Uncategorized

Sujud Orang Syi’ah Mesti Kontak Langsung Dengan Tanah?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Sujud Orang Syi’ah Mesti Kontak Langsung Dengan Tanah?

Ada orang anti Syi’ah membuat tulisan lucu, intinya ia mengesankan bahwa orang Syi’ah itu mengada-ada ketika sujud harus di atas tanah. Kami sangat maklum kalau dalam sebagian perkara fiqih mazhab Ahlus Sunnah berbeda dengan fiqih mazhab Syi’ah karena sumber dalil keduanya yaitu sumber hadis masing-masing berbeda. Ahlus Sunnah berpegang pada hadis-hadis dalam kitab mereka dan Syi’ah berpegang pada hadis-hadis dalam kitab mereka.

Orang itu [yang sering kali berdusta atas mazhab Syi’ah] berdalil dengan hadis-hadis Syi’ah bahwa tidak harus sujud di atas tanah. Kami akan meluruskan orang tersebut atas syubhatnya terhadap mazhab Syi’ah. Tidak lain kami menuliskan ini sebagai informasi yang objektif atas mazhab Syi’ah dan sebagai jawaban atas para pendusta yang mencela mazhab Syi’ah semata-mata karena kebenciannya.

.

.

.

Pembahasan

Terdapat dalil shahih dalam mazhab Syi’ah bahwa sujud harus dilakukan di atas tanah, berikut dalil yang dimaksud

وقال هشام بن الحكم لأبي عبد الله عليه السلام أخبرني عما يجوز السجود عليه؟ وعما لا يجوز؟ قال: السجود لا يجوز إلا على الأرض أو على ما أنبتت الأرض إلا ما أكل أو لبس

Dan berkata Hisyaam bin Al Hakam kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “kabarkanlah kepadaku apa yang dibolehkan sujud di atasnya dan apa yang tidak dibolehkan sujud di atasnya?. Beliau berkata “sujud tidak dibolehkan kecuali di atas tanah dan di atas apa yang tumbuh dari tanah selain apa yang dimakan dan apa yang dipakai” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 2/234 no 133]

Malaadz Al Akhyaar juz 4 hal

Malaadz Al Akhyaar juz 4 hal 256

Al Majlisiy dalam kitabnya Malaadz Al Akhyaar 4/256 hadis no 133 berkata tentang hadis di atas “shahih”.

Syaikh Ath Thuusiy sendiri telah berhujjah dengan hadis ini oleh karena itu ia mengatakan dalam kitabnya yang lain


Nihayah Ath Thuusiy

Nihayah Ath Thuusiy hal 101

و لا يجوز السّجود إلّا على الأرض أو ما أنبتته الأرض، إلّا ما أكل أو لبس، و لا يجوز السّجود على القبر

Dan tidak dibolehkan sujud kecuali di atas tanah atau di atas apa yang tumbuh dari tanah selain apa yang dimakan atau yang dipakai, dan tidak dibolehkan sujud di atas kubur [An Nihaayah Fii Mujarrad Al Fiqhu Wal Fatawa hal 101]

.

.

.

Orang itu membawakan hadis-hadis Syi’ah yang menurutnya menjadi hujjah membolehkan sujud selain di atas tanah.

فأما ما رواه سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد عن داود الصرمي قال سألت أبا الحسن الثالث عليه السلام: فقلت هل يجوز السجود على الكتان والقطن من غير تقية؟ فقال: جائز

Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad dari Dawuud Ash Shiraamiy yang berkata aku pernah bertanya kepada Abu Hasan Ats Tsaalits [‘alaihis salaam] “apakah dibolehkan sujud di atas kapas dan rami bukan karena taqiyyah??. Beliau berkata “boleh” [Tahdziib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 2/307-308 no 102]

Malaadz Al Akhyaar juz 4 hal 452

Al Majlisiy dalam kitabnya Malaadz Al Akhyaar 4/452 hadis no 102 berkata tentang hadis di atas “majhul”. Dan pernyataan Al Majlisiy ini benar karena Dawuud Ash Shiraamiy adalah perawi yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 217]

.

.

سعد عن عبد الله بن جعفر عن الحسين بن علي بن كيسان الصنعاني قال: كتبت إلى أبى الحسن الثالث عليه السلام أسأله عن السجود على القطن والكتان من غير تقية ولا ضرورة فكتب إلي: ذلك جائز

Sa’d dari ‘Abdullah bin Ja’far dari Husain bin ‘Aliy bin Kaisaan Aah Shan’aniy yang berkata “aku menulis kepada Abu Hasan Ats Tsaalits [‘alaihis salaam] aku bertanya kepadanya tentang sujud di atas kapas dan rami bukan karena taqiyyah dan bukan pula karena darurat”. Maka ia menulis kepadaku “hal itu boleh” [Tahdziib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 2/308 no 104]

Malaadz Al Akhyaar juz 4 hal 453

Al Majlisiy dalam kitabnya Malaadz Al Akhyaar 4/453 hadis no 104 berkata tentang hadis di atas “majhul”. Dan perkataan Al Majlisiy ini benar karena Husain bin ‘Aliy bin Kaisaan Ash Shan’aniy adalah perawi majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 175]

Dari sini saja dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil shahih di sisi Syi’ah kebolehan sujud di atas kapas dan rami bahkan justru hal itu bertentangan dengan riwayat shahih bahwa sujud harus di atas tanah atau di atas apa yang tumbuh dari tanah selain yang dimakan dan dipakai.

.

.

.

Kemudian orang itu membawakan syubhat lain bahwa orang-orang Syi’ah yang sujud di atas lempengan tanah tidak sah shalatnya karena kebanyakan mereka hidungnya tidak menyentuh tempat sujud. Orang itu membawakan riwayat berikut

فأما ما رواه أحمد بن محمد عن محمد بن يحيى عن عمار عن جعفر عن أبيه عليه السلام قال قال علي عليه السلام: لا تجزي صلاة لا يصيب الانف ما يصيب الجبين

Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Yahya dari ‘Ammaar dari Ja’far dari Ayahnya [‘alaihis salaam] yang berkata Aliy [‘alaihis salaam] berkata tidak mencukupi shalat dimana hidung tidak menyentuh apa yang disentuh dahi. [Tahdziib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 2/298 no 58]

Orang itu mengutip “katanya riwayat di atas shahih”. Hal ini keliru karena yang sebenarnya tidaklah demikian. Sebagian ulama Syi’ah menyatakan riwayat tersebut muwatstsaq seperti Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 4/429 no 58 [dan dalam ilmu hadis mazhab Syi’ah dijelaskan bahwa hadis muwatstsaq kedudukannya dibawah hadis shahih].

Pernyataan Al Majlisiy tersebut perlu diteliti kembali, dalam sanad riwayat Ath Thuusiy tersebut terdapat Muhammad bin Yahya dan disini ia adalah perawi yang tidak jelas keadaannya. Syahiid Ats Tsaniy dalam kitabnya Al Istiqshaa’ Al I’tibaar 5/227 menyebutkan bahwa ia bukan Muhammad bin Yahya Al Aththaar karena justru Al Aththaar adalah orang yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bukan sebaliknya.

Syaikh Ath Thuusiy setelah mengutip riwayat tersebut mengatakan bahwa riwayat ini dibawa kepada makna makruh meninggalkannya, melakukannya tidak wajib karena yang wajib dalam sujud adalah pada dahi sedangkan menekan hidung ke tanah adalah sunnah. [Tahdziib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 2/298 no 58]. Pernyataan Syaikh Ath Thuusiy sesuai dengan dalil berikut

محمد بن علي بن محبوب عن أحمد بن محمد عن ابن أبي نجران عن حماد بن عيسى عن حريز عن زرارة قال قال أبو جعفر عليه السلام: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: السجود على سبعة أعظم الجبهة واليدين والركبتين والابهامين وترغم بانفك ارغاما. فاما الفرض فهذه السبعة وأما الارغام بالأنف فسنة من النبي صلى الله عليه وآله

Muhammad bin ‘Aliy bin Mahbuub dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Abi Najraan dari Hammaad bin Iisa dari Hariiz dari Zurarah yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa alihi] berkata “sujud itu di atas tujuh tulang yaitu dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ibu jari kaki serta menekan hidung ke tanah. Maka yang wajib disini adalah ketujuh  tulang tersebut sedangkan menekan hidung ke tanah adalah sunnah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa alihi] [Tahdziib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 2/299 no 60]

Malaadz Al Akhyaar juz 4 hal 430

Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 4/430 hadis no 60 berkata tentang hadis di atas “shahih”. Riwayat ini lebih kuat dan lebih didahulukan dibanding riwayat sebelumnya.

Maka pendapat yang rajih di sisi mazhab Syi’ah adalah meletakkan hidung ke tanah saat sujud adalah sunnah dan makruh meninggalkannya, hal itu tidak menyebabkan shalatnya tidak sah. Hal ini sebagaimana dinyatakan Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 4/429 bahwa maknanya dibawa pada menafikan kesempurnaan bukan menafikan sah-nya shalat.

.

.

.

Penutup

Pembahasan ini telah menunjukkan kebathilan syubhat “orang itu” atas mazhab Syi’ah. Ia seolah ingin menyudutkan mazhab Syi’ah tetapi hakikatnya hanya menunjukkan kejahilannya atau mungkin ia justru mengetahui kebenaran yang kami sampaikan di atas tetapi sengaja membuat syubhat untuk mengelabui para pengikutnya. Maka jika memang demikian tidak diragukan bahwa ia adalah seorang pendusta jika sedang membicarakan mazhab Syi’ah.

Kami memang sering membela mazhab Syi’ah dan kami berterus terang akan hal itu tidak sedikitpun malu untuk mengakuinya tetapi kami bukanlah pengikut Syi’ah seperti yang dituduhkan oleh para pendusta. Bagaimana mungkin kami dituduh Syi’ah hanya karena kami membela mazhab Syi’ah dan meluruskan kedustaan atas mazhab Syi’ah.

Sejauh yang kami ingat seumur hidup kami tidak pernah sujud di atas lempengan tanah seperti pengikut Syi’ah, kami sudah biasa sujud di atas sajadah baik di masjid ataupun di rumah. Dalam pandangan kami baik sujud di atas tanah maupun sujud di atas sajadah itu dibolehkan sebagaimana telah tsabit dari hadis-hadis Ahlus Sunnah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah membolehkannya.

Seharusnya para pembenci Syi’ah itu malu ketika berdusta atas mazhab Syi’ah tetapi kenyataannya kebanyakan mereka memang tidak tahu malu. Mungkin mereka pikir demi membela agama maka tidak mengapa berdusta atas mazhab lain yang mereka sesatkan. Biarkanlah mereka hidup dalam waham khayal mereka sendiri, kami berharap semoga mereka tidak menjadi gila karena waham tersebut. Akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang ingin mengetahui kebenaran tentang mazhab Syi’ah.

Kejahilan Dan Kedustaan Al Amiriy Ketika Mentertawakan Ulama Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Kejahilan Dan Kedustaan Al Amiriy Ketika Mentertawakan Ulama Syi’ah

Tulisan singkat dan sederhana ini kami buat untuk meluruskan kejahilan dan kedustaan Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy terhadap salah satu ulama Syi’ah yaitu Sayyid Shabaah Syibr. Berikut kami kutip apa yang dikatakan Al Amiriy dalam salah satu tulisannya Mari Sejenak Melihat Kebodohan Ulama Syi’ah

Al Amiriy Sayyid Shabah

Sebenarnya kalau diperhatikan dengan baik justru Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy yang patut ditertawakan. Ia mentertawakan ulama Syi’ah yang mengatakan Al Arnab [kelinci] termasuk Al Hasyaraat karena menurut Al Amiriy makna Al Hasyaraat itu adalah serangga, kok bisa kelinci dikatakan termasuk serangga.

.

.

Beginilah contoh akibat orang yang berilmu setengah jadi yaitu ketika bercampur dengan kesombongan maka akan nampak kejahilan dan kedustaan. Terjemah kata Al Hasyaraat memang adalah serangga tetapi kata Al Hasyaraat pada dasarnya bermakna umum mencakup hewan bumi selain serangga seperti jerboa, landak, kadal bahkan kelinici [arnab]. Hal ini sudah disebutkan oleh sebagian ahli lughah [bahasa arab] dalam kitab-kitab mereka.


Lisan Arab Juz 4

Lisan Arab Juz 4 hal 191

Ibnu Manzhur dalam kitab Lisan Al Arab 4/191 berkata

الحَشَرَةُ: واحدة صغار دواب الأَرض، كاليرابيع والقنافذ والضِّبابِ ونحوها

Al Hasyarat yaitu binatang-binatang tanah yang kecil seperti jerboa, landak, dhab dan yang semisalnya

.

.

Kitab 'Ain Al Farahidiy

Kitab 'Ain Al Farahidiy hal 319

Khaliil bin Ahmad Al Farahidiy dalam kitab Al ‘Ain 1/319

والحَشَرة : ما كان من صِغار دَوابِّ الأرض مثل اليَرابيع والقَنافِذ والضبِّاب ونحوها . وهو اسمٌ جامعٌ لا يُفرَد منه الواحد إلاّ أن يقولوا هذا من الحشرة قال الضرير : الَجَرادُ والأرانِبُ والكَمْأة من الحَشَرة قد يكون دَوابَّ وغير ذلك

Al Hasyarat yaitu apa saja yang termasuk binatang-binatang tanah yang kecil seperti jerboa, landak, dhab dan yang semisalnya. Dan ia [Al Hasyarat] adalah nama bagi kumpulan yang tidak bisa digolongkan menjadi satu kecuali bahwa [mereka] mengatakan itu termasuk Hasyarat, Adh Dhariir berkata “belalang, kelinci, jamur termasuk Hasyarat, mencakup binatang dan selain itu”

.

.


Mukhashshash ibnu Siidah2

Mukhashshash ibnu Siidah

Abu Hasan ‘Aliy bin Isma’iil An Nahawiy yang dikenal Ibnu Siidah dalam kitab Al Mukhashshash 8/91

قال أبو خيرة حشرة الأرض الدواب الصغار منها اليربوع والضب والورل والقنفذ والفأرة والزبابة والجرذ والحرباء والعظاية وأم حبين والعضرفوط والطحن وسام أبرص والدساسة وهي العنمة والشقذان والثعلب والهر والأرنب

Abu Khairah berkata Hasyarat binatang tanah yang kecil seperti jerboa, dhab, biawak, landak, tikus, lalat, belalang, bunglon, kadal, tokek gurun, ‘adhrafuuth [sejenis kadal], ath thuhan [sejenis kadal], tokek, ad dassaasah yaitu ‘anamah [sejenis kadal], asy syiqdzaan [sejenis kadal], garangan, kucing, kelinci…

.

.

.

Apa yang dikatakan oleh Ulama Syi’ah tersebut ternyata hampir mirip dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama ahlus sunnah yaitu pada sisi makna Hasyarat disana adalah umum bukan bermakna serangga. Silakan perhatikan contoh berikut

.

.

Majmu Syarh Nawawi hal juz 9

Majmu Syarh Nawawi hal juz 9 14

Imam Nawawiy dalam Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 9/14 dimana ia menukil perkataan Asy Syiiraaziy

ولا يحل أكل حشرات الارض كالحيات والعقارب والفار والخنافس والعظاء والصراصير والعناكب والوزغ وسام أبرص والجعلان والديدان وبنات وردان وحمار قبان لقوله تعالى يحرم عليهم الخبائث

Dan tidak dihalalkan memakan hasyaraat bumi seperti ular, kalajengking, tikus, kumbang, kadal, jangkrik, laba-laba, cicak, tokek, kumbang kotoran, cacing, kecoa dan kutu kayu, sebagaimana firman Allah ta’ala “diharamkan atas mereka segala yang buruk”

.

.

Muhalla Ibnu Hazm juz 7

Muhalla Ibnu Hazm juz 7 hal 405

Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitabnya Al Muhalla 7/405 no 995 keharaman hasyarat

ولا يحل أكل الحلزون البري , ولا شيء من الحشرات كلها : كالوزغ ، والخنافس , والنمل , والنحل , والذباب , والدبر , والدود كله

Tidak dihalalkan memakan bekicot, dan tidak pula hasyarat seluruhnya seperti cicak, kumbang, semut, lebah, lalat, dan seluruh cacing

.

.

.

Apakah Al Amiriy akan menerjemahkan hasyarat di atas sebagai serangga?. Apakah cicak, ular, tikus, cacing, kadal termasuk serangga?. Apakah mau dikatakan alangkah bodohnya para ulama di atas?. Atau justru sebenarnya Al Amiriy inilah yang jahil. Kalau Al Amiriy tidak mengetahui makna hasyarat di sisi para ulama maka sudah sepantasnya ia dikatakan jahil tetapi kalau ia tahu makna hasyarat tersebut dan tetap mencela ulama Syi’ah seperti yang ia katakan di bawah ini

Al Amiriy bodoh ulama

Maka sungguh Al Amiriy ini sangat layak dikatakan pendusta. Lucu sekali perkataannya “ulama Syi’ah yang pemikirannya di luar akal sehat” itu berarti para ulama ahli lughah di atas dan ulama ahlus sunnah adalah orang yang pemikirannya di luar akal sehat. Cukuplah para pembaca ketahui bahwa hakikat sebenarnya adalah justru Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy ini orang yang pemikirannya di luar akal sehat. Salam Damai

Syubhat Syi’ah Jama’ Tanpa Udzur : Kejahilan Luar Biasa Toyib Mutaqin

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Syubhat Syi’ah Jama’ Tanpa Udzur : Kejahilan Luar Biasa Toyib Mutaqin

Kami membaca bantahan yang luar biasa jahil atas tulisan kami tentang shalat jama’ dari seorang jahil yang bernama Toyib Mutaqin. Dalam bantahannya ia sok bergaya ulama sok menuduh orang curang menterjemahkan padahal ia sendiri yang jahil. Orang ini tong kosong nyaring bunyinya dan ya kami juga cukup sering melihat kejahilannya ketika ia berdiskusi di forum facebook Multaqa Ahlalhdeeth Indonesia.

Salah satu kejahilannya dalam forum tersebut adalah ketika ia berhujjah dengan hadis atau riwayat dalam kitab Musnad Zaid bin Aliy bin Husain, padahal orang yang memang membaca kitab tersebut dari awal maka akan mengetahui kalau kitab tersebut tidak layak dijadikan hujjah di sisi Ahlus Sunnah karena salah satu perawi kitab tersebut adalah seorang pendusta pemalsu hadis. Dan puncak kejahilannya adalah ketika ia mengatakan bahwa “hukum asal suatu hadis itu shahih”. Kami sampai terkejut melihat kejahilan yang luar biasa seperti ini. Orang yang baru belajar ilmu hadis saja kami yakin tidak akan mengatakan hukum asal suatu hadis adalah shahih.


jahil toyib muttaqin

Kami nukilkan disini contoh kejahilannya agar para pembaca melihat jangan tertipu dengan kesombongannya dalam membantah, menuduh orang lain curang padahal justru akalnya yang sudah kelewat rusak tidak mampu dengan baik memahami apa yang ia baca.

Toyib Syubhat Jamak

.

.

.

Kami akan membahas bantahan orang ini dan menganalisisnya secara objektif agar terungkap bagi para pembaca kejahilan-kejahilannya. Tulisan jahil tersebut dapat para pembaca lihat disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2015/03/syubhat-syiah-jama-tanpa-udzur.html

Berikut bantahan Toyib Mutaqin yang kami quote dan kami tunjukkan betapa jahilnya manusia satu ini

Komentar : iya memakai kaca mata syariat bukan kaca mata syiah pelaknat.hukum syariat berputar sesuai ‘illat,memang susah dialog dg pembenci ulama’ dan kaidah ulama’,malah berpegang tafsir hawa nafsu belaka.kalau tafsir tidak dalam bimbingan ulama’ udah pasti dalam bimbingan syetan laknatulloh.

Tidak usah sok wahai jahil, bagian mana dalam tulisan kami yang anda tuduh memakai kacamata Syi’ah pelaknat. Kejahilan anda wahai Toyib tidak paham bahwa pandangan yang anda tuduh kacamata Syi’ah itu juga berasal dari segelintir ulama ahlus sunnah dan hadis-hadis ahlus sunnah. Kalau akal sudah kelewat rusak memang begitulah adanya. Dan apa buktinya anda menuduh kami pembenci ulama?. Kalau tidak ada bukti maaf tolong akui kalau anda sedang berdusta.

Komentar : dimana nabi membolehkan,itu Cuma dari kantong ente sendiri.justru ente menyelisihi petunjuk nabi,kalau tanpa udzur boleh,untuk apa menunjukkan adanya udzur syar’i.Cuma logika syiah yg sakit yg bisa menerima

Cuma orang jahil yang bertanya padahal jawaban sudah ada di depan matanya. Tidak diragukan kalau kantong anda sudah penuh dengan ilmu-ilmu rusak dan ilmu agama setengah jadi sehingga anda tidak bisa melihat kebenaran dalam hujjah orang lain. Hadis shahih Ibnu ‘Abbas [yaitu riwayat Abdullah bin Syaqiiq] adalah hujjah pemutus dalam perkara ini dimana Ibnu ‘Abbas sendiri melakukan shalat jamak padahal ia tidak memiliki udzur saat itu. Beliau sedang berkhutbah dan ingin tetap meneruskan khutbahnya. Dimana letak udzurnya wahai Toyib?. Maaf anda paham atau tidak artinya udzur. Atau anda pikir berkhutbah itu termasuk udzur syar’i yang anda maksud?. Coba sebutkan ulama mana yang mengatakan khutbah itu termasuk udzur?

