video Syiah Indonesia Pagelaran Kekuatan !

kami kaum syi’ah imamiyah mengklaim sudah mencatat angka 2,5 juta jiwa ! inilah contoh kecil pagelaran kekuatan syi’ah .. Anda kaum wahabi tidak punya kekuatan memudarkan kebangkitan syi’ah Indonesia !

Anda kenal dengan orang ini..????
ustad  syiah indonesia yang menyejukkan.. wajahnya yang tawadhu memikat hati-hati kaum muslimin,,
dia sering tampil di TV di jadikan rujukan juga oleh sebagian media…

Antara Syi’ah dan Sunni : Tentang Qur an, Hadits, Shahabat, Ushulfikih dan Persatuan

Soal Jawab Seputar Fiqh Ahlulbait
Antara Syi’ah dan Sunni : Tentang Qur an, Hadits, Shahabat, Ushulfikih dan Persatuan
 .
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma sholi ala Muhammad wa Aali muhammad
 .
Soalan oleh wahabi:
…tetapi perlu diingat, MUI telah mengeluarkan Fatwa tentang kesesatan ahmadiyah dan mewaspadai manuver/gerakan syiah. mengapa syiah perlu diwaspadai. karena perbedaan masalah hal-hal yang sangat pokok. Al Qur’an dan riwayat Hadist berbeda sehingga masalah fikh pun tidak sama dengan Sunni. perlu dicermati pula sikap syiah indonesia terhadap para Shahabat Rasulullah Shallahu’alayhiWassalam dan para Ahlul Ba’it non keluarga Ali ra. perbedaan Sunni dan syiah sangat tajam sekali. jika mereka ikut meng-kafirkan para Shahabat, maka jelas syiah tidak akan pernah bisa bersatu dengan Sunni dan juga hati-hati dengan Taqiyyah mereka (sikap taqiyyah inilah yang menyebabkan peristiwa di YAPI, Bangil, Pasuruan).
 .
Jawaban oleh Ustad Husain Ardilla:
.
 Aqidah syi’ah itu jelas sekali ajarannya:
(a). Tentang Qur an: Diyakini suci dan terpelihara sampai sekarang, karena Allah sendiri yang menjaganya sesuai dengan ayatnya, Karena itu sangat menolak apapun masukan baru ke dalamnya
.
Jadi, kalau di sunni Mushhaf Utsmani, tetapi kalau di syi’ah Mushhaf Allah. Sedang mushhaf (lembaran-lembaran) Faathimah as itu adalah ilmu-ilmu beliau as yang dituliskan imam Ali as menjelang wafatnya yang ditulis demi supaya beliau as ikut andil dalam mendidik para imam maksum as. Jadi, maksum as mengajari maksum as. Karena yang maksum tidak bisa diajari yang tidak maksum
.
Tentang pengumpulan Qur an oleh Allah itu, bukan oleh Utsman dan bahkan bukan pula oleh Nabi saww sekalipun (karena memang tidak ada yang berhak terhadap kitabullah selain yang punya, yaitu Allah), antum bisa melihat QS: 75: 17:”Sesungguhnya hanya Kamilah yang berhak mengumpulkannya -Qur an- dan membacakannya.”
.
(b). Hadit: Hadits syi’ah adalah jelas. Yakni diambil dari orang-orang yang tsiqah dan tidak mau mengambil dari orang yang tidak tsiqah sekalipun dari shahabat. Kalau dari selain shahabat, berdusta sekali saja haditsnya sudah jatuh, maka apalagi membunuh. Nah, kaidah ini di syi’ah diterapkan kepada semua perawi, tidak peduli siapa orangnya. Ketika sampai ke shahabat dari perawi-perawi yang dibawah, juga demikian.
.
Harus dilihat siapa shahabat yang merawikan itu. Tetapi kalau di sunni, kalau sudah sampai pada shahabat, diangggap sama seperti sudah sampai kepada Nabi saww itu sendiri. Jadi, kedudukan kebenaran sahabat di sunni, dalam masalah hadits ini, disamakan dengan Nabi saww, sudah pasti benar. Bedanya, Nabi saww penyatanya, dan sahabat perawinya. Tetapi dilihat dari sama-sama benarnya ucapan dan maqamnya ketsiqahannya yang mustahil salah, adalah sama dengan Nabi saww. Ini di sunni. Tetapi kalau di syi’ah, selama tidak ada dalil maksumnya, maka semuanya harus dilihat tsiqah tidak-nya
.
Kalau dilihat secara global, shahabat dengan shahabat, puluhan ribu dengan puluhan ribu lainnya, saling berperang di jaman itu. Abu bakar saja menyerang keluarga Nabi saww sampai ia menangis dan menyesal sebelum matinya dan mendamba tidak pernah menyerang rumah siti Fathimah as.(Tariikh Thabari, 4/52; Miizaanu al-I’tidaal, 2/215; dan lain-lainnya). Atau kalau kita lihat di sejarah-sejarah sunni juga kita lihat sewaktu abu bakar mengutus khalid bin walid menyerbu shahabat lain (Bani Tamiim), malah Khalid bin Walid berani membakar beberapa shahabat hidup-hidup di depan umum.
.
Atau kita lihat perang ‘Aisyah yang memerangi imam Ali as sebagai khalifah yang syah (sunni) atau sebagai imam maksum as (syi’ah) yang peperangannya disebut perang Jamal, menelan korban sampai 110.000 orang shahabat dan tabi’iin. Belum lagi perang-perang lainnya. Semua itu adalah puluhan/ratusan ribuan shahabat dan tabi’iin yang saling berperang. Sudah tentu saling menyalahkan, dan membunuh. Nah, kalau yang dibunuh itu salah, maka ia adalah shahabat. Kalau yang membunuh itu salah, maka ia adalah shahabat. Kalau dusta masalah dagangan saja sudah mendhaifkan hadits riwayatnya, apalagi saling mengkafirkan, saling menyesatkan dan membunuh.
.
Karena itu, di syi’ah, perawi yang diteliti, termasuk shahabat. Apakah ini dosa? Qur an saja menurunkan surat bernama Munaafqin dan ayatnya mengatakan bahwa Nabi saww tidak mengetahuinya, apalagi yang lainnya. Allah berfirman:
 وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
“Dan disekeliling kamu dari orang-orang desa, terdapat ORANG-ORANG munafik, dan begitu pula di sekeliling kamu di antara orang-orang kota dimana mereka sangat keterlaluan dalam kemunafikan. Kalian tidak tahu mereka sedang Kami mengetahuinya. Kami akan mengadzab mereka dua kali lipat dan kemudian dipulangkan ke adzab yang sangat agung.”
Begitupun, kalau bohong sekalinya perawi saja sudah melemahkan haditsnya, apalagi membunuh. Dan para shahabat, saling berbunuhan dalam jumlah partai, yakni dalam jumlah ribuan lawan ribuan, atau puluhan ribu lawan puluhan ribu.
.
Syi’ah tidak memaksa orang lain untuk memakai hadits-hadits yang dihasilkan melalui penelitiannya itu, akan tetapai apakah orang lain bisa memaksakannya?
.
Hadits syi’ah juga tidak hanya dari Nabi saww, tetapi juga dari maksumin as. Jadi, hadits adalah ucapan, perbuatan dan taqrirnya para maksum, baik itu Nabi saww atau para penerusnya yang maksum as. Dan kemaksuman mereka ini tidak boleh asal dakwaan atau didakwa. Karena selain Allah dan NabiNya saww tidak ada yang tahu siapa yang maksum, jadi harus ditentukan Qur an dan Nabisa ww. Dan, di riwayat sunni seambrek dalil Qur an dan hadits yang menyatakan bahwa Ahlulbait as itu maksum
.
Lihat QS: 33: 33.
 إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah HANYA ingin membersihkan/menepis dari kalian Ahlulbait, segala kekejian/kekotoran (dosa) dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”
.
Karena itulah maka diyakini di syi’ah bahwa jalan lurus atau shiratulmustaqim itu adalah jalan Islam yang lengkap dan benar seratus persen. Ilmu Islamnya dan Amala Islamnya, lengkap 100% dan benar 100% juga. Karena Allh sudah berfirman bahwa jalan lurus itu “wa laa al-dhaalliin”, yakni “Tidak salah sedikit pun”. Dan kalau jalan lurus ini ada, maka sudah pasti orang maksum juga harus ada. Itulah yang dikatakan penerus Nabi saww dalam menjaga agama terakhir yang telah diturunkan ke Nabi saww tersebut.
.
Memang sudah tidak ada ajaran baru lagi, tetapi yang sudah diturunkan ini harus dijaga 100% dan dengan adanya orang maksum as tersebut. Sebab kalau tidak ada maksum, maka sudah pasti tidak akan ada jalan lurus itu, dan kalau demikian, maka Tuhan telah mempermainkan kita. Karena Ia telah mewajibkan kita shalat dan dalam shalat mewajibkan membaca fatihah di mana di dalamnya juga terkandung doa meminta jalan lurus itu. Nah, kalau jalan lurus itu tidak ada karena tidak adanya maksum, lalu kita disuruh memintanya, berarti Ia telah mempermainkan kita. Kan tidak mungkin? Dengan demikian maka maksum itu mestiah ada.
.
Nah, Nabi saww yang maksum dan sumber ajaran, dan imam yang maksum as sebagai penerus ajaran, semua ucapan, perbuatan dan taqrirnya diyakini sebagai hadits kalau di syi’ah. Yakni sebagai sumber pemahaman terhadap Islam disamping Qur an.
.
(c). Kalau taqiah adalah ajaran yang jelas di Qur an (QS: 16: 106):
 مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
 “Siapa yang kafir setelah ia beriman -akan dimurka dan diadzab-, kecuali kalau ia dalam keadaan terpaksa sementara hatinya tetap dalam keadaan iman.”
.
Nah, taqiyah itu boleh sebagaimana Ammar ra yang melakukannya dan menjadikan ayat tersebut turun. Artinya, menyatakan kafir, kalau dipaksa, seperti terancam dibunuh, maka itu dibolehkan. Jadi, kalau dalam keadaaan aman, maka menyatakan kafir itu adalah munafik dan akan diadzab Allah swt
.
Lah antum kok mempermasalahkan taqiyah ini, kok tidak mempermasalahkan umat penyebat taqiyah ini. Sebegitu parahkan umat islam ini hingga menyebabkan orang syi’ah bertaqiyah?
.
(d). Tentang kitab hadits, sesuai dengan penjelasan di atas, maka syi’ah memiliki kitab-kitab hadits-hadits yang ditelitinya sendiri dengan rijal yang ketat dan tanpa pilih kasih. Nah, apakah beda penelitian hadits-hadits Nabi saww ini merupakan keanehan? Di sunni saja ada sekitar 20 kitab hadits dimana penelitian yang satu beda dengan yang lainnya. Lah .. kok bisa masing-masingnya itu tidak disesatkan, tetapi kalau kitab hadits penelitian syi’ah terus jadi sesat?
.
(e). Kalau tentang mengkafirkan shahabt itu sudah sering saya katakan, bahwa yang dimaksudkan itu adalah kafir terhadap imamah dan adanya kepenerusan maksum as dalam menjaga syariat ini. Jadi, kafirnya adalah kafir terhadap imam, bukan pada Tuhan dan Rasul saww dan Qur an, dan hadti akhirat
.
Beda dengan kalau orang selain syi’ah mengkafirkan orang syi’ah, atau wahabi menghafirkan sunni. Karna biasanya maksud merka adalah dari tauhid. Kecuali sedang membahas akhlak yang sering juga membahas kafir nikmat. Begitu pula beda dengan hadits shahih Bukhari kalau mengkafirkan shahabat dimana sudah pasti maksudnnya adalah murtad dari agama. Perhatikan hadits berikut ini:
 3349 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنِى سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً – ثُمَّ قَرَأَ – ( كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ ) وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ ، وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِى أَصْحَابِى . فَيَقُولُ ، إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ . فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ ( وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ) إِلَى قَوْلِهِ ( الْحَكِيمُ )
.
 Diriwayatkan dari Muhammad ibnu Katsiir, dari Sufyaan dan al-Mughiirah bin al-Nu’maan dari Sa’iid bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas dari Nabi saww yang bersabada: “Sungguh kalian akan dikumpulkan di padang makhsyar dalam keadaan telanjang kaki, …dan seterusnya. Kemudian segolongan dari shahabatku dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang celaka, karena itu aku berkata: ‘Mereka itu shahabatku, mereka itu shahabatku.’ Allah berkata: ‘Mereka itu menjadi murtad ketika kamu telah meninggalkan mereka.’Karena itu aku berkata, seperti yang dikatakan hamba yang shalih (seperti nabi Isa as), pent.): ‘Aku menjadi saksi bagi mereka dikala aku masih hidup bersama mereka ….’.” (lihat hadits ini dan yang mirip dengannya di: shahih Bukhari hadits ke: 3349, 3447, 4625, 4740, 6526; Shahih Muslim, hadits ke: 5104, 7380; …dan lain-lainnya).
 .
Karena itu kalau ada syi’ah menkafirkan shahabat, maksudnya adalah dari imamah dan kepemimpinan imam-imam maksum as. (jadi masih muslim karena tidak kafir dari Allah, Nabi saww, Kiamat, Kitab-kitab Ilahi dan seterusnya). Tetapi kalau di hadits-hadits Bukhari dan Muslim ini, maka maksud pengkafiran shahabat ini adalah dari Islam, yakni menjadi Murtad. Kan beda jauh dari keduanya itu, lalu mengapa sikap yang diambil beda jauh dan tidak adil terhadap syi’ah?
 .
(f). Kalau masalah Ushulfikih, lah ..lucu amat. Di dunni saja banyak perbedaan, terus mengapa kalau syi’ah memiliki kaidah sendiri?
.
Lagi pula tidak semua kaidah itu berbeda. Biasanya lebih banyak samanya dengan bedanya
.
Misal bedanya, kalau di sunni boleh pakai kiyas dan bahkan harus. Tetapi kalau di syi’ah tidak boleh. Karnea qiyas adalah meminjam hukum yang ada untuk dipakai ke benda-benda lain yang mirip dan tidak memiliki hukum. Di syi’ah hal ini terlarang
.
Karena kalau demikian, sama dengan meyakini bahwa hukum Islam itu ada kurangnya, Qur an dah hadits itu ada kurangnya, sehingga hukumnya tidak mencakupi semua hal. Misalnya tidak mencakupi durian, komputer, pesawat …dan seterusnya. Dan kalau hukum Islam itu tidak mencakupi semua itu, berarti ia kurang dan tidak layak jadi agama terakhir karena dunia dan budaya itu luas serta benda-benda itu bukan hanya di Arab dan juga akan ditemukan oleh mansuia atau dibuat manusia.
 .
Kalau di syi’ah, semua ajaran Islam itu sudah ada untuk apa saja sampai hari kiamat. Karena tu, tidak boleh melakukan kiyas. Jadi, harus dicari di Qur an dan hadits-hadits hal-hal yang sesuai dengan benda yang tidak ada di Arab itu dan/atau belum dibuat manusia itu. Itulah mengapa di syi’ah keberadaan mujtahid itu harus ada di setiap jaman. Tetapi kalau di sunni mujtahid itu sudah dilarang dan hanya pada 4 orang dimana yang lainnya dimustahilkan dan dilarang mengaku mujtahid.
 .
(3). Renungan:

(a).Syi’ah ini tidak bisa disamakan dengan ajaran sesat ahmadiah karangan mirza ghulam ahmad yang sesat dan mengaku imam Mahdi as dan nabi Isa sekaligus itu. Karena syi’ah adalah ajaran Nabi saww sendiri, bahkan penamaannya, walaupun yang dimaksudkan adalah maknanya. Bisa dilihat di beberapa tafsir sunni seperti Suyuuthi, dalam al-Durru al-Mantsuurnya:

 وأخرج ابن عساكر عن جابر بن عبد الله قال : « كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فأقبل عليّ فقال النبي صلى الله عليه وسلم : » والذي نفسي بيده إن هذا وشيعته لهم الفائزون يوم القيامة ، ونزلت { إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات أولئك هم خير البرية }
 Jabir ra berkata: Kami sedang bersama Nabi saww, lalu datang Ali as, lalu Nabi saww bersabda:
.
“Demi nyawaku yang ada ditanganNya, sesungguhnya orang ini dan SYI’AHNYA (pengikutnya) adalah orang-orang menang di hari kiamat.” Lalu turunlah ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka merekalah sebaik-baik manusia.” (QS: 89: 7)
.
(b). Syi’ah walau imam-imamnya saja dibunuhi, tetapi ketika mendapat kemenangan, tidak pernah mengusik para muslimin yang lain yang tidak menentang pemerintahan hukum Islam. Bahkan di Iran, di beberapa kota yang mayoritas sunni, dibolehkan menghukumi perkara-perkara mereka baik, kriminal dan sebagaimnya, dengan hukum sunni. Yang penting Islamnya.
.
Karena itu, syi’ah selalu mengajak bersatu untuk menghadapi kafirin yang tidak perduli sunni -seperti Palestina- atau syi’ah seperti Iran. Karena kalau kita ribut sendiri, maka sudah pasti mereka yang untung karena memang itulah yang diinginkan mereka supaya negara muslimin tetap dijajah atau hartanya terus dikeruk. Lagi pula, bersatu, damai dan berakhlak baik, itu, adalaah ajaran Islam
.
Artinya saling menahan diri dalam keberbedaan dan keberlainan, adalah ajaran tinggi islam. Tetapi Islam juga tidak mengajarkan menerima apa-apa yang tidak dianggapnya benar. Tetapi saling toleransi adalah ajaran Islam, karena Islam adalah la iqraaha fi al-diin, yakni tidak ada paksaan dalam agama. Masehi yang menyesatkan nabi Muhammad saja ditolirer, mengapa yang mengkritik shahabat tidak bisa ditolirir? Kan jadi tidak lucu?
.
Sunni yang sering mendukung shahabat yang mengkritiki Nabi saww saja bisa dan boleh, mengapa yang mengkritiki shahabat terus tidak boleh dan tidak bisa? (tentang kritikan shahabt pada Nabi saww itu, antum bisa lihat di sebab turunnya ayat hijab dimana kala itu Umar yang menasihati Nabi saww supaya istrinya pakai hijab, lalu Tuhan menurunkan ayat hijab itu, begitu pula di tempat-tempat  lain seperti ketika Nabi saww mau menyolati orang munafik sampai Nabi saww ditarik-tarik oleh Umar supaya jangan menyolatinya karena munafik dan Tuhan mendukung Umar …dan lain-lainnya).
.
Kalau sunni mau menerima hadits Abu Hurairah yang dihukum cambuk oleh umar karena korupsi sewaktu menjadi gubernurnya Umar di Bahrain, lalu apakah mengikuti hatdits-hadits riwayat syi’ah yang begitu katanya dianggapa salah?
.
Nabi saja di sunni dikritiki dengan melengos dan bermuka masam tanpa akhlak pada seorang buta, mengapa mengkritiki shahabat terus tidak boleh? Di sunni Nabi saww dikritiki telah mengharam akan yang halal, lalu mengapa mengkritiki shahabt jadi tidak boleh? Nabi saww saja di sunni dikatakan  telah kencing berdiri di depan umum (shahih Bukhari 1: 62), lalu mengapa mengkritiki shahabat menjadi tidak boleh ?
.
Arti semua tulisan ini, adalah bahwa kita bukan hanya bisa, akan tetapi wajib bersatu sebagai sesama muslim. Tentu saja dalam keberbedaannya itu. Kalau semua sama, maka itu bukan persatuan namanya, tetapi memang satu. Persatuan itu adalah berbeda akan tetapi saling tidak memaksa dan bahkan saling menolong dan menghormati. Tetapi sudah pasti, kalau bicara dan diskusi ilmu, sudah tentu masing-masing madzhab boleh menyatakan keyakinannya terhadap madzahbanya sendiri bahwa ia benar dan yang lainnya salah.
.
Tetapi tidak boleh memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebisa mungkin saling tolong menolong dalam kehidupan sosial. Muhammadiah yang membid’ahkan dan menjahanam kan orang sunni karena bid’ahnya, dan memusyrikkan orang sunni  karena berbagai perbuatan yang dianggapnya syirik, selama ini masih bisa hidup berdampingan, lalu mengapa bisa ada pembatasan pada syi’ah? Masehi yang menyesatkan nabi Muhammad saww saja, hidup senang dan damai walau bersebelahan dengan sunni dan wahabi, tetapi mengapa terus ada pembatasan pada syi’ah? Kalau mau dialog, maka lakukan dengan baik, kalau tidak ketemu, mengapa tidak bisa saling tidak memaksa seperti pada sesaling berbedanya akidah, fikih dan bahkan agama selama ini di Indonesia?
.
Lalu ada orang-orang Sunni berkata kepada saya, mengapa di syiah lebih mengutamakan ataupun mendahulukan tentang keutamaan Ali as, al Husain, Karbala, Ahlulbait maupun ratapan-ratapan tangis, kesedihan yang melemahkan hati daripada tentang keutamaan dan keunggulan mut’ah ?
.
(1). Kalau ada yang tanya mengapa antum bershalawat pada Ahlulbait Nabi saww dalam setiap shalat antum? Saya sih ragu apa antum sadar atau tidak bahwa antum dalam melakukan kewajiban itu menyadari Aalu Sayyidinaa Muhammad itu apa? Ketahuilah, syi’ah dan sunnah menyepakati bahwa mereka itu adalah Ahlulbait as yang dimulai dari imam Ali, siti Fathimah, imam Hasan dan imam Husain as sebagai sebab turunnya ayat kemaksuman QS: 33: 33 itu. Akan tetapi masih ada lagi yang belum lahir yang dimasukkan oleh Nabi saww ke Ahlulbait, yaitu imam-imam maksum lainnya yang 12 seperti yang ada di shahih Bukhari dan Muslim.
.
Nah, kalau antum sendiri tidak tahu siapa yang antum shalawati terus dalam shalat itu, dan tidak tahu sejarah yang antum shalawati itu, maka sudah jelas antum akan berkata seperti di atas itu.
.
Coba antum tahu bahwa mereka itu adalah Alulbait as, dan mereka itu tidak ada yang mati biasa melainkan dibunuhi oleh umat Nabi saww, baik shahabat atau tabi’iin, atau tabi’iinnya tabi’iin (raja2 Bani Umayyah -Mu’awiyyah dan Yazid dan lain-lainnya- dan Bani Abbas, maka sudah pasti antum akan lebih nyaring menangisnya ketimbang kita. Karena Ahlulbait as yang antum shalawati yang dititipkan Rasul saww kepada kita disisi Qur an (“Kutinggalkan dua perkara berat kepada kalian, kitabullah dan Ahlulbaitku”) supaya yang ada di hadits shahih Muslim dan lain-lainnya, maka sudah pasti akan meratapi sebagaiamana Rasul saww yang banyak sekali di riwayat sunni yang telah menangisi sejak lahirnya imam Husain as karena diberitahu Allah melalui malaikat Jibril as bahwa imam Husain as akan dibantai oleh umatnya sendiri
.
(2).Ahlulbait as itu tidak perlu ratapan kita. Tetapi ratapan itu untuk kita sendiri. Karena yang tidak menangisi keluarga Nabi saww yang dibantai padalah beliau saww menitipkannya kepada kita, maka ia sudah pasti tidak tahu terima kasih kepada beliau saww. apalagi kalau berpihak kepada shahabat dan tabi’iin yang membatainya. Kita akan lihat nanti di akhirat bagaimana antum menjawab pertanyaan Nabi saww terhadap hal ini.
.

video Mengapa Aku Masuk Syi’ah

SAHIH MUSLIM
Book 031, Number 5920:

…O people, I am a human being. I am about to receive a messenger (the angel of death) from my Lord and I, in response to Allah’s call, (would bid good-bye to you), but I am leaving among you two weighty things: the one being the Book of Allah in which there is right guidance and light, so hold fast to the Book of Allah and adhere to it. He exhorted (us) (to hold fast) to the Book of Allah and then said: The second are the members of my household.

http://www.usc.edu/s…t.html#031.5920

NOTE:
“my sunna” hadith IS NOT WEAK. For it to be WEAK (dhaeef) it needs to have people in the chain of narration who ‘forget easily’ or ‘have a bad memory.’ A weak hadith – there is still chance that it is true. But the “my sunna” hadith has FABRICATORS in the chain! People who would openly make lies about the Sahaba and the Prophet(sawa). So it is not only WEAK, but its is WORSE —> FABRICATED (mawdhoo’).

Ayatullah Sayyid Kamaal al-Haidary has more than 10 episodes going through all 4 chains of “my sunna” and proves its NOT ONLY WEAK, but rather FABRICATED. If anyone dares to object, I will translate it inshaAllah.

sunni Berterus terang menyokong pemimpin-pemimpin yang zalim, tanpa berpura-pura. Dan menentang Mustadh‘afin, tanpa berpura-pura. Lantaran itu akidah mereka menyeleweng dari Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah ,kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud (11):113)

.

Sunni Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Allah(swt) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka mempraktikkan sunnah Abu Bakr dan Umar yang berlawanan  dengan hukum Allah. Dan barangsiapa yang menyalahi sunnah mereka berdua dikira menyeleweng atau sesat dari Islam sebenar. Mereka maksudkan dengan Islam yang sebenar itu adalah Islam yang mematuhi sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar sekalipun ianya bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

.
Ini bererti orang yang percaya dan mengamal keseluruhan hukum al-Qur’an adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam sebenar, kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar. Kemudian mereka mengadakan program pemulihan atau  kemurnian akidah bagi memaksa orang ramai mentaati sunnah mereka berdua. Mereka jadikan Masa’il al-Mursalah, Maslahah, Ihsan Sadd dh-Dhara‘i‘, ijmak, ijtihad, dan Qiyas bagi membatal atau menukar atau mengubah hukum Allah (swt).
.
Kemudian mereka memberitahu orang-ramai perlakuan sedemikian adalah kerana menjaga maqasid asy-Syari‘ah, bukan menentang hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang ramai adalah jahil, lalu menerima fatwa mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka menyakinkan orang ramai bahawa perbuatan mereka tidak terkeluar dari roh Syari‘ah, pada hakikatnya terkeluar dari Syari‘ah Allah. Orang ramai menerimanya. Perkataan Syari‘ah yang digunakan oleh mereka pula bukan bererti al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja.
.
Malah menggunakan istilah-istilah lain untuk mengkaburkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dari diamalkan. Umpamanya mereka mengatakan khalifah Umar tidak memberi saham Muallaf adalah untuk menjaga Maqasid asy Syari‘ah. Sepatutnya Maqasid asy-Syari‘ah adalah penerusan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi khalifah Umar telah menahan pemberian tersebut dengan alasan Muallaf tidak memerlukanya lagi. Mereka menyokong tindakan khalifah Umar yamg menyalahi al-Qur’an itu sebagai tindakan yang bijak dan memujinya pula. Sepatutnya mereka menjaga Maqasidu l-Qur’an yang meneruskan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi disebabkan mereka lebih meredhai sunnah Umar daripada hukum Allah, maka mereka mencari jalan bagi menutup kesalahannya.Dan kesalahannya pula menjadi sunnah atau hukum yang menangguh atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Sehingga sekarang mereka mempertahankan perbuatan atau sunnah Abu Bakr dan Umar meskipun ia bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Malah mereka memaksa orang ramai mengamalkan sunnah tersebut di dalam peribadatan mereka.
.
Justeru itu sesiapa yang percaya dan mengamalkan hukum al-Qur’an 100% akan dikira sesat atau menyeleweng  dari ajaran Islam yang sebenar kerana mereka  menolak sunnah khalifah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an. Jika sesiapa yang tidak menerima sunnah tersebut mereka  menganggapnya  terkeluar daripada agama Islam sebenar; menyeleweng  atau sesat, dan perlu kepada pemulihan atau pemurnian akidah kerana ia mengancam keselamatan negara. Sepatutnya mereka yang mengamalkan sunnah Abu Bakr dan Umar  yang bertentangan  dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) lebih perlu dipulihkan akidah mereka kepada  akidah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan meninggalkan sunnah mereka berdua. Tetapi percayalah bahawa mereka akan meneruskan sunnah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an.
.
Sunni  tidak akan menyerah kepada hukum Allah sepenuhnya sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah,dan taatlah kepada Rasul dan Uli l-Amri min-kum.Jika kamu bertelagah di dalam sesuatu perkara,maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Demikian itu lebih baik dan sebaik-baik jalan” (al-Nisa’ (4):59)
.
Dan firman-Nya “Tidakkah kamu mengetahui bahawa mereka yang mendakwa bahawa mereka beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepada engkau dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau; mereka hendak meminta hukum kepada Thaghut (berhala),sedangkan mereka diperintahkan supaya menentang thaghut.Syaitan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh” (al-Nisa’ (4): 60). Justeru itu ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah menyeleweng dari ajaran al-Qur’an.
.
Sunni Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka lebih mentaati sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar daripada sunnah Rasulullah (Saw.) Sebaliknya mereka menyesatkan orang yang tidak mentaati sunnah mereka berdua sekalipun bertentangan dengan sunnah Rasulullah (Saw.). Jika sesiapa mengamalkan Sunnah Rasulullah 100% adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam yang sebenar, oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar yang menyalahi sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka percaya bahawa khalifah Abu Bakr dan Umar lebih mengetahui daripada Rasulullah (Saw.).
.
Lantaran itu sunni  menggunakan istilah-istilah Masalih Mursalah, Maslahah, Ihsan, Maqasidu sy-Syari‘ah, ijtihad dan lain-lain bagi membatalkan atau menangguh atau menggantikan sebahagian Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka menyalahi Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah(hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab (33):35)
.
Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka,kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau, dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4):65) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (al-Ma ‘idah (5):44)
.
Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul,sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam. Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (Al-Nisa ‘(4);115)
.
Sunni memusuhi orang yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Sebaliknya mencintai orang yang menolak hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi menerima sunnah-sunnah mereka tersebut.
.
Sunni menjadikan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sebagai amal ibadat harian, bulanan, dan tahunan mereka bagi bertaqarrub kepada Allah (swt). Mereka meninggi diri dan berkata : Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah; kumpulan yang berjaya (firqah Najiyah). Sementara kumpulan yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) ke Neraka.

.
Sunni menggunakan perkataan al-Sunnah atau Sunnah bagi menggambarkan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja, tetapi pada hakikatnya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah. Begitu juga mereka mengguna perkataan “Ahlu s-Sunnah” bagi mempamirkan kepada orang ramai bahawa apa yang mereka maksudkan dengan perkataan tersebut adalah “Ahlu s-Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja”; merekalah yang menjaga, dan pengamal Sunnah Rasulullah (Saw.) yang sebenarnya, tetapi pada hakikatmya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan merekalah pengamalnya. Orang ramai disebabkan kejahilan dan kefanatikan mereka, tidak dapat membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah-sunnah mereka berempat. Lalu mereka mentaati sunnah-sunnah tersebut, dan menjadikanya ibadat bagi menghampiri diri kepada Allah (swt)
.
Sunni membenci atau memulau atau memisahkan orang yang yang ingin membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah. Kerana mereka khuatir orang ramai akan mengetahuinya, dan mungkin akan mentaati hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka akan menolak sunnah-sunnah mereka. Lantaran itu mereka popularkan hadis “Ikutlah Sunnahku dan sunnah khulafa’ Rasyidin selepasku
.
Mereka menjadi kesamaran,lalu mereka mengikuti sunnah-sunnah khalifah yang menyalahi hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasul-Nya. Kemudian mereka meredhainya dan beramal ibadat dengannya dan menjadikannya sebagai penilai kebenaran yang mengatasi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Orang ramai menerimanya, kerana kejahilan dan kefanatikan mereka. Mereka berkata:Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah. Dan siapa yang menyalahi Akidah  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah sesat dan menyeleweng. Dengan mengguna pola pemikiran tersebut bahawa  mereka yang mengamalkan 100% hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya  dikira sesat dan menyeleweng oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah
.

Putra Oliver Stone, Aktor dan Sutradara AS Masuk Syiah di Iran

Ali Stone: Ketika Mengucapkan Syahadat, Aku Merasa Berhadapan dengan Orang Suci

Rabu, 2012 Februari 15 13:54
Sean Stone setelah memeluk Islam dan mengganti namanya Ali Stone mengatakan, “Menurut saya, sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia saat ini juga bakal hancur. Karena masyarakat dengan keimanannya telah memulai kebangkitan di Timur Tengah.”
 .
Di sela-sela acara pembacaan dua kalimat syahadat di Isfahan, Fars News sempat mewawancarai Sean Stone yang akhirnya memilih nama Ali Stone setelah memeluk Islam. Kepada Fars Ali Stone mengatakan bahwa Gerakan Occupy Wall Street tidak akan padam. Karena ia berada di hati setiap orang
.
“Agama Islam adalah lanjutan dari “Firman Tuhan”. Allah yang telah mengutus Nabi Ibrahim as dan Musa as, serta menyatukan seluruh mazhab dan prinsip-prinsip agama,” jelas Ali Stone mengenai alasan mengapa ia memeluk Islam
.
Seniman Amerika ini juga memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw berhasil menyatukan seluruh masyarakat yang waktu itu penuh dengan kekufuran. Menurutnya, saya dapat memahami keberanian dan ketulusan Nabi Muhammad Saw. “Itulah mengapa saya memeluk Islam,” ujar Ali Stone
.
Seraya menyinggung bahwa agama-agama lain menyembah Allah sama dengan Islam, Stone menekankan, “Laa Ilaaha Illa Allah” bukan pengertian yang baru. Kalimat ini senantiasa ada bersama agama-agama yang ada. Perbedaannya hanya pada cara penjelasannya.”
Ketika ditanya apakah keluarganya mengetahui ia berencana memeluk Islam dan apa reaksi mereka, Ali Stone mengatakan, “Tidak. Mereka tidak banyak tahu tentang masalah ini. Dengan memeluk Islam, pada dasarnya saya mengikuti seluruh agama. Kita semua satu di mata Allah yang Maha Kuasa.”
.
Kembali Ali Stone ditanya mengapa di usia 27 tahun ia memutuskan untuk memeluk Islam. “Saya telah membaca al-Quran. Tapi tentu saja orang tidak bisa menjadi muslim hanya dengan membaca al-Quran semalaman. Karena seseorang harus membaca al-Quran selama hidupnya. Proses saya memeluk Islam merupakan perintah Allah. Saya bukan orangnya yang menentukan kapan saya harus muslim,” ujar anak sutradara terkenal Amerika, Oliver Stone
.
Sekaitan dengan perasaannya saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Ali Stone mengatakan, “Saya berhadapan dengan seorang alim rabbani dan suci. Saya berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Allah.”
.
Berbicara mengenai masa depan umat Islam di Timur Tengah, Ali Stone menjelaskan bahwa sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia juga akan tumbang. “Di sinilah perbedaan antara seseorang yang beriman dengan Barat yang tidak percaya,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan Occupy Wall Street, Ali Stone mengatakan, “Wall Street merupakan sebuah gerakan yang tidak pernah padam. Karena ia ada di hati setiap orang
.
Aktor Amerika dan pembuat film dokumenter Sean Stone, putra sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, masuk Syiah saat upacara keagamaan di Iran
.
Stone menjadi seorang penganut Syiah dan memilih menggantinya namanya menjadi Ali pada upacara yang diadakan di kota bersejarah Isfahan Iran pada tanggal 14 Februari kemarin
.
“Pindah agama ke “Islam” tidak berartu meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengannya,” kata Stone.
“Artinya saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” tambahnya dalam panggilan telepon singkat.
Lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen, Stone tidak mengatakan mengapa ia masuk Syiah
.
Stone yang mengunjungi Iran beberapa bulan lalu mengatakan ia ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya dan peradaban Persia serta akrab dengan tradisi Iran
.
Stone menyebut Iran sebagai salah satu pusat utama Asia dalam pembuatan film sembari mengatakan bahwa ia “ingin memperkenalkan budaya Persia dan peradabannya ke Barat.”
Pembuat film berusia 27-tahun ini adalah lulusan sejarah dari Princeton University dan telah berkolaborasi pada banyak proyek ayahnya. Dia juga telah menyutradai beberapa film dokumenter
Pembuat film AS, Sean Stone, putra dari sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, dilaporkan masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, saat tengah membuat film dokumenter
.
“Konversi ke Islam tidak meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengan. Ini berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” kata Sean, lewat sebuah panggilan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, tempat di mana ia menjalani ritual, seperti dikutip AFP
.
Ayah Sean, Oliver Stone terkenal sebagai penganut Yahudi, sedangkan ibunya beragama Kristen.
Pria pembuat film berusia 27 tahun itu tidak mengungkapkan alasan mengapa ia masuk Islam
.
Menurut kantor berita Iran, Fars, Sean Stone telah menjadi penganut Syiah dan memilih dikenal dengan nama depan Muslim, Ali.
Sebelumnya, Sean (Ali Stone) telah beraksi dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, kini telah mengarahkan sendiri beberapa film dokumenter
.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
 Sean Stone, seorang sutradara film dokumentasi Amerika Serikat, putra Oliver Stone yang juga produsen film terkemuka Amerika, memeluk agama Islam.Mehr News (14/2) melaporkan, Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan
.
Dalam wawancaranya dengan AFP, Sean menyatakan bahwa konversi ke agama Islam itu berarti dia telah menerima Muhammad sebagai nabi di antara nabi-nabi lainnya
.
Ayah Sean, yaitu Oliver Stone adalah seorang Yahudi dan ibunya seorang Kristen. Produsen film dokumenter berusia 27 tahun itu sebelumnya pernah tampil singkat dalam film-film produksi ayahnya.Sean memilih nama Ali dan ia memilih mazhab Syiah.
Oliver Stones son
Sean Stone, anak sutradara kondang Oliver Stone, memutuskan untuk masuk Islam di Iran. Ia tengah membuat film dokumenter di negeri itu.Namun, pemuda 27 tahun ini menyatakan tak akan meninggalkan akar Kristen yang Yahudi orang tuanya, kendati dia telah menjadi Muslim. Tanpa menyebut alasannya, dia mengaku menjadi penganut Syiah dengan nama depan Ali.“Menjadi Muslim berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” ujar Stone di Isfahan, Iran, di mana upacara konversi dilakukan
.
Dia tengah membuat film dokumenter tentang Rumi, seorang penyair mistis. Sebelumnya, ia terlibat dalam 12 film yang disutradarai ayahnya. Sebuah dokumen mencatat, dia merupakan pembela Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad
.
Lulusan Princeton University ini pernah tampil dalam film Wall Street: Money Never Sleeps pada tahun 2010, Nixon pada tahun 1995, dan JFK pada tahun 1991 – semua besutan oleh ayahnya.Tehran Times melaporkan, dia mengikrarkan keislamannya di Isfahan, di kantor ulama Syiah Ayatollah Mohammad Nasseri Dowlatabadi. Dia berada di Iran sejak awal bulan ini untuk sebuah acara apreasiasi film Hollywood yang dihadiri Ahmadinejad
.
Produser film terkenal Amerika, Sean Stone, yang juga anak dari sutradara pemenang Oscar, Oliver Stone, masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, tempat di mana ia sedang membuat film dokumenter, katanya kepada AFP.
Bagusnya, ia masuk Islam di Iran sehingga ia menjadi seorang Syiah
.
“Masuk Islam tidaklah mengabaikan agama Kristen atau Yudaisme, yang mana saya sudah peluk semenjak lahir. Ini berarti saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” katanya dalam sebuah percakapan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, di mana ia menjalani upacara peresmian keIslamannya
.
Ayahnya yang terkenal, Sean Stone adalah Yahudi, sedangkan ibunya adalah Kristen.
Produser film yang berumur 27 tahun ini tidak mengatakan mengapa ia bisa masuk Islam.
Menurut kantor berita Iran Fars, Sean Stone telah menjadi Syiah dan memilih nama Ali Muslim.
Sean Stone pernah akting dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, dan telah menyutradarai beberapa film dokumenter

video “KEBOHONGAN Sahih Bukhari”

Exposing "Sahih" Bukhari in 5 minutesklik video disamping  “KEBOHONGAN Sahih Bukhari” by Ustad Husain Ardilla

Bukhari says Moses was seen naked!.avi – YouTube

Musa telanjang versi bukhari

Bukhari lies.wmv – YouTube

Lies Bukhari Abu-Talib[as sacrificed everything to protect the Islam

klik link tulisan biru disamping untuk membuka dusta bukhari

My brothers, my sisters; if you do not condemn Bukhari for these lies and slander, then do NOT blame the West for their recent attack on the Prophet’s character.

Firstly Ya Allah plz forgive me for even writing this, Astagfirullah after every sentence
Here are some really stupid Bukhari hadith . The reader must bear in mind that this stupidity is despite “ Al-Jami’us Sahih of Imam al-Bukhari is rightfully privileged to be called a gigantic ocean serenely flowing for the providence and safeguard of those precious pieces of magnificence”.

Here are some of those precious pieces of magnificence :
Bukhari Volume 1, Book 9, Number 490: Narrated ‘Aisha: The things which annul the prayers were
mentioned before me. They said, “Prayer is annulled by a dog, a donkey and a woman.” I said,
“You have made us (i.e. women) dogs. I saw the Prophet (pbuh) praying while I used to lie in my bed between him and the Qibla. Whenever I was in need of something, I would slip away. for i disliked to face him.”

Bukhari Volume 4, Book 54, Number 537: Narrated Abu Huraira: The Prophet (pbuh) said “If a house fly falls in the drink of anyone of you, he should dip it (in the drink), for one of its wings has a disease and the other has the cure for the disease.”

Bukhari Volume 7, Book 62, Number 5: Narrated ‘Ata: We presented ourselves along with Ibn
‘Abbas at the funeral procession of Maimuna at a place called Sarif. Ibn ‘Abbas said, “This is the
wife of the Prophet (pbuh) so when you lift her bier, do not Jerk it or shake it much, but walk smoothly because the Prophet (pbuh) had nine wives and he used to observe the night turns with eight of them, and for one of them there was no night turn.”
This is a mystery.

Bukhari Volume 7, Book 62, Number 6: Narrated Anas: The Prophet (pbuh) used to go to all his wives in one night, and he had nine wives.
But the other hadith just said someone missed a turn.
Bukhari Volume 7, Book 62, Number 7: Narrated Said bin Jubair: Ibn ‘Abbas asked me, “Are you
married?” I replied, “No.” He said, “Marry, for the best person of this (Muslim) nation (i.e.,
Muhammad (pbuh)) of all other Muslims, had the largest number of wives.”

