Uncategorized

Penyebutan Nama Imam Ali as Dalam Azan

Ustad, maaf mau Tanya tetapi melenceng dr status d atas. Perihal Penyebutan Nama Imam Ali as dalam azan, siapakah yang pertama menggunakan penyebutan Nama Imam Ali as d Dalam azan? Apakah Rasulillah ustad?

.

Jawaban :

Delnia: Menurut berbagai riwayat yang diantaranya di kitab sunni yang berjudul “al-Salaafah” karya Syaikh ‘Abdullah al-Maraaghii al-Meshri diriwayatkan bahwa yang pertama menambahkannya itu adalah Salmaan al-Faarisi ra Setelah perintah Nabi saww terhadap pembaiatan kepada imam Ali as di Ghadiir Khum. juga disebutkan bahwa Abu Dzar ra.

Riwayat yang mengatakan Salmaan ra, mengatakan:

أنّ سلمان الفارسي ذكر فيهما ـ أي في الأذان والإقامة ـ الشهادة بالولاية لعليّ بعد الشهادة بالرسالة في زمن النبي(صلى الله عليه وآله)، فدخل رجل على رسول الله فقال: سمعت أمراً لم أسمع قبل ذلك. فقال: ماهو؟ فقال: سلمان قد يشهد في أذانه بعد الشهادة بالرسالة، الشهادة بالولاية لعليّ. فقال: سمعتم خيراً.

Sesungguhnya Salmaan al-Faarisii, di jaman Nabi saww, menyebutkan dalam keduanya -adzan dan iqomah- kesaksian terhadap wilayah/keimamahan untuk imam Ali as Setelah kesaksian terhadap kerasulan Nabi saww. Lalu satu orang mendatangi Nabi saww dan berkata: “Aku mendengar sesuatu yang tidak pernah kudengar sebelumnya.” Nabi saww bertanya: “Apa itu?” Dia berkata: “Salmaan terkadang bersaksi dalam adzannya dengan kewilayahan Ali Setelah kesaksiannya terhadap kerasulan.” Nabi saww berkata: “Kamu mendengar sesuatu yang baik.”

Riwayat yang mengatakan bahwa Abu Dzar ra yang pertama melakukannya mengatakan:

وفيه رواية اُخرى أنّ أباذرّ يذكر في الأذان بعد الشهادة بالرسالة ذلك، ويقول: أشهد أنّ عليّاً وليّ الله، فأخبر بذلك رسول الله(صلى الله عليه وآله) فقال: كذلك أو نسيتم قولي في غدير خم: من كنت مولاه فعليّ مولاه؟ ـ

Abu Dzar menambahkan kesaksian kepada wilayah imam Ali as Setelah kesaksiannya terhadap kerasulan dan berkata: “Aku bersaksi bahwa Ali adalah wakil/wali Allah.” Lalu orang-orang menyampaikannya kepada Rasulullah saww. Lalu beliau saww berkata: “Memang demikian kenyataannya. Apakah kalian lupa perkataanku di Ghadiir Khums: ‘Siapa yang menganggap aku Sebagai pemimpimnya, maka Ali adalah pemimpinnya juga” ???

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa pembolehan itu, anggap hadits ini memang demikian, maka bermaksud pembolehan, bukan pensunnahan dan, apalagi pewajiban.

Tambahan:
Hasits-hadits itu, walau Saya belum melihat kitabnya sendiri dan sanad-sanadnya, tetapi dikuatkan dengan banyak hasits-hadits sunni yang secara tidak langsung,seperti:

1- عن أبي الحمراء، عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) قال: «لمّا أُسري بي إلى السماء، إذا على العرش مكتوب: لا إله إلاّ الله محمّد رسول الله أيّدته بعلي»

Dari Abu al-Hamraa’ dari Rasulullah saww yang bersabda: “Ketika aku israa’ ke langit, tertulis di ‘Arsy: ‘Tiada Tuhan kecuali Allah, Muhammad rasulullah dan kukuatkan dia dengan Ali.’.” (lihat: al-Syifaa’-u Bi Ta’riifi Huquuqi al-Mushthafaa, 1/138; Manaaqib ‘Alii bin Abii Thaalib, karya Ibnu a-Maghaazilii al-Waasithii, 39; al-Riyaadhu al-Nadhratu Fii Manaaqib al-‘Asyarati al-Mubasysyirati, 2/172; Nazhmu Duraru al-Simthain, 120; Majma’u al-Zawaaahid, 9/121; al-Khashaaish al-Kubraa, 1/7; Tafsiir al-Duraru al-Mantsuur, 4/153).

2- الطبراني بالاسناد عن جابر بن عبدالله الانصاري، قال: قال رسول الله: «مكتوب على باب الجنّة: محمّد رسول الله علي بن أبي طالب أخو رسول الله، هذا قبل أنْ يخلق الله
السماوات والارض بألفي عام»

Thabraani dengan sanadnya dari Jaabir bin ‘Abdullah al-Anshaari berkata bahwa Rasulullah saww bersabda: “Ditulis di pintu surga: (Muhammad rasulullah, ‘Ali bin Abi Thaalib saudara Rasulullah) dimana tulisan ini ditulis sejak dua ribu tahun sebelum Allah mencipta langit dan bumi.” (Kanzu al-‘Ummaal, 11/624; al-Manaaqib, 87).

3- عن ابن مسعود، عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم): «أتاني ملك فقال: يا محمّد (وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا)(2) على ما بعثوا، قلت: على ما بعثوا ؟ قال: على ولايتك وولاية علي بن أبي طالب».
فالانبياء السابقون بعثوا على ولاية رسول الله وأمير المؤمنين من بعده، أي كلّفوا بإبلاغ هذا الامر إلى أُممهم.

DAri Ibnu Mas’uud, dari Rasulullah saww: “Telah datang kepadaku malaikat dan berkata: ‘Wahai Muhammad, tanyakan kepada kami atas tujuan pengutusan para rasul sebelum kamu!’ Akupun bertanya: ‘Atas apa?’ Ia menjawab: ‘Atas kewilayahanmu dan kewilayahan Amirulmu’miniin Setelah kamu.’.” Karena itu, para nabi terdahulu as, diutus untuk kepemimpinan Rasulullah saww dan Amirulmu’miniin setelahnya. Yakni ditugasi untuk menyampaikan hal tersebut. (Lihat di kitabnya Hakim pengarang Mustadrak, dalam kitabnya Ma’rifatu ‘Uluumi al-Hadiits, 96).

………………….

dll dari hadits-hadits yang menyusulkan kepemimpinan atau kewilayahan imam Ali as kepada kepemimpinan dan kewilayahan Nabi saww.

Sanad dan Matan Riwayat: Pelimpahan Dosa-Dosa Syiah ‘Ali ke Nabi saww

Bismillah
Salam, mohon kebenarannya dan penjelasan tentang riwayat dibawah ini..

Umar bin Yazid berkata, “Saya bertanya kepada Imam Shadiq As ditanya tentang firman Allah Swt, “Supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang (yang disandarkan oleh kaummu kepadamu)?” (Al-fath 2) Beliau menjawab, “Rasulullah Saw tidak memiliki dosa dan juga tidak memiliki kehendak untuk melakukan dosa, namun Allah Swt melimpahkan dosa-dosa orang Syiah Ali ke pundaknya kemudian memaafkan mereka karena Rasulullah Saw.”

dinukil dari :
Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, Riset dan edit, Ali Akbar Ghaffari, al-Nash, hal. 352, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1403 H; Syaikh Shaduq, ‘Ilal al-Syara’i, jil. 2, hal. 175, Kitabpurusyi Dawari, Qum, Cetakan Pertama, 1385 S.

JAWABAN :

Salam dan trims pertanyaannya:

1- Saya sudah menerangkan sebelumnya, yakni beberapa hari yang lalu, bahwa maksud dari dzanbun di ayat yang antum tanyakan itu adalah buntut atau akibat dari dakwah kenabian kanjeng Nabi saww, yaitu penderitaan dan tekanan serta penindasan dari kaum kafir jahiliyyah Makkah. dengan adanya kemenangan Mekkah (fathu mekkah), maka buntut2 dan akibat2 derita dunia akibat pengakuan kenabian dan dakwah kenabian itu, menjadi hilang.

Kalau antum mau membahas hadits yang antum tanyakan itu, untuk memungkinkan bahwa Nabi saww punya dosa sekalipun dari orang lain (umat) seperti riwayat yang antum nukilkan itu, maka secara ringkas dapat dikatakan Sebagai berikut:

2- Sepertinya, riwayat itu tidak dinukilkan di kitab pertamanya dan hanya ada di kitab ke duanya, yaitu ‘ilalu al-syaraayi’.

3- Ini asal riwayatnya (amat panjang tapi Saya nukil yang perlu saja):

139 – العلة التى من أجلها لم يطق أمير المؤمنين ” ع ” حمل رسول الله صلى الله عليه وآله لما أراد حط الاصنام من سطح الكعبة
1 – حدثنا أبو علي احمد بن يحيى المكتب قال حدثنا احمد بن محمد الوراق قال حدثنا بشر بن سعيد بن قلبويه المعدل بالرافقه قال حدثنا عبد الجبار بن كثير التميمي اليماني قال سمعت محمد بن حرب الهلالي أمير المدينة يقول: سألت جعفر بن محمد ” ع ” فقلت له يابن رسول الله
………………………..
فقلت له يابن رسول الله صلى الله عليه وآله زدني فقال: احتمله ليعلم بذلك انه قد احتمله وما حمل إلا لانه معصوم لا يحمل وزرا فتكون افعاله عند الناس حكمة وصوابا وقد قال النبي صلى الله عليه وآله لعلي يا علي ان الله تبارك وتعالى حملني ذنوب شيعتك ثم غفرها لي وذلك قوله تعالى (ليغفر لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر)

4- Secara sanad dan matan, hadits tsb, memiliki sedikit masalah seperti yang akan diterangkan berikut ini.

5- Dari sisi sanad:

– Perawi pertamanya yang langsung mengambil dari imam Ja’far as, adalah Muhammad bin Harb al-Hilaali, ia adalah gubernur Madinah. WAlaupun dikatakan Sebagai shahabat imam Ja’far Shadiq as, akan tetapi ‘Allaamah al-Khuui ra, tidak menetapkannya Sebagai tsiqah, seperti yang dikatakan dalam kitabnya Mu’jamu al-Rijaal, 16?157:

( 10464 ) – محمد بن حرب :
الهلالي ( الهمداني ) : ( أمير المدينة ) ، من أصحاب الصادق عليه السلام ، رجال
الشيخ ( 72 ) .
وعده ابن داود في القسم الاول ( 1316 ) ، قائلا : ” ( ق – جخ ) أمير مكة ” .
ولعل عده في القسم الاول مبني على أصالة العدالة .
وعن المجلسي – قدس سره – أنه قال : ” روى الصدوق محمد بن حرب
الهلالي ، أمير المدينة ، عن أبي عبدالله عليه السلام ” .
أقول : إن هذا لم يثبت ، وعلى تقدير ثبوته ، لا يدل على وثاقة الرجل .

Intinya, al-Khuu-i tidak menetapkan ketsiqahannya.

– Perawi ke duanya adalah ‘Abdu al-Jabbaar bin Katsiir, Saya sudah mencari di berbagai kitab rijal, tapi tidak berhasil mendapatkan namanya sekalipun.

– Begitu pula dengan perawi ke tiga dari atasnya, yaitu Basyar bin Sa’iid. tidak dapat Saya temukan di berbagai kitab rijal.

– Walaupun Ahmad bin Muhammad al-Warraaq ini, tidak sepasti ke dua perawi sebelumnya dari sisi ketiadaannya dalam kitab-kitab rijal, tapi sangat sulit menemukannya.

6- Dari sisi matan atau makna atau kandungan hadits, maka ia juga memiliki berbagai kelemahan. seperti:

– Allah dalam QS: 99:7-8, berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa yang berbuat satu atom kebaikan, ia akan melihatnya (7) dan barang siapat yang berbuat satu atom keburukan, ia juga akan melihatnya.”