Perkataan anda “cuma logika syi’ah yang sakit yang bisa menerima” hanya menunjukkan kejahilan anda. Anda mau kemanakan para ulama yang masih masuk dalam lingkup ahlus sunnah dimana mereka membolehkan shalat jamak tanpa adanya udzur. Tolong kalau berbicara itu hati-hati jangan membantah sampai kebablasan. Maaf, anda ini seperti katak dalam tempurung jelmaan tong kosong nyaring bunyinya. Berbicara terlalu banyak dan nyaring tetapi ilmunya terjun bebas ke dasar laut.

Komentar : kalau Cuma bermodalkan hadits ini lalu menyimpulkan boleh tanpa udzur???lafadz yg mana yg menunjukkan? kalau gak ada qorinah ya kembali ke hukum asal,kan begitu?bukan ditafsiri tanpa udzur.sungguh lucunya..

Maaf kalau akal anda rusak tolong diperbaiki dahulu. Qarinah dalam hadis Ibnu Abbas itu sangat jelas sekali sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Abdullah bin Syaqiiq. Yang lucu justru anda wahai Toyib asal bantah tapi tak ada isinya alias tong kosong nyaring bunyinya.

.

.

.

Komentar : itu bukan syubhat, tapi pendapat ulama’ mu’tabar.justru pendapat ente yg ngawur yg kena syubhat syiah suka melaknat  akhirnya terlaknat.

Pendapat ulama siapa yang anda maksud Asy Syaukaniy kah? Lha itu sudah dibuktikan bahwa ia telah keliru dalam berhujjah dengan hadis yang mengandung idraaj. Zhahir riwayat-riwayat Ibnu ‘Abbas [terutama riwayat Abdullah bin Syaqiiq] telah menafikan pendapat jama’ shuuriy. Kami yakin anda tidak mampu memahaminya karena akal anda sudah kelewat rusak.

Silakan tuh anda baca An Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim dimana Ia telah melemahkan dan menganggap bathil penakwilan jamak shuuriy tersebut berdasarkan zhahir riwayat Ibnu ‘Abbaas [Syarh Shahih Muslim An Nawawiy 5/218]. Atau silakan anda lihat Ibnu Hajar yang berhujjah dengan lafaz hadis ketika ditanya mengapa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukannya, dijawab bahwa Beliau menginginkan tidak menyulitkan umatnya. Ibnu Hajar melanjutkan bahwa lafaz ini menafikan penakwilan jama’ shuriy karena jamak shuuriy justru tidak melepaskan dari kesulitan [Fath Al Bariy 2/31].

Sebagai informasi tambahan kami nukilkan apa yang dikatakan Syaikh Ahmad Syakiir dalam catatannya terhadap hadis riwayat Ahmad [Musnad Ahmad hadis no 1918] yang terkait dengan jamak shuuriy ini.

Syaikh Ahmad Syakiir Jamak Shuuriy

Oh iya apa tadi yang anda katakan tentang pendapat kami “terkena syubhat Syi’ah suka melaknat akhirnya terlaknat”. Kalau begitu ulama seperti An Nawawiy, Ibnu Hajar dan Syaikh Ahmad Syakiir yang membantah jamak shuuriy di atas mau anda sebut juga “kena syubhat Syi’ah suka melaknat akhirnya terlaknat”?. Please deh mulutnya itu [uups tangannya yang ngetik kali ya], kayaknya andalah yang lebih pantas disebut pembenci ulama. Maaf sepertinya kami lebih bisa menjaga lisan kami terhadap para ulama, kalau sebagian ulama salah kami cukup katakan salah atau kami katakan pendapat mereka mengandung syubhat. Lucunya sikap kami tersebut anda katakan membenci ulama sedangkan tingkah anda apa mau anda sebut pembela ulama. Seperti inilah hakikat orang jahil ketika ia berbicara melampaui batas ilmunya.

.

.

.

Komentar : he..sok gak pernah salah ketik,padahal ente jelas lebih parah,ente salah jelas terjemahan,tapi gak nyadar..kasihaan..lihat ente artikan وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ “. Dan mengakhirkan shalat ashar”ini jelas kesalahan yg nyata.

Maaf justru anda yang tidak tahu malu, tidak sadar bahwa akal anda sudah rusak. Silakan baca baik-baik yang menerjemahkan perkataan Asy Syaukaniy itu adalah Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy, kami langsung kopipaste itu dari tulisannya. Perhatikan baik-baik apa yang kami tulis sebelumnya wahai jahil

https://secondprince.wordpress.com/2015/02/24/shalat-tiga-waktu-dengan-alasan-jama-kritik-untuk-muhammad-abdurrahman-al-amiry/

Nukilan SP Dari Amiry

Bukankah kami menuliskan disana kalimat “Oleh karena itu nampak jelas kekeliruan Asy Syaukaniy yaitu ulama yang dikutip oleh Al Amiriy perkataannya”. Kami sedang menanggapi nukilan Asy Syaukaniy yang ditulis oleh Al Amiriy. Jadi terjemahan perkataan Asy Syaukaniy adalah tulisan Al Amiriy bukan terjemahan dari kami, paham anda wahai jahil.

Silakan boleh dicek langsung ke situs Al Amiry mengenai terjemahan nukilan Asy Syaukaniy tersebut. Para pembaca bisa melihatnya disini

http://www.alamiry.net/2015/02/shalat-3-waktu-sehari-hari-dengan.html

Terjemahan Amiriy

Kami tampilkan disini agar jika nanti Al Amiriy mengedit situsnya kami tetap memiliki bukti. Yah hal ini sebagaimana ketika Al Amiriy salah menukil hadis Nasa’iy yang ia sebut hadis Bukhariy dan Muslim. Memang sudah diedit oleh Al Amiry tapi kami tetap memiliki bukti bahwa sebelumnya ia memang menulis riwayat Bukhariy dan Muslim.

Kembali pada anda wahai Toyib, wajar sekali kalau anda semakin banyak membaca semakin jahil karena anda tidak mengerti dengan baik apa yang anda baca. Sehingga ilmu yang didapat rusak atau setengah jadi. Kami sarankan tolong jangan mempermalukan diri anda lagi, sudah cukuplah anda mempertontonkan kejahilan yang luar biasa. Jangan merendahkan diri anda lebih rendah lagi. Ck ck ck kasihan alangkah memalukannya ulah anda, ingin menyalahkan orang padahal justru menunjukkan kejahilan diri sendiri.

Seandainya pun kami melakukan salah ketik ya itu tidak masalah. Hal seperti itu sering terjadi pada kami, kapan kami mengatakan kepada anda wahai jahil dengan sok bahwa kami tidak pernah salah ketik. Begitulah memang pengidap waham sering menisbatkan kedustaan kepada orang lain. Ketika ditanya bukti maka tidak ada yang bisa ia tunjukkan kecuali waham khayalnya.

.

.

.

Komentar : sungguh lucunya,sejak kapan menukil idroj berarti pendapatnya keliru, perawi hadits tentu lebih mengerti pake bangeet daripada kesimpulan ente yg konyol itu.

Alangkah memalukannya ocehan anda itu. Asy Syaukaniy tidak menyebutkan tentang idraaj wahai jahil, Ia justru tidak tahu kalau lafaz tersebut adalah idraaj. Ia mengira bahwa lafaz itu adalah perkataan Ibnu ‘Abbaas kemudian ia berhujjah dengannya. Nah disitulah letak kekeliruannya.

Coba anda lihat apa yang dikatakan Asy Syaukaniy [sebagaimana dinukil Al Amiry]. Asy Syaukaniy menjadikan lafaz idraaj tersebut sebagai perkataan Ibnu Abbas dimana Ibnu Abbas adalah perawi hadis tersebut. Yang ingin ditunjukkan Asy Syaukaniy adalah Ibnu Abbaas sebagai perawi hadis tersebut menjelaskan bahwa itu adalah jamak shuuriy. Sayang sekali hujah ini mandul karena lafaz yang disangkakan sebagai lafaz Ibnu Abbaas adalah idraaj dari perawi setelahnya yaitu dari kalangan tabiin.

Kalau anda katakan seorang tabiin lebih mengetahui atau lebih mengerti hadis yang ia riwayatkan lantas mengapa ia tidak konsisten malah di saat lain ia menyatakan zhan yang lain. Dari situ saja dapat dilihat bahwa zhan tersebut tidak menjadi hujjah, kecuali maaf jika memang akal anda tidak nyampe kesana. Dan kesimpulan kami menolak penakwilan jamak shuuriy justru berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] selaku sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut.

Apakah kalau itu terbukti idraj terus serta merta bukan hujjah alias bukan bahan pertimbangan sama sekali,jelas ini pembodohan yg nyata.

Imam alfasawi dalam fathul mughits hal 224 menjelaskan jika dalam hal tafsir matan maka itu hujjah,tentu jauh lebih dipertimbangkan daripada ucapan ente yg ngawur versi syiah yg tidak peduli ucapan sahabat bahkan memaki mereka.apalagi jika ucapan sahabat itu tidak bertentangan dg sahabat lain walaupun berbeda penafsiran namun berujung sama yaitu udzur syar’I bukan tanpa alasan kayak syiah sesat.dan itu bukan medan akal/ijtihad serta berkesesuaian dg ushul syariat.

Diriwayatkan juga oleh ar-Rabi’, bahwa Imam Syafi’i di dalam kitab al-Umm (kitab yang baru) berkata: “Jika kami tidak menjumpai dasar-dasar hukum dalam al-Qur’an dan sunnah, maka kami kembali kepada pendapat para sahabat atau salah seorang dari mereka. Kemudian jika kami harus bertaqlid, maka kami lebih senang kembali (mengikuti) pendapat Abu Bakar, Umar atau Usman. Karena jika kami tidak menjumpai dilalah dalam ikhtilaf yang menunjukan pada ikhtilaf yang lebih dekat kepada al-Qur’an dan sunnah, niscaya kami mengikuti pendapat yang mempunyai dilalah”.(al-Umm, juz 7, hal. 247 )

Sok berhujjah dengan penjelasan ulama padahal hakikatnya jahil. Anda ini mengerti apa tidak apa yang anda baca?. apa yang anda kutip itu sebagaimana anda tulis sendiri adalah tentang penafsiran sahabat, lha sekarang yang dipermasalahkan disini adalah zhan [dugaan] perawi setelah shahabat yaitu dari kalangan tabiin. Perhatikan juga wahai jahil bahwa itu adalah “zhan [dugaan]” tabiin itu tidak memastikan, oleh karena itu di saat lain ia menyebutkan zhan [dugaan] yang lain.

Kemudian telah kami tunjukkan bahwa zhan [dugaan] perawi tersebut tidak menjadi hujjah. Mengapa? Karena disaat lain ia menduga bahwa itu karena hujan. Jadi mana yang benar jamak shuuriy atau karena hujan?. Dan yang lebih menguatkan bahwa zhan perawi tersebut tidak menjadi hujjah adalah hadis Ibnu ‘Abbaas [riwayat ‘Abdullah bin Syaqiiq] bahwa itu memang betul-betul shalat jamak bukannya jamak shuuriy. Jadi Ibnu Abbaas selaku perawi hadis tersebut telah menjelaskan bahwa itu memang betul shalat jamak. Oh iya kami sudah menunjukkan sebagian ulama yang membantah jamak shuuriy, silakan tuh diperhatikan.

Jama’ shuri dan jama’ beneran tidaklah bertentangan dan kedua cara itu haq,tidak perlu dipertentangkan kecuali bagi orang yg gagal faham kayak syiah rusak logika ini.ibnu abbas pun tidak pernah melarang jama’ shuri, jadi walaupun beliau jama’ beneran tidak lantas membatalkan pembolehan jama’ shuri karena ada hadits yg menjelaskan hal itu,serta rukhsoh atau kesulitan seseorang bertingkat-tingkat.oleh karenanya ada kaidah yg masyhur : hukum itu berputar sesuai dengan ‘illah-nya, ada atau tidaknya ‘illah tersebut (kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut, kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya)

Jahil ooh jahil, Silakan bawakan dalil shahih wahai jahil bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah melakukan jamak shuuriy, insya Allah itu akan jadi tambahan ilmu bagi kami. Lucunya anda mengatakan Jamak shuuriy dan Jama’ beneran tidaklah bertentangan?. Ini perkataan orang jahil, Jamak shuuriy hakikatnya bukan Jamak beneran, itu sudah ma’ruf di kalangan ulama. Yang dipermasalahkan disini adalah shalat Jamak yang dibicarakan oleh Ibnu Abbaas itu apakah Jamak shuuriy atau apakah itu Jamak yang sebenarnya?. Jadi gak perlu ngalor ngidul tidak karuan bicara ini itu, padahal hakikat permasalahan saja tidak paham.

Jawab saja pertanyaan ini?. Shalat Jamak yang dimaksudkan Ibnu Abbas dalam hadisnya itu apakah Jamak shuuriy atau Jamak sebenarnya?. Jawabannya cuma satu gak bisa dua-duanya dan sudah kami bawakan bukti hadis Ibnu Abbaas [riwayat Abdullah bin Syaqiiq] kalau shalat Jamak itu adalah Jamak sebenarnya. Kalau anda sok mengatakan dua-duanya tidak bertentangan maka silakan bawakan bukti hadis shahih yang menunjukkan bahwa Ibnu Abbaas mengatakan shalat jamak itu adalah Jamak shuuriy. Jangan berhujjah dengan zhan [dugaan] perawi justru Ibnu Abbaas sebagai sahabat yang menyaksikan jauh lebih paham dibanding perawi setelahnya. Mengerti anda wahai jahil.

Jadi mempertentangkan sesuatu yg sama2 ada nashnya adalah kejahilan yg rusak

Imam Syafii mengatakan, “Tentang masalah ini terdapat banyak pendapat. Di antaranya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat di Madinah dengan tujuan memberi kelonggaran untuk umatnya sehingga tidak ada seorangpun yang berat hati untuk menjamak shalat pada satu kondisi”. Setelah itu beliau mengatakan,

” وليس لأحد أن يتأوّل في الحديث ما ليس فيه “

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengotak atik hadits dengan hal yang tidak terdapat di dalamnya” (Al Umm 7/205).

Halah cuma bisa menukil doang tapi tidak paham apa yang dinukil. Mana nash dari Ibnu Abbaas bahwa itu adalah Jamak Shuuriy. Buktikan dulu ini baru sok bicara “sesuatu yang sama-sama ada nash-nya”.

Apa yang anda kutip itu menentang anda sendiri. Tidak boleh bagi seorangpun mengotak atik hadis dengan hal yang tidak terdapat di dalamnya. Maka silakan tuh lihat mana ada dalam hadis Ibnu Abbaas bahwa yang dimaksud adalah Jamaak Shuuriy bahkan dalam hadis Ibnu Abbas, shalat Jamak yang dimaksud adalah jamak sebenarnya. Jadi sangat tidak pantas ketika zhahir hadis telah jelas maka anda berhujjah dengan zhan [dugaan] perawi padahal justru zhan perawi tersebut yang sedang mengotak atik hadisnya. Buktinya perawi tersebut tidak konsisten sekedar menduga-duga kadang berkata jamak shuuriy kadang berkata jamak karena udzur hujan.

.

.

.

Komentar : inilah ente selalu membuat kesimpulan yg dipaksakan,mana kata-kata boleh tanpa udzur???gak ada,itu Cuma dari kantong ente sendiri.justru menunjukkan bahwa al haroj / kesulitan adalah termasuk udzur syar’I dalam menjama’ sholat,bukan dibawa tanpa udzur.

Wahai jahil, sebelum banyak bicara tolong jawab mana contoh hadis yang mengandung lafaz “jamak shuuriy”. Silakan bawakan hadis Ibnu Abbaas dengan lafaz “jamaak shuuriy”. Jadi bukan cuma anda kok yang bisa berhujjah kepada kami mana kata-katanya?. Kami juga bisa bertanya pada anda mana kata-katanya “jamak shuuriy” yang anda jadikan hujjah sebelumnya. Jangan sok berhujjah mana lafaz atau mana kata-katanya kalau anda sendiri tidak paham.

Jelas sekali hadis Ibnu ‘Abbaas tidak menyebutkan udzur yang terjadi pada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu. Pahami baik-baik wahai jahil namanya udzur itu sebabnya ada pada saat kejadian. Adapun yang dikatakan Ibnu ‘Abbaas adalah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ingin tidak menyulitkan umatnya. Ibnu Abbaas bukan sedang  menjelaskan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu sedang mengalami udzur kesulitan, ini namanya pemahaman orang jahil. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu mengalami udzur maka Ibnu Abaas akan menyebutkan udzur tersebut. Al Baghawiy setelah meriwayatkan hadis ini justru mengatakan hadis ini adalah dalil dibolehkan shalat jamak tanpa udzur. Bukankah perawi hadis dalam hal ini Al Baghawiy lebih paham hadis yang ia riwayatkan dibanding anda yang jahil.

Komentar : bukan syiah kalau tidak curang ilmiah, dari nukilan albaghowi jelas itu pendapat sedikit dari ahli hadits,adapun ibnu sirrin tidak berpendapat demikian,namun si syiah ini membuat seolah-olah ibnu sirrin juga mengakuinya dg menaruh koma di depan nama ibnu sirrin serta tidak mengartikan huruf  wawu yg itu menunjukkan bukan bagian kalimat sebelumnya,inilah kecurangan yg sering dilakukan syiah,yg harus diwaspadai.

Ternyata selain jahil anda memang pendusta. Dimana letak kecurangan kami?. Anda itu sudah terkena penyakit waham skizofrenik alias ngayal yang bukan-bukan tapi sok yakin betul. Padahal mana ada kami mengesankan macam-macam. Yang kami jadikan hujjah adalah Al Baghawiy memahami hadis tersebut sebagai dalil membolehkan shalat jamak tanpa udzur. Dan itu memang terbukti dari nukilan yang kami tuliskan. Dimana letak curangnya wahai jahil.

Jadi jangan bawa-bawa khayalan dusta anda terhadap kami. Mana perkataan kami yang curang? Mana perkataan kami yang anda tuduh membuat seolah-olah Ibnu Sirin mengakuinya?. Apalagi soal terjemahan koma dan huruf waw, maaf ya anda ini sok berlagak paling tahu menerjemahkan dan meganggap orang lain menerjemahkan dengan curang. Silakan tinggal tambahkan arti huruf waw dan lihat apakah beda maknanya dengan terjemahan kami. Tentu saja tidak, cuma orang yang menderita waham paranoid yang membeda-bedakannya. Ditunggu wahai pendusta, mana bukti tuduhan anda bahwa kami mengesankan Ibnu Sirin begini begitu?.

Apalagi kalau lanjutkan nukilannya akan semakin menyingkap kebusukannya yaitu :

وذهب أكثر العلماء إلى أن الجمع بغير عذر لا يجوز

Dan kebanyakan ulama’ berpendapat bahwa jama’ tanpa udzur tidak boleh

Justru anda yang busuk wahai Toyib, apa pernah kami menafikan bahwa banyak ulama tidak membolehkan shalat jama’ tanpa udzur?. Kami lebih berpegang pada hadis shahih yang membolehkannya dan berpegang pada sedikit ulama yang membolehkan shalat jama’ tanpa adanya udzur jika memang memiliki hajat atau keperluan. Mengapa? Karena mereka memiliki dalil yang lebih kuat dan lebih rajih.

Bolehlah anda mengatakan busuk jika memang kami mengada-adakan sesuatu atau berdusta atas nukilan ulama misalnya jika kami mengatakan jumhur ulama membolehkan shalat jamak  tanpa udzur, kenyataannya tidak pernah kami mengatakan demikian. Lha ini dengan jelas kami menyatakan bahwa Al Baghawiy memahami hadis Ibnu Abbaas sebagai dalil boleh shalat jamak tanpa udzur dan itu terbukti dari nukilan yang kami tampilkan. Eeeh anda datang-datang menuduh kami curang busuk dengan mempermasalahkan Ibnu Sirin dan nukilan lain yang tidak ada hubungannya. Jaka sembung makan pepes ya gak nyambung keles. Maaf, akal anda itu sepertinya rusak cukup parah ya.

Ibnu Mundzir shalat jamak

Selain Al Baghawiy, Ibnu Mundzir juga memahami hadis Ibnu ‘Abbaas tersebut tanpa ada udzur. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa hadis Ibnu ‘Abbaas tersebut bukan bermakna adanya uzur karena dalam hadis tersebut telah dikabarkan oleh Ibnu Abbaas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ingin tidak menyulitkan umatnya. Hal ini sebagaimana dinukil dalam ‘Aun Al Ma’buud ‘Alaa Sunan Abu Daawud hal 578

.

Komentar : itu hadits ma’lul alias dho’if alias lemah.tentang Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy, imam ahmad telah melemahkannya :

ضعفه على كل حال ، من كتاب وغير كتاب ، وقال : ما أضعف حديثه

Beliau melemahkan atas segala keadaannya,baik dg kitab atau tana kitab,dan beliau berkata heran : apakah yg lebih lemah dari haditsnya.

Imam abu ja’far al uqoiliy memasukkannya dalam daftar barisan perawi – perawi lemah.

Imam abu hatim mengatakan : يخطئ  dia keliru

Imam annasai berkata : ليس بقوي في الحديث bukanlah perawi yg kuat dalam hadits

Imam ibnu hajar : صدوق يخطىء من حفظه shoduq sering keliru dari hafalannya

,begitu pula imam ibnu rojab dalam al fath 3/84 :

محمد بن مسلم ليس بذاك الحافظ

Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy bukanlah seorang yg hafidz.

Maaf belajar dulu sana ilmu Musthalah hadis, baru sok bicara hadis dan jarh wat ta’dil. Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy memang diperselisihkan tetapi pendapat yang rajih ia seorang yang shaduq. Hadisnya hasan jika tidak ada penyelisihan.