Mahmood bin Rabe narrates, “ I still remember when I was five years old, the Holy Prophet (pbuh) rinsed his mouth and then spat the water into mine”
(Bukhari Kitabul Ilm vol.2, hadith 77).

The (Exalted) Messenger (pbuh) used to visit all nine of his wives every night
(Bukhari, Book of Nikah 3:52).
The Holy Messenger (pbuh) used to go to all of his wives in one hour of the day and night (without taking a bath) and these (wives) were eleven.
The Holy Prophet (pbuh) had the (sexual) power of 30 men (Bukhari, Book of Bath 1:189).

The Prophet (pbuh) said that the best man amongst his followers is the one who has the greatest number of wives (Bukhari, Book of Nikah 3:52).

The Holy Prophet (pbuh) asked, “ Who will buy this slave from me?” Hazrat Naeem bought him for 800 Darham (Bukhari, Kitabul Ikrah p.669).

The sun rises between the two antlers of Satan (Bukhari 2:134).

After the fall of Khyber, people described the beauty of Safia Bint Hui, the new bride of a slain enemy soldier. The Prophet (pbuh) chose her for himself. On the way to Madina he stopped and had intercourse with her. His companions did not know if she was a wife or a concubine. Later, a
veil was drawn between her and the men-folk and they came to know that she was a wife (Bukhari, Book of Sales and Book of Nikah 3:59).

The Prophet (pbuh) said, “ Bad luck, misfortune and doom can exist in a wife, a home and a horse” (Bukhari, Book of Nikah 3:60).
“ After my time, the greatest tribulation for men will be women” (Bukhari, Book of Nikah 3:61).I saw that most of those entering the gate of hellfire were women (Bukhari, Book of Nikah 3:97).

Fitna (tribulation) is in the East (Bukhari, Book of Talaq 3:132).

Aisha said to the Prophet (pbuh), “ Ah! My head is bursting.” He said, “ I wish it did.” Aisha responded: “ You want me to die so that you can spend the next night with another wife” (Bukhari, Book of Medicine, vol.3).

A man inquired, “ We earn income from these bondwomen, (other narratives mention prostitution) so can we do coitus interruptus with them?” The Prophet (pbuh) said, “ There is no sin in doing that” (Bukhari Kitabul Qadr 3:543).

Some people got sick in Madina. The Prophet (pbuh) advised them to drink camel’s urine and milk. After they became well, they killed a shepherd. The Prophet (pbuh) ordered that their hands and feet be chopped off and their eyes enucleated. They were laid on burning sand. When they asked for water it was denied them. So much so that they tasted sand until they died (Bukhari Kitabul Mahrabain and Kitabut Tib p.254).

Seeing a black woman in a dream is the sign of an oncoming epidemic (Bukhari Kitabul Ta’abir).

The Prophet’s (pbuh) wives awoke late one morning. He said, “ Many women who are dressed up in this world will be raised unclothed in the Hereafter” (Bukhari Kitabul Fatan 3:718).

The Prophet (pbuh) used to become very restless and frightened whenever he saw the sky overcast (Bukhari, Beginning of Creation 2:213).

The hellfire complained to Allah, “One part of me is eating the other part.” So, the hellfire was allowed two breaths – one in summer and one in winter. That is how you see the change of seasons (Bukhari, Beginning of Creation 2:231).

Azan, (the call to prayer), puts Satan to flight, expelling gas as he runs away (Bukhari Beginning of Creation 2:237).

Satan rests at night in your noses (Bukhari, Beginning of Creation 2:241).

A rooster sees angels, and a donkey sees Satan (Bukhari, Beginning of Creation 2:213).

Rats are the lost tribe of Israel because they drink not the camel’s milk, but drink goat’ s milk (Bukhari, Beginning of Creation 2:244).

Five animals are sinful, so kill them even in Makkah: rat, scorpion, eagle, crow, and a biting dog (Bukhari, Beginning of Creation 2:245).

The Prophet ordered the killing of dogs (Bukhari, Beginning of Creation 2:247).

Woman was created from the rib so she will always remain crooked. Leave her crooked (Bukhari, Beginning of Creation 2:251).

Maimoona said that she gazed at the Prophet (pbuh) taking a bath after
intercourse, until she saw him wash his private parts (Bukhari, The Book of
Bath 1:193).

If the Prophet (pbuh) wanted to have interc***se with a menstruating wife, he
ordered her to tie a loincloth even though the menstruation would be at its peak. Then he had intercourse. Whoever has concocted this hadith adds a contrary statement: Aisha said, “No one of you has as much control over his desire as the Prophet (pbuh) had!” (Bukhari The Book on Menstruation (1:98, chapter 207).

Abu Hurairah narrates that the Prophet (pbuh) said, “I was praying. Satan came in front of me and tried to force me to break my prayers. Allah gave me control over him and I threw him down. I thought of tying him with a pillar so that you could see him in the morning (Bukhari 1:469, chapter 766).

The Quran says ‘The satan and his tribe can see you from places while you cannot see them’ Surah
7:27.

The Messenger of Allah (pbuh) addressed his wife Safia as “ O’ you bald-headed perished one!” (Bukhari, Kitab Talaq p.143).

Umro bin Maimoon reported, “ I saw a monkey surrounded by a swarm of other monkeys. He had committed adultery with a female monkey. So, all monkeys stoned him to death. I cast stones, too.” A variation of this hadith reports, “ The female monkey had been lying down with a
middle-aged male when a young male came and gestured with his eye. The female slowly pulled
her hand away from under the head of the middle-aged monkey and tiptoed away from him. Thenshe committed adultery with the young monkey. The older monkey got wind of what had happened so he yelled and gathered around him all monkeys in the vicinity. They stoned both
(the adulterers) to death!” (Bukhari 2:261).

More monkey jurisprudence for the Ahlul Sunnah.
When a woman refuses to come to her husband’ s bed, angels curse her until she returns (Bukhari, Book of Nikah p.96).
Hadith #185 narrates that once the Holy Prophet (pbuh) asked for a bowl of water. He washed his hands and face in it. Then he rinsed his mouth in it and after that ordered Abu Musa and Bilal to drink the used water!
The Book of Bath #246: Abu Salma and the brother of Aisha went to Aisha to learn about the bath after sexual interc***se. She procured a container of water and took a bath. There was a veil between them and her.

The Holy Prophet (pbuh) passed a group of women. He said to them, “ Ladies,
give alms, because I have seen you burning in hell in great numbers.”
When the women asked the reason for it, he said:
“ You women curse too much!”
“ You are ungrateful to your husbands.”
“ In spite of being deficient in intellect as well as in religion,
you are capable of prevailing over a man of wisdom; you are a creation
the like of which has never been seen.”
“ Is not the testimony of a woman one half that of a man? This is
the measure of deficiency of your intellect!”
“ And mind you, when a woman has her periods she is not allowed to
pray or to fast. This is the measure of your deficiency in religion.”



Fatimah menjadi murka kepada Abu Bakar. Ia pun bersumpah bahwa sampai ajal menjemputpun, Fatimah tidak mau lagi melihat wajah Abu Bakar.

Umar mencoba membakar rumah Fatimah. Wahai Al Maksum Faimah Az Zahra sikapmu adalah pedoman kami

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang meninggal dan tidak mengenal (berbaiat) imam zamannya maka matinya , terhitung sebagai matinya orang yang dalam keadaan jahiliah.” {Syarkh Maqashid jilid 5 halaman 239, dan Syarkh fighi al-Akbar halaman 179 dan di kitab-kitab lain ahlu sunnah maupun syiah.}

Rasulullah saw berkata kepada sayidah Fatimah (putrinya) : “sesungguhnya Allah swt tidak akan mengadzabmu dan tidak akan mengadzab satupun dari anak-anakmu” {al-Mu’jam al-Kubra jilid 11 halaman 210 dan al-Shawaiq al-Muhriqah halaman 160 dan 235 Serta banyak dari kitab-kitab syiah dan kitab-kitab sunni yang lain.}

Rasulullah saw bersada : “Fatimah adalah bagian dariku siapa yang telah membuatnya marah maka telah membuatku marah” {shahih al-Bukhari hadis ke 3510 dan di seluruh kitab-kitab sunni dan syiah}

Disebutkan di dalam shahih al-Bukhari jilid 5 halaman 177 bahwa sayidah Fatimah setelah meminta warisan Nabi (yang merupakan haknya) dari khalifah pertama dan khalifah tidak memberikan warisan itu, sejak saat itu sayidah Fatimah tidak pernah lagi berbicara kepada Kalifah pertama (Abubakar) samapai akhir hayatnya. hal ini juga disebutkan di banyak dari buku-buku sejarah ulama’ syiah dan sunni.

Juga disebutkan di kitab-kitab ahl sunnah/sunni dan syiah bahwa sayidah Fatimah meninggaldalam keadaan marah kepada khalifah pertama (Abubakar) dan khalifah kedua (Umar). Dan di kitab-kitab sunni dan syiah disebutkan bahwa sayidah Fatimah tidak mau makamnya diketahui oleh masyarakat olehkarena itu beliau meminta suaminya(sayidina Ali ra) untuk mekamkannya di malam hari supaya tidak ada yang mengetahui makamnya. dan sampai sekarang pun tidak ada satupun dari muslimin yang tahu diamana makamnya.

Point-point yang dapat diperhatikan:

* 1. Hadis diatas tentang keutamaan sayidah fatimah adalah shahih/benar karena diriwayatkan hampir di seluruh kitab-kitab syiah dan sunni,

* 2 .Tentang kemarahan sayidah Fatimah kepada khalifah pertama dan kedua juga benar karena perawinya tidak cuma satu atau sepuluh akan tetapi lebih dari itu,

* 3. Hadis tentang “orang yang tidak tahu imam zaman nya maka matinya mati jahiliyah” juga benar karena di sunni maupun syiah ada, dari 3point diatas kita mengetahui bahwa sayidah Fatimah pasti sebelum meninggal pasti berbaiat kepada Imam zamannya karena sayidah Fatimah orang yang pasti masuk sorga maka pasti melakukan perintah Rasulullah saw. dan dari 3point diatas kita dapat mengetahui bahwa sayidah Fatimah tidak menganggap bahwa Abubakar adalah Imam zamannya, dan pasti telah menganggap orang lain sebagai Imamnya. dan ini membuktikan bahwa kekhalifahan Abubakar tidak dibenarkan oleh sayidah Fatimah az-zahra.

Dan kalau kita perhatikan hadis-hadis dibawah ini kita ketahui bahwa siapa yang dianggap sebagai imam oleh sayidah Fatimah.:

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang tidak berkata bahwa Ali adalah sebaik-baik manusia maka telah kafir” {Tarikh al-Khatib al-Baghdadi jilid 3 halaman 192 , Kanz al-Ummal jilid 11 halaman 625} Rasulullah saw bersabda:”jika kalian menjadikan Ali sebagai pemimpin kalian-(dan aku melihat kalian tidak melaksanakannya)-maka kalian akan menemukan bahwa dia(Ali) adalah pemberi petunjuk yang akan menunjukkan kepada kalian jalan yang lurus dan benar.” {musnad ahmad jilid 1 halaman 108}

Rasulullah saw bersabda : “siapa yang menaatiku maka telah menaati Allah swt, dan siapa yang melanggar perintahku maka telah melanggar perintah Allah,dan siapa yang menaati Ali maka telah menaatiku, dan siapa yang telah melanggar perintahnya maka telah melanggar perintahku.” {mustadrak Hakim jilid 3 halaman 121}

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Ali adalah kota hidayah, maka barangsiapa yang masuk ke dalam kota tersebut akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan celaka dan binasa.”

{Yanabi’ al-Mawaddah jilid 1 halaman 220 hadis ke 39}

Benarkah Riwayat Sayyidah Fathimah Marah Kepada Abu Bakar Adalah Idraaj Az Zuhriy?

Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi para nashibi yang tidak henti-hentinya menyelewengkan sejarah demi menjaga kesalahan sebagian sahabat. Sangat masyhur dalam kitab shahih dan sirah bahwa Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar ketika Abu Bakar menolak tuntutannya atas warisan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Disebutkan bahwa Sayyidah Fathimah tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat bahkan disebutkan pula Beliau berwasiat agar dimakamkan pada malam hari sehingga Abu Bakar tidak menshalatkannya.

Nashibi yang risih dengan kabar seperti itu [terutama sangat risih jika kabar itu dijadikan hujjah oleh Syiah] membuat syubhat wat talbiis yang intinya menunjukkan bahwa riwayat marahnya Fathimah pada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari Az Zuhriy maka kedudukannya dhaif. Pernyataan nashibi itu sangat tidak benar dan inilah pembahasannya.

.

Riwayat Shaalih bin Kaisaan Dari Az Zuhriy

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ، أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ، مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahiim bin Sa’d Az Zuhriy dari ayahnya dari Shaalih bin Kaisaan dari Ibnu Syihaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertanya kepada Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah tentang bagian warisannya yang ditinggalkan Rasulullah dari harta fa’i yang dikaruniakan Allah kepada Beliau. Abu Bakar berkata kepadanya “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” maka Fathimah menjadi marah dan ia hidup setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan [Thabaqat Ibnu Sa’ad 8/256-257]

Terlihat jelas dalam riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah adalah bagian dari perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Hal ini juga disebutkan dalam Shahih Bukhari no 3092-3093 dan Sunan Baihaqiy 6/300-301 no 12734.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبِي ، عَنْ صَالِحٍ ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ : أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا ، مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ عَلَيْهَا ذَلِكَ ، وَقَالَ : لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ ، إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ ، وَإِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ ، فَأَمَّا صَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ فَدَفَعَهَا عُمَرُ إِلَى عَلِيٍّ وَعَبَّاسٍ ، فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا عَلِيٌّ ، وَأَمَّا خَيْبَرُ ، وَفَدَكُ ، فَأَمْسَكَهُمَا عُمَرُ ، وَقَالَ : هُمَا صَدَقَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَتَا لِحُقُوقِهِ الَّتِي تَعْرُوهُ ، وَنَوَائِبِهِ ، وَأَمْرُهُمَا إِلَى مَنْ وَلِيَ الْأَمْرَ ، قَالَ : فَهُمَا عَلَى ذَلِكَ الْيَوْمَ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah meminta kepada Abu Bakr setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar membagi untuk-nya bagian harta warisan yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari harta fa’i yang Allah karuniakan kepada beliau. Abu Bakr berkata kepadanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah bersabda “Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan semuanya shadaqah”. Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat. [qaala] dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. [qaala] “Fathimah pernah meminta Abu Bakr bagian dari harta yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berupa tanah di Khaibar dan di Fadak dan shadaqah beliau di Madinah namun Abu Bakr mengabaikannya dan berkata Aku tidak akan meninggalkan sedikitpun sesuatu yang pernah dikerjakan Rasulullah  melainkan akan aku kerjakan. Sungguh aku takut menjadi sesat jika meninggalkan apa yang diperintahkan beliau. Adapun shadaqah beliau di Madinah telah diberikan oleh ‘Umar kepada ‘Ali dan ‘Abbas, sementara tanah di Khaibar dan Fadak telah dipertahankan oleh ‘Umar dan mengatakannya bahwa keduanya adalah shadaqah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang hak-haknya akan diberikan kepada yang mengurus dan mendiaminya sedangkan urusannya berada di bawah keputusan pemimpin”. [qaala] “dan keadaannya tetap seperti itu hingga hari ini” [Musnad Ahmad 1/6 no 25]

Menurut nashibi lafaz “dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” bukan lafaz dari Aisyah mereka berhujjah dengan riwayat Ahmad di atas yang menunjukkan bahwa lafaz tersebut diucapkan setelah lafaz [qaala]. Lafaz qaala berarti perawi laki-laki berkata karena kalau perempuan [Aisyah] lafaznya adalah qaalat. Lafaz [qaala] ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim no 1758 dan Mustakhraj Abu Awanah 4/250 no 6677.

Jika kita menuruti hujjah nashibi bahwa lafaz setelah lafaz [qaala] berarti itu idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah maka itu berarti lafaz sebelum lafaz [qaala] adalah perkataan Aisyah. Maka lafaz

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat

Adalah lafaz perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Maka dengan hujjah nashibi itu sendiri dibuktikan bahwa riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar adalah tsabit dari Aisyah [radiallahu ‘anha]

Tetapi benarkah apa yang dikatakan oleh nashibi bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi laki-laki yang berkata bukan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Untuk melihat lebih jelas maka kita harus memperhatikan satu-persatu riwayat tersebut. Kami mengutip riwayat tersebut hanya dari lafaz hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan karena bagian itu termasuk lafaz Aisyah

Riwayat Ibnu Sa’ad

لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Riwayat Ahmad

” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Muslim

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Abu Awanah

لا نُوَرَّثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Baihaqiy

لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَةً لَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : فَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Bukhariy

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَتْ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتَهُ بِالْمَدِينَةِ

Jika kita perhatikan lafaz riwayat-riwayat di atas terutama pada lafaz yang diawali dengan kata [qaala] maka didapat keterangan

  1. Riwayat marahnya Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal, Baihaqiy dan Bukhariy dimana mereka semua menyebutkan lafaz itu sebagai bagian dari lafaz Aisyah karena terikat dengan lafaz hadis Abu Bakar dan diucapkan sebelum lafaz [qaala] [kecuali riwayat Ibnu Sa’ad yang tidak ada lafaz qaala]`
  2. Riwayat dengan lafaz “Fathimah hidup enam bulan setelah Rasulullah wafat” disebutkan oleh Muslim dan Abu Awanah setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Baihaqiy lafaz tersebut masuk dalam lafaz Aisyah yaitu sebelum lafaz [qaala]
  3. Riwayat dengan lafaz dimana Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah disebutkan Ahmad, Muslim, Abu Awanah dan Baihaqiy setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Bukhariy lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah karena dimulai dengan lafaz [qaalat]

Jika kita menuruti anggapan nashibi bahwa lafaz qaala bermakna perawi laki-laki berkata bukan perkataan Aisyah maka nampak terjadi kekacauan padahal hadis itu berujung pada perawi yang sama. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala itu bermakna perawi hadis melanjutkan hadis perkataan Aisyah, sehingga pada dasarnya lafaz qaala bermakna sama dengan lafaz qaalat. Bukti shahihnya adalah riwayat Bukhari yaitu lafaz “Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah” adalah perkataan Aisyah dengan lafaz qaalat dimana pada riwayat Ahmad, Muslim, Baihaqiy dan Abu Awanah itu disebutkan dengan lafaz qaala.

.

.

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah Dari Az Zuhriy

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823 [riwayat Utsman bin Sa’id Ad Daarimiy] dan Sunan Baihaqi 6/300 no 1273 dan Ad Dalaail Baihaqiy 7/279, Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097 semuanya [riwayat Abul Yamaan] dengan lafaz yang menyebutkan kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan mensibatkannya pada perkataan Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، إِنَّمَا كَانَ يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ هَذَا الْمَالِ يَعْنِي مَالَ اللَّهِ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يَزِيدُوا عَلَى الْمَأْكَلِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أُغَيِّرُ صَدَقَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

‘Aaisyah berkata Lalu Abu Bakr berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad makan dari harta ini – yaitu harta Allah yang tidak ada tambahan bagi mereka selain dari yang dimakan. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan mengubah shadaqah-shadaqah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari keadaan semua yang ada di jaman Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam. Dan sungguh aku memperlakukan shadaqah tersebut seperti yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Maka Abu Bakr enggan memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun pada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr, lalu ia pun meng-hajr-nya dan tidak mengajaknya bicara hingga wafat. Dan Faathimah hidup setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama enam bulan [Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097].

Kemudian disebutkan riwayat Bukhari dalam Tarikh Ash Shaghiir bahwa lafaz “Fathimah hidup setelah wafat Nabi selama enam bulan” diucapkan setelah lafaz [qaala].

حدثنا أبو اليمان انا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير عن عائشة فذكر الحديث قال وعاشت فاطمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ستة أشهر ودفنها علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari Aisyah lalu menyebutkan hadis, [qaala] “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy [Tarikh Ash Shaghiir juz 1 no 116]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Bukhari bahwa perkataan “Fathimah hidup enam bulan” adalah idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah. Hal ini disebabkan lafaz itu diucapkan setelah lafaz [qaala] yang berarti perawi laki-laki berkata.

Sebenarnya dengan hujjah nashibi ini maka lafaz yang diucapkan sebelum lafaz qaala adalah lafaz Aisyah. Jadi dengan hujjah nashibi tersebut lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah perkataan Aisyah.

Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan Nashibi bahwa lafaz “Fathimah hidup selama enam bulan” adalah bukan milik Aisyah tetapi idraaj [sisipan] perawi laki-laki sebelum Aisyah. Ada baiknya diperhatikan riwayat berikut

حدثنا محمد بن عوف حدثنا عثمان بن سعيد حدثنا شعيب بن أبي حمزة عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله ص بعد رسول الله ص ستة اشهر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Sa’iid yang berkata telah menceritakan Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafat Rasulullah selama enam bulan” [Adz Dzuriyat Ath Thaahirah Ad Duulabiy hal 110]

Muhammad bin ‘Auf bin Sufyaan Ath Thaa’iy seorang yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khallal berkata “imam hafizh pada zamannya” [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/121].

أخبرناه أبو الحسين بن الفضل القطان أخبرنا عبد الله بن جعفر حدثنا يعقوب بن سفيان حدثنا أبو اليمان قال أخبرناشعيب قال وأخبرنا الحجاج بن أبي منيع حدثنا جدي جميعا عن الزهري قال حدثنا عروة أن عائشة أخبرته قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله بعد وفاة رسول الله ستة أشهر

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, [Yaqub berkata] dan mengabarkan kepada kami Hajjaaj bin Abi Manii’ yang berkata telah menceritakan kakekku, semuanya dari Az Zuhriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafatnya Rasulullah selama enam bulan” [Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/366]

Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan adalah syaikh alim tsiqat musnad [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/331]. Abdullah bin Ja’far adalah imam ‘allamah tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/532]. Yaqub bin Sufyaan Al Fasawiy seorang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/337]

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ ، ثنا أَبُو زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ ، ثنا أَبُو الْيَمَانِ ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ ، وَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah Ad Dimasyiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah wafat enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ali menguburkannya pada waktu malam” [Hilyatul Auliya 2/42]

Sulaiman bin Ahmad adalah Ath Thabraniy imam hafizh tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/120]. Abu Zur’ah Ad Dimasyiq adalah seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 1/584]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa hadis Utsman bin Sa’id dan Abul Yamaan dari Az Zuhriy menyatakan bahwa lafaz “Fathimah hidup enam bulan” adalah bagian dari lafaz Aisyaah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] yang dibawakan Bukhari itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah bukan idraaj [sisipan] perawi tersebut.

.

.

Riwayat Uqail bin Khaalid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 1/9-10 no 55 dengan matan yang mengandung lafaz Fathimah marah kepada Abu Bakar kemudian diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya no 4240-4241, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 14/573-574 no 6607 dan Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsaar no 143 dengan lafaz Fathimah marah kepada Abu bakar tidak berbicara pada Abu Bakar sampai wafat dan ia hidup enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Berikut lafaz Bukhari

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ، وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Dari ‘Aisyah Bahwa Faathimah [‘alaihassalaam] binti Rasulillah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr untuk meminta kepadanya bagian harta warisan dari Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari harta fai’ di Madinah, Fadak, dan sisa harta khumus Khaibar. Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dengan sanad dari La’its bin Sa’d dari Uqail bahwa lafaz dimana Fathimah tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai wafat terletak setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا ، الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ شَيْئًا ، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Maka Abu Bakar berkata “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya makan dari harta ini. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakar. [qaala]“Ia meng-hajr  Abu Bakr dan tidak berbicara kepadanya hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] ketika ia wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya. [Shahih Muslim no 1759]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Muslim bahwa lafaz Fathimah tidak berbicara pada Abu Bakar, hidup selama enam bulan setelah Nabi wafat dan ketika wafat Ali menguburkannya di waktu malam adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan perkataan Aisyah.

Jika kita menuruti hujjah nashibi di atas itu berarti lafaz sebelum [qaala] adalah perkataan Aisyah maka lafaz “Fathimahpun marah kepada Abu Bakar karenanya” adalah lafaz Aisyah. Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan nashibi bahwa lafaz [qaala] adalah idraaj perawi laki-laki.

أخبرنا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن يحيى ، وأبو الحسين بن يعقوب الحافظ قالا : ثنا أبو العباس محمد بن إسحاق ، ثنا قتيبة بن سعيد ، ثنا الليث ، عن عقيل ، عن الزهري ، عن عروة ، عن عائشة قالت : دفنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ليلا ، دفنها علي ، ولم يشعر بها أبو بكر رضي الله عنه حتى دفنت وصلى عليها علي بن أبي طالب رضي الله عنه

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibrahiim bin Muhammad bin Yahya dan Abu Husain bin Ya’quub Al Haafizh keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Uqail dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah dikuburkan di waktu malam, dikuburkan oleh Aliy dan tidak memberitahu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sampai ia dikuburkan, dan Ali [radiallahu ‘anhu] yang menshalatkannya [Mustadrak Al Hakim no 4764]

Abu Ishaaq Ibrahim bin Muhammad bin Yahya Al Muzakkiy seorang yang dikatakan Al Khatib tsiqat tsabit [Tarikh Baghdad 6/168]. Abul Husain bin Ya’qub Al Hafizh adalah imam hafizh, Al Hakim berkata “ahli ibadah shalih shaduq tsabit” [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/242]. Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq Ats Tsaqafiy adalah imam hafizh tsiqat syaikh islam [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/389]. Qutaibah bin Sa’id adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/27]. Perhatikan riwayat Muslim dengan lafaz

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Telah dibuktikan di atas bahwa bagian terakhir lafaz Muslim yaitu “ketika ia [Sayyidah Fathimah] wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya” adalah perkataan Aisyah padahal lafaz itu disebutkan Muslim setelah lafaz qaala. Disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala dalam riwayat Muslim bukan bermakna idraaj [sisipan] perawi melainkan bermakna perawi berkata melanjutkan perkataan Aisyah. Inilah yang dipahami dengan menyatukan riwayat Al Hakim dan riwayat Muslim dan hal ini bersesuaian dengan riwayat Bukhari, Ibnu Hibban dan Thahawiy yang menjadikan keseluruhan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah.

.

.

Riwayat Ma’mar bin Raasyid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan dalam Mushannaf Abdurrazaaq 5/472-472 no 9774, Tarikh Ath Thabariy no 935, Mustakhraj Abu Awanah no 6679, Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732 dengan jalan sanad dari ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dimana lafaz kemarahan Sayyidah Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “Maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, maka Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini bahwa lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah. Untuk menilai validitas hujjah nashibi ini mari kita perhatikan satu-persatu riwayat tersebut yang mengandung lafaz [qaala]

Riwayat Ath Thabariy [jalan sanad dari Abu Shaalih Ad Dhiraariy dari Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ . وَكَانَ لِعَلِيٍّ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Abu Awanah [dengan jalan sanad dari Adz Dzuhliy, Muhammad bin Aliy Ash Shan’aniy dan Ishaaq Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا وَلَمْ يؤَذِّنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ وَجْهُ حَيَاةِ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Baihaqiy [dengan jalan sanad dari Ahmad bin Manshuur dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قالتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ النَّاسِ وَجْهٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا انْصَرَفَ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ

Riwayat ‘Abdurrazaaq dalam Al Mushannaf

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Perhatikan dalam riwayat Ath Thabariy lafaz Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah bagian dari lafaz [qaala] sedangkan pada riwayat Abu Awanah dan Abdurrazaaq [dalam Al Mushannaf] lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah artinya sama dengan lafaz [qaalat] bukan idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki.

Lantas bagaimana dengan lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar dan dikuburkannya oleh Ali di waktu malam tanpa memberitahu Abu Bakar. Untuk lebih jelasnya silakan perhatikan riwayat berikut

قَالَتْ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ , فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ , فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا , وَلَمْ يُؤْذَنَ بِهَا أَبُو بَكْرٍ , قَالَتْ : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ , فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat dengan lafaz [qaalat] ini disebutkan oleh Abu Bakar Al Marwaziy dalam Musnad Abu Bakar no 38 dan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 1/90 dengan jalan sanad Abu Bakar bin Zanjawaih dari ‘Abdurrazaaq. Abu Bakar bin Zanjawaih seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/107].

Maka riwayat ini menguatkan apa yang kami katakan sebelumnya bahwa lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah sehingga lafaz [qaala] dan [qaalat] adalah sama, tidak ada penyelisihan seperti yang dikatakan oleh nashibi.

Nashibi mengatakan bahwa Abu Bakar bin Zanjawaih menyelisihi jamaah tsiqat dari ‘Abdurrazaq yaitu Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’, Abd bin Humaid, Abu Shalih Adh Dhiraariy, Ahmad bin Manshuur Ar Ramaadiy, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy dan Ishaq bin Ibrahim Ad Dabariy.

Pernyataan nashibi itu patut diberikan catatan, riwayat Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid disebutkan oleh Muslim dalam Shahih-nya secara ringkas tanpa ada penegasan apakah lafaz yang digunakan adalah [qaala] atau [qaalat]. Jika dikatakan ia mengikut riwayat Uqail maka telah berlalu pembahasannya di atas bahwa riwayat Uqail menetapkan kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar sebagai lafaz Aisyah.

Maka tersisalah empat perawi tsiqat yang dikatakan nashibi itu menyelisihi Abu Bakar bin Zanjawaih. Ternyata Abu Bakar bin Zanjawaih tidaklah menyendiri. Perhatikan riwayat berikut

عبد الرزاق، عن معمر، عن عروة، عن عائشة: أن عليا دفن فاطمة ليلا، ولم يؤذن بها أبا بكر

‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6556]

حدثنا إسحاق عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة أن علياً دفن فاطمة ليلاً ولم يؤذن بها أبابكر

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Al Awsath Ibnu Mundzir no 3144].

حدثنا إسحاق بن إبراهيم الدبري عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن عليا دفن فاطمة ليلا

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahim Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Zuhriy dari Urwah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] bahwa Ali menguburkan Fathimah di waktu malam [Mu’jam Al Kabir Thabraniy 22/398]

Ishaaq bin Ibraahim Ad Dabariy termasuk perawi yang meriwayatkan hadis tersebut dengan lafaz [qaala] tetapi ia sendiri menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah. Dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam kitabnya Al Mushannaf menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah padahal ia menuliskan dalam kitabnya lafaz [qaala]. Maka benarlah seperti yang kami katakan bahwa riwayat ‘Abdurrazaaq baik dengan lafaz [qaala] maupun [qaalat] bermakna sama yaitu menetapkan lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]

.

.

.

Sekarang mari kita sederhanakan pembahasan panjang di atas mengenai jalan periwayatan Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah tentang kisah marahnya Fathimah

  1. Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  2. Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  3. Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  4. Riwayat Ma’mar bin Raasyid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]

Kesimpulan dengan mengumpulkan semua riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat adalah perkataan Aisyah bukan idraaj dari Az Zuhriy.

Nashibi berkata bahwa yang menguatkan lafaz tersebut sebagai idraaj Az Zuhriy adalah riwayat Baihaqiy yang memuat lafaz berikut

قَالَ مَعْمَرٌ: قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ: كَمْ مَكَثَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سِتَّةَ أَشْهُرٍ، فقَالَ رَجُلٌ لِلزُّهْرِيِّ: فَلَمْ يُبَايِعْهُ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى مَاتَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا؟، قَالَ: وَلا أَحَدٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Ma’mar berkata Aku bertanya kepada Az-Zuhriy “Berapa lama Faathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]?”. Az-Zuhriy berkata “Enam bulan”. Seorang laki-laki berkata kepada Az-Zuhriy“ Apakah ‘Aliy [radliyallaahu ‘anhu] tidak berbaiat kepadanya [Abu Bakr] hingga Faathimah [radliyallaahu ‘anhaa] wafat?”. Az-Zuhriy berkata “Tidak seorang pun dari Baani Haasyim yang berbaiat” [Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732]

Dan Al Baihaqi berkomentar bahwa lafaz penundaan baiat Ali terhadap Abu Bakar adalah munqathi’ [terputus] karena berasal dari perkataan Az Zuhriy. Maka Nashibi berkata begitu pula dengan lafaz semisal marahnya Fathimah dan pemboikotannya kepada Abu Bakar juga munqathi’ karena berasal dari perkataan Az Zuhriy.

Tentu saja pernyataan ini keliru. Jawaban Az Zuhriy atas pertanyaan Ma’mar ia ucapkan karena ia sendiri telah mendengar dari Urwah hadis Aisyah perihal Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi serta tidak berbaiatnya Ali kepada Abu Bakar sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah dalam kitab Shahih. Jadi statusnya disini adalah perkataan sang perawi [Az Zuhriy] berdasarkan hadis Aisyah yang ia riwayatkan.

Perkataan Ma’mar di atas adalah kutipan Baihaqiy dalam riwayat ‘Abdurrazaaq dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam Al Mushannaf menuliskan bahwa Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi sebagai lafaz Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Pernyataan Fathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan adalah berdasarkan perkataan Aisyah dan Az Zuhriy mengatakannya enam bulan bukan dari pendapatnya sendiri tetapi dari hadis yang ia dengar dan ia riwayatkan. Begitu pula halnya dengan penundaan baiat Ali kepada Abu Bakar berasal dari hadis yang ia dengar. Jadi tidak ada hujjah untuk menjadikan perkataan Az Zuhriy itu sebagai bukti idraaj

.

.

.

Penggunaan Lafaz [qaala] Dalam Hadis ‘Aisyah

Syubhat model seperti ini yaitu [idraaj Az Zuhriy] dengan mengandalkan lafaz [qaala] adalah syubhat khas ala nashibi yang menunjukkan kelemahan dalam ilmu atau gelap mata karena kebencian dan hawa nafsu. Perkara hadis atau atsar dari Aisyah dengan terselip lafaz [qaala] pada hadisnya adalah perkara ma’ruf dalam hadis-hadis Aisyah. Berikut akan kami berikan contohnya.

.

Hadis Pertama

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو المنذر ثنا مالك عن الفضيل بن أبي عبد الله عن عبد الله بن نيار الأسلمي عن عروة عن عائشة ان رجلا اتبع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال اتبعك لأصيب معك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فإنا لا نستعين بمشرك قال فقال له في المرة الثانية تؤمن بالله ورسوله قال نعم فانطلق فتبعه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata tel;ah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik dari Fudhail bin Abi ‘Abdullah dari ‘Abdullah bin Niyaar Al Aslamiy dari Urwah dari Aisyah bahwa seorang laki-laki mengikuti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia berkata “aku ingin mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “tidak”. Beliau berkata “kami tidak meminta bantuan orang musyrik”. [qaala] maka Rasulullah berkata kepadanya pada kedua kalinya “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “Ya”. Rasulullah berkata “pergilah turut berperang” maka ia mengikutinya [Musnad Ahmad 6/67 no 24431 shahih dengan syarat Muslim]

Perhatikan lafaz “qaala faqaala lahuu” yang artinya perawi berkata [qaala] : maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”. Bukankah ini adalah hadis dari Aisyah lantas siapakah yang sedang berkata “maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”, tidak lain itu adalah Aisyah. Tetapi mengapa dipakai lafaz [qaala], apakah itu berarti idraaj dari perawi sebelum Aisyah?. Jelas tidak, lafaz [qaala] menunjukkan bahwa perawi melanjutkan perkataan atau cerita Aisyah. Kisah lebih panjang hadis Aisyah di atas dapat dilihat dalam riwayat berikut

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها قالت خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل بدر فلما كان بحرة الوبرة أدركه رجل قد كان يذكر منه جرأة ونجدة ففرح أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رأوه فلما أدركه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم جئت لأتبعك وأصيب معك قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فارجع فلن أستعين بمشرك قالت ثم مضى حتى إذا كنا بالشجرة أدركه الرجل فقال له كما قال أول مرة فقال له النبي صلى الله عليه وسلم كما قال أول مرة قال فارجع فلن أستعين بمشرك قال ثم رجع فأدركه بالبيداء فقال له كما قال أول مرة تؤمن بالله ورسوله قال نعم فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم فانطلق

Dari ‘Aisyah istri Nabi [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia berkata Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] keluar menuju Perang Badar. Setelah sampai di Harratul Wabarah Beliau ditemui oleh seorang laki-laki yang terkenal pemberani. Maka para shahabat Rasulullah merasa senang ketika melihat laki-laki itu. Setelah dia menemui Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] dia berkata kepada beliau “Saya datang untuk mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah bertanya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”. Dia menjawab “Tidak”. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. Aisyah berkata kemudian laki-laki itu pergi. Setelah sampai di sebuah pohon, Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] ditemui lagi oleh laki-laki itu. Lalu, dia mengatakan seperti apa yang dikatakan sebelumnya. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bertanya seperti apa yang beliau tanyakan sebelumnya. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. [qaala] kemudian laki-laki itu pergi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditemui lagi oleh laki-laki itu di Baidaa’, lalu Beliau bertanya sebagaimana pertanyaan sebelumnya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ?”. Laki-laki itu menjawab “Ya”. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada laki-laki itu “Pergilah turut berperang” [Shahih Muslim no 1817]

Perhatikan lafaz yang kami cetak biru, hadis di atas bersumber dari satu orang yaitu Aisyah tetapi dalam riwayat Muslim lafaz [qaalat] dan [qaala] digunakan dalam penceritaan Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua lafaz tersebut bermakna sama. Dan perhatikan apa yang ditulis Baihaqiy tentang kisah yang sama dalam Sunan Al Kubra 9/63 no 17877

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ بَدْرٍ ، فَلَمَّا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ أَدْرَكَهُ رَجُلٌ قَدْ كَانَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً ، فَفَرِحَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَأَوْهُ ، فَلَمَّا أَدْرَكَهُ ، قَالَ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، جِئْتُ لأَتِّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : لا ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ مَضَى ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّجَرَةُ أَدْرَكَهُ الرَّجُلُ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ رَجَعَ فَأَدْرَكَهُ بِالْبَيْدَاءِ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَانْطَلِقْ “

Baihaqiy menggunakan lafaz [qaala] dalam riwayat di atas padahal dari awal digunakan lafaz [qaalat] atau Aisyah berkata. Kemudian perhatikan lafaz “kemudian laki-laki itu pergi, setelah sampai di sebuah pohon” dalam riwayat Muslim digunakan lafaz [qaalat] tetapi dalam riwayat Baihaqiy digunakan lafaz [qaala]. Disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama. Apakah ini dikatakan idraaj [sisipan] dari perawi?. Tentu mereka yang punya pemahaman akan menjawab tidak, tetapi para nashibi telah dikenal sebagi kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan.

.

.

Hadis Kedua

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْه أَنَّ بَرِيرَةَ جَاءَتْ تَسْتَعِينُهَا فِي كِتَابَتِهَا وَلَمْ تَكُنْ قَضَتْ مِنْ كِتَابَتِهَا شَيْئًا قَالَتْ لَهَا عَائِشَةُ ارْجِعِي إِلَى أَهْلِكِ فَإِنْ أَحَبُّوا أَنْ أَقْضِيَ عَنْكِ كِتَابَتَكِ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لِي فَعَلْتُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ بَرِيرَةُ لِأَهْلِهَا فَأَبَوْا وَقَالُوا إِنْ شَاءَتْ أَنْ تَحْتَسِبَ عَلَيْكِ فَلْتَفْعَلْ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لَنَا فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَاعِي فَأَعْتِقِي فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ شَرَطَ مِائَةَ مَرَّةٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَق.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihaab dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa Barirah datang meminta tolong kepadaku tentang ketetapan dirinya sedang dia belum menerima ketetapan tersebut. Maka ‘Aisyah [radliallahu ‘anha] berkata, kepadanya: “Kembalilah kamu kepada tuanmu. Jika mereka suka aku akan penuhi ketetapanmu dan perwalian kamu ada padaku, maka aku penuhi. Kemudian Barirah menceritakan hal itu kepada tuannya namun mereka menolak dan berkata “Jika dia mau silahkan dia berharap untuk memperolehmu, namun perwalian kamu tetap ada pada kami”. Maka aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Belilah dan bebaskanlah karena perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya”. [qaala] Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan bersabda “Mengapa ada diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabullah. Barangsiapa yang membuat persyaratan yang tidak ada pada Kitab Allah maka tidakberlaku baginya sekalipun dia membuat seratus kali persyaratan. Syarat dari Allah lebih berhak dan lebih kuat [Shahih Bukhari no 2561]

Apakah lafaz [qaala] berarti idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Tentu saja tidak, zahir riwayat menunjukkan bahwa kisah tersebut bersumber dari Aisyah maka lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah. Buktinya dapat dilihat pada riwayat Shahih Bukhari berikut

فَقَالَ خُذِيهَا فَأَعْتِقِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمْ الْوَلَاءَ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَأَيُّمَا شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ فَقَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ مَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَقُولُ أَحَدُهُمْ أَعْتِقْ يَا فُلَانُ وَلِيَ الْوَلَاءُ إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda] “Ambillah dia lalu bebaskanlah dan ajukanlah persyaratan wala’ kepada mereka karena wala’ menjadi milik orang yang membebaskannya”. ‘Aisyah berkata “Maka kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdiri di hadapan manusia lalu memuji Allah dan mengangungkan-Nya kemudian bersabda ‘amma ba’du mengapakah ada orang diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabulloh.  Syarat apa saja yang tidak ada pada Kitab Allah maka dia bathil sekalipun dengan seratus persyaratan. Ketetapan Allah dan syarat dari Allah lebih kuat. Dan apa alasannya orang-orang diantara kalian berkata “Bebaskanlah dia wahai fulan namun perwaliannya tetap milikku”. Sesungguhnya perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya.[Shahih Bukhari no 2563]

.

.

Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ ، ثنا عَبْدَةُ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تَحَجَّرَ كَلْمُ سَعْدٍ بِالنَّزْفِ ، فَدَعَا سَعْدٌ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُجَاهِدَ مِنْ قَوْمٍ كَذَبُوا رَسُولَكَ وَآذَوْهُ وَأَخْرَجُوهُ ، اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ إِنْ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ ، فَإِنْ كُنْتَ أَبْقَيْتَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْئًا فَابْقِنِي لَهُمْ أُجَاهِدْهُمْ فِيكَ ، وَإِنْ كُنْتَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَافْجُرْ بِهَا وَاجْعَلْ مَنِيَّتِي فِيهَا ، قَالَ : فَانْفَجَرَ مِنْ لَيْلَتِهِ فَمَا زَالَ يَسِيلُ حَتَّى مَاتَ

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Hisyaam dari ayahnya dari ‘Aisyah yang berkata “Sa’ad sakit dengan perdarahan, maka Sa’d berdoa “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. [qaala] maka lukanya terus mengalirkan darah sampai ia meninggal. [Musnad ‘Aisyah Ibnu Abi Daud no 66]

Apakah lafaz [qaala] dalam riwayat di atas bermakna idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Jawabannya tidak, riwayat tersebut juga disebutkan Bukhari dalam Shahih-nya yaitu

قَالَ هِشَامٌ فَأَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ سَعْدًا قَالَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ مِنْ قَوْمٍ كَذَّبُوا رَسُولَكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْرَجُوهُ اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ أَنَّكَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَإِنْ كَانَ بَقِيَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْءٌ فَأَبْقِنِي لَهُ حَتَّى أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ وَإِنْ كُنْتَ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فَافْجُرْهَا وَاجْعَلْ مَوْتَتِي فِيهَا فَانْفَجَرَتْ مِنْ لَبَّتِهِ فَلَمْ يَرُعْهُمْ وَفِي الْمَسْجِدِ خَيْمَةٌ مِنْ بَنِي غِفَارٍ إِلَّا الدَّمُ يَسِيلُ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا يَا أَهْلَ الْخَيْمَةِ مَا هَذَا الَّذِي يَأْتِينَا مِنْ قِبَلِكُمْ فَإِذَا سَعْدٌ يَغْذُو جُرْحُهُ دَمًا فَمَاتَ مِنْهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Hisyam berkata Ayahku telah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah bahwa Sa’ad berkata; Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah mengusir beliau. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. Maka memancarlah darah dari dadanya. Dan tidak ada yang mencengangkan mereka saat dimasjid di dalam tenda bani Ghifar, kecuali darah yang mengalir. Mereka berkata “wahai penghuni tenda, apakah yang datang kepada kami ini dari arah kalian?”. Ternyata luka Sa’ad menyemburkan darah lalu dia meninggal karena lukanya itu. Semoga Allah meridlainya. [Shahih Bukhari no 4122]

Riwayat Bukhari di atas menunjukkan dengan jelas bahwa lafaz [qaala] pada riwayat Ibnu Abi Daud sebenarnya masih termasuk bagian dari cerita Aisyah [radiallahu ‘anha]. [qaala] tersebut bermakna perawi melanjutkan cerita atau perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha].

.

.

Hadis Keempat

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيَّ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَبَتَّ طَلَاقَهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ فَجَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَهَا آخِرَ ثَلَاثِ تَطْلِيقَاتٍ فَتَزَوَّجْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا مَعَهُ إِلَّا مِثْلُ الْهُدْبَةِ وَأَخَذَتْ بِهُدْبَةٍ مِنْ جِلْبَابِهَا قَالَ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا فَقَالَ لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَالِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ قَالَ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Syihab yang berkata telah menceritakan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengabarkan kepadanya bahwa Rifa’ah Al Qurazhiy telah menceraikan istrinya, setelah itu istrinya menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, kemudian ia datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aku [Aisyah] berkata wahai Rasulullah, sesungguhnya ia pernah menjadi istri Rifa’ah, kemudian ia menceraikannya dengan talak tiga. Setelah itu, ia menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabir, dan dia, demi Allah sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain yang ini, sambil mengambil ujung jilbabnya. [qaala] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum sambil bersabda “sepertinya kamu ingin kembali kepada Rifa’ah, itu tidak mungkin, sampai Abdurrahman merasakan madumu dan kamu merasakan madunya”. Waktu itu, Abu Bakar sedang duduk di samping Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash duduk di samping pintu, dia tidak di izinkan masuk. [qaala] Maka Khalid menyeru Abu Bakar, kenapa kamu tidak menghardik wanita itu yang berkata dengan keras di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?  [Shahih Muslim no 1433]

Perhatikan lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum dan bersabda”. Apakah lafaz itu berarti idraaj [sisipan] perawi padahal hadis itu adalah kisah yang diceritakan Aisyah. Begitu pula lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Khalid menyeru Abu Bakar”, apakah itu idraaj dari perawi bukan lafaz Aisyah?. Tentu saja tidak, lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama, perhatikan lafaz Bukhari dalam kisah istri Rifa’ah ini yaitu riwayat Aisyah yang sama hanya saja dengan lafaz

قَالَ وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَابْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لِيُؤْذَنَ لَهُ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[qaala] dan Abu Bakar duduk di samping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ibnu Sa’iid bin ‘Aash duduk di depan pintu kamar supaya diizinkan masuk maka Khalid menyeru Abu Bakar “wahai Abu Bakar mengapa kamu tidak menghardik wanita ini yang berkata keras di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 6084]

Bukhari meriwayatkan perkataan Aisyah ini dengan lafaz [qaala] sedangkan Muslim meriwayatkan perkataan Aisyah dengan lafaz [qaalat] silakan perhatikan riwayat berikut

عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةُ رِفَاعَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلَاقِي فَتَزَوَّجْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّ مَا مَعَهُ مِثْلُ هُدْبَةِ الثَّوْبِ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ قَالَتْ وَأَبُو بَكْرٍ عِنْدَهُ وَخَالِدٌ بِالْبَابِ يَنْتَظِرُ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ فَنَادَى يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَسْمَعُ هَذِهِ مَا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah yang berkata suatu ketika istri Rifa’ah menemui Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dia berkata “aku adalah istri Rifa’ah, kemudian dia menceraikanku dengan talak tiga, kemudian aku menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, tapi sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum mendengarnya, dan berkata “Apakah kamu ingin kembali kepada Rifa’ah? itu tidak mungkin, sebelum kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu”. ‘Aisyah berkata dan Abu Bakar berada di samping Rasulullah, sedangkan Khalid berada di pintu sedang menunggu untuk diizinkan, maka dia berseru “Wahai Abu Bakar, apakah kamu tidak mendengar perempuan ini berkata dengan keras di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” [Shahih Muslim no 1433]

Contoh-contoh di atas sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama yaitu bagian dari riwayat Aisyah bukan idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah.

.

.

.

Pembahasan Syubhat Nashibi Atas Kemarahan Sayyidah Fathimah

Selain menyebarkan syubhat pada kedudukan hadis “kemarahan Fathimah”, nashibi juga membuat syubhat untuk mendistorsi makna hadis tersebut. Ia mengatakan kalau kemarahan Fathimah itu bersifat sementara dan manusiawi lantaran kecewa karena penolakan Abu Bakar namun setelah itu Sayyidah Fathimah menerima penjelasan Abu Bakar sebagai bentuk taslim-nya terhadap sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada satu hal yang perlu para pembaca perhatikan nashibi itu mengatakan bahwa kemarahan Sayyidah Fathimah itu terjadi lantaran Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah. Bukankah nampak jelas dalam hadis shahih bahwa alasan penolakan Abu Bakar karena berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Kami tidak mewariskan”. Apakah masuk akal Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar jika Beliau memang mengakui kebenaran hadis tersebut?. Bukankah Ahlul Bait [Sayyidah Fathimah] adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan bukankah Al Qur’an mengatakan

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya [QS An Nisa : 65]

Jika merasa berat hati kepada keputusan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja tidak diperbolehkan maka apalagi menyikapinya dengan marah. Penjelasan yang paling mungkin adalah Sayyidah Fathimah tidak mengakui kebenaran hadis yang disampaikan Abu Bakar. Nashibi itu berhujjah dengan riwayat berikut

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، وَسَمِعْتُهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ جُمَيْعٍ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، قَالَ: لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ فَاطِمَةُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟ قَالَ: فَقَالَ: لَا، بَلْ أَهْلُهُ، قَالَتْ: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ “، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، قَالَتْ: فَأَنْتَ، وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah. Abdullah berkata dan aku mendengarnya [juga] dari ‘Abdullah bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Walid bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat, Fathimah mengirim utusan kepada Abu Bakar yang pesannya “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”. Abu Bakar menjawab “bukan aku tapi keluarganya”. Sayyidah Fathimah berkata “dimana bagian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?”. Abu Bakar berkata “aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya, maka aku berpendapat untuk menyerahkannya kepada kaum muslimin”. Sayyidah Fathimah berkata “engkau dan apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah lebih tahu” [Musnad Ahmad 1/4 no 14, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan perawinya perawi tsiqat perawi Bukhari dan Muslim kecuali Walid bin Jumai’ ia termasuk perawi Muslim]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini tetapi anehnya ia tidak bisa memahami karena memang akalnya tidak punya kemampuan dalam memahami riwayat atau dalam kasus ini adalah tidak paham bahasa manusia. Kalau teman anda mengatakan kepada anda “siapakah yang berhak mewarisi ayahku, engkau atau keluarga ayahku?”. Anda menjawab “tentu saja keluarga ayahmu”. Orang dari sudut bumi manapun jika berpikiran waras akan paham bahwa anda mengakui kalau keluarga teman andalah yang mewarisi ayahnya.

Namun karena pengaruh kebencian dan hawa nafsu ada sekelompok manusia bermental nashibi yang mengalami kekacauan pemahaman terutama dalam hal bahasa yang sederhana. Nashibi itu berkata

Jawaban pertama yang dikatakan Abu Bakr itu terkait hukum umum bahwa jika ada seorang meninggal, maka hartanya diwarisi oleh anak dan keluarganya. Itulah yang nampak pada dialog dalam riwayat Abu Hurairah.

Kelucuan pertama, nashibi ini suka meloncat-loncat dalam memahami suatu riwayat. Bukankah yang sedang ia bahas adalah riwayat Abu Thufail di atas lantas kenapa buru-buru ia meloncat ke riwayat Abu Hurairah. Kita katakan padanya perhatikan terlebih dahulu hadis Abu Thufail yang anda kutip. Sayyidah Fathimah bertanya pada Abu Bakar

: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟

“Engkau yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ataukah keluarganya?”.

Mari perhatikan para pembaca, Apakah Sayyidah Fathimah sedang membicarakan hukum warisan secara umum?. Ooh tidak, Sayyidah Fathimah langsung ke pokok masalahnya yaitu siapa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lantas apa jawaban Abu Bakar

لَا، بَلْ أَهْلُهُ

“tidak, bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya”.

Apakah jawaban Abu Bakar ini tentang hukum waris secara umum?. Ooh tidak, Abu Bakar dengan sharih [tegas] menyatakan bahwa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah keluarganya.

Sekarang kalau kita bicara masalah hukum waris secara umum bahwa yang mewarisi seseorang adalah keluarganya maka kita tanya pada para pembaca berdasarkan dialog Abu Bakar dan Sayyidah Fathimah di atas, apakah hukum waris secara umum dimana seseorang diwarisi keluarganya berlaku pada diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Kita sederhanakan lagi bahasanya, jika hukum waris umum berlaku pada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang akan mewarisi Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja berdasarkan jawaban Abu Bakar “bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya” maka itu berarti hukum waris secara umum juga berlaku atas diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Adapun jawaban kedua diberikan setelah Abu Bakr benar-benar paham akan maksud Faathimah radliyallaahu ‘anhaa yang akan meminta bagian harta warisan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari harta fai’ di Fadak dan Khaibar

Sebenarnya secara tidak langsung nashibi itu sedang merendahkan IQ Abu Bakar yang tidak bisa menangkap maksud pertanyaan Sayyidah Fathimah. Apakah sebelumnya Abu Bakar tidak paham maksud pertanyaan “engkaukah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau keluarganya?”.

Kira-kira lafaz mana sih yang tidak dipahami Abu Bakar. Apakah kata “engkaukah”. Ya sebodoh-bodohnya orang akan paham maksud kata “engkau”. Apakah pada kata “Rasulullah”?. Kalau Abu Bakar tidak paham dengan kata ini mungkin lebih baik ia tidak perlu menyandang gelar sahabat Nabi. Apakah pada kata “keluarganya”?. Kita yakin Abu Bakar itu punya keluarga maka sudah pasti ia paham apa makna keluarga.

Mungkin yang belum dipahami Abu Bakar itu adalah lafaz “mewarisi”, lha kalau memang belum paham ya mbok ditanya lebih jelas bukannya langsung menjawab. Lagipula serumit apakah kata “mewarisi”. Mungkin akan ada yang bersilat lidah bahwa mewarisi itu tidak selalu dinisbatkan pada harta tetapi juga pada ilmu dan hikmah. Tetap saja jawaban Abu Bakar “tidak, bahkan keluarganya yang mewarisinya” merujuk pada mewarisi harta dimana orang yang meninggal hartanya akan diwarisi keluarganya dalam hal ini jika Rasulullah meninggal yang mewarisinya adalah keluarganya. Jadi dari awal Abu Bakar sudah paham makna pertanyaan Sayyidah Fathimah sehingga ia bisa langsung menjawabnya. Sekarang perhatikan pertanyaan Sayyidah Fathimah selanjutnya

: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dimanakah bagian harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”

Pertanyaan Sayyidah Fathimah ini menunjukkan bahwa dalam dialog tersebut Sayyidah Fathimah memahami jawaban Abu Bakar sebelumnya sebagai pengakuan Abu Bakar kalau keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sehingga Beliau langsung bertanya perihal harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apa jawaban Abu Bakar? Inilah dia

: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ

Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi suatu makanan kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya

Kita tanya pada para pembaca, apakah ada bagian dari hadis ini yang menyatakan bahwa Nabi tidak mewariskan atau apa yang Beliau tinggalkan adalah sedekah?. Tidak ada, jadi hadis di atas tidaklah menafikan hak ahli waris Nabi. Intinya jika Allah memberikan bagian makanan kepada Nabi maka jika Nabi wafat yang berhak atas makanan itu adalah orang yang bertugas setelahnya tetapi hal ini tidak lantas menelantarkan ahli waris Beliau sehingga ahli waris-Nya tidak akan mendapat apa-apa. Hukum Allah sangat jelas dalam Al Qur’an dan itulah yang dipahami oleh Sayyidah Fathimah bahwa ahli waris juga berhak atas harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Abu Bakar sendiri yang membawakan hadis di atas mengakui hak ahli waris Nabi.

Sayyidah Fathimah tidaklah menolak hadis Abu Bakar yang ini bahwa “ada hak atau bagian orang yang bertugas setelah Nabi dalam harta milik Nabi”. Dalam pandangan Sayyidah Fathimah ahli waris berhak atas harta Nabi dan berdasarkan hadis Abu Bakar ternyata orang yang bertugas setelah Nabi juga punya hak atas harta milik Nabi. Inilah yang dipahami dalam hadis Abu Thufail.

Hadis Abu Thufail ini berbeda dengan hadis Aisyah dan Abu Hurairah dimana Sayyidah Fathimah meminta warisan Nabi dan Abu Bakar berkata bahwa para Nabi tidak mewariskan, semua yang ditinggalkan adalah sedekah. Kedua hadis yang disampaikan Abu Bakar adalah dua hadis yang berbeda maknanya

Hadis “Nabi tidak mewariskan” menafikan hak ahli waris Nabi maka itu berarti keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini bertentangan dengan pengakuan Abu Bakar sebelumnya dalam hadis Abu Thufail

Hadis “Nabi tidak mewariskan dan semua yang ditinggalkan adalah sedekah” menunjukkan bahwa harta Nabi adalah untuk kaum muslimin dan ini marfu’ dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi pada hadis Abu Bakar riwayat Abu Thufail, yang berhak atas bagian Nabi itu adalah orang yang bertugas setelahnya. Dan Abu Bakar berkata

“، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ،

Maka aku berpendapat atau berpandangan untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin

Nampak bahwa “harta tersebut untuk kaum Muslimin” adalah pendapat atau pandangan Abu Bakar padahal dalam hadis riwayat Aisyah Abu Bakar dengan jelas memarfu’kan itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Kedua hadis yang berbeda menunjukkan bahwa peristiwa yang diriwayatkan Abu Thufail berbeda dengan peristiwa yang diriwayatkan Aisyah. Kisah Abu Thufail terjadi sebelum Kisah Aisyah dengan alasan

  1. Pada riwayat Abu Thufail, Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sangat tidak mungkin kalau hal ini diucapkan setelah Abu Bakar menyatakan Nabi tidak mewariskan
  2. Jika Sayyidah Fathimah telah mendengar hadis Abu Bakar [dalam riwayat Aisyah] maka sangat tidak mungkin Sayyidah Fathimah bertanya kembali pada Abu Bakar “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”.
  3. Dalam kisah Aisyah dinyatakan bahwa Sayyidah Fathimah marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat maka tidak mungkin kisah Aisyah terjadi sebelum kisah Abu Thufail.

Ketiga poin di atas menunjukkan bahwa Kisah Abu Thufail dimana Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terjadi sebelum kisah Aisyah dimana Abu Bakar menyatakan hadis Nabi tidak mewariskan.

Kisah Abu Thufail dan Kisah Aisyah diriwayatkan dengan sanad yang shahih maka yang diperlukan adalah menggabungkan keduanya. Tentu saja penggabungan keduanya tidak dengan seenak perut seperti yang dinyatakan oleh nashibi. Penggabungan tersebut harus dengan dasar yang jelas dan sesuai dengan kedua hadis tersebut.

Penggabungan kedua kisah tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya Sayyidah Fathimah datang kepada Abu Bakar atau mengirim utusan [sebagaimana yang nampak dalam riwayat] dan pada saat itu Abu Bakar mengakui bahwa yang mewarisi Nabi adalah keluarganya hanya saja Abu Bakar menyampaikan hadis bahwa orang yang bertugas setelah Nabi berhak atas bagian [makanan] yang diberikan Allah untuk Nabi. Dan Abu Bakar sendiri berpendapat untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin. Sayyidah Fathimah menerima hal ini tetapi bukan berarti ahli waris Nabi tidak memiliki hak sedikitpun atas harta Nabi maka kali kedua ia meminta kembali warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu riwayat Aisyah.

Pada kali kedua, Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah dengan membawakan hadis “Nabi tidak mewariskan”. Berbeda dengan sebelumnya dimana Sayyidah Fathimah membenarkan hadis Abu Bakar kali ini Sayyidah Fathimah marah dan tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Hal ini disebabkan Sayyidah Fathimah tidak mengakui hadis Nabi tidak mewariskan. Alasannya memang tidak nampak jelas tetapi bisa diperkirakan

  1. Mungkin karena sebelumnya Abu Bakar telah mengakui bahwa keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lantas sekarang Abu Bakar malah menentang perkataannya sendiri
  2. Mungkin karena Sayyidah Fathimah beranggapan hadis tersebut bertentangan dengan hukum waris yang jelas dalam Al Qur’anul Karim dan Beliau sebagai ahlul bait adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan orang yang seharusnya paling mengetahui jika memang ada hadis seperti itu.

Apapun alasannya yang jelas Sayyidah Fathimah menampakkan kemarahan setelah mendengar penjelasan Abu Bakar soal hadis Nabi tidak mewariskan. Mungkin nashibi itu akan berkata kami mendustakan hadis shahih.

Kami jawab : dalam hal ini kami berpegang pada Al Qur’anul Karim dan hadis shahih bahwa ahlul bait adalah pedoman bagi umat termasuk pedoman bagi Abu Bakar. Ditambah lagi dengan hadis kemarahan Fathimah yang adalah kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Intinya kemarahan Fathimah juga termasuk hujjah seperti halnya kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Penafsiran kami dalam hal ini adalah Abu Bakar keliru dalam pendengarannya atau pemahamannya terhadap hadis tersebut tentu kami tidak akan menyatakan bahwa Abu Bakar berdusta atas Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kami menghormati Abu Bakar dan kejujurannya tetapi walaupun begitu Beliau tetap manusia yang bisa salah. Nashibi itu berkata

Mengapa ketika ia mengkritik Abu Bakr ia tidak mengkritik Faathimah ? (o iya lupa, haram hukumnya mengkritik Faathimah, karena ia harus benar apapun keadaannya, dan lawannya harus salah apapun keadaannya). Kritikannya terhadap Abu Bakr secara tidak langsung merendahkan IQ Faathimah yang tidak bisa menangkap unsur manipulasi hadits yang dilakukan Abu Bakr, yang kemudian baru ditangkap oleh orang Raafidlah itu ratusan tahun setelah wafatnya. Sungguh menjijikkan ! Bodoh sekali Faathimah itu menurut logika orang Raafidlah itu.

Bagian mana dari kritikan kepada Abu Bakar yang ia maksud merendahkan IQ Sayyidah Fathimah?. Inilah akibatnya jika kebodohan bercampur dengan kebencian plus hawa nafsu. Jika diri sendiri yang bodoh tolong jangan menisbatkan pada orang lain apa lagi mengandaikannya pada semulia-mulia wanita Sayyidah Fathimah.

Silakan pembaca perhatikan pembahasan kami terhadap riwayat Abu Thufail dan riwayat Aisyah adakah kami menunjukkan atau mengisyaratkan kebodohan Abu Bakar atau Sayyidah Fathimah?. Tidak ada, justru perkataan nashibi itu yang menunjukkan kejahilannya.

Bagaimana mungkin lafaz khusus keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditafsirkan Abu Bakar sedang membicarakan kaidah umum waris bukan untuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Nashibi itu sedang menunjukkan bahwa Abu Bakar jahil atau bodoh dalam bahasa manusia pada umumnya. Jika memang yang dibicarakan kaidah umum maka Abu Bakar akan berkata “seseorang memang diwarisi oleh keluarganya tetapi tidak untuk Rasulullah karena Beliau tidaklah diwarisi apa yang ia tinggalkan adalah sedekah”. Tetapi faktanya dengan jelas Abu Bakar menjawab “tidak bahkan keluarganya yang mewarisinya”.

.

.

Nashibi itu membawakan distorsi makna yang lain yaitu dengan mengatakan bahwa sikap meng-hajr atau berhenti berbicara kepada Abu Bakar bukan berarti berhenti total tetapi tidak berbicara dalam masalah itu hingga wafat. Nashibi itu membawakan sebagian lafaz yang ia pikir dapat mendukung hujjahnya

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Lafaz yang dijadikan hujjah nashibi itu adalah “Falam tukallimhu fii dzalika hatta maatat”. Nashibi mengartikannya sebagai tidak berbicara tentang masalah warisan sampai wafat. “Fii dzalika” diartikan nashibi sebagai “masalah warisan”. Ini termasuk distorsi dalam mengartikan lafaz riwayat.

Lafaz “fii dzalika” dalam kalimat bukan lafaz yang berdiri sendiri melainkan kata ganti yang menerangkan sesuatu hal yang telah disebutkan atau dijelaskan pada kalimat sebelumnya. Terkait dengan hadis riwayat ‘Abdurrazaaq di atas, lafaz “fii dzalik” menerangkan tentang reaksi Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah, reaksi itu berupa penolakan Abu Bakar atas permintaan Fathimah dengan membawakan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi makna yang benar lafaz tersebut adalah “maka dalam hal itu [yaitu penolakan Abu Bakar] Fathimah meng-hajr-nya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat”. Makna ini serupa dengan lafaz “fii dzalika” pada riwayat Uqail dari Az Zuhriy

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Dalam riwayat Uqail di atas terdapat lafaz “Fawajadat Fathimah ‘ala Abu Bakar fii dzalika” yang artinya “maka dalam hal itu Fathimah marah kepada Abu Bakar”. Apakah hal itu atau fii dzalika yang dimaksud? Itu diterangkan dalam kalimat sebelumnya yaitu Abu Bakar menolak memberikan peninggalan Nabi dengan alasan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi “fii dzalika” adalah kata ganti yang menerangkan penolakan Abu Bakar, maka dalam hal penolakan Abu Bakar ini, Fathimah menjadi marah kepadanya, meng-hajr-nya dan tidak berbicara hingga wafat. Itulah makna sebenarnya lafaz “fii dzalik” dalam riwayat Az Zuhriy.

Hal ini menjelaskan mengapa dalam semua riwayat lain dari Az Zuhriy selain sebagian riwayat ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Aliy tidak menyebutkan lafaz “fii dzalika” karena pada dasarnya lafaz tersebut hanya sebagai kata ganti yang menegaskan penolakan Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah.

Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy

، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka Fathimah [alaihis salaam] menjadi marah dan meng-hajr Abu Bakar dan ia terus meng-hajr Abu Bakar sampai ia wafat

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka dalam hal itu Fathimah marah terhadap Abu Bakar meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka dalam hal itu Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar  meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah meng-hajrnya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَت

Maka dalam hal itu Fathimah meng-hajr Abu Bakar tidak berbicara dengannya hingga wafat

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah [radiallahu ‘anha] marah dan meng-hajrnya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat.

Qarinah [petunjuk] lain yang menguatkan lafaz “tidak berbicara dengannya sampai wafat” adalah Sayyidah Fathimah dikuburkan Ali di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar hingga ia dikuburkan. Kalau seandainya hubungan Abu Bakar dengan Fathimah baik-baik saja bahkan dikatakan oleh nashibi terjalin persaudaraan erat maka apa yang mencegah Ali memberitahu Abu Bakar tentang wafatnya Sayyidah Fathimah. Qarinah ini menguatkan lafaz “terus meng-hajr-nya hingga wafat”. Secara umum dalam hidup bermasyarakat saja kalau ada anggota keluarga yang wafat, kita pasti menghubungi keluarga, tetangga, sahabat, saudara dan teman-teman kecuali kalau misalnya ada orang yang menzhalimi keluarga kita maka mungkin kita tidak perlu repot-repot memberitahunya.

.

.

Sayyidah Fathimah tidak menyendiri dalam penolakannya, diriwayatkan dalam kitab Shahih [riwayat Aisyah] bahwa Imam Ali ketika ia berbaiat kepada Abu Bakar setelah Fathimah wafat [enam bulan], Beliau mengakui bahwa ahlul bait berhak akan harta tersebut karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

فَدَخَلَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ فَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَقَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا فَضْلَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبًا

Maka Abu Bakar masuk, Ali mengucapkan syahadat dan berkata “kami mengetahui keutamaanmu dan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, kami tidak dengki terhadap kebaikan yang diberikan Allah kepadamu tetapi kamu telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami, kami berpandangan bahwa kami berhak memperoleh bagian karena kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 4240 & 4241] 

Artinya selepas enam bulan dan setelah mendengar hadis Abu Bakar, Imam Ali masih berpendapat kalau ahlul bait lebih berhak. Kemudian dalam riwayat Malik bin Aus, Imam Ali juga datang kembali ketika Umar menjabat khalifah dan kembali meminta warisan Nabi kepada Umar. Umar berkata

ثم جئتماني جاءني هذا يعني – العباس – يسألني ميراثه من بن أخيه وجاءني هذا – يعني عليا – يسألني ميراث امرأته من أبيها فقلت لكما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لانورث ما تركنا صدقة

Kemudian kalian berdua mendatangiku, datang kepadaku dia yakni Abbas meminta kepadaku warisannya dari putra saudaranya dan dia ini datang kepadaku yakni Ali meminta warisan istrinya dari ayahnya. Maka aku berkata kepada kalian berdua bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” [Mushannaf Abdurrazaq 5/469-470 no 9772 dengan sanad yang shahih]

Hal ini membuktikan bahwa Imam Ali dan Abbas setelah mendengar hadis Abu Bakar mereka tetap meminta warisan Nabi kepada Umar ketika Umar menjabat khalifah, tidak lain ini menunjukkan bahwa Imam Ali dan Abbas tidak mengakui kebenaran hadis Abu Bakar.

.

.

Ada petunjuk lain bahwa hadis Abu Bakar keliru yaitu pada lafaz “apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”. Diriwayatkan dalam kabar shahih bahwa pakaian-pakaian milik Nabi masih disimpan oleh istri Beliau dan tidak disedekahkan kepada kaum muslimin.

حدثنا شيبان بن فروخ حدثنا سليمان بن المغيرة حدثنا حميد عن أبي بردة قال دخلت على عائشة فأخرجت إلينا إزارا غليظا مما يصنع باليمن وكساء من التي يسمونها الملبدة قال فأقسمت بالله إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قبض في هذين الثوبين

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughiirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Humaid dari Abi Burdah yang berkata “aku masuk menemui Aisyah dan ia mengeluarkan kepada kami kain kasar buatan Yaman dan baju yang terbuat dari bahan kasar [Abu Burdah] berkata kemudian ia [Aisyah] bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dengan memakai kedua pakaian ini [Shahih Muslim 3/1649 no 2080]

Nashibi berpanjang-panjang berhujjah membuat pembelaan atau bantahan tetapi pembelaannya gak nyambung. Intinya ia mau mengatakan kalau pakaian adalah nafkah bagi istri maka itu dikecualikan. Tentu saja ini konyol bin naif, jika anda ingin menafkahi istri anda maka anda akan memberikan kepadanya pakaian khusus buat istri anda bukan pakaian yang sering anda pakai. Intinya bagaimana mungkin pakaian Nabi menjadi nafkah buat istri Nabi. Apa anda memberikan nafkah pakaian istri anda dengan memberikan pakaian yang anda pakai kepada istri anda?. Tolong kalau mau membantah yang cerdas sedikit lah, jangan berpanjang-panjang supaya kelihatan keren padahal gak nyambung.

.

.

Dalam masalah Fadak ini kami tidak mempermasalahkan bagaimana Abu Bakar dan Umar memperlakukan harta tersebut. Nampak dalam riwayat shahih bahwa mereka memperlakukan harta tersebut sebagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memperlakukannya. Tetapi yang jadi permasalahan disini adalah bagaimana pandangan Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fathimah terhadap harta tersebut?.

Sekelompok nashibi yang binasa mengatakan bahwa dengan riwayat kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar menunjukkan bahwa Sayyidah Fathimah tamak akan harta warisan. Ini ucapan batil dari orang yang berhati busuk, kami sedikitpun tidak ragu jika harta itu ada di tangan Sayyidah Fathimah atau Imam Aliy maka mereka akan memperlakukannya seperti yang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lakukan. Apa nashibi pikir cuma Abu Bakar dan Umar yang mampu mengurus harta itu seperti halnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?.

Inti permasalahan antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar tidak terletak pada besar kecilnya harta peninggalan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi pada pandangan masing-masing mereka terhadap status harta tersebut. Bagi yang ingin membela Abu Bakar, kami persilakan dan bagi yang ingin membela Sayyidah Fathimah juga kami persilakan. Hal yang menjijikkan adalah ulah nashibi yang berusaha menafikan adanya perselisihan ini dengan berbagai syubhat murahan.

Bagi kami pribadi kebenaran ada pada Sayyidah Fathimah dan pandangan kami ini tegak atas dasar hujjah Al Qur’an dan Al Hadis tidak seperti tuduhan nashibi bahwa kami mendustakan hadis shahih. Jika kami dikatakan mendustakan hadis shahih maka sungguh mereka lebih layak untuk dikatakan mendustakan Al Qur’an dan Hadis. Jika mereka bisa membuat pembelaan maka mengapa kami tidak bisa membuat pembelaan.  Dan tidak ada urusannya pandangan kami ini dengan apa yang diyakini Syiah. Kami menegakkan pandangan kami bukan dengan kitab-kitab Syiah dan tidak pernah pula kami menyatakan bahwa kami ini penganut Syiah yang mewakili mazhab Syiah.

Tentu saja sebagai suatu pandangan maka ia bisa benar ataupun salah. kami tidak keberatan jika ada yang bersedia menunjukkan kesalahan pandangan kami, akan kami pelajari setiap masukan yang tertuju kepada kami dan jika memang salah maka kami akan mengakuinya. Begitu pula jika kami terbukti benar maka kami akan mempertahankan kebenaran tersebut meskipun para nashibi penuduh dan pencela itu tidak suka.

Bagi nashibi mungkin masalah ini terkait dengan khayalan mereka yang jika khayalan tersebut diungkapkan dalam bahasa nashibi akan menjadi kalimat “cuma agama nashibi yang mereka anut yang benar sedangkan agama syiah yang mereka cela adalah sesat dan menyesatkan”.  Begitu terikatnya mereka dengan waham ini sampai-sampai setiap ada pandangan yang menyelisihi mereka dan sependapat dengan Syiah akan mereka tuduh Syiah yang menyesatkan walaupun pandangan tersebut sebenarnya diungkapkan bukan oleh penganut Syiah. Yah di mata para nashibi, perkara ini bukan lagi soal mencari kebenaran tetapi sudah menjadi bagian dari pembenaran atas tuduhan mereka terhadap mazhab Syiah yang selalu mereka cela.

.

.

Kami tutup pembahasan kali ini dengan membawakan riwayat dimana keturunan Aliy bin Abi Thalib yaitu Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib mengakui perselisihan yang terjadi antara Sayyidah Fathimah sampai beliau wafat dengan Abu Bakar.

عبد الرزاق عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم دفنت بالليل قال فر بها علي من ابي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء عبد الرزاق عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك

‘Abdurrazaaq dari Ibnu Juraij dan ‘Amru bin Diinar bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikuburkan Aliy pada malam hari untuk menghindari Abu Bakar menshalatkannya karena diantara mereka berdua ada sesuatu. ‘Abdurrazaaq dari Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti itu kecuali bahwa ia berkata “[Fathimah] telah mewasiatkan kepadanya tentang hal itu”  [Al Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6554-6555]

Riwayat di atas sanadnya shahih hingga Hasan bin Muhammad. Diriwayatkan ‘Abdurrazaaq dengan sanad yaitu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad. Dalam kitab Al Mushannaf tertulis “Ibnu Juraij dan ‘Amru Diinar” ini kemungkinan besar tashif [salah tulis] yang benar adalah “Ibnu Juraij dari ‘Amru bin Diinar” hal ini dikuatkan pada lafaz “bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya”. Frase “nya” disana merujuk pada satu orang maka dia adalah ‘Amru bin Diinar apalagi dikenal bahwa Ibnu Juraij termasuk salah satu murid ‘Amru bin Diinar.

Ibnu Juraij adalah ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Aziz bin Juraij Al Makkiy seorang tsiqat faqih memiliki keutamaan tetapi melakukan tadlis dan irsal [At Taqrib 1/617]. Sufyan bin Uyainah adalah tsiqat hafizh faqih imam hujjah kecuali mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi dari perawi tsiqat, termasuk pemimpin thabaqat kedelapan dan ia orang yang paling tsabit dalam riwayat ‘Amru bin Diinar [At Taqrib 1/371]. ‘Amru bin Diinar Al Makkiy adalah seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/734]. Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib adalah seorang yang tsiqat faqih [At Taqrib 1/210]. Adz Dzahabiy berkata “ia termasuk ulama ahlul bait” [As Siyaar Adz Dzahabiy 4/131]

Menurut Hasan bin Muhammad, Sayyidah Fathimah telah berwasiat kepada Imam Ali agar menguburkannya di waktu malam sehingga Abu Bakar tidak bisa menshalatkannya. Hasan bin Muhammad mengatakan bahwa hal ini terjadi karena antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar terjadi sesuatu, dan itu tidak lain perselisihan masalah warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti yang dijelaskan dalam hadis Aisyah.

