antara kalian,” berkenaan dengan Ali, Hasan dan Husain As.[3]

Dalam Kitab Kifayatul Athar, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdilah al-Ansari, yang berisikan penjelasan ayat ini.

Ketika ayat ini diwahyukan, Jabir berkata kepada Nabi Saw: Kami tahu bahwa Allah dan Rasul yang dimaksud dalam ayat ini, tapi siapakah Ulil Amri yang ketaatan kepadanya telah digabungkan bersama ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya?” Nabi Saw berkata: “Mereka adalah khalifahku dan imam setelahku. Pertama adalah ‘Ali, kemudian Hasan, kemudian Husain, kemudian ‘Ali putra Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang  telah disebutkan sebagai al-Baqir dalam Kitab Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan bersua dengannya. Bilamana engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku untuknya. Ia akan digantikan oleh putranya Ja’far Sadiq, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali. Ia akan digantikan oleh anaknya yang namanya dan gelarnya (laqab) sama denganku. Ia akan menjadi Hujjatullah di muka bumi, dan Baqiyatullah di antara manusia. Ia akan menaklukkan dunia yang terbentang dari timur ke barat. Sekian lama  ia akan gaib dari pandangan mata para pengikutnya yang  keimanan kepadanya akan tinggal hanya dalam kalbu orang yang telah diuji oleh Allah dengan keimanan.

Jabir berkata: “Wahai Rasulullah!” Akankah para pengikutnya akan mendapat manfaat dari masa gaibnya?”

Nabi Saw berkata: “Iya. Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan dibimbing dengan cahayanya, dan manfaat dari wilayah semasa masa gaibnya, sebagaimana orang-orang mendapatkan manfaat dari sinar matahari ketika berada dibalik mega-mega. Wahai Jabir! Hal ini adalah rahasia dari Allah dan khazanah ilmunya.

Jadi jagalah berita ini selain dari orang-orang yang layak mengatahuinya.”[4]

Hadits ini telah dikutip oleh kitab-kitab Syi’ah. Hadits-hadits Sunni tidak mengutip hadits ini secara detail; namun banyak muhaddits (ahli hadits) Sunni yang merujuk kepada Itsna Asyarah Imam. Sebagaimana akan dijelaskan pada bagian selanjutnya dari buku ini.

Kini kita ketahui siapa “Ulil Amri”, jelas bahwa pertanyaan tentang mentaati para tiran dan penguasa-penguasa zalim tidak relevan sama sekali. Kaum Muslimin tidak diminta oleh ayat ini untuk mentaati penguasa-penguasa zalim, tiranik, jahil, ananiyah, dan yang tenggelam dalam maksiat. Ayat ini hakikatnya  memerintahkan mereka untuk mentaati kedua belas Imam yang telah dijelaskan, mereka semuanya adalah insan-insan suci dari dosa dan salah serta terbebas dari amal dan pikiran jahat.

Mentaati mereka tidak memiliki resiko, potensi azab sama sekali. Tidak, bahkan ketaataan kepada mereka melindungi dari segala macam resiko, karena mereka tidak akan pernah memerintahkan manusia untuk menentang kehendak Allah dan para Imam tersebut memperlakukan manusia dengan cinta, keadilan dan kesetaraan.

Dua Belas Khalifah atau Dua Belas Imam?

Kini, ada baiknya kita merujuk kepada beberapa bagian dari bagian ke 77 Yanabi’ul Mawaddah milik al-Hafid Sulaiman bin Ibrahim al-Qunduzi al-Hanafi.

Sebuah hadits yang populer telah dinukil dalam kitab ini bahwa: “Akan ada dua belas khalifah, seluruhnya berasal dari bangsa Quraisy,” hadits ini dimuat dalam banyak kitab-kitab termasuk al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi.

Penyusun kitab Yanabi’ul Mawaddah menukil banyak hadits yang berisikan sabda Nabi yang menyatakan bahwa: “Aku, Ali, Hasan, Husain dan sembilan keturunan dari Husain adalah insan yang suci dan ma’sum.

Ia juga mengutip bahwa Nabi Saw berkata kepada Imam Husain: “Engkau adalah seorang pemimpin, saudaramu adalah seorang pemimpin. Engkau adalah Imam, anak Imam, saudara Imam. Engkau adalah hujjatullah, anak dari hujjatullah, saudara hujjatullah, dan ayah dari sembilan hujjat. Yang kesembilan adalah al-Mahdi.”

Setelah mengutip banyak hadits yang serupa, ia menulis: “Beberapa ulama berkata bahwa hadits-hadits ini (yang menunjukkan bahwa khalifah sepeninggal Nabi berjumlah dua belas) adalah termasuk hadits masyhur, bersumber dari berbagai sanad (asnad). Kini, dengan berlalunya waktu dan peristiwa-peristiwa bersejarah, kita ketahui bahwa dalam hadits ini Nabi Saw telah merujuk kepada kedua belas Imam dari Ahl al-Baitnya dan keturunannya, karena:

  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah dari sahabat-sahabatnya, karena jumlah mereka kurang dari dua belas.
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah dari Dinasti Bani Umayyah, karena (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; (b) seluruh khalifah dari Bani Umayyah adalah orang-orang zalim dan tiran (kecuali ‘Umar bin Abdul ‘Aziz); dan (c) mereka tidak berasal dari keturunan Bani Hasyim dan Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits bahwa: “Seluruh khalifah berasal dari Bani Hasyim…”
  • Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada para khalifah Dinasti Abbasiyah karena; (a) jumlah mereka lebih dari dua belas; dan (b) mereka tidak memenuhi (tuntutan) ayat: “Katakanlah: Aku tidak memintah upah dari kalian kecuali kecintaan (mawaddah) kepada keluargaku (qurba).” (Qs. 42:23) Juga tidak sesuai dengan hadits al-Kisaa; keturunan Nabi Saw memenuhi tuntutan hadits dan ayat ini.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menafsirkan hadits ini adalah menerima bahwa hadits ini merujuk kepada kedua belas Imam dari keluarga Nabi (Ahl al-Bait), karena mereka, pada masanya, adalah orang-orang yang paling berilmu, paling illustrious, paling bertakwa, paling beriman, paling tinggi dalam garis keturunan nabi, paling mulia dalam kepribadian, paling terhormat di hadapan Allah; dan ilmu mereka bersumber dari datuk mereka (Nabi Saw melalui ayah-ayah mereka, dan warisan dan pengajaran langsung dari Allah Swt.”[5]


[1] . ar-Razi : at-Tafsiru ‘l-kabir, vol.10, hal. l44.

[2] . Meskipun kita tetap memberi hormat kepada pendapat-pendapat yang lain, dan khususnya kepada keyakinan saudara-saudara kita dari Ahlus Sunnah, pada saat yang sama, penulis tidak memiliki alternatif lain kecuali mengkritisi pendapat ar-Razi dengan contoh-contoh tersebut. Tentu saja, kita tidak menganggap bahwa pendapat ar-Razi ini merupakan manifesto seluruh saudara Ahlus Sunnah, (Penerbit).

[3] . Lihat,  al-’Ayyashi: at-Tafsir, vol. 1, hal-hal.249-250; Fayd al-Kashani: at-Tafsir ) as-Safi), vol.1, hal.364.

[4] . al-Khazzaz: Kifayatu ‘l-Athar, hal. 53

[5] . al-Qunduzi’ Yanabi ‘u ‘l-mawaddah, hal-hal  444-447

Para pembaca…

Al-Imâmah secara literal (lughawi) berarti “kepemimpinan”. Al-Imâm berarti “pemimpin”. Dalam terminologi Islam al-Imâmah bermakna “otoritas semesta dalam seluruh urusan agama dan dunia, yang menggantikan peran Nabi Saw.[1] Al-Imâm berarti: “Seorang (pria) yang – menggantikan Nabi – memiliki hak untuk memerintah secara mutlak dalam urusan kaum muslimin baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Kata “seorang (pria)” menunjukkan bahwa seorang wanita tidak dapat menjadi seorang imam. “Memerintah secara mutlak” tidak termasuk mereka yang memimpin salat – mereka juga dipanggil imam – tapi  dalam konteks salat jamaah. Tetapi mereka tidak memiliki otoritas mutlak. Dalam suksesi nabi, suksesi tersebut menunjukkan perbedaan antara seorang nabi dan seorang imam. Imam menjalankan otoritas ini secara tidak langsung, melainkan menjalankan tugas ini untuk menggantikan kedudukan Nabi.

Kata “khilafah” berarti “pergantian” dan “al-khalifah” bemakna “pengganti”. Dalam terminologi Islam “al-khilafah” dan “al-khalifah” secara praktis menandakan arti yang sama dengan “al-imamah” dan “al-imam“.

Adapun al-Wisayah berarti “pelaksanaan wasiat” dan “al-Wasi” bermakna “pelaksana wasiat”. Secara signifikan maknanya sama dengan “al-khilafah” dan “al-khalifah“.

Menarik untuk diperhatikan bahwa banyak nabi-nabi sebelumnya juga khalifah dari nabi-nabi pendahulunya, jadi mereka adalah nabi dan khalifah; sementara nabi-nabi yang lain (yang membawa syari’at baru) bukan khalifah dari nabi-nabi sebelumnya. Dan diantara mereka ada yang menjadi khalifah nabi-nabi tetapi bukan nabi.

Masalah imamah dan khilafah telah meretas – memecah – keutuhan kaum muslimin dan mempengaruhi pola-pikir, falsafah dari kelompok yang berbeda yang telah sedemikian hebat sehingga persamaan yang ada yakni tauhid, meyakini Allah (at-Tauhid) dan nabi (nubuwwah) tidak lagi dapat diselamatkan dari pandangan-pandangan yang berbeda ini.

Inilah subjek yang menjadi perdebatan yang paling hebat dalam teologi (ilmu kalam) Islam. Banyak kaum Muslim yang telah menulis ratusan kitab tentang masalah khilafah.  Masalah yang ada dihadapan penulis, bukan apa yang harus ditulis; melainkan apa yang tidak harus ditulis. Dalam karya kecil seperti ini – anda tidak dapat menyentuh seluruh ragam aspek dari permasalahan ini – biarkan mereka mencarinya sampai detail ihwal topik-topik yang dibahas di dalam buku ini. Buku ini hanya menyuguhkan sebuah garis besar dari ikhtilaf yang ada diantara beberapa madzhab dalam Islam tentang masalah khilafah.

Mungkin dengan menyebutkan bahwa dalam Islam terbagi dalam dua madzhab yang berbeda dalam menyikapi masalah ini, dapat membantu para pembaca dalam berurusan dengan masalah ini. Madzhab Sunni meyakini bahwa Abu Bakar adalah khalifah pertama selepas Nabi Saw. Madzhab Syiah meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Tâlib merupakan Imam dan Khalifah setelah wafatnya Nabi Saw.

Perbedaan azasi ini telah menuntun kepada perbedaan-perbedaan yang ada yang akan dijelaskan pada bagian-bagian selanjutnya dari buku ini.

Ikhtisar Perbedaan

Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits yang validitasnya diterima oleh seluruh madzhab dalam Islam:

“Umatku akan terbagi menjadi tujuh puluh firqah (bagian), seluruhnya akan binasa kecuali satu firqah “.[2]

Pencari keselamatan akan selalu – tentu saja – tanpa lelah berusaha untuk mencari tahu masalah ini kemudian menemukan jalan yang benar – jalan keselamatan -, dan memang mesti bagi setiap orang untuk mencarinya, melakukan yang terbaik dan tidak pernah berputus asa untuk mencari kebenaran. Tapi ini hanya mungkin  bila ia memiliki sebuah pandangan yang jernih dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada di sekelilingnya, dan membuang segala bias dan prasangka, menguji suatu kebenaran dengan pemikiran yang matang dan dewasa, senantiasa berdoa kepada Allah Swt agar membimbingnya kepada jalan kebenaran.

Atas alasan ini, saya mengajukan secara singkat di sini ikhtilaf-ikhtilaf yang penting dan konflik-konflik yang ada kita hadapi bersama dengan argumen-argumen, dalil-dalil dan penalaran yang sehat dari setiap madzhab, dalam rangka memudahkan kita mencapai kebenaran yang kita cari. Pertanyaan-pertanyaan utama yang mengemukan di sini adalah:

  1. Apakah pengganti Nabi, pengangkatannya dari Allah Swt atau diserahkan sepenuhnya kepada umat untuk memilih siapa saja yang mereka kehendaki sebagai pengganti Nabi?
  2. Dalam kasus terakhir, apakah Allah atau Nabi menyerahkan kepada umat kaidah-kaidah sistematis yang mengandung aturan-aturan dan prosedur bagi pengangkatan seorang khalifah, atau apakah umat dengan kesepakatan yang mereka capai sebelum mengangkat seorang khalifah, menyiapkan seperangkat aturan-aturan yang mereka terapkan dalam mengangkat seorang khalifah, atau apakah umat bertindak berdasarkan kepada apa yang mereka anggap perlu pada suatu waktu dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
  3. Apakah akal dan dustur Ilahi menuntut adanya syarat-syarat dan kualifikasi dalam diri seorang imam atau seorang khalifah? Jika demikian, apa saja syarat-syarat dan kualifikasi tersebut?
  4. Apakah Nabi Saw menunjuk seseorang sebagai khalifahnya dan penggantinya atau tidak? Jika memang menunjuk seseorang, siapa orang tersebut? Jika tidak, mengapa?
  5. Setelah wafatnya Nabi Saw, siapa yang dikenali sebagai khalifahnya dan apakah orang ini memiliki kualifikasi-kualifikasi yang ada sebagai syarat untuk menjadi seorang khalifah?[3]

Perbedaan Azasi

Akan menghemat waktu, jika kita menjelaskan permulaan sebab azasi ikhtilaf ihwal tabiat dan karakter imamah dan khalifah. Apakah

karakteristik utama yang ada pada urusan imamah? Apakah seorang imam, pertama dan utama, adalah seorang penguasa sebuah kerajaan? Atau ia merupakan khalifahtullâh dan khalifaturasul?

Karena imamah dan khilafah diterima secara umum sebagai pengganti Nabi, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hingga keputusan dibuat berdasarkan kepada karakter asasi seorang nabi. Kita harus memutuskan apakah seorang nabi adalah penguasa sebuah kerajaan atau merupakan wakil Tuhan di muka bumi.

Dalam sejarah Islam, kita temukan suatu kelompok yang bila ditinjau dari misi kedatangan Nabi Saw, terlihat sebuah usaha yang ingin mendirikan sebuah kerajaan. Pandangan mereka bersifat material, tidak maknawi; gagasan-gagasan mereka bertumpu pada pengumpulan harta, kecantikan dan kekuasaan. Mereka – secara tabiat – menisbahkan motif-motif yang mereka bangun kepada Nabi Saw.

