Uncategorized

Syi’ah Benar karena Hadis Tsaqalain, Wahabi dusta karena menolak tsaqalain

Wahabi Ketahuan Berdusta ! Syiah Tidak Berdusta

“Kutinggalkan sepeninggalku Kitab Allah (Al-Quran) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis Tsaqalain (حدیث ثقلین) adalah sebuah hadis yang sangat masyhur dan mutawatir dari Nabi Muhammad Saw yang bersabda, “Kutinggalkan sepeninggalku Kitab Allah (Al-Quran) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis ini diterima oleh seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, dan termaktub dalam kitab-kitab hadis dari kedua mazhab besar tersebut.

Bagi muslim Syiah, hadis ini merupakan pegangan utama untuk menguatkan doktrin pentingnya keimamahan, menguatkan dalil kemaksuman para Imam As dan juga sebagai dalil yang menetapkan keharusan adanya imam di setiap zaman.

Matan Hadis

Hadis ini meski diriwayatkan dengan jalur yang berbeda, dan dengan bunyi teks yang beragam namun tetap mengandung muatan pesan yang sama. Dalam Ushul Kāfi, yang merupakan salah satu dari empat kitab utama mazhab Syiah menyebutkan:

«…إِنِّی تَارِک فِیکمْ أَمْرَینِ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا- کتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ أَهْلَ بَیتِی عِتْرَتِی أَیهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَ قَدْ بَلَّغْتُ إِنَّکمْ سَتَرِدُونَ عَلَی الْحَوْضَ فَأَسْأَلُکمْ عَمَّا فَعَلْتُمْ فِی الثَّقَلَینِ وَ الثَّقَلَانِ کتَابُ اللَّهِ جَلَّ ذِکرُهُ وَ أَهْلُ بَیتِی‏…».

 “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua pusaka yang jika kalian mengikuti keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, (yaitu) Kitab Allah dan Itrahku dari Ahlulbaitku. Wahai manusia, dengarkanlah, aku sampaikan kepada kalian, kalian akan menemuiku di tepi telaga al-Haudh. Aku akan mempertanyakan kepada kalian, apa yang telah kalian perbuat terhadap dua pusaka berharga ini, yaitu Kitab Allah dan Ahlulbaitku.” [1]

Sunan Nasai, salah satu dari enam kitab sahih Ahlusunnah, meriwayatkan”

«… کأنی قد دعیت فاجبت، انی قد ترکت فیکم الثقلین احدهما اکبر من الآخر، کتاب الله و عترتی اهل بیتی، فانظروا کیف تخلفونی فیهما، فانهما لن یفترقا حتی یردا علی الحوض…».

“Ajalku sudah mendekat. Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua sesuatu yang sangat berharga, yang salah satu dari yang lainnya lebih besar, (yaitu) Kitab Allah dan Itrah Ahlulbaitku. Karenanya perhatikan bagaimana kalian memperlakukan keduanya. Keduanya tidak akan terpisah sampai kalian menemuiku di tepi telaga al-Haudh.” [2]

Sumber  dan Sanad Hadis

Hadis ini termasuk dalam riwayat yang diterima oleh semua ulama Islam baik dari kalangan Syiah maupun Sunni, yang dari sisi sanad tidak seorangpun yang mampu melemahkan dan mengkritiknya.

Sumber dari Literatur Ahlusunnah

Menurut kitab Hadits al-Tsaqalain wa Maqāmāt Ahl al-Bait [3], hadis Tsaqalain ini diriwayatkan lebih dari 25 orang perawi dari kalangan sahabat yang mendengarkan langsung dari Nabi Muhammad Saw.

Berikut di antara nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis Tsaqalain:

*Zaid bin Arqam. Darinya terdapat 6 jalur periwayatan sebagaimana yang tertulis dalam kitab Sunan Nasai [4], al-Mu’jam al-Kabir Thabrani [5], Sunan Tirmidzi [6], Mustadrak Hākim [7], Musnad Ahmad [8] dan sejumlah kitab yang lain.

*Zaid bin Tsabit. Dimuat dalam Musnad Ahmad [9] dan al-Mu’jam al-Kabir Thabrani. [10]

*Jabir bin Abdullah. Dimuat dalam kitab Sunan Tirmidzi [11], al-Mu’jam al-Kabir [12], dan al-Mu’jam al-Ausath [13] Thabrani.

*Huzaifah bin Asid. Dalam kitab al-Mu’jam al Kabir Thabrani. [14].

*Abu Sa’id Khudri. Dalam empat bab dari Musnad Ahmad [15] dan Dhua’fa al-Kabir al-Aqili. [16].

*Imam Ali As, dengan dua jalur periwayatan yang terdapat dalam Dar al-Bahr al-Zakhār atau juga dikenal dengan kitab Musnad al-Bazāz [17] dan Kanz al-‘Ummāl. [18]

*Abudzar Ghifari. Dalam kitab al-Mu’talaf wa al-Mukhtalaf Dāruqutni. [19]

*Abu Huraira. Dalam kitab Kasyf al-Atsār ‘an  Zawaid al-Bazār. [20]

*Abdullah bin Hanthab. Dalam Usd al-Ghabah. [21]

*Jubair bin Math’am. Dalam Dhalāl al-Jannah. [22]

Dan sejumlah dari sahabat Anshar, di antaranya: Khuzaimah bin Tsabit, Sahl bin Sa’ad, ‘Adi bin Hatim, Uqbah bin ‘Amir, Abu Ayyub Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Syarih al-Khaza’i, Abu Qadamah Anshari, Abu Laila, Abu al-Haitam bin al-Taihan, dan sebagian lagi dari Bani Qurays yang menghendaki Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As untuk bangkit dengan menukilkan hadis Tsaqalain tersebut. [23]

Bahrani, penulis kitab Ghāyah al-Marām wa Hujjat al-Khishām  juga menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan melalui 39 jalur yang terdapat dalam banyak kitab Ahlusunnah.

Jadi sebagaimana yang telah disebutkan, hadis ini terdapat setidaknya dalam kitab Musnad Ahmad, Sahih Muslim, Manāqib ibn al-Maghāzali, Sunan Tirmidzi, al-‘Umdah Tsa’labi, Musnad Abi Ya’la, al-Mu’jam al-Ausath Thabrani, al-‘Umdah ibn al-Bathriq, Yanābih al-Mawaddah Qunduzi, al-Tharaif ibn al-Maghāzali, Faraid al-Simthain dan Syarah Nahj al-Balāgah Ibn Abi al-Hadid. [24]

Sumber dari Literatur Syiah

Bahrani, penulis kitab Ghāyah al-Marām wa Hujjat al-Khishām menyebutkan dalam sumber periwayatan Syiah terdapat 82 hadis yang mengandung muatan sebagaimana hadis Tsaqalain, diantaranya terdapat dalam kitab al-Kāfi, Kamāl al-Din, Amāli Shaduq, Amāli Mufid, Amāli Thusi, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, al-Ghaibat Nu’māni, Bashāir al-Darajāt dan banyak lagi dari kitab yang lain. [25]

Ulama-ulama Syiah yang secara khusus membahas hadis Tsaqalain dalam karyanya diantaranya terdapat dalam kitab-kitab berikut:

Kitab berbahasa Persia: Hadits Tsaqalain, karya Qawam al-Din Muhammad Wasynawi Qumi, Sa’ādat al-Dārin fi Syarah Hadits Tsaqalain buah karya Abdul Aziz Dahlawi.

Kitab berbahasa Arab: Hadits Tsaqalain karya Najm al-Din Askari, Hadits Tsaqalain karya Sayyid Ali Milani dan Hadits Tsaqalain wa Maqāmāt Ahl al-Bait karya Ahmad al-Mahuzi.

Waktu dan Tempat Keluarnya Hadis

Mengenai kapan dan dimana hadis Tsaqalain disampaikan oleh Rasulullah Saw, terdapat perbedaan pendapat. Misalnya, Ibnu Hajar Haitami [26] menyebutkan bahwa hadis Tsaqalain disebutkan Nabi Muhammad Saw sekembalinya dari Fathu Mekah di Thaif, namun yang lain menyebutkan waktu dan tempat yang berbeda dari pendapat tersebut.

Perbedaan pendapat yang terjadi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, namun setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa terjadinya perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena memang Nabi Muhammad Saw telah menyampaikan hadis tersebut diberbagai tempat dan waktu yang berbeda-beda. Terutama di waktu-waktu terakhir dari kehidupannya, ia sering mengingatkan kaum muslimin akan keutamaan Tsaqalain (dua pusaka berharga) yang ditinggalkannya, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait. [27]

Berikut riwayat-riwayat yang menyebutkan tempat dan waktu keluarnya hadis ini:

*Pada hari Arafah, disaat menunggangi unta [28], pada saat penyelenggaran haji wada’ [29]

*Di persimpangan jalan, di sekitar wilayah Ghadir Khum, sebelum para jemaah haji terpisah satu sama lain. [30].

*Disampaikan saat khutbah di hari Jum’at bersamaan dengan disampaikannya hadis Ghadir. [32]

*Sehabis shalat berjama’ah di masjid Khaif, dihari terakhir hari Tasyrik. [33]

*Di atas mimbar. [34]

*Di penghujung khutbah yang dibacakan untuk seluruh jama’ah. [35]

*Di dalam khubah setiap selesai shalat berjamaah. [36]

*Di ranjang, saat Nabi Saw terbujur sakit, sementara para sahabat berdiri mengelilinginya. [37]

Sunnah atau Itrah?

Sebagian literatur Ahlusunnah menyebutkan “sunnati” sebagai pengganti “itrahti” dalam hadis Tsaqalain. [38] Namun teks tersebut jarang ditemukan, bahkan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab muktabar Ahlusunnah. Para ulama Ahlusunnah sendiri tidak memberikan perhatian yang cukup besar terhadap hadis yang memuat teks “sunnati” termasuk dari kalangan ahli kalam khususnya dalam pembahasan ikhtilaf antar mazhab.

Siapakah yang Dimaksud Itrah?

Dalam banyak periwayatan, kata ‘Ahlulbait’ mucul sebagai penjelas dari ‘Itrahti’, namun sebagian riwayat hanya menyebutkan ‘Itrat’ [39] dan sebagian lainnya hanya menyebut ‘Ahlulbait’ [40] yang kemudian terulang lagi ketika Nabi Saw menyampaikan pesannya. [41]

Pada sebagian periwayatan-periwayatan Syiah dari hadis Tsaqalain, mengenai penjelasan Ahlulbait Nabi Saw mengisyaratkan keberadaan 12 Imam maksum. [42]

Keutamaan Hadis

Para ulama Syiah meriwayatkan hadis ini dalam banyak kitab-kitab mereka. Yang dengan keberadaan hadis tersebut, mereka menggunakannya sebagai dalil yang menguatkan aqidah Syiah mereka. Mirhamad Husain Kunturi Hindi (w. 1306 H) dalam kitab ‘Abaqāt al-Anwar, jilid 1 sampai 3 menukilkan hadis ini dengan menyandarkan pada periwayatan Ahlusunnah, dan menyebutkan betapa penting dan tingginya posisi hadis ini di sisi mereka. Dalam pembahasan mengenai imamah, hadis ini ia dahulukan sebagai hujjah dibandingkan hadis yang lain.

Dari hadis ini, dapat diambil beberapa poin penting yang dapat menetapkan dan membuktikan kesahihan ajaran Syiah:

Kewajiban Mengikuti Ahlulbait

Dalam riwayat ini, Ahlulbait diposisikan berdampingan dengan Al-Quran. Sebagaimana kaum muslimin diwajibkan untuk menataati Al-Quran, maka menaati Ahlulbait juga wajib hukumnya.

Kemaksuman Ahlulbait

Ada dua poin yang terdapat dalam hadis Tsaqalain yang menguatkan bukti kemaksuman Ahlulbait:

*Menegaskan jika Al-Quran dan Ahlulbait dijadikan pedoman dan petunjuk, maka tidak akan terjadi penyimpangan dan penyelewengan. Hal ini menunjukkan dalam bimbingan dan ajaran Ahlulbait tidak terdapat kesalahan sedikitpun.

*Ketidakterpisahan Al-Quran dan Ahlulbait, Posisi keduanya sama sebagai pusaka Nabi Saw yang sangat berharga dan menjadi pedoman bagi umat manusia. Sebagimana telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwa dalam kitab Al-Quran tidak terdapat kesalahan, maka tsaqal lainnya yaitu Ahlulbait, sudah tentu juga tidak terdapat kesalahan padanya.

Sebagian dari muhakik/peneliti Ahlusunnah juga menjadikan hadis Tsaqalain sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Ahlulbait dan hujjah atas kesucian mereka dari kotoran dan kesalahan. [43]

Keharusan Adanya Imam

Pada matan hadis, juga terdapat poin penting yang menguatkan dalil akan keharusan adanya imam sampai akhir zaman.

*Ketidakterpisahan Ahlulbait dengan Al-Quran menunjukan bukti akan keniscayaan imam dari kalangan Ahlulbait Nabi Saw yang akan terus bersama Al-Quran. Sebagaimana diyakini, al-Quran adalah sumber abadi pedoman dalam berislam, maka meniscayakan akan selalu ada dari kalangan Ahlulbait yang akan mendampingi Al-Quran untuk memberikan penjelasan dan sebagai sumber rujukan.

*Nabi Saw menegaskan bahwa kedua pusaka berharga yang diwariskannya, tidak akan terpisah sampai Nabi Muhammad Saw ditemui di tepi telaga Kautsar.

*Nabi Saw menjamin, barangsiapa mengikuti keduanya, tanpa memisahkannya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya.

Imam Zarqani Maliki, salah seorang ulama Ahlusunnah, dalam kitab Syarah a-Mawāhib [44] menukil Allamah Samhudi yang menyatakan, “Dari hadis ini dapat dipahami bahwa, sampai kiamat akan tetap ada dari kalangan Itrah Nabi Saw yang ia layak untuk dijadikan pegangan. Jadi sebagaimana yang tersurat, maka hadis ini menjadi dalil akan keberadaannya. Sebagaimana kitab (yaitu Al-Quran) tetap ada, maka mereka (yaitu Itrah) juga tetap ada di muka bumi.” [45]

Ilmu Ahlulbait Sebagai Narasumber

Sebagaimana diketahui bahwa Al-Quran adalah rujukan utama aqidah dan ahkam amali semua kaum muslimin, sementara hadis ini menyebutkan bahwa Ahlulbait tidak akan pernah terpisah dengan Al-Quran, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Ahlulbait adalah juga sumber rujukan keilmuan Islam yang tidak terdapat di dalamnya kesalahan.

Sayid Abdul -Husain Syaraf al-Din dalam dialognya dengan Syaikh Sulaim Busyra –sebagaimana dimuat dalam kitab al-Murāja’āt- menjelaskan dengan sangat baik mengenai kemarjaan ilmu para Aimmah As dan wajibnya untuk mengikuti petunjuk dan ajaran-ajaran mereka. [46]

Hadis Tsaqalain dan Pendekatan antar Mazhab

Sebagaimana telah disebutkan bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis mutawatir yang diakui kesahihannya oleh Syiah dan Sunni, maka sepatutnya keberadaan hadis ini menjadi penyebab dan pendorong upaya persatuan Islam dan upaya pendekatan antar mazhab. Sebagaimana misalnya, yang pernah diupayakan oleh Sayid Abdul Husain Syarafuddin, salah seorang ulama Syiah dengan Syaikh Sulaim Busyra dari ulama Ahlusunnah. Dialog keduanya yang penuh semangat ukhuwah dan persaudaraan Islami dapat dirujuk dalam kitab al-Murājā’at. Atau sebagaimana upaya keras dan konsisten dari Ayatullah Burujerdi untuk menggalakkan aktivitas pendekatan antar mazhab yang tersinpirasi dari pesan hadis Tsaqalain ini. [47]

Sumber: http://id.wikishia.net

Catatan Kaki

[1] Kulaini, Kāfi, jld. 1, hlm. 294.

[2] Nasai, al-Sunan al-Kubra, hadis 8148.

[3] Atsar Ahmad Mahauzi.

[4] Nasai, al-Sunan al-Kubra, hadis 8148.

[5] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 5, hlm. 186.

[6] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, hadis 3876.

[7] Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 110.

[8] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 371.

[9] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 5, hlm. 183, 189.

[10] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 5, hlm. 166.

[11] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jld. 5, hlm. 328.

[12] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 3, hlm. 66.

[13] Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, jld. 5, hlm. 89.

[14] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 3, hlm. 180.

[15] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 3, hlm. 13, 17, 26, 59.

[16] Al-‘Aqili, Dhu’afa al-Kabir, jld. 4, hlm. 362.

[17] Al-Bazzar, al-Bahr al-Zakhār, hlm. 88, hadis 864.

[18] Mutqi Hindi, Kanz al-‘Ummāl, jld. 14, hlm. 77, hadis 37981.

[19] Daruquthni, al-Mutalaf wal Mukhtalaf, jld. 2, hlm. 1046.

[20] Al-Haitami, Kasyf al-Astār, jld. 3, hlm. 223, hadis 2617.

[21] Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld. 3, hlm. 219, no. 2907.

[22] Al-Bani, Dzhalāl al-Jannah, hadis 1465.

[23] Teks lengkap hadis ini terdapat dalam Istijlāb Irtiqā al-Ghraf karya Syams al-Din Sakhawi hlm. 23. Juga terdapat dalam kitab Yanābi’ al-Mawaddah Qunduzi, jld. 1, hlm. 106-107 dan al-Ashābah Ibnu Hajar ‘Asqalani, jld. 7, hlm. 284-245.

[24] Bahrani, Ghāyat al-Marām wa Hujat al-Khishām, jld. 2, hlm. 304-320.

[25] Bahrani, Ghāyat al-Marām wa Hujat al-Khishām, jld. 2, hlm. 320-367.

[26] Al-Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150.

[27] Mufid, al-Irsyād, jld. 1, hlm. 180; Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150; Syaraf al-Din, al-Murājā’at, hlm. 74.

[28] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jld. 5, hlm. 662, hadis 3786.

[29] Ahmad bin Ali Tabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 391.

[30] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 371; Naisyaburi, Shahih Muslim, jld. 2, hlm. 1873.

[31] Shaduq, Kamāl al-Din wa Tamām al-Ni’mah, jld. 1, hlm. 234, hadis 45 dan hlm. 268, hadis 55; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 109; Syamhudi, Jawāhir al-‘Aqidain, hlm. 236.

[32] Ayyasyi, Kitāb al-Tafsir, jld. 1, hlm. 4, hadis 3.

[33] Shafar Qumi, Bashāir al-Darajāt, hlm. 412-414.

[34] Shaduq al-Amāli, hlm. 62; Juwaini Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 268.

[35] Ayyasyi, Kitāb al-Tafsir, jld. 1, hlm. 5, hadis 9; Ahmad bin Ali Thabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 216.

[36] Dailami, Irsyād al-Qulub, jld. 2, hlm. 340.

[37] Al-Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150.

[38] Rujuk ke: Muttaqi Hindi, Kanz al-‘Ummāl, jld. 1, hlm. 187, hadis 948.

[39] Rujuk ke: Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā, jld. 2, hlm. 92, hadis 259; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 109.[40] Rujuk ke: Juwaini Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 268; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 23, hlm. 131, hadis 64.

[41] Rujuk ke: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 367; Darami, Sunan al-Darami, hlm. 828; Naisyaburi, Shahih Muslim, jld. 2, hlm. 1873, hadis 36; Jauni Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 250, 268.

[42] Rujuk ke: Shaduq, Kamāl al-Din, jld. 1, hlm. 278, hadis 25; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 36, hlm. 317.

[43] Manawi, Faidh al-Qadir, jld. 3, hlm. 18-19; Zarqani, Syarah al-Mawāhib al-Diniyah, jld. 8, hlm. 2; Sanadi, Dirāsāt al-Labaib, hlm. 233, sebagaimana dinukil oleh Husaini Milani dalam Nafahāt al-Azhār, jld. 2, hlm. 266-269.

[44] Jilid 8, hlm. 7.

[45] Sebagaimana yang dinukil oleh Amini dalam kitabnya al-Ghadir, jld. 3, hlm. 118.

[46] Silahkan merujuk ke kitab al-Murājāt oleh Syaraf al-Din, hlm. 71-76.

[47] Rujuk ke: Wa’idzhazadeh Khurasani, Hadits Tsaqalain, hlm. 39-40.

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama.Subyektivitas dengan daya dukung pemahaman yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri

Secara formal kelompok ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah ibnu Wahab al-Rasibi sebagai hasil pemilihan di rumah Zaid ibnu Husein oleh Abdullah ibnu Kawwa’, Urwah Ibnu Djarir, dan Yazid ibnu ‘Ashim. Kepemimpinan ini menandai awal gerakan militer Khawarij yang kemudian melahirkan Perang Nahrawan (daerah yang terletak antara kota Wasith dan Baghdad), yaitu perang antara Khawarij dan Khalifah Ali. Perang ini melahirkan implikasi penyebaran pengikut Khawarij di berbagai tempat di luar Irak sebagai konsekuensi logis dari pelarian sejumlah kader Khawarij dari kekalahan Perang Nahrawan. (Muhammad bin Abdul Karim al-Syahrastani –w. 548 H-al-Milal wa al-Nihal. Cet. 3, Beirut: Dar al-Ma’arif, 1993).

Sebagai sebuah entitas Khawarij memiliki sejumlah karakter. Pertama, memiliki sifat zuhud, wara’,gemar dan berlebih-lebihan dalam beribadah. Ibn Abbas ketika datang pada Khawarij saat diutus Ali berkata: “kening mereka luka-luka karena terlalu lama sujud, dan tangan mereka seperti kaki unta lantaran terlalu banyak sujud.” (Ibn Abd Rabbih –w. 328 H.-al-‘Iqdul Farid, Jilid 2, hal. 389).

Kedua, suka berperang dan menggunakan cara kekerasan, yaitu seperti memaklumkan perang terhadap setiap orang di luar golongan mereka, mengkafirkan orang: “kalau imam telah kafir, maka kafir pulalah rakyat seluruhnya.” (A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid II, terj. Muchtar Yahya, dan Sanusi Latief. Jakarta: Jayamurni, 1971, hal. 115).