Tidak Shahih Abu Bakar Meminta Maaf Pada Sayyidah Fatimah

Abu Bakar Tidak Pernah Meminta Maaf Pada Sayyidah Fatimah AS
Sepertinya kisah Fadak ini masih terus berlanjut untuk dibahas. Kali ini sang penulis yang merasa tahu banyak soal Syiah itu telah membuat tulisan baru. Akhirnya Fatimah Memaafkan Abu Bakar. Sayangnya metode penulisan tetap saja tidak berubah. Beliau tetap berpegang pada riwayat-riwayat yang tidak shahih atau dipertanyakan keshahihannya. Seandainya anda tidak merasa bosan maka kali ini saya kembali akan meluruskan tulisan beliau dalam Situsnya itu
.
Seperti biasa sang penulis menyatakan kesimpulan di bait pertama tulisannya
Fatimah saja mau memaafkan Abubakar tanpa mensyaratkan pengalihan hak tanah fadak pada dirinya, tapi pada hari ini, setelah 14 abad dari peristiwa itu, masih banyak yang mendendam pada Abubakar.
Kesimpulan ini keliru karena tidak ada kabar shahih yang meriwayatkan bahwa Abu Bakar meminta maaf kepada Sayyidah Fatimah AS pasca peristiwa Fadak. Kabar shahih yang ada justru kesaksian Aisyah RA bahwa Sayyidah Fatimah AS tidak pernah berbicara kepada Abu Bakar sampai akhir hayatnya pasca peristiwa Fadak.
Terkadang orang lain membuat kita begitu marah, sehingga dalam hati kita timbul dendam dan ingin melampiaskan dendam itu secepatnya. Bisa jadi dendam itu begitu merasuk sehingga kita tidak bisa menahan emosi ketika melihat orang tadi.
Oleh karena itu kesabaran dan meminta maaf adalah obat yang sangat baik :mrgreen:
Kejadian di atas menimpa sahabat Abubakar, ketika beberapa orang menuduh Aisyah anaknya –yang juga istri Rasulullah- telah berzina, dan salah satu yang menuduh adalah Misthah bin Utsatsah, salah seorang sepupu Abubakar yang miskin dan hidup dari pemberian Abubakar. Ketika itu Abubakar bersumpah untuk tidak memberikan uang lagi pada Misthah. Hal ini wajar dilakukan oleh manusia biasa, yang hatinya terluka ketika Misthah –yang hidup dari uang pemberian Abubakar- ikut-ikutan menuduh Aisyah berzina. Namun Allah sang Maha Pengasih, ingin memberikan pelajaran bagi kaum muslimin tentang akhlak yang mulia, yaitu pemaaf. Lalu turunlah ayat ini menghibur Abubakar, bahwa orang pemaaf akan dimaafkan oleh Allah. Akhirnya Abubakar tetap memberikan nafkah pada sepupunya tadi, karena mengharap ampunan dari Allah.
Sebuah pelajaran dari kisah ini adalah terkadang sahabat-sahabat Nabi(terlepas dari keutamaan Mereka) adalah manusia yang dipengaruhi kecenderungannya sehingga bisa melakukan suatu kekeliruan. Contoh di atas cukup jelas dimana ada beberapa sahabat Nabi yang ikut-ikutan dengan kaum munafik menyebarkan tuduhan terhadap Aisyah RA. Walaupun begitu Akhlak yang ditunjukkan oleh Abu Bakar RA jelas merupakan contoh yang patut di teladani.
Salah satu kisah yang sering diulang-ulang oleh kaum syi’ah –yang ingin membuat black campaign kepada Abubakar – adalah kisah fadak.
Syiah mengulang-ngulang Kisah ini karena kisah ini dalam persepsi mereka adalah bentuk kezaliman terhadap Ahlul Bait. Kebanyakan pihak Sunni justru melah membenarkan apa yang dilakukan Abu Bakar RA. Hal ini yang membuat Syiah mengulang-ngulang pembelaan mereka kepada Ahlul Bait.
Tetapi kita tidak pernah mendengar ustadz syi’ah mengisahkan ending kisah ini, seakan-akan kisah ini hanya berakhir dengan Fatimah yang pulang ke rumahnya dan marah, selesai sampai di sini.
Kabar yang shahih telah jelas menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar selama 6 bulan. Dan itu saya dengar bukan dari ustad Syiah tetapi dari Kitab Shahih Bukhari.
Ternyata masih ada babak episode yang dipotong dan ending dari kisah fadak, tetapi entah mengapa ustadz syi’ah tidak pernah membahasnya.
Mungkin Ustad Syiah itu cukup pintar untuk tidak membahas kisah-kisah yang dhaif, tidak shahih atau dipertanyakan keshahihannya. Entahlah, saya tidak tahu pasti apa sebenarnya yang dipahami oleh Ustad-ustad Syiah. :)
Yang jelas kitab syi’ah sendiri memuat ending dari kisah fadak ini, yaitu dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah yang ditulis oleh Ibnu Abil Hadid pada jilid 1 hal 57, dan Ibnu Al Maitsham pada jilid 5 hal 507, disebutkan :
Saat Fatimah marah Abubakar menemuinya di lain waktu dan memintakan maaf bagi Umar, lalu Fatimah memaafkannya.
Mari kita mengkritisi bagian ini. Apa buktinya kalau Kitab Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid adalah kitab Syiah?. Memang kitab Nahjul Balaghah ditulis oleh Ulama Syiah tapi kitab Syarh Nahjul Balaghah ditulis oleh Ibnu Abil Hadid. Apa buktinya Ibnu Abil Hadid seorang Syiah?. Sejauh yang saya tahu bukti jelas menyatakan bahwa beliau seorang Ulama Mu’tazilah. Apakah anda wahai penulis pernah melihat bahwa Ulama-ulama Syiah menyatakan kesyiahan Ibnu Abil Hadid? Berhentilah membuat tuduhan :mrgreen:
Kemudian, Apakah kitab Syarh Nahjul Balaghah adalah kitab dimana penulisnya menyatakan bahwa semua apa yang ia tulis adalah Shahih?. Setahu saya tidak ada bukti yang menunjukkan kalau Ibnu Abil Hadid menyatakan bahwa Semua riwayat yang ia kutip sebagai shahih. Oleh karena itu riwayat yang anda bawa itu perlu diteliti keshahihannya apalagi dalam Kitab Nahjul Balaghah yang ditulis Ulama Syiah tidak ada riwayat yang anda sebutkan itu. Riwayat itu(kalau memang ada) ditambahkan oleh mereka para Pensyarh Kitab Nahjul Balaghah.
Kemudian, bagaimana kita meneliti keshahihan riwayat tersebut jika anda wahai penulis tidak mencantumkan sanadnya? Atau riwayat tersebut memang tidak bersanad. Kalau begitu riwayat ini masih dipertanyakan keshahihannya. Nah bagaimana bisa anda berpegang pada riwayat yang belum pasti kebenarannya apalagi kalau riwayat tersebut ternyata bertentangan dengan riwayat yang jelas-jelas shahih. :roll:
Fatimah dengan besar hati memaafkan Abubakar, yang telah melaksanakan perintah Rasulullah untuk tidak mewariskan harta peninggalannya pada ahli waris. Abubakar juga tidak menyerahkan fadak kepada Fatimah agar mau memaafkannya, tetapi di sini Fatimah juga tidak menuntut penyerahan tanah fadak sebagai syarat untuk mau memaafkan Abubakar dan Umar. Itulah akhlak putri Nabi yang sejak dini dididik untuk mencintai akherat dan membenci dunia yang fana. Inilah salah satu akhlak kenabian diwarisi Fatimah dari sang ayah.
Akhlak Sayyidah Fatimah AS tidak diragukan lagi adalah akhlak yang mulia seperti yang diajarkan baginda Rasulullah SAW. Sayangnya tidak ada riwayat shahih yang menyatakan kalau Abu Bakar meminta maaf pada Sayyidah Fatimah AS.
Sudah selayaknya kita meniru teladan dari kisah di atas, tidak membawa dendam dalam hati untuk waktu yang lama. Semua yang telah berlalu hendaknya kita maafkan, demi mengharap keridhoan dan ampunan Allah. Siapa yang tidak menginginkan ampunan Allah?
Berhentilah bersikap seolah-olah semua yang anda sampaikan itu benar. Dalam kisah Fadak tidak ada unsur dendam kesumat dan cinta harta dunia yang fana. Perselisihan ini soal kebenaran yang diyakini oleh masing-masing pihak. Sayyidah Fatimah AS adalah sang pedoman bagi manusia sebagaimana yang ditetapkan Rasulullah SAW dalam Hadis Tsaqalain oleh karena itu sikap beliau menandakan penentangannya terhadap apa yang dinyatakan Abu Bakar. Mungkin bagi anda sulit sekali memahami perselisihan ini karena anda dan para Salafy lainnya(maaf kalau saya salah) tidak pernah mau menerima Sabda Rasulullah SAW dalam Hadis Tsaqalain bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam.
Riwayat di atas menguatkan riwayat dari Sunan Baihaqi yang kami nukilkan di salah satu makalah situs ini.
Riwayat Ibnu Abil Hadid yang dipertanyakan keshahihannya menjadi penguat bagi riwayat Baihaqi yang sudah jelas dhaif atau tidak shahih. Sungguh metode yang benar-benar hebat bagi seorang Salafy.
Namun ada penjelasan yang dirasa perlu untuk disampaikan.
Baihaqi meriwayatkan dengan sanad dari Sya’bi ia berkata: Tatkala Fatimah sakit, Abu Bakar menengok dan meminta izin kepadanya, Ali berkata: “Wahai Fatimah ini Abu Bakar minta izin.” Fatimah berkata: “Apakah kau setuju aku mengijinkan ?”, Ali berkata: “Ya.” Maka Fatimah mengijinkan, maka Abu Bakar masuk dan Fatimah memaafkan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Demi Allah saya tidak pernah meninggalkan harta, rumah, keluarga, kerabat kecuali semata-mata karena mencari ridha Allah, Rasulnya dan kalian keluarga Nabi.
Ibnu Katsir berkata: Ini suatu sanad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali. (Al Bidayah Wannihaayah 5/252)
Saya sudah pernah membahas tuntas riwayat ini dalam tulisan Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Hakekat.com. Silakan lihat sekali lagi ;)
Ibnu Hajar mengutip dari Ad Daruquthni bahwa Sya’bi hanya meriwayatkan sebuah hadits dari Ali, hadits itu tercantum dalam shahih Bukhari. Sehingga terkesan bahwa riwayat di atas adalah putus sanadnya karena Sya’bi hanya meriwayatkan sebuah hadits dari Ali. Lalu bagaimana status riwayat ini? Jelas riwayat ini mursal, tetapi riwayat mursal memiliki banyak tingkatan, ini dijelaskan dalam kitab biografi perawi.
Sudah saya nyatakan sebelumnya bahwa riwayat As Sya’bi dari Ali adalah mursal khafi karena seperti yang dinyatakan Daruquthni, Asy Sya’bi hanya meriwayatkan satu hadis dari Ali dalam Shahih Bukhari. Sedangkan riwayat yang dinyatakan Ibnu Katsir itu bukan riwayat dalam Shahih Bukhari. Jadi sudah jelas riwayat tersebut mursal. Hadis mursal adalah dhaif kecuali ada hadis lain dengan sanad yang shahih dan muttasil yang menguatkan riwayat mursal tersebut. Dalam kitab Muqaddimah Ibnu Shalah dapat dilihat bahwa salah satu syarat hadis shahih adalah bersambung sanadnya. 8)
Kita bisa memahami jika orang awam yang belum memperdalam ilmu hadits mempertanyakan riwayat ini.
Begitukah? Apakah orang awam yang belum memperdalam ilmu hadis bisa mempertanyakan riwayat Baihaqi. Bagaimana bisa orang awam tahu kalau riwayat Baihaqi adalah mursal kecuali ia pernah membaca kitab biografi perawi hadis yang menyebutkan kalau Asy Sya’bi lahir jauh setelah Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar wafat. Bagaimana bisa orang awam tahu kalau riwayat Asy Sya’bi dari Ali adalah mursal khafi kecuali ia mempelajari ini dari kitab Musthalah hadis atau membaca Kitab Al Illal Daruquthni atau membaca Fath Al Bari. Justru orang awam lah yang akan terkelabui oleh pengandaian Ibnu Katsir yang berkata Ini suatu sanad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali :mrgreen:
Tapi mestinya dia melihat bagaimana Ibnu Katsir memberi dua kemungkinan, bisa jadi dia mendengar dari Ali atau mendengar dari orang yang mendengar dari Ali, karena Ibnu Katsir menyadari penjelasan ulama bahwa Sya’bi hanya meriwayatkan satu hadits dari Ali bin Abi Thalib.
Dan mestinya anda melihat wahai penulis dengan tingkat kelimuan anda bahwa kedua kemungkinan Ibnu Katsir itu adalah dhaif. Lihat baik-baik
  • Kemungkinan Pertama Asy Sya’bi mendengar dari Ali, sudah jelas mursal khafi sebagaimana yang anda kutip dari Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari. Hadis mursal sudah jelas dhaif kecuali ada hadis lain yang muttasil shahih yang menguatkan riwayat mursal tersebut.
  • Kemungkinan kedua Asy Sya’bi mendengar dari orang yang mendengar dari Ali. Bagaimana mungkin anda menyetujui Ibnu Katsir kalau sanad seperti ini kuat. Sanad seperti ini sudah jelas dhaif karena tidak diketahui siapa perawi yang mendengar dari Ali dan menyampaikan kepada Asy Sya’bi. Bukankah bisa jadi perawi tersebut adalah perawi yang dhaif. :roll:
Kemudian sang penulis tersebut malah berkata
Ibnu Katsir – yang tentunya lebih mengerti hadits dari kita-kita yang awam- mengatakan sanad ini kuat dan bagus, karena Ibnu Katsir telah mempelajari status riwayat Sya’bi dari kitab biografi perawi hadits. Tidak ada salahnya kita yang awam ini membaca langsung terjemahan nukilan dari kitab biografi perawi, agar mendapat gambaran lebih jelas tentang status riwayat dari Sya’bi – yang nama lengkapnya adalah Amir bin Syurahil As Sya’bi-:
Setelah saya mempelajari ini, saya pun terheran-heran dengan Ibnu Katsir yang tentunya lebih mengerti masalah hadis tetapi justru menyatakan sanad yang dhaif sebagai sanad yang kuat. Sepertinya dalam pembahasan yang berkaitan dengan sentimen mahzab telah mempengaruhi seorang Ulama dalam mengambil keputusan. Baik mari kita lihat apa yang akan anda sampaikan wahai penulis
Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan ulama lain mengatakan bahwa Sya’bi adalah tsiqah, Al Ijli mengatakan bahwa Sya’bi meriwayatkan hadits dari empat puluh delapan sahabat, dia lebih tua dari Abu Ishaq dua tahun, dan Abu Ishaq lebih tua dua tahun dari Abdul Malik, dia tidak memursalkan hadits kecuali hampir seluruhnya adalah shahih
Tahdzibut Tahdzib jilid 5 hal 59
Beliau Asy Sya’bi adalah tabiin yang tsiqah. Hal ini sangat jelas dalam Kitab Rijal Hadis. Tetapi permasalahannya bukan terletak pada kredibilitas Asy Sya’bi, jadi anda membuang-buang waktu menuliskan berbagai predikat tsiqat pada Asy Sya’bi
.
Pernyataan Al Ajli cukup relevan untuk dibahas. Seperti yang anda kutip Al Ajli mengatakan bahwa hampir seluruh mursal Asy Sya’bi adalah shahih. Apakah dengan begitu anda memahami bahwa hadis apapun jika Asy Sya’bi berkata Rasulullah SAW bersabda, maka hadis tersebut adalah shahih dengan kesaksian Al Ajli. Kalau iya maka anda benar-benar naif. Seorang Ulama berkata bahwa hadis seseorang yang mursal itu shahih karena dari hadis-hadis mursal yang diriwayatkan orang tersebut ternyata dibenarkan oleh hadis-hadis lain yang shahih dan sanadnya bersambung. Oleh karena itu Ulama tersebut menerima hujjah mursal seseorang
.
Al Ajli bisa jadi mengetahui banyak riwayat mursal Asy Sya’bi dan ternyata setelah ia pelajari ada banyak riwayat shahih lain yang membuktikan kebenaran riwayat mursal Asy Sya’bi. Hal ini mungkin cukup bagi Al Ajli untuk menyatakan hampir seluruh mursal Asy Sya’bi adalah shahih. Tetapi adalah tidak benar menyatakan keshahihan hadis hanya karena Asy Sya’bi yang meriwayatkannya. Hal ini bertentangan dengan kaidah jumhur dalam menetapkan keshahihan hadis seperti yang tertera dalamMuqaddimah Ibnu Shalah.
Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.
Dalam hal ini pernyataan Al Ajli adalah pernyataan yang harus dibuktikan kebenarannya dengan cara melihat semua riwayat mursal Asy Sya’bi dan mencari syawahidnya dari hadis shahih lain yang bersambung sanadnya. Karena bisa jadi Al Ajli tidak mengetahui ada riwayat mursal Asy Sya’bi yang tidak memiliki syawahid dari hadis shahih lain
.
Dengan dasar ini maka saya kembalikan permasalahan ini kepada anda wahai penulis, apakah ada riwayat shahih lain yang mendukung atau menguatkan kebenaran riwayat mursal Asy Sya’bi dalam Sunan Baihaqi yang anda kutip?. Sejauh penelitian saya tidak ada, tetapi mungkin anda lebih tahu dan saya yang awam ini mohon diberikan wejangan :mrgreen:
Pada halaman yang sama Ibnu Hajar menukil ucapan Al Ajurri dari Abu Dawud: mursal dari Sya’bi lebih aku sukai daripada mursal Nakha’i.
Siapapun berhak suka atau tidak suka tetapi itu tidak menjadi sebuah ketetapan bahwa mursal Asy Sya’bi sudah pasti shahih. Kembali pada Buktikan maka saya percaya.
Ditambah lagi dengan riwayat dari Syarah Nahjul Balaghah karya Ibnul Maitsam dan Ibnu Abil Hadid yang menguatkan riwayat ini.
Riwayat yang anda maksud itu masih dipertanyakan keshahihannya jadi tidak bisa menjadi penguat apapun karena riwayat itu sendiri justru lebih membutuhkan penguat dari yang lain.
Allah menyebutkan salah satu sifat golongan muttaqin –orang bertakwa- dalam surat Ali Imran ayat 134, yaitu mereka yang memaafkan kesalahan manusia.
Benar sekali, saya sangat sependapat dengan anda wahai penulis
Tidak layak kita menyimpan dendam dalam hati selama bertahun-tahun, tanyakan pada diri kita apa manfaat yang kita dapat dari menyimpan dendam? Yang kita dapat adalah rasa marah, tidak ada manfaat yang kita dapat. Sebaliknya, maaf dapat membuat hati kita tenang dan lapang, selain itu kita juga mendapat berita gembira dari Allah, apakah kita tidak ingin mendapat ampunan dari Allah?
Benar sekali wahai penulis dan saya tambahkan sangat tidak layak jika kata-kata anda ini ditujukan atas sikap Sayyidah Fatimah AS yang marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar RA sampai akhir hayatnya. Karena ini bukan soal dendam kesumat tetapi soal Kebenaran dan Hukum Allah SWT. :)
Saya tutup tulisan ini dengan Firman Allah SWT
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. (QS. Al Ma’idah 5:8 )

Salam Damai

Kemurkaan Fatimah kepada Abubakar dan Umar yang menyerang rumahnya

Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Dan ketika Muhammad masih kecil, ibunya Aminah binti Wahhab wafat. Padahal sebagaimana umumnya anak-anak tentu Muhammad sedang begitu membutuhkan belaian kasih sayang ayah bundanya.

Dalam kedukaannya sebagai anak kecil yang kehilangan ibu yang mengasihinya, Abu Thalib, Paman Nabi itu mengambil Muhammad untuk tinggal bersamanya. Muhammad di asuk oleh Fatimah binti Asad. Darinya Muhammad memperoleh kasih sayang seorang ibu. Dalam pelukan kasih sayang Fatimah binti Asad itu Muhammad dapat memanggilnya “Wahai Ibunda!”

Setelah Muhammad dewasa, Fatimah binti Asad wafat. Muhammad sangat berduka hatinya. Ketika dalam kedukaan itu,  Allah menganugrahkan seorang putri kepada Muhammad. Setiap kali melihat putrinya itu, Muhammad selalu teringat kepada ibu angkat yang sangat dia kasihi. Maka dengan rasa kasih sayang pula Muhammad menamakan putrinya dengan Fatimah.

Fatimah tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Muhammad sangat menyayanginya. Ketika Fatimah berdiri di mihrabnya, berkas-berkas cahaya merekah menerangi para penghuni langit, sebagaimana cahaya bintang-bintang menerangi bumi. Oleh karena itu kemudian Fatimah diujuluki Az-Zahra oleh ayahandanya.

Muhammad sangat menyayangi Fatimah, sehingga ia berkata, “barang siapa yang menyakiti Fatimah, maka ia menyakiti aku. Fatimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang membuatnya marah, maka ia membuatku marah. Sesungguhnya Allah marah untuk marahnya Fatimah. Dan Allah ridha untuk ridhanya Fatimah.”

Fatimah pun begitu mencintai ayahnya. Berat benar Fatimah menanggung perasaan beban derita yang dialami oleh ayahandanya, Muhammad. Ketika Muhamamd sujud di depan Ka`bah, kaum kafir Quraisy melempari Muhammad dengan tahi dan usus unta. Fatimah tidak rela melihat ayahnya diperlakukan seperti itu, lalu meminta kafir Quraisy itu untuk  berhenti dengan memarahi mereka. Segera Fatimah menghampiri ayahandanya. Dan dengan kasih sayangnya, Fatimah yang masih berusia 9 tahun mengusap wajah ayahadannya yang penuh dengan debu dan kotoran unta. Fatimah menangis untuk ayahnya. “wahai Ayah, apa yang telah mereka lakukan kepadamu?” Fatimah memeluk Muhammad seakan Fatimah adalah Fatimah binti Asad yang ketika masa kanak-kanak Muhammad dahulu, Fatimah senantiasa memeluk Muhammad kala Muhammad merasakan kesedihan. Betapa tidak, Muhammad mencintai putrinya itu, karena Fatimah tidak saja sebagai putrinya yang cantik, pintar dan mulia akhlaknya, tetapi juga bagaikan ibu yang senantiasa menghapus duka laranya.

Sepeninggal Muhammad saw, Fatimah menangung beban derita yang dalam. Tubuhnya ringkih dan sakit-sakitan. Terutama setelah Umar memukul perutnya yang sedang hamil, sehingga Muhsin, bayi yang berada dalam kandungan Fatimah jatuh ke tanah.  Ia pun telah pergi mendatangi Abu Bakar, meminta tanah Fadaq peninggalan ayahandanya sebagai harta warisan baginya. Karena bukan saja karena Fatimah membutuhkan harta warisan itu, tetapi karena seseorang harus mengambil apa yang menjadi haknya.  Tetapi Abu Bakar menolak memberikannya, karena Abu Bakar mengaku bahwa temannya memberi tahu dirinya bahwa temannya itu pernah mendengar  Rasulullah bersabda, “Para nabi itu tidak meninggalkan warisan harta benda. Yang di wariskan para nabi itu hanyalah ilmu.” Tapi Fatimah tidak sependapat dengan Abu bakar. Perselisihan pun terjadi. Tapi Abu Bakar tetap dalam pendiriannya. Fatimah menjadi murka kepada Abu Bakar. Ia pun bersumpah bahwa sampai ajal menjemputpun, Fatimah tidak mau lagi melihat wajah Abu Bakar.

Malam-malamnya dipenuhi dengan doa dan tangisan. Karena seringnya Fatimah menangis, maka orang-orang menggelarinya al-Bahai (yang sering menangis). Tak jarang Fatimah datang ke kubur Muhammad, sambil menangis lalu mengadukan segala soalan hidupnya seakan-akan. “Wahai Rasulullah, ayahandaku! Apakah engkau melihat, apa yang telah dilakukan oleh umatmu terhadap ku?” lalu Fatimah menangis sejadi-jadinya.

Fatimah jatuh sakit. Berita sakitnya Fatimah terdengar oleh Abu Bakar. Lalu Abu Bakar menangis dan berkata, “Sungguh bagiku, keredhaan Fatimah, putri Rasulullah adalah lebih baik bagiku dari pada langit, bumi dan segala isinya.” Lalu Abu Bakar datang menjenguk serta meminta maaf kepada Fatimah.

Dengan kasih sayang, Ali selalu mendampingi Fatimah dalam sakitnya itu. Dengan nada sendu, Fatimah berkata kepada suaminya, “Wahai Putra Pamanku, saat-saat yang kunantikan sudah semakin dekat. Dan jiwaku semakin merunduk. Tidak ada yang kuharapkan selain pertemuan dengan ayahku, Rasulullah.  Dan aku ingin berwasiat kepadamu!”

Dengan lembut, Ali menjawab, “Wasiatkanlah kepadaku, duhai Fatimah, Putri Rasulullah, kekasihku!”

“wahai Putra Pamanku, engkau tidak mendustakan dan tidak mengkhianati janji-janji yang kau ucapkan. Dan aku tidak pernah berpaling dari mu, tidak pula mengkianatimu, sejak kita besama selamanya.” Demikian Fatimah, dengan suaranya yang lemah. Lalu keduanya saling berpegangan, saling berpelukan dan menangis dalam cinta.

“inilah yang ingin aku wasiatkan , Pertama, sepeninggalku engkau nikahilah Umamah binti Abi Al-Ash! Sesungguhnya ia menyayangi anak-anakku seperti aku menyayangi anak-anakku. Kedua, buatkanlah aku keranda untuk mayatku. Dan tanyakan kepada Asma binti Umais tentang bentuk kerandanya. Karena aku telah memberi tahunya tentang bentuk keranda yang aku inginkan, bila aku mati. Tutuplah kerandaku dengan rapat, dikafani dan dibungkus dengan kain lampin yang tebal. Ketiga, kuburkanlah aku di tanah Baqi pada malam hari, tak jauh dari ayahandaku dikuburkan.”

Umamah binti Abi al-Ash adalah Putri Zainab binti Muhammad. Bukanlah hal mudah bagi Ali untuk menjalankan wasiat dari Fatimah. Tapi karena cintanya kepada Fatimah, Ali berjanji untuk melaksanakan semua wasiat itu.

Setelah mendengar suaminya mau berjanji untuk melaksanakan wasiat itu, Fatimah tampak senang dan bercahaya wajahnya. “Wahai Putra Pamanku, sesungguhnya wajah ayahandaku Rasulullah, selalu hadir di pelupuk mataku. Aku rindu bertemu dengannya. Akulah orang pertama yang akan menjumpainya di antara ahli baitnya.”

Fatimah, wanita suci lagi disucikan, pemimpin kaum wanita surga, bunga terindah di dunia dan diakhirat, kini ia gugur layu ke bumi. Ia wafat pada malam selasa bulan ramadhan tahun 11 Hijriah. Semua menangis karena kehilangan wanita yang agung itu. Tapi tidak ada yang dapat dilakukan, datang dan pergi, mendapat dan kehilangan, berjumpa dan berpisah lagi adalah hukum kehidupan yang tak dapat diingkari. Tidak ada jalan lain kecuali merelakannya. Fatimah wafat dalam usia dua puluh sembilan tahun.

Kabar kematian Fatimah segera tersebar luas di Madinah. Orang-orang berdatangan dan berkumpul di rumah Fatimah. Hasan dan Husain menangis dipangkuan ayahandannya Ali,  yang juga tampak bersedih kehilangan.

Kepergian Fatmah Az-Zahra diiringi tangisan pilu seluruh kaum muslimin yang mengantarkan ke pemakaman dengan diliputi duka yang mendalam. Ali menyalatinya, dan iapun turun ke dalam liang lahat, berdiri pada bagian kepala Fatimah, mengantarnya dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan kesedihan hadirin. Maka, jenazah yang suci dan wangi itupun dikuburkan

.

Disebutkan dalam shahih Bukhori dalam kitab Bada’ al-Khalq di bab Manaqib qarabatu Rasulillah saw bahwa Rasulullah saw bersabda : ” Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membikin marah dia maka telah membuatku marah” hadis seperti ini juga di riwayatkan dalam kitab Kanz Al-Ummal jilid 6 halaman 230. Disebutkan juga dalam kitab shahih Bukhori dalam kitab Al-Nikah disebutkan juga dalam kitab Musnad Ahmad jilid 4 halaman 328

.
Disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di dalam bab Fadhail as-Shahabah.
Disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di al-Bab al-Mutaqadim.
Disebutkan juga dalam kitab shahih at-Tirmidzi jilid 2 halaman 319.
disebutkan juga dalam kitab al-Mustadrak ala al-Shahihain jilid 3 halaman 158

.
Disebutkan juga dalam kitab Hilah al-Auliya’ jilid 2 halaman 40 hadis diatas disebutkan dalam alur yang berbeda di dalam kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.” hadis-hadis tentang kemuliaan sayidah Fatimah as dimuat di seluruh buku-buku ulama’ sunni yang mu’tabar dan penting. Sayidah Fatimah adalah kecintaan Nabi saw, kecintaan Nabi saw adalah kecintaan Allah swt. disebutkan didalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Disebutkan dalam kitab الوافی بالوفیات jilid 2 halaman 17 bahwa ابراهیم ابن سیار النظام berkata bahwa sesungguhnya Umar ibn khattab (khalifah kedua) telah memukul perut sayidah Fatimah as (yang dalam keadaan hamil) di hari baiat (hari dimana masyarakat dipaksa untuk berbaiat kepada Abubakar) sampai Muhsin (anak yang dikandungnya) keluar dari perutnya jatuh ketanah

.

Disebutkan juga dalam kitab الامامة و السیاسة jilid 1 halaman 12 bahwa IBn Qutaibah Ad-Dainuri berkata : sesungguhnya Abubakar mencari sekelompok orang untuk berbaiat kepadanya yang mana sekelompok tersebut berada di rumah sayidina Ali as maka Abu bakar mengirim Umar, datanglah Umar ke rumah sayidina Ali as dan dia memanggil mereka semua yang berada di dalam rumah sayidina Ali as, akan tetapi mereka semua tidak ada yang menjawab teriakan Umar, dan tidak ada satupun yang keluar, maka Umar untuk kedua kalinya dengan membawa kayu bakar yang ada di tangannya dia berteriak : “demi yang jiwaku berada di tangannya kalian semua akan keluar atau aku bakar rumah ini beserta yang berada didalamnya.” satu orang dari dalam rumah berkata kepada Umar : “wahai ayahnya Hafsah sesungguhnya Fatimah berada di dalam rumah ini.”

Umar berkata :”walaupun dia ada” (aku akan tetap membakar rumah ini). kejadian ini juga dimuat di dalam kitab العقد الفرید jilid 4 halaman 259 cetakan mesir dengan alur yang sedikit berbeda.. di dalam kitab کنز العمال jilid 3 halaman 140 bahwa umar berkata keada sayidah Fatimah as: “tidak ada orang yang lebih dicintai oleh ayahmu lebih daripada cintanya kepadamu, akan tetapi ini tidak akan mencegahku, sebagaimana sekelompok orang ini yang telah berkumpul di dekatmu, aku akan memerintah mereka untuk membakar rumahmu.”

Orang-orang yang menyerang rumah putri Nabi saw itu disebutkan di dalam kitab تاریخ الطبری jilid 2 halaman 443-444. kejadian juga disebutkan dalam kitab تاریخ ابوالغداء jilid 1 halaman 156 dengan alur yang sedikit berbeda yaitu Abubakar menyuruh Umar untuk mengambil baiat dari orang-orang yang berada di dalam rumah sayidina Ali, dan jika mereka menolak maka perintah berikutnya adalah Umar harus menyerang mereka, dan Umar membakar rumah sayidah Fatimah as..

Disebutkan di kitab2 sejarah bahwa sayidah Fatimah mulai saat itu sampai meninggal tidak mau berbicara kepada Abubakar dan Umar dan juga tidak Ridha atas perbuatan mereka, serta marah atas apa yang mereka lakukan kepadanya dan sayidina Ali as.. disebutkan juga didalam kitab sejarah bahwa sayidah Fatimah setiap selesai sholat selalu mengadu kepada Allah swt atas perbuatan mereka….
disebutkan juga dalam kitab-kitab sejarah bahwa Fatimah a.s berkata kepada Khalifah pertama dan kedua: “Jika aku membacakan hadis dari Rasulullah SAWW apakah kalian akan mengamalkannya?”

“Ya”, jawab mereka singkat.

Ia melanjutkan: “Demi Allah, apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku dan kemurkaannya kemurkaanku. Barang siapa mencintai Fathimah putriku, maka ia telah mencintaiku, barang siapa yang membuatnya rela, maka ia telah membuatku rela, dan barang siapa membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka”?

“Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah SAWW”, jawab mereka pendek.

“Kujadikan Allah dan malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka. Jika aku kelak berjumpa dengan Rasulullah, niscaya aku akan mengadukan kalian kepadanya”, lanjutnya.

Di kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.”

Disebutkan di dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Kesalahan Nashibi Perihal Idraaj Dalam Hadis Aisyah Berlafaz Qaala

Kami membuat tulisan ini khusus untuk meluruskan penyimpangan ilmu hadis ala nashibi perihal idraaj dalam hadis Aisyah yaitu hadis-hadis Aisyah yang mengandung lafaz [qaala]. Pada kasus sebelumnya, nashibi berhujjah dengan riwayat Aisyah dalam Tarikh Ash Shaghiir Al Bukhariy

حدثنا أبو اليمان انا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير عن عائشة فذكر الحديث قال وعاشت فاطمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ستة أشهر ودفنها علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari Aisyah lalu menyebutkan hadis, [qaala] “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy [Tarikh Ash Shaghiir juz 1 no 116]

Menurut nashibi lafaz [qaala] disana adalah idraaj dan riwayat ini ia katakan menjadi bukti nyata bahwa lafaz “Fathimah hidup enam bulan” adalah idraaj Az Zuhriy. Kami katakan bahwa ini kesalahan menyedihkan dan kami tidak habis pikir bagaimana kesalahan ini bisa muncul dari orang yang sudah akrab dengan ilmu hadis. Lafaz [qaala] pada riwayat di atas bukan bermakna idraaj [sisipan perawi] tetapi bermakna perawi berkata melanjutkan perkataan Aisyah atau perawi berkata dengan membawakan perkataan Aisyah.

Kami akan membawakan salah satu contoh penulisan atau peringkasan hadis Aisyah yang mengandung lafaz [qaala].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق أنا بن جريج قال أخبرت عن بن شهاب عن عروة عن عائشة أنها قالت وهي تذكر شأن خيبر كان النبي صلى الله عليه و سلم يبعث بن رواحة إلى اليهود فيخرص عليهم النخل حين يطيب قبل أن يؤكل منه ثم يخيرون يهود أيأخذونه بذلك الخرص أم يدفعونه إليهم بذلك وإنما كان أمر النبي صلى الله عليه و سلم بالخرص لكي يحصى الزكاة قبل أن تؤكل الثمرة وتفرق

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij yang berkata telah diberik kabar dari Ibnu Syihaab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya ia berkata dan ia bercerita tentang kisah Khaibar “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus Ibnu Rawaahah kepada orang-orang yahudi untuk menaksir kurma ketika telah layak panen sebelum dimakan kemudian orang-orang yahudi itu diberi pilihan, apakah mereka mengambil bagiannya dengan takaran yang ditetapkan atau membayar kepada mereka atas bagiannya. Sesungguhnya hanyalah perintah Nabi untuk menaksir kurma agar dapat dihitung pengeluaran zakatnya sebelum dimakan buahnya dan dibagi-bagikan [Musnad Ahmad 6/163 no 25344]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن بكر أنا بن جريج عن بن شهاب أنه بلغه عنه عن عروة عن عائشة أنها قالت وهي تذكر شأن خيبر فذكر الحديث إلا أنه قال حين يطيب أول التمر وقال قبل أن تؤكل الثمار

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Syihaab bahwasanya telah sampai kepadanya dari Urwah dari Aisyah bahwa ia berkata dan ia bercerita tentang kejadian khaibar, kemudian menyebutkan hadisnya, hanya saja ia berkata “ketika awal panen kurma” dan berkata “sebelum dimakan buahnya” [Musnad Ahmad 6/163 no 2545]

Apakah beradasarkan riwayat Ahmad di atas maka kita katakan lafaz “Hiina yathiibu awwalut tamri” [yang dicetak merah] adalah idraaj dari Az Zuhriy karena diawali dengan lafaz [qaala] yang berarti perawi laki-laki berkata?. Jawabannya tidak, lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah inilah salah satu riwayat lengkap yang memuat lafaz tersebut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ صَاعِدٍ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ زَنْجُوَيْهِ , ثنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , ثنا ابْنُ جُرَيْجٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ وَهِيَ تَذْكُرُ شَأْنَ خَيْبَرَ , وَقَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ بِابْنِ رَوَاحَةَ إِلَى الْيَهُودِ فَيَخْرُصُ النَّخْلَ حِينَ تَطِيبُ أَوَّلَ التَّمْرَةِ قَبْلَ أَنْ يُؤْكَلَ مِنْهَا ثُمَّ يُخْبِرُ يَهُودَ يَأْخُذُونَهَا بِذَلِكَ الْخَرْصِ  أَوْ يَدْفَعُونَهُ إِلَيْهِمْ بِذَلِكَ الْخَرْصِ , وَإِنَّمَا كَانَ أَمْرُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَرْصِ لِكَيْ تُحْصَى الزَّكَاةُ قَبْلَ أَنْ تُؤْكَلَ الثِّمَارُ وَتَفَرَّقَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar An Naisaburiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya. Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Shaa’idin yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Zanjuwaih yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwasanya ia berkata dan ia menceritakan kejadian Khaibar. Aisyah berkata “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus Ibnu Rawahah kepada orang-orang yahudi untuk menaksir kurma ketika awal panen kurma sebelum dimakan kemudian orang-orang yahudi itu diberi pilihan, apakah mereka mengambil bagiannya dengan takaran yang ditetapkan atau membayar kepada mereka atas bagiannya. Sesungguhnya hanyalah perintah Nabi untuk menaksir kurma agar dapat dihitung pengeluaran zakatnya sebelum dimakan buahnya dan dibagi-bagikan [Sunan Daruquthniy 3/52 no 2052]

Jadi apa makna [qaala] dalam riwayat Ahmad sebelumnya?. Lafaz qaala disana bermakna perawi berkata dalam hadisnya yaitu perkataan Aisyah “ketika awal panen kurma”. Begitu pula dengan riwayat Bukhari dalam Tarikh As Shaghiir sebelumnya, lafaz qaala disana bermakna perawi berkata daam hadisnya yaitu perkataan Aisyah “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy”. Kami telah membawakan bukti-bukti berupa riwayat dimana lafaz tersebut diawali dengan kata [qaalat] yang berarti Aisyah berkata.

Hal ini cukup untuk membungkam syubhat menyedihkan para nashibi, tetapi sepertinya nashibi tersebut tetap tidak akan menerimanya. Sungguh jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang mencari kebenaran dan siapa yang mencari pembenaran terhadap hawa nafsu dan kebenciannya.

Hanya ini sajian ringkas yang dapat kami tuliskan untuk meluruskan penyimpangan ilmu hadis ala nashibi perihal idraaj dalam hadis Aisyah. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Wassalam

Benarkah Riwayat Sayyidah Fathimah Marah Kepada Abu Bakar Adalah Idraaj Az Zuhriy?

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang meninggal dan tidak mengenal (berbaiat) imam zamannya maka matinya , terhitung sebagai matinya orang yang dalam keadaan jahiliah.” {Syarkh Maqashid jilid 5 halaman 239, dan Syarkh fighi al-Akbar halaman 179 dan di kitab-kitab lain ahlu sunnah maupun syiah.}

Rasulullah saw berkata kepada sayidah Fatimah (putrinya) : “sesungguhnya Allah swt tidak akan mengadzabmu dan tidak akan mengadzab satupun dari anak-anakmu”{al-Mu’jam al-Kubra jilid 11 halaman 210 dan al-Shawaiq al-Muhriqah halaman 160 dan 235 Serta banyak dari kitab-kitab syiah dan kitab-kitab sunni yang lain.}

Rasulullah saw bersada : “Fatimah adalah bagian dariku siapa yang telah membuatnya marah maka telah membuatku marah” {shahih al-Bukhari hadis ke 3510 dan di seluruh kitab-kitab sunni dan syiah}

.

Disebutkan di dalam shahih al-Bukhari jilid 5 halaman 177 bahwa sayidah Fatimah setelah meminta warisan Nabi (yang merupakan haknya) dari khalifah pertama dan khalifah tidak memberikan warisan itu, sejak saat itu sayidah Fatimah tidak pernah lagi berbicara kepada Kalifah pertama (Abubakar) samapai akhir hayatnya. hal ini juga disebutkan di banyak dari buku-buku sejarah ulama’ syiah dan sunni.

Juga disebutkan di kitab-kitab ahl sunnah/sunni dan syiah bahwa sayidah Fatimah meninggaldalam keadaan marah kepada khalifah pertama (Abubakar) dan khalifah kedua (Umar). Dan di kitab-kitab sunni dan syiah disebutkan bahwa sayidah Fatimah tidak mau makamnya diketahui oleh masyarakat olehkarena itu beliau meminta suaminya(sayidina Ali ra) untuk memakamkannya di malam hari supaya tidak ada yang mengetahui makamnya. dan sampai sekarang pun tidak ada satupun dari muslimin yang tahu diamana makamnya.

.

Point-point yang dapat diperhatikan:

* 1. Hadis diatas tentang keutamaan sayidah fatimah adalah shahih/benar karena diriwayatkan hampir di seluruh kitab-kitab syiah dan sunni,

* 2 .Tentang kemarahan sayidah Fatimah kepada khalifah pertama dan kedua juga benar karena perawinya tidak cuma satu atau sepuluh akan tetapi lebih dari itu,

* 3. Hadis tentang “orang yang tidak tahu imam zaman nya maka matinya mati jahiliyah” juga benar karena di sunni maupun syiah ada, dari 3point diatas kita mengetahui bahwa sayidah Fatimah pasti sebelum meninggal pasti berbaiat kepada Imam zamannya karena sayidah Fatimah orang yang pasti masuk sorga maka pasti melakukan perintah Rasulullah saw. dan dari 3point diatas kita dapat mengetahui bahwa sayidah Fatimah tidak menganggap bahwa Abubakar adalah Imam zamannya, dan pasti telah menganggap orang lain sebagai Imamnya. dan ini membuktikan bahwa kekhalifahan Abubakar tidak dibenarkan oleh sayidah Fatimah az-zahra.

Dan kalau kita perhatikan hadis-hadis dibawah ini kita ketahui bahwa siapa yang dianggap sebagai imam oleh sayidah Fatimah.:

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang tidak berkata bahwa Ali adalah sebaik-baik manusia maka telah kafir” {Tarikh al-Khatib al-Baghdadi jilid 3 halaman 192 , Kanz al-Ummal jilid 11 halaman 625} Rasulullah saw bersabda:”jika kalian menjadikan Ali sebagai pemimpin kalian-(dan aku melihat kalian tidak melaksanakannya)-maka kalian akan menemukan bahwa dia(Ali) adalah pemberi petunjuk yang akan menunjukkan kepada kalian jalan yang lurus dan benar.” {musnad ahmad jilid 1 halaman 108}

Rasulullah saw bersabda : “siapa yang menaatiku maka telah menaati Allah swt, dan siapa yang melanggar perintahku maka telah melanggar perintah Allah,dan siapa yang menaati Ali maka telah menaatiku, dan siapa yang telah melanggar perintahnya maka telah melanggar perintahku.” {mustadrak Hakim jilid 3 halaman 121}

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Ali adalah kota hidayah, maka barangsiapa yang masuk ke dalam kota tersebut akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan celaka dan binasa.”

{Yanabi’ al-Mawaddah jilid 1 halaman 220 hadis ke 39}

Benarkah Riwayat Sayyidah Fathimah Marah Kepada Abu Bakar Adalah Idraaj Az Zuhriy?

Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi para nashibi yang tidak henti-hentinya menyelewengkan sejarah demi menjaga kesalahan sebagian sahabat. Sangat masyhur dalam kitab shahih dan sirah bahwa Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar ketika Abu Bakar menolak tuntutannya atas warisan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Disebutkan bahwa Sayyidah Fathimah tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat bahkan disebutkan pula Beliau berwasiat agar dimakamkan pada malam hari sehingga Abu Bakar tidak menshalatkannya.

Nashibi yang risih dengan kabar seperti itu [terutama sangat risih jika kabar itu dijadikan hujjah oleh Syiah] membuat syubhat wat talbiis yang intinya menunjukkan bahwa riwayat marahnya Fathimah pada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari Az Zuhriy maka kedudukannya dhaif. Pernyataan nashibi itu sangat tidak benar dan inilah pembahasannya.

.

Riwayat Shaalih bin Kaisaan Dari Az Zuhriy

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ، أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ، مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahiim bin Sa’d Az Zuhriy dari ayahnya dari Shaalih bin Kaisaan dari Ibnu Syihaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertanya kepada Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah tentang bagian warisannya yang ditinggalkan Rasulullah dari harta fa’i yang dikaruniakan Allah kepada Beliau. Abu Bakar berkata kepadanya “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” maka Fathimah menjadi marah dan ia hidup setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan [Thabaqat Ibnu Sa’ad 8/256-257]

Terlihat jelas dalam riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah adalah bagian dari perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Hal ini juga disebutkan dalam Shahih Bukhari no 3092-3093 dan Sunan Baihaqiy 6/300-301 no 12734.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبِي ، عَنْ صَالِحٍ ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ : أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا ، مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ عَلَيْهَا ذَلِكَ ، وَقَالَ : لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ ، إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ ، وَإِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ ، فَأَمَّا صَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ فَدَفَعَهَا عُمَرُ إِلَى عَلِيٍّ وَعَبَّاسٍ ، فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا عَلِيٌّ ، وَأَمَّا خَيْبَرُ ، وَفَدَكُ ، فَأَمْسَكَهُمَا عُمَرُ ، وَقَالَ : هُمَا صَدَقَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَتَا لِحُقُوقِهِ الَّتِي تَعْرُوهُ ، وَنَوَائِبِهِ ، وَأَمْرُهُمَا إِلَى مَنْ وَلِيَ الْأَمْرَ ، قَالَ : فَهُمَا عَلَى ذَلِكَ الْيَوْمَ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah meminta kepada Abu Bakr setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar membagi untuk-nya bagian harta warisan yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari harta fa’i yang Allah karuniakan kepada beliau. Abu Bakr berkata kepadanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah bersabda “Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan semuanya shadaqah”. Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat. [qaala] dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. [qaala] “Fathimah pernah meminta Abu Bakr bagian dari harta yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berupa tanah di Khaibar dan di Fadak dan shadaqah beliau di Madinah namun Abu Bakr mengabaikannya dan berkata Aku tidak akan meninggalkan sedikitpun sesuatu yang pernah dikerjakan Rasulullah  melainkan akan aku kerjakan. Sungguh aku takut menjadi sesat jika meninggalkan apa yang diperintahkan beliau. Adapun shadaqah beliau di Madinah telah diberikan oleh ‘Umar kepada ‘Ali dan ‘Abbas, sementara tanah di Khaibar dan Fadak telah dipertahankan oleh ‘Umar dan mengatakannya bahwa keduanya adalah shadaqah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang hak-haknya akan diberikan kepada yang mengurus dan mendiaminya sedangkan urusannya berada di bawah keputusan pemimpin”. [qaala] “dan keadaannya tetap seperti itu hingga hari ini” [Musnad Ahmad 1/6 no 25]

Menurut nashibi lafaz “dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” bukan lafaz dari Aisyah mereka berhujjah dengan riwayat Ahmad di atas yang menunjukkan bahwa lafaz tersebut diucapkan setelah lafaz [qaala]. Lafaz qaala berarti perawi laki-laki berkata karena kalau perempuan [Aisyah] lafaznya adalah qaalat. Lafaz [qaala] ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim no 1758 dan Mustakhraj Abu Awanah 4/250 no 6677.