– Dalam QS: 35:18:

وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

“….dan jika orang yang berdosa berat, memanggil orang lain untuk memikulnya, maka ia tidak akan dibebani untuk membawanya sedikitpun walaupun ia adalah keluarganya…”

– dalam QS: 39:7:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan beban itu tidak dibebankan ke atas beban yang lainnya” (maksudnya setiap orang hanya dibebankan ke atas dirinya sendiri).

Dengan ayat-ayat di atas, maka secara lahariah, hadits yang kita bahas itu, bertentangan. Karena ayat mengatakan bahwa setiap orang hanya akan melihat perbuatannya dan hanya akan dipikulkan kepadanya beban2nya sendiri atau dosa2nya sendiri, tapi di hadits itu dikatakan bahwa dosa-dosa umat dipikulkan kepada kanjeng Nabi saww sebelum diampuninya. Ini jelas, bertentangan.

Begitu pula, hal seperti ini, mirip dengan apa yang ada di masehi dimana nabi Isa as menanggung semua dosa umatnya dan menebusnya dengan penyembelihan dirinya as.

7- Kesimpulannya: Riwayat itu memiliki dua masalah besar, yaitu dari sisi perawi dan dari sisi matan sekaligus. Karena itu, sulit untuk dijadikan rujukan pedoman dalam memahami agama.

wassalam

Geblek!, Istri Kang Jalal : “Tuhan yang Menurunkan Wahyu kepada Muhammad bukan Tuhan Kita” ?

 Geblek!, Istri Kang Jalal : “Tuhan yang Menurunkan Wahyu kepada Muhammad bukan Tuhan Kita”  ?Itulah fitnahan dari http://www.muslimuna.com/2014/10/geblek-istri-kang-jalal-tuhan-yang.html

Baca juga : https://syiahali.wordpress.com/2015/06/08/kh-hasyim-asyari-fatwakan-syiah-sesat-di-syiah-sendiri-ada-oknum-takfirinya-sebagaimana-di-sunni-juga-ada-oknum-takfirinya/

Di Syi’ah sendiri ada oknum takfirinya, sebagaimana di Sunni juga ada oknum takfirinya.Perlakukan beberapa gelintir orang tidak bisa mewakili semuanya, bahkan pendapat segelintir ulama itu sendiri tidak serta mewakili semuanya.

Plintiran Riwayat Jibril salah dalam menyampaikan Risalah dari Imam Ali ke Nabi SAW

Bismillah

 Sang Pencinta

 Salam, ada yang bertanya, mohon penjelasan
Alghurabiyyah , mereka berkata : Muhammad dengan ‘Ali Mirip seperti burung gagak dengan burung gagak, dan lalat dengan lalat, lalu Allah mengutus Jibril ke ‘Ali (untuk menurunkan wahyu), tetapi Jibril salah didalam menyampaikan risalah dari ‘Ali ‘Alaihissalam ke Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi.
kitab Sayyid Ali al Barujardi Juz 2 hal 232
trims ust

 .

Jawaban :

Salam dan trims pertanyaannya. Kitab Sayyid Ali Barujardi itu kitab apa, dicetak dimana dan karangan siapa?

tapi kalau maksudnya adalah kitab Tharaaifu al-Maqaal, karya Sayyid Ali al-Buruujurdi, maka harus dibaca dari halaman sebelumnya, yaitu 226:

الباب الخامس في بيان المذاهب والفرق المختلفة بعد وفاة النبي صلى الله عليه وآله

[ 227 ]
وقد أشرنا إلى بعض هذا الطوائف في الاوصاف النسبية، ولكنهم لم يذكروا مستوفى ولم يسطروا مستقصى، ثم نتلو في سبب الاختلاف، ومنشأ التشتت ورجوعه وابتنائه إلى أربع قواعد، وانبعاث تفرق الآراء والمذاهب هو متابعة خطوات الشيطان الرجيم، وشبهاته المذكورة في الأناجيل الاربعة، وفي التوراة مسطورة على شكل المناظرة بينه وبين الله تعالى

Di akhir halaman 226, bab: 5, beliau ra memberi judul: Bab Penjelasan tentang Madzhab2 dan Kelompok2 (aliran2) Setelah Nabi saww……………… (lalu beliau memulai dengan no. 1 dengan aliran Mu’tazilah seperti berikut ini):

. 1 – المعتزلة، ويسمون أهل العدل والتوحيد، وهم أصحاب واصل بن عطاء اعتزل عن مجلس الحسن البصري، حيث أجاب عن سؤال الرجل السائل عنه بأن مرتكب الكبيرة ليس بمؤمن ولا كافر على الاطلاق. 2 – الواصلية، من المعتزلة وهم أصحاب أبي حذيفة واصل بن عطاء، واعتزالهم يدور على أربع مسائل ويأتي بيانها في الباب الثامن. 3 – الهذلية،
……………………………………… begitu seterusnya sampai ke halaman 231:

[ 231 ]
الزائدة على الذات، وكلامه محدث مركب من الحروف والاصوات. 21 – الشيعة، وهم الذين شايعوا عليا عليه السلام وقالوا: انه الامام بعد الرسول صلى الله عليه وآله بالنص الجلي أو الخفي، واعتقدوا أن الامامة لا تخرج عنه وعن أولاده، فان خرجت: فإما بظلم يكون من غيرهم، وإما ببيعة منه أو من أولادهم، أصولهم ثلاث فرق: غلاة، وزيدية، وامامية. 22 السبائية، قال عبد الله بن سبا لعلي عليه السلام: أنت الالة حقا، فنفاه علي عليه السلام إلى المدائن. وقيل: انه كان يهوديا فأسلم، وكان في اليهودية يقول في يوشع وموسى مثل ما قال في علي عليه السلام، وقيل: انه أول من أظهر القول بوجوب امامة علي عليه السلام قال ابن سبا: انه لم يمت ولم يقتل، وانما قتل ابن ملجم شيطانا تصور بصورته. 23 – الكاملية، قال أبو كامل بكفر الصحابة بترك بيعة علي عليه السلام، وبكفره بترك طلب الحق، وقال بالتناسخ في الارواح عند الموت، وأن الامامة نور تتناسخ، أي: تنتقل من شخص إلى آخر، وقد يصير في شخص نبوة بعد ما كان في شخص آخر امامة. 24 – البيانية، قال بيان بن سمعان التميمي النهدي: الله على صورة انسان، ويهلك كله الا وجهه، وروح الله حلت في علي عليه السلام ثم في ابنه محمد بن الحنفية ثم في ابنه أبي هاشم، ثم في بيان ابنه، لعنه الله. 25 – المغيرية، قال مغيرة بن سعيد: الله على صورة رجل من نور على رأسه تاج وقلبه منبع الحكمة، ولما أراد أن يخلق الخلق تكلم بالاسم الاعظم، فطار فوقع تاجا على رأسه، وذلك قوله (سبح اسم ربك الاعلى (1)).

(1) ومن جملة مقالاتهم الكاسدة بعد ما تلوناه: انه تعالى كتب على كفه أعمال العباد، فغضب من المعاصي فعرق، فحصل من عرقه بحران: أحدهما مالح مظلم، والآخر حلو نير، ثم أطلع في البحر النير وأبصر فيه ظله، فانتزع عين ظله فخلق منه الشمس والقمر وأفنى الباقي من الظل نفيا للشريك، وقال: لا ينبغي أن يكون لي شريك، ثم خلق الخلق من البحرين، فالكفار من المظلم، والمؤمنون من النير ثم أرسل محمدا والناس في ظلال، وعرض – [ * ]

Dalam hal. 231 ini, di no. 21-nya beliau menjelaskan tentang aliran Syi’ah yang mengikuti imam Ali as Sebagai imam pertama dan mengikuti imam-imam lainnya dari keturunan imam Ali as yang tidak melakukan kazhaliman/dosa (maksum). ……. ……………. dst sampai ke hal. 232:

[ 232 ]
26 – الجناحية، قال عبد الله بن معاوية بن عبد الله بن جعفر ذي الجناحين: الارواح تتناسخ، وكان روح الله في آدم، ثم شيث، ثم الانبياء والائمة عليهم السلام حتى انتهت إلى علي وأولاده الثلاثة عليهم السلام ثم إلى عبد الله وهو حي في جبل اصفهان. 27 – المنصورية، هو أبو منصور العجلي، عزى نفسه إلى الباقر عليه السلام فتبرأ منه وطرده وادعى الامامة، قالوا: الامامة لمحمد بن علي بن الحسين عليهم السلام ثم انتقلت منه إلى ابن أبي منصور، وزعموا أنه عرج إلى السماء ومسح الله رأسه بيده (1). 28 – الخطابية، هو أبو الخطاب الاسدي، عزى نفسه إلى عبد الله بن جعفر بن محمد الصادق عليهما السلام فلما علم منه غلوه في حقه تبرأ منه، فلما اعتزل عنه ادعى الامر لنفسه وقالوا: الائمة الانبياء وأبو الخطاب نبي، إلى غير ذلك. 29 – الغرابية، قالوا: محمد بعلي أشبة من الغراب بالغراب والذباب بالذباب، فبعث الله جبرائيل إلى علي، فغلط جبرائيل في تبليغ الرسالة من علي عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وآله، قال شاعرهم: غلط الآمين عن حيدرة 00000000 فليغون صاحب الريش 30 – الذمية، لقبوا به لانهم ذموا محمدا صلى الله عليه وآله لان عليا عليه

Dalam hal. 232 ini, di aliran no. 28, beliau ra menyebutkan/mengatakan:

“Al-Khithaabiyyah, yaitu aliran yang dibuat oleh Abu al-Khaththaab al-Asadi yang mendekatkan (menempelkan) dirinya kepada Abdullah bin Ja’far bin Muhammad al-Shaadiq as. Akan tetapi, ketika ia -Abdullah- tahu bahwa ia seorang yang Ghulu (menuhankan selain Allah atau meninggikan imam Ali di atas Nabi saww), maka iapun meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Ketika ia -Abu al-Khaththaab- ini sudah meninggalkannya (terkucilkan dari keluarga imam Ja’far as), maka ia -malah- mengaku Sebagai imam. Dan mereka (golonganya ini), mengatakan bahwa: Para imam itu adalah nabi dan Abu al-Khaththaab adalah nabi….dst.”

Nah, baru di aliran no. 29, beliau menyebutkan aliran lain dengan uraiannya:

“29: Al-Ghuraabiyyah (aliran gagak). Mereka berkata: ‘Muhammad dan Ali, seperti gagak dengan gagak dan lalat dengan lalat. Lalu Allah mengutus Jibril kepada Ali, tapi Jibril keliru dalam menyampaikan syaritNya itu hingga yang semestinya disampaikan kepada Ali as, disampaikan kepada Muhammad saww.’ Penyair mereka berkata: ‘Al-Amiin (Jibril) keliru tentang Haidar (imam Ali). Maka kelirulah pemilik mata pena’.”

=========

Jadi, beliau ra Sedang menjelaskan aliran2 yang ada dalam Islam yang, sudah tentu kebanyakannya adalah yang sesat Sebagaimana contoh di atas itu.

Karena itu, penisbahan atau penghubungan nukilan kesesatan suatu golongan, kepada penulisnya, adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang suuk/jahat seperti wahabi. Emangnya kalau kita menulis tentang berbagai agama dimana kita menyebutkan Budha, lalu kita itu beragama Budha???!!!

.
Ringkasan Pertanyaan
Apakah orang-orang Syiah meyakini bahwa Allah Swt menurunkan wahyu kepada Ali melalui Jibril namun sampai kepada Rasulullah Saw secara keliru?
.
Pertanyaan
Apakah orang-orang Syiah meyakini bahwa Allah Swt menurunkan wahyu kepada Ali melalui Jibril namun sampai kepada Rasulullah Saw secara keliru? Hal ini dapat Anda peroleh pada kitab, “Al-Maniyyatu wa al-Amal fi Syarhi al-Milal wa al-Nihal, hal.
.
Jawaban Global
.