Seperti pada kasus ‘Utbah bin Rabi’ah – bapak mertua Abu Sufyan – yang diutus untuk menjumpai Nabi menyampaikan pesan suku Quraisy.

“Wahai Muhammad! Jika engkau menginginkan kekuasan dan wibawa, kami akan menjadikan engkau sebagai maharaja di Makkah. Apakah engkau berhasrat menikah dengan putri  bangsawan? Engkau dapat meminang putri tercantik di negeri ini. Apakah engkau ingin emas dan perak? Kami dapat menyediakanmu segalanya bahkan lebih dari itu. Tapi engkau harus meninggalkan dakwahmu yang menyerang kami dan menghina nenek-moyang kami yang menyembah berhala.”

Suku Quraisy hampir pasti yakin bahwa Muhammad akan menanggapi tawaran yang menggiurkan itu. Tapi Nabi Muhammad Saw membacakan sebuah ayat suci al-Qur’an sebagai jawaban  beliau – berisikan ancaman – kepada suku Quraisy itu. “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkanmu dengan petir yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud. (Qs. Fussilat:13)

‘Utbah sangat emosional dengan ancaman yang nyata ini. Ia tidak menerima Islam, tapi memberikan nasihat kepada kaum Quraisy supaya tidak mengganggu Muhammad dan melihat bagaimana ia akan berjalan dengan suku-suku lainnya. Suku Quraisy mengklaim bahwa ‘Utbah pun telah terpengaruh sihir Muhammad.[4]

Kemudian ia ingin menyerahkan urusan Muhammad kepada suku-suku lain. Di satu sisi, ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah dan suku Quraisy berperangsatu sama lainnya, suku-suku yang lain berpikir lebih baik meninggalkan Muhammad kepada sukunya sendiri. ‘Amr bin Salamah, seorang sahabat Nabi berkata:

“Bangsa Arab menantikan suku Quraisy menerima Islam. Mereka berkata bahwa Muhammad harus diserahkan kepada kaumnya sendiri. Jika ia muncul sebagai pemenang, tanpa ragu dia adalah seorang Nabi yang hak. Ketika Mekkah ditaklukkan, seluruh suku-suku berlomba-lomba untuk menerima Islam.”[5]

Oleh karena itu, dan menurut mereka, kemenangan adalah kriteria kebenaran! Jika Muhammad Saw ditaklukkan, maka ia akan dipandang sebagai pendusta!!

Pandangan bahwa misi suci ini tidak lain kecuali sebuah urusan duniawi yang berulang kali diumumkan oleh Abu Sufyan dan kaumnya (Bani Umayyah, –penj.).

Pada waktu kejatuhan Mekkah, Abu Sufyan meninggalkan Mekkah untuk menghindar dari kekuatan pasukan muslim. Ia terlihat oleh Abbas – paman Nabi – yang membawanya ke hadapan Nabi dan memberi nasihat kepada Nabi bahwa sebaiknya ia diberikan perlindungan dan penghormatan, dengan harapan semoga ia dapat menerima Islam.

Untuk menyingkat cerita ini, al-’Abbâs membawa Abu Sufyan untuk melihat-lihat lasykar Islam. Ia menunjukkan kepada Abu Sufyan orang-orang besar dari suku yang berlainan dalam susunan pasukan Islam. Sementara itu, Nabi Saw melewati pasukannya yang berseragam hijau. Abu Sufyan berteriak: “Wahai ‘Abbâs! Sesungguhnya kemenakanmu telah memperoleh sebuah kerajaan!”. Al-’Abbâs berkata: “Celakalah engkau! Ini bukan kerajaan; ini adalah kenabian.”[6]

Di sini, kita melihat dua pandangan yang saling berseberangan. Pandangan Abu Sufyan tidak berubah. Ketika ‘Utsman menjadi khalifah, Abu Sufyan datang kepadanya dan memberi nasihat, “Wahai putra Umayyah! Kini kerajaan ini telah datang padamu, mainkanlah ia sebagaimana anak kecil bermain bola dan serahkanlah secara turun- temurun kepada sanak keluargamu. Ini adalah hakikat kebenaran; kita tidak tahu apakah surga dan neraka ada atau tidak.”[7]

Lalu, ia pergi ke Uhud dan menendang kuburan Hamzah (paman Nabi), dan berkata: ” Wahai Abu Ya’la! Lihatlah kerajaan yang engkau berperang atasnya akhirnya telah datang kepada kami.”[8]

Pandangan yang sama diwarisi oleh cucunya yang berkata: Bani Hasyim telah bermain dengan kerajaan; namun akhirnya kini tidak ada kabar, juga tidak ada wahyu yang turun sama sekali.”[9]

Jika pandangan seperti ini dianut oleh kaum muslimin, niscaya ia menyamakan imamah dengan penguasa. Sesuai dengan pemikiran semacam ini, fungsi utama Nabi adalah sebagai penguasa kerajaan, Oleh karena itu, siapa saja yang mengendalikan kekuasaan adalah pengganti sah Nabi Saw.

Tapi masalah yang mengedepan kemudian adalah lebih dari sembilan puluh persen nabi-nabi yang diutus tidak memiliki kekuasaan politik; dan kebanyakan mereka menjadi tumbal atau korban kekuasaan-kekuasaan politik pada masanya. Kejayaan mereka tidak terletak pada takhta dan mahkota, namun pada syahadah dan pengorbanan. Jika karakteristik utama kenabian adalah kekuasaan politik dan penguasaan, maka barangkali – bahkan – tidak ada 50  (dari 124.000) nabi-nabi yang diutus akan bertahan dengan gelar Ilahi mereka sebagai  nabi.

Jadi, sangat jelas bahwa karakteristik utama Nabi Saw tidaklah pada kekuasaan politik, tapi pada khalifatullah, dan bahwa perwakilan ini tidak dianugerahkan kepadanya oleh orang-orang; namun perwakilan ini dianugerahkan oleh Allah Swt sendiri.

Demikian juga, pengganti Nabi, karakteristik utamanya juga tidak pada kekuasaan politik; melainkan pada kenyataan bahwa ia adalah wakil Allah Swt, dan perwakilan ini tidak akan pernah dianugerahkan oleh manusia, perwakilan ini niscaya dan mesti dari Allah Swt sendiri. Singkatnya, jika seorang imam adalah wakil Allah Swt, maka yang mengangkatnya sebagai wakil juga haruslah Allah Swt.

Sistem Kepemimpinan Dalam Islam

Pernah suatu waktu, sistem pemerintahan monarki adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang dikenal oleh manusia. Pada saat yang bersamaan, ulama-ulama muslim mengagungkan sistem monarki dengan berkata: “Raja adalah bayangan Tuhan,” seakan-akan Tuhan memiliki bayangan! Kini di abad kiwari, demokrasi sedang digemari dan ulama-ulama Sunni tanpa mengenal lelah menegaskannya dalam artikel-artikel, buku-buku dan risalah-risalah mereka, bahwa sistem pemerintahan Islam berdasarkan sistem pemerintahan demokrasi. Mereka bahkan terlalu cepat mengklaim bahwa demokrasi didirikan oleh Islam, dengan melupakan kota republik Yunani. Pada babak kedua dari abad ini, sosialisme dan komunisme telah mendapatkan perhatian khusus oleh negara-negara yang sedang berkembang atau pun yang sudah berkembang; dan saya tidak terkejut mendengar bahwa banyak cendekiawan muslim menegaskan bahwa Islam mengajarkan dan menciptakan sosialisme. Beberapa orang di Pakistan dan di beberapa tempat yang lain, telah menciptakan slogan “Sosialisme Islam”. Apa maksud dari “Sosialisme Islam” ini, saya tidak tahu. Tapi saya tidak akan terkejut jika dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan orang-orang seperti ini akan memulai mengklaim bahwa Islam juga mengajarkan komunisme.

Seluruh kecenderungan “berubah bersama angin” ini sedang membuat sebuah lelucon dari kepemimpinan Islam. Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah majelis kaum muslimin di sebuah negara di Afrika, seorang pemimpin muslim menyebutkan bahwa Islam mengajarkan: Taati Allah, taati Rasulnya dan penguasa di antara kalian”. Dalam jawabannya, seorang presiden (yang kebetulan adalah seorang penganut Katolik Roma yang setia) berkata bahwa ia  sangat menghargai hikmah dari perintah untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya; tapi ia tidak dapat mengerti logika dibalik perintah itu mentaati penguasa kalian ini.

Bagaimana jika seorang penguasa itu tidak adil dan seorang tiran? Apakah Islam memerintahkan kaum muslimin untuk mentaatinya secara membabi-buta tanpa sedikit pun perlawanan.

Pertanyaan yang rasional menuntut jawaban yang rasional pula. Hal ini tidak dapat dipandang remeh. Kenyataan bahwa orang yang mengundang kritikan pedas, melakukan hal itu karena kekeliruan dalam menafsirkan al-Qur’an.

Mari kita uji sistem kepemimpinan dalam Islam. Apakah ia berwarna demokratis? Definisi terbaik demokrasi diberikan oleh Abraham Lincoln (Presiden Amerika yang ke-16, 1861-1865) ketika ia berkata bahwa demokrasi adalah “Pemerintahan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.

Akan tetapi dalam Islam, bukanlah pemerintahan dari rakyat, namun pemerintahan dari Allah Swt. Bagaimana manusia dapat memerintah diri mereka sendiri? Mereka memerintah diri mereka sendiri dengan membuat aturan-aturan sendiri; dalam Islam, hukum tidak dibuat oleh manusia, tapi oleh Allah Swt; hukum ini diajarkan tidak berdasarkan kesepakatan dan keputusan manusia, tapi oleh Nabi Saw sesuai dengan perintah dari Allah Swt. Manusia tidak memilki suara dalam legislasi; mereka diminta untuk mengikuti segala ketentuan yang dibuat oleh Allah Swt, tanpa ada komentar atau usulan tentang hukum-hukum ini dan legislasi.

Sampai pada frase “oleh rakyat”,  mari kita timbang bagaimana manusia memerintah diri mereka sendiri. Mereka melakukannya dengan memilih penguasa mereka sendiri. Nabi Saw merupakan orang yang memangku badan eksekutif, hukum dan seluruh otoritas dalam pemerintahan Islam, dan beliau tidak dipilih oleh manusia. Dalam kenyataannya, jika penduduk Mekkah dibolehkan untuk memilih sendiri, mereka akan memilih, ‘Urwah bin Mas’ud (dari suku Taif) atau al-Maulid bin Mughira (dari Mekkah) sebagai nabi Allah! Menurut al-Qur’an, “Dan mereka berkata: “Mengapa  al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari satu dua negeri (Mekkah dan Taif) ini.”[10]

Jadi, Nabi Saw tidak hanya seorang kepala negara agung dari negara Islam  yang ditunjuk tanpa konsultasi manusia, namun kenyataanya beliau dipilih bertentangan dengan keinginan mereka. Nabi Saw adalah pemegang otoritas tertinggi dalam Islam. Beliau menggabungkan personalianya dalam fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif dalam pemerintahan; dan beliau tidak dipilih oleh manusia (rakyat).

Dengan demikian, Islam  bukan pemerintahan rakyat, bukan “oleh rakyat”. Tidak ada legislasi oleh rakyat; eksekutif dan  yudikatif tidak bertanggung jawab kepada rakyat, juga bukan sebuah pemerintahan untuk rakyat”.

Sistem Islam , sejak awal hingga akhir, adalah untuk Allah. Segala sesuatunya harus dilakukan semata-mata untuk Allah; jika dilakukan untuk rakyat, maka ini disebut sebagai “syirik tersembunyi”.  Apa saja yang anda lakukan – apakah salat atau sadaqah, amal sosial atau keluarga, ketaatan kepada orang tua atau cinta kepada tetangga, memimpin salat berjamaah atau memutuskan sebuah perkara, memasuki medan perang atau menyepakati perdamaian – harus dilakukan “qurbatan ilallah” (sebagai pendekatan kepada Allah), untuk meraih keridaan Allah. Dalam Islam, segalanya untuk Allah.

Singkatnya, bentuk pemerintahan Islam adalah pemerintahan Allah melalui perwakilan-Nya, untuk meraih keridaan Allah.

Pemerintahan ini adalah pemerintahan teokrasi, dan merupakan tabiat dan karakter kepemimpinan Islam, dan bagaimana pengaruh makna ayat di atas berkenaan dengan ketaatan, akan kita lihat pada bagian terakhir dari buku ini.


[1]. Lihat, Al-’Allamah al-Hilli:al-Babu ‘l-hadi ‘Asyar, Edisi Bahasa Inggris. penj. W. M. Miller, hal. 62; Mughniyyah:Falsafat Islamiyyah,  hal. 392.

[2] . Lihat, al-Khâtib at-Tabrizi: Mishkatu ‘l-Masabih,  Terjemahan Bahasa Inggris oleh James Robson, vol.l, hal. 45; al-Majlisi telah mengumpulkan dalam sebuah bagian yang lengkap, hadits-hadits yang bertalian dengan masalah ini dalam Biharu ‘l-Anwar, vol. 28, hh.2-36; al-Qummi, Syaikh Abbas: Safinatu ‘l-Bihar, vol. 2, hal-hal. 359-360.

[3] . Lihat, Najmu ‘l-Hasan:an-Nubuwwah wa ‘l-khilâfah, penj. Liqa’ ‘Ali Haidari, hal. 2-3

[4] . Lihat, Ibn Hisyâm:as-Sirah an-Nabawiyyah, vol.l, hal. 313-314.

[5] . Lihat, al-Bukhâri:as-Sahih, vol. 5, hal. 191; Ibn Katsir :al-Bidayah wa ‘n-Nihaya, vol. V, hal. 40.

[6] . Lihat, Abu’l-Fidâ:’  al-Mukhtasar , vol.1, hal-hal. 143-144; al-Ya’qubi : at-Târikh ,vol. 2, hal. 59.

[7] . Ibn ‘Abdi ‘l-Barr: al-lsti’âb,  vol. 4, hal. l679; Ibn Abi ‘l-Hadid mengutip akhir kalimat akhir sebagai berikut: “Dengan namanya Abu Sufyan bersumpah, tidak ada azab dan perhitungan (hisab), juga tidak ada Surga dan Neraka, juga tidak ada hari kebangkitan dan hari hisab. (Lihat, Syarh Nahju ‘l-Balâghah,vol. 9, hal. 53).

[8] . Lihat, Ibn Abi ‘l-Hadid: op. cit., vol. 16, hal. 136.