Jika kita menuruti hujjah nashibi bahwa lafaz setelah lafaz [qaala] berarti itu idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah maka itu berarti lafaz sebelum lafaz [qaala] adalah perkataan Aisyah. Maka lafaz

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat

Adalah lafaz perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Maka dengan hujjah nashibi itu sendiri dibuktikan bahwa riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar adalah tsabit dari Aisyah [radiallahu ‘anha]

Tetapi benarkah apa yang dikatakan oleh nashibi bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi laki-laki yang berkata bukan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Untuk melihat lebih jelas maka kita harus memperhatikan satu-persatu riwayat tersebut. Kami mengutip riwayat tersebut hanya dari lafaz hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan karena bagian itu termasuk lafaz Aisyah

Riwayat Ibnu Sa’ad

لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Riwayat Ahmad

” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Muslim

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Abu Awanah

لا نُوَرَّثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Baihaqiy

لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَةً لَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : فَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Bukhariy

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَتْ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتَهُ بِالْمَدِينَةِ

Jika kita perhatikan lafaz riwayat-riwayat di atas terutama pada lafaz yang diawali dengan kata [qaala] maka didapat keterangan

  1. Riwayat marahnya Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal, Baihaqiy dan Bukhariy dimana mereka semua menyebutkan lafaz itu sebagai bagian dari lafaz Aisyah karena terikat dengan lafaz hadis Abu Bakar dan diucapkan sebelum lafaz [qaala] [kecuali riwayat Ibnu Sa’ad yang tidak ada lafaz qaala]`
  2. Riwayat dengan lafaz “Fathimah hidup enam bulan setelah Rasulullah wafat” disebutkan oleh Muslim dan Abu Awanah setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Baihaqiy lafaz tersebut masuk dalam lafaz Aisyah yaitu sebelum lafaz [qaala]
  3. Riwayat dengan lafaz dimana Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah disebutkan Ahmad, Muslim, Abu Awanah dan Baihaqiy setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Bukhariy lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah karena dimulai dengan lafaz [qaalat]

Jika kita menuruti anggapan nashibi bahwa lafaz qaala bermakna perawi laki-laki berkata bukan perkataan Aisyah maka nampak terjadi kekacauan padahal hadis itu berujung pada perawi yang sama. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala itu bermakna perawi hadis melanjutkan hadis perkataan Aisyah, sehingga pada dasarnya lafaz qaala bermakna sama dengan lafaz qaalat. Bukti shahihnya adalah riwayat Bukhari yaitu lafaz “Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah” adalah perkataan Aisyah dengan lafaz qaalat dimana pada riwayat Ahmad, Muslim, Baihaqiy dan Abu Awanah itu disebutkan dengan lafaz qaala.

.

.

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah Dari Az Zuhriy

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823 [riwayat Utsman bin Sa’id Ad Daarimiy] dan Sunan Baihaqi 6/300 no 1273 dan Ad Dalaail Baihaqiy 7/279, Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097 semuanya [riwayat Abul Yamaan] dengan lafaz yang menyebutkan kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan mensibatkannya pada perkataan Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، إِنَّمَا كَانَ يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ هَذَا الْمَالِ يَعْنِي مَالَ اللَّهِ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يَزِيدُوا عَلَى الْمَأْكَلِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أُغَيِّرُ صَدَقَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

‘Aaisyah berkata Lalu Abu Bakr berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad makan dari harta ini – yaitu harta Allah yang tidak ada tambahan bagi mereka selain dari yang dimakan. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan mengubah shadaqah-shadaqah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari keadaan semua yang ada di jaman Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam. Dan sungguh aku memperlakukan shadaqah tersebut seperti yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Maka Abu Bakr enggan memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun pada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr, lalu ia pun meng-hajr-nya dan tidak mengajaknya bicara hingga wafat. Dan Faathimah hidup setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama enam bulan [Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097].

Kemudian disebutkan riwayat Bukhari dalam Tarikh Ash Shaghiir bahwa lafaz “Fathimah hidup setelah wafat Nabi selama enam bulan” diucapkan setelah lafaz [qaala].

حدثنا أبو اليمان انا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير عن عائشة فذكر الحديث قال وعاشت فاطمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ستة أشهر ودفنها علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari Aisyah lalu menyebutkan hadis, [qaala] “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy [Tarikh Ash Shaghiir juz 1 no 116]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Bukhari bahwa perkataan “Fathimah hidup enam bulan” adalah idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah. Hal ini disebabkan lafaz itu diucapkan setelah lafaz [qaala] yang berarti perawi laki-laki berkata.

Sebenarnya dengan hujjah nashibi ini maka lafaz yang diucapkan sebelum lafaz qaala adalah lafaz Aisyah. Jadi dengan hujjah nashibi tersebut lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah perkataan Aisyah.

Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan Nashibi bahwa lafaz “Fathimah hidup selama enam bulan” adalah bukan milik Aisyah tetapi idraaj [sisipan] perawi laki-laki sebelum Aisyah. Ada baiknya diperhatikan riwayat berikut

حدثنا محمد بن عوف حدثنا عثمان بن سعيد حدثنا شعيب بن أبي حمزة عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله ص بعد رسول الله ص ستة اشهر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Sa’iid yang berkata telah menceritakan Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafat Rasulullah selama enam bulan” [Adz Dzuriyat Ath Thaahirah Ad Duulabiy hal 110]

Muhammad bin ‘Auf bin Sufyaan Ath Thaa’iy seorang yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khallal berkata “imam hafizh pada zamannya” [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/121].

أخبرناه أبو الحسين بن الفضل القطان أخبرنا عبد الله بن جعفر حدثنا يعقوب بن سفيان حدثنا أبو اليمان قال أخبرناشعيب قال وأخبرنا الحجاج بن أبي منيع حدثنا جدي جميعا عن الزهري قال حدثنا عروة أن عائشة أخبرته قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله بعد وفاة رسول الله ستة أشهر

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, [Yaqub berkata] dan mengabarkan kepada kami Hajjaaj bin Abi Manii’ yang berkata telah menceritakan kakekku, semuanya dari Az Zuhriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafatnya Rasulullah selama enam bulan” [Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/366]

Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan adalah syaikh alim tsiqat musnad [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/331]. Abdullah bin Ja’far adalah imam ‘allamah tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/532]. Yaqub bin Sufyaan Al Fasawiy seorang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/337]

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ ، ثنا أَبُو زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ ، ثنا أَبُو الْيَمَانِ ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ ، وَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah Ad Dimasyiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah wafat enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ali menguburkannya pada waktu malam” [Hilyatul Auliya 2/42]

Sulaiman bin Ahmad adalah Ath Thabraniy imam hafizh tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/120]. Abu Zur’ah Ad Dimasyiq adalah seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 1/584]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa hadis Utsman bin Sa’id dan Abul Yamaan dari Az Zuhriy menyatakan bahwa lafaz “Fathimah hidup enam bulan” adalah bagian dari lafaz Aisyaah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] yang dibawakan Bukhari itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah bukan idraaj [sisipan] perawi tersebut.

.

.

Riwayat Uqail bin Khaalid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 1/9-10 no 55 dengan matan yang mengandung lafaz Fathimah marah kepada Abu Bakar kemudian diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya no 4240-4241, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 14/573-574 no 6607 dan Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsaar no 143 dengan lafaz Fathimah marah kepada Abu bakar tidak berbicara pada Abu Bakar sampai wafat dan ia hidup enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Berikut lafaz Bukhari

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ، وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Dari ‘Aisyah Bahwa Faathimah [‘alaihassalaam] binti Rasulillah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr untuk meminta kepadanya bagian harta warisan dari Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari harta fai’ di Madinah, Fadak, dan sisa harta khumus Khaibar. Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dengan sanad dari La’its bin Sa’d dari Uqail bahwa lafaz dimana Fathimah tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai wafat terletak setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا ، الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ شَيْئًا ، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Maka Abu Bakar berkata “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya makan dari harta ini. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakar. [qaala]“Ia meng-hajr  Abu Bakr dan tidak berbicara kepadanya hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] ketika ia wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya. [Shahih Muslim no 1759]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Muslim bahwa lafaz Fathimah tidak berbicara pada Abu Bakar, hidup selama enam bulan setelah Nabi wafat dan ketika wafat Ali menguburkannya di waktu malam adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan perkataan Aisyah.

Jika kita menuruti hujjah nashibi di atas itu berarti lafaz sebelum [qaala] adalah perkataan Aisyah maka lafaz “Fathimahpun marah kepada Abu Bakar karenanya” adalah lafaz Aisyah. Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan nashibi bahwa lafaz [qaala] adalah idraaj perawi laki-laki.

أخبرنا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن يحيى ، وأبو الحسين بن يعقوب الحافظ قالا : ثنا أبو العباس محمد بن إسحاق ، ثنا قتيبة بن سعيد ، ثنا الليث ، عن عقيل ، عن الزهري ، عن عروة ، عن عائشة قالت : دفنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ليلا ، دفنها علي ، ولم يشعر بها أبو بكر رضي الله عنه حتى دفنت وصلى عليها علي بن أبي طالب رضي الله عنه

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibrahiim bin Muhammad bin Yahya dan Abu Husain bin Ya’quub Al Haafizh keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Uqail dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah dikuburkan di waktu malam, dikuburkan oleh Aliy dan tidak memberitahu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sampai ia dikuburkan, dan Ali [radiallahu ‘anhu] yang menshalatkannya [Mustadrak Al Hakim no 4764]

Abu Ishaaq Ibrahim bin Muhammad bin Yahya Al Muzakkiy seorang yang dikatakan Al Khatib tsiqat tsabit [Tarikh Baghdad 6/168]. Abul Husain bin Ya’qub Al Hafizh adalah imam hafizh, Al Hakim berkata “ahli ibadah shalih shaduq tsabit” [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/242]. Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq Ats Tsaqafiy adalah imam hafizh tsiqat syaikh islam [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/389]. Qutaibah bin Sa’id adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/27]. Perhatikan riwayat Muslim dengan lafaz

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Telah dibuktikan di atas bahwa bagian terakhir lafaz Muslim yaitu “ketika ia [Sayyidah Fathimah] wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya” adalah perkataan Aisyah padahal lafaz itu disebutkan Muslim setelah lafaz qaala. Disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala dalam riwayat Muslim bukan bermakna idraaj [sisipan] perawi melainkan bermakna perawi berkata melanjutkan perkataan Aisyah. Inilah yang dipahami dengan menyatukan riwayat Al Hakim dan riwayat Muslim dan hal ini bersesuaian dengan riwayat Bukhari, Ibnu Hibban dan Thahawiy yang menjadikan keseluruhan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah.

.

.

Riwayat Ma’mar bin Raasyid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan dalam Mushannaf Abdurrazaaq 5/472-472 no 9774, Tarikh Ath Thabariy no 935, Mustakhraj Abu Awanah no 6679, Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732 dengan jalan sanad dari ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dimana lafaz kemarahan Sayyidah Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “Maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, maka Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini bahwa lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah. Untuk menilai validitas hujjah nashibi ini mari kita perhatikan satu-persatu riwayat tersebut yang mengandung lafaz [qaala]

Riwayat Ath Thabariy [jalan sanad dari Abu Shaalih Ad Dhiraariy dari Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ . وَكَانَ لِعَلِيٍّ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Abu Awanah [dengan jalan sanad dari Adz Dzuhliy, Muhammad bin Aliy Ash Shan’aniy dan Ishaaq Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا وَلَمْ يؤَذِّنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ وَجْهُ حَيَاةِ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Baihaqiy [dengan jalan sanad dari Ahmad bin Manshuur dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قالتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ النَّاسِ وَجْهٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا انْصَرَفَ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ

Riwayat ‘Abdurrazaaq dalam Al Mushannaf

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Perhatikan dalam riwayat Ath Thabariy lafaz Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah bagian dari lafaz [qaala] sedangkan pada riwayat Abu Awanah dan Abdurrazaaq [dalam Al Mushannaf] lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah artinya sama dengan lafaz [qaalat] bukan idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki.

Lantas bagaimana dengan lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar dan dikuburkannya oleh Ali di waktu malam tanpa memberitahu Abu Bakar. Untuk lebih jelasnya silakan perhatikan riwayat berikut

قَالَتْ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ , فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ , فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا , وَلَمْ يُؤْذَنَ بِهَا أَبُو بَكْرٍ , قَالَتْ : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ , فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat dengan lafaz [qaalat] ini disebutkan oleh Abu Bakar Al Marwaziy dalam Musnad Abu Bakar no 38 dan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 1/90 dengan jalan sanad Abu Bakar bin Zanjawaih dari ‘Abdurrazaaq. Abu Bakar bin Zanjawaih seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/107].

Maka riwayat ini menguatkan apa yang kami katakan sebelumnya bahwa lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah sehingga lafaz [qaala] dan [qaalat] adalah sama, tidak ada penyelisihan seperti yang dikatakan oleh nashibi.

Nashibi mengatakan bahwa Abu Bakar bin Zanjawaih menyelisihi jamaah tsiqat dari ‘Abdurrazaq yaitu Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’, Abd bin Humaid, Abu Shalih Adh Dhiraariy, Ahmad bin Manshuur Ar Ramaadiy, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy dan Ishaq bin Ibrahim Ad Dabariy.

Pernyataan nashibi itu patut diberikan catatan, riwayat Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid disebutkan oleh Muslim dalam Shahih-nya secara ringkas tanpa ada penegasan apakah lafaz yang digunakan adalah [qaala] atau [qaalat]. Jika dikatakan ia mengikut riwayat Uqail maka telah berlalu pembahasannya di atas bahwa riwayat Uqail menetapkan kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar sebagai lafaz Aisyah.

Maka tersisalah empat perawi tsiqat yang dikatakan nashibi itu menyelisihi Abu Bakar bin Zanjawaih. Ternyata Abu Bakar bin Zanjawaih tidaklah menyendiri. Perhatikan riwayat berikut

عبد الرزاق، عن معمر، عن عروة، عن عائشة: أن عليا دفن فاطمة ليلا، ولم يؤذن بها أبا بكر

‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6556]

حدثنا إسحاق عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة أن علياً دفن فاطمة ليلاً ولم يؤذن بها أبابكر

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Al Awsath Ibnu Mundzir no 3144].

حدثنا إسحاق بن إبراهيم الدبري عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن عليا دفن فاطمة ليلا

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahim Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Zuhriy dari Urwah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] bahwa Ali menguburkan Fathimah di waktu malam [Mu’jam Al Kabir Thabraniy 22/398]

Ishaaq bin Ibraahim Ad Dabariy termasuk perawi yang meriwayatkan hadis tersebut dengan lafaz [qaala] tetapi ia sendiri menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah. Dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam kitabnya Al Mushannaf menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah padahal ia menuliskan dalam kitabnya lafaz [qaala]. Maka benarlah seperti yang kami katakan bahwa riwayat ‘Abdurrazaaq baik dengan lafaz [qaala] maupun [qaalat] bermakna sama yaitu menetapkan lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]

.

.

.

Sekarang mari kita sederhanakan pembahasan panjang di atas mengenai jalan periwayatan Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah tentang kisah marahnya Fathimah

  1. Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  2. Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  3. Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  4. Riwayat Ma’mar bin Raasyid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]

Kesimpulan dengan mengumpulkan semua riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat adalah perkataan Aisyah bukan idraaj dari Az Zuhriy.

Nashibi berkata bahwa yang menguatkan lafaz tersebut sebagai idraaj Az Zuhriy adalah riwayat Baihaqiy yang memuat lafaz berikut

قَالَ مَعْمَرٌ: قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ: كَمْ مَكَثَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سِتَّةَ أَشْهُرٍ، فقَالَ رَجُلٌ لِلزُّهْرِيِّ: فَلَمْ يُبَايِعْهُ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى مَاتَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا؟، قَالَ: وَلا أَحَدٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Ma’mar berkata Aku bertanya kepada Az-Zuhriy “Berapa lama Faathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]?”. Az-Zuhriy berkata “Enam bulan”. Seorang laki-laki berkata kepada Az-Zuhriy“ Apakah ‘Aliy [radliyallaahu ‘anhu] tidak berbaiat kepadanya [Abu Bakr] hingga Faathimah [radliyallaahu ‘anhaa] wafat?”. Az-Zuhriy berkata “Tidak seorang pun dari Baani Haasyim yang berbaiat” [Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732]

Dan Al Baihaqi berkomentar bahwa lafaz penundaan baiat Ali terhadap Abu Bakar adalah munqathi’ [terputus] karena berasal dari perkataan Az Zuhriy. Maka Nashibi berkata begitu pula dengan lafaz semisal marahnya Fathimah dan pemboikotannya kepada Abu Bakar juga munqathi’ karena berasal dari perkataan Az Zuhriy.

Tentu saja pernyataan ini keliru. Jawaban Az Zuhriy atas pertanyaan Ma’mar ia ucapkan karena ia sendiri telah mendengar dari Urwah hadis Aisyah perihal Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi serta tidak berbaiatnya Ali kepada Abu Bakar sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah dalam kitab Shahih. Jadi statusnya disini adalah perkataan sang perawi [Az Zuhriy] berdasarkan hadis Aisyah yang ia riwayatkan.

Perkataan Ma’mar di atas adalah kutipan Baihaqiy dalam riwayat ‘Abdurrazaaq dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam Al Mushannaf menuliskan bahwa Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi sebagai lafaz Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Pernyataan Fathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan adalah berdasarkan perkataan Aisyah dan Az Zuhriy mengatakannya enam bulan bukan dari pendapatnya sendiri tetapi dari hadis yang ia dengar dan ia riwayatkan. Begitu pula halnya dengan penundaan baiat Ali kepada Abu Bakar berasal dari hadis yang ia dengar. Jadi tidak ada hujjah untuk menjadikan perkataan Az Zuhriy itu sebagai bukti idraaj

.

.

.

Penggunaan Lafaz [qaala] Dalam Hadis ‘Aisyah

Syubhat model seperti ini yaitu [idraaj Az Zuhriy] dengan mengandalkan lafaz [qaala] adalah syubhat khas ala nashibi yang menunjukkan kelemahan dalam ilmu atau gelap mata karena kebencian dan hawa nafsu. Perkara hadis atau atsar dari Aisyah dengan terselip lafaz [qaala] pada hadisnya adalah perkara ma’ruf dalam hadis-hadis Aisyah. Berikut akan kami berikan contohnya.

.

Hadis Pertama

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو المنذر ثنا مالك عن الفضيل بن أبي عبد الله عن عبد الله بن نيار الأسلمي عن عروة عن عائشة ان رجلا اتبع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال اتبعك لأصيب معك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فإنا لا نستعين بمشرك قال فقال له في المرة الثانية تؤمن بالله ورسوله قال نعم فانطلق فتبعه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata tel;ah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik dari Fudhail bin Abi ‘Abdullah dari ‘Abdullah bin Niyaar Al Aslamiy dari Urwah dari Aisyah bahwa seorang laki-laki mengikuti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia berkata “aku ingin mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “tidak”. Beliau berkata “kami tidak meminta bantuan orang musyrik”. [qaala] maka Rasulullah berkata kepadanya pada kedua kalinya “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “Ya”. Rasulullah berkata “pergilah turut berperang” maka ia mengikutinya [Musnad Ahmad 6/67 no 24431 shahih dengan syarat Muslim]

Perhatikan lafaz “qaala faqaala lahuu” yang artinya perawi berkata [qaala] : maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”. Bukankah ini adalah hadis dari Aisyah lantas siapakah yang sedang berkata “maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”, tidak lain itu adalah Aisyah. Tetapi mengapa dipakai lafaz [qaala], apakah itu berarti idraaj dari perawi sebelum Aisyah?. Jelas tidak, lafaz [qaala] menunjukkan bahwa perawi melanjutkan perkataan atau cerita Aisyah. Kisah lebih panjang hadis Aisyah di atas dapat dilihat dalam riwayat berikut

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها قالت خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل بدر فلما كان بحرة الوبرة أدركه رجل قد كان يذكر منه جرأة ونجدة ففرح أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رأوه فلما أدركه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم جئت لأتبعك وأصيب معك قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فارجع فلن أستعين بمشرك قالت ثم مضى حتى إذا كنا بالشجرة أدركه الرجل فقال له كما قال أول مرة فقال له النبي صلى الله عليه وسلم كما قال أول مرة قال فارجع فلن أستعين بمشرك قال ثم رجع فأدركه بالبيداء فقال له كما قال أول مرة تؤمن بالله ورسوله قال نعم فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم فانطلق

Dari ‘Aisyah istri Nabi [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia berkata Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] keluar menuju Perang Badar. Setelah sampai di Harratul Wabarah Beliau ditemui oleh seorang laki-laki yang terkenal pemberani. Maka para shahabat Rasulullah merasa senang ketika melihat laki-laki itu. Setelah dia menemui Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] dia berkata kepada beliau “Saya datang untuk mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah bertanya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”. Dia menjawab “Tidak”. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. Aisyah berkata kemudian laki-laki itu pergi. Setelah sampai di sebuah pohon, Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] ditemui lagi oleh laki-laki itu. Lalu, dia mengatakan seperti apa yang dikatakan sebelumnya. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bertanya seperti apa yang beliau tanyakan sebelumnya. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. [qaala] kemudian laki-laki itu pergi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditemui lagi oleh laki-laki itu di Baidaa’, lalu Beliau bertanya sebagaimana pertanyaan sebelumnya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ?”. Laki-laki itu menjawab “Ya”. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada laki-laki itu “Pergilah turut berperang” [Shahih Muslim no 1817]

Perhatikan lafaz yang kami cetak biru, hadis di atas bersumber dari satu orang yaitu Aisyah tetapi dalam riwayat Muslim lafaz [qaalat] dan [qaala] digunakan dalam penceritaan Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua lafaz tersebut bermakna sama. Dan perhatikan apa yang ditulis Baihaqiy tentang kisah yang sama dalam Sunan Al Kubra 9/63 no 17877

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ بَدْرٍ ، فَلَمَّا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ أَدْرَكَهُ رَجُلٌ قَدْ كَانَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً ، فَفَرِحَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَأَوْهُ ، فَلَمَّا أَدْرَكَهُ ، قَالَ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، جِئْتُ لأَتِّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : لا ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ مَضَى ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّجَرَةُ أَدْرَكَهُ الرَّجُلُ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ رَجَعَ فَأَدْرَكَهُ بِالْبَيْدَاءِ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَانْطَلِقْ “

Baihaqiy menggunakan lafaz [qaala] dalam riwayat di atas padahal dari awal digunakan lafaz [qaalat] atau Aisyah berkata. Kemudian perhatikan lafaz “kemudian laki-laki itu pergi, setelah sampai di sebuah pohon” dalam riwayat Muslim digunakan lafaz [qaalat] tetapi dalam riwayat Baihaqiy digunakan lafaz [qaala]. Disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama. Apakah ini dikatakan idraaj [sisipan] dari perawi?. Tentu mereka yang punya pemahaman akan menjawab tidak, tetapi para nashibi telah dikenal sebagi kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan.

.

.

Hadis Kedua

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْه أَنَّ بَرِيرَةَ جَاءَتْ تَسْتَعِينُهَا فِي كِتَابَتِهَا وَلَمْ تَكُنْ قَضَتْ مِنْ كِتَابَتِهَا شَيْئًا قَالَتْ لَهَا عَائِشَةُ ارْجِعِي إِلَى أَهْلِكِ فَإِنْ أَحَبُّوا أَنْ أَقْضِيَ عَنْكِ كِتَابَتَكِ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لِي فَعَلْتُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ بَرِيرَةُ لِأَهْلِهَا فَأَبَوْا وَقَالُوا إِنْ شَاءَتْ أَنْ تَحْتَسِبَ عَلَيْكِ فَلْتَفْعَلْ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لَنَا فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَاعِي فَأَعْتِقِي فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ شَرَطَ مِائَةَ مَرَّةٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَق.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihaab dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa Barirah datang meminta tolong kepadaku tentang ketetapan dirinya sedang dia belum menerima ketetapan tersebut. Maka ‘Aisyah [radliallahu ‘anha] berkata, kepadanya: “Kembalilah kamu kepada tuanmu. Jika mereka suka aku akan penuhi ketetapanmu dan perwalian kamu ada padaku, maka aku penuhi. Kemudian Barirah menceritakan hal itu kepada tuannya namun mereka menolak dan berkata “Jika dia mau silahkan dia berharap untuk memperolehmu, namun perwalian kamu tetap ada pada kami”. Maka aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Belilah dan bebaskanlah karena perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya”. [qaala] Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan bersabda “Mengapa ada diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabullah. Barangsiapa yang membuat persyaratan yang tidak ada pada Kitab Allah maka tidakberlaku baginya sekalipun dia membuat seratus kali persyaratan. Syarat dari Allah lebih berhak dan lebih kuat [Shahih Bukhari no 2561]

Apakah lafaz [qaala] berarti idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Tentu saja tidak, zahir riwayat menunjukkan bahwa kisah tersebut bersumber dari Aisyah maka lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah. Buktinya dapat dilihat pada riwayat Shahih Bukhari berikut

فَقَالَ خُذِيهَا فَأَعْتِقِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمْ الْوَلَاءَ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَأَيُّمَا شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ فَقَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ مَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَقُولُ أَحَدُهُمْ أَعْتِقْ يَا فُلَانُ وَلِيَ الْوَلَاءُ إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda] “Ambillah dia lalu bebaskanlah dan ajukanlah persyaratan wala’ kepada mereka karena wala’ menjadi milik orang yang membebaskannya”. ‘Aisyah berkata “Maka kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdiri di hadapan manusia lalu memuji Allah dan mengangungkan-Nya kemudian bersabda ‘amma ba’du mengapakah ada orang diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabulloh.  Syarat apa saja yang tidak ada pada Kitab Allah maka dia bathil sekalipun dengan seratus persyaratan. Ketetapan Allah dan syarat dari Allah lebih kuat. Dan apa alasannya orang-orang diantara kalian berkata “Bebaskanlah dia wahai fulan namun perwaliannya tetap milikku”. Sesungguhnya perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya.[Shahih Bukhari no 2563]

.

.

Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ ، ثنا عَبْدَةُ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تَحَجَّرَ كَلْمُ سَعْدٍ بِالنَّزْفِ ، فَدَعَا سَعْدٌ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُجَاهِدَ مِنْ قَوْمٍ كَذَبُوا رَسُولَكَ وَآذَوْهُ وَأَخْرَجُوهُ ، اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ إِنْ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ ، فَإِنْ كُنْتَ أَبْقَيْتَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْئًا فَابْقِنِي لَهُمْ أُجَاهِدْهُمْ فِيكَ ، وَإِنْ كُنْتَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَافْجُرْ بِهَا وَاجْعَلْ مَنِيَّتِي فِيهَا ، قَالَ : فَانْفَجَرَ مِنْ لَيْلَتِهِ فَمَا زَالَ يَسِيلُ حَتَّى مَاتَ

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Hisyaam dari ayahnya dari ‘Aisyah yang berkata “Sa’ad sakit dengan perdarahan, maka Sa’d berdoa “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. [qaala] maka lukanya terus mengalirkan darah sampai ia meninggal. [Musnad ‘Aisyah Ibnu Abi Daud no 66]

Apakah lafaz [qaala] dalam riwayat di atas bermakna idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Jawabannya tidak, riwayat tersebut juga disebutkan Bukhari dalam Shahih-nya yaitu

قَالَ هِشَامٌ فَأَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ سَعْدًا قَالَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ مِنْ قَوْمٍ كَذَّبُوا رَسُولَكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْرَجُوهُ اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ أَنَّكَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَإِنْ كَانَ بَقِيَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْءٌ فَأَبْقِنِي لَهُ حَتَّى أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ وَإِنْ كُنْتَ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فَافْجُرْهَا وَاجْعَلْ مَوْتَتِي فِيهَا فَانْفَجَرَتْ مِنْ لَبَّتِهِ فَلَمْ يَرُعْهُمْ وَفِي الْمَسْجِدِ خَيْمَةٌ مِنْ بَنِي غِفَارٍ إِلَّا الدَّمُ يَسِيلُ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا يَا أَهْلَ الْخَيْمَةِ مَا هَذَا الَّذِي يَأْتِينَا مِنْ قِبَلِكُمْ فَإِذَا سَعْدٌ يَغْذُو جُرْحُهُ دَمًا فَمَاتَ مِنْهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Hisyam berkata Ayahku telah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah bahwa Sa’ad berkata; Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah mengusir beliau. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. Maka memancarlah darah dari dadanya. Dan tidak ada yang mencengangkan mereka saat dimasjid di dalam tenda bani Ghifar, kecuali darah yang mengalir. Mereka berkata “wahai penghuni tenda, apakah yang datang kepada kami ini dari arah kalian?”. Ternyata luka Sa’ad menyemburkan darah lalu dia meninggal karena lukanya itu. Semoga Allah meridlainya. [Shahih Bukhari no 4122]

Riwayat Bukhari di atas menunjukkan dengan jelas bahwa lafaz [qaala] pada riwayat Ibnu Abi Daud sebenarnya masih termasuk bagian dari cerita Aisyah [radiallahu ‘anha]. [qaala] tersebut bermakna perawi melanjutkan cerita atau perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha].

.

.

Hadis Keempat

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيَّ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَبَتَّ طَلَاقَهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ فَجَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَهَا آخِرَ ثَلَاثِ تَطْلِيقَاتٍ فَتَزَوَّجْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا مَعَهُ إِلَّا مِثْلُ الْهُدْبَةِ وَأَخَذَتْ بِهُدْبَةٍ مِنْ جِلْبَابِهَا قَالَ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا فَقَالَ لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَالِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ قَالَ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Syihab yang berkata telah menceritakan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengabarkan kepadanya bahwa Rifa’ah Al Qurazhiy telah menceraikan istrinya, setelah itu istrinya menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, kemudian ia datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aku [Aisyah] berkata wahai Rasulullah, sesungguhnya ia pernah menjadi istri Rifa’ah, kemudian ia menceraikannya dengan talak tiga. Setelah itu, ia menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabir, dan dia, demi Allah sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain yang ini, sambil mengambil ujung jilbabnya. [qaala] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum sambil bersabda “sepertinya kamu ingin kembali kepada Rifa’ah, itu tidak mungkin, sampai Abdurrahman merasakan madumu dan kamu merasakan madunya”. Waktu itu, Abu Bakar sedang duduk di samping Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash duduk di samping pintu, dia tidak di izinkan masuk. [qaala] Maka Khalid menyeru Abu Bakar, kenapa kamu tidak menghardik wanita itu yang berkata dengan keras di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?  [Shahih Muslim no 1433]

Perhatikan lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum dan bersabda”. Apakah lafaz itu berarti idraaj [sisipan] perawi padahal hadis itu adalah kisah yang diceritakan Aisyah. Begitu pula lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Khalid menyeru Abu Bakar”, apakah itu idraaj dari perawi bukan lafaz Aisyah?. Tentu saja tidak, lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama, perhatikan lafaz Bukhari dalam kisah istri Rifa’ah ini yaitu riwayat Aisyah yang sama hanya saja dengan lafaz

قَالَ وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَابْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لِيُؤْذَنَ لَهُ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[qaala] dan Abu Bakar duduk di samping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ibnu Sa’iid bin ‘Aash duduk di depan pintu kamar supaya diizinkan masuk maka Khalid menyeru Abu Bakar “wahai Abu Bakar mengapa kamu tidak menghardik wanita ini yang berkata keras di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 6084]

Bukhari meriwayatkan perkataan Aisyah ini dengan lafaz [qaala] sedangkan Muslim meriwayatkan perkataan Aisyah dengan lafaz [qaalat] silakan perhatikan riwayat berikut

عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةُ رِفَاعَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلَاقِي فَتَزَوَّجْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّ مَا مَعَهُ مِثْلُ هُدْبَةِ الثَّوْبِ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ قَالَتْ وَأَبُو بَكْرٍ عِنْدَهُ وَخَالِدٌ بِالْبَابِ يَنْتَظِرُ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ فَنَادَى يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَسْمَعُ هَذِهِ مَا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah yang berkata suatu ketika istri Rifa’ah menemui Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dia berkata “aku adalah istri Rifa’ah, kemudian dia menceraikanku dengan talak tiga, kemudian aku menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, tapi sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum mendengarnya, dan berkata “Apakah kamu ingin kembali kepada Rifa’ah? itu tidak mungkin, sebelum kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu”. ‘Aisyah berkata dan Abu Bakar berada di samping Rasulullah, sedangkan Khalid berada di pintu sedang menunggu untuk diizinkan, maka dia berseru “Wahai Abu Bakar, apakah kamu tidak mendengar perempuan ini berkata dengan keras di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” [Shahih Muslim no 1433]

Contoh-contoh di atas sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama yaitu bagian dari riwayat Aisyah bukan idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah.

.

.

.

Pembahasan Syubhat Nashibi Atas Kemarahan Sayyidah Fathimah

Selain menyebarkan syubhat pada kedudukan hadis “kemarahan Fathimah”, nashibi juga membuat syubhat untuk mendistorsi makna hadis tersebut. Ia mengatakan kalau kemarahan Fathimah itu bersifat sementara dan manusiawi lantaran kecewa karena penolakan Abu Bakar namun setelah itu Sayyidah Fathimah menerima penjelasan Abu Bakar sebagai bentuk taslim-nya terhadap sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada satu hal yang perlu para pembaca perhatikan nashibi itu mengatakan bahwa kemarahan Sayyidah Fathimah itu terjadi lantaran Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah. Bukankah nampak jelas dalam hadis shahih bahwa alasan penolakan Abu Bakar karena berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Kami tidak mewariskan”. Apakah masuk akal Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar jika Beliau memang mengakui kebenaran hadis tersebut?. Bukankah Ahlul Bait [Sayyidah Fathimah] adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan bukankah Al Qur’an mengatakan

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya [QS An Nisa : 65]

Jika merasa berat hati kepada keputusan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja tidak diperbolehkan maka apalagi menyikapinya dengan marah. Penjelasan yang paling mungkin adalah Sayyidah Fathimah tidak mengakui kebenaran hadis yang disampaikan Abu Bakar. Nashibi itu berhujjah dengan riwayat berikut

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، وَسَمِعْتُهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ جُمَيْعٍ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، قَالَ: لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ فَاطِمَةُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟ قَالَ: فَقَالَ: لَا، بَلْ أَهْلُهُ، قَالَتْ: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ “، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، قَالَتْ: فَأَنْتَ، وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah. Abdullah berkata dan aku mendengarnya [juga] dari ‘Abdullah bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Walid bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat, Fathimah mengirim utusan kepada Abu Bakar yang pesannya “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”. Abu Bakar menjawab “bukan aku tapi keluarganya”. Sayyidah Fathimah berkata “dimana bagian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?”. Abu Bakar berkata “aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya, maka aku berpendapat untuk menyerahkannya kepada kaum muslimin”. Sayyidah Fathimah berkata “engkau dan apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah lebih tahu” [Musnad Ahmad 1/4 no 14, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan perawinya perawi tsiqat perawi Bukhari dan Muslim kecuali Walid bin Jumai’ ia termasuk perawi Muslim]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini tetapi anehnya ia tidak bisa memahami karena memang akalnya tidak punya kemampuan dalam memahami riwayat atau dalam kasus ini adalah tidak paham bahasa manusia. Kalau teman anda mengatakan kepada anda “siapakah yang berhak mewarisi ayahku, engkau atau keluarga ayahku?”. Anda menjawab “tentu saja keluarga ayahmu”. Orang dari sudut bumi manapun jika berpikiran waras akan paham bahwa anda mengakui kalau keluarga teman andalah yang mewarisi ayahnya.

Namun karena pengaruh kebencian dan hawa nafsu ada sekelompok manusia bermental nashibi yang mengalami kekacauan pemahaman terutama dalam hal bahasa yang sederhana. Nashibi itu berkata

Jawaban pertama yang dikatakan Abu Bakr itu terkait hukum umum bahwa jika ada seorang meninggal, maka hartanya diwarisi oleh anak dan keluarganya. Itulah yang nampak pada dialog dalam riwayat Abu Hurairah.

Kelucuan pertama, nashibi ini suka meloncat-loncat dalam memahami suatu riwayat. Bukankah yang sedang ia bahas adalah riwayat Abu Thufail di atas lantas kenapa buru-buru ia meloncat ke riwayat Abu Hurairah. Kita katakan padanya perhatikan terlebih dahulu hadis Abu Thufail yang anda kutip. Sayyidah Fathimah bertanya pada Abu Bakar

: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟

“Engkau yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ataukah keluarganya?”.

Mari perhatikan para pembaca, Apakah Sayyidah Fathimah sedang membicarakan hukum warisan secara umum?. Ooh tidak, Sayyidah Fathimah langsung ke pokok masalahnya yaitu siapa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lantas apa jawaban Abu Bakar

لَا، بَلْ أَهْلُهُ

“tidak, bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya”.

Apakah jawaban Abu Bakar ini tentang hukum waris secara umum?. Ooh tidak, Abu Bakar dengan sharih [tegas] menyatakan bahwa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah keluarganya.

Sekarang kalau kita bicara masalah hukum waris secara umum bahwa yang mewarisi seseorang adalah keluarganya maka kita tanya pada para pembaca berdasarkan dialog Abu Bakar dan Sayyidah Fathimah di atas, apakah hukum waris secara umum dimana seseorang diwarisi keluarganya berlaku pada diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Kita sederhanakan lagi bahasanya, jika hukum waris umum berlaku pada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang akan mewarisi Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja berdasarkan jawaban Abu Bakar “bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya” maka itu berarti hukum waris secara umum juga berlaku atas diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Adapun jawaban kedua diberikan setelah Abu Bakr benar-benar paham akan maksud Faathimah radliyallaahu ‘anhaa yang akan meminta bagian harta warisan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari harta fai’ di Fadak dan Khaibar

Sebenarnya secara tidak langsung nashibi itu sedang merendahkan IQ Abu Bakar yang tidak bisa menangkap maksud pertanyaan Sayyidah Fathimah. Apakah sebelumnya Abu Bakar tidak paham maksud pertanyaan “engkaukah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau keluarganya?”.

Kira-kira lafaz mana sih yang tidak dipahami Abu Bakar. Apakah kata “engkaukah”. Ya sebodoh-bodohnya orang akan paham maksud kata “engkau”. Apakah pada kata “Rasulullah”?. Kalau Abu Bakar tidak paham dengan kata ini mungkin lebih baik ia tidak perlu menyandang gelar sahabat Nabi. Apakah pada kata “keluarganya”?. Kita yakin Abu Bakar itu punya keluarga maka sudah pasti ia paham apa makna keluarga.

Mungkin yang belum dipahami Abu Bakar itu adalah lafaz “mewarisi”, lha kalau memang belum paham ya mbok ditanya lebih jelas bukannya langsung menjawab. Lagipula serumit apakah kata “mewarisi”. Mungkin akan ada yang bersilat lidah bahwa mewarisi itu tidak selalu dinisbatkan pada harta tetapi juga pada ilmu dan hikmah. Tetap saja jawaban Abu Bakar “tidak, bahkan keluarganya yang mewarisinya” merujuk pada mewarisi harta dimana orang yang meninggal hartanya akan diwarisi keluarganya dalam hal ini jika Rasulullah meninggal yang mewarisinya adalah keluarganya. Jadi dari awal Abu Bakar sudah paham makna pertanyaan Sayyidah Fathimah sehingga ia bisa langsung menjawabnya. Sekarang perhatikan pertanyaan Sayyidah Fathimah selanjutnya

: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dimanakah bagian harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”

Pertanyaan Sayyidah Fathimah ini menunjukkan bahwa dalam dialog tersebut Sayyidah Fathimah memahami jawaban Abu Bakar sebelumnya sebagai pengakuan Abu Bakar kalau keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sehingga Beliau langsung bertanya perihal harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apa jawaban Abu Bakar? Inilah dia

: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ

Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi suatu makanan kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya

Kita tanya pada para pembaca, apakah ada bagian dari hadis ini yang menyatakan bahwa Nabi tidak mewariskan atau apa yang Beliau tinggalkan adalah sedekah?. Tidak ada, jadi hadis di atas tidaklah menafikan hak ahli waris Nabi. Intinya jika Allah memberikan bagian makanan kepada Nabi maka jika Nabi wafat yang berhak atas makanan itu adalah orang yang bertugas setelahnya tetapi hal ini tidak lantas menelantarkan ahli waris Beliau sehingga ahli waris-Nya tidak akan mendapat apa-apa. Hukum Allah sangat jelas dalam Al Qur’an dan itulah yang dipahami oleh Sayyidah Fathimah bahwa ahli waris juga berhak atas harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Abu Bakar sendiri yang membawakan hadis di atas mengakui hak ahli waris Nabi.

Sayyidah Fathimah tidaklah menolak hadis Abu Bakar yang ini bahwa “ada hak atau bagian orang yang bertugas setelah Nabi dalam harta milik Nabi”. Dalam pandangan Sayyidah Fathimah ahli waris berhak atas harta Nabi dan berdasarkan hadis Abu Bakar ternyata orang yang bertugas setelah Nabi juga punya hak atas harta milik Nabi. Inilah yang dipahami dalam hadis Abu Thufail.

Hadis Abu Thufail ini berbeda dengan hadis Aisyah dan Abu Hurairah dimana Sayyidah Fathimah meminta warisan Nabi dan Abu Bakar berkata bahwa para Nabi tidak mewariskan, semua yang ditinggalkan adalah sedekah. Kedua hadis yang disampaikan Abu Bakar adalah dua hadis yang berbeda maknanya

Hadis “Nabi tidak mewariskan” menafikan hak ahli waris Nabi maka itu berarti keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini bertentangan dengan pengakuan Abu Bakar sebelumnya dalam hadis Abu Thufail

Hadis “Nabi tidak mewariskan dan semua yang ditinggalkan adalah sedekah” menunjukkan bahwa harta Nabi adalah untuk kaum muslimin dan ini marfu’ dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi pada hadis Abu Bakar riwayat Abu Thufail, yang berhak atas bagian Nabi itu adalah orang yang bertugas setelahnya. Dan Abu Bakar berkata

“، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ،

Maka aku berpendapat atau berpandangan untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin

Nampak bahwa “harta tersebut untuk kaum Muslimin” adalah pendapat atau pandangan Abu Bakar padahal dalam hadis riwayat Aisyah Abu Bakar dengan jelas memarfu’kan itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Kedua hadis yang berbeda menunjukkan bahwa peristiwa yang diriwayatkan Abu Thufail berbeda dengan peristiwa yang diriwayatkan Aisyah. Kisah Abu Thufail terjadi sebelum Kisah Aisyah dengan alasan

  1. Pada riwayat Abu Thufail, Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sangat tidak mungkin kalau hal ini diucapkan setelah Abu Bakar menyatakan Nabi tidak mewariskan
  2. Jika Sayyidah Fathimah telah mendengar hadis Abu Bakar [dalam riwayat Aisyah] maka sangat tidak mungkin Sayyidah Fathimah bertanya kembali pada Abu Bakar “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”.
  3. Dalam kisah Aisyah dinyatakan bahwa Sayyidah Fathimah marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat maka tidak mungkin kisah Aisyah terjadi sebelum kisah Abu Thufail.

