Uncategorized

Dialog santai ini adalah Sekedar untuk menggambarkan perbedaan Suni – Syiah, dengan santai … Biar nggak usah, pusing-pusing…Tidak dimaksudkan untuk detil detil amat…

mengapa syiah mengapa sunni / pemahaman

.

Dialog santai ini adalah  Sekedar untuk menggambarkan perbedaan Suni – Syiah, dengan santai … Biar nggak usah, pusing-pusing…Tidak dimaksudkan untuk detil  detil  amat…
.

Dialog santai antara Aslan (A), seorang Suni dan Al-Baqir (B), seorang Syiah, di kantin.

A: Eh, Al-Baqir kamu kok Syiah, sih? Syiah kan sesat… Mbok ikut Suni saja yang lurus..

.

B: Lho, justru menurut saya kamulah yang sesat, ikuti Syiah saja… ini jalan yang lurus..

DASAR KEBENARAN

.
A: Iya, yah… Nggak mungkin kamu ikut Syiah kalau kamu pikir tidak benar, kalau gitu kita dialog santai saja. Apa dasarnya Syiah itu benar? Kalau Suni kan jelas, “umat Islam akan pecah jadi 73, yang benar adalah Ahlu Sunah”.

.
B: Oh, pasti ada dong, hadis Nabi “Ahlul Bait adalah laksana bahtera Nuh, siapa yang masuk ke dalamnya dia akan selamat”

QURAN BEDA?

.
A: Oh, gitu yah? Hadis ini kok jarang saya dengar… Terus ini yang penting, kalau kamu Islam kok pakai Quran yang lain dengan kami?

.

B: Tidak, itu fitnah! Quran kami sama dengan kamu. Kalau memang beda, gampang kok membuktikannya. Datang ke rumah saya, apa Qurannya beda? Cari buku tafsir orang Syiah, apa ayat2nya beda? Sekarang kan zaman informasi, kalau beda gampang buktikannya, misalnya kunjungi website Syiah, ada banyak sekali, apa ada ayat Qurannya beda?
.
A: Tapi katanya ada ulama Syiah yang bilang Quran sekarang tidak asli?
B: Iya memang ada, tapi itu bukan pendapat yang sahih. Lagian yang ngomong gitu, juga nggak mbuktikan Quran yang asli itu kayak apa? Tidak usah dianggap… Kalau memang beda, tentu Iran akan mencetak Quran versi Syiah sendiri ke seluruh dunia, kan Iran negara Islam Syiah?

—————————————————————————————————-

TAQIYAH
..
A: Ah, jangan-jangan kamu ngomong gitu untuk taqiyah… Orang Syiah nggak bisa dipercaya, karena suka taqiyah, sih…
.
B: Jangan begitu, orang Syiah itu juga punya akhlaq. Kalau misalnya ajaran agamanya mengajarkan untuk bohong ya agama itu nggak aku ikutin. Pastilah semua agama juga menjunjung tinggi kejujuran… Taqiyah itu artinya menyembunyikan keimanan, karena alasan yang benar, misalnya ancaman jiwa. Seperti istri Fir’aun, dia menyembunyikan keimanan dihadapan Firaun, meski kemudian ketahuan.
.
A: Tapi seharusnya dalam kondisi apa pun, kita harus menunjukan kebenaran…
.
B: Untuk alasan yang keselamatan misalnya, kita boleh pura2, seperti dilakukan oleh Amar bin Yasir ra. Inilah yang disebut taqiyah. Kalau kondisi aman, beribadah bebas, semua orang boleh bicara tanpa intimidasi, apa gunanya taqiyah.
.
A: Masuk akal, tapi kayaknya saya nggak sreg, jadi orang Islam kan harus berani…
.
B: Iya, tapi kalau akibatnya umat Islam menjadi lemah, bagaimana?

RUKUN IMAN & ISLAM

A: Ohya, apa Syiah punya rukun Iman & Islam sendiri?
.
B: Iya, kami menamakan agak berbeda, yaitu Usuludin dan Furu’udin. Usuludin ada 5, yaitu Tauhid, Adalah (Keadilan Allah), Nubuwah (Kenabian), Imamah dan Qiyamah. Berbeda sedikit dengan rukun Iman versi Suni, yaitu pada Imamah. Kalau yang lain relatif sama, hanya istilahnya beda.
.
A: Kalau Suni menggunakan khilafah, tapi itu tidak masuk kedalam rukun Iman… Terus iman kepada Kitab, Malaikat, dan Taqdir kok nggak masuk?
.
B: Oh, tentu kami percaya dengan Kitab, dan Malaikat tetapi itu bagian dari keyakinan dari Tauhid dan Nubuwah. Sedang Taqdir, kami menekankan kepada Adalah, keadilan Allah dalam taqdir…
.
A: Terus Furu udin, apa itu?
.
B: Ya hampir sama dengan Rukun Islam, tapi kami lebih banyak karena ada tambahan lain, yaitu khums, jihad, amar ma’ruf nahi munkar.
.
A: Oh, begitu… Cuma khums kok nggak dikenal ya dalam Suni?
.
B: Memang agak berbeda, khums kalau Suni masuk dalam zakat. Yaitu zakat barang tambang, rampasan perang, itu 1/5 (khums), . Tapi di Syiah, tidak hanya barang tambang, tetapi setiap keuntungan, termasuk kelebihan pendapatan selama setahun (seperti zakat profesi), dikenai 1/5
.
A: Wah banyak juga, yah… Kalau Suni hanya 2.5% saja….
——————————————————————————————–
MADZHAB FIKH

A: Terus cara shalat, puasa apa sama?

B: Secara umum samalah, seperti subuh 2 rakaat, maghrib 3 rakaat, dll… Gerakannya juga sama dari takbir hingga salam… Namun ada beda pada detil, misalnya waktu berdiri tangan tidak sedekap, tapi lurus. Kita mengikuti fikh madzhab Ja’fari…
.
A: Apaan tuh fikh ja’fari, kok tidak ikut madzhab 4 saja?
.
B: Yah, kalau kaum Suni punya 4 madzhab Hanafi, Syafii, Maliki dan Hambali… Kami punya madzhab Ja’fari. Madzhab ini mengikuti pendapat Ja’far Shadiq salah satu Imam Syiah.
.
A: Ja’far Shadiq? Kok kaya nama salah satu wali songo ya?
.
B: Oh, benar… Banyak keturunan Nabi SAW memiliki nama Ja’far Shadiq, di antaranya adalah wali songo penyebar Islam di tanah Jawa, beliau juga keturunan Nabi SAW.
.
A: Tapi Ja’far Shadiq hidup pada zaman siapa?
.
B: Beliau hidup hampir bersamaan dengan Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Malah konon Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pernah berguru kepada Ja’far Sadiq. Sehingga terkenal kata2 Imam Abu Hanifah, “Kalau tidak karena 2 tahun (bersama Imam Ja’far), maka celekalah Nu’man (nama Abu Hanifah)”…
.
A: Oh, gitu? Ternyata saling berguru ya? Seperti juga Imam kaum Suni, Imam Syafi’i pernah berguru kepada Imam Malik, dan Imam Ahmad pernah berguru kepada Imam Syafii… Ternyata ke-5 Imam madzhab saling berdamai, ya? kenapa umatnya saling bertikai?
.
B: Entahlah… Orang sekarang makin sulit toleransi, beda pendapat sedikit saja, dibilang “Aqidah kita berbeda, engkau bukan saudaraku”
.
A: Iya, kayaknya lebih mudah menyatukan anak kecil bertengkar, ya? Padahal shalatnya menghadap kiblat yang sama, membaca Quran yang sama, naik haji juga ke tempat yang sama..
.
B: Tapi syukurlah, sudah mulai banyak yang menginginkan persatuan kayak Ikhwanul Muslimin… Dari Syiah, kemarin presiden Iran dateng ke Indonesia untuk silaturahmi… Saya bersyukur, kamu masih mau silaturahmi sama saya… meski tahu saya Syiah.
.
A: Oh, bagaimana pun, kamu Saudara saya dalam Islam…
———————————————————————————————
AHLUL BAIT NABI SAW

B: Boleh tanya, kami kaum Syiah sering menyebut sebagai madzhab Ahlul Bait, sebenarnya kamu tahu nggak Ahlul Bait…

.

A: Memang agak jarang kami membahas Ahlul bait dalam kajian-kajian Suni… Tapi setahu saya, ahlul bait maknanya banyak… Ada yang mengartikan keturunan Ali, ada yang mengartikan ya seluruh umat Islam ini Ahlul bait Nabi… Kalau menurut Syiah bagaimana? Apa sih pentingnya ahlul bait?
.
B: Bagi kami, konsep ahlul bait justru merupakan pilar dari ajaran Syiah. Sebagaimana hadis nabi, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga (tsaqalain), yang pertama adalah Kitab Allah, dan yang kedua adalah Ahlu baitku”. Hadis ini sahih, lho… Soalnya diriwayatkan diantaranya oleh Muslim.
.
A: Lho, bukannya dua perkara itu Al-Quran dan Sunahku? Itu setahu saya…
.
B: Ya, memang ada… tetapi kami lebih memilih hadis dengan ahlul bait ini… Bagi kami ahlul bait nabi bukan sekedar keluarga Nabi, tetapi adalah yang kami jadikan anutan, dan kami cintai. Kami ingin menjadi kelompoknya…
.
A: Wah, bukannya itu kultus individu, Nabi SAW kan tidak suka dikultusindividukan…
.
B: Bukan kultus individu, tetapi memang itu perintah Allah dan Rasul.. seperti hadis tadi itu…
.
A: Apa ada perintah Allah untuk mencintai ahlul bait Nabi? setahu saya tidak ada…
.
B: Ada, misalnya di surah Asy-syura: 23, “Katakanlah : Aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (al-qurba) “. Kami menafsirkan Al-Qurba adalah Ahlul bait Nabi… Menurut Syiah, Ahlul bait itu adalah ahlul kisa, yaitu Fatimah, Ali, Hasan dan Husain… dan keturunan mereka…
.
A: Kalau menurut kami keluarga, ya keluarga dalam arti umum. Okelah, memang kita disuruh mencintai ahlul bait Nabi SAW, karena hadisnya cukup banyak… Tapi, kok bisa2nya Syiah berpendapat Ahlul bait itu suci, tidak punya dosa, seperti nabi saja… Ini kan tidak masuk akal?
.
B: Menurut saya tidak mustahil kok orang biasa dosanya sedikit, sepanjang dia selalu menjaga diri.. Nah,
menurut kami Ahlul Bait Nabi itu selain menjaga diri, juga memang dijaga oleh Allah SWT dari segala noda..
.
A: Apa dasarnya?
.
B: Ada, surat Al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Ini artinya Ahlul bair dijaga Allah…
.
A: Ah, kami nggak menafsirkan seperti itu…
B: Ya, nggak apa-apa… Kita lanjutkan lain kali saja deh…
—————————————————————————————-
AHLUL BAIT (2)
.
A: Ohya, lanjutkan ya ngobrol kemarin masalah ahlul bait… Apa benar orang Syiah menyembah Ali dan keturunannya atau ahlul Bait?
.
B: Ah, ya nggak dong… Ajaran kita kan sama TAUHID, artinya mengesakan Allah, hanya menyembah Allah, kalau membuat sekutu kan syirk.
.
A: Terus kenapa kamu sering dikatakan menyembah Ahlul bait?
.
B: Nggak tahu, ya? Barangkali karena kami memang mencintai dan membela ahlul Bait Nabi SAW…Tapi itu kan perintah Allah dan Rasul. Jadi menurut kami, kecintaan kepada Ahlul Bait adalah karena kecintaan kepada Rasul, kecintaan kepada Rasul adalah karena cinta kepada Allah..
.
A: Sebenarnya, kami kaum Suni juga mencintai Ahlul Bait Nabi, bukankah kita dianjurkan untuk banyak-banyak shalawat dan bunyi salawat salah satunya ” wa aali Muhammad”…
.
B: Benar, sebenarnya kita juga sama2 mencintai ahlul bait Nabi SAW sebagaimana salawat tadi…
.
A: Saya pengin tahu lebih lanjut mengenai kecintaan kepada Ahlul Bait… Bagaimana riwayat mereka kenapa orang syiah seneng sekali memperingati Hari Asy-Syura…
.
B: Kalau kita baca sejarah ahlul Bait Nabi memang penuh dengan pelajaran. Al-Hasan, cucu Nabi SAW, mementingkan perdamaian dengan Muawiyah, demi persatuan kaum Muslimin. Al-Husein, juga cucu kesayangan Nabi SAW, bersama dengan sekitar 70an orang dibantai oleh orang-orang Islam juga di Karbala… Ini yang menyedihkan…Inilah mengapa orang-orang Syiah selalu mengenang kejadian ini… Sebagai bukti kesetiaan kami terhadap Ahlul Bait, sebagaimana perintah Rasul untuk mencintai dan membela mereka…
.
A: Saya juga tahu sejarah mereka, hanya kami tidak memperingati sampai gitu-gitu amat?
.
B: Ya, itu terserah keyakinanmu, tetapi bagi kami memperingati kejadian bersejarah adalah salah satu bukti kecintaan kami kepada mereka… Bukankah, hal biasa misalnya kamu memperingati hari kelahiran, pernikahan atau kematian saudaramu? Apalagi dengan panutanmu…
.
A: Iya, lah… Memang jujur saja… Saya tidak begitu mengenal tokoh-tokoh Ahlul bait… Siapa saja selain Hasan dan Husein… Kalau ini sudah kami kenal…
.
B: Terutama mereka adalah Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-shadiq… ini yang menjadi pendiri fikh ja’fari, terus Musa Al-Kaziem, Ali Ar-Rida, Muhamad al-Jawad, Ali Al-Hadi, Hasan al-askari, dan Muhamad Al-Mahdi…
.
A: Terima kasih, menambah daftar orang shaleh yang biasa dikenal di kalangan ahlu Sunah, seperti Imam Hanafi, Imam Ahmad, Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Taymiah, Ibn Hazm, Imam Asy’ari… saya juga mengenal Ash-Shadiq, Zainal Abidin, Al-Kazim….
.
B: Saya sangat bersyukur kalau mau mengenal tokoh-tokoh ahlul bait, karena mereka termasuk pelita umat… selain ulama2 yang biasa kamu kenal…
.
A: Iya deh, tapi tidak untuk disembah…
.
B: heh, siapa yang nyembah?
.
A: Bercanda… Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad
B: Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad…

———————————————————————————–

AHLUL BAIT (3)

A: Masih penasaran nih dengan Ahlul Bait… Kalau jelas bahwa mencintai Ahlul bait adalah kewajiban umat Islam, mengapa kok kurang populer di kalangan Ahlu Sunah? Sehingga kita harus shalawat kepadanya, kan?

.

B: Tidak tahu, ya? Tapi dalam hadis Muslim, Rasulullah mengingatkan 3 kali, “Aku ingatkan kalian akan Ahlul Baitku”… Mungkin karena sejarah. Orang yang menjadi Syiah, adalah merupakan nista, “aib”, dianggap kelompok pemberontak… Nah, salah satu ciri orang Syiah adalah kecintaan terhadap Ahlul Bait.
.
A: Tapi setahu saya, kalangan nahdliyin juga sangat menghormati kalangan Ahlul Bait Nabi… Kalau ada habaib, keturunan Nabi SAW, mereka sering minta doa kepada mereka… Sehingga Gus Dur pernah bilang NU itu Syiah kultural…
.
B: Ya, kalangan NU mengenal Ahlul Bait Nabi, sehingga banyak disebut dalam shalawat-salawat mereka… Juga mereka banyak mengamalkan zikir-zikir karya para habaib, seperti Ratib Al-Hadad, Simtud-Durar, dll.
.
A: Ohya, saya pernah baca buku kalau nggak salah “Rumah Suci Keluarga Nabi”, berisi sejarah dan ajaran penghulu Ahlul Bait itu karya orang Suni madzhab Syafi’i…
.
B: Betul, ada juga buku-buku Abdullah bin Nuh yang banyak menceritakan kisah-kisah Ahlul Bait Nabi…
.
A: Ohya, saya tahu juga kalau di kalangan tasauf, tokoh-tokoh seperti Imam Ja’far, Ali Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, dll banyak dikenal. Apa memang mereka pengikut tasauf ?
.
B: Mereka memang rujukan ajaran Islam, termasuk tasauf, kami menyebutnya Irfan. Ajaran rohani mereka memang menonjol… sehingga kebanyakan kalangan tasauf bersanad dengan mereka…
.
A: Baiklah, saya akan coba mempelajari sejarah dan ajaran mereka, seperti siapa sih Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, di samping mempelajari ulama-ulama kami Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibnul Qayim… Ohya, ngomong-ngomong nama kalangan ahlul bait kok kayaknya khas ada nama dan gelar?
.
B: Ya, itu kebiasaan kami, seperti Muhammad “Al-Mustafa”, Fatimah “Az-Zahra”, Ali “Zainal Abidin” atau “As-Sajad”, Muhammad “Al-Baqir”…
.
A: OK, thank, nice to talk with you… Assalamu’alaikum
.
B: Alaikum salam, nice to meet you, too…

—————————————————————————————-

Mengapa Mayoritas Iran Bermazhab Syiah?

Tulisan ini  dikutip  dari  : http://ejajufri.wordpress.com/2009/04/27/mengapa-mayoritas-iran-bermazhab-syiah/

Mengapa Mayoritas Iran Bermazhab Syiah?

Sebagai mazhab (umum) terbesar kedua, tidak ada yang tahu secara pasti berapa jumlah pengikut mazhab Syiah Ahlul Bait di seluruh dunia. Berdasarkan data demografi, populasi pengikut Syiah di Bahrain (92%), Azerbaijan (74%), Irak (64%), Libanon (60%), dan Yaman (46%). Sedangkan Arab Saudi sekitar 15%, dan masih menurut Wikipedia, jumlah di Indonesia hampir 2 juta.

Sedangkan Iran, yang negaranya dikenal mengikuti mazhab Syiah Ja’fari, memiliki jumlah pengikut terbesar: lebih dari 60 juta. Ada beberapa sebab mengapa mazhab Syiah menjadi mayoritas di wilayah Iran. Beberapa hal di antaranya dijelaskan oleh Ayatullah Muhammad Al-Musawi kepada Al-Hafizh Muhammad Rasyid dalam dialognya di kota Peshawar.

Pertama karena ketiadaan fanatisme kebangsaan, kepentingan kelompok, dan motif kesukuan pada orang Persia. Mereka tidak terkait kepada salah satu kabilah sebagaimana kabilah Quraisy atau kabilah di Jazirah Arab lainnya. Lalu kemudian mereka menemukan hal itu pada diri Ali bin Abi Thalib. Kefanatikan dan kepentingan kelompok (suku/bani/kabilah) tidak menghalangi mereka dari jalan Ahlul Bait.

Kedua, karena kecerdasan dan kerasionalan mereka yang mencegah mereka bersikap fanatik dan taklid buta. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/422) meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Kalau ilmu itu berada di bintang Soroyya, yang akan memperolehnya adalah dari orang Persia.” Begitu juga Ibnu Qani dalam Al-Ishâbah (3/459) meriwayatkan, “Kalau agama itu bergantung pada bintang, yang memperolehnya adalah orang Persia.”

Ketiga, Ali bin Abi Thalib mengetahui hak setiap orang dan hak tawanan dalam Islam. Sebab, Nabi SAW pernah mewasiatkan kepada kaum Muslim agar berlaku baik kepada tawanan. Nabi bersabda, “Berilah mereka makanan dengan makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian dengan yang biasa kalian pakai.” Sedangkan yang lain tidak mengetahuinya, atau kalau pun tahu mereka tidak menjalankannya.