[9] . Lihat, Sibt ibn al-Jauzi: Tadzkirah, peny. S.M.S. Bahru ‘l ‘Ulum, hal. 261; at-Tabari, at-Târikh, vol.13, hal. 2174.

[10] .Untuk penjelasan “Seorang besar” lihat, as-Suyuti:Lubabu u’n-nuqul fi asbabi’n-Nuzul dicetak bersama Tafsiru ‘l-Jalalayn, hal. 289, 649.

Para pembaca…

Keharusan Imamah

Menurut pandangan Syiah, imamah adalah sebuah pranata yang mesti ada, sesuai dengan hukum akal. Dengan rahmat Allah Swt yang menjadikan hamba-hamba-Nya taat dan menjaganya dari maksiat, tanpa paksaan. Dalam ilmu kalam Syiah, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt. Ketika Allah menghendaki seseorang melakukan sesuatu, Dia mengetahui bahwa manusia tidak dapat melakukannya atau ia akan menemui kesulitan untuk melakukannya tanpa memperoleh bantuan dari-Nya. Kemudian, jika Allah tidak membantunya, maka perbuatan itu bertentangan dengan tujuan Allah sendiri.  Jelasnya, kelalaian ini adalah batil menurut ukuran akal. Oleh karena itu, sifat rahmat adalah wajib bagi Allah Swt.

Imâmah adalah rahmat dari Allah Swt.  Karena sebagaimana yang kita ketahui ketika manusia memiliki seorang pemimpin (rais) dan pembimbing yang mereka taati, yang membela kaum tertindasdari penindasan dan menahan kaum penindas, maka ia akan menarik mereka lebih dekat kepada kebaikan dan menjauh dari kerusakan dan penyimpangan, dan karena lutf, wajib bagi Allah Swt untuk mengangkat seorang imam untuk membimbing dan memimpin umat setelah wafatnya Nabi Saw.[1]

Superioritas

Kaum Syiah meyakini bahwa; sebagaimana Nabi Saw, seorang imam harus lebih unggul dari umat dalam segala keutamaan, seperti ilmu pengetahuan, keprawiraan, ketakwaan dan amal saleh, dan dia harus memiliki ilmu yang sempurna tentang hukum-hukum Allah. Jika tidak; dan kedudukan ini diamanahkan kepada orang yang setingkat di bawah orang yang memiliki kesempurnaan, yaitu inferior lebih diutamakan ketimbang superior, maka perbuatan  iniadalah perbuatan keliru menurut hukum akal dan bertentangan dengan Keadilan Ilahi. Oleh karena itu, tidak ada orang inferior yang akan menerima imamah dari Allah Swt bilamana hadir seorang yang lebih superior daripada dia.[2]

 

Ma’sum

Kualifikasi yang kedua adalah ismah (keterjagaan dari dosa dan salah). Jika imam tidak ma’sum maka ia akan dapat dengan mudah terjebak dalam kesalahan dan juga berpotensi untuk mengelabui orang.[3]

Pertama-tama,dalam kasus seperti ini (bila seorang imam  berbuat salah), kita tidak dapat mempercayai terhadap apa yang dikatakan dan didiktekan kepada kita.

Kedua, seorang imam adalah penguasa dan pemimpin umat, dan umat harus mengikutinya tanpa reserve (tedeng aling-aling) dalam segala hal. Sekarang, jika ia berbuat dosa, orang-orang pasti akan mengikutinya untuk berbuat dosa. Tak tertahankannyakedudukan ini bersifat jelas (badihi); karena ketaatan dalam perbuatan dosa adalah batil, haram dan terlarang. Lagi pula, akan berarti bahwa ia harus mentaati dan mengingkarinya pada saat yang bersamaan; yaitu, ketaatan kepadanya akan menjadi wajib dilarang, yang secara nyata bila diikuti akan tampak konyol (absurd).

Ketiga, jika memungkinkan bagi seorang imam untuk berbuat dosa, akan menjadi kewajiban bagi orang lain untuk mencegahnya (karena wajib bagi setiap muslim untuk melakukan amar ma’ruf). Dalam keadaan demikian, imam akan terhina; wibawanya akan berakhir, jangankan akan menjadi pemimpin umat, ia akan menjadi pengikut imam (ma’mum), dan imamahnya tidak akan berguna.

Keempat, imam adalah pembela hukum Allah dan perkara ini tidak akan diamanahkan kepada tangan-tangan yang penuh dosa juga tidak kepada  orang-orang yang akrab dengan salah. Atas alasan ini, kema’suman menjadi syarat mutlak kenabian; dan pertimbangan-pertimbangan yang membuatnya niscaya dan esensial dalam kasus seorang nabi, juga berlaku pada seorang imam dan khalifah.

Pembahasan ini akan dikaji lebih jeluk pada bagian akhir dari buku ini  (Ulul Amr Harus Ma’sum)

Pengangkatan oleh Allah

Seperti dalam kasus  para nabi, kualifikasi-kualifikasi yang disebutkan tersebut tidak memadai sehingga dapat secara otomatis membuat seseorang menjadi imam. Imamah bukanlah sebuah pekerjaan yang diminta; tapi sebuah penunjukan yang dianugerahkan oleh Allah.[4]

Dengan alasan ini, Syiah Itsna Asyariyah meyakini bahwa Dialah (Allah) yang berhak untuk memilih pengganti Nabi; dan umat tidak memiliki pilihan, intervensi dalam hal ini, dan kewajibannya hanya mengikuti titah Ilahi yang telah menunjuk seorang imam atau khalifah baginya.

Ayat-ayat Qur’an

Ayat-ayat berikut ini menegaskan pandangan-pandangan Syiah.

“Dan Tuhanmu yang menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs.al Qasas:68)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki hak dalam memilih; pemilihan ini sepenuhnya berada di tangan Allah Swt.

Sebelum menciptakan Adam, Allah memberi kabar kepada para malaikat; “…Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Qs.al-Baqarah:30)

Kemudisn para malaikat menyatakan protes mereka dengan santun, protes mereka ini ditepis dengan firman-Nya, “…Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui…” (Qs. al-Baqarah:30)

Jika para malaikat ma’sum ini tidak diberikan sedikit pun peluang untuk berkata dalam penunjukan seorang khalifah, bagaimana mungkin manusia yang dapat berbuat dosa (fallibel) berharap untuk mengemban seluruh otoritas atas penunjukan ini?

Allah sendiri mengangkat Nabi Daud sebagai khalifah di muka bumi;

“Wahai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah dk muka bumi…” (Qs. Saad:26)

Dalam setiap masalah Allah menisbatkan pengangkatan khalifah atau imam secara eksklusif kepada diri-Nya. “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh umat manusia. Ibrahim berkata: “Dan dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.” (Qs. al-Baqarah:124)

Ayat ini membawa kita kepada jawaban yang benar dari banyaknya pertanyaan mengenai imamah.

Pertama, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan engkau sebagai seorang Imam bagi manusia.” Ayat ini menunjukkan bahwa status imamah adalah pegangkatan-Ilahi; di luar urusan umat.

Kedua, “Perjanjianku ini tidak termasuk orang-orang yang zalim.” Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang non-ma’sum tidak dapat menjadi seorang imam. Secara logis, kita dapat membagi manusia ke dalam empat kelompok:

  1. Kelompok yang tetap berlaku tidak adil selama masa hidupnya.
  2. Kelompok yang tidak pernah berlaku zalim.
  3. Kelompok yang awalnya zalim namun kemudian menjadi adil.
  4. Kelompok yang awalnya adil namun kemudian menjadi zalim.

Ibrahim As, terlalu tinggi kedudukannya untuk memohonimamah yang termasuk kelompok yang pertama atau yang keempat. Dan kini tersisa, dua kelompok (kedua dan ketiga) yang dapat dimasukkan dalam doa Ibrahim tersebut. Namun, Allah Swt menolak salah satu dari keduanya yaitu, kelompok yang awalnya tidak adil kemudian menjadi adil. Kini tersisa, hanya satu kelompok yang memenuhi kualifikasi untuk memegang posisi imamah – mereka yang sama sekali tidak pernah berbuat zalim selama hidupnya, yaitu ma’sum.

Ketiga, Terjemahan literal dari akhir ayat tersebut adalah:

Perjanjianku tidak akan mencapai orang-orang zalim. Perhatikan, Allah tidak berkata, “Orang zalim tidak akan mencapai perjanjianku”, karena yang demikian ini bermakna bahwa ia berada di dalam kekuasaan manusia – meskipun ia seorang yang adil – untuk mencapai kedudukan imamah. Kalimat present (mudâre) tidak menyisakan kesalahpahaman, secara jelas menunjukkan bahwa menerima amanat imamah tidak berada dalam pengurusan manusia; urusan ini sepenuhnya berada di tangan Allah secara eksklusif dan Dia memberi kepada siapa yang Dia kehendaki.

Lalu sebagai aturan umum, disebutkan, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (Qs.al-Anbiya:73)

Ketika Nabi Musa As menghendaki perdana menterinya untuk membantunya, ia tidak menunjuk seseorang dengan menggunakan otoritasnya sebagai nabi. Ia berdoa kepada Allah Swt: “Dan anugerahkan kepadaku seorang pembantu dari keluargaku, Hârun saudaraku.“(Qs.Taha:29-30)  Dan Allah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu , wahai Musa.” (Qs.Taha:36)

Seleksi Ilahia ini diberitakan kepada umat melalui nabi atau imam sebelumnya. Deklarasi ini disebuti nass = spesifikasi; determinasi, pengangkatan pengganti imam oleh nabi atau imam sebelumnya. Seorang Imam sesuai dengan keyakinan Syiah, harus mansus dari Allah, yaitu diangkat oleh Allah untuk kedudukan tersebut.

Mukjizat

Jika seseorang tidak mendengar nass tentang sebuah penuntut imamah, maka satu-satunya jalan untuk memastikan kebenaran klaimnya itu adalah melalui mukjizat.[5]

Secara umum, setiap orang bisa saja mengklaim bahwa ia adalah seorang imam atau khalifah nabi dan ma’sum, namun sebuah mukjizat adalah satu-satunya alat penguji kebenaran dalam hal ini. Jika pengklaim dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat untuk menopang klaimnya, maka tanpa ragu, klaimnya akan mudah diterima oleh umat.  Namun jika ia tidak dapat membuktikannya dengan sebuah mukjizat, maka jelas bahwa ia tidak memenuhi kualifikasi  atas imamah dan khalifah, dan klaimnya ini adalah sebuah klaim palsu.

Dapat Menjadi  Teladan

Praktik yang berlaku secara umum dalam memilih penggantinya (atas perintah Allah) berlaku tanpa intervensi ummat.

Sejarah nabi-nabi tidak menyodorkan satu contoh sebagai pengganti nabi dipilih melalui voting dari pengikutnya. Tidak ada alasan mengapa pengganti Nabi Saw yaitu hukum Allah yang mapan ini harus berubah, Allah berfirman, “…dan kamu sekali-kali tiada akan mendapatkan perubahan pada sunnah Allah.” (Qs. al-Ahzab:62)

Alasan-alasan Logis

Alasan yang sama yang membuktikan pengangkatan seorang nabi adalah hak prerogatif Allah, membuktikan dengan kekuasaan yang sama bahwa pengganti nabi juga harus diangkat oleh Allah. Seorang imam atau khalifah; sebagaimana nabi, ditunjuk untuk melaksanakan tugas dari Allah  Swt. Jika ia diangkat oleh manusia, loyalitasnya yang pertama tentu saja bukan untuk Allah, melainkan untuk orang-orang yang akan “bersandarkan kepada otoritasnya”. Ia akan selalu berupaya untuk mencari keridaan manusia, karena jika mereka menarik kepercayaan mereka dari dirinya, ia akan kehilangan jabatannya. Sehingga ia tidak akan melaksanakan kewajiban agama tanpa ada rasa takut atau selera; pandangannya akan senantiasa dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politik. Kemudian, tugas dari Allah tentu saja akan terabaikan.

Di samping itu, sejarah Islam menyajikan bukti-bukti melimpah yang menyoroti ajaran-ajaran agama yang ditunjukkan oleh khalifah yang diangkat oleh manusia. Jadi argumen ini tidak hanya bersifat ilmiah, tapi juga sarat dengan bukti-bukti sejarah.

Juga, hanya Allah yang mengetahui keadaan batin (inner feelings) dan pikiran seseorang; tidak ada yang dapat mengetahui tabiat asli seseorang. Boleh jadi seseorang bersikap seolah-olah sebagai orang yang bertakwa dan beriman hanya untuk memberikan kesan kepada kerabat dan koleganya dan bertujuan untuk meraih nikmat duniawi. Contoh-contoh sikap seperti ini banyak ditemukan dalam catatan sejarah. Sebagai misal, kisah Abdul Malik bin Marwan yang meluangkan hampir seluruh waktunya di masjid untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an. Ia sedang membaca Al Qur’an ketika kabar tentang kematian ayahnya sampai kepadanya dan orang-orang menantikan untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah baru. Ia kemudian menutup al-Qur’an dan berkata, “Kini saatnya berpisah denganmu!”[6]

Dengan demikian, kualifikasi yang diperlukan untuk menjabat kedudukan sebagai khalifah dan imam hanya dapat diketahui secara hakiki  oleh Allah, dan hanya Allahlah yang memiliki hak prerogatif untuk mengangkat seorang imam atau khalifah.

Kema’suman para Imam

Kini, mari kita amati apa yang dikatakan oleh al-Qur’an tentang Ahl  al-Bait Nabi Saw.

Sesuai dengan al-Qur’an, ‘Ali, Fâtimah, Hasan, Husain adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan ma’sum pada saat Nabi Saw wafat. Ayat Tathir berbunyi sebagai berikut, “…Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa darimu, wahai Ahl al-Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (Qs. al-Ahzab:33)

Secara umum disepakati bahwa keempat nama yang tersebut di atas adalah Ahl al-Bait dan adalah orang-orang yang terjaga dari dosa dan terbebas dari segala nista.

Kalimat sebelumnya dan sesudah ayat ini dialamatkan kepada para istri Nabi dan kata ganti (dâmir) dalam ayat ini merupakan gender muannats. Tetapi kata ganti yang digunakan dalam ayat ini mengandung gender mudzakkar. Alasan mengapa ayat ini ditempatkan dalam bentuk mudâre’ tidak terlalu sulit untuk ditebak. Almahrum “Allamah Pooya” menulis dalam catatan kaki No. 1857 dengan terjemahan al-Qur’an oleh S.V.Mir Ahmed Ali.