Berikut keterangan rinci mengenai Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy. Ia adalah perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. ‘Abdurrahman bin Mahdiy meriwayatkan darinya [dan telah dikenal bahwa ia hanya meriwayatkan dari perawi yang tsiqat dalam pandangannya]. Ahmad mendhaifkannya. Yahya bin Ma’in menyatakan ia tsiqat jika meriwayatkan dari hafalannya terkadang keliru dan jika meriwayatkan dari kitabnya maka tidak ada masalah padanya. Ibnu Adiy berkata “ia memiliki hadis-hadis hasan gharib, ia hadisnya baik tidak ada masalah padanya, dan aku tidak melihat ia memiliki hadis mungkar”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “terkadang keliru”. Al Ijliy dan Abu Dawud berkata “tsiqat”. As Saajiy berkata “shaduq sering salah dalam hadis”. Yaqub bin Sufyaan berkata “ tsiqat tidak ada masalah padanya” [Tahdzib At Tahdzib 6/46 no 7434]

Dengan mengumpulkan perkataan para ulama jarh wat ta’dil maka disimpulkan bahwa kedudukannya adalah shaduq hasanul hadis. Adapun kesalahan atau kekeliruan yang dinisbatkan padanya tidak menjatuhkan hadisnya ke derajat dhaif. Ia seorang yang hadisnya hasan jika tidak ada penyelisihan. Penulis kitab Tahrir Taqrib At Tahdziib telah mengumpulkan jarh dan ta’dil terhadapnya dan menyimpulkan dia seorang yang shaduq hasanul hadis.

Muhammad bin Muslim Ath Thaifiy

Tidak seperti anda wahai Toyib yang seenaknya berpegang begitu saja pada ulama yang mendhaifkan. Silakan lihat kalau menuruti gaya dan cara berpikir anda maka bukankah diri anda lebih tepat dikatakan busuk, anda kemanakan para ulama yang menyatakan Muhammad bin Muslim tsiqat dan shaduq. Anda hanya menukil ulama yang mengkritiknya saja tetapi tidak menukil para ulama yang memujinya. Silakan katakan curang dan busuk kepada diri anda wahai jahil.

Kalaupun shohih bukan dalil jama’ tanpa udzur karena tanpa ‘illah bukan berarti tanpa udzur kayak tafsir ente yg ngawur.tapi maksudnya tanpa keadaan sakit dan semisalnya.itulah tafsir ulama’ yg membedakan ‘illah dan udzur.begitu pula nabi membedakan dalam hadits :

من ترك الجمعة ثلاث مرات من غير عذر ولا علة طبع الله على قلبه

Barangsiapa meninggalkan sholat jum’at tiga kali tanpa udzur dan ‘illah maka akan menstempel hatinya.

Imam azzarqoni dalam syarh azzarqoni ‘alal muwattho’ :

من مرض ونحوه ( ولا علة )

Dan tanpa ‘illah maksudnya tanpa keadaan sakit dan semisalnya

Subhanallah, apalagi komentar yang ini sungguh luar biasa jahil. Kejahilan pertama anda mengatakan tanpa illah [sebab] bukan berarti tanpa udzur. Dan anda mengatakan illah itu seperti sakit dan semisalnya. Kalau begitu wahai jahil yang anda maksud Udzur itu apa?. Apa anda mau mengatakan bahwa sakit bukan Udzur bagi shalat jamak?. Sakit bukan Udzur tapi Illah bagi shalat Jamak, begitukah yang anda maksud. Rasanya ingin tertawa tapi melihat anda seperti ini, disitu kadang kami merasa sedih. Please, tolong dipikir dulu dengan baik sebelum membantah. Siapapun tahu kalau yang namanya istilah Udzur adalah illah [sebab] yang menghalangi.

Kejahilan kedua, hadis yang anda jadikan hujjah mengenai lafaz Udzur bersamaan dengan lafaz Illat adalah hadis yang dhaif karena mursal

وحدثني عن مالك عن صفوان بن سليم قال مالك لا أدري أعن النبي صلى الله عليه وسلم أم لا أنه قال من ترك الجمعة ثلاث مرات من غير عذر ولا علة طبع الله على قلبه

Dan telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Shafwaan bin Sulaim, Malik berkata “aku tidak mengetahui apakah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau tidak bahwa Beliau berkata barang siapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali tanpa udzur dan tanpa sebab maka Allah SWT akan menutup hatinya [Al Muwatta Malik 1/168 no 297]

Sebagaimana disebutkan Az Zarqaniy bahwa Shafwaan bin Sulaim adalah tabiin tsiqat [Syarh Az Zarqaaniy ‘Alaa Al Muwatta 1/209]. Maka berdasarkan kaidah ilmu hadis, hadis tabiin langsung dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah mursal tidak shahih sanadnya.

Silakan cari dan buktikan sanad shahih hadis dengan lafaz riwayat Malik di atas yang mengandung kata illat dan udzur bersama-sama. Jika tidak bisa maaf kami khawatir anda termasuk orang yang dengan sengaja berdusta atas nama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bukankah anda berkata “begitu pula Nabi membedakan dalam hadits”. Silakan buktikan, semoga anda sadar wahai jahil bahwa berbicara soal hadis itu tidak asbun dan tong kosong nyaring bunyinya.

.

.

.

Komentar : sekali ente curang ilmiah.ente ngacak terjemahan sehingga muncul kalimat : membolehkan secara mutlak,.padahal kata mutlak itu dibelakang setelah ada hajat ,inilah pengaburan makna.seharusnya dikatakan: membolehkan shalat jama’ ketika mukim untuk hajat secara mutlak .jadi yg mutlak itu jika ada hajat saja.

Maaf anda bilang kami ngacak terjemahan, silakan mari kita bandingkan wahai jahil

  1. Terjemahan kami : membolehkan secara mutlak shalat jama’ ketika mukim karena ada keperluan
  2. Terjemahan anda : membolehkan shalat jama’ ketika mukim untuk hajat secara mutlak

Lha intinya kan sama saja, lafaz secara mutlak itu memang tertuju pada ketika mukim dan ada keperluan. Nah intinya memang tidak perlu ada udzur, yang penting kalau memang ada hajat [keperluan] ya boleh dilakukan shalat jamak.

Itu cuma beda posisi kata saja, sama seperti kalimat “si jahil pergi ke pasar pada hari minggu” dan kalimat “pada hari minggu si jahil pergi ke pasar”. Atau dengan kalimat “kami menganalisis tulisan ini secara objektif” dan kalimat “kami menganalisis secara objektif tulisan ini”. Ya sami mawon maknanya sama saja. Maka orang yang meributkan hal ini adalah orang yang luar biasa jahil.

Jadi ijma’ itu tetap tegak berdiri kokoh dari mulut jahil syiah macam ente.

Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi rahimahullah dalam Al-Istidzkar:

وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الْجَمْعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي الْحَضَرِ لِغَيْرِ عُذْرِ الْمَطَرِ إِلَّا طَائِفَةً شَذَّتْ

“Dan para ulama telah berijma’ bahwasanya tidak diperbolehkan menggabungkan 2 shalat ketika mukim (tidak safar) tanpa adanya udzur hujan, kecuali sebuah kelompok yang menyimpang (mereka membolehkan)” (Al-Istidzkar 2/211)

Apanya yang berdiri kokoh?. Tinggal diuji saja wahai jahil klaim ijma’ tersebut. Perhatikan ucapan ulama yang anda nukil bahwa telah ijma’ tidak diperbolehkan menjamak shalat tanpa ada udzur hujan. Uji dengan fakta berikut yaitu sebagian ulama membolehkan shalat jamak ketika mukim karena sakit. Kalau anda wahai jahil mau bilang “sakit” itu termasuk Udzur, ya kami jawab memang, terus ijma’ yang anda nukil itu kan Udzurnya hujan. Apa ada tuh disebut udzur sakit?. Fakta ini saja sudah membatalkan klaim ijma’ tersebut. Apalagi dengan fakta sebagian ulama membolehkan shalat jamak tanpa ada udzur, contohnya itu yang dikatakan Al Baghawiy dan ia nukil pula pendapat tersebut dari segelintir ahli hadis

هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ الْجَمْعِ بِلا عُذْرٍ ، لأَنَّهُ جَعَلَ الْعِلَّةَ أَنْ لا تَحْرَجَ أُمَّتُهُ ، وَقَدْ قَالَ بِهِ قَلِيلٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ

Hadis ini menjadi dalil dibolehkannya menjama’ shalat tanpa adanya uzur, karena Beliau telah menjadikan sebabnya sebagai tidak menyulitkan umatnya, Dan sungguh telah berkata demikian sedikit dari ahlul hadis

Kemudian ditambah fakta yang dinukil Ibnu Hajar bahwa sebagian ulama telah membolehkan menjamak shalat ketika mukim jika ada hajat atau keperluan. Intinya bukan karena udzur hujan ataupun udzur yang lainnya. Apa anda mau katakan bahwa hajat atau keperluan adalah Udzur?. Lama-lama kambingpun bisa jadi sapi dalam akal jahil anda.

Gampangnya lihat saja hadis Abdullah bin ‘Abbaas dimana ia menjamak shalat karena ia sedang berkhutbah. Apakah Ibnu ‘Abbaas saat itu memiliki udzur?. Jelas saja tidak, udzur dari mana, khutbah itu tidak menghalangi dan membuat sulit bagi sahabat seperti Ibnu ‘Abbaas untuk melakukan shalat. Tetapi Beliau tetap melakukannya. Kalau dikatakan Ibnu ‘Abbaas ada hajat atau keperluan ya itu memang benar yaitu keperluan untuk berkhutbah tetapi keperluan itu tidak menjadi udzur yang menghalangi melakukan shalat. Lebih wajib mana shalat atau berkhutbah?. Ya jelas shalat maka kalau memang tidak diperbolehkan pasti Ibnu Abbaas akan berhenti khutbah kemudian shalat baru melanjutkan khutbah lagi tetapi fakta riwayat menunjukkan Ibnu ‘Abbaas lebih memilih melanjutkan khutbah dan menjamak shalat. Ini adalah dalil yang jelas dan terang benderang kebolehan shalat jamak tanpa ada udzur.

Ibnu Qudamah rahimahullah juga berkata dalam Al-Mughni:

وَقَدْ أَجْمَعْنَا عَلَى أَنَّ الْجَمْعَ لَا يَجُوزُ لِغَيْرِ عُذْرٍ

“Dan kita telah berijma’ bahwasanya menjama’ shalat hukumnya tidak boleh tanpa adanya udzur” (Al-Mughni 2/204)

Berikut kami bawakan contoh lain pendapat yang membolehkan shalat jamak tanpa udzur sebagaimana dinukil Ibnu Rusyid

وأما الجمع في الحضر لغير عذر فإن مالكا وأكثر الفقهاء لا يجيزونه. وأجاز ذلك جماعة من أهل الظاهر وأشهب من أصحاب مالك.

Adapun shalat jamak ketika mukim tanpa adanya udzur maka sesungguhnya Malik dan banyak fuqaha tidak membolehkannya. Dan telah membolehkannya jamaah dari ahlu zhahir dan Asyhab dari sahabat Maalik [Bidaayatul Mujtahid Ibnu Rusyid 1/398]

Intinya adalah wahai jahil apa gunanya klaim Ijma’ jika ternyata sebagian ulama menyelisihinya. Apalagi telah berlalu pembahasannya bahwa pendapat yang rajih justru terletak pada ulama yang menyelisihi ijma’ tersebut.

Dan menyelisihinya adalah dosa besar.

وروى ابن أبي شيبة (2/346) عن أبي موسى الأشعري وعمر بن الخطاب رضي الله عنهما أنهما قالا : (الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر) .

Dan imam ibn abi syaibah (2/346) dari abu musa al as’ariy dan umar ibn al khottob beliau berdua berkata : menjama’ dua sholat tanpa udzur termasuk DOSA BESAR

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al Mushannaf 3/449 [juz dan halaman ini berbeda dengan yang dinukil si jahil tersebut mungkin karena berbeda cetakan kitab yang dirujuk] kedua riwayat berikut

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو هِلَالٍ عَنْ حَنْظَلَةَ السَّدُوسِيِّ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ الْجَمْعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ مِنَ الْكَبَائِرِ

Telah menceritakan kepada kami Waaki’ yang berkata telah menceritakan kepad akami Abu Hilaal dari Hanzhalah As Saduusiy dari Abu Muusa yang berkata “menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/449 no 8336]

Riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas sanadnya dhaif karena Hanzhalah As Saduusiy, ia seorang yang dhaif [Taqriib At Tahdziib 1/250]. Adapun riwayat Umar dalam kitab Al Mushannaf adalah sebagai berikut

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ  قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ عُمَرَ  قَالَ الْجَمْعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ مِنَ الْكَبَائِرِ

Telah menceritakan kepada kami Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Hisyaam bin Hassaan dari seorang laki-laki dari Abu ‘Aaliyah dari Umar yang berkata menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 3/449 no 8337]

Riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi mubham. Kami mencantumkan riwayat lengkap beserta sanadnya sekedar untuk menunjukkan kepada pembaca betapa jahilnya si Toyib ini dalam berhujjah. Orang ini memang suka sembarangan comot sana comot sini dan berdalil sesuka hatinya tanpa memperhatikan kaidah ilmu. Sudah selayaknya jika ingin berhujjah maka telitilah terlebih dahulu riwayat yang akan dijadikan hujjah, berhujjahlah dengan riwayat yang memiliki sanad shahih atau hasan. Kalau memang riwayat tersebut sanadnya dhaif maka seharusnya dibawakan syahid atau penguat dari riwayat lain yang sanadnya baik.

Seandainyapun riwayat tersebut shahih [sebagaimana ditemukan ada riwayat lain dari Umar dengan sanad shahih] maka tetap saja hal itu tidak menjadi hujjah. Mengapa? Karena terbukti dalam hadis shahih bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah melakukan shalat jamak tanpa adanya udzur. Fenomena seperti ini bukan pertama kalinya. Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] juga pernah melarang haji tamattu dan akan menghukum siapa yang melakukannya padahal terbukti dalam hadis shahih bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkannya sampai hari kiamat. Intinya ijtihad sahabat Umar bisa saja keliru dan tidak bisa dijadikan hujjah jika bertentangan dengan sunnah yang shahih.

.

.

.

Demikianlah penjelasan atas kejahilan luar biasa yang ditunjukkan oleh orang yang menyebut dirinya Toyib Mutaqin. Memang tidak ada yang bisa diharapkan dari orang yang mengatakan “hukum asal suatu hadis adalah shahih”. Ucapan ini hanya keluar dari orang yang luar biasa jahil dalam ilmu hadis. Jadi ada baiknya kami mulai memaklumi hakikat orang jahil ini. Walaupun memang kalau melihat orang yang ngakunya Ustadz tapi hakikatnya jahil, disitu kadang kami merasa sedih.

Catatan Atas Syubhat Abu Azifah Terhadap Hadis ‘Amru bin Sufyaan

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

.

Catatan Atas Syubhat Abu Azifah Terhadap Hadis ‘Amru bin Sufyaan

Beberapa hari ini kami telah berdiskusi dengan salah seorang yang menyebut dirinya Abu Azifah mengenai hadis ‘Amru bin Sufyaan. Diskusi tersebut dapat para pembaca lihat disini. Adapun hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut

وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي دَاوُدَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَزَّانُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مَرْوَانُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُسَاوِرٌ الْوَرَّاقُ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ ، قَالَ : خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ الْجَمَلِ ، فَقَالَ : أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ الإِمَارَةَ لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا عَهْدًا فَنَتَّبِعَ أَمْرَهُ ، وَلَكِنَّا رَأَيْنَاهَا مِنْ تِلْقَاءِ أَنْفُسِنَا ، اسْتَخْلَفَ أَبُو بَكْرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ ، ثُمَّ اسْتَخْلَفَ عُمَرُ فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ

Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Daud yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Musaawir Al Warraaq dari ‘Amru bin Sufyaan yang berkata Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu] berkhutbah kepada kami pada perang Jamal, Maka Beliau berkata “amma ba’du, sesungguhnya kepemimpinan ini tidaklah diwasiatkan kepada kami oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wasiat yang harus kami ikuti, tetapi kami berpandangan tentangnya dengan pandangan kami sendiri, diangkat Abu Bakar [rahimahullah] maka ia menjalankannya dan istiqamah, kemudian diangkat Umar maka ia menjalankan dan istiqamah [Asy Syarii’ah Al Ajurriy 2/441 no 1249]

Riwayat ini sudah kami bahas takhrij-nya secara lengkap beserta kedudukannya dalam tulisan kami disini. Kesimpulannya riwayat tersebut dhaif dengan keseluruhan jalannya, sungguh tidak tsabit bahwa Imam Aliy [‘alaihis salaam] pernah mengatakannya, justru sebaliknya telah tsabit perkataan Beliau [‘alaihissalaam] bahwa ia lebih berhak atas khilafah. Hal ini kami pahami sebagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menetapkan Imam Aliy sebagai khalifah atau waliy bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Dalam diskusi tersebut Abu Azifah menguatkan riwayat tersebut dengan syubhat-syubhat yang tidak memiliki dasar dalam ilmu hadis. Oleh karena itu kami telah menjelaskan dengan panjang lebar kelemahan syubhat abu azifah sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Aneh bin ajaib bukannya sadar diri dan belajar lagi ilmu musthalah hadis, yang bersangkutan justru menuduh kami tidak ilmiah.

Syubhat Abu Azifah atas hujjah kami dapat dirincikan sebagai berikut

  1. Ketika kami melemahkan Marwan dengan alasan ia melakukan tadlis taswiyah, abu azifah berhujjah dengan perkataan Adz Dzahabiy dengan analogi kasus Walid bin Muslim.
  2. Ketika kami menyatakan Musaawir majhul dengan alasan Marwan telah melakukan tadlis syuyukh, abu azifah bersikeras dengan riwayat di atas yang berlafaz “Musaawir Al Warraaq” dan menyatakan Musaaawir Al Warraaq tersebut tsiqat bukan Musaawir yang majhul.
  3. Ketika kami mengikuti perandaian abu azifah bahwa Musaawir tersebut adalah Musaawir Al Warraaq, kami menyebutkan illat [cacat] lain yaitu lafal an anah Musaawir Al Warraaq dari Amru bin Sufyaan tidak terbukti memenuhi persyaratan Imam Muslim. Abu Azifah menjawab kembali dengan andai-andai usia Musaawir 100 tahun sehingga memungkinkan bertemu Amru bin Sufyan.
  4. Ketika kami melemahkan ‘Amru bin Sufyaan dimana tidak ada tautsiq dari ulama mu’tabar untuknya, abu azifah bersikeras dengan penyebutan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan tautsiq Al Ijliy yang belum terbukti untuk ‘Amru bin Sufyaan yang meriwayatkan dari Aliy.

Pada akhir diskusi abu azifah justru tidak menjawab hujjah kami, ia menjawab via email yang ternyata cuma pengulangan saja dari komentar sebelumnya. Seolah hujjah yang kami sampaikan dalam meluruskan syubhat-syubhatnya ia anggap sebagai angin lewat saja. Insya Allah, berikut akan kami tampilkan jawabannya via email beserta pembahasan kami secara ilmiah, dengan harapan semoga ada pembaca yang bisa mengambil hikmah dari pembahasan ini. [adapun untuk abu azifah kami tidak mengharapkan apapun untuknya]

Untuk memudahkan para pembaca memahami hal-hal yang kami sebutkan di atas, ada baiknya membaca dengan hati-hati diskusi kami dengan abu azifah yang dapat dilihat dalam tulisan kami yang berjudul Imam Aliy Mengakui Kepemimpinannya. Kemudian melanjutkan dengan membaca tulisan ini. Komentar terakhir abu azifah [via email] adalah perkataaan yang kami quote

.

.

.

.

Syubhat Tadlis Taswiyah

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tolong antum baca perlahan dan antum pikir lebih dalam argumentasi saya.

  1. Adz Dzahabi ketika menulis tentang Al Walid, tahu ndak Al walid mudallas taswiyah ? Jawabnya : antum aja tahu apalagi beliau. Entoh seperti itu beliau mencukupkan sima’ Al walid kepada Al Auza’i. Menurut anda sima’ tersebut tidak cukup, harusnya sima’Al Auza’i disertakan. Antum jangan melampaui batas terhadap Adz Dzahabi.

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Sebelum kita membicarakan tadlis taswiyah. Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi tadlis taswiyah. Hal inilah yang gagal dipahami oleh Abu Azifah. Kalau dasarnya saja tidak paham maka tidak mengherankan kalau hujjah selanjutnya juga rusak.

Banyak para ulama membuat definisi tadlis taswiyah dalam kitab Ulumul hadis, berikut kami nukil definisi yang sederhana dari apa yang dikatakan Ibnu Rajab dalam kitabnya Syarh Ilal Tirmidzi

فهو نوع تدليس ومنه ما يسمى التسوية ، وهو أن يروي عن شيخ له ثقة عن رجل ضعيف عن ثقة فيسقط الضعيف من الوسط

Maka itu adalah salah satu jenis tadlis, yang dinamakan dengan taswiyah, yaitu dimana ia [perawi] meriwayatkan dari syaikh [guru] yang tsiqat dari orang yang dhaif dari orang yang tsiqat kemudian ia [perawi tersebut] menghilangkan perawi dhaif di pertengahan sanad tersebut [Syarh Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab 2/692]

Perbedaan tadlis isnad biasa dengan tadlis taswiyah adalah pada letak perawi yang dihilangkan di dalam sanad tersebut. Pada tadlis isnad biasa, perawi yang dihilangkan adalah antara orang [yang tertuduh tadlis] dan syaikh-nya [gurunya]. Sedangkan pada tadlis taswiyah, perawi yang dihilangkan adalah antara guru atau syaikh dari orang yang tertuduh dengan gurunya syaikh tersebut. Misalkan ada rantai sanad berikut

A —- B —- C —- D —- E —- F

Ternyata perawi A kemudian melakukan tadlis misalkan tadlis isnad biasa maka perawi yang dihilangkan oleh si A adalah perawi B sehingga sanadnya menjadi

A —- C —- D —- E —- F

Jika si perawi A melakukan tadlis taswiyah maka perawi yang dihilangkan oleh si A adalah perawi C, maka sanadnya menjadi

A —- B —- D —- E —- F

Dengan contoh di atas dapat dipahami bahwa untuk menghilangkan cacat tadlis taswiyah maka perawi tersebut minimal harus menjelaskan penyimakan hadisnya dari syaikh-nya [gurunya] kemudian syaikh-nya tersebut juga menjelaskan penyimakan dari syaikh-nya [gurunya] pula.