Dalam sejarah dikisahkan bahwa ketika Islam membawa tawanan dari penduduk Persia (Iran) ke Madinah, sebagian kaum Muslim memperlakukan mereka secara tidak patut. Maka Imam Ali bangkit membela para tawanan itu, khususnya kepada kedua puteri Kisra ketika khalifah Abu Bakar hendak menjual mereka. Akan tetapi Ali mencegahnya dan mengatakan, “Rasulullah melarang menjual raja serta putra-putrinya.”

Lalu ia menyuruh masing-masing dari kedua putri Kisra itu memilih seorang laki-laki dari kaum Muslim yang akan menikahinya. Di antara putri Kisra itu bernama Syah Zanan yang memilih menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar, dan seorang lagi bernama Syahr Banu yang memilih Imam Husain bin Ali.

Ketika penduduk Iran melihat dan mendengar pernikahan kedua puteri Yazdajird dan penghormatan Imam Ali kepada keduanya, mereka berterima kasih atas sikap mulia dan manusiawi dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ini merupakan sebab terpenting yang mendorong penduduk Iran lebih mendalami pribadi suci Ali.

Keempat, semacam ada keterikatan khusus penduduk Iran dengan Salman Al-Farisi yang merupakan anggota keluarga mereka. Karena keislaman Salman yang mengagumkan dan kedudukannya yang mulia di sisi Nabi SAW, ia dianggap sebagai bagian dari Ahlul Bait. Sebuah hadis meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Salman adalah bagian dari kami, Ahlul Bait.” Sejak hari itu, ia biasa dipanggil dengan Salman Al-Muhammadi.

Karena Salman merupakan bagian dari Syiah Ahlul Bait, ia termasuk orang yang menentang perkumpulan di Saqifah dan pemilihan khalifah di sana, lalu kemudian mengajak kaumnya untuk berpegang kepada mazhab Syiah Ahlul Bait.

Ciri Khas Tafsir Syiah

Ciri Khas Tafsir Syiah
   
 
  Kajian tafsir mendapat tempat tersendiri dalam wacana pemikiran mazhab Syiah. Ini dibuktikan dengan diadakannya diskusi hangat di antara para pakar tafsir dan pemerhati studi Al Qur’an di kota suci Qom, tepatnya di sekolah tinggi Imam Khomaini pada kamis (22/10) yang lalu. Acara diskusi ini mendatangkan ulama yang terkenal sebagai ahli kalam (teologi), yaitu Ayatullah Ja’far Subhani sebagai pembicara utama. Tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah keistimewaan tafsir Syiah. Diskusi ini dipandu oleh DR. Rafi’i, mubalig kesohor Iran dan diisi oleh 3 pakar tafsir, yaitu DR. Syakir, DR. Jawadi, dan DR. Najjar.  Ayatullah Ja’far Subhani dalam orasi ilmiahnya mengisyaratkan 5 ciri khas tafsir Syiah, yaitu:

1-Bersumber dari wahyu.

2-Penggunaan/penarapan takwil. Yang berarti ayat memiliki banyak mishdaq (contoh kongkrit di luar) dan berlaku sepanjang masa dan batin ayat. Batin ayat menurut pandangan Allamah Hadi Makrifat, pakar tafsir kontemporer Syih berarti bahwa Al Qur’an memiliki kaidah umum yang dapat diterapkan sepanjang masa. Beliau mencontohkan bahwa dalam kasus Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya kita dapat mengambil kaidah umum itu, yaitu musuh memanfaatkan media mainan untuk menipu korbannya. Maka kita selaku orang tua harus hati-hati dalam menjaga anak-anak kita supaya jangan sampai mereka terpedaya melalui mainan/permainan.

3-Istinbath (penggalian dan penetapan) hukum melalui Al Qur’an.

4-Penerapan metode tafsir al Qur’an dengan Al Qur’an. Metode ini diterapkan secara apik dan elegan oleh Allamah Thaba’thaba’i dalam tafsir al Mizan.

5-Aspek fashahah (kefasihan) dan balaghah (kemampuan berorasi secara sempurna) yang dimiliki Rasulullah saw dan ahlul baitnya. Sebelum kita merujuk ke para pakar bahasa, kita harus merujuk ke penjelasan Rasul saw dan ahlul bait karena mereka adalah orang-orang yang kalamnya (bicaranya) fasih dan baligh (sesuai dengan keadaan dan tepat sasaran).

Sementara itu, DR. Syakir menyinggung kelebihan tafsir Syiah dari sisi banyaknya riwayat tafsir. Menurut data terakhir yang beliau teliti dari dua kitab tafsir Syiah, yaitu kitab Nur Tsaqalain dan al Burhan tidak kurang dari 12.000 riwayat tafsir yang datangnya dari ahlul bait yang menjelaskan pelbagai ayat Al Qur’an. Bahkan tidak sedikit dari ribuan riwayat tersebut yang memiliki sanad (mata rantai perawi hadis) yang bersambung ke Rasulullah saw, tegasnya. Tentu saja kalo kita tambahkan sumber-sumber lain yang tentunya tidak sama maka jumlah riwayat tersebut akan jauh lebih banyak lagi, tambah beliau.

Sedangkan DR. Najjar, dosen Universitas Teheran menegaskan: Syiah begitu kaya dengan makrifat samawi dan khazanah Syiah di bidang ini sulit untuk ditandingi. Bukti klaim ini adalah banyaknya riwayat/hadis dari jalur Syiah yang menjelaskan tafsir ayat-ayat Al Qur’an.

DR. Rafi’i mencontohkan penerapan metode tafsir Al-Qur’an dengan Al Qur’an yang dianjurkan oleh para imam ahlul bait. Saat Imam Ali ar Ridha ditanya tentang maksud dari ayat Mereka telah lupa kepada Allah , maka Allah melupakan mereka; apakah boleh menisbatkan lupa kepada Allah? Imam menjawab dengan membacakan ayat: “wama kana Rabbuka nasyiyya” Tuhanmu tidak mungkin lupa. (QS. Maryam: 64). Maksud nasiyahum” adalah “tarakahum” (Allah membiarkan mereka/tidak memperhatikan mereka, tegas Imam kedelapan Syiah ini.

Palsu : Hadis Imam Ali Mau Melamar Puteri Abu Jahal… Hadis akal akalan musuh Syi’ah

Saat semua upaya untuk menyandingkan musuh-musuh Ahlul Bayt as sejajar dengan kedudukan dan keutamaan Ahlul Bayt as menemukan jalan buntu, maka, para penyembah Bani Umayyah berusaha keras menciptakan hadis-hadis palsu yang bisa mendiskreditkan kemuliaan Ahlul Bayt as.

Untuk itu, watak-watak yang tidak malu pada Tuhan dan tidak takut pada hari pembalasan amat diperlukan. Dengan menawarkan ganjaran duniawi dan nama yang harum di kalangan manusia, maka beraturlah sekelompok syaitan dalam tubuh-tubuh manusia, di halaman istana Bani Umayyah bagi mempersembahkan bakti mereka dan menjual imannya.

Antara tokoh andalan dalam kelompok ini, yang benar-benar berani adalah Miswar bin Makhramah, yang, tanpa punya sekelumit iman, menciptakan hadis “Niat pernikahan Imam Ali as dengan puteri Abu Jahal”, bagi mendapatkan syafaat dari tuannya, Bani Umayyah.

Hadis tentang niat pernikahan Imam Ali as dengan puteri Abu Jahal itu, diangkat menjadi kisah suci dan disahihkan oleh ulama-ulama hadis Sunni, yang berlumba-lumba meriwayatkannya di lembaran-lembaran kitab hadis mereka.

Kita lihat sekilas lalu riwayat tersebut:

Disebutkan bahwa Imam Ali as. berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan istri kedua disamping sayyidah Fatimah as. kemudian berita tersebut terdengan oleh Fatimah as. dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali as. kepada Nabi; ayah Fatimah as., seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal. Mendengan berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyikitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya”

Riwayat ini bisa anda temukan didalam Sahih Bukhari pada beberapa bab, antaranya:

1. Kitab al Khums ( dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162).

2. Kitab an Nikah (dengan Syarah Ibnu Hajar 9\268-270)

3. Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi) (dengan Syarah Ibnu Hajar 7\67)

4. Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-isteri (dengan Syarah Ibnu Hajar 8/152)

Bukhari telah memilih jalur Miswar saat meriwayatkan kisah ini, maka, marilah kita imbas, siapakah Miswar bin Makhramah, yang menjadi perawi hadis ini.

1.Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh? (Sahih Bukhari dengan Syarah Ibnu Hajar 6/161-162)

ولد بمكّة بعد الهجرة بسنتين فقدم به المدينة في عقب ذي الحجة سنة ثمان ومات سنة أربع وستين

تهذيب التهذيب: ج‏10 ص‏137 . وانظر: المزي، تهذيب الكمال: ج‏27 ص‏581 . الذهبي، سير أعلام النبلاء: ج‏3 ص 394

 

2. Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun. (Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya)

وكان مولده بعد الهجرة بسنتين، وقدم المدينة في ذي الحجة بعد الفتح سنة ثمان، وهو غلام أيفع ابن ست سنين

ابن حجر، الإصابة: ج‏6ص 94

 

 

Ustaz Taufiq Abu ‘Ilm pembantu kanan Keadilan Mesir mempunyai kitab berjudul Fathimah Azzahra yang diterjemah oleh Dr Sadiqi. Inilah kitab yang cukup cantik, paling tepat, sungguh berilmiah dan penulisnya berdalil tentang Fathimah Zahra. Hingga kini susah ditemui buku sebagus ini. Dalam halaman 146 beliau berkata pinangan Ali terhadap puteri Abu Jahal berlaku dalam tahun kedua Hijrah.

Menurut pengkisahan yang ada pada Ustaz Abu Ilm, Miswar ini baru masuk ke Madinah setelah empat tahun peristiwa lamaran tersebut. Namun entah dari mana pula Ibnu Hajar Asqalani mendapat tahu bahawa peristiwa lamaran ini berlaku dalam tahun ke delapan Hijrah. Mungkin Ibnu Hajar boleh mengetahui peristiwa ghaib, atau melalui malaikat atau juga melalui perantara jin yang mengirim wahyu kepadanya. Beliau berkata Imam Ali melamar puteri Abu Jahal setelah tahun kedelapan Hijrah iaitu Miswar masih berusia enam tahun. Ketika itu Miswar sendiri berkata:

وانا محتلم…

“Saya telah bermimpi” -Tahzib al-Tahzib jilid 10 halaman 138.

Iaitu saya telah baligh. Ini juga bermaksud seseorang itu telah membesar dan mendapat mimpi; atau pun ia sudah siap untuk berkahwin. Apakah anak seusia enam tahun boleh berkata ‘Ana Muhtalam’?

Ibnu Hajar menyedari hal ini dan berkata: Muhtalam ini bukanlah bermaksud seseorang itu telah sampai ke usia baligh, akan tetapi dari sudut bahasa menyatakan ia telah berakal. Masyallah, apakah ada ribuan anak kecil sepintar ini?

Namun perkataan Muhtalam ini jauh bezanya dengan berakal dari sudut bahasa seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Apakah Miswar di usia begitu dapat duduk di tepian minbar dan menukilkan hadis? Marilah kita lihat dalam sahih Muslim meriwayatkan bahawa Miswar bin Mukhramah hanya memakai cawat dan hadir mengangkut batu untuk membina masjid, ikatan cawat tersebut terbuka dan mendedahkan bagian tubuhnya itu. Rasulullah bersabda:

ارجع إلى ثوبك فخذه ولا تمشوا عراة

صحيح مسلم، باب الاعتناء بحفظ العورة، ج 1 ص 268

Pulanglah memakai pakaianmu, dan janganlah berjalan dalam keadaan telanjang. – Sahih Muslim Bab I’tina bi hifz ‘aurat, jilid 1 hal 268.

Pertanyaan kita kepada Ibnu Hajar, apakah ini dikatakan pintar? Di usia enam tahun itu, ke manakah akalnya ketika ia bertelanjangan, berjalan di depan orang ramai dan Rasulullah, sehingga ditegur dan disuruh pulang memakai pakaian?

Hadis Miswar ternyata masih diragui di sudut lain kerana dia seorang sahaja yang meriwayatkan nabi datang ke masjid dan duduk di atas minbar sedangkan ramai lagi di kalangan ansar dan muhajirin tidak meriwayatkan hadis ini. Hendaklah kita katakan bahawa Miswar sahaja yang berada di dalam masjid ketika itu.

Mufti Mesir: Tidak Ada Perbedaan Antara Syiah dan Sunni

khabarislam.wordpress.com. Sebuah fatwa yang akan menuai kontroversi kembali muncul – Dr.Ali Jumah mufti Mesir menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni.

Setelah sebelumnya beliau memberi pernyataan bolehnya beribadah dengan mengambil mazhab syiah, mufti Mesir Dr. Ali Jumah kembali menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara mazhab syiah dan mazhab sunni, perbedaan itu hanya terletak pada masodir (dasar-dasar pokok) pengambilan hukumnya saja.

Katanya dalam seminar yang bertempat di aula “Lions” Cairo, Minggu (1/3) beliau mengatakan bahwa pada tahun 1949 Al-Azhar telah membuka hatinya untuk menyatukan kedua mazhab yaitu ahli sunnah waljamaah dan syiah sesaat setelah itu dibuatlah
majalah bernama “Risalatul Islam”. Majalah ini khusus membahas soal-jawab permasalah antara sunni dan syiah diikuti dengan upaya dari masing-masing personil untuk saling menyatukan persepsi namun hal seperti itu rupanya masih dirasa kurang efektif.

Beliau menegaskan bahwa ikhtilaf (perbedaan) yang terjadi antara dua sekte tersebut bukan dikarenakan faktor politik, akan tetapi murni hanyalah perbedaan yang didasari oleh pemahaman teks dan sumber-sumber pokok istinbat (penetapan) hukum. Dimana sekte syiah menggunakan dasar pokok pengambilan hukumnya hanya dari Al-quran dan riwayat-riwayat para ahlul bait (keturunan nabi Muhammad) mereka diantaranya adalah Sahabat Ali, Imam Hasan, Imam Husain serta beberapa sahabat-sahabat seperti Umar Bin Yasir, Miqdad Bin Aswad dan Abu Dzu Alghafary dan mereka tidak mengambil riwayat dari yang lain kecuali dari yang disebutkan di atas tadi.

Adapun mazhab Ahlusunnah mereka mengambil pokok dasar hukumnya dari Alquran dan semua riwayat sahabat yang terdiri dari 114 ribu sahabat yang melaksanakan haji wada (haji perpisahan) bersama Rasullah dan 30 ribu sahabat lainnya yang hidup bersama Rasullah di Madinah.

Mufti memberi satu statemen “Bahwa hal ini wajib untuk kita ketahui sebagai penangkal mereka-mereka yang ingin mencabik agama islam, memecah belah umat serta membenarkan bentuk pertumpahan darah” dan secara tegas mufti Mesir menolak fatwa
haram perayaaan Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad..

Fatwa ini mirip dengan fatwa mufti Mesir sebelumnya yang mengatakan bolehnya beribadah menggunakan mazhab syiah serta kekagumannya terhadap perkembangan mazhab syiah. Fatwa mufti sebelum DR. Ali Jumah tadi sudah sangat banyak mengundang reaksi besar dari mereka yang pro ataupun yang kontra.

kaum munafik juga disebut Nabi saw. sebagai Sahabat beliau ! Jelaslah Hadis “Pedomanilah Sahabat” tidak logis

Sekali lagi Anda saya ajak melihat dari dekat kerancuan konsep keadilan seluruh sahabat yang menjadi andalan Mazhab Sunni dalam mempertahankan berbagai doktrinnya di samping kerancuan dan celah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa artikel sebelumnya.

Apabila ada peneliti yang menyajikan data-data penyimpangan, pelanggaran, pembangkangan para sahabat mereka (ulama Sunni dan tentunya juga kaum awamnya) segera mengatakan mereka yang disebutkan dalam data-data dan nash (Al Quran dan Sunnah) adalh kaum munafik! Dan kaum munafik bukan termasuk sahabat Nabi! Jangan masukan munafik ke dalam daftar sahabat Nabi Saw.! Munafik ya munafik!

Demikianlah kurang lebih pembelaan yang mereka lontarkan.

Tetapi benarkan kaum munafik itu bukan sahabat Nabi Saw.?

Sepertinya seluruh data bertolak belakang dengan pembelaan yang mereka kkatakan. Sebab kenyataannya iaalah bahwa kaum munafik adalah mereka yang menyatakan (mengikrarkan) syahâdatain dengan lisan mereka, kendati hati mereka tidak menerimanya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa umat manusia di hadapan da’wah Nabi saw. Terkelompkkan menjadii tiga kelompok:

1)      Mereka yang menerima da’wah dan beriman kepada kenabian beliau dengan tulus. Mereka adalah kaum Mu’min.

2)      Kedua kaum yang menginkari kebenaran da’wah dan menolak kenabian beliau. Mereka iitu adalah kaum kafir. Kaum kafir yang ingkkar ini terbagi menjadi dua kelompok: A) Mereka yang berterus terang dalam kekafiran dan menentangannya. Mereka disebut kafir dan

3)      B) Mereka yang tidak berterus terang daalam kekafiiran dan pengingkarannya. Mereka menampakkkan keimanan sementara pada hakikatnya mereka adalah kafir! Mereka ini disebut sebagai kaum munafik!

Nah, jelslah sekarang siapa sebenarnya kaum munafik itu? Mereka yang secara lahrriyah muslim akan tetepi pada hakikatnya mereka itu kafir!

Mereka yang menampakkan keislaman dan keimanan itu pastilah akan dberlakukan atas mereka hukum Islam. Nabi saw. Akan mempperlakukan mereka sebagai orang-orang Muslim dan memberlakukan atas mereka hukum-hukum Islam sebagaimana diberlakukan atas yang lainnya.

Demikianlah sejaraan mencatat. Kaum munafik itu bergabung bersama kaum muslim lainnya di zaman Nabi saw.’ Mereka shalat berjama’ah bermaza Nabi saw., menunaikan haji bersama beliau bahkan berjihad melawan musuh-musuh Islam bersama Nabi saw. Dan kaum Muslim lainnya.

Jika demikian kenyataannya, apa alasan kita mengatakan bahwa kaum munafik itu buan sahabat Nabi saw.?!

Bukankah mereka yang berikrar dengan syahâdatain di hadapan Nabi saw. atau di zaman beliau lalu bergabung dengan jama’ah kaum muslim lainnnya sudah cukup syarat untuk disebut sebagai sahabat Nabi saw.?

Selain kenyataan di atas banyak data di mana Nabi saw. Menyebut kaum munafik sebagai sahabat beliau! Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajak Anda melihat dari dekat data tersebut dan merenungkannya baik=baik.

Para mufassir Sunni ketika menerangkan atar-ayat surah al Munâfqûn demikian juga para sejarawan Islam ketika mereka menyebutkan perang Muraisi’ atau nama lainnya perang bani Mushthaliq pasti menyebutkan sebuah pristiwa percek-cokan antara dua orang sahabat; satu dari kalangan Anshar dan yang satu dari kalangan Muhajrin dalam urusan perebutan yangkemudian berakhir dengan luapan kemaraham Abdullah ibn Ubay ibn Salûl (yang kata data-data Sunni disebut sebagai gembong kaum Munafik) yang iia tuang dalam kata-kata busuk yang mengejek-ejek dan mengancam untuk mengusir Nabi saw. dan kaum Muslim dari kota Madinah. Kemdian setelah ucapannya yang menjelaskan kekentalan kemunafikannya iitu dilaporkan kepada Nabi saw. dan beliau pun menegurnya lalu Abdullah ibn Ubay pun mengelak dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan apa-apaun seperti yang dilaporkan kepada beliau.