Kandungan ayat ini; berkenaan dengan kesucian Ahl al-Bait yang telah disucikan oleh Allah Swt, memerlukan sebuah penjelasan yang layak untuk dikomentari dalam konteks yang benar. Kandungan ayat ini merupakan sebuah ayat yang terpisah dengan sendirinya. Pewahyuannya juga terpisah pada peristiwa khusus namun ditempatkan di sini karena ia berhubungan dengan para istri Nabi Saw. Letak ayat ini; jika kita kaji secara seksama, menegaskan bahwa ia memiliki tujuan dan alasan yang signifikan dibaliknya. Ketika mengalamatkan pada awal-awal ayat dalam bentuk gender muannats, ada transisi dalam alamat dari mu’annats kepada mudzakkar.  Ketika merujuk secara bersama-sama kepada Rasulullah Saw, pronomina ini juga secara konsisten bercorak muannats. Karena sebuah gabungan antara pria dan wanita, secara umum gender mudzakkar yang digunakan. Transisi seperti ini dalam penggunanaannya didalam  gramatika bahasa, memberikan penjelasan bahwa klausa ini sedikit berbeda dengan yang digunakan untuk kelompok yang lain dari yang pertama, dan telah secara serasi ditempatkan di sini untuk menunjukkan perbandingan kedudukan Ahl al-Bait di hadapan para istri Nabi Saw.

Amr bin Abi Salamah yang dibesarkan oleh Rasulullah Saw, meriwayatkan:

“Ketika ayat ini turun, Nabi Saw berada di kediaman Ummu Salamah. Pada saat pewahyuan surat ini: “Sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dosa darimu wahai Ahl al-Bait! Dan mensucikanmu sesuci-sucinya”, Rasulullah Saw mengumpulkan putrinya Fatimah, putra Fatimah, Hasan dan Husain, dan suaminya, ‘Ali, dan menutupi mereka termasuk dirinya, dengan kisa(kain)-nya dan berkata kepada Allah Swt,  Wahai Tuhanku, mereka inilah keturunanku! Jagalah mereka dari setiap bentuk kekotoran, dan sucikan mereka sesuci-sucinya.

Ummu Salamah, istri budiman Rasulullah Saw, menyaksikan peristiwa ini dengan penuh takjub, dengan rendah-hati, ia meminta kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Dapatkah aku bergabung dengan mereka?” Kemudiam dijawab oleh Rasulullah, “Tidak. Tetaplah ditempatmu, sesungguhnya engkau adalah orang yang memiliki kemuliaan.”[7]

Di sini bukan tempatnya menyebutkan referensi-referensi mengenai ayat ini; namun, saya ingin menukil Maulana Wahiduz Zaman, seorang ulama Sunni terkemuka, yang terjemahan dan tafsir Qur’annya beserta bukunya Anwârullughah (sebuah kamus al-Qur’an dan Hadits) adalah di antara salah satu referensi yang diakui. Ia menulis tafsir tentang ayat ini: “Beberapa orang berpikir bahwa ayat ini khusus untuk anggota keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Penerjemah ini berkata bahwa hadits sahih dan mempunyai sanad yang baik hingga Rasulullah mendukung pendapat ini, karena ketika Rasulullah Saw sendiri mengumumkan bahwa anggota keluarga ini hanya mereka ini (lima orang), maka menerima dan meyakininya menjadi wajib. Satu lagi tanda kebenaran dari pandangan ini adalah bahwa pronomina-pronomina yang digunakan sebelum dan setelah ayat ini adalah mua’annats, sementara dalam ayat ini adalah mudzakkar…’[8]

Kembali ia berkata dalam Anwârul Lughah: ” Pandangan yang benar adalah bahwa hanya lima orang yang termasuk dalam ayat tathir ini (Rasulullah, ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain), meskipun dalam penggunaan Bahasa Arab, istilah Ahl al-Bait juga digunakan untuk para istri. Beberapa orang yang membuktikan ayat ini bahwa kelima orang ini adalah ma’sum dan tanpa dosa. Tapi jika tidak ma’sum, maka tentu saja mereka mahfuz (terjaga dari perbuatan dosa dan salah).[9]

Saya telah menukil dua referensi di atas dan ingin menunjukkan bahwa tidak hanya Itsna ‘Asyariyah yang mengklaim pendapat di atas, namun ulama Sunni juga menegaskan klaim ini, sesuai dengan kaidah gramatika bahasa Arab dan hadits-hadits sahih Rasulullah, hanya ‘Ali, Fâtimah, Hasan dan Husain yang dimaksud ayat ini, disamping Rasulullah sendiri. Juga, jelas pandangan yang mengatakan bahwa kelima orang ini adalah tanpa dosa, disuarakan oleh ulama Sunni. Nampaknya akhirnya mereka berkata jika mereka tidak ma’sum (secara teori) mereka pasti terjaga dari salah dan dosa (secara praktik).

Ada banyak ayat dan hadits yang membenarkan ismah Ahl al-Bait, tapi karena masalah ruang dan waktu tidak memberikan banyak tempat untuk saya memaparkannya secara lebih detail, meskipun dalam bentuk yang singkat.


[1] . al-’Allamah al-Hilli: al-Babu ‘l-hadi ‘asha, Terjemahan Bahasa Inggris oleh W.M. Miller,hal. 50 dan hal-hal. 62-64.

[2] . Ibid. hal. 69.

[3] . Ibid. hal. 64-68.

[4] . Ibid. hal. 68.

[5] . Ibid., hal. 69.

[6] .   Lihat, as-Suyuti:Târi’khu ‘l-Khulafa,  hal.217.

[7] .Lihat, Holy Qur’an,  terjemahan Bahasa Inggris oleh, S. V. Mir Ahmed Ali, fn. 1857, hal. l261 .

[8] . Lihat. Wahidu ‘z-Zaman: Tafsir Wahidi, pada batas terjemahan al-Qur’an oleh penulis yang sama, parag. 22 catatan kaki. 7, hal. 549.

[9] .Lihat,Wahidu’z-Zaman: Anwârul-Lughah, pada.22,hal.51.

Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni dan membongkar kebohongan sunni

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa’iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi 

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara’id al-Simthain, Mu’assassat al-Mahmudi li-Taba’ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s

.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
2.
….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
3.
….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
4.
Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
5.
….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
6.
….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
7.
(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
8.
….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.
Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.
…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.
Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Kebohongan akidah sunni vulgar ! Mu’awiyyah membunuh sejumlah sahabat dan membantai mereka yang menolak untuk melaknat Ali.

1 Keluarga Tewas Dibunuh, Polisi Buru Pelaku

Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi’ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik ‘Abdullah bin ‘Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti “Riwayat Hidup Rasulullah SAW” karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah” jilid II, hal. 213.

Atau Mu’awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi’ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi’ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar’i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?

Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka ‘aib’ para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur’an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?

Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur’an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai’un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan ‘perang lalat’ di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang ‘berbahaya’ tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?

Mengapa merekaharus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu’minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi’ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!

Haruslah diakui bahwa pandangan Syi’ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, ‘udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.

Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap ‘Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!

Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu’minin ‘Aisyah yang memerangi ‘Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.

Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi’ah, tetapi kaum Wahabi!

Sebaliknya kaum Syi’ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang ‘kufur’ dan ‘munafik’. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).

Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur’an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu”. Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.

Apakah pandangan Syi;ah tersebut ‘kufur’ atau ‘sesat’? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.

Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah 1 dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.

Ini bukan tuduhan kaum Syi’ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya ‘saifullah’ atau pedang Allah. “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.”, kata Abu Bakar.

Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.” Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.

Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda’. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian.

Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala.

Pantaslah kalau Mu’awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau ‘Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua ‘Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan ‘sunah’ atau contoh para sahabat sebelumnya.

Umar memecat Khalid bin Walid –yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk– tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari.

Apakah orang Syi’ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah.”? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!

Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, “Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca.”

Bacalah buku sejarah. Bukan ‘asal ngomonng’. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayat-ayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.

1 Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga.

Melaknat Sahabat

Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti ‘Umayyah, kecuali di zaman khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis yang hanya dua setengah tahun. Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan. Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.

Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu’awiyyah, serta khalifah-khalifa Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus. Abdullah bin Umar tidak mau membai’at Ali malahan membai’at Mu’awiyyah, Yazid bin Mu’awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan ‘diperlombakan’. Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus.

Kita tahu, Mu’awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin ‘Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi’ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al-Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat.

Beranikah saudara-saudara menganggap Mu’awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat?

Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!

Mayoritas hadis shahih mazhab sunni sirna ditelan zaman ! Malapetaka sunni


Hadis merupakan sumber sunnah Nabi SAW yang menjadi rujukan kedua dalam kajian hukum Islam setelah al-Qur’an al-Karim. Oleh karena itu, kedudukan hadis sangat signifikan dan urgen dalam Islam. Hanya saja urgensi dan signifikansi hadis tidak mempunyai makna, manakala eksistensinya tidak didukung oleh uji kualifikasi histories yang memadai dalam proses transmisinya (periwayatan)
.
Dengan demikian, sebelum hadis itu menjadi sunnah yang merupakan sumber dan landasan suatu istinbat hukum, maka uji kualifikasi histories untuk menentukan otentik tidaknya hadis tersebut merupakan hal yang niscaya dilakukan.
Kajian terhadap periwayatan hadis untuk menentukan otentik-tidaknya sudah banyak dilakukan oleh para ahli baik klasik maupun kontemporer. Dan kajian ini tidak saja dilakukan oleh para pemikir muslim (insider) sendiri akan tetapi juga oleh para orientalis yang nota bene non-muslim (outsider). Para pengkaji hadis dari kalangan muslim yang cukup kritis
.

Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ??? Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??.. Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan mengingkari hadis Rasul dengan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW.

.

Riwayat yang membolehkan penulisan hadits

– Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tiada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih banyak haditnya dariku kecuali Abdullah bin Amru Al-Ash karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis.” (HR. Bukhari)

– Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ikatlah ilmu dengan buku.’” (Diriwayatkan Al-Khatib dalam Taqyidul Ilmi)

Atas dasar perbedaan nash inilah para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits. Ibnu Shalah berkata, “Para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits, sebagian diantara mereka melarang penulisan hadits dan ilmu, serta menyuruh untuk menghafalnya. Sedangkan sebagian yang lain membolehkannya.”

Mereka yang melarang penulisan hadits adalah Umar, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, Abu Sa’id Al-Khudri, dan sekelompok lainnya dari kalangan sahabat dan tabi’in.

Sedangkan yang membolehkan penulisan hadits adalah Ali, Hasan bin Ali, Anas, Abdullah bin Amru Al-Ash

.

https://syiahali.files.wordpress.com/2012/04/maulid-nabi-muhammad-saw.jpg?w=286

SEJARAH PEMBUKUAN HADiST Sunni

Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku.

pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullahwafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat

.

Saudaraku,ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW.(riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang disebabkan para Sahabat menden gar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi,Karenatidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
.
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya,isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi.Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama.Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama.Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka riwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
.
 Demikian periwayatan Hadist oleh para Sahabat.Hadist tersebut dihafalkan dari Sahabat,dari oran gtua kepada anak,dari guru kepada murid.Setelah para Sahabat terdekat meninggal dunia,barulah diadakan pengumpulan dan pembukuan Hadist. Kodifikasi hadits baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara hadits shahih dan hadits palsu tidak dapat dibedakan disebabkan karena :
1. usaha pembukuan yang terlambat.  Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada abad ke-2 H dan mengalami kejayaan pada abad ke-3 H. Sehingga  pencatatan Hadis sunni secara tekstual literatur Hadis tidak mudah dipercaya sebab pencatatan terhadap Hadis dilakukan setelah dua ratus tahun. Pembukuan dalam skala besar dilakukan di abad ketiga Hujriyah melalui para penulis Kutubus Sittah.Dalam konteks histories, periwayatan hadis tidak seberuntung al-Qur’an yang memang sejak awal telah dilakukan kodifikasi dan pembukuan. Sementara kodifikasi al-hadis dilakukan lebih belakangan jauh setelah wafatnya Nabi SAW.Dengan demikian periwayatan hadis menjadi problematic dan banyak mengundang kritik dari para orientalis yang cukup tajam dan bahkan memandang apriori terhadap otentisitasnya
.
2. Bukhari menyaring 3.000 hadits dari 600.000 hadits yang telah ia kumpulkan. dalam sebagian literatur hadits sunni , nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (“…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities”), dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak: “…without hesitation, to reject at least one-half.” Itu dari sudut sumber isnādnya, sedangkan dari sudut isi matannya, maka hadits “must stand or fall upon its own merit”. Hanya sebagian hadis sunni yang memang betul-betul hadits shahih dari Nabi [SAW]. Penguasa telah  memalsukan sebagian  hadits; bahwa sebagian hadis  hadits yang diriwayatkan  sebenarnya bukan berasal dari Nabi SAW, akan tetapi adalah perkataan si pemalsu  sendiri atau perkataan orang lain yang disandarkan kepada Nabi SAW.
.
3. Tidak ada ijma’ kaum syi’ah  tentang keshahihan hadits-hadits  Semua hadis sunni. Hadis sunni yang  kami sepakati tentang kehujahannya berarti sahih
Bahwa perjalanan hadis sunni hingga era kodifikasi dalam korpus resmi telah melewati beberapa fase yang tidak selalu mulus dan murni, bukan saja dari rangkaian sanad-nya tetapi juga materi hadis itu sendiri. Hadis-hadis Nabi tersebut, sampai masa pembukuanya secara resmi  masih bercampur dengan kata-kata dan fatwa sahabat. Hal ini menyebabkan jumlah materi hadis menjadi menggelembung, tetapi setelah diseleksi menjadi sedikit lagi. Sebagian hadis sunni merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat Muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam. Sebagian hadith sunni adalah produk bikinan penguasa sunni  beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Sangat sulit untuk mempercayai literatur hadits secara keseluruhannya sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi SAW (“It is difficult to regard the hadīth literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the sayings and doings of Muhammad”). Keberagaman data periwayatan Sunni – Syiah merupakan hasil pemalsuan yang terencana dari Sunni
.
4. Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H) melakukan penulisan Hadis karena tekanan dari Bani Umayyah.Munculnya pemalsuan hadits akibat perselisihan politik dan madzhab setelah terjadinya fitnah, dan terpecahnya kaum muslimin menjadi pengikut Ali dan pengikut Mu’awiyah, serta Khawarij yang keluar dari keduanya
. 
Bukhari misalnya berkata:Bahwa Hadist ini diucapkan kepada saya oleh seseorang bern ama A dan A berkata:diucapkan kepada saya oleh B dan berkata:diucapkan kepada saya dari C dan C berkata:diucapkan kepada saya dari D dan D berkata:diucapkan kepada saya dari dan berkata:diucapkan kepada saya dari F dan F berkata:ducapkan kepada saya dari Nabi SAW
.
         Menurut contoh ini antara Nabi SAW dan Bukhari ada oran g dan (enam) oran g ini tidak mesti,melainkan bisa jadi kurang atau lebih.Tiap- tiap oran g dari A sampai F yang disebutkan tersebut diatas adalah Yang meriwayatkan atau Rawi (perawi).dan sejumlah Rawipada suatu Hadist dinamakan dengan Sanad yang terkadang disebut Isnad
.
pada masa Abdul Malik (sekitar 70-80 H), yakni enam puluh tahun lebih setelah meninggalnya nabi, penggunaan sanad adalam periwayatan hadits juga belum dikenal. Dari sini saya  berkesimpulan bahwa pemakaian sanad baru dimulai pada antara Urwah dan Ibn Ishaq (w. 151 H). Oleh karena itu, sebagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad ke dua, bahkan abad ketiga. Tulisan-tulisan Urwah yang dikirimkan kepada Abdul Malik tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa Urwah pernah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan
.
bahkan sebagian hadits-hadits  sunni yang terdapat dalam al-kutub as-sittah sekalipun tidak dapat dijamin keasliannya: “even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic.” Sebagian sistem periwayatan berantai alias isnād merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktekkan pada abad kedua Hijriah: “there is no reason to suppose that the regular practice of using isnāds is older than the beginning of the second century.”
.
         Sedangkan yang dimaksud dengan yang mengeluarkan Hadist adalah Orang   yang mencatat Hadist Rasulullah SAW,yaitu para  Ahli Hadist seperti Imam Malik, Bukhari,Muslim,Abu Daud,At-Tarmidzi serta lain-lainnya.
.
 Syi’ah menemukan beberapa Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hadis-hadis tersebut terkesan mengucapkan kata-kata ganjil dan kasar, membuatnya heran sebagai sabda-sabda yang konon berasal dari Nabi saw tidak memiliki retorika penuh bunga yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan-tulisan

.