Ketiga, memiliki kesetiaan yang tinggi. Misalnya dalam kasus perang di Asak antara Ubaidillah ibn Ziyad dengan tentara 2000 orang dari pihak Umayyah versus Mirdaz Abu Bila dengan tentara 40 orang dari pihak Khawarij. Ubaidillah ibn Ziyad tidak jadi membunuh Mirdaz, sebagai gantinya diserahkan pada petugas penjara, tetapi petugas penjara memberi kesempatan tinggal di rumahnya pada siang hari, sedangkan pada malam hari kembali ke penjara. (Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari –w. 310 H-, Tarikh al-TabariJuz. V, hal. 232).

Keempat, kesederhanaan dan kedangkalan kognitif. Al-Qur’an dijadikan dasar halalnya membunuh. Mereka selalu mengeluarkan dalil surat al-An’am: 57, bahwa tidak ada hukum selain kepunyaan Allah, dan surat al-Maidah: 33, bahwa barang siapa tidak menghukum menurut hukum Allah, maka mereka adalah kafir. Dan bagi siapa saja yang dianggap kafir maka boleh dibunuh, bahkan wanita dan anak-anak boleh dibunuh. Lebih-lebih ketika menyangkut wilayah kepentingan politik. Pembunuhan terhadap Abdullah Ibnu Khabbab karena mengakui kekhalifahan Ali adalah contoh paling awal dari sketsa sejarah kekerasan Khawarij. (Ibn Abd Rabbih –w. 328 H.-al-‘Iqdul Farid, Jilid 2, hal. 390). Bukti lainnya adalah keluar dari koalisi Ibnu Zubair karena dia tidak mau mengakui kekafiran Utsman, Ali, Zubair, dan kepemimpinan Aisyah ketika berseteru dengan Ali. (Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari –w. , Tarikh al-Thabari, juz. IV, hal. 437).

Khawarij kemudian berkembang menjadi beberapa kelompok seperti al-Zariqah, al-Ibadiyah, al-Najdat, dan al-Shufriyah. Lalu apa hubungannya dengan berdirinya dinasti Saud di Arab Saudi dan juga kelompok yang terkenal dengan sebutan Salafi Wahabi? Buku ini tidak terlalu banyak mengeksplor benang merah antara keduanya. Sebenarnya banyak penelitian lainnya yang menjelaskan hal tersebut, seperti David Commins, The Wahabi Mission and Saudi Arabia, London: I.B. Tauris, 2006. Olivier Roy, Globalized Islam: The Search for a New Ummah. Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islami, Damaskus: Dar al-Fikr, 1996.

Sebenarnya istilah Salafi sudah dikenal dalam literatur kitab-kitab klasik. Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada generasi awal pada tiga abad pertama sepeninggal Rasulullah. Namun demikian, saat ini penggunaan istilah Salafi tercemar oleh propaganda kelompok yang gencar melakukan klaim sebagai satu-satunya kelompok pewaris kaum Salaf. Karena itu Olivier Roy menyebut kelompok-kelompok yang mengusung tema atau mengenakan istilah Salaf belakangan ini, disebut sebagai neo-Salafisme. Hasan Ibn Ali al-Segaf dalam bukunya al-Tandid bi Man ‘Addad at-Tauhid menyebut gerakan-gerakan tersebut sebagai Mutamaslif (Meniru-niru seolah Salaf). Lalu keterkaitan antara Salafi dengan Wahabi, terletak pada tataran praksis di mana kelompok Wahabi merasa tersudutkan oleh penisbatan Barat dan kalangan muslim lainnya yang melekatkan gerakan dakwah mereka kepada Muhammad Ibn Abdul Wahab. Oleh karena itu mereka menggunakan istilah Salaf dalam berdakwah, maka kemudian terkenal istilah dakwah Salaf yang kini kian menjamur di Indonesia sebagai tren baru.

Dalam pandangan penulis buku ini, Salafi Wahabi bukanlah khawarij, namun memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda, alias mempunyai sisi kesamaan. Seperti sikap tanpa tedeng aling yang kerap ditunjukkan dalam memerangi hal-hal yang mereka anggap sesat, syirik, dan sebagainya. Propaganda mereka tidak hanya melalui buku, dan radio, tapi juga secara aktif di masyarakat, seperti masjid-masjid dan sarana pendidikan. Demikian pula dengan mengeluarkan fatwa-fatwa atau pernyataan sesat terhadap sesama muslim yang bertentangan dan berbeda dengan pemahaman mereka. Di antara fatwa-fatwa mereka adalah;

1. Haram memotong jenggot apalagi mencukurnya.

2. Haram wanita mengendarai mobil.

3. Haram wanita berbicara di sisi lelaki.

4. Zikir La ilaaha illallah seribu kali sesat dan musyrik.

5. Shalawat setelah azan dosanya sama dengan perzinaan.

6. Kalimat Shadaqallahu al-Azhim Bid’ah dan sesat.

7. Lelaki haram mengajar anak perempuan, dan perempuan haram mengajar anak lelaki.

8. Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tak boleh dinikahi.

9. Haram membangun menara masjid.

10. Ucapan selamat pagi, selamat siang, dan seterusnya berdosa.

11. Ucapan selamat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha seperti Kullu ‘Amin wa Antum Bi Khair(semoga setiap tahun anda berada dalam kebaikan) adalah sesat.

12. Haram wanita berpergian sendiri walaupun dalam kondisi aman.

13. Haram menggunakan Tasbih.

Selain itu masih banyak fatwa lainnya yang berada pada tataran mu’amalat dan tidak dicantumkan dalam buku tersebut, seperti fatwa dua orang ulama Saudi, Sheikh Othman Al-Khamees dan Sa’adal-Ghamidi yang melarang kaum perempuan memakai internet atau mendatangi tempat-tempat penyewaan jasa internet kecuali disertai mahramnya. Kemudian fatwa yang dikeluarkanGeneral Association of Saudi Senior Ulama tentang keharaman memberikan bunga saat menjenguk orang yang terbaring sakit karena perilaku itu menyerupai tradisi dan budaya umat non-muslim.

Ada pula fatwa bernuansa kepentingan dan motif ekonomi dari ulama Saudi Arabia yang mengharamkan penggunaan bahan bakar bio fuel dikarenakan dalam bio fuel tersebut terdapat zat ethanol yang dijumpai pada minum beralkohol, oleh karena itu mereka mengharamkan penggunaan bio fuel meskipun industri otomotif mulai beralih untuk memproduksi kendaraan-kendaraan berbahan bakar bio fuel dalam rangka mendukung gerakan ramah lingkungan dan mengantisipasi pemanasan global. Fatwa ini dikeluarkan oleh Sheikh Muhammad al-Najimi, seorang anggota dari Islamic Jurisprudence Academy, berdasarkan dalil ayat tentang keharaman arak atau minuman beralkohol, dan hadis Nabi yang melarang segala jenis transaksi yang mengandung alkohol tersebut. Akan tetapi fatwa ini dikatakan sebagai pendapat pribadi, bukan merupakan fatwa resmi (Official Fatwa) lembaga fatwa negara.

Di Indonesia sendiri, fenomena gerakan dakwah ormas-ormas Islam banyak yang memiliki karakteristik serupa, mereka sering dilabeli berbagai macam sebutan, dari konservatif, skriptural, tekstual, literal, fundamentalisme, revivalisme, dan sebagainya. Melimpahnya kategorisasi ini setimpal dengan penolakan-penolakan atas labelisasi tersebut. Tetapi secara empirik, keberadaan tipikal dakwah puritanisme ala Salafi Wahabi, benar-benar ada di Indonesia. Oleh karena itu penulis buku ini turut melansir beberapa nama, baik tokoh maupun lembaga yang menaungi propaganda atau seide dengan paham Salafi Wahabi tersebut.

Fatwa – fatwa aneh, nyeleneh, dan tidak masuk akal

Para ulama Wahabi memiliki ajaran dan pendapat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw, para sahabat, dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Misalnya;
1. Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid, ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi al-Anbiya’i Jumlatan (Beriman Kepada Semua Kitab) disebutkan kalau Adam a,s. bukanlah nabi dan juga bukan rasul Allah.
2. Dalam buku al-Qaulu al-Mukhtar li Fana’i an-Nar karangan Abdul Karim al-Humaid, ulama Wahabi, disebutkan bahwa neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab selamanya di neraka karena akan dipindahkan ke surga.
3. Dalam buku kaum Wahabi yang berjudul Fatawa al-Mar’ah disebutkan bahwa menceraikan istri ketika haid tidak menyebabkan jatuhnya talak (padahal ‘ijma ulama mengatakan, seorang suami yang menceraikan istrinya ketika sang istri sedang haid, maka talaknya tetap sah dan si istri menjadi haram bagi suaminya).
4. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil (‘Ijma ulama mengatakan, perempuan boleh mengendarai mobil selagi tidak ada fitnah dan tetap terjaga aurat serta kehormatannya).
5. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa suara wanita di sisi lelaki ajnabi (bukan mahram atau orang yang boleh dinikahi) adalah aurat yang haram untuk didengar suaranya. Dengan kata lain, wanita haram berbicara di sisi laki-laki (di zaman Rasulullah Saw, perempuan dapat bertanya langsung kepada beliau tentang urusan agama. Ini berarti, dalam Islam, tak apa-apa perempuan berbicara di sisi laki-laki).
6. Dalam buku Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad, ulama Wahabi, disebutkan bahwa mengucap zikir la illaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal dalam Al Qur’an surah al-Azhab ayat 41 Allah berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”)
7. Ibnu Utsaimin, ulama Wahabi, berkata; “Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, termasuk dosa besar, meskipun ziarah ke makam Rasulullah.” (padahal dalam ajaran Islam tak ada larangan wanita melakukan ziarah kubur, termasuk menziarahi makam Rasulullah Saw).
8. Dalam buku at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’il al-Haj wa al-Umrah karangan Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz disebutkan bahwa memotong jenggot, apalagi mencukurnya, hukumnya haram (padahal Islam tidak melarang memendekkan jenggot agar kelihatan rapih, bahkan dianjurkan, karena Allah SWT mencintai keindahan)
9. Ibnu Baz dalam majalah ad-Dakwah edisi 1493 Hijriyah (1995 Masehi) yang diterbitkan Saudi Arabiah menyatakan, haram bagi perempuan muslim mengenakan celana panjang, meskipun di depan suami dan celana panjang itu lebar serta tidak ketat (Islam tidak melarang wanita memakai celana panjang. Apalagi di hadapan suami).
10. Dalam kitab al-Ishabah, al-Juwaijati, imam Masjid Jami’ ar-Raudhah, Damaskus, Syiria, disebutkan, ketika berada di Masjid ad-Daqqaq, Damaskus, salah seorang ulama Wahabi mengatakan, shalawat kepada Rasulullah Saw dengan suara nyaring setelah adzan hukumnya sama seperti seorang anak yang menikahi ibu kandungnya (Islam tidak melarang umatnya bershalawat setelah adzan).

11. Ibnu Baz mengatakan, mengucapkan kalimat shadaqallahu al-adzim (maha Benar Allah dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca Al Qur’an adalah bid’ah sesat dan haram hukumnya (Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu karena mengandung pujian kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ali-Imran ayat 95 yang bunyinya; “Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya).”)

Dari beberapa contoh di atas jelas sekali terlihat kalau ajaran Wahabi telah keluar dari Islam karena terlalu banyak fatwa para ulama dan ajarannya yang tidak sejalan, bahkan bertolak belakang, dengan ajaran Islam. Maka benar pula lah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Az-Zakah bab al-Qismah yang penggalan sabdanya berbunyi; “ … Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya …” Subhanallah.Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kejayaan Wahabi. Karena menganggap umat Islam selain pengikut ajarannya adalah kafir dan selalu memerangi, bahkan membunuhi umat Islam dengan dalih jihad fisabilillah, lambat laun antipati terhadap sekte ini meluas di seluruh wilayah Jazirah Arab, sehingga pada akhir abad 19 dakwah para ulama Wahabi tak laku lagi. Bahkan selalu dicerca dan dikecam.

Sadar kalau sektenya dalam bahaya, dengan didukung pemerintah Arab Saudi dan Inggris tentu saja, para ulama penerus Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan jurus baru untuk tetap mengeksiskan sekte ini di muka bumi. Apalagi karena sejarah Wahabi yang kelam dan kotor membuat tak sedikit pengikutnya yang menjadi risih setiap kali berhadapan dengan pengikut sekte Islam yang lain, terutama jika berhadapan dengan pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu ataumutamaslif.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi, sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi. Hal ini diketahui berdasarkan dialog Albani dengan salah seorang pengikutnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, pada Juli 1999 atau pada Rabiul Akhir 1420 Hijriyah.

Selain mengganti nama, sekte ini juga mengubah strategi dakwahnya dengan mengusung platform dakwah yang sekilas, jika tidak dipahami benar maksud dan tujuannya, terkesan sangat indah, terpuji dan agung, yakni “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah”. Apa yang salah dengan platform ini? Gampang dijawab.

Wahabi adalah sekte dengan ajaran yang bahkan oleh para ulama pengikut mazhab yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dianggap sebagai AJARAN SESAT. Pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab, adalah seorang pria arogan, kasar, dan telah dicuci otak oleh Kementerian Persemakmuran melalui salah seorang agen mata-matanya, Hempher, sehingga telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Ulama-ulamanya pun, termasuk Ibnu Taimiyah, mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil, nyeleneh dan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lalu, bagaimana mereka dapat mengajak setiap Mukmin kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw yang dijabarkan dan dijelaskan para ulama dalam hadist? Al Qur’an dan Sunnah yang mana yang mereka maksud? Ibnu Taimiyah sendiri, karena fatwa-fatwanya yang nyeleneh dan menyimpang dari Islam, ditangkap, disidang, di penjara di Damaskus, dan meninggal di penjara itu. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 60 ulama, baik yang hidup di zaman Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya, yang mengungkap kejanggalan dan kekeliruan fatwa-fatwa ulama Wahabi itu dan juga ajaran Wahabi.

Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Sedang dari segi terminologi, as-salaf adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah Saw dalam hadistnya; “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, berdasarkan hadist ini, as-salaf adalah para sahabat Rasulullah Saw, tabi’in(pengikut Nabi setelah masa sahabat) dan tabi at-tabi’in (pengukut Nabi setelah masa tabi’in, termasuk di dalamnya para imam mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat). Maka jangan heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Yang juga perlu diwaspadai, kadangkala penganut ajaran Wahabi juga menyebut diri merekaAhlus Sunnah, namun biasanya tidak diikuti dengan wal Jama’ah untuk mengkamuflasekan diri agar umat Islam yang awam tentang aliran-aliran/sekte-sekte/golongan-golongan dalam Islam, masuk ke dalam golongannya tanpa tahu sekte ini menyimpang, dan mengamini ajarannya sebagai ajaran yang benar. Karena itu penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari sejarah agamanya, dan sekte-sekte yang berada di dalamnya.Faham Salafi Wahabi masuk Indonesia pada awal abad 19 Masehi. Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, faham sesat ini dibawa oleh segelintir ulama dari Sumatera Barat yang bersinggungan dengan sekte ini ketika sedang menunaikan ibadah haji di Mekah.

Namun demikian, para ulama ini tidak menelan mentah-mentah ajaran Wahabi, melainkan hanya mengambil spirit pembaharuannya saja. Buku karya Syaikh Idahram itu bahkan menyebut, spirit yang diambil ulama Sumatera Barat dari faham Wahabi kemudian menjelma menjadi gerakan untuk melawan penjajah Belanda yang berlangsung pada 1803 hingga sekitar 1832 yang kita kenal dengan nama gerakan Kaum Padri dimana salah satu tokohnya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini tidak sekeras dan sekaku Wahabi karena dikulturisasi dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.Keberadaan Wahabi di Indonesia semakin nyata ketika pada awal 1980-an berdatangan elemen-elemen pergerakan dakwah Islam dari luar negeri, sehingga muncul kelompok-kelompok dakwah seperti Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), Hizbut Tahrir, dan Jama’ah Islamiyah (JI). BahkanJI, menurut Polri, adalah pelaku serangkaian aksi teror bom di Tanah Air, termasuk Bom Bali I dan II, dimana Noor Din M TopDR. Azahari, dan Imam Samudera cs berada di dalamnya. Pemimpin JI, menurut Polri, salah satunya adalah Abu Bakar Ba’asyir.

Masih menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pada 1995 Wahabi mulai memiliki media cetak di Indonesia dengan terbitnya Majalah Salafi yang dibidani Ja’far Umar Thalib dan kawan-kawan. Ja’far Umar Thalib juga kita ketahui sebagai Panglima Laskar Jihad.

Saat ini Wahabi telah terpecah menjadi dua faksi, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Selain berjenggot dan mengenakan celana yang menggantung di atas tumit, para pengikut Wahabi dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut.

1. Selalu menggerak-gerakkan telunjuk naik turun saat tasyahhud awal maupun akhir (padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan hal ini, karena seperti dijelaskan para ahli fikih, yang dimaksud menggerakkan telunjuk saat tasyahhud adalah dari kondisi tanggan menggenggam, telunjuk digerakkan hingga menunjuk ke depan (isyarah). Hanya itu, dan tidak digerak-gerakkan. Apa yang dilakukan pengikut Wahabi adalah bid’ah)
2. Sesuai doktrin sekte ini, pengikutnya diberikan penggambaran bahwa seperti halnya manusia, Allah SWT juga memiliki wajah, dua mata, mulut, gigi, dua tangan lengkap dengan telapak tangan dan jari-jemari, dada, bahu, dan dua kaki yang lengkap dengan telapak kaki dan betis. Allah berupa seorang pemuda berambut gelombang dan berpakaian merah. Allah duduk di atasArasy seperti layaknya manusia duduk di kursi. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan turun dari langit yang satu ke langit yang lain. Jika Allah duduk di Arasy, maka akan terdengar suara mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (doktrin ini mirip doktrin dalam Kristen, dimana Isa a.s yang dianggap sebagai anak Tuhan merupakan seorang pemuda dengan rambut bergelombang dan berselendang merah).
3. Pengikut sekte ini memiliki doktrin bahwa tauhid dibagi tiga, yakni tauhid rububiyahuluhiyahdan asma was sifat, sehingga diyakini bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab lebih baik, lebih bertauhid, dan lebih ikhlas dalam beriman kepada Allah SWT daripada umat Islam (padahal dalam Al Qur’an kedua tokoh ini justru dilaknat Allah SWT).
4. Selalu berbeda dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya, berpuasa hanya 28 hari di bulan Ramadhan (Ahlus Sunnah wal Jama’ah 29 atau 30 hari), dan pada 1419 Hijriyah (1999 Masehi) menetapkan bahwa waktu wukuf di Arafah bagi jemaah haji pada 17 Maret, padahal para ahli falak berdasarkan hilal menetapkan bahwa waktu wikuf pada 18 Maret.
5. Sangat kaku dan sangat letterlijk (terlalu harfiah) dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an dan hadist (padahal Islam sangat fleksibel. Apalagi karena Islam diturunkan Allah sebagai rahmatan lil alamin).

6. Mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham, dan mudah menuding apa yang dilakukan umat Islam sebagai bid’ah dan musyrik, seperti misalnya melakukan ziarah kubur dan mengucapkan “shadaqallahu al-adzim” setelah membaca Al Qur’an

Wahabi Memalsukan Kitab Para Ulama Salaf

Buku ini bagus sekali untuk membentengi aqidah ASWAJA dari virus-virus wahabi, merupakan kelanjutan dari jilid pertamanya yang berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Mungkin ada yang beranggapan bahwa isu wahabi merupakan isu jadul yang sengaja dihembuskan kembali. Tetapi kesimpulan seperti itu tidak berhenti di situ saja jika melihat perkembangan dan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Artinya wahabi bukan cuma sekedar isu, tetapi juga fenomena sosial yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan akademik. Sama seperti jika kita membicarakan ideologi, agama, dan sebagainya. Ada berbagai macam isu yang terus berkembang dan tidak pernah stagnan.

Menguatnya pembicaraan tentang Wahabi tidak urung lagi berkaitan erat dengan kian banyaknya pemberitaan dan literatur penelitian yang membahas hal ini. Seperti yang dikatakan Azyumardi Azra dalam pengantar buku jilid ke-2, mengenai penelitian terbaru seputar Wahabi, yakni buku karya Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad (Oxford-Cairo: Oxford University Press, 2005). Wahabi merupakan aliran pemikiran dan gerakan politik yang paling tidak toleran dalam Islam, yang berusaha dengan cara apapun –termasuk jalan kekerasan- untuk menerapkan apa yang dianggap oleh mereka sebagai “Islam Murni”. Ini bisa terlihat dari pemikiran dan kiprah Muhammad Ibn Abd al-Wahab di tanah Hijaz sejak abad ke-18, yang menguasai lanskap keagamaan di Saudi Arabia setelah menduduki Mekkah dan Madinah bersama dengan trah Saud.

Semua golongan yang dianggap telah melakukan Bid’ah atau kesesatan dibasmi dengan menggunakan segala cara termasuk dengan kekerasan. Sampai kini Wahabi tetap dianut dan diterapkan dalam sistem pemerintah Saudi Arabia, demikian pula dengan penyebaran atau mengimpor ajaran itu ke seluruh dunia Islam juga terus digencarkan, seperti melalui pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok-kelompok dalam komunitas muslim. Dalam bidang akademis, salah satu caranya dengan membagikan literatur karangan Muhammad Ibn Abd al-Wahab agar proses transmisi keilmuan, pola pikir, dan gerakan mereka terealisasi dengan baik.

Pada buku kedua ini, sang penulis buku membeberkan bagaimana kelompok Wahabi berupaya memalsukan buku-buku karya ulama klasik dan sejumlah ajaran-ajaran yang menjadi pondasi dasar keyakinan mereka. Misalkan pemalsuan kitab Diwan Imam al-Syafi’i. Kelompok Wahabi sangat membenci kaum sufi yang mereka tuding sesat, karena itu mereka menghilangkan beberapa bagian nasihat Imam Syafi’I tentang sufistik dalam buku versi terbitan mereka. Padahal di buku-buku lainnya versi penerbit lain yang berasal dari Beirut, Damaskus, dan Kairo.