Ada beberapa poin penting yang mesti kita perhatikan dalam menjawab pertanyaan ini, antara lain:

Pertama, hal yang terpenting bagi seorang periset dalam bidang firaq dan mazahabi (perbandingan mazhab) pertama-tama ia harus menggunakan sumber dan literatur yang paling utama.

Kedua, harus memperoleh berbagai informasi mengenai satu firkah atau mazhab dari literatur-literatur mereka sendiri.

Ketiga, seorang periset yang baik sedapat mungkin memanfaatkan riset-riset lapangan.

Dengan memperhatikan pendahuluan ringkas ini sekarang tiba saatnya untuk menjawab pertanyaan Anda

.

Literatur atau sumber yang disebutkan untuk klaim ini adalah kitab al-Maniyyah wa al-Amal fi Syarhi al-Milal wa al-Nihal dimana kitab aslinya Al-Milal wa al-Nihal merupakan karya Abdulkarim Syahristani dan diulas oleh seorang yang bernama Mahdi Lidinillah Ahmad bin Yahya bin Murtadha

.

Abdulkarim Syahristani penyusun kitab al-Milal wa al-Nihal merupakan seorang teolog mazhab Asy ariyah yang lahir pada tahun 479 H dan wafat pada tahun 548 H. Pengulas kitabnya lahir dan wafatnya tentu saja setelah Syahristani merupakan salah satu pemimpin mazhab Zaidiyyah. Dengan demikian (katakanlah masalah ini tertuang dalam kitab tersebut) untuk menemukan keyakinan Syiah Imamiyah, masalah ini tidak dapat dijadikan sandaran dan ukuran. Untuk mencari tahun keyakinan Syiah Imamiyah maka seyogyanya seorang periset menelusuri dan mencarinya pada kitab-kitab mereka bukan pada kitab-kitab Asyariyah, Zaidiyah dan sebagainya

.

Di samping itu, apabila literatur-literatur Syiah Imamiyah dapat diakses maka sebaiknya dan sudah seharusnya Anda melakukan satu riset lapangan (meski dalam tataran minimal) sehingga Anda dapat memperoleh apa yang Anda cari tentang keyakinan mazhab Syiah Imamiyah. Karena dalam hal ini sekali-kali Anda tidak akan menjumpai seseorang yang memiliki keyakinan menyimpang pada dunia Syiah seperti ini terkait dengan Baginda Ali As

.

Menurut catatan para sejarawan terdapat firkah-firkah ekstrem dan ghali bernama Ghurabiyyah, Dzibaiyyah, Dzimmiyah, Mukhtiah yang berpandangan bahwa kenabian merupakan hak Baginda Ali As. Mereka berkeyakinan bahwa Jibril, lantaran kemiripan Rasulullah Saw dan Baginda Ali As,  melakukan kesalahan tatkala membawa wahyu dan menyampaikan wahyu kepada Rasulullah Saw dan untuk mendapatkan kerelaan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah Saw menikahkan putrinya dengan Ali As. Tentu saja seorang Syiah sejati tidak memiliki keyakinan menyimpang semacam ini dan para pengikut mazhab ini menampik dan menolak mazhab-mazhab menyimpang ini.

.

Jawaban Detil

Seorang periset yang meneliti di bidang Firaq wa Madzahib (Perbandingan Mazhab) dan disiplin ilmu lainnya hendaknya memperhatikan beberapa poin berikut ini:

.

Pertama, Hal yang paling penting bagi seorang periset dalam bidang firaq dan mazahabi (perbandingan mazhab) pertama-tama ia harus menggunakan sumber dan literatur yang paling utama.

.

Kedua, seorang periset yang baik harus memperoleh pelbagai informasi ihwal satu firkah atau mazhab dari literatur-literatur mereka sendiri. Sebagai contoh Anda tengah meneliti mazhab teologi Asy ariyah maka seharusnya Anda memanfaatkan pelbagai literatur yang paling utama mazhab Asy ariyah bukan dari firkah-firkah lainnya seperti Muktazilah dan Maturidiyyah

.

Ketiga, seorang periset yang baik sedapat mungkin memanfaatkan riset-riset lapangan, boleh jadi banyak hal yang terkait dengan sebuah firkah meski disebutkan dalam kitab-kitab mereka namun mereka sendiri tidak meyakininya. Dengan demikian, untuk menyandarkan keyakinan atau amal dari sebuah mazhab atau firkah maka kita harus bertanya dan mengkajinya dari para pengikut mazhab atau firkah tersebut

.

Dalam karya-karya sebagian penulis, banyak hal keliru dan salah kaprah disandarkan kepada para pengikut Syiah. Misalnya William Terry, Uskup Agung kota Ter (wafat 1186 M) yang merupakan salah seorang penulis besar pada masa perang-perang salib pada abad kesembilan belas (19), meski ia menyampaikan banyak hal yang tepat terkait dengan Islam Sunni dan Fatimi, akan tetapi ia tidak memiliki pengetahuan mendalam ihwal Syiah Imamiyah.  Dengan demikian, para pengikut Syiah Imamiyah dideskripsikan sebagai orang-orang yang meyakini kenabian Ali bin Abi Thalib! Dan Jibril telah berkhianat dalam menyampaikan pesan Ilahi kepadanya. Lantaran ia menyampaikan pesan samawi itu kepada Muhammad sebagai ganti Ali

.

Literatur dan sumber yang dijelaskan sebagai dasar klaim dan pertanyaan di atas adalah kitab  al-Maniyyah wa al-Amal fi Syarhi al-Milal wa al-Nihal dimana kitab aslinya al-Milal wa al-Nihal merupakan karya Abdulkarim Syahristani dan diulas oleh seorang yang bernama Mahdi Lidinillah Ahmad bin Yahya bin Murtadha

.
Dengan sedikit teliti dan perhatian seksama akan kita jumpai bahwa karena tidak mengindahkan aturan main yang ada dalam sebuah riset sebagaimana yang disebutkan pada pendahuluan di atas, keyakinan ekstrem ini disandarkan kepada Syiah

.

Abdulkarim Syahristani penyusun kitab al-Milal wa al-Nihal merupakan seorang teolog mazhab Asy’ariyah yang lahir pada tahun 479 H dan wafat pada tahun 548 H. Dan pengulas kitabnya lahir dan wafatnya tentu saja setelah Syahristani yang merupakan salah satu pemimpin mazhab Zaidiyyah. Dengan demikian (katakanlah masalah ini tertuang dalam kitab tersebut) untuk menemukan keyakinan Syiah Imamiyah masalah ini tidak dapat dijadikan sandaran dan ukuran. Untuk mencari tahu keyakinan Syiah Imamiyah maka seyogyanya seorang periset menelusuri dan mencarinya pada kitab-kitab mereka bukan pada kitab-kitab Asyariyah, Zaidiyah dan sebagainya

.

Di samping itu, apabila literatur-literatur Syiah Imamiyah dapat diakses maka sebaiknya dan sudah seharusnya Anda melakukan satu riset lapangan (meski dalam tataran minimal) sehingga Anda dapat memperoleh apa yang Anda cari tentang keyakinan mazhab Syiah Imamiyah. Karena dalam hal ini sekali-kali Anda tidak akan menjumpai seseorang yang memiliki keyakinan menyimpang dan supertitif seperti ini terkait dengan Baginda Ali As

.

Menurut keyakinan Syiah Imamiyah, Ali As adalah imam pertama dari dua belas imam dan khalifah pertama dan pengganti Rasulullah yang kedudukan dan derajatnya lebih unggul dan utama di antara seluruh sahabat setelah Rasulullah Saw

.

Benar sesuai dengan tulisan sebagian sejarawan, firkah-firkah ekstrem dan ghali bernama Ghurabiyyah, Dzibaiyah, Dzimmiyah dan Mukhtiah yang memandang bahwa kenabian merupakan hak Baginda Ali As dan meyakini bahwa Jibril, lantaran kemiripan Rasulullah Saw dan Baginda Ali As, keliru dalam menyampaikan wahyu dan wahyu tersebut disampaikan kepada Rasulullah Saw dan Rasulullah Saw untuk memperoleh keridhaan Ali As, beliau menikahkan putrinya dengan Baginda Ali As.[1]

.

Demikian juga, sebagian penulis seperti Ibnu Taimiyah (276 M) dan Ibnu Hazm Andalusi menyampaikan adanya sebuah firkah Syiah yang ekstrem bernama “Ghurabiyah” yang meyakini pengkhianatan Jibril dalam menyampakan wahyu kepada Ali. Akan tetapi terkait dengan apakah firkah semacam ini benar-benar ada patut diragukan.[2] Bagaimanapun akidah sedemikian tidak ada sangkut pautnya dengan Syiah Imamiyah

.

Patut untuk diperhatikan bahwa kaum Muslimin ekstrem dan ghuluw mendapat celaan dalam riwayat-riwayat Syiah. Oleh itu, terkait dengan masalah ini, silahkan Anda merujuk pada indeks “Ghuluw ihwal Ahlulbait” Pertanyaan No. 2976 yang ada pada site ini

.

Di sini kami akan menyebutkan secara selintasan dua hadis yang akan membantu kita memahami keyakinan Syiah. Seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib As: “Wahai Amirulmukminin! Apakah Anda ini seorang nabi? Jawabnya: “Celakalah engkau! Aku adalah hamba dari hamba-hamba Muhammad Saw![3]

.

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Amirulmukminin Ali As bersabda: ” Pastilah Anda tahu akan kekerabatan saya yang dekat dan hubungan saya yang khusus dengan Rasulullah (saw). Ketika saya masih kanak-kanak, beliau mengasuh saya. Beliau biasa menekankan saya ke dada beliau dan membaringkan saya di sisi beliau di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuh beliau kepada saya dan membuat saya mencium bau beliau. Beliau biasa mengunyah sesuatu kemudian menyuapi saya dengannya. Beliau tidak mendapatkan kebohongan dalam pembicaraan saya, tak ada pula kelemahan dalam suatu tindakan saya. Sejak waktu penyapihannya, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawa beliau sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam, sementara saya biasa mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjukkan kepada saya beberapa dari akhlaknya yang mulia dan memerintahkan saya untuk mengikutinya seperti panji. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira’, di mana saya melihat beliau tetapi tak seorang pun lainnya melihat beliau. Di hari-hari itu Islam tidak teidapat di rumah mana pun selain rumah Rasulullah Saw dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga dari keduanya. Saya biasa melihat dan memperhatikan sinar cahaya dari wahyu dan risalah Ilahi, dan benghirup napas kenabian. Ketika wahyu turun kepada Nabi Allah Saw, saya mendengar bunyi keluhan iblis. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, keluhan apakah itu?” dan beliau menjawab, “Ini iblis yang telah kehilangan segala harapan untuk disembah. Ya, ‘Ali, Anda melihat apa yang saya lihat dan Anda mendengar apa yang saya dengar, kecuali bahwa Anda bukan nabi; tetapi Anda adalah seorang wazir dan sesungguhnya Anda pada (jalan) kebajikan dan amir (pemimpin) bagi kaum Mukminin.”[4]

.

[1]. Diadaptasi dari site Hauzah Net

[2]. Diadaptasi dari site Porsejoo.

[3]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, jil. 1, hal. 90, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cetakan keempat, Teheran, 1365 S.

[4]. Nahj al-Balâghah, Khutbah 192 (Khutbah Qâshi’ah)

Hidayatullah.com dan Majalahnya Perlu Diblokir

Hidayatullah.com menyajikan berita yg tendensius, subyektif, dan cenderung mengadu domba sesama Umat Islam khususnya yg menyangkut masalah Sunnah dan Syi’ah.

Hidayatullah itu adalah jamaah takfiri Wahhaby Salafy yang patut diwaspadai ..Betul sekali yang perlu di waspadai adalah yg selalu menyebarkan fitnah dan perpecahan di dalam tubuh Umat Islam….

Prasayarat Ukhuwah Sunni-Syiah.