Sebagian ulama malah mengharuskan syarat bahwa lafal penyimakan itu harus ada pada setiap thabaqat sanad dari perawi tersebut hingga akhir sanad. Mengapa? Karena terdapat contoh kasus perawi melakukan tadlis taswiyah pada level sanad yang lebih tinggi. Misalkan dengan contoh di atas perawi A menghilangkan perawi D atau E dalam sanad tersebut. [Penjelasan rinci tentang ini tentu membutuhkan pembahasan tersendiri].

.

Setelah memahami penjelasan diatas maka mari kita lihat hujjah Abu Azifah tersebut. Sebelumnya Abu Azifah ini mengatakan bahwa Adz Dzahabiy dalam menerima tadlis taswiyah cukup dengan lafal penyimakan dari perawi tersebut dengan syaikh-nya saja. Abu Azifah memberi contoh Walid bin Muslim yang dikenal sebagai perawi tadlis taswiyah. Abu Azifah mengutip perkataan Adz Dzahabiy dalam kitab Al Mughniy

الوليد بن مسلم الدمشقي إمام مشهور صدوق ولكنه يدلس عن ضعفاء لا سيما في الأوزاعي فاذا قال ثنا الاوزاعي فهو حجة

Waliid bin Muslim Ad Dimasyiq imam masyhur shaduuq tetapi melakukan tadlis dari para perawi dhaif, terutama dalam hadis Al Auza’iy maka jika ia mengatakan telah menceritakan kepada kami Al Auza’iy maka ia menjadi hujjah. [Al Mughniy 2/725 no 6887]

Apakah Adz Dzahabiy di atas sedang membahas tadlis taswiyah?. Tidak, ia sedang membahas kedudukan perawi yaitu Walid bin Muslim. Sedangkan tadlis yang dibicarakan Adz Dzahabiy terhadap Walid bin Muslim dalam kitab Al Mughniy tersebut adalah tadlis Walid dari para perawi dhaif dari Al Auza’iy bukan tadlis taswiyah. Hal ini nampak dalam lafaz ولكنه يدلس عن ضعفاء

Lafaz itu sebagaimana dipahami dari zhahirnya adalah tadlis Walid dari para perawi dhaif dari Al Auza’iy. Sebagaimana dikutip pula oleh Adz Dzahabiy dalam Siyaar A’laam An Nubaala’ yaitu lafaz yang hampir sama diucapkan oleh Abu Mushir

وقال أبو مسهر ربما دلس الوليد بن مسلم عن كذابين

Dan Abu Mushir berkata terkadang Waliid bin Muslim melakukan tadlis dari para pendusta [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/216]

قال أبو مسهر: كان الوليد يأخذ من ابن أبي السفر حديث الاوزاعي، وكان كذابا، والوليد يقول فيها: قال الاوزاعي

Abu Mushir berkata “Waliid mengambil hadis Al Auza’iy dari Ibnu Abi As Safaar dan ia seorang pendusta, kemudian Walid mengatakan pada hadis itu “telah berkata Al Auza’iy” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/215]

Lafaz yang dikatakan Abu Mushir bahwa Walid “melakukan tadlis dari para pendusta” hakikatnya sama dengan lafaz perkataan Adz Dzahabiy dalam Al Mughniy “melakukan tadlis dari para perawi dhaif”. Dan tadlis yang dimaksud disitu adalah tadlis isnad biasa sebagaimana dijelaskan Abu Mushir bahwa Walid mengugurkan Ibnu Abi As Safar antara dirinya dan Al Auza’iy bukan tadlis taswiyah.

Hal ini sudah kami jelaskan kepada Abu Azifah tetapi tetap saja ia bersikeras dengan perkataan Adz Dzahabiy. Kami berprasangka baik saja kepada Adz Dzahabiy bahwa ia mengetahui kalau Walid adalah perawi tadlis taswiyah tetapi perkataannya dalam Al Mughniy di atas bukan tertuju pada sifat tadlis taswiyah melainkan tadlis isnad biasa dimana Walid menghilangkan perawi dhaif antara dirinya dan Al Auza’iy.

Tidak ada disini kami melampaui batas terhadap Adz Dzahabiy, justru Abu Azifah yang melampaui batas terhadap Adz Dzahabiy, ia mengatasnamakan Adz Dzahabiy bahwa mengenai tadlis taswiyah Adz Dzahabiy hanya mensyaratkan penyimakan perawi tersebut terhadap syaikh-nya saja. Dalam kitab mana Adz Dzahabiy mengatakan demikian?. Kalau begitu apa bedanya tadlis biasa dengan tadlis taswiyah di sisi Adz Dzahabiy?. Rasanya tidak mungkin sekali Adz Dzahabiy tidak paham apa itu tadlis taswiyah.

.

.

Seandainya pun disini kami mengikuti perandaian Abu Azifah kalau Adz Dzahabiy mensyaratkan demikian maka kami tidak ragu untuk mengatakan kalau Adz Dzahabiy keliru. Dalam tadlis taswiyah Walid bin Muslim justru perawi yang dihilangkan itu adalah sanad di atas Al Auza’iy bukan antara Walid dan Al Auza’iy.

وسمعت أبا داود يقول: أدخل الأوزاعي بينه وبين الزهري، ونافع، وبين عطاء نحوا من ستين رجلا. أسقطها الوليد كلها

Dan aku mendengar Abu Dawud mengatakan Al Auza’iy memasukkan antara dirinya dan Az Zuhriy, Naafi’ dan Athaa’ lebih kurang enam puluh orang yang kemudian dihilangkan semua oleh Waalid [Su’alat Abu Ubaid Al Ajurriy 2/186 no 1552]

Dan berikut kami bawakan contoh riwayat Walid bin Muslim dari Al Auza’iy dengan lafaz “telah menceritakan kepada kami” dan ternyata riwayat tersebut adalah tadlis taswiyah dari Waliid bin Muslim.

حدثنا أبو الوليد قال ثنا الوليد قال ثنا أبو عمرو عن نافع عن ابن عمر أنه كان إذا توضأ عرك عارضيه بعض العرك وشبك لحيته بأصابعه أحيانا ويترك أحيانا

Telah menceritakan kepada kami Abu Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru dari Naafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya ia jika berwudhu’ mengusap bagian samping dari wajahnya dan menggenggam jenggotnya dengan jarinya, terkadang ia melakukannya dan terkadang meninggalkannya [Tafsir Ath Thabariy 8/174]

Abu Walid adalah Ahmad bin ‘Abdurrahman Abu Waliid Ad Dimasyiq seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/39]. Waliid yaitu Waliid bin Muslim dan Abu ‘Amru adalah kuniyah dari Al Auza’iy.

Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa Waliid bin Muslim melakukan tadlis taswiyah dalam riwayat tersebut. Silakan perhatikan riwayat berikut

وأخبرنا أبو عبد الله السوسي ثنا أبو العباس الأصم ثنا أبو العباس بن الوليد بن مزيد أخبرني أبي أنا الأوزاعي قال حدثني عبد الله بن عامر حدثني نافع أن بن عمر كان يعرك عارضيه ويشبك لحيته بأصابعه أحيانا ويترك

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah As Suusiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Al ‘Ashaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Abbaas bin Waliid bin Maziid yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Auza’iy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepadaku Naafi’ bahwa Ibnu Umar mengusap bagian samping dari wajahnya dan menggenggam jenggotnya dengan jarinya, terkadang ia meninggalkannya [Sunan Baihaqiy 1/55 no 255]

Abu ‘Abdullah As Suusiy adalah Ishaaq bin Muhammad bin Yusuf An Naisaburiy seorang yang tsiqat [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 9/267 no 246]. Abul ‘Abbaas Al Asham dinyatakan tsiqat oleh Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Abu Nu’aim bin Adiy dan Ibnu Abi Haatim [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 15/452-458 no 258]. ‘Abbaas bin Waliid bin Maziid seorang ahli ibadah yang shaduq [Taqriib At Tahdziib 1/475]. Waliid bin Maziid seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/289].

Dalam riwayat Ath Thabariy disebutkan sanad Waliid bin Muslim dari Al Auza’iy [dengan lafaz penyimakan] kemudian Al Auza’iy meriwayatkan dari Naafi’ dengan lafaz ‘an anah.

Dalam riwayat Baihaqiy disebutkan sanad Waliid bin Maziid dari Al Auza’iy dengan lafaz penyimakan kemudian Al Auza’iy meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Aamir dengan lafaz penyimakan kemudian Abdullah bin ‘Aamir meriwayatkan dari Naafi’ dengan lafaz penyimakan.

  1. Waliid bin Muslim dari Al Auza’iy dari Nafii’
  2. Waliid bin Maziid dari Al Auza’iy dari ‘Abdullah bin ‘Aamir dari Nafii’.

وَقَالَ النَّسَائِيُّ: الوَلِيْدُ بنُ مَزْيَدٍ أَحَبُّ إِلَيْنَا فِي الأَوْزَاعِيِّ مِنَ الوَلِيْدِ بن مُسْلِمٍ، لاَ يُخْطِئُ، وَلاَ يُدَلِّسُ

An Nasa’iy berkata “Waliid bin Maziid lebih kami sukai dalam riwayat Al Auza’iy daripada Walid bin Muslim, ia [Waliid bin Maziid] tidak keliru dan tidak pula melakukan tadlis” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/420]

Jadi sebenarnya dalam riwayat tersebut, Al Auza’iy mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Aamir dari Naafi’ kemudian Waliid bin Muslim melakukan tadlis taswiyah dengan mengugurkan ‘Abdullah bin ‘Aamir antara Al Auza’iy dan gurunya yaitu Naafi’. Perhatikan bagaimana Waliid menggunakan lafaz penyimakan dari Al Auza’iy tetapi tetap saja hadisnya terbukti tadlis taswiyah dan perawi yang ia gugurkan adalah Abdullah bin ‘Aaamir Al Aslamiy seorang yang dhaif [Taqriib At Tahdziib 1/504]

Contoh di atas adalah bukti nyata bahwa lafaz penyimakan Waliid dari Al Auza’iy tidak akan menggugurkan tadlis taswiyah Waliid. Seperti yang pernah kami jelaskan bahwa untuk tadlis taswiyah minimal lafaz penyimakan itu ada pada dua thabaqat sanad yaitu sanad antara perawi tersebut dengan gurunya kemudian antara gurunya dengan guru dari gurunya.

.

.

Terkait dengan kasus Waliid bin Muslim, Ibnu Hajar dalam salah satu Risalah-nya pernah berkata tentang salah satu hadis Waliid


Juz Fihi Jawab Ibnu Hajar

Juz Fihi Jawab Ibnu Hajar hal 4

رواية الوليد بن مسلم عنه بغير تصريح بالتحديث ، و الوليد بن مسلم يدلس و يسوي فلا يقبل من حديثه الا ما صرح فيه بالتحديث له و لشيخه

Riwayat Waliid bin Muslim darinya tidak dengan jelas menyebutkan lafaz penyimakan. Waliid bin Muslim melakukan tadlis dan taswiyah maka tidak diterima hadisnya kecuali di dalamnya ada lafaz jelas penyimakan darinya [Waliid] dan lafaz penyimakan dari Sayaikh-nya [Juz Fiihi Jawaabu ‘An Haal Hadiits Masyhuur “Maau Zamzama Limaa Syurib Lahu” Ibnu Hajar hal 4]


An Nukat Ala Kitab Ibnu Shalah

An Nukat Ala Kitab Ibnu Shalah juz 1 hal 293

واشتمل حديث الأوزاعي على زيادة على حديث ابن عيينة توقف الحكم بصحتها على تصريح الوليد بسماعه من الأوزاعي، وسماع الأوزاعي من الزهري؛ لأن الوليد بن مسلم من المدلسين على شيوخه وعلى شيوخ شيوخه

Dan yang terkandung dalam hadis Al Auza’iy berupa ziyadah [tambahan] atas hadis Ibnu Uyainah, maka tawaqquf dalam menetapkan keshahihannya sampai menjadi jelas Waliid mendengarnya dari Al Auza’iy dan Al Auza’iy mendengarnya dari Az Zuhriy karena Walid bin Muslim termasuk orang yang melakukan tadlis atas gurunya dan atas guru dari gurunya [An Nukaat ‘Ala Kitaab Ibnu Shalaah, Ibnu Hajar 1/293]

Semoga saudara Abu Azifah bisa memahami penjelasan kami ini dan hal ini membuktikan lemahnya hujjah abu azifah dengan perkataan Adz Dzahabiy [dalam persepsinya] terhadap Waliid bin Muslim.

.

.

.

.

Syubhat Tadlis Syuyukh Marwan bin Mu’awiyah

  1. Antum mungkin lupa akan hakekat tadlis. Tadlis itu menyamarkan perawi, bukan berdusta. Berkali-kali saya ingatkan sifat tsiqat Marwan.Marwan ketika meriwayatkan dengan sima’ terhadap perawi yang tidak samar, antum menerimanya kan ? Marwan meriwayatkan dari Sawwar atau Musawwir, ini nama samar atau tidak ? Jawabannya : samar, tersamar dengan Musawwir gurunya yang majhul, atau sawwar yang tsiqat, atau Musawwir Al Warraq, bukan begitu mas ?

Lalu ketika Marwan meriwayatkan dari Musawwir Al Warraq, ini nama samar atau tidak ? Saya menjawab : Tidak, Musawwir Al warraq, bukan Musawwir majhul, bukan pula sawwar, bukan pula yang lain. Kalau anda menjawab : ya, nama itu masih samar. Maka antum sudah melampaui batas terhadap ketsiqatan Marwan. Anda tidak percaya bahwa Marwan betul-betul meriwayatkan dari Musawwir Al Warraq. Maaf dalam hal ini anda tidak ILMIAH.Anda tidak bisa membedakan tsiqat dan tidak, nama yang samar dan yang tidak.

Tolong fahami betul hal ini.

Fenomena ini memang aneh, orang yang hakikatnya tidak paham permasalahan berlagak sok paham dan ingin mengajari orang lain. Kami tidak lupa hakikat tadlis dan kami tidak sedang menuduh Marwan bin Mu’awiyah berdusta. Tadlis tidak ada kaitannya dengan kedudukan tsiqat atau tidak. Baik perawi tsiqat dan dhaif sama-sama bisa melakukan tadlis.

Tadlis yang disifatkan kepada Marwan adalah Tadlis syuyukh yaitu perawi mengubah nama gurunya, kuniyahnya atau nasabnya dengan tujuan tertentu. Sebelumnya kami telah menunjukkan hujjah kami dalam masalah ini dan kami tidak keberatan mengulanginya

Pertama-tama adalah siapa sebenarnya perawi tersebut yaitu gurunya Marwan bin Mu’awiyah?. Langkah pertama untuk menentukan siapa dirinya adalah dengan mengumpulkan seluruh jalan periwayatan hadis Marwan, maka didapatkan

  1. Riwayat Al Hakim dan Qaasim bin Tsaabit menyebutkan nama gurunya Marwan adalah Sawwaar
  2. Riwayat Al Ajurriy menyebutkan nama gurunya Marwan adalah Musaawir Al Warraaq.

Maka dapat disimpulkan bahwa gurunya Marwan tersebut adalah Sawwaar Musaawir Al Warraaq. Langkah berikutnya adalah mencari dalam kitab Rijal. Dalam kitab Rijal yaitu Tahdzib Al Kamal dan Tahdzib At Tahdziib ditemukan bahwa Musaawir gurunya Marwan bin Mu’awiyah dan yang meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyaan adalah seorang yang majhul [Taqriib At Tahdziib 2/174].

Dalam kitab Rijal seperti Tahdzib Al Kamal dan Tahdzib At Tahdzib memang juga ditemukan perawi yang disebut Musaawir Al Warraaq seorang yang tsiqat shaduq. Hanya saja ia tidak dikenal dengan nama Sawwaar. Maka disini tidak ada hujjah untuk menetapkan bahwa dialah perawi yang dimaksud Marwan bin Mu’awiyah.

Satu-satunya hujjah yang dipakai saudara Abu Azifah adalah laqab Al Warraaq. Tentu saja ini bukan hujjah tetapi memaksakan diri sebagai hujjah. Mengapa? Karena Musaawir Al Warraaq yang tsiqat shaduq tidak ditemukan ada hubungan guru dan murid dengan Marwan bin Mu’awiyah bahkan kami telah mencari riwayat Marwan dari Musaawir Al Warraaq dan tidak kami temukan kecuali riwayat Al Ajurriy ini [yang ternyata bagian dari tadlis syuyukh]. Hujjah yang paling jelas sebagai bantahan adalah Musaawir Al Warraaq yang tsiqat shaduq tidak dikenal dengan nama Sawwaar.

Abu Azifah berhujjah bahwa lafaz Musaawir Al Warraaq itu sudah jelas tidak samar. Anehnya ia malah menafikan riwayat yang menyebutkan bahwa gurunya Marwan tersebut bernama Sawwaar. Jika kita melakukan yang sebaliknya yaitu berpegang pada riwayat dengan lafaz Sawwaar dan menafikan riwayat dengan nama Musaawir Al Warraaq maka dalam kitab Rijal yaitu Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim didapatkan

Al Jarh Wat Ta'dil juz hal 273

سوار الشبامى روى عن… روى عنه مروان بن معاوية الفزارى. حدثنا عبد الرحمن قال سألت ابى عنه فقال: لا ادرى من هو

Sawwaar Asy Syabaamiy meriwayatkan dari … dan telah meriwayatkan darinya Marwan bin Mu’awiyah Al Fazaariy. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya kepada ayahku tentangnya, maka ia berkata “aku tidak mengetahui siapa dia” [Al Jarh Wat Ta’dil 4/273 no 1177]

Tanda titik-titik itu memang hilang dari kitab Al Jarh Wat Ta’dil tetapi keterangan di atas sudah cukup sebagai petunjuk yang menguatkan bahwa memang ada perawi bernama Sawwaar yang merupakan guru Marwan bin Mu’awiyah. Bahkan bisa jadi tanda titik-titik yang hilang itu adalah nama ‘Amru bin Sufyaan. Qarinah ini jauh lebih jelas dibanding Musaawir Al Warraaq yang tidak dikenal ia sebagai gurunya Marwan bin Mu’awiyah.

Ibnu Hajar ketika menuliskan biografi Musaawir gurunya Marwan bin Mu’awiyah, ia mengutip Abu Hatim yang berkata “majhul” [Tahdzib At Tahdziib juz 10 no 193]

Berdasarkan penjelasan di atas maka sangat mungkin Marwan melakukan tadlis syuyukh dimana ia menambahkan laqab Al Warraaq pada gurunya Sawwaar atau Musaawir yang majhul. Inilah namanya tadlis syuyukh mengaburkan perawi yang tadinya majhul dengan mengubah namanya hingga akhirnya nama itu dikira  dan disalahartikan sebagai perawi tsiqat.

Tentu saja perkara ini bukanlah menuduh Marwan berdusta. Al Warraaq itu sendiri bermakna penyalin naskah atau kitab, jadi jika kita berprasangka baik terhadap Marwan maka Sawwaar atau Musaawir yang majhul gurunya Marwan tersebut juga diketahui oleh Marwan sering menyalin nasakah atau kitab oleh karena itu Marwan menyebutnya dengan sebutan Al Warraaq.

Ada contoh tadlis syuyukh yang dilakukan oleh perawi tsiqat [sama seperti Marwan bin Mu’awiyah] dan kedudukannya sedikit mirip dengan kasus Marwan bin Mu’awiyah ini. Ibnu Rajab Al Hanbaliy menyebutkan dalam kitabnya Syarh Ilal Tirmidzi

ذكر من روى عن ضعيف وسماه باسم يتوهم أنه اسم ثقة.

Menyebutkan orang-orang yang meriwayatkan dari perawi dhaif dan menamakannya dengan nama yang disalahartikan bahwasanya ia nama perawi tsiqat [Syarh Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab 2/690]

منهم بقية بن الوليد وهو من أكثر الناس تدليسًا، وأكثر شيوخه الضعفاء مجهولون لا يعرفون، وكان ربما روى عن سعيد بن عبد الجبار الزبيدي أو زرعة بن عمرو الزبيدي، وكلاهما ضعيف الحديث فيقول: نا الزبيدي، فيظن أنه محمد بن الوليد الزبيدي صاحب الزهري

Diantara mereka adalah Baqiyah bin Waliid, ia termasuk orang yang paling banyak melakukan tadlis dan paling banyak memiliki guru-guru dhaif, majhul dan tidak dikenal, ia terkadang meriwayatkan dari Sa’iid bin ‘Abdul Jabbaar Az Zubaidiy atau Zur’ah bin ‘Amru Az Zubaidiy dan keduanya dhaif dalam hadis, maka ia mengatakan “telah menceritakan kepada kami Az Zubaidiy” maka orang mengira bahwasanya ia adalah Muhammad bin Waliid Az Zubaidiy sahabat Az Zuhriy. [Syarh Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab 2/691-692]

Baqiyah bin Waliid adalah perawi yang tsiqat dan disini ia pernah melakukan tadlis syuyukh yaitu dari gurunya yang ia sebut Az Zubaidiy. Bagaimana kita mengetahui kalau Baqiyah melakukan tadlis syuyukh?. Caranya dengan melihat jalan-jalan lain dari hadis tersebut.