Imam Syafi’I berujar: “Jadilah ahli Fikih dan Sufi Sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberi nasihat kepadamu. Orang yang hanya memelajari ilmu fikih tetapi tidak memelajari ilmu tasawuf, maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan nikmatnya takwa, sebaliknya orang yang hanya memelajari tasawuf saja akan menjadi bodoh, tidak tahu yang benar.”

Bait ini kemudian dihilangkan oleh penerbit-penerbit buku di Saudi. Selanjutnya demikian pula dengan kitab hadis Shahih Bukhari, seperti penghilangan pasal al-Ma’rifah pada Bab al-Mazhalim, padahal dalam kitabFath al-bari karya Ibn Hajar al-Asqalani yang menjadi Syarh atau berfungsi untuk menjelaskan kitab Shahih Bukhari, di situ ditulis jelas mengenai komentar Ibn Hajar mengenai hadis-hadis yang terdapat di dalam pasalal-Ma’rifah. Kemudian pada kitab Shahih Muslim ada sebuah hadis tentang keutamaan empat perempuan terbaik di dunia yakni; Siti Maryam (Ibunda Nabi Isa), Siti Asiah (Istri Firaun, ibunda angkat Nabi Musa), Siti Khadijah, dan Siti Fatimah. Tetapi dalam cetakan penerbit Saudi, Masykul, justru hadis yang tercantum dalam bab Fadhail Khadijah (keutamaan Khadijah) itu dihilangkan. Malah yang dicantumkan adalah hadis tentang keutamaan istri Nabi yang bernama Aisyah. Mengapa hal ini terjadi, disinyalir hadis tersebut jika dicantumkan maka kaum Syi’ah dapat menemukan justifikasi tentang keutamaan Khadijah yang melahirkan Fatimah sebagai keluarga (Ahl Bait) Nabi, sebaliknya Aisyah dalam Perang Unta pernah berperang melawan Ali yang menantu Nabi serta suami Fatimah. Oleh karena itu mereka menghapus hadis itu dan mengganti dengan hadis tentang Aisyah namun malah memasukkannya di bab Fadhail Khadijah. Padahal hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Katsir dan diriwayatkan dalam kitab Ibn Katsir yang notabene dibilang termasuk dari kalangan Sunni.

Selain membeberkan beberapa penghilangan teks tulisan dari naskah-naskah klasik. Kelompok Wahabi juga mempunyai beberapa ajaran lain yang menjadi pondasi dasar. Salah satunya yaitu membenci ilmu sains yang dikatakan sebagai ilmu orang-orang kafir. Makanya ketika kita menghadiri pengajian kaum Salafi Wahabi, biasanya apa yang disebut ilmu hanya dalam kerangka ilmu ketuhanan yang meliputi tauhid, al-Qur’an dan Sunnah, dan cara-cara beribadah ritual belaka. Sementara ilmu lainnya tidak dapat disejajarkan dengan hal itu apalagi digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti teks-teks utama Islam seperti al-Qur’an dan Sunnah.

Semisal dalam karangan salah satu ulama Saudi Abd al-Karim Ibn Shalih al-Humaid yang mengarang bukuHidayah al-Hairan fi Mas’alati al-Dauran, dikatakan bahwa keyakinan tentang bumi berputar merusak akidah mereka. Mereka keberatan jika bumi dikatakan berputar dan mengelilingi matahari. Karena menurut akidah mereka, Allah turun ke langit bumi ini setiap sepertiga malam yang terakhir sebagaimana dikatakan oleh teks utama. Namun mereka memahami secara literal-tekstual benar-benar turun ke bumi dari kursi Arasy. Maka jika bumi berputar berarti Allah tidak akan naik ke Arasy, sebab dengan adanya perputaran bumi setiap bagian bumi mengalami siang dan malam secara bergantian. Lantas kalau Allah tidak bisa naik kembali keArasy, kursi Arasy pun akan menjadi kosong. Dengan demikian mereka menolak pengetahuan yang mengajarkan tentang bumi yang berputar ini.

Dalam buku itu dikatakan: “Sesungguhnya di antara musibah yang merata terjadi di zaman sekarang ini adalah masuknya ilmu-ilmu kontemporer kepada umat Islam dari yang sesungguhnya menjadi musuh-musuh mereka, yaitu golongan Dahriyah dan Mu’aththalah (golongan orang yang tidak mengartikan teks agama secara tekstual), dan adanya dominasi ilmu-ilmu tersebut atas ilmu-ilmu agama. Ilmu kontemporer ini ada dua macam: pertama, ilmu mafdhulah yang mendominasi syariat Islam dan melemahkannya, maka ilmu itu diharamkan. Kedua, ilmu yang merusak akidah, seperti ilmu yang mengatakan bumi itu berputar dan yang lainnya dari ilmu-ilmu kafir.”

Dalam halaman lain Ibn Shalih al-Humaid juga menyatakan: “keyakinan bumi berputar jauh lebih berbahaya dari keyakinan manusia berasal dari kera… Semua dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang bumi itu berputar adalah takwilan yang sesat.”

Syaikh Ibn Baz juga mengatakan hal yang sama tentang sesatnya keyakinan bumi berputar. Bahkan dia menyatakan bahwa orang yang bersikeras mengatakan bumi itu berputar maka orang itu murtad, halal nyawanya dan hartanya. Pendapat Ibn Baz ini terekam dalam kitab karangannya, al-Adillah al-Naqliyah wa al-Hissiyyah ‘ala Jaryan al-Syams wa Sukun al-Ardh (Dalil-Dalil Naqli dan Inderawi tentang Berputarnya Matahari dan Diamnya Bumi). Pada tahun 1976 melalui Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, fatwa serupa juga dikeluarkan bahwa, “Sesungguhnya keyakinan yang mengatakan bahwa matahari tetap dan bumi berputar adalah perkataan yang sangat keji dan munkar. Siapa saja yang mengatakan bumi berputar dan matahari tidak berjalan, maka dia telah kafir dan sesat. Dia wajib diminta bertaubat. Itu jika dia mau bertaubat, jika tidak maka dia dibunuh sebagai kafir murtad, dan harta yang ditinggalkannya menjadi milikBaitul Mal kaum muslimin.” (Fatwa ini dikeluarkan oleh lembaga fatwa Saudi Arabia, Idarat al-Buhuts al-Amah wa al-Ifta’ wa al-Da’wah wa al-Irsyad dengan nomor fatwa 1/2925 tertanggal 7/22/1397 H).

Membaca  beberapa fatwa lain dari para ulama Saudi dalam buku ini, menandakan bahwa fenomena-fenomena yang terjadi dalam kondisi keragaman komunitas muslim dewasa ini, termasuk isu mengenai Wahabi yang tentunya tidak mungkin direduksi pada tataran isu semata. Maka perlu kiranya dalam penelusuran mengenai Wahabi tidak berhenti dengan mencantumkan aspek normatif, tetapi juga tidak kalah penting menelusuri bagaimana fenomena penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia, semisal melalui media televisi berupa sinetron dan film bertema-tema keagamaan, serta beberapa media cetak dan radio. Mungkin hal itu dapat diteliti oleh si penulis pada buku jilid selanjutnya yang katanya akan segera terbit dalam waktu dekat. Hal tersebut dimaksudkan agar dinamika pergolakan di tengah umat akan terpetakan semakin jelas dan kentara, sehingga tidak bisa dengan gampang dimatikan begitu saja dengan atas nama kesatuan dan keseragaman, karena dalam melihat fenomena pasti ada perdebatan dan beragam cara baca untuk menelaahnya.

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang.

peringatan Asyura dalam memperingati kesyahidan Imam Husain As dengan melakukan arak-arakan dan berkumpul di tanah lapang sembari menyanyikan sajak-sajak duka telah menjadi upacara atau tradisi yang telah dilekatkan pada umat muslim Syiah. Dalam tradisi tersebut tidak sedikit disertai dengan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama, misalnya melakukan perbuatan melukai diri dengan senjata-senjata tajam dengan dalih agar turut menghayati perihnya luka yang dialami Imam Husain As. Ulama-ulama Maraji Syiah sejak dulu telah memfatwakan akan keharaman perbuatan tersebut. Namun tetap saja perbuatan tersebut dilestarikan oleh sejumlah orang, meskipun setiap tahunnya sudah semakin tidak populer.

Berikut fatwa-fatwa ulama besar Syiah akan keharaman perbuatan menyiksa dan melukai diri pada peringatan Asyura:

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahwa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Misykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

– FATWA ULAMA YANG MASIH HIDUP –

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan…. mengapa? Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.

Buku Syi’ah yang disambut baik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Lukman penuh kemauan dan  mendorong perubahan.

Lukman kembali memberikan angin segar saat mengurus masalah kepulangan para pengungsi Syiah pasca-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama di Sampang, Madura. Sejak Agustus 2012, ada sekitar 200 warga Syiah asal Sampang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan mengungsi ke rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur. Dia tak ragu menemui sejumlah pihak untuk melakukan pendekatan agar warga Syiah Sampang bisa kembali ke kampung mereka dan hidup damai dengan masyarakat lain.

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu berpendapat persoalan yang menimpa warga Syiah tak hanya menyangkut soal agama, namun ada pula persoalan politik, sehingga dia melakukan pendekatan tak hanya pada pemerintah daerah, namun juga kalangan agamawan dan pihak-pihak yang melakukan pendampingan kepada warga Syiah.

Lukman mengatakan warga Syiah mempunyai hak sebagai warga negara yang sama di mata hukum. Jadi, setelah pulang, mereka boleh menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan hidup damai dengan warga lain. “Prinsipnya, setiap warga negara punya hak yang sama untuk tinggal di kampungnya dan beribadah. Meskipun beda keyakinan, tapi semua dijamin konstitusi negara kita,” kata pria yang pernah menjadi penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai manajer proyek di Helen Keller International.

Menteri Agama Anggap Sunni-Syi’ah perbedaannya bukan pada tataran yang sangat prinsipil

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

salah satu fungsi Kementerian Agama Republik Indonesia di antaranya adalah membina kerukunan umat beragama dan menanamkan keselarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.

Merujuk peran pentingnya itulah Menag, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin M. Si, Kamis (11/9) menerima delegasi Ormas Islam Ahlulbait Indonesia di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat.

Delegasi Ormas Islam ABI yang hadir diwakili jajaran Dewan Syura, Ustad Hussein Shahab, Ketua Umum Ustad Hassan Daliel, Sekjen Ahmad Hidayat beserta beberapa orang pengurus ABI lainnya, diterima Menag di lantai dua gedung Kementerian Agama.

Pertemuan yang dimaksudkan sebagai audiensi antara Ormas Islam ABI dengan Menteri Agama yang belum lama ini dilantik, berlangsung hangat dan membahas sejumlah persoalan keberagamaan yang ada.

Menag Lukman Hakim berharap agar umat Islam Indonesia dapat berjiwa besar dan mampu meneguhkan ukhuwah Islamiyah. Untuk itu kata Menag, diperlukan kebesaran hati semua pihak untuk saling memberi dan saling menerima.

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

“Jadi menurut saya, jika pun ada sedikit perbedaan, perbedaannya itu bukan pada tataran yang sangat prinsipil,” terang Lukman.

Langkah Menteri Agama Lukman Hakim untuk meneguhkan kerukunan umat Islam di Indonesia patut kita dukung. Apalagi bila kita melihat pertikaian di sejumlah negara berpenduduk Muslim terutama di kawasan Timur Tengah, membuka mata kita betapa pertikaian itu hanya akan membawa kesengsaraan dan kehancuran bagi kita semua.

Tentu, kita tidak mengharapkan konflik berkepanjangan sebagaimana telah berlangsung lama di Timur Tengah juga terjadi di Indonesia.

Judul Buku : Syiah Menurut Syiah
Penulis : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga : Rp. 75.000,-
Cetakan : Cetakan 1, Agustus 2014

.

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

Catatan : Risalah Amman (The Amman Massage)

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) –termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)– , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Syi’ah Ja’fariy/Imamiyah/Itsna Asyariyah, Madzhab Syi’ah Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih.

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

Benarkah Ada Orang Mati Yang Bisa Bicara?

 

 

 

 

 

sumber : Secondprince

Benarkah Ada Orang Mati Yang Bisa Bicara?

Benar, paling tidak begitulah yang dikatakan dalam sebagian kitab Rijal di sisi Ahlus Sunnah. Terdapat perawi hadis yang dikatakan “bisa berbicara setelah wafat”. Bahkan terdapat ulama ahlus sunnah yang membuat kitab khusus berkaitan dengan hal ini yaitu Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Man ‘Asya Ba’dal Maut. Tulisan ini hanya membawakan sedikit contoh sebagai bukti bahwa fenomena ini diyakini kebenarannya oleh ulama ahlus sunnah.

زَيْدُ بْنُ خَارِجَةَ بْنِ أَبِي زُهَيْرٍ الْخَزْرَجِيُّ الأَنْصَارِيُّ، شَهِدَ بَدْرًا، تُوُفِّي زَمَانَ عُثْمَانَ، هُوَ الَّذِي تَكَلَّمَ بَعْدَ الْمَوْتِ،

Zaid bin Khaarijah bin Abi Zuhair Al Khazrajiy Al Anshaariy, termasuk yang ikut perang Badar, wafat di masa Utsman dan ia adalah orang yang berbicara setelah wafat [Tarikh Al Kabir Al Bukhariy 3/383 no 1281]

زيد بن خارجة بن أبي زهير الخزرجي أحد ابني الحارث ابن الخزرج الأنصاري مديني له صحبة شهد بدرا توفي زمن عثمان رضي الله عنه وهو الذي تكلم بعد الموت روى عنه موسى بن طلحة حدثنا عبد الرحمن قال سمعت أبي يقول ذلك

Zaid bin Khaarijah bin Abi Zuhair Al Khazraajiy salah seorang dari bani Al Haarits bin Khazraaj Al Anshaariy Al Madiiniy, seorang sahabat Nabi, ikut serta dalam perang Badar, wafat pada masa Utsman [radiallahu ‘anhu] dan ia adalah orang yang berbicara setelah wafat, telah meriwayatkan darinya Muusa bin Thalhah. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku mengatakan demikian. [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/562 no 2541]

Fenomena Zaid bin Khaarijah bicara setelah ia wafat telah disebutkan dalam salah satu riwayat Baihaqiy dan dishahihkannya dalam kitabnya Dala’il An Nubuwah

أخبرنا أبو صالح بن أبي طاهر العنبري ، أنبأنا جدي يحيى بن منصور القاضي ، حدثنا أبو علي محمد بن عمرو كشمرد ، أنبأنا القعنبي ، حدثنا سليمان بن بلال ، عن يحيى بن سعيد ، عن سعيد بن المسيب ، أن زيد بن خارجة الأنصاري ، ثم من بني الحارث بن الخزرج توفي زمن عثمان بن عفان ، فسجى في ثوبه ، ثم أنهم سمعوا جلجلة ، في صدره ، ثم تكلم ، ثم قال : أحمد أحمد في الكتاب الأول ، صدق صدق أبو بكر الصديق الضعيف في نفسه القوي في أمر الله في الكتاب الأول ، صدق صدق عمر بن الخطاب القوي الأمين في الكتاب الأول ، صدق صدق عثمان بن عفان على منهاجهم مضت أربع وبقيت اثنتان ، أتت الفتن وأكل الشديد الضعيف ، وقامت الساعة وسيأتيكم من جيشكم خبر بئر أريس وما بئر أريس . قال يحيى : قال سعيد : ثم هلك رجل من خطمة فسجي بثوبه فسمع جلجلة في صدره ثم تكلم ، فقال : إن أخا بني الحارث بن الخزرج صدق صدق وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ، حدثنا أبو بكر بن إسحاق الفقيه ، أنبأنا قريش بن الحسن ، حدثنا القعنبي ، فذكره بإسناده نحوه وهذا إسناد صحيح وله شواهد

Telah mengabarkan kepada kami Abu Shalih bin Abi Thaahir Al ‘Anbariy yang berkata telah memberitakan kepada kami kakekku Yahya bin Manshuur Al Qaadhiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Aliy Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah memberitakan kepada kami Al Qa’nabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaal dari Yahya bin Sa’iid dari Sa’iid bin Al Musayyab bahwa Zaid bin Khaarijah Al Anshaariy dari Bani Harits bin Khazraj wafat pada masa ‘Utsman bin ‘Affan maka jasadnya ditutupi dengan kain, kemudian orang-orang mendengar suara dari dadanya kemudian ia berbicara, ia berkata “Ahmad Ahmad ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Abu Bakar Ash Shiddiq yang lemah terhadap dirinya tetapi kuat dalam menjalankan perintah Allah juga ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Umar bin Khaththab yang kuat lagi terpercaya juga ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Utsman bin ‘Affan yang berada di atas manhaj mereka pada empat tahun pertama dan dua tahun yang tersisa akan datang fitnah, hari kiamat akan datang, dan akan datang kepada kalian pasukan kalian yang membawa kabar tentang sumur Ariis”. Yahya berkata Sa’iid berkata kemudian seorang laki-laki dari bani Khathmah meninggal lalu jasadnya ditutupi kain maka terdengar suara dari dadanya kemudian ia berbicara, ia berkata “sesungguhnya saudara dari Bani Harits bin Khazraaj benar, benar”. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaaq Al Faaqih yang berkata telah memberitakan kepada kami Quraisy bin Hasaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabiy dan ia menyebutkan dengan sanad di atas. Sanad ini shahih dan memiliki syawaahid [Dala’il An Nubuwah Baihaqiy 6/195]

Selain Zaid bin Kharijah, hal yang sama terjadi juga pada perawi hadis lain yaitu dari golongan tabiin yang bernama Rabi’ bin Hiraasy. Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat ketika menuliskan biografi Rib’i bin Hiraasy ia menyebutkan

وأخوهما ربيع بن حراش الذي تكلم بعد موته

Dan saudara keduanya yaitu Rabii’ bin Hiraasy telah berbicara setelah kematiannya [Ath Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/127]

ربيع بن حراش أخو ربعي بن حراش الذي تكلم بعد الموت وذكر أمره لعائشة فقالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: انه يتكلم رجل من أمتي بعد الموت من خير التابعين

Rabii’ bin Hiraasy saudara dari Rib’i bin Hiraasy, ia adalah orang yang berbicara setelah wafat dan disebutkan perkaranya kepada Aisyah maka ia berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan bahwa akan berbicara seseorang dari umatku setelah wafat yaitu yang paling baik dari kalangan tabiin [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/456 no 2062]

رَبِيعُ بْنُ حِرَاشٍ مِنْ عُبَّادِ أَهْلِ الْكُوفَةِ وَقُرَّائِهِمْ يَرْوِي عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَوَى عَنْهُ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ وَأَخُوهُ رِبْعِيٌّ آلَى أَنْ لَا تَفْتُرَ أَسْنَانُهُ ضَاحِكًا حَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ مَصِيرُهُ فَمَا ضَحِكَ إِلا بَعْدَ مَوْتِهِ

Rabii’ bin Hiraasy termasuk ahli ibadah dari penduduk Kuufah dan qari’ mereka, ia meriwayatkan dari jama’ah sahabat Nabi dan telah meriwayatkan darinya ‘Abdul Malik bin ‘Umair dan saudaranya Rib’i. Disebutkan bahwa ia tidak akan tertawa sampai ia mengetahui nasibnya kelak [surga atau neraka], maka ia tidak pernah tertawa kecuali setelah ia wafat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/226 no 2633]

Aneh memang tetapi begitulah yang diyakini oleh para ulama ahlus sunnah dan dinyatakan dalam riwayat shahih. Memang tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT berkehendak. Kami hanya ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa hal-hal yang aneh memang terdapat dalam kitab Ahlus Sunnah dan kitab Syi’ah. Terdapat sekelompok orang yang berwatak buruk begitu bersemangat mencari hal-hal aneh dalam kitab Syi’ah dan menjadikan hal itu sebagai bahan tertawaan padahal di sisi Ahlus Sunnah hal-hal aneh pun juga banyak.

Tidak jarang hal-hal aneh itu dibungkus dengan bahasa yang sensasional sehingga jika disajikan pada pembaca awam [apalagi yang akalnya rendah] maka mereka akan berlezat-lezat dalam menghina Syi’ah. Contohnya bukankah belum lama ini ada Pembenci Syi’ah yang membungkus sajian dengan judul “Keledai Menjadi Perawi Hadis” dan “Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syi’ah”. Padahal duduk perkara sebenarnya jauh sekali dari bahasanya yang sensasional. Seandainya kita menuruti kerendahan akal para pembenci Syi’ah tersebut maka riwayat atau nukilan di atas bisa saja disajikan dalam bahasa yang sensasional pula seperti “Ternyata Ada Zombie Yang Jadi Perawi Hadis” atau “Mayat Hidup Menceritakan Hadis Dalam Kitab Ahlus Sunnah”. Tetapi kami tidak akan merendahkan akal kami seperti itu, kami tidak akan menjadikan riwayat ini sebagai bahan tertawaan.

Kami hanya ingin menunjukkan bahwa hal-hal yang musykil dalam mazhab Ahlus Sunnah juga banyak, kalau hal-hal musykil seperti itu dijadikan dasar mencela dan merendahkan suatu mazhab maka mazhab mana yang akan selamat dari celaan tersebut.

Syi’ah atau Sunni yang memisahkan Islam dari politik serta membatasi Islam dengan urusan individu serta tertentu ???

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Setiap langkah provokatif dan friksi Sunni-Syiah membantu Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis Israel dengan memunculkan gerakan dungu, kolot serta berafiliasi dengan takfiri.,

.

Ayatullah Khamenei Senin (13/10/2014) dalam acara peringatan Hari Raya Ghadir dihadapan ribuan elemen masyarakat mengisyaratkan propaganda sistematis musuh umat Islam untuk memisahkan Islam dari politik serta membatasi Islam dengan urusan individu serta tertentu.

“Peristiwa Ghadir Khum merupakan rasio transparan dan kokoh Islam dalam menolak pandangan sekular, karena Ghadir Khum manifestasi penekanan dan perhatian Islam terhadap pemerintahan dan politik,” tegas Rahbar.