1. Masalah madzhab sunni-syiah berpangkal pada masalah imamah yang sudah berlangsung berabad-abad, dalam kondisi status quo. Tidak akan ada penyelesaian jika ingin diperdebatkan mana yang benar, mana yang salah. Masalahnya kita kembalikan saja kepada Allah dan nantilah di akhirat kelak kita mengetahui yang sebenarnya.

2. Yang kita butuhkan sekarang ialah benar-benar ikhlas beragama menurut madzhab yang kita pahami. Memaksakan penyelesaian dengan tujuan agar ada satu madzhab saja yang diakui benar, sunni atau syiah, selain tidak mungkin, juga hanya akan menjadi sumber konflik. Sikap ingin memaksakan itu juga bisa jadi tanpa kita sadari adalah, atau hanyalah dorongan hawa nafsu, kesombongan dan kejahilan kita dalam beragama.

3. Yang perlu kita bangun sekarang adalah ukhuwwah diniyah Islamiyah dan imaniyah, dalam bentuk saling mengakui bahwa mahdzab sunni mau pun syiah adalah madzhab-madzhab dalam Islam.

4. Kita bersama-sama berkomitmen membangun kehidupan umat Islam yang saling mencintai dan berkasih sayang. Kita saling memaklumi ada perbedaan pendapat termasuk dalam masalah fundamental namun kita juga mempunyai lebih banyak persamaan.

Penganut madzhab sunni mau pun syiah sama-sama :

a. Bertuhankan Allah Yang Esa (tauhid),
b. Beriman akan adanya hari kemudian,
c. Mempunyai Nabi yang sama yakni Muhammad saw,
d. Memiliki kitab yang sama yakni Al-Quran,
d. Melaksanakan sholat fardhu lima waktu,
e. Berpuasa pada bulan Ramadhan,
f. Mengeluarkan zakat,
g. Naik haji ke baitullah bagi yang mampu,
h. Berkiblat ke baitullah.

Madzhab sunni dan syiah dapat saling menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran antarmadzhab yang masing-masing dianggap sejalan dengan ajaran madzhabnya. (Inilah yang saya analogikan dengan meja prasmanan dengan hidangan menu dari kedua madzhab. Jika ada yang sesuai selera silakan dinikmati, jika tidak sesuai selera tidak usah dimakan tapi juga tidak usah dicela dan mau dibuang).

 

Majalah Hidayatullah & Kebohongan Jurnalisitik

Majalah Hidayatullah edisi cetak No.05/XXV/Sepetember 2012/Syawal 1433/ISSN 0863-2367 dengan judul Cover Majalah berjudul “Ikutilah Para Penuntun Kebenaran” telah melawan kebenaran itu sendiri dengan menulis berita yang tak sejalan dengan kode etik jurnalistik Islami dan berupaya menggiring opini agar kebathilan rapi terbungkus atas nama Agama dan Manhaj Salafi-Wahabi takfiri.

Pada Halaman 4 Redaksi menulis Daurah Jurnalistik Angkatan Kelima pada tanggal 28-29 Juli 2012, Pimpinan Daerah Hidayatullah dan Majalah Suara Hidayatullah bekerjasama menyelenggarakan Daurah Jurnalistik. Acara yang diselenggarakan di Gedung Dakwah dan Informasi Hidayatullah itu diikuti 25 peserta.

Kegiatan ini diisi dengan berbagai materi, peserta juga diberi kesempatan praktek menulis langsung. Pada sesi kelima peserta diberi materi “Fikih Jurnalistik” oleh Thoriq (Redaktur Hidayatullah.com) dan dilanjutkan “teknik menulis opini” oleh Syakanaiful Irwan. Ahmad Rizal, Ketua Panitia Pelaksana Daurah mengatakan, acara seperti ini akan terus diselenggarakan. “Diharapkan akan lahir mujahid-mujahid pena, sebagaimana para ulama-ulama salaf terdahulu yang dikenal rajin menulis dan banyak melahirkan karya-karya besar,”ujarnya.

Tapi sungguh sayang seribu kali sayang Daurah Jurnalistik berbuah adu-domba umat dan menulis berita dengan hawa nafsunya sendiri yang akan melahirkan kemudharatan yang lebih besar. Halaman 55 dengan judul “Menunggu Geliat Sang Saudara Tua” M.Nurkholis Ridwan melakukan kebohongan Jurnalistik yang fatal, simak tulisannya dalam sub judul IRAN YANG DIWASPADAI, :

“Apalagi hubungan Iran dan Mesir selama ini memang tidak mesra. Karena itu, terkait dengan undangan Iran untuk menghadiri KTT Gerakan Non Blok di Tehran, Mursi memberi isyarat untuk tidak memenuhi undangan ini.

Bukankah kita semua tahu dan semua media cetak dan elektronik memberitakannya Mesir hadir pada KTT Non Blok ke- 16 tanggal 30-31 Agustus 2012 di Tehran bahkan Mursi memberikan sambutannya. Majalah ini beredar awal September dan kami membacanya pada hari ini tanggal 9 September 2012. Apakah faktor opini pribadi hanya untuk memfitnah Iran dan Syi’ah sehingga Majalah Hidayatullah terjerumus kepada penyajian berita bathil kepada masyarakat pembacanya? Wallahu A’lam.

Dalam pengamatan kami selama ini Majalah Hidayatullah lebih condong kepada memecah-belah umat dengan berbagai fitnah dan kedustaan terutama apabila menyangkut Muslim Syi’ah.

Sangat disayangkan sebuah ormas yang besar terjerumus pada faham takfir karena fanatik terhadap faham mereka sendiri. Inilah yang akan menjadi malapetaka umat apabila orang yang mengerti Agama berbicara dengan hawa nafsunya yang dibungkus dengan kata-kata indah dan manis tetapi sejatinya beracun dan menanamkan kobaran api fitnah ke dalam persepsi umat.

Arrahmah.com wajib di blokir (4) : memvonis sesat dan menyimpang terhadap golongan selain wahabi

Arrahmah.com wajib di blokir (4) : memvonis sesat dan menyimpang terhadap golongan selain wahabi

“Kesalahan Wahabi dalam memahami Islam sangat berbahaya. Bukan hanya menciderai Islam itu sendiri namun juga justru memberi keuntungan kepada musuh-musuh Islam. Ulama-ulama Sunni maupun Syiah, harus tegas dalam menghadapi penyimpangan mereka.”

Ayatullah Nuri Hamadani pada kelas Dars Kharij Ushul yang diasuhnya di Masjid A’dzham kota Qom Iran menyatakan, “Wahabi disebabkan karena salah dalam memahami agama ini, hatta kepada pribadi suci Nabi Muhammad Saw tanpa mereka sadari telah melakukan pelecehan dan penghinaan.”

 

Dalam lanjutan pernyataannya, dengan merujuk dari kitab Nahjul Balaghah, beliau berkata, “Apa yang terdapat dalam kitab Nahjul Balaghah ini adalah samudera ilmu yang tak bertepi, yang bahkan dimasa kekinian tetap memberi pelajaran yang sangat banyak. Ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Abi al Hadid menyadari akan fadhilah kitab ini, karenanya beliau mensyarahnya. Dalam kitab-kitab beliau yang lain, beliau telah mengungkapkan fadhilah dan keutamaan Imam Ali as yang sangat banyak. Kita harus memanfaatkan karya-karya emas beliau untuk lebih banyak meraup makrifat dunia dan akhirat.”

 

Menurut ulama marja taklid tersebut, disitulah letak kesalahan kelompok Wahabi, yang hanya mau menerima karya dan buah pemikiran ulama-ulama yang hanya dalam golongan mereka saja, sementara karya dan hasil ijtihad ulama dari mazhab lain bukan hanya mereka nafikan tapi juga telah mereka vonis sesat dan menyimpang dari Islam.

“Kesalahan mereka dalam memahami Islam inilah yang sangat berbahaya. Bukan hanya menciderai Islam itu sendiri namun juga justru memberi keuntungan kepada musuh-musuh Islam. Ulama-ulama Sunni maupun Syiah, harus tegas dalam menghadapi penyimpangan mereka.” Lanjut beliau.

Arrahmah.com wajib di blokir (3) : Nyatakan Tokoh Anti Syiah Malaysia dibunuh Syi’ah

Kalau pelakunya tidak dikenal, dari mana redaksi Arrahmah langsung menyimpulkan pelakunya dari kalangan Syiah?, sementara pihak kepolisian saja belum berani memberikan dugaan sebab memang belum ada bukti keterlibatan kelompok Syiah Malaysia dibalik insiden penembakan tersebut. Lantas apa bukti dari Arrahmah.com sampai menyebar fitnah pelakunya adalah Syiah?. Dan fitnah tersebut turut disebar oleh gensyiah.com dan media-media anti Syiah lainnya.

 

Ahmad Raffli bin Abdul Malik, Kepala Penegakan Syariat Jawatan Agama Islam Pahang [JAIP] Malasysia, ditembak oleh orang yang tak dikenali pada Jum’at [8/11] di depan rumahnya sendiri di Indera Mahkota 2, Pahang Kuantan Malaysia sekitar pukul 14.30 siang. Disebutkan oleh saksi mata, tiga pria yang tidak dikenali mengendarai sedan yang berhenti didepan rumah korban, salah satu dari pelaku turun dari mobil dan disambut oleh korban layaknya tamu namun tidak sangka melepaskan tiga tembakan yang kemudian menyebabkan kematian Ahmad Raffli. Para saksi menambahkan, setelah insiden penembakan terjadi, para pelaku segera melarikan diri.

Kepala Kepolisian Wilayah Pahang, Mohammad Zakaria Ahmad membenarkan insiden tersebut dan mengatakan pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan, sebagaimana dilansir dari Salam-Online dan beberapa media setempat lainnya.

Berita kematian aktivis Islam dan ulama yang dikenal vokal dalam mencegah penyebaran ajaran Syiah di Malaysia tersebut begitu cepat tersebar, dan disikapi reaktif oleh media-media anti Syiah baik di Malaysia maupun di Indonesia. Media-media tersebut tanpa data sedikitpun segera menuding dan menyebut pelakunya dari kalangan Syiah. Meskipun kepolisian Malaysia sendiri masih dalam tahap penyidikan, media-media anti Syiah segera menurunkan berita dengan memastikan pelakunya dari kelompok Syiah.

Menyikapi fenomena tersebut, Ketua Kepolisian Negara Malaysia, Tan Sri Khalid Abu Bakar meminta semua pihak untuk berdiam diri dan tidak membuat sembarang spekulasi mengenai identitas pelaku apalagi mengaitkannya dengan ajaran Syiah yang dapat mengacaukan konsentrasi pihak kepolisian dalam melakukan penyidikan. Sebagaimana dinukil dari Berita Harian Malaysia [11/11], Tan Sri Khalid Abu Bakar berkata, “Jangan membuat dugaan-dugaan tanpa bukti. Sebab sebab belum ada bukti jelas yang mengaitkan insiden ini dengan ajaran atau pengikut Syiah.”

Beliau meminta semua pihak untuk berhenti berspekulasi mengenai identitas pelaku, “Kami akan melakukan investigasi secara menyeluruh dari semua aspek termasuk mengendus motif pelaku sebelum melakukan penangkapan.” Tambahnya lagi.

Meskipun dikenal keras dan anti terhadap penyebaran ajaran Syiah, sebagai pejabat negara pada bidang penegakan syariat, Ahmad Raffli bin Abdul Malik, bukan hanya memusuhi Syiah. Setidaknya selama hidupnya beliau bergelut dalam menangani beberapa kasus yang dinilai merupakan kejahatan yang melanggar syariat, seperti dengan para pelaku bisnis klub malam maupun penyimpangan ajaran “Tuhan Harun” yang lagi marak di Malaysia.