حَدَّثَنَا أَبُو التَّقِيِّ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْحِمْصِيُّ ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ ، حَدَّثَنَا الزُّبَيْدِيُّ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : اكْتَحَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Telah menceritakan kepada kami Abu Taqiy Hisyaam bin ‘Abdul Malik Al Himshiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Baqiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Az Zubaidiy dari Hisyaam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari Aisyah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memakai celak dan Beliau sedang berpuasa [Sunan Ibnu Majah 2/583 no 1678]

Ath Thabraniy meriwayatkan hadis yang sama dengan lafaz dimana Baqiyah menyebutkan “dari Muhammad bin Waliid Az Zubaidiy” [Mu’jam Ash Shaghiir 1/246 no 401] kemudian Abu Ya’la meriwayatkan hadis yang sama dengan lafaz dimana Baqiyah menyebutkan “dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Az Zubaidiy” [Musnad Abu Ya’la 8/225 no 4792]

Sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab, terdapat perawi yang mengira bahwa Az Zubaidiy tersebut adalah Muhammad bin Waliid Az Zubaidiy sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ath Thabraniy. Muhammad bin Waliid Az Zubaidiy adalah seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/143]. Padahal hakikat sebenarnya perawi itu adalah Sa’iid Az Zubaidiy bukan Muhammad bin Waliid sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Ya’la dan Sa’iid Az Zubaidiy ini adalah seorang yang dhaif sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab.

Silakan lihat baik-baik, Ibnu Rajab dan ulama lain tidak menuduh Baqiyah berdusta, mereka tetap menganggap Baqiyah tsiqat hanya saja dalam hadis tersebut ia terbukti melakukan tadlis syuyukh yang membuat perawi dhaif disalahartikan sebagai perawi tsiqat.

Kembali pada kasus Marwan bin Mu’awiyah di atas, ketika kami menyatakan ia melakukan tadlis syuyukh dalam riwayat tersebut tidak ada sedikitpun kami melampaui batas terhadap Marwan yang tsiqat. Lagipula sebelumnya kami sudah menunjukkan ulama yang mengakui bahwa Musaawir Al Warraaq dalam riwayat Al Ajurriy tersebut adalah majhul, sebagaimana kami kutip dalam catatan kaki kitab Asy Syarii’ah Al Ajurriy 2/441 no 1249 tahqiq Waliid bin Muhammad bin Nabih Saif

Al Ajurriy juz 2 hal 441

.

.

.

.

Syubhat ‘An anah Musaawir Al Warraaq Dari ‘Amru bin Sufyaan

Kami mengatakan sebelumnya bahwa jika seandainya Musaawir Al Warraaq disini adalah Musaawir Al Warraaq yang dikenal tsiqat maka terdapat illat [cacat] lain yaitu Musaawir Al Warraaq tidak terbukti berada dalam satu masa dengan ‘Amru bin Sufyan oleh karena itu lafaz ‘an anahnya tidak memenuhi persyaratan Imam Muslim.

Dalam kitab Rijal tidak ditemukan keterangan tahun lahir dan wafat Musaawir Al Warraaq, tetapi disebutkan oleh Az Zarkaliy  bahwa ia wafat lebih kurang tahun 150 H [Al A’lam Az Zarkaliy 7/213]. Dan ‘Amru bin Sufyaan sudah dewasa ketika terjadi perang Jamal tahun 36 H [berdasarkan zhahir riwayat]. Rentang masa hidup keduanya cukup jauh yang memungkinkan untuk terjadinya inqitha’ [terputus sanad]. Oleh karena itu harus dipastikan bahwa Musaawir Al Warraaq memang menemui masa hidup ‘Amru bin Sufyaan.

Jika tidak terbukti maka sanadnya tidak bisa dikatakan shahih walaupun kita juga tidak memastikan itu inqitha’ [terputus]. Statusnya dikembalikan kepada kaidah dasar ilmu hadis bahwa hukum asal suatu hadis itu dhaif sampai terbukti shahih. Dan salah satu syarat shahih adalah ketersambungan sanad yang harus dibuktikan dengan kedua perawi tersebut berada dalam satu masa.

Abu Azifah kemudian menjawab dengan syubhat andaikan usia Musaawir 100 tahun dan usia ‘Amru bin Sufyan saat perang Jamal adalah 30 tahun. Maka Musaawir lahir tahun 50 H andaikan ia bertemu ‘Amru bin Sufyaan ketika usianya 20 tahun yaitu tahun 70 H maka usia ‘Amru bin Sufyan saat itu adalah 64 tahun. Jadi mungkin untuk bertemu.

Saudara abu azifah ini bisa dikatakan tidak mengerti persyaratan Imam Muslim yaitu “berada dalam satu masa”. Kedua perawi yang sudah terbukti berada dalam satu masa memang mungkin untuk bertemu tetapi ya harus dipastikan dahulu dengan berbagai qarinah bahwa keduanya berada dalam satu masa. Lucunya saudara abu azifah bukannya membuktikan kedua perawi [Musaawir dan ‘Amru bin Sufyaan] berada dalam satu masa, ia justru berandai-andai dengan kemungkinan.

Namanya kemungkinan tidaklah menafikan kemungkinan yang lain dan itu bukanlah hujjah. Abu Azifah bisa saja berandai usia Musaawir 100 tahun, lha kalau misalnya usia Musaawir hanya 60 tahun. Artinya Musaawir lahir tahun 90 H, kalau ‘Amru bin Sufyaan masih hidup tahun 90 H [dengan asumsi abu azifah yaitu usia ‘Amru 30 tahun saat perang Jamal] maka ketika Musaawir baru lahir, ‘Amru sudah berusia 84 tahun. Itupun kalau memang ‘Amru masih hidup, lha kalau ia wafat di umur 80 tahun maka sudah jelas tidak bertemu. Intinya adalah andai-andai atau kemungkinan tidak menjadi hujjah.

Setelah kami jawab dengan penjelasan bahwa kemungkinan bukanlah hujjah karena akan ada banyak kemungkinan lain, abu azifah menjawab via email dengan komentar berikut

3.Tentang usia Musawwir, anda mengatakan mungkin. Lafal mungkin bukan hujjah. Bisa iya bisa tidak. Sedangkan hujjah saya sudah saya paparkan bahwa kemungkinan bertemu itu ada.

Saudara abu azifah ini agak aneh kalau memang ia mengakui lafal mungkin bukan hujjah maka mengapa ia sendiri berhujjah dengan kata-kata mungkin. Silakan ia membuktikan bahwa usia Musaawir memang 100 tahun. Silakan ia membuktikan bahwa ‘Amru bin Sufyaan masih hidup pada tahun 70 H. Berhujjahlah dengan data tahun lahir dan wafat dalam kitab Rijal atau dengan qaul ulama atau dengan qarinah-qarinah lain yang berlandaskan pada kabar shahih. Begitulah yang dimaksud dengan hujjah bukan berandai-andai.

Abu Azifah tidak memahami dengan baik apa yang dimaksud persyaratan Imam Muslim “berada dalam satu masa”. Yang dimaksud berada dalam satu masa itu ya benar-benar terbukti bukan dengan kemungkinan

أن القول الشائع المتفق عليه بين أهل العلم بالأخبار والروايات قديما وحديثا أن كل رجل ثقة روى عن مثله حديثا وجائز ممكن له لقاؤه والسماع منه لكونهما جميعا كانا في عصر واحد

Telah menjadi kesepakatan diantara ahli ilmu dalam kabar, riwayat dan hadis bahwa setiap perawi tsiqat yang meriwayatkan suatu hadis dengan lafaz ‘an dari perawi tsiqat pula maka bisa jadi perawi tersebut bertemu dan mendengar darinya karena kedua perawi tersebut hidup dalam satu masa. [Shahih Muslim 1/12]

Jadi memang untuk menyatakan kemungkinan bertemu kedua perawi cukuplah ditunjukkan bahwa keduanya telah tsabit berada dalam satu masa. Sedangkan abu azifah malah menunjukkan kemungkinan bertemu dengan dasar kemungkinan keduanya berada dalam satu masa padahal masih ada kemungkinan lain bahwa keduanya tidak dalam satu masa. Dalam ilmu hadis, syarat lafal ‘an anah dianggap ittishal [bersambung] adalah jika kedua perawi terbukti berada dalam satu masa dan perawi yang meriwayatkan lafal ‘an tersebut tsiqat bukan mudallis.

.

.

.

.

Syubhat Tautsiq Atas ‘Amru bin Sufyaan

4.Amr bin sufyan….Lhoooo anda itu gimana tho, saya kira anda itu orang yang ilmiah,sudah diskusi panjang lebar, hanya ada 2 Amr, ya kan…? tidak ada 3 kan..? tidak ada 4 kan..? Wong yang ke-2 itu anda katakan majhul, apalagi yang ke-3 , ke-4 dst (kalau ada).

Kami heran orang ini sedang bertanya, sedang berhujjah atau sedang menggerutu kepada kami. Kalau memang ingin berhujjah secara ilmiah, maka mengapa ia tidak membuka kitab biografi perawi seperti Tarikh Al Kabir Bukhariy atau yang lainnya untuk melihat ada berapa orang yang bernama ‘Amru bin Sufyaan.

Dalam kitab Tarikh Al Kabir, Al Bukhariy menyebutkan ada lagi tiga nama ‘Amru bin Sufyaan selain ‘Amru bin Sufyaan yang meriwayatkan dari Aliy [Tarikh Al Kabir Bukhariy juz 6 no 2565] dan ‘Amru bin Sufyaan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas [Tarikh Al Kabir Bukhariy juz 6 no 2564]

  1. ‘Amru bin Sufyaan Ats Tsaqafiy [Tarikh Al Kabir Bukhariy juz 6 no 2562]
  2. ‘Amru bin Sufyaan Abul Aswad [Tarikh Al Kabir Bukhariy juz 6 no 2563]
  3. ‘Amru bin Sufyaan Abul A’waar As Sulaamiy [Tarikh Al Kabir Bukhariy juz 6 no 2566]

Kemudian Al Ala’iy juga menyebutkan dalam kitabnya Jami’ At Tahshiil Fii Ahkaam Al Marasiil, perawi yang diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan diantaranya ‘Amru bin Sufyaan Al Kalaabiy [Jami’ At Tahshil Fii Ahkam Al Marasiil no 567] dan ‘Amru bin Sufyaan Al Aufiy [Jami’ At Tahshil Fii Ahkam Al Marasiil no 569].

  1. Berkali-kali anda katakan bahwa Ats tsiqat Ibnu Hibban ada perawi majhul. Dari mana anda tahu ? Ya dari qarinah yang lain baik dari ibnu Hibban sendiri, atau ulama yang lain. Begitu kan mas ? Kalau kita tidak tahu qarinah itu, bagaimana ? Kalau anda menjawab : ya tetap majhul, karena Ibnu Hibban tasahul. Oooo Mas…maaf anda telah melampaui batas terhadap keilmuan Ibnu Hibban. Tolong anda rasakan ini.

Silakan saudara Abu azifah itu belajar ilmu musthalah hadis pada bab “majhul”. Insya Allah ia akan melihat bahwa untuk menentukan perawi sebagai majhul tidak hanya dengan lafaz sharih dari ulama yang berkata “majhul” tetapi bisa dengan melihat keadaan dirinya dalam kitab Rijal.

  1. Jika perawi tersebut hanya meriwayatkan darinya satu orang dan tidak ada ta’dil atau keterangan dari para ulama tentang keadaan dirinya maka statusnya adalah majhul ‘ain.
  2. Jika ada dua orang atau lebih yang meriwayatkan darinya dan tidak ada ta’dil terhadapnya maka statusnya adalah majhul hal.

Kami tidaklah melampaui batas terhadap Ibnu Hibban, tasahul Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat sudah menjadi hal yang masyhur di sisi para ulama hadis. Kami sudah menjelaskan bahwa Ibnu Hibban juga memasukkan perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Cukuplah kami nukilkan saja apa yang dikatakan Syaikh Al Albaniy

قلت: وإنما يمكن أن يتبين لنا حاله بأن يوثقه إمام معتمد في توثيقه وكأن الحافظ أشار إلى هذا بقوله: إن مجهول الحال هو الذي روى عنه اثنان فصاعدا ولم يوثق”وإنما قلت: “معتمد في توثيقه” لأن هناك بعض المحدثين لا يعتمد عليهم في ذلك لأنهم شذوا عن الجمهور فوثقوا المجهول منهم ابن حبان وهذا ما بينته في القاعدة التالية

Aku [Syaikh AlAlbani] berkata “sesungguhnya menjadi jelas keadaannya [perawi majhul] tersebut di sisi kami dengan adanya tautsiq dari imam yang mu’tamad [dijadikan pegangan] dalam tautsiq. Dan Al Hafizh telah mengisyaratkan hal ini dengan perkataannya “seungguhnya majhul hal adalah orang yang meriwayatkan darinya dua orang atau lebih dan tidak ada tautsiq dari para ulama”. Sesungguhnya aku hanyalah mengatakan “ulama yang mu’tamad dalam tautsiq” karena disana terdapat sebagian ahli hadis yang tidak dijadikan pegangan tautsiqnya karena mereka menyimpang dari jumhur ulama hadis dalam mentautsiq perawi majhul seperti Ibnu Hibban, dan ini akan kami jelaskan dalam kaidah berikutnya [Tammamul Minnah Syaikh Al Albani hal 20]

Kesimpulannya adalah majhul yang diakui para ulama ternyata di sisi Ibnu Hibban bukanlah jarh atau cacat bahkan ia menganggapnya adil. Secara kasarnya adalah menurut Ibnu Hibban orang yang tidak dicacat maka ia adil baik itu tsiqat atau majhul. Oleh karena itu ia memasukkan dalam kitabnya Ats Tsiqat baik perawi yang tsiqat maupun perawi yang majhul. Untuk membedakan keduanya jelas membutuhkan qarinah.

Qarinah untuk menyatakan tsiqat ya dengan melihat kalau Ibnu Hibban menyatakan secara sharih lafaz tautsiq seperti tsiqat, dhabit, mustaqiim al hadiits dan yang lainnya. Atau Ibnu Hibban memasukkan perawi tersebut dalam kitab Shahih-nya dimana Ibnu Hibban menyebutkan dalam muqaddimah kitab Shahih-nya bahwa salah satu syarat perawi dalam kitabnya tersebut adalah “shaduq dalam hadis”.

Ada juga qarinah lain yang menguatkan tautsiq perawi dalam kitab Ats Tsiqat sebagaimana hal ini diakui oleh Syaikh Al Albaniy

وإن مما يجب التنبيه عليه أيضا أنه ينبغي أن يضم إلى ما ذكره المعلمي أمر آخر هام عرفته بالممارسة لهذا العلم قل من نبه عليه وغفل عنه جماهير الطلاب وهو أن من وثقه ابن حبان وقد روى عنه جمع من الثقات ولم يأت بما ينكر عليه فهو صدوق يحتج به

Dan sesungguhnya perlu diperhatikan adalah apa yang disebutkan Al Mu’allimiy yaitu hal penting yang perlu diketahui dalam masalah ini yang sedikit diingat orang dan diabaikan oleh kebanyakan penuntut ilmu yaitu orang-orang yang ditsiqatkan Ibnu Hibban dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat, serta tidak datang pengingkaran terhadapnya maka ia seorang yang shaduq dapat dijadikan hujjah [Tammamul Minnah Syaikh Al Albani hal 25]

Sedangkan jika tidak ada qarinah yang menguatkan tautsiq Ibnu Hibban atau perawi itu dinyatakan majhul oleh ulama lain, serta yang meriwayatkan darinya hanya satu atau dua orang perawi maka penyebutan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat tidak dapat dijadikan hujjah dalam tautsiq perawi. Kami kira penjelasan panjang lebar kami ini cukup untuk menjelaskan hakikat permasalahan ini.

Untuk perkara ‘Amru bin Sufyaan, tidak ada qarinah yang menguatkan tautsiq Ibnu Hibbaan dan yang meriwayatkan darinya Sa’iid bin ‘Amru bin Sufyaan dan Musaawir maka statusnya masih majhul hal.

  1. Tentang Al Ijli….beliau sudah payah-payah menginformasikan kepada kita ada perawi Amr bin Sufyan dari Kuffah yang tsiqat. Siapa dia ? Anda jawab : tidak tahu. Dan selamanya akan tidak tahu. Waaa…aah sia-sia jerih payah Al ijli, tidak akan digunakan. Apa ya begitu mas ? Ada istimbath lain…Dalam rijalul hadits kita hanya menemukan 2 nama Amr bin Sufyan. Yaitu Al bashri yang tsiqat dan Al Kuffi yang diterangkan Al Ijli. Begitu kan mas? Dan kita menemui Amr kecuali 2 nama, yaitu Amr bin Sufyan dari Ibnu Abbas dan Amr bin Sufyan dari Ali. Sudah dipastikan bahwa Amr bin Sufyan dari Ibnu Abbas ini adalah Amr bin Sufyan al Bashri. Maka bisa dipastikan pula Amr bin Sufyan dari Ali ini adalah Al Kuffi yang diterangkan oleh Al Ijli. ILMIAH apa ndak pembahasan seperti ini mas? Lebih ilmiah mana dengan anda yang mengatakan Amr bin Sufyan dari Ali adalah Al Bashri juga tapi bukan Amr bin sufyan dari Ibnu abbas. Memangnya ada berapa Amr bin Sufyan ? Dalam hal ini pun anda melampaui batas keilmuan Al Ijli ( tidak mau mengistimbathkan informasi beliau )

Kenyataannya kami memang tidak tahu, tentu saja kami tidak seperti sebagian orang yang sok tahu atas sesuatu tanpa dasar ilmu. Seharusnya yang dilakukan Abu azifah adalah membuktikan bahwa ‘Amru bin Sufyaan yang meriwayatkan dari Aliy tersebut adalah orang kuufah maka hal ini akan cocok dengan apa yang dikatakan Al Ijliy. Adapun hujjah Abu azifah di atas tidak ada nilai ilmiahnya sama sekali karena keterbatasan pengetahuannya. Telah kami tunjukkan ada banyak perawi yang bernama ‘Amru bin Sufyaan jadi bagaimana cara ia memastikan bahwa yang dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy adalah ‘Amru bin Sufyaan yang meriwayatkan dari Aliy.

Kami bukan satu-satunya orang yang tidak tahu siapakah ‘Amru bin Sufyaan tabiin kufah yang tsiqat sebagaimana disebutkan Al Ijliy. Pentahqiq kitab Ma’rifat Ats Tsiqat Syaikh Abdul Aliim Al Bastawiy juga tidak mengetahui dengan pasti siapa dia

Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2

Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2 hal 177

Dan silakan abu azifah perhatikan juga nama ‘Amru bin Safiinah pada no 1384 disebutkan Al Ijliy bahwa ia tabiin madinah yang tsiqat tetapi pentahqiq mengatakan Al Ijliy tafarrud [menyendiri] dalam menyebutkannya, tidak ditemukan biografinya. Ada perawi bernama Umar bin Safiinah tetapi Al Ijliy sudah menyebutkan tentangnya pada no 1347.

Apakah Abu Azifah akan mengatakan wah sia-sia jerih payah Al Ijliy dan ulama pentahqiq kitab tersebut telah melampaui batas keilmuan Al Ijliy?. Sungguh aneh beginilah hakikat orang yang terlalu banyak bicara melampaui batas keilmuannya.

  1. Tentang hukum maqbul, maaf anda keliru, mengatakan sebutan maqbul adalah dhaif. Pernyataan maqbul merupakan pernyataan martabat ke-3 dalam martabat-martabat rawi hasan. Anda cek dalam Alfiah Suyuthi.

Justru Abu azifah ini yang keliru, kami ulangi begitulah kalau belajar ilmu musthalah hadis setengah-setengah. Ilmu yang didapat rusak dan kalau berhujjah menjadi ngawur. Lafaz “maqbul” yang dibicarakan disini adalah lafaz yang digunakan Ibnu Hajar dalam kitabnya Taqriib At Tahdziib, jadi jangan dikacaukan dengan lafaz maqbul secara umum atau lafaz maqbul dari ulama lain. Ibnu Hajar telah menjelaskannya sendiri dalam kitabnya Taqriib At Tahdziib

Taqrib At Tahdziib maqbul

السادسة: من ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يثبت فيه ما يترك حديثه من أجله وإليه الإشارة بلفظ مقبول حيث يتابع وإلا فلين الحديث

Thabaqat keenam : orang yang tidak memiliki hadis kecuali sedikit, tidak tsabit ditinggalkan hadisnya, maka atasnya diisyaratkan dengan lafaz maqbul, yaitu ketika ada mutaba’ah dan jika tidak maka hadisnya lemah [Taqriib At Tahdziib 1/8]

Syaikh Abu Hasan As Sulaimaniy dalam kitabnya Syifaaul ‘Aliil Bi Alfaazh Wa Qawaaid Al Jarh Wat Ta’dil hal 301 menyebutkan komentarnya setelah menukil perkataan Ibnu Hajar di atas

Syifaaul Abul Hasan

Syifaaul maqbul Ibnu Hajar

Maka zhahir perkataan ini adalah barang siapa yang dikatakan [Ibnu Hajar] tentangnya “maqbul” maka ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri] sampai diteliti apakah ia memiliki mutaba’ah atau tidak, jika terdapat mutaba’ah maka diterima atau dijadikan hujjah dengannya dan jika tidak maka lemah [layyin] wallahu a’laam

.

.