Ketiga poin di atas menunjukkan bahwa Kisah Abu Thufail dimana Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terjadi sebelum kisah Aisyah dimana Abu Bakar menyatakan hadis Nabi tidak mewariskan.

Kisah Abu Thufail dan Kisah Aisyah diriwayatkan dengan sanad yang shahih maka yang diperlukan adalah menggabungkan keduanya. Tentu saja penggabungan keduanya tidak dengan seenak perut seperti yang dinyatakan oleh nashibi. Penggabungan tersebut harus dengan dasar yang jelas dan sesuai dengan kedua hadis tersebut.

Penggabungan kedua kisah tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya Sayyidah Fathimah datang kepada Abu Bakar atau mengirim utusan [sebagaimana yang nampak dalam riwayat] dan pada saat itu Abu Bakar mengakui bahwa yang mewarisi Nabi adalah keluarganya hanya saja Abu Bakar menyampaikan hadis bahwa orang yang bertugas setelah Nabi berhak atas bagian [makanan] yang diberikan Allah untuk Nabi. Dan Abu Bakar sendiri berpendapat untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin. Sayyidah Fathimah menerima hal ini tetapi bukan berarti ahli waris Nabi tidak memiliki hak sedikitpun atas harta Nabi maka kali kedua ia meminta kembali warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu riwayat Aisyah.

Pada kali kedua, Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah dengan membawakan hadis “Nabi tidak mewariskan”. Berbeda dengan sebelumnya dimana Sayyidah Fathimah membenarkan hadis Abu Bakar kali ini Sayyidah Fathimah marah dan tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Hal ini disebabkan Sayyidah Fathimah tidak mengakui hadis Nabi tidak mewariskan. Alasannya memang tidak nampak jelas tetapi bisa diperkirakan

  1. Mungkin karena sebelumnya Abu Bakar telah mengakui bahwa keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lantas sekarang Abu Bakar malah menentang perkataannya sendiri
  2. Mungkin karena Sayyidah Fathimah beranggapan hadis tersebut bertentangan dengan hukum waris yang jelas dalam Al Qur’anul Karim dan Beliau sebagai ahlul bait adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan orang yang seharusnya paling mengetahui jika memang ada hadis seperti itu.

Apapun alasannya yang jelas Sayyidah Fathimah menampakkan kemarahan setelah mendengar penjelasan Abu Bakar soal hadis Nabi tidak mewariskan. Mungkin nashibi itu akan berkata kami mendustakan hadis shahih.

Kami jawab : dalam hal ini kami berpegang pada Al Qur’anul Karim dan hadis shahih bahwa ahlul bait adalah pedoman bagi umat termasuk pedoman bagi Abu Bakar. Ditambah lagi dengan hadis kemarahan Fathimah yang adalah kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Intinya kemarahan Fathimah juga termasuk hujjah seperti halnya kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Penafsiran kami dalam hal ini adalah Abu Bakar keliru dalam pendengarannya atau pemahamannya terhadap hadis tersebut tentu kami tidak akan menyatakan bahwa Abu Bakar berdusta atas Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kami menghormati Abu Bakar dan kejujurannya tetapi walaupun begitu Beliau tetap manusia yang bisa salah. Nashibi itu berkata

Mengapa ketika ia mengkritik Abu Bakr ia tidak mengkritik Faathimah ? (o iya lupa, haram hukumnya mengkritik Faathimah, karena ia harus benar apapun keadaannya, dan lawannya harus salah apapun keadaannya). Kritikannya terhadap Abu Bakr secara tidak langsung merendahkan IQ Faathimah yang tidak bisa menangkap unsur manipulasi hadits yang dilakukan Abu Bakr, yang kemudian baru ditangkap oleh orang Raafidlah itu ratusan tahun setelah wafatnya. Sungguh menjijikkan ! Bodoh sekali Faathimah itu menurut logika orang Raafidlah itu.

Bagian mana dari kritikan kepada Abu Bakar yang ia maksud merendahkan IQ Sayyidah Fathimah?. Inilah akibatnya jika kebodohan bercampur dengan kebencian plus hawa nafsu. Jika diri sendiri yang bodoh tolong jangan menisbatkan pada orang lain apa lagi mengandaikannya pada semulia-mulia wanita Sayyidah Fathimah.

Silakan pembaca perhatikan pembahasan kami terhadap riwayat Abu Thufail dan riwayat Aisyah adakah kami menunjukkan atau mengisyaratkan kebodohan Abu Bakar atau Sayyidah Fathimah?. Tidak ada, justru perkataan nashibi itu yang menunjukkan kejahilannya.

Bagaimana mungkin lafaz khusus keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditafsirkan Abu Bakar sedang membicarakan kaidah umum waris bukan untuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Nashibi itu sedang menunjukkan bahwa Abu Bakar jahil atau bodoh dalam bahasa manusia pada umumnya. Jika memang yang dibicarakan kaidah umum maka Abu Bakar akan berkata “seseorang memang diwarisi oleh keluarganya tetapi tidak untuk Rasulullah karena Beliau tidaklah diwarisi apa yang ia tinggalkan adalah sedekah”. Tetapi faktanya dengan jelas Abu Bakar menjawab “tidak bahkan keluarganya yang mewarisinya”.

.

.

Nashibi itu membawakan distorsi makna yang lain yaitu dengan mengatakan bahwa sikap meng-hajr atau berhenti berbicara kepada Abu Bakar bukan berarti berhenti total tetapi tidak berbicara dalam masalah itu hingga wafat. Nashibi itu membawakan sebagian lafaz yang ia pikir dapat mendukung hujjahnya

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Lafaz yang dijadikan hujjah nashibi itu adalah “Falam tukallimhu fii dzalika hatta maatat”. Nashibi mengartikannya sebagai tidak berbicara tentang masalah warisan sampai wafat. “Fii dzalika” diartikan nashibi sebagai “masalah warisan”. Ini termasuk distorsi dalam mengartikan lafaz riwayat.

Lafaz “fii dzalika” dalam kalimat bukan lafaz yang berdiri sendiri melainkan kata ganti yang menerangkan sesuatu hal yang telah disebutkan atau dijelaskan pada kalimat sebelumnya. Terkait dengan hadis riwayat ‘Abdurrazaaq di atas, lafaz “fii dzalik” menerangkan tentang reaksi Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah, reaksi itu berupa penolakan Abu Bakar atas permintaan Fathimah dengan membawakan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi makna yang benar lafaz tersebut adalah “maka dalam hal itu [yaitu penolakan Abu Bakar] Fathimah meng-hajr-nya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat”. Makna ini serupa dengan lafaz “fii dzalika” pada riwayat Uqail dari Az Zuhriy

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Dalam riwayat Uqail di atas terdapat lafaz “Fawajadat Fathimah ‘ala Abu Bakar fii dzalika” yang artinya “maka dalam hal itu Fathimah marah kepada Abu Bakar”. Apakah hal itu atau fii dzalika yang dimaksud? Itu diterangkan dalam kalimat sebelumnya yaitu Abu Bakar menolak memberikan peninggalan Nabi dengan alasan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi “fii dzalika” adalah kata ganti yang menerangkan penolakan Abu Bakar, maka dalam hal penolakan Abu Bakar ini, Fathimah menjadi marah kepadanya, meng-hajr-nya dan tidak berbicara hingga wafat. Itulah makna sebenarnya lafaz “fii dzalik” dalam riwayat Az Zuhriy.

Hal ini menjelaskan mengapa dalam semua riwayat lain dari Az Zuhriy selain sebagian riwayat ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Aliy tidak menyebutkan lafaz “fii dzalika” karena pada dasarnya lafaz tersebut hanya sebagai kata ganti yang menegaskan penolakan Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah.

Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy

، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka Fathimah [alaihis salaam] menjadi marah dan meng-hajr Abu Bakar dan ia terus meng-hajr Abu Bakar sampai ia wafat

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka dalam hal itu Fathimah marah terhadap Abu Bakar meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka dalam hal itu Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar  meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah meng-hajrnya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَت

Maka dalam hal itu Fathimah meng-hajr Abu Bakar tidak berbicara dengannya hingga wafat

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah [radiallahu ‘anha] marah dan meng-hajrnya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat.

Qarinah [petunjuk] lain yang menguatkan lafaz “tidak berbicara dengannya sampai wafat” adalah Sayyidah Fathimah dikuburkan Ali di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar hingga ia dikuburkan. Kalau seandainya hubungan Abu Bakar dengan Fathimah baik-baik saja bahkan dikatakan oleh nashibi terjalin persaudaraan erat maka apa yang mencegah Ali memberitahu Abu Bakar tentang wafatnya Sayyidah Fathimah. Qarinah ini menguatkan lafaz “terus meng-hajr-nya hingga wafat”. Secara umum dalam hidup bermasyarakat saja kalau ada anggota keluarga yang wafat, kita pasti menghubungi keluarga, tetangga, sahabat, saudara dan teman-teman kecuali kalau misalnya ada orang yang menzhalimi keluarga kita maka mungkin kita tidak perlu repot-repot memberitahunya.

.

.

Sayyidah Fathimah tidak menyendiri dalam penolakannya, diriwayatkan dalam kitab Shahih [riwayat Aisyah] bahwa Imam Ali ketika ia berbaiat kepada Abu Bakar setelah Fathimah wafat [enam bulan], Beliau mengakui bahwa ahlul bait berhak akan harta tersebut karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

فَدَخَلَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ فَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَقَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا فَضْلَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبًا

Maka Abu Bakar masuk, Ali mengucapkan syahadat dan berkata “kami mengetahui keutamaanmu dan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, kami tidak dengki terhadap kebaikan yang diberikan Allah kepadamu tetapi kamu telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami, kami berpandangan bahwa kami berhak memperoleh bagian karena kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 4240 & 4241] 

Artinya selepas enam bulan dan setelah mendengar hadis Abu Bakar, Imam Ali masih berpendapat kalau ahlul bait lebih berhak. Kemudian dalam riwayat Malik bin Aus, Imam Ali juga datang kembali ketika Umar menjabat khalifah dan kembali meminta warisan Nabi kepada Umar. Umar berkata

ثم جئتماني جاءني هذا يعني – العباس – يسألني ميراثه من بن أخيه وجاءني هذا – يعني عليا – يسألني ميراث امرأته من أبيها فقلت لكما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لانورث ما تركنا صدقة

Kemudian kalian berdua mendatangiku, datang kepadaku dia yakni Abbas meminta kepadaku warisannya dari putra saudaranya dan dia ini datang kepadaku yakni Ali meminta warisan istrinya dari ayahnya. Maka aku berkata kepada kalian berdua bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” [Mushannaf Abdurrazaq 5/469-470 no 9772 dengan sanad yang shahih]

Hal ini membuktikan bahwa Imam Ali dan Abbas setelah mendengar hadis Abu Bakar mereka tetap meminta warisan Nabi kepada Umar ketika Umar menjabat khalifah, tidak lain ini menunjukkan bahwa Imam Ali dan Abbas tidak mengakui kebenaran hadis Abu Bakar.

.

.

Ada petunjuk lain bahwa hadis Abu Bakar keliru yaitu pada lafaz “apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”. Diriwayatkan dalam kabar shahih bahwa pakaian-pakaian milik Nabi masih disimpan oleh istri Beliau dan tidak disedekahkan kepada kaum muslimin.

حدثنا شيبان بن فروخ حدثنا سليمان بن المغيرة حدثنا حميد عن أبي بردة قال دخلت على عائشة فأخرجت إلينا إزارا غليظا مما يصنع باليمن وكساء من التي يسمونها الملبدة قال فأقسمت بالله إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قبض في هذين الثوبين

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughiirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Humaid dari Abi Burdah yang berkata “aku masuk menemui Aisyah dan ia mengeluarkan kepada kami kain kasar buatan Yaman dan baju yang terbuat dari bahan kasar [Abu Burdah] berkata kemudian ia [Aisyah] bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dengan memakai kedua pakaian ini [Shahih Muslim 3/1649 no 2080]

Nashibi berpanjang-panjang berhujjah membuat pembelaan atau bantahan tetapi pembelaannya gak nyambung. Intinya ia mau mengatakan kalau pakaian adalah nafkah bagi istri maka itu dikecualikan. Tentu saja ini konyol bin naif, jika anda ingin menafkahi istri anda maka anda akan memberikan kepadanya pakaian khusus buat istri anda bukan pakaian yang sering anda pakai. Intinya bagaimana mungkin pakaian Nabi menjadi nafkah buat istri Nabi. Apa anda memberikan nafkah pakaian istri anda dengan memberikan pakaian yang anda pakai kepada istri anda?. Tolong kalau mau membantah yang cerdas sedikit lah, jangan berpanjang-panjang supaya kelihatan keren padahal gak nyambung.

.

.

Dalam masalah Fadak ini kami tidak mempermasalahkan bagaimana Abu Bakar dan Umar memperlakukan harta tersebut. Nampak dalam riwayat shahih bahwa mereka memperlakukan harta tersebut sebagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memperlakukannya. Tetapi yang jadi permasalahan disini adalah bagaimana pandangan Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fathimah terhadap harta tersebut?.

Sekelompok nashibi yang binasa mengatakan bahwa dengan riwayat kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar menunjukkan bahwa Sayyidah Fathimah tamak akan harta warisan. Ini ucapan batil dari orang yang berhati busuk, kami sedikitpun tidak ragu jika harta itu ada di tangan Sayyidah Fathimah atau Imam Aliy maka mereka akan memperlakukannya seperti yang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lakukan. Apa nashibi pikir cuma Abu Bakar dan Umar yang mampu mengurus harta itu seperti halnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?.

Inti permasalahan antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar tidak terletak pada besar kecilnya harta peninggalan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi pada pandangan masing-masing mereka terhadap status harta tersebut. Bagi yang ingin membela Abu Bakar, kami persilakan dan bagi yang ingin membela Sayyidah Fathimah juga kami persilakan. Hal yang menjijikkan adalah ulah nashibi yang berusaha menafikan adanya perselisihan ini dengan berbagai syubhat murahan.

Bagi kami pribadi kebenaran ada pada Sayyidah Fathimah dan pandangan kami ini tegak atas dasar hujjah Al Qur’an dan Al Hadis tidak seperti tuduhan nashibi bahwa kami mendustakan hadis shahih. Jika kami dikatakan mendustakan hadis shahih maka sungguh mereka lebih layak untuk dikatakan mendustakan Al Qur’an dan Hadis. Jika mereka bisa membuat pembelaan maka mengapa kami tidak bisa membuat pembelaan.  Dan tidak ada urusannya pandangan kami ini dengan apa yang diyakini Syiah. Kami menegakkan pandangan kami bukan dengan kitab-kitab Syiah dan tidak pernah pula kami menyatakan bahwa kami ini penganut Syiah yang mewakili mazhab Syiah.

Tentu saja sebagai suatu pandangan maka ia bisa benar ataupun salah. kami tidak keberatan jika ada yang bersedia menunjukkan kesalahan pandangan kami, akan kami pelajari setiap masukan yang tertuju kepada kami dan jika memang salah maka kami akan mengakuinya. Begitu pula jika kami terbukti benar maka kami akan mempertahankan kebenaran tersebut meskipun para nashibi penuduh dan pencela itu tidak suka.

Bagi nashibi mungkin masalah ini terkait dengan khayalan mereka yang jika khayalan tersebut diungkapkan dalam bahasa nashibi akan menjadi kalimat “cuma agama nashibi yang mereka anut yang benar sedangkan agama syiah yang mereka cela adalah sesat dan menyesatkan”.  Begitu terikatnya mereka dengan waham ini sampai-sampai setiap ada pandangan yang menyelisihi mereka dan sependapat dengan Syiah akan mereka tuduh Syiah yang menyesatkan walaupun pandangan tersebut sebenarnya diungkapkan bukan oleh penganut Syiah. Yah di mata para nashibi, perkara ini bukan lagi soal mencari kebenaran tetapi sudah menjadi bagian dari pembenaran atas tuduhan mereka terhadap mazhab Syiah yang selalu mereka cela.

.

.

Kami tutup pembahasan kali ini dengan membawakan riwayat dimana keturunan Aliy bin Abi Thalib yaitu Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib mengakui perselisihan yang terjadi antara Sayyidah Fathimah sampai beliau wafat dengan Abu Bakar.

عبد الرزاق عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم دفنت بالليل قال فر بها علي من ابي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء عبد الرزاق عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك

‘Abdurrazaaq dari Ibnu Juraij dan ‘Amru bin Diinar bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikuburkan Aliy pada malam hari untuk menghindari Abu Bakar menshalatkannya karena diantara mereka berdua ada sesuatu. ‘Abdurrazaaq dari Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti itu kecuali bahwa ia berkata “[Fathimah] telah mewasiatkan kepadanya tentang hal itu”  [Al Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6554-6555]

Riwayat di atas sanadnya shahih hingga Hasan bin Muhammad. Diriwayatkan ‘Abdurrazaaq dengan sanad yaitu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad. Dalam kitab Al Mushannaf tertulis “Ibnu Juraij dan ‘Amru Diinar” ini kemungkinan besar tashif [salah tulis] yang benar adalah “Ibnu Juraij dari ‘Amru bin Diinar” hal ini dikuatkan pada lafaz “bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya”. Frase “nya” disana merujuk pada satu orang maka dia adalah ‘Amru bin Diinar apalagi dikenal bahwa Ibnu Juraij termasuk salah satu murid ‘Amru bin Diinar.

Ibnu Juraij adalah ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Aziz bin Juraij Al Makkiy seorang tsiqat faqih memiliki keutamaan tetapi melakukan tadlis dan irsal [At Taqrib 1/617]. Sufyan bin Uyainah adalah tsiqat hafizh faqih imam hujjah kecuali mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi dari perawi tsiqat, termasuk pemimpin thabaqat kedelapan dan ia orang yang paling tsabit dalam riwayat ‘Amru bin Diinar [At Taqrib 1/371]. ‘Amru bin Diinar Al Makkiy adalah seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/734]. Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib adalah seorang yang tsiqat faqih [At Taqrib 1/210]. Adz Dzahabiy berkata “ia termasuk ulama ahlul bait” [As Siyaar Adz Dzahabiy 4/131]

Menurut Hasan bin Muhammad, Sayyidah Fathimah telah berwasiat kepada Imam Ali agar menguburkannya di waktu malam sehingga Abu Bakar tidak bisa menshalatkannya. Hasan bin Muhammad mengatakan bahwa hal ini terjadi karena antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar terjadi sesuatu, dan itu tidak lain perselisihan masalah warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti yang dijelaskan dalam hadis Aisyah.

Tidak Shahih Abu Bakar Meminta Maaf Pada Sayyidah Fatimah

Abu Bakar Tidak Pernah Meminta Maaf Pada Sayyidah Fatimah AS
Sepertinya kisah Fadak ini masih terus berlanjut untuk dibahas. Kali ini sang penulis yang merasa tahu banyak soal Syiah itu telah membuat tulisan baru. Akhirnya Fatimah Memaafkan Abu Bakar. Sayangnya metode penulisan tetap saja tidak berubah. Beliau tetap berpegang pada riwayat-riwayat yang tidak shahih atau dipertanyakan keshahihannya. Seandainya anda tidak merasa bosan maka kali ini saya kembali akan meluruskan tulisan beliau dalam Situsnya itu.
Seperti biasa sang penulis menyatakan kesimpulan di bait pertama tulisannya
Fatimah saja mau memaafkan Abubakar tanpa mensyaratkan pengalihan hak tanah fadak pada dirinya, tapi pada hari ini, setelah 14 abad dari peristiwa itu, masih banyak yang mendendam pada Abubakar.
Kesimpulan ini keliru karena tidak ada kabar shahih yang meriwayatkan bahwa Abu Bakar meminta maaf kepada Sayyidah Fatimah AS pasca peristiwa Fadak. Kabar shahih yang ada justru kesaksian Aisyah RA bahwa Sayyidah Fatimah AS tidak pernah berbicara kepada Abu Bakar sampai akhir hayatnya pasca peristiwa Fadak.
Terkadang orang lain membuat kita begitu marah, sehingga dalam hati kita timbul dendam dan ingin melampiaskan dendam itu secepatnya. Bisa jadi dendam itu begitu merasuk sehingga kita tidak bisa menahan emosi ketika melihat orang tadi.
Oleh karena itu kesabaran dan meminta maaf adalah obat yang sangat baik :mrgreen:
Kejadian di atas menimpa sahabat Abubakar, ketika beberapa orang menuduh Aisyah anaknya –yang juga istri Rasulullah- telah berzina, dan salah satu yang menuduh adalah Misthah bin Utsatsah, salah seorang sepupu Abubakar yang miskin dan hidup dari pemberian Abubakar. Ketika itu Abubakar bersumpah untuk tidak memberikan uang lagi pada Misthah. Hal ini wajar dilakukan oleh manusia biasa, yang hatinya terluka ketika Misthah –yang hidup dari uang pemberian Abubakar- ikut-ikutan menuduh Aisyah berzina. Namun Allah sang Maha Pengasih, ingin memberikan pelajaran bagi kaum muslimin tentang akhlak yang mulia, yaitu pemaaf. Lalu turunlah ayat ini menghibur Abubakar, bahwa orang pemaaf akan dimaafkan oleh Allah. Akhirnya Abubakar tetap memberikan nafkah pada sepupunya tadi, karena mengharap ampunan dari Allah.
Sebuah pelajaran dari kisah ini adalah terkadang sahabat-sahabat Nabi(terlepas dari keutamaan Mereka) adalah manusia yang dipengaruhi kecenderungannya sehingga bisa melakukan suatu kekeliruan. Contoh di atas cukup jelas dimana ada beberapa sahabat Nabi yang ikut-ikutan dengan kaum munafik menyebarkan tuduhan terhadap Aisyah RA. Walaupun begitu Akhlak yang ditunjukkan oleh Abu Bakar RA jelas merupakan contoh yang patut di teladani.
Salah satu kisah yang sering diulang-ulang oleh kaum syi’ah –yang ingin membuat black campaign kepada Abubakar – adalah kisah fadak.
Syiah mengulang-ngulang Kisah ini karena kisah ini dalam persepsi mereka adalah bentuk kezaliman terhadap Ahlul Bait. Kebanyakan pihak Sunni justru melah membenarkan apa yang dilakukan Abu Bakar RA. Hal ini yang membuat Syiah mengulang-ngulang pembelaan mereka kepada Ahlul Bait.
Tetapi kita tidak pernah mendengar ustadz syi’ah mengisahkan ending kisah ini, seakan-akan kisah ini hanya berakhir dengan Fatimah yang pulang ke rumahnya dan marah, selesai sampai di sini.
Kabar yang shahih telah jelas menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar selama 6 bulan. Dan itu saya dengar bukan dari ustad Syiah tetapi dari Kitab Shahih Bukhari.
Ternyata masih ada babak episode yang dipotong dan ending dari kisah fadak, tetapi entah mengapa ustadz syi’ah tidak pernah membahasnya.
Mungkin Ustad Syiah itu cukup pintar untuk tidak membahas kisah-kisah yang dhaif, tidak shahih atau dipertanyakan keshahihannya. Entahlah, saya tidak tahu pasti apa sebenarnya yang dipahami oleh Ustad-ustad Syiah. :)
Yang jelas kitab syi’ah sendiri memuat ending dari kisah fadak ini, yaitu dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah yang ditulis oleh Ibnu Abil Hadid pada jilid 1 hal 57, dan Ibnu Al Maitsham pada jilid 5 hal 507, disebutkan :
Saat Fatimah marah Abubakar menemuinya di lain waktu dan memintakan maaf bagi Umar, lalu Fatimah memaafkannya.
Mari kita mengkritisi bagian ini. Apa buktinya kalau Kitab Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid adalah kitab Syiah?. Memang kitab Nahjul Balaghah ditulis oleh Ulama Syiah tapi kitab Syarh Nahjul Balaghah ditulis oleh Ibnu Abil Hadid. Apa buktinya Ibnu Abil Hadid seorang Syiah?. Sejauh yang saya tahu bukti jelas menyatakan bahwa beliau seorang Ulama Mu’tazilah. Apakah anda wahai penulis pernah melihat bahwa Ulama-ulama Syiah menyatakan kesyiahan Ibnu Abil Hadid? Berhentilah membuat tuduhan :mrgreen:
Kemudian, Apakah kitab Syarh Nahjul Balaghah adalah kitab dimana penulisnya menyatakan bahwa semua apa yang ia tulis adalah Shahih?. Setahu saya tidak ada bukti yang menunjukkan kalau Ibnu Abil Hadid menyatakan bahwa Semua riwayat yang ia kutip sebagai shahih. Oleh karena itu riwayat yang anda bawa itu perlu diteliti keshahihannya apalagi dalam Kitab Nahjul Balaghah yang ditulis Ulama Syiah tidak ada riwayat yang anda sebutkan itu. Riwayat itu(kalau memang ada) ditambahkan oleh mereka para Pensyarh Kitab Nahjul Balaghah.
Kemudian, bagaimana kita meneliti keshahihan riwayat tersebut jika anda wahai penulis tidak mencantumkan sanadnya? Atau riwayat tersebut memang tidak bersanad. Kalau begitu riwayat ini masih dipertanyakan keshahihannya. Nah bagaimana bisa anda berpegang pada riwayat yang belum pasti kebenarannya apalagi kalau riwayat tersebut ternyata bertentangan dengan riwayat yang jelas-jelas shahih. :roll:
Fatimah dengan besar hati memaafkan Abubakar, yang telah melaksanakan perintah Rasulullah untuk tidak mewariskan harta peninggalannya pada ahli waris. Abubakar juga tidak menyerahkan fadak kepada Fatimah agar mau memaafkannya, tetapi di sini Fatimah juga tidak menuntut penyerahan tanah fadak sebagai syarat untuk mau memaafkan Abubakar dan Umar. Itulah akhlak putri Nabi yang sejak dini dididik untuk mencintai akherat dan membenci dunia yang fana. Inilah salah satu akhlak kenabian diwarisi Fatimah dari sang ayah.
Akhlak Sayyidah Fatimah AS tidak diragukan lagi adalah akhlak yang mulia seperti yang diajarkan baginda Rasulullah SAW. Sayangnya tidak ada riwayat shahih yang menyatakan kalau Abu Bakar meminta maaf pada Sayyidah Fatimah AS.
Sudah selayaknya kita meniru teladan dari kisah di atas, tidak membawa dendam dalam hati untuk waktu yang lama. Semua yang telah berlalu hendaknya kita maafkan, demi mengharap keridhoan dan ampunan Allah. Siapa yang tidak menginginkan ampunan Allah?
Berhentilah bersikap seolah-olah semua yang anda sampaikan itu benar. Dalam kisah Fadak tidak ada unsur dendam kesumat dan cinta harta dunia yang fana. Perselisihan ini soal kebenaran yang diyakini oleh masing-masing pihak. Sayyidah Fatimah AS adalah sang pedoman bagi manusia sebagaimana yang ditetapkan Rasulullah SAW dalam Hadis Tsaqalain oleh karena itu sikap beliau menandakan penentangannya terhadap apa yang dinyatakan Abu Bakar. Mungkin bagi anda sulit sekali memahami perselisihan ini karena anda dan para Salafy lainnya(maaf kalau saya salah) tidak pernah mau menerima Sabda Rasulullah SAW dalam Hadis Tsaqalain bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam.
Riwayat di atas menguatkan riwayat dari Sunan Baihaqi yang kami nukilkan di salah satu makalah situs ini.
Riwayat Ibnu Abil Hadid yang dipertanyakan keshahihannya menjadi penguat bagi riwayat Baihaqi yang sudah jelas dhaif atau tidak shahih. Sungguh metode yang benar-benar hebat bagi seorang Salafy.
Namun ada penjelasan yang dirasa perlu untuk disampaikan.
Baihaqi meriwayatkan dengan sanad dari Sya’bi ia berkata: Tatkala Fatimah sakit, Abu Bakar menengok dan meminta izin kepadanya, Ali berkata: “Wahai Fatimah ini Abu Bakar minta izin.” Fatimah berkata: “Apakah kau setuju aku mengijinkan ?”, Ali berkata: “Ya.” Maka Fatimah mengijinkan, maka Abu Bakar masuk dan Fatimah memaafkan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Demi Allah saya tidak pernah meninggalkan harta, rumah, keluarga, kerabat kecuali semata-mata karena mencari ridha Allah, Rasulnya dan kalian keluarga Nabi.
Ibnu Katsir berkata: Ini suatu sanad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali. (Al Bidayah Wannihaayah 5/252)
Saya sudah pernah membahas tuntas riwayat ini dalam tulisan Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Hakekat.com. Silakan lihat sekali lagi ;)
Ibnu Hajar mengutip dari Ad Daruquthni bahwa Sya’bi hanya meriwayatkan sebuah hadits dari Ali, hadits itu tercantum dalam shahih Bukhari. Sehingga terkesan bahwa riwayat di atas adalah putus sanadnya karena Sya’bi hanya meriwayatkan sebuah hadits dari Ali. Lalu bagaimana status riwayat ini? Jelas riwayat ini mursal, tetapi riwayat mursal memiliki banyak tingkatan, ini dijelaskan dalam kitab biografi perawi.
Sudah saya nyatakan sebelumnya bahwa riwayat As Sya’bi dari Ali adalah mursal khafi karena seperti yang dinyatakan Daruquthni, Asy Sya’bi hanya meriwayatkan satu hadis dari Ali dalam Shahih Bukhari. Sedangkan riwayat yang dinyatakan Ibnu Katsir itu bukan riwayat dalam Shahih Bukhari. Jadi sudah jelas riwayat tersebut mursal. Hadis mursal adalah dhaif kecuali ada hadis lain dengan sanad yang shahih dan muttasil yang menguatkan riwayat mursal tersebut. Dalam kitab Muqaddimah Ibnu Shalah dapat dilihat bahwa salah satu syarat hadis shahih adalah bersambung sanadnya. 8)
Kita bisa memahami jika orang awam yang belum memperdalam ilmu hadits mempertanyakan riwayat ini.
Begitukah? Apakah orang awam yang belum memperdalam ilmu hadis bisa mempertanyakan riwayat Baihaqi. Bagaimana bisa orang awam tahu kalau riwayat Baihaqi adalah mursal kecuali ia pernah membaca kitab biografi perawi hadis yang menyebutkan kalau Asy Sya’bi lahir jauh setelah Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar wafat. Bagaimana bisa orang awam tahu kalau riwayat Asy Sya’bi dari Ali adalah mursal khafi kecuali ia mempelajari ini dari kitab Musthalah hadis atau membaca Kitab Al Illal Daruquthni atau membaca Fath Al Bari. Justru orang awam lah yang akan terkelabui oleh pengandaian Ibnu Katsir yang berkata Ini suatu sanad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali :mrgreen:
Tapi mestinya dia melihat bagaimana Ibnu Katsir memberi dua kemungkinan, bisa jadi dia mendengar dari Ali atau mendengar dari orang yang mendengar dari Ali, karena Ibnu Katsir menyadari penjelasan ulama bahwa Sya’bi hanya meriwayatkan satu hadits dari Ali bin Abi Thalib.
Dan mestinya anda melihat wahai penulis dengan tingkat kelimuan anda bahwa kedua kemungkinan Ibnu Katsir itu adalah dhaif. Lihat baik-baik
  • Kemungkinan Pertama Asy Sya’bi mendengar dari Ali, sudah jelas mursal khafi sebagaimana yang anda kutip dari Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari. Hadis mursal sudah jelas dhaif kecuali ada hadis lain yang muttasil shahih yang menguatkan riwayat mursal tersebut.
  • Kemungkinan kedua Asy Sya’bi mendengar dari orang yang mendengar dari Ali. Bagaimana mungkin anda menyetujui Ibnu Katsir kalau sanad seperti ini kuat. Sanad seperti ini sudah jelas dhaif karena tidak diketahui siapa perawi yang mendengar dari Ali dan menyampaikan kepada Asy Sya’bi. Bukankah bisa jadi perawi tersebut adalah perawi yang dhaif. :roll:
Kemudian sang penulis tersebut malah berkata
Ibnu Katsir – yang tentunya lebih mengerti hadits dari kita-kita yang awam- mengatakan sanad ini kuat dan bagus, karena Ibnu Katsir telah mempelajari status riwayat Sya’bi dari kitab biografi perawi hadits. Tidak ada salahnya kita yang awam ini membaca langsung terjemahan nukilan dari kitab biografi perawi, agar mendapat gambaran lebih jelas tentang status riwayat dari Sya’bi – yang nama lengkapnya adalah Amir bin Syurahil As Sya’bi-:
Setelah saya mempelajari ini, saya pun terheran-heran dengan Ibnu Katsir yang tentunya lebih mengerti masalah hadis tetapi justru menyatakan sanad yang dhaif sebagai sanad yang kuat. Sepertinya dalam pembahasan yang berkaitan dengan sentimen mahzab telah mempengaruhi seorang Ulama dalam mengambil keputusan. Baik mari kita lihat apa yang akan anda sampaikan wahai penulis
Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan ulama lain mengatakan bahwa Sya’bi adalah tsiqah, Al Ijli mengatakan bahwa Sya’bi meriwayatkan hadits dari empat puluh delapan sahabat, dia lebih tua dari Abu Ishaq dua tahun, dan Abu Ishaq lebih tua dua tahun dari Abdul Malik, dia tidak memursalkan hadits kecuali hampir seluruhnya adalah shahih
Tahdzibut Tahdzib jilid 5 hal 59
Beliau Asy Sya’bi adalah tabiin yang tsiqah. Hal ini sangat jelas dalam Kitab Rijal Hadis. Tetapi permasalahannya bukan terletak pada kredibilitas Asy Sya’bi, jadi anda membuang-buang waktu menuliskan berbagai predikat tsiqat pada Asy Sya’bi.
Pernyataan Al Ajli cukup relevan untuk dibahas. Seperti yang anda kutip Al Ajli mengatakan bahwa hampir seluruh mursal Asy Sya’bi adalah shahih. Apakah dengan begitu anda memahami bahwa hadis apapun jika Asy Sya’bi berkata Rasulullah SAW bersabda, maka hadis tersebut adalah shahih dengan kesaksian Al Ajli. Kalau iya maka anda benar-benar naif. Seorang Ulama berkata bahwa hadis seseorang yang mursal itu shahih karena dari hadis-hadis mursal yang diriwayatkan orang tersebut ternyata dibenarkan oleh hadis-hadis lain yang shahih dan sanadnya bersambung. Oleh karena itu Ulama tersebut menerima hujjah mursal seseorang.
Al Ajli bisa jadi mengetahui banyak riwayat mursal Asy Sya’bi dan ternyata setelah ia pelajari ada banyak riwayat shahih lain yang membuktikan kebenaran riwayat mursal Asy Sya’bi. Hal ini mungkin cukup bagi Al Ajli untuk menyatakan hampir seluruh mursal Asy Sya’bi adalah shahih. Tetapi adalah tidak benar menyatakan keshahihan hadis hanya karena Asy Sya’bi yang meriwayatkannya. Hal ini bertentangan dengan kaidah jumhur dalam menetapkan keshahihan hadis seperti yang tertera dalamMuqaddimah Ibnu Shalah.
Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.
Dalam hal ini pernyataan Al Ajli adalah pernyataan yang harus dibuktikan kebenarannya dengan cara melihat semua riwayat mursal Asy Sya’bi dan mencari syawahidnya dari hadis shahih lain yang bersambung sanadnya. Karena bisa jadi Al Ajli tidak mengetahui ada riwayat mursal Asy Sya’bi yang tidak memiliki syawahid dari hadis shahih lain.
Dengan dasar ini maka saya kembalikan permasalahan ini kepada anda wahai penulis, apakah ada riwayat shahih lain yang mendukung atau menguatkan kebenaran riwayat mursal Asy Sya’bi dalam Sunan Baihaqi yang anda kutip?. Sejauh penelitian saya tidak ada, tetapi mungkin anda lebih tahu dan saya yang awam ini mohon diberikan wejangan :mrgreen:
Pada halaman yang sama Ibnu Hajar menukil ucapan Al Ajurri dari Abu Dawud: mursal dari Sya’bi lebih aku sukai daripada mursal Nakha’i.
Siapapun berhak suka atau tidak suka tetapi itu tidak menjadi sebuah ketetapan bahwa mursal Asy Sya’bi sudah pasti shahih. Kembali pada Buktikan maka saya percaya.
Ditambah lagi dengan riwayat dari Syarah Nahjul Balaghah karya Ibnul Maitsam dan Ibnu Abil Hadid yang menguatkan riwayat ini.
Riwayat yang anda maksud itu masih dipertanyakan keshahihannya jadi tidak bisa menjadi penguat apapun karena riwayat itu sendiri justru lebih membutuhkan penguat dari yang lain.
Allah menyebutkan salah satu sifat golongan muttaqin –orang bertakwa- dalam surat Ali Imran ayat 134, yaitu mereka yang memaafkan kesalahan manusia.
Benar sekali, saya sangat sependapat dengan anda wahai penulis
Tidak layak kita menyimpan dendam dalam hati selama bertahun-tahun, tanyakan pada diri kita apa manfaat yang kita dapat dari menyimpan dendam? Yang kita dapat adalah rasa marah, tidak ada manfaat yang kita dapat. Sebaliknya, maaf dapat membuat hati kita tenang dan lapang, selain itu kita juga mendapat berita gembira dari Allah, apakah kita tidak ingin mendapat ampunan dari Allah?
Benar sekali wahai penulis dan saya tambahkan sangat tidak layak jika kata-kata anda ini ditujukan atas sikap Sayyidah Fatimah AS yang marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar RA sampai akhir hayatnya. Karena ini bukan soal dendam kesumat tetapi soal Kebenaran dan Hukum Allah SWT. :)
Saya tutup tulisan ini dengan Firman Allah SWT
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. (QS. Al Ma’idah 5:8 )

Salam Damai

Kesalahan Nashibi Perihal Idraaj Dalam Hadis Aisyah Berlafaz Qaala

Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Dan ketika Muhammad masih kecil, ibunya Aminah binti Wahhab wafat. Padahal sebagaimana umumnya anak-anak tentu Muhammad sedang begitu membutuhkan belaian kasih sayang ayah bundanya.

Dalam kedukaannya sebagai anak kecil yang kehilangan ibu yang mengasihinya, Abu Thalib, Paman Nabi itu mengambil Muhammad untuk tinggal bersamanya. Muhammad di asuk oleh Fatimah binti Asad. Darinya Muhammad memperoleh kasih sayang seorang ibu. Dalam pelukan kasih sayang Fatimah binti Asad itu Muhammad dapat memanggilnya “Wahai Ibunda!”

Setelah Muhammad dewasa, Fatimah binti Asad wafat. Muhammad sangat berduka hatinya. Ketika dalam kedukaan itu,  Allah menganugrahkan seorang putri kepada Muhammad. Setiap kali melihat putrinya itu, Muhammad selalu teringat kepada ibu angkat yang sangat dia kasihi. Maka dengan rasa kasih sayang pula Muhammad menamakan putrinya dengan Fatimah.

Fatimah tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan cantik. Muhammad sangat menyayanginya. Ketika Fatimah berdiri di mihrabnya, berkas-berkas cahaya merekah menerangi para penghuni langit, sebagaimana cahaya bintang-bintang menerangi bumi. Oleh karena itu kemudian Fatimah diujuluki Az-Zahra oleh ayahandanya.

Muhammad sangat menyayangi Fatimah, sehingga ia berkata, “barang siapa yang menyakiti Fatimah, maka ia menyakiti aku. Fatimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang membuatnya marah, maka ia membuatku marah. Sesungguhnya Allah marah untuk marahnya Fatimah. Dan Allah ridha untuk ridhanya Fatimah.”

Fatimah pun begitu mencintai ayahnya. Berat benar Fatimah menanggung perasaan beban derita yang dialami oleh ayahandanya, Muhammad. Ketika Muhamamd sujud di depan Ka`bah, kaum kafir Quraisy melempari Muhammad dengan tahi dan usus unta. Fatimah tidak rela melihat ayahnya diperlakukan seperti itu, lalu meminta kafir Quraisy itu untuk  berhenti dengan memarahi mereka.

Segera Fatimah menghampiri ayahandanya. Dan dengan kasih sayangnya, Fatimah yang masih berusia 9 tahun mengusap wajah ayahadannya yang penuh dengan debu dan kotoran unta. Fatimah menangis untuk ayahnya.

“wahai Ayah, apa yang telah mereka lakukan kepadamu?” Fatimah memeluk Muhammad seakan Fatimah adalah Fatimah binti Asad yang ketika masa kanak-kanak Muhammad dahulu, Fatimah senantiasa memeluk Muhammad kala Muhammad merasakan kesedihan. Betapa tidak, Muhammad mencintai putrinya itu, karena Fatimah tidak saja sebagai putrinya yang cantik, pintar dan mulia akhlaknya, tetapi juga bagaikan ibu yang senantiasa menghapus duka laranya.

Sepeninggal Muhammad saw, Fatimah menangung beban derita yang dalam. Tubuhnya ringkih dan sakit-sakitan. Terutama setelah Umar memukul perutnya yang sedang hamil, sehingga Muhsin, bayi yang berada dalam kandungan Fatimah jatuh ke tanah.  Ia pun telah pergi mendatangi Abu Bakar, meminta tanah Fadaq peninggalan ayahandanya sebagai harta warisan baginya. Karena bukan saja karena Fatimah membutuhkan harta warisan itu, tetapi karena seseorang harus mengambil apa yang menjadi haknya.

Tetapi Abu Bakar menolak memberikannya, karena Abu Bakar mengaku bahwa temannya memberi tahu dirinya bahwa temannya itu pernah mendengar  Rasulullah bersabda, “Para nabi itu tidak meninggalkan warisan harta benda. Yang di wariskan para nabi itu hanyalah ilmu.” Tapi Fatimah tidak sependapat dengan Abu bakar. Perselisihan pun terjadi. Tapi Abu Bakar tetap dalam pendiriannya. Fatimah menjadi murka kepada Abu Bakar. Ia pun bersumpah bahwa sampai ajal menjemputpun, Fatimah tidak mau lagi melihat wajah Abu Bakar.