Menyikapi kekejian kata-kata Abdullah ibn Ubay ibn Salûl sebagai sahabat lainnya (khususnya Umar ibn al Khaththâb) meminta (atau mengslkan) agar Nabi saw. memerintah untuk membunuh saja Abdullah ibn Ubay si gembong munafik iitu. Tetapi mereka (dan saya yakin, kaum awam Sunni yang selama ini menjadi korbar pembuutaan)  benar-benar dikejutkan dengan jawaban Nabi saw.

Apa jawaban Nabi saw. terhadap Umar yang mengusulkan agar Abdullah ibn Ubay dibunuh saja?

Perhatikan keterangan yang diabadikan para ulama Islam di bawah ini;

Ibnu Jarir ath Thabari, al Baghawi, al Khâzin, Ibnu Katsîr, as Suyûthi, asy Syaukâni dll menyebutkan banyak riwayat: bahwa ketika Umar berkata kepada Nabi, ‘Wahai Nabi, perintahkan Mu’âdz ibn Jabal agar memenggal kepala si munafik itu!’ Maka Nabi saw. menjawab:

لا يتَحَدَّثُ الناسُ أَنَّ مُحمدًا يَقْتُلُ أَصْحابَهُ.

“Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad mebunuh para sahabatnya.”

Riwayat di atas dengan berbagai jalur dan perincian pristiwanya dapat Anda baca dalam :

1)      Tafsir ath Thabari, ayat 8 surah al Munâqûn,28/112-115.

2)      Tafsir al Baghwi,7/99.

3)      Tafsir al Khizin,7/99.

4)      Tafsir Ibnu Katsîr,4/370.

5)      Tafsir asy Syaukâni,5/233.

Dan banyal lainnya.

Ibnu Jakfari berkata:

Nah, kini jelaslah bagi kita bahwa kaum munafik juga disebut Nabi saw. sebagai Sahabat beliau !

18 ZULHIJJAH: TANGGAL BERSEJARAH YANG DIKUBURKAN PENGUASA…KHUTBAH RASULULLAH S.`A.W. DI GHADIR KHUM PADA TANGGA 18 ZULHIJJAH USAI HAJI WADA’

KHUTBAH RASULULLAH S.`A.W. DI GHADIR KHUM PADA TANGGA 18 ZULHIJJAH USAI HAJI WADA’

Pengenalan

Khutbah atau Hadis Nabi (s.`a.w.) di Ghadir Khum yang terletak sejauh tiga batu dari Juhfah berhampiran Rabigh selepas beliau kembali mengerjakan haji terakhir pada 18hb. Dhul-Hijjah tahun 10 Hijrah, telah diriwayatkan oleh para ulama Islam di setiap peringkat, kerana ia merupakan khutbah Nabi (s.`a.w.) terakhir yang memusatkan kepada konsep imamah (kepemimpinan) selepas beliau, di hadapan lebih seratus ribu para sahabat-nya1.

Di hari itu Jibrail `a.s memerintahkan Nabi (s.`a.w.) supaya mengisytiharkan kepada para sahabatnya bahawa `Ali adalah imam/khalifah selepas beliau. Pada mulanya beliau keberatan untuk mengisytiharkannya kerana khuatir kebanyakan para sahabatnya akan menentangnya.

Beliau sendiri menerangkan kedudukan umatnya pada masa itu sebagaimana beliau bersabda: Aku telah memohon maaf kepada Jibrail lantaran aku tidak menyampaikannya kepada kalian, kerana aku mengetahui betapa sedikitnya orang yang bertakwa2, betapa ramainya orang yang munafik3, bersandarkan Islam yang disifatkan oleh Allah A.W di dalam kitab-Nya “Mereka mengucap dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka” (Surah al-Fath 48: 11)4. Malah mereka melontar kata-kata kesat terhadap Rasulullah (s.`a.w.) dan menyakiti hati beliau. Peristiwa tersebut masih segar di dalam ingatan Rasulullah (s.`a.w.). Justeru itu beliau bersabda: “Jika aku mahu, aku akan menyebutkan nama-nama merekaatau menunjukkan mereka kepada kalian”5.

Ini menunjukkan bahawa orang-orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) masih ada di hadapannya. Tetapi beliau tidak mahu melakukannya kerana ia tidak diizinkan oleh Allah A.W. Di hari itu cuaca panas terik, sekiranya daging dicampak ke tanah nescaya ia akan masak. Nabi (s.`a.w.) memerintahkan mereka supaya menyusun batu seperti mimbar.

Kemudian diteduhi kain di atasnya.Manakala mereka berhimpun, beliau memberi khutbahnya yang paling bersejarah dengan menguatkan suaranya supaya dapat didengari oleh lebih seratus ribu kaum muslimin. Selepas memuji Allah A.W., beliau mengisytiharkan kepada umatnya ketika itu tentang kematiannya seraya bersabda: “Aku telah dipanggil dan hampir aku menyahutinya dan denyutan jantung hatiku kian memuncak di hadapan kalian”. Kemudian beliau mengangkat tangan `Ali `a.s sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah(s.`a.w.) sambil bersabda: “Wahai manusia! Tidakkah aku lebih aula daripada diri kalian?

Mereka menjawab: Ya! wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Wahai Tuhanku, siapa yang aku telah menjadi maulanya, maka ini `Ali maulanya. Wahai Tuhanku, cintailah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya”6.

Justeru itu, khutbah/hadis Rasulullah (s.`a.w.) di Ghadir Khum dan lain-lain merupakan penjelasan kepada konsep imamah di dalam al-Qur’an itu sendiri. Di dalam al-Qur’an konsep imamah7 terbahagi kepada dua. Pertama, konsep imamah yang membawa manusia ke syurga di mana imamahnya (kepemimpinannya) adalah sejajar dengan al-Qur’an. Di antaranya telah diterangkan di dalam surah al-Anbiya’ 21: 73 “Kami telah menjadikan mereka para imam (pemimpin-pemimpin) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan solat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”.

FirmanNya di dalam Surah al-Baqarah 2: 124 “Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia. Dan Ibrahim berkata:(Dan saya mohon jawatan imam itu) dari keturunanku. Dia berfirman: Janjiku (ini) tidak termasuk orang yang zalim”. Justeru itu orang yang zalim tidak sah menjadi imam (pemimpin) menurut al-Qur’an.

Dan firmanNya di dalam Surah Yunus 10: 35 “Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali apabila diberi petunjuk? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Ini bererti para pemimpin selepas Rasulullah (s.`a.w.) mestilah terdiri dari mereka yang tidak melampaui perintah Allah dan Rasul-Nya, kerana mereka merupakan Uli l-Amr yang wajib ditaati oleh umat sebagaimana firmanNya Surah al-Nisa’ 4: 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr di kalangan kamu”. Kedua: Imamah yang menyeru manusia kepada neraka. Di antaranya sebagaimana diterangkan di dalam surah al-Qasas 28: 41 “Dan Kami jadikan mereka para imam (pemimpin-pemimpin) yang menyeru(manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan dibantu”.

Dan firmanNya Surah al-Ahzab 33: 67 “Dan mereka berkata: Ya,Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”.Kedua-dua konsep imamah tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah(s.`a.w.) di dalam khutbahnya di Ghadir Khum dan ditempat-tempat lain. Justeru itu beliau tidak mengabaikannya8 kerana kepemimpinan (imamah) adalah asas bagi kesempurnaan agama Islam.

Terjemahan Teks Hujah

Di sini akan diperturunkan teks khutbah/hadis Ghadir Khum sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mansur Ahmad b. `Ali b. Abi Talib al-Tabarsi9, ulama Mazhab Ja`fari abad keenam hijrah di mana sanadnya bersambung dengan Imam Muhammad al-Baqir b. Imam Zain al-`Abidin b. Imam Husain b. Imam `Ali b. Abi Talib `a.s. Untuk membuktikan kesahihannya, penulis cuba membuat rujukan kepada buku-buku karangan para ulama Ahl al-Sunnah seperti Sahih al-Bukhari, Sunan al-Nasa’i, Musnad Ibn Hanbal, Tarikh al-Tabari,Yanabi` al-Mawaddah, Kanz al-`Ummal, Tarikh al-Khulafa’, al-Durral-Manthur, al-Isabah, Tarikh Baghdad, Kifayah al-Talib, Manaqibal-Khawarizmi, Tafsir al-Kabir, Ruh al-Ma`ani, Nur al-Absar, Usdal-Ghabah, al-Isti`ab dan lain-lain.

Justeru itu khutbah/hadis al-Ghadir telah dicatat oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka meskipun kadangkala terdapat sedikit perbezaan dari segi lafaz, tetapi ia memberi pengertian yang sama. Kebanyakan mereka mencatatnya secara terputus, panjang, pendek dan dimasukkan di dalam bab-bab yang berasingan sehingga ia dilihat sebagai tiada kaitan dengan khutbah al-Ghadir. Ini berkemungkinan kuasa politik semasa tidak membenarkan mereka berbuat demikian10.

Lantaran itu bahagian-bahagian hadis yang dipisahkan itu, kelihatan seolah-olah tiada kaitan dengan khutbah di Ghadir Khum tentang perlantikan `Ali `a.s sebagai imam atau khalifah selepas Rasulullah (s.`a.w.) Walau bagaimanapun teks penuh khutbah al-Ghadir yang dikemukakan oleh al-`Allamah al-Tabarsi, akan memberi wawasan baru kepada pengkaji-pengkaji tanpa prejudis dan irihati.

Al-Tabarsi menulis: Al-Sayyid Abu Ja`far Mahdi b. Abi Harb al-Husaini al-Mar`asyi r.a telah memberitahu kami dia berkata: al-Syaikh Abu `Ali al-Hasan b. al-Syaikh al-Sa`id Abi Ja`far Muhammad b. al-Hasan al-Tusi r.a, telah memberitahuku dia berkata: al-Syaikh al-Sa`id al-Walid Abu Ja`far q.r telah memberitahuku dia berkata: Jama`ah daripada Abi Muhammad Harun b. Musa al-Tala`kbari telah memberitahu kami, dia berkata: Abu `Ali Muhammad b. Hammam telah memberitahu kami, dan berkata: `Ali al-Suri telah memberitahu kami, dia berkata: Abu Muhammad al-`Alawi daripada anak lelaki al-Aftas di kalangan hamba Allah yang salih telah memberitahu kami dia berkata: Muhammad b. Musa al-Hamdani telah memberitahu kami, dia berkata: Muhammad b. Khalid al-Tayalasi telah memberitahu kami, dia berkata: Saif b. `Umairah dan Salih b. Uqbah telah memberitahu kami daripada Qais b. Sam`an daripada `Alqamah b. Muhammad al-Hadrami daripada Abu Ja`far b. Muhammad b. `Ali Zain al-`Abidin b. Husain b. `Ali b. Abi Talib daripada Rasulullah s.`a.w.

Beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah, Yang Maha Tinggi dalam kesatuan-Nya, berdekatan dalam keesaan-Nya, mulia dalam pemerintahan-Nya, besar dalam kekuasaanNya, keilmuanNya yang menyeluruh sedangkan Dia “berada” di `ArasyNya. Menundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan dan hujahNya yang mulia sehingga Dia sentiasa dipuji,Dialah pencipta langit, penjadi sesuatu dengan rapi. Dialah Penguasa bumi dan langit, Maha Tinggi Maha suci Tuhan para malaikat dan ruh, Maha Pemurah kepada semua orang yang tidak mensyukuriNya, Maha Mengetahui di atas segala yang dijadikanNya. Memerhati setiap mata, tetapi mata (mata) tidak dapat melihatNya. Mulia, Pemaaf dan menyenangkan, rahmatNya meliputi setiap sesuatu, mengurniakan nikmatNya ke atas mereka. Tidak cepat membalas dendam dan tidak segera mengenakan azab ke atas mereka. Dia memahami segala rahsia, Dia mengetahui segala bisikan hati, tidak dapat diselindungi oleh perkara-perkara yang tersembunyi.

Tidak dikelirukan oleh perkara yang halus, mengetahui setiap sesuatu, memenangi setiap sesuatu, menguasai di atas segala-galanya. Tidak sesuatu pun menyerupaiNya, Dia mencipta sesuatu ketika ia (sesuatu) tidak ada. Sentiasa melakukan keadilan, tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Mulia lagi bijaksana, sekali-kali penglihatan tidak mencapaiNya, sedangkan Dia mencapai penglihatan. Dia bertimbang rasa dan bijaksana, tiada seorang pun dapat mengaitkan sifatNya secara “penentuan” dan tiada seorang pun mendapati bagaimanakah Dia secara rahsia atau terang-terangan melainkan mengikut apa yang telah ditunjuk oleh Dia ke atas diriNya. Aku naik saksi sesungguhnya Allah memenuhi masa dengan segala kekudusanNya, Dialah yang menutupi cahayaNya selama-lama, Dia melaksanakan urusanNya tanpa mesyuarat. Tanpa bersamaNya sekutu di dalam sesuatu nilaian dan tidak ada kecacatan di dalam pentadbiranNya. Dia telah menggambarkan apa yang direkakanNya tanpa contoh, Dia telah mencipta apa yang diciptakanNya dengan mudah tanpa pertolongan orang lain dan bersih dari tipudaya.

Dia menciptanya kemudian ia terus “jadi”, Dialah Tuhan yang tiada Tuhan melainkan Dia yang rapi dan elok pembuatannya. KeadilanNya adalah lebih mulia dan tidak pernah dizalimi di mana segala perkara kembali kepadaNya. Aku naik saksi bahawa segalanya tunduk kepada kekuasaanNya serta mentaatiNya kerana kehebatanNya memiliki segala milik. Dialah yang membuat cakerawala bergerak, Dialah yang menundukkan bulan dan matahari, semuanya berjalan menurut masa yang ditentukan. “Dialah yang menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas malam” (Surah az-Zumar 39:5) “yang mengikutinya dengan cepat”. (Surah al-A`raf 7:54) Penentang setiap penguasa yang degil dan pembinasa setiap syaitan yang menceroboh, tiada bersamaNya lawan dan teman, satu (ahad) menjadi tempat tumpuan. Tidak beranak dan diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya, Tuhan yang satu dan Tuhan yang mulia, melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. Dia mengetahui lantas menghitung sesuatu, mematikan dan menghidupkan, pemberi dan pencegah rezeki, “ketawa” dan “menangis”, menghalang dan memberi. BagiNya kekuasaan dan baginya kepujian, di tanganNya segala kebaikan, Dia berkuasa di atas setiap sesuatu. Memasukkan waktu malam ke dalam waktu siang dan memasukkan siang ke dalam waktu malam.

Tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Mengetahui lagi pengampun, Dialah penerima doa, pengurnia segala pemberian dan penghitung segala jiwa. Tuhan syurga dan manusia, Dia tidak menghadapi sebarang kesulitan, tidak menolak laungan orang yang memohon pertolongan, tidak dimetrikan oleh keluhan orang yang berhajat. Pelindung bagi orang-orang yang salih, pemberi taufiq kepada orang-orang yangbahagia.

Dialah maula kepada segala alam yang berhak dari setiap makhlukNya bersyukur dan memuji-Nya. Aku memuji-Nya di dalam kesenangan dan kesusahan, kesulitan dan kelapangan. Aku beriman denganNya, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Aku mendengar suruhanNya, aku mematuhi dan bersegera menurut keridaan-Nya. Aku menyerahkan diriku kepada qada’-Nya kerana cintakan ketaatan-Nya dan takutkan balasan-Nya, kerana Dialah Allah yang tidak menjamin keselamatan jika dilakukan apa yang dibenciNya. Dan Dia pula tidak teragak-agak mengenakan balasan-Nya. Aku berikrar dengan diriku sendiri untuk beribadah kepadaNya dan aku naik saksi tentang ketuhanan-Nya. Aku akan melaksanakan apa yang diwahyukan kepadaku dengan penuh waspada.

Jika aku tidak melaksanakannya lantas aku akan binasa sehingga tiada seorangpun dapat mempertahankanku dari azabNya sekalipun besar ujianNya, tiada Tuhan melainkan Dia. Kerana Dia telah memberitahuku sesungguhnya jika aku tidak menyampaikan apa yang diturunkan kepadaku nescaya aku tidak menyampaikan risalahNya. Lantaran itu Dia memberi jaminan melindungiku dengan `ismah, Dia Allah adalah mencukupi (bagiku). Kemudian Dia menurunkan wahyu kepadaku11.

Dengan nama Allah yang amat pemurah lagi amat mengasihani. Wahai Rasul ! sampailah apa yang telah diturunkan kepada kamu mengenai `Ali – [jawatan Khalifah adalah untuk `Ali bin Abi Talib]. Dan jika kamu tidak menyampaikannya bererti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya, “Dan Allah menjaga kamu dari manusia”.(Surah al-Maidah 5:67) Wahai manusia! Aku tidak mengabaikan tanggungjawabku di dalam menyampaikan apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadaku. Akulah orang yang menerangkan kepada kalian. Sebab turunnya ayat “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan, bererti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya” (Surah al-Maidah 5:67).

Sesungguhnya Jibra’il telah turun kepadaku sebanyak tiga kali memerintahkanku supaya menyampaikan perintah Tuhanku; supaya aku terus melaksanakannya. Aku pun mengisytiharkannya kepada semu peringkat; sama ada yang berkulit putih dan yang berkulit hitam bahawa sesungguhnya `Ali bin Abi Talib a.s adalah saudaraku, wasiku, khalifahku dan imam selepasku di mana kedudukannya di sisiku samalah kedudukan Harun di sisi Musa selain dari kenabian kerana tiada nabi selepasku12. Beliaulah wali kalian di sisi Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah S.W.T. telah menurunkan ke atasku satu ayat mengenai wilayah `Ali “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yangberiman yang mendirikan solat, menunaikan zakat dalam keadaan rukuk” (Surah al-Maidah 5:55). `Ali bin Abi Talib telah mendirikan solat dan menunaikan zakat di dalam keadaan rukuk, kerana melakukan ibadat kepada Allah pada setiap masa13. Aku telah memohon maaf kepada Jibra’il lantaran aku tidak menyampaikannya kepada kalian. Wahai manusia, kerana aku mengetahui betapa sedikitnya orang yang bertakwa, betapa ramainya orang yang munafik, pengkhianat dan tipudaya orang bersandarkan Islam yang disifatkan oleh Allah di dalam kitabNya “Mereka mengucap dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka”(Surah al-Fath 48:11).

Dan betapa banyak mereka telah menyakiti hatiku sehingga mereka menamakanku uzunun (iaitu mendengar/mempercayai apa saja yang diperkatakan kepadanya). Mereka menyangka aku sedemikian rupa kerana selalu “bergaul” dengan-Nya dan sehingga Allah menurunkannya di dalam al-Qur’an “Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan menyatakan: Nabi mempercayai semua yang didengarnya. Katakanlah: Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin” (Surah al-Taubah 9:61).

Jika aku mahu, aku akan menyebutkan nama-nama mereka atau menunjukkan mereka kepada kalian. Tetapi aku tidak mahu melakukannya, kerana Allah tidak merestuiku melainkan menyampaikan apa yang diturunkan kepadaku. Kemudian beliau (s.`a.w.) membaca”Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu – tentang `Ali – dan jika kamu tidak melakukan bererti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah menjaga kamu dari manusia” (Surah al-Maidah 5: 67).

Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah melantik `Ali untuk kalian sebagai wali, dan imam yang wajib ditaati ke atas Muhajirin, Ansar dan Tabi`in; sebagaimana wajib ditaati oleh penghuni padang pasir, bandar, Arab bukan Arab, merdeka, hamba kecil besar, berkulit putih dan hitam. Malah ke atas setiap orang yang mentauhidkan Allah S.W.T. Terkutuk bagi orang yang menentangnya. Dirahmati orang yang mengikutinya, mukmin orang yang membenarkannya. Allah mengampuninya dan orang yang mengambil ilmu daripadanya dan mentaatinya14.