Ayatullah Khamenei menyebut upaya menghadapi ideologi menarik serta Republik Islam Iran sebagai faktor utama kubu arogan berinvestasi lebih besar dalam mengobarkan friksi di antara umat Muslim.

“AS, Zionisme dan Inggris, pasca kemenangan Revolusi Islam Iran berupaya meningkatkan perpecahan serta menyelewengkan opini Syiah dan Sunni dari musuh utama mereka,” papar Rahbar.

Dalam kesempatan tersebut, Rahbar menilai munculnya gerakan takfiri di Irak, Suriah dan sejumlah negara lain adalah hasil dari program yang dilancarkan kubu imperialis untuk mengobarkan friksi di antara umat Muslim.

“Mereka menciptakan al-Qaeda dan ISIS untuk mengobarkan perpecahan dan menghadapi Republik Islam, namun kini mereka justru terlilit boneka ciptaan mereka tersebut,” ungkap Rahbar.

Seraya mengisyaratkan transformasi yang terjadi di kawasan Rahbar menambahkan, “Kajian intensif dan analisis terkait peristiwa ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat bersama sekutunya dengan dalih palsu menghadapi ISIS lebih memprioritaskan untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan di antara umat Muslim ketimbang menghancurkan benih-benih ISIS.”

Ayatullah Khamenei menekankan, “Siapa saja yang komitmen dengan Islam dan menerima hukum al-Quran, baik itu Sunni maupun Syiah, harus waspada bahwa strategi AS-Israel adalah musuh sejati umat Islam serta umat Muslim.”

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan kelemahan Israel dalam menghadapi resistensi bangsa Palestina menambahkan, berdasarkan analisa dan prediksi yang wajar, Israel dengan kemampuan serta perlengkapan militernya yang canggih sebenarnya harus mampu mengakhiri perang di hari-hari pertama, namun pada akhirnya mereka mengaku tidak mampu menggapai ambisinya dan menyerah pada tuntutan muqawama.

Perang Gaza adalah perang total dan menjadi pentas kejahatan perang dalam sejarah umat manusia. Dari satu sisi, perang tak seimbang ini adalah sebuah bangsa tertindas yang berjuang membela diri dari musuh dan penjajah. Sementara dari sisi lain terdapat rezim penjajah dan penjahat yang dengan sadis melakukan pembantaian terhadap warga tak berdosa serta selama 50 hari melakukan serangan udara yang mengakibatkan lebih dari 2000 orang meninggal. Mayoritas korban kekejaman Israel ini adalah perempuan dan anak-anak. Patut dicatat, ulah kejam Israel ini karena Tel Aviv mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan memanfaatkan sikap pasif Dewan Keamanan PBB serta bungkamnya para pengklaim pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara warga Gaza dengan semangat tinggi terus berjuang melawan tekanan dan represi. Menurut ungkapan Rahbar, kesabaran ini, resistensi dan kemenangan adalah bukti terealisasinya janji Ilahi yang termanifestasikan di Gaza. Pastinya janji ini akan terwujud dalam skala yang lebih luas lagi.

Ada dua faktor utama dan vital bagi kemenangan ini. Pertama kewaspadaan dalam menghadapi konspirasi rumit musuh terhadap muqawama dan kedua menjaga persatuan dan rekonsiliasi nasional. Bangsa Palestina selama lebih dari setengah abad silam terus dirundung perpecahan dan tidak adanya rekonsiliasi nasional sehingga bangsa ini mengalami kerusakan yang serius. Kondisi ini muncul semenjak penjajahan Inggris di kawasan hingga terbentuknya rezil ilegal Israel.

Oleh karena itu, Rahbar mengingatkan dua strategi penting untuk mensukseskan muqamawa bangsa Palestina dan meraih kemenangan penuh dalam menghadapi rezim agresor dan penjajah Israel. Pertama adalah kesiapan yang diperlukan untuk menghadapi agresi Israel. Khusus dalam masalah ini beliau mengingatkan bahwa gerakan muqawama harus memupuk lebih besar lagi kekuatan di Gaza. Strategi kedua menurut Rahbar untuk menggapai kemenangan final adalah manajemen dan penyusunan program untuk melibatkan Tepi Barat Sungai Jordan dalam melawan rezim Zionis Israel.

Rahbar menyebut dan menekankan bahwa kedua strategi ini sebuah proyek dasar di mana perang melawan Israel adalah sebuah perang yang menentukan. Oleh karena itu, dalam pandangan Rahbar, taklif dan kewajiban haurs difinalkan dan musuh juga harus dibuat khawatir terkait Tepi Barat sama seperti mereka khawatir menghadapi Jalur Gaza.

Untuk saat ini, kondisi politik dan tekad dalam masalah ini semakin terbuka dengan terealisasinya rekonsiliasi nasional dua kubu utama Palestina, Fatah dan Hamas. Dari satu sisi, kondisi regional dengan beragam kerumitannya, membuat pandangan terhadap isu Palestina berubah dan rezim Zionis Israel semakin terkucil.

Meluasnya gerakan spontan di negara-negara Eropa dalam memboikot produk Israel, kutukan dunia terhadap pembangunan distrik Zionis serta dukungan atas pembentukan negara independen Palestina di PBB dan penekankan terhadap pencabutan blokade Jalur Gaza mengindikasikan perubahan konstelasi yang menguntungkan muqawama Palestina.

Perubahan konstelasi yang dihasilkan kesabaran dan muqawama di Gaza telah menciptakan iklim baru di kawasan yang tepatnya menurut Rahbar, prospek transformasi akan semakin jelas dan menjanjikan.

Khatib Jumat Tehran mengecam statemen lemah dan tidak benar Menteri Luar Negeri Arab Saudi anti-Iran.

Ayatullah Sayid Ahmad Khatami, Khatib Jumat Tehran mereaksi statemen Saud Al Faisal, Menlu Saudi yang menyebut Iran sebagai bagian dari masalah kawasan. Ia mengatakan, “Siapa yang tidak tahu kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS dibentuk dari dolar-dolar minyak Saudi, dan setiap teror yang terjadi di Dunia Islam dilakukan dengan anggaran pemerintah Saudi.”

Ayatullah Khatami menerangkan bahwa Saudi adalah sumber seluruh masalah kawasan. “Akan tetapi kemarahan pemerintah Saudi juga dapat dipahami, pasalnya kerja keras mereka dengan mengeluarkan jutaan dolar untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan Irak, tidak berhasil,” katanya.

Khatib Jumat Tehran juga mengecam dijatuhkannya vonis mati terhadap Syeikh Nimr Baqir Al Nimr, ulama Syiah Saudi karena dukungannya atas revolusi Bahrain, Wilayatul Fakih dan hak hidup Syiah di Saudi. Ia menjelaskan, “Pada saat yang sama pejabat-pejabat lembaga hak asasi manusia internasional memprotes hukuman mati para penjahat di Iran, tapi mereka diam menyaksikan vonis mati atas seorang ulama Syiah di Saudi.”

Ayatullah Khatami menilai hukuman mati atas Syeikh Nimr menindas dan memperingatkan pemerintah Saudi atas dampak-dampak pelaksanaan hukuman yang berbiaya besar tersebut.

Menjelang tibanya bula Muharam 1435 H, Khatib Jumat Tehran juga menyinggung persiapan masyarakat menyambut hari-hari ini dan mengatakan, “Semua orang berhutang kepada Karbala dan Asyura, api cinta kepada Imam Husein as terus membara di hati setiap Muslim.”

Ia mengingatkan peringatan Asyura tahun 2009 dan insiden yang terjadi bersamaan dengan pemilu presiden di Iran. Menurutnya itu adalah luka lama dalam lembaran sejarah Revolusi Islam. “Insiden ini adalah sebuah fitnah yang di satu sisinya ada munafikin dan pendukung monarki, dan di sisi yang lain ada rakyat dan wilayah,” tegasnya.

Khatib Jumat Tehran menilai peristiwa pilpres Iran tahun 2009 sebagai penentangan terhadap republik dan pemerintahan Islam. Pihak-pihak yang kalah dalam pilpres tidak mau menerima kekalahan dan menyerang para peserta acara peringatan kesyahidan Imam Husein as.

Sehubungan dengan tibanya hari berdirinya Kementerian Intelijen Iran, Khatami mengatakan, “Kementerian Intelijen Iran sejak hari pertama berdiri sampai detik ini memberikan pelayanan-pelayanan berharga bagi Republik Islam Iran dan menggagalkan upaya-upaya jahat musuh yang ingin menggulingkan Revolusi Islam.”

kebangkitan Imam Husain As adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar

Dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam. Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

sumber : http://www.abna.ir/indonesian/service/indonesia/archive/2014/09/26/640369/story.html

Menurut Kantor Berita ABNA, sejumlah ulama Indonesia berkunjung ke kota Qom Republik Islam Iran dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam Iran sebagai pembicara dalam Dialog antar Mazhab yang diselenggarakan selama 3 hari, senin-rabu (22-24/9) yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh Islam dari dua mazhab, Sunni dan Syiah.

KH. Dr. Mustamin Arsyad, MA, salah seorang pembicara selaku Ketua Umum MUI Makassar saat diwawancarai  media setempat menyampaikan rasa bahagianya bisa berkunjung ke Iran dan bersilaturahmi dengan para ulama setempat. Ia turut menegaskan pentingnya silaturahmi yang dalam pandangannya adalah langkah paling strategis dalam mengupayakan terwujudnya persatuan kaum muslimin.

Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Silahkan memperkenalkan diri dan tanggapan anda mengenai kedatangan di Iran ini.

Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya, Mustamin Arsyad, Ketua Umum MUI Makassar, dan pimpinan Tarekat Al-Syadzilia Makassar.

Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan untuk bisa mengunjungi Iran, karena saya sudah lama memendam keinginan untuk bisa kembali mengunjungi Negara ini, khususnya ke kota Qom. Pada tahun 1987 saya pernah ke Iran, hanya saja tidak sempat ke Qom, dan hanya di Tehran saja. Sehingga tidak sempat bersilaturahmi kepada para ulama, maraji termasuk berziarah kemakam-makam Wali Allah yang berada di kota ini. Karenanya dengan adanya kesempatan yang diberikan ini, saya sangat berterimakasih. Dan dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam.  Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Apa peran ulama dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan semangat persatuan dan persaudaraan?

Sebelumnya saya perkenalkan, bahwa mayoritas muslim Indonesia adalah pengikut mazhab Imam Syafi’i, bahkan bisa dikatakan hampir 100 persen. Hanya saja banyak yang belum tahu, bahwa Imam Syafi’i itu berasal dari keturunan Imam Husain, yang otomatis termasuk dari keturunan Rasulullah Saw juga. Karena tidak ada yang menyampaikan hal ini, umat Islam di Indonesia sangat fanatik terhadap mazhab ini. Ketika kembali dari Mesir, setelah menimba ilmu 20 tahun lamanya disana, saya diperhadapkan dengan masyarakat yang memperbesar-besarkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam besar di Indonesia.  Setelah melakukan banyak pengkajian, saya akhirnya berkesimpulan bahwa setelah Rasulullah Saw, semua aliran Islam yang ada titik puncaknya bermuara dari Imam Ali bin Abi Thalib, khususnya aliran Islam yang bersifat spiritual atau tarekat-tarekat sufi. Jadi semua pada hakekatnya sama saja.

Namun betapa realitas yang kita temukan, pertentangan dan perselisihan terjadi  di tengah-tengah kaum muslimin. Untuk konteks di Indonesia, perselisihan yang terjadi adalah antara NU dan Muhammadiyah. Di awal-awal terbentuknya, pengikut kedua ormas ini gampang untuk terprovokasi untuk saling berselisih satu sama lain. Padahal perpecahan tersebut adalah akibat dari konspirasi musuh Islam. Ada seorang Belanda yang bernama Snouck Hurgenje, yang pura-pura masuk Islam dan menyulut pepecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.  Karenanya ulama berperan besar dalam hal ini, untuk mengajak masyarakat mengenal Islam dengan lebih baik sehingga tidak mudah termakan hasutan musuh-musuh Islam.

Menurut anda, apa penyebab terjadinya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh umat Islam?

Menurut saya ada pihak ketiga yang tidak menginginkan Indonesia secara khusus untuk bangkit. Karena Indonesia yang mayoritas muslim jika bangkit bisa membahayakan eksistensi Negara-negara yang tidak senang dengan Islam.

Menurut anda apakah gerakan-gerakan anti Syiah di Indonesia memang semestinya harus ada dan dasarnya apa? Serta bagaimana dengan informasi yang anda dapatkan yang sebenarnya mengenai Syiah?

Saya sudah lama tahu mengenai perjuangan saudara-saudara kami di Iran untuk kejayaan Islam, sehingga ketika ada informasi-informasi yang miring yang bersumber dari manapun mengenai Iran saya secara pribadi tahu bahwa itu sesuatu yang tidak berdasar. Karenanya saya termasuk aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia yang sudah termakan provokasi itu. Dan setelah saya mendapat kehormatan untuk berkunjung ke Negara Iran dan melihat langsung secara dekat, saya pribadi  lebih keras lagi akan memahamkan masyarakat Indonesia mengenai hal ini. Karenanya saya berharap, ini tidak berhenti sampai disini. Tapi berkelanjutan sampai pada tingkat kerjasama yang lebih erat. Dan saya yakin, setelah melihat kekuatan Iran dan jika dipadukan dengan Indonesia, maka itu akan membuat gentar Amerika. Insya Allah.

Syiah adalah mazhab yang tetap diakui sebagai bagian dari umat Islam. Di Universitas al Azhar, kami diperkenalkan prinsip tersebut, tidak ada pengajar disana yang menganggap Syiah itu kafir dan bukan Islam, meskipun tetap ada person-person yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Perbedaan memang ada, tapi bukan hal prinsip yang harus dipertentangkan. Saya sudah mengenal Iran dari teman-teman mahasiswa di Al Azhar yang berasal dari Iran. Meskipun Syiah, mereka tetap bisa menimba ilmu dengan tenang di Al Azhar karena memang Al Azhar moderat dalam hal ini. Saya punya teman sekelas asal Indonesia, namanya Muhsin Alatas, sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Dia pengikut Syiah yang fanatik. Bahkan hampir tidak lulus dari Al Azhar karena tetap memberikan jawaban-jawaban ujian dengan keyakinan Syiahnya.

Saya kemudian mengatakan kepada dia, “Bukankah kamu bisa bertaqiyah?. Kamu menjawab ujian dengan jawaban yang diinginkan dosen, tidak akan merusak keyakinan Syiahmu.”

Diapun kemudian menjalankan saran itu, dan akhirnya lulus ujian. Tapi meskipun berbeda, kami tetap bisa menjalin keakraban dengan baik, karena yang kami kedepankan adalah ukhuwah dan akhlak Islam. Dan itu yang diajarkan di Al Azhar. Baru beberapa tahun belakangan ini, setelah masuk pemahaman Salafi dan Wahabi di Al Azhar sudah ada person-person yang suka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bisa menyulut perpecahan umat.

Karena itu harapan saya kepada masyarakat Indonesia, untuk tidak mudah terpedaya pada isu-isu yang tidak benar. Kebutuhan umat Islam saat ini adalah persatuan. Dan itu yang seharusnya lebih dikedepankan dibandingkan prasangkaan-prasangkaan yang tidak berdasar.

Dalam mazhab Syiah, salah satu alasan kebangkitan Imam Husain As adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.  Bagaimana dalam pandangan mazhab anda mengenai kebangkitan Imam Husain itu dan seberapa penting penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam ajaran Islam?

Penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, adalah salah satu kewajiban setiap muslim yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Hanya saja dalam menegakkannya ada mekanismenya, ada akhlaknya ketika menyampaikan.  Yaitu kita kembali pada prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan metode amar ma’ruf. Misalnya ketika menengok pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125) b

egitupun pada beberapa ayat yang lain. Di Indonesia secara khusus Islam berkembang secara pesat dan cepat karena dalam mendakwahkan Islam dengan menggunakan prinsip Al-Qur’an ini. Beda dengan kelompok yang menggunakan kekerasan dalam berdakwah, yang sayangnya di Indonesia gerakan seperti itu juga sudah cukup banyak. Mereka malah membalik ayat, yang seharusnya amar ma’ruf lebih dulu dari nahi mungkar, mereka lebih mengutamakan nahi mungkar itu juga dengan cara-cara yang kasar. Mereka tidak segan-segan menggunakan senjata tajam, bahkan ada masjid yang didalamnya digunakan untuk merakit bom. Inilah yang sangat memprihatinkan, jika amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan ajaran luhur dari Islam justru dipraktikkan dengan cara yang salah. Karenanya saya berharap ada kerjasama yang kelak bisa terjalin, terutama dengan yayasan yang saya dirikan dan pimpin di Indonesia khususnya dalam penyediaan literatur-literatur Syiah, sehingga kesalahpahaman akibat informasi-informasi yang tidak tepat bisa diminimalisir.

Berkenaan dengan Imam Husain, saya sudah mengenalnya justru sebelum saya lahir. Karena ayahnya saya, Kiyai Arsyad adalah salah seorang pecinta Ahlulbait, pecinta al Husain dan mempetkenalkannya disaat saya masih dalam kandungan. Beliau seorang penghafal al-Qur’an, dan disaat usia saya 9 tahun, ia mengatakan harapannya kepada saya, untuk bisa menyekolahkan saya ke Mesir, karena di Mesir ada makam Imam Husain. Dan di Mesir saya belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman selama 20 tahun. Dan sekembali dari sana saya mendirikan tarekat al-Syadzilia di Indonesia. Dalam riwayat yang diakui kesahihannya dalam Syiah maupun Ahlusunnah, Imam Husain adalah penghulu pemuda di surga. Dan riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi dalam sabdanya menyebutkan Imam Husain kelak akan meraih syahadah dalam perjuangannya. Ini menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Imam Husain.

Mengenai kebangkitan Imam Husain, ia melakukan hal tersebut dalam rangka melawan kezaliman dan penindasan. Pemerintahan saat itu adalah kekuasaan yang cinta dunia, dan tidak lagi mementingkan kepentingan umat Islam. Karenanya Imam Husain bangkit untuk menyerukan perlawanan terhadap itu. Imam Husain kemudian syahid di Karbala, tanpa pertolongan, karena penduduk setempat saat itu, juga lebih mementingkan kepentingan duniawinya daripada memperjuangkan Islam. Dari kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain itu, umat Islam harus menjadikannya pelajaran dan menarik hikmah, bahwa perjuangan membela Islam harus lebih diutamakan diatas segala-galanya.

Terimakasih atas waktunya.

Sama-sama.

Takhrij Hadis Haram Al Ma’aazif [Alat Musik] Dan Pembahasannya

Sumber : Secondprince

 

Takhrij Hadis Haram Al Ma’aazif [Alat Musik] Dan Pembahasannya

Hadis Al Ma’aazif termasuk hadis pamungkas yang menjadi andalan salafy dalam mengharamkan musik. Berikut adalah pembahasan ilmiah hadis tersebut sesuai dengan kaidah yang dikenal dalam ilmu hadis.

.

.

Takhrij Hadis Al Ma’aazif

بَاب مَا جَاءَ فِيمَنْ يَسْتَحِلُّ الْخَمْرَ وَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَامِرٍ أَوْ أَبُو مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمْ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Bab apa yang datang tentang orang yang menghalalkan khamar dan menamakan bukan dengan namanya. Hisyaam bin ‘Ammaar berkata telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ariy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy, demi Allah dia tidak mendustaiku, bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan kemaluan, sutra, khamar dan Al Ma’aazif. Dan sungguh kaum itu akan tinggal tempat yang terletak di sekitar gunung tinggi kemudian mereka didatangi oleh orang faqiir untuk suatu keperluan, maka mereka berkata “kembalilah kepada kami besok”. Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka dan menjadikan sebagian yang lain kera dan babi hingga hari kiamat [Shahih Bukhariy 7/106].

Hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhariy secara mu’allaq dalam kitab Shahih-nya. Tetapi telah diriwayatkan oleh yang lain secara muttashil dari Hisyam bin ‘Ammaar, yaitu

  1. Husain bin ‘Abdullah Al Qaththaan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no 6754 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/17-18 no 5590
  2. Hasan bin Sufyaan sebagaimana diriwayatkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20777 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  3. Husain bin Idriis sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/17 no 5590
  4. Ja’far bin Muhammad Al Firyaabiy sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  5. Muusa bin Sahl Al Bashriy sebagaimana diriwayatkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 3/319 no 3417, Ad Da’laj dalam Al Muntaqa Min Musnad Al Muqiliin hal 34 no 8, Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 20/156 no 3961 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  6. ‘Abdaan Al Ahwaaziy sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  7. Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al Baghandiy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 67/189 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  8. Muhammad bin Marwan sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590
  9. Muhammad bin Yaziid bin ‘Abdush Shamad Ad Dimasyiq sebagaimana diriwayatkan Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syaamiyyiin 1/334 no 588 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590
  10. Muhammad bin Ismaiil bin Mihraan Al Ismailiy sebagaimana diriwayatkan Ad Da’laj dalam Al Muntaqa Min Musnad Al Muqiliin hal 34 no 8

Sedikit catatan mengenai matan riwayat Hisyaam bin ‘Ammaar di atas. Lafaz Al Hira [kemaluan] hanya disebutkan dalam riwayat mu’allaq Al Bukhariy. Ibnu Hajar ketika menjabarkan jalan sanad muttashil Hisyam bin ‘Ammaar, ia tidak menyebutkan matan masing-masing jalan sanad Hisyam bin ‘Ammaar yang ia sebutkan sedangkan dalam riwayat Ath Thabraniy, Ibnu Hibbaan, Al Baihaqiy, Ibnu Asakir dan Ad Da’laj tidak disebutkan lafaz al hira.

Kemudian semua riwayat di atas menyebutkan dengan lafaz yang mengandung syak nama sahabat yang dimaksud yaitu “telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy” kecuali Ibnu Hibban dalam Shahih-nya [riwayat Husain bin ‘Abdullah] yang menyebutkan lafaz “telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir dan Abu Maalik keduanya Al-Asy’ary bahwa mereka berdua telah mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam]”. Dan lafaz Ibnu Hibban ini syadz karena menyelisihi semua perawi lain yang menyebutkan dengan lafaz syak [ragu] bukan dengan lafaz jamak [penggabungan].