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia lahir 21 tahun sebelum Hijriah, sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdu al-Syams (hamba matahari), ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing, ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, kemudian setelah masuk Islam baru dinikahinya. Tatkala menjadi muslim, ia bersama Thufail bin Amr berangkat ke Makkah, Nabi Muhammad Saw mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Ia menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

.

kami menggugat integritas Abu Hurairah  sebagai perawi dengan berbagai tuduhan, diantaranya adalah ia terlalu banyak meriwayatkan (lebih dari lima ribu Hadis) apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Nabi saw dalam waktu yang singkat. Ia hanya bersama Nabi sekitar tiga tahun, sebagian besar Hadisnya ia tidak mendengar dari Nabi secara langsung akan tetapi ia mendengar dari sahabat dan tabi’in. Apabila setiap sahabat dinyatakan adil sebagaimana jumhur ulama Hadis maka para tabi’in juga sama demikian adanya.

.

kami  mengingatkan bahwa Abu Hurairah masuk Islam ketika ia bergabung bersama Nabi saw dalam peristiwa Khaibar pada tahun 7 H/ 629 M, ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber. Abu Hurairah juga dituduh sebagai seorang pemalas yang tidak memiliki pekerjaan tetap selain mengikuti Nabi saw. kemanapun beliau pergi, juga merupakan orang yang rakus terutama setelah beliau mendapatkan posisi penting sebagai gubernur pada masa dinasti Bani Umaiyah
.
Sahifah sahifah pro penguasa misalnya : shahifah Samurah bin Jundub
Ash-shohifah Ash-shohihah, catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 130 H). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah, berisikan kurang lebih 138 buah hadits. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalam berbagai bab
.
shahifah sahihah yaitu kumpulan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Kumpulan hadis tersebut disampaikan oleh Abu hurairah kepada Hammam Ibn Munabbih (40 – 131 H) dari generasi Tabiin. Ini memuat 138 hadis. Kemudian Hammam menyampaikan kepada sejumlah muridnya, antara lain Ma’mar Ibn Rasyid (w.154 H/ 770 M) yang memelihar dan membeacakan kepada salah seorang muridnya, Abdur ar-Razaq as-Sam’ani (w.211 H/826 M). selain sebagi ulama terkemuka seperti gurunya, Abd ar-Razaq juga memelihara shahifah tersebut dalam bentuknya yang utuh dan menyampaikannya kepada generasi-generasi sesudahnya. Naskah ini telah ditemukan oleh DR. M. Hamudullah dalm bentuk manuskrip aslinya di Damaskus dan Berlin. Muhammad Ujjaj al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, (bairut: Dar al-Fikr, 1981), h. 355 – 357. Subhias-Shalih, Ulum al-hadis Wa Musthalahuh, (Bairut: Dar ‘Ilm Li al-Malayin, 1988), h. 32
.
Kitab –Kitab Hadist.

.
a. Abad ke 2 H
1)   Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
2)   Al Musnad oleh Ahmad bin Hambal (150 – 204 H / 767 – 820 M)
3)   Mukhtaliful Hadits oleh As Syafi’i
4)   Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
5)   Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (82 – 160 H / 701 – 776 M)
6)   Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (107 – 190 H / 725 – 814M)
7)   Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (94 – 175 / 713 – 792 M)
8)   As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (88 – 157 / 707 – 773 M)
9)   As Sunan Al Humaidi (219 H / 834 M)
.
b. Abad ke 3 H
1)       Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
2)       Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
3)       As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
4)       As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
5)       As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
6)       As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
7)       As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
.
c. Abad ke 4 H
1)        Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
2)        Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
3)        Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H/873-952 M)
4)        Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
5)        Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
6)        At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
7)        As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
8)        Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
9)        As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
10)    Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
11)    Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)
.
d. Abad ke 5 H dan selanjutnya
Hasil penghimpunan.
Bersumber dari kutubus sittah saja: Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M), Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (1084 M).
Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M).
Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M).
 .
Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :
1)   Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M).
2)   As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M).
3)   Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M).
4)   Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (1254 M).
5)   Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
6)   Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M).
7)   Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M).
 .
Kitab Al Hadits Akhlaq.
1)   At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)
2)   Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3)   Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadits).
4)   Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
5)   Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M).
6)   Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M).
7)   Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M).
8)   Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M).
.
Para pembaca…

Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik. Dalam hal ini Ulil dengan mengutip pendapat Abu Rayyah menuliskan:

Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception” (http://ulil.net/).

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan sejarah memang telah terjadi banyak praktik pemalsuan hadits yang terjadi antara lain karena ulah pendusta. Bahkan praktik dusta itu telah terjadi sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hadits Rasulullah Saw yang mengecam para pendusta atas nama Rasulullah menjadi salah satu bukti hal ini. Redaksi haditsnya sebagai berikut:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menyiapkan tempat duduknya di neraka”

Hadits tersebut merupakan hadits mutawatir, artinya diriwayatkan oleh banyak orang dari tiap-tiap generasinya. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh tujuh puluh orang lebih sahabat dengan redaksi yang sama (Nurddin Itr, 1988,; h. 405)

.

Motif pemalsuan hadis oleh penguasa :

1. Syi’ah menolak kekhalifahan Umayyah Abbasiyah  ataupun tidak ikut membai’atnya

2.upaya penyingkiran kekhalifahan yang sah yakni “ Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW”

3.Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat, karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN..Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung  bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Akibatnya ??  hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan

apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ??? Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!

4. mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya,pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) dicap sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH. Harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

5.Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ???

Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??..

Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW

.

Kenapa  jutaan  hadis  sunni  PALSU  ??? Ada  apa  ini  ?? Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), anehnya Cuma 20.000 hadits saja yang ditulis, selainnya palsu !!.. Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.

Sebagian materi hadits  mempunyai persamaan di kalangan Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah; Seandainya syi’ah sesat tentunya, tidak ada satupun hadis yang secara bersamaan terdapat dalam kitab kelompok-kelompok Islam tersebut. Namun, kenyataan justru menunjukkan; sebagian materi hadis yang memiliki persamaan dan keterkaitan

Jangan belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ??? Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan.

Jawab :

1. Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah  ?? terletak pada  dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu. Perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.   Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu).   Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.   Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis

Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ???? hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu …

Yang meriwayatkan hadis syi’ah imamiyah bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait…. justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

Jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak mudah diterima syiah. Ini disebabkan oleh Keyakinan syiah Imamiyah  bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.

2. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang samaDalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/lihat  sehingga like-dislike.

Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapapun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset.

Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih.

hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekyatan hukum sebuah hadits.

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak

minimal syi’ah beragama dengan Iman dan Akal yg Sehat.

justru menurut saya metode sanad itu lebih memiliki banyak kelemahan mas. bukannya untuk menentukan jujur ato tidak seseorang akan sangat sulit, subyektifitas pasti bermain di sini. misal, perawi A dianggap jujur sama Z, tapi belum tentu dia dianggap jujur ama X. Nah kalo gitu, bukannya yang muncul malah ilmu mencari2 kesalahan orang lain, asal menemukan sedikit kecacatan, maka dianggap riwayatya lemah. Saya kira menilai dari sisi matan, dan membandingkannya degan nilai2 universal dari Al-quran akan lebih bagus untuk menilai sebuah hadits. At least lebih obyektif.

Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif, hal yg sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist2 suni bahkan yg muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ). Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.

contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yg dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.

kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a

Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda

Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”!

Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan!

Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!

Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….

Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.(sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar

Keanekaragaman Inkonsistensi

Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya

  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun

Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).

3. Para imam mazhab sunni dan Bukhari serta perawi lain hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw  sehingga cara menilai tsiqat tidaknya  HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadisnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadisnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta.

Verifikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuh sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh.Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah

  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya.

Pihak Sunni menerima hadis hadis yang diriwayatkan oleh Khawarij dan golongan Nawasib . Mereka tidak segan segan untuk menshahihkan hadis hadis palsu yang disusun secara sengaja  untuk memuliakan dan menguatamakan Abubakar Umar Usman dan loayalisnya. Padahal PERAWi  TERSEBUT dikenal  sebagai nawasib

contoh : Ibnu Hajar menyatakan Abdullah bin Azdy sebagai “pembela sunnah Rasul”

Ibnu Hajar juga menyatakan Abdullah bin Aun Al Bisry sebagai “Ahli ibadah pembela sunnah dan penentang bid’ah”

Padahal faktanya mereka berdua membenci Imam Ali dan para pendukungnya

4.. Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat

Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Adhwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah” (Telaah Atas Sunnah Muhammad) patut dipertimbangkan di sini. Dia mengatakan dalam buku itu yang membuat saya terkesima saat membacanya pertama kali dan selalu saya ingat hingga sekarang: menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 2600an hadis.

Kata Abu Rayyah: bayangkan, Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception“.

MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu tak terpisahkan…

Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya..

Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik.

masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dr turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”

Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menndingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Dll.

Situasi politik dan keamanan pada saat pengumpulan hadis hadis sunni tidak kondusif  bagi suasana ilmiah yang netral, buktinya antara lain :

– Imam Al Nasa’i, pengarang sunan Al Nasa’i dipukul dan dianiaya hingga sekarat didalam Masjid karena menyatakan : “saya tidak mengetahui keutamaan apapun dari Mu’awiyah kecuali Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”

– Pemakaman Ibnu Jarir Al Thabary dipekuburan Islam dihalangi dan dicegah karena beliau menshahihkan hadis hadis Ghadir Kum dan menghimpun riwayat riwayat nya hingga mencapai tingkat mutawatir.. Beliau akhirnya dikubur dipekuburan Kristen dan hartanya dirampas

– Al ‘Amary yang meriwayatkan hadis burung panggang (yang menunjukkan keutamaan Imam Ali) di usir dari tempat duduk nya dicuci karena dianggap najis

– Imam Syafi’i dianiya karena mengucapkan syair syair yang memuji ahlulbait, bahkan beliau nyaris dihukum mati.

Sebagian hadis hadis sunni  berlabel shahih ternyata PALSU  dan PENUH  REKAYASA POLiTiK, fakta sejarah :

1. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) selalu menghina dan mengutuk Ali dan keturunannya.. Bahkan Yazid  membantai  Imam Husain  beserta pendukungnya… Tetapi  mereka memuliakan Abubakar, Umar, Usman dan sahabat sahabat lainnya melalui pembuatan hadis hadis politik jaminan surga dll

2. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) sangat membenci Imam Ali dan menuduh nya sebagai pendukung pembunuh USMAN

3. Imam Ahmad bin Hambal pada masa kerajaan Abbasiyah yang pertama kali mengusulkan Ali sebagai bagian dari Khulafaurrasyidin

4.Imam Ahmad bin Hambal mendha’ifkan hadis hadis shahih karena perawinya yang pro ahlulbait mengkritik Abubakar Umar USman dan loyalisnya, mereka diberi label “rafidhah”… Ulama ulama hadis  sunni yang lain jauh lebih radikal dari Ahmad bin Hambal

5. Sepeninggal Nabi SAW pihak penguasa bersikap keras dan kejam kepada Imam Ahlulbait dan para pengikutnya, misalnya : Al Mutawakkil yang digelari “Khalifah Pembela Sunnah Nabi” melakukan :

– Membongkar kuburan imam Husain

– Melarang ziarah kubur ke makam Imam Ali dan Husain

– Memberikan hadiah kepada setiap orang yang mencaci maki Imam Ali

– Membunuh setiap bayi yang diberi nama Ali

– Berupaya membela kelompok Nawasib

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka.

Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats,Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.

Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…

Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain.Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam Ja’far Shadiq ( Imam Keenam) dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah.

Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Ja’far Shadiq Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam Ja’far Shadiq ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam Ja’far Shadiq dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam.

Kemudian, Imam Ja’far Shadiq diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam Ja’far Shadiq menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.

Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ?? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dll terjadi pada masa Abbasiyah bukan ???Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…

Para pembaca…

Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis sunni hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak. Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.Beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dari hadits tsb

Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Adanya pertentangan dan kontradiksi diinternal hadis sunni  MEMBUKTiKAN  bahwa  sebagian hadis  sunni yang  ditolak  (syi’ah imamiyah)  adalah hadis  BUATAN  rezim penjahat…

Menghujat sahabat adalah kafir  rafidhah ???  bagai mana dengan muawiyah yang memerintahkan  untuk  menghujat  Imam Ali Di mimbar masjid yang diikuti mayoritas  khalifah  bani umayyah ? Apa muawiah kafir??? 

Picture

Para pembaca..

kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliau hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman

Imam Bukhari

Picture

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits sahih, dan 200.000 hadits yang tidak sahih.”

Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari, hal. 654)

.

Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656)

.

perkataan Bukhari : “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”

.
Jumlah Hadits Kitab Al-Jami’as-Sahih (Sahih Bukhari)
Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa jumlah hadits Sahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib

.
Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Sahih Bukhari, menyebutkan, bahwa semua hadits sahih mawsil yang termuat dalam Sahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadits sahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Sahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.