Wahai manusia! Ini merupakan tempat yang terakhir aku berdiri di hadapan kalian. Lantaran itu dengarlah, taatilah dan ikutilah perintah Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah `Azza waJalla adalah maula kalian dan Tuhan kalian kemudian selepasNya Muhammad (s.`a.w.) adalah wali kalian yang sedang berpidato di hadapan kalian. Kemudian selepasku `Ali adalah wali kalian dan imam kalian dengan perintah Tuhan kalian. Kemudian imamah adalah pada zuriatku daripada anaknya sehingga di hari kalian berjumpa Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada suatu perkara pun yang halal melainkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan tidak ada suatu perkara pun yang haram melainkan apa yang telah diharamkan oleh Allah. Dialah yang menerangkan kepadaku halal dan haram di dalamkitabNya. Kemudian aku menerangkan halal dan haramnya kepada `Ali15. Wahai manusia! Tidak ada suatu ilmu pun melainkan Allah telah menyampaikanya kepadaku. Dan setiap ilmu yang aku mengetahuinya, aku menyimpannya pada imam mubin (`Ali a.s) dan tidak ada suatu ilmu pun melainkan aku mengajarnya kepada `Ali. Dan beliaulah imam mubin.

Wahai manusia! Janganlah kalian menyimpang daripadanya, janganlah kalian lari daripadanya, janganlah kalian angkuh dengan menentang wilayahnya. Kerana beliaulah yang menunjuk kepada kebenaran dan beramal dengannya. Beliaulah yang menghilangkan kebatilan dan melarangnya. Janganlah kalian menghiraukan celaan orang yang mencela. Beliaulah orang pertama beriman kepada Allah dan Rasulnya. Beliaulah yang mengor__an dirinya sendiri untuk Rasulnya. Beliaulah bersama Rasulullah. Dan tidak ada seorang pun menyembah Allah bersama Rasulnya di kalangan lelaki selain daripadanya16.

Wahai manusia! Hormatilah beliau kerana Allah telah mengurniakan kelebihan kepadanya. Terimalah beliau kerana Allah telah melantiknya untuk kalian. Wahai manusia! Sesungguhnya beliau adalah imam daripada Allah. Allah sekali-kali tidak akan menerima taubat seorang yang mengingkari wilayahnya. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengampuninya. Sudah pasti Allah akan melakukan hal demikian ini terhadap orang yang menyalahi perintah-Nya mengenainya. Dan Dia akan menyiksanya dengan siksaan pedih yang berpanjangan. Lantaran itu kalian berhati-hatilah supaya kalian tidak menyalahinya. Justeru itu kalian akan dibakar di neraka di mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu disediakan kepada orang-orang yang ingkar17.

Wahai manusia! Dengan akulah demi Allah, para nabi dan rasul yang terdahulu diberi khabar gembira. Aku adalah penamat para nabi dan Rasul. Akulah juga hujah ke atas semua makhluk di bumi dan di langit. Sesiapa yang mengsyakinya dia adalah kafir sebagaimana kafir jahiliyah. Dan sesiapa yang mengsyaki sabdaku ini, bererti dia mengsyaki kesemuanya. Orang yang mengsyakinya adalah neraka sebagai balasannya18.

Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mengurniakan kelebihan ini ke atasku sebagai ihsanNya. Tiada Tuhan melainkan Dia. Segala puji untukNya daripadaku buat selama-lamanya. Wahai manusia! Hormatilah `Ali kerana beliau sebaik-baikmanusia selepasku di kalangan lelaki dan perempuan. Dengan kamilah Allah telah menurunkan rezeki dan mengekalkan makhluk (buat seketika). Terkutuk, terkutuk. Dimurkai, dimurkai orang yang menolak sabdaku ini dan tidak mempersetujuinya. Sesungguh-nya Jibra’il telah memberitahuku mengenainya daripada Allah S.W.T. dan berkata: Sesiapa yang memusuhi `Ali dan tidak menjadikannya wali, maka laknat dan kemurkaanKu ke atasnya. Seseorang itu hendaklah memikirkan apa yang telah dikemukakan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah supaya beliau tidak menyalahi-Nya kerana dikhuatiri kaki akan tergelincir selepas ia tegak. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh kalian19.

Wahai manusia! Sesungguhnya beliaulah janb-Allah yang disebutkan di dalam kitab-Nya “Supaya jangan ada orang yang mengatakan amat besar penyesalan atas kelalaianku terhadap janb-Allah”(Surah al-Zumar 39:56). Wahai manusia! Pelajarilah al-Qur’an dan fahamilah ayat-ayatnya. Perhatikanlah ayat-ayat Muhkamahnya dan janganlah kalian mengikuti ayat-ayat Mutasyabihahnya. Demi Tuhan, tidak akan menerangkan kepada kalian tentang halangan-halangannya dan tidak akan menerangkan kepada kalian penafsiran-penafsirannya melainkan orang yang aku memegang tangannya sekarang.

Dan aku memberitahu kalian sesungguhnya sesiapa yang aku maulanya, maka ini `Ali adalah maulanya, iaitu `Ali bin Abi Talib A.S, saudaraku, wasiku. Dan wilayahnya adalah daripada Allah S.W.T. yang telah menurunkannya ke atasku20.

Wahai manusia! Sesungguhnya `Ali dan orang yang baik daripada anak cucuku merupakan thiqal al-Asghar (harta paling kecil yang bernilai) dan al-Qur’an adalah thiqal al-Akbar (harta paling besar yang bernilai). Setiap orang menceritakan tentang sahabatnya dan bersatu dengannya. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga dikembalikan Haud kepadaku. Mereka itulah pemegang amanah Allah pada makhluk dan para bijak pandai di bumi-Nya. Sesungguhnya aku telah menunaikannya. Sesungguhnya aku telah menyampaikannya dan aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menerangkannya bahawa sesungguhnya Allah S.W.T. telah berfirman dan sabdaku itu adalah daripada Allah.

Sesungguhnya tidak ada Amiru l-Mukminin selain daripada saudaraku ini. Dan tidak seorang pun layak untuk melaksanakannya selepasku selain daripadanya. Kemudian beliau meletakkan tangannya ke bahu `Ali kemudian mengangkatnya21. Wahai manusia! Ini adalah `Ali saudaraku, wasiku, penjaga ilmuku, khalifahku ke atas umatku dan di atas tafsir kitab Allah Azza Wa Jalla. Penyeru kepadanya dan beramal dengan apa yang diredaiNya, memerangi musuh-musuhNya, setia mentaatiNya dan pencegah dari mendurhakaiNya.

Beliaulah khalifah Rasulullah, Amiru l-Mukminin, Imam petunjuk, penentang Nakithin (Ashab Jamal), Qasitin (Ashab al-Siffin) dan Mariqin (Ashab al-Nahrawan)22. Aku berkata: Sabdaku tidak boleh ditukar ganti kerana ia adalah perintah Tuhanku. Aku berkata: Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikan `Ali. Musuhilah orang yang memusuhinya. Laknatilah orang yang mengingkarinya, murkailah orang yang mengingkari haknya. Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkaulah yang telah menurunkan ke atasku bahawa Imamah selepasku adalah untuk `Ali sebagai wali Engkau sebaik saja peneranganku mengenainya dan perlantikanku terhadapnya23.

Dengan itu Engkau telah menyempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka. Dan engkau telah menyempurnakan ke atas mereka nikmatMu dan Engkau telah meredai bagi mereka Islam sebagai agama. Maka Engkau berfirman: “Barangsiapa mencari agama lain selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu daripadanya dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Surah Ali `Imran 3:85).

Wahai Tuhanku! Aku mempersaksikan Engkau dan cukuplahEngkau sebagai saksi sesungguhnya aku telah menyampaikannya. Wahai manusia! Sesungguhnya Allah A.W. telah menyempurnakan agama kalian dengan imamahnya (`Ali a.s). Siapa yang tidak berimamkannya dan orang yang menggantikan tempatnya yang terdiri daripada anak cucuku dari keturunannya sehingga hari kiamat, maka mereka itulah akan terbatal amalan-amalan mereka dan dalam nerakalah mereka kekal 24di dalamnya. Siksaan mereka tidak akan diringankan dan mereka pula tidakakan dilayani25.

Wahai manusia! Ini ialah `Ali orang yang paling kuat di kalangan kalian yang membantuku, orang yang paling berhak di kalangan kalian denganku. Beliau adalah orang yang paling akrab di kalangan kalian kepadaku dan orang yang paling mulia di sisiku dan Allah A.W. Kami meredhainya. Tidak terdapat ayat mengenai keredhaan melainkan ia turun pada `Ali. Allah tidak berfirman dengan “Wahai orang-orang yang beriman” melainkan Dia memulakan dengan `Ali. Tidak terdapat ayat pujian di dalam al-Qur’an melainkan padanya. Dan Dia tidak memberi penyaksian syurga tentang Hal Ata (Surah al-Insan 76:1) melainkan untuknya. Dia tidak menurunkannya selain daripadanya. Dan Dia tidak memuji dengannya (ayat) selain daripadanya (`Ali a.s)26.

Wahai manusia! Beliau adalah pembantu agama Allah, penyokong Rasulullah. Beliau adalah seorang yang bertakwa, bersih dan petunjuk. Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi dan wasi kalian adalah sebaik-baik wasi dan anak-anaknya sebaik-baik para wasi. Wahai manusia! Zuriat setiap nabi adalah dari sulbinya, tetapi zuriatku dari sulbi `Ali27.

Wahai manusia! Sesungguhnya Iblis telah mengeluarkan Adam dari syurga disebabkan hasad dengkinya. Lantaran itu janganlah kalian melakukan hasad dengki terhadapnya (`Ali) nescaya amalan-amalan kalian akan terbatal.

Dan kaki-kaki kalian akan tergelincir. Sesungguhnya Adam diturunkan ke dunia disebabkan “satu kesalahan” sahaja sedangkan beliau adalah pilihan Allah A.W. Bagaimana dengan kalian, sedangkan di kalangan kalian adalah musuh-musuh Allah. Sesungguhnya orang yang celaka sahaja yang memarahi `Ali. Dan orang yang bertakwa sahaja yang mewalikan `Ali. Hanya orang mukmin sahaja yang beriman dengan `Ali. Dan pada `Alilah diturunkan Surah wa l-Asr28.

Wahai manusia! Sesungguhnya aku memohon kepada Allah menjadi saksi bahawa aku telah menyampaikan risalahku kepada kalian. Rasul hanya menyampaikan risalahNya yang terang. Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sepenuhnya. Dan janganlah kalian mati melainkan kalian muslimun. Wahai manusia! Berimanlah kalian dengan Allah, RasulNya dan al-Nur (cahaya) yang diturunkan bersamanya sebelum kebenaran dipadamkan. Justeru itu kita menolaknya ke belakang.

Wahai manusia! al-Nur (cahaya) daripada Allah A.W., adalah padaku kemudian pada `Ali kemudian pada keturunannya sehinggalah datangnya al-Qa’im al-Mahdi yang akan menuntut hak Allah dan hak kami (Ahl al-Bait A.S) kerana Allah A.W. telah menjadikan kami hujah ke atas orang-orang yang cuai, ingkar, penentang, pengkhianat, pelaku dosa dan orang yang zalim dari sekalian alam29.

Wahai manusia! Aku memberi peringatan kepada kalian, sesungguhnya aku adalah Rasulullah sebagaimana telah berlalu para rasul sebelumku. Sekiranya aku mati atau dibunuh “kamu kembali ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Surah Ali `Imran 3:144). Sesungguhnya `Alilah yang disifatkan dengan kesabaran dan kesyukuran kemudian selepasnya cucu cicitku dan zuriatnya. Wahai manusia! Janganlah kalian berangan-angan untuk menentang Allah dengan “Islam” kalian, maka Dia akan memarahi kalian dan mengenakan kalian dengan azab di sisi-Nya. Sesungguhnya Dia sedang menunggu kalian.

Wahai manusia! Akan berlaku selepasku para imam yang akan menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan dibantu30.. Wahai manusia! Sesungguhnya Allah dan aku bersih daripada mereka. Wahai manusia! Sesungguhnya pembantu-pembantu mereka, pengikut-pengikut mereka dan penyokong-penyokong mereka akan berada di neraka yang paling terkebawah. Dan ia adalah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabbur. Sesungguhnya “mereka” adalah “pemilik-pemilik” mushaf. Lantaran itu hendaklah kalian melihat pada mushaf tersebut.

Beliau bersabda: Urusan mushaf hanya diambil berat oleh golongan yang sedikit sahaja. Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkannya (Sahifah) sebagai imamah dan wirathah pada keturunanku sehingga hari kiamat. Sesungguhnya aku telah menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Engkau untuk disampaikannya sebagai hujah di atas setiap yang hadir, ghaib dan ke atas setiap orang yang menyaksikannya atau tidak, sama ada telah dilahirkan ataupun tidak. Justeru itu hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir, dan bapa kepada anaknya sehingga hari kiamat kerana mereka (selain daripada Ahl al-Bait A.S) akan menjadikannya (imamah) sebagai hak milik dan barang rampasan. Sesungguhnya Allah melaknati perampas-perampasnya. “Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu wahai manusia dan jin. Maka kepada kamu dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)”. (Surah ar-Rahman 55: 31, 35)

Wahai manusia! Sesungguhnya Allah A.W. tidak akan meninggalkan kalian sebelumnya sehingga keburukan dan kebaikan dapat dibezakan. Dan Allah tidak mahu memberitahu kalian perkara-perkara yang ghaib. Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada satu bandar pun melainkan Allahlah yang membinasakannya disebabkan pembohongan penduduknya. Demikianlah Dia membinasakan bandar-bandar yang zalim. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah S.W.T. di dalam kitabNya. Ini adalah `Ali imam kalian dan wali kalian. Beliau di antara janji-janji Allah dan Allah membenarkan apa yang dijanjikannya31.

Wahai manusia! Sesungguhnya telah sesat sebelum kalian kebanyakan orang-orang yang terdahulu. Demi Allah, Dia telah membinasakan orang-orang yang terdahulu dan Dialah yang akan membinasakan orang-orang yang terkemudian. Allah berfirman: “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? Lalu Kami iringi (azab kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” (Surah al-Mursalat 77: 16-19).

Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dan melarangku. Sesungguhnya aku telah memerintahkan `Ali dan melarangnya. Ilmu suruhan dan larangan adalah daripada Allah A.W. Justeru itu dengarlah kalian kepada larangannya, nescaya kalian terselamat. Taatlah kalian kepadanya nescaya kalian mendapat petunjuk. Berhentilah kerana larangannya, nescaya kalian akan mendapat petunjuk. Ikutilah kehendaknya dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan kalian selain dari jalannya32.

Wahai manusia! Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Dia memerintahkan kalian mengikutinya. Kemudian `Ali selepasku kemudian anak cucuku dari sulbinya, para imam yang menjadi petunjuk kepada kebenaran dan dengannyalah mereka memperjuangkan kebenaran33.

Kemudian Rasulullah s.`a.w. membaca : al-Hamdu li Llahi Rabbi l-`Alamin sehingga ke akhirnya. Dan beliau bersabda: Kepada akulah turunnya Surah al-Fatihah dan juga kepada mereka secara umum dan khusus. Mereka itulah para wali Allah, mereka tidak takut dan mereka pula tidak berdukcita. Sesungguhnya parti Allah sahajalah yang mendapat kemenangan. Sesungguhnya musuh-musuh`Ali adalah terdiri daripada orang-orang yang melakukan perpecahan, nifaq, penentang-penentang, saudara-saudara syaitan yang berkongsi penentangan dan tipu daya.Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telahdisebutkan oleh Allah di dalam kitabNya, firmanNya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (Surah al-Mujadalah 58: 22).

Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah disifatkan oleh Allah A.W. di dalam kitabNya. FirmanNya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan ezaliman, itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surah al-An`am 6:82). Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah disifatkan oleh Allah di dalam kitabNya. FirmanNya: “Orang-orang yang akan memasuki syurga dengan aman” disambut oleh para malaikat dengan aman. Berbahagialah kamu, maka masuklah syurga selama-lamanya34. Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah A.W., firmanNya “Mereka memasuki syurga tanpa hisab”35.

Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang akan dibakar di neraka sa`ir36. Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang mendengar tepikan neraka jahannam dan nyalanya37.

Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah A.W. FirmanNya “Setiap umat masuk (neraka) dia mengutuk kawannya”. (Surah al-A`raf 7: 38). Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang telahdisebutkan oleh Allah di dalam kitabNya. FirmanNya “Setiap kali dilemparkan ke dalamnya satu kumpulan, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka: Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? Mereka menjawab: Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami mengatakan Allah tidak menyuruh sesuatupun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar” (Surah al-Mulk 67: 8-9). Sesungguhnya para wali mereka ialah “Orang-orang yang takut akan Tuhan mereka dengan perkara yang ghaib bagi mereka keampunan dan pahala yang besar” (Surah al-Mulk 67: 12). Wahai manusia! Dua perkara di antara neraka dan syurga. Musuh kita ialah orang yang telah dicela dan dilaknat oleh Allah. Wali kita ialah orang yang telah dipuji dan dikasihi oleh Allah. Wahai manusia! Sesungguhnya aku memberi peringatan dan `Ali memberi petunjuk (Hadi)38.

Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah nabi dan `Ali adalah wasiku. Sesungguhnya penamat para imam ialah al-Mahdi, dan beliau dari kalangan kami39.

Sesungguhnya beliaulah orang yang mempertahankan agama. Sesungguhnya beliaulah penuntut bela daripada orang-orang yang zalim. Sesungguhnya beliaulah pembuka benteng-benteng dan perosak-nya40.

Sesungguhnya beliaulah orang yang memerangi setiap kabilah yang syirik. Sesungguhnya beliaulah orang yang dapat mengesan setiap penentang para wali Allah. Sesungguhnya beliaulah pembantu agama Allah. Sesungguhnya beliaulah pencedok di lautan yang dalam. Sesungguhnya beliau mengetahui setiap orang yang mempunyai kelebihan dan setiap orang yang jahil. Sesungguhnya beliau adalah sebaik-baik pilihan Tuhan. Sesungguhnya beliaulah pewaris setiap ilmu secara menyeluruh. Sesungguhnya beliaulah diberitahu tentang Tuhannya dan diberi peringatan tentang imannya41.

Sesungguhnya beliau adalah seorang yang bijak dan tegas.Sesungguhnya setiap sesuatu diserahkan kepadanya. Sesungguhnya beliau telah diberi khabar gembira kepada orang-orang yang terdahulu. Sesungguhnya beliaulah hujah dan tidak ada hujah selepasnya. Tidak ada kebenaran melainkan bersamanya. Tidak ada nur (cahaya) melainkan di sisinya. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya dan tidak akan dibantu orang yang menentangnya. Sesungguhnya beliaulah wali Allah di bumiNya, hukumNya pada makhlukNya dan orang kepercayaanNya di dalam semua keadaan. Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah menerangkannya kepada kalian dan memahamkan kalian. Ini `Ali akan memahamkan kalian selepasku42.

Sesungguhnya manakala selesai ucapanku, aku menyeru kalian supaya melakukan bai`ah kepadaku sebagai tanda membai`ah `Ali dan memberi pengakuan kepadanya, kemudian memberi bai`ah kepadan selepasku. Sesungguhnya aku telah membai`ah kepada Allah, dan `Ali telah memberi bai`ah kepadaku. Aku memerintahkan kalian supaya melakukan bai`ah kepadanya daripada Allah A.W. FirmanNya “Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri” (Surah al-Fath 48: 10).Wahai manusia! Sesungguhnya Haji, Safa, Marwah dan `Umrah adalah di antara syi`ar-syi`ar Allah. “Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya” (Surah al-Baqarah 2: 158). Wahai manusia! Tunaikan haji di Baitullah ketika mampu dan janganlah kalian meninggalkannya melainkan tanpa kemampuan.