Shadaqah bin Khalid dalam periwayatan dari ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir memiliki mutaba’ah dari Bisyr bin Bakr sebagaimana diriwayatkan Al Baihaqiy berikut

أخبرنا أبو عمرو محمد بن عبد الله الأديب أنبأ أبو بكر الإسماعيلي أخبرني الحسن يعني بن سفيان ثنا هشام بن عمار ثنا صدقة يعني بن خالد ثنا بن جابر عن عطية بن قيس عن عبد الرحمن بن غنم حدثني أبو عامر أو أبو مالك الأشعري والله يمينا أخرى ما كذبني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وأخبرني الحسن أيضا ثنا عبد الرحمن بن إبراهيم ثنا بشر يعني بن بكر ثنا بن جابر عن عطية بن قيس قال قام ربيعة الجرشي في الناس فذكر حديثا فيه طول قال فإذا عبد الرحمن بن غنم الأشعري قلت يمين حلفت عليها قال حدثني أبو عامر أو أبو مالك والله يمين أخرى حدثني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ليكونن في أمتي أقوام يستحلون قال في حديث هشام الخمر والحرير وفي حديث دحيم الخز والحرير والخمر والمعازف ولينزلن أقوام إلى جنب علم تروح عليهم سارحة لهم فيأتيهم طالب حاجة فيقولون ارجع إلينا غدا فيبيتهم فيضع عليهم العلم ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abu ‘Amru Muhammad bin ‘Abdullah Al Adiib yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Bakr Al Isma’iiliy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Hasan yaitu bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Shadaqah yaitu bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir dari ‘Athiyah bin Qais dari ‘Abdurrahman bin Ghanm yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy, demi Allah dia tidak mendustaiku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dan telah mengabarkan kepadaku Hasan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahiim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Bisyr yaitu bin Bakr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir dari ‘Athiyah bin Qais yang berkata Rabi’ah Al Jurasyiy berdiri di hadapan orang-orang, ia menyebutkan hadis yang panjang, [perawi] berkata maka ketika menyebutkan ‘Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ariy, aku [‘Athiyah] berkata aku bersumpah atasnya, bahwa ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik, demi Allah aku bersumpah ia telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “akan ada diantara umatku, kaum yang menghalalkan [dalam hadis Hisyaam] khamar dan sutra, [dalam hadis Duhaim] al khazz, sutra, khamr dan al ma’aazif Dan sungguh kaum itu akan tinggal di tempat yang terletak di sekitar gunung tinggi kemudian mereka didatangi oleh pengembara untuk suatu keperluan, maka mereka berkata “kembalilah kepada kami besok”. Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka dan menjadikan sebagian yang lain kera dan babi hingga hari kiamat [Sunan Al Baihaqiy 3/272 no 5895]

Riwayat Al Baihaqiy di atas sanadnya jayyid, para perawinya tsiqat dan shaduq hanya saja ‘Athiyah bin Qais ternukil sedikit kelemahan pada dhabit-nya

  1. Abu ‘Amru Muhammad bin ‘Abdullah Al ‘Adiib seorang ulama syafi’iy yang tsiqat muhaddis fadhl [Muntakhab Min Siyaaq Tarikh An Naisaburiy no 62]
  2. Abu Bakr Al Ismaa’iiliy seorang imam hafizh hujjah faqiih syaikh al islaam [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 16/292 no 208]
  3. Hasan bin Sufyaan An Nasawiy seorang imam hafizh tsabit [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 14/157 no 92]
  4. Hisyam bin ‘Ammaar seorang yang shaduq muqri’ ketika tua menerima talqin maka hadisnya shahih terdahulu lebih shahih daripada saat ia tua, termasuk thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 2/268]
  5. Shadaqah bin Khaalid Abul ‘Abbaas Ad Dimasyiq seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kedelapan [Taqriib At Tahdziib 1/435]
  6. ‘Abdurrahman bin Ibrahiim atau Duhaim seorang yang hafizh tsiqat mutqin termasuk thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/559]
  7. Bisyr bin Bakr seorang yang tsiqat dan memiliki riwayat gharib, termasuk thabaqat kesembilan [Taqriib At Tahdziib 1/126]
  8. ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jabir Al Azdiy seorang yang tsiqat termasuk thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 1/595]
  9. ‘Athiyah bin Qais berdasarkan pendapat yang rajih dia seorang yang shaduq tetapi terdapat sedikit kelemahan pada dhabit-nya [akan dijelaskan lebih detail dalam penjelasan di bawah]
  10. ‘Abdurrahman bin Ghanm dipersilisihkan kalau ia sahabat, Al Ijliy memasukkannya dalam tabiin tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/586]

Ibnu Hajar menyebutkan jalan sanad Abdurrahman bin Ibrahiim [Duhaim] di atas hanya saja pada matannya menyebutkan lafaz “al hira” bukan “al khazz” sebagaimana matan riwayat Baihaqiy di atas. [Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590]

‘Abdurrahman bin Ibrahiim [Duhaim] dalam periwayatan dari Bisyr bin Bakr memiliki mutaba’ah dari

  1. ‘Abdul Wahb bin Najdah sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/443 no 4039 hanya saja matannya tidak menyebutkan lafaz al ma’azzif
  2. Iisa bin Ahmad Al Asqallaniy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 67/189 dengan matan yang lebih panjang dan menyebutkan lafaz al khazz, sutra, khamar dan al ma’aazif.

‘Athiyah bin Qais dalam periwayatannya dari ‘Abdurrahman bin Ghanm memiliki mutaba’ah dari Malik bin Abi Maryam, sebagaimana nampak dalam riwayat berikut

أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ  قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ ، قَالَ حَدَّثَنِي حَاتِمُ بْنُ حُرَيْثٍ  عَنْ مَالِكِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ  قَالَ تَذَاكَرْنَا الطِّلاءَ فَدَخَلَ عَلَيْنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ فَتَذَاكَرْنَا فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبُو مَالِكٍ الأَشْعَرِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  يَشْرَبُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ  يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا  يُضْرَبُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْقَيْنَاتِ  يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ  وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Imraan bin Muusa bin Mujaasyi’ yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Hatim bin Huraits dari Maalik bin Abi Maryam yang berkata kami bercerita tentang ath thila’ [sejenis khamr] maka ‘Abdurrahman bin Ghanm masuk menemui kami dan kami pun bercerita. Maka ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Maalik Al Asy’ariy bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda akan ada sekelompok orang dari umatku yang meminum khamar dan menamakannya bukan dengan namanya, dimainkan untuk mereka al ma’aazif [alat musik] dan al qainat [penyanyi wanita] kemudian Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebagian dari mereka kera dan babi [Shahih Ibnu Hibbaan no 6758]

Riwayat di atas para perawinya tsiqat kecuali Maalik bin Abi Maryam ia seorang yang shaduq berdasarkan qarinah [petunjuk] yang kuat

  1. ‘Imraan bin Muusa bin Mujaasyi’ seorang hafizh yang tsiqat tsabit [Thabaqat Al Huffazh As Suyuthiy no 734]
  2. Utsman bin Abi Syaibah seorang tsiqat hafizh memiliki beberapa kekeliruan [Taqriib At Tahdziib 1/664]
  3. Zaid bin Hubaab seorang imam hafizh tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/393 no 126]
  4. Mu’awiyah bin Shaalih Al Himshiy seorang yang shaduq memiliki beberapa kekeliruan [Taqriib At Tahdziib 2/196]. Kemudian dikoreksi dalam Thariir Taqriib At Tahdziib bahwa Mu’awiyah bin Shaalih seorang yang tsiqat [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 6762]
  5. Hatim bin Huraits Ath Tha’iy, Ibnu Ma’in tidak mengenalnya tetapi Ad Darimiy menyatakan ia tsiqat [Tarikh Ad Darimiy no 287]
  6. Maalik bin Abi Maryam seorang yang shaduq berdasarkan qarinah [petunjuk] yang kuat pembahasannya secara detail akan ditampilkan dibawah.
  7. Abdurrahman bin Ghanm dipersilisihkan kalau ia sahabat, Al Ijliy memasukkannya dalam tabiin tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/586]

Riwayat Zaid bin Hubaab dari Mu’awiyah bin Shaalih di atas juga disebutkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 5/342 no 22951, Ibnu Arabiy dalam Mu’jam-nya no 1646, Al Mahamiliy dalam Amaliy Al Mahaamiliy riwayat Ibnu Yahya Al Bayyi’ no 61, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/495 semuanya dengan matan yang menyebutkan bahwa Malik bin Abi Maryam saat itu duduk bersama dengan Rabi’ah Al Jurasyiy, kemudian disebutkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/81 no 24212 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/354 no 3688 [dengan matan yang lebih ringkas].

Zaid bin Hubaab dalam periwayatan dari Mu’awiyah bin Shaalih memiliki mutaba’ah yaitu

  1. Abdullah bin Shalih, Abu Shalih sebagaimana disebutkan oleh Al Bukhariy dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 967 dan Tarikh Al Kabir juz 7 no 956, Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syaamiyyin no 2061 dan Mu’jam Al Kabir 3/283 no 3419, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20778, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/494-495.
  2. ‘Abdullah bin Wahb sebagaimana disebutkan Al Muwatta Ibnu Wahb hal 37 no 46, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/295 no 17160, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/496 dan Tarikh-nya 67/190
  3. Ma’n bin Iisa sebagaimana disebutkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya 5/151 no 4020, Hamzah As Sahmiy dalam Tarikh Jurjaan hal 76, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/496.

Secara keseluruhan hadis yang menyebutkan Al Ma’aazif ini diriwayatkan oleh para perawi yang dikenal tsiqat kecuali perawi yang meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm yaitu ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy dan Malik bin Abi Maryam. Berikut akan dibahas secara rinci kedudukan keduanya.

.

.

.

Kedudukan ‘Athiyah bin Qais dan Malik bin Abi Maryam

‘Athiyah bin Qais disebutkan Al Mizziy bahwa ia adalah perawi Bukhariy dalam At Ta’liq [Shahih Bukhariy] dan perawi Muslim dalam kitab Shahih-nya. Disebutkan dalam Al Jarh Wat Ta’dil yaitu

نا عبد الرحمن قال سئل ابى عن عطية بن قيس فقال صالح الحديث

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Ayahku ditanya tentang ‘Athiyah bin Qais, maka ia berkata “shalih al hadiits” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/383-384 no 2131]

Lafaz “shalih al hadiits” di sisi Abu Hatim termasuk lafaz ta’dil tetapi perawi dengan predikat tersebut terdapat kelemahan pada dhabit-nya sehingga hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil

وإذا قيل صالح الحديث فانه يكتب حديثه للاعتبار

Dan jika perawi dikatakan shalih al hadiits maka ia seorang yang ditulis hadisnya sebagai i’tibar [Al Jarh Wat Ta’dil 2/37]

Dan itu sesuai dengan apa yang dikatakan Abu Hatim terhadap perawi yang hanya mendapat predikat “shalih al hadiits” [tanpa tambahan lafaz ta’dil lain]

نا عبد الرحمن قال سألت ابى عن عبد الواحد النصرى فقال كان واليا على المدينة صالح الحديث، قلت يحتج به ؟ قال لا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya kepada ayahku [Abu Hatim] tentang ‘Abdul Waahid An Nashriy, maka ia berkata “ia pemimpin Madinah shalih al hadiits”. Aku berkata “apakah ia bisa dijadikan hujjah?”. Ayahku menjawab “tidak” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/22 no 115]

عمر بن روبة التغلبي روى عن عبد الواحد بن عبد الله النصرى وابى كبشة روى عنه أبو سلمة سليمان بن سليم واسمعيل بن عياش ومحمد بن حرب نا عبد الرحمن قال سمعت ابى يقول ذلك وسألته عنه فقال صالح الحديث فقلت تقوم به الحجة ؟ فقال لا ولكن صالح

‘Umar bin Ru’bah At Taghlibiy meriwayatkan dari ‘Abdul Waahid bin ‘Abdullah An Nashriy dan Abi Kabsyah, telah meriwayatkan darinya Abu Salamah Sulaiman bin Sulaim, Isma’iil bin ‘Ayaasy, dan Muhammad bin Harb. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku mengatakan demikian dan aku bertanya tentangnya kepadanya, maka ia menjawab “shaliih al hadiits”. Aku berkata “dapatkah berhujjah dengannya?”. Ia menjawab “tidak, tetapi ia shalih” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/108 no 570] 

Dan memang dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil terdapat cukup sering perawi yang disifatkan dengan shalih al hadiits kemudian diiringi dengan lafaz ta’dil lain seperti “tsiqat” atau “shaduq” atau “dapat dijadikan hujjah” maka makna “shaliih al hadiits’ tersebut terangkat dengan adanya lafaz tambahan yang membuatnya bisa dijadikan hujjah. Atau jika perawi tertentu dikatakan “shalih al hadiits” kemudian di saat lain dikatakan Abu Hatim “tsiqat” maka lafaz “shalih al hadiits” tersebut terangkat kedudukannya menjadi perawi yang bisa dijadikan hujjah.

Adapun jika lafaz “shalih al hadiits” itu tidak diiringi lafaz ta’dil lain dan tidak ada qarinah lain dari Abu Hatim yang menyatakan perawi itu tsiqat atau shaduq maka kedudukannya diambil makna seperti yang dikatakan Abu Hatim [dalam dua contoh di atas] dan ditegaskan oleh Ibnu Abi Hatim yaitu predikat ta’dil tetapi tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [bisa dijadikan i’tibar].

‘Athiyah bin Qais hanya disifatkan Abu Hatim dengan lafaz “shalih al hadiits” tanpa ada tambahan lafaz ta’dil lain maka di sisi Abu Hatim kedudukannya bisa dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud

Al Bazzar berkata tentang ‘Athiyah bin Qais yaitu laba’sa bihi [tidak ada masalah dengannya] [Kasyf Al Asytaar 1/106 no 189]. Lafaz ini termasuk lafaz ta’dil bahkan untuk kalangan ulama tertentu seperti Ibnu Ma’in dan Duhaim lafaz ini bermakna “tsiqat” tetapi di sisi Al Bazzaar lafaz ini tidak mengindikasikan kekuatan dhabit [hafalannya], sehingga terdapat perawi yang disifatkan Al Bazzaar dengan “tidak hafizh” tetap dinyatakan juga “tidak ada masalah dengannya”.

Al Bazzaar pernah meriwayatkan hadis dari Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dimana di dalam sanadnya terdapat ‘Atha’ bin Muslim, kemudian ia berkata

قَالَ الْبَزَّارُ  لا نَعْلَمُهُ يُرْوَى عَنْ عَلِيٍّ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ وَلا نَعْلَمُ رَوَى أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ أَوْسٍ شَيْئًا وَهِمَ فِيهِ عَطَاءٌ لَمْ يَكُنْ بِالْحَافِظِ وَلَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

Al Bazzaar berkata “kami tidak mengetahui diriwayatkan dari Aliy kecuali sanad ini, dan kami tidak mengetahui diriwayatkan Abu Ishaaq dari Aus sedikitpun, ini kesalahan dari ‘Atha’ ia bukan seorang hafizh dan tidak ada masalah dengannya” [Kasyf Al Asytaar 3/251 no 2684]

Syaikh Abu Ishaaq Al Huwainiy pernah membicarakan mengenai lafaz ta’dil “laisa bihi ba’sa” di sisi Al Bazzaar, Syaikh mengatakan Al Bazzaar dikenal tasahul dan perkataannya laisa bihi ba’sa bermakna beramal dengannya sebagai syawahid dan mutaba’ah [An Naafilah Fii Al ‘Ahaadiits Adh Dha’iifah Wal Baathilah no 113]

Ibnu Hibbaan memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam kitabnya Ats Tsiqat tanpa menyebutkan lafaz ta’dil

عَطِيَّة بْن قَيْس الْكلابِي من أهل الشَّام كُنْيَتُهُ أَبُو يحيى مولى لأَبِي بكر بْن كلاب يَرْوِي عَن مُعَاوِيَة رَوَى عَنْهُ الشاميون وابْنه سعد بْن عَطِيَّة مَاتَ سنة إِحْدَى وَعشْرين وَمِائَة وَهُوَ بن أَربع وَمِائَة سنة وَكَانَ مولده سنة سبع عشرَة وَمَات قبل مَكْحُول

‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy termasuk penduduk Syam, kuniyah-nya Abu Yahya maula Abi Bakr bin Kilaab, meriwayatkan dari Mu’awiyah dan telah meriwayatkan darinya penduduk Syam dan anaknya Sa’d bin ‘Athiyah, ia wafat tahun 121 H dan ia berumur 104 tahun, ia lahir tahun 17 H dan wafat sebelum Makhuul [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 5/260 no 4740].

Tentu jika memakai metodologi salafiy terhadap tautsiq Ibnu Hibban maka Ibnu Hibban memasukkan ‘Athiyah bin Qais ke dalam Ats Tsiqat tidak memiliki nilai hujjah karena Ibnu Hibbaan tidak menegaskan lafal ta’dilnya dan Ibnu Hibbaan dikenal tasahul dalam mentautsiq para perawi majhul.

Di sisi kami, penyebutan Ibnu Hibbaan dalam kitabnya Ats Tsiqat memiliki qarinah yang menguatkan ta’dil-nya yaitu Ibnu Hibban memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban. Dimana dalam muqaddimah kitab Shahih Ibnu Hibbaan disebutkan bahwa salah satu syarat perawi dalam kitabnya adalah “shaduq dalam hadis”.

Selain Abu Hatim, Al Bazzaar dan Ibnu Hibbaan tidak ditemukan ada ulama mutaqaddimin yang menta’dilkan ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy sehingga dengan mengumpulkan pendapat ketiga ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘Athiyah bin Qais seorang yang shaduq tetapi terdapat sedikit kelemahan dalam dhabit-nya sehingga ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud atau jika menyelisihi perawi lain.

Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib menyebutkan lafaz ta’dil Abu Hatim dan Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdziib At Tahdziib juz 7 no 419] dan dalam At Taqriib, Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [Taqriib At Tahdziib 1/678]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdziib dikoreksi bahwa ia seorang yang shaduq hasanul hadis tidak ada seorang imam pun yang menyatakan tsiqat tetapi telah meriwayatkan darinya jama’ah, Ibnu Hibbaan memasukkan dalam Ats Tsiqaat dan Abu Hatim berkata “shaalih al hadiits” [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 4622]

Memang benar perkataan Ibnu Hajar bahwa ia tsiqat tidak memiliki asal penukilan dari kalangan ulama mutaqaddimin, hal itu berasal dari ijtihad Ibnu Hajar sendiri. Pendapat yang lebih rajih adalah ‘Athiyah bin Qais seorang yang shaduq, jika hadisnya tidak ada illat [cacat] tafarrud atau tidak ada penyelisihan maka riwayatnya hasan tetapi jika mengandung illat [cacat] tafarrud atau ada penyelisihan maka riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah.

Bukankah Bukhariy memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam Shahih Bukhariy dan Muslim juga memasukkannya dalam kitab Shahihnya?. Memang benar tetapi Bukhariy memasukkan hadisnya secara ta’liq dalam Shahih Bukhariy. Dan sudah dikenal dalam ilmu hadis bahwa hadis mu’allaq dalam Shahih Bukhariy bukan termasuk dalam golongan hadis yang dinyatakan Bukhariy sebagai shahih dalam kitabnya Shahih Bukhariy. Intinya hadis mu’allaq tidaklah sesuai dengan syarat Bukhariy

وَقَالَ طَاوُسٌ قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِي بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ

Thawus berkata Mu’adz [radiallahu ‘anhu] berkata kepada penduduk Yaman “berikan kepadaku barang-barang berupa pakaian khamiis atau pakaian lainnya sebagai zakat menggantikan gandum dan jagung, hal itu lebih mudah bagi kalian dan lebih baik bagi para sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Madinah [Shahih Bukhariy 2/116]

Atsar di atas disebutkan oleh Bukhariy dalam kitab Shahih-nya secara ta’liq dan atsar tersebut sanadnya dhaif karena Thawus sedikitpun tidak mendengar dari Mu’adz sebagaimana yang dikatakan oleh Aliy bin Madini [Jami’ At Tahshil Fii Ahkam Al Marasil no 307]. Ibnu Hajar berkata

قوله : ( وقال طاوس : قال معاذ لأهل اليمن ) هذا التعليق صحيح الإسناد إلى طاوس ، لكن طاوسا لم يسمع من معاذ فهو منقطع ، فلا يغتر بقول من قال : ذكره البخاري بالتعليق الجازم فهو صحيح عنده ، لأن ذلك لا يفيد إلا الصحة إلى من علق عنه ، وأما باقي الإسناد فلا

Perkataanya [dan Thawus berkata Mu’adz berkata kepada penduduk Yaman] ta’liq ini shahih sanadnya hingga Thawus, tetapi Thawus tidak mendengar dari Mu’adz maka ia munqathi’. Maka janganlah tertipu dengan perkataan orang yang mengatakan “jika Bukhariy menyebutkan ta’liq dengan sighat jazm maka ia shahih di sisinya, karena hal itu sebenarnya hanya menunjukkan shahih hingga perawi yang dita’liq adapun sisa sanadnya tidak [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 3/366]

Padahal Bukhariy mensyaratkan hadis shahih jika antara kedua perawi berada dalam satu masa dan sudah dipastikan bertemu, hal ini tidak terjadi antara Thawus dan Mu’adz maka sanad Thawus dari Mu’adz tidak memenuhi syarat Bukhariy. Hal ini membuktikan bahwa hadis ta’liq dalam Shahih Bukhariy tidak memenuhi syarat shahih Bukhariy.