Sehingga langsung menuding Syiah dibalik terbunuhnya Ahmad Raffli tersebut adalah tindakan gegabah terlebih lagi tidak didukung data dan fakta yang ada. Sebagaimana kembali dikatakan Ketua Kepolisian Negara Malaysia, Tan Sri Khalid Abu Bakar yang dilansir dari situs berita TV3.com, yang menyebutkan pihaknya lebih menitik beratkan penyidikan pada kelompok pengikut Tuhan Harun. ”

Indikasi pelakunya dari kelompok pengikut Tuhan Harun sangat besar. 3 orang dari 31 anggota kelompok tersebut telah menyerahkan diri. Itu sudah sangat membantu tugas kepolisian.”

Ditambahkannya pula, kepolisian telah mengeluarkan surat penangkapan kepada Harun Mat Saad, pimpinan kelompok Tuhan Harun yang masih sementara dalam keadaan buron.

Arrahmah.com mengenai insiden penembakan yang menimpa Ahmad Raffli, menurunkan berita pada senin [11/11] dengan tajuk, “Penggiat Anti Syiah Malaysia, Ahmad Rafi Ditembak Mati Orang Tak Dikenal”. Selain salah dalam menuliskan nama korban, Ahmad Rafi yang seharusnya Ahmad Raffli, media yang sering memanipulasi fakta tersebut juga menulis di akhir beritanya, “Demikianlah Syiah, tidak sungkan-sungkan akan melakukan pembunuhan ketika ada yang menyingkap hakikat kesesatan mereka.”

Pernyataan yang sangat kontradiksi dengan judul yang mereka pilih sendiri. Kalau pelakunya tidak dikenal, dari mana redaksi Arrahmah langsung menyimpulkan pelakunya dari kalangan Syiah?, sementara pihak kepolisian saja belum berani memberikan dugaan sebab memang belum ada bukti keterlibatan kelompok Syiah Malaysia dibalik insiden penembakan tersebut. Lantas apa bukti dari Arrahmah.com sampai menyebar fitnah pelakunya adalah Syiah?. Dan fitnah tersebut turut disebar oleh gensyiah.com dan media-media anti Syiah lainnya.

Arrahmah.com wajib di blokir (2) : Sebut Iran Kerjasama Bantai Muslim Rohingnya

Arrahmah menulis bahwa meskipun Iran mengaku sebagai negara Islam, akan tetapi ia bekerjasama dengan Budha yang telah membantai kaum muslimin di wilayah Arakan, tanpa memberikan keterangan yang lebih detail bentuk kerjasama apa yang dimaksud. Sementara delegasi Iran berkali-kali ke Myanmar untuk memberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada warga Rohingnya.

 situs arrahmah.com senin (4/3) menurunkan berita, “Pembantaian Muslim Rohingnya Masih Berlangsung, Iran Gelontorkan 200 Juta Dollar untuk Budha Myanmar”. Berita yang disebut oleh redaksi arrahmah tersebut bersumber dari situs alarabalan.com (namun situs ini tidak dapat dikunjungi untuk diklarifikasi kebenarannya) menyebutkan Iran melakukan, investasi sebesar 200 juta dollar itu untuk pengembangan pertanian dan industri di negara Budha Burma yang memusuhi Islam.

Di balik itu lanjutnya, investasi tersebut bertujuan untuk membiayai kegiatan revolusi Iran di Asia, di mana Iran sedang menggalang kekuatan-kekuatan di luar negeri untuk mendirikan negara Syi’ah yang berkiblat ke Iran. Dengan pernyataan ini arrahmah hendak menyampaikan bahwa Myanmar adalah Negara target Iran untuk dijadikan Negara Syiah. Apakah logis hanya dengan investasi 200 juta dollar, Myanmar hendak mengubah haluan politik negaranya dan begitu saja patuh sepenuhnya pada Iran?.

Arrahmah kemudian menulis bahwa meskipun Iran mengaku sebagai negara Islam, akan tetapi ia bekerjasama dengan Budha yang telah membantai kaum muslimin di wilayah Arakan, tanpa memberikan keterangan yang lebih detail bentuk kerjasama apa yang dimaksud.

Sementara delegasi Iran berkali-kali ke Myanmar untuk memberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada warga Rohingnya. Sebagaimana pernah diberitakan dimedia ini dengan tajuk, “Iran Beri Bantuan 30 Ton Bahan Makanan untuk Muslim Myanmar”. Dan berita-berita serupa juga diberitakan oleh banyak media nasional.

Arrahmah menambahkan, “Dan yang perlu menjadi perhatian, bahwa kaum muslimin Arakan adalah Ahlusunnah, sedangkan Iran pengikut Syi’ah.”. Disini kembali arrahmah menunjukkan belangnya sebagai media yang memang sengaja dibuat untuk memecah belah kaum muslimin dengan isu perbedaan mazhab. Pemerintah Iran yang Syiah tanpa memperhatikan mazhab yang dianut muslim Rohingnya telah memberikan langsung bantuan kemanusiaannya, sebagaimana yang telah dilakukan Iran untuk penduduk Gaza dan Palestina secara umum, sehingga petinggi HAMAS menyatakan terimakasih secara terbuka untuk Iran.

Dibagian akhir, arrahmah.com menulis, “Ironisnya, Para pengamat menjelaskan bahwa pemerintah Iran tidak pernah mengutuk aksi pembantaian terhadap kaum muslimin di Burma, padahal dia mengaku sebagai negara Islam. Justru yang mengeluarkan kecaman dan kutukan adalah negara-negara Barat yang notabenenya negara kafir.”

Tanpa menjelaskan siapa saja pengamat yang dimaksud arrahmah telah terang-terangan menyebarkan fitnah tanpa rasa malu. Media-media nasional banyak menurunkan berita mengenai pengecaman pemerintah dan rakyat Iran atas tragedi kemanusiaan muslim Rohingnya di Myanmar.

Mulai dari Rahbar, Presiden, Parlemen, Ulama, Kelompok-kelompok solidaritas mahasiswa dan rakyat  Iran secara umum mengutuk keras aksi biadab tersebut dan turut pula mengecam, bungkamnya organisasi-organisasi internasional termasuk raja-raja Arab yang menunjukkan sikap pasif mengenai peristiwa tersebut.

Kecaman Majma Jahani Ahlul Bait as atas tragedi kemanusiaan di Myanmar terhadap muslim Rohingnya bisa dilihat di link berikut:

http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=331870

Arrahmah.com wajib di blokir (1) : memfitnah Rahbar nikah mut’ah dan pencabulan

Membantah Arrahmah:

Tidak Malu, Arrahmah.com Ketahuan Bohong Lagi

Dalam kunjungannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius.

Menurut Kantor Berita ABNA, hanya dengan modal video yang telah dipenggal dengan durasi 15 detik, redaksi Arrahmah.com merilis berita, “Mut’ah Dini, Kedok Khomaeni Mencabuli Balita” yang diposting selasa [12/5]. Video tersebut diupload sehari sebelumnya oleh Muhammad Abdurrahman Al Amiry [11/5] yang diberi title, “Khaminai  Pendeta Syiah Mencabuli Anak Kecil – Biarkan Video yang Berbicara”.

Ada kesimpangsiuran nama, diberita Arrahmah, ditulis Khomaeni sementara video di youtube ditulis Khaminai. Jika yang dimaksud redaksi Arrahmah dengan Khomaeni itu adalah Imam Khomaeni pendiri Republik Islam Iran yang wafat 3 Juni 1989, maka jelas salah besar. Sebab yang ditampilkan dalam video tersebut adalah Ayatullah Sayyid Ali Khamanei, atau biasa disingkat Imam Ali Khamanei. Muhammad Abdurrahman Al Amiry, mungkin hanya salah ketik saja ketika menulisnya dengan nama Khaminai.

Versi dengan durasi lebih panjang dari video penggalan tersebut, telah diposting oleh Muhammad Jahangir, dengan durasi 11 menit 47 detik pada tanggal 27 Februari 2012 dengan judul berbahasa Persia, “Didar_e Rahbar_e Inqilab ba Khanevadeh Syahid Rezai Nejad” yang artinya, “Pertemuan Pemimpin Besar Revolusi dengan Keluarga Syahid Rezai Nejad.”

Syahid Rezai Nejad atau lengkapnya DR. Dariush Rezai Nejad adalah ilmuan nuklir Iran yang terbunuh oleh aksi teror pada 23 Juli 2011, dalam usia 35 tahun. Laporan dari media pers Iran menyebutkan bahwa Rezai Nejad ditembak lima kali oleh pengendara motor yang tidak dikenal ketika ia bersama istrinya sedang menunggu anak mereka didepan sebuah taman kanak-kanak di Teheran. Dalam serangan tersebut istrinya juga mengalami luka tembak namun nyawanya sempat tertolong. Putrinya Aramita Rezai Nejad [5 tahun], melihat didepan matanya, kedua orangtuanya bersimbah darah. Nyawa pakar nuklir dari Universitas Industri Nasharuddin Thusi Tehran tersebut tidak dapat diselamatkan. Peluru yang ditembakkan teroris menembus leher, tangan dan dadanya.

Iran sendiri menuding dinas rahasia Israel “Mossad” berada dibalik pembunuhan tersebut. Yang menurut pemerintah Iran, AS dan Israel sengaja hendak membunuh para ilmuan Iran yang dicurigai bekerja dalam program pembuatan senjata nuklir. Sementara media Israel menyebutkan, intelijen Israel meyakini Rezai Nejad bertugas membuat mesin pemicu senjata nuklir menyusul kerjasama lembaga riset Rezai Nejad dengan Kementerian Pertahanan Iran.

19 Desember 2011. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengunjungi rumah keluarga almarhum Dr. Dariush Rezai Nejad dan mengucapkan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. Dalam penyampaiannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei berkata, “Hari ini kemajuan ilmu dan tekhnologi Iran menjadi kebanggan bagi dunia Islam sekaligus menjadi ancaman dan kekhawatiran bagi musuh-musuh Islam.”

Dalam kunjungan tersebut, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei juga bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius.

Berita lengkap mengenai kunjungan Rahbar tersebut dalam bahasa Persia bisa dibaca di link berikut:

http://farsi.khamenei.ir/news-content?id=18692

Sementara versi video dengan durasi lebih panjang bisa dilihat disini:

https://www.youtube.com/watch?v=Cz53_V4TwtU

Berikut foto-foto kunjungan Rahbar ke rumah keluarga Syahid Rezai Nejad:

Keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah Ketika Membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah Ketika Membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Ada kitab yang cukup “menyenangkan” untuk dipelajari yaitu kitab Istidlaal Asy Syii’ah Bi Sunnah Nabawiyyah Fii Miizaan An Naqd Li ‘Ilmiy yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Sa’iid Dimasyiqiyyah. Ada begitu banyak isu Sunni Syi’ah yang dibahas dalam kitab yang tebalnya lebih dari seribu halaman ini. Tentu saja dalam tulisan ini kami tidak akan membahas keseluruhan kitab tersebut. Kami hanya akan menampilkan sedikit keanehan Syaikh tersebut dalam membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan.

Isu yang dibahas ini terkait dengan hadis shahih [hasan menurut sebagian ulama] tentang Mu’awiyah bin Abu Sufyaan yang meminum minuman yang diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Secara khusus kami sudah membuat tulisan tersendiri mengenai isu tersebut yang dapat dilihat disini

  1. Hadis Mu’awiyah Meminum Minuman Yang Haram
  2. Hadis Mu’awiyah Meminum Minuman Yang Diharamkan : Membantah Syubhat Salafiy

Dalam tulisan ini kami lebih memfokuskan pada keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah ketika membahas hadis tersebut.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di atas tikar. Ia menyajikan makanan kepada kami maka kami memakannya kemudian ia menyajikan kepada kami minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. [Ayahku] berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Kemudian Mu’awiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan paling bagus giginya, tidak ada kenikmatan yang kumiliki seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” [Musnad Ahmad 5/347 no 22991, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

.

.

.