.

Imam Bukhari hafal 100.000 hadits shahih, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan sisa  hadits lainnya sirna ditelan zaman

.. Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

.

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

Albani wahabi bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits sunni  itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits

.

Imam Muslim

Picture

Al-Jami’ atau biasa di kenal dengan Kitab Shahih Muslim merupakan kitab (buku) koleksi hadits yang disusun oleh Imam Muslim (nama lengkap: Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi) yang hidup antara 202 hingga 261 hijriah. Ia merupakan murid dari Imam Bukhari.

Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yg pernah didengarnya. Diceritakan bahwa ia pernah berkata “Aku susun kitab Sahih ini yg disaring dari 300.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah yg berkata “Aku menulis bersama Muslim utk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.

Dalam pada itu Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yg berulang-ulang penyebutannya sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yg tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya “Tidak tiap hadits yg sahih menurutku aku cantumkan di sini yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yg telah disepakati oleh para ulama hadits.”

Picture

Apakah Keduanya Mencantumkan Semua Hadits Shahih Dan Komitmen Terhadap Hal itu?

Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim tidak mencantumkan semua hadits ke dalam kitab Shahîh mereka ataupun berkomitmen untuk itu. Hal ini tampak dari pengakuana mereka sendiri, seperti apa yang dikatakan Imam Muslim, “Tidak semua yang menurut saya shahih saya muat di sini, yang saya muat hanyalah yang disepakati atasnya.”

banyak hadits-hadits shahih lainnya yang terlewati oleh mereka berdua. Imam al-Bukhariy sendiri mengakui hal itu ketika berkata, “Hadits-hadits shahih lainnya yang aku tinggalkan lebih banyak.”

Dia juga mengatakan, “Aku hafal sebanyak seratus ribu hadits shahih dan dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.”

Berapa Jumlah Hadits Yang Dimuat Di Dalam Kitab ash-Shahîhain?

1. Di dalam Shahîh al-Bukhariy terdapat 7275 hadits termasuk yang diulang, sedangkan jumlahnya tanpa diulang sebanyak 4000 hadits.

2. Di dalam Shahîh Muslim terdapat 12.000 hadits termasuk yang diulang, sedangkan jumlahnya tanpa diulang sebanyak lebih kurang 4000 hadits juga.

Ahlusunnah Kehilangan Ratusan Ribu Hadis Shahih!

ِAda anggapan sebagian pemula bahwa Sunnah Nabi saw. telah terangkum dalam kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah yang ditulis para ulama dan ahli hadis! Sehingga mereka merasa tentram bahwa Slogan yang selalu mereka dengar agar umat Islam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. dapat diwujudkan dengan mudah! Sebab Al Qur’an tertulis dan terangkum lengkap dalam mushaf sedangkan Sunnah Nabi saw. juga terekam dengan utuh!

Tetapi, sepertinya angggapan para pemula perlu dikasiani! Sebab ternyata hadis-hadis Nabi saw. yang hendak mereka andalkan itu ternyata banyak yang telam musnah ditelan keganasan zaman! Tidak sampai kepada umat Islam melainkan hanya sedikit saja!

.

.

.

.

Al Iraqi -seperti Anda saksikan dalam scan di atas, menolak mentah-mentah angggapan lugu dan awam seperti itu! Ketika ada anggapan bahwa kitab-kitab hadis standar seperti lima kitab Ushul (induk) yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at Turmudzi dan Sunan an Nasa’i telah memuat hampir seluruh hadis/Sunnah Nabi saw…. dan tidak luput dari rekamannya melainkan hanya sedikit! al Iraqi berkata: Anggapan itu tidak tepat! Sebab:

Berdasarkan ucapan Imam Bukhari: Aku menghafal seratus ribu (100.000) hadis dan dua ratus ribu (200.000) hadis tidak shahih.!

Anggapan Kurang Berdasar!

Ada sebagian orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan jumlah  di atas adalah dengan menghitung berbagai jalur untuk satu hadis misalnya. bukan jumlah hadis itu sendiri! Tetapi anggapan ini telah tidak berdasar!

Kenyataan Pahit!

Seperti diakui oleh Imam as Suyuthi bahwa kenyataan yang terjadi bahwa jumlah hadis yang sekarang beredar dan terangkum dalam berbagai kitab hadis tidak sampai seratus ribu jumlahnya… Bahkan lebih pahit lagi -seperti diakui Imam as Suythi sendiri- bahwa jumlah hadis yang masih tersisa tidak juga sampai lima puluh ribu hadis!

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194255 H/810869 M), Muslim (204261 H/819875M), Tirmidzi (209279 H/824892 M), Nasa’i (214303 H/829915 M), Abu Dawud (203275 H/818888 M) dan Ibnu Majah (209295 H/824908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lainlain.

Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadishadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadishadis ang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.
Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000
Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000
Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti

.

Referensi:
[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.
[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.
[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.
[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.
[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.
[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.
[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.
[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.
[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122.

.
[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi

.
[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.
[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.
[13] Seratus lima puluh.

Abu Hanifah, salah seorang ahli hukum Islam paling terkemuka, bahkan boleh dikatakan sering mengabaikan hadith dalam menulis hukum Islam. Padahal, koleksi hadith tersedia. Kenapa? Kekhawatiran yang sama , hadith sunni terlalu rentan dipalsukan!”

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.

.

Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw

.

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak. Mari kita melakukan lompatan ribuan tahun dan kembali ke masa kini. Ada berapa banyak kitab yang memuat Sunnah yang anda ketahui? lumayan banyak baik yang semuanya Shahih(menurut Ulama) atau yang campuran shahih, hasan dhaif dan maudhu’.

Mari pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Rasulullah SAW hidup 1400 tahun yang lalu artinya kita terpisah ruang dan waktu yang sangat jauh untuk mengakses apa itu sebenarnya Sunnah atau Bagaimana Sang Rasul SAW sebenarnya.

Banyak riwayat terpercaya melaporkan bahwa Imam Malik telah menghafal tidak kurang dari 100.000 hadis…. Dari jumlah itulah ia menyusun kitab Muwaththa’nya yang sangat ia bangakan dan juga dibanggakan para ulama; para fakih dan muhaddis Ahlusunnah, seperti Imam Syaf’iI dll.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang banjir hadis di dunia hadis Ahlusunnah…

Jalaluddin as Suyuthi –seorang ulama, pakar haddis, ahhli fikih, dan bahasa- meraangkum laporan untuk kita dalam mukaddimah syarah Muwaththa’nya yang ia beri judul Tanwîr al Hawâlik….

* Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”
* Al Kiya al Harâsi berkata, Sesungguhnya Muwaththa’ Malik terdiri dari sembilan ribu hadis, kemudian ia (Malik) terus-menerus memilih dan memilah sehingga tersisa hanya tujuh ratus hadis.”
* Abu al Hasan ibn Fihr, meriwayatkan dari ‘Atîq ibn Ya’qub, ia berkata, “Malik memuat sekitar 10.000 hadis dalam Muwaththa’, lalu ia senantiasa menelitinya setia tahun, dan ia mengugurkan bagian-bagian tertentu darinya, sehingga tersisa yang sekarang ini.”
* Sulaimn ibn Bilâl berkata, “Malik menulis Muwaththa’ dan di dalamnya terdapat empat ribu hadis atau lebih, dan ketika ia mati yang tersisa hanya seribu hadis lebih sedikit. Setiap tahun ia menyortirnya dan menyisakan yang dalam hematnya mengandung maslahat buat kaum Muslimin dan sesuai untuk agama.”

(Baca Tanwîr al Hawâlik,1/6 mukaddimah III)

Dari paparan di atas dapat kita saksikan betapa hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah…. Dari seratus ribu hadis yang diriwayatkan Malik dari para masyâikhnya, yang hampir keseluruhannya adalah berasal dari kota Madinah, ternyata Malik hanya mampu menyisakan sekitaar 1000 hadis saja…

itu pun masih ternyata masih banyak yang tidak layak dikelompokkan sebagai hadis shahih!! Sehingga ada yang mengatakaan andai kematian Imam Malik ditangguhkan hingga setahun kemudian kuat kemungkinan ia akan menggugurkan seluruh isi kitab Muwaththa’ yang ia tulis selama empat puluh tahun itu. (Tentang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kitab Muwaththa’nya, baca Tanwîr al Hawâlik,1/6)

Ini semua bukti nyata bahwa hadis-hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah dan mereka sedang menghapi krisis hadis yang sangat serius!

Lalu, apa tidak mungkin hadis-hadis yang sekarang beredar atas nama agama itu adalah sebagian dari hadis-hadis palsu yang dibuang Imam Malik itu?

Siapa tau?

Kalau Imam Malik saja sudah kehilangan kepercayaan terhadap 99 persen hadis yang ia riwayatkan sendiri dari para masyâikhnya, lalu kini apa yang masih bisa dipercaya?

Dari 100.000 hadis ternyata hanya 1000 yang dapat selamat!

 Legenda :Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits) tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya Al-Daaraqutni (wafat 385 H), Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya hadits yang dhoif.

bahwa hadist yg diriwayatkn oleh Imam Bukhari yg sejak kita belajar Islam sudah ditanamkan bahwa itu hadist sahih- sulit rasanya menerima pandangan yg sebaliknya. Karena suatu hal yg ditanamkan ratusan atau bahkan ribuan tahun, sebagai kebenaran hampir mutlak, butuh keberanian intelektual utk menerima kekritisan cara berpikir yg berbeda dgn pendapat umum Ummat Islam. Karena salah-salah kita bisa dianggap keluar dari millah ini, ujung-ujungnya dikafirkan, ngeri coy.

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

Itu Artinya!

Itu artinya bahwa umat Islam Sunni kehilangan hadis dalam jumlah yang sangat banyak!

Kemanakah raibnya hadis-hadis Nabi saw. itu?

Mungkinkah Anda sanggup mengamalkan Sunnah Nabi saw. jika kenyataannya bahwa lebih dari separuh atau lebih dari Sunnah Nabi saw. itu telah musnah ditelan zaman?!

hanya Allah yang Maha Mengatahui derita yang dialami umat Islam ini!

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raji’un!

Al Quran membenarkan doktrin Syi’ah tentang Nasib Sahabat di haudh

oleh : Ustad Husain Ardilla

Sunni mencintai dan menghormati musuh musuh ahlulbait dengan alasan semuanya mengambil ajaran dari Rasul SAW. Bahkan sunni menganggap para sahabat seperti malaikat yang tidak pernah salah, tidak punya rasa dengki dan permusuhan kepada sesamanya

Nabi SAW menyebut Mu’awiyah cs sebagai kelompok pemberontak sesat !

Sabda Rasulullah SAW kepada Ammar: “Betapa kasihan Ammar, golongan pembangkang telah membunuhnya, padahal dia menyeru mereka kepada kebenaran (surga) sementara mereka menyeru kepada kesesatan (neraka)” (Hr. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad)

Padahal Allah SWT menyatakan : “Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal didalamnya dan Allah murka kepada, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs. An Nisa ayat 93)

Juga sabda nya : “Anakku Hasan akan mendamaikan dua kelompok besar yang berselisih”. Dan sabdanya pada Abu Dzar bahwa ia akan mati sendirian dan terasing. Demikian pula dengan sabda nya : “Imam imam setelahku ada 12, semuanya dari Quraisy”

Bukhari dalam shahih nya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata : “Saya menjaga dari Rasul SAW dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini (Mu’awiyah)” (Hr.Bukhari juz 1 halaman 38)

Kalau memang dunia hadis sunni jujur dan tidak ada intimidasi dalam periwayatan hadis, niscaya Abu Hurairah tidak akan menyembunyikan hadis !

Sunni menutupi kesalahan kesalahan para Sahabat dengan menyalahkan tokoh fiksi Abdullah bin Saba’, menyembunyikan hadis dan membuat buat hadis palsu jaminan Surga kepada musuh musuh ahlulbait

Pasca  wafat Nabi SAW, para sahabat banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul sebelumnya !

UMAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT

Qs. Al An’am ayat 65-67

Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)

Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”

Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :

Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207

Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,

Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,

Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan

Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :

Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)

Wahai para pembaca…

Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)

Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)

Hadis riwayat Sahal Radhiyallahu’anhu, ia berkata:Aku pernah mendengar Nabi bersabda: Aku mendahului kalian berada di telaga. Barang siapa yang sampai di sana tentu dia akan minum dan siapa yang telah minum niscaya tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenal aku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka. (Shahih Muslim No.4243 Kitab Keutamaan Beberapa Perkara)

Hadis riwayat Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:Rasulullah bersabda: Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan akan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku bermohon: Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku dan termasuk umatku. Kemudian dikatakan: Tidak tahukah engkau apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abu Malikah berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami. (Shahih Muslim No.4245 Kitab Keutamaan Beberapa Perkara Kitab Keutamaan Beberapa Perkara)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud, ia berkata: Rasulullah bersabda: Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengkar dengan beberapa kaum namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata: Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu. (Shahih Muslim No.4250 Kitab Keutamaan Beberapa Perkara)

Nabi   SAW  ( Sambil  Melihat  Gambaran  Telaganya ) Sudah  Meramalkan  ketika menyalatkan jenazah syuhada Uhud, Bahwa  Kelak  Sepeninggal  Beliau  Sebagian  Sahabat  Akan  berlomba-lomba dalam kehidupan dunia

Hadis riwayat Uqbah bin Amir Radhiyallahu’anhu:Bahwa pada suatu hari Rasulullah keluar untuk menyalatkan jenazah syuhada Uhud. Kemudian beliau beralih ke atas mimbar dan bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan aku akan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku sedang melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kunci kekayaan bumi atau kunci-kunci bumi. Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia. (Shahih Muslim No.4248 Kitab Keutamaan Beberapa Perkara)

Al-Qur’an adalah seluruh kumpulan wahyu dari Tuhan, yang diturunkan secara bertahap selama 22 tahun lebih pada berbagai situasi dan peristiwa.AL QURAN menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144

Pada situasi penting atau kapan pun Allah ingin memberikan wahyu kepada Muhammad, maka turunlah wahyu itu disampaikan oleh malaikat Jibril / Roh Qudus. Nabi Muhammad lalu menyampaikan kepada sahabatnya, bahwa ada wahyu dari Allah

.

Memang ada ayat AL QURAN yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW. Itulah makna Qs. Ali Imran Ayat 144

.

Qs. Ali Imran ayat 152 : “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu[x] dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai[xx]. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka[xxx] untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman””

x]. Yakni: urusan pelaksanaan perintah Nabi Muhammad s.a.w. karena beliau telah memerintahkan agar regu pemanah tetap bertahan pada tempat yang telah ditunjukkan oleh beliau dalam keadaan bagaimanapun

xx]. Yakni: kemenangan dan harta rampasan

xxx]. Maksudnya: kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka.