Contoh lain terdapat hadis ta’liq dalam Shahih Bukhariy yang di dalam sanadnya terdapat perawi dhaif

وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ الْجَعْدِ سَمِعَ قَتَادَةَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ جُوَيْرِيَةَ حَدَّثَتْهُ فَأَمَرَهَا فَأَفْطَرَتْ

Dan berkata Hammaad bin Ja’d yang berkata aku mendengar Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Ayuub bahwa Juwairiyah telah menceritakan kepadanya Beliau memerintahkannya, maka ia berbuka [Shahih Bukhariy 3/42]

Hammaad bin Ja’d termasuk perawi yang lemah di sisi Al Bukhariy, At Tirmidzi pernah menanyakan suatu hadis kepada Al Bukhariy dan beliau menjawab

فقال لم أر أحدا رواه عن قتادة غير حماد بن الجعد وعبد الرحمن بن مهدي كان يتكلم في حماد بن الجعد

Maka [Bukhariy] berkata “aku tidak melihat seorangpun yang meriwayatkan dari Qatadah kecuali Hammaad bin Ja’d, dan ‘Abdurrahman bin Mahdiy telah membicarakan Hammaad bin Ja’d [Tartib Ilal Tirmidzi 1/27 no 10]

Contoh-contoh di atas hanya ingin menunjukkan bahwa perawi Bukhariy dalam At Ta’liq Shahih Bukhariy bukanlah perawi yang memenuhi syarat Bukhariy sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Al Bukhariy telah berhujjah dengan ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih-nya. Yang benar adalah Bukhariy hanya menjadikan hadis ‘Athiyah bin Qais sebagai syahiid. Al Mizziy dalam biografi ‘Athiyah bin Qais mengatakan

استشهد له البخاري بحديث واحد

Bukhariy mengeluarkan satu hadis darinya sebagai syahid [Tahdzib Al Kamal 20/156 no 3961]

Hadis yang dimaksud Al Mizziy tidak lain adalah hadis al ma’azif di atas dan kenyataaannya memang hadis tersebut sebagai penguat dari hadis Malik bin Abi Maryam [yang juga dikeluarkan Al Bukhariy dalam kitabnya Tarikh Al Kabir]

Muslim juga mengeluarkan hadis ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih-nya yaitu sebanyak dua hadis dan hadis ‘Athiyah bin Qais tersebut tidak dijadikan sebagai hujjah tetapi sebagai syawahid dan mutaba’ah.

  1. Dalam Shahih Muslim 1/335 no 454 ‘Athiyah bin Qais meriwayatkan hadis Abu Sa’id Al Khudriy dan ia memiliki mutaba’ah dari Rabi’ah bin Yaziid
  2. Dalam Shahih Muslim 1/347 no 477 ‘Athiyah bin Qais meriwayatkan hadis Abu Sa’id Al Khudriy dan sebagai syawahid dari hadis Ibnu ‘Abbas yaitu dalam Shahih Muslim 1/347 no 478.

Kesimpulannya adalah walaupun Imam Bukhariy dan Imam Muslim mengeluarkan hadis ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih [Bukhariy secara ta’liq] tetap tidak akan mengangkat derajat ‘Athiyah bin Qais sebagai hujjah karena hadis-hadisnya justru dijadikan sebagai syawahid dan mutaba’ah bukan sebagai hujjah. ‘Athiyah bin Qais tetaplah seorang yang shaduq dan memiliki sedikit kelemahan pada dhabit-nya sehingga hadisnya jika mengandung illat [cacat] tafarrud tidak bisa dijadikan hujjah.

Malik bin Abi Maryam tidak ditemukan keterangan tentangnya kecuali Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Ats Tsiqat

مَالك بن أبي مَرْيَم الْحكمِي يروي الْمَرَاسِيل ويروي عَن عبد الرَّحْمَن بن غنم عداده فِي أهل الشَّام روى عَنهُ حَاتِم بن حُرَيْث الطَّائِي

Maalik bin Abi Maryam Al Hakamiy meriwayatkan hadis-hadis mursal dan meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm, digolongkan dalam penduduk Syam, telah meriwayatkan darinya Haatim bin Huraits Ath Tha’iy [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 5/386 no 5323]

Penyebutan Ibnu Hibbaan dalam kitabnya Ats Tsiqat memiliki qarinah yang menguatkan ta’dil-nya yaitu Ibnu Hibban memasukkan Maalik bin Abi Maryam dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban. Dimana dalam muqaddimah kitab Shahih Ibnu Hibbaan disebutkan bahwa salah satu syarat perawi dalam kitabnya adalah “shaduq dalam hadis”.

Al Bukhariy telah berhujjah dengan hadis Maalik bin Abi Maryam Al Hakamiy dalam merajihkan sahabat yang meriwayatkan hadis di atas, dimana ia memastikan kalau sahabat itu adalah Abu Maalik Al Asy’ariy

إبراهيم بن عبد الحميد بن ذي حماية عمن أخبره عن أبي مالك الأشعري أو أبي عامر سمعت النبي صلى الله عليه وسلم في الخمر والمعازف قاله لي سليمان بن عبد الرحمن قال حدثنا الجراح بن مليح الحمصي قال ثنا إبراهيم قال أبو عبد الله وإنما يعرف هذا عن أبي مالك الأشعري حديثه في الشاميين حدثنا عبد لله بن صالح قال حدثني معاوية بن صالح عن حاتم بن حريث عن مالك بن أبي مريم عن عبد الرحمن بن غنم أنه سمع أبا مالك الأشعري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ليشربن أناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها يضرب على رؤوسهم بالمعازف والقينات يخسف الله بهم الأرض ويجعل منهم القردة والخنازير

Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid bin Dzii Himayaah dari orang yang mengabarkan kepadanya daro Abu Maalik Al Asy’ariy atau Abu ‘Aamir yang berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang khamar dan al ma’aazif. Telah mengatakannya kepadaku Sulaiman bin ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Jarrah bin Maliih Al Himshiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim. Abu ‘Abdullah [Al Bukhariy] berkata “sesungguhnya hadis ini dikenal dari Abu Malik Al Asy’ariy hadis-hadisnya dari penduduk Syam”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari Hatim bin Huraits dari Maalik bin Abi Maryam dari ‘Abdurrahman bin Ghanm bahwa ia mendengar Abu Maalik Al Asy’ariy dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata akan ada sekelompok orang dari umatku yang meminum khamar dan menamakannya bukan dengan namanya, dimainkan untuk mereka al ma’aazif [alat musik] dan al qainat [penyanyi wanita] kemudian Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebagian dari mereka kera dan babi [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 1 no 967]

Bukhariy meriwayatkan hadis Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid yang mengandung lafaz syak nama sahabat yaitu Abu Maalik Al Asy’ariy atau Abu ‘Aamir Al Asy’ariy [dan hadis ‘Athiyah bin Qais juga mengandung lafaz syak]. Kemudian Al Bukhariy merajihkan nama Abu Maalik Al Asy’ariy berdasarkan riwayat Maalik bin Abi Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa Bukhariy telah berhujjah dengan hadis Maalik bin Abi Maryam. Kemudian kalau kita melihat judul bab Bukhariy ketika ia menukil hadis ‘Athiyah bin Qais

بَاب مَا جَاءَ فِيمَنْ يَسْتَحِلُّ الْخَمْرَ وَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ

Bab apa yang datang tentang orang yang menghalalkan khamr dan menamakan bukan dengan namanya

Nampak bahwa yang menjadi hujjah dalam judul bab ini adalah riwayat Maalik bin Abi Maryam yang memuat lafaz kaum yang meminum khamar dan menamakan bukan dengan namanya. Lafaz ini tidak ada dalam riwayat ‘Athiyah bin Qais yang dinukil Bukhariy. Maka kuat petunjuknya bahwa riwayat Malik bin Abi Maryam dijadikan hujjah di sisi Bukhariy dan riwayat ‘Athiyah bin Qais dijadikan sebagai penguat riwayat Maalik bin Abi Maryam.

Ibnu Hajar menyatakan tentang Maalik bin Abi Maryam “maqbul” [Taqriib At Tahdziib 2/155]. Adz Dzahabiy berkata “tidak dikenal” [Mizan Al I’tidal juz 6 no 7035]. Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ighaasatul Lahfaan menukil hadis Maalik bin Abi Maryam di atas yang diriwayatkan Ibnu Majah kemudian ia berkata “sanad hadis ini shahih” [Ighaasatul Lahfaan Ibnu Qayyim 1/459]. Maka ini menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Qayyim, Maalik bin Abi Maryam itu seorang yang tsiqat.

Jika kita bandingkan antara ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam maka akan didapatkan sebagai berikut

  1. ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam sama-sama dimasukkan Ibnu Hibbaan dalam Ats Tsiqat dan dimasukkan hadisnya dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibbaan.
  2. Ternukil ulama muta’akhirin yang menyatakan tsiqat kepada keduanya yaitu Ibnu Hajar menyatakan tsiqat pada ‘Athiyah bin Qais dan Ibnu Qayyim yang menyatakan tsiqat pada Maalik bin Abi Maryam
  3. ‘Athiyah bin Qais dikatakan Abu Hatim “shalih al hadiits” dan Al Bazzaar berkata “tidak ada masalah dengannya”. Hal ini menyiratkan sedikit kelemahan pada dhabitnya dan hadisnya dijadikan syawahid dan mutaba’ah oleh Bukhariy dan Muslim. Adapun Maalik bin Abi Maryam telah dijadikan hujjah oleh Bukhariy dalam kitabnya Tarikh Al Kabiir ketika merajihkan nama Abu Maalik Al Asy’ariy.

Kesimpulannya adalah kedudukan ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam tidak jauh berbeda keduanya bisa dikatakan shaduq hanya saja ‘Athiyah bin Qais ternukil pendapat ulama mutaqaddimin yang menyatakan sedikit kelemahan pada dhabit-nya.

.

.

.

 

Pembahasan Makna Hadis

Hadis ‘Athiyah bin Qais dijadikan hujjah oleh sekelompok orang [baca: salafy] untuk mengharamkan alat musik secara mutlak karena di dalam hadisnya terdapat lafaz “kaum yang menghalalkan [al hirr] kemaluan, sutra, khamr dan Al Ma’aazif [alat musik]”. Lafaz “menghalalkan” menunjukkan bahwa asal hukumnya adalah haram dan oleh karena menghalalkan yang haram itulah mereka diazab dan dijadikan kera dan babi.

Jika ‘Athiyah bin Qais seorang yang tsiqat dan dhabit maka hujjah ini akan menjadi hujjah yang kuat tetapi faktanya tidak, ia sedikit diperbincangkan dalam masalah dhabit-nya. Mutaba’ah baginya yaitu Maalik bin Abi Maryam meriwayatkan hadis tersebut dari ‘Abdurrahman bin Ghanm tidak dengan lafaz seperti itu, tetapi dengan lafaz kaum yang meminum khamar dan menamakan bukan dengan namanya kemudian mereka diiringi dengan alat-alat musik [al ma’aazif] dan penyanyi wanita [al qainaat].

‘Athiyah bin Qais tafarrud dengan lafaz menghalalkan al ma’aazif dan ia sedikit dibicarakan dhabit-nya apalagi dalam hadis ini terdapat qarinah yang menunjukkan hafalannya tidak dhabit yaitu

  1. Dalam sebagian hadis terkadang disebutkan lafaz “al hira” [kemaluan] dan dalam sebagian hadis lain disebutkan lafaz “al khazz” [sejenis sutra].
  2. Dalam semua hadisnya terdapat lafaz syak [ragu] mengenai sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut apakah Abu ‘Aamir ataukah Abu Maalik.

Kalau kita menggabungkan hadis ‘Athiyah bin Qais dan hadis Maalik bin Abi Maryam maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud menghalalkan ma’aazif tersebut adalah mengiringi acara mabuk-mabukan dengan alat musik dan penyanyi wanita. Dengan kata lain pengharaman al ma’aazif tersebut tidak bersifat mutlak tetapi muqayyad yaitu terikat pada iringan maksiat. Jika alat musik tersebut dimainkan untuk mengiringi maksiat dan menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT maka hukumnya sudah pasti haram.

Penafsiran ini lebih tepat dan sesuai dengan hadis-hadis shahih yang menyatakan dibolehkan al ma’azif dan penyanyi wanita.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو تميلة يحيى بن واضح أنا حسين بن واقد حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم من بعض مغازيه فجاءت جارية سوداء فقالت يا رسول الله انى كنت نذرت ان ردك الله تعالى سالما ان أضرب على رأسك بالدف فقال ان كنت نذرت فافعلي وإلا فلا قالت انى كنت نذرت قال فقعد رسول الله صلى الله عليه و سلم فضربت بالدف

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Tamiilah Yahya bin Waadhih yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waaqid yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah [shallallhu ‘alaihi wasallam] kembali dari perperangannya maka budak wanita hitam datang kepadanya dan berkata “wahai Rasulullah, aku telah bernazar jika Allah ta’ala mengembalikanmu dalam keadaan selamat maka aku akan menabuh duff di hadapanmu”. Beliau berkata “jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah tetapi jika tidak maka jangan kau lakukan”. Ia berkata “aku telah bernadzar”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] duduk dan ia menabuh duff [Musnad Ahmad 5/356 no 23601, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

Tidak diragukan lagi bahwa duff termasuk dalam al ma’aazif sebagaimana Ibnu Atsir dalam An Nihayah berkata

العزف: اللعب بالمعازف وهي الدفوف وغيرها مما يضرب به

Al ‘Azf adalah bermain dengan al ma’aazif dan itu adalah duff duff dan selainnya yang biasa ditabuh [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar hal 612]

أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ نا الْجُعَيْدُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ  يَا عَائِشَةُ تَعْرِفِينَ هَذِهِ؟ قَالَتْ لا  يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ قَيْنَةُ بَنِي فُلانٍ تُحِبِّينَ أَنْ تُغَنِّيَكِ؟ فَغَنَّتْهَا

Telah mengabarkan kepada kami Haruun bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Makkiy bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Ju’aid dari Yaziid bin Khushaifah dari As Saa’ib bin Yaziid bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], maka Beliau berkata “wahai Aisyah apakah engkau mengenal wanita ini?”. [Aisyah] berkata “tidak wahai Nabi Allah”. Beliau berkata “wanita ini adalah penyanyi [qainah] dari bani fulan, sukakah engkau jika ia menyanyi untukmu” maka ia menyanyi [Sunan Al Kubra An Nasa’iy 8/184 no 8911, sanadnya shahih]

.

.

.

Kesimpulan

Seandainya maksud dari hadis ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam adalah mengharamkan secara mutlak al ma’aazif [alat musik] dan penyanyi wanita maka itu berarti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menghalalkan apa yang diharamkan yaitu duff [contoh al ma’aazif] dan penyanyi wanita, dan ini sudah pasti bathil dan mustahil. Oleh karena itu penafsiran yang benar atas hadis al ma’azif adalah diharamkan jika alat musik dan penyanyi wanita dijadikan iringan perbuatan maksiat atau menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.

.

.

Note : Tulisan ini merevisi tulisan terdahulu soal hadis al ma’aazif yang sebelumnya mengambil faedah dari pembahasan Al Qardhawiy. Alhamdulillah Allah SWT memberikan kemudahan kepada kami untuk meneliti kembali tulisan tersebut. Nampak bahwa sebagian pembahasan Al Qardhawiy tersebut keliru dan pendapat yang kami pegang sekarang adalah apa yang tertulis dalam tulisan di atas.

 

Imam Jawad syahid akibat racun yang disuguhkan oleh isterinya

Imam Jawad, Teladan KeagunganImam Muhammad Jawad lahir bulan Rajab 195 H, dan syahid pada hari terakhir bulan Dzulqaidah tahun 220 H. Ayah beliau adalah Imam Ali Ar-Ridha as, ibunya bernama Khaizran, berasal dari garis keturunan keluarga Maria Qibtiah, istri Rasulullah Saw. Setelah ayahnya syahid, Imam Jawad memegang tampuk imamah dalam usia yang sangat muda. Sejumlah riwayat menyebutkan, usia beliau ketika menjadi Imam tidak lebih dari tujuh tahun.

 

Sebagian orang mempertanyakan, mungkinkah di usia semuda itu menjadi pemimpin umat sebagai Imam kaum muslimin? Memang, akal dan fisik manusia harus menempuh tahapan-tahapan tertentu untuk mencapai kesempurnaan. Tapi, jika Allah swt berkehendak maka fase yang sangat panjang itu bisa dilalui dalam waktu yang sangat singkat oleh orang-orang tertentu. Sepanjang sejarah muncul orang-orang khusus yang diberi anugerah oleh Allah swt dengan keistimewaannya di usia kanak-anak.

 

Dalam kenabian dan imamah, faktor umur bukan suatu persyaratan. Allah Yang Maha Kuasa mampu memberikan ilmu dan kemaksuman serta segala sesuatu yang menjadi kekhususan bagi seorang Nabi dan Imam kepada seorang anak kecil atau bayi yang baru dilahirkan. Demikian pula dengan Imam Jawad as, dalam keadaan masih anak-anak telah menjadi imam setelah kesyahidan ayah beliau yang mulia. Al-Quran menjelaskan orang-orang tertentu yang dipilih Tuhan menjadi pemimpin umat di usia sangat muda bahkan bayi. Nabi Yahya misalnya, menjadi pemimpin umat di usia kanak-kanak. Al-Quran surat Maryam ayat 12 menjelaskan, “… Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak”.

 

Selain Nabi Yahya, al-Quran juga memberikan contoh tentang orang-orang yang diberi anugerah khusus seperti Nabi Isa. Beliau bisa berbicara ketika masih bayi membela ibunya yang dituding dengan perkataan keji dari sebagian masyarakat. al-Quran surat Maryam ayat 29 hingga 30 menjelaskan, “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi”.

 

Meskipun berusia belia, Imam Jawad di masanya banyak berdialog di forum ilmiah besar dengan para pemuka mazhab dan tokoh agama terkemuka. Dalam dialog tersebut, para pemuka mazhab berdecak kagum akan ketinggian ilmu beliau. Bagaimana mungkin, ulama-ulama besar dari berbagai mazhab pemikiran dan fiqh yang ada mengaku bertekuk lutut dalam dialog dengan beliau yang masih berusia kanak-kanak.

 

Warisan ilmu beliau yang banyak dan luas tidak hanya diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah, namun juga dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Misalnya Khatib Baghdadi tidak sedikit menukilkan hadits dari Nabi Muhammad saw, yang sanadnya berasal dari Imam Jawad. Demikian juga Abu Ishak Tsalabi ulama besar Ahlus Sunnah dalam kitab tarikh dan tafsirnya menuliskan riwayat-riwayat yang bersumber dari Imam Jawad.

 

Imam Jawad mewarisi keluhuran akhlak dari para pendahulunya, dari ayah, kakek dan bersambung hingga Rasulullah Saw. Ahlul Bait, sumber ilmu dan teladan bagi umat Islam, terutama dalam masalah akhlak. Imam Jawad senantiasa menunjukkan penghormatan dan adab yang indah ketika berhadapan dengan siapapun. Hal tersebut yang membuat beliau dicintai pengikutnya dan disegani oleh musuhnya. Siapapun yang beliau hadapi ketika berbicara penuh dengan keramahan, bahasa yang sopan dan lemah lembut, meskipun tetap tegas berkenaan dengan pelanggaran syariat.

 

Imam Jawad juga dikenal dengan ketakwaan dan kesalehannya. Beliau adalah teladan dalam ketakwaan dan kesalehan. Ibadah beliau adalah keteladanan yang sempurna bagi para pengikut dan pecintanya. Imam Jawad juga dikenal dengan keberanian dan sikap beliau yang tidak mau tunduk pada keinginan penguasa. Meskipun dalam kondisi ditekan penguasa zalim, beliau tetap menjalankan perannya sebagai pemimpin umat.

 

Imam Jawad sebagaimana ayahnya Imam Ridha memainkan peran penting dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai agama Islam di tengah masyarakat. Beliau menyebarkan ilmu al-Quran, akidah, fiqh, hadis, dan ilmu keislaman lainnya. Salah satunya mengenai tafsir al-Quran. Imam Jawab menjawab pertanyaan mengenai makna dan tafsir sejumlah ayat al-Quran.

 

Seorang sahabat Imam bernama Abu Hashim Jafari bertanya, “Apa makna kalimat ‘Ahad’ dalam ayat ‘Qul Huwallahu Ahad’.” Imam menjawab, “Ahad adalah keyakinan terhadap keesaan Allah yang Maha Besar. Apakah kamu tidak mendengar ayat yang artinya berbunyi, “Jika ditanya kepada orang kafir siapa yang menciptakan langit dan bumi ini ? Mereka pasti menjawab, ‘Allah’. Meskipun orang-orang kafir itu sesuai fitrah dan akalnya mengakui Tuhan, tapi mereka menyekutukannya.”

 

Imam Jawad juga memiliki sahabat dan murid-murid yang berjasa dalam penyebaran keilmuan Islam. Di antaranya adalah Muhammad Bin Khalid Barqi yang menulis sejumlah karya di bidang tafsir al-Quran, sejarah, sastra, ilmu hadis dan lainnya. Mengenai pentingnya Ilmu pengetahuan, Imam Jawad berkata, “Beruntunglah orang yang menuntut ilmu. Sebab mempelajarinya diwajibkan bagimu. Membahas dan mengkajinya merupakan perbuatan baik dan terpuji. Ilmu mendekatkan saudara seiman, hadiah terbaik dalam setiap pertemuan, mengiringi manusia dalam setiap perjalanan, dan  menemani  manusia dalam keterasingan dan kesendirian.”

 

Imam Jawad senantiasa menyerukan untuk menuntut ilmu dan menyebutnya sebagai penolong terbaik. Beliau menasehati sahabatnya supaya menghadiri majelis ilmu dan menghormati orang-orang yang berilmu. Tentang pembagian ilmu, Imam Jawad berkata, “Ilmu terbagi dua, yaitu ilmu yang berakar dari dalam diri manusia, dan ilmu yang diraih dari orang lain. Jika ilmu yang diraih tidak seirama dengan ilmu fitri, maka tidak ada gunanya sama sekali. Barang siapa yang tidak mengetahui kenikmatan hikmah dan tidak merasakan manisnya, maka ia tidak akan mempelajarinya. Keindahan sejati terdapat dalam lisan dan laku baik. Sedangkan kesempurnaan yang benar berada dalam akal.”