Penutup

  1. So….apakah saya tidak Ilmiah, ngeyel dan ngawur ?

  2. Justru anda telah melampaui kapasitas keilmuan anda dengan melampaui batas terhadap keilmuan Adz Dzahabi, ketsiqatan Marwan, keilmuan Ibnu Hibban, jerih payah Al Ijli, dan istilah-istilah dari Ibnu hajar.

Untuk saat ini mohon maaf jika kami terpaksa mengatakan demikian karena faktanya memang seperti itu. Tidak ada satupun hujjah yang disampaikan Abu Azifah disini memiliki dasar ilmiah kecuali ilmu setengah jadi yang jika dijadikan hujjah akan menghasilkan pemahaman yang rusak.

  1. Tidak ada kami melampaui batas terhadap Adz Dzahabiy, kami telah menempatkan perkataan Adz Dzahabiy sesuai dengan kaidah ilmiah. Kalau itu dikatakan melampaui batas terhadap Adz Dzahabiy maka silakan katakan hal itu pada Ibnu Hajar yang dalam hal ini menyatakan sesuai dengan apa yang kami sampaikan.
  2. Tidak ada kami melampaui batas terhadap ketsiqatan Marwan, pandangan kami terhadap Musaawir gurunya Marwan justru sama dengan ulama yang menilai hadis Al Ajurriy tersebut dalam kitab Asy Syarii’ah Al Ajurriy tahqiq Waliid bin Muhammad bin Nabih Saif. Silakan dikatakan ulama tersebut melampaui ketsiqatan Marwan
  3. Tidak ada kami melampaui batas terhadap Ibnu Hibbaan, tasahul Ibnu Hibban adalah hal yang masyhur di sisi ulama hadis dan kami telah nukilkan salah satunya yaitu Syaikh Al Albaniy maka silakan katakan Syaikh Al Albaniy melampaui batas terhadap Ibnu Hibbaan.
  4. Tidak ada kami melampaui batas terhadap Al Ijliy atau jerih payah Al Ijliy. Justru apa yang ada pada kami ternyata juga ada pada ulama pentahqiq kitab Ma’rifat Ats Tsiqat dimana ia juga bertawaqquf mengenai siapa ‘Amru bin Sufyaan Al Kuufiy yang tsiqat tersebut. Silakan katakan ulama itu tidak menghargai jerih payah Al Ijliy
  5. Tidak pula kami melampaui batas terhadap Ibnu Hajar dalam perkara istilah maqbul di sisi-nya. Secara umum begitulah pandangan Ibnu Hajar sendiri sebagaimana ia tuliskan dalam kitabnya dan telah kami nukilkan pula ulama hadis Syaikh Abu Hasan As Sulaimaniy yang mengatakan persis seperti yang kami katakan. Maka silakan katakan ulama hadis tersebut melampaui batas terhadap Ibnu Hajar.

Kami sarankan kepada abu azifah agar belajar dengan baik ilmu musthalah hadis. Bagi kami ilmu musthalah hadis bukan sembarang ilmu yang bisa dibaca sekali lewat sambil minum kopi. Orang yang tidak mempelajari ilmu ini dengan baik dan asal nukil asal comot sana sini biasanya hanya akan menunjukkan kejahilannya sendiri.

Lihatlah anda, anda berkata keras, kasar dan mencela, semoga ini bukan tanda akan kedangkalan ilmu anda.

Saya tahu anda ingin mencari kebenaran, mudah-mudahan kebenaran akan anda dapatkan dengan salah satunya mau mendengarkan hujjah.

Terakhir nasehat saya, belajarlah yang benar terhadap dalil-dalil ahlussunnah mengenai perkara yang menyangkut ahlul bait.

Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahan saya selama ini.

Perlu diluruskan disini kami tidak pernah berkata keras, kasar dan mencela Abu Azifah. Mungkin perkataan yang ia maksud adalah perkataan kami kalau ia ngeyel, hujjahnya ngawur, tidak paham ilmu musthalah dan sebagainya. Kami rasa itu adalah perkataan yang masih wajar dalam berdiskusi karena faktanya memang demikian. Kami tidak akan mungkin mengatakan hujjahnya baik padahal faktanya ngawur. Kami tidak akan mungkin mengatakan ia alim dalam ilmu musthalah hadis jika faktanya ia tidak paham ilmu musthalah hadis.

Sebenarnya Abu azifah juga mengeluarkan pernyataan yang sama kepada kami, ia awalnya menuduh kami Syi’ah Rafidhah, menuduh kami menyimpangkan pengertian hadis dan komentarnya yang terakhir ia menuduh kami melampaui batas terhadap para ulama seperti Adz Dzahabiy, Marwan, Ibnu Hibban, Al Ijliy dan Ibnu Hajar.

Kami mendengarkan hujjah Abu Azifah bahkan membahas dan menjawabnya dengan jawaban yang panjang lebar sebagaimana kami tuliskan disini. Hal itu menunjukkan bahwa kami memperhatikan hujjahnya maka kami persilakan bagi Abu Azifah untuk memperhatikan hujjah kami, mempelajarinya dan silakan menjawab dengan ilmiah.

Insya Allah kami akan berusaha semampu kami mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ahlul bait sesuai dengan kaidah ilmiah yang benar dalam mazhab ahlus sunnah. Kami tidak akan keberatan untuk mengubah pendapat kami jika kami menemukan kebenaran yang bertentangan dengan yang kami sampaikan. Akhir kata kami juga mohon maaf jika dalam diskusi ini terdapat hal-hal yang menyinggung perasaan Abu Azifah. Dan kami harap semoga tulisan sederhana ini dapat diambil manfaatnya oleh para pembaca.

 

Apakah Mu’awiyah Ingin Menggulingkan Pemerintahan Aliy Yang Sah?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

.

Apakah Mu’awiyah Ingin Menggulingkan Pemerintahan Aliy Yang Sah?

Judul di atas adalah judul tulisan lucu dari seorang Ustadz yang sangat “anti Syi’ah”. Mungkin dalam anggapannya, niatnya baik yaitu membela tuduhan keji terhadap sahabat tetapi sayang sekali niat yang katanya baik itu tidak diiringi dengan kesungguhan menulis secara ilmiah dan objektif. Tulisan tersebut dapat para pembaca lihat disini

https://syiahbatam.wordpress.com/2015/02/03/hati-hati-dalam-menilai-sahabat/

Sebelumnya kami sudah pernah menunjukkan kekonyolan Ustadz satu ini soal doa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada pernikahan Aliy dan Fathimah yang ia katakan buatan orang Syi’ah. Para pembaca dapat melihat pembahasan tersebut disini.

https://secondprince.wordpress.com/2015/02/19/doa-nabi-pada-pernikahan-aliy-dengan-fathimah-made-in-syiah-kedustaan-pencela-syiah/

Kali ini sang Ustadz tersebut membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan bahwa dalam perang shiffin Mu’awiyah sebenarnya hanya menuntut pembunuh Utsman [radiallahu ‘anhu] bukan bertujuan menentang atau menggulingkan pemerintahan Aliy [‘alaihis salaam] bahkan Mu’awiyah menganggap Aliy lebih berhak atas khalifah. Ini sebenarnya syubhat lama yang sudah basi dan tidak bosan-bosannya diulang-ulang oleh pecinta Mu’awiyah. Syubhat ini tidak memiliki landasan shahih, bukti riwayat yang diajukan Ustadz tersebut berdasarkan pendapat yang rajih kedudukannya dhaif. Ustadz tersebut menuliskan

Ustadz Ispiraini Hamdan

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Yahya bin Sulaiman al-Ja’fi (guru Imam Bukhari) meriwayatkan dr Abu Muslim al-Khaulani dengan sanad yg jayyid, beliau bertanya kepada Muawiyah, “apakah kamu ingin menggulingkan Ali, atau anda sama seprti Ali (ngaku menjadi khalifah)..?”

Muaiyah menjawab, “TIDAK, dan aku tahu sekali bahwa beliau lebih mulia dr pada aku dan lebih berhak menjadi khalifah, tetapikan anda tahu bhw Utsman terbunuh secara zalim, sementara aku adalah sepupunya yg berhak menjdi walinya.” (Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, juz 3, hlm. 140, kata muhaqqiqnya perawinya tsiqah).

Nukilan sang Ustadz ini benar-benar lucu, kalau tidak mau dikatakan dusta. Mengapa? Karena sangat tidak mungkin seorang Adz Dzahabiy menukil dari seorang Ibnu Hajar. Adz Dzahabiy wafat pada tahun 748 H [Syadzraatudz Adz Dzahaab 8/264]. Sedangkan Ibnu Hajar lahir pada tahun 773 H [Al Jawaahir Wad Durar As Sakhaawiy 1/104]. Bagaimana mungkin Adz Dzahabiy menukil dari ulama yang lahir setelah ia wafat?.

.

.

.

Sumber Riwayat

Sebenarnya Ustadz ini mencampuradukkan apa yang disebutkan Ibnu Hajar dan apa yang disebutkan oleh Adz Dzahabiy. Yang tertulis dalam kitab Siyaar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy adalah sebagai berikut


Siyaar Alam Nubala 3 hal 140

ثم قال الجعفي : حدثنا يعلى بن عبيد ، عن أبيه ، قال : جاء أبو مسلم الخولاني وأناس إلى معاوية ، وقالوا : أنت تنازع عليا أم أنت مثله ؟ فقال : لا والله ، إني لأعلم أنه أفضل مني وأحق بالأمر مني ، ولكن ألستم تعلمون أن عثمان قتل مظلوما ، وأنا ابن عمه والطالب بدمه ، فائتوه فقولوا له ، فليدفع إلي قتلة عثمان ، وأسلم له . فأتوا عليا ، فكلموه ، فلم يدفعهم إليه

Kemudian Al Ju’fiy [Yahya bin Sulaiman dalam kitab Ash Shiffin] berkata telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid dari Ayahnya yang berkata Abu Muslim Al Khawlaaniy dan orang-orang datang kepada Mu’awiyah, mereka berkata “apakah engkau menentang Aliy atau engkau menyamakan dirimu dengan Aliy? Mu’awiyah berkata “tidak, demi Allah aku mengetahui bahwa ia lebih utama dariku dan lebih berhak atas perkara ini daripada aku, tetapi bukankah kalian mengetahui bahwa Utsman telah dibunuh secara zalim, dan aku adalah sepupunya dan akan menuntut balas atas darahnya. Maka pergilah kalian kepadanya [Aliy] dan katakan padanya untuk menyerahkan kepadaku pembunuh Utsman maka aku akan berdamai dengannya. Mereka datang kepada Aliy dan mengatakan hal itu maka Aliy tidak menyerahkan [pembunuh Utsman] kepadanya” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 3/140]

Silakan para pembaca lihat, tidak ada Adz Dzahabiy menukil Ibnu Hajar. Apa yang ditulis Ustadz tersebut sebenarnya berasal dari apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam Fath Al Baariy

Fath Al Bariy juz 13 hal 92

وقد ذكر يحيى بن سليمان الجعفي أحد شيوخ البخاري في ” كتاب صفين ” في تأليفه بسند جيد عن أبي مسلم الخولاني أنه قال لمعاوية : أنت تنازع عليا في الخلافة أو أنت مثله ؟ قال : لا ، وإني لأعلم أنه أفضل مني وأحق بالأمر ، ولكن ألستم تعلمون أن عثمان قتل مظلوما وأنا ابن عمه ووليه أطلب بدمه ؟ فأتوا عليا فقولوا له يدفع لنا قتلة عثمان ، فأتوه فكلموه فقال : يدخل في البيعة ويحاكمهم إلي

Dan sungguh telah disebutkan oleh Yahya bin Sulaiman Al Ju’fiy, salah seorang Syaikh Bukhariy dalam kitab Ash Shiffin dalam tulisannya dengan sanad yang jayyid dari Abu Muslim Al Khawlaaniy bahwa ia berkata kepada Mu’awiyah “Apakah engkau menentang Aliy dalam Khilafah atau engkau menyamakan diri dengannya?. Mu’awiyah berkata “tidak, aku mengetahui bahwa ia lebih utama dariku dan lebih berhak dalam perkara ini, tetapi bukankah kalian mengetahui bahwa Utsman telah dibunuh secara zalim, dan aku adalah sepupunya dan walinya yang akan menuntut balas atas darahnya. Maka pergilah kalian kepada Aliy dan katakan padanya untuk menyerahkan kepada kami pembunuh Utsman. Maka mereka datang kepada Aliy dan mengatakan hal itu, Aliy kemudian berkata “hendaklah dia berbaiat dan menyerahkan penghakiman mereka kepadaku” [Fath Al Baariy Ibnu Hajar 13/92]

Sanad lengkap riwayat yang dinukil Ibnu Hajar dan Adz Dzahabiy adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh-nya dengan jalan sanad dari Abu ‘Abdullah Al Balkhiy dari Ahmad bin Hasan bin Khairuun dari Hasan bin Ahmad bin Ibrahiim dari Ahmad bin Ishaaq Ath Thiibiy yang berkata

Tarikh Ibnu Asakir juz 59 hal 132

قال ونا إبراهيم نا يحيى قال حدثني يعلى بن عبيد الحنفي نا أبي قال جاء أبو مسلم الخولاني وأناس معه إلى معاوية فقالوا له أنت تنازع عليا أم أنت مثله فقال معاوية لا والله إني لأعلم أن عليا أفضل مني وأنه لأحق بالأمر مني ولكن ألستم تعلمون أن عثمان قتل مظلوما وأنا ابن عمه وإنما أطلب بدم عثمان فائتوه فقولوا له فليدفع إلي قتلة عثمان وأسلم له فأتوا عليا فكلموه بذلك فلم يدفعهم إليه

Dan telah menceritakan kepada kami Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya [bin Sulaiman Al Ju’fiy] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ya’la bin Ubaid Al Hanafiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata Abu Muslim Al Khawlaaniy dan orang-orang yang bersamanya datang kepada Mu’awiyah, mereka berkata kepadanya “apakah engkau menentang Aliy atau engkau menyamakan diri dengannya?” Mu’awiyah berkata “tidak, demi Allah aku mengetahui bahwa ia lebih utama dariku dan lebih berhak atas perkara ini daripada aku, tetapi bukankah kalian mengetahui bahwa Utsman telah dibunuh secara zalim, dan aku adalah sepupunya dan aku hanyalah menuntut balas atas darahnya. Maka pergilah kalian kepadanya [Aliy] dan katakan padanya untuk menyerahkan kepadaku pembunuh Utsman maka aku akan berdamai dengannya. Mereka datang kepada Aliy dan mengatakan hal itu maka Aliy tidak menyerahkan [pembunuh Utsman] kepadanya” [Tarikh Ibnu Asakir 59/132]

.

.

.

Kedudukan Riwayat

Bagaimana kedudukan riwayat tersebut?. Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanadnya jayyid [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 13/92]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth pentahqiq kitab Siyaar A’laam An Nubalaa’ berkata “para perawinya tsiqat”. [As Siyaar Adz Dzahabiy 3/140 tahqiq Syu’aib Al Arnauth catatan kaki no 4]. Syaikh Utsman Al Khamiis berkata “sanadnya shahih” [Huqbah Min At Tariikh Syaikh Utsman Al Khamiis hal 120 catatan kaki no 1]

Para perawi dalam sanad riwayat ini memang tsiqat tetapi riwayat ini tidak shahih karena mengandung illat [cacat] yang tersembunyi yaitu inqitha’ [terputus sanadnya].

Ibnu Hajar menukil dengan lafaz “dengan sanad yang jayyid dari Abu Muslim Al Khawlaaniy”. Lafaz ini keliru karena sanad riwayat tersebut berakhir pada Ayah dari Ya’laa bin Ubaid Al Hanafiy yaitu Ubaid bin Abi Umayyah bukan berhenti pada Abu Muslim Al Khawlaaniy. Nama Abu Muslim Al Khawlaaniy adalah bagian dari matan riwayat bukan bagian dari sanad riwayat. Hal ini dapat dilihat dari apa yang dinukil Adz Dzahabiy dan riwayat dengan sanad lengkap dari Ibnu Asakir yaitu lafaz “Abu Muslim Al Khawlaaniy dan orang-orang yang bersamanya datang kepada Mu’awiyah”

Kisah di atas dimana Abu Muslim Al Khawlaaniy dan orang-orang datang menemui Mu’awiyah kemungkinan terjadi setelah pembunuhan khalifah Utsman [radiallahu ‘anhu] dan sebelum perang shiffin yang terjadi pada tahun 39 H. Ubaid bin Abi Umayyah tidaklah menemui masa Mu’awiyah dan Aliy sebelum perang Shiffiin  sehingga ia tidaklah menyaksikan kisah tersebut.

Ubaid bin Abi Umayyah tidak diketahui tahun lahir dan wafatnya tetapi Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia seorang yang shaduq termasuk Thabaqat keenam [Taqrib At Tahdziib 1/642] dan disebutkan Ibnu Hajar dalam muqaddimah kitab Taqrib At Tahdziib bahwa perawi yang termasuk thabaqat keenam tidak tsabit bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi [Taqrib At Tahdziib 1/25]. Jadi tidak mungkin ia bertemu Aliy bin Abi Thalib dan Mu’awiyah.

أخبرنا طلق بن غنام النخعي قال: ولد يعلى بن عبيد سنة سبع عشرة ومائة في خلافة هشام بن عبد الملك

Telah mengabarkan kepada kami Thalq bin Ghanaam An Nakha’iy yang berkata “Ya’la bin Ubaid lahir pada tahun 117 H pada masa khalifah Hisyaam bin ‘Abdul Malik” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/397]

Thalq bin Ghanam seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/453]. Jika Ya’la bin Ubaid yang merupakan anak Ubaid bin Abi Umayyah lahir pada tahun 117 H maka sangat jauh sekali kemungkinannya Ubaid bin Abi Umayyah sudah hidup sebelum tahun 39 H. Qarinah di atas menguatkan bahwa riwayat Ubaid bin Abi Umayyah tersebut mursal.

.

.

.

Kesimpulan

Riwayat yang dijadikan hujjah oleh Ustadz tersebut kedudukannya dhaif dan sebenarnya terdapat riwayat shahih yang menunjukkan bahwa dalam perang shiffin Mu’awiyah memang menginginkan kekuasaan [Insya Allah hal ini akan dibahas dalam tulisan selanjutnya]. Akhir kata tulisan ini tidak bertujuan untuk membela Syi’ah melainkan untuk meluruskan syubhat orang-orang anti syi’ah dimana penyakit syiahphobia yang mereka derita membuat mereka begitu mudah menyimpangkan kebenaran. Kalau melihat ulah Ustadz anti syi’ah yang kebablasan dan menyimpang dari kebenaran seperti ini, disitu kadang saya merasa sedih. Salam Damai

Inilah Qunut Dalam Mazhab Syi’ah : Hadiah Untuk Orang Jahil

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Inilah Qunut Dalam Mazhab Syi’ah : Hadiah Untuk Orang Jahil

Siapakah orang jahil yang dimaksud?. Yaitu orang yang membantah kami dalam masalah qunut shubuh tetapi membuat tulisan dengan judul “Syubhat Qunut Shubuh Syi’ah”. Nampak sekali kalau akal orang ini sudah begitu rusaknya sehingga apa yang kami yakini dalam masalah qunut shubuh yaitu sebelum ruku’ [dimana hal ini merupakan pendapat dalam mazhab Malikiy] ia anggap merupakan keyakinan Syi’ah.

http://muttaqi89.blogspot.com/2015/02/syubhat-qunut-shubuh-syiah.html

Padahal dalam mazhab Syi’ah, qunut dilakukan dalam semua shalat wajib tidak hanya shubuh dan memang qunut tersebut dilakukan sebelum ruku’. Hal ini jelas berbeda dengan apa yang kami yakini bahwa qunut tanpa nazilah itu hanya ada pada shalat shubuh dan dilakukan sebelum ruku’. Keyakinan kami dalam hal ini masih berada dalam  mazhab ahlus sunnah yaitu mazhab Malikiy.

.

.

Berikut riwayat shahih [yaitu berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah] yang dijadikan hujjah di sisi mazhab Syi’ah dalam masalah qunut.

أحمد عن الحسين عن ابن أبي نجران عن صفوان الجمال قال صليت خلف أبي عبدالله (عليه السلام) أياما فكان يقنت في كل صلاة يجهر فيها ولا يجهر فيها

Ahmaad dari Al Husain dari Ibnu Abi Najraan dari Shafwaan Al Jammaal yang berkata aku shalat di belakang Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] selama beberapa hari maka Beliau melakukan qunut dalam setiap shalat yang dijaharkan bacaannya dan shalat yang tidak dijaharkan bacaannya [Al Kafiy Al Kulainiy 3/191 no 2]

Riwayat di atas para perawinya tsiqat. Ahmad yang dimaksud adalah Ahmad bin Muhammad bin Iisa dan Al Kulainiy meriwayatkan darinya melalui perantara Muhammad bin Yahya. Hal ini dapat dilihat pada sanad hadis sebelumnya [Al Kafiy Al Kulainiy 3/191 no 1]. Maka sanad lengkapnya Al Kulainiy di atas adalah dari Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Iisa dari Ibnu Abi Najraan dari Shafwaan Al Jammaal. Al Majlisiy berkata tentang hadis ini “shahih” [Miraat Al ‘Uquul 15/166]. Perkataan Al Majlisiy ini benar, berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  3. Husain bin Sa’id bin Hammaad seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  4. ‘Abdurrahman bin Abi Najraan seorang yang tsiqat tsiqat dijadikan pegangan apa yang diriwayatkannya [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  5. Shafwaan bin Mihraan Al Jammaal meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah, ia seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 198 no 525]

علي بن أبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن زرارة عن أبي جعفر (عليه السلام) قال القنوت في كل صلاة في الركعة الثانية قبل الركوع

Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Zurarah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata Qunut itu dalam semua shalat yaitu pada rakaat kedua sebelum ruku’ [Al Kafiy Al Kulainiy 3/192 no 7]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat. Al Majlisiy berkata tentang riwayat ini “hasan” [Miraat Al ‘Uquul 15/167]. Penilaian Al Majlisiy sebagai hasan mungkin disebabkan karena Ibrahiim bin Haasyim adalah perawi mamduh yang tidak ternukil tautsiq dari kalangan mutaqaddimin seperti An Najasyiy dan Ath Thuusiy. Tetapi Ibrahiim bin Haasyim telah mendapat tautsiq dari Ibnu Thawus dan hal ini cukup sebagai hujjah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Zurarah bin A’yan seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdullah [‘alaihimas salaam] [Rijal Ath Thuusiy hal 337]

.