Keanehan pertama adalah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah seolah tidak mengenal perawi yang bernama Zaid bin Hubaab. Ia menukil pendapat Syaikh Al Albani yang terkesan aneh, Syaikh berkata

Kitab Istidlal Syi'ah

Kitab Istidlal Syi'ah hal 977

فإن في السند زيد بن الحباب وهو كما قال الشيخ الألباني « ضعيف. لم يوثقه غير ابن حبان» معجم أسامي الرواة2/75 نقلا عن ضعيف الأدب المفرد77

Sesungguhnya di dalam sanadnya ada Zaid bin Hubaab dan ia sebagaimana dikatakan Syaikh Al Albaaniy dhaif, tidak ada yang menyatakan tsiqat kecuali Ibnu Hibban (Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah 2/75 yang menukil dari Dhaif Adabul Mufraad hal 77) [kitab Istidlaal Asy Syii’ah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah hal 977]

Perkataan “dhaif” tersebut adalah dusta atas Syaikh Al Albaaniy. Kalau kita melihat apa yang tertulis dalam kitab Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah 2/75 maka tidak ada disebutkan disana lafaz “dhaif”.

Mu'jam Asamiy Ruwah jilid 2

Mu'jam Asamiy Ruwah hal 75

Zaid bin Hubaab [Dhaiif Al Adab hal 77] “tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibban” [7/179] [6/314]

Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah dan penulis kitab Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah telah keliru dalam memahami perkataan Syaikh Al Albaaniy. Inilah yang dikatakan Syaikh Al Albaaniy dalam Dhaif Adabul Mufraad hal 77.

Dhaif Adabul Mufrad

Dhaif Adabul Mufrad hal 77

‘Umar bin ‘Utsman yang ada dalam sanad hadis ini “fiihi jahalah” [tidak dikenal] karena tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Zaid bin Hubaab dan ia yang meriwayatkan disini, dan tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan [7/179]

Mereka mengira lafaz “tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan” itu tertuju pada Zaid bin Hubaab padahal sebenarnya itu tertuju pada ‘Umar bin ‘Utsman. Syaikh Al Albaaniy dengan jelas menyebutkan sumber penukilan Ibnu Hibbaan yaitu Ats Tsiqat 7/179.

Ats Tsiqat juz 7 hal 179

عمر بن عُثْمَان بْن عَبْد الرَّحْمَن بْن سعيد بن يَرْبُوع الصرم المَخْزُومِي الْقرشِي من أهل الْمَدِينَة يَرْوِي عَن جده عَن أَبِيه وَله صُحْبَة رَوَى عَنْهُ زيد بْن الْحباب وَهُوَ أَخُو مُحَمَّد بْن عُثْمَان

‘Umar bin ‘Utsman bin ‘Abdurrahman bin Sa’iid bin Yarbuu’ Ash Sharam Al Makhzuumiy Al Qurasyiy termasuk penduduk Madinah, meriwayatkan dari kakeknya dari ayahnya yang merupakan sahabat Nabi, telah meriwayatkan darinya Zaid bin Hubaab, dan ia adalah saudara Muhammad bin ‘Utsman [Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan 7/179]

Kami merasa begitu aneh dengan adanya kesalahan seperti ini. Menurut kami, orang-orang yang akrab dengan kitab Rijal dan kitab Hadis tidak akan mudah terjatuh dalam kesalahan seperti ini. Zaid bin Hubaab adalah perawi yang dikenal tsiqat atau shaduq, jadi kalau ada ulama yang mengatakan ia dhaif dan tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan maka pikiran mereka pasti akan terusik untuk meneliti kebenarannya dan tidak mencukupkan diri dengan nukilan yang terasa asing.

.

.

.

.

Keanehan lain yaitu ketika Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah menyatakan lafaz “aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah” sebagai perkataan Mu’awiyah. Syaikh berhujjah ini adalah perkataan Mu’awiyah dengan dasar bahwa hadis ini dimasukkan oleh para hafizh seperti Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Katsiir dalam Musnad Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Kitab Istidlal Syi'ah hal 978

قوله (ما شربته منذ..) هذا من كلام معاوية وليس من كلام عبد الله بن بريدة وهكذا جعله جميع الحفاظ في مسند معاوية مثل ابن كثير في جامع المسانيد والإمام أحمد في المسند في مسند معاوية

Perkataan [aku tidak meminumnya sejak…] ini adalah perkataan Mu’awiyah bukan perkataan ‘Abdullah bin Buraidah dan karena itulah sekumpulan hafizh memasukkannya dalam Musnad Mu’awiyah seperti Ibnu Katsiir dalam Jaami’ Al Masaanid dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad dalam Musnad Mu’awiyah [kitab Istidlaal Asy Syii’ah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah hal 978]

Sungguh perkataan ini luar biasa anehnya jika tidak mau dikatakan dusta. Justru para hafizh seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Katsiir dan Ibnu Hajar memasukkan hadis tersebut dalam Musnad atau hadis Buraidah Al Aslamiy [radiallahu ‘anhu].

Musnad Ahmad bin Hanbal tahqiq Ahmad Ma’bad ‘Abdul Kariim juz 10 hal 5435-5436

Musnad Ahmad tahqiq Ahmad Ma'bad

Hadis Buraidah Musnad Ahmad1 Hadis Buraidah Musnad Ahmad2

Sengaja kami ambil dari kitab Musnad Ahmad tahqiq Ahmad Ma’bad Abdul Kariim bukan tahqiq Ahmad Syaakir atau tahqiq Syu’aib Al Arnauth untuk memudahkan para pembaca melihat bahwa hadis tersebut dimasukkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam bab “Hadis Buraidah Al Aslamiy”

Jaami’ Al Masaaniid Ibnu Katsiir juz 1 hal 471 hadis no 937

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1 hal 471

Bisa dilihat di sudut kiri atas bahwa hadis tersebut masuk dalam musnad Buraidah Al Aslamiy [radiallahu ‘anhu] atau bisa diperhatikan daftar isi berikut dimana hal 471 itu masuk dalam Musnad Buraidah yaitu bab riwayat ‘Abdullah bin Buraidah dari Buraidah Al Aslamiy

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1 hal 679

Ithaaful Maharah Ibnu Hajar juz 2 hal 597 hadis no 2354

Ittihaful Ibnu Hajar juz 2

Ithaaful Ibnu Hajar juz 2 hal 597

Silakan perhatikan sudut kiri atas, itu adalah bukti bahwa Ibnu Hajar memasukkan hadis tersebut dalam Musnad Buraidah yaitu riwayat ‘Abdullah bin Buraidah darinya. Kesimpulannya perkataan tersebut adalah perkataan Buraidah [radiallahu ‘anhu] maka oleh karena itulah para hafizh memasukkan hadis tersebut dalam Musnad atau Hadis Buraidah.

Fenomena keanehan para ulama ketika membela Mu’awiyah bin Abu Sufyan bukanlah hal yang baru bagi kami. Dan wajar kalau keanehan ini diikuti oleh para pengikut mereka. Hanya orang-orang objektif saja yang bisa melihat keanehan ini dan meninggalkannya. Semoga Allah SWT senantiasa menunjukkan kepada kami jalan yang lurus.

 

Doktrin Raj’ah Itu Tidak Benar?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Doktrin Raj’ah Itu Tidak Benar?

Raj’ah adalah perkara masyhur dalam mazhab Syi’ah dan tidak dikenal di sisi mazhab Ahlus Sunnah [walaupun hakikatnya memang ada]. Seperti perkara-perkara lain yang sering dituduhkan kepada mazhab Syi’ah maka konsep Raj’ah ini juga telah disalahartikan dan dijadikan bahan celaan atas mazhab Syi’ah.

Mazhab Syi’ah bukan mazhab yang muncul kemarin sore. Mazhab Syi’ah sudah berkembang begitu lama bahkan hampir sama tuanya dengan mazhab Ahlus Sunnah. Jadi lucu sekali kalau ada sekelompok pencela mengesankan seolah mazhab Syi’ah tidak memiliki dalil shahih tentang Raj’ah di sisi mereka. Tulisan ini berusaha meluruskan ulah salah satu pencela Syi’ah yang cukup dikenal di kalangan pengikutnya yaitu Abul-Jauzaa’. Tulisan Abul Jauzaa’ tersebut dapat para pembaca lihat disitusnya dengan judul Doktrin Raj’ah Itu Tidak benar.

Inti dari tulisan Abul-Jauzaa’ adalah menunjukkan bahwa doktrin Raj’ah itu tidak benar. Ia berhujjah dengan dua poin berikut

  1. Riwayat Syi’ah yang menurut Abul Jauzaa’ menafikan keyakinan Raj’ah
  2. Al Qur’anul Kariim yang menurut Abul Jauzaa’ bertentangan dengan Raj’ah

Insya Allah kami akan membuktikan betapa lemahnya hujjah Abul Jauzaa’ tersebut dalam membantah doktrin Raj’ah dalam mazhab Syi’ah. Sebelumnya kami katakan bahwa kami meluruskan syubhat Abul Jauzaa’ bukan berarti kami membenarkan paham Raj’ah dalam mazhab Syi’ah tetapi kami tidak suka kepada orang yang membuat kedustaan atas mazhab Syi’ah.

.

.

.

Dalil Shahih Tentang Raj’ah Dalam Mazhab Syi’ah

Raj’ah secara lughah bermakna kembali ke kehidupan dunia setelah kematian. Hal ini diantaranya disebutkan oleh Muhammad bin Abu Bakar Ar Raaziy

وفلان يؤمن ( بالرجعة ) أي بالرجوع إلى الدنيا بعد الموت

Dan Fulaan percaya Raj’ah yaitu kembali ke kehidupan dunia setelah kematian [Mukhtaar Ash Shihaah Ar Raaziy hal 99]

Dan di sisi Syi’ah makna Raj’ah seperti halnya makna lughah di atas hanya saja itu berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Raj’ah sudah menjadi kesepakatan diantara sebagian besar ulama Syi’ah walaupun memang ada juga ulama Syi’ah yang menolak keyakinan Raj’ah. Diantara para ulama yang meyakini Raj’ah sebagian besar memahami maknanya secara zhahir sebagai kebangkitan fisik setelah kematian sedangkan sebagian kecil menakwilkannya sebagai kembalinya daulah atau kekuasaan Imam Ahlul Bait dengan kemunculan Imam Mahdiy.

Kami tidak akan menjelaskan secara rinci perbedaan-perbedaan tersebut. Kami lebih memfokuskan pada pendapat manakah yang benar dan sesuai dengan dalil shahih di sisi mazhab Syi’ah. Raj’ah dalam mazhab Syi’ah termasuk keyakinan yang ditetapkan melalui riwayat-riwayat Ahlul Bait. Cukup banyak riwayat Imam Ahlul Bait yang menyebutkan tentang Raj’ah dan sebagian besar riwayat tersebut dhaif sedangkan salah satu riwayat yang shahih adalah sebagai berikut

Kamil Ziyaraat

Kamil Ziyaraat hal 138 Kamil Ziyaraat hal 139

حدثني محمد بن جعفر الرزاز، عن محمد بن الحسين بن ابي الخطاب واحمد بن الحسن بن علي بن فضال، عن ابيه، عن مروان بن مسلم، عن بريد بن معاوية العجلي، قال: قلت لابي عبد الله (عليه السلام): يابن رسول الله أخبرني عن اسماعيل الذي ذكره الله في كتابه حيث يقول: (واذكر في الكتاب اسماعيل انه كان صادق الوعد وكان رسولا نبيا)، أكان اسماعيل بن ابراهيم (عليه السلام)، فان الناس يزعمون انه اسماعيل بن ابراهيم، فقال (عليه السلام): ان اسماعيل مات قبل ابراهيم، وان ابراهيم كان حجة لله كلها قائما صاحب شريعة، فالي من ارسل اسماعيل اذن، فقلت: جعلت فداك فمن كان. قال (عليه السلام): ذاك اسماعيل بن حزقيل النبي (عليه السلام)، بعثه الله الى قومه فكذبوه فقتلوه وسلخوا وجهه، فغضب الله له عليهم فوجه إليه اسطاطائيل ملك العذاب، فقال له: يا اسماعيل انا اسطاطائيل ملك العذاب وجهني اليك رب العزة لاعذب قومك بانواع العذاب ان شئت، فقال له اسماعيل: لا حاجة لي في ذلك. فأوحى الله إليه فما حاجتك يا اسماعيل، فقال: يا رب انك أخذت الميثاق لنفسك بالربوبية ولمحمد بالنبوة ولاوصيائه بالولاية وأخبرت خير خلقك بما تفعل امته بالحسين بن علي (عليهما السلام) من بعد نبيها، وانك وعدت الحسين (عليه السلام) ان تكر الى الدنيا حتى ينتقم بنفسه ممن فعل ذلك به، فحاجتي اليك يا رب ان تكرني الى الدنيا حتى انتقم ممن فعل ذلك بي كما تكر الحسين (عليه السلام)، فوعد الله اسماعيل بن حزقيل ذلك، فهو يكر مع الحسين (عليه السلام