 

Imam Jawad menyebut ilmu sebagai faktor pembawa kemenangan dan sarana mencapai kesempurnaan. Beliau menyarankan kepada para pencari hakikat dan orang-orang yang mencari kesempurnaan dalam kehidupannya untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu akan membantu mencapai tujuan tinggi baik dunia maupun akhirat.

 

Pada hari terakhir bulan Dzulqaidah 220 H, Imam Jawad syahid akibat racun yang disuguhkan oleh isterinya, Ummu Al-Fadhl  atas perintah khalifah Abbasiyah. Makam suci beliau di samping kuburan suci kakeknya yang mulia, Imam Musa Ibn Ja`far as, di kota Kadzimain yang menjadi tempat ziarah para pecinta Ahlul Bait as.

Menteri Agama Anggap Sunni-Syi’ah perbedaannya bukan pada tataran yang sangat prinsipil

Lukman penuh kemauan dan  mendorong perubahan.

Lukman kembali memberikan angin segar saat mengurus masalah kepulangan para pengungsi Syiah pasca-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama di Sampang, Madura. Sejak Agustus 2012, ada sekitar 200 warga Syiah asal Sampang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan mengungsi ke rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur. Dia tak ragu menemui sejumlah pihak untuk melakukan pendekatan agar warga Syiah Sampang bisa kembali ke kampung mereka dan hidup damai dengan masyarakat lain.

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu berpendapat persoalan yang menimpa warga Syiah tak hanya menyangkut soal agama, namun ada pula persoalan politik, sehingga dia melakukan pendekatan tak hanya pada pemerintah daerah, namun juga kalangan agamawan dan pihak-pihak yang melakukan pendampingan kepada warga Syiah.

Lukman mengatakan warga Syiah mempunyai hak sebagai warga negara yang sama di mata hukum. Jadi, setelah pulang, mereka boleh menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan hidup damai dengan warga lain. “Prinsipnya, setiap warga negara punya hak yang sama untuk tinggal di kampungnya dan beribadah. Meskipun beda keyakinan, tapi semua dijamin konstitusi negara kita,” kata pria yang pernah menjadi penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai manajer proyek di Helen Keller International.

Menteri Agama Anggap Sunni-Syi’ah perbedaannya bukan pada tataran yang sangat prinsipil

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

salah satu fungsi Kementerian Agama Republik Indonesia di antaranya adalah membina kerukunan umat beragama dan menanamkan keselarasan pemahaman keagamaan dengan wawasan kebangsaan Indonesia.

Merujuk peran pentingnya itulah Menag, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin M. Si, Kamis (11/9) menerima delegasi Ormas Islam Ahlulbait Indonesia di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat.

Delegasi Ormas Islam ABI yang hadir diwakili jajaran Dewan Syura, Ustad Hussein Shahab, Ketua Umum Ustad Hassan Daliel, Sekjen Ahmad Hidayat beserta beberapa orang pengurus ABI lainnya, diterima Menag di lantai dua gedung Kementerian Agama.

Pertemuan yang dimaksudkan sebagai audiensi antara Ormas Islam ABI dengan Menteri Agama yang belum lama ini dilantik, berlangsung hangat dan membahas sejumlah persoalan keberagamaan yang ada.

Menag Lukman Hakim berharap agar umat Islam Indonesia dapat berjiwa besar dan mampu meneguhkan ukhuwah Islamiyah. Untuk itu kata Menag, diperlukan kebesaran hati semua pihak untuk saling memberi dan saling menerima.

Terkait keberadaan Muslim Syiah di Indonesia, Menag berpandangan bahwa umat Islam Syiah memiliki syahadat yang sama, Rasul yang sama dan Tuhan yang sama dengan umat Islam Sunni.

“Jadi menurut saya, jika pun ada sedikit perbedaan, perbedaannya itu bukan pada tataran yang sangat prinsipil,” terang Lukman.

Langkah Menteri Agama Lukman Hakim untuk meneguhkan kerukunan umat Islam di Indonesia patut kita dukung. Apalagi bila kita melihat pertikaian di sejumlah negara berpenduduk Muslim terutama di kawasan Timur Tengah, membuka mata kita betapa pertikaian itu hanya akan membawa kesengsaraan dan kehancuran bagi kita semua.

Tentu, kita tidak mengharapkan konflik berkepanjangan sebagaimana telah berlangsung lama di Timur Tengah juga terjadi di Indonesia.

Judul Buku : Syiah Menurut Syiah
Penulis : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga : Rp. 75.000,-
Cetakan : Cetakan 1, Agustus 2014

.

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

Catatan : Risalah Amman (The Amman Massage)

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) –termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)– , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Syi’ah Ja’fariy/Imamiyah/Itsna Asyariyah, Madzhab Syi’ah Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih.

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

Bolehkah Memainkan Alat Musik Selain Duff Pada Saat Pernikahan?

Sumber : Secondprince

Bolehkah Memainkan Alat Musik Selain Duff Pada Saat Pernikahan?

Tahukah anda [para pembaca] bahwa diantara para ulama salafiy dan pengikutnya terdapat orang-orang yang membolehkan alat musik dan nyanyian khusus pada saat pernikahan. Dan itu pun tidak bersifat mutlak hanya terbatas pada alat musik duff, tidak selain itu. Konon kabarnya mereka berhujjah dengan hadis berikut

حدثنا أحمد بن منيع حدثنا هشيم أخبرنا أبو بلج عن محمد بن حاطب الجمحي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فصل ما بين الحرام والحلال الدف والصوت

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Balj dari Muhammad bin Haathib Al Jumahiy yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “pemisah antara halal dan haram adalah duff dan suara” [Sunan Tirmidzi 3/398 no 1088]

Riwayat ini sanadnya shahih, para perawinya tsiqat. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Manii’ Abu Ja’far Al Baghawiy seorang yang tsiqat hafizh, termasuk thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/47]
  2. Husyaim bin Basyiir Al Wasithiy seorang yang tsiqat tsabit banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy, termasuk thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 2/269]. Disini ia telah menyebutkan lafaz penyimakan hadisnya maka selamat dari tadlis dan irsal
  3. Abu Balj Yahya bin Sulaim seorang yang shaduq pernah melakukan kesalahan, termasuk thabaqat kelima [Taqriib At Tahdziib 2/370]. Dikoreksi dalam Tahrir Taqrib At Tahdziib bahwa Abu Balj seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Tahdziib no 8003]
  4. Muhammad bin Haathib Al Jumahiy termasuk sahabat Nabi yang shaghiir [Taqriib At Tahdziib 2/65]

Di sisi kami, Abu Balj adalah perawi yang tsiqat. Kami telah membuat tulisan khusus yang membahas secara rinci jarh dan ta’dil terhadap Abu Balj. Silakan merujuk ke tulisan disini.

.

.

Syaikh Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Miizaan Al Islaam hal 226 menyebutkan hadis ini sebagai dalil dianjurkannya memainkan alat musik dan melantunkan nyanyian pada saat pernikahan.

Hal itu benar karena zhahir riwayat Muhammad bin Haathib terdapat lafaz dimana Muhammad bin Haathib mengkritik Abu Balj yang tidak memainkan duff saat pernikahan yaitu dengan lafaz “alangkah buruknya yang kau lakukan” [akan kami tunjukkan riwayat dengan lafaz tersebut nanti]. Maka disini terdapat anjuran untuk melakukannya yaitu lebih baik dibandingkan tidak melakukannya. Seandainya perkara memainkan musik asal hukumnya haram dan diberi rukhshah saat pernikahan maka tidak mengambil rukhshah adalah perkara yang lebih utama tetapi atsar di atas justru menyatakan sebaliknya maka hal ini menunjukkan kelirunya pemahaman bahwa asal hukum bermain musik itu haram. Yang benar adalah asal hukum bermain musik itu mubah dan menjadi dianjurkan dalam pernikahan.

Dan pada kitabnya Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Miizaan Al Islaam hal 229, Syaikh Al Judai’ mengisyaratkan bahwa hal itu berlaku untuk semua alat musik tidak hanya terbatas pada duff. Adapun penyebutan duff dalam hadis tersebut karena duff adalah alat musik yang masyhur di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 464 membantah Syaikh Al Judai’ dan menuduhnya jahil dalam ilmu ushul fiqih dan kaidahnya. Menurut Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa nash hadis hanya menyebutkan duff jadi tidak bisa diqiyaskan ke alat musik lain.

Apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ itu sudah benar sedangkan bantahan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa keliru. Lafaz duff dalam hadis tersebut bukanlah sebagai pembatas. Silakan perhatikan hadis yang sama dengan lafaz berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن أبي بلج قال قلت لمحمد بن حاطب إني قد تزوجت امرأتين لم يضرب علي بدف قال بئسما صنعت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن فصل ما بين الحلال والحرام الصوت يعني الضرب بالدف

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Balj yang berkata aku berkata kepada Muhammad bin Haathib “aku sungguh telah menikahi dua wanita tidak dengan menabuh duff”. [Muhammad bin Haathib] berkata “alangkah buruknya yang kau lakukan, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya pemisah antara halal dan haram adalah suara yaitu tabuhan duff” [Musnad Ahmad 4/259 no 18306, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]

حدثنا أبو بكر بن إسحاق أنبأ محمد بن غالب ثنا عمرو بن عون أنبأ وكيع عن شعبة عن أبي بلج يحيى بن سليم قال قلت لمحمد بن حاطب تزوجت امرأتين ما كان في واحدة منهما صوت يعني دفا فقال محمد رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فصل ما بين الحلال والحرام والصوت بالدف

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ghaalib yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun yang berkata telah memberitakan kepada kami Wakii’ dari Syu’bah dari Abi Balj Yahya bin Sulaim yang berkata aku berkata kepada Muhammad bin Haathib “aku menikahi dua istri dan tidak ada satupun dari keduanya [diadakan] suara yaitu duff”. Maka berkata Muhammad [radiallahu ‘anhu] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “pemisah antara halal dan haram adalah suara dengan duff [Al Mustadrak Al Hakim 2/201 no 2750, dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabiy]

Hadis shahih di atas menyatakan bahwa pemisah antara halal haram adalah suara dalam pernikahan dan suara yang dimaksud adalah tabuhan duff. Pertanyaannya adalah apakah duff dalam hadis tersebut adalah pembatas sehingga tidak dibolehkan selain duff?. Apakah maksud hadis itu adalah suara dalam pernikahan yang dimaksud hanyalah tabuhan duff? Atau suara dalam pernikahan tersebut juga mencakup selain duff, jadi duff hanya salah satu saja dari “suara dalam pernikahan”yang dimaksud?. Jawabannya ada dalam hadis yang sama dengan lafaz berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عفان ثنا أبو عوانة ثنا أبو بلج عن محمد بن حاطب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فصل ما بين الحلال والحرام الصوت وضرب الدف

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Affaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj dari Muhammad bin Haathib yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya pemisah antara halal dan haram adalah suara dan tabuhan duff” [Musnad Ahmad 4/259 no 18305, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا هشيم أنا أبو بلح عن محمد بن حاطب الجمحي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم فصل بين الحلال والحرام الدف والصوت في النكاح

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj dari Muhammad bin Haathib Al Jumahiy yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya pemisah antara halal dan haram adalah duff dan suara dalam pernikahan” [Musnad Ahmad 3/418 no 15489, Syaikh Al Arnauth berkata “sanadnya hasan”]

Kedua hadis di atas adalah riwayat Abu ‘Awanah dan Husyaim dari Abu Balj dimana keduanya menyebutkan lafaz “suara dan duff” sedangkan riwayat Syu’bah menyebutkan lafaz “suara yaitu duff”. Yang manakah yang benar? Keduanya benar karena

  1. Syu’bah adalah seorang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawriy mengatakan ia amirul mu’minin dalam hadis [Taqriib At Tahdziib 1/418]. Maka tafarrud lafaz darinya diterima berdasarkan kaidah ilmu hadis
  2. Abu ‘Awanah seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/282-283] dan ia dikuatkan oleh Husyaim bin Basyiir seorang yang tsiqat tsabit banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy [Taqriib At Tahdziib 2/269]. Dua orang yang tsiqat tsabit saling menguatkan maka lafaz hadis dari keduanya diterima.

Jika dalam satu hadis disebut “suara dalam pernikahan” adalah duff kemudian dalam hadis lain disebut “suara dalam pernikahan dan duff” maka tidak mungkin dikatakan bahwa duff disana bersifat pembatas karena kalau dikatakan pembatas itu berarti makna “suara dalam pernikahan” adalah duff itu sendiri sehingga tidak mungkin ada lafaz “suara dalam pernikahan dan duff”. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah Duff termasuk “suara dalam pernikahan” tetapi tidak hanya duff oleh karena itu lafaz “suara” bisa disebut beriringan dengan “duff”.

Kalau begitu mengapa harus disebutkan “duff” secara khusus kalau memang ia adalah bagian dari “suara dalam pernikahan”. Penjelasan Syaikh Al Judai’ bahwa duff merupakan alat musik masyhur saat itu adalah kemungkinan penjelasannya [walaupun kami tidak berani memastikan kemungkinan tersebut]. Dan kalau ada yang merasa aneh dengan cara penyampaian bahasa seperti itu maka perhatikanlah ayat Al Qur’an berikut

 مَنْ كَانَ عَدُوًّا ِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

Barang siapa yang menjadi musuh Allah dan Malaikat-malaikat-Nya dan Rasul-Rasul-Nya dan Jibril dan Mika’il maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir [QS Al Baqarah : 98]

Jibril dan Mik’ail itu sudah termasuk dalam lafaz “Malaikat-malaikat-Nya” tetapi tetap saja disebutkan dalam satu kalimat beriringan. Hanya saja lafaz malaikat-Nya itu lebih umum [dimana Jibril dan Mika’il termasuk di dalamnya]. Maka tidak ada yang aneh dengan hadis di atas soal penyebutan duff dan suara. Lafaz suara bersifat umum [dimana duff termasuk di dalamnya].

.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 466 menyebutkan bahwa Syaikh Al Judai’ mengalami tanaqudh [kontradiksi] ketika mengatakan duff adalah alat musik yang masyhur di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi dalam bagian kitabnya yang lain Syaikh Al Judai’ menyebutkan kalau gendang dan seruling sudah ada di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Mungkin Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa kurang bisa memahami maksud Syaikh Al Judai’. Kami bisa memahami apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ karena sesuatu yang mayshur memang sudah pasti wujud tetapi sesuatu yang wujud belum tentu masyhur. Menurut Syaikh Al Judai’ duff, gendang [thabl] dan seruling [mizmaar] memang sudah ada di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi duff adalah alat musik yang masyhur diantara yang lainnya.

Hadis Muhammad bin Haathib di atas memang berkaitan dengan mengumumkan atau menyiarkan pernikahan. Hal ini memang disunahkan berdasarkan hadis hasan yang disebutkan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa tetapi keliru jika Syaikh membatasi bahwa alat musik yang dibolehkan hanyalah duff.

حدثنا محمد بن سهل بن عسكر قال ثنا يحيى بن صالح قال ثنا سليمان بن بلال عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله قال كان الجواري إذا نكحوا كانوا يمرون بالكبر والمزامير ويتركون النبي صلى الله عليه وسلم قائما على المنبر وينفضون إليها فأنزل الله وإذا رأوا تجارة أو لهوا انفضوا إليها

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl bin ‘Askar yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaal dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata para budak wanita apabila ada yang menikah, mereka lewat sambil menabuh gendang dan [memainkan] seruling. Dan mereka [para sahabat] meninggalkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdiri di atas mimbar dan menuju kepadanya [permainan musik tersebut]. Maka Allah menurunkan ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya” [Tafsir Ath Thabariy 22/648]

Riwayat Jabir bin ‘Abdullah [radiallahu ‘anhu] di atas memiliki sanad yang shahih. Para perawinya tsiqat. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Sahl bin ‘Askar seorang yang tsiqat termasuk thabaqat kesebelas [Taqriib At Tahdziib 2/83]
  2. Yahya bin Shaalih Al Wuhazhiy seorang yang shaduq termasuk ahlu ra’yu, termasuk thabaqat kesembilan [Taqriib At Tahdziib 2/305]. Dikoreksi dalam Tahrir Taqriib At Tahdziib bahwa Yahya bin Shaalih seorang yang tsiqat [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 7568]
  3. Sulaiman bin Bilaal At Taimiy seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kedelapan [Taqriib At Tahdziib 1/383]
  4. Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy [‘alaihis salaam] seorang yang shaduq faqiih imam, termasuk thabaqat keenam [Taqriib At Tahdziib 1/163]
  5. Muhammad bin ‘Aliy bin Husain [‘alaihis salaam] seorang yang tsiqat fadhl termasuk thabaqat keempat [Taqriib At Tahdziib 2/114]

Riwayat di atas menjelaskan bahwa para budak wanita menabuh gendang dan memainkan seruling ketika terjadi pernikahan maka para sahabat meninggalkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang sedang berkhutbah di atas mimbar, oleh karena itu Allah SWT menurunkan Al Jumu’ah ayat 11 sebagai teguran kepada para sahabat.

Lahwu [permainan] atau hiburan saat pernikahan adalah sesuatu yang dianjurkan tetapi tetap saja tidak boleh dilakukan atau disibukkan dengannya sampai meninggalkan kewajiban atau membuat seseorang melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Kedudukan “lahwu” disini sama halnya dengan “perniagaan” yaitu dilarang dilakukan ketika khutbah pada hari Jum’at. Hukum asal keduanya dibolehkan tetapi menjadi dilarang pada saat khutbah Jum’at.

Lafaz yang dijadikan hujjah dalam perkara ini adalah lafaz “kabar” dan “mazaamiir”keduanya bermakna gendang dan seruling. Ibnu Atsir menyebutkan bahwa salah satu makna lafaz “kabar” adalah thabl yaitu gendang [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar hal 789]. Ibnu Qudaamah ketika menjelaskan mengenai lafaz azan yaitu Allaahu Akbar jika ditambahkan alif dalam penyebutan Akbar menjadi Akbaar, ia berkata

فيصير جمع كبر ، وهو الطبل

Maka itu menjadi jamak dari kabar dan kabar adalah thabl [gendang] [Al Mughniy Ibnu Qudaamah 2/90]

Maka hadis Jabir [radiallahu ‘anhu] di atas merupakan hujjah bahwa “suara” yang dimaksud dalam pernikahan itu tidak terbatas pada duff tetapi juga pada kabar [thabl] yaitu gendang dan mazaamiir yaitu seruling.

.

.

.

Syubhat Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa Atas Hadis Jabir

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mengetahui adanya hadis Jabir [radiallahu ‘anhu] tersebut tetapi Syaikh membuat syubhat untuk melemahkan hadis tersebut. Dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 455-460, Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa melemahkan Yahya bin Shaalih perawi hadis Jabir tersebut.

Sebelum kami membantah Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa maka kami akan tunjukkan kedudukan sebenarnya Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy. Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim, ia termasuk gurunya Bukhariy dan Abu Hatim. Yahya bin Ma’in berkata tentangnya “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 9/158 no 657]. Al Bukhariy berkata tentang Yahya dalam biografi Sulaiman bin ‘Atha’

سليمان بن عطاء سمع مسلمة بن عبد الله روى عنه يحيى بن صالح الشامي ويحيى ثقة وفي حديثه بعض المناكير

Sulaiman bin ‘Athaa’ mendengar dari Maslamah bin ‘Abdullah, telah meriwayatkan darinya Yahya bin Shaalih Asy Syaamiy dan Yahya seorang yang tsiqat. Dan dalam hadisnya [Sulaiman bin ‘Athaa’] sebagian mungkar [Adh Dhu’afa Ash Shaghiir no 145]

Abu ‘Awanah berkata tentangnya “hasanul hadis tetapi ia shahib ra’yu”. Ibnu Adiy menyebutkannya dalam orang-orang tsiqat dari penduduk Syam. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abul Yamaan Hakam bin Nafii’ Al Bahraniy berkata “aku tidak mengetahui ada yang lebih tsiqat dari Yahya bin Shaalih”. As Sajiy berkata “ia di sisi para ulama termasuk orang yang jujur dan amanah”. Al Khaliliy menyatakan ia tsiqat. [Tahdziib At Tahdziib juz 11 no 372].

Adz Dzahabiy berkata tentang Yahya bin Shaalih “seorang yang masyhur tsiqat dibicarakan karena faham Jahmiah yang ada padanya” [Al Mughniy no 6991]. Adz Dzahabiy juga mengatakan tsiqat hanya saja dibicarakan karena ra’yunya [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]. Adz Dzahabiy juga berkata “seorang hafizh faqiih” [Al Kasyf no 6183]. Jadi di sisi Adz Dzahabiy ia seorang yang hafizh faqih tsiqat tetapi dibicarakan karena ra’yu-nya ataubid’ah Jahmiyah.

Pendapat yang rajih Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy seorang yang tsiqat tetapi ia dibicarakan karena bid’ah Jahmiyah yang dituduhkan padanya. Dalam ilmu hadis kedudukan perawi seperti ini diterima hadisnya selagi tidak menguatkan faham bid’ah Jahmiyah-nya.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mengutip pendapat sebagian ulama yang mencela Yahya bin Shaalih dalam hal bid’ah yang ada padanya yaitu faham Jahmiyah

سألت أبي عن يحيى بن صالح الحمصي الوحاظي فقال رأيته في جنازة أبي المغيرة فجعل أبي يصفه قال أبي أخبرني إنسان من أصحاب الحديث قال قال يحيى بن صالح لو ترك أصحاب الحديث عشرة أحاديث يعني هذه الأحاديث التي في الرؤية قال أبي كأنه نزع إلى رأي جهم

Aku bertanya kepada Ayahku tentang Yahya bin Shaalih Al Himshiy Al Wuhaazhiy yang berkata aku melihatnya saat pemakaman Abu Mughirah maka ayahku mensifatkannya. Ayahku berkata telah mengabarkan kepadaku seorang dari ahli hadis yang berkata Yahya bin Shaalih berkata “seandainya ahli hadis meninggalkan sepuluh hadis yaitu hadis tentang ru’yah”. Ayahku berkata “seolah-olah ia menyeru kepada faham Jahm” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 1232]

Atsar Abdullah bin Ahmad dari ayahnya ini juga disebutkan oleh Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabir juz 4 no 2038. Baik dalam kitab Al Ilal Wal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal dan Adh Dhu’afa Al Uqailiy digunakan lafaz فجعل أبي يصفه yang bermakna “Ayahku mensifatkannya” tetapi dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir 64/281 digunakan lafaz فجعل أبي يضعفه yang bermakna “Ayahku mendhaifkannya”.