Malam-malamnya dipenuhi dengan doa dan tangisan. Karena seringnya Fatimah menangis, maka orang-orang menggelarinya al-Bahai (yang sering menangis). Tak jarang Fatimah datang ke kubur Muhammad, sambil menangis lalu mengadukan segala soalan hidupnya seakan-akan. “Wahai Rasulullah, ayahandaku! Apakah engkau melihat, apa yang telah dilakukan oleh umatmu terhadap ku?” lalu Fatimah menangis sejadi-jadinya.

Fatimah jatuh sakit. Berita sakitnya Fatimah terdengar oleh Abu Bakar. Lalu Abu Bakar menangis dan berkata, “Sungguh bagiku, keredhaan Fatimah, putri Rasulullah adalah lebih baik bagiku dari pada langit, bumi dan segala isinya.” Lalu Abu Bakar datang menjenguk serta meminta maaf kepada Fatimah.

Dengan kasih sayang, Ali selalu mendampingi Fatimah dalam sakitnya itu. Dengan nada sendu, Fatimah berkata kepada suaminya, “Wahai Putra Pamanku, saat-saat yang kunantikan sudah semakin dekat. Dan jiwaku semakin merunduk. Tidak ada yang kuharapkan selain pertemuan dengan ayahku, Rasulullah.  Dan aku ingin berwasiat kepadamu!”

Dengan lembut, Ali menjawab, “Wasiatkanlah kepadaku, duhai Fatimah, Putri Rasulullah, kekasihku!”

“wahai Putra Pamanku, engkau tidak mendustakan dan tidak mengkhianati janji-janji yang kau ucapkan. Dan aku tidak pernah berpaling dari mu, tidak pula mengkianatimu, sejak kita besama selamanya.” Demikian Fatimah, dengan suaranya yang lemah. Lalu keduanya saling berpegangan, saling berpelukan dan menangis dalam cinta.

“inilah yang ingin aku wasiatkan , Pertama, sepeninggalku engkau nikahilah Umamah binti Abi Al-Ash! Sesungguhnya ia menyayangi anak-anakku seperti aku menyayangi anak-anakku. Kedua, buatkanlah aku keranda untuk mayatku. Dan tanyakan kepada Asma binti Umais tentang bentuk kerandanya. Karena aku telah memberi tahunya tentang bentuk keranda yang aku inginkan, bila aku mati. Tutuplah kerandaku dengan rapat, dikafani dan dibungkus dengan kain lampin yang tebal. Ketiga, kuburkanlah aku di tanah Baqi pada malam hari, tak jauh dari ayahandaku dikuburkan.”

Umamah binti Abi al-Ash adalah Putri Zainab binti Muhammad. Bukanlah hal mudah bagi Ali untuk menjalankan wasiat dari Fatimah. Tapi karena cintanya kepada Fatimah, Ali berjanji untuk melaksanakan semua wasiat itu.

Setelah mendengar suaminya mau berjanji untuk melaksanakan wasiat itu, Fatimah tampak senang dan bercahaya wajahnya. “Wahai Putra Pamanku, sesungguhnya wajah ayahandaku Rasulullah, selalu hadir di pelupuk mataku. Aku rindu bertemu dengannya. Akulah orang pertama yang akan menjumpainya di antara ahli baitnya.”

Fatimah, wanita suci lagi disucikan, pemimpin kaum wanita surga, bunga terindah di dunia dan diakhirat, kini ia gugur layu ke bumi. Ia wafat pada malam selasa bulan ramadhan tahun 11 Hijriah. Semua menangis karena kehilangan wanita yang agung itu. Tapi tidak ada yang dapat dilakukan, datang dan pergi, mendapat dan kehilangan, berjumpa dan berpisah lagi adalah hukum kehidupan yang tak dapat diingkari. Tidak ada jalan lain kecuali merelakannya. Fatimah wafat dalam usia dua puluh sembilan tahun.

Kabar kematian Fatimah segera tersebar luas di Madinah. Orang-orang berdatangan dan berkumpul di rumah Fatimah. Hasan dan Husain menangis dipangkuan ayahandannya Ali,  yang juga tampak bersedih kehilangan.

Kepergian Fatmah Az-Zahra diiringi tangisan pilu seluruh kaum muslimin yang mengantarkan ke pemakaman dengan diliputi duka yang mendalam. Ali menyalatinya, dan iapun turun ke dalam liang lahat, berdiri pada bagian kepala Fatimah, mengantarnya dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan kesedihan hadirin. Maka, jenazah yang suci dan wangi itupun dikuburkan

.

Disebutkan dalam shahih Bukhori dalam kitab Bada’ al-Khalq di bab Manaqib qarabatu Rasulillah saw bahwa Rasulullah saw bersabda : ” Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membikin marah dia maka telah membuatku marah” hadis seperti ini juga di riwayatkan dalam kitab Kanz Al-Ummal jilid 6 halaman 230. Disebutkan juga dalam kitab shahih Bukhori dalam kitab Al-Nikah disebutkan juga dalam kitab Musnad Ahmad jilid 4 halaman 328

.
Disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di dalam bab Fadhail as-Shahabah.
Disebutkan juga dalam kitab shahih Muslim di al-Bab al-Mutaqadim.
Disebutkan juga dalam kitab shahih at-Tirmidzi jilid 2 halaman 319.
disebutkan juga dalam kitab al-Mustadrak ala al-Shahihain jilid 3 halaman 158

.
Disebutkan juga dalam kitab Hilah al-Auliya’ jilid 2 halaman 40 hadis diatas disebutkan dalam alur yang berbeda di dalam kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.” hadis-hadis tentang kemuliaan sayidah Fatimah as dimuat di seluruh buku-buku ulama’ sunni yang mu’tabar dan penting. Sayidah Fatimah adalah kecintaan Nabi saw, kecintaan Nabi saw adalah kecintaan Allah swt. disebutkan didalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Disebutkan dalam kitab الوافی بالوفیات jilid 2 halaman 17 bahwa ابراهیم ابن سیار النظام berkata bahwa sesungguhnya Umar ibn khattab (khalifah kedua) telah memukul perut sayidah Fatimah as (yang dalam keadaan hamil) di hari baiat (hari dimana masyarakat dipaksa untuk berbaiat kepada Abubakar) sampai Muhsin (anak yang dikandungnya) keluar dari perutnya jatuh ketanah

.

Disebutkan juga dalam kitab الامامة و السیاسة jilid 1 halaman 12 bahwa IBn Qutaibah Ad-Dainuri berkata : sesungguhnya Abubakar mencari sekelompok orang untuk berbaiat kepadanya yang mana sekelompok tersebut berada di rumah sayidina Ali as maka Abu bakar mengirim Umar, datanglah Umar ke rumah sayidina Ali as dan dia memanggil mereka semua yang berada di dalam rumah sayidina Ali as, akan tetapi mereka semua tidak ada yang menjawab teriakan Umar, dan tidak ada satupun yang keluar, maka Umar untuk kedua kalinya dengan membawa kayu bakar yang ada di tangannya dia berteriak : “demi yang jiwaku berada di tangannya kalian semua akan keluar atau aku bakar rumah ini beserta yang berada didalamnya.” satu orang dari dalam rumah berkata kepada Umar : “wahai ayahnya Hafsah sesungguhnya Fatimah berada di dalam rumah ini.”

Umar berkata :”walaupun dia ada” (aku akan tetap membakar rumah ini). kejadian ini juga dimuat di dalam kitab العقد الفرید jilid 4 halaman 259 cetakan mesir dengan alur yang sedikit berbeda.. di dalam kitab کنز العمال jilid 3 halaman 140 bahwa umar berkata keada sayidah Fatimah as: “tidak ada orang yang lebih dicintai oleh ayahmu lebih daripada cintanya kepadamu, akan tetapi ini tidak akan mencegahku, sebagaimana sekelompok orang ini yang telah berkumpul di dekatmu, aku akan memerintah mereka untuk membakar rumahmu.”

Orang-orang yang menyerang rumah putri Nabi saw itu disebutkan di dalam kitab تاریخ الطبری jilid 2 halaman 443-444. kejadian juga disebutkan dalam kitab تاریخ ابوالغداء jilid 1 halaman 156 dengan alur yang sedikit berbeda yaitu Abubakar menyuruh Umar untuk mengambil baiat dari orang-orang yang berada di dalam rumah sayidina Ali, dan jika mereka menolak maka perintah berikutnya adalah Umar harus menyerang mereka, dan Umar membakar rumah sayidah Fatimah as..

Disebutkan di kitab2 sejarah bahwa sayidah Fatimah mulai saat itu sampai meninggal tidak mau berbicara kepada Abubakar dan Umar dan juga tidak Ridha atas perbuatan mereka, serta marah atas apa yang mereka lakukan kepadanya dan sayidina Ali as.. disebutkan juga didalam kitab sejarah bahwa sayidah Fatimah setiap selesai sholat selalu mengadu kepada Allah swt atas perbuatan mereka….
disebutkan juga dalam kitab-kitab sejarah bahwa Fatimah a.s berkata kepada Khalifah pertama dan kedua: “Jika aku membacakan hadis dari Rasulullah SAWW apakah kalian akan mengamalkannya?”

“Ya”, jawab mereka singkat.

Ia melanjutkan: “Demi Allah, apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku dan kemurkaannya kemurkaanku. Barang siapa mencintai Fathimah putriku, maka ia telah mencintaiku, barang siapa yang membuatnya rela, maka ia telah membuatku rela, dan barang siapa membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka”?

“Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah SAWW”, jawab mereka pendek.

“Kujadikan Allah dan malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka. Jika aku kelak berjumpa dengan Rasulullah, niscaya aku akan mengadukan kalian kepadanya”, lanjutnya.

Di kitab as-Shawaiq al-Muhriqah hal 190 bahwa Rasulullah bersabda : ” sesungguhnya Allah swt marah untuk marahnya Fatimah dan Ridha untuk Ridhanya Fatimah.”

Disebutkan di dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 57 bahwa Allah swt berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Allah swt dan RasulNya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Kesalahan Nashibi Perihal Idraaj Dalam Hadis Aisyah Berlafaz Qaala

Kami membuat tulisan ini khusus untuk meluruskan penyimpangan ilmu hadis ala nashibi perihal idraaj dalam hadis Aisyah yaitu hadis-hadis Aisyah yang mengandung lafaz [qaala]. Pada kasus sebelumnya, nashibi berhujjah dengan riwayat Aisyah dalam Tarikh Ash Shaghiir Al Bukhariy

حدثنا أبو اليمان انا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير عن عائشة فذكر الحديث قال وعاشت فاطمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ستة أشهر ودفنها علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari Aisyah lalu menyebutkan hadis, [qaala] “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy [Tarikh Ash Shaghiir juz 1 no 116]

Menurut nashibi lafaz [qaala] disana adalah idraaj dan riwayat ini ia katakan menjadi bukti nyata bahwa lafaz “Fathimah hidup enam bulan” adalah idraaj Az Zuhriy. Kami katakan bahwa ini kesalahan menyedihkan dan kami tidak habis pikir bagaimana kesalahan ini bisa muncul dari orang yang sudah akrab dengan ilmu hadis. Lafaz [qaala] pada riwayat di atas bukan bermakna idraaj [sisipan perawi] tetapi bermakna perawi berkata melanjutkan perkataan Aisyah atau perawi berkata dengan membawakan perkataan Aisyah.

Kami akan membawakan salah satu contoh penulisan atau peringkasan hadis Aisyah yang mengandung lafaz [qaala].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق أنا بن جريج قال أخبرت عن بن شهاب عن عروة عن عائشة أنها قالت وهي تذكر شأن خيبر كان النبي صلى الله عليه و سلم يبعث بن رواحة إلى اليهود فيخرص عليهم النخل حين يطيب قبل أن يؤكل منه ثم يخيرون يهود أيأخذونه بذلك الخرص أم يدفعونه إليهم بذلك وإنما كان أمر النبي صلى الله عليه و سلم بالخرص لكي يحصى الزكاة قبل أن تؤكل الثمرة وتفرق

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij yang berkata telah diberik kabar dari Ibnu Syihaab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya ia berkata dan ia bercerita tentang kisah Khaibar “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus Ibnu Rawaahah kepada orang-orang yahudi untuk menaksir kurma ketika telah layak panen sebelum dimakan kemudian orang-orang yahudi itu diberi pilihan, apakah mereka mengambil bagiannya dengan takaran yang ditetapkan atau membayar kepada mereka atas bagiannya. Sesungguhnya hanyalah perintah Nabi untuk menaksir kurma agar dapat dihitung pengeluaran zakatnya sebelum dimakan buahnya dan dibagi-bagikan [Musnad Ahmad 6/163 no 25344]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن بكر أنا بن جريج عن بن شهاب أنه بلغه عنه عن عروة عن عائشة أنها قالت وهي تذكر شأن خيبر فذكر الحديث إلا أنه قال حين يطيب أول التمر وقال قبل أن تؤكل الثمار

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Syihaab bahwasanya telah sampai kepadanya dari Urwah dari Aisyah bahwa ia berkata dan ia bercerita tentang kejadian khaibar, kemudian menyebutkan hadisnya, hanya saja ia berkata “ketika awal panen kurma” dan berkata “sebelum dimakan buahnya” [Musnad Ahmad 6/163 no 2545]

Apakah beradasarkan riwayat Ahmad di atas maka kita katakan lafaz “Hiina yathiibu awwalut tamri” [yang dicetak merah] adalah idraaj dari Az Zuhriy karena diawali dengan lafaz [qaala] yang berarti perawi laki-laki berkata?. Jawabannya tidak, lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah inilah salah satu riwayat lengkap yang memuat lafaz tersebut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ صَاعِدٍ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ زَنْجُوَيْهِ , ثنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , ثنا ابْنُ جُرَيْجٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ وَهِيَ تَذْكُرُ شَأْنَ خَيْبَرَ , وَقَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ بِابْنِ رَوَاحَةَ إِلَى الْيَهُودِ فَيَخْرُصُ النَّخْلَ حِينَ تَطِيبُ أَوَّلَ التَّمْرَةِ قَبْلَ أَنْ يُؤْكَلَ مِنْهَا ثُمَّ يُخْبِرُ يَهُودَ يَأْخُذُونَهَا بِذَلِكَ الْخَرْصِ  أَوْ يَدْفَعُونَهُ إِلَيْهِمْ بِذَلِكَ الْخَرْصِ , وَإِنَّمَا كَانَ أَمْرُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَرْصِ لِكَيْ تُحْصَى الزَّكَاةُ قَبْلَ أَنْ تُؤْكَلَ الثِّمَارُ وَتَفَرَّقَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar An Naisaburiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya. Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Shaa’idin yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Zanjuwaih yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwasanya ia berkata dan ia menceritakan kejadian Khaibar. Aisyah berkata “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus Ibnu Rawahah kepada orang-orang yahudi untuk menaksir kurma ketika awal panen kurma sebelum dimakan kemudian orang-orang yahudi itu diberi pilihan, apakah mereka mengambil bagiannya dengan takaran yang ditetapkan atau membayar kepada mereka atas bagiannya. Sesungguhnya hanyalah perintah Nabi untuk menaksir kurma agar dapat dihitung pengeluaran zakatnya sebelum dimakan buahnya dan dibagi-bagikan [Sunan Daruquthniy 3/52 no 2052]

Jadi apa makna [qaala] dalam riwayat Ahmad sebelumnya?. Lafaz qaala disana bermakna perawi berkata dalam hadisnya yaitu perkataan Aisyah “ketika awal panen kurma”. Begitu pula dengan riwayat Bukhari dalam Tarikh As Shaghiir sebelumnya, lafaz qaala disana bermakna perawi berkata daam hadisnya yaitu perkataan Aisyah “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy”. Kami telah membawakan bukti-bukti berupa riwayat dimana lafaz tersebut diawali dengan kata [qaalat] yang berarti Aisyah berkata.

Hal ini cukup untuk membungkam syubhat menyedihkan para nashibi, tetapi sepertinya nashibi tersebut tetap tidak akan menerimanya. Sungguh jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang mencari kebenaran dan siapa yang mencari pembenaran terhadap hawa nafsu dan kebenciannya.

Hanya ini sajian ringkas yang dapat kami tuliskan untuk meluruskan penyimpangan ilmu hadis ala nashibi perihal idraaj dalam hadis Aisyah. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Wassalam

video sunni berdusta tentang sahabat Nabi

Warisan sejarah Islam, jika kita ingin bersikap obyektif, tidak sepenuhnya bercerita mengenai keteladanan para sahabat Nabi, tetapi juga bercerita mengenai pengkhianatan sahabat Nabi, saling caci bahkan saling bunuh diantara sahabat Nabi.

Diriwayatkan dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis

Menurut Bukhari, Mayoritas Sahabat Nabi Murtad Pasca Wafat Nabi

Imam Al-Bukhari di dalam Shahihnya, Kitab al-Riqaq, bab al-Haudh halaman 379-386 menyatakan bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah saw telah murtad sepeninggal wafatnya Rasulullah. Hanya segelintir dari mereka yang selamat.

Rasulullah bersabda, “Aku mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawah kehadapanku, kemudian mereka dipisahkan jauh dariku. Aku (akan) bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah sahabatku (ashabi). lalu dijawab: sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathuu ba’da-ka).

Pada riwayat yang lain Rasulullah juga bersabda: “Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku, lalu dia berfirman: Sesungguhnya Engkau tidak mengetahuai apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah menjadi murtad ke belakang (inna-hum irtadduu ‘ala a’qabi-him al-Qahqariy)”.

Riwayat-riwayat diatas, dikutip dari The Translation of the Meanings of sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islami University, Medina Al-Munawwara.

Apa tanggapan Syi’ah ?? baca : Sahabat Murtad dan Kafir secara mayoritas pasca Nabi wafat BUKAN BERMAKNA KELUAR DARi KEiMANAN, AKAN TETAPi MEREKA MENENTANG PERiNTAH PERiNTAH YANG TELAH DiTETAPKAN NABi SAW

Aisyah dan Para Sahabat mengaku berbuat bid’ah dan merubah rubah Sunnah sepeninggal Nabi SAW ! Sunni runtuh sudah

Sesungguhnya Allah telah meridhai kaum Mukminin ketika mereka memberikan bai’at kepadamu di bawah pohonan itu, karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu diturunkan ketenangait ke atas mereka serta dibalasi mereka dengan pembukaan (penaklukan Makkah) yang dekat. Begitu pula dengan harta rampasan yang banyak, yang bakal mereka mendapatkannya, dan adalah Allah itu Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 18-19)

.

Jika sahabat mengklaim diri mereka merubah sunnah maka apa yang mau dibela oleh sunni ??

.

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.
Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji ! Sahabat yang ikut bai’at dibawah pohon Tiada akan masuk neraka jika mereka tidak menghianati Bai’ah !! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:

Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, 
.

Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda(Ahdathna-hu).- (Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170)

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah mengku berbuat bid’ah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

.

(4) Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135)

Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf

.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
– Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
– Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
– Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
– Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
– Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
– At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Sahabat Nabi Merubah Sunnah Nabi

beberapa hadits riwayat Bukhari mengenai perilaku beberapa orang yang diklaim sebagai sahabat Nabi, ternyata mengubah sunnah Nabinya sendiri.

Hadits-hadits di bawah ini aku kutip dari The Translation of the Meanings of Sahih Al-Bukhari Arabic-English Vol. VIII karya Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina Al-Munawwara.

Berawal dari hadits berikut:

Hadits No. 578

Narated ’Abdullah: The Prophet said, ”I am your predecessor at the Lake-Fount.” ‘Abdullah added: The Prophet said, “I am your predecessor at the Lake-Fount, and some of you will be brought in front of me till I will see them and then they will be taken away from me and I will say, ‘O Lor, my companions!’ It will be said, ‘You do not know what they did after you have left.’

Hadits No. 585

Narated Abu Hazim from Sahl bin Sa’d: The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will dring from itu kautsar and whoever will drink from itu, he will never be thirsty. They will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said, “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, “I bear witness that I heard Abu Sa’id Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: “I will say: There are of me (i.e. my followers). It will be said, “You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left.” I will say, “Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.”

Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, “O Lord (those are) my companions!” It will be said, “You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”

***

Berangkat dari hadits di atas, muncul pertanyaan, “Apakah benar sahabat Nabi itu merubah sunnah-sunnah Nabi? Apakah benar sahabat telah melakukan perubahan dalam agama Islam? Lalu perubahan seperti apa yang tercantum dalam riwayat sejarah?”

Berikut ini beberapa riwayat yang aku dapatkan, sekali lagi, aku tidak akan menambahkan penjelasanku. Silakan Anda semua untuk menafsirkannya.

***

Sebelumnya, aku kutipkan riwayat yang menceritakan kepada kita perihal penyaksian sahabat Nabi bahwa mereka telah mengubah Sunnah Rasulullah sampai dengan shalat.

Hadits No. 507

Narrated Ghallan: Anas said, ”I do not (now-a-days) things as it were (practiced) at the time of the Prophet.” Somebody said, “The Prayer (Is as It was).” Anas said, “Have you not done in the prayer what you have done?

Narrated Az-Zuhri that he visited Anas bin Malik at Damascus and foun him weeping and asked him why he was weeping. He replied, “I do not know anything which I used to know during the life-time of Allah’s Apostle except this prayer which is being lost (not offered as It should be).

Hadits No. 488

Narrated Al-Musaiyab: I met Al-Bara’ bin ‘Azib and said (to him). “May you live prosperously! You enjoyed the company of the Prophet and gave him the Pledge of allegiance (of Hudaibiya) under the Tree.” On that, Al-Bara’ said, “O my nephew! You do not know what we have done after him (i.e. his death).”

***

Selanjutnya, aku akan mengutipkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa ada beberapa sahabat yang mengubah ketentuan-ketentuan yang berlaku ketika Nabi Muhammad masih hidup.

Khalifah Utsman adalah orang yang pertama mengubah Sunnah Nabi Saw mengenai shalat:

Khalifah Utsman telah mengubah sunnah Nabi. Pada masa hidup Nabi, shalat di Mina dua raka’at Qasr, begitu juga khalifah Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsman pada awal pemerintahannya. Kemudian dia (’Utsman) melakukan empat rakaat di Mina tanpa Qasr.

Hadits No. 188

Narrated ’Abdullah (bin ’Umar): I offered the prayer with the Prophet, Abu Bakar and ’Umar at Mina and it was two Rak’at. ‘Utsman in the early days of his caliphate did the same, but later on the started praying the full prayer.

Marwan, Gubernur Madinah merubah sunnah Nabi juga. Berikut riwayatnya:

Hadits No. 76

Narrated Abu Sa’id Al-Khudri: The prophet used to proceed to the Musalla on the days of ’Id-ul-Fitr and ’Id-ul-Adha; the first thing to begin with was the prayer and after that he would stand in front of the people and the people would keep sitting in their rows. Then he would preach to them, advise them and give them orders (i.e. khutba). And after that if he wished to send an army for an expedition, he would do so; or if he wanted to give and order he would do so, and then depart. The people followed this tradition till I went out with Marwan, The Governor of Medina, for the the prayer of ‘Id-ul-Adha or ‘Id-ul-Fitr. When we reached the Musalla, there was a pulpit made by Kathir bin As-Salt. Marwan wanted to get up on that pulpit before the prayer. I got hold of his clothes but he pulled them and ascended the pulpit and delivered the Khutba before the prayer. I said to him, “By Allah, you have changed (the Prophet’s tradition).” He replied, “O Abu Sa’id! Gone is that which you know.” I said, “By Allah! What I know is better than what I do not know.” Marwan said, “People do not sit to listen to our khutba after the prayer, so I delivered the Khutba before the prayer.”

Sahabat mengubah sunnah Nabi dengan mematuhi ketetapan Khalifah ‘Umar.

Hadits No. 342

Narrated Shaqiq bin Salama: I was with ’Abdullah and Abu Musa; the latter asked the former, ”O Abu Abdurrahman! What is your opinion if somebody becomes Junub and no water is available?” Abdullah replied, “Do not pray till water is found.” Abu Musa said, “What do you say about the statement of ‘Ammar (who was ordered by the Prophet to perform Tayammum). The Prophet said to him: Perform Tayammum and that would be sufficient.” ‘Abdullah replied, “Don’t you see that ‘Umar was not satisfied by ‘Ammar’s statement?” Abu Musa said, “Alright, leave ‘Ammar’s statement, but what will you say about this verse (of Tayammum)?” ‘Abdullah kept quiet and then said, “If we allowed it, then they would probably perform Tayammum even if water was available, if one of them found it (water) cold.”

The narrator added, “I said to Shaqiq.” Then did ‘Abdullah dislike to perform Tayammum because of this?” He replied, “Yes.”

Terakhir, aku kutipkan dari buku Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi Terbitan Pustaka Kautsar bahwa Khalifah Umar bin Khattab yang pertama kali melarang nikah mut’ah.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tetapi aku cukupkan sekian dulu. Kalau ada yang mau nambahkan, aku persilakan.

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”
Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya
.
Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah,
apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]
.
Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib
.
Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah
.
Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya
:
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup
2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]
Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya
.
Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya
.
Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.”[3]
.
Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah.
Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan
hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka
.
Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain
.
Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.”[8]
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah
maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.”[9]
.
Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?
.
Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya
.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir.
Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.
Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan”. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya
.
Rasululah SAWW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”[10]
.
Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?
.
Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”
.
Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]
.
Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode
awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]
.
Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”
“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.
Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”
.
Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”
.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”
.
Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”[15]
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]
.
Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya
.
Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.
—————————————
  1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
  2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
  3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
  4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
  5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
  6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
  7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
  8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
  9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
  10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
  11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
  12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
  13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
  14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
  15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
  16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

Penyebab Utama Hadis Hadis Bukhari Ada Yang Palsu

Kriteria Penerimaan Hadis: Matan Atau Sanad?


Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillah ar Rahman ar Rahim.

Ya Allah, kurniakanlah solawat kepada Muhammad dan aali Muhammad. Dan percepatkanlah munculnya Mahdi.

saudaraku… Mustahil  Rasulullah  SAW  plin plan… Mustahil  Imam Ali  plin plan…. Kalau kitab baca kitab hadis sunni  kerap kita temukan kontradiksi  sehingga  muncul beraneka  versi… Kenapa hal ini  terjadi  ???

Dalam Sahih Bukhari hadis no. 3 umpamanya kita dapat baca peristiwa ketika Rasulullah menerima wahyu yang digambarkan spt orang yg ketakutan dan tdk mengenal siapa yg mendatanginya. Hadis ini diriwiyatkan dari Aisyah. Ada keganjilan dalam hadis ini, baik dari sanad maupun matan :
1. Pada sanad riwayat disebutkan seorang bernama Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yg berkhidmat kepada Hisyam bin Abd Malik. Ia sangat terkenal membenci Imam Ali.

2. Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini seolah-olah Aisyah mendengar sendiri. Dalam ilmu hadis seharusnya ia mengatakan :’ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda….dst.

3. Rasulullah digambarkan tidak faham dengan pengalaman ruhani yang dia alami. Padahal beliau adalah Insan Kamil.

Disebutkan bahwa Imam Ali as. berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan istri kedua disamping sayyidah Fatimah as. kemudian berita tersebut terdengan oleh Fatimah as. dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali as. kepada Nabi; ayah Fatimah as., seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal.

Mendengar berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengiznkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyakitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya.

Dalam pidato itu Nabi saw.menyebut-nyebut menantu beliau yang lain dari keluarga Bani Abdusy-Syams bermana Abu al-Aash ibn ar-Rabi’ dan memuji-mujinya dengan kesetiaan dan kejujuran.

Inilah sekilas kisah tersebut sebagaimana saya rangkum dari riwayat-riwayat para muhadis.

Para Periwayat Berita

Hadis tentangnya telah diriwayatkan oleh hampir semua muhadis kenamaan Ahlussunah dalam kitab-kitab Shihah, Sunan dan Masanid mereka.

  • Al-Bukhari dalam Shahihnya beriwayatkannya dalam beberapa kesempatan:

1.      Kitab al-Khums.[1]

2.      Kitab an-Nikah.[2]

3.      Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi).[3]

4.      Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-istri).[4]

  • Muslim meriwayatkan bebarapa riwayat tentangnya dalam Shahihnya: Bab Fadha’il Fatimah.[5]
  • At-Turmudzi  meriwayatkan dua riwayat dari; Miswar ibn Makhramah dan dari Abdullah ibn Zubair.[6]
  • Ibnu Majah meriwayatkan dua riwayat dalam Sunannya;dalam kitab an-Nikah, bab al-Ghirah (bab; kecemburuan).[7]
  • Abu Daud meriwayatkan beberapa riwayat dalam kitab an-Nikah.[8]
  • Al-Hakim dalam Mustadraknya meriwayatkan beberapa hadis tentangnya.[9]
  • Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya.[10]
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya juga meriwayatkan tidak kurang dari tiga belas hadis tentangnya.[11]

Dan beberapa muhadis selain mereka, seperti al-haitsami dalam Maj’ma’ az-Zawaid[12], Ibnu Hajar dalam al-mathalib al-’Aaliyah Bi Zawaid al-Masanid ats-Tsamaniyah[13]dan al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul-Ummalnya.[14]

Sekilas Tentang Para Periwayat

Dari penelusuran jalur-jalur periwayatan kisah tersebut dalam kitab-kitab Shihah, Masanid dan Ma’ajim… akan kita temukan nama-nama yang menjadi pangkal penyampaian kisah tersebut, nama-nama itu sebagai berikut:

  1. Miswar ibn Makhramah.
  2. Abdullah ibn Abbas.
  3. Ali Ibn Husain as.
  4. Abdullah ibn Zubair.
  5. Urwah ibn Zubair.
  6. Muhammad ibn Ali.
  7. Suwaid ibn Ghaflah.
  8. Amir asy-Sya’bi.
  9. Ibnu Abi Mulaikah.
  10. Seorang dari penduduk Makkah.

Tentang jalur Riwayat Miswar

Jalur Miswar adalah satu-satunya jalur yang disepakati penukilannya oleh para penulis Shihah, ia jalur yang dipilih Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah. Jalur Ibnu Zubair hanya kita temukan dalam rirawat at-Turmudzi dan iapun telah menyangsikannya, dan jalur Urwah hanya ada pada riwayat Abu Daud.

Maka untuk mempersingkat kajian kita kali ini saya akan membatasi telaah saya pada jalur Miswar ibn Hakhramah.

Jalur-jalur periwayatan dari Miswar sampai kepada kia melalui perantara-perantara dibawah ini:

1.      Ali ibn Husain (Imam Zainal Abidin as.)

2.      Abdullah ibn Ubaidillah uibn Mulaikah.

Perawi yang menukil riwayat kisah itu dari Imam Zainal Abidin as. hanyalah Muhammad ibn Syihab az-Zuhri.

Sementara yang menyambungkin kita dengan riwayat Ibnu Abi Mulaikah adalah:

  1. Laits ibn Sa’ad.
  2. Ayyub ibn Abi Tamimah as-Sakhtiyani.

Imam Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah meiwayatkannya dari jalur Abu al-Yaman dari Syu’aib dari Az-Zuhri. Dan juga Bukhari, Muslim, Adu Daud dan Ahmad meriwayatkannya dari Walib ibn Katsir dari Muhammad ibn ‘Amr ibn Halhalah dari Az-Zuhri. Sebagaimana juga Muslim meriwayatkannya dari An-Nu’man dari Az-Zuhri.

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin membeber tentang data Abu al-Yaman; Al-Hakam ibn Nafi’ dan periwayatannya dari Syu’aib ibn Hamzah tukang tulis Az-Zuhri, kendati para ulama’ telah banyak membicarakan dan menyangsikan kejujurannya.[15]sehingga sebagaian ulama’ menegaskan bahwa Abu al-Yaman tidak pernah mendengar barang sepatah dua kata dari Syu’aib, dan perlu di ketahui bahwa keduanya adalah penduduk kota Himsh yang di kenal membenci Ali as.[16] dan di kenal kedunguan mereka, sampai-sampai dijadikan contoh pepatah.[17]

Saya juga tidak akan membeber biodata Walib ibn Katsir yang khwarij itu.[18]

Saya tidak akan membeber tentang Ayyub dan Laits yang sering mengada-ngada hadis palsu itu,[19] tidak juga tentang Nu’man ibn Rasyid al-Jazri, yang sangat dicacat oleh al-Qaththan , Ahmad, Ibnu Ma’in, Bukhari, Abu Hatim,Ibnu Abi Hatim,Abu Daud, an-Nasa’i dan al-Uqaili[20].

Dalam kesempatan ini saya hanya tetarik membeber biodata Ibnu Abi Mulaikah dan Az-Zuhri.

Adapun Ibnu Abi Mulaikah perlu diketahui disini bahwa ia adalah Qadhi yang diangkat Abdullah ibn Zubair dimasa kekuasaannya dan juga tukang adzannya[21]. Sedang permusuhan Ibnu Zubair kepada Ali as. dan Ahlulbait as. baukan rahasia lagi, sampai-sampai ia dalam khutbah jum’atnya tidak mau bershalawa kepada Nabi saww. dengan alasan Nabi mempunyai Ahlulbait yang busuk jika saya bersahawat kepadanya mereka akan besar kepala dan menjadi congkak.

Adapun Az-Zuhri yang merupakan pangkal kisah ini dan ialah yang mengaku meriwayatkan hadis ini dari Imam Ali Zainal Abidin as.saya perlu sedikit memerinci tentangnya.

Sekilas Tentang Az-Zuhri

Ibnu Abi al-Hadid menceitakan: Jarir bin Abdul Hamid meriwayatkan  dari Muhammad bin Syaibah, ia berkata: Aku menyaksikan Al-Zuhri dan Urwah di masjid kota Madinah, keduanya sedang duduk membicarakan Ali as. Lalu keduanya mencela-cela dan mengecam beliau. Kemudian berita ini sampai kepada Imam Ali bin Husein as. Maka datanglah beliau menemui keduanya dan mengecam mereka.

Beliau  (Imam Ali bin Husain as.) berkata kepada Urwah: “Hai Urwah, ketahuilah bahwa ayahku (Ali as) akan membawa ayahmu kepengadilan Allah dan Allah pun akan memenangkan ayahku dan menghukum ayahmu. Adapun kamu hai Zuhri, seandainya kamu berada di kota Makkah  pasti akan saya perlihatkan rumah ayahmu”.[22]

Dan untuk menegaskan upayanya dalam kebnciannya kepada Imam Ali as. ia tidak segan-segan berbohong dengan memalsu hadis bahwa Imam Ali as. adalah mati kafir. Ibnu Abi al-Hadid berkata: “Zuhri meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa Aisyah menceritakan kepadanya: “Aku pernah di sisi Rasulullah ketika Abbas dan Ali datang, lalu beliau bersabda kepadaku: “Hai Aisyah, sesungguhnya dua orang ini akan mati tidak atas dasar agamaku”.[23]

Ibnu Abdil Barr menyebutkan sebuah riwayat pernyataan Az-Zuhri: Ma’mar menyebutkan dalam Jami’nya dari Az-Zuhri, ia berkata: SAya tidak mengetahui ada seorang yang memeluk Islam sebelum Zaid ibn Haritsah. Abdur-Razzaq berkata: Saya tidak mengetahui seorang mengatakan ini selain Az-Zuhri.

Selain itu ia adalah seorang ulama’ penguasa bani Umayyah, dan keterlibatannya yang sangat dalam dengan para penguasa dzalim itu menjadikannya ia di kecam oleh teman-temannya. Abdul Haq ad-Dahlawi mengetakan bahwa Az-Zuhri bergaul dengan para penguasa itu di sebabkan lemahnya keyakinan agamanya. Ketika ada seorang membanding-bandingkan antara aAz-Zuhri dngan  Al-A’masy, Ibnu Ma’in mengatakan: Kamu ingin disamakan antara Al-A’masy dengan Az-Zuhri?!!… Az-Zuhri bekerja untuk Bani Umayyah sedangkan Al-A’masy seorang yang fakir dan sabar, menjauhi penguasa, ia wara’ (sangat hati-hati dalam agama) dan pandai Al-Qur’an.[24]

Imam Ali Zainal Abidin pernah menegur dan menasihatinya agar menjauhi penguasa dan bekerja untuk kepentingan mereka, karena hal itu dapat menipu kaum awam dan merusak agama mereka, sebab keterlibatan sorang alim dalam istana penguasa zalim akan menjadikan kaum awan memandang kebatilan sebagai kebenaran.[25]

Dengan demikian sangatlah nihil kalau Imam Ali ibn Husain as. yang menyampaikan hadis yang memuat pelecehan tehadap Nabi, Ali dan Fatimah as.akan tetapi az-Zuhri memang lihai, ketika ia memalsu hadis yang mendiskriditkan Ahlulbait as. ia menyandarkannya kepada salah seorang tokoh Ahlulbait as. dengan tujuan agar kebohongan itu mudah di terima banyak kalangan, seperti ketika ia memalsu hadis tentang pengharaman mut’ah, ia menyandarkannya kepada Imam Ali as.[26]

Inilah sekilas tentang Az-Zuhri. Dan kini mari kita simak siapakah Miswar- perawi andalah dalam kisah diatas-.

Miswar Ibn Makhramah:

Disini kita akan melihat sekilas siapakah sebenarnya Miswar yang menjadi periwayat andalan dalam masalah kita ini.

Perlu diketahuai bahwa:

1.      Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh?![27] Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun.[28]

2.      Ia bersama Ibn Zubair yang dikenal sangat anti pati kepada keluarga Nabi khususnya Ali as. Ibnu Zubair tidak memeutuskan pekara kecuali setelah bermusyawarah dengannya, ia terbunuh dalam peperangan membela Ibnu Zubair menentang penguasa Damaskus;Yazid, dan Ibnu Zubair yang memandikan jenazahnya.

3.      Apabila disebut nama Muawiyah dihadapannya, ia mengucapkan shalawat atas Muwawiyah.[29]

Sekilas Tentang Kisah

Setelah keterangan tentang sanad kisah diatas, marilah kita menyoroti kandungan ksah tersebut… Ada beberapa catatan yang perlu diketahuai disini.

  • Para ulama’ kebingungan mengetahui kaitan antara permohonan untuk dihadiahkannya pedang kepadanya oleh Ali Ibn Husain Zainal Abidin as. dengan penyampaian kisah yang melecehka Imam Ali as. tersebut. Sebab seperti diketahui ia menyampaikan kisah tersebut ketika ia meminta agar pedang Rasulullah saww. yang ada pada Imam Ali ibn Husain as.dihadiahkan kepadanya, agar ia jaga denga baik.
  • Miswar mengatakan bahwa apabila pedang itu diserahkan kepadanya ia akan menjaganya hingga tetes darah penghabisan, seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari dan lainnya, dan para ulama’ mengatakan hal itu ia lakukan demi kecintaannya kepada keluarga Fatimah as. dan agar mereka tenang. Akan tetapi, bukankah hal aneh seseorang yang mengaku cinta kepada sebuah keluarga, namum ia melecehkan ayah mereka, yang pasti hal itui menyakitkan hati keturunan Ali as.

Renungan Tentang Kisah:

Kisah diatas perlu kita tinjau dari sisi fikih dan sisi etika dan emosiaonal… setelah kita mengalah dengan menganggap benar kejadian yang disebut dalam kisah tersebut…

Apa yang dilakukan Imam Ali as? Apa sikap Fatimah as.? Dan reaksi apa yang muncul dari Nabi saww.?

Imam Ali as. melamar putri Abu Jahal, lalu Fatimah sakit hati dan Nabipun berdiri diatas mimbar berpidato… .

Apakah haram atas Imam Ali as. kawin dengan wanita lain selama hidup Fatimah, atau tidak?

Kalau haram, apakah Imam Ali as. mengatahui pengharaman itu, atau tidak?

Yang jelas Imam Ali as. tidak akan melakukan hal haram sementara ia mengetahuinya. Jadi hal itu tidak haram baginya atau ia tidak mengetahui pengharaman itu.

Akan tetapi asumsi kedua tidak mungkin kita nisbatkan kepada sahabat biasa apalagi pintu kota imlu Nabi saw.

Jadi ketika melakukan hal itu tidak melakukan sesuatu yang diharamkan dalam syari’at, ia seperti sahabat lainnya, boleh kawin lebih dari satu wanita. Andai ada hukum khusus untuknya pastilah ia tahu atau paling tidak di beri tahu sebelumnya.!

Dengan demikian, apakah dibenarkan Fatimah as. keluar rumah-sekedar mendengan gosip bahwa suaminya kawin lagi- menemui Rasulullah saww. ayahnya dan mengeluhkan sikap Ali as. dengan kata-kata kasar, seperti dalam riwayat itu?!

Imam Ali a. tidak sedang melakukan tindakan haram, sehingga kita mungkin menganggap Fatimah as. sebenarnya ingin menegakkan amar ma’rum nahi mungkar. Lalu apakah Fatimah as. wanita yang disucikan dari segala rijs dan kekotoran sama derngan wanita lain yang tidak disucikan, ia dibakar oleh rasa  cemburu buta sebagaimana wanita lain?! Lalu apakah kecemburan Fatimah as. karma Imam Ali as. kawin lagi, atau sebenarnya kecemburuan itu berkobar dan membakar hatinya karena yang akan dinikahi Imam Ali as adalah putri Abu Jahal?!

Kemudian setelah mendengan kabar atau laporan putrinya atau prmohonan izin untuk menikah oleh keluarga Abu Jahal atau permintaan izin Ali as. kepada Nabi saww.[30] dan menyaksikan putrid kesayangannya terkejut dan sakit hati, Nabi saww. berdiri diatas mimbar berpidato dihadapan para sahabat yang memadati ruang dan sudut-sudut masjid…. Apa isi pidato Nabi saww.?!