Wahai manusia! Setiap mukmin yang berdiri di Mauqif dosanya yang lalu akan diampuni Tuhan. Dan apabila selesai hajinya, amalan (baru)nya dimulakan. Wahai manusia! Orang-orang yang menunaikan haji bersifat tolong menolong. Dan perbelanjaan mereka akan digantikan kerana Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang melakukan kebaikan. Wahai manusia! tunailah haji dengan sempurna dan memahami (hikmah)nya. Dan janganlah kalian pulang melainkan dengan taubat dan meninggalkan segala dosa. Wahai manusia! Dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat sebagaimana Allah menyuruh kalian melakukannya.

Jika masa berpanjangan, kalian mengabaikannya atau melupai-nya maka `Ali adalah wali kalian dan orang yang dapat menjelaskannya kepada kalian kerana Allah telah melantiknya selepask Dan sesiapa yang Allah A.W. memilihnya untuk menggantikan tempaku, akan memberitahu kalian persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh kalian dan beliau akan menerangkan kepada kalian apa yang kalian tidak mengetahuinya43.

Sesungguhnya halal dan haram adalah tidak terkira banyaknya. Akulah yang menyuruh melakukan perkara-perkara yang halal dan akulah yang melarang melakukan perkara-perkara yang haram. Di satu peringkat aku diperintahkan supaya mengambil bai`ah daripadakalian. Dan bai`ah kalian adalah dengan menerima apa yang aku bawa dari sisi Allah A.W. mengenai kepemimpinan `Ali Amiru l-Mukminin dan para imam selepasnya, di mana mereka adalah daripadaku dan daripadanya. Dan di kalangan mereka itulah Imam Mahdi yang akan memenuhi dunia ini dengan kebenaran sehinggalah hari kiamat44.

Wahai manusia! Setiap yang halal aku telah menerangkannya kepada kalian. Begitu juga setiap yang haram aku telah melarang kalian dari melakukannya. Aku tidak akan bertolak ansur menge nainya dan aku tidak akan menukarkannya. Lantaran itu kalian hendaklah sentiasa mengingatinya, menjaganya, memberi nasihat dengannya. Jangan sekali-kali menukarkannya atau mengubahnya pula. Sesungguhnya aku ingin perbaharui kata-kataku: Dirilah solat, tunailah zakat, suruhlah mengerja kebaikan dan tegahlah kemungkaran. Sesungguhnya punca “menyuruh” kepada kebaikan dan melarang kemungkaran ialah berakhir kepada kata-kataku dan kalian sampaikanlah kata-kataku ini kepada orang yang tidak hadir dan suruhlah dia menerimanya dan menegahnya dari menyalahinya. Kerana ia adalah perintah daripada Allah A.W dan daripadaku.

Tidak ada amr ma`ruf dan nahyi munkar melainkan bersama imam yang maksum. Wahai manusia! Al-Qur’an45 telah memperkenalkan kalian bahawa para imam selepas `Ali ialah anak-anaknya. Dan aku telah memperkenalkan kalian bahawa dia (`Ali) adalah daripadaku dan aku adalah daripadanya sehingga Allah berfirman di dalam kitabnya46. “Dan dia menjadikan kalimat Tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” (Surah az-Zukhruf 43: 28) Dan aku berkata: Kalian tidak akan sesat selama-lamanya sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya47.

Wahai manusia! Bertakwalah, bertakwalah! Berwaspadalah tentang kiamat, sebagaimana firman Allah A.W. “Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang amat besar” (Surah al-Hajj 22: 1). Ingatlah mati, hisab, mizan, dan perhitungan di hadapan Allah Tuhan sekalian alam, pahala dan siksa. Sesiapa yang melakukan kebaikan akan diberi pahala dan sesiapa yang melakukan kejahatan, tidak ada bahagian syurga baginya.

Wahai manusia! Sesungguhnya kalian yang ramai ini hendaklah memberi bai`ah kepadaku dengan tapak tangan yang satu. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku supaya mengambil pengakuan daripada kalian tentang perlantikan `Ali sebagai imam/pemimpin mukminin. Dan para imam yang datang selepasnya adalah daripadaku dan daripadanya sebagaimana aku telah memberitahu kalian. Sesungguhnya zuriatku adalah dari sulbinya. Justeru itu katakanlah: Kami mendengar, mentaati, meridai, mematuhi apa yang telah disampaikan oleh anda daripada Tuhan kami dan Tuhan anda tentang Ali dan para imam selepasnya adalah dari sulbinya. Kami memberi bai`ah kepada anda mengenai imamah `Ali dengan hati kami, diri kami, lidah kami dan tangan kami.

Di atas pengakuan inilah kami hidup, kami mati kami dibangkitkan kembali. Kami tidak akan mengubah dan menukarnya. Kami tidak melakukan syak wasangka, kami tidak akan memungkiri janji, kami mentaati Allah, mentaati anda dan `Ali Amiru l-Mukminin dan para imam yang terdiri dari anak cucunya yang anda telah menyebutkannya daripada zuriat anda dari sulbinya. Selepasnya Hassan dan Husain di mana kedua-duanya aku telah memberitahu kalian tentang kedudukan kedua-duanya di sisiku dan kedudukan kedua-duanya di sisi Allah A.W48.

Sesungguhnya aku telah melaksanakannya kepada kalian. Sesungguhnya kedua-duanya adalah imam selepas bapa mereka berdua `Ali. Dan aku adalah bapa kedua-dua mereka sebelumnya. Katakanlah: Kami mentaati Allah tentang perkara tersebut (imamah), kami mentaati anda, `Ali, Hasan, Husain dan para imam yang disebutkan oleh anda dengan perjanjian yang kukuh dan ikhlas untuk Amiru l-Mukminin dari hati kami, jiwa kami, dan lidah kami, dengan “berjabat tangan” kami dengan orang yang melakukan kepada kedua-duanya (Nabi dan `Ali A.S) dengan tangannya dan mengakui kedua-duanya dengan lidahnya. Kami tidak akan mengubah pendirian kami selama-lamanya, Allah menjadi saksi terhadap kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi dan anda (Nabi s.`a.w.) juga menjadi saksi kepada kami. Malah setiap orang yang taat secara zahir danbatin, yang terdiri dari para Malaikat, bala tenteraNya, hamba-hambaNya. Dan Allah yang Maha Besar menjadi saksi49.

Wahai manusia! Apa pendapat kalian sesungguhnya Allah mengetahui setiap suara yang tersembunyi. Maka sesiapa yangmemilih petunjuk adalah untuk dirinya. Dan siapa yang sesat,sesungguh-nya dia memilih kesesatan itu. Dan siapa yang memberibai`ah kepada Allah, “tangan” Allah (kekuasaan Allah) di atas tangan-tangan mereka. Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah dan berilah bai`ah kepada `Ali Amir al-Mukminin, Hasan, Husain dan para imam yang lain.

Mereka merupakan kalimat yang baik selama-lamanya. Allah akan membinasakan orang yang mungkir janji dan akan memberi rahmat kepada orang yang menepati janji. “Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri” (Surah al-Fath 48: 10). Wahai manusia! Katakanlah sebagaimana aku telah katakan kepada kalian dan ucaplah salam bahagia kepada `Ali bagi memimpin kaum mukminin. Katalah “Kami mendengar, kami taat, keampunan kamu wahai Tuhan dipinta dan kepada kamulah tempat kembali” (Surah al-Baqarah 2: 285). Dan katakanlah “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kamipetunjuk” (Surah al-A`raf 7: 43).

Wahai manusia! Sesungguhnya kelebihan `Ali b. Abi Talib A.S adalah di sisi Allah A.W. Sesungguhnya Dia telah menurunkan kelebihannya di dalam al-Qur’an tidak terhitung banyaknya di satu peringkat. Lantaran itu siapa di kalangan kalian yang mengetahuinya, hendaklah mereka membenarkannya. Wahai manusia! Siapa yang mentaati Allah, RasulNya, `Ali dan para imam yang aku telah menyebutkan nama-nama mereka kesemuanya, maka ia akan mendapat kejayaan yang besar50. Wahai manusia! Orang yang terdahulu memberi bai`ah kepada-nya, mematuhinya, menerimanya sebagai pemimpin mukminin, maka merekalah orang yang mendapat kejayaan di syurga. Wahai manusia! Katakanlah bahawa Allah tidak akan meridai kata-kata penentangan kalian. Sekiranya kalian mengingkari malah jika seluruh penghuni bumi ini mengingkarinya, tidak akan sekali-kali memberi sebarang kemudaratan kepada Allah S.W.T.

Seterusnya al-Tabarsi menulis: Lalu orang ramai menyeru Rasulullah (s.`a.w.) sambil berkata: Kami mendengar dan kami mentaati perintah Allah dan RasulNya dengan hati kami, lidah kami dan tangan kami. Mereka datang berpusu-pusu kepada Rasulullah (s.`a.w.) dan `Ali a.s. Lalu mereka berjabat tangan denganRasulullah (s.`a.w.) dan `Ali a.s. Orang pertama berjabat tangan dengan Rasulullah (s.`a.w.) ialah Abu Bakr, kedua `Umar, ketiga `Uthman, keempat Talhah, kelima Zubair, orang-orang Muhajirin, Ansar dan orang ramai menurut martabat mereka sehingga solat Maghrib dan Isyak dilakukan secara jamak dan berjamaah. Mereka meneruskan bai`ah dan berjabat tangan sebanyak tiga kali. Rasulullah (s.`a.w.) bersabda, setiap kali mereka melakukan bai`ah kepadanya; Segala puji bagi Allah yang telah mengurniakan kelebihan kepada kami di atas sekalian alam51.

Ulasan

Konsep Imamah (kepemimpinan) yang ditekankan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di dalam khutbah Ghadir Khum adalah melalui nas Allah S.W.T. Dan bukan melalui perlantikan atau pemilihan52.

Ia memusatkan kepada dua belas imam yang didahului oleh Amir al-Mukminin `Ali bin Abi Talib dan sebelas anak cucunya di mana mereka adalah dari keturunan Rasulullah (s.`a.w.) sendiri melalui Fatimah a.s. Lantaran itu beliau (s.`a.w.) bersabda “Zuriat setiap nabi adalah dari sulbinya, tetapi zuriatku dari sulbi `Ali”53. Lantaran itu beliau bersabda “Sesungguhnya Allah telah melantik `Ali untuk kalian sebagai wali, imam yang wajib ditaati”54. Kemudian beliau bersabda “Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Dia memerintahkan kalian mengikutinya. Kemudian `Ali selepasku. Kemudian anak cucuku dari sulbinya, para imam yang menjadi petunjuk kepada kebenaran55.

Sebenarnya konsep dua belas imam selepas kewafatan Rasulullah (s.`a.w.) telah diriwayatkan tidak terkira banyaknya oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka di samping para ulama Syi`ah. Umpamanya al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Sahihnya56 dengan perkataan “dua belas amir”.

Al-Bukhari meriwayatkannya daripada Jabir b. Samurah bahawa Nabi (s.`a.w.) bersabda “selepasku dua belas amir”. Muslim di dalam Sahih57 misalnya meriwayatkannya daripada Jabir b. Samurah sehingga dia berkata: Aku bersama bapaku berjumpa Nabi (s.`a.w.). Aku dengar Nabi (s.`a.w.) bersabda: “Urusan ini tidak akan selesai hingga berlaku kepada mereka dua belas khalifah”58 . Al-Turmudhi di dalam Sunannya meriwayatkannya dengan lafaz amir bukan khalifah. Ahmad b. Hanbal di dalam Musnadnya59 meriwayatkannya daripada Sya`bi daripada Masruq berkata: Kami berada di sisi `Abd Allah b. Mas`ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu `Abd Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah (s.`a.w.) berapakah umat ini memiliki khalifah? `Abd Allah b. Mas`ud menjawab: Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda. Kemudian dia berkata: Ya!

Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah (s.`a.w.) mengenai-nya. Maka beliau (s.`a.w.) bersabda: “Dua belas (Khalifah) seperti bilangan naqib Bani Isra’il”. Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal60 meriwayatkan bahawa Nabi (s.`a.w.) bersabda: “Selepasku akan diikuti oleh dua belas khalifah”. Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah61 meriwayatkan bahawa Jabir b. `Abdullah berkata: Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya `Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian `Ali b. Husain. Kemudian Muhammad b. `Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja`far b. Muhammad, kemudian Musa b. Ja`far, kemudian `Ali b. Musa, kemudian Muhammad b. `Ali, kemudian `Ali b. Muhammad, kemudian Hasan b. `Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya adalah kunyahku, anak Hasan b. `Ali. Dengan beliaulah Allah akan “membuka” seluruh pelusuk bumi di Timur dan di Barat,dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang diuji hatinya oleh Allah SWT”.

Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Adakah orang ramai boleh mengambil faedah darinya ketika ghaibnya? Beliau menjawab: “Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang ramai mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan”. Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Justeru itu rahsiakanlah mengenainya melainkan kepada orang yang ahli.

Demikianlah dikemukakan secara ringkas konsep imam dua belas menurut riwayat para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-bukumereka di mana ia adalah sejajar dengan khutbah Ghadir Khum. Memang tidak dapat dinafikan bahawa `Ali a.s sendiri telah mengemukakan khutbah/hadis Ghadir Khum sebagai hujah kekhilafahan beliau selepas Rasulullah (s.`a.w.). Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya62 meriwayatkan bahawa Amir al-Mukminin `Ali telah menuntut jawatan khalifah dengan mengemukakan beberapa soalan munasyadah kepada Ahli Syura pada tahun 23 H.

Beliau bertanya: Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah di kalangan kalian di mana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepada-nya: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya Wahai Tuhan, hormatilah orang yang mewalikannya, tentangilah orang yang bermusuhan dengannya. Tolonglah orang yang menolong-nya. Orang yang hadir hendaklah menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir selain daripadaku? Mereka menjawab: Tidak ada orang lain selain daripada anda. Sulaim b. Qais al-Hilali seorang tabi` meriwayatkan bahawa beliau melihat Amir al-Mukminin `Ali a.s di Masjid Madinah di zaman pemerintahan Khalifah `Uthman b. `Affan dan dua ratus lebih para sahabat sedang bercakap-cakap dan bermuzakarah tentang ilmu dan kezuhudan. Mereka menyebut kelebihan Quraisy tentang orang yang pertama memeluk Islam dan berhijrah dengan sabda-sabda Rasulullah (s.`a.w.) tentang mereka. `Ali hanya berdiam diri kemudian beliau bertanya kepada mereka: Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui tentang sebab turunnya “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah, taat kamu kepada Rasulullah dan Uli al-Amr daripada kamu” (Surah al-Nisa’ 4:59).

Orang ramai menjawab: Wahai Rasulullah adakah ia diturunkan secara khusus untuk sebahagian mukminin? Atau ia umum kepada semua mukminin? Justeru itu Allah A.W memerintahkan nabiNya supaya memberitahu mereka tentang Uli al-Amr mereka, dan menafsirkan kepada mereka tentang al-Wilayah sebagaimana beliau menafsirkan kepada mereka solat mereka, zakat mereka dan haji mereka. Dan beliaulah yang melantik aku untuk menjadi imam/khalifah kepada mereka selepas Ghadir Khum. Kemudian beliau memberi khutbahnya dan bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mengutuskan aku dengan satu misi yang mencemaskan kerana aku menyangka orang ramai akan membohongiku.

Justeru itu aku berjanji pada diriku sendiri supaya aku tidak menyampaikannya atau Dia menyiksaku63. Kemudian beliau memerintahku supaya solat dilakukan secara jamak dan berjamaah.Kemudian beliau berkhutbah: Wahai manusia adakah kalian mengetahui sesungguhnya Allah adalah maulaku, aku maula mukminin dan aku adalah lebih aula daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! wahai Rasulullah. Dia bersabda: Berdirilah wahai `Ali, maka aku (`Ali)pun berdiri. Kemudian beliau bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikannya. Tentang orang yang bermusuhan dengannya. Maka Salman berdiri dan bertanya: Wahai Rasulullah taat kepada Uli al-Amr seperti siapa? Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Ketaatan kepada Uli al-Amr sepertilah mentaatiku. Kemudian turun ayat “Hari ini aku menyempurnaka agama kamu”.

Maka Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Allah akbar, dengan ini sempurnalah kenabianku dan lengkaplah agama Allah dengan wilayah `Ali selepasku. Lantas Abu Bakr dan `Umar bertanya: Adakah ayat tersebut khusus untuk `Ali `a.s? Beliau menjawab: Ya ianya untuk `Ali dan para wasiku sehinggalah hari kiamat. Abu Bakr dan `Umar meminta penjelasan lagi. Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami. `Ali adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, wasiku, khalifahku pada umatku dan wali setiap mukmin selepasku. Kemudian anak lelakiku Hasan, kemudian Husain kemudian sembilan daripada anak lelakiku Husain satu selepas satu. Al-Qur’an bersama mereka dan mereka bersama al-Qur’an. Mereka tidak akan berpisah daripadanya dan ia (al-Qur’an) tidak akan memisahkan mereka sehingga mereka dikembalikan kepadaku di Haud. Lalu para sahabat menjawab: Wahai Tuhanku sesungguhnya kami telah mendengar demikian itu dan kami naik saksi di atas apa yang diucapkan oleh anda (`Ali)64.

`Ali a.s juga telah mengulangi khutbah/hadis nabi di Ghadir Khum semasa beliau mula menjadi khalifah di Rahbah di Kufah pada tahun35 H. Ahmad b. Hanbal meriwayatkan bahawa `Ali a.s berkata: Aku menyeru kerana Allah bagi setiap orang yang mendengar Rasulullah (s.`a.w.) bersabda di hari al-Ghadir supaya berdiri dan memper saksikan apa yang telah didengarinya. Dan tidak boleh berdiri melainkan orang yang melihatnya (Nabi s.`a.w.) dengan matanya dan mendengar dengan kedua-dua telinganya. Lantas tiga puluh sahabat berdiri termasuk dua belas orang yang telah mengambil bahagian di dalam peperangan Badar. Mereka telah menyaksikan bahawa beliau (s.`a.w.) telah memegang `Ali dengan tangannya dan bersabda kepada orang ramai, di antaranya: Tidakkah anda mengetahui bahawa sesungguhnya aku lebih aula dengan mukminin daripada mereka sendiri?

Mereka menjawab: Ya. Kemudian beliau (s.`a.w.) bersabda lagi: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya65.

Adalah diriwayatkan bahawa terdapat para sahabat seperti Anas b. Malik dan lain-lain yang enggan memberi penyaksian tersebut di mana `Ali a.s berkata kepadanya: Kenapa anda tidak berdiri bersama sahabat-sahabat Rasulullah (s.`a.w.) yang lain untuk memberi penyaksian kepada apa yang telah anda dengari daripadanya di hari itu?

Dia menjawab: Wahai Amir al-Mukminin, aku telah tua dan pelupa pula. Lantas `Ali a.s berkata: Jika anda berbohong, nescaya Allah akan mengenakan anda dengan penyakit keputihan kulit yang tidak dapat ditutupi serban. Dia tetap dengan pendiriannya sehingga mukanya dihinggapi keputihan kanser. Selepas itu dia berkata: Aku ditimpa penyakit ini disebabkan berkat doa hamba yang salih66 .

Di sini diperturunkan sebahagian dari para sahabat yang melihat sendiri Rasulullah (s.`a.w.) dan mendengar khutbah beliau (s.`a.w.) di Ghadir Khum. Kemudian memberi penyaksian mereka di hadapan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib di Rahbah seperti berikut:

1. Abu Zainab b. `Auf al-Ansari.

2. Abu `Umrah b. `Amru b. Muhsin al-Ansari.

3. Abu Fadalah al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperanganSiffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s dan terlibat di dalam Peperangan Badr.

4. Abu Qudamah al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s.

5. Abu Laila al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s.

6. Abu Hurairah al-Dusi.

7.Abu al-Haitham Ibn al-Taihan. Beliau mati syahid di dalapeperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s. dan terlibat dalam Peperangan Badr.