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far Ar Razzaaz dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ahmad bin Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl dari Ayahnya dari Marwaan bin Muslim dari Buraid bin Mu’awiyah Al Ijliy yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “wahai putra Rasulullah kabarkan kepadaku tentang Isma’iil yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya dimana Dia berfirman “ceritakanlah kisah Isma’iil di dalam Al Qur’an, sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. Apakah ia adalah Isma’iil bin Ibrahiim [‘alaihis salaam]? orang-orang menganggap bahwa ia adalah Isma’iil bin Ibrahim. Beliau [‘alaihis salaam] berkata “Isma’iil wafat sebelum Ibrahiim dan sesungguhnya Ibrahim adalah hujjah Allah yang berdiri membawa syari’at maka kepada siapa Isma’iil diutus. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu maka siapakah ia?”. Beliau berkata “ Isma’iil bin Hizqiil seorang Nabi [‘alaihis salaam] yang diutus Allah kepada kaumnya maka mereka mendustakannya dan membunuhnya dan mereka menguliti wajahnya maka Allah murka dan mengirimkan malaikat adzab bernama Isthathail. [Malaikat] itu berkata kepadanya “wahai Isma’il aku adalah malaikat adzab, Allah mengutusku kepadamu agar mengadzab kaummu dengan berbagai adzab jika engaku mau”. Isma’iil berkata kepadanya “aku tidak menginginkan hal itu” maka Allah mengirimkan wahyu kepadanya “apa yang engkau inginkan wahai Isma’iil”. Ia berkata “wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah berjanji dengan Dirimu dengan Rububiyah-Mu dan Kenabian Muhammad dan Wilayah para washiy. Dan Engkau telah mengabarkan kepada makhluk terbaik-Mu apa yang akan dilakukan umatnya kepada Husain bin ‘Aliy sepeninggal Nabi mereka. Dan sesungguhnya Engkau berjanji bahwa Husain akan kembali ke dunia hingga membalas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Maka aku menginginkannya wahai Tuhanku agar mengembalikanku ke dunia untuk membalas apa yang mereka lakukan terhadapku sebagaimana Engkau mengembalikan Husain [‘alaihis salaam]. Maka Allah menjanjikan kepada Isma’iil bin Hizqiil bahwa ia akan kembali bersama Husain [‘alaihis salaam] [Kaamil Az Ziyaaraat Ibnu Quuluwaih hal 138-139 hadis no 163]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah, berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Ja’far Ar Razzaaz ia adalah syaikh [guru] Ja’far bin Muhammad bin Quuluwaih dalam Kaamil Az Ziyaaraat maka ia seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 509]
  2. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang tsiqat yang tinggi kedudukannya, banyak memiliki riwayat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]. Ahmad bin Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl adalah seorang yang tsiqat dalam hadis hanya saja ia Fathahiy [Rijal An Najasyiy hal 80 no 194]
  3. Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl seorang yang tinggi kedudukannya, zuhud, wara’ dan tsiqat dalam hadis, awalnya ia seorang Fathahiy kemudian ruju’ [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 47-48]
  4. Marwan bin Muslim adalah seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 419 no 1120]
  5. Buraid bin Mu’awiyah termasuk sahabat Imam Baqir dan Imam Shadiq, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 82]

Riwayat tersebut menyatakan dengan jelas kembalinya Husain bin ‘Aliy [‘alaihis salaam] ke kehidupan dunia. Maka sesuai dengan dalil shahih pendapat yang benar tentang Raj’ah di sisi mazhab Syi’ah adalah pendapat sebagian besar ulama Syi’ah mengenai kebangkitan fisik orang-orang tertentu ke kehidupan dunia sedangkan pendapat yang menakwilkan Raj’ah dan pendapat yang menolak adanya Raj’ah terbukti keliru.

Adapun mengenai siapa orang-orang yang akan mengalami Raj’ah tersebut maka hal itu tergantung dengan apakah ada riwayat shahih yang menyebutkannya. Seperti riwayat shahih di atas yang menyebutkan bahwa Husain bin ‘Aliy dan mereka yang menzhaliminya akan mengalami Raj’ah. Jika tidak ada riwayat shahih yang menyebutkannya maka tidak bisa ditetapkan apalagi jika riwayat tersebut dhaif di sisi mazhab Syi’ah seperti riwayat-riwayat yang menyebutkan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu] dan Aisyah [radiallahu ‘anha] akan mengalami Raj’ah dan menerima hukuman dari Imam Mahdiy. Anehnya justru riwayat-riwayat dhaif ini yang dijadikan hujjah oleh para pencela untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Kami juga tidak menutup mata terhadap sebagian pengikut Syi’ah yang seenaknya berhujjah dengan riwayat dhaif tetapi kesalahan sebagian orang ini tidaklah pantas dijadikan tolak ukur untuk menghukum mazhab Syi’ah.

.

.

.

Syubhat Abul Jauzaa’

Syubhat pertama Abul Jauzaa’ adalah menggunakan riwayat hadis Syi’ah yang menurutnya menafikan keyakinan Raj’ah di sisi mazhab Syi’ah.

حدثنا محمد بن الحسن قال: حدثنا محمد بن الحسن الصفار. قال: حدثنا أحمد بن محمد، عن عثمان بن عيسى عن صالح بن ميثم، عن عباية الأسدي، قال: سمعت أمير المؤمنين عليه السلام وهو مسجل وأنا قائم عليه: لآتين بمصر مبيرا ولأنقضن دمشق حجرا حجرا، ولأخرجن اليهود والنصارى من [كل] كور العرب، ولأسوقن العرب بعصاي هذه قال: قلت له: يا أمير المؤمنين كأنك تخبرنا أنك تحيي بعد ما تموت! فقال: هيهات يا عباية ذهبت في غير مذهب يعقله رجل مني

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad dari ‘Utsman bin ‘Iisa dari Shaalih bin Maitsam dari ‘Abaayah Al Asadiy yang berkata aku mendengar Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] yang waktu itu ia sedang duduk bersandar dan aku berdiri [Beliau berkata] “Aku akan membuat sebuah mimbar di Mesir, dan aku akan merobohkan Damaskus, batu demi batu. Aku juga akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nashrani dari seluruh wilayah ‘Arab. Aku akan memimpin ‘Arab dengan tongkatku ini”. Aku berkata kepadanya “Wahai Amiirul Mukminiin, seolah-olah engkau mengabarkan kepada kami bahwa engkau akan hidup kembali setelah wafat?”. [Beliau] berkata “Jauh sekali wahai ‘Abaayah. Hal itu akan dilakukan oleh seseorang dariku” [Ma’aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 406-407]

Setelah membawakan riwayat Syaikh Ash Shaaduq ini, Abul Jauzaa’ berkata

Mari kita cermati bersama riwayat di atas. Ketika ditanya apakah ia akan hidup kembali setelah kematiannya, maka ‘Aliy bin Abi Thaalib membantahnya. Artinya, tidak ada raj’ah baginya (‘Aliy). Jika ia tidak akan hidup kembali – padahal ia adalah penghulunya imam Ahlul-Bait – tentu orang-orang selainnya terlebih lagi

Perkataan Abul Jauzaa’ tersebut bisa dikatakan sia-sia karena riwayat yang ia jadikan hujjah tidak shahih sanadnya sesuai dengan standar ilmu hadis mazhab Syi’ah. Berikut pembahasan kedudukan riwayat tersebut sesuai standar ilmu Rijal Syi’ah.

Dalam sanad riwayat Syaikh Ash Shaaduq terdapat perawi yang tidak dikenal dan tidak tsabit tautsiq terhadapnya salah satunya yaitu ‘Abaayah Al Asadiy. Berikut pembahasan tentangnya.

Sayyid Al Khu’iy dalam kitabnya Mu’jam Rijal Al Hadiits menyebutkan biografi ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy dan tidak menyebutkan adanya jarh dan ta’dil terhadapnya, hanya saja terdapat nukilan bahwa Al Barqiy memasukkannya dalam golongan sahabat khusus Imam Aliy [Mu’jam Rijal Al Hadiits 10/274-275 no 6228]

Sumber penukilan Sayyid Al Khu’iy adalah kitab Rijal Al Barqiy dimana penulisnya menyebutkan golongan sahabat khusus Imam Aliy dan salah satunya terdapat nama ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy [Rijal Al Barqiy hal 4-5]

Lafaz “sahabat khusus Imam Aliy” sebenarnya bernilai mamduh [pujian] tetapi yang menjadi masalah disini adalah kitab Rijal Al Barqiy tidak jelas siapa penulisnya. Sebagian ulama Syi’ah mengira ia adalah Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy tetapi berdasarkan pendapat yang rajih hal ini keliru dengan qarinah berikut

  1. Penulis kitab Rijal Al Barqiy malah memasukkan nama Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy dalam golongan sahabat Imam Abu Ja’far Ats Tsaniy [Rijal Al Barqiy hal 56-57]. Termasuk hal yang aneh jika penulis kitab Rijal menyebut nama sendiri dalam kitabnya.
  2. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama murid Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy yaitu ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy dimana penulis kitab tersebut berkata “Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy dimana aku telah mendengar darinya” [Rijal Al Barqiy hal 60-61]. Maka jelas disini bahwa penulis kitab Rijal Al Barqiy adalah murid dari ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy.
  3. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama Muhammad bin Khalid Al Barqiy dalam kitabnya ke dalam golongan sahabat Imam Abu Hasan Al Awwaal dan Imam Abu Hasan Ar Ridhaa [Rijal Al Barqiy hal 55]. Abu ‘Abdullah Muhammad bin Khalid Al Barqiy adalah ayah dari Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy tetapi penulis kitab tersebut tidak menyebutkan bahwa Muhammad bin Khalid adalah ayahnya. Kalau untuk perawi seperti ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy ia menyebutkan dengan jelas telah mendengar darinya maka mengapa Ayahnya sendiri yang jauh lebih dekat dengannya tidak disebutkan dengan jelas bahwa itu ayahnya dan ia telah mendengar darinya.

Maka berdasarkan pendapat yang rajih dapat disimpulkan bahwa penulis kitab Rijal Al Barqiy bukanlah Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy seorang perawi yang tsiqat dan masyhur dalam mazhab Syi’ah.

Ulama Syi’ah Syaikh Ja’far As Subhaaniy menyebutkan bahwa kemungkinan penulis kitab Rijal tersebut adalah ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Al Kulainiy atau Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Syaikh Ash Shaduuq, dimana Syaikh merajihkan Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy [Kulliyyaat Fii Ilm Ar Rijal Syaikh Ja’far As Subhaaniy hal 72].

Jika memang penulis kitab Rijal Al Barqiy adalah Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy yaitu cucu dari Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy maka ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 31].