.

Ulama Syi’ah Muhaqqiq Al Hilliy telah berkata tentang qunut dalam kitabnya Al Mu’tabar

اتفق الأصحاب على استحباب القنوت في كل صلاة فرضا  كانت أو نفلا مرة وهو مذهب علمائنا كافة

Para ulama telah bersepakat atas disunahkannya qunuut dalam setiap shalat baik itu shalat wajib ataupun shalat sunnah [nafilah] dan hal itu adalah mazhab seluruh ulama kita [Al Mu’tabar Muhaqqiq Al Hilliy 2/238]

.

.

Demikian tulisan singkat tentang qunut dalam mazhab Syi’ah, semoga tulisan ini memperjelas bagi siapapun [terutama orang-orang jahil] bahwa apa yang kami yakini dan amalkan tentang qunut shubuh tidak ada hubungannya dengan mazhab Syi’ah. Syi’ah memiliki pandangan sendiri dan kami juga memiliki pandangan sendiri. Keyakinan kami berlandaskan kitab-kitab hadis ahlus sunnah sedangkan keyakinan Syi’ah berlandaskan kitab-kitab hadis mazhab Syi’ah.

 

 

Barakah Kubur Ma’ruf Al Karkhiy dan Imam Musa bin Ja’far

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Ada kelompok sempalan dalam islam yang gemar menuduh orang muslim yang bertawasul atau mengambil barakah di kubur wali atau ulama tertentu sebagai orang yang telah melakukan kesyirikan. Mungkin mereka lupa atau tidak tahu bahwa sebagian ulama salafus shalih telah melakukannya. Berikut akan kami tunjukkan riwayat yang menunjukkan pengakuan ulama akan barakah di kubur Ma’ruf Al Karkhiy dan Musa bin Ja’far

.

.

Barakah Kubur Ma’ruf Al Karkhiy

أخبرني أبو إسحاق إبراهيم بن عمر البرمكي قال نبأنا أبو الفضل عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري قال سمعت أبي يقول قبر معروف الكرخي مجرب لقضاء الحوائج ويقال إنه من قرأ عنده مائة مرة قل هو الله أحد وسأل الله تعالى ما يريد قضى الله له حاجته

Telah mengabarkan kepadaku Abuu Ishaaq Ibrahim bin ‘Umar Al Barmakiy yang berkata telah memberitakan kepada kami Abul Fadhl Ubaidillah bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Az Zuhriy yang berkata aku mendengar Ayahku mengatakan “Kubur Ma’ruf Al Karkhiy mujarrab untuk menunaikan hajat-hajat dan dikatakan sesungguhnya barang siapa yang membaca di sisinya [kubur tersebut] qul huwallahu ahad [surat al ikhlas] seratus kali dan meminta kepada Allah ta’ala apa saja yang dikehendaki maka Allah SWT akan mengabulkan hajatnya” [Tarikh Baghdaad Al Khatib 1/445]

Riwayat yang disebutkan Al Khatib di atas, para perawinya tsiqat. Berikut keterangan tentang para perawinya

  1. Abuu Ishaaq Ibrahim bin ‘Umar Al Barmakiy, Al Khatib mengatakan bahwa ia shaduq seorang yang faqih mazhab ahmad bin Hanbal [Tarikh Baghdaad 7/63 no 3133]. Ibnu Nuqthah berkata “faqiih mazhab hanbali yang tsiqat” [Takmil Al Ikmaal Ibnu Nuqthah 1/499-500]
  2. Abu Fadhl Ubaidillah bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Az Zuhriy, Al Khatib berkata “tsiqat”. Al Azhariy berkata “Abu Fadhl Az Zuhriy tsiqat”. Daruquthniy menyatakan ia tsiqat shaduq. Al Barqaniy berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdaad 12/96-97 no 5484]
  3. Abdurrahman bin Muhammad bin Ubaidillah Abu Muhammad Az Zuhriy, Al Khatib berkata tentangnya “tsiqat” [Tarikh Baghdaad 11/587 no 5373]

.

حدثنا أبو عبد الله محمد بن علي بن عبد الله الصوري قال سمعت أبا الحسين محمد بن أحمد بن جميع يقول سمعت أبا عبد الله بن المحاملي يقول اعرف قبر معروف الكرخي منذ سبعين سنة ما قصده مهموم الا فرج الله همه

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Aliy bin ‘Abdullah Ash Shuuriy yang berkata aku mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ mengatakan aku mendengar Abu ‘Abdullah bin Al Mahaamiliy mengatakan “Aku mengenal kubur Ma’ruf Al Karkhiy sejak tujuh puluh tahun, tidaklah seorang yang sedang mengalami kesusahan mendatanginya kecuali Allah melapangkan kesusahannya” [Tarikh Baghdaad Al Khatib 1/445]

Riwayat yang disebutkan Al Khatib di atas, para perawinya tsiqat dan shaduq. Berikut keterangan tentang para perawinya

  1. Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Aliy bin ‘Abdullah Ash Shuuriy, Al Khatib berkata “shaduq” [Tarikh Baghdaad 4/172-173 no 1363]. Adz Dzahabiy menyebutnya Imam hafizh hujjah [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/627 no 424]. As Sam’aaniy menyebutkan bahwa ia tergolong hafizh mutqin [Al Ansab As Sam’aaniy 8/106]
  2. Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ seorang Syaikh ‘alim shalih. Ash Shuuriy berkata bahwa ia syaikh shalih tsiqat ma’mun. Al Khatib dan yang lainnya berkata “tsiqat” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/152-155 no 96]
  3. Abu ‘Abdullah Husain bin Ismaiil Al Mahaamiliy seorang qadhiy imam allamah muhaddis tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 15/258 no 110]

Adapun Ma’ruf Al Karkhiy yang dimaksud adalah Abu Mahfuudzh seorang ahli ibadah dari penduduk Iraq dan termasuk qurra’ mereka, banyak hikayat yang menyebutkan tentang karamahnya dan maqbul doanya [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 9/206 no 16037]

.

.

Barakah Kubur Imam Musa bin Ja’far

أخبرنا القاضي أبو محمد الحسن بن الحسين بن محمد بن رامين الإستراباذي قال أنبأنا أحمد بن جعفر بن حمدان القطيعي قال سمعت الحسن بن إبراهيم أبا علي الخلال يقول ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفر فتوسلت به إلاّ سهل الله تعالى لي ما أحب

Telah mengabarkan kepada kami Al Qaadhiy Abu Muhammad Hasan bin Husain bin Muhammad bin Raamiin Al Istaraabaadziy yang berkata telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Hamdan Al Qathii’iy yang berkata aku mendengar Al Hasan bin Ibrahim Abu ‘Aliy Al Khalaal mengatakan “tidak ada perkara yang menyusahkanku maka aku mendatangi kubur Muusa bin Ja’far dan bertawasul dengannya kecuali Allah ta’ala akan memudahkan apa yang kuinginkan” [Tarikh Baghdaad Al Khatib 1/442]

Riwayat yang disebutkan Al Khatib di atas, para perawinya tsiqat dan shaduq. Berikut keterangan tentang para perawinya

  1. Al Qaadhiy Abu Muhammad Hasan bin Husain Al Istaraabaadziy, Al Khatib berkata “aku menulis darinya dan ia seorang yang shaduq fadhl shalih”[Tarikh Baghdaad 8/255 no 3764]
  2. Ahmad bin Ja’far bin Hamdaan Al Qathii’iy, Daruquthniy menyatakan ia tsiqat [Mausu’ah Aqwaal Daruquthniy no 175]. Ibnu Jauziy berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis” [Al Muntazham Fii Tarikh 14/260-261 no 2740]
  3. Hasan bin Ibrahiim Al Khallaal adalah salah satu dari guru Ibnu Hibban yang ia keluarkan hadisnya dalam kitab Shahih-nya [Shahih Ibnu Hibbaan no 6947]. Ibnu Hibbaan telah menyebutkan syarat dalam kitab Shahih-nya salah satunya adalah bahwa perawi dalam kitabnya seorang yang shaduq dalam hadis. Maka berdasarkan hal ini kedudukan Hasan bin Ibrahim Al Khallaal adalah seorang yang shaduq.

Sedikit catatan tentang Hasan bin Ibrahiim Al Khallaal. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya menyebutkan “telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Ibrahim Al Khallaal di Wasith yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib Ibnu Ayuub” [Shahih Ibnu Hibban no 6947].

Al Khatib menyebutkan bahwa kuniyahnya adalah Abu ‘Aliy. Dalam kitab Tarikh Baghdaad hanya ada satu perawi yang sesuai dengan nama Hasan bin Ibrahiim Abu ‘Aliy Al Khallaal yaitu Hasan bin Ibrahiim bin Taubah Abu ‘Aliy Al Khallaal dan Al Khatib tidak menyebutkan jarh dan ta’dil terhadapnya [Tarikh Baghdaad 8/228 no 3733]. Dalam biografi tersebut tidak disebutkan nisbah Al Waasithiy tetapi dalam biografi Yahya bin Muhammad bin Ruzbahaan Al Khatib menyebutkan bahwa ia meriwayatkan dari Abu ‘Aliy Hasan bin Ibrahim Al Khallaal Al Waasithiy [Tarikh Baghdad 16/351 no 7500].

Disebutkan pula bahwa Hasan bin Ibrahim Al Khallaal adalah guru dari Daruquthniy. Daruquthniy menyebutkan “telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ibrahim bin Husain Al Khallaal di Waasith” [Al Ilal Daruquthniy 10/187]. Dan dalam kitab Atraaf Al Gharaa’ib Wal Afraad Lil Daruquthniy disebutkan bahwa nama Syaikh-nya adalah Abu ‘Aliy Husain bin Ibrahiim Al Khallaal [Atraaf Al Gharaa’ib Wal Afraad Lil Daruquthniy no 5897]. Penyebutan nama Husain disini kemungkinan adalah tashif dan yang benar adalah Abu ‘Aliy Hasan bin Ibrahim Al Khallaal.

Syaikh Naif bin Shalah Abu Thayyib menyebutkan biografi Hasan bin Ibrahim Al Khallaal dalam kitabnya Ad Daliil Al Mughniy Li Syuyuukh Al Imam Abul Hasan Daruquthniy. Beliau menyebutkan “Al Hasan bin Ibrahim bin Husain dan dikatakan Ibnu Taubah, Abu ‘Aliy Al Khallaal Al Waasithiy” [Ad Daliil Al Mughniy no 149]. Nampak bahwa Beliau menganggap perawi yang disebutkan Al Khatib dan guru Daruquthniy adalah perawi yang sama hanya saja diperselisihkan nama kakeknya. Dan Beliau berkata tentangnya “majhul hal”.

Memang benar tidak ternukil jarh dan ta’dil terhadap Hasan bin Ibrahim Al Khallaal tetapi berdasarkan keterangan di atas nampak bahwa Hasan bin Ibrahim Abu ‘Aliy Al Khallaal juga dikenal dengan nisbah Al Waasithiy maka kuat penunjukkannya bahwa ia adalah Hasan bin Ibrahim Al Khallaal guru Ibnu Hibban yang menceritakan hadis kepadanya di Waasith [sebagaimana disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibbaan]. Maka hal ini dianggap sebagai ta’dil Ibnu Hibbaan terhadapnya bahwa ia seorang yang shaduq.

Adapun Muusa bin Ja’far adalah Imam pengikut Syi’ah yang diyakini oleh mereka sebagai Imam yang ma’shum. Sedangkan di sisi Ahlus Sunnah, Muusa bin Ja’far dikenal sebagai seorang Imam yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim menyebutkan dalam kitabnya

موسى بن جعفر بن محمد بن على بن الحسين بن على بن ابى طالب روى عن ابيه روى عنه ابنه على بن موسى واخوه على بن جعفر سمعت ابى يقول ذلك نا عبد الرحمن قال سئل ابى عنه فقال ثقة صدوق امام من ائمة المسلمين

Muusa bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib, meriwayatkan dari Ayahnya dan telah meriwayatkan darinya anaknya ‘Aliy bin Muusa dan saudaranya ‘Aliy bin Ja’far. Aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Ayahku [Abu Hatim] ditanya tentangnya, maka ia berkata “seorang yang tsiqat shaduq Imam dari imam-imam kaum muslimin” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/139 no 625]

.

.

.

Kesimpulan

Di sisi kami perkataan atau perbuatan ulama tidak menjadi hujjah secara mutlak jika tidak berlandaskan kepada dalil tetapi bukan itu inti permasalahan di atas. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa perkara barakah kubur ulama tertentu dan tawasul dengannya juga telah dilakukan sebagian ulama tsiqat. Mari kita lihat apakah kelompok sempalan itu akan menuduh para ulama tersebut dengan kesyirikan ataukah mereka akan terdiam seribu bahasa termangu-mangu dan pura-pura tidak tahu.

 

Shalat Tiga Waktu Dengan Alasan Jama’ : Kritik Untuk Muhammad ‘Abdurrahman Al ‘Amiry

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Shalat Tiga Waktu Dengan Alasan Jama’ : Kritik Untuk Muhammad ‘Abdurrahman Al ‘Amiry

Silakan para pembaca melihat terlebih dahulu tulisan Muhammad ‘Abdurrahman Al ‘Amiriy dalam situsnya disini. Perkara yang dipermasalahkan adalah shalat jama’ dzuhur dan ashar atau maghrib dan isya’ dengan alasan pekerjaan seperti pegawai, sopir, tukang becak, dan petani. Sayang sekali pembahasan Al Amiriy tersebut tidak ilmiah dan banyak mengandung syubhat.

.

.

Pembahasan pertama dimulai dari pertanyaan apakah patut menjadi kebiasaan para pekerja seperti tukang becak, petani dan lain-lain untuk shalat tiga waktu dengan menjama’ nya karena alasan pekerjaan?.

Jawaban pertanyaan ini sebenarnya sederhana, patut ataukah tidak itu harus ditimbang dengan kacamata Syari’at. Kalau syari’at membolehkan hal tersebut maka ya tidak ada masalah. Tidak perlu ngalor ngidul bicara soal lalai dalam shalat atau dimana rasa syukur kita. Shalat itu perkara yang diatur tatacaranya, nah kalau memang ada aturan syari’at yang membolehkan shalat jama’ karena ada hajat atau keperluan maka melaksanakannya bukan berarti lalai atau tidak bersyukur kepada Allah SWT. Apalagi jika perkara menjama’ shalat ini dianggap mempermainkan Syari’at agama justru ucapan seperti ini hanya muncul dari orang yang tidak mengerti syari’at agama.

.

.

Pembahasan kedua apakah hukumnya menjama’ shalat dengan alasan pekerjaan tanpa adanya uzur?. Jawabannya boleh, sedangkan orang yang mengatakan haram maka ia telah menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang jelas dan terang benderang.

وحدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا حماد بن زيد عن عمرو بن دينار عن جابر بن زيد عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى بالمدينة سبعا وثمانيا الظهر والعصر والمغرب والعشاء

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Rabii’ Az Zahraaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid dari ‘Amru bin Diinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat di Madinah tujuh dan delapan rakaat yaitu Zhuhur Ashar dan Maghrib Isya’ [Shahih Muslim 1/490 no 705]

Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy membuat-buat syubhat bahwa shalat jama’ yang dimaksud adalah jama’ shuri bukan jama’ yang sebenarnya. Maksudnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat di akhir waktu Zhuhur kemudian shalat Ashar di awal waktu, seolah-olah kelihatan menjamak tetapi sebenarnya dilakukan pada waktunya sendiri-sendiri. Begitu pula Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat Maghrib di akhir waktu kemudian shalat Isya’ di awal waktu. Al Amiriy berhujjah dengan riwayat berikut, ia berkata

Dan hal ini dinyatakan oleh Ibnu Abbas sendiri selaku perawi hadits yang sedang kita bahas diatas. Ibnu Abbas berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيًا جَمِيعًا، وَسَبْعًا جَمِيعًا أَخَّرَ الظُّهْرَ، وَعَجَّلَ العَصْرَ، وَعَجَّلَ العِشَاءَ، وَأَخَّرَ المَغْرِبَ

Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam 8 rakaat sekaligus dan 7 rakaat sekaligus. Beliau shallallahu alaihi wa sallam mengakhirkan shalat dzuhur dan mempercepat shalat ashar. Dan mempercepat shalat isya dan mengakhirkan shalat maghrib” HR. Bukhari Muslim

Dusta Al Amiriy

Sebenarnya kami cukup heran dengan penukilan hadisnya. Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy telah berdusta atas sumber nukilan hadis tersebut. Kami tidak menemukan adanya riwayat Bukhariy dan Muslim dengan lafaz yang demikian. Riwayat yang dinukil Al Amiriy adalah riwayat Nasa’iy bukan riwayat Bukhariy dan Muslim

أخبرنا قتيبة بن سعيد ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَان , عَنْ عمرو , عَنْ جابر بن زيد عَنِ ابن عباس , قَالَ : صليت مع النبي بالمدينة ثمانيًا جميعًا وسبعًا جميعًا ؛ أخر الظهر وعجل العصر , وأخر المغرب وعجل العشاء

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari ‘Amru dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata aku shalat bersama Nabi di Madinah delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus. Beliau mengakhirkan shalat Zhuhur dan mempercepat shalat Ashar, mengakhirkan shalat Maghrib dan mempercepat shalat ‘Isyaa’ [Sunan Nasa’iy Al Kubra no 375]

Riwayat ini sanadnya shahih tetapi lafaz “Beliau mengakhirkan shalat Zhuhur dan mempercepat shalat Ashar, mengakhirkan shalat Maghrib dan mempercepat shalat ‘Isyaa” bukan bagian dari perkataan Ibnu ‘Abbaas melainkan idraj [sisipan] dari perawi hadis. Buktinya ada pada riwayat berikut

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ أبَا الشَّعْثَاءِ جَابِرًا قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَمَانِيًا جَمِيعًا وَسَبْعًا جَمِيعًا قُلْتُ يَا أَبَا الشَّعْثَاءِ أَظُنُّهُ أَخَّرَ الظُّهْرَ وَعَجَّلَ الْعَصْرَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ قَالَ وَأَنَا أَظُنُّهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari ‘Amru yang berkata aku mendengar Abul Sya’tsaa’ Jaabir yang berkata aku mendengar Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhum] berkata aku shalat bersama Nabi di Madinah delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus. ‘Amru berkata “wahai Abul Sya’tsaa’ aku mengira Beliau mengakhirkan shalat Zhuhur dan mempercepat shalat Ashar, mengakhirkan shalat Maghrib dan mempercepat shalat ‘Isyaa’. [Abu Sya’tsaa’] berkata “aku juga mengiranya demikian” [Shahih Bukhariy 2/58 no 1174].

Oleh karena itu nampak jelas kekeliruan Asy Syaukaniy yaitu ulama yang dikutip oleh Al Amiriy perkataannya

Imam Syaukani Rahimahullah berkata:

وَمِمَّا يَدُلّ عَلَى تَعْيِين حَمْل حَدِيثِ الْبَابِ عَلَى الْجَمْع الصُّورِيّ مَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ بِلَفْظِ: «صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا، أَخَّرَ الظُّهْر وَعَجَّلَ الْعَصْر، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ» فَهَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَاوِي حَدِيثِ الْبَابِ قَدْ صَرَّحَ بِأَنَّ مَا رَوَاهُ مِنْ الْجَمْع الْمَذْكُور هُوَ الْجَمْع الصُّورِيّ

“Dan dari apa yang membawa hadits ini (Hadits Ibnu Abbas) kepada jama’ shuuri (bukan jama’a beneran) adalah riwayat yang dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari Ibnu Abbas dengan lafadz: “Aku bersama nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat dzuhur dan ashar sekaligus, dan maghrib isya sekaligus. Beliau mengakhirkan shalat dzuhur dan mempercepat shalat ashar. Dan mengakhirkan shalat ashar dan mempercepat shalat isya”. Maka ibnu Abbas ini adalah perawi hadits bab (yang sedang dibahas), Ibnu Abbas telah memperjelas bahwasanya apa yang diriwayatkan olehnya mengenai jama’ shalat yang disebutkan adalah jama’ shuuri” (Nail Al-Authar 2/358)

Lafaz yang dijadikan hujjah oleh Asy Syaukaniy tersebut bukanlah perkataan Ibnu ‘Abbaas melainkan idraaj [sisipan] dari perawi hadis yaitu zhan [dugaan] sang perawi terhadap hadis tersebut. Dan zhan atau prasangka tidak menjadi hujjah. Apalagi di saat yang lain Abu Sya’tsaa’ Jabir bin Zaid perawi tersebut menyebutkan zhan atau dugaan yang lain

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِالْمَدِينَةِ سَبْعًا وَثَمَانِيًا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ فَقَالَ أَيُّوبُ لَعَلَّهُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ قَالَ عَسَى

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad dia Ibnu Zaid dari ‘Amru bin Diinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat di Madinah tujuh dan delapan rakaat Zhuhur Ashar dan Maghrib Isyaa’. Maka Ayuub berkata “mungkin karena malam berhujan”. [Jabir bin Zaid] berkata “bisa jadi” [Shahih Bukhariy 1/114 no 543]

Di saat lain perawi mengira itu jamak shuriy dan di saat lain perawi yang sama mengira jama’ itu karena hujan. Dugaan tidak menjadi hujjah dan terdapat riwayat Ibnu ‘Abbas yang menunjukkan bahwa jama’ tersebut memang betul jama’ shalat sebenarnya bukan jama’ shuriy.