Nampaknya apa yang tertulis dalam kitab Ibnu Asakir adalah tashif karena Ibnu Asakir meriwayatkan atsar tersebut dengan menukil dari Al Uqailiy padahal Al Uqailiy menyebutkan lafaz “mensifatkannya” bukan lafaz “mendhaifkannya”. Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa menukil lafaz ”mendhaifkannya” dan hal ini keliru karena merupakan tashif.

Adapun apakah benar Yahya bin Shaalih mengatakan perkataan tersebut maka hal ini tidaklah shahih karena Ahmad bin Hanbal tidak menyebutkan siapa ahli hadis yang menukil perkataan Yahya bin Shaalih tersebut. Bisa saja ahli hadis tersebut tsiqat dalam pandangan Ahmad sehingga ia mempercayainya tetapi bisa saja ia dhaif dalam pandangan ulama lain. Bisa saja ia seorang yang shaduq tetapi lemah dalam dhabit-nya. Oleh karena tidak diketahui kedudukan sebenarnya ahli hadis tersebut maka periwayatannya tidak bisa dijadikan hujjah.

قال عبد الله بن أحمد قال أبي لم اكتب عنه لأني رأيته في مسجد الجامع يسيء الصلاة

Abdullah bin Ahmad berkata Ayahku berkata “jangan menulis darinya karena aku melihatnya di masjid Jaami’ dan ia buruk shalatnya” [Tahdziib At Tahdziib juz 11 no 372].

وقال مهنى بن يحيى سألت أحمد بن حنبل عن يحيى بن صالح فقال رأيته ولم يحمده

Muhanna bin Yahya berkata aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Yahya bin Shaalih, maka ia berkata “aku telah melihatnya dan tidak memujinya” [Tahdziib Al Kamal 31/378 no 6846]

Kedua atsar di atas bisa digabungkan bahwa Ahmad bin Hanbal tidak memujinya dan tidak mau menulis darinya karena buruknya shalat Yahya bin Shaalih dalam pandangannya. Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk mendhaifkan Yahya bin Shaalih. Apalagi ternukil pula pujian Ahmad bin Hanbal terhadapnya

أنبأنا أبو القاسم علي بن إبراهيم نا عبد العزيز بن أحمد أنا أبو محمد بن أبي نصر أنا أبو الميمون نا أبو زرعة قال لم يقل يعني أحمد بن حنبل في يحيى بن صالح إلا خيرا

Telah memberitakan kepada kami Abu Qaasim ‘Aliy bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Abi Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Maimuun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah yang berkata “tidaklah Ahmad bin Hanbal mengatakan tentang Yahya bin Shaalih kecuali kebaikan” [Tarikh Ibnu Asakir 64/280]

Atsar Abu Zur’ah di atas sanadnya jayyid, semua perawinya tsiqat dan shaduq. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Abul Qaasim ‘Aliy bin Ibrahiim, syaikh islam muhaddis tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 19/358-359 no 212]
  2. ‘Abdul ‘Aziiz bin Ahmad Al Kattaniy, imam hafizh shaduq muhaddis dimasyiq [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 18/248 no 122]
  3. Abu Muhammad bin Abi Nashr syaikh imam seorang yang tsiqat ma’mun [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/366-368 no 230]
  4. Abul Maimuun Al Bajalliy syaikh imam tsiqat ma’mun [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 15/533 no 310]
  5. Abu Zur’ah Ad Dimasyiq seorang yang shaduq tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/267 no 1259]

Atsar ini bisa digabungkan dengan atsar sebelumnya bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah menyebutkan Yahya bin Shaalih kecuali dengan kebaikan sampai akhirnya ia melihat buruknya shalat Yahya bin Shaalih, oleh karena itu ia meninggalkannya. Pandangan Ahmad bin Hanbal soal buruknya shalat Yahya bin Shaalih tidak bisa dijadikan hujjah mendhaifkan karena perkara tersebut sifatnya relatif dan tidak berkaitan dengan kredibilitas dalam periwayatan hadis. Apalagi Yahya bin Shaalih telah dinyatakan tsiqat oleh ulama lainnya.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa kemudian menukil perkataan Ishaaq bin Manshuur bahwa Yahya bin Shaalih seorang murjiah. Hal ini memang benar dikatakan Ishaaq bin Manshuur tetapi telah dibantah Adz Dzahabiy bahwa Yahya bin Shaalih justru mengingkari irja’. [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 10/456 no 150]. Syaikh juga menukil Al Uqailiy yang menyatakan bahwa Yahya bin Shaalih penganut bid’ah Jahmiyah. Hal ini jika memang benar tetap tidak bisa dijadikan dasar untuk mendhaifkan Yahya bin Shaalih.

Dalam ilmu hadis sudah menjadi hal yang umum kalau mazhab bid’ah yang dianut seseorang tidak menjadi alasan untuk mendhaifkan perawi tersebut jika perawi itu telah dinyatakan tsiqat oleh ulama yang mu’tabar. Cukup banyak perawi hadis dalam kutubus sittah yang berfaham khawarij, murji’ah, qadariy, rafidhah yang tetap dinyatakan tsiqat atau shaduq.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa menukil jarh dari Haiwah bin Syuraih yang disebutkan Ibnu Asakir dalam kitabnya

وقال أبو إسحاق إبراهيم بن الهيثم بن المهلب البلدي كان حيوة بن شريح ينهاني أن أكتب عن يحيى بن صالح الوحاظي وقال هو كذا وكذا

Abu Ishaaq Ibrahim bin Al Haitsam bin Al Muhallab Al Baladiy berkata Haiwah bin Syuraih telah melarangku menulis hadis dari Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy dan berkata “ia begini begitu” [Tarikh Ibnu Asakir 64/282]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa berkata lafaz “kadzaa wa kadzaa” adalah sighat tadh’if [mendhaifkan] dengan dalil Haiwah melarang menulis darinya. Hujjah Syaikh ini terlalu dipaksakan, lafaz “kadza wa kadzaa” mengandung banyak kemungkinan bahkan lafaz itu bisa bergabung dengan lafaz ta’dil

سألته عن إبراهيم بن المهاجر قال ليس به بأس هو كذا وكذا

[‘Abdullah bin Ahmad] berkata “aku bertanya kepadanya [Ahmad bin Hanbal] tentang Ibrahiim bin Al Muhaajir, maka ia berkata “tidak ada masalah padanya ia kadzaa wa kadzaa” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 2511]

Begitu pula dengan dalil Haiwah melarang menulis darinya juga mengandung kemungkinan bisa saja hal itu karena faham bid’ah yang dituduhkan oleh Yahya bin Shaalih atau seperti Ahmad bin Hanbal karena ia melihat Yahya bin Shaalih buruk shalatnya. Kemungkinan seperti ini tidaklah mendhaifkan dan tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengalahkan tautsiq para ulama mu’tabar terhadap Yahya bin Shaalih.

Jika seorang perawi telah mendapat tautsiq dari ulama mu’tabar maka jarh terhadapnya harus bersifat mufassar dan jarh Haiwah bin Syuraih di atas tidak bersifat mufassar, tidak diketahui dari sisi apa larangan menulis hadis Haiwah tersebut, apakah karena ‘adalah-nya? apakah karena dhabit-nya? apakah karena faham bid’ah-nya? apakah karena amalan-nya?.

Apalagi Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa kemudian menambahkan bahwa Haiwah bin Syuraih adalah orang Himsh dan Yahya bin Shalih juga orang Himsh maka ia sebagai orang satu negri dan semasa dengan Yahya bin Shalih lebih mengetahui keadaannya.

Bukankah Syaikh telah membaca kitab Tarikh Ibnu Asakir biografi Yahya bin Shaalih maka Syaikh pasti sudah menemukan ta’dil Abul Yamaan Hakam bin Naafi’ terhadap Yahya bin Shaalih dimana Abul Yamaan mengatakan kalau ia tidak mengenal orang yang lebih tsiqat dari Yahya bin Shaalih [Tarikh Ibnu Asakir 64/282]. Ibnu Asakir membawakan sanadnya sampai Abul Yamaan tentang ta’dilnya terhadap Yahya bin Shaalih, sebagian sanadnya adalah sebagai berikut

وأنبأنا أبو محمد بن الأكفاني نا عبد العزيز لفظا وقرأت على أبي الوفاء حفاظ بن الحسن عن عبد العزيز أنا ابن أبي نصر أنا خيثمة بن سليمان نا سليمان بن عبد الحميد البهراني قال سمعت أبا اليماني

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin Al ‘Akfaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz. Dan aku membacakakan kepada Abu Wafaa’ Hifaazh bin Hasan dari ‘Abdul Aziiz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami Khaitsamah bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin ‘Abdul Hamiid Al Bahraniy yang berkata aku mendengar Abul Yamaan… [Tarikh Ibnu Asakir 64/282]

Sanad ini jayyid sampai Abul Yaman. Abu Muhammad bin Al ‘Akfaniy dan Abul Wafaa’ keduanya adalah guru Ibnu Asakir. Berikut keterangan para perawi dalam sanad tersebut

  1. Abu Muhammad bin Al ‘Akfaaniy seorang syaikh imam, Ibnu Asakir mengatakan ia tsiqat tsabit [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 19/576-577 no 330].Abul Wafaa’ Hifaazh bin Hasan seorang syaikh shalih [Al Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh As Sam’aniy no 322]
  2. ‘Abdul ‘Aziiz bin Ahmad Al Kattaniy, imam hafizh shaduq muhaddis dimasyiq [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 18/248 no 122]
  3. Abu Muhammad bin Abi Nashr syaikh imam seorang yang tsiqat ma’mun [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/366-368 no 230]
  4. Khaitsamah bin Sulaiman imam tsiqat muhaddis syam [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 15/412 no 230]
  5. Sulaiman bin ‘Abdul Hamiid Al Bahraniy seorang yang shaduq [Taqriib At Tahdziib 1/388]. Sedikit catatan tentang Sulaiman bin ‘Abdul Hamiid Al Bahraniy. Abu Hatim telah memujinya dan menulis hadis darinya. Ibnu Abi Hatim berkata “aku mendengar darinya di Himsh dan ia shaduq”. Nasa’iy berkata “pendusta, tidak tsiqat dan tidak ma’mun”. Masalamah bin Qaasim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan mengatakan ia termasuk yang hafizh dalam hadis. [Tahdziib At Tahdziib juz 4 no 350]. Abu ‘Aliy Al Jayaaniy menyatakan ia tsiqat [Tasmiyah Syuyukh Abu Dawud hal 126 no 335]. Pendapat yang rajih ia seorang yang shaduq karena Abu Hatim dan anaknya Ibnu Abi Hatim termasuk muridnya dan keduanya lebih mengenal gurunya yaitu Sulaiman dibandingkan An Nasa’iy. Apalagi An Nasa’iy juga terkenal tasyadud dalam jarh [anehnya An Nasa’iy tidak memasukkan nama Sulaiman bin ‘Abdul Hamiid dalam kitabnya Adh Dhu’afa].

Abul Yamaan adalah seorang hafizh imam hujjah dan dia juga orang Himsh serta semasa dengan Yahya bin Shaalih [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 10/319 no 77]. Kenapa tidak dikatakan pula kalau Abul Yamaan lebih mengenal kedudukan Yahya bin Shaalih. Al Bukhariy dan Abu Hatim adalah murid dari Yahya bin Shaalih dan keduanya adalah ulama mu’tabar dalam jarh wat ta’dil maka ta’dil keduanya disini lebih mu’tamad dan tidak bisa dikalahkan hanya dengan jarh yang tidak jelas seperti “kadzaa wa kadzaa”.

.

.

Kemudian Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menukil jarh yang ia katakan jarh syadiid terhadap Yahya bin Shaalih

قال أحمد بن صالح المصري حدثنا يحيى بن صالح بثلاثة عشر حديثا عن مالك ما وجدنا لها أصلا عند غيره

Ahmad bin Shaalih Al Mishriy berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Shaalih tiga puluh hadis dari Malik yang tidak kami temukan asalnya pada selain dia [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 10/455 no 150]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa mengatakan bahwa Imam Maalik memiliki banyak murid hingga mencapai lebih dari seribu maka bagaimana bisa Yahya bin Shaalih meriwayatkan tiga puluh hadis [gharib] dari Maalik tanpa diikuti oleh yang lainnya.

Yahya bin Shaalih sudah terbukti tsiqat maka tidak ada maslah dengan riwayat gharib dari seorang yang tsiqat. Apa yang dikatakan Ahmad bin Shaalih tersebut lebih tepat dikatakan bahwa hal itu terbatas dengan apa yang ia ketahui saja. Tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja Ahmad bin Shalih tidak mengetahui kalau ternyata hadis Yahya bin Shaalih dari Malik tersebut memiliki mutaba’ah. Tentu untuk memastikan hal ini adalah dengan melihat tiga puluh hadis yang dimaksud tetapi disini tiga puluh hadis itu tidak disebutkan oleh Ahmad bin Shalih.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa membawakan contoh hadis Yahya bin Shalih dari Malik yang tidak memiliki mutaba’ah sebagaimana disebutkan Al Khaliliy.

يحيى بن صالح الوحاظي ثقة يروي عنه الائمة وروى حديثا عن مالك لا يتابع عليه حدثنا عبد الله بن محمد القاضي حدثنا الحسن بن محمد بن عثمان الفارسي بالبصرة حدثنا يعقوب بن سفيان الفسوي حدثنا يحيى بن صالح حدثنا مالك عن الزهري عن سالم عن ابيه ان النبي صلى الله عليه و سلم وأبا بكر وعمر كانوا يمشون امام الجنازة وهذا منكر من حديث مالك

Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy tsiqat, telah meriwayatkan darinya para imam, ia meriwayatkan hadis dari Malik yang tidak memiliki mutaba’ah atasnya. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al Qaadhiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muhammad bin ‘Utsman Al Faarisiy di Bashrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Sufyaan Al Fasawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepada kami Maalik dari Zuhriy dari Saalim dari Ayahnya bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Abu Bakar, Umar mereka pernah berjalan kaki di depan jenazah, hadis ini mungkar dari hadis Malik [Al Irsyad Al Khaliliy no 108]

Apa yang disebutkan Al Khaliliy justru menguatkan kemungkinan yang kami katakan bahwa bisa saja hadis Yahya bin Shaalih dari Malik tersebut memiliki mutaba’ah hanya saja ulama tersebut [dalam hal ini Al Khaliliy] tidak mengetahuinya. Yahya bin Shalih dalam hadis Malik yang disebutkan Al Khaliliy di atas memiliki mutaba’ah sebagaimana riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَرَاثِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْخَرَّازُ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجِنَازَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al Baraatsiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Aun Al Kharraaz yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Az Zuhriy dari Saalim dari Ayahnya yang berkata aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Abu Bakar dan Umar pernah berjalan kaki di depan jenazah [Mu’jam Fii ‘Asaamiy Syuyuukh Abu Bakr Al Isma’iiliy hal 314 no 3]

Ahmad bin Muhammad Al Baraatsiy adalah seorang yang tsiqat ma’mun [Su’alat Hamzah As Sahmiy hal 139 no 123]. ‘Abdullah bin ‘Aun Al Kharraaz seorang yang tsiqat ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 1/520].

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mengutip jarh dari Abu Ahmad Al Hakim yang berkata tentang “Yahya bin Shaalih” yaitu “tidak hafizh di sisi para ulama”. Kemudian syaikh mengatakan bahwa jarh tersebut menunjukkan bahwa para ulama tidak memasukkannya kedalam derajat hafizh maka riwayatnya ditolak jika bertentangan dengan perawi hafizh.

Jarh Abu Ahmad Al Hakim yaitu “tidak hafizh di sisi para ulama” perlu ditinjau kembali karena sebagaimana telah kami kutip pendapat para ulama mu’tabar maka tidak ada satupun yang membicarakan hafalan Yahya bin Shaalih. Bukhariy, Yahya bin Ma’in, Ibnu Adiy menyatakan tsiqat bahkan Abul Yaman menyatakan dengan lafaz yang lebih tinggi “aku tidak mengenal yang lebih tsiqat dari Yahya bin Shaalih”. Adz Dzahabiy berkata tentang Yahya bin Shaalih Al Wuhaazhiy

وممن وثقه ابن عدي وابن حبان ، وغمزه بعض الأئمة لبدعة فيه ، لا لعدم إتقان

Dan termasuk ditsiqatkan Ibnu Adiy dan Ibnu Hibbaan, sebagian imam mencelanya karena bid’ah yang ada padanya bukan karena tidak ada sifat itqan [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 10/455 no 150]

Makna dari perkataan Adz Dzahabiy adalah sebagian ulama mencela Yahya bin Shaalih karena bid’ah yang ada padanya bukan karena ia tidak bersifat itqan yaitu bermasalah hafalannya oleh karena itu Adz Dzahabiy tetap menyatakan Yahya bin Shaalih sebagai hafizh faqiih.

Perkara yang sama pernah terjadi pada perawi Bukhariy dan Muslim lainnya yaitu ‘Abdul Kariim bin Maalik Al Jazariy ia telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama mu’tabar. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsabit”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu ‘Ammaar, Al Ijliy, Abu Zur’ah, Abu Hatim menyatakan tsiqat. [Tahdziib At Tahdziib juz 6 no 717]

Kemudian Adz Dzahabiy memasukkannya dalam Al Mizaan. Adz Dzahabiy menukil Ibnu Hibban yang menyatakan ia shaduq tetapi sering meriwayatkan tafarrud dari perawi tsiqat sesuatu yang mungkar dan Adz Dzahabiy menukil Abu Ahmad Al Hakim yang berkata “tidak hafizh di sisi para ulama” [Mizaan Al I’tidaal 4/387 no 5174].

Tetapi Adz Dzahabiy tetap menyatakan ‘Abdul Kariim bin Malik seorang imam hafizh [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 6/80 no 19] dan tetap menyatakan tsiqat [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq hal 345 no 222]. Hal ini menunjukkan bahwa Adz Dzahabiy menolak jarh Abu Ahmad Al Hakim “tidak hafizh di sisi para ulama” karena memang tidak ditemukan ada ulama yang mempermasalahkan hafalannya.

.

.

.

Syubhat terakhir Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mengatakan bahwa riwayat Yahya bin Shaalih di atas mungkar atau syaadz karena bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat yaitu sebagaimana diriwayatkan Bukhariy dan Muslim mengenai asbabun nuzul Al Jumu’ah ayat 11 yaitu

حَدَّثَنَا طَلْقُ بْنُ غَنَّامٍ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ سَالِمٍ قَالَ حَدَّثَنِي جَابِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَتْ مِنْ الشَّأْمِ عِيرٌ تَحْمِلُ طَعَامًا فَالْتَفَتُوا إِلَيْهَا حَتَّى مَا بَقِيَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا فَنَزَلَتْ {وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا}

Telah menceritakan kepada kami Thalq bin Ghannaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaa’idah dari Hushain dari Saalim yang berkata telah menceritakan kepadaku Jabir [radiallahu ‘anhu] yang berkata ketika kami sedang shalat bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka datanglah kabilah dari Syam berkendaraan unta yang membawa barang makanan, maka mereka [para sahabat] menuju kepadanya hingga tidak ada yang tersisa bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kecuali dua belas orang maka turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya” [Shahih Bukhariy 3/55 no 2058]

Riwayat Bukhariy di atas shahih dan para perawinya tsiqat begitu pula riwayat Ath Thabariy sebelumnya shahih dan para perawinya tsiqat. Syubhat bahwa riwayat Yahya bin Shaalih mungkar atau syadz adalah tidak benar. Yang meriwayatkan dari Jabir [radiallahu ‘anhu] dalam Shahih Bukhariy adalah Salim bin Abi Ja’d seorang yang tsiqat banyak melakukan irsal [Taqriib At Tahdziib 1/334]. Sedangkan yang meriwayatkan dari Jabir [radiallahu ‘anhu] dalam Tafsir Ath Thabariy adalah Muhammad bin ‘Aliy bin Husain [‘alaihis salaam] Al Baqiir seorang yang tsiqat fadhl termasuk thabaqat keempat [Taqriib At Tahdziib 2/114].

Kalau riwayat Bukhariy dan Ath Thabariy mau dipertentangkan maka letak perselisihan bukan pada Yahya bin Shaalih tetapi pada Muhammad Al Baqir [‘alaihis salaam] yang bertentangan dengan Salim bin Abil Ja’d. Muhammad bin Ali Al Baqir adalah ahlul bait yang tsiqat faqiih fadhl dan telah dikenal keluasan ilmunya maka tafarrud dari Beliau disini diterima.

Kedua riwayat tersebut shahih dan bisa dijamak bahwa perkara yang menjadi sebab asbabun nuzul Al Jumu’ah ayat 11 ada dua yaitu perniagaan [sebagaimana yang nampak dalam riwayat Bukhariy] kemudian lahwu [sebagaimana yang nampak dalam riwayat Ath Thabariy]. Hal ini sesuai dengan zhahir lafaz Al Jumu’ah ayat 11 yang memang menyebutkan kedua lafaz tersebut [perniagaan atau lahwu]. Atau kedua riwayat shahih tersebut bisa dijamak bahwa Al Jumu’ah ayat 11 tersebut turun dua kali, pertama karena sebab perniagaan kedua karena sebab lahwu [permainan gendang dan seruling saat pernikahan]. Penjamakan ini bukan sesuatu yang mustahil dan bisa saja terjadi sebagaimana diisyaratkan Ibnu Hajar dalam Syarh Shahih Bukhariy tentang hadis Jabir tersebut [Fath Al Bariy 2/424].

.

.

.

Kesimpulan

Memainkan alat musik baik berupa duff dan alat musik lainnya seperti gendang dan seruling adalah perkara yang dianjurkan dalam pernikahan. Tidak ada nash larangan yang membatasi bahwa alat musik tersebut hanya terbatas pada duff saja.