Penjelasan terperinci tentang siapa penulis kitab Rijal Al Barqiy ini sebenarnya membutuhkan pembahasan tersendiri jadi kami tinggalkan isu ini agar bisa didiskusikan disini oleh para penuntut ilmu dari kalangan orang-orang Syi’ah. Sejauh ini kesimpulan yang kami dapatkan kitab tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

Maka lafaz “sahabat khusus Imam Aliy” untuk ‘Abaayah Al Asadiy tersebut tidak tsabit sebagai predikat mamduh [pujian] untuknya. Oleh karena tidak ada tautsiq serta mamduh [pujian] lain untuknya maka kedudukannya adalah majhul. Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy pernah berkata

وفي بعض النسخ عباية الأسدي، وهو عباية بن ربعى الأسدي، وهو مجهول الحال

Dan dalam sebagian naskah tertulis ‘Abaayah Al Asadiy dan ia adalah ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy seorang yang majhul hal [Kitab Syarh Furuu’ Al Kaafiy Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy 2/322]

.

.

Syaikh Ash Shaaduq setelah membawakan riwayat di atas, ia mengatakan bahwa Imam Aliy sedang taqiyah terhadap ‘Abaayah dalam hadis ini

قال مصنف هذا الكتاب – رضي الله عنه -: إن أمير المؤمنين عليه السلام اتقى عباية الأسدي في هذا الحديث وأتقي ابن الكواء في الحديث السابق لأنهما كانا غير محتملين لأسرار آل محمد عليهم السلام

Berkata penulis kitab ini [radiallahu ‘anhu] “Sesungguhnya Amiirul Mukminiin [‘alaihis salaam] taqiyyah terhadap ‘Abaayah Al Asadiy dalam hadis ini dan taqiyyah terhadap Ibnu Kawaa’ dalam hadis sebelumnya karena keduanya bukan pembawa rahasia keluarga Muhammad [‘alaihimus salaam]. [Ma’aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 407].

Pernyataan ini walaupun menurut kami bukan hujjah yang kuat tetapi bisa dimaklumi karena mungkin di sisi Syaikh Ash Shaduuq telah shahih berbagai riwayat tentang Raj’ah. Biasanya para pencela suka merendahkan argumen salah seorang ulama Syi’ah yang menyatakan suatu hadis sebagai taqiyyah. Para pencela mengatakan kalau dengan mudah dikatakan taqiyyah seenaknya maka bagaimana membedakan riwayat yang bukan taqiyyah dengan riwayat taqiyyah.

Orang jahil yang penuh kesombongan maka ia akan selamanya jahil, jika mereka para pencela itu mau meneliti dengan objektif maka sangat mudah untuk memahami kapan para ulama Syi’ah menyatakan suatu hadis sebagai taqiyyah. Prinsipnya adalah jika suatu hadis secara zhahir bertentangan dengan ushul mazhab Syi’ah dimana ushul mazhab tersebut berdiri atas riwayat shahih yang lebih kuat dan lebih banyak maka saat itulah hadis yang bertentangan tersebut dikatakan taqiyyah. Ini adalah ciri khas metode self defense suatu mazhab yang menopang dirinya sendiri.

Metode seperti ini yang bercorak self defense juga dikenal di dalam ilmu hadis mazhab Ahlus Sunnah. Para pembaca mungkin pernah mendengar kaidah perawi tsiqat dengan mazhab menyimpang atau penganut bid’ah di sisi Ahlus Sunnah seperti Syi’ah, Khawarij, Nashibiy, Qadariy, Jahmiy dan yang lainnya jika hadisnya menguatkan mazhab atau bid’ah yang mereka anut maka hadisnya tertolak. Metode ini jelas menopang diri mazhab itu sendiri karena walaupun perawi tersebut tsiqat dan hadisnya shahih tetapi jika hadisnya menguatkan bid’ahnya maka hadisnya tidak diterima. Dengan kata lain mazhab yang dikatakan bid’ah atau menyimpang oleh Ahlus Sunnah itu akan tetap dianggap sesat walaupun para perawi tersebut tsiqat dan memiliki bukti hadis shahih yang mereka punya atas keyakinan mereka.

.

.

Syubhat berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Abul Jauzaa’ adalah menggunakan ayat Al Qur’an yang dalam pikiran waham khayal-nya menafikan Raj’ah. Abul Jauzaa’ berkata

Perkataan yang disandarkan kepada ‘Aliy dalam riwayat di atas sesuai dengan firman Allah ta’ala – sedangkan firman Allah sebenarnya tidak butuh pada riwayat Syi’ah tersebut – :

حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُونِ * لَعَلّيَ أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاّ إِنّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىَ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampal hari mereka dibangkitkan” [QS. Al-Mukminuun : 99-100].

وَقَالَ الّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ وَالإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللّهِ إِلَىَ يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَـَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَـَكِنّكُمْ كُنتمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): ‘Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)” [QS. Ar-Ruum : 56].

Dua ayat ini menjadi dalil yang jelas bahwa seseorang yang telah meninggal berada di alam kuburnya (barzakh) tidaklah dibangkitkan kecuali nanti di hari dibangkitkan setelah ditiup sangkakala.

Sesungguhnya Al Qur’an tidaklah butuh dengan perkataan Abul Jauzaa di atas. Kedua ayat tersebut memang menyatakan orang-orang yang sudah meninggal akan dibangkitkan nanti pada hari kiamat akan tetapi jika hal ini dijadikan alasan bertentangan dengan konsep Raj’ah maka itu keliru. Karena Al Qur’an sendiri telah menjelaskan bahwa atas izin Allah orang-orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, contohnya sebagai berikut

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan [ingatlah], ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur [QS Al Baqarah : 55-56]

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan [Ingatlah], ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian berpikir.” [QS Al Baqarah: 72-73]

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sebanyak ribuan orang karena takut mati, lalu Allah berfirman kepada mereka “Matilah kalian” kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur [QS Al Baqarah : 243]

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau apakah [kamu tidak memperhatikan] orang yang melalui suatu negeri yang [temboknya] telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia hancur?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Dia menjawab “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledaimu [yang telah menjadi tulang belulang] Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya [bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati] diapun berkata “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS Al Baqarah : 259]

.

.

Contoh lain adalah diriwayatkan dari Imam ‘Aliy bin Abi Thalib dengan sanad yang jayyid bahwa Beliau pernah berkata tentang Dzulqarnain

حدثنا وكيع عن بسام عن أبي الطفيل عن علي قال كان رجلا صالحا ناصح الله فنصحه  فضرب على قرنه الأيمن فمات فأحياه الله ثم ضرب على قرنه الأيسر فمات فأحياه الله وفيكم مثله

Telah menceritakan kepada kami Wakii’ dari Bassaam dari Abi Thufail dari ‘Aliy yang berkata “Ia adalah hamba yang shalih, memberikan petunjuk [orang-orang] kepada Allah maka Allah memberikan petunjuk kepadanya. Maka [kaumnya] memukul kepalanya sebelah kanan maka ia mati. Allah menghidupkannya kembali kemudian [kaumnya] memukul kepalanya sebelah kiri maka ia mati kemudian Allah menghidupkannya kembali. Dan diantara kalian ada orang yang sepertinya [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10/443-444 no 32511]

Sanad Atsar di atas jayyid para perawinya tsiqat dan shaduq. Wakii’ bin Jarraah seorang tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 2/283-284]. Bassaam bin ‘Abdullah Ash Shairafiy seorang yang shaduq [Taqriib At Tahdziib 1/124]. Abu Thufail yaitu ‘Aamir bin Watsilah seorang sahabat Nabi yang paling akhir wafat [Taqriib At Tahdziib 1/464]

Atsar di atas juga disebutkan Ibnu Abi Aashim dalam As Sunnah no 1353 dan Al Ahaadu Wal Matsaaniy 1/141 no 168, Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsar 5/121 dengan jalan sanad Bassaam Ash Shairafiy dari Abu Thufail dari ‘Aliy. Bassaam dalam periwayatan dari Abu Thufail memiliki mutaba’ah dari

  1. Habiib bin Abi Tsabit sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 10/444 no 32512 dan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath Thabariy 17/370, tanpa tambahan lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”
  2. Qaasim bin Abi Bazzah sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath Thabariy 17/370 dengan tambahan lafaz “dan diantara kalian pada hari ini ada orang yang sepertinya”
  3. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Husain sebagaimana diriwayatkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Ahaadiits Al Mukhtaarah no 555 tanpa tambahan lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”.

Maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan tersebut shahih dari Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Sedikit catatan tentang lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa lafaz ini merujuk pada diri ‘Aliy bin Abi Thalib sendiri. Atsar ini sering dijadikan hujjah oleh pengikut Syi’ah sebagai bukti bahwa Imam Aliy sendiri akan mengalami raj’ah sebagaimana Dzulqarnain di atas yang mati kemudian dibangkitkan kembali.

Sayangnya hujjah Syi’ah tersebut tidaklah kuat karena lafaz tersebut tidaklah sharih [tegas] dalam hal apa penyerupaan yang dimaksud tersebut. Apakah dalam keseluruhan sifat yang disebutkan atau hanya mencakup sebagian sifat saja?. Sebagian ulama seperti Ath Thahawiy menafsirkan makna lafaz tersebut serupa dalam hal kedudukan ‘Aliy bagi umat ini seperti kedudukan Dzulqarnain bagi umatnya bukan dalam hal dibangkitkan setelah mati [Syarh Musykil Al Atsar Ath Thahawiy 5/123]. Tidak ada qarinah yang menguatkan mana penafsiran yang paling benar oleh karena itu kami tidak berhujjah dengan lafaz tersebut.

Hujjah kami disini adalah pada fakta riwayat Dzulqarnain itu dihidupkan kembali setelah mati dan itu terjadi bukan pada hari kiamat. Apakah Abul Jauzaa’ tersebut akan mendustakan hal ini dengan ayat Al Qur’an sebelumnya yang ia kutip bahwa seseorang yang sudah mati tidak akan dibangkitkan kecuali pada hari kebangkitan. Hal ini membuktikan kesalahan Abul Jauzaa’ dalam berhujjah dengan ayat Al Qur’an tersebut. Ayat Al Qur’an yang ia jadikan hujjah tidaklah menafikan adanya kebangkitan hidup setelah mati bagi sebagian orang yang terjadi atas kehendak Allah SWT sebelum hari kiamat.

.

.

.

Pandangan Kami Tentang Raj’ah

Jika Raj’ah yang dimaksud bermakna adanya orang-orang yang hidup kembali setelah kematiannya maka ayat Al Qur’an dan atsar Imam Aliy bin Abi Thalib telah menetapkannya sebagaimana kami kutip di atas maka tidak diragukan lagi kami meyakini kebenarannya.

Tetapi jika Raj’ah yang dimaksud bersifat khusus yaitu sebagaimana yang dikatakan mazhab Syi’ah yaitu kebangkitan imam Ahlul Bait dan sebagian musuh-musuhnya yang zalim sebelum hari kiamat nanti maka kami tidak menemukan adanya riwayat-riwayat shahih di sisi kami yang dapat dijadikan hujjah maka kami tidak meyakini kebenarannya.

Yang ingin kami tekankan dalam tulisan ini adalah hujjah sebagian orang jahil bahwa Al Qur’an menentang konsep Raj’ah yaitu “adanya orang yang hidup kembali setelah mati” padahal justru Al Qur’an sendiri menetapkannya. Memang Al Qur’an tidak pernah menetapkan kalau imam ahlul bait dan musuh-musuhnya akan mengalami Raj’ah dan orang-orang Syi’ah sendiri berhujjah dalam masalah ini dengan riwayat-riwayat Ahlul Bait di sisi mereka.

Perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah dalam hal Raj’ah ini bukan terletak pada perbedaan hakikat Raj’ah yang bermakna hidup atau bangkit kembali setelah mati tetapi terletak pada individu-individu yang mengalami Raj’ah dan tujuan dari Raj’ah tersebut. Ahlus Sunnah menetapkan siapa saja yang pernah mengalami hidup kembali setelah mati itu berdasarkan dalil yang shahih di sisi mereka sebagaimana Syi’ah menetapkan siapa yang akan hidup kembali setelah mati berdasarkan dalil shahih di sisi mereka. Adapun orang-orang jahil sok mengatakan itu bertentangan dengan Al Qur’an padahal hakikatnya merekalah yang jahil dan dusta.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 277 pengikut lainnya.