وحدثني أبو الربيع الزهراني حدثنا حماد عن الزبير بن الخريت عن عبدالله بن شقيق قال خطبنا ابن عباس يوما بعد العصر حتى غربت الشمس وبدت النجوم وجعل الناس يقولون الصلاة الصلاة قال فجاءه رجل من بني تميم لا يفتر ولا ينثني الصلاة الصلاة فقال ابن عباس أتعلمني بالسنة ؟ لا أم لك ثم قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم جمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء قال عبدالله بن شقيق فحاك في صدري من ذلك شيء فأتيت أبا هريرة فسألته فصدق مقالته

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Rabii’ Az Zahraaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad dari Zubair bin Khirriit dari ‘Abdullah bin Syaqiiq yang berkata Ibnu ‘Abbas berkhutbah kepada kami pada suatu hari setelah Ashar sampai terbenamnya matahari dan nampak bintang-bintang maka orang-orang pun mulai menyerukan “shalat shalat”. Kemudian datang seorang dari Bani Tamim yang tidak henti-hentinya menyerukan “shalat shalat”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata “engkau ingin mengajariku Sunnah? Celakalah engkau, kemudian Ibnu ‘Abbas berkata “aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjama’ shalat Zhuhur Ashar dan Maghrib Isyaa’. ‘Abdullah bin Syaqiiq berkata “dalam hatiku muncul sesuatu yang mengganjal, maka aku mendatangi Abu Hurairah dan bertanya kepadanya, maka ia membenarkan ucapannya [Ibnu ‘Abbas] [Shahih Muslim 1/490 no 705]

Zhahir lafaz riwayat Muslim di atas memang menyebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjama’ Zhuhur Ashar dan Maghrib Isyaa’. Kemudian apa yang dilakukan Ibnu ‘Abbas belum mengerjakan shalat maghrib sampai nampaknya bintang-bintang menunjukkan bahwa ia akan shalat jama’ takhir maghrib isyaa’ maka bisa dipastikan hal itu bukan jama’ shuriy.

Perbuatan Ibnu ‘Abbaas yang menjama’ shalat maghrib dan isya’ karena sibuk berkhutbah [menyampaikan ilmu] menjadi dasar untuk menolak zhan [dugaan] perawi hadis yang menganggap jama’ tersebut adalah jama’ shuriy atau zhan [dugaan] yang menganggap hal itu adalah jama’ karena hujan.

.

.

.

Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy kemudian membawakan hadis lain yang menurut anggapannya menjadi hujjah bahwa jama’ tersebut dilakukan karena terdapat uzur perkara berat yang mendesak. Berikut riwayat yang dimaksud

وحدثنا أحمد بن يونس وعون بن سلام جميعا عن زهير قال ابن يونس حدثنا زهير حدثنا أبو الزبير عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الظهر والعصر جميعا بالمدينة في غير خوف ولا سفر قال أبو الزبير فسألت سعيدا لم فعل ذلك ؟ فقال سألت ابن عباس كما سألتني فقال أراد أن لا يحرج أحدا من أمته

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus dan ‘Aun bin Salaam keduanya dari Zuhair. Ibnu Yuunus berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat zhuhur dan ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula dalam perjalanan. Abu Zubair berkata maka aku bertanya kepada Sa’id “mengapa Beliau melakukannya?”. [Sa’id] berkata aku telah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas sebagaimana engkau bertanya kepadaku. Maka ia menjawab “Beliau menginginkan tidak menyulitkan seorangpun dari umatnya” [Shahih Muslim 1/489 no 705]

Dalam hadis di atas tidak ada disebutkan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan shalat jama’ karena uzur perkara berat atau mendesak. Lafaz hadis “Beliau menginginkan tidak menyulitkan seorangpun dari umatnya” adalah tujuan dari syari’at shalat jama’ tersebut bukan sebagai keterangan yang menunjukkan adanya uzur. Secara zhahir hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan shalat jama’ tersebut tanpa adanya uzur, Beliau ingin memberikan keluasan kepada umatnya sehingga tidak ada satupun dari umatnya yang akan merasa kesulitan dalam melaksanakan shalat.

Al Baghawiy memahami hadis riwayat Muslim tersebut sebagai dalil bolehnya menjama’ shalat tanpa adanya uzur. Al Baghawiy setelah meriwayatkan hadis di atas dalam kitabnya Syarh As Sunnah, ia berkata

هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ الْجَمْعِ بِلا عُذْرٍ ، لأَنَّهُ جَعَلَ الْعِلَّةَ أَنْ لا تَحْرَجَ أُمَّتُهُ ، وَقَدْ قَالَ بِهِ قَلِيلٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ ، وَحُكِيَ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ ، أَنَّهُ كَانَ لا يَرَى بَأْسًا بِالْجَمْعِ بَيْنَ الصَّلاتَيْنِ إِذَا كَانَتْ حَاجَةٌ أَوْ شَيْءٌ ، مَا لَمْ يَتَّخِذَهُ عَادَةً

Hadis ini menjadi dalil dibolehkannya menjama’ shalat tanpa adanya uzur, karena Beliau telah menjadikan sebabnya sebagai tidak menyulitkan umatnya, Dan sungguh telah berkata demikian sedikit dari ahlul hadis, dihikayatkan dari Ibnu Siriin bahwa ia berkata “tidak mengapa menjama’ dua shalat jika memiliki hajat atau sesuatu keperluan dan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan” [Syarh As Sunnah Al Baghawiy 4/199 no 1044]

Ibnu ‘Abbaas sendiri selaku sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut telah mengamalkan menjama’ shalat bukan karena ada perkara berat yang mendesak sebagaimana dikatakan Al Amiriy. Apakah berkhutbah atau menyampaikan ilmu termasuk perkara berat mendesak?. Bukankah begitu mudah untuk berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat. Kalau Al Amiriy menganggap shalat jama’ tersebut mempermainkan syari’at atau lalai maka itu berarti ia menuduh Ibnu ‘Abbaas telah mempermainkan syari’at.

حدثنا موسى بن هارون ثنا داود بن عمرو الضبي ثنا محمد بن مسلم الطائفي عن عمرو بن دينار عن جابر بن زيد عن ابن عباس قال : صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمان ركعات جميعا وسبع ركعات جميعا من غير مرض ولا علة

Telah menceritakan kepada kami Muusa bin Haruun yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin ‘Amru Adh Dhabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy dari ‘Amru bin Diinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat delapan rakaat sekaligus dan tujuh raka’at sekaligus bukan karena sakit dan tanpa sebab tertentu [uzur] [Mu’jam Al Kabir 12/177 no 12807]

Riwayat Ath Thabraniy di atas para perawinya tsiqat dan shaduq, berikut keterangan tentangnya

  1. Muusa bin Haaruun seorang hafiz tsiqat kabiir [Taqrib At Tahdzib 2/230]
  2. Dawud bin ‘Amru Adh Dhabiy seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/281]
  3. Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy seorang yang shaduq sering keliru dari sisi hafalannya [Taqrib At Tahdzib 2/133]. Dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Muhammad bin Muslim seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 6293]
  4. ‘Amru bin Dinar Al Makkiy seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 1/734]
  5. Jabir bin Zaid seorang yang tsiqat faqiih [Taqrib At Tahdziib 1/152]

Riwayat Ath Thabraniy di atas adalah qarinah kuat yang menyatakan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjama’ shalat tersebut tanpa adanya uzur.

.

.

Kesimpulan

Dalam perkara ini, pendapat yang rajih adalah apa yang dikatakan sebagian ulama bahwa menjama’ shalat dibolehkan secara mutlak asal tidak dijadikan kebiasaan. Ibnu Hajar berkata

وقد ذهب جماعة من الأئمة إلى الأخذ بظاهر هذا الحديث ، فجوزوا الجمع في الحضر للحاجة مطلقا لكن بشرط أن لا يتخذ ذلك عادة ، وممن قال به ابن سيرين وربيعة وأشهب وابن المنذر والقفال الكبير وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث ، واستدل لهم بما وقع عند مسلم في هذا الحديث من طريق سعيد بن جبير قال : فقلت لابن عباس لم فعل ذلك ؟ قال : أراد أن لا يحرج أحدا من أمته

Dan sungguh sekelompok dari para imam telah mengambil zhahir hadis ini, maka mereka membolehkan secara mutlak shalat jama’ ketika mukim karena ada keperluan tetapi dengan syarat tidak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan. Diantara yang mengatakan demikian adalah Ibnu Sirin, Rabii’ah, Asyhab, Ibnu Mundzir, Al Qaffaal Al Kabiir dan dihikayatkan oleh Al Khaththaabiy dari jama’ah ahli hadis. Dan mereka telah berdalil dengan hadis ini riwayat Muslim dari jalan Sa’iid bin Jubair yang berkata maka aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas “mengapa Beliau melakukannya?”. Ibnu ‘Abbaas berkata “Beliau menginginkan tidak menyulitkan seorangpun dari umatnya “ [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 2/24]

Pernyataan para ulama yang dinukil Ibnu Hajar tersebut telah sesuai dengan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbaas. Pernyataan para ulama ini sekaligus membatalkan klaim ijma’ dalam mengharamkan shalat jama’ tanpa adanya uzur. Bagaimana bisa dikatakan ijma’ kalau terdapat sekelompok ulama yang mengingkarinya.

Perkara shalat jama’ tanpa adanya uzur ini telah menjadi keluasan Syari’at yang memberikan kemudahan bagi umat islam. Tidak perlu dikait-kaitkan dengan waham orang-orang bodoh yang menuduh hal itu mempermainkan syari’at atau lalai dalam shalat. Orang yang menuduh perkara sunnah sebagai mempermainkan syari’at maka orang tersebut telah melakukan kemungkaran yang besar. Semoga Allah SWT melindungi kita dari kemungkaran orang-orang tersebut.

 

 

 

Uji Hafalan Anda Wahai Pengikut Syi’ah Dan Ahlus Sunnah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Uji Hafalan Anda Wahai Syi’ah Dan Ahlus Sunnah

Tulisan ini jangan dianggap terlalu serius, anggaplah sekedar obrolan santai sambil minum kopi. Terinspirasi dari status salah seorang muslim dalam akun facebook-nya sebagaimana dapat pembaca lihat

Ristiyan Ragil

Sebelum anda para pembaca menguji hafalan anda, maka ada baiknya kami membantu memberikan sedikit gambaran kualitas riwayat yang dikutip dalam kitab Al Kafiy tersebut [tentu saja berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah].

.

Riwayat Pertama [Al Ma’arij ayat 1 & 2]

علي بن إبراهيم، عن أحمد بن محمد، عن محمد بن خالد، عن محمد بن سليمان عن أبيه، عن أبي بصير، عن أبي عبد الله عليه السلام في قول الله تعالى: ” سأل سائل بعذاب واقع * للكافرين (بولاية علي) ليس له دافع ” ثم قال: هكذا والله نزل بها جبرئيل عليه السلام على محمد صلى الله عليه وآله

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Khaalid dari Muhammad bin Sulaiman dari Ayahnya dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang firman Allah ta’ala “seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi untuk orang-orang kafir terhadap wilayah Aliy yang tidak seorangpun dapat menolaknya”. Kemudian Beliau berkata “demi Allah begitulah Jibril [‘alaihis salaam] turun dengannya kepada Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] [Al Kafiy Al Kulainiy 1/265 no 47]

Al Majlisiy mengatakan hadis ini dhaif [Miraat Al ‘Uquul 5/60]. Dan pernyataan Al Majlisiy benar karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sulaiman Ad Dailamiy dan Ayahnya.

  1. Muhammad bin Sulaiman Ad Dailamiy, An Najasyiy mengatakan ia dhaif jiddan [Rijal An Najasyiy hal 349 no 987].
  2. Sulaiman bin ‘Abdullah Ad Dailamiy, An Najasyiy berkata “dan dikatakan bahwa ia ghuluw pendusta dan demikian pula anaknya Muhammad, tidak beramal dengan apa yang menyendiri dalam riwayatnya” [Rijal An Najasyiy hal 179 no 482]

Riwayat Kedua [Al Baqarah ayat 23]

وبهذا الاسناد، عن محمد بن سنان، عن عمار بن مروان، عن منخل، عن جابر، قال: نزل جبرئيل عليه السلام بهذه الآية على محمد هكذا: ” وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا (في علي) فأتوا بسورة من مثله

Dan dengan sanad ini dari Muhammad bin Sinaan dari ‘Ammaar bin Marwaan dari Munakhkhal dari Jabir yang berkata Jibril [‘alaihis salaam] turun dengan ayat ini kepada Muhammad “Dan jika kamu [tetap] dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami [Muhammad] tentang Aliy maka buatlah satu surat yang semisal dengan Al Qur’an itu” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/262 no 26]

Al Majlisiy mengatakan bahwa hadis ini dhaif [Miraat Al ‘Uquul 5/28]. Pernyataan Al Majlisiy benar karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sinaan dan Munakhkhal bin Jamiil

  1. Muhammad bin Sinaan berdasarkan pendapat yang rajih dia adalah perawi yang dhaif. Kami telah membuat pembahasan khusus tentangnya disini [berdasarkan kaidah ilmu dalam mazhab Syi’ah]
  2. Munakhkhal bin Jamiil, An Najasyiy mengatakan bahwa dia seorang yang dhaif jelek riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 403 no 1127]

Riwayat Ketiga [Al Ahzaab ayat 71]

الحسين بن محمد، عن معلى بن محمد، عن علي بن أسباط، عن علي بن أبي حمزة، عن أبي بصير، عن أبي عبد الله عليه السلام في قول الله عز وجل: ” ومن يطع الله ورسوله (في ولاية علي [وولاية] الأئمة من بعده) فقد فاز فوزا عظيما ” هكذا نزلت

Husain bin Muhammad dari Mu’alla bin Muhammad dari ‘Aliy bin Asbaath dari ‘Aliy bin Abi Hamzah dari Abi Bashiir dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang firman Allah ‘azza wajalla “dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam wilayah ‘Aliy dan para imam setelahnya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. Begitulah ayat tersebut diturunkan [Al Kafiy Al Kulainiy 1/260 no 8]

Al Majlisiy mengatakan hadis ini dhaif [Miraat Al ‘Uquul 5/14]. Pernyataan Al Majlisiy benar karena di dalam sanadnya ada ‘Aliy bin Abi Hamzah Al Bathaa’iniy. Aliy bin Hasan menyatakan bahwa Aliy bin Abi Hamzah seorang pendusta [Rijal Al Kasyiy hal 338 no 235]

.

.

.

Berikutnya mari kita juga menguji hafalan di sisi kitab Ahlus Sunnah. Untuk memudahkan kita langsung ambil dari kitab Shahih yaitu Shahih Bukhariy. Ada yang hafal Juz ‘Amma?. Mari kita uji hafalan surat Al Lail

Shahih Bukhariy 4944

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَدِمَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ فَطَلَبَهُمْ فَوَجَدَهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُلُّنَا قَالَ فَأَيُّكُمْ أَحْفَظُ فَأَشَارُوا إِلَى عَلْقَمَةَ قَالَ كَيْفَ سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى } قَالَ عَلْقَمَةُ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ هَكَذَا وَهَؤُلَاءِ يُرِيدُونِي عَلَى أَنْ أَقْرَأَ { وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى } وَاللَّهِ لَا أُتَابِعُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim yang berkata sahabat-sahabat ‘Abdullah datang menemui Abu Darda’. Maka ia [Abu Darda’] mencari mereka dan menemui mereka. Ia berkata kepada mereka “siapakah diantara kalian yang membaca dengan bacaan ‘Abdullah?”. [salah seorang ] berkata “kami semua”. Ia berkata “lalu siapa diantara kalian yang paling baik bacaannya?” maka mereka pun menunjuk Alqamah. Abu Darda’ bertanya “bagaimana kamu mendengarnya membaca ayat Wallaili idzaa yaghsyaa”. Alqamah berkata “wadzdzakari wal untsaa”. Abu Darda’ berkata “aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] membacanya demikian, akan tetapi mereka menginginkan agar aku membacanya “wama khalaqa dzakara wal untsaa”. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka [Shahih Bukhari 6/170 no 4944

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى

Jika ada yang merasa hafalannya cocok dengan yang tertulis di atas, berarti ada yang tidak beres dengan hafalan anda. Masih belum cukup, mari kita uji lagi hafalan anda Asy Syu’ara ayat 214

Shahih Bukhariy 4971

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ وَرَهْطَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا فَهَتَفَ يَا صَبَاحَاهْ فَقَالُوا مَنْ هَذَا فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تَخْرُجُ مِنْ سَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ قَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ مَا جَمَعْتَنَا إِلَّا لِهَذَا ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } وَقَدْ تَبَّ هَكَذَا قَرَأَهَا الْأَعْمَشُ يَوْمَئِذٍ

Telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Usamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masyiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Murrah dari Sa’iid bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhuma] yang berkata Ketika turun ayat wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin wa rahthaka minhumul mukhlashiin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar hingga naik ke atas bukit Shafa dan menyerukan “wahai sekalian manusia”. Orang-orang berkata “Siapakah orang ini?” akhirnya mereka pun berkumpul kepada beliau. Maka Beliau berkata “Bagaimana pendapat kalian, jika aku mengabarkan kepada kalian bahwa di balik bukit ada pasukan berkuda akan segera keluar, apakah kalian akan membenarkanku?.” Mereka berkata “kami belum pernah mendengar bahwa kamu berdusta”. Beliau kemudian berkata “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian bahwa di hadapanku ada adzab yang sangat pedih”. Maka Abu Lahab pun berkata “Celaka kamu wahai Muhammad. Apakah hanya lantaran ini kamu mengumpulkan kami?” kemudian ia pergi, dan turunlah firman Allah, “tabbat yadaa abiy lahabiw watabb”. Al A’masy membacanya sekarang “wa qad tabb” [Shahih Bukhariy 6/179 no 4971]

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ وَرَهْطَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ

Jika ada yang merasa hafalannya cocok dengan yang tertulis di atas, berarti ada yang tidak beres dengan hafalan anda

Akhir kata selamat menguji hafalan anda wahai para pembaca, tidak peduli apakah anda Syi’ah atau Ahlus Sunnah, yang penting jangan lupa uji hafalannya nyantai saja sambil minum kopi.

Doa Nabi Pada Pernikahan Aliy Dengan Fathimah = Made In Syi’ah? : Kedustaan Pencela Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Doa Nabi Pada Pernikahan Aliy Dengan Fathimah = Made In Syi’ah? : Kedustaan Pencela Syi’ah

Berikut contoh kedustaan dari salah satu pencela Syi’ah, yang kelas dan kualitas [rendahnya] sama dengan Jaser Leonheart. Dalam akun facebook-nya ia mengatakan bahwa doa Nabi pada pernikahan Aliy dengan Fathimah adalah buatan orang Syi’ah. 

Ispiraini Hamdan

Ispiraini Hamdan2

Ispiraini Hamdan3

Orang ini seperti Jaser Leonheart mulutnya lebih besar dibanding kepalanya. Hal ini mungkin karena yang bersangkutan terlalu gemar mencela mazhab Syi’ah dimana kegemarannya tersebut telah melampaui usahanya dalam menuntut ilmu. Doa tersebut meskipun kedudukannya dhaif [bahkan ada yang mengatakan maudhu’] memang tercantum dalam kitab ulama ahlus sunnah. Diantara kitab yang memuat doa tersebut adalah

  1. Kitab Dzakhaair Al ‘Uqbaa oleh Muhibbuddiin Ath Thabariy
  2. Kitab Mirqah Al Mafaatiih Syarh Misykaah Al Mashaabiih oleh Mulla ‘Aliy Al Qaariy
  3. Kitab Tarikh Dimaysiq oleh Ibnu Asakir [dengan sedikit perbedaan lafaz]

 

Kitab Dzakhaair Al ‘Uqbaa Muhibbuddiin Ath Thabariy hal 69-70

Dzakhair Al Uqbaa

 

Dzakhair Al Uqbaa hal 69

Dzakhair Al Uqbaa hal 70

 

.

.

Kitab Mirqah Al Mafaatiih Syarh Misykaah Al Mashaabiih Mulla ‘Aliy Al Qaariy 11/259-260 no 6104

Mirqat Mafatih

 

Mirqat Mafatih no 6104

 

Mirqat Mafatih Syarh no 6104

.

.

Kitab Tarikh Ibnu Asakir 52/444-445

Tarikh Ibnu Asakir juz 52

Tarikh Ibnu Asakir juz 52 hal 444

Tarikh Ibnu Asakir juz 52 hal 445

.

.

Kesimpulan

Para pencela Syi’ah memang punya kebiasaan berdusta, entah sengaja ataupun tidak, buktinya sudah cukup banyak dalam tulisan-tulisan di blog ini yaitu orang-orang seperti Abul-Jauzaa, Jaser Leonheart, Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiriy dan yang lainnya. Mungkin saja mereka dalam hal keilmuan mazhab yang mereka anut adalah orang-orang yang terpandang tetapi kalau sudah bicara mazhab Syi’ah maka terkadang mereka menjatuhkan diri mereka ke derajat para pendusta. Susah memang bersikap objektif kalau sudah dipenuhi dengan kebencian dan kami doakan semoga tidak banyak orang awam yang tertipu dengan kedustaan mereka.