Pidato beliau saww. memuat poin-poin diabawah ini:

1.      memuji menantu beliau dari suku Bani Abdisy-Syams…

2.      kekhawatiran beliau kalau-kalau putri kesayangannya terfitnah (rusak)  agamanya…

3.      Nabi saww. tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram… Namun demikian beliau tidak akan mengizinkan pernikahan itu terjadi…

4.      Tidak akan diperbolehkan baginya atau bagi seseorang untuk mengumpulkan menjadi istri seseorang antara putri Rasul Allah dan putri musuh Allah…

5.      Kecuali apabila Ali ibn Abi Thalib as. menceraikan putri Nabi saww. kemudian baru menikahi putri Abu Jahal… Dan dalam sebuah riwayat: kalau ia tetap nekat menikahi putri Abu Jahal maka kembalikan putri kami…

Apakah pernyataan-pernyataan dalam pidato itu dapat dibenarkan?! Para pensyarah kebingungan menghadapi riwayat-riwayat kisah diatas…mereka mengakui bahwa Ali as. melamar anak Abu Jahal dan itu tidak haram hukumnya… mereka mengatakan bahwa Fatimah as.juga mengalami rasa cenburu sebagaimana wanita lain…

Fatimah as. bukan wanita biasa yang dikhawatirkan akan rusak agamanya atau digerogoti rasa cenburu seprti wanita lain, sementara Allah SWT. telah menurunkan ayat at-That-hir yang menegaskan kesucian beliau dari seala rijs, penyimpangan, maksiat dan kekejian… Fatimah adalah wanita sempurna, beliau adalah penghulu wanita sejagat… Dan anggap apa yang disebut dalam dongeng itu benar, tentunya hal itu tidak khusus ketika Ali hendak menikahi putri Abu Jahal…

Dalam pidatonya, Nabi saww. mengakiu bahwa Ali as. tidak melakukan tidakan haram, akan tetapi beliau tidak mengizinkan pernikahan itu berlangsung…Apakah izin seorang mertua itu syarat?! Apakah beloh sorang mertua memaksa menantunya menceraikan anaknya jika ia menikah lagi?!

Semua itu tidak benar dan tidak terjadi…

Anggap benar bahwa Fatimah as. mengalami kecemburuan[31]… dan anggap benar Nabi saww. juga cemburu mebela putrinya[32]… Lalu mengapakah beliau naik mimbar dan mengumumkannya dihadapan halayak ramai dan mempermalukan Ali as.?!

Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: Nabi saww. berpidato agar hukum itu tersebar dikalangan manusia lalu mereka mengamalkannya….  .[33]

An-Nawawi berkomentar: para ulama’ berkata: hadis itu memuat pengharaman mengganggu Nabi saww.dala segala hal dan dengan segala bentuk, walau hal itu muncul dari hal yang mubah(boleh dilakukan\tidak haram) sementa beliau asih hidup, berbeda dengan orang lain. Mereka mengatakan: Nabi saww. telah memberitahukan kehalalan menikahi putri Abu Jahal bagi Ali denga sabdanya: Saya tidak mengharamkan yan halal, akan teapi saya melarang menggabungkan antara keduanya, kerena ada dua alas an yang di sebut dalam sabda tesebut; Pertama: karena hal itu menyebabkan Fatimah terganggu dan dengannya Nabipun akan terganggu, maka binasalah orang yang mengganggu Nabi…Maka Nabi saww. melarang hal itu kareana sempurnanya belas kasih dan saying beliau kepada Ali dan Fatimah. Kedua: kekhawatiran akan terfitnahnya Fatimah di kerenakan sara cemburu.[34]

Dan yang paling aneh adalah sikap Imam Bukhari yang menjadikan ucapan Nabi saww. yang mengatakan” maka saya tidak akan mengizinkan” sebagai permintaan cerai, oleh karenanya ia menyebutnya dalam bab asy-Syiqaaq (percekcokan antara suami-istri) pada kibab at-Thalaq(perceraian). Dan sebagaian ulama’pun mengkritik penyebutan hadis itu pada tempat tersebut.[35]

Para pembela Bukhari mengakatan: bahwa peletakan itu tepat, mengingat apabila Ali tetap bersikeras menikahi putri Abu Jahal maka akan terjadilah percekcokan antara Ali dan Fatimah oleh karenanya Nabi saww.hendak menghindarkan hal itu terjadi dengan mencegah Ali melalui isyarat agar ia meninggalkan menikahi putri Abu Jahal…[36]

Pembelaan itu didasari dua hal; pertma: bahwa Fatimah tidak akan rela…kedua: pernikahan itu akan menyebabkan percekcokan antara keduanya…!!

Lalu apakah usaha pencegahan Nabi saww. dilakuka dengan isyarat, atau justru dengan pidato yang memuat pujian kepada menantu Nabi saww. yang lain, mempermalukan Ali dan mengancamnya akan mengambil kembali putri kesayangan beliau ?!

Serta masih banyak lagi kejanggalan lain yang dapat Anda temukan dalam riwayat-riwayat itu dan juga pada komentar para ulama’ pensyarah hadis.

1.      Catatan:Fatimah as. benar-benar penggalan Nabi saww. beliau adalah badh’atun minni seperti di sabdakan Bani saww. berkali-kali dan dalam banyak kesempatan, sebagai penegasan akan keharaman mengganggu beliau as. dan  kemarahan dan murkanya adalah kemarahan dan murka Rasulullah saww. dam murka Nabi saww. adalah murka Allah SWT. Hadis yang menegaskan hal itu telah di riwayatkan oleh banyak sahabat, diantaranya adalah Imam Ali as.[37] dan tlah di riwayatkan tidak kurang dalam seratus dua puluh kitab ulama’ Ahlussunnah. Dan darinya disimpulkan bahwa yang mencacinya dihukumi kafir… Fatimah lebih afdhal dari syaikhain[38] dan disini kami tidak dalam rangka menyebut-nyebut para perawi hadis tersebut. Yang ingin kami tegaskan disini ialah bahwa hadis  Fatimah badh’atun minni tela diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Miswar dalam bab Fadlail( keutamaan) Fatimah tanpa menyebut-nyebut kisah niatan melamar putri Abu Jahal. Ibn Hajar berkata: Dalam Shahihain dari Miswar ibn Makhramah: Saya mendengar Rasulullah saww. bersabda: “Fatimah adalah penggalan dariku, menggangguku apa yang mengganggunya”[39] ” Fatimah adalah penggalan dariku, yan menyebabkan murkanya menyebabkan murkaku”[40]. Keduanya meriwayatkan dari Sufyan ibn Uyainah dari Amr ibn Dinar dari Ibn Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah.[41]

Demikian juga pada riwayat al-Baihaqi dan al-Khathib at-Tabrizi tanpa menyebut kisah niatan melamar. Begitu juga pada al-Jami’ ash-Shaghir, baik dalam matan maupun syarahnya..

Dan yang perlu dipehatikan disini ialah bahwa pada jalur periwayatan yang tidak menyebut kisah itu tidak kita temukan nama Ibnu Zubair, az-Zuhri, asy-Sya’bi dan al-Laits…

Kami berhujjah dengan hadis tesebut walaupun kami mencacat Miswar dan Ibn Abi Mulaikah, sebab kesaksian lawan adalah sebaik-baik kesaksian.

Namun demikian kuat kemungkinan bahwa ada usaha pemalsuan yang mengatasnamakan Miswar yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu. Mungkin sipemalsu itu adalah Zuhri-ulama’ rezim tiran Bani Umayyah- atau Ibnu Zubair pembenci Ali dan keluarga suci kenabian as. atau mungkin juga asy-Sya’bi- seorang alim yang bergelimang dalam kubangan kebjatan istama rezim Umayyah, atau al-Laits.. wallahu A’lam.

Penutup:

Telah kami sebutkan satu persatu nama-mana perawi yang meriwayatkan kisah diatas…dan telah kami jelaskan sepintas matan hadis tersebut dan kerancuan yang tedapat didalamnya…

Diantara para periwayat itu ialah: Abdullah ibn Zubair, Urwah ibn Zubair, Miswar ibn Makhramah, Abdullah ibn AbiMulaikah, Zuhri, Syu’aib ibn Rasyiid dan Abu al-Yaman… Merekalah pentolan pemalsu kisah konyol yang mendiskriditkan Imam Alias. Dan Nabi serta Fatimah sekaligus.

Mereka dalam satu aliran dengan pimpinan mereka Abdullah ibn Zubair yang dikenal  kebenciannya terhadap Imam Ali dan keluarga suci Nabi saww. dialah yan berniat untuk membakar hidup-hidup semua keluarga Nabi dan Bani Hasyim ketika ia memberontak dan berhasil menguasai kota Makkah dan sekitarnya… Dialah yang tidak mau bershlalawat kepada Nabi dalam khutbah jum’at yang ia pimpin dengan alasan bahwa Nabi Muhammad saww. mempunyai keluarga yan busuk, jika ia bershalawat kepada Nabi saww. kepala-kepala mereka yang membesar…

Oleh karenaya, sudahlah seharusnya jika kita perlu melihat. Memilas dan menyeleksi sunnah Nabi saww. yang sampai melalui jalur mereka.

[1] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[2] Ibid,: 9\268-270.

[3] Ibid,: 7\67.

[4] Ibid,: 8\152.

[5] Shahih Muslim dengan Syarah An-Nawawi:????

[6] Shahih at-Turmudzi:5\699.

[7] Sunan Ibn Majah:1\644.

[8] Sunan Abi daud:1\323-324.

[9] Al-Mustadrak:3\158.

[10] Mushannaf:12\128.

[11] Musnad:4\5,326 dan 328. dan dalam kitab Fadhail ash-Shahabah:2\754.

[12] 9\203 menukil dari riwayat ath-Thabarani dalam tiga kitab Mu’jamnya dan dari al-Bazzar dari sahabat Ibnu Abbas.

[13] 4\67.

[14] 13\677.

[15] Tahdzib at-Tahdzib:4\307.

[16] Ibid,2\380.

[17] Ibid, 2\304

[18] Ibid,11\131.

[19] Ibid,8\415.

[20] Ibid,10\404.

[21] Bid,5\268.

[22] Syarh Nahjul Balaghah Jilid I juz 4 hal. 371.

[23] Syarh Nahjul Balaghah; Ibnu Abi Al-Hadid Jilid I juz 4 hal. 358. Dan bagi anda yang ingin tahu lebih jauh riwayat-riwayat  yang mereka produksi, saya persilahkan merujuk langsung ke buku tersebut.

[24] Tahdzib at-Tahdzib, biografi Al-A”masy:4\195.

[25] Tuhaf al-Uqul:198. Surat teguran itu dimuat al-Ghazzali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:2\143 dengan tanpa mnyebut nama Imam Zainal Abidin, ia berkata: ” Ketika Az-Zuhri berhubungan dengan penguasa, seorang saudara seagamanya menuliskan sepucuk surat kepadanya..”.

[26] Dan upaya seperti itu tidak hanya dilakukan oleh Zuhri saja, walaupun ia yang paling parah, kita banyak menemukan hal serupa dilakukan para perawi lain seperti Abdullah ibn Muhammad ibn Rabi’ah ibn Qudamah al-Qudami, dengan menyandarkan kepalsuannya kepada Imam Ja’far dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Abu Bakar yang bertindak selaku imam dalam shalat jenazah Fatimah as. dan ia takbi empat kali. (lebih lanjut baca: Lisan al-Mizan:3\334 dan Al-Ishabah:4\379).

[27] Shahih Bukhari- dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162.

[28] Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya.

[29] Siyar A’laam an-Nubala’:3\391-394 dan Tahdzib at-Tahdzib:10\137.

[30] Masing-masing sesuai dengan perselisihan redaksi riwayat dongeng diatas.

[31] Oleh kareananya Ibnu Majah menyebut hadis kisah ini dalam bab al-Ghirah (kecemburan).

[32] Bukhari menyebut hadis ini dalam bab Dzabb ar-Rajuli’An Ibnatihi Fi al-Hgirah wa al-Inshaaf (pembelaan seorang terhadap putrinya dalam kecemburuan dan meminta sikap obyektif), dan ia tidak menyebut kecuali hadis ini.

[33] Fath al-Bari:7\67. Keterngan serupa juga di kemukakan al-’Aini dalam ‘Umdah al-Qari:16\230

[34] Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim ibn Hajjaj:16\2-3.

[35] Fath al-Bari:20\72-73 dan Umdah al-Qari:20\260.

[36] Irsyaad as-Sari:8\152. dan Fath al-Bari:20\73.

[37] Baca; al-Ishabah:4\378 dan Tahdzib at-Tahdzib:12\469.

[38]Baca : Fath al-Bari:14\256, Irsyaad as-Sari, ‘Umdah al-Qari dan al-Minhaj…dan lai-lain.

[39] Shahih Muslim, bab dari keutamaan Fatimah ra. , hadis kedua: al-Minhaj:16\3.

[40] Shahih Bukhari, bab Manaqib Fatimah ra. satu-satunya hadis keutamaan Fatimah dalam Bukhari: lihat Fath al-Bari:14\255-256.

[41] Al-Ishabah:4\378.

Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian ia menshalatinya.

Hadis ini dan yang serupa dengannya, benar benar membuat para pencinta Abu Bakar tidak senang duduk, jika mereka menerima perilaku Abu Bakar ini ke atas Sayyidatina Fatimah az Zahra as, berarti mereka juga harus membenarkan kesan dari perbuatan Abu Bakar itu dengan hadis Nabi saaw berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Saaw berkata: “Fatimah bagian diriku, barang siapa memarahinya berarti memarahiku.” (HR Bukhori, Fadhoilu Shahabat, Fathul Bari 7/78 H. 3714)

Namun, Iblis senantiasa mempunyai tentera tenteranya dari kalangan jin dan manusia, yang bekerja tanpa kenal lelah dan tidak malu pada Tuhan serta tidak takut pada Hari Pembalasan. Mereka harus mencari kambing hitam untuk dikorbankan guna menyelamatkan Abu Bakar. Hasil dari kesungguhan mereka itu, terhasillah hadis palsu berikut yang diangkat sebagai sabda Nabi saaw dan disucikan:

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadist Al Miswar bin Makhromah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul Saw berkatalah Fatimah: “Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal,” maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: “Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki.” Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)

“Hadis” ini membuatkan para pencinta Abu Bakar tenang, kerana mereka akhirnya mendapatkan kambing hitam terbesar, iaitu suami kepada puteri Nabi saaw sendiri, iaitu Imam Ali as. Dengan “hadis” ini, mereka berkata…”Jika ada yang membuat puteri Nabi saaw marah, maka Ali adalah orang pertama yang membuatnya marah”

Dengan cara ini, mereka bermaksud membungkam mulut sesiapapun yang cuba mendiskredit Abu Bakar dalam persoalan Fadak yang membuatkan Sayyidatina Fatimah az Zahra as marah. Namun benarlah firman Allah berikut:

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS Aali Imran:54.)

Hadis ini hakikatnya bermasalah dari banyak sisi, jika kita benar-benar teliti, inilah hadis yang dikutip daripada perawi yang sering bershalawat ke atas Muawiyah. Kemarahan Fathimah adalah kemarahan Rasulullah, didapati bahawa ianya tidak ada kaitan langsung dengan kisah dongeng tersebut.

“Fathimah adalah sebahagian daripadaku, barangsiapa membuatkannya marah, maka dia membuatkan aku marah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan tidak disebut tentang Ali melamar puteri Abu Jahal. Muslim juga meriwayatkan hadis ini:

“Hanyalah Fathimah sebahagian daripada diriku, Aku merasa disakiti atas apa yang dia disakiti”. Namun tetap sahaja tidak disebut kisah dongeng tersebut. Hakim Nisyaburi juga menulis hadis ini:

“Sesungguhnya Allah turut murka dengan kemurkaanmu, dan meridhai dengan keridhaanmu” tetap saja tidak ada menyebut kisah dongeng tersebut.

Seluruh pengriwayatan Ahlusunnah tentang hadis Ali melamar puteri Abu Jahal yang meragukan itu telah diriwayatkan oleh Miswar bin Mukhramah. Zahabi dalam Sirul A’lam al-Nubala berkata: “Beliau adalah pendukung kuat Muawiyah” Urwah bin Zubair berkata:

“Tidak sekali-kali aku mendengar Miswar menyebut Muawiyah melainkan dengan iringan shalawat ke atasnya (Muawiyah)” Sirul A’lam al-Nubala jilid 3 halaman 392.

Bershalawat ke atas Nabi menyebabkan kegembiraan Ahlul Bait namun sekarang apakah yang akan terjadi jikalau bershalawat ke atas Muawiyah? Bahkan dalam kitab Ahlusunnah menerangkan kriteria ini adalah tanda-tanda seorang Nashibi. Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis:

Nashibi adalah Baghdh (membenci) ‘Ali dan mengutamakan selainnya (Muawiyah) ke atasnya. -Muqaddimah Fath al-Bari, halaman 460

Kembali kepada persoalan Fadak. Apabila pencinta-pencinta Abu Bakar tidak dapat mematikan kisah marahnya Sayyidatina Fatimah az Zahra as terhadap Abu Bakar, mereka lalu membuat hadis tandingan, bahawa sebelum Sayyidatina Fatimah az Zahra as wafat, Abu Bakar telah memohon maaf darinya dan beliau as telah memaafkan Abu Bakar.

Benarkah kisah ini. Mari kita periksa riwayat tersebut:

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)

Di sini Wahabi juga turut mengakui Fathimah marah terhadap Abu Bakar pada awalnya. Namun mereka mengatakan kedua Abu Bakar dan Umar mendapat keridhaan Fathimah di akhir hayat hidupnya seperti yang dinukilkan oleh Baihaqi.

Hakikatnya ketiadaan ridhanya Sayyidah Fathimah adalah asli dan berasas serta tidak dapat ditolak. Kemarahan Fathimah ini mencetuskan pertanyaan apakah sah kekhalifahan mereka berdua? Mengapa Sayyidah Fathimah penghulu wanita syurga ini tidak meridhai dan marah kepada mereka? Sedangkan menurut riwayat yang sahih sanadnya dalam kitab paling sahih Ahlusunnah mengatakan keridhaan Fathimah adalah keridhaan Rasulullah, kemarahan beliau adalah kemurkaan Allah.

Kerana itu pendukung Muawiyah telah gigih bekerja dan mengarang cerita untuk membuktikan bahawasanya kedua syaikh ini telah menemui beliau di akhir riwayat hidupnya memohon keridhaan dan Fathimah juga telah meridhai mereka!

Pertamanya: Sanad riwayat tersebut adalah Mursal; Sya’bi adalah daripada kalangan tabi’in dan dia sendiri tidak menyaksikan peristiwa yang berlaku. Riwayat ini sendiri mempunyai masalah.

Kedua: Jikalaulah kita anggap hadis daripada tabi’in ini dapat diterima sekalipun namun Riwayat daripada Sya’bi juga tidak dapat dipegang kerana Sya’bi adalah memusuhi Amirulmukminin dan seorang Nashibi. Kerana itu Bilazari dan Abu Hamid Ghazali menulis tentang Sya’bi seperti berikut:.

Daripada Mujalid, daripada Sya’bi berkata: Kami telah memasuki kumpulan haji Bashrah. Ada sekumpulan Qari Madinah dari kalangan anak-anak Muhajirin dan Anshar yang disertai oleh Abu Salamah bin ‘Abdul Rahman bin ‘Auf… Kumpulan haji sibuk berbual-bual tentang Ali bin Abi Talib dan mencercanya, kamipun turut mencerca Ali…

Ansab al-Asyraf, jilid 4 halaman 315

Ihya ‘Ulumuddin, jilid 2 halaman 346

Golongan Nashibi menzahirkan diri mereka sebagai pendusta. Seakan-akan tidak ada orang yang akan meneliti kitab Syiah untuk melihat dakwaan mereka. Hadis tersebut telah kami temui dalam kitab al-Kafi jilid 7 halaman 175:

Mengapa golongan Nashibi tidak mengeluarkan hadis di halaman seterusnya? Muhammad bin Muslim meriwayatkan:

“Sesungguhnya perempuan tidak mewarisi apa yang ditinggalkan suaminya daripada tanah rumah atau tanah”. al-Kafi jilid 7 halaman 176

Maka telah terang kebenaran bagaikan pancaran matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, perempuan yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah isteri, bukannya seorang putri tidak mewarisi harta seorang ayah.

Wahai Nashibi, apakah anda membaca keseluruhan kitab Syiah lalu hanya mengambil sebahagian hujjah semata-mata untuk memangkas kebenaran? Tidakkah kedatangan hak akan menyirnakan kebathilan? Anda memutar belit kenyataan namun hakikatnya pembaca sekarang akan menghukum anda sebagai pendusta.

Nashibi sekali lagi mengambil hadis Syiah:

“Ternyata riwayat di atas ada dalam kitab Syi’ah, diriwayatkan Al Kulaini dalam kitab-kitab Al Kaafi dari Albukthtari dari Abi Abdillah Jafar Asshadiq Ra sesungguhnya ia berkata: “Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar melainkan mewariskan beberapa hadist, barang siapa telah mengambil sebagiannya berarti telah mengambil bagian yang sempurna.” Warisan yang benar adalah warisan ilmu dan kenabian dan kesempurnaan kepribadian bukan mewariskan harta benda dan keuangan.”

Hadis ini ditemui dalam kitab al-Kafi bab sifat ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama:

Pengriwayatan ini tidak sedikitpun menceritakan tentang warisan seorang bapa kepada anak, akan tetapi warisan ilmu kenabian kepada ulama. Kerana itulah al-Kulaini meletakkan hadis ini dalam bab ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama. Riwayat ini menumpukan perhatian kepada urusan kenabian bukanlah mengumpulkan harta dunia seperti tamakkan dirham atau dinar. Jelas sekali ia juga tidaklah bermaksud nabi Muhammad tidak meninggalkan warisan harta untuk puterinya namun para ulama mewarisi ilmu nabi, bukan keduniaan.

Tidak ada keridhaan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar menurut kitab yang paling sahih di kalangan Ahlusunnah

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar lebih terang dari sinaran matahari dan tidak seorangpun boleh mengingkarinya. Dalam kitab paling sahih di kalangan Ahlusunnah tercatat kata-kata Fathimah yang marah terhadap Abu Bakar.

Dalam kitab Abwab al-Khumus:Maka telah marah Fathimah puteri Rasulullah (saw) dan meninggalkan Abu Bakar, marahnya berlanjutan sehingga beliau wafat.

Dalam kitab al-Maghazi, bab Ghurwah Khabir, Hadis 3998:

Fathimah marah pada Abu Bakar dan beliau tidak berbicara lagi dengannya sehingga wafat – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis ke 3998

Dalam kitab al-Faraidh hadis 6346:987.

Maka Fathimah meninggalkannya (Abu Bakar) dan tidak lagi berbicara dengannya sehingga meninggal dunia – Sahih Bukhari, jilid 6 halaman 2474, hadis ke 6346

Dalam riwayat ibnu Quthaibah, Fathimah tidak mengizinkan mereka masuk sewaktu Abu Bakar dan Umar datang untuk berziarah. Mereka terpaksa memohon Imam Ali (as) menjadi perantara namun gagal. Bahkan Fathimah memberikan maklum balas seperti berikut:

Kami bersumpah demi Allah atas anda berdua, apakah kalian tidak dengar apa yang Rasulullah katakan: Ridha Fathimah adalah ridhanya aku, marahnya Fathimah adalah marahnya aku, maka barangsiapa yang menyebabkan keridhaan anakku Fathimah maka ia pun membuatkan aku ridha, barangsiapa yang menyebabkan kemarahan Fathimah maka ia membuatkan aku marah.

Kedua mereka menjawab: Iya kami telah dengari ia daripada Rasulullah (saw).

Setelah itu Fathimah berkata:.

Maka sesungguhnya saya bersaksi demi Allah dan malaikatnya, sesungguhnya kalian berdua menyebabkan saya marah dan membuatkan saya tidak ridha, saya akan mengadu tentang kalian berdua ketika pertemuan saya dengan nabi.

Tidak cukup dengan ini Fathimah menambah lagi:.

Demi Allah, akan saya mengutuk anda setiap kali selesai shalat. – Al-Imamah wa siyasah, jilid 1 halaman 17

Dengan kenyataan ini bagaimanakah dapat kita percaya bahawa Sayyidah Fathimah meredhai mereka berdua? Apakah riwayat Bukhari yang diutamakan atau riwayat Baihaqi? apakah ia juga diriwayatkan oleh seorang musuh Ali bin Abi Talib yang menyaksikan sendiri peristiwa itu?

Ketiga: Jikalau Fathimah az-Zahra meridhai mereka berdua, mengapa beliau meninggalkan wasiat agar ia dikebumikan di waktu malam serta jangan di kasi khabar kepada orang yang menzaliminya untuk mengiringi dan menshalati jenazahnya?

Muhammad bin Ismail al-Bukhari menulis:.

Fathimah hidup setelah wafatnya nabi (saw) selama enam bulan. Maka ketika ia wafat, suaminya Ali bin Abi Talib mengkebumikannya di waktu malam dan tidak diizinkan Abu Bakar menshalatinya. – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis 3998, pencetak Dar Ibn Kathir – Beirut

Ibu Qutaibah al-Dainuri menulis dalam Takwil Mukhtalif al-Hadis:

Fathimah (ra) telah meminta harta pusaka ayahnya daripada Abu Bakar. Apabila ia tidak memberikan pusaka kepadanya, Fathimah bersumpah tidak akan berbicara lagi dengannya buat selama-lamanya, dan mewasiatkan agar ia dikebumikan di waktu malam supaya tidak dihadiri Abu Bakar. Maka beliau dikebumikan di waktu malam..

Takwil Mukhtalaf al-Hadis, jilid 1 halaman 300

Abdul Razak Shan’ani menulis:

Daripada Hasan bin Muhammad berkata: bahawa Fathimah binti Nabi (saw) telah dikebumikan di waktu malam supaya Abu Bakar tidak menshalatinya. Di antara mereka berdua ada sesuatu.

Dia menambah:ـ.

Daripada Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti ini dengan mengatakan beliau (Fathimah) mewasiatkan seperti itu (dimakamkan di waktu malam). – Al-Mushannaf al-Maktabah al-Islamiyah – Beirut, jilid 3 halaman 521, hadis 6554 dan 6555, cetakan kedua 1403 H

Namun ada juga orang berkata: Abu Bakar setelah itu menyesal dan bertaubat, dalam menjawab perkara ini hendaklah kita katakan: Taubat itu ada waktu yang bermanfaat dan berharga, diiringi dengan penyesalan mendalam dalam keinginan insani. Jikalau sudah berlalu ia hendaklah membayar ganti rugi sebagai tanda sesal seorang yang bertaubat dan hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Pertanyaan kami ialah apakah Abu Bakar mengembalikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fathimah sehingga taubatnya menjadi taubat Nasuha yang diterima tuhan?

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan Umar ini berlarutan sehingga akhir hayatnya dan beliau tidak sekali-kali meridhai mereka. Permasalahan ini dalam kitab paling sahih Ahlusunnah setelah al-Quran telah cuba dipintas oleh riwayat Baihaqi yang mengatakan mereka berdua telah mendapat keridhaan Fathimah. Namun pengriwayatan ini dipalsukan

Sejak akhir-akhir ini telah tersebar  kumpulan-kumpulan yang telah mempergunakan hadis-hadis Syiah dalam menjalankan kegiatan fahaman mereka. Yang pertama adalah dari kumpulan Syiah sendiri, yang digelar “rijalist total”. Kumpulan ini menjadikan ukuran sanad sebagai pengukur 100% kesahihan sesebuah riwayat itu. Jika wujud sedikit sahaja masalah dalam rantaian perawi, maka lantas, hadis itu ditolak, tanpa mempedulikan matan hadis tersebut.

Golongan kedua, adalah tidak lain dan tidak bukan golongan nashibi sendiri, yang mana kita perhatikan sejak akhir-akhir, kerap mengorek hadis-hadis Syiah, dengan harapan menjumpai hadis yang penuh kotradiksi, lalu menggunakannya untuk mendiskredit Syiah. Sudah pasti usaha mereka akan menjadi sia-sia. Pensahihan sesebuah hadis bukanlah semata-mata bergantung kepada isnad dan kekuatan perawi hadis, malah yang paling utama adalah matannya(isi hadis tersebut). Isinya lah yang menentukan samada hadis itu sahih atau tidak.

Ketetapan ini bukanlah ditetapkan oleh orang lain, melainkan oleh Allah dan para hujjahNya juga:

1) Tafseer Al Ayyashi – Bab Meninggalkan Hadis Yang Bercanggahan Dengan Quran

عن محمد بن مسلم قال: قال ابوعبدالله (عليه السلام): يا محمد ما جائك في رواية من بر أو فاجر يوافق القرآن فخذ به، وما جائك في رواية من بر او فاجر يخالف القرآن فلا تأخذ به

Abu Abdillah (as) bersabda:

 “Wahai Muhammad, apabila sampai kepada kamu sebuah riwayat samada dari orang yang benar atau tidak yang selari dengan Al Quran, maka peganglah ia. Dan apa sahaja yang datang dari orang yang benar atau tidak yang bercanggahan dengan Quran, maka janganlah jadikan ia sebagai pegangan..”

Rujukan: http://www.tashayyu.org/hadiths/quran/abandoning-narrations-that-are-contrary-to-the-quran

2) Al Kafi : Kitab Keutamaan Ilmu : H 197, Ch. 22, h2

Muhammad ibn Yahya telah meriwayatkan dari ‘Abd Allah ibn Muhammad dari Ali ibn al-Hakam dari Aban ibn ‘Uthman dari ‘Abd Allah ibn abu Ya‘fur yang mengatakan berikut.

أنه حضر ابن أبي يعفور في هذا المجلس قال: سألت أبا عبدالله (عليه السلام) عن اختلاف الحديث يرويه من نثق به ومنهم من لا تثق به؟ قال إذا ورد عليكم حديث فوجدتم له شاهدا من كتاب الله أو من قول رسول الله (صلى الله عليه وآله) وإلا فالذي جاء كم به أولى به

“Di dalam sebuah perjumpaan yang mana Abu Ya’fur ada bersama, aku bertanya kepada Abu Abdillah(as) tentang perbezaan hadis yang diriwayatkan dari orang yang kami percayai dan tidak kami percayai.” Kemudian Imam membalas: “Jika kamu menjumpai sebuah hadis dan kami menjumpai bukti dari Quran untuk menyokongnya atau hadis dari Nabi(s) (maka ikutlah ia.)”

3) Rijal al-Kashi, hal.195

Imam Sadiq (a.s) bersabda tentang al-Moghira Ibn Sa`id:

“Sesungguhnya al Mughira ibn Sa’id telah menambah-nambah di dalam kitab-kitab hadis para sahabat bapaku. Beliau menambah perkara yang tidak disebutkan oleh bapaku. Oleh itu, takutlah Allah dan janganlah menerima apa sahaja yang didakwa dari kami yang mencanggahi perkataan Tuhan dan hadis Nabi(s).”

Hadis-hadis di atas, sebenarnya sangat selari dengan ayat Quran berikut yang mengatakan kita tidak boleh menolak sesebuah hadis hanya kerana kurangnya keboleh percayaan pada perawinya.

Quran; Surah 49, ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya”

Maka berdasarkan ayat di atas, kita seharusnya menyelidiki dahulu kebenaran sesebuah hadis itu dan tidak terus menerima atau menolak hanya berdasarkan kredibiliti perawinya.

Perkara ini turut ditekankan oleh Syeikh al Kulaini, penulis kitab Al Kafi di dalam mukadimah kitabnya:

“Saudara ku, semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, sememangnya, tidak mungkin bagi sesiapa pun untuk membezakan -sekurang-kurangnya berdasarkan spekulasi dirinya sendiri- antara riwayat-riwayat dari para ulama yang mempunyai perbezaan dalam pengriwayatannya. Ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti  apa yang telah diajarkan oleh Imam(as): “Telitilah Al Quran, apa sahaja yang selari dengan Kitab Allah, maka ambillah. Apa sahaja yang menyanggahinya, tolaklah.”

Nota: Kata-kata Syeikh Al Kulaini ini sekaligus menafikan dakwaan sesetengah nasibi jahil bahawa beliau sendiri menyatakan kitabnya sahih.

Ada 2 sebuah lagi hadis yang menarik, yang mana para Aimmah(a) tidak membenarkan kita menolak mentah-mentah hadis yang dinisbahkan kepada mereka:

حدثنا محمد بن الحسين عن محمد بن اسماعيل عن حمزة بن بزيع عن على السنانى عن ابى الحسن ع انه كتب إليه في رسالة ولا تقل لما بلغك عنا أو نسب الينا هذا باطل وان كنت تعرفه خلافه فانك لا تدري لم قلنا وعلى أي وجه وصفة.

 

Muhammad b. al-Husayn meriwayatkan Muhammad b. Isma`il dari Hamza b. Bazi dari Ali the as-Sinani dari Abu ‘l-Hasan (as) ,

 

“Dan janganlah kamu katakan tentang apa yang telah sampai kepada kamu dari kami/ dinisbatkan kepada kamu, bahawa “ini adalah palsu”, walaupun kamu telah mengetahui lawannya. Ini sesungguhnya kerana kamu tidak mengetahui mengapa kami mengatakannya, dan berkaitan aspek apa yang disebutkan.”

[Sumber: Basair Al-Darajat hal. 538]

[٩٦٩] ٢ – محمد بن الحسن الصفار في بصائر الدرجات، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، عن محمد بن سنان، عن عمار بن مروان، عن المنخل، عن جابر قال: قال أبو جعفر ع: قال رسول الله (ص): إن حديث آل محمد صعب مستصعب، لا يؤمن به إلا ملك مقرب أو نبي مرسل أو عبد امتحن الله قلبه للإيمان، فما ورد عليكم من حديث آل محمد فلانت له قلوبكم وعرفتموه، فاقبلوه وما اشمأزت قلوبكم وأنكرتموه فردوه إلى الله وإلى الرسول وإلى العالم من آل محمد، وإنما الهالك أن يحدث بشئ منه لا يحتمله فيقول: والله ما كان هذا ثلاثا.

 

Sesungguhnya hadis-hadis keluarga Muhammad adalah sangat sulit dan menyulitkan. Hanya malaikat muqarrab, atau Nabi yang diutus atau hamba yang mana Allah telah menguji imannya sahaja yang akan mempercayainya. Jadi apa sahaja yang datang kepada kamu dari hadis keluarga Muhammad, dan hati kamu ringan ke arahnya, maka terimalah. Jika hati kamu menafikannya, maka pulangkanlah ia pada ALlah, RasulNya atau alim dari keluarga Muhammad. Dan mereka yang dimusnahkan itu adalah mereka yang meriwayatkan sesuatu yang hati mereka membencinya lalu dia mengatakan “Demi Allah, ini bukanlah ia” sebanyak 3 kali.(Bermaksud menafikan hadis tersebut)

[Sumber: Fusul al Muhimmah, bab 39]

 .
Hasil kodifikasi Hadis yang dilakukan oleh Muhammad ibn Syihab al Zuhri (51 – 125 H) dan Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm dianggap sebagai kitab Hadis yang pertama ada dalam sejarah pembukuan Hadis. Namun karya kedua ulama tersebut tidak dapat dijumpai lagi saat sekarang ini. Setelah kedua tokoh tersebut maka bermuncullah sejumlah ulama Hadis yang menghimpun dan mengkodifikasi Hadis, sehingga lahirlah kitab-kitab hadis yang bervariasi jenis dan macamnya dilihat dari sistimatika penyusunannya.
 .
Di antara kitab-kitab Hadis yang merupakan hasil kodifikasi para ulama tersebut yang masih dapat kita jumpai saat ini di antaranya adalah : kitab al Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik ibn Anas . Kitab Al-Muwaththa’ ;Kitab ini adalah karya termashur Imam Malik di antara sejumlah karyanya yang ada. Disusunnya kitab ini adalah atas anjuran khalifah Abu Ja’far al Mansyur dari Dinasti Abbasiyah yang bertujuan untuk disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat Muslim dan selanjutnya dijadikan sebagai pedoman hukum negara di seluruh dunia Islam dan juga akan digunakan sebagai acuan bagi para hakim untuk mengadili perkara-perkara yang diajukan kepada mereka serta menjadi pedoman bagi para pejabat pemerintah. Namun Imam Malik menolak tujuan yang diinginkan oleh khalifah tersebut, bahwa agar Al Muwaththa’ digunakan satu rujukan atau satu sumber saja dalam bidang hukum
.

Menurut ibn al Hibah, Hadis yang diriwayatkan Imam Malik berjumlah seratus ribu Hadis, kemudia Hadis-hadis tersebut beliau seleksi dengan merujuk kesesuaian dengan alquran dan sunnah sehingga tinggal sepuluh ribu Hadis.Dari jumlah itu beliau lakukan seleksi kembali sehingga akhirnya yang dianggap mu’tamad berjumlah lima ratus Hadis.Beberapa kali dilakkukan revisi oleh Imam Malik atas Hadis yang dikumpulkan mengakibatkan kitab ini memiliki lebih dari delapan puluh naskah (versi), lima belas diantaranya yang terkenal adalah :
  • Naskah Yahya ibn Yahya al Laytsi al Andalusi, yang mendengar al Muwaththa’ pertama kali dari Abd al Rahman dan selanjutnya Yahya pergi menemui Imam Malik secara langsung sebanyak dua kali tanpa perantara.
  • Naskah Abi Mus’ab Ahmad ibn Abi Bakr al Qasim, seorang hakim di Madinah.
  • Naskah Muhammad ibn al Hasan al Syaibani, seorang murid Abu Hanifah dan murid Imam Malik.
.

Hadits-hadits palsu pada masa bani Umayyah, tidak akan “laku dijual” kalau masyarakat saat itu mau tetap menomorsatukan Al-Qur’an, di atas hadits-hadits.Oleh karena itu, untuk bisa melegitimasi kekuasaan bani Umayyah pada saat itu, harus dilakukan dua cara:
1. Buat hadits palsu sebanyak mungkin.
2. Palingkan perhatian kaum muslimin dari Al-Qur’an ke hadits-hadits. (agar bisa menelan hadits-hadits palsu tsb)

.

Kebencian keluarga Umayyah  kepada Bani Hasyim sangat terkenal, misalnya Cucu Abu Sofyan membantai Imam Husain di Karballa.Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Mu’awiyah adalah orang pertama yang tertarik ingin menulis sejarah dan membuat buat hadis hadis atau sunnah palsu. Ia mendapatkan sebuah sejarah  masa lalu yang ditulis oleh seorang bernama Ubaid yang ia panggil dari Yaman.Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam, dan Abu Rayyah dalam bukunya Adhwa’ Ala Sunnah Al Muhammadiyah telah menggugat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, bahwa dia (Abu Hurairah) sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, padahal dia tidak pernah menulis. Ia hanya menceritakan hadits dari ingatannya.

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Zuhri adalah sejarawan pertama yang menulis sejarah Islam atas perintah dan pembiayaan langsung dari penguasa. Ia juga menulis kumpulan hadis. Karya Zuhri adalah salah satu sumber utama hadis hadis Bukhari. Zuhri sangat dekat dengan keluarga bangsawan, dan guru bagi putera putera nya

Dua orang murid Zuhri yang bernama Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq menjadi sejarahwan terkenal. Musa dulunya adalah seorang budak dirumah Zubair. Karyanya merupakan karya yang terkenal untuk waktu yang lama. Anda akan menemukan referensi referensi nya di banyak buku buku sejarah

Murid kedua, Muhammad bin ishaq  adalah sejarahwan terkemuka bagi kaum sunni. Biografi Nabi karyanya  berjudul “Sirah Rasulullah” masih menjadi sumber sejarah yang diakui dalam bentuk yang diberikan oleh Ibnu Hisyam, dan dikenal sebagai sirah Ibnu Hiysam

Zuhri adalah orang pertama yang menyusun hadis seluruh sejarah  dan kitab sunni setelah nya oleh orang orang yang berpengaruh dalam karya karya ini (Sumber : As Sirah An Nabawiyah, Syilbi, Sejarahwan Sunni Terkemuka, bagian 1 halaman 13-17)

Penjelasan diatas memberikan bukti dan fakta fakta berikut :

  1. Kitab sejarah kaum sunni pertama kali disusun atas perintah langsung dari Dinasti Umayyah
  2. Penulis pertama adalah Zuhri, lalu dilanjutkan oleh kedua musridnya, Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq
  3. Para penulis ini sangat dekat dengan keluarga Dinasti Umayyah

Penjahat penjahat inilah yang pertama kali menuliskan kitab kitab sejarah dan hadis. Mereka memalsukan hadis untuk membenarkan tindakan mereka dan menyatakan bahwa Nabi SAW telah memerintahkan untuk menaati mereka walaupun zalim.  Sebuah hadis berlabel shahih yang menggelikan !!!!

Mayoritas Umat Merupakan Jama’ah pengikut  Syi’ah Mu’awiyah (sunni sekarang) yang MERAMPAS  kekuasaan , menindas dan melakukan diskriminasi terhadap Syi’ah Ali.. Mustahil Nabi SAW menyuruh anda mengikuti kaum mayoritas !!!

Banyak Hadis Hadis dan Kitab Sejarah Mazhab Sunni Telah Dipalsukan Oleh Penulis dari Dinasti Umayyah !!!  Sehingga Syi’ah Hanya Menerima Sebagian Hadis dan Sirah Sunni Dan Mengingkari Keotentikan Sebagian Lagi

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Padahal Allah SWT berfirman : “Tidak seorang pun menyentuh (kedalaman makna Al Quran) kecuali hamba hamba yang disucikan” (Qs. Al Waqi’ah ayat 79)

al-zuhri telah membuat hadits palsu. Hal ini dilakukannya karena ada “order special” dari khalifah bani umayyah di damaskus

Kendati hadits tersebut termaktub dalam kitab sahih al-bukhari (kitab yang otentisitasnya tidak diragukan lagi oleh kaum muslim), sebagian diantaranya  bikinan imam al-zuhri. Bukanlah sabda Nabi saw. Saya meragukan  kredibilitas imam al-zuhri dan imam al-Bukhari, para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadits-hadits nabawi yang pada saat itu sudah ada tetapi belum terhimpun dalam suatu buku.

ummat islam diharapkan tidak percaya sepenuhnya kepada imam al-Bukhari, sebagian  omongan al-zuhri telah dianggap sebagai hadits Nabi SAW. DAN ITU kecerobohan mendasar imam al-bukhari.  ???

terdapat dalam kitab Ibn Sa’ad dan Ibn ‘Asakir  : al Zuhri mengatakan, “Inna haulai al umara akrahuna ‘ala kitabah alhadits” (sesungguhnya para pejabat itu telah memaksa kami untuk menulis Hadits). Artinya para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadits-hadits nabawi yang pada saat itu sudah ada tetapi belum terhimpun dalam suatu buku. JAdi Zuhri  ada  hubungan dengan Bani Umayyah dan pemanfaatan dirinya dalam pemalsuan hadits demi mengikuti hawa nafsu mereka