8. Thabit b. al-Wadi`ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani.

9. Hubsyi b. Janadah al-Saluli.

10.Abu Ayyub Khalid al-Ansari. Beliau terlibat dalam peperangan Badr.

11.Khuzaimah b. Thabit al-Ansari, Dhu al-Syahadataini. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin dan terlibat di dalam peperangan Badr.

12. Abu Syurah Khuwailid `Amru al-Khuza`i. Wafat ketika berusia 68 tahun.

13. Zaid/Yazid b. Syarahil al-Ansari.

14. Sahal b. Hanif al-Ansari al-Ausi. Wafat ketika berusia 38 tahun dan terlibat di dalam peperangan Badr.

15. Abu Sa`id Sa`d b. Malik al-Khudri al-Ansari.

16. Abu `Abbas Sahl b. Sa`d al-Ansari. Wafat ketika berusia 91 tahun.

17. Amir b. Laila al-Ghaffari.

18. `Abd al-Rahman b. Rabb al-Ansari.

19. `Abdullah b. Thabit al-Ansari. Khadam Rasulullah (s.`a.w.).

20. `Ubaid b. `Azib al-Ansari.

21. Abu Tarif `Adi b. Hatim.

22. `Uqbah b. `Amir al-Jahani. Beliau wafat ketika berusia 68 tahun. Dan di kalangan orang yang mati di pihak Mu`awiah.

23. Nahiyah b. `Amr al-Khuza`i.

24. Nu`man b. `Ajalan al-Ansari67.

`Ali juga mengulangi khutbah/hadis Ghadir Khum pada hari Peperangan Jamal tahun 36 H. Beliau bertanya Talhah: Aku menyer anda, adakah anda mendengar Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali maulanya. Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikannya dan tentangilah orang yang memusuhinya? Talhah menjawab: Ya. `Ali berkata: Kenapa anda memerangiku? Talhah menjawab: Aku tidak ingat. Beliau berkata: Talhah telah pergi darinya68

Amir al-Mukminin mengulang kembali khutbah/hadis Ghadir Khum di Kufah pada tahun 36-37 H. di mana sekumpulan lelaki mengulangi kembali hadis Ghadir al-Khum di hadapan Amir al-Mukminin `Ali69,. Begitu juga Fatimah al-Zahra, Hasan, Husain dan sembilan para imam Ahl al-Bait Rasulullah (s.`a.w.) berhujah dengan hadis al-Ghadir dan lain-lain, seperti hadis al-Thaqalain, al-Safinah, al-Manzilah, al-Tair, al-Dar, Madinah al-`Ilm dan lain-lain. Semuanya menjelaskan kekdudukan kelebihan para imam dua belas. Adalah suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan bahawa Amir al-Mukminin `Ali mempunyai keilmuan yang tinggi dan diakui oleh Rasulullah (s.`a.w.). Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: “Aku adalah bandar ilmu, `Ali adalah pintunya”70.

Ketinggian ilmu dan bahasa yang diucapkan oleh Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib terserlah di dalam ucapan-ucapan beliau71 di mana pada suatu hari beliau diminta oleh sebahagian para sahabatnya supaya memberitahu mereka tentang keilmuannya. Amir al-Mukminin menjawab: Sesungguhnya ucapanku sukar dan menyukarkan (Sa`bun wa Mustas`abun) di mana ia tidak akan difahami melainkan oleh orang yang alim (al-`Alimun). Tetapi mereka mendesak beliau supaya memberi suatu ucapan kata-kata hikmah kepada mereka. Lalu beliau menjemput mereka ke rumahnya, kemudian beliau berucap: Akulah yang telah tinggi (`Alautu), maka akulah yang memaksa, (Qahartu); akulah yang menghidupkan (Uhyi) dan mematikan (Umitu), akulah yang pertama (al-Awwal) dan terakhir (al-Akhir), Zahir (al-Zahir) dan batin (al-Batin). Lantas mereka memarahi beliau dan berkata: Beliau telahkafir (kafara) lalu mereka berdiri untuk keluar dari rumahnya. `Ali a.s berkata kepada pintu: Wahai pintu, peganglah mereka. Maka pintu itu tertutup dengan sendiri. Beliau berkata: Tidakkah aku telah berkata kepada kalian bahawa ucapanku sukar dan menyukarkan, di mana ia tidak dapat difahami melainkan oleh orang yang alim? Datang kemari, aku akan menjelaskannya kepada kalian.

Adapun ucapanku: Akulah yang telah tinggi (`Alautu), maka akulah yang telah memaksa (Qahartu), maka akulah yang telah meninggikan (Alautu) kalian dengan pedangku ini. Maka aku memaksa (Qahartu) kalian sehingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun ucapanku: Akulah yang menghidupkan (Uhyi) dan mematikan (Umitu), maka akulah yang menghidupkan (Uhyi) Sunnah dan mematikan (Umitu) bid`ah. Adapun ucapanku: Akulah yang pertama (al-Awwal), maka akulah orang yang pertama (al-Awwal) beriman kepada Allah dan memeluk Islam.

Adapun ucapanku: Akulah orang yang terakhir (al-Akhir), maka akulah orang yang terakhir (al-Akhir) mengenakan pakaian ke atas Nabi (s.`a.w.) dan mengkafankannya. Adapun ucapanku: Akulah zahir (al-Zahir) dan batin (al-Batin), maka di sisi akulah ilmu zahir dan batin. Kemudian para sahabatnya mengeluh seraya berkata: Anda telah menyelamatkan kami semoga Allah menyelamatkan anda72.

Jikalaulah sebahagian para sahabat Amir al-Mukminin `Ali a.s sukar untuk memahami ucapan-ucapan beliau, orang-orang di zaman kita ini lebih sukar untuk memahaminya. Justeru itu mereka melontarkan kata-kata kafir kepada Syi`ah Amir al-Mukminin `Ali a.s pula dengan alasan Amir al-Mukminin `Ali tidak berkata demikian. Hanya Syi`ah `Ali sahaja yang mengaitkan ucapan tersebut Perbezaannya yang pertama (sebahagian para sahabat `Ali a.s) mengkafirkan `Ali sendiri kerana ucapannya. Sementara orang-orang Islam tertentu di zaman ini, menafikan kata-kata itu dikaitkan kepada `Ali a.s. Sebaliknya menyatakan bahawa ucapan tersebut hanya direka-reka oleh Syi`ah (`Ali). Lantas mereka mengkafirkan Syi`ah. Jikalaulah mereka benar-benar mengetahui bahawa ucapan tersebut datangnya daripada `Ali a.s sendiri, kemungkinan mereka akan melakukan perkara yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebahagian para sahabat `Ali terhadap beliau sendiri kerana mereka bukanlah terdiri daripada orang yang mempunyai ilmu yang tinggi, malah mereka hanya dapat memahami sesuatu secara mendatar. Meskipun begitu mereka adalah sahabat Amir al-Mukminin `Ali dan kemungkinan di kalangan mereka adalah sahabat Rasulullah (s.`a.w.) sendiri.

Di sini diperturunkan nama-nama perawi khutbah/hadis Ghadir Khum di kalangan para sahabat Rasulullah (s.`a.w.) tentang perlantikan `Ali sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) sebagaimana sabdanya: “Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya”. Dan nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:

1. Abu Hurairah al-Dausi (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.

2. Abu Laila Al-Ansari (w. 37 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 14.

3. Abu Zainab bin `Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.

4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi (s.`a.w.) di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada `Ali a.s dengan hadis al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.

5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan `Ali a.s di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.

6. Abu `Umrah bin `Umru bin Muhsin al-Ansri. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada `Ali a.s di hari Rahbah dengan hadis al-Ghadir.

7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam pepe rangan al-Siffin tahun 37 H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi d dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.

8. Abu Rafi` al-Qibti, hamba Rasulullah (s.`a.w.). Diriwayakan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhbnya.

9. Abu Dhuwaib Khuwailid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah `Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawrizmi di dalam Maqtal.

10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w. 13 H). Diriwayatka oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wlayah, Abu Bakr al-Ja`abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadis al-Ghadir.

11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w. 54 H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.

12. `Ubayy bin Ka`ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`bi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.

13. As`ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.

14. Asma` binti `Umais al-Khath`amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn`Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah

15. Umm Salmah isteri Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 40.

16. Umm Hani` binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.

17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah (s.`a.w.) (w. 93 H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma`arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm.114.

18. Al-Barra’ bin `Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281,Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.

19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63 H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al–Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.

20. Abu Sa`id Thabit bin Wadi`ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.

21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa`i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 398.

22. Jabir bin `Abdullah al-Ansari (w. 73/74/78 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Abd al-Birr di dalam al-Isti`ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, V, hlm. 337.

23. Jabalah bin `Amru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.

24. Jubair bin Mut`am bin `Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 31, 336.

25. Jarir bin `Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id , IX,hlm. 106.

26. Abu Dhar Jundab Janadah al-Ghaffari (w. 31 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.

27. Abu Junaidah Janda` bin `Amru bin Mazin al-Ansari. Diri-wayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm.308.

28. Hubbah bin Juwain Abu Qudamah al-`Arani (w. 76-79 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX,hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.

29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211.

30. Habib bin Badil bin Waraqa` al-Khaza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.

31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari (w. 40/42 H).diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi, di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38.

32. Huzaifah bin al-Yamani (w. 36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 40.

33. Hasan bin Thabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama hijrah.

34. Imam Mujtaba Hasan bin `Ali a.s. Diriwayatkan oleh Ibn`Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja`abi di dalam al-Nakhb.

35. Imam Husain bin `Ali a.s. Diriwayatkan oleh Abu Nu`aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm. 9.

36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w. 50/51/52 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,V, hlm. 6 dan lain-lain.

37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w.21/22 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`abi di dalam al-Nakhb.

38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, hlm. 307 dan lain-lain.

39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn `Umru al-Khaza`i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith al-Ghadir.

40. Rifalah bin `Abd al-Mundhir al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.

41. Zubair bin al-`Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 3.

42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm.368 dan lain-lain.

43. Abu Sa`id Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib,hlm. 4 dan lain-lain.

44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, II, hlm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 567 dan lain-lain.

45. Zaid bin `Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.

46. Abu Ishak Sa`d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak , III, hlm. 116 dan lain-lain.

47. Sa`d bin Janadah al-`Aufi bapa kepada `Atiyyah al-`Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah , dan lain-lain.

48. Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhb.

49. Abu Sa`id Sa`d bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.

50. Sa`id bin Zaid al-Qurasyi `Adwi (w. 50/51 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.

51. Sa`id bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

52. Abu `Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.

53. Abu Muslim Salmah bin `Umru bin al-Akwa` al-Islami (w. 74H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya didalam Hadith al-Wilayah.

54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.

55. Sahal bin Hanif al-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.

56. Abu `Abbas Sahal bin Sa`d al-Ansari al-Khazraji al-Sa`idi (w. 91 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.

57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn `Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

58. Dhamirah al-Asadi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

59. Talhah bin `Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Diriwayatkan oleh al-Mas`udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 171 dan lain-lain.

60. `Amir bin `Umair al-Namiri. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 255.

61. `Amir bin Laila bin Dhumrah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 92 dan lain-lain.

62. `Amir bin Laila al-Ghaffari. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 257 dan lain-lain.

63. Abu Tufail `Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.

64. `Aisyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, isteri Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

65. `Abbas bin `Abdu l-Muttalib bin Hasyim bapa saudara Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

66. `Abdu al-Rahman bin `Abd Rabb al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 408 dan lain-lain.

67. Abu Muhammad bin `Abdu al-Rahman bin Auf al-Qurasyi al Zuhri (w. 31 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.

68. `Abdu al-Rahman bin Ya`mur al-Daili. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.

69. `Abdullah bin Abi `Abd al-Asad al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

70. `Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza`ah. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

71. `Abdullah bin Basyir al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

72. `Abdullah bin Thabit al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.

73. `Abdullah bin Ja`far bin Abi Talib al-Hasyim (w. 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

74. `Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.

75. `Abdullah bin Rabi`ah. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.

76. `Abdullah bin `Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa`I di dalam al-Khasa`is, hlm. 7 dan lain-lain.

77. `Abdullah bin Ubayy Aufa `Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

78. Abu `Abd al-Rahman `Abdullah bin `Umar bin al-Khattab al- `Adawi (w. 72/73 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 106 dan lain-lain.

79. Abu `Abdu al-Rahman `Abdullah bin Mas`ud al-Hazali (w. 32/33H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.

80. `Abdullah bin Yamil. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 382 dan lain-lain.

81. `Uthman bin `Affan (w. 35 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah

di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.

82. `Ubaid bin `Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin `Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada `Ali a.s di Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.

83. Abu Tarif `Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.

84. `Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

85. `Uqbah bin `Amir al-Jauhani. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68.

86. Amiru l-Mukminin `Ali bin Abi Talib a.s. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152; al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107; al-Suyuti di dalam Tarikh al- Khulafa’, hlm. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 337; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211 dan lain-lain.

87. Abu Yaqzan `Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib,hlm. 4 dan lain-lain.

88. `Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107 dan lain-lain.

89. `Umar bin Abi Salmah bin `Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

90. `Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 349 dan lain-lain.

91. Abu Najid `Umran bin Hasin al-Khuza`i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.

92. `Amru bin al-Humq al-Khuza`i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

93. `Amru bin Syarhabil. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.

94. `Amru bin al-`Asi. Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 93 dan lain-lain.

95. `Amru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diri-wayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154 dan lain-lain.

96. Al-Siddiqah Fatimah binti Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.

97. Fatimah binti Hamzah bin `Abdu l-Muttalib. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 305 dan lain-lain.

99. Qais bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

100. Abu Muhammad Ka`ab bin `Ajrah al-Ansari al-Madani (w. 51 H).Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H). Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan lain-lain.

102. Al-Miqdad bin `Amru al-Kindi al-Zuhri (w. 33 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.

103. Najiah bin `Amru al-Khuza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 6; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 542 dan lain-lain.

104. Abu Barzah Fadhlah bin `Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

105. Na’mar bin `Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68 dan lain-lain.

106. Hasyim al-Mirqal Ibn `Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhri (w. 37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 366; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 305.

107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyi al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.

109. Abu Juhaifah Wahab bin `Abdullah al-Suwa’i (w. 74 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.

110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqafi. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah , II, hlm.233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah , III, hlm. 54273.

Demikianlah dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawi hadis al-Ghadir di kalangan para sahabat mengenai perlantikan `Ali `a.s sebagai imam/khalifah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.), oleh ulama kita Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh itu ianya sudah mencapai ke peringkat kemutawatirannya. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawi-perawi dari golongan para Tabi`in yang meriwayatkan hadis al-Ghadir serta 360 perawi-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadis tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahl al-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadi74.

Kesimpulan

Khutbah /Hadis Rasulullah (s.`a.w.) di Ghadir Khum pada 18hb. Dhu l-Hijjah tahun 10 Hijrah telah memusatkan kepemimpinan umat kepada dua belas imam/khalifah. Kemungkinan “keadaan tertentu” tidak membenarkan ia didedahkan secara menyeluruh kepada umum dengan berbagai-bagai alasan. Meskipun begitu setiap individu “bebas” mempunyai pendapatnya yang tersendiri bagi menerima atau menolak mana-mana hadis yang kurang sesuai dengan fahamannya dengan alasan akademik yang mendalam. Meskipun begitu, dia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah S.W.T.

Nota Kaki:

1Lihat umpamanya al-Khatib, Tarikh Baghdad, Baghdad 1950, VIII, hm. 290; al-Khawarizmi, al-Manaqib, Cairo 1340 H, hlm. 130; l-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, Cairo 1963, hlm. 114; Ibn Hajr, al-Isabah, Baghdad 1345 H, III, hlm. 408; Ibn al-Athir, Usd al-habah, 1349 H, III, hlm. 307 dan lain-lain.

2Maksud Surah al-Saba’ 34 : 13 “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur”.

3Lihat umpamanya Surah Ali `Imran, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Munafiqin, al-Hadid, al-Mujadalah dan al-Hasyr.

4Al-`Allamah al-Tabarsi, al-Ihtijaj, Beirut 1403 H, I, hlm. 59.

5Ibid.

6Al-Khawarizmi ,al-Manaqib, hlm. 1301; al-Khatib, Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 408; al- Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.

7Untuk mengetahui konsep Imamah menurut Ahl al-Sunnah,lihat buku Konsep Imamah dan khilafah Serta implikasinya menurut Ahl al-Sunnah wa l-Jama’ah,Hizbi,Shah Alam,1993.

8Lihat Antologi Pemikiran Islam, Hizbi, Shah Alam , 1993, hlm. 206-239.

9Al-`Allamah al-Tabarsi, al-Ihtijaj, I, hlm. 55-56,58-67.

10Lihat umpamanya al-Dhahabi, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad 1958I, hlm. 3; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, Baghdad 1958, hlm. 237.

11Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, Cairo 1957, hlm. 150; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, Beirut 1960, II, hlm. 298; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Baghdad 1963, IV, hlm. 637.

12Al-Bukhari, Sahih, Cairo 1348 H, III, hlm. 54 dalam “Kitab al-Maghazi” bab peperangan Tabuk; Muslim, Sahih, Cairo 1311 H, II ,hlm. 236 dan 237 dalam bab “Fadl al-Sahabah”, bab Fadl `Ali A.S.; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 98, 118 dan 119; Ibn Hajr al-`Asqalani, al-Isabah, II, hlm. 507.

13Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293.

14Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 150; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298; al-Alusi, Ruh al-Ma`ani, Cairo 1958, V, hlm. 172; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, Tehran 1385 H, hlm. 128.

15Abu Nu`aim alAsfahani, Hilyah al-Auliya’, I, hlm. 65; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 92.

16Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 91.Ahmad b.Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 102; al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 5.

17Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 251; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 43; Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad 1327 H, I, hlm. 343.

18Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 91; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 128.

19Ahmad b Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 102; al-Muttaqi al-Hindi , Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 159; Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, V , hlm. 379.

20Al-Alusi, Ruh al-Ma`ani, VI, hlm. 172; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298,al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 120; al-Khatib, Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, Tehran 1404 H, hlm. 113.

21Al-Alusi, Ruh al-Ma`ani, VI, hlm. 172. al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 120; al-Khatib, Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 113.

22Al-Turmudhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Durriy, Damascus 1958,Hlm.143; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 251; Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154.

23Al-Tabari, Tarikh, Cairo 1956, II,hlm. 216; Abu l-Fida, Tarikh, Cairo 1957, I, hlm. 116.

24Maksud “kekal” (al-Khulud) adalah sama dengan Surah al-Nisa’ 4: 14 di mana al-Baidawi menyatakan al-Khulud adalah al-Makth al-Tawil, bukan kekal selama-lamanya, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, Cairo t.t., I, hlm. 150.

25Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 343; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 90-93.

26Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 17; al-Dhahabi, Mizan al-I`ti-dal, Cairo 1348 H, III,hlm. 311; Kifayah al-Talib, hlm. 139-141.

27Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 56.

28Al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 129; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 102; Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, V, hlm.379; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm.115-117.

29Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 87; al-Qunduzi al-Hanafi,Yanabi` al-Mawaddah, hlm.10,486;al-Khawarizmi, Maqtal al- Husain, Baghdad 1343 H, hlm. 50.

30Maksud Surah al-Qasas 28: 41

31Al-Turmudhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Durriy, hlm. 144;al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 253.

32Al-Tabari, Tarikh ,II, hlm. 216; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 128.

33Ibn Hajr, al-Sawa`iq al-Muhriqah, Cairo 1971 M, hlm. 79; Abu Nu`aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya’, Cairo 1956 M, I, hlm.64

34Maksud Surah az-Zumar 39: 73.

35Maksud Surah al-Ghafir: 40

36Maksud Surah al-Insyiqaq 84: 12.