Ayat tersebut menceritakan Sebab-sebab kekalahan umat Islam dalam perang Uhud

Tidak ada jaminan alumni perang badar dan alumni perang uhud di ampuni hingga mereka wafat.. Mereka memang diampuni pada Perang Badar dan Perang uhud TETAPi JiKA KEMUDiAN MEREKA MENENTANG LAGi NABi DAN MURTAD TERHADAP WASiAT NABi MAKA TiDAK ADA JAMiNAN MEREKA TETAP DiAMPUNi

Perhatikan dengan detil ayat yang menyatakan ahlul uhud diampuni (qs. 3 :152) kata AMPUNAN dalam ayat tersebut “”Wa Laqad ‘Afaa ‘Ankum”” itu berbentuk fi’il madhi

Ini bermakna pengampunan hanya berlaku untuk kesalahan mereka di PERANG UHUD saja, tidak berlaku untuk kesalahan sesudah itu

Seandainya ampunan berlaku untuk selamanya maka ayat itu pasti menggunakan fi’il mudhari’ dengan kalimat WA Yu’FAA ‘ANKUM

Satu kata atau satu huruf saja berbeda baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’ maka akan merubah maksud tafsir


Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya


Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh


Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait


Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

Kalau mengacu kpd Surat Al Imran 144 :”……….apakah kalau engkau (Nabi saw) meninggal atau terbunuh kamu berbalik ke belakang (murtad/balik kepd nilai2 jahiliyyah)….” ternyata Al-Quran jauh2 hari sdh mengingatkan Nabi saw dan umat Islam akan adanya konspirasi sebagian sahabat yg tdk menginginkan Islam tegak diatas nilai2 jahiliyyah yg telah disingkirkan oleh Nabi saw

Bahwa Umar telah menggagalkan wasiat Nabi saw
adalah fakta/bukti yg mendukung pernyataan QS Ali Imran 144 tsb. Begitu pula peristiwa Saqifah dst.nya adalah fakta2 sejarah yg mengungkapkan adanya komplotan yg menggagalkan naiknya kepemimpinan ilahiyah (Washi nabi) menaiki panggung sejarah

.

Kalau kita membaca bukunya Max Idomont, Jew, God and History, maka terbukti bahwa setiap misi nabi/rasul, disamping ada yg mendukung pasti ada sekelompok sahabatnya yg menggagalkan tercapainya misi yg diembannya. Contohnya Nabi Isa as setelah wafatnya dikhianati oleh para sahabatnya dan memalsukan kitab suci-Nya, tapi diberi label “asli”. Begitu juga misi yg diemban Nabi Muhammad saw tidak terlepas dari konspirasi para “sahabatnya”. Hanya saja Al-Quran-Nya masih tetap otentik, tetapi Sunnah Rasul-Nya (hadis) sdh diacak-acak bercampur dg yg palsu. Itulah makna ucapan Umar :”…..cukuplah Kitabullah di sisi kita….Dan hadis2 palsu dicampur dg yg asli yg juga diberi label asli atau “SAHIH”

.

Fakta adanya hadis palsu yg melarang penulisan sunnah Rasul dan pembakaran hadis asli oleh Abu Bakar, Umar dan Usman yg diikuti oleh penguasa Umayyah d an Abbasiyah adalah fakta yg mendukung statement Ali Imran 144

.
Masalahnya kita sering mengabaikan statement Ali Imran 144 ini dan menganggapnya hanya konstatasi Allah yg tdk ada buktinya dlm sejarah

.

Tidak hanya Yahudi yg pandai memalsukan Kitab Suci dan mengatakan :”hadza min indillah”, org Arabpun tdk kalah brilyannya. Supaya Islamnya terlihat masih “asli” tetapi juga nilai2 jahiliyyahnya terakomodir, maka harus dilakukan kompromi antara nilai2 Islam dan nilai2 jahiliyyah, karena engga mungkin mereka mengawinkan kedua nilai yg saling bertolak belakang itu. Kira2 “deal”-nya : biarlah Al-Quran tdk diotak-atik tapi penafsiran/ penjelasan nya/rinciannya (sunnah Rasul/hadis) harus menurut gua (perhatikan rangkaian  peristiwa2 Hari Kamis kelabu, Saqifah, Perang Shiffin/Tahkim, Karbala dst.) semuanya tdk memberi kesempatan sedikitpun kpd Ahlul Bait untuk melaksanakan misinya.

AL-QUR’AN BICARA TENTANG “SAHABAT”

(1) ADA YANG MENINGGALKAN NABI KETIKA SEDANG KHOTBAH JUM’AT, HANYA UNTUK MELIHAT PERNIAGAAN DAN PERMAINAN

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Al Jumuah : 11)

(2) ADA YANG MENYAKITI NABIT DENGAN MEMBUAT GOSIP MURAHAN

Di antara mereka  ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (At Taubah : 61)

(3) ADA YANG BERSUMPAH PALSU

Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. (At Taubah : 74)

(4) ADA YANG KIKIR DAN ENGGANG BERSEDEKAH

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(At Taubah : 75-76)

(5) ADA YANG MENINGGIKAN SUARA DIHADAPAN NABI DAN BERKATA DENGAN SUARA KASAR (KERAS)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujuraat : 2)

(6) ADA YANG MENCAMPUR ADUKKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

“Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah: 102).    

(7) ADA YANG BERPRASANGKA SEPERTI PRASANGKA JAHILIYA KEPADA ALLAH – KETIKA RASULULLAH MENYERUKAN UNTUK BERPERANG

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.(Ali Imran : 154)

(8) ADA YANG MENGANGGAP JANJI ALLAH DAN RASULULLAH SEBAGAI TIPU DAYA

“Dan (ingatlah) ketika orang- orang munafik DAN orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:” Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al Ahzâb ;12)

(9) ADA YANG ENGGAN UNTUK IKUT DALAM BERPERANG

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.”(Qs. An-Nisa’: 71-72).

(10) JIKA MEREKA IKUT PERANG, MALAH MEMBUAT KEKACAUAN DAN MELEMAHKAN”

Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.”(Qs. At-Taubah: 47).    

(11) LARI DARI MEDAN PERANG

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(At Taubah : 25)

(12) TIDAK MEMATUHI PERINTAH NABI, HANYA DEMI BEREBUT RAMPASAN PERANG

(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran : 153)

AKHIRNYA ALLAH TELAH MERUBAH HATI MEREKA DAN MENJADIKAN MEREKA SEBAGAI ORANG MUNAFIK KARENA KALAKUAN DAN PERBUATAN MEREKA YANG SEPERTI DIATAS

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. (At Taubah : 77)

SEHINGGA KARENANYA ALLAH MENGATAKAN BAHWA BANYAK ORANG MUNAFIK DISEKITAR RASULULLAH“Dan diantara orang-orang Arab yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. At-Taubah: 101)

.

Maka kami berpandangan bahwa wasiat tersebut adalah hadis Tsaqalain yaitu perintah agar umat berpegang teguh pada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Rasul SAW.

يا أيها الناس ! إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا , كتاب الله وعترتي أهل بيتي

Wahai manusia, sungguh aku tinggalkan bagi kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Itrah-ku Ahlul Bait-ku [Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 1761]

Begitu beratnya wasiat ini hingga sekarang kita melihat ada orang-orang yang mengaku umatnya Rasulullah SAW tetapi menolak Ahlul Bait sebagai pedoman bagi umat islam. Kami menyebut mereka ini sebagai orang-orang yang terpengaruh dengan virus nashibi. Kami melihat mereka mengaku-ngaku mencintai Ahlul Bait tetapi aneh bin ajaib mereka menolak keutamaan Ahlul Bait sebagai pedoman umat islam, mereka membela bahkan menyanjung orang-orang yang menyakiti Ahlul bait dan mereka menuduh dusta kepada pengikut Syiah yang sangat mencintai Ahlul Bait.

Tidak hanya itu mereka bahkan dengan mudah menuduh orang yang mencintai Ahlul Bait sebagai Syiah Rafidhah. Anehnya dengan sikap-sikap seperti itu mereka mengklaim [dengan tidak tahu malu] kalau merekalah yang benar-benar mencintai Ahlul Bait. Sungguh cinta yang aneh kalau tidak mau dikatakan penuh kepalsuan

.

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath

.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]

Membunuh sepeninggal Nabi SAW adalah kekafiran wahai sunni

Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah

Istilah “Ahlusunnah Waljamaah” adalah sebuah istilah yang dieja-Indonesiakan dan kata Ahlusunnah Waljamaah” اهل السنه والجماعه. Ia merupakan rangkaian dari kata-kata:

a. Ahl (Ahlun), berarti “galongan”atau “pengikut’

b. Al-Sunnah (al-Sunnatu), berarti “tabiat/perilaku jalan hidup/perbuatan yang mencakup ucapan dan tindakan Rasulullah SAW.

c. Wa, yang berarti “dan atau “serta”

d. Al-Jamaa’ah (al-jamaah), berarti ‘Jamaah” yakni jamaah para sahabat Rasul SAW. Maksudnya ialah perilaku atau jalan hidup para sahabat.

Dengan demikian, maka secara etimologis, istilah “Ahlusunnah Waljamaah / golongan yang senantiasa mengikuti jalan hidup Rasul SAW, dan jalan hidup para sahabatnya. Atau, golongan yang berpegang teguh pada Sunnah Rasul dan Sunnah (Tariqah) para sahabat

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang mengikuti semua yang telah di contohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Benarkah mayoritas sahabat Nabi SAW pasca wafat Nabi SAW berpegang kepada sunnah secara konsekuen ??
.
Firman Allah : “Dan Kami jadikan mereka imam imam dengan bimbingan perintah Kami dan Kami perintahkan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, menegakkan shalat dan membayar zakat. Mereka adalah hamba hamba Kami yang sebenarnya” (Qs. Al Anbiya ayat 73)
.
Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]
.
Hadis 12 khalifah menghancurkan mazhab sunni karena :
a. Khalifah sunni cuma 4 yakni Abubakar – Umar -USman dan Ali, sementara khalifah syiah ada 12
b. Dalam hadis shahih lain disebutkan bahwa khalifah umat islam adalah ahlulbait, Abubakar- Umar-Usman bukan ahlulbait, jadi mereka merampas kekhalifahan secara ilegal, maka mustahil ketiganya  dijamin surga
c. Ini artinya hadis Ghadir Kum membenarkan syi’ah tentang pengangkatan Ali sebagai khalifah
d. Mayoritas sahabat berkhianat kepada wasiat Ghadir KUm

Janganlah Kalian Kembali Kafir Setelahku, Kalian Saling Membunuh Sebagian Dengan Sebagian yang Lain

Sunni menyatakan : Aisyah cs dan Mu’awiyah cs yang membantai pasukan Imam Ali dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin tidak bersalah, kalaupun salah itu cuma salah ijtihad yang berpahala

SHOHIH MUSLIM, Kitab Iman Rasulullah berkata: “Barangsiapa yang memerangi kami (Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain); seungguhnya mereka bukan dari kami (bukan beragama Islam karena Munafiq)!”

Apakah komentar Nabi SAW tentang doktrin sunni ???

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : “Janganlah kamu kembali kafir saling membunuh sepeninggalku”. (HR., Bukhari (6166, 6868, 7077) dan Muslim (66) dari Ibnu Umar )

Hadits ibnumajah 3932

لا ترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض

Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku dgn saling memerangi antara sesama kalian.

Hadits ibnumajah 3933

ويحكم أو ويلكم لا ترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب

Celakalah kalian -atau binasalah kalian-, janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, yaitu dgn saling berperang di antara kalian.

 Baca Al Quran 

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknati serta menyediakan azab yang besar baginya (qs.AniNisa : 93.)

Nubuwwat Rasul dalam hadis : “Kalian (para sahabat) akan mengikuti jalan jalan orang yang datang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani)  sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, seinci demi seinci…”. Mengapa Nabi menyamakan sahabat sahabat nya dengan kaum Yahudi dan Nasrani ?? karena sebagian besar sahabat nya akan berpaling kecuali sedikit seperti umat Musa AS dan Isa AS

Sudah merupakan sunnatullah bahwa di sahabat Nabi SAW  ada yang terjerumus ke dalam kesesatan, dengan cara mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum mereka dari kalangan ahli kitab dan musyrikin. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang dhabb, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri  ).

.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata,  Rasulullah saw. bersabda, “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur,” (HR Bukhori [48] dan Muslim [64]).

SHOHIB = sahabat, kawan, pemilik, penghuni dll

ASHABU = sahabat sahabat, kawan kawan

ALLAH dan Rasululllah menggunakan kosa kata SAHABAT untuk mereka yang masuk api neraka (Nar) dan juga untuk mereka yang masuk surga (Jannah)

ALQURAN 7:50
ASHABU NAR (sahabat2 di api neraka) berkata kepada ASHABU JANNAH (sahabat  di dalam surga): “Berikanlah sedikit air dan makanan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu!”

ALQURAN 5:10
Orang2 Kafir yang mendustakan ayat ayat kami (AlQuran) sesungguhnya mereka ASHABU AL JAHIM (sahabat  di dalam neraka Jahim)

Jika kita membaca semua ayat di dalam AlQuran tentang SAHABAT; maka kita akan bisa melihat dengan jelas dan dengan mudah; bahwa kosa kata SAHABAT dipergunakan untuk mereka yang masuk api neraka dan dipergunakan untuk mereka yang masuk surga.

Ulama Sunnah hanya menggunakan kosa kata sahabat untuk mereka yang masuk surga; padahal kosa kata sahabat dipergunakan oleh ALLAH dan Rasulullah untuk mereka yang masuk surga dan juga untuk mereka yang masuk api neraka

.
Perbuatan yang yang sangat buruk yg dilakukan oleh sebagian dari sahabat yang tidak pernah dann tidak mungkin terjadi di ummat setelah mereka. Perbuatan buruk dan sangat tercela itu adalah
1.menyakiti hati nabi
2.menyakiti hati ahlulbait (alkisa)
3.membunuh sahabat mulia rasul

.
Adakah lg yg bisa melakukannya dizaman ini?
Tentu tidak ada,Tapi kenapa masih ada saja yang mengatakan bahwa sahabat pada waktu itu adalah ummat terbaik

.
Padahal perbuatan mulia ummat sekarang ini tidak akan pernah dapat dibuat oleh sahabat adalah:
1.mengimani raosul sedang ummat sekarang ini tidak pernah melihat rasul
2.mengimani keutamaan ahlulbait rasul sedang ummat ini tidak pernah melihatnya
Jadi kenapa mesti dikatakan sesat ketika kita mengkritisi sahabat yang berbuat salah..?

bukankah ada hal hal yang kita juga lebih baik dari mereka dan ada juga hal  mereka lebih buruk perbuatannya dari kita?