37Maksud Surah al-Furqan 25: 12

38Al-Nasa’i, al-Khasais, Damascus 1978, hlm. 70; Abu Nu`aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya’ , IV, hlm. 381; al-Kanji al-Syafi`I , Kifayah al-Talib, hlm. 233.

39Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 44-444.

40Ibn `Abd al-Birr, al-Isti`ab, Beirut 1972, II, hlm. 639 ,Ibn Sa`d, Tabaqat, IV, hlm. 305.

41Al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 126; Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Cairo 1959, VII, hlm. 358.

42Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, V, hlm. 241;al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 48; Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas,Tunis 1972, hlm. 78; Ibn Hajr, al-Isabah, IV, hlm.270.

43Al-Khatib, Tarikh Baghdad, II, hlm. 377.

44Abu Nu`aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya’, III, hlm. 201; Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 101.

45Tafsiran al-Qur’an menurut para ulama ahl al-Sunnah dan Syi`ah terutamanya mengenai Surah al-Ahzab 33:33; Surah al-Maidah 5:55 dan lain-lain.

46Al-Tabari, Tarikh, II, hlm. 197; al-Nasai’, al-Khasa’is, hlm.77-78; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, Tehran 1404 H, hlm. 274.

47Muslim, Sahih, hlm. 238; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm.17, 26.

48Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 441-444.

49Ibid.

50Al-Kanji al-Syafi`I, Kifayah al-Talib, hlm. 230-266.

51Al-Tabari, Kitab al-Wilayah, Cairo 1968, hlm. 18-20.

52Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal , Cairo, 1960, hlm. 103.

53Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah , hlm. 56 dan lain-lain .

54Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim ,Beirut 1980, hlm. 120.

55Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.91. Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, 11, 102

56Al-Bukhari, Sahih, IV,hlm. 120 “kitab al-Ahkam”.

57Muslim, Sahih, II, hlm. 79.

58Al-Turmudhi , al-Sunan , Cairo 1959, II, hlm. 110

59Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 598.

60Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal , VI, hlm. 100.

61Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 441-444,bab 95.

62Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 217.

63Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm.111-118.

64Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm.111-118.

65Ahmad b.Hanbal, al-Musnad , IV, hlm. 370; Burhan al-Din al-Halabi, Sirah al-Halabiah , Cairo 1340 H, III, hlm. 302; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 65 dan lain-lain

66Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma`arif , Baghdad 1959, hlm. 251; Ibn `Asakir, Tarikh, Damascus ,1949, III, hlm. 150; Syaikh Muhammad al-Mar`i al-Amiri al-Antaki, Li madha akhtartu madhhab Ahl al-Bait AS?, Syria 1402 H, hlm. 81-82.

67`Abbas Ahmad al-Amini al-Najafi, al Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, Beirut 1977, I, hlm. 140-145.

68Al-Mas`udi, Muruj al-Dhahab, Cairo, 1345 H.,II, hlm. 11.

69Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, I, hlm. 368

70Al-Hakim, al-Mustadrak , III, hlm. 126; al-Khatib, Tarikh Baghdad, II, hlm. 377; Ibn Hajr, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 37.

71Lihat umpamanya Syarif Radi, Nahj al-Balaghah , Beirut 1973.

72Syaikh al-Mufid, al-Ikhtisas, t.t., hlm. 163; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Tehran 1958, IX, hlm. 645; Lihat juga al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 292-293.

73al-Ghadir, I, hlm.14-158.

74Ibid.

Penunjukan Khalifah Pengganti Ternyata Dilakukan Nabi SAW, Tapi Disembunyikan Aswaja Sunni

Penunjukan Imam

Telah kami jelaskan pada pembahasan yang lalu, bahwa sekiranya penutupan kenabian tidak dilengkapi oleh penunjukkan imam maksum akan bertentangan dengan Hik-mah Ilahiyah.Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam dan khalifah yang saleh, maksum, alim, serta memiliki—kecuali kenabian dan kerasulan—kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh Nabi saw setelah kemangkatan beliau.

Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang tak terbilang jumlahnya, sebagaimana telah dinukil oleh ulama Syi’ah—bahkan oleh ulama Ahlusunah—di dalam sumber-sumber mereka. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Kedua mazhab besar Ahlusunah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.”[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.'”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

Dan puluhan hadis lainnya yang pernah disampaikan oleh beliau sehubungan dengan wasiat mengenai wilayah Imam Ali as Kami kira bukan pada tempatnya untuk menukil semua hadis tersebut di tempat yang terbatas ini.[]

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1. Apakah ayat yang berkaitan dengan penentuan Imam? Jelaskan argumentasi ayat tersebut!

2. Terangkan peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib as sebagai imam!

3. Mengapa Nabi saw tidak segera menyatakan imamah Ali as? Dan bagaimana Nabi saw. melaksanakan tugas tersebut?

4. Sebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan imamah seluruh imam maksum as!

5. Jelaskan riwayat-riwayat yang menunjukkan imamah Ahlulbait as!


[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

Kontroversi Dipangkuan Siapa Rasulullah SAW wafat… Apa motif pemalsuan sejarah ???

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu keyakinan Syi’ah yang paling esensial adalah mereka meyakini adanya rentetan imamah (kepemimpinan) yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan seterusnya turun temurun kepada anak-anak keturunannya yang semuanya berjumlah dua belas  imam berikut ditunjuk oleh imam pendahulunya dan begitu seterusnya, dan penunjukan Ali sendiri sebagai imam menurut mereka dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, selanjutnya Ali menunjuk penggantinya yaitu Al-Hasan bin Ali dan begitu seterusnya.

Setelah  peristiwa ghadir kum tentang Imamah Ali,
Hadis berikut ini membuktikan bahwa Abbas mengajak Imam Ali 
meminta wasiat tertulis berupa DOKUMEN TERTULiS dari Nabi.

Wasiat lisan sudah diberikan oleh Nabi di Ghadir Kum,

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?”

wasiat tertulis ingin diminta Abbas karena dia mengetahui ada desas desus bahwa kelompok Abubakar Umar dan kelompok Saad bin Ubadah juga mengincar kekhalifahan. Hadis ini berkaitan dengan permintaan dokumen tertulis, jadi sinkron dengan wasiat Ghadir Kum yang cuma secara lisan !

Bukhari :: Book 5 :: Volume 59 :: Hadith 728  , (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447; Tarikh Ibnu Hisyam 2/654; Tarikh at-Tabari, jil 9, hal 175-176)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه البخاري

Narrated ‘Abdullah bin Abbas:

Ali bin Abu Talib came out of the house of Allah’s Apostle during his fatal illness. The people asked, “O Abu Hasan (i.e. Ali)! How is the health of Allah’s Apostle this morning?” ‘Ali replied, “He has recovered with the Grace of Allah.” ‘Abbas bin ‘Abdul Muttalib held him by the hand and said to him, “In three days you, by Allah, will be ruled  by ‘abdun  al ‘aashaa*, And by Allah, I feel that Allah’s Apostle will die from this ailment of his, for I know how the faces of the offspring of ‘Abdul Muttalib look at the time of their death. So let us go to Allah’s Apostle and ask him who will take over the Caliphate. If it is given to us we will know as to it, and if it is given to somebody else, we will inform him so that he may tell the new ruler to take care of us.” ‘Ali said, “By Allah, if we asked Allah’s Apostle for it (i.e. the Caliphate) and he denied it us, the people will never give it to us after that. And by Allah, I will not ask Allah’s Apostle for it.”

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah telah  sembuh  dengan  izin Allah”.. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Demi  Allah, dalam  tiga hari kedepan anda  akan  dipimpin  oleh hamba yang bermaksiat/durhaka/otoriter* .. Demi  Allah, aku  merasa  bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali bagaimana  wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada nya  siapa yang  akan mengambil alih  kekhalifahan.. Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. Kita  akan melaporkan kepadanya  maka  mungkin  Nabi akan memberitahukan penguasa baru  yang akan memerintah.. Ali bin Abi Thalib berkata : “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakan kepada Rasulullah (tentang kekhalifahan), lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka orang orang tidak akan pernah memberikannnya kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan menanyakan nya  kepada Rasulullah (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

Teks   arabnya  : faqaala  anta  wallahi   ba’da   tsalaasin  tahta  ‘abdun  al ‘aashaa, kata abdun ‘aashaa bermakna hamba yang  bermaksiat/ durhaka/ otoriter atau (orang hina rendahan atau orang yang diperintah oleh seseorang).

 Percakapan antara Ali dan Abbas di atas terjadi pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang sakit menjelang wafat beliau. Beberapa waktu setelah peristiwa Ghadir Khum yang menurut kaum syi’ah adalah moment penunjukkan teRhadap Ali,

Nabi SAW  jauh lebih memahami tentang wasiat tertulis daripada Abbas, tidak lama setelah peristiwa ini pada hari kamis  Nabi  mencoba mewasiat kan 3  hal  secara tertulis  tapi  di gagal kan oleh  Umar

 

Shahih Bukhari | No. 2911 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)

Ibnu Abbas berkata: “Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, ‘Pergilah kalian dari sisiku!’ Ibnu Abbas berkata: ‘Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.’   ( Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil. 3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.)

 

penggagalan wasiat TERTULiS  NAbi  SAW  oleh  Umar bin Khattab untuk menjegal Imam Ali menjadi khalifah…

setelah  mereka  diusir  Nabi  mewasiatkan  3  hal  secara  lisan.. Wasiat  ketiga disembunyikan  Aswaja  sehingga  Aswaja  bisa  tegak

Setelah wasiat tertulis di gagalkan Umar : Rasulullah  SAW mengeluarkan 3 wasiat  secara lisan !!!  Aswaja Sunni menyembunyikan  wasiat  nomor  3  Nabi  SAW… keterlaluan  banget.. ini  kudeta dan pemalsuan agama bukan ???

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat tiga hal saat menjelang wafatnya: Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata, aku lupa isi wasiat yang ketiga ( Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.)

Hadis mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengatakan tiga perkara tetapi ia lupa perkara ketiga yang berharga bagi kaum muslimin. Aneh sekali, bahwa perawi yang biasanya ingat akan ribuan hadis, lupa wasiat ketiga Nabi.

Perhatikan dua perkara yang disebutkan oleh kedua perawi tersebut;

1) Mengusir penyembah berhala dari semenanjung Arabia;

2) Menghormati utusan-utusan asing. Dapat kita lihat bahwa kedua perkara tersebut bukan perkara yang jika dilakukan kaum Muslimin, mereka tidak akan pernah tersesat sepeninggal Nabi Muhammad.

Perkara ketiga pasti lebih penting yang akan menjamin keselamatan kaum Muslimin, dan tidak mungkin tidak lebih penting daripada kepemimpinan

.

Tidak syak lagi bahwa isi wasiat yang Terlupa  itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali sebagai khalifah dan imam sepeninggalnya. Namun si perawi enggan menyebutkannya

Aisyah berdusta menyatakan Nabi wafat dipangkuan nya, seolah olah Nabi wafat dipangkuan seorang wanita ! Aisyah jelas membela Abubakar ! Menurut Aisyah sejumlah orang telah mengklaim bahwa Nabi SAW telah mewasiatkan Imamah kepada Ali, tapi Aisyah menolak mentah mentah klaim tersebut . Orang yang menyatakan Nabi telah memberi wasiat pada Ali termasuk Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Fadhil, Salman, Abu Zarr sementara Aisyah tidak berada di kamar Nabi sehingga Aisyah tidak tau wasiat Nabi

 

Mungkin bagi netter yang suka gugling menemukan dua versi sekitar kewafatan Nabi Muhammad saw. Versi pertama yang dianut Sunni dan versi terakhir yaang diyakini Shi’i. Masing-masing mempunyai hadith utama yang sahih yaitu yang berasal dari para Ummu al-Mukminin. Kaum Sunni mendukung riwayat yang dilaporkan oleh Aisyah sedangkan Shi’i berdasarkan dari Ummu Salamah, dan berbagai riwayat dari jalur Ali, Ibn Abbas, Jabir bin Abdullah, bahkan dari Aisyah sendiri (lih. Ibn Asakir dalam tarikhnya J. 3: 15). Dalam versi Sunni Aisyah disebutkan bahwa Nabi wafat ketika berada di pangkuannya. Sedangkan versi Ummu Salamah menunjukkan bahwa sahabat terakhir yang tinggal bersama Rasulullah saw adalah Ali.


Dalam peristiwa ini tidak mungkin untuk membenarkan semuanya, pasti salah satunya bohong atau dipalsukan. Namun sebagian ulama mengkompromikan kedua hadith tersebut, misalnya di dalam kitab Fathul Bari, Ibn Hajar berkata: Kompromi (antara dua hadits tersebut) dapat dilakukan dengan menerangkan bahwa ‘Ali adalah orang yang terakhir bersama Nabi, dan ia tidak meninggalkan Nabi, sampai Nabi pingsan. Ketika Nabi pingsan, ia mengira beliau telah wafat. Karena itu, ‘Ali dari pihak laki-laki adalah orang terakhir yang menunggui Nabi. Namun kemudian Rasulullah saw sadar kembali ketika ‘A’isyah datang. Lalu ‘A’isyah menyandarkan Nabi di atas dadanya, dan Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits melalui saluran Yazid ibn Babanus: “Pada suatu hari kepala Rasulullah berada di atas pundakku tatkala beliau memiringkan kepalanya ke arah kepalaku. Aku kira beliau memerlukan kepalaku. Lalu terpercik setetes (ludah) dingin dari mulut beliau yang menimpa rongga dadaku. Aku gemetar, kukira beliau pingsan. Maka akupun menutupnya dengan baju”. (Lihat Fathul Bari, jilid 8, hal. 139)


Menurut saya pengkompromian hadith tersebut tidak sepenuhnya benar karena bagaimana bisa Ali salah dalam mengira Nabi saw wafat atau pingsan? karena hampir semua sahabat tatkala menjenguk dan melihat Nabi -yang sudah wafat-, mengetahui bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Kecuali Umar (sebagian ulama mengatakan Umar berakting) dengan mengatakan bahwa Nabi tidak wafat tetapi Nabi pergi dan akan kembali seperti Musa meninggalkan kaumnya, yang kemudian percaya bahwa Nabi saw benar-benar wafat tatkala Abu Bakar datang, padahal sebagian sahabat telah menyakinkan akan kewafatan Nabi saw.


Untuk mengetahui riwayat mana yang tertuduh palsu, direkayasa mungkin analisa rawi serta hubungannya dengan pelaku dalam riwayat tersebut. misalnya bagaimana hubungan Aisyah dengan Ummu Salamah, dst. Secara garis besar hubungan antara Nabi saw, Ali, serta para Ummu al-Mukminin, masing-masing tidaklah begitu berseberangan, meski ada sedikit masalah antara Nabi saw dengan kecemburuan Aisyah pada Sayyidah Khadijah. Setidaknya yang patut dicurigai adalah ketidaksukaan Aisyah kepada Ali karena sikap tersebut sudah ada sejak Nabi saw masih hidup. beberapa riwayat menceritakan bagaimana sikap Aisyah terhadap Ali, mis:

Imam Ahmad menceritakan yang berasal dari Nu’man bin Basyir, lihat dalam musnad penduduk Kufah: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah saw dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!’, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’. kemudian Abu Bakar menasehati putrinya tersebut karena berkata lantang keras melebihi suara Nabi saw.

Tatkala sakit Rasul Allah bertambah berat, beliau dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang, yaitu Fadhl bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib,
dan seorang lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Aisyah. Ubaidillah kemudian berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh Aisyah kepadaku, kusampaikan kepada Abdullah bin Abbas, yang mengembalikan pertanyaan kepadaku: “Tahukah engkau siapa gerangan orang yang tidak disebutkan namanya oleh Aisyah?’ ‘Tidak’, jawabku. Dan kemudian menambahkan: ‘Sungguh, Aisyah tidak pernah merasa senang dengan segala berita baik mengenai Ali’.(Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad­nya, jilid VI, hlm. 23 dan 238; Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 2, bab 2, hlm. 29; Thabari, dalam Tarikh­nya, (edisi Leiden) jilid 2, hlm. 1800­1801; Baladzuri, Ansab al­Asyraf, jilid 1, hlm. 544­545; Baihaqi, Sunan, jilid 2. hlm. 396 dll)

Imam Ahmad, dalam Musnad­nya, mengatakan bahwa tatkala orang datang kepada Aisyah dengan mencaci Ali bin Abi Thalib dan ‘Ammar bin Yasir, Aisyah berkata: ‘Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai Ali, sedang mengenai ‘Ammar aku telah mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Ia tidak akan memilih akan dua urusan kecuali ia akan memilih yang lurus’

Dengan kebencian seperti itu tidak mustahil Aisyah memanipulasi -atau kemungkinan dijadikan sandaran- riwayat seputar kewafatan Nabi saw dengan dirinya, bukan dengan sahabat terbaik Nabi, Ali bin Abi Thalib. Wa Allah A’lam

Selanjutnya dalam proses pemakaman Nabi saw yang hampir tidak dihadiri mayoritas sahabatnya, termasuk Abu Bakar dan Umar karena “perebutan” kekuasaan. Hanya keluarga Rasul, termasuk Ali -yang tidak pernah meninggalkan Nabi saw ketika sakit karena menerima wasiat untuk mengurus jenazahnya- dan sebagian kecil sahabat yang mengebumikan jasad Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan berikut:

Aisyah berkata: ‘Kami tidak mengetahui penguburan Rasul sampai kami mendengar suara­suara gesekan di tengah malam Rabu’. (Ibnu Hisyam, Sirah, jilid 4, hlm. 344; Thabari, Tarikh, jilid 2, hlm. 452, 455 (terbitan Leiden, jilid 1, hlm. 1833, 1837); Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 270; Ibnu Atsir, Usdu’l­Ghabah, jilid 1, hlm. 34, dalam membicarakan Ar­Rasul disebut juga riwayat lain, bahwa terdengarnya suara gesekan dan bunyi keriak keriuk adalah pada malam Selasa, seperti dalam Thabaqat Ibnu Sa’d, jilid 2, Bab 2, hlm. 78 dan Tarikh Khamis, jilid 1, hlm. 191; sedang Dzahabi dalam Tarikh­nya, jilid 1, hlm. 327 menguatkan bahwa penguburan dilakukan pada akhir malam Rabu juga Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 62 dan pada hlm. 242 dan 274: “Kami tidak mengetahui di mana ia dikuburkan sampai kami mendengar..”)

Yang melakukan penguburan hanyalah keluarga Rasul, yaitu orang­orang yang memandikannya seperti Abbas, Ali, Fadhl dan Shalih (maula Rasul Allah) tiada orang lain.
‘Dan tiada yang mengurus (penguburan Rasul) kecuali keluarga dekatnya dan Banu Ghanm yang berada di rumah mereka telah mendengar suara keriat­keriut’.
Seorang tua kaum Anshar dari Banu Ghanm berkata: ‘Aku mendengar bunyi sesuatu yang bergesek pada akhir malam’. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 2, Bab 2, hlm. 78)

‘Yang masuk ke liang kubur adalah Ali, Fadhl bin Abbas dan Qutsam bin Abbas serta Syuqran, (maula Qutsam). Dan ada yang menyebutkan juga Usamah bin Zaid. Merekalah yang membalikkan jenazah Rasul Allah saw, memandikan dan mengafaninya serta mengurus segala sesuatunya. Abu Bakar dan Umar tidak menghadirinya’. (Alauddin Muttaqi al­Hindi, Kanzu’l­Ummal, jilid 3, hlm. 14)

 .

Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Kemudian dia berhujjah dengan sebuah hadits :

عن زيد بن ثابت قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن تارك فيكم الخليفتين من بعدي كتاب الله وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754].

Demikian juga ternyata Ali bin Abi Thalib tidak menunjuk pengganti sebelum dia wafat SECARA TERTULiS  dalam rangka mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang juga tidak sempat menunjuk pengganti sebelum beliau wafat SECARA TERTULiS karena digagalkan Umar.. Namun Nabi SAW dan Imam Ali menunjuk pengganti secara lisan saja !!!

Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy

Oknum salafiyun itu ternyata tidak mau berhenti untuk menunjukkan kekeliruannya dalam berhujjah. Ia membawakan dua buah hadis yang dikatakannya sebagai penguat hadis Syu’aib bin Maimun. Mari kita analisis dengan seksama kedua hadis tersebut.

Hadis Pertama diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/130 no 1078

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Aku mendengar Ali berkata “sesungguhnya ini akan dilumuri (darah) dari sini, sehingga tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan. Mereka berkata “wahai Amirul Mukminin beritahukanlah kepada kami siapa dia, kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “kalau demikian demi Allah kalian akan membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Maka angkatlah seseorang sebagai penggantimu. Ali berkata “tidak, akan tetapi aku akan meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Mereka berkata “Apa yang akan Engkau katakan kepada TuhanMu jika Engkau mendatanginya -Waki terkadang berkata– Jika Engkau bertemu denganNya”. Ali berkata “Ya Allah Engkau membiarkanku di antara mereka dengan kehendakMu lalu Engkau mengambilku ke sisiMu sedang Engkau berada di antara mereka. Jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kebaikan pada mereka dan jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kehancuran pada mereka”.

Hadis Kedua diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/156 no 1339

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami, dia berkata “Demi Yang memecahkan biji dan menciptakan Ruh sungguh ini akan dilumuri dari sini. Orang-orangpun berkata “beritahukanlah kepada kami siapa dia? Demi Allah kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “Demi Allah itu berarti orang yang tidak membunuhku akan dibunuh. Mereka berkata “Jika Engkau mengetahui hal itu maka angkatlah seseorang sebagai pengganti. Ali berkata “Tidak, akan tetapi aku meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian”. Manhaj Syaikh Syu’aib Al Arnauth

 

Kedua hadis ini sanadnya dhaif dimana hadis kedua lebih dhaif dari hadis pertama. Kedua hadis tersebut bersumber dari Abdullah bin Sabu’ dia adalah perawi yang tidak ada satu ulama pun yang menyatakan ta’dil padanya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 397. Disebutkan pula hanya Salim bin Abil Ja’d yang meriwayatkan hadis darinya. Oleh karena itu dalam Tahrir At Taqrib no 3340 Abdullah bin Sabu’ dinyatakan majhul. Sedangkan hadis kedua selain kemajhulan Abdullah bin Sabu’ hadis ini memiliki illat idhthirab. Yang meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu’ bukanlah Salamah bin Kuhail tetapi Salim bin Abil Ja’d. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 telah membawakan sanad hadis ini dimana Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Salamah bin Kuhail tidak mendengar dari Abdullah bin Sabu’.

Jadi kedua hadis tersebut kedudukannya dhaif dan jika kita gabungkan dengan hadis Syu’aib bin Maimun maka didapati

  • Hadis pertama dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul
  • Hadis kedua dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul dan sanadnya mudhtharib
  • Hadis Syu’aib bin Maimun dhaif karena Syu’aib bin Maimun perawi dhaif majhul dan hadisnya mungkar

Ketiga hadis ini sudah jelas cacatnya sama-sama parah dan tidak mungkin bisa saling menguatkan sehingga sungguh tidak benar jika Syaikh Syu’aib menyatakan bahwa hadisnya terangkat menjadi hasan lighairihi.

Apalagi jika dilihat bahwa matan hadis Syu’aib bin Maimun tidaklah sama dengan matan hadis Abdullah bin Sabu’

  • Hadis Syu’aib bin Maimun memuat lafaz Imam Ali mengakui Rasulullah SAW tidak memilih penggantinya dan lafaz bahwa Allah SWT yang mengumpulkan mereka di bawah orang yang terbaik dari kaum muslimin
  • Hadis Abdullah bin Sabu’ tidak mengandung lafaz seperti hadis Syu’aib, matannya hanya berupa Imam Ali meninggalkan mereka pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan mereka.

Kedua lafaz ini memiliki perbedaan yang nyata. Tertera dalam hadis shahih bahwa Rasulullah SAW meninggalkan Ahlul Bait sebagai khalifah untuk kaum muslimin dan jika dikembalikan pada kedua hadis di atas maka hadis Abdullah bin Sabu’ justru mengandung makna bahwa Imam Ali mengakui khalifah itu ada pada Ahlul Bait sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW oleh karena itu Beliau tidak perlu menunjuk pengganti karena Rasulullah SAW telah menetapkan. Sedangkan hadis Syu’aib lafaznya mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih. Manhaj Syaikh Ahmad Syakir

Salafy cukup dikenal dengan sikap mereka yang merendahkan tautsiq Ibnu Hibban. Mereka tidak menganggap penta’dilan Ibnu Hibban karena Ibnu Hibban suka menyatakan tsiqah kepada perawi-perawi majhul. Kalau begitu sudah seharusnya salafy tidak menggunakan hadis Abdullah bin Sabu’ sebagai hujjah. Tapi ternyata sekarang kita melihat inkonsistensi salafy. Ketika hadis tersebut mau mereka menjadikan hujjah maka tidak ada masalah bagi mereka untuk berhujjah dengan perawi majhul.

Berbeda halnya dengan manhaj Syaikh Ahmad Syakir dalam menilai tautsiq Ibnu Hibban. Menurut syaikh Ahmad Syakir jika seorang perawi disebutkan biografinya oleh Bukhari atau Abu Hatim tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil kemudian Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat maka perawi tersebut layak untuk dinyatakan tsiqah walaupun tidak ada ta’dil dari ulama lain.

Abdullah bin Sabu’ disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 3646. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 dan Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 5/68 no 322, keduanya tidak menyebutkan jarh dan ta’dil pada Abdullah bin Sabu’. Maka menurut Syaikh Ahmad Syakir Abdullah bin Sabu’ seorang yang tsiqah sehingga dalam tahqiqnya terhadap hadis tersebut Syaikh menyatakan kedua hadis tersebut shahih.

Tanggapan Kami

Tentu saja kami tidak mau seperti salafy yang berhujjah dengan cara-cara seenaknya bahkan terkesan inkonsisten atau kontradiktif. Tidak ada celah sedikitpun bagi salafy untuk berhujjah dengan hadis Abdullah bin Sabu’ perawi yang majhul menurut metode salafy.

Pendapat yang benar dalam pandangan kami adalah seperti yang dikatakan Syaikh Ahmad Syakir tetapi kami tidak akan membabi-buta mengikuti Syaikh Ahmad Syakir. Hadis pertama tersebut bersanad hasan dan hadis kedua tersebut dhaif karena idhthirab. Dan sebagai penjelas hadis Abdullah bin Sabu’ adalah hadis Rasulullah SAW berikut

Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754].

Jadi mengapa dalam hadis Abdullah bin Sabu’ dikatakan Imam Ali tidak mau menunjuk penggantinya. Hal itu disebabkan Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah SAW

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s., para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Rasulullah SAWW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Rasulullah SAWW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAWW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali a.s. yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Rasulullah SAWW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali a.s. seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali a.s. setelah Rasulullah SAWW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali a.s. untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali a.s. tampil aktif dalam memecahkannya.

 

Mayoritas Quraisy tidak suka dengan Ali, karena beliau adalah yang paling muda, yang pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan membunuh pahlawan pahlawannya.

 .

Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali

Sebelumnya saya pernah berjanji dengan seseorang untuk membahas hadis ini. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun [you know lah siapa dia], hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) thread disini, orang tersebut membawakan hadis berikut

Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”,“Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Orang itu mengatakan bahwa Imam Ali tidak merasa mendapat wasiat jadi hadis-hadis tentang kepemimpinan Imam Ali itu tertolak. Dengan berat hati kami katakan orang itu benar-benar keliru [kalau tidak mau dikatakan berdusta]. Ia keliru memahami hadis tersebut dan [entah sengaja atau tidak] ia mendistorsi teks hadis yang dijadikan hujjah olehnya. Kami akan membawakan teks asli hadis tersebut dalam kitab Shahih Muslim dan Musnad Ahmad

وحدثنا أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم أن عندنا شيئا نقرأه إلى كتاب الله وهذه الصحيفة ( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله عليه و سلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya bahwa Ali bin Abi Thalib berkhutbah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah (lembaran) ini [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. [Shahih Muslim 2/994 no 1370 dan Shahih Muslim 2/1146 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Maka perhatikanlah hadis Shahih Muslim di atas dan hadis yang dibawakan oleh orang itu

  • Orang itu membawa hadis dengan lafaz “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah”
  • Sedangkan lafaz hadis yang benar adalah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah”.

Ada perbedaan yang krusial dari kedua lafaz yang berbeda ini. Lafaz hadis yang asli tidaklah menafikan bahwa Rasulullah SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pemimpin atau khalifah setelah Beliau sebagaimana yang tertera dalam hadis shahih. Sedangkan lafaz yang dibawa orang itu hanyalah angan-angannya semata yang berkeras ingin membantah hadis shahih. Kemudian perhatikan hadis riwayat Ahmad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن سليمان عن إبراهيم التيمي عن الحرث بن سويد قال قيل لعلي رضي الله عنه أن رسولكم كان يخصكم بشيء دون الناس عامة قال ما خصنا رسول الله صلى الله عليه و سلم بشيء لم يخص به الناس إلا بشيء في قراب سيفى هذا فاخرج صحيفة فيها شيء من أسنان الإبل وفيها ان المدينة حرم من بين ثور إلى عائر من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فإن عليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل وذمة المسلمين واحدة فمن أخفر مسلما فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل ومن تولى مولى بغير أذنهم فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Al Harts bin Suwaid bahwa dia berkata “Ditanyakan kepada Ali,Apakah Rasul kalian pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kalian dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada seluruh manusia?. Ali menjawab Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kami dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada manusia kecuali sesuatu yang ada dalam sarung pedangku ini. Ali pun mengeluarkan lembaran yang berisi sesuatu dari umur unta. Dalam lembaran tersebut tertulis “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan barang siapa melanggarnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Barang siapa memperbudak seorang budak tanpa seizinnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak.[Musnad Ahmad 1/151 no 1297 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan ia berkata “hadis shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 1297 menyatakan bahwa sanad ini merupakan sanad yang paling shahih]

Hadis di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk menentang hadis shahih bahwa Imam Ali pemimpin atau khalifah setelah Nabi SAW karena pernyataan bahwa Imam Ali sebagai pemimpin telah diucapkan Rasulullah SAW kepada para sahabat. Bukankah sangat masuk akal kalau Rasulullah SAW ingin menetapkan seseorang sebagai pemimpin maka Rasulullah SAW akan mengatakannya kepada manusia, Rasulullah SAW jelas tidak akan hanya berbicara kepada Imam Ali saja. Beliau seperti yang tertera dalam hadis shahih telah mengucapkan hadis-hadis kepemimpinan Imam Ali kepada para sahabat. Dan sebagaimana yang juga tertera dalam kabar shahih bahwa Imam Ali telah meminta kesaksian para sahabat mengenai hadis kepemimpinan Beliau. Mana mungkin ucapan tersebut hanya khusus disampaikan kepada Imam Ali saja karena terbukti Imam Ali justru meminta kesaksian mereka yang mendengar hadis tersebut.

Akhir kata kami katakan betapa lucunya para oknum salafiyun itu berhujjah, mereka seolah tidak memahami hadis yang mereka jadikan hujjah dan mereka bahkan tidak memahami apa yang ingin mereka bantah :mrgreen:

.

Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abu Bakar RA

وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata ”Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Penjelasan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al Muwatta. Dari hadis di atas diketahui bahwa

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW.

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

jika Cinta Kepada Ahlul Bait, Maka Mustahil Mengasihi Musuh Mereka seperti Mu’awiyah dll

Mana bukti cintamu kepada Rasulullah saw 

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada kita, akan muncul beberapa jawaban. Paling tidak, ada tiga jawaban: Pertama, kita tidak boleh mengkultuskan dalam mencintai Rasulullah saw. Kedua, kita wajib mencintai Rasulullah saw tapi tidak boleh memusuhi sahabatnya. Ketiga, kita wajib mencintai Rasulullah saw melalui cinta kepada Ahlul baitnya (as) apapun resikonya.

Jawaban yang pertama: umumnya berdalih: Kita harus mencintai Rasulullah saw tapi boleh mengkultuskannya. Tidak boleh melakukan macam2 kecuali ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan ada contohnya dalam sunnah Rasulullah saw. Kita mencintai Rasulullah saw cukup dengan melakukan sunnahnya. Karena kita harus berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah.

Untuk jawaban yang pertama: jawaban anda perlu diperiksa dan diteliti kembali. Jika yg dimaksud kultus itu mengagungkan dan menghormati yang dikaitkan dengan rasa cinta. Maka itu suatu kewajiban bagi semua umat Rasulullah saw. Jika yang dimaksudkan kultus itu menuhankan, maka tidak seorangpun muslim yang menuhankan Rasulullah saw. Justru sebaliknya, umumnya muslim yang sering melontarkan kata-kata kultus, mereka itu mengkultuskan (menuhankan) dunia. Lihat saja buktinya raja2 arab dan pengikutnya, demi dunia tak perduli sahabat itu kafir dan musuh Islam dan umatnya.

Saya setuju dengan kata “kultus”, tapi jangan diarahkan kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Karena mereka tidak dipisahkan dengan kebenaran dan keadilan Ilahi. Saya setuju jika kata “kultus” itu diarahkan pada dunia, harta dan kedudukan. Dan ini sudah banyak buktinya, lihat saja raja-raja arab dengan jubah2nya telah terjerumus pada kezaliman dan menuhankan dunia dan harta. Mereka berjuang matian2 utk mendapatkan walaupun harus bermitra dg org2 zionis dan musuh Islam, dan walaupun harus mengorbankan umat Islam. Buktinya lihat korban umat Islam di Palestina. Jika seperti ini bukti kejadiannya itu sangat layak menyandang kata “kultus” pada dunia dan harta.

Selain itu, anda sering mengatakan “harus ada contohnya dalam sunnah Nabi saw”. Sunnah Nabi saw yang mana? Sumbernya banyak, bahkan sama2 bersumber dari sahabat saling bertabrakan satu dengan yg lain. Tidak percaya? Baca saja secara teliti shahih bukhari dan Muslim, apalagi dlm kitab2 hadis yang lain.

Untuk jawaban yang kedua: Mana mungkin cinta kepada Rasulullah saw bisa disejajarkan dengan cinta kepada sahabat Rasulullah saw. Cinta kepada Rasulullah saw tanpa syarat, sedangkan cinta kepada sahabat juga pada muslimin yg lain harus pakai syarat, yaitu tidak dalam maksiat kepada Allah swt. Cinta kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) tanpa syarat seperti itu. Mengapa? Karena Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) makshum, tidak mungkin berbuat maksiat kepada Allah swt. Bahkan cinta Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) selalu dikaitkan dengan cinta kepada Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

“Al-Hasan dan Al-Husayn puteraku, barangsiapa yang mencintai mereka ia mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku ia dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah ia akan masuk surga. Barangsiapa yang membenci mereka ia membenciku, barangsiapa yang membenciku ia dibenci oleh Allah, dan barangsiapa yang dibenci oleh Allah ia pasti masuk neraka.” (Mustadrak Al-Hakim 3: 166)

Al-Hakim mengatakan: Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Tapi mereka tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Mengapa?
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/12/08/mencintai-al-hasan-dan-al-husein-mencintai-nabi-saw/

Jadi, bisa terjadi bahkan sering terjadi cinta kepada Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as) bertabrakan dengan kepentingan sahabat Nabi saw. Contohnya: saat terjadi perdebatan antara antara Fatimah Az-Zahra’ dengan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab; Imam Ali bin Abi Thalib (as) dengan Muawiyah; Imam Husein (as) dengan Yazid bin Muawiyah.

Hati dan pikiran kita harus jujur kepada siapa kita berpihak? Karena dalam keberpihakan pasti ada sangsi hukum di hadapan Allah swt. Mau netral, ada di antara keduanya? Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Saat kebenaran dan kebatilan berhadapan, maka yang netral dorong ke pihak musuh.”

Bahkan Abu Hurairah berkata bahwa saat Rasulullah saw memandang Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn (as), beliau bersabda:

“Aku memerangi orang yang memerangi kalian (Ahlul bait), dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.” (Musnad Ahmad 2: 442, hadis ke 9405)
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/11/13/nabi-saw-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait-sa/

Dari hadis tersebut sudah jelas. Jika anda berpihak kepada sahabat Nabi saw saat berhadapan dengan Ahlul baitnya (as), maka jelas anda berhadapan dan menjadi musuh Rasulullah saw.

Adapun jawaban yang ketiga adalah kesimpulan dari bukan jawaban yang pertama dan bukan jawaban yang kedua. Yakni mencintai Rasulullah saw harus dibuktikan dengan kecintaan kepada Ahlul baitnya (as). Kecintaan terhadap Ahlul bait Nabi saw harus dibuktikan dengan kebencian terhadap musuh2nya. Karena musuh Ahlul bait (as) adalah musuh Rasulullah saw, dan musuh Rasulullah saw adalah musuh Allah swt.

Zaid bin Arqam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn (as):
“Aku memerangi orang yang kalian (Ahlul bait) perangi, dan berdamai dengan orang yang kalian berdamai dengannya.” (Shahih At-Tirmidzi 2: 319, bab 61, hadis ke 3870)
Sumber:
http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/11/13/nabi-saw-memerangi-orang-yang-memerangi-ahlul-bait-sa/

Jadi jika anda netral atau tidak perduli terhadap Ahlul bait (as) saat berhadapan dg musuhnya, saat perang di Karbala antara Imam Husein (as) vs Yazid bin Muawiyah. Maka dapatlah disimpulkan secara logis anda adalah musuh Allah swt dan Rasulullah saw. Dan semua ibadah anda tidak adanya gunanya, kecuali anda taubat dulu kepada Allah dengan taubat nashuha. Jika tidak, dijamin pasti anda tidak mendapat syafaat Rasulullah saw.

Dimanakah posisi Anda sekiranya perang di Karbala antara pasukan Al-Husayn bin Ali (as) melawan Yazid bin Muawiyah, terjadi sekarang?

Jawaban kita pasti dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Mahkamah Ilahi. Baik yang diucapkan dan dituliskan, mau yang diendapkan dalam pikiran dan hati kita.

Semua organ kita lahir dan batin akan menjadi saksi: mata dan telingan, tangan dan kaki, pikiran dan hati. Perlu kita ketahui bahwa nurani kita tidak pernah berbohong dalam memberi jawaban kepada kita. Yang berbohong itu adalah hawa nafsu kita.

Jawaban di sini jelas akan membuktikan siapa sebenarnya kita? Benarkah kita mencintai Rasulullah saw? Dari jawaban inilah realitas kehidupan kita yang sebenarnya di dunia dan di akhirat nanti, di neraka atau surga. Tidak percaya? Kita buktikan nanti, kita pasti berjumpa di Mahkamah Ilahi.

Wassalam
Haji Nawawi
http://hajinawawi.multiply.com
http://id-id.facebook.com/people/Haji-Nawawi/1634233932

Links Peringatan Asyura:
Video dan Parade Asyura, musik2 duka Asyura + animasi, foto2 dan lukisan2 kreasi indah:
http://islampraktis.multiply.com
Film Kartun Perang di Karbala (13 seri):
http://ifadah2.multiply.com
Video Peringatan Asyura di berbagai negara: Indonesia, Malaysia, Amerika, Inggris, Jerman, Denmark, Canada, Belanda, Australia, Korea, Iran, dan lainnya:
http://hajinawawi.multiply.com

Milis Diskusi Islam:
http://groups.google.co.id/group/diskusi-al-islam
http://groups.yahoo.com/group/Islamdiskusi
Di dalam dua milis ini banyak eBook yg bagus2 ttg Ah