Wahabi berkepentingan dengan konsep semua sahabat adil. Karena nenek moyang ibnu wahhab adalah muawiyah dan puak bani umayyah. Wahhabi dengan berbagai Cara menurunkan derajat ahlul bait dan meninggikan keluarga laknat, umayyah. Wahabi biadab.

Wahabi mengatakan ayahanda nabi   sebagai kafir tetapi mengatakan tauhid rububiyah kepada nenek moyang muawiyah. Wahabi biadab.

Wahabi berkata rasulullah tidak meninggalkan warisan kecuali ilmu Dan kenabian. Ketika dikatakan bahwa berarti fatimah Dan keturunan pewaris nabi Dan keilmuan. Tetapi wahabi menjawab tidak sebab ulama-lah pewaris para rasulullah. Dengan ini wahhabi hendak mengambil semua keutamaan Ahlul bait Dan memberikannya kepada ulama jahat macam Bin Baz, utsaimin, abdul wahhab, dll. Wahabi biadab.

Wahabi menghancurkan rumah Rasul Dan semua peninggalan Rasullah dengan alasan syirik tapi membangun monumen Utsaimin untuk mengingat Utsaimin. Wahabi biadab.

Maulid nabi diharamkan, haul para wali disyirikkan tetapi haul Utsaimin diteggakkan. Wahabi biadab.

Amerika dibuatkan pangkalan militer, orang amerika dan inggris disambut bak raja tetapi saudara sendiri, para TKW dari Indonesia diperkosa bak binatang oleh Arab Saudi wahabi. Tahun 2010 saja menurut data buruh migrant, setiap hari terjadi 2 kasus perkosaan di Arab Saudi. Hitung saja berapa kasus perkosaan selama setahun. Wahabi biadab

Dan apa kata Rasulullah saww tentang Sahabatnya :Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12) adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telah menentang pahaman kalian.

Sebenarnya masalah yang masih mengganjal dan memicu pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah pandangan terhadap para sahabat ini.

Saya tidak habis pikir kenapa Ahlu Sunnah begitu mati-matian tidak mau melihat kenyataan dalam riwayat yang sahih bahwa tidak semua para sahabat itu soleh. Kenapa harus men”dogma”kan pandangan bahwa semua sahabat adil ?

Saya rasa kunci untuk menghilangkan pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah kesadaran pengikut Ahlu Sunnah untuk meninggalkan dogma tsb dan secara gradual mau melihat petunjuk baik dalam AlQuran maupun hadis bahwa diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat. Dan ini fakta yang wajar berlaku di mana-mana dan kapan saja. Dan di pihak lain Syiah juga harus menahan diri untuk tidak terlalu “memojokkan” citra sebagian para sahabat yg memang sudah terpojok itu.

buat apa sih kita secara mati matian membela sebagian para sahabat yg dalam hadis dikatakan saling mencela bahkan saling berperang dan tidak setia kpd Nabi saw ?

Adakah dalil yg mengatakan bahwa mengagungkan seluruh sahabat akan membuat kita masuk sorga ?
…diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat.

Ini adalah salah satu (saja) tahapan transformasi seorang muslim untuk menjadi mu’min sejati. Ketika Allah memberikan furqon kepada urusan haq dan bathil, maka kita harus faham bahwa dahulu kala ada sahabat nabi yang berada di posisi haq dan ada yang diposisi bathil. Jika kita salah menempatkan posisi seseorang pada maqom haq atau maqom bathil, maka kita akan disebut oleh Al-Quran sebagai ORANG YANG BERIMAN KEPADA BATHIL.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Kebohongan Mazhab Sunni terlihat pada hadis 12 khalifah yang mutawatir, Hadits ini tidak dapat dikenakan kepada empat khalifah karena jumlah mereka kurang dari dua belas !

Banyak saudara-saudara kita dari madzhab Sunni cenderung menafsirkan Ulil Amr sebagai “penguasa di antara kalian”, yaitu penguasa kaum Muslimin. Penafsiran ini tidak bersandar kepada logika akal-sehat; mereka semata bersandar kepada daur sejarah.

Mayoritas kaum Muslimin masih berkutat sebagai sebuah budak  kaum monarki dan penguasa, menafsirkan dan menafsirkan ulang Islam dan al-Qur’an sesuai dengan selera penguasa.

Sejarah kaum Muslimin (seperti sejarah-sejarah bangsa lain) dipenuhi dengan nama penguasa yang nota-bene zalim, pelaku maksiat, dan tiranik yang telah menodai citra kudus Islam. Pembahasan ini  akan dipaparkan lebih jauh  pada akhir bagian tulisan ini.

Penguasa-penguasa ini senantiasa dan akan selalu, berkata kepada kita bahwa mereka adalah Ulul Amr yang disebutkan dalam ayat ini.

Jika Allah Swt memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan penguasa-penguasa seperti ini, keadaan yang mustahil akan tercipta bagi kaum Muslimin. Pengikut-pengikut sial iniakan dikecam karena telah mencari kemurkaan Allah, terlepas dari apa yang mereka lakukan. Jika mereka mentaati penguasa-penguasa ini, mereka telah membangkang perintah Allah, “Janganlah kalian mentaati seorang pendosa”, dan jika mereka membantah kepada penguasa-penguasa tersebut, mereka tetap membantah perintah Allah untuk taat kepada penguasa Muslim.”

Jadi jika kita terima penafsiran ini, kaum Muslimin dilaknat dengan kemurkaan abadi baik mereka mentaati atau membantah penguasa yang bukan ma’sum tersebut.

Juga, ada penguasa Muslim yang berbeda akidah dan madzhabnya. Ada madzhab Syafi’i, Wahabi, Maliki, Hanafi, serta Syi’ah dan Ibadis. Sekarang, sesuai dengan penafsiran Ahli Sunnah yang berada di bawah seorang Ibadi Sultan (seperti di Oman) harus mengikuti ajaran madzhab Ibadi; dan mereka yang berada di bawah kekuasaan seorang Syiah (seperti di Iran) harus mengikuti ajaran madzhab Syiah.

Apakah orang-orang ini memiliki keberanian untuk mengikuti interpretasi ini hingga akhir penalaran logisnya?

Berbeda dengan kata “Ahlus Sunnah wa Al-Jama’ah” (yang masih kabur kapan mulai diperkenalkan dan siapa yang memperkenalkannya) , kata “Syiah” sudah ada/digunakan dari zaman dahulu. Bahkan dalam Al-Quran misalnya, dalam surah Ash-Shaffat ayat 83: “Dan sungguh, salah satu syiah (pengikut) nya adalah Ibrahim“.Begitu pula yang disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 15: “…yang seorang dari syiah (pengikut/golongan) nya dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun).
.
Berikut ini adalah hadis-hadis yang menerangkan tentang awal “sebutan” Syiah
.
Al-Hafizh Abu Na’im adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang disebutkan oleh paraulama bahwa ia adalah seorang “mahkota hadis” dan “guru par ahadis tsiqqat/terpercaya.” Beliau dalam kitabnya Hilyah Al-Awliya’ dengan sanad dari Ibn Abbas: Ketika turun ayat yang mulia: “Sesungguhnyaorang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalahsebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah 7), Rasulallah SAW bersabdakepada Ali ibn Abi Thalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau danpengikut (syiah) mu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalamkeadaan ridha dan diridhai.” Hadis tersebut juga diriwayatkan olehAbu Mu’ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam kitabnya Al-Manaqib pasal 17 tentangturunnya ayat tersebut
.
Hadis senada juga terdapat dalam kitab Tadzkirah Khawwash Al-Ummah karya Sabathibn Al-Jawzi, hlm. 56, yang sanadnya berasal dari Abu Sa’id Al-Khudri:” Nabi SAW memandang kepada Ali ibn Abi Thalib ,lalu bersabda, ‘Orang ini dan para pengikut (syiah) nya adalah orang-orang yang mendapat kemenanganpada hari kiamat’.”
.
Abu Mu’ayyid ibn Ahmad Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib, pasal 9, hadis no. 10 dari Jabir ibn Abdallah Al-Anshari: Kami bersama Nabi SAW, kemudian datang Aliibn Abi Thalib. Beliau bersabda, “Telah datang saudaraku kepadakalian”. Kemudian beliau memukulkan tangannya. Beliau bersabda, “Demiyang diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yangberoleh kemenangan pada hari kiamat. Kemudian, ia adalah orang yangpertama yang beriman di antara kalian, yang paling setia menepati janji Allah,yang paling keras menegakkan perintah Allah, yang paling adil dalam memimpin,yang paling adil dalam membagi, dan yang paling agung keutamaannya di sisiAllah.” Perawi menambahkan kemudian turun ayat: Sesungguhnya orang-orangyang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk(khayrulbariyyah)… Selanjutnya perawi berkata: Apabila Ali datang, para sahabat Muhammad SAW berkata, “Telah datang khayrulbariyyah.”
.
AllamahAl-Kanji Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Kifayah Ath-Thalib bab 62 dengan sanad dari Jabir ibn Abdallah Al-Anshari. Nabi SAW bersabda kepada Ali, “Engkau dan syiahmu berada di surga.” (Tarikh Baghdad, juz 2, hlm. 289)
.
Rasulallah SAW bersabda, “Wahai Ali, engkau dan syiahmu kembalikepadaku di Al-Haudh dengan rasa puas dan wajah yang putih. Sedangkanmusuh-musuh mereka kembali ke Al-Haudh dalam kehausan.” (IbnuHajar, Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, hlm. 66, cet. Al-Maimanah (Mesir); AllamahShalih At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 101, cet. Bombay)
.
Nabi SAW bersabda kepada Ali, “…dan syiahmu berada di atas mimbar-mimbardari cahaya dengan wajah putih di sekelilingku. Aku memberikan syafaat kepada mereka. Maka mereka kelak di surga bertetangga denganku.” (Al-Kanji Asy-Syafi’i, Kifayah Ath-Thalib, hlm. 135; Manaqib Ibnu Maghazali,hlm. 238)
Dari ‘Ashim ibn Dhumrah dari Ali AS: Rasulallah SAW bersabda, “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, Al-Hasan dan Al-Husain adalah buahnya, dan syiah adalah daun-daunya. Tidak keluar sesuatu yang baik kecuali dari yang baik.“(Al-Kanji Asy-Syafi’i, KifayahAth-Thalib, hlm. 98)
.
Diriwayatkan dari Nabi SAW: “Janganlah kalian merendahkan syiah Ali,karena masing-masing dari mereka diberi syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar.” (Al-Hakim, Al-Mustadrak 3/160; Ibnu Asakir, Tarikh 4/318;Muhibbuddin, Ar-Riyadh An-Nadhrah 2/253; Ibnu Ash-Shabagh Al-Maliki, Al-FushulAl-Muhimmah 11; Ash-Shafuri, Nazhah Al-Majalis 2/222; Allamah Al-Hindi, Intiha’Al-Afham, hlm. 19, cet. Lucknow; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm.257, cet. Istanbul)
.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri: Nabi SAW memandang kepada Ali ibn AbiThalib dan bersabda, “Orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yangmendapat kemenangan pada hari kiamat.” (Sabath ibn Al-Jawzi,Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 59, cet. Aljir)
.
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik: Rasulallah SAW bersabda, “Syiah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Ad-Dailami,Firdaws Al-Akhbar; Allamah Al-Mannawi, Kunuz Al-Haqa’iq, hlm. 88, cet. Bulaq;Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 180, cet. Istanbul; AllamahAl-Hindi, Intiha Al-Afham, hlm. 222, cet. Nul Kesywar)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Rasulallah SAW bersabda, “Ali dansyiahnya adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan pada hari kiamat.“(Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-Manaqib Al-Murtadhawiyah, hlm. 113, cet.Bombay; Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 257; Allamah Al-Hindi,Intiha Al-Afham, hlm. 19)
.
Rasulallah SAW bersabda kepada Ali, “Engkau dan syiahmu kembali kepadakudi Al-Haudh dalam keadaan puas.” (As-Suyuthi, Ad-Durr Al-Mantsur 6/379,cet. Mesir; Al-Qunduzi, Yanabi Al-Mawaddah, hlm. 182)
Rasulallah SAW bersabda, “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuksurga adalah aku, engkau, Al-Hasan, dan Al-Husain. Keturunan kita menyusul dibelakang kita. Istri-istri kita menyusul di belakang keturunan kita, dan syiahkita di kanan dan kiri kita.“(Tarikh Ibn Asakir, 4/318; IbnuHajar, Ash-Shawaiq, hlm. 96; Tadzkirah Al-Khawwash, hlm. 31; Majma Az-Zawa’id9/131)
Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Ali AS: Rasulallah SAW bersabda, “Engkau dan syiahmu berada di surga.” (Tarikh Baghdad, 12/289, cet.As-Sa’adah (Mesir); Akhthab Khawarizmi, Al-Manaqib, hlm. 67)
.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Rasulallah SAW bersabda kepada Ali,”Engkau bersamaku dan syiahmu di surga.” (Majma Az-Zawa’id, 9/173)
.
Anas meriwayatkan dari Nabi SAW: Beliau bersabda, “Jibril mengabarkan kepadaku dari Allah SWT bahwa Allah mencintai Ali dengan kecintaan yang tidak diberikan kepada malaikat, para nabi, dan para rasul. Tidak ada tasbih yang ditujukan kepada Allah, melainkan darinya. Dia menciptakan satu malaikat yang memohonkan ampunan bagi orang yang mencintainya dan syiahnya hingga hari kiamat.” (Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi, Al-ManaqibAl-Murtadhawiyah, hlm. 116, cet. Bombay; Allamah Al-Qunduzi Al-Hanafi, YanabiAl-Mawaddah, hlm. 256, cet. Istanbul tetapi tanpat kalimat “Para Nabi danPara Rasul).

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa’iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi 

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara’id al-Simthain, Mu’assassat al-Mahmudi li-Taba’ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

video Syiah Indonesia Pagelaran Kekuatan !

kami kaum syi’ah imamiyah mengklaim sudah mencatat angka 2,5 juta jiwa ! inilah contoh kecil pagelaran kekuatan syi’ah .. Anda kaum wahabi tidak punya kekuatan memudarkan kebangkitan syi’ah Indonesia !

Anda kenal dengan orang ini..????
ustad  syiah indonesia yang menyejukkan.. wajahnya yang tawadhu memikat hati-hati kaum muslimin,,
dia sering tampil di TV di jadikan rujukan juga oleh sebagian media…